Ceritasilat Novel Online

Tugas Rahasia 4

Eps 4 Tugas Rahasia - Gan KH

Baca online Tugas Rahasia - Gan KH

Cersil Tugas Rahasia - Gan KH.

Jawaban inipun seperti lngauan yang lirih, kuping sendiri hampir tidak mendengarnya, tapi Lui Ang-ing mendengar cukup jelas maka terdengar jawabannya .

"Memangnya kau sudah melupakan adegan dalam biara bobrok itu ?"

Bergetar perasaan Cia Ing kiat, sudah tentu dia tidak pernah melupakan kejadian dalam biara bobrok itu, tanpa diperingatkan sebelum dia berkeputusan hendak berdiri tadi, benaknya juga sudah membayangkan kejadian itu, karena itulah, hatinya tadi bergetar lantaran persoalan ini.

Cuma / sekarang Lui Ang-ing membeber kejadian itu secara langsung.

Maksudnya sudah gamblang yaitu waktu Cia Ing kiat merogoh obat menjamah payudara dan badannya.

Bahwa Lui Ang-ing menyinggung persoalan lama.

entah apa maksudnya?

Tujuannya sudah gamblang, yaitu Lui Ang ing pandang peristiwa itu teramat penting bagi masa depannya, maka dia merasa perlu memberi peringatan kepada Cia Ing-kiat supaya tidak menikah dengan gadis lain.

Setelah paham liku-liku persoalannya, berdebar jantung Cia Ing-kiat, perlahan Lui Ang ing sudah melengos kearah lain wajahnya yang pucat seperti menampilkan perasaan hambar.

Tapi dipandang dari arah samping sikapnya yang teguh dan keyakinan yang tebal, siapapun akan bergidik dibuatnya.

Hadirin masih berduduk bingung, pandangan tertuju kearah Kui-bo, semua menunggu penjelasannya lebih lanjut.

Maka Kui-bo menyambung, tetap tersenyum .

"Sudah tentu kalian ditang dari jauh, janji yang akan saya berikan pasti tak akan kujilat kembali"

Dalam Hiat lui-kiong terdapat Hiat lian (teratai darah) yang tumbuh seratusan tahun, siang nanti sudah akan mekar, semua yang hadir akan memperoleh bagiannya secara rata."

Sampai di sini Kui-bo merandek sejenak maka dari pojok balairung sana mendadak kumandang sebuah suara .

"Bagus sekali, Cia-siaucengcu tiada di sini. lalu bagaimana upacara pernikahan ini akan berlangsung ?"

Suaranya rendah berat, seperti dilontarkan dari belakang sesuatu benda tebal.

Hadirin menoleh kearah datangn a suara pembicara tidak kelihatan, tapi dipojok sana menggeletak sebuah tandu besar, suara keras berat itu kumandang diri dalam tandu.

Hadirin juga tahu yang berada dalam tandu besar itu bukan lain adalah Liong bun-pang Pangcu.

sindikat terbesar disungai Ui-ho, asal usui ketuanya amat dirahasiakan, sepak terjangnya pun amat misterius.

/ Kui-bo menoleh kearah tandu, katanya kalem .

"Ucapan Pangcu memang betul. Tapi aku sudah tahu siapa yang menculik Cia-siaucengcu, malah aku juga tahu orang itu membawa Siau-cengcu putar balik ke Hiat-lui-kiong pula, sekarang juga hadir dalam balairung ini."

Bukan saja kalem, waktu melontarkan kata katanya Kui bo masih bersikap ramah tanpa diburu emosi sedikitpun.

Tapi sikap hadirin justeru sebaliknya, maka terjadilah keributan dan suara kaget, atau bergesernya meja kursi.

Kecuali tokob silat yang betul-betul kosen boleh dikata sebagian besar yang hadir sudah berdiri.

Bahwa Kui-bo sudah membeber persoalan ini secara terbuka, urusan boleh dikata cukup genting, maklum siapa mampu dan berani menentang Kui-bo, maka dapat dibayangkan kalau Kungfunya tentu amat tinggi, pada hal Kui-bo yang diusik tentu tidak akan memberi kelonggaran padanya, bila Kui bo bergebrak dengan dia, celaka kalau dirinya keserempet atau ketiban pulung.

Karena memikirkan keselamatan sendiri maka para hadirin berdiri dan menyingkir.

Kegaduhan ini hanya sebentar, cepat sekali keadaan tenang kembali.

Cia lng-kiat tetap duduk dikursinya, pikirannya masih ruwet, diam diam mengeluh dalam hati, bahwasanya dia tidak tahu "melihat tontonan ramai"

Yang dimaksud oleh orang aneh adalah hadir dalam pesta pernikahan yang diadakan di Hiat-lui-kiong ini.

Kini setelah tahu persoalannya, dirinya menjadi sandera dan tak mampu berbuat apa apa.

Setelah suasana tenang kembali.

Kui-bo melanjutkan pidatonya dengan tersenyum .

"Kalian tak usah gelisah, sebagai tamu tamu undangan Hiat-lui-kiong. tiada alasan aku mengejutkan kalian dalam urusan yang tiada sangkut pautnya ? Selamanya aku tegas membedakan budi dan dendam, mungkin Cia-siaucengcu belum tahu, kenapa putriku menaksir dia dan ingin menikah dengan dia. pada hal bagaimana / keadaan pntriku hadirin sudah melihatnya sendiri, jikalau Cia-siau cengcu berpendapat putriku tidak setimpal menjadi jodohnya, cukup asal dia bersuara sekali saja, walau pembatalan perjodohan ini menimbulkan rasa dendam, namun perhitungan boleh dilakukan dikemudian hari"

Cia Ing-kiat sudah membuka mulut hendak berteriak pula, namun Lui Ang-ing sudah menoleh serta melotot kepadanya, tatapan matanya seperti mengandung tenaga besar yang tak kelihatan menekan kata-kata Cia Ing-kiat yang sudah siap dilontarkan.

Terdengar Kui bo berkata lebih jauh .

"Peduli dia rela atau menolak, diharap Cia-siaucengcu bersuara, kalau tetap diam saja sengaja menghina dan mengabaikan peringatanku, maka urusan tak berani aku menanggungnya lagi."

Saking gugup keringat dingin sudah membasahi tubuh Cia Ing-kiat, sejak melihat Hun Lian.

hatinya sudah menaksirnya, kini didesak oleh Kui-bo namun dia juga takut melihat tatapan tajam Lui Ang-ing hingga sepatah katapun tak kuasa dia lontarkan, apa lagi pinggang tertutuk oleh orang aneh hingga tak mampu bergerak.

Tengah Cia Ing-kiat putus asa.

terdengar sebuah suara tua serak dan kuat berkata .

, Cia Ing kiat adalah putra kenalan baikku, kulihat dia tidak berada didalam balairung ini, apakah Kui bo tidak keliru?"' Kui-bo menoleh kearah suara, yang bicara ternyara adalah Jit-gwat kim-lun (roda emas mata hari rembulan) Cin loenghiong, dengan tersenyum dia berkata.

"Siau-cengcu pernah berguru didalam Tayseng-bun yang mahir merobah bentuk muka orang tujuh puluh dua macam, maka kepandaiannya menyamar boleh diagulkan, tenturya Cin-loeng-hiong juga sudah tahu, dengan kemahirannya menyamar dia pernah menyelundup ke Kim-hou po lalu melarikan diri pula, dari sini dapat dibuktikan betapa lihay samarannya. ' / Makin kecut perasaan Cia lng-kiat mendengar Kui-bo mengorek rahasianya dimuka umum, pada hal dia mengira kejadian dirinya menyelundup kedalam Kim-bou-po serta berhasil melarikan diri tidak diketahui orang, tak nyana hal ini sudah menjadi rahasia umum. Bahwa jejaknya akhirnya konangan dan kecandak oleh Siau-pocu yang bernama Lu Ang-ing adalah logis, karena didalam Kim-hou po Lui Ang-ing pernah melihat dirinya dan bergebrak pula, tapi Kui-bo Hui Hwi-nio tak pernah menginjak Tionggoan. letak Hiat-Ini-kiong ribuan li jauhnya, dari mana dia tahu akan peristiwa ini? Walau Li-pi-lik berada di sini, tapi perempuan gede ini jujur polos lugu lagi, mana mungkin dia tahu rahasia dirinya ? Tengah Cia Ing-kiat memutar otak. didengarnya Li-pi-lik berteriak juga.

"Ciong Tay-pek, hayo berdiri dan keluar ? Aku ingin bicara dengan kau,'' Seperti diketahui dalam bagian depan cerita ini, Ciong Tay-pek adalah nama samaran Cia Ing-kiat waktu dia menyelundup ke Kim hou-po. Kini Li pi-lik gembar gembor dengan suara mengguntur, semakin deras cuguran keringat dingin Cia Ing-kiat. Walau sikap Kui-bo kelihatan masih berseri tawa namun hadirin sudah melihat bayangan kabut hitam ditengah kedua alis matanya. Hadirin insaf bila urusan tiada perkembangan yang diharap, apa yang akan terjadi di sini. Ada sementara tamu yang sudah menoleh kearah tandu dipojok balairung sana agaknya tidak sedikit yang menduga bahwa Cia Ing kiat sembunyi didalam tandu sengaja tidak mau keluar. Kabut hitam ditengah alis Kui-bo makin tebal, seri tawanya sirna dan mukanya berganti kelam. Disaat suasa memuncak tegang itulah mendadak Lui Ahg-ing berdiri pelan-pelan, katanya kalem . ,,Siau cengcu dari Kim-liong-ceng menyelundup kedalam Kim-hou-po kita, berhasil melarikan diri pula, aku sedang mencari jejaknya, maka perlu kuanjurkan / kepada Kui bo. pernikahan putrimu hari ini lebih baik dibatalkan saja."

Begitu Lui Ang-ing berdiri, Li-pi-lik lantas melompat mundur sembunyi kebelakang Kui-bo Hun-Hwi-nio, kedua tangannya memegang baju Kui bo, sikapnya kelihatan amat takut.

Berdiri alis Kui-bo.

sekenanya sebelah tangan mengebas kebelakang.

Kelihatannya kebasan lengan bajunya enteng dan seenaknya saja.

tapi Li-pi-lik seketika menjerit kaget menyurut setapak kebelakang.

Kejadian berlangsung dalam waktu yang sama, baru saja Li-pi lik menyurut mundur, Lui Ang-ingpun habis bicara.

Seperti tertawa tidak tertawa Kui-bo mengawasi Lui Ang-ing, sebelum dia buka suara mendadak Oa-sam Siansing yang duduk dipinggir sana tertawa dingin beberapa kali.

jengeknya .

"O. kiranya begitu."

Sebelum naik keatas kapal Oh-sam Siansing pernah adu kekuatan dengan Lui Ang-ing dan dikalahkan, pada hal betapa luas pengetahuannya, ternyata dia tidak tahu dan bagaimana asal usul pemuda muka pucat yang lihay ini, baru sekarang dia tahu bahwa pemuda ini dari Kim-hou-po.

Kim-hou-po sudah terkenal diseluruh jagat, pertanyaan Lui Ang-ing tadi secara langsung sudah membeber asal usul dirinva, sekaligus menyatakan bila Cia-siauccng-cu muncul, diapun akan membuat perhitungan padanya.

Padahal berada didalam Hiat lui-kiong, tapi seberani ini dia menyatakan maksud kedatangannya.

Kui-bo tertawa dingin, katanya.

"Perjodohan putriku sudah bukan rahasia lagi,mana boleh perjodohan ditunda atau dibatalkan segala?""

"Nona Hun secantik ini, memangnya kuatir dia tidak bisa mercari kekasih lain? "jengek Lui Ang ing. / Kui bo menarik muka, suaranya juga tidak seramah tadi.

"Apa yang tuan katakan hanya mencari onar belaka maka usulmu takkan kuterima, Menurut hematku, bukan Cia-siaucengcu menolak perjodorian ini. tapi bila dia diancam dan disiksa, maka sulit aku mengatakan."

Huruf"

Kan"

Diucapkan lebih keras, mendadak tangannya terayun terus menuding kearah Cia-Ing-kiat.

Kontan Cia Ing-kiat merasa datangnya sejalur angin kencang menyampuk muka, badan yang kaku linu seketika mengendur, dia tahu Hiat to yang ditutuk orang aneh telah dituding bebas oleh tudingan Kui-bo jarak jauh.

Memangnya sejak tadi dia siap berdiri, begitu Hiat to bebas segera dia berjingkrak berdiri, serunya.

"Aku........."

Hanya sepatah kata yang sempat diucapkan.

Mendadak Lui Ang ing membalik sebelah tangannya menekan kedadanya, telapak tangan nya tepat menekan Hoa-kay-hiat.

Pada hal Hoa-kay hiat adalah salah satu Hiat-to mematikan, bila tertutuk, umpama kepandaian Cia-Ing-kiat lebih tinggi dari Lui Ang-ing juga takkan mampu berbuat apa-apa.

Apalagi kepandaiannya amat terbatas, jauh dibawah Lui-Ang-ing, maka begitu Hiat to tertutuk, dia tak mampu bersuara lagi.

Pada saat itulah didengarnya Hun Lian memekik sekali, dimana tangan terbalik, hanya pergelangan tangan saja yang bergerak.

"Ser"

Selarik benang merah laksana kilat meluncur kemuka Lui Ang-ing.

Perobahan terjadi dalam waktu singkat, begitu melihat benang merah melesat dari tangan Hun Lian.

seketika Cia Ing-kiat sadar dan terang duduk persoalannya, seketika terbayang kejadian didalam Kim-hou-po.

Di bawah petunjuk perempuan misterius dalam Kim-hou-po itulah, Cia Ing-kiat berhasil menemukan Po-tiok-pit-kip yang disembunyikan dalam dinding, namun buku itu akhirnya / terebut oleh seutas benang yang membelitnya dan dibawa kabur oleh perempuan misterius itu, karena gagal mendapatkan pusaka itu, sekias Cia Ing-kiat melarikan diri.

Selama ini dia bertanya-tanya siapa perempuan yang merebut pusika bambu itu dari tangannya, baru sekarang dia tahu perempuan itu ternyata putri Kui-bo, yaitu Hun Lian yang cantik ini.

Sekarang lebih jelas pula, kenapa dari ribuan li jauhnya Thi jan Lojin dan Gin-koh meluruk kerumahnya serta menculik dia karena diperintah Kui-bo.Ternyata sebab musabab dari peristiwa ini bersumber sejak pertemuan mereka didalam Kim-hou-po.

Baru saja Cta ing-kiat rasakan sekujur tubuhnya terkekang cleh tenaga lunak yang merembes dari telapak tangan Lui Ang-ing.

Sementara benang merah ditangan Hun Lian sudah melesat tiba, benang merah itu amat lembut, namun daya luncurnya ternyata amat kencang, hingga mengeluarkan desing suara yang tajam.

Kedua alis Lui Ang-ing tampak berdiri, telapak tangannya menepuk kee lakang, samar-samar kelihatan ditengah telapak tangannya ada tanda gelap yang gemerdep, seperti telapak tangannya entah memegang benda apa, sayang gerakannya teramat cepat hingga hadirin tiada yang melihat jelas benda apakah yang berada ditelapak tangannya.

"Plak, plak"

Tepukan telapak tangan Lui Ang-ing tepat menyampuk pergi luncuran benang merah.

Akibat benturan keras itu.

gerakan tangan Lui Ang-ing sedikit merandek, bagi yang bermata tajam bisa melihat lebih jelas bahwa ditelapak tangannya seperti menempel sebuah benda segi enam yang menyerupai batu jade bewarna hijau gelap menyerupai sebuah medali, medali ini amat tipis dan melekat ditelapak tangannya.

Begitu benang merah disampuk pergi, dari dalam tandu kumandang suara serak berat itu .

"Bagus. Lok-hun sin-san ling salah satu dari tiga pusaka milik Go-tiok Taysu ternyata / muncul pula dikalangan Kangouw, sungguh membuka pandanganku."

Yang bersuara dalam tardu sudah tentui adalah Liong-bun Pangcu, namun sebagian besar hadirin bingung dan tak tahu aoa maksud seruannva.

demikian pula Cia Ing-kiat.

siapa itu Go-tiok Taysu, apa pula Lok-hun-sin-san-ling segala belum pernah deagar, mungkin medali ditangan Lui Ang-ing itulah yang dimaksud, namun di mana letak keanehannya, sukar diraba.

Dalam beberapa patah seruan Liong bun Pangcu ini, kejadian terjadi perobahan.

Benang merah ditangan Hun Lian memang berwarna menjolok, begitu benang merah itu ditepuk pergi oleh telapak tangan Lui Ang-ing, ujungnya seketika berobah menjadi hitam hangus, malah warna hitam hangus ini terus menjalar naik lebin panjang.

Panjang benang merah itu ada dua tombak, dalam sekejap warna hitam hangus itu sudah menjalar setombak.

Sebelum orang banyak tahu apa yang terjadi, mendadak Kui-bo menghardik keras, selarik sinar berkeiebat sinar yang benderang menyolok pandangan itu hanya sekali samber bagai kilat lantas lenyap.

Hadirin hanya melihat sinar terang berkelebat ditengah hardikan Kui-bo.

siapapun tak tahu apa yang terjadi, mereka hanya menduga bahwa Kui-bo sudah turun tangan.

"Plak"

Setelah sinar terang itu sirna, ujung benang ditangan Hun Lian bagian yang telah hitam putus dan jatuh diatas tanah, sementara sisanya yang masih merah telah di tarik balik oleh pemilihnya.

Bagian cambuk hitam yang jatuh kelantai itu seketika mengepulkan asap hijau.

Lekas Kui bo menekan kebawah dengan telapak tangannya mereka yang duduk disebelah depan merasakan samberan angin keras, asap hijau yang mengepul keatas itu seketika tertindih turun meresap kedalam lantai lenyap tak berbekas.

/ Waktu angkat kepalanya pula Kui bo Hun hwi nio mendesis tajam .

"Telengas benar kau turun tangan."

Lui Ang-ing menyeringai dingin, kata-nya .

..Urat punggung Ang-soa coa ditangan putrimu itu menyentuh badan orang jiwa melayang seketika, kalau tidak menyerang dengan racun mengatasi racun, memangnya kalian harus mendapat untung?"

Memang sudah lama Kui Bo Hun Hwi-nio menetap di Biau-kiang, Ang-soa-coa adalah salah satu jenis ular yang paling jahat di pedalaman yang belukar, dengan kemampuannya Kui-bo berhasil menangkap dan membetot urat punggungnya untuk senjata putrinya.

Tapi dari jawaban Lui Ang-ing, hadirin menduga medali ditangannya itu agaknya jauh lebih lihay, hingga kadar racun diatas medalinya itu mampu merembes diurat ular warna merah itu untuk menyerang balik lawan.

Untung Kui-bo bertindak secara cepat, benang merah itu diputuskan, kalau tidak Hun Lian tentu sudah celaka.

Medali itu bernama Lok-hun-sin san-ling seperti yang telah dibeber oleb Liong-bun Pangcu, katanya milik Go-tiok Taysu dari satu diantara tiga pusakanya, tapi bagaimana asal usul sebetulnya, jarang orang tahu, maka hadirin hanya menduga-duga belaka.

Hun Hwi-mo maju beberapa langkah, katanya .

"Hadirin diharap menyingkir agak jauh, saudara ini datang dari Kim-hou-po, Lok hun-ling yang dipegangnya itu amat beracun, bila bergerak supaya tidak terserempet bahaya."

Bergegas hadirin berdiri lalu menyingkir mundur, Oh-san Siansing yang kosenpun tak terkecuali, setelah meja kursi juga disingkirkan, maka terbukalah sebuah arena yang cukup luas ditengah baiatrung.

/ Kui bo tertawa dan berkata Cia Ing-kiat yang berada di belakang Lui Ang-Ing.

"Aku tidak akan menyalahkan kau, tak usah takut."

Cia Ing-kiat hanya menyengir getir sekilas dia melirik kepada orang aneh, dilihatnya orang ini duduk diam tidak bergerak.

Perasaan Cia Ing-kiat makin tidak tenang, jelas sebentar lagi Kui bo akan bergebrak melawan Lui Ang-ing.

Bila kedua jago tangguh ini berhantam pasti mengejutkan langit menggetar bumi.

Tapi pihak mana yang lebib tinggi Kungfunya, sudah tentu Cia Ing kiat tak berani memastikan, tapi dia percaya bila orang aneh juga membantu, meski Kui-bo amat tangguh juga pasti bukan tandingan.

Yang jelas Cia Ing kat amat mengharap Kui-bo memperlihatkan kesaktiannya, menggebah pergi Lui Ang-ing dan orang aneh ini.

Bahwa Cia Ing-kiat punya pikiran demikian adalah selaras dengan keinginannya berdiri tadi hendak mengumumkan siapa dirinya.

Adalah logis kalau sekarang dia mengharap Lui-Ang ing dan orang aneh lekas pergi supaya dirinya bisa segera melangsungkan pernikahan dengan Hun Lian.

Ketegangan mencekam hadirin, siapa yang tidak ingin menyaksikan kepandaian Kui bo tokoh yang dimasukan dalam legenda oleh kaum persilatan ini apa benar memiliki kung fu sejati?

Bagaimana dia akan menjatuhkan Siau-pocu dari Kim-hou-po yang terkenal juga.

Lui Ang-ing berdiri tak bergerak, rona mukanya tetap pucat, sikapnya seperti tak acuh, diam-diam Cia Ing-kiat melirik kearah orang aneh, orang inipun bersikap tak acuh duduk santai seperti tidak terjadi apa apa seperti tiada maksud ikut turun tangan.

Dengan tajam Hun hwi-mo menatap Lui Ang-ing sambil menyeringai dingin, bagi yang berkepandaian agak rendah, mendengar tawa dingin Hun Hwi-nio, hatinya amat risi dan sebal, agaknya Lui Ang-ing juga tahu menghadapi Kui bo yang / memiliki kepandaian luar biasa tidak boleh diremehkan, meski kelihatan dia berdiri seenaknya, padahal dia sudah mempersiapkan diri.

Seumpama busur yang ditarik makin tegang, demikian perasaan hadirin semua menunggu terjadinya perubahan yang menggemparkan.

Perobahan secara mendadak memang telah terjadi, namun kejadian ini berada diluar dugaan hadirin pula.

Disaat Kui-ho sudah berhadapan dengan Lui Ang ing.

Angin lesus besar mendadak timbul dipojok balairung sana.

sebuah benda hitam besar seketika melesat muncul keudara, hadirin yang beranjak dekat merasakan sambaran angin puyuh ini sedemikian kerasnya hingga piring mangkok diatas meja juga tersapu jatuh berantakan, benda hitam besar itu mumbul empat tombak tingginya lalu meluncur turun kearah kiri.

Bukan saja besar benda hitam ini juga membawa deru angin keras, ditambah daya luncurnya yang kencang, hingga hadirin belum sempat melihat benda hitam apakah itu.

Tapi tidak sedikit jaga-jago kosen yang hadir dalam balairung ini, meski kejadian secara mendadak mereka yang melibat jelas seketika berteriak kaget.

Kini banyak hadirin sudah melibat jelas benda hitam besar yang mumbul ditengah sambaran angin puyuh ternyata adalah sebuah joli besar,

Jilid ke .

8 Joli ini jelas milik Liong-bun Pan cu, ternyata kedelapan pemikulnya itu sekaligus melompat tinggi keatas..

Bila hadirin melihat jelas, sementara Joli sudah meluncur turun menindih kearah sebuah meja, maka seorang telah ditungkrup didalam tandu, terdengar suara mengeluh perlahan didalam tandu.

Baru orang banyak melihat jelas orang yang di-tungkrup tandu besar ini bukan lain adalah laki-laki tua yang semeja dengan Lui Ang-ing dan Hu-lo Popo.

/ Harus dimaklumi bahwa hadirin tidak tahu siapa laki laki tua itu, namun pembaca tentu sudah menduga, bahwa laki-laki tua ini adalan samaran Cia Ing-kiat.

Kejadian berangsung secepat itu, baru saja Cia Ing-kiat merasa angin besar menindih turun, tahu tahu pandangan gelap, tubuhnya sudah terjaring kedalam tandu, kejap lain urat nadinyapun sudah terpegang seorang.

Gerak gerik delapan pemikul tandu ternyata amat lincah dan cekatan, begitu joli berhasil menjaring Cia Ing-kiat, delapan orang satu gerakan, ditengah samberan angin puyuh, mereka langsung menerjang kearah luar.

Jeritan kaget terpacu dengan bentakan gusar tampak orang aneh itu mengayun kedua tangannya.

"Plak, plak"

Dua kali tamparan telak memukul dua kepala orang pemikul joli.

Kontan batok kepala, kedua pemikul joli remuk dan melerak penyok, hingga bola matanya mencotot keluar dan bergandung di-pinggir hidung, sudah tentu keadaannya amat mengerikan, padahal jiwa mereka melayang seketika.

Delapan pemikul tandu ini empat didepan empat dibelakang setelah dua terpukul mampus pemikulnya tinggal enam orang, empat didepan dua dibelakang, tampak daya laju tandu besar ini tidak terhambat karenanya, luncurannya masih secepat anak panah, hadirin hanya melihat bayangan berkelebat tahu-tahu tandu besar itu sudah melesat keluar dari balairung.

Dua pemikul tandu yang sudah mati itu ternyata masih ikut melangkah delapan langkah kedepan, agaknya gerakan serempak delapan orang itu terlalu cepat sehingga jiwa yang melayang seketika itu masih belum menghentikan gerakan mereka, delapan langkah kemudian baru mereka terjungkal jatuh, Sekali menghardik orang aneh itu melompat terbang mengudak kedepan, disaat tubuh orang aneh terapung diatas tandu, baru kedua orang yang dipukulnya mati itu roboh.

/ Kejadian hanya sesingkat kilat menyambar, tahu tahu tandu sudah meluncur keluar dikejar orang aneh.

Dari dalam balairung orang banyak masih sempat melihat dipikul enam orang, tandu itu sudah meluncur keundakan batu.

Sementara orang aneh menuiuk kaki ditanah, laksana burung besar tubuhnya melambung keatas lalu menukik kebawah dengan tubrukan kilat.

Betapa hebat dan lihay gerakannya sungguh jarang terlihat.

Gerakan kedua pihak teramat cepat, walau jago-jago kosen banyak terdapat dalam balairung, sampai Kui-bo Hun Hwi-nio sendiripun tidak sempat bertindak, Dia orang aneh hampir mencapai pucuk tandu dari dalam tandu mendadak meledak bentakan nyaring, hadirin kenal betul bentakan nyaring Liong-bun Pangcu, mendadak ,.Crot"

Dari atas tandu menyemprot keluar sejalur panah air, begitu meluncur di-udara lantas muncrat, sehingga daya jangkaunya lebih luas, ke manapun orang aneh berkelit pasi tak luput dan semprotan air itu.

Orang banyak yang berada dalam balairung seketika mengendus bau amis busuk, jelas air yang menyemprot itu beracun jahat.

Padahal orang aneh itu sedang menubruk kebawah, begitu disemprot air, terdengar dia menggerung sekali, entah bagaimana tubuhnya melenting hingga mumbul lebih tinggi lagi.

Dalam sekejap ini tandu itu sudah melesat delapan tombak jauhnya.

di udara orang aneh bersalto beberapa kali, setelah semprotan air beracun itu jatuh menyentuh lantai didepan pintu baru diapun meluncur turun pula.

Semprotan air hitam itu mengeluarkan asap kelabu dan suara bakar waktu menyentuh lantai.

Setelah asap kelabu itu lenyap ditiup angin, tampak lantai di mana kecipratan air itu berlobang kecil dalam.

/ Orang banyak tidak mengira kalau air hitam itu beracun sejahat itu.

Bila orang aneh itu hinggap diatas tanah, tandu itupun sudah meluncur kebawah lewat undakan, terdengar bentakan dan jeritan semakin jauh, orang-orang Hiat lui-kiong yang coba menghadang tiada satupun yang selamat.

Makin lama bentakan dan jeritan itu makin jauh.

Mendadak Kui-bo mengeluarkan suitan panjang, serunya .

..Menerima tidak dibalas kurang hormat.

Selanjutnya Liong-bun-pang kalian pun jangan harap bisa tent ram jangan menyesal akan perbuatan yang tercela hari ini."

Suara Kai-bo keras kumandang hingga terdengar sampai jauh.

Maka terdengar jawaban Liong bun Pangcu dari kejauhan di-bawah sana .

..Selalu kami siap menyambut kedatangan kalian Cia-siaucengcu berada di tempatku pasti mendapat pelayanan sewajarnya."

Kedengarannya suara Liong bun Pangcu sudah belasan li jauhnya, karena orang bertindak cepat diluar dugaan lagi hingga Kui-bo tidak sempat bertindak, apalagi Cia Ing-kiat jatuh ketangan mereka, apalagi dia dapat menilai kedelapan pemikul tandu itu walau tampangnya biasa saja, tapi Ginkang mereka ternyata mirip dengan kepandaian Tay-bok-sin-eng (elang sakti dari padang pasir) Ling It cu yang menjagoi jagat dengan Thi-hun-ceng itu, hal ini membuat hatinya agak jeri, tahu dikejar juga takkan kependak, meski hati amat gusar, dia tidak berani sembarang bertindak, apalagi kalau tidak berhasil merebut balik Cia Ing-kiat diri sendiri yang akan malu.

Di bawah puncak adalah sungai, Liong-bun-pang datang dari perairan, anggotanya mahir permainan dalam air.

bila mereka sudah tiba dibawab gunung, jelas dirinya takkan bisa menyandaknya lagi.

maka dia hanya menggertak dengan suaranya, diluar dugaan jawaban Liong bun Pangcu menyatakan bahwa Cia Ing kiat sudah berada di-tangannya.

/ Jawaban Liong bun Pangcu menimbulkan reaksi yang menghebohkan dalam balairung, sudah tentu reaksi paling keras datang dari Kui-bo Hun Hwe-nio.

Sejak muncul pertama kali tadi Kul-bo meiihat Hu-lo Popo, pada hal dia tahu orang ini bukan Hu-lo Popo asli, tapi samaran seorang yang memiliki Kungfu jauh lebih tinggi dari Hu-lo Popo, disamping diapun sudah mengenali Mau-po cu Kim-nou-po, maka terhadap laki-laki tua yang satu itupun dia juga menaruh sedikit perhatian.

Tapi mimpipun tak pernah terpikir dalam benaknya bahwa laki-laki tua yang tidak menyolok ini adalah Cia Ing-kiat.

Kui-bo tidak tahu berdasar apa Liong-bun Pangcu tahu bahwa Laki-laki tua ini adalah samaran Cia Ing-kiat, maka waktu musuh bertindak, dia tidak berusaha mecegah jelas bahwa Liong bun Pangcu berpandangan lebih tajim dari dirinya.

Setelah suara Liong bun Pangcu lenyap, tampak orang-orang Hiat-lui-kiong yang bertugas diluar berlarian datang berdiri di luar pintu, sikap mereka tampak gusar dan takut.

Sementara orang aneh itupun pelan-pelan berputar kembali.

Kui-bo menyeringai dingin, katanya .

"Jadi kau adanya."

Ucapannya ditujukan kepada orang aneh. Orang aneh angkat pundak sambil membuka kedua tangan, katanya .

"Akhirnya kau kenali juga diriku."

"Dari Thian Iau-hong kau menculiknya, dua muridku kau lukai juga. Sekarang dia di gondol orang dari sampingmu pula, bagaimana kau harus memberi pertanggungan jawab?"

Nada ucapan Kui-bo meski kalem dengan tersenyum, namun orang banjak tahu, bahwa hatinya amat gusar dan penasaran.

Kembali hadirin melenggong oleh perobahan yang terjadi diluar dugaan.

Hu li Popo yang bicara dengan Kui-bo.

kedengaran berobah suaranya menjadi orang lain.

/ Setelah tertawa kering duakali.

orang aneh berkata "Jangan kau memancing aku, orang diculik dari sampingku, sudah tentu kuwajibanku untuk merebutnya kembali, tapi setelah kutemukan, dia tetap berada ditanganku."

Kui-bo maju dua langkah, sorot matanya bersinar tajam, orang aneh mengangkat tubuh nya lebih tinggi, terdengar tulang-tulang tubuhnya berbunyi keretekan, mendadak perawakannya menjadi bertambah besar satu kaki.

Kembali hadirin bersuara kaget, memang mereka tidak tahu siapa yang menyaru jadi Hu-lo Pnpo, tapi ilmu hebat tiada taranya dari aliran Hud yang dinamakan Lip te-seng hud, banyak yang pernah mendengarnya Tapi sejak Tat-mo Cosu menurunkan ilmunya setelah menghadap dinding belasan tahun, hanya ada tiga orang yang berhasil meyakinkan ilmu ini.

Dua orang adalah pimpinan tertinggi Siau lim-si, mereka sudah lama meninggal.

Tiga puluh tabun yang lalu.

dalam Siau lim-si muncul seorang jenius, belum genap empat puiuh usianya, ternyata sudah menjadi wakil pimpinan Tat-mo-wan, Kungfunya melampaui orang-orang yang lebih tinggi tingkatannya, dia pun berhasil meyakinkan Lip-te-seng hud.

Namun bagaimana akhirnya dari nasib padri sakti ini, orang-orang Bulim tiada yang tidak tahu, karena dihari tuanya dia terpelet oleh seorang perempuan iblis, dalam semalam beruntun dan melanggar tujuh pantangan perguruan, akhirnya dia diusir dan dipecat dari Siau-lim-si sejak itu jejaknya tfck kelihatan.

Peristiwa ini dulu pernah menggemparkan dunia, karena peristiwa yang memalukan ini Siau lim-si pernah ditutup untuk umum dalam jangka yang tak terbatas.

Siapakah sebenarnya iblis perempuan itu, seorang padri sakti yang sudah tinggi pendidikan agama-nyapun bisa terpelet oleh kecantikannya.

Peristiwa ini banyak ceritanya, satu dengan lain berbeda, namun tiada orang yang benar benar tahu latar belakang / sesungguhnya.

Yang terang sejak peristiwa itu, tiada orang pernah melihat padri sakti itu, Sekarang hadirin mendadak menyaksikan badan Hu-li Popo melar lebih tinggi, demontrasi Lwekang tinggi dari aliran Hud in sungguh mengejutkan semua orang.

Tapi yang paling besar takutnya adalah Kui-bo Hun Hwi nio.

Menghadapi orang aneh yang badannya mendadak melar.

Kui-bo Hun Hwi-nio seperti melihat setan yang menakutkan, mulut terbuka mata terbeliak, jari tangannya menuding orang aneh dengan gemetar, sepatah katapun tak mampu diucapkan.

Begitu tubuhnya melar bahan make-up dimuka orang aneh itupun ngelotok dan rontok, dalam sekejap pulihlah dia dalam wajah aslinya sendiri, tampak selembar mukanya berkerut keriput, karena tubuhnya melar betapa kereng dan gagah perbawanya sayang mukanya yang penuh keriput itu seperti lesu dan cemberut seolah-olah selama hidupnya selalu mengalami pahit, getir kehidupan yang luar biasa.

Jari tangan Kui bo yang menuding mungkin bergetar keras, mendadak suara melengking gemetar tercetus dari mulutnya."Kau, ternyata kau."

Orang aneh itu menghela napas panjang tubuhnya yang melar pelan-pelan mengkeret lagi seperti semula, katanya."Memangnya siapa kalau bukan aku?"

Lalu dia membalik menggapai kepada Lui Ang-ing.."Marilah kita pergi."

Lui Ang-ing mengiakan, sebat sekali dia meluncur dari samping orang aneh, orang aneh ini.juga sudah beranjak pelan-pelan, sikap Lui Ang-ing kelihatan tegang mengintil dibelakang orang.

"Jangan pergi."

Mendadak Kui-bo Hun Hwi-nio menghardik dengan suara nyaring.

/ Berapa keras hardikan Kui-bo, hingga hadirin merasa telinganya pekak, ada yang genderang teliannya pecah, sehingga kupingnya mendenging sekian lamanya.

Tapi orang aneh itu seperti tidak mendengar, langkahnya tetap beranjak kedepan.

Kui-bo bersuit panjang, kedua tangannya mendadak terayun telapak tangan yang semula putih mendadak berobah merah darah, terutama kuku jarinya berobah ungu begitu tangan terayun badan-nyapun meluncur kedepan, jari-jarinya mencengkram kepunggung orang.

Cengkraman Kui-bo Hun Hwi-nio padahal ditujukan kepunggung orang aneh, tapi orang-orang dalam balairung menjadi ribut, Kaiena serangan ini bukan lain adalah Hwi-in jiau hun salah satu dari tujuh ilmu tunggal Kui-bo yang lihay, hadirin banyak yang tahu kehebatan ilmu cengkraman ini.

Betapa pun cepat gerakan lawan, umpama berhasil meluputkan diri, tapi bila kuku jari Kui-bo berhasil menggores luka kulit badanmu racun diatas kukunya itu akan bekerja dibadan musuh, berarti jiwanya tak tertolong lagi Tadi betapa santai gerakan Lui Ang-ing waktu menyampuk benang merah Hun Lian, tapi sekarang dia tak berani ayal segera mendahului melayang keluar.

Bila kesepuluh jari Kui-bo bak cakar elang itu hampir mengenai sasarannya, orang aneh itu baru putar badan berdiri tegak tak bergerak, sorot matanya memancarkan cahaya tajam mengawasi Kui-bo Hun Hwi-nio.

Dalam sedikit itu, kedua tangan Hun Hwi-nio yang mencengkram tiba dengan kecepatan luar biasa itu mendadak terhenti ditengah udara.

Sepuluh kuku jarinya yang panjang, terpaut satu kaki didepan muka orang aneh, tapi ujung mata dan bibir nya tampak kedutan, matapun terbelalak entah apa yang terpikir dalam benaknya.

Sekejap orang aneh menatap Kui-bo lalu memejam mata, katanya .

"Kau sudah tahu siapa aku, masih berani kau hendak menyerangku ? Sumpahmu dulu belum kulupakan, tak segan aku bertindak boleh kau pikir-pikir lagi." / Apa maksud ucapan orang aneh, hakikatnya hadirin tidak ada yang tahu. Tapi Kui-bo Hun Hwi-nio amat maklum, tampak kulit mukanya semakin pucat dan mengejang ditengah pekikannya yang beringas, sepuluh jarinya mendadak mencakar turun. Jarak sedekat itu. cakaran dilancarkan dengan pekik yang bernafsu lagi, sudah tentu serangannya hebat dan dahsyat. Tampak orang aneh tetap berdiri tak bergerak, begitu jari-jari Kai-bo menyerang tiba tubuhnya mendadak meluncur mundur beberapa kaki. Mengikuti badan lawan yang mundur makin jauh, kedua lengan Kui bo ternyata juga bisa mulur makin panjang, cakar tangannya serabutan mengincar muka orang aneh. baiu sekarang orang aneh terpaksa menggelakan tangannya. Hakikatnya tiada orang melihat bagaimana orang aneh turun tangan, terdengar suara "Tas, tas, tas...'' sepuluh kati, secepat kilat tubuh Kui bo kini yang tertolak mundur sepuluh langkah, seiring dengan suara "Tas, tas,'' itu beberapa benda entah apa berjatuhan diatas lantai. Kui-bo mundur cepat dengan kekuatan yang luar biasa, hingga dua meja kursi yang ditumbuknya hancur berantakan, untung hadirin sudah menyingkir sejak tadi, tiada satupun cidra. Setelah Kui-bo mundur cukup jauh baru hadirin melihat jelas, jari jainya masih terkembang namun kuku-kuku jarinya sepanjang dua tiga dim diujung jarinya sudah patah semua berserakan diatas lantai. Tidak mungkin Kui-bo memutus kuku sendiri, dari hasil gebrak sejurus ini, membuktikan bahwa orang aneh berhasil menjentik putus sepuluh kuku Kui bo. Kalau demikian kenyataannya, maka berita yang tersiar luas dikalangen Kangouw tentang Hud cam-hoa biau-ci dari aliran hud didunia barat menjadi kenyataan, dan hanya ilmu jari menjentik kembang itulah yang memiliki kesaktian yang luar biasa, seperti juga dengan Lip-te-seng-hud tadi, keduanya / adalah Kungfu taraf tinggi dari aliran Hud-bun yang tiada bandingannya. Dari sini dapat puta disimpulkan bahwa orang aneh ini agaknya dari aliran Hud? Mau tidak mau orang menduga bahwa orang aneh ini kemungkinan besar adaiah padri sakti yang dahulu diusir dan dipecat dari Siau-iim-si dulu. Dari nada percakapan mereka, kedengarannya orang aneh ini memang sudah lama kenal dan punya pertikaian dengan Kui-bo Hun Hwi nio. Maka orang akan menduga lebih lanjut bahwa iblis perempuan yang memelet padri sakti itu hingga dia melanggar tujuh pantangan perguruannya itu bukan lain adaiah Kui-bo Hun Hwi-nie. Hadirin masih celingukan bingung, dalam waktu singkat sukar mereka menemukan jawaban dari perkembangan yang lebih lanjut, terdengar Hun Lian menjerit keras.

"Bu. bu."

Sambil berteriak Hun Lian memburu kearah sang ibu serta memeluknya, Hun Hwi-nio juga balas memeluknya.

Lekas sekali orang aneh sudah membalik dan melangkah pergi.

Lui Ang-ing mendekati lalu melangkah bersama keluar balairung.

Jago-jago yang hadir tiada yang merasa kaget dan jeri, mereka kabur setelah didepan umum Hun Hwt-nio kecudang, bila sifat gilanya kumat, bukan mustahil dia bertindak jahat terhadap para tamunya, maka mereka menyesal kenapa hari ini berada di sini.

Tampak Kui-bo Hun Hwi-nio masih melotot gusar, napasnya sengal sengal sambil kertak gigi, kulit mukanya masih kedutan, seringainya amat seram menakutkan.

Siapa tidak giris dan merinding melihat tampang Kui-bo yang benar sesuai julukannya (induk setan).

Tapi hanya sekejap, setelah telapak tangannya menepuk tiga kali dipunggung putrinya, dia dorong Hun Lian mundur, wajahnya sudah berobah seperti semula, penuh senyum dan ramah perobaban terjadi hanya waktu singkat, keadaannya / seperti dua orang yang berbeda.

Sambil tertawa dia mengebas lengan baju, kutungan kuku jarinya yang berserakan dilantai digulungnya semua.

Lalu katanya lantang.

"perobahan tak terduga terjadi atas pernikahan putri tunggalku ini, terpaksa soal jodohnya kita kesampingkan dulu."

Beberapa orang yang merasa lega seperti mndapat pengampunan saja, mumpung urusan tidak berlarut panjang, lekas mereka berdiri serta berkata .

"Kalau demikian baiklah kami mohon diri saja.'' Seperti tidak terjadi apa-apa, Hun Hwi-nio berkata.

"Kenapa buru-buru, bukankah pernikahan Gin-koh. dengan Thi giam ong masih bisa dilangsungkan dan dimeriahkan, demikian pula janji yang pernah kuucapkan, tetap takkan berobah. untuk ini mohon hadirin menunggu dengan sabar."

Jago-jago yang hadir saling adu pandang semua tak bisa mengimbil keputusan, maka beberapa tokoh kosen seperti Oh-sam Siansing Pak-roSuseng dan lain lain menjadi sasaran pertanyaan mereka, jelas secara tidak langsung mereka sudah terangkat menjadi pimpinan orang banyak.

Jago-jago kosen ini semua menerima kartu nndangan baru mereka mau datang ke Hiat-lui-kiong, dalam undangan dicantumkan janji oleh tuan rumah bagi yang datang akan diberi sebuah biji teratai darah yang berusia seratus tahun.

Konon biji teratai darah itu hanya sebesar kacang ijo.

kasiatnya dapat menambah tenaga, amat berguna bagi kaum persilatan.

Pesta pernikahan ini merupakan pertemuan besar kaum persilatan yang belum pernah terjadi belasan tahun, yang hadir juga pasti jago-jago kosen.

Dia mulai berangkat naik kapal sampai didalam balairung ini, kejadian demi kejadian, perobahan terus berlangsung semakin tegang, hingga hadirin semakin tidak tentram ingin tinggal pergi tanpa hiraukan biji teratai segala, namun / gelagatnya Hun Hwi-nio tidak akan mengidzinkan mereka pergi, maka kebanyakan orang menjadi bimbang.

Mereka mengharap Oh-sam Siansing yang terpandang diantara mereka bisa memberikan keputusan mereka pasti akan mendukungnya, setelah beradu pandang dengan Pak-to Suseng, maka Oh sam Siansing berkata dengan tertawa ;

"Urusan intern tuan rumah tak berani kami orang luar turut campur, apalagi harus mengganggu, sungguh tidak enak jadinya "

"Tidak jadi soal. Kejadian hari ini pasti akan kuselesaikan dengan baik, kalian tidak usah kuatir "

"Baiklah, kami terima saja kehendak tuan rumah."

Ucap Oh-sam Siansing.

Jago jago kosen yang lain sependapatan dengan Ob-sam Siansing, maka mereka sambut keputusan ini dengan tepuk tangan riuh, suasana yang tadi tegang kini berobah riang pula.

Hanya Hun Lian yang mengerut alis, menunduk kepala sambil cemberut tanpa bersuara.

Jago-jago kosen yang hadir dalam Hiat-lui-kiong ini berpendapat.

Oh sam Siansing punya kepandaian, pengalaman yang luas, kedudukannyapun diagungkan, mengikuti langkahnya pasti takkan keliru.

Tapi kehidupan Bu-im memang serba jahat, culas dan telengas, liku-likunya sukar diraba, setiap orang pasti punya rasa egois, bukan mustahil demikian pula sifat Oh sam Siansing?

Kungfu Oh sam Siansing memamg amat tinggi, tapi bagi seorang yang pernah meyakinkan Khi kang aliran Lwekeh, makin tinggi Lwekangnya, keinginan mencapai tahap yang lebih tinggi juga makin besar dan makin sukar.

Bagi yang bakat sendiri kurang memadai, bila mencapai taraf tertentu, boleh dikata akan terhenti, meski betapapun kau giat dan rajin latihan juga takkan berguna jadi suatui mu bukan tergantung dari lati uan meiulu, meski latihan lebih kerap dan menggembleng diri / sekalipun juga tidak akan mencapai kemajuan kalau bakatmu sendiri memang terlalu tidak becus.

Oh sam Siansing dan Pak-to Suseng selama dua tanun ini sudah giat berlatih, namun mereka merasakan, tidak mencapai kemajuan sedikitpun.

sebetulnya taraf kepandaian yang sudah mereka capai cukup memuaskan, namun sifat manusia memang tidak kenal puas.

sehingga sering terjadi huru-hara lantaran ingin mengejar kepuasan belaka.

Padahal betapa tinggi kepandaian dan kedudukan kedua orang ini.

bahwa mereka jauh-jauh menepati undangan itu.

tidak lain karena ingin mendapat biji teratai untuk bantu mencapai latihan mereka.

Makin tinggi Lwekang sipemakai makin besar manfaatnya.

Bila kedua orang memperoleh bentuan biji teratai, maka tidak sukar untuk menembus jalan untuk yang selama ini menghambat kemajuan mereka.

Maka janji Kui-bo akan memberi biji teratai itu betul-betul merupakan daya tarik luar biasa sehingga mereka lupa daratan.

Selama ini kedua orang ini menyangka kemampuan mereka sudah jarang ketemu tandingan, umpama gagal memperoleh biji teratai juga tidak jadi soal.

Sayang sekali sebelum naik keatas kapal beruntun kedua orang ini sudah kecundang, tanpa menampilkan diri Liong-bun pangcu mampu menggondol orang dari depan mata orang banyak, betapa hebat permainan Siau-pocu dari Kim-hou-po, dua kali demonstrasi ilmu aliran hud oleh orang aneh, membikin orang banyak pusing berkunang-kunang, ini menandakan bahwa diluar langit masih ada langit, orang pandai ada yang lebih pandai.

Seumpama Kim-bo Hun Hwi mo menjilat ludah dan ingkar janji, mereka juga tidak akan berpeluk tangan.

Ternyata Kim-bo Hun-Hwi,nio masih bersikap ramah dan menyatakan akan menepati janji, sudah tentu kedua a-rang ini merasa akur.

/ Celaka adalah orang-orang gagah lain yang tidak tahu maksud pribadi kedua tokoh yang egois ini, karena mereka tidak pergi, yang lain-lain juga mengikuti jejaknya.

Diluar sadar mereka, kehadiran mereka di Hiut-Lui-kiong ini akhirnya akan menimbulkan tragedi yang mengenaskan dalam kalangan bulim.

Waktu Cia lng kiat masih berada di balairung dia kira Kui-bo Hun Hwi nio sudah mengenal dirinya setelah Li-pi-lik berkaok memanggil nama samarannya, ternyata dugaannya meleset.

Hal ini baru dia sadari setelah Liong bun Pangcu bertindak, tahu-tahu dirinya sudah tertutuk Hiat-to dan di gondol pergi dalam tandu.

Meski Hiat-to tertutuk namun Cia Ing-kiat masih sadar dan mata juga bisa melibat dalam tandu gelap gulita, terasa tandu sedang bergerak secepat terbang, kegaduhan terus berlangsung diluar, tapi apa yang terjadi dia tidak tabu.

Ruang tandu tidak begitu besar, terasa oleh Cia Ing kiat, Liong bun Pangcu berada di depannya.

Tapi keadaan gelap, bahwasanya dia tidak bisa melihat tampang Liong-bun Pangcu, Terasa tandu meluncur makin cepat kebawah.

tapi Liong bun Pangcu tenang-tenang duduk santai, katanya .

"Jangan takut, apapun ditempatku ini lebih baik di banding dibawah cengkraman tua bangkotan itu dan ditangan siluman perempuan Kim-hou-po itu."

Karena Hiat to tertutuk.

mengerahkan tenagapun tidak mampu, maka mulutpun tak bisa bicara.

Sehabis Liong-bun Pangcu bicara tandu mendadak seperti mumbul keatas.

lalu meluncur turun pula, seolah-olah para pemikul tandu melompat tinggi bersama lalu anjlok kebawah pula.

Dalam sekejap itu Cia Ing-kiat tidak tahu berapa daiam tandu itu anjlok kebawah mendadak terdengar bunyi air, maka daya luncur tdndu berhenti, menyusul suara air dikayuh.

/ Kalau Cia Ing kiat berada diluar tandu pasti dibuat melongo dan kaget, sekaligus dia membuktikan kenapa Liong bun Pangcu selalu sembunyi d dalam tandunya.

Ternyata tandu besar ini serba guna, waktu menerjang keluar dari balairung tadi atap tandu bisa menyemburkan air hitam tengkorak yang beracan dari Se ek, sepanjang jalan menuruni undakan batu tak sedikit pula Am-gi yang melesat keluar merobohkan musuh.

Bila pencegatnya makin besar jumlahnya, ternyata keenam pemikul tandu langsung melompat turun dari ngarai yang terjal dan tinggi.

Ngarai itu tingginya dua puluhan tombak lebih, orang-orang Hiat-lui-kiong yang melihat tandu itu melayang dari atas ngarai mereka kira mereka hendak bunuh diri.

Tak nyana bila tandu itu masih terapung tiga tombak diatas air, kanan kiri tandu mendadak menjulur keluar dua papan lebar panjang hingga daya luncur kebawah banyak tertahan, akhirnya dengan ringan jatuh di permukaan air.

Sigap sekali enam pemikul tandu sudah mencelat keatas papan Lalu melolos pengayuh, bila orang orang Hiat-lui-kiong mengejar turun dan membidik dengan panah mereka sudah meluncurkan tandu itu cukup jauh tak terkejar lagi.

Di dalam tandu Cia Ing-kiat seperti di atas perahu tak lama kemudian terasa segulung tenaga menerjang dada.

rasa sesak seketika longgar, segera dia menegakkan badan terdengar Liong bun Pangcu berkata ;

"Jangan banyak gerak, arus sungai amat deras, kalau kecemplung ke air, tidak boleh dibuat main-main."

Cia Ing-kiat mendengus sekali, katanya;

"Kalau kau kecemplung memang bukan main-main, tapi bagi diriku lebih baik dari pada kau sekap didalam sini."

Liong bun pangcu terkekeh tawa katanya ..Bukan sekali ini kau menjadi sandera orang jangan kuatir, aku pasti tidak akan menyakiti kau." / Cia Ing-kiat menegakan badan, katanya.

"Kungfuku rendah, tidak membekal rahasia besar kaum Bulim. kau berani melawan beberapa jago kosen yang lihay itu meringkusku kemari, apa tujuanmu ?"

"Sudah tentu lantaran putri Kui-bo ingin kawin dengan kau. Kau harus tahu Kui-bo hanya punya seorang putri mestika, kalau putrinya ingin memetik rembulan. Kui bo juga akan mengambilnya, kau jatuh ketanganku, boleh dikata barang bisa dipakai sesuai kebutuhan"

Membara amarah Cia Ing-kiat mendengar komentar orang, namun dia tahu mengumbar adat juga tidak berguna. maka dia menekan gejolak hatinya. Terdengar Liong bun Pangcu berkata pula.

"Kali ini Kui bo meminjam alasan menikahkan putrinya, mengundang banyak jago jago kosen ke Hiat-lui kiong dengan janji akan memberi sebutir biji teratai, padahal aku yakin dia punya maksud tertentu yang jahat, sayang mereka tidak menyadari telah tertipu"

Cia Ing-kiat hanya memikirkan posisi sendiri, bagaimana meloloskan diri, bahwasanya apa yang diusapkan oleh Liong bun Pangcu tidak didengarnya sama sekati.

Liong-bun Pangcu masih terus mengoceh.

,,Kui-bo punya ambisi besar untuk menguasai dunia, maka dapat diduga, dalam kalangan Kangouw kelak, kecuali Kim hou po dunia akan dikuasai oleh kekuatan Hiat-lui kiong.

Sebagai Pangcu dari Liong hun pang betapapun aku harus memikirkan masa depan Liong-bun pang.

biar kita tiga pihak saling berlomba"

Mendengar sampai sini baru mendadak Cia Ing kiat mendengus hidung, katanya.

, Enak saja kau berpikir, betapa banyak kaum persilatan yang berkepandaian tinggi, terutama dari jago-jago muda aliran besar kenapa kau hanya bilang tiga pihak belaka" / Liong-bun Pangcu terloroh-loroh, katanya.

,.Selama beberapa tahun terakhir ini, jago-jago kosen dari golongan lurus maupun aliran sesat secara mendadak telah lenyap tak karuan parannya, lalu ke mana mereka pergi?"

Tergerak hati Cia Ing kiat, segera dia teringat akan pengalamannya di Kim hou-po, katanya.

"pergi .... ke Kim-hou po."

Liong-bun Pangcu tertawa lebar pula, katanya.

"Kalau kukatakan, aku mempunyai daftar nama-nama jago-jago kosen dari berbagai aliran besar kecil yang berada didalam Kim hou-po, kau percaya tidak?"

Tanpa pikir Cia Ing kiat menjawab."Tidak percaya."

"Kau tidak percaya"

Jengek Liong bun pangcu tertawa dingin "lantaran tiada orang bisa keluar Kim hou po dengan leluasa, apa lagi menyampaikan berita kepadaku, begitu?

' Cia Ing-kiat sadar bahwa dirinya berada ditempat gelap namun dia menganggukan kepala.

Ternyata Liong-bun Pangcu seperti melihat gerakan kepalanya, segera dia tertawa pula.

katanya.

"Mungkin kau hanya tahu burung dara pos dapat membantu manusia mengantar berita. Maka kau pasti tidak tahu disuatu pulau dilautan teduh sebelah timur, tanahnya hitam subur, di sana ada sejenis burung kecil sebesar ibu jari kaki kecepatan terbangnya luar biasa. Didalam Kim-hou-po ada agen yang kutanam di sana, dengan burung kumbang itulah, dia sering memberikan informasi kepadaku"

Cia Ing-kiat menarik napas panjang, dalam pendengarannya apa yang diucapkan Liong bun Pangcu seperti dengan dan hayalan belaka, setelah melenggong sesaat dia berkata "Bagaimana kau tahu adanya jenis burung kecil yang pandai membantu manusia ini?" / "Jejakku tersebar luas diseluruh dunia.

Dunia yang kalian maksud hanya dari Kun-lun-san sampai laut timur, keselatan Lam-hay, utara adalah padang pasir.

Memangnya siapa tahu kecuali itu dalam jarak yang lebih jauh masih ada dunia lain."

Tersir p darah Cia Ing-kiat, serunya.

"Jadi kau..."

Liong-bun Pangcu tertawa, katanya;

"Memangnya kau tidak merasa bahasa Hanku agak kaku dan logatku tidak sama dengan nada ucapanmu ?"

Tanpa sadar Cia Ing-kiat mengangguk kepala, pada saat itulah pandangannya men-dadak menjadi terang, jelas tampak oleh Cia Ing kiat didepannya duduk seorang aneh.

perawakannya tinggi besar luar biasa, rambutnya bewarna kuning emas dan kriting, kedua matanya cekung, hidungnya besar membetet, dagunya ditumbuhi jambang bauk yang lebat, juga kuning emas, namun kulit badannya justru putih seperti susu, lebih aneh lagi seluruh lengan hingga punggung telapak tangannya ditumbuhi bulu panjang bewarna kuning emas pula, hingga sekilas pandang apalagi dalam kegeiapan susah dibedakan dia manusia atau binatang.

Cia Ing-kiat terlengong sekian saat tak mampu buka suara.

Liong bun Pangcu malah tertawa, katanya .

,,Jangan kuatir, seperti engkau, akupun-manusia biasa bukan mahluk aneh, tapi betapa besar dunia ini, suku bangsa manusia teramat besar, pengetahuanmu sendiri yang terlalu cupat.

jarang melihat maklum kalau merasa heran."

Walau hati kaget dan heran, namun melibat sikap orang ramah, maka Cia Ing-kiat coba memancing "Jadi kau......kau datang dari mana "

Liong-bun Pangcu tertawa, katanya.

"Ku-jelaskanpun kau tidak akan mengerti, ketahuilah, sudah lama aku meninggalkan rumah, belajar kepandaian di Thian-tiok, yang kupelajari adalah ilmu tingkat tinggi secabang dengan aliran Tat-mo Cosu, bermukim di Tiongkok sudah puluhan tahun." / sampai di sini cerita Liong bun Pangcu, cahaya benderang di dalam tandu mendadak sirna. Waktu cahaya mendadak benderang tadi. perhatian Cia Ing-kiat tertuju kepada bentuk Liong-bun Pangcu yang aneh dan ganjil, mata tidak sempat dia perhatikan dari mana datangnya sinar benderang itu. Karuan hatinya serba bingung dan gundah, sesaat dia tak mampu bersuara. Liong-bun Pangci bertanya pula.

"Sekarang, yakin kau sadari percaya bahwa aku bukan membual ?"

Cia Ing kiat menarik napas, katanya."Tapi jago iago yang ada di Kim hou-po. kukira takkan bisa menimbulkan onar lagi dikalangan kanguow"

Liong-bun Pangcu tertawa, katanya.

"'Seorang bila sudah meyakinkan Kungfu, seumpama ulat didalam perutmu bagaimana juga kau takkan bisa mengabaikannya demikian saja'."

Bergetar perasaan Cia Ing kiai mendengar komentar Liong-bun Pangcu, namun bila dipikirkan secara teliti, komentarnya itu memang mengandung kebenaran.

Keadaan jago-jago dalam Kim hou-po memang kurang wajar, mereka seperti terkendali dan tunduk oieh kewibawaan sang Pocu dan Siau pocu sehingga semua hidup tertekan, bila Kim hou-Pocu punya ambisi mengkoordinir jago jago lhay itu.

Diam diam Cia Ing-kiat merinding, katanya.

"Lalu orang macam apa sebetulnya Kim-hou Pocu, apa kau tahu?"

Liong bun Pangcu menjengek dingin. katanya .

"Kau sudah tahu dan kenal putrinya, memangnya kau tidak tahu ?"

Tersirap darah Cia Ing kiat, Lui Ang-ing adalah Sau pocu dari Kim-hou po.

hal ini sudah gamblang dan tak perlu disangsikan iagi, sekarang Liong-bun Pangcu berkala demikian, maka Kim-hou Pocu pasti seorang she Lui.

tapi setahu Cia Ing-kiat belum pernah dia dengar ada seorang tokoh Bulim she Lui yang pernah menjagoi dunia persiiatan.

/ Menilai situasi di Kim-hou-po, maka dapat dibayangkan bahwa Kungfu sang Pocu masih jauh lebih tinggi dibanding Kui-bo Hun Hwi-nio dan orang aneh itu, kalau tidak, sekian banyak jago-jago silat dari golongan hitam maupun putih, begitu masuk Kim hou-po lantas tunduk dan patuh ?

Maka dapatlah dibayangkan bahwa Kim hou Pocu adalah tokoh besar Bulim.

sepantasnya namanya cukup menggetar dunia persilatan, namun kenapa kenyataan tak terkenal.

Maka terbayang oleh Cia Ing-kiat akan orang aneh itu, betapa tinggi Kungfu orang aneh itu, namun bagaimana asal usul dan siapa namanya, ternyata jarang orang tahu ?

Maka dari sini dapat disimpulkan, bahwa seseorang yang terkenal didunia persilatan belum tentu dia jago besar sejati, jago kosen tulen mungkin berdiri d hadapanmu, namun kau tidak tahu atau tidak mengenalnya.

Cia Ing-kiat menghela napas, katanya setelah merenung sekian saat .

.Kungfuku rendah.

Kim-hou Pocu punya ambisi apa, tiada sangkut pautnya dengan aku, lalu apa gunanya kau menculikku?"

Liong bun Pangcu gelak-gelak, katanya .

"Bersama putri Kui-bo, didalam Kim hou-po kau sudah mencuri satu benda, betul tidak?"

Cia Ing-kiat tertawa getir, ujarnya . Betul tapi benda itu tak berada ditangan-ku, sudah direbut oleh nona Hun."

"Betul, karena itu maka aku menculikmu kemari, akan kutunggu Hun Lian kemari membawa benda itu, untuk barter dengan dirimu "

Cia Ing-kiat geli dan dongkol, katanya;

"Benda itu dinamakan Tiok-kip-pit lo. dalam lembaran rangkaian bambu itu terdapat catatan diskusi Kungfu dan dua puluh satu jago top dunia dipuncak Kun-lun puluhan tahun yang lalu. kaum persilatan bila sempat mempelajari ilmu yang tercatat / didalamnya kungfunya akan maju lipat ganda, mana mungkin dia membarter diriku dengan benda itu ?" ,,Kukira sulit diduga,"ucap Liong-bun Pangcu.

"Seorang gadis bila mencintai seorang jejaka, dia rela berkorban jiwa apalagi hanya mengorbankan benda yang tak berarti itu."

Masgul hati Cia Ing-kiat, maka dia tutup mulut.

Ternyata Liong-bun Pangcu juga tidak bersuara lagi.

kira-kira satu dua jam kemudian, mendadak tunduk terasa bergetar Setelah itu berhenti sejenak, menyusul tandu ini seperti mendarat, mulai bergerak pula turun naik seperti dibawa lari diatas pikulan.

Gundah hati Cia Ing-kiat.

dia tidakhabis mengerti, kenapa Hun Lian jatuh cinta kepadanya, padahal sebelum ini belum pernah terbayang olehnya bahwi Hun Lian adalah gadis secantik itu, disaat perasaannya timbul tenggelam itulah, dia hanya memikirkan satu hal.

yaitu, bila dia bisa menjalin perjodohan dengan Hun Lian, suami isteri meyakin kan ilmu yang tercatat didalam Tiok-kip-pit-po, maka hidupnya ini tak perlu menyesal.

Namun sekarang dirinya jatuh di-tangan Liong bun Pangcu, dari perawakan dan tampangnya yang aneh, jelas bahwa Liong-bun Pangci pasti bukan orang Tionghoa namun kepandaiannya hebat, susah dirinya loios dari belenggunya, terpaksa dia menunggu Hun Lian untuk menolong dirinya.

Cia Ing-kiat sedang berangan angan, sementara tandu terus laju kedepan, kepekatan dalam tandu menambah perasaan Cia Ing-kiat gundah gulana, saat itulah mendadak dia mencium yang harum semerbak, harum yang menyegarkan badan, namun rasa kantuk segera merangsang dirinya pula, kejap lain sekujur badan sudah lemas, lalu dia meringkel lemas dan tertidur pulas, tidak sadarkan diri lagi.

0oo0 Kini kami kembali ke Hiat lui kiong Tak lama kemudian suasana bertambah ramai dalam balairung, suara musik dan / nyanyian menyambut keluarnya Utti Ou yang beranjak keluar dengan pakaian penganten yang baru, dipapah oleh sepasang pengapit, langsung menuju kepelaminan.

Setelah berdandan tampak Thi-giam-ong Utti Ou bersikap kikuk dan malu-malu.

sikapnya seperti risi dan tak tenang duduk, namun demi mempersunting Gin Koh sebagai isterinya terpaksa dia menahan diri.

Tak lama kemudian Gin koh juga keluar, sudah tentu sudah mengenakan pakaian pengantin juga, kepalanya ditutupi selembar kain merah, dipapah keluar oieh dua gadis jelita.

Hadirin semuanya tokoh-tokoh Bulini yang berkepandaian tinggi, tiada satupun di-antara mereka yang tidak merasa geli dan lucu bahwa kedua gembong iblis berlainan jenis ini, secara kilat telah menjadi suami isteri.

Sementara pelayan Hiat-lui-kiong mulai menghidangkan berbagai masakan yang enak dan luar biasa, arak harum nomor satu tidak ketinggalan, hadirin makan minum riang gembira, kejadian yang menegangkan tadi sudah dilupakan sama sekali.

Sekian jam lamanya pesta pernikahan ini berlangsung, mendadak terdengar suara tambur ditabuh gema tambur mengejutkan seluruh hadirin, baru sekarang mereka sadar bahwa Kui-bo dan putrinya entah sejak kapan meninggalkan ruang perjamuan, disaat hadirin celingukan itulah mendadak semua mengendus bau wewangian yang harum sekali, semangat mereka seketika menyala hingga semua menegakkan tempat duduknya, suasanapun bening.

Lekas sekali suara tambur berhenti, tampak Kui bo Hun Hwi-nio berdampingan dengan putrinya Hun Lian berjalan masuk.

Kedua tangan Hun Lian membawa sebuah nampan dari baiu pualam sepanjang tiga kaki, dialas nampan itu terdapat dua puluhan kuntum kembaug teratai sebesartinju bewarna merah setiap kuntum teratai terdapat dua belas biji buah teratai, bau harum semerbak itu datang dari nampan pualam itu.

/ Berseri cerah roman muka seluruh hadirin, agaknya Kui-bo Hun-hwi nio dapat dipercaya, dia akan menepati janji membagi biji teratai kepada tamu-tamu yang hadir.

Kui-bo Hun Hwi-nio dan Hun Lian berdiri ditengah ruangan, suasana hening lelap, maka suara Hun Hwi-nio terdengar jelas dan nyata.

"Hadirin sekalian. Teratai darah hanya berbuah enam puluh tahun sekali, sekarang sudah saatnya buahnya matang, terima kasih akan kehadiian dalam pesta perjamuan ini, bersama ini setiap hadirin kuhaturi sebutir biji teratai, yakin perjamuan ini tetap meriah."

Mendadak terdengar suara percikan yang perlahan namun ramai dan cukup panjang dari atas nampan, ternyata teratai diatas nampan itu satu persatu mulai mengering terus merekah, biji tertiai berjatuhan diatas nampan dan bergelinding kian kemari.

Hadirin melihat jelas biji teratai itu sebesar kacang, semuanya bulat berwarna kehijauan gelap dilingkari jaiur benang warna merah, diantara hadirin tidak sedikit yang luas pengalaman namun sebelum ini mereka hanya pernah dengar, belum pernah saksikan sendiri.

Ternyata setelah biji teratai berjatuhan baru harum tadi semakin tebal, karuan hadirin seperti berlomba saja mengendus-endus sekuatnya, karena baru harum ini mendatangkan gairah dan semangat, dari sini dapat mereka rasakan bahwa berita yang mengatakan bahwa teratai darah adalah bahan utama untuk menambah tenaga bagi seorang pesilat agaknya memang benar.

Semula ada sementara hadirin merasa kecewa dan putus asa setelah terjadinya perobahan yang tidak diharapkan.

Liong-bun Pangcu menculik calon mantu tuan rumah, pesta perkawinan ternyata masih tetap berlangsung dengan Utti Ou dan Gin-koh sebagai penganten-nya kini setelah melihat Hun Hwi-nio betul-betul keluarkan biji teratai baru lega dan senang hati mereka, yang duduk dibelakang malah menyesal kenapa / leher sendiri tidak bisa mulur untuk bisa melihat lebih jelas ratusan biji teratai didalam nampan.

Kui-bo Hun Hwi-nio tetap mengulum senyum,katanya.

"Lion-ji, haturkan biji teratai kepada para tamu, pertama kau haturkan dulu kepada sepasang mempelai."

Dengan pakaiannya yang lembut melambai Hun Lian bergerak lincah dan enteng, hanya sekali melejit sudah melompat kedepan Utti Ou, lekas Utti Ou ambii sebutir langsung dimasukan kedalam mulut.

tanpa dikunyah langsung ditelan, katanya dengan mata mendelik.

"Bagaimana rasanya belum kucicipi, marilah sebutir lagi,"

Sambil bicara tangannya terulur lagi"tapi Hun Lian sudah menyingkir hingga tangan Utti Ou meraih tempat kosong. Karuan hadirin bersorak geli, ada yang berseloroh.

"Seperti babi tak pernah makan apel. mendapat rejeki langsung dicaplok saja, sudah tentu tiada rasanya ada pula yang berseru.

"Ah, kenapa kalian bisa diapusi Dia sengaja membadut untuk memperoleh bagian lebih banyak."

Di tengah sorak sorai hadirin.

Gin-koh juga ambil sebutir langsung dimasukan kemulut Selincah kupu Hun Lian sudah berkelebat pula kearah lain, dimulai dari ujung timur dia bergerak menuju kebarat, dimana dia lewat para tamu ulur tangan mengambil sebutir, semua langsung dimasukan kemulut, ada yang langsung ditelan ada pula yang dikunyah dengan lahap, namun banyak diantaranya setelah menelan biji teratai lantas duduh bersimpuh, namun ada pula yang berdiri atau jungkir balik, maklum yang hadir adaiah jago-jago kosen yang mempelajari berbagai aliran Lwe-kang, dalam latihan sudah tentu mempunyai cara dan gayanya sendiri, dalam waktu singkat ada yang dadanya turun naik, napasnya menderu seperti knalpot, ada pula yang bermuka pucat lalu merah darah.

Yang paling tenang hanya Oh sam Siansing dan Pak-to Su-seng, mereka memejam mata samadi seperti Hwisio menyepi, uap putih mulai mengepul seperti mercu dari kepala / mereka.

Walau keadaan mereka sedikit berbeda, namun itu hanya karena cara latihan yang berbeda, yang terang daiam sekejap ini, mereka sudah mendapat kemajuan yang luar biasa dalam latihan Kungfunya.

Sementara itu Hun Lian sudah berada didamping Hun Hwi-nio.

sekali mengebas degan lengan baju, sisa puluhan butir biji teratai diatas nampan telah digulungnya kedalam lengan baju, Hun Lian melenggong, pandangannya penuh tanda tanya kearah ibunya.

Dengan pandangan tajam bengis Kui-bo menyapu pandang semua hadirin, lambat na-munpasti mulai tampak perobahan mimik mukanya, lambat-lambat terbetik secerah senyuman diujung mulutnya, sebaliknya rasa kuatir dan bingung diwajah Hun Lian bertambah tebal katanya periahan.' Ma, jika ada yang tidak setuju........"

Kontan Kui-bo meliriknya tajam, katanya. ,,Tutup mulutmu Sudah tentu aku punya akal, tak usah kau banyak mulut."

Hun Lian menghela nafas lalu menunduk kepala, Kui bo angkat sebelah tangannya, empat orang segera menggotong sebuah kursi besar berukir dan berat ditaruh dibelakang Kui-bo Hun Hwi-nio Kui bo langsung duduk bertengger diatas kursinya, diapun memejam mata seperti samadi.

Kira kira satu jam kemudian, ada sementara tamu yang sudah usai dengan semadinya, mereka mulai bergerak, semua mengunjuk rasa lega dan senang, tidak lama lagi seluruh hadirin sudah pulih seperti sediakala maka ramailah saara ucapan terima kasih kepada Kui-bo yang dianggap baik hati.

Kui bo hanya tersenyum tanpa memberi komentar akan keramahan hadirin, setelah suara ramai sirap baru Kui bo buka mata dan berkata perlahan.

.Hadirin sekalian, Kecuali untuk menghadiri pesta pernikahan puteriku, kuundang kalian untuk merundingkan satu kerja besar yaing menyangkut hidup mati kaum persilatan, nanti aku mohon pendapat dan usul kalian." / Hadirin segera tutup mulut dan mendengar pidato Kui-bo mereka saling pandang dan tidak tahu kemana juntrung ucapannya, namun mereka sudah mendapat bantuan sebutir biji teratai, umpama segan mendengar juga terpaksa harus mendengarkan penuh perhatian.

Kedua tangan Kui-bo diletakan di andaran kursi besarnya, kelihatan sikapnya seperti ratu saja layaknya, dengan lantang dia.

melanjutkan pidatonya.

"Kebesaran Kim hou-po yakin hadirin sudah pernah mendengar, tentu kalian juga tahu bahwa putriku pernah menyelundup ke Kim-hou-po, syukur dia berhasil meloloskan diri pula, kaiian pasti tidak menduga, betapa banyak jago-jago dari golongan yang berada di Kim hou-po"

Hadirin mulai mengerut alis, yang hadir semuanya adalah jago-jago Bulim yang datang dari Tionggoan.

Kebesaran Kim hou-po merupakan tenaga misterius dalam pandangan orang-orang persilatan di Tionggoan, Umurnnya kaum persilatan menghindar diri bila diajak bicara tentang Kim-hou po, kuatir ketiban bencana atau kesulitan.

Tapi dalam pidatonya jelas Kui-bo Hui Hwi-nio hendak memancing pendapat umum untuk membicarakan Kim hou-po.

Disaat Kui bo merandek sebentar, terdengar seorang menyeletuk."Kim-hou-po menutup pintu terjaga ketat dan keras, kecuali pihak sendiri minta perlindungan kedalam benteng.

selamanya belum pernah dengar orang mereka membuat onar diluar.

peduli amat dengan mereka?"

"Kalau tuan berpendapat demikian, kukira keliru sekali."

Jengek Kui-bo.

"menurut apa yang diketahui oleh putriku, Kim hou-po Pocu selamanya tak pernah unjuk diri, segala urusan ditanggulangi oleh Sau-pocu dan Thi-an-te siang-sat-jiu Tadi Sau-pocu berada disini, beium lama dia pergi, bagaimana Kung funya kalian juga sudah menyaksikan, dari gelagatnya dapat kita simpulkan,bahwa Kim hou-po jelas akan / memperalat jago.jago kosen itu untuk merajai dunia persilatan."

Makin tak karuan perasaan hadirin mendengar nada ucapau Kui bo, terasa oleh mereka bahwa Kui-bo masih punya tujuan lebih besar yang akan dan belum diutarakan.

Sudah puluhan tahun Kui bo Hun Hwi-nio berkuasa didarah luar terpencil ini, sejak meninggalkan Tionggoan, sampai sekarang belum pernah dia menginjak langkahnya di Tionggoan, umpama benar Kim hou-po pocu atau Sau Pocu punya ambisi sebesar itu, boieh dikata tiada sangkut pautnya dengan dirinya yang jauh berada ditempat belukar ini.

kenapa dia bersikap serius dalam membicarakan soal ini?

Umpama kata Kui-bo bermaksud baik memberi peringatan kepada mereka, urusan tiada sangkut paut dengan dirinya, lalu kenapa sikapnya begitu serius?

Maka hadirin berbisik-bisik.

Perlahan Kui-bo berdiri dan berkata pula .

"Hadirin sekaitan, kami bisa mengadakan pertemuan ini, terhitung memang ada jodoh. ada sebuah permintaan ingin aku ajukan kepada kalian, entah sudi tidak menyetujui."

Hadirin diam menunggu pidatonya lebih lanjut, namun satu sama lain beradu pandang, tiada yang tahu apa kehendak Kui-bo. Terdengar Kui-bo melanjutkan .

"Sekarang jago-jago kosen yang ada di Hiat-lui-kiong kutanggung takkan kalah banyak dibanding Kim hou po, sekian banyak orang kumpul jadi satu memang jarang terjadi, kesempatan baik ini kurasa jangan dibuang percuma, bagaimana kalau hari ini juga kami sumpah setia bersama untuk memilih dan angkat seorang Bengcu. berjuang berdampingan untuk melawan Kim hou-po, entah bagaimana pendapat kalian ?"

Pidato Kui-bo diucapkan secara datar seperti orang omong seenak udelnya saja, tapi hadirin seluruhnya tokoh-tokoh silat yang kosen.

sudah tentu mereka tahu dan merasakan kemana kiblat perkataannya, jikalau mereka bertindak sesuai / yang dikatakan Kui-bo.

maka pertumpahan darah besar-besaran bakal terjadi dalam Bulim Maklum jago jago yang hadir dalam balairung ini hampir berjumlah dua ratus orang hampir termasuk inti kekuatan kaum persilatan di Tionggoan, padahal betapa banyak jago-jago silat yang ada di Kim-hou-po, walau belum diketahui, tapi selama beberapa tahun ini jago-jago silat besar dan kenamaan yang mendadak lenyap tak karuan parannya tak terhitung banyaknya, berapa jumlahnya hadirin kira-kira bisa membayangkan.

Umpama rencana Kui bo terlaksana dengan seluruh kekuatan jago jago yang hadir di Hiat-lui-kiong ini menyerbu ke Kim-hou-po, peduli pihak mana yang menang, korban jiwa jelas pasti terjadi, itu berarti kaum persilatan akan banyak dirugikan, dan kemungkinan terbesar adaiah kedua pihak gugur atau hancur bersama, bagaimana mereka mau melakukan tindakan yang tidak patut dipuji ini ?

Disaat hadirin kaget dan melenggong, terdengar Pak-to Suseng menghela napas, katanya .

,,Kui-bo, banyak terima kasih pemberian biji terataimu, tapi persoalan yang kau ajukan itu sukar kami menerimanya, malah perlu kuanjurkan batalkan saja niatmu dan jangan laksanakan secara kekerasan atau paksaan."

Sikap Pak-to Suseng ramah dan lembut beberpa patah katanya justru dilontarkan dengan nada keras dan kaku.

Thi-giam-ong adalah orang pertama yang menyokong .

, Kui-bo.

walau kau menjadi comblang pernikahanku, tapi usulmu itu tidak bisa kuterima."

Menyusul teriakan Thi-giam-lo empat puluhan orang serempak berseru .

"Harap Kui-bo maafkan, kami tak bisa menerima usulmu."

Maka ramailah seruan hadirin yang menolak usul Kui-bo.

Ternyata Kui-bo tetap berdiri santai, sedikitpun tidak marah / mendengar maksudnya ditentang, terutama teriakan Thian-lam-siang-jan paling keras dan tajam .

"Teratai darah sudah kami telan, untuk apa kita tinggal di sini lebih baik bubar saja."

Seketika seruan Thian lam siang jan mendapat applus yang ramai dari hadirin tampak Thian-lam siang-jan sudah mempelopori gerakan ini, hanya sekejap mereka sudah melesat kepintu gerbang Walau banyak yang merasa sungkan, tapi tidak sedikit pula yang mengikuti jejak Thian-Iam siang-janf berbondong-bondong mereka beranjak keluar.

Baru sekarang Kui-bo Hun Hwi-nio berkata kalem, namun suaranya ditekan dengan tenaga dalamnya .

,,Harap kalian tunggu se bentar, tunggu dulu hingga penjelasan selesai kami kalian mau pergi atau tetap tinggal di sini terserah pilihan kalian sendiri."

Terpaksa Thian-lam-siang-jan menghentikan aksinya diambang pintu, biji matanya yang jelalatan mendelik tak sabaran, sikapnya seperti berang dan ogah, namun mereka menuggu ditempat itu.

Sudah tentu orang-orang dibelakangnya terpaksa ikut menghentikan langkah.

Terdengar Kui bo berkata .

"Kalian tahu sejak lama aku hidup di Biau kiang. bahwa aku pernah belajar dibawah didikan Sam-boa Niocu. kukira jarang ada orang tahu"

Bahwa Kui bo mendadak merobah arah bicaranya, sudah tentu hadirin keheranan pula, hanya seorang mendadak memekik kaget dan ngeri, waktu hadirin menoleh kearab datangnva suara, tampak orang ini besar kepala badan kecil, pertumbuhan badannya amat ganjil dan lucu, ada juga hadirin yang kenal dia sebagai Liong bin Siangjin dari Liong-bin-si yang terletak dipinggir timur Thian ti di Hun lam Kungfu Liong-bin tidak, begitu tinggi, namun pergaulannya dalam Bulim amat luas, supel dan banyak bersahabat, jiwanya jujur.

Sering terjadi petikaian antar perguruan dalam Bulim, bila dia mengajukan diri melerai pertikaian ini, cukup beberapa patah / katanya urusan akan beres dan damai.

Peduli jago silat dan gotongan putih atau aliran hitam tiada yang menghormati dirinya.

Maklum selama puluhan tahun ini dia bertindak secara jujur dan lurus.

Kini Liong-kin Siangjin mendadak menjerit takut dan ngeri, sudah tentu hadirin mengkirik, yang kenal segera maju bertanya .

,Ada apa Siangjin?"

Dengan muka pucat Liong bin Siangjin menuding Kut-bo Hun Hwi-nio, sesaat lamanya baru dia mengeluh sekali lagi lalu memekik .

"Habislah kita semuanya."

Pekik suaranya seperti meratap minta ampun, siapapun yang mendengar akan merinding dibuatnya, tiada hadirin yang tidak merasa seram, tampak sambil memekik Liong-bin Siangjin berjingkrak berdiri hingga meja didepannya di terjang terbalik jauh ke-depan.

Dengan langkah sempoyongan dia memburu kedepan Kui-bo, lalu mencengkram lengan Kui-bo serta membentak beringas .

Kau ...

mencampur ulat apa didalam makanan kita ?"

Mendengar Liong-bin Siangjin menyebut 'ulat', baru dua ratusan jago-jago silat itu sadar dan menjerit kaget semua, kini baru -rereka teringat orang macam apa sebenarnya Sam-hoa Niocu.

Dalam daerah Biau-kiang dengan penduduknya yang masih serba primitif, cara melepas ulat adalah merupakan kepandaian atau senjata mereka untuk membela diri, kepandaian ini sudah merupakan tradisi yang turun temurun sejak ribuan tahun Sam hoa Niocu adalah kependekan dari Kim hoa Niocu Gin hoa Niocu dan Thi-hoa Niocu.

Didaerah Biau-kiang ada empat ratus tujuh puluh lebih gua, semua menyembah Sam-hoa Niocu sebagai ekepandaian Sam hoa Niocu menggunakan ulat juga berbeda satu dengan yang lain.

setiap orang hanya diajari satu macam, bukan soal gampang untuk memperoleh julukan Sam-hoa Niocu, generasi demi generasi terus diturunkan, tadi Kui-bo Hun Hwi-nio pernah / bilang, diwaktu mudanya dia pernah berguru kepada Sam-hoa Niocu, semula orang banyak tidak tahu atau tidak ingat macam apa sebenarnya Sam hoa Niocu, tapi setelah Liong bin Siangjin menjerit ngeri dan menyebut tentang ulat, baru hadirin sadar.

Hun Hwi-nio tertawa lebar, katanya.

"Betul, aku memang menggunakan ulat tanpa bentuk, tapi bukan kucampur dalam makanan, tapi kucamour didalam biji teratai yang sudah menjadi idaman kalian."

Kepandaian Sam hoa Niocu menggunakan ulat memang hebat luar biasa, banyak ragamnya, ulatnyapun terdiri berbagai jenis, ragamnya tidak kurang ratusan macam, sebagian besar hadirin datang dari Tionggoan, sudah tentu jarang yang tahu seluk beluknya, jarang yang tahu apa sebenarnya 'ulat tanpa bentuk' itu, namun Kui bo sudah menjelaskan bahwa didalam biji teiatai yang mereka telan tadi sudah dicampur ulat, itu berarti seluruh hadirin sudah pecundang diluar sadar mereka, serempak mereka menjerit gusar serta merubung maju kearah Kui-bo Di tengah keributan itu suara Liong-bin Siangjin paling menonjol.

"Kenapa kau berbuat sekeji ini, lekas berikan obat penawarnya."

Kui-bo Hun Hvvi no menjengek dingin, katanya.

"Tujuanku tidak lain supaya kalian bersatu padu menghadapi Kim hou-po"

Kontan Thian-lam-siang jan menjerit beringas.

"Berikan obat penawar."

Belum habis bicara bayangan mereka sudah melejit ke-udara melewati kepala orang banyak mencakar kearah muka Hun Hwi-nio.

Betapa cepat dan tangkas gerakan dan serangan keji mereka, orang pasti sukar percaya bahwa kedua orang ini tanpa daksa malah cengkraman mereka langsung mengincar / muka dan leher Hun Hwi-nio yang mematikan.

Sebat sekali tubuh Hun Hwi-nio berkelit mundur.

Diluar dugaan serangan ganas dan cepat Thian lam-sisng jan itu ternyata hanya gertak ambel belaka, baru saja Kui-bo menyurut mundur, di mana kedua tangan mereka menekuk, kontan Hun Lian menjerit kaget, hakikatnya kesempatan menyingkir tiada, tahu-tahu sudah dibekuk Thian tam-siang-jan dari kiri kanan Dengan jurus kiri kerbau kanan kuda salah satu tipu dari Siu-lo cap-jit-sek-nak-hiat hoat mereka mencengkram Hiat-tu pelemas dikanan kiri pinggang Begitu berhasil membekuk Hun Lian, segera Thian-lam-siang-jan berteriak."Jangan takut, putrinya berada ditangan kami, memangnya berani dia tidak menyerahkan obat penawar."

Disaat Thian lam-siang-jan beraksi, ada beberapa jago kosen yang lain juga bergerak, maka terdengarlah deru angin yang ribut disertai suara ,Plak plok"

Yang ramai, dari depan Hun Hwi-nio menangkis pukulan Oh sam Siansing, dari kiri menyambut serangan Pak-to Siansing, sementara tubuh atas menjengkang kebelakang menyambut pukulan Cin-loyacu, sebat sekali tubuhnya sudah berputar, dengan sikutnya dia menyodok Thi-giam-ong Utti Ou hingga mempelai laki-laki ini jatuh terjangkan kedalam pelukan Gin-koh Gin koh membimbing Utti Ou berdiri, teriaknya.

"Kui-bo, jangan kau berdosa terhadap seluruh orang dalam jagat ini."

Dalam sekejap Kui bo Hun Hwi nio sekaligus menyambut serangan empat jago kosen, ternyata para pengeroyoknya tiada yang unggul meski hanya seurat, malah disaat Gin-koh buka suara, tubuh Hun Hwi-nio sudah melambung tinggi, pada hal orang banyak merubung maju berarti mengepungnya di tengah.

ke manapun dia menyingkir tetap dijadikan sasaran pukulan orang banyak, kepandaian Kui-bo memang hebat luar biasa, hanya sekali lompatan tubuhnya ternyata meluncur keatas belandar.

/ Utti Ou berteriak.

"Kau pandai Ginkang memangnya orang lain tidak mampu?"

Utti Ou berteriak demikian karena dia sendiri tidak mahir dalam bidang ini, saat mana Gin-koh sudah menarik krudung muka, membanting perhiasan diatas sanggulnya, mencopot pakaian manten, bagian dalam ternyata dia tetap mengenakan pakaian serba perak, sekali menjejak tubuhnya meluncur lurus seperti roket hingga diatas belandar pula Tidak sedikit yang mengikuti jejak Gin-koh, dalam sekejap itu sedikitnya ada dua puluh orang melompat keatas belandar.

Dengan menjinjing Hun Lian di tangan kiri Thian-lam siang-jan juga melambung pergi menuju sepojok ruangan, gerakan mereka teramat cepat, pada hal Kungfu Hun Lian cukup tinggi, tapi dikempit kedua orang ini sedikitpun dia tidak mampu meronta.

Thian-lam-siang-jan langsung berdiri mepet dinding, jelas kuatir Kui-bo menyergap mereka menolong putri kesayangannya ini,

Jilid ke .

9 Dalam keadaan gawat ini, Hun Lian boleh dikata satu-satunya orang yang dapat menolong dan membebaskan mereka, jikalau Hun Lian direbut lagi oleh ibunya, maka kecuali tunduk dan patuh akan perintah Kui-nio, mereka tiada pilihan lain.

Keributan yang terjadi kali ini lebih besar dari tadi.

Begitu berada diatas belandar Kui-bo lantas memperdengarkan kekeh dingin yang menyeramkan, sekali bergerak entah bagaimana tahu-tahu tangannya sudah memegang sebatang dahan pohon dahan pohon ini melingkar-lingkar mirip akar pohon tua.

Orang orang yang sudah lompat keatas belandar juga tahu kelihayan Kui bo apalagi mereka sudah terkena urat maka tiada yang; bertindak secara gagabah mereka mengawasi dengan pandangan curiga dan penuh tanda tanya.

/ Dari pojok ruangan Thian lam siang-iau membentak .

"Lekas serahkan obat penawarnya, bila kami kerahkan tenaga jiwa putrimu melayang seketika"

Kui bo yang duduk diatas belandar, kembali dia menjengek dingin.

"Baik."' serempak dia ayun tangan, maka dua bintik sinar bintang emas dengan mendengung melesat keluar dari dahan pohon, daya luncuran dua bintik terang itu sungguh cepat luar biasa, hingga tak terlihat jelas oleh siapapun, arahnya ke tempat Thian-Iam siang jan, orang banyak menduga senjata rahasia lihay namun gaya luncurannya seperti binatang hidup. Kejadian laksana kilat menyambar, di-tengah seruan kaget orang banyak kedua titik bintang itu sudah melesat kemuka Thian-lam siang-jan, kedua orang cacat ini juga menduga Kui bo menyerang dengan senjata rahasia, dalam hati mereka masih merasa geli, dikiranya Kui-bo sudah, kebingungan karena putrinya dijadikan sandera, maka menimpukan senjata rahasia, padahal dengari bekal kepandaian mereka, memangnya takut diserang Am-gi? Pikiran kedua orang cacat ini ternyata berpadu, serempak mereka kerahkan tenaga, lalu mengebas dengan lengan baju kearah dua bintik sinar yang menerjang tiba. Dengan bekal Lwekang kedua orang ini. mesti hanya kebasan lengan baju juga tidak kalah keras dari sampukan senjata berat, umpama Am-gi itu. dilempar dengan kekuatan dahsyat juga pasti bisa dikebasnya jatuh. D saat lengan baju mereka mengebas itulah kedua bintang-bintang itu mengeluarkan dengung suara lebih keras, tiba-tiba mumbu ke atas, ditengah udara berputar setengah lingkar terus menukik kebatok kepala Thtan am sang jan begitu cepat sambaran kedua bintik sinar ini, sebelum Thian Iam lang-jan sempat angkat kepala, kedua bintik sinar itu sudah hinggap dimuka mereka. / Karuan bukan kepalang kaget Thian lam -siang-jan, namun dalam sekejap itu pula, muka dimana kedua bintik sinar itu menyentuh terasa linu pedas, namun tidak menimbulkan efek sampingan apapun, karunan mereka tertegun. Baru sekarang orang banyak melihat jelas kedua bintik bintang yang melesat terbang kemuka Thian lam-siang-jan ternyata benda hidup. Benarnya seperti biji asam, tumbuh sayap kecil warna kuning dengan tubuh berwarna kuning emas, bentuknya mirip kumbang, saat itu kedua binatang kecil ini berhenti sambil menggetar kedua sayapnya. Thian-lam-siang-jan melengak sekilas saja, tanpa janji keduanya angkat tangan terus menebuk "Plak", muka sendiri digampar nya namun kedua kumbang emas itu juga ketepuk mati, waktu mereka membuka telapak tangan, mulut mendengus, serunya."Hm, begini saja kemampuanmu?"

"Ya,"

Sahut Kui-bo Hun Hwinio dengan tawa dingin.

"tapi sudah lebih dari cukup."

Hakikatnya hadirin tiada yang tahu apa maksud perbuatan Kui-bo, tapi mendadak mereka mendengar Thian lam-siang-jan mencak-mencak seraya berteriak-teriak aneh.

Jengek tawa Kui-bo sudah cukup membuat orang banyak merinding, namun teriakan Tbian-lam siang jan sekarang lebih menggiriskan, bukan saja tajam dan mengerikan seumpama jarum menusuk kegenderang kuping, siapa takkan bergetar hatinya mendengar jeritan yang menyayat bati.

sampaipun Oh-sam Siansing dan Pak-to Suseng yang berkepandaian tinggi juga tidak terkecuali.

Kejadian lebih lanjut lebih mengejutkan lagi, Thian-lam-siang-jan lepaskan tangannya yang menelikung tangan Hun Lian, agaknya Hun Lian sudah menduga bahwa peristiwa ini bakal terjadi, begitu dirinya bebas, dengan mengerut alis lekas dia melompat pergi.

Dalam pada itu Thian-lam-siang-jan sedang mencekik leher sendiri, dari tenggorokannya mengeluarkan suara serak / rendah seperti babi yang dicekik lehernya, mimik muka mereka amat kesakitan dan menderita luar biasa.

Tubuh mereka sudah menyurut mepet dinding, berdiripun sudah tidak kuat lagi, pelan-pelan roboh tersungkur dikaki tembok, lalu meronta-ronta dan berkelejetan, kedua tangan mencekik leher makin keras, lambat laun kedua bola mata pun makin melotot besar.

Tak ada hadirin yang tidak merasa takut dan ngeri melihat nasib kedua orang cacat ini, maka tiada yang berani bergerak lagi, hanya suara aneh yang keluar dari tenggorokan Thian lam-siang-jan masih terdengar makin lemah, hadirin menjublek diam.

Maka Kui bo berkata dengan nada dingin.

"Kalian sudah kena "ulat tanpa bentuk"

Yang beracun, tiada obat penawar untuk menolong jiwa orang yang terkena ulat tanpa bentuk, namun bila kalian tidak membikin aku marah, dan tunduk akan perintah dan kehendakku, pasti ulat itu tidak akan bekerja.

Tapi sekali kalian membangkang dan menentang kehendakku, bila aku melepas Kim hong (kumbang emas), bila tubuh kalian terantup.

maka ulat dalam tubuh itu akan mengamuk, kalian akan tersiksa selama tujuh hari tujuh malam baru binasa."

Sudah tentu ciut nyali para hadirin, apalagi Thian lam siang jan sudah menjadi contoh, tampak tubuh kedua orang ini seperti makin mengerut, hingga tulang mengecil kulit daging justru melembung, keringat tampak membasahi sekujur badan, keadaan mereka sudah tidak menyerupai manusia.

Betapapun lihay dan luas mengalaman seluruh hadirin, mereka adalah manusia biasa, melihat keadaan yang mengerikan ini, walau kejadian bukannya menimpa diri sendiri, tapi mereka juga seperti ikut tersiksa, bila teringat dalam tubuh sendiri juga sudah kena ulat beracun ini, bukan mustahil nasib sendiri juga akan seperti itu bila tidak tunduk perintah kui bo / Perubahan drastis terjadi pula pada tubuh Thian-lam-siang jan, tadi tubuh mereka mengkeret, sekarang ternyata melar dan makin membengkak besar, terutama bagian muka mereka, saking besar melarnya hingga, mata, hidung mulut dan kuping sudah tidak bisa dibedakan lagi.

demikian kuat kepalanya, rambutnya mulai rontok mirip ikan gelembung yang kering kepanasan.

Kui-bo tertawa dingin, katanya.

"Kalian sudah saksikan sendiri? Siapa bekerja dengan aku, bila berhasil pasti banyak manfaat yang akan kalian peroleh, siapa berani menentang kehendakku, kedua orang ini sabagai contohnya."

Melihat betapa mengerikan siksa derita yang dialami Thian-Iam-siang-jan, siapa yang tidak mengkirik dan merinding, semua mandi keringat, tiada yang berani bercuit lagi.

Sesaat kemudian baru Oh sam Siansing buka suara .

"Kui-bo, tadi kami saksikan, laju terbang kumbang emas memang amat kencang, tapi jikalau kami menyingkir jauh, yakin kau takkan mampu berbuat apa-apa."

Kui-bo terloroh-loroh bengis, kalau tadi dia bersikap ramah dengan senyum welas asih tapi sekarang sikapnya berobah sebuas binatang, loroh tawanya membuat merinding seluruh hadirin, katanya sadis.

"Kumbang emas yang kupelihara kebetulan klop dengan jumlah kalian, jadi satu orang satu kumbang, kumbang yang satu berjodoh dengan ulat yang ada didalam tubuh kalian, umpama kalian berada ditempat yang ribuan jauhnya juga suatu ketika mereka akan menemukan jejak kalian, siapa diantara kalian mau mencobanya, boleh silakan pergi saja, yakin belum jauh kalian pergi, kumbang yang kulepaskan sudah pasti menyandak kalian"

Banyak hadirin merasa lega mendengar ucapan Oh-sam Siansing, namun setelah didebat Kui-bo kembali kuncup harapan mereka.

Apalagi kulit daging Thian lam siang-jan sudah hampir pecah, entah kenapa kini mulai menyusut lagi, kecuali bola mata mereka yang masih bergerak, sekujur badan / sudah lemas seperti tak bertulang lagt, keadaannya betul-betul tidak mirip manusia lagi.

Ditengah seringai buas Kui-bo mendadak dia membentak .

"Seret keluar"

Dua jago kosen dari Hiat ling kiong mengiakan terus melangkah lebar kepojok sana, sekali ayun mereka melepas seutas tali kecil lembut laksana laso membelit kaki Thian lam siang jan terus diseret keluar.

Kontan mereka menjerit dan merintih kesakitan seperti usus dipelintir atau isi perut diremas, tubuh mereka sudah hampir telanjang karena pakaian sudah koyak-koyak waktu badan mereka melar tadi.

"Kukira sudah cukup."

Ujar Kui-bo.

"dibawah pimpinan Oh-sam Siansing dan Pak to Suseng, kalian boleh berangkat lebih dulu, berhenti dua puluh li diselatan Kim-hou po menunggu kedatanganku. Bila aku tiba di sana. siapa diantara kalian yang melarikan diri. hehe, awas rasakan sendiri akibatnya."

Beruntun dia tetawa dingin tiga kaki, tawa sadis, tawa yang kejam, tiada hadirin yang tidak merinding.

Mimpipun mereka tidak mengira, hanya karena loba sebutir biji teratai, mereka harus mengalami nasib seburuk ini.

Maka orang banyak merubung Oh-sam Siansing dan Pak-to Suseng, menunggu komandonya, sekaligus ingin tahu bagaimana reaksi kedua tokoh besar ini.

On-sam Siansing dan Pak-to Suseng saling pandang sekejap, Oh-sam Siansing bergelak tawa, katanya lantang.

"Memang salah kita sendiri terlalu ceroboh, kini kejadian sudah terlanjur, apa pula yang bisa kita lakukan kecuali menurut kehendaknya ?"

Pak-to Suseng mengebas kedua lengan bajunya, meminjam daya kebasan ini tubuhnya melesat mundur kebelakang, serunya .

"Hayolah beiangkat." / Kalau kedua orang ini tidak mau menelan kerugian didepan mata, orang lain mana berani menolak, dengan muka cemberut pelan-pelan mereka bergerak keluar. Lekas sekali sebagian besar hadirin sudah beranjak keluar, hanya Utti Ou dengan bola matanya yang melotot bundar mengawasi Kui bo. agaknya dia masih membandel Kui-bo tertawa katanya.

"Kalian masih kemanten baru aku tidak akan suruh kalian menempuh perjalanan jauh, maka kutugaskan kalian berjaga di Hiat-lui-kiong saja."

Utti Ou menoleh dan mengedip kepada Gin-koh, Gin-koh lantas berseru melengking .

"Kui bo, kami berbakti kepadamu, dari ribuan li jauhnya menculik Cia saucengcu kemari, ternyata aku dan Thi-jan juga tak terhindar dari muslihatmu, apa langkahmu tidak terlalu."

Kui-bo menyeringai, katanya "Aku tidak boleh pilih kasih, aku harus menegakkan kewibawaan, jikalau kau setia kepadaku Lwekangmu akan bertambah maju, memangnya tidak baik?"

Padahal Gin-koh dan Thi-jan Lojin memang sudah menghamba kepada Kui-bo.

perintah Kui-bo kapan berani mereka menentang, maka kejadian itu sebetulnya tidak membawa perobahan bagi mereka.

Tapi kalau dulu mereka bekerja secara sukarela, sekarang justru dipaksa oleh keadaan, jelas titik tolak persoalannya berbeda cukup jauh.

Sesaat lamanya Gin-koh kehabisan akal, waktu dia angkat kepala dilihatnya Utti Ou tengah mengawasinya dengan kasih mesra senyumannya mirip laki-laki bloon, tanpa sadar ia menghela napas, apa boleh buat terpaksa dia ikut menanggung nasib yang sama.

Rombongan besar Oa-sam Siansing sudah turun kebawah dan tiba dipinggir sungai.

Orang-orang Hiat lui kiong suduh menyiapkan kapal besar, orang banyak diantara keluar perairan kebetulan ada angin buritan maka kapal maju tanpa / makan banyak tenaga, enam puluh li kemudian kapal berlabuh, orang banyakpun mendarat Sepanjang jalan rombongan jago-jago silat sebanyak hampir dua ratus ini seperti kawanan anjing yang keok dimedan laga, tiada yang bergairah bicara, bukan saja lesu merekapun patah semangat.

Setelah semua mendarat kapalpun bertolak balik, semua berkumpul dipinggir hutan merubung sepuluhan jago jago yang paling top diantara mereka, mulailah mereka berdebat dan bicara mengajukan pendapat masing-masing.

Liong-bin Siangjin adalah orang pertama yang angkat bicara .

"Kuharap kalian jangan punya pikiran ingin mengadu untung, dulu pernah kudengar cerita orang bahwa Sam-hoa Niocu dari Biau kang ada mengajarkan puluhan atau mungkin seratus jenis cara memelihara dan melepas ulat beracun, diantaranya ulat tanpa bentuk bila kumat adalah yang paling mengerikan. Kecepatan terbang kumbang emas itu juga amat kencang, apa yang diucapkan Kui bo memang bukan gertak sambel."

Seorang berkata .

"Lalu bagaimana ? Memangnya kita harus tunduk dan patuh pada perintahnya? Mengempur Kim-hou po ?"

Liong-bin Siangjin menghela napas panjang, katanya .

"Kecuali diantara kita ada orang yang mappu mencari bongkot akar pohon tempat Kui bo memelihara kumbang emas itu, lalu di masukan kedalam peti besi yang rapat serta membakarnya sampai mati, kalau tidak terpaksa kita harus menjalankan perintahnya."

Liong-bin Siangjin bicara dengan sikap serius dan nada tertekan, seluruh hadirin juga mendengarkan dengan prihatin. Tapi Pak-to Suseng berkata .

"Siangjin, jangan kau berkelakar, memangnya siapa yang bisa turun tangan mencuri bongkot akar pohon itu ?"

Hadirin saling pandang lalu tertawa getir. Liong bin Siangjin berkata .

"Pak to, jangan kau kira aku menggoda kalian, / hanya ada seorang mampu melaksanakan tugas berat ini. hanya dia pula yang dapat menolong kita semua."

Karuan pernyataan Liong-bin Siangiin mendapat tanggapan serius para hadirin.

Maklum Kungfu Liong biu Siangjin memang biasa saja, namun dia terpandang dan punya wibawa diantara kaum persilatan, adalah logis kalau dia memiliki kelebihan yang orang lain tidak punya, bahwa selamanya dia tidak pernah berkelakar atau membual adalah salah satu ciri kelebihannya, maka timbul setitik harapan dalam benak orang banyak, semua menunggu penjelasan Liong-bin Siangjin.

Liong-bln Siangjin berkata .

,,Orang itu adalah nona Hun Lian"

Hadirin menunggu dengan tegang, mereka kira Liong-bin Siangjin akan menampilkan seorang tokoh lihay yang cukup mengejutkan, kini mendengar calon penolong mereka adalah Hun Lian, semua orang lantas menyengir tawa.

Beberapa orang yang berhati lemah terbayang selanjutnya mereka harus hidup dibawah orang serta terbelenggu kebebasannya, maka pecahlah isak tangis mereka.

Lekas Liong-bin Siangjin membujuk.

"Saudara-saudara dengar dulu penjelasanku. Memang Kui bo pasti menjaga ketat dan menyimpannya secara rahasia agar kumbang emas itu tidak tercuri orang betapapun dia ketat menjaga dan mencurigai orang lain pasti tidak akan curiga kepada putri tunggalnya sendiri, apakah ucapanku tidak benar?"

"Beuil, apapun dia tidak akan curiga kepada putri sendiri. Tapi Hun Lian adalah putrinya, memangnya dia mau berkiblat keluar, membela orang lain memusuhi ibunya sendiri ? Sudahlah, jangan kau singgung lagi soal ini."

Demikian debat Oh-sam Siansing.

"Oh-sam, umumnya gadis yang dewasa hatinya pasti berkiblat kepada orang lain,hanya ada satu orang yang dapat / menunjuk dan menaklukan Hun Lian untuk melakukan akalku itu."

"Siapa?"

Beramai ramai orang banyak bertanya.

"Siapa lagi, sudah tentu Cia Ing kiat, Sau-cengcu Kim-liong ceng."

Hadirin terbeliak dan akur akan akal ini, walau sebagian besar orang-orang ini masih menyangsikan ucapan Liong-bin Siangjin, walau harapan itu terlalu jauh, namun setitik harapan sekalipun tidak salah untuk diraihnya.

Apalagi orang banyak juga tahu, Hun Lian kenal Cia Ing-kiat di Kim-hou-po, kalau Kui-bo bisa suruh orang menculik Cia Ing-kiat kemari serta hendak mengawinkan putrinya kepadanya, sudah tentu Hun Lian sudah jatuh cinta kepada pemuda itu.

Tapi orang banyak juga tahu Cia Ing-kiat diculik pula oieh Liong-bun Pangcu, pada hal Liong-bun Pangcu terkenal misterius, jejaknya tidak diketahui, siapa dan bagaimana asal-usulnya juga tiada yang tahu.

sejauh ini kaum persilatan belum ada yang tahu di mana letak markas pusat Liong-bun pang, lalu kemana mereka harus menemukan jejak Cia Ing-kiat?

Maka orang banyak-kembali menj idi lesu.

Oh sam Siansiu menghela napas, katanya.

"Sekarang tiada jalan sama sekali kita patuh akan perintah Kui-bo, mempersiapkan diri ketempat yang ditentukan oleh Kui-bo, jumlan kita sekian banyak, supaya tidak menarik perhatian orang, kalian harus berpencar dan dibagi beberapa rombongan, terserah bagaimana kalian akan berangkat. Perlu kuperingatkan, apa yang diucapkan Liong-bin Siangjin bukan main-main, maka sepanjang jalan peduli menghadapi apa, jangan kalian menunda diri hingga terlambat, kalian harus bertanggung jawab kepada raga sendiri."

Mungkin baru pertama kali ini Oh sam Siansing bicara secara s Kaum persilatan memang hidup diujung golok dan pedang, tapi seseorang tidak mudah untuk menghabisi jiwa sendiri, maka hadirin tiada yang membantah, semua berjalan / bersama teman yang dikenalnya baik, seperti datangnya mereka teras berpencar.

Oh-sam Siansing dan Pak-to Suseng berangkat paling akhir,namun mereka juga tidak banyak bicara.

000)0(000 Setelah hujan lebat malam harinya, sejak pagi hingga lohor mentari semakin terik.

Jalan raya menuju kesungai tak jauh di selatan Kim-hou-po sudah berderu dan kering kerontang, dermagapun retak-retak.

Dermaga ini bukan lain adalah tempat penyebrangan waktu Cia Ing-kiat menyamar jadi Ciong Tay-pek merarikan diri dari Kim-hou-po dulu, didermaga ini kecandak para pengejarnya, waktu itu dia menyamar pula jadi petani muda sehingga lolos dari pengawasan Thian-te-siang-sat dan Toa-ho-sam-cu Sejak perintiwa tragis itu, tiada orang berani menyebrang sungai dari dermaga ini sehingga tempat ini makin terbengkelai,gubuk pendek di mana kakek anak dan cucu bertiga yang memiliki kapal tambangan itu bertempat tinggal kini sudah ambruk sebagian, sekitarnya ditumbuhi rumput liar, jalanan yang tembus kearah dermaga ini pun sudah menjadi semak belukar.

Tengah hari itu terik mentari memang luar biasa, hingga orang merasa sesak bernapas, ditengah arus sungai yang bergulung-gulung tampak sebuah perahu kecil meluncur cepat menuju kedaratan Pemegang galah di atas perahu adalah seorang yang berperawakan tinggi besar dengan kain hitam mengke-rudung kepala, diburitan perahu ada dua ekor kuda berbulu putih salju, disebelah laki-laki berkerudung ini duduk seoraug gadis remaja yang mengenakan cadar deugan kain hitam mengikat sanggul, walau tak kelihatan raut mukanya, tapi dari perawakannya yang ramping semampai dapat dibayangkan bahwa gadis ini pasti cantik rupawan.

Lekas sekali perahu sudah menepi, pemegang galah agaknya cukup mahir mengendali perahu, dalam jarak tiga / tombak sebelum perahu menyentuh daratan, jangkar yang terikat rantai sudah dilempar keatas daratan jangkar amblas kedalam tanah, laki-laki itu lantas menarik ramai hingga perahu lebih cepat merapat, gadis yang duduk dtujung perahu segera berdiri, setelah membetulkan sanggulnya dia menurunkan cadarnya, maka tampak wajahnya yang ayu jelita, gadis ini bukan lain adalah Hui Lian, putri Kui bo Hun Hwi-nio pemilik Hiat-lui-kiong.

Pemegang galah bambu itu ternyata beralis tebal, juga seorang perempuan, siapa lagi kecuali Li pi-lik.

begitu perahu menepi Hun Lian mendahului lompat kedarat.

dengan mulut cemberut Li-pi-lik seperti dirundung persoalan, dia ikut naik kedarat sambil menuntun kedua ekor kuda itu.

Hun Lian langsung menceplak kepung-gung kuda.

katanya .

"Berapa jauh tempat ini dengan Kim-hou-po ?"

"Hanya tiga puluhan li, rombongan orang itu mungkin sudah berada didepan."

Bercokol dipunggung kuda Hun Lian mengawasi arus sungai yang bergolak deras, katanya .

"Lalu di mana sebetulnya Liong-bun-pang mendirikan pangkalannya "

Li pi lik tertawa getir, sesaat baru menggeleng kepala.

Hun Lian berkata kurang gembira.Kau sebagai salah satu dari tiga saka sungai besar ini.

padahal Liong-bun-pang juga beroperasi disekitar sungai, apa betul kau tidal tahu letak markas mereka?"

Mulut Li-pi-lik tetap cemberut lalu geleng kepala tiba-tiba Hun Lian mendengus, katanya gemes;"

Jangan kau banyak pikiran.'' Agaknya Li-pi-lik sudah sekian lama memendam perasaan yang tak terlampias mendadak dia berteriik;"Aku bukan banyak pikiran.

Kau hanya bertemu muka dua kali didalam Kim-hou-po.

aku sebaliknya pernah dipeluk didalam air dan / dibopong naik keatas darat, sudah selayaknya kalau aku lebih merindukan dia dari pada engkau.'' Hun Lian melotot, desisnya dingin".,,Berani kau bilang begitu lagi, selamanya jangan kau bertemu lagi dengan aku."

Bibir Li-pi-lik sudah terbuka, namun dia urungkan omongan yang hampir terlontar segera diapun melompat kepurugung kuda serta mengepraknya pergi.

Lekas Hui Lian juga larikan kudanya, kedua kuda putih ini dibedal tanah gersang hingga menimbulkan kepulan debu tinggi dibelakang.

Jalan raya sejajar dengan sunrai yang menuju keutara ini ternyata sepi lengang ke cuali mereka berdua yang menunggang kuda tiada manusia atau binatang lain dijalan raya ini.

Kini Hun Lian larikau kudanya disebelah depan Li pi-lik disebelah belakang.

Kanan kiri jalan hanya ditumbuhi beberapa pucuk pohon yang jarang-jarang rasanya tiada tempat untuk orang sembunyi disana, maka Hun Lian tidak pernah melirik kiri atau kanan.

kuda terus dilarikan dengan kencang.

Li pi-lik masih ikut d belakangnya Disaat mereka melewati pula beberapa gerombol pohon mendadak sebatang pohon d sebelah kanan tak jauh disebelah depan pelan-pelan roboh melintang dijalan, menyusul selarik sinar berlebat, Li-pi-lik merasa sejalur angin kencang membawa sebuah benda menungkrup ke atas rapalnya.

Kejadian mendadak secara tidak terduga lagi, lagi pula Li pi-lik tidak perhatikan sebelum dia melihat jelas, namun hidung sudah mengendus bau amis, sebelum dia sempat berteriak lehernya tiba tiba seperti dijirat, lalu tubuhnya terangkat mumbul.

Padahal Li-pi-lik bukan kaum lemah, tapi perobahan ini terjadi secara cepat, disaat tubuhnya terangkat mumbul itu sempat didengarnya kuda tunggangannya masih lari ke-depan, namun kejap lain dia merasa dada terasa dingin, tenaga merontapun belum sempat dia kerahkan dia sudah tidak ingat apa-apa lagi / Sementara batang pohon yang barusan ambruk ketengah jalan itu kini telah tegak berdiri pula, ternyata dahan pohon merekah dan bolong bagian tengahnya ditempat yang itu tampak sembunyi satu orang, orang ini berperawakan tinggi kurus, jikalau saat itu dia sedang menarikan kedua tangannyaa, sepintas lalu orang akan menyangka dia patung kayu, bukan manusia hidup Tampak tangan kirinya memegang sebuah gelang besi, dia tas gelang besi diikat tali lemas, diujung tali itu, terpasang sebuah jaring tembaga, kepala Li-pi lik sudah terjaring rapat, darah tampak mengalir dari pinggir jaring yang menjirat kencang sementara tangan kanan juga memegang seutas tali, tali itu tertarik mengencang mencabut sebatang pisau runcing dari dada Li-pi lik.

Tubuh Li-pi-lik sudah menggeletak ditanah rumput, sekali sendal tangan kiri, jaring benang baja itu terlepas dan mencelat mumbul keudara menaburkan darah segar.

Agaknya Li-pi-lik sudah ajal dengan leher terjirat dan dada tertusuk pisau, agaknya dia mati penasaran maka kedua matanya mendelik besar.

Tapi pembunuh itu tidak hiraukan mayatnya, kepalanya, terangkat memandang jauh kedepan.

Orang kurus kering ini bertindak secara cepai dan cekatan, kematian Li pi-lik hanya berlangsung dalam sekejap.

tanpa mengeluarkan suara terus roboh ketanah.

Selesai membunuh Li pi lik, sementara Hui Lian masih terus mencongklang kudanya sejauh tiga puluhan tombak, gelagatnya dia tidak tahu bahwa lawan asmaranya ini sudah menemui ajal secara penasaran di tangan musuh yang tidak dikenal.

Maklum kuda tunggangan Li-pi-lik masih terus berlari d belakang.

Orang kurus itu menggerakkan kedua tangan, jaring baja dan pisau runcing diujung talinya itu segera dia simpan dan diikat dipinggang terus mengembangkan Ginkang meluncur kedepan.

/ Sungguh sebat gerakan orang kurus ini, begitu dia meluncur kedepan, ternyata menimbulkan deru angin yang menggulung ke-pinggir hinggi debu pasir dijalan raya beterbangan, lekas sekali dia sudah menyusul tiba, sekali enjot kaki .dengan enteng dia hinggap di punggung kuda yang tadi dinaiki Li-pi lik.

Pelan pelandia tepuk tengkuk kuda, kuda itu segera mempercepat larinya hingga jaraknya lebih dekat dibelakang Hun Lian.

Setelah mendengar ucapan Li-pi-lik yang blak blakan tadi.

mungkin Hun Lian merasa dongkol dan masgui maka dia tidak pernah menoleh lagi meski mendengar lari kuda di belakangnya menyusul makin dekat, karena dia tidak nenduga bahwa Li-pi-lik sudah mati, penunggang kuda sudah ganti orang lain yang juga mengancam jiwanya Kuda itu dibedal makin kencang dan jarak juga makin dekat, kini tinggal lima kaki di belakang Hun Lian, tampak orang kurus itu mendekam tubuh kedepas, dari punggung kuda itulah dia menjulurkan jarinya langsung menutuk ke Sin tong hiat dipunggung Hun Lian.

Serangan orang kurus ini teramat cepat dan lihay, dalam keadaan tidak siaga dan tidak menduga, sepantasnya serangannya pasti kena sasaran dengan telak.

Tapi Kungfu Huin Lian tidak bisa dibanding kepandaian Li pi-lik.

begitu orang itu menuding dengan tutukannya yang keras, Hun Lian lantas merasakan adanya gejala tidat beres dibelakang firasat mengatakan bahwa seseorang membokong dirinya dari belakang, maka secara reflek dia mendoyong badan kepinggir.

Dalam waktu sesingkat itu susah dia menduga siapa gerangan yang membokong dirinya, maka dia menduga karena keki dan dendam mendadak timbul maksud jahat Li-pi-lik hendak membunuh dirinya, maka begitu dia mendoyong tubuh kepinggir sekaligus dia membentak .

"Ingin mampus kau." / Serangan itu amat cepat, ternyata gerakan menghindar Hun Lian lebih cepat lagi.

"ser"

Tutukan jari nyerempet lewat dipinggang Hun Lian Baru sekarang Hun Lian melihat jelas pembokong dirinya ternyata adalah jari-jari angan yang kurus kering seperti cakar burung, jarinya panjang luius dan runcing.

jelas ini bukan jari-jari Li-pik-li, baru sekarang dia tersirap kaget.

Dengan mendoyong tubuh kepinggir tubuhnya masih bergelantung di punggung kuda, kuda juga masih mencongklang kedepan begitu merasa gelagat jelek, secara reflek tangannyapun menepuk balik kearah cakar kurus kering itu.

Begitu tutukan luput orang itupun segera menarik tangan, namun pada saat itu pula tubuh Hu Lian sudah meninggalkan punggung kuda.

melebat miring keluar ditengah udara tuhunnya berputar seratus delapan puluh derajat baru kakinya hinggap ditanah, bentaknya .

"Siapa kau ?"

Ternyata gerakan orang kurus iui juga amat tangkas, hampir dalam waktu yang sama diapun meninggalkan punggung kuda langsung menubruk.

Begitu cepat tubrukan orang hingga Hun Lian tidak sempat melihat jelas tampang lawannya, cuma dia melihat bayangan orang yang bertubuh kurus kering tinggi langsung menubruk kearahnya.

Kaiuan hati Hun Lian kaget tercampur gusar, dite-Tigah hardikannya pergetangan tangan terbalik selarik benang merah kontan melesat kedepan.

Benang merah ini pernah dipaksa balik oleh Sin-san lng Lui Ang-ing waktu masih di Hiat-lui-liong tempo hari, Kui-bo Hun Hwi-nio pernah memotongnya separo, namun panjangnya masih ada lima enam tombak, apalagi benang merah ini adalah senjata ampuh yang sejak kecil dibuat mainan oleh Hun Lian, begitu dia kerahkan tenaga benang merah itu bisa mengencang lurus seperti kawat, maka kali ini bayangan orang itu langsung ditusuknya dengan benang merah yang tegak kencang, dengan serangannya ini Hun Lian yakin dirinya / berada dipihak unggul, diluar dugaan, disaat sinar merah berkelebat itu, bayangan orang itu mendadak juga melejit keatas udara.

"Plok"

Karena saluran tenaga dalam Hun Liau benang merah itu menjadi kaku lurus dan menusuk bolong baju bagian bawah orang, namun karena orang itu melayang keatas maka bajunya yang bolong tampak koyak besar.

Gerakan orang kurus ternyata cepat luar biasa, begitu tubuh melambung tanganpun bergerak, Hun Lian rasakau tubuhnya ditindih satu benda kemilau yang berat.

Pada bal dia masih bercokol dipunggung kuda, sejak merasakan dirinya dibokong orang, dia sudah mendapat firasat bahwa orang ini tidak gampang dilayani, maka diapun sudah waspada, begitu jaring baja itu menungkrup turun, tubuhnya lantas miring dan meluncur minggir keluar.

Sebelum kakinya menyentuh tanah, jaring baja itu jatuh dipunggung kuda maka kuda iiu yang terjirat serta meringkik kesakitan, darah tampak muncrat dari tubuh sang kuda.

Sudah tentu Hun Lian terperanjat, pengalamannya berkecimpung di Kangouw bukan cetek, namun senjata macam apa sebetulnya jaring baja yang tajam ini, ternyata dia belum pernah tahu atau melihatnya.

Sejauh peristiwa ini berlangsung dia belum sempat melihat siapa pembokong dirinya, maklum dalam keadaan gawat begini sudah tentu tak sempat dia pikirkan hal ini, ditengah udara tubuhnya bersalto, begitu kaki menyentuh bumi kontan dia menimpuk tiga buah senjata rahasia yang bersinar kemilau kearah musuh.

Sejak kecil Hun Lian sudah dididik oleh sang ibu, kepandaian silat Kui-bo Hun Hwi-nio teramat tinggi.

Hampir mencangkok seluruh inti ilmu silat berbagai perguruan lain senjata rahasia yang dipelajari juga mendapat warisan keluarga Tong di Sujwan, malah setiap am-gi yang digunakan sudah dia bubuhi atau direndam racun yang diraciknya sendiri.

Tiga biji teratai besi yang ditim-pukan Hun Lian sekali ini juga / beracun jabat.

Waktu menimpukan senjata rahasia, Hun Lian melihat lawan masih terapung diudara, tapi begitu tiga biji teratai besi meluncur dengan desis suaranya yang nvaring, tampak orang itu seketika melorot jatuh terus bergulingan di tanah, sebilah pisau terbang tahu-tahu melesat dari tangan kiri orang itu bagai kilat mengincar tenggorokan Hun Lian.

Tampak oleh Hun Lian pisau terbang lawan diikat benang lemas, secara reflek Hun Lian juga mengayun benang merahnya Tidak menangkis atau membelit pisau terbang, tapi arah benang merah Hun Lian untuk menggubat benang dibelakang pisau terbang lawan, begitu benang saling sentuh, seperti ular saja benang merah Hun Lian lantas menggubat kencang.

Gebrak serangan menyerang ini berlangsung dalam waktu singkat dan cekat sekali, kesempatan ganti napaspun hampir tiada, Hun Lian tabah hati karena senjata rahasia yang dibawa cukup banyak, walau dia tahu lawan masih bersenjata jaring baja yang tajam, pada hal benda apa dan bagaimana bentuknya dia tidak tahu, namun dirinya harus waspada menghadapinya, sekarang dia merasa perlu menggubat pisau terbang lawan, paling tidak untuk cari kesempatan mengelabui orang macam apa sebetulnya lawannya ini.

Berhasil menggubat benang pisau terbang lawan, Hun Lian lantas menarik mundur tangannya.

Ternyata dalam waktu yang sama orang itu juga menarik tangan, maka benang dan tali kedua orang saling tarik menjadi kencang.

Terpaksa orang itu menghentikan gerakannya, Hun Lian baru melihat jelas tampang orang, kedua matanya cekung, tubuhnya kurus tinggi seperti genter kulit badannya hitam coklat tulang pipinya menonjol, rambutnya ikal lebat, melihat tampangnya jelas dia bukan oiang bangsa Han.

Hun Lian langsung membentak .

"Siapa kau ?"

Disaat Hun L an membentak orang itu-pun berteriak aneh, tapi apa maksud teriakan orang Hun Liau tidak tahu.

Hun Lian / disuruh berangkat dulu untuk mengatur orang-orang gagah yang sudah berangkat bergerombol ke Kim-hou-po, tak pernah terpikir olehnya disaat dirinya hampir mencapai tujuan, ditengah jalan muncul jago kosen yang aneh ini hendak membunuh dirinya Karuan amarahnya terbakar, sambil tetap menarik benang beruntun tangan yang lain terayun beberapa kali puluhan senjata rahasia bertahuran dari tangannya.

Semua mengundang dikala meluncur diudara, dlbawah sinar matahari tampak puluhan senjata rahasia yang bertahuran itu seluruhnya berbentuk bundar seperti uang tembaga yang bolong tengahnya, tipis dan tajam pinggirnya ditingkah sinar matahari memancarkan kemilau hijau tua.

Gaya timpukan Hun Lian boleh dikata menggunakan gaya serangan yang paling top dari kepandaian menimpuk senjata rahasia, dinamakan Boan-thian-say kim ci (menabur uang ketengah udar ) menurut kebiasaannya, bila empat puluh sembilan keping uang emas di timpukan, paling celaka juga pasti ada satu keping yang mengenai sssaran.

Apalagi empat puluh sembilan keping mata uang emas itu semua beracun cukup sekeping saja dapat menamatkan jiwa orang.

Begitu mata uang emas bertaburan dengan suara mendengung, wajah orang itu mengunjuk rasa heran dan aneh, seperti orang linglung yang lupa menyelamatkan jiwa.

dalam keadaan tertegun, jelas tubuhnya akan menjadi sasaran empuk empat puluh sembilan keping mata uang iiu.

Pada saat gawat itulah, dari belakang pohon tak jauh dipinggir jalan mendadak kumandang gerungnn keras, bayangan seorang laksana setan berkelebat maju.

kecepatan gerak tubuhnya sungguh luar biasa, langsung menerjang kearah orang aneh yang berdiri melongo itu.

Watau cepat terjangannya.

namun empat puluh sembilan mata uang mas itupun sudah membrondong tiba, bayangan yang menubruk maju itupun menimbulkan pusaran angin kencang hingga pakaiannya me-lambai keatas.

Dalam sekejap ada dua puluhan mata uang emas itu berjatuhan diatas badan / bayangan itu.

namun terdengarlah suara Trang, tring", seluruh mata uang yang menyentuh tubuhnya semua terpental jatuh berhamburan.

Sigap sekali bayangan yang menubruk tiba ini ulur tangannya, dengan dua jari tangannya dia menjepit tali hingga putus, berbareng tangan yang lain memukul balik hingga orang aneh yang tertegun itu dipukulnya jungkir balik kebelakang.

Kejadian berlangsung dalam waktu singkat, be gtu badan kedua orang ini jungkir baiik beberapa kaki jauhnya, sisa mata uang ejias timpukan Hun Lian baru berjatuhan diatas tanah sederas hujan ja uh dipermukaan empang menimbulkan kepulan debu.

Dalam keadaan yang sudah terdesak mendadak lawan kedatangan bantuan hingga jiwa orang itu diselamatkan, melihat mata uang emas sendiri juga tidak mempan diatas badan penolong itu, diam-diam Hun Lian terkejut dia tahu pendatang baru ini pasti memiliki kepandaian yang lebih tinggi dari orang aneh semula yang menyergap dirinya, satu lawan atu dirinya belum tentu kuat melawan apalagi lawan kedatangan tenaga baru, sudah tentu Hun Lian merasa waswas Begitu kedua orang itu jungkir balik dan mata uangnya berhamburan di-tanah, Hun Lian segera mengempos semangat terus melayang mundur.

Kedua pihak mundur tiga tombak, bila Hun Lian berdiri tegak memandang kearah depan sementara kedua orang itupun sudah berdiri pula.

Laki laki kurus tinggi berkulit coklat itu sedang bicara dengan suara keras, sikap dan mimiknya menunjukan bahwa dia amat marah, tapi apa yang diucapkan Hun Lian tidak tahu.

Bila dia melihat orang ke jua yang baru datang, rasa kejutnya bertambah besar.

/ Kalau laki-iaki kurus tinggi berkulit coklat itu kelihatan bukan bangsa Tionghoa, namun bangsa Persia, Arab atau Eropa atau India sudah pernah Hun Lian melihatnya.

Tapi orang yang baru datang ini betul-betul ganjil dan belum pernah dilihatnya.

Perawakan orang ini juga tinggi besar, rambutnya kuning emas berkilauan ditingkab matahari hingga mirip sutra emas yang mengkilap.

Demkian pula brewoknya berwarna kuning emas gelap, hidungnya besar, bola matanya bewarna biru kulit badannya puiih bersemu merah, anehnya diapun sedang bicara seperti orang kurus tinggi coklat itu, sambil bicara tangannya bergerak-gerak hingga tampak bulu tangan dipunggung telapak tangannya juga warna emas.

Hun Lian belum pernah melihatnya sudah tentu dia tidak mengenalnya bahwa orang ini bukan lain adalah pejabat Liong-bun-pang Pancu yang sebarang asalnya dari Barat, menghadapi keperkasaan orang aneh ini Hun Lian sampai berdiri kesima.

Tampak Liong-bun Pangcu seperti berdebar sengit dengan orang kurus tinggi, wajahnya juga kelihatan marah, akhirnya Liong-bun Pangcu menoleh dan berkata.

"Nona Hun tentu kaget, Cayhe Liong-bun Pangcu."

Pada hal bentuk orarig jauh berbeda dengan bangsa Han kita, tapi begitu buka suara dia fasih berbahasa Han dengan lancar.

Begitu orang buka suara Hun Lian lantas kenal suara orang ini memang mirip suara yang pernah didengernya di Hiat-lui-kiong tempo hari, suara yang bicara dari dalam tandu, waktu itu mimpipun orang banyak takkan menduga bahwa Liong-bun-pang Pangcu ternyata adalah manusia berbentuk aneh seperti mahluk yang menakut Pembaca sekarang tentu sudah tahu bahwa suku bangsa didunia ini terdiri beribu macam ras yang berbeda, makluk masa itu kehidupan masih serba primitif, sejak jaman dulu daratan Tiongkok tertutup oleh bangsa lain, hingga tidak tahu adanya lain ras kecuali bangsa Tionghoa mereka, maka di sini / perlu kami jelaskan bahwa Liong-bun-pang Pangcu berasal dari Eropa barat, dinegerinya dia terhitung laki-laki gagah ganteng, tapi bagi pandangan orang-orang Tionghoa masa iiu, seperti Hun Lian umpamanya, laki-laki berambut merah bermata biru ini dianggapnya manusia setengah binatang, masih untung kalau Hun-Lian yang kenal huruf pandai membaca ini hanya beranggapan demikian, tapi orang lain mungkin Liong-bun Pangcu bisa dianggap lutung emas atau siluman.

Hun Lian menyeringai dingin, dia tahahkan hati, katanya.

"Kenapa aku harus takut terhadapmu?"

Liong-bun Pangcu tertawa, katanya"

"Kepandaian menimpuk senjata rahasia nona Hun barusan sungguh amat lihay, kejadian ini kurasa hanya karena salah paham, pada hal aku hanya mohon bantuan saudara ini berunding dengan nona Hun, tak kira tabiatnya terlalu berangasan, tanpa bicara dia menyerang nona Hun malah."

Laki-laki kurus tinggi itu seperti tahu apa yang diucapkan Liong-bun-pang Pangcu, dengan wajah penasaran dia mendengus geram. Mendengar penjelasan Liong-bun Pangcu, Hun Lian malah naik pitam, serunya.

"Jangan ngomong seenak udel nu sendiri, tahukah kau seorang murid, guruku sudah dibunuhnya?""

Liong-bun Pangcu seperti terkejut, segera dia menoleh dan bertanya dengan bentakan bengis kepada laki laki kurus tinggi.

Apa yang diucapkan Liong-bun Pangcu, Hun Lian juga tidak paham, namun sikap orang tinggi kurus seperti amat murka dan tidak terima, kedua orang ini lantas ribut dan bertengkar.

Mungpung kedua orang ini bertengkar sebetulnya Hun Lian mau tinggal pergi saja, di-saat dia bimbang itulah, kejadian telah bero-bah, makin bertengkar kedua orang ini makin / ngotot, sama-sama murka.

"Wut"

Mendadak Liong-bun Pangcu layangkan tinjunya kemuka laki-laki kurus, pukulan lurus dan lugu seperti tidak mengandung jotosan lihay Lekas laki-laki kurus mengegos, samhil menggerung dia balas munyendal jaring baja di tangannya mengepruk ke batok kepala Liong-bun Pangcu.

Kembali Liong-bun Pangcu menggerung, tinjunya yang lain kontan menjotos kearah jaring baja orang "Tang"

Jotosannya kena telak.

Hun Lian melihat jelas begitu terpukul jala baja itu lantas mendekuk gepeng, celakanya jala baja.

Yang gepeng ini terpukul balik menerjang kearah dada tuannya.

Laki-laki kurus itu memekik keras sambil melompat mundur tali yang dipegang dibuang terus lari sipat kuping.

Gerak gerik laki-laki kurus tinggi ini boleh dikata amat cepat dan tangkas, namun kecepatan jala baja yang dekuk terpukul Liong bun Pangcu itu lebih kencang lagi, baru saja laki-laki kurus membalik tubuh dan berlari bebsrapa langkah, jala bajanya itu sudah menumbuk punggungnya, kontan dia menjerit pula dengan nada aneh.

Darah-pun man emour dari mulutnya.

Sambil berteriak aneh, darah berhamburan tubuhnya masih tersungkur maju menumbuk pohon besar di pinggir jalan Sesaat baru dia membalik badan perlahan lalu berdiri menggelendot pohon, napasnya empas empis, wajahnya yang berkulit coklai gelap kini berobah pucat menakutkan.

Tampak jarinya terangkat menuding Liong-bun Pangcu seperti hendak omong apa, mendadak Liong-bun Pangcu menghardik keras kearahnya.

Jarak Hun Lian dengan Liong-bun Pangcu ada enam tombak, namun hardikan Liong-bun Pangcu sungguh sekeras guntur hingga genderang kupingnya seperti hampir pecah, sekian saat masih mendengung sakit.

Celaka adalah laki laki kurus itu.

Mendadak tubuhnya mengejang kaku lalu pelan-pelan roboh terjerembab dipinggir jalan, darah masih beibamburan dari mulutnya, setelah terluka parah, akhirnya / dia mati kaget dan terputus seluruh urat nadi badannya oleh hardikan Liong-bun yang mengguntur.

Segera Liong bun Pangcu membalik, wajahnya masih tampak gusar, menuding mayat laki laki kurus, dia berkata kepada Hun Lian.

"Coba saksikan nona Hun.dia bertindak sesuka hatinya, berani bermusuhan dengan nona Hun, maka aku membunuhnya."

Sergapan laki-laki kurus tadi amat cepat dan lihay, Hun Lian dibuat kerepotan, untung dia mahir menggunakan senjata rahasia baru lawan balik d desaknya, maka dia dapat mengukur sampai dimana taraf kepandaiannya.

Tapi dalam segebrak saja ternyata dia sudah mampus ditangan Liong-bun Pangcu maka dapat dibayangkan betapa tinggi kepan daian Liong-bun Pangcu, hardikan mengguntur Liong-bun Pangcu tadipun membuat perasaan Hun Lian bergolak, jantung seperti hampir copot, sampai sekarang masih berdebar-debar, katanya.,,Ya, aku sudah melihatnya."

"Mohon nona Hun ikut aku untuk bertemu dengan Cia-saucengcu "pinta Liong-bun Pangcu. Menyinggung nama Cia Ing-kiat, berdebar pula jantung Hun Lian, teriaknya tertahan "Di .... dimana dia sekarang?""

Liong-bun Pangcu tersenyum .

"Baik-baik saja, dia amat merindukan kau,"

Tanpa sadar Hun Lian menghampiri beberapa langkah. Maka. Liong bun Pangcu lantas berkata..

"Ikutlah aku."

Habis bicara tubuhnya lantas meluncur kedepan.

Ternyata Hun-Lian membuntuti dibelakangnya.

Waktu lewat dipinggir mayat laki laki kurus tinggi itu, kaki Liong bun Pangcu menendang hingga jala tembaga itu mencelat terbang delapan tombak jauhnya jatuh keselokan dipinggir jalan Tampak oleh Hun Lian waktu jala bundar itu melayang diudara dibagian dalamnya seperti dipasang banyak duri atau / pisau tajam yang bergerak, sayang hanya sekilas pandang hingga tidak begitu jelas.

Sudah tentu tak pernah terpikir oleh Hun Lian, bila laki-laki kurus tinggi ini tidak mati ditangan Liong bun Pangcu senjatanya yang ampuh dan jahat itu mungkin sudah berkembang dan mengganas serta merenggut banyak jiwa manusia tak usah menunggu tiga ratus tahun kemudian, disaat dynasti Jing bertahta, baru senjata ini dikenal orang dan menggemparkan kalangan persilatan, yaitu Hiat te-cu yang telah merenggut entah berapa banyak jago-jago silat di Tionggoan.

Dengan Ginkaog tinggi Hun Lian.

Menguntit dibelakang Liong-bun Pangcu, lekas sekali mereka sudah tiba dipinggir sungai.

Keadaan disini sepi lengang, tiada bayangan seorangpun di sini, setiba dipinggir sungai Liong-bun Pangcu bersiul panjang dan pendek suaranya nyaring menjulang tinggi eniah sampai berapa jauhnya, maka dari iemak-se muk tak jauh dipinggir sungai sana muncul bayangan beberapa orang.

Cepat sekali bayangan orang itu sudah meluncur tiba sambil memikul sebuah tandu, tidak asing bagi Hun Lian.

Melihat tandu yang telah dilihatnya di Hiat.

Lui Liong, waktu itu memikul tandu ada delapan orang, dua diantaranya terpukul mati oleu Hu-lo Popo, namun pemikul tandu sekarang tetap delapan orang, dua orang yang mati sudah dicari gan tinya.

Bila tandu sudah berhenti didepan Liong bun Pangcu, dia berkata dengan tertawa.

"Silakan naik ketandu "

Secara otomatis pintu tandu terbuka, waktu Hun Lian memandang kedalam pajangan tempat duduknya amat mewah dengari dinding yang dilembari beludru hijau, luas-nya cukup untuk duduk empat orang.

Hun-Lian bimbang, maka dia bertari ya."Dan kau?"

Liong-bun Pangcu seperti tahu maksud hati Hun Lian, dengan gelak tawa dia berka-ta."Aku akan mengintil dibelakang tandu." / Bahwa jawaban Liong-bun Pangcu secara blak-blakan dan sering ini sungguh diluar dugaan Hun Lian.

Dia sudah menunduk hendak melangkah sedalam tandu, tapi baru satu kakinya bergerak, mendadak didengarnya Liong-bun Pangcu membentak .

..Siapa hayo keluar."

Bentaknya ini mendadak dan keras laksana gunrur, Lwekang Hun Lian sudah setaraf kelas satu, tak urung dia berjingkrak kaget dan pekak telinganya.

Tahu bahwa perobahan akan terjadi pula, lekas dia membalik badan, maka dilihatnya seluruh rambut emas Liong bun Pangci turun naik seperti berombak, kelihatannya amat ganjil sepasang matanya yang biru memancarkan cahaya terang, tubuhnya sedikit jongkok kedua tangan lurus kedepan lantas menepuk deras.

Arah ke mana dia mendorong kedua telapak tangannya terdapat segundukan tanah liat dalam jarak dua setengah tombak tinggi nya juga hanya lima enam kaki, Kelihatannya seperti dinding tanah yang sudah ambruk.

Kejadian hanya sekilas saja sikap dan kelakuan Liong-bun Pangcu kelihatan kereng buas dan menakutkan segalak singa yang mengamuk, dorongan kedua telapak tangannya menimbulkan gemuruh angin yang melanda kedepan, walau yang digempur hanya segunduk tanah, tapi Hun Lian dan delapan pemikul tandu tak urung tersibak minggir, pakaian mereka berderai.

Tertiup angin kencang.

"Bumm"

Gundukan tanah yang terpukul itu mendadak meledak, tanah liat mencelat berhamburan keudara, dari bawah gundukan yang terpukul roboi berhamburan itu mendadak menongol satu orang.

Padahal deru pukulan Liong bun Pangcu tidak berhenti begitu saja, hamburan batu dan tanah yang"

Melayang diudara berjatuhan dibadan orang ini, hingga rambut kepalanya yang awut-awutan kotor tertiup angin pukulan menutupi mukanya.

Tampak jidatnya lebar, bentuk wajahnya lonjong, walau rambut yang kusut tidak karuan menutup mukanya yang pucat, namun bentuk / badannya kelihatan membawa wibawa yang menakutkan.

Padahal betapa deras samberan angin pukulan Liong-bun Pangcu, tapi orang itu berdiri tegak melawan angin bergelak tawa lagi.

Begitu orang ini menongol dari bawah tanah Liong-bun Pangcu sudah menarik kedua tangannya, berdiri tegak siaga.

Orang itu tertawa lalu berkata .

"Dapat melihat ujud asli Liong bun Pangcu, adalah kejadian yang menggem birakan."

Begitu orang ini buka suara, seketika Hun Lian tercengang.

Orang ini dia belum pernah melihat, namun suaranya cukup dia kenal adalah suara Hu lo Popo yang pernah didengarnya di Hiat lui-kiong.

Setelah Liong-bun Pangcu menculik Cia Ing kiat, Hu-lo Popo berbincang dengan Kui-bo Hun Hwi-nio serta membuat tubuhnya melar, hingga orang banyak tahu bahwa dia bukan Hu lo popo yang asli, namun siapa dia sebetulnya tiada seorangpun yang tahu.

Terutama Hun Lian, sejak percakapan orang ini dengan ibunya yang mengandung rahasia itu, dia sudah menaruh perhatian terhadap orang aneh ini, namun sejak kejadian itu berulang kali dia tanya kepada ibunya, namun sang ibu tidak mau memberi penjelasan malah marah dan melarang dirinya bicara tentang hal itu lagi, maka rasa curiga dan ingin tahunya makin tebal, kini dia mendengar suara orang ini mirip orang aneh yang menyamar Hu lu Popo maka hatinya kaget bercampur girang.

Terdengar Liong-bun Pangcu tertawa dingin, jengeknya .

"Kungfu tuan memang hebat, namun kenapa seperti tikus sembunyi d bawah tanah."

Orang aneh itu membelakan kedua matanya, sikapnya tidak marah, katanya .

..Pangcu, aku ingin bicara dulu dengan nona Hun Lian .ini."" / Entah kenapa mendengar permintaan orang aneh, mendadak Liong bun Pangcu menerjang dengan tubrukan kilat.

Aksinya amat mendadak, rambut emasnya tampak kaku berdiri.

Di mana dia ayun kedua tangannya menggempur seperti seekor orang hutan yang mengamuk hendak mencabik mangsanya.

Orang aneh itu juga menggembor aneh, kedua tangannya juga terayun.

Betapa cepat gerakan Liong-bun Pangcu dengan ketajaman mata Hun Lian ternyata tidak mampu melihat jelas bagaimana kedua orang ini saling labrak, terdengar kedua orang sama-sama menggembor pula sekali lalu bayangan mereka tertolak mundur beberapa langkah,orang aneh itu berseru nyaring .

"Bagus baru sekarang aku tahu dilipat langit masih ada langit, orang pandai yang lebih pandai."

Liong-birn Pangcu juga memuji .

"Ternyata memang hebat, tidak sia-sia aku datang keTiong-tho (maksudnya Tiongkok).""

Dari percakapan kedua orang ini Hun Lian menyimpulkan dalam segebrak baku hantam barusan, kedua pihak sama-sama merasakan kehebatan Kungfu lawannya, maka kedua pihak saling memuji.

Setelah mengucapkan pujiannya sebat sekali Liong-bun Pangcu melesat mundur ke-belakang, kemudian Hun Lian rasakan segulung tenaga besar mendesak dirinya, hakikatnya dia tidak sadar apa yang terjadi, tahu tahu tubuhnya sudah terdesak mundur, pandangan seketika menjadi gelap, dia rasakan dirinya seperti jatuh kedalam tandu.

Kejap lain terasa tandu sudah terangkat terus melesat pergi bagai terbang.

Gerak gerik Liong bun Pangcu memang teramat cepat dan tangkas, begitu Hun Lian terdesak masuk kedalam tandu dia sendiri juga menyelinap masuk terus menutup pintu, sementara kedelapan pemikul itu tanpa diperintah sudah angkat tandu terus lari bagal terbang, hanya sekejep sudah puluhan tombak dicapai.

Orang aneh itu tetap berdiri ditempatnya.

Ternyata tidak mengejar, pada hal tandu makin / jauh dan sudah tiga puluhan tombak, tandu dipikul menyusuri pinggir Sungai.

Pada saat itulah dan semak rumput dipinggir sungai sebelah depan muncul bayangan seorang Ternyata yang mencegat adalah Lui Ang ing, begitu berdiri tangannya lantas terayun maka meluncurlah belasan batang akar alang-alang, dipingir sungai memang banyak terdapat alang alang , siapapun bisa memetik atau mencabut sesuka hatinya, tapi akar alacg alang yang ditimpukan kali ini dilembari tenaga dalam Lui Ang-ing yang hebat luar biasa, maka daya luncurnya yang cepat dengan kekuatannya tidak kalah dari lembing besi.

Pada hal tandu sedang melaju kencang kedepan, Lui Ang-ing muncul secara mendadak menyergap secara keji pula, jarak hanya setombak lebih, maka empat pemikul tandu disebelah depan seketika menjerit ngeri, leber, dada atau perut tiada satupun yang luput dari tusukan alang alang yang tajam itu.

Bahwa empat pemikul didepan roboh binasa, namun empat pemikul yang di belakang tidak tahu.

Mereka masih menggenjot langkah dengan kencang sehingga tandu doyong kedepan dan jungkir balik, sehingga empat pemikul tandu dibelakang ikut terangkat ke atas dengan teriakan yang kaget.

Gerakan Lui Ang-ing memang teramat cepat, begitu tandu terbalik, tangannya sudah mencomot pula akar alang-alang didekat kakinya terus ditimpukan keudara, namun daya luncur alang-alang itu mendadak sirna tergulung oleh lengan baju Liong-bun Pangcu yang mendadak menerobos keluar dari dasar tandu.

Ditengah udara Liong bun Pangcu pentang kedua cakar tangannya sambil menubruk kearah Lui Ang-ing.

Pada saat genting inilah orang aneh itu berteriak dari kejauhan .

"Awas."

Wajah Lui Ang-ing kelihatan pucat pias, disaat Liong-bun Pangcu menubruk dengan kecepatan kilat menyambar, dia tetap berdiri tegak tak bergeming, padahal daya tubrukan / Liong bun Pangcu membawa deru angin puyuh yang hebat sekali telah membelit tubuhnya, tapi dia tetap tak bergerak, hanya tangannya terangkat pelan-pelan, telapak tangannya terkembang kearab Liong-bun Pangcu yang menubruk tiba.

Kalau tubrukan Liong-bun Pangcu laksana guntur menggelegar, sebaliknya gerakan Lui Ang-ing justru amat lambat, seolah-olah dia terbelenggu oleh pusaran angin puyuh yang dibawa oleh tekanan tubrukan Liong-bun Pangcu sehingga gerak genknya berat tertunda.

Tapi disaat Liong-bun Pangcu hampir menubruk Lui Ang ing.

Kedua tangan Lui Aug-ing juga terbentang hingga nampak sebentuk medali segi tiga dari batu jade warna hijau pupus.

Begitu medali hijau ini muncul ditelapak tangan Lui Ang-ing, terdengar Liong-bun Pangcu mengeluarkan gemboran keras, tubuh yang menubruk dengan kecepatan kilat menyambar itu mendadak seperti direm dan ditahan suatu tenaga besar yang tidak kelihatan, tubuhnya terhemti ditengahi udara lalu melorot turun.

"Bluk"

Kedua kaki menyentuh bumi Dalam detik itulah telapak tangan Lui Ang-ing yang menepuk kedepan itu telah menyelonong kemuka Liong-bun Pangcu, sambil mengerang tertahan tampak tubuh Liong-bun Pangcu mengegos kepinggir terus melompat kepinggir Tepukan Lui Ang-ing seperti melayang dan enteng, temponya juga tepat disaat Liong-bun Pangcu tepat menyentuhkan kedua kaki kebumi maka serangan ini boleh dikata amat tepat dan telak, namun gaya dan cara Liong-bun Pangcu menyelamatkan jiwa ternyata juga indah dan mempesona Begitu Liong-bun Pangcu mengegos ke-pinggir, tubuh Lui Ang-ing yang semula tersaruk kedepan itu mendadak tertahan tegak lalu menepuk balik secara,terbalik.

Gaya pukulan telapak tangan ini lebih aneh lagi, karena tubuhnya masih bergerak kedepan.

/ Namun telapak tangannya justru menepuk kebelakang, sebetulnya serangan cara begini apalagi yang dijadikan sasaran tokoh kosen seperti Liong bun Pangcu.

Serangan itu sebetulnya amat berbahaya dan bisa berakibat fatal.

Bahwa Lui Ang-ing berani menempuh bahaya, jelas dia sudah bertekad memang karena telapak tangannya memegang medali batu jade hijau itu.

Waktu medali jade hijau ini muncul di Hiat-Iui kiong tempo hari, hanya Liong-bun Pangcu saja yang membongkar asal usulnya, sudah tentu dia tidak berani melawan, menangkis atau pantang kena serangan lawan.

Betul juga, walau serangan Lui Ang-ing itu bisa membahayakan jiwa sendiri, tapi Liong-bun Pangcu sendiri menjerit aneh malah, sebat sekali tubuhnya melayang keluar kalangan sejauh tiga tombak, setiba diatas tanggul sungai dia tetap mengeluarkan teriakan-teriakan aneh.

Begitu tepukan telapak tangannya luput, sebat sekali Lui Ang-ing sudah mengudak dengan ketat.

Pada saat itulah tampak orang aneh itu membentang kedua tangannya meluncur ke depan, teriaknya .

."Jangan kejar."

Kedatangan orang aneh amat gesit, maka keempat pemikul tandu segera berdiri jajar lalu menyongsong orang aneh dengan pukulan serempak.

Tapi orang aneh seperti tidak merasa dicegat langkahnya tetap terayun lurus kedepan.

Maka terdengar suara tumbuk-an keras dua kali, empat pemikul nu semula berdiri jajar adu pundak, tapi dua yang di tengah ketumbuk lebih dalu hingga menjerit ngeri, tubuhnya melayang keudara seperti layang-layang yang putus benangnya, terlempar tinggi jungkir balik diudara lalu terbanting delapan tombak jauhnya dan Byur, byur, keduanya tercebur kesungai menimbulkan gelombang diarus sungai yang deras itu.

Ternyata daya luncuran orang aneh tidak terhambat karena tumbukan ini, memangnya dia menerjang sambil membuka kedua tangannya, begitu tubuh menumbuk dua pemikul.

/ Sekaligus tangan kanan kirinya mencengkram leher dua pemikul yang lain.

Seketika melotot biji mata kedua pemikul tandu hingga tampangnya amat mengerikan.

Meski kedua tangan mencengkram dua tubuh manusia, gerakan orang aneh tidak tertunda sedikitpun, agaknya dia melihat adanya gelagat yang gawat sehingga gerakannya seperti amat gugup dan tergesa-gesa.

-ooo-dw-ooo-

Jilid 10 Sementara itu Lui Ang-ing sedang me-ngudak Liong-bun Pangcu yang aneh berkaok-kaok, begitu kedua pemikul itu jatuh ke air.

dari pinggir sungai mendadak muncul kepala belasan orang, semua berpakaian ketat warna hitam dari kulit ikan hiu, tangan masing-masing memegang sebuah bumbung kemilau kuning, begitu muncul dipermukaan air mereka tidak naik kedarat, namun mem bidikan bumbung tembaga ditangan mereka kearah Lui Ang-ing, dibawah komando salah seorang diantaranya, belasan bumbung tembaga itu serempak menyemprotkan panah-panah air dengan daya luncuran yang keras.

Begitu di tembakan belasan jalur panah air itu simpang siur saling tindih dan silang menyilang menyerupai jaring yang rapat, semuanya meluncur kearah Lui Ang-ing.

Begitu melihat orang ini muncul dari air, Lui Ang-ing sudah tahu bahwa lawan sudah siaga sebelumnya, tapi beruntun dia menggunakan cara nekad berhasil memukul mundur Liong-bun Pangcu, maka sikapnya kurang serius menghadapi perkembangan selanjutnya, dia pikir kalau Liong-bun Pangcu yang lihay juga dipukulnya mundur dan merat, umpama pibak Liong-bun pang banyak mengerahkan tenaga juga takkan mampu berbuat banyak kepada dirinya.

/ Setelah puluhan panah air disemprotkan kearah dirinya baru dia merasa kaget.

Semprotan air hitam yang beracun ini begitu kencang, baiupun bisa kesemprot bolong, hal ini sudah pernah dia saksikan sendiri wakiu di Hiat-lui-kiong, udara seluas empat lombak sudah terjaring oleh semprotan airhitam musuh, selusuhnya meluruk kearah dirinya, betapa dia takkan kaget dan ngeri ?

Saking takut danbingung dia berdiri melongo tak tahu apa yang harus dilakukan.

Untung pada saat genting itulah orang aneh membentak keras .

"Berdiri saja jangan bergerak."

Sejak Lui Ang ing bergebrak dengan Liog bun Pangcu, orang aneh ini sudah dua kali memberi peringatan kepadanya, bukan Lui Ang-ing tidak me.idengar, namun dia memang sengaja tidak pedulikan peringatannya, kini setelah dirinya menghadapi elmaut.

dalam detik-detik yang menentukan ini baru dia mematuhi seruan orang aneh, berdiri tegak tidak bergerak, namun kepala mendongak mengawasi semprotan air sederas hujan dengan baunya yang amis memualkan, jelas ke manapun dirinya takkan bisa menyingkir atau selamat dari ancaman elmaut ini.

Sejak kecil Lui Ang-ing dibesarkan di Kim hou po, biasanya dia berkuasa dan selalu memerintah orang lain, kapan pernah mengalami ancaman bahaya seperti ini, se-ketika keringatnya gemerobios.

Sebetulnya kejadian ini berlangsung dalam waktu singkat, namun Lui Ang ing seperti mengalaminya dengan tekanan batin dan lahir yang cukup panjang.

Seraya memberi peringatan orang aneh lempar tubuh dua orang pemikul yang ter-cen kram mati itu keatas kepala Lui Ang-ing dengan luncuran kencang hingga menimbulkan sampukan angin keras.

Kebetulan saat itu Lui Ang-ing sedang mendongak, deru angin yang dibawa luncuran tubuh kedua pemikul tandu itu berhasil menyapu panah-panah air beracun hingga tersibak / keempat penjuru.

Sementara orang aneh itu sudah menerobos kesamping Lui Ang-ing, sekali ulur dia meraih tubuh Lui Ang-ing lalu dibawanya menggelundung ke-pinggir.

Dalam waktu yang sama.

Liong bun Pangcu menjejak kaki sekuatnya hingga tubuhnya mercelat tinggi melampaui tingginya sembaran panah-panah air itu.

Tubuhnya terapung begitu tinggi melampaui semburan air beracun, disaat tubuhnya melesat itulah sekalian tangannya menepuk dua kali kebawah kejap lain tubuhnya sudah turun dipinggir joli-Fada saat yang sama kebetulan Hun Lian sedang menampakan dirinya dari dalam joli, maka Liong bun Pangcu segera menarik tangannya, tahu-tahu tubuhnya sudab melesat kedepan.

Semburan air beracun warna hitam yang berhamburan diudara itu, karena tepukan tangan Liong-bun Pangcu sehingga seluruhnya tertekan turun kebawah dengan daya laju lebib cepat,,yang terdengar lebih dulu adalah suara "Pak.

pak,", mayat dua pemikul joli yang dilempar oleh orang aneh jatuh terbanting lebih dulu, menyusul hujan lebat dari semburan air hitam itu menyiram tanah dau sekujur badan kedua mayat itu.

Air hitam yang mengenai benda apapun seketika mengeluarkan suara "Ces, ces lalu mengepul asap hijau, orang aneh dan Lui Ang-ing menggelundung jauh di tanah, begitu cepat gerakan mereka, tapi air hitam yang paling dekat hanya berjarak beberapa kaki saja, sungguh berbahaya keadaan mereka.

Setelah belasan tombak jauhnya baru orang aneh dan Lui Ang-ing melompat bangun.

Sementara itu hamburan air hitam itu-pun sudah jatuh seluruhnya, tampak Liong-bun Pangcu bersama Hun Lian sudah melesat tiba dipinggir sungai, sekali menjejak batu dipinggir sungai tubuhnya terapung lagi ke-udara, saat itulah ditengah sungai muncul dua puluhan orang / baju hitam yang menyung-gi sebuah rakit yang terbuat dari kulit kerbau, cepat sekali rakit kulit ini terbawa arus deras.

Berdiri diataa rakit kulit itu Liong bun Pangcu bersera dengan suara bagai genta .

"Selamat bertemu.'* Detak jantung Lui Ang-ing belum berhenti, waktu dia meneliti, belasan orang baju hitam yang menyemprotkan air hitam tadi sudah lenyap entah ke mana. Dengan santai orang aneh itu mengintil dibelakang Lui Ang-ing, sekaligus mereka lari sejauh tiga puluhan li, baru Lui Ang-ing berkata .

"Hampir tiba di Kim-hou-po."

Daerah ini adalah tanah tegalan yang bergunduk tinggi, tanahnya kuning berdebu, selepas mata memandang, dikejauhan tampak bayangan gunung yang remang-remang, jaraknya masih sekitar enam puluhan li, orang aneh itu menganggukan kepala, katanya .

,,Entah rombongan Oh-sam Siansing ditempai mana menunggu kedatangan Kui-bo?"

Lui Ang-ing menyeringai dingin tanpa bersuara, agaknya rombongan orang-orang kosen iiu tidak dalam perhatiannya.

Maka orang aneh ltn tersenyum, katanya.

.Jangan kau pandang enteng mereka, mereka sudah terkekang oleh perintah Kui-bo, demi mempertahankan hidup, urusan apapun yang harus mereka lakukan pasti bekerja dengan nekati dan adu jiwa, jago libay sebanyak itu.

apakah Kim-hou-po mampu melawan mereka ?"

Lui Ang-ing berwatak angkuh, segar dia raenjengek dingin .

"Kim-hou-po tidak perlu dibantu siapapun. tadi kau menolongku, aku amat berterima kasih, tapi jangan kau salah sangka bahwa Kim-hou po bakal kalah tanpa bantuanmu."

Orang aneh juga bersikap tak acuh, katanya tertawa .

"Sungguh mirip ayahmu di waktu muda dulu, agaknya dugaanku tidak keliru." / Lui Ang ing lirik sekejap kearah orang aneh, katanya .

"Sering ayah berkisah tentang seluk Deluk tokoh Bulim. rasanya beliau tidak pernah menyinggung kau orang tua."

Orang aneh itu tertawa, katanya.

"Apakah kau masih meuaruh curiga terhadap Kungfuku "

Lui Ang-iug geleng kepala, katanya .

"Bukan curiga, cuma asal usulmu ..."

Orang aneh angkat sebelah tangannya mencegah kelanjutan omongan Lui Ang-ing, kerut merut dimukanya memang sudah banyak, kini seperti bertambah banyak lagi, sikapnya cemberut seperti orang kesusahan.

Sikapnya ini memberi jawaban, bahwa dia tidak senang menyinggung atau membicarakan riwayat hidup sendiri.

Sesaat lamanya baru dia berkata perlahan.

, Lui pocu belum tentu tahu asal usul seluruh tokoh-tokoh ko-sen di dunia ini, siapakah Liong-bun Pangcu itu.

mungkin ayahmu juga tidak tahu."

Lui Ang-ing menyeringai, katanya.

,,Kau terlalu meremehkan kemampuan ayah.

sejak lama sudah dia jelaskan kepadaku, laksaan li didunia barat terdapat sekelompok suku bangsa, gagah dan garang, pandai berlayar dilautan, konon dinamakan Wi-kian-jin.

Waktu beliau berkelana menjelajah dunia, pernah dia bertemu dengan seorang suku bangsa Wi kian ini.

Kungfu orang ini amat tinggi, kemungkinan besar sekarang dia menjabat Liong-bun Pangcj itulah."

Orang aneb mengangguk sambil menghela napas, entah apa maksud sikapnya ini.

SambU bicara kedua orang ini terus melaju kedepan, beruntun mereka sudah naik turun puluhan gunduk tanah tinggi, tak jauh dide-pan sudah kelihatan tegak berdiri sebuah ngarai, dia tas ngarai terdapat sebuah benteng besar, di bawah pancaran sinar surya yang cemerlang, walau jarak masih cukup jauh tapi dua ekor harimau emas diatas pintu gerbangnya yang mengkilap sudah kelihatan.

/ "Bagus, sungguh megah dan angker."

Demikian puji orang aneh tertawa, langkahnya tidak jadi lambat, lak lama kemudian, mereka sudih mtlampaui beberapa deret rumah dibawah bukit langsung memanjang keatas ngarai, lekas sekali mereka sudah tiba dipinta gerbang Kim-hou-po.

Begitu tiba d.depan pintu Lui Ang ing menuditg keatas dengan jari tangannya, tubuhnya lantas melejit miring keatas.

kelihatannya gerak tubuhnya amat gemulai dan lamban, tapi dapat meluncur tinggi dan hinggap diatas tembok benteng.

Begitu berdiri tegak diatas benteng Lui Ang-ing lantas menoleh kebawah, didengarnya orang aneh dibawah menghardik perlahan, tahu tahu tubuhnya sudan melebat dibela -kangnya.

Lui Ang-ing tidak menoleh lagi, langsung dia melesat kedepan, tembok benteng Kim-hou-po tebalnya ada satu setengah tombak, setelah meluncur puluhan tombak mendadak Lui Aug ing menghentikan langkah, tampak didepannya mendadak menjeplak sebuah papan besi setebal satu kaki, maka muncullah sebuah lobang persegi, Lui Ang-iag langsung melompat kedalam lobang.

Bila Lui Ang-ing hinggap di dalam pusat benteng, orang aneh itupun sudah melayang turun.

Walau didalam dinding, tapi pajangan di sini ternyata tidak kalah menterengnya dari sebuah kamar istana Dua orang segera menyambut, meski menjura kepada Lui Ang ing tapi dua orans ini menatap orang aneh, agaknya mereka heran dan curiga.

Ternyata Lui Ang-ing tidak balas menghormat, katanya.

, Ada kejadian apa dalam benteng,"

"Tiada kejadian apa apa,"

Sahut kedua orang.

"anak-anak penurut semuanya.'' terangkat alis Lui Ang-ing, katauya* ,.Memangnya mereka berani tidak menurut? Kalian boleh keluar, aku akan menghadap Pocu.' / Kedua orang itu masih mengawasi orang aneh. ingin bicara tapi urung, akhirnya berkata. Siau pocu bukankah aturan Pocu . ."

Seperti tahu apa yang akan diucapkan kedua orang itu, segera Lui Ang ing mendengus, katanya.

"Aku sudah tahu. Menurut aturan Kim-hou-po, siapapun dilarang mem-bawa orang tua kemari."

Sikap kedua orang itu tampak gugup, katanya. ,,Ya, kami menang tidak pantas banyak mulut "."

Sekembali kcdalam Kim-hou-po, sikap Lui Ang-ing ternyata amat angkuh dan angker, sebelum orang bicara habis dia sudah menukas sambil mengulap largan.

,.Lekaslah pergi.

Aku akan menghadap Pocu, buat apa kalian cerewet?"

Kedua orang ini masing-masing bertubuh kurus tinggi, tengkorak mukanya dibungkus Kulit kering, namun kedua Thay-yang-hiatnya lernyua menonjol besar, bila bicara benjolan dikedua pelipisnya ini sampai bergoyang turun naik, seperti ada katak dibalik kulit keringnya iiu, jelas Khi kang dari aliran Lwekeh yang diyakinkan sudah mencapai taraf yang tigggi-Bentuk seorang yang lain lebih aneh lagi, mukanya kuning seperti malam, tampangnya mirip orang yang sudah mati.

Baca Juga: Pendekar Buta 6

Baca Juga: Mutiara Hitam 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert