Ceritasilat Novel Online

Pendekar Baja 12

Eps 12 Pendekar Baja - Gu Long

Baca online Pendekar Baja - Gu Long

Cersil Pendekar Baja - Gu Long.

Bila seorang memukul ular, bagian mana yang akan dihajarnya?"

"Bagian leher tepat di bawah kepala."

Di mana bagian fatalmu?"

Tanya Sim Long. Gemerdep sinar mata Koay-lok-ong, mendadak ia tergelak pula.

"Haha, bagus! Sim Long memang tidak malu sebagai Sim Long .... Haha, bilamana tidak kubekuk dirimu seperti ini, sungguh aku takkan pernah tidur nyenyak dan makan nikmat."

Dia terbahak-bahak, lalu berucap pula,"

Wahai Sim Long, apakah kau kira bagian kelemahanku itu mudah diserang?"

"Sekali serang sedikitnya akan membuat cedera tangannya,üjar Sim Long tersenyum.

"Haha, masa cuma tangannya saja yang cedera? ...."

Mendadak Koay-lok-ong berhenti tertawa dan membentak.

"Di mana si nomor satu?!"

Cepat si nomor satu membedal kudanya ke depan, serunya sambil memberi hormat.

"Tecu sudah memeriksa perbekalan dan ternyata tidak kekurangan, hanya air minum saja yang cuma cukup untuk persediaan satu hari, maka kita perlu memutar ke Kewat ...."

Soal ini jangan diurus dulu, kutanya padamu, ketujuh tempat peternakan kuda yang kusuruh usahakan itu, tempat mana yang berjarak paling dekat dari sini?"

Tanya Koay-lok-ong.

"Ada yang terdekat, yaitu Pek-liong-tui (onggokan naga putih),"

Jawab si nomor satu.

"Mungkinkah tempat itu diketemukan Liong-kui-hong?"

Tanya Koay-lok-ong pula.

Jilid 36

"Benua hijau (oasis) itu baru saja ditemukan, biarpun Liong-kui-hong mengetahui setiap jengkal tanah hijau di gurun pasir ini, tempat kita ini pasti takkan diketahui olehnya,"

Tutur si nomor satu dengan penuh keyakinan.

"Berani kau jamin?"

Bentak Koay-lok-ong.

"Oasis itu sudah Tecu tutup dengan berbagai alingan buatan, pasti takkan ketahuan."

Sudah berapa banyak kuda yang dipelihara?"

Tanya Koay-lok-ong pula.

"Lantaran tanah hijau itu tidak terlalu subur, maka sampai sekarang baru terawat 12 ekor, namun semuanya kuda pilihan satu di antara seribu."

Dengan kecepatan lari unta, dari sini ke sana diperlukan waktu berapa lama?"

"Dalam waktu dua jam akan sampai di sana,"

Jawab si nomor satu.

"Kecuali dirimu sendiri, siapa lagi yang kenal jalannya?"

Hanya Samte (adik ketiga) saja.Äkhirnya Koay-lok-ong tertawa cerah.

"Bagus .... Dengan bakatmu sebenarnya sudah mampu berdiri sendiri, maka dapatlah kuserahkan pasukan ini di bawah pimpinanmu. Sim Long dan lain-lain juga kuserahkan padamu."

Lantas Ongya sendiri ...."

"Hendaknya kau suruh Losam memilih sembilan orang ikut dalam rombonganmu, segera aku pun akan berangkat, lebih dulu menuju tempat perawatan kuda,"

Kata Koay-lok-ong. Si nomor satu tidak berani tanya lagi, ia mengiakan dengan hormat, lalu mengundurkan diri. Koay-lok-ong lantas menarik bangun Pek Fifi, katanya.

"Marilah kau pun ikut pergi bersamaku."

Ongya hendak pergi ke mana?"

Tanya Fifi dengan senyum memikat. Koay-lok-ong tertawa keras.

"Kita akan pulang dulu, akan mematahkan tangan yang menjemukan itu."

Dalam waktu singkat rombongan Koay-lok-ong lantas dalam perjalanan, gerak cepat mereka sungguh harus dipuji, hampir tidak pernah membuang waktu percuma. Jit-jit berkata dengan gegetun.

"Tampaknya Hok-siu-sucia itu selain gagal total usaha balas dendamnya, bahkan ingin pulang dengan selamat pun sukar."

Meski pertarungan ini dilakukan terlampau tergesa-gesa sehingga gagal, tapi bila Koay-lok-ong ingin menumpasnya rasanya juga tidak gampang,üjar Sim Long dengan tersenyum.

"Aku pun berharap dia dan Koay-lok-ong ...."

Mendadak terputus ucapan Jit-jit, sebab dilihatnya si nomor satu sedang mendekat dengan langkah lebar. Dengan tersenyum ia berkata kepada Sim Long.

"Ongya telah menyerahkan tugas berat ini di atas bahuku, meski tenagaku terbatas terpaksa harus kupikul. Bilamana sepanjang jalan Kongcu sudi sering memberi petunjuk, tentu aku akan sangat berterima kasih."

Ah, bicaramu terlalu sungkan,"

Kata Sim Long tertawa. Tapi dengan serius si nomor satu menjawab.

"Apa yang kukatakan adalah sesungguh hati, terhadap Sim-kongcu sungguh aku kagum tak terkatakan. Sepanjang jalan jika Kongcu suka bekerja sama segala permintaanmu pasti akan kupenuhi."

Sungguh Koay-lok-ong sangat beruntung mempunyai murid serupa dirimu,üjar Sim Long.

"Seorang yang dapat bersikap merendah diri terhadap tawanannya, kelak pasti akan mencapai sukses yang tak terhingga."

Terima kasih atas pujian Kongcu,"

Sahut si nomor satu sambil hormat.

"Bolehkah kuketahui namamu?"

Sesudah masuk perguruan Ongya, nama kami sudah lama terlupakan semua,"

Jawab si nomor satu.

"Cuma, karena Kongcu ingin tahu, biarlah kukatakan .... Tecu bernama Pui Sim-ki."

Pui Sim-ki? Sungguh nama yang indah,"

Kata Sim Long.

"Bolehkah kutanya, kita akan menuju ke mana?"

Lebih dulu menuju ke Kuwat untuk menambah perbekalan, lalu memutar ke barat laut."

"Barat laut?"

Mendadak Ong Ling-hoa menukas.

"Memangnya hendak ke tempat macam apa?"

Menuju ke daerah Robor,"

Tutur Pui-Sim-ki dengan tersenyum. Tergerak hati Ling-hoa.

"Robor? .... Apakah daerah rawa-rawa yang menurut kabar di dunia Kangouw suatu tempat yang sukar dilintasi burung itu?"

Betul, memang itulah tempat yang akan kita tuju."

"Wah, jika di sana burung dan binatang pun tidak dapat hidup, cara bagaimana manusia akan dapat hidup di sana?"

Timbrung Jit-jit.

"Sudah tentu ada manusia yang sanggup hidup di sana,ücap si nomor satu alias Pui Sim-ki.

"Orang lain mungkin sanggup, tapi selamanya Koay-lok-ong mengutamakan hidup nikmat, kafilahnya pun menggunakan kemah yang megah, semuanya serbamewah, masa di tempat hantu begitu juga ada tempat tinggal?"

Koay-lok-ong adalah manusia luar biasa, orang luar biasa tentu juga mempunyai tempat kediaman yang luar biasa,üjar Sim Long.

"Aha, pantas Ongya sering bilang Sim-kongcu adalah orang yang paling kenal pribadi beliau, tampaknya memang tidak salah pandangan beliau,"

Seru Pui Sim-ki sambil berkeplok.

Kuwat adalah sebuah oasis atau tanah hijau yang subur yang paling luas di tengah gurun Pek-liong-tui, sekian tahun terakhir tempat ini sudah berubah menjadi sebuah pasar atau tempat dagang, kaum gembala dan kaum saudagar sering melakukan macam-macam jual-beli di sini.

Kafilah yang berlalu-lalang juga sama berhenti di sini.

Soalnya ratusan li di sekitar tempat ini hanya tempat inilah satu-satunya tanah hijau yang terdapat sumber air.

Begitulah kafilah yang dipimpin Pui Sim-ki juga singgah di sini dan menambah air minum dengan harga yang mahal.

Habis itu kafilah mereka lantas mulai memasuki daerah rawa-rawa Robor yang saking luasnya sukar dilintasi burung terbang.

Perjalanan ini tentu saja sangat sulit, kalau saja Pui Sim-ki tidak paham seluk-beluk daerah ini, sungguh sukar dibayangkan cara bagaimana mereka akan melintasi daerah hantu ini.

Sekalipun di tengah keadaan sulit, kafilah mereka masih tetap mempertahankan disiplin yang ketat, barisan tetap rajin dan beriring-iring menuju ke daerah kering bekas sungai Kuruk.

Sekarang, akhirnya Cu Jit-jit dapat menumpang satu unta bersama Sim Long.

Meski perjalanan sangat sulit, namun hatinya selalu dirasakan manis dan bahagia.

Dia tidak pernah berdekapan sekian lama dengan Sim Long, sungguh dirasakan perjalanan ini tidak sia-sia.

Ia tidak tahu bahwa makin maju selangkah ke depan, jarak mereka dengan kematian juga tambah dekat selangkah.

Inilah perjalanan kematian dan sekarang mereka sudah mendekati titik akhir.

Sesudah memasuki daerah rawa-rawa, angin pasir menjadi kecil.

Suasana terasa sunyi, hanya suara keleningan unta yang nyaring terkadang berkelinting memecah perjalanan yang gersang ini.

"Mengapa Koay-lok-ong tinggal di tempat semacam ini? Apakah dia tidak takut menderita?üjar Jit-jit.

"Di tengah gurun, di mana-mana terdapat tempat misterius yang sukar dibayangkan,üjar Sim Long.

"Kukira di tengah rawa tentu juga ada satu tempat begitu dan Koay-lok-ong tinggal di situ."

Tempat misterius? Masa di tengah gurun juga ada tempat serupa kuburan kuno itu?"

"Keajaiban alam ini siapa yang dapat menduganya?üjar Sim Long. Jit-jit termenung sejenak, ujung mulutnya menampilkan senyuman manis, katanya kemudian.

"Masih ingat tidak ketika kita berada di kuburan kuno ...."

Ya, untuk pertama kalinya kita bertemu Kim Bu-bong di sana,"

Kata Sim Long.

"Kupikirkan urusanmu, engkau justru teringat kepada orang lain,ömel si nona.

"Engkau berada di sini, buat apa kupikirkan lagi, sebaliknya Kim Bu-bong kan ....¡ mendadak Sim Long menghela napas. Wajah Jit-jit juga menampilkan rasa haru, ucapnya.

"Kim Bu-bong memang tidak diketahui bagaimana nasibnya, tapi adikku sendiri (si Anak Merah) sejak itu juga ... juga hilang dan entah ke mana perginya."

Sim Long tertawa cerah, katanya.

"Adikmu itu pintar dan lincah, siapa pun tidak tega membikin susah dia, siapa yang menemukan dia pasti akan menjaganya dengan baik."

Tapi bila jatuh di tangan orang jahat, kan bisa ...."

Jit-jit menjadi sedih. Mendadak bergema suara keleningan unta, terdengar seruan Pui Sim-ki.

"Sim-kongcu ...."

"Ada apa,"

Jawab Sim Long. Pui Sim-ki menyingkap tabir tenda kecil dan berkata.

"Maaf jika kuganggu kalian, terpaksa harus kuperlakukan kasar kepada kalian."

Perlakuan kasar?"

Jit-jit tidak mengerti. Pui Sim-ki memperlihatkan dua potong kain hitam, katanya dengan tertawa.

"Tempat tujuan sudah hampir sampai, terpaksa harus kututup mata kalian."

Ai, toh di sini juga kami tidak dapat melihat apa-apa dan mata kami masih perlu ditutup?üjar Jit-jit.

"Maaf, atas perintah Ongya, terpaksa harus kulaksanakan,"

Jawab Pui Sim-ki dengan menyesal.

Maka Sim-Long dan Jit-jit kemudian tidak dapat melihat apa-apa lagi.

Meski kain hitam itu tidak terlalu erat menutupi mata mereka namun cukup rapat.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba dari jauh ada suara teriakan lantang, seorang berseru.

"Ban-tiang-ko-lau (gedung setinggi selaksa tombak)."

Lalu pihak sana menjawab.

"Jim-kok-yu-lan (anggrek indah di lembah gunung)!"

Habis itu langkah unta tambah cepat, derap langkah tambah keras.

"Apakah mungkin kedua kalimat itu kata sandi Koay-lok-ong?"

Tanya Jit-jit.

"Jika begitu tampaknya di sinilah sarang Koay-lok-ong?"

Dari suara kaki unta, agaknya sudah sampai di tanah yang keras,üjar Sim Long.

Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar suara orang ramai, terdapat pula suara orang perempuan dan ngikik tawa anak kecil.

"Masa di sini ada sebuah kota?ücap Jit-jit heran.

"Secara logika mestinya tidak ada, dari suara kaki unta yang menyentuh tanah, tempat seperti ini tidak mungkin dapat dibangun perumahan, bisa jadi ... bisa jadi tempat ini cuma berkumpulkan rakyat gembala dan cuma dikelilingi perkemahan saja di sekitar sini."

Tapi mengapa Koay-lok-ong bisa tinggal di sini?"

"Aku sendiri tidak dapat menerkanya."

Tengah bicara, suara berisik dan tertawa orang tadi sudah mulai jauh lagi. Rupanya kafilah mereka telah melalui dusun itu. Menyusul rasanya seperti menurun ke bawah. Jit-jit tambah heran.

"Aneh, di sini kan tanah datar, kenapa bisa menuju ke bawah?"

Sim Long termenung tanpa bersuara.

Dalam pada itu derap kaki unta tambah keras, dari kedua samping seperti berkumandang suara yang menggema, mereka seperti memasuki sebuah lorong batu yang sempit dan panjang.

Terdengar suara Pui Sim-ki lagi berkata.

"Losam, apakah Ongya sudah pulang?"

Dengan sendirinya sudah pulang,"

Suara si nomor tiga menjawab.

"Ongya menyuruhmu membawa dulu Sim Long dan lain-lain ke sana."

Perlahan langkah unta lantas berhenti, Sim Long dipindahkan ke dalam sebuah tandu lunak. Tandu terus digotong menuju ke depan.

"Jit-jit ....¡ Sim Long coba memanggil. Tapi yang menjawab adalah suara Pui Sim-ki dengan tertawa.

"Cu Jit-jit berada di tandu yang lain."

O, tempat apakah ini? Jangan-jangan di bawah tanah?"

Tanya Sim Long.

"Setelah Kongcu bertemu dengan Ongya tentu akan tahu dengan sendirinya."

Terpaksa Sim Long tutup mulut.

Jika dikatakan tempat ini di bawah tanah, masa di tanah gurun yang lunak ini dapat dibangun sebuah istana di bawah tanah?

Bila bukan di bawah tanah, lantas tempat apakah ini?

Akhirnya kain hitam penutup mata dibuka.

Pandangan Sim Long terbeliak, dari kegelapan dia telah memasuki sebuah dunia lain, memasuki suatu tempat yang gilang-gemilang, sungguh suatu keajaiban.

Inilah sebuah istana yang megah, pilarnya sangat besar dengan ukiran yang indah dan antik, dinding sekeliling gemerlap memancarkan cahaya aneh.

Mimpi pun Sim Long tidak menyangka di tengah gurun pasir terdapat bangunan semegah ini, bilamana benar istana ini terletak di bawah tanah, maka hal ini sungguh suatu keajaiban.

Permadani menghampar pada undakan batu pualam putih memanjang ke atas.

Dari atas sana berkumandang suara tertawa senang Koay-lok-ong.

"Aha, Sim Long, coba lihat bagaimana tempatku ini?"

Sim Long memuji.

"Sungguh megah dan ajaib, sungguh tidak ada taranya, seumpama di permukaan bumi pun jarang ada, jika di bawah tanah ...."

Memang betul di bawah tanah,"

Kata Koay-lok-ong tertawa.

"Engkau dapat membangun istana megah ini di bawah tanah, selain memuji, sungguh sukar untuk dipercaya kalau tidak menyaksikan sendiri."

Meski tempat ini telah kuperbaiki, tapi bukan aku yang membangunnya,"

Kata Koay-lok-ong dengan bangga.

"Bangunan ini semula terletak di permukaan bumi, maka engkau pun tidak perlu terlalu kaget."

Semula berada di permukaan bumi, mengapa bisa pindah ke bawah tanah?"

"Tempat ini tadinya adalah sebuah kota, pada zaman dinasti Ciu sudah ditinggalkan dan lama-lama pun teruruk oleh batu dan pasir, sesudah kutemukan, dengan susah payah kuperbaiki selama sepuluh tahun dengan biaya berjuta laksa tahil emas dan akhirnya dapatlah pulih kemegahannya seperti sediakala."

Wah, ceritamu ini serupa dongeng saja."

"Ini bukan dongeng, menurut catatan sejarah memang terdapat tempat ini. Apakah pernah kau dengar istilah Lau-lan?"

Lau-lan ...."

Sim Long bergumam, mendadak ia berseru.

"Aha, betul, kuingat."

"Coba jelaskan,"

Kata Koay-lok-ong.

"Lau-lan adalah nama sebuah kerajaan di daerah barat sini pada zaman dinasti Han. Untuk berhubungan dengan beberapa negeri barat, utusan kaisar Han-bu-te sering lalu di negeri ini dan sering diganggu. Pada waktu Han-ciu-te naik takhta, dikirimnya panglima perang Po Kay-cu untuk menyerbu negeri ini dan membunuh rajanya, tempat ini pun berganti nama menjadi Sisian. Jangan-jangan tempat inilah bekas istana raja Lau-lan dulu?"

Haha, Sim Long memang berpengetahuan luas, tempat ini memang betul bekas kota-raja Lau-lan,"

Seru Koay-lok-ong dengan tertawa gembira.

"Sesudah kutemukan, lalu kubangun kembali seperti sekarang."

Sim Long menatap lekat-lekat Koay-lok-ong yang tertawa senang itu, katanya dengan gegetun.

"Meski tempat ini bukan dibangun olehmu, tapi caramu menemukan dia pasti tidak kurang sulitnya daripada waktu membangunnya."

Haha, betapa pun cuma Sim Long saja yang kenal pribadiku,"

Koay-lok-ong berkeplok senang.

"Tapi aku tidak tahu saat ini Him Miau-ji berada di mana?"

Haha, sungguh Sim Long yang berbudi luhur! Engkau tidak tanya Jit-jit dulu melainkan tanya Him Miau-ji. Namun jangan kau khawatir, jika engkau masih hidup, tentu mereka pun takkan mati."

"Dan bagaimana dengan sebuah tangan itu?"

Tanya Sim Long pula. Seketika berhenti tertawa Koay-lok-ong, teriaknya sambil menggebrak meja,¡"

Hok-siu-sucia itu ternyata selicin rase, sekali serangan tidak berhasil terus mengundurkan diri, akhirnya lolos juga.Ïa berhenti sejenak, lalu berucap pula dengan tertawa.

"Tapi kukira dia masih akan datang lagi. Bila dia berani datang pula, tempat inilah akan menjadi kuburannya. Tatkala mana akan kulihat sebenarnya dia itu penyamaran siapa?"

Tiba-tiba bergema suara tertawa merdu, Pek Fifi muncul dengan lemah gemulai.

Dia sudah berganti pakaian sutra tipis, di bawah cahaya lampu tampaknya serupa bidadari dari kahyangan dan tidak mirip lagi badan halus dari neraka.

Ia pandang Sim Long dengan tertawa, lalu berkata.

"Sim Long, apakah kau mau tahu suatu berita baik?"

Kabar yang menyenangkan selalu kusiap mendengarkan,"

Jawab Sim Long.

"Ongya dan aku sudah memutuskan akan menikah tujuh hari lagi,"

Tutur Fifi sekata demi sekata.

"Hah, ka ... kalian benar akan ...."

Kaget juga Sim Long.

"Makanya sedikitnya kalian dapat hidup lebih lama beberapa hari lagi,"

Tukas Fifi dengan tertawa manis.

"Dalam masa bahagia kan tidak boleh membunuh orang?"

Tujuh hari ... tujuh hari kemudian ...."

Sim Long jadi gelagapan. Koay-lok-ong bergelak tertawa.

"Tempat ini terletak jauh dan sepi, untuk meramaikan suasana tentu akan kuundang kalian sebagai tamu agung¡"

Fifi tertawa senang.

"Sebelum mati engkau dapat menyaksikan pernikahan kesatria paling besar di zaman ini dengan perempuan paling cantik, hidupmu kan juga tidak percuma." ***** Sekarang Sim Long berbaring di suatu tempat tidur, dinding sekeliling kamar ini penuh macam-macam ukiran aneh dan antik, ada ukiran manusia berkepala binatang, ada binatang berkepala manusia, bentuknya buruk, namun seni lukisnya bernilai tinggi. Namun perabotan di dalam kamar tampak mewah dan baru, meja besar dengan kursi yang lunak, tempat tidur berukir dengan kelambu bersulam. Jelas ini perlengkapan yang ditambah Koay-lok-ong sendiri, sebab pada zaman dinasti Ciu umumnya orang duduk di lantai dan belum kenal kursi. Di kamar inilah terbentuk perpaduan seni antik dan zaman baru, berbaring di tempat tidur dan menikmati seni zaman kuno memang juga semacam kenikmatan yang sukar dicari. Namun pandangan Sim Long justru tertuju ukiran di dinding itu, sejak mendengar ucapan Pek Fifi, hatinya lantas bergejolak.

"Perjodohan yang mahabesar, kesatria mahabesar menikah dengan perempuan paling cantik zaman ini ...."

Sungguh Sim Long tidak tahu harus menangis atau kudu tertawa.

Setahunya kejadian ini adalah tragedi yang paling konyol, dilihatnya tragedi ini segera akan terjadi, tapi dia tidak dapat mencegahnya.

Apalagi dalam hatinya tentu juga masih ada banyak urusan lain yang perlu dipikirkan.

Keadaan sunyi senyap, tidak ada suara apa pun, serupa di dalam kuburan.

Apakah benar dia juga akan terkubur di sini?

Tiba-tiba terdengar suara pintu batu bergeser.

Tercium olehnya bau harum bunga yang biasa terdapat pada tubuh Pek Fifi itu.

Memang betul Fifi telah muncul, setiba di depan ranjang, ia menunduk untuk memeriksa Sim Long.

Seorang mengantarkan satu talam makanan, lalu mengundurkan diri.

Dengan gemulai Fifi berjalan sekeliling di dalam kamar, lalu berkata dengan tertawa.

"Apakah kau tahu siapa yang mendiami kamar ini pada zaman kerajaan Lau-lan?"

Siapa?"

Tanya Sim Long.

"Thay ... Thaykam (dayang kebiri) ...."

Perlahan Fifi membalik ke sana dan meraba ukiran dinding, lalu menyambung.

"Apakah kau tahu ukiran ini melambangkan apa?"

Aku tidak ingin mempelajari sejarah, aku cuma ingin tanya ...."

"Jangan kau tanya padaku,"

Potong Fifi. ¡Aku yang tanya padamu lebih dulu .... Ukiran ini melambangkan apa?"

Sim Long menghela napas dan menjawab.

"Entah, aku tidak tahu."

Ukiran ini adalah sebagian dari agama yang dipuja kerajaan Lau-lan,"

Tutur Fifi.

"Ukiran ini melambangkan nafsu berahi, melambangkan nafsu berahi seorang yang tidak mendapatkan kepuasan."

Meski Sim Long pernah mendengar uraian orang tentang hal-hal yang mengejutkan, tapi seorang gadis bicara secara blakblakan di depan seorang lelaki mengenai seks, hal ini membuatnya melongo juga.

Terpaksa ia menjawab dengan menyengir.

"Luas juga pengetahuanmu."

Fifi tertawa merdu.

"Apakah kau heran? Kau kaget? Kau pikir aku tidak pantas bicara demikian? Setiap orang menganggap pembicaraan urusan ini adalah semacam dosa? Tapi tidak ada yang mau tahu bahwa justru urusan inilah mahapenting untuk dibicarakan."

Sim Long hanya dapat berdehem saja. Fifi berucap pula.

"Tidak perlu engkau berlagak berdehem, ini memang urusan serius, coba kau lihat ....ïa menuding ukiran berbentuk setengah manusia dan setengah binatang itu, lalu menyambung.

"Jika nafsu berahi seorang tidak mendapatkan kepuasan, lahirnya mungkin terlihat manusia, tapi hatinya sudah ada sebagian berubah menjadi binatang."

Oo?!"

Sim Long melenggong.

"Misalnya seorang Thaykam .... Jiwa seorang Thaykam pasti tidak normal, sering juga berbuat hal-hal yang tidak normal, maka kebanyakan Thaykam suka melakukan hal-hal kejam dan keji, umpama memperlakukan sadis orang lain untuk kesenangan sendiri. Coba katakan, apa sebabnya?"

Entah, aku tidak pernah menjadi Thaykam,"

Jawab Sim Long.

"Ini disebabkan nafsu mereka tidak mendapatkan penyaluran secara wajar, sebab itulah mereka sering berebut kuasa dan keuntungan, membikin heboh, memperlakukan orang lain secara sadis sebagai jalan pelepasan nafsunya yang terkekang. Suatu keluarga yang normal, seorang yang mempunyai anak istri pasti takkan melakukan hal-hal kejam seperti perbuatan mereka itu.Ïa berhenti dan tersenyum, lalu bertanya.

"Coba katakan, betul tidak?"

"Rasanya uraianmu juga ada yang betul,"

Jawab Sim Long.

"Meski mulutmu tidak mau mengaku, tapi di dalam hatimu tentu setuju sepenuhnya atas pendapatku, kuberani mengatakan di dunia ini tidak banyak orang yang mempelajari masalah ini setuntas diriku ini."

Ya, memang tidak banyak,üjar Sim Long dengan tersenyum. Fifi mengitar sekali lagi, lalu berdiri di depan Sim Long dan berkata pula.

"Apakah kau tahu sebab apa kutaruh dirimu di kamar bekas tempat tinggal Thaykam ini?"

Kembali Sim Long menyengir.

"Siapa yang dapat menerka jalan pikiranmu?"

Soalnya kehidupanmu juga tidak banyak berbeda dengan kaum Thaykam,"

Kata Fifi. Sim Long melengak bingung.

"Aku ... aku tidak banyak berbeda dengan Thaykam? Selama hidupku banyak juga caci maki orang padaku, tapi ucapan seperti ini baru sekali ini kudengar."

Engkau tidak terima? Memangnya engkau tidak mirip Thaykam yang sekuatnya mengekang nafsu? Jika kau bilang engkau tidak punya nafsu berahi, maka jelas engkau ini penipu."

"Aku ... aku ...."

Makanya hatimu sesungguhnya sudah mendekati binatang, jelas sesuatu yang tidak pantas kau lakukan justru kau kerjakan, sesuatu yang seharusnya tidak perlu kau urus justru kau urus, tingkahmu ini juga tidak berbeda dengan kaum Thaykam."

"Ai, ucapan janggal ini sungguh baru sekarang kudengar selama hidup."

Masa engkau tidak mengaku? Coba kutanya padamu, mengapa engkau tidak berani mendekati orang perempuan?"

"Soalnya aku bukan anjing,"

Kata Sim Long.

"Jika anjing tentu nafsu berahimu akan tersalur, sebab mereka sangat normal, bilakah pernah kau lihat anjing membunuh anjing, tapi manusia membunuh manusia kan terlihat di mana-mana?"

Seketika Sim Long menjadi bungkam. Ia tahu uraian Fifi itu hanya mau menang sendiri saja, tapi ia justru tidak dapat membantah. Fifi tertawa ngikik, ia melangkah lebih maju mendekat, katanya.

"Makanya kubilang manusia itu makhluk yang paling bodoh, pada waktu lapar mereka berani makan, tapi ketika nafsu berkobar, justru tidak berani mengutarakannya."

Aku tidak paham sesungguhnya apa artinya kau bicara hal-hal ini?"

"Selanjutnya engkau akan paham dengan sendirinya,ücap Fifi lembut. Ia angkat talam makanan itu dan berkata pula.

"Sekarang coba katakan padaku, kau lapar tidak? Hal ini tentu kau berani menjawab."

Dengan sendirinya Sim Long sangat lapar.

Makanan itu sangat lezat, ia perlu menambah kekuatan fisik, supaya nanti bila ada kesempatan ia sanggup bekerja dengan baik.

Fifi pun tidak banyak bicara lagi, ia menyuapi Sim Long hingga habis.

Selesai Sim Long makan segera Fifi berdiri, tanyanya sambil menatapnya.

"Sekarang kau perlu apa lagi?"

"Tidak ada,"

Jawab Sim Long.

"Sekalipun ada juga tak berani kau katakan,üjar Fifi dengan tertawa lalu tinggal pergi dengan langkah gemulai. ***** Suasana kembali sunyi senyap, kesunyian yang konyol, kesunyian yang menakutkan. Sampai sekian lama Sim Long memikirkan gadis yang sangat aneh itu, lalu gumamnya, ¡Apa betul aku tidak ada keperluan lain lagi? Mengapa tidak kukatakan ...."

Tiba-tiba ia merasakan dalam tubuh sendiri timbul semacam perasaan aneh, semacam suhu panas yang khas dan mulai tersebar di badannya, ia merasa tubuh sendiri seperti mau meledak.

Tapi ia tidak mampu mengerahkan tenaga untuk melawan, tubuh juga tidak dapat bergerak.

Terpaksa ia menahannya, semacam siksaan yang aneh dan baru pertama kali ini dirasakan.

Mulutnya mulai kering, tapi tubuh justru basah oleh keringat.

Di bawah siksaan itu, entah berselang berapa lama pula, tahu-tahu diketahuinya Pek Fifi berdiri lagi di depan tempat tidurnya.

"Haus tidak?"

Tanya si nona, tangannya membawa secangkir air minum.

"Haus ... haus sekali,"

Jawab Sim Long dengan parau.

"Kutahu jawaban ini berani kau katakan,"

Fifi tersenyum.

Ia mengangkat Sim Long dan memberinya minum.

Meski tubuh Sim Long tidak dapat bergerak, tapi setiap organ dalam tubuhnya seakan-akan lagi bergerak dengan keras.

Bau harumnya ...

tangannya yang halus ...

tubuhnya yang hangat dan menggiurkan ....

Fifi menatapnya dan berucap pula sekata demi sekata.

"Sekarang, kau perlu apa lagi?"

Memandangi dada si nona yang gempal, Sim Long berkata.

"Aku ... aku ...."

"Omong saja bila menghendaki apa-apa,ücap Fifi lembut.

"Mengapa engkau menyiksaku cara begini?"

Bilakah kusiksamu? Asalkan kau katakan kehendakmu, semuanya dapat kupenuhi, tapi engkau tidak berani omong, ini sama dengan engkau menyiksa diri sendiri."

"Aku ... aku tidak ...."

Keringat memenuhi kepala Sim Long, entah memerlukan betapa besar tenaga untuk bicara "

Aku tidakïtu.

"Kutahu engkau tidak berani omong,"

Fifi tertawa pula, tertawa mengejek, lalu ia mendekat, bajunya yang tipis akhirnya jatuh ke lantai.

Di bawah cahaya lampu yang remang-remang tubuhnya yang putih mulus seakan-akan bersinar, dadanya yang montok seperti bergelombang, kakinya yang panjang ....

Dan dia terus merebahkan diri di samping Sim Long, seperti mengigau ia mendesis.

"Kutahu apa kehendakmu ...." ***** Sekarang Hiat-to Sim-Long sudah terbuka, tapi dia masih menggeletak di tempat tidur dengan lemas lunglai. Hal ini bukan lantaran keletihan sesudah terlampau bergairah melainkan karena sisa obat bius itu. Dengan hampa ia memandangi langit-langit kelambu yang berwarna lembayung muda itu .... Dan Fifi justru mendekam di atas dadanya untuk menunggu meredanya napas yang memburu. Habis itu, perlahan ia menggelitik telinga Sim Long, ucapnya lembut.

"Apa yang kau pikirkan?"

Sim Long tidak segera menjawabnya, terhadap ucapan yang sederhana ini tampaknya ia tidak tahu cara bagaimana harus menjawab. Selang sekian lama barulah ia menghela napas dan berkata.

"Seharusnya banyak urusan yang kupikirkan, tapi sekarang aku tidak memikirkan apa-apa."

Fifi tertawa genit.

"Tadi jika kutinggal pergi, apakah engkau takkan gila?"

Aku cuma tidak mengerti mengapa engkau bertindak demikian?"

"Sungguh engkau tidak mengerti? .... Masa engkau tidak tahu aku mencintaimu? Hidupku ini hampa belaka, aku memerlukan kehidupanmu mengisi jiwaku.Ïa tersenyum, lalu menyambung.

"Selain itu, aku ingin melahirkan anak bagimu."

"Hah ... apa katamu?"

Seru Sim Long.

"Melahirkan dan mendidik anak, ini kan urusan biasa, mengapa engkau terkejut?"

Tapi kita ... kita ...."

"Betul, kita tidak dapat terikat menjadi satu, sebab engkau sudah hampir mati, namun melahirkan anak adalah soalnya lain, betul tidak?"

Aku tidak mengerti jalan pikiranmu."

Fifi memejamkan mata dan berucap.

"Sungguh ingin kulihat anak yang kita lahirkan ini orang macam apa, sungguh sangat kuharapkan ....Ïa tertawa terkikik.

"Bayangkan, lelaki paling pintar, paling gagah bersama perempuan paling keji dan juga paling cerdas, anak yang dilahirkan mereka akan menjadi orang macam apa?"

Senang sekali tertawanya, sambil bertopang dagu ia menyambung lagi.

"Ya, sampai aku pun tidak berani membayangkan akan merupakan orang macam apa anak ini, tidak perlu disangsikan lagi dia akan jauh lebih pintar daripada siapa pun. Tapi apakah dia akan jujur, atau jahat? Apakah hatinya penuh cinta kasih terhadap sesamanya seperti ayahnya, atau akan menuruni ibunya yang penuh rasa benci dan dendam?"

Sim Long melongo bingung.

"Wah, ini ... ini ...."

Sungguh ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya. Fifi berucap pula dengan tertawa.

"Kuyakin apa pun anak ini pasti akan menjadi orang yang sangat menonjol, bila dia perempuan, dia tentu akan membuat setiap lelaki di dunia ini tergila-gila dan bertekuk lutut di bawah kakinya. Jika dia lelaki, maka dunia ini pasti akan berubah sama sekali lantaran dia. Engkau setuju tidak?"

Sim Long menghela napas, sungguh dia tidak berani membayangkan hal ini.

"Jika kita mempunyai anak semacam ini, masa engkau tidak senang?"

Memangnya apa yang harus kukatakan?"

"Jika betul kita mempunyai anak sehebat itu, mati pun engkau tentu akan puas,ücap Fifi pula.

"Sedangkan aku, setelah punya anak demikian, biarpun kau mati juga aku takkan kesepian lagi ...."

Lalu ia memejamkan mata pula, sambungnya.

"Bilamana aku teringat padamu asal melihat dia, rasanya tentu akan terhibur."

Sim Long tersenyum getir.

"Dari uraianmu ini, rasanya orang yang menghendaki kematianku bukanlah dirimu. Jika seorang ingin mengenangkan diriku, tapi juga ingin membunuhku, dalil ini sungguh sukar kupahami."

Mengenangkan dirimu kelak dan membunuhmu sekarang, semua ini adalah dua urusan yang berbeda,üjar Fifi dengan tertawa.

"Kecuali dirimu, di dunia ini mungkin tidak ada yang menganggap urusan ini adalah dua hal yang berlainan."

Kan sudah kau katakan sendiri, aku tidak sama dengan orang lain?"

"Betul, memang pernah kukatakan demikian, engkau memang berbeda dengan orang lain."

Engkau juga tidak sama dengan orang lain,ücap Fifi dengan lembut.

"Engkau adalah lelaki yang tidak dapat kulupakan, dua hari lagi bila engkau hadir dalam upacara nikahku, bisa jadi akan kutersenyum padamu."

Upacara nikah? .... Engkau tetap akan menikah dengan Koay-lok-ong?"

"Tentu saja."

Tentu saja? Urusan yang paling tidak wajar, tidak masuk akal, tapi kau anggap lumrah?"

"Memangnya tidak betul?"

Telah kau serahkan tubuhmu kepadaku, juga ingin melahirkan anak bagiku, tapi engkau masih akan menikah dengan orang lain, masa ini pantas?"

"Melahirkan anak dan menikah dengan orang kan dua urusan yang tidak sama."

"Tapi jangan kau lupakan, engkau adalah anak perempuannya."

"Jika aku bukan anak perempuan, mana bisa kunikah dengan dia ....ücap Fifi sekata demi sekata.

"Hah, terhitung dalil apa ini? Sungguh aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Tidak sedikit orang gila yang pernah kulihat, tapi tiada seorang lebih gila daripadamu."

Fifi tertawa terkikik.

"Hihi, akhirnya Sim Long marah juga lantaran diriku, sungguh aku harus merasa bangga."

Perlahan ia meraba dada Sim Long dan menyambung pula.

"Tapi engkau juga jangan marah, apa pun aku tetap cinta padamu, hanya engkau seorang yang kucintai di dunia ini, cinta sampai tergila-gila ...."

Ia pandang Sim Long dengan terkesima dan bicara dengan lembut.

Pada saat yang sama tangannya yang meraba Sim Long sekaligus menutuk beberapa Hiat-to kelumpuhannya dan membuatnya tak bisa berkutik pula.

"Apa pula yang ingin kau katakan padaku?"

Bisik Fifi di tepi telinga Sim Long.

"Dapat kukatakan apa lagi?üjar Sim Long dengan gegetun. ¡Seorang anak perempuan berbaring dalam pelukanku dan bilang mencintaiku, berbareng juga menutuk Hiat-toku ....Ïa tersenyum kecut, lalu menyambung.

"Terhadap anak perempuan begini, apa lagi yang dapat kukatakan."

Tapi anak perempuan begini juga tidak dapat ditemui setiap orang, betul tidak? .... Maka seharusnya engkau merasa beruntung ...."

Fifi tertawa sambil turun dan berdiri di depan tempat tidur, perlahan ia mengenakan pakaiannya, sorot matanya tidak pernah meninggalkan wajah Sim Long, lalu berkata pula.

"Engkau boleh tidurlah, aku mau pergi."

Sim Long tertawa getir.

"Terima kasih atas perhatianmu."

Dalam keadaan begini, lelaki yang masih dapat bicara serupa dirimu rasanya tidak ada keduanya di dunia ini, pantas juga aku sedemikian cinta kepayang padamu."

Mendadak ia berjongkok dan mencium pipi Sim Long, ucapnya lembut.

"Sungguh aku sangat cinta padamu, kelak bila kubunuhmu tentu akan kuperlakukan dengan mesra." ***** Keadaan Cu Jit-jit, Ong Ling-hoa dan Him Miau-ji tentu saja tidak romantis serupa Sim Long, dengan sendirinya juga tidak tersiksa seperti Sim Long. Mereka terkurung di dalam sebuah kamar batu. Hari pertama mereka tidak mau bicara. Hari kedua, mereka ingin bicara, tapi tidak tahu apa yang harus dikatakan. Akhirnya muncul Pek Fifi. Dia kelihatan bercahaya, jauh lebih cantik daripada biasanya. Segera Jit-jit memejamkan mata dan tidak mau memandangnya. Sebaliknya Fifi sengaja menuju ke depannya, tegurnya dengan tertawa manis.

"Eh, nona Cu, Cu-siocia, baik-baikkah engkau?"

Langsung Jit-jit menjawab dengan berteriak.

"Pek-kiongcu, Pek-permaisuri, aku tidak baik, sedikit pun tidak baik."

Mengapa engkau tidak gembira ria?"

Tanya Fifi pula.

"Hm, apakah engkau yang gembira ria?"

Jengek Jit-jit.

"Dengan sendirinya aku sangat gembira, selama hidupku tidak pernah gembira ria seperti ini, sebab sekarang aku sudah mempunyai sesuatu, sebaliknya engkau tidak punya,üjar Fifi dengan tertawa.

"Aku memang tidak mempunyai hati sekeji hatimu,"

Teriak Jit-jit. Fifi tidak menghiraukannya, sambungnya dengan tenang.

"Barang yang kumiliki ini meski sangat kuidam-idamkan, tapi selama hidupmu jangan harap akan kau punyai."

Apa pun kau punyai tidak kuinginkan,"

Teriak Jit-jit.

"Tapi bila engkau mengetahui barang yang kumaksudkan, saking kagumnya mungkin engkau akan menitikkan air mata."

Barang apa itu? Coba katakan!"

"Sekarang tidak dapat kuberi tahukan,"

Jawab Fifi dengan terkikik senang. Saking geregetan sungguh Jit-jit ingin menggigitnya. Sampai sekian lama ia melotot, mendadak ia berteriak pula.

"Di mana Sim Long?"

Dia sangat baik, justru ingin kukatakan padamu sekarang, dia juga sangat gembira ria."

"Sebab ... sebab apa dia gembira?"

Sebab barang yang kumiliki ini adalah hasil buatanku dengan dia,"

Jawab Fifi dengan kerlingan mata yang bahagia. Memandang sinar mata Fifi yang mencorong dan wajahnya yang pucat bersemu kemerah-merahan itu, mendadak tubuh Jit-jit bergemetar, teriaknya.

"Hasil ... hasil perbuatan antara ... antara dia denganmu?"

Ai, adik yang baik, boleh kau pikirkan saja dengan lebih cermat, namun semoga engkau tidak dapat memahaminya, kalau tidak ...."

Fifi mencolek pipi Jit-jit sekali, lalu tinggal pergi dengan tertawa genit.

"Jangan menangis. Jit-jit, jika engkau menangis tentu dia akan tambah senang,"

Kata Miau-ji.

"Tapi dia ... dia dan Sim Long jangan-jangan sudah ... sudah ...."

Memangnya ada apa antara dia dan Sim Long? Masakah engkau tidak percaya kepada Sim Long?"

"Namun perempuan keji seperti dia apa pun dapat diperbuatnya,"

Sambat Jit-jit dengan sedih.

"Ai, anak bodoh, dia bicara begitu tiada lain karena sengaja hendak membikin keki padamu, mengapa kau mau percaya ...."

Tapi bukan mustahil memang sungguh terjadi,"

Jengek Ong Ling-hoa.

"Tidak, tidak sungguh terjadi, tidak mungkin terjadi,"

Seru Jit-jit parau.

"Jika kau yakin tidak terjadi sungguh mengapa engkau menangis?ëjek Ling-hoa.

"Ong Ling-hoa,"

Bentak Miau-ji.

"untuk apa kau bicara demikian? Mengapa kau bikin dia berduka?"

Aku hanya bicara apa yang terjadi sesungguhnya,"

Sahut Ling-hoa.

"Hm, kalian kakak beradik memang serupa, setiap saat selalu mengharapkan orang lain berduka .... Agaknya bila melihat orang lain berduka barulah hati kalian sendiri merasa senang,"

Teriak Miau-ji dengan gusar.

"Betul, aku dan dia memang banyak persamaan, kecuali satu hal."

"Hal apa?"

Tanya si Kucing.

"Dia suka kepada Sim Long, sedangkan aku tidak,"

Jengek Ling-hoa. Miau-ji memandang sekejap Cu Jit-jit yang masih menangis, teriaknya.

"Kentut busuk! Jika dia suka kepada Sim Long, mengapa hendak dibunuhnya pula?"

Soalnya dia tidak boleh tidak mesti membunuhnya."

"Sebab apa?"

Tanya Miau-ji.

"Ada dua alasan. Pertama, demi Koay-lok-ong, dia ingin menuntut balas dan terpaksa menikah dengan Koay-lok-ong. Dan bila dia menikah dengan Koay-lok-ong tentu tak dapat menjadi istri Sim Long ...."

Ling-hoa tertawa, lalu menyambung.

"kutahu orang semacam dia, sesuatu yang tak dapat diperolehnya terpaksa akan dimusnahkannya. Dan karena dia tidak dapat menjadi istri Sim Long, maka dia ingin membunuhnya."

Huh, ini bukan sifat manusia lagi,"

Jengek Miau-ji.

"Apalagi, seumpama dia tidak jadi menikah dengan Koay-lok-ong kan sakit hatinya sudah terbalas juga. Ia tahu takkan mendapatkan Sim Long, sebab ia tahu yang ingin diperistri Sim Long ialah Cu Jit-jit dan bukan dia."

Jika begitu, mengapa tidak, dia bunuh diriku saja,"

Teriak Jit-jit parau.

"Asalkan Sim Long tetap hidup, mati juga aku rela."

Alangkah luhurnya cinta kasih, sungguh mengagumkan,"

Jengek Ling-hoa.

"Tapi nona Cu yang berjiwa luhur, seumpama dia membunuhmu lebih dulu toh dia tetap akan membunuh Sim Long juga."

Sebab apa?"

Tanya Jit-jit.

"Bila dia membunuhmu dan seumpama jadi menikah dengan Sim Long, pasti juga Sim Long akan tambah terkenang kepadamu. Dan semakin Sim Long terkenang padamu, dengan sendirinya juga tambah benci padanya."

Betul juga,üjar Miau-ji.

"Tapi biarpun dia mendapatkan Sim Long tetap takkan mendapatkan hatinya,"

Sambung Ling-hoa pula.

"Dan jika dia tidak mendapatkan hati Sim Long, lebih baik kan membunuhnya. Sebab itu, bicara kian kemari toh dia tidak bisa tidak harus membunuh Sim Long. Rupanya Thian telah mengatur secara begitu, tidak ada pilihan lain baginya."

Mengapa Thian mengatur begini? Mengapa?"

Seru Jit-jit menangis.

"Huh, jangan kau percaya kepada ocehannya, apa yang dipikir Pek Fifi mustahil diketahuinya,"

Kata Miau-ji dengan gusar.

"Masa aku tidak tahu isi hati Pek Fifi?üjar Ling-hoa dengan tertawa.

"Kan dalam tubuh kami mengalir jenis darah yang sama, dengan sendirinya aku jauh lebih paham akan isi hatinya daripada orang lain."

Sungguh aku tidak mengerti, mengapa Thian melahirkan dua manusia serupa kalian ini,ücap Miau-ji dengan geregetan.

"Sebab Thian yang Mahakuasa juga ingin melihat sandiwara menarik ini,ücap Ling-hoa dengan gelak tertawa. Kejadian ini memang sandiwara yang menarik. Cuma siapa pun tidak tahu tragedi atau komedi? Biasanya tragedi di dunia ini selalu lebih banyak daripada komedi. ***** Suasana terasa semarak, semuanya serbabaru, macam-macam warna cemerlang, berbagai jenis kain sutra, semuanya gemilang dan tertumpuk di kamar batu yang tua ini, teruruk di depan Cu Jit-jit. Dua babu kekar membentang setiap bahan pakaian itu dan diperlihatkan kepada mereka, di antaranya cuma Him Miau-ji saja yang tidak sudi memandangnya barang sekejap pun. Pui Sim-ki berdiri di samping dengan berpangku tangan, ucapnya dengan tertawa.

"Kain ini dibeli dari toko Sui-hu-siang yang terkenal di Sohciu, harap kalian masing-masing memilih sepotong, nanti akan kusuruh ahli jahit mengukur badan kalian."

Mengapa Koay-lok-ong sebaik ini kepada kami? "

Tanya Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Kiranya kalian belum tahu ...."

"Tahu apa?"

Tanya Ling-hoa.

"Besok adalah hari nikah Ongya dan nona Fifi, maka Ongya mengundang kalian memakai baju baru untuk ikut hadir pada upacara nikah beliau."

Hah, mereka akan menikah benar-benar?"

Seru Jit-jit.

"Urusan penting begini masakah boleh dibuat berkelakar?üjar Pui Sim-ki. Jit-jit menghela napas panjang, entah duka entah girang, gumamnya.

"Besok ... sungguh cepat mereka ...."

Baik, kupilih kain berwarna jambon itu, warna merah kan tanda bahagia bagi Koay-lok-ong,"

Kata Ling-hoa dengan tertawa.

"Terima kasih atas pujian Kongcu .... Dan Him-kongcu memilih warna apa?"

Tanya Pui Sim-ki.

"Aku bukan Kongcu segala, selama hidup juga takkan memakai baju persetan seperti ini, aku lebih suka telanjang daripada pakai baju begini,"

Teriak si Kucing. Pui Sim-ki tersenyum, katanya.

"Jika Ongya sudah memberi perintah demikian, betapa pun Him-kongcu tidak boleh membantah, karena Him-kongcu tidak mau memilih, biarlah kau pakai warna merah tua ini saja. Dan nona Cu memilih kain warna apa?"

Aku ingin tahu Sim Long memilih warna apa?"

Tanya Jit-jit.

"Entah, aku tidak tahu, urusan Sim-kongcu biasanya diselesaikan oleh nona Pek sendiri."

Jit-jit menggigit bibir, ucapnya.

"Besok ... lewat besok dia masih akan mengurusi dia?"

Dan lewat besok, bagaimana pula dengan kita?"

Tukas Ong Ling-hoa.

Terbayang akan hubungan Pek Fifi dengan Koay-lok-ong dan macam-macam akibat yang mengerikan sesudah mereka menikah, lalu terpikir pula keadaan sendiri, diam-diam Him Miau-ji merasa sedih.

***** Saat itu Pek Fifi lagi bersandar di ujung tempat tidur dan sedang memandang Sim Long, katanya santai.

"Besok juga aku akan menikah."

Sim Long mengiakan dengan tak acuh.

"Apakah yang kau rasakan?"

Tanya Fifi pula.

"Tidak ada,"

Jawab Sim Long. Fifi menggigit bibir.

"Masa tidak kau rasakan sesuatu? Apakah kau tahu selewatnya besok akan bagaimana jadinya dirimu?"

Urusan ini baru akan kupikirkan setelah lewat besok,"

Kata Sim Long. Mendadak Fifi bergelak tertawa.

"Kau tahu betapa bahagia, betapa menyenangkan besok, pada malam sebelum hari besar ini, masa sedikit pun engkau tidak merasakan sesuatu?"

Sedikit pun tidak ada,"

Jawab Sim Long.

"Apakah engkau sudah beku? Sudah mati rasa?"

Teriak Fifi mendongkol.

"Orang yang sudah mati rasa tentu takkan merasa tersiksa, orang yang mati rasa juga ada faedahnya."

Dengan gemas Fifi berteriak pula.

"Sebenarnya akal setan apa yang lagi berkecamuk dalam benakmu?"

Orang yang sudah mati rasa mana punya akal segala?"

"Jangan kau bohong, kutahu orang semacam dirimu tak nanti rela mati begitu saja, sebelum engkau mengembus napas terakhir tidak nanti putus harapan."

Mungkin ...."

"Tapi akal setan apa pun yang kau rancang tetap tidak ada gunanya,ücap Fifi sekata demi sekata.

"Oo, apa betul?"

Kata Sim Long tak acuh. Kembali Fifi tertawa keras, katanya.

"Besok, upacara nikah yang paling aneh, paling bahagia, dan juga paling tragis akan berlangsung, apa yang akan terjadi besok pasti akan dijadikan bahan cerita di dunia persilatan secara abadi. Besok adalah hari yang paling menarik, paling tegang dan paling merangsang yang pernah terjadi di dunia Kangouw."

Dengan penuh emosi ia pegang tangan Sim Long dan berteriak pula.

"Semua ini adalah perencanaanku secara cermat, semuanya akan berlangsung menurut rencana, betapa pun takkan kuinginkan diganggu oleh siapa pun, di dunia ini juga tidak ada seorang pun mampu mengacau dan merusaknya." ***** Dan hari yang luar biasa ini akhirnya tiba juga. Segala sesuatu berlangsung menurut rencana secara ketat dan rapi, sedikit pun tidak kacau, tidak ada titik lemah segala, akibat yang menakutkan dan tragis sudah dapat dibayangkan. Him Miau-ji memakai baju merah tua, berdandan secara rapi, mukanya bercahaya, namun kelihatan gusar, mata melotot. Ong Ling-hoa memandangnya dengan tersenyum, katanya.

"Miau-heng, tak kusangka engkau sedemikian tampan, belum pernah kulihat ketampananmu ini, hari ini engkau sendiri kelihatan seperti pengantin barunya."

Dan kau sendiri serupa cucuku,"

Jawab Miau-ji dengan gemas.

Dia sangat gusar sehingga makian yang lucu juga dilontarkan, habis berucap, ia merasa geli sendiri.

Tapi dalam keadaan demikian mana dia dapat tertawa.

Sekarang mereka serupa boneka saja duduk di atas kursi, di luar terdengar berondongan mercon, menyusul beberapa lelaki kekar lantas menggotong keluar mereka.

Ruangan pendopo dipajang dengan sangat meriah, ruangan yang antik itu tampak semarak dengan hiasan warna-warni.

Namun ketika masuk ke situ, mau tak mau timbul juga semacam rasa seram, ruang pendopo yang luas di mana-mana serasa tersembunyi alamat tidak enak.

Di sini memang tempat yang beralamat tidak baik.

Dahulu, kerajaan Lau-lan yang pernah jaya justru musnah di sini.

Di depan undak-undakan batu pualam sudah dibentang permadani merah, pada ujung sana terdapat sebuah meja besar dengan dua kursi berlapis kain satin, mungkin di sinilah tempat duduk Koay-lok-ong dan permaisurinya nanti.

Seterusnya di kanan-kiri juga ada meja panjang, di atas meja tersedia empat pasang sumpit dan cangkir, semuanya benda berharga yang sukar dinilai.

Ruangan pendopo sudah ramai orang berlalu-lalang, semuanya berbaju baru dan wajah berseri-seri, namun di balik wajah yang berseri itu seperti juga membawa semacam bayangan alamat yang tidak baik.

Mereka seperti sudah merasakan akan terjadi hal yang tidak enak.

Tapi sesungguhnya urusan apa yang akan terjadi?

Sejauh ini tidak diketahui siapa pun.

***** Pada waktu Jit-jit digotong masuk, Sim Long sudah duduk di balik meja panjang sebelah kiri.

Meski Jit-jit sudah bertemu dengan Sim Long entah berapa puluh atau ratus kali, tapi demi melihatnya sekarang, napasnya serasa mau berhenti seluruhnya, mukanya menjadi panas rasanya.

Sim Long sedang memandangnya dengan tersenyum simpul.

Syukurlah, akhirnya Cu Jit-jit didudukkan di sebelah Sim Long.

Dengan suara lembut Sim Long bertanya padanya.

"Selama beberapa hari ini apakah engkau baik-baik saja?"

Jit-jit menggigit bibir dan tidak bersuara. Memang beginilah hati anak gadis bila lagi ngambek.

"Kenapa engkau tidak menggubris diriku?"

Mata Jit-jit menjadi merah, seperti mau mencucurkan air mata.

"Meng ... mengapa engkau berduka?"

Tentu saja aku tidak gembira seperti kau,"

Jawab Jit-jit dengan dongkol.

"Aku gembira?"

Sim Long merasa bingung.

"Kan ada orang menggantikan baju bagimu, ada orang meladenimu, masa engkau tidak gembira?"

Bicara punya bicara, air mata pun berlinang.

"Ah, kembali engkau berpikir yang tidak-tidak lagi,üjar Sim Long dengan tertawa.

"Ingin kutanya, ada orang bilang dia denganmu sudah memiliki sesuatu bersama, barang apakah yang dimaksudkan?"

Ai, kenapa engkau selalu percaya ocehan orang?üjar Sim Long tertawa.

Jit-jit tidak dapat menatap orang secara lurus, ia hanya dapat meliriknya, dilihatnya ujung mulut Sim Long masih membawa senyumnya yang khas itu, senyum yang menggemaskan dan juga memikat.

"Engkau tidak gembira, kenapa masih dapat tertawa?üjar Jit-jit dengan gemas.

"Aku memang rada gembira, tapi sama sekali bukan menyangkut urusan yang kau katakan itu."

Habis mengenai urusan apa?"

"Sekarang engkau jangan tanya dulu, tidak lama tentu kau tahu sendiri,"

Desis Sim Long.

Sinar matanya tampak gemerdep dengan cerdiknya, sinar mata yang sukar diraba apa artinya.

Setelah meliriknya lagi, akhirnya Jit-jit menghela napas dan tidak tanya pula.

Dalam pada itu di balik kedua baris meja panjang sudah penuh diduduki lelaki kekar berbaju satin, tampaknya mereka adalah anak buah Koay-lok-ong, biarpun duduk sebagai tamu, namun mereka duduk dengan prihatin.

Di serambi kedua sisi ruangan pendopo dialingi oleh tabir sutra itu kelihatan bayangan orang berseliweran, dari perawakannya yang ramping jelas mereka adalah anak perempuan, tentunya mereka inilah penari dan penyanyi yang akan meriahkan pesta nikah ini.

Tapi sekarang suara musik belum lagi terdengar, ruangan pendopo sunyi senyap, suara napas masing-masing pun hampir terdengar.

Anehnya di ruangan yang penuh hadirin ini tidak terasa panas, sebaliknya malah terasa seram sejuk.

Pada saat itulah Pui Sim-ki yang kelihatan berjubah satin dan berkopiah kebesaran melangkah masuk dari luar, pedang yang selalu disandangnya sudah ditanggalkan.

Sekilas pandang langsung ia menuju ke tempat duduk Sim Long.

Dia bersikap sangat riang, langkahnya juga enteng.

"Hari ini mungkin engkau yang paling sibuk,"

Sapa Sim Long.

"Kesibukan kerja, bagiku malah terasa senang,üjar Pui Sim-ki dengan hormat.

"Bagaimana keadaan di luar?"

Tanya Sim Long.

"Hari cerah, langit bersih, hawa sejuk, suasana aman tenteram membuat orang lupa pada persoalan pertempuran dan bunuh-membunuh."

Apakah betul takkan terjadi bunuh-membunuh?"

Sim Long tersenyum.

"Beberapa ratus tombak di sekitar sini keadaan aman tenteram, sedikit pun tidak ada tanda memerlukan kewaspadaan, maka Sim-Kongcu boleh silakan minum arak sepuasnya, pasti takkan terjadi sesuatu yang mengganggu kesenanganmu."

Wah, jika begitu, tampaknya hari ini aku benar-benar bisa mabuk,"

Seru Sim Long tertawa.

"Sim-Kongcu dan nona Cu, Ong-kongcu serta Him-kongcu memang merupakan tamu agung khusus Ongya kami, bila kalian tidak makan-minum sepuasnya, kan bisa menyesal nanti,üjar Pui Sim-ki.

"Eh, tamunya apa cuma kami berempat saja?"

Tanya Jit-jit.

"Di dunia persilatan sekarang, kecuali kalian berempat, siapa pula yang berharga menjadi tamu agung Ongya?üjar Sim-ki dengan tertawa.

"Hm, jika begitu, rasanya kami harus merasa beruntung,"

Jengek Jit-jit. Mendadak seorang anggota pasukan Angin Puyuh datang melapor.

"Toako diharapkan lekas siap, upacara sudah hampir dibuka."

Maka terdengarlah suara musik mulai bergema, iramanya perlahan dan meriah.

Enam belas pasang muda-mudi muncul, ada yang membawa karangan bunga, ada yang membawa benda antik, muncul dari ujung permadani sana dan melangkah maju menurut irama musik.

Pada saat itu juga ada empat gadis berbaju apik diam-diam mendatangi belakang Sim Long berempat, keempat gadis sama membawa poci arak perak dan menuangkan arak bagi mereka.

"Terima kasih,ücap Sim Long tersenyum. Seorang gadis lantas mendesis di tepi telinga.

"Nionio (permaisuri) memberi perintah, apabila Kongcu mengucapkan sepatah kata yang merusak suasana riang ini, segera belati yang kubawa akan kutikam punggung Kongcu."

Sekilas melirik Sim Long melihat air muka Cu Jit-jit dan lain-lain juga sama berubah, agaknya mereka pun diancam dengan cara yang sama oleh gadis yang menuangkan arak.

Benar juga, segera terasa benda dingin menembus sandaran kursi dan mengancam punggung Sim Long.

"Ai, nona kalian agak terlalu khawatir, masakan kami ini orang yang suka merusak suasana?üjar Sim Long dengan tertawa.

"Jika Kongcu tidak bicara apa-apa, dengan sendirinya itulah yang diharapkan,"

Kata gadis itu tanpa menarik kembali belatinya.

Rupanya yang ditakuti Pek Fifi adalah Sim Long membeberkan hubungan darahnya dengan Koay-lok-ong, perencanaannya memang rapi, ternyata semua kemungkinan telah dipikirkan dengan baik.

Walaupun wajah Sim Long tetap mengulum senyum, di dalam hati merasa gegetun.

Sementara itu barisan muda-mudi tadi sudah lewat ke sana.

Menyusul ada lagi 16 pasang gadis jelita berbaju sutra.

Irama musik pun tambah lambat.

Di tengah ruang pendopo, kecuali Sim Long berempat, orang lain sudah sama berbangkit dengan khidmat.

Lalu muncul Koay-lok-ong dengan jubah warna lembayung, kopiah raja yang megah, di bawah iringan Pui Sim-ki dan tiga pemuda tampan lain terus menelusuri permadani merah.

Jenggotnya yang panjang sudah dipotong dengan rajin hingga gemerlapan di bawah cahaya lampu, codet di dahinya seakan-akan juga bercahaya.

Ia bertindak dengan langkah lebar, tidak mengikuti irama musik, ia memandang kian kemari, lagaknya gagah dan angkuh.

Si Kucing tertawa, katanya.

"Meski menjadi pengantin baru, lagak Koay-lok-ong serupa hendak mencari seteru untuk berkelahi ...."

Meski perlahan ucapannya, tapi baru berucap begini, segera sorot mata Koay-lok-ong yang tajam itu menyapu ke arahnya.

Jika orang lain tentu sudah ketakutan dan tidak berani bersuara lagi.

Namun Him Miau-ji berlagak tidak tahu, ia berbalik tertawa dan berseru.

"Wahai Koay-lok-ong, terimalah ucapan selamatku! Jika hari ini adalah hari bahagiamu, kenapa engkau tidak bersikap ramah sedikit agar tidak membuat pengantin perempuannya ketakutan."

Karena ucapan dan olok-oloknya ini, semua hadirin sama melengak. Kening Koay-lok-ong tampak bekernyit, tapi segera ia pun tertawa, katanya.

"Jangan khawatir, pengantin perempuanku ini tidak nanti dapat ditakut-takuti siapa pun."

Ya, kata-kata ini memang benar juga,"

Tukas Ong Ling-hoa dengan gegetun.

Di tengah gelak tertawanya Koay-lok-ong sudah menaiki undak-undakan, lalu duduk di kursinya.

Suara musik masih terus bergema, semua orang sama memandang ke pintu masuk, menantikan munculnya pengantin perempuan.

Tapi meski sudah ditunggu sampai sekian lama bayangan pengantin perempuan tetap tidak kelihatan.

Tentu saja para hadirin saling pandang dan menampilkan rasa heran.

Cu Jit-jit sengaja berseru.

"Eh, mengapa jadi begini? Di manakah pengantin perempuan?"

Ya, jangan-jangan kabur di garis depan! Haha!"

Tukas si Kucing dengan tertawa.

Meski mereka tahu Pek Fifi tidak mungkin tidak muncul, apa yang mereka ucapkan tidak lain hanya untuk membikin marah Koay-lok-ong saja.

Maklumlah, dalam keadaan demikian mereka pun tidak gentar lagi.

Bilamana seorang toh akan mati, apa pula yang ditakuti?

Muka Koay-lok-ong tampak masam juga, tanyanya dengan suara tertahan.

"Ke mana dia pergi?"

Cepat Pui Sim-ki membisikinya.

"Setengah jam yang lalu Tecu melihat Nionio sedang bersolek di Pek-hoa-kiong."

Siapa saja yang berada di sana?"

"Kecuali kedua mak tua juru rias dan ahli tata rambut paling terkenal merangkap penjual bedak, selebihnya yang berada di situ adalah pelayan pribadi Nionio."

Ahli tata rambut? ...."

Kening Koay-lok-ong bekernyit pula.

"Kakek Thio itu sudah 50 tahun bekerja begitu, di daerah utara sini, setiap anak perawan keluarga mampu yang kawin pasti dia yang memborong bedak yang diperlukan dan sekaligus menata rambut pengantin perempuannya."

Apakah sudah kau selidiki dengan cermat asal-usulnya?"

Tanya Koay-lok-ong.

"Sudah, selain seluk-beluk pribadinya, waktu datang juga sudah kami periksa dengan teliti, setelah jelas dia bukan samaran orang lain dan membawa sesuatu benda berbahaya barulah diperbolehkan masuk kemari."

Koay-lok-ong tersenyum puas, katanya.

"Selama dua hari ini rasanya aku hanya memerhatikan urusan pernikahan sehingga melupakan urusan lain, hendaknya kau kerja dengan lebih hati-hati."

Pui Sim-ki mengiakan dengan hormat. Koay-lok-ong mengangguk-angguk, tapi bergumam lagi.

"Tapi mengapa dia belum lagi muncul."

Tecu sudah mengirim orang untuk mendesaknya,"

Tutur Pui Sim-ki.

"Coba kau pergi melihatnya lagi, apakah mungkin ada ...."

Belum lanjut ucapannya, dengan tertawa cerah ia menyambung.

"Aha, itu dia sudah datang!"

Mereka bicara dengan perlahan sehingga orang lain tidak tahu apa yang diperbincangkan mereka, cuma ketika Koay-lok-ong tertawa cerah, serentak semua orang lantas memandang juga ke luar pintu.

Benar juga, pengantin baru, calon permaisuri Koay-lok-ong, si cantik Pek Fifi memang sudah muncul di depan pintu.

Di bawah irama musik yang merdu ia melangkah masuk dengan lemah gemulai.

Dia memakai baju sutra tipis yang berwarna-warni berhias pita yang cerlang-cemerlang dan terseret di lantai dan menelusuri permadani merah sehingga tampaknya serupa bidadari penyebar bunga.

Ia memakai kopiah indah dengan tutup muka tabir mutiara, samar-samar kelihatan senyumnya yang menggiurkan serupa dewi kahyangan.

Meski dia berjalan selangkah demi selangkah, yang dilalui hanya hamparan permadani merah, tapi setiap langkahnya serupa berjalan di atas surga, sikap anggun memesona.

Yang duduk di ruangan ini semuanya orang lelaki, setiap orang sama mengeluarkan suara takjub dan gegetun.

"Ai, sungguh beruntung orang yang dapat mempersunting gadis semolek ini."

Hanya Sim Long dan lain-lain saja yang tahu, barang siapa memperistrikan dia, maka orang itu pasti akan konyol, terlebih Koay-lok-ong yang menjadi calon pengantin lelaki itu.

Sesuai gelarnya, Koay-lok-ong alias Raja Maha senang, mungkin dia memang hidup senang, tapi tampaknya dia akan segera berubah menjadi manusia yang paling malang dan paling tragis, selama hidup ini jangan harap lagi akan senang pula.

Setiap orang sama mengagumi kemegahan upacara nikah ini, hanya Sim Long dan lain-lain tahu yang berlangsung ini tidak lain hanya adegan tragedi yang paling memilukan.

Perlahan Pek Fifi mendaki undak-undakan pualam.

Koay-lok-ong tertawa senang sambil menggosok-gosok tiga buah cincinnya yang berbatu permata.

Mendadak Miau-ji berseru pula, dengan tertawa.

"Haha, pengantin perempuan sudah datang, masa pengantin lelaki tidak berdiri menyambutnya?"

Memang harus begitu,"

Koay-lok-ong berkata.

"Silakan hadirin minum arak sepuasnya!"

Hei, masa hanya begini saja upacara lantas selesai?"

Seru Miau-ji.

Koay-lok-ong tertawa, ¡Ah, memangnya aku pun harus melakukan upacara tetek bengek serupa orang-orang udik itu?

Bagiku upacara ini asalkan khidmat dan tidak perlu banyak adat.

Cukup diketahui umum bahwa hari ini aku sudah menikah dengan istri yang tidak ada bandingannya di dunia ini."

Fifi tampaknya menjadi malu, dengan menunduk ia mendesis.

"Terima kasih Ongya."

Kembali Koay-lok-ong terbahak dan hadirin pun bersorak.

"Keempat tamu agung kita perlu dilayani khusus,"

Pesan Koay-lok-ong. Tapi Him Miau-ji lantas berteriak.

"Aku tidak sudi dicekoki pelayanmu yang busuk, bisa kusemburkan dan mungkin juga tumpah."

Koay-lok-ong berpikir sejenak, lalu memberi perintah.

"Sim-ki, boleh buka Koh-cing-hiat mereka, pesta ria ini harus berlangsung tanpa terganggu."

Jika cuma Koh-cing-hiat yang dibuka, tangan dapat bergerak, tapi karena Hiat-to lain masih tertutuk, maka belum lagi mampu menggunakan tenaga, jadi tangan hanya dapat digunakan untuk makan-minum saja.

Maka pesta pun dimulai.

Koay-lok-ong kelihatan sangat senang.

Maklumlah, inilah puncak kesuksesan selama hidupnya, meski cita-citanya belum seluruhnya terlaksana, tapi keadaannya sekarang sudah memungkinkannya untuk merajai dunia persilatan daerah Tionggoan, dengan sendirinya ia tertawa gembira.

Koay-lok-ong melirik Sim Long sekejap, lalu berkata dengan tertawa.

"Sim Long, coba lihat selama ini adakah seorang dunia persilatan mencapai sukses melebihiku, dalam keadaan demikian siapa pula bisa lebih gembira daripadaku."

Sesuatu yang sudah mencapai puncaknya segera pula akan menurun, kegembiraan yang melampaui batas pasti tidak kekal ...."

Jengek Sim Long. Air muka Koay-lok-ong berubah masam, katanya dengan gusar.

"Sim Long, jangan kau lupa saat ini engkau adalah tawananku .... Aha, kutahu, tentu lantaran engkau iri padaku bukan? Kau iri akan kesuksesanku, cemburu padaku karena aku mempersunting istri secantik bunga ini, makanya kau bicara demikian." ¡Dan engkau tidak marah lagi?"

Tukas Ling-hoa.

"Bisa dicemburui orang semacam Sim Long kan harus dibuat bangga, kenapa aku perlu marah?üjar Koay-lok-ong tertawa, lalu ia angkat cawan tinggi-tinggi dan berseru.

"Nah, apakah kalian tidak merasa pantas habiskan tiga cawan bagi kesuksesanku yang tidak ada bandingannya sepanjang zaman ini."

Seketika bergemuruh orang bersorak-sorai, semua orang berdiri dan menghabiskan isi cawan masing-masing. Melihat keadaan bertele-tele begitu, Ong Ling-hoa menjengek.

"Tampaknya mereka sudah hampir masuk kamar pengantin dan kepala kita selekasnya akan dipenggal, masa engkau belum lagi berdaya, Sim Long?"

Kesempatan belum ada, apa dayaku?"

Sahut Sim Long.

"Bilakah kesempatan akan tiba? Menunggu setelah kepala kita terpenggal?"

Jengek Ling-hoa pula. ¡Umpama begitu juga apa boleh buat?"

Kata Sim Long.

"Biarpun mati juga tidak menjadi soal, biarlah kuminum 300 cawan lebih dulu,üjar Miau-ji dengan tertawa. ¡Bagiku mati sekarang juga mendingan, Sim Long masih duduk di sampingku,"

Tukas Jit-jit.

"Haha, bagus Sim Long, biar kusuguh tiga cawan padamu, rasanya tidak sia-sia persahabatanku denganmu ini,"

Seru Miau-ji dengan tertawa, meski lantang suaranya terasa memilukan juga.

Jilid 37 Yang disedihkan bukan dia sendiri melainkan Sim Long.

Kaum kesatria tidak gentar mati, namun tidak urung juga bersedih ketika harus berpisah.

Tapi apakah betul sekali ini adalah pertemuan mereka yang terakhir?

Suasana ruangan pesta riang gembira, hanya mereka saja yang gelisah dan cemas.

Koay-lok-ong sedang melirik Pek Fifi yang cantik itu, mendadak ia menaruh cawan arak dan berkata kepada mereka.

"Bolehlah kalian minum sepuasnya, mati mabuk pun boleh. Dan aku ... haha, sudah waktunya mengundurkan diri."

Hah, betul, waktu berarti emas, memang engkau perlu lekas masuk kamar pengantin,üjar Ling-hoa dengan tertawa. Koay-lok-ong terbahak.

"Betapa pun Ong Ling-hoa memang pemuda romantis."

Pada saat itulah mendadak seorang berlari masuk.

Baju orang ini berwarna mencolok dan ringkas singsat, sedikit pun tidak ada tanda habis minum arak, pedang tersandang miring di punggungnya.

Gemerdep sinar mata Sim Long, katanya.

"Mungkin orang ini penjaga di luar."

Betul, melihat gelagatnya jangan-jangan terjadi sesuatu?üjar Miau-ji.

"Ya, semoga demikian adanya,"

Gumam Ling-hoa.

Terlihat Pui Sim-ki memapaki orang yang baru masuk itu, kedua orang bicara perlahan, sejenak air muka Pui Sim-ki tampak rada berubah.

Munculnya orang itu agaknya juga menarik perhatian hadirin.

Segera Sim-ki berlari ke sisi Koay-lok-ong dan memberi lapor.

"Di luar ada orang, katanya hendak mengucapkan selamat kepada Ongya."

Mengucapkan selamat?"

Kening Koay-lok-ong bekernyit.

"Apakah urusan pernikahanku ini sudah kalian siarkan?"

Sama sekali berita ini tidak tersebar,"

Jawab Sim-ki.

"Jika begitu, dari mana orang lain bisa tahu?"

Damprat Koay-lok-ong sambil menggebrak meja.

"Ya, jika terjadi demikian Tecu yang salah,"

Jawab Sim-ki dengan menunduk. Sikap Koay-lok-ong berubah kalem sedikit, katanya.

"Orang banyak bicara banyak, juga tak dapat menyalahkan kau. Cuma, kalau orang-orang ini mampu menerobos berbagai rintangan dan menerjang sampai di sini, tentu maksud tujuannya tidak baik. Berapa orang mereka seluruhnya?"

Serombongan terdiri dari sembilan orang malahan membawa dua buah peti, katanya hendak disumbangkan kepada Ongya."

"Bagaimana bentuk orang-orang itu?"

Menurut laporan Capsite (adik ke-14) tadi, yang mengepalai kesembilan orang itu adalah juragan besar buah semangka Hami, yaitu Lam-tian-to-giok Bok Kong-tit, konon orang ini memiliki ribuan hektare ladang semangka, kekayaannya sukar dihitung, Ginkangnya juga tergolong kelas satu,"

Demikian lapor Pui Sim-ki.

"Bok Kong-tit ... hm, rasanya pernah juga kudengar nama ini, cuma selama ini dia tidak ada hubungan denganku, untuk apa jauh-jauh dia mengantar kado ke sini?üjar Koay-lok-ong.

"Bisa jadi dengan jalan ini dia hendak menggabungkan diri di bawah kekuasaan Ongya,"

Kata Sim-ki dengan tertawa.

"Orang Bu-lim sekarang siapakah yang tidak ingin bergabung dengan Ongya?"

Koay-lok-ong tertawa senang.

"Baik, jika demikian, silakan mereka masuk, toh mereka hanya bersembilan orang, kecuali mereka sudah bosan hidup, memangnya mereka berani main gila di sini?"

Di sebelah sana Jit-jit berbisik kepada Sim Long.

"He, kau kira Bok Kong-tit ini benar datang mengantarkan kado saja?"

Belum tentu benar,"

Sahut Sim Long.

"Pernah juga kudengar Bok Kong-tit ini, namanya cukup tenar di dunia Kangouw, tapi kalau dibandingkan Koay-lok-ong tentu masih selisih jauh."

Kukira di balik urusan ini ada hal-hal yang tidak kita ketahui,"

Kata Sim Long.

"Yang kuherankan adalah kedua peti yang dibawanya ...."

Memangnya petinya berisi siluman yang dapat makan manusia? Apakah Koay-lok-ong dapat dikerjai olehnya?"

Jengek Ong Ling-hoa.

"Bisa jadi juga,üjar Sim Long tertawa. Dalam pada itu kedua peti yang dimaksudkan sudah digotong masuk lebih dulu. Peti terbuat dari kayu pilihan, bersegi delapan dan dilapis emas, dengan sendirinya gemboknya juga terbuat dari emas. Delapan orang yang menggotong peti juga berpakaian mewah, cuma tampang mereka tidak luar biasa sehingga tidak menarik perhatian. Namun tampang Bok Kong-tit sendiri justru luar biasa. Tampak kedua matanya yang mencorong itu agak celung, tulang pipi sangat tinggi, rambutnya yang hitam bersemu merah dan agak keriting, mata pun siwer, yaitu berwarna biru kehijauan. Meski pakaiannya sangat mewah, namun jubahnya cekak dan rambutnya diikat, daun telinga pakai anting-anting sehingga kelihatan agak misterius, tapi senyum yang menghias wajahnya kelihatan ramah. Dengan suara perlahan Miau-ji berkata.

"Menurut cerita di dunia Kangouw, konon ibu Bok Kong-tit ini adalah perempuan barat yang mahacantik, bahkan menguasai semacam kungfu ajaib dari negeri Persi. Entah Bok Kong-tit ini mewarisi kepandaian sang ibu atau tidak?"

Kungfu ajaib apa?"

Tanya Ong Ling-hoa.

"Cerita orang Kangouw berbeda-beda dan sukar dijelaskan, cuma pada garis besarnya kepandaiannya itu adalah semacam ilmu gaib,"

Miau-ji tersenyum, lalu menyambung.

"Dan manfaat paling besar pada ilmu gaibnya ini adalah untuk melarikan diri."

Melarikan diri?"

Bekernyit kening Ong Ling-hoa oleh keterangan aneh ini.

"Ya, konon orang yang menguasai ilmu gaib ini, sekali dia melarikan diri, maka siapa pun tidak mampu merintanginya dan tidak dapat menyusulnya,"

Tutur Miau-ji pula dengan tersenyum.

"Menurut cerita orang Kangouw, katanya Ginkang Bok Kong-tit mahatinggi, mungkin ada sangkut paut dengan ilmu gaibnya ini."

Tersembul juga senyuman pada ujung mulut Ong Ling-hoa, gumamnya.

"Melarikan diri, hah, menarik juga kepandaian ini ...."

Sementara itu kedua peti sudah dibawa sampai di depan undak-undakan tempat duduk Koay-lok-ong.

Hadirin sama tertarik oleh tampang Bok Kong-tit yang istimewa, sehingga tidak ada yang memerhatikan kedelapan lelaki kekar penggotong peti.

Pandangan Koay-lok-ong juga terpusat ke arah Bok Kong-tit.

Di bawah tatapan orang banyak ternyata Bok Kong-tit tetap berjalan dengan tenang dan mantap, sampai anting-anting di daun telinga saja tidak bergoyang.

Suara musik masih terus bergema.

Tiba-tiba terdengar orang berteriak.

"Bok Kong-tit dari barat menghadap."

Bok Kong-tit mempercepat langkahnya ke depan, lalu membungkus tubuh dan berseru.

"Bok Kong-tit menyampaikan salam hormat kepada Ongya, selamat dan bahagialah!"

Koay-lok-ong hanya sedikit membalas hormat di tempat duduknya, katanya dengan tertawa.

"Terima kasih, sungguh beruntung mendapat kunjungan Anda dari jauh, silakan duduk."

Belum lenyap suaranya segera petugas menyiapkan tempat duduk beralas kasur empuk di depan.

Dengan tenang Bok Kong-tit menuju ke kursi yang tersedia, tapi dia tidak lantas duduk, katanya pula dengan tertawa.

"Terima kasih atas kemurahan hati Ongya. Tapi Wanpwe ingin menanti setelah Ongya sudi menerima sedikit sumbangsihku barulah berani mengambil tempat duduk."

Koay-lok-ong tertawa.

"Ah, atas kunjunganmu sudah beruntung bagiku, mana kuberani terima pula sumbanganmu segala?"

Bok Kong-tit tertawa, ¡Ongya sendiri kaya raya, mana ada sesuatu lagi yang terpandang oleh Ongya, dengan sendirinya Wanpwe tidak berani sembarangan mengantar kado."

Jika begitu, tentu barang antaranmu pasti sangat menarik, aku jadi ingin melihatnya sekarang juga,ücap Koay-lok-ong.

"Sesungguhnya barang antaranku ini memang rada istimewa dan kudapatkan setelah bersusah payah juga,"

Bok Kong-tit lantas mendekati peti dan siap membukanya.

Beratus pasang mata hadirin sama terpusat pada peti itu, semua ingin tahu apa isinya yang dikatakan agak istimewa itu.

Hanya pengantin perempuan Pek Fifi saja yang tetap memandang Koay-lok-ong, isi peti itu seperti tidak menarik perhatiannya dan juga tidak ingin diketahuinya.

Meski peti itu pakai gembok, tapi tidak terpasang.

Dengan sinar mata yang menampilkan rasa misterius perlahan Kong-tit buka peti, katanya dengan tertawa.

"Wanpwe sengaja mengantar kado barang hidup, harap Ongya memeriksanya."

Belum lenyap suaranya, serentak terdengar suara jeritan kaget orang banyak.

Ternyata isi peti itu adalah manusia hidup, seorang perempuan yang hampir telanjang bulat seluruhnya.

Tubuh perempuan telanjang itu meringkuk di dalam peti, kelihatan garis tubuhnya yang serasi dan dada bernas, kulit badan putih halus.

Dadanya kelihatan bergerak naik-turun, tapi mata terpejam, wajahnya yang cantik bersemu merah, seperti lagi tidur lelap, serupa juga pingsan tak sadarkan diri.

Sim Long, Cu Jit-jit.

Ong Ling-hoa dan Him Miau-ji juga sama terkesiap, sebab dilihatnya wajah yang cantik dalam peti ini ternyata rada-rada mirip Ong-hujin, hanya saja daya tariknya tidak sekuat Ong-hujin.

Koay-lok-ong bergelak tertawa.

"Haha, boleh juga perempuan ini tampaknya, cuma tidak seharusnya kau antar ke sini pada saat seperti ini, memangnya Anda tidak khawatir akan dimarahi pengantin perempuanku?"

Jangan Ongya salah mengerti maksudku,"

Kata Bok Kong-tit.

"Wanpwe mengantarkan perempuan ini bukan untuk dijadikan selir Ongya melainkan dipersembahkan kepada Ongya dan Onghui (permaisuri) untuk dijadikan sesajen dalam upacara ini."

Apa arti ucapanmu, aku kurang paham?"

Tanya Koay-lok-ong.

"Menurut tradisi, setiap upacara penting perlu ada sesajen dengan menyembelih kambing atau sapi, jika hewan diganti dengan manusia hidup, tentu akan kelihatan lebih khidmat,"

Kata Bok Kong-tit.

"O, jadi tujuanmu mengantar dia ke sini adalah supaya kusembelih dia?"

Tukas Koay-lok-ong.

"Memang begitulah maksudku,"

Bok Kong-tit tersenyum.

"Brak", mendadak Koay-lok-ong menggebrak meja, teriaknya.

"Kurang ajar! Jadi sengaja kau main gila padaku?"

Wanpwe tidak berani,"

Jawab Bok Kong-tit dengan hormat.

"Hari ini adalah hari bahagia kami, tapi sengaja kau antar seorang untuk kubunuh, apakah hal ini bukan sengaja mencari perkara padaku?"

Teriak Koay-lok-ong pula dengan gusar. Bok Kong-tit tenang saja, jawabnya.

"Harap Ongya maklum, secara tidak sengaja dapat kudengar bahwa perempuan ini hendak mengacau upacara nikah Ongya, sebab itulah sengaja kutawan dia untuk diserahkan kepada Ongya."

Kau bilang perempuan ini hendak mengacau upacara pernikahanku? Huh, hanya seorang perempuan saja mampu berbuat demikian?"

Seru Koay-lok-ong dengan tertawa latah.

"Wanpwe sebenarnya juga tidak percaya, tapi setelah mendengar keterangannya mau tak mau menjadi ...."

Dia bilang apa?"

"Katanya ... katanya .... Ah, Wanpwe tidak berani bicara terus terang."

Kenapa tidak berani kau katakan? Bicara saja terus terang, takkan kusalahkan dirimu."

"Jika Ongya sudah berkata demikian, dapatlah kujelaskan tanpa khawatir,"

Kata Bok Kong-tit dengan lega.

"Sebab dia bilang dia ada hak untuk merintangi pernikahan Ongya ini ...."

Huh, berdasarkan apa dia berani bicara demikian?"

Teriak Koay-lok-ong. Bok Kong-tit sengaja memandang hadirin sekeliling, lalu berucap dengan suara tertahan.

"Dia bilang sebenarnya dia istri sah Ongya."

Walaupun keterangan ini diucapkan lirih, tidak urung dapat didengar juga oleh sebagian hadirin, keruan semua orang terperanjat.

"Hah, dia berani ...."

Belum lanjut ucapan Koay-lok-ong, agaknya baru sekarang dirasakan perempuan dalam peti itu memang rada mirip Ong-hujin, seketika ia melengak dan ucapannya terputus.

Bok Kong-tit anggap tidak tahu, perlahan ia menyambung.

"Dengan sendirinya Wanpwe tidak percaya kepada ocehannya, tapi perempuan ini banyak omong lagi hal-hal yang tidak sedap didengar."

Sambil menatap perempuan dalam peti, seketika Koay-lok-ong tidak dapat bersuara lagi.

"Dia bilang apa lagi?"

Tiba-tiba Pek Fifi menimbrung.

"Jika Onghui berjanji takkan marah padaku baru berani kukatakan,üjar Bok Kong-tit.

"Katakan saja, masa kumarah padamu,"

Kata Fifi.

"Dia bilang, semua perempuan di dunia ini boleh menjadi istri Ongya, hanya ... hanya Onghui saja tidak boleh."

Sebab apa?"

Tanya Fifi.

"Katanya ... katanya lantaran Onghui sesungguhnya adalah putri Ongya sendiri,"

Tutur Bok Kong-tit.

Keterangan ini membuat semua orang sama terkejut.

Bahkan Sim Long dan rombongannya juga melengak.

Sungguh mereka pun sangsi terhadap perempuan dalam peti ini, sebab dia pasti bukan Ong-hujin dan pasti takkan jatuh dalam cengkeraman Bok Kong-tit.

Habis siapakah dia?

Dari mana dia mengetahui rahasia yang mengejutkan ini?

Dan mengapa raut wajahnya juga rada mirip Ong-hujin?

Antara perempuan ini dan Koay-lok-ong apakah memang ada sesuatu hubungan tertentu?

Kembang goyang pada kopiah pengantin Pek Fifi tampak bergetar, cadar tipis yang menutupi mukanya juga bergoyang, akhirnya dia berdiri dan mendekati Koay-lok-ong, serunya dengan gemetar.

"Apa yang dikatakannya sudah kau dengar bukan?"

Dengar ... sudah tentu dengar,"

Jawab Koay-lok-ong dengan agak bingung.

"Jika dengar, kenapa tidak kau bunuh dia?"

Teriak Fifi.

"Bunuh siapa?"

Tanya Koay-lok-ong.

"Dengan sendirinya perempuan dalam peti itu."

Oo, bunuh dia?"

"Ya, bunuh dia, kenapa tidak lekas kau lakukan?"

Bunuh dia ... sekarang?"

Sikap Koay-lok-ong kelihatan sangat aneh, meski suaranya keluar dari mulutnya, tapi seperti bukan dia yang bicara.

Gembong iblis ini tertampak agak linglung.

Sekujur badan Pek Fifi bergemetar, serunya pula, ¡Tidak kau bunuh dia sekarang, jangan-jangan memang betul dia istrimu?"

Koay-lok-ong tertawa aneh, jawabnya.

"Dengan sendirinya dia bukan istriku."

Jika bukan istrimu harus kau bunuh dia,"

Teriak Fifi dengan parau.

"Baik, akan kubunuh dia ...."

Mendadak Bok Kong-tit menanggalkan golok melengkung yang tergantung di pinggangnya dan disodorkan. Pek Fifi memburu maju dan melolos golok itu.

"trang", golok dilemparkan ke depan Koay-lok-ong, teriaknya dengan suara gemetar.

"Jika tidak kau bunuh dia, biar aku saja yang mati di depanmu¡"

Baik, untuk membunuh orang kan teramat mudah bagiku,"

Seru Koay-lok-ong sambil bergelak dan menjemput golok melengkung itu.

Sekali sinar perak berkelebat, kontan golok menebas.

Sungguh secepat kilat tebasannya itu.

Tapi dia tidak menebas perempuan dalam peti melainkan menebas pinggang Pek Fifi.

Siapa pun tidak menyangka sasaran Koay-lok-ong itu justru si pengantin perempuan sendiri, sampai Miau-ji dan lain-lain juga tidak menyangka Koay-lok-ong bisa bertindak demikian.

Namun Pek Fifi sendiri agaknya sudah menduga akan kejadian ini, selagi semua orang menjerit kaget, sekonyong-konyong tubuh Pek Fifi melayang ke atas, pakaian pengantin yang longgar itu berkibar sehingga serupa dewi kahyangan yang menari di udara.

Tebasan Koay-lok-ong yang lihai itu ternyata tidak mengenai sasarannya.

Tubuh Pek Fifi seperti sudah hinggap di atas belandar ruang pendopo, serunya.

"He, kenapa tidak kau bunuh dia sebaliknya hendak membunuhku, apa engkau sudah gila?"

Koay-lok-ong terbahak.

"Haha, hanya sedikit tipu muslihat kalian ini masakah dapat mengelabui mataku?"

Tipu muslihat apa?"

Tanya Fifi. Mendadak berhenti suara tertawa Koay-lok-ong, teriaknya sengit.

"Jaga rapat semua pintu keluar, seorang pun tidak boleh lolos."

Meski sejauh ini belum ada seorang pun yang tahu jelas sesungguhnya apa yang terjadi, tapi perintah Koay-lok-ong ini segera dilaksanakan.

"Haha, Koay-lok-ong memang tokoh maha lihai, sungguh mengagumkan,"

Seru Bok Kong-tit. Sekali berputar, terdengar suara "

Crat-crit"

Beberapa kali, dari tubuhnya mendadak menghamburkan asap lembayung tebal. Cepat Koay-lok-ong melompat mundur sambil membentak, ¡Tahan napas, jaga ketat, jangan sampai mereka lolos!"

Hanya sebentar itu saja asap lembayung itu sudah lantas menyelimuti seluruh ruangan.

"Sesungguhnya apa-apaan ini?"

Tanya Jit-jit.

"Hah, jangan-jangan inilah ilmu gaib Bok Kong-tit untuk menghilang,üjar si Kucing.

"Ya, sungguh sangat menarik,"

Tukas Ong Ling-hoa.

Pada saat itu juga tiba-tiba Jit-jit, Miau-ji dan Ong Ling-hoa merasa tangan seorang telah membuka Hiat-to mereka yang tertutuk, mereka terkejut dan bergirang, terdengar suara Sim Long berkata kepada mereka.

"Tahan napas, ikut bersamaku menerjang keluar."

Ruangan balairung sudah kacau-balau, di tengah suara bentakan dan teriakan terseling pula jeritan.

Dengan rada linglung Jit-jit menarik ujung baju Sim Long dan ikut lari ke depan, ia tidak tahu cara bagaimana Hiat-to Sim Long terbuka, terlebih tidak tahu cara bagaimana Sim Long dapat menerjang keluar, tapi kenyataannya mereka sedang menerjang keluar.

Asap itu juga tersebar keluar sehingga orang di luar sama terbatuk-batuk.

Ketika melihat Sim Long menerjang keluar, mereka berteriak kaget dan hendak mencegatnya, tapi sekali Sim Long bergerak, kontan mereka jatuh pontang-panting.

Memangnya ada berapa orang di dunia ini yang mampu merintangi Sim Long?

Kaki dan tangan Jit-jit masih terasa pegal, Miau-ji dan Ling-hoa ikut di belakangnya dengan langkah berat, jelas mereka pun tidak selincah biasanya.

Maklum Hiat-to mereka sudah tertutuk sekian lamanya, setelah bebas, gerak-gerik mereka masih kaku.

Namun Sim Long ternyata tidak ada gejala begitu.

Malahan dia kelihatan menggendong juga seorang dan gerak-geriknya tetap gesit.

Yang lebih sukar dimengerti, orang yang digendongnya ternyata bukan lain daripada perempuan telanjang dalam peti itu.

Dengan bingung Jit-jit ikut Sim Long menerjang keluar melalui sebuah jalan lorong dan mendaki undakan panjang sehingga keluar dari kota di bawah tanah itu.

Tertampak bintang bertaburan di langit, waktu itu tampaknya sudah tengah malam.

Di bawah remang cahaya bintang, ada serombongan orang menjagai segerombol kuda.

Sim Long merobohkan beberapa penjaga itu dan merampas kuda serta beberapa kantong air dan perbekalan lain.

Meski tenaga Miau-ji dan lain-lain belum pulih seluruhnya, tapi untuk merampas kuda saja tentu tidak sulit bagi mereka.

Dalam sekejap saja mereka sudah membedal kuda mereka hingga belasan li jauhnya.

Di depan adalah padang pasir yang tak terlihat ujungnya, di tengah malam padang pasir seluas ini tertampak seram sekali, tapi apa pun juga tetap lebih menyenangkan daripada tersekap di ruang yang gelap di bawah tanah.

Jit-jit terus melarikan kudanya dan bersorak gembira, teriaknya.

"Ong Ling-hoa, sekarang engkau tentu kagum kepada Sim Long, bukan?"

Ya, sungguh aku tidak tahu kekuatan gaib apa yang dimilikinya sehingga dapat kabur dari sana,üjar Ling-hoa dengan gegetun.

"Ah, hanya secara kebetulan saja, sungguh mujur,üjar Sim Long.

"Ayolah kita mengaso dulu di sini, bila tidak kau jelaskan duduknya perkara, sungguh aku tidak tahan,"

Teriak Jit-jit.

Mereka mencari tempat yang teraling dari angin dan berhenti di situ.

Rupanya tempat ini dahulunya adalah sungai yang sudah kering, maka banyak terdapat tempat mendekuk yang baik untuk menghindari tiupan angin.

Jit-jit terus menarik Sim Long dan ditanyai.

"Coba jelaskan dulu, cara bagaimana kau buka Hiat-to yang tertutuk?"

Tentang ini ...."

Sim Long tersenyum.

"Bukankah kalian bilang aku mempunyai kekuatan gaib, maka bolehlah dianggap apa yang terjadi ini berkat kekuatan gaibku."

Hal ini memang sebuah rahasia, hanya ia sendiri yang tahu rahasia ini.

Selama beberapa hari tersekap di dalam kamar batu yang misterius itu, setiap kali Fifi datang tentu membuka Hiat-to supaya dia dapat bergerak, bila mau tinggal pergi lantas ditutuknya lagi.

Fifi mengira Sim Long tidak mempunyai kekuatan untuk melawan lagi.

Ternyata dia telah menilai rendah kemampuan Sim Long.

Dalam keadaan bagaimanapun Sim Long tetap menguasai kesanggupannya yang melampaui orang biasa.

Di luar tahu Fifi, akhirnya ia dapat membuka Hiat-to sendiri yang tertutuk, pada malam sebelum upacara nikah Sim Long sudah dapat bergerak bebas, tapi dia tetap berlagak tidak dapat bergerak untuk menunggu kesempatan yang paling baik.

Dengan sendirinya ia tidak mau menceritakan rahasia ini.

Jit-jit menghela napas.

"Ai, sungguh sukar memahami dirimu, aku pun tidak ingin memahamimu, cukup asalkan tetap suka padamu saja, cuma ...."

Ia pandang perempuan dalam peti tadi dan berkata, ¡Tapi apa maksudmu kau bawa lari dia dengan menyerempet bahaya besar ini?"

Perempuan itu masih pingsan, tubuhnya yang menggiurkan itu telah dibungkus baju oleh Sim Long, hanya kelihatan wajahnya yang cantik dan rada misterius itu.

Sim Long memandangnya sejenak, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata.

"Mungkin selamanya kalian tidak pernah menyangka siapa dia ini."

Siapa dia sesungguhnya?"

Tanya Jit-jit.

"Jangan-jangan Ong-hujin?"

Tukas Miau-ji.

"Meski rada mirip, tapi pasti bukan,üjar Ling-hoa. Sim Long tidak menanggapi, ia robek sepotong kain baju dan dibasahi, lalu perlahan mengusap muka perempuan itu, mengusap dengan perlahan dan teliti. Maka akhirnya muncul keajaiban. Wajah ini ternyata wajah Pek Fifi. Tentu saja Jit-jit, Miau-ji dan Ling-hoa sama melenggong, sungguh tidak mereka duga bahwa perempuan ini adalah Pek Fifi. Sejenak barulah Jit-jit berseru.

"O, sesungguhnya apa yang terjadi? Mengapa Pek Fifi bisa lari ke dalam peti, bukankah sudah jelas dia pengantin perempuannya?"

Jika Pek Fifi di dalam peti lantas siapa yang menjadi pengantin perempuan tadi?"

Miau-ji juga garuk-garuk kepala dengan bingung.

"Mengapa bisa terjadi begini? Lekas kau jelaskan, Sim Long,"

Pinta Jit-jit.

"Urusan ini memang ruwet dan juga serba aneh,"

Tutur Sim Long.

"Bukan saja sebelumnya sukar diterka, sesudahnya kalau tidak kudengarkan pembicaraan mereka tentu juga takkan mengerti."

Coba katakan dulu, jika Pek Fifi berada di sini, siapa pula pengantin perempuan tadi?"

Tanya Jit-jit tak sabar.

"Semula aku pun tidak tahu siapakah pengantin perempuan itu,"

Jawab Sim Long dengan gegetun.

"Tapi coba kau pikirkan dulu, selain Pek Fifi, siapa pula yang tahu rahasia itu dan siapa pula yang bertekad akan membongkar rahasia itu serta siapa lagi yang memiliki kepandaian sebesar itu?"

Jit-jit termenung sejenak, mendadak ia berseru.

"Hah, jangan-jangan Ong-hujin yang kau maksudkan?"

"Betul,"

Jawab Sim Long.

"Tapi mengapa Pek Fifi bisa berubah menjadi Ong-hujin? Maksudku ... maksudku pengantin perempuan itu mengapa bisa berubah menjadi Ong-hujin? Dan cara bagaimana pula Pek Fifi lari ke dalam peti?"

Tentu kau ingat pada waktu upacara nikah akan dimulai, ternyata pengantin perempuannya datang terlambat? Lalu apa yang dikatakan Pui Sim-ki waktu itu?"

"Ya, dia melaporkan ada dua juru rias yang berpengalaman dan seorang kakek ahli sisir rambut penjual pupur selama 50-an tahun, seorang tua yang jujur."

Betul, boleh juga daya ingatanmu,"

Kata Sim Long dengan tersenyum.

"Memangnya ada sangkut paut apa dengan urusan itu?"

Tanya Jit-jit.

"Mestinya juga tidak terpikirkan ada sangkut paut apa, tapi setelah kupikir lagi baru kutahu di sinilah letak penyakitnya."

Penyakit apa? Lekas katakan,"

Desak Jit-jit.

"Orang jujur terkadang juga bisa tidak jujur,üjar Sim Long.

"Kakek yang baik itu meski bukan samaran orang lain, tapi dia sudah kena disuap, sedangkan satu di antara kedua tukang rias itu pasti Ong-hujin adanya."

Aha, betul!"

Jit-jit berkeplok.

"Ong-hujin menyamar sebagai tukang rias pengantin dan menyusup ke sini, pada waktu mendandani Pek Fifi dia membius nona itu, betapa pun cerdik Fifi tetap kalah pintar daripada Ong-hujin,"

Tutur Sim Long.

"Hm, tentu saja dia masih ketinggalan jauh,"

Jengek Ling-hoa.

"Maka Ong-hujin lantas mendandani Fifi sehingga rada mirip dia, lalu ia sendiri menyamar sebagai Pek Fifi,"

Tutur Sim Long pula.

"Kepandaian menyamar Ong-hujin tentu sudah kalian ketahui dan tidak perlu diragukan lagi."

Apalagi dia memakai kopiah pengantin dan bercadar pula, betapa tajam mata Koay-lok-ong juga takkan mengenalinya,"

Tukas Miau-ji.

"Tapi cara bagaimana pula Pek Fifi berada di dalam peti?"

Tanya Jit-jit.

"Betul, jelas peti itu dibawa datang oleh Bok Kong-tit?"

Kata Miau-ji.

"Dengan sendirinya hal ini telah diatur secara cermat oleh Ong-hujin,üjar Sim Long.

"Kakek penjual pupur ini tentu membawa peti, bila isi peti dibongkar, Fifi lantas dimasukkan ke dalam peti. Tentu Ong-hujin sudah ada kontak lebih dulu dengan Bok Kong-tit dan menyuruhnya membawa sebuah peti kosong, pada waktu orang tidak menaruh perhatian, peti kosong lantas ditukar dengan peti yang berisi Pek Fifi."

Aha, betul, pantas Ong-hujin menjatuhkan pilihan atas diri Bok Kong-tit untuk membantunya,"

Seru Miau-ji.

"Selain Bok Kong-tit menguasai kepandaian istimewa untuk kabur dengan cepat, juga lantaran wajahnya yang luar biasa, orang semacam dia, ke mana pun dia pergi tentu akan menarik perhatian, apalagi dia sengaja berdandan serupa siluman."

Ya, setiap langkah urusan ini memang sudah diperhitungkan oleh Ong-hujin,üjar Sim Long dengan tertawa.

"Kalau bicara tentang pemikiran cermat, di dunia ini mungkin tidak ada yang dapat menandingi dia,"

Kata Jit-jit.

"Kecermatan orang perempuan biasanya memang lebih rapi daripada orang lelaki,"

Tukas Miau-ji.

"Tapi cara berpikir orang perempuan juga tidak semuanya cermat,"

Mendadak Ong Ling-hoa menambahkan dengan tertawa sambil melirik Jit-jit sekejap.

"Bahwa urusan ini akhirnya gagal juga justru disebabkan dia seorang perempuan,"

Kata Sim Long.

"Apa arti ucapanmu ini?"

Tanya Ling-hoa.

"Meski cermat cara berpikir orang perempuan, tapi apa pun juga jiwanya tetap sempit ...."

Ah, juga tidak semua orang perempuan berjiwa sempit,"

Jengek Jit-jit.

"Betul juga, cuma secara umumnya, jalan pikiran orang perempuan memang lebih emosional dan keji, kalau tidak tentu urusan ini takkan gagal."

Apa pula maksud ucapanmu ini?"

"Bila orang lelaki yang bertindak demikian, setelah Fifi dirobohkan tentu dia akan dibunuhnya, buat apa mesti banyak urusan dan mengisinya di dalam peti segala. Padahal kalau Ong-hujin mau membunuh Koay-lok-ong, setelah masuk kamar pengantin kan banyak kesempatannya untuk turun tangan?"

Ya, lantas apa maksud tujuan Ong-hujin dengan bertindak begitu?"

Tanya Miau-ji.

"Aku menjadi bingung juga."

Tindakannya itu tidak lain adalah ingin Koay-lok-ong turun tangan sendiri membunuh Pek Fifi,"

Kata Sim Long.

"Maklumlah, meski dia sangat benci kepada Koay-lok-ong, tapi ketika melihat Koay-lok-ong hendak menikah dengan perempuan lain, tidak urung timbul juga rasa cemburunya. Sekali timbul rasa cemburu, setiap tindakannya menjadi kurang rasional¡"

Betul, cemburu memang merupakan ciri khas orang perempuan, orang serupa Ong-hujin juga tidak terkecuali,"

Sambung Miau-ji. Jit-jit melototinya sekejap.

"Hm, kau kira orang lelaki tidak cemburu?"

Apa pun lelaki kan lebih mendingan,"

Sahut Miau-ji dengan tertawa.

"Setahuku, bilamana orang lelaki sudah cemburu, biasanya jauh lebih hebat daripada orang perempuan,ëjek Jit-jit.

"Tujuan Ong-hujin mestinya hendak membunuh Koay-lok-ong untuk menuntut balas,"

Tutur Sim Long lagi.

"Tapi lantaran timbul rasa cemburunya, urusan membalas dendam lantas dikesampingkan dulu, dan mengacau pernikahan dan membunuh Pek Fifi berubah menjadi tujuannya yang utama."

Namun dia justru tidak membunuh Pek Fifi begitu saja melainkan bikin gara-gara lagi ...."

"Huh, kau tahu apa,"

Jengek Jit-jit sebelum lanjut ucapan si Kucing.

"Dia bertindak demikian selain untuk menyiksa Pek Fifi, yang utama adalah menyiksa batin Koay-lok-ong supaya dia menderita selama hidup." ¡Ai, jalan pikiran orang perempuan memang sukar dimengerti,ücap Miau-ji sambil menyengir.

"Jika jalan pikiran orang perempuan dapat kau pahami, mungkin matahari akan terbit dari sebelah barat,"

Kata Jit-jit.

"Uraian Jit-jit juga betul,üjar Sim Long.

"Tindakannya itu memang hendak menyiksa batin Koay-lok-ong, sebab itulah lebih dulu dia membeberkan rahasia Pek Fifi adalah anak perempuan Koay-lok-ong, lalu memancing Koay-lok-ong membunuh Fifi lagi.Ïa menghela napas, lalu menyambung.

"Coba, jika benar terjadi begitu, lalu Ong-hujin membongkar semua rahasia itu umpama Koay-lok-ong tidak menderita selama hidup tentu juga malu untuk berkecimpung pula di dunia Kangouw."

Betul, bila seorang salah membunuh anak perempuan sendiri, maka malunya sungguh tidak ada taranya, kalau tersiar, tentu hilanglah mukanya,"

Tukas Jit-jit.

"Muslihat keji dan jelimet begini mungkin juga cuma dapat dipikirkan oleh orang perempuan,"

Kata Miau-ji dengan gegetun.

"Kenapa engkau selalu mengolok-olok orang perempuan, awas, engkau bisa kualat dan selama hidup takkan memperoleh bini,ömel Jit-jit. Miau-ji menjulurkan lidah, katanya.

"Wah, jika begitu kan kebetulan bagiku."

Tiba-tiba Ling-hoa menimbrung.

"Kini urusan itu sudah jelas, cuma masih ada satu hal yang belum kuketahui."

Aku saja paham semuanya, masakah engkau berbalik tidak tahu?"

Tanya Jit-jit.

¡Yang aku tidak mengerti adalah entah cara bagaimana mendadak Koay-lok-ong dapat mengetahui tipu muslihat keji itu, padahal segala sesuatunya tampak berjalan lancar tanpa sesuatu ciri yang mencurigakan."

"Kukira rencana Ong-hujin itu juga tidak mutlak sempurna seluruhnya,"

Kata Sim Long.

"Satu-satunya ciri adalah tidak seharusnya Ong-hujin mendandani Pek Fifi sehingga mirip dia sendiri ...."

Aha, betul, aku juga tidak paham mengapa dia bertindak demikian?"

Tukas Jit-jit.

"Apakah supaya Koay-lok-ong menyangka perempuan di dalam peti itu adalah Ong-hujin, dengan begitu akan membuat kejut dan jeri kepadanya, bisa jadi tanpa pikir terus membunuhnya lebih dulu, dengan demikian maksud tujuannya pun tercapai tanpa susah payah lagi."

Ya, bahkan Koay-lok-ong akan gembira karena Ong-hujin sudah dibereskannya, urusan lain tentu tidak begitu diperhatikan lagi,"

Kata Miau-ji.

"Betul juga, semua itu memang sudah diperhitungkan Ong-hujin.üjar Sim Long tertawa.

"Cuma sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu bisa jatuh juga. Lantaran itulah terjadi kesalahannya yang fatal ini."

Kukira tindakannya ini justru sangat cerdik, mengapa kau bilang dia salah tindak malah?"

Tanya Jit-jit. Sim Long tersenyum.

"Antara Koay-lok-ong dan Ong-hujin tadinya bukan cuma suami-istri saja bahkan juga kawan kerja yang karib, dengan sendirinya kecerdasan dan betapa tinggi kungfu Ong-hujin cukup diketahuinya."

Ya, tentu saja,"

Kata Jit-jit.

"Jika begitu, coba jawab, perempuan semacam Ong-hujin apakah dapat sembarangan membocorkan rahasianya sendiri dan dapat didengar Bok Kong-tit secara tidak sengaja?"

Aha, betul, ini memang suatu lubang kelemahan, seharusnya Bok Kong-tit tidak bicara demikian,"

Seru Jit-jit.

"Selain itu, coba jawab lagi, tokoh semacam Ong-hujin masakah dapat ditawan oleh Bok Kong-tit?"

Aha, betul, ini pun suatu lubang kelemahan,"

Sela Miau-ji.

"Biarpun sepuluh orang Bok Kong-tit juga tak dapat mengganggu seujung jari Ong-hujin."

Makanya, pada hakikatnya Koay-lok-ong tidak perlu pikir lagi segera dapat memastikan perempuan dalam peti itu pasti bukan Ong-hujin,üjar Sim Long.

"Dan tentu akan terpikir olehnya, jika perempuan itu bukan Ong-hujin, mengapa rupanya begitu mirip? Dari mana pula bisa mengetahui rahasia yang tidak diketahui oleh sembarang orang itu?"

Jit-jit dan Miau-ji manggut-manggut.

"Hendaknya maklum, sekian tahun terakhir ini Ong-hujin sama sekali tidak muncul lagi di dunia Kangouw, boleh dikatakan sangat sedikit orang yang kenal wajahnya, bahkan tidak ada yang tahu hubungan pribadi antara dia dengan Koay-lok-ong."

Betul, sedikitnya Bok Kong-tit itu pasti tidak tahu,"

Tukas si Kucing.

"Karenanya jelas bukan Bok Kong-tit yang main gila dan bukan orang lain lagi, sebab bagi orang yang tidak kenal wajah Ong-hujin dan hubungannya dengan Koay-lok-ong dan rahasia pribadi mereka, mana mungkin orang menyamar sebagai Ong-hujin dan rahasia pribadinya untuk menipunya?"

Haha, dalil ini kedengarannya sangat ruwet, padahal sangat sederhana, mengapa aku justru tidak berpikir sampai ke situ?üjar Jit-jit tertawa.

"Jadi Koay-lok-ong segera memastikan yang main gila pasti bukan Bok Kong-tit atau orang lain, tapi tentu Ong-hujin adanya."

Betul, dan begitu dia teringat kepada Ong-hujin, segera pula terpikir olehnya berada di manakah Ong-hujin saat itu?üjar Sim Long.

"Memangnya segera ia dapat menerka si pengantin perempuan ialah Ong-hujin?"

Tanya Jit-jit.

"Umpama tidak segera menerkanya, tapi tentu teringat juga olehnya akan pengantin baru yang datang terlambat dan terpikir pada diri si kakek penjual pupur dan tukang rias pengantin ...."

Sim Long tertawa, lalu melanjutkan.

"Dengan kecerdasan Koay-lok-ong, mustahil hal-hal itu tidak dapat dirangkainya dengan baik?"

Ai, caramu menganalisis urusan ini sungguh cermat, jelas, dan terperinci, sekalipun Koay-lok-ong sendiri belum tentu dapat menguraikannya sejelas ini,"

Mau tak mau Ong Ling-hoa merasa gegetun.

"Eh, sekali ini kau kira Ong-hujin dan Bok Kong-tit dapat meloloskan diri atau tidak?"

Seru Miau-ji mendadak.

"Jika kita dapat lari keluar, tentu mereka pun mampu,"

Kata Sim Long.

"Apakah mereka mampu lolos atau tidak kan tidak ada sangkut pautnya dengan kita,"

Gerutu Jit-jit. Ong Ling-hoa termenung sejenak, mendadak ia berbangkit dan berseru.

"Betul, apakah mereka dapat kabur atau tidak memang tidak ada sangkut pautnya dengan kita, yang penting sekarang kita harus berusaha cara bagaimana mengarungi padang pasir ini."

Suhu malam hari di gurun pasir sangat dingin dan siang hari panas terik, ditambah lagi angin badai dan kekurangan air minum serta jalan yang sukar dikenali, malahan setiap saat harus memerhatikan gangguan ular berbisa, binatang buas dan bahaya lain.

Maka perjalanan ini tentu saja sangat sulit.

Setelah menempuh perjalanan dua hari, manusia dan kudanya sudah sama letihnya, sedangkan padang pasir tetap tidak tampak ujung pangkalnya.

Dalam keadaan demikian Sim Long sendiri pun mulai cemas, biarpun dia tergolong manusia super juga sukar melawan kekuatan alam.

Di antara mereka yang paling adem-ayem adalah Pek Fifi, sebab sejauh itu dia masih belum siuman.

Malam hari ini Jit-jit menggunakan kain dan dicelupkan air untuk membasahi bibir Fifi, melihat wajahnya yang makin kurus, katanya dengan menyesal.

"Lihai amat obat bius yang digunakan Ong-hujin ini."

Sementara itu Miau-ji dan Sim Long telah pergi mencari jalan, hanya tertinggal Ong Ling-hoa yang menemani Jit-jit. Mendadak Ling-hoa menjengek.

"Hm, mungkin dia takkan siuman untuk selamanya, buat apa engkau membuang-buang air minum? Memangnya kau pun sudah lupa cara bagaimana dia memperlakukan dirimu?"

Cara bagaimana dia berbuat padaku, sedikitnya dia tetap manusia, seorang perempuan tidak boleh kusaksikan dia mati begini saja.

Biarlah air bagianku yang kuberikan padanya, engkau tidak perlu cerewet."

"Dan kalau kau mati kehausan, sebaliknya dia masih hidup, jadinya tentu akan sangat lucu, mungkin Sim Long akan ...."

Jit-jit melonjak gusar, teriaknya.

"Manusia jahat semacam dirimu, sungguh aku heran mengapa Sim Long tidak membunuhmu?"

Hm, Sim Long tidak mau membunuhku, justru di sinilah letak kecerdikannya, kalau tidak ...."

"Kalau tidak apa?"

Mendadak seorang menukas. Terlihat Him Miau-ji sudah kembali, sinar matanya mencorong dalam kegelapan. Ong Ling-hoa tertawa, katanya.

"Kalau tidak kan aku sudah mati sejak dulu?"

Miau-ji mendelik padanya, tapi dia lantas membalik tubuh ke sana, betapa pun si Kucing tidak dapat berbuat apa-apa padanya.

Dalam pada itu Sim Long juga sudah kembali, Jit-jit menyongsongnya dan bertanya.

"Adakah jalan yang kau temukan di sana?"

Sim Long menggeleng, katanya dengan tertawa.

"Tapi jangan kau khawatir, Thian (Tuhan) pasti takkan membuat orang menghadapi jalan buntu."

Begitulah mereka melanjutkan perjalanan dua hari lagi, kini senyum Sim Long yang khas ini pun tak dapat membangkitkan gairah Jit-jit lagi.

Keadaan Pek Fifi juga tambah payah, tampak kempas-kempis dan tetap tak sadar.

Makin hemat cara mereka menggunakan air minum, makin lemah pula daya tahan fisik mereka, setiap kesempatan mereka gunakan untuk mengaso, satu-satunya kenikmatan mereka sekarang hanya istirahat.

Kembali malam tiba, malam dengan bintang-bintang bertaburan di langit.

Tapi dalam keadaan sekarang tiada seorang pun yang dapat lagi memuji keindahan kerlip bintang.

Jit-jit bersandar di bahu Sim Long dan bergumam.

"Jangan-jangan kita salah jalan sehingga makin jauh makin kesasar?"

Malam sedemikian sunyi, Miau-ji dan Ong Ling-hoa sudah tidur. Perlahan Sim Long membelai rambut si nona dengan kasih sayang, katanya.

"Arah yang kita tempuh pasti tidak salah lagi, cuma ...."

Mendadak Jit-jit tertawa.

"Biar, kesasar juga tidak menjadi soal. Asalkan selalu berada di sampingmu, sekalipun sampai ke ujung langit juga kurela."

Hati Sim Long terasa kusut, ia pandang wajah Jit-jit yang tersenyum bahagia, lalu memandang pula Pek Fifi yang belum siuman itu, seketika ia tidak sanggup bersuara lagi.

Selang lagi sejenak, akhirnya Jit-jit bangkit dan duduk tegak, dipandangnya Pek Fifi yang belum sadar itu, katanya dengan menyesal.

"Jika terus begini, kita sih tidak menjadi soal, tapi mungkin dia akan ...."

Engkau masih benci padanya?"

Tanya Sim Long tiba-tiba. Jit-jit menggeleng, jawabnya lembut.

"Mana bisa kubenci dia lagi. Meski dahulu dia sangat menggemaskan, tapi sekarang ... sekarang dia sedemikian rupa dan harus dikasihani. Padahal dia tetap seorang anak perempuan yang bernasib malang."

Betul, dia memang anak perempuan yang malang dan harus dikasihani ...."

Sambung Sim Long. Tiba-tiba Jit-jit merangkul leher Sim Long, katanya dengan tersendat.

"Terkadang ... terkadang timbul pikiranku akan kuserahkan dirimu kepadanya, sebab selama hidupnya penuh diliputi rasa hampa dan dendam, satu-satunya orang yang dapat menghiburnya hanya engkau."

Dari tersendat akhirnya ia menangis perlahan, katanya pula.

"Tapi tidak dapat kulakukan, sesungguhnya terasa berat bagiku untuk menyerahkan dirimu kepadanya. O, Sim Long, apakah ... apakah engkau marah padaku?"

Ah, bodoh, masa kumarah padamu?üjar Sim Long sambil merangkulnya erat.

Meski dia tertawa, namun siapa yang tahu betapa pedih hatinya.

Di tengah malam yang sunyi dan di bawah kerlip bintang, hampir saja ia mengatakan segalanya.

Tapi dia tidak bicara lagi, sebab sesungguhnya dia tidak mau dan tidak tega melukai hati Cu Jit-jit.

Akhirnya ia cuma berkata.

"Sudah jauh malam, marilah kita pun tidur."

Ya, tidurlah.

Bila esok tiba pula, mungkin segalanya akan berubah.

Dan siapa pula yang mengetahui apa yang akan terjadi esok?¡" ***** Sang surya kembali memancarkan cahayanya menyinari seluruh bumi.

Waktu Miau-ji mendusin, ia mengulet dan menguap, tapi mendadak ia tercengang, sebab tiba-tiba diketahuinya segala telah berubah.

Sebagian besar tubuh Ong Ling-hoa telah terbenam di dalam pasir, rambut kusut, muka pun dicoreng-moreng orang, punggung telanjang dan dilecuti orang hingga berlumuran darah.

Bentuk Ong Ling-hoa ternyata sudah berubah serupa setan, tapi anehnya kelihatan masih tidur nyenyak.

Segala apa yang terjadi atas dirinya seolah-olah tidak dirasakannya.

Waktu ia pandang Sim Long dan Cu Jit-jit, kedua orang itu teringkus menjadi satu dengan mengadu punggung, rambut mereka pun kusut, malahan seperti terpotong pula sebagian.

Sedang Miau-ji sendiri, ia merasa kepala sakit seperti mau pecah, tubuh juga terikat tanpa bisa bergerak, kulit badan seakan-akan pecah tersengat sinar matahari, bajunya hampir dibelejeti seluruhnya.

Sungguh kejut si Kucing tak terkatakan, ia heran sesungguhnya apa yang terjadi?

Apakah benar telah ketemu setan di tengah gurun?

Meski di siang hari bolong, betapa besar nyalinya tidak urung merasa ngeri juga menemui kejadian aneh yang sukar dibayangkan ini.

Miau-ji coba meronta di atas pasir dan menggeliat.

Akhirnya diketahui pula dua kejadian, yaitu kuda mereka sudah lenyap, kantong air dan perbekalan lain juga hilang.

Padahal semua itu sama dengan nyawa mereka.

Lantas siapakah yang merampas nyawa mereka itu?

Ia coba memandang sekelilingnya, langit kelihatan biru dan gumpalan awan mengambang di udara, panasnya hampir tak tertahankan lagi.

Jelas tidak ada jejak manusia apa pun.

Lantas siapa?

Apakah Koay-lok-ong?

Rasanya tidak mungkin, sebab kalau Koay-lok-ong tentu mereka takkan cuma diperlakukan cara begitu saja.

Miau-ji terus berteriak.

"Sim Long, Sim Long! Lekas bangun, lekas ...."

Mendadak kerongkongannya seperti tersumbat, sebab tiba-tiba dilihatnya sesuatu.

Yaitu Pek Fifi yang semula berada di samping Sim Long dan sejauh itu belum siuman, kini pun sudah lenyap.

Akhirnya Sim Long mendusin juga, ia lihat tanah di depannya banyak bekas dicorat-coret seperti ada orang telah menulis di tanah pasir, lalu dihapus lagi.

Dengan sendirinya ia pun merasa kepala kesakitan dan anggota badan kaku pegal, otot daging pada mukanya berkerut-kerut, tanpa terasa ia bergumam.

"Wahai Sim Long, kembali engkau tertipu lagi."

Mendengar suaranya, Miau-ji berseru.

"Hai, Sim Long, engkau sudah mendusin bukan? Apakah kau lihat keadaan ini? Air tidak ada lagi, kuda hilang, semuanya lenyap, Pek Fifi juga tidak kelihatan lagi."

Fifi juga sudah pergi?ücap Sim Long dengan menyesal.

"Sesungguhnya apa yang terjadi ini? O, mengapa jadi begini?"

Keluh si Kucing.

"Pek Fifi, pasti dia, siapa lagi selain dia,üjar Sim Long.

"Pek Fifi, kau bilang semua ini perbuatannya?"

Miau-ji menegas dengan terkejut.

"Meski dia sudah pergi, masakah ini tidak dapat kau lihat?"

Kata Sim Long dengan tersenyum pedih.

"Tapi kepergiannya bukan mustahil diculik orang?üjar Miau-ji.

"Sejauh ini dia tidak pernah siuman, keadaannya kempas-kempis, masakah mampu berbuat seperti ini?"

Ai, rupanya kita telah meremehkan dia,"

Gumam Sim Long.

"Setelah mengalami berbagai kejadian, kita toh tetap memandang enteng padanya, ai, mengapa bisa begini? Ya, soalnya dia terlampau pandai bergaya, bisa berpura-pura, selalu menimbulkan rasa kasihan orang dan bersimpati padanya sehingga lupa untuk berjaga-jaga akan dirinya."

Apakah ... apakah dia sebenarnya sudah sadar dan cuma pura-pura masih pingsan, mungkinkah dia ...."

Pada saat itu juga Jit-jit mendusin dan berseru.

"Hei, Sim Long ...."

"Apakah engkau terluka, Jit-jit?"

Tanya Sim Long.

"O, rasanya tidak ...."

Jawab Jit-jit.

"Eh, Sim Long, apakah engkau berada di belakangku? Mengapa kita diringkus secara begini?"

Sim Long mengiakan.

"He, sesungguhnya apa yang terjadi?"

Seru Jit-jit pula.

"Eh, di depanku ada tulisan."

"Tulisan apa?"

Tanya Sim Long cepat.

"Tulisan ini berbunyi, 'kebaikan setitik air, kubalas dengan sumber air, takkan kubunuhmu, biarkan kalian terbang bersama. Jika hidup tidak beruntung, biarlah aku menyingkir jauh ke sana, putus cinta dan hilang benci, tidak perlu bertemu lagi sampai mati.' Ai, mungkinkah Pek Fifi yang menulisnya?¡"

Ya, memang dia,"

Kata Sim Long.

"Dia sudah pergi, dia pergi sendirian,"

Seru Jit-jit.

"Meski dia ingin mendapatkan dirimu sepenuh hati, tapi akhirnya dia tidak merampasmu pergi melainkan ditinggalkan supaya kita ... kita ...."

Suaranya tersendat dan akhirnya pecahlah tangisnya.

"Oo, dia bilang putus cinta dan lenyap benci, sampai mati tidak perlu bertemu lagi. O, Fifi, engkau rela hidup sengsara hingga hari tua, engkau tidak mau membunuhku. O, Pek Fifi, selama ini ternyata kusalah menilai dirimu, sesungguhnya engkau anak perempuan yang baik. Aku ... aku bersalah padamu, berdosa padamu."

Jika benar dia berhati baik, mengapa pula dia membikin susah kita seperti ini, mengapa pula membawa lari air dan perbekalan kita dan membawa pergi kuda kita?"

Kata Miau-ji. Sim Long menghela napas.

"Sesungguhnya dia memang orang perempuan yang sukar diraba jalan pikirannya, siapa pun tidak dapat menerka apa kehendaknya. Apakah dia bajik atau jahat, mungkin selamanya tidak ada yang tahu."

Miau-ji termenung sejenak, ia pun menghela napas, katanya.

"Apa pun juga dia tetap perempuan yang luar biasa, bahwa dia dapat berlagak tidak sadar sekian hari dan tahan lapar dahaga, sampai mata pun tidak terbuka, melulu ini saja sukar dilakoni siapa pun. Wahai Pek Fifi, sungguh aku kagum padamu."

Sim Long tersenyum getir.

"Dia berbuat demikian adalah supaya kita lengah dan tidak menaruh perhatian padanya."

Jika dia sudah menyatakan putus cinta dan lenyap benci, sudah putus asa dan bertekad akan pergi, mengapa dia tidak mau cara baik-baik, tapi sebelum berangkat sengaja membikin susah dulu kepada kita?üjar Miau-ji.

"Hal ini mungkin disebabkan dia tidak ingin menemui kita dalam keadaan begitu, ia lebih suka menahan perasaan dan ingin menjaga gengsi supaya kita tahu dia tetap perempuan yang tabah dan kuat,"

Kata Sim Long.

"Tapi bisa jadi lantaran dia tidak dapat berpisah secara terang-terangan denganmu, juga tidak ingin dipandang rendah olehmu ....ücap Jit-jit.

"Seorang perempuan rela menderita daripada dipandang hina oleh orang yang dikasihinya, terlebih anak perempuan seperti dia."

Siapa yang memandang rendah padanya,"

Tukas Miau-ji.

"Sampai Sim Long pun pernah terjungkal beberapa kali di tangannya, masa ada yang berani meremehkan dia! Di kolong langit ini, kecuali dia, siapa pula yang pernah dan berhasil menjebak Sim Long?"

Mendadak Jit-jit berseru.

"Kalau Sim Long tertipu olehnya, hal ini bukan lantaran Sim Long kalah pintar."

Habis lantaran apa?"

Tanya Miau-ji.

"Karena Sim Long selalu simpati dan kasihan padanya, ingin menolong dan membantunya,"

Kata Jit-jit.

"Kalau tidak, biarpun ada sepuluh orang Pek Fifi juga tidak dapat menjebak Sim Long."

Ai, tadinya kukira engkau cuma suka kepada Sim Long dan tidak memahami pribadinya, sekarang baru kuketahui bahwa orang yang paling paham akan pribadi Sim Long justru adalah dirimu,"

Kata Miau-ji dengan tertawa.

"Wahai Sim Long, sungguh hidupmu tidak sia-sia ada nona cantik yang sedemikian paham akan dirimu."

Mendadak Ong Ling-hoa menyela dengan suara parau.

"Dalam keadaan dan tempat seperti ini engkau ternyata masih dapat tertawa, sungguh harus kupuji padamu."

Mulutnya seperti tersumbat oleh pasir sehingga bicaranya tidak begitu jelas.

"Mengapa aku tidak dapat tertawa, paling sedikit aku kan tidak tertanam hidup-hidup di dalam pasir?üjar Miau-ji.

"Aku ini terhitung apa?"

Kata Ling-hoa.

"Tapi tokoh kita Sim Long yang serba tahu ternyata juga diringkus orang serupa babi mati, inilah yang membingungkan."

Sim Long tidak marah meski disindir, ucapnya tak acuh.

"Jika engkau berlaku waspada sedikit, tentu kita takkan berubah menjadi begini."

Hm, apakah ini salahku?"

Jengek Ong Ling-hoa.

"Kau tahu cara bagaimana kita diringkus orang tanpa sadar sama sekali?"

Tanya Sim Long.

"Semua ini lantaran semalam Pek Fifi telah menaruh racun dalam kantong air minum kita. Dan apakah kau tahu kapan dia menaruh obat bius ini? Yaitu pada waktu kuminta kau jaga di sini. Biasanya engkau memandang air minum jauh lebih penting daripada nyawa orang lain, mengapa kau pun lengah sehingga kena dikerjai Pek Fifi?Öng Ling-hoa mengertak gigi sehingga gemertuk.

"Cuh", ia semburkan pasir yang menutupi mulutnya dengan gemas.

"Ah, jangan pikirkan urusan lain lagi, yang penting bagaimana kita sekarang?"

Seru Miau-ji.

"Sama sekali aku tak bertenaga, hendak melepaskan tali pengikat ini saja tidak mampu. Jika keadaan demikian terus berlangsung, mungkin kita bisa terjemur kering menjadi dendeng." ***** Sinar sang surya memang makin terik, pasir pun mulai panas. Saking panasnya kepala si Kucing mulai terasa pusing dan mata berkunang-kunang, tali yang mengikat tubuhnya terasa semakin mengeras sehingga ambles ke dalam daging. Bibirnya sudah mulai pecah terjemur, ia mengomel,¡"

Wahai Pek Fifi, aku tidak terima kasih karena engkau tidak membunuhku, sebab caramu memperlakukanku ini jauh lebih kejam daripada membunuhku.

Rupanya engkau sengaja tidak membunuh kami karena hendak kau siksa kami."

"Meski sudah kurasakan hidupku ini pasti takkan mendapatkan kematian secara baik, tapi juga tidak pernah kubayangkan akan mati terjemur cara begini, kematian cara begini sungguh lebih susah daripada cara apa pun,"

Gumam Ling-hoa dengan menyesal.

"Kematian cara apa tetap tidak enak,üjar Sim Long dengan tersenyum. Seketika Ong Ling-hoa membalik.

"Dalam keadaan begini engkau masih dapat tersenyum?"

"Kenapa tidak?"

Mendadak si Kucing menyela.

"Dapat melihat orang semacam dirimu ini mati terjemur hidup-hidup, setiap orang pun akan tertawa geli."

Hahahaha ...."

Begitulah dia sengaja bergelak tertawa, tapi cuma beberapa kali tertawa saja, kerongkongannya serasa tersumbat, bibirnya pecah dan tenggorokan kering, suara tertawanya mirip bunyi burung hantu.

"Ayo tertawalah, kenapa tidak tertawa lagi?ëjek Ling-hoa.

"Bila kau tertawa lagi cara begitu, mungkin engkau akan mampus lebih dulu."

Dia takkan mati,üjar Sim Long.

"Dia takkan mati, memangnya aku saja yang akan mati?"

Tanya Ling-hoa.

"Jika kau mau tutup mulut dan sisakan sedikit tenaga, tentu kau pun takkan mati,üjar Sim Long. Meski Ong Ling-hoa benci dan cemburu terhadap Sim Long, tapi apa yang dikatakan anak muda itu mau tak mau harus diturut dan dipercayainya.

"Apa maksudmu kita masih ... masih akan tertolong?"

Tanyanya dengan sorot mata sangsi.

"Tentu saja,"

Jawab Sim Long.

"Di tengah gurun seluas ini kita serupa kawanan semut, biarpun beribu orang mencari serentak juga belum tentu dapat menemukan kita .... Apalagi siapa yang akan menolong kita? Siapa yang tahu kita tertimpa bahaya, semua ini tidak ... tidak mungkin."

Sembari bicara ia pun terbatuk-batuk dan kehabisan tenaga, sebab meski di mulut dia bilang tidak mungkin, tapi di dalam hati justru sangat mengharapkan akan datang penolong.

"Dengan sendirinya ada orang tahu kita mengalami petaka ini,"

Kata Sim Long pula.

"Siapa?"

Tanya Ong Ling-hoa dengan terengah.

"Ya, kecuali ... kecuali perempuan siluman itu."

Betul, memang Pek Fifi adanya,"

Kata Sim Long. Ling-hoa melenggong, katanya dengan tertawa.

"Haha, masakah dia akan datang lagi menolong kita? Haha, rupanya saking gelisahnya Sim Long juga sudah linglung ...."

Suara tertawa latahnya membuat Cu Jit-jit dan Him Miau-ji sama merinding. Sungguh mereka pun meragukan jalan pikiran Sim Long itu, betapa pun mereka tidak percaya Pek Fifi akan datang menolong mereka.

"Masa kalian belum lagi kenal wataknya?üjar Sim Long.

"Jika dia menghendaki kematian kita, tentu dia akan tinggal di sini untuk menyaksikan kita tersiksa sehingga mati."

Mungkin hatinya tidak sekeji ini,"

Kata Jit-jit.

"Betul,"

Seru Ling-hoa girang.

"Jika dia menghendaki kematian kita tentu dia tidak perlu pergi. Sekarang dia pergi, rasanya kita pasti akan mendapatkan bintang penolong."

Bintang penolong? Dari mana datangnya bintang penolong?"

Gerutu Miau-ji.

"Dia dibesarkan di tengah gurun, terhadap segala sesuatu di gurun pasir tentu jauh lebih hafal daripada kita. Bisa jadi sebelumnya dia sudah tahu ada orang akan datang ke sini, mungkin juga dia telah meninggalkan petunjuk bagi orang yang akan mencari kemari."

Bilamana sekali aku tertolong, rasanya aku harus berbuat beberapa hal kebajikan,"

Kata Ong Ling-hoa.

"Baik, asalkan jangan kau lupakan nazarmu ini, kujamin engkau takkan mati,ücap Sim Long. Meski harapan untuk tertolong sangat kecil, tapi harapan betapa kecil pun jauh lebih baik daripada tanpa harapan. Maka semua orang tidak bicara lagi mereka ingin menyimpan tenaga untuk bertahan sampai datangnya bintang penolong. Kini kelopak mata setiap orang dirasakan tambah berat, semuanya ingin tidur senyenyaknya, tapi mereka pun tahu, sekali tertidur takkan mendusin untuk selamanya. Entah sudah lewat berapa lama, mendadak Sim Long berseru.

"Aha, itu dia, sudah datang ... sudah datang ...."

Terbangkit semangat semua orang dan memandang ke arah yang dimaksud, tertampak di bawah langit yang biru tanpa awan sana mendadak mengepul debu kuning tebal sehingga hampir menyelimuti seluruh angkasa.

Menyusul lantas terdengar gemuruh derap kaki kuda yang menggetar bumi.

"Di tengah gurun ini dari mana datangnya pasukan sebesar ini?üjar Miau-ji dengan melengak.

"Masa kau lupakan Liong-kui-hong?"

Kata Sim Long dengan tersenyum.

Belum lenyap suaranya, tertampaklah empat penunggang kuda berlari datang secepat terbang, penunggang kudanya semuanya berbaju putih dan bermantel putih, itulah seragam anak buah Liong-kui-hong atau angin puyuh naga yang malang melintang di gurun pasir ini.

Mungkin keempat penunggang kuda itu sudah melihat rombongan Sim Long, mereka bersuit, lalu membalik lagi ke sana.

Keruan Ong Ling-hoa sangat cemas, serunya.

"Hai, hai ... kenapa kalian putar balik lagi? Masa kalian tidak mau menolong orang yang akan mati?"

Sim Long tertawa.

"Tidak perlu kau gelisah, mereka hanya pengintai pasukan Liong-kui-hong, setelah menemukan kita, mereka tidak berani mengambil tindakan sendiri, maka harus kembali ke sana untuk melapor."

Betul, namun Liong-kui-hong adalah bandit yang terkenal tidak memberi ampun kepada siapa pun, bila kita tertangkap olehnya mungkin juga ...."

"Aku tidak jelas baik atau jahat Liong-kui-hong, tapi jangan kau lupa, dia kan masih mempunyai seorang Kunsu?üjar Sim Long.

"Bisa apa Kunsu segala? Apakah kau kenal dia?"

Tanya Ling-hoa.

"Bila aku tidak salah terka, kuyakin dia adalah sahabatku dulu,"

Jawab Sim Long dengan tersenyum.

Dalam pada itu dari kejauhan datang lagi beberapa penunggang kuda, yang paling depan berbaju hitam dan berkuda hitam, malah pakai kedok hitam pula, hanya kelihatan sorot matanya yang tajam.

Sesudah dekat, mendadak penunggang kuda serbahitam itu melompat turun, lalu berdiri diam sambil menatap Sim Long tanpa berkedip, tampaknya seperti terkejut.

"Kim-heng, Kim Bu-bong, engkau bukan?"

Seru Sim Long mendadak. Penunggang kuda serba hitam itu bergetar, ia pun berseru.

"Dari ... dari mana kau tahu ...."

Kecuali Kim Bu-bong, siapa pula yang begitu paham akan pribadi Koay-lok-ong serupa membaca garis tangan sendiri,üjar Sim Long sambil tergelak.

"Kecuali Kim Bu-bong, siapa pula yang dapat menandingi Koay-lok-ong dan berulang membuatnya kecundang."

Mendadak si penunggang kuda hitam melompat maju, Sim Long dirangkulnya.

Saking terharu kedua orang sama mengucurkan air mata sambil tertawa pula.

Sampai Ong Ling-hoa juga ikut terharu, apalagi Jit-jit dan Miau-ji, mereka pun tidak tahan mencucurkan air mata.

Selang sejenak barulah Kim Bu-bong berkata dengan gegetun.

"Wahai Sim Long, mengapa engkau sampai tertimpa nasib serupa ini?"

Jangan bicara tentang diriku, bicaralah mengenai dirimu lebih dulu,üjar Sim Long. Kim Bu-bong diam sejenak, katanya kemudian dengan tertawa.

"Bukan aku yang tidak setia kepada Koay-lok-ong, tapi dia yang tidak berbudi padaku. Sesudah kupulang padanya dalam keadaan cacat, dia pandang diriku sebagai sampah yang tak berguna lagi dan berniat menghabiskan diriku. Untung kutahu maksud kejinya, diam-diam kuatur tipu untuk meloloskan diri. Waktu itu juga aku bersumpah akan membalas dendam, akan kubuat supaya dia tahu bahwa Kim Bu-bong bukanlah sampah sebagaimana disangkanya."

Dan sekarang engkau memang sudah membuktikan hal ini,üjar Sim Long dengan tertawa.

"Waktu itu dia sengaja membuat sepucuk surat palsu dan bilang padaku bahwa surat itu tinggalanmu. Maka saat itu juga kutahu dalam urusanmu pasti terjadi sesuatu yang tidak beres."

Kim Bu-bong menengadah dan terbahak-bahak, suara tertawanya yang senang terasa rada hampa juga. Sejenak kemudian ia berhenti tertawa, katanya.

"Sekarang kendati sudah kujatuhkan dia, lalu mau apa lagi? Hidup manusia paling-paling seratus tahun dan dalam sekejap saja sudah lalu, baik menang maupun kalah, sampai mati pun tertinggal segundukan tanah belaka."

Maksudmu, dia sudah kau bunuh?"

Tanya Miau-ji mendadak.

"Tempo hari seranganku gagal, sekali ini kuhimpun kekuatan lagi dan menyerbunya lagi, siapa tahu sarang Koay-lok-ong malah sudah berubah menjadi puing belaka, mayat bergelimpangan, bahkan sama terbakar hangus. Di antaranya ada dua kerangka mayat yang tampak melengket menjadi satu, kulit daging sudah menjadi abu, namun ketiga cincin masih kelihatan ...."

Kim Bu-bong tertawa seram, lalu menyambung.

"Hah, siapa menyangka, Koay-lok-ong yang malang melintang selama ini ternyata sudah terkubur di tengah lautan api."

Sampai di sini, semua orang tahu mayat yang melengket menjadi satu dengan Koay-lok-ong itu pastilah Ong-hujin. Sim Long menghela napas, gumamnya.

"Ai, itulah akibat cinta yang tak terimpas, tahu begitu untuk apa berbuat?"

Mendadak terdengar Ong Ling-hoa menangis keras, nyata baru sekarang meledak perasaannya sebagai seorang anak terhadap ibunya.

"Ong Ling-hoa,"

Teriak Kim Bu-bong dengan bengis.

"mestinya sudah kuputuskan akan membunuhmu, tapi melihat tangismu ini ternyata hati nuranimu belum lagi lenyap seluruhnya, karena itu biarlah hari ini kutolongmu sekali lagi."

Segera ia membebaskan mereka dari ringkusan, tiba-tiba ia pandang Sim Long pula dan berkata.

"Tampaknya Koay-lok-ong memang betul sudah mati, selama ini engkau tetap belum sempat bertarung dengan dia, apakah engkau tidak merasa menyesal?"

Sim Long tersenyum hambar, katanya.

"Sifat manusia asalkan bajik, dan juga bodoh, maka tak terhindar dari pertengkaran. Cuma golongan yang pintar bertempur dengan akal dan golongan rendah bertanding dengan tenaga, meski aku dan Koay-lok-ong sama-sama ingin menumpas pihak lain, tapi entah mengapa, kedua pihak seperti juga saling kasihan. Jika sudah begitu, kan tidak menarik lagi bilamana terjadi pertarungan benar di antara kami."

Haha, keluhuran budi Sim Long memang jarang ada bandingannya,"

Seru Bu-bong dengan tertawa.

"Eh, dari mana kau tahu keadaan kami ini?"

Tanya Jit-jit.

"Ini pun bukan sesuatu hal aneh,"

Tutur Bu-bong.

"Ketika mengundurkan diri, pasukan kami mestinya tidak lalu di sini, siapa tahu semalam mendadak kuterima sepucuk surat dengan lampiran peta, kami diminta ke sini untuk menolong kalian. Aku merasa sangsi, tapi juga tertarik, tentu pula khawatir tertipu. Untung akhirnya kuputuskan datang kemari juga."

Orang yang paling memahami Pek Fifi tetap Sim Long adanya,"

Kata Jit-jit dengan gegetun. Ia pegang tangan Sim Long dengan erat, seperti anak muda itu akan kabur lagi.

"Dari mana pula dia tahu Kim-heng berada di dekat sini?"

Tanya Miau-ji.

"Dalam perjalanan kemari tentu dia sudah melihat gerakan pasukan Kim-heng yang menimbulkan debu, meski kami juga melihatnya waktu itu tentu juga mengira angin pasir biasa, tapi dia kan sangat hafal terhadap setiap perubahan gurun pasir ini. Apakah debu atau angin pasir sekali pandang saja sudah diketahuinya."

Jit-jit, Miau-ji dan Ong Ling-hoa sama manggut-manggut membenarkan. Pada saat itulah mendadak di kejauhan ada orang berteriak.

"Di mana Sim Long yang termasyhur itu? Dapatkah kami melihatnya?"

Suara teriakan itu susul-menyusul semakin keras dan menggema angkasa.

"Wah, kenapa hari ini rasanya aku ingin menyusup ke dalam bumi saja,ücap Sim Long dengan rikuh.

"Haha, biarpun ingin menyusup ke dalam bumi juga takkan sanggup lagi,"

Kata Kim Bu-bong sambil memegang tangan Sim Long.

"Cuma ... haha, hari ini Sim Long ternyata juga ingin lari, tentu orang akan terheran-heran."

Muka Sim Long tersembul lagi senyumannya yang khas itu, senyuman yang sukar diraba oleh siapa pun, termasuk Cu Jit-jit. TAMAT

KANG ZUSI at

http.//cerita-silat.co.cc/

KANG ZUSI at

http.//cerita-silat.co.cc/

Baca Juga: Bangau Sakti 11

Baca Juga: Tugas Rahasia 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert