Eps 3 Pisau Terbang Li - Gu Long
Baca online Pisau Terbang Li - Gu Long
Cersil Pisau Terbang Li - Gu Long.
"Mo-in-jiu Kongsun-tayhiap, buat apa kita berdebat dengan dia? Tio-toaya tidak mungkin salah. Orang ini pastilah Bwe-hoa-cat ."
Tawa Li Sun-Hoan langsung meledak.
"Tio Cing-ngo, aku tahu ini pasti perbuatanmu."
Di tengah tertawanya, ia melesat ke luar melalui jendela, ke tengah kerumunan itu. Semua orang mundur selangkah. Lalu Liong Siau-hun berseru.
"Semua berhenti. Ini adalah Toako, Li Sun-Hoan."
Li Sun-Hoan langsung menatap Tio Cing-ngo. Ia tersenyum dan berkata.
"Penglihatan Tio-lotoa memang sungguh tajam. Jika tangan dan kakiku kurang Lincah sedikit saja, aku pasti sudah menjadi mayat pengganti Bwe-hoa-cat ."
Wajah Tio Cing-ngo menjadi hijau. Ia menyahut dingin.
"Seseorang bersembunyi di sini di tengah malam. Jika dia bukan Bwe-hoa-cat , siapa lagi? Bagaimana aku bisa tahu bahwa kau tiba-tiba sembuh dan diam-diam datang ke sini?"
Li Sun-Hoan menjawab dengan tenang.
"Aku tidak perlu datang dengan diam-diam. Aku bisa pergi ke manapun aku mau. Lagi pula, bagaimana Tio-toaya bisa yakin bahwa aku tidak diundang oleh Si Nona?"
Tio Cing-ngo tertawa.
"Aku tidak tahu apa hubunganmu dengan Nona Lim. Tapi semua orang tahu, Nona Lim tidak mungkin ada di sini malam ini."
"O ya?"
Kata Tio Cing-ngo.
"Untuk menghindari Bwe-hoa-cat , ia telah pindah tadi pagi."
Kata Li Sun-Hoan lagi.
"Jika demikian, paling tidak seharusnya kau memastikan dulu siapa orangnya, sebelum mulai menyerang."
Sahut Tio Cing-ngo.
"Dalam menghadapi penjahat seperti Bwe-hoa-cat , kita harus berinisiatif. Kalau tidak, ia pasti akan lolos."
Semua kata-katanya terdengar logis dan benar. Tidak dapat dibantah. Li Sun-Hoan tertawa keras.
"Bagus sekali ‘berinisiatif’. Kalau saja aku mati hari ini di tanganmu, aku hanya dapat menyalahkan kesialanku, tak bisa menyalahkan engkau."
Liong Siau-hun terbatuk dua kali, lalu memaksakan sebuah senyuman.
"Mudah sekali melakukan kesalahan di malam gelap gulita. Lagi pula…."
Tio Cing-ngo memotong dengan dingin.
"Lagi pula mungkin aku tidak melakukan kesalahan."
Kata Li Sun-Hoan.
"Oh? Maksudmu, akulah Bwe-hoa-cat ?"
Tio Cing-ngo tertawa sinis.
"Mungkin, mungkin juga tidak. Semua orang hanya tahu ilmu meringankan tubuh Bwe-hoa-cat sangat hebat. Kecepatannya juga luar biasa. Namun apakah namanya Zhang, atau Li, tidak ada yang tahu."
Kata Li Sun-Hoan.
"Kau benar. Ilmu meringankan tubuhku memang cukup baik. Kecepatanku pun tidak jelek. Saat Bwe-hoa-cat muncul kembali pun bertepatan dengan kepulanganku. Kalau aku bukan Bwe-hoa-cat , pasti ada yang salah."
Ia terkekeh. Lalu mentap Tio Cing-ngo.
"Jika kau begitu yakin bahwa akulah Bwe-hoa-cat , mengapa tak kau tangkap aku sekarang?"
Tio Cing-ngo menjawab.
"Tidak jadi soal kapan aku menangkapmu. Lagi pula, ada Dian-jitya dan Muo Yun di sini. Kau pikir kau bisa lolos?"
Wajah Liong Siau-hun langsung memucat. Katanya.
"Ayolah. Ini hanya bercanda, bukan? Jangan keterlaluan. Aku berani jamin bahwa ia bukanlah Bwe-hoa-cat ."
Kata Tio Cing-ngo.
"Tidak ada yang bercanda mengenai hal sepenting ini. Sudah sangat lama kalian berdua sudah tidak berjumpa. Bagaimana kau bisa yakin?"
Sahut Liong Siau-hun.
"Tapi…tapi aku tahu persis orang macam apa dia."
Seseorang tiba-tiba tertawa.
"Kau mungkin kenal dengan seseorang, tapi kau takkan tahu isi hatinya. Liong-siya pasti pernah mendengar ucapan ini."
Orang ini kurus kering seperti batang bambu.
Mukanya berkerut-kerut, seperti orang tua yang sakit.
Namun suaranya sangat jernih.
Ini adalah Kongsun Mo-in.
Seorang yang lain muncul dari belakangnya.
Orang ini terlihat seperti Siauya yang kaya.
Ia terkekeh dan berkata.
"Betul sekali. Aku, Dian-jitya, adalah teman lama Li Sun-Hoan. Namun jika hal seperti ini terjadi, aku harus mengesampingkan persahabatan."
Kata Li Sun-Hoan.
"Walaupun aku punya banyak teman, aku rasa aku belum pernah berteman dengan orang yang berkedudukan sebegitu tinggi, seperti Dian-jitya."
Wajah Dian-jitya berubah.
Matanya memancarkan cahaya membunuh.
Semua orang dalam dunia persilatan sudah tahu bahwa kalau ia ingin membunuh, ia akan segera menyerang.
Akan tetapi, kali ini ia hanya berdiri di sana.
Kongsun Mo-in, Tio Cing-ngo dan Dian-jitya mengelilingi Li Sun-Hoan.
Wajah ketiganya tampak tegang.
Namun mereka hanya dapat berdiri di sana, memandangi pisau di tangan Li Sun-Hoan.
Li Sun-Hoan tidak memandang mereka sekilas pun.
Ia hanya berkata.
"Aku tahu, kalian bertiga sudah tidak sabar untuk membunuhku. Dengan membunuhku, kalian bukan hanya akan menjadi kaya raya dan mendapatkan wanita yang cantik, tapi nama kalian pun akan harum di kemudian hari."
Sahut Tio Cing-ngo.
"Uang dan wanita tidaklah penting. Kami hanya ingin membunuhmu demi keadilan dalam dunia persilatan."
Li Sun-Hoan tertawa terbahak-bahak.
"Betapa sucinya! Betapa agungnya! Kau sungguh-sungguh hidup berpadanan dengan julukanmu, Tuan yang Terhormat."
Ia menyentuh ujung pisaunya, lalu berkata lagi.
"Lalu mengapa tak kau tangkap aku?"
Pandangan Tio Cing-ngo tak pernah lepas dari pisau itu. Ia tidak menjawab. Li Sun-Hoan berkata lagi.
"Oh, aku tahu. Tongkat Dianjitya tidak ada tandingannya di dunia. Tio-lotoa pasti sedang menunggu Dian-jitya untuk memulai. Jadi, mengapa Tuan Dian-jitya hanya berdiri di sana saja?"
Kedua tangan Dian-jitya tetap berada di balik punggungnya. Seakan-akan ia tidak mendengar apa-apa. Li Sun-Hoan bertanya lagi.
"Apakah Tuan Dian-jitya sedang menunggu Mo-in-jiu Kongsun-tayhiap untuk memulai? Ide yang cukup baik. Kepalan 14 Awan milik Mo-in-jiu Kongsun-tayhiap punya ribuan variasi. Tentulah ia yang harus mulai."
Kongsun Mo-in pun seakan-akan mendadak tuli. Ia tidak bergerak sedikitpun. Li Sun-Hoan tertawa lagi dan berkata.
"Sungguh aneh. Ketiganya ingin membunuhku. Namun tidak seorang pun bergerak. Kenapa ya?"
Ketiga orang ini sungguh-sungguh sabar.
Bagaimana pun Li Sun-Hoan mengolok-olok mereka, mereka tetap berdiri di sana tidak bergerak.
Memang ketiganya sungguh ingin membunuh Li Sun-Hoan secepatnya.
Namun Pisau Kilat si Li tak pernah luput.
Selama pisau itu ada di tangannya, siapakah yang berani bergerak?
Liong Siau-hun tiba-tiba tersenyum.
"Toako, mereka ini cuma bercanda. Mari kita pergi minum arak saja."
Ia berjalan menuju Li Sun-Hoan dengan senyum lebar. Ditariknya tangan Li Sun-Hoan. Li Sun-Hoan terkejut luar biasa, dengan suara bergetar ia berkata.
"Toako, kau…."
Ia ingin menghindar dari tarikan tangan Liong Siau-hun, namun terlambat.
Saat itu, hampir dengan tanpa suara tangan Dian-jitya muncul dari balik punggungnya.
Sebatang tongkat pendek keemasan tergenggam di tangannya, dan memukul Li Sun-Hoan tepat di kakinya.
Tangan Li Sun-Hoan, walaupun tanpa pisau, masih tergolong salah satu yang terbaik di dunia.
Namun karena tangannya ditarik oleh Liong Siau-hun, ia tidak berbuat apa-apa.
Setelah ia jatuh berlutut, Kongsun Mo-in segera menutup ketujuh Hiat-to (jalan darah) di punggungnya.
Tio Cingngo lalu menendang dia dan Li Sun-Hoan pun terjengkang ke belakang.
Liong Siau-hun terlompat kaget dan berseru.
"Mengapa kalian memperlakukan dia seperti ini? Cepat bebaskan dia."
Tio Cing-ngo menjawab dingin.
"Kami tak bisa mengambil resiko seperti itu."
Kata Dian-jitya.
"Maafkan kami, Tuan Liong."
Kongsun Mo-in telah menghadang langkah Liong Siauhun.
Liong Siau-hun berusaha menyerang, namun tongkat Dian-jitya segera melumpuhkan kakinya.
Sebelum ia bisa berbuat apa-apa, Tio Cing-ngo segera menutup Hiat-to (jalan darah)nya.
Ketika Liong Siau-hun jatuh ke tanah, ia berkata.
"Saudara Tio-lotoa, teganya kau…."
Kata Tio Cing-ngo.
"Walaupun kita bersaudara, keadilan dalam dunia persilatan harus didahulukan. Kuharap kau bisa mengerti, supaya kau tidak terjerumus oleh orangorang busuk macam dia."
Sahut Liong Siau-hun.
"Namun dia tidak mungkin Bwehoa-cat ."
Kongsun Mo-in lalu berkata.
"Liong-siya, kau memiliki rumah yang indah dan reputasi yang baik. Tidak perlu kau bersimpati terhadap orang semacam dia."
Liong Siau-hun berkata.
"Jika kau membebaskan dia, aku akan bertanggung jawab."
Sahut Tio Cing-ngo.
"Bagaimana dengan istrimu? Anakmu? Kau ingin melihat mereka terseret bersama dengan engkau?"
Tubuh Liong Siau-hun menggigil hebat.
Pisau Li Sun-Hoan masih ada di tangannya, namun ia tidak berkesempatan menggunakannya!
Akankah orang benar ini, pahlawan sejati ini, akan berakhir secara tragis seperti ini?
Liong Siau-hun menitikkan air mata.
Katanya.
"Toako, ini semua karena kesalahanku. Aku telah mencelakaimu. Kakakmu telah mengecewakan engkau."
Sesaat sebelum datangnya fajar adalah saat yang tergelap.
Semua cahaya di bangsal pun tak dapat menerangi kegelapan yang pekat itu.
Sekelompok orang berkumpul di luar bangsal, bercakapcakap di antara mereka.
"Dian-jitya sungguh hebat. Kau lihat betapa cepat tongkatnya? Walaupun Liong-siya tidak ada, aku yakin Li Sun-Hoan tak akan mampu menangkisnya."
"Lagi pula ada Tio-lotoa dan Mo-in-jiu Kongsun-tayhiap bersamanya."
"Ya, benar. Tak heran, kata orang kaki Tio-toaya berharga 20 ribu tail emas. Tendangannya sungguh mengagumkan."
"Bagaimana dengan pukulan Mo-in-jiu Kongsun-tayhiap? Jika ia tidak menyerang begitu sigap, kurasa Li Sun-Hoan tidak akan jatuh secepat itu."
"Dian-jitya, Tio-lotoa, Mo-in-jiu Kongsun-tayhiap. Hmmmh, Li Sun-Hoan sungguh sial bertemu mereka bertiga."
"Walaupun demikian, jika bukan karena Liong-siya….."
"Ada apa dengan Liong-siya? Apakah ia lebih dari sekedar sahabat bagi Li Sun-Hoan?"
"Liong-siya sungguh seorang sahabat sejati. Li Sun-Hoan amat beruntung memiliki saudara seperti dia!"
Liong Siau-hun duduk di atas sebuah kursi kayu merah dalam bangsal.
Kata-kata terakhir itu seakan-akan menancap di hatinya seperti sebatang jarum.
Wajahnya penuh dengan keringat.
Dilihatnya Li Sun-Hoan terbaring di lantai, terus terbatukbatuk.
Liong Siau-hun kembali menitikkan air mata.
"Toako, semua ini salahku. Betapa sialnya engkau mempunyai sahabat seperti aku. A…Aku telah menghancurkan hidupmu."
Li Sun-Hoan berusaha keras untuk berhenti batuk. Ia memaksakan diri tersenyum, dan berkata.
"Toako, aku hanya ingin engkau tahu satu hal. Jikalau aku dapat mengulang kembali hidupku, aku tetap ingin menjadi sahabat karibmu."
Liong Siau-hun kini tersedu-sedu.
"Tapi…. jika tidak kutarik tanganmu, engkau tak mungkin…."
Li Sun-Hoan berkata dengan tulus.
"Aku tahu, apapun yang kau perbuat adalah untuk kebaikanku. Aku hanya bisa berterima kasih."
Kata Liong Siau-hun.
"Mengapa kau tak menegaskan pada mereka bahwa kau bukanlah Bwe-hoa-cat ? Mengapa kau…."
Li Sun-Hoan tersenyum.
"Hidup dan mati adalah soal kecil. Aku telah merasa puas hidup. Mengapa aku harus kuatir akan kematian? Mengapa aku harus menyembahnyembah orang-orang kotor yang menyebalkan itu?"
Dian-jitya mendengarkan pembicaraan itu dengan seksama. Ia memandang mereka dan bertepuk tangan.
"Bagus sekali. Hebat."
Kongsun Mo-in pun tertawa dingin.
"Ia tahu kita tak akan melepaskan dia, apa pun yang terjadi. Jadi biarlah dia mengolok-olok kita, menghibur dirinya sedikit sebelum mati."
Li Sun-Hoan menyahut dengan tenang.
"Kau memang benar. Saat ini, aku hanya bisa memohon kematian. Namun sekarang, tak ada lagi pisau di tanganku. Mengapa belum juga kalian bunuh aku?"
Wajah Kongsun Mo-in yang berkerut-kerut menjadi merah padam. Tio Cing-ngo menyergah dengan tidak sabar.
"Jika kami membunuh kau sekarang, kabar yang akan tersiar dalam dunia persilatan adalah bahwa kami hanya membunuhmu demi kepentingan pribadi kami. Kami akan mengadilimu dengan adil."
Li Sun-Hoan menghela nafas.
"Tio Cing-ngo, aku sungguh mengagumimu. Walaupun hatimu busuk, katakatamu sangat baik dan bijak. Dan kau pun mengatakannya dengan wajah yang jujur."
Dian-jitya tertawa dan berkata.
"Li-tayhiap, kau memang punya nyali. Jika kau memang ingin cepat mati, aku punya rencana."
Kata Li Sun-Hoan.
"Awalnya aku pun ingin berbicara denganmu, namun aku tak ingin mengotori mulutku."
Dian-jitya tidak menggubris.
"Jika kau ingin mati sedikit lebih cepat, tulislah surat pengakuan bahwa kau bersalah. Kami pun akan membuat kematianmu lebih mudah."
Li Sun-Hoan segera menjawab tanpa pikir panjang.
"Baik. Aku ucapkan. Kau tuliskan."
Liong Siau-hun segera menyela.
"Toako, jangan lakukan itu."
Li Sun-Hoan terus saja berkata.
"Kejahatanku terlalu banyak untuk dituliskan. Aku berpura-pura suci, walaupun hatiku sangat kotor. Aku berkomplot demi kekuasaan, merusak persahabatan, membokong orang lain, menggunakan cara-cara licik dalam bertempur, aku tidak punya integritas dan telah melakukan berjuta-juta perbuatan keji. Namun aku masih merasa bahwa aku adalah seorang pria sejati!"
Terdengar suara keras. Tio Cing-ngo menampar muka Li Sun-Hoan! Li Sun-Hoan tersenyum.
"Tidak apa-apa. Rasanya seperti digigit anjing gila saja."
Tio Cing-ngo berseru dengan marah.
"Keparat kau. Dengar baik-baik. Walaupun aku belum bisa membunuhmu sekarang, aku bisa membuatmu merasa lebih baik mati!"
Li Sun-Hoan hanya tertawa.
"Kalau aku takut padamu, Tuan yang Palsu, aku bukanlah seorang pria sejati. Gunakan saja cara penyiksaan yang engkau inginkan."
Sahut Tio Cing-ngo.
"Bagus!"
Liong Siau-hun hanya dapat menggigil di kursinya. Katanya.
"Toako, maafkan aku. Kau adalah seorang pahlawan, namun aku seorang pengecut. Aku…"
Kata Li Sun-Hoan.
"Ini bukan kesalahanmu, Toako. Jika aku mempunyai anak dan istri, aku pun akan berbuat seperti engkau."
Saat ini Tio Cing-ngo telah mencengkeram dia dan menarik otot-ototnya kuat-kuat. Rasa sakitnya sungguh tak terkatakan, namun Li Sun-Hoan tetap tersenyum. Lalu terdengarlah seseorang berkata di luar.
"Nona Lim, dari manakah engkau? Dan siapakah temanmu ini?"
Semua orang memandang ke arah Lim Sian-ji.
Bajunya kusut, sebagian terkoyak.
Ia berjalan masuk ke dalam bangsal itu.
Di sebelahnya tampak seorang pemuda.
Di malam yang begitu dingin ia hanya mengenakan selembar baju tipis.
Namun bahunya tetap tegak.
Seolah-olah, tak ada sesuatu pun di dunia ini yang dapat membengkokkannya!
Ia masuk memanggul seorang mayat.
A Fei!
Mengapa A Fei ada di sini?
Hati Li Sun-Hoan berdegup kencang, tak tahu harus merasa gembira atau terkejut.
Namun dipalingkannya wajahnya.
Ia tidak ingin A Fei melihatnya dalam keadaan seperti itu.
Ia tidak ingin A Fei bertindak bodoh demi dirinya.
Namun A Fei telah melihatnya.
Wajahnya yang dingin menjadi bercahaya.
Ia berjalan ke arah Li Sun-Hoan.
Tio Cing-ngo tidak menghalanginya.
Ia tahu tingginya ilmu silat A Fei.
Namun Kongsun Mo-in tidak tahu.
Segera ia halangi langkah A Fei dan membentaknya.
"Kau kira kau ini siapa? Apa maumu?"
Sahut A Fei.
"Memberimu pelajaran!"
Mendengar ini, Kongsun Mo-in segera menyerang.
Lim Sian-ji terkesima menatap Li Sun-Hoan, tak peduli pada yang lain.
Sedangkan Liong Siau-hun tak ingin melakukan apa-apa lagi.
Anehnya, A Fei tidak berusaha mengelak.
Terdengar suara keras saat kepalan Kongsun Mo-in mendarat di dada A Fei.
A Fei tidak bergerak seincipun, namun Kongsun Mo-in sungguh kesakitan, sampaisampai ia jatuh berlutut.
A Fei tidak menghiraukan dia.
Ia berjalan lagi ke arah Li Sun-Hoan dan bertanya.
"Apakah dia temanmu?"
Li Sun-Hoan tersenyum.
"Kau pikir aku punya teman seperti itu?"
Saat itu, Kongsun Mo-in kembali menyerang.
Tiba-tiba A Fei memutar tubuhnya, dan terdengar bunyi berdebum.
Kongsun Mo-in telah terjengkang ke belakang beberapa meter.
Orang-orang tak dapat mempercayai penglihatan mereka.
Siapa yang dapat percaya bahwa Si Kepalan Awan yang terkenal itu menjadi pecundang di hadapan anak muda ini.
Hanya Dian-jitya yang tertawa terbahak-bahak.
"Sahabat, kau cukup sigap. Anak-anak muda benar-benar telah menyusul kita yang tua."
Ia membungkuk dan berkata.
"Cayhe Dian-jitya. Siapakah namamu? Mungkin kita dapat bersahabat."
A Fei menjawab.
"Aku tak punya nama. Juga tak ingin bersahabat denganmu."
Wajah semua orang di situ langsung berubah, namun Dian-jitya tersenyum saja.
"Sayangnya, kau tidak pandai berteman."
Kata A Fei.
"O ya?"
Dian-jitya menunjuk ke arah Li Sun-Hoan.
"Apakah dia temanmu?"
"Ya."
Dian-jitya bertanya.
"Tahukah kau siapa dia?"
"Tahu."
Dian-jitya terkekeh.
"Tahukah kau bahwa ia adalah Bwehoa-cat ?"
A Fei mengangkat alisnya.
"Bwe-hoa-cat ?"
Kata Dian-jitya.
"Memang sulit dipercaya. Namun kita harus mempercayai fakta."
A Fei menatapnya. Tatapannya menembus ke dalam hatinya. Lalu A Fei berkata dengan dingin.
"Dia pasti bukan Bwehoa-cat ."
"Kenapa?"
Tiba-tiba dilepaskannya mayat yang sedari tadi dipanggulnya. Katanya.
"Sebab inilah Bwe-hoa-cat yang sesungguhnya!"
Orang-orang langsung mengerumuni mayat itu. Mayat itu kurus kering. Luka pisau di wajahnya membuat ia sulit dikenali. Dian-jitya tertawa lagi.
"Katamu, inilah Bwe-hoa-cat yang sesungguhnya?"
Sahut A Fei.
"Ya."
Dian-jitya berkata.
"Kau benar-benar masih hijau. Kau pikir semua orang akan percaya begitu saja? Kau pikir kami akan percaya karena kau datang membawa mayat dan berkata bahwa ialah Bwe-hoa-cat ?"
Sahut A Fei lagi.
"Aku tidak pernah bohong. Dan aku tidak pernah dibohongi."
Dian-jitya bertanya.
"Kalau begitu, bagaimana kau bisa membuktikannya?"
Sahut A Fei.
"Lihat saja mulutnya!"
Dian-jitya tertawa lagi.
"Mengapa harus kulihat mulutnya? Apakah dia bisa bicara?"
Semua orang ikut tertawa. Walaupun mereka tidak merasa lucu, mereka tertawa juga karena Dian-jitya tertawa. Tiba-tiba Lim Sian-ji maju dan berkata.
"Aku tahu ia tidak bohong. Orang itu memang Bwe-hoa-cat ."
Dian-jitya bertanya.
"O ya? Apakah mayat itu memberitahukan padamu?"
Lim Sian-ji menjawab.
"Betul. Dia sendiri yang mengatakannya."
Ia segera melanjutkan sebelum ada yang menyela.
"Sewaktu Cin Tiong mati, aku bisa melihat bahwa ia mati karena serangan senjata rahasia yang hebat. Tidaklah aneh jika dia tak dapat menghindarinya. Namun aku merasa aneh kalau seorang ahli kawakan seperti Go Bunthian pun tidak dapat menghindarinya. Kini aku tahu mengapa."
Mata Dian-jitya berkedip-kedip.
"Oh? Jadi mengapa?"
Jawab Lim Sian-ji.
"Rahasianya ada pada mulutnya."
Tiba-tiba diambilnya sebilah pisau untuk membuka mulut mayat itu. Ada sepucuk senjata di situ. Kata Lim Sian-ji.
"Senjata itu dilepaskannya pada saat ia berbicara. Tidak ada seorang pun yang siap menghadapi serangan semacam itu!"
Kata Dian-jitya.
"Jika senjata itu ada dalam mulutnya, bagaiman ia bisa berbicara?"
Sahut Lim Sian-ji.
"Ini adalah rahasia di dalam rahasia. Ia tidak memerlukan mulutnya untuk berbicara. Ia bisa berbicara dengan perutnya. Mulutnya hanya untuk membunuh orang!"
Apa yang dikatakannya memang kedengaran seperti bualan, namun orang terpelajar seperti Dian-jitya tahu bahwa keahlian semacam itu memang ada.
Kabarnya, ilmu itu berasal dari Persia dan biasanya dipergunakan dalam pertujukan sirkus.
Biasanya suara itu memang kedengaran aneh, tapi jika dilakukan dengan ilmu silat yang tinggi, suara itu akan terdengar lebih realistis.
Lim Sian-ji bertanya.
"Sebelum Dian-jitya dan yang lain bertempur, ke mana arah pandangan kalian?"
Jawab Dian-jitya.
"Sudah tentu ke arah tubuh lawan."
Lim Sian-ji bertanya lagi.
"Bagian mana dari tubuhnya?"
Jawab Dian-jitya.
"Pundak dan tangannya."
Lim Sian-ji tersenyum.
"Betul. Itulah yang kumaksud. Waktu akan bertempur, ahli-ahli silat tak akan memperhatikan mulut lawan. Hanya jika anjing yang bertempur, mereka akan memperhatikan mulut lawannya. Tapi manusia kan bukan anjing. Mereka tidak menggigit."
Semua orang terkekeh. Jika seorang yang sangat cantik seperti Lim Sian-ji mengatakan hal seperti ini, bagaimana mungkin seseorang tidak ikut terkekeh-kekeh? Dian-jitya pun bertanya.
"Bagaimana kau mengetahui rahasianya?"
Jawab Lim Sian-ji.
"Aku baru tahu setelah ia menggunakan senjata rahasianya."
Kini Dian-jitya yang terkekeh.
"Jadi teman kita di sini adalah seekor anjing? Ia suka memperhatikan mulut lawannya?"
Bab 14. Beberapa Hal Tak Bisa Dijelaskan Sahut Lim Sian-ji.
"Jadi Dian-jitya belum bisa melihat bahwa ia mengenakan Kim-si-kah ?"
Mata Dian-jitya melebar.
"Jadi itulah sebabnya saat Saudara Muo Yun memukulnya, malah tangannya sendiri yang terluka."
Kata Lim Sian-ji.
"Aku tidak berniat kembali ke bilikku malam ini. Namun kemudian aku teringat ada sesuatu yang penting tertinggal di sana. Pada saat aku akan kembali, Bwe-hoa-cat muncul."
Di wajahnya yang ayu terbayang ketakutan yang sangat dan ia melanjutkan.
"Saat itu aku belum melihatnya. Aku hanya merasa ada seseorang di belakangku. Waktu aku menoleh, ia telah menutup Hiat-to (jalan darah)ku."
Kata Dian-jitya.
"Jika demikian, ilmu meringankan tubuh orang ini pasti cukup tinggi."
Lim Sian-ji mendesah.
"Gerakannya seperti hantu saja. Aku bahkan tidak menyadari apa yang sedang terjadi saat ia menarik tubuhku. Lalu aku menyadari, ini pastilah Bwe-hoa-cat . Maka aku pun bertanya padanya, ‘Apa maumu? Mengapa tak kau bunuh saja aku?’"
"Apa jawabnya?"
Lim Sian-ji mengatupkan giginya kesal, lalu katanya.
"Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tertawa sinis."
Mata Dian-jitya langsung bersinar.
"Jadi ia tidak bilang bahwa dialah Bwe-hoa-cat ?"
Sahut Lim Sian-ji.
"Dia tidak perlu mengatakannya. Saat itu, aku berharap segera mati, namun sayangnya aku tak bertenaga lagi. Kemudian tiba-tiba, sesosok bayangan muncul di hadapan kami."
Kata Dian-jitya.
"Pasti orang itu adalah teman kecil kita di sini."
Sahut Lim Sian-ji.
"Betul, memang dia."
Ia memandang A Fei dengan pandangan yang sangat berterima kasih.
"Ia datang begitu tiba-tiba, sampai Bwehoa-cat pun terkejut. Segera dilepaskannya tubuhku jatuh ke tanah. Lalu aku mendengar dia bertanya, ‘Apakah engkau Bwe-hoa-cat ?’. Bwe-hoa-cat segera menjawab, ‘Kalau ya, kenapa? Kalau tidak, kenapa? Siapa pun aku, kau akan mati sekarang juga."
Sebelum ia selesai bicara, senjatanya sudah melesat dari mulutnya.
Aku terkejut dan sangat ketakutan.
Waktu aku melihat senjata itu terarah pada dada lelaki ini, aku yakin dia pasti akan mati.
Namun anehnya, ia terluka pun tidak."
"Setelah itu, aku hanya melihat kilatan pedang, dan Bwehoa-cat rebah ke tanah. Kecepatannya begitu rupa, tak terbayangkan."
Saat itu, semua mata tertuju ke arah pedang di pinggang A Fei.
Tidak ada yang menyangka pedang itu dapat membunuh orang, apalagi membunuh Bwe-hoa-cat !
Dian-jitya pun menatap pedang itu lekat-lekat.
Lalu ia tersenyum.
"Sepertinya kau memang sudah menunggu di sana."
Sahut A Fei.
"Benar."
Kata Dian-jitya.
"Maka waktu kau melihat mereka, kau segera mendekat dan bertanya apakah dia itu Bwe-hoacat ?"
"Benar."
Dian-jitya tersenyum lagi.
"Jadi kau suka ya bersembunyi dalam gelap, dan bertanya pada orang yang lewat apakah dia itu Bwe-hoa-cat ?"
A Fei menjawab.
"Aku tidak punya waktu senggang begitu banyak."
Dian-jitya bertanya lagi.
"Tapi kalau kau sedang punya waktu senggang, apa yang kau tanya pada orang-orang yang lewat di jalan?"
Kata A Fei.
"Mengapa aku harus menanyai mereka? Apa hubungannya mereka dengan aku?"
Dian-jitya tersenyum lagi sambil berkata.
"Maka dari itu. Kalau kau ingin tahu siapa orang itu, kau akan bertanya, ‘Siapakah engkau?’. Seperti tadi kau bertanya pada Moin-jiu Kongsun-tayhiap. Kau tidak bertanya apakah dia itu Bwe-hoa-cat ."
Sahut A Fei.
"Aku tahu dia bukan Bwe-hoa-cat . Mengapa aku harus bertanya lagi?"
Wajah Dian-jitya menjadi serius. Ia menunjuk pada mayat itu dan berkata.
"Kalau begitu, mengapa kau bertanya pada orang itu? Mungkinkah kau sudah tahu bahwa ia adalah Bwe-hoa-cat ? Kalau kau sudah tahu, mengapa harus bertanya lagi?"
"Karena seseorang memberi tahu aku bahwa Bwe-hoacat akan muncul dalam hari-hari ini."
Dian-jitya kini menatap Li Sun-Hoan lekat-lekat.
"Siapa yang memberi tahu engkau? Apakah Bwe-hoa-cat sendiri? Atau sahabatnya?"
Dia tahu A Fei tak akan menjawab pertanyaan ini.
Namun, hanya dengan bertanya, tujuannya sudah tercapai.
Ia memang tidak memerlukan jawaban.
Ketika semua orang mendengar itu, mata mereka pun langsung terarah ke Li Sun-Hoan.
Kini mereka menyadari bahwa semua ini adalah permaiLam-yang-hu telah direncanakan oleh Li Sun-Hoan dan A Fei.
Dian-jitya segera maju ke hadapan seorang pemuda dan bertanya keras.
"Apakah kau adalah Bwe-hoa-cat ?"
Pemuda itu menjadi sangat ketakutan dan gelagapan.
"A…Aku…"
Sebelum perkataannya selesai, Dian-jitya menutup Hiatto (jalan darah)nya. Ia memutar badannya dan berseru dengan sinis.
"Hei, lihat! Aku telah menangkap seorang lagi bandit bunga Bwe."
Ia melanjutkan dengan serius.
"Semua orang di sini setuju bahwa tidaklah mudah menangkap Bwe-hoa-cat , bukan?"
Meledaklah tawa kerumunan orang itu. Mereka mulai bertanya-tanya di antara mereka sambil bercanda.
"Apakah kau Bwe-hoa-cat ?"
"Sebenarnya, kau lebih mirip untuk jadi Bwe-hoa-cat ."
"Mengapa kini jadi ada makin banyak bandit bunga Bwe?"
Li Sun-Hoan mengeluh. Katanya pelan.
"Toako, pergi sajalah."
A Fei kelihatan sangat gusar.
"Pergi?"
Li Sun-Hoan tersenyum.
"Dengan adanya Tio-toaya dan Dian-jitya yang terkenal seantero dunia, mana mungkin seorang pemuda yang tidak dikenal bisa membunuh Bwe-hoa-cat ? Apapun yang kau katakan akan sia-sia belaka."
A Fei menggenggam pedangnya kuat-kuat. Katanya dingin.
"Aku pun tak ingin bicara dengan orang-orang ini. Tapi pedangku…."
Kata Li Sun-Hoan.
"Walaupun kau bunuh mereka semua, tetap tidak ada yang akan percaya bahwa kau telah membunuh Bwe-hoa-cat . Tidakkah kau mengerti?"
Mata A Fei menjadi suram.
"Kau benar. Kini aku mengerti. Aku mengerti…."
Li Sun-Hoan terkekeh.
"Jika kau ingin jadi terkenal, kau harus ingat hal ini. Kalau tidak, cepat atau lambat kau akan berakhir seperti aku, menjadi seorang bandit bunga Bwe."
Kata A Fei.
"Jadi maksudmu, jika aku ingin jadi terkenal, aku harus mengikuti kehendak orang lain, bukan?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Tebakanmu sangat tepat. Jika kau biarkan para ‘pahlawan’ inilah yang mendapatkan semua pujian, mereka akan mengangkat engkau sebagai pemuda bermasa depan cerah. Lalu setelah 10 atau 20 tahun, setelah mereka semua mati, kau akan jadi terkenal."
A Fei berdiri mematung untuk sekian lama, lalu ia tersenyum. Katanya.
"Sepertinya aku tak akan mungkin jadi terkenal."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Mungkin itu lebih baik."
Ketika ia melihat senyuman A Fei, senyum Li Sun-Hoan pun terasa lebih alami.
Senyuman mereka seolah-olah sedang membicarakan masalah yang paling menarik di seluruh dunia.
Semua orang memandang kedua orang ini, tak menyadari apa permasalahan pada diri mereka.
Tiba-tiba A Fei melayang ke samping Li Sun-Hoan.
Ditariknya lengan Li Sun-Hoan dan berkata.
"Ketenaran adalah masalah kecil. Namun hari ini kita bisa bertemu, itu harus dirayakan dengan arak."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Biasanya aku tak mungkin menolak minum arak. Tapi hari ini…."
Dian-jitya menyambungnya.
"Sayangnya hari ini dia tidak bisa."
A Fei berkata dengan dingin.
"Kata siapa?"
Dian-jitya melambaikan tangannya. Dua orang bertubuh kekar maju. Salah seorang berkata.
"Dian-jitya yang mengatakannya. Semua orang tunduk pada katakatanya."
Yang seorang lagi menyambung.
"Yang membangkang, harus mati!"
Walaupun mereka kelihatannya seperti pelayan, kecepatan mereka maju ke muka menandakan bahwa ilmu silat mereka cukup tinggi.
Selagi mereka masih berbicara, dua batang golok baja berputar sangat cepat, menjadi seperti dua pelangi terbang.
Menggulung angin yang dahsyat, kedua golok ini menyambar ke arah A Fei.
Satu dari kiri, satu dari kanan.
Satu ke atas, satu ke bawah.
Menebas secepat kilat ke pundak A Fei.
A Fei hanya menghadapi serangan mereka dengan tatapan dingin.
Ia tidak bergerak sama sekali.
Tiba-tiba terlihat sekilat cahaya.
Dan sekilat lagi.
Lalu terdengar dua jerit kesakitan.
Dua golok terlontar ke udara.
Kedua lengan kiri kedua orang itu memegangi lengan kanan mereka.
Wajah mereka sungguh kesakitan.
Darah mengalir deras dari antara jari-jari mereka.
Namun pedang A Fei masih terselip di pinggangnya.
Tidak ada yang melihat dia menghunus pedangnya.
Namun kini dari ujung pedangnya menetes darah segar.
Pedang yang luar biasa cepat!
Senyum Dian-jitya pun lenyap.
A Fei berkata dengan tenang.
"Kata-kata Tuan Ketujuh adalah perintah. Sayangnya, pedangku tidak patuh pada perintah. Dia hanya tahu membunuh orang."
Wajah kedua orang itu sungguh terpana.
Mereka mundur beberapa langkah sebelum lari keluar keluar.
Pedang memang tak bisa memberi perintah, namun kadangkadang mereka lebih efektif daripada perintah siapapun juga.
A Fei menarik lengan Li Sun-Hoan.
"Mari kita pergi minum arak. Aku tak percaya masih ada orang yang berani menghalangi kita."
Sebelum Li Sun-Hoan menjawab, Liong Siau-hun bertanya.
"Jika kau ingin dia pergi, mengapa tak kau buka saja Hiat-to (jalan darah)nya?"
Mulut A Fei terkunci.
Hati Li Sun-Hoan tercekat.
Ia teringat kejadian hari itu….
Hari itu A Fei menangkap Ang Han-bin dan meninggalkan dia untuk Li Sun-Hoan.
Hari itu Li Sun-Hoan pun merasa heran.
Mengapa A Fei tidak menutup saja Hiat-to (jalan darah)nya?
Kini ia mengerti sebabnya!
Pedang pemuda ini mungkin tiada tandingannya, tapi ia tidak tahu apa-apa tentang ilmu totok!
Hati Li Sun-Hoan langsung merosot, namun wajahnya tetap tenang.
Katanya sambil tersenyum.
"Hari ini aku tak punya uang untuk mentraktirmu."
A Fei berpikir sejenak, lalu berkata.
"Hari ini aku yang traktir."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Aku tidak akan pernah minum arak yang tidak kubeli dengan uangku sendiri."
A Fei menatapnya.
Di wajahnya yang kaku tersirat kesedihan.
Ia mengerti, Li Sun-Hoan tidak ingin membahayakan dirinya.
Jika ia tidak dapat membuka Hiat-to (jalan darah) Li Sun-Hoan, ia harus menggendong Li Sun-Hoan keluar.
Jika ia menggendong Li Sun-Hoan, maka kemungkinan mereka berdua tak akan bisa keluar lagi selamanya.
Mata Dian-jitya berbinar lagi.
Ia memandang wajah mereka satu per satu, lalu tersenyum dan berkata.
"Li Sun-Hoan memang adalah pria sejati. Ia tidak mau menyeret orang lain jatuh bersamanya. Sobat muda, sudah saatnya kau pergi."
Li Sun-Hoan tahu bahwa rase tua ini melihat di mana kelemahan A Fei. Oleh sebab itu ia berkata cepat.
"Kau tak perlu memancing dia. Ia tak akan terpengaruh. Lagi pula, walaupun sambil menggendong aku, belum tentu kalian semua dapat mengalahkan dia."
Ia melanjutkan lagi.
"Kau pun tahu aku tak akan pergi dengannya. Jika aku pergi dengan dia sekarang, aku tak akan punya kesempatan untuk membersihkan Cayhe."
Kata-kata ini ditujukan pada A Fei. A Fei berdiri menatapnya, lalu berkata.
"Kalau mereka berkata bahwa engkau adalah Bwe-hoa-cat , maka engkau pasti adalah Bwe-hoa-cat , bukan?"
Li Sun-Hoan tertawa.
"Kata-kata sebagian orang memang tidak bisa dibedakan dari kentut yang besar."
A Fei bertanya.
"Lalu mengapa kau harus peduli jika mereka hanya kentut?"
Tiba-tiba diputarnya tubuhnya dan diangkatnya Li Sun-Hoan, digendong di punggungnya.
Saat itulah Dian-jitya bergerak.
Bayangan tongkatnya terlihat menusuk ke sebelas titik Hiat-to (jalan darah) yang terpenting di dada A Fei.
Jika ujung tongkatnya menyentuh tubuh A Fei sedikit saja, maka A Fei tidak akan mungkin bergerak lagi.
A Fei tidak berusaha menghunus pedangnya!
Ia memang seperti Li Sun-Hoan.
Jika pedangnya terhunus, dia pasti meminta darah.
Namun saat ini, ia tidak tahu bagaimana caranya mengalahkan Dian-jitya.
Semua orang memandang bayangan tongkat Dian-jitya dengan tegang.
Ilmu totok Dian-jitya adalah salah satu yang terbaik dalam dunia persilatan, namun sepertinya ia sulit sekali menundukkan anak muda ini.
Tio Cing-ngo berkata.
"Membunuh Bwe-hoa-cat adalah penghargaan yang tertinggi. Mengapa ada orang yang menyia-nyiakan kesempatan baik ini?"
Sebelum kalimatnya selesai, tujuh orang telah menghunus senjata mereka. Semuanya tertuju pada Li Sun-Hoan. Lim Sian-ji segera menghampiri Liong Siauhun dan berkata.
"Losi, mengapa kau tak menghentikan mereka?"
Liong Siau-hun menyahut.
"Kau tidak bisa lihat bahwa Hiat-to (jalan darah)ku telah ditutup?"
Saat itu terdengarlah bunyi yang keras.
Tiga orang telah jatuh ke tanah.
Akhirnya A Fei menghunus pedangnya!
Ia mungkin tak bisa melukai Dian-jitya, namun jika ada yang mencari kematian, pedangnya hanya dapat memberikan bantuan.
Darah terlihat di sela-sela kilatan pedang.
Jubah Li Sun-Hoan pun telah bersimbah darah.
Kini semua senjata telah disimpan kembali.
Semua senjata, kecuali tongkat pendek Dian-jitya, yang serupa ular meliuk-liuk menyerang titik-titik Hiat-to (jalan darah) A Fei.
Lim Sian-ji mendesah dan berkata.
"Tio-toaya adalah pria sejati. Tidak mungkin ia akan main keroyok."
Mata Tio Cing-ngo langsung berbinar, katanya.
"Tapi menghadapi orang macam Bwe-hoa-cat tak perlulah kita memperhatikan aturan dunia persilatan!"
Diraihnya tombak panjang yang berada di sampingnya.
Langsung diserangnya punggung Li Sun-Hoan.
Ternyata reputasinya memang hanya kosong melompong.
Gerakan Tio Cing-ngo cukup mengagumkan.
Tongkat dan tombak itu lebih panjang daripada pedang pendek A Fei, sehingga posisinya kurang menguntungkan.
Dan lagi, ada seseorang di atas punggungnya.
Pada awalnya, Dian-jitya ingin mengambil keuntungan dari senjatanya yang lebih panjang untuk mengalahkan A Fei.
Namun ia selalu luput pada saat yang terakhir, entah bagaimana.
Setelah begitu banyak jurus, ia baru menyadari bahwa anak muda ini tidak pernah menyerang sekali pun.
Namun gerakan A Fei sungguh luar biasa.
Pada saat ia akan menutup Hiat-to (jalan darah) A Fei, anak muda ini bisa berkelit dengan misterius.
Dian-jitya cukup berpengetahuan dalam ilmu silat, namun ia tidak bisa menduga ilmu aliran mana yang digunakan anak muda ini.
Tiba-tiba terpikir olehnya suatu ide.
Ia tersenyum.
"Sobat muda, mengapa tak kau turunkan saja dia. Kalau tidak, sebelum dia menyeretmu jatuh bersamanya, kaulah yang akan menyeret dia jatuh bersamamu."
A Fei mengertakkan giginya.
"Jika kau ingin aku menurunkannya, mengapa kau terus menyerang aku?"
Dian-jitya segera menarik tongkatnya dan mundur beberapa langkah.
Tombak Tio Cing-ngo pun terhenti di tengah jalan dan ditarik kembali.
A Fei tidak memandang mereka sama sekali.
Didudukkannya Li Sun-Hoan pada sebuah kursi.
Wajah Li Sun-Hoan merah padam.
Namun dia berusaha keras menahan diri untuk tidak terbatuk.
Ia kuatir kalau batuknya akan mengganggu konsentrasi A Fei.
A Fei memandang Li Sun-Hoan, lalu memutar badannya memandang Tio Cing-ngo dan berkata.
"Aku menyesal akan satu hal. Waktu itu, mengapa tak kubunuh kau?"
Selagi berbicara, pedangnya pun terhunus. Kecepatan pedang ini memang tak terkatakan. Bagaimana mungkin Tio Cing-ngo dapat menghindarinya. Tepat saat darah akan tertumpah, terdengar suara dari luar.
"Omitohud."
Selagi berbicara, sesosok bayangan dari luar masuk ke dalam.
Waktu suku kata kedua terdengar, bayangan itu telah berada di belakang A Fei.
Awalnya A Fei akan menyerang Tio Cing-ngo, namun tiba-tiba dibaliknya pedangnya ke arah sebaliknya, menyerang bayangan itu.
Setelah itu terdengar suara keras, pedangnya menghantam bayangan itu, yang ternyata adalah tasbih pendeta.
Pedangnya masih bergetar, namun A Fei tetap berdiri tidak bergeming.
Kini fajar telah tiba.
Berbarengan dengan sinar matahari pagi, enam pendeta berpakaian kelabu masuk ke dalam bangsal.
Yang paling depan beralis putih, namun wajahnya masih terang dan pandangan matanya berbinar-binar.
Dibukanya telapak tangannya.
Tasbih itu pun kembali ke tangannya.
Setelah pulih dari rasa terkejutnya, Tio Cing-ngo menenangkan dirinya.
Ia membungkuk di depan pendeta beralis putih itu.
"Aku tidak tahu bahwa pendeta akan datang. Maaf aku tidak menyambutmu di luar."
Pendeta beralis putih itu hanya tersenyum. Matanya terarah pada A Fei. Lalu katanya.
"Pedangmu cepat sekali."
Kata A Fei.
"Jika pedangku tidak cepat, aku rasa kau datang tepat waktu untuk menunjukkan kepadaku arah ke neraka."
Pendeta beralis putih itu berkata.
"Aku hanya tak ingin melihat kematian lagi. Oleh sebab itu aku bergerak. Walaupun pedangmu cepat, namun tidak akan lebih cepat daripada mata Sang Buddha."
Sahut A Fei.
"Apakah tasbihmu lebih cepat daripada mata Sang Buddha? Jika aku mati oleh tasbihmu, bukankah itu berarti kematian juga?"
Tio Cing-ngo memotong cepat.
"Berani-beraninya kau bicara seperti itu pada seorang Hou-hoat-taysu (padri agung pembela agama)!"
Pendeta beralis putih itu hanya tersenyum.
"Tidak apaapa. Mulut anak muda ini setajam pedang juga."
Tiba-tiba Lim Sian-ji tersenyum dan berkata.
"Sim-bi Taysu telah melepaskanmu. Cepatlah pergi sekarang."
Tio Cing-ngo berkata dingin.
"Kurasa dia tidak bisa lagi pergi sekarang!"
Sahut A Fei.
"O ya? Kau kira kau bisa menghalangi aku sekarang?"
Sambil berbicara, ia telah melangkah ke luar. Wajah Tio Cing-ngo berubah. Katanya.
"Pendeta…."
Dian-jitya cepat-cepat menyela.
"Sim-bi taysu sungguh pemaaf. Ia hanya seorang pemuda. Biarkanlah ia pergi."
Sim-bi berbicara dengan serius.
"Aku datang setelah menerima surat dari Ciangbun-suheng Siau-lim-si, bahwa seorang murid Siau-lim-si, Cin Tiong, telah terluka parah. Maka aku segera datang."
Tio Cing-ngo mendesah. Lalu melirik pada Li Sun-Hoan.
"Sayang pendeta datang terlambat."
Kini di luar sudah terang. Orang-orang mulai berlalulalang di jalan. A Fei berjalan di atas salju. Walaupun langkahnya ringan, hatinya sangat berat. Lalu didengarnya suara orang berseru.
"Tunggu! Tunggu!"
Suara itu jernih dan merdu.
A Fei tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang mengerjar di belakang.
Ini karena semua orang di jalan kini berhenti bicara dan berhenti berjalan.
Mereka semua bengong seperti orang tolol memandang orang di belakang A Fei.
A Fei tidak menoleh.
Ia terus berjalan.
Lalu tercium bau harum di belakangnya.
Keharumannya sungguh memabukkan.
Mau tidak mau, dipalingkannya wajahnya.
Lim Sian-ji masih tetap cantik dan menggairahkan.
Mata A Fei masih sedingin salju.
Lim Sian-ji menundukkan kepalanya.
Mukanya bersemu merah.
"Aku ingin minta maaf. Aku…."
Kata A Fei.
"Kau tak perlu minta maaf."
Lim Sian-ji menggigit bibirnya.
"Tapi orang-orang itu sungguh salah. Dan begitu kasar."
Sahut A Fei.
"Itu tidak ada hubungannya dengan engkau."
Kata Lim Sian-ji.
"Tapi kau telah menyelamatkan aku. Bagaimana aku…."
Sahut A Fei.
"Aku menyelamatkanmu. Aku tidak menyelamatkan mereka. Aku tidak menyelamatkanmu untuk memohon maaf atas kesalahan mereka."
Lalu ia bertanya lagi.
"Ada lagi yang ingin kau katakan?"
Lim Sian-ji terdiam. Ia tidak pernah bertemu dengan orang seperti ini. Ia selalu yakin bahwa gunung es sedingin apapun akan mencair di hadapannya. Lalu A Fei berkata.
"Selamat tinggal."
Ia membalikkan badan dan berjalan lagi. Baru beberapa langkah, Lim Sian-ji berseru lagi.
"Tunggu sebentar. Ada lagi yang hendak kusampaikan."
Sahut A Fei.
"Tidak perlu."
Namun kata Lim Sian-ji.
"Tapi…. jika sesuatu terjadi pada Li Sun-Hoan, siapakah yang harus kuberi tahu?"
A Fei menoleh cepat dan berkata.
"Kau tahu kuil Sim di sebelah barat?"
Sahut Lim Sian-ji.
"Jangan lupa, aku sudah tinggal di sini enam tahun."
"Aku akan berada di situ. Sebelum gelap aku tak akan pergi."
Lalu Lim Sian-ji bertanya.
"Dan setelah malam?"
A Fei menengadah memandang langit. Katanya.
"Jangan lupa, Li Sun-Hoan adalah sahabatku. Aku tidak punya banyak teman. Dan sahabat seperti Li Sun-Hoan, tidak mungkin dicari gantinya. Jadi kalau dia mati, dunia ini akan menjadi sangat membosankan."
Lim Sian-ji mengeluh.
"Aku tahu kau pasti masih berencana untuk menyelamatkannya. Tapi tahukah engkau, sahabat sebaik apa pun tidak berharga sebesar nyawamu."
A Fei memandang Lim Sian-ji dalam-dalam, langsung ke bola matanya. Katanya perlahan tapi tegas.
"Aku sungguh-sungguh berharap kau tidak akan pernah mengatakannya lagi. Kali ini, aku akan berpura-pura tidak mendengar."
Bab 15.
Cinta Sejati Setelah hujan salju terus menerus untuk beberapa hari, matahari muncul kembali hari ini.
Namun cahayanya tidak sampai ke ruangan yang satu ini.
Sungguh pun demikian, Li Sun-Hoan tidak putus asa.
Ia tahu beberapa tempat di dunia ini tidak pernah merasakan cahaya matahari.
Lagi pula, ia kenal baik dengan keputusasaan.
Ia tidak tahu pasti apa yang akan dilakukan oleh Tian, Tio-lotoa dan yang lain terhadapnya.
Ia malas memikirkan hal-hal seperti itu.
Saat itu, Dian-jitya sedang mengantarkan para pendeta Siau-lim-si menemui Cin Hau-gi dan putranya.
Mereka melemparkan Li Sun-Hoan ke sebuah gudang kosong.
Akan tetapi, Liong Siau-hun diam saja.
Li Sun-Hoan tidak menyalahkan Liong Siau-hun.
Liong Siau-hun punya alasannya sendiri.
Lagi pula, ia pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Li Sun-Hoan hanya berharap A Fei tidak kembali untuk menyelamatkannya.
Ia tahu bahwa walaupun pedang A Fei sangat cepat, ilmu silatnya mempunyai banyak lubang kelemahan.
Jika ia bertemu dengan orang seperti Dian-jitya atau Sim-bi Taysu, dan pedangnya tidak melihat darah pada gebrakan pertama, mungkin pedang itu takkan dapat melihat darah untuk selama-lamanya.
Hanya dalam waktu tiga tahun, A Fei akan dapat memperbaiki kekurangannya.
Pada saat itulah ia tidak akan terkalahkan.
Jadi paling tidak dia harus hidup tiga tahun lagi.
Lantai di situ amat basah.
Li Sun-Hoan terbatuk-batuk lagi.
Ia berharap bisa minum arak.
Namun sekarang, harapan sesederhana itu pun tak bisa terwujud.
Jika orang lain ada dalam posisinya, mungkin orang itu sudah menangis meraung-raung.
Namun Li Sun-Hoan malah tertawa.
Ia berpikir bahwa beberapa hal di dunia ini sungguh menggelikan.
Rumah ini dulu adalah miliknya.
Semua yang berada di sini adalah kepunyaannya.
Tapi kini semua orang menganggap dia adalah seorang pencuri, bahkan mengurungnya di kamar sempit seperti ini seperti seekor anjing.
Siapa yang menyangka?
Tiba-tiba pintu terkuak.
Mungkin Tio Cing-ngo sudah tidak sabar lagi menunggu dan ingin membunuhnya sekarang juga?
Namun ternyata bukan Tio Cing-ngo yang datang.
Ia mencium wangi arak.
Dan dilihatnya tangan yang memegang botol arak.
Tangan itu kecil dan pergelangan tangannya tertutup oleh baju berwarna merah.
Tanya Li Sun-Hoan.
"Siau-in, kaukah itu?"
Ang-hai-ji masuk sambil cekikikan. Ia memegang botol arak itu dengan kedua tangannya dan mencium wangi arak itu. Katanya sambil tersenyum lebar.
"Aku tahu, kau pasti ingin minum arak, bukan?"
Li Sun-Hoan tersenyum.
"Karena kau tahu aku ingin minum arak, kau membawakannya untukku, bukan?"
Ang-hai-ji mengangguk.
Dituangnya arak itu ke dalam cawan, dan disodorkannya ke hadapan Li Sun-Hoan.
Baru Li Sun-Hoan membuka mulutnya, Ang-hai-ji menarik kembali tangannya.
Lalu sambil tersenyum berkata.
"Sebelum minum, kau harus menebak arak apakah ini."
Li Sun-Hoan memejamkan matanya. Ditariknya nafas dalam-dalam, lalu berkata.
"Ini adalah arak tua Tik-yapjing. Arak kesukaanku. Jika aku tak mengenali arak ini, aku memang pantas mati."
Ang-hai-ji tersenyum.
"Tak heran semua orang bilang bahwa Li-tamhoa adalah ahli dalam hal wanita dan arak. Jika kau ingin minum arak ini, maka jawablah pertanyaanku."
"Apa pertanyaanmu?"
Senyumnya yang lebar kini lenyap. Ia menatap wajah Li Sun-Hoan dan bertanya.
"Apa hubunganmu dengan ibuku? Apakah ia sangat menyukaimu?"
Wajah Li Sun-Hoan langsung berubah. Katanya.
"Apakah kau sungguh-sungguh ingin tahu?"
Jawab Ang-hai-ji .
"Mengapa seorang anak tidak boleh bertanya tentang ibunya?"
Li Sun-Hoan berkata dengan marah.
"Tidakkah kau menyadari betapa ibumu mengasihi ayahmu dengan segenap hatinya? Mengapa kau malah berpikir sebaliknya?"
Ang-hai-ji tertawa dingin.
"Kau pikir kau bisa menyembunyikan ini dari diriku? Jangan mimpi."
Dikertakkan giginya.
"Waktu ibu mendengar apa yang terjadi padamu, ia menutup pintu kamarnya dan menangis tersedu-sedu. Waktu aku hampir mati pun, ia tidak menangis seperti itu. Maka aku bertanya sekarang. Kenapa?"
Hati Li Sun-Hoan merosot jatuh. Ia merasa seperti segumpal lumpur, diinjak-injak oleh orang yang lewat. Setelah sekian lama, diteguhkannya hatinya.
"Akan kuberitahukan padamu sekarang. Kau boleh meragukan siapapun juga. Tapi jangan ragukan ibumu. Karena tidak ada sesuatupun yang disembunyikannya. Sekarang, ambil arak itu dan pergi."
Ang-hai-ji menatapnya.
"Arak ini untukmu. Mana mungkin kubawa kembali?"
Ditumpahkannya secawan arak itu ke muka Li Sun-Hoan. Li Sun-Hoan tidak bergerak. Ia tidak memandang wajah Ang-hai-ji sama sekali. Ia hanya berkata.
"Kau masih kecil. Aku tidak menyalahkanmu."
Ang-hai-ji tertawa dingin.
"Kalaupun aku bukan anak kecil, apa yang dapat kau perbuat?"
Tiba-tiba dikeluarkannya sebilah pisau, dilambailambaikannya di depan wajah Li Sun-Hoan.
"Lihat pisau ini baik-baik. Ini kan pisaumu. Ibu bilang bahwa jika aku mempunyai pisau ini, maka kau akan melindungi aku. Tapi bisakah kau melindungi aku sekarang? Kau bahkan tidak bisa melindungi dirimu sendiri!"
Li Sun-Hoan mengeluh.
"Kau benar. Lagi pula, pisau itu untuk membunuh, bukan untuk perLindungan."
Wajah Ang-hai-ji memucat. Dengan berdesis ia berkata.
"Kau telah membuatku cacad. Kini akan kubuat kau merasakan kesakitan yang sama. Kau…."
Tiba-tiba terdengar suara dari luar.
"Siau-in? Apakah kau ada di dalam?"
Suara ini hangat dan tenang. Namun ketika Li Sun-Hoan dan Ang-hai-ji mendengarnya, wajah mereka langsung berubah. Ang-hai-ji segera menyimpan pisaunya dan segera seulas senyum lugu menghiasi wajahnya.
"Ibu, aku di sini. Aku membawa arak untuk Paman Li. Tapi waktu ibu memanggil, aku terkejut, Aku jadi tidak sengaja menumpahkan arak itu ke wajah Paman Li."
Lim Si-im muncul di pintu. Matanya yang cantik tampak sembap, penuh kesedihan. Namun waktu ia melihat Ang-hai-ji , wajahnya menjadi hangat.
"Paman Li tidak mau minum arak sekarang. Dan kau pun harus tidur sekarang. Ayo."
Ang-hai-ji berkata.
"Paman Li tidak bersalah, bukan? Mengapa kita tidak menolongnya?"
Lim Si-im menjawab dengan lembut.
"Anak kecil jangan berbicara seperti itu. Sana pergi tidur."
Ang-hai-ji menoleh dan menatap Li Sun-Hoan.
"Paman Li, aku harus pergi sekarang. Besok aku bawakan arak lagi untukmu."
Li Sun-Hoan memandang senyum lugu anak itu dan keringat dingin pun membasahi sekujur tubuhnya. Didengarnya Lim Si-im mendesah.
"Awalnya aku kuatir ia akan mencoba melukaimu. Tapi sekarang….sekarang aku tidak kuatir lagi. Walaupun dia telah melakukan banyak kesalahan, ia adalah anak yang baik."
Li Sun-Hoan hanya dapat tersenyum. Lim Si-im tidak memandangnya. Setelah beberapa saat, ia berkata.
"Dulu kau selalu menepati janjimu. Mengapa kau berubah?"
Li Sun-Hoan merasa tenggorokannya tersumbat, ia tidak bisa bicara.
"Kau berjanji tidak akan menemui Lim Sian-ji. Tapi mereka malah menemukanmu di bilik Lim Sian-ji."
Li Sun-Hoan tertawa. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia tertawa. Sambil memandangi kakinya ia berkata.
"Aku ingat gudang ini dibangun baru lima belasan tahun yang lalu."
"Ya."
"Akan tetapi kini tempat ini terasa sangat tua. Jendelanya sudah pecah. Atapnya berlubang. Ini artinya bahwa sepuluh tahun memang waktu yang lama. Jika suatu bangunan bisa berubah, mengapa manusia tidak?"
Lim Si-im meremas-remas tangannya sendiri, lalu bertanya.
"Sejak….Sejak kapan kau jadi seorang penipu?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Aku selamanya adalah seorang penipu. Hanya saja sekarang aku lebih berpengalaman."
Li Sun-Hoan tetap tersenyum.
Tujuannya telah tercapai.
Ia ingin menyakiti wanita ini.
Menyakitinya supaya ia pergi.
Ia tidak akan menyeret siapapun jatuh bersama dengan dia.
Jadi dia pasti tak berperasaan, menyakiti orang-orang yang dicintainya.
Karena inilah orang-orang yang disayanginya.
Menyakiti mereka sama dengan menyakiti diri sendiri.
Walaupun senyum masih menghiasi bibirnya, hatinya telah hancur berantakan.
Ia memejamkan matanya rapat-rapat supaya air mata tidak keluar.
Waktu ia membuka matanya, Lim Si-im masih ada di situ, sedang menatap langsung ke matanya.
"Me…Mengapa kau masih ada di sini?"
Sahut Lim Si-im.
"Aku hanya ingin memastikan. Apakah kau……...apakah kau memang Bwe-hoa-cat ?"
Tawa Li Sun-Hoan langsung meledak.
"Apakah aku Bwehoa-cat ? Kau bertanya apakah aku Bwe-hoa-cat …."
Kata Lim Si-im.
"Walaupun aku tidak percaya, aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri."
Li Sun-Hoan masih tertawa.
"Jika kau tidak percaya, mengapa masih bertanya? Jika kau tahu aku adalah penipu, mengapa bertanya juga? Jika aku berbohong satu kali, aku bisa berbohong seratus kali! Bahkan seribu kali!"
Wajah Lim Si-im makin pucat. Seluruh tubuhnya gemetar. Setelah sekian lama ia berkata.
"Aku akan membebaskan engkau. Aku tidak peduli apakah kau itu Bwe-hoa-cat atau bukan. Aku tetap akan membebaskan engkau. Aku hanya berharap kali ini kau tak akan kembali lagi!"
Li Sun-Hoan berseru.
"Berhenti! Kau pikir aku akan pergi melarikan diri seperti seekor anjing? Kau pikir orang macam apakah aku?"
Lim Si-im tidak menghiraukan dia. Ia mendekat untuk membuka Hiat-to (jalan darah) Li Sun-Hoan. Saat itu terdengar suara berkata.
"Si-im. Apa yang sedang kau lakukan?"
Itu suara Liong Siau-hun. Lim Si-im menoleh dan menatap Liong Siau-hun. Ia berbicara sekata demi sekata.
"Kau tidak tahu apa yang sedang kulakukan?"
Wajah Liong Siau-hun memucat.
"Tapi…."
Kata Lim Si-im.
"Tapi apa? Kaulah yang seharusnya melakukan ini! Sudah lupakah kau akan segala budi baiknya pada kita? Sudah lupakah kau akan masa lalu? Apakah kau akan berpangku tangan melihat dia mati seperti ini?"
Liong Siau-hun meremas-remas tangannya. Lalu ia memukul-mukul dadanya.
"Aku memang tidak punya nyali. Aku penakut. Aku pengecut. Tapi pikirlah sebentar saja. Bagaimana kita dapat melakukan ini? Jika kita melepaskan dia, apakah mereka akan melepaskan kita?"
Lim Si-im memandang suaminya seakan-akan memandang seorang yang tidak dikenalnya. Ia mundur beberapa langkah.
"Kau telah berubah. Kau juga telah berubah… Dulu kau tidak seperti ini!"
Liong Siau-hun mendesah.
"Kau memang benar. Aku telah berubah. Karena kini aku telah mempunyai anak dan istri. Apapun yang kuperbuat, merekalah prioritasku."
Sebelum ia selesai bicara, istrinya sudah menangis.
Di dunia ini tidak ada yang dapat menggerakkan hati seorang ibu lebih kuat daripada anaknya sendiri.
Liong Siau-hun berlutut di hadapan Li Sun-Hoan, wajahnya penuh dengan air mata.
"Toako, aku telah mengecewakan engkau. Aku hanya dapat memohon pengampunanmu."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Mengampunimu? Aku tak mengerti apa maskudmu. Aku telah mengatakannya padamu. Ini bukanlah kesalahanmu. Jika aku ingin pergi, aku sudah pergi. Aku tidak memerlukan engkau untuk menyelamatkanku."
Ia masih memandangi kakinya, karena ia tidak tahan memandang wajah mereka berdua. Ia kuatir ia tak akan dapat membendung air matanya. Liong Siau-hun berkata.
"Toako, aku tahu penderitaanmu, namun aku jamin, mereka tidak akan membunuhmu. Kau hanya perlu bertemu dengan Sim-oh Taysu Tan Okngkau akan baik-baik saja."
Li Sun-Hoan mengernyitkan keningnya.
"Sim-oh Taysu? Apakah mereka berencana membawaku ke Siau-lim-si?"
Sahut Liong Siau-hun.
"Benar. Cin Tiong adalah murid kesayangan Sim-oh Taysu. Tapi Sim-oh Taysu tak akan menuduh orang sembarangan. Lagi pula Cianpwe Pekhiau-sing pun sedang berada di Siau-lim-si. Ia pun akan membantumu mendapatkan keadilan."
Li Sun-Hoan diam saja.
Ia melihat Dian-jitya datang.
Dian-jitya memandangnya dengan senyum mengejek.
Pada saat Dian-jitya datang, sekejap Lim Si-im telah menenangkan dirinya, mengangguk sedikit lalu berjalan keluar.
Angin malam terasa menusuk tulang.
Ia melangkah dua tindak, lalu berseru.
"Anak In, keluarlah engkau."
Ang-hai-ji muncul malu-malu dari balik gudang itu dan tersenyum takut-takut.
"Bu, aku tidak bisa tidur, jadi….aku…."
Potong Lim Si-im gemas.
"Jadi kau antarkan mereka ke sini. Betul kan?"
Ang-hai-ji tertawa dan menubruk ke pelukan ibunya.
Tapi segera terlihat wajah ibunya yang murung, sehingga diurungkan niatnya.
Ia berhenti dan menundukkan kepalanya.
Lim Si-im hanya memandangnya dengan terdiam.
Ini adalah anak kesayangannya, darah dagingnya.
Setetes air mata jatuh ke pipinya.
Setelah sekian lama, ia menghela nafas panjang.
Ditengadahkannya wajahnya memandang ke langit dan berkata.
"Mengapa kebencian jauh lebih sulit dilupakan daripada budi baik…." *** Thi Toan-kah mengepalkan tangannya dan berjalan mondar-mandir di halaman sebuah kuil. Setelah sekian lama, api telah padam namun tidak seorang pun berniat menyalakannya lagi. A Fei duduk di situ diam saja, tidak bergerak. Thi Toan-kah berkata dengan gusat.
"Aku sudah mengira, walaupun kau telah membunuh Bwe-hoa-cat , para ‘pahlawan besar’ itu takkan mau mengakuinya. Jika sekawanan serigala melihat sebongkah daging, bagaimana mungkin mereka mau melepaskannya?"
Kata A Fei.
"Kau sudah memperingatkanku, namun aku tetap pergi. Aku harus pergi!"
Thi Toan-kah mengeluh.
"Untungnya kau pergi. Kalau tidak kau tidak akan tahu bagaimana muka para ‘pahlawan besar’ itu yang sebenarnya."
Ia menoleh dan menatap A Fei lekat-lekat.
"Kau benarbenar tidak melihat Tuanku?"
Sahut A Fei.
"Tidak."
Thi Toan-kah memandang onggokan kayu yang sudah tidak berapi itu dan mulai mondar-mandir lagi, sambil menggumam sendiri.
"Aku ingin tahu apa yang sedang dilakukannya…."
Kata A Fei.
"Dia tidak pernah mau orang menguatirkan dirinya."
Thi Toan-kah tertawa lepas.
"Benar sekali. Walaupun para ‘pahlawan’ itu menganggap dia seperti duri dalam daging, seperti paku yang mencucuk mata, tapi tidak seorang pun dari mereka berani menyentuhnya."
A Fei hanya menggumam tidak jelas. Thi Toan-kah melihat ke luar pagar.
"Langit sudah cerah, aku harus pergi."
Sahut A Fei.
"Baiklah."
Thi Toan-kah berkata.
"Jika kau kebetulan bertemu dengan Tuanku, tolong sampaikan ‘Setelah Thi Toan-kah berhasil mengatasi permasalahannya, pasti ia akan kembali mencari Tuannya’."
Sahut A Fei.
"Baiklah."
Thi Toan-kah menatap wajahnya yang tirus, menggenggam tangannya, dan berkata.
"Selamat tiggal."
Walaupun di matanya terbayang kekuatiran, ia memutar badannya dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi.
A Fei masih berdiri mematung di sini, namun di matanya yang bersinar tajam, kelihatan ada setitik kecil air mengambang.
A Fei segera memejamkan matanya, namun setetes air mata lolos dari sudut matanya, seperti tetesan embun dingin di padang rumput.
Ia tidak menceritakan pertemuannya dengan Li Sun-Hoan kepada Thi Toan-kah, karena ia tidak ingin Thi Toan-kah menggadaikan nyawanya untuk Li Sun-Hoan.
Dialah yang akan pergi menggadaikan nyawanya untuk menyelamatkan Li Sun-Hoan!
Apakah harga sepotong nyawa dalam persahabatan?
Setelah sekian lama, cahaya matahari membentuk bayangan seseorang di halaman kuil itu.
Bayangan yang hitam panjang itu datang menghampiri A Fei.
A Fei tidak membuka matanya, ia hanya bertanya.
"Apakah engkau yang datang? Ada kabar apa?"
Naluri A Fei memang bagaikan binatang buas. Yang datang memang adalah Lim Sian-ji. Sahutnya.
"Kabar baik."
Kabar baik? A Fei hampir tidak bisa mempercayai bahwa masih ada kabar baik di dunia ini. Sambung Lim Sian-ji.
"Walaupun ia belum dibebaskan, setidaknya ia tidak ada dalam bahaya."
"Oh?"
Lim Sian-ji menerangkan.
"Dian-jitya dan yang lainnya hanya dapat menuruti usul Sim-bi Taysu untuk membawa dia ke Siau-lim-si. Ciangbun-jin Siau-lim-si, Sim-oh Taysu, selalu bersikap adil. Dan kudengar Pekhiau-sing sedang berada di sana pula. Jika kedua orang ini tidak bisa membersihkan namanya, tak ada seorang pun di dunia yang bisa."
Tanya A Fei.
"Siapakah Pek-hiau-sing?"
Lim Sian-ji mengikik geli.
"Orang ini adalah orang yang paling terpelajar di seluruh dunia. Tidak ada sesuatu pun yang dia tidak tahu. Katanya dia bisa tahu apakah Bwehoa-cat itu asli atau palsu."
A Fei terdiam beberapa saat. Tiba-tiba dibukanya matanya dan ditatapnya Lim Sian-ji lekat-lekat.
"Tahukah kau orang yang paling menjijikkan di dunia itu orang macam apa?"
Lim Sian-ji tersenyum.
"Jangan-jangan yang kau maksud adalah lelaki munafik semacam Tio Cing-ngo itu?"
Sahut A Fei.
"Pahlawan yang palsu memang pantas dibenci, namun yang paling menjijikkan adalah orang yang sok pintar."
Tanya Lim Sian-ji.
"Sok pintar? Apakah maksudmu seperti Pek-hiau-sing?"
Sahut A Fei.
"Betul. Orang semacam ini selalu menganggap dirinya lebih daripada orang lain. Ia menganggap dirinya sangat pandai, tidak ada sesuatu pun yang ia tidak tahu. Hanya dengan kata-katanya ia bisa menentukan nasib orang lain. Namun sebenarnya seberapa banyak yang dia tahu?"
Lim Sian-ji berkata.
"Tapi kata orang…."
A Fei tertawa dingin.
"Hanya karena semua orang berkata bahwa tidak ada sesuatu pun yang dia tidak tahu, akhirnya ia menipu dirinya sendiri. Dia jadi benarbenar percaya bahwa tidak ada sesuatu pun yang dia tidak tahu."
Lanjut A Fei lagi.
"Aku malah lebih mempercayai orang yang merasa tidak tahu apa-apa."
Jika seseorang ingin memberikan kesan yang baik tentang dirinya, cara yang terbaik adalah membiarkan orang lain tahu bahwa ia menyukai dirinya sendiri.
Lim Sian-ji telah menggunakan cara ini berulang kali.
Namun kali ini ia tidak berhasil.
A Fei memandang salju yang telah turun lagi.
Lalu ia bertanya.
"Kapan mereka akan membawanya pergi?"
Jawab Lim Sian-ji.
"Besok pagi."
Tanya A Fei.
"Mengapa mereka menunggu sampai besok pagi?"
Sahut Lim Sian-ji.
"Malam ini mereka mengadakan jamuan makan malam untuk Sim-bi Taysu."
A Fei menoleh cepat dan menatap Lim Sian-ji dengan tajam.
"Tidak ada alasan lain?"
Tanya Lim Sian-ji.
"Mengapa harus ada alasan lain?"
Sahut A Fei.
"Sim-bi Taysu tidak mungkin mau menyianyiakan satu hari hanya untuk makan malam."
Lim Sian-ji memutar matanya.
"Ia tidak ingin tinggal hanya karena makan malam. Ia harus menunggu karena malam ini akan datang tamu penting yang lain."
"Siapa?"
Sahut Lim Sian-ji.
"Thi-tiok siansing, (Pendekar Suling Besi)."
A Fei bertanya.
"Thi-tiok siansing? Siapakah dia?"
Mata Lim Sian-ji melebar, ia sangat terkejut.
"Kau tidak tahu siapa Thi-tiok siansing?"
Kata A Fei.
"Mengapa aku harus tahu siapa dia?"
Lim Sian-ji mengeluh.
"Karena walaupun Thi-tiok siansing bukanlah yang Terhebat di dunia persilatan saat ini, ia tidak jauh dari posisi itu."
"Oh."
Lanjut Lim Sian-ji.
"Katanya ilmu silat orang ini sungguh tinggi, bahkan tidak lebih rendah dari ketua Tujuh partai besar dunia persilatan."
Pada saat berbicara, ia memperhatikan reaksi A Fei. Sekali lagi, A Fei mengecewakan dia. Di wajahnya tidak terbayang rasa takut sedikit pun. Bahkan kini dia tertawa.
"Jadi mereka membawa Thi-tiok siansing untuk mengatasi aku."
Lim Sian-ji memandang ke bawah.
"Sim-bi Taysu selalu merencanakan segala sesuatu dengan teliti. Ia kuatir…."
A Fei memotong ucapannya.
"Ia kuatir aku akan pergi menyelamatkan Li Sun-Hoan, jadi dipanggilnya Thi-tiok siansing untuk menjadi pengawal."
Kata Lim Sian-ji.
"Walaupun mereka tidak memanggilnya, Thi-tiok siansing tetap akan datang."
"Kenapa?"
Jawab Lim Sian-ji.
"Karena selir yang dikasihinya juga mati di tangan Bwe-hoa-cat ."
Lalu kata A Fei.
"Jadi mereka akan makan malam sebelum pergi."
Lim Sian-ji berpikir sejenak.
"Atau mungkin…"
A Fei menyelesaikan kalimatnya.
"Atau mungkin mereka takkan pernah pergi."
Tanya Lim Sian-ji.
"Mengapa?"
Sahut A Fei.
"Jika istriku mati di tangan seseorang, aku tak akan membiarkannya hidup dan pergi ke Siau-lim-si."
Wajah Lim Sian-ji berubah.
"Kau kuatir bahwa begitu Thitiok siansing tiba ia akan segera turun tangan terhadap Li Sun-Hoan?"
"Mmmmm."
Lim Sian-ji terdiam. Lalu ia mendesah, katanya.
"Benar juga. Ada kemungkinan begitu. Thi-tiok siansing bukan orang yang bisa dibujuk. Jika ia sudah berniat turun tangan, bahkan Sim-bi Taysu tak akan dapat mencegahnya."
Lalu A Fei berkata.
"Kau sudah cukup berbicara. Sekarang kau boleh pergi."
Lim Sian-ji masih terus bertanya.
"Apakah kau berencana menyelamatkan Li Sun-Hoan sebelum Thi-tiok siansing tiba?"
Sahut A Fei.
"Apa pun yang kurencanakan, tidak ada sangkut-pautnya denganmu. Selamat tinggal."
Lim Sian-ji terus mendesak.
"Tapi kalau hanya dengan kekuatanmu seorang, tak mungkin kau dapat menyelamatkan dia!"
Dilanjutkannya lagi.
"Aku tahu ilmu silatmu cukup tinggi, namun Dian-jitya dan Tio Cing-ngo pun bukan orang lemah. Dan lagi, masih ada Sim-bi Taysu yang merupakan orang Loji (Jisuheng) di Siau-lim-si. Tenaga dalamnya sangat murni…."
A Fei hanya memandangnya dingin, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Lim Sian-ji terus bicara.
"Hin-hun-ceng saat ini bisa dikatakan penuh dengan ahli-ahli silat. Jika kau ingin melakukan penyelamatan, itu… itu…"
A Fei melanjutkannya.
"Itu tindakan gila, bukan?"
Lim Sian-ji menundukkan kepalanya, tidak berani menatap matanya. A Fei tertawa keras-keras.
"Setiap orang ada saatnya melakukan tindakan yang sedikit gila. Sekali-sekali saja, itu bukanlah hal yang buruk."
Lim Sian-ji menunduk lagi.
"Aku tahu maksudmu."
"Oh."
Kata Lim Sian-ji.
"Tidak ada seorang pun yang menyangka kau akan berani bertindak di siang hari bolong. Pengawasan mereka pasti tidak terlalu ketat. Dan lagi, semalam mereka sangat sibuk. Mungkin mereka akan tertidur sampai siang…."
Kata A Fei.
"Kau sudah bicara terlalu banyak…."
Sahut Lim Sian-ji.
"Baik, aku akan pergi sekarang. Tapi kau…. kau harus berhati-hati. Jika terjadi sesuatu, jangan lupa ada seseorang di Hin-hun-ceng yang berhutang nyawa padamu." *** A Fei menunggu satu jam di luar Hin-hun-ceng. Ia merunduk di sana, seperti menunggu di luar sarang tikus. Ujung rambut sampai kakinya tidak bergerak sama sekali. Yang bergerak hanya sepasang bola matanya yang setajam burung elang. Angin dingin menyayat kulitnya, seperti pisau. Namun ia tidak peduli sedikit pun. Waktu dia berumur sepuluh tahun, untuk menangkap seekor rubah ia menunggu di atas salju tanpa bergerak selama dua jam penuh. Saat itu dia bisa bertahan karena ia lapar. Jika ia tidak mendapatkan rubah itu, ia akan mati kelaparan. Untuk bertahan hidup, tidaklah sulit bagi manusia untuk menanggung penderitaan. Namun menanggung penderitaan demi orang lain, supaya mereka bisa tetap hidup, tidaklah semudah itu. Hanya sedikit sekali orang yang dapat melakukannya. Saat itu terlihat seseorang terhuyung-huyung keluar dari Hin-hun-ceng. Walaupun jaraknya cukup jauh, A Fei bisa melihat bahwa wajah orang ini burikan. Ia tidak tahu bahwa orang burikan ini adalah ayah Lim Sian-ji, namun dia tahu bahwa orang ini adalah pelayan yang berkedudukan tinggi di Hin-hun-ceng. Seorang pelayan biasa tak mungkin bersikap angkuh seperti itu. Dan jika ia bukan seorang pelayan, sikapnya pun tak mungkin angkuh seperti itu. Perut orang ini sepertinya penuh dengan arak. Kini ia sedang berjalan sempoyongan ke arah warung teh untuk membual besar-besaran. Tidak disangkanya, saat ia tiba di ujung gang, sebilah pedang telah terarah ke tenggorokannya. A Fei sebenarnya tidak suka menggunakan pedangnya terhadap orang semacam ini. Tapi menggunakan pedang untuk berbicara kadang-kadang lebih efektif daripada menggunakan lidah. Ia berkata dingin.
"Aku tanya satu kali, kau jawab satu kali. Jika kau tidak menjawab, akan kubunuh kau. Jika jawabanmu salah, akan kubunuh kau. Mengerti?"
Si burik ingin mengangguk, tetapi ia takut pedang itu malah akan menusuknya. Ia ingin berbicara, namun suaranya tidak keluar. Arak dalam perutnya telah berubah menjadi keringat dingin. Tanya A Fei.
"Aku bertanya, apakah Li Sun-Hoan masih berada di dalam Puri?"
Sahut si burik.
"Ya…."
Bibirnya bergetar beberapa kali sebelum kata itu bisa terucapkan. Tanya A Fei.
"Di mana?"
Jawab si burik.
"Di gudang kayu bakar."
Kata A Fei.
"Antarkan aku ke sana!"
Si burik menjadi sangat ketakutan.
"Bagaimana aku bisa mengantarkan kau ke sana…. Aku…Aku tidak tahu bagaimana…."
Kata A Fei.
"Kau bisa memikirkan caranya."
Tiba-tiba digerakkannya pedangnya. Terdengar bunyi ‘chi’, dan pedang itu menancap ke dinding. Tatapan A Fei menembus mata si burik dan ia berkata dingin.
"Kau bisa memikirkan suatu cara, bukan?"
Gigi si burik gemeletuk.
"Y…ya…"
Kata A Fei.
"Bagus. Berbaliklah dan berjalanlah ke dalam. Jangan lupa, aku ada di belakangmu."
Ini bukan kali pertama si burik mengajak temannya datang berkunjung.
Jadi waktu A Fei mengikutinya dari belakang, si penjaga pintu tidak begitu memperhatikan.
Gudang kayu bakar itu tidak jauh dari dapur, namun dapur terletak jauh dari ruang utama.
Karena tempat seorang pria bukanlah di dapur dan pemilik Hin-hun-ceng yang terdahulu adalah seorang pria sejati.
Si burik mengambil jalan pintas ke arah gudang kayu bakar.
Mereka tidak bertemu dengan siapapun.
Walaupun ada yang memergoki, mereka akan berpikir kedua orang ini pasti sedang menuju ke dapur untuk mengambil makanan dan arak.
Dalam halaman yang sepi itu, tampak sebuah bangunan menyendiri.
Di luar sebuah pintu yang sudah bobrok terlihat sebuah gembok yang besar.
Si burik berkata terbata-bata.
"Tuan…Li-tayhiap terkunci di dalam sana. Tuan, Anda…"
A Fei menatapnya lekat-lekat.
"Kurasa kau tak akan berani membohongi aku."
Si burik tertawa gelisah.
"Mana mungkin seorang pelayan berani berbohong. Aku tak berani menggadaikan kepalaku untuk berkelakar seperti itu."
Sahut A Fei.
"Bagus."
Setelah mengucapkan kata ini, ia mengulurkan tangan dan memukul jatuh si burik sampai pingsan.
Ia berlari dan menendang pintu bobrok itu hingga terbuka.
Bab 16.
Kebaikan Hati yang Palsu Tidak ada orang yang menjaga di depan pintu.
Mungkin tidak ada yang menyangka A Fei akan datang di siang hari bolong.
Atau mungkin mereka ingin tidur siang hari itu.
Di gudang itu ada satu jendela kecil.
Di dalam sangat gelap, seperti sebuah penjara.
Di dekat gundukan kayu bakar seseorang tergolek.
Sewaktu A Fei melihat mantel bulu itu, darah di dadanya langsung bergolak.
Ia sendiri pun tidak tahu mengapa ia merasakan persahabatan yang begitu dalam dengan orang ini.
Ia melangkah mendekat dan berkata.
"Kau…"
Pada saat itulah, sebilah pedang berkilat dari bawah jubah itu!
Sambaran pedang yang secepat kilat ini sungguh mengagetkan A Fei.
Sangat tidak terduga.
Dan sangat sangat cepat.
Untungnya pedang A Fei masih tergenggam di tangannya.
Pedangnya lebih cepat lagi, kecepatannya tak terbayangkan.
Walaupun orang itu menyerang lebih dulu, A Fei masih lebih cepat.
Pedang A Fei mengenai pegangan pedang orang itu.
Pergelangan tangan orang itu langsung kesemutan dan pedangnya terlepas dari tangannya.
Orang ini pun ahli pedang tingkat tinggi.
Dalam keadaan seperti inipun ia tidak lengah.
Ia berguling dan menjauh beberapa meter.
Saat itulah A Fei melihat wajahnya.
Ia adalah Yu Liong-sing.
Namun A Fei tidak tahu siapa dia, sehingga konsentrasinya tidak terganggu.
Ia menyerang lagi sambil keluar dari tempat itu.
Walaupun gerakannya sangat cepat, tapi sudah terlambat.
Sebuah golok emas dan tongkat telah menghadang langkahnya.
Juga beberapa orang muncul dari balik gundukan kayu bakar itu.
Tiap-tiap orang dengan busur dan anak panah yang terbidik padanya.
Pada jarak sedekat ini, anak panah sangatlah mematikan.
Betapa pun kuat dan hebatnya seseorang, jika ia berharap bisa keluar hidup-hidup dari tempat itu, ia sedang bermimpi.
Dian-jitya tertawa.
"Adakah yang ingin kau sampaikan, Sobat?"
A Fei mendesah.
"Silakan saja."
Dian-jitya berkata.
"Kau tidak mau membuang-buang waktu. Baik, akan kukabulkan keinginanmu."
Ia melambaikan tangannya dan anak-anak panah itu datang menghujaninya.
Saat itulah A Fei berguling di tanah.
Tangannya meraih pedang yang jatuh dari tangan Yu Liong-sing.
Dalam tangannya, pedang itu seakan-akan menari-nari menahan anak-anak panah yang berhamburan datang.
Sekejap saja, ia telah sampai di pintu.
Tio Cing-ngo mengaum keras dan golok emasnya menusuk ke arah A Fei.
Sebelum jurusnya selesai, ia melihat kilatan cahaya di depannya.
Jurus pedangnya bukan main cepatnya.
Waktu Tio Cing-ngo berusaha mengelak, sudah terlambat baginya.
Pedang A Fei telah menembus tenggorokannya.
Darah pun muncrat keluar.
Dian-jitya tercekat.
Namun A Fei sudah meninggalkan tempat itu.
Tian Ki-hondak mengejar A Fei, namun diurungkannya.
Tio Cing-ngo masih memegangi lehernya.
Sungguh ajaib, dia masih belum mati.
A Fei melayang meninggalkan taman itu.
Sebelum pergi, dilemparkannya pedang Yu Liong-sing ke arah Dian-jitya.
Dian-jitya ingin mengejar, namun tidak jadi.
Yu Liong-sing mengeluh panjang.
"Anak muda itu sungguh luar biasa cepat!"
Dian-jitya pun terkekeh.
"Peruntungannya pun tidak jelek."
Yu Liong-sing bertanya.
"Peruntungan?"
Kata Dian-jitya.
"Tak kau lihatkah dua anak panah yang menembus tubuhnya?"
Sahut Yu Liong-sing.
"Kau benar. Jurus pedangnya belum sempurna benar, sehingga ia masih belum dapat menahan seluruh anak panah itu. Namun ia bisa melindungi dirinya begitu rupa sampai tidak terluka."
Kata Dian-jitya.
"Itu karena ia mengenakan Kim-si-kah . Aku memperhitungkan segala sesuatu, namun aku lupa akan hal ini. Kalau tidak, tidak mungkin ia bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup."
Yu Liong-sing memandang pedang itu dan mengeluh lagi.
"Tidak seharusnya ia datang kembali hari ini."
Dian-jitya tertawa.
"Jangan terlalu memikirkan kekalahanmu. Lagi pula, walaupun ia berhasil lolos dari perangkap kita, belum tentu ia bisa meninggalkan Puri ini."
Saat A Fei keluar dari pintu, ia mendengar lantunan lagu Buddha.
Lagu itu terdengar sangat keras dan sepertinya bersumber dari segala arah.
Lalu lima orang pendeta mengelilinginya.
Yang pertama adalah Sim-bi Taysu.
A Fei segera melihat ke sekelilingnya dan berusaha tetap tenang.
Ia hanya berkata.
"Jadi sekarang pendeta pun menjebak orang."
Sim-bi Taysu menjawab dengan tenang.
"Aku tidak bermaksud melukai siapapun. Kata-katamu sangat tajam. Namun kata-kata tidak dapat melukai siapapun juga, kecuali dirimu sendiri."
Ia berbicara dengan nada datar. Namun ketika kata-kata ini sampai ke telinga A Fei, suara itu bergetar dengan kuat. Kata A Fei.
"Kelihatannya ada juga yang dapat menggunakan kata-kata sebaik aku."
Ia tahu, jika ia ingin melarikan diri ke atas, tasbih pendeta itu akan dapat melukai kakinya.
Jadi kesempatannya hanyalah dengan meloloskan diri dari antara dua pendeta.
Namun ketika ia bergerak sedikit, pendeta-pendeta itu telah berputar mengelilingi dia.
Kelimanya bergerak sangat cepat, A Fei tak mungkin meloloskan diri.
Begitu A Fei berhenti, pendeta-pendeta itu pun berhenti.
Sim-bi Taysu berkata.
"Sebagai pendeta, kami tidak ingin membunuh. Kau mempunyai pedang di tanganmu dan sepatu di kakimu. Jika kau dapat memecahkan formasi Lo-han-tin kami, kau boleh pergi."
A Fei mulai bernafas dalam-dalam.
Tubuhnya diam tidak bergerak.
Ia bisa melihat bahwa ilmu silat pendeta-pendeta ini sangat tinggi, dan kerja sama mereka sangat baik.
Formasi mereka tidak punya kelemahan sama sekali.
Ketika A Fei berusia sembilan tahun, ia melihat seekor burung bangau dikelilingi oleh seekor ular besar.
Walaupun burung bangau itu berparuh tajam, ia diam saja tidak bergerak.
Awalnya ia tidak mengerti apa sebabnya.
Belakangan ia tahu bahwa ternyata si bangau mengerti perangai si ular.
Setelah mengelilingi si bangau, si ular dapat menyerang dengan kepala atau dengan ekornya.
Jika si bangau menyerang kepalanya, ekor si ular akan menjerat.
Jika si bangau menyerang ekornya, kepala si ular akan memagut.
Oleh sebab itu, si bangau hanya berdiri di situ.
Si ular menjadi tidak sabar, dan menyerang lebih dulu.
Hanya dengan cara itulah si bangau dapat menghadapi serangan dengan sigap dan mengalahkan ular itu.
Mengalahkan kecepatan dengan ketenangan.
Oleh sebab itu, selama para pendeta itu tidak bergerak, ia pun tetap diam.
Setelah beberapa saat, tampak para pendeta itu menjadi tidak sabar.
"Apakah engkau sudah menyerah."
"Belum."
Sim-bi Taysu bertanya.
"Lalu mengapa engkau tidak berusaha pergi?"
Sahut A Fei.
"Kalian tidak ingin membunuh aku dan aku tidak bisa membunuh kalian. Jadi aku tidak bisa pergi."
Sim-bi terkekeh.
"Jika kau bisa membunuhku, aku tidak akan menyesal."
Sahut A Fei.
"Bagus."
Dengan kilatan pedang yang sangat tiba-tiba, A Fei menyerang Sim-bi.
Pendeta Siau-lim-si ini segera menyerang balik.
Namun tiba-tiba A Fei mengubah gerakannya.
Tidak seorang pun tahu bagaimana ia melakukannya.
Mereka hanya tahu, tiba-tiba ia berbalik ke arah lain.
Awalnya jurus itu diarahkan ke Sim-bi, namun kini terarah pada tangan salah seorang pendeta yang lain.
Kata Sim-bi.
"Bagus sekali."
Sambil berbicara, ia menggulung lengan bajunya.
Lengan baju pendeta Siau-lim-si sangat tajam, setajam pisau.
Ia bersiap-siap menyerang A Fei.
Walaupun keempat pendeta yang lain sedang diserang, ia tidak perlu membantu mereka mempertahankan diri.
Inilah kelebihan formasi Lo-han-tin.
Tidak ada yang menyangka bahwa saat itu A Fei kembali mengubah gerakannya lagi.
Ketika ahli pedang yang lain berganti jurus, mereka hanya mengubah asal arah serangan atau tujuan arah serangan.
Namun A Fei dapat mengubah arah seluruh tubuhnya.
Jurus yang tadinya mengarah ke timur, bisa berubah tiba-tiba ke barat.
Tidak ada yang berubah, hanya gerakan kakinya saja yang secepat kilat.
Di detik berikutnya, pedangnya telah merobek lengan baju Sim-bi.
Pedang dan tubuh telah menyatu.
Jika pedang lolos, tubuh pun lolos.
Sim-bi lalu berkata.
"Hati-hati di jalan. Kuantarkan kau keluar."
A Fei lalu merasa serangkum tenaga di belakangnya, seolah olah batang besi yang besar memukul punggungnya.
Walaupun ia memakai Kim-si-kah , ia masih merasa sangat kesakitan.
Salah seorang pendeta itu berseru.
"Kejar dia!"
Namun Sim-bi berkata.
"Tidak perlu."
Kata pendeta itu.
"Ia tak mungkin pergi terlalu jauh. Mengapa membiarkan dia lolos?"
"Jika ia tidak mungkin pergi jauh, buat apa susah-susah mengejarnya?"
Pendeta itu berpikir sejenak, lalu berkata.
"Susiok memang benar."
Sim-bi memandang ke arah A Fei pergi, lalu berkata.
"Seorang pendeta tidak boleh melukai orang, sebisa mungkin."
Dian-jitya pun mengawasi kejadian itu dari kejauhan. Ia terkekeh.
"Pendeta-pendeta ini memang pandai. Jika orang lainlah yang membunuh orang itu untuk mereka, mereka tidak akan peduli."
Tenaga yang disalurkan melalui tapak tangan pendeta Siau-lim-si itu memang benar-benar kuat.
A Fei perlu cukup lama untuk mengembalikan keseimbangannya.
Ia tahu ia telah terluka dalam cukup parah.
Namun paling tidak ia bisa sembuh dari luka seperti ini.
Setelah bertahun-tahun menjalani latihan dan penderitaan, ia menjadi sangat tahan bantingan.
Tubuhnya seperti terbuat dari baja.
Jika A Fei bisa lolos, ia memang sungguh seorang yang beruntung.
Sangat sedikit orang yang dapat lolos dari serangan bersama lima pesilat tangguh Siau-lim-si.
Hanya saja, A Fei tidak ingin lolos.
Di manakah mereka menyembunyikan Li Sun-Hoan?
Bagaikan elang, mata A Fei memantau sekelilingnya.
Ia segera berlari menuju ke halaman belakang.
Di sana lebih bayak tempat untuk bersembunyi.
Tiba-tiba terdengar suara tawa.
Di depan sana terlihat sebuah paviliun.
Orang yang tertawa itu sedang duduk di sana, membaca buku.
Sepertinya ia sangat asyik dengan bacaannya.
Ia mengenakan baju yang biasa, bahkan agak lusuh.
Wajahnya kurus, berwarna kuning, dengan jenggot panjang.
Ia tampak seperti seorang pelajar tua yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri.
Namun hanya pesilat tangguhlah yang dapat membuat suara tertawanya terdengar begitu jelas dari jarak yang begitu jauh.
A Fei berhenti.
Dipandangnya orang itu menyelidik.
Orang tua itu seperti tidak melihat A Fei.
Ia membalik halaman bukunya terus membaca dengan serius.
A Fei melangkah mundur.
Setelah sepuluh langkah, ia memutar badan dan melayang pergi.
Dalam dua langkah ia sudah ada dalam hutan Bwe.
A Fei menarik nafas panjang, menelan darah di kerongkongannya.
Lukanya ternyata lebih parah daripada sangkaannya.
Ia tidak dapat bertempur lagi dengan keadaannya sekarang.
Pada saat itulah terdengar suara seruling.
Suara seruling itu sangat jernih dan keras.
Kelopakkelopak bunga Bwe berjatuhan di sekeliling A Fei.
Lalu dilihatnya seseorang sedang meniup seruling di bawah pohon Bwe di belakangnya.
Orang itu adalah Siucai itu tua yang dilihatnya semenit yang lalu.
Kali ini, A Fei tidak menghindar.
Sambil memandang orang tua itu dan menyapa.
"Thi-tiok Siansing?"
Suara seruling itu perlahan-lahan lenyap. Ia memandang A Fei cukup lama, lalu tiba-tiba bertanya.
"Kau terluka?"
A Fei sangat terkejut. Penglihatan orang ini sangat tajam. Thi-tiok Siansing bertanya lagi.
"Terluka di punggungmu?"
Sahut A Fei.
"Kalau sudah tahu, mengapa bertanya lagi?"
"Sim-bi melukaimu?"
A Fei hanya menggeram.
"Hmmmmh."
Thi-tiok Siansing menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya pendeta Siau-lim-si itu tidak sungguh-sungguh hebat."
A Fei bertanya.
"Mengapa?"
Thi-tiok Siansing menerangkan.
"Untuk orang setingkat dia, tidak seharusnya dia menyerangmu dari belakang. Dan jika dia melakukannya, seharusnya dia tidak membiarkanmu hidup cukup lama dan bertemu dengan aku."
Ia tiba-tiba tersenyum.
"Mungkinkah pendeta tua itu ingin menggunakan tangan orang lain untuk membunuhmu?"
Kata A Fei.
"Aku akan memberi tahu engkau tiga hal. Pertama, jika ia tidak menyerangku dari belakang, ia tidak mungkin bisa melukaiku. Kedua, walaupun dia memukulku, dia tetap tidak bisa membunuhku. Ketiga, kau pun tak mungkin dapat membunuhku!"
Thi-tiok Siansing tertawa terbahak-bahak.
"Kau sombong sekali, anak muda."
Tiba-tiba ia berhenti tertawa.
"Karena kau terluka, aku tidak seharusnya menantangmu. Namun karena engkau begitu sombong, aku harus memberimu pelajaran."
A Fei merasa ia sudah terlalu banyak bicara. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Thi-tiok Siansing berkata lagi.
"Karena kau sudah terluka, kau boleh mulai tiga jurus lebih dulu."
A Fei memandangnya, lalu terkekeh. Sambil terkekeh ia menyelipkan pedangnya kembali ke pinggangnya. Ia berbalik dan berjalan pergi. Thi-tiok Siansing berkata.
"Kau sudah bertemu denganku. Kau pikir kau bisa pergi hidup-hidup?"
A Fei tidak menoleh. Ia menyahut dingin.
"Jika aku tidak pergi, maka kau pasti mati."
Thi-tiok Siansing tak bisa menahan tawanya.
"Siapa yang mati? Kau atau aku?"
Kata A Fei.
"Tidak ada seorangpun yang bisa memberikan aku keuntungan tiga jurus awal."
"Jadi kalau aku memberi, aku akan mati?"
"Ya."
Kata Thi-tiok Siansing.
"Mengapa tidak kita coba saja?"
A Fei diam saja.
Dibalikkannya tubuhnya dan ditatapnya orang itu dalam-dalam.
Thi-tiok Siansing belum pernah melihat mata seperti itu.
Sepasang mata ini tidak berperasaan.
Seperti terbuat dari batu.
Jika mata itu menatapmu, mata itu seperti seorang dewa yang menatap mahluk ciptaanya.
Tanpa disadarinya, Thi-tiok Siansing mundur beberapa tindak.
Saat itulah A Fei memulai serangannya.
Sekali pedangnya menyerang, tidak akan luput.
Ini adalah filosofi A Fei.
Jika ia tidak yakin akan menang, ia tidak akan menghunus pedangnya!
Butiran salju dan bunga-bunga Bwe beterbangan di udara, sungguh pemandangan yang sangat cantik.
Tubuh Thi-tiok Siansing pun melayang-layang menari di tengah-tengahnya.
A Fei tidak melihat ke atas.
Ia hanya menarik kembali pedangnya.
Thi-tiok Siansing melayang turun.
Mengapung perlahanlahan seperti kertas yang tertiup angin.
Terlihat genangan darah di atas salju.
A Fei memandangi darah di tanah, katanya.
"Tidak ada seorangpun yang dapat memberikan aku keuntungan tiga jurus awal. Satu jurus pun tidak!"
Thi-tiok Siansing bersandar pada sebatang pohon. Wajahnya sangat pucat. Dadanya penuh dengan noda darah. Ia tidak sempat menggunakan suling besinya yang terkenal sedunia itu! A Fei berkata lagi.
"Namun kau tidak mati, karena kau memegang kata-katamu."
Ia terkekeh.
"Paling tidak kau lebih baik dari Sim-bi."
Sim-bi berkata bahwa ia tidak akan melukai A Fei.
Jikalau A Fei bisa lolos dari formasi mereka, ia boleh pergi.
Namun ia malah membokong A Fei.
Ini adalah pelajaran yang sangat berharga, yang tak akan pernah dilupakan A Fei.
Thi-tiok Siansing kemudian berkata.
"Kau masih punya dua jurus lagi."
"Dua lagi?"
A Fei memandangnya sesaat, lalu menjawab.
"Baik."
Ia menyerang perlahan dan ringan. Dua tinju yang hampir tidak menyentuh tubuh Thi-tiok Siansing.
"Nah, aku sudah memberimu tiga…."
Saat itulah terdengar suara mendesing pelan, Sepuluh ‘Jarum Bintang Beku Badai Hujan’ melesat keluar dari suling besi! Wajah Thi-tiok Siansing yang mucat, kini berbinar-binar. Katanya.
"Hari ini aku mendapat sebuah pelajaran berharga. Jangan pernah memberi keuntungan tiga jurus awal pada siapapun. Kau pun harus belajar satu hal. Jika kau sudah menyerang, lebih baik kau bunuh musuhmu. Kalau tidak, lebih baik tidak menyerang sama sekali!"
A Fei mengertakkan giginya sambil memandang jarumjarum di kakinya. Ia menjawab sekata-demi sekata.
"Aku tak akan pernah melupakannya!"
Thi-tiok Siansing berkata.
"Bagus. Sekarang, pergilah."
Sebelum A Fei sempat menjawab, terdengar seruan dari jauh.
"Cianpwe…. Cianpwe Suling Besi…. Apakah kau telah menangkapnya?"
Thi-tiok Siansing segera mendesak A Fei.
"Cepatlah. Aku tak dapat membunuhmu, tapi aku pun tak ingin kau mati di tangan orang lain!"
A Fei segera berguling pergi.
Kakinya tak dapat bergerak, namun tangannya masih Lincah.
Ia merasa darah naik ke kerongkongannya.
Walaupun dia mati-matian menahannya, ia tidak berhasil.
Walaupun tidak ada yang mengejar, dia tidak yakin bisa hidup lebih lama.
Ia hanya ingin bertemu dengan Li Sun-Hoan, dan mengatakan padanya bahwa ia telah berusaha sekuat tenaga.
Sebelum ia jatuh pingsan, ia melihat sesosok bayangan menghampirinya.
*** Hanya ada satu lilin dalam ruangan.
Liong Siau-hun sedang memandangi Li Sun-Hoan.
Dibiarkannya Li Sun-Hoan selesai batuk-batuk, lalu diberinya minum secawan arak.
Setelah ia menghabiskan cawan itu, Li Sun-Hoan tersenyum.
"Toako, lihatkah engkau bahwa tak ada setetes pun yang tumpah.? Walaupun aku digantung terbalik seperti ini, aku masih bisa minum arak dengan baik."
Liong Siau-hun pun ingin tersenyum, namun tidak bisa.
"Mengapa tak kau biarkan aku membuka Hiat-to (jalan darah)mu?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Aku tak bisa menahan godaan. Jika kau membuka Hiat-to (jalan darah)ku, aku pasti akan kabur."
Liong Siau-hun berkata.
"Nam….namun sekarang tidak ada siapa-siapa. Tidakkah kau mengerti apa yang sedang kulakukan?"
Li Sun-Hoan menjawab cepat.
"Toako, tidakkah kau mengerti apa yang sedang kulakukan?"
Sahut Liong Siau-hun.
"Aku tahu, tapi….."
Li Sun-Hoan tersenyum.
"Aku tahu apa yang hendak kau katakan. Tapi kau tidak berbuat kesalahan apapun. Dan hanya untuk secawan arak itu, aku tak akan pernah menyesali persahabatan kita."
Bab 17. Sifat Aslinya Ketahuan Sewaktu Liong Siau-hun mendengarnya, ia menundukkan kepalanya cukup lama.
"Besok…besok kau akan pergi. Aku…."
Kata Li Sun-Hoan.
"Tak perlu repot-repot mengantar. Aku tidak suka mengantar kepergian orang dan akupun tidak suka orang berbuat begitu padaku. Waktu aku melihat air wajah orang saat mengantar, aku malah jadi ingin muntah."
Ia terkekeh lalu melanjutkan.
"Lagi pula, aku kan tidak pergi jauh. Mungkin dalam beberapa hari aku akan kembali."
Liong Siau-hun pun kelihatan bersemangat lagi.
"Kau benar. Waktu kau datang nanti, aku pasti akan menyambutmu. Lalu kita bisa mabuk bersama."
Tiba-tiba terdengar suara seseorang berkata.
"Kau tahu pasti dia tidak akan kembali. Mengapa kau masih membohongi dirimu sendiri?"
Lim Si-im masuk. Wajahnya yang cantik kelihatan sangat rapuh. Hati Li Sun-Hoan serasa ditusuk sembilu. Namun ia masih tersenyum.
"Mengapa aku tidak akan kembali? Ini adalah tempat tinggal sahabat-sahabat karibku. Aku…."
Lim Si-im segera memotong dengan dingin.
"Siapa sahabatmu? Kau sama sekali tidak punya teman di sini."
Ia menuding ke arah Liong Siau-hun.
"Kau pikir dia ini sahabatmu? Jika dia memang sahabatmu, seharusnya dia membebaskanmu sekarang juga."
Liong Siau-hun berusaha membela diri.
"Tapi dia…."
Lim Si-im memotong lagi.
"Dia tidak mau pergi karena dia tidak mau kau mendapat kesulitan. Namun mengapa kau tidak melepaskan dia? Dia bisa memutuskan apakah dia mau lari atau tidak. Namun, kaulah yang harus memutuskan apakah kau akan melepaskan dia atau tidak."
Ia tidak menunggu Liong Siau-hun untuk menjawab. Ia memutar badannya dan berlalu dari situ. Liong Siau-hun berdiri dan berkata.
"Apapun yang akan kau lakukan, aku harus melepaskan engkau."
Li Sun-Hoan tertawa keras-keras. Liong Siau-hun kelihatan bingung.
"Meng…mengapa kau tertawa?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Sejak kapan kau mau diperintah oleh seorang wanita? Liong Siau-hun yang kuingat adalah seorang pria tulen. Bukan seorang pria lemah yang takut pada istrinya."
Liong Siau-hun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Bahkan air mata mulai tampak di sudut matanya.
"Toako, kau… kau sangat baik padaku. Bukannya aku tidak tahu apa maksudmu. Hanya…hanya saja, bagaimana harus kubalas budimu?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Kebetulan aku perlu bantuanmu."
"Apa yang kau perlukan? Katakan saja, aku lakukan apapun keinginanmu."
Kata Li Sun-Hoan.
"Ingatkah kau pada pemuda A Fei yang datang semalam?"
"Tentu saja."
Li Sun-Hoan berkata.
"Jika ia terlibat kesulitan, tolong bantu dia."
Liong Xiau Yun mendesah.
"Bahkan dalam situasi seperti ini, kau masih begitu memperhatikan orang lain. Apakah kau pernah memperhatikan dirimu sendiri?"
Kata Li Sun-Hoan kering.
"Katakan padaku, apakah kau akan melakukannya atau tidak."
"Tentu saja akan kupenuhi permintaanmu. Tapi mungkin aku takkan pernah berjumpa dengan dia."
Li Sun-Hoan sangat terkejut.
"Kenapa? Mungkinkah dia…."
Liong Siau-hun berusaha keras untuk tersenyum.
"Kau melihat dai pergi kemarin. Apakah mungkin dia kembali lagi?"
Li Sun-Hoan mengeluh.
"Aku sangat berharap ia tidak kembali lagi. Namun aku tahu ia pasti datang."
Liong Siau-hun bertanya.
"Jika ia datang untuk menyelamatkanmu, mengapa dia belum tiba?"
Ia menarik nafas panjang dan melanjutkan.
"Toako, aku tahu kau memperhatikan sahabatmu lebih dari apapun juga di dunia ini. Namun tidak semua orang seperti engkau."
Li Sun-Hoan berusaha tersenyum.
"Apa yang akan dilakukannya adalah keputusannya sendiri. Aku hanya berharap engkau mengingat bahwa ia adalah sahabatku, sewaktu engkau berjumpa dengan dia."
Sahut Liong Siau-hun.
"Sahabatmu adalah sahabatku juga."
Tiba-tiba seseorang berteriak dari luar.
"Liong-siya…. Liong-siya."
Liong Siau-hun segera bangkit, namun segera duduk kembali.
"Toako, kau…."
Li Sun-Hoan tersenyum lalu berkata.
"Aku tidak ingin minum lagi. Kau pergilah. Dan jangan lupa, besok kau tidak perlu mengantar."
Liong Siau-hun berjalan keluar dan dilihatnya Dian-jitya berdiri di bawah pohon. Ia segera berjalan ke sana dan bertanya dengan berbisik.
"Apakah kau berhasil menangkapnya?"
Sahut Dian-jitya.
"Tidak."
"Apa? Begitu banyak orang yang telah kau kerahkan, ditambah dengan Sim-bi Taysu Thi-tiok Siansing…. tidak dapat menyelesaikan satu anak muda saja?"
Kata Dian-jitya.
"Tapi anak muda ini sangat luar biasa. Bahkan sedikit menakutkan. Ia tidak hanya telah melukai Kakak Tio-lotoa, kini ia pun melukai Thi-tiok Siansing!"
Liong Siau-hun menghentakkan kakinya.
"Aku tahu anak muda ini tidak mudah ditundukkan. Tapi katamu Thi-tiok Siansing pasti dapat mengatasinya."
Kata Dian-jitya.
"Walaupun ia berhasil lolos, ia kena dilukai oleh telapak tangan Sim-bi."
Sahut Liong Siau-hun.
"Kalau begitu, ia tidak mungkin lari terlalu jauh. Mengapa tidak kau kejar dia?"
Dian-jitya berkata.
"Pendeta-pendeta Siau-lim-si itu sedang mengejarnya. Begitu ada kabar baik, aku akan segera mengabarimu."
Kata Liong Siau-hun.
"Aku akan pergi menyelidiki. Kau tempatkan seseorang untuk berjaga di sini."
Di belakang pohon Bwe itu ada gunung-gunungan.
Setelah kedua orang itu pergi, seseorang muncul dari balik gunung-gunungan itu.
Matanya yang cantik penuh dengan keheranan dan tidak percaya.
Juga sakit hati dan kebencian.
Seluruh badannya menggigil, dan air mata membasahi wajahnya.
Hati Lim Si-im hancur berkeping-keping.
Lalu dengan langkah mantap ia berjalan ke arah kamar Li Sun-Hoan.
Namun segera didengarnya ada langkah-langkah orang, sehingga Lim Si-im kembali bersembunyi di balik gununggunungan itu.
Dian-jitya membawa delapan orang ke situ dan berkata.
"Jaga dia. Jangan biarkan seorang pun masuk ke sini. Siapapun yang masuk, bunuh."
Ia sedang tergesa-gesa hendak menangkap A Fei, sehingga belum habis kalimatnya, dia sudah berlari pergi.
Lim Si-im menggigit bibirnya.
Begitu kerasnya sampai darah keluar.
Ia menyesali dirinya sendiri, mengapa malas berlatih ilmu silat.
Kini ia baru menyadari bahwa ada hal-hal yang hanya dapat diselesaikan dengan bertempur.
Ia tidak punya ide bagaimana ia bisa masuk ke kamar itu.
Tapi tiba-tiba ia mendengar sesuatu.
Langkah-langkah orang.
Langkah itu tidak terlalu berirama, namun sangat cepat.
Lim Si-im menyadari, ini adalah Thi-tiok Siansing.
Ia mendengar Thi-tiok Siansing berseru nyaring.
"Apakah orang she Li itu ada di kamar ini?"
Seorang penjaga menjawab.
"Kami tidak tahu pasti."
Thi-tiok Siansing berkata.
"Kalau begitu, biarkan aku masuk dan memeriksa."
Penjaga itu menjawab.
"Dian-jitya berpesan bahwa tidak seorang pun boleh masuk."
Kata Thi-tiok Siansing.
"Dian-jitya? Siapa yang peduli? Tidakkah kalian tahu siapa aku?"
Penjaga itu memandang dengan curiga ke arah pakaian Thi-tiok Siansing yang belepotan darah.
"Siapapun tidak boleh masuk."
Thi-tiok Siansing menjawab.
"Baiklah."
Ia mengangkat tangannya sedikit.
Segenggam jarum pun segera melesat.
Mata Li Sun-Hoan terpejam, seakan-akan tertidur.
Tiba-tiba didengarnya jeritan orang kesakitan.
Suara itu tidak terlalu keras, dan pendek saja.
Ia mengangkat alisnya.
"Apakah ada yang sedang berusaha menolongku?"
Lalu ia melihat seseorang yang membawa seruling besi masuk ke kamarnya. Wajahnya penuh dengan hawa membunuh. Pandangan Li Sun-Hoan berhenti pada seruling besi itu.
"Thi-tiok Siansing."
Thi-tiok Siansing memandangi wajahnya.
"Hiat-to (jalan darah)mu tertutup?"
Li Sun-Hoan tersenyum.
"Kau tahu, jika ada arak di hadapanku dan aku tidak minum, pasti artinya aku tidak bisa bergerak."
Kata Thi-tiok Siansing.
"Kalau kau tidak bisa bergerak, seharusnya aku tidak membunuhmu. Tapi aku harus membunuhmu."
"Hah?"
Thi-tiok Siansing menatapnya lekat-lekat.
"Engkau tidak ingin tahu sebabnya?"
Li Sun-Hoan terkekeh.
"Jika aku bertanya, pasti engkau akan menerangkan dan menjadi marah. Jika kemudian aku berusaha membela diri, kau pasti tidak akan percaya, dan masih tetap akan membunuhku. Jadi buat apa susah-susah bicara?"
Wajah Thi-tiok Siansing tiba-tiba menjadi sangat sedih.
"Ju-ih, kau sungguh mati mengenaskan. Tapi paling tidak sekarang aku akan membalaskan dendammu."
Ia mengangkat seruling besinya. Li Sun-Hoan menghela nafas.
"Ju-ih, waktu kau melihat aku, pasti kau akan sangat terkejut. Karena walaupun kau tidak mengenal aku, aku mengenalmu…."
Tiba-tiba Lim Si-im masuk ke dalam kamar itu.
"Tunggu sebentar. Ada yang ingin kukatakan."
Thi-tiok Siansing menoleh terkejut.
"Nyonya? Aku sarankan agar kau tidak terlibat urusan ini. Tidak ada seorang pun yang boleh ikut campur."
Wajah Lim Si-im menjadi hijau.
"Aku tidak bermaksud mencegahmu melakukan apa yang kau inginkan. Tapi ini adalah rumahku. Jika seseorang harus dibunuh, biarkan aku yang melakukannya."
"Tapi mengapa kau ingin membunuhnya?"
Sahut Lim Si-im.
"Aku punya lebih banyak alasan untuk membunuhnya daripada engkau. Kau ingin membunuhnya untuk membalaskan dendam istrimu. Namun aku ingin melakukannya demi anakku. Aku hanya punya satu orang anak."
Maksudnya sudah jelas. Thi-tiok Siansing punya lebih dari satu istri. Thi-tiok Siansing berpikir cukup lama, lalu berkata.
"Baiklah, kau boleh maju lebih dulu."
Ia sangat percaya diri bahwa jarum suling besinya sangat cepat bagai kilat.
Jadi walaupun Lim Si-im maju lebih dulu, ia masih dapat mendahuluinya membunuh Li Sun-Hoan.
Namun ketika Lim Si-im berjalan melewatinya, ia tiba-tiba berputar dan menyerangnya.
Walaupun ilmu silat Lim Si-im cetek, ia pun bukan wanita yang lemah.
Ia menggunakan seluruh kekuatannya mendorong dengan telapak tangannya.
Lagi pula, Tuan Suling sama sekali tidak menyangka, jadi serangannya cukup ampuh.
Dan karena luka sebelumnya terbuka lagi, tubuh Thi-tiok Siansing gemetar hebat, darah mulai mengucur keluar dan akhirnya dia pingsan.
Lim Si-im sendiri sangat terkejut melihatnya, dan hampir ikut pingsan.
Li Sun-Hoan tahu bahwa dia tidak pernah menginjak seekor semut sekalipun!
Kini, melihat Lim Si-im melukai seseorang, ia tidak tahu apakah ia harus merasa sedih atau gembira.
Tapi ia menekan seluruh emosinya dan hanya berkata.
"Mengapa kau datang lagi?"
Lim Si-im mengambil nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan diri.
"Aku datang kembali untuk membebaskanmu."
Li Sun-Hoan mengeluh.
"Apakah kau belum jelas juga? Aku tidak akan pergi."
Kata Lim Si-im.
"Aku tahu, kau tidak ingin pergi karena Liong Siau-hun. Tapi kau tidak tahu bahwa dia….dia…."
Tubuhnya mulai menggigil lagi, bahkan lebih dari sebelumnya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, sampai kuku-kukunya melukai kulitnya. Dengan segenap tenaganya ia berkata.
"Ia telah mengkhianatimu. Ia bersekongkol dengan mereka semua."
Setelah ia mengatakan itu, tenaganya habis terkuras.
Jikalau tidak ada kursi di dekatnya, mungkin ia sudah jatuh rebah di tanah.
Ia pikir Li Sun-Hoan pun pasti sangat terkejut.
Namun ternyata wajah Li Sun-Hoan tidak berubah sedikitpun.
Malahan ia terkekeh.
"Pasti ada kesalahpahaman. Bagaimana mungkin ia mengkhianati aku?"
Lim Si-im kembali mengumpulkan tenaganya dan berpegangan pada meja. Seluruh meja itu pun ikut bergetar. Katanya.
"Aku melihatnya dengan mataku sendiri, dan mendengarnya dengan telingaku sendiri."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Mata dan telingamu pasti salah."
Kata Lim Si-im gusar.
"Kau tidak mempercayaiku?"
Li Sun-Hoan berkata dengan lembut.
"Kau terlalu lelah dua hari belakangan ini. Jadi tidak heran kalau pikiranmu kacau. Pergilah beristirahat. Besok pasti kau akan kembali menyadari bahwa suamimu adalah laki-laki yang baik."
Lim Si-im memandang dia.
Pikirannya sungguh galau.
Setelah sekian lama, akhirnya ia menelungkup di atas meja dan mulai menangis.
Li Sun-Hoan memejamkan matanya.
Ia tidak mampu memandangnya.
Suaranya bergetar, katanya.
"Mengapa kau…."
Sebelum ia selesai bicara, ia mulai batuk-batuk.
Kali ini darah ikut tersembur.
Akhirnya Lim Si-im tidak dapat lagi mengendalikan dirinya.
Sepuluh tahun perasaan yang tertahan, meledak keluar saat itu.
Ia segera menubruk ke arah Li Sun-Hoan.
"Jika kau tidak pergi, aku akan mati di hadapanmu."
Li Sun-Hoan mengatupkan giginya. Ia berkata perlahanlahan.
"Apa hubungannya kematianmu dengan diriku?"
Lim Si-im menengadah memandangnya. Suaranya sangat lemah.
"Kau….kau….kau…."
Setiap kali dia bicara satu kata, ia mundur selangkah.
Tiba-tiba ia menabrak seseorang di belakangnya.
Wajah Liong Siau-hun terlihat kaku seperti baja.
Ia melingkarkan tangannya kuat-kuat di pinggang istrinya.
Seakan-akan kuatir jika ia melepaskannya, istrinya akan pergi dan tak kembali lagi.
Lim Si-im memandang tangan suaminya.
Setelah kembali tenang, ia berkata dengan dingin.
"Lepaskan tanganmu. Dan ingatlah, jangan sekali-kali menyentuhku lagi."
Akhirnya dilepaskannya pelukannya dan memandang istrinya.
"Kau sudah tahu semuanya?"
Lim Si-im menjawab dingin.
"Tidak ada rahasia yang abadi di dunia ini."
"Kau…kau telah memberitahukan padanya?"
Li Sun-Hoan tersenyum.
"Sebenarnya dia tidak perlu memberitahukan padaku. Aku sudah tahu dari semula."
Awalnya Liong Siau-hun tidak punya muka memandangnya. Baru sekarang ia mengangkat kepalanya.
"Kau sudah tahu?"
"Ya."
"Sejak kapan?"
Li Sun-Hoan menghela nafas.
"Waktu kau menarik tanganku dan membiarkan Dian-jitya menutup Hiat-to (jalan darah)ku. Tapi…. walaupun aku tahu kau terlibat, aku tidak menyalahkanmu."
Kata Liong Siau-hun.
"Jika kau sudah tahu, mengapa kau tak mengatakan apa-apa?"
"Buat apa?"
Lim Si-im memandang Li Sun-Hoan.
"Kau tidak mengatakannya karena aku, bukan?"
Li Sun-Hoan mengangkat alisnya.
"Karena kau?"
Kata Lim Si-im lagi.
"Kau tidak ingin menyakiti diriku, atau merusak keluarga kami. Karena keluarga ini adalah…."
Ia tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Air mata kembali membasahi wajahnya. Tawa Li Sun-Hoan meledak tiba-tiba.
"Mengapa wanita selalu berpikir bahwa segala sesuatu berputar mengelilingi mereka? Aku tidak mengatakannya karena aku tahu itu tidak ada manfaatnya. Aku juga tidak pergi karena aku tahu mereka tidak akan membiarkan aku pergi."
Kata Lim Si-im.
"Tidak peduli apa yang kau katakan sekarang. Karena aku sudah tahu…."
Potong Li Sun-Hoan.
"Apa yang kau tahu? Tahukah kau mengapa ia melakukannya? Ia kuatir kalau aku akan merusak keluarga kalian. Itu sebabnya ia melakukan semua ini! Karena dalam pandangannya, keluarga lebih penting dari apa pun juga di dunia ini. Ia merasa bahwa engkaulah orang yang paling berharga dalam hidupnya."
Lim Si-im menatap dia lekat-lekat, lalu tiba-tiba juga tertawa terbahak-bahak.
"Ia telah menghancurkanmu, tapi kau masih juga membelanya? Bagus. Kau memang sahabat sejati. Tapi, sadarkah engkau bahwa aku juga manusia? Tega-teganya kau berbuat seperti ini padaku!"
Li Sun-Hoan mulai terbatuk-batuk lagi. Darah mengotori sekelilingnya. Kini Liong Siau-hun pun kehilangan kendali dan mulai berteriak.
"Tadinya aku adalah kepala keluarga di sini. Tapi begitu kau muncul, aku merasa seperti seorang tamu. Aku mempunyai anak yang hebat. Tapi begitu kau datang, ia menjadi anak yang cacad."
Li Sun-Hoan mendesah.
"Kau benar. Seharusnya aku tidak datang kembali."
Lim Si-im memejamkan matanya. Air mata terus mengalir membasahi seluruh wajahnya.
"Jika kau pernah memikirkan aku sekejap saja, seharusnya kau tidak berbuat seperti ini."
Sahut Liong Siau-hun.
"Aku tahu. Tapi aku terlalu kuatir."
Lim Si-im bertanya.
"Kuatir apa?"
Jawab Liong Siau-hun.
"Kuatir kau akan meninggalkan diriku. Walaupun kau tidak mengatakannya, aku tahu bahwa kau…. kau tidak bisa melupakan dia. Aku kuatir kau akan kembali ke dalam pelukannya."
Lim Si-im melompat dari kursinya dan berteriak dengan marah.
"Singkirkan tanganmu! Kau bukan hanya seorang yang licik, tapi kau pikir aku ini orang macam apa? Kau pikir dia itu orang macam apa?"
Lim Si-im bersimpuh di lantai dan menangis meraungraung tidak terkendali.
"Apakah kau sudah lupa bahwa aku… aku adalah istrimu?"
Liong Siau-hun berdiri mematung di tempatnya. Hanya air matanya yang bergulir di pipinya. Li Sun-Hoan memandang mereka berdua dan berpikir dalam hatinya.
"Salah siapakah ini semua? Siapa yang salah…." *** Di tempat lain, A Fei merasa seperti berbaring di dalam gumpalan awan, tubuh terasa lemas dan melayanglayang di tengah semacam bau harum yang sedap. Ia sudah mendusin, tapi rasanya seperti dalam mimpi. Dalam mimpinya juga selalu ditemui salju, ladang belukar, binatang buas dan serentetan bencana dan penderitaan yang tak habis-habis.... Dan terdengar seseorang berkata.
"Apakah kau sudah bangun?"
Suara ini sungguh merdu, sungguh lembut.
Waktu A Fei membuka matanya, ia melihat wajah seorang dewi.
Wajah ini memiliki senyum yang termanis, yang terlembut di seluruh dunia.
Matanya penuh dengan cinta kasih yang murni.
Wajah ini hampir mirip dengan ibunya.
Ia teringat waktu ia masih kecil dan jatuh sakit, ibunya selalu duduk di sampingnya seperti ini, dan mengawasi dia dengan sabar.
Namun itu sudah lama sekali.
Sangat lama, sampai ia hampir melupakannya….
A Fei berusaha bangkit dari tempat tidur itu.
"Di manakah aku?"
Waktu ia berusaha duduk, ia terjatuh rebah kembali. Lim Sian-ji membantu ia duduk dengan telaten dan berkata dengan lembut.
"Jangan kuatir di mana engkau berada. Anggap saja ini rumahmu."
"Rumahku?"
Ia tidak pernah punya rumah. Kata Lim Sian-ji.
"Aku rasa rumahmu pasti sangat hangat, karena kau memiliki ibu yang sangat baik. Ia pasti sangat lembut, sangat cantik dan kau sangat mencintainya."
A Fei hanya duduk terdiam. Setelah beberapa saat ia berkata.
"Aku tidak punya rumah, juga tidak punya ibu."
Lim Sian-ji kelihatan bingun.
"Tapi…tapi waktu engkau pingsan, kau terus-menerus memanggil ibumu."
A Fei diam saja, tidak bergerak dan wajahnya pun tidak berubah.
"Beliau sudah meninggal waktu aku berusia tujuh tahun."
Walaupun wajahnya menatap kosong, matanya mulai basah. Lim Sian-ji menunduk.
"Maafkan aku. Aku…seharusnya aku tidak mengungkit kenangan sedih itu."
Kemudian A Fei bertanya.
"Apakah engkau yang menolongku?"
Sahut Lim Sian-ji.
"Waktu aku tiba, kau sudah pingsan. Lalu aku membawamu ke sini. Selama kau berada di sini, aku berjanji tidak ada orang lain yang akan masuk."
Kata A Fei.
"Sebelum ibuku meninggal, beliau berpesan supaya aku tidak menerima kebaikan orang lain. Aku tidak pernah melupakannya. Namun sekarang…."
Wajahnya yang kaku kini menjadi hidup dan ia berteriak.
"Kini aku berhutang nyawa padamu!"
Lim Sian-ji menjawab dengan lembut.
"Kau tidak berhutang apa-apa. Jangan lupa, kau pun pernah menyelamatkan nyawaku."
A Fei terus mengeluh.
"Mengapa kau tolong aku? Mengapa kau tolong aku?"
Lim Sian-ji memandangnya dengan sabar. Ia meletakkan tangannya di wajah A Fei.
"Jangan pikir apa-apa sekarang. Nanti… nanti kau akan tahu mengapa aku…. aku menolongmu. Mengapa aku berbuat ini padamu."
Tangannya benar-benar cantik. A Fei memejamkan matanya. Ia tidak tahu bahwa ia dapat mempunyai perasaan seperti ini. Ia bertanya.
"Jam berapa sekarang?"
"Belum tengah malam."
A Fei berusaha bangkit lagi. Lim Sian-ji bertanya.
"Ke mana kau mau pergi?"
A Fei mengertakkan giginya.
"Aku tak bisa membiarkan mereka membawa Li Sun-Hoan."
Kata Lim Sian-ji.
"Tapi mereka sudah pergi."
A Fei jatuh terduduk ke atas tempat tidur. Wajahnya berkeringat.
"Tapi katamu ini belum tengah malam?"
Sahut Lim Sian-ji.
"Memang betul. Tapi Li Sun-Hoan sudah dibawa pergi kemarin pagi."
A Fei terpana.
"Aku tidur begitu lama?"
Kata Lim Sian-ji.
"Luka-lukamu sangat berat. Jika orang itu bukan engkau, aku rasa orang itu tidak akan dapat bertahan hidup. Jadi sekarang engkau harus patuh padaku dan menunggu sampai kesehatanmu pulih."
"Tapi Li…."
Potong Lim Sian-ji cepat.
"Jangan bicara tentang dia lagi. Keadaannya saat ini tidak segawat keadaanmu. Jika kau ingin pergi menolongnya, tunggu sampai luka-lukamu sembuh."
Ia menggeser tubuh A Fei, sehingga kepala A Fei ada di atas bantal.
"Jangan kuatir. Sim-bi Taysu sendiri yang membawa dia. Dia tidak akan menemui kesulitan di jalan." *** Li Sun-Hoan duduk di atas kereta, memandang Dian-jitya dan Sim-bi. Ia berpikir ini sungguh menarik, sehingga ia tidak dapat menahan senyumnya. Dian-jitya menatapnya dan bertanya.
"Apa yang lucu?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Aku hanya berpikir bahwa ini sangat menarik."
"Apa yang menarik?"
Li Sun-Hoan menguap, memejamkan matanya, seolaholah akan tidur. Dian-jitya mengguncang-guncangkan tubuhnya.
"Apa yang menarik pada diriku?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Maaf, aku bukan berbicara tentang engkau. Ada banyak orang yang menarik di dunia ini, tapi kau tidak termasuk. Kau sangat membosankan."
Dian-jitya sungguh geram, tapi akhirnya dilepaskannya cekalannya. Sim-bi tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Apakah menurutmu aku menarik?"
Ia tidak pernah bertemu dengan orang yang menanggap dia menarik. Li Sun-Hoan menguap lagi. Katanya sambil tersenyum.
"Aku berpikir kau cukup menarik karena sebelum ini aku belum pernah berada di kereta kuda bersama dengan seorang pendeta. Aku selalu berpikir bahwa pendeta tidak pernah naik kuda atau kereta kuda."
Sim-bi juga tersenyum.
"Pendeta kan juga manusia. Kami tidak hanya naik kereta kuda, kami juga perlu makan."
Kata Li Sun-Hoan.
"Tapi jika mau duduk di atas kereta, mengapa tidak duduk dengan nyaman? Caramu duduk membuat orang berpikir bahwa kau mempunyai semacam penyakit kulit."
Wajah Sim-bi langsung berubah.
"Kau ingin aku menutup mulutmu?"
Sim-bi memandang Dian-jitya. Tangan Dian-jitya telah bergerak ke arah salah satu Hiat-to (jalan darah) Li Sun-Hoan. Ia tersenyum.
"Jika aku menekan di sini, kau tahu apa yang akan terjadi, bukan?"
Li Sun-Hoan terkekeh.
"Jika kau menekan di situ, maka kau tidak akan mendengar banyak kisah yang menarik."
Kata Dian-jitya.
"Kalau begitu, aku rasa aku akan…."
Di tengah-tengah perkataannya itu, tiba-tiba kuda-kuda meringkik keras, dan berhenti. Dian-jitya berteriak pada orang-orang yang di luar.
"Apa yang terjadi? Apa….."
Waktu ia menyingkapkan tirai dan melihat ke luar, wajahnya seketika pucat pasi.
Seseorang berdiri di atas salju.
Tangan kanannya memegangi kereta kuda, sehingga kuda-kuda itu tidak dapat maju.
Ia hanya berdiri di situ, tidak bergerak sedikitpun.
Bab 18.
Satu Hari Banyak Kejutan Orang itu mengenakan baju hijau.
Baju itu terlalu panjang untuk ukuran orang biasa, namun untuk orang ini baju itu malah tampak terlalu pendek.
Ia dapat membuat orang merasa takut karena tubuhnya yang sangat tinggi.
Ia juga mengenakan topi panjang yang tampak aneh.
Dari jauh ia kelihatan seperti sebatang pohon.
Kemampuannya untuk menghentikan kuda yang sedang berlari, sangat mengerikan.
Namun matanya lebih mengerikan lagi.
Mata itu seperti bukan mata manusia.
Matanya hijau, dan berkilauan.
Waktu Dian-jitya melihat ke luar, ia segera masuk kembali.
Ia kelihatan seperti orang sakit.
Sim-bi bertanya.
"Ada seseorang di luar?"
Kata Dian-jitya lemah.
"In Gok."
Li Sun-Hoan tersenyum.
"Sayangnya ia sama seperti teman-temanku yang lain. Ia hanya menginginkan kepalaku."
Wajah Sim-bi terlihat muram. Ia membuka pintu kereta dan menyapa.
"Ih-jisiansing."
Si Setan Hijau memandangnya, lalu berkata dingin.
"Apakah engkau Sim-oh Taysu? Atau Sim-bi?"
Sim-bi Taysu menjawab.
"Pendeta tidak boleh berdusta. Di sini ada juga Tuan Dian-jitya dan Li-tayhiap."
Kata In Gok.
"Bagus. Serahkan saja Li Sun-Hoan dan kalian boleh pergi."
Sahut Sim-bi.
"Bagaimana jika aku tidak setuju?"
Kata In Gok lagi.
"Maka aku harus membunuhmu dulu, baru membunuh Li Sun-Hoan!"
Tiba-tiba ia menyorongkan tangannya.
Terlihat kilatan warna hijau, dan Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau) telah maju terarah pada Sim-bi.
Sim-bi membaca mantra Tan Okmpat pendeta muda berjubah abu-abu segera datang.
Setelah Sim-bi mengelak dari serangan pertama ini, pendeta-pendeta muda itu mengelilingi In Gok.
Lalu In Gok tertawa.
Selagi tertawa, disambitkannya sebatang panah yang mengeluarkan asap hijau.
Sim-bi langsung berteriak.
"Tahan nafas!"
Ia memperingatkan murid-muridnya, namun ia sendiri lupa.
Ketika diucapkannya kata ‘tahan’, bau yang aneh masuk ke dalam mulutnya.
Ketika para pendeta yang lain melihat perubahan wajahnya, mereka langsung panik.
Sim-bi segera melayang beberapa meter ke belakang, duduk bersila dan mulai bermeditasi.
Ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendorong racun itu keluar.
Para pendeta Siau-lim-si itu langsung membentuk barisan seperti tembok di depannya.
Mereka hanya menguatirkan keselamatan Sim-bi.
Mereka lupa pada Li Sun-Hoan.
Namun In Gok tidak mempedulikan mereka.
Ia berjalan menuju ke kereta.
Li Sun-Hoan masih di sana, namun Dian-jitya sudah pergi.
In Gok menatap Li Sun-Hoan dan bertanya.
"Apakah engkau membunuh Ku Tok?"
"Ya."
Kata In Gok.
"Bagus. Menukar nyawamu dengan nyawa Ku Tok bukanlah satu kerugian bagimu."
Ia mengangkat Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau)nya…. *** A Fei menatap langit-langit. Ia tidak berbicara sudah sangat lama. Kata Lim Sian-ji.
"Apa yang kau pikirkan?"
Jawab A Fei.
"Apakah kau pikir ia akan menemui bahaya di tengah jalan?"
Lim Sian-ji tersenyum.
"Tentu saja tidak. Ada Sim-bi Taysun, Dian-jitya yang mengawalnya. Siapa yang berani menyerangnya?"
Ia membelai rambut A Fei.
"Jika kau memperhatikan aku, beristirahatlah. Aku akan tetap di sini. Aku berjanji tidak akan pergi."
A Fei menatapnya. Matanya sungguh penuh kehangatan. Akhirnya A Fei pergi tidur. *** In Gok menatap Li Sun-Hoan.
"Ada lagi yang ingin kau katakan?"
Li Sun-Hoan memandang Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau)nya.
"Satu kalimat saja."
"Apa?"
Li Sun-Hoan mendesah.
"Mengapa datang jauh-jauh hanya untuk mati?"
Tiba-tiba ia memutar tangannya. Pisau berkilat dan In Gok terjengkang ke belakang. Begitu banyak darah menggenang di atas salju. Kini In Gok sudah pergi jauh. Ia berteriak.
"Li Sun-Hoan, jangan lupa. Aku…."
Sampai di situ, ia berhenti.
Angin musim dingin mengiris kulit bagai pisau.
Padang salju tiba-tiba hening mencekam.
Tiba-tiba terdengar seseorang bertepuk tangan.
Dianjitya keluar dari balik kereta, tersenyum dan bertepuk tangan.
"Bagus. Bagus. Bagus. Pisau Kilat si Li memang tidak pernah luput. Sehebat yang dikatakan orangorang."
Li Sun-Hoan terdiam sejenak lalu berkata.
"Jika kau bebaskan seluruh Hiat-to (jalan darah)ku, ia tidak akan bisa lolos."
Dian-jitya tertawa.
"Jika kubebaskan semua Hiat-to (jalan darah)mu, maka engkaulah yang lolos. Hanya dengan satu tangan yang bisa bergerak dan satu pisau saja, kau telah berhasil melukai In Gok cukup berat. Aku harus ekstra hati-hati menghadapi orang seperti engkau."
Saat itu para pendeta itu telah menggotong Sim-bi kembali. Setelah duduk dalam kereta, Sim-bi langsung berkata.
"Ayo pergi."
Setelah beberapa saat ia berkata lagi.
"Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau) sangat berbahaya."
Dian-jitya tersenyum.
"Tapi tidak lebih berbahaya daripada Pisau Kilat si Li."
Sim-bi memandang Li Sun-Hoan.
"Aku tidak menyangka kau akan menyelamatkan kami."
Li Sun-Hoan terkekeh.
"Aku hanya menyelamatkan diriku sendiri. Jangan pikirkan itu. Jangan repot-repot berterima kasih."
Kata Dian-jitya.
"Aku hanya bertanya apakah dia mau pergi dengan kita ke Siau-lim-si atau tinggal dengan In Gok. Lalu kubuka Hiat-to (jalan darah) tangan kanannya dan kuberinya sebilah pisau."
Lalu ia menyeringai.
"Itu saja sudah cukup."
Kata Sim-bi.
"Pisau Kilat si Li yang legendaris…..sangat sangat cepat!"
Walaupun gerak refleksnya kurang baik, namun ia memiliki tenaga dalam yang sangat hebat.
Menjelang malam Sim-bi telah berhasil mendorong keluar semua racun dari dalam tubuhnya.
Keesokan paginya, ia hampir pulih sepenuhnya."
Lalu mereka melihat ada sebuah kedai di tepi jalan. Makanan tanpa arak, sama seperti masakan tanpa garam. Kering dan hambar. Kata Dian-jitya.
"Sudah bagus ada makanan. Jangan berharap terlalu muluk."
Peraturan Siau-lim-si sangat ketat.
Para pendeta ini tidak mengeluarkan suara sedikit pun selagi makan.
Walaupun hanya sayuran rebus, mereka sudah terbiasa.
Lagi pula, setelah perjalaLam-yang-hu cukup jauh, mereka sangat lapar.
Jadi mereka pun makan cukup lahap.
Hanya Sim-bi, yang baru pulih dari racun itu, tidak makan apa-apa.
Li Sun-Hoan akhirnya menyumpit sepotong tahu.
Baru akan dimakannya, diletakkannya kembali.
Wajahnya berubah.
"Kita tidak bisa makan ini."
Kata Dian-jitya.
"Jika Li-Tamhoa tidak mau makan makanan biasa seperti ini, silakan saja pergi dengan perut kosong."
Li Sun-Hoan hanya menyahut datar.
"Makanan ini beracun."
Dian-jitya tertawa.
"Hanya karena kami tidak mengijinkanmu minum arak, bukan berarti…"
Tiba-tiba ia berhenti tertawa.
Seakan-akan tenggorokannya tersumbat.
Ini karena ia melihat wajah keempat pendeta Siau-lim-si itu menjadi abu-abu.
Mereka sendiri tidak menyadarinya dan terus saja makan.
Sim-bi segera berkata.
"Semua berhenti makan! Segera bermeditasi dan Lindungi organ-organ penting."
Para pendeta itu tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Mereka hanya tersenyum.
"Apakah Susiok menyuruh kami?"
Sim-bi berkata cepat.
"Tentu saja. Tak tahukah kalian bahwa kalian sudah keracunan?"
"Siapa yang keracunan?"
Lalu keempat orang ini saling pandang. Semua bersamasama berkata.
"Wajahmu…."
Sebelum kalimat mereka selesai, keempatnya jatuh tergeletak.
Dalam sekejap saja tubuh mereka sudah mulai membusuk.
Racun itu bukan hanya tidak berasa dan tidak berbau, juga bisa membuat orang yang keracunan tidak merasa apa-apa.
Waktu mereka sadar mereka telah keracunan, mereka sudah tidak tertolong lagi.
Dian-jitya bergidik.
"Racun apakah ini? Bagaimana racun ini bisa begitu hebat? Siapakah pelakunya?"
Li Sun-Hoan memandang pada kalajengking di dinding.
"Aku tahu ia akan datang, cepat atau lambat."
Dian-jitya bertanya dengan tak sabar.
"Siapa? Kau tahu siapa dia?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Ada dua jenis racun di dunia ini. Yang satu berasal dari rumput dan tanaman. Yang satu lagi dari ular dan serangga. Banyak orang yang bisa membuat racun dari tanaman, tapi sangat sedikit yang bisa membuat racun dari ular dan serangga. Dan hanya satu orang yang dapat membuat racun yang bisa membunuh orang tanpa disadari korbannya."
Dian-jitya terbelalak.
"Maksudmu Ngo ... Ngo-tok-tongcu dari Kek-lok-tong di daerah Miau (Ngo-tok-tongcu)?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Aku berharap bukan dia."
"Mengapa ia datang ke sini? Untuk apa ia datang ke sini?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Ia datang mencari aku."
Ia tahu Li Sun-Hoan pasti tidak mempunyai teman seperti ini. Ia hendak mengatakan sesuatu, namun diurungkannya.
"Tampaknya kau tidak punya banyak teman, tapi punya segudang musuh."
Kata Li Sun-Hoan.
"Aku tidak keberatan punya banyak musuh. Namun seseorang hanya perlu sedikit saja sahabat, karena kadang-kadang sahabat itu lebih mengerikan daripada musuh."
Sim-bi tiba-tiba memotong dan bertanya.
"Bagaimana kau tahu ada racun dalam makanan itu?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Sama seperti waktu berjudi. Aku hanya bergantung pada perasaanku. Jika seseorang menanyakan sebabnya, aku tidak bisa menjawabnya."
Sim-bi memandang dia penuh curiga, lalu katanya.
"Mulai sekarang, kita hanya makan apa yang dia makan."
Mereka meninggalkan keempat jenazah pendeta itu di biara setempat dan melanjutkan perjalanan.
Walaupun mereka bisa terus berjalan tanpa makan, kusir kereta tidak mau ikut lapar bersama dengan mereka.
Jadi waktu mereka lewat sebuah kedai, ia berhenti dan makan di situ.
Ia membeli beberapa buah roti dan makan dalam perjalanan.
Dian-jitya terus memandangnya.
Setelah beberapa saat ia bertanya.
"Berapa harga roti ini?"
Kusir kereta itu tersenyum.
"Murah sekali, dan cukup lezat. Cobalah sedikit."
Dian-jitya tersenyum.
"Roti ini tidak mungkin beracun. Mengapa tak kau coba sedikit, Pendeta?"
Sim-bi berkata.
"Makanlah sedikit, Li-tayhiap."
Li Sun-Hoan terkekeh.
"Tak kusangka kalian berdua sungguh penuh kesopanan."
Ia mengambil satu dengan tangan kirinya, karena hanya tangan kirinya yang bisa bergerak. Lalu dia berkata.
"Kita tidak bisa makan ini."
Kata Dian-jitya.
"Namun kusir kereta itu makan, dan tidak terjadi apa-apa."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Dia bisa makan, namun kita tidak."
"Mengapa?"
"Karena ia bukanlah orang yang hendak dibunuh oleh Ngo-tok-tongcu!"
Dian-jitya tertawa dingin.
"Apakah kau ingin menipu kami dan membuat kami mati kelaparan?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Jika kau tidak percaya, makan saja."
Dian-jitya menatapnya, lalu menyuruh kusir kereta untuk berhenti.
Ia belah roti itu menjadi dua, dan memberikan setengah bagian pada kusir kereta itu.
Kusir itu makan dan tidak menunjukkan tanda-tanda keracunan sama sekali.
Dian-jitya berkata dingin.
"Kau masih berpikir bahwa kita tidak bisa makan roti itu?"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Tidak."
Ia menguap. Lalu seolah-oleh tertidur. Dian-jitya sungguh kesal, lalu katanya.
"Aku akan makan untuk membuktikan bahwa kau salah."
Walaupun ia berkata begitu, ia tidak makan roti itu.
Lalu dilihatnya seekor anjing liar lewat dekat kereta mereka.
Kelihatannya anjing itu pun sedang kelaparan.
Dian-jitya memberikan setengah bagian roti yang sisa pada anjing itu.
Anjing itu mengendus-endus, makan sedikit lalu pergi.
Sepertinya ia tidak suka roti itu.
Namun setelah beberapa langkah, tiba-tiba anjing itu meloLiong nyaring, melompat dan terkapar mati.
Dian-jitya dan Sim-bi sungguh terkejut.
Li Sun-Hoan menghela nafas.
"Sudah kubilang. Masih untung, hanya seekor anjing yang mati, bukan kalian."
Sebelumnya, Dian-jitya kelihatan begitu percaya diri. Namun kini wajahnya berubah total. Ia memandang pada kusir itu dan bertanya menyelidik.
"Ada apa ini?"
Kusir itu sangat ketakutan.
"Aku sungguh tidak tahu. Aku membeli roti itu dari warung tadi."
Dian-jitya mengguncang-guncangkan tubuh kusir itu.
"Lalu mengapa anjing itu mati dan kau masih hidup? Siapa yang menaruh racun pada roti itu kalau bukan engkau?"
Kusir itu hanya gemetar, tak tahu harus menjawab apa. Kata Li Sun-Hoan.
"Tidak ada gunanya mengancam dia. Dia sendiri pun tidak tahu apa yang terjadi."
"Jika dia tidak tahu, siapa yang tahu?"
"Aku tahu."
Dian-jitya berusaha menenangkan dirinya.
"Kau tahu? Cepat jelaskan!"
Sahut Li Sun-Hoan.
"Roti itu beracun, namun sup yang dimakannya di warung itu mengandung obat penawarnya."
Dian-jitya berkata dingin.
"Kita kan mungkin saja turun juga untuk makan sup itu."
Kata Li Sun-Hoan.
"Jika kita makan sup itu, racunnya tidak akan dimasukkan ke dalam roti. Tipuan Ngo-tok-tongcu memang tidak dapat ditebak. Dalam menghadapi orang seperti itu, kau hanya bisa menutup mulutmu rapat-rapat."
Sim-bi berkata.
"Ya sudah, kalau begitu kita tidak usah makan saja untuk beberapa hari ini. Ayo lekas jalan lagi."
Dian-jitya berkata.
"Walaupun kita tidak makan, aku kuatir bahaya itu akan tetap ada."
"Mengapa?"
"Karena kemungkinan ia akan menunggu sampai kita sangat lemah, baru menyerang."
Sim-bi tidak tahu harus menjawab apa. Lalu mata Dian-jitya berbinar.
"Aku ada ide."
"Apa?"
Dian-jitya berbisik.
"Tujuannya kan bukan kita. Maka kalau kita…."
Ia melirik pada Li Sun-Hoan dan berhenti bicara. Wajah Sim-bi menjadi murung. Aku sudah berjanji akan membawanya ke Siau-lim-si. Aku tidak dapat membiarkannya mati di tengah jalan."
Dian-jitya tidak berkata apa-apa lagi.
Namun setiap kali ia memandang Li Sun-Hoan, matanya menyiratkan niat membunuh.
Pendeta bukan hanya harus makan dan tidur, mereka pun harus buang hajat.
Sim-bi menyadari juga akan hal ini.
Namun apapun yang sedang dilakukannya, dia tidak mau Li Sun-Hoan berada di luar pengamatannya.
Dian-jitya menjadi sungguh kesal dan tidak sabar, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Keesokan harinya, mereka melihat sebuah warung menjual roti.
Warung itu cukup ramai.
Orang mengantri untuk membeli.
Waktu mereka mendapatkan roti itu, mereka segera memakannya.
Tak seorang pun mati keracunan.
Dian-jitya tidak bisa menahan diri lagi.
"Bisakah kita makan ini?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Mereka boleh memakannya. Namun kita tidak bisa. Walaupun sepuluh ribu orang memakannya dan tidak terjadi apa-apa, jika kita makan, kita pasti keracunan sampai mati!"
Jika Li Sun-Hoan mengatakan ini dua hari yang lalu, Dian-jitya tidak mungkin percaya. Namun sekarang, Dian-jitya harus mempercayainya. Lalu terdengar seorang anak berteriak.
"Ibu! Ibu! Aku mau makan roti."
Mereka melihat dua orang anak berusia sekitar tujuh tahun sedang berada dekat warung itu.
Mereka berteriak-teriak dan melompat-lompat.
Seorang wanita keluar dari warung itu dan menampar mereka.
Anak itu menangis.
"Kalau aku sudah jadi orang kaya nanti, aku tidak mau lagi makan roti. Aku hanya mau makan mi telur saja."
Li Sun-Hoan mengeluh.
Begitu besar jurang antara yang kaya dengan yang miskin.
Dalam bayangan anak-anak ini, bahkan mi telur pun adalah suatu kemewahan.
Jalan itu sempit dan begitu banyak orang di sana.
Cukup lama kereta mereka tidak bisa lewat.
Kini terlihat kedua anak itu masing-masing membawa semangkuk bubur.
Mata mereka tetap tertuju pada orang-orang yang sedang makan roti.
Tiba-tiba, Dian-jitya turun dari kereta.
Ia menaruh beberapa keping uang di meja si penjual roti, dan mengambil beberapa buah roti.
Lalu ia menghampiri kedua anak ini dan berkata.
"Aku beri kalian roti ini. Kalian beri padaku bubur itu. Bagaimana?"
Mata kedua anak itu langsung bersinar-sinar. Mereka belum pernah bertemu dengan orang sebaik ini.
"Aku beri kalian uang untuk membeli permen juga. Bagaimana?"
Melihat ini, Sim-bi terkekeh. Akhirnya Dian-jitya membawa dua mangkuk bubur itu ke dalam kereta. Simbi tersenyum.
"Kau cerdik juga rupanya."
Dian-jitya tertawa.
"Yah, kita kan perlu tenaga untuk bisa meneruskan perjalanan."
Ia memberikan semangkuk kepada Sim-bi.
Walaupun bubur ini terasa hambar, mereka memakannya seperti makaLam-yang-hu sedap luar biasa, karena mereka yakin bubur itu tidak beracun.
Dian-jitya memandang Li Sun-Hoan dan terkekeh.
"Apakah kau pikir ini bisa dimakan?"
Sebelum menjawab, Li Sun-Hoan mulai terbatuk-batuk. Dian-jitya tersenyum sambil berkata.
"Jika Ngo-toktongcu sudah tahu sebelumnya bahwa anak-anak itu ingin makan roti, dan sudah tahu bahwa kita akan menggunakan roti itu untuk barter dengan bubur ini, sehingga ia telah menaruh racun dalam bubur ini, maka aku rela mati."
Setelah mengatakannya, dihabiskannya semangkuk bubur itu dengan sekali telan.
Sim-bi pun merasa bahwa bubur itu tidak mungkin beracun.
Karena betapa pun hebatnya dia, Ngo-toktongcu tidak mungkin dapat menebak apa yang akan terjadi!
Bab 19.
Aneh tapi Nyata Sim-bi yakin bubur itu tidak beracun, namun bagaimana pun juga, ia adalah seorang pendeta.
Jadi sewaktu Dianjitya sudah menghabiskan mangkuknya, ia masih pada suapan kedua.
Dian-jitya tersenyum.
"Dengan kecepatan seperti ini, kita akan tiba di Siong-san besok pagi."
Sim-bi juga terlihat lega. Katanya.
"Akan ada muridmurid yang menyambut kita satu dua hari ini. Selama…."
Tiba-tiba ia berhenti bicara. Tubuhnya gemetar hebat, dan mangkuknya terjatuh dari tangannya. Buburnya tumpah membasahi bajunya. Wajah Dian-jitya memucat.
"Pendeta…. Kau…"
"Ada racun dalam bubur ini?"
Sim-bi menghela nafas. Tidak sanggup bicara. Dian-jitya mencekal baju Li Sun-Hoan.
"Lihat wajahku. Apakah wajahku…."
Lalu ia terdiam, karena ia tahu tidak ada gunanya bertanya. Li Sun-Hoan mendesah.
"Walaupun aku selalu menganggapmu memuakkan, aku tetap tidak ingin melihatmu mati."
Wajah Dian-jitya putih seperti kertas. Tubuhnya gemetar, dan ia menatap Li Sun-Hoan. Lalu ia tertawa terbahakbahak.
"Walaupun kau tidak ingin melihatku mati, aku ingin melihatmu mati! Seharusnya aku sudah membunuhmu sejak lama!"
Kata Li Sun-Hoan.
"Kau pikir sekarang sudah terlambat untuk membunuhku?"
Dian-jitya mengertakkan giginya.
"Benar. Terlambat untuk membunuhmu sekarang. Untungnya, belum terlalu terlambat."
Tiba-tiba tangannya mencengkeram leher Li Sun-Hoan. *** A Fei bangkit berdiri. Wajahnya masih pucat, namun tubuhnya berdiri tegap. A Fei berjalan mengelilingi kamar itu dua kali, lalu bertanya.
"Apakah kau pikir ia akan sampai di Siau-lim-si dengan selamat?"
Kata Lim Sian-ji.
"Kau tidak bisa bercakap-cakap lebih dari tiga kalimat tanpa menyinggung tentang Li Sun-Hoan, ya? Dapatkah kita tidak membicarakan dia? Mengapa kau tidak berbicara tentang aku? Atau tentang dirimu?"
A Fei memandangnya dengan tenang dan bertanya.
"Apakah dia bisa sampai dengan selamat di Siau-lim-si?"
Apapun yang dikatakan Lim Sian-ji, ia hanya punya satu pertanyaan ini. Lim Sian-ji tertawa.
"Ah, kau. Aku benar-benar tidak bisa mengubahmu."
Ia menarik tangan A Fei untuk duduk di sampingnya, lalu katanya dengan manis.
"Jangan kuatir. Mungkin saat ini ia sedang minum teh dengan Pendeta Sim-oh Taysu. Kau tahu, teh dari Siau-lim-si sangatlah terkenal."
Akhirnya A Fei merasa tenang, bahkan tersenyum santai.
"Dari yang aku tahu, walaupun ia sudah ditawan, ia tidak akan pernah minum teh." *** Li Sun-Hoan tidak dapat bernafas. Wajah Dian-jitya juga tampak semakin aneh. Ia pun kini sulit bernafas. Namun sepertinya ia tidak bisa melepaskan cengkeramannya, sekalipun dalam kematian. Li Sun-Hoan hanya merasa bahwa sekelilingnya menjadi gelap. Wajah Dian-jitya terlihat makin samar. Ia tahu, sebentar lagi ia akan mati. Dalam keadaan ini, ia pikir ia akan teringat akan banyak hal dalam hidupnya. Seseorang pernah memberitahu hal ini padanya. Namun kenyataannya, saat ini ia tidak teringat apapun juga. Tidak ada kenangan pahit. Hanya ada sesuatu yang lucu. Ia jadi ingin tertawa. Ia tidak pernah menyangka ia akan mati bersama-sama dengan Dian-jitya. Sepertinya Dian-jityalah yang akan menemaninya berjalan ke alam baka. Tiba-tiba ia mendengar suara Dian-jitya.
"Li Sun-Hoan, nafasmu panjang sekali. Mengapa kau tidak mati-mati?"
Sebenarnya Li Sun-Hoan ingin menjawab.
"Aku menunggumu mati lebih dulu."
Tapi ia tidak bisa mengatakannya.
Bernafas pun ia tidak bisa.
Lalu terdengar suara keras.
Sepertinya dari jauh, namun sepertinya juga berasal dari Dian-jitya.
Kini sekelilingnya menjadi terang kembali.
Ia melihat Dian-jitya.
Dian-jitya telah tergeletak jatuh dari kursi kereta.
Matanya yang mati masih menatap Li Sun-Hoan.
Terlihat Sim-bi bernafas tidak teratur, sepertinya ia baru saja menggunakan tenaga yang cukup besar.
Li Sun-Hoan memandangnya beberapa saat, lalu bertanya.
"Mengapa kau menyelamatkan aku?"
Sim-bi tidak menjawab. Ia malah terus membuka Hiat-to (jalan darah) Li Sun-Hoan.
"Sebelum Ngo-tok-tongcu datang, kau pergilah cepat."
Li Sun-Hoan tidak bergerak sama sekali.
"Mengapa kau menyelamatkan aku? Apakah sekarang kau sudah yakin bahwa aku bukan Bwe-hoa-cat ?"
Sahut Sim-bi.
"Pendeta selalu tidak ingin tangannya berlumuran darah sebelum mati. Siapapun engkau, cepatlah pergi."
Li Sun-Hoan memandangi wajah Sim-bi yang menghitam, lalu mendesah.
"Terima kasih. Sayangnya, walaupun aku bisa melakukan begitu banyak hal, melarikan diri bukanlah salah satunya."
Sim-bi berkata tergesa-gesa.
"Ini bukan waktunya menjadi pahlawan. Tenaga dalammu belum pulih. Kau tidak akan dapat mengalahkan dia."
Tiba-tiba kuda-kuda itu meringkik keras. Kusir kereta menjerit dan kereta mereka menabrak sebatang pohon. Sim-bi tergeletak di samping kereta dan bertanya.
"Mengapa kau belum pergi juga? Apakah kau ingin menyelamatkanku?"
Li Sun-Hoan berkata dengan tenang.
"Jika kau bisa meyelamatkan aku, mengapa aku tidak bisa menyelamatkan engkau?"
Kata Sim-bi.
"Namun kematianku tidak jauh lagi. Mengapa harus dipermasalahkan kapan aku mati?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Tapi kau belum mati, bukan?"
Ia berhenti bicara dan mengeluarkan sebilah pisau.
Sebilah pisau yang kecil, tipis.
Pisau Kilat si Li!
Senyum terbayang di bibir Li Sun-Hoan.
Kereta itu sudah terguling ke samping.
Rodanya masih berputar, berderak-derak nyaring.
Di tempat yang sunyi seperti itu, suara itu sungguh menyakitkan telinga.
Kata Li Sun-Hoan.
"Roda ini perlu diminyaki."
Dalam keadaan seperti ini ia masih berpikir bahwa roda itu perlu diminyaki!
Sim-bi merasa orang ini sungguh aneh luar biasa.
Ia sudah hidup selama 60 tahun, tapi baru kali ini bertemu dengan orang seperti ini.
Li Sun-Hoan mendukung dia keluar dari kereta.
Angin dingin menerpa muka mereka.
Kata Sim-bi.
"Kau tak perlu melakukan ini. Sudah…pergi saja."
Malam ini tidak ada bulan. Sim-bi berusaha keras, namun tetap tidak bisa melihat apa-apa. Terdengar Li Sun-Hoan berseru.
"Apakah engkau Ngotok-tongcu?"
Tidak ada jawaban. Kata Li Sun-Hoan.
"Jika kau tidak ada di sini, maka kami akan pergi."
Sim-bi bertanya.
"Ke mana kita akan pergi?"
"Kuil Siau-lim-si, tentunya."
Sim-bi sungguh terkejut.
"Siau-lim-si?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Kita sudah begitu bersusah-payah untuk pergi ke Siau-lim-si, bukan?"
Kata Sim-bi.
"Ta…tapi sekarang kau tak perlu lagi pergi ke sana."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Sebenarnya, aku harus pergi ke sana."
"Mengapa?"
"Karena di Siau-lim-si ada obat penawar untuk racun ini."
Sim-bi sungguh tidak habis pikir.
"Kenapa kau menyelamatkan aku? Aku ini musuhmu."
Kata Li Sun-Hoan.
"Aku menyelamatkanmu karena engkau adalah seorang manusia."
Sim-bi mengeluh.
"Jika kita benar-benar bisa sampai di Siau-lim-si, akan kuberitahukan pada semua orang bahwa kau sungguh tidak bersalah. Aku yakin sekarang, kau tidak mungkin adalah Bwe-hoa-cat ."
Li Sun-Hoan hanya tersenyum. Ia tidak mengatakan apaapa. Kata Sim-bi.
"Sayangnya, jika kau terus menggendongku, kau tidak akan pernah sampai di Siau-lim-si. Walaupun Ngo-tok-tongcu tidak mau memperlihatkan dirinya, ia tidak akan membiarkan engkau lolos."
Li Sun-Hoan terbatuk sedikit. Kata Sim-bi lagi.
"Dengan ilmu meringankan tubuhmu, kau mungkin bisa lolos. Mengapa kau harus membawa aku? Aku sudah sangat berterima kasih karena engkau berpikir untuk menyelamatkanku."
Tiba-tiba terdengar suara tawa.
"Wah. Seorang pendeta Siau-lim-si berteman akrab dengan Tamhoa, pemabuk yang gemar wanita. Siapa yang bisa percaya?"
Suara tawa kadang terdengar dekat, kadang terdengar sangat jauh. Tidak dapat di duga dari mana datangnya. Sim-bi bertanya.
"Ngo-tok-tongcu?"
Suara itu menjawab.
"Bagaimana rasanya bubur itu? Sedap, bukan?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Jika kau ingin membunuhku, mengapa tidak keluar saja dan melakukannya?"
Ngo-tok-tongcu menjawab.
"Aku tidak perlu keluar untuk membunuhmu."
"O ya?"
"Sampai hari ini, aku sudah membunuh 392 orang. Tidak seorangpun dari mereka yang pernah melihat aku. Bahkan bayanganku pun tidak mereka lihat."
Li Sun-Hoan tersenyum.
"Kata orang kau adalah seorang cebol dan rupamu sangat buruk. Oleh sebab itu kau tidak ingin dilihat orang. Kelihatannya memang betul."
Setelah hening beberapa saat, Ngo-tok-tongcu menjawab.
"Aku akan membiarkanmu hidup sampai besok pagi."
Li Sun-Hoan tertawa.
"Tentu saja aku akan hidup sampai besok pagi. Tapi aku kuatir, tidak demikian dengan engkau."
Sebelum ia selesai tertawa, terdengar bunyi seruling.
Tiba-tiba tampak bayangan benda-benda besar dan kecil di atas salju.
Ia tidak tahu benda apakah itu.
Apapun benda itu, ia harus menahan nafasnya.
Kata Sim-bi.
"Ketika Ngo-tok-tongcu muncul, tubuh orang-orang mulai membusuk. Jika kau tidak pergi sekarang, kapan lagi?"
Li Sun-Hoan seolah-olah tidak mendengarnya. Lalu katanya.
"Katanya dia punya ribuan hewan beracun. Mengapa aku hanya lihat beberapa saja? Apa yang lainnya sudah mati?"
Suara seruling terdengar makin cepat. Beberapa hewan melata itu sudah merayapi kaki mereka. Sim-bi sudah hampir muntah. Ngo-tok-tongcu lalu tertawa.
"Ini adalah hewan-hewan kesayanganku, mereka mengandung tujuh macam racun. Mereka tidak hanya makan daging, tapi sesudah itu mereka akan menghabiskan tulang-tulangmu juga."
Sebelum ia selesai bicara, sebilah pisau telah melesat!
Sim-bi hampir terpekik.
Ia tahu, pisau Li Sun-Hoan adalah satu-satunya harapan mereka.
Tapi Li Sun-Hoan tidak dapat melihat apa-apa.
Jika pisaunya meleset, matilah mereka berdua.
Ia sedang bertaruh dengan nyawanya.
Dan kesempatan mereka tipis sekali.
Sim-bi tidak menyangka Li Sun-Hoan akan mengambil resiko sebesar itu.
Saat itu kilau pisau telah tertelan kegelapan.
Namun tibatiba kegelapan itu mengeluarkan jeritan yang melengking!
Seseorang keluar dari kegelapan itu.
Orang itu kelihatan seperti seorang anak kecil.
Ia mengenakan baju pendek.
Kakinya yang kecil bisa terlihat.
Dalam malam musim dingin ini, ia tidak tampak kedinginan.
Kepalanya kecil, namun matanya bersinar tajam.
Matanya penuh dengan kemarahan dan ketidakpercayaan.
Mata itu menatap Li Sun-Hoan lekatlekat.
Ia ingin bicara, namun kata-kata tak dapat keluar.
Sim-bi lalu melihat pisau kecil Li Sun-Hoan telah tertancap di lehernya.
Ia tidak tahan untuk mencabut pisau itu.
Waktu ia mencabutnya, darah menyembur ke luar.
Ngo-tok-tongcu akhirnya berkata.
"Pisau yang sangat berbahaya."
Saat itu, hewan-hewan itu telah merayapi tubuh Li Sun-Hoan dan Sim-bi.
Namun kini mereka tidak bergerak lagi.
Li si pisau terbang memang tidak ada duanya, namun mereka berdua tetap saja bisa dimakan hidup-hidup oleh hewan-hewan beracun itu.
Siapa sangka, ketika darah Ngo-tok-tongcu menyembur, hewan-hewan itu langsung melompat ke arah tenggorokannya.
Dalam waktu singkat, seluruh tubuhnya habis.
Namun setelah hewan-hewan itu memakannya habis, mereka pun berhenti bergerak.
Sangat ironis bahwa Ngo-tok-tongcu mati oleh racunnya sendiri.
Sim-bi akhirnya menghela nafas lega.
"Bukan saja pisaumu yang tidak ada duanya di dunia ini, namun ketenanganmu juga."
Li Sun-Hoan tersenyum.
"Bukan masalah besar. Aku hanya berpikir bahwa hewan-hewan itu pasti akan tertarik pada darah. Sebenarnya, aku pun takut juga."
"Kau pun merasa takut?"
Li Sun-Hoan tersenyum lagi.
"Selain orang mati, adakah orang yang tidak pernah merasa takut?"
Sim-bi mendesah.
"Kau memang sungguh luar biasa."
Suaranya lemah, dan akhirnya tubuhnya pun rebah.
Hari sudah pagi.
Li Sun-Hoan duduk di samping Sim-bi, ia tertidur.
Ketika ia terbangun, ia menemukan sebuah kereta kuda yang bisa membawa mereka sampai ke kaki Siong-san (Gunung Siong).
Lalu Li Sun-Hoan menggendong Sim-bi ke atas.
Dalam perjalanan ke atas, ia bertemu dengan sekelompok pendeta yang sedang mengumpulkan kayu bakar.
Ketika mereka melihat seseorang naik ke atas gunung dengan ilmu meringankan tubuh, mereka langsung bersiaga.
Salah seorang bertanya.
"Dari manakah engkau? Apakah engkau…."
Salah seorang yang lain melihat bahwa ia sedang menggendong seorang pendeta. Ia bertanya.
"Apakah yang di punggungmu itu murid Siau-lim-si?"
Sebelumnya Li Sun-Hoan hanya berjalan biasa, namun ketika ia melihat pendeta-pendeta ini, ia melompat tinggi melampaui kepala mereka, dan terus berjalan ke atas.
Ketika kedua pendeta itu berusaha mengejar, Li Sun-Hoan telah menghilang.
Butuh kurang lebih dua jam untuk tiba di Siau-lim-si.
Terlihat banyak pagoda, besar dan kecil.
Ia tahu ini adalah hutan pagoda yang suci.
Di sinilah semua ketua Siau-lim-si yang terdahulu dikuburkan.
Ini bukanlah tempat yang cocok untuk orang seperti dia.
Tiba-tiba ia mulai terbatuk-batuk.
Lalu terdengar suara yang berkata.
"Siapa yang berani memasuki wilayah suci Siau-lim-si? Kau benar-benar sombong."
Kata Li Sun-Hoan.
"Sim-bi Taysu terluka berat. Aku membawanya ke sini, supaya ia bisa diobati. Bawalah aku pada pendeta ketua."
Tiba-tiba muncul begitu banyak pendeta. Salah seorang bertanya.
"Bolehkah kutahu namamu?"
Li Sun-Hoan mendesah.
"Cayhe (aku adalah) Li Sun-Hoan."
Dalam hutan bambu, dua orang sedang bermain Go [semacam permainan catur].
Di sebelah kanan adalah seorang pendeta yang wajahnya agak aneh.
Di sebelah kiri adalah seorang tua yang kurus dan pendek.
Matanya sangat terang dan tajam, membuat orang tidak memperhatikan lagi tubuhnya yang pendek.
Ia sangat berwibawa.
Siapakah selain Pek-hiau-sing yang layak bermain Go dengan Sim-oh Taysu?
Ketika dua orang ini sedang bermain Go, tidak ada seorang pun yang dapat mengganggu.
Namun ketika mereka mendengar kata ‘Li Sun-Hoan’, mereka berhenti.
Sim-oh Taysu bertanya.
"Di manakah dia?"
Pendeta yang membawa pesan itu menjawab bahwa ia berada di luar kamar Jisusiok. Tanya Sim-oh Taysu.
"Apa yang terjadi dengan Jisusiok?"
Pendeta itu menjawab.
"Lukanya tidak terlalu berat. Saat ini, Gosusiok dan Keenam sedang merawatnya."
Li Sun-Hoan berdiri di aula, ia melihat-lihat sekitarnya.
Ia merasa bahwa ada seseorang yang datang medekat, namun ia tidak berusaha menoleh.
Ketika mereka berada kurang lebih sepuluh langkah dari Li Sun-Hoan, Sim-oh Taysu dan Pek-hiau-sing berhenti.
Walaupun Sim-oh Taysu telah mendengar tentang Li Sun-Hoan, inilah untuk yang pertama kalinya mereka berjumpa.
Ia tidak bisa percaya bahwa orang di depannya ini adalah pahlawan pengelana yang terkenal itu.
Ia mengamati Li Sun-Hoan dari kepala sampai ujung kaki.
Tidak ada yang terlewatkan.
Khususnya tangannya yang kurus panjang.
Apa istimewanya tangan itu?
Bagaimana sebilah pisau biasa dapat berubah menjadi pisau yang legendaris jika dipegang oleh tangan itu?
Pek-hiau-sing pernah berjumpa dengannya sepuluh tahun yang lalu.
Ia merasa Li Sun-Hoan tidak berubah sama sekali dalam sepuluh tahun ini, tapi ia merasa dirinya sudah berubah begitu banyak.
Pek-hiau-sing akhirnya tertawa.
"Apa kabarmu, Li-Tamhoa?"
Li Sun-Hoan pun tertawa.
"Tak kusangka, kau masih mengingatku."
Sim-oh Taysu berkata.
"Aku tidak tahu apakah engkau mengenalku."
Kata Li Sun-Hoan.
"Siapakah yang tidak tahu nama besar pendeta? Ketenaranmu telah tersiar ke seluruh dunia. Aku merasa terhormat bisa bertemu denganmu hari ini."
Kata Sim-oh Taysu.
"Tidak usah merendah. Terima kasih kau telah membawa saudara seperguruanku kembali."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Itu bukan apa-apa."
Kata Sim-oh Taysu lagi.
"Sekarang aku adakan memeriksa keadaan Toako. Setelah itu kita bisa melanjutkan pembicaraan kita."
Setelah ia pergi, Pek-hiau-sing tersenyum.
"Para pendeta ini sungguh bisa mengendalikan perasaan mereka. Aku tidak mungkin bisa berbuat seperti itu."
"Apa maksudmu?"
"Jika seseorang telah melukai muridmu dan juga saudara seperguruanmu, bisakah engkau tetap bersikap sopan kepadanya?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Apakah maksudmu akulah yang melukai Sim-bi Taysu?"
Pek-hiau-sing meletakkan tangannya di belakang punggungnya.
"Selain Li Tamhoa, siapakah yang dapat melukainya?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Jika aku melukainya, mengapa aku membawanya ke sini?"
Sahut Pek-hiau-sing.
"Itulah. Kau memang sangat pandai."
"O ya?"
"Siapapun juga yang melukai pendeta Siau-lim-si, akan dihantui persoalan seumur hidupnya. Ribuan murid Siaulim-si akan mencarinya untuk membalas dendam."
Li Sun-Hoan tersenyum.
"Pek-hiau-sing memang tahu segala sesuatu. Tidak heran, semua orang dalam dunia persilatan ingin bersahabat denganmu. Memang sangat menguntungkan untuk menjadi sahabatmu."
Wajah Pek-hiau-sing tidak berubah.
"Aku hanya menyatakan fakta."
Kata Li Sun-Hoan.
"Namun kau lupa satu hal. Sim-bi masih hidup. Ia tahu siapa yang melukainya. Pada saat itu, kurasa kau harus menelan kembali kata-katamu."
Pek-hiau-sing mendesah.
"Jika perhitunganku benar, Sim-bi tidak akan punya kesempatan untuk bicara sepatah kata pun."
Tiba-tiba terdengar suara bertanya.
"Jika bukan kau yang melukai Sim-bi, siapa yang melukainya?"
Tidak jelas kapan ia kembali, namun wajahnya terlihat sangat dingin. Kata Li Sun-Hoan.
"Kau tidak tahu bahwa ia keracunan?"
Sim-oh Taysu tidak menjawab. Ia menoleh dan berkata.
"Jitsute?"
Jitsute atau adik perguruan ketujuh yang dimaksudkan ialah Sim-kam Taysu. Seorang pendeta berwajah kuning dan tampak seperti orang sakit menjawab.
"Ia keracunan ‘Air Lima Racun’ dari Ngo-tok-tongcu. Racun ini tidak berbau dan tidak berasa. Tidak berwarna, seperti air. Jika tidak segera diberi penawar, ia akan segera membusuk."
Li Sun-Hoan tertawa.
"Kau sungguh hebat."
Sin-kam Taysu berkata dengan dingin.
"Aku hanya tahu ia keracunan Air Lima Racun. Aku tidak tahu siapa yang meracuninya."
Kata Pek-hiau-sing.
"Benar sekali. Walaupun orang yang keracunan sudah mati, pelakunya masih hidup."
Kata Sin-kam Taysu.
"Ngo-tok-tongcu tidak punya dendam dengan Siau-lim-si, mengapa ia meracuni Jisuheng?"
Li Sun-Hoan mengeluh.
"Karena sebenarnya ia ingin meracuni aku."
Kata Pek-hiau-sing.
"Aneh sekali. Jika ia bermaksud meracunimu, mengapa engkau masih di sini? Mengapa yang mati adalah Jisuheng?"
Ia menatap Li Sun-Hoan.
"Jika kau dapat menjelaskannya, aku akan menyembah engkau."
Li Sun-Hoan berpikir lama, kemudian ia tersenyum.
"Aku tidak dapat. Karena apapun yang kukatakan, kau tidak akan percaya."
Kata Pek-hiau-sing.
"Kau sendirilah yang membuat kami susah untuk percaya."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Aku tidak bisa. Namun ada yang bisa."
Sim-oh Taysu segera bertanya.
"Siapa?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Sim-bi Taysu. Mengapa tidak kau tanyakan padanya setelah ia bangun."
Sin-kam Taysu berkata dengan dingin.
"Jisuheng tidak akan pernah bangun lagi!"
Bab 20.
Hati Manusia Tidak Terselami Genta di kuil itu terus berkumandang.
Tanda bahwa seorang pendeta telah wafat.
Dalam angin musim dingin yang menusuk, Li Sun-Hoan terus terbatuk-batuk.
Ia tidak tahu apakah ia harus merasa marah, menyesal, atau sedih.
Ketika ia berhenti batuk, dilihatnya para pendeta itu memasuki halaman kecil dekat situ.
Wajah mereka sedingin es.
Mereka menatapnya dengan mulut terkunci.
Suara genta pun telah lenyap.
Suasana sungguh hening, kecuali suara langkah kaki di atas salju.
Ketika suara langkah itu akhirnya berhenti, Li Sun-Hoan merasa tubuhnya diselimuti oleh lapisan es yang tebal.
Kata Sim-oh Taysu.
"Adakah yang ingin kau sampaikan?"
Li Sun-Hoan berpikir lama.
"Tidak."
Kata Pek-hiau-sing.
"Seharusnya kau tidak datang ke sini."
Li Sun-Hoan berpikir lagi, lalu tiba-tiba tertawa.
"Mungkin memang seharusnya aku tidak datang. Namun jika aku dapat mengulangnya, aku akan tetap datang."
Ia melanjutkan dengan tenang.
"Walaupun aku telah membunuh banyak orang dalam hidupku, aku tidak pernah hanya berpangku tangan melihat orang yang akan mati."
Sim-oh Taysu berteriak dengan marah.
"Jadi kau masih tidak mengaku?"
Kata Li Sun-Hoan.
"Pendeta seharusnya dapat mengendalikan perasaannya. Mengapa kau begitu cepat marah?"
Lanjutnya.
"Kalau begitu, silakan terus berteriak. Hanya saja, jangan sampai sakit tenggorokan."
Sim-oh Taysu membentak.
"Bahkan sekarang, kau tidak menunjukkan rasa penyesalan sedikit pun. Sepertinya aku harus melanggar aturan untuk tidak membunuh hari ini."
Sahut Li Sun-Hoan.
"Silakan saja. Engkau bukan satusatunya pendeta yang pernah membunuh."
Kata Sin-kam Taysu.
"Kami tidak membunuhmu untuk membalas dendam, tapi kami membunuh seorang setan yang keji."
Lalu terlihat kilatan sebilah pisau. Ia tidak tahu bagaimana pisau itu berada di tangan Li Sun-Hoan. Pisau Kilat si Li! Li Sun-Hoan lalu berkata.
"Kusarankan agar kalian tidak membunuh setan keji itu, karena kalian tidak akan bisa mengalahkan dia!"
Kata Sim-oh Taysu.
"Maksudmu, sekarang ini pun kau tetap akan melawan mati-matian?"
Li Sun-Hoan mengeluh.
"Walaupun hidupku tidak mudah, namun aku belum mau mati sekarang."
Kata Pek-hiau-sing.
"Walaupun pisaumu tak pernah luput, berapa banyak pisau yang kaumiliki? Berapa banyak orang yang bisa kau bunuh?"
Li Sun-Hoan tersenyum, ia tidak menjawab. Sim-oh Taysu menatap tangan Li Sun-Hoan, lalu tiba-tiba berkata.
"Baiklah. Hari ini akan kucoba pisaumu yang legendaris itu!"
Segera ia bersiap. Namun Pek-hiau-sing menghalanginya.
"Pendeta, jangan!"
"Mengapa?"
Pek-hiau-sing mendesah.
"Karena tidak seorang pun di dunia ini yang dapat luput dari pisaunya!"
"Tidak seorangpun bisa luput?"
Kata Pek-hiau-sing tegas.
"Tidak seorang pun!"
Sim-oh Taysu menghirup nafas panjang.
"Jika aku tidak pergi ke alam baka, siapakah yang akan pergi?"
Sin-kam Taysu pun maju mendekatinya.
"Suheng, kau harus memikirkan kuil kita. Kau tidak boleh menempatkan dirimu sendiri dalam bahaya."
Kata Li Sun-Hoan.
"Betul sekali. Kalian tidak perlu mengambil resiko ini. Kalian memiliki begitu banyak murid. Satu kata saja, dan mereka pun akan rela mati bagi kalian."
Wajah Sim-oh Taysu berubah, lalu berteriak lantang.
"Tanpa perintahku, tidak ada yang bergerak. Yang melanggar akan dihukum. Kalian mengerti?"
Semua pendeta di situ menundukkan kepala mereka. Li Sun-Hoan tersenyum.
Baca Juga: Si Rase Hitam Chin Yung
Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 21