Eps 3 Tugas Rahasia - Gan KH
Baca online Tugas Rahasia - Gan KH
Cersil Tugas Rahasia - Gan KH.
Betapapun Cia Ing kiat adalah seorang yang cerdik dan pandai, meski keadaan sendiri juga masih payah, namun setelah melihat dan mendengar suara Siau-pocu, segera dia jelas duduk persoalannya.
Dia menduga Siau pocu pasti mengidap suatu penyakit aneh yang sering kumat menyiksa dirinya, walau Kungfunya biasa amat tinggi, namun bila penyakit itu kumat, otaknya seakan-akan lumpuh total, tenaga menggerakan tangan merogoh keluar obat penawar dari dalam kantong sendiri pun tidak mampu.
Terpikir pula oleh Cia Ing-kiat, bila penyakit aneh ini sudah kumat sehebat itu, jikalau tidak lekas minum obat penawarnya, salah-salah jiwanya bisa direnggut elmaut.
Bila Siau-pocu Kim-hou po mampus, berarti dirinya tidak akan menghadapi musuh tangguh yang berbahaya ini.
Demi keselamatan dan kepentingan sendiri, maka dia berputar hendak beranjak pergi.
Didengarnya suara Siau-pocu memekik seram dan mengerikan.
"Lekas kemari."
Entah kenapa Cia Ing-kiat berjingkat mendengar teriakan setengah meratap ini, hatinya sungguh kalut, untuk menolong Siau pocu mudah saja tinggal dia ulur tangan, kalau / membiarkan orang mati tersiksa oleh penyakit sendiri juga gampang saja asal tinggal pergi, namun dia sudah mengambil keputusan bagaimana dia harus mengambil keputusan.
Kembali Siau-pocu mengerang hebat, tanpa kuasa Cia Ing-kiat membalik tubuh, dilihatnya tubuh Siau-pocu meringkuk semakin kencang dengan tubuh bergetar keras, sekujur badannya mengeluarkan suara keretekan seperti piring pecah, hanya sekilas Cia Ing-kiat melenggong, segera dia melangkah lebar masuk kedalam kuil.
Diluar dia masih bimbang, tapi begitu berada didalam kuil, langkahnya tidak ragu-ragu lagi, cepat dia memburu maju serta berjongkok disamping tubuh Siau-pocu, tampak selebar mukanya ternyata merah membara, mata terpejam, kedua tangan bersilang mendekap dada, maka untuk merogoh obat menawar didalam kantong bajunya Cia Ing kiat harus menarik kedua tangannya itu, namun waktu dia pegang lengan orang, ternyata tangan orang, kaku keras laksana besi, ditarik Juga tidak bergeming.
Apa boleh buat terpaksa Cia-Ing kiat kerahkan tangannya, sekali jambret dia tarik robek baju didepan dada Siau-pocu.
lalu dari bawah ketiaknya dia merogoh kedalam bajunya.
Tapi begitu tangannya merogoh kedalam dekapan kedua tangan orang seketika dia tertegun karena tangan yang terulur masuk itu manyentuh daging kenyal dan padat, Cia Ing-kiat memang perjaka yang belum pernah menyentuh perempuan, apapun dia tahu bahwa yang disentuhnya itu pasti bukan badan seorang laki-laki.
Maka dilihatnya wajah Siau-pocu makin merah dan jengah, keadaannya jelas lebih payah maka dia tidak berani ayal, segera jari-nya merogoh lebih jauh lalu mencomot keluar sebuah botol porselin kecil, peduli dia laki atau perempuan, setelah tutup botol di buka dia pegang dagu Siau-pocu serta memencet mulutnya hingga terbuka, beberapa butir pil warna hijau didalam botol porselin itu dia tuang kedalam mulutnya, / setelah mengurut, dia memijat pula leher dan pelipisnya baru dia berdiri dan mundur beberapa langkah.
Cia Ing kiat mundur mepet dinding, dengan menggelendot dinding dia berdiri menentramkan pikiran dan pemanasannya.
Dalam keadaan kritis menolong orang barusan hakekatnya Cia Ing kiat tidak memikirkan sebab dan akibatnya, kini setelah pikiran sedikit jernih, baru dia menyadari kemungkinan dirinya telah bertindak salah.
Setelah menelan beberapa butir pil hijau tadi, tenggorokan Siau pocu mengeluarkan suara aneh pula, goncangan tubuhnya mulai mereda, tubuh yang meringkuk kaku itu mulai lemas dan kaki menjulur turun tangan-pun terkulai, kejap lain dia sudah rebah terlentang dengan meluruskan kaki tangan.
Di bawah penerangan cahaya rembulan yang menyorot masuk disamping sana.
kelihatan wajahnya yang merah darah itu mulai pudar, pelupuk matanya pun bergerak-gerak rona mukanya yang pucat kembali seperti semula, kedua matanyapun sudah terbuka.
Melihat Cia Ing kiat berdiri mepet dinding lekas dia melejit bangun dengan gerakan tangkas, tubuhnya terus menyurut mundur ketempat gelap sana sambil membelakangi Cia Ing-kiat, bila dia menoleh Cin Ing-kiat hanya melibat rona mukanya yang pucat pula.
Waktu Siau-pocu berjingkrak berdiri barusan Cia Ing-kiat sudah berniat kabur, namun niatnya terpaksa dia batalkan karena gerak gerik orang ternyata lebin cekatan dan lincah, dia insaf dirinya takkan bisa lolos meski melarikan diri.
Begitulah ditempai gelap Siau-pocu saling pandang dengan Cia Ing-kiat.
sesaat kemudian terdengar Siau pocu berkata .
"Waktu aku masih kecil, ayahku diperdayai orang, sejenis obat beracun dicampur didalam Jit-sek-leng-ci dan diminumkan kepadaku." / Cia Ing Kiat menunggu perkembangan dengan jantung berdebar, kaki tangan berkeringat dingin, entah mujur atau bakal celaka nasib sendiri sukar diramalkan, setelah Siau pocu buka suara menceritakan asal mula penyakitnya itu, legalah hatinya. Merandek sejenak Siau pocu meneruskan ceritanya "Sejak itu meski Iwekangku berlipat ganda lebih maju, tapi setiap sebulan sekali racun dalam tubuhku ikut pasti kumat dengan berbagai cara dan upaya ayahku berusaha menawarkan racun itu. namun tidak berbasil menawarkannya, hanya mampu membuat obat sebagai penawar sementara, setiap kali penyakit ini kumat, bila minum obat bikinan beliau baru aku terhindar dari siksa derita."
Agak lama baru Cia Ing-kiat bersuara dengan bibir gemetar .
"Orang yang mencelakaimu itu ternyata amat kejam."
Dua kali Siau pocu tertawa tawa. katanya .
"Waktu kau melarikan diri dari Kim-hou-po malam itu, kebetulan penyakitku sedang kumat, kalau tidak jangan harap kau bisa melarikan dirimu ?"
Mendengar orang menyinggung urusan dirinya, berdebar jantung Cia Ing-kiat tapi didengarnya Siau-pocu berkata pula .
"Kau pergilah dalam keadaan seperti dirimu, ternyata masih sudi menolong aku, memang harus dipuji dan patut dihargai, pergilah."
Baru sekarang Cia Ing-kiat benar-benar menghela napas lega, terasa badannya mendadak menjadi segar dsn enteng.
Namun setelah tahu dirinya telah bebas, dia tidak ingin buru-buru malah, katanya tertawa sambil mengawasi Siau-pccu .
"Kungfumu setinggi itu, jarang ada tandingan, tapi aku juga tidak menduga bahwa kau adalah seorang perempuan."
"Tidak lekas kau enyah."
Sentak Siau-pocu, mendadak sikapnya beringas.
"jangan kau mengundang amarahku untuk membunuhmu." / Sudah tentu Cia Ing-kiat berjingkat, tanpa sadar dia melangkah pergi dua tindak, namun mulutnya membantah.
"Aku terpaksa harus mengambil obat dalam kantongmu, kan bukan salahku."
Sembari bicara dia sudah melangkah keluar. Tapi Siau-pocu mendadak memanggilnya .
"Kembali."
Cia Ing kiat melenggong.
dia berdiri lalu membalik pelan pelan, dilihatnya Siau pocu seperti sedang memikirkan sesuatu, Cia Ing Kiat menunggu diam pula, setelah termenung sesaat lamanya, baru didengarnya Stau-pocu berkata .
"Baiklah, kau pergi saja jangan kau ceritakan tentang diriku kepada orang lain."
Lekas Cia Ing kiat mengiakan. lalu menambahkan.
"Pusaka yang ada di dalam Kim hou po memang kenyataan direbut orang, harap kau percaya kepadaku."
Siau pocu menunduk, katanya .
"Umpama berada ditanganmu, juga tidak menjadi soal, aku tidak akan menuntut kepadamu, lekas kau pergi."
Cia Ing-kiat masih kebingungan sesaat lamanya baru melangkah keluar kuil, baru beberapa langkah terasa sesosok bayangan orang berkelebat membawa kesiur angin melesat keluar, hanya sekejap bayangannya sudah lenyap dikegelapan Cia Ing kiat berdiri terlongong didepan pintu kuil.
kejadian yang dialami barusan, seperti impian buruk belaka.
Cia Ing-kiat memejam mata, namun bayangan wajah Siau-pocu yang pucat lesi itu seperti terpampang didepan matanya, muka orang biasa tak mungkin bisa seputih itu, mungkin karena bekerjanya kadar racun jahat dalam tubuhnya sehingga menimbulkan perobahan di kulit wajahnya.
Terbayang pula, bahwa selama Kim hou-po berdiri mungkin dirinya orang pertama yang mampu melarikan diri dari Kim-hou-po tetap segar bugar, disamping rasa duka dan lara, terasa senang dan terhibur pula hatinya.
/ Lalu terpikir pula olehnya, sejak meninggal Kim-hou-po.
Jit-sing-to (golok Tujuh bintang) itu selalu dia sembunyikan, sekarang setelah Siau pocu tidak mengusut perkaranya maka dirinya bebas menggunakan golok itu.
Jit-sing-to akan muncul pula di kalangan Kangouw betapapun kepandaian sendiri masih terbatas, bila ayahnya........'"
Teringat pada sang ayah yang telah meninggal, seketika hatinya sedih, dia menarik napas panjang lalu melangkah kedepan tanpa tujuan hingga terang tanah, untung akhirnya dia tiba disebuah kota kecil, tanpa pilih dia memasuki sebuah hotel lantas masuk kamar dan tidur, sehari semalam sebelumnya keadaannya teramat payah dan tersiksa, maka sehari ini dia tidur dengan nyenyak, dalam hati sudah mengambil keputusan, setelah bangun dan kondisi badan segar lagi segera akan berangkat pulang ke Hwi-liong-ceng.
Menjelang petang baru Cia Ing-kiat bangun tidur, setelah menggeliat terasa semangat segar, rasa sakit hilang tenaga penuh, hanya perutnya yang kelaparan segera dia panggil kacung.
Tapi begitu dia berteriak seketika mulutnya ternganga, matapun terbelalak seperti bingung dan tak percaya akan apa yang dilihatnya.
Pagi tadi kabut masih tebal, cuaca remang-remang dia masuk ke hotel, jelas hotel ini kecil sederhana, tapi sekarang setelah dia bangkit duduk di atas ranjang, sinar mentari sudah menyorot masuk dari jendela berukir, kerai menjuntai, tak jauh di tengah ruang dialas meja tertaruh sebuah hiolo yang masih mengepulkan asap wangi, dirinya rebah diatas pembaringan besar berukir dari gading gajah, pajangan serba mewah,perabotnya juga antik.
Seingatnya Hwi-liong-ceng yang dibangun ayah sudah cukup kaya dan mewah, namun dibanding kamar di mana dia berada sekarang, bedanya masih jauh.
Tapi heran Cia Ing-kiat duduk melongong sambil kucek-kucek mata, namun kenyataan dirinya memang berada dikamar mewah ini.
Pada saat itulah langkah lembut terdengar / diluar, keraipun tersingkap, tampak seorang gadis jelita berusia tujuh belasan melangkah masuk lalu berdiri diambang pintu meluruskan kedua tangan, katanya hormat.
"Siau-cengcu ada pesan apa "
Cia Ing-kiat segera melompat berdiri dari atas ranjang, bola matanya terbeliak katanya.
"Tempat apakah ini ?"
Gadis jelita itu seorang pelayan, dia tertawa cikikik sambil mendekap mulut setelah ditanya beberapa kali oleh Cia Ing-kiat baru dia menjawab.."Siau cengcu, kalau sudah datangnya tentramkan saja hatimu, buat apa banyak tanya segala?"
Cia Ing-kiat tidak puas akan jawabannya, segera dia melangkah keluar, pelayan itu juga tidak menghalanginya, diluar ternyata sebuah serambi panjang yang berpagar serba ukiran, diluar pagar adalah tanah berumput yang subur menghijau ditaburi kembang-kembang liar yang tak diketahui namanya, beberapa ekor merak berbulu putih laksana salju sedang mengembangkan sayap dan bulu serta ekornya berjalan mondar mandir sambil pasang aksi.
Cia Ing-kiat melompati pagar berlari diatas rerumputan yang masib basah oleh air embun, puluhan langkah kemudian dia membalik badan, tampak gedung mungil di mana barusan dia tidur ternyata berbentuk begitu indah artistik, dibawah pancaran cahaya pagi.
sungguh laksana dialam dewa saja.
Tanah berumput ini ternyata tidak terlindung pagar atau tombak, selepas mata memandang seperti tidak berujung pangkal, di kejauhan tampak gunung gemunung yang sambung menyambung seperti gajah beriring, ini membuktikan bahwa gedung di mana dia tinggal sekarang dibangun diatas sebuah puncak gunung yang lebih tinggi dari mega.
Dalam sesingkat ini Cia Ing-kiat belum menyadari sebetulnya apa yang telah terjadi atas dirinya, maklum pengalamannya selama beberapa hari ini memang teramat / ganjil dan misterius, tapi menghadapi kejadian pagi hari ini, kembali dia dibuat lebih bingung pula.
Waktu dia membalik pula, pelayan cantik itu juga sudah keluar dari kamar, lekas Cia Ing-kiat menghampiri meraya berkata ."Tempat apakah ini, bagaimana aku bisa berada di sini?"
Pelayan itu tertawa, katanya .
"Waktu Siau cengcu datang, kau tidur amat pulas aih."
Cia Ing kiat maklum, meski dirinya tidur pulas juga tak mungkin dipindah tempat tanpa dirinya menyadari, dia yakin dikala dirinya tidur seseorang telah menutuk Hiat-to penidurnya, bukan mustahil dirinya pingsan selama beberapa hari.
Makin di pikir makin bingung, pelayan itu mengawasinya dengan mimik tawa tidak tertawa, Ing-kiat segera menghampirinya, secepat kilat mendadak dia mencengkram pergelangan tangannya, ternyata pelayan ini diam saja.
begitu jari-jarinya mercengkram lantas kerahkan tenaga lebih keras, tapi begitu dia menarik pelayan itu kedekatnya, terasa pergelangan tangan orang selicin belut, hanya sekali sekali sendal tangannya telah terlepas dan menyurut mundur.
Karuan Cia Ing-kiat kaget, bahwa pelayan ini begini lihay maka pemilik rumah ini pasti memiliki kepandaian yang tidak rendah.
Setelah menarik napas, dia berkata pula.
"Sebetulnya tempat apakah ini?"
Pelayan itu tetap tak mau bicara pada saat itulah dari serambi sana mendadak kumandang suara merdu lincah searang gadis lain.
"Cici jelaskan saja, kan tidak apa-apa? Memangnya takut dia melarikan diri?"
Maka muncullah seorang gadis lincah berusia lima belasan dengan langkah gemulai dan tangkas, hanya sekali berkelebat sudah tiba didepan Cia Ing-kiat.
wajahnya masih bersifat kanak-kanak, matanya lebar menatap Cia Ing kiat, katanya.
"Tempat ini adalah salah satu dari tiga puluh enam villa Hiat-lui kiong, gunung ini dinamakan Thian lo-hong" / Suaranya merdu nyaring, lalu dia menuding tangan kearah bayangan gunung didepan nan jauh.
"Yang kau lihat itu adalah Ko le-kong-san."
Cia Ing-kiat terlongong ditempatnya, mulutnya bungkam, sesaat dia berdiri bingung tak tahu apa yang harus dikatakan.
Tadi sudah terpikir bahwa mungkin dirinya bukan tidur hanya satu dua hari, namun sudah beberapa hari atau sudah berminggu lamanya, pada hal letak Ko-le-kong-san ada puluhan ribu li dari Tionggoan, perjalanan merupakan waktu beberapa bulan lamanya.
Hiat-lui-kiong itu apa dia tidak tahu dan belum pernah dengar.
Seperti orang linglung Cia Ing kiat berdiri sambil mengawasi kedua gadis didepan-nya kedua gadis itu cekikikan geli, akhirnya Cia Ing-kiat tertawa getir, katanya.
"Bagaimana aku bisa berada di sini? Apakah aku dalam mimpi? "
Gadis yang lebih muda agaknya lebih cerewet segera dia menanggapi "Kuatir dijalan kau berontak dan melarikan diri, maka Gin-koh dan Thi-jan Lojin membuatmu tidur hingga sampai di sini."
Mendengar nama Gin-koh dan Thi-jan Lojin baru Cia Ing-kiat sadar duduk persoalannya agaknya kedua laki perempuan inilah yang menculiknya kemari sejak dari rumahnya tempo hari.
dengan alasan pernikahan, pada hal siapa pihak perempuannya tidak dijelaskan sehingga menimbulkan urusan berbuntut panjang, maka dia menduga sekarang dirinya sudah berada di rumah pihak keluarga perempuan.
Namun hatinya masih setengah bimbang, setelah tenang pikirannya dia bertanya.
"Siapakah majikan di sini?"
Kedua pelayan jelita didepan Cia Ing-kiat seketika tertawa geli, gadis yang lebih muda malah tertawa lebih keras, katanya.
"Coba lihat, menurut Gin koh dan Thi-jan Lojin, waktu dia diajak kemari katanya tidak sudi, sekarang ingin tahu dan mau bertemu dengan majikan malah." / Dongkol dan geli juga hati Cia Ing-kiat. katanya keras.
"Tanpa juntrungan tahu-tahu aku berada di sini, apa salahnya kalau aku harus berhadapan dengan majikan kalian?"
Gadis yang lebih muda membelalak mata, katanya.
"Biar kuberitahu kepadamu, keadaanmu sekarang masih lemah, seperti orang sakit, maka kau diharuskan beristirahat secukupnya memulihkan kesehatan, bila roman mukamu sudah kelihatan gagah dan tenaga dalampun sudah pulih baru boleh kau menemui majikan kami."
Cia Ing-kiat hanya tersenyum kecut, namun dalam hati merasa kaget, karena setelah disiksa dua kali didalam kuil, Siau-pocu apakah dirinya terluka dalam atau tidak dia sendiri tidak tahu.
Maka dia coba menarik napas pelan-pelan lalu mengerahkan hawa murni, celakanya begitu hawa murni dikerahkan sekujur badan seketika seperti dicocoki ribuan jarum, saking kesakitan dia gertak gigi, muka pucat keringat bercucuran.
Disamping kesakitan hatinyapun amat kaget karena, tanda-tanda ini memang jelas bahwa dirinya terluka dalam yang amat parah.
Cia Ing-kiat menjublek tanpa bicara maka gadis yang lebih kecil itu berkata.
"Nah betul tidak? Sudah percaya? Lekaslah kembali kekamar dan istirahat memulihkan kesehatan?"
Selama hidup kapan Cia Ing-kiat pernah dilayani dengan sikap seperti ini, apa lagi yang main suruh hanya seorang pelayan cilik namun pikirannya ruwet, maka dia tidak hiraukan sikap kasar gadis ini.
dengan menunduk dia beranjak balik kedalam kamar lalu duduk lesu.
Begitu dia menjatuhkan pantatnya diatas kursi.
"Buk "
Sebuah benda jatuh diatas meja sampingnya, waktu Cia Ing-kiat menoleh, itulah serenteng lembaran bambu tipis yang dijalin dengan benang sutra sebanyak ratusan lembar, mungkin terlalu sering dipegang lembaran bambu tipis ini tampak mengkilap.
/ Kembali gadis yang lebih muda yang buka suara."Majikan bilang Kungfumu terlalu rendah yang kau pelajari terlalu banyak ragamnya pula, maka kau harus belajar dari permulaan pula, delapan belas lembar bambu ini berisi pelajaran ilmu Khi-kang dari aliran Iwekeh tingkat tinggi, kau boleh mempelajarinya dengan rajin."
Habis bicara dengan cekikik tawa dia tarik temannya terus beranjak keluar.
Tergerak hati Cia Ing-kiat, segera jemput rentengan bambu itu serta diperiksa dengan teliti, setiap lembar bambu tertera enam gambar orang dengan dandanan orang Biau, ukirannya begitu jelas dan indah seperti hidup, cuma gayanya saja yang agak aneh dan sukar dibayangkan sebelumnya.
Sambil lalu Ing-kiat periksa delapan belas lembar bambu itu dengan bekal kepandaiannya sekarang hakikatnya dia tidak tahu pelajaran ilmu dari golongan atau aliran mana yang tertera didalam lembaran bambu ini apalagi hatinya sedang gundah, maka susah hatinya belajar sesuai petunjuk gambar diatas lembaran bambu ini.
maka dia hanya mondar mandir didalam kamar sambil menggendong tangan.
Tidak lama kemudian kedua pelayan itu datang pula, kali ini membawa hidangan pagi, bila tutup mangkok dibuka, isinya ternyata sejenis bubur warna hitam seperti kecap, bau pedas menyerang hidung, entah makanan apa terbuat dari apa pula.
Perut Cia-Ing-kiat memang sudah keroncongan, tapi menghadapi makanan serba hitam kental seperti bubur bukan bubur, betapapun sukar ditelan rasanya, terpaksa sambil mengernyit kening dan memejam mata dia mencobanya, padahal sikap kedua pelayan ini seperti menghidangkan semangkok makanan yang paling lezat didunia ini, melihat Cia Ing-kiat menggaresnya dengan main telan saja, mereka kelihatan agak penasaran.
Beruntun beberapa hari Cia Ing kiat hidup dalam suasana terkekang seperti dikuasai saja, makanya yang disantapnya setiap hari juga barang yang sama, maka diapun tidak / pedulikan apa pelajaran ilmu dalam lembaran bambu tipis itu, cuma dia tidak lupa latihan menurut ilmu dan cara yang pernah dipelajarinya, namun makin hari perasaan hatinya makin ruwet, rasa sakit ditubuhnya juga semakin bertambah malah.
Hingga hari ketujuh, baru Cia Ing-kiat mulai menaruh perhatian terhadap rentengan bambu tipis iiu, sekarang dia lebih cermat dengan memusatkan pikiran lagi sehingga lapat-lapat terasa adanya sesuatu manfaat dari gambar gambar yang tertera disini, lalu dia mencontoh gayanya satu persatu hingga selesai, beruntun dia meniru dua kali, ternyata terjadi perubahan yang diluar dugaan dalam tubuhnya, karuan hatinya girang sekali.
Diatas delapan belas lembar bambu tipis itu tertera seratus delapan gaya intisari pelajaran latihan Khikang dari aliran Lwekeh, satu gaya demi satu gaya Cia Ing-kiat mempelajarinya, terasa setiap hari dia memperoleh kemajuan yang cukup baik, saking tekun mempelajari ajaran Khikang ini.
tanpa terasa tiga bulan sudah berselang, di puncak gunung itu tak pernah terjadi perobahan cuaca, hawa tetap sejuK seperti musim semi.
Cia Ing-kiat rasakan Lwekang sendiri sekarang telah memperoleh kemajuan yang cukup baik, maka selama tiga bulan ini dia betah dan kerasan hidup disini, hubungannya dengan kedua pelayan itupun sudah intim, cuma kalau ditanya siapa nama mereka, yang besar mengaku bernama Toa-kui (setan gede) yang kecil bernama Siau-kui (Setan cilik) apa boleh buat selanjutnya Cia Ing-kiat memanggil mereka dengan sebutan itu.
Dalam jangka tiga bulan Cia Ing kiat selesai pelajari Khikang yang tertera diatas rentengan bambu tipis itu, waktu itu sudah menjelang tengah malam, Cia Ing-kiat menggerakan tangan dan kaki badan terasa segar dan bersemangat, maka dia melangkah keluar rumah.
/ Sejak pertama kali siuman dirumah ini dulu sampai sekarang belum pernah timbul hasratnya untuk turun gunung, kini dengan langkah berlenggang kakinya berjalan kepinggir sebuah ngarai.
Cuaca cerah bulan sedang memancarkan cahayanya yang benderang, tampak gumpalan mega bergulung di bawah kakinya, pandangan matanya hanya bisa mencapai tujuh kaki jauhnya, tapi ciptaan alam yang dilihatnya sudah serba serbi.
Menyusun pinggir ngarai Cia Ing kiat jalan-jalan sambil menggendong tangan, mendadak dilihatnya didepan sebuah pohon raksasa yang dahan besarnya menjorok keluar, diatas dahan pohon ini terikat akar rotan yang besar menjulur turun kebawah.
Tergerak hati Cia Ing-kiat.
Selama tiga bulan diatas puncak ini, walau hidupnya cukup enak dan tentram tidak kekurangan, namun siapa pemilik rumah ini tidak pernah diketahui, ini pertanda orang bermaksud baik terhadap dirinya, namun hidup dikuasai orang begini juga tawar rasanya, kenapa aku tidak turun kebawah melihat keadaan yang sebenarnya ?
Puncak ini dikelilingi dinding curam tiada jalan untuk naik turun, mungkin hanya akar pohon inilah jalan satu-satunya untuk turun kebawah gunung Maka tanpa banyak pikir Ing-kiat segera maju ke sana serta lompat bergantung serta melorot kebawah berpegang akar rotan besar itu.
Baru beberapa tombak tubuhnya sudah ditelan gelombang mega yang bergulung-gulung, seolah-olah dirinya hidup dalam lingkungan dewa saja.
sekelilingnya tidak terlibat jelas.
Begitulah selama bebeiapa kejap dia sudah melorot ratusan tombak kebawah, baru kedua kakinya menyentuh bumi, sekilas dia celingukan, meski di sini mega juga bergolak, namun samar amar dia dapat meneliti sekitarnya, dirinya searang berdiri diatas sebuah panggung batu kecil.
Tengah dia berpikir bagaimana dirinya harus bertindak lebih lanjut, mendadak didengarnya disebelah kiri ada suara / percakapan orang.
Cepat Cia Iing-kiat melompat kesamping kanan menyembunyikan diri dtbelakang sebuah batu besar.
Suara percakapan itu makin jelas dan dekat, itulah percakapan Toa kui dan Siau kui, terdenger Siau-kui sedang berkata "Sungguh aneh, kemaren kami masih bisa menangkap delapan puluhan ekor, kenapa hari ini seekor-pun tidak tampak ?
Mungkin ada orang tahu manfaatnya lalu naik kemari mencurinya?"
Lain terdengar suara Toa-kui berkata.
"Mungkin juga sudah lari semuanya"
Siau-kui mendengus, katanya.
"Hm. mana mungkin, Ki-thian hiang yang ditanggalkan majikan selalu dapat memancing kedatangannya, hari ini hasil kita cuma sedikit terpaksa hidangan harus dicatut untuk dia."
Cia Ing kiat mencuri dengar pembicaraan mereka dibelakang batu.
lekas sekali kedua gadis ini sudah tak jauh dari tempat sembunyinya, waktu dia mengintip dilihatnya Siau-kui memegang sebatang rotan, diatas rotan inilah direnteng delapan ekor binatang mirip kepiting tapi bukan kepiting, seperti kala jengkang tapi juga bukan, setiap ekor sebesar kepelan tangan, kedua sisi tubuhnya tumbuh rambut kasar berwarna-warni dengan kaki dan cakarnya yang berjumlah puluhan seperti kaki klabang binatang aneh itu kelihaian masih hidup karena kailnya yang banyak kemerahan itu bergerak gerak dengan meneteskan liur kental berbau amis, bentuknya yang jelek menjijikan sekali.
Melihat jelas binatang-binatang aneh yang menjijikan ini, seketika Cia Ing-kiat terbayang selama tiga bulan ini dirinya makan bubur yang dibuat dari daging binatang menjijikan ini rasa mual merangsang hatinya, tak tahan mulutnya menguak seperti orang hampir muntah.
Sudah tentu suaranya mengejutkan Toa kui dan Siau-kui, serempak mereka membentak.
"Siapa ?"
Tahu tak bisa sembunyi lagi dengan tangan mendekap mulut Cia Ing kiat berdiri dari tempat sembunyinya.
tangannya menuding rentengan binatang diatas rotan itu, ingin bicara tapi urung karena dirangsang bau amis dan hampir tumpah lagi.
Siau kui justru angkat tangannya yang memegang rotan di mana binatang menjijikan itu direnteng, katanya.
"Alah, aksi. Memangnya kau kira binatang ini tidak enak ? Tidak tahu diri."
Cia Ing-kiat makin merinding, setelah melihat jelas bentuk binatang. Pada saat itulah ditengah gumpalan mega tak jauh dipinggir sana seseorang tiba tiba tertawa dingin, katanya.
"Memang bocah tidak tahu diri. Haha ha."
Mendengar tawa dingin serta perkataan ditengah mega itu, Cia Ing kiat melenggong, dilihatnya Toa-kui dan Siau-kui berobah air mukanya, sejak berkenalan dan bergaul rapat dengan kedua cewek jelita ini, selalu dalam keadaan riang gembira, belum pernah dia melihat sikap kedua cewek yang serius, takut dan kuatir.
Waktu Cia Ing kiat memandang kearah datangnya suara, tampak ditengah gnmpalan mega yang bergulung pergi datang itu samar samar kelihatan bentuk sesosok bayangan putih, perawakannya tinggi kurus, warna mega putih kelabu, sementara orang Itu juga mengenakan pakaian serba putih, wajahnya tidak kelihaian, hanya terlihat tubuhnya seperti terombang-ambing mengikuti bergolaknya mega yang turun naik dan melebar.
Disaat Cia Ing kiat terlengang, suara dingin orang itu kumandang pula.
"Katak bintang seratus kaki ini adalah salah satu dari empat puluh sembilan binatang ajaib yang dikenal aliran To, beruntun kau telah memakannya tiga bulan, sekarang malah anggap binatang ini menjijikan apa tidak lucu dan menggelikan ?" / Sebelum sadar apa yang terjadi mendadak terasa oleh Cia Ing kiat segulung angin dingin merasuk tulang telah melanda dari arah belakang, didengarnya Toa-kui dan Siau kut menjerit kaget, waktu Cia Ing-kiat menoleh dilihatnya bayangan putih yang remang-remang itu sedang menerjang kearah dirinya. Gerakan bayangan putih yang menimbulkan gelombang hawa dingin ternyata membawa gumpalam mega yang bergolak. Hakikatnya Cia Ing-kiat tidak tahu siapa orang ini, namun selama bergaul tiga bulan dengan kedua cewek yang diketahui berkepandaian tinggi ini. ternyata menjerit kaget dan ngeri, maka dia menduga bayangan putih itu pasti musuh tangguh yang bermaksud jahat, secara retflek dia menepuk sebelah tangannya. Ternyata lawan seperti tidak merasakan tepukan tangannya, bayangannya tetap menerjang maju. hanya sekejap Ing-kiat rasakan sejalur hawa dingin telah meresap keulu hati. Kejadian berlangsung secepat kilat, waktu dia menunduk dilihatnya tiga jari kurus kering seperti cakar burung ternyata telah mengancam urat nadi dipergelangan tangannya. Karuan kejut Cia Ing kiat bukan kepalang, lekas dia tarik tangan, diluar dugaan ketiga jari tangan itu juga segera ditarik mundur, agaknya tujuan orang hanya memunahkan tekanan pukulan telapak tangan yang barusan. Sekarang baru Ing kiat melihat jelas wajah bayangan putih yang remang-remang tadi orang berdiri tiga kaki dimukanya. wajahnya putih tanpa darah, tulang pipinya menonjol, matanya cekung, namun bola matanya bersinar hijau, tampangnya memang menakutkan, melihat Cia Ing-kiat berdiri tegak gemetar, diapun berdiri diam tidak bergerak. Pada saat itulah Toa-kui dan Siau kui menghardik bersama terus menubruk datang dari belakang jari runcing mereka masing-masing mencengkram pundak kanan kiri orang itu. / Sergapan Toa-kui dan Siau-kui boleh dikata amat lihay, ternyata orang ini tetap berdiri santai mengawasi Cia Ing-kiat, tidak berkelit atau menangkis.
"Plak, plak"
Dua kali tangan Toa-kui dan Siau-kui hampir berbareng mencengkram kedua pundak orang itu.
Cia Ing-kiat menyaksikan dengan jelas, jari runcing kedua cewek yang berkuku panjang itu telah mencengkeram masuk kepundak kurus orang itu, dari sini dapat dinilai betapa tinggi dan besar tenaga yang dikerahkan kedua cewek jelita ini.
Akan tetapi pada saat itu pula mendadak si baju putih mi menjengek dingin, berbareng kedua pundak dinaikan keatas, seperti orang bersikap apa boleh buat menaikan kedua pundaknya.
Ternyata gerakan menaikan kedua pundak orang ini menimbulkan gelombang tenaga yang cukup dahsyat, karena hawa dingin seketika menyampuk muka Cia Ing-kiat, tanpa kuasa dia tergentak mundur selangkah, belum lagi dia berdiri tegak didengarnya suara "Krak, krak"
Yang cukup ramai seperti bunyi tulang pecah atau patah, tampak tangan Toa-kui dan Siau-kui yang mencengkram pundak orang terpental pergi, seketika itu juga jari mereka sudah membengkak besar menghijau, jelas hanya mengangkat pundak orang iiu sudah bikin tulang-tulang jari kedua cewek ini patah dan remuk.
Kejadian mendadak diluar dugaan lagi, belum sempat Cia Ing-kiat menyaksikan bagaimana keadaan Toa-kui dan Siau-kui setelah tangan mereka patah, tampat orang itu mendadak menyodok dengan kedua sikutnya ke belakang, di tengah benturan "Duk, duk,"
Toa-kui dan Siau kui seperti dilempar kebelakang ditelan gumpalan mega.
namun darah segar yang menyembur dari mulut mereka tampak berhamburan.
Orang itu tetap berdiri tenang mengawasi Cia Ing-kiat tanpa peduli bagaimana nasib kedua cewek jelita itu.
katanya sinis .
"Kuampuni jiwa kalian berdua, lekas pulang dan laporkan kejadian di sini." / Ditengah gumpalan mega terdengar jeritan Toa-kui dan Siau-kui yang ketakutan, agaknya setelah terluka Cukup parah mereka segera melarikan diri naik keatas gunung. Wajah dingin orang itu mengunjuk sedikit senyuman, matanya masih mengawasi Cia Ing-kiat sekian saat lalu tertawa lebar mengunjuk barisan giginya yang hitam, katanya .
"Apakah kau ini menantu baru dari mahluk tua aneh itu ?"
Cia Ing-kiat melenggong, tak tahu bagaimana harus menjawab, selama tiga bulan di Thian-lo-ong, dia hanya tahu tempat itu merupakan salah satu villa Hiat-lui-kiong.
lalu siapa majikan atau pemilik sebenarnya sampai sekarang dia tidak jelas, 'mahluk tua' yang dimaksud orang ini mungkin adalah pemilik tempat ini, lalu kenapa dirinya dianggap menantu orang segala.
Terdengar orang Itu berkata pula dingin .
"Kebaikan apa sih yang kau miliki, .kenapa mahluk tua itu menaksirmu ?"
Cia Ing-kiat sudah tenangkan hati katanya .
"Tuan siapa ? Sungguh aku tidak tahu apa maksud ucapan tuan"
Mendadak orang itu bergelak tawa sambil mendongak, gerak geriknya tadi ringan dan lincah seperti setan gentayangan, namun loroh tawanya ternyata lantang berisi seperti pekik naga.
gumpalan mega disekitarnya seperti tersibak oleh getaran nada tawanya, jantung Cia Ing-kiat juga seperti dipukul godam, sebelum Ing kiat sempat menyadari apa yang terjadi, tahu tahu orang itu sudah ulur tangan pegang pergelangannya, katanya .
"Marilah ikut aku saja."
Sudah timbul niat Ing kiat berontak, namun gerak gerik orang itu teramat cepat, begitu putar tubuh terus melompat jauh ke-depan.
Pada hal tempat mereka berpijak adalah sebuah panggung batu yang kecil, begitu melompat ke sana, tubuh Cia Ing-kiat terseret maju terjun ke bawah.
Karuan Cia Ing kiat kaget dan takut, tidak lagi berontak dia malah balas pegang lengan orang itu dengan kencang, / begitulah tubuh mereka terus meluncur menerobos gumpalan mega makin meluncur kebawah makin cepat, dalam sekejap mereka sudah mencapai ratusan tombak, tampak tangan kiri orang itu meraih sebatang akar rotan besar yang melintang terus berayun kesamping sehingga daya luncuran tubuh mereka tidak sepesat tadi.
Saking ketakutan badan Cia Ing-kiat basah kuyup oleh keringat dingin, badan gemetar napaspun memburu.
Setelah menangkap rotan dan bergelantung seperti tarzan orang itu melirik Cia Ing kiat sekejap, katanya sambil menggeleng .
"Bukan saja penakut, ternyata kau juga goblok setengah mati, kalau kau jatuh mampus dari atas. memangnya aku bisa hidup, masakan soal sepele begini juga dibuat takut. Mahluk tua itu pasti salah menilaimu."
Karuan merah jengah muka Cia Ing-kiat.
Biasanya dirinya disanjung dan dipuji, kalau bukan gagah pemberani juga serba cakap dan pintar, kapan pernah dicaci begini rupa, darah panasnya seketika terbakar, katanya membantah .
"Siapa bilang aku penakut ? selama beberapa tahun ini, siapa yang mampu masuk ke Kim-hou-po lalu melarikan diri pula dengan selamat seperti diriku?"
Sambil mendengar omongan Cia Ing-kiat orang itu mengedip mata.
mendadak dia lepas tangan kirinya, kontan tubuh mereka yang melurcur iiu anjlok kebawah, Cia Ing-kiat tidak menduga kejadian teramat mendadak lagi, tanpa kuasa dia menjerit kaget dengan gelagapan.
Orang itu tertawa bingar, katanya .
"Nah masih berani bilang kau ini bukan penakut"
Habis perkataannya kakipun sudah hinggap dibumi.
Cia Ing-kiat menunduk malu, tak berani dia membanggakan diri lagi.
Perlahan orang itu angkat tangannya menepuk empat kali dikanan kiri pundaknya.
Semula Ing-kiat kaget dan waspada, setelah tahn orang tidak bermaksud jahat maka dia berdiri melenggong saja.
Orang itu / berkata pula ."Jangan takut, akan kubawa kau menonton sebuah keramaian."
Kecuali tertawa getir, Cia Ing -kiat tak banyak komentar, orang itu berkata pula .
"Kabarnya kau pandai tata rias, dengan kemahiranmu itu beberapa bulan yang lalu kau berhasil melarikan diri dari Kim-hou-po apa betul ?"
Diam diam bercekat sanubari Cia Ing-kiat, terhadap orang aneh ini dirinya tidak tahu menahu, sebaliknya orang tahu jelas asal usul dirinya, sebelum dia berbicara, orang itu sudah berkata .
"Nah, sekarang buktikan kemampuanmu, robahlah aku menjadi seorang nenek, dan kau harus menjadi seorang kakek, didalam tontonan yang ramai nanti, kami bisa menyaksikan lebih leluasa."
Sesaat kemudian baru Cia Ing-kiat berkata .
"Untuk bermake-up tidak sukar, cuma bahan bahan rias aku tidak bawa, hanya di kota besar baru bisa di beli. Dipegunungan belukar begini, bagaimana ..."
"Tidak jadi soal. kau ikut aku saja"
Sembari bicara orang aneh itu terus melangkah pergi, sesaat Cia Ing-kiat melenggong tapi segera dia memburu dibelakang orang.
Selama tiga hari dia menempuh perjalanan dengan orang aneh ini dialas pegunungan belukar, selama ini bentuk, sikap dan tingkah taku orang aneh ini tidak berobah, namun Cia Ing-kiat tidak lagi merasa orang menakutkan, malah terasa bahwa orang ternyata amat ramah dan simpati.
Bergaul selama tiga hari tidak sedikit pengalaman yang diserap Cia Ing kiat oleh kejadian yang dialaminya ataupun cerita orang aneh ini yang serba serbi.
namun setiap kali menyinggung pemilik villa di Thian-lo-hong, orang aneh ini sengaja tak mau jawab, namun dia menganjurkan supaya Cia Ing-kiat giat memperdalam ajaran Khikang yang dimuat diatas delapan belas bambu tipis itu.
/ Selama tiga hari ini mereka memburu binatang, beberapa kali Cia Ing-kiat saksikan orang aneh ini menangkap burung, memburu harimau, atau menangkap kijang untuk tangsel perut, dari pergaulan selama tiga hari ini.
Ing-kiat yakin kepandaian orang aneh ini pasti tidak lebih rendah dari Siau-pocu Kim-hou-po.
Magrib hari itu.
Cia Ing kiat yang mengintil dibelakang orang aneh sudah menempuh perjalanan di jalan raya, lalu lintas mulai ramai, orang-orang yang hilir' mudik ada orang Han dan orang Biau, makin maju kedepan makin ramai, waktu hari sudah gelap mereka tiba di sebuah kota besar.
Kota besar ini berada di pinggir sebuah sungai besar pula, perumahan penduduk di sini megah, tinggi dan benderang, pertanda bahwa kota ini cukup makmur, ternyata kota besar ini tidak kalah ramai dan bersih dari kota-kota besar di Tionggoan.
Begitu masuk kota orang aneh itu lantas menarik krah bajunya yang tinggi lebar hingga menutupi setengah mukanya, dengan menunduk berjalan didepan, Ing-kiat yang di belakang merasa heran, pada hal Kungfunya tinggi entah apa yang dia takuti.
Tengah menerawang, mendadak didengarnya suara kuda dilarikan dari depan, penunggang kuda terdepan adalah seorang tua bermuka ungu, di kiri kanan pinggangnya bergantung sepasang roda emas yang bergigi, sekilas pandang roda emas bergigi ini, seketika Cia Ing kiat kaget setengah mati.
Melihat senjata orang Cia Ing-kiat lantas tahu bahwa laki-laki muka ungu ini adalah Jit-gwat-kim lun.
Cin Thian sip Cin-loenghiong, tokoh Bulim diutara sungai besar yang teramat disegani kaum persilatan.
Semasa ayahnya masih hidup, hubungannya dengan tokoh besar ini amat intim.
Cin Thian-sip berwatak angkuh dan tinggi hati.
ilmu silatnya tinggi, kekebalan tubuh yang diyakinkan sudah mencapai taraf ketujuh, sejauh ini belum pernah ketemu tandingan.
Kota besar ini memang makmur, namun dengan Tionggoan entah betapa jauhnya, entah untuk keperluan apa sekarang dia berada di sini ?
Karena heran dan ingin tahu baru saja Cia Ing-kiat buka mulut hendak menyapa mendadak tangannya terasa dipencet kesakitan, orang aneh itu pegang pergelangan tangannya serta berbisik-"Jangan bersuara meski ketemu kenalan baikmu, nanti kau takkan bisa menonton keramaian."
Cia Ing-kiat urung bicara dia mandah diseret maju beberapa langkah oleh orang aneh itu dilihatnya beberapa penunggang kuda dibelakangi Jit gwat-kim-Iun adalah murid-murid Cin Thian sip.
beberapa diantaranya punya hubungan baik dengan dirinya.
Lekas sekali rombongan berkuda itu sudah lewar dan pergi jauh.
Timbul niat Cia Ing kiat membantah perintah orang aneh, sementara itu mereka berada didepan sebuah restoran besar, kebetulan seseorang dengan langkah sempoyongan beranjak keluar dari dalam.
Perawakan orang ini pendek, pakaiannya juga dari kain kasar, kakinya telanjang tapi kelihatan putih bersih, sikapnya kelihaian angkuh seperti dunia ini milikku sendiri.
Melebat orang ini, bukan saja kaget Cia-Ing-kiatpun heran, lekas dia menunduk kepala.
Orang ini bukan lain adalah Oh-sam Siansing, pendekar aneh dari Say-jwan.
Beberapa tahun yang lalu Oh-sam Siansing pernah bertandang ke Hwi-liong-ceng, secara paksa dia hendak angkat Hwi liong cengcu Cia Thian sebagai murid.
Pada hal kedudukan dan kebesaran nama Cia Thian didunia persilatan sudah cukup disegani, mana mau diangkat murid olehnya, karena tiada persesuaian paham, maka terjadilah perang mulut dan diakhiri baku hantam, Cia Thian kalah dan tunduk lahir batin, akhirnya dia rela mengangkat orang sebagai guru, tapi Oh-sam Siansing justru menganggapnya bodoh kurang bakat lalu tinggal pergi begitu saja.
/ Peristiwa itu tidak diketahui orang luar, tahun itu Cia Ing-kiat berusia enam belas, sebelum Oh-sam Siansing pergi, dia pernah memberi petunjuk kepada cucu muridnya ini, kini mendadak Cia Ing-kiat melihat 'Sukong'-kakek gurunya ini, betapa hatinya takkan terkejut?
Dengan menunduk dia melangkah puluhan langkah kemudian baru berani menoleh, dilihatnya Oh-sam Siansing masih berjalan dengan langkah lebar, mendadak dilihatnya dari samping menerobos seorang laki-laki berpakaian sastrawan terus menepuk pundak Oh-sam Siansing.
Tepukan itu ditujukan kepundak Oh-sam Siansing, tapi Cia Ingkiat malah yang terkejut, entah siapakah sastrawan yang bernyali besar ini?
Berani mengusik Oh-sam Siansing?
Setelah kedua orang itu berhadapan dan membalik tubuh baru Cia Ing-kiat melenggong.
Sastrawan ini berpakaian jubah hijau, usianya sekitar lima puluhan, berwajah persegi kuping besar, sepasang tangannya panjang, jari-jarinya juga lencir panjang putih, diantara kedua alisnya tumbuh tujuh titik tahi lalat merah, matanya yang meram melek tampak memancarkan sinar gemerdep.
Ing-kiat kenal orang ini, asal mulanya dia murid Bu-tong.
Suatu ketika diusir dari perguruannya, belakangan dia mendirikan aliran dan menciptakan sendiri Bo to kiam-boat, Si-toa-tiang-Io Bu-tong pay yang terkenal sekaligus dikalahkan olehnya, maka murid-murid Bu-tong mau menjunjungnya sebagai pemimpin mereka, tapi dia malah bergelak tawa terus tinggal pergi, belakangan namanya terkenal sebagai Pak-to Suteng, pendekar aneh di Bulim yang disegani.
Adalah pantas kalau tokoh setaraf Pak-to Suseng berani menepuk pundak On-sam Siansing.
Setelah menelan air liurnya, Cia Ing-kiat berkata lirih.
"Tokoh-tokoh Bulim sebanyak ini kenapa kumpul di sini? " / Orang aneh itu mendengus, katanya.
"Sudah kukatakan akan ada keramaian, memangnya aku ngapusi kau? Nah, lihat tuh didepan, siapa yang datang?"
Cia Ing kiat angkat kepala memandang kedepan.
seketika merinding bulu kuduknya, tampak yang mendatangi adalah seorang laki-laki besar, kulit badannya seperti besi, pakaiannya serba hitam menunggang seekor kuda hitam berbulu mulus mengkilap, kudanya pelan pelan.
Laki laki besar ini berewokan, matanya besar bundar anehnya bola matanya yang besar melotot itu seperti terbuat dari beling hitam, tanpa ada warna putihnya.
Sebelumnya belum-pernah Cia Ing-kiat melihat orang ini, namun pernah dengar namanya, aki laki ini bukan lain adalah begal tunggal yang malang melintang tak pernah meninggalkan korban hidup dikalangan Kang ouw, Tai giam-ong Utti Gu.
Dengan jantung berdebar Cia Ing-kiat berdiri terlongong sejenak, orang aneh itu segera menariknya kesamping Utti Gu.
Hati Ing-kiat tidak habis mengerti, keramaian apa yang bakal terjadi di sini, namun dinilai orang orang yang dilihatnya tadi semua adalah benggolan Bulim yang terkenal, maka dapat dibayangkan bahwa keramaian yang akan terjadi ini pasti merupakan peristiwa besar yan akan menggemparkan dunia.
Cia Ing kiat menurut saja diseret orang aneh itu menyusuri jalan raya diantara kerumunan orang banyak yang hilir mudik, tak lama kemudian, sebuah kereta mendatangi dari arah depan.
Didepan kereta dihiasi sebuah ikan emas warna emas panjang lima kaki yang kemilau, kedua sisi kereta diapit masing masing empat orang berseragam ketat dengan pakaian renang, mereka jelas adalah orang Liong-bun-pang yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan besar disepanjang sungai besar dengan organisasinya yang serba misterius, dari iringan kereta yang dikawal ketat ini, pertanda bahwa Pangcu dari Liong-bun-pang sendiri pasti telah datang.
/ Harus dimaklumi bahwa Liong-bun-pang mempunyai kedudukan yang amat kokoh dan besar di Bulim, hal ini dapat dibuktikan di-waktu Cia Ing-kiat melarikan diri dari Kim-hou-po tempo hari, orang -orang Kim-hou-po yang mengejarnya sampai didermaga itu mengira dia sudah menyebrang sungai lari kepihak Liong bun-pang.
Bagi organisasi yang berani menentang dan melawan Kim-hou-po sudah tentu adalah organisasi yang amat disegani.
Sayap Liong-bun pang sudah tersebar luas.
aksi mereka serba rahasia, siapa pejabat Pangcu mereka sejauh ini masih merupakan ranasia, tiada kaum Bulim yang tahu, banwa dia dapat memimpin dan menguasai organisasi yang begitu besar, pasti dia seorang tokoh kosen yang luar biasa.
Begitu rombongan kereta itu lewat, sepanjang jalan raya yang ramai sesak ini, menjadi sepi dan orang-orang persilatan yang berada di sepanjang jalan Ini menyingkir ke pinggir, jelas tiada orang yang berani mencari perkara dengan pihak Liong bun-pang.
Cia Ing-kiat menarik napas panjang, dia mandah saja diseret orang aneh memasuki sebuah gang kecil.
Tampak oleh Ing-kiat di ujung gang duduk mendeprok ditanah dua orang yang membelakangi dinding, seorang buntung kakinya sebatas lutut, tampangnya aneh.
sebarang tongkat hitam disampingnya berdiri mepet dinding, biji matanya tampaK terbalik entah apa yang sedang diawasi.
Seorang lagi adalah laki-laki picak, kedua tangannya sedang menggosok dua butir batu yang mengkilap halus sehingga mengeluarkan suara ramai.
Melihat kedua orang ini Cia Ing-kiat tertawa getir, dari keadaan dan dandanan kedua orang ini dia tahu bahwa mereka adalah Thian lam-sian jian (seorang cacad dari Thian-lam) yang sudah kesohor didunia.
Orang aneh tetap menggandeng tangan Cia Ing-kiat maju kedepan.
waktu tiba disamping kedua orang ini, di dengarnya / si picak berkata.
"Tongkat, siapakah yang lewat barusan, Ginkangnya amat bagus."
Laki-laki buntung tetap membalik mata sahutnya.
"Siapa tahu. dalam mataku tiada seorang manusiapun yang normal."
Cia Ing-kiat terperanjat, orang aneh yang menggandengnya ini berilmu tinggi maka mau dan di cemooh dan disindir orang.
sesuatu mungkin bisa segera teijadi.
Tak nyana orang aneh tetap menyeretnya kedepan hingga beberapa langkah.
Sipicak seperti sengaja mencari perkara, katanya pula.
"Tongkat, coba dengar, orang anggap kami bukan manusia, perkataanku tadi berarti sia sia belaka, sungguh sial "
"..Memangnya "
Sabut si buntung.
Jangan kira kakinya buntung sebelah tapi gerak geriknya ternyata cepat luar biasa, sebelum kata nya habis diucapkan, tongkatnya sudah menutul bumi, tubuhnya mumbul mepet dinding terus meluncur kedepan seperti anak panah yang terlepas dan busur, daya luncur tubuhnya menerbitkan deru angin kencang, sehingga Cia Ing-kiat tersuruk maju kedepan menumbuk orang aneh.
Sedikit sebelum tubuh kaki buntung ini melesat lewat disamping orang aneh dan Cia Ing-kiat, dari atas dinding mendadak seorang berkata dingin.
"Jago-jago kosen dari berbagai tempat sudah kumpul, tiada satupun yang mencari perkara, kalian dua tua bangka cacad ini justru melakukan perbuatan yang memalukan di sini."
Cia Ing-kiat sudah angkat kepalanya, tapi pegangan orang aneh mengencang, tahu-tahu dirinya sudah digeretnya pergi keluar dari gang sempit ini.
Hakikatnya Ing-kiat tidak sempat lihat siapa yang buka suara diatas tembok, tapi begitu keluar dari ruangan itu kupingnya masih sempat mendengar tongkat besi sibuntung mengetuk tanah dengan suara duk.
duk yang berat dari sini dapat disimpulkan bahwa orang yang bersuara di-atas tembok pasti seorang yang kosen pula.
/ Setiba dijalan raya, orang anah seret Ing kiat melok kekanan, agaknya dia hapal akan jalanan di kota besar ini, tak lama kemudian mereka tiba didepan sebuah hotel kecil dari kelas rendahan.
mereka langsung masuk, kacung hotel menyamhut dan bicara dengan bahasa Biau yang tidak dimengerti orang Ing-kiat.
Akhirnya mereka dibawa ke-belakang dan menempati sebuah kamar sempit, dalam kamar hanya ada sebuah dipan, baru kaki melangkah masuk bunyi nyamuk yang mendengung sudah membikin kuping merasa gatal, seolah-olah kamar ini sarang nyamuk saja.
Cia Ing kiat berkata dengan tawa nyaring.
"Kenapa tidak cari hotel yang lebih baik?-"
Orang aneh tertawa, katanya.
"Boleh, setelah kau merias wajahku."
"Baiklah."
Ucap Cia Ing-kiat ."
Biar aku keluar membeli bahan-bahan keperluan."
"Tidak boleh,"
Ujar orang aneh.
"kutemani kau di sini. bahan bahan apa yang diperlukan boleh kau membuat sebuah daftar suruh kacung hotel pergi membeli di toko."
"Biar aku sendiri yang memilih dan membeli kan tidak jadi soal?"
Bantah Ing-kiat. Dingin suara Orang aneh.
"Tidak boleh ya tidak boleh, apa yang kau perlukan tulis saja diatas kertas."
Apa boleh buat Cia Ing-kiat menulis sebuah daftar diatas kertas yang sudah disiapkan kacung hotel serta menyerahkan daftar keperluan itu kepada kacung.
orang aneh merogoh keluar sekeping uang perak diberikan kepada si kacung pula, bergebas kacung ini berlari keluar.
Untuk membuang waktu Ing kiat mondar-mandir dalam kamar, kamar itu bukan saja sempit juga pendek, maka dia hanya melangkah tiga empat langkah sudah berada didepan orang aneh, meski tahu orang segan bicara dengan dirinya, / namun setiap kali dia berputar didepan orang selalu dia bertanya.
"Untuk keperluan apakah orang-orang gagah sebanyak itu kumpul di sini."
Orang aneh itu kalau tidak melirik ya melotot saja tanpa bicara.
"Lalu siapakah sebenarnya ?"
Tanya Cia Ing-kiat pula Orang itu tetap melotot, akhirnya berkata dingin .
"Jangan kau banyak urusan, tontonlah saja keramaian yang menarik nanti."
Dongkol hati ing-kiat. segera dia balik ke sana tiba-tiba benaknva tergerak, suatu pikiran terbayang dalam otaknya, tak tahan dia ingin bergelak tawa, namun dia hanya tersenyum saja, katanya .
"Tadi kau bilang, sebentar kau minta aku merias kau menjadi seorang nenek, begitu ?"
"Betul, bila aku menyamar nenek tua, umpama samaranku konangan juga orang susah menduga akan diriku "
Ucap orang aneh. Dalam hati amat geli, namun Ing kiat berkata .
"Kalau aku yang mendandani kau jadi nenek reyot, mana mungkin konangan orang lain?"
Sembari bicara dia memejam mata serta membayangkan seraut wajah perempuan tua.
Waktu berada di Kim hou po dia pernah terkejut waktu melibat raut muka seorang nenek, karena nenek itu bukan lain adalah jago kosen dari aliran sesat yang terkenal dengan Im sik ciang, pukulan beracun yang paling top didunia ini.
Konon setiap hari dia selalu berdampingan dengan mayat-mayat busuk yang beracun, siapa mendengar napasnya pasti ngeri dan segan, maka Cia Ing-kiat berkeputusan, nanti akan merobah wajah orang aneh Ini menjadi nenek yang pernah dilihatnya di Kim-hou-po itu.
Jilid ke .
6 / Mondar mandir dalam kamar kecil itu selama setengah jam.
baru tampak kacung hotel pulang membawa sebuah buntalan besar.
Setelah kacung diminta menyiapkan lentera, baskom dan sebuah anglo lalu disuruh keluar maka Cia Ing-kiat mulai mengembangkan kepandaian tata rias yang pernah dipelajarinya dari Tay-seng bun.
Hauya satu jam Cia Ing-kiat menyibukan diri dalam menangani wajah orang, orang aneh itu kini telah dirobahnya menjadi seorang nenek beruban, dipipi sebelah kiri terdapat sebuah codet merah seperti kelabang, sebuah taring menonjol keluar diujung mulut kanan, mukanya yang pucat mirip mayat hidup amat mengerikan.
Menghadapi hasil karyanya sendiri mau tidak mau timbul rasa ngeri dalam benak Ing-kiat bila membayangkan keseraman si nenek yang satu ini, orang aneh itu kini sudah menjadi nenek yang berwajah mayat, seolah-olah bila orang mengulur jarinya saja.
dirinya bisa mampus seketika oleh racun jahat.
Konon Im-sik-ciang menimbulkan rasa gatal lalu membusuk dan luluh bagi setiap korban yang terkena pukulannya.
Hu-lo Popo (nenek mayat) adalah tokoh besar yang terkenal di Tionggoan, setelah Ing-kiat merias orang aneh ini menjadi nenek terkenal ini, dia kuatir orang akan ber-cermin dan tahu samaran dirinya adalah nenek yang ditakuti itu.
tapi setelah memegang kaca dan bercermin kekanan kiri orang aneh ini malah berkecek mulut memuji, agaknya dia tidak kenal atau belum pernah melibat Hu-lo Popo.
Dalam hati Cia Iig-kiat bersorak dan geli.
pikirnya .
"Sekian banyak jago jago silat terkenal di Tionggoan kumpul di sini di antaranya yakin tidak sedikit yang kenal atau mungkin musuh besar Hu-lo Popo, pada hal orang aneh ini mengira setelah dirinya menyamar jadi .nenek, dirinya akan bebas dari segala urusan karena tidak dikenal siapa pun, keramaian memang pasti akan terjadi." / Selanjutnya Cia Ing-kiat berdandan pula merobah wajah sendiri menjadi seorang kakek setelah mereka berganti pakaian, orang aneh itu berkata dengan suara berobah persis seorang nenek .
"Baiklah, sudah cukup, kini mari kami saksikan sekedar tontonan gratis lebih dulu, dua hari lagi baru bisa menyaksikan keramaian besar "
Sembari bicara dia terbungkuk-bungkuk dengan langkah terserok membuka pintu lalu melangkah keluar, gerak gerik dan tingkah lakunya memang mirip sekali seorang nenek tua yang lemah.
Cia lng-kiat ikut dibelakangnya.
Sudah tentu kacung dau pemilik hotel berdiri menjublek keheranan seperti melihat setan disiang hari.
namun akhirnya mereka tahu duduk persoalan setelah menemukan uang dan sisa keperluan yang digunakan mereka didalam kamar.
Tanpa bersuara Cia Ing kiat ikuti saja langkah orang aneh yang sudah menyamar nenek tua ini, setelah menyasuri beberapa jalan raya, akhirnya mereka tiba di gang sempit di mana tadi Thiam-lam-siang jan berada, kedua orang itu sudah tidak kelihatan, sengaja Ing-kiat mendongak keatas tembok, orang aneh yang didepan seperti tahu apa yang sedang dia pikir, katanya .
"Yang bersuara tadi adalah majikan dari tujuh puluh dua puncak di Tong-ting, Kim-kan-sian-khek."
Mencelos hati Cia Ing-kiat, katanya .
"Sungguh lihay."
"..Lihay apa. beruntung dia mendapat tempat baik. memimpin banyak orang mendapat nama besar lagi, pada hal kepandaiannya tidak seberapa. Nanti sebentar, kurasa akan datang beberapa jago kosen yang benar-benar memiliki Kungfu tinggi, malah ada yang sudah meyakinkan Lwe-keh-lo-khi sampai taraf kelima."
Cia Ing-kiat tersirap, Lwe-keh-lo-khi bila diyakinkan sampai taraf ke lima katanya sakti mandraguna, konon dalam Bu ini sekarang yang mampu mencapai latihan ketaraf lima hanya delapan orang, seorang diantaranya adalah seorang raja dari negeri Persia, mungkinkah dia juga akan datang.
Dua orang / lagi adalah Hwesio dan Nikoh.
konon usia mereka sudah mendekati seratuh tahun, jarang berkecimpung di Bulim Lima orang lagi kabarnya adalah Kwi-bo (induk setan) Hun Hwi-ni, Kim-hou Pocu, Hu-gu Siangjin dari Hu-gu-san di Holam Kay pang Pangcu dan Hong-tiang Siau-lim-si Pun-sian Siancu.
jumlah kenyataan yang mampu meyakinkan Iwekhe-lo-khi mungkin tidak hanya delapan orang saja.
namun cukup dua atau tiga orang diantara delapan orang ini hadir di sini, maka tontonan yang akan berlangsung memang patut disaksikan.
Sambil menimang-nimang Ing kiat terus mengintai dibelakang orang.
Mereka menyusuri jalan raya menuju kesebuah restoran besar, dari kejauhan restoran itu sudah kelihatan terang benderang, bayangan orang banyak berkerumun memenuhi restoran besar itu, didepan pintu juga berkerumun banyak orang, setelah dekat tampak delapan belas lelaki bertubuh kekar berbaris dikiri kanan, dua laki-laki yang lain dengan pakaian mewah sedang menyambut para tamu yang berkerumun di luar.
Sebelum bertindak lebih jauh, orang aneh sudah memberi peringatan .
"Jangan sembarang omong."
Cia Ing-kiat mengangguk lalu menginiil dibelakangnya orang-orang yang berkerumun ini semua adalah kaum persilatan, ada yang kenal tapi lebih banyak yang masih asing, mereka maju satu persatu memperkenalkan dirinya kepada kedua laki-laki pakaian perlente yang menyambut mereka itu.
Begitu orang aneh menyibak orang banyak maju kedepan, orang-orang yang berkerumun itu segera mundur kesamping memberi jalan, wajah mereka kelihatan berobah pucat, ada yang gusar melotot, ada pula yang siap melolos senjata, agaknya orang aneh heran dan tak tahu kenapa sikap mereka sekasar itu, langkahnya tetap munduk-munduk seperti nenek tua lazimnya, sungguh hampir tak tahan Cia Ing-kiat menahan rasa gelinya.
Hanya dia saja yang maklum kenapa orang-orang tua ada yang jeri dan takut, ada pula yang melotot / gusar dan siap melabraknya, karena orang-orang itu anggap orang aneh ini sebagai Hu-lu lopo yang jahat kejam, bukan mustahil tidak sedikit sanak kandang mereka yang pernah menjadi korban keganasan nenek tua ini.
Semula kedua laki-laki penyambut tamu itu bersikap ramah dan sopan, namun tutur kata mereka menunjukan sifat angkuh dan tinggi hati, begitu orang aneh dan Ing-kiat tiba didepan restoran, keadaan yang semula ramai seketika menjadi sepi.
Alis kedua laki-laki perlente itupun terangkat tinggi, dengan sikap terpaksa mereka maju mendekat serta bertanya.
"Apakah kalian membawa undangan?"
Dengap meniru suara nenek tua orang aneh itu berkata.
"Apakah harus punya undangan baru bisa hadir dalam keramaian ini? Apakah majikanmu tidak keterlaluan ?"
Kini bukan lantai bawah saja yang keadaannya menjadi sepi.
lantai kedua pun menjadi lengang, tidak sedikit yang melongok ke-bawah ingin tahu apa yang terjadi dibawah.
Sudah tentu yang paling tegang adalah Cia-Ing kiat, baru sekarang dia insaf permainannya bakal membawa resiko besar.
Namun untuk menjelaskan kepada orang aneh sudah tiada kesempatan.
Didengarnya salah seorang lelaki perlente berkata.
"Bukan majikan kami keterlaluan, soalnya siapa yang membawa undangan adalah tamu agung kita, umpama satu dengan yang lain ada permusuhan besar, di sini siapa-pun dilarang turun tangan supaya majikan tidak kerepotan dibuatnya?"
Orang aneh itu tetap tidak menyadari keadaan dirinya, katanya dengan tertawa malah."Tuan tidak perlu kuatir, nenek tua tidak punya permusuhan dengan siapapun yakinlah tiada orang yang akan mencari perkara dengan nenek tua renta seperti aku ini."
Sudah tentu pernyataan orang aneh ini menimbulkan berbagai reaksi di wajah hadirin.
sikap mereka bukan saja / aneh juga lucu.
Maklum Hu lo Popo sudah terkenal sebagai perempuan iblis yang jahat, kaum persilatan berbagai golongan tiada yang tidak bermusuhan dengan dia namun sekarang dia menyatakan tidak punya permusuhan dan tidak akan mencari setori sudah tentu hadirin amat heran dan bingung.
Hanya kedua laki-laki perlente itu yang tidak melupakan tugasnya, katanya dengan sikap dingin."Kalau demikian, baiklah silahan masuk."
Sembari bicara sorot mata mereka yang tajam mengawasi Cia Ing kiat.
Diam-diam berdiri bulu kuduk Cia Ing-kiat, maksud semula hanya untuk mempermainkan orang aneh ini sungguh tak terbayang bahwa perkembangan ternyata diluar dugaan karena kejadian berarti mempersulit dirinya sendiri, sekarang dia bersama orang aneh ini, bila musuh tangguh melabraknya, bukan mustahil dirinyapun akan dilabrak orang karena dianggap sekomplotan, betapapun tinggi kepandaian orang aneh ini, mungkin takkan sempat melindungi dirinya.
Demi keselamatan jiwa raganya secara reflek Ing-kiat ulur tangannya hendak menarik orang aneh, saat itu juga orang aneh sudah membalik sebelah tangannya memegang pergelangan tangannya katanya.
"Marilah peristiwa besar di Bulim yang jarang terjadi kenapa tidak ikut menonton keramaian."
Ing-kiat diam saja meski hati mengeluh diseret orang aneh kedalam restoran.
Kedua lelaki itu terpaksa menyingkir memberi jalan, maka orang aneh dan Cia Ing-kiat masuk kedalam.
mendadak diatas tangga terdengar suara langkah berat dibarengi gerungan keras, tiga orang laki perawakan besar dan kasir memburu turun menghadang di depan mereka.
Bobot setiap lelaki besar ini ada ratusan kati, waktu memburu turun betapa besar tenaga yang dikerahkan sehingga tangga loteng berdentam seperti digetar / gempa,orang orang yang semula memang berdiri ditangga sama menjerit dan melompat menyingkir, cepat sekali ketiga orang itu sudah mencegat didepan orang aneh, yang ditengah menggerung aneh, sambil angkat tangannya mengayun sebatang Kim-kong-kan (gada kupingnya) terus mengepruk kepala.
Gada kuning ini sebesar paha berat lagi.
tenaga laki-laki raksasa kuat pula maka gada yang terayun itu mengeluarkan deru suara keras "He, apa kehendakmu?"
Sembari bicara dia angkat sebelah tangannya mencengkram keatas, gada besar yang terayun menderu itu ternyata berhasil ditangkapnya.
Pada saat yang sama, dua laki raksasa di kanan kiri itu juga serempak menyerang dengan gada kuningan yang sama besar dan beratnya, betapapun cekatan gerak gerik orang aneh, jalan mundur sudah terjaga oleh dua gada lawan terpaksa dia menjerit aneh, tubuhnya mendadak menegak dengan getaran yang keras, getaran keras ini seperti menimbulkan perobahan di tubuhnya karepa mendadak tubuhnya seperti melar satu kaki lebih tinggi dan kekar.
"Blak, bluk"
Dua gaoa kuningan itu dengan telak menghantam kanan kiri pingganggnya.
Begitu gada kedua laki laki raksasa menyambar sebat sekali Cia Ing kiat sudah melompat mundur, tak urung dia tersapu mundur beberapa tindak, dengan mendelong dia awasi gada besar berat itu menghantam pinggang orang aneh, diam-diam hatinya mengeluh, maklum badan siapa kuat menahan pukulan gada berat yang mampu menghancurkan batu gunung itu?
Tapi kejadian selanjutnya benar-benar diluar dugaannya, begitu gada mengenai pinggang orang aneh.
kedua laki-laki raksasa itu malah menjerit aneh, tubuhnya terjengkang mundur, gada mereka mencelat terbang, telapak tangan pecah terdarah.
Dalam waktu yang sama orang aneh mendorong tangannya kedepan.
hanya perlahan saja tapi laki-laki raksasa yang / mengemplang dengan gada itu telah ditolaknya jumpalitan Katanya;
"Sama sama mau melihat keramaian, umpama aku tidak punya undangan, kenapa kalian bertindak sekasar ini?"
Belum habis dia bicara,orang-orang yang berdiri diatas tangga sama menjerit, ternyata kedua gada yang mencelat terbang itu jauh kearah tangga.
Ditengah jeritan kuatir orang banyak itulah, mendadak berkelebat sesosok bayangan orang dari atas meluncur kebawah.
gerak gerik orang ini kelihatan wajar dan santai, orang banyak melihatnya jelas, namun gerak luncurnya ternyata amat pesat, tampak dia angkat kedua tangannya dengan mudah kedua gada besar yang berputar ditangkapnya.
Cia Ing-kiat juga sudah melihat jelas orang yang meluncur turun dari atas loteng menangkap kedua gada itu bukan lain adalah Oh-sam Sian-sing.
Sementara itu ketiga laki-laki raksasa itu juga sudah terdiri jajar, dengan bola mata terbelalak mereka mengawasi orang aneh Oh-sam Siansing menghampiri mereka serta memberi tanda dengan anggukan kepada tampang ketiga raksasa ini amat garang dan buas, tapi terhadap Oh-sam Siansing mereka berlaku sangat hormat.
sambil menunduk segera mereka menyingkir.
Suasana masih bening, hadirin masih merasa tegang, orang aneh itupun mengawasi Oh-sam Siansing dengan pandangan heran dan kagum, karena orang mampu menangkap kedua gada besar yang berputar kencang itu tanpa Iwekang tinggi tak mungkin Oh sam Siansing mampu menangkapnya, dari sorot matanya Cia Ing-kiat menduga orang aneh agaknya juga juga tidak kenal siapa Oh-sam Siansing ini.
Oh sam Siansing kembalikan gada kuningan itu kepada pemiliknya, katanya.
"Lain kali jangan sembarangan bertindak, jagalah nama baik Siau-lim-pay kalian."
Ketiga laki-laki raksasa itu mengiakan. Oh-Sam membalik dan tertawa, katanya.
"Sudah lama tidak ketemu, Lwekangmu sudah maju pesat, tak heran kau berani keluyuran pula." / Orang aneh itu melenggong, tanyanya.
"Kau mengenalku?"
Oh sam tertegun, sesaat dia bingung tak tahu kenapa Hu-lo Popo bertanya demikian atau orang sengaja pura-pura pikun?
Segera dia tertawa besar, katanya "Orang-orang di sini siapa yang tidak mengenalmu?"
Orang aneh itu melenggong pula, tanyanya.
"Lalu siapakah aku? "
Oh-sam Siansing mengerut kening bahwa Oh-sam Siansing sudah menampilkan diri, maka hadirin yang menaruh dendam kepada Hu lo Popo ingin rasanya mengganyangnya saja, namun mereka lahu kepandaian sendiri terlalu jauh dibanding Oh sam Siansing, kalau orang tua ini memuji Hu-lo Popo maka siapa berani bertindak lebih dulu, maka hadirin hanya berani memaki dan melotot saja.
Mendengar caci maki orang banyak, orang aneh mematung sejenak, sikapnya heran dan tak habis mengerti, tapi mendadak dia menoleh melirik kepada Cia Ing-kiat.
Tampak oleh Cia Ing-kiat mimik orang aneh ini seperti tertawa tidak tertawa, ujung mulutnya menjengkit turun, karuan jantungnya berdebar-debar entah untung atau rugi yang akan dialaminya namun telapak tangannya sudah basah oleh keringat dingin.
Akhirnya orang aneh menoleh kedepan pula serta berkata setelah menghela napas "Anggaplah aku yang setua ini masih ditipu orang tanpa sadar, kalian yang punya pertikaian dengan nenek tua seperti aku ini, boleh maju membuat perhitungan sekarang juga,"
Perkataannya dilontarkan kepada hadirin, tapi sepasang matanya menatap kepada Oh-sam Siansing. Oh-sam Siansing menyeringai dingin, katanya.
"Kau juga ditipu orang, agaknya memang sudah tiba saatnya kau memperoleh ganjaran setimpal. Baiklah, bagaimana kau ingin bergebrak, boleh katakan saja."
Orang aneh tertawa, katanya "Boleh terserah bergerak....
siapakah nama tuan?" / Disaat kedua orang ini berbicara keadaan sekeliling sunyi senyap, hadirin mencurahkan perhatian mengikuti perkembangan selanjutnya, maka pertanyaan terakhir orang aneh seketika menimbulkan reaksi yang ramai diantara hadirin.
Tanya nama gelaran bagi kaum persilatan adalah hal biasa, tapi insan persilatan mana yang tidak kenal Oh-sam Siansing, bahwa Hu-lo Popo yang terkenal ini juga tanya she dan namanya, adalah jamak kalau hadirin menjadi gempar.
Tak nyana Oh-sam Siansing hanya tertawa tawa, katanya.
"Cayhe (aku yang rendah) she Oh bernama Sam."
"Oh"
Orang aneh itu bersuara dalam mulut.
"Begini saja, tadi tanpa sebab aku digebuk dua kali oleh ketiga kerbau dungu itu, sekarang bagaimana kalau giliranmu kugebuk, terhitung adil tidak?"
Oh-sam Siansing mengangkat alis. kata nya kemudian.
"Ya, adil."
Maka keadaan kembali sunyi, orang aneh itu membalik tangan, terulur kearah seorang Tojin kurus yang berdiri paling dekat, di belakang punggung Tojin kurus ini terselip sebatang kebut, gerak tangan kebelakang si orang aneh dengan jari mencengkram ini membuat Tojin kurus itu tertegun, orang aneh itu sudah tertawa dan berkata.
"Tolong pinjam kebut Totiang sebentar."
Belum habis dia bicara, Tojin kurus itu merasa segulung tenaga sedot telah menariknya kedepan hingga tanpa kuasa tubuhnya terseret maju selangkah.
Secara reflek tangannya meraba kebelakang punggung, seketika dia menjerit kaget, ternyata kebut senjatanya itu sudah berpindah ke tangan orang aneh.
Betapa cepat gerak tangan orang aneh ini, meluruh hadirin tiada yang melihat jelas, karuan semua terbeliak.
Tak sedikit hadirin yang kenal Tojin kurus ini, dia bukan lain adalah Ketua Pek-hoa-khoan di Pek-hoa ciu Hud-hun Tojin, terhitung / seorang tokoh kosen juga.
namun hanya sekejap kebut atau gacoannya yang sudah terkenal dengan sebutan Pek-hoa-hud ini dalam sekejap telah dirampas orang.
Kejadian seperti sulapan saja, orang aneh itu segera mengacung kebut sambil minta maaf kepada Hud-hun Tojin.
Tampak dimana tangannya terangkat, kebut dengan bulu lemas sepanjang tiga kaki itu mendadak tegak berdiri seluruhnya, laksana sekuntum kembang teratai yang mendadak mekar, entah terbuat dari apa, bulu kebut itu bersinar mengkilap.
Bagi orang lain kejadian ini hanya dianggap tontonan ajaib, tapi bagi Hud-hun Tojin justru merupakan kejadian yang fatal, bukan saja menjatuhkan pamor juga merendahkan derajatnya, karuan badannya basah oleh keringat dingin, mukapun pucat menahan gejolak perasaannya.
Pada hal dengan Pek-ha hud ini dia sudah latihan empat puluh tahun lamanya, namun untuk bertindak seperti orang aneh, sekali gentak benang benang kebutnya lantas tegak berkembang, selama hidup ini jelas takkan mungkin mampu melakukan.
Harus dimaklumi benang kebut yang terbuat dari benang perak ini, lemas lembut dan enteng, tenaga dalam sukar disalurkan ke-atasnya, tapi orang aneh ini hanya sekali sendal telah mampu membuatnya berkembang laksana kembang teratai.
Jelas Hu lo Popo mampu mengerahkan tenaga dalamnya sehebat itu, jangan kata orang lain kaget, Oh-sam Siausing sendiri juga berobah air mukanya, dengan serius dia mempersiapkan diri.
Mendadak tangan orang aneh diulur pula lebih maju, ribuan benang yang berkembang di ujung kebutan itu mendadak melingkup pula seperti payung, enteng dan lemas mengebut kepinggang Oh-sam Siansing.
Walau benang kebut itu sudah mengencang jadi satu, namun benang tetap benang, lemas dan lunak, gerakan orang anehpun lamban seperti tidak bertenaga, namun Oh-sam / Siansing mendadak menarik napas dalam, jubah panjang di badannya yang longgar itu mendadak melembung seperti balon mengeluarkan desiran suara halus seperti layar berkembang ditiup angin badai.
Kejap lain benang kebut itupun sudah menyabet badan Oh-sam Siansing, umumnya benang lemas setiap kali mengenai benda apapun takkan mengeluarkan suara apapun, namun kejadian kali ini justru berbeda, begitu benang kebut itu mengenai jubah Oh-sam Siansing yang melembung itu seketika mengeluarkan suara keras seperti bunyi tambur.
Bunyi tambur ini begitu keras dan tidak terduga pula oleh orang banyak, tidak sedikit diantaranya yang berjingkrak sambil menutup kuping.
Di tengah bunyi keras itulah tampak badan Oh-sam Siansing bergoyang gontai perlahan, untung orang aneh itu segera menarik tangan serta berseru memuji .
"Kepandaian bagus."
Ternyata merah muka Oh-sam Siansing, tanpa bicara segera dia membalik terus beranjak ke atas loteng.
Seenaknya orang aneh membuang kebut di tangannya keatas.
Hud-hun Tojin berdiri melongong dengan perasaan hampa, terasa latihannya selama ini hanya sia-sia belaka, karena hari ini tanpa berkelahi dirinya sudah terjungkal habis-habisan, meski melihat kebut miliknya itu dilempar balik, tapi dia hanya berdiri mendelong diam saja seperti orang linglung hingga kebutnya itu jatuh di atas lantai.
Ternyata hadirin juga berdiri melongo kecuali belasan orang yang benar-benar top kepandaiannya, selebihnya mengunjuk rasa heran dan tidak mengerti, mereka tidak tahu kenapa mendadak Oh sam Siansing putar tubuh tinggal pergi tanpa bicara sekejappun.
Karena menurut pandangan umum, dengan kekuatan Lwekeh-lo-khi Oh-sam Siansing dia mampu menahan sabetan kebut orang aneh, keadaan jelas seimbang, jadi tiada pihak yang kalah atau menang.
/ Setelah Oh-sam Siansing naik keloteng baru orang aneh itu tertawa serta menantang.
"Nah. masih ada kawan mana ingin memberi petunjuk ?"
Beruntun dia tanya tiga kali namun tiada reaksi.
Untunglah pada saat itu, dari arah sungai diseberang restoran ini berkumandang tetabuhan musik yang merdu.
Dua lelaki perlente itu segera berkaok lantang .
"Tuan-tuan tamu harap siap naik keatas kapal."
Segera orang aneh berseru .
"Betul kami pun harus lekas naik kapal."
Cia Ing-kiat menyurut mundur, tapi sekali ulur tangan orang aneh itu sudah menangkapnya serta diseretnya naik ketangga.
Seperti tidak sadar Cia Ing-kiat ikut main keatas loteng, ternyata bagian yang menghadap kesungai tidak berdinding, hanya dipagari kayu ukiran, selayang pandang panorama dipermukaan sungai tampak jelas.
Sebuah kapal besar tampak sedang berlaju ke-arah restoran berloteng ini, obor tampak menerangi kapal besar yang bertingkat dua itu, tetamu busik mengalun dari atas kapal.
Hanya sekejap kapal besar itu sudah dekat, dari buritan kapal "wut"
Meluncur segulung tambang sebesar jari kelingking. Panjang tambang kecil ini adalab lima tombak, ujungnya dipasang gantola besi.
"Trak"
Dengan tempat gantolan itu menancap dipagar loteng kapal tidak maju lebih dekat malah mulai menyurut kebelakang, seningga tambang kecil itu ketarik kencang dan lurus, namun pagar loteng itu amat kokoh, kuat menahan tarikan kapal besar yang tentunya sudah menurunkan sauh.
Belasan orang bekerja serempak menurunkan beberapa jangkar, sehingga kapal itu tidak bergeming walau terbawa oleh arus di-tengah sungai.
Ternyata kecuali jangkar itu puluhan pendayung juga siap bekerja, padahal kapal sebesar itu, daya layu air juga cukup deras, kalau para pendayung kapal yang tidak kelihatan itu tidak memiliki tenaga dan / terlatih baik tak mungkin mereka kuat menahan kapal sebesar itu ditengah arus yang deras itu.
Diam-diam mencelos hati Cia Ing-kiat, entah siapa pemilik kapal besar itu, bahwa dia mampu mengundang sekian banyak orang orang kosen tentu orang itu seorang kosen yang disegani.
Tengah Cia Ing kiat melamun, tampak delapan lelaki gagah dengan seragam biru muda berdiri didua samping lalu tarik suara bersama.
"Silakan para tamu naik kekapal."
Jarak kapal itu dari loteng restoran ada lima tombak, hanya tambang kecil itu sebagai penghubung, namun mereka berteriak lantang mempersilakan para tamu naik ke atas kapal, jelas hendak menguji Kungfu para tamu yang diundang.
Belum habis teriakan kedelapan orang itu, tampak dua orang sudah melompati pagar, mereka bukan lain adalah kedua orang cacad yang bertemu dengan Cia Ing-kiat digang sempit kotor dalam kota tadi.
Sambil melompat keluar kedua orang cacad itu berseru .
"Orang cacad kurang leluasa bergerak adalah pantas kalau kami berjalan lebih dulu."
Sambil mengoceh mereka sudah naik keatas tambang, diatas tambang kecil itu mereka berjalan seperti terbang, hanya sekejap sudah berada diatas kapal, delapan orang diatas kapal serempak membungkuk menyambut kedatangan mereka.
Menyusul tampil seorang bertubuh kecil pendek, keadaannya serba aneh, berpakaian serba merah seperti api, mulut lancip tulang pipi menonjol, serunya sambil melompat keatas.
"Mumpung diundang untuk menyaksikan keramaian, kenapa harus disia-siakan kesempatan baik."
Sambil mengoceh orang aneh inipun bergerak lincah mumbul keatas, sekali lompat dua tombak, bila tubuhnya aujlok kebawah, ujung kakinya menutul diatas tambang, tubuhnya lantas melesat pula kedepan lebih jauh, bila sekali diulang pula-maka diapun sudah turun diatas kapal.
/ Sebagian besar tamu-tamu yang hadir diatas restoran kenal orang aneh ini, dia adalah Hwe-pian hok (kelelawar api) Ji Gi, tokoh lihay dari aliran sesat, Ginkang yang diperlihatkan didepan umum tadi memang luar biasa.
Setelah Hwe-pian hok, menyusul beberapa orang sudah menyebrang kesana lewat tambang yang terentang kencang itu, akhirnya orang aneh itu menarik Cia Ing-kiat dan berkata.
"Mari sekarang giliran kami naik keatas kapal, mencari tempat baik untuk melihat panorama disungai."
Begitu ditarik tanpa kuasa Cia Ing-kiat ikut melesat kedepan, tepat kedua kaki orang aneh menginjak tambang, tubuhnya berpantul dua tombak kedepan, karena dipegang orang aneh walau dia berdiri jajar dengan orang aneh itu, namun kedua kakinya terapung ditengah udara, setelah dua tombak meluncur kedepan, kebetulan mereka berada ditengah tambang, didengarnya orang aneh itu berkata lirih."Bocah kurang ajar berani kau mempermainkan aku ya,"
Berdebar jantung Ing kiat. katanya gugup "Siapa suruh kau main sembunyi, asal-usul-pun kau rahasiakan kepadaku?"
Mendadak orang aneh itu tertawa panjang, suaranya mengguntur tangannya yang memegang lengannya mendadak dilepas.
Kontan Cia Ing kiat menjerit kaget, badannya sudah melorot kebawah jatuh ketengah sungai.
Tinggi tambang itu ada setombak lima enam kaki dari permukaan air, begitu tubuhnya anjlok kebawah, lekas Cia Ing-kiat menarik napas serta memancal kedua kaki sehingga tubuhnya terangkat beberapa kaki.
sayang Ginkangnya belum terlatih sempurna, hanya sekali mumbul tak kuasa meneruskan gerakan selanjutnya, maka tubuh yang mumbul itu kembali meluncur kebawah.
Bukan Cia-Ing-kiat saja yang menjerit kaget waktu tubuhnya meluncur kebawah, orang-orang diatas kapal dan diatas restoran juga bersuara kaget, padahal tak sedikit diantara mereka adalah orang-orang kosen.
/ Kejadian hanya sekejap saja, mendadak tampak badan orang aneh itu mengendap turun kebawah, Padahal dia berdiri lurus diatas tambang, tambang ditarik kencang dan lurus oleh kapal, begitu badan orang aneh itu mengendap kebawah.
bukan tambang putus, atau pagar restoran patah, tapi kapal besar itu ketarik maju tujuh kaki, sehingga tambang itu melengkung turun, orang aneh itu itu tetap berdiri diatas tambang, sekali raih, kebetulan dia samber lengan Cia Ing-kiat yang sudah meluncur ke permukaan air seperti nelayan meraih ikan dalam jalanya.
Dikala kapal terseret maju tujuh kaki karena orang aneh mengendap turun terjadilah keributan ditingkat terbawah dari kapal besar, para pendayung berteriak kaget dan gempar, serempak puluhan dayung bergerak sehingga kapal menyurut mundur pada posisi semula, sementara itu orang aneh itu sudah mengempit Cia Ing-kiat meluncur kedepan seperti tidak terjadi apa apa, pertunjukan Ginkangnya yang mempesona orang dianggap sepele saja, kejap lain dia sudah melompat turun diatas gladak.
Entah berapa banyak orang menyaksikan pertunjukan yang mendebarkan barusan sesaat suasana menjadi hening, semua terpesona dan melongo.
Jikalau ujung gantolan tambang kecil itu tidak tertancap dipagar layu diatas loteng, tapi terikat diatas batu besar yang kokoh, dengan tenaga dalam yang hebat, mungkin tidak sedikit hadirin yang berkepandaian tinggi mampu mengendap turun sehingga tali melengkung kapal terseret maju, tapi tali tambang itu hanya menancap dipagar yang mungkin bisa somplak roboh atau patah, pagar tidak bergeming, kapal besar itu malah yang terseret kedepan, betapa hebat cara penggunaan tenaga dalamnya sungguh mengagumkan dan belum pernah terjadi selama ini.
Begitu mendarat diatas gladak, langsung orang aneh menuntun Cia Ing-kiat masuk ke dalam kabin, sekelilingnya / masih sunyi, sesaat kemudian baru terdengar seorang ngakak dan berseru."Syukur hari ini benar benar terbuka mataku."
Ditengah pujian orang diatas kapal sini, tampak Pak-to Miseng sudah melangkah keluar dari balik pagar, sebelah kakinya menginjak tambang, melihat gayanya dia seperti sengaja berjalan dengan kaki satu dan berlompatan seperti anak kecil yang bermain petak petak namun hanya sekejap dia sudah berada ditengah tambang.
Pada saat itulah mendadak seorang tertawa dingin, katanya."Apa-apaan melucu yang tidak lucu."
Pak-to Suseng sebetulnya terus melompat kedepan, bila mendengar jengeknya sinis ini segera dia berhenti tapi tidak membalik badan.
Orang banyak menoleh kearah datangnya suara, tampak seorang pemuda dengan pakaian perlente dengan wajah yang amat pucat sudah melesat terbang hinggap diatas tambang.
Begitu cepat dan enteng gerakan pemuda ini, hanya sekali berkelebat tubuhnya meluncur dari restoran tahu-tahu hinggap dua kaki dibelakang Pak-to Suseng, setelah berdiri kembali dia berkata sinis .
"Harap memberi jalan."
Pemuda pucat ini muncul secara mendadak, tiada yang kenal siapa dia sebenarnya karuan hadirin melongo.
Hanya Cia Ing-kiat yang sudah diseret kedalam kabin oleh orang aneh itu berdebar jantungnya setelah melihat pemuda ini.
karena dia bukan lain adalah Siau-pocu dari Kim hou-po.
Setelah Cia Ing kiat mencari tempat duduk didalam kabin bersama orang aneh hidangan segera disuguhkan, orang aneh itu terus sibuk gegares makanan didepan matanya, bila Cia Ing kiat saksikan Siau-pocu muncul, orang aneh mendadak berkata "Pak-to Suseng kau pernah melihatnya, kenapa kau masih begini ketakutan kepadanya " / Tersirap darah Cia Ing kiat.
dia tidak habis mengerti, bagai mana orang aneh ini tahu kalau hatinya takut?
Sesaat selelah hatinya tenang baru dia menjawab.
"Siapa bilang aku takut."
Ujung mulut orang aneh bergerak melengkung keaias, kepalang menoleh keluar-Waktu itu Pak-to Suseng tetap berdiri tanpa membalik tubuh, katanya tertawa ramah "Ya, jalanku lambat.silakan tuan jalan lebih dulu."
Habis bicara mendadak tubuhnya miring ke-pinggir, telapak kaki masih menempel tambang sementara tubuhnya sudah melintang miring disejajar dengan permukaan air sungai.
Dalam keadaan demikian, bila di belakang ada orang hendak mendahului jalan, secara mudah orang akan melangkah lewat, barusan Siau-pocu minta jalan, maka dia segera menyiigkir memberi jalan.
Seluruh penonton, entah yang berada di kapal besar atau diloteng restoran semua menahan napas dengan jantung berdebar, semua ingin melihat bagaimana pemuda muka pucat akan menghadapi situasi yang serba sulit ini.
Karena banyak hadirin tahu, badan Pak-to Suseng miring berarti sudah memberi jalan, tapi bila pemuda ini lewat disamping Pak-to Suseng, namun tidak mengalami cedera oleh serangan Pak to Suseng, jelas kejadian yaug tidak mungkin terjadi.
Maka hadirin menunggu bagaimana si pemuda akan menghadapi serangan Pak-to Suseng nanti.
Dalam kalangan Bulim sudah terlalu sering dan merupakan kejadian logis bila terjadi bentrokan hanya karena persoalan kecil yang tak berarti, setiap insan persilatan pesti pernah mengalami suka duka seperti itu.
Pada hal kedua orang ini sama-sama berada diatas tambang kecil, bagaimana mereka akan bergebrak ?
Disaat seluruh penonton membelalak dengan pandangan takjup, didalam kabin kapal besar, orang aneh menyentuh lengan Cia Ing-kiat dengan ujung sikutnya, katanya perlahan .
/ "Siapakah nona yang berdandan laki-laki itu ?
Dia keracunan secara aneh."
"Mendengar keracunan dan berdandan laki-laki."
Sungguh kejut Cia Ing-kiat bukan kepalang.
Siau-pocu dari Kim-hou-po memang benar adalah gadis yang berdandan laki-laki bahwa dia keracunan merupakan rahasia, boleh dikata hanya dirinya saja yang tahu.
bagaimana orang aneh ini bisa tahu ?
Sebelum Cia Ing-kiat menjawab, tampak Siau pocu diatas tambang sudah merangkap tangan dan berkata dingin .
"Terima kasih."
Sembari bicara kakinya melangkah setapak kaki kanannya sudah melangkahi kedua kaki Pak-to Suseng yang menginjak miring diatas tambang, tapi kaki kiri masih ketinggalan di belakang Pada saat itulah, tubuh Pak-to Suseng yang melintang miring diatas lambang itu mendadak mencelat mumbul keatas-Perobahan terjadi amat cepat, kejadian hampir berbareng dengan langkah setapak Siau-pocu, kenyataan bentrokan tak bisa dihindari lagi, tampak kedua alis Siau-pocu terangkat.
"Blang"
Benturan keras terjadi, tubuh Pak-to Suseng menumbuk tubuh Siau-pocu dengan keras.
Sungguh mengejutkan bunyi dari benturan tubuh kedua orang ini, seumpama dua balok besar yang kosong tengahnya dipalu keras dengan martil raksasa, disusul tubuh keoua orang mencelat minggir kekanan dan kekiri.
Belum sempat para penonton bersorak memuji, tampak tubuh kedua orang sudah membal balik keatas pula dan "Blang"
Terjadi benturan lebih keras dari benturan yang pertama.
Setelah benturan kedna, tubuh mereka kembali tertolak balik kedua arah, tampak wajah Pak-to Suseng mendadak berobah merah seperti diselubungi kabut tebal.
Dua orang menyelinap keluar dari balik pintu kabin diatas kapal besar, sambil meluncur mereka berteriak.
"Diharap para tamu tidak bentrok dan saling bermusuhan di sini" / Suara kedua orang yang melesat keluar ini yang satu melengking tinggi yang lain sember serak dan rendah, namun suara mereka berpadu menembus mega. Maka hadirin segera melihat jelas kedua orang yang meluncur keluar ini laki dan perempuan, yang laki adalah Thi-jan Lojin, yang perempuan bukan lain adalah Gin koh. Tapi baru saja mereka melesat keluar, belum habis mereka bicara, diatas tambang sudah terdengar "Blang"
Sekali lagi, untuk ketiga kalinya Pak-to Suseng dan Siau pocu beradu, suara benturan ketiga itu ternyata menekan teriakan Thi-jan Lojin dan Gin-koh yang kumandang itu.
Akibat dari benturan keras yang ketiga kali ini tubuh Pak to Suseng tampak mencelat miring keatas, kakinya lepas dari jajakan tambang.
Dikala tubuhnya terapung di-udara, muka yang membara merah seketika berobah pucat, jelas didalam benturan adu kekuatan tenaga dalam diatas tambang itu dia terluka cukup parah.
Pak to Suseng terkenal diseluruh jagat, tiada insan persilatan yang tidak segan dan kagum kepadanya, ternyata didalam adu kekuatan tenaga dalam sekali ini dia kecundang oleh seorang lawan yang berusia muda belia, karuan penonton terpesona dan kaget terbeliak.
Tubuh Pak-to Suseng meloncat miring delapan kaki, tubuhnya meluncur turun, jelas bakal kecemplung sungai.
Maka terdengarlah dua suitan panjang yang nyaring dari arah loteng restoran, suara suitan ini bagai pekik bangau sakti diangkasa, dua sosok bayangan menubruk kearan Pak-to Suseng yang sudah terguling kebawah, begitu tangan mereka meraih, seorang satu lengan mereka pegang tangan pak-to Suseng.
Daya luncuran kedua orang ini ternyata cukup kuat, meski ditengah udara sudah memegang lengan Pak-to Suseng, tubuh mereka masih terus meluncur kedepan laksana meteor mengejar rembulan.
Kejadian sesingkat kilat menyambar / diangkasa, setelah ketiga orang itu meluncur turun dan hinggap diatas gladak kapal baru hadirin malihat jelas, kedua orang penolong Pak-to Suseng seorang adalah Oh-sam Siansing.
seorang lagi bertubuh kurus lencir dipunggungnya terselip sebatang tombak trisula terbuat dari emas yang mengkilap.
Panjang Kim-ki atau tombak trisula ini ada tiga kaki, namun berbeda dengan senjata umumnya, gagang dan ujung tombak yang tiga sula itu ternyata teramat kecil dan lembut, besarnya kira kira sama dengan dupa, kelihatannya sekali bentur patah, hakikatnya tidak setimpal untuk dibuat gaman.
Tapi begitu orang ini muncul, banyak orang lantas mengenalnya, terutama tombak tri sula yang terbuat dari emas itu merupakan gaman terlihay dan tiada bandingannya dari berbagai jenis senjata diluar kalangan yang ada dikolong langit ini, entah betapa banyak jago kosen Bulim yang pernah di-kalahkan oleh senjata ampuh ini.
orang ini bukan lain adalah majikan tujuh puluh dua pucak di Tong thian yang terkenal dengan julukan Kun ki-sian-khek.
Begtu Oh-sam Siansing dan Kim-kin sian-khek berhasil memapah Pak-to Suseng, segera mereka ulur sebelah tangan menekan dada Pak-to Suseng, yang lain menekan punggungnya, serempak mereka bergerak menghampiri Thi-jan Lojin dan Gin-koh.
Tersipu Thi-jan Lojin dan Gin-koh membalik tangan mendorong daun kabin sambil menyurut mundur memberi jalan, sehingga ketiga orang ini langsung melangkah kedalam kabin.
Setelah benturan ketiga, wajah Pak to Suseng yang membara seketika menjadi pucat badan dan mencelat, maka hadirin tahu bahwa dia pasti terluka parah.
Apakah Oh-sam Siansing dan Kim-ki-sian-kek mampu menyembuhkan luka luka dalamnya, hadirin tiada yang berani memastikan.
Kejadian ini ternyata menimbulkan kegemparan, orang-orang yang sudah siap berderet dipinggir pagar siap / menyebrang lewat tambang tanpa berjanji menyurut mundur kebelakang.
Agaknya mereka cukup tahu diri, bila mereka ikut naik kapal dan tiba ditempat tujuan, entah peristiwa apa pula yang bakal terjadi, insaf kepandaian sendiri tidak becus, kuatir jiwa keserempet bahaya, mundur teratur adalah cara yang terbaik.
Maklum kejadian beruntun adalah Oh-sam Siansing bergebrak dengan Hu-lo Popo, kelihatannya Oh-sam Siansing kecundang.
kini seorang pemuda yang tidak dikenal ternyata mampu melukai Pak-to Suseng yang tangguh ini, lalu siapa berani tanggung, bila kejadian selanjutnya tidak lebih mengejutkan ?
Disaat kegaduhan terjadi diatas restoran, Siau-pocu dari Kim hou-po sudah beranjak keatas gladak Thi-jan Lojin dan Gin-koh pernah merasakan sendiri betapa lihay pemuda ini tapi mereka juga tidak tahu asal usulnya.
Sekilas kedua orang ini saling pandang, lalu dengan seri tawa mereka menyongsong maju Gin-koh menyambut.
"Ternyata tuan juga ingin ikut keramaian, tapi sepantasnya tidak membuat onar di sini, mohon sudilah memberi muka kepada tuan rumah,"
Siau pocu mendengus, ia tanya.
"Aku minta dia memberi jalan, dia boleh menolak, kenapa setelah menyingkir malah membokong aku ?"
Bungkam mulut Thi jan Lojin dan Gin-koh, mereka tak bisa membantah, sementara Siau-pocu melangkah maju lewat depan mereka.
Cia Ing-kiat yang duduk bersama orang aneh dalam kabin, belum lagi sempat menjawab pertanyaan si orang aneh, namun kejadian diluar dugaan beruntun telah berlangsung.
Begitu Thi-jan Lojin dan Gin-koh muncul, hati Cia Ing-kiat sudah heran, kenapa urusan di sini bersangkut paut pula dengan kedua orang ini?
Dari sikap dan nada bicara mereka / lagaknya sebagai wakil tuan rumah, lalu siapakah "tuan rumahnya" .
Sekilas terasa oleh Cia Ing kiai,adanya mereka samar-samar dalam benaknya, tapi begaimana sebetulnya persoalan ini?
Dia tidak mampu menjelaskan.
"Lekas katakan,"
Orang aneh mendesak dengan suara lirih.
"siapakah nona ini? "
Matanya melirik tajam Cia Ing-kiat sudah buka mulut, tapi dia waktu angkat kepala, dilihatnya Siau-pocu sudah melangkah masuk.
Cia Ing-kiat terlongong dikursinya, Siau-pocu menekuk wajahnya yang pucat, langsung dia beranjak menghampiri dirinya.
Meja di mana Cia Ing-kiat dnduk berhadapan dengan orang aneh sisi sebelahnya mepet dinding kabin, kebetulan meja ini cukup untuk duduk tiga orang, setiba didepan meja, lengan baju Siau-pocu mengebas sekali menyeret mundur kursi lalu berduduk.
Bukan saja jantung Cia Ing-kiat berdetak keras, orang aneh itupun menampilkan rona heran dan tanda tanya dalam sorot matanya.
Celakanya Siau-pocu melirikpun tidak kepada orang aneh, sepasang bola matanya yang bening seperti dapat menembus isi hati orang yang dipandangnya mengawasi Cia Ing-kiat.
Jantung Cia Ing-kiat seperti hendak mencelat keluar, telapak tangan basah oleh keringat dingin, sesaat lamanya Siau-pocu mengawasinya, lalu berkata.
"Agaknya Lwekangmu sudah mendapat banyak kemajuan."
Semula Cia Ing-kiat menyangka karena dirinya sudah merias muka dalam bentuk lain.
Siau-pocu belum tentu mengenal dirinya, namun setelah mendengar pujian orang, rasa takut semula bertambah ngeri, tubuhnya dingin seketika, katanya dengan tertawa dipaksakan.
"Apa iya, Aku sendiri kok tidak tahu." / Siau-pocu menatap Cia Ing-kiat sekian lama pula, sekian lama dia tidak bersuara. Sementara itu keributan masih berlangsung disebrang, diloteng restoran suara orang saling bentak. Ternyata anak buah Liong-bun-pang yang memikul tandu sedang berusaha menyebrangi tambang kecil juga, naga-naganya Pangcu Liong-bun-pang yang misterius iiu tetap tak mau keluar menunjukan tampangnya. Dibelakang tandu Liong-Pun Pangcu, tak sedikit pula orang-orang Bulim yang beruntun naik kekapal, ada yang melompat berjangkit, ada yang melesat terbang ada pula yang jalan pelan-pelan seperti pemain akrobatik. Hati Cia Ing-kiat sedang kalut, maka dia tidak berhasrat memperhatikan keadaan di luar, Karena tatapan mata Siau pocu yang dingin setajam pisau mengawasi dirinya. Hanya orang masih bersikap tak acuh dan berulang dia cengar cengir, tapi Siau-pocu tidak pernah menoleh kepadanva. Mendadak Orang aneh berkata.
"Nona, orang yang dahulu mencelakai kau sungguh seorang yang culas dan kejam."
Tergetar sekujur badan Siau-pocu, mendadak dia menoleh dengan tatapan mendelik, desisnya.
"Siapa kau?"
Orang aneh itu membentang kedua tangan tanpa menjawab pertanyaannya, Karuan berobah pucat muka Siau-pocu, mendadak tangannya terulur, dengan tiga jari tangannya dia sudah menindih pergelangan tangan orang aneh, sorot matanya berkilat dingin cukup menakutkan.
Melihat Siau pocu mendadak bertindak, gerakannya laksana samberan kilat, karuan Cia Ing-kiat kaget sekali.
Tidak sedikit jago kosen yang hadir di sini, namun dinilai taraf kepandaian mereka, kedua orang ini adalah yang paling top, bila kedua / jago top ini bergebrak didalam kabin, yakin kapal ini bisa dibikin hancur lebur Waktu Siau pocu menekan pergelangan tangan orang aneh, tangannya sedang pegang sumpit dan terulur hendak menyumpit sekerat daging, tangannya seketika terhenti di udara, namun sikapnya tetap wajar, katanya.
"Jangan bergebrak di sini, aku ingin menjelaskan."
Jari Siau-pocu tetap mengancam urat nadi dipergelangan tangan orang aneh, Cia Ing-kiat tahu.
urat nadi lawan sudah terancam, dirinya berada diatas angin, sudah tentu Siau-pocu tidak mau menarik balik jarinya, kata siau-pocu dingin.
"Dari mana kau tahu kalau aku keracunan ?"
Orang aneh itu tertawa, katanya .
"Bila yang menaruh racun dulu aku. dua tahun yang lalu kau sudah mati dengan tubuh kering, pasti takkan bisa hidup sampai sekarang. Orang yang meracuni kau belum mahir menggunakan racunnya, tapi juga sudah lumayan maka kuduga orang itu adalah Tocu (pemilik pulau) Hek-kiau-to di lautan timur, betul tidak ?"
Mengikuti penjelasan orang aneh, rona muka Siau-pocu ikut berobah setelah orang aneh selesai bicara, Siau-pocu segera lepas tangan dan menurunkannya dibawab meja.
Orang aneh berkelak tawa, tangan yang terhenti ditengah udara langsung bergerak maju menyumpit sekerat daging menjangan langsung dia jejalkan ke mulut lalu dikunyah dengan lahap, baru daging tertelan tangannya sudah sibuk meraih cangkir serta meneguk arak, padahal daging menjangan dalam mulutnya belum ditelannya habis, namun mulutnya sudah mengoceh kurang jelas .
"Aneh pada hal kau baru genap dua puluh. Hek-kiau-to cu, umpama belum mati, sekarang sedikitnya sudah berusia delapan puluh. ada permusuhan apa dia dengan kau "
"Dia sudah mati."
Ujar Siau-pocu tandas. / Orang aneh mengangguk, katanya.
"Pernah kudengar, selama hidupnya Hek-kiau tocu hanya membenci satu orang, orang itu dibencinya sampai ketulang sungsum, nona cilik, apa kau kau adalah........."
"Cukup tak usah dilanjutkan,"
Segera Siau-pocu menukas sambil berjingkrak berdiri. Orang aneh mendongak mengawasi Siau-pocu, katanya perlahan.
"Kalau demikian, baiklah aku memanggilmu nona Lui, pasti tidak salah lagi."
Sekian saat Siau pocu berdiri menjublek, akhirnya dia manggut, katanya sambil duduk.
"Aku bernama Lui Ang Ing"
Orang aneh angkat kedua alisnya, kembali dia minum arak dengan lahap tanpa ber-bicara lagi.
Kabin kapal itu amat besar dan luas, penuh meja kursi yang kini sudah diduduki orang mereka sibuk berbincang persoalan masing masing, hanya beberapa meja disekitar mereka yang masih kosong belum diduduki orang.
Maklum siapa yang tidak gentar berhadapan dengan Hu-lo Popo, maka tiada orang berani duduk didekatnya apalagi di tengah mereka ketambah Siau-pocu yang kosen dari berhasil membikin Pak-to Suseng terluka parah.
Karena itu percakapan ini diantara orang aneh dengan Siau pocu orang lain tiada yang mendengarkan.
Hanya Cia Ing-kiat saja yang mendengar jelas seluruhnya.
Cia Ing-kiat tidak bisa menimbrung bicara, karena apa yang dibicarakan ada yang dia tahu, tapi ada juga yang tidak diketahui.
Hek-kiau to cu yang diucapkan orang aneh hakikatnya belum pernah didengar oleh Cia Ing kiat, entah tokoh macam apakah dia ?
Tapi dari percakapan ini, Cia Ing-kiat lebih tahu banwa orang aneh ini berpengalaman dan luas pengetahuan, hanya sekali pandang lantas tahu orang keracunan, keracunan jenis / apa pula, diapun tahu siapa yang melakukan kejahatan, dari sini dia menebak pula asal-usul Siau pocu.
Setelah asal usulnya terbongkar, ternyata Siau-pocu memberitahu namanya kepada orang aneh.
Agak lama orang aneh melenggong, lalu dia mendesis suara mengulang nama Siau pocu, katanya."Lui Ang-ing.
eh.
ayahmu memberikan nama ini kepadamu, ternyata memang mengandung maksud yang mendalam."
Lu Ang ing hanya menarik alis tanpa bersuara. Mumpung ada kesempatan Cia Ing-kiat, segera menyeleiuk.
"Nona Lui."
Lui Ang-ing menoleh, katanya.
"Kenapa kau membuat kelakar ini kepada Cianpwe ini ?"
Cia Ing-kiat serba runyam. Tapi orang aneh itu berkata.
"Tidak jadi soal, memangnya aku tak tahu apa? Jangan salahkan dia."
Lekas Cia Ing-kiat berkata.
"Kalau aku tidak merobah dia jadi Hu-lo Popo, yakin nona Lui juga pasti tidak akan kenal padaku, betul tidak?"
Lui Ang-ing tidak menjawab, hanya alisnya bertaut. Orang aneh berkata.
"Nona Lui, sejak empat puluh tahun yang lalu, aku pernah bertemu sekali dengan ayahmu. Aneh. setelah ayahmu diracun orang. kenapa dia tidak mencariku? Atau dia tidak bisa menemukan aku?"
Waktu orang aneh melontarkan kata-katanya sikapnya tetap wajar, tapi Lui Ang ing sudah berobah air mukanya, teriaknya tertahan "Jadi kau, kau......"hanya tiga patah kata saja yang terlontar dari mulutnya.
Orang aneh itu masih tetap gares hidangan diatas meja, katanya ;
"Ayahmu pasti pernah mencari aku. Sayang sekali waktu itu akupun dicelakai orang, jiwaku sendiri juga / diambang maut, sudah tentu dia takkan bisa menemukan aku."
"Betul,"
Ucap Lui Ang-ing.
"sembilan kali beliau masuk kepedalaman Biau-kiaug-mencari jejakmu, tapi selalu gagal"
Orang aneh angkat kepala, katanya .
"Sebetulnya umpama dia menemukan aku juga tak berguna, keadaanmu sekarang cuma sering berabe, jiwamu jelas takkan putus seketika "
Sikap Lui Ang-ing kelihatan prihatin dan masgul.
dia angkat kepala melihat cuaca diluar jendela, hatinya kelihatan rawan dan sebal.
Sebetulnya masih banyak orang yang berjubel diatas restoran, tapi mereka tidak berminat naik keatas kapal.
Dua laki-laki bersama menyendal lalu menarik tambang bersama, gantolan yang menancap diatas pagar disebrang terlepas dan mencelat balik maka puluhan penggayuh serempak bekerja dibawah satu aba-aba.
Kapal besar itu melaju dipermukaan air mengikut arus sungai.
Lekas sekali kapal itu sudah jauh meninggalkan kota tadi.
Lui Ang-ing dan orang aneh tiada yang buka suara, Cia Ing-kiat juga kehabisan bahan untuk ajak mereka bicara, terpaksa dia memandang panorama disepanjang perjalanan.
Sungai ini memang besar dan luas makin jauh makin besar, seolah olah kapal mereka sedang berlayar ditengah lautan, hanya beda nya air disini kuning keruh, arus air disini juga jauh lebih lamban, sementara kapal terus maju mulai membelok kekiri mengikuti dinding karang yang curam dan tinggi.
Dinding karang itu kelihatannya dekat, namun setelah kapal itu menikung, kini mulai memasuki sebuah selat yang diapit dua dinding karang yang terjal.
Padahal waktu itu sudah menjelang fajar.
Ditengan keremangan cuaca tampak dinding / karang itu penuh ditumbuhi akar rotan yang belit membelit hingga mirip pohon beringin besar bergelantung setinggi ratusan tombak hingga menyentuh air sepintas pandang tak ubahnya sebuah air terjun raksasa yang menakjupkan pandangan.
Diatas pohon-pohon rotan itu hidup beratus ribu kera atau orang hutan berbulu emas, mereka tampak santai bergelantung dan berlompatan dari dahan yang satu kedahan yang lain agaknya mereka sedang menunggu terbitnya sang surya ambil berceloteh.
Cepat sekali sinar surya yang pertamapun menyorot kepucuk selat, bulu kera yang emas itu menjadi kelihatan menyolok ditengah sinar mentari, pemandangan yang indah menakjupkan mempesona Cia Ing kiat.
Soalnya pemandangan didepan mata memang amat ganjil dan menakjupkan, maka kapal besar itu dicekam kesunyian, semua tertarik oleh pandangan yang serba aneh dan ganjil tanpa terasa kapal telah laju puluhan tombak kedepan meninggalkan selat, laju kapal lebih cepat lagi.
sekarang baru diantara penumpang menjerit kaget, karena bila kapal ini tidak segera dihentikan akan menumbuk dinding karang yang menghadap didepan.
Padahal jarak kapal dengan dinding karang didepan tinggal beberapa tombak saja mereka yang berhati gugup dan bernyali kecil sudah lompat berdiri dan menjadi ribut semula siap melompat keluar mencapai akar-akar rotan bila kapal ini betul-betul menabrak karang dari pada terjungkal jatuh kedalam air, kemungkinan jiwa melayang menjadi umpan ikan.
Untunglah pada saat yang pening itu salah seorang penyambut tamu herusia setengah umur itu berteriak lantang."Harap para tamu duduk tenang tidak ribut."
Mereka yang sudah berdiri tengah beradu pandang, kera-kera bulu emas diatas rotan menjadi ribut dan berceloteh / serta manjat lebih tinggi, kapal sudah menyentuh akar rotan yang menyerupai tirai menyentuh air, namun tidak terjadi tabrakan yang keras seperti diduga orang banyak, haluan kapal malah sudah menembus kedalam dan hanya sekejap meluruh kapal sudah menyelinap kedalam pandangan mendadak menjadi gelap, ternyata kapal sebesar itu seluruhnya sudah masuk kedalam sebuah gua raksasa.
Baru sekarang orang banyak sadar bahwa mereka memang terlalu berkuatir tanpa alasan.
Ternyata diatas dinding karang itu terdapat sebuah lobang raksasa, namun mulut lobang di rambati penuh akar rotan hingga menyerupai kerai yang tumbuh secara alam, pada hal mulut gua amat tinggi lebar, jangan kata hanya sebuah kapal, sekaligus tiga kapal besar yang sama masuk kedalamnya juga bisa laju berjajar.
Di sana sini orang menghela napas lega, mereka yang berdiri duduk kembali, kapal besar ini laju lebih cepat didalam gua, hanya sekejap bila menoleh kebelakang, mulut gua itu menjadi kecil, kapal sudah ratusan tombak jauhnya, tapi melihat kedepan keadaan gelap gulita, seperti tidak berujung.
Lampu gantung sudah dipasang diatas kapal hingga keadaan seterang siang hari, tampak lucu dan aneh-aneh mimik muka hadirin.
Diam diam Cia Ing-kiat memperhatikan, sejak naik kekapal ini, hakikatnya tiada seorangpun yang pernah menyapa atau menoleh kearah mereka bertiga, agaknya mereka sengaja menyingkir atau menjauhkan diri, jelas mereka takut kena perkara, Pada hal jago-jago silat yang benar-benar kosen juga tidak berada dalam kabin ini.
Maka Cia Ing-kiat hanya tertawa getir dalam hati, kalau suruh dia memilih, dia lebih senang semeja dengan Oh-sam Siansing atau Pak-to Suseng, celakanya sekarang dia tak bebas dan tak mungkin bisa menyingkir dari hadapan orang aneh dan Lui Ang ing.
/ Karena tiada bahan bicara Cia Ing-kiat hanya menunduk atau sekali tempo melongok keluar, namun diam-diam terasa olehnya, sorot pandangan Lui Ang-ing agak ganjil bila mengawasi dirinya.
Dalam setengah malam ini hatinya sudah tak karuan rasanya, siapa sebetulnya orang aneh ini, dia tak perlu memikirkannya lagi, tapi kenapa Lui Ang-ing juga datang?
Keadaan Kim-bou-po serba misterius, banyak hal-hal yang menakutkan di sana seperti baru saja dialaminya.
Apalagi bila dia terbayang betapa dirinya disiksa dengan Hun-kin-jo-kut-jiu oleh Lui Ang-ing dibiara bobrok tempo hari, mau tidak mau dia tetap bergidik seram, tulang tulang tubuhnya seperti copot berkeretekan Sekarang orang misterius yang menakutkan itu berada disampingnya, walau dia yakin orang tidak bermaksud jahat lagi, tapi kenapa orang justru memilih tempat disampingnya?
Makin lama Cia Ing kiat makin risi, seperti duduk diatas jarum, terbayang akan kematian sang ayah, terbayang sebelum dirinya menyelundup kedalam Kim-hou-po, selalu dia berkecimpung di Kangouw sebagai Siau cengcu Kim liong ceng, di mana dia berada selalu mendapat sambutan dan pujian yang layak, waktu itu dia beranggapan dunia memang besar tapi juga begini saja, sekarang bila mengenang masa lalunya, sungguh pengalaman dirinya dulu terlalu kerdil dan cupat-Tanpa terasa Cia Ing-kiat tertawa getir sendiri.
Tengah dia melamun itulah, mendadak terkiang sebuah suara lirih lembut tapi juga hangat mesra berkata.
"Apa yang kau pikirkan?"
Cia Ing-kiat melenggong.
waktu dia angkat kepala, tampah wajah Lui Ang ing yang pucat dekat sekali jaraknya, sepasang matanya yang bening tajam tengah menatap dirinya.
Sejat tahu Lui Ang ing adalah seorang gadis, perasaan Cia Ing kiat selalu tak karuan dan ganjil, ingin dia menyingkir dari tatapan orang, tapi jantung yang berdebar keras menyebabkan dia / blingsatan, maka jawabannya-pun tergagap.
"Tidak apa-apa .... aku sedang berpikir .... akan ke mana kapal ini?"
Lui Ang ing menghela napas perlahan, mulutnya menjengkit, seperti tertawa tidak tertawa, namun rona mukanya yang pucat itu kelihaian berobah sabar dan bersemu merah Pada saat itulah orang aneh menjawab pertanyaan Cia Ing-kiat.
"Segera juga sampai ke tujuan, tak usah gelisah."
Mumpung ada kesempatan Cia Ing-kiat alihkan pandangannya kearah orang aneh.
Pada saat itu, beberapa orang dihaluan kapal terdengar berseru gembira, waktu Cia Ing-kiat menoleh, tak jauh didepan sudah kelihatan cahaya lerang.
Cahaya surya menyorot masuk lewat sebuah lobang besar diatas gua, pemandangan berobah dan berbeda.
Laju kapal besar semakin lambat tak lama kemudian kapal sudah bermandikan cahaya surya.Ternyata lobang besar diatas gua itu merupakan celah gunung yang berbentuk lonjong, panjangnya ada puluhan tombak.
Diatas dinding karang terdapat ratusan undakan batu buatan manusia, tidak sedikit orang berlari turun menyusuri undakan batu karang itu, mereka terdiri laki perempuan, pakaiannya bercorak sama.
tapi yang perempuan disebelah depan, dibawah cahaya matahari yang berderang, Cia Ing kiat melihat jelas, dua orang yang berlari paling depan bukan lain adalah Toa kui dan Siau-kui, dua gadis remaja yang hidup beberapa bulan di Thian-lau-hong bersama dirinya, belakangan dttengah kabut pegunungan mereka dilukai orang aneh hingga muntah darah dan lari terbirit-birit..Begitu melihat Toa-kui dan Siau-kui, seketika timbul rasa simpati Cia Ing-kiat teriaknya kaget.
"Ha, jadi di sini adalah Hat ... ."
Dari cerita Toa-kui dan Siau-kui dia tahu bahwa majikan mereka adalah pemilik Hiat-lui-kiong. /
Jilid ke . 7 Tapi baru kata 'Hiat"
Sempat diucapkan mendadak terasa pinggang kesemutan sekujur badan seketika lunglai, maka mulut pun mengejang tak mampu bersuara.
Sekilas sempat diliriknya orang aneh tengah menarik tangannya yang menutuk pinggangnya dari jarak tertentu.
Padahal jarak jari orang aneh dengan Hiat-to pelemas dipinggangnya ada tiga kaki tapi dari jarak sekian dia menutuk, dirinya sudah tak mampu berkutik lagi.
Cia Ing-kiat tahu Kungfu orang aneh atau Lui Ang-ing beratus kali lebih tinggi dibanding dirinya, maka dia tidak merasa heran, sebelum rasa linu ditubuhnya hilang, didengarnya orang aneh berkat dengan tekanan berat.
"Harus selain ingat jangan banyak mulut, ikuti saja apa yang kami lakukan, tanggung kau akan melibat tontonan ramai."
Diwaktu orang aneh bicara, terasa oleh Cia Ing kiat Lui Ang-ing juga tengah memandangnya.
Maka hatinya semaki ruwet.
Karena dugaannya sekarang benar, kapal ini tengah menuju Hiat-lui-kiong.
Walau dia belum tahu siapa penghuni Hiat lui-kiong, tapi dia tahu bahwa Hiat-lui-kong ada hubungan yang luar biasa dengan dirinya.
Sejak kedatangan Gin-koh dan Thi-jan Lojin ke Hwi-liong keng melamar dirinya, lalu menculik dirinya secara terang-terangan selama ini pengalaman Cia Ing-kiat memang serba aneh dan ganjil, sukar di kisahkan dalam waktu singkat, namun sebab musabab dari peristiwa ini adalah pihak Hiat lui-kiong hendak mengawinkakn putrinya dengan dirinya pada hal Cia Ing kiat tidak pernah mendengar keterangan sedikitpun tentang calon istri dan keluarganya yang jelas Toa-kui dan Siau kui sering menggoda waktu dia disekap di Thian lau -hiong, maka sedikit banyak dia sudah punya gambar bahwa majikan Hiat-Iui-kiong yang memaksa dirinya kawin dengan putri.
/ Dan sekaiang tanpa disadarinya, dirinya berada di Hiat-lui-kiong.
Hiat lui kiong mengundang jago jago kosen sebanyak ini, gelagatnya hendak merayakan sesuatu yang menggembirakan, kalau betul undangan ini untuk menghadiri pernikahan putrinya, padahal dirinya sebagai mempelai laki-laki menyamar jadi seorang kakek bercampur ditengah para tamu bukankah kejadian teramat lucu dan menggelikan?
Waktu Cia Ing-kiat angkat kepala, dilihatnya orang aneh tengah menatapnya juga, agaknya dia tahu jalan pikirannya, dengan menyengir lebar oraag seperti menggoda dirinya.
Dalam pada itu kapal besar itu sudah berhenti, orang-orang yang berlari turun dari undakan batu berdiri menjadi dua baris, Toa-kui dan Siau-kui sebagai pimpinan barisan, setiap orang berdiri disatu undakan demikian seterusnya makin tinggi.
Berbareng Toa-kui dan Siau-kui mengayun tangan, dari tangan mereka meluncur segulung tali beraneka warna diujung tali terikat gantolan besi meluncur kearah kapal besar,' Trak, trak"
Kedua gantolan itu menancap atas gladak.
kembali kedua gadis itu mengayun tangan, ujung tali yang lain terikat sebuah gelang kuning kemilau, tepat memasuk kedalam tonggak batu dipinggir sana.
Maka Toa-kui dan Siau-kui tarik suara bersama."
Hiat-lui kiong menyambut para tamu dengan kehormatan, persilakan para tamu mendarat.' Kalau para tamu naik keatas kapal menyebrangi tambang, kalau sekarang mereka harus mendarat lewat tali berwarna itupun tidak perlu dibuat heran.
Tanpa diminta kedua kali, berbondong para tamu keatas kapal satu persatu melesat terbang diatas tali itu orang-orang yang hadir adalah jago jago silat kosen.
maka mereka pamer kemahiran sendiri-sendiri diatas tali untuk mendarat.
/ Disaat pendaratan berlangsung, diatas puncak tetabuhan musik terdengar mengalun merdu.
Melihat orang aneh dan Lui Ang-ing tidak bergerak, maka Cia Ing-kiat juga diam saja belum ada setengah jam, dalam kabin kapal besar itu tinggal mereka bertiga.
Tapi dari kabin tinqkat bawah, orang masih belum selesai mendarat.
Tak berselang lama, terdengar beberapa kali suara holobis kuntul baris dari kabin tingkat bawah, ternyata beberapa anggota Li-ong-bun-pang yang memikul tandu telah beranjak naik terus menyebrang juga lewat tali berwarna itu, cepat sekali mereka sudah tiba dibawah undakan batu, padahal tandu itu dipikul dari depan dan belakang, jelas takkan bisa dipikul naik keatas.
Maka Toa-kui dan Siau kui beradu pandang,serunya bersama.
' Jalan pegunungan licin dan curam, mohon Liong-bun pangcu turun dari tandu naik keatas gunung.' Para pemikul tandu seperti tidak mendengar seruan mereka, mereka tetap maju kedepan sambil mendengus bersama, empat yang didepan langsung menaiki undakan, begitu yang didepan naik diundakan, tandu itu seperti hampir terguling saja, tapi empat orang di-belakarg serempak pegang atap tandu, delapan laki laki kekar melangkah secepat terbang, tandu dibiarkan melintang, lekas sekali mereka sudah beranjak keatas.
Kaum persilatan tahu bahwa Liong bun-pang Pangcu amat misterius, asal-usul atau indentitasnya amat dirahasia, bila tidak terpaksa pasti tak mau muncul di muka umum.
Seolah-olah sudah menjadi tradisi dalam kalangan mereka, setiap Pangcu yang pernah muncul didepan umum akhirnya pasti mati tak karuan parannya, karena itu jarang ada kaum persilatan yang tahu siapa pejabat Pangcu Liong bun-pang yang sekarang, dalam keadaan seperti sekarang, orang dalam tandu tetap tidak mau keluar, hingga menambah suasana lebih seram dan menimbulkan perasaan yang tidak karuan.
/ Setelah rombongan Liong hui-pang berada diatas undakan.
maka muncullah Oh-sam, Siansing bersama Pak-to Suseng yang melesat berjajar kearah undakan, sikap mereka kelihatan serius dibelakang mereka muncul pula Thiam-lam-siang jan.
Baru sekarang orang aneh berdiri dan berkata.
"Sekarang giliran kami."
Lui Ang-ing manggut, dihadapan kedua orang ini hakikatnya Cia Ing kiat tidak punya pendirian, karena kedua orang ini berdiri, terpaksa dia ikut berdiri.
Walau Kungfunya tidak terlalu baik, namun tali berwarna untuk menyebrang ini sebesar kepelan bayi, untuk menyebrang keundakan batu kukan soal sulit bagi dirinya, maka dia beranjak keatas undakkan diapit oleh orang aneh dan Lui Ang-ing.
Senyum manis Toa kui dan Siau-kui menyambut mereka, agaknya mereka tidak kenal dirnya lagi, tahu kalau dirinya bersuara mungkin bisa menimbulkan banyak urusan dengan majikan Hiat-lui-kiong, maka Cia Ing-kiat diam saja, pura-pura tidak kenal mereka juga.
Undakan batu itu ada ratusan menjurus kepuncak, makin tinggi makin benderang, lama kelamaan Cia Ing kiat melongo.
Waktu tinggal di Thian-lou-hong, Cia Ing-kiat sudah merasa letak puncak itu melampaui mega, kini setiba dipuncak, lautan mega juga berada disebelah bawah, selepas mata memandang puncak-puncak gunung kelihatan seperti gundukan tanah melulu.
Bila dia membalik arah, puncak gunung ini ternyata datar dan lapang, berbagai jenis kembang dan rerumputan serba aneh ditanam subur, pohon tua mencakar langit, anehnya diatas itulah dibangun sebuah istana yang megah, seluruh bangunan bewarna merah sesuai batu-batu gunung yang terdapat dipuncak itu.
Kelihatannya sebuah puncak gunung telah dikerjakan oleh tangan-tangan ahli, dipacul ditatah dan dipahat pula hingga menjadi sebuah istana besar yang kelihatan angker tak heran / bahwa istana besar itu merupakan gugusan gunung tunggal, kalau tidak menyaksikan sendiri siapa mau percaya.
Undakan batu yang dibuat tangan-tangan ahli melingkar naik keatas puncak, para tamu sedang menyusuri undakan itu naik keatas.
Cia Ing kiat bertiga berada dipaling belakang Ternyata kecuali istana megah itu, didepan istana juga terdapat sebuah lapangan luas, gunung ini agaknya memang bertanah merah, maka lapangan halus didepan isiana itupun serba merah legam.
Didepan istana di tanah lapangan itu beberapa orang sibuk menyambut para tamu, bila makin dekat maka mereka melihat tak jauh didepan pintu gerbang istana di pinggir lapangan berdiri sebuah batu pilar yang lebar dan tebal, diatas batu besar inilah berukir tiga huruf "Hiat-lui-kiong"
Dengan gaya kuno, warna batu besar ini ternyata lebih legam dari tanah sekitarnya seperti sering disiram oleh darah.
Istana itu tampak megah dan angker, tapi juga seram membuat orang merinding, para tamu meranjak kedalam sambil menahan napas serta menunggu adegan-adegan aneh.
Mengikuti langkah orang banyak Cia Ing-kiat bertiga memasuki istana itu.
akhirnya mereka tiba disebelah balairung yang besar, semua perabot yang ada di sini semua terbuat dari batu gunung setempat, maka selayang pandang pemandangan serba merah, seolah olah mereka masuk ke alam sebuah kotak raksasa yang terbuat dari darah yang sudah beku siapapun merasa risi dan tak renang.
Dalam balairung terdapat banyak batu-batu persegi yang tersebar di berbagai sudut, begitu masuk tamu tamu itu sudah lantas mencari tempat duduk sendiri-sendiri tanpa menunggu tuan rumah keluar menyilahkan mereka duduk.
Orang aneh sambil tersenyum menghampiri sebuah batu lantas duduk.
Orang-orang yang semula sudah duduk tak jauh disekitarnya lantas berbangkit dan pindah ternpat hingga beberapa saja kursi batu disekitar mereka kosong tanpa dihuni.
Orang aneh melotot sekilas kepada Cia Ing kiat, dia hanya tersenyum getir / saja.
Lekas sekali seluruh tamu yang berada dikapal sudah masuk kedalam balairung tampak Toa-kui dan Siau-kui juga memasuki balairung langsung melangkah kesebelah dalam.
Tidak lama setelah Toa-kui dan Siau-kui masuk kedalam.
maka terdengar tambur dipukul keras dari istana yang cukup jauh.
namun pukulan tambur itu makin keras dan berat, sehingga hadirin merasa risi, pukulan tambur itu seperti memukul pula dalam relung hati mereka.
Tak lama kemudian Thi jan Lojin dan Gin-koh muncul dari dalam, serunya sambil merangkap tangan .
"Majikan akan segera keluar, biasanya majikan jarang menemui tamu, kedatangan kalian boleh dikata merupakan kesempatan yang sukar diperoleh."
Bermacam macam reaksi para hadirin setelah mendengar sambutan Gin-koh, ada yang merasa wajar, ada pulayang merasa kurang senang.
Lain pula sikap Cia Ing-kiat yang kelihatan kaget dan heran, karena tamu-tamu yang tadi dalam balairung ini seluruhnya orang kosen.
tapi nada sambutan Gin koh kedengarannya seperti ditujukan kepada angkatan muda yang baru mencari pengalaman dalam percaturan Bulim Tapi Cia Ing-kiat juga tahu bahwa Gin-koh sendiri juga bukan tokoh sembarangan.
bahwa dia sudi menjadi pesuruh yang harus pergi datang melakukan perbuatan yang serba janggal, maka dapat dibayangkan bahwa majikan Hiat lui kiong pasti seorang yang luar biasa.
Di saat Gin-koh bicara, suara tambur ditabuh makin gencar, seorang laki-laki baju hitam yang sejak tadi duduk dipojok bola balairung mendadak berdiri, teriaknya lantang .
,,Siapa sebetulnya majikan Hiat-lui-kiong.
manfaat apa yang akan diberikan kepada kami, kenapa tidak lekas keluar, masih main teka teki segala."
Laki laki baju hitam ini pernah dilihat Cia Ing kiat dikota kecil itu. dia bukan lain adalah Thi-giam-lo Utti Ou, begal tunggal yang kenamaan jahat. / Terangkat alis Gin-koh, katanya .
"Tuan tak usah terburu nafsu, sebentar juga majikan pasti keluar."
Utti Ou mengawasi Gin-koh, katanya dengan tertawa .
"Manfaat apa yang akan ddiberikan oleh majikanmu, aku tidak kepingin, aku hanya ingin ...hanya ingin......"
Sampai di sini dia tetap menatap Gin-koh sikapnya tampak kikuk dan malu-malu.
Laki-laki kekar kasar dan beringas, terkenal jabat dan kejam lagi, mendadak didepan umum menunjukan sikap yang lucu begini, sungguh merupakan kejadian yaug menggelikan.
Walau merasakan tatapan Utti Ou agak ganjil, namun Gin-koh tak bisa meraba jalan pikirannya, dengan tersenyum dia berkata.
"Tuan ingin omong apa boleh terus terang saja."
Seketika Utti Ou berseri kegirangan, mulutnya terpentang lebar hingga jambang bauk selebar mukanya berdiri kaku, giginya yang ptiih bagai siung serigala tampak menggiriskan, tampangnya yang jelek tak ubahnya setan dedemit ditengah kuburan.
Setelah cengar cengir dia menuding Gin-koh, lalu katanya dengan sikap serius .
"Coba lihat, aku hitam legam sekujur badan, kau sebaliknya seluruh tubuh perak kemilau, apakah kami berdua bukan pasangan yang amat setimpal ? Bagaimana kaiau kau menjadi isteriku."
Pernyataan gamblang ini membikin hadirin melongo.
Kalau ditengah suara tambur yang gencar hadirin sedang menunggu tuan rumah keluar, sekarang perhatian mereka tertuju kearah Utti Ou lalu menoleh kearab Gin koh pula, tiada seorangpun yang bersuara ternyata hadirin tiada yang merasa geli dan tertawa.
Karena mereka juga sadar bahwa pernyataan Utti Ou betul-betul serius, bukan main-main.
Bagaimana watak Gin-koh juga diketahui orang banyak, maka hadirin menduga Utti Ou bakal ditabrak dan dicaci maki, meski tinggi kepandaian Thi giam lo, bila membikin jengkel / dan malu Gin-koh, rasakan saja siksaannya.
Umpama hatinya juga naksir ke pada begal tunggal ini namun dihadapan umum betapa dia mau menerima begitu saja lamarannya?
Hadirin menunggu reaksi Gin-koh, hingga mereka tidak sabar bahwa suara tambur sudah berhenti.
Alis Gin-koh tampak bertaut bibirnya bergetar, sebelum dia buka suara mendadak sebuah suara lembut welas asih dari seorang nyonya tua kumandang dari dalam.
Gin-koh, masa remajamu kau sia siakan sampai sekarang masih belum menikah.
Syukurlah sekarang ada orang yang melamar dirimu, sungguh menyenangkan dan patut diberi selamat "
Suaranya tidak keras atau bemada tinggi, namun seluruh hadirin mendengar seluruhnya Pertama nenek tua ini menyebut nama Gin-koh kedengarannya masih jauh.
namun dalam sekejap sudah dekat sekali, namun sang nenek belum juga muncul hadirin hanya melihat munculnya dua baris gadis gadis remaja yang jelita, pakaian mereka seragam putih panjang menyentuh lantai, rambut digelung di kedua sisi kepala, langkahnya lembut gemulai.
Hadirin memperhatikan suara si nenek hingga tidak memperhatikan munculnya dua baris gadis-gadis jelita itu.
Hanya Cia Ing-kiat yang menaruh perhatian, dilihatnya kedua barisan gadis gadis ayu itu kembali dipimpin oleh Toa-kui dan Siau-kui, tapi dandanan mereka sudah berbeda dengan tadi.
Dua baris gadis-gadis jelita itu berjumlah dua puluh empat orang, mereka sudah berbaris dipinggir pintu, mendadak segelung angin keras mendesak tiba hingga hadirin serempak berdiri.
Hanya orang aneh dan Lui-Ang-iug yang tetap duduk.
Cia Ing-kiat juga hanya mengangkat pantat saja, lalu duduk pula.
Saat itulah bayangan seorang berkelebat, seorang nenek perawakan tinggi lebih tinggi dari setiap laki laki yang hadir didalam balairung, rambut ubanan wajahnya bersih walas asih alispun memutih, tangannya memegang sebatang tongkat / panjang enam kaki sebesar lengan bocah tengah beranjak keluar.
Kecuali perawakan yang tinggi, nenek ini tak ubahnya seperti nenek lainnya, hanya tongkat ditangannya itu bentuknya memang aneh, kelihatannya berwarna merah tua entah terbuat dari logam apa, kepala tongkat dihiasi kepala setan yang diukir sedemikian rupa hingga kelihatan seram.
Begitu nenek itu muncul, hadirin tertegun diam, dengan senyum ramah, nenek itu menyapu pandang keseluruh hadirin.
Seluruh hadirin berdiri kecuali tiga orang yang tetap duduk tapi sedikitpun dia tidak ketarik kepada ketiga orang ini, seolah-olah tidak melihat.
Lalu dengan seri tawa manis, dia berkata pula kepada Gin-koh ."Gin-koh.
apa yang kau ucapkan tadi memang sesungguhnya."
Gin-koh, berdiri menjubluk, sikapnya sukar diraba.
Sebaliknya Utti Ou yang berdiri tak jauh di ebelah sana seketika tertawa lebar, kelihatannya amat senang.
Nenek itu angkat kepala memandang Utti Ou, katanya tersenyum .
"Agaknya kau berminat mempersunting Gin-koh, dihadapan sekian banyak kawan Bulim, kuharap kau tidak bermain-main, kenapa masih berdiri saja tanpa bicara?"
Dengan tertawa lebar seperti kera kegirangan mendapat buah Utti Ou garuk garuk kepala, lalu gosok telapak tangan, kaki tangan seperti gatal, tak tahu apa yang harus dilakukan.
Begitu muncul nenek ini lantas sibuk merangkap perjodohan Utti Ou dengan Gin-koh padahal kedua orang ini cukup punya nama dikalangan Kangauw bila kenyataan mereka terangkap mejadi suami isteri memang merupakan berita besar yang menyegarkan perasaan dalam Bulim, maka suara bisik-bisik hadirin terdengar di sana sini.
Memangnya wajah Utti Ou sudah hitam seperti arang, kini wajah hitam itu bersemu merah kelihatannya menjadi amat ganjil.
Sementara Gin-koh menunduk kepala tanpa bicara.
Iblis perempuan yang / sering membuat kaum persilatan pusing kepala ini.
Ternyata bersikap malu-malu kucing seperti gadis remaja, memang jarang terjadi dalam kalangan Kangouw perjodohan dari dua insan yang sudah lanjut usia masih malu-malu segala.
Utti Ou masih garuk-garus kapala, tak tahu bagaimana dia harus bertindak maka diantara kerumunan hadirin seorang berteriak."
Maling hitam, kalau kau dapat mempersunting Gin-koh sebagai isteri, sungguh setimpal dan menyenangkan, hayo lekas serahkan tanda mata"
Hadirin tertawa gemuruh mendengar istilah "setimpal ' yang diucapkan orang itu.
Perlu diketahui Thi-giam lo Utti Ou berilmu silat-tinggi, berangasan dan tidak tahu aturan, suka bertindak sembarangan, kaum persilatan tidak sedikit yang dibuat pusing olehnya, jikalau dia menjadi Gin-koh isteri maka sang bini akan selalu mengaturnya sehingga dia tidak bertindak sewenang-wenang lagi.
hal inilah yang dinyatakan setimpal dan menyenangkan.
Ditengah gelak tawa hadirin, tampak Utti-Ou membalik mata lalu melotot, serunya lantang.
"Serahkan ya serahkan, memangnya aku takut apa ?"
Mendengar ucapan yang banyol ini, Gin-koh yang tunduk kepalapun tak tertahan ikut cekikikan geli, diliatnya Utti Ou sudah meraba-raba pinggang, ditengah suara berisik Utti Ou mencopot sebatang ruyung besi tujuh puluh dua ruas, setiap ruas panjang setengah kaki.
Semula banyak hadirin mengira Utti Ou hanya berpura-pura dan mau menggoda Gin-koh atau mencari alasan untuk melabraknya karena suatu persoalan pribadi, kini setelah dia mencopot ruyung besi, maju dua langkah dengan kedua tangan dia haturkan kepada Gin-koh, baru hadirin betul-betul melongo, tiada yang curiga bahwa manusia hitam ini hanya berkelakar saja.
/ Maklum ruyung besi milik Utti Ou merupakan salah satu pusaka dunia persilatan.kalau tidak dibelit dipinggangnya, mungkin sudah dirampas atau dicuri orang, maklum ruyung besi dibuat dari Hiantiat yang diperolehnya di Tian-lam, Utti Ou pandang ruyung besinya ini lebih berharga dari jiwa raga sendiri.
Kalau Hiantiat dibikin senjata tajam, tajamnya luar biasa, dibeli ribuan emas juga tidak boleh, kaum persilatan memandangnya sebagai barang pusaka, kebanyakan orang setelah mendapat besi besi murni pasti membikin golok atau pedang, tapi Utti Ou ternyata untuk bikin ruyung yang runcing tanpa tajam sisinya boleh dikata manfaat Hian-tiat yang besar telah disia-siakan.
Tapi dengan ruyung lemasnya ini Utti Ou sudah malang melintang diutara dan selatan betapa banyak jago-jago kosen yang di kalahkan dan terbunuh olehnya, sering dia membanggakan senjata ampuhnya ini.
Ternyata Gin-koh juga berdiri melongo, Utti Ou berdiri didepannya.
mata mereka saling nandang sejenak, namun sepatah kata-pun tak terucapkan.
Disarhping kikuk merekapun malu pula.
Akhirnya Gin-koh angkat tangan pelan-pelan mengelus ruyung besi itu, katanya .
"Inilah senjatamu yang ampuh hingga kau terkenal, mana boleh aku menerimanya ?"
Turun naik biji leher Utti Ou, akhirnya dia ngomong secara nakal .
"Seluruh tubuhku bakal menjadi milikmu, memangnya aku harus kikir mempertahankan senjataku ?"
Karuan haairin terpingkel-pingkel, wajah Gin-koh juga jengah seperti kepiting direbus tanpa bicara mendadak dia putar tubuh terus berlari masuk secepat angin.
Utti Ou menggembor keras, segera dia mengudak.
Tapi hanya dua langkah, mendadak dengan tertawa si nenek melintangkan tongkatnya menghadang Utti Ou.
Dasar kasar dan dungu.
Utti Ou tidak tahu kenapa mendadak Gin-koh berlari pergi karena gugup segera dia / memburu, betapa kencang daya gerakannya, seumpama sebuah menara yang mendadak ambruk.
Tapi si nenek hanya seenaknya angkat tongkatnya melintang, tak kelihatan dia menggunakan tenaga, tampak tubuh Utti Ou seperti menumbuk dinding dan tertolak mundur, beberapa langkah.
Dasar dungu Utti Ou makin gusar dan gugup, karena dicegat hingga tertolak mundur, dia makin murka, sambil menghardik sekeras guntur, tangannya menggentak ruyung lemas di angannya diayun untuk mengepruk batok kepala si nenek.
D tengah seruan kaget para hadirin, si nenek kelihatan tetap tersenyum manis, tongkat ditangannya terangkat ke atas.
"Plak"
Ruyung besi itu telah ditekannya, Utti Ou menarik ruyung sekuatnya hendak menyapu tak nyana mendadak mendengar suara gemerincing,ruyung besi murninya itu mendadak mencelat lepas dari cekalannya.
Perubahan terjadi mendadak dan singkat padahal hadirin menyaksikan dengan mendelong, tapi tiada satu pun yang melihat jelas bagaimana nenek tua melucuti senjata Utti Ou.
Utti Ou sendiri juga bingung dan heran, hanya terasa segulung tenaga lembut yang kuat mendadak menerjang tiba tahu-tahu tangannya tergetar kesemutan maka ruyung besi itupun mencelat terbang dari cekalannya.
Anehnya setelah terlepas dari cekalan Utti Ou, ruyung panjang itu tidak meluncur keatas, namun diudara membelok selincah ular sakti terus melurcur kedalam pintu ke mana tadi Gin-koh berlari masuk, hanya sekali berkelebat lantas lenyap tak karuan parannya.
Karena kehilangan senjata maka Utti Ou berdiri menjublek ditempatnya tanpa bersuara.
Terdengar nenek itu berkata dengan ter senyum .
"Jargan kuatir, dihadapan sekian banyak orang, sudah tentu Gin-koh malu menerima tanda mata. sekarang aku sudah wakili dia / menerima tanda matamu, maka perjodohan kalian boleh serahkan kepadaku."
Utti Ou masih melenggong.
setelah mendengar penjelasan si nenek segera dia tertawa lebar pula.
Sekali mengulap tangan, empat laki-laki pakaian ketat melangkah maju lalu mengapit Utti Ou berjalan kedalam.
Maka suasana balairung menjadi ramai lagi oleh pembicaraan hadirin.
Orang aneh itu berkata periahan.
"Kungfunya makin lama makin tinggi, kelihatannya sudah mencapai taraf membolak balik saluran hawa murni, tingkat yang paling sukar diyakinkan.?"
Lui Ang-ing mengangguk, katanya. Kukira demikian."
Tak tahan Cia Ing kiat bertanya ."Siapakah sebenarnya nenek tua ini?"
Lui Ang-in memandangnya, katanya."
Dia hendak memaksa kau menjadi menantunya, masa kau tidak tahu siapa dia?"
"Itulah yang dinamakan celaka dua belas."
Ujar Cia Ing-kiat tersenyum pahit. Lui Ang-ing menatap Cia Ing-kiat, katanya.
"Konon putri Kui bo Hun Hwi-nio cantik molek bak putri raja. tiada bandingan diseluruh negeri, bukankah rejekimu besar dapat mempersunting gadis jelita."
Lui Ang-ing bicara setengah berbisik, tapi waktu Cia Ing kiat mendengar dia menyebut "Kui bo Hun Hwi-nio"
Seperti mendengar guntur disiang hari kagetnya, seketika kepala pusing mata berkurang kaki tangan menjadi lemas, kalau waktu itu dia berdiri mungkin sudah roboh terkulai.
Tiga puluhan tahun yang lalu Kui bo Hun Hwi-nio sudah merajai Bulim, waktu pertama kali berkecimpung di dunia persilatan usianya baru delapan belas, namun betapa banyak kaum persilatan baku hantam lantaran memperebutkan cintanya, sampaipun tokoh-tokoh ternama yang biasa / mengagulkan diri sebagai jago yang di senani dari aliran lurus juga tidak sedikit yang tergila-gila padanya, tidak sedikit diantara mereka rela menyerahkan segala miliknya termasuk ilmu silat perguruan yang pernah di yakinkan, maka tak heran bila Kungfunya semakin lihay, sekaligus dia menguasai belasan Kungfu, hal ini belum pernah terjadi dalam kalangan Bulim, bahwa seorang mampu meyakinkan belasan macam ilmu secara menyeluruh, meski kejadian sudah puluhan tahun berselang, tapi Cia Ing-kiat juga tahu ketenarannya.
Waktu dirinya diculik Thi jan Lojin dan Gin-koh, pernah dia menduga, siapa gerangan tokoh kosen yang mampu menundukan kedua orang ini untuk dijadikan pesuruh.
Bagaimanapun dia paras keringat, tetap tak teringat pida Kui-bo Hun Hwi-nio.
Ing kiat tahu nenek ini adalah orang aneh pertama dalam Bulim.
Kui-bo Hun Hwi nio, namun hatinya masih juga heran dan tak habis mengerti, tokoh setinggi Kui nio, kenapa mau menyerahkan putrinya kepadanya.
Selama setengah tahun ini pengalaman Cia Ing-kiat cukup luas, pandangan pun terbuka, dia tahu Kim-Liong ceng yang didirikan ayahnya hakikatnya tidak berarti apapun dalam percaturan Kangouw, sebagai Siau-cengcu dari Kim-liong-ceng juga tiada harganya berkecimpung di Kangouw, apalagi dibanding putri Kui-bo Hun Hwi nio.
majikan Hiat lui-kiong yang disegani.
Lama dia terlongong, bila dia tersentak sadar, dengan suara kering dia bertanya;
"Dia .... kenapa ingin mengawinkan putrinya dengan aku?"
Perkataan Cia Ing-kiat diucapkan dengan suara perlahan, jelas bahwa pertanyaan itu dia tujukan kepada Lui Ang ing.
tapi dia tidak memperoleh jawaban, waktu dia angkat kepala baru disadari bahwa keadaan balairung ini teramat sepi, tampak Kui bo Hun Hwi-nio memiringkan tubuh memandang kebelakang kerai mutiara dipintu samping, dibelakang kerai terdengan langkah lembut yang mendatangi dengan cepat.
/ Kejap lain kerai tersingkap, rraka pandangan hadirin mendadak terang terbeliak, seorang nona cantik bak bidadari sudah melangkak masuk.
Nona cantik ini berusia sekitar dua puluh lima, wajahnya bukan saja rupawan juga bercahaya, begitu cantiknya hingga orang tak berani menatapnya lekat, siapapun yang melihatnya meski hanya sekilas, napas seketika sesak, demikian pula Cia Ing kiat menjublek ditempatnya.
Dibelakang gadis cantik ini muncul pula seorang perempuan, tapi perawakannya tinggi besar, kaki tangan kasar, sekali pandang Cia lng-kiat kenal, perempuan ini bukan lain adalah salah saru dari Sam-tiau-cu yang berkuasa disungai bessr, yaitu Li-pi-lik.
Berdebar jantung Cia Ing kiat, begitu melihat Li-pi-lik, rasa sesal seketika membayangi sanubarinya, rasa simpati pun timbul dalam relung hatinya.
Diatas tanggul tempo hari perempuan kasar dia tinggal begitu saja, sekarang dia tidak perlu takut perempuan gede ini mengenainya, namun hampir saja dia bersuara memanggilnya.
Kedua gadis ini beranjak masuk berdampingan, namun sorot mata seluruh hadirin tertuju kcwajah sicantik jelita, hingga balairung sebenar dan dihadirin sekian puluh orang, tapi sunyi senyap.
Ditengah keheningan itulah mendadak Lui Ang-ing mengeluarkan dengus hidung yang cukup keras Dengus hidung itu sebetulnya tidak keras, namun dalam keadaan hadirin menahan napas, kedengarannya menjadi amat menyolok, Li-pi-lik menoleh lebih dulu menatap kearah sini, begitu melihat wajah Lui Ang-ing, seketika berobah air mukanya, sikapnya kelihatan gugup dan takut, mendadak dia menjerit serta berteriak.
"Suhu, tolong, musuhku itu telah datang." / Hampir saja Cia Ing-kiat tertawa geli mendengar tingkah Li-pi-lik, setelah berpisah beberapa bulan watak perempuan gede ini ternyata tetap tidak berobah. Seluruh hadirin kaget oleh teriakan Li-pi-lik, Kui-bo Hun Hwi-nio juga menoleh arah Cia Ing-kiat bertiga, sorot matanya setajam kilat, begitu bentrok dengan pandangan orang Cia Ing-kiat seperti kena stroom, sekujur badan menjadi dingin, demikian pula rona muka Lui Ang-ing juga kelihatan lebih pucat Hanya sekiias Kui-boHun Hwi nio menoleh lalu melengos, bentaknya.
"Jangan omong kosong yang hadir dalam Hiat lui-kiong hari Ini semua adalah tamu-tamu agung dan terhormat, berani kau gembar gembor, biar kuhukum kau dibelakang Li-pi-lik menyurut kebelakang, wajahnya masih kelihatan takut, jelas sikapnya kurang senang mendengar bentakan Kui-bo Hun Hwi-nio, dia masih ingin membantah, untung gadis juwita disampingnya lekas menarik lengan bajunya, bibirnya yang sudah bergerak tak jadi di ucapkan. Hadirin tahu yang dituding Li-pi-lik sebagai musuhnya adalah Lui Ang-ing Waktu menyebrang tambang Lui Ang-ing pernah bikin Pak-to Suseng luka parah, gerak geriknya memang menimbulkan perhatian orang banyak, sekarang hadirin lebih prihatian lagi, karena tiada yang tahu asal usulnya, meski tinggi Kungfunya, tapi berani dia bermusuhan dengan Kui-bo Hun Hwi-nio, rneluruk kesarang musuh lagi. Cia Ing kiat benar-benar seiba risi dan canggung, pada hal sorot mata hadirin di tujukan kepada Lui Ang-ing. tapi dia merasa dirinya menjadi sasaran, dengan sendirinya dia jadi risi bahwa samarannya tidak cukup untuk menyembunyikan wajah aslinya Pada saat itulah, didengarnya si jelita mendekati Kui bo Hun Hwi-nio serta bertanya.
"Ma, bagaimana?" / Panggilan "Ma"
Berarti ibu kembali mengejutkan Cia Ing-kiat.
Timbul satu umpama dalam benak Cia Ing kiat setelah tahu bahwa Kui-bo Hun Hwi nio yaag akan menarik dirinya menjadi mantu, yaitu bahwa putri Hun Hwi-nio pasti searang gadis jelek rupa dan cacad badan, karena tidak laku kawin, maka dirinya yang menjadi bulan-bulanan untuk di jadikan culikan.
Padahal dari mulut Lui Ang-ing sebelumnya dia sucah mendengar pujiannya terhadap putri Hun Hwi-nio yang dikatakan cantik molek, rejekimu besar segala.
Waktu itu dia kira Lui Ang ing sengaja menyindir karena dia sudah tahu kejelekan calon istrinya.
Tapi sekarang sudah kenyataan bahwa gadis ayu jelita ini adalah putri tunggal Kui-bo Hun Hwi-nio.
Gadis molek secantik bidadari, tidak mungkin tidak laku kawin lalu kenapa dia menaksir dirinya?
Ruwet pikiran Cia Ing-kiat.
dengan mendelong dia awasi sicantik, dari wajahnya nan molek ingin dia menemukan jawaban.
Padahal tatapannya tanpa berkedip merupakan tingkah kurang ajar, apalagi yang dipandang gadis ayu anak Kui-bo.
untung sebagian besar tamu yang hadir adalah laki laki, merekapun terbelalak tak berkedip, maka orang lain takkan memperhatikan kelakuannya.
Terdengar Kui-bo Hun Hwi-nio tertawa lebar, katanya.
"Tidak takut kau ditertawakan orang, kenapa terburu nafsu? Aku pasti membereskan persoalanmu."
Ternyata gadis cantik itu tidak kelihatan malu, tawanya semakin lebar dan genit, maka Kui bo berkata kearah orang banyak."Inilah putri tunggal Hun Lian, sejak kecil tumbuh dewasa diatas gunung, tidak tahu adat kesopanan, harap hadirin maklum." / Setelah Kui bo memperkenalkan anaknya, suasana balairung kembali menjadi sepi lengang Tanpa canggung Hun Lian mengangguk kepada hadirin sambil tertawa ramah.
Kui-bo Hun Hwi-nio berkata pula.
"putriku sudah mengikat jodoh, kalian sudi memberi muka sudi berkunjung ke Hiat-lui-kiong, sudah tentu juga untuk hadir dan ikut minum arak bahagia pernikahan putriku ini. Tapi dengan siapa putriku akan menikah, yakin hadirin belum tahu."
Dihadapan sekian banyak orang Kui bo membeber soal jodohnya, tapi Hun Lian tidak kelihatan malu atau rikuh, hanya pipinya ber semu merah hingga kemolekannya lebih mempesona.
Suasana ribut dan bisik-bisik dalam balairung seketika sirap pula.
"Calon menantuku adalah putra tunggal Thi-jiau kim-long (naga emas cakar besi) Cia Thian, pemilik Kim-liong-ceng yang terkenal didaerah Tionggoan. yaitu Siau Kim-liong Cia Ing-kiat."
Padahal Cia Ing kiat berada dalam balairung juga, namun dia tahu hanya Lui Ang-ing dan orang aneh dua orang saja yang tahu dirinya, orang lain hanya tahu dia adalah seorang tua bermuka kuning yang bermata sipit, tindak tanduknya kelihatan malas dan.
lamban.
Maka suasana menjadi ramai dan para tamu yang memberi selamat dan pujian tidak sedikit yang mengaku sebagai sahabat baik Siau-kim liong, ada pula yang mengatakan dia telah angkat saudara segala.
Waktu Cia Ing kiat melirik ke sana orang yang mengaku kenalan baik atau saudara angkat dengan dirinya paling juga hanya pernah bertemu sekali, namun dia memang punya teman baik, umpamanya Jit-gwat-kim-lun murid ketujuh dari Cin Thian si yang hadir juga disitu, tapi teman baiknya ini malah diam saja namun sikapnya kelihatan heran dan bingung.
/ Sudah rentu Cia Ing-kiat segan untuk, berdebat atau mentertawakan orang-orang yang membual ini.
Soalnya hatinya sedang dirundung tanda tanya besar.
Kiranya sekian banyak orang sekaligus kumpul di Hiat-lui-kiong, apa benar untuk menghadiri pesta pernikahan putri Hun kwi-nio?
Bahwa Kui bo Hun Hwi nio mengundang sekian banyak jago-jago silat dari berbagai penjuru untuk menghadiri pesta pernikahan putrinya memang tidak perlu dibuat heran,, karena selama hampir tiga bulan, Cia Ing-kiat disekap diatas Thian-lau hong, kejadian selanjutnya, betapapun Kui bo tidak pernah menduga sebelumnya dari sini dapat diduga bahwa Kui bo sudah menyebar undangan jauh sebelum tiga bulan yang lalu.
Tapi setelah Toa kui dan Siau-kui pulang ke Hiat lui kiong dengan luka muntah darah terpukul orang aneh, semestinya sudah diketahui oleh Kui-bo.
Kalau peristiwa telah terjadi di Thian-lau-hong dirinya sudah terbelenggu dalam cengkramannya.
berarti pesta pernikahan ini tidak akan dihadiri mempelai pria, bagaimana upacara bisa berlangsung?
Sikap dan tindak tanduk Kui-bo seperti tidak atau belum tahu terjadinya perobahan, seolah-olah dengan mudah sembarang waktu dia bisa mempersilakan calon mantunya keluar, umpama Toa-kui san Siau-kui sejauh ini, masih mengelabui sang majikan, rasanya mereka tidak bernyali sebesar ini.
karena hal itu tak mungkin bisa dirahasiakan lagi.
Apakah Toa-kui dan Siau-kui sekongkol dengan Thi-jan Lojin an Gin-koh untuk menukar seorang lain yang dikatakan sebagai Cia-Ing-kiat?
Berbagai dugaan dan persoalan berkecamuk dalam benak Cia Ing-kiat.
Waktu dia melirik kearah Hun Lian, tampak wajahnya yang cantik halus semekar kembang dimusim semi laki laki mana yang tidak berdetak jantungnya setelah melihat keayuanya.
Mendadak timbul pikiran aneh dalam beriaknya, kalau orang lain sampai mempersunting gadis ayu ini sebagai bininya, selama hidup ini tak kan menyesal, maka dirinya pasti / akan menyesal selama hidup karena mengabaikan kesempatan sebaik ini.
Tanpa sadar dia sudah hampir beidiri.
Sejak jaman dulu daya tarik perempuan memang amat be ar Cia Ing kiat adalah laki-laki muda, berdarah panas adalah jamak kalau dia begitu bernafsu, waktu timbul keinginannya berdiri hakikatnya, tidak terpikir olehnya apakah Kui-bo benar-benar mau mengawinkan putrinya kepada dirinya, yang terpikir dalam benaknya hanya ingin mempersunting gadis jelita ini hidup rukun sampai tua, kesempatan baik ini jangan diabaikan.
Tak nyana baru pundak bergerak, bahwasanya belum sempat dia berdiri, kembali terasa pinggang linu kesemutan, seluruh tubuh lemas seperti terpaku diatas kursi tanpa bisa bergerak lagi.
Terasa sorot mata Lui Ang-ing yang tajam tengah meratapnya dingin hingga dia bergidik tanpa kedinginan.
Walau batinnya gundah nan tak karuan, namun Cia Ing-kiat tahu, pasti orang aneh yang menutuk pinggangnya dari jarak jauh.Tubuhnya merinding dan bergidik karena dia merasakan sorot mata dingin Lui Ang-ing mengandung isi hati yang ingin dan belum sempat dinyatakan secara gamblang kepadanya.
Sesaat lng-kiat duduk mematung sambil melongo, pikirannya ruwet lagi, tak tahu bagaimana baiknya.
Didengarnya Kui-bo berkata pula.,.Sebetulnya Cia siau cengcu sudah diundang kemari oleh Thi-jan Lojin dan G n koh, selama ini menetap divilla Hiat-lui kiong kita yang berada di Thian lau-hong, namun beberapa hari yang lalu, dia diculik orang......."
Waktu memberitakan kejadian yarg kurang menyenangkan ini, wajah Kui-bo masih berseri ramah, nada suaranyapun lembut, seolah-olah cerita yang dia kisahkan tiada sangkut paut dengan dirinya.
/ Berbeda adalah reaksi para hadirin waktu mendengar 'dia diculik beberapa hari yang lalu', rona muka mereka berobah, seperti tidak percaya akan berita yang mereka dengar ini.
Betapa hebat kemampuan Kui-bo.
ternyata ada orang berani dan mampu menculik calon mantunya, sungguh kejadian yang sukar dibayangkan.
Mendengar cerita ibunya Hun Lian yang berdiri disebelah tampak murung dan masgul Pandangan Cia Ing-kiat tetap tertuju kepadanya, tiba-tiba tergerak hatinya, mulut nya terbuka ingin berteriak, namun suaranya seperti tertelan kembali kedalam tenggorokan, sebenarnya dia ingin bilang;
"Aku ada di sini, tidak diculik orang."
Tapi baru saja mulut terbuka, sekilas dilihatnya pula pandangan dingin Lui Ang-ing sedingin ujung pisau, sehingga suaranya tertelan kembali, padahal bila dia berani nekad suaranya masih keluar dari tenggorokan.
Tengah dia kebingungan dan gugup mengawasi Lui Ang-ing.
suara lirih bisikan Lui Ang ing terkiang pula dalam telinganya .
"Siou cengcu, apakah sudah kau pikirkan benar-benar?"
Padahal bibir Lui Ang ing tidak kelihatan bergerak, jelas dia bicara lewat perutnya yang dikerahkan dengan Lwe-kang tinggi.
Tersirap hati Cia Ing-kiat, katanya melenggong ."Kenapa aku harus berpikir ?"
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 4
Baca Juga: Jaka Lola 1