Ceritasilat Novel Online

Persekutuan Pedang Sakti 5

Eps 5 Persekutuan Pedang Sakti - Qin Hong

Baca online Persekutuan Pedang Sakti - Qin Hong

Cersil Persekutuan Pedang Sakti - Qin Hong.

"Cuma dengan nama besar Ou tayhiap di dalam dunia persilatan, setelah berani mengucapkannya keluar, aku pikir kau pasti akan melanjutkan taruhan ini bukan?"

Kakek Ou segera berpikir.

"Pada saat ini Tam See hoa serta Kam Liu cu bersaudara sudah tidak sadarkan diri karena keracunan, untuk bisa memperoleh obat penawar racun dari mereka, otomatis aku harus bertaruh dengan mereka...."

Berpikir sampai disini. tanpa terasa ia tertawa terbahak-bahak seraya berseru;

"Apa yang telah diucapkan Ou lotoa tentu saja masuk hitungan, silahkan saja kalian berdua mengajukan permohonan pokoknya tentu aku akan mengiringi keinginan kali itu."

"Hmm....hmm...bila aku yang mengajukan usulan, aku kuatir Ou tayhiap tak berani menerimanya?"

Jengek si kakek ceking sambil tertawa. Mencorong sinar aneh dari balik mata kakek Ou, dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak;

"Haaahhh.. .haaahh ...haaahh...tiada persoalan yang ada didunia ini yang tak berani dihadapi oleh Ou lotoa, silahkan saja kau ajukan persoalanmu."

Sekilas senyuman licik segera menghias wajah kakek ceking itu, ujarnya.

"Nama besar Ou tayhiap telah menggemparkan Thian-lam, aku ingin sekali mengadakan suatu pertaruhan yang belum pernah terjadi didalam dunia persilatan selama ini."

"Silahkan diutarakan sobat."

"Walaupun kami dua bersaudara belajar ilmu silat dari perguruan yang sama, namun berhubung masing-masing memiliki kemampuan yang berbeda maka setelah latihan selama puluhan tahun lamanya, terwujud dua jenis racun yang berbeda pula, Ou Tayhiap mengakui kebal terhadap berbagai macam racun, maka dari itu aku pingin menyuruh kau menelan dua butir pil beracun yang telah kami persiapkan itu, apabila selewatnva seperminum teh keadaanmu masih tetap sehat-sehat saja, kami segera akan mengaku kalah."

Kakek Ou sama sekali tidak menyangka kalau lawannya bakal mengajukan cara bertaruh semacam ini, untuk sesaat dia menjadi tertegun dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Melihat lawannya terbungkam, sambil tertawa dingin kakek ceking itu segera mengejek.

"Sudah kuduga kalau Ou tayhiap pasti tidak akan berani menerima tantanganku ini."

"Belum pernah kudengar ada orang mengajak bertaruh makan pil beracun,"

Sekali lagi kakek ceking itu tertawa licik.

"Justru karena kejadian seperti ini belum pernah terjadi didalam dunia persilatan. maka kami mengajakmu untuk bertaruh. bukankah Ou tayhiap sama sekali tidak takut dengan racun?"

Diam-diam kakek Ou berpikir dalam hatinya.

"Berapa hari berselang baru saja aku menelan sebutir pil mestika Pit tok kim wan yang merupakan obat mujarab dari Lam-hay bun, itu berarti selama seratus hari kemudian aku tetap kebal terhadap pengaruh pelbagai jenis racun. Tapi yang dimaksudkan dalam hal tersebut apabila terkena racun tanpa disengaja, bukan berarti berani menelan obat beracun yang diberikan orang lain secara sengaja, bukan saja pil tersebut telah dirancang secara khusus, apalagi dua jenis obat beracun yang sama sekali berlawanan sifatnya....Pek tok kim wan memang berpaedah untuk memunahkan pengaruh racun, bila telah menelan pil racun mereka kemudian menelan pil menawar racun lagi, mungkin saja masih tak menjadi soal tapi Pek-tok itu telah kutelan sejak beberapa hari berselang.. -Obat tersebut dapat memunahkan racun dari jarum beracun keluarga Lan yang sangat hebat, entah sisa pengaruh obat yang berada dalam tubuhku itu dapat pula memulihkan kedua racun yang mereka buat atau tidak...?"

Sementara dia masih termenung, tiba-tiba terdengar kakek ceking itu sudah mengejek kembali.

"Apakah Ou tayhiap menyesal?"

"Persoalan dalam taruhan mesti disetujui oleh kedua belah pihak, memangnya aku telah memberikan persetujuanku tadi?"

Kakek ceking itu segera tertawa dingin.

"Bukankah Ou tayhiap telah berkata sendiri, memangnya kau sudah melupakannya kembali?"

"Apa sih yang pernah kukatakan?"

"Ou tayhiap telah berkata bahwa akulah yang akan mengajukan persoalan dan apa persoalannya kau pasti akan mengiringi, itu berarti kau telah bersedia menerima tantangan didalam persoalan apapun, bukankah demikian?"

Merah padam selembar wajah kakek Ou setelah mendengar perkataan itu, ia segera manggut-manggut.

"Baik, anggap saja aku telah menyetujui persoalan yang telah kau ajukan itu!"

"Padahal sekalipun kau tidak bertaruh pun tak menjadi soal bagiku."

Kata sikakek ceking itu kemudian.

"Apa maksudmu?"

"Yang kita pertaruhkan sekarang adalah mengobati luka beracun yang diderita beberapa orang itu, apabila Ou tayhiap hendak membatalkan pertaruhan tersebut, tentu saja aku pun tak akan mengobati pula luka beracun yang mereka derita."

Kakek Ou menjadi tertegun, kemudian pikirnya.

"Apa yang dia katakan memang betul juga, bila pertaruhan ini dibatalkan, tentu saja merekapun tak akan menawarkan racun yang menyerang tubuh mereka."

Berpikir sampai disini la segera tertawa terbahak-bahak katanya kemudian.

"Setiap patah kata yang telah kuucapkan tentu saja harus dilaksanakan, mau bertaruh pun tak jadi soal bagiku."

Kakek yang pendek tubuhnya itu segera tertawa dingin.

"Ou tayhiap, lebih baik kau jangan mempergunakan tubuh sendiri untuk mencoba racun kami, ketahuilah sifat racun yang dibuat oleh kami berdua bertentangan satu sama lainnya, apabila sudah ditelan maka tidak ada obat penawar racun yang bisa menyembuhkan."

Kakek Ou adalah seorang yang keras kepala, dia paling tidak tahan bila dipanasi dengan cara begini, tanpa terasa lagi ia segera berteriak keras.

"Bawa kemari pil beracun kalian. sekali2 aku mesti mati keracunan, tak nanti akan menuntut nyawa kalian."

Sekulum senyuman licik kembali menghiasi wajah kakek ceking itu.

dia segera merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan sebuah botol porselen kecil, dari situ dia mengeluarkan sebutir pil berwarna merah yang kemudian disodorkan kedepan seraya berkata.

"Inilah pil Lam khek wan ku."

Kakek pendek itupun mengeluarkan sebutir pil berwarna hitam sambil serunya;

"Inilah pil Pek khek wan ku!"

Kakek Ou segera tertawa terbahak bahak;

"Haah . .haah . .haah . .aku tidak percaya kalau pil beracun kalian benar-benar dapat membunuhku."

Disambutnya ke dua butir pil beracun itu kemudian segera ditelan kedalam perut.

Dengan senyuman licik menghiasi wajahnya, kakek ceking itu saling berpandangan sekejap dengan kakek pendek, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun ke dua orang itu sama-sama mundur selangkah kebelakang.

"Hei gerak-gerik kalian sangat mencurigakan, apa yang hendak kalian lakukan!"

Bentak kakek Ou dengan mata melotot.

"Sekarang Ou tayhiap telah menelan dua macam obat beracun yang saling berlawanan sifatnya dan ganasnya bukan kepalang, seperminum teh kemudian racun tersebut akan mulai bekerja..."

Ketika berbicara sampai disini, tiba-tiba ia tutup mulut dan tidak berbicara lagi.

"Mengapa tidak kau lanjutkan perkataanmu itu?"

"Bila racun itu mulai bekerja, maka kau akan menjadi gila sebelum akhirnya mampus."

Kakek Ou segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.

"Haaa ..haaa ..haaah . .. aku tidak percaya ..."

Belum selesai perkataan tersebut diutarakan tiba-tiba paras mukanya berubah hebat, ia segera duduk bersila diatas tanah, pelan-pelan memejamkan matanya dan mulai mengatur napas, semua peristiwa tersebut berlangsung dalam sekejap mata saja, kakek Ou yang sudah duduk bersila itu belum sempat mengatur napasnya ketika secara tiba-tiba tubuhnya mengalami goncangan yang sangat keras, tahu-tahu saja dia mencelat setinggi tiga depa lebih kemudian terbanting kembali ke atas tanah.

Tanpa terasa kakek ceking dan kakek pendek itu mandur dua langkah kebelakang, ke empat sorot mata mereka berdua sama-sama dialihkan ke wajah kakek Ou.

Tampak semua rambut dan jenggotnya pada berdiri kaku semua seperti landak, peluh sebesar kacang kedelai bercucuran tiada hentinya sudah jelas dia sedang mengandalkan tenaga dalamnya yang sempurna untuk melawan reaksi dari dua jenis racun yang bertentangan sifatnya itu.

Kakek ceking tersebut memperhatikan korbannya berapa saat, lalu sambil mengangkat kepala dia berkata;

"Orang ini sudah tiada harapan untuk diselamatkan lagi !"

Si kakek yang pendek segera manggut-manggut.

"Ya, dua pil kutub utara dan selatan merupakan obat beracun yang kita ciptakan secara khusus daya kerjanya luar biasa, jangan lagi dua butir sekaligus. hanya sebutirpun sudah tak tertolong lagi, hehh...heeh...heeeh...sungguh menggelikan perbuatan dari tua bangka tersebut. sekaligus dia telah menelan dua butir, bayangkan saja memangnya dia dapat tertolong lagi?"

"Kalau begitu lebih baik kita pulang saja."

Ajak si kakek ceking itu kemudian.

"Benar, kita memang lebih baik pulang saja."

Kakek ceking itu segera membungkukan badannya memberi hormat sambil katanya.

"Silahkan suheng."

"Silahkan sute,"

Kata si kakek cebol pula sambil memberi hormat.

Ke dua orang itu membalikan badan lalu seorang membelok ke selatan yang lain berbelok ke utara masing-masing kembali tempat pemondokan masing-masing.

Baru saja berjalan dua langkah, mendadak kakek ceking itu menghentikan langkahnya seraya berseru.

"Suheng tampaknya kita telah dipecundangi orang !"

Ketika mendengar seruan mana si kakek cebol menghentikan langkahnya seraya mencoba untuk mengatur napas, paras mukanya segera berubah hebat, sambil mendengus penuh amarah serunya.

"Ternyata tua bangka inipun seseorang ahli dalam menggunakan racun. tak nyana kalau tanpa kita sadari dia telah melakukan perbuatan licik di atas tubuh kita."

Sementara itu kulit muka si kakek ceking itu sudah mulai mengejang keras, katanya kembali.

"Suheng. tampaknya racun yang berada didalam tubuh kita sudah mulai bekerja."

"Hmmm. betul, datangnya amat cepat."

Dengus si kakek cebol itu.

Baru saja dia akan maju kemuka, tiba-tiba saja tubuhnya roboh terjungkal keatas tanah.

Kakek ceking Itu sangat terkejut, dia merasakan sepasang kakinya menjadi lemas sekali sehingga tak bisa dipakai untuk bergerak lagi, terpaksa dia duduk pula kelantai seraya teriaknya;

"Suheng, racun apakah yang telah menyerang kita? Tampaknya seperti sejenis racun tanpa ujud..."

"Perkataanmu memang tepat sekali!"

Tiba-tiba seseorang menyahut sambil tertawa seram.

Menyusul perkataan itu, muncul seorang kakek berjenggot putih dari belakang sebuah batu besar.

Orang itu mengenakan jubah lebar berwarna hitam, senyuman menghiasi wajahnya dengan membawa tongkat bambu pelan-pelan dia menghampiri dua orang itu, dengan sorot mata yang tajam kakek ceking itu mengawasi lawannya lekat-lekat, kemudian desisnya.

"Tok seh siacu!"

Sedangkan si kakek cebol itu segera membentak dengan suara yang amat keras.

"Selama dua puluh tahun terakhir ini. kami dua bersaudara selalu memegang janji dengan tidak meninggalkan lembah kami barang selangkah pun, mengapa Siacu justru mengingkari janji terlebih dulu dengan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mencelakai kami berdua?"

Kembali kakek berjenggot putih itu tertawa licik.

"Kalian berdua masih mengenali aku. Memang hal ini lebih baik lagi."

Pelan-pelan dia mendekati ke dua orang itu, kemudian katanya lebih jauh.

"Sekarang aku hendak menghapuskan janji kita yang lampau dengan mengundang kalian berdua untuk turun gunung, entah bagaimanakah pendapat kalian berdua?"

Kakek ceking itu menanti hingga lawannya dekat sekali dengan tubuhnya, tiba-tiba sambil tertawa dingin dia mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Tenaga pukulan yang diandalkan olehnya adalah tenaga Yang-kang, karenanya serangan yang dilancarkan semestinya menghasilkan tenaga pukulan yang dahsyat dan menghancurkan benda apa saja.

Siapa tahu, ketika serangannya telah dilancarkan, dia telah kehilangan sama sekali kekuatan tubuhnya.

Sambil tertawa dingin kakek berjenggot putih itu berkata lagi.

"Aku sama sekali tidak menaruh maksud jahat terhadap kalian berdua, tapi bila sikap kalian justru membangkitkan hawa amarahku maka hal ini sama artinya dengan mencari penyakit buat diri sendiri."

Dengan pandangan penuh amarah kakek itu mengawasi kakek berjenggot putih itu tajam-tajam, mendadak ia berseru.

"Kau ..kau bukan Tok seh siaucu."

"Siapa bilang aku bukan?"

"Jika kau adalah Tok seh Siacu tentu kau tahu bagaimanakah perjanjian yang kita buat dulu."

"Janji yang mana yang kau maksudkan?"

"Dulu kamii berdua pernah mendapat undangan dari siacu untuk menjabat sebagai pelindung hukum, namun berhubung wakil huhoat si raja langit bertangan racun Liong Cay thian tidak sesuai dengan pendapat kami, maka permintaan tersebut kami tolak. Karenanya siacu pun berjanji kami tak akan saling mengganggu satu sama lainnya tapi kami diminta untuk tetap berdiam dalam lembah ini, sehari belum mati, kami pun tak akan meninggalkan lembah ini. Namun waktu itu dijanjikan pula orang-orang Tok seh sia tak akan mengusik lembah kami pula, aku yakin Liong Cay thian sebagai Cong-huhoat mengetahui pula akan perjanjian ini."

Kakek ceking yang berada disisinya segera menambahkan pula;

"Kami bukan disekap dilembah ini oleh Siacu, maka ucapanmu yang hendak menghapuskan perjanjian kami dulu telah memperlihatkan titik kelemahan besar, apalagi jikalau sobat benar-benar adalah Tok seh siacu yang asli, berarti pula kau adalah majikan kami yang lama. untuk memasuki lembah ini kalian pasti tidak akan menggunakan cara meracuni kami, kemudian menanti sampai racun mulai bekerja dalam tubuh kami. kalian baru munculkan diri."

Mendengar perkataan mana. si kakek berjenggot putih itu segera tertawa seraya manggut-manggut.

"Benar, aku memang bukan Tok Seh siaucu."

"Lantas apa maksudmu menyaru sebagai Tok Seh siacu ?"

Tegur si kakek cebol. Kembali kakek berjenggot putih itu tertawa seram.

"Adapun kedatanganku kemari adalah hendak mengundang kalian berdua untuk turun gunung, sama sekali tidak mempunyai niat atau pun tujuan jahat."

Berbicara tsmpai disini dia tertawa tertawa ter-bahak2 sambil menyambung lebih jauh.

"Tok seh siacu pernah berkata, sehari dia belum mati, sehari pula kalian dilarang keluar lembah. kalau begitu kalian berdua sudah tertipu habis-habisan."

"Bagaimana mungkin kami berdua bisa tertipu?"

"Tok seh siacu yang tua telah mampus, sedangkan yang baru muncul pula dengan dandanan semacam ini, hal ini sama artinya pula dengan adu taktik yang licik, sebab selama hidup jangan harap kalian bisa keluar dari lembah ini lagi."

"Kami dua bersaudara sudah lama berdiam dilembah ini. memang kami berniat berdiam dilembah ini sampai tua sama tak terlintas dalam benak kami untuk keluar dari sini."

Kakek berjenggot putih itu segera menghembus napas setelah itu katanya lagi.

"Kalian anggap aku dengan dandanan demikian ini merupakan Tok seh siacu gadungan?"

"Memangnya bukan?"

Kakek berjenggot putih itu kembali tertawa ter-bahak2;

"Haaah ...haaah ... haaah... tahukah kau bahwa dandanan yang digunakan Tok seh siacu waktu itupun sesungguhnya sedang menyaru sebagai orang lain?"

"Soal ini belum pernah kami dengar."

Kata kakek cebol.

"Dahulu kalian berdua pernah menjadi pelindung hukum selat Tok seh sia, tahukah kalian sebenarnya siapakah Tok seh siacu tersebut?"

"Tentang soal ini kami kurang begitu jelas."

Kakek berjenggot putih itu segera tertawa dingin.

"Dia tak lain adalah si pedang beracun Kok In."

Kakek ceking dan kakek cebol segera saling berpandangan sekejap kemudian dengan setengah percaya setengah tidak mereka berkata lagi.

"Masa Tok seh siacu adalah si pedang beracun Kok In? Dahulu dia sudah termasuk seorang tokoh persilatan yang amat termashur dalam dunia persilatan, buat apa dia sendiri menyebut diri sebagai Tok seh siacu...?"

Mencorong serentetan sinar tajam dari balik mata kakek berjenggot putih itu, katanya.

"Ketika melarikan diri dari Lam-hay, si pedang beracun Kok In telah kabur sampai disini dan secara kebetulan dia berjumpa dengan Kiu tok sinkun diselat Tok seh sia. .."

"Kiu tok sinkun?"

Kakek cebol itu menjerit kaget.

"Kiu tok sinkun berada diselat Tok seh sia?"

Kakek berjenggot putih itu manggut-manggut, lanjutnya.

"Sinkun merasa amat cocok dengan orang itu sehingga mengundangnya masuk kedalam selat, siapa tahu sibajingan tua she Kok itu mengincar se

Jilid kitab beracun milik sinkun kemudian mengincar pula kekayaan dari Tok Seh-sia, maka akhirnya diapun turun tangan membunuh lalu mengangkat diri sebagai Tok seh siacu, dandanannya itu lain adalah menyaru sebagai sinkun."

"Si pedang beracun Kok In bisa menyaru sebagai Kiu tok Sinkun, tentunya hal ini dimaksudkan agar dia dapat menguasai segenap anggota selat Tok seh sia bukan?"

"Memang begitulah."

"Kalau didengar dari ucapan sobat, rasanya kau seperti berasal dari satu aliran dengan Kiu tok sinkun?"

Sela kakek ceking itu kemudian.

"Sinkun tak lain adalah mendiang guruku."

Kata si kakek berjenggot putih itu segera. Diam-diam kakek ceking itu terkejut, segera tanyanya.

"Siapakah namamu sobat?"

"Aku adalah Kiu tok kaucu."

Berbicara sampai disini, tiba2 dengan wajah serius dia melanjutkan.

"Sekarang si pedang beracun sudah mati, berarti perjanjian kalian berdua dengannya telah batal, kalianpun boleh meninggalkan lembah ini dengan bebas, bila kalian tidak menampik aku bersedia menerima kalian berdua sebagai pelindung hukum kiri dan kananku, entah bagaimanah pendapat kalian?"

"Bila kaucu harus mengundang dengan cara begini, kami berdua benar-benar tidak berani menerimany."

"Yaa, benar apa yang kau lakukan memang terhitung suatu ancaman, mana mirip sebuah undangan?"

"Oooh, jadi kalian berdua menuduh aku tidak seharusnya mempergunakan racun untuk mencelakai kalian? Tapi jikalau aku tilak berbuat demikian, mana mungkin aku bisa mengajak kalian berdua untuk berbincang-bincang? Sekarang juga aku akan memunahkan racun yang mengeram didalam tubuh kalian."

Selesai berkata dia lantas mengebaskan ujung bajunya sehingga terlihat kelima jari tangannya yang mirip cakar burung elang itu Kemudian disentilkan ketubuh kedua orang itu.

Tok kiau ji loo yang sedang duduk bersila diatas tanah segera mengendus bau harum semerbak yang menyusup kedalam lubang hidung mereka.

begitu mengnedus bau tersebut semangat mereka segera bangkit dan segar kembali.

Kiu kaucu pun menjura kembali seraya berkata.

"Apabila aku telah bertindak kasar kepada kalian tadi harap kalian berdoa sudi memaafkan, sekarang racun yang mangeram dalam tubuh kalian telah punah, coba aturkan pernapasan untuk mencoba, apakah dalam isi perut kalian masih ada sisa racunnya?"

Padahal tanpa disuruh Kiu tok kaucu pun secara diam-diam ke dua orang itu sudah mencoba untuk mengatur napas, ternyata racun yang mengeram ditubuh mereka telah punah sama sekali maka mereka pun manggut-manggut seraya menjawab.

"Yaa, sudah tak ada lagi."

"Dengan senang hati kuharapkan kemudian kalian berdua untuk segera bersiap sedia, kita akan berangkat sekarang juga."

Kata Kiu tok kaucu kemudian. Mendadak kakek ceking itu mendesis penuh amarah. bentaknya;

"Semenjak kapan sih kami menyanggupi permintaan kalian itu?"

Bentakan ini sama sekali diluar dugaan Kiu tok kaucu, ia jadi tertegun dibuatnya.

"Bukankah kalian berdua telah mengatakan bila si pedang beracun Kok In telah mati, makanya sumpah yang dibuat kalian dulu pun menjadi batal, .?"

Kakek ceking itu tertawa nyaring.

"Sekalipun dengan matinya Kok In maka kami berdua sudah tidak terikat lagi dengan segala bentuk perjanjian, bukan berarti kami harus pergi meninggalkan lembah ini."

"Betul!"

Sambung si kakek cebol.

"barusan akupun sudah berkata, kami telah lama berdiam dilembah ini, apalagi kami pun berniat akan tetap tinggal dilembah ini hingga mati. tiada terlintas niatan dalam benak kami untuk meninggalkan bukit ini."

Mendengar sampai disini, Kiu tok kaucu segera tertawa seram.

"Apa yang hendak kukatakan sudah kukatakan, kalian berdua tidak boleh tidak harus menerima tawaranku ini."

"Kalau aku tidak setuju mau apa kau? Memangnya hendak bertarung melawanku?"

Teriak kakek ceking itu keras-keras.

"Aku tidak perlu turun tangan dengan kalian."

Kata Kiu tok kaucu sambil tertawa seram. Mendadak paras muka kakek cebol itu berubah hebat, sambil mendengus dingin serunya.

"Sute, racun yang mengeram didalam tubuhku ternyata belum terhapus sama sekali..."

Mendengar perkataan tersebut, si kakek ceking menjadi sangat terkejut, segera bentaknya dengan mata melotot.

"Apa maksudmu dengan perbuatan begini ?"

Kiu tok kaucu segera mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaah ..haaaah ....haaah... .aku dengar Tok kiau ji lo adalah manusia yang tak mudah untuk dihadapi bila aku tidak berjaga-jaga sampai kesitu, bukankah perbuatanku ini sama artinya dengan melepaskan harimau pulang gunung?"

"Sekarang mau apa kau?"

Teriak kakek ceking. Kiu tok kaucu segera tertawa seram.

"Heeh. , heeh.. heeh... diluar lembah sana sudah tersedia kereta kuda, silahkan huhoat berdua segera meneruskan perjalanan."

Selesai berkata dia membalikkan badan sambil membentak lagi.

"Sekarang kalian semua boleh masuk kedalam."

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat di mulut lembah, kemudian muncul empat orang gadis berbaju ungu yang berambut panjang dan berusia enam tujuh belas tahun, mereka segera memberi hormat kepada Kiu tok kaucu.

Dengan cepat Kiu tok kaucu mengulapkan tangannya, kemudian sambil menuding kedua orang kakek itu, ujarnya.

"Kedua orang ini adalah pelindung hukum kiri dan kanan perkumpulan kita, mengapa kalian tidak segera maju untuk memberi hormat kepada mereka?"

Ke empat orang gadis berbaju ungu itu segera maju kedepan dan memberi hormat kepada Tok kiau ji lo. kemudian dengan suara yang merdu serunya bersama.

"Anggota perkumpulan menjumpai huhoat berdua,"

Tok kiau ji lo merasa mendongkol sekali. namun mereka tetap membungkam dalam seribu bahasa. Terdengar Kiu tok kaucu berkata lagi.

"Pelindung hukum berdua sudah terkena racun dari siluman Tok seh sia sehingga tubuh mereka tak mampu bergerak lagi, kalian lekas memayang mereka secara berhati-hati dan antar keluar dari lembah..."

Tindakan dari Kiu tok kaucu ini benar2 keji, dia yang meracuni orang namun dosanya justru dilimpahkan keatas pundak Tok Seh siacu.

Tok kiau ji lo yang mendengar perkataan itu menjadi mendongkol disamping geli.

Sementara itu ke empat gadis berbaju ungu tadi telah mengiakan, dengan berhati-hati sekali mereka memayang ke dua orang itu keluar dari lembah.

Dalam pada itu kakek Ou berani menerima tantangan musuh dengan menelan dua butir pil Lam khek wan dan Pak khek wan dari Tok kiau ji lo, karena dia mengandalkan pula Pil Pek tok kim wan yang pernah ditelannya dengan kasiat dalam seratus hari tak akan terpengaruh lagi oleh serangan racun dari luar.

Siapa tahu kedua butir pil tersebut merupakan obat racun yang dibuat secara khusus oleh kedua orang itu.

00O0dw0O00 Ilmu pukulan yang dilatih si kakek cebol adalah Kiu im tok ciang yang berhawa dingin, sebaliknya ilmu yang dilatih kakek ceking adalah Kiu yang tok ciang yang panas.

Ditinjau dari nama kedua macam ilmu pukulan itu dapat diketahui bahwa ilmu yang mereka pelajari seratus persen merupakan ilmu beracun dari golongan sesat.

Disaat latihan mereka membutuhkan obat racun yang dipoleskan ke telapak tangan masing-masing kemudian menghisapnya kedalam telapak tangan masing2 dengan tenaga dalamnya.

Pukulan beracun yang mereka keluarkan tadi tak lain adalah obat pemoles tersebut, bukan saja amat beracun.

lagipula sudah dicampur dengan beberapa macam rumput obat yang jahat.

Kiu im tok ciang adalah kepandaian berhawa dingin yang amat beracun, tentu saja obat yang dicampuri adalah obat yang bisa membangkitkan hawa dingin ditubuh manusia.

Sebaliknya Kiu yang tok ciang adalah ilmu silat hawa panas yang menyengat badan, sudah barang tentu obat racun yang dicampur pun obat yang bisa menimbulkan hawa panas didalam tubuh orang.

Ke dua macam obat racun penimbul hawa dingin dan panas ini sebetulnya hanya terbatas penggunaan diluar badan, otomatis dilarang keras ditelan ke perut, namun kenyataannya kakek Ou telah menelan dua macam obat racun penimbul hawa yang bertentangan itu ke dalam tubuhnya, bayangan saja bagaimana isi perutnya tidak putar balik tidak karuan ?

Seketika itu juga ia merasa gulungan hawa panas membakar sebagian tubuhnya sementara separuh bagian yang lain dingin bagaikan direndam di dalam gudang es yang membeku.

Kalau dibilang seharusnya Panas bisa melenyapkan dingin, dingin bisa menetralkan panas, dua macam hawa yang bertemu jadi satu ini seharusnya pula dapat melenyapkan pengaruh ke dua macam hawa tadi.

Apa mau dibilang daya kerja obat racun itu amat dahsyat, bukan saja tidak bisa menetralkan masing-masing sifat udara tersebut, malahan sebaliknya yang panas menjadi panas yang dingin pun semakin dingin.

kedua sifat hawa tersebut makin berkobar malahan bertambah ganas.

Akibatnya sekujur badan kakek Ou gemetar keras sekali, kemudian disusul dengan kejangan yang menghebat.

dia mulai berguling kian kemari dalam keadaan amat menderita.

Seandainya berganti orang lain yang menderita keadaan tersebut, niscaya selembar jiwanya sudah melayang semenjak tadi, untung saja kakek Ou memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, ditambah pula ia telah memakan pil Pek tok kim wan yang dapat memusnahkan berbagai macam racun.

Oleh sebab itu bagaimanapun menggelora ke dua hawa racun itu didalam tubuhnya, dia tetap bersila di tempat dan sambil menggertak gigi menahan penderitaan ia menerima siksaan tersebut tanpa bersuara.

Sepertanak nasi kemudian, dua gulung hawa racun panas dan dingin yang menggelora didalam tubuhnya itu kian lama kian bertambah menghebat....

Dalam keadaan demikian, bukan saja dia tak dapat memunahkan ke dua macam hawa beracun tersebut di dalam tubuhnya, Juga tak sanggup mendesaknya keluar, terpaksa hawa-hawa beracun terseout dibiarkan bergelora terus dalam tubuhnya.

Biarpun tenaga dalam yang dimiliki kakek Ou amat sempurna, lama kelamaan dia toh tak akan tahan juga menghadapi situasi semacam ini.

Mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya, ia teringat bagaimana sewaktu menyentuh tubuh Kam Liu-cu kakak beradik, ia temukan tubuh mereka panas membara, sebaliknya tubuh Tam Seh-hoa justru dingin seperti es.

Ini membuktikan kalau mereka sudah terang kena racun api dan racun salju.

Andaikata sekarang dia dapat mempergunakan hawa murni tingkat tingginya dan memisahkan hawa panas dan dingin tersebut secara sendiri-sendiri, kemudian dengan mengandalkan tenaga dalamnya menyalurkan kedalam tubuh mereka, bukankah hal ini bisa dipakai untuk mengobati keadaan mereka dengan sistim racun melawan racun?

Siapa tahu kalau cara ini bisa digunakan untuk menyembuhkan mereka?

Berpikir demikian, dia segera menghimpun tenaga dalamnya dan pelan-pelan memisahkan hawa racun tersebut menjadi dua bagian yang satu disalurkan ke tangan kiri kemudian yang lain dengan tangan kanan, setelah itu secara terpisah ditempelkan ke atas punggung Kam Liu cu serta Wi Tiong hong, Oleh karena Wi Tiong hong menderita akibat racun hawa dingin, maka dia salurkan hawa panas tersebut ke dalam tubuh Wi Tiong-hong, sebaliknya mengalirkan racun hawa dingin ke tubuh Kam Liu-cu.

Berbicara yang sesungguhnya, menyalurkan hawa murni secra terpisah ke tubuh dua orang yang berbeda inipun hanya bisa dilakukan oleh manusia sebangsa kakek Ou.

Tak sampai seperminum teh kemudian.

mendadak Kam Liu cu menghembuskan napas panjang dan membuka matanya kembali, ia segera menjumpai kakek Ou masih menempelkan telapak tangannya dipunggungnya sementara segujung hawa dingin yang menyejukkan tubuhnya mengalir masuk.

Serta merta dia duduk bersila dan mengatur napas.

Tak sampai berapa saat kemudian racun hawa panas yang mengerem didalam tubuhnya telah berhasil dipunahkan.

Kini.

kakek Ou pun dapat merasakan bahwa hawa panas yang disalurkan kedalam tubuh Wi Tiong-hong itu pelan-pelan berhasil mendesak keluar racun hawa dingin yang mengeram didalam tubuhnya, dimana sifat racun dingin itu lambat laun semakin bertambah kurang.

Menyadari kalau cara yang ditemukannya itu sangat bermanfaat, ia menjadi gembira sekali.

hawa racun panas tersebut segera disalurkan ketubuh Wi Tiong hong semakin menghebat.

Ketika Kam Liu cu sudah terbebas dari pengaruh racun bawa panas dan sembuh kembali.

kakek Ou segera menarik kembali telapak tangan kirinya dan berganti ditempelkan kepunggung Liu Leng poo.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, Wi Tiong-hong dan Liu Leng-poo pun telah mendusin kembali.

Kam Liu cu yang berjaga disisinya cepat-cepat berkata.

"Saudara Wi, Liu sumoay, cepat atur pernapasan dan gabungkan hawa murni kalian dengan hawa murni dari Ou locianpwee,"

Karena baru sembuh dari luka beracun, kedua orang itu tak berani bertindak gegabah, serta merta mereka duduk bersila dan mengatur pernapasan masing-masing.

Keadaan seperti ini berlangsung sepertanak nasi lamanya.

kakek Ou baru menarik telapak tangannya dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak;

"Sudah cukup, sudah cukup. untung sekali aku dapat menyelamatkan diri sendiri, juga dapat menyelamatkan kalian semua."

Selesai berkata, dengan cepat dia tempelkan tangan kanannya kepunggung Tam See-hoa.

Wi Tiong hong tidak mengetahui kalau tubuhnya sudah terkena racun hawa dingin, tak tahu sudah jatuh pingsan selama beberapa hari, ketika menjumpai dirinya berada di sebuah lembah, lagi pula seperti baru sembuh dari luka, hal tersebut membuat hatinya merasa amat keheranan.

Apalagi setelah merasakan seluruh otot dan tulang belulangnya linu lagi kaku untuk sesaat dia tak sempat banyak bertanya lagi, ia lanjutkan semedinya untuk memulihkan kembali kekuatan hingga Tam See hoa pun sadar kembali.

Tam See-hoa segera mengatur napas pula sambil bersemadi sesaat sebelum kedua orang itu sama-sama bangkit berdiri, Kakek Ou sendiri, biarpun memiliki tenaga dalam yang sempurna, namun setelah secara beruntun menyembuhkan ke empat orang rekannya, dia sendiri pun kehilangan banyak tenaga, Maka setelah bersemedi berapa saat sehingga tenaganya pulih kembali ia baru berkata sambil tertawa.

"Kalian cepat atur napas dan memeriksa tubuh masing-masing. apakah sisa racun dalam tubuh sudah terdesak keluar semua?"

Kam Liu cu segera menjura sambil sahutnya.

"Untung sekali lotiang sudi menolong kami, kini sisa racun di dalam tubuhku telah punah semua."

Kakek Ou berpaling pula kearah Wi Tiong-hong sambil tanyanya kemudian.

"Bagaimana dengan Wi sauhiap? Hawa racun dingin yang mengeram didalam tubuhmu lihay sekali; bagaimana perasaanmu sekarang?"

"Aku sudah tak merasakan apa-apa lagi."

"Bagus sekali kalau sudah tidak apa-apa."

Kakek Ou berkata dengan bangga.

"Aaai...kalau di-hitung2 kesemuanya ini terjadi secara kebetulan saja."

Wi Tiong hong berpikir sebentar, lalu sambil berpaling ke arah Tam See hoa tanyanya.

"Saudara Tam seingatku kita sedang melakukan perjalanan bersama-sama, kenapa bisa sampai disini?"

"Aaai, panjang sekali untuk menceritakan hal ini, sejak racun dingin yang mengeram dalam tubuh Wi tayhiap kambuh, hingga sekarang telah berlangsung belasan hari lamanya...."

"Belasan hari lamanya?"

Wi Tiong hong terkejut.

"dalam perasaanku baru saja berlangsung kemarin."

Kakek Ou yang berada disampingnya segera menimbrung sambil tertawa.

"Ketika Sauhiap pingsan akibat bekerjanya racun hawa dingin, peristiwa itu berlangsung di Kun liong kang dalam wilayah Kang say, sedangkan saat ini kau sudah berada di bukit Kou loo san dalam wilayah Kwang say!"

Wi Tiong hong semakin keheranan lagi mendengar ucapan tersebut, baru saja dia hendak bertanya keadaan yang sebenarnya, tanpa diminta Tam See hoa telah menuturkan kejadian yang sebenarnya kepada pemuda tersebut.

Ketika selesai mendengar penuturan ini, Kam Liu cu segera berkata.

"Justru lantaran kami mendapat kabar ditengah jalan bahwa saudara Wi telah diculik orang-orang Tok seh sia maka kami melakukan pengejaran sampai disini, rupanya orang itu adalah Lan Kun pit..."

Sedangkan Liu Leng poo bertanya pula.

"Orang tua Ou, apakah bajingan-bajingan yang tadi sudah melarikan diri ke dalam lembah?"

"Tidak, mereka telah diundang oleh Kiu kaucu untuk menjadi pembantunya."

Sahut kakek Ou tertawa.

Secara ringkas dia pun menceritakan bagaimana ia bertaruh dengan Tok kiau ji lo dan bagaimana pula ke dua orang itu diundang Kiu kaucu..Tam See hoa segera berkata setelah mendengar penuturan ini.

"Waah, kalau begitu gara2 bencana malahan mendapat rejeki, kalau tidak belum tentu racun hawa dingin yang mengeram didalam tubuh Wi-tayhiap bisa disembuhkan sedemikian cepatnya."

Kakek Ou sangat menguatirkan keselamatan So Siau-hui, apalagi dalam usahanya mencari Tok Seh-sia, ternyata kesasar sampai di Liu-seh-kok hingga setengah harian lamanya terbuang dengan percuma, tanpa terasa ia bangkit berdiri seraya berkata;

"Aku bisa menempuh perjalanan ber-sama2 Tam lote karena racun hawa dingin dari Wi sauhiap hanya bisa dipunahkan oleh Ban nian un-giok milik nona, sekarang Wi sauhiap telah sehat kembali, maka aku pun harus berangkat duluan."

"Kalau memang nona Sou telah ditangkap orang orang Tok seh sia, sebagai sesama anggota persilatan, apalagi kami pun berada disini, sudah sepantasnya bila kami pun turut memikul tanggung jawab ini."

Kata Kam Liu-cu.

"Perkataan Kam-toako benar."

Dukung Wi Tiong hong.

"kami harus mengikuti lotiang pergi ke selat Tok seh sia."

Kakek Ou menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal, lalu berkata.

"Didalam perjalanan menuju ke selat Tok Seh-sia kali ini, rasanya kurang baik bila kita pergi secara berbondong-bondong apalagi aku telah menelan pil Pek-tok-kim-wan dan tidak kuatir keracunan. sebaliknya kalian...."

Tidak sampai perkataan tersebut selesai diucapkan, Wi Tiong hong telah menukas.

"Sekalipun nona So tidak ditawan musuh, aku memang punya rencana hendak mengunjungi selat Tok seh sia seorang diri. apalagi sekarang nona So sudah ditangkap orang, sudah sewajibnya bila aku turut serta pergi kesana."

"Wi-sauhiap ada urusan apa sih sehingga harus pergi mengunjungi selat Tok Seh-sia?"

Wi Tiong-hong tertawa getir.

"Besar kemungkinan ayahku berada didelam selat Tok-seh sia. hanya saja hingga sekarang belum berhasil diperoleh bukti yang nyata, aku pikir yang penting sekarang adalah menyelamatkan nona So lebih dulu kemudian baru membicarakan persoalan yang lain."

Selesai mendengar perkataan itu. kakek Ou nampak termenurg sebentar, kemudian baru ujarnya.

"Kalau memang begitu. mari kita segera pergi mencari letak selat Tok seh sia, ayo kita rundingkan bersama-sama!"

"Persoalan ini tidak dapat ditunda lagi lebih baik kita segera berangkat sekatang juga."

Kata Tam See-hoa.

"apalagi selat Tok seh sia terletak didaerah yang terpencil dan amat berbahaya aku kuatir selat mana tidak gampang ditemukan dalam waktu singkat."

"Biarpun selat Tok seh sia terletak disuatu daerah yang sangat rahasia."

Kata Liu Leng poo.

"namun jumlah anggota mereka pun tidak sedikit. ini berarti pasti ada banyak orang yang masuk keluar dari selat mana, bukankah hal seperti ini gampang untuk dicari?"

Kakek Ou kontan saja tertawa terbahak-bahak;

"Haah..haah..haah...Kam lote pun pernah berkata demikian, sehingga kami pernah meneropong dari atas puncak bukit sana beberapa saat. kemudian kami lihat ada dua sosok bayangan manusia menuju kemari, tak tahunya kedua sosok bayangan manusia tersebut adalah kalian berdua."

Sementara masih berbincang-bincang, beberapa orang itu sudah kaluar dari lembah Tok seh kok dan berangkat menuju kearah bukit Kou-lou san.

Semakin kedalam bukit mereka melaju, lambat laun langit pun berubah semakin gelap.

Banyak sudah selat dan lembah yang mereka datangi, akan tetapi bayangan selat Tok Seh sia masih belum juga kelihatan.

terpaksa mereka pun mencari sebuah gua batu dipunggung bukit untuk melepaskan lelah...(Perlu diketahui dibukit Kou loo san penuh terdapat gua gua batu, tapi berhubung gua itu melengkung dan tembus Kesana kemari karena itulah bukit ini dinamakan Kou lou san).

Ketika mendekati kentongan ke dua, mendadak terdengar Liu Leng poo mendesis lirih sambil berseru.

"Toa suheng, cepat lihat dari kaki bukit didepan sana tiba-tiba muncul sesosok bayangan manusia?"

Biarpun suaranya sangat lirih, namun berhubung semua orang sedang duduk bersemedi maka serentak mereka membuka matanya setelah mendengar perkataan itu.

Benar juga dari kaki bukit seberang telah nampak sesosok bayangan manusia yang bentuk kecil sedang celingukan kian kemari dengan sikap yang berhati-hati sekali.

Dengan pandangan mata yang tajam Kam Liu cu mengawasi bayangan tersebut lekat-lekat.

kemudian bisiknya.

"Orangg itu mirip sekali dengan Tok-hay ji, Ji-sumoay, coba perhatikan dia muncul dari mana?"

"Sewaktu mendusin tadi, berhubung rembulan bersinar cerah maka aku telah memperhatikan sekeliling tempat itu dengan penuh perhatian, pada saat iniiah dari kaki bukit seberang sana muncul sesosok bayangan manusia secara tiba-tiba, padahal sebelumnya aku tidak melihat sesosok bayangan manusia pn."

Belum selesai ia berkata, mendadak tampak bayangan hitam kecil itu melompat ke bawah sebatang pohon besar dengan gerakan cepat, lalu menyusup ke balik rimbunya dedaun dan lenyap dengan begitu saja, Wi Tiong hong yang menyaksikan kejadian segera bangkit berdiri sembari berseru.

"biar kutengok kesana."

"Tunggu dulu saudara Wi... ."

Cegah Kam Liu-cu.

Mendadak dari atas pohon besar itu kedengaran suara sayap mengebas di udara kosong, kemudian tampak seekor burung terbang ke udara dengan kaget kemudian hinggap diatas sebatang pohon besar lain dibawah kaki bukit.

"Aneh, apa yang sedang ia lakukan?"

Tanya Liu Leng poo keheranan.

"Walaupun Tok Hay ji masih kecil. sebenarnya dia amat licik dan sangat cekatan."

Kata Wi Tiong hong.

"jadi mustahil kalau perbuatannya itu hanya terdorong oleh jiwa kekanak-kanakannya sehingga ditengah malam buta begini dia cuma datang untuk mencuri sarang burung."

"Eiei, mana Ou lotiang ?"

Mendadak terdengar Tam See hoa berseru tertahan.

Ketika semua orang berpaling, betul juga bayangan tubuh kakek Ou sudah lenyap dari pandangan, entah ia pergi semenjak kapan?

Pada saat itulah tiba-tiba nampak bayangan kecil itu melompat turun kembali dari atas pohon, kemudian dalam beberapa kali lompatan saja ia sudah balik ke tempat semula dan lenyap dari pandangan mata., .

Selama ini Kam Liu cu mengamati terus lawannya dengan seksama, tanpa terasa ia berkata kemudian dengan keheranan.

"Mungkinkah mulut masuk menuju ke sarang mereka terletak dibawah kaki bukit seberang sana? Sungguh aneh, didepan hutan sana adalah jalan raya yang menghubungkan ini dengan luar bukit, disebelah kiri terdapat kuil, mana mungkin mulut masuk menuju ke selat Tok seh sia terletak ditempat yang begini ramai? Apalagi tempat inipun tidak terdapat sebuah selat pun?"

Sementara itu Liu Leng poo berkata pula.

"Eeei, kenapa bayangan kecil itu bisa hilang lenyap? Dia kan bukan siluman yang bisa berjalan dalam tanah? Kenapa bisa lenyap dengan begitu saja ?"

"Mari kita kesitu dan tengok keadaan yang sebenarnya."

Ajak Kam Liu cu.

Belum habis dia berkata, mendadak dari kaki bukit diseberang sana muncul kembali sosok bayangan hitam.

Kam Liu-cu yang mengamati kaki bukit semenjak tadi itu segera termenung sebentar, kemudian katanya.

"Betulkah mulut masuk mereka terletak di bawah kaki bukit seberang ...?"

Seperti juga bayangan kecil tadi setelah munculkan diri bayangan hitam itu pun mulai celingukan kian kemari dengan sikap yang sangat mencurigakan, kemudian secara tiba-tiba saja dia berlarian kencang menuju ke depan dan mengambil arah jalan raya dibawah bukit.

Mungkin lantaran larinya kelewat tergesa-gesa kaki kanannya tersangkut batu hingga terjerembab, sepatu kain yang dikenakan pun ikut copot.

-o00dw00o-

Jilid 14 TAPI DIA SEGERA MERANGKAK bangun dan kabur lagi dengan langkah terbirit birit tapi belum jauh dia lari, mendadak orang itu membalikkan tubuhnya dan berjalan balik kembali.

Tingkah lakunya ini betul betul sangat aneh sehingga tanpa terasa gampang memancing perhatian orang, ketika dia berlarian kembali ketempat semula tiba tiba kaki nya menjejak ketanah, lalu tubuhnya masuk kedalam perut bumi dan lenyap dengan begitu saja.

Setelah memandang sampai kesitu, Kam Liu cu baru berkata.

"Ternyata mulut masuk menuju keselat Tok seh sia betul betul berada diseberang sana, posisi gua batu dimana kita berada sekarang letaknya agak tinggi, tempat semacam ini memang merupakan tempat yang paling cocok untuk mengamati gerak gerik mereka."

Tiba tiba bayangan manusia berkelebat dari depan gua batu itu, Liu Leng poo segera membentak sambil bersiap siap mengayunkan tangannya. Kam Liu cu segera membentak.

"Ji sumoay, yang datang adalah Ou lotiang."

Sebelum Wi Tiong hong dan Tam See hoa sempat menyaksikan bayangan tubuhnya terdengar kakek Ou telah berkata sambi tertawa.

"Akhirnya kita berhasil juga menemukan tempat yang benar."

Bersamaan dengan selesainya perkataan tersebut, kakek itu berjalan masuk kedalam.

"Benarkah mulut masuk mereka ternyata diseberang sana?"

Tanya Tam See hoa.

"Benar, didepan sana merupakan gua Pek seh tong yang termashur, ternyata mulut masuk mereka terletak dibalik sebuah sumur yang telah mengering." (Goa Pek see tong merupakan tempat pesiar yang amat termashur dibukit Kou lou san, terutama di musim semi atau gugur, banyak orang yang berpelancong ke situ. hingga sekarang sumur kering itu masih tetap utuh).

"Masa selat Tok Seh sia terletak didasar sumur kering itu?"

Tanya Wi Tiong hong keheranan. Liu Leng poo yang bermata tajam mendadak menyaksikan dalam genggaman kakek Ou seakan akan memegang sesuatu, dia segera menegur .

"Lotiang benda apa sih yang berada dalam genggamanmu itu?"

"Benda ini baru saja kudapatkan dari depan situ coba kita periksa bersama, benda apakah ini ..."

Ujar kakek Ou sambil menyodorkan benda tersebut ke muka.

Ternyata benda yang berada di tangan kanan berupa sebuah batu gunung sebesar kepalan, sedangkan benda yang berada di tangan kirinya berupa sebuah tabung bambu kecil.

Kam Liu cu menerima tabung bambu tersebut dari tangannya, kemudian berkata .

"Tabung bambu ini mirip sekali dengan tabung yang biasanya digunakan untuk mengirim surat lewat burung merpati lotiang memungutnya dari mana?"

"Perkataan Kam lote memang benar, surat itu dikirim oleh Tok Hay ji dengan burung merpatinya, tapi burung itu berhasil kutimpuk sehingga rontok."

"Apakah kau timpuk dengan batu ini?"

Tanya Liu Leng poo sambil memperlihatkan batu tersebut.

"Tidak, batu itu diletakkan orang tadi ditepi jalan berhubung aku merasa curiga dengan benda ini maka sekalian kubawa kemari."

Dengan berhati hati sekali Kam Liucu mengeluarkan selembar kertas dari dalam tabung itu dan dibukanya, dibawah sinar rembulan tampak kertas itu berisikan beberapa tulisan yang berbunyi demikian ; Wi Tiong hong sudah tertawan di dalam Selat Wi Tiong hong merasa sangat keheranan setelah membaca tulisan itu, tak tahan lagi ia lantas bertanya.

"Apa apaan mereka ini?"

Kam Liu cu termenung sebentar, kemudian sahutnya.

"Kalau ditinjau dari nada pembicaraannya, berita ini seperti akan disampaikan kepada seseorang, tapi bukankah Tok Hay ji adalah murid dari Seh Thian yu? Tidak mungkin dia sedang bersekongkol dengan seseorang, kalau begitu dia sedang memberi laporan kepada Sah Thian yu."

"Kedudukan Hek sat sang kun (Malaikat bintang hitam) Sah Thian yu dalam selat Tok seh sia tidak terhitung rendah kata Tam See hoa,. untuk menyampaikan berita lewat burung merpati tentang ditangkap nya Wi Tiong hong pun seharusnya tak usah dilakukan ditengah malam buta, bukankah siang haripun masih terdapat banyak waktu dan kesempatan?"

Kam Liu Cu manggut manggut.

"Perkataan dari saudara Tam memang benar, kemungkinan besar didalami tubuh Tok seh sia sendiri sudah menjadi perbedaan pendapat sehingga masing masing orang mempunyai rencana dan tindakan yang berbeda, bahkan ke empat raja langit pun saling tidak menaruh kepercayaan, itulah sebabnya setelah Wi Tiong hong berhasil ditangkap, Tok hay ji segera melaporkan kejadian ini kepada gurunya malam hari juga."

"Tapi aku toh bukan seseorang yang termashur, mengapa mereka harus berbuat demikian?"

Tanya Wi Tiong hong. Kam Lou cu kembali tertawa.

"Jangan lagi saudara Wi sudah menjadi seorang gagah yang dikenal oleh setiap jago persilatan, cukup melihat dari Lou bun si dan mutiara penolak pedangmu saja sudah lebh dari cukup bagi mereka untuk mengincar dirimu."

Dalam pada itu Liu Leng poo yaag mengamati bongkahan batu gunung itu beberapa saat lamanya, mendadak menyerahkan benda itu ke tangan Kam Liu cu seraya berkata.

"Toa suheng coba kalian lihat."

Sambil menerima batu itu Kam Liu cu turut mengamatinya sejenak, baru saja dia hendak bertanya Tiba tiba kakek Ou menegur.

"Apakah nona telah berhasil menemukan nya."

Liu Leng poo tertawa.

"Tentu saja aku dapat melihatnya, jahat sekali bajingan itu, rupanya dia telah mengukirkan tulisan yang kecil dan lembut diantara bongkahan batu yang menonjol dan melekuk tak merata itu. akibatnya aku harus memperhatikan sekian lama sebelum berhasil memahaminya."

"Diatas batu itu terdapat tulisan? Nah kalau begitu tak salah lagi, aku justru menyaksikan bocah keparat tadi berlagak melepaskan sepatunya kemudian menggunakan kesempatan tersebut mengeluarkan batu tadi dari dalam saku dan diletakkan di atas tanah, kemudian baru membalikkan badan berjalan kembali, dalam sekilas pandangan saja aku sudah merasa kalau kejadian seperti ini amat mencurigakan, itulah sebabnya batu tersebut aku bawa serta."

Baru saja berkata demikian, terdengar Kam Liu cu memegang bongkahan batu tersebut sedang membaca .

"Pendeta asing Ki kong berhasil melatih Tok jiu eng."

Membaca sampai disitu Kam Liu cu berseru tertahan, kemudian katanya.

"Sungguh aneh, sudah terang berita ini bermaksud akan disiarkan ketempat luaran kalau didalam selat Tok seh sia seperti telah terdapat mata matanya."

"Bila ada orang yang menyusup sebagai mata mata kejadian semacam ini adalah lumrah,"

Kata Liu Lengpoo.

"Ehmm aku rasa lebih baik batu tersebut dikembalikan ke tempat semula saja, mari kita saksikan manusia macam apakah yang muncul disitu untuk memungut batu tersebut..?"

"Benar juga perkataan ini, kita memang seharusnya mengembalikan batu ini ke tempat semula."

Setelah menemukan mulut masuk menuju selat Tok seh sia, kakek Cu nampak gelisah sekali dia segera mengambil kembali batu itu dari tangan Kam Liu cu kemudian katanya.

"Biar aku saja yang mengambalikan batu tersebut ketempat semula...."

Kemudian setala mendongakkan kepala nya dan melihat keadaan cuaca, dia melanjutkan;

"Sekarang sudah hampir mendekati kentongan ke tiga lebih baik kalian berempat istirahat dulu disini, biar aku yang masuk sendirian untuk melihat keadaan."

"Biar aku saja yang menemani lotiang."

Wi Tiong hong segera berseru.

"Kalau toh mulut masuk menuju ke selat sudah ditemukan, bila harus pergi, kita harus pergi bersama sama,"

Sambung Kam Liu cu pula dengan cepat.

"Toa suheng."

Sambung Liu Leng poo.

"menurut pendapatku. memang paling baik bilamana kakek Ou pergi dulu seorang diri."

"Apa pendapatmu ji sumoay?"

Liu Leng poo segera tertawa.

"Malam ini cuma kakek Ou seorang yang boleh pergi meninjau keadaan disitu."

Kemudian sambil berpaling kearah kakek Ou, dia berkata lebih lanjut .

"Cuma lotiang hanya diperkenankan menyelidiki jalan masuk sama makin memahami jalanan didalam sana semakin baik lagi, dan yang terpenting adalah menjaga agar jejakmu jangan sampai ketahuan semakin dapat merahasiakan jejakmu semakin baik lagi, sekalipun berhasil menemukan nona So dan sekalipun hanya sekali turun tangan maka kau akan berhasil menyelamatkan jiwanya, lebih baik janganlah kau lakukan secara gegabah..."

"Jisumoay, kau ..."

Sebelum Kam Liu cu menyelesaikan kata katanya Liu Leng poo telah menukas kembali.

"Aku sudah mempunyai persiapan sendiri."

Kakek Ou nampak tertegun, lalu serunya .

"Nona, apa rencanamu selanjutnya. dapatkah kau jelaskan kepadaku....?"

"Diantara kami beberapa orang, boleh dibilang ilmu silat yang lotiang miliki paling tinggi, apabila kau yang diberi tugas untuk melakukan penyelidikan ke dalam tubuh musuh, sudah bisa dipastikan kau dapat menyelesaikan tugas ini secara baik tanpa diketahui oleh lawan."

Kakek Ou manggut manggut.

"Didalam soal ini aku percaya dapat melakukannya secara baik dan jitu."

Setelah tertawa Liu Leng poo berkata lebih jauh.

"Tapi andaikata kau berusaha menyelamatkan nona So dan jejakmu sampai ketahuan musuh, sudah pasti mereka akan memperkuat penjagaan dan kesiap siagaannya, maka bila hal ini sampai terjadi dan apabila kita hendak masuk ke dalam lagi untuk menyelidiki kabar berita tentang ayah Wi tayhiap, bukankah hal tersebut akan mendatangkan banyak kesulitan?"

"Oleh sebab itu aku telah menemukan suatu rencana yang bagus sekali disamping dapat menyelamatkan nona So dari ancaman, lagi pula kita dapat pula menyelidiki kabar berita tentang ayah Wi sauhiap yang didaga berada disini. Selain daripada itu gerakan kita juga tak akan sampai mengganggu pihak lawan sehingga meningkatkan kewaspadaan dan kesiap siagaan mereka tapi kesemuanya ini akan berhasil apabila pada malam ini lotiang berhasil mendapatkan berita secara tepat dan sementara waktu tidak melakukan suatu gerakan apa pun."

"Apabila rencana yang nona persiapkan ini benar benar ada harapan untuk berhasil sudah barang tentu aku akan melaksanakan sesuai dengan perintahmu itu."

Kata kakek Ou. Sedangkan Kam Liu cu segera menambahkan pula.

"Ji sumoay ku ini mesti muda namun mempunyai otak yang cukup gemilang kalau toh ia sudah berkata demikian aku pikir hal tersebut tidak bakal salah lagi."

"Selain daripada itu lotiang harus ingat baik baik akan satu persoalan lagi,"

Kembali Liu Leng poo berkata lebih jauh.

"ditinjau dari nama selat mereka sebagai selat pasir beracun, bisa jadi mereka telah menyebarkan racun jahat disekeliling selat mereka, sekalipun lotiang telah menelan pil pek tok kim wan sehingga kebal terhadap segala macam racun, namun paling baik jika memperhatikan sekali lagi dengan seksama, harus diketahui secara pasti mana yang ada racunnya dan mana yang tidak ada .."

"Itu mah gampang, aku membawa jarum untuk mencoba racun, sekali diperiksa saja sudah ketahuan hasilnya."

"Kalau memang demikian lebih baik lagi, rencana ini akan berhasil atau tidak, semuanya tergantung pada usaha lotiang didalam perjalanan kali ini, nah sekarang lo tiang boleh berangkat dulu."

"Tapi nona belum membeberkan racun itu?"

Liu Leng poo segera mencemberut seraya merunya .

"Rahasia langit tidak boleh dibocorkan, saat ini masih belum waktunya untuk di utarakan, lebih baik lotiang berangkat lebih dulu."

"Baik aku akan menuruti perkataan nona."

Selesai berkata dia lantas berkelebat keluar dari gua, dibawah cahaya rembulan hanya tampak sesosok bayangan manusia melambung diangkasa dengan gerakan yang sangat cepat, dalam waktu singkat bayangan tubuh tersebut sudah lenyap dari pandangan mata.

Melihat kesemuanya itu, Kam Liu cu segera memuji sambil menghela napas.

"Tampaknya tenaga dalam yang dimiliki kakek Ou sudah hampir mengimbangi kemampuan dari guru kita."

"Aaah, belum tentu, apabila suhu benar benar mengeluarkan ilmunya, biarpun di siang hari juga akan terlihat setitik bayangan samar saja, padahal saat ini bukan di siang hari bolong, melainkan dibawah sinar rembulan saja."

Sementara itu Tam See hoa yang duduk disisinya sedang berpikir didalam hati "Entah macam apakah guru mereka itu?

Tapi kalau didengar dari nada pembicaraan mereka, tampaknya kepandai silat yang di milikinya masih jauh lebih hebat daripada kepandaian yang dimiliki panglima sakti berlengan emas Ou swan..."

Sebaliknya bagi Wi Tiong hong yang tempo hari ketika berada diperusahaan An wan piaukiok dalam kota Sang siau pernah mendengar suara Thian sat nio namun tak pernah melihat orangnya, padahal berada di tengah hari bolong, maka dia tidak nampak kaget atau tercengang walaupun sudah mendengar pembicaraan dari Kam Liu cu berdua.

Berhubung kakek Ou sedang berangkat memasuki selat Tok seh sia, kini semua orang memusatkan perhatiannya untuk mengawasi sumur kering di kaki bukit seberang.

Padahal jarak dari tempat persembunyian mereka masih amat jauh, jangan lagi tempatnya, sumur kering itu sendiripun tidak nampak, dengan sorot mata mereka yang tajam, yang terlihat pun hanya daerah disekitarnya saja.

Kurang lebih setengah kentongan sudah lewat, akan tetapi kakek belum nampak juga, semua orang mulai habis sabarnya dan merasa tidak tenang.

Liu Leng poo segera berkata.

"Hingga sekarang kakek Ou belum juga menampakan diri, jangan jangan dia tidak mempercayai perkataanku dan turun tangan menolong orang lebih dulu? Andaikata sampai begitu semua rencanaku bisa porak poranda."

"Aku rasa tidak mungkin,"

Kata Kam Liu cu sambil tertawa.

"aku tahu, orang tua tersebut sangat jujur dan polos, apalagi sebelum berangkat tadi ia telah memberikan persetujuannya, tidak nanti ia akan berubah pikiran ditengah jalan."

"Jangan jangan jejaknya ketahuan orang."

Tanya Tam See hoa dengan perasaan kuatir pula.

"Hal ini lebih lebih tidak mungkin, dengan kepandaian silat yang dimiliki kakek Ou, asal dia bertindak dengan berhati hati saja, tidak mungkin kawanan penjaga tersebut akan menemukan jejaknya."

Tiba tiba dari kaki bukit seberang muncul sesosok bayangan manusia.

"Kakek Ou telah keluar!"

Seru Wi Tiong hong cepat.

"Bukan!"

Kam Liu cu segera menggoyangkan tangannya berulang kali.

Belum habis dia berkata tampak sesosok bayangan manusia muncul kembali dikaki bukit itu.

Dalam pada itu bayangan hitam yang berada didepan telah mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya untuk kabur.

Sebaliknya orang yang berada dibelakang juga mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya lari menuju ke luar bukit.

Arah yang dituju ke dua orang itu sama sekali berbeda, namun langkah kaki mereka sangat cepat agaknya hendak menempuh perjalanan jauh ....

Kalau ditinjau dari kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki tenaga dalam yang dimiliki ke empat orang itu, maka tenaga dalam yang dimiliki Kam Liu cu terhitung paling sempurna otomatis ketajaman mata nya juga paling menonjol, setelah mengamati kedua sosok bayangan tersebut berapa saat dia lantas berbisik .

"Gerakan tubuh dari kedua orang ini hanya seikat lebih unggul daripada Tok Hau ji, agaknya mereka adalah anggota perguruan Tok seh sia .."

"Toa Suheng, apakah kau dapat melihat wajah mereka dengan jelas?"

Tanya Liu Leng poo lagi.

"Jaraknya terlampau jauh sehingga sukar untuk melihat raut wajah mereka, hanya saja orang yang kabur lebih dulu tadi mengenakan jubah panjang berwarna biru, usia nya sudah agak lanjut, sedangkan yang belakangan berpakaian hitam, dandanannya seperti dandanan orang Tok seh sia .,.."

Dari kaki bukit sana kembali muncul sesosok bayangan manusia Gerakan tubuh dari orang ketiga ini benar benar sangat cepat, begitu munculkan diri secepat sambaran petir dia langsung meluncur ke arah punggung bukit.

Sambil tertawa Kam Liu cu segera berseru .

"Kali ini yang muncul adalah kakek Ou!"

Baru selesai dia berkata, terasa ingin berdesir dan kakek Ou sudah masuk ke dalam gua batu itu sambil menegur .

"Apakah kalian sudah menanti dengan gelisah?"

Buru buru Liu Leng poo berkata .

"Lotiang, silahkan duduk lebih dahulu sebelum berbicara, bagaimana dengan keadaan di dalam sana?"

Kakek Oa tertawa.

"Apa yang nona tugaskan kepadaku untukku dilaksanakan, beruntung sekali dapat kukerjakan semua, bahkan didalam perjalananku kali ini tidak kecil yang berhasil kudapatkan."

"Jejak lotiang tidak sampai ketahuan mereka bukan?"

Kakek Ou segera tertawa tergelak.

"Haahh haahhh kalau aku bertindak berhati hati, tentu saja hanya aku yang bisa melihat ke arah mereka. Oya, apa sih yang ingin nona ketahui secepatnya? Harap kau bertanya kepadaku."

"Aku rasa lebih baik lotiang saja yang berbicara sendiri, sebab apa yang kami tanyakan belum tentu sempat kau lihat atau kau dengar, bukankah begitu?"

Kakek Ou manggut manggut.

"Baik, aku akan bercerita semenjak menelusuri jalan masuk mereka, tampaknya mereka mempunyai dua buah jalan untuk masuk keluar, dari sumur kering tersebut adalah untuk jalan turun yang merupakan sebuah lorong rahasia, lorong tersebut berhubungan dengan selat mereka bagian belakang...."

"Benarkah dibawah sumur kering itu terdapat sebuah selat?"

Tanya Liu Long poo keheranan.

"Tentu saja ada selatnya, lagi pula daratan dibawah sana sangat luas dan lebar mungkin jalan tembus yang lain langsung berhubungan dengan selat bagian muka, berhubung singkatnya waktu aku tidak sempat lagi melakukan pemeriksaan kesana."

"Bagaimana keadaannya sesudah turun dari sumur kering itu?"

Kembali si nona bertanya.

"Dibawah sumur kering itu merupakan sebuah lorong bawah tanah yang sangat gelap dan banyak tikungannya, setelah berjalan sejauh tiga lie lebih dalam keadaan tidak sadar kita akan sampai didasar bumi. Tempat itu merupakan sebuah gua batu yang mungil dan indah, seperti gunung gunungan saja, didalamnya terdapat banyak lubang yang berbentuk seperti gua, bagi mereka yang tidak mengetahui jalanan, paling gampang tersesat disitu. Setelah melewati gua batu itu, asalkan kita ingat baik baik setiap kali menjumpai gua setelah berada didalam kita memilih yang sebelah kiri, kemudian ketika keluar memilih yang kanan, maka kalian tak akan tersesat lagi.

"Oya, masih ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah diatas gua gua batu itu sudah ditaburi bubuk beracun sebelum masuk kalian harus menutupi mulut dan hidung dengan kain lagi pula jangan sampai tersentuh, asal ini bisa terpenuhi, kalian pun tidak akan sampai keracunan."

"Bagaimana keadaannya setelah masuk lebih ke dalam."

Karena semua orang sedang memperhatikan dengan seksama, maka hanya Liu Leng poo seorang yang selalu mengajukan perkataannya.

"Setelah memenuhi gua batu itu maka akan muncul sebuah selat sempit yang di apit oleh dua buah tebing curam, tak sampai setengah lie kemudian kita akan sampai disebuah tempat yang ditaburi dengan pasir putih yang sangat halus."

"Apakah pasir putih itu merupakan racun?"

Sambil menepuk lututnya kakek Ou ber seru sambil tertawa.

"Perkataan nona tepat sekali, pasir lembut itu memang merupakan bubuk beracun yang sangat hebat, namun sepanjang jalan menembusi tempat tersebut aku telah mempersiapkan batu cadas yang cukup banyak, setiap jarak satu kaki, kuletakan sebuah batu disitu, asalkan kita lewati bawah dinding tebing sebelah kanan, maka tempat itupun bisa kita tembusi dengan mudah."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan .

"Setelan keluar dari selat tersebut maka kita akan sampai dibelakang bukit selat Tok seh sia, tempat itu merupakan sebuah hutan bambu yang luas, dan selanjutnya adalah istana racun tempat kediaman Tok seh suacu.

"Disekeliling hutan bambu itu terdapat empat lima buah rumah batu, disitulah berdiam jago jago dalam selat yang berkedudukan agak tinggi.

"Disekitar tempat itu masih terdapat pula rumah batu yang berbentuk agak besar, disitulah berdiam para anak buahnya. Pada dasar selat bagian barat merupakan tempat yang agak terpencil dan datar, mungkin di situlah para tawanan disekap."

Sembari berkata dia mempergunakan tangannya untuk melukiskan peta selat tersebut dengan jelas, kemudian disertakan pula dengan penjelasan penjelasan seperlunya.

Sementara pembicaraan masih berlangsung mendadak dia melompat bangun sambil menerjang ke belakang gua batu itu sambil bentaknya.

"Siapa disitu?"

Tampaknya Kam Liu cu telah merasakan pula akan hal tersebut, paras mukanya berubah hebat, hampir bersamaan waktunya dengan kakek Cu, ia melompat bangun pula cuma gerakan kakek Ou jauh lebih cepat selangkah, tahu tahu dia sudah menerjang ke muka.

Ciiitt..

ujung kaki kakek Ou tahu tahu sudah menginjak sepasang tikus, tikus yang terkejut itu cepat cepat kabur memasuki lubang.

Kakek Ou kelihatan agak tertegun namun tidak mengucapkan sepatah katapun.

Sekilas perasaan kaget dan termenung sempat menghiasi wajah Kam Liu cu, sambil mengangkat kepalanya diapun bertanya.

"Lotiang, tiada orang bukan?"

"Oooh, hanya tikus, tentu saja tak ada orang."

Kam Liu cu yang mendengar perkataan itu segera berpikir didalam hati .

"Sudah jelas aku mendengar suara napas seorang, mana napas tikus pun sama dengan manusia?"

Hanya saja perkataan tersebut tidak sampai di utarakan keluar, sebab setelah kakek Ou mengatakan tiada orang, berarti hal ini tidak bakal salah lagi.

"Lotiang, lanjutkan ceritamu."

Kata Liu Leng poo kemudian. Kakek Ou duduk kembali kemudian meneruskan;

"Tampaknya Lan Kun pit telah di cekal mereka dengan semacam obat beracun, obat beracun itu kalau dibilang memang lihay sekali dapat membuat seseorang membeberkan semua rahasia yang diketahuinya ..."

"Kau telah melihatnya?"

"Tentu saja dapat melihatnya, didalam ruangan itu hanya terdapat dia bersama Liong Cay thian yang duduk berhadapan, sikap mereka seperti sahabat karib yang sedang berbincang bincang saja, ternyata tujuan Liong Cay thian yang sesungguhnya adalah Lou Bun si dan mutiara penolak pedang. Tidak kusangka pula Lan Kun pi ternyata membeberkan semua rahasianya bagaimana dia menerima perintah dari Kiu tok kaucu untuk menculik nona kami, tatkala aku beranjak pergi tadi, kebetulan ia sedang bercerita sampai disini."

"Bagi Lirong Cay thian, kabar berita macam ini terhitung penting juga artinya,"

Kata Liu Leng poo.

"Benar. Sesungguhnya tong Cay thian memang tidak mengetahui kalau di dalam dunia persilatan terdapat manusia yang bernama Kiu tok kaucu lebih lebih tidak tahu kalau Kiu tok kaucu sedang mengumpulkan jago jago lihaynya dengan maksud hendak merebut kembali Tok seh sia tersebut.

"Terutama sekali persekongkolan La Kun pit dengan Kiu tok kaucu, nampaknya kejadian tersebut sangat mengejutkan hatinya."

Kemudian setelah berhenti sejenak, tiba tiba kakek Ou berseru tertahan lalu tanyanya .

"Barusan apakah kalian melihat ada dua orang berjalan keluar dari sumur kering itu?"

"Ya, sudah melihatnya, siapa si mereka?"

Sambil tertawa sahut kakek Ou .

"Yang berada didepan adalah Lan Simhu sedangkan yang dibelakang adalah seorang anak buah Liong Cay thian."

"Lan Simhu pun telah datang kemari?"

Tanya Kam Liu cu keheranan.

"Tentu saja bukan sungguhan."

Kata kakek Ou tertawa.

"sesungguhnya yang memegang peranan sebagai Lan Sim hu itu cuma penyaruan dari seorang pelindung hukum she Lau atas perintah Liang Cay thian."

"Apa yang hendak mereka perbuat?"

"Tentu saja ke dua orang itu sedang melaksanakan tugas yang disampaikan kepada mereka orang yang berperan sebagai Lan Sim hu itu ditugaskan untuk menyusup ke tubuh Kiu tok kau Sedangkan anak murid nya yang satu adalah membawa surat pribadi dari Liong Cay thian untuk berangkat ke Im lan guna menjumpai Lan Sim hu yang asli."

"Aaah benar, setelah berhasil menyandera Lan Kun pit, tentu saja ia dapat pula mengancam Lan sim hu agar berpihak kepadanya."

"Ucapan nona memang benar, Lan Sim hu cuma mempunyai seorang putra kesayangan, sudah barang tentu dia akan termakan oleh ancaman tersebut."

"Kakek Ou apakah masih ada yang lain."

"Bukankah aku keluar dari tempat tersebut mengikuti dibelakang mereka? Apa yang telah kulihat dan apa yang telah kudengar kesemuanya ini apakah belum cukup?"

Liu leng poo manggut manggut.

"Ya, memang sudah lebih dari cukup, semua yang kau sampaikan barusan sudah lebih dari cukup bagi kita semua."

"Nah, sekarang nona harus menuturkan pula rencanamu itu."

Kata kakek Ou cepat. Setelah tersenyum Liu leng poo berkata .

"Rencanaku ini dinamakan Gi hoa cit ok (memindah bunga menyambung kayu ) dengan yang asli mengacau yang palsu."

"Maaf, otakku kelewat sederhana, lebih baik nona jangan memakai istilah yang sulit, sampaikan saja kepadaku secara jelas,"

Kata kakek Ou sambil tertawa. Liu Leng poo memandang sekejap ke wajah semua orang, kemudian katanya lagi sambil tertawa.

"Langkah pertama dari rencanaku ini adalah menolong orang lebih dahulu biar Wi sauhiap yang memerankan Lan Kun pit dan aku memerankan nona So menyusup ke dalam selat Tok seh sia. kemudian kita tukar dulu peranan Wi Tiang hong gadungan dan nona So asli dengan kami berdua."

"Buat apa kita mesti menyelamatkan Lan Kun pit?"

Protes Kam Liu cu segera.

"Lan Sim hu merupakan seorang tokoh persilatan yang amat termashur namanya di wilayah im lam, diapun mahir didalam penggunaan racun, apabila dia sampai di biarkan sekongkel dengan orang orang Tok seh sia, bagi segenap umat persilatan hal ini merupakan sesuatu yang amat merugikan. Bila kita culik keluar Lan Kun pit ini maka hal ini berarti pula mengurangi pembantu yang sangat tangguh bagi pihak selat Tok seh sia ..."

"Setelah berhasil menculiknya keluar kita harus menyimpan dirinya dimana?"

"Soal ini kita bicarakan dikemadian hari saja toh yang penting bagi kita lebih banyak keberuntungannya daripada kerugian."

"Baiklah, kami akan menuruti rencanamu itu dengan menculiknya ketuar lebih dulu."

"Sementara itu Toa suheng harus berperan sebagai Lan Sim hu ."

Kembali Liu Leng poo berkata.

"Aaah, hal ini tidak benar, surat yang dikirim Long Oay thian belum disampaikan ke alamat, mana mungkia Lan Sim hu bisa muncul segera..?"

"Kiu tok kaucu telah menampakkan diri di sekitar bukit Kou lou san, otomatis Lan Sim hu sudah memperoleh berita pula, kini putra nya sudah tertawan dan ia datang hendak menolongnya, apakah tindakan ini keliru benar? "Selain itu kau toh bisa saling tawar menawar dengan Liong Cay thian untuk membicarakan pertukaran syarat, dan akhirnya sampaikan pula kabar kepadanya bahwa Kiu Tok kaucu telah datang pula, bahkan berhasil mnaklukkan Tok kau ji lo.. ."

"Baik. aku akan berperan sebagai Lan Sim bu."

"Bagaimana dengan diriku?"

Kakek Ou segera berseru.

"Nona menyuruh aku berperan sebagai siapa?"

"Kau orang tua tidak usah berperan sebagai siapa pun, asalkan nona So telah diselamatkan maka urusaa lotiang telah selesai."

"Aaah mana boleh jadi,"

Seru kakek Ou segera.

"kalian semua masih berada didalam selat, masa aku harus pergi lebih dulu?"

"Ketika menyusun rencana tadi, aku berpikir demikian, yakni langkah pertama adalah menolong orang, setelah menyelamatkan nona So, maka lotiang harus melindunginya hingga sampai kembali ke Lam hay, ini berarti langkah pertama selesai."

Kam Liu cu segera tersenyum, diam diam pikirnya;

"Siasat dari Ji sumoay ini memang bagus sekali, So Siau hui mencintai saudara Wi secara diam diam, dia memang merupakan satu satunya musuh cinta bagi sam sumoay apabila menggunakan kesempatan ini dia menyuruh pangliama sakti berlengan emas mengantarnya pulang kembali ke Lam hay, berarti tindakannya ini sekali tepuk mendapat dua lalat, cuma kuatirnya bila kakek Ou tidak setuju...."

Sementara itu kakek Ou sudah bertanya.

"Nona bagaimana dengan rencana langkah ke dua mu? Dapatkah kau utarakan juga keluar?"

"Langkah ke dua adalah membantu Wi sauhiap untuk menyelidiki kabar berita tentang ayahnya, kita akan melihat kesempatan dan mengikuti perkembangan situasi, jadi sulit untuk dibicarakan sekarang. Tapi kami bertiga masing masing mempunyai kedudukan yang berbeda, biarpun berdiam dalam selat Tok seh sia untuk sementara waktu, rasanya juga tak bakal ada persoalan. Seandainya berita tentang beradanya ayah Wi sauhiap dalam selat Tok seh sia cuma berita kosong belaka, setiap saat kami pun bisa angkat kaki dari situ, sebaliknya bila ayah nya memang berada dalam selat Tok seh sia, dengan tenaga gabungan kami bertiga, rasa nya juga masih mampu untuk menyelamatkan nya keluar dari sana."

Wi Tiong hong merasa berterima kasih sekali setelah mendengar ucapan mana, segera ujarnya.

"Perencanaan nona memang benar benar amat sempurna, aku merasa berterima kasih sekali..."

"Apa yang dipikirkan Ji sumoay memang bagug sekali, tapi diaataranya masih ada persoalan lain."

Kata Kam Liu cu.

"Persoalan sih tak ada, cuma tiada tempat untuk menyimpan Lun Kun pit saja, bila dugaanku tidak salah, kemungkinan besar Lan Kun pit sudah diracuni oleh Tok seh siau sehingga kehilangan pikiran dan kesadarannya. Setelah kita berhasil menolong dirinya nanti, kita bisa menyuruh dia berperan sebagai manusia biasa saja, harap saudara Tam sudah mengurusnya selama satu dua hari, setelah kami keluar kembali nanti, urusan tersebut baru kita bicarakan lebih jauh."

Tam See hoa sadar, diantara beberapa orang itu boleh dibilang ilmu silat yang dimilikinya paling cetek, mendengar ucapan mana buru buru serunya;

"Tentang tugas ini, aku yakin masih bisa melaksanaan dengan sebaik baiknya."

"Tatkala aku masuk kedalam tadi, nona kami sudah tidur, entah dia sudah kehilangan kesadarannya atau belum? Kata kakek Ou dengan nada kuatir.

"Kalau toh Liong Cay thian sudah tehu kalau nona So adalah putri kesayangan dari Lam hay bun, aku pikir besok pagi diapun pasti akan mengutus orang pergi ke Lam hay, dengan maksud menjadikan nona So sebagai seorang sandera, menurut pendapatku cara yang terbaik adalah mencekokkan pula obat penghilang pikiran kepadanya."

"Bukankah lotiang pernah berkata pula, tiap orang hanya mempunyai sebutir pil Pek tok kim wan? Itulah sebabnya bila orang sudah menyelamatkan dirinya nanti, kau harus segera berangkat pulang ke Lam hay."

Kakek Ou tertawa terbahak bahak;

"Haah . haah. haah..apabila non kami benar benar sudah dicekoki obat pelenyap pikiran, aku yakin pihak Tok seh sia tentu mempunyai pula obat penawar racunnya, mengapa aku mesti meninggalkan yang dekat memilih yang jauh?"

Liu Leng poo masih ingin berkata lebih lanjut, namun sambil tertawa Kam Liu cu telah menukas;

"Ji sumoay tak usah dibicarakan lagi rupanya Ou lotiang sudah bertekad tak akan pergi dulu apalagi setelah kita masak nanti cuma tinggal saudara Tam seorang yang berada diluar.

"Ditambah pula dia harus menerima seorang beban lagi dan hilang kontak dengan kami, dia pasti akan kerepotan dibuatnya, aku rasa dengan kepandaian silat yang dimiliki Ou lotiang dia justru dapat masuk keluar selat Tot seh sia dengan sekehendak hati sendiri, malah kebetulan sekali kalau Ou lotiang tetap disini, dia dapat membantu dari luar maupun dalam..."

Tidak sampai perkataan tersebut selesai diutrakan, kakek Ou segera menukas sambil tertawa;

"Apa yang diucapkan Kam lote menang benar, biar aku dan Tam lote mencari sebuah gua sebagai tempat tinggal sementara, ehmm tempat inipun bagus sekali, letaknya ditempat yang tinggi dan bisa melihat keadaan dengan jelas, biarlah aku yang masuk kedalam sekali setiap malam untuk membuat kontak dengan kalian bila ada suata pergerakan kita pun bisa saling bantu membantu."

Setelah mendengar perkataan dari toa suhengnya kemudian mendengar pula perkataan dari kakek Ou, Liu Leng poo segera merasa bahwa ucapan itu ada benarnya juga, maka sambil tertawa katanya.

"Kalau toh lotiang ingin tetap tinggal di sini untuk membantu kami, tentu saja hal ini merupakan suatu kejadian yang sangat kebetulan sekali bagi kami."

"Aku telah memikirkan kembali satu persoalan,"

Tiba tiba Wi Tiong hong berkata ragu ragu.

"Apa yang telah kau pikirkan?"

"Siasat nona memang bagus sekali, tapi kecuali aku Wi Tiong hong harus berperan sebagai Wi Tiong hong gadungan yang tak perlu penyaruan muka lagi, Kam toako dan nona harus merubah sama sekali raut wajah kalian, apakah penyaruan tersebut tidak akan meninggalkan titik kelemahan yang bisa membongkar kedok penyaruan kita? Sebab..."

Liu Leng poo segera tersenyum, tukasnya.

"Soal ini kau tak usah kuatir, toa suheng mahir sekali didalam ilmu penyaruan muka, biarpun harus berperan sebagai apa saja dia bisa melakukannya dengan sempurna, ketika pertama kali kau bersua dengannya, bukankah kau temukan seluruh tubuhnya dipenuhi dengan bisul besar, bahkan diatas jidatpun terdapat bisul yang besar sekali? "Coba kau lihat sekarang, apakah dia berbisul? Sekalipun ilmu penyaruan muka ku kurang sempurna, namun untuk berperan sebagai nona So, aku masih dapat berperan dengan sempurna sekali hingga kau sendiripun tidak akan mengenalinya lagi."

Wi Tiong hong segera merasa kalau nama Kam toako nya yang sering disebut Liu cu (si bisul) tak enak didengar dengan keheranan tanyanya kemudian.

"Kam toako, mengapa kau bisa dinamakan Liu cu? "

Kam Liu cu segera tertawa tergelak.

"Haaahh... haaah... haahh. .. berhubung aku sering berperan sebagai pengemis bisulan yang suka bermain ular, lama kelamaan nama Kam Liu cu menjadi terbiasa, nama asli ku pun jadi tidak dikenal siapa pun."

"Kam toako, lantas siapa sama aslimu?"

Tanya Wi Tiong hong lebih lanjut. Kam Liu cu kembali tertawa.

"Lebih baik kau menyebut Kim Liu cu saja aku merasa gelar ini jauh lebih baik daripada nama asliku."

Liu Leng poo yang berada disisinya segera mengerling sekejap kearahnya sambil mengomel.

"Dia bernama Kam Khi hong, Liu cu.. Liu cu.. Hmm, betul betul tak sedap didengar."

Wi Tiong hong tahu, kedua orang kakak beradik tunggal perguruan ini saling cinta mencintai, tidak heran kalau perempuan tersebut merasa tidak senang hati karena orang persilatan selalu memanggil Kam Khi hong sebagai Kam Liu cu.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, fajar sudah hampir menyingsing.

Setelah mengangkat kepalanya Liu Leng poo segera berkata.

"Toa suheng, semua benda kebutuhan ku belum siap sedia, apakah kita perlu pergi ke kota terdekat untuk melengkapinya?"

"Tentu saja harus pergi,"

Sahut Kam Liu cu sambil melihat waktu.

"biar aku pergi seorang diri, sekalian akan kusiapkan rangsum untuk kalian semua."

Setelah bangkit berdiri, kembali katanya.

"Harap kalian tunggu sebentar, siaute hanya pergi sebentar saja."

Selesai berkata buru buru dia turun gunung.

Makin lama matahari semakin meninggi, cahaya matahari yang bersinar keemas emasan mendatangkan suasana segar bagi setiap orang.

Tiba tiba dari jalan gunung diseberang sana muncul sesosok bayangan manusia yang makin lama semakin mendekat.

Liu Leng poo segera berbisik;

"Mungkin orang tadi datang untuk memungut batu gunung tersebut."

Sementara itu bayangan manusia tadi sudah semakin mendekat ternyata orang itu adalah seorang hwesio kecil berusia empat lima belas tahunan dengan setengah berlarian dia menuju ketempat batu gunung itu diletakkan kemudian setelah memungutnya kembali membalikkan badan dan berlalu dari situ.

Liu Leng poo segera melompat bangun dan berbisik kepada Wi Tiong hong.

"Ayo kita kuntit kemana dia pergi."

Wi Tiong hong mengangguk dan turut bangkit berdiri, ketika ia berpaling, tampak kakak Ou sedang bersemedi, sedangkan Tam See hoa sudah tertidur nyenyak didinding batu.

Karenanya dia tak berani mengusik mereka lagi, bersama Liu Leng poo kedua orang itu keluar dari gua dan menguntit hweesio kecil tersebut dari kejauhan.

Di kaki bukit sebelah depan situ terdapat sebuah hutan pohon siong, di balik hutan tadi terdapat sebuah kuil, menurut papan nama yang terpancang, kuil itu bernama Liong heng sian si, Hwesio kecil itu sama sekait tidak menuju ke dalam kuil, melainkan sambil menundukkan kepalanya berjalan menuju ke sebelah barat bangunan kuil itu.

Liu Leng poo yang mengamati hwesio kecil itu dengan seksama, tiba tiba berbisik.

"Dia seorang perempuan...."

Kalau seorang perempuan, berarti dia adalah seorang nikou kecil.

Mereka berdua segera mengikuti pula jejak nikou kecil tadi menuju kedepan sana mendadak nikou tersebut lenyap dari pandangan mata.

Ternyata disebelah barat bangunan kuil itu lebih kurang berjarak sepuluh kaki masih terdapat sebuah kuil kecil lagi yaag dibangun menempelkan bukit, papan nama yang tergantung didepan pintu bertuliskan tiga huruf besar yang berbunyi.

"Cun ti an."

Pintu kuil itu setengah terbuka, berarti nikou kecil itu sudah masuk kedalam kuil tersebut.

Sementara mereka berdua masih termenung, tiba tiba pintu kuil dibuka orang dan muncul seorang nikou setengah umur yang segera menegur.

"Sicu berdua, apakah kalian datang untuk memasang hio? Silahkan masuk."

"Kita tak usah masuk,"

Bisik Liu Leng poo segera. Wi Tiong hong mengangguk, maka sambil memberi hormat sahutnya kemudian.

"Kami hanya datang untuk berpesiar saja."

Nikou setengah umur ini tersenyum.

"Di dalam kuil kami tersedia siamsi yang cocok sekali, saban kali ulang tahun kuil kami banyak orang yang datang dari berpuluh puluh lie jauhnya untuk mengambil siamsi disini, mengapa kalian berdua tak mengambil siamsi lebih dulu sebelum pergi?"

Tampaknya dia sedang berusaha keras untuk menahan ke dua orang itu agar tidak pergi dari situ. Diam diam Liu Leng poo mendengus dingin katanya kemudian.

"Saudaraku, kalau toh suhu ini berkata demikian, mari kita masuk untuk melihat lihat keadaan!"

Berhubung kedatangan mereka kali ini adalah atas prakarsa dari Liu Leng poo, maka Wi Tiong hong menuruti perkataannya, dia pun mengangguk dan segera masuk ke dalam kuil.

Nikou setengah umur itu segera mengikuti pula kedua orang tamunya menuju ke dalam.

Seorang nikou segera muncul sambil menghidangkan dua cawan air teh panas.

"Silahkan minum the,"

Kata nikou setengah umur itu kemudian.

Nikou kecil yang membawa air teh itu segera meletakkan bakinya ke atas meja disisi dua buah bangku.

Liu Leng poo memandang sekejap ke arah ke dua cawan air teh itu, lalu tampiknya.

"Tidak usah, kami hanya datang untuk berpelesir saja, tak enak kalau mengganggu terlalu lama...."

Tiba tiba nikou setengah umur itu berseru dengan nada suara yang sangat berat.

"Aaaai, hal ini mana boleh? Kalau toh kalian sudah masuk kemari, kalian harus minum air teh dulu sebelum pergi."

"Jadi maksud suhu kami harus minum teh ini lebih dulu sebelum pergi dari sini?"

Jengek Liu Leng poo sambil tertawa dingin.

"Benar, air teh itu khusus diseduh untuk kalian berdua, tentu saja kalian harus minum dulu sebelum boleh pergi dari sini."

Sekali lagi Liu Leng poo tertawa cekikikan.

"Suhu, kau adalah seorang pendeta, mengapa sih ucapanmu kelewat berterus terang?"

Mendadak ia bergerak ke depan, kelima jari tangan kanannya yang dipentangkan lebar lebar segera diayunkan ke muka untuk mencengkeram pergelangan tangan nikou setengah umur itu.

Nikou setengah umur itu nampak terperanjat dan segera melompat mundur selangkah ke belakang, baru saja dia bersiap siap hendak menangkis, mendadak dari ruang belakang kedengaran suara orang mendehem dia pun segera menghentitkan gerakannya itu.

Kemudian dari belakang kuil berkumandang suara teguran yang dingin dan kaku.

"Tanyakan dulu asal usul mereka."

Nikou setengah umur itu mengiakan baru saja dia hendak membuka suara untuk bertanya... Sambil tertawa Liu Leng poo menjawab.

"Lebih baik kalian menjawab lebih duluan. Sebagai pendeta mengapa kalian campurkan obat pemabok didalam air teh tersebut?"

Wi Tiong hong jadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, segera pikirnya.

"Oooh, rupanya mereka sudah bermain gila dengan air teh ini, memalukan sekali. Ternyata aku tidak berhasil mengetahuinya!"

Sementara itu paras muka nikou setengah umur itu sudah berubah hebat tapi sebelum berkata, suara dingin kaku dari belakang kuil itu sudah berkumandang kembali.

"Tampaknya kepada kedua orang bocah ini, ada urusan apa mereka mendatangi kuil Cun ti an ini?"

Liu Leng poo merasa bergidik juga setelah mendengar ucapan orang di belakang kuil yang dingin dan kaku itu, sudah jelas orang tersebut memiliki kepandaian sakti yang luar biasa sekali, hal tersebut membuatnya sangat keheranan.

Ketika mendengar pertanyaan mana, dia pun menjawab.

"Sebenarnya kami hanya datang untuk berpesiar saja, justru suhu itulah yang memaksa untuk menahan kami disini siapa sih yang datang mencari Cun ti an kalian."

Nikou setengah umur itu buru buru berseru.

"Mereka datang kemari dengan mengintil dibelakang siau sumoay."

"Lebih baik ditanyakan dahulu sampai jelas,"

Perintah suara yang dingin kaku itu lagi. Nikou setengah umur tersebut mengiakan, kemudian sambil mengangkat kepala nya dia berkata.

"Apa yang diucapkan guruku pasti sudah kalian dengar bukan? Nah, secepatnya kalian sebut asal usul perguruan kalian dan atas perintah siapa kalian datang ke kuil Cun ti an ini, asalkan kalian bersedia menjawab semua pertanyaan dengan sejujurnya, bisa jadi kami akan mengampuni nyawa kalian berdua."

Dari nada pembicaraan orang tersebut Wi Tiong hong sama sekali tidak mendengar nada pembicaraan dari seorang pendeta, tanpa terasa dia berkerut kening dan membentak ;

"Apakah setiap orang yang memasuki kuil Cun ti an bakal mampus..?"

"Tepat sekali,"

Nikou setengah umur itu tertawa dingin.

"setelah kalian mendatangi kuil Cun ti an berarti kalian sudah mencari kematian buat diri sendiri."

Liu Leng poo tertawa terkekeh .

"Aku justru rada tidak percaya dengan ocehanmu itu."

Nikou setengah umur itu segera menarik mukanya kemudian berkata dengan gusar.

"Jadi kalian tidak bersedia untuk mengaku terus terang?"

"Bukankah kalian pun enggan berterus terang?"

Liu Leng poo balas mengejek sambil tertawa. Nikou setengah umur itu memandang sekejap Liu Leng poo, lalu serunya .

"Kalau begitu kau harus menerima ganjaran yang setimpal !"

Mendadak dia mengayunkan tangan kanannya kedepan dan menyentilkan jari tangannya berulang kali desingan angin tajam segera mendera menyambar tubuh Liu Leng poo.

Wi Tiong hong yang menyaksikan kejadian ini segera mengayunkan pula telapak tangan kanannya bersiap sedia melancarkan bacokan.

Tiba tiba Liu Leng poo berbisik dengan ilmu menyampaikan suaranya .

"Harap, Wi sauhiap jangan turun tangan lebih dulu, biar aku saja yang mencobanya."

Ternyata dia dapat mengenali sentilan jari tangan dari nikou setengah umur itu menggunakan ilmu To lo yap ci dari perguruan Sah bun, ilmu tersebut termasuk ilmu totokan udara kosong yang amat hebat.

Diam diam terkejut juga Liu Leng poo, dia kuatir Wi Tiong hong tidak tahu keadaan sehingga menderita kerugian besar, itulah sebabnya dia lantas menghalangi niatnya tersebut, disanmping dia sendiri menghimpun tenaga dalamnya dan melepaskan sebuah pukulan ke depan.

Setelah melancarkan serangan dengan jari tangannya, sebenarnya nikou setengah umur itu hendak mengatakan.

"Roboh kau..."

Namun ia segera melihat Liu Leng poo dengan senyuman dikulum masih berdiri di situ tanpa terpengaruh sama sekali.

Hal ini membuatnya segera mendengus dingin, tapi bersamaan waktunya pula dia merasakan angin serangan jarinya terpancing hingga miring ke samping.

Dalam kagetnya diapun membentak.

"Tidak kusangka kau memiliki kepandaian yang cukup tangguh juga."

Bersamaan dengan ucapan tersebut, tubuhnya segera maju ke muka dan sepasang tangannya melancarkan serangan bersama sama.

Cepat nian serangan yang di lancarkan itu tangan kiri cakar tangan kanan ilmu jari, ke dua duanya merupakan ancaman yang luar biasa hebatnya.

Liu Leng poo yang berpengetahuan luas dapat menyaksikan bahwa tangan kanan nya masih tetap mempergunakan ilmu To lo yap ci, angin serangannya menderu, sebaliknya tangan kirinya mempergunakan ilmu cakar Hian pang jiau.

Tanpa terasa lagi dia berseru tertahan kemudian miringkan badannya kesamping untuk menghindari serangan cakar kiri lawan, sedangkan tangan kanannya cepat di rentangkan didepan dada dan tangan kiri nya dengan ilmu menggiring kenyataan membalik kehampaan dia pancing serangan musuh melaju ke arah lain.

Bersamaan dengan gerakan ini tangan kanannya yang sudah dipersiapkan di depan dada segera dilontarkan ke muka.

Gerakan serangannya ini boleh dibilang sangat cepat dan sedikit sekali ada jago persilatan yang sanggup menahan ancaman nya tersebut, namun nikou setengah umur itu toh masih sanggup menghindarkan diri dengan memutar tubuhnya sangat kencang seperti perputaran sebuah gangsingam.

Liu Leng poo yang menyaksikan kejadian tersebut diam diam mereka terkasiap, segera pikirnya .

"Ilmu silat yang dimiliki orang ini ternyata tidak berada dibawah kepandaianku sendiri, mengapa dia pun dapat mempergunakan kepandaian macam begini?"

Baru saja mereka berdua memisahkan diri, terdengar suara yang dingin kaku dibelakang kuil itu berkumandang lagi .

"Jika kudengar dari angin pukulannya, mirip sekali dengan ilmu pukulan pemecah angin dari kuil Cing ih an di Gobi, coba kau tanyakan kepadanya apakah dia adalah murid dari Cing ih an?"

Semakin mendengar perkataan itu Liu teng poo merasa semakin terkejut, padahal dalam dunia persilatan belum pernah ada orang yang mengenali asal usul perguruan nya.

Sungguh tak disangka olehnya orang yang berada didalam kuil itu meski hanya mendengarkan angin pukulannya saja namun dapat menebak asal usul perguruannya secara tepat dari sini dapatlah disimpulkan kalau kepandaian silat yang dimiliki orang itu benar benar luar biasa sekali.

Tapi berhubung gurunya tidak senang dibicarakan orang, maka sahutnya kemudian.

"Bukan!"

Suara yang dingin kaku itu kembali mendengus berat berat .

"Hm, muridku, bekuk perempuan itu dan lepaskan yang seorang lagi, suruh guru mereka datang sendiri ke Cun tian untuk meminta orang."

Perkataan ini benar benar suatu perkataan yang sangat tekebur.

Liu Leng poo sadar bahwa musuhnya tidak mudah dihadapi, namun tak urung berkerut juga keningnya setelah mendengar perkataan ini, sambil tertawa dingin seru nya .

"Aaaah belum tentu demikian!"

"Soh hwat!"

Suara dingin kaku itu kembali membentak.

"gunakan dulu tehnik mematahkan untuk menghadapi perempuan tersebut."

"Tecu terima perintah."

Sahut nikou setengah umur itu sambil membungkukkan badannya memberi hormat.

Dengan suatu gerakan yang cepat dia menerjang kehadapan Liu Leng poo kemudian dengan menggerakkan telapak tangannya yang putih mulus dia lepaskan sebuah bacokan kilat ke muka.

Sementara itu meskipun diluarnya Liu Leng poo mengatakan belum tentu, padahal ia sudah meningkatkan kewaspadaannya setelah menyadari bahwa manusia bersuara dingin kaku yang berada diruang belakang itu memiliki kepandaian yang sangat tinggi.

Dia pun sempat mendengar orang itu memerintahkan muridnya menghadapi dia dengan tehnik mematahkan, tapi ilmu apakah itu?

Hebatlah kepandaian tersebut?

Tatkala melihat nikou setengah umur itu mendesak datang secara tiba tiba sambil melancarkan sebuah bacokan tanpa terasa dia mundur selangkah kebelakang.

Ternyata serangan yang dilancarkan lawan nya ini meski disertai dengan tenaga serangan yang maha dahyat, namun jurus serangan yang digunakan cuma jurus Ngo teng kay san atau Ngo teng membuka gunung yang sederhana sekali.

Mungkin gurunya yang setelah menggantikan jurus tersebut sebagai tehnik mematahkan...

Perlu diketahui, juga Ngo teng membuka bukit merupakan sejenis ilmu kera yang mengandalkan tenaga besar, orang yang menggunakan serangan tersebut harus memiliki tenaga yang besar sekali, jadi tidak cocok untuk digunakan kaum wanita.

Bagi seorsng ahli silat, dalam sekelas pandangan saja dapat diketahui seseorang berisi atau tidak, sudah barang tentu Liu Leng poo tak akan memandang sebelah mata pun terhadap jurus serangan Ngo teng membuka bukit dari nikou setengah umur itu.

Dia segera mengayunkan tangan kanannya dan menyambut serangan lawan dengan keras melawan keras.

Dalam waktu singkat kekuatan dari kedua belah pihak telah saling bertemu satu sama lainnya.

Sebenarnya telapak tangan nikou setengah umur itu terpentang rapat disaat melancarkan serangan tadi, namun sekarang ke lima jari tangannya bagaikan golok saja melakukan sayatan tajam, desingan angin yang dahsyat langsung saja membelah pergelangan tangan Liu Leng poo.

Dalam waktu singkat Liu Leng poo merasakan tenaga serangan lawan mendadak saja berubah menjadi sangat tangguh seperti sayatan golok tajam saja, begitu tajamnya sehingga sukar untuk dipentalkan, kenyataan ini kontan saja membuat hatinya terkesiap.

Namun berada dalam keadaan demikian tidak ada kesempatan lagi baginya untuk berubah jurus, terpaksa pergelangan tangannya direndahkan kemudian melanjutkan dengan jurus semula.

"Plaaaakkk!"

Ketika sepasang telapak tangan itu saling beradu, tubuh ke dua orang itu sama sama tergetar munduar sejauh setengah langkah.

Liu Leng poo merasakan telapak tangan sendiri seakan seakan menghantam diatas mata golok yang tajam saja, tangannya mendesir dingin dan lamat lamat terasa sakit sekali, tanpa terasa pikirnya;

"Entah ilmu pukulan beracun apakah ini?"

Berpikir begitu, tanpa terasa dia tertawa penuh marah, tangan kiriya kembali digerakkan dengan jurus Ju ti seng (Memetik bintang diangksa) untuk mencengkeram batok kepala nikou setengah umur itu..Dengan cekatan Nikou setengah umur itu berkelit ke kiri, lalu tangan kanannya dengan jurus Ju bwee ngo hian (memetik harpa lima sinar) dia tangkis serangan dari Liu Leng poo itu kemudian dengan pentangkan ke lima jari tangannya dia sapu punggung tangan lawan.

Liu Leng poo benar benar sangat gusar, dengan mengerahkan tenaga dalam yang dimilikinya dia segera melancarkan serangan belasan dengan mempergunakan punggung tangannya.

Kembali suatu bentrokan kekerasan terjadi sehingga menimbulkan suara benturan yang cukup keras.

"Plaaak!"

Tenaga dalam yang dimiliki nikou setengah umur itu nampaknya tak mampu melebihi kemampuan Liu Leng poo, dia segera tergetar mundur ke belakang.

Akan tetapi Liu Leng poo sendiri pun terdorong mundur sejauh setengah langkah, lagi lagi tangannya terasa dingin sekali.

Nikou setengah umur ini membentak dingin, tubuhnya membayangi ke muka lebih lanjut.

Kemudian sebuah serangan dilancarkan dari sayap kiri.

Ilmu yang dgunakan olehnya ini dilakukan dengan cepat dan luar biasa sekali.

Terpaksa Liu Leng poo harus membalikkan badan dan balas melancarkan sebuah sapuan dengan jurus bayangan samping merentang miring.

Tangan kiri nikou setengah umur itu segera menyapu kesamping untuk menangkis serangan Liu Leng poo kemudian diantara berkibar nya ujung baju, tahu tahu dia sudah menyelinap kehadapan Liu Leng poo dan sepasang telapak tangannya secara beruntun melepaskan empat buah pukulan berantai.

Keempat buah serangan tersebut dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, tenaga serangan yang disertakan dalam ancaman itu pun sangat kuat sehingga timbulan suara desingan angin serangan yang sangat kuat...

Tampaknya Liu Leng poo tidak mengira kalau musuh dengan tenaga dalam yang jauh lebih rendah daripada kemampuannya justru menempuh permainan jarus yang bersifat kekerasan, diam diam ia mendengus dingin, sepasang tangannya digerakkan berulang kali untuk menyambut keempat buah serangan lawan itu.

"Plaaak, plaaak, plaaak, plaaak!"

Empat kali benturan keras bergema menyusul benturan demi benturan yang terjadi secara tiba tiba saja Lu Leng poo merasakan sesuatu gejala yang tidak beres.

Sesungguhnya tenaga dalam yaag dimiliki jauh mengunguli musuhnya, namun entah mengapa keempat serangan yang jelas dilancarkan dengan sepenuh tenaga dan berniat hendak memberikan pelajaran kepada musuhnya ini, ternyata tidak mampu menunjukkan segenap kemampuannya itu.

Rupanya serangan yang dilontarkan dengan kekuatan penuh itu, dalam kenyataan tinggal tujuh bagian saja.

Atas kejadian ini, meskipun sudah terjadi empat kali benturan keras, namun hasilnya berimbang, kedua belah pihak sama sama tergetar mundur sejauh setengah langkah.

Pada saat itulah tiba tiba dari belakang ruangan terdengar lagi suara orang yang mendehem.

Mendadak nikou setengah umur itu mundur lalu menerjang kembali ke depan, sepasang lengannya direntangkan untuk menangkis ke dua belah tangan Liu Leng poo, sementara gerakan tubuhnya yang maju kemuka juga bertambah cepat secara tiba tiba, entah mengapa, dalam sekejap mata dia sudah menyerobot masuk, kedalam jangkauan lengan Liu Leng poo.

Kemudian sepasang tangannya dari serangan telapak berubah menjadi serangan jari satu dari kiri yang lain dari kanan secepat kilat menotok jalan darah Ji keng hiat di bawah sepasang payudara Liu Leng poo ...

-ooo0dw0ooo-

Jilid 15 SEJAK TERJADI bentrokan sebanyak empat kali melawan musuhnya.

secara tiba2 Liu Leng poo menemukan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya tiba-tiba saja melemah sampai tiga bagian, kejadian ini kontan saja membuat hatinya amat terkesiap.

Dia lantas teringat kembali dengan perintah suara dingin kaku dari belakang gedung yang memerintahkan nikoh setengah umur itu menghadapinva dengan tehnik mematahkan, jangan-jangan kepandaian tersebut merupakan semacam ilmu siasat yang aneh dan amat lihay?

Begitu perhatiannya pecah, mendadak nikou setengah umur itu menyingkirkan sepasang tangannya dan menerobos masuk kedalam seperti seekor burung kecil, dua gulung desingan angin tajam langsung saja menyergap tubuhnya.

Liu Leng poo sudah berpengalaman amat luas didalam menghadapi serangan musuh.

sekalipun dia dibuat terkejut oleh tindakan musuhnya namun tak sampai kalut pikirannya, cepat-cepat dia mengeluarkan jurus Air Mengalir Di balik Tirai untuk melindungi dadanya kemudian sambil menjejakkan kakinya keatas tanah, dia segera menyusut mundur kebelakang.

Siapa tahu sepasang tangan Nikon setengah umur yang mengancam jalan darah Ji keng-hiat dibawah sepasang payudaranya itu hanya sebuah serangan tipuan belaka.

dengan cepat dia menarik kembali tangan kirinya kemudian tangan kanannya menyapu kedepan, segulung desingan angin serangan meluncur kebawah dan persis menotok jalan darah Tiong tok-hiat di atas kiri Liu Leng poo.

Pada waktu itu Liu Leng poo melompat mundur kebelakang belum sempat badannya mencapai tanah, lutut kirinya sudah kaku hingga badannya sempoyongan dan hampir ia terjerembab keatas tanah.

Namun bagaimanapun juga dia adalah murid kebanggaan Thian Sat nio, kepandaian silat yang dimiliki juga merupakan kepandaian yang luar biasa, sementara masih sempoyongan, kaki kanannya segera menjejak tanah dan sekali lagi dia melejit keudara.

Bersamaan waktunya ketika ia melejit kedua tangan kirinya menepuk kebawah dengan cepat untuk membebaskan pengaruh totokan tersebut, tubuhnya lalu meluncur sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.

Berhasil dengan serangan totokannya itu, sudah barang tentu nikou setengah umur itu takkan menyia-nyiakan kesempatan yang ada, sepasang bahunya bergetar lalu dia mendesak lebih jauh untuk melakukan pengejaran.

Sepanjang pertarungan berlangsung, Wi Tiong-hong cuma menonton jalannya pertarungan itu dari sisi arena, mimpipun dia tidak menyangka kalau Liu Leng poo dengan kepandaian silat yang begitu tangguh ternyata menderita kekalahan ditangan lawannya dalam beberapa gebrakan saja.

Menjumpai Liu Leng poo masih sempoyongan dan kakinya seperti sudah terluka sedangkan nikou setengah umur itu bagaikan bayangan saja mengejar terus hatinya menjadi terkejut, dia segera membentak sambil mengayunkan tangannya melepaskan sebuah bacokan kehadapan nikou setengah umur itu.

Didalam gelisahnya, serangan tersebut dilancarkan dengan ilmu Siu lo to semacam ilmu pedang tanpa wujud yang amat disegani oleh umat persilatan didunia ini.

begitu serangan dilancarkan ditengah, segera berkumandang suara desingan memanjang yang ringan tapi seakan-akan hendak membelah udara menjadi dua bagian.

Bersamaan dengan serangan tersebut, suara dingin kaku yang berada diruang belakang itu kembali berkumandang.

"Cepat mundur muridku!"

Waktu itu si nikou setengah umur tersebut sedang mendesak kedepan, dia baru terkejut setelah mendengar suara bentakkan dari gurunya, cepat dia melompat kebelakang.

Tapi angin serangan yang dilancarkan Wi Tiong-hong itu sudah membacok tiba disisi tubuhnya.

Didalam gerak mundurnya itu, tiba tiba-saja tangan kanannya diayunkan kedepan dengan jurus Gi san tian hay atau menggeser bukit membendung samudra.

Sebenarnya dia tidak keliru kalau mempergunakan jurus serangan tersebut karena jurus menggeser bukit membendung samudra memang merupakan jurus serangan yang tepat untuk membendung serangan musuh yang datangnya dari samping, Tapi kalau benar dia ingin mempergunakan jurus serangan tersebut untuk membendung serangan Siu lo to...

Dari belakang ruangan terdengar lagi suara dingin kaku itu membentak keras.

"Jangan disambut Sayang keadaan sudah terlambat, Tahu-tahu nikou setengah umur itu mendengus tertahan. tubuhnya mundur sejauh lima enam langkah dengan sempoyongan, lengan kirinya terkulai lemas kebawah dan tidak mampu diangkat kembali. Semua kejadian itu berlangsung dalam waktu singkat, hampir bersamaan waktunya dengan gerak mundur itu Liu Leng poo sambil menepuk jalan darahnya yang tertotok tadi, Sejak terjun kedunia persilatan, boleh dibilang belum pernah dia merasakan kekalahan sedemikian mengenaskannya seperti apa yang dialaminya hari ini, Sekarang, tanpa sebab dia telah menderita kekalahan ditangan nikou setengah umur itu, saking gusarnya merah padam seluruh wajahnya, keningnya bekerut dan sudah barang tentu dia tak ingin menyelesaikan persoalan tersebut sampai disitu saja, begitu tubuhnya melayang turun keatas tanah, dengan cepat tangannya merogoh kedalam saku dan mengeluarkan lima bilah golok perak daun liu yang gemerlapan tajam, kemudian sambil menggenggamnya erat-erat dia sudah siap melepaskan serangannya, Perempuan ini memang sangat lihay dalam ilmu menyambit golok, begitu senjatanya dilepaskan. tampak golok perak itu memutar setengah lingkaran busur ditengah udara, kemudian menimbulkan suara2 desingan angin tajam.

"Sreeett. ..!"

Sekilas cahaya pelangi berwarna secepat kilat menyerang dada nikou setengah umur itu.

Pada saat ini, nikou setengah umur tersebut telah menderita luka dibawah serangan siu lo to dari Wi Tionghong, lengan kirinya terkulai lemas bagaikan cacad, menghadapi ancaman demikian ia segera mundur terus berulang kali.

Ketika masih berada diperusabaan An Wan piaukiok dulu.

Wi Tiong hong sudah pernah menyaksikan kelihayan ilmu Hwee Hong to dari Thian Sat nio.

maka ketika mendengar suara desingan tajam yang memekikkan telinga itu cepat-cepat dia mendongakkara kepalanya.

Tampak olehnya golok perak tersebut bagaikan bermata saja dengan diiringi suara desingan tajam langsung menusuk tubuh nikou setengah umur itu.

Diam-diam Wi Tiong hong berkerut kening, pikirnya.

"Sekalipun nikou setengah umur itu menjengkelkan, namun dosa yang diperbuatnya itu tidak sampai harus di jatuhi hukuman mati..."

Baru saja ingatan tersebut melintas lewat mendadak terdengar suara dentingannya yang bergema memecahkan keheningan....

"Traaangg ....!"

Ketika golok itu baru menyambar sampai setengah jalan, seperti terbentur oleh sambitan batu saja, tahu-tahu serangan tersebut miring kearah lain.

Batu tersebut entah disambit datang dari arah mana, nampaknya dilepaskan oleh seorang ahli yang sangat hebat.

Oleh sebab itulah Wi Tiong hong sendiri pun tidak sempat melihat secara jelas, sudah barang tentu serangan itupun bukan dilepaskan oleh nikou setengah umur ini.

Tapi ilmu golok Hwee Hong to dari Thian sat bun pun bukan kepandaian yang biasa, begitu tergetar ditengah udara, pisau terbang itu kembali membuat gerakan melingkar ditengah udara, kemudian....."Sreeet..."

Sekali lagi melesat kedepan mengancam tubuh nikou setengah umur itu.

Traaanggg.

...Sekaii lagi terdengar suara dentingan nyaring yang memekikkan telinga, golok perak yang masih meluncur dengan kecepatan itu luar biasa sekali lagi dipentalkan oleh sebiji batu kecil.

"Traaaangggg , , ."

Kali ini tidak sampai golok perak itu membuat gerakan melingkar ditengah udara sebutir batu kerikil kembali dilontarkan kembali menghajar golok perak tersebut.

Tergetar berulang kali secara beruntun golok hwee hong to tersebut menjadi kehilangan daya serangannya dan segera terjatuh diafas tanah , , Biarpun Wi Tiong berdiri disisinya ternyata dia sendiripun tidak sempat melihat dengan jelas darimana datangnya ketiga batu kerikil tersebut.

Bahkan Liu Leng poo yang melepaskan serangan pun tidak sempat melihat sumber serangan itu dengan pasti, dengan wajah hijau membesi dia berdiri didepan ruangan sambil berbentak keras.

"Nikou tua, kau tak perlu menyembunyikan diri dibelakang sana dan melancarkan serangan secara tersembunyi bila memang merasa punya kepandaian, ayo, tunjukkan kepada Liu Leng poo>"

Belum selesai perkataan itu diutarakan, mendadak terdengar suara dingin kaku yang terus membentak.

"Budak busuk, besar amat lagakmu!"

Suara itu datangnya dari belakang.tubuhnya hal tersebut kontan saja membuat Liu Leng poo menjadi amat terkejut, buru-buru dia membalikkan tubuhnya.

Entah sedari kapan, tahu-tahu di depan halaman ruangan kuil tersebut telah muncul sebuah tandu berwarna hitam.

Waktu itu tandu tersebut sudah berhenti dimuka undak-undakan menuju keruangan.

Si penggotong tandu adalah dua orang nenek berkaki kecil yang membungkus kepalanya dengan kain hitam, mereka berdiri dikaki kanan tandu tersebut tanpa bergerak Sekeliling tandu berwarna hitam itupun dilapisi dengan kain hitam, sehingga sulit bagi orang untuk mengetahui orang yang berada daiam tandu itu.

Diam-diam Liu Leng poo merasa terkejut, padahal dia percaya kemampuannya yang dimilikinya sekarang dapat menangkap suara daun yang jatuh pada jarak sepuluh kaki pun dari posisinya.

Betul dia telah menghimpun segenap tenaga dalamnya kedalam pisau terbang tersebut, namun jarak antara tandu dengan dirinva cuma berapa kaki saja mustahil ia tak mendengar akan kehadiran mereka...

Dari sini dapatlah ditarik kesimpulan bahwa ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedua orang nenek penggotong tandu itu sudah mencapai tingkatan yang amat sempurna.

Sadar akan datangnya musuh tangguh, Liu Leng poo mulai meningkatkan kewaspadaannya, bukan saja didepan mata ada musuh, bahkan di balik gedung kuil itupun masih tersembunyi seorang jago misterius yang berkepandaian amat hebat.

Dengan begitu, dirinya berdua sudah terjebak dalam suasana yang berbahaya sekali, mereka telah digencet oleh dua orang musuh tangguh yang datang dari muka dan belakang.

Sekalipun dalam hatinya merasa terkejut Liu Leng poo tidak sampai menjadi panik, dengan menggunakan ilmu menyampaikan suaranya ia lantas berbisik kepada Wi Tiong hong.

"Wi sauhiap. cepat kemari situasi yang kita hadapi sekarang berbahaya sekali, kau berjaga-jagalah dibelakang punggungku."

Wi Tiong hong menurut dan segera berjalan menuju kebelakang tubuh Liu Leng Poo dan berdiri disitu dengan tangannya meraba gagang pedang, sementara sorot matanya memperhatikan sekejap sekeliling ruangan kuil itu.

Ternyata bayangan tubuh nikou setengah umur itu sudah tidak nampak lagi, tampaknya dia sudah menyelinap masuk keruang belakang.

Pada saat itulah dari ruang belakang terdengar suara dingin kaku itu berkumandang lagi.

"Kehadiran sumoay kebetulan sekali tolong kau bereskan kedua manusia yang tidak tahu diri itu, yang perempuan agaknya murid ahli waris dari Cing ih am di Go bi san, sedangkan yang lelaki mempergunakam ilmu Siu lo to, jadi semestinya murid perguruan Siu lo bun."

"Suci tidak usah kuatir, serahkan saja ke dua orang itu kepadaku."

Kata suara dingin kaku dibalik tandu itu segera.

"bagi mereka yang datang mencari gara-gara dalam kuil Cun ti am, tidak usah dibedakan lagi apakah ia murid Cin ih am ataukah murid Sio lo bun...."

Mendengar perkataan mana Wi Tiong hong segera membentak keras;

"Kau jangan menuduh orang seenaknya sendiri, aku bufkan anggota perguruan Siu lo bun."

"Aku tidak ambil perduli siapakah kalian."

Kembali orang didalam tandu itu berseru. Liu Leng poo segera mendengus, kemudian tegurnya.

"Siapakah kau ?"

"Kalian pun tidak usah mengetahui siapakah diriku, sebab dengan mengandalkan kedudukan kalian masih belum pantas untuk mengetahui siapakah diriku ini."

"Jadi kau juga yang telah merontokkan pisau terbangku tadi. ..?"

"Hmm, apa aih hebatnya dengan Hwee-hong to tersebut ?"

"Bagus sekali."

Seru Liu Leng poo sambil tertawa dingin.

"kalau begitu aku periu menunjukan kelihayan dari ilmu Hwee-hong to tersebut kepadamu .."

Sementara berbicara dengan cepat dia mundur beberapa langkah kebelakang, kemudian dia membungkukan badannya untuK memungut kembali golok peraknya yang tersampok rontok tadi, Disaat dia berdiri tegak inilah tiba-tiba tangannya diayunkan berulang kali, lima bilah golok perak daun liu itu segera meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa.

Benar-benar hebat sekali serangan tersebut, bagaikan sambaran petir saja dalam waktu singkat seluruh angkasa sudah dipenuhi cahaya perak dan desingan angin serangan yang memekikkan telinga, kelima golok perak itu membentuk satu garis lurus langsung menyerang kedalam tandu hitam itu.

Cahaya perak itu berkelebat lewat kemudian lenyap dibalik tandu lemas tersebut, desingan angin serangan yang memekikkan telingapun menjadi sirap dan hening kembali.

namun kelima bilah golok perak daun Liu yang menyusup kebalik tandu tersebut lenyap dengan begitu saja tanpa menimbulkan suara apa-apa.

Dua orang nenek berkaki kecil berkain hitam pembungkus kepala itu masih tetap berdiri dikiri kanan tanpa bergerak seakan-akan mereka sama sekali tidak menyaksikan peristiwa tersebut.

Sekeliling tandu itu masih tertutup oleh kain hitam sehingga tidak nampak manusia dalam tandu tersebut sejak pisau terbang tersebut menyusup kedalam hingga kini, tidak nampak pula sesuatu reaksi dari balik tandu tadi.

Suasana hening yang sama sekali diluar dugaan ini kontan saja menimbulkan suasana yang begitu mengerikan dan menggidikkan hati.

Orang persilatan selalu mengatakan "Biar pun bisa menghindari beribu bahkan berlaksa bacokan, belum tentu bisa menghindari sebuah bacokan dari Thian Sat nio", ilmu Hwee-hong to merupakan kepandaian andalan dari Thian sat bun yang termashur akan kelihayannya, apa lagi bila lima golok dipergunakan bersama, jarang sekali ada jagoan didalam dunia persilatan yang mampu meloloskan diri dari ancaman tersebut..Akan tetapi semenjak kelima bilah golok terbang itu menyusup kedalam tandu, sama sekali tidak kedengaran sedikit suara pun kejadian mana tentu saja membuat Liu Leng poo menjadi amat terkesiap.

Tiba-tiba dia membentak nyaring, pedangnya segera dicabut keluar kemudian tubuhnya mendadak ke depan menghampiri tandu tadi, pedangnya serta merta dipergunakan untuk mencongkel tirai dimuka tandu itu ..Disaat dia mendekati tandu itulah kedua orang nenek yang berdiri disamping kiri dan kanan itu dengan tenang tapi cekatan segera menyingkap tirai tandu itu.

Semua peristiwa ini berlangsung dalam waktu sekejap mata dan semuanya teratur dan tidak panik, sehingga boleh dibilang persis sekali pada saat Liu Leng poo menyerbu ke depan tandu tadi.

Ketika Liu Leng poo sudah tiba dimuka tandu tersebut kurang lebih sejauh tiga depa, kebetulan pula tirai tandu itu disingkap orang sehingga keadaan didalam tandu tersebut dapat terlihat dengan jelas sekali.

Ternyata orang yang berada didalam tandu itu adalah seorang manusia aneh berambut hijau berkepala tembaga.

Orang ini sama sekali tidak mengenakan openg kulit manusia, tapi raut mukanya seakan-akan dicetak dengan cairan tembaga sehingga persis seperti sebuah patung manusia hidup.

Pakaian yang dikenakan adalah gaun merah berkembang-kembang, sepasang tangannya yang berwarna tembaga diletakan di atas lututnya keadaan tersebut tak ubahnya bagaikan patung sungguhan.

Sedangkan kelima buah golok perak tadi terletak didepan patung tembaga ini.

Liu Leng poo yang menyaksikan kejadian ini menjadi tertegun,sudah jelas dari balik tandu tadi kedengaran ada orang berbicara.

sudah jelas ada pula yang menangkap golok terbangnya didalam tandu tersebut ataukah mungkin orang yang berbicara dan menerima goloknya adalah patung tembaga ini?

Ia tidak berpikir lebih jauh lagi, setelah mendengus dingin pedangnya segera digetarkan menusuk ke wajah patung tembaga itu.

Terhadap datangnya serangan ini patung tembaga tersebut sama sekali tidak menghindar, dia masih tetap duduk dalam posisi semula menanti ujung pedang tersebut hampir menusuk diatas wajahnya.

baru kedengaran suara dentingan nyaring.

Kemudian Liu Leng poo merasakan pergelangan tangannya bargetar keras, ternyata wajah orang itu memang dibuat dari tembaga asli.

Tapi disaat dia mendengus sambil melancarkan tusukan ke wajah patung tembaga inilah, mendadak dari balik mulut patung tembaga itu kedengaran pula suara dengusan dingin.

Bukan hanya begitu saja, dari balik mulut patung tembaga itu mendadak menyembur keluar segumpal asap warna warni.

Liu Leng poo sudah cukup berpengalaman dalam pertarungannya melawan musuh2 tangguh, ketika menyaksikan patung tembaga itu menyemburkan asap dia segera menutup semua pernapasannya dan melompat mundur kebelakang, Sekalipun Liu Leng poo merasakan bahaya cukup cepat, bagaimanapun juga selisih jarak mereka kelewat dekat tahu-tahu saja hidungnya telah mengendus bau barum yang sangat aneh.

Ketika tubuhnya yang melompat mundur belum sempat berdiri tegak, tiba-tiba saja kepalanya terasa pening, lalu pandangan matanya menjadi gelap setelah mundur dengan sempoyongan sejauh berapa langkah, dia segera roboh terjengkang keatas tanah.

Kalau diceritakan memang rasanya amat lamban, padahal semua peristiwa tersebut berlangsung dalam sekejap mata saja, disaat Liu Leng poo melompat mundur kebelakang, ke dua orang nenek didepan tandu itu sudah menurunkan kembali tirai dimuka tandu tersebut.

Menanti tubuh Liu Leng po sudah roboh terjungkal keatas tanah, keadaan tandu itu sudah pulih kembali seperti sedia kala, tirai tandu sudah diturunkan kembali.

kedua orang nenek itupun sudah berdiri disisi kiri dan kanan tandu dengan tangan diluruskan kebawah.

seakan-akan tidak terjadi suatu apapun.

Hampir boleh dibilang Wi Tiong hong belum sempat melihat jelas bagaimanakah bentuk wajah orang yang duduk didalam tandu tersebut ketika secara tiba-tiba ia menyaksikan Liu Leng poo sudah roboh terjengkang keatas tanah.

Kejadian ini kontan saja membuat anak muda tersebut menjadi terkejut sekali.

Cepat-cepat dia menerobos maju kedepan kemudian tegurnya dengan perasaan gelisah.

"Nona Liu. kenapa kau?"

Liu Leng poo sedang memejamkan matanya rapat-rapat sambil menghimpun tenaganya untuk melawan racun dalam tubuhnya ketika menderngar suara teriakan Wi Tiong-hong tersebut, dia segera menggerakan bibirnya dan berbisik lirih;

"Hati-hati dengan asap beracun yang disemburkan dari mulut manusia tembaga itu."

Pada hakekatnya Wi Tiong-hong sama sekali tidak menyaksikan manusia tembaga tersebut, dia menjadi sangat keheranan dan segera, bertanya lagi.

"Dimana manusia tembaga itu?"

Sebelum nona itu sempat menjawab, suara dingin kaku dari balik tandu itu sudah berkumandang lagi.

"Maju kedepan dan segera bekuk budak tersebut. ..."

Kedua orang nenek itu segera menerima perintah dan seorang dari kiri yang lain dari kanan serentak maju kedepan ...Menjaksikan Liu Leng poo masih duduk tak bergerak, sementara dua orang musuhnya telah mendesak kedepan, Wi Tiong-hong menjadi gelisah sekali, cepat pedang Jit siu kiamnya diloloskan dari sarungnya.

Kemudian dengan pedang terhunus dan menghadang didepan nona tersebut bentaknya keras-keras.

"Siapa diantara kalian berani maju. jangan salahkan kalau aku akan bertindak kejam."

Nenek yang berada disebelah kiri itu tertawa dingin, kemudian sambil berpaling kearah nenek yang berada disebelah kanannya dia berkata setengah mengejek.

"Apakah bocah keparat ini termasuk juga manusia jumawa?"

Nenek yang berada disebelah kanan itu segera menjawab;

"Kau bekuk budak tersebut dan serahkan raja bocah keparat ini kepadaku."

Selesai berkata dia lantas maju kedepan Wi Tiong-hong dan langsung mencengkeram pergelangan tangan sang pemuda yang menggenggam pedang itu dengan kelima jari tangannya yang dipentangkan seperti cakar, serangan mana dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat,,.

Sebaliknya nenek yang berada disebelah kiri itu segera menghindar dari arena tengah dan mendekati Liu Leng poo.

Wi Tiong hong segera membentak keras, tubuhnya bergerak kedepan sambil mengayunkan pedangnya menyambut kedatangan sinenek disebelah kiri itu.

Perlu diketahui pedang Jit siu kiam yang berada dalam genggamannya ini meski nampaknya sama sekali tidak tajam, namun begitu serangan dilepasKan.

angin pedangnya menderu-deru dan tajamnya bukan buatan.

Begitu merasakan ketajaman angin serangan lawan ternyata nenek yang berada di sebelah kiri itu tidak berani menangkis dengan kekerasan, dengan cepat tubuhnya bergeser dua langkah kesamping.

kemudian katanya sambil tertawa dingin.

"Hmm, tidak nyana kalau pedangnya yang dipergunakan bocah keparat itu merupukan sebilah pedang yang tajam sekali."

Ketika nenek sebelah kanan menyaksikan Wi Tiong Hong meninggalkan dirinya malaban menyerang nenek disebelah kiri, dia menjadi gusar sekali, sambil mendesis sinis tiba-tiba saja tubuhnya menerobos maju kemuka.

kemudian dengan kelima jari tangannya yang dipentangkan lebar-lebar dia cengkeram belakang punggang pemuda itu.

Baru saja Wi Tiong hong berhasil mendesak mundur sinenek yang berada disebelah kiri, dia sudah merasakan datangnya sinenek sebelah kanan yang menyergap dari belakang.

serta merta dia membalikan badannya sambil melancarkan babatan kilat.

Kedua buah serangan tersebut semuanya mempergunakan jurus serangan pedang dari ilmu Siu lo cap sah si.

Sebenarnya ilmu pedang Siu lo kiam-hoat memang mengutamakan gerak.

bilamana dipergunakan dalam kecepatan yang paling tinggi maka dalam satu gebrakan saja bisa melancarkan tiga belas buah serangan secara beruntun.

Biarpun Wi Tiong hong belum lama mempelajari kepandaian tersebut namun kedua jurus serangan yang dipergunakan barusan, jauh lebih cepat beberapa kali lipat daripada serangan biasanya.., .

Belum lagi cengkeraman kelima jari tangan si nenek disebelah kanan itu tiba, angin pedang Wi Tiong hong sudah menyambar liwat, hal tersebut memaksanya buru-buru menariK kembali cengkeramannya sambil bergeser selangkah kesamping.

"Bocah keparat, tidak kusangka kau masih mempunyai ilmu simpanan, . ."

Serunya keras.

Sementara itu si nenek disebelah kiri yang kena dipaksa mundur oleh serangan Wi Tiong hong tadi nampaknya masih belum merasa puas, dengan cepat dia bergegas.

maju lagi kemudian melancarkan serangannya dari sisi kiri dengan jurus bintang terbang mengejar rembulan..

, .

Lima gulung desingan angin tajam langsung saja mengurung jalan darah penting ditubuh sebelah kanan si anak muda itu.

Ternyata jurus serangan yang dipergunakan nerek itu merupakan ilmu memotong nadi yang luar biasa hebatnya.

bila terkena serangan teraebut niscaya korban akan lumpuh atau tewas seketika.

Bersamaan waktunya nenek disebelah kanan yang terdesak mundur oleh serangan pedang Wi Tiong hong tadi kembali mendesak kedepan dan mengancam dari sisi kiri lawan, tangan kanannya yang direntangkan kembali mengancam pinggang pemuda tersebut dengan jurus ayam emas mencari makanan.

Ketika jari tangannya sudah hampir mengenai sasaran.

dia baru membentak dengan suara menyeramkan.

"Bocah keparat. roboh kau !"

Menghadapi serangan demi serangan yang begitu gencar keji dan buas dari dua orang nenek yang menggencetnya dari kiri dan kanan Wi Tiong hong tak berani berayal lagi, tubuhnya segera berputar mengikuti gerakan pedangnya, kemudian pergelangan tangan kanannya berputar menggunakan jurus Dua unsur baru memisah, pedangnya secara beruntun membuat dua buah gerakan melingkar.

Berbicara soal ilmu silat yang dimiliki ke dua orang nenek tersebut, sesungguhnya sulit bagi jurus pedang aliran Bu tong pay yang digunakan pemuda tersebut untuk mendesak mundur mereka, namun mereka justru amat takut menghadapi pedang tajam milik Wi Tiong hong yang nampaknya justru menyerupai pedang karat itu.

Apalagi setiap serangan tersebut dilancarkan, selalu terasa desingan angin tajam yang begitu hebat, mau tak mau mereka berdua harus menarik selalu serangan yang belum selesai dilontarkan.

Tiba-tiba nenek yang berada disebelah kanan itu berseru;

"Bocah keparat ini berasal dari Bu tong-pay."

Sedangkan si nenek di sebelah kiri segera berseru pula;

"Mari kita mencoba sampai dimana kemampuannya !"

"Betul, kita harus mencoba kemampuannya."

Sambung si nenek disebelah kanan dengan serius.

Disaat pembicaraan berlangsung, dengan suatu gerakan cepat nenek yang berada disebelah kiri itu sudah meloloskan sebatang tongkat pendek dari belakang tubuhnya, kemudian sambil maju kedepan dan menyeringai seram serunya.

"Bocah keparat, sambutlah serangan ini!"

Tongkat pendek itu segera menyapu ke depan dengan kecepatan bagaikan kilat. Dengan pedang terhunus Wi Tiong-hong tetap berdiri tidak berkutik ditempat semula, serunya sambil tertawa nyaring.

"Semenjak tadi kalian memang sudah harus meloloskan senjata masing-masing...."

Belum lagi perkataannya selesai diutarakan tongkat pendek dari nenek disebelah kiri itu sudah menyapu datang.

Dalam sekejap mata itulah.

tongkat pendek tersebut mendadak berubah menjadi lima enam buah bayangan yang bersamaan dengan menghembuskan segenap desingan angin tajam langsung menindih tubuh bagian atasnya.

Padahal Wi Tiong-hong telah bersiap sedia dengan menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya, siu lo cap sah si juga telah disiapkan tinggal melancarkan serangan.

Mendadak saja lengan kanannya digetarkan, lalu bersamaan waktunya pedangnya dengan menciptakan lima enam buan bayangan pedang langsung menyongsong datangnya ancaman tersebut.

"Triing. triing' triing....."

Serentetan suara benturan nyaring yang memekikkan telinga bergema memenuhi seluruh angkasa.

Setiap serangan tongkat pendek dari nenek disebelah kiri itu semuanya kena terhadang oleh serangan pedangnya.

Kalau terhadang saja masih mendingan, nenek disebelah kiri itu segera merasakan pula ada sesuatu yang tidak beres.

Dia sudah terbiasa mempergunakan senjata tentu saja diapun mempunyai perhitungan tentang berat senjata andalannya itu.

Tapi setelah terjadi serangkaian bentrokan dengan pedang Wi Tiong-hong, tiba-tiba saja dia merasakan suatu keanehan.

Yaitu setiap kali terjadi dentingan nyaring, tongkat pendeknya terrasa lebih enteng, apa lagi setelah terjadi lima kali bentrokan, tongkat pendeknya seakan-akan sudah begitu enteng sehingga tidak menyerupai sebuan tongkat lagi.

Dalam terkejutnya cepat-cepat dia melompat mundur kebelakang sambil melakukan pemeriksaan, ternyata tongkat pendek yang panjang semula mencapai dua depa delapan cun itu, sekarang tinggal sepotong yang masih tergenggam dalam tangannya saja.

Sementara itu nenek yang ada disebelah kanan sama sekali tidak melihat bagaimana tongkat pendek milik nenek disebelah kiri sudah dipapas kutung oleh pedang Wi Tionghong seperti potongan tebu saja, dia cuma melihat bagaimana senjata kedua orang itu saling beradu.

kemudian nenek disebelah kiri itu melompat mundur kebelakang.

Serta merta dia memutar tongkat sendiri dan menyerbu pula kedalam arena bagaikan amukan angin puyuh.

Semenjak berhasil melatih ilmu Siu lo cap sah si tersebut, baru pertama kali ini Wi Tiong hong benar-benar mempergunakannya.

Ia menjadi gembira sekali setelah berhasil menahan lima enam buah serangan musuh sebab hal ini berarti juga dalam satu gebrakan dia berhasil melepaskan lima enam buah serangan beruntun.

Maka ketika menjumpai nenek disebelah kanan menyerang kembali, tanpa berpikir panjang lagi dia mengayunkan pedangnya melepaskan dua serangan sekaligus.

Sementara itu nenek disebelah kiri itu sudah membuang kutungan longkatnya dengan penuh amarah, kemudian sambil maju kedepan.

bentaknya keras-keras.

"Pedang si bocah keparat itu mampu mengutungi senjata!"

Bersamaan dengan datangnya tubrukan itu tangan kirinya segera diayunkan kedepan melepaskan segumpal asap berwarna abu-abu kewajah anak muda tersebut.

"Roboh kau!"

Bentaknya keras-keras. Ditengah arena berkumandang kembali suara dentingan yang amat nyaring .."Triiing, triing...."

Dua kali dentingan bergema, tongkat pendek milik nenek disebelah kanan pun kutung menjadi tiga bagian seperti tebu.

Akibatnya si nenek yang berada disebelah kanan itu cepat-cepat melompat ke samping sambil mandi keringat dingin.

Wi Tiong hong menjadi gembira sekali menjumpai keberhasilannya tanpa terasa dia tertawa terbahak-bahak, Namun baru saja tertewa sampai setengah jalan, dia telah menyaksikan segumpal asap abu-abu menyambar ke wajahnya.

Dalam keadaan gugup dan bimbang, dia cepat mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan.

Walauoun kabut abu-abu itu segera membuyar setelah termakan oleh angin pukulannya yang kuat tersebut, toh tak urung mulutnya menghisap juga sedikit bau harum, hal ini membuatnya sangat terkejut.

Cepat-cepat dia menghindar ke samping, siapa tahu baru saja tubuhnya digerakkan, seketika itu juga kepalanya terasa berat dan kakinya enteng, sepasang kakinya seakan-akan menginjak ditumpukan abu saja.

Nenek yang berada disebelah kanan itu segera mendesak maju kedepan, kemudian sembari tertawa seram katanya.

"Bocah keperat. kau telah menguntungi tongkat pendekku, maka sekarang giliran aku si nenek yang akan menguntungi sepasang kaki anjingmu itu,...."

Dengan tangan sebelah dia merampas pedang pemuda itu, tangan yang lain menampar wajahnya keras-keras.

Plaaak!!

Wi Tiong-hong kena ditampar keras-keras sehingga maju berapa langkah kemuka sebelum terjatuh terjerambab keatas tanah.

Dengan cepat nenek disebelah kanan itu melompat lebih kemuka dan menginjak dada Wi Tiong-hong keras-keras serunya lagi sambil tertawa seram.

"Bocah keparat, kau telah mengutungi tongkat pedangku, sekarang akupun akan memotong sepasang kaki dan sepasang lenganmu."

Semenjak ditampar oleh nenek disebelah kiri tadi.

Wi Tiong hong merasakan pandangan matanya berkunang-kunang dan pipinya sakit sekali, apalagi setelah dadanya diinjak oleh sinenek disebelah kanan, sekarang amarahnya mau meledak rasanya.

Namun apa daya kalau sepasang tangannya terasa begitu lemas tak bertenaga.

sedikit kekuatan tak mampu dipergunakan lagi, tentu saja untuk meronta pun tak mampu.

Dalam keadaan demikian tanpa terasa ia berkerut kening dan membentak keras.

"Nenek bajingan, setelah Wi Tiong-hong terjatuh ketangan kalian, mau dibantai mau dicincang aku tak bakal akan mengerutkan dahiku!"

Mencorong sinar buas dari balik mata nenek sebelah kanan itu, serunya kemudian sambil tertawa seram;

"Bocah keparat, tidak gampang bila ingin mampus dengan begitu saja, aku si nenek akan..."

Belum habis perkataan tersebut diutarakan. mendadak dari balik tandu itu telah bergema kembali suara beatakan ketus.

"Lepaskan dia!"

Nenek disebelah kanan itu segera menarik kembali kaki kecilnya dan mundur setengah langkah.

Dengan mempergunakan tangannya sebagai penahan badan Wi Tiong hong mencoba meronta untuk duduk kembali, akiranya dia aga ringan menderita keracunan sehingga tidak sampai roboh tak sadarkan diri..., Dengan kening berkerut sekali lagi dia membentak keras.

"Kalau ingin betul-betul bertarung. pergunakan ilmu silat yang sejati, jangan gunakan cara yang licik dan munafik untuk membokong orang dengan racun pemabuk, perbuatan semacam itu hanya bikin malu saja..."

"Bocah keparat. kau masih berani ngebacot terus?"

Teriak nenek disebelah kiri itu dengan marah. Wi Tiong hong tak kalah gusarnya, segera bentaknya pula.

"Nenek bajingan, beranikah kau memberi obat pemunah dulu kepadaku kemudian bertarung secara jantan denganku?"

"Bajingaa keparat, rupanja kau sudah bosan hidup?"

Seru nenek disebelah kanan sambil mengejek dingin.

Ketika nenek yang yang ada disebelah kiri itu mendengar dirinya diumpat sebagai nenek bajingan.

amarahnya segera memuncak sampai batas yang tak terkatakan, kebetulan sekali dia masih memegang pedang karat milik Wi Tionghong, maka sambil mengayunkan senjata tersebut, katanya sambil tertawa seram;

"Bocah keparat, akan kupotong sebuah kaki anjingmu lebih dulu, akan kulihat mulut anjingmu masih bisa menggonggong terus?"

Belum saja perbuatan tersebut sampai dilakukan. orang yang berada didalam tenda itu sudah berseru kembali.

"Berikan obat penawar racun kepadanya."

Nenek disebelah kiri itu menjadi tertegun setelah mendengar perintah ini, namun tak berani membangkang, dari sakunya mengeluarkan sebuah botol kecil dan dilemparkan kesamping pemuda tersebut seraya bentaknya.

"Bocah keparat, terlalu keenakan bagimu."

Wi Tiong-hong sama sekali tidak menyangka kalau orang yang berada dalam tandu itu akan memerintahkan nenek disebelah kiri memberi ooat pemunah racun kepadanya.

Tapi diapun cukup mengerti betapa berbahayanya umat manusia didunia persilatan.

siapa tahu kalau isi botol itu bukan obat pemunah melainkan semacam obat racun yang jauh lebih berbahaya?

Untuk sesaat dia cuma memegangi botol itu saja tanpa barmaksud untuk menelannya.

"Bocah keparat. obat penawar racun telah diberikan, mengapa tidak kau segera telan? Memangnya takut kuberi obat beracun lagi?"

Jengek si nenek disebelah kiri cepat.

"Kewaspadaan untuk menghadapi kelicikan orang tak boleh hilang, siapa tahu kalau isi botol tersebut memang benar-benar obat beracun?"

Sahut pemuda itu cepat..

"Bajingan ini kelewat berbahaya, manusia tak tahu diri."

Umpat nenek disebelah kanan dengan gemas. Sementara itu suara dingin kaku dari balik tandu telah bergema lagi;

"Silahkan ditelan saja, apakah aku juga, akan membohongi dirimu..?"

Sekalipun suaranya masih dingin dan kaku, namun kedengarannya jauh lebih lembut. Wi Tiong-hong segera mendengus dingin.

"Hmm. mengapa kau harus memberikan obat penawar racun kepadaku. .?"

"Sebab kau harus tetap sadar pikirannya, aku masih ada persoalan yang hendak ditanyakan kepadamu."

Sekalipun Wi Tiong-hong sedang berbincang, namun sesungguhnya dia merasakan kepalanya berat dan keempat anggota badannya lemas tak bertenaga, seakan-akan ingin tidur saja.

Teringat Liu Leng poo sudah lama tidak bersuara lagi.

jelas dia sudah tak sadarkan diri karena keracunan, pemuda itu sadar bahwa dia sendiri tak boleh sampai kehilangan kesadaraanya karena keracunan.

"Berpikir sampai disini, dia lantas membuka penutup botol itu dan menuangkan bubuk kuning dalam botol tersebut kedalam mulutnya. Tak sampai setengah perminum teh kemudian. ia benar-benar merasakan kesegarannya pulih kembali, Ketika mencoba untuk mengatur napas, ternyata semua peredaran darahnya lancar tanpa hambatan. Maka dia segera melomoat bangun dan menegur sambil mengawasi tandu itu lekat-lekat.

"Bila ada persoalan, silahkan saja diutarakan keluar!"

"Benarkah kau bernama Wi Tiong-hong?"

Tanya suara dingin dibalik tandu itu kemudian,. Wi Tiong-hong tertawa tergeletak.

"Haaah.. haaah.., haaah...tentu saja aku sendiri."

"Satu bulan berselang, kau pernah datang kemari?"

"Buat apa kau menanyakan tentang persoalan ini?"

Seru Wi Tiong-hong agak tertegun.

"Tentu saja aku mempunyai kegunaannya."

"Sebelum kau menjelaskan alasanmu, maaf bila aku tak sudi memberitahukannya."

"Bukankah rekanmu telah keracunan, kau tak ingin aku melepaskan pula dirinya?"

"Bila kukatakan sebenarnva, apakah kau akan memberi obat penawar racun padanya?"

"Benar"

"Baik. kalau begitu tak ada salahnya bila kuberitahukan hal itu kepadamu, satu bulan berselang aku telah pergi ke Ci-say."

"Kelewat samar, semestinya kau sebutkan juga nama tempat dari tujuanmu itu."

"AKU telah pergi ke bukit Sian-hoa san."

"Selain itu kau telah pergi kemana lagi?"

Wi Tiong-hong tidak langsung menjawab, sebaliknya secara diam-diam berpikir.

"Kok Thian hiang bersembunyi dibukit Tay-seng bun san sekalipun aku tidak dapat membuktikan apakah manusia berbaju putih itu adalah ayahku, namun dia telah berpesan kepadaku, kecuali ibuku, aku tak boleh membocorkan persoalan ini kepada siapa saja, itu berarti akupun tidak boleh memberitahukan juga kepadanya."

Berpikir sampai disini diapun menjawab.

"Aku berkunjung pula ke Thian-bok san."

"Dari Sien-hoa menuju ke Thian bok, ditengah-tengahnya mesih ada jarak yang cukup panjang, kau telah berkunjung kemana lagi?"

Desak orang didalam tandu itu.

"Betul, diantara jarak tersebut aku memang masih mengunjungi sebuah tempat yang sangat rahasia."

"Bagaimana rahasianya ?"

"Aku sendiripun tidak mengetahui apa nama tempat tersebut, karena mataku ditutup dengan kian dan aku dijemput dengan menggunakan kereta."

"Kau telah pergi menjumpai siapa ?"

"Berjumpa dengan...."

Mendadak ia tutup mulut kemudian setelah mengawasi tandu tersebut lekat-lekat, terusnya.

"Bukankah kau cuma bertanya bulan berselang aku telah kemana? Tentang siapa kujumpai dan apa yang telah kulakukan rasanya soal ini tidak termasuk dalam lingkungan yang perlu kau tanyakan."

"Bila aku tak akan bertanya siapa yang telah kau jumpai. lantas mau apa pula kau datang ke bukit Kou lou san ini ?"

"Apa yang ingin kau tanyakan telah aku jawab dengan sejujurnya. seperti juga jawabanku tadi, pertanyaan diluar garis tak ingin kujawab."

"Sik mo. tusuk dia dengan pedang !"

Mendadak orang didalam tandu itu membentak, Nenek disebelah kiri mengiakan lalu mendesak ke depan sambil bentaknya.

"Bocah muda, hati-hati kau!"

Dengan mengayunkan pedang karatnya dia tusuk bahu bkri Wi Tiong-hong.

Pemuda itu merasa gusar sekali, tangan kirinya dengan menggunakan tehnik pedang memancing serangan musuh keluar garis.

sementara tangan kanannya melepaskan sebuah bacokan.

Baru saja nenek disebelah kiri itu melancarkan tusukannya, tiba-tiba saja dia merasa ujung pedangnya miring kesamping kemudian mengikuti gerakan tangan kiri lawan terpancing keluar garis.

Kejadian ini sangat mengejutkan hatinya, diam-diam berpikir.

"Gerak serangan bocah ini sama sekali tidak membawa desingan angin serangan. juga tidak terdapat daya hisap yang kuat, lantas dengan kepandaian sesat apakah dia berhasil membawa gerak serangan pedangku kearah lain?"

Namun dalam keadaan demikian dia tak sempat untuk berpikir panjang lagi, gagal dengan gerakan pedangnya cepat-cepat dia melompat kesebelah kanan untuk meloloskan diri dari bacokan musuh.

Dengan lompatannya ini, maka serangan tangan kosong dari Wi Tiong-hong dengan sendirinya mengenai sasaran kosong.

Setelah menghindar kesamping, nenek disebelah kiri itu tidak puas sampai disini saja.

setelah mundur dia maju kembali kedepan seraya bentaknya keras-keras.

"Bocah keparat.,"

Baru saja dia akan melancarkan serangan lagi...

"Sik Mo, cukup!"

Suara dingin kaku dari balik tandu kembali membentak keras.

Sebenarnya nenek disebelah kiri itu sudah siap menerjang lagi ke depan, namun setelah mendengar bentakan dari orang dalam tandu itu.

ia segera menarik kembali hawa murninyaa dan mengundurkan diri ke belakang.

"Hei, sebenarnya apa maksudmu dengan perbuatan ini?"

Dengan penuh kegusaran Wi Tiong-hong berteriak.

"Aku tidak lebih hanya menyuruh Sik Mo mencoba dirimu apakah kau mempunyai mutiara penolak pedang, kelihatannya kau memang benar-benar Wi Tiong hong yang asli."

"Kalau aku bukan Wi Tiong-hong, memangnya ada orang yang menyaru sebagai diriku?" 000OdwO000

"SEBAB SEBELUM BERSELANG, ketika aku berjumpa denganmu di ci-say, wajahmu waktu itu sama sekali berbeda dengan wajahmu sekarang, tampaknya kau pandai merubah wajah."

"Ooh, rupanya begitu,"

Pikir Wi Tiong hong didalam hati. Maka katanya kemudian.

"Aku hanya mengerti sedikit saja..."

"Bagus sekali."

"Mana obat penawar racunnya?"

Tanya Wi Tiong-hong kemudian.

"Kau merasa gelisah sekali nampaknya. aku tahu kau amat memperhatikan keselamatannya bukan?"

Rupanya dia salah mengira Liu Leng poo sebagai kekasih hati Wi Tiong hong, karenanya selesai berkata diapun tertawa geli.

Tiba-tiba tirai tandu tersingkap, lalu sebutir pil putih dilemparkan kehadapan pemuda itu.

Cepat-cepat Wi Tiong-hong menerimanya.

Terdengar orang dalam tandu itu berkata.

"KOU LOO san tidak didiami terlalu lama, lebih baiknya kalian tinggalkan tempat ini secepatnya."

Wi Tiong-hong jadi tertegun dia segera mengangkat Kepalanya dan bertanya.

"Sebenarnya siapakah kau?"

Tiba-tiba orang didalam tandu itu menghela napas, Kemudian katanya pelan.

"Sekali pun kuberitahukan kepadamu, kau belum tentu mengerti, aku bernama Tang-hujin."

"Nyonya tembaga? Belum pernah kudengar nama tersebut,"

Pikir Wi Tiong hong dihati.

Dengan cepat dia membungkukkan badan dan memasukkan pil berwarna putih itu kedalam mulut Liu Leng poo, menanti dia bangkit kembali, kedua orang nenek tadi telah menggotong tandu tersebut menuju Keruang belakang, Tidak jauh diatas lantai tergeletak pedang Jit siu-kiam miliknya serta kelima bilah golok perak daun liu milik Liu Leng poo.

Dia sama sekali tidak menyangka kalau Nyonya tembaga akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, sebetulnya orang itu musuhkah atau teman?

Setelah menelan pil penawar racun itu.

tidak sampai serengah seperminum teh kemudian Liu Leng poo telah mendusin kembali dari pingsannya.

Dengan cepat dia melompat bangun, kemudian sambil celingukan kian kemari tanyanya dengan keheranan;

"Wi sauhiap, kemana tandu itu?"

"Sudah masuk kedalam. nona Liu harap kau mencoba untuk mengatur pernapasan, coba dilihat apakah ada yang tak beres?"

Liu Leng poo mencoba untuk mengatur pernapasan, kemudian baru menjawab.

"Aku tidak apa-apa. aku tidak mengira kalau hawa racun yang disebarkan dari mulut manusia tembaga itu akan bekerja sedemikian cepatnya, benar-benar merupakan suatu ancaman yang berbahaya sekali, darimana kau peroleh obat pemunahnya?"

"Aku diberi nyonya tembaga."

"Siapakah nyonya Tembaga itu?"

"Aku sendiri tidak tahu, dia menyebut diri sebagai Nyonya tembaga. mungkin orang yang duduk didalam tandu tersebut."

Secara ringkas pemuda itu menceritakan semua pengalaman yang baru saja dialaminya. Setelah mendengar penuturan itu dengan perasaan terperanjat, Liu Leng poo berkata.

"Padahal orang yang duduk dalam tandu itu cuma sebuah patung tembaga saja, peristiwa ini benar-benar rada aneh."

Berbicara sampai disitu, dengan ilmu menyampaikan suara dia berkata lebih jauh.

"Mari kita pulang secepatnya dan tanyakan persoalan ini kepada kakek Cu dan Toa-suheng sekalian, siapa tahu mereKa mengetahui tentang asal usul dari nyonya tembaga itu,"

Wi Tiong-hong mengangguk, mereka berdua segera membereskan senjata dan bersama-sama mengundurkan diri dari kuil Can Ti-am tersebut...

Baru saja memasuki mulut gua.

sudah terdengar kakek Ou berseru sambil tertawa.

"Kemana saja kalian pergi selama ini? Hampir saja aku akan pergi mencari kalian?"

Ketika Liu Leng poo menyaksikan Toa-suhengnya belum kembali, tapi merasa persoalannya amat serius dan perlu segera diketahui posisi orang itu sebagai musuh atau teman, maka tidak tahan lagi dia bertanya.

"Lotiang, tahukah kau tentang seorang yang bernama Nyonya tembaga...?"

"Nyonya tembaga? Manusia macam apa itu."

Secara ringkas Liu Leng poo.

segera menceritakan bagaimana dia memasuki kuil Cun ti-am dan bagaimana disembur oleh kabut beracun dari manusia tembaga dibalik tandu sehingga jatuh tak sadarkan diri...

Setelah mendengar penuturan tersebut.

dengan perasaan keheranan kakek Ou segera berkata.

"Ehmm, kejadian ini memang sedikit agak aneh, saat ini nyonya tembaga masih berada dalam kuil Cun-ti-am bukan? Baik. aku akan segera pergi memeriksanya."

Sambil bangkit berdiri dia siap berjalan keluar dari gua tersebut... Secara kebetulan Kam Liu cu telah munculkan diri, segera tegurnya dengan cepat.

"Lotiang hendak pergi kemana?"

"Aaah!, kedatangan Kam-lote memang kebetulan sekali."

Seru kakek Ou dengan cepat. Maka secara ringkas diapun menceritakan kembali apa yang didengarnya dari LinuLeng poo barusan... Ketika selesai mendengar penuturan itu, Kam Liu cu pun segera bertanya.

"Bagaimanakah menurut pandangan sumoay?"

"Toa-suheng, pernahkah kau dengar tentang nama Nyonya tembaga didalam dunia persilatan?"

"Belum pernah kudengar, namun aku harus mengetahui lebih dulu bagaimanakah pandangan sumoay terhadap dirinya."

"Menurut pandanganku, dia sudah merobohkan kami semua tapi kemudian setelah mengetahui gerak gerik Wi-sauhiap sebulan berselang, tiba-tiba saja dia memberi obat penawar racun kepada kami, maka berdasarkan hal ini bisa kutarik kesimpulan bahwa dia bisa jadi adalah orang yang dikenal oleh Wi Sauhiap."

Kam Liu cu segera manggut-manggut dia menyetujui pandangan tersebut. Sebaliknya Wi Tiong-hong segera berseru.

"Padahal aku sama sekali tidak kenal dengan nyonya tembaga tersebut. ..."

"Oleh karena dia mengenakan topeng tembaga, sudah barang tentu kau tidak akan mengenalinya lagi,"

Seru Liu Leng poo. Berbicara sampai disini. dia pun melanjutkan lebih jauh;

"Kedua, aku merasa bila ada orang menyambar berita dari dalam selat Tok seh sia ke kuil Can ti-an tersebut, maka orang yang berada dibelakang kuil serta nyonya tembaga tentulah musuh-musuh dari selat Tok seh sia."

"Cukup."

Cetus Kam liu-cu.

"Kalau toh kalian sudah mengetahui bahwa mereka adalah teman bukan musuh, maka buat apa lagi kita mesti berkunjung ke kuil Can ti am itu?"

Kakek Ou yang mendengar perkataan itu segera berkata sambil tertawa tergelak.

"Aku cuma ingin mengetehui manusia macam apakah nyonya tembaga tersebut, tapi kalau toh Kam-lote beranggapan tidak baik untuk pergi lagi kesana. lebih baik kita2 tak usah kesana lagi."

Liu Leng poo termenung sebentar, kemudian katanya lagi.

"Siau-moay hanya merasa heran, pihak Tok seh sia mempunyai begitu banyak jago lihay, pengaruhnya juga amat luas, mengapa mereka sama sekali tidak menaruh curiga atau kewaspadaan terhadap kuil Can-ti am yang letaknya berdekatan dengan mereka?"

"Seperti apa yang kakek Ou katakan tadi, sumur kering itu hanya salah satu jalan penghubung menuju selat Tok seh sia, tempat itu bukan jalan masuk yang sebenarnya, mungkin juga sebelum jalan tembus itu dibuat, kuil Cun ti-an sudah berada disitu, apalagi Kou-lou san kan tempat termashur yang banyak dikunjungi orang, tentu saja mereka tak akan mengusik tempat tersebut hingga menimbulkan kecurigaan orang."

"Perkataan dari nona Liu memang benar, bila menuju ke selat Tok seh sia dengan melalui sumur kering itu. bukan saja medannya sangat berbahaya. lagipula penuh hadangan yang berlapis-lapis, disamping racun jahat yang berada ditempat-tempat tertentu, sulit rasanya bagi orang awam untuk memasukinya, 0leh sebab itu bagi anggapan orang-orang selat Tok seh sia. lorong rahasia ini tak mungkin bisa ditemukan orang-orang dengan gampang."

Kata kakek Ou.

"Tapi kenyataannva berhasil kita temukan,"

Kata Liu Leng poo sambil tertawa.

"Sekarang waktu sudah mendekati tengah hari,"

Sela Kam Liu cu.

"aku rasa perut kita sudah pada lapar, ayo, cepat mengisi perut dulu sebelum berbicara lebih jauh."

Rupanya ketika pulang dari kota.

dia telah membawa sebuah karung besar.

sewaktu barang-barang yang berada dalam karung itu dikeluarkan satu persatu.

isinya berupa daging sapi, telur asin.

sayur asin.

bakpau, kueh kering dan berbagai macam hidangan lainnya.

Memandang setumpuk makanan tersebut tanpa terasa Liu Leng poo bertanya.

"Toa suheng. buat apa kau membeli makanan sebanyak ini?"

Sambil tertawa sahut Kam Liu cu;

"Tempat ini letaknya tiga lima puluh li dari kota terdekat. aku pikir kurang leluasa untuk pulang pergi setiap harinya, maka setelah sampai disana, akupun membeli rangsum dalam jumlah yang agak besar, agar sepeninggal kita nanti, rangsum tersebut masih bisa dipergunakan oleh kakek Ou dan saudara Tam yang berjaga disini selama dua tiga hari. Sekalipun nona So dan Lan Kun-pit berada dalam keadaan tak sadar. toh mereka butuh makanannja, aku malah kuatir jumlahnya kurang...?"

"Itu mah tidak penting,"

Kakek Ou segera berseru sambil tertawa.

"ditempat ini terdapat sebuah kuil pendeta, kita tak usah kuatir kehabisan makanan, memang cuma agak sulit bila ingin makan daging sapi asin."

Begitulah sambil bersantap sambil berbincang-bincang, mereka semua mengisi perut sampai kenyang, Kata Kam Liu cu kemudian.

"Setelah malam tiba nanti baru kita dapat masuk, aku rasa kurang baik untuk memperlihatkan diri dipagi hari begini. Untung saja tanah perbukitan ini terpencil letaknya, lebih baik kita beristirahat dulu sejenak untuk memulihkan kembali kekuatan, dengan demikian kerja kita malam nanti baru akan lebih lancar."

Setengah harian lewat tanpa terasa, lambat laun hari pun semakin gelap.

Semua orang segera mempersiapkan diri sebaik-baiknya, menjelang kentongan pertama kakek Ou sudah tidak sabar lagi untuk menanti, dia segera bangkit berdiri seraya berseru.

"Kam lote, bagaimana kalau kita berangkat sekarang juga ?"

Kam Liu cu, Liu Leng poo dan Wi Tiong-hong segera ikut bangkit berdiri, setelah berpamitan dengan Tam See-hoa.

berangkatlah mereka meninggalkan gua batu itu.

Dengan dipimpin oleh kakek Ou, secara beruntun mereka terjun kedalam sumur kering itu.

Tiba-tiba kakek Ou berkata;

"Lorong bawah tanah ini selain dalam juga gelap sekali, banyak tikungan yang sempit dan terjal. harap kalian berhati-hati sepanjang perjalanan nanti."

"Saudara Wi."

Kam Liu cu segera bersera.

"Kau bersama Liu-sumoay berjalan dimuka, biar aku berada dibarisan paling belakang!"

Wi Tiong-hong tahu bahwa soal ilmu tebaga dalam ia masih kalah jauh dibandingkan mereka.

biarpun ditengah kegelapan biasanya masih terdapat pancaran sinar bintang dan rembulan, asal seseorang mempunyai tenaga dalam agak sempurna, maka ia pasti dapat melihat keadaan disekelilingnya dengan jelas.

Tapi tempat itu merapakan sebuah lorong bawah tanah yang semakin kedalam suasananya pasti semakin gelap"

Sekalipun seseorang memiliki tenaga dalam yang sempurna, jangan harap dapat melihat keadaan disekelilingnya dengan jelas.

Mana dia segera mengiakan dan mengikuti dibelakang kakek Ou, sementara Liu Leng poo dan Kam Liu cu mengikuti dibelakang Wi Tiong hong bergerak memasuki lorong rahasia tersebut, Lorong bawah tanah ini benar-benar penuh dengan tikungan yang sempit dan tidak terduga lebih kurang empat lima li kemudian.

segera secara lamat mereka dapat melihat setitik cahaya terang muncul dikejauhan sana, nampaknya mereka sudah semakin mendekati mulut keluar lorong rahasia tersebut.

Mendadak kakek Ou berkata lagi.

"Kalian mesti berhati-hati, mulut keluar didepan sana merupakan sebuah gua karang yang kecil mungil, ketika dilakukan penggalan dulu tampaknya mereka sudah memanfaatkan keadaan alam yang disempurnakan dengan pekerjaan manusia."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan lebih jauh.

"Kalian semua harus ingat, setiap bertemu gua, kita harus mengambil gua yang berada di paling kiri, dengan begitu kita tak akan salah jalan. tapi yang perlu diperhatikan secara khusus adalah batu-batu tonjolan tersebut, hampir semuanya sudah dilapisi bubuk beracun. kalian tak boleh membiarkan pakaian kalian terkena racun tersebut."

Sejak mendengar keadaan dari lorong rahasia tersebut dari cerita kakek Ou tadi, sesungguhnya mereka sudah membuat persiapan khusus, maka setelah mendengar perkataan mana, masing-masing segera mengeluarkan secarik kain hitam dan menutupi mulut dan hidung sendiri.

Setelah keluar dari lorong rahasia tersebut, benar juga, mereka sudah berada di atas sebuah batu karang, tampak staglatit dan staglatit yang telah dibubuhi oleh bubuk beracun itu bertautan dimana-mana sehingga membentuk banyak sekali gua-gua karang yang besar dan kecil.

Untung saja ada kakek Ou yang memimpin perjalanan tersebut dimuka, lagi pula sudah diperingatkan sebelumnya.

maka semua orang bertindak sangat hati-hati, masing-masing menutup pernapasan sambil mengikuti kakek Ou keluar dari gua.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 16 TAK SELANG BERAPA SAAT kemudian mereka sudah keluar dari gua karang tersebut, masing-masing menginjak batuan cadas tersebut dengan ujung kaki masing-masing dan melesat keluar dengan kecepatan paling tinggi.

Rupanya mereka sudah berada disebuah selat yang dihimpit dua buah bukit karang, selat tersebut amat sempit dan permukaan tanahnya dilapisi pasir putih yang lembut, selat mana menjulang sampai kedalam sana Sambil menuding kebawah tebing karang sebelah kanan, kakek Ou kembali menerangkan.

"Aku telah mempersiapkan batu karang setiap satu kaki dibawah tebing sebelah kanan sana, kalian harus memperhatikan dengan seksama."

Selesai berkata, dia segera berjalan dulu dengan langkah lebar ...

Jangan dilihat dia hanya berjalan biasa dengan langkah lebar, padahal kecepatannya amat hebat dan tubuhnya bergerak sangat ringan, seakan-akan sedang melayang saja diatas pasir putih itu keadaannya beanar-behar sangat mengagumkan, Wi Tiong hong yang menyaksikan hal tersebut tidak sempat lagi untuk mencabangkan pikirannya, dia tak berani berayal lagi, sambil menarik napas panjang tubuhnya melompat pula ke depan.

Benar juga setiap jarak satu kaki.

dia 'menjumpai sebuah batu karang sebagai tempat untuk berpijak.

Dengan mamantulkan ujung kakinya diatas batu batu cadas tersebut, sepanjang perjalanan mereka bergeras kedepan dengan kecepatan sangat tinggi.

Selat sempit itu panjangnya tidak sampai setengah li, dalam waktu singkat mereka sudah tiba ditempat tujuan.

Waktu itu kakek Ou sudah menghentikan perjalanannya tak jauh di depan sana.

menanti ke tiga rekannya sudah sampai, dia baru menunjuk kemuka sambil bisiknya,"

"Nona kami disekap dalam istana racun dibelakang sana, tepatnya pada ruang batu-batu ke tiga diujung sebelah kanan, disitu terdapat penjagaan yang sangat ketat, lebih baik kita tukar dulu Lan Kun-pit dengan yang asli, sedang Wi siauhiap tidak usah turut bergerak, biar Kam lote saja yang membawa Lap Kun-pit menunggu aku disini."

Mengikuti arah yang ditunjuk semua orang mengalihkan pandangan matanya kedepan tempat dimana mereka berdiri sekarang rupanya berada disebuah punggung bukit.

Tanah dataran dibawah sana jauh lebih rendah meski dalam kegelapan tak dapat melihat secara jelas, namun lamat-lamat masih dapat terlihat juga.

Yang dimaksud sebagai selat Tok seh sia tak lebih hanya marupakan sebuah selat sempit yang berbentuk memanjang kebelakang.

Istana racun berada dibawah disebuah bukit kecil yang persis merupakan pusat dari selat tersebut, empat penjuru sekelilingnya nampak amat gelap dan penuh dikelilingi bangunan rumah berbatu.

Dengan berada diantara himpitan dua buah bukit yang menjulang keangkasa.

boleh dibilang letak selat Tok seh sia ini sangat terpencil dan rahasia, Liu Leng poo memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian bertanya.

"Kakek Ou. berada dimanakah manusia yang bernama Lan Kun-pit itu?"

"Dia berada didalam sebuah rumah batu disebelah selatan istana racun, tempat itu terlindung oleh hutan bambu sehingga sukar ditemukan, mari kalian semua mengikuti aku"."

Seusai berkata dia lantas mengajak ketiga orang itu berangkat menelusuri sebuah jalan kecil diantara dinding batu.

Berhubung saat ini mereka sudah berada jauh didalam selat Tok seh sia, siapapun tak berani bertindak secara gegabah.

dengan berlindung dibalik pepohonan yang rindang mereka bergerak cepat menuju ke depan sana.

Untung saja mereka bergerak dipimpin oleh kakek Ou yang hebat, sekalipun ada kalanya mereka berjumpa dengan orang selat yang bertugas jaga disitu semuanya berhasil ditotok jalan darahnya dari kejauhan sehingga tanpa disadari mereka semua sama tergelelak roboh dan tidak sadarkan diri.

Tak selang berapa saat kemudian mereka sudah berada didepan sederetan rumah batu.

Kakek Ou segera memberi tanda kepada Liu Leng poo, lalu berkata dengan ilmu menyampaikan suara.

"Nona Liu. cepat masuk, dua orang penjaga diluar pintu telah berhasil kurobohkan."

Liu Leng poo manggut-manggut dan membuka pintu ruangan dengan cepat, pintu itu segera terbuka dan setitik cahaya lentera memancar keluar.

Secepat kilat nona itu mesyelinap masuk kedalam ruangan tersebut.

Mendadak dari balik ruangan terdengar seseorang menegur;

"Siapakah kau?"

Suara itu jelas berasal dari Lan Kun-pit.

Ketika Liu Leng poo mengalihkan sorot matanya kedepan, tampak ruangan batu ini terdiri dari dua buah ruangan.

Ruangan bagian luar agaknya merupakan kamar tidur, perlengkapan serta perabotannya sangat bagus dan mewah, mungkin hal ini dikarenakan Lan Kun-pit adalah keturunan keluarga Lan dari Im-lan sehingga pihak selat Tok seh sia memberikan pelayanan yang baik dengan harapan bisa merangkul bapaknya Lan Sim hu kepihaknya.

Setelah melihat keadaan dalam ruangan itu Liu Leng poo baru menjawab lirih.

"Aku!"

Melihat orang yang datang ternyata adalah So Siau-hui, Lan Kun pit benar-benar kegirangan setengah mati, cepat-cepat dia maju menyongsong sambil berseru.

"Mungkinkah nona, nona So?"

Hampir saja dia menceritakan kata "piau moay"

Tapi teringat akan pesan dari cong-huhoatnya dan teringat ia sedang menyamar sebagai Wi Tiong-hong yang mana rahasianya tak boleh sampai bocor, maka panggilan itu segera dirubah menjadi kata 'nona So'.

Nampaknya jelas pula betapa lambannya jalan pikiran pemuda tersebut.

mungkinkah hal ini dikarenakan terpengaruh oleh bekerjanya semacam obat beracun.

Liu Leng poo segera menyahut lirih kemudian berjalan masuk kedalam katanya;

"Aku merasa kesepian berada dalam kamar seorang diri maka sengaja datang kemari mencarimu. apakah kau tidak senang menyambut kedatanganku?"

"Oooh , senang, senang... dengan senang hati... ."

Belum sempat perkataan itu diselesaikan Liu Leng poo sudah menotok jalan darah dibawah iganya dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Berhubung jarak kedua belah pibak sangat dekat Lan Kun-pit pun sama sekali tak menyangka kalau So siau-hui bakal melancarkan sergapan kilat disaat wajahnya masih dihiasi dengan senyuman ia hanya sempat berseru tertahan, tubuhnya segera terjengkang kebelakang dan roboh terduduk diatas tanah.

Semua peristiwa ini berlangsung dalam sekejap mata, disaat Lan Kun-pit tergeletak diatas tanah itulah Kam Liu cu yang sudah menunggu diluar pintu segera menerobos masuk kedalam ruangan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, ia sambar tubuh Lan Kun-pit itu, mengempitnya dibawah ketiak lalu mengundurkan diri dari ruangan tersebut..

Secara diam-diam Wi Tiong-hong pun menyelinap masuk kedalam ruangan batu itu untuk menggantikan kedudukan Lan Kun Pit, sementara Liu Leng poo segera mengikuti dibelakang Toa suhengnya mengundurkan diri dari tempat tersebut.

Pintu kayu pun segera dirapatkan kembali seperti sedia kala, suasana tetap tenang hening dan seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu peristiwa apapun.

Sementara itu, tiga sosok bayangan manusia sudah berkelebat lewat dan lenyap dikejauhan sana bagaikan segulung asap.

Kam Liu-cu dengan mengempit Lan Kun-pit telah mengundurkan diri kejalanan semula dan kembali keatas punggung bukit, Sedangkan kakek Ou mengajak Liu Leng poo menuju ke sebuah bukit kecil, Ketika mengundurkan diri diapun membebaskan pula jalan darah dua orang petugas jaga ditempat itu.

Kedua orang penjaga tersebut rupanya merasa seakan-akan terkantuk saja, mimpi pun mereka tidak mengira kalau jalan darahnya baru saja ditotok orang.

Sementara itu, kakek Ou dan Liu Leng Poo telah bergerak mendekati sebuah bangunan rumah batu dibawah kaki sebuah bukit kecil.

So Siau hui adalah putri semata wayang dari ketua Lam hay-bun meski pihak Tok seh sia berani memusuhi dunia persilatan, tampaknya mereka tak berani memandang enteng kekuatan dari Lam hay-bun, Itulah sebabnya ruangan batu dimana So Siau hui berdiam sekarang boleh dibilang sangat indah dan megah bahkan terdapat pula dua orang dayang yang melayani segala kebutuhannya.

Sudah barang tentu kedua orang dayang tersebut bukan bertugas melayani keperluan sinona saja yang terpenting mereka justru mendapat tugas untuk mengawasi gerak gerik dari nona tersebut.

Waktu itu makan malam baru saja lewat, So Siau hui sedang duduk seorang diri didekat jendela sambil bertopang dagu dia seakan-akan sedang memikirkan suatu persoalan, Dua orang dayang berbaju hijau berdiri persis disisinya.

Mendadak.

Dua gulung desingan angin tajam menyambar tubuh kedua orang dayang tersebut tanpa menimbulkan sedikit suara pun, menyusul kemudian sesosok bayangan manusia dengan gerakan yang lebih enteng dari pada daun yang rontok telah melayang turun dalam ruangan tersebut.

Dihadapan tubuh So Siu hui, segera bertambah lagi dengan seorang kakek berbaju coklat.

Ilmu silat yang dimiliki So Siau hui tidak terhitung lemah, dalam waktu yang singkat dia telah bangkit pula sambil melompat mundur selangkah dari posisi semula.

Cepat-cepat kakek Ou berbisik.

"Nona, hamba yang datang."

So Siau hui segera membelalakan matanya lebar-lebar, kemudian berseru dengan hambar.

"Oooh, empek Ou yang datang. ada apa kau datang kemari?"

"Hamba datang untuk menolong nona dari sini"

"Menolong aku? Mengapa harus ditolong? Aku baik-baik saja ditempat ini."

Kata So Siau-hui. Kakek Ou yang mendengar perkataan tersebut menjadi tertegun. diam-diam pikirnya.

"Waah, nampaknya nona benar-benar sudah dicekoki obat penghilang ingatan. sungguh dahsyat obat penghilang ingatan itu."

Berpikir demikian dia pun bertanya lagi dengan lirih.

"Apakah nona tidak ingin pulang?"

So Siau-hui segera menarik muka dan menjawab dengan suara dalam;

"Buat apa aku mesti pulang? Hmm, bila ayah menyayangi aku, dia pun tak akan memaksaku. tempat ini baik sekali, saban hari engkoh Wi datang menjengukku, kami merasa lebih senang berdiam disini dari pada tempat manapun."

Kakek Ou yang menyaksikan keadaan tersebut segera sadar, tiada gunanya banyak berbicara dengan nona ini' terpaksa dia menyentilkan jari tangannya dan menotok jalan darah So Siau hui, kemudian membopong tubuhnya dan menyelinap keluar lewat jendela.

Pada saat itulah tanpa mengeluarkan sedikit suara pun Liu Leng poo menyelinap masuk kedalam ruangan menggantikan kedudukan So Siau hui.

Maka siasat "memetik bunga menyambung batang"

Ini pun boleh dibilang sudah mencapai keberhasilan dalam langkah yang pertama.

Dalam pada itu.

kakek Ou dengan membopong tubuh So Siau hui telah bergerak menuju kepunggung bukit.

Kam Liu-cu segera menyambut kedatangan kakek Ou samnil menyapa;

"Apakah lotiang telah berhasil menyelamatkan jiwa nona So?"

Kakek Ou manggut-manggut.

"Berhasil sih berhasil, hanya persoalannya rada serius, kesadaran nona sudah dipengaruhi oleh obat beracun sehingga wataknya sama sekali mengalami perubahan."

"Itu mah gampang."

Kata Kam Liu cu sambil tertawa.

"aku akan memasuki selat Tok Seh sia dengan dandanan sebagai Lam Sin-hu. Asalkan sudah bersama dengan Liong Cay thian. niscaya dia akan menyerahkan obat penawar racunnya. Persoalan ini tidak dapat ditunda-tunda lagi. sekarang sudah menjelang kentongan kedua, Kam-lote segera mengirim orang keluar dari lembah lalu masuk kembali kemari aku lihat masih ada kesempatan untukmu."

Kembali Kam Liu cu tertawa.

"Bila Lan Sim-hu datang ke lembah dengan maksud menolong orang, maka dalam soal waktu rasanya terlalu awal. tapi Lan Sim-hu yang akan menemui nanti hanya akan mengimbangi cara kerja saudara wi saja dengan maksuk menjadi tamu agung dari selat Tok seh sia jadi soal waktu sama sekali tidak berpengaruh bagiku."

"Kalau begitu bagus sekali!"

Seru kakek Ou sembil manggut-manggut.

"mari kita segera berangkat !"

Masing-masing dengan membopong sesosok badan diam-diam mengundurkan diri dari lembah itu.

Waktu menunjukkan hampir mendekati kentongan ketiga, tiba-tiba di dalam selat Tok seh sia muncul sesosok bayangan manusia.

Orang itu mempunyai gerakan tubuh yang sangat ringan ia menyelinap kedalam selat tersebut.

Di waktu waktu biasa, selat Tok seh sia selalu menganggap letak markas mereka kelewat rahasia dibalik hutan bambu yang mengelilingi istana racun pun di tebar racun jahat hingga mustahil ada orang yang dapat menyusup kesitu, karenanya mereka hanya mengutus beberapa orang anggotanya untuk melakukan perondaan secara bergiliran.

Saat ini malam sudah kelam, semua orang, sudah berangkat tidur, bahkan mereka yang bertugas merondapun telah pergi beristirahat didalam kamarnya kalau telah dilakukan pemeriksaan.

itupun hanya dilakukan sekali setiap berapa jam.

Sebaliknya mereka yang ditugaskan menjaga disetiap sudut bukit pun merupakan anggota selat biasa, sudah barang tentu ilmu silat yang mereka miliki sangat terbatas.

Ketika bayangan manusia itu berkelebat lewat, sesungguhnya tak seorangpun diantara mereka yang dapat melihatnya.

Tapi orang ini memang datang dengan membawa suatu maksud tertentu.

seakan-akan sedang mencari sesuatu saja.

Tampaknya apa yang sedang dicari belum tercapai, oleh karena itu sekali demi sekali dia berjalan bolak balik disekeling tempat itu sampai akhirnya jejaknya diketahui Oleh para penjaga selat tersebut.

Pada saat itulah dari atas puncak bukit kecil itu berkumandang datang suara gelak tertawa seseorang yang amat nyaring, kemudian disusul orang itu berseru.

"Sahabat dari manakah yang telah berkunjung ke selat Tok seh sia? Maaf bila aku she Liong tidak dapat menyambut kedatanganmu dari kejauhan."

Menyusul gelak tertawa itu, dari atau puncak bukit kecil itu melayang datang empat lima sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, dalam waktu singkat mereka sudah melayang turun di depan bayangan manusia yang tak dikenal itu.

Sebagai pemimpinnya adalah seorang lelaki berjubah hijau kehitam-hitaman yang bermuka persegi empat dengan alis mata yang tebal, mata tajam dan hidung seperti elang, orang ini tak lain adalah cong huhoat dari selat Tok seh sia.

pemimpin dari empat racun Liong Cay thian.

Dibelakang tubuhnya berderet empat orang kakek berjubah hijau yang semuanya berwajah dingin kaku dan sama sekali tidak berperasaan, mereka adalah keempat orany tongcu dari selat Tok seh sia....

Bersasaan waktu dengan munculnya Liong Cay-thian, dari sudut ticmur dan barat Tok seh-sia masing-masing telah muncul pula dua rombongan manusia, Orang yang muncul disudut sebelah timur adalah seorang lelaki berjenggot panjang, berperawakan tinggi kekar, bermuka merah seperti api dan memakai baju biru dengan sepatu kain, dia adalah wakil cong huhoat dari selat Tok seh sia yang bernama Siang Bu ciu, orang ini merupakan orang kedua dari empat racun raja langit, sedangkan dibelakangnya mengikuti dua orang anggota perguruannya...

Sebaliknya orang yang berada disebelah barat berperawakan kecil pendek, berwaiah penuh cambang pendek berwana kuning, kepala sempit mata seperti tikus dan memakai baju pendek warna kuning, pada punggungnya tersoren sepasang senjata yang berbentuk sangat aneh dan diikatkan pada dadanya dengan kain kuning.

Orang ini adalah orang ketiga dari Sutok thian ong yang disebut orang sebagai si serigala kuning bercakar racun Siu It-hong, dibelakangnya mengikuti pula dua orang muridnya.

Orang-orang yang muncul dari tiga penjuru itu muncul hampir bersamaan waktunya.

Tamu yang tak diundang itu nampak sedikit agak tertegun, namun dengan cepat pula dia menegakan tubuhnya sambil menghadapi kedatangan orang tersebut.

Dibawah sinar rembulan, tampak orang itu adalah seorang kakek bermuka kurus bermata tajam dan memelihara jenggot putih yang panjang, tubuhnya memakai jubah panjang berwarna biru langit, gayanya sangat keren dan berwibawa.

Tatkala raja langit bertangan racun Liong Cay thian menyaksikan orang yang berkunjung ke selat Tok seh sia tersebut adalah orang yang dikenalnya, ia nampak agak tertegun, kemudian sambil menyura serunya;

"Aaah! sungguh tidak kusangka orang yang berkunjung keselat Tok seh sia ditengah malam buta begini adalah Lan-loko. maaf bila siaute tidak menyambut sebagai mana mestinya!"

Ternyata kakek berjubah biru itu adalah ketua dari keluarga Lan di In-lam, Lan Sim hu adanya.

Selama ini keluarga Lan selalu menjagoi wilayah In-lam sehingga tanpa terasa orang sudah menganggapnya sebagai pemimpin dunia persilatan untuk wilayah In-lam.

kemunculan Lan Sin hu yang secara tiba-tiba dan begitu cepat diselat Tok seh sia, sudah barang tentu jauh diluar dugaan Liong Cay thian.

Baca Juga: Pedang Asmara Kho Ping Hoo

Baca Juga: Naga Beracun 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert