Eps 4 Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung
Baca online Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung
Cersil Pedang Langit Dan Golok Naga - Chin Yung.
"Thio Ngoko, biarlah kita mati bersama-sama,"
Bisik pula si nona.
Dalam keadaan biasa, biarpun kedua orang muda itu menyintai satu sama lain mereka pasti tak akan menumplek isi hati mereka secara begitu cepat dan terang-terangan.
Tapi pada saat itu pada detik mereka bersama-sama menghadapi kebinasaan, segala perasaan main dan jengah telah dikesampingkan.
Didalam kegelapan dan diantara badai, badan perahu tak hentinya mengeluarkan suara "krekek"
Dan bisa hancur luluh disetiap saat, tapi didalam hati kedua orang muda itu terdapat rasa beruntung yang tiada batas.
Sesudah mengadu tenaga dengan Cia Soen, Coei San sebenarnya merasa lelah bukan main.
Tapi rasa cinta yang kini tengah memenuhi dadanya telah memberi tenaga baru kepadanya.
Dengan tangan kanan, mencekal kemudi tangan kiri memeluk pinggang si nona, ia mengempos semangat dan mengerahkan seluruh Lweekang untuk mempertahankan diri dari serangan-serangan topan dan gelombang.
Semua anak buah perahu sudah habis disapu air.
Jika Cia Soen, Coei San dan So So tidak memiliki ilmu tinggi, siang-siang merekapun sudah ditelan laut.
Untung juga, perahu itu sangat kuat buatannya, sehingga, walaupun diserang begitu hebat, tidak sampai jadi berantakan.
Dilain saat, untuk penambahan penderitaan, hujan turun seperti dituang tuang.
Sementara itu, sesudah merubuhkan semua tiang layar, sambil merangkak Cia Soen pergi kebelakang perahu.
"Thio Heng tee, terima kasih untuk bantuanmu,"
Katanya.
"Serahkan kemudi kepadaku dan pergilah kalian mengaso digubuk perahu."
Coei San lalu menyerahkan kemudi kepadanya dan sambil menuntun tangan si nona, ia menuju kegubuk perahu.
Tapi baru berjalan beberapa tindak, se-konyong2 sebuah gelombang, sebesar bukit menghantam dengan dahsyatnya.
Karena serangan itu datang secara sangat mendadak, sekali ini Coei San tidak dapat mempertahankan dirinya lagi.
Badan mereka tersapu dan terpental keluar perahu .
Dilain detik tubuh Coei San sudah berada ditengah udara dan melayang turun keatas gelombang!
Dalam bingungnya, ia berhasil menjambret pergelangan tangan So So.
Pada saat itu, ia hanya ingat untuk binasa bersama dengan si nona Tapi baru saja tangan kirinya mencekal pergelangan tangan nona In, sekonyong-konyong sehelai tambang menyambar dan melibat lengan tangan kanannya.
Hampir berbareng, ia merasa badannya ditarik kebelakang, akan kemudian, bersama sama So So, jatuh diatas papan perahu.
Yang menolong mereka adalah Cia Soen sendiri.
Pada saat yang sangat genting, Cia Soen menjemput seutas tambang layar yang kebetulan menggetetak didekat kakinya, sehingga pada detik terakhir, jiwa kedua orang muda itu ketolongan.
Itulah kejadian yang sangat diluar dugaan.
"Sungguh berbahaya !"
Mengeluh Cia Soen.
Kalau tambang itu tidak kebetulan berada didekatnya, biarpun mempunyai kepandaian yang sepuluh kali lipat lebih tinggi, ia tentu tidak berdaya.
Dengan merangkak, Coei San dan So So lalu masuk kedalam gubuk perahu.
Perahu terus ter ombang-ambing, sebentar seperti berada dipuncak gunung dan sebentar seperti masuk kedalam lembah.
Tapi bagi mereka yang seolah-olah baru saja bangun dari kuburan, semua bahaya itu tidak ada artinya lagi.
"Ngoko,"
Bisik nona In.
"Jika kita bisa hidup terus, aku tak mau berpisahan dengan kau untuk selama-lamanya."
"Akupun justeru begin mengatakan begitu,"
Kata Coei San.
"Langit diatas, bumi dibawah, diantara manusia dan didasar lautan, kita akan tetap bersama-sama."
Si nona menghela napas.
"Benar,"
Bisiknya pula.
"Langit diatas, bumi dibawah, diantara manusia dan didasar lautan, kita akan tetap bersama-sama."
Sementara itu, Cia Soen mengemudikan perahu sambil mengomel panjang pendek.
Dalam menghadapi badai dan gelombang, kepandaiannya yang sangat tinggi tidak banyak menolong.
Sesudah mengamuk tujuh jam lamanya, barulah topan mereda.
Awan hitam perlahan-lahan buyar dan bintang-bintang mulai muncul lagi diatas langit.
Coei San dan So So keluar dari gubuk perahu.
"Cia Cianpwee, terima kasih banyak untuk pertolonganmu,"
Kata pemuda itu.
"Tak usah rewel,"
Jawabnya.
"Kita bertiga hampir-hampir mampus."
Coei San menghela napas dan lain menggantikan memegang kemudi.
Sesudah bertahan mati matian hampir semalam Cia Soen pun sudah lelah sekali dan ia segera pergi kegubuk perahu untuk mengaso.
So So duduk didamping kecintaannya dan dongak mengawasi bintang Paktauw yang tengah memancarkan sinaraya.
"Ngoko, perahu ini tengah menuju kejurusan utara,"
Katanya.
"Benar,"
Jawabnya.
"Aku ingin sekali dia menuju kebarat supaya kita bisa pulang"
"Kalau dia berbalik ketimur, entah kemana kita akan pergi,"
Kata pula nona In.
"Ketimur masuk bilangan samudera,"
Kata Coei San.
"Kalau kita berada ditengah lautan tujuh delapan hari saja, tanpa air, kita akan...."
"Kudengar di lautan Tanghay tardapat sebuah pulau dewata,"
Memutus si nona.
"Orang kata, dipulau itu terdapat dewa-dewi yang hidup abadi. Siapa tahu, kalau kita mendarat dipulau itu, kita akan tertemu dengan para dewa dan dewi ....."
Sambil mengawasi bima sakti yang membentang dilangit, ia berkata pula.
"Mungkin sekali perahu ini akan berlayar terus, sehingga tiba dibimasakti dan kita dapat menyaksikan pertemuan diatas jembatan burung antara Goe Long dan Cit Lie." ( Bima-sakti adalah sehelai sinar terang diwaktu malam yang membentang dilangit, terdiri daripada rangkaian bintang-bintang).
"Ya,"
Kata Coei San.
"Kita boleh menyerahkan perahu ini kepada Goe Long, supaya ia dapat menemui Cit Lie disembarang waktu dan tidak usah menunggu Cit gwee Cit sek (tanggal tujuh Cit lie)."
Si nona bersenyum.
"Ngoko, jika perahu dihadiahkan kepada Goe long, alat pengangkutan apakah yang dapat digunakan kita jika kita ingin bertemu ?"
Tanyanya.
"Langit diatas, bumi dibawah, sekali bersama sama, kita telah bersama-sama,"
Jawabnya.
"Perlu apa kita menyeberangi bima-sakti ?"
In So So tertawa, paras mukanya seakan-akan sekuntum bunga yang baru mekar Dengan sikap kemalu-maluan, ia mencekal erat-erat tangan Coei San.
Kedua orang mula itu saling mencekal tangan dengan rasa bahagia.
Banyak sekali yang ingin dikatakan mereka, akan tetapi, mereka tak tahu apa yang harus dikatakan terlebih dahulu.
Memang juga, manakala dua manusia sedang mencintai satu sama lain, kata-kata tidak perlu sama sekali.
Dengan lirikan mata saja, mereka sudah bicara banyak, karena dalam keadaan sedemikian, yang satu tahu apa yang mau dikatakan oleh yang lain.
Entah sudah selang berapa lama barulah Coei San menunduk dan melirik kecintaannya.
Ia terkejut, karena kedua mata si nona kelihatan basah dan paras mukanya penuh kedukaan.
"Mengapa kau menangis ?"
Bisiknya.
"Diantara manusia atau dibawah lautan mungkin sekali aku dapat berkumpul dengan kau."
Jawabnya perlahan.
"Tapi dihari kemudian, sesudah kita meninggal dunia, kau masuk di surga, aku... aku ....akan masuk keneraka !"
"Omong kosong!"
Bentak Coei San dengan suara menyinta. So So menghela napas dan berkata dengan suara menyesal.
"Aku sendiri mengerti ......aku mengakui, bahwa aku telah melakukan banyak sekali perbuatan jahat dan banyak membunuh manusia secara sembarangan."
Coei San terkejut.
Diam diam dia merasa, bahwa memang benar dia tidak pantas menikah dengan seorang wanita yang sepak terjangnya menyeleweng seperti So So.
Akan tetapi karena rasa cintanya sudah mendalam dan juga sebab dalam menghadapi bahaya besar, orang tidak menghitung hitung kejadian dihari kemudian, maka ia lantas saja membujuk dengan suara lemah lembut.
"Jika kau ingin memperbaiki kesalahanrnu, sekarang masih belum terlambat. Mulai dari sekarang, kau harus berbuat kebaikan guna menebus segala dosamu."
So So tidak menyahut.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ia menyanyi dengan perlahan.
Yang dinyanyikannya adalah lagu Sam poyang, sebuah lagu rakyat yang sangat terkenal pada jaman kerajaan Goan.
Lagu itu biasa dinyanyikan rakyat dari selatan sampai diutara, hanya kata katanya banyak berbeda satu sama lain.
Sambil menahan napas Coei San mendengar nyanyian itu yang seperti berikut "Dia dan aku, Aku dan dia.
Diantara kita, terdapat binyak rintangan.
Bagaimana dapat mencapai sebuah pernikahan?
Akhirnya mati didepan keraton Giam ong.
Ai ya !
Biarkanlah !
Mengambil alu untuk menumbuknya.
Mengambil gergaji untuk menggargajinya.
Mengambil penggilingan untuk menggilingnya, Mengambil kuali untuk menggorengnya.
Ai ya !
Biarkanlah !
Apa yang terlihat, manusia, hidup mendapat hukuman, Belum pernah terlihat, setan jadi perantaian.
Ai ya !
Biarkanlah !
Alis terbakar, perhatikan saja mata, Alis terbakar, perhatikan saja mata."
Nyanyian itu disambut dengan sorak sorai Cia Soen dari dalam gubuk perahu.
"Bagus ! Bagus sungguh nyanyian itu !"
Teriaknya "In Kouwnio, kau lebih menyocoki aku daripada Thio Siang kongmu yang berlagak mulia !"
"Ya, aku dan kau adalah manusia-manusia jahat dan kita pasti akan mati secara tidak baik,"
Kata si nona.
"Kalau kau mati secara tidak baik, akupun begitu,"
Bisik Coei San. So So kaget tercampur girang. Ia mengawasi pemuda itu dan hanya dapat mengeluarkan sepatah kata.
"Ngoko ...."
Pada esokan paginya, dengan menggunakan Long gee pang, Cia Soen membinasakan seekor ikan Yang beratnya belasan kati dan yang dapat menangsal perut selama dua hari.
Karena lapar, biar pun ikan mentah, mereka makan dengan bernapsu.
Untung toya itu yang dipasangi paku-paku seperti gaetan merupakan alat yang sangat cocok untuk memukul ikan.
Biarpun diatas perahu sudah tidak ketinggalan setetes air tawar, tapi dengan menelan minyak dan cairan yang keluar dari badan ikan mereka masih dapat mempertahankan diri.
Arus air terus mengalir keutara dan siang malam, mereka dapat melihat bintang kutub Utara yang memancarkan sinarnya berhadapan dengan kepala perahu.
Diwaktu siang, matahari muncul dari sebelah kiri perahu dan diwaktu sore, menyelam dari sebelah kanan.
Selama belasan hari.
keadaan berlangsung seperti itu tanpa perobahan.
Semakin lama hawa udara jadi semakin dingin.
Dengan memiliki Lweelang yang tinggi, Cia Soen dan Coei San masih dapat mepertahankan diri.
Tapi tidak begitu dengan In So So.
Ia kedinginan, sehingga mukanya berubah pucat.
Cia Soen dan Coei San membuka jubah panjang mereka dan memberikannya kepada sinona, tapi pakaian yang tidak seberapa tebal itu, tidak banyak menolong.
Dengan sekuat tenaga si nona coba menguatkan diri bertahan dan sebisa-bisanya harus memperlihatkan paras gembira.
Tapi Coei San yang tahu, bahwa kegembiraan itu adalah kegembiraan yang dibuat-buat, jadi makin bingung.
Ia mengerti, kalau perahu terus menuju keutara beberapa hari lagi, kecintannnya bakal mati ke dinginan.
Tapi benar juga orang kata, Langit tidak memutuskan jalanan manusia.
Secara tidak diduga duga, perahu berpapasan dengan sekelompok biruang dan dengan menggunakan Long gee pang, Cia Soen telah membinasakan beberapa antaranya.
Kulit biruang merupakan selimut hangat, sedang dagingnya dapat dimakan.
Tak usah dikatakan, mereka tertiga jadi girang bukan main.
Malam itu, mereka berkumpul dikepala perahu sambil mengawasi langit.
"Bintang apa yang paling berfaedah dalam dunia ini?"
Tanya So So sambit tertawa. Cia Soen dan Coei San tertawa geli.
"Biruang"
Jawab mereka hampir berbareng. Sesaat itu tiba-tiba terdengar suara "ting tung ting tung !"
Serentak meraka memasang kuping, mendadak paras muka Cia Soen berubah pucat.
"Es Es yang mangambang !"
Katanya deagan suara parau.
Ia memukul mukul air dengan senjatanya dan terdengar suara terpukulnya kepingan-kepingan es.
Hati mencelos, dingin bagaikan es.
Mereka tahu, bahwa jika perahu terus menuju keutara, pada akhirnya dia akan terjepit diantara balokan balokan es dan tidak dapat bergerak lagi.
Itu akan berarti, bahwa merekapun tak akan bisa hidup lebih lama lagi.
Malam itu mereka tak dapat pulas, kuping mereka terus mendengari "ting tung ting tung"
Yang tak henti hentinya. Pada esokan paginya, kepingan-kepingan es sudah jadi lebih besar, sudah sebesar mangkok, sedang suaranya pun makin nyaring, Cia Soen tertawa getir seraya berkata.
"Hai! Aku bermimpi ingin membuka rahasia To liong to. Tapi siapa nyana, sebelum berhasil, aku sudah jadi manusia es."
Jantung sinona berdebar debar. Ia mencekal tangan Coei San erat-erat. Tiba-tiba Cia Soma mengangkat To liong to dan membentak dengan suara gusar.
"Paling benar lebih dulu aku mengantarkan kamu kekeraton Raja Naga!"
Tapi sudah mengangkat golok, ia tak tega dan sambil menghela napas, ia pergi kegubuk perahu untuk menaruh golok mustika.
Empat hari lewat lagi dan selama empat hari Itu, perahu terus menuju keutara.
Balokan es jadi semakin besar, sekarang sebesar meja atau rumah kecil.
Mereka merasa, bahwa kebinasaan su dah berada didepan mats dan dalam menghadapi kebinasaan, mereka jadi nekad dan tak mau memikir panjang-panjang lagi.
Malam itu kira-kira tengah malam, sekonyong-konyorg terdengar suara gedubrakan dan perahu bergoncang hebat.
"Bagus ! Bagus sungguh !"
Teriak Cia Soen.
"Gunung es !"
Coei San dan So So saling mengawasi sambil bersenyum getir.
"Inilah saat terakhir!"
Pikir mereka. Tiba-tiba mereka saling memeluk erat erat. Mereka ingin mati dalam keadaan begitu, dilain saat, mereka merasa air es sampai dilutut.
"Tamatlah! perahu sudah pecah !"
Sekonyong-konyong terdengar teriakan Cia Soen.
"Naik keatas gunung es! Bisa hidup sehari, biar kita hidup sehari! Langit mau membinasakan aku, aku melawan!"
Kedua orang muda itu tersadar.
Buru buru mereka melompat kekepala perahu.
Disamping perahu berdiri sebuah gunung es yang dibawah sinar rembulan, memancarkan sinar hijau yang dingin luar biasa.
Itulah pemandangan yang indah tapi menakuti.
Cia Soen berdiri disebuah undakan, dibagian bawah gunung es itu, dan ia menyodorkan senjata nya untuk menyambut kedua orang muda itu.
Dengan tangan kiri So So menekan Long gee pang bersama sama Coei San, ia melompat naik ke gunung es itu.
Perahu itu ternyata terlubang besar dan selang kira-kira seminuman teh, sudah tenggelam kedalam laut.
Cia Soen segera menggelar selembar kulit biruang diatas es dan mereka bertiga lantas saja duduk dengan berendeng pundak.
Jika berada di atas bumi, besar gunung es itu kira-kira bersamaan dengan sebuah bukit kecil, dengan garis tengah kurang lebih delapan belas tombak dan tingginya kira-kira lima tombak.
Cia Soen mendongak sambil mengeluarkan teriak nyaring, seolah-olah sedang menantang musuh.
"Berdiam diperahu yang sempit, dadaku menyesak,"
Katanya.
"Tempat ini lebih cocok untuk aku melemaskan urat,"
Berkata begitu, ia berjalan mundar mandir dan sungguh heran, kakinya tidak terpeleset meskipun permukaan es licin luar biasa.
Coei San mengerti, dia sedang menantang Langit yang dianggapnya sangat tidak adil terhadapnya.
Dalam menghadapi kebinasaan, rasa penasarannya semakin menjadi.
Dengan menuruti tiupan angin dan arus air, gunung es itu terus bergerak kejurusan utara.
Pada suatu hari, selagi mereka bertiga duduk terpekur, tiba-tiba Cia Soen tertawa terbahak bahak dan berkata dengan suara mengejek.
"Langit telah mengirim sebuah perahu untuk menyambut kita guna bertemu dengan Pak kek Siang ong (Dewa Kutub Utara)."
Mendengar itu So So hanya bersenyum.
Ia tidak menghiraukan andaikata langit bakal rubuh asal saja kecintaannya berada didampingnya.
Tapi Coei San mengerutkan alis dan pada paras mukanya terlukis sinar kedukaan.
Selang tujuh delapan hari, sinar es yang disoroti matahari adalah demikian hebat berkilauannya sehingga mata mereka dirasakan sakit sekali.
Oleh karena begitu, diwaktu siang mereka menyelimuti kepala dengan kulit biruang sambil merebahkan diri diatas es dan diwaktu malam, barulah mereka bangun untuk menangkap atau memburu biruang.
Sungguh heran, semakin keutara siang hari jadi semakin panjang, sehingga belakangan, jangka waktu dimalam hari hanya beberapa jam saja.
Makin lama Coei San dan So So jadi makin lelah dan paras muka mereka makin pucat.
Cia Soen sendiri kelihatan seperti seorang lupa ingatan dan pada kedua matanya terlihat sinar luar biasa.
Kadang-kadang, kalau datang kalapnya, ia menuding-nuding tangan dan mencaci-caci, seolah-olah manusia edan.
Pada suatu malam, karena tak dapat pulas di waktu siang, Coei San tidur sambil menyender di es, tiba-tiba dalam pulasnya, ia mendengar jeritan So So.
"Lepas Lepas!"
Ia tersadar dan melompat bangun dan melihat Cia Soen sedang memeluk kecintaannya dengan mulut mengeluarkan suara "ho ho ho,"
Seolah olah bunyi binatang buas.
Sesudah menyaksikan lagak Cia Soen yang luas biasa selama beberapa hari Coei San merasa sangat berkuatir.
Hanya ia tak nyana bahwa orang itu dapat berbuat begitu rupa terhadap So So.
"Lepas !"
Bentaknya dengan gusar, sambil melompat maju. Cia Soan tertawa terbahak-bahak.
"Dalam menghadapi kebinasaan, aku tak mergenal segala peraturan bau,"
Katanya.
"Waktu masih berada diatas bumi, aku sudah tidak mengenal Lie gie liam tie. Apa lagi sekarang?"
Lie gie liam tie berarti adat istiadat, pribudi putih bersih tak korup dan mmgenal malu, yaitu empat prinsip dari Kwan Tong.
"Lepas!"
Teriak pula Coei San dengan gusar.
"Jika tidak, aku akan mengadu jiwa denganmu."
"Apamu dia? Jangan campur-campur urusanku!"
Jawabnya dengan suara dingin. Ia mengeraskan pelukannya, sehingga So So mengeluarkan jeritan kesakitan.
"Dia isteriku,"
Kata Coei San dengan bingung.
"Cia Cianpwee, seorang laki-laki lurus berjalan lurus. Biarpun kita sekarang berada diatas gunung es, tapi janganlah kau melakukan perbuatan yang hanya akan memalukan diri sendiri."
Cia Soen tertawa terbahak-bahak.
"Aku si orang she Cia belum pernah menghiraukan jahat atau baik,"
Katanya. Andai kata benar kau suami nya, kau tetap tidak boleh campur-campur dan harus turut segala perintahku. Jika berani membandal, aku akan hajar kau."
Coei San tak dapat menahan sabar lagi. Baiklah, biar kita bertiga mampus bersama sama!"
Bentaknya seraya menghantam punggung Cia Soen yang menangkis dengan tangan kirinya.
Tubuh Coei San bergoyang-goyang dan karena licinnya es, ia tak dapat berdiri tetap dan lantas saja terguling.
Cia Soon mengangkat kaki kanannya dan menendang pinggang pemuda itu.
Tapi Coei San pun bukan anak kemarin dulu.
Ia menekan es dengan satu tangannya dan melompat bangun, sedang tangan yang lain menotok jalan darah dilutut Cia Soen.
Pada detik yang berbahaya, cepat bagaikan tandangannya, tangan kanannya memukul kepala Coei San, sedang tangan kirinya memeluk pinggang si nona.
Sesaat itu tangan kiri So So mendapat kemerdekaan, maka buru-buru ia menggunakan dua jerijinya untuk menotok jalan darah Soei touw hiat ditenggorokan orang.
Tapi, diluar dugaan, tanpa menghiraukan serangan itu, Cia Soen terus mengerahkan Lweekang dan memukul kepala Coei San.
Dengan kedua tangan, pemuda itu menangkis dan ia terkesiap, karena pukulan itu berat luar biasa, sehingga dadanya menyesak.
Dilain pihak, nona In pun tidak kurang kaget nya.
Kedua jerijinya yang menotok Soei touw hiat seperti membentur benda yang licin dan serta didorong balik dengan serupa tenaga yang tidak kelihatan.
Si nona mencelos hatinya, sebab, walaupun seorang yang mempunyai ilmu weduk Kim ciong to atau Tiat po san tak akan dapat menahan totokannya itu.
Dari sini dapat dibayang kan, betapa tinggi kepandaian Cia Soen.
Waktu itu, badan So So dan tangan kanannya di peluk keras-keras dan hanya tangan kirinya yang merdeka.
Sesudah totokannya gagal, dengan pertolongan sinar es, ia lihat muka Coei San yang kedua matanya berwarna merah seperti darah dan seolah-olah mengeluarkan api.
Pada detik itu.
mendadak ia ingat pengalamannya waktu mengikuti ayahnya memburu harimau dihutan.
Ia ingat bahwa kedua mata seekor harimau yang terluka juga berwarna merah darah.
Sepulangnya dari perburuan, sering-sering ia merasa kasihan terhadap binatang itu.
Sekarang, melihat Cia Soen yang menyerupai macan edan rasa kasihannya timbul dan ia berkata pada dirinya sendiri.
"Dia biasanya ramah tamah dan sopan santun. Ia beradat aneh, tapi keanehan itu adalah akibat pengalaman getir dalam penghidupannya. Tapi biar bagaimanapun juga, ia seorang luar biasa mahir ilmu surat dan ilmi silat. Bahwa sekarang ia kalap adalah karena otaknya yang kurang beres."
Selagi memikir begitu, tiba-tiba disebelah utara muncul sinar berkredepan yang beraneka warna dan indah luar biasa.
"Cia Cian pwee,"
Katanya dengan suara lemah lembut.
"Kau mengasolah. Lihatlah! Ditepian langit muncul sinar yang sangat luar biasa!"
Cia Soen menengok kearah yang ditunjuk si nona.
Ternyata, diantara kegelapan disebelah utara itu muncul ribuan, bahkan laksaan, sinar terang yang sangat aneh, sebentar besar, sebentar kecil, sedang warnanya yang kuning campur ungu dan dalam sinar ungu itu berkredepan sinar keemas emasan.
Cia Soen terkesiap, ia melepaskan pelukannya dan menarik pulang tangannya yang menindih ke dua tangan Coei San.
Dilain saat, sambil menggendong tangan, ia berjalan kepinggir gunung es dan memandang kearah utara dengan mata membelalak.
Ternyata, mereka sudah mendekati Kutub Utara.
Sinar yang luar biasa itu adalah pemandangan yang hanya terdapat didaerah kutub.
Pada jaman itu belum pernah ada orang Tionghoa yang pernah melihat pemandangan tersebut.
Sambil mencekal tangan kecintaannya, Coei San mengiwasi orang anah itu dengan hatiri berdebaran.
Malam itu, Cia Soen tidak mengganggu lagi.
Lama sekali ia berdiri terpaku disitu sambil menikmati sinar-sinar menakjubkan itu.
Pada keesokan paginya, sinar-sinar itu menghilang dari pemandangan.
Cia Soen rupanya merasa jengah karena kejadian semalam, sehingga seharian suntuk ia tak pernah berani melirik sinona, sedang gerak-geriknya pun kelihatan kikuk sekali.
Beberapa hari kembali lewat dan mereka terus berlayar kejurusan utara.
Sementara itu, gilanya Cia Soen mulai kumat lagi.
Semakin hari caciannya terhadap langit jadi semakin hebat.
Sedang dari matanya keluar pula sinar mata binatang buas.
Coei San dan So So memperhatikan perubahan perubahan itu dengan hati berkuatir dan mereka selalu berwaspada untuk menghadapi segala kemungkinan.
Hari itu sudah lewat jam tujuh malam, tapi matahari yang menyerupai sebuah bola merah masih tergantung ditepian laut sebelah barat dan tak juga mau menyelam.
Mendadak Cia Soen melompat bangun dan sambil menuding matahari, ia membentak.
"Kau juga mau menghina aku? Oh, matahari jika aku memiliki busur dan anak panah, dengan sekali memanah, aku dapat menembuskan badan mu!"
Tiba-tiba, dengan tinjunya ia menghantam es yang jadi somplak dan kemudian, dengan sekuat tenaga, ia menimpuk matahari dengan potongan es itu, yang terbang puluhan tombak dan kemudian jatuh dilaut.
Ia mengutangi lagi perbuatan itu, sehingga dalam tempo tidak terlalu lama, ia sudah melontarkan tujuh puluh lapis potongan es.
Sesudah itu, sambil berteriak-teriak, ia menginjak injak gunung es itu, sehingga kepingan-kepingan es pada muncrat keatas.
"Cia Cianpwee, kau mengasolah dulu,"
Membujuk So So dengan suara lemah lembut.
"Jangan kau meladeni matahari itu."
Cia Soen menengok dan dengan mata merah, ia menatap wajah si nona.
So So ketakutan, tapi ia memaksakan diri untuk bersenyum.
Sekonyong konyong sambil berteriak keras Cia Soen melompat dan memeluki nona.
"Mampus kau! Mampus!"
Jeritnya.
So So memberontak, tapi sedikitpun tidak bergeming.
Coei San kaget bukan main dan tanpa mengeluarkan sepatah kata.
ia menghantam jalan darah Sin tohiat dipunggung Cia Soen.
Tapi tinju yang hebat itu seolah-olah memukul besi.
Sementara itu, sambil mengeluarkan suara "ho ho ho"
Seperti bunyi binatang buas, Cia Soen mengeraskan pelukannya.
"Lepas! Jika kau tak lepas, aku akan menggunakan senjata !"
Teriak Coei San.
Tapi orang kalap itu tetap tidak meladeni.
Cepat bagaikan kilat Coei San mencabut Poan koan pit dari pinggangnya dan lalu menotok jalan darah Kian kin hiat dipundak kanan serta Siauw hay hiat pada lengan kiri Cia Soen.
Tapi dia sungguh-sungguh lihay.
Jika seorang ahli silat biasa kena totokan itu, sudah pasti kedua tangannya tidak akan dapat digunakan lagi.
Tapi ia hanya merasa kesemutan dan dengan sekali menjambret, ia berhasil merampas Poan koan pit yang lalu dilontarkan kelaut.
Tapi serangan Coei San bukan tidak ada hasilnya.
Totokan itu melonggarkan pelukan Cia Soen.
Nona in memberontak dan berhasil memerdekakan dirinya.
Tapi hampir berbareng, sambil mengbantam leher Coei San dengan telapak tangan kirinya, Cia Soen coba menyengkeram badan sinona dengan tangan kanan.
Dengan satu suara "bret!"
Kulit biruang yang menyelimuti badan So So, menjadi robek.
Coei Saa tahu, bahwa jika ia melompat mundur, kecintaannya pasti akan tertangkap lagi.
Maka itu sambil mengerahkan seantero Lwee kangnya, ia menyambut tangan lawan dengan pukulan Bian ciang.
Begitu lekas kedua tangan kebentrok, ia merasa tangannya diisap dengan semacam tenaga yang dahsyat luar biasa, sehingga tidak dapat dilepaskan lagi.
Ia tidak dapat berbuat lain dari pada mengempos semangat untuk coba melawan.
Tiba tiba ia merasakan menyerangnya semacam hawa yang sangat panas dari tangan lawan sehingga pikirannya kalang-kabut dan kepalanya pusing.
Inilah untuk ketiga kalinya Coei San mengadu tenaga dengan Cia Soen.
Dalam dua pertandingan yang lebih dulu, ia belum pernah mengalami serangan yang seaneh itu.
Dilain detik, dengan satu tangannya terus menempel pada tangan pemuda itu, Cia Soen miringkan badannya dan coba menjambret si nona.
Dengan cepat nona In melompat kebelakang.
Selagi tubuhnya masih berada ditengah udara.
tiba-tiba Cia Soen menendang es, sehingga beberapa keping terbang dan mengenakan lutut kanan si nona, yang sambil mengeluarkan teriakan kesakitan, rubuh terguling.
Hampir berbareng, Cia Soen mengebas tangannya yang menempel dengan tangan Coei San, sehingga pemuda itu terlempar beberapa tombak jauhnya dan jatuh dipinggir gunung es, ia terpeleset dan tergelincir kedalam air.
"Celaka !"
Coei San mengeluarkan seruan tertahan.
Tapi berkat kepandaiannya yang sudah mencapai taraf sangat tinggi dalam keadaan yang sangat berbahaya, ia masih keburu mencabut Gin kauw dari pinggangnya yang lalu digunakan untuk menotok es, dan dengan meminjam tenaga , badannya kembali melesat keatas.
Selagi kedua kakinya hinggap diatas es, hatinya berdebar-debar, karena ia merasa pasti, bahwa So So akan jatuh lagi kedalam tangannya orang edan itu.
Tapi diluar dugaan dibawah sinar rembulan, ia lihat Cia Soen sedang menekap kedua matanya dengan tangan sambil mengeluarkan suara kesakitan, sedang So So sendiri menggeletak diatas es.
Buru buru Coei San membangunkannya.
Sambil memeluk leher pemuda itu, si nona berbisik .
"Aku.... aku telah lukakan matanya."
Mendadak, sambil mengaum bagaikan harimau, Cia Soen menubruk, tapi untung juga, sambil memeluk kecintaanaya dan dengan bergulingan Coei San dapat menyelamatkan diri.
Tiba-tiba terdengar beberapa kali suara keras dan kedua tangan Cia Soen kelihatan amblas didalam es yang beratnya seratus kati lebih.
Ia berdiri diam sambil memasang kuping untuk mendengar dimana adanya kedua orang muda itu, Coei San dan So So mengerti apa artinya itu, perlahan-lahan menyenubunyikan diri didalam sebuah lubang yang terdapat di gunung es itu dan mengawasi si orang edan sambil menghela napas.
Melihat darah mengalir dari kedua mata Cia Soen, Coei San mengerti, bahwa pada saat berbahaya, So So sudah menimpuk dengan jarum emasnya dan sekarang orang itu sudah menjadi buta.
Tapi, biarpun sudah tak dapat melihat, kuping orang kalap itu tajam luar biasa.
Lama ia berdiri bagaikan patung.
Jika kedua orang muda itu mengeluarkaw suara sedikit saja, ia pasti akan menyerang sehebat-betatnya Untung juga suara gelombang, angin dan suara terbenturnya balokan balokan es pada gunung es itu telah menutupi suara napas mereka.
Andaikata mereka berada dalam sebuah kamar tertutup diatas daratan sudah boleh dipastikan mereka tak akan terlolos dari tangan Cia Soen.
Sesudah memasang kuping beberapa lama tanpa berhasil, dalam kegusaran, kesakitan dan ketakutan, Cia Soen kalap lagi.
Sambil berteriak-teriak, ia memukul-mukul dan menendang-nendang, sambil menimpuk kian kemari dengan potongan-potongan es.
Dengan paras muka pucat, Coei San dan So So saling peluk dalam lubang itu.
Mereka yakin, sepotong es saja sudah cukup untuk mengambil jiwa mereka.
Cia Soen mengamuk kurang lebih setengah jam, tapi kedua orang muda itu merasakan seperti juga setengah tahun.
Beberapa saat kemudian, ia berhenti dan mendadak berkata dengan suara lemah lembut.
"Thio Siangkong, In Kauw Nio, barusan aku kalap dan telah melakukan gila-gila. Kuharap kalian sudi memaafkan"
Sudah berkata begitu.
ia duduk untuk menunggu jawaban.
Thio Coei San adalah seorang yang mulia dan murah hati, tapi iapun seorang pintar yang sangat hati-hati, sehingga tidak gampang diakali orang.
Nona In yang licin dan banyak akalnya, lebih-lebih sukar diabui.
Mereka tidak meladeni perkataan Cia Soen dan tetap berwaspada sambil bernapas pelan-pelan.
Sesudah mengulangi perkataannya beberapa kali, Cia Soen menghela napas panjang seraya berkata.
"Jika kalian tak sudi memberi maaf, akupun tidak bisa memaksa lagi,"
Sehabis berkata begitu, ia menarik nafas dalam-dalam.
Tiba-tiba dalam otak Coei San berkelebat satu peringatan.
Ia ingat, bahwa sebelum mengeluarkan jaritannya yang dahsyat dipulau Ong poan San, Cia Soen telah menarik napas seperti itu.
Hatinya mencelos, menyumbat kuping sudah tidak keburu lagi.
Dengan cepat ia membetot tangan sinona dan melompat kedalam air.
Sebelum si nona mengerti maksudnya, Cia Soen sudah mengeluarkan teriakannya yang dahsyat.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata, pemuda itu membetot pula tangan kecintaannya dan mereka menyelam kedalam air.
Dengan Gin kauw yang dicekel di tangan kiri, Coei San menggaet pinggiran gunung es, sedang tangan kanannya memegang tangan nona In.
Tapi, bia rpun kepala berada dibawah permukaan air, kuping mereka masih mendengar juga teriakan-teriakan yang hebat luar biasa.
Gunung es terus maju keutara.
Diam-diam Coei San bersyukur, bahwa yang dilemparkan Cia Soen adalab Poan koan pit, sehingga ia masih dapat menggunakan Gin Kauw untuk menggaet gunung es itu.
Andaikata ia kehilangan Gin Kauw, maka meskipun dapat menyelamatkan diri dari teriakan Cia Soen, mereka pasti akan mati didalam air, sebab ditinggalkan gunung es itu yang terus bergerak maju.
Sesudah lewat.
beberapa lama, mereka menim but dipermukaan air untuk menyedot hawa udara yang segar.
Cia Soen pun sudah berhenti berteriak.
Teriakan-teriakan itu rupanya telah meminta banyak tenaga dan dengan letih, ia bersila diatas es sambil menjalankan pernapasannya.
Coei San lantas saja menarik tangan So So dan pelan pelan mereka merayap naik keatas.
Sesudah duduk ditempat agak jauh dari Cia Soen, mereka mencabut bulu biruang untuk menyumbat kuping.
Mereka mengerti, bahwa setiap detik mereka menghadapi bahaya besar.
Matahari belum juga menyelam karena mereka sudah berada didaerah kutub, dimana siang dan malam berbeda jauh dengan lain bagian bumi.
Beberapa saat kemudian, So So yang basah kuyup tak dapat mempertahankan dirinya lagi.
Badannya bergemetaran dan giginya bercakrukan.
Tentu saja suara itu segera terdengar Cia Soen, yang sambil membentak keras, lalu menghantam dengan Long gee pang.
Buru-buru mereka menyingkirkan diri.
Dengan satu suara nyaring luar biasa, gunung es itu somplak dan tujuh delapan balokan es jatuh kedalam laut.
Sesudah gagal dengan pukulannya yang pertama, Cia Soen segera memutar senjatanya bagaikan titiran.
Begitu diputar, senjata itu yang panjangnya setombak lebih segera mengeluarkan tenaga mendorong yang sangat hebat dalam jarak tujuh delapan tombak.
Coei San dan So So terpaksa mundur terus dan dalam sekejap mereka sudah berdiri di pinggir gunung es.
Cia Soen teru§ mendesak .....
"Bagaimana baiknya?"
Bisik si nona dengan suara parau.
Sekali lagi Coei San membetot tangan si nona dan mereka segera melompat pula kedalam air.
Selagi badan mereka masih berada ditengah udara, terdengar suara nyaring dan beberapa kepingan es menghantam punggung mereka yang dirasakan sakit sekali.
Hampir berbareng dengan jatuhnya mereka kedalam air, sebalok es, sebesar meja, jatuh didekat mereka.
Dengan cepat Coei San menjambretnya dan dilain saat, mereka sudah duduk diatas balokan es itu.
Bagaikan seorang gila, Cia Soen menimpuk kalang kabut dengan potonngan-potongan es, tapi sebab matanya buta dan balokan es yang diduduki kedua orang muda itu terus bergerak maju, maka timpukannya meleset semua.
Karena balokan es itu banyak lebih kecil dari gunung es, maka jalannyapun banyak lebih cepat, sehingga tak lama kemudian, Coei San dan So So sudah meninggalkan Cia Soen jauh sekali.
Tapi karena kecilnya, balokan es itu tak dapat menahan berat badan dari dua orang dan sebagian tubuh mereka masuk kedalam air.
Untung juga, tak lama kemudian mereka bertemu dengan sebuah gunung es Cepat-cepat mereka menggayu dengan menggunakan tangan untuk mendekati gunung es itu dan kemudian merapat naik keatasnya.
"Langit tidak memutuskan jalanan orang, tapi langit telah memberikan sangat banyak penderitaan kepada kita,"
Kata Coei San sambil tertawa getir.
"So So bagaimana keadaanmu?"
"Sayang sungguh kita tidak membekal daging biruang,"
Kata sinona.
"Apa Gin Kauwmu hilang?"
Dilain saat, mereka tertawa geli, karena mereka baru merasa, bahwa bulu biruang yang digunakan untuk menyumbat kuping, belum dicabut, sehingga masing-masing tidak dapat mendengar apa yang dikatakan oleh pihak lain.
"So So,"
Kata Coei San sesudah mereka mencabut bulu biruang dari kuping mereka.
"Andaikata kita mesti mati kitapun tak akan berpisahan lagi."
"Ngoko,"
Kata sinona dengan suara aleman.
"Aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan. Kuharap kau akan menjawab dengan sejujurnya. Apakah kau akan tetap mencintai aku, andaikata kita betada didaratan, tanpa mengalami penderitaan yang hebat ini ?"
Coei San tertegun. Beberapa saat kemudian, barulah ia dapat menjawab.
"Aku rasa, kita tidak akan b isa bersahabat begitu cepat. Juga .... juga .... kita pasti akan mendapat banyak rintangan. kita barasal dari lain partai...."
So So manghela napas.
"Akupun berpendapat begitu,"
Katanya.
"Itulah sebabnya, mengapa pada waktu kau bertanding pertama kali dengan Cia Soen, aku sudah tidak mau melepaskan jarum emas, biarpun didesak berulang-ulang olehmu."
"Ya, tapi mengapa begitu?"
Tanya Coei San dengan rasa heran.
"Aku semula menduga, bahwa kau menolak untuk melepaskan jarum, karena kuatir melukakan aku yang waktu itu sedang bertanding ditempat gelap."
"Bukan, bukan begitu,"
Bisik sinona.
"Kalau waktu itu aku melukakan dia dan kita dapat kembali kedaratan, kau tentu akan meninggalkan aku!"
Coei San kaget mendengar pengakuan. itu.
"So So!"
Serunya.
"Mungkin kau akan gusar,"
Kata sinona.
"Tapi tujuanku yang satu-satunya adalah supaya tidak berpisahan dengan kau. Keinginan Cia Soen supaya kita mengawaninya dipulau yang terpencil, cocok sekali dengan keinginanku,"
Bukan main rasa terima kasihnya Coei San. Ia tak pernah menduga, bahwa rasa cinta sinona adalah demikian besar.
"So So, sedikitpun aku tidak gusar,"
Bisiknya. Nona In dongak mengawasi pemuda itu dan berkata pula dengan suara lemah lembut.
"Langit telah mengirim aku keneraka dingin ini, tapi sebaliknya daripada penasaran aku merasa beruntung sekali. Aku mengharap kita jangan kembali keselatan untuk selama-lamanya. Hm ... Jika kita pulang ke Tiong goan gurumu tentu akan membenci aku, sedang ayah mungkin sekali akan membunuh kau ..."
"Ayahmu ?"
Menegas Coei San.
"Ya, ayah adalah Peh bie Eng ong In Thian Ceng,"
Jawabnya.
"Ia adalah pendiri dan pemimpin Peh bie kauw."
"Oh, begitu ?"
Kata Coei San.
"So So, kau tak usah takut. Aku pasti akan tetap berada bersama sama kau. Aku yakin, biarpun ayahmu ganas, ia tentu tidak akan membunuh puteri dan mantunya sendiri."
Mendengar perkataan itu, paras si nona bersinar terang, sedang mukanya bersemu dadu.
"Apa kau bicara setulus hati?"
Tanyanya.
"So So, biarkan sekarang saja kita terangkap menjadi suami isteri,"
Kata Coei San. Mereka lantas saja berlutut dengan berendeng diatas es dan Coei San berkata dengan suara nyaring .
"Raja Langit menjadi aksinya, bahwa hari ini tee coe Thio Coei San terangkap jodoh menjadi suami isteri dengan In So So. Biarlah senang dan susah bersama-sama dan cinta mencinta selama-lamanya!"
Sesudah Coei San si nonapun berdoa perlahan.
"Aku mohon supaya Langit melindungi kami berdua, supaya dari satu ke lain penitisan kami bisa terus menerus menjadi suami isteri."
Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata pula.
"Andaikata dibelakang hari kami bisa kembali di Tiong goan, tee coe akan mencuci hati dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dulu. Tee coe akan bertobat dan bersama-sama suamiku, tee coe akan berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan balk. Tee coe tak akan membunuh manusia lagi secara sembarangan. Jika tee coe melanggar sumpah ini, biarlah Langit dan manusia menghukum tee coe."
Coei San girang tak kepalang.
Ia tak pernah menduga, bahwa tanpa diminta, sang isteri telah bertobat dan bersumpah untuk menjadi manusia balk.
Sesudah selesai dengan upacara pernikahan itu, sambil saling mencekal tangan dan duduk berendeng diatas es.
Pakaian mereka basah dan hawa dingin menyerang dengan hebat.
Akan tetapi, hati mereka hangat bagaikan hangatnya muslin semi yang penuh kebahagiaan dan keindahan.
Lewat beberapa lama, baru mereka ingat, bahwa sudah sehari suntuk, perut mereka belum ditangsal.
Kedua senjata Coei San sudah hilang dilaut, tapi So So masih mempunyai pedang yang tergantung dipinggangnya.
Coei San lalu menghunus pedang isterinya, membungkus ujung pedang dengan kulit biruang dan kemudian, sambil mengerahkan Lwee kang sampai di jeriji tangan, ia menekuknya sehingga ujung pedang itu menjadi bengkok seperti gaetan.
Tak lama kemudian, dengan menggunakan gaetan itu, ia berhasil menangkap seekor ikan yang cukup besar.
Ikan diwilayah Kutub Utara gemuk dan banyak minyaknya, sehingga biarpun baunya sangat amis dapat menambahkan tenaga dan menghangatkan badan.
Demikianlah siang malam, gunung es itu terapung-apung kejurusan utara, Mereka mengerti, bahwa kemungkinin pulang ke Tionggoan hampir tidak ada, tapi hati mereka tenang dan damai.
Ketika itu, siang sudah berubah sangat panjang, sedang malam sangat pendek dan mereka tak dapat mengbitung hari lagi.
Pada suatu hari, mendadak mereka lihat mengepulnya asap hitam disebelah utara.
So So yang melihat lebih dulu, mencelos hatinya dan paras mukanya berubah pucat.
"Ngo ko!"
Teriaknya sambil, menuding asap hitam itu.
"Apa disitu terdapat manusia?"
Tanya sang suami dengan rasa kaget tercampur girang.
Tapi biarpun sudah tertampak dalam pandangan mata, tempat mana asap itu keluar masih terpisah jauh sekali, Sesudah lewat lagi satu hari, asap itu jadi makin besar dan makin tinggi kelihatannya dan diantara asap terlihat sinar api.
"Siapa itu?"
Tanya So So. Sang suami tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya.
"Ngoko, ajal kita sudah hampir tiba,"
Kata si isteri dengan suara gemetar.
"Itu pintu nereka."
Coei San terkejut, tapi ia segera membujuk.
"Mungkin juga disana ada manusia yang sedang membakar hutan."
"Kalau membakar hutan, bagaimana asap dan apinya begitu tinggi?"
Tanya sang isteri.
"So So, sesudah tiba disini, biarlah kita menyerahkan segala apa kepada Langit,"
Kata Coej San.
"Kalau Langit tidak mau kita mati kedinginan dan ingin kita mati terbakar, biarlah kita menerima nasib."
Dengan perlahan tapi tentu, gunung es itu terus menuju kearah asap dan api.
Coei San dan So So yang tidak mengerti sebab musababnya, merasa sangat heran dan mereka hanya menganggap, bahwa apa yang bakal terjadi, baik kecelakaan maupun keselamatan, adalah takdir.
Apa yang dilihat mereka sebenarnya adalah sebuah gunung berapi yang bekerja, sehingga sebagai akibat, air laut diseputar gunung itu menjadi hangat dan air yang hangat mengalir kejurusan selatan.
Dengan demikian, secara wajar, air yarg dingin atau es terbetot kearah utara.
Sebagaimana diketahui, angin dan gelombang yang saling terjadi ditengah lautan adalah karena perbedaan antara air dingin dan panas dalam hawa dan air.
Sesudah terapung-apung lagi sehari semalam, gunung es itu tiba dikaki gunung.
Ternyata gunung berapi itu berada diatas sebuah pulau yang sangat besar.
Disebelah barat terdapat sebuah puncak dengan batu yang bentuk dan macamnya sangat aneh.
Selama berkelana di daerah Tionggoan, Coei San sudah kenyang mendaki gunung-gunung yang kenamaan, akan tetapi, belum pernah ia melihat puncak yang begitu luar biasa.
Ia mengawasi itu semua dengan mata membelalak dan kegirangan meluap-luap didalam hatinya.
Ia tak tahu bahwa puncak itu adalah tumpukan lahar yang disemprotkan gunung berapi selama ratusan atau ribuan tahun.
Disebelah timur terdapat tanah datar yang sangat luas.
Tanah datar itupun muncul disitu karena bekerjanya gunung berapi.
Abu yang disemprotkan oleh gunung itu jatuh ke dalam laut dan lama-lama, mungkin dalam tempo ribuan tahun, air laut teruruk dan muncullah tanah datar yang sangat luas.
Biarpun tempat itu sudah mendekati Kutub Utara, tapi karena gunung berapi masih bekerja, maka hawa dipulauitu menyerupai hawa digunung Tiang pek san atau daerah Hek Liong kang.
Dipuncak-puncak yang tinggi terlihat salju, tapi ditempat yang rendah, pohon-pohon menghijau, pohon siong, pek dan lain-lain yang tidak terdapat diwilayah Tionggoan.
Sesudah memandang beberapa lama dengan mata tidak berkesip, tiba-tiba So So melompat dan memeluk suaminya.
"Ngoko ! Kita sudah tiba ditempat dewa !"
Bisiknya dengan suara serak.
Kegirangan Coei San pun sukar dilukiskan.
Ia tak dapat mengeluarkan sepatah kata dan hanya balas memeluk isterinya yang tercinta.
Lama mereka saling peluk dengan disaksikan oloh sejumlah menjangan yang sedang makan rumput dengan tenang diatas pulau itu.
Kecuali asap api yang agak menakuti, segala apa yang tertampak disitu adalah tenang, damai dan indah.
Mandadak terdengar teriakan So So.
"Celaka ! Kita tak dapat mendarat!"
Ternyata gunung es itu, yang terpukul dengan air yang hangat, mulai bergerak meninggalkan pulau.
Coei San pun tidak kurang kagetnya.
Buru-buru mengerahkan Lweekang dan menghantam es yang lantas saja somplak sebesar balok.
Sesudah itu, sambil memeluk balokan es itu, mereka melompat kedalam air dan dengan menggunakan tangan dan kaki sebagai penggayu, mereka akhir nya mendarat dipulau itu.
Melihat kedatangen manusia, manjangan-menjangan yang sedang makan rumput mendongak dan mengasi, tapi mereka tidak memperlihatkan rasa takut sedikit jua.
Perlahan lahan So So mendekati, menepuk-nepuk punggung salah seekur.
"Kalau disini terdapat juga beberapa ekor burung ho, aku pasti akan mengatakan, bahwa tempat ini adalah tempatnya dewa Lam kek Sian ong,"
Katanya seraya tertawa. Karena letih, mereka segera merebahkan diri diatas lapangan rumput dan pulas nyenyak untuk beherapa jam lamanya. Waktu tersadar, matahari masih belum menyelam.
"Sekarang mari kita menyelidiki pulau ini untuk mendapat tahu apa ada manusia atau binatang buas,"
Kata sang suami.
"Aku rasa tak mungkin ada binatang buas,"
Kata So So.
"Lihat saja menjangan-menjangan itu yang hidup damai dan tenteram."
So So adalah seorang wanita yang sangat memperhatikan dandanannya.
Biarpun menghadapi bahaya diatas gunung es, ia tetap berpakaian rapi.
Sekarang sudah berada diatas bumi, begitu tersadar, ia membereskan pakaian dan rambutnya dan kemudian membantu sang suami menyisir rambut.
Sesudah itu, harulah mereka berangkat untuk menyelidiki pulau tersebut.
Untuk menghadapi segala kemungkinan, So So mencekal pedangnya yang sudah bengkok, sedang Coei San sendiri lalu mematahkan cabang pohon untuk dijadikan semacam tongkat.
Dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan, mereka berlari-lari dari selatan keutara yang panjangnya lebib dari duapuluh lie.
Apa yang dilihat mereka di sepanjang jalan, selain pohon pohon yang tinggi kate, adalah binatang kecil, burung dan pohon-pohon bunga yang kebanyakan tidak dikenal mereka.
Belakangan, sesudah melewati hutan besar, dari jauh mereka lihat sebuah gunung batu dan dikaki gunung itu terdapat sebuah guha.
"Ah! Sungguh bagus tempat ini !"
Teriak sang isteri sambi1 lari-lari.
"Hati hati!"
Teriak Coei San.
Belum rapat mulutnya, dari dalam guha mendadak berkelebat satu bayangan dan seekor biruang putih yang sangat besar menerjang keluar.
Biruang itu yang panjang bulunya seolah-olah seekor kerbau.
Dengan kaget So So melompat mundur.
Biruang itu berdiri diatas kedua kakinya seperti manusia dan menghantam kepala So So dengan satu telapak kakinya.
Nyonya itu menyambut dengan sabetan pedang, tapi apa mau, karena pedang bengkok itu sudah jadi lebih pendek, sabetannya meleset.
Baru saja ia mau membabat lagi, binatang itu sudah menubruk dan menghantam senjatanya yang lantas saja jatuh diatas tanah.
"So So, mundur!"
Teriak Coei San seraya melompat dan menotok lutut biruang itu dengan tongkatnya.
Cabang kayu itu patah, tapi tulang kaki binatang itu hancur dan dia mengeluarkan jeritan hebat dan menyeramkan.
Buru-buru So So menjemput pedangnya untuk memberi bantuan.
"Lekas lontarkan pedarg itu keudara!"
Teriak Coei San.
Sang isteri terkejut, tapi ia nenurut apa yang diperintahkan suaminya.
Dengan menotol tanah dengan kakinya, Coei San melompat tinggi dengan menggunakan ilmu Tee in ciong dan sekali menjambret, ia menangkap pedang itu.
Dengan tangan kiri mencekal tongkat pendek, ia sekarang seperti juga ber senjatakan Gin kauw dan Poan kian pit.
Ia mengangkat tangan kanannya dan menyabet dari atas kebawah dengan gerakan huruf "Hong" (tajam).
Pukulan tersebut diberikutkan dengan Lweekang yang sangat dahsyat dan tongkat pendek itu amblas tujuh delapan dim dikepala binatang itu yang sesudah ngamuk dan menggeram hebat, lantas saja rubuh tanpa berkutik lagi.
So So menepuk-nepuk tangan sambil tertawa.
"Indah sekali ilmu ringan badan itu!"
Teriaknya.
"Hebat sungguh totokan itu!"
Tapi, baru babis ia berteriak begitu tiba-tiha Coei San berseru .
"Awas! Lari!"
Mendengar teriakan suaminya dengan cepat ia melompat kedepan.
Begitu menengok kebelakang, ia terkesiap karena dibelakangnya sudah berbaris tujuh ekor biruang putih yang memperlihatkan sikap menakutkan.
Coei San mengerti.
bahwa mereka berdua tak akan dapat melawan tujuh binatang buas itu.
"Lari !"
Bisiknya dan mereka lantas saja kabur dengan menggunakan ilmu mengentengkan badan.
Meskipun badannya besar, binatang-binatang itu bisa lari cepat sekali, tapi kecepatan mereka masih kalah dengan ilmu ringan badan Coei San dan So So, sehingga sesudah mengubar beberapa lama, mereka ketinggalan agak jauh.
Tapi mereka terus mengejar dari belakang.
"Jalan satu-satunya lari ke air,"
Kata Coei San "Apa biruang tidak bisa berenang?"
Tanyanya.
"Entahlah,"
Jawab So So sambil menggelengkan kepala.
"Harap saja mereka tidak bisa berenang."
Sambil bicara mereka lari terus secepat-cepat nya.
"Celaka!"
Mendadak So So mengeluh.
"Mengapa ?"
Tanya Coei San.
"Apa kau tahu apa makanan biruang putih?"
Sang isteri balas menanya.
"Menurut katanya seorang jurumudi. biruang makan madu tawon dan ikan."
"Makan ikan"
Menegas Coei San sambil menghentikan tindakannya.
"Kalau benar binatang itu makan ikan, mereka pasti bisa berenang."
Sebelum mereka dapat berdamai terlebih jauh, sekonyong konyong So So berteriak.
"Ih! Mengapa mereka berada didepan kita ?"
Dengan hati berdebar-debar mereka mengawasi enam ekor biruang yang mendatangi dari sebelah depan.
"Bukan. Mereka bukan biruang yang tadi,"
Kata Coei San.
"Kita sekarang dicegat dari depan dan dari belakang,"
Sehabis berkata begitu, buru burn ia melompat keatas satu pohon siong yang sangat besar .
Sesudah berada diatas, ia menggaetkan kedua kakinya dicabang pohon, sehingga badannya menggelantung kebawah dan kedua tangannya menyambut-tangan sang isteri yang turut melompat keatas.
"Aku harap saja mereka tak dapat memanjat pohon,"
Kata So So sesudah mereka duduk disatu cabang.
"Biarpun mereka, bisa manjat kita tak usah kuatir,"
Kata sang suami.
"Maju satu, kita binasakan satu. Asal saja tidak dikurung, kita masih dapat melayani."
Sesaat kemudian, enam ekor biruang yang datang dari depan dan tujuh ekor dari belakang sudah berkumpul dibawah pohon.
Mereka mendongak dan menggeram hebat sambil memperlihat gigi mereka.
Coei San mematahkan sebatang cabang kecil yang lain digunakan untuk menimpuk mata seekor biruang.
Timpukan itu mengenakan tepat pada sasarannya dan sambil menggeram serta me lompat-lompat bahna sakitnya, binatang itu menyeruduk pangkal pohon dengan kepalanya.
Melihat hasil pertama, Coei San segera mengulangi perbuatannya.
Tapi kawanan binatang itu ternyata pintar sekali dan mereka semua menundukkan kepala dan mulai mengeragoti pohon.
Oleh karena begitu, Coei San hanya dapat menimpuk punggung mereka yang kulitnya tebal, sehingga serangan itu tidak dirasakan sama sekali.
Tak lama kemudian, pangkal pohon itu sudah somplak sebagian dan jika di dorong beramai-ramai, sudah pasti akan roboh.
Coei San menghela napas.
"Aku tak nyana, sesudah berhasil menyelamatkan diri dari lautan, kita bakal jadi makanan kawanan biruang,"
Katanya. Dengan jantung memukul keras, So So mengawasi satu pohon siong yang terpisah kira-kira tujuh delapan tombak.
"Ngoko,"
Bisiknya.
"Dengan ilmu mengentengkan badan, sekali lompat kau bisa turun kebawah dan dengan sekali lompat lagi, kau bisa naik kepohon itu."
Sang suamipun sudah lihat kemungkinan itu.
Memang, kalau seorang diri, ia dapat berbuat begitu.
Tapi dengan membawa isterinya, mereka tentu akan tercegat ditengah jalan.
Maka itu sambil menggeleagkan kepala, ia berkata.
"Tidak dapat. Tak dapat aku berbuat begitu."
"Ngoko, tak usah kau pikiri aku,"
Kata pula sang istiri.
"Tidak perlu kita mati berdua-dua."
"Kita sudah bersumpah, bahwa Langit diatas bumi dibawah, kita tak akan berpisahan untuk selama-lamanya."
Jawab sang suami.
"Mana dapat aku meninggalkan kau dengan begitu saja ?"
Bukan main rasa terharunya nyonya itu, sehingga air matanya lantas saja berlinang-linang.
Ia ingin coba membujuk lagi, tapi mu!utnya seearti terkancing.
Sesaat itu, tiba-tiba pohon bergoyang-goyang, karena didesak dengan berbareng oleh kawanan biruang itu.
Hati So So mencelos, sehingga tanpa merasa, ia mengeluarkan teriakan perlanan.
Ia tahu.
beberapa detik lagi, pohon itu pasti akan rubuh.
Pada saat yarg sangat berbahaya, disebelah kejauhan sekonyong konyong terdengar suara yang sangat tajam.
Suara itu tidak begitu keras, tapi aneh sekali, seperti bunyi burung malam, seperti bunyi khim, seperti angin meniup daun bambu dan seperti bunyi genta.
Begitu mendengar suara itu, ketigabelas biruang berhenti serentak dalam usahanya untuk merubuhkan pohon dan berdiri diam sambil memasang kuping.
Dari sikap mereka, seolah olah suara itu adalah suara yarg paling menakuti didalam dunia.
Apa yang paling mengherankan lagi, sesaat kemudian, seekor demi seekor menundukkan kepala dan mendekam diatas tanah tanpa bergerak.
Walaupun tak tahu apa artinya itu, Coei San dan So So girang tak kepalang dan harapan besar muncul dalam hati mereka.
"Tolong! Tolong!"
Jerit So So.
"Tolong....! Biruang mau mencelakakan manusia."
Jeritan itu disambut dengan suara yang tadi, yang mendatangi dengan kecepatan luar biasa, lebih cepat dari terbangnya burung.
Sesaat kemudian, didepan mereka berkelebat satu bayangan merah, seolah-olah sebuah bola api yang menyambar dari satu pohon disebelah depan dan kemudian hinggap didahan pohon dimana Coei San dan So So sedang menyembunyikan diri.
Sekarang baru mereka bisa melihat nyata.
Yang hinggap didahan itu adalah seekor kera yang bulu nya merah, tingginya kira-kira tiga kaki, mukanya putih seperti batu giok, sedang kedua matanya yang berkilat-kilat mengeluarkan sinar keemas emasan.
Bahwa binatang yang datang kesitu adalah seekor kera yang begitu menarik, tidak diduga-duga mereka.
Waktu berteriak untuk meminta pertolongan, So So menaksir, bahwa binatang yang mengeluarkan suara begitu adalah binatang buas yang sangat menakuti.
Tapi karena sedang menghadapi bahaya besar, mau tidak mau, ia berteriak juga.
Maka itu, dengan kegirangan yang meluap-luap, ia segera mengangsurkan tangannya kearah kera itu.
Biarpun belum pernah melihat manusia kera itu ternyata pintar luar biasa.
Ia rupanya mengerti maksud persahabatan itu dan segera mengulur satu tangannya dan menyentuh tangan si nyonya.
Sambil menuding kawanan biruang itu, So So ber kata.
"Mereka mau mencelakakan kami. Apa kau dapat menolong?"
Melihat gerakan So So, seraya memekik kera itu melompat turun dan menghampiri salah seekor biruang.
Dengan sekali menggerakkaa tangan, jari-jarinya amblas kedalam kepala biruang itu dan dilain saat, tangannya sudah memegang otak biruang.
Ia melompat naik pula dan dengan sikap hormat, mengangsurkan otak biruang itu kepada So So.
Coei San dan isterinya kaget bakan main.
tenaga binatang yang sehebat itu sungguh-sungguh belum pernah didengar mereka.
So So sebenarnya tidak sanggup menelan otak mentah itu.
Tapi sebab tidak mau membangkitkan kegusaran tuan penolong itu, dengan apa boleh buat, ia menyambutinya.
Ia menggigit sebagian otak itu, dan menyerahkan sisanya kepada Coei San.
Diluar dugaan, otak biruang itu lezat luar biasa, lebih enak dari makanan apapun jua yang pernah dimakannya.
Sambil bersenyum, ia lalu mengambilnva kembali dari tangan suaminya dan menghabis kan semuanya.
"Terima kasih, terima kasih,"
Katanya sambil memanggut-manggutkan kepala.
Dilain saat kera itu sudah melompat turun lagi dan mengambil pula dua otak biruang yang lalu dimakannya.
Sungguh mengherankan, kawanan biruang itu bukan saja tidak berani melawan, tapi juga tidak berani lari Mereka terus mendekam diatas tanah, seperti orang yang sedang menerima hukuman.
So So tertawa nyaring.
"mampuskan semua biruang itu,"
Katanya.
"Kalau kau tidak keburu datang, kami berdua tentu sudah masuk kedalam perut mereka."
Sambil memekik kera itu melompat turun lagi dan dalam sekejap ia sudah membinasakan semua biruang itu.
Coei San dan So so lantas saja turut melompat turun.
Melihat tiga belas bangkai binatang itu, Coei San merasa tidak tega dan ia berkata dengan suara menyesal.
"Sebenarnya tak usah membinasakan mereka semua. Cukup jika mereka diusir pergi."
Mendengar perkataan suaminya, So So yang sedang mencekal lengan si kera agak terkejut.
"Ngoko tentu mencela aku,"
Katanya didalam hati.
"Ya... aku harus berusaha untuk mengubah adatku yang kejam."
Tapi biarpun hatinya menyesal, ia tertawa seraya berkata.
"Hm...sekarang Ngoko merasa kasihan terhadap biatang-binatang buas itu. Kalau saudara kera tidak datang menolong, apakah biruang-biruang itu akan menaruh belas kasihan terhadap kita?"
"Kalau kita sama kejamnya seperti binatang, bukankah kita tiada beda seperti binatang?"
Kata sang suami.
"Binatangpun ada juga yang baik,"
Kata So So sambil tertawa.
"Lihatlah saudara kera ini. Kepandaiannya lebih tirggi dan rupanya lebih tampan daripada kau."
Coei San tertawa terbahak-bahak.
"Ai ya?"
Seru nya.
"Kau membuat aku cemburu."
Sesudah terlolos dari lubang jarum. mereka bergembira sekali dan beromong-omong dengan tertawa-tawa. Kera merah itupun tidak kurang gembiranya dan dia melompat-lompat kian kemari.
"Kawanan biruang itu mungkin mempunyai anak, coba kita tengok,"
Kata Coei San.
Dengan So So menutun kera, mereka lalu masuk kedalam guha.
Sesudah berjalan-jalan kira-kira sembilan tombak, ditengah-tengah guha itu terbuka sebuah lubang, sehingga sinar terang menyorot masuk kedalam.
Hanya sayang, guha yang sebenar nya sangat nyaman itu berbau busuk sebab penuh dengan kotoran dan air kencing biruang.
"Kalau tidak berbau busuk, tempat ini cocok sekali untuk menjadi tempat meneduh kita,"
Kata So So sambil menekap hidung.
"Kita dapat mernbersihkannya,"
Kata sang suami.
"Sesudah lewat sepuluh hari atau paling lama setengah bulan, kurasa bau itu akan hilang sendirinya"
So So mengawasi Coei San dengan hati girang tercampur duka, karena ia ingat, babwa mulai hari itu, ia akan berdiam dipulau tersebut bersama sama Coei San untuk selama-lamanya.
Sementara itu, Coei San sudah mematahkan cabang-cabang poloh yang lalu dibuat menjadi sebuah sapu.
Dengan dibantu oleh isterinya, ia lalu menyapu kotoran biruang.
Dengan gembira sikera coba membantu, tapi biarpun pintar, kera tetap kera dan sebaliknya daripada membantu, ia mengacau pekerjaan orang.
Karena mengingat budinya, Coei San dan So So membiarkan ia mengunjuk kenakalannya.
Sesudah bekerja berat, guha itu akhirnya bersih, tapi bau busuknya belum mau menghilang juga.
"Alangkah baiknya jika kita dapat mencuci dengan air,"
Kata So So.
"Hanya sayang kita tak punya tahang."
Sesudah memikir sejenak, Coei San berkata.
"Ada jalan,"
Buru-buru ia mendaki gunung dan mengambil beberapa balok es yang lalu ditaruh dibatu-batu yang agak tinggi dalam guha itu.
"Ngoko, lihay sungguh otakmu!"
Memuji sang isteri sambil menepuk-nepuk tangan.
Tak lama kemudian, balokan es itu mulai melumer dan airnya mangalir kebawah, sehingga guha itu seolah-olah disiram.
Sedang suaminya mencuci guha, dengan menggunakan pedang bengkok, So So memotong daging biruang yang kemudian ditumpuk menjadi satu.
Walaupun dipulau itu terdapat gunung berapi tapi karena berada dalam wilayah Kutub Utara, maka hawanya masih sangat dingin.
Maka itu, sesudah diuruk dengan potongan-potongan es, daging itu rasanya tak akan rusak dalam tempo lama.
Sesudah selesai bekerja, So So menghela napas seraya berkata.
"Manusia selalu merasa tidak puas. Jika sekarang kita dapat menyalakau api dan membakar telapak kaki biruang, kita akan dapat mencicipi makanan yang sungguh luar biasa." (Telapak kaki biruang semenjak jaman purba sudah diakui sebagai salah satu makanan yang paling enak).
"Api ada, hanya terlalu besar,"
Kata Coei San sambil mengawasi asap yang mengepul dari gunung berapi.
"Perlahan-lahan kita harus berdaya untuk mengambil api itu."
Malam itu mereka makan otak biruang dan tidur diatas pohon. Pada esokan paginya, baru saja membuka mata, So So sudah berteriak .
"Aduh! Wangi sungguh !"
Ia melompat turun dari pohon dan mendapat tahu, bahwa bau wangi itu darang dari dalam guha.
Bersama suaminya, ia berlari-lari kedalam guha, dimana terdapat tumpukan-tumpukan bunga yang tengah dilontarkan kian kemari oleh sikera sambil melompat-lompat, So So yang sangat suka akan bunga jadi girang bukan main dan mengawasi lagak kera itu sambil menepuk nepuk tangan.
Coei San.
"Aku hendak bicarakan serupa soal denganmu."
Melihat paras suaminya yang bersungguh-sungguh ia agak terkejut.
"Ada apa?"
Tanyanya.
"Aku ingin berdamai bagaimana kita bisa mendapatkan api."
Jawabnya.
"Ah, orang edan kau!"
Bentak stag isteri seraya tertawa .
"Kukira ada urusan penting. Ambil api! Aku setuju. Lekas beritahukan rencanamu."
"Dimulut gunung berapi, hawanya luar biasa panas dan kita tak akan dapat mendekatinya,"
Menerangkan Coei San.
"Maka itu menurut pendapatku, jalan satu-satunya ialah membuat tambang yang panjang dari kulit pohon. kemudian menjemur tambang itu dan ....."
"Bagus!"
Memutus sang isteri.
"Kemudian mengikat sebutir batu diujung tambang, melontarkan tambang itu kemulut gunung barapi dan menariknya kembali sesudah ujung tambang terbakar. Bukankah begitu maksudmu?"
Coei San mengangguk seraya memuji kepintaran isterinya.
Karena ingin sekali makan daging matang, tanpa menyia-nyiakan tempo lagi, mereka segera bekerja.
Selang dua hari, mereka sudah membuat tambang yang panjangnya seratus tombak lebih dan yang lalu dijemur dibawah sinar matahari.
Pada hari ke empat, dengan membawa tambang itu, mereka lalu pergi ke gunung berapi.
Walaupun kelihatannya dekat, gunung itu terpisah empat puluh li lebih dari tempat mereka.
Makin dekat dengan gunung itu, hawa makin panas.
Keringat mengucur dari tubuh mereka dan diseputar itu tidak terdapat pohon-pohonan lagi.
Apa yang mereka menemuinya hanyalah batu-batu yang gundul.
Sesudah berjalan lagi beberapa lama, hawa panas jadi makin hebat.
Melihnt muka isterinya yang merah kepanasan, Coei Scan yang menggendong jadi tak merasa tega.
"Kau tunggu disini, biar aku saja yang pergi kesitu,"
Katanya.
"Jangan rewel!"
Bentak sang isteri.
"Kalau kau banyak bicara, aku tak akan meladeni lagi. Paling banyak seumur hidup kita tidak mengenal api lagi, seumur hidup makan makanan mentah."
Coei San besenyum dan mereka teuns mendaki gunung itu.
Sesudah berjalan lagi kurang lebih satu li, napas mereka tersengal-sengal dan hampir tak dapat bertahan lagi.
Coei San memiliki Lweekang yang sangat tinggi, tapi iapun merasa matanya ber kunang-kunang dan kupingnya berbunyi.
"Sudahlah,"
Katanya.
"Dari sini saja kita melontar kan tambang ini. Jika tidak menyala. hem...kita..."
So So tertawa dan menyambungi.
"Kita jadi suami isteri orang hutan..."
Belum habis perkataannya, badannya bergoyang-goyang dan ia pasti rubuh jika tidak buru-buru mencekal pundak suaminya.
Dari atas tanah Coei San menjemput sebutir batu yang lalu diikatkan keujung tambang.
Sesudah itu, sambil berlari-lari dan mengerahkan Lweekang, ia melontarkan tambang dengan sekuat tenaga.
Bagaikan seekor ular, tambang itu terbang di tengah udara, kemudian jatuh dipermukaan bumi.
Akan tetapi, sebab jarak dengan mulut gunung yang mengeluarkan api, masih terlalu jaub, maka sesudah mereka menunggu beberapa lama, tambang itu belum juga menyala.
Sementara itu, mereka merasakan hawa panas semakin hebat, sehingga mata mereka seolah-olah mengeluarkan api.
Coei San menghela napas seraya berkata.
"Orang-orang dulu membuat api dengan menggosok kayu atau memukul batu. Sudahlah! Menggunakan tambang tidak berhasil. Biarlah kita cari lain jalan saja."
Dengan rasa kecewa, So So manggutkan kepalanya.
Selagi ia mau memanggil sikera merah, yang selalu mengikuti kemanapun juga mereka pergi, tiba-tiba ia lihat binatang itu menjemput sebutir batu dan dengan menyontoh cara Coei San, dia berlari-lari, kemudian melontarkan batu itu.
Dia gembira bukan main dan kelihatannya tak takut akan hawa panas.
Melihat begitu, tiba tiba So So mendapat satu pikiran.
"E eh, kera itu kelihatannya tidak takut api."
Katanya didalam hati. Ia segera bersiul dan berkata.
"Saudara kera, apakah kau dapat menolong untuk membawa ujung tambang ke api dan menyalahkannya ?"
Sambil berkata begitu, ia memberi isyarat dengan tangannya.
Kera itu ternyata pintar luar biasa.
Baru saja So So memberi isyarat dua tiga kali, ia sudah mengerti apa maksudnya dan seraya berbunyi keras, dengan belasan kali lompatan saja, dia sudah melalui seratus tombak lebih dan sesudah menjemput ujung tambang, dia berlari kemulut gunung bagaikan kilat cepatnya.
Melihat begitu, Coei San dan So So merasa menyesal, karena mereka kuatir dia tercemplung di dalam lubang api.
"Kauw jie! Kauw jie!"
Teriak So So.
"Balik! Hayo balik!"
Baru saja ia berteriak begitu, jauh-jauh terlihat mengepulnya asap diujung tambang yang kemudian ditarik dengan cepat oleh si kera dan beberapa saat kemudian ujung tambang yang menyala sudah berada dihadapan Coei San dan So So.
Bukan main girangnya mereka, So So melompat dsn memeluk binatang itu, sedang Coai San lalu mengambil cabang-cabang kayu kering yang diikat menjadi satu sebagai semacam obor dan kemudian menyulutnya dengan api ditambang itu.
Apa yang sangat mengherankan bagi mereka ialah, jangankan badannya sedangkan bulu si kera sedikitpun tidak berubah.
Dengan hati gembira, kedua suami isteri itu segera kembali keguha biruang bersama-sama sikera merah.
Mereka segera mengumpulkan cabang-cabang kayu dan rumput kering untuk membuat sebuah perapian.
Didalam dunia, dapat dikatakan semua binatang sangat takuti api.
Tapi sikera merah adalah lain dari yang lain.
Sambil mengeluarkan bunyi yang menggelikan dan dengan lagak nakal, ia bergulingan beberapa kali diatas perapian yang berkobar-kobar.
Mendadak Coei San ingat apa yang pernah dituturkan oleh gurunya dan tanpa merasa, ia mengeluarkan seruan "ah !"
"Ada apa ?"
Tanya sang isteri.
"Soehoe pernah memberitahukan aku, bahwa di dalam dunia hidup semacam tikus yang dinamakan tikus api,"
Jawabnya.
"Tikus itu dapat masuk bedalam api tanpa terbakar bulunya yang panjangnya satu dim lebih, dapat dibuat menjadi semacam kain yang diberi nama kain asbes. Kalau kain itu kotor, cara mencucinya adalah memasukannya kedalam api dan begitu dikeluarkan dari api, warnanya sudah putih kembali seperti sediakala. Menurut pendapatku, kera itu tidak banyak berbeda dengan tikus yang dituturkan Soehoe."
So So tertawa.
"Jika bulu Saudara Kauw jie rontok, aku akan membuat kain untukmu!"
Kata nya.
"Tapi paling sedikit kau harus berusia dua atau tiga ratus tahun."
Sesudah mempunyai api, segala apa beres, mereka masak air, memasak daging dan membuat satu dua rupa masakan.
Sedari perahu tenggelam, belum pernah mereka merasakan makanan matang.
Sekarang secara tidak diduga duga, mereka dapat makan telapak kaki biruang yang kesohor lezat dan dapatlah dibayangkan kegembiraan mereka.
Si kera merah yang tidak makan lain daripada otak biruang, pergi kehutan untuk mencari buah-buahan.
Madam itu, sesudah makan kenyang, Coei San dan So So tidur didalam guha diantara bau wangi dari berbagai macam bunga yang luar biasa.
Keesokan paginya, Coei San keluar dari guha dan dengan hati lapang ia memandang ketempat jauh.
Tiba-tiba ia melihat seorang yang bertubuh tinggi besar berdiri tegak diatas batu cadas dipinggir laut.
Ia kaget bukan main, karena orang itu bukan lain dari pada Cia Soen!
Sesudah mengalami penderitaan yang sangat hebat, ia dan isterinya mendarat dipulau yang indah itu.
Tapi baru saja menikmati penghidupan bahagia dan tenteram beberapa hari, si memedi sudah muncul lagi.
Dilain saat, ia lihat Cia Soen jalan mendatangi dengan badan bergoyang goyang.
Ternyata, sesudah matanya buta, ia tidak dapat menangkap ikan atau membunuh biruang, sehingga sedari hari itu, ia tak pernah menangsal perut dan biarpun badannya kuat luar biasa, ia tak dapat mempertahankan diri lagi.
Sesudah berjalan belasan tombak, badannya kelihatan bergemetar dan rubuh diatas tanah.
Buru-buru Coei San kembali keguha.
Begitu melihat suaminya, So So bersenyum seraya berkata.
"Ngo .."
Ia tidak meneruskan perkataannya sebab melihat paras sang suami yang suram. Sesudah berhadapan dengan isterinya, Coei San berkata dengan suara perlahan.
"Si orang she Cia ada disini!"
So So melompat bangun seperti orang dipagut ular.
"Dia sudah lihat kau ?"
Bisiknya. Tapi saat itu juga ia ingat, bahwa Cia Soen sudah buta dan hatinya jadi lebih tenang.
"Ngoko, kau tak usah takut,"
Katanya pula.
"Masakan kita berdua, ditambah lagi dengan Kauw jie, tidak dapat melawan seorang buta?"
Coei San manggut-manggutkan kepalanya.
"Dia rubuh pingsan karena kelaparan"
Katanya.
"Mari kita tengok,"
Kata sang isteri sambil merobek ujung bajunya kemudian dirobek lagi jadi empat potong kecil.
Dua segera dimasukkan ke dalam kupingnya dan yang dua lagi diserahkan kepada suaminya.
Dengan tangan kanan mencekal pedang dan tangan kiri menuntun si kera merah, ia segera mengikuti Coei San untuk menengok Cia Soen.
Sesudah berada dekat, Coei San berteriak.
"Cia Cianpwee. apa kau mau makan ?"
Dalam keadaan lupa ingat, Cia Soen mendengar teriakan itu dan pada paras mukanya lantas saja terlukis sinar harapan.
Tapi dilain saat, ia mengenali, bahwa suara itu adalah suara Coei San dan paras mukanya lantas saja berubah menyeramkan.
Selang beberapa lama, barulah ia mengangguk.
Coei San segera melontarkan sepotong daging seraya berteriak.
"Sambutlah !"
Cia Soen bangun sambil menekan tanah dengan tangan kiri dan dengan pertolongan kupingnya yang sangat tajam, dengan tangan lainnya ia menangkap daging itu yang lalu dimakan perlahan-lahan.
Melihat seorang yang begitu gagah perkasa telah menjadi lemah dalam hati Coei San lantas saja timbul perasaan kasihan.
Tapi So So mempunyai pendapat lain.
Ia sangat tidak mupakat dengan tindakan suaminya yang sudah memberi makanan kepada Cia Soen.
"Hmm! Sesudah kuat, mungkin dia akan membinasakan kita berdua,"
Katanya didalam hati.
Tapi karena sudah bersumpah untuk menjadi orang baik maka meskipun hatinya mendongkol, ia menutup mulut.
Sesudah makan sepotong daging itu.
Cia Son lantas saja pulas diatas tanah.
Coei San segera menyalakan sebuah perapian didekatnya untuk mengusir hawa dingin dan mengeringkan pakaian Cia Soen yang basah kuyup.
Sampai lohor barulan si buta sadar.
"Tempat apa ini?"
Tanyanya.
Melihat gerakan mulutnya, Coei San dan So So, yang menungguinya, segera mencabut satu sumbatan kuping untuk mulai bicara, tapi mereka sangat berwaspada dan siap sedia untuk menyumbat kuping jika terlihat gerakan yang luar biasa.
"Pulau ini adalah pulau yang tidak ada manusia."
Jawab Coei San. Cia Soen mengeluarkan suara dihidung. Beberapa saat kemudian, barulah ia berkata.
"Katau begitu kita tak akan bisa pulang."
"Hal itu lebib baik kita menyerahkan saja ke pada kebijaksanaan langit,"
Kata pula Coei San. Mendadak Cia Soen meluap darahnya dan bagaikan kalap ia mulai mencaci langit. Sesudah kenyang memaki maki ia meraba-raba satu batu besar dan lalu duduk diatasnya.
"Apa yang kamu ingin berbuat terhadapku ?"
Tanyanya. Coei San melirik isterinya yang segera memberi isyarat, bahwa ia menyerahkan keputusan kepada sang suami.
"Sesudah memikir sejenak, pemuda itu lalu berkata dengan suara nyaring.
"Cia Cianpwee, kami berdua suami isteri ..."
"Hm....."
Cia Soen memotong pembicaraan orang.
"Kamu sudah menjadi suami isteri?"
Paras muka, So So lantas saja bersemu dadu, sedang hatinya girang.
"Dalam pernikahan kami, dapat dikatakan Cianpweelah yang menjadi comblang,"
Katanya seraya tertawa.
"Untuk itu. kami harus menghaturkan terima kasih."
Cia Soen kembali mengeluarkan suara dihidung.
"Baiklah. Apa yang kamu mau berbuat terhadapku?"
Tanyanya pula.
"Cia Cianpwee,"
Kata Coei San.
"Kami merasa sangat menyesal, bahwa kami telah membutakan kedua matamu. Tapi karena hal itu sudah terjadi kami meminta maaf pun tiada gunanya. Jika kits ditakdirkan untuk berdiam dipalau ini seumur hidup dan tak bisa kembali lagi di Tionggoan maka satu-satunya yang dapat diperbuat kami yalah merawat Cianpwee seumur hidup."
Cia Soen mengangguk.
"Ya.. begitu saja,"
Kata nya.
"Kami berdua sangat mencintai satu sama lain dan akan hidup atau mati bersama-sama,"
Kata pula Coei San.
"Jika penyakit Cianpwee kumat lagi dan mencelakakan salah seorang diantara kami, maka orang yang masih hidup sudah pasti tak akan mau hidup lebih lama lagi."
"Kau ingin mengatakan, bahwa jika kalian berdua mati, akupun tak bisa hidup seorang diri di pulau ini. Bukankah begitu?"
Tanya Cia Soen "Benar,"
Jawab Coei San.
"Kalau begitu, perlu apa kalian menyumbat kuping?"
Tanya pula Cia Soen.
Coei San dan So So saling mengawasi sambil bersenyum dan lalu mencabut potongan kain yang masih menyumbat kuping kiri mereka.
Mereka merasa kagum bukan main, karena walaupun sudah tak dapat melihat, Cia Soen masih dapat mengetahui segala apa dengan kupingnya yang sangat tajam.
Sesudah beromong omong sedikit, Coei San lalu meminta orang tua itu memberi nama kepada pulau mereka.
"Di pulau ini terdapat es yang ribuan tahun tak pernah melumer dan terdapat pula api yang laksaan tahun tak pernah padam."
Kata Cia Soen.
"Maka biarlah kita menamakannya pulau Pang hwee to saja."
Pang hwee to berarti Pulau es dan api.
Demikianlah.
Mulai waktu itu, tiga manusia dan seekor kera menjadi penghuni dari pulau terpencil itu.
Untuk keperluan hidup, Coei San dan So So bekerja keras.
Mereka membuat piring mangkok dengan membakar tanah liat, membuat dapur dengan menumbuk tanah dan batu, membuat kursi meja dan lain-lain perabotan rumah tangg.
Biarpun buatannya sangat kasar, alat-alat dan perabotan itu dapat memenuhi keperluan mereka.
Saban-saban ada tempo yang luang, mereka menanam pohon-pohon bunga disebelah kiri guha itu.
Cia Soen juga tidak pernah rewel dan hidup dengan tenteram.
Setiap hari ia duduk termenung sambil mencekal To liong to.
Ia rupanya terus mengasah otak untuk memecahkan rahasia yang bersembunyi dalam golok mustika itu.
Mereka membujuk supaya ia jangan memutar otak lagi.
"Aku pun mengerti bahwa andaikata aku dapat memecahkan rahasia ini, aku tak akan dapat berdiam disebuah tempat yang terpencil dan tak punya harapan untuk bisa kembali ke Tionggoan,"
Jawabnya dengan suara getir.
"Akan tetapi, karena aku tak punya kerjaan dan merasa sangat kesepian maka biarlah aku mengasah otak untuk menghilangkan tempo."
Mendengar jawaban yang sangat beralasan, mereka mengangguk dan tidak membujuk lagi.
Kira-kira setengah li dalam guha biruang, terdapat sebuah guha lain yang lebih kecil.
Sesudah bekerja keras kurang lebih sepuluh hari, Coai San mengubah guha itu menjadi sebuah kamar yang kecil, yang lalu diserahkan kepada Cia Soen untuk dijadikan kamar tidurnya.
Beberapa bulan telah terlalu dengan cepatnya.
Pada suatu hari, bersama sikera merah, Coei San dan So So pesiar kesebelah utara pulau itu.
Di luar dugaan mereka, pulau itu sangat panjang dan sesudah melalui seratus li lebih, mereka belum wencapai ujungnya.
Sesudah berjalan lagi beberapa lama, disebelah depan menghadang sebuah hutan yang sangat besar.
Mereka mendekati hutan itu, tapi baru saja Coei San ingin masuk, si kera merah berbunyi keras dan memperlihatkan sikap ketakutan.
So So jadi kuatir dan berkata.
"Ngo ko, kau tak boleh masuk, Kauw jie kelihatannya saungat ketakutan."
Coei San merasa heran tercampur kuatir, karena si isteri yang biasanya sangat bergembira jika menemui sesuatu yang luar biasa, pada waktu waktu belakangan sangat lesu kelihatannya.
"So So, mengapa kau?"
Tanyanya.
"Apa badanmu kurang enak."
Ditanya begitu, So So kelihatannya kemalu maluan, sehingga paras mukanya barubah merah.
"Tidak apa-apa,"
Jawabnya dengan suara perlahan. Sang suami jadi makin heran dan terus mendesak. Akhirnya, sambil menunduk ia berkata dengan suara perlahan.
"Langit rupanya tahu, bahwa kita terlalu kesepian dan akan mengirim seorang manusia lain datang kepulau ini."
Coei San terkesiap dan dilain saat, kegirangannya meluap-luap.
"Kita akan punya anak?"
Tanyanya.
"Sts! Perlahan sedikit!"
Bentak si isteri, tapi dilain saat ia tertawa geli karena baru ia ingat bahwa disekitar hutan itu tiada lain manusia.
Siang malam terbang bagaikan anak panah yang melesat dari busurnya.
Cuaca berubah agi, siang makin pendek dan malam makin panjang, sedang hawa udarapun makin dingin.
Sesudah hamil, So So gampang capai, tapi ia tetap melakukan pekerjaan sebari-hari seperti masak, menambal pakaian dan menyapu lantai.
Malam itu ia sudah hamil hampir sepuluh bulan.
Sesudah menyalakan perapian didalam guha, kedua suami isteri lalu duduk beromong-omong.
"Ngoko. coba kau tebak, apa anak kita lelaki atau perempuan?"
Kata So So.
"Perempuan seperti kau, lelaki seperti aku, bagi ku sama saja."
Jawab sang suami.
"Aku lebih suka anak lelaki."
Kata pula So So.
"Coba kau pilih satu nama untuknya."
Coei San hanya mengeluarkan suara "hmmm"
Dan tidak menjawab perkataan isterinya.
"Ngoko, apa sedang dipikir olehmu?"
Tanya pula sang isteri.
"Dalam beberapa hari ini kau kelihatannya agak bingung."
Coei San bersenyum.
"Tak apa-apa, mungkin karena kegirangan bakal menjadi ayah, aku kelihatannya tolol,"
Jawabnya. Tapi nyonya itu yang sangat pintar tak dapat diakali. Ia sudah melihat bahwa pada mata suaminya terdapat sinar kekuatiran.
"Ngoko, jika kau tidak berterus terang, aku akan jengkel sekali."
Katanya dengan suara lemah lembut.
"Ada apa yang mendukakan hatimu?"
Coei San menghela napas.
"Aku harap saja penglihatanku keliru,"
Katanya.
"Dalam beberapa hari ini, kulihat perubahan pada paras muka Cia Cianpwee."
So So mengeluarkan seruan tertahan dan berkata dengan suara berkuatir .
"Benar, akupun sudah lihat perubahan itu. Paras mukanya makin hari jadi makin ganas dan mungkin sekali ia bakal kalap lagi."
Coei San manggut-manggutkan kepalanya.
"Dia rupanya jengkel karena tidak dapat menembus rahasia yang meliputi To liong to."
Katanya. Tiba-tiba air mata So So mengucur, sehingga suaminya terkejut.
"Aku sedikitpun tidak merasa halangan kalau kita mati bertempur dan mati bersama-sama dia,"
Katanya dengan suara sedih.
"Tapi.... tapi....."
Dengan rasa terharu, Coei San memeluk istrinya.
"Benar sesudah mempunyai anak, kita tak boleh sembarangan mengadu jiwa,"
Katanya "Kalau dia kumat lagi kalapnya, tiada jalan lain dari pada membinasakannya. Kedua matanya sudah buta dan aku merasa pasti, dia tak akan bisa mencelakakan kita."
Mendengar niatan suaminya untuk membunuh Cia Soen, badan nyonya itu bergemetaran.
Sebagaimana diketahui, waktu masih ia kejam luar biasa dan dapat membunuh puluhan manusia tanpa berkesiap.
Tapi sesudah hamil, entah mengapa hatinya jadi berubah mulia.
Pernah kejadian pada suatu hari Coei San menangkap seekor biang menjangan yang diikut oleh dua anaknya sampai diguba.
So So merasa tak tega dan berkeras supaya suaminya melepaskan betina menjangan itu.
Ia lebih suka makan buah buahan saja daripada membunuhnya.
Melihat istrinya menggigil, Coei San tertawa seraya berkata dengan suara menyinta.
"Aku harap saja dia tidak kalap lagi. So So, berikan saja nama Liam Coe (Langit Welas asih) kepada anak kita. Apa kau setuju? Aku ingin supaya kalau sudah besar, dia akan terus ingat, bahwa ibunya mempunyai hati yang welas asih. Perem puan atau lelaki, kita berikan saja nama itu."
So So mengangguk dengan perasaan beruntung.
"Dulu, setiap kali aka membunuh manusia, hati ku merasa girang,"
Katanya.
"Tapi sekarang, dengan mengatahui, bahwa dalam hatiku telah muncul perasaan kasih terhadap sesama manusia, aku merasa bahagia dan kebahagiaan itu berbeda jauh dengan kegirangan diwaktu dulu, waktu aku membunuh manusia."
Sang suami manggut-manggutkan kepalanya.
"Aku sungguh girang mendangar pengutalanmu ini,"
Katanya.
"Orang kata, bibit mencelakakan manusia tidak boleh ditanam didalam hati, bibit menolong manusia harus dipupuk."
"Benar,"
Kata So So.
"Tapi bagaimana kita harus bertindak, kalau benar dia kalap lagi. Dengan adanya saudara Kauw jie sebagai pembantu, kekuatan kita bertambah besar."
"Tapi kurasa kita tidak dapat terlalu mengandalkan kera"
Kata sang suami.
"Dia memang pintar sekali, tapi belum tentu dia mengerti kemauan kita. Kita harus mencari daya upaya yang lebih semgurna."
"Begini saja,"
So So mengajukan usulnya.
"Waktu momberikan makanan kepadanya, kita menaruh racun.... Tidak! Tidak boleh begitu! Belum tentu dia kalap lagi dan mungkin sekali kita menduga keliru."
"Aku mempunyai serupa akal yang rasaaya dapat digunakan,"
Kata Coei San.
"Mulai besok kita pindah kebagian sebelum guha ini dan membuat sebuah lubang jebakan dibagian luar dan diatas lubang itu, kita tutup dengan rumput dan daun daun kering."
"Akal itu sangat baik, hanya aku kuatir kau akan dicegat dia ditengah jalan waktu kau memburu binatang,"
Kata So So. Coei San tertawa.
"Tak usah kau kuatirkan keselamatanku,"
Katanya.
"Begitu lekas melihat gelagat kurang baik, aku bisa lantas melarikan diri. Dengan memanjat batu-batu cadas dan tebing, kurasa dia tak akan dapat menyandak aku."
Keesokan paginya, Coei San lalu mulai menggali lubang dibagian luar guha itu.
Karena tidak mempunyai cangkul besi, ia terpaksa menggunakan potongan kayu, sehingga pekerjaan itu memerlukan tenaga yang sangat besar.
Tapi berkat Lweekangnya yarg sangat tinggi, sesudah bekerjaa keras tujuh hari lamanya, ia berhasil menggali lubang yang dalamnya sudah kira-kira tiga tombak.
Sementara itu, makin hari Cia Soen makin gila lagaknya.
Sering-sering ia menari-nari ditempat terbuka sambil mencekal To liongto.
Coei San bekerja makin keras.
Sesudah menggali lima tombak, ia berniat menancapkan potongan-potongan kayu tajam didasar lubang.
Menurut rencananya, guha itu bermulut lebar dan berdasar sempit sehingga jika Cia Soen jatuh kedalamnya, ia bukan saja akan terluka, tapi sukar dapat melompat keluar karena badannya bakal terjepit.
Hanya sayang, sebelum ia selesai mengali sampai lima tombak, penyakit Cia Soen sudah keburu kumat lagi.
Hari itu, sesudah makan tengah hari, Cia Soen jalan mundar-mandir didepan guha.
Coei San tidak berani bekerja, karena kuatir suara menggali tanah akan menimbulkan kecurigaannya.
Ia juga tidak berani meninggalkan isterinya dan terus berdiam diluar mulut guha sambil menahan napas dan berwaspada.
Tiba-tiba Cia Soen mulai mencaci.
Ia mencaci langit, Bumi, dewa-dewa dan malaikat-malaikat.
Sesudah itu ia mencaci kaizar-kaizar dan orang orang ternama dijaman purba.
Sebagai seorang yang berpengetahuan tinggi, maki-makiannya di sertai dengan kutipan-kutipan sejarah sehingga Coei San yang mendengarnya jadi merasa ketarik sekali.
Sesudah puas menyikat orang-orang dulu, ia mulai mencaci pentolan pentolan dalam Rimba Persilatan.
Tatmo Couw soe dari Siau lim pay, Gak Boe Bok (Gak Hoi), jago-jago dan yang lain -lain bintang dilangit persilatan semua disikat bersih.
Ia mencaci orang-orang gagah dari satu kelain jaman dan apa yang sangat menarik, caciannya bukan membuta tuli, tapi di sertai juga dengan kupasan-kupasan pedas tajam mengenai kekurangan dari ilmu silat setiap partai atau perseorangan.
Waktu memaki orang-orang gagah dijaman buntut Lam song (Kerajaan Song Selatan), yang disikat olehnya adalah Tong sia, See tok, Lam tee, Pay kay dan Tiong sin thong dan sesudah lima jago itu, ia mencaci juga Kwee Ceng dan Yo Ko.
Akhirnya, tibalah giliran Thio Sam Hoag, pendiri dari Boe tong pay dan sampai disitu, Coei San tak dapat menahan sabar lagi.
Dengan darah meluap, Coei San membuka mulutnya untuk balas memaki.
Tetapi sebelum perkataannya keluar, tiba-tiba Cia Soen berteriak .
"Thio Sam Hong bukan manusia! Muridnya. Thio Coei San, juga bukan manusia! Paling benar aku mampuskan dulu bininya!"
Sambil berteriak begitu, ia melompat masuk kedalam gua.
Coei San lantas saja turut melompat, tapi hampir berbareng, ia dengar suara gedubrakan, sebagai tanda, bahwa orang edan itu sudah terjeblos kedalam jebakan.
Tapi karena didasar lubang belum dipasang kayu-kayu tajam, maka biarpun terguling.
Cia Soen tidak sampai terluka dan sesudah hilang kagetnya, ia segera melompat keatas.
Sementara itu, Coei San sudah menjemput potongan kayu yang digunakan untuk menggali tanah dan begitu lihat munculaya badan Cia Soen, ia segera menghantam kayu itu.
Mendengar sambaran angin tajam, bagaikan kilat Cia Soen menangkap kayu itu dengan tangan kirinya dan membetotnya keras-keras.
Coei San tak kuat menahan betotan yang sangat hebat itu, sehingga bukan saja kayu terlepas, tapi telapak tangannyapun terbeset dan mengeluarkan darah.
Tapi karena pukulan tersebut, tubuh Cia Soen kembali jatuh kedalam lubang.
Pada saat itu, tanpa diketahui sang suami, So So sebenarnya sudah hampir melahirkan anak.
Waktu si edan mondar mandir didepan gua perutnya sudah sakit.
Tapi ia tidak berani memanggil suaminya karena kuatir didengar Cia Soen.
Sekarang, melihat senjata suaminya direbut, sambil menahan sakit ia mengambil pedangnya yang lalu dilontarkan ke pada Coei San.
"Kepandaian orang itu sepuluh kali lipat tinggi dari padaku dan jika aku mem bacok, pedang ini pasti akan direbut olehnya,"
Pikir Coei San.
Mendadak ia ingat, bahwa sesudah kedua matanya buta, Cia Soen menganggap potongan kayu tadi dengan mendengar sambaran angin pukulan.
Maka itu, pasti akan berhasil jika bisa menyerang tanpa menerbitkan sambaran angin.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa terbahak bahak disusul dengan melompatnya si kalap kemulut lubang hua.
Coei San segera menudingkan ujung pedang yang sudah diluruskan setelah mereka mendarat dipulau itu kearah siedan yang sedang melesat keatas.
Ia tidak menikam atau membacok, ia hanya menunggu.
"Crass"
Ujung pedang menancap dikepala Cia Soen.
Karena tak ada sambaran angin, Cia Soen yang sedang melompat keatas tentu saja tak menduga, bahwa ia akan dipapaki dengan senjata tajam.
Masih untung ia mempunyai kepandaian yang sangat tinggi dan dapat bergerak luar biasa cepat.
Begitu ujung pedang menggores batok kepalanya begitu ia melenggakkan kepala seraya menangkap badan pedang dan mengerahkan tenaga Ciankie toei (ilmu untuk menambah berat badan), sehingga tubuhnya jatuh lagi kedalam lubang dengan kecepatan luar biasa.
Tapi, biarpun dapat menyelamatkan jiwanya, ia sudah terluka agak berat dan darah mengucur dari kepalanya.
Begitu jatuh, ia segera mencabut pedang yang menancap dibatok kepalanya dan sesudah menghunus To liong to, untuk ketiga kalinya ia melompat pula sambil memutar golok mustika itu guna melindungi kepalanya.
Kali ini Coei San menimpuk dengan satu batu besar, tapi batu itu dipukul terpental dengan To liong to.
Begitu kedua kakinya hinggap dipinggir lubang, Cia Soen menerjang seperti orang gila.
Sambil melompat mundur, hati Coei San mencelos.
Ia ingat, bahwa hari itu ia dan So So akan berpulang kealam baka, tanpa melihat lagi anaknya yang belum terlahir.
Biarpun sedang kalap didalam perkelahian, Cia Soen ternyata masih dapat menggunakan otaknya.
Ia merasa, bahwa yang paling penting adalah menjaga supaya Coei San dan So So tidak dapat keluar dari guha itu.
Begitu lekas mereka keluar, ia tak akan dapat mencarinya.
Maka itu, dengan tangan kanan mencekal golok dan tangan kiri memegang pedang, ia memutar kedua senjata itu bagaikan titiran cepatnva, sehingga mulut guha tertutup dengan sambaran sambaran senjata yang sangat hebat.
Mendadak, pada saat yang sangat berbahaya bagi dirinya kedua suami isteri itu, didalam guha terdengar suara menangisnya bayi.
Cia Soen terkesiap dan ia berhenti bergerak.
Bayi itu menangis terus.
Pada saat itu, walaupun tahu, bahwa bencana sudah berada diatas kepalanya, Coei San tidak menghiraukan orang edan itu lagi.
Dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan, mata Coei San dan So Sa mengawasi bayi itu yang menggerak-gerakkan kaki tangannya sambil menangis keras.
Mereka mengerti, bahwa dengan sekali membabat, Cia Soen dapat membinasakan mereka bersama bayi yang baru terlahir itu.
Tapi mereka tidak menghiraukan.
Didalam hati, mereka bersyukur, bahwa sebelum mati, meraka masih dapat melihat wajah anak itu.
Mereka sama sekali tak pernah mimpi, bahwa tangisan bayi itu mempunyai pengaruh yang sangat luar biasa.
Dengan tiba-tiba saja, Cia Soen tersadar dan kalapnya hilang seketika, seperti daun disapu angin.
Didepan matanya lantas saja terbayang peristiwa pada puluhan tahun berselang, waktu keluarganya dianiaya.
Istrinya belum lama melahirkan dan bayi yang baru lahir itu tidak luput dari keganasan musuh.
Dalam otaknya berkelebat-kelebat peringatan-peringatan yang menyayat hati, kecintaan suami istri, kekejaman musuh, dibantingnya bayi yang baru lahir, usahanya untuk me nambah kepandaian, tapi kepandaian musuh bertambah lebih cepat, didapatinya To liong to dan kegagalannya untuk menembus rahasia golok mustika itu.
Lama ia berdiri terpaku, sebentar bersenyum, sebentar mengertak gigi.
"Lelaki atau perempuan ?"
Mendadak terdengar pertanyaan Cia Soen.
"Lelaki."
Jawab Coei San.
"Apa arinya sudah digunting?"
Tanyanya pula.
"Benar! Aduh, kulupa!"
Jawab Coei San.
Cia Soen segera memutar pedang yang dicekalnya dan menyodorkan gagangnya kepada Coei San yang segera menyambuti dan memotong ari bayi itu.
Sesaat itu ia terkesiap, karena barulah ia ingat bahwa si edan berada dekat sekali dengan mereka.
Tapi begitu melirik muka Cia Soen, ia merasa lebih lega, karena kekalapannya sudah menghilang dan paras mukanya terlukis perasaan menyayang.
"Berikan kepadaku,"
Kata So So dengan suara lemah. Sang suami segera mengangkat bayi itu dan menaruhnya kedalarn dukungan isterinya.
"Apa kau sudah masak air untuk memandikannya ?"
Tanya Cia Soen dengan suara perlahan. Coei San tertawa.
"Aku benar gila!"
Katanya.
"Aku sudah melupakan segala apa."
Seraya berkata, ia segera bertindak keluar untuk memasak air.
Tapi baru satu dua tindakan, ia berhenti karena sangsi.
Cia Soen rupanya dapat menebak kekuatiran pemuda itu "Kau berdiam saja disini menemani isterimu,"
Katanya.
"Biar aku yang masak air."
Ia segera memasukkan To liong to kedalam sarung dan berjalan keluar sambil melompati lubang jebakan.
Tak lama kemudian, ia sudah kembali dengan membawa sepaso air panas dan Coei San lalu memandikan bayinya.
"Bagaimana macamnya bayi itu?"
Tanya Cia Soen.
"Seperti ibunya atau seperti ayahnya ?"
Coei San beriseyum "Lebih banyak menyerupai ibunya,"
Jawabnya "Tidak gemuk, mukanya potongan kwaci"
Cia Soen menghela napas panjang. Sesudah termenung sejenak, ia berkata dengan suara perlahan.
"Aku mendoakan, supaya sesudah besar ia jangan bernasib jelek. Aku mendoakan supaya ia banyak rezeki dan umur panjang, jauh dari segala penderitaan."
"Cia Cianpwee, apakah nasib anak ini kurang baik?"
Tanya So So.
"Bukan begitu,"
Jawabnya.
"Kudengar, anak itu menyerupai kau. Kalau benar, ia berparas terlampau ayu. Orang kata, orang yang terlalu ayu sering bernasib jelek sehingga aku kuatir, jika dihari kemudian anak ini masuk dalam dunia pergaulan, ia akan menemui banyak kesukaran."
"Cia Cianpwee, kau memikir terlalu jauh,"
Kata Coei San sambil tertawa.
"Kita berempat berada dipulau yang terpencil ini, sehingga mana dapat anak kami masuk kedalam dunia pergaulan ?"
"Tidak!"
Bentak So So.
"Kita boleh tak usah kembali ke Tionggoan, tapi anak ini tidak dapat dibiarkan berdiam di sini terus menerus, seumur hidupnya. Sesudah kita bertiga mati, siapa yang akan meagawaninya? Sesudah dia dewasa, dimana ia harus mencari isteri ?"
Semenjak kecil In So So berada diantara orang-orang Peh bie kauw dan apa yang dilihatnya ialah perbuatan-perbuatan yang kejam sehingga sesudah besar, sifatnya jadi ganas sekali.
Tapi sesudah bersuami isteri dengan Thio Coei San, sifat nya berubah dengan perlahan.
Sekarang setelah menjadi ibu, rasa cinta yang wajar terhadap anaknya memenuhi lubuk hatinya dan ia rela berkorban demi kepentingan bayi yang baru lahir itu.
Mendengar perkataan sang isteri, Coei San berduka sekali.
Dengan berada dipulau itu, yang terpisah laksaan li dari wiiayah Tionggoan, dan dengan tak memiliki alat pengangkutan, mana dapat mereka kembali kedalam dunia pergaulan?
Tapi ia membungkam, karena kuatir isterinya putus harapan.
"Tak salah perkataan Thio Hoejin."
Kata Cia Soen.
"Bagi kita bertiga, tidak halangannya untuk berdiam disini seumur hidup. Tapi anak ini, tidak! Tak dapat kita membiarkan dia berdiam disini seumur hidupnya tanpa mencicipi kesenangan dunia. Thio Hoejin, kita bertiga harus berusaha sedapat mungkin supaya anak itu bisa kembali ke Tiong goan."
Bukan main girangnya So So. Ia berusaha untuk bangun berdiri. Buru-buru Coei San mencekal lengannya seraya berkata.
"So So, kau mau apa ? Rebahan saja!"
"Ngoko,"
Jawabnya.
"Kita berdua harus berlutut dihadapan Cia Cianpwee guna menghaturkan terima kasih untuk kebaikannya terhadap anak kita."
Cia Soen menggoyang-goyangkan tangannya seraya mencegah.
"Tak usah! Tak usah! Apa anak itu sudah di beri nama ?"
"Secara sembarangan kami sudah memilih satu nama, yaitu Liam Coe,"
Jawab Coei San.
"Cia Cianpwee seorang yang berpengetahuan tinggi, makaa bolehlah Cianpwee memilih lain nama yang lebih cocok untuknya!"
Cia Soen memikir sejetak.
"Thio Liam Coe.. Thio Liam Coe...."
Katanya.
"Namanya itu sudah cukup baik. Tak usah diubah"
Tiba-tiba So-co mendapat satu pikiran.
"Orang aneh itu kelihatannya menyayang sekali anakku,"
Katanya didalam hati "Paling benar aku memberikan anak ini sebagai anak pungutnya, supaya ia tidak turunkan tangan jahat kalau kalapnya datang lagi."
Memikir begitu, it lantas saja berkata.
"Cia Cianpwee, untuk kepentingan anak ini, aku akan mengajukan suatu permohonan kepadamu dan ku harap kau tidak menolaknya."
"Permohonan apa ?"
Tanyanya.
"Aku ingin menyerahkan Liam Coe kepadamu untuk dijadikan anak angkat,"
Jawabnya.
"Biarlah kalau sudah besar, ia dapat merawat kau seperti ayahandanya sendiri. Dengan berada dibawah perlindunganmu seumur hidupnya ia tentu tak akan dihina orang. Ngoko, bagaimana pendapatmu?"
"Bagus!",kata Coei San.
"Aku harap Cia Cianpwee tidak menolak permohonan kami berdua."
Paras muka Cia Soen mendadak berobah dan diliputi dengan sinar kedukaan yang sangat besar.
"Anak kandungku sendiri telah dibanting orang sehingga jadi perkedel,"
Katanya dengan suara perlahan.
"Apa kau tidak lihat?"
Coei San dan Sa So saling melirik dengan perasaan berkuatir, karena perkataan itu seperti keluar dari mulµtnya seorang edan.
Dalam kekuatiran merekapun merasa kasihan terhadap orang yang bernasib malang itu.
Sesudah berdiam sejenak, Cia Soen berkata pula.
"Kalau dia hidup, sekarang sudah berusia delapan belas tahun. Aku Cia Soen pasti akan turunkan semua baik ilmu surat maupun ilmu silat kepadanya. Huh huh! Dia belum tentu kalah dari Boe tong Cit hip atau Siauw lim Sam gie."
Kata-kata itu, yang kedengarannya angkuh, bernada sedih dan mengutarakan perasaan dari seorang yang hatinya sangat kesepian.
Mendengar itu, Coei San dan So So turut berduka dan mereka merasa menyesal, bahwa karena terpaksa, kedua mata orang itu telah dibikin buta.
"Kalau dia masih dapat melihat, bukankah kita berempat bisa hidup senang di pulau ini ?"
Kata Coei San didalam hati. Untuk beberapa saat lamanya, ketiga orang itu tidak mengeluarkan sepatah kata. Akhirnya kesunyian dipecahkan oleh Coei San yang berkata dengan suara tetap.
"Cia Cianpwee, kau terimalah anak ini. Kami akan menukar she nya jadi she Cia."
Mendadak, sehelai sinar terang berkelebat di muka Cia Soen yang suram.
"Apa benar ?"
Tanyanya dengan suara kurang percaya.
"Kau rela dia menukar she ? Cia Liam Coe....Cia Liam Coe.... Namun itu cukup baik. Tapi anakku yang mati bernama Boe Kie."
"Kalau Cia ciapwee menghendaki, anak kami boleh dinamakan Boe Kie,"
Kata Coei San. Tak kepalang girangnya Cia Soen, tapi dalam kegirangan itu, ia merasa sangsi, kalau-kalau ke dua suami isteri itu sedang menipu dia.
"Kalian memberikan anakmu kepadaku, tapi bagaimana kau sendiri ?"
Tanyanya pula.
"Tak perduli dia she Cia atau she Thio, kami berdua akan tetap menyintainya,"
Kata Coei San.
"Di belakang hari, ia harus mengunjuk kebaktian kepada Cianpwee dan kepada kami sendiri. Bukan kah itu baik sekali ? So So, bagaimana pendapat mu?"
"Aku setuju apa yang dikatakan olehmu,"
Jawab So So dengan suara agak bersangsi.
"Makin banyak orang menyintainya, makin bagus untungnya anak itu."
Dengan air mata berlinang-linang Cia Soen menyoja sambil membungkuk.
"Aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih kepada kalian,"
Kata nya dengan suara terharu.
"Sakit hati membuta kan mata mulai sekarang sudah dihapuskan, Cia Soen kehilangan anak, tapi hari ini dia mendapat pula seorang anak. Di hari kemudian, nama Cia Boe Kie akan menggetarkan dunia dan biarlah orang tahu, bahwa ayahnya adalah Thia Coei San, ibunya In So So, sedang ayah angkatnya adalah Kim mo Say ong Cia Soen"
Barusan So So agak bersangsi karena Cia Boe Kie yang tulen telah binasa seperti perkedel, sehingga ia kuatir nama itu kurang baik, untuk anak nya.
Tapi melihat kegirangan Cia Soen yang begitu besar, ia merasa tak tega untuk mengutara kan kesangsiannya.
Ia yakin, bahwa anak itu tentu akan sangat dicinta Cia Soen dan hal ini merupakan keberkahan untuk anak itu.
"Cia Cianpwee apa kau mau mendukungnya?"
Tanyanya sambil mengangsurkan anak itu. Cia Soen menyambuti dan memeluknya dengan hati-hati. Mendadak, karena terlalu girang, kedua tangannya bergemetaran dan air matanya mengalir.
"Kau...kau.. ambilah pulang,"katanya.
"Melihat mukaku, dia bisa ketakutau setengah total."
"Jika masih senang, kau boleh mendukungnya terlebih lama,"
Kata So So sambil bersenyum.
"Dikemudian, hari kaulah yang harus mengajak ia bermain-main."
Sehabis berkata pegitu ia menyambuti anak itu.."Baik! Baik!"
Kata Cia Soen sambil tertawa debar. Mendengar si bayi menangis keras ia ber kata pula.
"Tetekkanlah. Dia ]apar. Aku mau keluar dulu."
Coei San dan So So bersenyum.
Dengan matanya yang sudah buta, biarpun So So sedang menyusukan, ia sebenarnya boleh berdiam terus disitu.
Tadi dalam kalapnya, ia begitu ganas.
Tapi sekarang, ia begitu mengenal adat.
Sebelum ia bertindak keluar, Coei San sudah mendului.
"Cia Canpweee...."
"Tidak! Sesudah kita jadi orang sendiri, kau tak dapat menggunakan istilah Cianpwee lagi,"
Katanya.
"Apa kalian setuju jika kita sekarang mengangkat saudara? Tali kekeluargaan ini akan banyak baiknya untuk anak kita!"
"Cianpwee adalah seorang yang berusia banyak lebih tua dan berkepandaian banyak lebih tinggi, sehingga mana bisa kami berdua berdiri berendeng dengan Cianpwee?"
Kata Coei San.
"Fui!"
Bentak Cia Soen.
"Kau adalah seorang dari Rimba Persilatan dan aku sungguh tak mengerti mengapa kau begitu, rewel ? Ngotee, Soe moay, apakah kau berdua bersedia untuk memanggil aku Toako (kakak paling tua) ?"
"Baiklah, biar aku yang lebih dulu memanggil Toako."
Kata So So.
"Kalau dia tetap mau panggil kau Cianpwee, maka terhadap akupun, dia harus memanggil Cianpwee."
"Kalau begitu, biarlah siauwtee menurut perintah Toako,"
Kata Coei San.
"Sesudah kita mencapai persetujuan, beberapa hari lagi, sesudah aku lebih kuat, barulah kita bersembahyang dan memberitahukan kepada Langit dan bumi, akan kemudian menjalankan peradatan mengangkat ayah dan mengikat tali persaudaraan,"
Kata SoSo. Cia Soen tertawa terbahak-bahak.
"Satu laki laki tak akan menarik pulang perkataannya. Perlu apa bersembahyang kepada langit? Aku sudah membenci Langit !"
Sehabis berkata begitu dengan tindakan lebar ia berjalan keluar.
Beberapa saat kemudian, Coei San dan So So mendengar suara tertawanya yang panjang dan nyaring.
Sedari bertemu, belum pernah mereka melihat dia begitu bergembira.
Demikianlah, dengan penuh perhatian, ketiga orang itu merawat dan memelihara Cia Boe Kie.
Sebagai seorang yang bergelar Kim-mo Say ong, kepandaian Cia Soen dalam ilmu menangkap dan melatih binatang dapat dikatakan tidak bandingannya didalam dunia.
Coei San mengajak ia pergi keberbagai pelosok pulau itu dan sekali pergi, ia tidak melupakan lagi jalanan jalanannya.
Dalam pembagian pekerjaan, Cia Soen bertanggung jawab untuk menyediakan daging kepada keluarganya, menangkap menjangan atau memburu biruang.
Kadang-kadang sikera merah mengikut, tapi karena cara kera itu membinasakan biruang terlalu mudah, maka Cia Soen berbalik tidak merasa gembira.
Semula ia masih suka mengajaknya untuk dijadikan penunjuk jalan, tapi sesudah mengenal jalanan, ia tidak mempermisikan lagi dia mengikut dan memerintahkannya berdiam untuk ber main-main dengan Boe Kie.
Beberapa tahun telah lewat dengan aman sentosa.
Bayi itu bertubuh kuat, tidak pernah mengenal penyakit, dan dengan cepatnya sudah menjadi seorang anak yang mungil dan subur.
Diantara ketiga orang tua itu, Cia Soen lah yang paling memanjakannya.
Setiap kali Coei San atau So So mau nenghukumnya, karena ia terlalu nakal, Cia Soen selalu datang disama tengah dan menghalang halangi.
Dengan demikian, saban-saban ayah dan ibu kandungnya bergusar, ia tentu lari ketempat sang ayah angkat untuk meminta pertolongan.
Kedua orang tuanya hanya dapat menggeleng-geleng kan kepala dan menggerutu, bahwa anak itu terlalu dimanja oleh sang toako.
Waktu Boe Kie berusia empat tahun, So So lalu mulai mengajar ilmu surat kepadanya.
Pada hari ulang tahunnya yang kelima, Coei San berkata.
"toako, anak kita sudah boleh belajar silat. Mulai hari ini, kurasa kau sudah boleh mengajarnya. Apa Toako setuju?"
Sang kakak menggelengkan kepalanya.
"Tak bisa,"
Jawabnya.
"Ilmu silatku terlampau dalam. Jika sekarang aku yang mengajarnya, ia tak mengerti. Sebaiknya, lebih dulu kau menurunkan ilmu Boe tong Sim hoat dan sesudah is berusia delapan tahun, barulah aku yang mengajarnya. Sesudah aku mengajar dua tahun, kamu sudah boleh pulang! So So kaget dan heran.
"Apa? pulang? Pulang ke Tionggoan?"
Menegasnya.
"Benar."
Jawabnya.
"Selama beberapa tahun, sehari aku memperhatikan arah angin dan arus air. Aku mendapat kenyataan, bahwa saban tahun pada malam yang paling panjang, turunlah angin yang meniup keras terus menerus sampai beberapa puluh malam. Sebelum waktu itu tiba, kita dapat membuat sebuah getek yang besar, memasang layar dan jika Langit tidak mengacau, mungkin sekali kalian bisa ditiup angin sampai di Tionggoan."
"Kami?"
Tanya pula So So.
"Apa kau tidak turut serta?"
"Mataku sudah tidak bisa melihat, perlu apa aku pulang ke Tionggoan?"
Jawabnya.
"Jika kau tidak ikut, kami pasti tak akan mempermisikan kau berdiam sendirian dipulau"
Kata So So.
"Anak kitapun tak akan mau mengerti, Ka1au bukan Gie hoe (ayah angkat), siapa lagi yang bisa menyayangnya?"
Cia Soen menghela napas dan paras mukanya kelihatan berduka.
"Aku sudah menyayangnya sepuluh tahun. cukuplah,"
Katanya.
"Langit selama nya mengacau penghidupanku. Jika anak kita berdampingan terlalu lama denganku, Langit mungkin akan menggusari dia dan dia bisa celaka."
Coei San dan So So bingung.
Tapi sesaat kemudian, mereka manganggap, bahwa sang kakak bicara sembarangan saja dan hati mereka jadi lebih lega.
Mulai hari itu, Coei San mulai memberi pelajaran Lweekang kepada puteranya.
Ia menganggap bahwa bagi anaknya yang masih begitu kecil, pelajaran Lweekang untuk menguatkan diri sudahlah cukup.
Disamping itu, dengan berdiam dipulau tersebut, anak itu sebenarnya tidak perlu memiliki ilmu silat, karena tidak ada kemungkinan untuk berkelahi.
Mengenai kesempatan pulang ke Tionggoan tidak pernah disebut-sebut lagi oleh Cia Soen, sehingga Coei San dan So So menganggap, bahwa kakak mereka sudah berkata begitu secara sembarangan saja.
Waktu Boe Kie berusia delapan tahun, benar saja Cia Soen mengajukan untuk memberi pelajaran ilmu silat.
Tapi ia mengadakan peraturan, bahwa waktu ia menurunkan pelajaran, baik Coei San maupun So So tidak boleh turut menyaksikan.
Peraturan itu yang sudah lazim dalam Rimba Persilatan, tidak pernah dibantah oleh mereka.
Mereka tahu, bahwa sang kakak akan memberi pelajaran yang sebaik baiknya kepada Boe Kie.
Sang tempo lewat dengan cepat dan tahu-tahu Boe Kie sudah menerima pelajaran setahun lebih dari ayah pungutnya.
Semenjak terlahirnya anak itu, karena hatinya bahagia dan mempunyai tugas tertentu, Cia Soen tak pernah memperhatikan lagi To liong to.
Pada suatu malam, karena tak dapat pulas.
Coei San keluar dari guha dan jalan-jalan diseputar situ.
Tiba-tiba ia lihat Cia Soen sedang bersila diatas satu batu besar sambil mencekal golok mustika dengan kepala menunduk.
Baru saja ia mau menyingkir diri, sang kakak yang sudah mendengar suara tindakannya sudah keburu berseru.
"Ngotee, kurasa kata-kata Boe lim coe-coan, poto To liong hanya kata-kata kosong belaka."
Coei San menghampiri seraya berkata.
"Di dalam Rimba Persilatan memang banyak sekali tersiar omongan-omongan yang tidak boleh dipercaya. Toako adalah seorang yang berpengetahuan tinggi, sehingga aku sesungguhnya tidak mengerti, mengapa kau percaya omongan itu?"
"Ngotee, aku bukan percaya secara serampangan saja,"
Jawabnya.
"Keterangan itu dapat dari Kong kian Taysoe, seorang pendeta dari Siauw limpay."
"Ah!"
Coei San mendadak mengeluarkan seruan tertahan.
"Kong kian Taysoe! Kudengar ia adalah Soeheng (kakak seperguruan) dari Kong boen Taysoe, Ciangboejin Siauw limpay. Ia sudah meninggal dunia lama sekali."
"Benar,"
Kata Cia Soen.
"Akulah yang membinasakannya!"
Tak kepalang kagetnya Coei San. Dalam dunia Kangouw terdapat kata yang seperti berikut.
"Siauw lim Seng ceng, Kian Boen Tie Seng," (Pendeta suci dari Siauw lim pay yalah Kian, Boen, Tie dan Seng). Kata-kata itu adalah untuk mengunjuk keempat Hweeshio lim sie, yaitu Kong kian, Kong boen, Koug tie dan Kong seng. Belakangan ia dengar dari gurunya, bahwa Kong kian telah meninggal dunia dan tak dinyana, sekarang ia mendapat tahu, bahwa pendeta suci itu telah dibinasakan oleh kakaknya. Cia Soen telah menghela napas panjang dan paras mukanya berubah sedih.
"Kong kian manusia tolol,"
Katanya.
"Ia membiarkan aku memukulnya tanpa membalas. Ia mati sesudah dipukul tigabelas kali"
Coei San jadi lebih kaget lagi.
Seorang yang kuat menerima tigabelas pukulan Cia Soen, harus mempunyai kepandaian yang luar biasa tinggi.
Sementara itu, paras muka Cia Soen jadi semakin suram dan terdapat sinar kemenyesalan yang sangat dalam.
Coei San mengerti, bahwa dibalik kebinasaan Kong kian Taysoe bersembunyi peristiwa yang sangat mendukakan.
Ia yakin bahwa kebinasaan pendeta suci itu bukan kejadian yang biasa saja.
Biarpun sudah delapan tahun mereka hidup bersama-sama dipulau itu sebagai saudara angkat, dalam rasa menghormat kepada kakak, dalam hati Coei San juga terdapat rasa jerih.
Ia tidak berani menanya melit-melit, karena kuatir membangunkan peringatan tidak enak dari masa dahulu.
"Selama hdupku, orang yang dihargai olehku hanya beberapa gelintir saja,"
Kata pula Cia Soen dengan suara perlahan.
"Orang yang seperti guru mu, yaitu Thio Cinjin, aku hanya mendengar nama dan belum pernah bertemu dengan beliau. Kong kian Taysoe sungguh seorang pendeta suci. Meskipun nama besarnya tidak begitu dikenal seperti adik adik seperguruannya, seperti Kong tie dan Kong seng, tapi menurut pendapatku, kepandaian kedua Taysoe itu tak dapat menandingi Kong kian Taysoe"
Semenjak bertemu dengan Coei San, Cia Soen selalu memandang rendah kepada semua pentolan pentolan dunia. Maka itu, Coei San heran tak kepalang ketika mendengar pujian terhadap Kong kian Taysoe.
"Mungkin sekali karena orang tua itu selalu hidup menyembunyikan diri didalam kelenteng, maka tak banyak orang mengenal kapandaiannya."
Kata Coei San. Cia Soen tidak kedengaran menjawab. Ia bengong dan kedua matanya mengawasi ketempat jauh.
"Sayang!..... Sungguh sayang!....."
Katanya pada dari sendiri.
"Manusia yang begitu luar biasa telah binasa dalam tanganku! Jika waktu itu ia membalas, aku Cia Soen tentu tak bisa hidup sampai sekarang,"
"Apakah Kepandaian pendeta itu lebih tinggi daripada Toako ?"
Tanya Coei San.
"Mana bisa aku dibandingkan dengan beliau ?"
Jawabnya.
"Ilmu silat murid-muridnya juga lebih tinggi daripada aku."
Ia mengeluarkan kata-kata itu dengan nada penyesalan yang tiada taranya.
Coei San jadi makin heran.
Ia hampir tak percaya keterangan kakaknya.
Gurunya sendiri, Thio Sam Hong, adalah salah seorang luar biasa pada jaman itu.
Tapi ia yakin, bahwa Jika gurunya mesti bertanding dengan Cia Soen, paling banyak sang guru lebih unggul setengah tingkat.
Jika Kong kian lebih unggul dari pada Cia Soen, bukankah gurunya sendiri tak akan dapat menandingi Kong kian?
Tapi iapun mengenal kakaknya sebagai manusia yang sangat angkuh.
Jika ia tak benar-benar merasa takluk, ia pasti tak akan membuat pengakuan itu.
Cia Soen rupanya dapat membaca apa yang dipikir oleh adiknya.
"Baiklah. Panggil Boe Kie sekarang. Katakan padanya, bahwa aku ingin menceritakan sebuah cerita dahulu."
Walaupun merasa, bahwa membangunkan anak itu tengah malam buta bukan seharusnya, Coei San tak berani membantah perintah sang kakak.
Maka itu, ia segera kembali keguhanya dan membangunkan arak itu.
Mendengar ayah angkatnya mau bercerita, Boe Kie jadi girang dan mengia kan dengan suara keras-keras, sehingga ibunya turut tersadar.
Maka itu, mereka bertiga lantas saja pergi keguha Cia Sam untuk mendengari ceritera yang dijanjikan.
Sesudah semua orang berkumpul, Cia Soen segera mulai.
"Anak, tak lama lagi kau akan pulang ke Tionggoan"
"Apa? Ke Tionggoan ?"
Memutus Boe Kie. Cia Soen menggoyangkan tangan supaya anak itu jangan memutuskan omongannya dan berkata pula "
Jika getek kita tenggelam dilaut atau ditiup angin ke samudera yang luas, maka kita boleh tak usah bicara lagi.
Tapi andaikata kita kembali ke Tiongggoan, aku ingin memberitahukan suatu hal kepadamu.
Ingatlah hati manusia didalam dunia sangat jahat dan kau tidak boleh main percaya kepada siapapun jua kecuali ayah dan ibu sendiri.
Aku nyesa1, bahwa diwaktu masih muda, tak pernah ada orang yang memberi nasehat itu kepadaku.
Tapi biarpun ada yanh menasehati, waktu itu aku tentu tidak mau percaya."
"Pada waktu aku berusia sepuluh tahun, secara, kebetulan aku telah bisa berguru dengan seorang yang mempunyai nama besar dalam Rimba persilatan. Karena melihat bakatku yarg sangat baik, Soehoe sangat menyayang aku dan telah menurunkan ilmu-ilmu silat yang istimewa kepadaku, sehingga dengan demikian, perhubungan kami adalah bagaikan ayah dan anak. Ngotee, pada waktu itu, rasa cinta dan rasa hormat ku terhadap Soehoe kira-kira bersamaan seperti rasa cinta dan rasa hormatmu terhadap gurumu. Aku keluar dari rumah perguruan dalam usia dua puluh tiga tahun. Tak lama kemudian, aku menikah, dan mempunyai seorang anak. Penghidupan kami sangat beruntung."
"Selang dua tahun, waktu lewat di kampung kelahiranku. Soehoe mampir dan berdiam berapa hari dirumahku. Aku girang bukan main dan seluruh keluarga melayaninya dengan sepenuh perhatian. Dengan menggunakan kesempatan itu, guru ku juga memberikan berbagai petunjuk pada kekurangan-kekurangan dari ilmu silatku. Tapi siapa nyana.... seorang tokoh yang termasyhur dalam Rimba Persilatan sebenarnya mempunyai hati binatang! Pada tanggal lima belas Bulan tujuh, sesudah minum arak, tiba-tiba ia coba memperkosa isteriku ..."
Dengan berbareng Coei San dan So So mengeluarkan seruan kaget. Guru menodai kehormatan isteri muridnya adalah suatu kejahatan langka dalam Rimba Persilatan.
"Isteriku memberontak dan berteriak-teriak minta tolong."
Cia Soen melanjutkan penuturannya.
"Mendengar teriakan itu, ayahku menerjang masuk kedalam kamar. Melihat rahasianya terbuka, guruku memukul ayahku yang lantas saja binasa. Sesudah itu, dia membinasakan juga ibuku dan membanting Cia Boe Kie, anakku yang berumur belum cukup setahun ...."
"Cia Boe Kie ?"
Memotong si bocah dengan suara heran.
"Jangan rewel! Dengari cerita Gie-hoe!"
Bentak Coei San.
"Benar,"
Jawab sang ayah pungut.
"Itulah anak kandungku yang namanya bersamaan dengan namamu. Guruku membantingnya keras-keras, sehigga dia jadi perkedel!"
"Gie-hoe ! Apa.... .a pa dia masih bisa hidup ?"
Tanya Boe Kie.
"Tak bisa! Tak bisa hidup lagi!"
Jawabnya dengan suara parau. So So mendelik sambil menggoyang goyangkan tangannya untuk melarang anak itu untuk menanya lagi. Sesudah bengong beberapa saat, barulah Cia Soen berkata lagi.
"Melihat kejadian itu nyawaku terbang separuh dan aku berdiri terpaku sambil mengawasi dengan mata membelalak. Tiba-tiba guruku me!ompat dan meninju dadaku, sehingga aku rubuh terguling dalam keadaan pingsan. Ketika aku tersadar, guruku sudah menghilang, sedang diseputar rumahku penuh mayat. Mayat ayah dan ibuku, isteriku, anakku, isteri adikku dan bujang-bujangku, semuanya berjumlah tigabelas jiwa. Ia tidak memukul aku lagi, sebab rupanya ia duga aku sudah mati"
"Sebab terluka, berduka dan bergusar secara melampaui batas, aku mendapat sakit berat sekali. Sesudah sembuh, siang malam aku melatih diri dan selang lima tahun, aku mencari guruku untuk membalas sakit hati. Tapi kepandaianku masih kalah terlalu jauh, sehingga dapat hinaan yang sangat lebar. Bia bagaimana pun sakit hati tiga belas orang tak dapat di sudahi dengan begitu saja. Aku segera berkelana untuk mencari guru yang pandai. Selama sepuluh tahun, aku telah bertemu dengan tiga orang berilmu yang menurunkan kepandaiannya kepadaku. Dengan dugaan bahwa kepandaianku sudah cukup tinggi, sekali lagi aku mencari guruku. Tapi di luar taksiran, sedang kupandaianku bertambah, kepandaiannya bertambah lebih banyak lagi. Demikianlah untuk kedua kalinya, aku pulang dengan terluka berat"
"Sekali lagi aku melatih diri tanpa mengenal capai. Kali ini aku melatih Lweekang dari Cit siang koen (ilmu pukulan Tujuh Luka) dan sesudah berlatih tiga tahun lamanya, barulah aku berhasil. Aku menganggap, bahwa dengan memiliki kepandaian itu, aku sudah boleh berendeng dengan ahli ahli silat kelas utama dan jika guruku tidak mendapat lain-lain ilmu yang lebih tinggi, ia pasti tidak akan bisa melawan aku. Untuk ketiga kalinya, aku menyatroninya rumahnya, tapi bakan main rasa kecewaku, karena ia sudah pindah ketempat lain. Aku lalu berkelana dalam kalangan Kangnuw untuk mencarinya, tapi ia tetap tak kelihatan mata hidungnva Rupanya, untuk menyingkir dari bencana, ia telah kabur ketempat jauh. Dunia begini luas, dimana aku mencarinya ?"
"Sesudah itu, dengan sakit hati yang makin lama makin mendalam dan kegusaran yang meluap-luap, aku lalu mengamuk. Aku memperkosa wanita, merampok, membunuh dan membakar rumah. Setiap kali bekerja, aku selalu meninggal kan nama guruku !"
"Ah!"
Coei San dan So So mengeluarkan seruan kaget dengan berbareng.
"Apa kau tahu siapa guruku?"
Tanya Cia Soen. So So manggat-mangaut kepalanya seraya berkata.
"Kalau, begitu, Toako adalah murid Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen." (Hoen goan Pek lek chioe -si tangan geledek). Ternyata pada belasan tahun berselang didalam Rimba Persilatan mendadak terjadi gelombang yang sangat hebat. Dalam tempo setengah tahun, dari Liao tong sampai di Lenglam dengan beruntun-runtun terjadi peristiwa-peristiwa besar. Tiga puluh lebih orang-orang gagah kenamaan telah dibunuh dan si pembunuh meninggalkan nama Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen. Orang yang dibunuh, kalau bukan Ciang boenjin suatu partay, tentulah juga seorang gagah yang mempunyai pergaulan luas. Seluruh Rimba Persilatan telah mengerahkan tenaga untuk menyelidiki pembunuhan itu dan atas perintah guru mereka. Boe tong Cit hiap turun gunung untuk membantu, tapi sesudah membuang banyak tempo dan tenaga, meraka tetap tidak berhasil dalam usahanya. Tak seorangpun tahu, siapa pembunuh yang kejam itu. Semua orang mengerti bahwa ada seorang yang sengaja mau mencelaka kan Seng Koen, karena sebegitu jauh Seng Koen dikenal sebagai manusia baik-baik dan beberapa orang yang telah dibinasakan, adalah sahabat-sahabat baiknya. Orang satu satunya yang mungkin tahu siapa, pembunuh itu, adalah Seng Koen sendiri. Tapi jago itu mendadak menghilang tanpa meninggalkan bekassehingga, biarpun semua orang gagah dalam dunia Persilatan ingin membantu, mereka tidak berdaya sebab tidak tahu siapa penjahatnya. Sekarang, sesudah mendengar pengakuan Cia Soen barulah Coei San dan So So mengetahui latar belakang dari kejadian-kejadian yang hebat itu. Sesudah berdiam beberapa saat, Cia Soen melanjutkan penuturannya.
"Kau harus tahu, bahwa tujuan dari sepak terjangku itu adalah untuk memaksa keluarnya Seng Koen. Dengan dicari oleh ribuan atau sedikitnya ratusan orang, menurut dugaanku, ia pasti akan dapat ditemukan."
"Tipu Toako memang sangat bagus,"
Kata So So.
"Akan tetapi sungguh kasihan orang-orang itu yang sudah dibunuh tanpa berdosa."
"Hm! Apakah kau tidak merasa kasihan terhadap orang tua dan anak istriku yang juga sudah dibunuh tanpa berdosa!"
Tanya Cia Soen dengan suara getir.
"Dulu kulihat kau seorang yang sangat polos terbuka. Tetapi sesudah menikah sepuluh tahun dengan Ngote, kau jadi bawel seperti nenek tua,"
So So melirik suaminya sambil bersenyum.
"Toako, bagaimana buntutnya? Apa kau berhasil mencari Seng Koen?"
Tanyanya.
"Tidak, tidak berhasil,"
Jawabnya.
"Belakangan, waktu berada di Lokyang, aku bertemu dengan Song Wan Kiauw."
Coei San terkesiap.
"Song Wan Kiauw, Toa soekoku ?"
Ia menegas.
"Benar, Song Wan Kiauw, kepala dari Boe tong cit hiap."
Jawabnya.
"Sesudah aku mengamuk, Rimba Persilatan jadi kacau balau dan kalang kabutan. Tapi guru ...."
"Gie-hoe,"
Memutus Boe Kie.
"Dia begitu jahat, mengapa masih memanggil guru kepadanya ?"
Cia Soen tertawa getir.
"Sudah kebiasaan sedari kecil,"
Jawabnya.
"Sebagian besar ilmu silatku didapat daripadanya. Dia jahat, akupun bukan manusia baik. Mungkin sekali, segala kejahatanku juga didapat daripadanya. Maka itu, aku tetap memanggil guru kepadanya."
Mendengar penuturan sang kakek yang sedemikian hebat.
Coei San jadi merasa kuatir, bahwa ceritera itu akan memberi pengaruh kurang baik kepada Boe Kie.
Diam-diam dia mengambil keputusan untuk memberi penerangan dan penjelasan lebih jauh kepada bocah itu.
Sementara itu, Cia Soen sudah menyambung pula penuturannya.
"Melihat guruku belum juga muncul, aku berpendapat, bahwa kalau aku tidak melakukan perbuatannya yang menggemparkan dunia, ia pasti tak akan keluar. Sebagaimana kau tahu, daiam Rimba Persilatan, yang paling dihormati orang adalah partai Siauw lim dan Boe-tong."
"Menurut pendapatku, aku baru bisa berhasil jika membunuh seorang pentolan Siauw lim atau Boe tong. Hari itu, ditaman Bouw tan wan, depan kuil Ceng hie koan di Lokyang, aku telah menyaksikan cara bagaimara Song Wan Kiauw menghajar seorang hartawan jahat. Aku mendapat kenyataan, bahwa ia benar-benar berkepadaian tinggi dan pada saat itu juga, aku segera mengambil keputusan untuk membinasakannya."
Walaupun tahu, bahwa pada akhirnya Song Wan Kiauw tidak terbunuh, Coei San merasa terkejut juga.
Ia yakin, bahwa kepandaian Cia Soen banyak lebih tinggi dari saudara seperguruannya, sehingga kalau diserang, Toasoehengnya pasti akan dijatuhkan, So So yang juga tahu, bahwa Song Wan Kiauw tidak dibinasakan, lantas saja berkata.
"Toako, masih untung kau tidak tega turunkan tangan jahat, Jika kau binasakan Song Tayhiap. Thio Ngohiap pasti akan mengadu jiwa denganmu dan kita tak bisa mengangkat saudara lagi."
Cia Soen mengeluarkan suara dari hitung.
"Tidak tega? Mana boleh tidak tega?"
Katanya.
"Kalau sekarang, aku tentu tak akan memusuhi orang orang Boe tong. Tapi pada waktu itu, jangankan Song Wan Kiauw, sedangkan Ngote sendiripun, jika bertemu denganku, aku pasti akan coba membinasakannya tanpa ragu ragu lagi."
"Gie hoe. mengapa kau mau membunuh ayah?"
Boe Kie menyelak.
"Aku hanya menyebutkan suatu perumpamaan dan bukan benar-benar mau membunuh ayahmu,"
Jawab sang ayah angkat sambil tersenyum.
"Oh begitu?"
Kata si bocah. Sambil mengusap-usap kepala anak itu, Cia Soen berkata pula dengan suara perlahan.
"Meskipun langit sering menyakiti batiku, kali ini aku merasa syukur bahwa pada akhirnya, aku tidak membunuh Song Wan Kiauw. Memang benar, jika Song Wan Kiauw sampai dibunuh olehku, kita tak akan bisa mengangkat saudara."
Ia berdiam sejenak dan kemudian berkata lagi.
'Malam itu, sesudah bersantap, aku segera bersemedhi didalam kamar untuk mengumpulkan semangat dan tenaga.
Aku mengerti, bahwa sebagai kepala dari Cit hiap, song Wan Kiauw mempunyai kepandaian yang sangat tinggi.
Jika dengan sekali pukul aku tidak dakat membinasakannya dan ia bisa melarikan diri, maka rahasiaku akan bocor dan usaha mencari guruku akan gagal sama sekali.
Bukan saja begitu, aku malah bakal dikepung oleh orang-orang gagah dikolong langit.
sehingga, biarpun aku mempunyai tiga kepala enam tangan.
Aku pasti tak kan dapat melawannya.
Aku mati tak menjadi soal tapi jika aku mati begitu rupa, sakit hati yang begitu besar itu akan dibawa kelubang kubur."
"Gie hoe,"
Tiba Boe Kie menyelak lagi."
Matamu tidak bisa melihat. Tunggulah sampia aku besar. Sesudah mempunyai kepandaian tinggi, aku akan membalas sakit hati Gie hoe."
Perkataan itu mengejutkan Cia Soen dan Coei San yang dengan serentak bangun berdiri. Dengan mata yang tak dapat melihat, Cia Soen "mengawasi"
Anak angkatnya dan berkata dengan suara perlahan.
"Boe Kie, apa benar kau menpunyai niatan begitu?"
Coei San daa So Sa jadi bingung.
Sekarang mereka berada disebuah pulau terpencil didaerah Kuub Utara, sehingga belum tentu mereka bisa kembali ke Tiong goan.
Akan tetapi, didalam Rimba Persilatan orang sangat mengutamakan kepercayaan.
Sekali berjanji seumur hidup tak dapat ditarik lagi.
Begitu lekas Boe kie menyanggupi untuk membalas sakit hati Cia Soen, maka ia segera memikul beban yang luar biasa berat diatas pundaknya.
Sedang Cia Soen yang memiliki kepandaian sedemikian tinggi masih belum mampu membalas sakit hatinya, bagaimana anak itu bisa memenuhi janjinya ?
Menurut kebiasaan Rimba Persilatan, walaupun anak itu masih kecil, dalam urusan itu, ia harus mengambil keputusan sendiri dan orang tua nya tidak boleh mempengaruhi pikirannya.
Maka itu, meskipun sangat berkuatir, Coei San dan So So tidak berani mengeluarkan sepatah kata.
"Gie hoe,"
Kata anak itu dengan suara nyaring "Orang yang membinasakan serentero keluargamu, bernama Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen, bukan?
Baiklah Boe Kie akan mengingat nama itu.
Dibelakang hari, anak tentu mewakili ayah untuk membalas sakit hati dan akan membasmi seluruh keluarganya, tak satupun yarg diberi hidup!"
"Boe Kie ! Jangan ngaco kau!"
Bentak Coed San dengan gusar.
"Satu orang yang berbuat, satu orang yang harus bertanggung jawab, Biarpun dosanya Seng Koen lebih besar lagi, hanya dia seorang yang harus mendapat hukuman. Lain orang yang tidak berdosa tidak boleh diganggu selembar rambutnya!"
"Ya, ya ... Thia thia,"
Katanya dengan suara ketakutan dan ia tidak berani membuka suara pula.
"Orang yang sudah mati tak tahu suatu apa,"
Kata Cia Soen.
"paling hebat yalah hidup sendirian didalam dunia sesudah seluruh keluarga dibinasakan orang...."
"Toako, bagaimana kesudahan usahamu untuk bertempur dengan Toasoeheng,"
Coei San memotong perkataan kakaknya. Ia berbuat begitu karena kuatir Cia Soen bicara terlalu panjang mengenai penderitaannya, sehingga dapat memberi pengaruh yang lebiih besar pada anaknya.
"Sungguh heran Toasoeheng beum pernah memberitahukan kejadian itu kepada kami"
"Song Wan Kiauw belum pernah mimpi bahwa ia pernah men jadi bulan-bulanan,"
Jawabnya.
"Mungkin sekali, ia malah belum pernah mendengar nama kin mo Say ong Cia Soen. Mengapa ? Karena pada akhirnya, aku tidak jadi cari padanya."
Coei San menarik napas lega.
"Terima kasih Langit, terima kasih bumi."
Katanya.
"Mengapa kau mengaturkan terima kasih kepada langit dan bumi?"
Tanya So So sambil tertawa.
"Yang harus menerima pernyataan terima kasihmu adalah Cia Toako."
Mendengar itu, Coei San dan Boe Kie turut tertawa. Cia Soen tidak turut tertawa. Paras mukanya berubah jadi duka dan ia berkata dengan suara perlahan.
"Kejadian malam itu masih diingat tegas olehku, seperti juga baru terjadi kemat in. Aku duduk diatas pembaringan batu dan menjalankan pernapasan, melatih Cit siang koen beberapa kali. Ngote, kau belum pernah menyaksikan pukulan Cit siang koen. Apa kau ingin melihatnya ?"
"Ilmu pukulan itu tentulah hebat luar biasa,"
Mendahului So So "Toako, mengapa kau tidak cari Song Tayhiap ?"
"Kalau tidak hebat, bagaimana pukulan itu bisa dinamakan Cit siang koen?"
Kata Cia Soen sambil tersenyum dan lalu jalan mendekati satu pohon besar.
Ia mengangkat tangan seraya menbentak keras, menghantam dahan pohon itu.
Dengan Lweekang yang dimilikinya, biarpun ia tak dapat merubuhkan pohon itu, sedikitnya tinju Cia Soen akan amblas didahan.
Tapi diluar dugaan, pohon itu bergoyangpun tidak, sedang kulit nya tetap utuh.
So So merasa menyesal dan berkata didalam hati.
"Sesudah berdiam disini sembilan tahun, ilmu silat Toaka merosot banyak. Hal itu tak heran, karena ia memang tak pernah berlatih lagi."
Tapi walaupun hatinya berduka, mulutnya bersorah sorai.
"Se moay sorakanmu tidak keluar dari hati yang setulusnya,"
Kata sang kakak.
"Kau anggap ilmu sllatku sudah tidak seperti dulu, bukan."
"Dengan berdiam dipulau terpencil ini dan kita berempat adalah orang sekeluarga, memang tak perlu kita berlatih silat lagi,"
Kata So So.
"Ngotee, apa kau bisa melihat lihaynya pukulanku?"
Tanya Cia Soen tanpa menghiraukan So So.
"Waktu menyambar, pukulan itu sangat dahsyat, sehingga aku tidak mengerti, mengapa pohon itu tidak bergeming, malah daunnya tidak bergoyang,"
Kata Coei San.
"Aku percaya malah Boe Kie dapat menggoyang dahan itu."
"Aku bisa!"
Teriak sibocah sambil berlari-lari dan kemudian meninju dahan pohon itu.
Benar saja pohon yang besar itu bergoyang keras.
Kedua suami isteri girang bukan main, karena putera mereka sudah memiliki tenaga yang begitu besar.
Mereka mengawasi Cia Soen dan menunggu penjelasan sang kakak.
Cia Soen bersenyum seraya berkata.
"Tiga hari kemudian semua daun akan menjadi kering dan rontok dan selewatnya tujuh hari, pohon itu akan mati berdiri. Aku sudah memutuskan nadi pohon "
Kedua suami isteri kaget dan heran, tapi mereka tidak menyangsikan keterangan itu, karena sang kakak belum pernah berdusta.
Tiba-tiba Cia Soen menghunus To liong to dan menyabet putus dahan yang tadi dipukulnya.
Dengan suara gedubrakan, pohon itu rubuh ditanah.
"Mari, lihatlah,"
Kata sang kakak.
"Kalian boleh manyaksikan lihaynya Cit siang koen."
Coei San bertiga lantas saja menghampiri. Ternyata "hati"
Pohon sudah menjadi rusak, ada "urat-urat"
Yang hancur dan ada juga yang putus, suatu tanda, bahwa pukulan itu mengandung beberapa macam tenaga. Bukan main rasa kagumnya Coei San dan So So.
"Toako, hari ini kau telah membuka mata siauwtee,"
Kata Coei San.
"Dalam pukulanku itu terdapat tujuh macam tenaga,"
Kata sang kakak dengan suara bangga.
"Tenaga keras, tenaga lembek dalam keras, keras dalam lembek dan sebagainya. Seorang musuh dapat menahan tenaga pertama, tak dapat menahan tenaga kedua, yang dapat menahan tenaga kedua, tak akan dapat menahan tenaga ketiga dan begitu seterusnya. Maka itulah, pukulan tersebut diberi nama Cit-siang koen. Huh huh ! Mungkin sekali kau akan mengatakan bahwa Cit-siang koen terlalu kejam."
"Gie hoe, bolehkah kau turunkan Cit siang koen kepadaku?"
Tanya Boe Kie.
"Tak bisa!"
Jawabnya seraya menggeleng-geleng kan kepala, sehingga bocah itu merasa sangat kecewa.
"Boe Kie, kau benar edan!"
Kata So So.
"Pukulan Giehoemu itu tak akan dapat dipelajari sebelum mempunyai Lweekang yang sangat tinggi."
Si bocah mengangguk seraya berkata.
"Baiklah nanti kalau sudah memiliki Lweekang tiaggi, barulah Boe Kie mengajukan permintaan pula ke pada giehoe."
"Tidak boleh, tak nanti aku turunkan Cit siang koen kepadamu,"
Kata Cia Soen.
"Dalam tubuh setiap manusia. bukan saja terdapat hawa Im dan yang (negatif dan positif ) tapi juga lima Heng yaitu Kim, Bok, Soei, Ho dan Touw (emas, kayu, air, api, dan tanah). Misalnya saja, paru-paru termasuk dalam Kim, buah pinggang termasuk dalarn Soei, nyali termasuk dalam Touw dan sebagainya. Begitu lekas seorang melatih diri dalam pukulan Cit siang coen, tujuh bagian isi perutnya yang sangat penting akan terluka. Makin tinggi kepandaiannya, makin hebat luka didalam itu.
"Cit siang"
Atau "tujuh luka", lebih dulu melukai diri sendiri. Kemudian baru melukai musuh. Sabah musabab mengapa aku sering kalap adalah karena latihan Cit siang koen"
Coei San dan So Sal terkejut. Baru sekarang mereka tahu, mengapa Cia Soen yang boen boe song Coei (pandai ilmu surat dan ilmu silat) acap kali berlaku seperti binatang buas.
"Jika aku melatih Cit siang koen sudah memiliki Lweekang yang sama tingginya sepertt Lwee kang Kong kian Taysoe atau Thio Cinjin dari Boe tong pay, mungkin sekali aku tidak sampai terluka, luka itu tidak menjadi halangan,"
Kata pula Cia Soen.
"Aku sudah tidak menghiraukan segala bencana karena didorong oleh keinginan untuk membalas sakit hati secepat mungkin. Tahun itu, sesudah membinasakan tujuh orang, barulah aku dapat merampas kitab Cit siang koen dari tangan Kong tong pay dan dengan tergesa-gesa segera melatih diri menurut petunjuk-petunjuk kitab itu. Aku berbuat begitu, sebab kuatir guruku keburu mati dan aku tidak bisa membalas sakit hati. Sesudah kasep dan tidak bisa diubah lagi, barulah aku mendusin, bahwa aku sudah mendapat luka didalam. Aku sama sekali tidak memikir untuk lebih dulu menyelidiki, mengapa dalam kalangan Kong tong pay sendiri tidak ada orang yang mempelajari ilmu pukulan itu. Disamping itu, masih ada lain sebab, mengapa aku segera melatih diri dalam Cit siang koen. Pukulan itu mempunyai sifat-sifat yang dahsyat dap menyeramkan dan bagiku, hal itu merupakan keuntungan besar. Su moay, apakah kau mengerti maksudku."
So So memikir sejenak.
"Apakah Toako maksud kan bahwa Cit siang koen agak mirip dengan ilmu silat Pek lek chioe."
Tanya si adik.
"Benar!"
Jawabnya.
"So moay, kau sungguh pintar. Guruku bergelar Hoen goan Pek lek chioe, atau si Tangan geledek, dan ilmu silatnya mengandung pengaruh angin dan geledek yang sangat hebat. Jika aku menyerang dengan Cit siang koen, ia pasti akan menduga, bahwa aku menyerang dengan ilmu silatnya sendiri, ia akan mendusin sesudah pukulanku mampir dibadannya, tapi sudah kasep. Ngotee, jangan kau mengatakan, aku licik dan kejam, Guruku adalah salah seorang yang paling hati-hati dan paling kejam didunia. Jika kau tidak menggunakan racun untuk melawan racun, sakit hatiku pasti tidak akan terbalas. Hai! Ngotee, aku sudah melantur terlalu jauh sehingga melupakan soal Kong kian Taysoe yang mau dituturkan olehku. Malam itu, sesudah melatih diri dalam Cit siang koen, aku segera berangkat untuk cari Song Wan Kiauw."
Selagi melompat keluar dari tembok, sedang kedua kakiku belum hinggap dibumi, tiba-tiba pundakku ditepuk orang.
Aku kaget bukan main.
Bahwa badanku disentuh orang tanpa aku mampu menangkis, adalah kejadian yang belum pernah terjadi, Boe Kie, cobalah kau pikir.
Jika orang itu menepuk dengan menggunakan Lweekang, bukan kah aku sudah mendapatkanluka berat?
Aku balas memukul dan begitu lekas kaki kiriku hinggap ditanah, aku memutar badan.
Saat itu sekali lagi aku merasa punggungku ditepuk orang dan hampir berbareng terdengar hela napas dan suara seorang.
"Lautan penderitaan tiada terbatas, menengok kebelakang melihat tepian."
Boe Kie gembira sekali, ia tertawa terbahak bahar.
"Gie hoe,"
Katanya.
"Apa orang itu main main denganmu?"
Coei San dan So So sudah menebak, bahwa orang itu Kong kian Taysoe adanya.
"Waktu itu aku begitu kaget, sehingga sekujur badan dingin semua,"
Cia Soen melanjutkan panturannya.
"Dengan kepandaian yang sedemikian tinggi, dengan mudah orang itu bisa mengambil jiwaku. Tapi delapan perkataan yang diucapkan nya bernada lemah lembut, penuh kasih dan sayang. Begitu memutar badan. kulihat seorang pendeta yang mengenakan jubah putih berdiri dalam jarak empat tombak lebih. Dengan demikian, sesudah menepuk punggungku, ia sudah melompat kurang lebih empat tombak jauhnya dan kecepatan gerakan itu sungguh-sungguh luar biasa."
"Pada waktu itu, aku hanya menarik suatu kesimpulan, bahwa yang berdiri dihadapanku bukan manusia, tapi setan penasaran dari seorang yang telah diburuh olehku. Aku menarik kesimpulan itu, karena, menurut pendapatku, seorang manusia biasa tak nanti mampu bergerak begitu cepat. Sebab menduga begitu, nyaliku jadi besar lagi dan aku segera membantak. Setan siluman! Pergi kau! Aku tidak takut Langit dan bumi, apalapi kau!"
"Pendeta itu merangkap kedua tangannya seraya berkata. Cia Kiesoe, Looceng Kong kian memberi hormat. Begitu mendengar perkataan 'Kong kian' aku terkesiap. Sudah lama kudengar 'Siauw lim Sang ceng, Kian, boen, tie seng yang tersiar luas didalam Rimba Persilatan. Kong kian Taysoe adalah kepala dari empat pendeta nabi (Sengceng ) Siauw lim sie sehingga tidaklah heran jika ia memiliki kepandaian yang begitu tinggi."
Mendengar sampai disitu, hati Coei San dan So So merasa sangat tidak enak, karena mereka tahu, pada akhirnya Kong kian binasa karena tiga belas pukulan Cia Soen.
Sesudah berdiam sejenak, Cia Soen berkata pula.
"Aku mengawasinya seraya bertanya. Apa kah aku sedang berhadapan dengan Kong kian Seng ceng dari Siauw lim sie? Ia jawab. Perkataan Seng ceng aku tidak dapat menerima tapi memang benar loolap ialah Kong kian dari Siaw Lim sie. Aku kata. Aku dan Taysoe belum pernah mengenal satu sama lain, tapi mengapa Taysoe mempermainkan aku? kata Kong kian. Mana berani loolap mempermainkan Kiesoe? Aku hanya ingin menanya. Kemana Kiesoe mau pergi? Ku jawab. Kemana kumau pergi tiada sangkut pautnya dengan Taysoe! Ia menghela napas dan berkata dengan suara perlahan. Malam ini Kiesoe ingin membunuh Song Wan Kiauw Tayhiap dari Boe tong pay. Bukankah begitu? Sekali lagi aku terkesiap."
"Ia mengawasi aku dengan mata tajam dan berkata pula. Kiesoe ingin melakukan perbuatan yang menggemparkan Rimba Persilatan untuk memancing keluar Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen guna membalas sakit hati.... Aku heran dan kaget tak kepalang. Aku belum pernah memberitahu perbuatan guruku kepada orang lain dan gurukupun tak pernah membuka rahasia busuknya itu ?"
"Begitu mendengar Hoen goan Pek lek chioe Seng Koen, tubuhku menggigil. Jika Taysoe sudi mengunjuk dimana adanya dia, aku rela menjadi kerbau atau kuda untuk kepentingan Taysoe, kata ku. Ia menghela napas dan berkata dengan suara menyesal. Perbuatan Seng Koen memang suatu kedosaan yang sangat besar. Akan tetapi, dalam kegusarannya, Kiesoe sudah membunuh begitu banyak orang dan perbuatan Kiesoe itu juga merupakan kedosaan yang tidak kecil."
"Aku mendongkol dan sebenarnya ingin sekali menyemprotnya. Tapi karena tahu, bahwa aku bukan tandingannya, maka sambil menahan amarah, aku berkata. Aku berbuat begitu sebab tidak ada jalan lain. Seng Koen menyembunyikan diri dan aku tidak dapat mencarinya."
Ia manggut-manggutkan kepala seraya berkata.
Aku mengerti, aku sangat merasakan perasanmu.
Sakit hatimu besar luar biasa dan aku tidak dapat melampiaskan, akan tetapi, Song Tay hiap adalah murid pertama Thio Sam Hong Cinjin dan jika kau membinasakannya, bakal muncul gelombang yang tidak kecil."
"Aku tersenyum getir. Itu memang tujuanku,jawabku. Makin dahsyat gelombang yang diterbitkan olehku, makin baik lagi, karena hanyalah itu yang bisa memaksa keluarnya Seng Koen dari tempat persembunyiannya."
"Sesudah itu, aku dan Kong Kian bicara seperti berikut. Cia Kiesoe, jika kau membinasakan Song Tayhiap, memang Seng Koen tidak bisa tidak keluar dari tempat persembunyiannya. Akan tetapi, Seng Koen sekarang bukan Seng Koen dulu. Terang terang aku mengatakan, bahwa kepandaian Kie soe masih belum dapat menandinginya. Biar bagaimanapun jua, Kiesoe tak akan bisa membalas sakit hatimu."
"Seng Koen adalah guruku. Aku lebih mengenal kepandaiannya daripada Taysoe."
"Tidak, tidak begitu. Ada halnya yang tidak di ketahui Kiesoe. Seng Koen telah mendapat guru yang sangat lihai dan selama tiga tahun ia telah memperoleh kemajuan lvar biasa pesat. Biarpun Kiesoe mahir dalam ilmu Cit siang koen dari Khong tong pay Kiasoe tak akan dapat melukakannya"
"Untuk sekian kalinya aku terkejut. Kong kian Taysoe belum pernah bertemu denganku, tapi gerak gerikku diketabui begitu jelas olehnya. Aku mengawasinya dengan mata membelalak. Sesudah menenteramkan hatiku yang berdebar-debar, aku bertanya. Bagaimana Taysoe tahu? Ia menjawab. Seng Koen sendiri yang memberitahukan kepadaku"
Coei San, So So dan Boe Kie mengeluarkan suara tertahan dengan berbareng.
"Kalian heran, tapi aku lebih heran lagi. Aku melompat bahna kagetku, dan membentak. Bagaimana dia tahu? Kong kian menjawab dengan suara perlahan. Selama beberapa tahun, ia selalu mendampingi Kiesue. Hanya karena ia selalu selalu menyamar, maka Kiesoe tak mendapat tahu. Tak mungkin! teriakku. Tak mungkin! Aku mengenalnya. Biarkan dia sudah menjadi abu, aku masih dapat mengenalinya."
"Kong kian menggelengkan kepala seraya berkata deagan suara lemah lembut. Cia Kie soe, kau bukan seorang semberono. Akan tetapi, karena kau hanya ingat soal membalas sakit hati, maka kau tidak memperhatikan keadaan disekitarmu. Kau ditempat terang, dia ditempat gelap. Tak heran jika kau tidak mengenalinya."
"Aku tidak bisa tidak percaya keterangan itu. Kong kian taysoe adalah seorang pendeta suci yang namanya terkenal dikolong langit, sehingga tak mungkin ia berdusta. Kalau begitu, bukankah lebih baik baginya jika ia membunuh aku dengan membokong? kataku. Jika ia ingin mengambil jiwa, ia dapat melakukannya seperti membalik tangan sendiri, Kata Kong kian. Cia Kiesoe, dua kali kau coba membalas sakit hati, dua kali telah dikalahkan. Jika ia memang mau menghendaki jiwamu, mengapa waktu itu ia tidak turun tangan? Pada waktu kau coba merampas kitab Cit siang koen, kau telah mengadu Lweekang dengan tiga tetua dari Kong tong pay. Sebagai mana kau tahu, partai itu mempunyai lima orang tetua. Kemana perginya dua tetua yang lain? Mengapa kedua orang itu tidak turut mengerubuti kau? Kalau Ngo lo (Lima tetua) turun tangan dengan berbareng, apakah Kiesoe masih bisa hidup terus?"
"Untuk kesekian kalinya, aku terkejut. Memang benar, waktu aku melukakan Khong tong Sam loo (Tiga tetua Khong tong pay), aku mendapat tahu, bahwa dua tetua yang lain, yang tidak turut bertempur, juga mendapat luka berat. Hal itu selalu merupakan teka teki yang tidak dapat dipecahkan olehku. Apakah kedua tetua itu berkelahi dengan kawan sendiri? Apakah aku dibantu oleh seorang yang berilmu tinggi? Sekarang, mendengar perkataan Kong kian Taysoe, aku bertanya didalam hati. Apakah dua tetua itu dilukakan oleh Seng koen ?"
Coei San dan So So adalah orang oraag mempunyai pengalaman, pergaulan dan pendengaran luas.
Mereka sudah kenyang mendengar cerita cerita aneh dalam Rimba persilatan, tapi belum pernah ada yang seaneh cerita Cia Soen.
Sesudah bergaul lama, mereka tahu, bahwa Cia Soen bukan lihat ilmu silatnya saja, tapi juga lihay otaknya.
Tapi Hoen Goan Pek lek chioe Seng Koen kelihatannya lebih lihay dari pada saudara angkat itu.
"Toako."
Kata So So.
"Apa benar kedua tetua Khong tong pay dilukakan oleh gurumu?"
Cia Soen mengangguk seraya menjawab "Benar.
Akupun tetah mengajukan pertanyaan begitu kepada Kong kian.
Cia Kiesoe, apa kau lihat mukanya kedua tetua itu ?
tanyanya.
Bagaimana paras muka mereka?
Aku tidak lantas menjawab dan mengingat-ingat beberapa saat, barulah aku berkata.
Kalau begitu, Khong tong jie loo benar telah dilukakan oleh guruku.
Aku terpaksa mengakuinya, karena kuingat, bahwa pada waktu Khong tong Jie loo menggeletak ditanah, muka mereka penuh dengan bintik-bintik merah darah.
Itu merupakan petunjuk, bahwa mereka telah menyerang dengan menggunakan tenaga Im kin (Tenaga lembek), tapi telah dipukul balik dengan ilmu Hoen goan kong.
Setahuku, disamping akibat pukulan Hoen goan kong, bintik-bintik merah di muka ialah tanda dari penyakit cacar atau sebangsanya.
Tak mungkin Jie loo mendapatkan penyakit cacar, karena pada hal itu, ketika aku baru bertemu dergan Khong tong Ngo loo, mereka semua segar bugar.
Aku juga tau, bahwa didalam Rimba Persilatan.
Hoen goan kong hanya dimiliki oleh guruku dan aku saja."
"Kong kian Taysoe manggut-manggutkan kepala. Ia menghela napas seraya berkata. Dalam keadaan mabuk, memang gurumu telah melaku kan perbuatan sangat hebat. Sesudah tersadar dari mabuknya, ia malu dan menyesal bukan main. Dua kali kau mencarinya untuk membalas sakit hati, dua kali ia tidak mengambil jiwamu.Ia malah tidak ingin melukakan kau. Tapi kerena kau menyerang secara nekad bagaikan orang edan, ia tak bisa meloloskan diri tanpa melukakan kau. Sesudah itu ia terUs membayangi kau dari belakang dan tiga kali diam-diam ia sudah menolong kau dari bencana."
"Aku segara mengingat ingat dan memang benar, selain dari peristiwa pertempuran melawan para tetua Khongtongpay, dua kali aku terlolos dari bahaya secara mengherankan."
"Sesudah berdiam sejenak, Kong kian Taysoe berkata pula. karena tahu, bahwa kedosaannya terlalu besar, ia tidak berani memohon ampuh. Ia hanya mengharap, bahwa lama-lama kau akan melupakan sakit hati itu. Tapi diluar dugaan, gelombang yang diterbitkan olehmu makin lama jadi makin besar dan jumlah manusia yang dibinasakan olehmu jadi makin banyak. Hari ini jika kau membinasakan Song Tayhiap, suatu bencana besar tak akan dapat dielakkan lagi."
"Mendengar itu, aku segera berkata. Baiklah, aku tak akan cari orang she Song itu, Tapi aku harap Taysoe suka minta guruku menemui aku. Jawab kong kian Taysoe. ia tak mempunyai muka untuk bertemu dengan kau dan iapun tak berani menemui kau. Disamping itu, Cia Kiesoe, bukan loolap mau memandang rendah kepadamu, andaikata kau bertemu dengan gurumu, kaupun tidak akan bisa berbuat apa-apa. Dibandingkan dengan dia, kepandaianmu masih terlalu rendah. Kurasa kau tak akan mampu membalas sakit hatimu."
"Aku mata sangat mendongkol dan segera berkata. Taysoe adalah seorang pendeta suci yang mempunyai perasaan adil. Apakah dengan berkata begitu Taysoe ingin aku menyudahi saja urusan ini? Ia mengawasi aku dengan sorot mata kasihan."
"Aku dapat merasakan hebatnya penderitaan Kiosoe. katanya. Akan tetap, kau harus ingat, bahwa perbuatan gurumu dilakukan dalam keadaan mabuk arak dan ia sebenarnya sama sekali tidak berniat begitu. Apa pula ia sungguh2 nerasa malu dan menyesal. Maka itu, loolap memohon pertimbangan Kiesoe mengingat kecintaan antara guru dan murid pada masa yang lampau."
"Mendengar bujukan itu, sambil menahan amarah aku segera berkata dengan suara kaku! Kalau kali ini aku tidak bisa memenang kan dia, biarlah dia binasakan aku. Jika aku tidak bisa membalas sakit hati, akupun tak sudi hidup lebih lama lagi didalam dunia."
"Kong kian mengawasi aku dengan paras muka berduka. Lama ia berdiri termenung tanpa menegeluarkan sepatah kata. Cia Kiesoe, katanva dengan suara perlahan, ilmu silat gurumu di waktu sekarang berbeda jauh dari pada diwarktu dulu. Biarpun kau mempunyai pukulan Cit siang koen, tak dapat kau melukakannya. Jika kau tak percaya, cobalah jajal pukulan itu terhadap diri loolap."
"Aku dan Taysoe sama sekali tidak mempunyai permusuhan, mana berani aku melukakan Taysoe? kataku, Walaupun berkepandaian rendah, kurasa Cit Siang koen tak mudah dilawan orang. Mendengar jawabanku, ia mengawasi aku sejenak dan kemudian berkata dengan suara tetap. Cia Kiesoe, marilah kita bertaruh. Gurumu telah membinasakan tigabelas anggauta keluargamu dan kau boleh memukulku tigabelas kali. Jika kau berhasil melukakan aku, aku tak akan campur lagi urusan ini dan gurumu akan keluar untuk menemui kau. Tapi jika kau tak dapat melukakan aku, kau harus melupakan sakit hatimu. Cia Kiesoe, bagaimana pendapatmu? Apa kau setuju pertaruhan ini."
"Aku tidak lantas menjawab. Kutahu pendeta itu memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan biarpun lihay, Cit siang koen belum tentu dapat melukainya. Kalau aku tidak bisa melukainya, apakah sakit hatiku boleh disudahi saja?"
Sementara itu, Kong kian sudah berkata.
Sekarang aku mau bicara terang-terangan kepada Kiesoe.
Sesudah mencampuri urusan ini, loolap pasti tidak akan mempermisikan kau membinasakan lagi kawan-kawan Rimba Persilatan yang tak berdosa.
Jika mulai dari sekarang Kiesoe menghentikan perbuatan kejam itu, aku bersedia untuk melupakan segala perbuatan perbuatan dulu-dulu.
"Cia Kiesoe, kau mencari musuhmu untuk membalas sakit hati. Apakah kau kira kelurga atau murid-murid dari orang-orang yang dibunuh olenhmu tidak akan mencarimu untuk membalas sakit hati?"
"Mendengar perkataan itu yang diucapkan dengan suara keren amarahku meluap. Baiklah aku akan pukul kau tiga belas kali! teriakku. Jika merasa tidak tahan, Taysoe boleh segera berteriak. Seorang laki-laki tak akan melanggar janji sendiri. Kalau kalah, Taysoe harus meyuruh guru menemui aku."
"Kong kian bersenyum seraya berkata. Kiesoe boleh segera mulai. Melihat badannya yang kate kecil, rambut dan alisnya yang sudah putih, dan paras mukanya yang welas asih, aku sungguh merasa tak tega untuk turun tangan. Maka itu, dalam pukulan pertama, yang ditujukan kedadanya aku hanya menggunakan tiga bagian tenaga"
"Gie hoe,"
Memotong Bu Kie.
"apakah kau menggunakan Cit siang koen yang dapat memutus kan nadi pohon?"
"Tidak,"
Jawabnya.
"Dalam pukulan pertama aku menggunakan Pek lek chioe dari guruku. Begitu terpukul, badan Kong kian Taysoe bergoyang goyang. Ia mundur setindak, Didalam hati, aku memandang rendah kepadanya. Dengan mengguna kan tiga bagian tenaga saja, ia sudah terhuyung setindak. Aku menduga, bahwa jika aku memukul dengan Cit siang koen, dalam tiga kali pukul mengambil jiwanya. Dalam pukulan kedua aku menambah tenaga. Badannya bergoyang goyang pula dan dia mundur setindak lagi. Pukulan yang ketiga pun mengeluarkan hasil yang sama"
"Diam-diam aku merasa heran. Dalam pukulan ketiga, aku kembali menambah tenrga, tapi ia tetap dapat menerimanya dengan sikap acuh tak acuh. Selain begitu, akupun merasa heran, karena tubuhnya sama sekali tidak mengeluarkan tenaga yang melawan tenaga pukulanku."
"Aku segera menarik kesimpulan, bahwa untuk merubuhkannya aku perlu menggunakan seantero tenaga. Akan tetapi, jika aku menggunakan seluruh tenaga, ia tentu akan terpukul mati, atau sedikitnya terluka berat. Biarpun aku seorang jahat dan kejam, tapi terhadap Kong kian Tayso yang rela berkorban untuk kepentingan orang lain, aku menaruh hormat yang sangat besar. Maka itu, aku lantas berkata. Taysoe, kau menerima pukulan tanpa membalas. Aku tak tega memukul lagi. Kau sulah dipukul tiga kaii. Baiklah aku sekarang berjanji tak akan cari Song Wan Kiauw."
"Tapi bagaimana dengan sakit hatimu terhadap Seng Koen ? tanyanya. Dengan bernapsu aku menjawab. Aku dan Seng Koen tidak bisa hidup bersama-sama dikolong langit. Kalau bukan dia, akulah yang binasa. Aku berdiam sejenak dan kemudian berkata pula. Tapi sesudah Taysoe tampil kemuka, dengan memandang Taysoe aku berjanji, bahwa mulai dari sekarang aku tak akan membunuh lagi kawan-kawan dalam Rimba Persilatan. Tujuanku hanya Seng Koen dan keluarganya!"
"Ia merangkap kedua tangannya seraya berkata. Atas nama kawan-kawan Rimba Persilatan, aku menghaturkan terima kasih untuk janji Kiesoe itu. Tapi loolap sudah mengambil keputusan untuk mendamaikan sakit hati ini, sehingga oleh karenanya, lebih baik Kieso meneruskan pukulan itu"
"Diam-diam aku menghitung-hitung. Memang paling baik aku melakukannya dengan Cit siang koen untuk memaksa keluarnya guruku. Untung juga, aku sudah mahir dalam pukulan itu, sehingga berat entengnya, mengirimnya atau menarik pulangnya dapat dilakukan sesuka hatiku. Dengan demikian, kurasa aku akan dapat mengimbangi pukulanku supaya tidak sampai mengambil jiwa pendeta yang mulia itu. Memikir begitu, aku segera berkata. Baiklah dan lalu mengirim pukulan Cit siang koen. Begitu lekas tinjuku menyentuh dadanya, dada itu agak melesak dan ia maju setindak."
Boe Kie menepuk-nepuk tangan.
"Heran sungguh !"
Katanya sambil tertawa.
"Kali ini, sebaik nya dari pada mundur, Hweeshio tua itu maju kedepan."
"Toako, bukankah Kong kian Taysoe menyambut pukulanmu dengan ilmu Kim kong Poet hoay tee (ilmu malaikat untuk membebaskan tubuh manusia dari sega1a kerusakan) dari Siauw lim pay?"
Tanya Coei San. Cia Soen mengangguk beberapa ka1i.
"Ngotee, kau ternyata mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang luas sekali,"
Ia memuji.
"Memang benar Kong kian Taysoe menggunakan ilmu itu. Kali ini, berbeda dari pada waktu menyambut tiga pukulan yang pertama, dari dalam tubuhnya keluar tenaga berbalik, sehingga isi perutku tergoncang hebat. Aku mengerti, bahwa Kong kian Taysoe sudah terpaksa mengeluarkan ilmu tersebut. Jika tidak, ia tak akan dapat menyambut pukulan Cit siang koan. Sudah lama kudengar, bahwa Kim kong Poet hoey tee dari Siauw lim pay adalah salah satu dari lima ilmu ajaib yang tertinggi dalam Rimba Persilatan. Sekarang baru aku tahu ilmu itu sungguh-sungguh hebat. Aku segera mengirim tinju kelima dengan menggunakan tenaga im-jioe (Tenaga lembek). Ia menyambutnya dengan maju lagi setindak dan aku sendiri lalu mengerahkan Lweekang untuk mempunahkan tenaga im-jioe yang berbalik menghantam diriku..."
"Giehoe,"
Boe Kie memutus pula perkataan ayah angkatnva,"
Pendeta tua itu telah melanggar janji. Ia berjanji tidak akan membalas, tapi mengapa ia menghantam balik tenaga Im-jioemu?"
Cia Soen mengusap usap kepala bocah itu dan berkata pula dengan suara halus.
"Sesudah aku mengirim tinju kelima, Kong kian Taysoe berkata. Cia Kiesoe, aku tak nyana Cit siang koen sedemikian hebat. Jika aku tidak mengerahkan Lweekang untuk menolak tenagamu, aku tak akan dapat bertahan."
"Tidak apa, kataku. Bahwa Taysoe sudah tidak membalas dengan pukulan, aku sudah merasa amat sangat berterima kasih."
"Bagaikan huyan angin aku segera mengirim pukulan keenam, ketujuh, kedelapan dan kesembilan. Kong kian Taysoe sungguh-sungguh lihay. Ia menyambut setiap pukulan dengan sikap tenang dan apa yang paling mengherankan, ia dapat membedakan lebih dulu tenaga tenaga yang digunakan olehku."
"Awas! teriakku seraya mengirim tinju yang kesepuluh."
Ia mengangguk sedikit dan lalu mendului maju dua tindak kedepan.
"Dalam pukulan yang kesepuluh aku telah menggunakan seantero tenaga dan aku terhuyung kebelakang beberapa tindak sebab terbentur dengan tenaga menolak yang sangat dahsyat. Aku tidak bisa melihat mukaku sendiri."
"Tapi kutahu mukaku sudah pucat bagaikan kertas, sedang napas Kong kian Taysoe pun tersengal sengal. Cia Kiesoe, kau harus mengaso dulu sebelum mengirim pukulan kesebelas, katanya. Aku adalah seorang yang sungkan mengaku kalah, tapi pada saat itu, benar-benar ku tak sanggup segera mengirim pukulan."
Coei San dan So So mengawasi sang kakak dengan perasaan tegang.
"Giehoe, lebih baik kau jangan memukul lagi,"
Kata Boe Kie dengan tiba tiba.
"Mengapa?"
Tanya Cia Soen.
"Pendeta tua itu sangat mulia hatinya,"
Jawab nya.
"Jika Giehoe melukakannya, hati Giehoe tentu merasa tak enak. Jika Giehoe terluka kejadian itu sama tidak baiknya."
Coei San dan So So saling melirik.
Mereka merasa girang, bahwa Boe Kie yang masih begitu kecil sudah mempunyai pemandangan jauh.
Terutama Coei San merasa sangat terhibur, karena ia mendapat kenyataan, bahwa puteranya mempunyai pribudi yang luhur dan dapat membedakan apa yang benar, apa yang salah.
Cia Soen menghela napas panjang.
"Ya? Aka hidup berpuluh tahun dengan cuma-cuma dan pikiranku tak bisa menandingi pikiran anak kecil,"
Katanya dengan suara menyesal.
"Tapi pada waktu itu, dengan adanya tekad bulat untuk membalas sakit hati, aku tidak menghiraukan apapun juga. Aku merasa, bahwa jika aku memukul tiga kali lagi, salah seorang pasti akan binasa atau luka berat. Tapi aku tidak perduli. Aku segera mengerahkan seluruh lweekang dan mengirim pukulan yang kesebelas. Kali ini ia melompat, sehingga tinju yang ditujukan kedadanya. mengenakan kempungan. Aku mengerti maksudnya yang sangat mulia. Jika aku memukul dadanya, tenaga mendorong dari dada itu hebat luar biasa dan ia kuatir aku tak kuat menerimanya. Tapi dengan memasang kempungan, ia sangat menderita. Begitu kena, ia mengerutkan alis, seperti orang sedang menahan sakit."
"Untuk sejenak aku berdiri terpaku dan mengawasi dengan mata mendelong. Taysoe, kedosaan guruku sangat besar dan tak lebih dari pada pantas jika ia menerima hukuman mati, kataku dengan suara terharu. Mengapa Taysoe rela mengorbankan diri yang berharga bagaikan emas dan giok untuk menolong manusia yang berdosa itu?"
"Ia tidak lantas menjawab. Untuk beberapa saat, ia berdiri tegak dan mengatur jalan pernapasan. Sesudah itu, ia tertawa getir seraya berkata. Dua pukulan lagi ... dan ...permusuhan akan cepat dibereskan . Melihat begitu tiba-tiba dalam otakku berkelebat serupa ingatan. Ternyata pada waktu mengerahkan tenaga Kim long Poet hay tee, ia tidak boleh bicara. Mengapa aku tidak memancing supaya ia bicara dan dengan berbareng mengirim pukulan mendadak ?"
"Mengingat begitu segera aku berkata . Kalau dalam tigabelas pukulan, aku berhasil melukakan Taysoe, apakah Taysoe tanggung bahwa guruku bakal datang untuk menemui aku? Seorang beribadat tak akan berdusta, jawabnya. Meskipun Taysoe berjanji, tapi a pakah Taysoe mempunyai pegangan, bahwa ia pasti akan muncul ? tanyaku pula. Ia menjawab. ia sendiri yang mengatakan begitu kepadaku."
"Pada detik itulah, sebelum ia bicara habis dengan mendadak dan bagaikan kilat cepatnya, aku mengirim pukulan yang kedua belas kearah kempungannya. Aku merasa pasti bahwa ia tak akan keburu mengerahkan tenaga Kim kong Poeti hay tee !"
"Tapi diluar dugaan, ilmu itu dapat digunakan menurut kemauan hati. Begitu lekas tinjuku menyentuh kempungannya, tenaga malaikat dari Kim kong Poet hoay tee sudah berada diseluruh tubuh nya. Tiba-tiba aku merasa langit berputar dan bumi terbalik, sedang isi perutku seolah-olah mau meledak. Aku terhuyung tujuh delapan tindakkan. Sesudah punggungku membentur pohon, barulah aku bisa berdiri tegak."
"Hatiku hancur dan mendadak aku mendapat pikiran jahat. Sudahlah! teriakku. Sakit hati ini sukar bisa dibalas. Guna apa Cia Soen hidup lebih lama didalam dunia ? Seraya berkata begitu, aku mengangkat tangan untuk menghantam batok kepalaku."
"Lihay ! Sungguh lihay tipu itu!"
Seru Boe Kie.
"Tapi Giehoe, apakah siasatmu itu tidak terlalu kejam?"
"Melihat apa kau?"
Tanya Coei San.
"Melihat Giehoe mau membunuh diri dengan rnenghantam batok kepala sendiri, Hweeshio tua itu pasti akan berteriak untuk mencegah dan akan coba menolong,"
Jawab Boe Kie.
"Giehoe pasti akan turun tangan pada saat pendeta itu tidak berjaga-jaga. Tapi ia begitu baik terhadapmu dan Giehoe tentu tidak boleh melukakannya. Bukankah begitu? "
Bukan main herannya Coei San dan So So.
Mereka memang tahu, bahwa anak itu sangat cerdas otaknya.
Tapi mereka sama sekali tak pernah menduga, bahwa dalam tempo sekejap mata, ia sudah bisa melihat akal khianatnya Cia Soen.
Mereka sendiri adalah orang-orang yang terkenal pintar dan mempunyai banyak pengalaman dalam dunia Kangouw.
Tapi dalam kecepatan berpikir, mereka ternyata masih kalah setingka t dari anak itu.
Paras muka Cia Soen berubah sedih dan sesudah menghela napas, ia berkata dengan suara parau.
"Benar. Aku justru ingin menyalah gunakan kemuliaan Kong kian Tayso! BoaeKie, tebakanmu tepat sekali. Biarpun benar gerakanku itu merupakan suatu akal busuk, tapi pada waktu aku mengayun tangan untuk menepuk batok kepalaku, aku menghadapi bahaya yang sangat besar. Kalau aku tidak menghantam sungguh-sungguh dengan sepenuh tenaga, Kong kian tentu bisa melihatnya dan ia pasti tak akan coba, menolong."
"Dari tiga belas pukulan hanya ketinggalan satu pukulan saja. Cit siang koen memang lihay, tapi sudah ter bukti, bahwa itu tak bisa menghancurkan Kim kong Poet hoay tee yang melindungi seluruh tubuhnya. Maka itu, dengan pukulan biasa, tak usah diharap aku bisa berhasil dan aku boleh tak usah mimpi untuk membalas sakit hati ini. Demikianlah, ibarat orang berjudi, pada detik itu aku tengah melemparkan dadu yang penghabisan kali. Aku menghantam dengan sekuat tenaga. Jika ia tidak menolong, maka aku akan binasa dengan kepala hancur. Memang, kalau aku tidak bisa membalas sakit hati, memang labih baik aku binasa"
"Melihat sambaran tanganku, Kong kian Taysoe berteriak. Hei! Jangan ... Seraya berteriak, ia melompat dan nenangkis tanganku. Pada detik itulah aku mengirim tinju kiri kebawah dadanya. Buk ! Tinjuku mampir tepat pads sasarannya. Kali ini ia benar sekali tidak berjaga jaga. Tubuh manusia terdiri dari darah dan daging tentu saja tak bisa menerima pukulan Cit sang koen yang sehebat itu. Tanpa bersuara, pendeta yang sangat rnulia itu rubuh ditanah!"
"Aku mengawasinya sejenak dan tiba tiba rasa kemanusiaanku mengamuk hebat. Aku memeluknya dan rnenangis keras. Kong kian Taysoe, Cia Soen tak mengenal pribadi, lebih hina daripada babi dan anjing! kataku dengan suara parau."
Coei San bertiga tidak rnengeluarkan sepatah kata. Mereka sangat berduka akan kebinasaan pendata yang berhati begitu mulia.
"Melihat aku menangis, Kong kian Taysoe bersenyum."
Kata pula Cia Soen.
"Ia menghibur aku dengaan berkata. Setiap manusia didunia harus pulang kealam baka! Kiesoe tak usah begitu sedih. Tak lama lagi gurumu akan tiba disini dan kau harus menghadapinya dengan penuh ketenangan."
"Nasehat itu menyadarkan aku. Barusan, sesudah megirimkan tiga belas pukulan, tenaga ku dapat di katakan habis. Sekarang dalam menghadapi lawan berat, tak boleh aku terlalu berduka, karena hal itu dapat merusak semangat. Aku segera bersila dan mengatur jalan pernapasan. Tapi sesudah lewat sekian lama, guruku belum juga datang. Aku melirik kong kian Taysoe dan melihat bahwa pada paras mukanya terlukis rasa heran."
"Sesaat itu, napas Kong kian Taysoe sudah sangat lemah. Iapun mengawasi aku dan berkata dengan suara terputus putus. Tak dinyana .... ia tidak.....tidak..... boleh dipercaya. Apa dia tertahan karena urusan lain ?"
"Aku gusar tak kepalang. Kau menipu aku! bentakku. Kau menipu aku, sehingga aku membinaskan kau. Sampai sekarang guruku masih belum muncul!"
"Ia mengeleng gelengkan kepala. Aku tidak menipu katanya. Aku merasa bersalah terhadapmu."
"Dalam kegusaran yang meluap-luap, aku mencacinya. Tiba-tiba selagi memaki, aku terkejut sebab ingat kenyataan yang sebenarnya. Andaikata ia menipu aku, tipunya merupakan pengorbanan jiwa dan baginya tak ada keuntungan apa pun jua, pikirku. Sesudah mengorbankan jiwa, ia malah meminta maaf kepadaku."
"Bukan main rasa maluku dan aku segera berlutut di sampingnya. Taysoe, apakah kau mempunyai keinginan yang belum ditunaikan? tanyaku dengan suara parau. Katakan saja. Aku pasti akan melakukannya."
"Ia bersenyum seraya berkata dengan berbisik. Aku hanya mengharap, bahwa jika kau mau membunuh orang, ingatlah loolap."
"Kong kian Taysoe bukan saja seorang pendeta suci yang memiliki ilmu silat sangat tinggi, tapi juga seorang budiman dan bijaksana yang dapat menyelami perasaanku. Ia mengerti, bahwa jika ia meminta supaya aku menyudahi permusuhan dan mengubah menjadl orang baik, aku tentu tak akan dapat melakukannya. Ia tahu bahwa permintaan begitu bakal sia-sia saja. Maka itu, ia hanya memesan, supaya jika mau membunuh orang, biarlah aku ingat pengorbanannya."
"Ngote, hari itu, pada waktu itu mengadu tenaga didalam perahu, aku tidak mengambil jiwamu, sebab, secara mendadak, aku ingat Kong kian Taysoe."
Coei San tercengang.
Sedikitpun ia tak pernah menduga bahwa jiwanya ditolong oleh seorang pendeta yang sudah tidak ada lagi dalam dunia.
Ia menghela napas dengan rasa kagum dan rasa hormat yang tiada batasnya.
"Giehoe, mengapa kau mengadu tenaga dengaa Thia-thia?"
Boe Kie menyelak..
"Mereka hanya main-main untuk menjajal Lwee kang siapa yang lebih tinggi,"
So So mendahului. Bocah itu tak percaya.
"Giehoe,"
Katanya pula.
"Apa waktu itu kedua matamu sudah bute"
"Boo Kie ! Jangan ngaco!"
Bentak sang ibu dengan rasa terkejut. Cia Soen bersenyum.
"Belum, waktu itu aku belum buta,"
Jawabnya.
"Mengapa kau menanya begitu?"
Mendengar jawaban ayah angkatnya, Boe Kie segera berkata lagi.
"Kalau begitu, mungkin sekali karena ayah tidak bisa mengalahkan Giehoe, maka ibu sudah turun tangan dan membutakan ke dua matamu...."
"Boe Kie!"
Bentak Coei San dan So So denngan berbareng sehingga anak itu ketakutan dan tidak berani membuka suara lagi.
"Tak boleb kamu menakut-nakuti anak itu,"
Kata sang kakak.
"Boe Kie, tebakanmu tak salah. Bagaimana kau dapat rnenebaknya?"
Bocah itu mengawasi kedua orang tuanya dan menjawab dengan suara terputus-putus.
"Aku... aku...."
"Kau benar,"
Kata sang ayah angkat.
"Waktu itu, sebab ayahmu tidak bisa mengalahkan aku, ibumu sudah turun tangan dan menimpuk kedua mataku. Tapi kejadian itu sudah terjadi lama sekali dan orang yang bersalah adalah aku sendiri. Aku sama sekaili tidak menjadi gusar. Apakah kau dengar dari ibumu ?"
Ia tahu, bahwa So So tak mungkin menceritakannya kepada puteranya, tapi ia sengaja mengajukan pertanyaan itu supaya Coei San dan So So tidak bisa mencegah penjelasan si Boe Kie.
"Tidak ! Ayah dan ibu sama sekali belum pernah menuturkan kejadian itu kepadaku,"
Jawab Boe Kie.
"Beberapa hari yang lalu ibu mengatakan, bahwa ia mau mengajar aku menimpuk dengan jarum emas, tapi pada esok harinya, ia membatalkan janji. Menurut dugaanku, ayahlah yang sudah melarang ibu, karena ia kuatir hal itu mengingatkan Giehoe akan kejadian kejadian yang lampau."
Cia Soen tertawa terbahak bahak.
"Ngote, So moay, anak kita lebih pintar lima kali lipat dari pada aku dan lebih cerdas sepuluh kali lipat dari pada kamu berdua,"
Katanya dengan suara girang dan bangga.
"Hmm ...! Aku tak bisa menebak kelihayannya dibelakang hari ."
Tanpa terasa Coei San dan So So mengulur tangan mereka dan mencekal tangan sibocat erat erat.
Mereka merasa sangat girang.
tapi kegirangan itu tercampur dengan rasa kuatir.
Coei San kuatir, bahwa karena terlalu pintar dihari kemudian anak itu akan menyeleweng.
Sedang So So sendiri kuatir puteranya tidak bisa berumur panjang.
"Giehoe,"
Kata pula Boe Kie sambil tertawa.
"Dengan berkata begitu, bukankah Giehoe lebih pintar dua kali lipat daripada ayah dan ibu ?"
"Lebih daripada dua kali lipat,"
Jawabnya di susul dengan tertawa nyaring.
"Giehoe, bagaimana dengan pendeta tua itu ? Apa ia dapat diselamatkan jiwanya ?"
Tanya pula si bocah. Cia Soen menghela napas.
"Tidak, tak dapat disembuhkan lagi,"
Jawabnya.
"Napasnya makian lama jadi makin lemah. Dengan mati matian aku menekan jalanan darah Leng tayhiatnya sambil mengempos Lweekang untuk coba menolong jiwanya. Tiba-tiba ia menarik napas panjang-panjang dan berkata dengan suara berisik. Apa gurumu belum datang? Belum! jawabku. Kalau begitu, ia tidak akan datang,katanya lagi."
"Taysoe, legakanlak hatimu"' kataku.
"Aku berjanji, bahwa aku tak akan membunuh orang lagi secara serampangan untuk memancing dia. Untuk mencarirya, aku akan menjelajahi seluruh dunia."l Ia mengangguk dan berkata dengan suara terputus putus. Bagus bagsus... Hanya sayang ilmu silatmu belum bisa menadinginya .... kecuali....kecuali....."
"Sampai disitu, suaranya hampir tak dapat didengar lagi. Aku menempelkan kupingku dimulutnya. Sesaat kemudian ia berkata pula. Kecuali..... kau dapat mencari To liong to...... mencari golok itu punya pit......... Ia hanya dapat mengeluarkan perkataan 'pit'. Napasnys menyesak dan lalu menghambuskan napas penghabisan!" (Penerusan "pit"
Yalah "bit".
Pit bit berarti "rahasia".
Sekarang Coei San dan So So baru rnengerti mengapa kakak itu berusaha untuk mengorek rahasia To liong to, mengapa ia kadang-kadang kalap seperti binatang buas dan mengapa ia selalu diliputi kedukaan.
Sesudah mengangkat saudara sepuluh tahun.
baru malam itu mereka mengetahui asal usul Cia Soen.
"Sesudah mencari dibanyak tempat. belakangan barulah aku dengar dimana adanya golok mustika itu,"
Kata pula Cia Soen.
"Buru-buru aku pergi kepulau Ong poan san untuk merebutnya. Kejadian selanjutrya sudah diketahui kamu dan tak perlu aku mengulangi lagi. Sebelum mendapat golok itu, aku berusaha mati-matian meacari Seng koen. Tapi sesudah memiliki, aku berbalik takut di cari olehnya. Maka itu, aku rnemerlukan sebuah tempat yang jauh dan tak dikenal manusia untuk coba memecahkan rahasia yang tersembunyi dalam golok itu. Karena kuatir kamu membocorkan rahasiaku, maka aku sudah membawa kamu datang disini. Tak dinyana kita sudah berdiam disini tak kurang dari sepuluh tahun. Cia Soen ... ah. ... Cia Soen! Setiap usahamu selalu menemui kegagalan!"
"Menurut Toako, perkataan Kong kian Taysoe , belum selesai diucapkan,"
Kata Coei San.
"Ia mengatakan. Kecuali bisa mencari To liong to punya pit ... Mungkin sekali ia mempunyai maksud lain"
Cia Soen menghela napas.
"Selama sepuluh tabuh siang malam aku mengasah otak,"
Katanya.
"Tapi aku tetap gagal. Tidak bisa salah lagi, didalam golok itu bersembunyi rahasia besar. Hanya otakku tidak cukup tajam untuk menembus kabut yang menyelimuti rahasia itu. Boe Kie, kau jauh lebih pintar daripada aku. Dikemudian hari mungkin sekali kau akan berhasil dimana aku mengalami kegagalan."
"Gie hoe, berapa usia Seng Koen sekarang?"
Tanya si anak. Paras muka Cia Soe lantas saja berubah.
"Tak salah kau, nak,"
Katanya.
"Dia sekarang sudah berumur enampuluh lima tahun. Sakit hatiku kebanyakan tidak bisa terbalas Hai! Langit! Langit! Kau telah membuat aku sangat menderita!"
Coei San dan So So mengerti apa yang dipikir kakak mereka.
Andaikata dibelakang hari Boe kie berhasil memecahkan rahasia To liong to, andaikata ia memperoleh ilmu yang dapat merubuhkan Seng Koen, andaikata ia bisa pulang ke Tionggoan dan mencari Seng Koen, hal itu tentunya bakal terjadi dalam duapuluh atau tigapuluh tahun kemudian.
Pada waktu itu, sepuluh sembilan harapan, Seng Koen sudah berpulang kealam baka.
Sesudah beromong-omong lagi beberapa lama, fajar mulai menyingsing.
"Boe Kie,"
Kata Cia Soen.
"Kau jangan tidur lagi. Giehoe akan mengajarkan kau semacam ilmu silat."
Coei San dan So So saling melirik, tapi mereka tidak berani membantah dan lalu kembali keguha mereka.
Cia Soen tak pernah menyebut-nyebut lagi urusan itu, hanya caranya mendidik Boe Kie jadi berubah.
Ia sekarang menurunkan pelajaran dengan lebih bengis dan keras.
Boe Kie baru saja berusia sembilan tahun dan biarpun otaknya sangat cardas, bagaimana ia dapat menyelami pelajaran Cia Soen yang begitu tinggi dalam tempo begitu pendek?
Tapi sang ayah angkat tidak menghiraukan pertimbangan itu.
Setiap kali bocah itu tidak memenuhi pengharapannya, ia bukan saja mencaci tapi juga memukulnya.
Sering kali So So melihat tanda-tanda biru bekas pukulan ditubuh puteranya, ia merasa kasihan dan tempo-tempo berkata .
"Toako, tak dapat Boe Kie mempelajari semua ilmu silatmu dalam tempo pendek. Kita berdiam dipulau yang terpencil dan kita mempunyai banyak sekali tempo. Kurasa Toako tak usah begitu tergesa-gesa."
"Aku bukan menyuruh dia melatih diri dalam pelajaran-pelajaran yang diturunkan olehku,"
Jawab sang kakak.
"Aku hanya memerintahkan supaya dia mengingat dan menghafal semua pelajaran itu didalam otaknya."
So So tak mengerti maksud Cia Soen.
Ia hanya tahu, bahwa kakak itu seorang aneh dengan cara-caranya yang aneh pula.
Ia tidak dapat berbuat lain daripada membiarkan sang kakak bertindak semaunya.
Apa yang dapat dilakukannya hanyalah membujuk Boe Kie jika dia mendapat hajaran keras.
Tapi anak itu sedikitpun tidak menjadi jengkel.
"Ibu, maksud Giehoe sangat baik,"
Katanya.
"Makin keras ia memukul, makin cepat aku menghafal pelajaran."
Demikianlah setengah tahun yang pertama telah lewat. Pada suatu pagi, tiba-tiba Cia Soen berkata.
"Ngotee, So-moay, empat bulan lagi angin dan arus laut akan membeluk keselatan. Mulai hari ini kita sudah boleh membuat getek."
Coei San kaget tercampur girang.
"Toako, apa kah kau maksudkan, bahwa sesudah membuat getek, kita akan bisa kembali ko Tionggoan?"
Tanyanya.
"Tergantung atas kebijaksanaan Langit,"
Jawabnya dengan suara tawar.
"Ini yang dinamakan. manusia berusaha, Langit berkuasa. Kalau untung baik, pulang ketempat sendiri, kalau nasib malang, tenggelam didasar laut."
Jika mereka menuruti keinginan So So, mereka tak usah menempuh bahaya besar itu.
Mereka hidup bahagia dan bebas merdeka dan So So sudah merasa sangat puas.
Akan tetapi, disamping itu masih terdapat lain pertimbangan yang sangat berat.
Mereka memikirkan nasib Boe Kie.
Dengan siapa anak itu akan menikah ?
Apa tidak kasihan, jika ia harus hidup selama-lamanya dipulau yang terpencil itu?
Demi kepentingan Boe Kie, jika masih ada jalan, biar bagaimana jua mereka harus berusaha untuk kembali ke dunia pergaulan.
Demikianlah, dengan bersemangat mereka lantas saja mulai bekerja.
Untung juga di pulau itu terdapat banyak pohon besar, sehingga soal bahan tidak menjadi soal lagi.
Cia Soen dan Coei San menebang pohon, So So membuat layar dan tambang dari serat kulit kayu, sedang Boe Kie dan si kera putih pun turut membantu atau mengacau.
Biarpun Cia Soen dan kedua suami isteri itu orang-orang yang berkepandaian tinggi tapi karena kekurangan alat, pekerjaan mereka main dengan lambat sekali dan mereka harus menggunakan lebih banyak tenaga daripada seharusnya.
Di waktu menebang pohon atau mengikat balok-balik untuk dijadikan getek.
Cia Soen selalu memerintahkan Boe Kie berdiri disampingnya dan ia mengajukan berbagai pertanyaan mengenai pelajarannya.
Coei San dan So So tidak diharuskan lagi menyingkir dan mereka bisa mendengar tanya jawab antara ayah dan anak angkat itu.
Mereka merasa heran , karena tanya jawab itu hanya mengenai Kouw koat (teori) dari berbagai ilmu silat.
Ternyata Cia Soen hanya menyuruh anak menghapal teori ilmu silat tangan kosong, ilmu golok, ilmu pedang dan sebagainya, tanpa memberi pelajaran mengenai cara-cara menggunakan teori itu.
Dengan lain perkataan, Boe Kie hanya menghapal teori secara membeo, seperti anak sekolah jaman dulu menghapal kitab Soe sie dan Ngo keng tanpa mengerti maksudnya.
So So yang mendengari sambil bekerja, merasa kasihan pada puteranya.
Jangankan seorang bocah cilik seperti Boe Kie, sedang seorang dewasapun tak akan bisa ingat Kouw-koat yang sulit itu tanpa mempelajari pukulan pukulannya.
Sebagai guru, Cia Soen bengis bukan main.
Salah satu perkataan saja.
Boe Kie dicaci atau di gaplok.
Biarpun ia menampar tanpa mengerah Lweekang, tapi karena kerasnya, muka Boe Kio sering menjadi bengkak.
Sesudah menggunakan tempo dua bulan lebih barulah getek itu selesai dibuat.
Untuk memasang tiang layar, mereka barus bekerja kira kira setengah bulan lagi.
Sesudah itu, mereka memburu binatang.
mengasini daging dan menjahit kantong kantong kulit untuk dijadikan tempat air.
Mereka harus mempersiapkan sebaik baiknya karena tak dapat diramalkan berapa lama mereka harus belayar ditengah samudara yang luas.
Waktu segala persiapan beres, siang hari sudah pendek dan malam sangat panjang, tapi arah angin masih belum berubah.
Sambil menunggu perobahan angin, mereka membuat sebuah gubuk dipinggir laut untuk menempatkan getek itu.
Sekarang Cia Soen tidak pernah berpisaran lagi dengan Boe Kie dan diwaktu malam, mereka tidur bersama sama.
Dengan bengis dan tidak mengenal lelah, ia terus mengisi pelajaran pelajaran terakhir kedalam otak anak angkat itu.
Pada suatu malam, waktu mendusin.
tiba tiba Coei San mendengar suara angin yang agak aneh.
Ia melompat bangun dan ternyata, angin rnulai meniup dati sebelah utara.
Buru burn ia manggoyang goyangkan tubuh istrinya seraya berkata dengan suara girang.
"So So, kau dengarlah !"
Sebelum istrinya tersadar diluar sudah terdengar teriakan Cia Soen.
"Angin utara datang!"
Ditengah malaria buta, teriakan itu yang seperti tangisan kedengarannya menyeramkan sekali.
Pada esokan paginya, dengan rasa girang tercampur haru, Coei San, So So berkemas karena adanya harapan besar untuk kembali kewilayah Tiong goan dan terharu sebab mereka harus segera berpisahan dengan pulau yang indah itu dimana mereka sudah berdiam kira-kira sepuluh tahun lamanya.
Kira-kira tengah hari barulah semua bekal selesai dipindahkan keatas getek.
Sesudah itu, mereka bertiga mendorong getek tersebut keatas air.
Orang yang melompat keatas getek paling dulu adalah Boe Kie yang mendukung si kera putih, diikuti oleh sang ibu.
"Toako, mari melompat bersama-sama,"
Kata Coei San sambil mencekal tangan sang kakak.
"Ngotee,"
Tiba-tiba Coei San berkata dengan suara parau.
"Mulai saat ini, kita berpisah untuk selama-lamanya! Aku harap kau bisa menjaga diri."
Kagetnya Coei San bagaikan disambar halilintar ditengah hari bolong. Ia menatap wajah kakaknya dengan mata membelalak dan berkata dengan suara terputus-putus .
"Toako....kau....kau..."
"Ngotee, kau seorang yang berhati mulia dan kau pasti akan hidup beruntung."
Kata Cia Soen.
"Tapi nasib manusia sukar ditebak dan kemauan Langit sukar diketahui. Maka itu , dalam tindakan-tindakamu, kau haruslah berhati-hati. Boe Kie telah medapat seantero kepandaianku. Ia berotak sangat cerdas dan dihari kemudian ia pasti bisa berada disebelah atas kita berdua. Mengenai So moay, biarpun ia seorang wanita, ia gagah dan pintar sehingga ia pasti tak akan di hina orang. Ngotee, orang yang aku kuatirkan adalah kau sendiri."
"Toako, jangan kau ngaco!"
Kata Coei San dengan bingung.
"Apa aku....kau..... tidak mau ikut kami ?"
Sang kakak bersenyum sedih.
"Pada beberapa tahun berselang, aku sudah mengatakan begitu kepadamu,"
Katanya.
"Apa kau lupa ?"
Coei San terkejut.
Memang benar Cia Soan pernah mengatakan begitu, akan tetapi karena soal itu tidak disebut-sebut lagi, Coei San dan So So tidak mengangapnya sungguh-sungguh.
Selama membuat getek dan mempersiapkan bekal, sang kakak juga tidak pernah mengutarakan niatannya itu.
Tak dinyana pada saat mau berangkat barulah ia memberitahukan keputusannya.
"Toako, mana boleh kau berdiam dipulau ini", kata pula Coei San dengan suara memohon.
"Ayolah !"
Seraya berkata begitu, ia membetot tangan kakaknya, tapi kedua kaki Cia Scam seolah berakar didalam tanah.
"So moay! Boe Kie kemari ! Toako tidak mau mengikut,"
Teriak Coei San. So So dan Boe Kie tentu saja kaget dan buru buru mereka melompat balik kedaratan.
"Giehoe, mengapa kau tidak mau turun ?"
Tanya si bocah.
"Jika kau tidak turut, akupun tidak turut."
Tak usah dikatakan lagi, Cia Soen pun merasa sangat berat untuk berpisahan dengan mereka.
Ia mengerti, bahwa perpisahan itu adalah untuk selama-lamanya.
Akan tetapi, sesudah merenungkan masak-masak dalam tempo lama, ia telah mengambil keputusan untuk tidak kembali ke Tiorggoan.
Mengapa?
Karena, jika ia mengikut, keluar, Coei San akan menghadapi bencana yang tidak habis-habisnya.
Biarpun ia mempunyai riwayat yang berlamuran darah dan ia pernah melakukan perbuatan-perbuatan kejam, tapi semenjak mengangkat saudara dengan Coei San dan So So, ia mencintai ketiga orang itu seperti mencintai diri sendiri.
Dan kecintaannya terhadap Boe Kie tidak kurang daripada kecintaaanya pada anak kandung sendiri.
Ia mengerti, bahwa diatas pundaknya tertumpuk dengan beban hutang darah.
Baik dalam kalangan Kangouw, maupun dalam kalangan Liok li (Rimba hijau kalangan perampok), entah berapa banyak jumlahnya musuhnya yang ingin membalas sakit hati.
Apa pula, sesudah merniliki To liong to, bakal makin banyak orang yang menghendaki jiwa dan goloknya.
Dulu sedikitpun ia tidak merasa gentar.
Tapi sekarang, sesudah kedua mata nya buta, ia merasa tak sanggup untuk melayani begitu banyak musuh.
Sebagai orang gagah sejati, jika ia dikerubuti, Coei San dan So So sudah pasti tak akan berdiri dengan berpeluk tangan.
Maka itu, kalau ia mengikut, bukan saja ia sendiri tspi kedua saudara augkat dan anak pungutnya pun akan turut menjadi korban.
Demikianlah, sesudah memikir baik-baik, ia mengambil keputasan itu.
Mendengar perkataan Boe kie, ia terharu bukan main.
Sambil memeluk anak angkat itu, ia ber kata dengan suara serak.
"Boe Kie, kau dengarlah perkataan Giehoe! Giehoe sudah tua, mata buta dan sudah enak hidup disini. Kalau kembali ke Tionggoan, Giehoe akan menderita.
"Sesudah kembali ke Tionggon anak akan melayani Giehoe dan tidak akan berpisahan lagi dengan Giehoe,"
Kata Boe Kie.
"Giehoe mau makan atau mimum apa, anak akan segera menyediakan nya. Bukankah penghidupsn begitu sama senangnya seperti penghidupan disini?"
Cia Soen menggelengkan kepala.
"Tidak, aku lebih senang berdiam terus disinl,"
Katanya.
"Kalau begitu, anakpun lebih senang hidup terus disini,"
Kata pula bocah itu.
"Thia, kita batalkan saja keberangkatan ini."
"Toako, jika kau mempunyai lain pendapat, lebih baik tau mengutarakan saja terang-terangan supaya kita beramai dapat mengatasinya"
Kata So So.
"Biar bagaimanapun jua, kita tak nanti meninggalkan kau disini seorang diri"
"Toako,"
Coei San menyambungi.
"apakah karena mempunyai banyak musuh, kau kuatir akan merembet-rembet kami? Sepulangnya di Tiong goan, kita boleh mencari sebuah tempat yang sepi dan kita boleh hidup menyendiri tanpa bergaul dengaa manusia lain. Menurut pendapatku, paliang benar kita berdiam di Boe tong san. Tak seorang pun yang akan menduga, bahwa Kim-mo Say-ong berada digunung itu."
"Hmm...."
Cia Soen mengeluarkan suara dihidung.
"Biarpun kakakmu seorang bodoh, tak usah ia menyembunyikan diri dibawah perlindungan Thio Cinjin!' Coei San terkejut. Ia tahu bahwa ia sudah kesalahan bicara dan buru buru berkata pula .
"Bukan, bukan begitu maksudku. Kepandaian Toako tidak barada disebelah bawah Soehoe dan tentu saja Toako tak perlu berlindung dibawah perlindungan Soehoe. Di wilayah Tiong goan terdapat banyak sekali tempat yang terpencil dan jauh dari dunia pergaulan. misalnrya Hoei kiang, Tibet, daerah gurun pasir dan sebagainya. Kita berempat boleh pergi kesitu dan menuntut penghidupan yang tenteram "
"Kalau mau mencari tempat yang jauh dari pergaulan manusia, tempat inilah yang paling baik!"
Kata sang kakak.
"Eh, katakan saja, apa kamu mau pergi atau tidak?"
"Tanpa kau, kami tak akan berangkat,"
Jawab So So dan Boe Kie dengan berbareng. Cia Soen menghelas napas "Baiklah"' katanya "kita semua jangan pergi. Sesudah aku mati, kamu masih mempunyai banyak tempo untuk pulang ke Tiong goan."
"Benar, kita sudah berdiam disini sepuluh tahun dan tak usah kita tergesa-gesa."
Kata Coei San.
"Bagus!"
Bentak Cia Soen.
"Sesudah aku mampus, aku mau lihat apa kamu masih mau berdiam disini."
Seraya berkata begitu, mendadak ia menghunus To liong to dan mengayun kelehernva. Semangat Coei San terbang.
"Jangan celakakan Boe Kie!"
Teriaknya.
Ia mengerti, bahwa ia tak akan mampu mencegah niat kakaknya sehingga jalan satu-satunya adalah berteriak begitu.
Benar saja Cia Soen terkejut.
Goloknya berhenti ditengah udara dan ia, bertanya.
"Apa?"
"Toako jika kau sudah mengambil keputusan pasti siauwtee tidak dapat berbuat lain dari pada meminta diri,"
Katanya dengan suara parau dan lalu berlutut dihadapan sang kakak.
"Giehoe!"
Teriak Boe Kie.
"Jika kau tidak pergi akupun tidak pergi.
"Kalau kau bunuh diri, akupun bunuh diri"
Cia Soen kaget. Ia tahu, bocah yang luar biasa pincar itu sekarang balas menggeretaknya. Buru buri ia memasukan To liong to kedalam sarung dan membentak.
"Setan kecil! Jangan ngaco kau!"
Tiba tiba, ia mencengkeram punggung Boe Kie dan melemparkannya kegetek dan kemudian melontarkan juga Coei San dan So So.
"Ngotee! So moay! Boe Kie!"
Teriaknya dengan suara duka.
"Semoga perjalananmu diiring dengan angin baik dan siang-siang kembali di Tiong goan."
Melihat majikannya sudah berada digetek, si kera putihpun buru-buru melompat kegetek itu.
"Giehoe! Giehoe!"
Sesambat Boe Kie. Cia Soen mencabut pula To liong to dengan membentak dengan suara angker.
"Jika kamu turun lagi, Kamu akan temukan mayatku!"
Karena terpukul arus air, perlahan lahan getek itu meninggalkan pulau.
Makin lama bayangan Cia Soen jadi makin kecil.
Coei San dan So So mengerti bahwa keputusan kakak mereka sudah tak dapat diubah lagi.
Mereka tak bisa berbuat lain daripada nengulap-ulapkan tangan dengan rasa sedih dan berterima kasih tak habisnya.
Sesudah berada dilautan terbuka Coei San bertiga tidak mengenal arah dan membiarkan getek itu berlayar semau maunya.
Apa yang diketahui mereka, ialah setiap pagi matahari naik dari sebelah kiri dan setiap sore, turun dari sebelak kanan.
Saban malam, mereka bisa melihat bintang Pak kek dibelakang getek.
Siang malam, dengan perlahan getek itu bergerak maju.
Selama kurang lebih dua puluh hari, Coei san tak berani memasang layar sebab kuatir getek itu membentur dengan gunung es.
Tanpa layar, walau pun terbentur, benturan itu tidak keras, dia tak akan mencelakakan.
Sesudah berpisahan dengan gunung es, barulah mereka menaikkan layar.
Dengan bantuan angin utara yang meniup tak henti-hentinya, getek itu mulai maju kearah selatan dengan pesat sekali.
Dasar nasib baik, ditengah parjalanan mereka tidak pernah bertemu dengan badai dan dilihat tanda tandanya, mungkin mereka akan bisa pulang dengan selamat.
Selama sebulan Coei San dan So So tak pernah menyebut-nyebut Cia Soen, karena kuatir menbangkitkan kedukaan Boe Kie.
Pada suatu hari sambil mengawasi permukaan air, tanpa merasa So So berkata "Toako benar-benar seorang luar biasa.
Ia bukan saja tinggi ilmu silat nya, tapi juga paham lain-lain ilmu "
"Ibu, menurut katanya Giehoe, selama setengah tahun angin meniup keselatan dan setengah tahun lagi meniup ke utara,"
Kata Boe Kie.
"Biarlah lain tahun kira kembali ke Peng hwee to untuk menengok Giehoe."
"Benar,"
Kata Coei San "Sesudah kau besar, kita beramai-rarnai mengunjungi lagi pulau itu."
"Apa itu?"
So So memutuskan perkataan suaminya seraya menuding keselatan. Jauh-jauh, digaris pertemuan antara angit dan laut, terlihat dua titik hitam. Coei San terkesiap.
"Apa ikan paus ?"
Katanya dengan suara ditenggorokan. Susudah mengawasi beberapa lama, So So ber kata.
"Bukan, bukan ikan paus. Aku tak lihat semburan air."
Dengan hati berdebar-debar, mereka terus memperhatikan kedua titik hitam itu. Berselang kurang lebih satu jam, tiba tiba Coei San berseru dengan suara girang.
"Perahu ! Perahu !"
Bahna girangnya, ia melompat bangun dan berjungkir balik.
Boe Kie tertawa terbahak-bahak dan lalu mengikuti ayahuya yang sedang kegirangan.
So So sendiri buru buru mengambil kayu bakar, menuang minyak ikan diatasnya dan lalu menyulutnya.
Sesudah lewat kira-kira satu jam lagi, sedang matahari mulai mendoyong kebarat, mereka sudah bisa melihat tegas dua buah perahu diatas permukaan air.
Mendadak So So kelihatan menggigil dan paras mukanya berubah pucat.
"Ibu, ada apa ?"
Tanya Boe Kie dengan perasaan heran. Sang ibu tidak menjawab, tapi bibirnya bergemetar. Dengan paras muka kuatir, Coei San mencekal kedua tangan isterinya. So So menghela napas.
"Baru pulang, sudah bertemu,"
Katanya.
"Apa?"
Menegas sang suami.
"Lihat layar itu,"
Jawabnya sambil menuding kesebuah perahu.
Coei San mengawasi keperahu yang berada di sebelah kiri.
Ia mendapat kenyataan, bahwa pada layarnya terpeta sebuah tangan berdarah dengan lima jeriji yang terpentang lebar.
"Layar itu aneh sekali, apa kau tahu perahu siapa?"
Tanyanya.
"Perahu Peh bie kauw dari ayahku !"
Jawabnya dengan suara perlahan. Coei San tertegun. Sesaat itu rupa-rupa pikiran berkelebat-kelebat diotaknya.
"Ayah So So seorang jahat dan kejam, bagaimana aku harus berbuat jika bertemu dengannya ? Bagaimana si Insoe terhadap pernikahanku ini tanyanya di dalam hati. Kedua tangan isterinya yang dicekelnya agak bergemetar. Ia mengerti, bahwa sang isteripun sedang memikiri berbagai soal yang tengah dihadapi mereka.
"So So,"
Katanya dengan suara membujuk.
"Kita sudah menikah dan anak kita sudah begini besar. Langit diatas, bumi dibawah apapun yang akan terjadi kita tak akan berpisah lagi. Kau tak usah kuatir."
So So mengangguk dan bersenyum.
"Aku ha nya mengharap kau tidak menyesalkan aku,"
Katanya dengan suara perlahan.
Boe Kie yang belum pernah melihat perahu, tidak menghiraukan pembicaraan antara ayah darn ibunya dan matanya terus mengawasi kedua perahu itu, yang kelihatannya sangat berdekatan, seolah-olah menempel satu sarna lain.
Jika tidak ada perobahan arah, getek mereka akan perpapasan dengan kedua perahu itu dalam jarak puluhan tombak.
"Apa kita perlu memberi isyarat ?"
Tanya Coei San.
"Tak perlu"
Jawab So So.
"Susudah tiba di Tiong goan, aku akan mengajak kau, dan Boe Kie pergi menemui ayah."
"Baiklah,"
Kata sang suami. Mendadak Boe Kie berteriak.
"Hei! Lihat! Orang-orang itu sedang berkelahi!"
Coei San dan So So terkejut dan lalu melihat kedua perahu itu. Benar saja mereka melihat berkelebat-kelebatnya senjata dan empat lima orang sedang bertempur.
"Apa ayah berada disitu ?"
Kata So So dengan rasa kuatir.
"Sesudah terlanjur bertemu, ada baiknya kita menengok sebentar,"
Kata Coei San.
Ia segera mengubah kedudukan layar dan membelokan kemudi sehingga getek mmbelok kekiri, menuju ke arah kedua perahu itu.
Berselang kira-kira setengah jam barulah getek mendekati kedua perahu itu.
"Pelancong yang tidak ada urusan jangan datang dekat !"
Demikian terdengar terlakan dari perahu Peh bie kauw.
"Aku adalah Hio coe dari Congto !"
Teriak So So.
"Tocoe dari bagian mana yang sedang memasang hio?"
Mendengar teriakan itu yang menggunakan istilah rahasia dari Peh bie kauw, orang yang barusan berteriak lantas saja berubah sikapnya'.
"Maaf! Kami tak tahu, bahwa yang datang adalah Hio coe dari Congto,"
Katanya dengan sikap hormat.
"Kami adalah rombongan Lie Hio coe dari Thian sie tong yang memimpin Hong Tan coe dari Sin coa tan dau Thia Tancoe dari Ceng liong tan. Bolehkah kami mendapat tahu, Hio coe dari mama yang, datang kesini ?"
"Hio coe dari Cie wie tong,"
Jawab So So.
Hampir berbareng dengan jawaban So So, keadaan diperahu Peh bie kauw menjadi kalut.
Beberapa orang berlari-lari, rupanya untuk memberitahukan pemimpin mereka, sedang belasan orang berteriak dengan suara kaget dan girang.
"In Kouwnio pulang ! In Kouwnio pulang !"
Biarpun sudah menjadi suami isteri sepuluh tahun, So So belum pernah membicarakan Peh bie kauw dengan suaminya.
Sedang Coei San pun belum pernah menanyakan.
Sesudah mendengar tanya jawab itu, barulah Coei San tahu, bahwa kedudukan Hio coe dari Cie wie tong lebih tinggi dari pada kedudukan Tancoe.
Waktu berada di pulau Ong poan san, ia pernah menyaksikan kepandaian Tancoe dari Hian boe tan dan Coe ciak tan yang lebih unggul dari pada ilmu silat So So.
Ia mengerti bahwa isterinya bisa menjadi Hiocoe adalah karena So So puteri pemimpin besar dari Peh bie kauw.
Maka itu, dapatlah diduga, bahwa Lie Hiocoe dart Thian sie tong seorang yang berkepandaian sangat tinggi.
Tiba-tiba dari perahu Peh bie kauw terdengar suara seorang tua.
"Menuiut laporan, In Kauw nio sudah kembali. Bagaimana kalau kita menghentikan pertempuran untuk sementara waktu? "
"Baiklah !"
Jawab seorang yang suaranya nyaring bagaikan genta.
"Hentikan Pertempuran!"
Dengan serentak suara beradunya senjata terhenti dan semua orang melompat keluar dari gelanggang pertempuran. Mendengar suara yang nyaring itu, jantung Coei San memukul keras.
"Apa Jie Lian Cioe Soeko?"
Teriaknya. Jawab orang itu.
"Aku Jie Lian Cioe. Ah...... Kau .... Kau ..."
"Siauwtee ..Coei San..."
Jawabnya dengan suara terputus-putus bahna terharunya.
Sesaat itu jarak antara getek dan perahu Jie Lian Cioe belasan tombak.
Dengan tergesa-gesa Coei San menyambar sepotong papan yang lalu dilontarkan keatas air, akan kemudian ia melompat kepapan itu dan sekali menotol dengan satu kakinya untuk meminjam tenaga, tubuhnya sudah melesat kekepala perahu Jie Lian Cioe.
Jie Lian Cioe menubruk dan memeluk Soeteenya.
Sesudah mereka berpisahan sepuluh tahun dapat dimengerti perasaan mereka pada sesaat itu.
Si adik berseru dengan suara parau.
"Jieko'"
Sang kakak berbisik "Ngotee!"
Mata mereka basah.
Dilain pihak, orang-orang Peh bie kauw menyambut In So So dengan segala upacara.
Empat buah terompet yang dibuat dari keong laut raksasa ditiup dengan serentak.
Li Hiocoe berdiri paling depan dengan Hong Tancoe dan Thia Tancoe di belakangnya, dan dibelakang ketiga pemimpin itu berdiri kurang lebih seratus pengikut Peh bie kauw.
Diantara perahu besar dan getek dipasang selembar papan dan getek itu digaet dengan gala gaetan oleh beberapa anak buah perahu, supaya tetap pada tempatnya.
Sambil menuntun Boe Kie, So So menyeberang perahu dengan melewati papan itu.
Didalam kalangan Peh bie kauw, orang yang berkedudukan paling tinggi ialah Kauwcoe (pemimpin agama), Peh bie Eng ong In Thian Ceng.
Di bawah Kauwcoe terdapat Lwee sam tong (Tiga "Tong"
Dalam) dan Gwa ngo tan (Lima "Tan"
Luar) yang bantu pemimpin para pengikut Peh bie kauw.
Lwee sam tong terdiri dari Thian-wie tong, Cia wie tong dan Thian sie tong, sedang Gwa ngo tan yalah Sin coa tan, Ceng liong tan, dan (peep.
the other three not specified ) Hiocoe (pemimpin) Thian wie tong yalah putera sulung In Thian Ceng yang bernama In Ya Ong.
Hiocoe Thian sie tong yalah Lie Thian Hoan, Soetee (adik seperguruan) In Thian Ceng.
Walau pun berkepandaian sangat tinggi dan tingkatannya lebih tua daripada So So, dengan memandang muka Kauwcoe, ia berlaku sangat hormat terhadap nyonya muda itu.
Melihat So So menuntun seorang bocah dan pakaiannya, yang terbuat daripada kulit binatang, mesum dan compang campicg.
Lie Thian Hoan terkejut.
Tapi dengan paras muka berseri, ia tertawa neraya berkata.
"Terima kasih kepada Langit, terima kasih kepada Bumi, akhirnya kau pulang juga. Selama sepuluh tahun, bukan main jengkelnya ayahmu."
So So memberi hormat dengan berlutut.
"Soe siok selamat bertemu pula!"
Katanya. Ia menengok kepada puteranya dan berkata pula.
"Lekas berlutut dihadapan Soe-siok-couwmu."
Boe Kie buru buru menekuk kedua lututnya dengan mata mengawasi Lie Thian Hoan dan ratusan orang yang berdiri dibelakang kakek paman guru Soe siok couw itu.
"Soesiok,"
Kata So So sambil bangun berdiri.
"anak ini adalah anak tit lie (keponakan perempuan) bernama Boe Kie."
Lie Hiecoe terkesiap, tapi sejenak kemudian, tertawa terbahak-bahak.
"Bagus ! Bagus!"
Serunya.
"Ayah mu pasti akan kegirangan. Bukan saja puterinya pulang dengan selamat, tapi juga sudah mendapatkan sang cucu yang tampan dan pintar."
Melihat noda-noda darah dan beberapa mayat yang menggeletak digeledak perahu, So So bertanya dengan suara perlahan.
"Perahu siapa itu? Mengapa kalian berkelahi?"
"Orang-orang Boe tong pay dan Koen loan pay,"
Jawab Thian Hoen. Melihat suaminya sedang berpelukan dengan salah seorang dari perahu itu, So So mengerutkan alis dan berkata pula.
"Lebih baik kita menghentikan dulu pertempuran ini dan tit-lie akan berusaha untuk mendamaikan!"
"Baiklah,"
Jawab sang Soesiok.
Walaupun secara pribadi, tingkatan Lie Thian Hoan sebagai Soesiok (paman guru) lebib tinggi daripada So So, akan tetapi secara resmi, didalam kalangan Peh bie kauw, kedudukannya lebih rendah daripada nyonya muda itu, karena is memimpin "tong"
Ketiga, sedang So So menjadi Hiocoe "tong"
Kedua.
"So So, Boe Kie kemari! Temui Soekoku !"
Demikian terdengar teriakan Coei San.
Sambil rnenuntun Boe Kie, So So segera pergi keperahu Boe tong.
Lie Thian Hoan, Hong dan Thia Tancoe bingung, tapi tanpa merasa mereka lalu mengikuti nyonya muda itu.
Diatas geladak perahu Boetong terdapat tujuh delapan orang dan salah seorang yang berusia kira kira empatpuluh tahun dan bertubuh jangkung kurus sedang berpegangan tangan dengan Coei San.
"So So, inilah Jie Soeko yang namanya sering di sebut-sebut olehku,"
Kata Coei San sambil bersenyum.
"Jieko, inilah teehoemu (teehoe isteri dari adik lelaki) dan keponakanmu Boe Kie."
Semua orang kaget bukan main.
Peh bie kauw dan Boe tong pay sedang bertempur mati-matian.
Tak nyana, dua orang penting dari kedua belah pihak telah terangkap menjadi suami isteri dengan sudah mempunyai seorang putera.
Jie Lian Cioe mengerti, bahwa kejadian itu banyak latar belakangnya dan penjelasannya meminta tempo.
Secara bijaksana, ia lebih dahulu memperkenalkan kawan kawsnnya kepada Coei San dan So So.
Seorang Toosoe tua yang berbadan kate gemuk yalah See hoa coe dari Koen loan pay, sedang seorang wanita setengah tua yang masih berparas cantik diperkenalkan sebagai Soemoay (adik seperguruan) dari Soe hoa coe.
Ia itu bukan lain dari pada San tian chioe (si Tangan kilat) Wie Soe Nio, yang dalam kalangan kang ouw dikenal sebagai Son tian Nio.
Beberapa orang lainnya juga jago jago kosen Koen loan pay, hanya nama mereka tidak begitu terkenal seperti See hoa coe dan Wie Soe Nio.
Meskipun sudah berusia lanjut, See hoa coe masih berangasan.
"Thio Ngohiap, dimana adanya bangsat jahat Cia Soen?"
Tanyanya.
"Kau mesti tahu!"
Coei San bingung tak kepalang.
Sebelum mendarat, ia sudah menghadapi dua soal sulit.
Pertama partainya sendiri bermusuhan dengan Peh bie kauw dan kedua, begitu membuka mulut, orang sudah menanyakan tempat bersembunyinya Cia Soen.
Ia merasa sukar untuk menjawab pertanyaan imam itu dan segera berkata sambil berpaling kepada Jie Lian Coe.
"Jieko ada apakah sehingga kalian mesti bertempur?"
See hoa coe mendongkol.
"Hai ! Apa kau tak dengar pertanyaanku?"
Bentaknya.
"Di mana adanya bangsat Cia Soen ?"
Sebagai seorang yang gampang marah, dalam Koen loan pay Soe hoa coe berkedudukan tinggi dan lihay ilmu silatnya, sehingga ia sudah biasa main bentak-bentak terhadap orang-orang separtainya.
Hong Tancoe, pemimpin Sin coa tan, adalah seorang yang sangat "berbisa".
Dalam pertempuran tadi dua orang muridnya telah binasa dibawah pedang See hoa coe, sehingga ia merasa sangat sakit hati.
Maka itu, begitu mendengar bentakan si Toosoe, ia lantas saja menggunakan kesempatan baik itu.
"Huh ! Jangan banyak lagak kau !"
Katannya deagan suara dingin.
"Thio Ngohiap adalah menantu dari Peh bie kauw. Tidak boleh kau bicara begitu kasar terhadapnya"
Soe hoa coe lantas saja meluap darahnya.
"Tutup rnulutmu !"
Bentaknya.
"Mana bisa seorang baik baik menikah dengan perempuan siluman dari agama yang menyeleweng ? Dalam pernikahan itu pasti terdapat latar belakarg yang busuk."
"Jangan mengacao kau !"
Hong Tancoe tertawa dingin.
"Buktinya Kauwcoe kami sudah mempunyai cucu."
Dengan kalap See hoa coe berteriak.
"Perempuan siluman itu ..."
"Soeheng jangan tarik urat dengan manusia itu"
Memotong Wie Soe Nio.
"Dalam urusan ini kita menyerahkan saja kapada Jie hiap."
Ia sudah melihat maksud Hong Tancoe untuk mengadu domba Boe tong pay dengan Koen loan pay.
Mendengar perkataan Soe moaynya, See hoa coe juga tersadar dan sambil menahan amarah, ia menutup mulut.
Sambil mengawasi Coei San dan So So, Jie Lian Coe merasa bingung dan didalam otaknya berkelebat-kelebat banyak pertanyaan.
"Paling baik kita bicara digubuk perahu,"
Katanya sesudah memikir beberapa saat.
"Saudara-saudara kedua pihak yang mendapat luka harus ditolong terlebih dahulu."
Dalam perahu Jie Liam Coe, Peh bie kauw merupakan tamu dan orang yang berkedudukan paling tinggi dalam "agama"
Itu ialah In So So, Hio coe Cie wie tong.
Maka itu, sambil menuntun Boe Kie, So So masuk paling dulu kedalam gubuk perahu, diikuti oleh Lie Hiocoo dan kedua Tancoe.
Selagi Hong Tancoe baru mau masuk, mendadak ia merasakan kesiuran angin yang menyambar pinggangnya.
Sebagai seorang yang berpengalaman, ia tahu bahwa dirinya dibokong See hoa coe.
Sebaliknya dari menangkis, ia menubruk kedepan seraya berteriaknya.
"Celaka! Aku dibokong!"
Dengan gerakannya itu, ia sudah mempunahkan pukulan Sam in Coat houw chioe dari See hoa coe.
Mendengar teriakan itu, semua orang menengok mengawasi Hong Tancoe dan See hoa coe yang muka nya berubah marah seperti kepiting direbus.
Dengan rasa jengah, Wie Soe Nio deliki Soe hengnya.
Pada saat itu, Hong Tancoe ialah seorang tamu terhormat dan bokongan terhadapnya bukan saja melanggar peraturan, tapi juga memalukan.
Didalam gubuk perabu, So So menduduki kursi tamu yang pertama dengan Boe Kie berdiri didampingnya, sedang Jie Lian Cioe duduk dikursi pertama dari pihak tuan rumah.
Sambil menunjuk sebuah kursi disebelah belakang kursi Wie Soe Nio, Jie Lian Cioe berkata.
"Ngotee, kau duduk disitu."
Coei San mengangguk dan lalu duduk di kursi yang ditunjuk, sehingga kedua suami isteri duduk sebagai tuan rumah dan tamu.
Selama sepuluh tahun, sesudah Thio Coei San menghilang dan Jie Thay Giam tidak pernah keluar karena lukanya, yang bergerak dalam Rimba Persilatan haayalah lima pendekar Boe tong pay dan selama sepuluh tahun itu, nama mereka jadi makin cemerlang.
Biarpun kedudukan mereka adalah murid turunan kedua dari Boe tong pay, tapi dalam Rimba Persilatan mereka sudah bisa berendeng dengan pendeta-pendeta Siauw lim sie yang berkeduduka n tinggi.
Selama tahun-tahun yang belakangan, orang-orang Kangouw makin menghargai dan menghormati Boe tong Ngo hiap.
Maka itu lah, biarpun tingkatannya tinggi.
Soe hoa coe dan Wie Soe Nio mempersilahkan Jie Liam Cioe duduk dikursi utama.
Beberapa murid segera menyuguhkan teh dan sambil mengundang para tamunya minum teh.
Jie Lian Cioe menimbang-nimbang perkataan apa yang harus diucapkannya terlebih dahulu.
Perangkapan jodoh antara Coei San dan puteri In Kauwcoe adalah kejadian yang sangat diluar dugaan dan ia merasa bahwa jika ia menanyakan langsung persoalan itu dihadapan orang banyak.
Coei San tentu akan merasa jengah dan tidak akan mau bicara seterang-terangnya.
Memikir begitu ia lantas saja berkata dengan suara nyaring.
"Sebagnimana kita tahu, Siauw lim, Koen loen. Go bie, Khong thong dan Boe tong, lima "
Pay ". Sin koen, Ngo hong to dan lain lain, berjumlah sembilan "
Boen ", Hay see, Kie keng dan sebagainya, tujuh "
Baca Juga: Persekutuan Pedang Sakti 5
Baca Juga: Pendekar Gunung Lawu 1