Eps 11 Pendekar Baja - Gu Long
Baca online Pendekar Baja - Gu Long
Cersil Pendekar Baja - Gu Long.
Sungguh tidak kepalang geregetan Him Miau-ji, mendingan bila tidak mengendus bau sedap arak, sekali tercium, rasa laparnya semakin sukar ditahan.
"Lekas kita tinggalkan tempat ini, aku tidak ingin melihat bentuk setan iblis itu,"
Desis Jit-jit di tepi telinga Sim Long.
"Eh, jika kalian terburu-buru mau berangkat, terpaksa tidak dapat kuantar,"
Seru Koay-lok-ong pula dengan tertawa."
Hanya di sini kuucapkan selamat jalan kepada kalian, semoga kalian dapat lari terlebih cepat."
Habis berkata ia lantas menenggak dan terbahak-bahak. Him Miau-ji juga tertawa.
"Kau minum sendirian, tentu sangat kesepian, biarlah mendiang sahabatmu mendampingimu, coba lihat, dia sedang memandang padamu."
Dengan langkah lebar ia mendekati Koay-lok-ong.
Meski tulang kepala Tokko Siang sudah remuk tapi matanya masih melotot penuh rasa sedih dan benci.
Kawanan gadis jelita di samping Koay-lok-ong sama menjerit ngeri.
Air muka Koay-lok-ong juga rada berubah dan tidak dapat tertawa lagi.
"Wahai Tokko-heng, pada siang hari kau temani dia minum arak, bila malam tiba, engkau pun jangan lupa mendampingi dia, agar dia tidak kesepian,"
Demikian Miau-ji berolok-olok pula.
"Brak", mendadak Koay-lok-ong membanting cawan arak di atas meja sambil membentak.
"Tutup mulut!"
Mata Miau-ji yang serupa mata kucing itu menatap Koay-lok-ong dengan tajam, katanya perlahan,"
Bila malam tiba, arwah yang ingin bicara denganmu tentu tidak sedikit, jika sekarang bertambah lagi Tokko Siang, kan tidak menjadi soal, kenapa kau takut?"
"Lekas enyah, jika tidak ...."
Hardik Koay-lok-ong dengan bengis. Belum lanjut ucapannya Miau-ji sudah lewat dengan tertawa.
"Hahaha, bila hidup banyak berbuat dosa, tengah malam pun takut pintu digedor setan!"
Koay-lok-ong meremas tangannya sehingga cawan emas tadi teremas pipih. Ong Ling-hoa ikut lewat ke sana, mendadak ia berpaling dan berucap.
"Satu jam, bukan?"
Ya, satu jam, tidak lebih, juga tidak kurang, lekas enyah!"
Bentak Koay-lok-ong.
"Ai, marah pada orang lain, aku yang kena getahnya,üjar Ling-hoa dengan tertawa, ia menjura terus melangkah ke depan. Melihat kelakuan Ong Ling-hoa dan Him Miau-ji itu, dengan suara tertahan Sim Long berkata kepada Jit-jit.
"Meski watak kedua orang ini berbeda, yang satu jujur dan yang lain licik, tapi menghadapi detik gawat seperti ini terlihatlah mereka memang orang luar biasa."
Orang yang dapat berada bersamamu tentu saja bukan orang biasa,üjar Jit-jit. Sim Long memapahnya ke depan, ketika berada di depan Koay-lok-ong, dengan tersenyum ia menegur.
"Setelah berpisah sekarang, entah kapan baru akan berjumpa pula."
Jangan khawatir, selekasnya pasti akan berjumpa lagi,ücap Koay-lok-ong sambil menyeringai.
"Meski Anda sangat marah, namun tetap menepati janji dan akan menunggu satu jam, tampaknya Koay-lok-ong tetap Koay-lok-ong, mau tak mau aku harus menyatakan kagum padamu,ücap Sim Long dengan gegetun. Koay-lok-ong terdiam sejenak, mendadak ia tergelak dan berseru.
"Bagus, Sim Long, tampaknya di kolong langit ini cuma engkau saja yang memahami isi hatiku, kesatria di dunia ini, kecuali Sim Long seorang tiada yang terpandang olehku.Ïa merandek dan menatap Sim Long lekat-lekat, lalu menambahkan.
"Cuma, tidak jelek juga kulayanimu, mengapa engkau justru ingin memusuhiku?"
Sim Long tersenyum hambar.
"Bisa jadi aku memang dilahirkan untuk memusuhimu."
Kembali Koay-lok-ong terdiam, teriaknya kemudian.
"Bagus! Jika tidak ada orang semacam dirimu yang menjadi lawanku, rasanya hidupku juga takkan menarik.Ïa ganti cawan arak dan minum lagi. Dengan serius Sim Long berucap.
"Apa pun juga tetap kuhormati Anda sebagai kesatrianya kesatria, kelak bila kau jatuh dalam cengkeramanku, pasti takkan kubikin susah dirimu melainkan akan kubereskan dengan sewajarnya."
Haha, sudah kepepet begini, kecuali Sim Long, di dunia ini siapa pula yang punya keberanian seperti ini?"
Seru Koay-lok-ong dengan tergelak.
"Wahai Sim Long, melulu satu hal ini saja engkau tidak malu untuk disebut kesatrianya kesatria."
Segera ia memberi tanda kepada seorang gadis jelita di sampingnya agar menuangkan secawan arak bagi Sim Long, lalu katanya pula.
"Marilah kita habiskan secawan, tampaknya hubungan baik kita sudah seluruhnya tertuang di dalam secawan arak ini. Inilah minuman kita yang terakhir, bila bertemu lagi mungkin tiada sesuatu yang dapat dibicarakan lagi."
Baik, silakan,"
Jawab Sim Long sambil mengangkat cawan arak.
Kedua orang sama menenggak habis arak masing-masing.
Para pengawal berseragam hitam dan kawanan gadis jelita itu sama menahan napas mengikuti adegan yang khidmat itu, suasana terasa mengharukan dan juga mengagumkan.
Inilah minuman antara kesatria.
Jit-jit juga merasa terharu, darah bergolak dan mata terasa basah.
"Baiklah, sekarang boleh kau pergi!"
Seru Koay-lok-ong kemudian sambil membuang cawannya. Sim Long memberi hormat, lalu melangkah ke depan tanpa menoleh lagi. Jit-jit menyusulnya, katanya dengan rawan.
"Sungguh aku tidak mengerti mengapa dia sedemikian baik padamu, tapi mengapa juga ingin membunuhmu?"
Sim Long menjawab dengan pedih.
"Dia tidak ada pilihan lain, aku pun tidak punya pilihan lain, ini kejadian yang sukar dihindarkan, dari dulu kala kebanyakan kesatria memang dilahirkan untuk berlawanan."
Apakah dia juga terhitung kesatria?"
Tanya Jit-jit.
"Meski dia keji dan jahat, tapi tidak perlu diragukan dia juga seorang kesatria, siapa pun tak dapat menyangkal hal ini,ücap Sim Long. ***** Lambat laun, bayangan Koay-lok-ong sudah tidak tertampak lagi. Setelah meninggalkan jarak pandang Koay-lok-ong, keadaan mereka yang lemas sukar dipertahankan lagi. Pinggang Ong Ling-hoa, Cu Jit-jit dan juga Him Miau-ji tidak dapat menegak pula, kaki pun seperti diganduli benda beribu kati beratnya.
"O, haus sekali,"
Keluh Jit-jit.
"Ai, Sim Long, carikan sedikit air minum."
Miau-ji tertawa.
"Mendingan Sim Long, dia telah minum satu cawan arak."
"Kau iri?"
Tanya Jit-jit.
"Kenapa aku iri?"
Jawab Miau-ji dengan tertawa.
"Aku justru senang .... Kawanku adalah kesatria besar, sampai musuh pun sedemikian menghormati dia, masa aku malah iri padanya?"
Engkau sungguh orang baik, Miau-ji,"
Puji Jit-jit.
"Jika kupunya seorang adik perempuan, tentu kusuruh dia menjadi istrimu."
Dan karena engkau tidak punya adik perempuan, tampaknya aku terpaksa harus menunggu anak perempuan yang kau lahirkan dengan Sim Long nanti,üjar si Kucing dengan tertawa.
Muka Jit-jit menjadi merah, omelnya.
"Dasar mulut kucing yang tidak bergading!"
Hm, kalian masih dapat berkelakar sepanjang jalan, sungguh aku sangat kagum,"
Jengek Ling-hoa mendadak.
"Kau tahu apa, justru sekaranglah kita perlu berkelakar,"
Kata Miau-ji.
"Bila kalian tidak mau cepat lari, mungkin segera kalian akan berkelakar di bawah senjata Koay-lok-ong,"
Jengek Ling-hoa pula.
"Maaf, tidak dapat kutunggu kalian lagi, terpaksa kupergi dulu selangkah."
Mendadak Sim Long berkata.
"Saat ini kita sudah serupa pelita yang hampir kehabisan minyak, jika berlari cepat, berapa jauh kita mampu bertahan? Bukan mustahil segera bisa roboh, semakin cepat berlari makin tidak kuat."
Walaupun betul, tapi kita hanya ada waktu satu jam saja,"
Kata Ling-hoa.
"Asalkan kita manfaatkan waktunya dengan tepat, biarpun cuma satu jam juga cukup longgar,üjar Sim Long.
"Jika begitu, sekarang ...."
"Yang paling penting sekarang,"
Sela Sim Long.
"pertama, kita harus menemukan sungai kecil itu, kita minum sekenyangnya, manusia adalah besi, air adalah baja. Asalkan perut penuh air, rasa lapar pun tertahankan." ***** Di tempat tadi Koay-lok-ong sedang termenung dengan memegang cawan arak. Seorang pemuda berseragam hitam ringkas berlari datang dan memberi sembah, lapornya dengan napas terengah.
"Lapor Ongya, hamba sudah melihat rombongan Sim Long."
Lekas teruskan,"
Bentak Koay-lok-ong tak sabar.
"Hamba bersama ke-29 saudara lain mematuhi perintah Ongya dan mencari tempat sembunyi yang rapi, ada yang memanjat ke atas pohon, ada yang sembunyi di balik semak ...."
Untuk apa bicara bertele-tele, memangnya hal-hal begitu perlu kau laporkan,"
Damprat Koay-lok-ong. Pemuda baju hitam menunduk takut, cepat ia menyambung laporannya.
"Ketika hamba melihat mereka, keadaan mereka tampak payah, berjalan saja kelihatan berat, tapi ... tapi Sim Long itu masih penuh semangat, sedikit pun tidak ada tanda-tanda loyo."
Keparat Sim Long ini memang bukan manusia,ömel Koay-lok-ong dengan gemas, lalu bertanya.
"Dan bagaimana dengan Him Miau-ji?"
Kucing itu meski kelihatan lelah, tapi terkadang masih bergurau dengan gadis she Cu ini. Hamba tidak tahu apa yang dibicarakan mereka, hanya tertawa mereka kelihatan sangat gembira."
"Masa mereka tidak berusaha lari?"
Tanya Koay-lok-ong dengan kening bekernyit.
"Mereka berjalan dengan lambat, tampaknya tidak gelisah sedikit pun."
Sungguh hebat,ücap Koay-lok-ong.
"Wahai Sim Long, sungguh engkau tidak malu disebut sebagai musuh nomor satu diriku."
Seorang gadis di sebelahnya coba bertanya.
"Hanya berjalan perlahan kenapa dipandang sebagai lihai?"
Koay-lok-ong bertutur dengan gegetun.
"Dengan tenaga mereka waktu itu, jika mereka berlari sekuatnya, mungkin tidak sampai satu jam pasti akan roboh seluruhnya. Dan dalam keadaan seperti mereka itu, kecuali Sim Long siapa pun pasti akan lari secepatnya."
Gadis itu berpikir sejenak, lalu berucap.
"Ya, sungguh menakutkan mempunyai lawan seperti Sim Long itu."
Kurang ajar! Apakah kau lupa siapa lawannya?ömel Koay-lok-ong. Dengan takut si gadis mengiakan.
"Ya, ya, betapa pun lihainya masakah dapat menandingi Ongya."
Dan sekarang mereka menuju ke mana?"
Tanya Koay-lok-ong setelah terdiam sejenak.
"Tampaknya seperti menuju ke sungai,"
Lapor pemuda baju hitam tadi.
"Wahai Sim Long, setiba kalian di tepi sungai baru kalian tahu kelihaianku,"
Koay-lok-ong dengan terbahak. ***** Gemercik aliran air sudah terdengar. Jit-jit melonjak girang.
"Aha, sudah sampai, untung di sini ada sebuah sungai kecil."
"Ssst,"
Desis Ong Ling-hoa.
"Awas jika Koay-lok-ong memasang perangkap di tepi sungai, bisa jadi kedatangan kita akan serupa laron menubruk api."
Jangan khawatir,üjar Sim Long.
"Dalam satu jam ini Koay-lok-ong pasti menaati janji dan takkan turun tangan terhadap kita. Meski dia bukan seorang lelaki sejati, namun satu hal ini dapat kupercayai dia."
Apa dasarnya?"
Tanya Miau-ji.
"Sebab kulayani dia sebagai kesatria, tentu dia takkan merosotkan derajat sendiri sebagai seorang kesatria,üjar Sim Long dengan tertawa.
"Apalagi sekarang dia ingin memperlihatkan kehebatannya supaya kita mati dengan takluk lahir-batin."
Mendadak Jit-jit merasa khawatir.
"Wah mungkinkah dia menaruh racun dalam air?"
Untuk ini kalian tidak perlu khawatir, air yang mengalir tidak mungkin dapat ditaruhi racun,üjar Ling-hoa.
"Ya, kupercaya,"
Kata Miau-ji.
"Urusan yang menyangkut racun-meracun tentu saja Ong Ling-hoa jauh lebih paham daripada siapa pun."
Jit-jit berkata dengan menyesal.
"Tapi kurasa dia pasti takkan membiarkan kita minum air begitu saja. Kalian lebih kuat daripadaku, namun orang perempuan biasanya lebih perasa."
Namun sekali ini semoga daya perasaanmu tidak manjur,üjar Miau-ji.
Beberapa orang segera berlari ke sana, keadaan di tepi sungai sunyi senyap, sedikit pun tidak ada tanda mencurigakan.
Miau-ji bersorak gembira, segera ia bertiarap dan meraup air untuk diminum.
Sekonyong-konyong di hulu sungai sana ada orang tertawa geli dan berseru.
"Hei, babi cilik, lihatlah ada orang minum air bekas mandimu!"
Miau-ji terkejut dan berpaling ke sana, dilihatnya ada tiga anak dara berdandan sebagai gadis gembala sedang berkeplok tertawa, beberapa puluh ekor babi gemuk juga sedang mandi di dalam air sungai.
Selain itu ada lagi beberapa ekor kerbau, kambing, ayam, itik, dan anjing, ada yang asyik minum air, ada yang mandi, bahkan ada yang sedang berak di dalam sungai.
Keruan si Kucing mendongkol dan marah, ia urung minum sehingga air yang sudah diciduknya membasahi bajunya, kontan ia mencaci maki.
"Bedebah!"
Para gadis gembala masih berkeplok tertawa dan bernyanyi malah.
"Hahaha, Koay-lok-ong, pandai berakal. Sim Long cilik juga terperangkap. Air ada di depan mata, tapi tidak dapat diminum, si Kucing juga kelabakan ...."
Nah, apa kataku, betul tidak?!ücap Jit-jit dengan gegetun. Saking geregetan si Kucing melonjak-lonjak, dampratnya.
"Bangsat, binatang!"
Ai, akal busuk tidak bermoral begini, hanya dia juga yang mampu berbuat,üjar Jit-jit sambil menyengir.
Ong Ling-hoa tampak berdiri termenung, mendadak ia berjongkok, air sungai diciduknya dengan tangan terus diminum, bahkan cukup banyak minumnya.
Tentu saja Jit-jit melongo.
"Hei, kau berani minum air ini? Di dalam air tercampur kotoran babi, masakah tidak kau lihat?Öng Ling-hoa berdiri kembali dari berucap dengan tak acuh.
"Seorang lelaki sejati harus bisa mulur dan mampu mengkeret, hanya minum air begini terhitung apa? Bilamana kalian sudah tidak mampu bergerak, ingin minum air kencing saja tidak bisa."
Jangan kau minum air kotor ini, Sim Long,"
Pinta Jit-jit sambil menarik tangan Sim Long.
"Saat ini meski aku tidak sampai minum air ini, tapi ... tapi kalian ...."
Mati pun aku tidak minum air pecomberan ini,"
Teriak Jit-jit.
"Aku pun tidak sanggup,"
Tukas si Kucing. Sim Long berpikir sejenak, katanya kemudian.
"Sekarang kita berjalan menyusur ke hulu sungai dan tidak perlu menyembunyikan jejak kita lagi, semakin jelas kita dilihat mereka semakin sukar bagi mereka untuk meraba apa maksud tujuan kita."
Tapi jangan lupa, waktu sudah tinggal sedikit,"
Kata Ling-hoa. ***** Koay-lok-ong sendiri asyik minum arak secawan demi secawan. Tiba-tiba seorang pemuda berseragam hitam datang lagi melapor.
"Ongya, rombongan mereka sudah sampai di tepi sungai."
Sayang tidak dapat kulihat mereka, kuyakin air muka mereka pasti sangat lucu,ücap Koay-lok-ong dengan tertawa.
"Kucing hitam itu memang berjingkrak-jingkrak seperti kebakaran jenggot, gadis she Cu itu pun seperti mau menangis, bahkan Sim Long juga kelihatan bingung,"
Lapor si seragam hitam. Koay-lok-ong berkeplok gembira.
"Haha, akal bagus yang kuatur masakah dapat diterka mereka .... Hm, terpaksa mereka harus memandang air di depan mata, ingin minum, tapi tidak dapat, betapa perasaan mereka tentu bisa dibayangkan."
Lucunya bocah bermuka putih itu justru sampai hati minum air kotor itu, bahkan ...."
"Maksudmu Ong Ling-hoa minum air itu?"
Teriak Koay-lok-ong. Si pemuda seragam hitam berjingkat kaget, jawabnya tergegap.
"Ya, dia ... banyak juga dia minum."
Sialan, Ong Ling-hoa ini,"
Seru Koay-lok-ong sambil menggeleng.
"Tak tersangka dia tega minum air kotor begitu, tampaknya orang ini memang lain daripada yang lain dan tidak boleh diremehkan."
Air kencing saja diminum, masakah orang begitu perlu dikhawatirkan,"
Tiba-tiba seorang gadis di sampingnya bertanya.
"Kau tahu apa?ömel Koay-lok-ong.
"Pada waktu kepepet harus berani bertindak, kalau perlu bersabar, orang beginilah baru terhitung tokoh yang lihai. Kekurangan Sim Long adalah kulit mukanya kurang tebal, hatinya kurang kejam, makanya tidak dapat mencapai sukses besar. Bicara tentang ini, jelas dia tidak dapat membandingi Ong Ling-hoa.Ïa mendongak dan tertawa, lalu menyambung.
"Bila mana aku jadi dia pun akan minum air kotor itu."
Kawanan gadis itu sama menunduk dan tidak berani bicara lagi. Tampak seorang pemuda berseragam hitam yang lain berlari datang lagi dan memberi sembah.
"Lapor Ongya, mereka melanjutkan perjalanan lagi!"
Sekali ini cara bagaimana mereka melanjutkan perjalanan?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Menyusur ke hulu sungai dan tetap berjalan dengan perlahan,"
Tutur si seragam hitam.
"Hah, mereka tidak main sembunyi lagi?"
Seru Koay-lok-ong sambil memandang sebuah alat pengukur waktu dengan pasir.
"Padahal waktu mereka sudah hampir habis dan mereka belum lagi menyelamatkan diri? Wahai Sim Long, sesungguhnya akal setan apa yang telah kau atur?" ***** Rombongan Sim Long masih terus menuju ke hulu. Ternyata setiap jarak tertentu, di dalam sungai pasti terdapat kawanan hewan sebangsa babi, kuda atau kerbau yang sedang berendam di dalam sungai sehingga air sungai menjadi kotor dan tidak dapat minum. Namun Sim Long tetap berjalan dengan adem ayem, serupa orang yang lagi pesiar menikmati pemandangan alam, dari kepala sampai kaki tidak terlihat dia gelisah sedikit pun. Jit-jit setengah bersandar di bahunya, bibirnya yang mungil dan cantik itu kini kering dan pecah, matanya yang bersinar lincah dahulu sekarang juga penuh garis merah. Tapi pada bibir yang kering itu justru masih tersembul secercah senyuman riang, pada mata yang merah itu tetap gemerdep cahaya bahagia. Memang, asalkan Sim Long berada di sampingnya, tiada lain lagi yang diharapkannya. Akhirnya Miau-ji tidak tahan, dengan suara perlahan ia tanya.
"Sim Long, sebenarnya apa tujuanmu?"
Sim Long tersenyum, tiba-tiba dikeluarkannya sepotong barang dan digenggamnya erat, kelihatan cahaya mengilat dari celah jarinya, tapi tidak jelas barang apa yang dipegangnya.
"Ini apa ...."
Si Kucing coba bertanya lagi.
"Kau pikir apa ini?"
Jawab Sim Long dengan tersenyum.
"Tidak dapat kuterka,"
Kata si Kucing.
"Hm, dalam keadaan begini, Sim-heng ternyata masih iseng main teka-teki segala, sungguh sukar dimengerti, serupa anak kecil saja,"
Demikian jengek Ong Ling-hoa. Sim Long tidak menghiraukannya, katanya pula dengan tersenyum.
"Apakah pernah kau lihat kugunakan Am-gi (senjata rahasia)?"
"Tidak pernah,"
Jawab Miau-ji.
"Makanya kalian tentu mengira aku tidak mahir menggunakan Am-gi, bukan?"
Seketika Miau-ji tidak tahu apa maksud ucapan orang, ia hanya mengangguk dan mengiakan. Sim Long tertawa.
"Kau salah taksir. Kau tahu, sejak ingusan aku sudah belajar ilmu silat, segala macam kungfu keras dan lunak telah kupelajari, segala macam senjata juga telah kupahami, maka janggal jika aku tidak mahir menggunakan Am-gi."
Diam-diam si Kucing heran mengapa hari ini Sim Long membual dan menyombongkan diri, hal ini selamanya tidak pernah terjadi. Dilihatnya Sim Long lagi tertawa bangga, maka ia pun ikut menyengir.
"Ya, selama ini Sim Long tidak mau menggunakan Am-gi, sebab tindak tanduknya selalu blakblakan, tidak sudi menyerang orang dengan senjata gelap,"
Kata Jit-jit.
"Ucapanmu memang juga beralasan, tapi tidak terlalu betul,üjar Sim Long.
"Sebabnya aku tidak suka menggunakan Am-gi adalah karena senjata rahasiaku ini terlalu keji."
Oo?! ...."
Miau-ji melongo. Sekilas Sim Long sengaja membuka tangannya sehingga kelihatan cahaya mengilat, katanya.
"Inilah Am-gi yang biasanya tidak sembarangan kugunakan."
Sesungguhnya senjata rahasia apa ini?"
Tanya Miau-ji.
"Senjata rahasia ini bernama Sau-hun-sin-ciam (jarum sakti sambar nyawa), barang siapa asalkan tersentuh setitik saja, dalam waktu setengah jam sekujur badan akan membusuk dan mati tak terkubur, di dunia tidak ada obat penawarnya."
Hm, senjata rahasia semacam ini mungkin tidak cuma dipunyai olehmu saja,"
Jengek Ling-hoa. Sim Long tertawa, katanya.
"Tapi senjata rahasia ini masih ada segi lihai yang lain."
"Oo, apa?"
Tanya Ling-hoa.
"Bila kuceritakan mungkin orang lain takkan percaya,ücap Sim Long.
"Am-gi ini boleh dikatakan mendekati seperti barang berjiwa, padanya terdapat daya gaib yang dapat mencari sasaran untuk menyambar nyawanya, jika sekarang kubuka tanganku ....Ïa berhenti sejenak sambil memandang pucuk pohon dan melirik ke arah semak-semak di balik batu sana, lalu menyambung.
"Dan sekali jarum sambar nyawa ini kuhamburkan, betapa pun pihak lawan bersembunyi di tempat yang paling rahasia juga tidak dapat menghindarinya."
Miau-ji tertarik.
"Apakah betul di dunia ada Am-gi sehebat ini?"
Kapan pernah kudusta padamu?ücap Sim Long dengan tertawa. Lalu ia memandang lagi ke pucuk pohon dan balik batu, teriaknya pula.
"Jika kalian tidak percaya, segera dapat kuperlihatkan kepadamu."
Belum lenyap suaranya, serentak dari pucuk pohon dan balik semak-semak sana, bahkan di belakang batu karang di kejauhan beramai ada belasan sosok bayangan hitam melayang pergi secepat terbang.
Maka tergelaklah Sim Long.
"Coba, belum lagi senjata rahasiaku terhambur, musuh sudah lari ketakutan lebih dulu."
Haha, memang betul,"
Seru Miau-ji dengan tertawa.
"Anehnya Am-gi selihai ini ternyata tidak pernah kudengar sebelum ini, entah boleh tidak kulihat bagaimana bentuk Am-gi kebanggaanmu ini?"
Ya, aku juga ingin tahu,"
Tukas Ong Ling-hoa. Sim Long tampak ragu sejenak, katanya.
"Padahal, benda ini pun tidak menarik."
"Boleh kau perlihatkan saja kepada mereka,üjar Jit-jit.
"Kukira yang paling ingin tahu mungkin dirimu sendiri, betul tidak?"
Sim Long berseloroh. Muka Jit-jit menjadi merah.
"Baiklah,"
Kata Sim Long kemudian.
"kukira tidak berhalangan kuperlihatkan kepada kalian ...."
Perlahan ia lantas membuka tangannya. Mana ada senjata rahasia apa segala, yang tergenggam olehnya tidak lain cuma sepotong uang perak saja. Miau-ji melengak.
"Hei, apa ... apa ini?"
Ini bukan Sau-hun-sin-ciam segala, tapi Hek-jin-ciam (jarum penakut orang),"
Jawab Sim Long dengan tersenyum.
"Hahaha!"
Miau-ji terbahak.
"Tahulah aku sekarang ...."
Jit-jit juga berkeplok tertawa, katanya.
"Memang seharusnya kuduga sebelumnya, di dunia mana ada Am-gi ampuh sebagaimana dikatakannya itu, mestinya sudah kupikirkan keterangannya melulu untuk menggertak saja."
Miau-ji tertawa, katanya.
"Tapi jarum penggertak orang ini memang jauh lebih lihai daripada senjata rahasia macam apa pun, tanpa digunakan orang sudah dibuat ketakutan lebih dulu dan lari terbirit-birit."
Selain Sim Long, siapa pula yang sanggup menggunakan 'Am-gi' semacam ini?üjar Jit-jit dengan tertawa.
"Jika aku yang menggunakannya tentu sedikit pun tidak menakutkan."
Meski bagus akalnya, tapi kita tetap menghadapi jalan buntu, apa gunanya meski kawanan pengintai itu dapat digertak lari?"
Kata Ling-hoa.
Seketika Him Miau-ji tidak dapat tertawa lagi.
***** Dalam pada itu kening Koay-lok-ong lagi bekernyit, tampaknya mulai tidak tenteram perasaannya.
Baru saja ia angkat cawan arak segera kawanan lelaki berseragam hitam berlari datang serupa sekawanan kelinci yang lari ketakutan dikejar anjing hutan.
Seketika air muka Koay-lok-ong berubah, dampratnya.
"Keparat! Siapa yang suruh kalian lari pulang?"
Kawanan lelaki itu sama berlutut dan melapor dengan suara gugup.
"Lapor Ongya, Sim ... Sim Long itu ...."
Memangnya Sim Long kenapa? Belum kuturun tangan, masa dia turun tangan lebih dulu kepada kalian?"
"Dia belum lagi menyerang, tapi ... tapi senjata rahasianya ...."
Salah seorang melapor dengan gelagapan.
"Masa Sim Long juga menggunakan senjata rahasia? Macam apa senjata rahasianya?"
Tanya Koay-lok-ong heran.
"Hamba tidak tahu,"
Jawab orang itu.
"Kenapa tidak tahu?"
Hardik Koay-lok-ong.
"Sebab ... sebab senjata rahasianya belum lagi digunakan,"
Tutur orang itu dengan takut.
Jilid 33 Tidak kepalang gusar Koay-lok-ong atas ketidakbecusan anak buahnya, dampratnya.
"Dia belum lagi menggunakan senjata rahasianya dan kalian sudah lari lebih dulu. Sungguh berengsek! Kalian masih ada muka menemuiku lagi?"
Lelaki itu menyembah dengan takut.
"Bila ... bila senjata rahasianya sampai digunakan, mungkin hamba tidak mampu menghadap Ongya lagi dengan hidup!"
Kentut busuk, omong kosong!"
Bentak Koay-lok-ong.
"Senjata rahasianya bernama Sau-hun-sin-ciam. Karena kesaktian senjata itu, biarpun hamba bersembunyi di mana pun sukar menghindarinya."
Sau-hun-sin-ciam? Dari mana kau tahu?"
"Dia sendiri yang bilang dan hamba mendengarnya sendiri."
Dia yang bilang sendiri dan kalian percaya begitu saja?"
"Rasanya mau tak mau hamba harus percaya ...."
Sebab apa? Masa tidak tahu Sim Long sengaja menggertak kalian. Di dunia ini mana ada senjata semacam itu?"
Lelaki itu menyembah dengan takut.
"Jika orang lain yang bilang begitu tentu hamba takkan percaya, tapi Sim ... Sim Long yang bilang ...."
Dan kalian lantas percaya dan ketakutan."
"Hamba ... hamba memang rada ... rada takut ...."
Merah padam muka Koay-lok-ong saking gusarnya, dengusnya.
"Hm, bagus, Sim Long, hanya beberapa patah kata saja dapat kau gertak lari anak buahku yang kupasang di sana. Tapi kau pun jangan harap dapat lolos.Ïa memandang alat ukur waktu di atas meja, lalu berucap pula.
"Hm, boleh coba kau langkahi dulu perangkap terakhir yang kupasang di luar taman hiburan ini, 180 busur keras sedang menantikan kedatanganmu." ***** Waktu itu rombongan Sim Long sedang menyusuri hutan.
"Segera kita dapat lolos keluar hutan ini, mari lekas,"
Kata Jit-jit sambil menarik tangan Sim Long. Ong Ling-hoa menyengir, katanya.
"Setelah keluar dari hutan ini juga belum tentu dapat kabur, tapi toh lebih baik daripada berdiam di dalam hutan. Menurut perhitungan waktu, rasanya kita memang bisa lari keluar hutan ini."
Tidak, kita tidak boleh keluar dari sini,"
Kata Sim Long tiba-tiba.
"Tidak keluar dari sini? Memangnya malah tinggal di sini?"
Tanya Ong Ling-hoa dengan kening bekernyit.
"Ya, terpaksa kita bersembunyi di sini."
"Sebab apa?"
Tanya Ling-hoa.
"Masa engkau tidak dapat menyelami dalil ini?"
Jika hal ini juga ada dalilnya, maka di dunia ini kurasa akan terlalu banyak dalil,"
Jengek Ling-hoa.
"Melepas harimau sangat gampang, menangkap harimau terlalu sulit,"
Kata Sim Long.
"Apabila Koay-lok-ong tidak memperhitungkan dengan baik kita pasti sukar lolos dari sini, mana mau dia membiarkan kita pergi begitu saja?"
Huh, kukira ini cuma omong kosong belaka, sedikitnya sudah berpuluh kali kau katakan hal ini,"
Jengek Ling-hoa. Sim Long tidak menghiraukannya, katanya pula.
"Bahwa orang ini dapat mencapai sukses sebesar ini, tentu setiap tindak tanduknya sangat cermat, biarpun dia tahu tenaga kita tidak tahan tetap juga takkan membiarkan kita lolos keluar dari sini."
Jika dia sudah memandang kita sebagai satu-satunya musuh tangguh, tentu tindak tanduknya takkan gegabah ...."
Bicara sampai di sini nada Ong Ling-hoa tidak mengandung ejekan lagi, serunya mendadak.
"Ya, betul, tentu dia takkan membiarkan kita keluar dari hutan ini, dia pasti sudah mengatur perangkap lain."
Benar, di luar hutan tentu sudah terpasang perangkap maut,"
Kata Sim Long.
"Jika kita tidak dapat keluar dari hutan ini akan lain urusannya, tapi begitu kita muncul keluar, mungkin ...."
Wah, lantas bagaimana baiknya?"
Sela Jit-jit.
"Apakah kita manda terkurung begitu saja di sini?"
Jiwa kita sekarang memang berbahaya, paling baik kita mencari tempat sembunyi yang aman di sini, sesudah malam tiba baru kita berdaya melarikan diri,üjar Sim Long.
"Tapi di hutan seperti ini, mana ada tempat sembunyi yang aman?üjar Ling-hoa. Him Miau-ji lantas menyambung juga.
"Saat ini di tengah hutan mungkin penuh jebakan, setiap tempat mungkin ada perangkap, ke mana dapat kita temukan tempat sembunyi yang baik?"
Sim Long tertawa.
"Dengan sendirinya sudah kuperhitungkan ada tempat yang aman di tengah hutan ini, sebab itulah sengaja kugertak lari para pengintai tadi, supaya mereka tidak tahu ke arah mana kita pergi."
Meski kawanan pengintai tadi sudah lari kau gertak ... bukan mustahil di depan sana masih ada pos penjagaan gelap,üjar Ling-hoa.
"Kita justru tidak maju ke depan lagi melainkan mundur kembali ke arah semula,"
Kata Sim Long.
"Jalan yang kita lalui tadi kini tentu sudah bersih dari pos pengintai, sebab Koay-lok-ong tentu tidak menyangka kita dapat mundur kembali ke sana."
Tapi ... tapi kita harus mundur ke mana?"
Tanya Jit-jit.
"Ya, di manakah tempat sembunyi yang aman di tengah hutan ini?"
Si Kucing juga ragu.
"Pokoknya kalian ikut mundur saja bersamaku, nanti kalian akan tahu sendiri,"
Kata Sim Long dengan tertawa. Ong Ling-hoa menghela napas.
"Semoga perhitunganmu tidak meleset, sebab sisa waktu kita sekarang tidak ada setengah jam lagi." ***** Dengan tekun Koay-lok-ong sedang mencelupkan sumpit pada cawan arak, lalu mencorat-coret di atas meja. Yang dilukis adalah peta taman hiburan ini, terdengar dia bergumam.
"Sim Long berada di sini .... Dari pos pengintai ke-12 sampai pos ke-30, semua penjaganya telah digertak lari. Selanjutnya rombongannya pasti akan menuju ke depan lagi ...."
Mendadak ia melemparkan sumpitnya dan berhitung.
"31, 32, 33, apakah ketiga pos pengintai ini masih ada."
Ada!"
Salah seorang lelaki menjawab dengan hormat.
"Mengapa sampai sekarang belum ada kabar beritanya?ömel Koay-lok-ong.
"Hamba juga tidak tahu,"
Jawab orang itu.
"Pos pengintai di situ diatur oleh siapa?"
Bentak Koay-lok-ong. Seorang pemuda berdandan ringkas melangkah ke depan, katanya sambil menghormat.
"Tecu yang mengaturnya."
Pemuda ini kelihatan gagah perkasa, cermin pengaman di depan dadanya ada angka tiga, jelas dia jago ketiga dari pasukan gerak cepat Angin Puyuh.
"Dan sekarang di luar sana masih ada berapa pos pengintai?"
Kecuali pos ke-5 sampai ke-12 sudah ditarik kembali, lalu sampai pos pengintai ke-30 sudah kabur digertak musuh, saat ini masih ada 14 tempat pengintai lagi."
"Kau atur di mana?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Semuanya tersebar di luar hutan,"
Lapor jago ketiga itu.
"Bilamana rombongan Sim Long hendak keluar dari hutan, ke mana pun mereka pergi pasti akan melalui ke-14 pos penjagaan itu."
Kau yakin?"
Bentak Koay-lok-ong.
"Tecu sudah meneliti dan mengukur dengan cermat setiap pelosok taman ini, rasanya takkan keliru."
Jika begitu, mengapa sampai saat ini belum lagi ada laporan susulan?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Padahal sisa waktu yang kuberikan tidak banyak lagi, tidak mungkin mereka berdiam di tempat semula tanpa bergerak, asal mereka maju lagi ke depan, seharusnya sudah datang laporan."
Mungkin ... mungkin mereka tidak sanggup berjalan lagi,üjar jago ketiga pasukan Angin Puyuh itu.
"Omong kosong!"
Bentak Koay-lok-ong.
"Biarpun merangkak juga mereka akan berusaha kabur."
Jangan-jangan Sim Long telah berhasil membobol pos penjagaan kita."
"Mana mungkin."
Teriak Koay-lok-ong.¡"
Sebelum tiba waktunya, mana dia berani turun tangan lebih dulu.
Sebab bila dia turun tangan tentu aku pun tidak terikat oleh janji waktu yang kuberikan itu, betapa besar nyalinya tentu juga tidak berani sembarangan turun tangan."
Dengan menunduk jago ketiga itu mengiakan.
"Kenapa tidak lekas pergi mencari kabar?!"
Bentak Koay-lok-ong. Cepat orang itu mengiakan pula terus berlari pergi. Koay-lok-ong memandang alat pengukur waktu dengan pasir yang tertaruh di depannya itu, katanya dengan gemas.
"Wahai Sim Long, ingin kulihat dapat kau lari ke mana? Betapa pun aku tidak percaya engkau dapat lolos dari jaringanku kecuali mendadak engkau bisa terbang."
Tidak lama kemudian, si jago ketiga tadi berlari datang lagi, meski sedapatnya ia berlagak tenang, namun sukar menutupi rasa gugupnya. Belum lagi orang mendekat Koay-lok-ong sudah lantas bertanya.
"Sesungguhnya apa yang terjadi? Lekas katakan?"
Dengan hormat jago ketiga itu melapor.
"Sim ... Sim Long tidak menuju ke depan, semua pos pengintai di garis luar sana tiada satu pun yang melihat bayangannya."
Apa? Dia tidak ... tidak menuju ke depan? Memangnya dia tetap tinggal di tempat semula?"
"Tecu juga sudah menyelidiki ke tempat itu, ternyata rombongan mereka pun tidak tinggal di situ."
Habis ke mana perginya?"
Mau tak mau berubah juga air muka Koay-lok-ong.
"Dia ... dia seperti menghilang!"
Bedebah Menghilang katamu? Memangnya dia menguasai ilmu menghilang? Apa betul dia punya sayap dan dapat terbang?"
"Hamba juga tidak percaya .... Tapi meski hamba sudah memeriksa ke segala pelosok tetap tidak melihat bayangannya, dia benar-benar seperti mendadak menghilang dari muka bumi ini."
Mustahil, mana bisa terjadi hal begini?"
Teriak Koay-lok-ong gusar.
"Tapi jelas dia ...."
Tutup mulut, bedebah!"
Bentak Koay-lok-ong. Seketika orang itu menunduk dan tidak berani bicara lagi. Tiba-tiba salah seorang gadis di belakang Koay-lok-ong menyela.
"Jika dia tidak menuju ke depan, apakah tidak mungkin dia mundur ke belakang?"
Mundur ke belakang?"
Gumam Koay-lok-ong.
"Memangnya dia mencari jalan buntu sendiri? Masa dia ...."
Mendadak ia gebrak meja dan berteriak.
"Aha, betul! Dengan kecerdikan Sim Long itu, tentu dia tidak melanjutkan ke depan, maka dia sengaja menggertak lari para pengintai agar dia dapat mundur tanpa diketahui."
Tapi mana dia berani ...."
"Dengan sendirinya sudah diperhitungkannya pos pengintai di bagian semula sudah ditarik, tentu dia memperhitungkan tidak kuduga dia akan mundur kembali ke arah semula,ïa menggebrak meja pula dan berteriak.
"Berengsek, sungguh berengsek! Keparat ini memang setan, sudah puluhan tahun aku malang melintang, tapi tidak pernah ketemu lawan selihai dia sehingga aku salah hitung langkah ini."
Tapi biarpun dia mundur kembali ke arah semula, memangnya dia akan mundur ke mana?"
Kata si jago ketiga.
"Dengan sendirinya dia ingin mencari dulu suatu tempat sembunyi yang baik!"
Di hutan kita ini apakah mungkin dia bisa menemukan tempat sembunyi yang baik?"
"Memang tidak mungkin dia dapat bersembunyi, biarpun dia masuk ke bawah tanah juga akan kuseret dia keluar. Bila dia mampu tahan hidup sampai besok, anggaplah dia memang mahalihai."
Mendadak ia tertawa latah, lalu berteriak.
"Di mana nomor pertama?"
Seorang pemuda gagah segera tampil ke muka dan mengiakan dengan hormat.
"Kau bawa nomor sembilan dan nomor sepuluh dengan sembilan orang lagi coba mencari sekitar Ting-to-koan, bila menemukan jejak rombongan Sim Long, sementara jangan mengganggu mereka, tapi beri kabar dengan bunga api atau panah berapi."
Jago nomor satu pasukan Angin Puyuh itu mengiakan terus berlari pergi dengan sebelas orang anak buah.
"Nomor dua!"
Teriak Koay-lok-ong pula.
"Kau bawa nomor 11 dan 12 dengan sembilan anak buah yang lain menuju ke Siong-hiang-koan, coba geledah tempat sekeliling situ, asal menemukan jejak ...."
Gembong iblis ini sungguh berbakat seorang panglima perang, meski dalam keadaan gusar dia dapat mengatur siasat dengan rapi, hanya sebentar saja anak buahnya telah dibagi menjadi 12 regu, setiap regu terdiri dari 12 orang, dibaginya 12 jurusan penyelidikan, dengan begitu hampir setiap jengkal hutan itu tidak terlolos dari pencarian mereka.
Ke-12 regu itu adalah pemuda gagah perkasa yang sudah lama terlatih, begitu mendapat perintah serentak mereka berangkat dengan cepat tanpa membuang waktu percuma.
Koay-lok-ong sendiri tetap menunggu di tempatnya untuk memimpin keadaan selanjutnya, jika ada berita segera dia menyusul ke tempat yang perlu bantuannya.
Serupa laba-laba di pusat jaring yang dibuatnya, apalagi di luar hutan masih siap 180 orang pemanah, biarpun burung juga sukar melintasnya, sungguh rapat penjagaannya serupa jaring yang sukar dibobol.
"Wahai Sim Long, sekarang ingin kulihat kalian dapat bersembunyi ke mana?"
Koay-lok-ong tertawa senang.
Di tengah suara tertawanya terdengar pula suara anjing menyalak, kiranya si nomor tiga dari pasukan Angin Puyuh membawa pula empat ekor anjing herder yang galak serupa singa lapar dan sedang berlari ke arah yang dilalui rombongan Sim Long tadi.
"Hm, cukup dengan hidung beberapa ekor anjingku ini, coba dapatkah kalian bersembunyi?"
Seru Koay-lok-ong.
***** Waktu itu rombongan Sim Long sedang berjalan menyusur sungai.
Mendadak Sim Long menarik Jit-jit dan melompat ke dalam sungai.
Air sungai itu tidak dalam, hanya sebatas dengkul mereka saja.
Setelah melompat lagi ke tengah sungai, Sim Long berseru.
"Turun ke sini, semuanya, lekas!"
Tanpa pikir Miau-ji ikut melompat ke dalam sungai. Ong Ling-hoa hanya ragu sejenak, akhirnya ia mengangguk dan berpikir.
"Cara kerja Sim Long memang sangat cermat."
Tapi Jit-jit lantas menggerundel.
"Jalan di darat cukup lapang, kenapa kita harus berlarian di dalam sungai?"
Kau tahu tempat yang kita lalui tadi tentu meninggalkan bau, manusia tidak dapat mencium bau ini, tapi sukar menghindari anjing pemburu yang hidungnya sudah terlatih.
Sebab itulah terpaksa kita jalan di dalam air untuk menghindari pencarian anjing pemburu.
Setelah masuk air, biarpun ada bau juga ikut hanyut terbawa air."
"Ai, sungguh cermat cara pikirmu,üjar Jit-jit.
"Segala apa selalu kau pikirkan dengan lengkap."
Dilihatnya Sim Long lagi melompat-lompat sambil membentak perlahan, kawanan hewan yang berendam di dalam sungai itu dihalaunya menuju ke depan.
"He, kau mau apa lagi¡"
Tanya Jit-jit heran. Sim Long tersenyum.
"Segera engkau akan paham .... Betapa pun takkan terduga oleh Koay-lok-ong bahwa kawanan hewan yang digunakannya untuk membikin keki kita sekarang menjadi alat pelarian bagi kita."
Alat pelarian?"
Jit-jit menegas dengan heran.
"Apa maksudmu?"
Sim Long tidak bicara lagi melainkan terus menghalau kawanan hewan ke daratan arah datangnya tadi, kuda lari paling cepat di depan, anjing menyusul di belakang, lalu kambing, kerbau, kawanan babi yang gemuk tertinggal di belakang.
Mendadak Sim Long menggendong Jit-jit terus dibawa melompat ke sana, lebih dulu ia gunakan punggung babi sebagai batu loncatan, sekali lompat dicapainya punggung kerbau, dari punggung kerbau ia melayang lagi ke punggung kuda.
Dengan sendirinya Miau-ji dan Ong Ling-hoa menirukan caranya, setelah mereka berada di atas kuda, jarak mereka dengan sungai sudah ada belasan tombak jauhnya.
Setelah belasan tombak lagi jauhnya, Sim Long melompat turun dan menghalau pergi kuda yang mereka tunggangi, dengan sendirinya kawanan hewan lain ikut lari jauh ke sana ikut kawanan kuda secara membabi buta.
"Sesungguhnya apa maksudmu ini?"
Tanya Jit-jit.
"Setiba di tepi sungai, bau yang dapat dilacak anjing pemburu tentu akan terputus, dengan sendirinya mereka akan menduga kita telah melompat ke dalam sungai dan menyeberang, mereka pasti akan meneruskan pencarian kita ke seberang, dengan demikian sukarlah bagi mereka untuk menemukan kita,"
Tutur Sim Long.
"Aha, betul, hanya engkau saja yang dapat menemukan akal sebagus ini!"
Seru Jit-jit sambil berkeplok gembira. Tiba-tiba terlihat pepohonan di depan sana mulai jarang-jarang, cahaya rembulan kelihatan terang, ada bangunan rumah indah, suasana sunyi senyap.
"Hah, bukankah rumah ini tempat tinggal Koay-lok-ong?"
Seru Miau-ji.
"Betul,"
Kata Sim Long.
"Masa kita akan ... akan bersembunyi di rumah Koay-lok-ong malah?"
Memang begitulah tujuanku."
"Ah, apakah engkau tidak bergurau?üjar Miau-ji.
"Tidak, sama sekali tidak."
Masih banyak tempat sembunyi di hutan kenapa kita justru bersembunyi di sini?"
"Sebab tempat inilah satu-satunya tempat sembunyi yang paling aman,"
Kata Sim Long.
"Tempat sembunyi yang aman?"
Miau-ji menegas.
"Masa ... masa tempat ini kau katakan aman? Kan setiap saat Koay-lok-ong dapat pulang ke sini, lalu kita ...."
Dia pasti takkan pulang ke sini,"
Seru Sim Long. Sementara itu mereka sudah masuk ke rumah itu, terpaksa Miau-ji ikut masuk, namun dia masih coba tanya lagi.
"Dari mana kau tahu dia takkan pulang ke sini?"
Jika kita mendadak menghilang, apakah dia sempat pulang istirahat ke sini?"
Tutur Sim Long.
"Saat ini mereka tentu sibuk mencari kita dengan lebih giat, jaringan mereka tentu lebih rapat daripada jaring laba-laba, Koay-lok-ong ibaratnya laba-laba yang menunggu di pusat jaringnya, begitu ada reaksi segera ia memburu ke tempat yang terjadi sesuatu. Dengan sendirinya anak buahnya juga akan ikut menuju ke sana, sebelum kita ditemukan tidak nanti dia mau pulang ke sini. Saat ini di tengah hutan kukira juga cuma rumah ini saja yang kosong."
Tapi ... tapi mereka ...."
"Untuk sementara mereka juga takkan menggeledah ke sini, sebab dia juga tidak menyangka kita dapat bersembunyi di sini. Inilah titik lemah psikologi manusia."
Tapi bila sampai terpikir oleh mereka?üjar Miau-ji.
"Apabila semua tempat sudah mereka cari dan tetap tidak menemukan kita baru tempat ini akan terpikir oleh mereka,"
Kata Sim Long.
¡Untuk mencari rata seluruh hutan yang luas sedikitnya mereka membutuhkan waktu beberapa jam.
Sebab itulah umpama akhirnya mereka menuju ke sini, hal itulah baru terjadi sedikitnya tiga jam kemudian.
Jadi di sini sedikitnya kita mempunyai waktu aman selama tiga jam."
Tapi ... tapi ini pun terlalu berbahaya,üjar Miau-ji.
"Betul, cara ini memang juga rada berbahaya, tapi kita toh sukar mencari jalan lain, terpaksa harus menyerempet bahaya dan untung-untungan, betapa pun cara ini juga lebih aman.
Ai, terkadang engkau sangat hati-hati melebihi orang perempuan, sering juga engkau sangat berani,"
Kata Miau-ji.
"Dan inilah kehebatan Sim Long yang kukagumi,üjar Ling-hoa.
"Eh, kiranya ada juga kehebatan Sim Long yang kau kagumi, akhirnya kau bicara juga sejujurnya,"
Kata Jit-jit dengan tertawa. Tiba-tiba Sim Long berucap pula dengan tertawa.
"Dengan bersembunyi di sini juga masih ada faedah lain."
"Faedah lain apa?"
Tanya si Kucing.
"Saat ini di seluruh hutan ini mungkin cuma di dalam rumah ini saja tersedia makanan,"
Jawab Sim Long.
"Sebab Koay-lok-ong memang orang yang suka pada makan-minum, bahkan barang makanannya pasti juga takkan beracun."
Sembari bicara ia pun sibuk mencari kian kemari, dan ketika dia berdiri lagi, secara ajaib tangannya sudah memegang sebotol arak dan setalam daging kering atau dendeng.
Hampir saja Jit-jit bersorak gembira, ucapnya dengan tertawa.
"Aha, Sim Long, engkau memang hebat, sungguh engkau adalah orang paling menyenangkan di dunia ini." ***** Di tengah hutan sana suasana sunyi senyap. Ada beratus orang sedang mencari jejak rombongan Sim Long tanpa mengeluarkan suara, hanya terkadang terdengar suara anjing menggonggong. Sudah lebih satu jam Koay-lok-ong tidak bicara. Kalau dia tidak bicara, siapa lagi yang berani bersuara. Malam tambah gelap, suasana semakin tegang penuh diliputi hawa pembunuhan. Mendadak Koay-lok-ong menggebrak meja dan berteriak.
"Goblok! Semuanya goblok! Beratus orang mencari empat orang dan tidak menemukannya, untuk apa menjadi orang?"
Selang satu jam pula, tiada seorang pun berani memandang wajah Koay-lok-ong lagi, air mukanya yang masam sungguh mengerikan.
Pada saat itulah baru terlihat si nomor satu muncul dengan lesu, sebelas orang yang dipimpinnya mengintil di belakang dan tidak berani mendekat.
"Bagaimana, belum lagi kau temukan mereka?"
Bentak Koay-lok-ong. Si nomor satu menyembah, lapornya.
"Tecu sudah menjelajahi setiap jengkal sekeliling Ting-to-koan, tapi ... tapi tetap tidak menemukan bayangan keparat she Sim itu."
Sungguh tak becus!"
Teriak Koay-lok-ong sambil menggebrak meja. Kepala si nomor satu menunduk rendah dan tidak berani berbangkit. Selang tak lama si nomor dua juga kembali dengan muka pucat.
"Bagaimana, juga gagal menemukan mereka?"
Tegur Koay-lok-ong.
"Tecu sudah mencari dan hampir ...."
Sudahlah, tak perlu bicara lagi,"
Bentak Koay-lok-ong dengan gusar.
"Semua tidak becus, tak berguna, hanya pandai gegares melulu."
Tentu saja si nomor dua juga ketakutan sehingga gemetar.
Menyusul si nomor empat, nomor lima dan lain-lain juga kembali dengan tangan hampa, semuanya berlutut tanpa berani bersuara, sebab keterangan mereka toh sama saja.
"Tidak menemukan bayangan Sim Long."
Berulang-ulang Koay-lok-ong menggebrak meja dan memaki.
"Tak becus!"
Yang terakhir ialah si nomor tiga yang kembali dengan anjing pemburunya, mukanya juga kelihatan kecut.
"Manusianya tidak becus, kawanan anjingmu tentu agak berguna,"
Kata Koay-lok-ong. Cepat si nomor tiga memberi hormat dan melapor.
"Tecu membawa mereka mengejar sampai di tepi sungai, tapi ...."
Ya, kutahu, Sim Long lebih cerdik daripada kalian, tentu dia turun ke sungai."
Si nomor tiga mengiakan.
"Tapi bagaimana dengan seberang sungai? Mereka kan mendarat juga di seberang?"
Bentak Koay-lok-ong.
"Tecu telah membawa si Hitam dan si Kuning ke seberang, sampai lama dilacak, namun tidak menemukan sesuatu kelainan bau yang mencurigakan,"
Lapor si nomor tiga.
"Omong kosong, kentut busuk!"
Teriak Koay-lok-ong.
"Memangnya Sim Long bisa menghilang melalui air sungai?"
Si nomor tiga hanya menyembah saja berulang dan tidak berani menjawab.
"Bedebah! Semua tidak becus!"
Damprat Koay-lok-ong pula.
"Ratusan orang mencari empat orang dan tidak menemukannya, Sim Long bukan setan atau siluman, masa benar dapat menghilang begitu saja?"
Si nomor satu memberanikan diri bicara.
"Tecu sungguh sudah menggeledah setiap pelosok taman ini, biarpun sepotong batu permata yang hilang di taman juga Tecu yakin sanggup menemukannya."
Jika begitu, mengapa Sim Long justru tidak dapat kalian temukan?"
Koay-lok-ong mendengus, lalu menyambung.
"Apa bukan ...."
Sampai di sini, sinar matanya gemerdep dan ucapannya mendadak terhenti. Segera si nomor satu menukas.
"Hanya tersisa sebuah tempat saja di taman ini yang belum dicari, yaitu tempat istirahat Ongya."
Mendadak Koay-lok-ong melompat bangun sambil meraung.
"Keparat, sudah kau pikirkan sejak tadi bukan? Dan kenapa tidak kau katakan?"
Tecu juga tidak menyangka Sim Long akan ...."
"Goblok,"
Semprot Koay-lok-ong.
"Dengan sendirinya dia mencari tempat sembunyi yang tak terpikir oleh siapa pun. Tolol, kenapa tidak kau katakan sejak tadi."
Nyata, dia tidak menyalahkan dirinya sendiri, sebaliknya marah kepada orang lain.
Padahal dalam keadaan begitu, mana ada anak buahnya berani bicara selagi dia marah-marah.
Tentu saja anak buahnya tidak berani membantah, terpaksa si nomor satu hanya menyembah saja dan minta ampun.
"Habis mau tunggu apa lagi kalau tidak lekas mencari ke sana?"
Bentak Koay-lok-ong.
***** Dalam pada itu rombongan Sim Long sudah beristirahat lebih satu jam di tempat Koay-lok-ong itu.
Mereka sudah teramat letih, tapi dalam keadaan demikian mana ada yang dapat tidur pulas.
Walaupun begitu, setelah beristirahat, tenaga mereka sudah pulih tidak sedikit, terlebih Sim Long, semangatnya kelihatan menyala serupa orang sudah kenyang tidur.
Jit-jit mendekap dalam pangkuannya serupa seekor kucing kecil, sungguh kalau bisa dia tidak mau melepaskan diri dari dekapan Sim Long.
Sebaliknya Him Miau-ji yang merasa tidak tenteram, akhirnya ia tanya.
"Bagaimana, kapan kita akan menerjang keluar?"
Sabar dulu, tunggu lagi sebentar,üjar Sim Long dengan tersenyum. Terdengar suara anjing menggonggong yang ramai, tapi rasanya seperti di tempat yang sangat jauh.
"Aneh,"
Kata Miau-ji dengan gegetun.
"mereka ternyata benar tidak mencari ke sini. Hah, orang sebanyak itu ternyata tiada seorang pun ingat pada tempat ini."
Hal ini disebabkan Koay-lok-ong memang terlalu lihai,üjar Sim Long dengan tertawa. Jit-jit tertawa geli, katanya.
"Orang sudah kau tipu, masih kau puji sebagai lihai."
Koay-lok-ong sok menganggap dirinya orang mahapintar, sesungguhnya dia memang bukan orang bodoh, sebab itulah setiap tindak tanduknya sehari-hari biasanya diputuskan dan harus dilaksanakan menurut perintahnya, orang lain sama sekali tidak ada hak bicara."
"Betul, dia memang seorang diktator,"
Kata Jit-jit.
"Tapi sekali ini dia toh lengah juga,üjar Sim Long.
"Hal ini disebabkan tempat tinggal pribadinya, pada umumnya orang suka lena terhadap segala sesuatu yang berada di sekelilingnya dan lebih memerhatikan hal-hal yang jauh letaknya dari dia. Semakin pintar dan cerdik seorang semakin begitu jalan pikirannya, sebab itulah orang yang mahapintar terkadang juga lupa pada hal-hal yang sepele, mungkin melupakan tempat dia taruh sepatunya."
Engkau ternyata sangat memahami psikologis setiap macam orang,üjar Jit-jit.
"Terkadang aku sangat heran, engkau sendiri juga manusia, mengapa engkau jauh lebih paham daripada orang lain."
Umumnya bila terjadi sesuatu keteledoran tentu akan diingatkan oleh pembantu atau anak buahnya,"
Tutur Sim Long.
"Tapi Koay-lok-ong sudah terbiasa main kuasa dan perintah, orang lain sama sekali tidak ada hak bicara di depannya."
Ai, rasanya ingin kupergi padanya dan memberitahukannya bahwa betapa pintarnya seorang saja tetap tidak lebih pintar daripada gabungan otak seratus orang,"
Kata Jit-jit dengan gegetun.
"Setiap orang tentu tak terhindar daripada keteledoran, terkadang sedikit teledor saja sudah cukup fatal."
Tapi ... mengapa sampai sekarang tiada seorang pun menjenguk ke sini?"
Sela si Kucing.
"Tanpa perintah Koay-lok-ong, siapa yang berani sembarangan datang ke tempat tinggal pribadinya?ücap Sim Long dengan tertawa.
"Aha, betul,"
Seru si Kucing.
"Soalnya dia terlalu lihai, maka membikin susah sendiri. Jika demikian, tampaknya seorang akan lebih baik jangan kelewat lihai."
Bicara sampai di sini, keadaan di luar sekonyong-konyong berubah menjadi sunyi secara aneh.
Tadi meski di luar juga sunyi, tapi toh ada suara desir angin dan gemeresik rumput dan daun, ada juga suara gonggong anjing.
Tapi sekarang keadaan sunyi senyap seperti kuburan.
Malam sudah larut, cahaya rembulan menembus masuk melalui jendela dan menyinari wajah Sim Long.
Air muka Sim Long agak berubah, ia melompat bangun dan berkata.
"Sekarang segenap pelosok sudah dicari mereka, kukira segera mereka akan mencari ke sini. Ayo, lekas kita berangkat!"
Serentak Jit-jit dan Ong Ling-hoa ikut melompat bangun dan keluar.
Sekilas pandang Him Miau-ji melihat di atas meja ada alat diambilnya pensil dan ditulisnya delapan huruf besar di dinding yang putih bersih itu, bunyinya.
"Atas pelayanan yang baik ini kami mengucapkan terima kasih."
Habis itu, rasanya dia belum puas, di sampingnya ditambahi lagi sebaris huruf kecil yang berbunyi. ¡"
Cuma sayang arak yang tersedia terlalu sedikit.¡" ***** Cahaya rembulan yang agak guram menyinari taman lebat yang sunyi.
Di balik bayang pohon dan semak seakan-akan tersembunyi perangkap maut yang tidak kelihatan.
Dengan napas terengah perlahan Jit-jit mendesis.
"Saat ini kita hendak ke mana?"
Sebentar bila kukatakan berangkat, segera Miau-ji dan Ong-kongcu akan membawamu mengitar ke sebelah gardu kecil sana dan langsung menuju ke gua di belakang rumah berhala, cuma ingat, jangan terlalu dalam masuk ke dalam gua."
"Rumah berhala? Kelenteng malaikat bunga itu? Hah, gua itu ... bukankah Koay-lok-ong berada di sana?"
Kata Jit-jit terperanjat. Sim Long tersenyum.
"Betul. Bilamana Koay-lok-ong mendadak ingat ada kemungkinan kita berada di sini, tentu dengan segera dia akan memburu kemari. Dia tentu sangat gusar dan juga malu atas keteledoran sendiri, maka seluruh kekuatannya pasti akan dikerahkan ke sini dan tidak mungkin meninggalkan kekuatan induk di sana, sebab itulah ....Ïa berhenti sejenak, lalu menyambung.
"Umpama di sana ada penjaga, dengan kekuatan kalian bertiga tetap mampu menghadapi mereka, jarak gua itu dari sini agak jauh, andaikan timbul suara ribut waktu kalian turun tangan tentu tak terdengar dari sini."
Tapi tempat lain ...."
"Tempat lain tidak lebih baik daripada gua itu,"
Sela Sim Long.
"Pertama tempat itu lebih terpencil, juga lebih banyak tempat yang dapat dibuat sembunyi."
Ya, betul juga,"
Kata Jit-jit setelah berpikir.
"Kedua, gua itu sudah terletak di luar lingkungan hutan ini, jalan lolos juga lebih banyak, di tengah malam gelap setiap saat kita dapat mencari kesempatan untuk menerjang keluar."
Jit-jit dan Miau-ji sama membenarkan.
"Dan ketiga, Koay-lok-ong adalah orang pintar dan sukar dibandingi orang biasa, meski dia mengerahkan kekuatan induknya ke sini, terhadap tempat lain tentu juga tidak diabaikan begitu saja,"
Demikian tutur Sim Long pula.
"Maka menurut perkiraanku, tentu dia telah membagi anak buahnya menjadi sepuluh sampai lima belas regu, sedikitnya separuh di antaranya akan dikerahkan ke sini dan separuh yang lain akan dipencarkan berbentuk kipas untuk mencari di seluruh hutan dan saling kontak dengan bunga api atau panah bersuara. Sebab itulah kecuali gua rahasia balik rumah berhala itu, setiap tempat di hutan ini penuh bahaya."
Sekali ini sampai Ong Ling-hoa juga manggut-manggut, katanya.
"Ya, betul, keteledoran Koay-lok-ong tadi adalah tempat tinggalnya sendiri, sekarang tempat yang kurang diperhatikan pastilah gua di balik rumah berhala itu."
Miau-ji mengangguk, katanya.
"Betul, jika aku menjadi Koay-lok-ong, tentu juga tidak memerhatikan gua di belakang rumah berhala itu, sebab ia sendiri baru saja meninggalkan tempat itu."
Saat ini justru kita menggunakan kelemahan psikologis Koay-lok-ong ini, dengan demikian barulah kita ada harapan untuk menang,"
Kata Sim Long. Sejak tadi Jit-jit diam saja, kini mendadak ikut bicara.
"Tapi bila ... bila meleset perhitunganmu, lalu bagaimana?"
Pertarungan ini jelas akan menentukan mati-hidup kita, tentu juga kita mempertaruhkan nyawa kita pada gebrakan terakhir ini.üjar Sim Long. Ia menengadah dan menghela napas, lalu menyambung.
"Sebab itulah kita mempertaruhkan mati-hidup ini, sungguh pertaruhan paling besar yang pernah terjadi."
Habis berkata, semua orang lantas terdiam, perasaan semua orang sama tertekan, Miau-ji menengadah dan memandang langit, gumamnya.
"Mempertaruhkan mati dan hidup, berjudi dengan nyawa .... Memang benar pertaruhan besar."
Wahai Sim Long, semoga perhitunganmu tidak meleset, sebab pertaruhan ini tidak cuma menyangkut jiwamu saja melainkan jiwa kami bertiga juga ikut dipertaruhkan padamu,"
Sambung Ong Ling-hoa. Sim Long tersenyum getir, katanya.
"Kuharap kalian jangan bertaruh dengan nyawa sendiri melainkan cuma ...."
Maksudmu supaya kami bertiga pergi ke gua itu?"
Sela Jit-jit mendadak.
"Betul, kalian bertiga."
"Habis engkau sendiri?"
Tanya Jit-jit.
"Kutinggal di sini."
"Hah, engkau tinggal di sini? Sebab apa?"
Tanya Jit-jit khawatir.
"Jika kita pergi semua, segera anjing pemburu itu akan menyusul tiba, sebab itulah aku harus tinggal di sini untuk memancing kawanan anjing itu dan kalian dapat menungguku di sana dengan aman."
Jit-jit tetap khawatir, katanya.
"Tapi kekuatan mereka sudah ... sudah dikerahkan ke sini, juga Koay-lok-ong sedemikian lihainya, bila engkau tinggal sendirian di sini, apakah tidak berbahaya?"
Meski berbahaya, terpaksa harus kulakukan,"
Kata Sim Long. Jit-jit terus merangkulnya, katanya dengan gemetar.
"Tidak, jangan, tak boleh kau tinggal sendirian di sini. Sekali-kali tidak boleh."
Ai, jangan seperti anak kecil, Jit-jit,ücap Sim Long lembut.
"Tunggu saja di sana."
Ti ... tidak, tidak ...."
Jit-jit mengentak kaki, air mata pun bercucuran. Ia menatap Sim Long seperti mohon dikasihani.
"O, kumohon dengan sangat, paling tidak biarlah kuiringimu di sini."
Perlahan Sim Long membelai rambutnya, ucapnya lembut.
"Kau tinggal di sini hanya akan menambah bahayaku saja, apakah kau ingin menambah bahayaku?"
Tapi ... tapi bila ....äir mata Jit-jit berderai dan tidak sanggup melanjutkan.
"Jika aku mengalami sesuatu bahaya, kan lebih baik daripada empat orang mati seluruhnya,üjar Sim Long.
"Kutinggal di sini, dengan demikian barulah kita ada harapan untuk hidup, kalau tidak, mungkin ...."
Bila engkau mengalami sesuatu, aku ... aku ...."
"Jangan khawatir, aku takkan mati, di dunia ini tak ada orang yang dapat membunuhku semudah ini,üjar Sim Long dengan tertawa.
"Sekalipun Koay-lok-ong juga tidak, engkau harus percaya padaku."
Jit-jit memandangnya lekat-lekat, sampai lama barulah ia berucap pula dengan sedih.
"Kupercaya padamu, engkau takkan mati, demi membela diriku juga engkau tidak boleh mati."
Miau-ji mengucek mata dan menyengir.
"Mengapa di dunia ini selalu terjadi hal-hal yang membuat orang mengucurkan air mata, mengapa ...."
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara gemeresik perlahan dari kejauhan.
"Ssst, lekas berangkat!"
Desis Sim Long.
Jit-jit masih ingin memeluknya, tapi Sim Long segera mendorongnya pergi, Miau-ji lantas menarik si nona, bersama Ong Ling-hoa mereka terus berlari ke arah gardu kecil itu.
Di bawah remang cahaya rembulan Jit-jit masih menoleh dan memandang Sim Long dengan rasa berat ....
***** Dalam kegelapan mendadak muncul bayangan orang banyak, setiap orang berjalan dengan perlahan dan ringan tanpa menerbitkan suara sedikit pun.
Cuma lantaran jumlah orangnya terlalu banyak, betapa pun tetap menimbulkan suara gemeresik perlahan.
Sim Long serupa kucing saja bersembunyi di tempat gelap dan mengamati segala sesuatu dengan tenang.
Berpuluh sosok bayangan orang segera terpencar setiba di depan rumah ini sehingga rumah yang tidak terlampau besar ini terkepung rapat.
Orang-orang ini sama bersenjata yang disembunyikan di belakang tubuh seakan-akan khawatir cahaya golok akan mengejutkan orang di dalam rumah, setiap orang itu sama bergerak dengan enteng dan gesit.
"Anak buah Koay-lok-ong memang jago pilihan semua,"
Diam-diam Sim Long membatin.
Dalam pada itu dilihatnya 30-40 orang membanjir tiba pula, semuanya membawa busur dan panah, mereka pun mengepung rumah ini.
Berpuluh orang yang datang belakangan ini jelas lebih rendah kungfunya, sebab langkah mereka telah menimbulkan suara gemeresak, cuma sekarang rumah kecil ini sudah terkepung seluruhnya, agaknya mereka tidak khawatir lagi akan diketahui musuh.
Diam-diam Sim Long berpikir pula.
"Koay-lok-ong benar-benar luar biasa, dalam keadaan demikian dia masih dapat mengatur siasat dengan teratur tanpa kacau sedikit pun. Jika setiba di sini dia terus menerjang masuk begitu saja akan terlihat kecerobohannya. Nyatanya anak buahnya semua bertindak dengan tenang."
Dan baru sekarang dilihatnya Koay-lok-ong muncul.
Mata Koay-lok-ong serupa gemerdep batu permata dalam kegelapan, meski dia cuma berdiri tenang di sana, namun sikapnya yang gagah berwibawa itu sudah cukup membikin keder orang.
Sekonyong-konyong ia memberi tanda, ratusan anak buahnya serentak bertiarap.
Lalu Koay-lok-ong berteriak.
"Sim Long, ayolah keluar sekarang, kalian sudah terkepung rapat dan jangan harap akan lolos dari sini."
Pada hakikatnya di dalam rumah tidak ada orang, dengan sendirinya tidak ada sesuatu suara jawaban. Dengan suara bengis Koay-lok-ong berkata pula.
"Wahai Sim Long, kuhormati engkau sebagai seorang kesatria, sebab itulah kubiarkan kau keluar sendiri, memangnya engkau tidak tahu diri dan minta kuturun tangan?"
Tentu saja tetap tiada suara jawaban.
"Baik,"
Teriak Koay-lok-ong.
"jika begitu ....Ïa memberi tanda, serentak berpuluh obor dinyalakan, keadaan menjadi terang benderang. Di tengah gemerdepnya cahaya api, lebih 20 orang lain segera menyerbu maju.
"Blang", ada yang mendobrak pintu, ada yang menerjang jendela. Setelah rombongan orang itu menyerbu ke dalam rumah, segera ada yang berteriak.
"Hah, Sim Long tidak berada di sini!Äir muka Koay-lok-ong berubah, tanpa kelihatan dia bergerak, tahu-tahu ia melayang masuk di tengah kerumunan orang banyak. Diam-diam Sim Long memuji Ginkang orang yang tinggi.
"Geledah seluruh rumah ini!"
Dengan bengis Koay-lok-ong memberi perintah.
Lalu ia memberi tanda tepukan tangan.
Seorang kekar lantas bersuit, menyusul dalam kegelapan sana lantas bergema suara anjing menyalak.
Sim Long menarik napas panjang, diam-diam disiapkan belasan biji mata uang.
Tertampak si jago nomor tiga pasukan Angin Puyuh berlari datang dengan membawa empat ekor anjing buas.
Keempat anjing ini adalah jenis herder, tampangnya buas, suaranya galak, serupa empat ekor singa lapar saja mereka meraung-raung.
Kedelapan biji mata mereka serupa delapan lentera dalam kegelapan.
Mendadak Sim Long menyambitkan senjata mata uang yang digenggamnya.
Kontan kedelapan lentera itu padam seluruhnya.
Rupanya biji mata mereka telah buta semua tertimpuk oleh mata uang yang dihamburkan Sim Long.
Keruan kawanan anjing itu sama meraung kesakitan dan juga kalap, si nomor tiga tidak mampu menguasainya lagi, keempat ekor anjing buas yang sudah buta itu lantas menubruk serabutan serupa harimau gila, dengan ngawur setiap apa yang tertubruk segera digigitnya.
Hanya sekejap saja sudah dua orang tergigit lehernya dan binasa.
Tentu saja keadaan menjadi kacau.
Namun Koay-lok-ong tetap tenang saja, bentaknya.
"Bunuh anjing dan kejar musuh!"
Berpuluh golok serentak bekerja, kawanan anjing lantas menggeletak menjadi bangkai.
Dalam pada itu Sim Long sudah melayang jauh ke sana, disangkanya musuh sukar mengejarnya lagi.
Waktu ia menoleh, mendadak diketahui tidak jauh di belakangnya ada sepasang mata yang mencorong.
Ternyata Koay-lok-ong sendiri yang mengejar tiba.
Di tengah taman segera bergema suara suitan di sana-sini dan sahut-menyahut.
Sembari mengejar Koay-lok-ong terus-menerus bersuit untuk memberi tanda kepada anak buahnya yang sudah siap di sekeliling, ia mengejar sampai di mana, dengan sendirinya Sim Long juga berada di situ.
Sim Long menyadari telah terjeblos dalam kepungan dan setiap saat bisa muncul pengadang.
Dia tidak takut kepada pengadang yang akan muncul, tapi jeri terhadap Koay-lok-ong yang masih terus mengejar dari belakang.
Ia tahu tenaga sendiri terlalu banyak susut, dalam keadaan demikian hanya ada jalan kematian baginya bila bergebrak dengan Koay-lok-ong.
Apalagi sekarang jelas ia tidak dapat lolos keluar hutan ini, barisan pemanah yang berjaga di luar hutan tidak mungkin dapat ditahan oleh tubuh yang terdiri dari darah-daging.
Keadaan semakin gawat.
Sim Long sudah mandi keringat.
"Haha, hendak lari ke mana, Sim Long?"
Seru Koay-lok-ong dengan tertawa.
"Kenapa tidak berhenti saja dan marilah kita bertempur menentukan mati dan hidup.Ïa menantang, sebab sudah diperhitungkannya saat ini Sim Long pasti bukan tandingannya. ***** Di tempat lain, Jit-jit bersama Ong Ling-hoa dan Him Miau-ji sudah tiba di gua itu dengan selamat. Tertampak ada empat-lima anak dara sedang membersihkan meja di situ. Terdengar seorang di antaranya sedang berkata dengan tertawa.
"Wah, hari ini Ongya benar-benar marah besar, selama ini belum pernah kulihat beliau marah sehebat ini. Tampaknya bocah Sim Long itu memang boleh juga."
Seorang lagi menanggapi.
"Memang betul, bahkan baru sekarang Ongya merasa terjungkal di tangan lawan. Padahal bocah itu kelihatan lemah lembut, tak tersangka dia seorang tokoh selihai itu."
Menurut pendapat kalian, dapatkah dia melarikan diri malam ini?üjar seorang lagi yang bermuka bulat.
"Betapa tinggi kepandaiannya toh seorang sukar melawan orang banyak,"
Kata gadis pertama tadi.
"Kukira dia tak dapat lolos. Kalian mungkin tidak kenal ilmu silat Ongya, aku sendiri pernah menyaksikannya, wah, kungfu Ongya sungguh sangat mengejutkan."
Ai, usia Sim Long masih muda, jika dia mati begitu saja, rasanya sangat sayang,üjar gadis kedua tadi. Gadis pertama tertawa ngikik.
"Hihi, tampaknya kau jatuh hati kepadanya."
Pemuda cakap serupa Sim Long itu, siapa yang tidak suka padanya?"
Kata si muka bulat. Diam-diam Jit-jit geregetan karena kawanan budak itu berani menaksir kekasihnya.
"Kita terjang ke sana?"
Tanya Miau-ji dengan suara tertahan.
"Apakah perlu padamkan dulu lampunya?"
Jit-jit juga bertanya.
"Nanti dulu,üjar Ling-hoa.
"Mereka berlima, jika sekaligus tak dapat kita binasakan semua, asal seorang saja menyiarkan tanda bahaya, tentu kita bisa runyam."
Wah, lantas bagai ... bagaimana baiknya? "
Keluh Jit-jit.
"Kalian menunggu di sini dan jangan sembarangan bergerak, biar kudekati mereka dulu,"
Kata Ling-hoa sesudah berpikir. Dilihatnya si muka bulat sedang mengangkat sisa arak yang tidak habis diminum Koay-lok-ong, katanya dengan tertawa.
"Wahai Sim Long, lebih dulu kuhormatimu secawan, semoga kau mati."
Eh, bukankah kau suka padanya? Kenapa kau doakan dia mati malah?"
Tanya seorang kawannya.
"Umpama dia tidak mati, kita kan juga tidak akan kebagian untuk menyukai dia, biarkan saja dia mati dan habis perkara, supaya tiada seorang pun dapat memiliki dia."
Ai, keji benar hatimu,üjar kawannya dengan tertawa.
"Hati orang perempuan memang ...."
Belum lanjut ucapan si muka bulat, tahu-tahu Ong Ling-hoa sudah mendekati dan menegurnya dengan tertawa.
"Meski mulutmu bicara keji, tapi hatimu sangat baik, betul tidak?"
Kawanan gadis itu sama terkejut, seperti mau menjerit, tapi demi melihat sikap Ong Ling-hoa yang ramah tamah dengan wajah tersenyum simpul, rasa kaget dan takut mereka menjadi berkurang.
Apalagi terlihat Ong Ling-hoa juga seorang pemuda cakap, maka mereka tidak takut lagi, sebaliknya memandangnya dengan terkesima.
Si muka bulat menatap Ling-hoa dengan kerlingan genit, omelnya.
"Huh, kau berani datang ke sini, apakah engkau tidak takut mati?Ïa sengaja berlagak galak, tapi sedikit pun tidak menakutkan. Dengan suara halus Ling-hoa menjawab.
"Jika aku dapat mati di tangan para nona yang putih halus, mati pun kurela."
Hm, kau kira karena gagah dan cakap, lantas kami tidak tega membunuhmu?"
Semprot gadis satunya lagi.
"Sebenarnya aku tidak berani datang kemari, tapi melihat para nona secantik bidadari, sungguh aku tidak ... tidak tahan. Apalagi aku memang juga menghadapi jalan buntu, kalau bisa mati di tangan para nona tentu akan lebih baik daripada mati di bawah tangan orang lain. Nah, boleh nona turun tangan membunuhku sekarang."
Sembari bicara Ling-hoa melangkah lebih dekat lagi. Gadis yang mengancam itu tertawa ngikik.
"Hihi, coba betapa kasihan cara bicaranya!"
Diam-diam Him Miau-ji yang bersembunyi di kejauhan itu menggeleng kepala, katanya.
"Cara Ong Ling-hoa menghadapi anak perempuan memang boleh juga¡"
Dengan sendirinya ia tahu anak-anak perempuan ini diawasi dengan keras oleh Koay-lok-ong, biasanya tidak dapat bergerak dengan bebas, maka bila Koay-lok-ong tidak berada di sini, dengan sendirinya mereka ingin mengumbar ...."
"Wah, tampaknya engkau sangat memahami perasaan orang perempuan,üjar Miau-ji.
"Aku sendiri kan juga orang perempuan?"
Sahut Jit-jit tertawa. Dalam pada itu kelihatan Ong Ling-hoa lagi berlagak mohon kasihan dan berkata.
"Kutahu kebaikan hati para nona dan tentu tidak tega turun tangan pada orang yang pantas dikasihani. Tapi bila nona-nona tidak membunuhku, kukira kalian akan terembet dan bikin susah sendiri."
Ai, tampaknya engkau sangat pandai memikirkan perasaan orang lain,"
Kata gadis itu dengan menyesal.
"Cuma sayang ...."
Nona tidak perlu memberi penjelasan, aku cukup mengetahui kedudukan para nona yang serbasulit,üjar Ling-hoa.
"Aku memang tidak dapat lari keluar dan akan mati di sini, mana boleh kubikin susah lagi para nona. Cuma sebelum ... sebelum kumati, ingin kumohon sesuatu kepada para nona."
Katakan saja, urusan apa pun tentu kuterima,"
Sahut si muka bulat. Habis berucap, mendadak mukanya menjadi merah. Mata Ong Ling-hoa memandang, dalam hati tertawa, ucapnya kemudian.
"Aku cuma berharap para nona sudi mengiringiku minum secawan arak, habis itu mati pun kurela."
Mendengar harapan Ong Ling-hoa hanya ingin minum secawan arak saja, kawanan gadis itu seperti merasa kecewa, si muka bulat menggigit bibir, katanya.
"Hanya itu saja keinginanmu?"
Melulu ini saja sudah cukup puas bagiku, mana kuberani memohon urusan lain,"
Jawab Ling-hoa dengan pedih.
"Huh, penakut,ömel si muka bulat. Ong Ling-hoa berlagak tidak paham, tanyanya.
"Apakah nona tidak terima permintaanku?"
Si muka bulat menggigit bibir dan memandangnya dengan tertawa, katanya.
"Kau tahu tadi bila kau minta hal lain tentu kami juga akan menerima dengan baik.Öng Ling-hoa pura-pura terkesiap, ucapnya dengan tergegap.
"Aku ... aku ... sekarang ...."
Sekarang sudah terlambat, tolol,ömel si muka bulat sambil mencubit pipi Ling-hoa.
"Nah, tuangkan arak saja."
Kawanan gadis itu lantas tertawa cekikak-cekikik memandangi Ong Ling-hoa yang kelihatan lesu dan menuangkan arak bagi mereka.
Segera si muka bulat mendahului mengangkat cawan, tiba-tiba katanya dengan tertawa genit.
"Jangan sedih, sehabis minum arak ini, bisa jadi masih ada kesempatan bagimu."
Ling-hoa berlagak seperti kegirangan setengah mati sehingga arak dalam cawan yang dipegangnya tercecer membasahi bajunya.
Kawanan gadis itu tambah geli melihat kelakuannya, semuanya tertawa ngikik dan berolok-olok.
"Huh, penakut ... tolol ...."
Maka satu per satu pun menghabiskan cawan masing-masing. Ong Ling-hoa kelihatan terkesima dan bergumam.
"Semoga masih ada kesempatan, cuma sayang ...."
"Cuma sayang apa?"
Tanya si muka bulat.
"Sayang ... sayang ... sayang ...."
Berturut Ling-hoa berucap "
Sayang"
Tiga kali dan sorot mata kawanan gadis yang genit itu mendadak sama berubah warna, biji mata yang bening dengan hitam-putih yang jelas itu mendadak berubah menjadi pucat kelabu.
Mereka ingin menjerit, tapi tidak dapat bersuara lagi.
Mereka ingin lari, namun tubuh lantas roboh terkulai.
Ling-hoa memandangi mereka sambil menggeleng.
"Sayang, sayang ... bila seorang lelaki terpaksa harus membunuh perempuan yang jatuh hati kepadanya, sungguh kejadian yang sangat tidak menyenangkan."
Waktu ia menoleh, tertampak Him Miau-ji dan Cu Jit-jit telah muncul dari tempat sembunyinya, dengan tertawa ia berkata.
"Apakah kalian tahu ada racun lain di dunia ini yang lebih cepat bekerjanya daripada racun yang kugunakan ini? Telah kubunuh mereka secara cepat, rasanya aku tidak terlalu berdosa kepada mereka."
Miau-ji dan Jit-jit hanya saling pandang saja dan tidak memberi komentar. Selang sejenak, akhirnya Jit-jit berkata.
"Sudah waktunya Sim Long datang kemari."
Ya, semoga dia lekas kemari, kalau tidak ...."
"Kalau tidak bagaimana?"
Potong Jit-jit sebelum lanjut ucapan Ling-hoa.
"Kalau tidak, terpaksa kita tidak dapat menunggu lagi,"
Jawab Ling-hoa sekata demi sekata.
"Omong kosong, sungguh manusia tidak punya perasaan, jika tidak ada dia, dapatkah kau lari sampai di sini?"
Damprat Jit-jit dengan gusar.
"Masa sekarang kau bilang takkan menunggu dia lagi?"
Hm, jika bukan dia, pada hakikatnya aku takkan jatuh dalam cengkeraman Pek Fifi, terlebih takkan jatuh dalam cengkeraman Koay-lok-ong, memangnya aku mesti berterima kasih padanya malah?"
Jengek Ling-hoa.
"Mengapa tidak kau katakan hal ini di depannya?"
Bentak Jit-jit.
"Karena aku tidak berani, puas?"
Dengus Ling-hoa pula.
"Hm, kusangka engkau sudah sedikit mempunyai pikiran manusia, siapa tahu ...."
Belum habis ucapan si Kucing, Ong Ling-hoa telah menarik tangannya dan berkata.
"Miau-heng, coba kau pikirkan lagi, jika kita tinggal lebih lama di sini tentu akan semakin berbahaya. Daripada kita mati konyol di sini, kan lebih baik kita lari lebih dulu, bisa selamat berapa orang pun lebih baik daripada mati seluruhnya."
Kenapa ... kenapa kau bicara demikian¡ömel Jit-jit gemas.
"Kata-kata ini kan ucapan Sim Long sendiri,üjar Ling-hoa.
"Kuyakin dalam keadaan demikian Sim Long pasti juga bertindak sama."
Miau-ji, bagaimana ...."
"Aku tidak dapat meninggalkan Sim Long,"
Sahut si Kucing tegas.
"Ai, kenapa kalian tidak mau berpikir dengan akal sehat?üjar Ling-hoa dengan gegetun.
"Saat ini perhatian Koay-lok-ong pasti seluruhnya ditumplakkan atas diri Sim Long, kesempatan ini dapat kita gunakan untuk lari dengan harapan sangat besar akan berhasil."
Biji matanya berputar, ia berkata pula dengan tertawa.
"Apalagi, bila Sim Long tidak ditambahi beban kita bertiga, ia sendiri pasti dapat lolos dari sini, masakah kalian tidak percaya kepada kemampuannya ini?"
Ini ... ini ...."
Si Kucing menjadi ragu, nyata hatinya rada tergerak oleh uraian Ong Ling-hoa yang memang masuk di akal itu.
"Baik, kalian boleh berangkat sendiri,"
Mendadak Jit-jit berkata sambil melotot.
"Dan kau?"
Tanya Ling-hoa. Si nona menengadah dan menjawab ketus.
"Kutunggu dia di sini."
Jika selamanya dia tidak datang?"
"Selamanya juga kutunggu di sini."
Tunggu sampai kapan?"
"Sampai mati."
"Dan kau bagaimana?"
Ling-hoa berganti tanya kepada si Kucing.
"Mereka adalah sepasang merpati, apakah kau pun akan mengiringi kematiannya?"
Kupergi bersamamu,"
Jawab Miau-ji.
"Aha, inilah baru tindakan seorang lelaki sejati,"
Seru Ling-hoa sambil berkeplok. Jit-jit menjengek.
"Hm, engkau sungguh sahabat yang setia kawan, Miau-ji, baru sekarang kukenal siapa dirimu."
Oo? ...."
Si Kucing melongo.
"Enyah, lekas enyah! ...."
Teriak Jit-jit. Ling-hoa menyeringai, katanya tiba-tiba.
"Dan kau pun mesti ikut enyah bersama kami."
Sembari bicara serentak ia turun tangan, secepat kilat ia tutuk Hiat-to kelumpuhan Cu Jit-jit.
Dengan kungfunya yang tinggi, mana Jit-jit mampu mengelak.
***** Di tempat lain Sim Long sedang berlari dengan cepat, dirasakannya Koay-lok-ong yang mengejarnya sudah semakin dekat.
Dengan beberapa cara dan gerak cepat tetap Sim Long tidak mampu melepaskan diri dari kejaran lawan.
Mau tak mau dia harus mengakui gembong iblis ini memang mahalihai.
Sekonyong-konyong cahaya senjata berkelebat di depan, jalan lari Sim Long teradang.
Tanpa pikir Sim Long turun tangan sambil membentak.
"Kena!"
Bentakan yang menggelegar itu membuat kaget pengadang di depannya dan lekas menghindar.
Tahu-tahu Sim Long sudah menerobos lewat!
Menyusul bayangan orang berkelebat datang pula dan muka setiap orang kena digampar dengan keras dan sama roboh terjungkal.
"Binatang, semua tidak becus!"
Terdengar suara bentakan Koay-lok-ong.
Para pengadang itu lekas merangkak bangun dengan memegang muka yang bengap, sementara itu bayangan Sim Long dan Koay-lok-ong sudah menghilang ke depan sana.
Kedua sosok bayangan itu menghilang serupa setan iblis, kawanan penjaga yang bersembunyi di tengah hutan itu hampir tidak dapat melihat wujud mereka, tahu-tahu bayangan berkelebat hilang.
Waktu itu Sim Long sendiri sudah mandi keringat, betapa pun dia bukan manusia gemblengan baja, akhirnya dia tentu juga akan roboh tak tahan.
Dalam keadaan demikian bilamana Sim Long ingin melepaskan diri dari kejaran Koay-lok-ong dan bergabung dengan Cu Jit-jit bertiga, jelas tidak mungkin terjadi.
Sampai di sini, siapa pun yang menghadapi keadaan demikian juga akan merasa putus asa.
Namun Sim Long justru tidak, dalam kamus Sim Long sama sekali tidak terdapat istilah "
Tidak mungkin."
Di tengah hutan sekarang di mana-mana sudah ada cahaya api dan senjata, teriakan dan bentakan Koay-lok-ong bertambah keras.
Di depan ada sebuah tiang bendera yang menjulang tinggi melebihi pucuk pohon, bendera yang berkibar tertiup angin itu bertulisan "Koay-hoat-lim" (hutan atau taman mahagembira), itulah lambang taman hiburan yang terkenal ini."
Sekarang di pucuk tiang bendera yang terdapat pos pengintai itu ada seorang lelaki dengan memegang sebuah lentera merah, ke timur Sim Long lari, lentera merah itu pun menunjuk ke timur, ke barat Sim Long menuju, lentera merah juga menuding ke barat dan begitu seterusnya.
Dengan sendirinya kepungan yang semakin rapat juga ikut bergerak menurut petunjuk lampu merah itu, lingkaran kepungan makin lama makin ciut, tampaknya Sim Long akan terdesak hingga sukar lolos lagi.
"Hahahaha!"
Terdengar Koay-lok-ong tertawa latah.
"Wahai Sim Long, masakah masih coba meronta dan berusaha lari lagi?"
Hah, sebelum melihat peti mati tidak mencucurkan air mata, memang begitulah watak pembawaanku,"
Jawab Sim Long dengan tertawa.
Di tengah gelak tertawanya mendadak ia melayang ke atas dan hinggap di pucuk pohon.
Mungkin dia sudah gelisah sehingga kelabakan, tanpa pikir ia memperlihatkan wujudnya, keruan seketika dia menjadi sasaran panah.
Karena hujan panah, terpaksa Koay-lok-ong sendiri harus berhenti mengejar.
Pada saat itulah Sim Long lantas melompat lebih tinggi lagi, dengan daya pental dahan pohon ia melayang ke puncak tiang bendera yang bertalang itu.
Keruan lelaki yang berada di talang bendera itu kaget, cepat kakinya menendang.
Tapi secepat kilat Sim Long tangkap kaki orang terus dilemparkan ke samping, sambil menjerit ngeri orang itu terlempar jauh ke semak pohon sana.
Dalam pada itu sebelah tangan Sim Long yang lain sempat meraih tepian talang tiang bendera, segera ia dapat melompat ke atas talang dan berdiri tegak di situ.
Tiang bendera itu ada belasan tombak tingginya, dia berdiri gagah di pucuk tiang dengan baju berkibar tertiup angin, setiap kesatria di dunia ini seolah-oleh berada di bawah kakinya.
Hujan panah masih terjadi, tapi setiba di pucuk tiang bendera daya bidik panah sudah melemah, Sim Long menanggalkan baju luarnya, sekali kebut dengan perlahan semua anak panah yang menyambar tiba sama rontok ke bawah.
"Sim Long!"
Teriak Koay-lok-ong.
"mengapa kau pun berubah sebodoh itu? Memangnya engkau dapat bertahan berapa lama di atas?"
Berapa lama kutahan di sini bukan soal,"
Jawab Sim Long dengan tertawa.
"Yang penting, apakah kau berani naik ke sini? Engkau dapat melihat diriku, tapi tidak berdaya menangkapku ke atas, bukankah hatimu sangat sakit? Jika dapat kusaksikan engkau kelabakan di bawah, kan suatu kesenangan bagiku?"
Hm, kau kira aku tidak berani naik ke atas?"
Teriak Koay-lok-ong murka.
Mendadak ia pun melompat ke atas, dengan daya pantul pucuk pohon, ia terus menerjang ke puncak tiang bendera.
Gerak tubuhnya yang indah sungguh harus dipuji.
Namun baju yang dipegang Sim Long segera mengerudung ke bawah bagai segumpal awan, meski cuma sepotong baju yang ringan, tapi di tangan Sim Long telah berubah menjadi mahakuat.
Tubuh Koay-lok-ong terapung, mana dia berani menyambut sabetan keras ini, cepat kedua tangannya meraih, maksudnya hendak memegang tiang bendera, tapi angin keras menyambar tiba, ujung baju Sim Long telah menyambar mukanya.
Dalam keadaan demikian barulah kelihatan betapa lihainya gembong iblis ini.
Pada detik berbahaya itu sebelah tangannya berbalik meraih ujung baju lawan.
Dengan tenaga tarikan ini dia bermaksud menubruk ke atas.
Akan tetapi Sim Long lantas mengebaskan bajunya.
"bret", baju robek, Koay-lok-ong juga tergetar mencelat oleh tenaga kebasan itu. Namun begitu dia tidak menjadi bingung, dengan sekali berjumpalitan di udara dapatlah ia melayang turun dengan enteng. Sim Long tertawa, serunya.
"Gaya yang indah! Tapi apa pun juga engkau tetap tidak mampu naik ke sini.Äir muka Koay-lok-ong kelihatan masam, sekali raih ia rampas sebuah busur dari seorang anak buahnya, segera ia pasang panah dan pentang busur sambil membentak.
"Kena!"
Tapi segera terdengar suara "
Pletak", busur malah terpentang patah lebih dulu. Berturut ia ganti tiga busur dan semuanya tertarik patah, satu panah pun tidak berhasil terbidik.
"Haha, tenaga sakti Koay-lok-ong memang mengejutkan, cuma sayang terlampau besar tenagamu,"
Seru Sim Long sambil bergelak. Mendadak Koay-lok-ong melompat ke bawah tiang bendera, teriaknya.
"Baik, Sim Long, boleh kau lihat caraku ini!"
Segera ia pasang kuda-kuda, dengan kuat ia memotong tiang bendera dengan sebelah telapak tangannya. Terdengarlah suara "
Brak"
Yang keras, tiang bendera yang bulatan tengahnya sebesar mangkuk itu tergetar patah oleh tenaga pukulannya.
Tampaknya Sim Long pasti akan ikut terlempar juga dari ketinggian belasan tombak.
Anak buah Koay-lok-ong sama bersorak memuji kesaktian tenaga pimpinannya.
Tak terduga kedua kaki Sim Long tetap mengempit kencang pada tiang bendera yang tumbang itu, tiang bendera jatuh miring ke sebelah selatan, dia juga ikut jatuh ke sana dari tetap roboh di atas rumah.
"Haha, memang ingin kulihat betapa kelihaianmu!"
Demikian Sim Long sempat berolok-olok.
"Blang", tiang bendera membuat genting sama hancur hingga berlubang besar, sebelum tiang bendera menghantam atap rumah, Sim Long mendahului meloncat ke atas, habis itu ia terus menerobos ke bawah melalui lubang yang ditimbulkan hantaman tiang bendera itu. Melihat kelicinan Sim Long itu, Koay-lok-ong tercengang dan juga gusar, teriaknya.
"Kepung rumah itu ... awasi atapnya ...."
Sembari memberi perintah secepat angin ia terus menerjang ke sana.
Rumah itu kecil mungil dan terdiri dari tiga kamar, daun jendela tertutup rapat.
Dapat dilihat jelas oleh Koay-lok-ong tiada seorang pun keluar dari rumah kecil ini.
Sementara itu ratusan orang sudah mengepung rapat rumah ini, barisan pemanah juga sudah mencari tempat ketinggian dan siap dengan busurnya mengawasi atap rumah.
Dalam keadaan demikian sukar bagi siapa pun untuk lolos begitu saja.
"Haha, Sim Long, tak tersangka kau pun bisa mencari jalan kematian sendiri,"
Seru Koay-lok-ong dengan tertawa senang.
"Tapi hal ini pun tidak dapat menyalahkan dirimu, engkau memang sudah menghadapi jalan buntu."
Tiba-tiba si nomor satu tampil ke muka dan tanya Koay-lok-ong.
"Apakah kita serang saja dengan api?"
Gemerdep sinar mata Koay-lok-ong, serunya kemudian.
"Wahai Sim Long, dengarkan yang jelas! Kuberi batas waktu hitungan sampai tiga, apabila engkau tetap tidak keluar, segera kubakar rumah ini supaya engkau terbakar menjadi abu."
Si nomor satu tersenyum senang karena usulnya diterima bosnya, ia bergumam.
"Wahai Sim Long, sekali ini jika engkau masih dapat lolos dengan selamat, biarlah aku merangkak dari sini sampai ke Hangciu." ***** Dalam pada itu, sesudah Ong Ling-hoa menutuk roboh Cu Jit-jit, cepat ia pegang pula tubuh si nona, lalu berkata kepada Him Miau-ji.
"Miau-heng, kau tahu, tiada maksudku membikin susah padanya, aku cuma tidak sampai hati melihat dia mati konyol di sini, maka terpaksa harus kita bawa dia melarikan diri dari sini."
Miau-ji mengiakan dengan mengangguk.
"Jika demikian, marilah lekas kita berangkat!"
Kata Ling-hoa. Dalam keadaan tak sadar, sama sekali Jit-jit tak dapat melawan.
"Marilah kita menuju ke balik bukit sana, harap Miau-ji mencari jalan di depan,"
Kata Ling-hoa.
"Tidak, kugendong Jit-jit, engkau yang mencari jalan,üjar si Kucing.
Jilid 34 Air muka Ong Ling-hoa berubah, tapi segera ia menjawab dengan tertawa.
"Boleh juga aku mencari jalan di depan."
Miau-ji lantas mendekatinya untuk memegangi Jit-jit.
Terpaksa Ong Ling-hoa menyodorkan tubuh Jit-jit padanya.
Tak terduga, mendadak kedua pergelangan tangannya kesemutan.
Tangan si Kucing sekuat tanggam telah mencengkeram erat pergelangan tangannya.
Seketika sekujur badan Ong Ling-hoa tak bisa berkutik, keruan ia terkejut, serunya.
"Hei, Miau ... Miau-heng, apa artinya ini?"
Mata Miau-ji yang serupa mata kucing itu menatapnya serupa kucing mengincar tikus, tidak bergerak, juga tidak bicara, tapi cengkeramannya tambah erat.
Tubuh Ong Ling-hoa serasa kaku dan tanpa kuasa bertekuk lutut, ucapnya dengan parau.
"Buk ... bukankah engkau mau ikut pergi bersamaku?"
Hm, jika kau sangka Him Miau-ji pun manusia tak berbudi dan tidak setia serupa dirimu, maka engkau jelas sudah gila."
Butiran keringat bercucuran di dahi Ong Ling-hoa, ucapnya dengan suara gemetar.
"Miau-heng, kau sendiri yang mau ikut dan tidak kupaksamu, meng ... mengapa engkau ingkar dan berbalik menyergap diriku?"
Cara ini kan kubelajar darimu,"
Jengek si Kucing.
"Tapi ... tapi engkau ...."
Sudah kenyang kau tipu orang, kan sekali-sekali kau sendiri juga perlu mencicipi rasanya ditipu orang,ücap Miau-ji. Ling-hoa menghela napas panjang, katanya dengan menyengir.
"Bahwa Him Miau-ji juga dapat mengakali Ong Ling-hoa, sungguh tidak pernah terduga."
Jika dapat kau duga mana mungkin dapat menipumu?"
"Baik, aku mengaku terjungkal, lantas kau mau apa?"
Bila kau jadi diriku, lantas bagaimana kehendakmu?"
"Aku ... aku ...."
Tubuh Ling-hoa rada gemetar. Mendadak Miau-ji membentak.
"Seharusnya kubinasakan dirimu sekarang juga. Cuma, bila kubunuhmu sekarang juga tentu akan ditertawai Koay-lok-ong bahwa belum apa-apa kita sudah saling membunuh dulu."
Di tengah suara bentakannya mendadak sebelah kakinya mendepak sehingga Ong Ling-hoa terpental beberapa kaki jauhnya. Habis itu ia lantas melototi Ong Ling-hoa dan berkata pula, ¡"
Nah, dengarkan, sekarang hendaknya kau tahu dua urusan.
Pertama, ada sementara orang tidak suka menipu orang, hal ini bukannya dia tidak dapat menipu melainkan karena dia tidak suka menipu.
Jika dia mau, setiap saat juga dia dapat menipu orang.¡"
"Hal ini sekarang sudah kupahami dengan jelas,üjar Ling-hoa dengan tersenyum pedih.
"Dan kedua, kapan pun Sim Long pulang tetap kita akan menunggunya, asalkan Sim Long diberi sedikit kesempatan untuk kabur bagi kita tetap berharga menunggunya di sini. Jika di dunia ini ada orang yang berharga kutunggu, bahkan mengiringi kematiannya, maka orang itu ialah Sim Long. Nah, kau tahu sekarang?"
Ya, tahu,"
Jawab Ling-hoa gegetun.
"Cuma ...."
"Cuma apa?"
Tanya Miau-ji.
"Mungkin setengah bagian harapan Sim Long akan berhasil lolos pun sukar diharapkan lagi,üjar Ling-hoa. ***** Pada saat itu Koay-lok-ong sudah berhitung sampai "
Tiga", namun di dalam rumah tetap tidak ada sesuatu suara apa pun. Koay-lok-ong menyeringai, katanya.
"Baik, Sim Long, engkau sungguh tahan uji, sungguh hebat. Tapi jika api pun tidak dapat membakar mampus dirimu barulah benar-benar kutakluk kepada kelihaianmu."
Mendadak ia memberi tanda dan berteriak.
"Bakar!"
Di tengah suara bentakan, obor lantas dilemparkan ke rumah itu seperti hujan. Rumah yang terbuat dari kayu itu dengan cepat lantas terjilat api.
"Lekas tersebar menjadi lima lapis,"
Teriak Koay-lok-ong pula mengatur siasat.
"Lapisan pertama adalah regu senjata pendek, lapisan kedua adalah barisan pemanah, lapisan ketiga adalah pasukan angin puyuh, lapisan keempat regu tombak, lapisan kelima tetap pasukan pemanah. Apabila Sim Long sampai lolos, setiap orang boleh menghadap padaku dengan memenggal kepala sendiri."
Selesai dia memberi aba-aba, beberapa ratus anak buahnya lantas berbaris menjadi lima regu dan tersusun lima lapis.
Cara mengaturnya ini membuat rumah yang sudah terbakar itu benar-benar terkepung rapat, biarpun Sim Long punya sayap pun sukar terbang melintasi.
Di dunia ini mungkin tidak ada orang, bahkan burung pun sukar lolos dari kepungan ini, tidak ada makhluk hidup yang mampu kabur dari rumah ini.
***** Saat itu Miau-ji baru saja berhasil melancarkan Hiat-to Cu Jit-jit yang tertutuk, tapi kontan Jit-jit menjotosnya, dengan tepat mengenai dada si Kucing, bahkan si nona lantas mencaci maki.
"Kucing busuk, binatang licik, aku lebih suka mati daripada pergi bersama kawanan hewan semacam kalian ini."
Sembari mencaci maki ia pun menghantam lagi. Berturut-turut Miau-ji terkena tiga kali pukulan baru dapat dipegangnya tangan si nona, ucapnya dengan suara lembut.
"Sabar dulu, coba kau lihat ke belakang!"
Sambil meronta berteriak.
"Aku tidak mau melihat, tidak mau!"
Meski di mulut bilang tidak mau, tidak urung kepalanya sudah menoleh, maka dapatlah dilihatnya Ong Ling-hoa menggeletak di sana.
Seketika dia urung menghantam lagi dan berdiri melongo, ucapnya dengan tergegap.
"He, se ...."
Miau-ji sesungguhnya kan tidak serendah sebagaimana kau duga bukan?"
Kata si Kucing. Jit-jit tercengang, akhirnya menunduk dan berucap.
"Ya, aku salah, Miau-ji, hendaknya jangan kau marah padaku."
Mana bisa kumarah padamu?üjar Miau-ji dengan tersenyum. Waktu Jit-jit mengangkat kepalanya, air matanya berlinang-linang, katanya dengan sedih.
"Maaf, aku salah padamu, mengapa selalu aku ...."
Miau-ji melengos dan tidak memandangnya, sebaliknya ia tertawa dan berkata.
"Mempunyai adik perempuan yang begini menyenangkan, tidak menjadi soal bila kakak mengalami sedikit kesusahan."
Tanpa terasa Jit-jit memegang tangannya.
"Adik sedikit pun tidak menyenangkan, yang menyenangkan adalah kakak."
Miau-ji tergelak.
"Apabila anak perempuan lain berpendapat serupa dirimu tentu beruntunglah bagiku."
Jika anak perempuan lain tidak berpikir demikian, maka dia pasti orang tolol,üjar Jit-jit.
"Lelaki mana di dunia ini yang mempunyai hati terbuka serupa dirimu?"
Hati terbuka apa? Aku cuma pelupa saja .... Terhadap urusan yang sudah lalu dapat kulupakan terlebih cepat daripada siapa pun."
Jit-jit memandangnya dengan rasa kagum, katanya pula.
"Betul, urusan yang tidak perlu dikenang memang dapat kau lupakan terlebih cepat daripada siapa pun. Tapi kasih sayang orang terhadapmu tak terlupakan selamanya.Ïa menghela napas, lalu menyambung.
"Seorang anak perempuan bila mempunyai seorang kakak seperti dirimu dapatlah dia merasa bangga dan puas."
Mendadak Ong Ling-hoa menimbrung dengan tertawa.
"Jika sudah mempunyai kakak seperti ini, untuk apa pula menanti kekasih seperti itu?"
Kau ... kau berani sembarangan omong?"
Damprat Jit-jit.
"Memangnya salah ucapanku?üjar Ling-hoa dengan tertawa. Jit-jit memandangnya dengan geregetan, katanya kemudian.
"Kumaafkanmu, sebab hatimu memang sudah terlampau kotor, mimpi pun tak pernah kau pikir bahwa di tengah kehidupan manusia ini masih ada perasaan yang suci bersih, sampai mati pun engkau tetap hidup dalam kegelapan dan tidak pernah kenal hal-hal yang indah."
Hidup dalam kegelapan akan jauh lebih baik daripada mati dalam api yang benderang.ücap Ling-hoa dengan tenang.
"Apa katamu?"
Jit-jit menegas. Berbaring di tempatnya Ong Ling-hoa memandang ke angkasa dan bergumam.
"O, api .... Aku lebih suka menjadi kelelawar yang sepanjang tahun hidup dalam kegelapan daripada menjadi laron yang pasti akan mati terbakar."
Tanpa terasa Jit-jit dan Miau-ji ikut memandang ke arah sana.
Tertampaklah cahaya api mulai membubung tinggi dalam kegelapan, api yang berkobar dengan cepat itu membuat udara yang gelap berubah menjadi merah membara serupa darah.
Jit-jit menubruk ke dalam pelukan Him Miau-ji, serunya gemetar.
"Apakah ... apakah api itu akan ...."
Tidak, pasti tidak, jangan khawatir ...."
Meski di mulut si Kucing bilang jangan khawatir, tidak urung air mukanya berubah juga.
Memandangi bayangan mereka yang saling dekap di bawah sorotan cahaya api, tiba-tiba tersembul senyuman keji pada wajah Ong Ling-hoa, gumamnya.
"Ai, sayang, sungguh sayang, biarpun Sim Long sudah mampus tetap aku takkan mendapat bagian." ***** Waktu itu rumah bekas kediaman Koay-lok-ong itu memang sudah terbakar, makin lama makin dahsyat api yang berkobar, namun dari dalam rumah tetap tidak ada orang berlari keluar. Di tengah api yang berkobar sedahsyat itu, jika tidak lari keluar, maka nasibnya tidak ada lain kecuali mati. Memandangi api yang semakin mengamuk itu, mendadak Koay-lok-ong menghela napas.
"Orang berbahaya sudah tertumpas, mengapa Ongya malah menghela napas?"
Tanya si jago nomor satu pasukan angin puyuh. Koay-lok-ong mengelus jenggotnya dan menjawab.
"Kau tahu apa, orang ini memang lawan besarku pada waktu hidupnya, setiap saat ingin kubasmi dia, tapi bila benar dia mati, terasa sayang juga olehku¡"
Nomor satu mengiakan dengan menunduk.
"Di dunia ini, jika ingin kucari lawan hebat seperti dia mungkin sukar menemukannya, maka setelah dia mati, tentu akan kurasakan kehilangan dan kesepian pula."
Jalan pikiran seorang tokoh memang sukar dipahami orang seperti Tecu,ümpak si nomor satu.
"Jalan pikiran semacam ini memang sukar dipahami oleh kalian,ücap Koay-lok-ong dengan gegetun.
"Yang harus disesalkan adalah sampai saat ini dia belum lagi bergebrak denganku secara resmi. Mungkin selama hidupku ini sukar lagi menemukan lawan yang mampu menandingi seratus jurus seranganku, jadi sia-sia belaka aku mempunyai kepandaian setinggi ini."
Sejauh itu Sim Long belum lagi lari keluar, saat ini tentu sudah terbakar menjadi abu,"
Kata si nomor satu.
"Maka menurut pendapat Tecu, sebaiknya sekarang juga kita berusaha menghambat menjalarnya api, bilamana angin meniup dan api berkobar lebih dahsyat, bisa jadi seluruh hutan akan menjadi lautan api."
Ya, betul juga, hutan seindah ini kan sayang bilamana terbakar,üjar Koay-lok-ong.
"Nanti tulang abu Sim Long harus ditemukan, hendak kukubur dia sebaik-baiknya. Waktu hidupnya adalah seorang kesatria, sesudah mati kita pun perlu menghormati dia." ***** Di sana Him Miau-ji juga sudah melihat berkobarnya api semakin dahsyat, angin yang meniup pun membawa hawa panas, dan Sim Long tetap tidak kelihatan muncul, tentu saja ia gelisah. Jit-jit tidak kurang gelisahnya dan kelabakan, berulang ia mengentak tangan Miau-ji dan berkata.
"Bagaimana menurut pendapatmu apakah api itu sengaja dibakar oleh Sim Long?"
Tiba-tiba Ling-hoa menjengek.
"Api itu mendadak berkobar dan sekaligus menjalar dengan dahsyatnya, jelas api itu dinyalakan serentak oleh orang banyak, hanya sendirian mana mampu Sim Long menyalakan api sebesar itu?"
Habis bagai ... bagaimana ...."
"Tentu lantaran Sim Long sudah terkurung di sana, maka Koay-lok-ong ...."
Omong kosong!"
Bentak Miau-ji.
"Jangan kau percaya ocehannya, Jit-jit."
Meski di mulut kau suruh dia jangan percaya, tapi dalam hatimu sendiri diam-diam mengakui kebenaran ucapanku, bukan?ëjek Ling-hoa.
"Jika Sim Long mati, bukankah kalian berdua akan bergembira, kenapa mesti berlagak sedih segala? Memangnya untuk dipertontonkan kepadaku?"
Ayo bicara lagi!"
Bentak Miau-ji sambil memburu ke sana terus menendang.
Siapa tahu, Ong Ling-hoa yang semula menggeletak tak bisa berkutik itu mendadak melompat bangun, secepat kilat ia tutuk dua-tiga Hiat-to kelumpuhan Jit-jit.
Keruan Miau-ji kaget, bentaknya.
"Lepaskan dia!"
Selagi ia hendak menerjang maju, telapak tangan Ong Ling-hoa telah mengancam bagian tubuh Jit-jit yang mematikan, jengeknya.
"Jika kau maju lagi satu langkah, segera kuberikan mayat Jit-jit kepadamu."
Seketika Miau-ji tidak berani bergerak lagi. Ling-hoa tertawa.
"Nah, sekarang hendaknya kau tahu dua hal. Pertama, aku Ong Ling-hoa bukan orang yang dapat kau tipu begitu saja. Kedua, kalau bicara tentang tipu-menipu, jelas kau si Kucing ini masih perlu belajar padaku."
Sungguh aku menyesal mengapa tadi tidak kubunuh dirimu,ücap Miau-ji dengan gemas.
"Soalnya engkau ini orang tolol,"
Tukas Ling-hoa dengan tertawa.
"Baik, sekarang apa kehendakmu?"
Tanya Miau-ji.
"Jika kau ingin adik perempuanmu yang menyenangkan ini tetap hidup, maka sekarang juga hendaknya kau pergi mencari jalan, ingat, jika tidak kau temukan jalan lolos yang aman, maka orang pertama yang akan mampus ialah si dia ini,äncam Ong Ling-hoa. Pada saat itulah mendadak seorang menanggapi dengan tertawa, ¡"
Haha, mungkin dia tidak sanggup membawamu keluar, orang yang paling tepat mencari jalan bagimu agaknya aku inilah!¡"
Suara tertawa yang khas itu cukup dikenal mereka, seketika air muka si Kucing dan Ong Ling-hoa sama berubah. Yang satu kegirangan, yang lain ketakutan, keduanya serentak berseru, ¡ "Hah, Sim Long!¡"
Betul juga, segera tertampak Sim Long muncul dari sana.
Meski bajunya tidak teratur, keadaannya tampak runyam, namun senyuman khas yang senantiasa menghias ujung mulutnya masih tetap kelihatan acuh tak acuh.
"Eh, maukah kau lepaskan dia?"
Katanya dengan tersenyum terhadap Ling-hoa. Sejenak Ling-hoa tercengang, segera ia menjawab.
"Jika Sim-heng sudah datang, dengan sendirinya segera kulepaskan nona Cu."
Sembari membebaskan Hiat-to Jit-jit yang ditutuknya, segera ia menyambung pula.
"Karena mengingat Sim-heng telah menyerempet bahaya bagiku, sebaliknya Miau-heng ini justru main patgulipat dengan nona Cu ini di sini, mau tak mau aku ikut penasaran bagi Sim-heng, maka kututuk nona Cu."
Terima kasih atas maksud baikmu,"
Kata Sim Long dengan tersenyum. Jit-jit lantas menubruk ke dalam rangkulan Sim Long, tanyanya.
"Masa ... masa kau percaya kepada ocehannya?"
Kau kira aku percaya padanya?"
Jawab Sim Long tertawa.
"Haha, jika Sim Long begitu gampang dibohongi orang dan mudah diadu domba memangnya aku si Kucing mau memasrahkan jiwaku kepadanya?"
Seru Miau-ji dengan tertawa. Sambil meraba dada Sim Long, Jit-jit bertanya dengan suara lembut.
"Kenapa baru sekarang engkau datang? Apakah kau tahu betapa kami cemas bagimu."
Di tengah taman sana penuh pos penjaga, mau tak mau aku harus berlaku hati-hati,"
Kata Sim Long.
"Ah, coba, betapa aku memikirkan diriku sendiri tanpa memikirkan bahaya yang kau hadapi, malahan kuomeli kelambatanmu kembali ke sini, engkau tentu tidak marah padaku, bukan?üjar Jit-jit.
"Haha, engkau dapat bicara demikian, hal ini menandakan sekarang engkau sudah dewasa,"
Seru Miau-ji. Ong Ling-hoa tak tahan, serunya.
"Ya, ya, semua sudah dewasa, dan sekarang tentunya kita dapat berangkat."
Jangan tergesa,üjar Sim Long.
"Untuk sementara kita tidak berbahaya tinggal di sini."
"Sebab apa?"
Tanya Ling-hoa.
"Sebab saat ini mereka lagi sibuk membakar mati diriku, maka untuk sementara takkan memburu ke sini,"
Tutur Sim Long dengan tertawa.
"Sibuk membakarmu?"
Jit-jit menegas.
"Ya,ücap Sim Long dengan gegetun.
"Koay-lok-ong itu memang memiliki kungfu yang daripada yang lain, hampir saja aku dikejarnya hingga menghadapi jalan buntu, terpaksa kuloncat ke pucuk tiang bendera, tak tahunya Koay-lok-ong lantas menghantam sehingga tiang bendera patah."
Meski jelas dia sudah datang dengan selamat, tidak urung Jit-jit dan Miau-ji sama menahan napas mengikuti ceritanya.
"Lantas apa yang kau lakukan?"
Tanya Jit-jit.
"Betapa pun licik Koay-lok-ong juga tidak menyangka pada waktu kuloncat ke atas tiang bendera, harapanku justru agar dia mematahkan tiang bendera itu, memang sengaja kupancing kemarahannya untuk bertindak demikian."
Memangnya apa maksudmu?"
Tanya Jit-jit pula.
"Kau tahu tinggi tiang bendera itu ada belasan tombak, pada waktu ambruk tentu ujung tiang akan jatuh lebih belasan tombak jauhnya, asal kupegang ujung tiang, maka tubuhku akan ikut terlempar sejauh itu atau lebih, kalau tidak, betapa tinggi Ginkangku juga tidak mampu melompat sejauh itu."
Ai, dalil ini kedengarannya sederhana, tapi bila aku yang menghadapi kenyataan begitu, biarpun kepalaku dipenggal juga tidak dapat kupikirkan akal sebagus itu,üjar Miau-ji dengan gegetun.
"Kan sudah kukatakan, biarpun di dunia ini hanya ada satu jalan saja, maka orang pertama yang menuju ke jalan ini pastilah Sim Long adanya,"
Seru Jit-jit dengan tertawa.
"Lantas cara bagaimana berkobarnya api?"
Tanya Miau-ji.
"Pada waktu aku jatuh di atas rumah yang terletak belasan tombak jauhnya, genting rumah itu telah remuk terkena tiang bendera, kesempatan itu lantas kugunakan untuk membuat sebuah lubang di atas rumah.Ïa merandek sejenak, tanpa terasa Miau-ji dan Jit-jit lantas tanya berbareng.
"Apakah engkau lantas menerobos ke dalam rumah melalui lubang itu?"
Di antara seratus orang mungkin ada 99 orang akan menyangka aku pasti akan menerobos masuk melalui lubang itu, demikian pula dugaan Koay-lok-ong,üjar Sim Long dengan tertawa.
"Maklumlah, setiap orang bila menghadapi bahaya dan mendadak menemukan sesuatu tempat bersembunyi tentu akan segera digunakannya. Hal ini adalah sifat pembawaan manusia dan tidak perlu diherankan."
Tapi engkau harus dikecualikan,"
Tukas Jit-jit tertawa.
"Aku harus mengadu akal dengan orang semacam Koay-lok-ong, dengan sendirinya aku harus bertindak melanggar kebiasaan, dengan begitu barulah bisa di luar dugaan Koay-lok-ong dan sukar diterkanya."
Habis apa yang kau lakukan?"
Tanya Miau-ji tak sabar.
"Sesudah atap rumah kutumbuk sebuah lubang, meski tubuhku menerobos ke dalam, tapi tanganku tetap berpegangan pada atap rumah,"
Tutur Sim Long.
"Kudengar Koay-lok-ong berteriak memberi perintah kepada anak buahnya agar mengepung rumah itu serapatnya, pada saat itulah aku lantas melompat keluar."
Mereka tidak melihat dirimu?"
Tanya Jit-jit dengan menarik napas.
"Sejenak itu adalah saat yang paling kacau bagi mereka, sedang Koay-lok-ong juga sudah memburu maju, tentu dia tidak memerhatikan apa yang terjadi di atas rumah. Dan sama sekali tidak mereka pikir, di tengah kegaduhan itulah aku justru melompat pergi."
Haha, betul, memang di situlah letak kelemahan manusia,üjar Jit-jit dengan tertawa.
"Jika aku, biarpun ada keberanianku untuk berbuat apa pun, tapi dalam sekejap itu pasti juga aku takkan melompat pergi, sebab dalam detik itu di rumah itu akan terasa jauh lebih aman daripada tempat lain,"
Kata si Kucing.
"Dan kemudian bagaimana?"
Tanya Jit-jit.
"Sesudah kulompat keluar, kupanjat ke atas pohon, tapi segera aku merosot ke batang pohon dan menunggu di situ, ketika rombongan orang banyak berseliweran di sekitar pohon, kesempatan itu segera kugunakan untuk mencampurkan diri di tengah orang banyak. Tatkala mana perhatian semua orang lagi tertuju ke rumah itu sehingga tidak ada yang memerhatikan diriku."
Meng ... mengapa engkau tidak bersembunyi di tempat lain, sebaliknya mencampurkan diri di tengah mereka, cara begitu tidakkah terlalu berbahaya?üjar Jit-jit.
"Kau tahu, mata Koay-lok-ong lain daripada mata orang biasa, yang utama tujuanku adalah menghindari matanya, orang lain tentu tidak menjadi soal bagiku,ïa tertawa, lalu menyambung.
"Maka pada saat genting itu hanya mencampurkan diri di tengah orang banyak barulah dapat menghindari pencarian Koay-lok-ong. Apabila waktu itu semua orang sedang menerjang ke depan, aku tidak perlu berjalan dan segera tertinggal di belakang orang banyak, dalam keadaan begitu orang lain tambah tidak memerhatikan lagi akan diriku."
Hah, permainan menarik ini, di dunia ini mungkin cuma Sim Long saja yang dapat melakukannya,üjar Jit-jit dengan tertawa.
"Waktu itu aku tidak merasakan apa pun,"
Sambung Sim Long.
"tapi bila kupikirkan sekarang, sungguh aku pun merasa berbahaya. Untunglah semuanya berjalan lancar, apabila sedikit salah tindak saja atau keliru sedetik, maka akibatnya sukar kubayangkan."
Sampai di sini mau tak mau Ong Ling-hoa merasa kagum juga, katanya.
"Bicara terus terang, kecerdikanmu itu harus dipuji. Dalam keadaan begitu, sedikit salah hitung saja tentu sukar bagimu untuk kabur lagi."
Makanya kau sangka aku pasti tidak dapat kembali ke sini, bukan?"
Tanya Sim Long dengan tersenyum. Ong Ling-hoa tidak berani menjawab, ia membelokkan pokok pembicaraan.
"Jika sekarang Koay-lok-ong dan anak buahnya berada di tempat kebakaran, kenapa kesempatan ini tidak kita gunakan untuk menerjang pergi selekasnya?"
Meski kesempatan sudah ada, sebaiknya kita menunggu lagi sebentar,üjar Sim Long.
"Sebab apa?"
Tanya Ling-hoa.
"Saat ini kan Sim Long sudah terbakar mati, berita ini belum tersiar, tapi selekasnya pasti akan tersiar,"
Tutur Sim Long.
"Bilamana pos penjaga di luar sana mendapat berita ini, penjagaan pasti akan longgar, kan menjadi mudah bagi kita untuk menerjang keluar."
Ai, kecerdasan Sim-heng sungguh sukar ditandingi,"
Kata Ling-hoa dengan gegetun.
"Hm, sampai sekarang masih juga kau bicara plinplan begini, sesungguhnya kau harus ditinggalkan di sini,"
Jengek Jit-jit.
"Ai, kenapa nona ...."
Belum lanjut ucapan Ling-hoa, mendadak terdengar suara rintihan orang, seperti datang dari rumah berhala sana. Air muka Sim Long berubah, desisnya.
"Pada waktu kalian lalu di rumah berhala itu tadi apakah melihat seorang di situ?"
Wah, hal ini tidak ... tidak kami perhatikan,"
Kata si Kucing.
"Ong-heng, harap kau periksa ke sana,"
Kata Sim Long setelah berpikir.
"Caramu mengatur ini sungguh sangat cerdik,ücap Ling-hoa dengan menyengir. Dalam keadaan demikian biarpun seribu kali dia tidak mau terpaksa harus menurut juga, segera ia melayang ke sana dengan gaya yang memesona. Lebih dulu dia mengitar satu kali di luar rumah berhala itu dengan cepat, dipungutnya dua potong batu kecil dan dilemparkan ke dalam melalui jendela, sebaliknya ia langsung menerjang masuk melalui pintu.
"Orang ini sebenarnya seorang mahapintar dan berbakat besar,"
Kata Sim Long dengan tersenyum.
"Jika tidak ada rasa sayang akan bakatnya yang hebat itu, tentu tadi sudah kubinasakan dia,üjar si Kucing dengan gegetun.
"Meski dia seorang busuk, kebusukannya membikin orang geregetan, tapi tidak juga menjemukan, kalau dibandingkan Kim Put-hoan dan sebangsanya jelas dia terlebih tinggi kelasnya."
Di dunia sekarang orang busuk seperti dia mungkin sukar dicari bandingnya, dibandingkan dia, Kim Put-hoan boleh dikatakan tidak masuk hitungan,"
Kata Sim Long dengan tertawa.
"Kim Put-hoan hanya seorang Siaujin (orang kecil, rendah), sebaliknya dia boleh dibilang Kuncu (lelaki sejati, gentleman) kaum Siaujin."
Betul, dia memang tidak busuk sampai juga tidak ada sisanya,üjar Jit-jit.
"Terkadang dia menyerupai manusia, bahkan selalu dapat berganti haluan menurut arah angin, tidak nanti main belit dan ngotot. Umpamanya tadi, begitu Sim Long muncul segera ia lepaskan diriku. Apabila Kim Put-hoan dan sebangsanya pasti dia akan ngotot dan bertahan mati-matian."
Dalam hal ini, memang dia dapat bertindak cerdik, kalau tidak ...."
Belum lanjut ucapan Miau-ji, mendadak terlihat Ong Ling-hoa melompat keluar dari rumah berhala itu dengan wajah yang kelihatan terheran-heran, ia melirik sekejap kepada Cu Jit-jit lalu berpaling dan berkata kepada Sim Long dengan tertawa.
"Eh, coba kau terka siapa yang berada di situ?"
Sim Long bekernyit kening, belum lagi ia menjawab Jit-jit lantas berseru.
"Sesungguhnya siapa? Lekas katakan!"
Ling-hoa tersenyum misterius, tuturnya.
"Sesudah masuk ke situ, sebenarnya aku tidak melihat dia, rupanya dia disembunyikan orang di bawah meja sembahyang, bahkan seperti terluka sangat parah ...."
Belum habis ceritanya, serentak Sim Long melayang ke sana. Jit-jit mengentak kaki dan mengomel.
"Dia ... dia sesungguhnya siapa dia?"
Yu-leng-kiongcu Pek Fifi,"
Jawab Ling-hoa sekata demi sekata.
***** Di tengah malam remang rumah berhala terasa seram.
Malaikat Bunga, malaikat yang dipuja dalam rumah berhala itu, malaikat yang cantik, namun keseraman pada rumah berhala umumnya hampir serupa.
Betapa pun malaikat yang dipujanya malaikat bunga yang cantik atau malaikat langit yang bermuka bengis.
Berkat cahaya lemah yang menyorot masuk dari luar pintu, akhirnya Sim Long dapat menemukan Pek Fifi ....
Sungguh hampir tidak menyerupai Pek Fifi lagi, apabila tidak didengarnya lebih dulu dari Ong Ling-hoa tentu Sim Long pangling padanya.
Si nona yang meringkuk di bawah meja sembahyang itu sekarang tidak mirip lagi Pek Fifi yang lembut dan cantik, juga tidak serupa Yu-leng-kiongcu yang kejam dan membuat orang ketakutan itu.
Saat ini dia cuma seorang anak perempuan yang awam dan minta dikasihani, dengan sujud dia lagi memohon orang suka menolongnya.
Mukanya kelihatan pucat pasi.
Sekarang ia pun melihat Sim Long.
Air matanya bercucuran, ucapnya dengan lemah dan rada gemetar.
"Sim Long, mengapa ... mengapa engkau belum lagi mati? Mengapa engkau datang lagi dan kenapa muncul pada saat demikian?"
Dengan tenang Sim Long memandangnya, katanya.
"Meski kau perlakukan diriku cara begitu namun aku tetap akan menolongmu. Kedatanganku seharusnya menggembirakan dirimu."
Tidak, aku tidak perlu pertolonganmu, aku lebih suka mati,"
Teriak Pek Fifi dengan parau.
"Aku pun tidak ingin kau lihat keadaanku seperti ini. Dalam pandanganmu, biarpun aku dirasakan tidak menarik, biarlah kau rasakan benci dan menakutkan ....Äir matanya berderai, ratapnya pula.
"O, mati pun aku tidak mau mendapat belas kasihanmu, lekas kau ... kau keluar saja, lekas keluar!"
Sim Long tetap memandangnya dengan tenang, katanya.
"Mengapa engkau berubah serupa ini?"
Engkau sudah tahu, mengapa perlu tanya lagi?"
Jawab Fifi dengan pedih.
"Aku tidak tahu,"
Kata Sim Long. Fifi memukul lantai dengan tangan, teriaknya parau.
"Jelas kau tahu aku bukan tandingan Koay-lok-ong, dia yang melukaiku dan membuangku di sini. Kutahu maksudnya, yaitu supaya kau lihat keadaanku ini. Dan sekarang sudah puas bagimu, bukan?"
Sim Long menghela napas, gumamnya.
"Puas?!"
Tiba-tiba sebuah tangan meraih lengannya. Itulah tangan Cu Jit-jit.
"Pergi, enyah, semuanya enyah!"
Teriak Fifi pula.
"Tidak perlu berlagak mesra di depanku. Cu Jit-jit, kutahu kau benci padaku, boleh kau bunuh aku!"
Jit-jit memandangnya sejenak, mendadak ia pun menghela napas, katanya.
"Memang betul pernah kubenci padamu, membencimu hingga merasuk tulang sumsum, tapi sekarang ....ïa berpaling ke arah Sim Long dan berucap.
"Marilah kita membawa pergi dia."
Sim Long tetap berdiri diam saja. Miau-ji juga memandang Sim Long, katanya.
"Aku tidak peduli bagaimana keputusanmu, tapi bila aku disuruh membiarkan seorang anak perempuan yang dekat ajalnya tertinggal di sini, betapa pun tidak dapat kusetujui."
Sim Long tetap tidak bicara.
"Ken ... kenapa engkau diam saja?"
Seru Jit-jit dengan mengentak kaki.
"Kutahu sebab apa dia tidak bicara,"
Jengek Ling-hoa.
"Sebab apa?"
Tanya Jit-jit.
"Mungkin ini pun salah satu akal keji Koay-lok-ong,üjar Ling-hoa.
"Dia sengaja meninggalkan Pek Fifi yang terluka parah ini di sini, tujuannya bila kita sempat lari dengan membawa dia, maka lari kita pasti takkan mencapai jauh."
Bagaimana Sim Long, apakah begitu maksud tujuan Koay-lok-ong?"
Tanya Jit-jit.
"Bukan,"
Jawab Sim Long.
"Habis bagaimana ...."
"Miau-ji, boleh kau gendong dia,"
Kata Sim Long tiba-tiba.
"Masa ... masa benar kalian mau menolongku?"
Ratap Fifi. Miau-ji tidak bersuara melainkan terus menggendongnya.
"Dengan berbagai daya upaya hendak kubikin celaka kalian, sebaliknya kalian masih mau menyelamatkan diriku?"
Seru Fifi pula. Mata Jit-jit berkedip-kedip, sudah mengembeng air mata. Ia melengos, ucapnya perlahan.
"Aku cuma ingat engkau adalah Pek Fifi yang dulu itu dan tidak ingat padamu sebagai Yu-leng-kiongcu."
Perlahan Sim Long meraba bahu Jit-jit, ucapnya.
"Memang betul, Yu-leng-kiongcu sudah mati, kami menghendaki Pek Fifi tetap hidup."
Maka meledaklah tangis Pek Fifi sambil mendekap di pundak Him Miau-ji.
"Satu-satunya kekurangan kalian adalah hati kalian terlalu lunak,ücap Ling-hoa dengan menyesal.
"Hm, kalau hati kami tidak lunak, dapatkah kau hidup sampai saat ini?"
Jengek Jit-jit. Bisa merah juga muka Ong Ling-hoa dan tidak bicara lagi. Beramai mereka lantas meninggalkan rumah berhala itu.
"Cara bagaimana kita pergi dari sini?"
Tanya Miau-ji.
"Ong-kongcu silakan merintis jalan di depan, aku dan Jit-jit mengawal di belakang, kita terjang bagian tengah yang luang,"
Kata Sim Long.
"Bagian yang luang?"
Ling-hoa menegas.
"Mengapa kita tidak melalui kaki bukit ...."
Penjagaan di dekat bukit pasti sangat keras, justru bagian tengah yang lapang itu penjagaan akan kurang rapat,üjar Sim Long.
"Apalagi sesudah api berkobar tentu mereka akan menyaksikan kebakaran itu dari tempat ketinggian."
Ai, sekali ini kau pun tepat lagi,üjar Ling-hoa dengan gegetun. Pek Fifi yang mendekap di pundak Miau-ji itu mendadak mengangkat kepalanya dan menyela.
"Tidak tepat."
"Kenapa tidak tepat?"
Tanya Sim Long. Fifi tersenyum pedih.
"Kalian sebaik ini kepadaku, maka aku ...."
Tiba-tiba Ong Ling-hoa berseru.
"Aha, betul, gua ini adalah sarangnya, tentu dia mempunyai jalan rahasia untuk meloloskan diri dari sini."
Dengan tenang Fifi berkata pula.
"Meski parah lukaku, tapi bila kalian membebaskan ketiga Hiat-to Hong-ji, Goan-tiau dan Yang-koan-hiat, dapatlah aku berjalan sendiri, sedikitnya dapat kubawa kalian keluar dari sini."
Apakah jalan ini memang ...."
Dengan senyum pedih Fifi memotong.
"Meski aku dikalahkan Koay-lok-ong, tapi jalan ini tetap tidak diketahuinya. Kecuali aku sendiri, dunia ini tidak ada orang kedua yang tahu akan lorong rahasia ini."
Meski senyumannya kelihatan pedih, namun sikapnya tetap memperlihatkan rasa bangga. Sesungguhnya dia memang anak perempuan yang pantas bangga. Ong Ling-hoa bergumam.
"Berhati baik tentu mendapat ganjaran baik, ucapan ini memang ada dalilnya." ***** Maka mereka lantas memasuki gua rahasia itu. Dengan sendirinya dalam gua gelap gulita. Fifi mengeluarkan sebuah geretan api yang mungil, meski cahayanya tidak terlalu terang, namun sudah cukup untuk menerangi jalan di depan. Sembari merembet dinding karang dan tangan lain memegang obor kecil itu, Fifi mendahului menunjuk jalan di depan. Miau-ji hendak memapahnya, tapi telah ditolaknya. Dia bukan lagi anak perempuan yang perlu dibantu orang lelaki lagi. Lorong gua ini sangat panjang, berliku dan tidak rata. Tapi bagi pandangan Cu Jit-jit dan lain-lain dirasakan sebagai jalan yang terdekat dan paling rata selama dua hari ini. Akhirnya mereka terlepas juga dari bahaya. Jit-jit tertawa gembira dan bersyukur. Sampai sekian lama, akhirnya mereka sampai di ujung loteng, di situ ada sepotong batu mengadang jalan lalu, tapi pada batu ada tangga yang dapat menembus ke atas. Baru sekarang Fifi menghela napas lega, katanya sambil menoleh.
"Di atas sana adalah jalan keluarnya, biar kunaik dulu untuk memeriksanya."
Jit-jit memburu maju dan memegang tangannya, katanya dengan tersenyum,"
Maukah kita melupakan semua kejadian yang lalu."
"Asal engkau tidak benci lagi padaku,"
Jawab Fifi dengan rawan.
"Selanjutnya engkau adalah adik perempuanku yang baik, mana bisa kubenci padamu?"
Kata Jit-jit dengan suara lembut.
"Terima kasih,ücap Fifi dengan menunduk.
"Setelah kejadian ini, aku takkan ... takkan ....Ïa menengadah dan tersenyum, lalu memanjat ke atas melalui tangga besi itu. Sim Long memegang bahu Jit-jit, ucapnya.
"Setelah kejadian ini engkau pun sudah berubah."
Jit-jit tersenyum.
"Sebab baru sekarang kutahu engkau benar-benar baik padaku, kalau tidak, tetap aku akan cemburu ...."
Sejak dulu kutahu engkau ini memang sebuah guci cuka,"
Miau-ji ikut berkelakar. Sambil memandangi tubuh lemah Pek Fifi yang sedang memanjat ke atas itu, mendadak Jit-jit membisiki Sim Long.
"Bagaimana menurut pendapatmu antara dia dan guci arak (maksudnya Him Miau-ji) kita?"
Mungkin si guci arak akan kewalahan terhadap dia,"
Sahut Sim Long tertawa.
"Menurut pandanganku hanya dia saja yang cocok menjadi kakak iparku,üjar Jit-jit tertawa perlahan.
"Bilamana pada suatu hari hal itu benar-benar terjadi, sungguh aku akan menjadi orang yang paling gembira di dunia ini."
Sementara itu Fifi sedang menyingkap sepotong batu penutup di atas, segera cahaya terang menyorot ke bawah. Agaknya hari di luar sudah terang. Ling-hoa menarik napas dalam-dalam dan berucap.
"Ehm, alangkah harumnya, mungkin di luar banyak tumbuhan bunga yang sedang mekar."
Selang sejenak, Jit-jit tidak tahan, katanya.
"Mungkinkah di atas ada orang? Apakah takkan terjadi sesuatu?"
Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian.
"Koay-lok-ong tidak tahu jalan ini, mungkin tidak ...."
Belum habis ucapannya terlihat Fifi lagi melongok ke bawah dan berseru.
"Lekas naik kemari!"
Tampaknya sekarang aku tidak perlu menjadi perintis jalan lagi,"
Kata Ling-hoa dengan tertawa.
"Naiklah lebih dulu,"
Segera Jit-jit mendorong Sim Long.
"Engkau sudah terlalu banyak berkorban bagi kami, orang pertama yang keluar sekarang harus engkau."
Sim Long tersenyum, perlahan ia mulai memanjat tangga.
Lubang keluar itu sangat sempit, hanya tiba cukup untuk terobosan seorang saja.
Ia coba melongok ke atas, tapi ...
darah sekujur badannya serasa membeku mendadak.
Tempat di luar lorong bawah tanah ini kiranya adalah kamar Pek Fifi yang penuh teruruk bunga segar itu.
Pantas tadi Ong Ling-hoa mencium bau harum bunga.
Pantas juga Pek Fifi dapat berubah menjadi Yu-leng-kiongcu.
Kiranya tempat tinggal Pek Fifi ini memang ada jalan tembus dengan gua setan itu.
Pada waktu dia tidur dan orang lain dilarang mengganggunya, pada saat itulah dia berubah menjadi Yu-leng-kiongcu.
Akhirnya Sim Long tahu juga rahasia ini.
Tapi sudah terlambat.
Tertampak Koay-lok-ong berada di sana dan sedang memandangnya.
Berpuluh busur yang siap membidikkan anak panah sama mengincar kepalanya.
Koay-lok-ong menyeringai senang, jarinya memberi tanda perlahan agar Sim Long naik ke atas.
Dalam keadaan demikian Sim Long cukup tahu diri, bila ayal sedikit saja kepalanya bisa segera berubah menjadi landak.
Terpaksa ia naik ke atas dengan menyengir.
Tapi baru saja tubuhnya muncul separuh, segera Hiat-to bagian punggungnya kena ditutuk oleh Pek Fifi, menyusul lantas menjadi giliran Cu Jit-jit, Ong Ling-hoa dan si Kucing ....
***** Sekarang Pek Fifi setengah bersandar dalam pangkuan Koay-lok-ong, dan sedang tertawa dengan sangat manis.
Sim Long berempat berdiri sejajar bersandar dinding, satu jari pun tak dapat bergerak, hati pun entah bagaimana rasanya.
Ternyata pada saat mereka sudah dekat dengan kebebasan mendadak tertawan musuh lagi.
Mereka telah gagal pada detik hampir mendekati sukses.
Jit-jit ingin menangis, tapi tak berair mata.
Fifi memandangi mereka dengan tertawa manis, katanya.
"Tak tersangka bukan, Sim Long yang serba pintar akhirnya toh salah hitung selangkah."
Ya, seharusnya kupikirkan sebelumnya, bila tiada engkau yang menjadi penunjuk jalan tidak mungkin Koay-lok-ong dapat menemukan kami,üjar Sim Long dengan menyesal.
"Sekarang kau bawa kami kepada Koay-lok-ong, bukan saja engkau dapat meminjam golok untuk membunuh orang, bahkan dengan demikian engkau akan mendapat pujian dari Koay-lok-ong."
Hihi, baru sekarang kau ingat hal ini kan sudah amat terlambat,"
Kata Fifi dengan tertawa nyaring. Koay-lok-ong mengelus jenggot dan berucap dengan senang.
"Tentunya sekarang kalian tahu jelas tentang pembantuku tepercaya yang pernah kukatakan itu tak-lain-tak-bukan ialah Fifi sayang. Melulu dia seorang saja bukankah jauh lebih berguna daripada sepuluh orang Kim Bu-bong?"
Ya, dia memang anak perempuan paling lihai yang pernah kulihat selama hidupku ini,üjar Ong Ling-hoa dengan menyengir.
"Anak perempuan sehebat ini, bila bertambah lagi dua-tiga orang, maka semua lelaki di dunia ini mungkin terpaksa harus bunuh diri."
Terima kasih atas pujianmu,"
Kata Fifi dengan tertawa.
"Bagus, aku juga sangat kagum padamu,"
Tukas Miau-ji.
"Tapi cara bagaimana engkau bisa berada di rumah berhala itu, sungguh aku tidak mengerti."
Soalnya orang lain sama bilang Sim Long akan mati terbakar, hanya aku saja yang tidak percaya, sebab kupikir Sim Long takkan mati semudah itu,"
Kata Fifi.
"Maka lantas terpikir lagi olehku bilamana aku menjadi Sim Long, jalan mana yang akan kugunakan untuk kabur? .... Dengan sendirinya hanya ada sebuah jalan saja, maka ke situ pula kupergi dan benar juga dapatlah kupergoki kalian."
Ling-hoa menghela napas.
"Sim Long dapat meraba perasaan orang lain, tapi engkau justru dapat meraba jalan pikiran Sim Long, nyata engkau lebih unggul daripada Sim Long."
Mendadak Jit-jit mendengus.
"Hm, bukanlah dia lebih unggul daripada Sim Long, soalnya hati Sim Long tidak sekejam dia, juga tidak rendah, kotor dan khianat, lupa budi dan ingkar janji seperti dia."
Kan sudah sering kukatakan, kelemahan Sim Long yang terbesar adalah hatinya terlampau lunak,üjar Ling-hoa dengan gegetun.
"Haha, dalam hal ini pandanganmu ternyata sama denganku,"
Tukas Koay-lok-ong dengan berkeplok tertawa. Tiba-tiba Miau-ji berseru.
"Sesudah kau pergoki kami, mengapa tidak kau perintahkan anak buahmu menawan kami?"
Eh, kucing cilik, masakah hal ini tidak kau pahami?"
Sahut Fifi dengan suara lembut.
"Waktu itu bila kuperintahkan orang menangkap kalian, rasanya belum tentu berhasil, bisa jadi kesempatan itu akan digunakan kalian untuk kabur .... Kutahu, otak kalian meski tidak banyak berguna, tapi kungfu kalian kan tidak boleh diremehkan."
Makanya engkau sengaja berlagak terluka parah?"
Tanya Miau-ji dengan gemas.
"Betul,"
Jawab Fifi dengan tertawa.
"Aku pun banyak menelan pahit getir baru berhasil menipu kalian. Bukan saja kututuk Hiat-toku sendiri bahkan kupukul diri sendiri dua-tiga kali, sampai sekarang tubuhku masih sakit pegal."
Masa engkau yakin kami takkan mengetahui luka parahmu yang pura-pura itu?"
Teriak Miau-ji pula.
"Kalian kan jantan sejati seluruhnya, dengan sendirinya kalian takkan memeriksa tubuh seorang perempuan, apalagi waktu itu keadaan gelap gulita, mukaku juga sangat pucat ...."
Dari mana kau tahu kami pasti akan menolongmu?"
Tanya Jit-jit dengan gemas.
"Kalian bukan saja jantan sejati, rata-rata juga berhati welas asih, serupa apa yang dikatakan si Kucing ini, tidak nanti dia menyaksikan seorang anak perempuan menghadapi ajalnya tanpa memberi pertolongan, betul tidak?"
Waktu itu aku cuma diam saja, aku justru khawatir ada tipu muslihatmu,üjar Sim Long gegetun.
"Sungguh lagakmu itu sangat mirip sehingga aku tertipu tanpa curiga sedikit pun. Coba kalau engkau langsung minta pertolonganku, tentu aku akan curiga malah, tapi begitu bertemu engkau minta kupergi ...."
Hati orang lelaki memang sudah kuselami dengan baik,"
Kata Fifi dengan tertawa.
"Adalah biasa, semakin kau suruh dia pergi, dia berbalik tidak mau pergi .... Cu Jit-jit, untuk ini kau harus belajar dariku, jika satu bagian kepandaianku ini dapat kau kuasai, tentu selanjutnya engkau takkan mengalami kegagalan lagi."
Jit-jit mendengus.
"Hm, kenapa harus kutiru dirimu, jika engkau sedemikian memahami hati orang lelaki, mengapa Sim Long tetap tidak suka padamu, kukira engkau yang harus belajar padaku.Äir muka Fifi rada berubah, tapi segera tertawa dan berkata.
"Kau kira Sim Long suka padamu?"
Jit-jit mendongak dan berteriak.
"Tentu saja."
Ai, Cici yang baik, jangan kau lupa, orang mati kan tak dapat menyukai siapa pun,ücap Fifi dengan suara halus.
Jit-jit melengak, air mata segera meleleh.
Mestinya dia tidak sudi mencucurkan air mata di depan Pek Fifi, apa mau dikatakan lagi, air mata tidak mau tunduk kepada perintah lagi, semakin tidak ingin menangis, makin deras air matanya.
Koay-lok-ong merangkul Fifi dan berkata dengan tertawa.
"Jika Sim Long sudah tertumpas, selanjutnya hidupku boleh santai tanpa khawatir lagi, sungguh hari ini ...."
Mendadak Miau-ji berteriak.
"Sekarang juga kau kira tidak ada yang perlu kau khawatirkan, apakah jalan pikiranmu ini tidak terlalu dini?"
Oo, maksudmu?"
Tanya Koay-lok-ong. ¡Apakah kau tahu engkau masih ada seorang lawan paling besar?"
Kata si Kucing.
"Bahkan dia jauh lebih benci padamu daripada kami. Paling banyak kami hanya ingin mencabut nyawamu, tapi dia justru ingin makan dagingmu dan membeset kulitmu."
Hah, apakah benar ada orang begini? Siapa dia?"
Tanya Koay-lok-ong dengan tersenyum.
"Dia tak-lain-tak-bukan ialah orang yang duduk dalam pangkuanmu sekarang,"
Kata Miau-ji dengan tertawa. Perlahan Koay-lok-ong meraba pundak Fifi katanya dengan tenang.
"Maksudmu dia ini?"
"Apakah kau tahu dia bukan lain ialah Yu-leng-kiongcu?"
Seru Miau-ji pula.
"Hahaha, memangnya kau sangka aku tidak tahu? ...."
Koay-lok-ong bergelak tertawa. ¡Jika aku tidak tahu, tentu dia takkan duduk dalam pangkuanku. Di seluruh kolong langit ini kecuali Yu-leng-kiongcu, perempuan mana yang setimpal berjodoh denganku?"
Tergetar tubuh Sim Long, serunya.
"Maksudmu ... maksudmu hendak mengambil dia sebagai istri?"
Kan sudah waktunya aku harus mengakhiri masa bujanganku?üjar Koay-lok-ong dengan tertawa.
"Tapi dia ... dia sebenarnya kan ...."
Belum lagi ucapan "
Putrimu"
Terucapkan oleh Sim Long, tahu-tahu mukanya sudah digampar oleh Pek Fifi. Dengan sorot mata setajam sembilu Fifi menatapnya dan menjengek.
"Baru saja kudapatkan kekasih pilihan, kau berani sembarangan memfitnah?"
Tapi ... tapi kalian adalah ...."
"Berani kau bicara satu kata lagi segera kubinasakan kau,"
Bentak Fifi dengan bengis. Mendadak Ong Ling-hoa berseru.
"Yu-leng-kiongcu dan Koay-lok-ong memang pasangan yang sangat setimpal, mengapa Sim-heng sengaja mengacaukan perjodohan mereka, kan perbuatan yang paling tidak bermoral merusak perjodohan orang lain?"
Sim Long menghela napas panjang dan tidak bicara lagi. Dengan gemulai Fifi berjalan mendekati Koay-lok-ong lagi, katanya dengan senyum memikat.
"Sekarang beberapa orang ini sudah menjadi milik Ongya, cara bagaimana Ongya akan memperlakukan mereka?"
Piara penyakit hanya akan mendatangkan bencana saja, lekas dibasmi akan lebih baik,"
Kata Koay-lok-ong.
"Sekarang juga Ongya ingin membunuh mereka?"
Tanya Fifi.
"Ya, kalau tertunda lagi kukhawatir akan terjadi perubahan."
Mata Fifi mengerling, katanya dengan tersenyum manis.
"Biarlah kuceritakan suatu kejadian dulu, apakah Ongya mau mendengarkan?"
Koay-lok-ong tidak tahu mengapa dalam keadaan dan di tempat ini Fifi jadi iseng dan ingin mendongeng segala, jawabnya dengan tertawa.
"Jika kau mau bercerita, tentu saja dengan senang hati akan kudengarkan."
Dahulu ada seorang lelaki,"
Demikian Fifi mulai bertutur dengan suara lembut.
"dia senantiasa ingin makan daging angsa, tapi meski dia sudah berusaha dengan susah payah, peras keringat dan tenaga, sepotong daging angsa pun tidak berhasil dimakannya."
Meski dongeng ini tidak menarik, tapi ia bicara dengan suaranya yang lembut dan khas itu sehingga mempunyai daya tarik tersendiri. Dengan tertawa Koay-lok-ong menanggapi.
"Wah, di dunia ini banyak sekali orang yang ingin makan daging angsa, tapi siapakah yang benar-benar dapat memakannya?"
Tapi orang itu terhitung beruntung, setelah mencari sekian lamanya, akhirnya dapatlah diketemukan sepotong daging, saking senangnya sekaligus daging angsa itu ditelannya bulat-bulat."
"Wah, watak orang ini sungguh tidak sabar,üjar Koay-lok-ong.
"Seterusnya setiap orang tahu dia pernah makan daging angsa,"
Tutur Fifi lebih lanjut.
"tapi bila ada orang tanya padanya bagaimana rasanya daging angsa, satu kata pun dia tidak sanggup menjawab."
Sekaligus daging itu ditelannya begitu saja, dengan sendirinya bagaimana rasanya tidak diketahuinya,üjar Koay-lok-ong.
"Ya, barang yang diperoleh dengan susah payah, jika ditelan begitu saja, kan sangat sayang? Maka, akhirnya semua orang tidak kagum lagi akan keberuntungannya dapat makan daging angsa, sebaliknya malah menganggapnya sebagai orang tolol."
Koay-lok-ong terdiam sejenak sambil menatap Sim Long, katanya kemudian.
"Betul, dengan susah payah baru dapat kutangkap dirimu, jika begitu saja kubunuhmu kan terlalu sayang dan bukankah akan ditertawakan orang pula sebagai orang tolol?"
Apalagi, setiap orang di antara mereka juga ada harganya untuk diperalat,"
Tukas Fifi dengan tenang.
"Tebu yang belum habis kita isap airnya, kenapa sepahnya buru-buru dibuang?"
Haha, seorang lelaki kalau mendapat istri yang pintar, sungguh merupakan pembantu yang berguna dan beruntunglah lelaki itu,"
Seru Koay-lok-ong dengan gembira.
"Jika begitu keempat orang ini kan hasil tawananmu, biarlah kuserahkan mereka kepadamu untuk dibereskan."
Fifi tertawa merdu, katanya.
"Kukira mereka lebih suka mati daripada Ongya menyerahkan mereka kepadaku ...." ***** Sekarang Sim Long berempat sudah dipindahkan ke dalam sebuah kamar batu. Di dalam kamar batu ini tidak terdapat apa pun, kosong melompong, mereka duduk di lantai batu yang dingin, bersandar dinding batu yang kasap, seluruh tubuh terasa sakit. Dengan memegang cawan arak Pek Fifi bersandar di pintu dan memandang mereka dengan mengulum senyum, katanya.
"Bolehlah kalian meringkuk semalam di sini, besok juga Koay-lok-ong akan membawa pulang kalian, meski belum pernah kukunjungi tempat itu tapi kuyakin pasti suatu tempat yang bagus."
Maksudmu Koay-lok-ong akan pulang kandang?"
Tanya Ling-hoa.
"Esok pagi dia akan berangkat, taman hiburan ini memang juga tidak ada sesuatu yang membuatnya merasa berat untuk ditinggalkan,üjar Fifi.
"Haha, dapat melihat sarang Koay-lok-ong yang asli, rasanya boleh juga,"
Kata Ling-hoa.
"Cuma ... mengapa saat ini tidak digunakannya untuk menyerbu ke Tionggoan sebaliknya malah pulang kandang?"
Kau tahu, dia adalah seorang yang pakai perhitungan, peperangan yang tidak meyakinkan pasti akan menang tidak nanti dilakukannya,üjar Fifi.
"Pada sebelum dia menyerbu Tionggoan, dengan sendirinya masih diperlukan berbagai persiapan, apalagi ....Ïa tersenyum manis, lalu menyambung.
"Bahwa sekali ini dia mundur kembali lebih dulu, tujuan utamanya adalah untuk menikah denganku.Äkhirnya Sim Long tak tahan.
"Apakah benar? Kau mau jadi istrinya?"
"Kau cemburu?"
Tanya Fifi dengan terkikik.
"Jangan kau lupa, betapa pun dia adalah ayahmu,"
Kata Sim Long. Senyuman manis Pek Fifi itu lenyap seketika, jawabnya sekata demi sekata.
"Justru lantaran dia adalah ayahku, makanya kunikah dengan dia."
Sim Long melenggong.
"Masa ... masa kau ...."
Kerlingan mata Fifi yang lembut itu mendadak berubah sejalang setan iblis, ucapnya dengan tersenyum keji.
"Masa belum dapat kau terka maksud tujuanku?"
Justru sudah dapat kuterka sebelum ini,"
Mendadak Ong Ling-hoa menimbrung.
¡Dapat dibayangkan, apabila Koay-lok-ong mengetahui istri tercintanya ternyata adalah putri kandung sendiri, tatkala mana rasa hatinya pasti lebih sakit daripada disayat-sayat.Ïa terbahak-bahak, lalu menyambung.
"Maklumlah, betapa kejamnya dia toh tetap manusia."
Fifi menyeringai.
"Nyata engkau dapat memahami maksudku .... Betapa darah yang mengalir dalam tubuh kami adalah golongan darah yang sama ... darah iblis, darah berbisa."
Betul darah berbisa ini adalah keturunannya tak tersangka justru akan meracuni dia sendiri,"
Seru Ling-hoa dengan tertawa. Miau-ji memandangi mereka dan mengirik, gumamnya.
"Sungguh luar biasa, ternyata ada saudara sedemikian dan ... dan ayah dan anak begini pula .... Jangan-jangan darah yang mengalir dalam tubuh mereka memang darah iblis? Darah berbisa demikian sungguh tidak boleh menurun lagi."
Yang kau benci kan cuma Koay-lok-ong saja, mengapa kau pun membikin susah kami? Mengapa? ...."
Teriak Jit-jit.
"Sesungguhnya ada permusuhan antara kami denganmu? ...."
Mengapa aku hendak membunuh kalian? ...."
Fifi menegas.
"Alasannya jelas tidak cuma satu."
"Alasan apa? Katakan, coba katakan!"
Teriak Jit-jit.
"Jika tidak kupersembahkan kalian kepada Koay-lok-ong, cara bagaimana dapat kurebut kepercayaannya kepadaku? Kalian adalah alat yang kugunakan untuk mendekati Koay-lok-ong, inilah alasan pertama."
Hm, masih ada alasan lain?"
Jengek Jit-jit.
"Tentu saja masih ada ...."
Jawab Fifi.
"Aku ini seorang yang bernasib malang, nasibku ini sudah ditakdirkan hanya kesedihan melulu, betapa pun tak dapat kusaksikan kalian hidup dengan bahagia."
Meski lambat ucapannya, namun mengandung rasa benci dan dendam yang hebat. Ia benci kepada setiap orang, bahkan benci dirinya sendiri. Ia menengadah dan tertawa latah.
"Kubenci tenagaku terbatas .... Apabila aku masih ada tenaga lagi, sungguh ingin kubunuh setiap manusia dunia ini, ingin kubunuh bersih seluruhnya."
Jika begitu, adakah yang menarik bagi hidupmu?üjar Jit-jit.
"Aku? Kau kira aku ingin hidup?"
Fifi tertawa terkekeh.
"Hehe, biar kuberi tahukan padamu, sejak aku mulai tahu urusan, hidupku sudah dimulai demi untuk mati. Jika hidup sedemikian susah dan sengsara, setiap saat aku hanya mengkhayalkan betapa senangnya mati."
Jit-jit memandangnya dan tidak bicara lagi.
"Masa di dalam hatimu juga cuma ada dendam dan benci melulu?"
Tanya Sim Long. Mendadak Fifi membalik tubuh dan menyiramkan arak dalam cawan yang dipegangnya, katanya dengan tertawa.
"Betul ... benci dan dendam, hanya dua hal ini saja dalam hidupku ini yang kupandang sebagai urusan yang menyenangkan .... Kematian dan dendam membuatku hidup ....Ïa tertawa terkekeh dan mundur keluar.
"blang", pintu batu segera merapat. Tapi di dalam kamar batu ini seakan-akan masih terus bergema suara tertawanya yang latah. ***** Benar juga, pada esok paginya Koay-lok-ong lantas meninggalkan taman hiburan ini. Rombongan berbentuk sebuah konvoi raksasa, kereta berderet-deret dan kuda berjumlah ratusan. Anak buah Koay-lok-ong ternyata begini banyak, padahal biasanya anak buahnya hampir tak terlihat, semua ini menandakan betapa keras disiplinnya anak buah Koay-lok-ong itu. Sejauh itu majikan taman hiburan "
Maha gembira"
Suami istri Li Ting-liong dan Coh Bin-kim tidak menampakkan diri lagi.
Meski Li Ting-liong sudah mati, tapi ke mana perginya Jun-kiau dan Coh Bin-kim?
Dengan sendirinya tidak ada orang perhatikan orang-orang semacam mereka.
Adalah jamak tempat tinggal Koay-lok-ong bisa mendadak kekurangan beberapa orang atau puluhan orang, apalagi yang menghilang adalah manusia yang tak berarti itu.
Konvoi besar itu terus menuju ke barat secara berbondong-bondong.
Sim Long, Cu Jit-jit, Him Miau-ji, Ong Ling-hoa, keempat orang ini berjubel di dalam sebuah kereta.
Di atas kereta empat lelaki kekar mengawasi mereka dengan ketat.
Padahal tanpa pengawasan juga mereka tidak mampu kabur.
Tubuh mereka sudah tertutuk beberapa tempat Hiat-to yang melumpuhkan sehingga tidak dapat berkutik sama sekali.
Hari cerah, debu mengepul sepanjang jalan yang dilalui konvoi.
Muka Sim Long sudah berlepotan debu, wajahnya kelihatan tidak secerah biasanya, namun senyuman yang selalu menghiasi ujung mulutnya tidak pernah berubah.
Biarpun perjalanan merupakan perjalanan maut dan malaikat elmaut sudah menyongsongnya tetap Sim Long akan tersenyum.
Menghadapi kematian dengan tersenyum kan jauh lebih baik daripada menangis.
Suara roda kereta yang gemuruh dan ringkik kuda yang riuh terus ramai setengah harian hingga tengah hari.
Mendadak seekor kuda merah berlari datang, wajah Pek Fifi muncul di luar jendela kereta, senyumnya kembali berubah lembut dan memikat.
Ia memberi tanda, segera seorang lelaki pengawal di atas kereta melompat turun.
"Apakah kau datang mengantarkan makanan?"
Tanya Ling-hoa.
"Ya, mana kutega membikin lapar kalian?"
Jawab Fifi.
Mendadak ia melemparkan sebuah bungkusan ke dalam kereta, ternyata berisi ayam bakar, daging panggang dan beberapa potong siopia.
Selama dua hari ini Ong Ling-hoa dan lain-lain boleh dikatakan tidak makan sesuatu, kini bau sedap makanan sungguh sangat merangsang dan membuat mereka mengiler.
"Hatimu sangat baik,"
Kata Ling-hoa dengan tertawa.
"Tapi bila tidak kau buka Hiat-to kami yang tertutuk, cara bagaimana kami dapat makan?"
Yang penting sudah kuberikan barang makanan, cara bagaimana makan adalah urusan kalian, tentunya tidak dapat kau minta kusuapi kalian bukan? Bisa jadi Koay-lok-ong akan cemburu,"
Jawab Fifi dengan tertawa.
"Tarr", ia ayun cambuk kuda dan tinggal pergi. Jadinya Ong Ling-hoa hanya memandangi makanan lezat itu dengan terbelalak saja tanpa bisa berbuat lain, tentu saja rasa demikian jauh lebih tersiksa daripada hukuman apa pun. Saking gemasnya dada Miau-ji hampir meledak, tapi dia juga tidak berdaya selain memandangi makanan itu dengan melotot. Kalau jari saja tidak dapat bergerak, apa mau dikatakan lagi? Entah selang berapa lama, terdengar suara tertawa merdu itu bergema lagi di luar kereta, kembali Pek Fifi melongok ke dalam kereta, sesudah memandang, katanya dengan tertawa.
"Ai, mengapa nafsu makan kalian sedemikian kecil, tampaknya makanan ini sama sekali tidak kalian sentuh, apakah kalian takut keracunan atau menganggapnya tidak enak dimakan?"
Segera tangannya terjulur, bungkusan makanan itu diangkatnya terus dilempar jauh ke sana.
Begitulah sepanjang jalan rombongan Sim Long telah disiksa secara begitu.
Agaknya Pek Fifi memang sengaja menyiksa mereka, rupanya hatinya baru akan senang bila menyaksikan orang tersiksa.
Sungguh sadis.
Hanya dua hari saja rombongan Sim-Long sudah tersiksa sehingga tak berbentuk manusia lagi, jelas Cu Jit-jit sudah jauh lebih kurus.
Meski si Kucing ingin mencaci maki, namun tenaga untuk bicara saja rasanya sudah habis.
Senja hari berikutnya, cahaya matahari senja menyinari pasir yang kuning gelap, entah dari mana datangnya gema suara nyanyian yang sendu, nyanyian kaum musafir.
"Waktu kecil sering kubayangkan betapa luas gurun pasir dan betapa terpencilnya kaum pengelana gurun, selalu kukhayalkan pada suatu hari aku sendiri dapat menjelajahi gurun ...."
Demikian si Kucing berkomentar.
"Dan sekarang engkau sudah berada di tengah gurun,"
Kata Ling-hoa. Rupanya waktu itu mereka sudah keluar Giok-bun-koan, pintu gerbang ujung barat tembok besar yang termasyhur itu.
"Ya, sekarang aku sudah berada di tengah gurun,"
Kata Miau-ji.
"Tapi di mana letak Giok-bun-koan yang megah itu? .... Mungkin selamanya takkan kulihat lagi."
Sekuatnya Jit-jit berteriak.
"Miau-ji, mengapa kau pun berubah sedemikian lemah dan patah semangat, di mana keberanianmu yang dulu?"
Ai, barangkali engkau tidak tahu bahwa di dunia ini hanya kelaparan yang paling cepat menghilangkan keberanian seorang,üjar Ling-hoa dengan gegetun.
Jit-jit tidak bicara lagi.
Tiba-tiba kereta kuda berhenti, di luar ada suara keleningan unta.
Beberapa pengawal itu membuka pintu kereta, Sim Long berempat diseret ke luar.
Di bawah cahaya matahari senja di jalan pasir sana tampak berderet sebarisan unta, beberapa di antaranya pada punuknya dipasang tenda kecil.
Sejauh mata memandang di depan hanya pasir belaka, itulah "Pek-liong-tuiätau pasir naga putih di luar Giok-bun-koan, setiba di sini, selangkah pun kereta kuda tidak dapat lagi meneruskan perjalanan.
Ketika beberapa lelaki pengawal bersuit, segera dua ekor unta mendekam ke bawah.
"Untuk apa ini?"
Tanya Miau-ji.
"Ini namanya perahu gurun, boleh kau naik,"
Jengek salah seorang lelaki itu sambil melemparkan Miau-ji ke dalam tenda kecil di atas punuk unta.
Dengan rawan Jit-jit memandang Sim Long sekejap, teringat olehnya bila dirinya masih dapat berjubel di dalam tenda kecil itu dengan Sim Long dan menyelesaikan perjalanan hidup yang terakhir ini, entah bagaimana rasanya nanti.
Sekonyong-konyong kelihatan Pek Fifi datang pula menunggang kuda, katanya dengan tertawa.
"Rasanya agak puitis juga menunggang unta melintasi gurun di bawah senja yang indah ini. Eh, Cu Jit-jit, kau ingin menumpang unta bersama siapa?"
Jit-jit menggigit bibir dan tidak bicara.
"Ah, engkau tidak mau menggubris diriku bukan? .... Baik!"
Mendadak Fifi menarik muka, dengan ujung cambuk ia tuding Ong Ling-hoa dan berkata.
"Taruh nona ini bersama dia di suatu tenda .... Nah, Ong Ling-hoa, tentunya kau harus berterima kasih padaku, bukan?"
Cambuknya berbunyi, sambil tergelak ia melarikan kudanya ke sana. Remuk redam hati Jit-jit, teriaknya parau.
"Pek Fifi, kumohon ... kumohon padamu .... Ini kan perjalanan kami yang terakhir, taruhlah diriku bersama Sim Long, mati pun kuterima kasih padamu."
Namun Fifi tidak berpaling lagi dan sudah pergi jauh.
"Sudahlah, biar pecah tenggorokan juga tiada gunanya engkau berteriak,"
Kata Ling-hoa.
"Padahal, aku dan Sim Long kan tidak banyak berbeda, apa salahnya kau anggap aku sebagai Sim Long saja?!"
Jit-jit tidak menggubrisnya, ia pandang Sim Long dengan putus asa, gumamnya gemetar.
"O, Sim Long ... Sim Long ...."
Sekarang ia tidak sanggup bicara apa-apa lagi, hanya berulang-ulang memanggil nama Sim Long, suaranya duka dan memilukan. Sim Long memandangnya dengan lembut dari atas unta yang lain, ucapnya.
"Jangan khawatir, perjalanan ini bukanlah yang terakhir bagi kita."
Tapi bagiku aku lebih suka mati sekarang,"
Seru Jit-jit dengan menangis.
"Jika aku mati sekarang, sedikitnya masih dapat kupandang dirimu."
Suaranya yang mengharukan lenyap terbawa angin puyuh yang mendadak berjangkit.
Tenda kecil di atas punuk unta itu dibuat di atas sepotong papan kecil, waktu unta berjalan, tenda itu pun ikut bergoyang-goyang.
Sim Long dan Miau-ji serupa berduduk di dalam sebuah perahu yang terombang-ambing oleh ombak, suara genta kedengaran sangat jauh di tengah angin yang menderu-deru.
Suara Jit-jit bahkan sudah hampir tak terdengar lagi.
Malam semakin larut, agaknya Koay-lok-ong ingin lekas-lekas pulang sehingga menempuh perjalanan di tengah malam.
Jilid 35 Entah berapa lama sudah lalu, akhirnya Miau-ji mengangkat kepala, remang-remang terlihat wajah Sim Long tetap tenang, sungguh kesabaran sukar ada bandingannya.
"Apa yang lagi kau pikirkan?"
Tanya Miau-ji tak tahan.
"Dalam keadaan begini, sebaiknya apa pun jangan kau pikir,üjar Sim Long.
"Tapi ... tapi apakah kita masih ada kesempatan untuk kabur?"
Selama hayat masih dikandung badan selama itu pula ada harapan,üjar Sim Long dengan tersenyum.
"Namun berapa lama lagi kita dapat hidup?"
Suara Miau-ji terasa parau.
"Melihat gelagatnya Pek Fifi tidak ingin membunuh kita, kalau tidak, tentu dia takkan mencegah tindakan Koay-lok-ong dengan kata-katanya itu. Mungkin dia merasa belum cukup menyiksa kita, sedangkan untuk menyiksa kita harus dilakukan pada waktu kita masih hidup, makanya dia takkan membunuh kita secara tergesa-gesa ...."
Tapi hidup semacam apa bedanya dengan mati, bahkan lebih baik mati saja,"
Seru Miau-ji.
"Ada bedanya,üjar Sim Long.
"Asalkan masih hidup, jelas berbeda dengan mati. Makanya jangan kita menyesal dan mencerca diri sendiri, kita harus membikin Pek Fifi merasa berharga menyiksa kita, dengan begitu barulah kita dapat hidup terus.Ïa tersenyum, lalu menyambung lagi.
"Selain itu juga diperlukan keyakinan, yang terpenting adalah percaya kepada diri sendiri. Dalam keadaan bagaimanapun kita harus yakin dan sanggup hidup terus. Hanya hidup saja yang paling berharga bagi manusia."
Miau-ji memandangnya, memandangi wajah yang kelihatan lembut, namun selamanya tidak pernah menyerah itu, memandangi senyumnya yang tidak pernah tunduk di bawah siksaan apa pun.
Angin meniup dengan dahsyatnya, menderu-deru serupa jerit setan iblis yang hendak merenggut nyawa orang.
Mendadak dari depan berkumandang suara teriakan lantang.
"Berhenti, berkemah .... Berhenti dan berkemah di sini!"
Suara aba-aba itu berturut-turut dari depan berkumandang terbawa angin menuju ke belakang, kafilah unta itu akhirnya berhenti seluruhnya.
Tapi Sim Long dan Miau-ji masih ditahan di dalam tenda kecil ini, agak lama kemudian barulah mereka dipindah keluar.
Selama menunggu ini mereka tidak mendengar sesuatu suara, tidak ada berisik orang bicara, juga tiada suara sesuatu benda digeser, terlebih tiada sesuatu suara ketokan dan sebagainya.
Tapi sekarang dapat dilihat mereka kemah Koay-lok-ong yang megah itu sudah dipasang di balik sebuah bukitan pasir untuk menghindari angin puyuh.
Di kedua sampingnya ada pula beberapa kemah yang lebih kecil.
Orang-orang lelaki mengantar mereka ke sebuah kemah yang paling kiri, di dalam kemah penuh macam-macam barang yang tak teratur.
Di pojok sana meringkuk satu orang, ternyata Jit-jit adanya.
Memang Jit-jit sedang menantikan kedatangan Sim Long, demi melihatnya, sorot mata si nona tampak penuh rasa duka dan harap-harap cemas.
Sayangnya Sim Long justru digusur ke pojok kemah yang lain, meski jarak mereka tidak terlalu jauh, tapi dalam pandangan Jit-jit rasanya seperti terpisah di ujung langit sana.
Meski dia menggunakan segenap tenaganya tetap tidak mampu menggeser ke sana sejengkal pun.
Terpaksa ia hanya dapat menyentuhnya dengan sinar matanya yang mesra saja.
"Jangan marah padaku, Sim Long, apa yang terjadi ini bukan kehendakku,"
Kata Ong Ling-hoa dengan menyesal. Sim Long tersenyum.
"Tidak ada orang yang menyalahkanmu."
Meski aku berada di dalam satu kemah bersama dia, tapi aku merasa sangat tersiksa,"
Tutur Ling-hoa dengan menyengir.
"Terus-menerus dia mendelik padaku, rasanya dia ingin sekali gigit memutuskan kerongkonganku.Ïa berhenti sejenak, lalu menyambung.
"Baru sekarang kutahu begini besar ketakutan bila dibenci seorang. Meski dia hanya mendelik padaku, tidak urung aku berkeringat dingin."
Kau takut padanya?"
Tanya Miau-ji tak tahan.
"Dengan sendirinya bukan kutakut padanya, kugentar kepada sinar mata yang penuh rasa dendam dan benci itu, sungguh mengerikan,"
Tutur Ling-hoa.
"Pernah kudengar orang bilang kekuatan yang lebih menakutkan daripada cinta di dunia ini adalah dendam. Baru sekarang kubuktikan ucapan ini memang tidak salah."
Ya, tidak salah, kekuatan yang paling besar di dunia ini adalah dendam,"
Tiba-tiba seorang menimpali.
Lenyap suaranya Pek Fifi pun muncul.
Dia memakai jubah panjang beledu warna emas, rambutnya yang terurai diikat dengan seutas pita warna emas sehingga kelihatan serupa putri gurun yang paling cantik.
Senyuman manis masih menghiasi wajahnya, tapi matanya yang jeli itu justru gemerdep menampilkan cahaya yang seram mengerikan.
Ia menyapu pandang wajah setiap orang, lalu berkata.
"Nah, sekarang tentu kalian sudah dapat merasakan betapa rasanya dendam."
Tidak ada yang menjawab, saking geregetan Jit-jit sampai tidak sanggup bicara lagi. Perlahan Fifi bicara pula.
"Caraku memperlakukan kalian hanya supaya kalian mencicipi bagaimana rasanya dendam dan benci. Sebelum ini, pernahkah kalian benci kepada seorang? ....Ïa mendekati Jit-jit, lalu berucap.
"Dan sekarang, apakah benar kau benci padaku?"
Jit-jit mengertak gigi dan melototnya tanpa bersuara.
"Kularang kau naik seekor unta bersama Sim Long, dalam pandangan orang lain urusan ini adalah soal kecil, tapi bagimu tentu soal besar dan kau jadi benci merasuk tulang padaku,ücap Fifi pula dengan tertawa.
"Ya, betul, kubenci ... kubenci padamu,"
Teriak Jit-jit.
"Padahal aku cuma memisahkan Sim Long darimu dan engkau lantas begini benci padaku,üjar Fifi.
"Tapi coba bayangkan, manakala ibumu dipaksa selama hidup tidak dapat bertemu dengan orang yang dicintainya sebab dia telah dinodai orang sehingga malu bertemu lagi dengan dia, akhirnya dia justru ditinggalkan pula oleh orang yang telah mencemarkan dia itu ...."
Fifi kelihatan emosional, dengan beringas ia menyambung pula.
"Dan jika engkau adalah anak yang dilahirkan dari hasil perbuatan kotor itu, dari dendamnya kepada orang yang membuatnya nelangsa dalam hidup ini, maka bencinya itu juga dialihkan kepadamu. Sebab itulah begitu engkau dilahirkan segera hidup dalam kebencian dan diliputi dendam tanpa cinta kasih, sampai satu-satunya orang yang paling erat denganmu, yaitu ibundamu juga benci padamu, padahal engkau sendiri sama sekali tidak berdosa ...."
Mendadak ia jambret baju Jit-jit dan berteriak histeris.
"Nah, coba bayangkan, jika cara begitulah engkau dibesarkan, lantas apa yang akan kau lakukan?"
Aku ... aku ...."
Terharu juga Jit-jit.
"Hm, Siocia yang biasa dimanjakan seperti dirimu tentu tidak dapat membayangkan hal yang kuceritakan ini,ücap Fifi pula dengan senyum pedih.
"Sebab itulah baru terjadi tidak dapat menumpang seekor unta bersama kekasihmu lantas kau rasakan sebagai hal yang paling menyedihkan dan ingin kau sayat-sayat orang yang memisahkan kalian itu."
Tidak ada pikiranku yang demikian itu,ücap Jit-jit dengan menunduk. Fifi tersenyum, katanya sambil melirik Sim Long.
"Jika dia menyatakan tidak ada pikiran begitu, mulai besok bolehlah dia berada satu tenda dengan Ong Ling-hoa saja."
Habis berkata ia lantas melangkah pergi dengan gemulai.
Sampai lama di dalam kemah tiada orang bersuara.
Tapi ada orang mengantarkan makanan dan air minum serta menyuapi mereka makan-minum, tapi mereka tetap tidak berbicara.
Entah selang berapa lama lagi, Miau-ji menghela napas dan bergumam.
"Dia memang gadis yang sampai detik ini aku sendiri tidak tahu apakah harus sayang atau benci padanya, mungkin ... dia harus dikasihani."
Pada saat itulah mendadak di luar kemah ada cahaya terang.
Sebatang panah berapi meluncur ke atas memecahkan kegelapan angkasa.
Bunga api yang membara buyar tertiup angin sehingga mirip hujan cahaya.
Segera melayang pula panah berapi kedua ke angkasa raya.
Dengan sendirinya Sim Long dan lain-lain yang berada di dalam kemah tidak dapat melihat pemandangan yang indah itu.
Mereka cuma mendengar denging panah yang meluncur ke udara berturut-turut, terdengar pula di kejauhan ada suara teriakan dan bentakan orang berkumandang terbawa angin.
"Apakah yang terjadi?"
Gumam Ling-hoa dengan kening bekernyit.
"Jangan-jangan ada orang menyerbu kemari?üjar Miau-ji.
"Memangnya siapa yang berani main gila dengan Koay-lok-ong?"
Kata Ong Ling-hoa. Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian.
"Meski betul begitu, tapi penduduk di daerah utara sini kebanyakan belum tinggi budayanya, bilamana melihat rombongan Koay-lok-ong yang mencolok ini, bukan mustahil mereka ingin tahu dan coba mengganggunya."
Betapa pun kejadian ini kan menguntungkan kita?üjar Miau-ji dengan tertawa.
"Hm, juga belum tentu,"
Jengek Ling-hoa.¡"
Orang biadab kan dapat berbuat apa pun ...."
Pada saat itulah mendadak seorang menyelinap masuk, dandanannya ringkas dan perawakannya jangkung, sinar matanya mencorong terang, jelas dia ini jago nomor satu dari pasukan Angin Puyuh itu.
Seketika Miau-ji mendelik.
"Mau apa kau datang kemari?"
Jago nomor satu itu tersenyum.
"Ongya mengundang kalian keluar."
Tengah malam buta, memangnya ada urusan apa?ücap Sim Long dengan tertawa.
"Mungkin di luar segera ada tontonan menarik, kan sayang jika kalian tidak ikut menyaksikannya?üjar si jago nomor satu.
"Selain itu, Ongya juga ingin Sim-kongcu menyaksikan kelihaian beliau."
Di luar kemah suasana sunyi senyap, setiap orang sama berselimut tebal dan berbaring, jelas sama tidur dengan nyenyak.
Di dalam kemah Koay-lok-ong yang megah itu terlihat ada cahaya lampu, tapi suasana juga hening, dan Sim Long berempat justru duduk di bawah bayang-bayang kemah yang gelap.
Suara teriakan dan bentakan tadi semakin dekat.
Sekonyong-konyong timbul juga suara derapan kaki kuda yang ramai, segerombol penunggang kuda dengan golok panjang terhunus menerjang tiba.
Orang-orang yang tadi kelihatan sedang tidur itu serentak melompat bangun, rupanya di balik selimut sudah siap busur dan panah, segera terdengar busur melenting dan terjadi hujan anak panah.
Dari balik gundukan pasir di sekeliling sana juga muncul lelaki kekar yang tidak sedikit, seketika rombongan penyerbu itu terjeblos di dalam kepungan.
Ada yang berteriak-teriak sambil memutar senjatanya, ada yang menjerit dan terjungkal dari kudanya.
Ada pula yang langsung menyerbu ke perkemahan, tapi segera dua barisan pengikut Koay-lok-ong memapak mereka.
Kedua regu ini bergolok dan membawa perisai yang terbuat dari rotan, golok mereka selalu mengincar kuda musuh.
Maka dalam sejenak saja terdengarlah suara ringkik kuda dan jerit tangis serta suara nyaring beradunya senjata menggema angkasa gurun.
Terjadilah banjir darah di gurun pasir.
Sementara obor pun sudah dinyalakan, tertampak para penunggang kuda itu sama memakai sepatu bot dan bermantel, muka pakai kedok kain putih, golok mereka berbentuk melengkung.
Meski dalam sekejap itu di pihak penyerbu ini jatuh korban sangat banyak, namun sisanya pantang menyerah, mereka masih terus menerjang ke depan.
Salah seorang anak buah Koay-lok-ong memapak maju dengan mengangkat perisai, sekonyong-konyong penunggang kuda itu mencabut sebatang lembing dari pelana kudanya, sambil berteriak dia terus menikam.
Betapa tajamnya lembing itu, tameng rotan ternyata tidak mampu menahannya, kontan orang itu terpantek di tanah.
Penunggang kuda itu masih terus menyerbu ke dalam kemah Koay-lok-ong.
Tiba-tiba terdengar suara "
Sret"
Disertai berkelebatnya sinar pedang, si jago nomor satu pasukan Angin Puyuh melayang lewat, seketika kepala si penunggang kuda tersisa separuh saja.
Darah lantas muncrat, namun penunggang kuda itu tidak terguling, kuda masih terus menerjang ke depan dan tampaknya segera akan menyerbu ke dalam kemah.
Tiba-tiba terdengar suara "sret"
Pula, si jago nomor satu kembali melayang tiba dari sana, sinar pedang berkelebat, kaki kuda sama terkutung dan roboh terjungkal sambil meringkik.
"Tampaknya inilah jago tempur dari barat, ternyata memang gagah berani,üjar Miau-ji.
"Tapi anak buah Koay-lok-ong juga tidak lemah,"
Kata Ling-hoa.
"Dalam keadaan demikian baru kentara mereka adalah pejuang yang sudah gemblengan dan tidak dapat diremehkan."
Ya, terlebih si jago nomor satu Angin Puyuh itu, bukan saja kungfunya lain daripada yang lain, kecerdasannya juga sangat tinggi, kelak orang ini pasti akan menjadi tokoh yang tidak boleh diabaikan,üjar Sim Long.
Tengah bicara, ratusan prajurit dari barat sudah tersisa separuh saja.
Mendadak dari kejauhan ada suara trompet, serentak kawanan penyerbu itu bersuit, kuda berputar terus membedal kembali ke sana.
"Minggir, berikan jalan supaya mereka kabur,"
Teriak si jago nomor satu. Debu pasir mengepul tinggi, suara teriakan riuh itu pun menjauh, pasir kuning yang telah berlumuran darah itu penuh bergelimpangan mayat dengan golok melengkung berserakan.
"Sungguh pertempuran banjir darah!"
Kata Miau-ji dengan gegetun.
"Hanya pertempuran semacam ini masakah masuk hitungan di gurun pasir?"
Tiba-tiba seorang menanggapi dengan gelak tertawa. Dengan langkah lebar Koay-lok-ong muncul dari kemahnya, sambil meraba jenggotnya ia berteriak.
"Wahai Liong-kui-hong, jika berani ayolah maju, mari kita coba-coba siapa yang lebih unggul."
Liong-kui-hong?"
Tanya Sim Long.
"Ya, kawanan penyerbu ini adalah gerombolan bandit yang paling kuat dan berpengaruh di gunung pasir sini, pemimpinnya berjuluk Liong-kui-hong (angin puyuh naga), juga hanya dia saja yang berani coba-coba merecoki aku,"
Kata Koay-lok-ong pula dengan tertawa.
"Orang macam apakah dia?"
Tanya Miau-ji.
"Aku sendiri belum pernah bertemu dengan dia,"
Jawab Koay-lok-ong.
"Apakah inilah serbuan mereka yang pertama kepadamu?"
Tanya Miau-ji pula. Koay-lok-ong tertawa, tuturnya.
"Mereka menganggap aku telah menduduki wilayah kekuasaan mereka, maka setahun yang lalu mereka sudah sering mengganggu ke sini. Cuma Liong-kui-hong itu mungkin juga gentar kepada namaku, mana dia berani langsung bergebrak denganku?"
Sebenarnya Liong-kui-hong juga seorang tokoh ajaib di gurun pasir ini, konon orang ini pergi datang tanpa meninggalkan jejak, siapa pun tidak pernah melihat wajah aslinya.
Terdengar Koay-lok-ong berkata pula.
"Biarpun Liong-kui-hong sering mengganggu kemari, tapi serbuan besar-besaran seperti hari ini memang baru pertama kali ini terjadi. Tampaknya sekarang meski mereka telah mundur, tapi pasti tidak rela dan malam nanti tentu akan datang lagi."
Meski berjumlah cukup banyak orang mereka yang menyerbu ini, namun jelas bukan kekuatan induk mereka,üjar Sim Long.
"Dan tokoh utama atau otak mereka tentu berada di belakang sana untuk mengatur siasat, makanya begitu mendengar suara trompet segera mereka mengundurkan diri."
Koay-lok-ong berkeplok tertawa.
"Haha, Sim Long memang tidak malu sebagai Sim Long, memang betul, serbuan gelombang pertama ini hanya bersifat menjajaki kekuatanku saja dan tidak bermaksud mencari menang. Sebab itulah begitu suara trompet berbunyi segera pasukan mereka ditarik mundur tanpa peduli kalah atau menang."
Ai, untuk penjajakan harus mengorbankan jiwa sebanyak ini, apakah imbalan ini tidak terlalu mahal?üjar Miau-ji dengan gegetun.
"Di medan perang, yang diharap hanya menang, peduli korban banyak apa segala, memangnya terhitung apa hanya beberapa puluh lembar nyawa saja?üjar Koay-lok-ong dengan tertawa.
"Tapi orang yang menggunakan tipu dan siasat demikian bukankah terlalu kejam?"
Kata Miau-ji pula.
"Sebagai seorang komandan, kalau tidak berhati keras, mana bisa menjadi panglima perang?üjar Ong Ling-hoa.
"Tampaknya Liong-kui-hong ini bukan cuma mahir mengatur peperangan, tapi akalnya jelas juga tidak lemah."
Justru ingin kulihat betapa tinggi kepandaiannya,"
Seru Koay-lok-ong dengan tertawa. Dan begitu berhenti suara tertawanya, mendadak ia membentak dengan bengis.
"Periksa prajurit yang menjadi korban!"
Cepat si jago nomor satu pasukan Angin Puyuh tampil ke muka dan melapor.
"Sudah diperiksa, Ongya."
"Bagaimana keadaannya?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Yang tewas tujuh orang dan luka-luka 13 orang, korban seluruhnya 20 orang,"
Lapor si nomor satu.
"Tapi pihak lawan jatuh korban berjumlah 117 orang."
Koay-lok-ong termenung sejenak, tiba-tiba ia bertanya.
"Eh, ke mana perginya nona Pek?"
"Tecu tidak melihatnya,"
Sahut si nomor satu.
"Apakah barisan sudah teratur baik?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Sesuai perintah Ongya sudah Tecu bagi menjadi 16 barisan dan empat regu pemanah, empat regu bergolok, empat regu perisai dan empat regu petombak, semuanya dipimpin oleh ketujuh anggota Angin Puyuh."
Pengintai sudah diatur?"
"Sudah, 20 orang di bawah pimpinan Samte sudah berangkat sejak tadi,"
Lapor pula si nomor satu.
"Bagus,"
Kata Koay-lok-ong puas. Cahaya api gemerdep, pasir berhamburan tertiup angin, bayangan manusia bergerak di sana-sini, suasana diliputi ketegangan. Koay-lok-ong berdiri santai di luar kemah, gumamnya.
"Medan perang ... inilah medan perang yang memabukkan setiap pahlawan dari zaman kuno hingga sekarang, rasanya aku pun ...."
Huh, tempat seperti neraka ini masakah dianggap memabukkan,"
Jengek Cu Jit-jit. Koay-lok-ong tertawa.
"Haha, rangsangan di medan perang masakah dapat dirasakan oleh anak perempuan serupa dirimu ini. Bilamana kau pegang kekuasaan besar, nasib beratus ribu orang tergantung kepada keputusanmu dalam sekejap, perasaanmu waktu itu tentu sukar lagi dilukiskan. Kesenangan yang kau dapat pun sukar diganti oleh apa pun."
Belum lenyap suaranya, tiba-tiba dari kejauhan muncul sesosok bayangan melayang datang secepat terbang. Para penjaga sama membentak.
"Hai, siapa? Berhenti!"
Keparat, masakah aku saja tidak dikenal lagi?"
Terdengar bayangan orang itu tertawa ngikik.
Di tengah suara tertawa merdunya Pek Fifi sudah hinggap di depan Koay-lok-ong.
Sekarang dia sudah berganti baju yang singsat, mukanya juga memakai cadar sutra tipis.
Koay-lok-ong tertawa cerah.
"Aha, ke mana kau pergi? Memang sedang kukhawatirkan akan dirimu."
Fifi menyingkap cadarnya dan menjawab dengan tertawa.
"Silakan Ongya menerka."
Wah, jangan-jangan kau pergi menyelidiki keadaan pasukan Liong-kui-hong?"
"Ai, Ongya memang orang maha berbakat, urusan apa pun tak dapat mengelabui mata Ongya,"
Seru Fifi sambil berkeplok tertawa.
"Liong-kui-hong bukanlah kaum bandit biasa,üjar Koay-lok-ong dengan suara lembut.
"kau pergi sendirian, bila terjadi apa-apa lantas bagaimana? Ai, untuk apa engkau harus menyerempet bahaya cara begini?"
Gembong iblis yang mahakuasa ternyata juga bisa berubah lembut di depan Pek Fifi. Dari sini terbuktilah bahwa Pek Fifi memang mempunyai daya pikat mahabesar. Terdengar Fifi berucap dengan tertawa.
"Diriku kan sudah milik Ongya, andaikan mati bagi Ongya juga tidak menjadi soal. Apalagi, kalau cuma orang-orang begitu saja masa mampu membunuhku?"
Haha, betul,"
Seru Koay-lok-ong sambil berkeplok tertawa.
"Kenapa kulupa Yu-leng-kiongcu kita yang pergi-datang tanpa meninggalkan jejak, kalau cuma seorang Liong-kui-hong saja mana terpandang olehnya."
Yang menakutkan memang bukan Liong-kui-hong,üjar Fifi.
"Yang menakutkan tentu saja engkau, bukan?"
Ah, kenapa Ongya jadi bergurau denganku."
"Pada saat menghadapi pertempuran seru kan perlu juga santai untuk mengendurkan saraf."
Tapi orang yang menakutkan yang kumaksudkan itu bukan Liong-kui-hong melainkan seorang lain lagi."
"Memangnya siapa?"
Tanya Koay-lok-ong, agaknya ia jadi tertarik.
"Kunsu (penasihat militer) mereka,"
Jawab Fifi.
"Kunsu?"
Koay-lok-ong berkerut kening.¡"
Liong-kui-hong juga mempunyai seorang Kunsu? Kenapa selama ini tidak pernah kudengar. Dan dari mana kau tahu hal ini?"
"Dengan sendirinya dapat kudengar dari anak buah Liong-kui-hong."
Apa yang kau dengar?"
"Dari percakapan mereka yang kudengar secara diam-diam, nyata Liong-kui-hong dipandang mereka sebagai pahlawan pujaan mahahebat, tapi terhadap Kunsu itu mereka terlebih memuja serupa malaikat."
Memangnya bagaimana bentuk Kunsu mereka itu?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Kemah kediaman Liong-kui-hong dan Kunsu itu dijaga dengan sangat ketat, siapa pun jangan harap akan menyusup ke sana. Dengan sendirinya aku pun tidak dapat melihat dia."
Apakah telah kau peroleh namanya?"
Tanya Koay-lok-ong lagi.
"Diam-diam kupancing keluar seorang pengintai mereka, lelaki itu cukup kepala batu juga, betapa pun kupaksa dengan kekerasan dan kupancing dengan harta benda tetap dia tidak mau buka mulut."
Tentu engkau mempunyai cara baik untuk membuatnya buka mulut,üjar Koay-lok-ong dengan tertawa. Fifi tersenyum manis.
"Memang tidak sulit bagiku untuk membuatnya bicara, begitu kusingkap cadarku dan tersenyum padanya, maka apa pun dituturkan seluruhnya."
Koay-lok-ong meraba jenggot dan tergelak,"
Ya, tentu saja bicara, di dunia ini mana ada lelaki yang tahan terhadap senyumanmu."
"Kenapa tidak ada, sedikitnya ada dua-tiga orang di sini,"
Seru Jit-jit gemas. Koay-lok-ong tidak menggubrisnya, katanya pula.
"Dan apa yang diceritakannya?"
Menurut keterangannya, Kuncu itu seorang tokoh misterius, belum-lama dia masuk dalam komplotan Liong-kui-hong, selain Liong-kui-hong menaruh kepercayaan penuh kepadanya, orang lain juga sangat kagum padanya.
Cuma sepanjang hari orang ini selalu memakai mantel hitam, bahkan mukanya memakai kedok sehingga siapa pun tidak tahu wajah aslinya."
"Siapa namanya?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Dia tidak bernama, tapi mengaku berjuluk Hok-siu-sucia (Duta Penuntut Balas),"
Tutur Fifi sekata demi sekata. Koay-lok-ong melengak.
"Hok-siu-sucia? .... Jangan-jangan dia mempunyai dendam apa-apa terhadapku? Sebabnya Liong-kui-hong melakukan serbuan besar-besaran ini jangan-jangan atas hasutannya."
Tampaknya memang begitu,üjar Fifi.
"Dia mengaku berjuluk Hok-siu-sucia dan menyembunyikan nama aslinya, juga tidak mau memperlihatkan wajah aslinya kepada umum, setiap gerak-geriknya selalu misterius, jangan-jangan dia sudah kukenal?"
Kata Koay-lok-ong.
"Apakah Ongya tidak dapat menerka siapa dia?"
Tanya Fifi.
"Bahwa dalam waktu singkat dia dapat membuat bandit besar semacam Liong-kui-hong itu menaruh kepercayaan penuh kepadanya, juga dari tindak tanduknya jelas dia seorang yang cerdas, licin dan juga keji, sungguh aku tidak dapat menerka siapa aslinya dia."
Musuhmu terlampau banyak, dengan sendirinya tak dapat kau terka siapa dia,ëjek Jit-jit. Karena pikirannya lagi melayang jauh, Koay-lok-ong tidak menghiraukan ucapan Jit-jit, kembali ia tanya Fifi.
"Selain itu, apa pula yang dapat kau selidiki?"
Kulihat pengikutnya, selain pasukan yang baru kembali dari kekalahan di sini, jumlah mereka tidak ada 200 orang, tampaknya tidak begitu kuat."
"O, jumlah mereka tersisa kurang dari 200 orang, agaknya aku telah menilai terlampau tinggi terhadap dia,üjar Koay-lok-ong.
"Sebab itulah saat ini mereka pun tidak berani sembarangan bergerak, mereka seperti lagi menunggu kesempatan. Namun semangat tempur mereka sangat tinggi, agaknya masih hendak melancarkan serangan kedua,"
Tutur Fifi. Gemerdep sinar mata Koay-lok-ong, serunya.
"Menunggu kesempatan? .... Hm, masa akan kuberi kesempatan kepadanya?"
Habis apa rencana Ongya?"
Tanya Fifi.
"Mengatasi lawan lebih dulu, menyerang sebagai pertahanan, serbu dia dalam keadaan belum siap,üjar Koay-lok-ong. Fifi berkeplok.
"Haha, memang betul! Serbu dia selagi belum siap dan tentu akan menang. Siasat Ongya memang sukar dibandingi orang lain."
Wahai Sim Long, coba lihat bagaimana dengan rencanaku ini?ücap Koay-lok-ong tiba-tiba sambil menoleh.
"Ya, memang tidak malu untuk disebut sebagai berbakat panglima perang,üjar Sim Long dengan gegetun.
"Masa cuma berbakat panglima perang saja?"
Kata Koay-lok-ong.
"Memangnya panglima perang dari zaman dulu hingga sekarang adakah yang dapat melebihi diriku."
Ya, kalau bicara tentang keji dan ketekunan memang tidak ada yang melebihimu,üjar Sim Long.
"Itu dia, cukup pujian sepatah kata Sim Long saja melebihi sanjung puji ribuan kata orang lain,"
Seru Koay-lok-ong dengan tertawa. Mendadak ia membentak.
"Ambilkan arak!"
Akan kutuangkan arak bagi Ongya,ücap Fifi dengan senyum menggiurkan. Koay-lok-ong bergelak tertawa.
"Setelah kuminum arak segera akan kuserang dia sehingga kalang kabut."
Segera Fifi menuangkan secawan arak penuh dan disuguhkan dengan tangan sendiri. Sekali tenggak Koay-lok-ong menghabiskan isi cawan itu, lalu membentak,¡"
Di mana nomor satu?"
"Tecu siap!"
Seru si nomor satu sambil tampil ke muka.
"Atur pasukan, siap tempur,"
Teriak Koay-lok-ong. Si nomor satu mengiakan. Belum lagi dia mengundurkan diri, tiba-tiba terdengar derapan kuda lari, seorang penunggang kuda muncul secepat terbang. Kawanan penjaga sama membentak.
"Siapa itu? Turun!"
Penunggang kuda itu mengibarkan bendera putih dan berteriak.
"Atas perintah Pangcu, kudatang untuk minta menyerah!"
Si nomor satu tertawa, katanya.
"Haha, belum lagi bertempur mereka sudah menyerah."
Kening Koay-lok-ong bekernyit, bentaknya.
"Biarkan dia kemari?"
Cepat penunggang kuda itu membedal kudanya ke depan, lalu melompat turun dan menyembah.
"Kasihan Ongya .... Kasihan Ongya! "
Apakah kalian mau menyerah?"
Tanya Koay-lok-ong. Berulang-ulang orang itu menyembah.
"Kebesaran Ongya laksana rembulan dan matahari di angkasa, Pangcu kami menyadari cuma cahaya kunang-kunang saja sukar menandingi cahaya matahari, sebab itulah hamba diutus kemari untuk minta menyerah, selanjutnya kami rela di bawah perintah Ongya."
Koay-lok-ong bergelak tertawa.
"Haha, Liong-kui-hong tidak malu sebagai seorang pintar, jika sekarang dia tidak menyerah, sebentar lagi mungkin kalian akan mati tak terkubur."
Mohon ampun, Ongya,"
Seru orang itu sambil menyembah pula.
"Baik, sekarang boleh kau pulang, suruh mereka berbaris dan berlutut di tanah, segera kudatang menerima penyerahan kalian,"
Kata Koay-lok-ong.
"Terima kasih atas budi kebaikan Ongya,örang itu memberi hormat pula, lalu mengundurkan diri, sekali cemplak ke atas kudanya segera dilarikan kembali ke sana. Sesudah orang itu pergi, dengan tertawa Koay-lok-ong berkata.
"Wahai, Liong-kui-hong, apakah benar kau seorang cerdik?"
Fifi memandangnya dengan tersenyum, katanya.
"Apakah Ongya ...."
Ya, tentu saja kusiap menyerbu mereka,"
Teriak Koay-lok-ong mendadak, suara tertawanya pun lenyap.
"Jika mereka mau menyerah, mengapa kita menyerangnya pula?üjar si nomor satu dengan bingung.
"Jika mereka siap menyerah, tentu mereka terlebih tidak berjaga-jaga, kesempatan ini justru akan kugunakan untuk menyikat mereka habis-habisan,ücap Koay-lok-ong dengan bengis.
"Aha, Ongya memang berpandangan jauh,"
Kata si nomor satu dengan kejut-kejut girang.
"Siasat tidak melarang kelicikan, membasmi musuh harus tuntas, inilah gaya pekerjaanku selama ini,"
Seru Koay-lok-ong dengan tertawa.
"Betul,"
Sambung si nomor satu.
"Orang semacam ini tentu saja tidak boleh dibiarkan hidup, membabat rumput harus sampai akar-akarnya."
Dengan langkah lebar Koay-lok-ong menuju ke luar, serunya.
"Sisakan dua regu untuk menjaga di sini, selebihnya ikut kuserbu musuh, bilamana musuh sudah disikat habis, boleh coba siapa lagi yang berani memusuhi diriku." ***** Begitulah Koay-lok-ong dan Pek Fifi lantas berangkat dengan membawa pasukannya. Angin meniup semakin kencang.
"Sungguh keji dan kejam Koay-lok-ong ini,ömel Miau-ji. Sim Long tersenyum, katanya.
"Tapi kali ini mungkin dia akan terjebak."
"Terjebak?"
Miau-ji menegas dengan heran.
"Ya, kepergiannya ini tentu akan menubruk tempat kosong,"
Kata Sim Long. Miau-ji tambah heran.
"Memangnya kenapa¡"
Pernyataan menyerah Liong-kui-hong ini jelas cuma pura-pura belaka,üjar Sim Long dengan tertawa.
"Kau lihat orang yang diutus kemari itu, meski dia berlagak takut-takut, tapi gerak-gerik dan tutur katanya cekatan, sama sekali tidak ada tanda gugup dan takut, mana bisa menyerah dengan sungguh hati."
Tapi ... tapi mereka ...."
"Mereka sembari pura-pura menyerah, di lain pihak juga mengerahkan pasukannya, asalkan pihak Koay-lok-ong menubruk ke sana, mereka pasti juga akan menyerbu ke sini,"
Tutur Sim Long dengan tertawa.
"Ini namanya licik dibalas licik, gigi dibayar gigi."
Kiranya tipu yang mereka gunakan adalah 'memancing harimau meninggalkan gunung'üjar Miau-ji dengan tertawa.
"Betul,"
Kata Sim Long.
"Tapi dari mana mereka tahu Koay-lok-ong ...."
Tampaknya Kunsu mereka itu selain tipu akalnya tidak di bawah Koay-lok-ong juga sangat kenal watak lawannya ini, sebelumnya sudah diperhitungkan kemungkinan apa yang akan dilakukan makanya diatur tipu begini."
"Kedua orang ternyata sama lihai dan sama pintarnya,üjar Jit-jit tertawa.
"Cuma Koay-lok-ong hanya tahu pihak sendiri dan tidak paham pihak lawan, maka pertempuran ini dia pasti akan kalah,"
Kata Sim Long.
"Betul, dia kenal watak Koay-lok-ong, sebaliknya siapa dia belum lagi diketahui Koay-lok-ong, tanpa bertempur Koay-lok-ong memang sudah kalah,"
Tukas Miau-ji.
"Jika Koay-lok-ong mempunyai Kunsu serupa Sim Long tentu dia takkan kalah,üjar Jit-jit dengan tersenyum bangga.
"Dia hanya pintar membual dan omong besar, padahal dia tidak dapat membandingi sebuah jari Sim Long pun."
Tiba-tiba Ong Ling-hoa mendengus.
"Hm, semoga Kunsu itu tidak sepintar Sim Long, mudah-mudahan juga terkaan Sim Long tidak kena."
Jika Kunsu itu mengaku berjuluk Hok-siu-sucia, bila bertarung dengan Koay-lok-ong, dapat dibayangkan dia pasti akan menang, kalau tidak kan julukannya akan berubah menjadi Sang-si-sucia (Duta Pengantar Mati)?üjar Sim Long dengan tersenyum.
"Bilamana dia sepintar dugaanmu, tentu kita pun akan celaka,ücap Ling-hoa dengan menghela napas panjang. Jit-jit melengak.
"Kenapa kita bisa celaka?"
Ling-hoa tidak bicara lagi melainkan cuma memandang ke depan.
Tidak jauh di depan sana ada beberapa orang bergolok sedang meronda mondar-mandir mengawasi gerak-gerik mereka, cuma apa yang mereka bicarakan tidaklah terdengar.
Setelah Jit-jit berpikir sejenak, mendadak air mukanya berubah dan berkata.
"Ya, betul, kita bisa celaka."
"Oo, masa betul?"
Tanya Sim Long.
"Coba bayangkan, jika pasukan berkuda Liong-kui-hong menyerbu kemari, penjaga di sini pasti tidak mampu melawan mereka, dan kalau Hok-siu-sucia datang untuk menuntut balas sesuai julukannya, tentu dia akan main sikat, segala sesuatu di sini pasti akan disapu habis."
Betul, tatkala mana kita pun pasti akan terbunuh semua,"
Tukas Miau-ji.
"Biarpun kita berusaha memberi penjelasan pasti juga takkan dipercaya mereka."
Jika begitu, lantas bagaimana baiknya, Sim Long?"
Tanya Jit-jit khawatir.
"Jangan gelisah,üjar Sim Long dengan tersenyum.
"Bisa jadi kita masih ada harapan akan hidup."
Bicara sampai di sini mendadak ia berteriak.
"Hai, kawan yang berada di sana, maukah coba kemari sebentar¡"
Para peronda itu saling pandang sekejap, tampaknya komat-kamit sedang berunding, kemudian ada dua orang menuju ke sini, yang seorang bertubuh tinggi besar, seorang lagi kurus jangkung.
"Untuk apa kau panggil kami?"
Tanya si kekar dengan garang.
"Angin di sini meniup terlampau kencang, apakah boleh kami minta pertolongan Toako agar kami dipindahkan ke belakang sana yang terhalang dari tiupan angin serta sukalah memberi kami beberapa lembar selimut,"
Pinta Sim Long dengan sopan. Si kekar terkekeh.
"Hehe, orang sama bilang engkau ini lelaki baja, tak tersangka tubuhmu lebih lemah daripada anak dara, angin saja tidak tahan."
Meski di mulut berolok-olok, tapi sikapnya kelihatan akan memenuhi permintaan Sim Long. Si kurus ikut bicara.
"Ongya berulang memberi pesan kepada kita bahwa beberapa orang ini lebih daripada siluman rase, kita disuruh jangan gegabah. Kukira tidak perlu kita gubris permintaannya."
Si kekar menjawab.
"Kulihat mereka pantas dikasihani, apalagi sekarang mereka tidak dapat bergerak sama sekali, memangnya apa yang dapat mereka perbuat atas diri kita? Apa salahnya kita berbuat amal sedikit?"
Engkau berkuasa?"
Jengek si kurus.
"Jika Toako tidak berkuasa, biarlah ...."
Belum lenyap ucapan Sim Long, mendadak si kekar berteriak.
"Dengan sendirinya aku berkuasa, yang bertanggung jawab juga aku."
Dengan marah-marah ia menuju ke sana dan memanggil lagi tiga orang temannya, serentak Sim Long berempat dipindah ke belakang kemah yang terhalang dari embusan angin.
Cahaya lampu juga tidak dapat menyinari mereka.
Setelah orang-orang itu pergi, tak tahan Jit-jit berkata.
"Di sini mungkin juga tidak aman."
Dengan sendirinya tidak aman, tapi kan jauh lebih baik daripada di depan sana,üjar Sim Long.
"Jika tetap berada di sekitar kemah ini, di depan dan di belakang kan tidak banyak bedanya."
Tentu ada bedanya,"
Kata Sim Long.
"Di sini tidak diterangi oleh cahaya lampu, pada waktu pasukan Liong-kui-hong menerjang tiba tentu takkan memerhatikan tempat ini. Yang paling penting, bagian depan kemah ini terpantek sangat kencang, bagian belakang menggandul, bilamana pasukan Liong-kui-hong menerjang kian kemari, sedikitnya tali tambatan kemah ini akan tertebas putus dan kemah ini akan ambruk, karena berat belakang, kain kemah akan roboh ke belakang dan kita pasti juga akan tertutup di sini."
Jit-jit tertawa senang, belum lagi dia bicara Ong Ling-hoa lantas berucap dengan gegetun.
"Ai, di sinilah letak keunggulan Sim Long, yaitu cermat dan teliti, tindakannya terhadap setiap urusan sangat mendetail, setitik pun tidak terlepas dari pemikirannya. Kecuali dia, tidak pernah kulihat ada orang dapat berpikir secermat ini."
Bicara sampai di sini, mendadak terdengar suara gemuruh kuda lari dari sana, agaknya semula rombongan penunggang kuda itu berjalan perlahan, sesudah dekat baru mendadak dibedal secepatnya.
"Ternyata benar sudah datang,"
Kata Miau-ji.
"Dugaan Sim Long memang tidak keliru,"
Tukas Jit-jit dengan tertawa, tertawa yang mengandung kejut, entah girang atau khawatir.
Segera terdengar teriakan panik para penjaga tadi.
Penjaga itu menyangka Koay-lok-ong pasti akan menang, saat ini pihak musuh mungkin sudah tersapu bersih, mimpi pun mereka tidak menduga akan terjadi perubahan demikian.
Penjagaan mereka memang sudah kendur, bahkan ada di antaranya sedang mengantuk, sesudah musuh menyerbu tiba barulah mereka melompat bangun dengan gugup dan bingung mencari senjata masing-masing, ada juga yang menjerit kaget karena tidak tahu apa yang terjadi.
Dalam pada itu suara teriakan serbu sudah menggema angkasa, pasukan berkuda menerjang datang dengan cahaya golok gemerlapan serupa gelombang laut mendampar tiba.
Anak buah Koay-lok-ong ada yang belum sempat meraih senjata sudah keburu kepala dipenggal musuh, ada yang belum sempat memanah, tahu-tahu dada sudah ditembus tombak.
Seketika keadaan menjadi kacau, anak buah Koay-lok-ong menjadi panik dan banyak yang terinjak-injak oleh pasukan berkuda itu.
Terdengar ringkik kuda dan jerit tangis membuat orang ngeri.
Serentak sebagian anak buah Koay-lok-ong melarikan diri.
Tapi belum lagi berapa jauh mereka mendadak seorang membentak di depan.
"Melarikan diri di garis depan hukumannya mati, ayo berhenti!"
Suara bentakannya tidak keras, tapi mengandung semacam nada yang membuat orang merinding.
Beberapa orang itu sama ketakutan, waktu mendongak, tertampak di atas gundukan pasir sana berdiri dua penunggang kuda berjajar.
Kedua ekor kuda mereka berwarna hitam dan putih, yang berkuda putih berikat kepala putih dan berkedok putih pula, semuanya serbaputih, serupa badan halus dari neraka.
Yang bermantel hitam juga menunggang kuda hitam, ikat kepala hitam dan berkedok hitam, kecuali sinar matanya yang serupa mata hantu itu ada bagian putihnya, seluruh tubuhnya sama diliputi warna hitam yang misterius.
Jika si penunggang kuda warna putih serupa badan halus, si penunggang kuda warna hitam adalah setan dari neraka.
Kedua penunggang kuda ini sama diliputi hawa pembunuhan yang menyeramkan.
Saking ketakutan beberapa lelaki itu tidak sanggup merangkak bangun, dengan suara gemetar mereka bertanya.
"Sia ... siapa kalian?"
Hehe, masakah tidak dapat kau terka siapa diriku?ücap si penunggang kuda putih.
"Hah, jangan ... jangan engkau inilah Liong-kui-hong?"
Seru orang itu.
"Betul,ücap si penunggang kuda putih dengan tertawa. Waktu pandangan lelaki itu beralih ke arah si penunggang kuda hitam, mendadak ia bergemetar.
"Kau ... kau ...."
Berulang ia menyebut "
Kau", tapi tidak dapat melanjutkan, sorot mata si penunggang kuda hitam seakan-akan dapat membetot sukma.
"Hok-siu-sucia", tidak pernah disangsikan lagi penunggang kuda hitam inilah si Duta Penuntut Balas. Meski hal ini sudah diketahuinya, tapi tidak dapat diucapkan. Walaupun orang-orang itu ingin lari, celakanya kaki seperti tidak mau menurut perintah lagi.
"Kalian sudah tahu siapa dia?"
Tanya Liong-kui-hong dengan tertawa. Beberapa orang itu sama mengangguk dan tetap tidak sanggup bersuara.
"Kalau sudah tahu, apakah kalian masih ingin hidup?"
Serentak beberapa orang itu menyembah dan berseru dengan gemetar.
"Am ... ampun, mohon ... mohon ampun!"
Kalian minta ampun padaku?"
Baru sekarang si penunggang kuda hitam berucap sekata demi sekata.
"Ya, mohon ... mohon ...."
Mendadak si penunggang kuda hitam mendengus, suaranya dingin mengerikan, kebetulan ujung kedoknya tersingkap sedikit.
"Coba kalian lihat siapakah aku?"
Sekilas beberapa orang itu seperti melihat setan, tubuh mereka tambah menggigil dan menjerit bersama.
"Hah, kiranya eng ... engkau ...."
Baru saja mereka bersuara, mendadak tiga titik sinar tajam menyambar keluar dari mantel hitam, terdengar "
Plak-plok-plak"
Tiga kali, semuanya mengenai dada mereka.
Sambil menjerit ketiganya lantas roboh terkulai.
Mata si penunggang kuda hitam sama sekali tak berkedip, sorot matanya yang dingin menampilkan rasa senang, sikapnya serupa orang yang baru menggites mati tiga ekor semut dan sama sekali bukan soal baginya.
Liong-kui-hong lantas berseru dan tertawa.
"Haha, sungguh senjata rahasia yang cepat dan jitu!"
Si penunggang kuda hitam hanya mendengus saja tanpa menoleh.
"Meski selama ini engkau tidak mau memperlihatkan kepandaianmu, tapi dari caramu menyambitkan senjata rahasia ini sudah dapat kuduga engkau pasti orang yang mempunyai asal-usul tertentu, mengapa engkau mesti menyembunyikan asal-usul sendiri?"
Tanya Liong-kui-hong dengan tertawa.
Kembali si baju hitam hanya mendengus saja.
Sementara itu ketiga orang yang masih berkelojotan tadi sekarang sudah tidak bergerak lagi, jelas nyawa mereka sudah amblas.
Liong-kui-hong memandang mereka dan berkata pula.
"Sebelum mati ketiga orang ini seperti mengenali dirimu, bukan?"
Lagi-lagi si baju hitam hanya mendengus.
"Kenapa anak buah Koay-lok-ong bisa kenal padamu?"
Hmk!"
Dengus si baju hitam pula. Tanpa terasa Liong-kui-hong memandang sorot mata orang yang dingin tajam itu, tiba-tiba ia menghela napas.
"Selama sebulan ini tentunya dapat kau rasakan kuanggap dirimu sebagai sahabat sejati, mengapa segala urusanmu tetap kau rahasiakan bagiku?"
Hmk,"
Kembali si baju hitam mendengus.
"Malahan, sampai saat ini namamu saja tidak kau beri tahukan padaku."
Kan cukup asalkan kau tahu dapat kubantu padamu mengalahkan Koay-lok-ong.Ïa memandang jauh ke depan sana, ke medan perang yang sedang berlangsung pertempuran sengit dan pembunuhan tanpa kenal ampun itu.
Bara balas dendam sedang berkobar dalam rongga dadanya.
"Betul, sebenarnya cukup bagiku asal sudah tahu hal ini, engkau memang sudah berhasil mencekik leher Koay-lok-ong dan memberinya pukulan maut,üjar Liong-kui-hong.
"Tidak, lehernya belum kucekik, baru ekornya saja yang kuinjak, ini belum terhitung pukulan maut, pukulan yang mematikan harus kulakukan pada babak terakhir."
Apa pun juga sekali ini sudah cukup membuatnya kesakitan,üjar Liong-kui-hong dengan tertawa.
"Sejak kemunculan Koay-lok-ong mungkin belum pernah dia rasakan pukulan seberat ini."
Soalnya nasibnya memang lagi mujur,"
Jengek si baju hitam.
"Dan sekarang nasibnya mungkin akan berubah jelek,üjar Liong-kui-hong.
"Betul, nasibnya memang akan berubah, cuma belum juga terhitung buruk,"
Kata si baju hitam.
"Sebab apa?"
Sebab belum lagi kutemukan satu orang."
"Menemukan satu orang?"
Liong-kui-hong menegas dengan bingung.
"Ya, jika dapat kutemukan, maka nasib Koay-lok-ong akan benar-benar maha buruk."
Mencorong sinar mata Liong-kui-hong, tanyanya cepat.
"Siapakah orang ini?"
Tidak kau kenal,"
Kata si baju hitam. ¡Tapi ... tapi di manakah akan kita temukan dia?" ¡Jika orang ini tidak mau unjuk diri, siapa pun di dunia ini takkan menemukan dia."
Liong-kui-hong menghela, napas, tapi dia belum lagi putus asa, ia tanya pula.
"Apakah dia akan muncul di sini?"
Mungkin,"
Kata si baju hitam. ¡ Jika sudah bertemu, harap diminta agar dia suka membantuku."
"Hm, orang ini serupa naga sakti yang sukar diraba jejaknya, hanya dirimu masakah juga ingin menarik dia bekerja bagimu?"
Jengek si baju hitam. Liong-kui-hong melenggong.
"Tapi engkau ...."
Dibandingkan dia, memangnya terhitung apa diriku ini?"
"Tapi semoga dia juga tidak akan ditarik ke pihak Koay-lok-ong."
Jika dia bekerja bagi Koay-lok-ong, saat ini kita berdua tentu sudah mati tak terkubur,üjar si baju hitam.
"Hah, masakah dia begitu lihai?"
Terkesiap juga Liong-kui-hong.
"Sungguh sayang tak dapat kulukiskan betapa tinggi kungfu dan betapa cerdik kepintarannya."
Adakah hubungan baik antara Koay-lok-ong dengan dia?"
Tanya Liong-kui-hong cepat.
"Satu-satunya orang yang ingin dibunuhnya ialah Koay-lok-ong,"
Tutur si baju hitam.
"Hah ...."
Kejut dan girang Liong-kui-hong, gumamnya.
"Sungguh aku rela memenggal sebelah tanganku asalkan dapat mengetahui saat ini dia berada di mana? ...."
Kukira, dia pasti takkan berada terlalu jauh ....ücap si baju hitam.
***** Dalam pada itu suara teriakan dan jeritan sudah mulai mereda.
Anak buah Koay-lok-ong yang ditinggalkan berjaga di sini sudah berubah menjadi mayat.
Ketika seorang penyerbu membedal kudanya lewat di samping kemah, segera kemah megah yang melambangkan kemewahan dan wibawa itu ambruk, lampu pun jatuh dan api berkobar.
Dalam sekejap saja api lantas menjalar, seketika perkemahan anak buah Koay-lok-ong itu berubah menjadi lautan api.
Teriakan dan sorakan kemenangan menggema angkasa, terkadang terdengar juga suara rintihan yang luka parah, mayat bergelimpangan terinjak-injak kaki kuda dari darah membasahi gurun pasir.
Sorot mata si baju hitam yang membara tadi mulai padam, katanya kemudian dengan dingin.
"Koay-lok-ong sudah waktunya pulang."
"Tarik pasukan?"
Tanya Liong-kui-hong.
"Ehm,"
Jawab si baju hitam.
Segera Liong-kui-hong membunyikan trompet tanduk dan mengumpulkan anak buahnya.
Pertempuran ini tidak banyak jatuh korban di pihaknya, beratus penunggang kuda bersorak-sorai memuji kebesaran Liong-kui-hong atas kemenangan ini.
Liong-kui-hong tertawa senang.
"Apakah tidak terlalu dini tertawa senang sekarang?"
Jengek si baju hitam. Seketika Liong-kui-hong berhenti tertawa.
"Memangnya apa yang perlu kita lakukan sekarang, harap Kunsu suka memberi perintah."
Mundur!ücap si baju hitam.
"Semangat tempur pasukan kita sedang berkobar, masakah mundur malah?"
Ya, kubilang mundur!ücap si baju hitam sekata demi sekata.
Liong-kui-hong menghela napas,¡ "Baiklah, mundur juga boleh, cuma ...
setelah mundur tentu akan merendahkan semangat tempur pasukan, jika Koay-lok-ong mengejar ...."
Anak buah Koay-lok-ong menggunakan unta,"
Kata si baju hitam.
"Kenapa jika menggunakan unta?"
Sama sekali Koay-lok-ong tidak menduga lawan akan menyerangnya, kalau tahu tentu dia takkan menggunakan unta, sebab meski unta tahan menjelajah jauh, tapi untuk kejar-mengejar dan serang-menyerang tidak selincah kuda."
"Kenapa kita tidak ... tidak melabrak dia saja sekarang?"
Hm, memangnya kau kira Koay-lok-ong itu orang macam apa?"
Jengek si baju hitam.
"Orang macam apa pun dia, jika serangannya ini menubruk tempat kosong, tentu dia akan malu dan gemas, pasukannya pasti akan patah semangat dan pulang dengan lesu, kan kebetulan bagi kita untuk memberi pukulan terlebih keras?"
Hm, jika kau ukur dia seperti orang biasa, mungkin kalian akan mati tak terkubur,"
Jengek si baju hitam.
"Setelah dia menubruk tempat kosong, dia takkan malu dan marah, sebaliknya pasti akan menyusun kekuatannya terlebih rapi. Sedangkan anak buahmu kan sudah lelah setelah pertempuran ini, sedikit-banyak anak buahmu akan tinggi hati atas kemenangan yang diperoleh. Dalam keadaan letih dan lengah, menghadapi lawan yang mengalami kekalahan dan nekat, pasti pihakmu akan kalah habis-habisan."
Ah, betul juga ...."
Liong-kui-hong mengangguk-angguk.
"Kalau tidak diberi petunjuk Kunsu, sungguh kami bisa mati tak terkubur."
Hmk!"
Jengek si baju hitam. Liong-kui-hong termenung sejenak, lalu bertanya pula.
"Dan sekarang kita harus mundur ke mana?"
Meski tampaknya kita mundur, yang benar kita justru menyerang,"
Jawab si baju hitam.
"Menyerang ke mana?"
"Ke sarang Koay-lok-ong."
Kejut dan girang Liong-kui-hong.
"Tapi gerak-gerik Koay-lok-ong sangat misterius, siapa yang tahu akan sarangnya?"
Kutahu,"
Kata si baju hitam sekata demi sekata.
"Aha, bagus,"
Seru Liong-kui-hong.
"Sekarang dia berada di sini, sarangnya tentu kosong tak terjaga, serbuan kita dapat menyikat mereka habis-habisan."
Ayo berangkat,"
Kata si baju hitam sambil memutar kudanya. Segera Liong-kui-hong memberi aba-aba.
"Pasukan berangkat!"
Di tengah suitan dan ringkik kuda yang ramai segera pasukan bergerak berbondong-bondong ke sana.
***** Kemah induk yang megah itu memang betul sudah ambruk dan menimpa Sim Long berempat, meski tertindih oleh kain kemah yang berat itu, tapi mereka justru mengembus napas lega.
Habis itu suasana menjadi sepi, suara kuda lari makin jauh dan akhirnya tidak terdengar lagi.
Selang sejenak pula barulah Jit-jit merasa lega, desisnya.
"Sim Long ...."
Karena tertutup kain tenda, ia tidak dapat melihat apa pun. Untunglah lantas terdengar suara jawaban Sim Long.
"Ternyata segalanya dapat kau terka dengan tepat."
Mana bisa salah, jika dia salah hitung, mana kita dapat hidup sampai sekarang?üjar Miau-ji.
"Tak tersangka Kunsu itu memang seorang tokoh maha lihai sehingga Koay-lok-ong dapat ditipunya,üjar Ong Ling-hoa dengan gegetun.
"Wahai Sim Long, dapatkah kau terka siapa dia?"
Saat ini memang sukar kupastikan,"
Jawab Sim Long. Tiba-tiba Jit-jit berkata pula.
"Aneh, mengapa mereka bisa mundur."
Sesudah lawan disikat habis, kenapa tidak mundur?üjar Sim Long tertawa.
"Dan mengapa mereka tidak mengadakan pertempuran menentukan dengan Koay-lok-ong, pada waktu mereka mendapat angin?"
Tanya Jit-jit.
"Hah, jika kau jadi Kunsu Liong-kui-hong, tentu dia bisa celaka,"
Kata Sim Long dengan tertawa.
"Sebab apa?"
Tanya Jit-jit.
"Koay-lok-ong kan tidak dapat dibandingkan dengan orang biasa, sesudah mengalami kegagalan ini tentu dia akan menyusun kembali kekuatannya dan membangkitkan semangat tempur anak buahnya, sebaliknya setelah Liong-kui-hong mendapat kemenangan, pasukannya pasti tinggi hati dan lengah, bila bertempur lagi secara terbuka, pihaknya pasti akan kalah."
Ya, betul, tentu Hok-siu-sucia itu juga sudah memikirkan hal ini, dia memang sangat lihai,"
Seru Jit-jit.
"Cuma sekali ini bila Koay-lok-ong mengejar ...."
"Koay-lok-ong takkan mengejar,"
Kata Sim Long.
"Sebab apa?"
Tanya Jit-jit.
"Di dunia ini mana ada unta yang lebih cepat daripada lari kuda?"
Kata Sim Long.
"Tapi berlari di gurun pasir masa kuda dapat mencapai jauh?"
Memangnya mereka tidak dapat berganti kuda?üjar Sim Long tertawa.
"Betul juga,"
Tertawa juga Jit-jit.
"Sudah lama Liong-kui-hong menguasai gurun ini, untuk mengganti kuda tentu sangat mudah baginya.Öng Ling-hoa berkata.
"Kupikir jika Hok-siu-sucia itu sedemikian memahami Koay-lok-ong, kuyakin dia pasti juga tahu sarangnya, saat ini kebetulan dia dapat menyerang sarangnya yang tak terjaga itu."
Jika betul begitu, Koay-lok-ong sungguh bisa celaka,"
Kata Miau-ji.
"Mereka takkan celaka,"
Kata Sim Long.
"Pada waktu dia menang justru kau bilang dia akan celaka, sekarang dia akan celaka berbalik kau bilang dia takkan celaka, memangnya apa alasanmu?"
Sarangnya itu kan pangkalannya yang sudah berakar kuat, mana mungkin dibiarkan orang mengetahuinya,üjar Sim Long.
"Sekalipun dia keluar, di sana tentu sudah disiapkan segala sesuatu untuk menahan serangan musuh, kalau tidak kan bukan lagi Koay-lok-ong namanya?"
Tapi Hok-siu-sucia itu bisa jadi juga sangat paham seluk-beluk siasat Koay-lok-ong,"
Kata Ling-hoa.
"Urusan penting begini kecuali dia sendiri tidak mungkin diberitahukannya kepada orang lain,"
Kata Sim Long.
"Biarpun Hok-siu-sucia itu tergesa-gesa ingin menuntut balas, jika terburu nafsu, bisa jadi dia sendiri akan celaka."
Ah, belum tentu,"
Jengek Ling-hoa.
"Mendingan Sim Long tidak berkomentar, sekali dia bicara, kukira harus kau percaya kepadanya,üjar Miau-ji dengan tertawa. ***** Malam tambah larut, angin semakin kencang dan pasir berhamburan. Rombongan Koay-lok-ong tadi diam-diam meneruskan perjalanan, tapak unta yang berjalan di gurun pasir tidak banyak menimbulkan suara. Dengan sendirinya keleningan unta juga sudah dicopot. Dari jauh tertampak sebuah kemah berdiri di depan sebuah bukit pasir, sekelilingnya terlihat bayangan orang sama duduk diam.
"Itu dia!"
Desis Fifi.
"Turun!"
Koay-lok-ong memberi tanda, lalu ia memberi aba-aba.
"Serbu!"
Si nomor satu dari pasukan Angin Puyuh segera mendahului memimpin anak buahnya menerjang ke depan. Di mana pedangnya menebas seketika kepala manusia terpenggal. Tapi si nomor satu lantas berteriak.
"Wah, celaka, kita tertipu!"
Ternyata orang yang kelihatan duduk di situ semuanya orang-orangan terbuat dari ikatan rumput. Anak buah Koay-lok-ong sama tercengang, anggota Angin Puyuh sama melongo bingung.
"Inilah tipu memancing harimau meninggalkan gunung,"
Seru Fifi dengan muka pucat.
Koay-lok-ong berdiri melenggong juga seperti patung, tidak bergerak juga tidak bicara, sikapnya kelihatan beringas.
Dengan sendirinya orang lain pun tidak ada yang berani bicara.
Akhirnya Pek Fifi yang bersuara.
"Ayolah lekas kita kembali ke sana!"
Si nomor satu juga menanggapi.
"Ini tentu tipu mereka 'pura-pura bersuara di timur dan mendadak menggempur ke barat', saat ini perkemahan kita pasti sudah diserbu, jika kita tidak lekas kembali ke sana mungkin tidak keburu lagi." ¡"
Hm, biarpun saat ini juga kembali ke sana tetap tidak keburu,¡üjar Koay-lok-ong sambil menyeringai. Si nomor satu tidak berani bersuara lagi. Koay-lok-ong menatap jauh ke sana dan bergumam.
"Hm, hebat benar Hok-siu-sucia itu .... Rasanya aku telah meremehkan dirimu."
Dengan suara lembut Fifi berkata.
"Kalah atau menang adalah kejadian biasa di medan perang, hanya sedikit kekalahan saja apa artinya? Marilah kita lekas kembali ke sana."
Jika sekarang kita kembali ke sana, kita jadi benar-benar terjebak olehnya,"
Kata Koay-lok-ong.
"Sebab apa?"
Tanya Fifi.
"Tidakkah kau lihat mereka sama lesu dan patah semangat?"
Desis Koay-lok-ong.
"Maklumlah, selama mereka ikut padaku memang belum pernah mengalami kekalahan di medan laga, sebab itulah hati mereka sama ragu sangsi, jika sekarang kita kembali dengan tergesa-gesa, bila musuh terus menyambut kita dengan gempuran dahsyat, tentu pasukan kita akan tambah hancur."
Pertimbangan Ongya memang tepat,üjar Fifi.
"Cuma ...."
Mendadak Koay-lok-ong bergelak tertawa pula dan berkata.
"Hahaha, memangnya kalian mengira aku benar-benar terjebak oleh mereka?"
Tergerak pikiran Fifi, ia tahu apa maksud Koay-lok-ong, segera ia pun mengikik tawa dan berkata.
"Ya, dengan sendirinya kutahu Ongya tak dapat tertipu."
Apa yang kulakukan ini memang sengaja kuberi rasa enak bagi mereka, supaya mereka lupa daratan dan lengah, dengan begitu aku akan dapat menghajar mereka dengan lebih dahsyat,"
Tutur Koay-lok-ong dengan tertawa keras.
"Meski sekali ini dia berhasil menyerbu perkemahan kita, memangnya terhitung apa? Yang kutinggalkan di sana kan cuma anak buah yang sudah tua dan lemah, kekuatan yang sebenarnya kan ikut kita ke sini."
Karena ucapannya ini, anak buahnya serentak sama bersemangat lagi.
"Ya, dengan sendirinya Ongya takkan kalah selamanya,ücap Fifi. Serentak anak buahnya juga bersorak.
"Ya selamanya Ongya tak terkalahkan, hancurkan Liong-kui-hong! Matilah dia!"
Ayolah anak-anak, mari kita serbu kembali ke sana, coba lihat apakah mereka berani menghadapi kita?!"
Seru Koay-lok-ong.
"Haha, mereka pasti akan lari mencawat ekor!"
Sorak orang banyak beramai.
Hanya dengan beberapa patah kata saja Koay-lok-ong sudah dapat menggambarkan kekalahan sendiri menjadi kekalahan orang lain sehingga semangat anak buahnya yang sudah patah itu terbangkit kembali.
Meski wajah Pek Fifi kelihatan tersenyum, di dalam hati diam-diam ia merasa gegetun.
"Untuk menumpas orang ini sungguh tidak mudah."
Dilihatnya Koay-lok-ong berseri-seri, anak buahnya juga melangkah dengan gagah, kafilah unta itu berbondong-bondong kembali ke arah sana.
Sungguh ajaib, keajaiban yang diciptakan Koay-lok-ong.
Tidak lama kemudian dapatlah Koay-lok-ong melihat perkemahan sendiri yang terbakar itu.
Fifi menghela napas.
"Aku tidak sayang urusan lain kecuali satu hal saja."
Kau maksudkan Sim Long?"
Tanya Koay-lok-ong dengan tersenyum.
"Membiarkan Sim Long mati cara begini kan sangat sayang,üjar Fifi.
"Mestinya hendak kuperalat dia, habis itu akan kubikin dia mati konyol dengan segala macam siksaan."
Jangan khawatir, dia pasti takkan mati,ücap Koay-lok-ong dengan tertawa.
"Dia kan tidak dapat bergerak, bila pasukan Liong-kui-hong menyerbu ke sana dan membakar kemah kita, mustahil dia dapat menyelamatkan diri?"
Kata Fifi.
"Orang lain tidak bisa, dia tentu bisa,üjar Koay-lok-ong.
"Tapi mustahil dia ...."
Jika Sim Long tidak mampu membuat dirinya tetap hidup tentu dia takkan bernama Sim Long.Ängin menderu-deru, di tengah asap yang masih mengepul, mayat bergelimpangan berlepotan darah.
Di bawah cahaya api kelihatan muka yang beringas dan keadaan yang mengerikan.
Menyaksikan kawan-kawannya sudah mati semua, anak buah Koay-lok-ong menjadi jeri lagi, ada yang kelihatan gemetar.
Segera Koay-lok-ong berteriak lagi.
"Lihatlah, musuh kan sudah lari mencawat ekor .... Huh, cuma mereka saja masa berani menghadapi kita secara terang-terangan?!"
Ayo, kejar!"
Teriak orang banyak.
"Jangan tergesa-gesa, memangnya mereka dapat lari?üjar Koay-lok-ong, ia menyapu pandang sekejap sekelilingnya, mendadak ia berseru pula.
"Lekas singkap tenda induk itu, Sim Long pasti tertutup di bawahnya."
Semoga dia belum mati terbakar,ücap Fifi dengan tertawa.
"Sim Long pasti tidak akan mati terbakar semudah itu,"
Tukas Koay-lok-ong.
***** Dengan cepat api dapat dipadamkan.
Dengan sendirinya dipadamkan dengan pasir.
Di gurun pasir air tidak nanti digunakan untuk memadamkan api, biarpun jenggot terbakar juga takkan disiram dengan air.
Si nomor satu sedang sibuk memimpin anak buahnya memeriksa ransum dan air minum yang masih tertinggal.
Di gurun pasir air merupakan urat nadi manusia.
Sekarang Sim Long asyik minum air.
Koay-lok-ong lagi memandangnya sambil mengelus jenggot, katanya tiba-tiba.
"Pada waktu sebelum serbuan Liong-kui-hong, tentu engkau telah berusaha minta orang memindahkan kalian ke belakang kemah, bukan?"
Sim Long tersenyum dan menjawab.
"Betul."
Meski keadaannya sekarang sangat runyam, namun senyuman khas tetap menghias wajahnya. Kalau tidak melihat sendiri tentu takkan percaya orang yang baru lolos dari maut itu masih dapat tersenyum.
"Jika begitu, tentu sebelumnya sudah kau perhitungkan kemungkinan serbuan Liong-kui-hong, bukan?"
Tanya Koay-lok-ong pula.
"Betul,"
Jawab Sim Long.
"Dan tidak kau katakan padaku?"
Soalnya engkau tidak tanya,"
Jawab Sim Long. Koay-lok-ong menatapnya dengan sorot mata tajam, sampai sekian lama mendadak ia berteriak lagi.
"Baik, sekarang kutanya padamu, menurut pendapatmu, saat ini Liong-kui-hong dan pasukannya lari ke mana?"
Mereka bukan 'lari', pihak yang menang perang kan tidak perlu lari,üjar Sim Long. Alis Koay-lok-ong menegak, tapi segera ia bergelak tertawa.
"Ya, betul, mereka bukan lari. Tapi ke manakah perginya mereka?"
Apakah perlu kau tanya padaku?"
"Sekarang juga kutanya padamu."
Baca Juga: Seruling Samber Nyawa 1
Baca Juga: Pendekar Binal 6