Ceritasilat Novel Online

Pisau Terbang Li 2

Eps 2 Pisau Terbang Li - Gu Long

Baca online Pisau Terbang Li - Gu Long

Cersil Pisau Terbang Li - Gu Long.

Pandangan Bwe-toasiansing menyelidik dari kepala sampai ke kakinya. Tiba-tiba ia menjabat tangan Li Sun-Hoan dan tertawa senang.

"Terkenal selama dua puluh tahun, tak kusangka akhirnya aku dapat bertemu denganmu. Li-heng ."

Ia menjadi sangat ramah setelah tahu siapa tamunya. Kemudian kata Bwe-toasiansing.

"Li-tayhiap, maafkanlah kekasaranku tadi. Teman-teman adikku selalu saja menyebalkan. Dua tahun yang lalu ia mengajak dua temannya berkunjung, katanya mereka ini penggemar benda seni. Tapi siapa sangka, setelah kutunjukkan pada mereka dua lukisan yang sangat berharga, mereka menukarnya dengan kertas kosong! Aku sangat marah, sampai-sampai tiga bulan aku tak bisa tidur."

Li Sun-Hoan pun tertawa.

"Bwe-toasiansing, jangan terlalu menyalahkan adikmu. Ketika seorang pemabuk ingin minum arak tapi tidak punya uang, perasaannya pun sangat kacau."

Bwe-toasiansing tersenyum sambil berkata.

"Sepertinya Li-heng juga mempunyai kebiasaan yang sama."

Li Sun-Hoan ikut tersenyum.

"Minum arak dapat membuat seseorang terbang ke awan."

Kata Bwe-toasiansing.

"Bagus. Ki-ho, sudah cukup kau bersihkan pohon itu. Pergi dan ambilkan arak Tiok-yapjing berusia 20 tahun itu. Aku ingin Li-heng mencicipinya. Aku telah menyimpan arak ini bertahuntahun untuk disuguhkan pada tamu yang hebat, seperti Li-heng ini."

Kata Bwe-jisiansing.

"Memang betul. Kalau tamu biasa yang datang, cuka saja tidak disuguhkannya. Akan tetapi, Li-heng datang bukan untuk minum arak."

Bwe-toasiansing memandang sekilas pada Li Sun-Hoan, katanya.

"Racun itu masalah kecil. Li-heng jangan kuatir, dan mari minum. Aku tahu bagaimana caranya mengurus hal-hal kecil itu."

Setelah minum tiga cawan, Bwe-toasiansing tiba-tiba bertanya.

"Katanya, lukisan yang sangat langka Pemandangan Waktu Berziarah (Cing Ming Da He Tu) ada dalam kediamanmu. Apakah itu benar?"

Kini Li Sun-Hoan tahu mengapa ia sangat ramah menyambut mereka.

"Betul."

Bwe-toasiansing girang luar biasa.

"Dapatkah kau bawa ke sini kapan-kapan supaya aku dapat melihatnya?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Jika Bwe-toasiansing sungguhsungguh ingin melihatnya, aku tak dapat menolak. Tapi sungguh sayang, aku telah memberikan lukisan itu, dan seluruh milikku, pada orang lain."

Bwe-toasiansing melongo memandangnya, seperti kepalanya dipentung orang. Ia terus bergumam.

"Sayang… sungguh sayang…."

Lalu katanya.

"Ki-ho, bereskan arak ini. Li Tamhoa sudah selesai minum."

Kata Bwe-jisiansing.

"Jadi tanpa Pemandangan Waktu Berziarah (Cing Ming Da He Tu), tidak ada arak?"

Jawab Bwe-toasiansing dingin.

"Arakku bukan untuk diminum sembarang orang."

Li Sun-Hoan tidak merasa marah, bahkan ia tersenyum.

Ia merasa orang ini labil, sangat lugu, tapi paling tidak ia lebih baik daripada para orang gagah yang palsu.

Namun Sang Kusir tak bisa menahan kekuatirannya, dan ia berkata keras.

"Tanpa Pemandangan Waktu Berziarah (Cing Ming Da He Tu), tidak ada obat penawar juga?"

Sahut Bwe-toasiansing.

"Jika tidak ada arak, dari mana datangnya obat penawar?"

Sang kusir menjadi berang dan siap menyerang. Namun Li Sun-Hoan menahannya, katanya.

"Bwetoasiansing tidak mengenal kita. Ia tidak berkewajiban memberikan obat penawar itu. Kita telah berhutang padanya beberapa cawan arak yang lezat. Mengapa kau ingin bertindak kasar?"

"Tapi Siauya, kau… kau…"

Li Sun-Hoan mengibaskan tangannya dan tersenyum.

"Kurasa kita harus pamit."

Tiba-tiba Bwe-toasiansing bertanya.

"Kau sungguh tidak mau obat penawarnya?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Kita mempunyai kepentingan masing-masing. Aku tidak suka memaksa orang."

Kata Bwe-toasiansing.

"Tahukah kau, bahwa tanpa obat penawar itu kau akan segera mati?"

"Hidup dan mati ditentukan oleh Langit. Aku sendiri tidak peduli."

Bwe-toasiansing menatapnya lekat-lekat, katanya perlahan.

"Betul. Betul. Jika seseorang bisa menghadiahkan Pemandangan Waktu Berziarah (Cing Ming Da He Tu) pada orang lain, mengapa dia harus mempedulikan nyawanya? Orang seperti ini sangat langka, sangat sangat langka…."

Lalu ia berteriak.

"Ki-ho, keluarkan lagi araknya."

Sang Kusir seketika timbul harapannya.

"Bagaimana dengan obat penawarnya?"

Bwe-toasiansing memandangnya sekejap, lalu katanya dingin.

"Sekarang sudah ada arak, kau kuatir tidak ada obat penawar?"

Bab 7.

Tidak Sengaja Melukai Anak Sahabat Setelah Li Sun-Hoan minum arak, obat penawarnya bekerja lebih cepat.

Setelah dua belas jam, tenaganya berangsur-angsur pulih.

Hari sudah mulai fajar.

Sang Kusir sama sekali tidak terlelap, namun ia tetap bersemangat.

Hanya saja karena minum terlalu banyak, kepalanya terasa berdenyutdenyut.

Bwe-jisiansing memukul-mukul kepalanya.

"Sialan. Sialan. Sudah pagi lagi."

"Kenapa kalau sudah pagi?"

Kata Bwe-jisiansing.

"Kalau sedang minum, hal yang paling kubenci adalah fajar. Selama di luar masih gelap, aku bisa minum selama-lamanya. Tapi kalau sudah tampak cahaya matahari, aku tidak bernafsu lagi untuk minum."

Li Sun-Hoan masih berbaring. Di bibirnya terbayang seulas senyum.

"Bukan hanya kau. Itu problem semua pemabuk."

Sahut Bwe-jisiansing.

"Kalau begitu, sebelum betul-betul terang, mari cepat-cepat kita minum arak ini."

Li Sun-Hoan tertawa.

"Kurasa kakakmu akan kesal melihat bagaimana kita minum."

Sahut Bwe-jisiansing.

"Makanya dia sudah tidur dari tadi. Kalau dia tidak melihat kejadiannya, ia takkan merasa gelisah."

Li Sun-Hoan hendak minum lagi, namun ia mulai batukbatuk. Bwe-jisiansing memandangnya dan tiba-tiba bertanya.

"Berapa lama suda kau batuk seperti ini?"

"Mungkin sepuluh tahun."

Bwe-jisiansing berpikir sebentar, lalu berkata.

"Kalau begitu, seharusnya kau tidak minum lagi. Batuk terlalu banyak tidak baik untuk hatimu. Kalau kau terus minum…."

Li Sun-Hoan memotong sambil tertawa.

"Tidak baik untuk hatiku? Hatiku sudah rusak total."

Tiba-tiba ia berhenti bicara. Matanya menyelidik. Ia berkata perlahan.

"Ada yang datang."

Kata Bwe-jisiansing.

"Orang yang datang pagi-pagi buta seperti ini pasti bukan tamu kakakku. Kurasa mereka datang mencari aku."

Ia mendengar suara itu dengan jelas sekarang. Ada beberapa orang yang datang. Langkah mereka semua sangat ringan. Dan seseorang berbicara lantang.

"Apakah di sini betul Bwe-hoa-cau-tong (Klinik Keluarga Bwe)?"

Sesaat kemudian terdengarlah suara Bwe-toasiansing.

"Datang pagi-pagi buta macam ini, kalian perampok atau pencuri?"

Orang itu menjawab.

"Kami datang berkunjung, bukan untuk merampok atau mencuri. Kami membawa hadiah."

Bwe-toasiansing tertawa dingin.

"Datang membawa hadiah di pagi buta? Maksud kalian pasti tidak baik. Silakan pergi."

Kata orang itu sambil tertawa.

"Jikalau demikian, aku harus membawa pulang lukisan Ong Mo-kiat ini."

Sebelum kalimatnya selesai, pintu sudah terbuka lebar. Bwe-jisiansing mengangkat alisnya, katanya.

"Orangorang ini menyelidiki kesukaan kakakku sebelum datang. Mereka pasti menginginkan sesuatu. Mari kita dengarkan apa permintaan mereka."

Ia tidak keluar dari ruangan.

Dibukanya pintu sedikit saja untuk melihat siapa yang datang.

Ada tiga orang.

Yang pertama berusia tiga puluhan.

Tubuhnya pendek, wajahnya seram.

Matanya berkilatkilat.

Tangannya memegang sebuah kotak panjang.

Orang yang kedua wajahnya seperti buah prun.

Jenggotnya panjang sampai ke pinggang.

Ia mengenakan jubah ungu.

Wajahnya gagah.

Tampak seperti seorang pemimpin.

Yang ketiga adalah seorang anak berusia sepuluh tahunan.

Mukanya bundar, matanya bundar.

Ia mengenakan baju warna merah dengan leher bulu kelinci.

Seperti Anak Merah kecil yang didandani.

Selain anak ini, kedua orang yang lain tampak kuatir dan tidak sabar.

Orang berwajah seram itu memegang kotak dan membungkuk ke arah Bwe-toasiansing.

Katanya.

"Lukisan ini dibeli oleh majikanku seharga 1000 tail emas. Telah diselidiki keasliannya. Bukalah."

Mata Bwe-toasiansing memang tidak pernah lepas dari kotak itu. Namun sahutnya.

"Tidak mungkin kau menghadiahkannya kepadaku dengan cuma-cuma. Apa yang kau inginkan?"

Orang itu tersenyum.

"Kami hanya ingin tahu di mana Bwe-jisiansing berada."

Bwe-toasiansing langsung bernafas lega, katanya.

"Mudah saja."

Segera disambarnya kotak itu dari tangan orang itu. Teriaknya.

"Loji, keluarlah. Ada yang ingin bertemu."

Bwe-jisiansing menghela nafas, menggelengkan kepala kesal.

"Kurang ajar. Setelah kau dapatkan lukisan, kau tak peduli pada adikmu sendiri."

Orang tua berjubah ungu dan orang berwajah seram itu langsung melihat Bwe-jisiansing. Wajah keduanya tampak gembira. Hanya anak kecil itu yang menggelenggelengkan kepalanya, lalu bertanya.

"Lihatlah orang ini. Apakah dia kelihatan seperti orang yang bisa menyembuhkan?"

Sahut Bwe-jisiansing.

"Aku tak bisa menyembuhkan orang yang sakit parah, tapi aku takkan membunuh orang yang sakit ringan. Aku ada di tengah-tengah."

Orang tua berjubah ungu itu kuatir anak itu akan salah bicara lagi, sehingga cepat-cepat dikatakannya.

"Telah lama kudengar bahwa kau memiliki ‘tangan yang bisa menghadirkan musim semi’. Jadi aku datang, berharap bisa membawamu pergi sebentar. Berapa banyak uang yang kau minta, aku dapat membayarnya di muka."

Bwe-jisiansing tertawa.

"Sepertinya kau sudah paham dengan kebiasaanku. Tidakkah kau takut aku akan melarikan diri?"

Orang tua berjubah ungu terdiam, seakan-akan hendak berkata bahwa Bwe-jisiansing tidak mungkin dapat melarikan diri. Orang yang pendek itu pun kemudian memaksakan diri tertawa, dan berkata.

"Jika Bwe-jisiansing bersedia pergi, kami akan memberikan lebih daripada sekedar emas dan perak."

Bwe-jisiansing melanjutkan lagi.

"Selain pembayaran, tahukah kau bahwa aku punya kebiasaan lain? Perampok tak akan kurawat. Pencuri tak akan kesembuhkan."

Orang pendek itu tersenyum sambil berkata.

"Cayhe adalah Pah Eng. Walaupun aku bukan siapa-siapa, orang ini, Cin Hau-gi, Cin-loyacu cukup terkenal dalam dunia persilatan. Pasti Bwe-jisiansing pernah mendengar tentang dia."

Sahut Bwe-jisiansing sambil memandang orang berjubah ungu itu.

"Cin Hau-gi? Engkau adalah ‘Si Semangat Baja Terbentang ke Delapan Arah’ Cin Hau-gi?"

Sahut Pah Eng.

"Benar. Ia adalah majikanku."

Bwe-jisiansing menganggukkan kepalanya, katanya.

"Kelihatannya kau cukup bonafid. Baiklah. Datang beberapa hari lagi, dan mungkin aku akan pergi denganmu. Sebelum ia selesai bicara, Anak Merah itu telah melompat, dan berteriak.

"Orang ini sombong betul. Hei, kenapa kita harus membuang-buang waktu berbicara dengan dia? Kita tangkap saja, masalah selesai."

Pah Eng menarik baju anak ini, dan memaksakan untuk tersenyum.

"Jika penyakitnya tidak kritis, tidak apalah menunggu beberapa hari. Tapi kita tidak dapat menunggu bahkan beberapa jam saja."

Sahut Bwe-jisiansing.

"Jadi pasienmu penting, dan pasienku tidak penting?"

Kata Pah Eng.

"Maksud Bwe-jisiansing, kau punya pasien di sini?"

"Betul sekali. Sebelum aku memulihkannya aku tak bisa pergi."

Pah Eng berkata terbata-bata.

"Ta..tapi pasienku adalah putra tertua Cin Hau-gi. Ia adalah murid terbaik Siau-limsi."

Sergah Bwe-jisiansing tak senang.

"Lalu kenapa kalau dia adalah putra Cin Hau-gi. Atau murid Siau-lim-si. Apakah menurutmu dia lebih berharga daripada pasienku?"

Saat ini amarah Cin Hau-gi sudah meluap, tapi ia tidak bisa berkata apa-apa. Mata Anak Merah itu berputar, lalu berkata tiba-tiba.

"Bagaimana jika pasienmu mati?"

Bwe-jisiansing tertawa dingin.

"Jika dia mati, tentu saja aku tak perlu lagi merawat dia. Sayangnya, dia tidak mungkin mati."

Ang-hai-ji (Si Anak Merah) tertawa cekikikan, katanya.

"Jangan terlalu yakin."

Secepat kilat ia lari masuk ke ruang dalam.

Bahkan Sang Kusir pun terpana.

Pah Eng dan Cin Hau-gi hanya saling pandang, namun tidak mencegah anak itu.

Setelah ada di dalam ruangan, Anak Merah itu langsung melihat pada Li Sun-Hoan, katanya sombong.

"Jadi kaulah pasien itu."

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Adik kecil, benarkah kau ingin aku mati sekarang juga?"

Ang-hai-ji menjawab.

"Betul. Jika kau mati, maka si tua bangka itu bisa pergi merawat Cin-toako."

Selagi ia masih berbicara, tiga anak panah kecil telah melesat dari lengan bajunya, terarah pada dahi dan tenggorokan Li Sun-Hoan.

Kecepatan dan tenaganya kuat sekali.

Tak ada yang mengira bahwa anak sepuluh tahun ini sungguh berbisa.

Jika orang itu bukan Li Sun-Hoan, pasti ia sudah tergeletak mati.

Namun Li Sun-Hoan dengan tenang melambaikan tangannya dan menangkap ketiga panah itu.

Katanya kemudian.

"Kau masih sangat muda, tapi sudah begitu kejam. Aku tak bisa membayangkan seperti apa engkau setelah dewasa."

Ang-hai-ji tertawa dingin.

"Kau pikir hanya dengan mempertontonkan kepintaranmu menangkap panah, lalu kau bisa mengguruiku?"

Tiba-tiba, sambil membalikkan badan, dihunusnya sebilah pedang pendek.

Dan sebelum berakhir kalimatnya, tujuh sabetan telah menyerang Li Sun-Hoan.

Anak ini bukan hanya cepat dan gesit, ia juga sangat berbahaya.

Banyak pendekar yang lebih berpengalaman pun tak bisa menandinginya.

Ia bertempur, seolah-olah lawannya adalah musuh bebuyutannya, dan satu-satunya keinginannya adalah melubangi tubuh Li Sun-Hoan dengan pedangnya."

Kata Li Sun-Hoan.

"Sungguh, anak ini akan tumbuh menjadi Im Bu-tek (Tokoh Yang Maha Kejam berikutnya."

Kata Sang Kusir.

"Walaupun julukan Im Bu-tek adalah Si Pedang Darah, ia tidak pernah membunuh orang yang tidak berdosa. Tapi anak ini…."

Ang-hai-ji tersenyum seperti setan kecil.

"Bagaimana dengan Im Bu-tek . Aku sudah membunuh orang sejak umur tujuh tahun. Bagaimana dengan dia?"

Ia melihat Li Sun-Hoan masih tetap duduk di tempat yang sama, maka diubahlah jurus-jurusnya. Semakin dahsyat dan mematikan. Li Sun-Hoan tersenyum getir.

"Betul sekali. Bahkan Im Bu-tek pun mungkin tidak sekejam ini dalam usia semuda engkau."

Wajah Sang Kusir menjadi kelam.

"Jika ia tumbuh dewasa, ia pasti berbahaya untuk masyarakat. Mungkin…."

Ang-hai-ji telah mengeluarkan seratus jurus, namun belum juga bisa menang.

Akhirnya ia menyadari bahwa dia telah bertemu lawan yang sangat tangguh.

Ia merasa sangat marah, sampai matanya pun menjadi merah.

Dikertakkan giginya dan katanya.

"Tahukah kau siapa orang tuaku? Jika kau lukai aku, mereka akan mencincangmu hidup-hidup."

Li Sun-Hoan menjadi berang, katanya.

"Jadi hanya kau saja yang boleh membunuh orang, tapi mereka tidak boleh melukaimu?"

Sahut Ang-hai-ji .

"Jika kau memang punya nyali, silakan saja bunuh aku."

Li Sun-Hoan merasa ragu-ragu untuk sesaat. Lalu katanya.

"Aku masih tidak ingin membunuhmu, sebab engkau masih sangat muda. Dengan didikan yang baik, engkau masih ada kesempatan menjadi orang yang baik. Pergilah sekarang, sebelum aku berubah pikiran."

Anak Merah inipun tahu bahwa kali ini dia tidak punya kesempatan untuk menang. Ditariknya pedangnya, lalu bertanya.

"Ilmu silatmu sungguh hebat. Siapakah engkau? Mengapa aku belum pernah bertemu denganmu?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Kau tanyakan Cayhe, supaya bisa membalas dendam?"

Tiba-tiba di wajah Ang-hai-ji terbayang senyum yang sangat lugu, katanya.

"Kau tidak membunuhku, mengapa aku harus membalas dendam? Aku sungguh menghormati engkau. Aku telah mengeluarkan seratus tujuh jurusku, namun engkau tidak bergerak sejengkalpun."

Mata Li Sun-Hoan bercahaya.

"Kau ingin belajar dariku?"

Ang-hai-ji menjadi sangat girang, tanyanya.

"Benarkah kau mau menerima aku sebagai muridmu?"

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Jika aku dapat membantu orang tuamu untuk menjagamu, mungkin kau masih punya kesempatan di kemudian hari."

Sebelum ia selesai bicara, Anak Merah ini telah berlutut di hadapannya, katanya.

"Didiklah aku, dan terimalah sembah sujud murid."

Waktu kata ‘murid’ diucapkannya, tiga kilat sinar melesat dari belakang bajunya.

Tubuh anak ini penuh senjata rahasia.

Li Sun-Hoan terkejut setengah mati.

Jika ia belum berpengalaman, dan jika gerak refleksnya tidak secepat kilat, ia pasti sudah mati di tangan anak ini.

Ang-hai-ji , waktu melihat Li Sun-Hoan belum mati juga, segera bangkit, dan berteriak.

"Kau pikir kau ini siapa? Berani-beraninya kau hendak mendidikku menggantikan orang tuaku. Kau pikir kau pantas jadi guruku?"

Wajah Sang Kusir menjadi sedingin es dan berkata.

"Seseorang yang punya hati berbisa seperti ini, tidak pantas hidup."

Li Sun-Hoan menghela nafas.

Diputarnya telapak tangannya dan dihempaskannya ke depan.

Cin Hau-gi dan Pah Eng tahu bahwa Ang-hai-ji masuk ke dalam untuk membunuh orang.

Namun seincipun mereka tidak bergerak.

Bwe-toasiansing melamun memandangi lukisan barunya.

Tak peduli apapun yang sedang terjadi di dunia.

Sebaliknya Bwe-jisiansing bertanya.

"Anak yang kalian bawa, saat ini sedang berusaha membunuh orang. Dan kalian diam saja?"

Pah Eng mengangkat tangannya dan tersenyum.

"Jujur saja, walaupun kami mau, kami tak dapat mencegahnya."

Bwe-jisiansing tersenyum dingin.

"Namun kalau dialah terbunuh hari ini, pedulikah engkau?"

Pah Eng tidak menjawab, namun tetap tersenyum. Kata Bwe-jisiansing.

"Melihat ekspresimu, aku tahu bahwa dalam pandanganmu ilmu silatnya cukup tinggi. Jadi hanya dialah yang dapat membunuh orang. Orang lain takkan sanggup membunuhnya, bukan?"

Pah Eng hanya dapat menahan tawanya.

"Jujur saja, ilmu silatnya memang hebat. Banyak pesilat tangguh telah mati di tangannya. Dan lagi, ia punya ayah dan ibu yang hebat. Walaupun banyak orang telah dirugikan, mereka tak dapat berbuat apa-apa."

"Jadi orang tuanya tidak mau mengaturnya?" ‘Untuk anak sepandai ini, orang tua sebaiknya tidak mengekang terlalu keras."

Sahut Bwe-jisiansing.

"Kau benar. Waktu orang tuanya melihat dia membunuh orang, mereka mungkin menegurnya di depan orang-orang. Namun dalam lubuk hati mereka, mereka lebih bahagia dari siapapun juga. Sayangnya, hari ini ia bertemu dengan pasienku. Hari ini hari sialnya."

Lanjut Bwe-jisiansing.

"Pasienku hanya perlu mengibaskan tangannya, dan nyawa anak itupun akan melayang."

Pah Eng tertawa.

"Hanya mengibaskan tangannya untuk membunuh dia? Aku rasa tidak mungkin. Maksudmu, pasien itu adalah Li Tamhoa, Si Pisau Terbang pencabut nyawa, yang tak pernah luput?"

Bwe-jisiansing mendesah.

"Jujur saja, pasienku ini memang Li Sun-Hoan."

Waktu didengarnya kalimat ini, wajah Pah Eng langsung pucat pasi. Dia tertawa kering.

"Mengapa kau…. bercanda seperti ini?"

Sahut Bwe-jisiansing.

"Jika kau tidak percaya, lihat saja sendiri."

Pah Eng segera merangsak ke dalam sambil berteriak.

"Li-tayhiap, Li Tamhoa, sayangkanlah nyawanya!"

Bwe-jisiansing mengeluh.

"Orang-orang yang mengaku gagah ternyata kosong melompong. Hanya hidup anakanaknya sendiri yang dianggap berharga. Hidup orang lain tak ada artinya. Hanya mereka yang boleh membunuh. Orang lain tak boleh menyentuh mereka."

Di wajah Cin Hau-gi yang tegang tiba-tiba terbentuk seulas senyuman. Ia berusaha keras untuk menahan senyumnya. Malahan berkata.

"Jika Li Sun-Hoan berani membunuh anak itu, ia akan menyesal seumur hidup."

Waktu telapak tangan Li Sun-Hoan maju, tidak tampak adanya gerakan yang aneh.

Walaupun Ang-hai-ji masih kecil, ia sudah berpengalaman.

Ia melihat telapak tangan itu, namun tidak menghindar atau menangkis.

Ia pikir, lawan hanya berusaha mengalihkan perhatiannya, dan jurus yang mematikan akan datang sesudahnya.

Ia hanya terus menyabetkan pedangnya.

Telapak tangan itu tidak mengandung jurus, namun pedang dapat berubah arah sewaktu-waktu.

Walaupun telapak tangan Li Sun-Hoan dapat memukul anak itu, pedang anak itu pun dapat melukai Li Sun-Hoan.

Jurus-jurus pedangnya sungguh hebat.

Hanya sedikit pesilat saja yang mampu menandingi kecepatannya, tenaganya, ketepatannya, dan perhitungannya.

Bukan gurunya yang hebat.

Anak ini memang mempunyai bakat alami.

Tapi sayang, kali ini ia berhadapan dengan Li Sun-Hoan.

Walaupun telapak tangannya tidak mengandung jurus, gerakan sangat sangat cepat.

Kecepatannya tak terbayangkan.

Jadi berapa banyak gerak tipu yang dikuasai Ang-hai-ji , ia takkan sempat menggunakannya.

Sebelum pedangnya mengenai Li Sun-Hoan, telapak tangannya telah memukul dada anak itu.

Namun Ang-hai-ji tidak merasa sakit.

Ia hanya merasa suatu sensasi yang aneh menjalar ke sekujur tubuhnya.

Rasanya seperti sehabis minum arak hangat.

Pada saat yang sama, seseorang menubruk masuk sambil berteriak.

"Li-tayhiap. Sayangkanlah nyawanya!"

Namun Ang-hai-ji telah telentang di tanah. Seakan-akan baru bangun dari tidur. Badannya terasa lemah sekali, dan ia tidak bisa bergerak. Tanya Pah Eng kuatir.

"Siauya Hun, engkau baik-baik saja?"

Ang-hai-ji menyadari ada sesuatu yang salah. Matanya merah.

"Sep… sepertinya aku telah dilukai dengan dalam oleh orang ini. Cepat. Beritahu ayahku untuk datang membalas dendam."

Lalu ia pun menangis meraung-raung. Pah Eng tak tahu apa yang harus dilakukannya. Keringat bercucuran dari dahinya. Sang Kusir berkata dingin.

"Kungfu anak ini telah dimusnahkan, namun setidaknya ia tetap hidup. Itu hanya karena Siauyaku sungguh welas asih. Jika itu aku….."

Pah Eng pura-pura tidak mendengar.

"Jika kau ingin membalas dendam, silakan saja."

Pah Eng diam saja. Lalu ia berlutut di depan Li Sun-Hoan. Li Sun-Hoan terperangah, tanyanya.

"Apa hubunganmu dengan anak ini?"

Sahut Pah Eng.

"Cayhe Pah Eng. Li Tamhoa pasti tidak mengenal aku. Namun aku mengenal Li Tamhoa."

Kata Li Sun-Hoan.

"Bagus. Jika orang tua anak ini ingin membalas dendam, beri tahu mereka untuk mencariku."

Ang-hai-ji terus menangis meraung-raung, dan berteriak-teriak.

"Kau jahat sekali! Berani-beraninya kau musnahkan kungfuku. Aku tidak mau hidup lagi… tidak mau hidup lagi."

Sang Kusir membentaknya.

"Ini pengajaran bagimu untuk tidak menyakiti orang lain. Jika kau mengerti, kau mungkin dapat hidup lebih lama. Kalau tidak, kau akan segera mati."

Lalu terdengar seseorang berkata.

"Kalau begitu, mengapa Li Tamhoa yang berdarah dingin belum mati juga?"

"Siapa itu?"

Seorang tua berjubah ungu masuk.

"Sudah sepuluh tahun. Li Tamhoa tidak mengenaliku lagi?"

Li Sun-Hoan tersenyum, sahutnya.

"Oh, Si Semangat Baja Terbentang ke Delapan Arah, Cin-loyacu. Tak heran anak ini dapat membunuh tanpa ragu-ragu. Bersama denganmu, siapa yang tak dapat dibunuhnya?"

Cin Hau-gi menjawab dingin.

"Kurasa orang yang kubunuh tak sampai setengah dari yang Li-heng (saudara Li) bunuh."

Kata Li Sun-Hoan.

"Cin-loyacu tak perlu merendah. Hanya saja, jika aku membunuh, itu karena aku adalah pembunuh berdarah dingin. Jika kau membunuh, itu demi keadilan dunia!"

Ia menjengek dan lanjutnya.

"Jika anak ini berhasil membunuhku, kabar yang tersiar pasti adalah bahwa dia membunuh bukan karena berebut tabib, tapi karena dia dan Cin-tayhiap bahu-membahu memberantas kejahatan. Begitu kan?"

Walaupun Cin Hau-gi telah berpengalaman dan tahu bagaimana menjaga raut wajahnya tetap tenang, tak urung warna merah merayapi selebar wajahnya.

Ang-hai-ji yang tadinya mendengarkan dengan seksama, kini mulai meraung-raung lagi.

"Paman Cin. Mengapa tak kau bunuh dia untuk membalaskan dendamku?"

Cin Hau-gi tersenyum dingin.

"Jika orang lainlah yang melukaimu, pasti dendammu akan dibalaskan. Tapi karena orang inilah yang melukaimu, kau takkan bisa berbuat apa-apa."

Kata Ang-hai-ji .

"Ke…kenapa?"

Cin Hau-gi memandang Li Sun-Hoan, lalu bertanya pada anak itu.

"Tahukah kau siapa dia?"

Ang-hai-ji menggelengkan kepalanya dan berkata keras.

"Aku hanya tahu dia adalah seorang penjahat kejam!"

Seulas senyum keji terbayang di wajah Cin Hau-gi.

"Dia adalah ‘Si Pisau Kilat’ yang terkenal di seluruh dunia, Li Sun-Hoan. Dia dan ayahmu adalah saudara angkat sehidup semati!"

Waktu mendengar kata-kata ini Ang-hai-ji sangat terkejut, namun Li Sun-Hoan merasa hampir pingsan.

"Siapa ayahnya?"

Pah Eng mendesah, katanya.

"Ia adalah Liong Siau-in, anak tertua Liong-siya, Liong Siau-hun!" [Penulisan nama ayah dan anak dalam huruf romawi sama persis. Untuk selanjutnya, untuk ayahnya akan ditulis sebagai Liong Siau-hun, dan untuk anaknya Liong Siau-in] Saat itu, nyawa Li Sun-Hoan seperti terbang meninggalkan raganya. Matanya berkejap-kejap, dan air mata pun mengalir. Ekspresi Sang Kusir pun berubah. Keringat mulai membasahi dahinya. Ia tahu benar tentang hubungan Li Sun-Hoan dengan pasangan Liong Siau-hun dan Lim Si-im. Sekaranga ia melukai putra mereka. Dapat dibayangkannya betapa hancur hati Li Sun-Hoan. Kata Pah Eng.

"Aku tak menyangka akan jadi seperti ini. Semuanya berawal ketika putra Cin-loyacu hendak menangkap Bwe-hoa-cat (Bandit Bunga Sakura). Sayangnya ia terluka dalam pertempuran itu. Dengan obat-obatan kami yang terbaik, kami berhasil menyelamatkan nyawanya. Namun ia perlu pertolongan lebih lanjut untuk terus hidup. Kami tahu bahwa Si Tabib Sakti Bwe-jisiansing adalah ahli menyembuhkan luka nomor satu di dunia, terlebih khusus luka akibat senjata rahasia. Oleh sebab itulah kami datang. Siapa sangka malah jadi begini."

Ia bicara pada dirinya sendiri, tak ada yang mendengarkan. Bwe-jisiansing juga dapat merasakan kepdihan pada wajah Li Sun-Hoan. Ia memeriksa luka Ang-hai-ji , lalu bangkit berdiri.

"Anak ini tak kurang suatu apapun. Ia dapat melakukan apa saja, sama seperti orang lain."

"Bagaimana dengan ilmu silatnya?"

Sahut Bwe-jisiansing dingin.

"Mengapa dia perlu ilmu silat? Masih ingin membunuh lagi?"

Kata Pah Eng.

"Bwe-jisiansing, kau tidak paham. Liongsiya hanya punya satu putra, dan ia sangat berbakat dalam ilmu silat. Pasangan itu menaruh harapan yang begitu besar padanya. Berharap ia akan dapat membawa kehormatan bagi keluarganya. Jika mereka tahu, ia tidak bisa lagi belajar ilmu silat, betapa sedihnya hati mereka."

Bwe-jisiansing tertawa dingin.

"Kau hanya bisa menyalahkan pendidikannya yang sangat jelek. Membiarkan putra mereka menjadi begini kejam. Itu bukan salah orang lain!"

Li Sun-Hoan tidak menangkap satu pun kata percakapan ini.

Entah mengapa, ia tiba-tiba tenggelam ke masa lalu.

Begitu banyak kenangan lama, yang tidak seharusnya dibangunkan, bermunculan satu per satu.

Ia ingat hari itu adalah hari ketujuh di tahun yang baru.

Ia mempunyai sedikit urusan penting, sehingga ia harus pergi dari rumah sebelum perayaan tahun baru selesai.

Hari itu, juga turun salju.

Lim Si-im memasak masakan yang khusus.

Ia pun duduk menemani Li Sun-Hoan minum arak dan menikmati salju yang turun.

Lim Si-im tumbuh dewasa di rumahnya.

Ayahnya adalah saudara laki-laki istri muda ayah Li Sun-Hoan.

Sebelum mereka meninggal, mereka telah membicarakan tentang pernikahan anak-anak mereka.

Akan tetapi Li Sun-Hoan dan Lim Si-im tidaklah seperti anak-anak orang kaya pada umumnya, yang suka menjaga jarak.

Mereka bukan hanya sepasang kekasih, mereka adalah sahabat karib.

Walaupun sepuluh tahun telah berlalu, Li Sun-Hoan mengingat hari itu bagai hari kemarin saja.

Hari itu bunga Bwe mekar sangat indah.

Namun senyum Lim Si-im yang sudah setengah mabuk jauh lebih indah daripada bunga Bwe.

Hatinya yang lugu dipenuhi dengan sukacita dan kebahagiaan.

Namun….

tragedi menunggu di depan pintu.

Dalam perjalanan, musuh-musuhnya berkomplot dengan preman-preman lokal untuk membunuh dia.

Walaupun sembilan belas orang dapat dibunuhnya, ia pun terluka.

Mereka menangkapnya dan memasukkannya ke dalam kurungan.

Saat itulah Liong Siau-hun tiba.

Dengan tombak perak dirusaknya kurungan itu, sehingga nyawa Li Sun-Hoan selamat.

Lalu dirawatnya luka-luka Li Sun-Hoan dengan sabar, sampai sembuh betul.

Lalu diantarnya Li Sun-Hoan pulang.

Sejak saat itulah mereka menjadi sahabat karib.

Namun tidak berapa lama kemudian, Liong Siau-hun jatuh sakit.

Orang yang kuat seperti dia, sakit parah dalam setengah bulan saja, tubuhnya menjadi sangat kurus.

Setelah ia bertanya berkali-kali, baru Li Sun-Hoan tahu bahwa penyakit Liong Xiau Yun disebabkan oleh Lim Siim.

Ia telah jatuh cinta, sampai hampir jadi gila.

Ia tidak tahu bahwa Lim Si-im adalah tunangan Li Sun-Hoan.

Oleh sebab itu, ia minta izin pada Li Sun-Hoan untuk boleh menikah dengan ‘sepupunya’.

Ia berjanji, ia akan menjaganya sepenuh hati.

Bagaimana Li Sun-Hoan harus menjawabnya?

Namun bagaimana mungkin ia hanya berpangku tangan melihat penoLiongnya, sahabat karibnya, mati perlahanlahan?

Di lain pihak, tidak mungkin ia bisa membujuk Lim Si-im untuk menikah dengan orang lain.

Ia tidak mungkin mau.

Hatinya menjadi penuh duka cita, penuh kontradiksi.

Ia hanya dapat menemukan sedikit ketenangan dalam arak.

Setelah lima hari lima malam minum, akhirnya ia mengambil keputusan bulat.

Keputusan yang paling pahit seumur hidupnya.

Ia memutuskan untuk membiarkan Lim Si-im meninggalkannya.

Ia harus memberikan jalan bagi Lim Si-im dan Liong Siau-hun untuk bertemu.

Ia mulai hidup tidak karuan.

Walaupun Lim Si-im membujuknya untuk berubah, ia hanya tertawa saja.

Bahkan membawa dua pelacur terkenal pulang ke rumah.

Setelah dua tahun, hati Lim Si-im akhirnya hancur luluh.

Seluruh impiannya hancur berantakan.

Rencana Li Sun-Hoan telah berhasil.

Namun kemenangannya dipenuhi dengan kesedihan, dan rasa sakit bukan kepalang.

Bagaimana mungkin dia dapat terus berada di sana dan terus melihat bunga Bwe itu?

Maka diberikannya seluruh rumah dan isinya sebagai hadiah pernikahan mereka.

Lalu ia pergi sendirian.

Telah diputuskannya, tak akan pernah ditemuinya Lim Si-im lagi.

Namun sekarang, ia telah melukai anak tunggal mereka.

Li Sun-Hoan menelan kenangan pahit ini, dan menelan air matanya.

Ia bangkit berdiri dan berkata.

"Di mana Liong-siya? Aku ikut engkau untuk menemuinya."

Plakat bertuliskan ‘Li-wan (Taman Li)’ kini berganti menjadi ‘Hin-hun-ceng (perkampungan Hun berjaya)’.

Namun tulisan di sebelah kiri kanannya masih terpampang.

‘Satu keluarga, tujuh kelulusan ujian (Cinsu)’ ‘Ayah anak, ketiganya menjadi Tamhoa’ Li Sun-Hoan memandangi tulisan ini, seakan-akan seseorang menendang perutnya.

Pah Eng telah menggendong Ang-hai-ji masuk.

Cin Haugi pun menarik Bwe-jisiansing bersamanya.

Namun orang-orang di sana menatap Li Sun-Hoan.

Mereka semua heran mengapa orang asing ini memandangi tempat ini begitu rupa?

Bab 8.

Masa Lalu Tak Mungkin Diubah Dulu taman ini adalah milik Li Sun-Hoan.

Ia tumbuh di sini.

Masa kecilnya menyenangkan dan penuh kenangan indah.

Namun demikian, di tempat ini pulalah ia mengantarkan kedua orang tuanya dan kakaknya ke tempat peristirahatan mereka yang terakhir.

Siapa sangka, ia menjadi orang asing di tempat ini.

Li Sun-Hoan tersenyum.

Sebuah lagu teringat olehnya.

"Lihat dia sedang membangun rumah. Lihat dia sedang menjamu tamu. Lihat rumahnya hancur berantakan."

Ia sungguh memahami lagu ini sekarang. Memahami pertemuan dan perpisahan dalam hidup, lagu sendu kehidupan. Sang Kusir berkata pelan.

"Siauya, mari kita masuk."

Li Sun-Hoan menarik nafas panjang, tertawa getir, dan berkata.

"Karena kita sudah ada di sini, cepat atau lambat kita harus masuk, bukan?"

Baru saja kakinya melangkah masuk ke pintu depan, seorang laki-laki tiba-tiba berteriak kasar.

"Siapa kau? Berani-beraninya kau masuk ke rumah Liong-siya!"

Seseorang dengan wajah burik, mengenakan mantel bulu domba, dan tangannya memegang sangkar burung, datang dan menghalangi langkah Li Sun-Hoan. Kata Li Sun-Hoan.

"Kau adalah…."

Si wajah burik berkacak pinggang dan menjawab galak.

"Aku adalah Koankeh pengurus rumah tangga di sini. Anak gadisku adalah adik angkat Nyonya Liong. Apa maumu?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Mmmm…. kalau begitu, aku menunggu di sini saja."

Si wajah burik tertawa dingin dan berkata.

"Kau tak boleh menunggu di sini. Kau pikir pintu depan rumah Tuan Liong ini tempat nongkrong?"

Sang Kusir sangat geram, namun ia berusaha keras menahan diri. Lalu si wajah burik berteriak lagi.

"Aku suruh kalian pergi! Apakah kalian berlagak tuli?"

Li Sun-Hoan masih dapat menahan geramnya, namun Sang Kusir tak tahan lagi. Baru saja hendak dihajarnya orang burik itu, terdengar suara tergesa-gesa dari dalam.

"Sun-huan, Sun-huan, benarkah kau yang datang?"

Seorang laki-laki setengah umur yang gagah dan berpakaian indah keluar, wajahnya penuh dengan kegembiraan dan harapan. Segera setelah dilihatnya Li Sun-Hoan, ia memeluk Li Sun-Hoan erat-erat, katanya.

"Aku benar. Betul-betul kau….betul-betul kau…."

Bahkan sebelum selesai berbicara, air matanya telah berLimang-Limang. Bagaimana mungkin Li Sun-Hoan tidak mempunyai perasaan yang serupa, katanya.

"Toako…"

Si wajah burik hanya bisa melongo dan berdiri di situ seperti orang tolol. Liong Siau-hun terus-menerus berkata.

"Toako, aku selalu ingat padamu selama bertahun-tahun ini… ingat padamu…."

Diucapkannya kalimat ini berulang-ulang, dan akhirnya ia tertawa dan berkata.

"Kita saudara angkat bertemu kembali adalah peristiwa yang bahagia. Mengapa kita malah menangis seperti nenek-nenek…"

Ia terus tertawa-tawa dan mengajak Li Sun-Hoan masuk. Lalu ia berseru.

"Panggilkan Nyonya. Semua orang kemari. Mari kuperkenalkan dengan saudara angkatku. Kau tahu siapa dia? Hehehe… aku jamin kalian pasti kaget."

Sang Kusir memandang mereka, di matanya air mata sudah mengambang.

Hatinya terasa masam, tak tahu apakah ini kebahagiaan, atau kesedihan.

Baru sekarang si wajah burik bernafas lagi.

Sambil dipukul-pukulnya kepalanya ia berkata.

"Mati aku, ia adalah Li…. Li Tamhoa. Katanya rumah ini adalah hadiahnya kepada Tuan dan Nyonya. Tapi aku malah menghalangi dia masuk. A…aku pantas mati."

Ang-hai-ji , Liong Siau-in, duduk di sofa besar di ruang keluarga, dikelilingi beberapa orang.

Ia tahu sekarang bagaimana hubungan Li Sun-Hoan dengan ayahnya, sehingga ia jadi merasa sangat takut.

Bahkan untuk menangis pun tidak berani.

Namun pada saat Liong Siau-hun membawa masuk Li Sun-Hoan, dua orang yang berdiri dekat Liong Siau-in segera maju.

Sambil menuding Li Sun-Hoan, seorang berkata.

"Apakah kau yang melukai In-siauya?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Benar."

Orang itu berkata lagi.

"Bagus. Kau memang punya nyali."

Dua orang, satu dari kiri dan satu dari kanan menyerang Li Sun-Hoan bersamaan.

Li Sun-Hoan tidak bergerak sama sekali, namun Liong Siau-hun menyorongkan telapak tangannya dan menendang sambil melompat, menyelesaikan kedua penyerang itu.

Dengan marah ia berteriak.

"Beraniberaninya kau menyerang dia! Kalian berdua memang punya nyali. Tahukah kalian siapa dia?"

Kedua penjilat ini tak menyangka bahwa perbuatan mereka menjadi senjata makan tuan. Salah seorang berkata tergagap.

"Ka..kami hanya berusaha membantu Siauya…"

Liong Siau-hun berkata dengan penuh wibawa.

"Apa maksud kalian? Putra Liong Siau-hun adalah putra Li Sun-Hoan. Ia berhak mendidik anak itu. Jika ia mengambil nyawa setan kecil itu pun, bukan masalah bagiku."

Tambahnya lagi.

"Mulai saat ini, masalh ini tak perlu diungkit-ungkit lagi. Siapa yang berani mengungkitnya, berarti dengan sengaja mencari permusuhan dengan aku!"

Li Sun-Hoan berdiri mematung, tak tahu harus merasa apa.

Jika Liong Siau-hun memaki-maki dia, atau memutuskan persaudaraan mereka, mungkin ia malah merasa lebih lega.

Namun sebaliknya, Liong Siau-hun menilai hubungan mereka sangat berharga, membuat Li Sun-Hoan semakin merasa bersalah dan tertekan.

"Toako, aku tak menyangka…."

Liong Siau-hun menepuk pundaknya, dan berkata sambil tersenyum.

"Toako, sejak kapan kau jadi pemalu? Anak berandalan ini terlalu dimanja oleh ibunya. Tidak seharusnya aku mengajari dia kungfu."

Lanjutnya.

"Ayo, ayo. Ambilkan arak kemari. Siapa yang dapat membuat kami bersaudara mabuk akan kuberi 500 tail perak."

Ketika ia bicara tentang uang itu, siapakah dalam ruangan itu yang tidak menjadi rakus? Semua orang segera berlomba-lomba menyulangi mereka. Terdengar suara berkata.

"Nyonya telah tiba."

Akhirnya Li Sun-Hoan berjumpa lagi dengan Lim Si-im.

Walaupun Lim Si-im bukan wanita sempurna, kecantikannya pun tak dapat disangkal.

Wajahnya pucat, tubuhnya kurus, dan matanya, walaupun sangat cerah, tapi pandangannya dingin.

Namun perilakunya, keanggunannya, tak ada bandingannya.

Apapun yang terjadi, ia dapat membuat kehadirannya dirasakan orang.

Siapapun yang berjumpa dengannya, takkan dapat melupakannya.

Wajah ini telah hadir dalam benak Li Sun-Hoan ribuan kali.

Namun setiap kali selalu tampak sangat, sangat jauh.

Setiap kali Li Sun-Hoan akan memeluknya, ia selalu bangun dari mimpinya, dengan sekujur tubuh berkeringat dingin.

Memandangi malam yang kelam dan dingin, menunggu datangnya fajar dengan hati perih.

Namun setelah pagi tiba pun, ia tetap merasa hancur, tetap kesepian.

Kini wanita dalam mimpinya berada di depan matanya.

Namun kenyataan kadang-kadang lebih kejam daripada angan-angan.

Dalam kenyataan, ia tidak punya pilihan untuk melarikan diri.

Ia hanya bisa menggunakan senyum untuk menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.

Ia memaksakan diri untuk tersenyum, sapanya.

"Toaso (Kakak ipar), apa kabar?" ‘Toaso’. Wanita impiannya kini telah menjadi Toasonya. Sang Kusir memaLingkan wajahnya, tak kuasa melihat lebih jauh. Karena hanya dia seoranglah yang tahu bagaimana menyakitkannya bagi Li Sun-Hoan untuk memanggilnya ‘Toaso’. Jika ia ada di tempat Li Sun-Hoan, ia tidak yakin ia mampu mengucapkannya. Ia tidak tahu, sanggupkah ia menerima kenyataan sepahit itu. Jika ia tidak memaLingkan wajahnya, air matanya pasti sudah berLimang-Limang. Namun, Lim Si-im sepertinya tidak mendengar sapaannya. Kesedihannya tertumpah seluruhnya pada putranya. Waktu anak ini melihat ibunya, segera ia berlari ke pelukannya, lalu kembali menangis meraung-raung.

"Aku tidak bisa lagi belajar kungfu, aku sudah cacad. A…Aku tak mau hidup lagi!"

Lim Si-im memeluknya erat-erat, tanyanya.

"Siapa yang melukaimu?"

Ang-hai-ji menjawab cepat.

"DIA!"

Kepala Lim Si-im berputar ke arah yang ditunjuk oleh putranya, dan matanya bertemu dengan wajah Li Sun-Hoan.

Ia menatap Li Sun-Hoan, seakan-akan menatap seorang asing.

Sedikit demi sedikit kebencian merebak di matanya.

Ia berkata sekata demi sekata.

"Kau…. Benarkah kau yang melukainya?"

Li Sun-Hoan hanya dapat mengangguk cepat.

Tidak tahu tenaga dari mana yang menahan dia tetap berdiri.

Lututnya terasa sangat lemas.

Lim Si-im terus menatapnya tanpa berkedip, lalu katanya sambil menggigit bibirnya.

"Bagus. Bagus sekali. Aku sudah tahu sejak lama bahwa kau takkan membiarkan aku hidup dengan tenang. Kau bahkan mengambil secercah kebahagiaanku yang terakhir. Kau…."

Liong Siau-hun memotong kata-katanya.

"Kau tak boleh berbicara seperti itu padanya. Ini bukan kesalahannya. Semuanya karena Anak In suka mencari masalah. Sekarang ia bisa berhenti berbuat onar. Dan lagi, pada saat itu ia tidak tahu bahwa anak itu adalah putra kita."

Ang-hai-ji berteriak.

"Dia tahu! Dia sudah tahu. Pada awalnya dia tak sanggup melukai aku. Tapi waktu aku dengar bahwa dia adalah sahabat ayah, aku berhenti. Tapi dia malah mengambil kesempatan dan melukai aku."

Tubuh Sang Kusir hampir meledak mendengar ucapan anak ini, namun Li Sun-Hoan hanya berdiri terdiam, bahkan tidak berusaha membela diri.

Ia telah melewati lembah tergelap dalam hidupnya.

Buat apa berdebat dengan anak kecil?

Namun Liong Siau-hun membentak.

"Anak kurang ajar, masih berani kau berbohong!"

Ang-hai-ji hanya menangis terus sambil berkata.

"Aku tidak bohong, Bu. Sungguh aku tidak bohong!"

Liong Siau-hun dengan marah hendak menarik anak itu, tapi Lim Si-im menghalanginya, dan bertanya keras.

"Kau mau apa?"

Liong Siau-hun menghentakkan kakinya, sahutnya.

"Anak setan ini sungguh terlalu liar. Aku akan membuatnya cacad sekarang, supaya ia tidak lagi membuat keributan!"

Wajah Lim Si-im yang pucat jadi bersemu merah, dan berkata.

"Kalau begitu silakan bunuh aku juga!"

Pandangannya tiba-tiba beralih pada Li Sun-Hoan, dan berkata dengan seringai dingin.

"Kalian adalah laki-laki yang gagah perkasa. Pasti mudah bagi kalian berdua untuk membunuh seorang anak kecil. Tambah satu wanita lemah, tak akan jadi soal, bukan?"

Liong Siau-hun mengeluh panjang, katanya.

"Si-im, sejak kapan kau jadi ngaco begini?"

Lim Si-im tidak menggubrisnya dan segera menggendong anaknya pergi ke kamarnya. Langkahnya ringan, namun sudah cukup untuk meluluhlantakkan hati Li Sun-Hoan. Liong Siau-hun menghela nafas, katanya.

"Maafkanlah dia, Sun-huan. Ia biasanya cukup mau mengerti. Namun waktu seorang wanita menjadi seorang ibu, kadangkadang ia jadi tidak masuk akal."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Aku tahu. Demi anak, semua yang dilakukan ibu adalah benar."

Dipaksakannya tersenyum, dan dilanjutkannya.

"Walaupun aku belum pernah jadi ibu, aku pernah jadi anak seorang ibu."

Pameo ‘Jika kau minum untuk mengurangi kesedihanmu, kau malah akan merasa tambah sedih’, tidaklah terlalu tepat.

Sedikit arak memang akan membuat seseorang semakin teringat akan masa lalu, masa lalu yang pahit.

Namun jika seseorang mabuk berat, maka ia akan lupa segalanya.

Kelihatannya Li Sun-Hoan paham akan hal ini, oleh sebab itu ia minum sedemikian rupa, seolah-olah hidupnya bergantung pada botol arak itu.

Tidak sulit untuk menjadi mabuk.

Namun seseorang yang memiliki begitu banyak persoalan akan minum lebih sering dan lebih banyak.

Jadi waktu tiba saatnya ia ingin mabuk, ia tidak bisa mabuk lagi.

Kini hari telah gelap.

Begitu banyak arak telah diminumnya, namun Li Sun-Hoan tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda akan mabuk.

Tapi tiba-tiba ia menyadari, tidak ada seorang pun yang mabuk.

Hampir 20 orang ada di situ dan mereka telah minum begitu lama.

Namun tidak seorang pun mabuk.

Sungguh aneh.

Malam telah semakin larut.

Wajah setiap orang sungguh kelam.

Sepertinya mereka sedang menantikan kedatangan seseorang.

Tiba-tiba terdengar bunyi lonceng.

Hari sudah tengah malam.

Wajah semua orang langsung berubah.

Salah satunya berkata.

"Sudah tengah malam. Mengapa Tio-toaya belum datang juga?"

Li Sun-Hoan mengangkat alisnya dan bertanya.

"Siapakah Tio-lotoa ini? Mengapa tidak ada yang minum arak sebelum dia datang?"

Seorang dari mereka tersenyum dan berkata.

"Aku tak ingin menyembunyikan ini dari Li Tamhoa, namun sebelum Tio-toaya tiba, kami semua tidak berani minum."

Seorang yang lain berkata.

"Tio-toaya berjulukan Thi-binbu-su (Si Wajah Besi Maha Adil), Tio Cing-ngo. Ia pun kakak angkat Liong-siya. Apakah kau tidak tahu?"

Li Sun-Hoan tersenyum lebar, katanya.

"Dalam sepuluh tahun terakhir ini, kelihatannya kakak angkatku telah menjaLim persahabatan dengan begitu banyak orang hebat. Aku bersulang untukmu."

Wajah Liong Siau-hun menjadi merah, ia tersenyum terpaksa dan berkata.

"Toako adalah saudaramu juga. Mari, aku pun ingin bersulang untukmu."

Kata Li Sun-Hoan.

"Tidak jelek juga. Tak kusangka aku tiba-tiba mempunyai beberapa orang kakak. Namun aku tidak tahu apakah pahlawan-pahlawan besar ini mau menganggap aku sebagai adik."

Liong Siau-hun terbahak-terbahak, sahutnya.

"Mereka akan gembira luar biasa. Mengapa mereka tidak senang?"

"Tapi…."

Tidak jelas apa yang hendak dikatakannya, tapi tiba-tiba ia mengganti pembicaraannya.

"Tio-toaya telah lama berjulukan Thi-bin-bu-su. Katanya ia tidak pernah tersenyum. Jika aku bertemu dengannya, mungkin aku takkan berselera lagi untuk minum. Tak kusangka semua orang di sini menunggunya datang sebelum mulai minum."

Liong Siau-hun berpikir sejenak, lalu ia tersenyum, katanya.

"Bwe-hoa-cat telah muncul lagi…."

Li Sun-Hoan memotongnya dengan cepat.

"Aku sudah dengar."

Kata Liong Siau-hun.

"Tapi tahukah kau di mana dia berada?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Kudengar orang ini tak pernah menetap."

Liong Siau-hun menyahut cepat.

"Benar. Ia bisa berada di manapun juga. Tapi aku berani jamin, saat ini ia sedang berada di kota ini. Malah mungkin ada dekat rumahku."

Waktu ia mengatakan hal ini, leher semua orang langsung menciut. Api besar di tengah ruangan seakanakan tak mampu menghalangi angin dingin dari luar. Li Sun-Hoan bertanya.

"Maksudmu ia telah muncul?"

Liong Siau-hun menjawab perlahan.

"Betul. Putra tertua Cin-samko hampir mati di tangannya dua hari yang lalu."

Li Sun-Hoan bertanya.

"Siapa lagi yang dilukainya?"

Jawab Liong Siau-hun.

"Aku tak tahu jawabannya. Biasanya orang ini hanya melukai satu orang sekali bertempur. Dan lagi, ia hanya muncul setelah tengah malam!"

Lalu lanjutnya sambil terkekeh.

"Caranya membunuh sama seperti cara seseorang minum arak. Ia menetapkan waktunya, dan juga dosisnya."

Li Sun-Hoan ikut terkekeh, namun ia tidak tampak tenang lagi. Tanyanya.

"Bagaimana dengan semalam?"

Sahut Liong Siau-hun.

"Semalam tak ada kejadian apapun."

Kata Li Sun-Hoan.

"Kalau begitu, mungkin tujuannya memang Cin-toasiauya. Ia tak akan muncul lagi."

Namun jawab Liong Siau-hun.

"Ia akan muncul cepat atau lambat."

"Kenapa? Apakah ia punya masalah denganmu, Toako?"

Liong Siau-hun menggelengkan kepalanya, katanya.

"Tujuannya bukan Cin Tiong ataupun diriku."

"Lalu siapa?"

Liong Siau-hun belum sempat menyelesaikan jawabannya.

"Tujuannya adalah Lim…."

Waktu Li Sun-Hoan mendengar kata ‘Lim’, jawahnya langsung berubah.

Namun ternyata ia tidak menyebut ‘Lim Si-im’, namun ‘Lim Sian-ji’.

Li Sun-Hoan menghela nafas lega dalam hati, ia bertanya.

"Lim Sian-ji? Siapa dia?"

Liong Siau-hun tertawa terbahak-bahak, katanya.

"Toako, jika kau tak tahu siapa Lim Sian-ji, maka engkau sudah terlalu tua. Jika ini terjadi sepuluh atau lima belas tahun yang lalu, mungkin kau akan lebih mengenal nama ini dibandingkan dengan orang lain."

Li Sun-Hoan juga tertawa.

"Ia pasti sangat cantik."

Kata Liong Siau-hun.

"Ia tidak hanya cantik, ia disebut sebagai wanita tercantik seluruh jagad persilatan. Jumlah pahlawan muda yang jatuh cinta padanya tidak terhitung."

Kemudian ia melihat pada orang-orang yang ada di sana, dan dengan geli berkata.

"Kau pikir mereka semua ini datang untuk aku? Jika Lim Sian-ji tidak ada di sini, walaupun kusuguhkan makanan dan arak yang terbaik, mungkin tak ada seorangpun yang sudi datang."

Wajah semua orang di situ bersemu merah. Namun wajah dua orang pemuda menjadi merah padam. Liong Siau-hun menatap mereka berdua dan katanya.

"Kalian berdua cukup beruntung. Setidaknya sekarang kalian punya kesempatan. Jika Toako ini masih muda, kalian tak mungkin punya secuilpun harapan."

Li Sun-Hoan pun tertawa, katanya.

"Jadi kakakku menganggap aku benar-benar tua? Tubuhku mungkin tua, namun hatiku tetap muda."

Mata Liong Siau-hun berbinar-binar, lalu tertawa lagi.

"Benar, kau memang benar. Walaupun ia punya begitu banyak pengagum, namun kurasa ia akan tertarik padamu."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Sayangnya aku telah tenggelam dalam arak sepuluh tahun ini. Teknikku sudah ketinggalan jaman."

Liong Siau-hun memegang tangannya erat-erat, katanya.

"Tapi ada suatu hal yang tidak kau sadari. Nona Lim tidak hanya cantik, ia juga sangat berambisi. Ia tidak ingin menikah dengan siapapun. Namun ia telah mengumumkan bahwa siapa pun yang berhasil membunuh Bwe-hoa-cat , sekalipun dia sudah tua atau burikan, ia bersedia menjadi istrinya."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Jadi mungkin karena inilah Bwehoa-cat bermaksud membunuh dia."

Liong Siau-hun menjawab.

"Benar.Bwe-hoa-cat pergi ke Leng-hiang-siau-tiok dua hari yang lalu untuk mencari dia. Dia tidak menyangka bahwa Cin Tionglah yang ada di sana, sehingga ia melukai Cin Tiong. Mata Li Sun-Hoan bercahaya.

"Jadi Cin-toasiauya juga adalah salah satu pengagumnya?"

Liong Siau-hun terkekeh, lalu berkata.

"Tadinya ia punya kesempatan besar, namun sekarang…"

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Leng-hiang-siau-tiok telah kosong sejak lama. Kini, karena wanita itu tinggal di sana, suasananya pasti lebih hangat. Bahkan pemudapemuda yang sedang dimabuk cinta pun datang ke sana."

Wajah Liong Siau-hun menjadi merah, katanya.

"Lenghiang-siau-tiok adalah tempat kau tinggal dulu. Seharusnya tak kubiarkan orang lain mendiaminya. Tapi… tapi…."

Li Sun-Hoan memotongnya cepat.

"Kalau tempat itu dapat merasakan kehadiran seorang yang cantik, itu keuntungan baginya. Jika sang hutan menyadari siapa yang ada di sana, mereka pasti akan bersuka cita. Mereka takkan membiarkan aku meludah sembarangan lagi di sana."

"Namun apakah hubungan wanita ini denganmu, Toako?"

Liong Siau-hun terbatuk dua kali, katanya.

"Ia bertemu dengan Si-im waktu ia pergi berdoa ke kuil. Mereka langsung cocok dan menjadi saudari angkat. Sama seperti kau dan aku."

Kata Li Sun-Hoan.

"Jadi ayahnya adalah pengurus rumah tangga yang bertemu denganku di pintu depan?"

Liong Siau-hun tertawa, sahutnya.

"Tak bisa dipercaya bukan? Sebenarnya tak ada yang percaya orang burik itu memiliki anak seperti dia. Ini yang namanya ‘Dalam sarang gagak lahir burung api (burung phoenix)’. Lalu kata Li Sun-Hoan.

"Tio-toaya sedang mengumpulkan orang untuk melindunginya? Apakah Tio-toaya kini telah menjadi seorang romantis?"

Liong Siau-hun seperti tidak menangkap maksud Li Sun-Hoan, dan ia terus berkata.

"Di samping hendak melindunginya, ia juga ingin menangkap Bwe-hoa-cat . Dan lagi, begitu banyak orang telah bersusah-payah mengumpulkan uang untuk hadiah yang dijanjikan. Seluruh uang itu ada di rumahku sekarang. Jika sesuatu terjadi pada uang itu…."

Waktu Li Sun-Hoan mendengar, ia langsung bertanya.

"Mengapa Toako bersedia memikul beban yang begitu berat?"

Jawab Liong Siau-hun.

"Seseorang harus memikulnya."

Li Sun-Hoan berpikir sejenak, lalu katanya.

"Sudah lewat tengah malam. Mungkinkah si bandit tidak akan datang malam ini?"

Ia tiba-tiba bangkit, dan katanya lagi.

"Karena Tio-toaya belum juga datang, dan tidak ada yang mau minum, aku pikir aku akan berjalan-jalan. Mungkin aku akan mengunjungi teman-teman lamaku, pohon-pohon Bwe."

Kata Liong Siau-hun.

"Mungkin kau tak hanya akan bertemu dengan pohon Bwe, tapi juga dengan Bwe-hoacat ."

Li Sun-Hoan hanya tersenyum. Liong Siau-hun bertanya.

"Mengapa kau pergi menghadapi bahaya sendirian?"

Li Sun-Hoan hanya terus tersenyum. Liong Siau-hun masih memandangnya, lalu berkata sambil tersenyum.

"Baik, baiklah. Aku tahu, kalau kau sudah ingin, tak ada orang yang dapat menahanmu. Lagi pula, jika Bwe-hoa-cat tahu bahwa kau ada di sini, ia pasti tidak akan berani muncul."

Pohon-pohon Bwe di taman masih ada.

Tapi apakah yang telah terjadi pada orang dalam taman itu?

Li Sun-Hoan duduk di sana sendirian.

Dipandangnya secercah cahaya lilin di kejauhan.

Sepuluh tahun yang lalu, rumah itu adalah miliknya.

Orang-orang dalam rumah ini adalah pelayannya.

Kini, semuanya telah berlalu.

Tak dapat kembali lagi.

Hanya mimpi, dan kesendirian yang tinggal tetap.

Mimpi memang menyakitkan.

Namun tanpa mimpi itu, bagaimana bisa ia bertahan hidup?

Setelah menyeberangi jembatan di hutan pohon Bwe, ada sebuah bilik kecil di antara pepohonan.

Ini adalah tempat Li Sun-Hoan dulu berlatih silat dan membaca buku.

Jika ia membuka jendela bilik itu, ia dapat melihat rumah itu, dan melihat orang itu tersenyum manis padanya.

Namun kini…… Waktu cinta makin mendalam, ia menjadi dangkal.

Li Sun-Hoan menghela nafas.

Dibersihkannya salju di bahunya, dan ia mulai menyeberangi jembatan ini.

Tak ada seorang pun di sini.

Ia pun tidak mendengar apaapa.

Waktu Bwe-hoa-cat beraksi adalah lewat tengah malam.

Tidak ada seorang pun yang berani datang ke sini pada saat itu.

Ia tidak berniat menemui Lim Sian-ji.

Ia tahu, Lim Sian-ji pun tak akan tinggal di situ lama.

Ia hanya ingin melihat bekas biliknya.

Saat itulah terdengar suara tawa halus.

Seluruh tubuh Li Sun-Hoan menegang.

Tubuhnya yang biasanya malas-malasan kini penuh dengan tenaga, dan ia segera melesat ke arah suara itu.

Suara tawa itu kedengaran seperti tawa seorang wanita.

Dan tawa yang sangat halus.

Lalu dilihatnya sekelebat bayangan putih melarikan lari di belakangnya.

Lalu sekelebat bayangan hitam datang menyerangnya.

Tubuh orang ini cukup besar, dan gerakannya cepat.

Walaupun jaraknya masih sekitar tiga meteran, Li Sun-Hoan sudah dapat merasakan angin yang kuat dan dingin datang menyambutnya.

Li Sun-Hoan menyadari, ilmu silat orang ini aneh, tapi sangat hebat.

Bwe-hoa-cat !

Mungkinkah memang dia?

Li Sun-Hoan tidak menangkis.

Jika tidak benar-benar perlu, ia tidak pernah akan bertempur mati-matian dengan siapapun.

Ia merasa, tenaganya jauh lebih penting dari pada tenaga orang lain.

Suatu ketika, seorang temannya mendesak dia untuk bertanding tenaga dalam, namun Li Sun-Hoan terus menolak.

temannya ingin tahu alasannya.

Li Sun-Hoan hanya menjawab.

"Aku kan bukan kerbau. Kenapa aku harus bertarung seperti seekor kerbau?"

Ia menganggap ilmu silat juga adalah ilmu seni.

Gerakannya harus luwes.

Jika seseorang memaksa berduel dengan orang lain, kedua orang itu pastilah bodoh seperti kerbau.

Karena Deng Lie adalah sahabatnya, ia bisa menolak ajakannya.

Namun orang ini menginginkan kematiannya, maka mula-mula ia harus menutup seluruh jalan Li Sun-Hoan untuk melarikan diri.

Selain itu, kedua orang ini sedang berlari saling mendekati.

Jika Li Sun-Hoan mengelak, berarti ia sudah kalah selangkah.

Ketika musuh menyerang lagi, Li Sun-Hoan akan benar-benar tidak bisa berkutik.

Oleh sebab itu, tiba-tiba Li Sun-Hoan mundur.

Kecepatannya berubah arah, sungguh mengagumkan.

Bahkan lebih cepat daripada ikan di air.

Namun orang berbaju hitam itu pun terus merangsak dengan telapak tangan teracung ke arahnya.

Setelah mundur dengan kecepatan bagai kilat, tiba-tiba tubuh Li Sun-Hoan menjadi santai.

Tangannya seolah

KANG ZUSI at

http.//cerita-silat.co.cc/ olah tidak bergerak, namun pisau terbangnya telah melesat!

Orang berbaju hitam itu menjerit kesakitan.

Ia melompat, berbalik arah, dan kemudian lari masuk kembali ke dalam hutan.

Li Sun-Hoan tetap berdiri, seolah-olah merasa bosan.

Ia tidak mengejar.

Sebelum berhasil keluar dari hutan, orang berbaju hitam itu telah terjerembab.

Li Sun-Hoan menggelengkan kepalanya dan menghela nafas.

Diikutinya tetesan darah itu, dan ditemukannya tubuh orang itu.

Tangannya sedang memegangi lehernya, darah masih terus membanjir keluar.

Pisau kecil yang berkilat itu telah dicabut, tergeletak di samping tubuhnya.

Li Sun-Hoan memungut pisaunya, dan memperhatikan wajah orang itu yang menggambarkan rasa sakit luar biasa.

Tanyanya.

"Jikalau kau bukan Bwe-hoa-cat , mengapa kau menyerang aku?"

Orang ini hanya bisa mengertakkan gigi. Li Sun-Hoan berkata.

"Walaupun kau tidak mengenal aku, aku ingat siapa engkau. Kau adalah murid tertua In Gok. Aku bertemu denganmu sepuluh tahun yang lalu. Aku tak pernah lupa pada orang yang pernah kutemui."

Orang itu berusaha sungguh-sungguh untuk berbicara.

"Ak….Aku jug…a meng…enalimu."

"Jika kau mengenaliku, mengapa kau ingin membunuhku? Kau ingin aku tutup mulut? Bahkan jika engkau punya janji kencan dengan seseorang di tempat ini. Itu pun bukan rahasia yang terlalu besar, bukan?"

Orang ini ingin menjawab, tapi tidak bisa. Li Sun-Hoan hanya bisa menggelengkan kepalanya, katanya.

"Aku tahu, kau pasti sedang berbuat sesuatu yang kau tidak ingin orang lain tahu. Maka kau ingin membunuhku. Mungkin pada saat itu kau tidak tahu bahwa orang itu adalah aku."

Ia mendesah lagi sebelum melanjutkan.

"Karena kau ingin membunuhku, maka aku harus membunuhmu. Kau memilih orang yang salah. Demikian pula aku…."

Tiba-tiba orang itu menjerit keras dan menubruk ke arah Li Sun-Hoan.

Li Sun-Hoan berdiri mematung.

Sesaat sebelum telapak tangannya menyentuh dada Li Sun-Hoan, ia terkulai, selamanya takkan bangun lagi.

Li Sun-Hoan memandangnya cukup lama.

Lalu ia menengadah dan berkata.

"Dua malam yang lalu, putra Cin Hau-gi. Malam ini giliran murid In Gok. Sepertinya Lim Sian-ji punya banyak waktu senggang dan punya selera yang cukup baik pula. Kenalannya adalah anakanak muda kenamaan. Namun adakah anak gadis yang tidak bermimpi bertemu pangerannya? Apa yang dipikir oleh pemuda-pemuda yang dimabuk cinta ini? Ini kan bukan kejahatan. Mengapa mereka menyembunyikannya? Apakah ada rahasia lain di balik semua ini?"

Lilin di Leng-hiang-siau-tiok masih menyala.

Ada bayangan seseorang di sana.

Tampaknya seperti orang yang pergi melarikan diri tadi.

Tubuh itu sangat ramping.

Mungkinkah itu Lim Sian-ji?

Sambil berpikir, Li Sun-Hoan berjalan ke sana.

Matanya tiba-tiba berbinar, seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat menarik.

Angin dingin berhembus melewati hutan itu dan salju pun berjatuhan ke tanah.

Tiba-tiba salju itu terhambur, seakan-akan digerakkan oleh kekuatan gaib.

Seseorang sedang menyerang dari belakang.

Li Sun-Hoan menegakkan tubuhnya, menyadari sepenuhnya akan adanya tenaga pedang yang sedang terarah padanya.

Pedang itu telah menyayat sebagian jubahnya.

Di malam yang dingin ini, dalam hutan Bwe yang sepi, ada berapa orangkah yang menginginkan nyawanya?

Ia telah berkelana selama sepuluh tahun, dan baru hari ini pulang!

Mungkinkah ini penyambutan yang telah dipersiapkan untuknya?

Jika Li Sun-Hoan mengelak ke kiri, tangan kanannya pasti buntung.

Jika ia mengelak ke kanan, tangan kirinyalah yang akan buntung.

Jika ia maju, punggungnya akan ditembus pedang.

Ke manapun dia pergi, tak mungkin ia menghindari pedang ini!

Ujung pedang itu telah menembus jubahnya.

Di saat yang tepat, tubuh Li Sun-Hoan berpindah.

Dapat dirasakannya dinginnya ujung pedang itu lewat sangat dekat dengan tubuhnya.

Dalam semua pertempurannya, belum pernah ia sedekat ini dengan kematian.

Namun musuhnya lebih terkejut lagi karena serangannya gagal.

Tiba-tiba ujung pedang itu berganti arah, menukik ke bawah ke arah Li Sun-Hoan.

Tapi pada saat itu pisau Li Sun-Hoan telah menyayat pergelangan tangannya.

Pisau ini sangat sangat cepat, tak ada yang dapat membayangkan kecepatannya.

Orang itu terkejut luar biasa.

Ia menjerit keras.

Dilepaskannya pedangnya selagi bergerak mundur.

Adakah ilmu silat yang lebih cepat daripada Pisau Terbang Si Li Kecil?

Tiba-tiba seseorang beseru.

"Toako, berhenti!"

Suara ini milik Liong Siau-hun.

Li Sun-Hoan berusaha menenangkan diri.

Liong Siau-hun telah masuk ke dalam hutan.

Penyerang Li Sun-Hoan pun unjuk diri.

Ia adalah seorang pemuda berwajah gagah dan berpakaian serba putih.

Liong Siau-hun segera berdiri di antara mereka berdua.

Ia bertanya.

"Bagaimana kalian berdua bisa jadi bertempur?"

Mata anak muda itu bercahaya di tengah malam, seperti mata burung hantu. Ia menatap Li Sun-Hoan dan menyahut dingin.

"Aku menemukan orang mati di dekat hutan. Maka aku yakin bahwa orang di dalam hutan pastilah Bwe-hoa-cat ."

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Mengapa tidak terpikir olehmu bahwa orang mati itu adalah si bandit?"

Anak muda itu tertawa dingin, katanya.

"Bagaimana mungkin Bwe-hoa-cat mati dengan sangat mudah?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Maksudmu, Bwe-hoa-cat hanya mungkin terbunuh oleh dirimu? Sayang sekali…."

Liong Siau-hun segera memotong sambil tertawa.

"Kalian berdua, tenanglah dulu. Ini hanya suatu kesalahpahaman. Untung saja kami datang cepat. Kalau tidak, mungkin akan ada yang terluka."

Li Sun-Hoan tersenyum sedikit, lalu diambilnya pedang yang masih tersangkut di jubahnya. Ia memandangi pedang itu, lalu pujinya.

"Pedang yang sangat bagus!"

Ia mengembalikan pedang itu pada si anak muda, dan berkata.

"Pedangnya sangat terkenal. Pemiliknya pun pasti terkenal. Hari ini terjadi salah paham, namun aku gembira bisa bertemu denganmu. Tidak setiap hari seseorang bisa bertemu dengan pedang setenar itu."

Muka anak muda itu menjadi merah padam. Setelah diterimanya kembali, dijentiknya pedang itu dan patahlah pedang itu menjadi dua. Li Sun-Hoan mengeluh, katanya.

"Pedang yang luar biasa. Sungguh sayang."

Anak muda itu menatap Li Sun-Hoan sambil berkata.

"Tanpa pedang itu pun aku masih bisa membunuh. Kau tidak perlu menguatirkan aku."

Li Sun-Hoan tertawa.

"Kalau saja aku tahu, lebih baik baik kuminta pedang itu untuk ditukarkan dengan jubah yang baru."

Anak muda itu tertawa mengejek, sahutnya.

"Kau tak perlu kuatir akan hal itu juga. Jangankan satu, sepuluh jubah pun akan kuganti."

Kata Li Sun-Hoan.

"Tapi tak ada satu jubah pun seperti milikku."

"Apa sih istimewanya? Apakah warnanya khusus?"

Li Sun-Hoan berkata dengan wajah serius.

"Bukan warnanya. Hanya saja, jubahku ini punya mata."

Bab 9. Pertemuan Kembali Waktu anak muda itu mendengar perkataan Li Sun-Hoan, ia berusaha tenang. Lalu ia menyeringai dan berkata.

"Sangat menarik. Perkataanmu sangat menarik. Bagaimana sehelai jubah bisa punya mata?"

Li Sun-Hoan tersenyum dan menjawab.

"Kalau jubahku tidak punya mata, bagaimana ia dapat melihat kedatangan pedangmu? Lalu bagaimana aku dapat mengelak dari bokonganmu?"

Wajah anak muda itu langsung kecut, tangannya bergetar. Liong Siau-hun terbatuk dua kali, lalu tertawa.

"Kalian berdua sungguh pandai berkelakar. Siauya dari Congkiam-san-ceng (Istana Pedang Rahasia) tentu tidak perlu pusing urusan pedang. Mengapa kau mempermasalahkan tentang jubahmu?"

Kata Li Sun-Hoan.

"Jadi ini adalah Yu-siaucengsu."

Liong Siau-hun menjawab sambil tersenyum.

"Betul. Ia adalah putra dari putra tertua Cianpwe Cong-liong (Naga Rahasia). Ia juga adalah murid tunggal Si Nomor Satu Pedang Elang Salju. Kalian pasti akan sering berjumpa di kemudian hari."

Mata Yu Liong-sing masih menatap Li Sun-Hoan dan berkata dingin.

"Aku tak tahu apakah itu mungkin. Namun temanmu ini, namanya adalah…"

Sahut Liong Siau-hun.

"Oh, jadi Yu-heng belum mengenal adikku. Shenya adalah Li, namanya Li Sun-Hoan. Di dunia ini, mungkin hanya adikku inilah yang pantas menjadi sahabatmu."

Waktu mendengar nama itu, wajah Yu Liong-sing berubah lagi. Dipandangnya pisau Li Sun-Hoan. Namun Li Sun-Hoan seakan-akan mendengar pembicaraan mereka. Benaknya sibuk berpikir.

"Satu lagi pemuda yang terkenal…."

Tiba-tiba seseorang datang dan bertanya lantang.

"Siapa yang membunuh orang di luar sana?"

Orang ini cukup kekar. Suaranya menggelegar. Ekspresinya garang. Orang ini adalah Tuan yang Terhormat, Tio Cing-ngo. Li Sun-Hoan tersenyum, lalu katanya.

"Selain aku, siapa lagi yang dapat melakukannya?"

Mata Tio Cing-ngo menatap Li Sun-Hoan tajam, bagai sebilah pisau. Teriaknya.

"Kau? Seharusnya sudah dapat kuduga. Ke manapun engkau pergi, bau kematian selalu mengikutimu."

Li Sun-Hoan berkata.

"Jadi orang itu tidak pantas mati?"

Tio Cing-ngo bertanya.

"Tahukah kau siapa dia?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Sayangnya bukan Bwe-hoa-cat ."

Kata Tio Cing-ngo kemudian.

"Jika kau tahu dia bukan Bwe-hoa-cat , mengapa masih juga kau bunuh dia?"

Li Sun-Hoan menjawab dengan tenang.

"Walaupun aku tidak ingin membunuh dia, aku pun tak ingin dia membunuhku. Apapun yang terjadi, lebih enak membunuh daripada terbunuh."

Tio Cing-ngo bertanya lagi.

"Jadi dialah yang ingin membunuhmu lebih dulu?"

"Ya."

"Kenapa?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Aku juga ingin tahu. Tapi waktu kutanya, dia tidak menjawab."

Tio Cing-ngo terus mengejar.

"Mengapa tak kau biarkan dia hidup?"

Kata Li Sun-Hoan.

"Aku pun ingin dia tetap hidup. Tapi apa daya, sekali pisau itu lepas dari tanganku, aku tak bisa menjamin hidup mati musuhku."

Tio Cing-ngo menghentakkan kakinya dan berkata dengan kesal.

"Kau sudah pergi, mengapa engkau kembali lagi?"

Li Sun-Hoan tersenyum, jawabnya.

"Karena aku begitu merindukanmu, Tio-toaya."

Tio Cing-ngo sangat marah, sampai mukanya menjadi kuning. Ia mengacungkan telunjuknya pada Liong Siauhun dan berteriak.

"Bagus sekali. Masalah ini disebabkan oleh adikmu yang pandai itu. Tidak ada orang lain yang bertanggung jawab."

Liong Siau-hun hanya bisa tersenyum, katanya.

"Sabar dulu, Toako. Mari kita bicarakan baik-baik."

Sahut Tio Cing-ngo kasar.

"Apa lagi yang mau dibicarakan? Sudah cukup sulit kita harus berhadapan dengan Bwe-hoa-cat . Sekarang kita pun harus berhadapan dengan Si Setan Hijau, In Gok, pula."

Li Sun-Hoan tertawa dingin, katanya.

"Betul. Aku telah membunuh murid In Gok, Ku Tok. Segera setelah dia tahu, dia pasti akan datang untuk membalas dendam. Tapi dia hanya akan mencari aku. Mengapa Tio-toaya jadi kuatir?"

Tiba-tiba Liong Siau-hun menyela.

"Ku Tok datang setelah lewat tengah malam. Ia pasti punya maksud yang kurang baik. Toako, kau tidak salah telah membunuhnya. Jika itu terjadi padaku, mungkin aku juga akan berbuat demikian."

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Tio Cing-ngo telah berbalik dan pergi. Yu Liong-sing pun tiba-tiba tersenyum, katanya.

"Tiotoaya tampaknya memang sudah tua. Emosimu jadi semakin besar, tapi nyalimu jadi semakin kecil. Apa salahnya In Gok datang? Paling tidak kita bisa menyaksikan aksi pisau terbang yang terkenal itu."

Kata Li Sun-Hoan.

"Jika kau ingin melihat pisauku, kau tidak perlu menunggu sampai In Gok datang."

Muka Yu Liong-sing pun berubah lagi.

Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi waktu ia melihat pisau Li Sun-Hoan, diurungkannya niatnya.

Kemudian ia juga berbalik dan pergi.

Liong Siau-hun bermaksud untuk mengejar mereka, tapi kemudian ia berhenti.

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Walaupun kau tidak menyukai mereka dan tidak memandang mereka sebelah mata, tidak seharusnya kau membuat mereka marah."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Siapa yang peduli? Mereka semua berpikir aku sangat bejad. Tak jadi soal apakah aku menjengkelkan mereka atau tidak. Sebenarnya, bagus juga membuat mereka sangat marah dan pergi dari sini. Aku jadi bisa merasa tenang."

Kata Liong Siau-hun.

"Lebih baik punya teman banyak daripada sedikit."

Tapi Li Sun-Hoan menjawab.

"Berapa banyak orang yang dapat disebut ‘teman’? Punya teman yang seperti saudara kandung, satu saja sudah cukup."

Liong Siau-hun tertawa gembira. Dirangkulnya pundak Li Sun-Hoan dan berkata.

"Toako, aku sungguh bahagia mendengar kau berbicara demikian. Walaupun kubuat semua sahabatku marah, itu pun tidak apa-apa."

Li Sun-Hoan tiba-tiba merasakan suatu kehangatan dalam tubuhnya, namun ia mulai terbatuk-batuk lagi. Kata Liong Siau-hun.

"Batukmu…."

Li Sun-Hoan tidak ingin membicarakan hal ini, jadi dipotongnya dengan dan berkata.

"Toako, aku ingin bertemu dengan seseorang."

"Siapa?"

Alisnya terangkat dan sebelum Li Sun-Hoan menjawab, ia menambahkan.

"Apakah dengan Lim Sian-ji?"

Li Sun-Hoan tersenyum, katanya.

"Toako memang sungguh memahami aku."

Liong Siau-hun tertawa keras.

"Aku tahu kau pasti penasaran. Jika Li Sun-Hoan tidak ingin bertemu dengan wanita tercantik di dunia, maka Li Sun-Hoan bukan lagi Li Sun-Hoan."

Li Sun-Hoan hanya tetap tersenyum, seakan-akan mengiakan.

Namun apa sebenarnya yang ia pikirkan?

Hanya dia seorang saja yang tahu.

Liong Siau-hun segera menggamit lengannya, dan berkata sambil tersenyum.

"Jika kau pergi ke sana untuk menemuinya, kau pergi ke tempat yang salah. Setelah kejadian dua malam yang lalu, ia telah pindah dari bilik itu."

"O ya?"

Kata Liong Siau-hun lagi.

"Dua malam ini ia tinggal bersama Si-im. Kau bisa sekaligus bertemu mereka berdua. Bagaimana pun juga, Si-im adalah seorang wanita. Kau harus berusaha menenangkannya sedikit."

Sepertinya ia tidak memperhatikan kepedihan yang terlukis di wajah Li Sun-Hoan. Ia terus saja berbicara.

"Sebenarnya, ia bukannya tidak tahu perbuatan buruk Anak In di luaran. Ia tidak betul-betul menyalahkanmu."

Li Sun-Hoan memaksakan seulas senyum, katanya.

"Tapi kita kan sudah sampai di sini. Mari kita mampir sebentar ke Leng-hiang-siau-tiok. Mungkin Nona Lim sudah kembali."

Jawab Liong Siau-hun sambil tersenyum.

"Boleh juga. Nampaknya kalau kau tak berjumpa dengannya malam ini, kau tak akan bisa tidur."

Li Sun-Hoan tersenyum saja, tidak berkata apa-apa.

Namun ada sesuatu yang terbayang di matanya.

Sesuatu yang menyiratkan bahwa ia menyimpan suatu rahasia.

Tidak ada siapa-siapa dalam bilik itu.

Ketika Li Sun-Hoan masuk, seakan-akan ia masuk ke alam sepuluh tahun yang lalu.

Tidak ada yang berubah sedikit pun.

Meja dan kursi, bahkan kertas-kertas, kuas, tinta, semua ada pada tempat asalnya.

Jika ini terjadi sepuluh tahun yang lalu, kemungkinan ia baru saja menemani Si-im menghitung bunga-bunga Bwe, mungkin ia kembali untuk mengambilkan mantel bulu untuk Si-im, atau mungkin ia kembali untuk menuliskan percakapan mereka supaya ia tidak akan pernah lupa.

Tetapi sekarang, waktu diingatnya kembali semua itu, tidak ada satu pun kenangan yang terlupakan.

Jika ia tahu, takkan dihabiskannya waktu untuk menuliskannya.

Salju telah turun lagi.

Bunga-bunga salju jatuh perlahan ke atas atap, lembut bagai ucapan sang kekasih.

Li Sun-Hoan menarik nafas dalam, lalu katanya.

"Sepuluh tahun…. Mungkin bahkan lebih. Kadang-kadang kau merasa waktu berjalan lambat sekali. Namun sekali mereka berlalu, kau baru sadar betapa cepatnya mereka berlalu."

Liong Siau-hun tertawa dan berkata.

"Ingatkah kau pertama kali kita tiba? Seingatku hari itupun salju turun."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Ba… bagaimana mungkin aku lupa."

Liong Siau-hun tertawa.

"Aku ingat hari itu kita mungkin minum seluruh arak yang ada di rumahmu saat itu. Itulah sekali-kalinya aku melihat engkau mabuk, tapi kau tak mau mengakuinya. Kau malah bertaruh denganku bahwa kau pasti dapat menulis ‘Delapan Qiu Xing’ [kemungkinan kumpulan puisi] tanpa salah."

Tiba-tiba diraihnya sebatang kuas dari atas meja, sambungnya.

"Aku ingat, inilah kuas yang kau pakai."

Senyum Li Sun-Hoan terasa palsu, namun ia terus tersenyum.

"Aku juga ingat, kau tak mau bertaruh."

Sahut Liong Siau-hun.

"Tapi kau tidak menyangka bukan, bahwa sepuluh tahun kemudian kuas ini masih ada di sini?"

Li Sun-Hoan tersenyum saja, tidak menjawab. Namun sebuah pikiran terLimtas di benaknya.

"Kuas itu masih di sini, tapi bukankah seseorang tinggal di sini sekarang?"

Kata Liong Siau-hun.

"Memang agak aneh. Lim Sian-ji seperti punya firasat bahwa kau akan pulang. Walaupun ia telah tinggal di sini beberapa tahun, ia tidak pernah memindahkan barang-barang ini."

Kata Li Sun-Hoan.

"Seharusnya tidak perlu begitu."

Liong Siau-hun tersenyum dan berkata.

"Kami pun tidak memaksanya untuk berbuat begitu, tapi…."

Tiba-tiba seseorang di luar berseru.

"Siya (Tuan Keempat). Liong-siya!"

Liong Siau-hun membuka jendela dan menjawab dengan jengkel.

"Aku di sini. Ada apa?"

Ekspresinya tiba-tiba berubah, dan ia menoleh ke belakang, katanya.

"Toako, kau…."

Kata Li Sun-Hoan.

"A….aku masih ingin di sini sebentar lagi. Tidak apa-apa, kan?"

Liong Siau-hun menjawab sambil tersenyum.

"Tentu saja. Semua ini adalah milikmu. Bahkan jika Lim Sian-ji kembali, ia akan menyambutmu dengan gembira."

Lalu ia pergi tergesa-gesa.

Saat dia melewati pintu, senyuman telah hilang dari wajahnya.

Li Sun-Hoan duduk di kursi lebar yang ditutupi dengan kulit harimau.

Kursi ini lebih besar daripada ingatannya.

Ia ingat, waktu dia masih kecil, ia suka sekali memanjat ke atas kursi ini dan mengencerkan tinta untuk ayahnya.

Ia ingin segera cepat tinggi, supaya bisa duduk di atas kursi ini.

Saat itu ia mempunyai pikiran yang aneh.

Ia takut bahwa kursi ini juga seperti manusia, menjadi makin besar dengan berlalunya waktu.

Akhirnya tiba saatnya ia bisa duduk di kursi itu.

Ia menyadari bahwa kursi tidak bisa tumbuh.

Maka dalam hatinya, ia merasa kasihan pada kursi itu.

Namun sekarang, ia berharap bisa seperti kursi itu, tidak pernah bertambah tua, tidak pernah merasa sakit.

Kursi itu tetap sama, tapi ia telah menjadi seorang tua.

Tua….

sudah tua….

Tiba-tiba didengarnya tawa halus dan seseorang berkata.

"Siapa yang bilang kau sudah tua?"

Orang ini masih di luar, namun suara tawanya telah menghangatkan seluruh ruangan.

Walaupun tubuhnya belum lagi masuk, suaranya telah membawa musim semi ke dalam ruangan.

Jika suara tawanya begitu merdu, orang dapat membayangkan bagaimana rupa orang ini.

Mata Li Sun-Hoan tiba-tiba bercahaya, namun ia hanya menatap ke arah pintu.

Ia tidak bangkit berdiri, tidak juga mengatakan apa-apa.

Lim Sian-ji akhirnya masuk.

Semua orang ternyata tidak membual.

Ia sangat cantik bagai seorang dewi.

Jika seseorang berusaha melukiskan kecantikannya, orang itu sedang berbuat ketidakadilan padanya.

Tidak ada bagian dari tubuhnya yang tidak menggairahkan.

Bagian yang paling menawan dari seluruh tubuhnya adalah matanya.

Tidak ada seorang laki-lakipun di dunia yang sanggup menolak tatapan matanya.

Memandang matanya membuat orang merasa sedang melakukan kejahatan.

Tapi apapun juga yang dilakukannya, ia tak dapat menghapus bayangan Li Sun-Hoan yang pertama.

Karena ini bukanlah kali pertama Li Sun-Hoan berjumpa dengannya.

Di dapur warung arak itu Li Sun-Hoan telah merasakan kelembutannya, kehangatannya.

Namun Li Sun-Hoan masih tidak bisa percaya bahwa wanita yang sedang berdiri di depannya adalah sama dengan si cantik yang misterius yang ingin bertukar Kim-si-kah dengannya.

Penampilannya hari ini sungguh berbeda dengan hari itu.

Jika Li Sun-Hoan meragukan matanya, maka ia tidak mungkin percaya bahwa wanita yang berbisa itu sama dengan wanita yang sedang tersenyum manis dan lugu di hadapannya.

Li Sun-Hoan menghela nafas dan memejamkan matanya.

Air mata mulai meleleh di pipi Lim Sian-ji.

Ia berkata lembut.

"Mengapa kau pejamkan matamu? Kau tak ingin memandangku?"

Li Sun-Hoan terkekeh, jawabnya.

"Aku hanya sedang mengingat-ingat bagaimana rupamu hari itu tanpa selembar benangpun."

Wajah Lim Sian-ji menjadi merah, katanya.

"Awalnya aku tak ingin kau mengenali aku, namun aku juga tahu itu tak mungkin terjadi."

Kata Li Sun-Hoan.

"Kalau aku telah melupakanmu, tidakkah kau akan merasa kecewa?"

Lim Sian-ji tetap tersenyum.

"Tapi waktu kau melihat aku, kau tidak tampak terkejut. Apakah engkau telah menebak siapa aku?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Mungkin karenan tidak banyak wanita yang tergolong cantik di dunia ini."

Lim Sian-ji tersenyum lagi, katanya.

"Tapi mungkin juga karena kau melihat murid In Gok, dan kau teringat akan Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau)ku. Lalu kau melihat Yu Liong-sing, dan kau pun teringat pada Hi-jong-kiam (Pedang Usus Ikan)ku, bukan?"

Li Sun-Hoan juga tersenyum, jawabnya.

"Aku hanya ingin tahu, walaupun kau tahu aku ada di sini, mengapa kau berani datang menemuiku?"

Lim Sian-ji mendesah, jawabnya.

"Seorang menantu berwajah buruk harus menemui ibu mertuanya cepat atau lambat. Itu tak terelakkan. Jadi waktu Kakak Liong menyuruh aku datang, aku segera datang."

"Benarkah? Ia menyuruhmu datang kemari?"

Lim Sian-ji tertawa, katanya.

"Kau tidak paham alasannya? Sudah sejak beberapa waktu yang lalu ia telah berusaha agar kita bertemu. Mungkin karena ia merasa berhutang padamu. Ia telah merebut…."

Waktu ia mengatakan ini, ia melihat wajah Li Sun-Hoan langsung menjadi keruh, karena Li Sun-Hoan tahu apa yang hendak dikatakannya.

Waktu dilihatnya demikian, ia langsung terdiam.

Ia tidak pernah mengatakan hal-hal yang tidak ingin didengar oleh lawan bicaranya.

Namun Li Sun-Hoan seakan-akan menunggu ia menyelesaikan kalimatnya.

Setelah hening beberapa saat, barulah ia berkata.

"Ia tidak berhutang apa-apa padaku. Akulah yang berhutang kepada banyak orang."

Lim Sian-ji menatapnya dan bertanya.

"Kau berhutang apa?"

Li Sun-Hoan menjawab dingin.

"Aku berhutang pada begitu banyak orang. Tidak terhitung jumlahnya."

Lim Sian-ji berkata dengan lembut.

"Apapun yang kau katakan, aku tahu kau bukan orang seperti itu."

"Kau tahu aku ini orang macam apa?"

"Tentu saja. Aku telah mendengar tentang engkau dari aku masih kecil. Jadi waktu aku tahu bahwa di sinilah dulu kau pernah tinggal, aku sangat berbahagia, sampaisampai aku tidak bisa tidur."

Ia melihat ke sekeliling ruangan, katanya.

"Lihatlah. Semuanya di sini. Tidakkah ini persis sama dengan sepuluh tahun yang lalu waktu kau tinggalkan? Bahkan botol arak yang kau sembunyikan di rak buku aku tak pindahkan. Kau tahu kenapa?"

Li Sun-Hoan hanya memandangnya dingin. Lim Sian-ji mengikik.

"Pasti kau tidak tahu. Tapi kuberi tahu engkau sekarang. Dengan cara ini, aku dapat merasakan kehadiranmu di sini. Kadang-kadang aku membayangkan kau ada di sini, duduk di kursi ini dan berbincang-bincang denganku."

Lalu ia melanjutkan dengan suara yang lebih halus.

"Kadang-kadang aku bangun di tengah malam, membayangkan aku ada di sampingku. Di tempat tidur itu, di atas bantal itu."

Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata.

"Selain aku, ada juga orang lain di situ, bukan?"

Lim Sian-ji menggigit bibirnya dan bertanya.

"Kau sungguh berpikir aku mengizinkan orang lain masuk ke sini?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Ini adalah kamarmu. Kau boleh membiarkan siapa saja masuk."

Kata Lim Sian-ji lagi.

"Kau pikir orang-orang seperti Yu Liong-sing dan Ku Tok pernah ada di sini, bukan?"

Matanya telah menjadi merah, dan ia melanjutkan.

"Asal kau tahu, mereka tidak pernah menginjakkan kaki dalam ruangan ini. Maka dari itu, mereka menunggu di hutan. Jika aku mengizinkan mereka masuk, mungkin Ku Tok dan Yu Liong-sing masih hidup sekarang."

"Kalau begitu, mengapa tak kau izinkan mereka masuk?"

Lim Sian-ji menggigit bibirnya lagi, jawabnya.

"Karena ini adalah kamarmu. Aku harus…. membantumu menjaga…."

Ia seakan-akan tidak tahu bagaimana melanjutkannya. Li Sun-Hoan tersenyum, menyelesaikan kalimat itu untuknya.

"aroma tubuhku?"

Lim Sian-ji menundukkan kepalanya dan berkata.

"Aku tidak mengatakannya supaya kau dapat mengolok-olok aku."

"Lalu untuk apa?"

"Kau masih belum paham?"

Li Sun-Hoan tertawa, katanya.

"Kalau begitu, tanpa bantuan orang lain pun aku telah mempunyai kesempatan yang baik denganmu."

Kata Lim Sian-ji.

"Jika aku tidak… punya perasaan apaapa… lalu bagaimana mungkin hari itu aku…."

Ia hanya mengatakan kalimat-kalimat itu setengahsetengah. Namun kadang-kadang setengah kalimat lebih efektif daripada seluruh kalimat. Lagi pula, itu lebih menarik. Kata Li Sun-Hoan.

"Jadi kau berbuat begitu karena kau suka padaku? Dan aku berpikir bahwa kau melakukannya demi rompi itu."

Lim Sian-ji menjawab.

"Tentu saja aku juga menginginkan rompi itu. Namun jika orang itu bukan engkau, apakah aku…. apakah aku akan…"

Li Sun-Hoan tertawa.

"Jadi kau ingin dua-duanya?"

Kata Lim Sian-ji.

"Kau pasti bertanya-tanya mengapa aku menginginkan Kim-si-kah itu, bukan?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Sejujurnya, aku memang ingin tahu."

Lim Sian-ji menjelaskan.

"Karena aku ingin membunuh Bwe-hoa-cat dengan tanganku sendiri!"

"Ha?"

"Kau pasti sudah dengar bahwa aku telah mengatakan aku akan menikah dengan siapapun yang dapat membunuh Bwe-hoa-cat . Walaupun aku mengatakannya, aku tidak menyukai ide itu."

Li Sun-Hoan berkata.

"Kau ingin membunuh Bwe-hoa-cat supaya kau dapat menikah dengan dirimu sendiri?"

Jawab Lim Sian-ji.

"Aku melakukan hal ini hanya karena aku tidak ingin menikah. Jika si bandit dapat kubunuh dengan tanganku, maka aku tidak perlu lagi menikah."

Tiba-tiba ditatapnya Li Sun-Hoan dan sambungnya.

"Karena tidak ada pria di muka bumi yang pantas menikahi aku."

Mata Li Sun-Hoan pun menatapnya dan ia bertanya.

"Bagaimana dengan aku?"

Wajah Lim Sian-ji langsung merah padam, jawabnya.

"Tentu saja kau berbeda."

"Mengapa?"

Lim Sian-ji menjawab perlahan.

"Karena kau berbeda dari laki-laki lain. Mereka semua hanya seperti anjing. Bagaimanapun kuperlakukan mereka, mereka tetap mengikutiku. Hanya engkau…."

Li Sun-Hoan tersenyum sedikit, katanya.

"Lalu mengapa engkau tidak membiarkan Kim-si-kah jatuh ke tanganku? Jika aku membunuh Bwe-hoa-cat , kau akan bisa menikah denganku. Bukankah itu keinginanmu?"

Lim Sian-ji ragu-ragy sejenak, lalu katanya.

"Ini adalah ide yang bagus. Mengapa tak terpikir olehku sebelumnya."

Mata Li Sun-Hoan berbinar, ia tersenyum lebar sambil berkata.

"Siapa selain aku yang dapat mempunyai ide secemerlang itu."

Lim Sian-ji seperti tidak mengerti maksud perkataan Li Sun-Hoan. Ia malah meraih tangan Li Sun-Hoan dan berkata.

"Aku taCui-coa Oh Bi-hoa-cat akan muncul besok atau lusa malam. Besok akan kutunggu dia di sini."

Kata Li Sun-Hoan.

"Kau ingin aku datang juga, bukan?"

Sahut Lim Sian-ji.

"Kau dapat memakai aku sebagai umpan, supaya ia muncul. Kau punya rompi itu, jadi kalaupun kau tak berhasil membunuhnya, kaupun tidak akan terluka. Jika kau berhasil menangkapnya…."

Ditundukkannya kepalanya lagi, matanya memandang Li Sun-Hoan diam-diam.

Ia tidak mengatakan apa-apa, namun matanya menggambarkan perasaannya dengan sempurna.

Mata Li Sun-Hoan pun bercahaya, lalu dengan seulas senyum ia berkata.

"Baik. Aku pasti datang besok malam. Jika aku tidak datang, maka…"

Lim Sian-ji menarik tangannya menjauhi Li Sun-Hoan, namun di punggung tangan Li Sun-Hoan, digambarnya sebuah Lingkaran dengan jarinya.

Seakan-akan ingin melingkari hati Li Sun-Hoan.

Li Sun-Hoan tiba-tiba tertawa, katanya.

"Sepertinya kau sudah belajar jadi sopan sekarang."

Sahut Lim Sian-ji dengan wajah merah.

"Aku selalu bersikap sopan."

Kata Li Sun-Hoan.

"Akhirnya kau belajar memberi kesempatan bagi laki-laki untuk melakukan langkah pertama."

Namun Lim Sian-ji menjadi gelisah, dan berkata.

"Tapi kau… kau tak akan… sekarang, bukan?"

Li Sun-Hoan memandangnya. Matanya memandang dengan dingin, namun senyumnya mulai sedikit mencair, katanya.

"Bagaimana kau tahu kalau aku tidak akan?"

Lim Sian-ji mengikik, katanya.

"Karena engkau adalah pria sejati, bukan?"

Kata Li Sun-Hoan.

"Aku hanya pernah menjadi pria sejati sekali seumur hidup. Lalu aku menyesali keputusanku tiga hari tiga malam."

Lim Sian-ji tertawa, tapi terasa bahwa ia berusaha menghindar. Li Sun-Hoan merenggut tangannya tiba-tiba, lalu berkata sambil tersenyum.

"Jadi kau tidak hanya belajar membiarkan laki-laki melakukan langkah pertama, kau juga belajar untuk menghindar."

Lim Sian-ji menjawab.

"Tapi inilah yang kau ajarkan. Inilah cara yang kauajarkan padaku untuk merayumu, bukan?"

Bab 10. Persoalan 18 Tahun yang Lalu Li Sun-Hoan menarik nafas panjang, lalu berkata.

"Aku mengajarimu terlalu banyak. Dan kau pun belajar terlalu cepat."

Ia tiba-tiba melepaskan tangannya, bangkit dan merapikan pakaiannya. Ia melihat keluar jendela dan berkata.

"Pertunjukan hari ini telah selesai. Jika kau belum puas, silakan datang lagi besok pagi."

Suara tawa terdengar dari luar jendela. Katanya.

"Teknikmu sungguh luar biasa. Kuharap pisaumu pun sama bagusnya."

Setelah kalimat terakhirnya diucapkan, ia pun telah menghilang. Wajah Lim Sian-ji berubah.

"Itu adalah Yu Liong-sing."

Li Sun-Hoan bertanya.

"Kau kuatir dia cemburu?"

Mata Lim Sian-ji berkilat jahat, ia tertawa dingin.

"Apa haknya untuk cemburu? Aku tak menyangka orang yang dalam dunia persilatan disebut berkarakter mulia dapat berbuat seperti ini. Jangan kira aku sudi berbicara dengan dia lagi."

Kata Li Sun-Hoan sambil tersenyum.

"Kau tidak takut ia akan meminta Hi-jong-kiam (Pedang Usus Ikan)nya kembali?"

Sahut Lim Sian-ji.

"Kalaupun aku melemparkan pedang itu ke depan hidungnya, ia tidak akan berani menyentuhnya."

"O ya?"

Lim Sian-ji tersenyum licik.

"Sudah kubilang. Orangorang ini seperti anjing. Semakin sering kau memaki dan menendang mereka, semakin dekat mereka mengikutimu sambil mengibas-ngibaskan ekornya."

Li Sun-Hoan menjawab.

"Tidak jelek juga mempunyai anjing yang mengibaskan ekornya di hadapanmu."

Lim Sian-ji meraih tangannya, dan berkata.

"Kau sungguh akan pergi? Tak maukah kau duduklah di sini sebentar lagi?"

Sahut Li Sun-Hoan sambil tersenyum.

"Jika aku duduk di sini, menunggu anjing menggigitku, itu tidak menarik lagi."

Lim Sian-ji mendengus.

"Hmmmh. Ia tidak mungkin berani…."

Sebelum perkataannya selesai, terdengar suara Yu Liongsing dari jauh.

"Pertunjukan itu sudah selesai, tapi pertunjukan yang lain baru saja dimulai. Tidakkah kalian ingin menonton?"

Kata Li Sun-Hoan.

"Betul, kan? Ia tak mau membiarkan aku duduk lebih lama di sini."

Sahut Lim Sian-ji geram.

"Dasar setan menyebalkan."

Tapi tiba-tiba ia tersenyum, digenggamnya tangan Li Sun-Hoan dan berkata.

"Tapi masih ada hari esok…. Datanglah lebih awal besok."

Baru saja Li Sun-Hoan keluar dari hutan, terdengarlah suara dua orang yang sedang bertengkar.

Ia mengenali suara yang seorang adalah suara Sang Kusir.

Ia segera menggunakan jurus ‘Burung Pipit Menutul Air Tiga Kali ", memantul ke tanah tiga kali sebelum sampai di tujuan.

Saat itu, kedua orang itu telah bertempur.

Dengan kekuatan dahsyat telapak tangan dan kepalan mereka, salju berhamburan mengelilingi mereka.

Terdengar Sang Kusir berkata.

"Cin, kau membuat dirimu tampak berbudi, namun kenyataannya kosong melompong. Lalu kenapa kalau anakmu tidak tertolong lagi? Bukan salah siapa-siapa. Mengapa kau malah ingin membunuhnya?"

Orang yang bertempur dengannya adalah Cin Hau-gi. Ia hanya menjengek.

"Kau pikir kau ini siapa? Mengacalah dan tahulah kedudukanmu. Berani-beraninya kau ikut campur urusanku. Baik, akan kubuat cacad juga engkau."

Liong Siau-hun berusaha melerai, namun Yu Liong-sing hanya berdiri menonton. Saat Li Sun-Hoan tiba, Liong Siau-hun langsung menemuinya dan berkata.

"Toako, tolong coba tenangkan mereka. Bwe-hoa-cat belum lagi datang, kita sudah bertengkar sendiri. Ini… ini sungguh-sungguh…"

Yu Liong-sing tertawa dingin dan berkata.

"Ini yang disebut ‘Tidak ada tentara yang lemah di bawah Jenderal yang kuat’. Aku tidak menyangka pelayan Li Sun-Hoan sekuat ini. Sungguh-sungguh berbahaya, berbahaya…"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Benar sekali. Ia cukup berbahaya. Tapi hanya jika seseorang membuatnya marah."

Ia tidak memberikan kesempatan pada Yu Liong-sing untuk menjawab. Ia menoleh pada Liong Siau-hun dan bertanya.

"Apa yang terjadi?"

Sahut Liong Siau-hun.

"Luka-luka Cin Tiong sangat parah dan ia tidak tertolong lagi. Saudara Cin…."

Potong Li Sun-Hoan cepat.

"Ia menyalahkan Bwejisiansing, bukan?"

Liong Siau-hun tertawa pahit.

"Hubungan ayah dan anak sangatlah erat. Sudah dapat diduga Saudara Cin menjadi sangat marah. Ia tidak sengaja melukai Bwe-jisiansing. Lukanya pun tidak serius."

Li Sun-Hoan hanya terkekeh, tidak merasa perlu untuk menambahkan apa-apa. Kata Liong Siau-hun.

"Tolong hentikan dia. Aku tahu, ia hanya mau mendengarkan engkau."

Li Sun-Hoan menjawab dingin.

"Mengapa aku harus menghentikan dia? Jika ia tidak melakukannya, akulah yang akan melakukannya."

Liong Siau-hun terdiam sesaat, tak tahu harus bilang apa.

Kepalan Sang Kusir bertenaga hebat.

Tiap-tiap tinjunya adalah serangan yang mematikan.

Walaupun gerakannya tidak rumit, tenaga membunuh yang melandasi pukulannya sangat mengagetkan.

Cin Hau-gi terlihat sulit bahkan untuk bernafas.

Yu Liong-sing tertawa dingin.

"Seorang pelayan dengan ilmu silat seperti ini, sungguh amat langka."

Li Sun-Hoan bertanya.

"O ya?"

Kata Yu Liong-sing lagi.

"Setiap kali ia bergerak, seakanakan ia pun telah siap juga kena pukul. Gaya kepalannya sungguh sulit dimengerti."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Itu karena ia dapat menahan serangan lawannya. Namun jika kepalannya mengenai lawan, orang itu akan mendapat kesulitan yang serius."

Sebelum Yu Liong-sing menjawab, seseorang telah datang sambil berseru.

"Sungguh anjing pelayan yang tak tahu diri. Berani menyerang orang yang setingkat di atasmu. Lihat bagaimana aku menyelesaikanmu."

Dengan kata-kata ini Tio Cing-ngo pun tiba. Baru saja ia akan ikut membantu, didengarnya Li Sun-Hoan berkata dingin.

"Jika seseorang ingin bertarung dua lawan satu dan menang karena jumlah, aku rasa aku harus melepaskan pisauku!"

Tio Cing-ngo langsung berhenti, takut maju selangkah saja. Tapi dengan marah ia berteriak.

"Kau bawa pembantu yang berani menyerang seseorang yang setingkat di atasnya. Kau tidak saja tidak mendisiplinkan dia, bahkan kau membantunya juga? Kau pikir tak ada keadilan di dunia persilatan?"

Li Sun-Hoan menjawab dengan tenang.

"Keadilan apa? Apakah bertarung dua lawan satu itu keadilan?"

Tio Cing-ngo menjawab keras.

"Kau seharusnya tahu bahwa ini bukan pertempuran. Ini adalah mendisiplinkan bawahan!"

Kata Li Sun-Hoan.

"Ia tidak perlu didisiplinkan. Tapi jika Tio-toaya ingin bertempur dengan dia, silakan. Tapi bawa Cin Hau-gi keluar medan laga, dan bertempurlah sendiri."

Kata Tio Cing-ngo.

"Ia pikir dia itu apa? Ia tidak pantas bertempur denganku."

Li Sun-Hoan menjawab lagi.

"Betul. Dia memang bukan ‘apa-apa’. Ia seorang manusia."

Ia lalu memandang Tio Cing-ngo dan bertanya.

"Jadi Tiotoaya, apakah engkau ‘apa-apa’?"

Amarah Tio Cing-ngo meluap, sehingga mukanya menjadi sangat kuning.

Dalam situasi seperti ini, bahkan Liong Siau-hun pun tak tahu harus berkata apa.

Tiba-tiba dengan suara keras, dua kepalan beradu.

Tapi ke mana perginya Cin Hau-gi?

Sepertinya ia terpelanting setelah kena pukulan, dan jatuh berdebam ke tanah.

Lagi-lagi Yu Liong-sing tertawa dingin.

"Sepertinya majikan bukan hanya tak mampu mendisiplinkan pelayannya, malah sebaliknya yang terjadi."

Lalu Cin Hau-gi berbisik ke telinga Tio Cing-ngo. Tio Cing-ngo bangkit dan menatap Sang Kusir, katanya.

"Aku tak menyayangkan kau punya ilmu silat yang hebat. Bahkan aku pun tak menyadarinya. Tak heran waktu Samko kurang siaga, kau menggunakan cara-cara licik untuk mengalahkannya."

Sang Kusir tertawa dingin.

"Kalau kalian kalah, maka pastilah pihak lain berbuat curang. Kalau aku yang kalah, kepandaiankulah yang lebih rendah. Aku cukup faham dengan ide ini. Kau tak perlu mengulang-ngulang."

Tio Cing-ngo membentak dengan marah.

"Awalnya kupikir kau adalah seorang pemberani, maka aku ingin melindungimu. Jangan buat aku marah."

Jawab Sang Kusir.

"Aku telah hidup sekian lama tanpa perlindunganmu. Kupikir, aku mulai bosan dengan hidupku, jadi kalau ada sesuatu di balik lengan bajumu, silakan gunakan dan maju saja."

Tio Cing-ngo menatapnya dengan mata berapi-api, lalu menyeringai kejam.

"Bagus sekali…"

Ia berkata "Bagus sekali"

Sekitar lima atau enam kali. Lalu didukungnya Cin Hau-gi dan pergi. Liong Siau-hun mengejarnya dan berkata.

"Jika ada kesalahpahaman, bisa kita bicarakan. Mengapa…."

Cin Hau-gi terkekeh.

"Setelah apa yang terjadi pada aku dan putraku, kau pikir masih ada waktu untuk berbicara?"

Liong Siau-hun mundur selangkah, dan menatap Cin Hau-gi dan Tio Cing-ngo yang terus pergi. Li Sun-Hoan menarik nafas dalam-dalam, lalu berkata.

"Toako, aku baru saja kembali dan sudah mengakibatkan begitu banyak permasalahan bagimu. Kalau…aku tahu…."

Liong Siau-hun tiba-tiba tertawa keras.

"Toako. Jangan pernah kau katakan itu. Sejak kapan kita kuatir akan masalah ini itu?"

Li Sun-Hoan memaksakan diri tersenyum.

"Toako, aku tahu…aku telah membuat lebih sulit bagimu…"

Kata Liong Siau-hun.

"Toako, jangan menguatirkan aku. Apapun yang kau perbuat, aku selalu ada di sampingmu."

Li Sun-Hoan hampir tak dapat menahan air mata bahagia mengalir keluar.

Liong Siau-hun memandang Sang Kusir, seakan-akan ia ingin berkata sesuatu, namun dibatalkannya.

Kemudian dia berkata kepada Li Sun-Hoan.

"Sudah hampir fajar. Sepertinya Bwe-hoa-cat tak akan muncul hari ini. Kau habis menempuh perjalanan jauh, istirahatlah sebentar di sini."

"Baiklah."

Kata Liong Siau-hun.

"Aku telah menyiapkan sebuah ruangan bagimu. Namun jika engkau ingin tinggal di bilikmu yang lama, aku akan menyuruh Lim Sian-ji pindah."

Jawab Li Sun-Hoan.

"Tidak perlu."

Sang Kusir duduk di sana, tenggelam dalam pikirannya. Setelah cukup lama, dikatupkannya giginya rapat-rapat, seolah-olah akan mengambil suatu keputusan yang sulit. Lalu katanya.

"Siauya, sepertinya aku harus pergi sekarang."

"Kau mau pergi? Kau juga mau pergi?"

Kata Sang Kusir.

"Kau adalah penyelamatku. Sebetulnya aku ingin melayani engkau seumur hidupku, tapi kini…."

Terdengar suara derap langkah kuda di tengah malam buta. Lanjutnya.

"Tio Cing-ngo telah mengetahui identitasku. Kemungkinan besar saat ini ia tengah berusaha menghubungi musuh-musuhku. Sebenarnya aku tak peduli dengan hidupku, jadi aku pun tak peduli dengan mereka. Tapi…."

"Tapi kau tidak ingin melibatkan aku?"

Kata Sang Kusir.

"Siauya, aku tahu kau tidak takut pada persoalan. Namun si tertuduh pada kasus 18 tahun yang lalu adalah aku. Aku tak ingin Siauya kena dibentakbentak orang bersama dengan aku."

Li Sun-Hoan berpikir beberapa saat, lalu berkata.

"Itu kan kecelakaan. Dalam 18 tahun terakhir ini, sudah cukup kau membayar kesalahanmu."

Sahut Sang Kusir.

"Namun mereka tidak akan peduli. Dalam dunia persilatan, hutang darah hanya dapat dibayar dengan darah!"

Ia tidak menunggu jawaban Li Sun-Hoan dan melanjutkannya.

"Lagi pula, aku ingin mencari Bwejisiansing. Setelah terluka, aku tak tahu berapa jauh ia dapat berjalan. Apa pun yang terjadi, ia datang hanya karena kita."

Li Sun-Hoan tetap duduk di situ. Setelah cukup lama, ia bertanya.

"Jadi ke manakah kau akan pergi?"

Sang Kusir menghela nafas, jawabnya.

"Sekarang, aku belum tahu. Tapi…."

Ia tiba-tiba tersenyum dan melanjutkan.

"aku tak akan pergi jauh-jauh. Waktu ada malam yang tenang, diterangi cahaya bulan, aku akan kembali untuk minum bersama Siauya."

Li Sun-Hoan bangkit dan berkata.

"Benarkah?"

"Pasti!"

Ketika mata mereka bertemu, air mata mereka meleleh.

Mereka terpaksa memandang ke arah lain.

Ketika orangorang gagah berpisah, kadang-kadang mereka cengeng daripada gadis-gadis kecil.

Ini karena mereka sungguh memperhatikan satu dengan yang lain, namun mereka tak pernah mengungkapkannya.

Li Sun-Hoan hanya berkata.

"Kalau kau memang berkeras untuk pergi, paling tidak mari kuantarkan kau sampai di luar."

Jalanan di luar sangat sepi. Bahkan suara batuk Li Sun-Hoan tidak mampu memecahkan keheningan malam. Sang Kusir tiba-tiba berhenti.

"Kita harus berpisah sekarang atau nanti. Siauya…. Kembalilah pulang."

Li Sun-Hoan masih berjalan beberapa langkah, namun akhirnya dia berhenti juga. Ia menatap kosong pada sebatang pohon di ujung jalan, lalu ia menoleh.

"Baiklah, sampai di sini saja. Jagalah dirimu baik-baik."

Sang Kusir mengangguk. Katanya.

"Siauya, jagalah dirimu baik-baik juga."

Ia tidak memandang Li Sun-Hoan lagi saat berjalan melewatinya. Setelah berjalan beberapa meter, ia berkata.

"Jika Siauya tidak punya hal penting yang harus dikerjakan, tinggallah di tempat ini. Apapun yang terjadi, Tuan Liong adalah sahabat yang baik."

Dan ditambahkannya lagi.

"Jika demikian, mungkin aku akan kembali ke sini mencari Siauya."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Mungkin aku akan tinggal di sini. Ke mana lagi aku bisa pergi?"

Ia tersenyum, tapi mengapakah ia tersenyum?

Sang Kusir mengatupkan giginya kuat-kuat dan berjalan terus.

Kini ia harus melanjutkan hidup persembunyiannya.

Ia telah bersembunyi dengan Li Sun-Hoan selama sepuluh tahun.

Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi dalam hidup ini.

Seperti mimpi yang tak pernah berakhir.

Namun selama sepuluh tahun terakhir, paling tidak ia punya Li Sun-Hoan yang menemaninya.

Sekarang ia sebatang kara.

Jika ia adalah seorang pengecut, mungkin ia tidak akan melarikan diri.

Karena ia tahu, sebenarnya bersembunyi adalah lebih menderita daripada mati.

Namun ia harus melarikan diri.

Ia melihat bahwa ada kesempatan bagi Li Sun-Hoan untuk menjalani kehidupan yang mapan.

Maka ia harus pergi.

Kalau ia pergi, Li Sun-Hoan dapat menjalani kehidupan yang damai.

Seharusnya ia merencanakan segala sesuatu sebelum pergi.

Namun saat itu, ia tidak dapat menenangkan diri untuk berpikir jernih.

Ia hanya ingin pergi ke tempat yang sangat ramai dengan orang.

Setelah berjalan sekian lama, sampailah dia di sebuah pasar sayuran.

Dalam hati, ia merasa geli.

Dalam hidup ini, ia telah mengunjungi begitu banyak tempat.

Ia pernah berada dalam puri yang indah, ataupun gubug yang reyot.

Ia pernah bertemu dengan putri-putri aristokrat, namun pernah juga singgah di tempat-tempat pelacuran kelas bawah.

Ia pernah pergi ke tempat yang sangat dingin sampai hidungnya membeku di Hek-liong-kang [sebuah sungai di bagian paling utara Cina].

Ia juga pernah ada di tempat yang sangat panas, sampai telur pun bisa digoreng di atas tanah yaitu daerah Turfan yang terletak di wilayah Sinkiang.

Ia pernah melihat matahari terbit dari puncak gunung yang tinggi.

Ia pernah menikmati matahari terbenam dari tepi pantai.

Ia pun pernah menyantap daging mentah bersama-sama suku-suku barbar di tempat yang sangat terpencil.

Namun inilah pertama kalinya ia ada di pasar sayuran.

Di pagi musim dingin, hanya pasar sayuranlah yang dipenuhi dengan begitu banyak orang.

Siapapun yang datang ke sini, tak mungkin merasa kesepian.

Ada ibu yang sedang menggendong bayinya.

Ada orang tua yang berjalan dengan tongkatnya.

Ada tukang masak yang tubuhnya penuh minyak.

Segala macam orang membawa keranjang, membeli sayur-mayur, tawar-menawar dengan para pedagang demi sepeser uang.

Tercium pula bau amis ikan, bau minyak dari macammacam gorengan, juga bau ayam dan bebek.

Tiba-tiba didengarnya seseorang berteriak dari arah depan.

"Daging…. Kami menjual daging segar…."

Tiba-tiba suara itu berhenti. Orang-orang di depan pun tiba-tiba mundur. Wajah mereka sangat pucat. Seseorang dari belakang bertanya.

"Apa yang terjadi?"

Seseorang di depan menjawab.

"Ada yang berjualan daging."

"Ada lusinan orang di sini berjualan daging. Apa anehnya?"

"Orang ini menjual daging jenis lain. Ia menjual daging manusia."

Sang Kusir mengangkat alisnya, dan menyeruak ke depan untuk melihat.

Waktu ia melihat, ia menjadi lebih terkejut daripada orang lain.

Penjual daging itu memasang papan tanda yang bunyinya, ‘Sapi Kuning, Domba Putih.

Bunuh sekarang, jual segera’.

Di belakang meja dagangan terlihat seorang wanita bertubuh tinggi kekar, bermata satu.

Di tangannya terlihat sebilah pisau daging yang besar.

Namun yang ada di atas meja adalah manusia hidup!

Pakaian orang ini telah terkoyak-koyak, dan terlihat tubuhnya yang kurus kering dan pucat.

Seluruh tubuhnya menggigil.

Si wanita mata satu ini memegang leher orang itu dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya memegang pisau daging.

Matanya penuh dengan hasrat membunuh.

Si wanita mata satu memandang sekilas pada Sang Kusir, lalu tersenyum dan berkata.

"Apakah kau datang untuk membeli daging?"

Sang Kusir melongo, dan sepertinya tidak mendengar apa-apa. Si wanita mata satu terkekeh.

"Aku sudah tahu bahwa kau hanya mau membeli daging semacam ini. Aku telah menunggumu."

Sang Kusir hanya dapat menghela nafas. Lalu ia tersenyum pahit.

"Sudah bertahun-tahun. Toaso, kau…."

Si wanita mata satu meludah ke wajah Sang Kusir, dan berkata dengan berang.

"Toaso? Siapa sudi jadi Toasomu? Kalau kau panggil aku seperti itu lagi, akan kupotong lidahmu!"

Sang Kusir diam saja. Si wanita mata satu melanjutkan.

"Kau khianati Ang Thian-kiat. Kau pasti sudah kaya raya sekarang, bukan? Lalu mengapa untuk beli daging saja ragu-ragu?"

Ia merenggut rambut orang itu dan bertanya keras.

"Mau beli atau tidak? Kalau tidak, akan kubunuh saja dia dan kujadikan makanan anjing."

Sang Kusir memandang orang itu dan terperangah.

"Bwe-jisiansing!"

Orang di atas meja itu memandang dengan tatapan kosong. Air liurnya terus keluar dan ia tidak bisa bicara. Kata Sang Kusir kemudian.

"Baik. Kubeli dia."

Sahut wanita itu.

"Jika kau membelinya, kau harus ikut aku."

Sang Kusir mengertakkan giginya, lalu berkata.

"Baik, aku akan ikut denganmu."

Wanita itu memandang dia lagi dan berkata.

"Kau pintar juga. Aku telah mencari engkau selama 17 tahun. Kau pikir aku akan membiarkanmu lolos?"

Sang Kusir menghela nafas.

"Karena kau telah menemukan aku, aku tidak berniat untuk melarikan diri."

Di kaki bukit itu, ada sebuah rumah kecil bersebelahan dengan tanah kuburan.

Di dalamnya, ada seorang yang sudah tinggal di situ bertahun-tahun lamanya.

Ia hanya duduk sambil mengamati sebuah mangkuk dengan tatapan aneh.

Di matanya tergambar kesedihan dan kemarahan, namun tidak jelas apa yang dipikirkannya.

Tanah telah membeku, tapi seakan-akan ia tidak tahu.

Setelah beberapa saat, terdengar suara dari luar.

Disambarnya kapaknya, lalu bertanya.

"Siapa?"

Dari luar, si wanita mata satu menjawab.

"Ini aku."

Orang ini menjadi gelisah dan bertanya.

"Apa betul ia ada di kota?"

Sahut si wanita mata satu.

"Informasi Si Kura-kura Tua memang tepat. Aku telah membawa dia ke sini!"

Tiba-tiba ia membalikkan badan dan berlutut. Matanya penuh dengan air mata. Ia tidak bangkit sampai cukup lama. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah lain. Si wanita mata satu bertanya.

"Siapa?"

Seseorang dari luar menjawab.

"Aku dan Lojit (Saudara Ketujuh)."

Yang satu berwajah burik dan bertubuh kekar.

Ia mengangkut sekeranjang kubis di bahunya.

Yang satu lagi kecil kurus.

Ia menjual tahu.

Mereka berdua memandang Sang Kusir dengan penuh kebencian.

Si penjual kubis menyambarnya dan berseru.

"Thi keparat, apa yang hendak kau katakan sekarang?"

Si wanita mata satu berkata.

"Lepaskan dia. Jika kau ingin bertanya, tunggu sampai semuanya hadir."

Si wajah burik mengertakkan giginya, namun akhirnya dilepaskannya juga.

Ia membungkuk tiga kali ke arah mangkuk di atas meja.

Matanya pun penuh dengan air mata.

Dalam waktu satu jam berikutnya, datang tiga orang lagi.

Yang satu menenteng kotak obat-obatan, seorang tabib.

Yang satu membawa arak, ayam, dan beberapa cawan.

Yang satu lagi adalah seorang peramal buta.

Ketika ketiga orang ini melihat Sang Kusir, mata mereka pun penuh dengan kebencian.

Tujuh orang duduk mengelilingi Sang Kusir.

Wajah mereka semua tegang.

Mereka kelihatan seperti tujuh hantu yang keluar dari neraka untuk membalas dendam.

Sementara itu, wajah Sang Kusir tampak biasa.

Ia juga diam saja.

Tiba-tiba si wanita mata satu bertanya.

"Gosuheng, tahukah kau bila Losam akan datang?"

Si penjual arak yang gemuk itu menjawab.

"Ia pasti datang. Aku telah menerima suratnya."

Tanya si wanita lagi.

"Kalau begitu, mengapa ia belum juga kelihatan?"

Si peramal buta menghela nafas, lalu berkata.

"Kita telah menungggu selama 17 tahun. Apa artinya menunggu satu dua jam lagi?"

Si wanita mata satu menggumam.

"Tujuh belas tahun, tujuh belas tahun…"

Mungkin tujuh delapan kali ia menggumam.

Setiap kali terdengar lebih pahit.

Tujuh belas tahun ini pastilah sangat berat bagi mereka.

Kepahitan yang tidak terkira memenuhi hidup mereka.

Begitu banyak darah dan air mata!

Si peramal buta itu pun berkata.

"Tujuh belas tahun terakhir ini, setiap saat aku ingin melihat dengan She Thi. Sayangnya kini…."

Lalu ia bertanya.

"Seperti apa rupanya sekarang? Losi, beri tahukan padaku."

Si tabib menjawab.

"Ia tampak sama seperti tujuh belas tahun yang lalu. Hanya saja jenggotnya makin panjang dan tubuhnya sedikit lebih gemuk."

Kata si buta.

"Bagus. Bagus. Thi keparat, tahukah kau bahwa selama tujuh belas tahun ini aku berdoa supaya engkau selalu sehat? Sepertinya Langit telah menjawab doaku."

Si wanita mata satu mengertakkan giginya dan berkata.

"Ia telah mengkhianati Ang Thian-kiat, jadi ia pasti sudah jadi kaya raya sekarang. Bagaimana ia bisa mengerti hidup kita yang sengsara?"

Ia menunjuk pada si penjual arak.

"An-lok kongcu Thio-Gosuheng sekarang menjual arak. Ih-jiko sekarang matanya buta. Kau tidak tahu, bukan?"

Sang Kusir diam saja.

Ia kuatir jika kata-kata keluar dari mulutnya, air mata pun akan menetes dari matanya.

Namun siapa yang dapat mengerti penderitaan yang telah dia lalui?

Tiba-tiba terdengar seruan dari luar.

"Toaso, aku punya kabar baik…."

Bab 11. Penyelamat dari Langit Ketika si wanita mata satu mendengar seseorang berteriak dari luar, ia segera keluar dan bertanya.

"Apa yang begitu penting sampai kau berteriak-teriak seperti oang kesurupan?"

Kata orang itu.

"Aku baru saja bertemu dengan Tio Cingngo. Katanya orang she Thi itu ada…."

Sambil berbicara, dibukanya pintu dan masuk ke dalam. Begitu sampai di dalam ia tercekat dan mematung. Orang yang hendak diceritakannya telah berada di situ. Si wanita mata satu terkekeh.

"Kau tak menyangka, bukan?"

Orang itu menghembuskan nafas panjang dan berkata.

"Kata Tio Cing-ngo, ia berada di rumah Liong Siau-hun. Tak kusangka…."

Dicekalnya tangan wanita itu, tanyanya.

"Bagaimana kau bisa menemukan dia?"

Sahutnya.

"Aku mendengar dari Si Kura-kura Tua dari Liong-sin-bio bahwa ia dan Li Sun-Hoan akan datang. Jadi kami membuntuti mereka. Awalnya aku takut pada Li Sun-Hoan, jadi aku tidak melakukan apa-apa. Siapa sangka, ia pergi meninggalkan Li Sun-Hoan?"

Orang yang terakhir datang ini mengenakan baju yang sobek-sobek.

Dari kedelapan orang di rumah itu, hanya dia yang berpakaian seperti orang dunia persilatan.

Sebatang tombak menyembul di punggungnya.

Kemudian ia pun menatap Sang Kusir dan berseru.

"Thi Toan-kah, masih ingatkah kau padaku?"

Thi Toan-kah mengangguk.

"Apa kabar…"

Orang itu memotong cepat.

"Aku baik-baik saja. Karena aku tak pernah berbuat bejad, aku tak pernah harus bersembunyi. Jadi kehidupanku lebih baik daripada kehidupanmu, bukan?"

Si wajah burik berkata.

"Samko, mengapa kau masih berbicara dengan dia? Bunuh saja dia sekarang. Bunuh dia sebagai persembahan bagi Lotoa."

Pian Go menjawab.

"Lojit, perkataanmu itu salah. Memang betul kita ada di sini untuk membunuh seseorang. Namun kita harus melakukannya dengan tata cara yang benar, sehingga tak ada seorang pun yang dapat menggugat kita."

Si buta menambahkan.

"Kita sudah menunggu selama tujuh belas tahun, menunggu sebentar saja tak akan membunuh kita."

Setelah ia mengucapkan kalimat ini dua kali, tidak ada yang membantah lagi. Si wanita mata satu bertanya.

"Lalu bagaimana kita melakukannya?"

Jawab Pian Go.

"Kita harus mengetahui keseluruhan kisahnya, dan kita pun harus mencari seorang hakim. Jika semua orang berpendapat bahwa orang she Thi ini pantas mati, maka kita akan membunuhnya."

Si wajah burik melompat, katanya.

"Kenapa banyak cingcong? Tak mungkin ada orang yang berpendapat bahwa ia tidak pantas mati."

Sahut si buta dengan dingin.

"Kalau begitu, apa salahnya kita bertanya?"

Si wajah burik mengertakkan giginya, lalu berkata.

"Siapa yang akan kau tanyai?"

Sahut Pian Go.

"Orang yang kuundang terkenal akan keadilannya. Ia juga tak ada sangkut pautnya dengan kita ‘Tionggoan-pat-gi’ (Delapan Orang Benar dari Tionggoan) ataupun dengan Thi Toan-kah."

"Katakan, siapa orang itu."

Pian Go menjawab.

"Orang yang pertama adalah Thi-binbu-su, Tio Cing-ngo. Orang ini adalah…."

Thi Toan-kah mendadak tertawa.

"Kalian tidak perlu bersusah-payah. Bunuh saja aku dan selesai sudah urusannya. Aku mengakui aku telah mengkhianati Ang Thian-kiat. Aku tidak menyesal mati hari ini."

Si wanita mata satu berkata.

"Sepertinya dia tidak suka pada Tio Cing-ngo ini."

Kata si buta.

"Tio Cing-ngo memberitahukan keberadaan orang ini pada samko. Mungkin ada persoalan di antara mereka. Bagaimana dia bisa menilai permasalahan kita dengan adil?"

Sahut Pian Go.

"Tidak apa-apa, karena aku membawa dua orang lagi selain dia. Yang satu adalah Cianpwe (tetua) Pena Cepat. Ia dianggap penulis terbaik saat ini. Dan lagi dia tidak punya hubungan apa-apa dengan dunia persilatan. Yang terakhir adalah seorang anak muda…"

Si wanita mata satu bertanya sangsi.

"Mungkinkah seorang anak muda bisa mengerti?"

Pian Go menyahut.

"Walaupun pemuda ini baru dalam dunia persilatan, kepribadiannya sangat kuat dan tergolong pria sejati. Walaupun aku baru mengenalnya dua hari, aku yakin bahwa ia benar-benar bisa dipercaya."

Si wanita mata satu itu tertawa dingin, dan berkata.

"Kau bisa tahu orang macam apa dia dalam waktu dua hari? Sepertinya kebiasaanmu dalam berteman belum berubah juga."

Lalu tambahnya.

"Kaulah juga yang dulu membawa orang she Thi ini ke sini. Katamu dia orang baik-baik. Jika dulu kita tidak menjadi sahabatnya, bagaimana mungkin Ang Thian-kiat bisa mati begitu muda?"

Pian Go menundukkan kepala dan terdiam. Namun si buta berkata.

"Apapun yang terjadi, lebih baik kalau ada beberapa saksi. Kita tidak boleh membunuh tanpa alasan."

Ia tertawa dan melanjutkan.

"Karena Samko telah membawa mereka datang, biarkanlah mereka masuk ke dalam."

Thi Toan-kah bersumpah takkan membuka matanya lagi.

Ia sungguh tidak ingin melihat tampang Tio Cing-ngo lagi.

Ia juga bersumpah tak akan mengatakan satu perkataan pun.

Lalu didengarnya langkah kaki.

Dua orang masuk ke dalam rumah itu.

Langkah orang yang pertama terdengar berat, menunjukkan tenaga dalamnya yang tinggi.

‘Lan-kunpak-tui (Kepalan Selatan Kaki Utara)’.

Tio Cing-ngo berasal dari utara, maka sebagian besar ilmu silatnya berada pada kakinya.

Orang yang kedua bernafas dengan berat, menunjukkan bahwa jika ia tahu ilmu silat pun, ilmunya tidak tinggi.

Ia tidak mendengar adanya langkah orang yang ketiga.

Mungkinkah langkah orang yang ketiga tidak terdengar sama sekali?

Si buta bangkit dan berkata.

"Akibat kemalangan yang menimpa beberapa saudara kami di masa lalu, hari ini kami harus mengundang kalian bertiga datang ke sini, dan menunggu lewatnya badai salju. Aku sungguh minta maaf."

Suaranya datar.

Perkataannya tidak cepat, tidak pula lambat.

Tidak ada seorang pun yang tahu apakah ia sedang bersungguh-sungguh atau berpura-pura.

Terdengar Tio Cing-ngo berkata dengan suaranya yang menggelegar.

"Untuk membawa keadilan dalam dunia persilatan, mati sekalipun aku rela. Ih-jisiansing tak perlu sungkan."

Pembicaraan orang ini seharusnya terdengar berbobot dan tulus. Namun Thi Toan-kah malah ingin muntah setelah mendengarnya. Terdengar suara lain berbicara dengan tenang dan tajam.

"Aku hanya seorang penulis. Tapi aku sering mendengar kisah-kisah kepahlawanan dalam dunia persilatan. Aku bangga kalian di sini menganggap aku cukup berharga untuk menjadi seorang hakim."

Kata si buta.

"Aku berharap kau dapat menuliskan cerita ini selengkapnya, supaya jika di kemudian hari ada orang yang mengungkitnya, mereka akan tahu bahwa keputusan kita hari ini adalah benar."

Penulis tua itu berkata.

"Pasti. Setelah aku kembali, akan kutuliskan seluruh kebenarannya. Waktu Tuan Pian mengajak aku datang, itupun sudah terpikir olehku."

Thi Toan-kah akhirnya mengerti mengapa Pian Go mengajak orang ini datang. Timbul rasa hormatnya karena ketelitian Pian Go yang begitu rupa. Si wanita mata satu berkata.

"Tapi siapakah Tuan ini? Sudikah engkau memperkenalkan namamu pada kami?"

Pertanyaan ini tertuju pada orang yang ketiga. Orang ini tidak menjawab. Pian Go menjawab.

"Temanku ini tidak suka diketahui namanya."

Si buta berkata dingin.

"Namanya tidak ada sangkutpautnya dengan masalah ini. Kalau dia tidak mau mengatakan, kita pun tak perlu bertanya. Namun dia harus tahu nama kita."

Pian Go segera berkata.

"Kami adalah delapan bersaudara yang dijuluki ‘Tionggoan-pat-gi’ oleh orangorang kalangan persilatan. Namun mereka terlalu berlebihan."

Si buta memotong cepat.

"Mereka tidak berlebihan. Walaupun ilmu silat dan wajah kami tidak menonjol, kami melakukan segala sesuatu dengan mengutamakan kebenaran."

Kata Tio Cing-ngo.

"Siapa yang tidak kenal ‘Tionggoanpat-gi’?"

Si buta tidak menggubris, lanjutnya.

"Aku adalah Ih Beng-oh. Dulu aku dijuluki ‘Sin-bok-ji-tian (Si Mata Cepat Halilintar)’. Sekarang…."

Disambungnya sambil tersenyum.

"julukanku adalah ‘Yu-gan-bu-cu (bermata tapi tak bisa melihat)’."

Lalu si tabib berkata.

"Kurasa kalian sudah mengenal Samte ‘Po-ma-sin-jian (Si Kuda Cepat Tombak Hebat’)’ Pian Go. Dan aku adalah Losi. Cayhe Kim Hong-pek."

Si penulis berkata.

"Dari logatmu, sepertinya kau dari Lam-yang-hu (Nan Yang)."

"Benar."

Si penulis berkata lagi.

"Ada sebuah toko obat yang terkenal milik keluarga Kim di Lam-yang-hu. Aku pun pernah membeli obat dari sana satu kali. Apakah kau…."

Kim Hong-pek tertawa dan menyahut.

"Apa istimewanya? Bahkan Juragan muda Ban-seng-wan pun sekarang berjualan ceker ayam."

Penulis tua itu bertanya.

"Yang manakah dia?"

Penjual arak itu menjawab.

"Sudah jelas aku." [Ceker ayam adalah masakan yang biasanya disantap sambil minum arak, sehingga beberapa penjual arak pun menjual ceker ayam] "Cayhe Thio Seng-hun,"

Kata si penjual arak pula.

"si tukang kayu adalah Lakte (adik Keenam) kami, meski kapaknya sekarang cuma digunakan untuk memotong kayu, tapi dahulu terkenal sebagai Lip-pi-hoa-san (sekali tabas membelah gunung Hoa) ...."

"Dan aku Lojit (ketujuh), Cayhe Kongsun Uh, aku bernama Uh (hujan), sebab lubang burik pada mukaku mirip tetesan hujan,"

Demikian si bopeng juga berucap. Si penjual sayur kemudian berkata.

"Dan aku Lopat (kedelapan), Cayhe Sebun Liat."

Penulis itu bertanya.

"Di manakah Lotoa kalian?"

Jawab Kongsun Uh.

"Lotoa kami, Ang Thian-kiat, telah terbunuh. Ini adalah jandanya…."

"Cayhe tidak sedap didengar, Li-tu-hou (si wanita jagal) Ang-toanio,"

Tukas si perempuan bermata satu.

"kuharap kau ingat baik-baik Cayhe."

Penulis itu tersenyum.

"Walaupun aku sudah tua, ingatanku masih cukup baik."

Ang-toanio berkata.

"Kami ingin kau mengingat nama kami bukan supaya kami terkenal, namun agar kisah sedih kami didengar oleh banyak orang. Dengan cara ini, orang-orang dunia persilatan akan tahu kebenarannya."

Kongsun Uh menambahkan.

"Orang ini bernama Thi Toan-kah. Ia adalah pembunuh Lotoa kami!"

Kim Hong-pek berkata.

"Kami saudara berdelapan, sangat dekat hubungannya. Walaupun kami punya pekerjaan masing-masing, kami berdelapan selalu berkumpul untuk merayakan tahun baru di rumah Lotoa."

Thio Seng-hun menambahkan.

"Kami berdelapan sangat berbahagia, sehingga kami tidak pernah berusaha mencari teman yang lain. Namun pada tahun itu, Samko datang membawa seseorang ke pertemuan tahunan kami. Katanya, orang itu adalah sahabatnya."

Kongsun Uh memotong dengan nada getir.

"Orang itu adalah keparat yang tak tahu terima kasih, yang menjual sahabatnya demi uang, Thi Toan-kah."

Kim Hong-pek lalu berkata.

"Lotoa adalah seseorang yang tidak takut mati. Waktu ia melihat bahwa Thi Toan

KANG ZUSI at

http.//cerita-silat.co.cc/ kah bersikap seperti seorang pria sejati, ia dengan tidak ragu-ragu memperlakukan Thi Toan-kah sebagai sahabat juga. Siapa sangka, ia bukan manusia, tapi seekor anjing!"

Thio Seng-hun menyambung ceritanya.

"Setelah perayaan tahun baru, kami pun pergi, namun Lotoa menahannya untuk tinggal satu dua bulan lagi. Saat itulah ia diam-diam menghubungi musuh-musuh Lotoa. Mereka menyerang di malam hari dan membunuh Lotoa. Walaupun istrinya tidak mati, ia terkena luka yang serius."

Ang-toanio berteriak.

"Lihat bekas luka di wajahku ini! Luka ini hampir saja membelah wajahku menjadi dua. Jika mereka tahu aku belum mati, aku tak akan bisa lolos."

Kongsun Uh berkata.

"Hari itu, semua orang di rumah itu mati, sehingga tidak seorang pun tahu siapa pelakunya."

Kim Hong-pek berkata.

"Waktu kami tahu, kami meninggalkan segala sesuatu dan bersumpah untuk membalas dendam. Untunglah, Langit masih punya mata…."

Ang-toanio mengakhiri.

"Kami sudah menceritakan kisah kami. Katakanlah sekarang, apakah orang ini pantas mati atau tidak."

Tio Cing-ngo langsung menjawab.

"Jika ceritamu benar, maka disayat menjadi seribu bagian pun belum cukup untuk membayar kesalahannya."

Kongsun Uh melompat bangkit dan berkata dengan marah.

"Tiap kata adalah kebenaran. Jika kalian tidak percaya pada kami, tanyakanlah sendiri padanya!"

Thi Toan-kah berkata sambil mengatupkan giginya.

"Aku sudah bilang dari dulu. Aku malu akan perbuatanku. Aku bersedia mati."

Kongsun Uh berseru.

"Dengar! Dia sendiri mengakuinya!"

Penulis itu berkata.

"Ia sangat licik dan kejam."

Ang-toanio berkata.

"Kalau begitu, kalian bertiga yakin bahwa dia pantas mati, bukan?"

Penulis itu menjawab dengan yakin.

"Ya!"

Tio Cing-ngo berkata.

"Jangan hanya bunuh dia, potongpotong dia jadi seribu bagian, supaya keadilan dalam dunia persilatan sungguh-sungguh ditegakkan."

Lalu terdengar suara lain.

"Kau terus-menerus mengatakan ‘dunia persilatan’. Apakah kau mewakili dunia persilatan?"

Suara itu tajam dan menusuk.

Seperti pedang, dingin dan cepat.

Ini pertama kalinya ia berbicara dalam ruangan itu.

Ini pasti si orang ketiga dapat berjalan tanpa suara itu.

Hati Thi Toan-kah berdegup kencang.

Ia merasa kenal dengan suara ini.

Ia terpaksa membuka matanya, dan terlihat olehnya bahwa orang yang duduk di sebelah Tio Cing-ngo adalah si anak muda kesepian, A Fei!

Fei-siauya (tuan Fei)?

Mengapa kau ada di sini?

Pertanyaan itu hampir saja terucap dari bibir Thi Toankah, namun diurungkannya.

Perangai Tio Cing-ngo langsung berubah.

"Maksudmu, dia tidak pantas mati?"

A Fei menjawab dingin.

"Kalau aku merasa dia tidak pantas mati, apakah akan kaubunuh aku juga?"

Kata Ih Beng-oh.

"Kami membawa kalian ke sini untuk keadilan. Jika kau mempunyai alasan yang kuat untuk melepaskannya, akan kami lakukan dengan segera."

Tio Cing-ngo berkata.

"Kurasa ia hanya mau membuat masalah. Mengapa harus berdebat dengan dia?"

A Fei memandangnya. Lalu ia berkata dengan tenang.

"Kau bilang ia mengkhianati sahabatnya demi harta, tapi bukankah kau juga sama saja? Hari itu di rumah Tuan Ang, bukankah kau pun salah satu yang menyerang dia? Hanya saja Ang-toanio tidak melihatmu!"

Delapan bersaudara itu nampak sangat terkejut, tanya mereka.

"Apakah benar begitu?"

Kata A Fei.

"Ia ingin membunuh orang itu untuk membungkam mulutnya."

Tio Cing-ngo awalnya tetap tenang, namun kini ia mulai gemetar.

"Kau…."

Dengan sangat marah ia mulai menyerukan segala macam sumpah serapah. Baru belakangan dia menyadari kata-kata kotor itu tidak bermanfaat sama sekali. Lalu ia tersenyum dingin dan berkata.

"Tak disangka anak muda macam kau bisa berbohong tanpa berkedip. Tapi itu kan hanya perkataanmu saja. Tidak ada yang mau percaya!"

Kata A Fei.

"O ya? Lalu mengapa kita percaya kata-kata mereka?"

Tio Cing-ngo berkata.

"She Thi sudah mengakui perbuatannya. Tidakkah kau dengar?"

Sahut A Fei.

"Aku dengar."

Sebelum perkataannya, ujung pedangnya telah berada di depan leher Tio Cing-ngo.

Tio Cing-ngo telah bertempur ratusan kali.

Tidak mudah untuk menyerangnya tanpa ketahuan.

Namun entah bagaimana, ia bahkan tidak melihat kapan anak muda itu menarik keluar pedangnya!

Ia hanya melihat suatu bayangan samar, dan detik selanjutnya, pedang itu telah mengancam lehernya.

Ia langsung mematung, lalu katanya.

"A…Apa maumu?"

Sahut A Fei.

"Aku hanya ingin tanya. Hari itu di rumah Tuan Ang, apakah kau ada di sana?"

Tio Cing-ngo berteriak marah.

"Apakah kau sudah gila?"

A Fei menyahut dengan tenang.

"Jika kau tak mengaku, aku harus membunuhmu."

Ia mengatakan kalimat itu dengan nada datar, seolaholah sedang bercanda. Keringat mulai membasahi muka Tio Cing-ngo.

"A…Aku…."

Kata A Fei.

"Lebih baik kau menjawab dengan benar. Berdoalah agar jawabanmu tidak salah."

Semua orang di situ telah melihat pedang A Fei yang terselip di pinggang. Mereka semua berpikir pedang itu lucu sekali. Namun sekarang, tidak seorang pun berpikir demikian. A Fei terus berbicara.

"Ini adalah terakhir kalinya aku akan bertanya. Aku tak akan mengulangi lagi. Apakah kau membunuh Ang Thian-kiat?"

Tio Cing-ngo tak tahu harus menjawab apa dan akhirnya berkata.

"Ya…."

Waktu ia menjawab demikian, kedelapan bersaudara itu terperangah, tak percaya pendengaran mereka. A Fei lalu tersenyum dan berkata.

"Jangan kuatir. Dia tak ada sangkut-pautnya dengan kematian Ang Thian-kiat."

Kini delapan bersaudara itu bengong memandang A Fei. A Fei melanjutkan.

"Aku hanya ingin menyampaikan satu hal. Jika seseorang mengakui kesalahannya dibawah tekanan, itu tidak dapat dijadikan bukti!"

Namun delapan bersaudara itu bertanya.

"Kapan kami menekan dia?"

"Kau pikir kami memukulinya sampai dia mengaku?"

"Jikalau demikian, mengapa ia tidak berkata apa-apa?"

Tiba-tiba Ih Beng-oh berkata.

"Thi Toan-kah, jika kau merasa diperlakukan tidak baik, katakanlah sekarang."

Thi Toan-kah hanya mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Wajahnya penuh dengan kepedihan. Kata Ang-toanio.

"Karena kau tak bilang apa-apa, berarti kau telah mengakuinya. Kami tidak pernah mengancammu dengan pedang di lehermu."

Thi Toan-kah berkata.

"Fei-siauya (tuan Fei), aku tidak bisa bilang apa-apa. Maafkan aku. Kebaikan hatimu tersia-sia begitu saja."

Sahut A Fei,"Apapun yang dia katakan, aku tidak percaya kalau dia orang semacam itu."

Kata Kongsun Uh.

"Lihatlah fakta-faktanya. Kau tidak bisa mendebatnya."

Ang-toanio tertawa dingin.

"Siapa yang peduli apakah dia percaya atau tidak. Mengapa kita harus mempedulikan dia?"

Kim Hong-pek pun angkat suara.

"Betul. Masalah ini tak ada sangkut-pautnya dengan dia."

Ang-toanio berseru dengan kasar.

"Kau pikir kau ini siapa? Mencampuri urusan kami."

Si tabib juga berkata.

"Bagaimana kalau kulukai dia? Apa yang akan kau perbuat?"

Si tabib paling jarang berbicara.

Namun paling cepat bergerak.

Sebelum selesai bertanya, kapaknya telah memotong dengan gerakannya yang paling terkenal, ‘Lippi-hoa-san (Membelah Gunung Huo’.

Thi Toan-kah duduk diam, menunggu kapak itu membelahnya menjadi dua.

Penulis itu tercekat, disangkanya darah akan muncrat keluar.

Tak disangka, pada saat yang tepat, sebilah pedang berkilat dan memotong kapak itu menjadi dua!

Sepotong jatuh di depan Thi Toan-kah.

Delapan bersaudara itu menyaksikan rentetan kejadian itu dan tak seorang pun mempercayai penglihatan mereka.

Sebelum ada yang sempat bicara, pedang A Fei telah sampai ke depan leher si tabib.

Waktu A Fei menyerang Tio Cing-ngo, mereka tidak menganggapnya sungguh-sungguh.

Namun saat ini, semuanya terlihat sangat terkejut dan ketakutan.

Mereka tidak bisa percaya ada pedang dengan kecepatan seperti itu!

Namun A Fei sendiri bersikap biasa saja.

Dibantunya Thi Toan-kah bangkit, lalu katanya.

"Mari kita minum arak."

Kongsun Uh, Kim Hong-pek dan Pian Go segera menghalangi jalan mereka. Kata Kim Hong-pek.

"Kau hendak pergi sekarang? Tidak semudah itu."

A Fei menyahut dengan tenang.

"Apa yang kau ingin aku lakukan? Membunuhmu?"

Tiba-tiba Ih Beng-oh mendesah.

"Biarkanlah mereka pergi."

Kata Ang-toanio berang.

"Bagaimana kita membiarkan dia pergi? Semua usaha kita sia-sia…"

Ih Beng-oh melanjutkan.

"Kau boleh pergi. Ini adalah cara dunia persilatan. Siapa yang memiliki pedang tercepat, dialah yang benar."

Sahut A Fei.

"Terima kasih untuk pengarahanmu. Aku tak akan pernah lupa."

Ang-toanio kini tersedu-sedu.

"Bagaimana bisa kau lepaskan dia… Bagaimana bisa kau lepaskan dia!"

Wajah Ih Beng-oh membatu.

"Apa yang kau inginkan? Kau ingin dia membunuh kita semua?"

Kata Pian Go.

"Jisuheng memang benar. Selama kita masih hidup, kita dapat membalas dendam di kemudian hari."

Tiba-tiba Ang-toanio melompat dan merenggut bajunya.

"Kau masih punya nyali untuk berbicara? Ini satu lagi ‘kawanmu’. Ini sudah kali kedua…."

Kata Pian Go.

"Kau benar. Akulah yang membawanya. Aku akan bertanggung jawab."

Sambil mengatakan ini, ia keluar dari ruangan. Nyonya tercekat, lalu berteriak.

"Samko, kembalilah!"

Segera ia mengejar keluar, namun Pian Go sudah tidak terlihat lagi. Ih Beng-oh mendesah dan berkata.

"Biarkanlah dia pergi. Kuharap ia dapat bertemu dengan temannya."

Mata Kim Hong-pek berbinar.

"Maksudmu…"

Sahut Ih Beng-oh.

"Jika kau sudah tahu siapa yang kumaksud, mengapa bertanya lagi?"

Kata Kim Hong-pek.

"Jika Samko benar-benar dapat menemukan dia, bagaimana pun cepatnya pedang anak muda ini, ia tidak akan mungkin lolos."

Tio Cing-ngo tiba-tiba tertawa.

"Sebenarnya Tuan Pian tidak perlu mencari orang itu."

"O ya?"

Sahut Tio Cing-ngo.

"Dalam dua hari ini, tiga orang akan datang ke sini. Walaupun anak muda itu punya tiga kepala Tan Oknam tangan, aku jamin ketiga kepalanya akan copot seketika!"

Tanya Kim Hong-pek.

"Siapa ketiga orang itu?"

Kata Tio Cing-ngo.

"Jika kusebutkan nama mereka, mungkin kau pun akan mati berdiri."

Bab 12.

Keduanya adalah Orang-orang yang Patah Hati Walaupun hari masih siang, langit mendung bagaikan magrib.

A Fei berjalan tenang, sama seperti waktu pertama kali Thi Toan-kah melihat dia berjalan.

Masih begitu kesepian, begitu lelah.

Namun sekarang Thi Toan-kah tahu.

Begitu ada bahaya, anak muda ini akan langsung waspada.

Berjalan berdampingan dengannya, sebenarnya Thi Toan-kah ingin membicarakan begitu banyak hal, namun ia tidak tahu harus mulai dari mana.

Li Sun-Hoan tidak pernah bicara banyak.

Dan setelah bersama-sama dengan Li Sun-Hoan selama bertahun-tahun, ia tahu bagaimana menggunakan keheningan untuk menggantikan katakata.

Hanya dua kata yang diucapkannya.

"Terima kasih."

Namun segera disadarinya bahwa dua kata ini pun tidak perlu diucapkan.

Karena A Fei sama dengan Li Sun-Hoan.

Seseorang tidak perlu mengatakan ‘terima kasih’ di hadapan mereka.

Ada sebuah paviliun di sana.

A Fei berjalan menuju ke sana, dan tiba-tiba ia bertanya.

"Mengapa kau tak mengatakan yang sesungguhnya pada mereka?"

Thi Toan-kah berpikir cukup lama, lalu mendesah.

"Ada beberapa hal yang tidak ingin kuucapkan. Lebih baik mati daripada mengucapkannya."

Kata A Fei.

"Kau memang sahabat yang baik, namun kau salah akan satu hal."

"Apa itu?"

Sahut A Fei.

"Kau pikir karena nyawamu adalah milikmu, kau berhak untuk mati."

"Salahkah itu?"

Jawab A Fei.

"Salah sekali."

Tiba-tiba ia menoleh dan menatap Thi Toan-kah. Lalu katanya.

"Seseorang dilahirkan, bukan untuk mati."

Kata Thi Toan-kah.

"Kau benar. Tapi kalau bukan karena situasi yang tak ada jalan keluarnya…."

A Fei berkata lagi.

"Sekalipun kau harus mati, kau tetap harus mengerahkan segala daya upaya untuk tetap hidup."

Ia terus menatap Thi Toan-kah. Katanya dengan tajam.

"Tuhan telah memberi engkau begitu banyak. Apa yang telah kau perbuat bagiNya?"

"Tidak ada."

"Untuk membesarkanmu, ayah dan ibumu telah berkorban begitu banyak. Apa yang telah kau perbuat bagi mereka?"

Thi Toan-kah hanya dapt menundukkan kepalanya. Kata A Fei.

"Kau tahu bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dibicarakan. Jika kau mengatakannya, berarti kau mengkhianati sahabatmu. Namun jika kau mati begitu saja, apakah kau tidak mengkhianati ayah ibumu, mengkhianati Tuhan?"

Thi Toan-kah menengadah ke langit, lalu berkata.

"Aku salah…. Aku salah…."

Sepertinya ia telah mengambil suatu keputusan besar.

"Aku tak mau mengatakannya karena…."

A Fei memotong cepat.

"Aku percaya padamu. Kau tak perlu memberi penjelasan."

Thi Toan-kah tidak tahan untuk tidak bertanya.

"Bagaimana kau bisa yakin bahwa aku tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan?"

Jawab A Fei.

"Aku hanya mengetahuinya."

Matanya sungguh terang, penuh dengan rasa percaya diri. Lalu ia melanjutkan.

"Mungkin karena aku tumbuh di alam bebas. Seperti binatang buas, aku punya naluri membedakan yang baik dan yang jahat." *** Dalam benak Li Sun-Hoan, ada yang lebih menyebalkan daripada tidak bisa minum arak, yaitu minum arak dengan orang-orang yang menyebalkan. Ia merasa bahwa semua orang yang ada di situ sangat menyebalkan. Bayangkan, Yu Liong-sing adalah yang terbaik dari sekumpulan orang itu. Setidaknya ia tidak bukan penjilat. Maka dia pura-pura sakit. Liong Siau-hun tahu sifat Li Sun-Hoan, sehingga ia diam saja. Oleh sebab itu, Li Sun-Hoan berbaring saja dalam kamarnya menunggu datangnya malam. Ia tahu, malam ini akan terjadi sesuatu yang menarik. Waktu ia terpikir akan kencannya dengan Lim Sian-ji nanti malam, matanya bercahaya. Namun waktu ia terpikir akan Thi Toan-kah, wajahnya kembali murung. Akhirnya, hari mulai gelap. Li Sun-Hoan bangkit. Namun ia mendengar langkah ringan di atas salju di luar, jadi ia kembali berbaring. Langkah itu berhenti di depan jendela. Li Sun-Hoan hanya menunggu dengan diam. Ia tidak bertanya siapa yang datang. Orang itu tampaknya raguragu untuk masuk, jadi tidak mungkin Liong Siau-hun. Liong Siau-hun tak mungkin menunggu di depan pintu. Jadi siapakah orang ini? Si-im? Seluruh darah dalam tubuhnya bergejolak. Tubuhnya sampai menggigil. Kemudian orang di luar terbatuk kecil.

"Apakah Li-heng sedang tidur?"

Ini adalah suara Yu Liong-sing.

Li Sun-Hoan menghela nafas lega.

Ia tidak tahu apakah ia harus sedih atau gembira.

Yu Liong-sing masuk dan duduk.

Matanya tidak pernah memandang ke arah Li Sun-Hoan.

Li Sun-Hoan menyalakan lilin, dan baru ia sadari bahwa wajah pemuda ini sangat pucat.

Li Sun-Hoan bertanya sambil tersenyum.

"Kau ingin minum teh, atau arak?"

Yu Liong-sing menjawab pendek.

"Arak."

Li Sun-Hoan masih tersenyum.

"Bagus. Aku memang tidak punya teh."

Yu Liong-sing minum tiga cawan dalam sekejap. Lalu ia bertanya.

"Tahukah kau mengapa aku minum arak?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Sepertinya kau tidak sedang bersedih. Jadi mungkin untuk menambah semangat?"

Yu Liong-sing kini menatap Li Sun-Hoan. Tiba-tiba tawanya meledak. Saat itulah, dihunusnya pedang dari pinggangnya. Tiba-tiba pula tawanya berhenti. Lalu ia bertanya.

"Kenalkah kau dengan pedang ini?"

Li Sun-Hoan menyentuh sedikit sisi pedang itu, katanya.

"Pedang yang luar bisasa."

Mata Yu Liong-sing berbinar.

"Li-heng adalah ahli tentang pedang. Aku yakin kau pasti tahu bahwa pedang ini adalah salah satu pedang paling terkemuka di dunia."

Ia melihat pada pedang itu dan menyambung.

"Ini adalah ‘Toat-ceng-kiam (Pedang Perenggut Cinta’)’ yang dipakai oleh Tik Bu-cu 300 tahun yang lalu. Aku yakin Liheng tahu latar belakang kisahnya, bukan?"

"Ceritakan saja."

"Tik Bu-cu cinta setengah mati pada pedangnya, sehingga ia tidak pernah jatuh cinta pada seorang wanita sampai ia setengah umur. Mereka lalu berencana untuk menikah. Namun beberapa hari sebelum pernikahan, ia baru tahu bahwa tunangannya dan sahabat karibnya Si Dewa Golok, Pang Ging, diam-diam berkencan. Dalam kemarahannya, ia membunuh Pang Ging dengan pedang ini. Dan pedang ini pun menjadi teman hidupnya dan dia tidak pernah lagi berpikir untuk menikah."

Ia memandang Li Sun-Hoan.

"Kau mungkin berpikir bahwa cerita ini sederhana dan membosankan. Namun ini adalah kisah nyata."

Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata.

"Aku hanya berpikir bahwa Tik Bu-cu, walaupun dia adalah jago pedang yang hebat, pikirannya agak sempit. Mengapa seorang pria sejati mengorbankan persahabatan demi seorang wanita?"

Yu Liong-sing pun tersenyum, katanya.

"Tetapi menurutku, ia adalah pria sejati. Hanya pria sejati yang dapat mencintai begitu dalam."

Li Sun-Hoan terkekeh.

"Jadi kau ingin mengikuti jejak Tik Bu-cu 300 tahun yang lalu. Betul kan?"

Yu Liong-sing menatap Li Sun-Hoan dengan pandangan sedingin es, dan berkata dingin.

"Itu tergantung apakah Li-heng akan mengikuti jejak Si Dewa Golok Pang Ging 300 tahun yang lalu atau tidak!"

Li Sun-Hoan mengeluh.

"Kau tahu, malam ini bulan sangat indah. Mengapa kau merusak suasana yang begitu damai dengan kata-kata seperti itu?"

Kata Yu Liong-sing.

"Jadi kau masih akan pergi ke sana malam ini?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Jika aku membiarkan seorang gadis seperti Nona Lim menikmati keindahan bulan sendirian, aku merasa seperti seorang penjahat."

Wajah Yu Liong-sing yang pucat menjadi merah padam. Kemarahannya tergambar dengan jelas. Pedang itu berbalik, terarah pada samping leher Li Sun-Hoan. Namun Li Sun-Hoan masih tersenyum.

"Dengan ilmu pedangmu, kau masih belum bisa menandingi Tik Bu-cu."

Yu Liong-sing berseru dengan marah.

"Aku tidak perlu mengerahkan seluruh kemampuanku untuk membunuhmu!"

Saat mengucapkan kalimat itu, Yu Liong-sing telah menyerang sepuluh langkah.

Terdengar suara pedang membelah angin, cepat dan keras.

Cawan arak di meja hancur berantakan oleh angin pedang itu.

Arak tumpah membasahi lantai.

Walaupun gerakan pedangnya makin lama makin cepat, Li Sun-Hoan tidak tampak bergerak.

Seolah-olah tak ada yang terjadi.

Semua serangannya mengenai tempat kosong.

Yu Liong-sing mengertakkan giginya.

Serangannya menjadi semakin tajam.

Ia melihat tangan Li Sun-Hoan masih kosong.

Setiap serangan pedangnya dibuat untuk menghalangi Li Sun-Hoan menggunakan pisaunya.

Namun Li Sun-Hoan memang tidak bermaksud menggunakan pisaunya.

Ia hanya menantikan berakhirnya serangan ini.

Tiba-tiba ia tersenyum, katanya.

"Untuk seorang pemuda seusiamu, ilmu pedangmu sungguh hebat. Namun untuk seorang pemuda yang memiliki seorang ayah seperti ayahmu dan guru seperti gurumu, jika engkau berkelana, habislah sudah reputasi mereka."

Sungguh luar biasa, ia masih dapat berbicara dengan santai dibawah serangan setajam itu.

Yu Liong-sing menjadi semakin marah dan tidak sabar.

Namun entah bagaimana, serangannya selalu luput, tidak mengoyakkan sedikit pun baju Li Sun-Hoan.

Ketika ia menyerang leher Li Sun-Hoan, Li Sun-Hoan berkelit ke kiri.

Ketika dipindahkan serangannya ke kiri, seakan-akan Li Sun-Hoan tidak jadi berkelit.

Jadi walaupun serangannya sangatlah mematikan, Li Sun-Hoan sama sekali tidak terpengaruh.

Yu Liong-sing kembali mengertakkan giginya.

Serangan berikutnya terarah ke dada Li Sun-Hoan.

Pikirnya.

"Sekarang, apapun yang terjadi, aku takkan tertipu lagi."

Setelah tertipu beberapa kali, kali ini ia bertekad tidak akan mengubah arah serangannya.

Dilihatnya bahu kiri Li Sun-Hoan bergerak sedikit, tubuhnya meliuk ke kanan.

Kali ini, ia benar-benar bergerak!

Pedang Yu Liong-sing luput lagi.

Kemudian Li Sun-Hoan menjentikkan jarinya di pinggir pedang itu.

Yu Liong-sing merasakan getaran yang sangat kuat.

Tubuhnya tiba-tiba seolah-olah lumpuh, pedangnya tak terkendali dan terlempar ke luar jendela menuju ke arah hutan.

Li Sun-Hoan tetap berdiri di situ.

Bahkan kakinya tak bergeser sejengkalpun.

Yu Liong-sing merasa seluruh darahnya naik ke kepala, lalu serentak turun ke kakinya.

Tubuhnya terasa dingin.

Li Sun-Hoan menepuk pundaknya, dengan tersenyum ia berkata.

"Pedangmu sangat berharga. Pergi dan ambillah."

Yu Liong-sing menghentakkan kakinya, lalu berbalik dan segera pergi. Namun tiba-tiba saja ia berhenti. Katanya.

"Kalau…. Kalau kau punya nyali, tunggulah satu tahun lagi. Tahun depan aku akan mencarimu untuk membalas dendam."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Satu tahun? Kelihatannya satu tahun masih kurang."

Lalu ia menambahkan.

"Kau punya potensi yang baik. Ilmu pedangmu pun cukup baik. Permasalahannya adalah emosimu. Kau tidak sabar dan sombong. Jadi, ketika kau bertemu dengan lawan yang lebih kuat, kau langsung hancur. Sebenarnya, jika hari ini kau lebih sabar sedikit, kau bisa melukai aku."

Mata Yu Liong-sing langsung bersinar, namun Li Sun-Hoan meneruskan.

"Tapi kesabaran itu lebih mudah diucapkan daripada dijalankan. Jadi, kalau kau ingin mengalahkan aku, kau perlu setidaknya tujuh tahun!"

Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata lagi.

"Pergilah. Dan berlatihlah baik-baik tujuh tahun, baru kembali untuk membalas dendam. Tujuh tahun bukanlah waktu yang lama."

Malam kembali tenang. Li Sun-Hoan memandang langit malam melalui jendela kamarnya. Ia berdiri di sana cukup lama. Lalu ia menggumam sambil memandang ke malam kelam.

"Anak muda, janganlah kau membenci aku. Sebetulnya, aku ingin menyelamatkanmu. Jika kau terus bersama dengan Lim Sian-ji, ia akan menghancurkan hidupmu."

Li Sun-Hoan tahu Lim Sian-ji sedang menantikan dia dan telah mempersiapkan tipu daya yang lain.

Ia penasaran akan apa yang sedang direncanakan oleh wanita itu.

Waktu Yu Liong-sing pergi, ia bukan lagi anak muda yang sombong, yang angkuh.

Ia berkata pada Li Sun-Hoan.

"Jika kau betul-betul menyukai Lim Sian-ji, kau akan menyesal. Ia adalah milikku. Kami telah…. telah…. Mengapa kau mau memakai sepatu bekasku?"

Namun saat itu Li Sun-Hoan hanya tersenyum dan menjawab.

"Sepatu bekas selalu lebih nyaman daripada sepatu baru."

Ketika ia membayangkan wajah Yu Liong-sing saat meninggalkannya, ia merasa kasihan, namun ia juga merasa geli.

Apakah Lim Sian-ji betul-betul wanita semacam itu?

Ia melangkah keluar pintu, dan dilihatnya sekelebat cahaya dari dalam hutan.

Dua pelayan datang mendekat.

Mereka membawa sepasang lentera dan berbisik-bisik satu dengan yang lain, lalu tertawa tertahan.

Ketika mereka melihat Li Sun-Hoan, mereka langsung terdiam.

Kini Li Sun-Hoanlah yang terkekeh, katanya.

"Apakah Nona Lim menyuruh kalian untuk memanggilku?"

Pelayan yang di sebelah kiri, yang tampak lebih tua dan lebih jangkung menjawab.

"Sebetulnya, Nyonya kamilah yang ingin bertemu dengan Li-tayhiap."

Li Sun-Hoan terperangah.

"Nyonya?"

Ia bertanya dengan gelisah.

"Nyonya yang mana?"

Pelayan yang lebih muda mengikik.

"Hanya ada satu Nyonya dalam rumah ini."

Tubuh Li Sun-Hoan masih di sana, namun pikirannya telah melayang ke luar hutan pohon Bwe itu.

Ke pondok kecil itu….

Sepuluh tahun yang lalu, ia selalu berkunjung ke sana.

Ia ingat, yang ada di meja selalu hanya makanan-makanan kesukaannya.

Li Sun-Hoan berjalan tergesa-gesa.

Kini ia berada di pondok kecil itu lagi.

Cahaya di atas terlihat temaram.

Sama seperti sepuluh tahun yang lalu.

Bahkan salju di atas atap pun masih sama indahnya dengan sepuluh tahun yang lalu.

Namun, sepuluh tahun telah berlalu….

Sepuluh tahun yang takkan mungkin terulang lagi.

Li Sun-Hoan tidak punya cukup keberanian untuk naik ke atas.

Namun ia harus ke sana.

Apapun alasannya dia meminta Li Sun-Hoan datang, ia tidak mungkin menolaknya.

Sesampainya di puncak tangga, badannya serasa membeku.

Sepuluh tahun, seperti terhapus begitu saja.

Rasanya ia telah kembali ke sepuluh tahun yang lalu.

Hatinya berdegup kencang, seperti anak muda yang jatuh cinta pertama kali.

Kehangatan sepuluh tahun yang lalu…..

Mimpi-mimpi sepuluh tahun yang lalu.

Li Sun-Hoan tidak berani melanjutkan pikirannya.

Itu artinya mengkhianati Liong Siau-hun, dan juga dirinya sendiri.

Ia ingin sekali lari dari situ.

Namun didengarnya suara dari balik tirai.

"Silakan duduk."

Suara itu masih semerdu sepuluh tahun yang lalu.

Hanya kini, suara itu terasa jauh, dan dingin.

Kalau tidak melihat makanan yang sama pula terhidang di atas meja, mungkin tak bisa dipercaya bahwa ia sedang menjumpai kenalan lama.

Ia hanya bisa duduk dan berkata.

"Terima kasih."

Lalu seseorang keluar dari balik tirai itu.

Nafas Li Sun-Hoan hampir berhenti.

Namun yang keluar hanyalah seorang anak kecil.

Ia masih mengenakan bajunya yang merah, tapi wajahnya tampak seputih kertas.

Terdengar lagi suara dari balik tirai.

"Jangan lupa apa yang Ibu baru saja katakan. Tuangkanlah secangkir arak untuk Paman Li."

Ang-hai-ji menyahut patuh.

"Ya."

Li Sun-Hoan tidak tahu harus berpikir atau berkata apa.

Walaupun ia tidak melakukan apa pun yang salah, ia tetap merasa seperti seorang penjahat di hadapan anak ini.

Si-im, Si-im.

Apakah maksudmu mengundangku adalah untuk menyiksaku?

Bagaimana ia dapat minum arak ini?

Namun, bagaimana pula kalau tak diminumnya arak ini?

Ang-hai-ji berkata.

"Walaupun keponakan tak bisa lagi berlatih ilmu silat, seorang laki-laki tak bisa hidup dibawah naungan orang tuanya seumur hidupnya. Aku harap Paman Li bersedia mengajarkan beberapa jurus perLindungan diri, supaya keponakan tidak dipermainkan orang di kemudian hari."

Li Sun-Hoan mengeluh dalam hati, lalu diulurkannya tangannya. Di tangan itu terdapat sebilah pisau. Lim Si-im berkata dari balik tirai.

"Pamanmu tak pernah mengajarkan ilmu pisau itu kepada siapapun. Jika kau mempelajarinya, kau tak perlu takut orang akan mempermainkan engkau. Cepat berterima kasih pada Paman Li."

Ang-hai-ji lalu berlutut dan berkata.

"Terima kasih, Paman Li."

Li Sun-Hoan tersenyum. Pikirnya.

"Tak ada yang dapat mengalahkan kasih ibu terhadap anaknya. Namun pertanyaannya sekarang, bagaimanakah seorang anak memperlakukan ibunya?"

Seorang pelayan lalu membawa anak itu pergi, namun Lim Si-im masih berada di balik tirai.

Tapi ia juga tidak membiarkan Li Sun-Hoan pergi.

Li Sun-Hoan biasanya adalah seseorang yang percaya diri.

Namun saat itu, entah mengapa, ia hanya bisa duduk diam di situ seperti orang tolol.

Malam telah bertambah larut.

Apakah Lim Sian-ji masih menunggunya?

Tiba-tiba Lim Si-im bertanya.

"Apakah kau ada urusan lain?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Ti….Tidak."

Lim Si-im terdiam sejenak, lalu berkata.

"Kau pasti sudah bertemu dengan Lim Sian-ji."

Kata Li Sun-Hoan.

"Satu atau dua kali."

Kata Lim Si-im lagi.

"Ia sungguh malang. Ia tumbuh dalam Lingkungan yang buruk. Jika kau telah berjumpa dengan ayahnya, kau pasti mengerti."

"Aku mengerti."

Lim Si-im melanjutkan.

"Suatu hari, aku pergi ke ‘Tebing Pengorbanan’ untuk berdoa. Aku melihat dia akan terjun dari atas tebing itu. Jadi kuselamatkan dia…. Kau tahu mengapa ia ingin terjun dari atas tebing itu?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Tidak."

Sahut Lim Si-im.

"Karena penyakit ayahnya."

Li Sun-Hoan hanya tergugu di kursinya. Lim Si-im melanjutkan lagi.

"Ia tidak hanya pandai dan sangat cantik, ia juga amat tegar. Ia tahu, ia berasal dari keluarga miskin, sehingga ia harus bergantung dari banyak orang. Ia kuatir orang-orang akan menghina dia."

Kata Li Sun-Hoan.

"Kurasa kini tak akan ada yang menghina dia, bukan?"

Sahut Lim Si-im.

"Itu akibat dari ketegarannya bertahuntahun ini. Sayangnya, ia masih amat muda, sehingga hatinya pun sangat lembut. Aku kuatir ia akan terjerat tipu daya orang lain."

Li Sun-Hoan tertawa getir.

"Jika orang lain tidak terperdaya olehnya, aku sungguh bergembira."

Kata Lim Si-im.

"Aku hanya berharap ia mendapatkan suami yang baik, tidak terkecoh begitu saja dan menderita seumur hidupnya. Li Sun-Hoan berpikir sejenak, lalu bertanya.

"Mengapa kau katakan ini padaku?"

Lim Si-im pun berpikir sejenak, lalu menjawab.

"Kau tidak tahu mengapa aku katakan ini padamu?"

Sebenarnya Li Sun-Hoan memang tahu. Maksud Lim Si-im menahan dia di situ adalah untuk mencegah pertemuannya dengan Lim Sian-ji. Yu Liongsing pasti telah memberitahukan padanya. Lim Si-im berkata.

"Apapun yang terjadi, kita adalah teman lama. Aku ingin memohon bantuanmu."

Hati Li Sun-Hoan membeku, namun ia tetap tersenyum.

"Kau tidak ingin aku menemui Lim Sian-ji?"

"Betul."

Li Sun-Hoan menarik nafas panjang, lalu berkata.

"Kau…Kau pikir aku menyukai dia?"

Sahut Lim Si-im.

"Aku tak peduli apa perasaanmu terhadap dia. Aku hanya mohon kau tidak menemuinya."

Li Sun-Hoan menghabiskan arak dalam cawan itu dengan sekali teguk. Lalu ia berkata.

"Kau benar. Aku adalah petualang yang tidak berguna. Jika aku pergi menjumpainya, aku hanya akan menyakitinya…."

Bab 13. Bencana yang Aneh Tanya Lim Si-im.

"Jadi kau setuju?"

Li Sun-Hoan mengatupkan giginya.

"Tak tahukah kau bahwa aku suka sekali menyakiti orang?"

Ia bangkit dan berkata.

"Selamat malam."

Suara Lim Si-im bergetar.

"Kau telah pergi, mengapa kau kembali lagi? Kami telah hidup dengan damai. Mengapa….Mengapa kau harus kembali dan membuat kesulitan bagi kami?"

Li Sun-Hoan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengatupkan mulutnya. Namun bibirnya masih bergetar. Suara Lim Si-im menjadi pedas.

"Tak cukupkah engkau menghancurkan putraku? Kau harus menghancurkan adik angkatku juga?"

Wajahnya masih putih, masih cantik.

Namun matanya penuh dengan luka, dengan kesakitan.

Ia tidak pernah lepas kendali di depan orang lain sebelumnya.

Mungkinkah ini hanya demi Lim Sian-ji?

Li Sun-Hoan tidak menoleh.

Ia tidak punya keberanian untuk menoleh, untuk memandang Lim Si-im.

Ia menuruni tangga dengan cepat, sambil berkata dengan tenang.

"Sebenarnya kau tak perlu memohon. Aku tidak menyukai dia sama sekali!"

Lim Si-im mengawasi kepergiannya.

Tubuhnya langsung lemas terkulai ke lantai.

*** Kolam itu telah menjadi es.

Ada jembatan di atas kolam itu.

Li Sun-Hoan duduk di atas jembatan itu dan menatap kosong ke arah kolam.

Hatinya sama seperti kolam itu.

Ia dapat melihat secercah cahaya dari bilik Lim Sian-ji di kejauhan.

Apakah Lim Sian-ji masih menantikan kedatangannya?

Ia tahu ada alasan mengapa Lim Sian-ji minta dia datang malam itu.

Ia juga tahu bahwa kalau di datang, banyak hal menarik yang akan terjadi.

Namun ia masih saja duduk di situ, hanya memandangi cahaya lilin itu dari kejauhan.

Ia mulai terbatuk-batuk lagi.

Tiba-tiba, terlihatlah sesosok bayangan dalam bilik itu.

Li Sun-Hoan seketika mempersiapkan diri dan melesat ke sana.

Langkahnya begitu cepat tak terlukiskan.

Namun waktu ia tiba di sana, bayangan itu telah menghilang.

Li Sun-Hoan berpikir-pikri.

"Apakah aku salah lihat?"

Ia membuka daun jendela dan berbisik.

"Nona Lim."

Tidak ada jawaban.

Li Sun-Hoan melihat ke dalam bilik.

Terlihat ada arak tumpah di lantai.

Dan di atas meja, terlihatlah setangkai bunga Bwe!

Bwe-hoa-cat !

Mungkinkah Lim Sian-ji telah tertawan oleh Bwe-hoa-cat ?

Li Sun-Hoan memungut cawan arak itu.

Keringat mulai membasahi telapak tangannya.

Saat itulah terdengar suara yang lemah dan tiba-tiba lilin pun padam.

Lalu datanglah ratusan senjata rahasia dari segala arah.

Namun dari seluruh senjata rahasia di dunia ini, apakah yang dapat menandingi Li si pisau terbang?

Li Sun-Hoan meliukkan tubuhnya, dan tangannya menangkap 18 macam senjata.

Yang lain terpental oleh kakinya.

Lalu terdengar seruan keras dari luar.

"Bandit Bunga Bwe. Kau tak akan lolos hari ini. Keluar dan matilah kau!"

"Sehebatnya apapun engkau, kami masih dapat membuat engkau mati menderita!"

"Aku tidak berbohong. Dian-jitya dari Lokyang Yang ada di sini. Demikian pula Mo-in-jiu Kongsun-tayhiap, Tiotoaya, dan Liong-siya."

Li Sun-Hoan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Lalu ia menggumam.

"Dian-jitya benar-benar datang."

Lalu terdengar seseorang berkata.

"Kau sudah ada di sini, mengapa tidak keluar?"

Li Sun-Hoan berdehem, lalu berkata dengan suara berat.

"Kalian sudah ada di sini, mengapa tidak masuk?"

Orang-orang di luar mulai berkasak-kusuk di antara mereka.

"Sepertinya orang ini ingin memancing kita masuk ke dalam."

Lalu sebuah suara menggelegar mengatasi hingar-bingar itu.

"Bwe-hoa-cat hanya bisa mengendap-endap dalam kegelapan. Mana mungkin dia punya nyali untuk bertemu dengan kita semua."

Semua orang segera mengiakan ucapan ini dan mendesak orang yang di dalam untuk keluar. Lalu mereka mendengar jawaban.

"Memang benar, Bwehoa-cat suka mengendap-endap dalam kegelapan. Tapi apa hubungannya dengan aku?"

Suara yang menggelegar itu berkata.

"Jika kau bukan Bwe-hoa-cat , siapakah engkau?"

Suara yang lain berkata.

Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 4

Baca Juga: Bahagia Pendekar Binal 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert