Ceritasilat Novel Online

Pisau Terbang Li 4

Eps 4 Pisau Terbang Li - Gu Long

Baca online Pisau Terbang Li - Gu Long

Cersil Pisau Terbang Li - Gu Long.

"Siau-lim-si memang berbeda dari perguruan lain yang memandang rendah akan hidup manusia. Kalau tidak, bagaimana mungkin tipu muslihat kecilku ini dapat berhasil?"

Pek-hiau-sing berkata dengan dingin.

"Pendeta Siau-limsi mungkin tidak ingin menukar nyawa murid-muridnya dengan nyawamu. Tapi apa kau pikir kau bisa lolos dari sini?"

Kata Li Sun-Hoan.

"Siapa bilang aku hendak pergi?"

Pek-hiau-sing tergagap.

"Kau….kau mau tinggal?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Kebenaran belum terungkap. Bagaimana mungkin aku pergi?"

Kata Pek-hiau-sing.

"Apa kau bermaksud mengundang Ngo-tok-tongcu datang ke Siau-lim-si dan mengakui perbuatannya?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Tidak, karena dia sudah mati."

Tanya Pek-hiau-sing.

"Kau yang membunuhnya?"

Li Sun-Hoan menjawab kalem.

"Dia kan juga manusia. Oleh karena itu, ia pun tak bisa luput dari pisauku!"

Sim-oh Taysu menyela.

"Jika kau bisa menunjukkan mayatnya pada kami, paling tidak kami tahu kau tidak berbohong."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Sayangnya, walaupun kita bisa menemukan mayatnya, tidak ada seorangpun yang akan dapat mengenalinya."

Pek-hiau-sing pun tertawa dingin.

"Jadi kau tidak dapat mengajukan siapapun yang dapat membuktikan bahwa kau tidak bersalah?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Sekarang? Tidak bisa."

"Lalu apa yang hendak kau lakukan?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Saat ini aku ingin minum arak." *** A Fei terlihat tidak nyaman duduk di atas kursi. Ia tidak pernah dapat duduk dengan santai seperti Li Sun-Hoan dia atas kursi. Sepertinya ia belum pernah duduk di atas kursi seumur hidupnya. Lim Sian-ji tidur di sebelah perapian untuk menghangatkan badannya. Beberapa hari ini, ia tidak dapat beristirahat dengan tenang. Hanya setelah ia pasti bahwa A Fei telah sembuh betul, barulah ia dapat tidur nyenyak. A Fei memandangnya tanpa suara. Menatapnya seperti seorang tolol. Hanya terdengar suara nafasnya yang halus di kamar itu. Salju di luar telah mencair. Langit dan bumi penuh damai sejahtera. Tiba-tiba di mata A Fei terbayang kepedihan. Ia bangkit berdiri dan mulai mengenakan sepatunya. Ia menarik nafas panjang dan mengambil pedangnya. Diselipkannya pedangnya di pinggang. Tiba-tiba Lim Sian-ji berbalik dan berkata.

"Apa yang kau….kau perbuat?"

A Fei tidak berani menoleh untuk memandangnya. Ia mengatupkan giginya lalu berkata.

"Aku hendak pergi."

Lim Sian-ji terperangah.

"Pergi?"

Ia segera bangun berdiri.

"Kau bahkan tidak mau berpamitan? Kau hendak pergi diam-diam?"

Kata A Fei.

"Karena aku tidak akan kembali, buat apa berpamitan."

Tubuh Lim Sian-ji serasa meleleh dan ia pun jatuh terduduk ke atas kursi.

Air matanya bercucuran.

Hati A Fei terasa pedih.

Ia tidak pernah mempunyai perasaan seperti ini sebelumnya.

Ini tidak menyerupai apapun yang pernah dihadapinya dalam hidupnya.

Apakah ini cinta?

Kata A Fei.

"Kau telah menolongku. Aku akan membalas budimu, cepat atau lambat."

Lim Sian-ji tiba-tiba tersenyum getir.

"Baiklah. Balas budiku sekarang juga. Aku hanya menolongmu supaya kau dapat membalas budiku."

Ia tertawa, namun air matanya keluar lebih banyak lagi. Kata A Fei.

"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Namun aku harus menemukan Li Sun-Hoan."

Sahut Lim Sian-ji.

"Mengapa kau pikir aku tidak mau mencarinya juga? Mengapa kau tidak mengajak aku pergi bersama?"

Jawab A Fei.

"Aku tidak ingin menyeretmu ke dalam persoalan ini."

Sambil menangis Lim Sian-ji berkata.

"Tapi apakah kau pikir aku akan berbahagia jika engkau pergi?"

A Fei ingin mengatakan sesuatu, namun hanya bibirnya yang bergerak-gerak. Lim Sian-ji memeluk pinggangnya erat-erat, seperti berpegangan pada hidupnya. Ia berteriak keras.

"Bawalah aku. Bawalah aku bersamamu. Jika kau tidak membawa aku, aku akan mati di hadapanmu."

Malam sunyi senyap.

A Fei berjalan keluar pintu.

Selama ini ia tinggal di bilik Lim Sian-ji.

Sungguh lucu.

Mereka mencari A Fei ke segala penjuru beberapa hari terakhir ini.

Tapi tidak seorangpun berpikir untuk mencarinya di bilik Lim Sian-ji.

Mengapa mereka begitu percaya pada Lim Sian-ji?

Lim Sian-ji menggenggam tangan A Fei.

"Aku harus memberi tahu kakakku bahwa aku akan pergi."

Sahut A Fei.

"Baiklah."

Lim Sian-ji tersenyum.

"Namun aku tidak ingin meninggalkan engkau sendirian di sini. Mari kita pergi bersama."

Kata A Fei.

"Tapi kakakmu…."

Kata Lim Sian-ji.

"Jangan kuatir. Kakakku adalah sahabat Li Sun-Hoan."

Di rumah itu hanya ada satu lilin yang menyala di kamar atas. Lim Si-im duduk termenung, menatap kosong ke kejauhan. Lim Sian-ji menarik tangan A Fei, menaiki tangga tanpa suara. Lalu ia berbisik.

"Kakak, apakah engkau masih terjaga?"

Lim Si-im tetap duduk diam, menolehpun tidak. Kata Lim Sian-ji lagi.

"Kakak, aku datang untuk berpamitan. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu padaku. Aku pasti akan datang mengunjungimu lagi nanti."

Lim Si-im seakan-akan tidak mendengar apa-apa. Setelah cukup lama, ia perlahan-lahan mengangguk.

"Pergilah. Memang lebih baik kau pergi. Tidak ada apa-apa lagi bagimu di sini."

Lim Sian-ji bertanya.

"Di mana Toaso?"

Sahut Lim Si-im.

"Toaso? Toaso siapa?"

Kata Lim Sian-ji.

"Tentunya Toasoku."

Kata Lim Si-im.

"Aku tidak tahu apa-apa lagi tentang Toasomu. Aku tidak tahu….tidak tahu."

Lim Sian-ji tidak tahu harus bicara apa. Setelah pulih dari rasa terkejutnya, ia berkata.

"Kami akan pergi melalui jalan pintas ke kuil Siau-lim-si."

Lim Si-im melompat dari kursinya dan berseru.

"Pergi sekarang juga. Cepatlah….jangan katakan apa-apa lagi. Pergi!"

Ia mendorong Lim Sian-ji dan A Fei ke arah tangga.

Lalu berjalan lunglai kembali ke cahaya lilin itu.

Air mata membasahi pipinya.

Dari dalam muncul seseorang.

Liong Siau-hun.

Ia menatap Lim Si-im.

Seulas senyum jahat terbentuk di bibirnya.

Katanya dingin.

"Percuma saja mereka pergi ke Siau-lim-si. Tidak ada seorang pun di dunia yang dapat menyelamatkan Li Sun-Hoan." *** Walaupun A Fei makan banyak, ia tidak makan cepatcepat. Ia juga tidak makan seperti Li Sun-Hoan, yang suka menikmati kelezatan makanannya. A Fei hanya peduli terhadap gizi dan jumlah makanannya. Setiap kali selesai makan, ia tidak tahu kapan ia bisa makan lagi. Jadi ia tidak pernah menyia-nyiakan makanan sedikitpun. Lim Sian-ji menatapnya penuh perhatian. Ia tidak pernah bertemu dengan orang yang begitu menghargai makanannya. Hanya orang yang pernah merasa kelaparan yang tahu betapa berharganya makanan. Lim Sian-ji tersenyum.

"Sudah kenyang?"

Kata A Fei.

"Kenyang sekali."

Lim Sian-ji tertawa lalu berkata.

"Sangat menarik melihat engkau makan. Sekali kau makan, lebih banyak daripada seluruh makananku dalam tiga hari."

A Fei tertawa.

"Tapi aku juga bisa hidup tiga hari tanpa makan. Kau bisa?"

Lim Sian-ji hanya memandang senyumannya, tak tahu harus menjawab apa. Setelah beberapa saat, ia tiba-tiba berkata.

"Kau lupa sesuatu."

"Apa?"

"Kim-si-kah mu ada padaku."

Ia membuka tasnya dan mengeluarkan rompi itu. Kata Lim Sian-ji.

"Untuk merawat luka-lukamu, aku harus mencopotnya. Aku lupa terus mengembalikannya padamu."

A Fei tidak melirik sedikitpun pada rompi itu.

"Simpan saja."

Wajah Lim Sian-ji tampak sangat senang, tapi kemudian digelengkannya kepalanya.

"Ini adalah milikmu. Kapankapan kau akan memerlukannya. Mengapa semudah itu kau berikan pada orang lain?"

A Fei memandangnya. Suaranya berubah hangat.

"Tapi aku tidak memberikannya pada orang lain. Aku takkan pernah memberikannya kepada orang lain. Aku memberikannya kepadamu."

Lim Sian-ji menatapnya bengong.

Matanya penuh rasa terima kasih dan suka cita.

Lalu ia menjatuhkan diri dalam pelukan A Fei.

Hati A Fei berdegup kencang tak terkendali.

Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.

Lim Sian-ji diam-diam tersenyum.

Karena ia tahu, sekarang ia telah memiliki hati pemuda yang kuat dan gagah ini, yang akan selamanya mengikuti semua keinginannya.

A Fei mengangkat tubuhnya dan menggendongnya ke arah tempat tidur.

Lalu dengan lembut dibentangkannya selimut tipis menutupi tubuhnya.

Dalam hati A Fei, wanita ini adalah wanita yang sempurna.

Lim Sian-ji berbaring tenang di atas tempat tidur, masih tersenyum diam-diam.

Tiba-tiba jendela terbuka dan angin dingin pun masuk ke dalam.

Lim Sian-ji terkesiap.

"Siapa?"

Ketika ia bertanya, ia melihat wajah orang itu.

Wajah itu hijau berkilauan, tampak seperti hantu dalam kegelapan.

Lim Sian-ji segera berbaring lagi.

Ia tidak terkejut atau pingsan, hanya memandangnya tanpa suara, juga tanpa rasa takut.

Orang ini pun menatapnya.

Matanya berkobar-kobar.

Lim Sian-ji tertawa.

"Kalau sudah datang, mengapa tidak masuk saja?"

Tubuh orang ini sangat jangkung. Muka dan lehernya juga panjang. Namun sekeliling lehernya diperban, membuat dia terlihat kaku. Kata Lim Sian-ji.

"Apakah kau dilukai Li Sun-Hoan?"

Wajah orang ini berubah.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Lim Sian-ji mengeluh.

"Tadinya kupikir kau akan dapat membunuh dia. Siapa sangka malah dia yang berhasil melukaimu."

Wajah orang itu bertambah hijau.

"Bagaimana kau bisa tahu aku berusaha membunuhnya?"

Sahut Lim Sian-ji.

"Karena ia telah membunuh Ku Tok. Dan Ku Tok adalah anak harammu."

In Gok menatapnya dalam-dalam.

"Aku juga mengenalimu."

Lim Sian-ji menjawab dengan tenang.

"O ya? Aku sungguh merasa bangga."

Kata In Gok.

"Waktu Ku Tok mati, Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau)nya pun menghilang."

Sahut Lim Sian-ji.

"Betul, memang hilang."

Tanya In Gok.

"Ia memberikannya padamu?"

Sahut Lim Sian-ji.

"Kelihatannya begitu."

In Gok sungguh amat marah.

"Jika ia tidak memberikan Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau)nya padamu, ia tidak mungkin mati di tangan Li Sun-Hoan!"

Kata Lim Sian-ji.

"Kau tidak memberikan Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau)mu padaku, namun tetap saja Li Sun-Hoan dapat melukaimu."

In Gok mengertakkan giginya, dan tiba-tiba menjambak rambutnya kasar. Lim Sian-ji sama sekali tidak merasa takut. Ia bahkan tersenyum lebih menawan. Ia berkata setengah berbisik.

"Ia bangga bisa mati untukku. Ia pikir itu sangat layak."

Cahaya lilin menyapu wajahnya yang putih mulus. In Gok tersenyum kaku.

"Aku ingin tahu apakah kau memang layak."

Tiba-tiba direnggutnya selimut yang menutupi tubuhnya. Lim Sian-ji terus tersenyum.

"Mengapa tidak kau buktikan sendiri apakah aku layak atau tidak?"

Biji leher In Gok tampak naik turun, kerongkongannya serasa kering.

"Bagaimana, berharga tidak?"

Tanya Sian-ji dengan tertawa genit.

In Gok memuntir rambutnya terlebih kencang, seakanakan hendak mencabut seluruh rambut dari kulit kepalanya.

Karena kesakitan, Sian-ji mencucurkan air mata, tapi di antara air mata yang berlinang itu juga menampilkan semacam rasa kehausan yang merangsang, ia pandang In Gok dengan mata terpicing, keluhnya dengan napas terengah.

"Mengapa engkau cuma berani menjambak rambutku? Memangnya tubuhku berduri?"

Lelaki mana yang tahan oleh kerlingan mata sayu dan ucapan begitu?

Mendadak tangan In Gok membalik dan tepat menampar muka Sian-ji, habis itu lantas mencengkeram erat-erat bahunya serta setengah diangkat.

Tubuh Sian-ji lantas gemetar mendadak, entah gemetar tersiksa atau gemetar karena bergairah, mukanya berubah merah lagi.

Lalu In Gok meninju perutnya dan berseru.

"Jadi kau suka dipukuli!"

Kembali tubuh Sian-ji melingkar karena pukulan In Gok, keluhnya.

"Oo, pukul, pukul lagi, pukul mati saja diriku ...."

Suaranya ternyata tidak menderita sedikit pun, bahkan penuh rasa harap. Lim Sian-ji tidak menampakkan sedikitpun rupa kesakitan. Tanya In Gok.

"Kau tidak takut padaku?"

Sahut Lim Sian-ji.

"Mengapa aku harus takut padamu? Walaupun wajahmu jelek luar biasa, kau tetap seorang laki-laki."

Bab 21.

Sahabat yang Dapat Dibanggakan Serentak In Gok mengangkat tubuh Sian-ji dan dibanting ke lantai, lalu menjambak lagi rambutnya.

Namun Sian-ji berbalik merangkulnya erat-erat, ucapnya dengan napas memburu.

"Aku tidak takut padamu, aku justru suka padamu, aku justru suka padamu! Sudah terlalu banyak lelaki cakap yang kulihat, sekarang aku justru suka kepada lelaki bermuka buruk. Ap ... apa lagi yang kau tunggu sekarang?"

In Gok tidak menunggu lagi.

Dalam keadaan demikian, lelaki mana pun tidak mau menunggu lagi ....

Di dalam kamar hanya tersisa suara napas yang tersengal.

******** In Gok berdiri di samping tempat tidur, mengenakan kembali pakaiannya.

Setelah beberapa saat, Lim Sian-ji tersenyum padanya.

"Kini kau tahu bahwa aku memang layak, bukan?"

Kata In Gok.

"Seharusnya aku membunuhmu. Kalau tidak, aku tidak tahu berapa banyak orang yang akan mati di tanganmu."

Kata Lim Sian-ji.

"Pada awalnya kau memang berniat membunuhku, bukan?"

"Hmmmh."

Ia masih tersenyum manis.

"Namun kini kau tidak tega membunuhku, bukan?"

In Gok hanya memandangnya, lalu bertanya.

"Siapa anak yang datang bersamamu itu?"

Lim Sian-ji tertawa.

"Kenapa? Kau cemburu? Atau takut?"

Matanya berputar. Lanjutnya.

"Ia adalah anak yang baik, tidak nakal seperti engkau. Ia sudah tidur di kamarnya sendiri. Jika ia mendengar suara dari kamar ini, kau tidak mungkin punya kesempatan untuk menggangguku."

In Gok tertawa dingin.

"Ia beruntung tidak mendengar apa-apa."

Kata Lim Sian-ji.

"Benarkah? Benarkah kau akan membunuhnya?"

"Ya."

Lim Sian-ji tersenyum.

"Tapi kau takkan bisa membunuhnya. Ilmu silatnya amat hebat, dan dia adalah sahabat Li Sun-Hoan. Aku pun sangat suka padanya."

Wajah In Gok langsung berubah. Kata Lim Sian-ji lagi.

"Kamarnya ada di ujung lorong ini. Apakah kau punya nyali untuk menemuinya?"

Sebelum kalimatnya selesai, In Gok telah pergi.

Ia tertawa senang, lalu ditariknya kembali selimutnya menutupi tubuhnya.

Ia merasa seperti seorang gadis kecil yang makan permen diam-diam, dan tidak ketahuan oleh ayah ibunya.

Ketika ia membayangkan Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau) In Gok mengoyakkan kepala A Fei dari badannya, matanya berbinar-binar.

Lalu ia membayangkan pedang A Fei menembus tenggorokan In Gok, dan ia pun jadi bersemangat.

Sambil memikirkan hal itu, ia pun jatuh tertidur.

Dalam tidur pun ia tersenyum, karena siapapun yang mati, ia tetap bergembira.

Ia sangat puas atas apa terjadi malam ini.

Tempat tidurnya sangat empuk.

Seprainya pun bersih.

Namun A Fei tidak bisa tidur.

Sebelumnya ia tidak pernah kesulitan tidur.

Baru saja diselipkannya pedang di pinggangnya, daun jendela terbuka.

Ia melihat sepasang mata yang lebih menyeramkan daripada hantu.

Kata In Gok.

"Apakah kau datang bersama Lim Sian-ji?"

Sahut A Fei.

"Ya."

"Bagus. Keluarlah."

A Fei tidak menjawab. Ia tidak suka berbicara, tidak suka memulai suatu percakapan. Kata In Gok.

"Aku akan membunuhmu."

Tapi A Fei malah menjawab.

"Aku tidak ingin membunuh siapapun hari ini. Pergilah."

Kata In Gok lagi.

"Aku juga tidak ingin membunuh siapapun hari ini. Cuma kau saja."

"O ya?"

"Seharusnya kau tidak datang bersama dengan Lim Sianji hari ini."

Mata A Fei berkilat tajam seperti pisau.

"Jika kau menyebut namanya lagi, aku akan membunuhmu."

In Gok terkekeh.

"Kenapa?"

"Karena kau tidak pantas."

In Gok tidak bisa menahan tawanya.

"Bukan saja aku akan menyebut namanya, aku akan tidur dengan dia. Apa yang akan kau perbuat?"

Wajah A Fei terasa seperti terbakar.

Ia biasanya adalah seorang yang sabar dan tidak mudah terpancing.

Ia belum pernah merasa marah seperti saat ini.

Tangannya sampai bergetar.

Dalam kemarahannya, pedangnya terhunus.

Namun Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau) pun berkelebat!

Terdengar bunyi nyaring.

Pedang itu patah.

In Gok tertawa.

"Kau berani menghadapiku dengan kungfu kacangan seperti ini? Kata Lim Sian-ji ilmu silatmu cukup tinggi."

Sambil mengatakannya, In Gok telah maju sepuluh jurus.

A Fei hampir tak dapat menahan serangannya.

Ia hanya punya sebilah pedang patah, dan harus bergantung penuh pada kecepatannya menghindari serangan In Gok.

Tawa In Gok makin keras.

"Jika kau bisa menjawab dua pertanyaan dengan jujur, akan kuampuni nyawamu."

A Fei mengertakkan giginya. Keringatnya mengucur deras. Tanya In Gok.

"Apakah Lim Sian-ji sering tidur dengan laki-laki? Apakah kau pernah tidur dengannya?"

A Fei hanya dapat berguling di tanah untuk menghindari serangan In Gok. Ia merasa sangat lelah. In Gok mendesak.

"Ayolah. Beri tahu aku dan aku akan mengampunimu."

Sahut A Fei.

"Aku…aku akan jawab."

Lalu In Gok tertawa lagi dan serangannya mengendur.

Tiba-tiba pedang berkelebat.

In Gok tidak pernah melihat pedang yang bergerak secepat itu.

Waktu ia menyadarinya, pedang itu sudah tertancap di tenggorokannya.

Wajahnya penuh dengan rasa tidak percaya.

Sampai mati pun ia tidak tahu dari mana datangnya pedang itu.

Dalam mati pun ia tidak dapat mempercayai pemuda itu memiliki pedang yang luar biasa cepatnya.

Wajah A Fei sedingin es.

Ia berkata, sekata demi sekata.

"Siapa yang menghina dia, akan mati."

Tenggorokan In Gok masih mengeluarkan suara-suara aneh. Ia mengangkat alisnya, karena ia ingin tertawa. Ia ingin memberi tahu A Fei.

"Cepat atau lambat, kau pun akan mati di tangannya."

Sayangnya, tak sepatah kata pun bisa keluar.

Waktu Lim Sian-ji terjaga, ia melihat sesosok bayangan di luar jendela.

Bayangan itu mondar-mandir saja di luar.

Ia tahu orang itu pasti A Fei.

Ia pasti ingin masuk, namun tidak ingin membangunkannya.

Jika itu adalah In Gok, ia tidak mungkin masih ada di luar.

Ia terus berbaring dengan santai di atas tempat tidurnya sampai agak lama.

Lalu ia berkata.

"Apakah engkau yang di luar, Fei Kecil?"

Bayangan A Fei berhenti.

"Ya, ini aku."

Kata Lim Sian-ji.

"Mengapa kau tidak masuk?"

A Fei mendorong pintu itu perlahan, dan pintu segera terbuka. Ia bertanya.

"Kau tidak mengunci pintu?"

A Fei tergesa-gesa menghampirinya, dan menatap wajahnya lama. Wajahnya terlihat sedikit pucat, bersemu hijau. Wajah A Fei berubah.

"Ada….Ada sesuatu yang terjadi padamu?"

Sahut Lim Sian-ji.

"Wajahku pasti terlihat pucat, karena semalam aku tidak bisa tidur. Aku berbalik ke sana dan ke sini saja, tidak bisa tidur."

Hati A Fei mencair. Lim Sian-ji bertanya.

"Bagaimana dengan engkau? Tidurmu nyenyak?"

Jawab A Fei.

"Tidak. Ada anjing gila yang semalaman menggonggong di luar."

Lim Sian-ji mengerjapkan matanya.

"Anjing gila?"

Sahut A Fei.

"Ya. Tapi aku sudah membunuhnya, dan kulemparkan dia ke danau."

Tiba-tiba terdengar suara tambur di luar. A Fei membuka jendela dan terlihat seorang pegawai penginapan sedang memukul tambur.

"Para tamu yang terhormat, apakah Anda ingin mendengar berita yang paling hangat saat ini? Berita yang menggegerkan dunia persilatan? Aku jamin berita ini hangat dan menarik. Lagi pula, Anda bisa makan dan minum sambil mendengarkannya."

A Fei menutup jendela sambil menggelengkan kepala. Tanya Lim Sian-ji.

"Kau tidak ingin mendengarkan?"

"Tidak."

Kata Lim Sian-ji.

"Tapi aku mau. Lagi pula, kita kan harus makan."

A Fei tersenyum.

"Sepertinya orang-orang ini tahu bagaimana caranya berdagang."

Lim Sian-ji menyingkapkan selimutnya hendak bangkit. Namun segeranya ditariknya selimutnya kembali menutupi tubuhnya. Wajahnya bersemu merah.

"Apakah kau tak akan memberikan pakaianku?"

Wajah A Fei pun menjadi merah. Hatinya berdebar kencang, jantung berdebar karena melihat tubuh yang bugil itu. Sian-ji tertawa mengikik dan berseru pula.

"Berpaling ke sana, tidak boleh mengintip."

A Fei menghadap dinding, jantung serasa mau melompat keluar.

*** Rumah makan itu hampir penuh.

Kisah-kisah dunia persilatan memang sungguh menarik, sehingga semua orang ingin mendengarnya.

Sewaktu mendengar kisah ini, orang-orang merasa bahwa mereka seperti bagian dari cerita itu.

Di kursi dekat jendela, duduk seorang tua berpakaian kain katun biru, menghisap pipanya dengan mata terpejam.

Di sebelahnya duduk seorang gadis muda.

Rambutnya dikuncir dua, matanya besar dan tajam.

Waktu mata itu berputar, seakan-akan bisa merenggut jiwa laki-laki.

Saat A Fei dan Lim Sian-ji memasuki ruangan, mata mereka berbinar.

Mata gadis berkuncir dua itu terus menatap mereka.

Lim Sian-ji juga menatap gadis itu, lalu tersenyum.

Bisiknya.

"Kau lihatkah mata gadis itu? Aku harus berhati-hati supaya dia tidak membawamu lari."

Mereka memesan makanan. Orang tua itu berdehem lalu berkata.

"Hong-ji, sudah tibakah waktunya?"

Si gadis berkuncir menjawab.

"Ya, sudah waktunya."

Orang tua itu membuka matanya. Walaupun ia terlihat sangat tua, ia masih penuh semangat, terlebih lagi matanya. Orang tua itu meniup cawannya dan menghirup tehnya sedikit. Tiba-tiba ia berkata.

"Bwe-hoa-cat hanya melakukan kejahatan, Pelajar Tamhoa berbudi luhur dan berbakat besar."

Ia memandang para pemirsa.

"Tahukah kalian siapa yang kubicarakan?"

Kata si gadis berkuncir.

"Siapakah kedua orang itu? Aku tidak pernah mendengar tentang mereka."

Si Tua Sun terkekeh.

"Kau pasti tidak begitu terpelajar. Kedua orang ini sangat terkenal. Bwe-hoa-cat hanya muncul dua kali dalam tiga puluh tahun ini. Namun ribuan bandit digabung pun belum dapat menyaingi kejahatan yang telah diperbuatnya."

Si gadis berkuncir tersenyum.

"Bagaimana dengan Si Tamhoa itu?"

Si Tua Sun berkata.

"Ia adalah putra seorang pejabat besar. Keluarga itu sungguh luar biasa. Dalam tiga generasi, tujuh orang anggota keluarga itu lulus ujian kekaisaran. Hanya saja, tidak seorang pun berhasil meraih gelar Conggoan [Conggoan adalah gelar untuk ranking pertama dalam ujian kekaisaran. Tamhoa adalah gelar untuk ranking ketiga]. Kedua kakak beradik generasi terakhir ini lebih berbakat lagi daripada para pendahulunya. Maka ayah mereka sangat berharap bahwa salah satu dari mereka bisa memperoleh gelar Conggoan."

Si gadis berkuncir tersenyum dan berkata.

"Gelar Tamhoa saja sudah sangat bagus. Mengapa terlalu berharap mendapat gelar Conggoan?"

Si Tua Sun terus melanjutkan kisahnya.

"Siapa sangka, waktu Siauya yang pertama mengikuti ujian, dia pun hanya berjasil memperoleh gelar Tamhoa. Seluruh keluarga merasa kecewa. Harapan mereka tertumpu pada Siauya yang kecil. Namun sayangnya, nasib begitu kejam terhadap keluarga Li. Putra kedua inipun hanya mendapat gelar Tamhoa. Ayah mereka sangat sedih dan kecewa, akhirnya meninggal dua tahun kemudian. Putra pertamanya pun terkena penyakit parah dan akhirnya meninggal tak lama kemudian. Hati Li-tamhoa pun mati bersama mereka berdua. Ia mundur dari jabatannya dan mengasingkan diri."

Sampai di sini, ia menghirup tehnya sedikit lagi.

A Fei pun hanyut dalam kisah itu.

Ia merasa berbahagia waktu orang-orang memuji Li Sun-Hoan, lebih daripada waktu mereka memuji dirinya.

Lalu si orang tua melanjutkan lagi.

"Orang ini bukan saja pelajar yang sangat berbakat, ia juga seorang ahli silat. Sejak kecil ia telah berlatih ilmu silat yang tinggi."

Si gadis berkuncir pun bertanya.

"Jadi ceritamu hari ini adalah mengenai kedua orang ini?"

Jawab si orang tua.

"Betul."

Kata si gadis berkuncir lagi.

"Pasti cerita itu amat menarik. Tapi….tapi bagaimana mungkin seorang Tamhoa dapat berhubungan dengan kriminal seperti Bwe-hoa-cat itu?"

Sahut si orang tua.

"Pasti ada alasannya."

"Apa alasannya?"

Kata Si Tua Sun sekata demi sekata.

"Karena Li Sun-Hoan adalah Bwe-hoa-cat . Bwe-hoa-cat adalah Li Sun-Hoan."

A Fei menjadi sangat gusar, ingin sekali ia menyanggahnya. Namun ia keduluan oleh si gadis berkuncir.

"Li-Tamhoa ini pasti seorang yang sangat kaya. Mana mungkin ia mau menjadi bandit dan pemerkosa? Tidak masuk akal. Aku tidak percaya."

Si Tua Sun menjawab.

"Bukan hanya kau. Aku pun tidak percaya. Jadi kuselidiki persoalan ini."

Si gadis berkuncir bertanya.

"Pasti kau sudah menemukan sesuatu, bukan?"

Jawab Si Tua Sun.

"Tentu saja. Kisah ini sungguh berbelit-belit, menarik, dan juga amat aneh…"

Sampai di sini, tiba-tiba ia berhenti bicara dan memejamkan matanya seperti hendak tidur. Si gadis berkuncir berlaku seolah-olah ia tidak sabar dan mulai merecoki kakeknya.

"Mengapa kau berhenti?"

Si Tua Sun meniup pipanya. Si gadis berkuncir lalu berkata.

"Kau memang pandai menarik perhatian pemirsa. Berhenti pada bagian yang lagi tegang-tegangnya."

Wajah gadis itu pun berseri-seri.

"Oh….aku mengerti. Kau ingin minum arak."

Bukan hanya gadis itu yang mengerti, semua pendengar pun mengerti.

Mereka semua merogoh saku dan mengeluarkan uang.

Pelayan pun berkeliling mengumpulkan uang sumbangan.

Kini si orang tua mulai bicara lagi.

"Semuanya berawal dari Hin-hun-ceng."

Si gadis berkuncir segera memotong.

"Hin-hun-ceng? Itu kan tempat kediaman Liong-siya? Tempat itu sangat indah."

Si Tua Sun berkata.

"Sudah tentu. Namun tempat yang indah itu adalah pemberian Li Sun-Hoan baginya. Karena mereka adalah saudara angkat dan istrinya adalah sepupu Li Sun-Hoan."

Kakek-cucu ini seakan-akan sedang berbincang-bincang berdua, namun dengan cara itu mereka berhasil menceritakan keseluruhan cerita.

Ketika ia sampai di bagian Li Sun-Hoan tidak sengaja melukai Liong Siau-in, lalu tertangkap, semua pendengar menghela nafas prihatin.

Ketika ia sampai di bagian Lim Sian-ji terperangkap dan bagaimana cepatnya pedang si pemuda A Fei, matanya seolah-olah melayang pada Lim Sian-ji dan A Fei.

Mata si gadis berkuncir pun sebentarsebentar hinggap di meja mereka.

Walaupun ia tidak menunjukkannya, A Fei sungguh merasa bahwa kedua orang ini mengenali mereka berdua.

Mungkinkah kakek-cucu ini menceritakan cerita ini khusus bagi mereka?

Kemudian si gadis berkuncir berkata.

"Kalau begitu, Bwehoa-cat sudah mati di tangan A Fei, bukan?"

Kata Si Tua Sun.

"Tio-lotoa dan Dian-jitya tidak percaya bahwa yang dibunuhnya adalah Bwe-hoa-cat . Mereka berkeras bahwa Li Sun-Hoanlah Bwe-hoa-cat ."

Si gadis berkuncir lalu bertanya.

"Jadi siapa sebenarnya Bwe-hoa-cat ?"

Jawab Si Tua Sun.

"Tidak ada seorang pun yang pernah melihat wajah asli Bwe-hoa-cat . Tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang salah dan siapa yang benar. Namun Tio-lotoa dan Dian-jitya adalah orang-orang terhormat. Kata-kata mereka dianggap sebagai kebenaran. Jikalau mereka telah menyatakan bahwa Li Sun-Hoan adalah Bwe-hoa-cat , siapakah yang berani membantah? Oleh sebab itu, Sim-bi Taysu memutuskan untuk mengadili dia di Kuil Siau-lim-si."

Ia menyedot pipanya lalu melanjutkan.

"Namun ketika mereka tiba di Kuil Siau-lim-si, malah Li Sun-Hoanlah yang membawa Sim-bi Taysu ke sana."

Waktu ia mengatakan itu, bahkan Lim Sian-ji pun terkejut.

A Fei hampir jatuh pingsan.

Mereka berdua mulai menduga-duga apa yang terjadi dalam perjalanan.

Untungnya, si gadis berkuncir membantu mereka bertanya pada si orang tua.

Jawab Si Tua Sun.

"Ternyata dalam perjalanan mereka dijebak oleh Ngo-tok-tongcu. Dian-jitya Tan Okmpat pendeta Siau-lim-si pun terbunuh. Sim-bi Taysu akhirnya memutuskan untuk membebaskan Li Sun-Hoan setelah ia kena racun. Li Sun-Hoan mengetahui bahwa hanya di Siau-lim-silah ada obat penawar untuk racun yang melukai Sim-bi, sehingga dibawanyalah pendeta itu kembali ke Siau-lim-si."

Si gadis berkuncir mengacungkan jempolnya.

"Li Tamhoa ini memang seorang pahlawan. Jika orang lain yang berada di tempatnya, orang itu pasti sudah kabur."

Sahut Si Tua Sun.

"Kau memang benar. Sayangnya, para pendeta di Siau-lim-si tidak berterima kasih padanya, mereka bahkan ingin membunuhnya."

Mata si gadis berkuncir terbelalak kaget.

"Kenapa?"

Jawab Si Tua Sun.

"Karena kisah ini diceritakan oleh Li Tamhoa sendiri. Para pendeta Siau-lim-si tidak mempercayainya sedikitpun."

Si gadis berkuncir berkata terbata-bata.

"Tapi…tapi kan Sim-bi Taysu bisa membelanya?"

Si Tua Sun tertawa getir.

"Sayangnya Sim-bi Taysu meninggal sesaat setelah sampai di Siau-lim-si. Selain Sim-bi, tidak ada seorang pun di dunia yang dapat membuktikan kata-katanya!"

Terdengar desahan dari segala penjuru rumah makan itu. A Fei sudah hampir meledak, dia tidak tahan lagi dan bertanya.

"Apakah Li-tayhiap sudah mereka bunuh?"

Mata Si Tua Sun berbinar.

"Walaupun Siau-lim-si cukup terkenal dan memiliki banyak pesilat tangguh, tetap sulit bagi mereka untuk membunuh seorang Li Sun-Hoan."

Si gadis berkuncir pun melirik A Fei .

"Namun jika sampai terjadi pertempuran, bahkan orang yang terhebat sekalipun tidak akan mampu menandingi banyak musuh sekaligus. Pisau terbang Li Tamhoa memang tidak ada duanya di dunia persilatan, namun tetap saja ia tidak mungkin membunuh seluruh murid Siau-lim-si."

Si Tua Sun pun berkata.

"Walaupun Siau-lim-si mempunyai banyak murid dan tiap orang adalah ahli silat, siapa yang akan menyerang paling dulu? Siapakah yang berani menantang pisau Li Sun-Hoan yang pertama?"

Si gadis berkuncir pun menjadi gembira lagi dan bertepuk tangan.

"Kakek benar. Siau Li Sin To (Pisau Kilat si Li Ajaib) tidak pernah luput. Tidak seorang pun akan berani mendekatinya. Jadi pastilah saat ini dia sudah pergi jauh."

Kata Si Tua Sun.

"Tapi dia tidak pergi."

"Mengapa?"

Sahut Si Tua Sun.

"Walaupun tidak seorang pun di Siaulim-si berani menghadapinya, Li Sun-Hoan pun tidak punya jalan keluar. Lagi pula, dengan keadaan yang menggantung seperti ini, ia tidak mungkin pergi begitu saja."

Si gadis berkuncir menjadi bingung.

"Jika ia tidak bisa pergi, dan juga tidak bisa bertempur, apa yang bisa dilakukannya?"

Si Tua Sun menjawab.

"Ia dikelilingi oleh ratusan pendeta Siau-lim-si. Ia sadar bahwa sekali ia menyambitkan pisaunya, ia akan mati. Bagaimana pun, sebilah pisau tak akan mampu membunuh ratusan orang sekaligus."

Si gadis berkuncir pun berkata.

"Ini adalah kerugiannya. Seseorang tak mungkin bertahan untuk selamalamanya."

Ini sama dengan kekuatiran A Fei. Dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kata Si Tua Sun lagi.

"Mereka berbicara di depan ruangan tempat mereka menyemayamkan jenazah Simbi Taysu. Setelah itu, Li Sun-Hoan berhasil menyelinap ke dalam ruangan itu."

Si gadis berkuncir tercekat.

"Jadi dia terkurung di situ?"

Sahut Si Tua Sun.

"Pendeta-pendeta Siau-lim-si pun beranggapan bahwa dia akan berusaha kabur. Kini mereka menyesal."

"Kenapa? Bukankah mereka seharusnya senang bahwa ia sudah terperangkap?"

Jawab Si Tua Sun.

"Dalam ruangan itu bukan hanya ada jenazah Sim-bi Taysu. Di situ juga tersimpan naskahnaskah kuno yang sangat berharga untuk Siau-lim-si."

Si gadis berkuncir itu pun menyanggah.

"Tapi kan mereka hanya perlu menunggu di luar beberapa hari. Setelah itu Li Sun-Hoan akan mati kelaparan dan kehausan di dalam."

Kata Si Tua Sun.

"Awalnya mereka pun berpendapat demikian. Tapi Li Sun-Hoan berhasil menawan Sim-si Taysu bersamanya di dalam kamar. Mereka tidak mungkin membiarkan Sim-si Taysu mati bersama dengan Li Sun-Hoan."

"Tentu saja tidak."

"Jadi mereka harus mengantarkan makanan dan minuman setiap hari, supaya Sim-si Taysu dan Li Sun-Hoan tidak mati."

Si gadis berkuncir pun bertepuk tangan.

"Sudah lama Siau-lim-si dianggap tempat suci dunia persilatan. Selama beratus-ratus tahun tidak ada orang yang berani bertindak ugal-ugalan di sana. Namun seorang Li Sun-Hoan saja sudah bisa memporak-porandakan tempat itu. Pendeta-pendeta itu bukan hanya tidak bisa berbuat apaapa, mereka bahkan harus menyediakan makanan baginya setiap hari. Sungguh menggelikan."

Ia menjadi sangat ceria sekarang.

"Li Tamhoa ini benarbenar karakter yang hebat ya, Kek. Ceritamu sungguh luar biasa."

Saat ini, A Fei tenggelam dalam kegembiraan juga. Ia harus menahan dirinya kuat-kuat untuk tidak berteriak keras-keras bahwa Li Sun-Hoan adalah sahabatnya. Namun Si Tua Sun kini menghela nafas.

"Kau benar. Akan tetapi, cepat atau lambat Li Sun-Hoan akan terkubur di Siau-lim-si."

Si gadis berkuncir menjadi heran.

"Mengapa?"

Si Tua Sun seperti melirik pada A Fei.

"Selama tidak ada orang yang bisa membuktikan bahwa Li Sun-Hoan bukan Bwe-hoa-cat , dan bahwa Sim-bi Taysu memang dibunuh oleh Ngo-tok-tongcu, Siau-lim-si tidak akan pernah melepaskannya!"

Si gadis berkuncir pun bertanya.

"Siapakah yang dapat membuktikannya?"

Si Tua Sun terdiam. Akhirnya ia berkata.

"Sayangnya, tidak ada seorangpun!"

Bab 22.

Bwe-hoa-cat Muncul Kembali Makan siang sudah selesai, cerita pun sudah selesai.

Orang-orang mulai bubar, dan sambil berjalan keluar, mereka membicarakan keadaan Li Sun-Hoan.

Lim Sian-ji terus memandangi A Fei.

A Fei sendiri tenggelam dalam pikirannya.

Makanan di meja mereka tidak tersentuh sedikit pun.

Di meja yang lain, si gadis berkuncir meletakkan sumpitnya dan bertanya.

"Kakek, menurutmu apakah Li Tamhoa tidak bersalah?"

Jawab Si Tua Sun.

"Sekalipun aku tahu bahwa ia tidak bersalah, apa yang dapat kulakukan?"

Kata si gadis berkuncir.

"Bagaimana dengan sahabatnya? Tidak ada seorang pun yang mau menolong dia?"

Jawab Si Tua Sun.

"Jika ia terperangkap di tempat lain, mungkin ada orang yang berusaha menolongnya. Tapi ia terperangkap di kuil Siau-lim-si. Aku rasa tidak akan ada seorang pun yang dapat menolong dia."

Si gadis berkuncir tampak sedih.

"Jadi akhirnya dia akan mati di Siau-lim-si?"

Si Tua Sun berpikir cukup lama, lalu berkata.

"Sebetulnya ada jalan. Namun kemungkinan berhasilnya sangat tipis."

Waktu A Fei mendengarnya, matanya langsung cerah. Si gadis berkuncir langsung bertanya.

"Bagaimana?"

Kata Si Tua Sun.

"Jika Bwe-hoa-cat yang sesungguhnya masih hidup dan muncul lagi, maka Li Sun-Hoan akan terbebas. Jika dia bukan Bwe-hoa-cat , ia tidak punya alasan untuk membunuh Sim-bi Taysu."

Si gadis berkuncir pun mendesah.

"Kemungkinannya memang kecil sekali. Sekalipun Bwe-hoa-cat masih hidup, ia pasti sedang bersembunyi sekarang. Menunggu mereka membunuh Li Sun-Hoan."

Si Tua Sun meletakkan pipanya di atas meja.

"Kau sudah selesai makan mi?"

Sahut si gadis berkuncir.

"Tadinya aku lapar sekali. Tapi setelah mendengar cerita itu, nafsu makanku jadi hilang."

Kata Si Tua Sun.

"Kalau begitu, ayo kita pergi. Kita tak bisa menyelamatkan Li Tamhoa hanya dengan dudukduduk di sini."

Ketika si gadis berkuncir itu keluar dari pintu, ia menoleh pada A Fei dan memandangnya, seolah-olah berkata.

"Jika kau hanya duduk-duduk di situ, bagaimana kau dapat menolongnya?"

Sambil memandang kepergian mereka, Lim Sian-ji tertawa dingin.

"Tahukah kau, orang macam apakah mereka itu?"

"Apa?"

Sahut Lim Sian-ji.

"Dari penampilan mereka, tenaga dalam orang tua itu sangat tinggi. Langkah gadis kecil itu ringan dan cepat. Ilmu meringankan tubuhnya paling tidak setaraf denganku."

"O ya?"

"Dalam pandanganku, mereka bukan tukang cerita biasa. Mereka pasti punya alasan lain datang ke sini."

Lanjut Lim Sian-ji.

"Mereka sengaja menceritakan kisah itu padamu, supaya kau pergi bunuh diri."

"Bunuh diri?"

Lim Sian-ji mendesah.

"Jika kau tahu bahwa Li Sun-Hoan terperangkap di Siau-lim-si, pasti kau akan berusaha keras untuk membebaskannya. Namun bagaimana kau bisa melawan seluruh kuil Siau-lim-si?"

A Fei berpikir dalam-dalam, ia tidak menjawab. Kata Lim Sian-ji.

"Lagi pula mungkin saja mereka berdusta. Supaya kau juga terjebak."

Ia menggenggam tangan A Fei dan berkata dengan manis.

"Walaupun mereka tidak berbohong bahwa Li Sun-Hoan ada dalam bahaya, jika kau pergi, kau hanya akan mengacaukan konsentrasinya. Dan jika para pendeta itu berhasil menangkapmu, maka ialah yang harus menyelamatkanmu. Kau malah akan mempersulit dia, bukan menolongnya."

Setelah A Fei berpikir lama, akhirnya dia berkata.

"Kau betul."

Kata Lim Sian-ji.

"Jadi kau berjanji tidak akan pergi ke Siau-lim-si?"

"Ya."

Ia menjawab sangat cepat, sehingga Lim Sian-ji tidak yakin bahwa A Fei berkata jujur. Ketika mereka kembali ke penginapan, A Fei berkata.

"Karena kita tidak jadi pergi ke Siau-lim-si, kau lebih baik pulang saja."

"Lalu engkau?"

Jawab A Fei.

"A…aku mau berjalan-jalan sebentar."

Lim Sian-ji langsung menyambar tangannya, suara bergetar waktu dia berbicara.

"Apakah kau akan berpurapura menjadi Bwe-hoa-cat ?"

A Fei hanya memandangi lantai. Lalu ia menghela nafas panjang dan akhirnya menjawab.

"Ya."

Kata ‘ya’ itu diucapkannya dengan sangat tegas, seakanakan menyatakan bahwa tak akan ada yang bisa mengubah pikirannya. Kata Lim Sian-ji.

"Lalu…lalu mengapa kau suruh aku pulang?"

Sahut A Fei.

"Karena ini adalah persoalanku."

Kata Lim Sian-ji lagi.

"Persoalanmu adalah persoalanku."

Kata A Fei.

"Tapi Li Sun-Hoan bukanlah sahabatmu."

Wajah A Fei penuh rasa terima kasih, namun ia tidak mengatakannya. Sahut Lim Sian-ji.

"Kau dapat menghargai suatu persahabatan begitu tinggi. Mengapa aku tidak? Walaupun aku tidak berguna, paling tidak aku bisa memberimu dukungan moral."

A Fei menggenggam tangan Lim Sian-ji erat-erat.

Walaupun ia tidak bicara, matanya, air mukanya, sudah mewakilinya berbicara.

Dengan diamnya, ia telah berbicara lebih banyak.

Lim Sian-ji tersenyum manis.

"Jika kau ingin berpurapura menjadi Bwe-hoa-cat , kau perlu seseorang untuk dirampok."

"Betul."

Kata Lim Sian-ji.

"Tidak bisa sembarang orang, bukan?"

Sahut A Fei.

"Yang pasti, kita harus menemukan orang kaya yang kekayaannya tidak halal."

Mata Lim Sian-ji berputar.

"Aku tahu orang yang tepat."

"Siapa?"

Sahut Lim Sian-ji.

"Orang ini dulunya seorang bandit. Lalu dia berhenti waktu usianya 50 tahun. Namun sampai sekarang dia masih berbisnis gelap."

Tanya A Fei.

"Siapa namanya?"

Lim Sian-ji berpikir keras, lalu jawabnya.

"Ah, aku ingat. Namanya Thio sing-ki. Namun sekarang ia dipanggil Thio-wangwe (Hartawan Thio), Thio-taysianjin (si Thio mahadermawan)."

A Fei mengangkat alisnya.

"Taysianjin?"

Kata Lim Sian-ji.

"Ia merampok sepuluh ribu tail perak, lalu menyumbangkan seratus tail untuk memperbaiki jalan. Di malam hari ia membunuh seratus orang, namun di siang hari ia menolong orang sakit. Mudah sekali bagi seorang bandit untuk menjadi dermawan." *** Thio sing-ki sedang berbaring di kursi panjangnya sambil memandang ke kuali di atas api yang sedang memanaskan sup sarang burung. Di luar salju sudah turun lagi, namun di dalam rumahnya, hangat bagaikan musim semi. Ia memejamkan matanya, bermaksud untuk tidur sejenak. Tapi ia dikagetkan oleh suara kuali yang terguling dan pecah berantakan. Ia segera membuka matanya dan dilihatnya seorang lakilaki berpakaian serba hitam. Tidak ada yang tahu dari mana ia datang. Walaupun Thio sing-ki telah mengundurkan diri, ilmu silatnya masih terlatih dengan baik. Ia berteriak.

"Pencuri kecil, berani-beraninya kau masuk ke rumahku!"

Segera ia memasang kuda-kuda, siap menyerang si lelaki baju hitam itu.

Saat itulah, terlihat suatu kilatan di depannya.

Thio Sing-ki tidak tahu dari mana datangnya atau macam apakah senjata yang menyerangnya.

Tiba-tiba saja lima tanda luka telah menghiasi dadanya.

Bwe-hoa-cat telah muncul kembali!

Di rumah-rumah minum teh, warung-warung arak, semua orang membicarakannya.

Apakah pembunuh Thio Sing-ki adalah Bwe-hoa-cat yang sebenarnya?

Siapa korban berikutnya?

Orang-orang kaya itu mulai sulit tidur lagi.

*** Di waktu senja, suara genta menggema di Lingkungan kuil, dan para pendeta dengan wajah tegang dan dingin masuk satu per satu ke dalam ruangan.

Langkah mereka terasa lebih ringan daripada biasanya, karena beberapa hari terakhir ini pikiran mereka sungguh galau.

Di atas Siong-san, hawa dingin terasa lebih kejam dan salju meliputi seluruh pegunungan.

Seseorang menaiki gunung dengan tergesa-gesa.

Ia adalah salah satu murid Siau-lim-si yang bukan pendeta, ‘Pahlawan dari Lamyang-hu’, Siau Cing.

Dia bicara sejenak dengan saudara seperguruan yang bertugas jaga di kaki bukit, gardu depan biara, lalu masuk ke ruangan belakang.

Ruangan Hongtiang (ketua) sunyi senyap, hanya terlihat asap dupa mengepul keluar dari jendela, lalu buyar ke udara.

Langkah Siau Cing sangat ringan, tidak bersuara saat menyentuh tanah.

Namun saat memasuki halaman, Pendeta Sim-oh Taysu yang sedang berada di ruang kerjanya berseru.

"Siapa itu?"

Langkah Siau Cing terhenti. Ia membungkuk dan berkata.

"Murid Siau Cing datang untuk memberi laporan."

Ada tiga orang dalam ruangan itu. Sim-oh Taysu, Sinkam Taysu, dan Pek-hiau-sing. Siau Cing tidak berani banyak bicara. Ia masuk ke dalam, membungkuk lagi dan berkata.

"Bwe-hoa-cat telah muncul kembali!"

Lanjutnya lagi.

"Tiga hari yang lalu, mantan bandit Thio sing-ki mendadak terbunuh dan barang-barang berharganya dicuri. Satu-satunya tanda adalah luka berbentuk bunga Bwe di dadanya."

Sin-kam Taysu dan Pek-hiau-sing saling pandang. Wajah mereka memucat. Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Sim-oh Taysu mendesah.

"Kini Bwe-hoa-cat telah muncul kembali. Mungkin Li Sun-Hoan memang tidak bohong."

Pek-hiau-sing memandang Sin-kam Taysu, tapi tidak berkata apa-apa. Sin-kam Taysu berjalan perlahan-lahan ke jendela, memandangi salju di luar.

"Namun ini pun bisa membuktikan bahwa memang Li Sun-Hoanlah Bwe-hoacat !"

Kata Sim-oh Taysu.

"Apa maksudmu?"

Sahut Sin-kam Taysu.

"Jika aku adalah Bwe-hoa-cat dan aku tahu bahwa kesalahanku telah dituduhkan pada orang lain, aku akan bersembunyi untuk sementara sampai orang itu dihukum. Kalau aku beraksi, bukankah itu berarti menyelamatkan nyawa Li Sun-Hoan?"

Pek-hiau-sing mengangguk.

"Kau benar. Satu-satunya alasan mengapa Bwe-hoa-cat muncul sekarang adalah untuk membersihkan nama Li Sun-Hoan. Jika aku adalah Bwe-hoa-cat , aku pun tidak akan pernah melakukannya."

Tanya Sim-oh Taysu.

"Kalau begitu, apa saranmu?"

Sahut Sin-kam Taysu.

"Jika Li Sun-Hoan bukan Bwe-hoacat yang sebenarnya, maka teman-temannya tidak mungkin melakukan ini."

Sim-oh Taysu bangkit berdiri dan berjalan ke jendela.

"Siapa yang menjaga Li Sun-Hoan sekarang?"

Sahut Sin-kam Taysu.

"Murid-murid Jisuheng, It-in dan It-tun."

Kata Sim-oh Taysu.

"Suruh mereka kemari."

Ketika It-in dan It-tun masuk, ia tidak menoleh, hanya bertanya.

"Apakah kalian sudah mengantar makanan untuk Gosusiok?"

Sahut It-in.

"Sudah. Tapi…."

Sim-oh Taysu memotong.

"Tapi apa?"

Kata It-in.

"Aku mengikuti perintahnya untuk menaruh makanan di depan pintu. Banyaknya sama dengan kemarin, dua kali ukuran normal tambah satu gelas air."

Sambung It-tun.

"Aku membawa keranjang makanan itu karena aku ingin melihat apa yang terjadi di dalam. Aku mundur sedikit dan aku melihat Li Sun-Hoan mengambil keranjang itu, melihat makanan itu dan melemparkannya ke luar."

"Kenapa?"

Sahut It-in.

"Katanya makanannya tidak enak dan tidak ada arak, jadi dia tidak mau makan."

Sim-oh Taysu menjadi sangat geram.

"Dipikirnya dia itu ada di mana? Di rumah makan?"

It-in dan It-tun sudah berada di kuil selama sepuluh tahun dan baru kali ini mereka melihat ketua Siau-lim-si ini marah.

Mereka tidak berani memandangnya.

Setelah beberapa saat, ia pun menjadi tenang, lalu bertanya.

"Lalu ia ingin makan apa?"

Sahut It-in.

"Ia menulis daftar dan melemparkannya ke luar. Ia bahkan menyertakan cara memasaknya. Jika ada kesalahan, dia bilang makanan itu akan dilemparkannya ke luar lagi."

Daftar makanan itu adalah.

Rebung Merah Rebus Sup Sayur Campur Sayur asin dengan jamur Sayur masak Tahu dengan jamur dan rebung [Terjemahannya mungkin kurang tepat] Selain empat jenis masakan dan satu sup itu, ia pun ingin tiga kati arak Tik-yap-jing kualitas super.

Seakan-akan Siau-lim-si adalah rumah makan vegetarian kelas atas di Ibu Kota.

Siapapun yang melihat daftar itu takkan tahu apakah mereka harus tertawa atau menangis.

Namun Sim-oh Taysu menjawab pendek.

"Berikan saja keinginannya."

Sin-kam Taysu cepat berkata.

"Suheng, kau…."

Sim-oh Taysu memotongnya.

"Jika Li Sun-Hoan tidak makan, Gosute pun kelaparan. Kesehatannya telah memburuk dalam beberapa tahun terakhir ini. Ia takkan mampu bertahan lama tanpa makan."

Sin-kam Taysu menunduk.

"Tapi jika kita melakukannya, bukannkah itu berarti membiarkan Li Sun-Hoan memegang kendali?"

Mata Sim-oh Taysu berbinar.

"Aku sudah punya rencana. Tidak jadi soal kalau dia yang memegang kendali satu dua hari ini." *** A Fei berbaring di ranjang. Sudah empat jam. Ia berbaring saja, tidak bergerak, seakan-akan tubuhnya menjadi batu. Ia hanya menunggu. Dengan tidak bergerak, ia dapat menghemat tenaganya. Ia memerlukan tenaga untuk mencari makanan, dan memerlukan makanan untuk bertahan hidup, untuk menghadapi alam. Beberapa kali, bahkan kelinci liar pun menyangka bahwa ia hanyalah sebuah batu. Pernah suatu ketika, ia sangat lemah dan kelaparan, tidak ada tenaga sedikit pun. Jika kelinci liar itu tidak melompat dan hinggap di tangannya, mungkin ia sudah mati kelaparan waktu itu. Kali lain, ia berpura-pura mati selama dua hari, sampai seekor anjing liar menghampirinya. Kesabaran dan daya tahan semacam ini tidak dapat dimiliki secara alamiah. Hanya dapat diperoleh dengan latihan yang tak kenal lelah. Mulanya, ia pun tidak bisa melakukannya dengan baik. Ia tidak tahan untuk tidak meringkuk dalam hawa dingin. Tapi kini, ia tidak merasa apa-apa lagi. Selama ia tidak perlu bergerak, ia tidak akan bergerak seinci pun. Ketika Lim Sian-ji kembali, ia menyangka A Fei telah tidur. Hari ini pakaiannya sungguh aneh. Ia berpakaian kain abu-abu polos yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia telah pergi selama empat jam untuk mencari informasi. A Fei tiba-tiba bangkit, mengagetkan Lim Sian-ji. Tapi Lim Sian-ji lalu tersenyum.

"Jadi kau cuma pura-pura tidur saja. Mau menakut-nakuti aku ya?"

A Fei diam saja. Lim Sian-ji menyisir rambutnya yang hitam legam, lalu menggigit bibirnya.

"Kau tidak menyukai aku?"

A Fei menggelengkan kepalanya. Lim Sian-ji menatapnya dengan matanya yang bening, lalu menghampirinya dan mencium pipinya.

"Kau sangat baik."

A Fei berdiri dan bertanya.

"Ada berita apa?"

Lim Sian-ji menggelengkan kepalanya.

"Siau-lim-si selalu berhati-hati. Mereka harus mengawasi lebih dulu sampai cukup lama, baru bertindak. Bagi mereka, lebih baik tidak berbuat apa-apa daripada berbuat yang salah."

Kata A Fei.

"Tapi ini sudah enam hari."

Kata Lim Sian-ji.

"Mungkin mereka tidak percaya bahwa Bwe-hoa-cat lah yang membunuh Thio sing-ki. Karena setiap kali Bwe-hoa-cat berbuat ulah, kejadiannya selalu berturut-turut, bukan hanya satu saja."

A Fei berpikir lama, lalu katanya.

"Cepat atau lambat mereka harus percaya. Aku akan membuat mereka percaya."

Kata Lim Sian-ji.

"Mari kita pergi. Aku akan tunjukkan suatu tempat kepadamu."

"Di mana?"

"Korbanmu yang kedua." *** Malam pun tiba. Salju telah mencair. Mereka mengganti pakaian supaya tidak dapat dikenali. Tiba-tiba Lim Sian-ji menunjuk pada papan nama sebuah rumah gadai. Rumah gadai itu cukup besar, dengan papan nama yang besar pula, bertuliskan, ‘Rumah Gadai Sun-ki’ Tanya A Fei.

"Apa istimewanya papan nama itu?"

Lim Sian-ji tidak menjawab, malah kini ia menunjuk pada papan nama yang lain, papan nama sebuah rumah makan.

"Coba lihat yang itu."

Rumah makan itu sangat laris.

Bangunan bertingkat itu penuh dengan pembeli.

Papan namanya berbunyi ‘Rumah Makan Sun-ki’.

Sebenarnya, tiap lima atau enam usaha di jalan itu mempunyai papan nama dengan tulisan ‘Sun-ki’.

Dan semuanya adalah usaha yang laris.

Kata Lim Sian-ji.

"Semua usaha ini adalah milik Sinlosam."

Kata A Fei.

"Ke mana kita pergi?"

Sahut Lim Sian-ji.

"Mari ikut aku."

A Fei memang tidak suka banyak bertanya, sehingga ia pun mengikuti Lim Sian-ji tanpa banyak bertanya. Ketika mereka sedang berjalan, tiba-tiba Lim Sian-ji menunjuk ke langit.

"Lihat, ada meteor."

A Fei terdiam sesaat, lalu bertanya.

"Apakah engkau memohon sesuatu?"

Jawab Lim Sian-ji.

"Meteor selalu lewat terlalu cepat. Tidak ada yang sempat memohon apapun juga, kecuali orang itu sudah tahu sebelumnya bahwa meteor itu akan muncul. Tapi siapa yang bisa menebak kapan meteor akan muncul? Aku rasa itu hanya dongeng saja."

Kata A Fei.

"Walaupun begitu, meteor membuat orang mempunyai harapan dan mimpi. Itu kan sangat bagus."

Sahut Lim Sian-ji.

"Aku tidak pernah menyangka kau tahu segala omong kosong macam itu."

A Fei hanya memandangi kejauhan, ke arah meteor itu menghilang. Di matanya terbayang kesedihan yang mendalam, lalu berkata.

"Aku sudah tahu sejak kecil."

Lim Sian-ji menatap mata itu lekat-lekat, lalu berkata dengan halus.

"Kau ingat akan ibumu, kan? Apakah beliau yang mengatakannya padamu?"

A Fei tidak menjawab.

Ia mempercepat langkahnya.

Sian-ji menggelendot di samping A Fei dengan diam saja sambil terus melangkah ke depan.

Tiba-tiba A Fei melihat di depan ada sebuah puri yang sangat besar, semakin dekat keadaan puri ini berbalik tidak jelas kelihatan.

Maklumlah, karena dinding perkampungan ini tingginya luar biasa sehingga mengalangi jarak pandangnya.

Lim Sian-ji memandangi tembok besar yang mengelilingi tempat itu.

"Tembok ini tinggi sekali. Mungkin tingginya 12 meter?"

"Kira-kira."

Tanya Lim Sian-ji.

"Kau bisa melompatinya?"

Sahut A Fei.

"Tidak ada seorang pun yang dapat melompat setinggi itu. Jika kau ingin masuk ke dalam, aku akan memikirkan cara lain."

Kata Lim Sian-ji.

"Ini adalah rumah Sin-losam."

Tanya A Fei.

"Apakah dia itu korbanku yang kedua?"

Jawab Lim Sian-ji.

"Aku tahu kau tidak ingin menyakiti pedagang. Tapi ada bermacam-macam jenis pedagang."

"Macam apakah dia?"

"Yang paling buruk, yang paling kotor."

Lim Sian-ji tersenyum sambil melanjutkan.

"Coba bayangkan. Bagaimana caranya dia membuka begitu banyak usaha di kota ini? Dan mengapa ia membangun tembok setinggi ini di sekeliling rumahnya?"

Sahut A Fei.

"Tidak ada salahnya membangun tembok yang tinggi. Dan tidak ada hukum yang melarangmu mempunyai begitu banyak usaha."

Lim Sian-ji berusaha menjelaskan.

"Tembok yang begini tinggi berarti dia takut karena usahanya yang tidak bersih. Dalam generasi ini ada 16 bersaudara. Dan 16 bersaudara ini membuka lebih dari 40 usaha."

Kata Eh Fei.

"Jadi tiap orang punya sekitar tiga usaha. Itu kan biasa."

Sahut Lim Sian-ji.

"Namun keempat puluh usaha itu dimiliki oleh Sin-losam."

"Kenapa?"

Bab 23.

Masuk Jebakan Di malam yang dingin dan berangin kencang ini, Lim Sian-ji dan A Fei sampai di depan sebuah puri yang megah.

Sambil menunjuk pada temboknya yang sangat tinggi itu, Lim Sian-ji berkata.

"Ini adalah rumah Sinlosam. Ia dan saudara-saudaranya membuka lebih dari empat puluh usaha. Tapi sekarang, seluruh usaha itu menjadi miliknya karena kelima belas saudaranya yang lain telah masuk ke dalam peti mati!"

Tanya A Fei.

"Bagaimana mereka mati?"

Jawab Lim Sian-ji.

"Secara resmi, mereka mati karena sakit. Tapi tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aneh bukan kalau lima belas orang yang segar bugar bisa sakit dan mati semua dalam tiga tahun, sedangkan Sin-losam tidak kurang suatu apapun?"

A Fei tidak menjawab. Ia hanya berkata singkat.

"Aku akan menemuinya besok malam." *** Dengan koordinasi tangan dan kaki yang baik, A Fei memanjat tembok itu. Setelah dilewatinya, ia melihat sebuah taman yang luas dan beberapa rumah. Pada saat itu, hanya sedikit cahaya yang tampak, sebagian besar orang sudah tidur. Lim Sian-ji menemukan seorang pelayan yang mau menggambarkan peta tempat itu untuknya. Jadi A Fei tahu pasti ke mana ia harus pergi. Sin-losam masih terjaga. Rambut pengusaha yang licik itu sudah memutih, namun ia masih duduk di dalam cahaya lilin dengan sipoanya, menghitung pendapatannya. Ia menghitung tidak terlalu cepat, karena jari-jarinya pendek dan gemuk. Bagaimana seorang dari keluarga kaya mempunyai tangan seperti seorang pekerja? Karena pada waktu ia masih kecil, ayahnya mengusir dia dari rumah, sehingga selama 5 tahun ia terlunta-lunta. Tidak seorang pun tahu apa yang ia lakukan saat itu. Ada yang bilang ia jadi pengemis, ada yang bilang ia pergi ke Siau-lim-si, mengerjakan pekerjaan kasar dan belajar ilmu silat yang hebat di sana. Oleh sebab itu, waktu saudara-saudaranya meninggal, tidak ada seorangpun yang berani berbicara walaupun sebenarnya mereka curiga. Tentu saja ia menyangkal semua tuduhan itu. Namun ia tidak bisa menyangkal kedua belah tangannya. Kedua belah tangan itu adalah bukti bahwa ia pernah belajar ilmu silat Thi-soa-ciang atau ilmu pukulan pasir besi dan telah mencapai taraf yang cukup tinggi. Kalau tidak, tidak mungkin kakaknya yang tertua mati selagi muntah darah. A Fei mendorong jendela di kamar itu dan masuk ke dalam. Reaksi Sin-losam boleh dibilang cepat, namun ketika ia sadar jendela kamarnya terbuka, A Fei telah berdiri di hadapannya. Ia tidak dapat percaya ada orang yang dapat bergerak secepat itu. Ia menjadi sangat ketakutan dan hanya bisa berdiri mematung. A Fei memandangnya dingin dan bertanya.

"Apakah kau Sin-losam?"

Sin-losam hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanya A Fei.

"Apakah kau tahu apa yang kuinginkan?"

Ia terus mengangguk. Tanya A Fei lagi.

"Adakah yang ingin kau katakan?"

Kini Sin-losam berhenti mengangguk dan mulai menggeleng.

Pedang A Fei terhunus, namun di saat yang sama A Fei merasa ada kejanggalan.

Hanya intuisi, seperti yang dimiliki hewan liar, seperti seekor kelinci dapat merasakan kehadiran seekor serigala liar.

Tanpa mendengar apa pun juga, atau pun melihat bayangan si serigala.

Kini tanpa ragu-ragu A Fei mengacungkan pedangnya!

Secepat meteor, ditebaskannya pedang itu ke arah dada Sin-losam.

Tapi yang terdengar adalah suara berdentang, seperti logam bertemu logam.

Pedang itu mengenai lempengan logam, sehingga tidak dapat menembusnya.

Setelah serangan itu, Sin-losam segera berguling ke bawah meja.

A Fei segera melompat untuk melarikan diri.

Sayang, ia terlambat selangkah.

Sebuah jaring raksasa telah jatuh dari langit-langit.

Jaring itu sebesar ruangan itu, sehingga siapapun yang berada di situ pasti akan terperangkap.

A Fei pun terperangkap.

Anehnya ia tidak merasa panik atau ketakutan.

Ia hanya merasa sedih, karena ia baru tahu bagaimana perasaan seekor binatang yang tertangkap oleh pemburu.

Seekor binatang tidak mungkin lolos dari perangkap pemburu.

Oleh sebab itu, A Fei tidak berusaha melepaskan diri.

Ia tahu usaha itu sia-sia belaka.

Saat itu, dua bayangan turun ke atas jala itu, masingmasing membawa sebuah tongkat panjang.

Kedelapan Hiat-to (jalan darah) A Fei segera ditutup.

Dua orang ini adalah Sin-kam Taysu dan Pek-hiau-sing dari Siau-lim-si.

Sin-losam sudah tidak ada di bawah meja lagi, karena di situ ternyata ada jalan rahasia.

Sudah jelas sekarang, ini semua adalah jebakan.

Wajah Pek-hiau-sing penuh kemenangan.

"Aku tahu kau pasti datang ke sini. Kau menyerah sekarang?"

A Fei diam saja. Walaupun ia masih bisa bicara, ia tidak merasa perlu untuk menjawab atau bertanya.

"Bagaimana kau bisa tahu aku akan datang ke sini?"

Matanya menatap kosong, seolah-olah pikirannya pun kosong. Ia tidak bisa berpikir? Atau tidak mau berpikir? Atau tidak berani berpikir apa-apa? Kata Pek-hiau-sing.

"Aku tahu, kau berusaha menolong temanmu, Li Sun-Hoan, jadi kau berpura-pura menjadi Bwe-hoa-cat ."

A Fei berteriak.

"AKULAH Bwe-hoa-cat . Aku tidak perlu berpura-pura. Aku tidak kenal siapa itu Li Sun-Hoan."

Sahut Pek-hiau-sing.

"Benarkah…. Sim-kam Suheng, ia bilang ialah Bwe-hoa-cat . Apakah kau percaya?"

"Tidak."

Kata Pek-hiau-sing lagi.

"Tapi ini cukup sulit dibuktikan. Sim-kam Suheng, tahukah kau siapa yang membunuh Hong-thian-lui?"

"Bwe-hoa-cat ."

"Bagaimana dia mati?"

"Walaupun di tubuhnya ada tanda bunga Bwe, serangan yang mematikan adalah totokan pada Hian-ki-hiat."

Kata Pek-hiau-sing.

"Kalau begitu, Bwe-hoa-cat bukan hanya pesilat tangguh, namun Tiam-hiat (ilmu totok)nya pun sangat tinggi."

"Betul."

Pek-hiau-sing tersenyum, menoleh pada A Fei.

"Jika kau bisa menyebutkan nama kedelapan Hiat-to (jalan darah)mu yang baru saja aku tutup, kami semua akan percaya bahwa kaulah Bwe-hoa-cat dan kami akan segera membebaskan Li Sun-Hoan. Bagaimana?"

A Fei mengertakkan giginya kuat-kuat. Pek-hiau-sing mendesah.

"Kau memang sahabatnya yang setia. Untuk dia, kau rela mengorbankan nyawamu. Tapi seberapakah pentingnya engkau dalam pandangannya? Jika kau dapat membujuknya keluar dari kamar itu saja sudah cukup bagus." *** Ada arak dalam cawan. Li Sun-Hoan memegang cawan itu di tangannya. Di sudut kamar tampak seorang pendeta kurus yang tampak sangat lemah. Walaupun ia sudah lewat setengah umur, wajahnya belum tampak tua. Ia kelihatan seperti seorang kutu buku. Orang ini adalah Sim-si Taysu. Walaupun ia adalah tawanan Li Sun-Hoan, ia tetap kalem, duduk tenang di sudut ruangan. Tiba-tiba Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata padanya.

"Tak kusangka Siau-lim-si mempunyai arak selezat ini. Mau secawan?"

Sim-si Taysu menggelengkan kepalanya. Li Sun-Hoan berkata.

"Aku minum arak di depan jenazah Saudaramu. Apakah itu termasuk kurang ajar?"

Sahut Sim-si Taysu.

"Secara umum, orang menggunakan arak untuk bersulang, di mana pun tempatnya. Kau sama sekali tidak kurang ajar."

Kata Li Sun-Hoan.

"Bagus. Tidak heran kalau orang bilang, setelah masuk ke dalam biara, hatimu akan lebih lega."

Wajah Sim-si Taysu yang tenang berubah sedikit, seperti berusaha menyembunyikan rasa pedih.

Ia menghela nafas, wajahnya penuh kesedihan.

Apakah ia sedih untuk saudaranya yang telah meninggal, atau untuk keadaan dirinya saat itu, tidak ada yang tahu.

Li Sun-Hoan memandangi cawan araknya, lalu menghela nafas juga.

"Sejujurnya, aku tidak menyangka bahwa kaulah yang menyelamatkan aku kali ini."

Sahut Sim-si Taysu.

"Aku tidak menyelamatkanmu."

Kata Li Sun-Hoan.

"Empat belas tahun yang lalu, aku mengundurkan diri dari jabatanku di pemerintahan. Walaupun alasan resminya adalah bahwa aku sudah bosan berkecimpung dalam dunia politik, sesungguhnya, jika bukan karena tulisanmu yang mengatakan bahwa aku punya bersekongkol dengan para bandit, aku mungkin tidak akan berbulat hati untuk mengundurkan diri."

Sim-si Taysu memejamkan matanya, lalu berkata.

"Go Hun-ih yang gila kekuasaan itu sudah lama mati. Mengapa kau mengungkit tentang dia kembali?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Kau memang benar. Setelah seseorang masuk ke biara, ia menjadi seorang yang baru. Tetap saja, aku masih tidak bisa percaya bahwa kaulah yang menyelamatkan aku hari ini."

Sim-si Taysu membuka matanya dan berseru.

"Sudah kubilang, aku tidak menyelamatkan engkau. Karena tenaga dalamku lemah, maka aku tidak bisa lepas dari cengkeramanmu. Jangan berbicara seolah-olah kau berhutang padaku."

"Tapi jika bukan kau yang memberiku tanda untuk masuk ke sini, aku tidak akan memilih untuk masuk ke ruangan ini. Dan jika kau berusaha lepas, tak mungkin aku benar-benar bisa menahanmu di sini."

Mulut Sim-si Taysu komat-kamit, tapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Li Sun-Hoan tersenyum.

"Pendeta kan tidak boleh berdusta. Lagi pula, hanya ada kita berdua di sini."

Sim-si Taysu pun tersenyum.

"Walaupun memang aku berniat untuk menyelamatkanmu, itu bukan karena kejadian di masa lalu itu."

Li Sun-Hoan tidak kelihatan terkejut. Ia hanya bertanya.

"Lalu kenapa?"

Dari wajahnya, kelihatannya Sim-si Taysu tidak tahu harus menjawab apa. Li Sun-Hoan tidak memaksanya. Ia lalu menghabiskan araknya. Saat itu, seseorang dari luar berseru.

"Li Sun-Hoan, lihat ke luar jendela!"

Ini adalah suara Sin-kam Taysu.

Ketika Li Sun-Hoan melihat ke luar jendela, wajahnya langsung berubah.

Tak pernah disangkanya bahwa A Fei akan jatuh ke tangan mereka.

Pek-hiau-sing hanya berdiri saja di situ dengan wajah sok tahu.

Katanya.

"Li Tamhoa, kurasa kau mengenalnya, bukan? Demi engkau, ia ingin dianggap sebagai Bwehoa-cat . Bagaimana kau akan berterima kasih padanya?"

Sin-kam Taysu berseru.

"Jika kau ingin menyelamatkan dia, lebih baik kau keluar dan menyerah!"

Tangan Li Sun-Hoan gemetar. Ia tidak melihat wajah A Fei, karena wajahnya menelungkup di tanah. Kelihatannya ia terluka parah. Sin-kam Taysu tiba-tiba mengangkat tubuh A Fei.

"Li Sun-Hoan kuberi kau waktu empat jam. Jika kau tidak keluar dengan Gosuhengku, kau tak akan pernah melihat temanmu ini lagi."

Pek-hiau-sing berkata.

"Li Tamhoa, orang ini sangat memperhatikan engkau. Sepantasnya kau pun membalas kebaikannya."

Li Sun-Hoan sungguh tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Ia melihat bagaimana mereka menyeret A Fei seperti seekor anjing, dan melihat luka-lukanya akibat penganiayaan mereka.

Anak muda itu tidak mengucapkan sepatah katapun.

Ia hanya memandang sekilas ke arah jendela, wajahnya sungguh tenang.

Seakan-akan berkata pada Li Sun-Hoan bahwa ia tidak takut mati.

Li Sun-Hoan mengeluh.

"Sahabatku…. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Kau tidak ingin aku menolongmu."

Sim-si Taysu terus memandangnya, lalu tiba-tiba bertanya.

"Apa yang akan kau lakukan?"

Li Sun-Hoan minum tiga cawan lagi, baru menjawab.

"Tentu saja aku akan menyerah. Kapan kau mau, silakan ikat aku dan bawa aku keluar."

Kata Sim-si Taysu.

"Kau pasti mati kalau keluar!"

"Aku tahu."

"Tapi kau masih mau keluar juga?"

"Tentu saja."

Jawabannya begitu pasti, tidak bisa didebat lagi. Kata Sim-oh Taysu.

"Bukankah itu sangat bodoh?"

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Kita semua pernah berbuat kebodohan dalam hidup kita. Jika setiap orang mengambil keputusan yang benar, bukankah hidup ini akan menjadi terlalu membosankan?"

Sim-si Taysu merenungkan kata-kata ini, lalu berkata.

"Kau memang benar. Kadang-kadang tidak ada jalan lain. Kau tahu dengan melakukan hal ini, kau pasti mati. Tapi, tetap saja kau harus melakukannya!"

Li Sun-Hoan terkekeh.

"Setidaknya kau tahu cara berpikirku."

Lanjut Sim-si Taysu.

"Persahabatan adalah yang terutama, lebih penting daripada hidup dan mati. Li Sun-Hoan memang benar-benar Li Sun-Hoan."

Li Sun-Hoan tidak memandangnya lagi, dan berkata.

"Aku jalan duluan."

Sim-si Taysu tiba-tiba berseru.

"Tunggu dulu."

Seolah-olah ia baru saja mengambil keputusan penting. Matanya menatap Li Sun-Hoan lekat-lekat.

"Aku belum selesai bicara."

"O ya?"

Kata Sim-si Taysu.

"Tadi sudah kukatakan bahwa aku punya alasan lain menyelamatkanmu."

"Benar."

Kata Sim-si Taysu.

"Ini adalah rahasia besar Siau-lim-si, dan menyangkut banyak orang, sehingga tadinya aku tidak ingin memberi tahu padamu."

Li Sun-Hoan berdiri saja, mendengarkan. Lanjut Sim-si Taysu.

"Di Siau-lim-si ada begitu banyak buku langka. Sebagian kitab suci agama Budha, sebagian lagi buku-buku ilmu silat."

"Tentu saja aku tahu."

Kata Sim-si Taysu lagi.

"Selama beberapa ratus tahun terakhir ini, segeLimtir orang berusaha untuk mencuri buku-buku ini dari Siau-lim-si, namun tidak ada yang berhasil. Walaupun pendeta tidak seharusnya membunuh, tetap saja, buku-buku ini adalah dasar kuil Siau-lim-si. Jadi setiap orang yang berusaha mencurinya akan menjadi sasaran kemarahan seluruh murid Siau-lim-si."

Kata Li Sun-Hoan.

"Aku hampir tidak pernah mendengar ada orang yang berani mencuri dari sini."

Sahut Sim-si Taysu.

"Kau orang luar, tentu saja kau tidak tahu secara detil. Sebenarnya Siau-lim-si pernah kecurian buku sebanyak tujuh kali. Satu buku adalah petunjuk untuk ketenangan hati dan yang lain adalah kitab ilmu silat tingkat tinggi."

Li Sun-Hoan sungguh terkejut mendengarnya.

"Siapa yang berbuat?"

Jawab Sim-si Taysu.

"Anehnya, tidak ada tanda-tanda pencurian ataupun jejak apa pun yang dapat diselidiki. Setelah dua pencurian yang pertama, kami telah meningkatkan penjagaan. Namun pencurian itu tetap berlanjut. Pada awalnya, Samkolah yang menjaga perpustakaan, namun sejak peristiwa itu ia mengundurkan diri."

Kata Li Sun-Hoan.

"Ini kan persoalan besar. Mengapa tidak tersiar ke mana-mana?"

Sahut Sim-si Taysu.

"Justru karena ini adalah masalah yang sangat besar, Ciangbun-suheng sudah wanti-wanti pada semua orang yang tahu untuk tutup mulut. Jadi sekarang, termasuk engkau, hanya sembilan orang yang tahu akan hal ini."

Tanya Li Sun-Hoan.

"Selain ketujuh pendeta utama, siapakah orang yang kedelapan?"

"Pek-hiau-sing."

Li Sun-Hoan mengeluh.

"Orang ini benar-benar suka ikut campur urusan orang lain."

Kata Sim-si Taysu lagi.

"Setelah Samko mengundurkan diri, Jisuheng dan akulah yang menjaga perpustakaan, sejak setengah bulan yang lalu."

Li Sun-Hoan bertanya.

"Jika Sim-bi bertugas menjaga perpustakaan, mengapa dia pergi?"

Jawab Sim-si Taysu.

"Sebab Jisuheng curiga bahwa Bwehoa-cat terlibat dalam pencurian itu, jadi ia pergi untuk menyelidiki. Siapa sangka ia tidak pernah kembali lagi."

Setelah diam beberapa saat, Sim-si Taysu melanjutkan.

"Aku dan Jisuheng adalah teman lama. Sebelum ia pergi, ia mengambil tiga kitab yang paling berharga dari perpustakaan dan menyembunnyikannya di tiga tempat. Hanya Ciangbun-suheng dan aku yang tahu tempat persembunyiannya."

"Satu ada dalam ruangan ini bukan?"

"Betul."

Kata Li Sun-Hoan.

"Pantas saja mereka begitu enggan menyerbu ke sini."

Kata Sim-si Taysu lagi.

"Karena pencurian itu begitu aneh, aku dan Jisuheng berpendapat bahwa mungkin ada orang dalam yang terlibat. Namun, walaupun kami berdua sudah curiga, kami tidak berani mengatakannya. Karena selain dari kami bertujuh pendeta utama, tidak ada seorang pun yang dapat mencuri kitab-kitab itu."

Mata Li Sun-Hoan berbinar.

"Jadi pencurinya pasti salah satu dari kalian bertujuh?"

Sahut Sim-si Taysu.

"Kami tujuh bersaudara telah hidup bersama di sini selama lebih dari sepuluh tahun. Kami pun saling mempercayai satu dengan yang lain. Hanya saja…"

"Apa?"

"Sebelum Jisuheng pergi, ia sempat mengatakan padaku bahwa ia sangat curiga pada salah seorang dari kami bertujuh."

Li Sun-Hoan bertanya cepat.

"Siapa?"

Sim-si Taysu menggelengkan kepalanya.

"Ia tidak menyebutkan namanya, karena ia tidak mau asal tuduh. Ia masih berharap bahwa pencurinya adalah Bwe-hoa-cat ."

Sampai di sini, tenggorokan Sim-si mengering, tak bisa bicara lebih lanjut. Kata Li Sun-Hoan.

"Aku mengerti perasaan Sim-si. Namun bagaimana mungkin ia hanya berpangku tangan sementara si pencuri masih bebas berkeliaran, bahkan menyebutkan namanya pun tidak mau."

Sim-si Taysu pun berkata.

"Jisuheng pun telah berpikir demikian. Jadi sebelum ia pergi, ia sudah berpesan, jika sampai terjadi apa-apa pada dirinya, aku harus membaca buku hariannya. Nama orang yang dicurigainya tertulis di halaman terakhir."

Li Sun-Hoan bertanya tidak sabar.

"Lalu di mana buku harian itu?"

"Tadinya ada bersama dengan kitab-kitab berharga itu. Sekarang ada padaku."

Ia mengeluarkan sebuah buku, yang kemudian segera direbut oleh Li Sun-Hoan.

Seluruh buku itu berisi tentang ajaran-ajaran agama Budha, tidak ada tulisan tentang orang yang dicurigai.

Tanya Li Sun-Hoan.

"Halaman terakhirnya sudah dirobek oleh si pencuri?"

Jawab Sim-si Taysu.

"Bukan hanya itu. Kitab-kitab itu pun telah berubah menjadi kitab-kitab kosong!"

Kata Li Sun-Hoan.

"Ini berarti si pencuri sudah tahu bahwa Jisuheng mencurigainya."

"Betul."

"Tapi hanya engkau dan Ciangbun-suheng yang tahu tempat persembunyiannya. Jadi kau curiga…."

Kata Sim-si Taysu.

"Tidak sepenuhnya. Jika si pencuri tahu bahwa Jisuheng mencurigainya, ia pasti akan membayangi Jisuheng kemana saja. Dengan cara itu, kemungkinan ia bisa mengetahui tempat persembunyiannya. Tapi…."

"Tapi apa?"

"Sebenarnya, sewaktu kau membawa Jisuheng kembali ke sini, ia masih hidup. Dan ia tidak seharusnya mati!"

Li Sun-Hoan kaget setengah mati. Ia melihat Sim-si Taysu mengepalkan tangannya.

"Walaupun aku bukan ahli tentang racun, aku telah belajar cukup banyak beberapa tahun terakhir ini dari buku-buku kami. Jadi, sewaktu aku melihat keadaan Jisuheng waktu ia sampai, aku tahu ia pasti akan tertolong. Paling tidak ia tidak mungkin mati secepat itu!"

Kata Li Sun-Hoan.

"Jadi maksudmu….."

Kata Sim-si Taysu.

"Siapapun yang mencuri kitab-kitab itu, dialah yang membunuh Jisuheng."

Tiba-tiba Li Sun-Hoan merasa ruangan itu menjadi sangat sempit, ia menjadi sulit bernafas. Ia mengelilingi ruangan itu untuk menenangkan diri, lalu bertanya.

"Berapa orang yang datang menjenguknya?"

Jawab Sim-si Taysu.

"Toasuheng, Sisuheng, dan Laksute."

"Jadi salah satu dari merekalah pembunuhnya?"

Sim-si Taysu mengangguk.

"Ini adalah petaka besar bagi biara ini. Seharusnya aku tidak mengatakannya padamu, namun aku tahu sekarang bahwa kau bukanlah orang yang mengkhianati sahabatmu. Jadi aku ingin kau…."

"Kau ingin aku membantumu menangkap si pembunuh?"

"Betul."

Li Sun-Hoan berpikir sejenak, lalu ia bertanya perlahan.

"Bagaimana jika ternyata pembunuhnya adalah Sim-oh Taysu?"

Tubuh Sim-si Taysu menegang, keringat membasahi keningnya. Kata Li Sun-Hoan.

"Walaupun seluruh murid Siau-lim-si akhirnya mengetahui bahwa pembunuhnya adalah Simoh Taysu, tidak ada seorang pun yang mau mengakuinya, bukan?"

Sim-si Taysu tidak menjawab, karena memang pertanyaan ini tidak butuh jawaban.

Semua orang menganggap Siau-lim-si sebagai perguruan silat yang terhormat.

Apa jadinya jika Ketua Siau-lim-si ternyata adalah seorang pembunuh?"

Li Sun-Hoan berkata lagi.

"Walaupun aku bisa membuktikan bahwa pembunuhnya adalah Sim-oh Taysu, aku yakin kau tak akan mendukungku, demi mempertahankan reputasimu."

Sim-si Taysu mendesah.

"Kau benar. Demi reputasi Siaulim-si, aku akan mengorbankan apapun juga."

Tanya Li Sun-Hoan.

"Lalu mengapa kau minta aku melakukannya?"

Jawab Sim-si Taysu.

"Walaupun aku tidak mau merusak reputasi Siau-lim-si, jika kau bisa membuktikan siapa pembunuh Jisuheng, aku jamin ia akan mati bersama denganku."

Kata Li Sun-Hoan.

"Bagaimana bisa seorang pendeta berbicara mengenai pembunuhan? Kelihatannya kau masih terikat dengan dunia luar."

Sahut Sim-si Taysu.

"Sang Budha sendiri pun pernah marah, apalah artinya seorang pendeta kecil."

Kata Li Sun-Hoan.

"Mendengar jawabanmu, aku sudah puas."

Tanya Sim-si Taysu.

"Kau sudah tahu siapa pembunuhnya?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Belum. Tapi aku tahu seseorang yang tahu."

Kata Sim-si Taysu.

"Si pembunuhnya pasti tahu."

Kata Li Sun-Hoan.

"Selain si pembunuh, ada seorang lagi yang tahu. Orang itu berada di ruangan ini."

"Siapa?"

Li Sun-Hoan menunjuk pada jenazah Sim-bi.

"Dia!"

Kata Sim-si Taysu.

"Sayang sekali, dia sudah tidak bisa berbicara."

Li Sun-Hoan terkekeh.

"Kadang-kadang orang mati pun bisa bicara."

Ia menyingkapkan kain yang menutupi tubuh Sim-bi. Sinar matahari menyinari wajahnya yang sudah berwarna abu-abu gelap. Li Sun-Hoan bertanya.

"Pernahkah kau melihat korban Ngo-tok-tongcu?"

"Tidak."

Bab 24. Menangkap Pengkhianat Li Sun-Hoan mengeluh.

"Kau benar-benar beruntung. Mereka sama sekali bukan pemandangan yang menyenangkan."

Setiap orang yang mati karena racun Ngo-tok-tongcu tubuh dan wajahnya rusak parah. Li Sun-Hoan memejamkan matanya, lalu perlahan-lahan berkata.

"Beberapa tahun yang lalu, aku melihat seseorang yang mati karena racunnya. Dalam beberapa detik saja wajahnya menghitam dan tidak lama kemudian seluruh tubuhnya membusuk."

Sim-si Taysu menatap tubuh Sim-bi lalu berseru.

"Tapi Jisuheng sudah meninggal beberapa hari…."

Li Sun-Hoan membuka matanya kembali.

"Betul sekali. Dia sudah keracunan beberapa hari, namun tubuhnya belum membusuk. Kau tahu kenapa?"

Sim-si Taysu menggelengkan kepalanya. Kata Li Sun-Hoan.

"Karena ia kena racun yang lain lagi!"

Kata Sim-si Taysu terbata-bata.

"Mak…Maksudmu…"

Kata Li Sun-Hoan melanjutkan.

"Walaupun ia kena racun Ngo-tok-tongcu, keadaannya tidak terlalu membahayakan. Racun itupun telah ditahannya dengan tenaga dalamnya, sehingga racun itu tidak bekerja lagi sewaktu dia sampai di Siau-lim-si."

"Betul."

Sambung Li Sun-Hoan.

"Si pembunuh pasti takut ia akan menyebarkan rahasianya. Maka untuk mempercepat kematiannya, ia meracuni Sim-bi Taysu dengan racun yang lain."

Tanya Sim-si Taysu.

"Ada banyak cara untuk membunuh, mengapa menggunakan racun?"

"Karena cara apapun yang ditempuhnya akan meninggalkan jejak. Namun karena Sim-bi Taysu sudah keracunan, jejaknya akan tersamarkan."

Sahut Sim-si Taysu.

"Benar juga. Dengan cara ini, semua orang akan berpikir bahwa dia mati karena racun Ngotok-tongcu."

Kata Li Sun-Hoan.

"Orang ini betul-betul penuh perhitungan, tapi ada satu hal yang dilupakannya."

"Apa itu?"

"Ia lupa bahwa racun dapat saling menetralisir. Karena ia memberikan racun yang mematikan dalam jumlah besar, racun itu menghalangi bekerjanya racun Ngo-tok-tongcu. Oleh sebab itu, tubuh Sim-bi tetap dalam keadaan baik setelah sekian lama."

Mata Li Sun-Hoan berbinar. Tanyanya.

"Setelah Sim-bi Taysu datang, apakah ia makan sesuatu?"

Jawab Sim-si Taysu.

"Hanya semangkuk obat."

"Siapa yang memberikan obat itu padanya?"

"Obat itu dibuat oleh Jitsute Sin-kam. Tapi yang menyuapkan obat itu padanya adalah Sisuheng Sim-ciok dan Laksute Sim-ting."

Ia mengeluh.

"Jadi mereka bertigalah tersangkanya."

Kata Li Sun-Hoan.

"Ada dua jenis racun yang terkenal di dunia. Yang pertama sifatnya tidak berbau dan tidak berasa. Namun racun ini bisa membuat orang mati mengenaskan. Jadi tidak hanya membunuh si korban, namun juga menakutkan bagi yang menyaksikan."

Kata Sim-si Taysu.

"Racun Ngo-tok-tongcu sudah tentu masuk kategori ini."

Li Sun-Hoan menyambung lagi.

"Jenis yang kedua, lebih mudah dideteksi. Namun dapat menyebabkan kematian tanpa tanda-tanda khusus. Kadang-kadang orang tidak menyangka bahwa si korban mati keracunan."

"Maksudmu, si pembunuh menggunakan racun jenis ini?"

Li Sun-Hoan mengangguk.

"Karena sifatnya yang berbeda itulah, kedua racun ini malah saling menetralisir. Walaupun jenis yang pertama itu lebih mengerikan, jenis yang kedua lebih mematikan. Sedikit sekali orang yang dapat menyatukan dua macam racun ini."

Ia menatap Sim-si Taysu lekat-lekat, lalu bertanya.

"Berapa orang di Siau-lim-si yang tahu betul tentang racun?"

Sim-si Taysu menghela nafas panjang.

"Ini….."

Kata Li Sun-Hoan.

"Siau-lim-si adalah pelopor dalam dunia persilatan. Murid-muridnya tidak mungkin belajar sesuatu yang sesat seperti ini, bukan?"

Sim-si Taysu menjawab dengan tegas.

"Hal semacam ini sama sekali tidak diajarkan di Siau-lim-si!"

Kata Li Sun-Hoan.

"Pendeta Sim-ciok dan Sim-ting…."

Sim-si Taysu segera memotong perkataannya.

"Sim-ciok menjadi pendeta waktu berumur sembilan tahun. Simting telah menjadi pendeta saat masih bayi. Aku berani bertaruh bahwa mereka berdua belum pernah melihat racun jenis apapun seumur hidup mereka."

Li Sun-Hoan terkekeh.

"Jadi, siapa pembunuhnya?"

"Maksudmu, sudah pasti Jitsute Sin-kam?"

Li Sun-Hoan diam saja. Sin-kam Taysu menjadi pendeta setelah ia dewasa. Sebelum ia masuk ke Siau-lim-si, ia sudah terkenal dalam dunia persilatan terkenal dengan julukan "Jit-giau-susing"

Atau si sastrawan serbamahir, seorang ahli racun!

*** Permainan Go sedang berlangsung di paviliun itu.

Pek-hiau-sing memainkan buah catur itu ditangannya.

Bunga-bunga salju berjatuhan ke tanah dari buah catur itu.

Pemandangan di situ sungguh indah, namun di manamana dapat terasa hawa membunuh yang tebal dan semua orang sangat tegang.

Pendeta Sim-oh Taysu, Sim-ciok, Sim-ting dan Sin-kam Taysu ada di situ.

A Fei berlutut di sudut paviliun itu.

Wajahnya tertunduk.

Sim-oh Taysu memandangnya dan bertanya.

"Apakah menurutmu Li Sun-Hoan akan datang?"

Pek-hiau-sing tersenyum.

"Pasti."

Sim-oh Taysu bertanya lagi.

"Apakah dia itu orang yang mau berkorban untuk sahabatnya?"

"Bahkan kaum pencuri pun punya kode etik."

Sim-oh Taysu mengeluh.

"Kuharap kau benar…."

Suaranya terhenti. Ia melihat Sim-si Taysu. Sim-si Taysu masuk ke paviliun itu, tapi sendirian saja. Sim-oh Taysu berdiri menyambutnya.

"Bagaimana keadaanmu?"

Ia tidak bertanya yang lain, hanya menyapa Sim-si Taysu seperti biasa. Hanya seorang Ciangbun-suheng Siau-limsi yang mampu berbuat demikian. Sahut Sim-si Taysu.

"Terima kasih, Suheng. Untungnya tecu masih selamat."

Sim-si Taysu melanjutkan.

"Ia pergi mengambil kitabkitab itu?"

Sin-kam Taysu bertanya.

"Kitab? Kitab apa?"

Jawab Sim-si Taysu.

"Kitab-kitab yang hilang dari perpustakaan."

Mulut Sin-kam Taysu komat-kamit, lalu ia tertawa dingin.

"Ternyata dia biang keladinya! Lalu kenapa kau biarkan dia pergi begitu saja?"

Sahut Sim-si Taysu.

"Karena bukan dia pencurinya."

Tanya Sin-kam Taysu.

"Lalu siapa?"

Jawab Sim-si Taysu tegas.

"Engkau!"

Mulut Sin-kam Taysu komat-kamit lagi, tapi kemudian ia menenangkan diri.

"Gosuheng, bagaimana mungkin kau menuduhku? Aku tidak mengerti."

Kata Sim-si Taysu.

"Jika kau tidak mengerti, siapa yang mengerti?"

Sin-kam Taysu menoleh pada Sim-oh Taysu, lalu berkata dengan memelas.

"Suheng, katakanlah sesuatu. Tecu tidak bisa membela diri."

Wajah Sim-oh Taysu pun berubah.

"Jisuheng telah dibunuh oleh Li Sun-Hoan. Mengapa kau malah membantunya?"

Pek-hiau-sing pun menjadi kesal.

"Jika benar ingatanku, Sim-si suheng dan Li Sun-Hoan lulus ujian kekaisaran pada tahun yang sama."

Sin-kam Taysu berkata dingin.

"Kalau begitu, Gosuheng pun pasti telah kena racun Li Sun-Hoan."

Sim-si Taysu tidak menggubris ocehan mereka. Katanya.

"Racun yang membunuh Jisuheng bukanlah racun Ngotok-tongcu."

Sin-kam Taysu memotong cepat.

"Kau tahu dari mana?"

Sim-si Taysu tertawa dingin.

"Kau pikir tidak seorang pun tahu perbuatanmu? Atau kau lupa bahwa Jisuheng meninggalkan sesuatu sebelum meninggal?"

Ia mengeluarkan buku harian Sim-bi. Tanya Sim-oh Taysu.

"Apa itu?"

Jawab Sim-si Taysu.

"Sebelum Jisuheng berangkat, ia sudah tahu siapa pencuri pengkhianat itu. Tapi ia tidak mau bertindak tanpa bukti nyata, sehingga Sim-bi hanya menuliskan namanya pada buku ini, supaya kalau dia mati, bukti itu tidak akan hilang."

Sim-oh Taysu terperanjat mendengarnya.

"Betulkah?"

Sin-kam Taysu memotong lagi.

"Jika memang betul ada Cayhe di buku itu, aku akan…."

Kata Sim-si Taysu.

"Kau akan apa? Walaupun sudah kau sobek halaman terakhirnya, bagaimana kau bisa yakin ia tidak menuliskan namamu di halaman yang lain juga?"

Tubuh Sin-kam Taysu gemetar, lalu berseru.

"Gosuheng telah bersekongkol dengan orang luar untuk memfitnah aku. Lotoa, tolong selidiki hal ini baik-baik."

Sim-oh Taysu hanya berdiri mematung sambil memandang Pek-hiau-sing. Kata Pek-hiau-sing.

"Siapapun dapat menuliskan nama itu."

Sin-kam Taysu pun segera mengiakan.

"Betul… Sekalipun Cayhe tertulis di situ, tidak dapat dibuktikan bahwa Jisuhenglah yang menulisnya."

Tambah Pek-hiau-sing.

"Setahuku, Li-tamhoa adalah seseorang yang sangat terpelajar. Ia pun pandai dalam ilmu tulis-menulis."

Sin-kam Taysu pun berkata.

"Betul sekali. Mudah sekali baginya untuk meniru tulisan tangan seseorang."

Sim-oh Taysu memandang pada Sim-si Taysu.

"Suheng, biasanya kau adalah seorang yang berhati-hati. Apakah kau tidak terlalu gegabah saat ini?"

Wajah Sim-si Taysu tidak berubah, terus menatap Sinkam Taysu.

"Jika kau pikir ini belum cukup, aku masih punya bukti yang lain."

Kata Sim-oh Taysu.

"O ya? Cepat katakan."

Sahut Sim-si Taysu.

"Kitab ‘Ta-ma-ih-kin-keng’ yang tersembunyi dalam kamar Jisuheng telah lenyap."

"O ya?"

Lanjut Sim-si Taysu.

"Menurut perhitungan Li Tamhoa, si pencuri pasti belum sempat membawanya keluar. Jadi kitab itu pasti masih ada di kamar Sin-kam Taysu. Ia telah pergi bersama dengan murid-muridku ke sana untuk mencarinya."

Sin-kam Taysu melompat bangun dan berteriak.

"Suheng, jangan dengarkan dia. Ia sedang memfitnahku!"

Sambil mengatakan itu, tubuhnya pun sudah berada di luar.

Sim-oh Taysu mengangkat alisnya, segera berdiri dan mengejarnya.

Dalam sekejap saja, mereka telah tiba di kamar Sin-kam Taysu.

Pintunya telah terbuka lebar.

Sin-kam Taysu bergegas masuk.

Ia segera menoreh sebuah lemari dan terlihatlah laci rahasia di baliknya.

Kitab ‘Ih-kin-keng’ ada di dalamnya.

Sin-kam Taysu berteriak.

"Buku ini tadinya ada di kamar Jisuheng. Karena mereka mau memfitnahku, maka ditaruhnyalah buku ini di situ. Tapi tipuan ini kan sudah ratusan kali dilakukan. Bagaimana mungkin seorang sepandai Suheng dapat tertipu oleh tipuan murahan kalian?"

Setelah ia selesai, Sim-si Taysu berkata dengan tenang.

"Jika kami ingin memfitnahmu, bagaimana kau bisa tahu kalau buku ini ada di balik lemari itu? Mengapa kau tidak perlu mencari-cari di tempat lain terlebih dulu?"

Sin-kam Taysu mengejang, wajahnya berkeringat. Sim-si Taysu bernafas lega.

"Li Tamhoa sudah memperhitungkan bahwa hanya dengan cara inilah kau akhirnya mengakui perbuatanmu."

Terdengar suara tawa seseorang.

"Tapi cara ini kan sangat riskan. Jika ia tidak terjebak, sampai kapan pun ia tidak akan tertangkap!"

Di tengah suara tawa itu, muncullah Li Sun-Hoan.

Sim-oh Taysu menghela nafas panjang, lalu membungkuk untuk menyapanya.

Li Sun-Hoan membalas sapaannya.

Sin-kam Taysu diam-diam melangkah mundur, namun Sim-ciok dan Sim-ting telah menghalangi jalannya.

Wajah mereka penuh kemarahan yang mematikan.

Kata Sim-oh Taysu.

"Tan Ok, Siau-lim-si sudah begitu baik padamu, mengapa kau berbuat seperti ini?"

Tan Ok adalah nama Sin-kam Taysu sebelum menjadi pendeta. Keringat Tan Ok bercucuran. Katanya.

"A…Aku mengakui kesalahanku."

Tiba-tiba ia berlutut dan berkata.

"Tapi akupun telah dimanfaatkan oleh orang lain."

Sim-oh Taysu membentak.

"Oleh siapa?"

Pek-hiau-sing memotong cepat.

"Kukira aku tahu siapa orangnya."

Kata Sim-oh Taysu.

"Tolong beri tahu kami."

Sahut Pek-hiau-sing.

"Dia!"

Semua orang menoleh ke arah yang ditunjuk Pek-hausing, namun mereka tidak melihat siapa pun juga.

Waktu mereka menoleh kembali, wajah Sim-oh Taysu telah berubah.

Tangan Pek-hiau-sing sudah berada di punggungnya.

Jari-jarinya telah terarah pada empat Hiat-to (jalan darah) utama Sim-oh Taysu.

Wajah Sim-si Taysu pun jadi berubah.

"Ternyata kau!"

Kata Pek-hiau-sing.

"Aku hanya ingin meminjam beberapa buku. Siapa sangka kalian ini pelit sekali."

Kata Sim-oh Taysu.

"Kita berteman sudah sepuluh tahun lebih. Aku tidak pernah menyangka kau akan berbuat seperti ini padaku."

Pek-hiau-sing menghela nafas.

"Aku pun tidak ingin melakukannya. Tapi karena Tan Ok bermaksud menyeretku jatuh bersamanya, terpaksa aku melakukan ini."

Tan Ok segera melompat, menyambar kitab ‘Ih-kin-keng’ itu, lalu tertawa mengejek.

"Betul sekali. Kau harus menemani kami turun gunung. Jika kalian semua masih ingin bertemu Ketua Siau-lim-si hidup-hidup, kalian sebaiknya tidak melakukan gerak yang mencurigakan."

Walaupun geram luar biasa, Sim-si Taysu hanya bisa menonton saja. Kata Sim-oh Taysu.

"Jika kalian semua menghargai Siaulim-si, jangan pedulikan aku. Tangkap pengkhianat ini sekarang juga!"

Kata Pek-hiau-sing.

"Kata-katamu tidak berarti. Mereka tidak mungkin bermain-main dengan hidupmu. Hidup seorang Ketua Siau-lim-si terlalu berharga."

Waktu kata yang terakhir diucapkannya, senyumnya pun tiba-tiba hilang.

Sebilah pisau berkilau.

Pisau Kilat si Li telah keluar!

Dan kini pisau itu telah melayang menuju lehernya!

Tidak seorang pun melihat kapan pisau itu keluar.

Pek-hiau-sing pun telah menggunakan Sim-oh Taysu sebagai tamengnya.

Lehernya selalu berada di belakang leher Sim-oh Taysu.

Hanya sebagian kecil lehernya yang tampak.

Kapan pun juga ia bisa segera berlindung di balik Sim-oh Taysu.

Dalam situasi ini, tidak seorang pun berani bergerak.

Namun begitu cepat pisau itu berkilat, dan lebih cepat dari halilintar, Pisau Kilat si Li telah menembus lehernya!

Sim-si Taysu, Sim-ciok dan Sim-ting segera berhamburan melindungi Sim-oh Taysu.

Mata Pek-hiau-sing dengan penuh kebencian menatap Li Sun-Hoan.

Tubuhnya masih tidak percaya dan kaget luar biasa.

Dalam kematian pun, ia tidak bisa percaya bahwa pisau Li Sun-Hoan telah menembus lehernya.

Mulutnya masih berusaha bicara, tapi tidak ada kata-kata yang keluar.

Namun semua orang bisa menebak bahwa ia hendak mengatakan.

"Aku salah….. Aku salah…."

Betul sekali.

Pek-hiau-sing tahu segala sesuatu, dapat melihat segala sesuatu, tapi ia salah terhadap satu hal.

Pisau Kilat si Li sungguh lebih cepat daripada yang ia bayangkan!

Pek-hiau-sing pun ambruk.

Li Sun-Hoan mendesah.

"Pek-hiau-sing menulis buku ‘Kitab Persenjataan’, dan mengurutkan senjata-senjata ampuh di dunia. Sungguh sial, ia mati karena salah satu dari senjata yang diurutkannya."

Sim-oh Taysu membungkuk beberapa kali, lalu berkata.

"Aku pun salah."

Lalu wajahnya tiba-tiba berubah.

"Di mana si pengkhianat itu?"

Tan Ok telah mengambil kesempatan dalam kekacauan itu dan kabur.

Seorang seperti dia tidak akan melewatkan kesempatan semacam ini.

Dalam sekejap saja ia sudah meninggalkan halaman biara.

Murid-murid yang lain tidak tahu akan kejadian ini.

Jadi kalaupun mereka melihat dia, mereka tak akan menghalanginya.

Ketika ia sampai di paviliun itu, A Fei sedang berusaha bangun.

Walaupun Pek-hiau-sing telah menutup Hiat-to (jalan darah)nya kuat-kuat, akhirnya lepas juga setelah sekian lama.

Ketika Tan Ok melihatnya, matanya penuh kebencian.

Ia ingin melampiaskan rasa frustrasinya pada A Fei.

Setelah disiksa begitu lama, bagaimana mungkin A Fei dapat melawannya?

Jadi, membunuh A Fei tidak akan memakan waktu lama.

Tanpa berkata apa-apa, Tan Ok menyerang.

Pukulan Siau-lim-si terkenal di seluruh dunia dan Tan Ok telah berlatih di Siau-lim-si selama sepuluh tahun, sehingga ia pun cukup lihai menggunakannya.

Pukulan ini mengandung seluruh tenaganya, cepat dan mematikan, dan tentunya dapat membunuh dengan mudah.

Tan Ok tahu, setelah membunuh A Fei pun dia masih punya cukup banyak waktu untuk melarikan diri.

Tapi siapa sangka, di saat yang genting itu tangan A Fei tiba-tiba teracung.

Ia bergerak belakangan, tapi menyerang lebih dulu!

Tan Ok hanya merasa kerongkongannya sedingin es.

Lalu ada rasa sakit menyertai hawa dingin itu.

Nafasnya berhenti, seakan-akan tercekik.

Mukanya menunjukkan rasa tidak percaya….

Ia tahu gerakan pemuda ini memang sangat cepat, tapi apakah yang digunakan pemuda ini untuk menusuk lehernya?

Ia tidak akan pernah tahu.

Tan Ok pun rubuh.

A Fei bangun berdiri, mengatur nafasnya.

Saat itu, Sim-oh Taysu dan yang lain telah tiba.

Mereka terkejut luar biasa, karena tidak ada yang menyangka bahwa pemuda ini, dalam kondisi seperti itu, dapat membunuh Tan Ok.

Batangan es menembus tenggorokan Tan Ok.

Es itu mulai mencair.

Pemuda ini hanya membutuhkan sebatang es untuk membunuh salah satu dari tujuh pendeta Hou-hoattaysu.

Sim-oh Taysu hanya bisa menatap wajahnya yang putih pucat itu.

Tidak tahu harus bicara apa.

A Fei pun tidak memandang mereka sekilas pun.

Ia langsung berjalan menuju Li Sun-Hoan, langsung tersenyum.

Li Sun-Hoan pun tersenyum.

Suara Sim-oh Taysua masih lemah.

"Maukah kalian berdua tidak mampir dulu ke…."

A Fei memotongnya cepat.

"Apakah Li Sun-Hoan adalah Bwe-hoa-cat ?"

Sahut Sim-oh Taysu.

"Bukan."

"Apakah aku adalah Bwe-hoa-cat ?"

"Bukan."

Kata A Fei.

"Kalau begitu, kami boleh pergi sekarang?"

Sim-oh Taysu memaksakan tersenyum.

"Tentu saja. Tapi kupikir kalian sebaiknya beristirahat di sini…."

A Fei memotongnya lagi.

"Jangan repot-repot. Sekalipun aku harus merangkak, aku akan merangkak turun gunung sekarang juga."

Sim-ciok dan Sim-ting, keduanya menunduk dalamdalam. Tidak ada seorang pun yang berani bersikap kurang ajar terhadap Ketua Siau-lim-si selama beratus

KANG ZUSI at

http.//cerita-silat.co.cc/ ratus tahun.

Namun saat ini mereka hanya dapat menelannya bulat-bulat.

A Fei meraih lengan Li Sun-Hoan dan berjalan keluar Siau-lim-si.

Li Sun-Hoan memutar badannya dan berkata.

"Hari ini kita berpisah. Jika kita bertemu kembali, lupakanlah kekasaran kami hari ini."

Kata Sim-si Taysu.

"Mari kuantar kalian."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Mengantar, seperti tidak mengantar. Tidak mengantar, seperti mengantar. Mengapa Pendeta harus membuat perbedaan?"

Waktu mereka lenyap dari pandangan, Sim-oh Taysu menghela nafas panjang. Ia tidak berkata apa-apa, namun diam terkadang lebih menyakitkan dari banyak kata-kata. Sim-ciok tiba-tiba berkata.

"Suheng, sesungguhnya kau jangan membiarkannya pergi."

Tanya Sim-oh Taysu.

"Mengapa?"

"Walaupun Li Sun-Hoan tidak mencuri kitab-kitab itu, ataupun membunuh Jisuheng, kita masih belum bisa membuktikan bahwa dia bukanlah Bwe-hoa-cat ."

Tanya Sim-oh Taysu lagi.

"Lalu bagaimana kita membuktikannya?"

Jawab Sim-ciok.

"Ia dapat membuktikannya dengan menangkap Bwe-hoa-cat yang sebenarnya."

Sim-oh Taysu kembali mendesah.

"Aku tahu, ia pasti akan menangkapnya dan membawanya ke sini. Itu tidaklah penting. Namun enam kitab itu…."

Walaupun pencurinya telah tertangkap, kitab-kitab itu belum ditemukan.

Kepada siapa diberikannya kitab-kitab itu?

Siapa sebenarnya yang berdiri di balik semua ini?

Li Sun-Hoan tidak suka berjalan, lebih-lebih berjalan di atas salju.

Namun kali ini ia tidak punya pilihan.

Walaupun angin dingin mengiris kulitnya, tidak ada kereta yang dapat ditumpangi.

Tapi A Fei telah terbiasa berjalan.

Dalam benak orang lain, berjalan itu sangat melelahkan, namun bagi A Fei, berjalan itu menenangkan.

Dengan lebih banyak berjalan, lebih banyak juga tenaganya dipulihkan.

Mereka berbagi cerita dan Li Sun-Hoan pun mulai berpikir.

Katanya.

"Kau bukan Bwe-hoa-cat . Aku juga bukan. Lalu siapa?"

A Fei memandang ke kejauhan.

"Ia sudah mati."

Li Sun-Hoan berkata.

"Apa betul ia sudah mati? Apa betul yang kaubunuh itu Bwe-hoa-cat ?"

A Fei diam saja. Li Sun-Hoan tiba-tiba terkekeh.

"Pernahkah kau terpikir bahwa Bwe-hoa-cat bukan seorang laki-laki?"

"Jika ia bukan laki-laki, lalu apa?"

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Jika ia bukan laki-laki, maka ia pasti seorang wanita!"

Bab 25. Pedang yang Kejam, Ahli Pedang yang Lembut Hati A Fei tidak bisa menahan tawanya mendengar pendapat Li Sun-Hoan bahwa Bwe-hoa-cat adalah seorang wanita.

"Bagaimana dia bisa memperkosa wanita?"

Kata Li Sun-Hoan.

"Di sinilah kelicikannya. Dengan begitu, tidak seorang pun mengira bahwa Bwe-hoa-cat adalah seorang wanita."

"Tapi mana caranya wanita bisa memperkosa wanita?"

Li Sun-Hoan terkekeh.

"Ada satu cara."

Ia terbatuk sedikit, lalu melanjutkan.

"Jika memang benar Bwe-hoa-cat adalah seorang wanita, ia bisa saja menggunakan laki-laki untuk mengerjakan perkerjaan hina itu. Sesudah itu, pada waktu yang tepat laki-laki itu pun dibunuhnya."

Kata A Fei.

"Kau berpikir terlalu jauh."

Kata Li Sun-Hoan.

"Mungkin kau benar, tapi lebih baik berpikir terlalu jauh daripada tidak berpikir sama sekali."

Kata A Fei lagi.

"Bwe-hoa-cat mula-mula muncul tiga puluh tahun yang lalu. Paling tidak sekarang usianya sudah lebih dari 50 tahun."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Bwe-hoa-cat tiga puluh tahun yang lalu dan yang sekarang, mungkin bukan orang yang sama. Mereka bisa jadi guru dan murid, atau ayah dan anak."

A Fei terdiam. Li Sun-Hoan pun diam untuk beberapa lama. Lalu ia berkata.

"Pek-hiau-sing tidak mungkin adalah otak pencurian kitab-kitab itu, karena tidak mungkin ia bisa membujuk Sin-kam Taysu untuk mengambil resiko sebesar itu baginya."

"O ya?"

Li Sun-Hoan melanjutkan.

"Sebelum Sin-kam Taysu masuk ke Siau-lim-si, ia sudah terkenal. Jika ia menginginkan harta, ia bisa mendapatkannya. Jadi motifnya pasti bukan uang."

"O ya?"

"Walaupun ilmu silat Pek-hiau-sing cukup tinggi, pasti tidak dapat menakut-nakuti Pendeta Siau-lim-si."

Kata A Fei.

"Mungkin ia tahu sesuatu yang dapat dipakai untuk memeras Sin-kam Taysu."

Tanya Li Sun-Hoan.

"Sesuatu apa? Sebelum ia masuk ke Siau-lim-si, apapun yang dilakukan Tan Ok tidak ada sangku-pautnya dengan Sin-kam Taysu, karena engkau harus melepaskan diri dari kehidupanmu di masa lalu sebelum menjadi seorang pendeta. Pek-hiau-sing tidak dapat menggunakan apa yang diperbuatnya di masa lalu untuk mengancamnya. Dan setelah Tan Ok masuk ke Siau-lim-si, kejahatan apa yang mungkin diperbuatnya?"

"Kenapa tidak mungkin?"

"Jika ia ingin berbuat jahat, tidak ada gunanya masuk ke Siau-lim-si. Semua orang tahu bagaimana ketatnya peraturan Siau-lim-si. Jadi ia tidak mungkin mengambil resiko, kecuali….."

Tanya A Fei.

"Kecuali apa?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Kecuali ada sesuatu yang dapat menggerakkan hatinya. Dan ini pasti bukan ketenaran, bukan juga uang."

Tanya A Fei lagi.

"Lalu apa yang dapat mendorong seseorang berbuat seperti ini?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Hanya kecantikan yang tiada taranya."

"Bwe-hoa-cat ?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Betul sekali. Hanya kecantikan yang memukaulah yang dapat membuat dia mengkhianati Siau-lim-si dan mencuri kitab-kitab itu."

Kata A Fei.

"Bagaimana kau bisa menebak bahwa Bwehoa-cat pasti adalah seorang wanita cantik?"

Li Sun-Hoan terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Mungkin aku salah…. Kuharap aku salah…."

A Fei tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan menatap Li Sun-Hoan.

"Apakah kau akan kembali ke Hin-hunceng?"

Li Sun-Hoan tersenyum sedikit, jawabnya.

"Aku tidak tahu ke mana lagi harus pergi." *** Malam gelap gulita. Hanya ada sebatang lilin yang menyala di rumah itu. Li Sun-Hoan menatap kosong ke arah cahaya lilin itu sampai cukup lama. Ia mengambil sapu tangan, menutup mulutnya dan mulai batuk-batuk. Terlihat darah mengotori sapu tangan itu, yang kini dimasukkan kembali ke dalam sakunya. Lalu katanya sambil tersenyum.

"Aku tidak ingin lagi masuk."

Tanya A Fei.

"Mengapa?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Tidak tahu. Aku sering tidak tahu mengapa aku melakukan sesuatu."

Kata A Fei.

"Liong Siau-hun memperlakukanmu seperti itu, dan kau tidak ingin mencarinya?"

Li Sun-Hoan hanya tersenyum dan berkata.

"Tapi ia tidak bersalah…. Karena seseorang tidak pernah dapat disalahkan untuk apapun yang diperbuat demi istri dan anaknya."

A Fei memandangnya sangat sangat lama. Lalu ia menundukkan kepalanya, katanya.

"Kau memang benarbenar orang aneh. Tapi kau juga adalah seorang sahabat yang tak mungkin terlupakan."

Kata Li Sun-Hoan.

"Tentu saja kau tidak akan melupakan aku, karena kita akan berjumpa lagi di lain hari."

A Fei terkejut.

"Tapi…Tapi sekarang…."

Li Sun-Hoan meneruskan kata-katanya.

"Tapi sekarang, ada yang harus kau lakukan. Jadi, pergi dan lakukanlah."

Mereka berdua berdiri mematung di situ tanpa kata-kata.

Angin berhembus kencang membelah dataran itu.

Dari jauh kedengaran suara kentongan.

Jauh sekali, hingga suaranya bagaikan air mata yang jatuh ke atas rumput.

Tidak ada bintang, tidak ada bulan, hanya kabut yang tebal….

Li Sun-Hoan tiba-tiba tertawa dan berkata.

"Hari ini berkabut. Besok hari pasti cerah."

Sahut A Fei.

"Ya."

Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya dan ia tidak dapat melanjutkan bicaranya.

Ia melompati dinding yang tinggi itu, dan terlihat olehnya lilin di kamar Lim Sian-ji masih menyala.

Sesosok bayangan wanita terbayang di jendela kertas itu.

Hati A Fei tercekat.

Orang yang berada di dalam seakan-akan sedang membaca buku, dan sebentar-sebentar merenung.

A Fei membuka pintu.

Setelah pintu terbuka, terlihatlah wajah yang menawan itu.

Setelah pintu terbuka, kakinya tidak mampu melangkah lebih jauh.

Lim Sian-ji menoleh.

Ia terperanjat melihat siapa yang datang, namun kemudian tersenyum.

"Oh, kau yang datang,"

Katanya. Kata A Fei.

"Aku yang datang."

Ia mendengar suaranya sendiri terasa sangat jauh. Sampai-sampai ia sulit mendengarnya. Lim Sian-ji mendekapkan tangannya ke dadanya, lalu berkata.

"Lihat, kau sudah mengagetkan aku."

Kata A Fei.

"Kau pikir aku sudah mati, jadi kau begitu terkejut melihat aku, bukan?"

Lim Sian-ji mengerjapkan matanya yang indah.

"Kau ini bicara apa? Ayo cepat masuk, nanti kau masuk angin."

Ia segera menarik tangan A Fei masuk ke dalam kamarnya. A Fei menarik tangannya dari genggaman Lim Sian-ji. Lim Sian-ji berkata dengan manis.

"Kau sedang marah ya? Dengan siapa? Mari kubantu engkau."

Ia berusaha memeluk A Fei, namun A Fei mendorongnya pergi. Lim Sian-ji kehilangan keseimbangannya dan jatuh terduduk. Air mata mengambang di matanya yang bening.

"Apakah aku yang membuat kau marah? Mengapa kau memperlakukan aku seperti ini? Apa kesalahanku? Katakan saja padaku dan aku pun tak akan mati dengan menyesal."

A Fei mengepalkan tangannya.

Ia baru saja melihat buku apa yang sedang dibaca oleh Lim Sian-ji.

Kitab suci agama Budha.

Kitab suci dari Kuil Siau-lim-si.

A Fei menatapnya, seolah-olah ia tidak mengenal orang ini.

Lalu A Fei berkata dengan dingin.

"Apa yang kau lakukan? Kau tahu bahwa waktu aku melangkah masuk ke dalam rumah Sin-losam jiwaku akan melayang."

Kata Lim Sian-ji.

"Ap…Apa maksudmu?"

Kata A Fei.

"Waktu Pek-hiau-sing dan Sin-kam Taysu memberikan kitab Siau-lim-si itu padamu, kau menyuruh mereka memasang perangkap di rumah Sin-losam."

Lim Sian-ji menggigit bibirnya kuat-kuat. Katanya.

"Kau berpikir bahwa aku ingin mencelakaimu?"

Sahut A Fei.

"Sudah pasti. Hanya kau seorang yang tahu bahwa aku akan datang ke rumahnya malam itu."

Lim Sian-ji menutupi wajahnya dengan tangannya dan menangis lagi.

"Tapi, kenapa aku ingin mencelakaimu? Kenapa?"

"Karena kaulah Bwe-hoa-cat !"

Wajah Lim Sian-ji bengong seperti baru saja dicambuk seseorang tiba-tiba. Ia langsung melompat dan berseru.

"Aku adalah Bwe-hoa-cat ? Berani-beraninya kau bilang bahwa aku adalah Bwe-hoa-cat ?"

Sahut A Fei tegas.

"Ya, kaulah Bwe-hoa-cat ."

Kata Lim Sian-ji.

"Bwe-hoa-cat kan sudah mati. Kau…."

A Fei segera memotongnya.

"Aku hanya membunuh salah seorang bonekamu, supaya kau dapat mengalihkan kecurigaan orang dari dirimu."

Ia melanjutkan lagi.

"Kau tahu bahwa Kim-si-kah ada pada Li Sun-Hoan, dan kau tahu bahwa ia tidak akan tertipu olehmu. Maka kau ada dalam bahaya besar. Oleh sebab itulah, kau undang dia datang ke bilikmu malam itu."

Sahut Lim Sian-ji.

"Aku memang punya janji bertemu dengan dia malam itu, karena saat itu aku belum mengenal engkau."

A Fei tidak menggubrisnya.

"Kau suruh bonekamu itu pura-pura menculikmu, supaya Li Sun-Hoan datang menyelamatkanmu dan membunuhnya. Jika seluruh dunia tahu bahwa Bwe-hoa-cat sudah mati, tidak akan ada yang bisa mencurigaimu."

Lim Sian-ji pun menjadi tenang. Ia hanya berkata.

"Teruskan."

Kata A Fei.

"Tapi kau tidak menyangka bahwa Li Sun-Hoan dijebak orang lain, dan lebih tidak menyangka lagi bahwa aku akan muncul."

Kata Lim Sian-ji.

"Jangan lupa, aku pun menyelamatkan engkau."

"Betul sekali."

"Jika aku adalah Bwe-hoa-cat , mengapa aku menolongmu?"

Sahut A Fei.

"Karena rencanamu gagal, dan pada saat itu, bagimu aku lebih berguna dalam keadaan hidup. Waktu tidak ada seorang pun yang datang memeriksa bilikmu saat itu, aku mulai curiga."

Tanya Lim Sian-ji.

"Kau pikir aku bersekongkol dengan Liong Siau-hun dan yang lain untuk menjatuhkan Li Sun-Hoan?"

Jawab A Fei.

"Tentu saja mereka tidak tahu rencanamu. Kau hanya memanfaatkan mereka. Lagi pula, Liong Siau-hun sudah lama membenci Li Sun-Hoan. Jadi ia pasti tidak keberatan ikut dalam rencanamu."

Kata Lim Sian-ji.

"Apakah ini semua ide Li Sun-Hoan?"

Sahut A Fei.

"Kau pikir semua laki-laki di dunia ini adalah orang tolol, boneka yang bisa kau permainkan. Waktu Li Sun-Hoan tidak kena kau kibuli, kau segera memasang merangkap untuk melenyapkan dia."

A Fei merasa suaranya mulai bergetar. Ia mengertakkan giginya dan melanjutkan.

"Kau bukan hanya licik dan berdarah dingin. Kaupun sangat rakus, sampai tega merampok kitab suci Siau-lim-si. Kau….. Kau….."

Lim Sian-ji mendesah.

"Sepertinya aku salah menilai engkau."

Sahut A Fei.

"Tapi aku tidak salah menilai engkau!"

Kata Lim Sian-ji.

"Jika kukatakan bahwa bukan Tan Ok dan Pek-hiau-sing yang memberikan kitab-kitab ini padaku, kau tak akan percaya bukan?"

Kata A Fei.

"Apapun yang kau katakan, selamanya aku tidak akan pernah percaya padamu lagi."

Lim Sian-ji tertawa.

"Sekarang aku mengerti engkau, mengerti hatimu…."

Sambil berbicara, ia melangkah mendekati A Fei.

Langkahnya pasti.

Angin menderu dan cahaya lilin pun bergoyang-goyang.

Cahaya lilin menerangi wajahnya yang ayu, yang bersimbah air mata.

Ia menatap A Fei lekat-lekat dan berkata.

"Aku tahu kau datang untuk membunuhku, bukan?"

A Fei hanya mengepalkan tangannya dan mengatupkan bibirnya. Ia menunjuk ke dadanya.

"Kau ada pedang, mengapa belum juga kau bunuh aku? Aku harap kau tusuk aku di sini, tepat di hatiku."

Pedang A Fei telah tergenggam di tangannya. Lim Sian-ji memandangnya sayu, katanya.

"Bunuhlah aku. Aku berbahagia bisa mati di tanganmu."

A Fei tidak sanggup memandangnya.

Ia memandang ke arah pedangnya.

Matanya penuh perasaan.

Penuh kelembutan, penuh kasih, namun juga penuh kebencian….

Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang dapat menggetarkan hati laki-laki lebih kuat daripada sepasang mata ini.

Secercah sinar terpancar di sudut matanya.

"Kau adalah orang yang paling kusayangi di dunia ini. Jika kau pun tak mempercayai aku, tidak ada alasan lagi bagiku untuk hidup lebih lama."

A Fei menggenggam pedangnya erat-erat, sampai jarijarinya merasa sakit. Lanjut Lim Sian-ji.

"Jika kau pikir aku adalah Bwe-hoa-cat , aku adalah wanita yang menjijikkan, bunuh sajalah aku. Aku….Aku tidak akan menyalahkan engkau."

Tangan A Fei mulai bergetar.

Pedang yang kejam.

Pedang memang kejam.

Namun hati manusia?

Bagaimana mungkin manusia tidak berperasaan?

Cahaya lilin pun padam.

Namun kecantikan Lim Sian-ji kian berkilau dalam kegelapan.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Namun dalam kegelapan, suara nafasnya pun terdengar sungguh menghanyutkan, menghangatkan hati yang mendengar.

Adakah kekuatan yang lebih besar daipada kekuatan cinta?

Melihat wanita seperti ini, mengingat perasaan terdalam yang pernah dialaminya seumur hidupnya, memandang kegelapan tak berujung itu…..

Bagaimana mungkin A Fei membunuhnya?

Pedang memang kejam!

Namun si ahli pedang memang lembut hati!

Bab 26.

Orang Aneh di Warung Kecil Musim gugur, daun-daun berguguran.

Di ujung jalan itu terlihat sebuah puri besar.

Namun seperti daun-daun di musim gugur, telah tiba waktunya untuk runtuh.

Di depannya tampak pintu besar yang kelihatannya tidak pernah dibuka lebih dari satu tahun.

Pegangan tembaganya sudah penuh dengan karat.

Sudah begitu lama tidak terdengar suara apapun dari dalam.

Hanya suara jangkrik dan burung gereja.

Namun demikian, tidak selamanya puri itu seperti sekarang ini.

Tujuh Jin Shi dan tiga Tamhoa pernah hidup di sini, termasuk satu di antaranya yang merupakan pahlawan gagah dunia persilatan.

Namun dua tahun yang lalu, puri ini berganti pemilik, dan begitu banyak kejadian menegangkan terjadi di sini.

Begitu banyak pesilat tangguh mati di sini.

Setelah itu, puri ini menjadi sunyi senyap.

Orang-orang tidak tahu apa yang terjadi.

Ada yang bilang sepertinya ada hawa kejahatan yang menyelimutinya.

Kini, tidak lagi terdengar suara tawa dari dalam.

Tidak ada lagi lentera yang menerangi di malam hari.

Hanya sebatang lilin yang menyala di ruangan kecil di bagian belakang.

Seolah-olah orang di dalam itu sedang menantikan kedatangan seseorang.

Tapi siapa yang dinantinantikannya?

*** Sekotor apapun, segelap apapun suatu tempat, ada saja orang yang mau tinggal di situ.

Mungkin karena orang itu tidak punya tempat tinggal lain, atau mungkin orang itu sudah bosan dengan kehidupan, lebih suka bersembunyi dalam kegelapan, menunggu orang-orang melupakannya.

Di jalan kecil ini ada sebuah warung kecil.

Warung ini menjual makanan dan arak di depan, dan di belakang adalah beberapa kamar untuk penginapan.

Pemiliknya, Si Bungkuk Sun, adalah seorang cacad.

Walaupun ia tahu bahwa tempat itu bukan tempat yang baik untuk bisnis, ia tidak mau memindahkan warungnya.

Ia memilih hidup sebatang kara di situ, tidak mendengar suara tawa gembira orang lain, karena ia tahu uang tidak bisa membeli ketenangan hidup.

Tentu saja ia kesepian.

Kira-kira setahun yang lalu, seorang pelanggan yang aneh datang ke warungnya.

Sebenarnya, ia tidak mengenakan pakaian yang aneh, ataupun bertampang aneh.

Walaupun ia cukup jangkung dan berwajah cukup lumayan, ia kelihatan sangat lemah, selalu sakit-sakitan dan tidak henti-hentinya batuk.

Ia benar-benar tampak seperti orang biasa.

Namun Si Bungkuk Sun langsung tahu bahwa ia lain dari yang lain.

Ia tidak menertawai Sun karena punggungnya yang bungkuk, tapi ia juga tidak peduli dan tidak menunjukkan sedikitpun rasa simpati.

Ia tidak pilih-pilih tentang arak, juga tidak menilai.

Ia tidak banyak bicara.

Yang aneh, setelah ia masuk ke warung itu, ia tidak pernah keluar lagi.

Pertama kali ia datang, ia memilih meja di sudut.

Ia memesan tahu kering, daging sapi, dua kerat roti dan tujuh guci arak.

Setelah ia menghabiskan araknya, ia meminta Si Bungkuk Sun untuk membawakan lagi tujuh guci.

Lalu ia tidur di kamar paling pojok di penginapan itu, dan bangun esok senja.

Waktu ia keluar, ketujuh guci araknya sudah pasti habis ludes.

Itu sudah berlangsung satu tahun, kini.

Tiap malam, sudut yang sama, makaLam-yang-hu sama, tahu kering, daging sapi, dua kerat roti dan tujuh guci arak.

Ia minum sambil terbatuk-batuk.

Setelah habis, ia akan membawa tujuh guci lagi masuk ke dalam kamarnya, dan tidak muncul lagi sampai malam berikutnya.

Si Bungkuk Sun juga seorang peminum, tapi ia kagum pada orang ini.

Baru kali ini ia melihat orang minum 14 guci dan tidak mabuk.

Kadang-kadang ia ingin bertanya pada orang itu, tapi diurungkannya.

Ia tahu bahwa ia tidak akan mendapat jawaban.

Si Bungkuk Sun pun bukan orang yang senang ngobrol.

Ini sudah terjadi berbulan-bulan, ketika hawa menjadi sangat dingin dan hujan terus menerus beberapa hari.

Si Bungkuk Sun pergi ke belakang untuk memastikan semuanya baik-baik saja.

Ia melihat jendela kamar pojok itu terbuka.

Ia melongok ke dalam dan terlihat si orang aneh itu telentang di lantai dengan wajah sangat merah, seolah-olah berlumuran darah.

Si Bungkuk Sun segera membaringkannya di tempat tidur dan pergi mencari obat, memasaknya dan merawatnya selama tiga hari.

Sampai ia bisa bangkit dari tempat tidur dan meminta arak lagi.

Saat itu tahulah Si Bungkuk Sun bahwa orang itu memang ingin mati.

Jadi ia berusaha menasihatinya.

"Tidak ada orang yang bisa hidup kalau minum arak terus seperti ini."

Tapi orang itu hanya tersenyum. Ia bertanya.

"Bagaimana kau tahu kalau minum arak akan memperpendek umurku?"

Si Bungkuk Sun tidak bisa menjawab.

Sejak hari itu, mereka menjadi sahabat.

Jika tidak ada tamu lain, mereka akan minum bersama, mengobrol ngalor ngidul.

Si Bungkuk Sun jadi tahu, orang ini cukup terpelajar.

Ia hanya tidak mau bicara tenTong Toka hal, masa lalunya dan namanya.

Suatu ketika Si Bungkuk Sun bertanya.

"Kita kan sekarang berteman, bagaimana aku memanggilmu?"

Ia berpikir sebentar lalu menjawab.

"Aku kan seorang pemabuk, panggil saja aku seperti itu."

Si Bungkuk Sun pun jadi paham bahwa orang ini pasti mempunyai masa lalu yang tragis, sampai-sampai ia tidak mampu menyebutkan namanya sendiri, dan lebih memilih untuk tenggelam dalam araknya.

Selain arak, orang ini punya satu kesukaan lain.

Mengukir.

Ia selalu menggunakan pisau kecilnya untuk mengukir potongan-potongan kayu.

Namun Si Bungkuk Sun tidak pernah tahu apa yang diukirnya, karena ia tidak pernah menyelesaikan ukirannya itu."

Tamu ini memang benar-benar aneh, bahkan bisa dibilang, menakutkan.

Namun Si Bungkuk Sun berharap dia tidak akan pernah pergi.

Pagi ini cuaca sungguh dingin.

Si Bungkuk Sun harus mengenakan mantel tebalnya untuk keluar membuka warungnya.

Lalu dilihatnya dua orang menunggang kuda datang ke arah warungnya.

Tidak banyak orang yang menunggang kuda di daerah ini, jadi Si Bungkuk Sun memperhatikan dengan seksama.

Kedua orang ini mengenakan jubah panjang berwarna kuning.

Orang yang di depan bermata besar, dan yang di belakang berhidung runcing.

Keduanya berambut pendek dan berusia sekitar 30-an.

Kedua orang ini tidak tampak luar biasa, hanya jubah mereka yang kuning sangat menyolok.

Mereka tidak memperhatikan Si Bungkuk Sun.

Mereka hanya mengawasi keadaan sekitar.

Ia tahu bahwa kedua orang ini tidak menyadari kehadirannya.

Kedua orang ini terus melewati warungnya dan lenyap dari pandangan.

Namun sebentar kemudian, mereka kembali lagi.

Anehnya, kali ini mereka turun dari kuda tepat di depan warung itu.

Walaupun tabiat Si Bungkuk Sun sering juga aneh, ia masih ingin berdagang.

Oleh sebab itu segera ia bertanya.

"Apa yang Tuan-Tuan perlukan?"

Si mata besar berkata.

"Kami tidak perlu apa-apa, kami hanya ingin bertanya."

Si Bungkuk Sun meneruskan pekerjaannya. Ia memang tidak gemar bercakap-cakap. Si hidung runcing pun tertawa dan berkata.

"Bagaimana jika kami membeli jawaban darimu? Satu tail perak untuk tiap jawaban."

Mata Si Bungkuk Sun pun menjadi cerah. Ia mengangguk dan menjawab.

"Boleh."

Seraya menjawab, ia mengacungkan satu jari. Si mata besar tertawa.

"Tadi sudah termasuk satu jawaban?"

Si Bungkuk Sun menjawab.

"Ya."

Kini dua jari teracung. Si hidung runcing bertanya.

"Sudah berapa lama kau tinggal di sini?"

Si Bungkuk Sun menjawab.

"Dua puluh tahun lebih."

Si hidung runcing bertanya lagi.

"Siapa yang tinggal di puri di seberang warungmu itu?"

"Keluarga Li."

Si hidung runcing kembali bertanya.

"Siapa pemiliknya setelah itu?"

"Shenya Liong, namanya Liong Siau-hun."

Lagi ia bertanya.

"Pernahkah kau melihat dia?"

"Tidak."

"Di mana dia sekarang?"

"Ia sudah pergi."

"Kapan?"

"Kira-kira setahun yang lalu."

"Ia tidak pernah kembali lagi sejak itu?"

"Tidak."

"Jika kau tidak pernah melihat dia, bagaimana kau tahu begitu banyak?"

"Tukang masaknya sering datang membeli arak ke sini."

Si hidung runcing berpikir beberapa saat lalu bertanya.

"Belakangan ini, adakah orang asing yang datang ke sini dan bertanya-tanya?"

"Tidak. Jika ada….aku pasti sudah kaya raya."

Si mata besar tersenyum.

"Ini upahmu."

Ia melemparkan beberapa koin perak, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, mereka menaiki kuda mereka dan pergi. Si Bungkuk Sun memandangi uang perak itu dan menggumam.

"Kadang-kadang aku tidak bisa percaya begitu mudahnya mendapatkan uang."

Ia membalikkan badannya, dan kaget karena si pemabuk itu sudah berada tetap di belakangnya. Ia memandang ke arah kedua penunggang kuda itu pergi. Si Bungkuk Sun tersenyum.

"Kau bangun pagi sekali hari ini."

Si pemabuk pun tersenyum.

"Semalam aku minum cepat sekali. Jadi aku sudah sadar lagi pagi-pagi."

Ia menunduk dan terbatuk, lalu bertanya.

"Hari ini tanggal berapa?"

Kata Si Bungkuk Sun.

"Tanggal 14 bulan 9."

Wajah si pemabuk yang pucat menjadi bersemu merah. Ia memandang ke kejauhan dan terdiam cukup lama. Lalu ia bertanya.

"Jadi besok adalah tanggal 15 bulan 9, bukan?"

Si pemabuk sepertinya masih ingin bicara, namun ia mulai terbatuk-batuk. Dan ia terus terbatuk-batuk. Si Bungkuk Sun mengeluh sambil menggelengkan kepalanya.

"Jika seuma orang minum arak sebanyak engkau, semua penjual arak akan jadi orang kaya."

Senja pun tiba dan di kejauhan cahaya lilin tampak di ruangan kecil di bagian belakang.

Si pemabuk pun tetap minum di tempatnya yang biasa.

Bab 27.

Makin Banyak Orang Aneh yang Datang Hari ini si pemabuk tampak berbeda.

Ia minum sangat sangat lambat.

Matanya sangat terang.

Tidak ada potongan kayu di tangannya dan secara khusus dipindahkannya lilin di mejanya ke tempat lain.

Matanya terus memandang ke pintu, seolah-olah menantikan kedatangan seseorang.

Namun waktu terus berlalu tanpa ada tamu lain yang datang.

Si Bungkuk Sun menguap.

"Sepertinya sudah tidak akan ada tamu lagi. Aku rasa sudah waktunya tutup warung."

Si pemabuk tertawa. Katanya.

"Jangan buru-buru. Kujamin, hari ini bisnismu akan luar biasa."

Si Bungkuk Sun bertanya.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

Jawab si pemabuk.

"Karena aku bisa meramal."

Ia memang benar-benar bisa meramal, karena sebentar saja, beberapa kelompok orang telah datang ke warung itu.

Kelompok yang pertama terdiri dari dua orang.

Yang satu adalah orang tua berambut putih, berbaju biru dan membawa sebuah pipa.

Yang satu lagi adalah seorang gadis kecil, kelihatannya adalah cucu orang tua itu.

Rambutnya yang hitam berkilauan itu dikuncir dua.

Kedua matanya besar, lebih hitam dan lebih berkilauan daripada rambutnya.

Kelompok yang kedua juga terdiri dari dua orang.

Keduanya terlihat kotor dan berantakan, namun mereka berdua berbadan kekar dan mengenakan pakaian yang sama persis, dan membawa senjata yang sama pula.

Seperti pinang dibelah dua.

Kelompok yang ketiga terdiri dari empat orang.

Yang seorang bertubuh jangkung, yang seorang bertubuh pendek, yang seorang adalah seorang pemuda berbaju ungu dan membawa tombak di punggungnya, dan yang seorang lagi seorang wanita berbaju hijau yang mengenakan begitu banyak perhiasan.

Wanita ini berjalan sambil menggoyangkan pantatnya seperti seorang gadis kecil.

Padahal ia sudah cukup tua untuk menjadi ibu seorang gadis kecil.

Kelompok yang terakhir hanya terdiri dari satu orang.

Orang ini sangat sangat kurus.

Ia membawa pedang lemas yang tersemat di pinggangnya.

Di ruangan itu ada lima meja, sehingga keempat kelompok ini sudah memenuhi seluruh warung.

Si Bungkuk Sun menjadi sangat sibuk.

Ia hanya bisa berharap besok warungnya tidak selaris ini lagi.

Keempat kelompok orang ini hanya duduk-duduk sambil minum arak.

Mereka berbicara sedikit saja.

Kalaupun berbicara, mereka berbisik-bisik, seolah-olah takut yang lain akan mendengar.

Setelah beberapa saat, si pemuda bertombak mulai memandang si gadis berkuncir.

Anehnya si gadis itu tampak tidak peduli.

Si pemuda itu tiba-tiba tertawa.

"Apakah gadis ini seorang penyanyi?"

Si gadis berkuncir menggelengkan kepala, sehingga kuncirnya berkibar-kibar ke kiri ke kanan. Ia tampak makin cantik. Kata si pemuda.

"Walaupun kau bukan penyanyi, pastilah kau bisa menyanyi. Jika kau menyanyi dengan baik, aku akan memberimu hadiah."

Si gadis berkuncir menyahut.

"Aku tidak bisa menyanyi, aku hanya bisa bicara."

"Bicara tentang apa?"

"Tentang buku, atau cerita."

Kata si pemuda.

"Oh, itu lebih bagus. Tapi cerita macam apakah yang akan kau ceritakan? Pelajar dan gadis yang bertemu di taman? Anak perempuan menteri mencari jodoh?"

Si gadis berkuncir menggelengkan kepalanya. Katanya.

"Salah semua. Aku bercerita tentang kabar terbaru dan terhangat dari dunia persilatan."

Si pemuda bertepuk tangan senang.

"Hebat. Hebat. Aku jamin, cerita itulah yang paling diminati semua orang di sini. Ayo cepat mulai."

Sahut si gadis berkuncir.

"Tapi bukan akulah yang bisa, hanya kakekkulah yang akan bercerita."

Si pemuda memandang si orang tua, lalu bertanya pada si gadis.

"Lalu apa yang kau bisa?"

"Aku hanya dapat membantu kakekku."

Si orang tua minum beberapa cawan arak, lalu mulai mengisap pipanya. Ia bekata perlahan-lahan.

"Pernahkah kau dengar nama Li Sun-Hoan?"

Selain si pemuda, orang-orang lain di warung itu tidak memperhatikan kakek dan cucu ini.

Namun ketika mereka mendengar nama Li Sun-Hoan disebut, telinga mereka langsung berdiri.

Si gadis berkuncir menjawab sambil tersenyum.

"Tentu saja pernah. Ia adalah seorang pahlawan yang gagah, Litamhoa yang terkenal itu, bukan?"

Jawab si orang tua.

"Tepat sekali."

Si gadis berkuncir berkata.

"Kudengar Pisau Kilat si Li tidak pernah luput. Sampai hari ini, tidak ada seorang pun yang dapat lolos darinya. Apakah memang begitu?"

Sahut si orang tua.

"Jika kau tidak percaya, kau boleh tanya pada si serba tahu Pek-hiau-sing, atau Ngo-toktongcu, dan kau pun akan mengerti apakah perkataan itu benar atau tidak."

Tanya si gadis berkuncir.

"Maksudmu Pek-hiau-sing dan Ngo-tok-tongcu sudah mati?"

"Ya. Mereka mati karena mereka tidak percaya akan perkataan itu."

Orang kurus jangkung itu terbatuk perlahan, namun semua orang telah hanyut dalam cerita itu, sehingga mereka tidak memperhatikan.

Hanya si pemabuk yang tertelungkup di atas mejanya, sepertinya ia sudah mabuk berat.

Si orang tua menyeruput tehnya, lalu berkata.

"Sayangnya, Li Sun-Hoan pun sudah mati."

Si gadis berkuncir terperanjat.

"Mati? Siapa yang begitu hebat bisa membunuh dia?"

Sahut si orang tua.

"Dirinya sendiri!"

Si gadis berkuncir memandang kakeknya beberapa saat, lalu ia tersenyum.

"Mana mungkin ia bunuh diri? Ia pasti masih hidup."

Si orang tua mendesah. Katanya.

"Walaupun ia masih hidup, ia pun hidup seperti orang mati…. Sungguh sayang….."

Si gadis berkuncir pun mendesah. Lalu bertanya.

"Selain dia, siapakah lagi yang bisa disebut sebagai pahlawan?"

Kata si orang tua.

"Pernahkah kau dengar tentang A Fei?"

Si gadis berkuncir menjawab.

"Sepertinya pernah dengar."

Matanya berputar, lalu ia melanjutkan.

"Kudengar kecepatan pedangnya tiada duanya di dunia persilatan. Benarkah itu?"

Si orang tua balas bertanya.

"Menurutmu bagaimanakah ilmu silat In Gok?"

Jawab si gadis berkuncir.

"Dalam Kitab Persenjataan, Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau) menduduki tempat kesembilan. Jadi pastilah dia sangat hebat."

Tanya si orang tua lagi.

"Bagaimana dengan Thi-tiok Siansing, Pendeta Sin-kam Taysu, Tio Cing-ngo dan Dianjitya?"

Jawab si gadis berkuncir.

"Mereka semua orang-orang terkenal dalam dunia persilatan. Semua orang tahu tentang mereka."

Kata si orang tua.

"Jika pedang A Fei tidak terlalu cepat, bagaimana mungkin semua orang ini dikalahkannya?"

Tanya si gadis berkuncir.

"Apa yang terjadi pada A Fei sekarang?"

Si orang tua menghela nafas.

"Seperti Li-tamhoa, ia pun menghilang. Tidak ada yang tahu di mana ia berada. Hanya saja, ia menghilang hampir bersamaan waktunya dengan menghilangnya Lim Sian-ji."

"Lim Sian-ji? Maksudmu wanita yang katanya tercantik di seluruh dunia?"

Jawab si orang tua.

"Betul sekali."

Si gadis berkuncir pun berkata.

"Oh, apakah cinta itu? Mengapa banyak orang terperangkap oleh cinta dan tidak dapat lepas….."

Si pemuda menjadi tidak sabar dan berkata.

"Jangan menyimpang dari cerita. Ayo cepat teruskan."

Si orang tua menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Orang seperti A Fei dan Li Sun-Hoan sudah tidak ada lagi. Apa lagi yang dapat diceritakan tenTong Toknia persilatan? Sampai di sini saja."

Si kurus tertawa dingin.

"Mungkin kau salah."

Kata si orang tua.

"Maksudmu, kau punya cerita yang lebih baik?"

Orang itu memandang ke sekelilingnya.

"Aku tahu, sesuatu yang luar biasa akan terjadi sebentar lagi."

Tanya si orang tua.

"Kapan? Di mana?"

Si kurus menggebrak meja lalu berseru.

"Sekarang, di sini!"

Waktu mendengar ini, kedua orang kembar dan kelompok empat orang itu menjadi pucat. Hanya si wanita berbaju hijau itu saja yang masih tersenyum. Katanya.

"Aku tidak melihat ada sesuatu pun yang luar biasa yang sedang terjadi."

Kata si kurus.

"Menurut perhitunganku, setidaknya akan ada enam orang yang mati di sini SEKARANG!"

Si wanita baju hijau bertanya.

"Enam orang yang mana?"

Si kurus minum araknya, lalu menjawab.

"Pek-mo-kau (monyet berbulu putih) Oh Hui, Tay-lik-sin (malaikat bertenaga raksasa) Toan Kay-san, Thi-jiang-siau-pa-ong (si raja tombak) Nyo Seng-cu, Cui-coa (ular air) Oh Bi, dan Lam-san-sin-hou kedua Han bersaudara!"

Setelah disebutnya enam nama itu, dua bersaudara dan keempat orang dari kelompok yang ketiga itu pun segera bangkit. Mereka berteriak.

"Kau pikir kau ini siapa? Berani-beraninya kau omong kosong di sini!"

Suara yang terkeras sudah pasti adalah suara si orang berotot besar itu, Tay-lik-sin Toan Kay-san.

Waktu ia berdiri, ia lebih jangkung daripada semua orang yang lain.

Bahkan Lam-san-sin-hou kedua Han bersaudara yang tinggi besar pun lebih pendek setengah kepala.

Kelihatannya ia masih belum puas mengejek.

"Aku rasa kaulah yang sedang sial hari ini. Kau tidak akan hidup lewat tengah malam…."

Belum selesai ia bicara, si kurus mengangkat kakinya menendang dan menampar pipinya tujuh belas kali.

Walaupun Tay-lik-sin Toan Kay-san punya dua tangan, ia tidak dapat menangkis tamparan itu.

Walaupun ia punya dua kaki, ia tidak dapat mengelak dari tamparan itu.

Seakan-akan kepalanya dipukul sampai dia Linglung, tidak bisa bergerak.

Yang lain hanya bisa memandang dengan heran.

Namun orang itu berkata.

"Kau pikir aku ini datang untuk membunuh kalian? Kalian ini tidak berharga untuk kubunuh! Aku hanya ingin memberi kalian pelajaran, supaya kalian belajar sopan santun dalam berbicara."

Seraya berbicara, ia kembali ke tempat duduknya. Kata Thi-jiang-siau-pa-ong Nyo Seng-cu.

"Tunggu dulu. Katakan, siapa yang akan datang untuk membunuh kami?"

Sambil bertanya, ia menghunus tombaknya tiba-tiba. Ditusukkannya ke arah si kurus. Orang itu tidak melirik sedikitpun. Katanya.

"Orang yang akan membunuh kalian sudah hampir tiba."

Pinggang si kurus meliuk sedikit dan kini tombak itu telah terjepit di bawah ketiak si kurus.

Thi-jiang-siau-pa-ong Nyo Seng-cu berusaha keras menariknya kembali, namun tidak berhasil.

Wajahnya langsung memucat.

Si kurus kemudian berkata.

"Karena kau tidak mungkin lolos, sebaiknya kau tunggu saja di sini dengan tenang."

Mendadak ia kendurkan kepitannya, karena lagi membetot dengan bernafsu, keruan Nyo Seng-cu kehilangan imbangan badan, ia terjengkang ke belakang.

Kalau Cui-coa Oh Bi, yaitu si nyonya berbaju hijau, tidak keburu menahannya, bisa jadi meja kursi akan ditumbuknya hingga berantakan.

Waktu ia periksa tombak sendiri, tombak itu sudah berubah menjadi toya.

Entah sejak kapan ujung tombaknya telah hilang.

Terdengar suara berdesing dan kepala tombak itu sudah menancap di meja.

Si kurus menuang arak lagi ke cawannya, seolah-olah tidak ada sesuatu pun yang baru saja terjadi.

Tetapi Keenam orang tidak bisa setenang si kurus.

Wajah mereka sudah tidak ada warnanya.

Mereka semua sedang berpikir.

"Siapakah yang akan datang untuk membunuh kami? Siapa…."

Angin di luar bertiup makin kencang, sampai lentera di dalam pun bergoyang-goyang.

Si kurus tetap duduk di situ tanpa bicara.

Siapakah orang ini?

Dilihat dari ilmu silatnya, ia pasti adalah salah satu tokoh dunia persilatan yang hebat.

Namun mengapa mereka semua tidak mengenalnya?

Kenapa ia datang ke sini?

Tidak ada seorang pun yang tahu jawabannya.

Bagaimana mungkin mereka bernafsu untuk minum arak lagi?

Beberapa dari mereka sudah ingin kabur, tapi mereka tahu itu tindakan pengecut.

Lagi pula, bagaimana mereka bisa kabur?

Oh Hui bertubuh kurus kecil, pada mukanya berbulu putih, maka berjuluk si monyet berbulu putih, mendadak ia berbangkit dengan sinar mata gemerdep, ia mendekati meja kedua Han bersaudara itu, ia memberi hormat dan menyapa.

"Nama kebesaran Lam-san-siang-hou sudah lama kukagumi."

Cepat kedua Han bersaudara juga berdiri dan membalas hormat, Toa-hou, si harimau besar, Han Pan, menjawab.

"Ah, terima kasih. Oh-tayhiap dan nona Oh berdua saudara juga terkenal menguasai Ginkang dan senjata rahasia yang tidak ada bandingannya, kami juga sudah lama sangat kagum."

"Terima kasih,"

Sahut Oh Hui. Di sebelah sana si ular air Oh Bi yang berbaju hijau itu pun mengangguk dengan tertawa genit sebagai tanda hormat. Segera Oh Hui berkata pula.

"Apabila Anda berdua tidak menolak, bagaimana kalau pindah saja ke sebelah sana untuk bicara lebih lanjut?"

"Baik, kami memang ada maksud demikian,"

Jawab Han Beng, si harimau kedua.

Kedua kelompok ini bila bertemu di tempat lain, bisa jadi akan segera saling labrak mati-matian, tapi sekarang mereka harus menghadapi musuh yang sama, biarpun bukan sahabat juga berubah menjadi keluarga.

Sesudah berkumpul dan saling angkat cawan arak, lalu Oh Hui berkata pula.

"Selama ini kalian tinggal di daerah timur, sedangkan kami bergerak di daerah selatan, sungguh tidak habis kupikir siapakah gerangan yang bermaksud menumpas kita sekaligus?"

"Ya, kami juga heran,"

Jawab Han Pan.

"Dari nada ucapan sobat itu tadi, Kungfu orang yang hendak membunuh kita itu pasti sangat tinggi, mungkin kita memang bukan tandingannya,"

Kata Oh Hui pula.

"Tapi apa pun juga, gabungan beberapa orang bodoh akan menghasilkan seorang pintar. Dengan tenaga gabungan kita berenam rasanya masih dapat memberikan perlawanan yang memadai."

Serentak semangat kedua Han bersaudara terbangkit, seru Han Pan.

"memang tepat ucapan Oh-heng. Jelekjelek kita berenam juga tokoh daerahnya masing-masing, kita bukan patung, memangnya diam saja membiarkan kepala sendiri dipenggal orang?"

Segera Han Beng juga berseru.

"Betul, seperti kata peribahasa, datang prajurit tahan dengan panglima, banjir air uruk dengan tanah. Jika dia betul-betul datang .... Hehe ...."

Banyak orang memang membesarkan nyali, setelah enam orang bergabung, hati Toan Kay-san dan Nyo Seng-cu menjadi tabah juga.

Mereka terus berceloteh, yang ini memuji yang itu, yang itu mengumpak pula yang ini.

Mendadak terdengar orang menjengek di luar.

Wajah keenam orang ini langsung berubah.

Dalam tenggorokan mereka seolah-olah tumbuh tumor, sehingga mereka tidak dapat bicara.

Bahkan tidak dapat bernafas.

Si Bungkuk Sun amat ketakutan.

Namun keenam orang ini lebih lagi ketakutannya.

Empat orang muncul di pintu.

Keempat orang ini semuanya mengenakan jubah panjang berwarna kuning.

Satu bermata besar, satu berhidung runcing.

Merekalah orang yang datang tadi pagi.

Walaupun mereka sudah di depan pintu, tidak ada seorang pun yang masuk.

Mereka berempat hanya berdiri di situ.

Wajah mereka pun tidak menakutkan.

Si Bungkuk Sun tidak habis pikir mengapa keenam orang ini sungguh ketakutan melihat mereka.

Dari wajah Keenam orang itu, seakan-akan empat orang yang baru datang itu bukan manusia, tapi setan dari neraka.

Mereka kini menjadi iri hati terhadap si pemabuk, karena ia tidak melihat apapun, mendengar apapun, sehingga sedikitpun ia tidak merasa takut.

Yang aneh adalah perilaku kelompok yang pertama.

Si orang tua itu hampir tidak punya gigi lagi, dan si gadis kecil itu masih sangat muda.

Seolah-olah angin sepoisepoi pun dapat menerbangkannya.

Namun kedua orang ini tidak menunjukkan sedikitpun rasa takut.

Si orang tua masih terus minum arak.

Mereka hanya memandang sekilas ke arah empat orang itu, lalu minggir sedikit.

Seorang pemuda yang masih sangat muda masuk, tangannya ada di balik punggungnya.

Ia berjalan pelanpelan.

Anak muda ini juga mengenakan jubah kuning panjang.

Ia kelihatan sangat berwibawa, dan perilakunya penuh tata krama.

Perbedaannya dengan keempat orang yang lain hanyalah bahwa jubahnya memiliki garis keemasan di bagian samping.

Akan tetapi, wajahnya sedingin es, tanpa perasaan sedikitpun.

Matanya tertuju pada si jangkung kurus.

Si kurus tidak mempedulikan anak muda itu.

Ia terus saja minum.

Si anak muda berrjubah kuning itu hanya tersenyum, lalu menoleh ke arah enam orang yang lain.

Keenam orang ini semuanya kelihatan terlebih buas daripada anak muda itu, tapi tersapu oleh sorot matanya, kaki keenam orang itu serasa lemas semua, berduduk saja tidak mantap.

Perlahan-lahan ia berjalan ke arah mereka, sambil mengeluarkan beberapa koin emas.

Lalu diletakkannya koin itu ke atas kepala kepala Keenam orang itu, masingmasing satu.

Keenam orang itu seakan-akan berubah menjadi sebatang kayu.

Mereka hanya menatap nanar waktu si anak muda meletakkan koin itu ke atas kepala mereka.

Kentut saja tidak berani.

Si anak muda berbaju kuning itu masih punya beberapa koin lagi di tangannya.

Ia lalu berjalan ke arah si orang tua dan si gadis muda.

Si orang tua tersenyum.

"Jika kau ingin minum arak, silakan saja. Aku yang bayar."

Si orang tua kelihatan sudah agak mabuk.

Pipinya menggembung seperti ada telur di dalamnya.

Bibirnya membengkak, sehingga kata-katanya sulit dimengerti.

Si anak muda berjubah kuning itu menatap dia lekatlekat dengan wajah kaku.

Tiba-tiba ia menggebrak meja dan kacang goreng dalam piring pun berhamburan ke udara, lalu berjatuhan ke atas kepala si orang tua.

Si orang tua pasti ketakutan setengah mati, sampaisampai ia tidak berusaha menghindar dari kacang-kacang itu.

Namun sebelum kacang itu mengenai kepalanya, si anak muda mengebaskan lengan bajunya dan kacangkacang itu pun kembali jatuh ke atas piring.

Si gadis berkuncir tertawa gembira.

"Wah. Hebat sekali. Aku tidak tahu kalau kau bisa ilmu sulap. Bisakah kau mengulanginya sekali lagi? Jika kau mau, pasti kakekku tak akan keberatan mentraktirmu arak."

Si anak muda berjubah kuning itu baru saja mendemonstrasikan ilmu silat tingkat tinggi, namun sayangnya kali ini ia bertemu dengan dua orang yang tidak tahu apa-apa.

Bahkan menyangka dia sedang main sulap.

Tapi si anak muda ini tidak marah.

Ia memandang sekejap pada si gadis berkuncir, dan tersenyum.

Lalu ia pergi meninggalkan mereka.

Tapi si gadis berkuncir berkata dengan tidak sabar.

"Kenapa kau tidak mau mengulanginya sekali lagi? Aku ingin melihatnya lagi."

Si kurus tiba-tiba tertawa.

"Lebih baik kau tidak melihatnya terlalu sering."

"Kenapa?"

Jawab si kurus.

"Kalau kau tahu ilmu silat, sulapan itu akan membuatmu menjadi orang mati."

Si gadis berkuncir melirik si anak muda berjubah kuning itu dengan sudut matanya, seakan-akan tidak percaya.

Namun ia tidak berani bertanya apa-apa lagi.

Sementara itu si anak muda berjubah kuning itu sendiri tidak mendengar percakapan itu.

Ia sudah berjalan menghampiri si pemabuk.

Koin bergemerincing di tangannya.

Si pemabuk sudah mabuk berat dari tadi.

Ia tidur saja seperti orang mati.

Si anak muda tertawa sambil mencekal rambutnya.

Ia memandang wajah si pemabuk dan melepaskan pegangan pada rambutnya.

Kepala si pemabuk berdebam ke meja, namun ia terus tidur.

Si kurus berkata.

"Mabuk dapat menyembuhkan banyak kekuatiran. Perkataan ini benar sekali. Lihat saja, keadaan si pemabuk ini lebih baik daripada keadaan Keenam orang yang sadar ini."

Si anak muda berjubah kuning itu tidak menghiraukan perkataannya.

Ia berjalan ke arah pintu.

Lucunya Keenam orang dengan koin emas di atas kepala mereka berbaris mengikuti dia.

Seakan-akan mereka ditariknya dengan tali.

Wajah mereka semua murung.

Mereka memandang kosong.

Kaki mereka melangkah ke depan dan tubuh mereka tegak seperti tongkat, seolah-olah takut koin itu akan jatuh.

Si Bungkuk Sun sudah hidup berpuluh-puluh tahun, tapi baru kali ini ia melihat pemandangan seaneh ini.

Kalau mengingat ilmu silat mereka, seharusnya mereka bisa memberikan perlawanan.

Mengapa mereka melihat si anak muda seperti tikus melihat kucing?

Si Bungkuk Sun sungguh tidak mengerti.

Tapi ia pun tidak kepingin tahu.

Untuk orang setua dia, ada beberapa hal lebih baik ia tetap tidak tahu.

Sudah cukup lama tidak turun hujan, sehingga debu beterbangan saat angin bertiup.

Keempat orang berjubah kuning itu menggambar beberapa Lingkaran di tanah, ukurannya kira-kira sebesar mangkuk sup.

Ketika Keenam orang itu sudah di luar, mereka tidak menunggu perintah, masing-masing langsung berdiri di dalam satu Lingkaran.

Mereka berdiri tegak seperti sebatang pohon.

Si anak muda berjubah kuning itu berjalan kembali ke arah warung, dan duduk di kursi yang tadinya diduduki Tay-lik-sin Toan Kay-san.

Wajahnya masih tetap dingin.

Ia pun tidak berbicara sepatah katapun.

Beberapa menit kemudian, ada seorang berjubah kuning lagi yang masuk ke dalam warung.

Orang ini tampak lebih tua, satu telinganya sudah putus, satu matanya buta, dan wajahnya penuh amarah.

Dijubahnya pun ada garis emas di bagian sampingnya.

Bersama dia datang sekelompok orang, ada yang jangkung, ada yang pendek, ada yang tua, ada yang muda.

Dari penampilan mereka, kelihatannya mereka adalah orang-orang yang cukup penting.

Hanya saja wajah mereka terlihat sama dengan wajah Tay-lik-sin Toan Kaysan dan teman-temannya.

Mereka pun lalu mengikuti orang berjubah kuning itu keluar dan masing-masing juga berdiri dalam sebuah Lingkaran.

Salah satu dari mereka berkulit gelap dan kurus kering.

Wajahnya tampak sangat kacau.

Ketika yang lain melihat dia, mereka semua memandangnya dengan aneh.

Seakan-akan heran, mengapa ia ada di situ.

Si mata satu memandang sekilas pada Tay-lik-sin Toan Kay-san dan yang lain-lain, ia terkekeh.

Lalu ia masuk ke dalam warung dan duduk di depan si anak muda.

Mereka saling pandang.

Keduanya mengangguk, tapi tidak bicara apa-apa.

Tidak berapa lama kemudian, seorang berjubah kuning lagi datang.

Ia lebih tua lagi.

Rambutnya sudah putih semua.

Jubahnya pun bergaris emas dan di belakangnya tampak lebih banyak lagi orang.

Dari jauh ia tidak kelihatan istimewa, tapi setelah dekat, terlihat wajahnya yang hijau.

Ditambah dengan rambutnya yang seluruhnya putih, ia tampak sangat menyeramkan.

Bukan hanya wajahnya yang hijau, tangannya pun hijau.

Orang-orang yang berdiri di luar memandangnya seperti melihat hantu.

Nafas mereka tertahan, beberapa bahkan gemetaran.

Dalam satu jam saja, seluruh Lingkaran telah terisi dengan orang yang berdiri kaku, tidak berani bergerak atau bicara.

Orang keempat berjubah kuning bergaris emas pun tiba.

Yang terakhir ini adalah seorang tua yang tampak lemah.

Ia lebih tua lagi dari orang yang tadi.

Sampai-sampai berjalan pun susah.

Tapi jumlah orang yang dibawanya adalah yang terbanyak.

Keempat orang ini duduk semeja, di tiap-tiap sisinya.

Mereka duduk di situ tanpa berbicara.

Orang-orang di luar pun tida ada yang berbicara.

Yang terdengar hanya suara nafas mereka.

Warung kecil ini sepertinya telah berubah menjadi kuburan.

Bahkan Si Bungkuk Sun pun tidak tahan lagi!

Namun si orang tua dan si gadis muda itu belum pergi juga.

Apakah mereka sedang menunggu pertunjukan sulap berikutnya?

Ini memang benar-benar pertunjukan yang sangat hebat!

Bab 28.

Koin Pencabut Nyawa Setelah beberapa lama, terdengar suara du, du, du, du….

dari arah jalan.

Suara itu monoton dan membosankan.

Namun di tengah malam seperti itu, suara itu sungguh mencekam.

Seakan-akan memukul-mukul hati manusia dengan tongkat.

Du, du, du….

bisa membuat orang yang mendengarnya jadi gila.

Keempat orang berjubah kuning itu saling pandang, lalu keempatnya bangkit berdiri.

Dari kegelapan malam, muncul sesosok bayangan.

Kaki kiri orang ini buntung, ia berjalan dengan tongkat.

Ketika cahaya suram dari warung itu menyinari wajah orang itu, terlihatlah rambutnya yang acak-acakan, wajahnya yang hitam seperti pantat panci dan penuh dengan bekas luka.

Matanya segitiga, alisnya tebal, hidungnya besar, mulutnya pun besat.

Wajahnya sangat jelek, walaupun tanpa bekas-bekas luka itu.

Semua orang pasti jijik melihatnya.

Namun keempat orang berjubah kuning itu menghampirinya dan membungkuk dengan hormat.

Si kaki satu hanya mengibaskan tangannya.

Du, du, du….

orang itu berjalan masuk ke dalam warung.

Si Bungkuk Sun melihat bahwa orang inipun mengenakan jubah kuning dengan garis keemasan di bagian sampingnya.

Si kurus pun melihat dia masuk.

Wajahnya langsung berubah.

Si kaki satu memandang ke seluruh ruangan.

Matanya berbinar waktu melihat si kurus.

Katanya pada keempat orang itu.

"Kalian telah bekerja keras."

Walaupun wajahnya mengerikan, suaranya amat menyenangkan. Keempat orang berjubah kuning itu hanya menjawab.

"Ah, biasa saja."

Si kaki satu bertanya.

"Apakah mereka semua di sini?"

Salah seorang yang berjubah kuning itu menjawab.

"Semuanya ada 49 orang. Mereka semua di sini."

Si kaki satu bertanya lagi.

"Apakah kalian yakin mereka semua datang untuk itu?"

Si tua berjubah kuning menjawab.

"Aku telah memastikannya. Mereka semua datang dalam tiga hari terakhir ini. Jadi pasti mereka datang untuk itu. Kalau tidak, buat apa mereka datang ke sini?"

Si kaki satu mengangguk dan berkata.

"Bagus kalau kau sudah memastikannya, jadi kita tidak akan menyakiti orang yang tidak berdosa."

Si tua berjubah kuning pun menyahut.

"Tentu saja."

Si kaki satu pun bertanya.

"Jadi orang-orang itu sudah paham?"

Sahut si tua berjubah kuning.

"Belum."

Si kaki satu pun berkata.

"Kalau begitu mereka harus diberi tahu."

"Ya."

Ia berjalan keluar, lalu berkata.

"Aku yakin kalian semua tahu siapa kami. Kami pun tahu pasti apa maksud kalian datang ke sini."

Sambungnya.

"Aku tahu kalian semua mendapatkan surat yang sama. Itulah alasannya kalian datang kemari."

Orang-orang itu tidak bisa mengangguk, dan mereka pun takut salah bicara. Jadi tidak ada seorang pun yang menjawab. Si tua berjubah kuning pun berkata lagi.

"Tapi dengan kemampuan kalian, kalian tidak pantas datang. Oleh sebab itu, kalian semua harus berdiri di sini. Sampai kami menyelesaikan urusan kami, dan demi keselamatan kalian semua, berdirilah di sini dengan tenang. Kalian akan baik-baik saja."

Ia terkekeh.

"Aku yakin kalian tahu bahwa kecuali terpaksa, kami tidak akan melukai siapapun."

Ketika ia mengatakan ini, seseorang terbatuk.

Orang itu adalah Cui-coa Oh Bi, si wanita genit berbaju hijau.

Supaya pinggangnya tetap tampak ramping, ia lebih baik kedinginan daripada mengenakan pakaian yang tebal.

Ini adalah salah satu kebiasaan buruk yang dimiliki hampir setiap wanita.

Ia berpakaian sangat minim dan kebetulan hari ini angin bertiup cukup kencang.

Ditambah lagi, ia berdiri paling depan, sehingga angin langsung menerpanya.

Tidak heran, ia langsung masuk angin.

Sewaktu ia bersin, koin di atas kepalanya jatuh.

Terdengar bunyi ‘cring’ sewaktu koin itu jatuh ke tanah dan bergulir menjauh.

Wajahnya langsung memucat, demikian pula wajah semua orang di situ.

Si tua berjubah kuning bertanya.

"Kau tahu peraturan kami?"

Cui-coa Oh Bi menjawab terbata-bata.

"Y….ya."

Si tua berjubah kuning menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kau seharusnya lebih berhati-hati."

Seluruh tubuh Cui-coa Oh Bi gemetaran.

"Itu adalah kecelakaan. Tolong ampuni nyawaku."

Si tua berjubah kuning pun menyahut.

"Aku pun tahu itu kecelakaan, tapi aku tidak bisa melanggar peraturan. Siapa yang akan menaati peraturan jika orang bisa seenaknya melanggar? Kau sudah lama berkecimpung dalam dunia persilatan. Seharusnya kau sudah tahu."

Cui-coa Oh Bi menoleh pada Pek-mo-kau Oh Hui, kakaknya.

"Toako, kau… tidak mau menolong aku?"

Pek-mo-kau Oh Hui memejamkan matanya. Otot wajahnya mengejang.

"Aku bisa berbuat apa?"

Cui-coa Oh Bi tersenyum.

"Aku mengerti…. Aku tidak akan menyalahkan engkau."

Mata Cui-coa Oh Bi kini memandang Thi-jiang-siau-paong Nyo Seng-cu.

"Bagaimana dengan engkau, Yang sayang? Aku sudah akan pergi, adakah yang ingin kau katakan padaku?"

Mata Thi-jiang-siau-pa-ong Nyo Seng-cu terus memandang kosong ke tanah, tanpa perasaan. Kata Cui-coa Oh Bi.

"Kau bahkan tidak ingin melihatku?"

Thi-jiang-siau-pa-ong Nyo Seng-cu memejamkan matanya. Cui-coa Oh Bi tiba-tiba tertawa histeris sambil menuding Thi-jiang-siau-pa-ong Nyo Seng-cu.

"Kalian semua, lihat ini. Orang ini adalah kekasihku. Semalam ia berkata bahwa selama aku mencintainya, ia rela mati bagiku. Tapi sekarang? Sekarang, melihat padaku pun tidak mau, seakan-akan aku akan menularkan penyakit…."

Tawanya sedikit demi sedikit berhenti, berganti dengan air mata yang turun membasahi pipinya.

"Apa itu kasih sayang? Apa itu cinta? Untuk apa aku hidup sekarang? Lebih baik mati sekarang daripada terus hidup."

Sambil berbicara, tubuhnya berguling di tanah sejauh beberapa meter dengan cepat dan disambitkannya sejumlah senjata rahasia Bintang Es ke arah si tua berjubah kuning itu.

Lalu tubuhnya segera melayang, berusaha melewati tembok.

Keahlian Cui-coa Oh Bi adalah meringankan tubuh dan senjata rahasia.

Kepandaiannya di bidang ini sebetulnya cukup tinggi.

Menyambitkan begitu banyak Bintang Es dengan cepat, akurat, dan sangat mematikan!

Si tua berjubah kuning itu hanya mengangkat alisnya sedikit lalu berkata.

"Buat apa kau berbuat ini…."

Ia mungkin berjalan dan berbicara dengan lambat, namun gerakannya sungguh sangat cepat.

Ketika kalimatnya selesai, ia pun sudah menangkap seluruh Bunga Es itu dengan lengan bajunya.

Pada saat Cui-coa Oh Bi akan melompat melewati tembok itu, ia merasa ada serangkum tenaga yang besar datang ke arahnya, sehingga ia malah menubruk tembok itu dan jatuh ke tanah.

Seluruh tubuhnya mengeluarkan darah.

Kata si tua berjubah kuning.

"Sebenarnya kau bisa mati dengan tenang, sayang…."

Tangan Cui-coa Oh Bi memegangi dadanya. Ia terbatuk dan terus terbatuk, mengeluarkan darah. Si tua berbaju kuning pun berkata lagi.

"Sebelum kau mati, akan kukabulkan satu permintaanmu."

Tanya Cui-coa Oh Bi.

"Ini juga salah satu peraturanmu?"

"Ya."

"Apapun yang kuminta, akan kau kerjakan?"

Si tua menjawab.

"Jika kau punya urusan yang belum selesai, kami akan menyelesaikannya. Jika kau ingin membalas dendam, kami dapat melakukannya untukmu."

Ia terkekeh, lalu menyambung.

"Jadi siapapun yang mati di tangan kami bisa dibilang cukup beruntung."

Mata Cui-coa Oh Bi menjadi cerah. Katanya.

"Karena aku memang harus mati, bolehkah aku memilih siapa yang akan membunuhku?"

Si tua berjubah kuning menjawab.

"Tidak ada masalah. Siapa yang kau inginkan?"

Cui-coa Oh Bi menggigit bibirnya, dan berkata.

"Dia, Thijiang-siau-pa-ong Nyo Seng-cu!"

Wajah Thi-jiang-siau-pa-ong Nyo Seng-cu langsung memucat, katanya.

"Apa maksudmu? Kau ingin membunuhku juga?"

Sahut Cui-coa Oh Bi.

"Kau cuma berpura-pura sayang padaku, padahal aku betul-betul cinta padamu. Jika aku bisa mati di tanganmu, aku mati berbahagia."

Si tua berjubah kuning pun berkata.

"Mudah sekali membunuh orang. Jangan bilang bahwa kau tidak pernah membunuh."

Tangannya bergerak sedikit dan sebilah pisau pun keluar. Lalu ia berjalan dan memberikannya kepada Thi-jiangsiau-pa-ong Nyo Seng-cu.

"Pisau ini sangat tajam. Tidak perlu menusuk dua kali untuk membunuh."

Thi-jiang-siau-pa-ong Nyo Seng-cu menggelengkan kepalanya, katanya.

"Aku tidak….."

Sewaktu berbicara, koin di atas kepalanya pun jatuh ke tanah. Tubuh Thi-jiang-siau-pa-ong Nyo Seng-cu langsung mengejang. Cui-coa Oh Bi langsung tertawa terbahak-bahak.

"Katamu kemarin, jika aku mati, kau pun tidak ingin hidup lagi. Kini, kau benar-benar akan mati bersamaku. Setidaknya sebagian kata-katamu benar juga."

Tubuh Thi-jiang-siau-pa-ong Nyo Seng-cu bergetar hebat, lalu ia berteriak.

"Kau…..!!! Kau wanita tidak berperasaan…"

Ia segera menyambar pisau itu, berjalan cepat ke arah Cui-coa Oh Bi-toasiansingn menyayat leher Cui-coa Oh Bi.

Darah muncrat membasahi tubuhnya.

Akhirnya dia menjadi tenang dan mengangkat kepalanya.

Semua orang memandangnya dingin.

Thi-jiang-siau-pa-ong Nyo Seng-cu menghentakkan kakinya, lalu menyayat lehernya sendiri dengan pisau yang sama.

Tubuhnya menelungkup di atas tubuh Cuicoa Oh Bi.

Kini Si Bungkuk Sun mengerti mengapa orang-orang itu berjalan dan berdiri dengan aneh.

Peraturan orang-orang berjubah kuning ini sungguh mengerikan dan sulit dimengerti.

Namun si kurus tidak peduli sedikitpun.

Seolah-olah hal seperti ini terjadi setiap hari.

Saat ini, si kaki satu bangkit berdiri, lalu berjalan ke arah meja si kurus dan duduk di hadapannya.

Si kurus pun mengangkat kepalanya dan memandang si kaki satu lekat-lekat.

Mereka tidak bicara sepatah kata pun, namun Si Bungkuk Sun merasa suatu peristiwa besar akan segera terjadi.

Mata kedua orang ini bagaikan pisau, saling menusuk hati satu sama lain.

Cukup lama mereka saling pandang, akhirnya si kaki satu tersenyum.

Senyumnya sangat unik, sangat aneh.

Bisa membuat orang lupa betapa jelek wajahnya, karena senyumnya begitu hangat dan lembut.

Ia tersenyum sambil berkata.

"Sekarang aku tahu siapa engkau."

"O ya?"

"Aku rasa kau pun tahu siapa kami."

"Dalam dua tahun terakhir ini, rasanya tidak ada seorang pun yang tidak tahu siapa kalian."

Si kaki satu terkekeh. Lalu dikeluarkannya selembar surat. Surat itu tampak biasa saja, namun Si Bungkuk Sun ingin sekali tahu apa isi surat itu. Si kaki satu berkata.

"Aku rasa kau datang jauh-jauh karena surat ini juga, bukan?"

Si kurus menyahut.

"Mungkin."

Kata si kaki satu.

"Katanya, lebih dari seratus orang menerima surat ini, namun tidak seorang pun yang tahu siapa pengirimnya. Walaupun sudah berusaha kuselidiki, aku tidak menemukan jejak apapun."

Si kurus pun berkata.

"Jika kau tidak berhasil menemukan jejaknya, tidak ada seorang pun yang bisa!"

Kata si kaki satu.

"Walaupun kami tidak tahu siapa penulisnya, kami tahu alasan dia menulis."

"O ya?"

Si kaki satu menerangkan.

"Ia berusaha mengumpulkan jago-jago silat ke tempat ini, supaya kita semua saling bertempur, dan pada akhirnya dialah yang memetik hasilnya."

Tanya si kurus.

"Kalau begitu, mengapa kau masih ada di sini?"

"Karena rencana yang sangat berbahaya itulah, kami harus datang."

"O ya?"

Si kaki satu tersenyum.

"Kami datang untuk memberi tahu semua orang alasan surat itu dikirimkan, supaya tidak seorang pun masuk ke dalam perangkapnya."

Si kurus pun menyahut.

"Betapa setia kawannya engkau."

Si kaki satu seperti tidak menangkap nada sindiran dalam suara si kurus. Ia berkata.

"Kami hanya ingin membuat persoalan besar menjadi kecil, dan persoalan kecil menjadi tidak ada, agar semua orang bisa hidup tenteram."

Si kurus pun berkata.

"Sebenarnya, tidak ada yang tahu pasti apakah di sini betul-betul ada harta karun atau tidak."

Sahut si kaki satu.

"Oleh sebab itu, bukankah sangat disayangkan kalau seseorang kehilangan nyawanya hanya karena omong kosong ini."

Si kurus pun menjawab.

"Namun karena aku sudah berada di sini, sekalian saja aku lihat apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana mungkin hanya dengan beberapa kata seseorang berusaha membujukku untuk pergi?"

Wajah si kaki satu pun berubah tegang, katanya.

"Jadi kau tidak mau pergi?"

Si kurus tertawa dingin.

"Walaupun aku pergi, harta karun itu tidak akan jatuh ke tanganmu!"

Baca Juga: Pendekar Satu Jurus 3

Baca Juga: Si Rase Hitam 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert