Ceritasilat Novel Online

Pisau Terbang Li 1

Eps 1 Pisau Terbang Li - Gu Long

Baca online Pisau Terbang Li - Gu Long

Cersil Pisau Terbang Li - Gu Long.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com Pisau Terbang Li Judul Asli.

Du Cing Jian Ke Wu Cing Jian atau Xiao Li Fei Dao (Sentimental Swordsman, Ruthless Sword atau Dagger Lee) Karya.

Gu Liong Dahulu judulnya PENDEKAR BUDIMAN saduran Gan KL Bab 1.

Pisau Terbang Lawan Pedang Kilat.

Angin dingin laksana pisau, menggunakan bumi sebagai alasnya, dan mengiris manusia seperti daging ikan.

Badai salju memanjang beribu-ribu mil, membuat segala sesuatu seakanakan berkilauan bagai perak.

Dalam badai musim dingin ini, sebuah kereta datang dari arah utara.

Roda-rodanya memecahkan es di tanah, tapi tidak sanggup memecahkan kesepian di muka bumi ini.

Li Sun-Hoan menguap, memanjangkan kakinya.

Di dalam kereta cukuplah nyaman, tapi perjalanan ini sungguh terlalu panjang, dan terlalu sepi.

Ia tidak hanya merasa sangat lelah, tapi juga kesal.

Ia merasa kesepian adalah hal yang paling menyebalkan dalam hidupnya, namun sayangnya kesepianlah yang begitu sering menemaninya.

Hidup seseorang memang penuh kontradiksi.

Dan tidak seorang pun bisa berbuat apa-apa.

Li Sun-Hoan menghela nafas dan mengambil botol araknya.

Sambil minum arak, ia mulai batuk-batuk.

Ia terus terbatuk-batuk sampai wajahnya memucat, seolaholah api neraka sedang membakar tubuh dan jiwanya.

Kini botol araknya sudah kosong.

Ia meraih pisau kecilnya dan mulai mengukir sebentuk manusia pada sepotong kayu.

Pisaunya tipis dan tajam, jari-jarinya panjang dan kuat.

Figur yang diukirnya adalah seorang wanita.

Wanita yang sangat cantik dan hangat.

Dengan kepiawaiannya mengukir, figur wanita itu tampak sungguh-sungguh hidup.

Ia tidak hanya memberi wajah yang memikat, ia juga memberi figur wanita itu hidup dan jiwa, karena hidup dan jiwanya sendiri telah tertuang seutuhnya di ujung pisau kecil itu.

Usianya tidak lagi muda.

Kerut-kerut kecil tampak di sekitar matanya.

Tiap kerutan menyimpan semua kegembiraan dan kesedihan dalam hidupnya.

Matanya sajalah yang tetap muda belia.

Ia memiliki sepasang mata yang menarik, bersemu hijau, seperti angin musim semi bertiup menggoyangkan daun pinus, hangat dan lentur.

Seperti air laut yang bermandikan sinar mentari, penuh vitalitas.

Mungkin karena sepasang matanya inilah, ia bisa hidup hingga hari ini.

Akhirnya, ukirannya pun selesai.

Ia menatap figur itu sambil termenung.

Entah berapa lama.

Lalu tiba-tiba didorongnya pintu kereta dan meloncat keluar.

Sang kusir langsung menarik tali kekang kuda.

Kusir ini memiliki sepasang mata yang tajam bagai elang, namun sewaktu menatap pada Li Sun-Hoan, tatapannya berubah hangat, penuh simpati dan kesetiaan.

Seperti seekor anjing menatap tuannya.

Li Sun-Hoan menggali lubang di tanah untuk mengubur hasil ukirannya.

Lalu ia termenung sambil menatap gundukan salju, tempat ia menguburkan figur wanita itu.

Jari-jarinya dingin membeku, wajahnya merah karena dingin yang menusuk, dan butiran-butiran salju menutupi sekujur tubuhnya.

Tapi ia tidak merasa dingin.

Benda yang ia kuburkan seakan-akan adalah orang yang terpenting dalam hidupnya.

Bersamaan dengan dikuburnya "wanita"

Itu, hidupnya pun menjadi penuh dengan kehampaan. Orang lain akan merasa janggal melihat ini, namun sang kusir telah terbiasa. Ia hanya berkata.

"Sudah hampir gelap dan perjalanan masih jauh. Mari naik ke atas kereta, Siauya."

Li Sun-Hoan menoleh, dan melihat di atas salju di sebelah keretanya tampak sepasang jejak kaki.

Sendirian berjalan, datang dari arah utara.

Jejak kaki itu cukup dalam, menandakan bahwa orang itu telah berjalan jauh, sangat lelah, namun menolak untuk beristirahat.

Li Sun-Hoan menarik nafas panjang dan berkata.

"Sulit dipercaya, seseorang mau bepergian dalam cuaca semacam ini. Kurasa ia pasti seseorang yang sangat kesepian, yang sangat menderita."

Sang kusir tidak menjawabnya, hanya mengeluh dalam hati.

"Bukankah kau juga sangat kesepian dan menderita? Mengapa kau hanya bisa bersimpati akan keadaan orang lain, tapi melupakan dirimu sendiri?"

Ada banyak batang pohon pinus di bawah kursi keretanya, dan Li Sun-Hoan pun mulai mengukir lagi.

Tekniknya telah sempurna dengan begitu banyak latihan, karena yang pernah dan yang akan pernah diukirnya hanyalah wanita itu.

Wanita ini tidak hanya mengisi relung-relung hatinya, tapi juga seluruh tubuhnya.

Badai salju akhirnya berhenti, tapi rasa dingin makin menusuk dan rasa sepi makin tebal.

Suara angin yang menderu membawa juga suara langkah-langkah kaki.

Walaupun suara ini lebih halus daripada derap langkah kuda, suara inilah yang dinanti-nantikan Li Sun-Hoan.

Jadi walaupun sangat halus, suara ini tak akan luput dari pendengarannya.

Disingkapnya tirai kereta, dan terlihatlah bayangan seseorang berjalan di depan.

Orang ini berjalan perlahan-lahan, tapi tidak pernah berhenti.

Walaupun ia mendengar derap langkah kuda, ia tidak menoleh sama sekali.

Ia tidak memakai topi ataupun payung.

Salju yang mencair turun dari wajah ke lehernya.

Pakaiannya pun hanya selembar baju yang tipis.

Namun kepalanya tegak, seakan-akan ia terbuat dari baja.

Salju, hawa dingin, rasa lelah, lapar, tidak dapat menaklukkannya.

Tidak ada satu hal pun yang dapat menaklukkannya.

Sewaktu kereta melewatinya, barulah Li Sun-Hoan melihat wajahnya.

Alisnya tebal, matanya besar, bibirnya yang tipis terkatup rapat membentuk garis, hidungnya lurus, membuat wajahnya tampak lebih kurus.

Wajah ini mengingatkan orang pada batu dalam pot bunga.

Kuat, kokoh, dingin, seakan-akan tidak ada hal yang cukup berarti baginya, bahkan dirinya sendiri.

Namun bagi Li Sun-Hoan, wajah ini adalah wajah yang paling gagah yang pernah dilihatnya seumur hidup.

Walaupun agak sedikit muda, sedikit kurang dewasa, wajah ini memiliki kepribadian yang magnetis.

Dalam mata Li Sun-Hoan terbayang sebentuk senyum.

Ia membuka pintu keretanya dan berkata.

"Mari masuk. Aku bisa memberimu tumpangan."

Kata-katanya pendek dan singkat, penuh tenaga.

Dalam hamparan salju tidak berujung ini, tak seorang pun akan menolak ajakannya.

Siapa sangka anak muda ini bahkan tak mau menoleh padanya!

Ia bahkan tidak memperlambat langkahnya, seakan-akan tidak mendengar orang berbicara padanya.

Tanya Li Sun-Hoan.

"Apakah kau tuli?"

Tangan anak muda itu tiba-tiba menyentuh pedang di pingganggnya. Walaupun jari-jarinya telah membeku, gerakannya tetap cepat dan tangkas. Li Sun-Hoan tertawa, katanya.

"Kurasa kau tidak tuli. Masuklah, dan mari minum. Seteguk arak tak akan menyakiti siapa pun."

Anak muda itu menjawab cepat.

"Aku tidak sanggup beli."

Bisa-bisanya anak muda ini bicara demikian! Bahkan kerut-kerut di sudut mata Li Sun-Hoan pun ingin tersenyum, tapi ia sendiri malah tidak tersenyum. Sebaliknya ia berkata.

"Aku mengundangmu minum bersamaku, bukan menjual arak padamu."

Anak muda itu menjawab.

"Aku tidak akan mengambil barang yang tidak kubeli dengan uangku sendiri. Jika arak itu tidak kubeli dengan uangku, aku tak akan meminumnya. Apakah penjelasanku cukup jelas?"

Kata Li Sun-Hoan.

"Cukup jelas."

Dan anak muda itu berkata.

"Bagus. Kau bisa pergi sekarang."

Li Sun-Hoan berpikir sejenak, tiba-tiba ia berkata sambil tersenyum.

"Baiklah. Aku pergi sekarang, tapi waktu kau sudah punya uang untuk membeli arak, maukah kau mengundangku minum?"

Anak muda itu menatapnya, lalu berkata.

"Baik, aku akan mengundangmu."

Li Sun-Hoan tertawa dan keretanya mulai melaju, sampai ia tidak dapat lagi melihat anak muda itu. Li Sun-Hoan bertanya dengan geli.

"Pernahkah kau bertemu anak seaneh itu? Aku pikir ia adalah seorang yang bijaksana, nyatanya kata-katanya sangat lugu, sangat jujur."

Jawab sang kusir.

"Ia adalah anak yang berkemauan kuat, itu saja."

Li Sun-Hoan bertanya lagi.

"Kau lihatkah pedang di pinggangnya?"

Senyum simpul terbayang di bibir sang kusir.

"Dapatkah itu dikatakan sebagai pedang?"

Dalam definisi baku, tentulah benda itu tidak dapat dianggap pedang, cuma sebilah logam yang panjangnya satu meter.

Tidak ada ujung yang lancip, tidak ada sarung, hanya ada dua potong kayu yang dipakukan pada pangkal bilah logam itu, yang mungkin bisa dianggap sebagai pegangannya.

Sang kusir melanjutkan.

"Menurut aku, itu hanya mainan anak-anak belaka."

Kali ini Li Sun-Hoan tidak tersenyum, ia bahkan menghela nafas dan berkata.

"Menurut aku, mainan itu sangatlah berbahaya. Lebih baik tidak dimainkan."

Penginapan di kota kecil ini tidak besar, namun penuh sesak dengan orang-orang yang terperangkap badai salju.

Di halaman ada banyak kereta kosong milik jasa ekspedisi.

Di sebelah timur tampak umbul-umbul milik jasa ekspedisi tersebut, yang berkibar keras sejalan dengan deru angin.

Tak bisa dibedakan lagi apakah gambar yang tertera pada umbul-umbul itu harimau ataukah singa.

Di rumah makan penginapan itu, seorang bertubuh besar dengan mantel bulu domba berjalan keluar masuk.

Setelah minum beberapa kali, ia buka mantelnya, menunjukkan pada orang-orang bahwa ia tahan hawa dingin.

Waktu Li Sun-Hoan tiba, tidak ada lagi meja kosong.

Tapi ia tidak kuatir sama sekali, karena ia tahu bahwa tidak banyak barang di dunia ini yang tidak dapat dibeli dengan uang.

Oleh sebab itu, sebentar saja ia sudah mendapatkan meja di sudut rumah makan.

Ia segera memesan arak dan mulai minum perlahan-lahan.

Ia tidak pernah minum dengan cepat, tapi ia sanggup minum terus-menerus untuk beberapa hari tanpa berhenti.

Ia terus minum, terus terbatuk-batuk, dan hari pun mulai senja.

Sang kusir masuk, berdiri di belakangnya dan berkata.

"Kamar di sebelah selatan sudah kosong, dan mereka telah membersihkannya. Tuan dapat beristirahat kapan saja."

Li Sun-Hoan hanya mengangguk. Setelah beberapa saat, sang kusir menambahkan.

"Ada beberapa orang dari Kim-say-piaukiok (jasa ekspedisi Singa Emas). Tampaknya mereka sedang mengirim barang dari perbatasan."

Tanya Li Sun-Hoan.

"O ya? Siapakah kepala rombongannya?"

Jawab sang kusir.

"Cukat Liu, si Pedang Angin Kejut."

Li Sun-Hoan menaikkan alisnya, dan berkata dengan tertawa.

"Orang ini bisa hidup sampai sekarang? Hebat betul."

Walaupun ia sedang berbicara tentang orang di belakangnya, matanya terus menatap ke depan, seakanakan sedang menantikan seseorang. Sang kusir berkata.

"Anak itu tidak berjalan cepat. Mungkin Anda harus menunggu kedatangannya sampai tengah malam."

Li Sun-Hoan tertawa, katanya.

"Aku rasa ia tidak berjalan lambat, tapi ia ingin menghemat tenaganya. Pernahkah kau melihat seekor serigala berjalan dalam padang salju? Jikalau tidak ada mangsa di depan dan musuh di belakang, pastilah ia tidak akan berjalan cepat. Karena menghabiskan tenaga dalam perjalanan adalah suatu pemborosan."

Sang kusir tertawa juga, dan berkata.

"Tapi anak itu kan bukan serigala."

Li Sun-Hoan tidak menjawab, karena saat ini ia mulai batuk-batuk lagi.

Kemudian dilihatnya tiga orang masuk dari pintu belakang, sambil berbicara keras-keras mengenai kisahkisah dalam dunia persilatan.

Seakan-akan mereka takut orang-orang tidak tahu bahwa mereka adalah orangorang penting dalam Kim-say-piaukiok (jasa ekspedisi Singa Emas).

Li Sun-Hoan mengenali orang gendut berwajah merah itu adalah Si Pedang Angin Kejut, tapi ia tidak ingin orang itu mengenalinya, sehingga ditundukkannya kepalanya untuk mengukir figur kayu lagi.

Untunglah Cukat Liu tidak pernah menanggap penting orang-orang di kota kecil.

Mereka segera memesan makanan dan arak, dan langsung mulai makan.

Sialnya, makanan dan minuman tidak menutup mulut mereka.

Setelah minum beberapa kali, Cukat Liu menjadi makin sombong dan tertawa keras-keras.

"Loji (Jisuheng), ingatkah kau saat di kaki gunung Thay-hengsan waktu kita bertemu ‚Empat Harimau Thay-hengsan’?"

Orang yang ditanya itu tersenyum.

"Bagaimana aku bisa lupa? Waktu itu ‚Empat Harimau Thay-heng-san’ beraniberaninya mengambil barang kiriman, bahkan berkata ‚Cukat Liu, kalau kau merangkak, kami bebaskan kau. Kalau tidak, kami akan ambil bukan saja barang-barang kiriman, tapi kepalamu juga sekalian."

Orang yang ketiga pun tertawa keras-keras.

"Siapa sangka belum habis mereka mengayunkan golok, Toako (kakak tertua) telah habis memenggal kepala mereka."

Orang yang kedua berkata.

"Bukannya mau sombong. Kalau soal kekuatan telapak tangan, yang paling hebat adalah ketua jasa ekspedisi kami, ‚Si Telapak Singa Emas’. Tapi kalau soal keahlian pedang, tak ada yang mengalahkan Toako (kakak tertua) kami ini."

Cukat Liu terbahak-bahak sambil mengangkat cawannya, namun tiba-tiba terdiam, sewaktu penutup barang di sampingnya tiba-tiba tertiup angin.

Dua bayangan manusia muncul.

Kedua orang ini mengenakan jubah merah darah dan topeng aneh yang biasa dipakai orang-orang di luar perbatasan.

Kedua orang ini tampaknya memiliki bentuk tubuh yang sama, dan tinggi badan yang sama pula.

Orang awam mungkin tidak melihat muka mereka, tapi dari kelihaian kung fu dan pakaian mereka, secara tidak sadar pandangan mereka terarah pada kedua orang ini.

Hanya mata Li Sun-Hoan yang tetap menatap pintu, karena sewaktu angin mulai menghempas pintu itu lagi, ia melihat anak muda itu.

Anak muda itu berdiri tegak di luar pintu, dan sepertinya ia sudah ada di sana sejak lama.

Seperti seekor binatang buas.

Walaupun ia ingin sekali merasakan kehangatan dalam penginapan dan tidak ingin pergi, ia takut untuk masuk ke dalam dunia manusia.

Li Sun-Hoan kembali menghela nafas, dan barulah sekarang ia mengalihkan perhatiannya pada kedua orang itu.

Mereka telah menanggalkan topeng, memperlihatkan wajah mereka yang buruk.

Telinga mereka kecil, hidung mereka besar, mungkin menutupi sepertiga wajah, membuat mata dan telinga mereka seolah-olah terpisah sangat jauh.

Namun mata mereka menunjukkan kejahatan, seperti mata ular.

Lalu mereka pun menanggalkan jubah mereka, dan terlihatlah baju mereka yang hitam.

Tubuh mereka pun mirip ular, kurus panjang, dan dapat menyerang kapan saja.

Membuat orang-orang merasa takut, dan juga jijik melihat mereka.

Kedua orang ini sangat mirip, hanya saja yang satu wajahnya putih, dan yang lain wajahnya hitam.

Gerakan mereka sangat lambat, membuka jubah, melipatnya, dan berjalan perlahan ke arah meja.

Kemudian mereka berjalan lewat depan Cukat Liu.

Suasana di rumah makan sangat hening, sampai-sampai suara Li Sun-Hoan mengukir pun dapat terdengar.

Cukat Liu, berpura-pura tidak melihat kedua orang ini, namun gagal.

Kedua orang ini pun menatapnya.

Mata mereka bagaikan kuas, yang menyapu Cukat Liu dari atas sampai ke bawah.

Cukat Liu hanya dapat berdiri dan bertanya.

"Bolehkah saya bertanya nama dari Tuan-Tuan yang terhormat? Maafkan kalau saya tidak mengenali."

Orang berwajah putih itu tiba-tiba berkata.

"Jadi kaulah Si Pedang Angin Kejut Cukat Liu?"

Suaranya tajam dan berdesis, seperti suara ular. Nyawa Cukat Liu seakan terbang mendengar suara ini.

"Y...ya."

Orang berwajah hitam pun tertawa dingin.

"Pantaskah kau disebut Si Pedang Angin Kejut?"

Tangannya bergetar. Sebilah pedang tipis panjang tibatiba muncul di tangannya. Pedangnya diarahkan pada Cukat Liu, dan katanya.

"Tinggalkan apa yang kau bawa, dan aku akan mengampuni nyawamu."

Orang kedua yang duduk di situ berdiri tiba-tiba. Dengan tersenyum ia berkata.

"Tuan-tuan pasti salah sangka. Dalam ekspedisi ini, barang-barang kami antar ke perbatasan, bukan sebaliknya. Kereta-kereta kami sudah kosong."

Sebelum ia dapat menyelesaikan kalimatnya, pedang orang berwajah hitam itu sudah melubangi batang lehernya.

Dengan sentakan ringan, kepalanya copot dan berguling jatuh.

Semua orang terbelalak.

Kaki mereka menggigil di bawah meja.

Cukat Liu bisa hidup sampai hari itu, pastilah karena ia memiliki keahlian.

Ia mengambil barang dari kepitan tangannya, dan diletakkannya di atas meja.

"Informasi kalian betul sekali. Kami memang membawa sesuatu dari perbatasan. Tapi sayangnya, kalian berdua tidak punya cukup keahlian untuk mengambilnya."

Orang berwajah hitam itu tergelak.

"Apa yang akan kau lakukan?"

Jawab Cukat Liu.

"Tuan-tuan sepantasnya meninggalkan jejak keahlian silat Anda di sini, supaya waktu saya pulang, saya dapat memberikan alasan."

Sambil berbicara, ia mundur tujuh langkah.

Pedang telah terhunus.

Semua orang tahu ia akan bertarung sampai mati.

Tak disangka-sangka ia malah menjungkirbalikkan meja di sampingnya.

Mangkok di meja itu penuh dengan bakso udang yang langsung melayang ke udara.

Terdengar bunyi ‚si si’ dari pedangnya, dan terlihat cahaya terang pedang itu berkelebat.

Lebih dari sepuluh bakso udang telah terbelah menjadi dua.

Kata Cukat Liu.

"Kalau Anda bisa membuat hal yang sama, saya akan segera memberikan barang ini pada Anda. Jika tidak, silakan berlalu."

Ilmu pedangnya cukup tinggi, dan kata-katanya pun cukup indah, tapi Li Sun-Hoan tertawa diam-diam.

Dengan cara ini, musuh-musuhnya hanya akan menebas bakso udang, bukan kepalanya.

Menang atau kalah, ia akan tetap hidup.

Orang berwajah hitam itu tertawa.

"Ini adalah keahlian juru masak. Kau pikir ini adalah ilmu silat?"

Sambil berbicara, ia menarik nafas panjang dan membuat potongan bakso udang di lantai mendal kembali ke udara.

Lalu, hanya dengan selarik sinar hitam, seluruh potongan bakso udang itu tiba-tiba lenyap.

Ternyata, semuanya tertusuk oleh pedangnya.

Bahkan orang yang tidak tahu silat pun tahu bahwa mengiris bakso udang di udara sangatlah sulit, namun lebih sulit lagi untuk mengumpulkannya dengan satu tusukan pedang.

Wajah Cukat Liu pucat pasi melihat ilmu pedang orang itu, dan undur lagi beberapa langkah.

Katanya.

"Saya rasa Tuan-Tuan adalah ‚Pek-hiat-siang-coa (dua ular berdarah hijau)’?"

Waktu mendengar ini, orang ketiga yang masih duduk di meja gemetar ketakutan dan berusaha merangkak pergi diam-diam.

Bahkan sang kusir di samping Li Sun-Hoan pun mengangkat alisnya, karena ia tahu bahwa beberapa tahun belakangan ini, sedikit sekali perampok di daerah Huang-ho (sungai kuning) yang dapat menandingi kedua orang ini.

Baik dari segi keahlian, maupun kekejian.

Kabarnya, jubah merah mereka adalah noda darah korban-korban mereka.

Namun sebenarnya ia pun tidak tahu banyak.

Karena orang-orang yang mengetahui apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh ‚Pek-hiat-siang-coa (dua ular berdarah hijau)’, 9 dari 10 telah kehilangan kepalanya.

Si Ular Hitam tertawa dan berkata.

"Ternyata bisa juga kau mengenali kami. Setidaknya matamu tidak buta."

Cukat Liu menggeretakkan giginya dan berkata.

"Karena Anda berdua menginginkan barang ini, saya rasa saya tidak bisa berbuat apa-apa. Ambil saja dan pergilah."

Si Ular Putih lalu berkata.

"Kalau kau mau merangkak di lantai, akan kubiarkan kau hidup. Kalau tidak, kau bukan hanya harus meninggalkan barangmu, tapi juga kepalamu."

Ini tidak lain adalah kata-kata Cukat Liu sendiri sewaktu ia sedang menyombongkan diri.

Kali ini, kata-kata itu diucapkan Si Ular Putih, dan tiap kata terasa mengiris kulitnya seperti pisau.

Wajah Cukat Liu berubah hijau, lalu menjadi pucat.

Tibatiba tubuhnya jatuh ke tanah, dan merangkak mengelilingi meja sekali.

Di saat inilah Li Sun-Hoan menghela nafas dalam-dalam, berkata pada dirinya sendiri.

"Aku melihat kepribadian orang ini telah berubah. Tidak heran ia bisa hidup begini lama."

Walaupun ia berbicara dengan lirih, kedua Ular Kembar dapat mendengarnya dan berpaling.

Tetapi Li Sun-Hoan seakan-akan tidak menyadarinya, dan terus berkonsentrasi pada ukirannya.

Si Ular Putih tertawa.

"Sepertinya di sini ada jago kungfu kelas satu. Sayang aku dan Toako tidak melihatnya."

Si Ular Hitam berkata.

"Barang ini diberikan kepada kami dengan sukarela. Kalau ada orang yang pedangnya lebih cepat daripada kita, kita pun akan secara sukarela memberikan barang ini kepadanya."

Tangan Si Ular Putih bergetar dan sebuah pedang lain muncul. Kali ini warnanya putih. Katanya.

"Jika ada orang yang pedangnya lebih cepat daripada kami, kami akan menyerahkan barang ini dan juga kepala kami kepadanya."

Mata mereka mengarah pada Li Sun-Hoan saat berbicara. Namun Li Sun-Hoan tetap berkonsentrasi pada ukirannya. Seakan-akan tidak mendengar apa-apa. Seseorang di luar tiba-tiba berteriak.

"Berapa harga kepalamu?"

Waktu mendengar ini, Li Sun-Hoan terkejut, tapi juga gembira.

Diangkatnya kepalanya, dan akhirnya terlihat olehnya anak muda itu masuk.

Bajunya belum kering betul.

Di beberapa tempat bahkan tampak membeku.

Namun ia berdiri tegak sepert tombak.

Matanya juga masih terlihat kesepian, terlihat keras.

Matanya mengandung suatu kebuasan yang tidak dapat dijinakkan.

Dapat bertempur kapan saja.

Membuat sulit bagi orang untuk dekat padanya.

Perhatian semua orang terarah pada pedang di pinggangnya.

Waktu melihat pedang ini, Si Ular Putih tertawa geli.

"Apakah kau yang bertanya?"

Anak muda itu menjawab.

"Ya."

Si Ular Putih bertanya.

"Kau hendak membeli kepalaku?"

Jawab si anak muda.

"Aku hanya ingin tahu harganya, karena aku ingin menjualnya kepadamu."

Si Ular Putih berusaha tenang dan bertanya lagi.

"Menjual kepalaku kepadaku?"

Anak muda itu berkata.

"Betul sekali. Karena aku tidak berminat akan barang itu dan juga akan kepalamu."

Si Ular Putih pun berkata.

"Sepertinya kau hanya ingin menantangku."

"Ya."

Si Ular Putih menatap anak muda itu lekat-lekat, lalu memandang ke arah pedangnya, dan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

Baru kali ini ia melihat hal selucu ini dalam hidupnya.

Anak muda itu hanya berdiri diam-diam, ia tidak mengerti apa yang sedang ditertawakan orang.

Rasanya tidak ada satupun yang lucu yang ia katakan.

Sang kusir juga menghela nafas.

Anak ini sudah gila, pikirnya.

Cukat Liu pun berpikir anak muda ini sudah hilang akal.

Tiba-tiba terdengar Si Ular Putih berkata.

"1000 tail emas pun belum dapat membeli kepalaku."

Jawab si anak muda.

"1000 tail emas terlalu banyak. Aku hanya perlu 50 tail."

Si Ular Putih berhenti tertawa, karena ia sadar anak muda ini tidak gila, dan tidak juga bercanda. Tapi kemudian ia melihat pedang itu lagi, dan kembali tergelak-gelak.

"Baiklah, jika kau mau mengikuti perintahku, kuberi kau 50 tail."

Sambil terus tertawa, ia tiba-tiba mengebaskan pedangnya ke arah lilin di atas meja.

Tak ada sesuatu pun yang terjadi.

Semua orang tercekat, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Si Ular Putih pun meniup lilin itu perlahan, dan pecahlah lilin itu menjadi tujuh bagian.

Pedangnya dikebaskan lagi dan lagi dan lagi.

Ketujuh bagian itu terkumpul di pedangnya.

Ajaibnya, api di bagian yang teratas masih terus menyala!

Si Ular Putih berkata dengan sombongnya.

"Pedangku cepat tidak?"

Wajah anak muda itu tidak bergeming, jawabnya.

"Sangat cepat."

Si Ular Putih tertawa.

"Bagaimana dengan kau?"

Jawab si anak muda.

"Pedangku bukan untuk memotong lilin."

"Lalu untuk apakah besi tua itu?"

Tangan anak muda itu memegang pedangnya, dan berkata sekata demi sekata.

"Pedangku-Adalah-Untuk-Membunuh-Orang."

Si Ular Putih tersenyum.

"Membunuh orang? Siapakah yang bisa kau bunuh?"

Kata anak muda itu.

"KAU!"

Bersamaan dengan kata ‘kau’ diucapkannya, ditusukkan pula pedangnya!

Pedang itu berasal dari pinggangnya.

Semua orang juga melihatnya.

Namun hanya dalam sekejap, pedang itu telah menusuk leher Si Ular Putih.

Semua orang juga melihat bahwa pedang satu meter ini telah menembus tenggorokan Si Ular Putih!

Tidak ada darah, sebab darah belum sempat keluar.

Anak muda itu menatap Si Ular Putih dan berkata.

"Jadi pedangmu, atau pedangkukah yang lebih cepat?"

Si Ular Putih hanya bersuara ‚ge ge’.

Otot-otot wajahnya gemetar.

Tiba-tiba mulutnya terbuka dan lidahnya terjulur ke luar.

Darah keluar dari mulutnya.

Si Ular Hitam mengangkat pedangnya, tapi tidak berani bertindak.

Butir-butir keringat bergulir dari dahinya.

Tangannya gemetar.

Anak muda itu lalu menarik pedangnya dan darah pun mengalir dari tenggorokan Si Ular Putih.

Ia berteriak keras.

"Kau..."

Lalu ia jatuh ke lantai. Anak muda itu menoleh ke arah Si Ular Hitam.

"Ia sudah kalah. Mana 50 tailku?"

Mukanya sangat serius. Serius seperti seorang anak yang lugu. Namun kali ini tidak ada seorang pun yang berani menertawakannya. Dengan gemetaran, Si Ular Hitam bertanya.

"Jadi kau benar-benar membunuhnya untuk 50 tail perak?"

"Betul sekali."

Si Ular Hitam tidak tahu apakah ia seharusnya tertawa atau menangis.

Tiba-tiba direnggutnya rambutnya dan disobek-sobeknya bajunya, sehingga uang perak berhamburan.

Dilemparkannya seluruh uang perak itu ke arah anak muda itu.

"Ini, ambillah. Ambil semuanya!"

Lalu ia berlari keluar seperti orang kesurupan.

Anak muda itu tidak mengejarnya.

Ia bahkan tidak marah.

Sebaliknya, ia berjongkok memunguti uang perak.

Dibawanya uang perak itu kepada pemilik penginapan, dan bertanya.

"Kau pikir ini ada 50 tail?"

Pemilik penginapan sudah merangkak ke bawah meja. Tak sanggup berkata-kata. Hanya menganggukanggukkan kepalanya. Li Sun-Hoan menoleh pada sang kusir, dan tertawa.

"Aku benar, kan?"

Sang kusir menghela nafas.

"Kau sangat tepat. Mainan itu sangat berbahaya."

Ia melihat anak muda itu berjalan ke arah mereka, namun ia tidak bisa melihat Cukat Liu.

Cukat Liu masih ada di koLiong meja.

Baru saat inilah ia berani muncul, dan ia membokong anak muda itu!

Pedangnya tidak lambat.

Anak muda itu pun tidak menyangka Cukat Liu akan membunuhnya.

Ia sudah membunuh Si Ular Putih.

Seharusnya Cukat Liu berterima kasih kepadanya.

Mengapa mau membunuhnya?

Ketika semua orang berpikir pedangnya akan menembus jantung si anak muda, Cukat Liu tiba-tiba berteriak keras.

Pedangnya mencelat dan tertancap di langit-langit.

Pedangnya masih berayun-ayun di langit-langit, sementara tangan Cukat Liu kini memegang tenggorokannya.

Matanya terarah pada Li Sun-Hoan, dan bola matanya hampir melompat keluar.

Li Sun-Hoan tidak lagi mengukir, sebab pisau yang digunakannya untuk mengukir tidak ada lagi di tangannya.

Darah mengalir ke punggung Cukat Liu.

Ia menatap Li Sun-Hoan, dan dari tenggorokannya keluar suara ‚ge ge’.

Saat itulah orang-orang sadar bahwa pisau ukir Li Sun-Hoan telah berada di tenggorokan Cukat Liu.

Hanya saja, tidak seorang pun melihat bagaimana pisau ini berpindah.

Keringat membasahi wajah Cukat Liu yang kesakitan.

Tiba-tiba dikatupkannya mulutnya dan dicabutnya pisau itu dari lehernya.

Ia memandang Li Sun-Hoan sambil berteriak.

"Seharusnya sudah kukenali engkau!"

Li Sun-Hoan mengeluh.

"Sayangnya, baru sekarang kau menyadarinya. Kalau kau tahu, kau tidak akan mencoba melakukan hal yang memalukan itu."

Cukat Liu tidak mendengar kata-kata ini.

Ia tidak akan pernah mendengar apa-apa lagi.

Anak muda itu pun menoleh, wajahnya terkejut.

Ia tidak mengerti mengapa orang ini ingin membunuhnya.

Tapi hanya sebentar ia memandang, lalu berjalan kembali ke arah Li Sun-Hoan.

Di balik penampilannya yang liar dan tidak beraturan, tersembunyi secercah kehangatan dan senyuman.

Ia berkata singkat.

"Aku ingin mengundangmu minum."

Bab 2.

Teman Akrab Tersimpan dalam Lautan Kereta kuda kini penuh dengan botol-botol arak.

Arak ini dibeli oleh si anak muda, jadi ia minum sebotol demi sebotol, menikmati kelezatannya.

Li Sun-Hoan memandangnya dengan gembira.

Jarang sekali ia bertemu seseorang yang menarik perhatiannya, tapi anak muda ini sungguh-sungguh menarik.

Tiba-tiba si anak muda meletakkan botol araknya dan menatap Li Sun-Hoan.

"Mengapa kau mengundangku ke dalam keretamu untuk minum?"

Li Sun-Hoan tertawa.

"Karena penginapan itu bukan tempat yang baik untuk kita duduk lama-lama."

"Kenapa?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Siapa pun juga yang membunuh orang, ia akan terlibat dalam persoalan. Aku tidak takut membunuh, tapi aku benci persoalan."

Anak muda ini berpikir sejenak, lalu mulai minum lagi. Li Sun-Hoan tersenyum sambil memadang si anak muda, mengagumi wajahnya saat ia minum. Tak selang berapa lama, anak muda ini pun mengeluh.

"Membunuh memang bukan pekerjaan yang menyenangkan. Tapi ada beberapa orang di dunia ini yang harus dibunug. Jadi aku harus membunuh mereka!"

Li Sun-Hoan tertawa.

"Benarkah kau membunuhnya untuk 50 tail perak?"

Anak muda itu menjawab.

"Walaupun tanpa uang, aku pasti membunuhnya. Tapi mendapatkan 50 tail kan lebih baik lagi."

Li Sun-Hoan bertanya.

"Mengapa 50 tail?"

Jawabnya.

"Karena harganya memang sebegitu."

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Banyak orang di kalangan persilatan yang sepantasnya mati. Dan beberapa berharga lebih dari 50 tail perak. Kau mungkin bisa jadi kaya raya nantinya."

Kata anak muda itu.

"Sayangnya aku sangat miskin. Kalau tidak, seharusnya kuberikan kepadamu 50 tail itu."

"Kenapa?"

"Karena kau bantu aku membunuh orang itu."

Li Sun-Hoan tertawa senang "Kau salah. Orang itu tidak berharga 50 tail. Sebenarnya ia tidak berharga sepeserpun."

Tiba-tiba ia bertanya.

"Taukah kau mengapa ia ingin membunuhmu?"

"Tidak."

"Karena walaupun Si Ular Putih tidak membunuhnya, ia telah membuat Cukat Liu kehilangan muka di dunia persilatan. Kau membunuh Si Ular Putih. Hanya dengan membunuhmu, ia bisa mendapatkan kembali kehormatannya. Itulah mengapa ia harus membunuhmu. Orang-orang kalangan persilatan sangat licik, jauh di luar bayanganmu."

Anak muda itu tenggelam dalam pikirannya. Lalu berkata.

"Kadang-kadang hati manusia lebih kejam daripada hati harimau. Setidaknya, jika harimau itu ingin memakanmu, ia akan memberitahukan kepadamu lebih dulu."

Ia meneguk araknya, lalu melanjutkan.

"Tapi yang kudengar hanyalah manusia mengatakan harimau itu kejam. Tidak pernah harimau berkata bahwa manusia kejam. Kenyataannya, harimau membunuh untuk bertahan hidup. Tapi manusia membunuh untuk alasanalasan lain. Dan sejauh pengetahuanku, jauh lebih sering manusia mati dibunuh sesamanya, daripada dibunuh harimau."

Li Sun-Hoan menatapnya.

"Itukah sebabnya kau lebih suka bergaul dengan harimau?"

Anak muda itu berpikir lagi, dan tiba-tiba tertawa.

"Masalahnya cuma satu, mereka tidak minum arak."

Inilah kali pertama Li Sun-Hoan melihat senyumannya.

Sebelumnya ia tidak sadar bahwa senyum dapat mengubah seseorang begitu rupa.

Wajah anak muda itu selalu kesepian, selalu keras, membuat Li Sun-Hoan berpikir ia seperti serigala di tengah salju.

Namun waktu ia tersenyum, kepribadiannya berubah total.

Ia menjadi sangat hangat, sangat akrab, sangat manis.

Li Sun-Hoan belum pernah melihat seorang pun yang dapat tersenyum begitu memikat.

Tiba-tiba anak muda ini bertanya.

"Apakah kau sungguhsungguh orang terkenal?"

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Kadang-kadang jadi orang terkenal tidak menguntungkan."

"Tapi aku ingin sekali jadi orang terkenal. Aku ingin jadi orang yang paling terkenal di seluruh dunia."

Dia mengucapkannya dengan sangat lugu. Li Sun-Hoan tertawa lagi.

"Setiap orang ingin terkenal. Hanya saja kau lebih jujur dari kebanyakan orang."

Kata anak muda itu.

"Aku berbeda dari kebanyakan orang. Aku HARUS terkenal. Jika aku tidak terkenal, aku harus mati."

Li Sun-Hoan terbelalak mendengar kata-katanya.

"Mengapa?"

Anak muda itu diam saja.

Tapi dapat terlihat kepedihan yang dalam di matanya.

Li Sun-Hoan baru menyadari bocah lugu ini ternyata menyimpan banyak rahasia.

Masa kecilnya pastilah penuh dengan kesedihan dan kesengsaraan.

Maka Li Sun-Hoan berkata dengan hangat.

"Jika kau ingin terkenal, paling tidak beri tahu aku namamu."

Anak muda itu terdiam cukup lama, lalu menjawab.

"Orang-orang biasa memanggilku A Fei."

"A Fei?"

Li Sun-Hoan tertawa.

"Jadi shemu adalah ‘Ah’? Tidak ada orang di dunia ini yang bershe itu."

Anak muda itu menjawab keras.

"Aku TIDAK punya she!"

Kobaran api muncul di matanya.

Li Sun-Hoan menyadari bahwa air mata pun takkan sanggup memadamkan api ini.

Tapi ia tidak sanggup untuk bertanya lagi.

Tidak disangkanya bahwa anak muda itulah yang melanjutkan.

"Waktu aku benar-benar terkenal, mungkin akan kuberitahukan sheku. Tapi sekarang..."

Li Sun-Hoan berkata dengan suara lembut.

"Sekarang aku panggil kau A Fei."

Anak muda itu girang.

"Baiklah, sekarang kau panggil aku A Fei. Sejujurnya, kau boleh memanggilku apa saja."

Kata Li Sun-Hoan.

"A Fei, mari bersulang."

Baru habis setengah cawan, Li Sun-Hoan mulai batukbatuk lagi.

Wajahnya yang pucat menandakan ia punya penyakit berat.

Namun tetap dihabiskannya cawan itu.

Ah Fe menatapnya bingung, bagaimana orang seterkenal itu sangat buruk kesehatannya.

Tapi ia tidak berkata sepatah kata pun.

Dihabiskannya cawannya sendiri.

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Tahukah kau mengapa aku suka kau menjadi sahabatku."

A Fei diam saja, maka Li Sun-Hoan melanjutkan.

"Karena dari semua teman-temanku, hanya engkaulah yang melihatku terbatuk-batuk tapi tidak menyuruhku berhenti minum."

Kata A Fei.

"Apakah tidak boleh minum kalau sedang batuk?"

"Sebenarnya menyentuh alkohol pun tak boleh."

Maka tanya A Fei.

"Lalu mengapa kau minum terus? Apakah kau punya masa lalu yang menyedihkan?"

Mata Li Sun-Hoan langsung meredup, dan memandang A Fei.

"Apakah aku bertanya sesuatu yang tidak ingin kau jawab? Apakah aku bertanya di mana orang tuamu? Siapa gurumu? Dari mana asalmu? Hendak pergi ke mana?"

"Tidak."

"Lalu mengapa kau tanyakan itu padaku?"

A Fei duduk terdiam. Lalu tersenyum.

"Takkan kutanyakan lagi."

Li Sun-Hoan juga tersenyum. Tampaknya ia ingin bersulang lagi, namun waktu diangkatnya cawannya, ia mulai batuk-batuk lagi. A Fei membuka jendela kereta, tapi tiba-tiba kereta berhenti.

"Apa yang terjadi?"

Tanya Li Sun-Hoan. Sang kusir menjawab.

"Seseorang menghalangi jalan."

"Siapa?"

"Orang-orangan salju."

Mereka turun dari kereta. Li Sun-Hoan bernafas pelan, tapi A Fei menatap orang-orangan salju seperti baru pertama kali melihat dalam hidupnya. Li Sun-Hoan berpaling padanya dan bertanya.

"Kau belum pernah melihat orang-orangan salju?"

Jawab A Fei.

"Aku hanya tahu bahwa salju sangat menjengkelkan.Ia tidak hanya membawa hawa dingin, tapi juga membuat tanaman mati, binatang bersembunyi, orang-orang kesepian dan kelaparan."

Ia membuat bola salju dan melemparkannya. Bola salju itu jatuh di tempat yang cukup jauh, pecah, dan kemudian hancur. Matanya pun menerawang jauh.

"Bagi mereka yang cuku makan dan cukup pakaian, mungkin salju adalah hal yang indah. Bukan hanya mereka dapat membuat orang-orangan salju, mereka pun dapat menikmati pemandangan indah padang salju seperti ini. Tapi bagi orang seperti aku....."

Tiba-tiba ditatapnya Li Sun-Hoan.

"Apakah kau tahu bahwa bagi seseorang yang tumbuh di alam bebas seperti aku, angin, salju, es, dan hujan adalah musuh terbesar?"

Li Sun-Hoan juga membuat sebuah bola salju dan berkata.

"Aku tidak benci salju, tapi aku benci orang yang menghalangi jalanku."

Dilemparnya bola salju itu ke arah orang-orangan salju.

Anehnya, orang-orangan itu tidak jatuh.

Hanya saljunya menjadi retak, sehingga terlihat sesuatu di dalamnya.

Ada manusia asli dalam salju!

Tapi sudah mati.

Wajah orang mati tidak pernah rupawan, tapi wajah ini sungguh mengerikan.

"Si Ular Hitam!"

Jerit A Fei.

Mengapa Si Ular Hitam mati di sini?

Mengapa pembunuhnya membuatnya sebagai orangorangan salju?

Sang kusir menarik mayat itu dari salju dan memeriksanya dengan teliti.

Mencoba menemukan penyebab kematiannya.

Li Sun-Hoan bertanya.

"Kau tahu siapa pembunuhnya?"

Jawab A Fei.

"Aku tidak tahu."

Kata Li Sun-Hoan.

"Barang itu."

"Barang apa?"

Li Sun-Hoan melanjutkan.

"Barang itu berada di atas meja, sehingga aku tidak memperhatikannya. Tapi sewaktu Si Ular Hitam pergi, barang itupun lenyap. Oleh sebab itu kupikir ia berlagak gila untuk mengalihkan perhatian orang banyak, dan kabur dengan barang itu."

"Oh, begitu."

Sahut A Fei.

"Namun takkan pernah disangkanya bahwa barang itu akan mengakibatkan kematiannya. Pembunuhnya juga menginginkan barang itu."

Tidak ada seorang pun yang tahu kapan pisau itu kembali ada di tangannya.

"Benda apakah itu? Mengapa begitu banyak orang menginginkannya? Mungkin seharusnya aku mencuri lihat."

A Fei mendengarkan dengan seksama, tapi tiba-tiba ia memotong.

"Jikalau pembunuh itu menginginkan barang itu, mengapa harus membuat dia sebagai orang-orangan salju dan menghalangi jalan kita?"

Li Sun-Hoan terkejut.

Walaupun anak muda ini tidak berpengalaman dalam hidup, sangat lugu, namun pikirannya sangat pandai.

Tak bisa dibandingkan bahkan dengan orang-ornag berpengalaman di dunia persilatan.

A Fei melanjutkan.

"Orang itu pasti telah memperhitungkan bahwa tidak ada orang lain yang melewati jalan ini. Hanya engkau. Maka orang-orangan salju itu ditaruhnya untuk menghalangi jalanmu."

Li Sun-Hoan tidak menjawab, hanya bertanya.

"Apakah kau temukan lukanya yang mematikan?"

Namun sebelum sang kusir sempat menjawab, Li Sun-Hoan menyambung.

"Tak usahlah."

A Fei menambahkan.

"Betul sekali. Orang-orang itu sudah ada di sini, kenapa harus dicari lagi."

Ketajaman pendengaran dan penglihatan Li Sun-Hoan dianggap paling hebat di dunia.

Dia tidak percaya, anak muda pendengaran anak muda ini pun sama baiknya.

Anak muda ini memiliki kemampuan alami binatang buas, dapat menangkap hal-hal yang tidak bisa ditangkap orang biasa.

Li Sun-Hoan memberinya tawa puas.

"Karena kalian semua sudah tiba, mengapa tidak keluar dan minum bersama?"

Salju di atas pohon di tepi jalan tiba-tiba luruh. Seseorang tertawa senang.

"Sudah sepuluh tahun tidak berjumpa. Tak disangka Li-tamhoa masih tetap muda. Harus diberi selamat."

Saat itu seseorang berlengan satu dengan pandangan bagai elang muncul dari dalam hutan.

Seseorang yang lain muncul juga dari sisi lain jalan.

Orang ini kurus kecil.

Tubuhnya seperti tulang belulang dengan sedikit gumpalah daging di sana-sini.

Mungkin angin sepoi-sepoi pun dapat meniupnya pergi.

A Fei langsung menyadari bahwa orang ini tidak meninggalkan jejak secuil pun di atas salju.

Untuk seseorang dapat tidak meninggalkan jejak, walaupun ia beruntung memiliki badan yang ringan, ia tetap harus memiliki tenaga dalam yang hebat.

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Aku baru saja kembali dari perbatasan setengah bulan. Namun Cah-congpiauthau (ketua) Kim-say-piaukiok (jasa ekspedisi Singa Emas) dan Sin-heng-bu-eng (Si Pengelana Tanpa Bayangan) Kijisiansing, berdua datang menemui aku. Reputasiku pasti cukup baik."

Orang tua yang kecil itu tersenyum licik.

"Tampaknya ketenaran Li-tamhoa bukan bualan saja. Ingatanmu baik sekali. Kita bertemu hanya satu kali tiga belas tahun yang lalu, namun kau masih ingat aku, orang tua yang tidak berguna ini." ['Tamhoa' adalah gelar dalam kerajaan Cina kuno, yang diberikan kepada orang yang menempati urutan ke-3 dalam ujian kerajaan. Ujian ini adalah untuk menyaring pejabat negara.] Baru sekarang A Fei menyadari bahwa kaki orang tua itu pincang. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana seorang pincang dapat menjadi ahli kungfu meringankan tubuh. Ia tidak tahu bahwa karena cacad sejak lahir, ia melatih kungfunya lebih giat untuk menutupi kekurangannya. A Fei tidak bisa tidak menghormati orang ini. Li Sun-Hoan terkekeh.

"Kau sudah susah-payah mengundang teman-teman lain. Apakah tidak akan kau perkenalkan mereka pada kami?"

Ki-jisiansing menjawab dingin.

"Benar. Mereka juga mendengar ketenaranmu dan ingin bertemu."

Saat ia berbicara, muncullah empat orang dari dalam hutan.

Walaupun hari masih siang, Li Sun-Hoan bergidik melihat keempat orang ini.

Empat orang ini tampak dewasa, tapi berpakaian seperti anak-anak.

Mengenakan pakaian warna cerah dengan motif bunga-bunga.

Sepatu mereka pun sepatu anakanak dengan gambar harimau di depan.

Tatakan liur pun terikat di pinggang.

Sorot mata mereka menggambarkan kedewasaan, namun tingkah laku mereka seperti bocah.

Orang yang melihat pasti merasa muak, ingin muntah.

Yang paling menarik adalah gelang yang mereka kenakan di tangan dan kaki ada kerincingannya, sehingga ribut sekali waktu mereka berjalan.

Waktu sang kusir melihat empat orang ini, ia langsung berkata.

"Si Ular Hitam tidak dibunuh oleh seseorang."

Li Sun-Hoan mendengus.

"Heh?"

Kata sang kusir.

"Ia terbunuh oleh racun kalajengking."

Roman wajah Li Sun-Hoan berubah.

"Kalau begitu, empat orang ini pastilah murid Ngo-tok-tongcu (Si Anak 5 Racun)." ‘Anak’ berbaju kuning tertawa.

"Kau menghancurkan orang-orangan salju yang kami buat susah-payah. Kau harus membayarnya."

Sambil mengatakan ‘membayarnya’, ia meloncat ke arah Li Sun-Hoan, namun kerincingannya tidak berbunyi.

Li Sun-Hoan hanya tersenyum padanya, tidak bergerak sama sekali.

Tapi Ki-jisiansing juga meloncat, menghalangi ‘anak’ berpakaian kuning itu.

Menariknya ke samping.

’Singa Emas’ berdiri tiba-tiba dan tertawa keras.

"Li-Tamhoa ini kaya raya. Jangankan orang-orangan salju, orang-orangan emas pun sanggup dibayarnya. Kalian berempat jangan gegabah. Aku akan memperkenalkannya pada kalian." ‘Anak’ berpakaian merah menambahkan.

"Aku tahu ia juga ahli makan, minum, wanita, dan judi. Maka aku selalu berharap ia dapat membantu kami mencari kesenangan." ‘Anak’ berpakaian hijau berkata.

"Aku juga tahu dia cukup berpendidikan, bahkan mendapat gelar Tamhoa dalam ujian kerajaan. Kudengar ayahnya dan kakeknya pun semua bergelar Tamhoa." ‘Anak’ berpakaian merah itu terkikik.

"Sayangnya Li kecil yang satu ini tidak ingin jadi pejabat pemerintah, malah lebih senang jadi maLing."

Walaupun yang lain tampak tidak peduli akan apa yang sedang dibicarakan, A Fei melongo mendengar informasi ini.

Tidak disangkanya bahwa sahabat barunya memiliki hidup yang sangat menakjubkan.

Ia tidak tahu bahwa orang-orang ini hanya memilih cerita yang spektakuler dari kehidupan Li Sun-Hoan.

Kisah hidup Li Sun-Hoan yang lengkap, tak akan selesai dalam waktu tiga hari tiga malam.

A Fei juga tidak melihat bahwa walaupun tersenyum, mata Li Sun-Hoan menggambarkan kepedihan yang mendalam.

Seakan-akan hatinya akan terkoyak mendengar orang membicarakan masa lalunya.

Tiba-tiba Ki-jisiansing berkata dengan wajah serius.

"Kalian memang tahu banyak tentang Li Tamhoa. Tapi pernahkah kalian dengar Siau Li Sin To (Pisau Kilat si Li Ajaib), Tak ada bandingannya di koLiong langit, sekali lempar, TIDAK PERNAH luput!" ‘Anak’ berpakaian kuning pun tertawa.

"Sekali pisau itu dilempar, tidak pernah luput. Pantas saja kau takut aku mati oleh pisaunya, dan kau tak bisa menjelaskannya pada Tuanku. Itu sebabnya kau menghalangiku."

Li Sun-Hoan berkata sambil tersenyum.

"Tapi semua orang boleh tenang. Pisauku yang kedua tidak sehebat itu. Dan pisauku yang pertama tak akan mampu membunuh enam orang sekaligus."

"Jika semua mau menuntut balas untuk Cukat Liu, silakan maju." ‘Singa Emas’ tertawa dua kali.

"Cukat Liu tidak pantas hidup. Mengapa harus merepotkan Li-heng ?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Jika tidak ada yang mau menuntut balas, apakah kalian memang datang untuk menemaniku minum?"

Ki-jisiansing menjawab dingin.

"Kami hanya ingin barang itu."

Li Sun-Hoan mengernyitkan keningnya.

"Barang?"

"Ya, barang itu harus dikirim oleh jasa ekspedisi. Kalau tidak, reputasi Kim-say-piaukiok (jasa ekspedisi Singa Emas) akan hancur."

Li Sun-Hoan menoleh pada mayat Si Ular Hitam.

"Maksudmu barang itu tidak ada padanya?"

Jawab ‘Singa Emas’.

"Li-heng memang pandai berkelakar. Dengan adanya Li-heng di tempat itu, bagaiman Si Ular Hitam dapat mengambil barang itu?"

Li Sun-Hoan menghela nafas.

"Aku paling benci persoalan dalam hidup. Mengapa persoalan selalu berhasil menemukanku?" ‘Singa Emas’ seolah-olah tidak mendengarnya. Ia terus bicara.

"Li-heng hanya perlu menyerahkan barang itu dan aku akan segera pergi dan akan kuberikan arak juga pada Li-heng ."

Li Sun-Hoan memainkan pisau di tangannya. Tiba-tiba ia tersenyum.

"Kau benar. Barang itu ada padaku. Tapi aku tidak tahu apakah aku harus menyerahkannya padamu atau tidak. Beri aku waktu untuk berpikir."

Ki-jisiansing bertanya.

"Berapa lama?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Dua jam saja. Setelah dua jam, kita bertemu lagi di sini."

Ki-jisiansing tidak ragu-ragu menjawab.

"Jadi!"

Ia tidak berkata apa-apa lagi sebelum pergi. ‘Anak’ berbaju kuning itu terkikik.

"Dalam waktu satu jam saja kau sudah bisa menghilang. Mengapa perlu dua jam?"

Kata Ki-jisiansing.

"Sejak Li Tamhoa masuk dunia persilatan dan sebelum ia mundur, ia telah bertanding lebih dari 300 kali. Tidak pernah sekali pun ia menghindar."

Mereka datang dengan cepat dan pergi dengan lebih cepat. Sekejap saja, mereka telah menghilang ke dalam hutan. A Fei memecahkan keheningan.

"Kau tidak mempunyai barang itu."

"Betul."

"Lalu mengapa kau berbohong?"

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Walaupun aku tidak mengambilnya, mereka tidak akan percaya. Pertarungan tak bisa dielakkan lagi. Lebih baik mengaku saja, daripada berdebat panjang."

"Jika pertarungan pasti terjadi, mengapa harus menunda?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Kita harus menemukan seseorang dalam dua jam ini."

"Siapa?"

"Orang yang mencuri barang itu."

Lalu sambung Li Sun-Hoan.

"Malam itu, ada tiga orang di meja itu. Dua sudah mati. Kita harus menemukan orang yang ketiga."

A Fei berpikir dalam-dalam.

"Kau maksud orang yang mengenakan mantel warna ungu, dengan cambuk di pinggangnya, dan bulu di telinganya?"

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Kau hanya melihatnya sekejap saja, tapi kau bisa mengingat begitu detil!"

"Aku memang melihatnya untuk sekejap. Sekejap saja sudah cukup."

"Kau benar. Dialah orangnya. Dari semua orang di rumah makan malam itu, hanya dia seorang yang tahu betapa berharganya barang itu. Ia berdiri di samping agar tidak ada orang yang memperhatikan. Maka ia punya kesempatan untuk membawanya pergi. Dan karena barang itu sangat berharga, ia ingin memilikinya. Tapi ia takut ketahuan, maka dilaporkannya bahwa akulah pencurinya."

Sambil tersenyum simpul ia lanjutkan.

"Untung bukan baru kali ini aku difitnah."

Kata A Fei.

"Itulah sebabnya mereka bisa tahu di mana engkau berada."

"Betul sekali."

"Tapi supaya ‘Singa Emas’ tidak mencurigainya, ia pasti masih ada di sekitar sini."

"Betul lagi."

"Oleh sebab itu, pastilah ia bersama-sama dengan orangorang ‘Singa Emas’. Jadi kita hanya perlu menemukan mereka, untuk menemukan pencuri itu!"

Li Sun-Hoan menepuk bahunya.

"Kau hanya perlu berkelana di dunia persilatan 3-5 tahun, dan semua orang jahat pasti akan sulit hidup. Kuharap waktu kita bertemu lagi, kita masih bersahabat."

Ia tertawa keras sambil melanjutkan.

"Karena aku sungguh tidak ingin menjadi musuhmu."

A Fei terdiam memandangnya. Lalu katanya.

"Kau ingin aku pergi sekarang?"

Kata Li Sun-Hoan.

"Ini urusanku sendiri. Tak ada sangkut-pautnya dengan kau. Mereka tidak mencari engkau? Jadi buat apa kau terus di sini?"

A Fei bertanya lagi.

"Kau tidak ingin aku terlibat persoalan yang ruwet ini? Atau kau hanya tidak ingin bepergian denganku?"

Li Sun-Hoan memandangnya sedih, walaupun senyum tetap tersungging di bibirnya.

"Di dunia ini, tidak ada pesta yang tidak selesai. Akhirnya kita tetap harus berpisah. Mengapa harus kita permasalahkan sekarang atau nanti."

Wajah A Fei menjadi suram. Lalu diambilnya dua cawan arak dari dalam kereta.

"Mari kita bersulang sekali lagi."

Li Sun-Hoan minum cawan itu sekali teguk.

Ia ingin tersenyum, tapi malah jadi terbatuk-batuk.

A Fei memandangnya tanpa berkata-kata, lalu dengan cepat berbalik dan pergi.

Saat itulah, mulai lagi turun salju.

Suasana begitu sunyi, sampai terdengar bunyi butiran salju menyentuh tanah.

Li Sun-Hoan menatap punggung A Fei yang menghilang di antara salju dan angin.

Pandangannya beralih ke tanah yang mulai tertutup salju, pada sepasang jejak yang kesepian.

Segera dituangnya lagi secawan arak.

Katanya.

"Anak muda. Aku bersulang untukmu sekali lagi."

"Aku yakin kau tahu, sebenarnya aku tak ingin kau pergi. Hanya saja masa depanmu sangat cerah. Bersamaku, hanya kesulitan yang akan kau dapatkan. Aku adalah seseorang yang sudah berkawan erat dengan persoalan, kesialan, mara bahaya, dan kesedihan. Aku tak mampu.... punya kawan lagi."

Namun A Fei tidak dapat mendengar perkataan ini.

Sang kusir masih berdiri mematung di situ.

Ia tidak berkata-kata, dan walaupun tubuhnya penuh salju, ia tidak bergerak.

Li Sun-Hoan minum lagi.

Lalu berpaling padanya.

"Tunggu aku di sini. Lebih baik kau kuburkan tubuh Si Ular. Aku akan kembali dua jam lagi."

Sang kusir menundukkan kepalanya.

"Aku tahu telapak Singa Emas sangat terkenal, tapi itu dilebih-lebihkan saja. Kau hanya perlu 40 jurus untuk mengalahkannya."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Mungkin tak lebih dari 10 langkah."

"Bagaimana dengan Ki-jisiansing?"

"Ilmu meringankan tubuhnya cukup baik, dan ia pun ahli senjata rahasia. Tapi aku rasa, tak akan ada kesulitan menghadapinya."

Kata sang kusir.

"Kudengar murid-murid Ngo-tok-tongcu (Si Anak 5 Racun) memiliki kungfu yang sangat aneh. Dari yang aku lihat, kungfu mereka memang berbeda dari kebanyakan orang."

Li Sun-Hoan memotong ucapannya dengan tawa.

"Jangan kuatir. Aku tidak takut pada orang-orang ini. Mereka sama sekali bukan masalah."

Sang kusir masih tegang.

"Kau tak perlu berbohong. Aku tahu perjalanan kita kali ini sangat berbahaya. Siauya, tak seharusnya engkau membiarkan Fei-siauya (tuan Fei) pergi."

Li Sun-Hoan menjadi sedikit berang.

"Sejak kapan kau mulai omong kosong?"

Semburnya.

Mulut sang kusir langsung terkatup, dan menunduk semakin dalam.

Selang beberapa saat, diangkatnya wajahnya.

Li Sun-Hoan telah pergi, suara batuknya sayup-sayup terdengar.

Siapa pun yang mendengar suara batuk yang terusmenerus di tengah padang salju, tak bisa tidak merasa iba.

Sampai akhirnya, deru angin menutupi suara batuk itu.

Setetes air mata jatuh di pipi sang kusir.

Ia berkata pada dirinya sendiri.

"Siauya, kita hidup dengan tentram di perbatasan. Mengapa kau ingin pulang ke tempat yang penuh kesedihan dan duka ini? Tak dapatkah kau melupakannya setelah 10 tahun? Masihkah kau ingin berjumpa dengannya? Namun setelah kau berjumpa dengannya pun, kau tak ingin berbicara padanya. Mengapa kau timpakan penderitaan ini pada dirimu sendiri?"

Ketika masuk ke dalam hutan, wajah Li Sun-Hoan yang riang dan cakap tiba-tiba berubah, berubah menjadi seorang pemangsa.

Telinganya, hidungnya, tiap lajur otot dalam tubuhnya menyisir setiap inci hutan, tak meluputkan apa pun juga.

Selama 20 tahun ini, belum pernah ada seorang pun yang lolos dari kejarannya.

Walaupun gerakannya gesit seperti seekor kelinci, ia tidak terburu-buru.

Seperti penari yang hebat, dalam situasi apa pun ia tetap dapat mempertahankan keanggunan dan kemantapannya.

Sepuluh tahun yang lalu, waktu ia menyerahkan segala miliknya dan pergi ke perbatasan, ia pun lewat jalan ini.

Waktu itu, bunga musim semi mulai bermekaran.

Ia ingat, ada warung arak kecil di sekitar sini.

Ia selalu mampir ke situ untuk minum.

Walaupun araknya mungkin bukan yang terbaik, pemandangannya tak disangkal lagi.

Gunung di sebelah sananya, dan air terjun.

Waktu itu banyak pelancong.

Ia mengawasi pasangan-pasangan pelancong itu sambil minum araknya yang terasa pahit, secawan demi secawan.

Berpikir ia akan pergi untuk selamanya.

Kenangan ini tak akan pernah dilupakannya.

Tapi kini, tak disangkanya ia datang kembali.

Sepuluh tahun.

Pastilah semuanya orang-orang baru.

Pelayan kecil itu telah menikah.

Pasangan yang saling mencintai itu telah tiada.

Bahkan pohon persik itu, kini terbenam dalam salju.

Oh, betapa dirindukannya, bahwa warung kecil itu masih ada.

Ia berpikir demikian bukan karena kenangan lama, tapi karena ia rasa orang yang dicarinya ada di sana.

Walaupun dunia dalam salju sungguh berbeda dengan dunia angin musim semi, pemandangan itu masih menusuk hatinya.

Uang, kekuasaan, ketenaran, status sosial, itu semua mudah dilepaskan.

Namun kenangan indah, kenangan yang manis itu.

Bagai jerat yang membelenggunya, sehingga ia tidak bisa lepas.

Tak pernah merasa bebas.

Li Sun-Hoan mengambil sebotol arak dan minum seluruhnya.

Ia baru mulai berjalan lagi setelah selesai batuk-batuk yang panjang.

Ia benar-benar menemukan warung kecil itu.

Ia teringat, di musim semi bunga-bunga liar tak bernama mekar di mana-mana.

Ia biasa minum arak di situ sambil menikmati indahnya bunga-bunga liar.

Kini semua telah berubah.

Ia melihat sebuah kereta kuda, dan mendengar suara kuda di belakang.

Li Sun-Hoan tahu tebakannya benar.

Mereka memang ada di sini!

Karena dalam cuaca seperti ini, di daerah seperti ini, tak mungkin ada tamu lain.

Ia mempercepat langkahnya, menjadi lebih waspada, dan memicingkan telinga sejenak.

Tak ada suara apa pun dari dalam warung.

Segera ia melesat ke arah warung itu.

Waktu ia sudah sangat dekat, ia tak dapat percaya.

Selain suara kuda dari belakang, tak ada suara lain.

Li Sun-Hoan menuju ke arah pintu dan lantai kayu menderik.

Ia terkejut dan mundur selangkah.

Tetap sunyi senyap.

Li Sun-Hoan mengindap-indap ke belakang, berpikir.

"Mungkin mereka tidak di sini."

Namun kemudian terlihat olehnya ‘Singa Emas’, yang sedang menatapnya lekat-lekat. Tidak bergerak, seperti patung. Li Sun-Hoan menghela nafas.

"Sungguh tak kusangka."

Hanya tiga kata itu yang terucap.

Karena kemudian ia menyadari bahwa ‘Singa Emas’ tak akan pernah lagi mendengar suara apa pun.

Bab 3.

Mustika yang Menggoyahkan Hati Manusia Li Sun-Hoan memandang sekali lagi.

Leher ‘Singa Emas’ telah ditusuk!

Namun badannya masih berdiri tegak!

Artinya, siapa pun pembunuhnya, ia memiliki keahlian pedang yang tinggi.

Ketepatannya!

Kecepatannya!

Setelah pedang si pembunuh menembus leher ‘Singa Emas’, ia segera menariknya kembali, tanpa sedikit pun tenaga tambahan.

‘Singa Emas’ terlihat sedang siaga, bahkan sampai setelah pedang itu menembus lehernya, ia tidak bergerak sama sekali.

Tubuhnya terkesan santai.

Bukan main cepatnya pedang itu!

Li Sun-Hoan sungguh terkejut.

Ia tahu, ‘Singa Emas’ sudah terkenal lebih dari 20 tahun, dan tidak pernah terlibat persoalan besar.

Jasa ekspedisinya pun sangat terkenal.

Ini menandakan bahwa ia patut dikagumi.

Akan tetapi, tanpa bisa memberi perlawanan, seseorang berhasil menusukkan pedang ke lehernya.

Menusukkan pedang pada boneka kayu, menariknya kembali, dan menjaga boneka kayu itu tetap berdiri saja adalah sangat sulit.

Li Sun-Hoan berputar dan masuk ke dalam warung.

Hanya ada satu meja yang berisi mangkuk-mangkuk makanan.

Tapi makanan itu belum disentuh sama sekali.

Demikian juga araknya.

Keempat murid Ngo-tok-tongcu (Si Anak 5 Racun) juga telah menjadi mayat!

Kepala mereka mengarah ke luar, dan kaki ke arah dalam.

Wajah mereka penuh keceriaan.

Mereka pun mati dengan tusukan sebilah pedang di tenggorokan!

Lalu dilihatnya Ki-jisiansing di sudut ruangan.

Tangannya memegang erat sebuah senjata rahasia.

Namun sebelum ia sempat menyambitkannya, ia pun mati dengan tusukan pedang di lehernya.

Li Sun-Hoan tidak tahu apakah ia harus merasa kaget atau senang.

Ia hanya bisa menggumam.

"Pedang yang sangat, sangat cepat."

Jika ini terjadi dua hari yang lalu, ia tidak akan tahu siapakah orang yang memilki keahlian pedang semacam ini.

Dulu memang ada ahli pedang dengan julukan Soateng-cu (Si Elang Salju).

Ia dianggap nomor satu di dunia persilatan.

Memang ia memliki ketepatan dan kecepatan, tapi yang jelas ia tidak telengas seperti ini.

Di samping itu, ia sudah lama mengundurkan diri dan tidak mungkin datang ke tempat ini hari ini.

Jago-jago silat masa lalu, seperti Sim Long, Him Mau-ji, Ong Lian-hoa, mereka semua dikabarkan sudah mati atau telah mengundurkan diri.

Dan lagi, tak ada di antara mereka yang jago pedang!

Selain orang-orang ini, Li Sun-Hoan tidak tahu siapa lagi yang memiliki keahlian semacam ini, sampai hari ini.

Hari ini ia tahu.

Orang itu tak lain adalah anak muda yang misterius dan penyendiri, A Fei!

Li Sun-Hoan memejamkan matanya, membayangkan bagaimana A Fei masuk ke ruangan ini.

Keempat ‘anak’ itu pasti mengerubunginya.

Namun sebelum mereka bisa bergerak, pedang A Fei – cepat bagai kilat dan mematikan bagai ular – telah menembus leher mereka.

Ki-jisiansing masih berdiri di samping, menunggu saat yang tepat untuk menyambitkan senjata rahasianya.

Ia memang terkenal ahli meringankan tubuh dan senjata rahasia.

Li Sun-Hoan menghela nafas.

"Mainan. Seseorang berkata pedangnya adalah mainan."

Tiba-tiba matanya tertuju ke dinding. Ia melihat ada huruf-huruf terukir di sana.

"Kau membunuh Cukat Liu untukku. Aku membunuh mereka untukmu. Aku tidak lagi berhutang padamu. Aku tahu tidak baik untuk berhutang!"

"Aku hanya membunuh satu orang untukmu. Namun kau bunuh enam untukku. Kau tahu seseorang tak boleh berhutang. Lalu mengapa kau buat aku berhutang padamu?"

Gumam Li Sun-Hoan. Lalu ia terus membaca.

"Walaupun kubunuh lebih banyak orang untukmu, situasinya berbeda. Satu orang yang kau bunuh, sama dengan enam yang kubunuh. Jadi kau tidak berhutang padaku."

Mau tidak mau, Li Sun-Hoan tergelak.

"Caramu menghitung memang tidak pandai. Jangan sampai kau punya usaha dagang di kemudian hari."

Di dinding juga ada tanda panah menunjuk ke ruang dalam.

Li Sun-Hoan bergerak ke arah anak panah itu.

Waktu ia masuk ke dalam ruangan itu, tiba-tiba sebilah pedang menyambutnya!

Sebilah pedang yang mengkilat, dengan ujung pedang mengarah ke dadanya!

Orang yang memegang pedang adalah seorang tua.

Jenggotnya tidak panjang, namun kerut-merut terlukis di seluruh wajahnya.

Ia menudingkan pedangnya dan berseru.

"Siapa kau?"

Ia ingin membentak lebih keras, namun tidak bisa karena ia gemetaran. Li Sun-Hoan segera mengenalinya. Ia tersenyum.

"Tak ingatkah kau padaku?"

Orang tua itu menggelengkan kepalanya. Kata Li Sun-Hoan.

"Tapi aku ingat engkau. Kau pemilik warung ini kan? Sepuluh tahun yang lalu aku datang beberapa kali untuk minum arak."

Mata orang tua itu tidak lagi menyelidik, tapi pedangnya masih menuding ke dada Li Sun-Hoan.

"Siapa namamu?"

"Sheku Li."

Orang tua itu lalu menghembuskan nafas lega. Pedangnya jatuh berdentang ke lantai.

"Jadi kau adalah Li… Li Tamhoa. Aku sedang menunggumu."

"Menungguku?"

Sahut orang tua itu.

"Seorang anak muda yang gagah datang ke sini dan membunuhi orang-orang jahat. Ia membiarkan aku hidup. Ia mengatakan kau akan berkunjung. Ia ingin aku menyerahkan seseorang kepadamu. Kalau tidak, ia akan membunuhku."

"Di mana orang itu?"

"Di dapur."

Dapur itu cukup luas. Dan sangat bersih. Ada seseorang di sana, terikat pada sebuah kursi. Orang itu kecil kurus, dan tampak bulu-bulu keluar dari telinganya."

Li Sun-Hoan sudah tahu bahwa A Fei pasti membiarkan orang itu hidup untuk diinterogasi.

Namun orang ini sungguh terkejut melihat Li Sun-Hoan.

Mukanya langsung memucat, tapi tak bisa bicara.

Memang A Fei telah mengikatnya kuat-kuat dan menyumpal mulutnya dengan kain.

Ia takut orang ini berusaha menakut-nakuti atau berusaha menyuap si orang tua.

Saat itu Li Sun-Hoan baru menyadari bahwa A Fei sangat teliti.

Namun mengapa tak ditotoknya saja orang itu?

Pisau Li Sun-Hoan berkilat, dan sekejap saja kain yang menyumpal mulut orang itu telah lepas.

Orang itu hampir pingsan.

Ia ingin memohon belas kasihan, namun mulutnya sangat kering, ia tidak bisa bicara.

Li Sun-Hoan pun tidak memaksanya.

Ia duduk, dan meminta orang tua itu membawakan araknya yang terbaik.

"Namamu?"

Wajah orang itu kini tampak kuning. Ia berusaha membasahi bibirnya dengan lidahnya, dan menjawab dengan tergagap.

"Cayhe Ang Han-bin."

Kata Li Sun-Hoan.

"Aku tahu kau bisa minum. Ini minumlah secawan."

Ia memutuskan tali belenggu orang itu, dan menyorongkan cawan arak padanya. Orang itu sungguh tercengang. Ia takut untuk menerimanya, tapi takut juga untuk menolaknya. Li Sun-Hoan tertawa.

"Jika ada orang menawariku arak, takkan pernah kutolak."

Ang Han-bin menerima cawan itu. Tangannya masih gemetaran. Akhirnya diminumnya cawan itu. Setengahnya tumpah membasahi bajunya. Li Sun-Hoan mengeluh.

"Sayang sekali. Jikalau kau meniru aku, berlatih mengukir dengan pisau, tanganmu tak akan gemetar. Mengukir kayu membuat seseorang menjadi tenang dan stabil. Ini rahasia kecilku."

Lalu dituangnya lagi arak ke dua cawan, dan sambil tertawa berkata.

"Ingatlah, jangan menyia-nyiakan arak yang lezat."

Kali ini Ang Han-bin menyambut cawan itu dengan kedua tangannya. Takut menumpahkannya lagi, ia minum seluruhnya sekali teguk."

Kata Li Sun-Hoan.

"Bagus sekali. Aku tidak tahu banyak hal dalam hidup ini, tapi aku telah memberitahukan kepadamu dua pelajaran yang berharga. Bagaimana kau akan berterima kasih padaku?"

Jawab Ang Han-bin.

"A..aku…"

Lalu kata Li Sun-Hoan.

"Kau tak perlu berbuat apa-apa. Berikan saja barang itu padaku dan aku akan merasa puas."

Ang Han-bin menarik nafas.

"Barang apa?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Kau tidak tahu?"

Ang Han-bin memaksakan untuk tersenyum.

"Aku sungguh-sungguh tidak tahu."

Li Sun-Hoan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kupikir orang menjadi lebih jujur setelah mereka minum. Kau sungguh-sungguh mengecewakanku."

Ang Han-bin hanya bisa tersenyum kecut.

"Tuan L…Li, pastilah ada kesalahpahaman. Saya benar-benar tidak tahu."

Wajah Li Sun-Hoan menegang.

"Kau minum arakku, lalu kau tipu aku? Kembalikan arakku sekarang juga."

Jawab Ang Han-bin.

"Baiklah. Aku akan pergi membeli arak."

Li Sun-Hoan berkata.

"Aku ingin dua cawan yang sudah kau minum, bukan arak yang kau beli."

Ang Han-bin berusaha tenang, ia menyeka keringat dengan lengan bajunya, lalu berkata terputus-putus.

"Ta..tapi, arak itu sudah ada dalam perutku. Bagaimana aku mengembalikannya?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Gampang saja."

Pisau itu berkilat lagi, dan tiba-tiba ujungnya telah sampai di depan perut Ang Han-bin. Tambahnya dengan dingin.

"Karena arak itu sudah ada dalam perutmu, tinggal kubuka saja untuk mengambilnya kembali."

Wajah Ang Han-bin menjadi putih seperti kertas, tapi ia masih memaksakan diri untuk tersenyum.

"Li-tayhiap, mengapa kau berkelakar?"

Li Sun-Hoan menjawab tajam.

"Apakah aku kelihatan sedang bercanda?"

Ditekannya pisau itu sedikit ke perut Ang Han-bin, dan darah keluar sedikit.

Karena hanya pengecut yang biasa berbohong, dan waktu pengecut melihat darahnya sendiri ia akan berkata-kata dengan jujur.

Wajah Ang Han-bin masih tersenyum, seakan-akan ia tidak merasa sakit sedikitpun.

Mata Li Sun-Hoan berkedip, dan tangannya berhenti menekan.

Pengecut ini ternyata tidak bisa diancam dengan pisau, namun Li Sun-Hoan tidak memperlihatkan kekagetannya.

Sebaliknya ia tersenyum dan berkata.

"Kau telah masuk dalam dunia persilatan cukup lama, bukan?"

Ang Han-bin tidak menyangka akan pertanyaan itu. Ia meneguhkan hatinya dan menjawab dengan senyum.

"20 tahun sudah."

Lalu kata Li Sun-Hoan.

"Jadi kau pasti tahu ada beberapa mustika di dunia ini yang diketahui banyak orang, tapi hanya sedikit yang pernah melihatnya. Salah satunya…."

Ditatapnya Ang Han-bin lekat-lekat, dan dilanjutkan kalimatnya perlahan-lahan.

"ialah Kim-si-kah . Katanya baju ini tidak tembus senjata, dan tak dapat terbakar. Karena kau sudah berkecimpung selama 20 tahun, pastilah kau pernah mendengarnya."

Wajah Ang Han-bin kini tampak seperti kain pel.

Ia segera melompat, hendak melarikan diri.

Gerakannya sangat gesit, dalam sekejap saja ia telah sampai di pintu.

Hanya saja, waktu ia hendak keluar, Li Sun-Hoan menghadangnya.

Ang Han-bin mengertakkan giginya, berbalik dan menghunus tombak rantai peraknya.

Bagai ular, tombak itu menyerang ke arah Li Sun-Hoan.

Mungkin sudah 20-30 tahun ia melatih ilmu tombak ini.

Waktu ia memainkan jurus ini, rantai peraknya menjadi lurus, menggulung angin dan menyambar ke arah tenggorokan Li Sun-Hoan.

Terdengar bunyi ‘Tang’.

Li Sun-Hoan hanya mengangkat tangannya yang masih memegang cawan arak, dan menggunakan cawan itu untuk menangkis ujung tombak.

Tombak itu tidak memecahkan cawan.

Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata.

"Jika ada seseorang yang berusaha membujukku untuk berhenti minum, akan kutunjukkan padanya keuntungan minum arak. Dan bahwa cawan arak pernah menyelamatkan jiwaku."

Ang Han-bin berdiri mematung. Keringat bertetesan di wajahnya bagai air hujan. Kata Li Sun-Hoan.

"Jika kau tidak ingin bertempur lagi, tanggalkan Kim-si-kah itu. Anggaplah itu pembayaran atas dua cawan arak."

Ang Han-bin bertanya.

"Kau sungguh-sungguh menginginkannya?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Aku bukannya menginginkan barang itu. Kau telah mencurinya di depan hidungku. Ini berarti kau memang punya keahlian. Tapi tak seharusnya kau membual dan mengatakan pada orang lain bahwa akulah pencurinya. Aku tidak suka difitnah."

"Kau benar. Aku memang mengambil barang itu. Dan barang itu memang Kim-si-kah . Tapi, tapi…"

Ia sangat gelisah, sampai-sampai air matanya pun mengalir. Li Sun-Hoan berkata.

"Kim-si-kah adalah mustika yang memberi perLindungan. Apa kegunaannya bagimu? Aku dapat membunuhmu dengan satu sambitan. Mengapa kau menghabiskan tenagamu untuk mempertahankannya?"

Lanjutnya lagi.

"Ini bukanlah barang yang seharusnya kau miliki. Jikalau kau berikan barang ini padaku, mungkin kau dapat hidup beberapa tahun lagi."

Jawab Ang Han-bin.

"Aku pun tahu aku tidak cukup berharga untuk mustika itu. Namun aku tidak mengambilnya untuk diriku sendiri."

Li Sun-Hoan terkejut.

"Jadi kau mencurinya untuk orang lain? Siapakah dia?"

Ang Han-bin menggigit bibirnya. Saking kerasnya, sampai darah keluar. Li Sun-Hoan berkata dengan tenang.

"Aku punya macammacam cara untuk memaksa orang berbicara, namun aku tak suka cara-cara itu. Jadi aku sungguh berharap kau tidak memaksaku untuk menggunakannya."

Akhirnya Ang Han-bin menghembuskan nafas.

"Baik. Aku akan bicara."

Kata Li Sun-Hoan.

"Lebih baik kau mulai dari awal."

Ang Han-bin mulai bicara.

"Pernahkah kau dengar Sinthau (MaLing Sakti) Te Ngo? Ia bukan siapa-siapa, jadi mungkin Li-tayhiap tidak tahu."

Li Sun-Hoan tertawa.

"Aku tahu dia, bahkan mengenalnya cukup akrab. Ilmu meringankan tubuh dan jurus-jurus kungfunya cukup hebat. Lagian dia juga suka minum."

Lanjut Ang Han-bin.

"Kim-si-kah (Rompi Benang Emas) ini dicurinya dari suatu tempat."

"O ya? Lalu bagaimana bisa sampai padamu?"

Jawab Ang Han-bin.

"Ia dan Cukat Liu adalah sahabat karib. Kami berjumpa dengan dia beberapa waktu lalu dan minum bersama. Waktu dia mabuk berat, ia keluarkan rompi itu untuk pamer. Cukat Liu sungguh iri hati, dan…."

Wajah Li Sun-Hoan mengeras.

"Kalian bisa melakukan hal serendah itu, tapi mengapa tak berani mengakuinya?"

Ang Han-bin menundukkan kepala.

"Te Ngo tahu bahwa semua orang di dunia persilatan menginginkan Kim-sikah ini. Seharusnya ia tidak mabuk."

Li Sun-Hoan menyahut dingin.

"Bukannya dia tidak seharusnya mabuk. Seharusnya dia tidak berkawan dengan orang yang salah."

Wajah Ang Han-bin yang pucat bersemu merah. Kata Li Sun-Hoan.

"Kim-si-kah ini dikabarkan sebagai satu dari ‘Tiga Mustika Dunia Persilatan’. Tapi sebenarnya fungsinya tidak banyak. Mungkin hanya berguna sewaktu dua jago silat bertempur. Orang biasa yang memilikinya, lebih mungkin mati karena barang ini. Jadi, aku tak bisa mengerti mengapa orang sangat menginginkannya. Pasti ada alasan lain, bukan?"

Jawab Ang Han-bin.

"Ya, ada satu rahasia. Namun rahasia ini bukan rahasia lagi, karena…."

Sampai di situ, pemilik warung membawa masuk dua botol arak. Katanya sambil tersenyum.

"Ini adalah arak yang istimewa. Pembesar Tamhoa sebaiknya minum secawan sebelum melanjutkan."

Li Sun-Hoan tersenyum pahit.

"Jika kau ingin aku sering datang ke sini, jangan kau panggil aku seperti itu. Tiap kali aku mendengarnya, aku kehilangan selera minum."

Cawan arak masih ada di tangannya. Ia tuang arak itu secawan penuh. Tercium bau harum arak, dan suasana hatinya pun membaik. Pujinya.

"Sungguh arak istimewa."

Ia minum arak, dan mulai batuk-batuk. Orang tua itu menarik kursi untuk Li Sun-Hoan duduk. Katanya.

"Batuk itu buruk untuk kesehatan. Hati-hatilah."

Orang tua itu tersenyum dan melanjutkan bicaranya.

"Akan tetapi, arak ini cocok sekali untuk menyembuhkan batuk. Jika kau meminumnya, kujamin kau tak akan batuk lagi."

Li Sun-Hoan tertawa.

"Jika arak dapat menyembuhkan batuk, itu baik sekali. Mengapa kau tak minum secawan juga?"

Kata orang tua itu.

"Aku tidak minum arak."

Li Sun-Hoan bertanya.

"Kenapa? Penjual pangsit lebih suka makan bakpao. Jadi penjual arak lebih suka minum air putih?"

Jawab orang tua itu.

"Biasanya aku minum satu dua cawan. Tapi aku tidak bisa minum arak ini."

Tiba-tiba matanya bersinar licik. Li Sun-Hoan pura-pura tidak melihat. Ia terus tersenyum dan bertanya.

"Mengapa?"

Mata orang tua itu terpaku pada pisau di tangannya, dan berkata.

"Karena jika aku minum arak itu dan menggunakan sedikit tenaga, aku akan mati keracunan."

Lidah Li Sun-Hoan kelu. Namun Ang Han-bin menjadi gembira.

"Tak kusangka kau mau menolongku. Akan kuberi kau hadiah yang besar nanti."

Orang tua itu menjawabnya dingin.

"Tak usah kau berterima kasih padaku."

Perangai Ang Han-bin berubah, walaupun senyumannya tidak hilang.

"Cianpwe, kau sungguh pandai menyembunyikan jati dirimu. Kurasa kau juga menginginkan…."

Saat berbicara, dihunusnya tombak rantai peraknya. Tubuh kecil orang tua itu tiba-tiba bertambah tinggi satu kaki. Diputarnya tangan kirinya dan ditangkapnya ujung tombak itu. Bentaknya.

"Kau pikir kau cukup hebat untuk bertarung denganku?"

Orang tua penakut ini dalam sekedipan mata telah berubah menjadi orang lain.

Wajahnya pun menjadi bercahaya.

Ang Han-bin melihat wajahnya yang aneh, dan teringat pada seseorang.

Ia langsung mulai memelas.

"Cianpwe, jangan ambil nyawaku. Aku tidak mengenali Cianpwe sebagai…"

Tapi ia terlambat.

Kepalan kanan si orang tua telah tertuju padanya.

Setelah terdengar suara ‘Bang’, tubuh Ang Han-bin mencelat ke atas, dan rantai di tangannya putus menjadi dua.

Darah langsung mengalir waktu tubuhnya menghantam tembok.

Kekuatan pukulan ini sungguh luar biasa.

Li Sun-Hoan menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.

"Sudah kukatakan. Dengan memilki Kim-sikah ini, kau akan mati lebih cepat."

Orang tua itu melempar tombak yang tinggal separuh itu ke lantai, lalu memandangi tubuh Ang Han-bing. Kerutmerutnya muncul lagi. Kata Li Sun-Hoan.

"Kau sudah tidak membunuh selama 20 tahun, bukan?"

Orang itu memandangnya dan berkata.

"Tapi aku belum lupa caranya."

Li Sun-Hoan bertanya.

"Apakah harus membunuh untuk hal semacam ini?"

Jawab orang tua itu.

"Dua puluh tahun yang lalu, aku tidak butuh alasan untuk membunuh."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Namun dua puluh tahun telah lewat. Bersembunyi selama dua puluh tahun tidaklah mudah. Mengumbar identitasmu hanya untuk ini, sungguh disayangkan."

Orang tua itu bertanya.

"Jadi kau tahu siapa aku?"

Li Sun-Hoan tertawa.

"Kau seharusnya tidak lupa. Dua puluh tahun yang lalu Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe sangatlah terkenal. Namun ia berani membawa lari istri kepala Perserikatan 72 Pelabuhan Daerah Selatan (Kanglam). Keberanian semacam ini patut dikagumi."

Kata orang tua itu.

"Bahkan dalam keadaanmu seperti ini, kau masih sanggup bicara semacam itu."

Sahut Li Sun-Hoan lagi.

"Jangan berpikir aku sok pintar. Seorang laki-laki yang berani mempertaruhkan nyawa demi wanita yang dicintainya patut dianggap laki-laki sejati. Selama ini aku sangat menghormati engkau. Tapi sekarang…."

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

"sekarang aku sangat kecewa, karena kupikir kau bukanlah orang yang licik. Kau hanya berani meracuniku. Tak berani menantangku bertarung."

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe memandang padanya sesaat. Sebelum ia berbicara, terdengar tawa seorang yang lain, katanya.

"Kau tak boleh menyalahkan dia. Mengenai ilmu racun, ia tidak tahu apa-apa."

Suara ini milik seorang wanita. Merdu sekali. Li Sun-Hoan tertawa.

"Kau benar. Aku harusnya sudah tahu bahwa ini adalah buah karya Jiang-wi Hujin. Li Sun-Hoan sungguh merasa puas dapat mati di tangan seorang ratu kecantikan dari dua puluh tahun silam."

Suara itu terkikik saat berkata.

"Dasar perayu. Jika aku bertemu engkau dua puluh tahun yang lalu, mungkin aku takkan melarikan diri dengan dia."

Sambil tertawa ia keluar.

Setelah dua puluh tahun, ia tidak tampak terlalu tua.

Matanya masih tetap memikat, giginya putih bersih, namun pinggangnya….

Sebenarnya, tak bisa dikatakan bahwa ia punya pinggang.

Bentuk tubuhnya seperti gentong.

Reaksi Li Sun-Hoan seperti baru saja menelan sebutir telur bulat-bulat.

Jadi inikah Jiang-wi Hujin?

Ia tak bisa mempercayai penglihatannya.

Jiang-wi Hujin mengenakan mantel warna merah.

Parfumnya dapat tercium dari jarak satu kilometer.

Ia memandang Li Sun-Hoan sambil tertawa manis dan berkata.

"Betapa gagahnya Li-Tamhoa. Tak heran kau begitu terkenal. Aku belum pernah bertemu dengan orang segagah engkau dalam dua puluh tahun belakangan. Namun dua puluh tahun yang lalu…"

Ia menghela nafas sebelum melanjutkan.

"dua puluh tahun yang lalu aku hidup bergelimang harta. Orangorang muda yang gagah memohon-mohon untuk berkencan denganku. Jika mereka dapat memandangku dan bercakap-cakap semenit saja, mereka merasa bagaikan di awang-awang. Kalau kau tidak percaya, tanya saja dia."

Wajah Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe terlihat muram, ia tidak ingin bicara.

Li Sun-Hoan memandang leher Jiang-wi Hujin dan lemak yang menggelambir, lalu menoleh pada Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe dan merasa sedikit kasihan.

Ia baru tahu bahwa hidup laki-laki ini dalam dua puluh tahun terakhir tidaklah bahagia.

Jiang-wi Hujin mengeluh lagi.

"Namun dua puluh tahun ini sangat berat bagiku. Aku harus terus bersembunyi dalam kamar yang sumpek, karena takut keluar. Aku sangat menyesal lari dengan si tolol ini."

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe juga mengeluh.

"Siapa di sini yang tidak menyesal?"

Jiang-wi Hujin membanting kakinya dan berteriak.

"Apa katamu? Ulangi lagi kalau berani! Wanita terhormat seperti aku merelakan kedudukannya yang nyaman untuk tinggal di gubug reyot denganmu. Seorang ratu kecantikan, telah kau rusak sampai seperti ini. Dan kau masih berani bilang kau menyesal?"

Hidung Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe seakan-akan keluar asap, namun ia diam saja. Jiang-wi Hujin kemudian berkata lagi.

"Li-Tamhoa, katakan padaku apakah laki-laki ini punya hati? Kalau aku tahu akan jadi begini, aku lebih baik sudah bunuh diri."

Ia mengejap-ngejapkan matanya, tapi sayang air mata tak bisa keluar. Li Sun-Hoan tersenyum.

"Tapi untungnya nyonya tidak mati. Kalau tidak, aku pasti menyesal telah hidup."

Jiang-wi Hujin tersenyum bangga.

"Kau begitu ingin bertemu denganku?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Tentu saja. Di mana dapat kutemukan kecantikan yang begini gemuk?"

Wajah Jiang-wi Hujin memucat, namun Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe tak bisa menahan gelak tawanya. Kata Li Sun-Hoan lagi.

"Sesungguhnya nyonya pun tak memerlukan Kim-si-kah . Karena sekali pun kau dipotong menjadi dua, rompi itu tak akan muat."

Jiang-wi Hujin menggertakkan giginya dan berkata.

"Aku sebaiknya tidak membuatmu mati perlahan-lahan."

Ia mencabut sebatang jarum yang amat tipis dari selasela rambutnya dan berjalan ke arah Li Sun-Hoan. Li Sun-Hoan tetap duduk, tidak bergerak. Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe lalu berkata.

"Kita kan sudah mendapatkan rompi itu, mari kita pergi saja. Kenapa kita harus mengurusi dia?"

Jiang-wi Hujin membentak.

"Kau tidak usah mencampuri urusanku!"

Li Sun-Hoan benar-benar tak sanggup bergerak, ia hanya bisa menatap si nyonya.

Siapa sangka, pada saat jarum itu hendak menembus mata Li Sun-Hoan, tiba-tiba Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe menendang dari belakang.

Begitu keras, sampai si nyonya terpental ke langit-langit.

Waktu ia jatuh lagi ke tanah, ia sudah hampir mati.

Li Sun-Hoan sungguh terperanjat.

Ia tak bisa tidak bertanya.

"Kau membunuhnya demi aku?"

Dengan marah Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe menjawab.

"Dua puluh tahun sudah aku harus menahan diri mendengar ocehannya. Aku hampir gila. Kalau aku tidak membunuhnya sekarang, mungkin setengah tahun lagi, akulah yang akan mati."

Kata Li Sun-Hoan.

"Bukankah ini yang kau inginkan? Tak ingatkah kau dua puluh tahun silam…."

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe memotongnya.

"Kau kira akulah yang merayunya?"

"Jadi bukan kau?"

"Waktu aku bertemu dengannya, aku sungguh tidak tahu bahwa ia adalah istri Nyo si jenggot. Makanya aku mau…."

Dua kali ia menghela nafas panjang, lalu melanjutkan.

"Siapa yang menyangka bahwa sebetulnya dialah yang memaksa aku membawanya pergi. Saat itu, Nyo si jenggot telah mengutus 20 jago-jago silat ke tempatku. Aku harus pergi."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Setidaknya ia mencintaimu. Kalau tidak mengapa ia melakukannya?"

"Cinta padaku? Hei, hei."

Dikertakkan giginya sambil tertawa sumbang.

"Sesudah itu, baru aku tahu bahwa ia memanfaatkan aku. Ternyata, waktu suaminya pergi untuk urusan bisnis, ia mempunyai kekasih gelap, dan melahirkan anaknya. Ia tidak tahu bagaimana harus mengaku pada suaminya, jadi ia mengambil uang dan melarikan diri dengan kekasihnya."

Li Sun-Hoan terkejut.

"Masa iya? Sepertinya masih ada lagi lanjutannya."

Sambung Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe.

"Lalu siapa sangka kekasihnya itu mencuri perhiasan yang dibawa si nyonya, lalu kabur begitu saja? Ia tidak mendapatkan lelaki itu, tidak juga mendapatkan uangnya. Tapi untunglah ia bertemu denganku."

"Jika kau sudah tahu, mengapa kau tidak membeberkannya?"

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe tertawa getir.

"Waktu aku tahu, semua sudah terlambat. Diucapkannya waktu ia mabuk berat. Aku tak bisa lagi mengatakan apa-apa, sekalipun aku mau."

"Bagaimana dengan anak itu?"

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe terdiam. Li Sun-Hoan bertanya lagi.

"Setelah kau tahu, kau seharusnya langsung membunuhnya. Apa yang kau tunggu?"

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe tetap diam. Kata Li Sun-Hoan.

"Aku kan hampir mati. Mengapa tak kau beritahu padaku?"

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe berpikir agak lama, lalu menjawab.

"Ada untungnya membuka warung arak. Aku bisa mendengar macam-macam berita. Tahukah kau apa berita yang sedang hangat saat ini?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Aku tidak punya warung."

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe menengok ke kiri kanan, seakanakan takut ada orang yang ikut mendengarkan. Lalu ia berbicara dengan suara kecil.

"Tidakkah kau dengar? Dari tiga puluh tahun yang lalu, yang tiada tandingannya Bwe-hoa-cat beraksi kembali!"

Rasa tertarik Li Sun-Hoan langsung muncul ketika nama Bwe-hoa-cat diucapkan. Kata Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe lagi.

"Waktu Bwe-hoa-cat merajai dunia persilatan dulu, kau masih sangat kecil. Mungkin kau tidak tahu kehebatannya. Tapi kuberitahu kau sekarang, tidak seorang pun tahu siapa sebenarnya orang ini. Bahkan Pangcu Tiam-jong-pay, si jago pedang nomor wahid saat itu, Go Bun-thian, mati di tangannya. Orang ini berpindah sangat cepat secara misterius. Go Bun-thian baru saja menurunkan titah untuk membunuhnya, keesokan harinya Go Bun-thian sudah mati. Hanya saja…."

Kembali ia menengok kanan kiri.

Seakan takut jika Bwehoa-cat muncul dari balik punggungnya.

Tapi tak ada seorang pun yang muncul.

Bahkan suara salju yang turun ke atas atap dapat terdengar.

Barulah Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe lega dan melanjutkan lagi.

"di dadanya ada 50 lubang dengan bentuk bunga Bwe. Tiap lubang sangat kecil, seperti lubang jarum. Semua orang tahu ini adalah lambang Bwe-hoa-cat . Tapi tak seorang pun tahu senjata rahasia macam apakah ini, karena tidak seorang pun yang bertempur dengannya masih hidup. Satu hal yang pasti, ia adalah seorang laki-laki."

"O ya?"

Jawab Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe.

"Karena selain menyukai harta benda, ia juga suka memperkosa gadis-gadis. Semua orang dalam dunia persilatan, golongan putih dan hitam, semua benci padanya, tapi tidak ada seorang pun sanggup mengalahkannya. Setiap kali seseorang berkata ia akan turun tangan, orang itu pasti mati dalam tiga hari. Semuanya dengan tanda itu di dadanya."

Li Sun-Hoan menegaskan.

"Jadi semua orang yang mati di tangannya mendapat tanda itu di dadanya?"

"Ya. Dada adalah perLindungan utama tubuh manusia, namun Bwe-hoa-cat selalu menyerang ke sana, tanpa kecuali. Seolah-olah jika tidak dilakukannya, orang takkan tahu betapa hebatnya dia."

Maka tertawalah Li Sun-Hoan.

"Itulah sebabnya kau pikir dengan memakai rompi itu kau dapat menghadapi Bwe

KANG ZUSI at

http.//cerita-silat.co.cc/ hoa-cat . Dan dengan menangkapnya, kau bisa kembali terkenal. Semua orang akan berterima kasih padamu. Dan tidak ada seorang pun yang akan mengungkit masa lalumu."

Mata Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe bercahaya dan ia berkata.

"Katanya, kalau kau dapat menghindar dari serangan pertamanya, kau akan menang."

Wajahnya penuh kegembiraan dan ia pun melanjutkan.

"Karena serangan pertamanya TIDAK PERNAH gagal, ia tidak pernah memikirkan serangan berikutnya. Ia menjadi terbuka untuk diserang balik."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Sangat masuk akal."

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe tertawa senang.

"Kalau tidak masuk akal, buat apa orang berlomba-lomba mendapatkan rompi ini."

Kata Li Sun-Hoan lagi.

"Tapi kau sudah menjalani kehidupan yang tenang dua puluh tahun ini. Buat apa terjun lagi ke dunia persilatan?"

Bab 4. Kecantikan yang Menyentuh Sanubari Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe menjawab.

"Kau tahu apa? Jika aku berhasil membunuh Bwe-hoa-cat , tidak saja akan kudapatkan ketenaran, tapi juga banyak keuntungan yang lain."

"Apa?"

Jawab Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe.

"Setelah Bwe-hoa-cat menghilang tiga puluh tahun yang lalu, orang menyangka dia pergi untuk selama-lamanya. Siapa sangka ia akan kembali lagi? Dalam waktu 8 bulan, ia telah membuat lebih dari 80 kasus, bahkan memperkosa anak perempuan Pangcu Hua San."

Li Sun-Hoan berkata.

"Orang ini kan sudah berumur 70 tahunan sekarang. Mana mungkin ia masih tertarik pada gadis-gadis?"

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe hanya melanjutkan.

"Setelah ia muncul kembali, setiap orang yang mempunyai benda berharga, atau anak gadis yang cantik, menjadi gelisah. Maka lebih dari 90 keluarga telah mengumumkan bahwa siapa yang dapat membunuh Bwe-hoa-cat akan mendapatkan sebagian kekayaan mereka. Bisa kau bayangkan betapa banyak uang yang terlibat di sini."

Tanya Li Sun-Hoan lagi.

"Jadi ini bukan rahasia lagi."

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe mengangguk.

"Dan satu lagi. Wanita tercantik di dunia persilatan sudah berjanji akan menikahi siapa pun yang dapat membunuh Bwe-hoa-cat ."

Li Sun-Hoan mengeluh.

"Uang dan wanita memang bisa menggerakkan hati manusia. Tak heran kau rela mengorbankan nyawamu demi urusan macam ini. Bahkan membunuh istrimu sendiri. Sepertinya, sudah giliranku untuk mati sekarang."

Kata Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe.

"Sebenarnya di hati kecilku, aku tidak ingin kau mati. Tapi aku harus membunuhmu."

Tiba-tiba Li Sun-Hoan tertawa keras.

"Sebenarnya di hati kecilmu, benarkah kau yakin kau sanggup membunuhku?"

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe sudah mulai bergerak, namun segera berhenti waktu mendengar ucapan ini. Ditatapnya Li Sun-Hoan, lalu bibirnya mengembangkan senyum, katanya.

"Orang seperti engkau bisa hidup sampai hari ini. Sepertinya kau adalah orang yang sukar mati. Namun sekarang…."

Tiba-tiba terdengar suara dari luar. Seseorang tertawa nyaring.

"Sebenarnya di hati kecilmu, apakah betul ia tampak keracunan?"

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe terperanjat.

Ia tidak tahu kapan orang berpakaian hijau ini muncul di pintu depan.

Wajahnya tampak pucat dan kaku.

Mungkin ia memakai topeng, mungkin juga tidak.

Ia menyembunyikan tangannya di balik punggung, dan berjalan masuk sambil berkata.

"Jika seseorang menaruh racun dalam arak seorang peminum, bukankah orang itu sangat tolol? Betul tidak?"

Kalimat terakhir ditujukannya pada Li Sun-Hoan.

Li Sun-Hoan melihat mata orang ini sangat memikat, jauh berbeda dari wajahnya.

Bagaikan sepasang mutiara di muka seekor babi mati.

Li Sun-Hoan menatap sepasang mata itu, lalu tersenyum.

"Menipu saat berjudi dengan penjudi. Meracuni arak seorang peminum. Memuji kecantikan wanita lain di depan istrimu. Siapa pun yang melakukan ini akan hidup dengan penyesalan."

Laki-laki berpakaian hijau ini pun berkata dingin.

"Waktu orang-orang ini menyesali keputusan mereka, itu sudah terlambat."

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe memandang mereka berdua, lalu segera memeriksa botol arak tadi. Li Sun-Hoan tersenyum.

"Jangan kuatir. Racunnya ada di situ."

"Jadi kau….."

Kata Li Sun-Hoan.

"Mungkin orang lain tak akan tahu bahwa di dalam arak itu ada racunnya. Tapi seorang peminum macam aku, dapat mencium perbedaan aromanya."

"Tapi aku lihat kau meminumnya!"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Aku memang meminumnya. Tapi kumuntahkan lagi saat aku batuk-batuk."

Tubuh Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe menggigil, botol arak di tangannya jatuh ke lantai. Laki-laki berbaju hijau pun berkata.

"Sepertinya ia sudah menyesali perbuatannya, tapi sayang sudah terlambat."

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe meraung dan segera menyerang laki-laki itu.

Tiga kali dengan kepalannya yang kuat.

Dalam waktu dua puluh tahun, ilmu silatnya tidak menurun, bahkan bertambah baik.

Kepalannya sungguh bertenaga dan sangat cepat.

Bisa dibayangkan, pukulan ini dapat meremukkan kepala orang.

Kelihatannya laki-laki berbaju hijau ini tak punya waktu untuk mempertahankan diri, bahkan untuk menghindari pukulan itu.

Siapa sangka, ia tidak menangkis dan tidak menghindar.

Ia hanya mengibaskan tangannya.

Ia memang bergerak sesudah Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe, tapi kepalan Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe tidak berhasil menyentuh bajunya, malah telapak tangannyalah yang menghantam wajah Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe.

Tampaknya tangan itu digerakkan dengan ringan, namun Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe langsung menjerit-jerit kesakitan, sambil berguling-guling di lantai.

Waktu ia bangkit berdiri, wajahnya sudah tidak keruan.

Sebagian ungu bercampur merah, sebagian ungu setengah transparan.

Satu mata telah tersodok ke samping.

Laki-laki itu berkata lagi.

"Sebenarnya di hati kecilku, aku tidak ingin kau mati. Aku tidak bermaksud membunuhmu, tapi tanganku…."

Separuh wajah Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe yang tidak terkena pukulan terlihat sangat biasa.

Namun setengah lagi kelihatan seperti daging busuk.

Sangat menjijikkan.

Mata yang masih dapat melihat penuh rasa kaget melihat tangan orang yang hijau.

"Tanganmu… tanganmu…"

Tangan laki-laki berbaju hijau itu terbungkus sepasang sarung tangan besi berwarna hijau.

Sangat jelek kelihatannya.

Wajah Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe menggambarkan putus sudah harapannya.

Dengan suaranya lirih ia berkata.

"Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa aku harus bertemu Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau). Li… Li Tamhoa. Kau adalah orang baik. Kumohon kau bunuh aku sekarang."

Li Sun-Hoan tetap duduk tak bergeming, memandangi laki-laki itu dan tangan hijaunya.

Lalu ditendangnya tombak patah yang tergeletak di lantai ke arah Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe.

Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe memungut tombak itu, katanya.

"Terima kasih. Terima kasih. Aku takkan melupakan belas kasihanmu, bahkan dalam kematian."

Lalu digunakannya sisa kekuatannya yang terakhir untuk menusukkan tombak itu ke lehernya. Darah hitam mengalir ke luar seiring dengan kematiannya. Li Sun-Hoan menengadah ke atas.

"Ada Jit-tok (7 racun) utama dalam dunia persilatan. Yang paling mematikan adalah Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau). Sepertinya itu bukan bualan."

Laki-laki berbaju hijau ini pun memandangi tangannya sambil berkata.

"Semua orang juga bilang bahwa siapa pun yang kena pukulan tangan ini lebih memilih mati daripada merasakan sakitnya. Sepertinya mereka tidak melebih-lebihkan."

Mata Li Sun-Hoan bergerak memandang ke wajahnya.

"Namun kau bukan Si Setan Hijau, In Gok."

Laki-laki itu menjawab.

"Bagaimana kau tahu? Kenalkah kau padanya?"

"Ya."

Laki-laki ini hampir tertawa.

"Aku tidak bermaksud berpura-pura jadi dia. Aku hanyalah…."

Potong Li Sun-Hoan.

"In Gok tidak punya murid."

Laki-laki berbaju hijau pun menjawab.

"Siapa bilang aku muridnya? Ia bahkan tidak cukup berharga menjadi muridKU."

"O ya?"

"Kau pikir aku bercanda?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Aku tidak tertarik pada asalusulmu."

Mata laki-lakinya tiba-tiba membara, menatap Li Sun-Hoan.

"Lalu apa yang ingin kau ketahui? Kim-si-kah ?"

Li Sun-Hoan diam saja. Ia hanya memutar-mutar pisau kecil di tangannya. Pandangan laki-laki berbaju hijau itu juga terarah pada pisau. Katanya.

"Orang bilang sekali sambit pisaumu tak pernah luput. Apakah mereka mengada-ada?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Dulu banyak orang yang tidak percaya."

"Sekarang?"

Di wajah Li Sun-Hoan tersirat secercah kebanggaan, dan katanya.

"Sekarang mereka sudah mati."

Laki-laki berbaju hijau itu berpikir sejenak lalu tertawa terbahak-bahak. Tawanya sangat aneh, seperti dipaksakan. Walaupun ia tertawa keras, ekspresi wajahnya tidak berubah.

"Sesungguhnya, aku ingin sekali mecobanya."

Kata Li Sun-Hoan.

"Lebih baik jangan."

Laki-laki itu berhenti tertawa. Katanya.

"Rompi itu dipakai orang mati ini kan?"

"Ya."

Laki-laki itu bertanya lagi.

"Kalau aku memindahkan orang mati ini, maka…."

Li Sun-Hoan memotong cepat.

"Maka kau pun akan jadi orang mati!"

Laki-laki itu tertawa lagi.

"Aku tidak takut padamu. Tapi aku tidak terbiasa berjudi. Aku pun tidak suka menyerempet bahaya."

Jawab Li Sun-Hoan.

"Kebiasaan yang sangat baik."

Laki-laki itu pun berkata lagi.

"Tapi aku punya cara untuk membuatmu menyerahkan rompi itu padaku."

"Oh?"

Kata laki-laki itu lagi.

"Kau seharusnya tahu bahwa Jingmo-jiu (Tangan Setan Hijau) ini dibuat dari logam langka, dicampur dengan ratusan jenis racun. Diperlukan 7 tahun untuk membuatnya. Bisa dikatakan ini adalah senjata terampuh dalam dunia persilatan."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Dalam daftar senjata Pek-hiau-sing, Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau) ada di urutan ke-9. Aku yakin itu barang yang sangat berharga."

Kata laki-laki berpakaian hijau itu lagi.

"Jadi jika kuserahkan sarung tangan ini padamu, kau berikan rompi itu padaku?"

Li Sun-Hoan berpikir sedetik. Lalu jawabnya.

"Pisauku dibuat oleh pandai besi biasa dalam waktu 6 jam. Namun menurut daftar senjata Pek-hiau-sing, pisauku menempati urutan ke-3!"

Laki-laki itu mengeluh.

"Maksudmu senjata tidaklah penting. Yang penting adalah manusia pemegang senjata. Begitu kan?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Kau sangat tanggap."

Kata laki-laki itu lagi.

"Jadi kau tidak mau barter?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Kalau aku mau, barang itu sudah ada di tanganmu sekarang."

Laki-laki berbaju hijau itu berpikir lagi, lalu mengeluarkan sebuah kotak. Dibukanya kotak itu, dan dikeluarkannya sebilah pedang pendek yang berkilauan. Lalu ia berkata.

"Pedang mustika pantas untuk pahlawan. ‘Hi-jong-kiam (Pedang Usus Ikan)’ ini tak ada tandingannya di dunia. Ini cukup berharga untukmu, bukan?"

Li Sun-Hoan mengernyitkan kening dan bertanya.

"Apakah kau ini murid Cianpwe Cong-liong (Naga Rahasia) dari Cong-kiam-san-ceng (Istana Pedang Rahasia)? "

Bukan."

"Lalu dari mana pedang ini kau dapatkan?"

Laki-laki itu menjawab.

"Tua bangka itu sudah mati. Anaknya, Yu Liong-sing menghadiahkan pedang ini padaku."

Kata Li Sun-Hoan.

"Pedang ini sungguh berharga. Congkiam-san-ceng (Istana Pedang Rahasia) jadi terkenal karena pedang ini. Waktu pedang ini dicuri beberapa tahun silam, mereka mengerahkan segala daya upaya untuk mendapatkannya kembali. Mana mungkin Yu Liong-sing memberikan pedang ini dengan cuma-cuma?"

Kata laki-laki itu.

"Bukan saja pedang itu. Kalau kuminta kepalanya pun, dia akan mempersembahkannya padaku di atas nampan perak. Kau tidak percaya?"

Li Sun-Hoan berpikir sejenak, lalu menjawab.

"Nilai pedang ini jauh di atas rompi itu. Kenapa kau ingin barter?"

Jawab laki-laki itu.

"Aku punya tabiat yang aneh. Semakin sulit kudapatkan, semakin ingin aku mendapatkannya."

Balas Li Sun-Hoan.

"Aku pun punya tabiat yang sama."

Laki-laki itu bertanya penuh harap.

"Jadi kau mau barter?"

"Tidak."

Laki-laki itu bertanya.

"Mengapa kau begitu menginginkan rompi itu?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Bukan urusanmu."

Lalu laki-laki berbaju hijau itu terkekeh.

"Yang kudengar, Li Tamhoa tidak peduli akan ketenaran dan harta benda. Sepuluh tahun yang lalu dilepaskannya ketenarannya, harta bendanya, dan mengasingkan diri. Aku tidak menyangka orang semacam ini tertarik pada sepotong rompi."

Jawab Li Sun-Hoan.

"Alasanku mungkin sama dengan alasanmu."

Laki-laki itu menatapnya.

"Maksudmu kau menginginkan wanita tercantik di dunia itu?"

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Mungkin."

Laki-laki itu pun tersenyum.

"Sudah lama kudengar, kau tak bisa melewatkan wanita cantik dan arak lezat."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Sayangnya kau bukan wanita cantik."

Laki-laki berbaju hijau itu tertawa.

"Bagaimana kau tahu?"

Tawanya tiba-tiba berubah.

Berubah menjadi tawa yang mengundang.

Selagi tertawa, dilepasnya sarung tangannya, memperlihatkan tangannya.

Li Sun-Hoan belum pernah melihat tangan yang secantik itu.

Ia telah mengenal banyak wanita cantik dalam hidupnya.

Bahkan sebelum memegang pisau dan cawan arak, telah dipegangnya begitu banyak tangan wanita cantik.

Akan tetapi, setiap tangan memiliki kekurangannya masing-masing.

Bahkan wanita yang diimpikannya, wanita yang lekat di hatinya, punya kekurangan pada tangannya.

Namun tangan yang dipertunjukkan di hadapannya ini sungguh sempurna.

Orang itu bertanya.

"Menurutmu apakah tanganku lebih indah daripada Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau)?"

Suaranya menjadi sungguh memikat. Li Sun-Hoan mengeluh, katanya.

"Jika kau menggunakan tangan ini untuk membunuh orang, mereka akan merasa bahagia mati di tanganmu. Mengapa harus kau gunakan Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau)?"

Orang itu tersenyum lembut.

"Apakah tawaranku jadi lebih menarik sekarang?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Masih belum cukup."

Orang ini terkikik, katanya.

"Laki-laki selalu saja rakus, terutama mereka yang gagah. Semakin gagah, semakin rakus jadinya."

Tubuhnya meliuk sedikit dan tanggallah baju luarnya. Li Sun-Hoan menuangkan arak yang tidak beracun, lalu berkata.

"Perlu arak untuk menemani pertunjukan yang menarik."

Orang ini bertanya lagi.

"Belum cukupkah?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Laki-laki memang rakus."

Tubuhnya memang sangat menggiurkan, bahkan dapat membuat laki-laki merasa tak pantas mendapatkannya.

Ia tersenyum manis dan membuka sepatunya.

Kakinya pun luar biasa indah, membuat jantung berdebar-debar.

Kalau dikatakan banyak laki-laki rela mati diinjak kaki ini, rasanya tidak berlebihan.

Lalu ditunjukkannya kakinya yang panjang.

Li Sun-Hoan hampir berhenti bernafas.

Tanyanya lagi.

"Sudah cukupkah?"

Sambil meneguk araknya ia menjawab.

"Kalau aku bilang cukup, aku adalah orang paling tolol."

Lalu ditanggalkan seluruh pakaiannya.

Tak terkatakan kemolekan tubuhnya.

Dan ia bersedia memperlihatkan segalanya untuk Li Sun-Hoan.

Yang tertinggal hanya topengnya.

Ditatapnya Li Sun-Hoan sambil berkata.

"Nah, sekarang sudah cukup, bukan?"

Jawab Li Sun-Hoan lagi.

"Belum. Sedikit lagi."

Katanya.

"Kau harus tahu waktunya merasa puas."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Mereka yang cepat puas, biasanya kehilangan banyak kesempatan."

Ia bertanya.

"Mengapa harus kau lihat wajahku? Mengapa tak kau biarkan imajinasimu bekerja sedikit? Mungkin itu akan membuat jadi lebih menarik."

Li Sun-Hoan menjawab.

"Karena aku tahu banyak wanita yang bertubuh indah, berwajah buruk."

"Kau pikir wajahku buruk?"

"Mungkin."

Wanita itu menghela nafas.

"Tampaknya kau memang tak mau kalah. Tapi aku tetap berpendapat sebaiknya kau tidak melihat wajahku."

"Mengapa?"

Sahutnya.

"Setelah kudapatkan Kim-si-kah itu, aku akan segera pergi. Kita tidak akan pernah bertemu lagi. Telah kuberikan padamu kepuasan yang terbesar dalam hidupmu, jadi barter kita adil. Lebih baik kita tidak usah bertemu lagi."

"Sangat logis kedengarannya."

"Namun jika kau melihat wajahku, kau takkan mungkin melupakan aku. Dan mungkin aku tidak bisa bersikap manis lagi padamu. Lalu kau hanya bisa memimpikan aku. Hanya membuatmu putus asa."

Li Sun-Hoan tersenyum.

"Kau sangat percaya diri."

Sahutnya.

"Mengapa tidak?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Mungkin aku tidak ingin barter."

"Apa?"

Akhirnya wanita itu melepaskan topengnya. Wajahnya sempurna. Ditambah dengan kemolekan tubuhnya, siapakah laki-laki di dunia yang dapat menampiknya. Li Sun-Hoan menghela nafas.

"Tak heran In Gok memberikan Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau)nya, dan You Liong Shen menghadiahkan mustika keluarganya padamu. Sekarang aku percaya."

Dewi cantik ini hanya tersenyum.

Ia tidak perlu berkata-kata.

Karena matanya bisa bicara, senyumnya bisa bicara, tangannya, dadanya, kakinya, semua bisa bicara.

Ia tahu ini sudah cukup.

Kalau seorang laki-laki tidak mengerti perasaannya, ia seorang yang luar biasa bodoh.

Sang dewi hanya menunggu.

Namun Li Sun-Hoan tetap duduk.

Ia malah menuang secawan lagi arak, dan berkata.

"Terima kasih. Mataku sudah begitu lama tidak dipuaskan begitu rupa."

Ia menggigit bibirnya.

"Tak kusangka laki-laki seperti engkau masih perlu arak untuk menambah keberanian."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Karena wanita cantik sulit merasa puas."

Lalu wanita itu tiba-tiba menghambur ke dalam dekapan Li Sun-Hoan.

Cawan arak pecah pun berkeping-keping.

Satu tangannya mulai membelai punggung wanita itu.

Tangan yang satu masih memegang pisau, pisau yang kecil dan tajam.

Kata wanita itu dengan lembut.

"Ketika seorang laki-laki ada dalam situasi seperti ini, tak sepantasnya ia memegang pisau."

Li Sun-Hoan pun berbisik dengan lembut.

"Ketika seorang laki-laki memegang pisau, tak seharusnya kau berada dalam pelukannya."

Wanita muda itu tertawa.

"Maksudmu, kau tega membunuhku?"

Li Sun-Hoan juga tertawa.

"Seorang wanita muda tidak seharusnya sombong, dan tidak seharusnya menanggalkan pakaiannya untuk merayu laki-laki. Ia seharusnya mengenakan pakaiannya baik-baik dan menunggu laki-laki itu merayunya. Kalau tidak, bagaimana laki-laki itu bisa merasa puas?"

Sekarang tangannya mengangkat pisau itu.

Ujungnya menyentuh leher wanita itu.

Setetes darah keluar, mengalir ke dadanya yang putih bersih, bagai bunga Bwe di tengah padang salju.

Kini wanita itu sangat terkejut.

Tubuhnya pun mengejang.

Li Sun-Hoan tertawa.

"Apakah kau masih percaya diri sekarang? Masihkah kau sangka aku tak tega membunuhmu?"

Ujung pisau itu masih menyentuh kulit lehernya. Bibirnya gemetar, tak sanggup bicara. Li Sun-Hoan menghela nafas lagi, dan berkata.

"Kuharap kini kau menyadari dua hal. Satu, laki-laki tidak suka jadi pihak yang pasif. Dua, kau tidak secantik yang kau kira."

Wanita muda itu menggigit bibirnya erat-erat. Katanya.

"Aku mengaku kalah. Kumohon simpanlah pisaumu sekarang."

Li Sun-Hoan berkata lagi.

"Aku ada satu pertanyaan lagi."

"Katakanlah."

Kata Li Sun-Hoan.

"Banyak laki-laki akan memberikan apa pun yang kau minta. Oleh sebab itu kau pasti tidak tertarik akan harta benda. Mengapa kau begitu menginginkan rompi itu?"

Sahutnya.

"Sudah kukatakan tadi. Semakin sulit didapat, semakin aku menginginkannya."

Li Sun-Hoan berpikir sejenak, lalu berkata lagi.

"Jika aku tidak mengangkat pisau ini dari lehermu, kau pikir kau akan dapat menyingkir dari pisauku?"

Wanita muda itu segera pergi dari pelukannya, seperti seekor kucing yang terluka. Setelah beberapa saat, ia tersenyum lagi.

"Sudah kukatakan, kau tak akan tega membunuhku."

"Benarkah? Kenapa?"

Pisau itu masih ada di tangannya, dan katanya lagi.

"Jika kau masih ada di sini waktu kalimat ini selesai, akan kubunuh kau, sehingga kau percaya."

Wanita itu seketika berhenti bicara. Dikumpulkannya pakaiannya dan melesat keluar. Ia menjerit keras-keras dengan rasa benci yang mendalam.

"Li Sun-Hoan, kau bukan laki-laki. Kau bahkan bukan manusia! Kau sungguh tak berguna. Tak heran tunanganmu direbut oleh sobat karibmu. Kini aku tahu apa sebabnya!"

Salju menutupi seluruh permukaan tanah.

Di bawah cahaya bulan bersalju, pemandangan di luar sangat indah.

Namun dapur ini terasa bagaikan kuburan, membuat orang segera ingin pergi.

Tapi Li Sun-Hoan duduk di sana termenung sendirian.

Matanya penuh kesesakan dan kesedihan.

Kata-kata wanita itu, bagaikan jarum yang menusuk relung hatinya yang terdalam.

Tunanganku…..

Sahabatku…… Bab 5.

Pengejaran di Malam Bersalju Li Sun-Hoan mengambil botol arak dan menghabiskan seluruh arak di dalamnya.

Lalu ia terbatuk-batuk dan terus terbatuk-batuk, sampai wajahnya yang pucat menjadi merah darah.

Tangannya memegang dadanya dan berkata pada dirinya sendiri.

"Siau-hun, Si-im. Aku tak pernah menyalahkan kalian berdua. Apa pun yang dikatakan orang, aku tak akan menyalahkan kalian, sebab kalian memang tidak berbuat salah. Semua kesalahan, akulah yang melakukannya."

Tiba-tiba pintu kayu itu terpentang lebar.

Seseorang merangkak masuk.

Ia terlihat seperti bakso raksasa, penuh lemak di sekujur tubuhnya.

Rambut dan kumisnya acak-acakan, seperti tidak pernah mandi bertahun-tahun.

Bau busuknya dapat tercium dari lebih dari satu kilometer.

Ia merangkak, karena kedua belah kakinya buntung.

Li Sun-Hoan mengangkat alisnya dan berkata.

"Jika kau ingin mengemis makanan, kau datang pada saat yang salah."

Orang ini tidak menghiraukannya. Ia memang cacad, tapi gerakannya sangat gesit. Dengan satu gulingan, ia telah tiba di depan perapian. Tanya Li Sun-Hoan.

"Apakah kau juga datang untuk Kimsi-kah ?"

Tangan orang ini mendorong badannya ke depan dan sampailah dia pada mayat di dekatnya. Tentu saja rompi itu ada pada mayat itu. Kata Li Sun-Hoan dingin.

"Pisau di tanganku ini sanggup membunuh orang. Jika kau tidak berhenti, aku kuatir jumlah mayat di ruangan ini akan bertambah satu."

Orang itu tetap tidak menghiraukan, dan terus melucuti Kim-si-kah dari mayat itu.

Rompi itu hanya serupa rompi biasa yang berwarna keemasan, tanpa aura misterius sama sekali.

Orang itu memegang rompi itu erat-erat, dan tertawa keras-keras.

"Waktu kepiting dan kerang bertempur, nelayanlah yang menikmati hasilnya. Aku masih tak dapat percaya, mustika ini akhirnya ada dalam genggamanku."

Sahut Li Sun-Hoan dingin.

"Pisauku masih di sini. Kurasa kata-katamu keluar terlalu dini."

Orang ini membal dengan tangannya, seperti katak, ke arah Li Sun-Hoan, dan tersenyum sambil memandangnya. Gigi-giginya kuning semua. Ia terkekeh sambil berkata.

"Kalau kau punya pisau, mengapa kau tak membunuhku? Li si pisau terbang tak pernah luput. Kau hanya perlu menggunakan pisaumu, dan tidak mungkin aku, seorang cacad, dapat menghindarinya."

Li Sun-Hoan jadi tersenyum, katanya.

"Kau adalah seorang yang menarik, aku jadi tak tega membunuhmu."

Orang aneh ini tertawa beberapa saat, dan berkata.

"Jika kau tidak mau mengakuinya, biarlah aku yang mengatakannya."

Lanjutnya sambil terus tertawa.

"Semua orang mungkin mengira kau tidak keracunan, tapi aku tahu bahwa kau memang keracunan. Namun kau memang sangat tenang, jadi kau bisa mengelabui orang-orang itu."

Ekspresi Li Sun-Hoan tidak berubah.

"Begitukah sangkamu?"

Orang aneh ini berkata.

"Kau takkan mungkin bisa mengelabui aku, karena aku tahu pasti, racun dalam arak itu tidak berasa dan tidak berwarna. Bahkan jika hidungmu bisa mencium lebih baik daripada anjing, kau tidak akan mungkin bisa menciumnya."

Li Sun-Hoan menatap orang ini lekat-lekat, lalu tersenyum kecil.

"Benar-benar yakinkah kau akan hal ini?"

Orang aneh ini terkekeh lagi.

"Yakin sekali, karena akulah yang meracuni arak itu. Aku tahu pasti apakah kau keracunan atau tidak. Kau bisa mengelabui semua orang, kecuali aku."

Ekspresi Li Sun-Hoan tetap tidak berubah, namun otototot di sekitar matanya mulai bergerak-gerak. Setelah diam beberapa saat, ia menghela nafas dan berkata.

"Belum lagi habis satu hari, namun enam, tujuh peristiwa besar telah terjadi. Kurasa peruntunganku cukup baik."

Kata orang aneh ini.

"Kau tidak ingin tahu, tangan siapakah yang membunuhmu?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Aku baru saja hendak bertanya."

Orang aneh ini menjawab.

"Kau berpengetahuan luas, jadi kau pasti tahu bahwa ada 7 orang licik dalam dunia persilatan."

Dengan terkejut Li Sun-Hoan menjawab.

"Jit-biau-jin (tujuh manusia ajaib)."

Orang aneh ini berkata lagi.

"Tepat. Ketujuh orang ini sangatlah licik tak terbayangkan. Ilmu silat mereka memang tidak hebat, tapi kalau soal racun, mencuri, menipu, dan bedusta, kelihaian mereka tak ada bandingannya."

Mata Li Sun-Hoan bersinar.

"Apakah kau salah satu dari Jit-biau-jin (tujuh manusia ajaib)?"

Orang aneh ini menjawab.

"Yang paling licik dari Jit-biaujin (tujuh manusia ajaib) adalah…."

Jawab Li Sun-Hoan.

"Biau-Liong-kun Hoa Hong (Tuan Saktu Lebah madu)."

Kata orang aneh ini.

"Hampir betul. Nama lengkapnya adalah ‘Hek-sim-biau-Liong-kun (si perjaka ajaib berhati hitam)’. Kemampuan orang ini sangat terbatas. Ia sangat pengecut, bahkan takut untuk mencuri dan merayu wanita. Namun dalam hal racun, Ngo-tok-tongcu (Si Anak 5 Racun) yang terkenal itupun kadang-kadang harus memanggilnya Kakek."

Kata Li Sun-Hoan.

"Kelihatannya kau tahu banyak tentang orang ini."

Jawab orang aneh itu.

"Tentu saja. Karena akulah dia, dan dialah aku."

Li Sun-Hoan menghela nafas dan terdiam. Hoa Hong tertawa.

"Apakah kau terkejut bahwa Biau-Liong-kun (si perjaka ajaib) telah berubah menjadi segumpal bakso?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Jika kau dapat merayu wanita, wanita itu pastilah buta."

Hoa Hong menjawab.

"Lagi-lagi salah. Mata mereka tidaklah buta, bahkan sangat cantik. Namun jika seseorang telah disekap, dipatahkan kakinya dan dicekoki makanan berlemak setiap hari selama bertahuntahun, ia akan berubah menjadi bakso."

Kata Li Sun-Hoan.

"Kutebak ini adalah perbuatan pasangan Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe."

Hoa Hong berpikir sejenak, lalu tersenyum.

"Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe telah bercerita padamu sebelumnya. Aku akan menceritakan padamu kisah yang lain. Kisahku jauh lebih menarik."

"O ya?"

Hoa Hong melanjutkan.

"Tahun itu peruntunganku kurang baik. Pada saat itu, aku tergila-gila wanita dan kurayu istri si Jenggot Besar, Jiang-wi Hujin. Kami bahkan sampai punya anak. Jadi ia harus lari bersamaku."

Li Sun-Hoan terperangah.

"Jadi orang yang diceritakannya itu adalah kau? Ialah yang harus membayar akibat kesalahanmu?"

Kata Hoa Hong.

"Ia bohong sedikit. Aku tidak mencuri harta bendanya. Walaupun aku mau, aku tidak mungkin bisa. Ia jauh lebih licik daripada aku. Akan tetapi, memang benar, kami dikejar oleh orang-orang suruhan Si Jenggot Besar. Aku memang seorang pengecut, jadi kubujuk dia untuk menemukan seseorang sebagai penggantiku untuk sementara waktu. Mulanya ia raguragu, katanya wajah Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe kurang gagah. Namun akhirnya ia setuju."

Kata Li Sun-Hoan.

"Jadi kalian berdualah yang merencanakan semua ini."

Lanjut Hoa Hong.

"Jika saat itu aku benar-benar meninggalkannya, semua akan jadi baik-baik saja. Namun aku ingin juga harta bendanya, jadi kukatakan setelah semuanya kembali tenang, kami akan membunuhnya dan kembali bersama. Siapa sangka, ia jatuh cinta pada Ci-bin-ji-Liong Sun Gwe. Mereka bahkan mematahkan kakiku dan memenjarakan aku seperti ini selama hampir dua puluh tahun."

Li Sun-Hoan bertanya.

"Mengapa ia tidak membunuhmu?"

Sahut Hoa Hong.

"Jika aku mengerti jalan pikiran wanita, aku takkan mungkin jadi seperti ini. Aku pikir aku tahu hati wanita. Itulah sebabnya aku jadi seperti ini. Jikalau seorang laki-laki berpikir ia mengerti tentang wanita, maka ia harus menerima konsekuensinya."

Kata Li Sun-Hoan.

"Benar-benar suatu kisah yang luar biasa."

"Namun kau belum mendengar bagian yang paling menarik."

"Apa?"

Kata Hoa Hong.

"Setelah kau kena racun, kau takkan bisa menggunakan pisaumu, dan kau pun tak akan bisa hidup lebih dari 6 jam. Maka dari itu, aku takkan membunuhmu sekarang, karena aku ingin kau mengetahui rasanya menunggu datangnya kematianmu."

Li Sun-Hoan menyahut tenang.

"Sebetulnya tidak perlu juga. Sudah beberapa kali aku menunggu datangnya kematianku."

Hoa Hong tertawa.

"Aku berjanji, inilah yang terakhir kali."

Li Sun-Hoan pun tertawa kecil.

"Jika demikian, tak ada lagi yang perlu diperbincangkan. Hanya saja, di luar sedang turun salju, dan angin pun kencang, bagaimana kau akan pergi?"

Sahut Hoa Hong.

"Jangan kuatir. Kakiku memang buntung, tapi aku masih bisa naik kuda."

"Kalau begitu, hati-hatilah di jalan. Maaf, aku tidak bisa mengantar."

Suara derap langkah kuda pun segera lenyap ditelan hujan salju. Li Sun-Hoan duduk diam dan mencium arak itu.

"Sungguh-sungguh tak berbau dan tak berasa. Ilmu racun yang hebat sekali."

Diminumnya secawan lagi, lalu dipejamkan matanya.

"Namun arak ini sungguh lezat. Aku mati karena minum secawan. Aku pun akan mati kalau minum sebotol penuh. Mengapa tidak kuhabiskan saja?"

Diminumnya arak beracun itu sampai habis. Lalu ia mulai berbicara pada dirinya sendiri.

"Oh, Li Sun-Hoan. Kau seharusnya sudah mati bertahun-tahun yang lalu. Apa salahnya mati? Tapi kau tak seharusnya mati di dapur bersama dengan mayat-mayat ini."

Maka ia bangkit, dan terhuyung-huyung menuju ke pintu.

Tampak jejak-jejak kaki di salju, menuju ke arah tenggara.

Li Sun-Hoan mencari tempat yang agak bersih dan duduk di situ.

Dikeluarkan dari sakunya, ukirannya yang belum selesai.

Figur kayu ukiran itu menatap Li Sun-Hoan.

Tiba-tiba Li Sun-Hoan tertawa keras, katanya.

"Mengapa kau masih menatapku? Aku hanya seorang pemalas dan pemabuk. Kau mengambil keputusan yang tepat menikah dengan Siau-hun. Akulah yang salah."

Dicobanya menyelesaikan ukirannya dengan pisau. Namun ia telah kehabisan tenaga. Li Sun-Hoan mulai terbatuk-batuk lagi. Tiap kali batuk seakan-akan ia sedang berteriak.

"Si-im, Si-im."

Dapatkah Si-im mendengarnya? Tak mungkin Si-im dapat mendengarnya. Namun, ada yang mendengar. Sang kusir segera membopong Li Sun-Hoan, dan berlari kalap melalui hutan.

"Jika kita dapat menemukan orang buntung kaki yang kelihatan seperti bakso dalam waktu dua jam, mungkin aku bisa selamat. Orang yang menaruh racun, pasti punya penawarnya."

Inilah kalimat terakhir yang sanggup diucapkan Li Sun-Hoan.

Sang kusir mengerahkan seluruh kekuatannya, air matanya membeku, menyambut angin dingin yang menyayat kulit.

Tiba-tiba terdengar suara dari jauh.

Sang kusir ragu-ragu sebentar, lalu berlari ke arah suara itu.

Mula-mula ditemukannya kuda di tengah jalan.

Ia tidak bertemu dengan Hoa Hong.

Ia hanya menemukan mayatnya.

Tampak ratusan senjata rahasia tertancap di sekujur tubuhnya.

Sang kusir tidak bisa tidak merasa iba.

Namun ia teringat masalah yang lebih penting.

Tanyanya cepat.

"Inikah orangnya?"

Ia sungguh berharap mayat ini bukanlah orang yang mereka cari. Jawab Li Sun-Hoan.

"Betul."

Sang Kusir menggigit bibirnya. Ia menanggalkannya mantelnya, menghamparkannya di sebatang pohon dan menurunkan Li Sun-Hoan dari punggungnya.

"Mungkin obat penawarnya masih ada. Akan kucari."

Kata Li Sun-Hoan.

"Hati-hati. Jangan sampai tergores senjata rahasia."

Bahkan saat hidupnya sendiri ada di ujung tanduk, ia tetap memikirkan keselamatan orang lain.

Sang Kusir merasa hawa panas naik dari perutnya.

Sekuat tenaga, ditahannya air matanya, sambil mencari obat penawar pada mayat itu.

Setelah sekian lama, ia berdiri.

Kata Li Sun-Hoan.

"Obat penawarnya tidak ada."

Sang Kusir tak mampu berkata-kata, lidahnya kelu. Li Sun-Hoan tersenyum, katanya.

"Aku seharusnya sudah tahu. Setelah dipenjara bertahun-tahun, tak mungkin ia punya obat penawarnya."

Sang Kusir mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dipukulnya kepalanya sendiri dan berkata.

"Kalau saja aku bisa tahu siapa yang membunuhnya…. Mungkin orang itu mengambil obat penawarnya."

Li Sun-Hoan memejamkan matanya, wajahnya sungguh kelam.

"Mungkin…. Mungkin juga tidak."

Kata Sang Kusir.

"Sayangnya senjata rahasia jenis ini sangat umum. Banyak orang menggunakannya."

"Ya."

Lanjut Sang Kusir lagi.

"Tapi ada begitu banyak senjata rahasia yang tertancap di badannya. Kemungkinan pembunuhnya lebih dari satu orang."

"Ya."

Nafasnya jadi lambat, seperti akan terlelap.

Ia begitu kuatir akan keselamatan orang lain, namun tidak dipedulikannya hidupnya sendiri.

Sang Kusir meninju-ninju tangannya sendiri, dan tiba-tiba melompat girang.

"Aku tahu! Aku tahu siapa pembunuhnya!"

"Ha?"

Sang Kusir segera berlari ke samping Li Sun-Hoan.

"Pembunuhnya hanya satu orang. Tapi orang itu sanggup menyambitkan 13 senjata rahasia secara bersamaan."

"Ha?"

Lanjut Sang Kusir.

"Ada 13 macam senjata rahasia yang menancap di tubuhnya. Sebenarnya satu saja pun telah sanggup membunuhnya. Hanya ada satu orang di dunia sang sekejam dan segila ini."

Li Sun-Hoan mengeluh.

"Kau memang benar. Hanya ada satu. Jian-jiu-lo-sat (si hantu perempuan bertangan seribu). Akhirnya Hoa Hong mati di tangan seorang wanita."

Lanjut Sang Kusir.

"Selain dia, tidak ada orang lain yang dapat menyambitkan 13 macam senjata rahasia secara bersamaan."

Tiba-tiba ia berhenti, dan berkata.

"Seharusnya kau sudah bisa menebaknya."

Bibir Li Sun-Hoan menyunggingkan senyum getir, katanya.

"Apa bedanya aku tahu atau tidak? Jian-jiu-losat (si hantu perempuan bertangan seribu) datang dan pergi secara misterius. Ia pasti sudah pergi jauh. Tak ada gunanya mengejar."

Kata Sang Kusir.

"Kita harus dapat menemukan dia."

Li Sun-Hoan menggelengkan kepala, katanya.

"Tak usahlah. Kalau kau bisa memberiku arak, aku bisa mati dalam keadaan mabuk, aku akan berterima kasih padamu untuk selama-lamanya. Aku sangat, sangat lelah. Aku hanya ingin beristirahat dengan tenang."

Sang Kusir berlutut, dan tak bisa lagi membendung air matanya.

"Siauya, aku tahu betapa lelahnya engkau. Dalam beberapa tahun terakhir ini, kau tidak merasa bahagia. Kesedihan dan penderitaan, sungguh membuat seseorang merasa letih."

Tiba-tiba dirangkumnya wajah Li Sun-Hoan, dan katanya keras-keras.

"Namun Siauya, kau tidak boleh mati. Kau harus mengumpulkan tenagamu. Jika kau mati sekarang, semua orang akan berpikir bahwa kau hanyalah seorang pemalas dan pemabuk. Loya (tuan besar) tidak akan dapat beristirahat dengan tenang di alam baka."

Li Sun-Hoan memejamkan matanya rapat-rapat, air matanya membeku. Namun ia tetap tersenyum, sahutnya.

"Pemalas, pemabuk, tidak jelek juga kan. Paling tidak lebih baik daripada tuan-tuan palsu itu."

Wajah Sang Kusir masih bersimbah air mata, katanya.

"Tapi… tapi, Siauya, kau sepantasnya mendapatkan reputasi tertinggi di dumia. Kebaikan hatimu tak terkira. Mengapa kau siksa dirimu sendiri? Apakah wanita itu, Lim Si-im, sebegitu berharga?"

Seketika, kilat menyambar dari mata Li Sun-Hoan, dengan berang ia menyembur.

"Diam. Berani-beraninya kau sebut namanya!"

Sang Kusir menundukkan kepalanya, katanya.

"Maaf, Tuan."

Li Sun-Hoan menatapnya beberapa saat, lalu kembali memejamkan matanya.

"Baiklah. Kalau kau ingin pergi mencarinya, mari kita pergi. Dunia ini sungguh luas dan waktu kita terbatas. Ke mana kita pergi?"

Sang kusir segera bangkit.

"Langit akan membantu mereka yang pedih hatinya. Kita pasti akan menemukannya."

Baru saja ia akan membopong Li Sun-Hoan di punggungnya, setetes salju jatuh dari atas pohon ke dahinya.

Waktu ia menyekanya, tangannya bernoda darah.

Ada seseorang di atas pohon.

Seseorang yang sudah mati.

Seorang wanita yang sudah mati.

Ia tergantung di batang pohon itu, tubuhnya telah membeku.

Pedang pendek menembus dadanya, memakukan tubuhnya pada batang pohon.

Kedua orang ini sibuk dengan mayat yang tergeletak di tanah, mereka tidak melihat mayat di atas pohon.

Sang Kusir, bagaikan seekor elang, melompat membawa turun mayat wanita itu.

Wajahnya tertutup es, sehingga sulit ditebak usianya.

Namun bisa dipastikan, ia adalah seorang wanita yang cantik sebelum kematiannya.

Tiba-tiba Li Sun-Hoan tertawa.

"Kurasa memang Langit yang membantu kita menemukannya."

Sang Kusir kembali mengepalkan tangannya, sergahnya.

"Kudengar Jian-jiu-lo-sat (si hantu perempuan bertangan seribu) memang sangat kejam. Tapi mengapa setelah dibunuh, pakaiannya pun dilucuti?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Mungkin pakaiannya indah sekali."

Mata Sang Kusir berbinar.

"Kau benar sekali. Kabarnya, ia memang seorang pesolek. Pakaiannya terbuat dari emas, dan penuh taburan batu permata."

Li Sun-Hoan tertawa getir.

"Jikalau tanduk rusa tidak mahal harganya, dan jika rusa tidak bertanduk, mereka tidak akan dibunuh oleh pemburu."

"Si pembunuh datang untuk mengambil Kim-si-kah , tapi ia tetap tidak bisa melewatkan pakaian yang nilainya tidak seberapa dibandingkan dengan rompi itu. Cuma ada satu orang yang rakus seperti ini."

Kata Li Sun-Hoan.

"Kau benar. Aku pikir juga cuma ada satu orang."

Sahut Sang Kusir cepat.

"Ia yang mencuri bahkan dari peti mati, ‘Si Yau-sian (Matipun Minta Duit)’."

Li Sun-Hoan berkata.

"Coba cabut pedang itu."

Pedang itu halus buatannya, bahkan dihiasi batu kumala."

Li Sun-Hoan menambahkan.

"Si Yau-sian (Matipun Minta Duit) menghargai uang bagaikan nyawa. Mana mungkin ia meninggalkan senjata macam ini?"

Sang Kusir berpikir sejenak, lalu berkata.

"Tidak banyak senjata yang berharga seperti ini di dunia. Mungkinkan ini perbuatan Pao Siau-an?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Ya. Kurasa mereka bekerja sama."

Kata Sang Kusir.

"Yang satu menghargai uang bagai nyawa, yang satu lagi menganggap uang tak ada artinya. Dua orang ini memiliki pandangan yang sangat bertentangan. Bagaimana mereka bisa bekerja sama?"

Li Sun-Hoan tertawa.

"Tuan Pao terkenal royal akan segala sesuatu, pakaian, makanan, dalam kehidupan,dalam bepergian. Bagi Si Yau-sian (Matipun Minta Duit), mengikutinya berarti mendapatkan fasilitas yang tak terbatas. Mengapa tidak?"

Wajah Sang Kusir menjadi cerah, dengan bangga ia berkata.

"Ini sangat baik. Dalam cuaca buruk seperti ini, Pao Siau-an tidak dapat naik kuda, dan tidak mungkin ia mau berjalan kaki. Ia pasti naik kereta. Kalau ia naik kereta, kita pasti dapat mengejarnya."

Memang benar, terlihat jejak roda kereta di atas salju di jalan.

Mereka pasti naik kereta.

Kereta macam ini sangat nyaman, tapi tak bisa lari kencang.

Sang Kusir lari dengan segenap kekuatannya.

Bahkan dengan seseorang di punggungnya, ia dapat bergerak dengan cepat dan gesit.

Tak bisa dipercaya, seseorang dengan ilmu meringankan tubuh sebaik itu, hanya menjadi seorang kusir.

Dan lagi, orang dengan ilmu meringankan tubuh setaraf ini seharusnya cukup terkenal dalam dunia persilatan.

Setelah beberapa saat, jejak roda kereta tidak tampak lagi.

Tak adanya jejak di salju menandakan bahwa tidak ada yang lewat di sini paling tidak empat sampai enam jam terakhir.

Lalu dilihatnya ada jalan kecil di samping.

Ia tidak terlalu memperhatikan jalan kecil ini sebelumnya.

Jalan ini menuju ke kuburan seseorang yang kaya raya.

Ditelusurinya jalan kecil itu.

Betul saja, jalan itu buntu.

Tapi tampak ada kereta kuda di depan kuburan.

Kudanya tidak ada lagi.

Tiga orang, dengan mantel bulu domba tergeletak di tanah.

Di dalam kereta tampak seseorang dengan pakaian rapi dan wajah yang gagah.

Usianya 40-an, cambangnya tercukur rapi.

Di jarinya terlihat cincin yang luar biasa indah.

Pastilah ini Pao Siau-an.

Ada dua wanita di samping kanan kirinya.

Keduanya mati dengan cara yang sama.

Hiat-to (jalan darah) mereka yang utama tertotok seluruhnya.

Perbuatan siapakah ini?

Sang Kusir bertanya.

"Mungkinkah ini perbuatan Si Yausian (Matipun Minta Duit)?"

Sebelum kalimatnya selesai, satu lagi mayat terlihat.

Kepalanya botak, wajahnya menelungkup ke tanah.

Hanya kedua tangannya memegang….

sepertinya ia berusaha mempertahankan sesuatu sebelum kematiannya, namun tidak berhasil."

Ini adalah Si Yau-sian (Matipun Minta Duit). Ia tidak akan bisa lagi mencuri dari peti mati. Kata Li Sun-Hoan.

"Tidak jadi soal jika seseorang suka berjudi atau pergi ke rumah bordil. Tapi jangan sampai seseorang berkawan dengan orang yang salah. Mereka akan berakhir seperti Pao Siau-an, bahkan tidak tahu siapa pembunuhnya."

"Tapi…"

Lanjut Li Sun-Hoan.

"Selain Pao Siau-an, semua orang terkesima. Mereka tak bisa percaya Si Yau-sian (Matipun Minta Duit) tega berbuat demikian. Terutama kedua wanita itu, yang bahkan mungkin telah menjaLim hubungan dengan Si Yau-sian (Matipun Minta Duit) sebelum mereka mati. Jadi mereka sungguh-sungguh tidak percaya."

Sang Kusir tiba-tiba berkata.

"Kudengar ilmu totok Si Yau-sian (Matipun Minta Duit) adalah yang terhebat di Provinsi Soasay (Shan Xi). Ia terkenal dengan julukan ‘Si Jari Satu Pengejar Nyawa’. Kelihatannya ini adalah hasil kerjanya, namun…."

Sambung Li Sun-Hoan.

"Kemungkinan besar Si Yau-sian (Matipun Minta Duit) telah bersama-sama dengan Pao Siau-an untuk sekian lama. Kali ini Pao Siau-an menginginkan Kim-si-kah , dan Si Yau-sian (Matipun Minta Duit) ingin terus menjadi benalu Pao Siau-an, sehingga ia pun ikut serta. Siapa sangka, rompi itu begitu menawan. Si Yau-sian (Matipun Minta Duit) tidak lagi mempedulikan persahabatan dan membunuh mereka semua."

"Tapi jangan lupa, dia juga mati."

Li Sun-Hoan tertawa.

"Mungkin waktu dia beraksi, seorang iseng mengintip di sekitar kuburan. Si Yau-sian (Matipun Minta Duit) memergokinya dan berusaha membunuhnya juga untuk membungkamnya. Tapi sebaliknya, ia tidak dapat membungkan mulut orang itu, malah dia yang terbunuh."

"Tapi ilmu silat Si Yau-sian (Matipun Minta Duit) tidak rendah. Siapa yang sanggup membunuhnya."

Ia mendekat ke arah kuburan. Terlihatlah bahwa tidak ada sedikitpun luka di tubuhnya. Hanya ada satu lubang tambahan di tenggorokannya."

Li Sun-Hoan masih ada dalam gendongan Sang Kusir.

Kedua orang ini menatap sejenak, dan keduanya menghela nafas.

Namun di sudut bibir keduanya, terbayang sebentuk senyuman.

Hampir bersamaan mereka berkata.

"Ternyata dia."

Sang Kusir tertawa.

"Pedang Fei-siauya (tuan Fei) lebih cepat dari kilat. Tak heran Si Yau-sian (Matipun Minta Duit) tak sempat melawan."

Li Sun-Hoan menutup matanya sambil tersenyum.

"Bagus. Bagus sekali. Rompi itu telah menemukan pemilik yang pantas. Kini Bwe-hoa-cat pasti akan tertangkap."

Sang Kusir kemudian berkata.

"Mari kita cari Fei-siauya (tuan Fei). Ia pasti belum pergi lama."

Li Sun-Hoan bertanya.

"Buat apa?"

"Untuk mendapatkan obat penawarnya."

Sahut Li Sun-Hoan.

"Jika Hoa Hong punya obat penawarnya, dan obat itu telah diambil, maka obat itu pasti ada pada Si Yau-sian (Matipun Minta Duit). A Fei tidak akan pernah mengambil barang orang lain. Ia mengambil Kim-si-kah itu hanya karena menurut pendapatnya, rompi itu adalah milikku."

Sang Kusir memandangi perhiasan pada tubuh Pao Siauan dan kedua wanita itu, lalu mengeluh.

"Kau benar. Bahkan jika emas tersebar di seluruh permukaan tanah, Fei-siauya (tuan Fei) tidak akan mengambil satu pun."

"Jadi jika obat penawar itu tidak ada pada Si Yau-sian (Matipun Minta Duit), percuma juga mencari A Fei."

Sang Kusir mengangkat mayat itu. Ini adalah kesempatan yang terakhir. Lalu dilihatnya tulisan di dinding kuburan.

"Aku telah membalaskan dendammu, aku mengambil kudamu."

Li Sun-Hoan terbahak-bahak.

"Tadinya aku hanya menebak, sekarang aku yakin ini benar-benar perbuatannya. Hanya A Fei yang tidak membiarkan orang, sekalipun sudah mati, berhutang padanya."

Dilanjutkannya dengan senyum lebar.

"Anak ini sungguh baik. Sayangnya aku…."

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, namun Sang Kusir tahu apa yang hendak dikatakannya.

Obat penawar itu memang tidak ada.

Sungguh sayang, ia tidak bisa lagi bertemu dengan anak yang baik ini.

Sang Kusir pun kehabisan tenaga.

Ia hampir pingsan.

Namun Li Sun-Hoan tetap tersenyum.

"Jangan kuatir akan diriku. Kematian tidaklah seburuk yang kau bayangkan. Sekarang aku sangat lemah, tapi aku jadi merasa tenang. Aku hanya ingin minum arak."

Bab 6.

Penyelamat di Kampung Halaman Si Pemabuk Sang Kusir tiba-tiba melompat, menanggalkan kemejanya, dan menyambut salju dan angin dingin dengan dada telanjang.

Bagai seekor kuda, ditariknya kereta itu.

Li Sun-Hoan tidak mencegahnya, karena ia tahu bahwa Sang Kusir memerlukan tempat untuk melampiaskan keputusasaannya.

Namun sewaktu pintu kereta tertutup, Li Sun-Hoan tidak dapat menahan setetes air matanya jatuh ke pipinya.

Setelah berjalan satu jam, sampailah mereka ke Gu-kehceng.

Kampung ini adalah desa yang sangat kecil.

Hari belum lagi gelap, dan hujan salju telah reda.

Orang-orang sedang membersihkan salju dari halaman rumah mereka.

Waktu mereka melihat sang kusir menarik kereta masuk ke dalam kampung, mereka sangat terkejut.

Beberapa orang sangat ketakutan dan berlari masuk ke dalam rumah.

Sudah pasti, ada warung arak di kampung itu.

Orang-orang kampung ini belum pernah melihat orang sekuat ini.

Jadi ketika Sang Kusir berjalan ke arah warung arak, sebagian besar pengunjungnya menjadi ketakutan dan segera berlalu.

Sang kusir menjejerkan tiga buah kursi, lalu mengalasinya dengan serbet yang bersih.

Didukungnya Li Sun-Hoan masuk ke dalam warung, sehingga ia bisa duduk dengan nyaman.

Li Sun-Hoan tampak pucat lesi.

Seakan-akan tidak ada darah yang mengalir ke wajahnya.

Semua orang tahu, ia sakit parah.

Warung ini sudah buka selama dua puluh tahun, dan belum pernah kedatangan orang hampir mati yang masih ingin minum.

Semua orang di situ memandanginya.

Sang Kusir menggebrak meja, dan berteriak.

"Ambilkan arak. Yang terbaik! Jika kau encerkan sedikit saja, kupenggal kepalamu."

Li Sun-Hoan memandangnya dan tersenyum.

"Kau tahu, selama dua puluh tahun terakhir, baru hari ini kau tunjukkan karakter sesungguhnya dari ‘Thi-kah-kim-kiong (si Dada Besi Baja Emas)’."

Tubuh Sang Kusir bergidik. Ia terkejut mendengar julukannya disebut. Namun ia masih bisa tertawa keras.

"Aku tak menyangka Siauya masih ingat nama itu. Aku malah sudah lupa."

Kata Li Sun-Hoan.

"Kau…. Kau harus melanggar sumpahmu hari ini dan minum bersamaku."

Sahut Sang Kusir.

"Baik! Hari ini, berapa banyak Siauya minum, aku akan mengikutimu."

Li Sun-Hoan pun ikut tertawa keras.

"Kalau aku bisa membuatmu minum arak lagi, hidupku tidak sia-sia."

Yang lain, melihat mereka tertawa bahagia, jadi tercenung.

Tak seorang pun bisa mengerti bagaimana seseorang yang hampir mati bisa begini bahagia.

Araknya memang bukan yang terlezat, tapi paling tidak arak itu murni.

Kata Sang Kusir.

"Siauya, maafkan kelancanganku. Aku ingin bersulang untukmu."

Li Sun-Hoan ingin menyambutnya, namun ia tak kuasa memegangi cawannya, dan arak pun berceceran. Ia batuk-batuk sambil berusaha menyeka bajunya yang basah kena arak, dan sambil tertawa berkata.

"Aku tak pernah menyia-nyiakan arak sebelumnya, tapi hari ini…."

Ia tertawa lagi.

"Baju ini telah kumiliki bertahun-tahun, memang pantas aku menghadiahinya secawan arak. Mari, Saudara Baju, aku berterima kasih padamu engkau telah menghangatkan aku bertahun-tahun ini. Aku bersulang untukmu."

Lalu dituangnya sisa arak dalam cawan ke bajunya. Pemilik warung dan para pegawainya memandang dia, dan berbisik-bisik di antara mereka.

"Orang ini bukan hanya sakit, dia sudah gila."

Kedua orang itu minum dan terus minum. Li Sun-Hoan harus menggunakan kedua belah tangannya untuk memegang cawan araknya. Sang Kusir menggebrak meja lagi.

"Hidup ini tidak adil. Kalau saja aku bisa tidak bangun lagi dari kemabukan ini. Sayang, sayang sekali…."

Kata Li Sun-Hoan.

"Kau harusnya berbahagia hari ini. Apa maksudmu tentang ‘tidak adil’, ‘tidak bangun lagi’? Seseorang harus menikmati hari-hari kehidupannya."

Sang Kusir tertawa lagi.

"Kau betul. Betul!"

Lalu wajahnya jatuh menghantam meja. Wajah Li Sun-Hoan penuh rasa terima kasih. Katanya pada dirinya sendiri.

"Dua puluh tahun ini, jika bukan karena kau, aku…. aku mungkin sudah lama mati. Walaupun aku tahu alasanmu, perbuatanmu ini sungguh terlalu merendahkan dirimu. Kuharap suatu hari nanti, kau rebut kembali status dan kejayaanmu di masa lalu. Dengan begitu, walaupun aku telah…."

Sang Kusir tiba-tiba bangun lagi dan memotong cepat.

"Siauya, jangan katakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Merusak suasana."

Mereka tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba menangis, menangis sambil tertawa. Pemilik warung dan para pegawainya kembali saling pandang.

"Sepertinya, dua-duanya gila."

Saat itulah mereka dikagetkan oleh seseorang yang menyuruk masuk.

"Arak. Arak. Bawakan arak sekarang juga."

Dari wajahnya, kelihatannya ia akan mati jika ia tidak minum arak secepatnya. Pemilik warung bergumam.

"Satu lagi orang gila."

Orang ini mengenakan baju biru yang sudah terlalu sering dicuci sampai warnanya sudah mendekati putih.

Kukunya hitam-hitam.

Walaupun mengenakan topi pelajar, rambutnya sungguh acak-acakan.

Wajahnya kuning dan tirus.

Seperti seorang Siucai rudin (Pelajar Miskin).

Pelayan membawakan sebotol arak untuknya.

Siapa sangka, pelajar ini bahkan tidak menggunakan cawan.

Ditenggaknya arak itu langsung dari botolnya.

Sekali minum, setengah lebih sudah habis, tapi segera disemburkannya ke luar sambil berteriak.

"Kau sebut ini arak? Ini adalah cuka, cuka yang diencerkan lagi…"

Pelayan itu tergagap.

"Bukannya kami tidak punya arak yang baik, tapi….."

Siucai rudin (Pelajar Miskin) itu berkata.

"Kau pikir aku tidak punya uang. Nih, ambil semua."

Dilambaikannya 50 tail perak.

Semua orang dan para pelayan terperangah.

Kali ini mereka menyuguhkan arak yang terbaik.

Sekali ini pun, si Siucai rudin (Pelajar Miskin) tak peduli dengan cawan dan menenggak sebotol penuh sekaligus.

Lalu duduk diam tak bergerak.

Semua orang menyangka ia minum terlalu cepat dan sesuatu telah terjadi.

Namun Li Sun-Hoan tahu, ia sedang menikmati kelezatannya.

Setelah beberapa saat, dihembuskan nafasnya.

Mata dan wajahnya berbinar-binar.

"Walaupun araknya tidak enak, di tempat seperti ini kurasa inilah yang terbaik."

Pemilik warung ikut tertawa. Katanya.

"Sudah kusimpan botol itu selama sepuluh tahun."

Siucai itu tiba-tiba menggebrak meja, katanya.

"Pantas saja rasanya tidak kental. Beri aku arak yang lebih baru, yang difermentasi tiga tahap saja. Lalu bawakan makanan juga."

"Masakan apa yang kau inginkan."

"Aku tahu di tempat kumuh seperti ini kau pasti tak punya makanan enak. Bawakan saja Ayam Angin dan Usus Gagak Goreng Pedas. Pastikan ususnya pedas sekali dan ayamnya tidak berbulu sama sekali."

Orang ini kelihatan miskin, namun ia benar-benar tahu tentang makanan dan arak.

Li Sun-Hoan sangat tertarik.

Dalam keadaan biasa, ia pasti telah mengundang orang itu paling tidak untuk minum bersamanya.

Namun saat itu, ia bisa rebah kapan saja.

Ia tidak ingin berkenalan dengan siapa pun lagi.

Orang itu terus minum sendirian.

Ia minum sangat cepat.

Sepertinya, selain arak, tak ada hal yang cukup berarti baginya.

Saat itu, terdengar derap langkah kuda mendekat, dan berhenti di depan warung.

Wajah orang ini berubah sedikit.

Ia bangkit, hendak pergi.

Tapi matanya kembali memandang arak di atas meja dan ia pun duduk kembali.

Diminumnya tiga cawan lagi, sambil dinikmatinya usus goreng itu.

Dan terdengarlah suara yang menggelegar.

"Dasar pemabuk. Kau hendak lari ke mana?"

Seorang yang lain pun berkata.

"Sudah kubilang, kita pasti dapat menemukan orang ini di warung arak."

Kemudian lima enam orang pun masuk, mengelilingi si Siucai rudin (Pelajar Miskin).

Kelihatannya ilmu silat mereka cukup tinggi.

Seorang yang tinggi kurus mengacungkan cambuk kuda ke depan hidung si Siucai rudin (Pelajar Miskin) dan berkata.

"Kau ambil uang kami, tapi kau menolak memeriksa pasien, malah kabur ke sini untuk minum. Apa yang terjadi?"

Si Siucai rudin (Pelajar Miskin) tersenyum.

"Kau tak mengerti apa yang terjadi? Aku perlu minum arak. Itu saja. Kau seharusnya tahu, jika Bwe-jisiansing perlu minum arak, dia tidak peduli langit runtuh, apalagi hanya seorang pasien."

Seorang yang bopengan berkata berang.

"Tio-lotoa, kau dengarkah itu? Kita sudah tahu pemabuk ini adalah seorang yang sangat jahat. Waktu ia sudah mendapatkan uangnya, ia tidak peduli lagi akan orang lain."

Orang yang pertama menyahut.

"Siapa yang tidak tahu kepribadian pemabuk ini? Namun dia harus menyembuhkan penyakit Losi (saudara ke 4). Kita perlu tabib, apa yang dapat kita perbuat?"

Awalnya Li Sun-Hoan menyangka orang-orang ini datang untuk balas dendam.

Setelah mendengar percakapan mereka, tahulah dia bahwa Bwe-jisiansing adalah seorang tabib yang hanya mau uang, tapi tak mau mengobati pasien.

Waktu orang-orang ini berteriak-teriak, ia tetap duduk diam.

Sambil terus minum.

Tio-lotoa akhirnya melempar cambuknya, menghantam botol arak dan cawan, sambil berteriak.

"Berhenti menunda-nunda. Karena kami telah menemukanmu, kau harus ikut kami pulang dan mengobati pasien. Jika Losi (saudara ke 4) kami sembuh, aku jamin kau akan bisa minum berbotol-botol arak."

Bwe-jisiansing itu hanya menatap cawan arak yang sudah pecah, menarik nafas panjang, lalu berkata.

"Kau sudah tahu perangaiku. Kau pun pasti tahu, aku takkan pernah menyembuhkan tiga macam orang."

"Tiga macam orang seperti apa?"

"Yang pertama, aku tidak akan menyembuhkan orang yang tidak bayar di muka. Jika kurang sepeser saja, tak akan kusembuhkan dia."

Salah seorang dari mereka menjawab.

"Kami telah memberimu banyak uang!"

Bwe-jisiansing meneruskan.

"Yang kedua, aku takkan merawat orang yang bersikap kasar padaku. Yang ketiga, aku tak akan pernah merawat penjahat, pencuri, dan pembunuh."

Ia menghela nafas, lalu menggelengkan kepalanya.

"Kau telah melanggar dua aturan terakhir. Kalian masih berharap aku mau menyembuhkannya? Silakan mimpi saja."

Orang-orang itu menyahut.

"Jika kau tidak menyembuhkannya, kami akan membunuhmu."

"Sekalipun kalian membunuhku, aku tak akan menyembuhkannya!"

Orang yang bopengan itu maju dan menamparnya, sehingga tubuh si tabib terpelanting.

Darah keluar dari mulutnya.

Tadinya Li Sun-Hoan berpikir, tabib ini pura-pura saja tak tahu ilmu silat.

Sekarang ia baru sadar, bahwa tabib ini hanya mulutnya keras, tapi tubuhnya tidak.

Tio-lotoa menghunus pisaunya, dan berkata.

"Kalau kau berkata ‘tidak’ setengah kali saja, akan kupotong sebelah tanganmu sebelum kau sempat menyelesaikan perkataanmu."

Bwe-jisiansing menyahut.

"Kalau aku bilang tidak ya tidak. Kenapa aku harus takut dengan penjahat kelas teri macam kalian?"

Tio-lotoa sudah akan maju, tapi Sang Kusir tiba-tiba menggebrak meja, dan berkata lantang.

"Ini adalah tempat minum arak. Jika kalian tidak mau minum, cepat menyingkir!"

Suaranya seperti geledek, Tio-lotoa pun merasa jeri.

"Siapa kau? Berani-beraninya ikut campur?"

Li Sun-Hoan tersenyum, katanya.

"Hanya menyuruh mereka pergi, kurang menarik. Suruhlah mereka merangkak ke luar."

"Siauya menyuruh kalian merangkak ke luar. Dengar tidak?"

Tio-lotoa melihat orang ini sakit dan sangat lemah, juga sangat mabuk. Ia jadi tidak takut lagi, katanya.

"Karena kalian berdua sangat berani, mari kurobek perutmu."

Goloknya berkilauan, menyabet ke arah Li Sun-Hoan.

Sang Kusir menyorongkan tangannya ke depan, berusaha menghalangi sabetan golok.

Namun karena ia sangat mabuk, kelihatannya ia malah berusaha menangkap golok itu dengan tangannya.

Si pemilik warung sungguh kuatir karena pastilah lengan orang itu akan putus kena golok.

Siapa sangka, lengan itu masih tetap utuh, malahan golok itulah yang mencelat ke atas.

Tio-lotoa terkejut luar biasa, pikirnya.

"Ilmu silat orang itu membuatnya kebal senjata. Apakah dia ini hantu?"

Orang bopengan itu juga menjadi takut sekali, tapi dipaksakannya untuk tertawa sambil berkata.

"Bolehkah kutahu namamu, sobat? Kalau tidak bertempur, mana bisa jadi kawan. Marilah kita berkawan saja."

Sang Kusir menjawab dingin.

"Kau tak pantas jadi temanku. Sana keluar!"

Tio-lotoa melompat ke depan, sambil berkata.

"Kau tak perlu bersikap kasar. Tidak baik bermusuhan dengan kami, kalau…."

Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, si bopengan membisikkan sesuatu kepadanya. Matanya melirik ke arah pisau di tangan Li Sun-Hoan. Wajah Tio-lotoa memucat seperti kertas, katanya pelan.

"Tidak, tidak mungkin dia."

"Siapa lagi? Aku dengar setengah bulan yang lalu dari Si Kura-kura Tua bahwa ia telah kembali dari perbatasan. Si Kura-kura Tua mengenalnya sejak dulu. Tidak mungkin ia salah."

Kata Tio-lotoa.

"Tapi, pemabuk ini…."

"Orang ini sangat menyukai makanan, arak, wanita, juga judi. Kesehatannya juga tidak pernah baik. Namun pisaunya…."

Waktu berbicara tentang pisau, suaranya bergetar.

"Tidak usahlah kita bermusuhan dengan orang macam dia."

Tio-lotoa tertawa.

"Jika aku tahu dia ada di sini, walaupun orang mengancamku dengan pisau, aku takkan mau datang ke sini."

Ia terbatuk dua kali dan membungkukkan tubuhnya sambil tertawa.

"Aku yang kecil ini punya mata, tapi tidak bisa melihat, sehingga tidak mengenali engkau, Tuan. Bahkan aku sudah mengganggu ketenanganmu minum arak. Aku yang kecil ini pantas mati. Kini aku hendak pamit saja."

Tidak jelas apakah Li Sun-Hoan mendengar kata-kata ini atau tidak.

Ia terus minum dan terus terbatuk-batuk, seperti tidak ada sesuatu pun yang terjadi.

Orang-orang ini datang bagai harimau, kini mereka pergi bagai anjing.

Baru sekarang Bwe-jisiansing bangkit, namun ia tidak berusaha berterima kasih pada Li Sun-Hoan.

Ia malah berdiri di atas kursinya sambil berteriakteriak.

"Arak! Beri aku arak!"

Para pelayan jadi bingung.

Tak bisa dipercaya orang ini baru saja dipukuli.

Pelanggan yang lain sudah pergi semuanya.

Yang tinggal hanya ketiga orang ini.

Ketiganya terus minum, tak berbicara sepatah katapun.

Li Sun-Hoan melongok ke luar jendela, dan tiba-tiba tersenyum.

"Arak memang sangat aneh. Kalau kau ingin terus sadar, kau akan mabuk lebih cepat. Kalau kau ingin cepat mabuk, kau malah tidak mabuk-mabuk."

Bwe-jisiansing juga terkekeh.

"Mabuk dapat menyelesaikan banyak persoalan. Yang paling baik adalah mabuk sampai mati. Tapi sayangnya, Langit tak akan membiarkan seseorang mati semudah itu."

Alis Sang Kusir terangkat, melihat Bwe-jisiansing berjalan terhuyung-huyung ke arah mereka. Ia menatap Li Sun-Hoan dan bertanya.

"Tahukah kau berapa lama lagi kau akan hidup?"

"Tidak lama."

"Jika kau tahu hidupmu tidak lama lagi, mengapa tak kau bereskan urusanmu sebelum mati, malahan datang ke sini untuk minum?"

Sahut Li Sun-Hoan.

"Mengapa urusan-urusan sepele, macam hidup dan mati, harus mengganggu acara minumku?"

Bwe-jisiansing bertepuk tangan, tertawa.

"Betul. Betul. Hidup dan mati adalah urusan sepele. Sebaliknya, minum arak adalah peristiwa penting. Kata-katamu sungguh sesuai dengan seleraku."

Tiba-tiba matanya terbuka lebar, katanya.

"Kurasa sekarang kau tahu siapa aku, bukan?"

Jawab Li Sun-Hoan.

"Belum."

"Kau sungguh tidak tahu siapa aku?"

Sang Kusir memotong kasar.

"Kalau dia bilang tidak tahu, ya tidak tahu. Kenapa harus diulang-ulang?"

Bwe-jisiansing menatap Li Sun-Hoan, lalu berkata.

"Ternyata kau tidak menyelamatkanku untuk menyembuhkanmu."

Li Sun-Hoan tertawa.

"Jika kau ingin minum arak, kita bisa minum bersama. Jika kau datang untuk menyembuhkanku, kusarankan kau pergi saja. Jangan membuang-buang waktu minumku."

Bwe-jisiansing terus memandang Li Sun-Hoan sampai cukup lama. Katanya kemudian.

"Beruntung sekali. Sangat beruntung. Kau tahu, kau sangat beruntung bertemu dengan aku."

Kata Li Sun-Hoan.

"Aku tidak punya uang. Aku juga tidak jauh berbeda dari perampok dan pencuri. Kau boleh pergi."

Siapa sangka, Bwe-jisiansing malah menggelengkan kepalanya berkali-kali.

"Tidak tidak tidak. Tidak meyembuhkan orang lain, tidak jadi soal. Tapi jikalau kau menolak aku menyembuhkanmu, kau harus membunuhku."

Mata Sang Kusir berbinar-binar.

"Kau sungguh dapat menyembuhkannya?"

Jawab Bwe-jisiansing.

"Selain Bwe-jisiansing, tidak ada seorang pun di dunia yang dapat menyembuhkannya."

Sang Kusir berdiri, dirapikannya kemejanya, sambil bertanya.

"Tahukah kau apa penyakitnya?"

Sahut Bwe-jisiansing.

"Kalau aku tidak tahu, siapa yang bisa tahu? Kau pikir Saudara Keenamku, Hoa Hong, sanggup meramu ‘Han-keh-san (Bubuk Ayam Dingin)’?"

"Han-keh-san (Bubuk Ayam Dingin)? Racun itu Han-kehsan (Bubuk Ayam Dingin)?"

Bwe-jisiansing terkekeh.

"Selain Han-keh-san (Bubuk Ayam Dingin) milik keluarga Bwe, racun apa yang dapat membunuh Li Sun-Hoan?"

Sang Kusir terkejut sekaligus gembira.

"Jadi maksudmu kaulah yang meramu racun Hoa Hong?"

Bwe-jisiansing tertawa terbahak-bahak.

"Selain ‘Biau-Liong-tiong (Tabib Sakti)’ Bwe-jisiansing, siapa yang dapat meracik racun sehebat ini? Sepertinya kau bukan orang berpengetahuan. Hal seperti ini saja tidak tahu."

Kini Sang Kusir girang bukan kepalang.

"Jadi dialah yang meramu racun itu. Siauya, kau pasti akan selamat."

Li Sun-Hoan tertawa pahit.

"Aku tahu hidup itu sulit, tapi aku baru tahu untuk mati dengan tenang pun sangat sulit."

Kini mereka sudah ada dalam kereta. Sang Kusir merawat Li Sun-Hoan, tapi ia juga mengawasi Bwejisiansing. Ia masih belum puas. Tanyanya.

"Jika kau bisa menyembuhkan keracunannya, mengapa kita harus pergi menemui orang lain?"

Sahut Bwe-jisiansing.

"Aku tidak mencari orang ‘lain’. Bwe-toasiansing. Ia kakakku. Rumahnya dekat."

"Jangan kuatir. Jika aku sudah berkata aku akan menyembuhkan dia, ia tidak akan mati."

"Mengapa kau perlu bertemu dengan kakakmu?"

"Karena dia punya obat penawarnya. Sudah puas?"

Kini ia benar-benar diam. Sebaliknya Bwe-jisiansing lantas bertanya padanya.

"Yang kau latih Kim-cong-toh atau Thi-poh-san?"

"Thi-poh-san,"

Jawab si berewok dengan mendelik. Bwe-jisiansing menggelengkan kepalanya sambil tertawa.

"Aku sungguh tak mengira ada orang yang melatih ilmu silat sebodoh ini. Hanya berguna untuk melawan preman jalanan."

Sang Kusir menjawab dingin.

"Ilmu silat yang bodoh lebih baik dari pada tidak tahu silat."

Bwe-jisiansing sama sekali tidak marah. Ia terus tersenyum.

"Yang kudengar, untuk melatih ilmu silat macam ini, kau harus tetap perjaka. Tidakkah pengorbanan semacam itu sedikit terlalu besar?"

"Hmmh."

Lanjut Bwe-jisiansing lagi.

"Yang kudengar, dalam lima puluh tahun terakhir, hanya ada satu orang yang sungguh bodoh yang mau memperlajari ilmu silat ini. Namanya ‘Thi-kah-kim-kiong (si Dada Besi Baja Emas)’, Thi Toan-kah. Namun dua puluh tahun lalu, terjadi sesuatu padanya. Kini tidak ada yang tahu apakah dia sudah mati, atau masih hidup. Mungkin dia belum mati. Mungkin dia masih bisa minum arak."

Mulut Sang Kusir tertutup rapat. Apa pun yang dikatakan Bwe-jisiansing, ia diam saja. Bwe-jisiansing memejamkan mata, berusaha memulihkan tenaganya. Setelah beberapa saat, Sang Kusir balas berkata.

"Yang kudengar, ‘Jit-biau-jin (tujuh manusia ajaib)’ tidak peduli akan reputasi mereka. Sepertinya kau tidak demikian."

Jawan Bwe-jisiansing.

"Aku mengambil uang orang, lalu menolak untuk menyembuhkannya. Kau pikir itu kurang bejad?"

"Jika kau akhirnya setuju untuk merawat dia, maka kaulah yang akan kehilangan muka. Mengambil uang dan menyembuhkan orang adalah dua hal yang berbeda. Tak ada alasan untuk tidak mengambil uang dari orang-orang macam mereka."

Bwe-jisiansing menyahut.

"Tampaknya kau tak sebodoh yang kukira."

Sang Kusir berkata lagi.

"Orang yang dianggap licik oleh banyak orang, mungkin sebenarnya tidak terlalu licik. Akan tetapi dari sekian banyak orang yang disangka gagah, berapa banyakkah yang benar-benar gagah?"

Li Sun-Hoan duduk diam sambil tersenyum.

Sepertinya ia mengikuti pembicaraan, tapi sepertinya juga pikirannya ada di tempat lain.

Di luar, salju telah memberi warna putih pada segala sesuatu.

Jika seseorang masih dapat bertahan hidup, bukankah itu suatu hal yang baik?

Bayangan seseorang tergambar dalam benak Li Sun-Hoan.

Wanita itu mengenakan pakaian ungu, dan mantel berwarna ungu muda tersampir pada pundaknya.

Ia berdiri dengan latar belakang salju putih, dan tampak sangat cantik.

Ia ingat Si Dia sangat menyukai salju.

Setiap kali turun salju Si Dia akan menarik tangannya ke luar ke halaman, melemparinya dengan bola salju dan menantangnya untuk mengejar Dia.

Ia ingat, hari dia membawa Liong Siau-hun pulang, juga turun salju.

Si Dia sedang duduk di paviliun dalam taman Bwe.

Sedang menikmati indahnya salju dan pohon Bwe.

Ia ingat bahwa tiang-tiang paviliun itu merah cerah.

Tapi sewaktu Si Dia duduk di antara tiang-tiang itu, warna kedua tiang dan warna seluruh pohon Bwe menjadi pudar.

Ia tidak memperhatikan reaksi Liong Siau-hun saat itu.

Namun di kemudian hari, ia bisa membayangkannya.

Saat itu, hati Liong Siau-hun pasti sudah hancur berantakan.

Kini, apakah paviliun itu masih sama?

Masih seringkah Si Dia duduk di sana, menghitung bunga-bunga Bwe?

Li Sun-Hoan berusaha bangun dan tersenyum pada Bwejisiansing.

"Ada arak dalam kereta. Mari kita minum."

Salju, kadang lebat kadang berhenti.

Dengan petunjuk Bwe-jisiansing, kereta berbelok ke jalan kecil, dan sampai pada sebuah jembatan kecil.

Kereta itu tak dapat menyeberang.

Sang Kusir mendukung Li Sun-Hoan menyeberangi jembatan.

Terlihat sebuah gubug kecil di antara pohonpohon Bwe.

Sewaktu mereka mendekat, terdengar suara dari dalam hutan.

Seorang laki-laki berpakaian rapi menyuruh dua orang pembantunya menyiramkan air pada pohon yang tertutup salju.

Sang Kusir berbisik.

"Inikah Bwe-toasiansing?"

Jawab Bwe-jisiansing.

"Selain orang tolol ini, siapakah yang menyiramkan air untuk membersihkan es dan salju dari batang pohon?"

Sang Kusir tak dapat menahan tawa.

"Maksudmu dia tidak tahu bahwa dengan menyiramkan air, salju akan tetap menempel dan airnya malah akan jadi es?"

Bwe-jisiansing tertawa getir, dan mengeluh.

"Ia bisa tahu keaslian suatu benda seni sekali tengok. Ia juga bisa meramu dalam sekejap racun yang paling mematikan dan penawar yang paling hebat. Namun ia tidak dapat mengerti hal-hal yang sederhana."

Selagi mereka bercakap-cakap, Bwe-toasiansing memaLingkan wajahnya dan melihat kedatangan mereka. Wajahnya terkesiap seperti sedang memandang anak-anak nakal. Katanya.

"Cepat! Cepat sembunyikan seluruh lukisanku yang berharga. Kalau sampai dilihatnya, akan digadaikannya untuk membeli sebotol arak."

Bwe-jisiansing tersenyum.

"Lotoa. Jangan kuatir. Aku sudah minum arak hari ini. Aku datang dengan dua teman…."

Sebelum kalimatnya selesai, Bwe-toasiansing menutup mata dengan kedua tangannya, katanya.

"Aku tak ingin melihat teman-temanmu. Semua temanmu adalah orang jahat. Kalau aku melihat seorang saja, aku akan sial tiga tahun."

Bwe-jisiansing jadi kesal, maka katanya.

"Baik. Kau menghina aku. Kau pikir aku tak mungkin punya teman yang baik. Mari Li Tamhoa, kita pergi saja."

Sang Kusir menjadi gusar.

"Mana obat penawarnya? Kita tidak bisa pergi begitu saja!"

Tak disangka, ekspresi wajah Bwe-toasiansing berubah cepat.

"Maksudmu dia dari keluarga yang turun-temurun lulus ujian kenegaraan, ayah dan kedua anaknya mendapat gelar Tamhoa, Li Tamhoa yang ITU?’ Bwe-jisiansing menjawab dingin.

"Kau tahu Li Tamhoa yang lain?"

Kata Li Sun-Hoan.

"Ya. Itulah aku."

Baca Juga: Kuda Putih Okt

Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert