Ceritasilat Novel Online

Pendekar Baja 10

Eps 10 Pendekar Baja - Gu Long

Baca online Pendekar Baja - Gu Long

Cersil Pendekar Baja - Gu Long.

"Berpisah sekian lama, sungguh hatiku rindu. Waktu tengah hari nanti, kunanti di pertamanan sunyi, mohon datang. Dari rumah menuju ke barat, kumenanti di bawah pohon rindang." ***** Sementara itu sudah dekat tengah hari. Pada waktu tengah hari Koay-hoat-lim ini sangat sepi. Setelah bersukaria semalam suntuk, kebanyakan orang masih tidur dengan lelap. Perlahan Sim Long melangkah ke jurusan barat, suasana sunyi senyap, suara kicau burung pun tak ada, hanya angin mendesir sepoi-sepoi. Di kejauhan ada pohon rindang, sesosok bayangan putih berdiri di bawah pohon, ujung baju dan rambutnya berkibar tertiup angin. Sinar matanya sedang menatap ke arah datangnya Sim Long. Melihat si nona, timbul semacam perasaan Sim Long yang sukar diuraikan, entah sedih, haru, atau girang. Anak perempuan yang cantik dan lembut ini pun aneh dan misterius, melihat dia, mau tak mau Sim Long jadi teringat juga kepada Cu Jit-jit. Jit-jit yang berwatak nakal, jahil, kepala batu, terkadang menyenangkan, namun juga menggemaskan. Pek Fifi dan Cu Jit-jit adalah dua jenis anak perempuan yang tidak sama, keduanya merupakan dua kutub, dua model, yang satu panas serupa api, yang lain dingin seperti es. Tapi apa pun juga keduanya sama menarik. Tanpa terasa tersembul senyuman pada wajah Sim Long, tapi dalam hati dia juga gegetun mengapa kedua anak perempuan yang menyenangkan ini mengalami nasib malang demikian? Dengan sendirinya Fifi juga sudah melihatnya, senyumnya serupa cahaya mentari yang cerah. Perlahan ia menggapai dari jauh, lalu ia membalik dan menuju ke kerimbunan pepohonan sana. Fifi duduk bersandar batu karang yang dikelilingi pepohonan. Sim Long mendekatinya dan berdiri di depannya tanpa bicara. Fifi juga tidak bicara. Keduanya saling pandang, habis itu mereka lantas berdekapan. Mendadak Sim Long menghela napas, katanya.

"Yu-leng-kiongcu, baik-baik kau?"

Fifi mengangkat kepala dan tersenyum.

"Kau panggil apa padaku? Masakah namaku sudah kau lupakan?"

Sim Long menatapnya dengan tajam, tiada terlihat rasa kejut atau maksud jahat pada wajah yang cantik ini, yang ada cuma kasih yang manis dan kerlingan mata yang memabukkan.

Anak perempuan secantik ini mustahil adalah gembong iblis yang membunuh orang tanpa berkedip?

Tentu saja tidak kulupakan namamu, Fifi,ücap Sim Long kemudian.

"Jika begitu mengapa kau sebut aku Yu ... Yu apa?"

Memangnya Pek Fifi tidak sama dengan Yu-leng-kiongcu?"

Perlahan Fifi mendorong Sim Long dan mundur selangkah, ia pandang anak muda dengan terbelalak, seperti kurang senang dan rada menyesal.

"Siapakah Yu-leng-kiongcu?"

Tanyanya.

"Mengapa kau singgung dia, apakah dia juga anak perempuan yang cantik."

Sim Long memandang jauh ke sana, ucapnya kemudian.

"Ya, dia juga anak perempuan yang sangat cantik, juga sangat pintar, ditambah lagi menguasai ilmu silat mahatinggi."

Fifi menunduk, katanya dengan menyesal.

"Sedemikian muluk kau puji dia, tentu dia jauh lebih hebat daripadaku."

Tapi dia juga anak perempuan yang sangat kejam, apa yang tidak diperbuat orang lain dapat dilakukan olehnya."

"Pernah kau lihat dia?"

Tanya Fifi.

"Ya, kulihat dia, semalam juga kulihat dia, bahkan telah bergebrak dengan dia."

Bagaimana bentuk sebenarnya?"

"Dia selalu memakai cadar tipis sehingga wajah aslinya senantiasa tersembunyi, tapi akhirnya telah ... telah kusingkap cadarnya,"

Sampai di sini ia menatap tajam wajah Fifi dan menyambung.

"Ketika itu baru kuketahui bahwa dia ternyata samaranmu, engkaulah Yu-leng-kiongcu, maka aku tidak turun tangan lebih lanjut."

Fifi menyurut mundur dua langkah, serunya.

"Aku ... kau bilang aku? Ah, kau salah lihat!"

"Tidak, aku tidak salah lihat,"

Kata Sim Long.

"Sekalipun orang lain dapat menyaru sebagai dirimu, tapi kerlingan mata itu ... siapa pun tidak mampu menirukan kerlingan matamu itu."

Sekujur badan Fifi tampak gemetar, ¡ Dan engkau lantas yakin aku inilah Yu-leng-kiongcu yang jahat itu?"

Aku tak bisa berkata lain,üjar Sim Long.

"Tapi bila aku Yu-leng-kiongcu, mana bisa terlunta-lunta di daerah Kanglam dan diperbudak orang. Jika aku mahir ilmu silat, mengapa senantiasa dianiaya orang?"

Mata Fifi menjadi merah, air mata hampir menitik.

"Itulah yang membuatku tidak habis mengerti,üjar Sim Long menyesal.

"Masa ... masa engkau tidak percaya sedikit pun kepadaku?äkhirnya air mata Fifi bercucuran.

"Aku percaya padamu, namun aku pun harus percaya kepada mataku,"

Kata Sim Long.

"Apa yang kau lihat sendiri terkadang juga tidak pasti benar,üjar Fifi.

"Aku seorang anak piatu, sejak kecil tidak tahu siapa ayah-bundaku, di dunia ini tidak ada seorang pun berbaik hati benar-benar padaku, hanya ... hanya kau ...."

Mendadak ia menubruk lagi ke dalam rangkulan Sim Long, katanya pula dengan menangis.

"Dan sekarang engkau pun tidak percaya lagi padaku. O, apakah artinya hidup ini bagiku?"

Sim Long diam saja. Sejenak kemudian, mendadak Fifi menengadah dan memandang Sim Long dengan wajah yang berair mata.

"Kau lihat aku ini mirip anak perempuan yang kejam itu?"

Memandangi wajah yang minta dikasihani itu, Sim Long menghela napas dan menggeleng, jawabnya.

"Tidak mirip."

"Jika demikian, hendaknya jangan kau curigai diriku,"

Kata Fifi.

"Tapi kalau Yu-leng-kiongcu itu dibilang bukan dirimu, mengapa di dunia ini ada dua anak perempuan yang sedemikian mirip satu sama lain?"

Apakah tidak ... tidak mungkin ada seorang saudara kembarku, hanya nasibnya lebih baik daripadaku, bila selama hidupku selalu dianiaya orang, sebaliknya dia yang selalu menganiaya orang lain."

"Saudara kembar?"

Sim Long jadi melenggong.

"Urusan ini kedengarannya sedemikian kebetulan, tapi di dunia ini memang banyak kejadian secara kebetulan, maka apa yang kukatakan ini bukan mustahil juga bisa terjadi bukan? Apalagi semalam engkau cuma memandangnya sekilas saja, apakah engkau dapat memastikan bahwa apa yang kau lihat mutlak tidak keliru?"

Ini ...."

Sim Long jadi ragu.

"Jika engkau tidak dapat memastikannya, hendaknya jangan kau bicara seperti ini. Kau tahu, kebahagiaan selama hidupku berada pada tanganmu, apakah engkau sampai hati menghancurkan hidupku?"

Sim Long termenung sejenak, perlahan ia membelai rambut si nona, ucapnya.

"Ya, aku salah ... aku keliru, hendaknya engkau jangan marah padaku."

Fifi menghela napas dan mendekap di dada Sim Long, ucapnya lembut.

"Segala milikku adalah kepunyaanmu, biarpun kau bunuh aku juga takkan kumarah padamu."

Sekalipun Sim Long adalah manusia baja, mau tak mau akan lunak juga. Kelembutan, selamanya tak dapat dilawan oleh kaum pahlawan. Keduanya saling berdekapan hingga lama, akhirnya Sim Long bertanya.

"Selama ini apa yang kau alami? Dapatkah kau ceritakan padaku?"

Waktu di hotel tempo hari, sesudah engkau dan Miau-ji pergi, nona Cu lantas marah-marah,"

Demikian tutur Fifi.

"Kutahu ... aku yang membikin susah dia, hatiku merasa tidak tenteram."

Dia ... dia tidak sengaja marah,üjar Sim Long dengan menyengir..

"Kutahu, perangai nona Cu terkadang memang agak kasar, tapi hatinya sebenarnya baik, dia juga pintar, suka terus terang, cantik pula, sungguh aku tidak ... tidak dapat dibandingkan seujung jarinya."

Sim Long tersenyum.

"Segala apa engkau selalu berpikir demi orang lain, dalam hal ini saja engkau lebih unggul daripada dia¡"

Fifi tersenyum cerah.

"Apa betul?"

Tapi senyuman cerah itu segera lenyap, kembali keningnya bekernyit, katanya.

"Waktu itu sungguh aku ingin kabur saja supaya tidak membuat marah nona Cu, siapa tahu pada saat itu juga keparat she Kim itu ...."

Kim Put-hoan?"

Tanya Sim Long.

"Betul, Kim Put-hoan mendadak menerobos masuk, mulutku dibungkamnya, aku diculik dan dibawa ke ... ke tempat Ong-kongcu itu."

Ya, kutahu kejadian itu,"

Kata Sim Long.

"Sungguh aku ketakutan setengah mati,"

Tutur Fifi pula.

"Kutahu Ong-kongcu itu seorang ... seorang tidak baik, untung dia seperti lagi menghadapi kesibukan sehingga aku tidak diganggu.Üntuk bicara sebanyak ini tampaknya dia telah memeras tenaga, sampai di sini, mukanya yang putih pun berubah merah, dengan menunduk ia menyambung lagi.

"Kemudian mereka mengirim diriku ke tempat seorang Ong-hujin. Alangkah cantiknya nyonya Ong itu, biarpun sama-sama orang perempuan, tergiur juga hatiku melihat kecantikannya."

Apa yang dilakukannya terhadapmu?"

Tanya Sim Long.

"Dia teramat baik kepadaku,"

Tutur Fifi.¡"

Dia serupa dewi kahyangan, dia seperti mempunyai semacam kekuatan gaib yang dapat mengubah kedukaan seorang menjadi kegembiraan."

"Maka, engkau sangat penurut padanya,"

Kata Sim Long.

"Apa lagi yang dia suruh kau kerjakan?"

Dia minta aku menyelundup ke tempat Koay-lok-ong ini untuk mencari informasi baginya, mestinya aku tidak berani, tapi kemudian kuterima tugas ini setelah kuketahui Koay-lok-ong juga musuhmu."

"Terima kasih,ücap Sim Long lembut. Fifi tersenyum manis.

"Asalkan dapat mendengar ucapanmu ini, betapa pun aku harus menderita tetap kurela."

Engkau banyak menderita?"

Fifi menunduk sedih.

"Demi mendapatkan kepercayaan Koay-lok-ong, lebih dulu Ong-hujin telah ... telah mengurungku di suatu kamar dengan siluman yang paling menjijikkan itu."

Maksudmu si duta bencong? Tentu engkau ketakutan."

Muka Fifi menjadi merah pula, katanya.

"Aku lebih suka dikurung bersama binatang buas atau ular daripada bersama dia. Tapi ... tapi demi Ong-hujin, dan juga demi engkau, terpaksa kutabahkan hati."

Tak tersangka engkau anak perempuan pemberani,"

Puji Sim Long.

"Kemudian Ong-hujin memberitahukan sesuatu rahasia padaku, kiranya siluman itu bukan lelaki melainkan perempuan. Tapi meski sudah tahu dia seorang perempuan, bila melihat kedua matanya, tidak urung sekujur badanku lantas gemetar. Bilamana jarinya menyentuh tubuhku, sungguh aku ingin segera mati saja."

Apakah Ong-hujin sengaja melepaskan dia kabur bersamamu?"

"Ya, Ong-hujin tahu jika dia kabur, tentu aku akan dibawa lari juga,"

Tutur Fifi.

"Ai, sepanjang jalan itu, sungguh aku lebih suka mati saja .... Tapi apa pun juga, sekarang dia sudah mati."

Apakah begitu datang di sini dia lantas mati?"

"Ya, begitu datang ia lantas mati."

Cara bagaimana matinya?"

"Aku yang membunuhnya."

"Kau?"

Melengak juga Sim Long.

"Ya, aku .... Kau heran?"

Perlahan Fifi membetulkan rambutnya, lalu menyambung.

"Ong-hujin memberi sebuah cincin padaku, di atas cincin terdapat ujung jarum yang sangat halus yang diberi racun mahajahat, asalkan kutepuk perlahan pundaknya, dalam sekejap dia akan mati keracunan. Sejauh itu dia pandang diriku sebagai barang dalam sakunya, dengan sendirinya sama sekali dia tidak berprasangka terhadapku."

O, kiranya demikian,"

Sim Long mengangguk.

"Aku pun dapat membunuh orang, engkau tidak menyesali diriku, bukan?"

Siapa pun bila menjadi dirimu tentu ingin membunuh dia,üjar Sim Long.

"Cuma ada sesuatu yang semula aku tidak paham dan baru sekarang kutahu duduknya perkara."

Urusan apa?"

Tanya Fifi.

"Aku tidak mengerti mengapa rombongan Can Ing-siong itu begitu masuk Jin-gi-ceng lantas semuanya mati secara serentak, baru sekarang kutahu semua itu disebabkan racun cincin pemberian Ong-hujin."

Fifi berkedip-kedip, katanya.

"Tapi jarum beracun pada cincin itu hanya dapat digunakan satu kali saja, serupa halnya ekor tawon berbisa, sekali mengantup lantas tak berbisa lagi. Pula, orang-orang itu mati seluruhnya tanpa sisa seorang pun, lantas siapa yang turun tangan membunuhnya?"

Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum.

"Tahulah aku."

O, memang apa rahasianya¡"

"Pada waktu Ong-hujin membebaskan mereka pasti disertai suatu syarat."

"Syarat apa?"

Tanya Fifi.

"Yaitu di antara mereka tiap-tiap orang diharuskan membunuh salah seorang di antaranya."

Fifi menggeleng.

"Aku tetap tidak paham."

Begini, umpamanya Ong-hujin bicara tersendiri-sendiri dengan mereka dan setiap orang diberinya sebuah cincin berbisa, tentu saja di antara mereka satu sama lain tidak tahu-menahu.

Sebab itulah, setiba di Jin-gi-ceng, segera terjadi bunuh-membunuh dan akhirnya semuanya mati, adapun pembunuhnya justru mereka sendiri."

"Wah, alangkah jahat tipu muslihatnya dan betapa kejinya pula,üjar Fifi sambil menggeleng.

"Cara Ong-hujin itu memang keji, tapi bila Can Ing-siong dan lain-lain benar-benar kesatria sejati, tentu muslihat Ong-hujin takkan berlaku."

Betul juga, itu namanya bikin mampus dirinya sendiri ...."

Belum habis ucapan Fifi, mendadak seorang mendengus.

"Kalian juga akan membikin mampus dirinya sendiri!"

Di tengah suara dengusan itu, sebilah pedang mengilat menebas dari balik pepohonan yang lebat sana. Fifi menjerit kaget dan merangkul Sim Long. Sim Long menyurut mundur dua tindak sambil membentak.

"Siapa?!"

Maka muncul seorang pemuda cakap berbaju ringkas dengan pedang terhunus lagi memandangi mereka dengan tertawa dingin, sebuah cermin perunggu mengilat menghiasi baju dadanya dan terdapat angka "

". Jelas anggota pasukan Angin Puyuh anak buah Koay-lok-ong. Sim Long tetap tenang dan tersenyum, katanya.

"Bahwa engkau dapat datang kemari di luar tahuku, tampaknya kungfumu pasti jauh lebih tinggi daripada kawanmu, sungguh harus dipuji."

Hm, dalam keadaan lupa daratan karena si cantik dalam pelukan, biarpun langit ambruk pun takkan kau dengar,ëjek anggota Angin Puyuh itu.

"Ya, mungkin betul kritikmu ini,"

Kata Sim Long dengan tertawa.

"Ongya meladenimu dengan baik dan menganggap dirimu sebagai orang tepercaya seharusnya kau balas kebaikan Ongya dengan setia, siapa tahu selir kesayangan Ongya malah kau pikat, apakah kau tahu akan dosamu?"

Kalau tahu dosa lantas bagaimana?"

"Hendaknya segera ikut padaku menemui Ongya, bisa jadi Ongya akan memberi hukuman lebih ringan dan memberi kematian bagimu dengan cepat."

Wah, untuk itu aku harus berterima kasih padamu, cuma ...."

Sim Long berkedip.

"Apakah kau kira Sim Long seorang penakut?"

Habis, berani kau melawan?"

Damprat jago Angin Puyuh itu.

"Sungguh aku merasa sayang bagimu."

Kata Sim Long.

"Jika engkau seorang pintar, seharusnya sejak tadi mengeluyur pergi. Tapi sekarang, biarpun kau ingin lari pun tidak keburu lagi."

Hm, kau kira aku datang sendirian?"

"Apa bukan begitu?"

Justru di sekeliling sini sudah tersebar tujuh belas kawanku, kecuali dalam sekejap dapat kau bunuh kami seluruhnya, kalau tidak, jangan harap engkau dapat lolos dengan hidup."

Sim Long hanya tertawa saja, sebaliknya, muka Fifi menjadi pucat, mendadak ia mengadang di depan Sim Long dan berteriak.

"Semua ini bukan urusannya, aku yang mengajaknya kemari."

Nona Pek sungguh ...."

"Jika kau mau bunuh, silakan bunuh saja diriku,"

Sela Fifi dengan suara gemetar. Jago Angin Puyuh itu tersenyum sinis.

"Wah, terhadap gadis cantik seperti nona Pek ini, mana aku sampai hati ...."

Habis apa kehendakmu?"

Jerit Fifi.

"Nona sendiri menghendaki bagaimana?"

Asalkan kau lepaskan dia, aku ... aku akan menuruti segala kehendakmu."

"Apa betul?"

Jago Angin Puyuh itu tertawa.

"Betul,"

Jawab Fifi tegas dengan air mata berlinang.

"Bagaimana dengan pendapat Sim-kongcu?"

Tanya si jago Angin Puyuh.

"Baik, kalian boleh pergi saja,"

Kata Sim Long dengan tersenyum. Jawaban ini membuat Fifi dan jago Angin Puyuh itu sama melengak.

"Kau ... kau ...."

Gemetar Fifi dan tidak sanggup meneruskan ucapannya.

"Jika benar kau rela berkorban bagiku, jika kutolak kan berarti mengecewakan maksud baikmu?üjar Sim Long dengan tertawa.

"Dan sebaiknya kalian pergi saja ke suatu tempat yang ...."

Kau bukan manusia ...."

Teriak Fifi dengan parau.

"Kan kau sendiri yang rela begitu, kenapa kau maki diriku?"

Kata Sim Long dengan tertawa.

"Bilamana sesuatu permainan sudah mencapai puncaknya, jika tidak kuberikan bumbu pemanis, tentu permainanmu akan terasa cemplang, bukan?"

Fifi tampak melongo bingung. Si jago Angin Puyuh juga melenggong, mendadak ia bergelak tertawa.

"Hahaha, hebat, Sim Long memang hebat!" ¡ Terima kasih,"

Jawab Sim Long.

"Cara bagaimana dapat kau kenali diriku?"

Tanya si jago Angin Puyuh itu dengan tertawa.

"Bilamana setiap jago Angin Puyuh menguasai Ginkang setinggi dirimu, kan Koay-lok-ong boleh tidur nyenyak tanpa khawatir apa pun, apalagi, umpama di antara jago Angin Puyuh ada yang berkepandaian setinggi ini tentu juga takkan bermata keranjang seperti kau."

Sim Long bergelak tertawa, lalu menyambung.

"Orang yang memiliki Ginkang dan sinar mata jelalatan seperti kau ini kecuali Ong Ling-hoa, di dunia ini mungkin tidak ada orang kedua lagi."

Pek Fifi seperti terkejut, dipandangnya Sim Long, lalu memandang pula si jago Angin Puyuh, sikapnya tampak serbasalah. Jago Angin Puyuh itu lantas memberi hormat.

"Tadi aku cuma bergurau saja, harap nona Pek jangan marah."

Kau ... kau benar Ong Ling-hoa?"

Tanya Fifi.

"Sayang kedok yang kubuat ini telah banyak membuang tenaga dan pikiranku, kalau tidak tentu akan kubuka supaya nona dapat melihat wajah asliku,"

Kata si jago Angin Puyuh yang memang samaran Ong Ling-hoa. Mendadak air mata Pek Fifi bercucuran, dipandangnya Sim Long, katanya dengan menangis.

"Mengapa ... mengapa engkau tega mempermainkan aku?"

Jika Cu Jit-jit, tentu Sim Long terus dijotosnya. Tapi Pek Fifi hanya mengomel saja dan menyesali diri sendiri.

"Tapi ini pun tidak dapat menyalahkanmu, semua ini ... semua ini salahku, tidak ... tidak seharusnya ku ...."

Kalau benar Sim Long dihantamnya akan melonggarkan perasaannya malah, tapi sekarang Fifi bicara secara demikian, hati Sim Long menjadi menyesal, kasihan dan sayang pula, tanpa terasa ia pegang bahunya dan berucap, ¡Tadi kusangka engkau juga dapat mengenali dia, maka ...."

Mana dapat kukenali dia,üjar Fifi dengan rawan.

"Meski pernah kulihat si jago Angin Puyuh nomor 35, tapi ... tapi samarannya sungguh teramat mirip, baik suara maupun sikapnya."

Terima kasih atas pujian nona, tapi aku tetap dikenali Sim-heng,üjar Ong Ling-hoa dengan tertawa. Mendadak ia seperti ingat sesuatu, ia terus menampar muka sendiri sambil mengomel.

"Wah, pantas mampus, sungguh pantas mampus!"

Fifi tercengang melihat kelakuan Ong Ling-hoa itu, tanyanya.

"Pantas mampus apa?"

"Mana boleh kupanggil dengan sebutan Sim-heng,"

Kata Ling-hoa.

"Memangnya panggil apa kalau tidak menyebutnya begitu?"

Tanya Fifi sambil melirik Sim Long. Dengan sendirinya Sim Long merasa serbakikuk. Sebaliknya Ong Ling-hoa anggap tidak tahu, katanya pula dengan tertawa.

"Mungkin nona tidak tahu bahwa sekarang sedikitnya harus kupanggil dia sebagai paman."

Paman?"

Fifi menegas dengan heran.

"Ya, paman, sebab ... sebab Sim-kongcu, sudah ada janji pernikahan dengan ibuku."

Fifi merasa seperti dicambuk satu kali, ia menyurut mundur dengan sorot mata penuh rasa heran dan kecewa serta menyesal.

"Ap ... apa betul?"

Tanyanya dengan menggigit bibir.

"Apakah kau kaget?"

Jawab Sim Long dengan menyengir. Tubuh Fifi gemetar, air mata bercucuran pula. Sampai sekian lamanya ia tidak sanggup bersuara. Mendadak ia menjerit dengan parau.

"Meng ... mengapa tidak kau katakan ... mengapa .... Apakah sengaja kau tipu diriku?"

Segera ia membalik tubuh dan berlari pergi dengan terhuyung-huyung.

Sim Long menyaksikan kepergiannya tanpa bicara, juga tidak merintanginya.

Bahkan segera ia pulih tenang kembali seperti tidak terjadi sesuatu.

Ong Ling-hoa memandang Sim Long tanpa bicara.

Sorot matanya menampilkan secercah senyuman licik dan keji.

Akhirnya Sim Long berpaling dan menghadapi Ong Ling-hoa, keduanya saling tatap sampai sekian lamanya.

Bilamana salah seorang tidak dapat menahan emosinya, tentu segera akan terjadi pertarungan maut.

Akan tetapi keduanya sama tidak turun tangan, akhirnya Sim Long malahan tersenyum dan bertanya.

"Mengapa kau lakukan hal ini."

"Tentunya kau tahu inilah kehendak ibuku,"

Kata Ling-hoa.

"O, dia ...."

Bagaimana beliau tidak khawatir membiarkan anak perempuan secantik itu berdekatan denganmu."

"Saat ini kau bicara denganku dalam kedudukan sebagai apa?"

Tanya Sim Long.

"Sebagai saudara, antara kawan dan lawan."

Masa sekarang kembali kau bersaudara denganku?"

"Di depan orang lain engkau adalah orang lebih tua daripadaku, hanya bila kita berada berduaan, aku adalah saudaramu, sahabatmu, terkadang bisa jadi lawanmu."

Sim Long menatapnya sekejap dengan tajam, lalu tertawa.

"Tak tersangka cara bicaramu terkadang juga blakblakan begini."

Umpama ingin kubohongi dirimu, apa dapat?"

"Tapi jangan kau lupa, urusan ini justru merupakan kunci dari segala persoalan lain. Kau tahu, bilamana seorang perempuan merasa sakit hati, segala apa dapat diperbuatnya."

Betul, hal ini diketahui setiap lelaki di dunia ini, masa dapat kulupakan."

"Jika begitu, apakah engkau tidak khawatir Pek Fifi akan melaporkan rahasia ini kepada Koay-lok-ong karena sakit hati?"

Ling-hoa tersenyum.

"Tidak, dia takkan melapor."

Kau yakin?"

"Tentu saja kuyakin."

Gemerdep sinar mata Sim Long, ia seperti mau tanya lagi, tapi mendadak ia ganti pokok pembicaraannya, ucapnya dengan tersenyum cerah.

"Apa pun juga kedatanganmu ini memang di luar dugaanku."

Siasat ibuku tentu saja sukar diduga orang,"

Kata Ling-hoa.

"Engkau tidak khawatir akan dikenali dia?"

Asalkan tidak berhadapan dengan dia, kenapa kutakut akan ketahuan?üjar Ling-hoa.

"Kutahu banyak tanda tanya dalam hatimu, sukar juga bagiku untuk menjelaskan satu per satu. Tapi setelah kubawamu menemui seorang mungkin engkau akan paham berbagai persoalan ini."

O, siapa?"

"Sesudah bertemu tentu kau tahu sendiri."

Kapan akan menemuinya?"

"Sekarang juga."

Sim Long tidak tanya lagi. Pada saat itu juga mendadak diri kejauhan ada seorang berseru.

"Aha, Sim-kongcu sungguh seorang yang bisa menikmati kesenangan sehingga dapat menemukan suatu tempat rimbun untuk berteduh akan hawa yang panas ini."

Sim Long berkerut kening, dilihatnya muncul seorang berbaju satin dengan dada terbuka, tangan membawa cambuk, sambil memukul semak rumput sedang menuju ke sini.

Pendatang ini rada di luar dugaannya, orang ini ialah Siau-pa-ong, putra hartawan yang pekerjaannya hanya berfoya-foya belaka itu.

"Apakah hendak kau bawaku menemui orang ini?"

Tanya Sim Long kepada Ong Ling-hoa.

"Mana bisa dia?"

Jawab Ling-hoa. Dalam pada itu Siau-pa-ong sudah mendekat, serunya pula dengan tertawa.

"Aha, sungguh suatu tempat yang nyaman, entah cara bagaimana Sim-heng menemukannya."

Ya hal ini memang aneh,üjar Sim Long dengan tersenyum.

"Aneh?"

Siau-pa-ong berkedip-kedip bingung.

"Bahwa sebelum melihat jelas diriku dari jauh engkau sudah dapat menyebut namaku, bukankah kejadian yang aneh?"

O, ini ... haha, memang menarik juga, Sim-heng kan orang yang suka pada keindahan, maka ketika dari jauh kulihat di sini ada orang, segera kuduga orangnya pasti Sim-heng adanya."

"Wah, saudara ini memang seorang yang simpatik,ücap Sim Long dengan tertawa, seperti tidak sengaja ia hendak menepuk pundak Siau-pa-ong. Tapi seperti juga tidak sengaja Ong Ling-hoa lantas menahan tangan Sim Long sambil menggeleng kepala perlahan. Hanya dalam sekejap itu saja Siau-pa-ong sebenarnya sudah berada di tepi pintu neraka, namun sedikit pun ia tidak tahu, dia masih cengar-cengir seperti orang bodoh, tapi kalau dibilang bodoh, tampaknya juga tidak mirip. Tiba-tiba Sim Long merasakan saat ini setiap orang di Koay-hoat-lim tidaklah sederhana sebagaimana diduganya, tapi setiap orang mempunyai rahasia di balik layar. Sambil memutar cambuknya Siau-pa-ong memandang kian kemari, mendadak ia berkata pula kepada Sim Long.

"Apakah Sim-heng tahu untuk apa kucari dirimu?"

Sim Long hanya tertawa tanpa menjawab.

"Kucari Sim-heng hanya ingin minta Sim-heng suka memberi penilaian terhadap seorang."

Oo?!"

Sim Long bersuara heran.

"Bila perempuan yang pernah kubawa tempo hari itu mungkin ditertawakan oleh Sim-heng, maka sekarang kudatangkan lagi seorang nona sangat cantik, maka ingin kuminta Sim-heng suka memberi komentar seperlunya."

Sesungguhnya aku sama sekali tidak paham orang perempuan, kalau tidak masakah sampai saat ini aku masih sorangan wae? Betul tidak, saudara Angin Puyuh?"

"Betul, tepat!"

Seru Ong Ling-hoa.

"Saat ini nona cantik itu berada di sekitar sini, sekarang juga akan kubawa kemari ...."

Tanpa menunggu jawaban segera ia berlari pergi. Setelah bayangan orang menghilang baru Sim Long berkata dengan tersenyum.

"Baru sekarang kutahu bahwa Siau-pa-ong ini ternyata juga anak buahmu."

Dari mana kau tahu?"

Tanya Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Jika tidak kau beri tahukan padanya, dari mana dia tahu aku berada di sini, dan bila dia bukan anak buahmu, untuk apa kau cegah kuturun tangan padanya?Öng Ling-hoa hanya tersenyum tanpa menanggapi.

"Padahal tidak ada maksudku hendak mencelakai dia, tindakanku itu tidak lebih hanya untuk menguji Ong-kongcu kita saja,"

Kata Sim Long pula. Ong Ling-hoa tertawa, sebelum ia bicara, tiba-tiba Siau-pa-ong muncul kembali sambil berseru.

"Ini dia sudah datang!"

Tertampaklah dua perempuan kekar kuat menggotong sebuah tandu kecil dengan tabir tertutup.

Setelah tandu ditaruh, segera kedua perempuan ini tinggal pergi keluar hutan.

Di balik tabir samar-samar kelihatan bayangan orang yang ramping.

Waktu tabir disingkap Siau-pa-ong, seketika mata Sim Long terbeliak.

Ternyata yang duduk di dalam tandu tak-lain-tak-bukan ialah Cu Jit-jit.

Betapa pun Sim Long tidak menyangka akan bertemu dengan Cu Jit-jit di sini.

Jit-jit adalah sandera yang digunakan Ong-hujin untuk memeras Sim Long, mana Ong-hujin mau mengirimkan dia ke sini?

Seketika Sim Long berdiri melongo.

Dilihatnya rambut Jit-jit tersanggul rapi, bajunya mentereng, duduk tenang dengan sikap anggun, meski matanya memandang Sim Long, namun air mukanya sangat tenang.

Sama sekali berbeda daripada Cu Jit-jit yang nakal, garang dan suka emosi, Cu Jit-jit yang dulu itu.

Akan tetapi nona ini jelas-jelas memang Cu Jit-jit adanya, baik alisnya, matanya, hidungnya, bibirnya, sedikit pun tidak palsu, biarpun dibakar menjadi abu juga Sim Long tetap kenal Cu Jit-jit, cara bagaimana menyamar dan memalsukan Jit-jit pasti tidak dapat mengelabui Sim Long.

Setelah tercengang sekian lama, akhirnya Sim Long tersenyum dan menegur.

"Sekian lama tidak berjumpa, engkau baik-baik bukan?"

Meski cuma tegur sapa yang singkat, namun cukup mendalam artinya, ia yakin Jit-jit pasti dapat memahaminya.

Namun air muka Jit-jit tetap tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ia menjawab dengan hambar.

"Lumayan, terima kasih atas perhatian Sim-kongcu."

Jawaban yang kaku dingin itu serupa cambuk pula yang menyakitkan hati Sim Long.

Baru sekarang ia merasakan bila seorang merasa kehilangan sesuatu, betapa pun pasti akan dirasakan kekesalan dan kesedihan.

Siau-pa-ong memandangnya dengan tertawa.

Sorot mata Ong Ling-hoa juga menampilkan senyuman yang senang.

Mendadak Sim Long berpaling.

"Mengapa dia ... dia ...."

Soalnya ibuku mendadak merasakan daripada menggunakan sandera untuk memeras Sim-kongcu, akan lebih baik bila segala sesuatu timbul dari sukarela Sim-kongcu sendiri, untuk pengertian ibuku terhadap Sim-kongcu seharusnya Sim-kongcu berterima kasih kepada beliau."

"Tapi ... tapi kedatangannya ini ...."

Ibu merasa tidak perlu menggunakan nona Cu untuk memeras Sim-kongcu, kedatangannya ini hanya sekadar melakukan upacara penghormatan ulang."

"Upacara penghormatan ulang bagaimana?"

Tergetar hati Sim Long.

"Soalnya ibu sudah mengikatkan perjodohan nona Cu dengan diriku,"

Tutur Ling-hoa perlahan. Tanpa terasa Sim Long menyurut mundur lagi setindak, ditatapnya Cu Jit-jit dan berseru.

"Jadi kau ... kau ...."

"Masa engkau tidak ikut gembira?"

Kata Jit-jit dengan tersenyum hambar.

"Aku ... aku ...."

Sim Long terkesima. Sungguh tidak ringan pukulan ini, namun dia tidak roboh. Ia berdiri termangu sejenak, mendadak tertawa cerah pula dan memberi hormat.

"Selamat, selamat!"

Terima kasih!"

Kata Jit-jit, mendadak tabir diturunkan kembali sehingga tidak terlihat pula senyumnya melainkan cuma terlihat bayangan tubuhnya yang ramping.

Apabila sekarang masih tersisa sesuatu di hati Sim Long, maka yang ada itu hanya kenangan pahit belaka serta kekosongan yang sukar terisi kembali.

Namun begitu dia tetap berdiri tegak, tetap tersenyum.

Melihat ketenangan orang, mau tak mau timbul juga rasa kagum Siau-pa-ong.

"Kutahu pasti masih ada sesuatu yang hendak ditanyakan oleh Sim-kongcu,"

Kata Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Betul, memang hendak kutanya bila Cu Jit-jit sudah datang, lantas di mana Him Miau-ji?üjar Sim Long.

"Tentang si Kucing, mungkin dia juga akan melakukan sesuatu yang tak tersangka oleh Sim-kongcu,"

Tutur Ling-hoa perlahan. Serentak Sim Long mencengkeram pergelangan tangannya dan menegas.

"Di mana dia?"

Kulit daging muka Ong Ling-hoa tampak berkerut-kerut, namun tidak sampai meringis kesakitan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menjawab.

"Sekarang dia berada ...."

Pada saat itulah tiba-tiba dari berbagai penjuru ada orang berteriak.

"Sim Long ... Sim-kongcu, lekas keluar, Ongya mencarimu!"

Suara teriakan itu sambung-menyambung berulang-ulang, ada yang dari jauh, ada yang sudah dekat.

"Di sini bukan tempat baik lagi untuk bicara, lekas kau pergi saja, bila perlu akan kuadakan kontak denganmu,"

Desis Ong Ling-hoa.

Sim Long menatapnya dengan tajam, perlahan cengkeramannya dikendurkan, mendadak ia membalik tubuh, tanpa menoleh ia melangkah pergi dengan cepat.

***** Koay-lok-ong duduk setengah berbaring di tempat tidurnya dan asyik minum air sari buah, Sim Long berdiri di depannya.

"Setiap pahlawan selalu tak terhindar dari kegemaran minum arak, serupa halnya si cantik yang suka murung. Akan tetapi manusia hidup tentu mempunyai sesuatu hobi. Wahai Sim Long, apa hobimu dan apa yang paling menarik bagimu saat ini?"

Sim Long termenung tanpa menjawab, sejenak kemudian ia berkata.

"Si kerdil bertubuh seringan daun, entah dia sudah berhasil menyelidiki sarang Yu-leng-kiongcu atau tidak?"

Ah, urusan ini teramat tidak menarik, tidak perlu disinggung lagi,üjar Koay-lok-ong dengan kening bekernyit.

"Oo, jangan-jangan dia tidak pernah pulang kembali."

Betul, tidak pernah pulang,"

Mendadak Koay-lok-ong menggebrak tempat tidurnya.

"Dan bila dia belum lagi pulang sekarang, tentu selamanya takkan pulang lagi."

Diam-diam Sim Long menghela napas, pikirnya.

"Lihai amat Yu-leng-kiongcu ini. Tapi pada suatu hari pasti juga akan kuketahui siapa sebenarnya dirimu? Dan hari demikian ini tampaknya sudah tidak jauh lagi."

Mendadak dilihatnya Koay-lok-ong tertawa cerah pula dan berkata.

"Ah, urusan yang tidak menarik lebih baik jangan disinggung, biarlah kukatakan sesuatu hal lain yang menarik saja."

Mohon petunjuk Ongya,"

Kata Sim Long.

"Justru hari inilah ternyata ada seorang datang dari jauh sengaja untuk menggabungkan diri denganku."

Oo, siapa dia?"

Tanya Sim Long.

"Dengan sendirinya orang ini pun seorang Enghiong (pahlawan),"

Tutur Koay-lok-ong.

"Selain takaran minum arak orang ini sanggup menandingimu, ilmu silatnya mungkin juga tidak di bawahmu. Tokko Siang telah bergebrak beberapa jurus dengan dia dan kecundang."

Tentu saja Sim Long tertarik.

"Hah, di mana orang ini sekarang?"

Dia juga tokoh pilihan, sebab itulah sengaja kupertemukan kalian, sungguh bahagia dan menyenangkan segenap Enghiong sejagat dapat berkumpul di sini,"

Segera Koay-lok-ong melompat bangun dan berseru pula.

"Saat ini dia asyik minum bersama orang, kebetulan dapat kau susul untuk minum tiga ratus cawan dengan dia."

Tangan Sim Long segera ditariknya dan diajak menuju ke ruangan tamu.

Dari jauh sudah terdengar suara seruan gembira dari balik tabir sana, suara orang setengah sinting.

Yan-ji kelihatan sedang menyingkap tabir dan mengintip ke dalam, ketika mendengar suara langkah orang, ia menoleh, cepat ia kabur ketika diketahui yang datang ialah Koay-lok-ong dan Sim Long.

Terdengar suara tertawa cekikak-cekikik orang perempuan di dalam, seorang lagi berkata dengan suara merdu.

"Hong-ji telah menyuguhmu sepuluh cawan, Peng-ji juga menyuguhmu sepuluh cawan, sekarang harus kusuguh kau dua puluh cawan, lekas kau minum." ¡"

Betul,¡"

Sambung suara seorang perempuan lagi dengan tertawa genit.

"bila tidak kau minum, bisa jadi nanti lidahmu akan digigit putus oleh Cu-ji."

Hahaha!"

Terdengar seorang lelaki bergelak tertawa.

"Hanya sekian puluh cawan arak apalah artinya bagiku. Ayo, tuangkan semua menjadi semangkuk, akan kutenggak habis sekaligus dan boleh kalian tambah lagi semangkuk nanti."

Tampaknya tidak sedikit arak yang sudah ditenggaknya sehingga nada ucapannya sudah rada kaku.

Tapi bagi pendengaran Sim Long, suara orang dirasakan sudah sangat dikenalnya.

Cepat ia memburu maju dan menyingkap tabir.

Tertampak di tengah ruangan cawan berserakan, lima-enam gadis jelita dengan rambut kusut dan baju setengah terbuka, muka merah dan mata buram, semua ini menandakan mereka sudah sama mabuk.

Seorang lelaki kekar berduduk di tengah kawanan gadis jelita ini dengan dada baju terbuka dan tangan memegang mangkuk sedang diminum dengan lahapnya.

Dari tepi mangkuk kelihatan kedua alisnya yang tebal.

Siapa lagi dia kalau bukan Him Miau-ji alis si Kucing.

Ternyata Him Miau-ji juga datang kemari, sungguh Sim Long tidak tahu harus bergirang atau terkejut.

Apa pun juga Him Miau-ji masih sanggup menenggak arak sebanyaknya, hal ini menandakan dia masih gagah perkasa dan pantas dibuat girang.

Saat itu Miau-ji sudah menghabiskan isi mangkuknya, ia menarik napas dan bergelak tertawa, serunya.

"Nah kosong! Siapa lagi yang akan menyuguhku?!"

Aku!"

Seru Sim Long mendadak dengan tersenyum.

Miau-ji berpaling, seketika ia tercengang melihat Sim Long berdiri di ambang pintu.

Serentak ia berteriak dan membuang mangkuk emas yang dipegangnya, ia memburu maju sambil berteriak.

"Aha, Sim Long, engkau belum lagi mati!"

Di tengah teriakan gembira keduanya lantas saling rangkul.

Terendus bau arak dan bau keringat Him Miau-ji yang khas, namun bagi Sim Long rasanya terlebih menyenangkan daripada bau harum pupur anak perempuan.

Selagi keduanya berangkulan, tampaknya Koay-lok-ong juga merasa bersyukur dan menepuk pundak mereka, katanya.

"Sahabat yang baru bertemu setelah berpisah sekian lama tentu sangat banyak yang ingin dibicarakan, bolehlah kalian mengobrol sepuasnya dan takkan kuganggu."

Dalam sekejap itu tiba-tiba Sim Long merasa gembong iblis ini juga mempunyai sifat kemanusiaan dan tidak sekejam sebagaimana dibayangkan orang.

Kedua orang saling rangkul dan berjalan keluar halaman, di luar sunyi tiada orang lain.

Mendadak hujan turun dengan lebat, namun keduanya tidak menghiraukannya.

Di daerah yang tandus ini bisa turun hujan sederas ini, sungguh menambah gembira orang.

Sembari berjalan Miau-ji menenggak arak pula dari buli-bulinya, langkahnya sudah sempoyongan, sisa arak dalam buli-buli juga tidak banyak lagi.

"Miau-ji, jangan kau bikin mabuk dirimu sendiri, banyak urusan yang ingin kubicarakan padamu, kesempatan untuk bicara seperti ini bagi kita rasanya tidak banyak lagi selanjutnya,"

Desis Sim Long.

Daun pohon gemeresak terpukul air hujan, suara guntur pun bergemuruh, suara bicara mereka sukar terdengar dari jarak tiga-empat kaki, apalagi di halaman yang luas ini tidak kelihatan bayangan orang lain.

Jika mau bicara urusan penting, saat ini memang paling tepat dan tempat ini paling bagus.

"Ada urusan apa, katakan saja, Sim Long,ücap Miau-ji.

"Tapi sekarang engkau tidak boleh mabuk, selanjutnya juga tidak boleh mabuk, mulut orang mabuk sukar dijaga, kukhawatir kau bocorkan rahasia dalam keadaan mabuk."

Memangnya Him Miau-ji adalah orang yang suka membocorkan rahasia?"

"Tentu saja tidak,"

Kata Sim Long dengan tertawa.

"Bahwa sekali ini dia mau melepaskan dirimu dan Jit-jit, hal ini sungguh di luar dugaanku. Dari sini terlihat bahwa caranya mengatur tipu muslihatnya memang sukar diduga dan tak dapat dibandingi orang lain."

Dia yang kau maksudkan ...."

"Dengan sendirinya Ong ...."

Tentu saja dia sangat hebat bila engkau saja tidak dapat meraba setiap tindakannya."

"Apakah benar dia telah mengikatkan perjodohan Jit-jit dan Ong Ling-hoa?"

Ai, perempuan, dasar perempuan .... Setiap perempuan memang tidak dapat dipercaya."

"Masa Jit-jit sukarela?"

"Setan yang tahu hati perempuan,"

Jawab Miau-ji dengan gemas. Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian dengan gegetun.

"Hal ini pun tidak dapat menyalahkan Jit-jit. Dia mengetahui aku mengikat perkawinan dengan ... dengan Ong-hujin itu, dengan sendirinya ia menjadi nekat. Ai, kan sudah kau kenal juga sifatnya."

Tapi seharusnya ia pun tahu tindakanmu ini ada maksud tujuan tertentu,"

Kata Miau-ji.

"Padahal siapakah di dunia ini yang benar-benar dapat memahami pikiranku?üjar Sim Long sambil tersenyum getir.

"Terkadang aku sendiri pun tidak memahami diriku, orang yang semakin kusukai, semakin dingin sikapku kepadanya. Memangnya apa sebabnya?"

Sebab engkau sedang menghindar, engkau tidak berani menerima cinta kasih apa pun, sebab pada pundakmu sudah memikul beban yang amat berat, sebab engkau merasa dirimu setiap saat dapat mati."

"Memang benar ucapanmu,üjar Sim Long dengan murung.

"Jika kau rasakan menderita, mengapa tidak kau lepaskan beban itu?"

Terkadang aku memang ingin melepaskannya,üjar Sim Long.

"Manusia di dunia ini sedemikian banyak, mengapa aku yang meski memikul beban ini. Walaupun jahat Koay-lok-ong, tapi tidak jelek dia terhadapku, mengapa harus kuincar nyawanya? Apa yang kuperoleh bila kubunuh dia? Siapa yang akan memahami diriku dan menaruh simpati padaku? ...."

Di bawah hujan lebat, didampingi sahabat paling karib ini, tanpa terasa Sim Long mencetuskan unek-uneknya, diungkapkan isi hatinya yang selama ini tidak pernah dibicarakannya dengan siapa pun.

Miau-ji tidak memandangnya melainkan cuma mendengarkan.

Selang sejenak Sim Long berkata pula.

"Dengan sendirinya, di dalam hal ini ada juga sebabnya."

Justru lantaran sebab ini, maka engkau rela menderita daripada melepaskan beban itu."

"Betul."

Lantas apa sebab musabab itu?"

"Sebab antara diriku dan Koay-lok-ong tidak mungkin hidup bersama, kalau tidak aku mati harus dia yang mampus. Maka biarpun kutahu Ong-hujin dan Ong Ling-hoa juga iblisnya manusia, sekalipun kutahu dengan segala daya upaya mereka berusaha memperalat diriku, tapi demi menumpas Koay-lok-ong, aku tidak menghiraukan akibatnya dan mau bekerja sama dengan mereka."

Jangan-jangan antara dirimu dan Koay-lok-ong ada persengketaan pribadi?"

Tanya Miau-ji. Tampak gemerdep sinar mata Sim Long, jawabnya.

"Ya."

Lantaran Pek Fifi?"

"Kau kira lantaran dia?"

Habis lantaran apa?"

Tanya Miau-ji pula. Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian.

"Ini menyangkut rahasia pribadiku, sekarang tidak dapat kukatakan."

Kapan baru dapat kau katakan?"

"Nanti kalau Koay-lok-ong mati."

Dia takkan mati lebih dulu daripadamu."

Baru habis bicara demikian, mendadak ia menutuk beberapa Hiat-to kelumpuhan Sim Long, lalu dengan sekali sikut ia bikin Sim Long terjungkal.

Sekalipun dibunuh pun Sim Long tidak percaya Him Miau-ji bisa mendadak menyergapnya, bahkan sampai ia sudah terguling ia tetap tidak percaya.

"Hei, Miau-ji, jangan ... jangan bergurau!"

Serunya meski tubuh tidak dapat berkutik.

Him Miau-ji berdiri tegak di bawah hujan dan menengadah dengan terbahak-bahak.

Nyata mabuknya sudah hilang, suara tertawanya juga berubah mendadak.

Air muka Sim Long berubah.

"Hah, engkau bukan Miau-ji!"

Apakah tidak terlambat baru sekarang kau tahu?"

Kata "si Kucing"

Dengan tertawa latah.

"Jangan ... jangan-jangan engkau ini Liong Su-hay?"

Seru Sim Long.

"Hahaha, memang betul, betapa pun engkau tetap pintar juga."

Ya, seharusnya sudah kupikirkan akan dirimu,üjar Sim Long dengan tersenyum pedih.

"Sejak mula memang sudah kurasakan engkau banyak persamaannya dengan Miau-ji, jika di dunia ini ada orang yang dapat menyamar Him Miau-ji secara sangat mirip, maka orang itu ialah kau."

Mengapa tidak kau pikirkan sejak tadi?"

Kata Liong Su-hay.

"Sebab kusalah menilai dirimu. Sungguh tidak kusangka Liong Su-hay yang kelihatan gagah perkasa dan berjiwa kesatria itu ternyata juga antek orang."

Liong Su-hay tidak marah, sebaliknya tertawa, katanya.

"Dan sekali ini dapatlah engkau mendapat pelajaran, betapa pintar seorang toh dapat juga tertipu. Cuma sayang, pelajaran ini takkan bermanfaat lagi bagimu."

Ya, memang, setiap orang tentu juga dapat tertipu,ücap Sim Long dengan pedih.

"Tapi untuk menjebakmu, betapa pun kami telah banyak membuang tenaga dan pikiran."

Sim Long menghela napas, katanya.

"Dengan sendirinya Him Miau-ji tentu juga sudah datang ke sini, kalau tidak, sekalipun Koay-lok-ong mempunyai ahli rias yang paling pandai juga tidak mampu menyamar dirimu sehingga serupa dia."

Engkau memang orang pintar,"

Kata Liong Su-hay dengan tertawa.

"Pada waktu Koay-lok-ong merias diriku, saat itu juga Him Miau-ji menggeletak di sisiku, jadi bentukku ini serupa dicetak dari dia seluruhnya."

Dan ada lagi ...."

"Suaranya, begitu bukan?"

Tukas Su-hay.

"Caraku menirukan suara orang lain memang lumayan, tapi aku tetap khawatir diketahui olehmu, sebab itulah aku berlagak mabuk, padahal paling banyak aku cuma minum tiga cawan saja, yang mabuk benar-benar adalah kawanan budak itu."

Wah, ternyata akal bagus, siapa pun bila melihat orang yang minum bersamamu sudah sama mabuk, dengan sendirinya takkan terpikir arak yang kau minum adalah arak palsu."

"Apalagi ditambah gemuruh suara hujan, sungguh sangat kebetulan bagiku, terlebih lagi entah mengapa semangatmu hari ini tampak kurang baik, seperti agak linglung, bila tidak dapat kutipu dirimu kan terlalu."

Sim Long tampak sedih, selang sejenak, ia coba tanya.

"Dan Him Miau-ji ...."

Dalam hal ini memang ada sesuatu memang benar terjadi, yaitu kedatangan Him Miau-ji yang akan bekerja bagi Koay-lok-ong,"

Tutur Liong Su-hay dengan tertawa.

"O, apakah barangkali Koay-lok-ong menaruh curiga padanya, maka ...."

Curiga padanya sih tidak, yang dicurigainya justru ialah dirimu."

"Aku?"

Sim Long melengak.

"Ya, pagi tadi waktu bangun tidak ditemukannya Pek Fifi, engkau juga tidak kelihatan, maka timbul curiganya. Kebetulan waktu itu datang Him Miau-ji, maka dengan menggunakan Him Miau-ji dia ingin menguji dirimu."

Liong Su-hay terbahak-bahak dan menambahkan.

"Dan sekali uji seketika juga kelihatan belangmu."

"Lantas bagaimana kehendakmu sekarang?"

Jilid 30

"Berulang Koay-lok-ong memberi pesan, asalkan berhasil menyingkap kepalsuanmu, segera supaya membinasakan dirimu. Orang semacam dirimu adalah sangat berbahaya dibiarkan hidup, apalagi dia juga tidak ingin melihatmu lagi."

Sim Long menghela napas panjang, ucapnya dengan tersenyum pedih.

"Bagus, tak tersangka aku Sim Long hari ini dapat mati di sini."

Hahaha, tak tersangka Sim Long yang namanya termasyhur hari ini dapat mati di bawah tanganku,"

Seru Liong Su-hay dengan tertawa, segera ia melompat maju dan menghantam.

"Nanti dulu!"

Bentak Sim Long mendadak.

"Tidak ada gunanya biarpun kau ingin mengulur waktu, saat ini tidak mungkin ada orang akan menolongmu,"

Kata Liong Su-hay dengan menyeringai.

"Aku cuma ingin tanya sesuatu padamu."

Tanya apa?"

"Aku hanya ingin tahu di mana Miau-ji saat ini?"

Haha, bagus, kalian memang benar sahabat sehidup semati, sampai saat terakhir belum lagi kau lupakan dia.

Jangan khawatir, dalam perjalananmu ke akhirat pasti takkan kesepian, Him Miau-ji akan mendampingimu, bisa jadi saat ini dia sudah berangkat lebih dulu."

"Maksudmu, dia ... dia sudah terbunuh?"

Betul."

"Siapa yang membunuhnya?"

"Memangnya hendak kau balasan sakit hatinya? Baiklah, biar kukatakan padamu, lantaran dia melawan mati-matian, maka Tokko Siang telah membunuhnya."

"Tapi ... tapi sebelum Koay-lok-ong tahu jelas seluk-beluk diriku, mana bisa jiwa Miau-ji dihabisi?"

"Him Miau-ji hanya gagah berani tanpa tipu akal, mati-hidupnya pada hakikatnya tidak diperhatikan oleh Koay-lok-ong."

Sim Long termenung sejenak, perlahan ia memejamkan mata, katanya.

"Bagus, sekarang bolehlah kau bunuh diriku."

Liong Su-hay mengangkat tangannya dan menebas ke lehernya.

Tampaknya tidak ada orang yang dapat menyelamatkan Sim Long .

***** Hujan turun dengan lebat.

Ci-hiang mendekap di depan jendela, memandangi butiran air sambil menanti Sim Long.

Ia pun tahu betapa lama menunggu hanya sia-sia belaka.

Terkadang ia merasa geli sendiri sudah jelas sesuatu yang percuma, ia justru sengaja berbuat.

Lelaki pertama yang mengisi hatinya ialah Ong Ling-hoa.

Terhadap Ong Ling-hoa mestinya ia menaruh sesuatu harapan, tapi sejak bertemu dengan Sim Long, khayalnya terhadap Ong Ling-hoa lantas beralih kepada diri Sim Long.

Sudah banyak lelaki yang dilihatnya, tapi cuma Sim Long saja yang menolak bujuk rayunya, ia merasa Sim Long memang berbeda dengan lelaki lain di dunia ini.

Tadinya ia anggap kebanyakan lelaki di dunia ini dapat dipanggil datang dan disuruh pergi begitu saja, tak tersangka olehnya di dunia ini masih ada jenis lelaki seperti Sim Long ini.

Begitulah dia termenung dan melamun dengan tertawa.

Sekonyong-konyong dua tangan mendekap matanya dari belakang, terasa napas yang hangat berbisik di tepi telinganya dengan tertawa.

"Ayo tebak, siapa?"

Jantung Ci-hiang berdebar, ucapnya dengan suara gemetar.

"Sim ... Sim Long?"

Mulut itu menggigit perlahan daun telinganya dan menjilat perlahan ujung telinganya sambil mengomel.

"Setan cilik!"

Hah, Kongcu ... kiranya engkau!"

Seru Ci-hiang. Meski Ong Ling-hoa sudah berganti rupa, tapi kata-kata dan tingkah lakunya yang bersifat bangor ini segera dapat dikenali Ci-hiang. ¡ Haha, setan cilik, dapat juga kau terka,"

Kata Ong Ling-hoa dengan tertawa.

Segera ia memutar tubuh Ci-hiang dan merangkul tubuh yang hangat dan kenyal itu sehingga dua tubuh seperti dempet menjadi satu.

Diciumnya Ci-hiang seperti orang kehausan, serupa kucing mendapatkan ikan, hampir saja Ci-hiang tak bisa bernapas, tapi ia tidak menolak, juga tidak menghindar.

Kemudian Ling-hoa melepaskannya, katanya dengan tertawa.

"Kutahu kau lagi memikirkan aku, inilah ganti rugiku kepadamu."

Tubuh Ci-hiang sudah lemas lunglai, sambil menggigit bibir ia menjawab.

"Setan ingin ganti rugimu."

"Benar kau tidak ingin?"

Desis Ong Ling-hoa sambil memicingkan mata.

"Tidak, tidak ingin,ömel Ci-hiang dengan mengentak kaki.

"Oo, jangan-jangan selama dua hari ini Sim Long sudah membikin kenyang padamu."

Muka Ci-hiang bisa merah juga.

"Cis, orang justru tidak seperti kau."

Kutahu dia memang seorang sopan,üjar Ling-hoa dengan tertawa, segera ia angkat Ci-hiang dan dibawa ke tempat tidur.

Jelas Ci-hiang jemu padanya, tapi entah mengapa, sukar menolaknya.

Mulut Ong Ling-hoa justru mengusap kian kemari di sekeliling leher Ci-hiang.

Napas Ci-hiang makin memburu, ucapnya dengan gemetar.

"Ingin ... ingin kutanya padamu, cara bagaimana dapat kau datang kemari, apakah ... apakah kau lihat Sim Long."

Sekarang bukan waktunya bicara, tahu?"

Kata Ling-hoa dengan tangan menggerayang.

"Kutahu, kau pun ingin, kau pun butuh, betul tidak?"

Hanya sebentar saja sekujur badan Ci-hiang lantas lunglai, terdengar suara keluhannya, akhirnya ia runtuh seluruhnya dan telentang di tempat tidur.

Namun yang terpikir dalam hatinya justru cuma Sim Long saja.

Ciri orang perempuan yang paling aneh adalah selagi dia berada dalam pelukan seorang lelaki, hatinya justru dapat memikirkan seorang lelaki yang lain.

Ci-hiang menerima segalanya dari Ong Ling-hoa, ia pun mengadakan reaksi dan bekerja sama dengan baik, tapi yang dikeluhkannya justru.

"O, Sim Long, bila engkau akan kembali?Öng Ling-hoa juga terengah, katanya.

"Persetan dengan Sim Long, saat ini dia tidak mungkin pulang, kuharap dia mati saja." ***** Di luar hujan lebat sekali. Di sana hantaman Liong Su-hay sedang dilancarkan. Pada saat itulah mendadak seorang membentak.

"Berhenti!"

Liong Su-hay terkejut dan berpaling, dilihatnya sesosok bayangan tinggi kurus melayang keluar dari balik pepohonan di bawah hujan lebat.

"Aha, kiranya Tokko-heng,"

Seru Liong Su-hay dengan tertawa cerah.

"Apakah kucing itu sudah dibereskan?"

"Hmk,"

Tokko Siang hanya mendengus saja.

"Lantas untuk apa Sim Long ditunda?"

"Tak boleh kau bunuh dia?"

Jengek Tokko Siang.

"Sebab apa?"

Aku sendirilah yang akan turun tangan."

Liong Su-hay merasa lega, katanya dengan tertawa.

"Baik, jika begitu, silakan."

Segera ia menyurut mundur dan menunggu orang bertindak.

Ia percaya kekejian Tokko Siang pasti tidak di bawah dirinya.

Ia yakin sebelum mati Sim Long tentu akan banyak mengalami siksaan.

Ia tahu biasanya Tokko Siang suka menyaksikan penderitaan orang lain bagi kesenangannya sendiri ....

***** Kesenangan yang memuncak lambat laun telah tenang kembali.

Dengan napas rada terengah Ci-hiang menggeletak dengan lemas.

Dalam keadaan demikian sebenarnya ia masih memerlukan kehangatan, kehangatan rabaan dan kehangatan bisikan kata.

Namun Ong Ling-hoa justru telah berbangkit, berdiri sendiri serupa orang tidak kenal lagi, segala apa yang baru terjadi seolah-olah sudah terlupa seluruhnya.

Ci-hiang berbaring di tempat tidur dan memandangnya memakai baju dan bersepatu dan ...

membetulkan rambutnya.

Orang inilah yang baru saja mengisi segenap jiwanya, tapi sekarang memandangnya sekejap saja tidak sudi.

Hati Ci-hiang mendadak penuh diliputi rasa malu, duka, terhina, dan gusar.

Mendadak ia sangat benci terhadap pemuda ini.

Sementara itu Ong Ling-hoa sudah selesai berdandan, akhirnya ia menoleh juga dan memandang sekejap, ujung mulutnya menampilkan secercah senyuman keji, senyum bangga dan kepuasan.

Senyum sebagai seorang pemenang.

Dengan mata terpicing ia berkata.

"Bagaimana, engkau tidak dapat bergerak lagi? Aku ini lelaki yang lain daripada yang lain bukan? alau tidak ada lelaki perkasa sebagai diriku mana dapat memuaskan perempuan jalang semacam dirimu ini?¡"

Mata Ci-hiang melotot dengan hampa, dia ingin menutup mukanya dengan bantal, tapi saking gemasnya tangan terasa gemetar sehingga tidak kuat untuk memegang bantal.

Memandang tangan orang yang gemetar itu, Ong Ling-hoa berkata dengan tertawa.

"Bagaimana, apakah kau ingin lagi? Wah, sekarang tidak bisa, mungkin ... mungkin malam nanti. Jangan khawatir, takkan kubikin sia-sia penantianmu."

Sekarang kau mau ke mana?"

Tanya Ci-hiang dengan mengertak gigi.

"Sekarang aku lagi ditunggu seorang ...."

Mendadak Ong Ling-hoa tertawa gembira.

"Betapa pun takkan kau duga siapakah orang yang kumaksudkan itu."

Memangnya siapa?"

Tanya Ci-hiang tak tahan.

"Cu Jit-jit,"

Jawab Ling-hoa. Mata Ci-hiang terbelalak lebar dan menegas.

"Cu Jit-jit? Masa dia juga datang ke sini?"

Dengan sendirinya dia datang ke sini. Supaya kau tahu, dia akan kawin denganku."

"Hahh,"

Gemetar tubuh Ci-hiang.

"Dia ... dia akan kawin denganmu?"

"Ya, tapi jangan kau khawatir,üjar Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Saat ini belum dapat kugunakan dia, maka aku masih memerlukanmu. Ai, caramu yang istimewa itu terkadang membuatku ketagihan.Ïa tersenyum sambil berjongkok, diraihnya dada Ci-hiang, lalu berkata pula dengan mata setengah terpicing.

"Terkadang aku pun heran dari mana kau dapat belajar kungfumu yang istimewa di tempat tidur ini, sungguh si tolol Sim Long itu sama sekali tidak tahu kenikmatan surga dunia ini, dia justru ...."

Surga ... surga dunia ...."

Mendadak Ci-hiang melompat bangun dan hendak mencekik leher Ong Ling-hoa sambil berteriak histeris.

"Kau ... kau setan iblis ...."

Tapi sekali tampar Ong Ling-hoa membikin Ci-hiang mencelat. Ia meraba leher yang lecet tercakar oleh kuku Ci-hiang sambil mendamprat.

"Sudah gila kau!"

"Blang", Ci-hiang jatuh di tempat tidur, ia memukuli tempat tidur dan menjerit.

"Kubenci ... benci padamu ...."

Sialan, memangnya kau khawatir aku takkan mencarimu lagi?"

"Bila kau datang lagi segera kuadu jiwa denganmu, seujung jari pun tidak boleh kau sentuh lagi diriku,"

Teriak Ci-hiang parau.

"Hehe, bilamana kuperlu tetap kudatang lagi,üjar Ling-hoa sambil menyeringai. Kembali ia remas dada Ci-hiang dan berkata.

"Haha, perempuan jalang, masakah kau larang kusentuh dirimu? .... Hehe, bila tidak kucari kau, memangnya kau tahan berapa lama? ...."

Sembari bergelak tertawa ia lantas melangkah pergi. Ci-hiang mendekap di tempat tidur dan menangis tergerung-gerung. Ia menjerit.

"Aku perempuan jalang ... apa benar aku jalang? Sim Long ... O, Sim Long, apakah kau pun anggap aku ini jalang? Mengapa ... mengapa engkau tidak datang menjengukku? ...." ***** Saat itu Tokko Siang lagi melototi Sim Long dengan sinar mata sedingin es. Sorot mata yang hampa. Liong Su-hay tidak pernah melihat sorot mata orang yang tak berperasaan semacam ini. Pikirnya.

"Sungguh aneh sorot mata orang ini, mungkin tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sedang dipikirnya."

Waktu ia pandang Sim Long, air muka orang ternyata tidak berubah. Mau tak mau ia berpikir lagi.

"Seorang menghadapi ajalnya ternyata masih dapat bersikap setenang ini, kecuali Sim Long mungkin tiada orang kedua lagi di dunia ini.Ïa merasa Tokko Siang dan Sim Long sesungguhnya adalah manusia aneh. Dan sekarang seorang manusia aneh segera akan membunuh manusia aneh yang lain. Ia yakin apa yang akan terjadi pasti sangat menarik. Cuma tak terpikir olehnya pada waktu pukulan Tokko Siang mengenai tubuh Sim Long nanti, apakah sorot matanya yang dingin itu akan berubah atau tidak? Juga sukar dibayangkan, ketika tubuh Sim Long terkena pukulan Tokko Siang, apakah air mukanya juga akan tetap tenang seperti sekarang? Sungguh ia ingin segera mengetahui kejadian sekejap itu. ***** Setelah melangkah keluar, Ong Ling-hoa berjalan di bawah hujan, sayup-sayup didengarnya suara tangis Ci-hiang, hatinya penuh rasa kepuasan yang kejam. Dia suka mendengar orang menangis, dia suka melihat orang menderita. Entah sebab apa, sejak kecil dia suka melihat orang menderita, jika melihat orang lain senang bahagia, ia sendiri lantas merasa tersiksa. Tapi ia sama sekali menyangkal dia dengki, dengan sendirinya ia lebih tidak mau mengakui dirinya merasa rendah harga diri, sebab itulah merasa dendam dan iri terhadap orang lain. Satu-satunya orang di dunia ini yang ditakuti olehnya adalah ibunya. Ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa dia sangat menghormat dan sayang kepada ibunya, mati pun dia tidak mengaku bahwa dalam lubuk hatinya sebenarnya merasa dendam kepada ibunya. Jika orang lain mempunyai keluarga, punya ayah dan saudara, mengapa dia tidak punya. Bila ibu orang lain sedemikian ramah dan kasih, mengapa ibunya tidak? Berbagai persoalan itu sejak kecil sudah terpikir olehnya, tapi ketika ia berumur tujuh tahun, setiap kali terpikir persoalan ini, segera dibuangnya jauh-jauh. Maka asalkan menghadapi orang perempuan dia lantas ingin membalas dendam. Ia suka orang lain tersiksa, terhina, kehilangan bahagia, kehilangan harga diri sehingga mendapat aib, ia suka keluarga orang tercerai-berai dan hancur. Sekarang ia berjalan di bawah hujan, hatinya teringat kepada Cu Jit-jit, ia sedang mencari akal cara bagaimana supaya dapat membikin nona itu merana selama hidup. Dengan sendirinya ia pun teringat kepada Sim Long, melihat sikap Cu Jit-jit terhadap Sim Long, segera dimakluminya di dalam hati anak dara itu hanya terdapat Sim Long saja. Biarpun Jit-jit kawin dengan dia tetap takkan melupakan Sim Long. Ia mengepal tinjunya erat-erat, ia mengertak gigi, hampir gila ia tersiksa oleh rasa benci dan dengki ini. Tiba-tiba dilihatnya di tengah hutan sana seperti ada bayangan orang berkelebat, cepat ia melayang ke sana, maka terlihatlah olehnya Tokko Siang, ¡"

Him Miau-ji¡"

Dan Sim Long. Dilihatnya Tokko Siang sedang angkat tangan hendak membunuh Sim Long, sebaliknya "Him Miau-ji"

Hanya menonton saja di samping, bahkan sorot matanya menampilkan rasa senang. Semula ia merasa heran, tapi kejap lain segera terpikir olehnya "

Him Miau-jiïni pasti samaran orang lain, ia tahu Koay-lok-ong juga seorang ahli rias yang tidak banyak jumlahnya di dunia ini.

Tanpa terasa ia bergembira.

Akhirnya Sim Long tertipu juga.

Dalam sekejap itu hatinya sungguh senang tak terhingga, tapi sekarang Sim Long sudah menjadi sekutunya, dengan sendirinya ia harus menolongnya.

Ia coba menaksir keadaan tempat dan siap melancarkan serangan mendadak, sekali serang harus berhasil.

Ia tahu di tengah taman ini hanya dirinya satu-satunya orang yang bisa menolong Sim Long, kecuali dirinya, seumpama ada orang lain yang kebetulan memergoki kejadian ini juga tidak berguna.

Diam-diam ia menggeleng kepala dan membatin.

"Sim Long ini memang orang mujur."

Dilihatnya tangan Tokko Siang sudah terangkat, seketika timbul pula pikiran Ong Ling-hoa.

"Untuk apa kutolong dia, kenapa tidak kubiarkan dia mati saja, memangnya apa sangkut pautnya denganku bila dia mati?"

Jika Sim Long mati, meski lahirnya Cu Jit-jit tidak apa-apa, di dalam batin pasti akan berduka sekali, bukankah hal ini sangat menyenangkan.

Dan bila Sim Long mati, meski rencana Ong-hujin akan mengalami sesuatu gangguan, tapi itu kan urusan orang lain dan tiada sangkut pautnya dengan dirinya.

Maka ia lantas menyelinap ke balik sebatang pohon dan menantikan detik turun tangan Tokko Siang.

Itulah detik yang paling menyenangkan selama hidupnya.

Sekarang tiada seorang pun dapat menyelamatkan Sim Long.

Tapi dilihatnya Tokko Siang lantas menunduk memeriksa keadaan Sim Long, sebaliknya Sim Long juga memandangnya dengan tenang.

Terdengar Tokko Siang bertanya.

"Sim Long, coba apa yang dapat kau katakan lagi."

Aku tidak bisa berkata apa-apa, cuma ... dapat mati di tanganmu rasanya boleh juga,üjar Sim Long tak acuh.

"Oo?!"

Tokko Siang melenggong.

"Sebab engkau adalah satu-satunya orang jahat tulen yang pernah kulihat, engkau tidak pernah menutupi kejahatan dan kekejamanmu, hal ini jauh lebih baik daripada orang-orang yang munafik itu."

Tokko Siang menjengek.

"Bagus, mengingat kata-katamu ini, biarlah kuberi kelonggaran padamu."

Mendadak ia menghantam.

Dalam sekejap itu sorot mata Tokko Siang tetap sedingin es.

Sebaliknya dalam sekejap itu air muka Sim Long tiba-tiba terjadi perubahan yang aneh.

Habis itu dia tidak bersuara lagi.

Diam-diam Ong Ling-hoa merasa lega, ia tahu sasaran pukulan Tokko Siang tidak nanti bisa selamat, akhirnya lenyap juga seteru yang paling diseganinya ini.

Liong Su-hay juga lantas berkeplok tertawa, serunya.

"Haha, bagus! Sungguh pukulan yang menyenangkan!"

Dengan hambar Tokko Siang menyurut mundur lalu mendengus.

"Apakah tidak kau periksa dulu dia benar-benar mati atau tidak?"

Di bawah pukulan Tokko-heng masakah ada orang hidup lagi?üjar Liong Su-hay dengan tertawa.

Meski demikian dia berucap, tidak urung ia mendekati Sim Long dan coba menunduk untuk melihatnya, ingin diketahuinya bagaimana air muka Sim Long setelah mati.

Tapi ia sendiri takkan tahu untuk selamanya.

Sebab pada saat itu juga tubuh Sim Long mendadak melejit bangun, telapak tangannya terus menyodok dada Liong Su-hay yang sama sekali tidak sempat mengelak dan kontan roboh terkapar.

Dalam sekejap itu air muka Liong Su-hay menampilkan rasa kaget dan tidak percaya yang sukar untuk dilukiskan.

Ong Ling-hoa juga hampir saja menjerit kaget.

Jelas-jelas Sim Long sudah mati, mengapa bisa hidup kembali?

Tokko Siang berdiri di sana tanpa bergerak, sorot matanya tetap sedingin es.

Tertampak Sim Long menjura kepadanya, katanya dengan tersenyum.

"Atas pertolonganmu, sungguh Cayhe sendiri tidak menduga. Budi kebaikanmu ini takkan kulupakan selama hidup."

Kutolong dirimu bukan karena ingin mendapat terima kasihmu,ücap Tokko Siang dengan dingin.

Baru sekarang Ong Ling-hoa tahu pukulan Tokko Siang tadi bukan untuk menghabisi nyawanya melainkan untuk melepas Hiat-to Sim Long yang tertutuk.

Sungguh ia tidak habis mengerti mengapa Tokko Siang bisa menolong Sim Long?

Apakah Tokko Siang ini juga samaran orang lain?

Tapi hal itu tidak mungkin terjadi.

Bentuk Tokko Siang yang khas dengan sorot matanya yang dingin tidak mungkin dapat dipalsukan siapa pun.

Dengan sendirinya dalam hati Sim Long juga timbul pikiran serupa.

Ia pandang Tokko Siang dengan melenggong.

"Sesungguhnya apa tujuanmu menolong diriku?"

Apakah menolong orang diharuskan mempunyai maksud tujuan?"

Jengek Tokko Siang.

"O, barangkali pertanyaanku kurang tepat, maksudku, sebab apakah Anda merasa perlu menolong orang she Sim?"

Apakah tidak boleh kutolong dirimu?"

"Kutahu Anda rada kurang puas terhadap tindakan Koay-lok-ong berhubung dengan urusanku, bila kumati, bukankah hubungan Anda dengan Koay-lok-ong akan pulih seperti sediakala?"

Gemerdep sinar mata Tokko Siang, dalam sekejap ini sorot matanya terjadi juga perubahan yang ruwet, tapi lantas ditutupinya dengan bergelak tertawa sambil menengadah.

"Haha, sudah kutolong dirimu, masih harus juga ditanyai apa maksudku,"

Seru Tokko Siang.

"Nah, biar kukatakan terus terang, Koay-lok-ong mengabaikan pembantu sendiri dan lebih menghargai orang lain yang lebih kuat, hal ini sangat mengecewakanku. Meski selama ini aku sangat setia padanya, bukan mustahil pada suatu hari aku akan dibuang begitu saja. Semalam aku hampir mati baginya, tapi sama sekali tidak memperoleh sesuatu pujian dari dia."

Apakah ... apakah ada maksud Anda untuk mengambil dan menggantikan dia?"

Tanya Sim Long dengan sinar mata gemerdep.

"Mengambilnya dan menggantikan dia ...."

Tokko Siang bergumam sambil menengadah. Mendadak ia membentak.

"Sama sekali tidak ada maksudku ini, aku cuma ingin membuat Koay-lok-ong tahu, jika dia menyia-nyiakan orang, orang juga akan meninggalkan dia. Tanpa bantuanku, usahanya pasti akan berantakan."

Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian.

"Berhasil-tidaknya sesuatu usaha terletak juga pada tepat-tidaknya memakai tenaga pembantu. Meski Koay-lok-ong sangat menghargai orang pandai, tapi caranya memilih orang kurang bijaksana. Hari ini dia menyia-nyiakan dirimu, hal ini sungguh tindakan fatal baginya."

Memangnya engkau merasa sayang baginya?"

Tanya Tokko Siang. Sim Long menghela napas.

"Menyaksikan usaha seorang gembong iblis hampir runtuh, betapa pun timbul juga rasa haruku. Namun Anda jangan khawatir, apa pun juga Koay-lok-ong dan aku tidak mungkin hidup bersama."

Dengan suara bengis Tokko Siang menjawab.

"Justru kutahu antara kalian tidak mungkin hidup berdampingan, makanya kutolong dirimu. Jika di dunia ada orang dapat mengambil dan menggantikan posisi Koay-lok-ong, maka orang itu ialah dirimu."

Mendadak ia cengkeram tangan Sim Long dan berucap sekata demi sekata.

"Asalkan ada niatmu, Tokko Siang berjanji akan membantumu sepenuh tenaga."

Dengan khidmat Sim Long berkata.

"Atas bantuan Anda, sungguh kurasakan sangat beruntung, cuma ...."

Cuma apa?"

Tanya Tokko Siang. Sim Long memandang ke arah mayat Liong Su-hay, katanya perlahan.

"Dengan matinya orang ini, mustahil Koay-lok-ong takkan curiga dan dapatkah dia melepaskan diriku?"

Tokko Siang memandang mayat itu sekejap, katanya.

"Apakah dia benar mati?"

Sudah mati,"

Sim Long mengangguk, ia tidak perlu memeriksa mayat itu, sebab ia cukup yakin akan tenaga pukulan sendiri.

"Karena keadaan mendesak, terpaksa kubinasakan dia."

Tersembul senyuman pada ujung mulut Tokko Siang yang jarang terlihat, katanya.

"Dia boleh dikatakan sudah mati, tapi juga dapat dikatakan masih hidup."

Sim Long tercengang.

"Sungguh aku tidak mengerti maksudmu?"

Dia mati karena menyamar sebagai Him Miau-ji, yang benar mati ialah Tokko Siang dan bukan Liong Su-hay,"

Kata Tokko Siang. Sim Long belum lagi paham, ia hanya memandang orang tanpa bersuara. Maka Tokko Siang menyambung lagi.

"Liong Su-hay mati karena menyamar sebagai Him Miau-ji, masakah Miau-ji tidak dapat hidup dengan menyaru sebagai Liong Su-hay?"

Cara bicaranya memang bergaya khas, sesuatu ucapan yang sederhana, bila terucap olehnya akan berubah menjadi ruwet dan sukar dipahami. Tapi Sim Long toh paham juga, serunya.

"Aha, bagus!"

Tokko Siang berkata pula.

"Jika Liong Su-hay menyamar sebagai Him Miau-ji dapat mengelabuimu, masakah Liong Su-hay samaran Him Miau-ji tak dapat mengelabui Koay-lok-ong?"

Betul, baik dalam bentuk fisik maupun gerak-gerik Him Miau-ji memang sangat mirip dengan Liong Su-hay, cuma ... ai, karakter kedua orang ini sangat berbeda."

Gemerdep sinar mata Tokko Siang, ia pandang Sim Long sekian lama, lalu berkata pula.

"Tapi mengapa tidak kau tanya padaku apakah Him Miau-ji sudah kubunuh?"

Sim Long tersenyum, katanya.

"Jika kau tolong diriku, mengapa engkau membunuh Miau-ji? Dengan sendirinya tidak perlu kutanyakan hal ini, yang ingin kutanyakan adalah saat ini Him Miau-ji berada di mana?"

Pertanyaan ini mestinya juga tidak perlu,"

Kata Tokko Siang.

"Betul, jika engkau sudah datang kemari tanpa khawatir, dengan sendirinya Miau-ji berada di suatu tempat yang sangat rahasia."

Tapi selain itu justru ada lagi suatu persoalan besar."

"Persoalan besar ...."

Sim Long termenung mendadak air mukanya berubah dan berseru.

"Ya, persoalannya memang rada gawat."

Sewaktu Tokko Siang menyebut "

Persoalan besar"

Tadi, sikapnya kelihatan sangat tenang. Setelah Sim Long menyatakan tahu juga persoalan yang dimaksud, ia menjadi heran, tanyanya.

"Masa kau tahu persoalan yang kumaksudkan?"

Ya, menyamar dan berganti rupa,"

Kata Sim Long. Cepat Tokko Siang menukas.

"Masa engkau sama sekali tidak paham ilmu merias?"

Sim Long menyengir.

"Sesungguhnya aku ini bukan orang serbatahu sebagaimana disangka orang."

Jika engkau tidak paham ilmu merias, cara bagaimana dapat kau bongkar penyamaran Suto dahulu?"

"Itu ... itu ada orang lain lagi,"

Kata Sim Long.

"Di mana orang itu sekarang?"

Berada tidak jauh dari sini."

"Jika tidak jauh, mengapa engkau tidak ...."

Dengan gegetun Sim Long memotong.

"Meski orang ini berada di sekitar sini, namun, apa mau dikatakan lagi, dia tidak mau ikut campur."

Belum kau tanya dia, dari mana kau tahu dia tidak mau ikut campur?"

Kata Tokko Siang dengan mendongkol. Gemerdep sinar mata Sim Long.

"Jika dia mau ikut campur, saat ini sepantasnya dia sudah muncul." ***** Ong Ling-hoa merasa bersembunyi di luar tahu orang, selagi dia mendengarkan dengan senang, ia terkejut demi mendengar kata-kata Sim Long yang terakhir itu. Sim Long sungguh seorang tokoh luar biasa. Dilihatnya sinar mata Tokko Siang lantas memancarkan cahaya tajam dan menembus ke kejauhan, seperti ingin mencari apa yang terdapat di sekeliling. Diam-diam Ong Ling-hoa terkesiap, tapi dengan tersenyum simpul ia lantas melangkah keluar. Dengan sorot mata setajam sembilu Tokko Siang menatapnya, serunya dengan bengis.

"Apakah orang ini yang kau maksudkan?"

"Betul, akhirnya dia muncul juga,üjar Sim Long.

"Melihat bentuk orang ini, jangan-jangan dia Jian-bin-kongcu (si Putra Seribu Muka) Ong Ling-hoa?"

Terima kasih, itulah diriku sendiri, entah cara bagaimana Tokko-siansing dapat mengenali diriku?"

Jawab Ong Ling-hoa sambil menjura.

"Dan entah julukan Jian-bin-kongcu itu atas hadiah siapa?"

Tokko Siang menjengek.

"Kecuali Ong Ling-hoa, siapa pula yang dapat bersikap setenang ini setelah mencuri dengar pembicaraan orang lain? Kecuali Ong Ling-hoa, siapa pula yang pantas disebut sebagai Jian-bin-kongcu?"

Terima kasih atas pujianmu,üjar Ling-hoa sambil menjura pula.

Ia berlagak tidak tahu nada ejekan Tokko Siang, sebaliknya ia anggap ejekan orang sebagai pujian, selamanya dia tidak pernah membuat kikuk dirinya sendiri.

Dia memang memiliki kepandaian khas ini.

"Bila Ong-kongcu sudah mau muncul, tentunya engkau sudah menyanggupi akan merias bagi Him Miau-ji,"

Kata Sim Long dengan tertawa.

"Apa sukarnya untuk meriasnya,üjar Ling-hoa.

"Cuma ... apakah Tokko-siansing memercayaiku?"

Percaya atau tidak serupa saja, urusan ini hanya dapat kau lakukan, juga mau tak mau harus kau lakukan,"

Jengek Tokko Siang.

"Wah, jika begitu, jadi tiada pilihan lain lagi bagiku?"

Kata Ling-hoa dengan tertawa.

"Ya, memang begitu,"

Kata Tokko Siang.

"Baik,"

Ling-hoa bergelak tertawa.

"dapat mempermainkan buah kepala Him Miau-ji sungguh suatu pekerjaan yang menarik. Kesempatan baik ini tentu tidak kulewatkan begitu saja."

Apakah alat rias sudah kau bawa?"

Tanya Tokko Siang.

"Yang penting apakah buah kepala Him Miau-ji sudah siap atau belum?"

Jawab Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Baik, jika begitu, mari berangkat!"

Tapi ingin kupinjam pakai sesuatu barang,"

Kata Ling-hoa tiba-tiba.

"Barang apa?"

Tanya Tokko Siang.

"Buah kepala ... kecuali Him Miau-ji, masih diperlukan kepala seorang lain."

Kepala siapa?"

Dengan sinar mata gemerdep Tokko Siang berteriak. Ong Ling-hoa memandang mayat Liong Su-hay yang menggeletak di samping, katanya tenang.

"Kepala orang yang hendak kupinjam sudah tidak dapat dibantah lagi oleh pemiliknya.Üntuk memotong buah kepala seorang bukan pekerjaan mudah, biarpun pemilik kepala itu sudah tidak dapat melawan toh masih diperlukan juga sebilah golok yang tajam dan juga sepasang tangan yang terampil. Dan tangan Ong Ling-hoa sungguh jauh lebih terampil daripada tangan seorang jagal. Maka kepala Liong Su-hay lantas terpenggal dan dibungkus, ditambahi lagi dengan sedikit bubuk merah, mayat tanpa kepala itu lantas berubah menjadi cairan darah berwarna kuning. Hujan masih turun tiada hentinya. Hujan serupa kabut tebal, banyak menutupi rahasia manusia. Meski sekujur badan Sim Long, Ong Ling-hoa dan Tokko Siang telah basah kuyup, tapi mereka tidak benci kepada hujan lebat ini, sebaliknya sangat berterima kasih. Berturut-turut mereka berjalan di tengah hujan, dengan sendirinya Tokko Siang berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Akhirnya Sim Long tak tahan dan bertanya.

"Kau yakin tempat persembunyian Miau-ji takkan diketahui orang?"

Biarpun tempat yang kecil juga banyak bagian yang terahasia dan sukar ditemukan orang, apalagi hutan seluas ini,"

Jengek Tokko Siang. Sim Long tertawa cerah.

"Betul, sudah lama kutinggal di taman ini, juga sering kupesiar mengelilinginya, tapi jalan yang kau tunjukkan sekarang ternyata belum pernah kukenal."

Meski sepuluh tahun lagi kau tinggal di sini juga belum tentu mampu menemukan tempat ini,üjar Tokko Siang.

"Apa betul?"

Mendadak Ling-hoa menegas. Tokko Siang hanya mendengus saja. Tiba-tiba Ong Ling-hoa berkata.

"Semoga tempat yang kau maksudkan itu bukanlah gua di belakang rumah berhala itu."

Mendadak Tokko Siang membalik tubuh dan menjambret leher bajunya sambil membentak.

"Jadi kau tahu tempat itu?"

Ling-hoa menghela napas.

"Ya, secara kebetulan saja kuketahui tempat itu."

Berubah juga air muka Sim Long, ia menegas.

"Sudah pernah kau datangi?Öng Ling-hoa menyengir.

"Sungguh sangat kebetulan tempat itu pun tempat persembunyian Cu Jit-jit. Saat ini Jit-jit mungkin sudah berada di sana, untungnya gua itu rada berliku-liku sehingga mereka berdua belum pasti dapat berjumpa."

Mendadak Tokko Siang lepaskan pegangannya dan menyurut mundur. Sim Long merasa lega, katanya.

"Sekalipun Him Miau-ji kepergok oleh Cu Jit-jit juga tidak menjadi soal."

Pada saat itulah segera Tokko Siang berlari dengan cepat. Sim Long menyusul kencang di belakangnya, katanya dengan menyesal.

"Bila ingin menyembunyikan sesuatu, sebaiknya jangan kau simpan pada tempat yang paling rahasia."

Sebab apa?"

Tanya Ling-hoa.

"Tempat yang paling rahasia sering kali akan berubah menjadi tidak rahasia lagi."

Setelah berpikir sejenak, akhirnya Ong Ling-hoa mengangguk dan berkata.

"Ya, betul. Setiap orang tentu ingin mencari suatu tempat yang paling rahasia untuk menyembunyikan rahasianya sendiri, dan setiap orang selalu menganggap hanya dirinya sendiri yang tahu tempat itu, tak diketahuinya tempat paling rahasia yang hendak dicari orang justru tempat itu pula."

Semoga saat ini belum terlalu banyak orang yang mengetahui tempat itu,"

Gumam Sim Long.

***** Ci-hiang sudah tenang kembali dari pergolakan emosinya, dengan hampa ia pandang ke arah pintu.

Ong Ling-hoa sudah pergi, hujan seperti dituang di luar, apakah hal ini lantaran Thian yang Mahakuasa mengetahui dosa manusia terlalu banyak, maka ingin mencucinya dengan air hujan yang lebat ini?

Jika begitu, jadi dosa pada tubuh manusia juga dapat tercuci bersih.

Mendadak Ci-hiang melompat bangun, baju dipakainya, lalu menerjang keluar di bawah hujan deras.

Sebentar saja tubuhnya sudah basah kuyup.

Tapi ia justru berharap hujan bisa bertambah lebat ....

Ia merasa sekujur badan teramat kotor, belum pernah sekotor ini.

Ia terus berjalan dengan linglung dan tidak mau berpikir lagi.

Namun begitu dia masih juga benci dan dendam, benci dan dendam kepada lelaki ....

Semua lelaki adalah babi.

Mendadak terdengar seorang bergelak tertawa.

"Haha, memandang bunga di bawah hujan dengan pandangan yang mabuk, bunga segar di bawah hujan ialah si dia .... Haha, ialah si dia!"

Waktu Ci-hiang berpaling, tertampaklah sepasang mata orang.

Itulah mata yang letih, tidak bersemangat, mata yang penuh garis merah.

Namun mata yang kuyu ini sekarang tampak melotot besar, serupa mata seekor anjing kelaparan yang lagi melototi sepotong daging, melototi Ci-hiang dengan rakus dan tanpa berkedip.

Itulah dia Li Ting-liong, lelaki busuk, lelaki kotor, anjingnya babi dan babinya anjing.

Ci-hiang mengertak gigi, tanpa melihat ia pun tahu betapa bentuk tubuh sendiri.

Seorang perempuan cantik, masak dan telanjang, melulu semampir sepotong baju tipis dan berjalan di bawah hujan lebat, baju tipis yang basah kuyup mencetak garis tubuhnya yang aduhai ....

Jelas itulah lukisan yang senantiasa diimpi-impikan oleh kaum lelaki.

Li Ting-liong dalam keadaan mabuk, makanya dia berkeliaran di bawah hujan.

Tapi mabuknya tidak membuatnya buta, saat ini matanya justru melotot serupa mata ikan mas yang hampir melompat keluar dari kelopak matanya.

Ci-hiang tidak bergerak lagi dan membiarkan tubuhnya dipandang orang.

Tubuhnya sudah cukup kotor, bertambah kotor lagi juga tidak menjadi soal.

Apalagi Li Ting-liong hanya memandang dengan mata, hal ini takkan membuatnya kotor.

Namun dia ini seekor babi, seekor anjing.

Mendadak kerongkongan Li Ting-liong terasa gatal, ia terbatuk-batuk.

Ci-hiang memandangnya dan berkata.

"Kau masuk angin barangkali."

Suaranya datar, tidak hambar, juga tidak marah, bahkan tidak merasa malu, sukar bagi orang untuk mengetahui arti yang terkandung dalam pertanyaannya.

Mendadak batuk Li Ting-liong berhenti, ia ingin tertawa, tapi gejolak nafsu telah membuat otot daging wajahnya menjadi kaku.

"Kau pulang saja,"

Kata Ci-hiang. Mendadak Li Ting-liong berteriak.

"Aku tidak masuk angin, sama sekali tidak. Aku sehat dan kuat ...."

Kau mabuk!"

Kata Ci-hiang pula.

"Tidak, aku tidak mabuk, aku tidak pernah mabuk,"

Kata Ting-liong.

"Aneh, mengapa setiap orang suka menyangka aku mabuk. Biniku menganggap aku mabuk, Co Bin-kim mengira aku mabuk, sekarang kau pun bilang aku mabuk."

Binimu ... Co Bin-kim ...."

Ci-hiang berkedip-kedip.

"Betul, biniku, dia seorang sundal, sundal tulen, dia mengira aku mabuk, menyangka aku tidak tahu, dia lantas menemani tidur dengan lelaki lain."

Mestinya ia tidak perlu tertawa, tapi dia lantas bergelak tertawa seperti orang gila, serunya.

"Tidur, haha, apakah kau tahu apa artinya tidur?"

Kutahu,"

Jawab Ci-hiang, mukanya tidak merah, juga tidak marah, ia hanya menjawab secara singkat seakan-akan pertanyaan yang lumrah. Mendadak Li Ting-liong meludah ke tanah, makinya.

"Maknya dirodok, sundal itu tidur bersama orang, tapi aku, aku justru keluyuran di bawah hujan seperti seekor anjing liar, ingin mencari anjing betina saja sulit."

Lalu ia pandang Ci-hiang dengan sinar mata rakus, biji lehernya naik-turun, mendadak ia menubruk maju dan jatuh di tanah penuh pecomberan, kedua kaki Ci-hiang dirangkulnya erat-erat.

Itulah kaki yang panjang dan halus, tapi padat, meski basah oleh air hujan, tapi tetap hangat.

Kerongkongan Li Ting-liong serasa tersumbat, ratapnya serak.

"Mohon ... kumohon ...."

Ci-hiang menunduk, memandangnya tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, katanya perlahan.

"Kau mau apa? Ingin kutemanimu tidur?"

Ku ... kumohon ...."

"Memangnya kau kira aku pun serupa binimu, seorang sundal?"

Tanya Ci-hiang.

"O, tidak, tidak,"

Teriak Li Ting-liong.

"Engkau jauh lebih hebat daripada sundal itu, kaki ... kakimu, dan ... dan jiwamu ... kakimu adalah jiwamu."

Ci-hiang mengempit erat kakinya, tapi tidak melangkah pergi.

"Jika aku tidak mau?"

Katanya kemudian, tetap sangat tenang.

"Kau mau, engkau pasti mau, kutahu,ücap Li Ting-liong.

"Jelas ... jelas sengaja kau pancing diriku, mungkin ... mungkin lakimu saat ini juga sedang tidur dengan perempuan lain, maka ... maka kau keluar untuk mencari teman tidur."

Mendadak sinar mata Ci-hiang mencorong terang, katanya.

"Baik, kuterima permintaanmu."

Seketika tubuh Li Ting-liong bergemetar.

"Jika ... jika begitu, sekarang ... sekarang ...."

"Coba berdiri dulu,"

Kata Ci-hiang.

"Kenapa berdiri? Kan tidak layak berdiri?üjar Ting-liong. Dengan geregetan Ci-hiang berkata.

"Tidak boleh di sini, harus mencari suatu tempat rahasia, supaya tidak diketahui orang lain."

Tempat rahasia? ...."

Gumam Li Ting-liong. Mendadak ia melompat bangun dan berteriak dengan tertawa.

"Aha, betul, aku ada sebuah tempat rahasia, pasti takkan diketahui orang lain. Apa pun yang kau lakukan di sana pasti takkan ketahuan."

Apa pun ...."

Baru saja Ci-hiang bergumam, tahu-tahu ia sudah diseret oleh Li Ting-liong dan dibawa lari ke depan.

Ia tidak tahu dibawa lari ke mana dan sudah berlari berapa jauh.

Akhirnya ia lihat sebuah rumah berhala kecil, di belakang rumah berhala ini seperti ada sebuah gua karang.

Tapi sebelum masuk ke gua karang itu Li Ting-liong sudah lantas merangkulnya dan merebahkan dia di tanah.

Di bawah siraman air hujan tubuh yang bugil itu putih mulus seperti salju.

Suara gemeresak air hujan bercampur dengan suara desah napas Li Ting-liong, dia kelihatan buas serupa seekor anjing musim kawin.

Diam-diam tangan Ci-hiang meraba sepotong batu, ia pejamkan mata dan mengangkat batu, sekuat tenaga ia hantam kepala Li Ting-liong.

Seketika Li Ting-liong tidak bergerak lagi, tidak bergerak untuk selamanya, tapi batu Ci-hiang masih terus mengepruk kepalanya.

Darah muncrat mengotori tubuhnya, tapi lantas tercuci bersih oleh air hujan.

Tiada hentinya Ci-hiang bergumam.

"Berbuat apa pun takkan ketahuan, begitu bukan katamu? Dan bila kubunuhmu kan juga takkan diketahui orang, betul tidak? Kau ... lelaki busuk, babi ... babi yang pantas mampus ...."

Betul, semua lelaki adalah babi, bagus sekali kau bunuh dia,"

Tiba-tiba seorang berucap di samping.

Suaranya begitu merdu, tapi juga terasa dingin.

Seketika Ci-hiang berhenti dan menoleh.

Terlihat sesosok bayangan putih ramping berdiri tenang di depan gua karang, tabir hujan seolah-olah bergantung di depannya, dan dia serupa dewi kahyangan yang baru turun dari langit.

Perlahan Ci-hiang menurunkan batu yang dipegangnya, tercetus dari mulutnya.

"Cu Jit-jit ...."

"Kau kenal diriku? ....ücap Jit-jit dengan kaku.

"Bagus sekali kau bunuh dia."

Dengan gemetar Ci-hiang berdiri dan bermaksud menutupi tubuhnya, tapi bajunya basah lagi dan sudah hancur.

Biasanya ia tidak takut menghadapi lelaki mana pun dengan tubuh telanjang bulat, tapi entah mengapa, di depan orang perempuan ia merasa malu.

"Masuk sini, di dalam lebih gelap,ücap Jit-jit dingin. Tanpa terasa Ci-hiang melangkah masuk ke situ, masuk ke gua karang di balik tabir air hujan itu. Gua karang ini dengan sendirinya tidak kering, tapi sedikitnya jauh lebih hangat daripada di bawah hujan. Tubuh Ci-hiang menggigil. Jit-jit memandangnya dengan tenang, mendadak ia menanggalkan sepotong baju sendiri dan disampirkan pada tubuh Ci-hiang. Serupa anak kecil memakai baju baru, Ci-hiang memegang erat baju ini, dengan kepala tertunduk ia berkata.

"Terima kasih."

Tidak perlu terima kasih, kau pun anak perempuan yang harus dikasihani,üjar Jit-jit.

"Kau kenal padaku?"

Tanya Ci-hiang sambil menunduk.

"Kenal,ücap Jit-jit hambar. Mendadak Ci-hiang mengangkat kepala dan bertanya.

"Engkau tidak benci padaku?"

Benci padamu? Kenapa kubenci padamu?"

"Sim Long ... Sim-kongcu ...."

Mendadak Jit-jit berteriak.

"Diam, dilarang kau sebut lagi nama ini."

Ci-hiang menyurut mundur dua langkah, dengan terbelalak ia pandang Jit-jit, katanya.

"Dilarang menyebut nama ini? Sebab apa?Äir muka Jit-jit tampak dingin kembali, jengeknya.

"Selanjutnya di depanku jangan lagi kau sebut-sebut nama lelaki lain, sebab ... sebab aku adalah bakal istri Ong Ling-hoa, Ong-kongcu."

Dia bicara dengan tenang, tapi bagi pendengaran Ci-hiang rasanya seperti dicambuk satu kali, kembali ia menyurut mundur, ucapnya dengan suara gemetar.

"Apakah ... apakah betul .... Benarkah demikian?"

"Mengapa tidak benar?üjar Jit-jit.

"Tapi aku tetap tidak percaya,"

Kata Ci-hiang dengan suara gemetar.

"Masa engkau dapat menjadi istrinya? Mengapa engkau mau diperistri oleh lelaki yang rendah, lelaki yang paling kotor dan tidak tahu malu seperti dia, akan lebih baik kau kawin dengan babi daripada menjadi istrinya."

Jit-jit ternyata tidak marah, ia hanya menjengek.

"Hm, memangnya kenapa aku tidak boleh kawin dengan dia?"

Ci-hiang menarik napas panjang.

"Apakah kau tahu dia ...."

"Tidak perlu kau bicara hal-hal busuk mengenai dia,"

Jengek Jit-jit.

"Dia orang macam apa, tentu saja kutahu lebih jelas daripadamu. Tapi aku tidak peduli, biarpun dia baru saja tidur denganmu juga aku tidak peduli."

Sungguh tak terduga oleh Ci-hiang bahwa dari mulut Cu Jit-jit dapat tercetus juga kata "

Tidurïtu, ia merasa nona yang murni ini kini pun sudah berubah sama sekali.

"Apakah kau heran, terkejut?"

Jengek Jit-jit pula.

"Meski kuheran dan terkejut, tapi aku pun tahu engkau tidak peduli, sebab pada hakikatnya engkau memang tidak suka padanya. Bilamana kau suka kepada seorang lelaki, tentu engkau akan cemburu. Sebenarnya engkau tidak suka padanya, tapi engkau sengaja hendak menikah dengan dia, soalnya kau dendam pada Sim Long, sebab yang kau sukai sebenarnya Sim Long, cintamu padanya tak terbatas, saking cintanya hingga timbul iri dan benci."

Bila kau sebut lagi namanya segera kubunuhmu,äncam Jit-jit.

"Boleh kau bunuh saja diriku, tidak menjadi soal,"

Jawab Ci-hiang.

"Biar kukatakan padamu, seharusnya jangan kau benci padanya, selamanya takkan kau temukan lelaki lain yang begitu baik padamu serupa Sim Long berbuat padamu. Jika di dunia ini ada seorang lelaki begitu baik padaku, sekalipun aku diharuskan segera mati juga aku ... aku sukarela."

Dia baik padaku? Haha, ya, memang baik sekali ...."

Seru Jit-jit dengan air mata berlinang.

"Betapa dia berbuat bagimu mungkin takkan kau ketahui selamanya. Apakah kau tahu sebab apa dia mau mengikat perjodohan dengan Ong-hujin itu?"

Aku ...."

"Memangnya kau kira dia tidak tahan bujuk rayu Ong-hujin? Haha, salah besar dugaanmu. Meski benar ada sementara lelaki yang suka kepada bentuk Ong-hujin itu, tapi Sim Long bukan lelaki demikian, jika di dunia ini ada lelaki yang tahan uji oleh godaan, maka orang itu ialah Sim Long."

Jika ... jika begitu, mengapa ... mengapa dia ...."

Serak suara Jit-jit.

"Apa pun yang diperbuatnya semuanya demi dirimu, kau tahu, jika dia tidak terima ikatan perkawinan itu, bagaimana akibatnya yang akan menimpa dirimu? Mungkin hal ini takkan kau ketahui selamanya."

Dia ... dia ...."

Gemetar Jit-jit.

"Demi membela dirimu, dia rela mengorbankan segalanya dan tidak sayang berbuat apa pun, tapi engkau justru tidak dapat memahami dia, engkau berbalik meninggalkan dia, meski hatinya merana, namun sekata pun tidak mau dikatakannya kepada orang lain, sebab dia lebih suka menderita sendiri daripada membikin susah dirimu."

Mendadak Jit-jit membalik tubuh dan mendelik, tanyanya.

"Untuk apa kau bela dia? Apa barangkali kalian ...."

Hm, ucapanmu ini tidak menyinggung kehormatanku, tapi telah menghina dia, meski aku pernah menggoda dia, kupikat dia dengan segala daya upaya, lelaki lain pasti tidak tahan oleh bujuk rayuku, tapi Sim Long, dia ...

dia justru memandang sebelah mata padaku, sebab dalam hatinya hanya terdapat dirimu.Ïa menghela napas, lalu menyambung.

"Sebab itulah kukagum padanya, terhadap lelaki demikian, perempuan mana pun pasti akan kagum. Biarpun diriku ini hina dina, aku seorang perempuan jalang, tapi apa pun juga aku tetap manusia, aku tidak dapat bicara melawan hati nuraniku sendiri.Äir mata Jit-jit seperti sudah kering, kembali air mukanya berubah tanpa sesuatu perasaan. Dengan hampa ia pandang Ci-hiang, gumamnya.

"Tampaknya, setiap orang sama mengerti akan Sim Long, hanya aku saja ...."

Engkau tidak memahami dia adalah karena engkau mencintainya dengan mendalam, hal ini tidak dapat menyalahkanmu, cinta memang dapat membuat buta setiap anak perempuan."

Dengan bimbang Jit-jit berduduk, memandang air hujan di luar gua dengan termenung, sampai lama ia tidak bicara, hanya air mata kembali menitik lagi.

"Tapi sekarang pun belum terlambat,ücap Ci-hiang.

"Segala urusan masih dapat ditolong. Aku seorang perempuan malang, selama hidup ini sudah ditakdirkan takkan mendapatkan bahagia, tapi engkau masih keburu, engkau jauh lebih beruntung daripadaku ...."

Sedapatnya ia menahan air matanya supaya tidak menetes, walaupun begitu akhirnya meledak juga tangisnya.

Dan begitulah kedua nona itu berhadapan dan menangis.

Entah sudah berapa lama, tiba-tiba suara seorang mendengus.

"Hm, perempuan yang cuma pandai mencucurkan air mata adalah orang tolol, hanya gentong nasi (tukang gegares maksudnya) belaka."

Suaranya meski dingin, tapi sangat merdu.

Padahal di dalam gua karang mestinya tidak ada orang lain, tapi jelas suara ini berkumandang dari dalam gua.

Serentak Ci-hiang dan Cu Jit-jit menoleh, maka tertampaklah sesosok bayangan putih serupa badan halus saja berdiri di kedalaman gua yang gelap itu, wajahnya tidak jelas kelihatan, yang tertampak hanya kedua matanya yang mencorong terang.

Mata ini membawa semacam daya pikat yang aneh, seperti dapat menembus perasaan orang lain, seperti dapat membuat orang lain melakukan apa pun baginya.

Sekarang mata ini sedang menatap mereka tanpa berkedip, ucapnya pula dengan sekata demi sekata, ¡"

Mengapa orang perempuan selalu dihina orang, sebab perempuan hanya bisa menangis, hanya pintar mencucurkan air mata, namun air mata tetap tidak dapat menyelesaikan sesuatu persoalan.¡"

Ci-hiang merasa ngeri dipandang oleh sinar mata yang aneh itu, ia meringkuk takut sebaliknya Cu Jit-jit lantas membusungkan dada dan berteriak.

"Memangnya engkau sendiri tidak pernah mencucurkan air mata?"

Tidak pernah,"

Jawab bayangan putih itu.

"Masa engkau tidak pernah menderita?"

Tanya Jit-jit pula.

"Hm, penderitaan yang kualami selamanya tak bisa kalian bayangkan, tapi aku tetap tidak pernah mencucurkan air mata .... Tiada sesuatu urusan yang dapat membuatku mengalirkan air mata."

Memangnya engkau bukan ... bukan orang perempuan?"

Tanya Jit-jit.

"Aku bukan orang perempuan ... hakikatnya aku memang bukan manusia,"

Kata bayangan putih itu dengan hampa. Tanpa terasa Jit-jit menggigil, katanya.

"Habis ... sesungguhnya engkau ini apa?"

Sekata demi sekata si bayangan putih menjawab.

"Aku cuma badan halus saja ... orang lain sama menyebutku Yu-leng-kiongcu." ***** Rumah berhala kecil itu, kuil malaikat bunga, keadaan kuil itu sudah bobrok, meski terletak juga di suatu sudut Koay-hoat-lim, namun sangat tidak serasi dengan taman hiburan yang baru dibangun ini. Nyata kuil ini tinggalan seorang pencinta bunga yang tidak diketahui siapa namanya dan bukan dibangun oleh pemilik taman hiburan ini. Majikan taman hiburan yang baru hampir sama sekali tidak berminat terhadap rumah berhala segala, tidak pernah sembahyang dan bersujud, mungkin dia cuma percaya kepada dirinya sendiri, bisa juga memang tidak percaya kepada apa pun. Sim Long melayang masuk ke kuil itu, dikebaskannya air hujan yang membasahi tubuhnya, menyusul Tokko Siang dan Ong Ling-hoa juga melompat masuk. Mereka tidak langsung menerobos ke dalam gua, hal ini menandakan mereka cukup waspada.

"Gua itu terletak di belakang kuil ini,"

Kata Tokko Siang.

"Entah Jit-jit sudah bertemu dengan Him Miau-ji atau belum,üjar Ong Ling-hoa.

"Gua itu sangat dalam, sedangkan Him Miau-ji bersembunyi di bagian yang paling dalam,"

Tutur Tokko Siang. Ling-hoa tertawa.

"Ya, anak perempuan tentu takkan berani menuju ke kedalaman gua yang gelap. Meski Jit-jit berbeda daripada anak perempuan lain, tapi dia tetap anak perempuan juga."

Omong kosong,"

Jengek Tokko Siang.

"Betul, ini memang omong kosong, tapi mengapa Anda hanya mendengarkan saja di sini dan tidak lekas masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan yang sebenarnya?Äir muka Tokko Siang berubah, selagi ia hendak melangkah ke dalam, mendadak Sim Long berkata.

"Nanti dulu!"

"Jangan-jangan kau pun ingin omong kosong?"

Jengek Tokko Siang.

"Coba kalian periksa dulu patung malaikat bunga ini,"

Kata Sim Long.

Dengan sendirinya altar pemujaan juga sudah bobrok, dalam keadaan suram cuaca hujan, altar yang bobrok ini terasa seram, jika tidak didekati pada hakikatnya sukar melihat jelas patung malaikat yang dipuja.

Patung malaikat itu berbentuk serupa seorang perempuan udik, tangan kiri memegang setangkai bunga di depan dada, tangan kanan sedang meraba kelopak bunga, namun pandangannya justru tertuju jauh ke depan.

"Ehm, malaikat ini memang menarik, orang yang memahat patung ini seperti mempunyai maksud tujuan tertentu, tapi rasanya kita sukar menerka maksudnya,üjar Ong Ling-hoa setelah termenung.

"Bahwa patung yang dipuja ini ternyata seorang perempuan kampung, ini pun sangat aneh. Padahal menurut cerita yang pernah kudengar, malaikat bunga ini seharusnya ...."

Saat itu bukan waktunya untuk berlagak sebagai seorang ahli sejarah,"

Jengek Tokko Siang.

"Tidak peduli malaikat bunga ini lelaki atau perempuan, tua atau muda, semuanya tidak ada sangkut pautnya dengan kita."

Justru malaikat bunga ini ada sangkut pautnya dengan kita,üjar Sim Long perlahan.

"Sangkut paut apa?"

Tanya Tokko Siang.

"Apakah sudah kau lihat jelas wajahnya?"

"Aha, betul,"

Seru Ong Ling-hoa.

"Wajahnya memang ...."

Tergerak juga hati Tokko Siang setelah memandangi wajah patung, katanya.

"Ya, wajah patung ini seperti mirip seorang."

Ketiga orang saling pandang sekejap.

"Mirip dia,ücap Ling-hoa akhirnya.

"Betul, sangat mirip,üjar Tokko Siang. Kiranya kecantikan wajah malaikat itu dengan sikapnya yang lembut dan mata-alisnya yang sayu memang sangat persis dengan Pek Fifi. Sampai sekian lama Ong Ling-hoa memandangnya dengan termenung, tiba-tiba ia berkata pula.

"Tidak, tidak betul."

"Tidak betul apa?"

Tanya Tokko Siang.

"Rumah berhala ini sedikitnya sudah sepuluh tahun umurnya, jika begitu, pada waktu patung ini dibuat, saat itu Pek Fifi kan masih anak kecil, lantas mengapa ...."

Belum lanjut ucapan Ong Ling-hoa segera Tokko Siang berkeplok dan menukas.

"Betul, pemahat patung ini kan bukan ahli nujum, dari mana dia tahu bagaimana bentuk Pek Fifi setelah dewasa? Meski patung ini sangat mirip dengan dia, tampaknya cuma kebetulan saja."

Sama sekali bukan kebetulan,"

Kata Sim Long.

"Tapi patung itu juga bukan dipahat menurut bentuk wajah Pek Fifi."

Tokko Siang merasa heran.

"Jika patung ini tidak dipahat menurut wajah Pek Fifi, dengan sendirinya kemiripan ini hanya secara kebetulan saja, tapi kau bilang bukan kebetulan. Memangnya mengapa bisa terjadi begini?"

Patung ini adalah ibu Pek Fifi,ücap Sim Long sekata demi sekata.

"Ibunya?"

Melengak juga Ong Ling-hoa. Tokko Siang juga berteriak.

"Pek Fifi belum lagi sebulan datang ke sini, mengapa patung ibunya bisa berada di sini, dan ... mengapa ibunya bisa berubah menjadi patung malaikat bunga di sini?"

Di dalam urusan ini ada sesuatu rahasia besar,üjar Sim Long.

"Rahasia besar? Rahasia apa?"

Tanya Tokko Siang.

"Saat ini tidak dapat kukatakan, sebab aku pun tidak begitu jelas,"

Sahut Sim Long.

"Bisa jadi ibu Pek Fifi memang orang daerah ini, mungkin juga Pek Fifi dilahirkan di sini, sesudah dewasa baru pergi ke Tionggoan,"

Sambung Ling-hoa.

"Ya, mungkin begitu,"

Sim Long mengangguk.

"Tapi bila ibu Fifi cuma seorang perempuan udik biasa, mengapa orang menjadikan dia malaikat bunga? Jika ibu Fifi bukan perempuan udik biasa, mengapa anak perempuannya sampai terlunta-lunta di negeri orang?"

Kata Ling-hoa lagi.

"Bisa jadi terluntanya Pek Fifi bukan kejadian sungguhan,üjar Sim Long.

"Bukan sungguhan?"

Ling-hoa terbelalak heran.

"Ya, bisa jadi ibu Fifi sendiri semula memang seorang perempuan udik, tapi kemudian secara kebetulan mendapatkan penemuan ajaib dan berubah menjadi seorang kosen, seorang sakti dunia persilatan."

Tambah terbelalak mata Ong Ling-hoa.

"Orang kosen dunia persilatan?"

Setahuku, belasan tahun yang lalu di dunia persilatan tidak terdapat orang kosen semacam ini,üjar Tokko Siang.

"Ada sementara orang kosen dunia persilatan selamanya tak dapat kau lihat wajah aslinya,"

Kata Sim Long.

"Tapi namanya ...."

Tokko Siang melenggong.

"Ada sementara orang kosen dunia Kangouw juga namanya sukar kau kenal,"

Tukas Sim Long.

"Habis sesungguhnya siapa dia? Kau tahu?"

Tanya Ling-hoa tak tahan.

"Mungkin kutahu,"

Kata Sim Long.

"Mengapa tidak kau katakan saja jika tahu?"

Teriak Tokko Siang mendongkol.

"Mungkin ada sangkut pautnya dengan kawanan setan Yu-leng,"

Tutur Sim Long. Seketika air muka Tokko Siang berubah, serunya.

"Apa katamu? Ada sangkut pautnya dengan kawanan setan Yu-leng?"

Wah, jika rumah berhala ini ada sangkut pautnya dengan kawanan setan itu, maka gua karang di belakang bukankah ....

Ah, betul, gua itu memang sangat misterius, memang sangat bagus untuk tempat tinggal kawanan setan itu,"

Kata Ong Ling-hoa.

"Jika begitu, lantas Him Miau-ji ...."

Belum lanjut ucapan Tokko Siang, mendadak ia menerjang keluar.

Ong Ling-hoa memandang Sim Long sekejap, meski wajah Sim Long tetap mengulum senyum, namun senyuman yang sangat terpaksa malahan sorot matanya kelihatan menanggung rasa khawatir, katanya dengan suara berat.

"Jika tidak salah dugaanku, mungkin segala urusan sudah terjadi perubahan luar biasa dan kesulitan kita pun akan bertambah banyak ...." ***** Sementara itu mayat Li Ting-liong masih kehujanan, tubuhnya setengah telanjang, kepalanya sudah pecah, cuma samar-samar masih dapat dikenali mukanya.

"Bukankah dia orang she Li itu ...."

Kata Tokko Siang.

"Betul, dia Li Ting-liong,"

Kata Sim Long.

"Mengapa dia mati di ... di sini?"

Segera Ong Ling-hoa ikut bicara.

"Cu Jit-jit tidak berada di sini, keadaan orang she Li ini sedemikian rupa, jangan-jangan tanpa sengaja ia pergoki Jit-jit, lalu hendak berbuat tidak senonoh padanya, maka Jit-jit lantas membunuhnya."

Pasti bukan perbuatan Jit-jit,üjar Sim Long.

"Apa dasarnya?"

Tanya Ling-hoa.

"Cara turun tangan Jit-jit pasti tidak sekeji ini."

Yu-leng-kui-li ... jangan-jangan setan itu yang turun tangan keji ini?"

Seru Tokko Siang.

"Juga bukan perbuatan Yu-leng-kui-li,"

Kata Sim Long setelah termenung sejenak.

"Dari mana kau tahu pula?"

Tanya Tokko Siang dengan kening bekernyit.

"Tindak tanduk Yu-leng-kui-li biasanya sangat rahasia, jika Yu-leng-kui-li yang membunuhnya pasti mayat ini takkan ditinggalkan di sini."

Ya, betul,"

Tokko Siang menarik napas panjang, betapa pun dia harus mengakui kecerdasan Sim Long yang lebih tinggi setingkat daripada orang biasa. Ong Ling-hoa ikut bertanya.

"Habis kalau bukan perbuatan Cu Jit-jit dan juga bukan Yu-leng-kui-li, lantas siapa?"

Jelas di sini pernah didatangi lagi orang lain,üjar Sim Long.

"Orang lain?"

Ling-hoa menegas.

"Meski tidak kuketahui siapa dia, tapi dapat kupastikan dia seorang perempuan."

Perempuan? ...."

Tokko Siang termenung.

"Padahal tidak banyak orang perempuan di Koay-hoat-lim sini, perempuan yang dapat membunuh orang terlebih tidak banyak."

Memang tidak perlu banyak, seorang saja sudah cukup,üjar Ling-hoa dengan tertawa.

Dengan mendongkol Tokko Siang melototinya sekejap, tanpa bicara ia lantas melompat ke dalam gua.

Belasan langkah masuk ke dalam gua keadaan lantas gelap gulita, biarpun orang berjalan dari depan juga sukar dikenali wajahnya.

Dengan sorot mata yang tajam Tokko Siang dan Ong Ling-hoa lantas berusaha mencari sepanjang jalan.

"Apakah Cu Jit-jit memang menunggumu di sini?"

Tanya Tokko Siang.

"Kuyakin dia takkan pergi ke tempat lain,üjar Ling-hoa.

"Mengapa tidak kelihatan batang hidungnya?"

Ling-hoa mengangkat pundak, lalu balas bertanya.

"Dan Him Miau-ji juga menunggumu di sini?"

Tokko Siang mengiakan.

"Lantas di mana orangnya sekarang?"

Begitulah kedua orang saling mengejek, padahal di dalam hati sama-sama gelisah.

Orang yang seharusnya menunggu mereka di sini, entah mengapa sekarang tidak kelihatan.

Mendadak Tokko Siang menarik tangan Ong Ling-hoa dan berseru.

"Lihat itu .... Apakah mereka berdua telah mengalami nasib malang?"

Aku sendiri tidak gelisah biarpun kehilangan calon bini, kenapa engkau berbalik kelabakan?üjar Ling-hoa dengan hambar.

"Haha, Tokko-heng tampaknya seorang yang acuh tak acuh, tak tersangka sebenarnya seorang yang berdarah panas. Tapi hendaknya Tokko-heng tahu, jika aku tidak gelisah, soalnya telah kuperhitungkan mereka pasti takkan mati."

Sebab apa?"

Tanya Tokko Siang.

"Tidak ada alasan bagi Yu-leng-kui-li untuk membunuh mereka."

Huh, untuk membunuh orang terkadang tidak diperlukan alasan,"

Jengek Tokko Siang.

"Tapi Yu-leng-kui-li justru beralasan untuk tidak membunuh mereka."

Oo ...."

Tokko Siang melenggong.

"Sebab jika mereka dibiarkan hidup akan jauh lebih berguna daripada membunuh mereka,"

Kata Ling-hoa pula. Tokko Siang berpaling dan memandang Sim Long. Sorot mata Sim Long tampak gemerdep dalam kegelapan.

"Bagaimana, masuk di akal tidak ucapan orang ini?"

Tanya Tokko Siang.

"Kupikir pasti begitulah,"

Jawab Sim Long.

"Maka kita pun tidak perlu lagi mencari mereka,"

Sambung Ling-hoa.

"Yang penting, asalkan kita dapat menemukan sarang kawanan Yu-leng-kui-li, dengan sendirinya pula dapat kita menemukan mereka."

Tapi berada di mana gua setan mereka? Sama sekali tiada sesuatu petunjuk di sini,üjar Tokko Siang.

"Kupikir sarang setan mereka pasti juga berada di dalam gua ini,üjar Ling-hoa.

"Dari mana kau tahu? Memangnya pernah kau datangi tempatnya?"

Teriak Tokko Siang penasaran. Mendadak Sim Long menukas.

"Ucapan Ong-heng memang beralasan, sarang setan mereka pasti berada di dalam gua ini, sebab di mulut gua hanya kelihatan bekas kaki orang masuk dan tiada bekas kaki orang keluar."

Tokko Siang termenung sejenak, gumamnya kemudian.

"Kiranya kalian sudah memeriksanya tadi."

Mestinya ia merasa banyak kelebihan dibandingkan orang lain, tapi di depan Sim Long dan Ong Ling-hoa, tiba-tiba ia merasa dirinya berubah menjadi orang bodoh, bahkan buta.

"Soalnya sekarang, betapa besar dan dalamnya gua ini ...."

Sambil bicara pandangan Ong Ling-hoa tertuju ke arah Tokko Siang. Perlahan Tokko Siang berkata.

"Bagian kedalaman gua ini gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan, bahkan lembap dan seram penuh galagasi, sampai saat ini belum pernah kudengar ada orang pernah masuk ke situ."

Betul, bilamana sarang setan mereka berada dalam gua, kuyakin pasti ada jalan keluar rahasia lain,"

Sambung Ling-hoa.

"Bahkan pasti banyak perangkap, jika kita masuk begini saja mungkin juga sukar untuk keluar lagi dengan hidup."

Lantas bagaimana kalau kita tidak menerjang ke dalam?"

Tanya Tokko Siang.

"Kita harus mengadakan persiapan yang rapi, obor, tali, ransum ... semua itu tidak boleh kurang."

Persiapan? Hm, setelah semuanya kau siapkan sudah tidak keburu lagi,"

Jengek Tokko Siang.

"Betul,"

Kata Sim Long.¡"

Sekarang waktunya sudah sangat mendesak, urusan dengan Koay-lok-ong tidak dapat ditunda lagi, kalau tidak, berbagai rencana kita pasti akan gagal total, cuma ...

di dalam gua ini pasti banyak perangkap rahasia dan berliku-liku jalannya, bilamana kita tersesat, bukan mustahil bisa mati terkurung di dalam."

"Jika demikian, apakah kita tidak perlu urus mereka lagi?"

Jengek Tokko Siang. Dengan tenang Ong Ling-hoa berkata.

"Berbuat apa pun bagiku tidak menjadi soal, tapi jika aku disuruh mengantar kematian, maaf, tidak usah saja."

Jilid 31

"Masakah kau lupa siapa yang akan kau tolong?"

Tanya Tokko Siang dengan gusar.

"Peduli siapa yang akan kutolong, yang lebih penting kan jiwaku sendiri?"

Kau ...."

Belum lagi Tokko Siang sempat memaki, mendadak Sim Long mendesis.

"Sssst, diam!"

Tokko Siang terkejut dan bungkam seketika.

Tahu-tahu di kedalaman gua yang gelap sana muncul setitik cahaya api.

Cahaya api yang hijau berkelip, serupa api setan.

Di balik cahaya api yang lemah itu seperti ada bayangan orang.

Tokko Siang, Ong Ling-hoa dan Sim Long sama menahan napas dan bersembunyi dalam kegelapan.

Siapa tahu cahaya api itu lantas berhenti di kejauhan.

Mereka tidak bergerak, cahaya api itu pun diam.

"Siapa?"

Bentak Tokko Siang. Tidak ada jawaban dalam kegelapan, tapi cahaya api lantas melayang-layang dan semakin menjauh.

"Kejar!"

Kata Sim Long dengan suara tertahan.

"Kejar? .... Mana boleh, masa engkau tidak takut kepada tipu muslihat mereka?üjar Ong Ling-hoa.

"Cahaya api ini pasti dibuat oleh Yu-leng-kui-li untuk menyongsong kedatanganku,"

Kata Sim Long.

"Jika dia ingin menemuiku, sebelum berjumpa kukira takkan terjadi sesuatu."

Habis bicara ia terus mendahului melompat ke depan.

"Jika engkau tidak mau ikut, boleh tunggu saja di sini,"

Kata Tokko Siang kepada Ong Ling-hoa.

"Urusan sudah kadung begini, tidak mau pergi juga tidak bisa lagi,üjar Ling-hoa. Kegelapan yang tak berujung menekan perasaan orang hingga tidak dapat bernapas. Dalam kegelapan hanya ada setitik cahaya api hijau yang melayang-layang dan tidak tertampak apa pun. Angin meniup dingin seram membuat orang mengirik. Pada hakikatnya Sim Long bertiga tidak dapat membedakan arah, terpaksa mereka mengikuti cahaya api itu secara membuta. Semakin menuju ke dalam gua semakin kencang angin yang meniup. Memakai baju yang basah kuyup dan berjalan di bawah tiupan angin sedingin ini sungguh rasanya tidak enak. Tapi Sim Long bertiga sudah tidak merasakan dingin lagi. Entah apa perasaan mereka sekarang, mungkin takut, tapi rasa takut yang sukar dijelaskan, sebab mereka pun tidak tahu sesungguhnya apa yang ditakuti mereka. Karena tegangnya, suara napas Tokko Siang yang semakin berat pun terdengar. Masakah manusia yang kaku dingin luar-dalam ini juga bisa takut? Tanpa terasa Sim Long menghela napas gegetun. Kegelapan mestinya dapat menutupi macam-macam kelemahan manusia, tapi dalam keadaan tertentu dapat pula menonjolkan titik kelemahan manusia yang biasanya sukar terlihat di tempat terang. Diam-diam Sim Long berpikir.

"Meski orang pintar tahu cara bagaimana memperalat cahaya terang, hanya orang yang terpintar saja tahu cara bagaimana menggunakan kegelapan."

Dan Yu-leng-kiongcu itu tidak perlu disangsikan lagi adalah seorang mahapintar dan cerdik.

Sim Long tidak mendengar suara Ong Ling-hoa, biarpun Ong Ling-hoa tidak merasa takut, sedikitnya dia tegang sehingga bernapas megap-megap.

Diam-diam Sim Long membatin pula.

"Tidak perlu diragukan juga Ong Ling-hoa seorang mahapintar dan cerdik, tentu ia pun tahu cara bagaimana memperalat kegelapan. Dalam hal ini tidak boleh kulupakan ...."

Sampai di sini, mendadak dalam kegelapan tersiar bau harum.

Sim Long cukup waspada, serentak ia menahan napas.

Menyusul dengan bau harum yang menusuk hidung itu, segera bergema suara tertawa nyaring serupa bunyi keleningan.

Lalu seorang berkata.

"Eh, jangan kalian menahan napas, bau harum ini tidak beracun, bahkan sangat bernilai, kan terlalu sayang bila tidak membaui?"

Mendadak Ong Ling-hoa juga berseru dengan tertawa.

"Betul, mungkin inilah bau harum pupur buatan Ong-hong-cay dari Pekkia yang termasyhur itu, sungguh tak terduga nona yang tinggal jauh di sini juga mempunyai pupur pujaan kaum wanita ini, sungguh luar biasa."

Ahh, yang bicara tentunya Ong Ling-hoa, Ong-kongcu bukan?"

Sahut suara itu.

"Entah dari mana nona tahu akan diriku?üjar Ling-hoa.

"Sudah lama kudengar Ong-kongcu adalah kesayangan kaum nona dan pujaan kaum wanita, memangnya siapa lagi kecuali Ong-kongcu yang sedemikian paham mengenai seluk-beluk pupur segala?"

Terima kasih,"

Kata Ling-hoa.

"Dan nona sendiri apakah Yu-leng-kiongcu adanya?"

"Betul,"

Jawab suara itu.

"Sering kudengar bahwa Kiongcu adalah putri tercantik di dunia ini, juga jantannya kaum wanita, tapi hari ini mengapa Kiongcu sedemikian pelit,"

Kata Ling-hoa.

"Pelit?"

Suara itu menegas.

"Kalau tidak pelit, mengapa Kiongcu tidak sudi memberikan setitik cahaya terang agar kami sempat melihat kecantikan Kiongcu,üjar Ling-hoa dengan tertawa.

"Kecantikan dalam bayangan akan jauh lebih menyenangkan daripada melihat kenyataannya, bisa jadi setelah Kongcu melihat diriku akan merasa kecewa, bukankah seorang perempuan cerdik tidak nanti menimbulkan kecewa kaum lelaki, terutama bagi lelaki serupa Ong-kongcu? ....ïa berhenti sejenak, lalu tanya Sim Long.

"Betul tidak, Sim-kongcu?"

Mana kupaham jalan pikiran anak perempuan?"

Sahut Sim Long. Suara itu tertawa ngikik, katanya.

"Setiap lelaki di dunia ini sama menganggap dirinya paling paham isi hati anak perempuan, hanya lelaki yang paling cerdik mau mengaku tidak paham jalan pikiran anak perempuan. Sim-kongcu memang tidak sama dengan lelaki lain, pantas sedemikian banyak anak perempuan yang tergila-gila padamu."

Saking tidak tahan mendadak Tokko Siang membentak.

"Jika kalian ingin mengobrol iseng, hendaknya berganti suatu tempat ...."

Masa tidak boleh bicara di sini?"

Tanya suara itu.

"Kukira di sini hanya cocok untuk membunuh orang,"

Kata Tokko Siang.

"Jika begitu ingin kutanya padamu, apakah kau tahu tempat ini sebenarnya tempat apa?"

Tentu ... tentunya bukan kamar tidurmu, bukan?"

Jengek Tokko Siang. Siapa tahu suara itu lantas menjawab dengan lembut.

"Siapa bilang tempat ini bukan kamar tidurku, masa tak dapat kau lihat?"

Hampir saja Sim Long tertawa geli, sungguh ia tidak menyangka Tokko Siang juga tahu humor. Rupanya melengak juga Tokko Siang oleh jawaban orang, katanya pula dengan gelagapan.

"Apakah ... apakah tempat ini ...."

Dapatkah kau lihat apa yang terdapat di depanmu?"

Tanya suara tadi.

"Tentu saja tidak ... tidak dapat kulihat,"

Jawab Tokko Siang.

"Nah, biar kukatakan padamu,"

Tutur suara itu.

"Di depanmu sekarang tergantung sebuah lukisan indah."

Lukisan? Lukisan apa? Omong Kosong!"

"Itulah lukisan karya Go To-cu yang termasyhur, yang terlukis adalah Koan-im Hudco yang berbaju seputih salju."

Haha, Yu-leng-kiongcu juga memuja Koan-im, sungguh luar biasa,"

Seru Sim Long dengan tertawa.

"Dan di sebelah kiri lukisan adalah tempat tidurku,"

Sambung suara itu pula.

"Di atas tempat tidur memakai kelambu warna jambon bersulam bunga indah buah tangan Toh Jit-nio dari Pakkia."

Wah, dapatkah kulihatnya?"

Kata Ong Ling-hoa dengan tertawa.

"Mengapa Ong-kongcu berubah menjadi orang awam, umpama tidak melihat buah tangan Toh Jit-nio kan juga dapat dibayangkan keindahannya, betul tidak, Sim-kongcu?"

Aku cuma ingin berselimut dan tidur dengan nyenyak di atas tempat tidur, apakah di situ terdapat sulaman indah Toh Jit-nio atau tidak bagiku tidak menjadi soal,"

Jawab Sim Long. Suara itu tertawa, katanya.

"Dan di samping tempat tidurku adalah lemari pakaian, di situ ada berpuluh potong bajuku, kebanyakan putih, hanya seperangkat saja yang berwarna merah muda."

Pada waktu Kiongcu mengenakan baju warna merah muda tentu sangat cantik,üjar Ling-hoa.

"Dan entah tempat rias Kiongcu terletak di mana?"

Terletak di sebelah kanan lukisan,"

Tutur suara itu.

"Di situ ada sebuah cermin tembaga kecil, juga buatan Ong-hong-cay yang terkenal itu. Tentu ada pula minyak rambut dan sisir buatannya."

Wah, barang pilihan Kiongcu sungguh sangat bagus,ücap Ling-hoa.

"Di kamar anak gadis yang indah ini mestinya ada juga kecapi,"

Sambung Sim Long tiba-tiba.

"Ai, Sim-kongcu memang seorang seniman,"

Kata suara itu.

"Di samping meja rias justru ada sebuah kecapi."

Bicara sampai di sini, benar juga segera bergema suara kecapi yang merdu. Sim Long tertawa, katanya.

"Wah, sungguh kami sangat beruntung dapat berkunjung ke kamar tidur Kiongcu yang luar biasa ini. Tapi entah kesalahan apa yang telah kami lakukan sehingga dihukum berdiri oleh Kiongcu."

Engkau memang telah melanggar kesalahan besar,üjar suara itu.

"Engkau telah mencuri lihat wajahku, sungguh ingin kuhukum kau berdiri selama hidup."

Suaranya meski sangat lembut dan memesona, tapi terasa seperti sengaja dibuat-buat.

Tapi lagak dibuat-buat ini serupa juga anak gadis yang manja di depan sang kekasih.

Agaknya dia sengaja menggunakan cara ini untuk menutupi suara aslinya.

Biarpun Sim Long berusaha membedakannya tetap tidak dapat menentukan apakah suara itu suara Pek Fifi atau bukan.

"Wajah Kiongcu mengapa tidak suka dilihat oleh orang lain?"

Katanya kemudian dengan tersenyum.

"Sebab aku sudah bersumpah di depan Yu-leng-cosu (kakek arwah halus) bahwa setiap orang yang melihat wajahku, tidak peduli siapa dia hanya ada dua pilihan baginya."

Oo, kedua pilihan apa?"

Tanya Sim Long.

"Mati!"

Kata suara itu.

"Wah, jika begitu kuharap dapat memilih jalan kedua,üjar Sim Long. Perlahan suara itu berkata pula.

"Sampai sekarang belum pernah ada orang menempuh jalan kedua, sebab jalan kedua ini tidak dapat dilalui oleh sembarang orang .... Orang yang dapat menempuh jalan kedua ini tidak ada seberapa orang di dunia."

Memangnya ada berapa orang?"

"Jika mau bicara secara betul, hanya ada satu orang."

Satu orang? Apakah ... apakah tidak terlalu sedikit?"

Suara itu bertambah lembut.

"Bagimu seorang pun tidak sedikit lagi."

"Sebab apa?"

Tanya Sim Long.

"Sebab satu-satunya orang yang dapat menempuh jalan kedua ini kebetulan ialah dirimu sendiri."

Aha, sungguh bahagia aku ini,"

Seru Sim Long.

"Apabila Kiongcu sudi memberitahukan jalan macam apa jalan kedua itu, tentu Cayhe akan sangat gembira."

Jalan kedua itu adalah menikah menjadi suami-istri denganku."

Kata suara itu perlahan.

"Wah, tidak adil, tidak adil!"

Teriak Ong Ling-hoa.

"Mengapa kebanyakan gadis ingin menjadi suami-istri dengan Sim Long, mengapa tidak mencari diriku saja? Jika Kiongcu penujui pasi akan jauh lebih gembira daripada Sim Long."

Suara itu tertawa.

"Sim Long juga akan menerima."

Dari mana Kiongcu tahu aku pasti akan menerima,"

Tanya Sim Long. Suara itu tidak menjawab, sebaliknya bertanya.

"Him Miau-ji sahabatmu bukan?"

"Betul,"

Jawab Sim Long.

"Cu Jit-jit juga sahabatmu, bukan?"

Ya."

"Jika begitu seharusnya kau tahu sebab apa kau terima kehendakku."

Mendadak Tokko Siang menghardik.

"Apakah mereka ... mereka jatuh dalam cengkeramanmu?"

Menyesal, memang begitulah."

"Huh, memaksa orang lain kawin denganmu secara licik begitu, apakah bukan perbuatan yang tidak tahu malu?"

Suara itu tertawa.

"Jika ada seorang anak perempuan memaksamu kawin dengan dia secara begini, tentu engkau kegirangan setengah mati. Eh, betul tidak, Sim-kongcu?"

Dengan murka Tokko Siang hendak menerjang maju, tapi keburu ditahan Sim Long.

"Lepaskan!"

Teriak Tokko Siang.

"Kenapa kau ...."

Umpama hendak kau labrak dia kan harus tahu jelas dulu dia berada di mana?"

Kata Sim Long.

"Di mana dia bicara, tentu juga dia berada di sana,"

Teriak Tokko Siang.

"Memangnya kau lihat dia?"

Tidak perlu kulihat dia."

"Dan dapatkah kau lihat diriku?"

Tidak ... tapi matamu ...."

"Ya, sedikitnya dapat kau lihat mataku, tapi engkau justru tidak dapat melihat matanya, mengapa bisa begitu? .... Tentu hal ini disebabkan dia memejamkan mata, bisa juga dia bersembunyi di belakang sesuatu, mungkin di belakang tempat riasnya, bila kau terjang ke sana, bukan mustahil akan menabrak meja riasnya hingga berantakan, kan sayang?"

Sembari bicara dengan jarinya Sim Long terus menulis beberapa huruf di telapak tangan Tokko Siang. Dalam pada itu suara tadi bergema pula.

"Engkau tidak menerima lamaranku, itulah yang harus disayangkan. Seorang anak perempuan secara aktif melamar seorang lelaki, hal ini sudah cukup membuatnya kikuk, jika lamarannya ditolak, tidak perlu heran bila segala apa pun dapat diperbuatnya."

Tapi dari mana kutahu Him Miau-ji betul-betul berada di sini?üjar Sim Long.

"Ini kan gampang ...."

Belum lenyap suaranya, tiba-tiba dari kejauhan ada suara orang meraung murka.

"Keparat, kau anjing betina, bila kau pegang lagi bapakmu segera ku ...."

Mendadak terputus suaranya, namun Sim Long sudah dapat mengenali suara itu memang suara Him Miau-ji. Ong Ling-hoa tertawa.

"Wah, tampaknya si Kucing itu tidak tersiksa sebaliknya malah mendapat pelayanan istimewa. Cuma sayang biasanya dia memang tidak mengerti kemesraan, jika aku yang menjadi dia, biarpun bagian mana yang diraba tetap akan ku ...."

Eh, apakah Sim-kongcu juga ingin mendengar suara Cu Jit-jit?"

Tiba-tiba suara tadi bertanya.

"Tidak perlu lagi,"

Jawab Sim Long.

"Dan kau terima permintaanku?"

Jika Kiongcu benar orang yang kulihat malam itu, kenapa aku tidak mau memperistrikan gadis secantik itu .... Tapi dari mana kutahu engkau betul adalah dia?"

"Huh, bicara kian kemari maksudmu tetap ingin minta kumunculkan diri, bukan?"

Sekalipun Kiongcu tidak unjuk diri, sedikitnya kan boleh kulihat bagaimana matamu?ïa menghela napas, lalu menyambung.

"Ai, mata itu sungguh bening menarik, sekali kulihat tak dapat kulupakan selamanya."

Suara itu juga menghela napas perlahan, katanya.

"Begitu mengharukan cara bicaramu, aku menjadi tidak sampai hati menolak kehendakmu."

Benar juga, dalam kegelapan segera muncul sepasang mata.

Tidak perlu diragukan lagi jelas itulah mata yang jeli, mata yang indah.

Tapi pada detik munculnya mata itu, mendadak Sim Long dan Tokko Siang menghilang.

Kiranya yang ditulis Sim Long pada telapak tangan Tokko Siang tadi berbunyi.

"Begitu melihat matanya, segera kita pejamkan mata dan menubruk maju!"

Sudah tentu dia menulis dengan kalimat yang singkat, syukur dapat dipahami Tokko Siang.

Dan dalam sekejap itulah Sim Long dan Tokko Siang telah menerjang ke depan.

Sim Long juga orang cerdik, dengan sendirinya ia tahu menggunakan kegelapan ini.

Dengan memejamkan mata dalam kegelapan dan menubruk maju, tindakan mereka menjadi tak bersuara dan tidak terlihat.

Bahkan mata orang tidak sempat berkedip, pada hakikatnya Sim Long tidak memberi kesempatan bagi lawan untuk menangkis, melawan dan menghindar.

Empat tangan serentak memukul dengan cara yang berbeda, nyata mereka tidak mau memberi kesempatan bagi arwah halus yang cantik ini lolos lagi dari tangan mereka.

Dan rasanya sukar bagi siapa pun untuk lolos dari serangan mereka.

Benar juga, si dia tidak dapat menghindar, empat tangan kuat sekaligus mengenai tubuhnya.

Terdengar suara keluhan, lalu roboh dengan lunglai, tapi mata yang indah itu tetap terbentang.

Dia tidak menjerit, bahkan sinar matanya tidak memperlihatkan rasa kejut atau kesakitan, sebaliknya menampilkan semacam rasa gembira karena telah impas.

Sim Long membuka matanya, ia terkejut dan berseru.

"Hei, sesungguhnya siapa kau?"

Mendadak dirasakan mata yang indah ini telah dikenalnya dengan baik, jelas bukan mata yang dilihatnya di balik kerudung yang disingkapnya kemarin malam itu.

Di tengah kegelapan malam tidak ada yang bersuara, mata yang indah itu seakan-akan lagi berkata.

"Sim Long, masa engkau tidak kenal lagi padaku?"

Cepat Sim Long memayang tubuhnya, tapi dirasakan tubuh itu telanjang bulat, halus licin dan dingin, nyata sebelum Sim Long menghantamnya dia sudah tertutuk dulu Hiat-to kelumpuhannya.

Sim Long lagi menyadari telah berbuat salah besar.

Cepat ia membuka Hiat-to si dia yang tertutuk dan mendesis.

"Kuatkan dirimu, engkau takkan mati."

Mata yang indah itu mengembeng air mata, rintihnya perlahan.

"Tidak perlu lagi engkau menghiburku, kutahu aku akan mati, bagiku mati tidak menakutkan ... sedikit pun tidak menakutkan ...."

Sesungguhnya siapa dia?"

Tanya Tokko Siang mendadak. Ong Ling-hoa yang berdiri di sebelah sana mendengus.

"Hm, kalian telah salah membunuh, yang terbunuh oleh kalian ternyata Ci-hiang."

Ci-hiang?"

Tokko Siang menegas.

"Apakah dia ...."

Dengan menyesal Sim Long lantas berkata.

"Ci-hiang, maaf, aku salah ...."

"Jangan bicara demikian,"

Kata Ci-hiang dengan lemah.

"Dapat mati di tanganmu adalah sesuatu yang menyenangkan bagiku ...."

Matanya yang indah itu seperti menampilkan secercah senyuman pedih.

Lalu matanya terpejam untuk selamanya, ia telah mengakhiri hidupnya yang sengsara dengan tersenyum.

Dalam kegelapan terasa mencekam, sampai setitik api setan tadi pun lenyap.

Sim Long memegangi tangan Ci-hiang yang lambat laun mulai dingin, sampai sekian lama tak dilepaskannya.

Mendadak suara Yu-leng-kiongcu itu bergema pula.

"Sim Long, sekarang tentu kau tahu bahwa tidak mungkin dapat kau sentuh diriku. Kecuali terjadi perkawinan antara kita, kalau tidak, sebuah jariku pun tak dapat kau sentuh."

Mengapa kau lakukan seperti ini? Kenapa kau celakai dia?"

Tanya Sim Long. Suaranya seperti tenang saja, tapi di tengah ketenangan mengandung rasa duka dan gusar yang tak terhingga. Suara tertawa Yu-leng-kiongcu menusuk perasaan orang setajam jarum, katanya.

"Cara begini tindakanku hanya untuk memberitahukan padamu bahwa engkau bukan malaikat, engkau juga dapat berbuat salah, engkau tidak banyak lebih pintar daripada orang lain."

Sim Long menghela napas panjang, katanya rawan.

"Ya, aku memang berbuat salah tapi kuharap engkau juga perlu berpikir, apakah engkau tidak berbuat salah juga?"

Cukup lama suasana dalam kegelapan itu tidak terdengar sesuatu suara. Maka Sim Long berkata lagi.

"Betul, ada sementara urusan engkau memang berbuat dengan sangat berhasil, bukan saja aku tertipu olehmu, juga orang lain sama tertipu, tapi apakah engkau dapat menipu terus-menerus?"

Dalam kegelapan tetap tidak ada suara orang.

"Engkau ingin menipu setiap orang di dunia ini, sebab itulah engkau tidak mempunyai sanak famili, tidak punya kawan, sebab engkau tidak memercayai siapa pun, engkau terpaksa hidup sendirian untuk selamanya dan tersiksa selama hidup."

Mendadak Yu-leng-kiongcu bergelak tertawa, katanya.

"Siapa bilang aku tersiksa? Sedikitnya saat ini engkau terlebih tersiksa daripadaku."

Apakah engkau merasa senang bila melihat orang lain tersiksa?"

Tanya Sim Long.

"Betul, terlebih bila melihat engkau menderita,"

Kata Yu-leng-kiongcu.

"Jika engkau sedemikian benci padaku, kenapa engkau ingin kawin denganku?"

Yu-leng-kiongcu termenung sejenak, katanya kemudian.

"Sebab aku tidak dapat melihat engkau mendapatkan kebahagiaan, maka aku pun tidak dapat membiarkan kau ...."

Tidak membiarkan kukawin dengan orang lain, begitu?"

Tukas Sim Long.

"Pokoknya, biarpun aku harus menderita selama hidup, engkau juga harus tersiksa selama hidup."

Mendadak Yu-leng-kiongcu seperti dirangsang emosi sehingga suaranya rada gemetar. Sim Long menghela napas panjang, katanya perlahan.

"Bagus, sekarang, akhirnya dapat kupastikan siapa dirimu."

Oo, sia ... siapa aku?"

"Jika benar engkau tidak kenal diriku, mengapa pula engkau benci padaku? Ai, semula kusangka engkau seorang yang bajik, siapa tahu dugaanku salah besar."

Kembali tiada suara dalam kegelapan.

"Apakah aku salah omong?"

Tanya Sim Long.

"Biarpun benar bicaramu, memangnya lantas bagaimana?üjar Yu-leng-kiongcu. Mendadak suaranya berubah, tidak lembut lagi, juga tidak emosi, berubah menjadi hambar dan dingin, seperti suara seorang lain.

"Kuharap engkau suka berpikir lagi ...."

"Aku tidak perlu pikir lagi,"

Sela Yu-leng-kiongcu.

"Tapi aku ...."

Kau pun tidak perlu berpikir."

"Sebab apa?"

Sebab antara kita tiada pilihan lain lagi."

"Masakah engkau sendiri pun tiada pilihan lain?"

Ya, karena tiada pilihan lain, terpaksa kubiarkan kau mati."

Sim Long termenung sejenak, lalu berkata.

"Masakah engkau sedemikian yakin dapat membuatku mati?"

Yu-leng-kiongcu mengiakan.

"Engkau akan senang bila kumati?"

Juga belum tentu."

"Jika tidak tentu senang, mengapa engkau ...."

Kan sangat sederhana dalil ini, bilamana tidak dapat terpaksa harus membuatmu mati."

"Bagus sekali, boleh kau coba ....ücap Sim Long dengan tenang. Akhirnya Tokko Siang tidak tahan, ia meraung gusar.

"Sim Long, tadinya kusangka engkau seorang pintar, siapa tahu engkau ternyata orang gila."

Gila?"

Sim Long melenggong.

"Dalam keadaan demikian, untuk apa engkau mengobrol dengan dia? Memangnya tempat ini cocok untuk bicara iseng? Apakah sekarang waktunya mengobrol?"

Teriak Tokko Siang.

"Urusan antara dia dan aku selamanya takkan kau ketahui,üjar Sim Long dengan menyengir.

"Sesungguhnya siapa dia? ... Sebenarnya orang macam apa dia?"

Kembali Tokko Siang meraung.

"Hal ini tak dapat kau bayangkan, dia ... dia bukan lain ialah Pek Fifi."

Hampir saja Tokko Siang berjingkrak, teriaknya.

"Hah, tampaknya engkau benar sudah gila, Pek ... Pek Fifi katamu? Masakah Pek Fifi sama dengan Yu-leng-kiongcu? Anak perempuan yang lemah lembut itu adalah Yu-leng-kiongcu?"

Sebenarnya aku pun tidak percaya, tapi kenyataan sekarang membuatku mau tak mau harus percaya,"

Kata Sim Long. Tokko Siang termenung sejenak, katanya kemudian.

"Masa engkau benar ... benar Pek Fifi?"

Suara Yu-leng-kiongcu terdengar dalam kegelapan.

"Sekarang tidak menjadi soal lagi siapa aku ini, bagi seorang yang sudah hampir mati, siapakah diriku kan tiada bedanya?"

Kentut, kau ...."

Teriak Tokko Siang dengan murka.

"Sebaiknya jangan sembarangan bertindak, kalau tidak kematianmu bisa tambah cepat,"

Jengek Yu-leng-kiongcu.

"Hm, memangnya kau sangka tempat ini betul tempat tidurku?"

Habis tempat apa ini?"

Tanya Tokko Siang.

"Supaya kutahu, di sini adalah neraka dunia,"

Jawab Yu-leng-kiongcu. Mendadak Tokko Siang tertawa dingin, suaranya tidak terlalu keras, tapi jelas suara yang dibikin-bikin, dia berkata.

"Sejak berkecimpung di dunia Kangouw pada waktu berumur 14 tahun, sampai kini sudah berlangsung 40 tahun lamanya. Selama 40 tahun ini mestinya aku sudah mati beberapa kali, jangankan cuma neraka dunia, biarpun neraka di akhirat juga berani kuhadapi, maka engkau salah besar jika kau kira aku dapat kau takut-takuti?"

Yu-leng-kiongcu tersenyum hambar, katanya.

"Kuharap engkau takkan ketakutan, aku pun tidak bermaksud menakutimu, tapi ingin kukatakan padamu, neraka dunia sesungguhnya jauh lebih indah daripada neraka di akhirat."

Lebih indah?"

Tokko Siang menegas dengan tertawa.

"Betul, jauh lebih indah, makanya sangat sayang engkau tidak dapat melihatnya,"

Kata Yu-leng-kiongcu.

"Hehe, sayang ...."

Ya, sayang di neraka tidak ada cahaya lampu, mata telanjang manusia setiba di sini akan berubah serupa orang buta, demi untuk menambal kerugian kalian, biarlah kulukiskan keadaan ini kepada kalian."

Sementara itu bau harum yang memabukkan tadi sudah berubah menjadi semacam bau busuk mayat dan bau anyir darah yang membuat orang bisa tumpah.

Suara lembut Yu-leng-kiongcu tadi juga berubah menjadi melengking tajam, singkat melayang-layang serupa bukan suara manusia lagi.

Dua macam suara yang sama sekali berbeda ini ternyata keluar dari mulut seorang yang sama, hal ini sungguh sukar untuk dipercaya.

Bahkan suaranya tidak jelas datang dari arah mana lagi.

Terdengar Yu-leng-kiongcu berkata lagi.

"Apabila kalian dapat melihat, tentu kalian akan merasakan bahwa tempat di mana kalian berdiri sekarang boleh dikatakan tempat yang paling indah di dunia. Permukaan bumi yang halus licin itu tampaknya serupa kemala, lukisan yang indah itu bahkan boleh dikatakan karya seni yang tidak ada bandingannya.Ïa tertawa, lalu menambahkan.

"Tapi apakah kalian tahu tanah di tempat ini terbuat dari apa?"

Namanya tanah, masakah terbuat dari sesuatu? Huh, persetan!"

Jengek Tokko Siang.

Suara tertawa Yu-leng-kiongcu berubah serupa tangisan kera di malam dingin, suara tangis kera yang serupa tangis setan itu membuat siapa pun mengirik.

Terdengar lagi suara Yu-leng-kiongcu.

"Supaya kalian tahu, tempat ini terbuat dari tulang manusia yang dirangkai menjadi satu. Tulang manusia sekerat demi sekerat, ada tulang lelaki dan ada tulang perempuan. Ada tulang orang tua, juga ada tulang anak kecil, ada tulang tengkorak, ada tulang iga dan sebagainya ...."

Ia tertawa terkekeh.

"Bisa jadi kalian sekarang berdiri di atas tulang tengkorak, mungkin itulah tulang tengkorak seorang gadis jelita ...."

Kaki Tokko Siang tanpa terasa mengejang. Mendadak Yu-leng-kiongcu berkata pula.

"Dan apakah kalian? .... Itulah sebuah lukisan bersulam, yang tersulam adalah gunung yang hijau, awan yang putih, dan air yang hijau."

Hm, apakah ini pun buah tangan si Jarum Sakti Toh Jit-nio?"

Jengek Tokko Siang.

"Betul,"

Kata Yu-leng-kiongcu dengan tertawa.

"Ini memang buah tangan Toh Jit-nio, boleh dikatakan karyanya yang paling indah, tapi apakah kau tahu disulamnya dengan apa?"

Kembali suara tertawanya berubah lagi, tertawa menyeringai, katanya pula.

"Semua ini disulamnya dengan tulang sebagai jarum dan sebagai benang, disulam di atas kulit manusia, kulit manusia yang utuh sehingga licin serupa sutra, mestinya kulit seorang gadis lembut dan jelita, sejelita Cu Jit-jit. Aku yang membeset kulitnya, sebab dia tidak menurut kepada perkataanku."

Haha, apakah sengaja hendak kau takuti diriku? Huh, memangnya kau sangka aku tidak pernah membeset kulit dan membetot urat orang?"

Teriak Tokko Siang dengan terbahak-bahak.

"Tentu saja pernah kau lakukan,"

Sahut Yu-leng-kiongcu.

"Tapi apakah kau tahu dengan cara bagaimana supaya dapat menguliti secara utuh kulit seorang?"

Banyak sekali caranya, apakah kau ingin mencobanya?"

Jawab Tokko Siang.

"Meski banyak caranya tapi bila ingin membuat kulit ini utuh tanpa cacat setitik pun, hal ini pun semacam seni dan mungkin engkau tidak paham,üjar Yu-leng-kiongcu dengan tertawa.

"Memang aku hanya paham menguliti dan tidak tahu seni segala,"

Jengek Tokko Siang.

"Dan apakah perlu kuceritakan?"

Huh, persetan kau mau cerita atau tidak?"

"Ini, dengarkan,"

Tutur Yu-leng-kiongcu.

"Lebih dulu kutanam sebagian besar tubuhnya di tanah, habis itu akan kusayat satu celah di atas kepalanya, lalu kutuangkan air raksa ke dalamnya. Dengan demikian tubuhnya akan mulai menjumbul ke atas. Lantaran tubuhnya terimpit oleh tanah, dengan sendirinya badannya mengelupas dan tersembul keluar telanjang tanpa kulit lagi ...."

Tutup mulut!"

Bentak Tokko Siang dengan suara agak gemetar.

"Haha, engkau tidak mau mendengarkan? Kau takut?"

Tanya Yu-leng-kiongcu dengan tertawa.

"Kau ... kau setan iblis, kau bukan manusia,"

Teriak Tokko Siang. Yu-leng-kiongcu tertawa nyaring.

"Kan sudah kukatakan aku bukan manusia, kulupa memberitahukan pula padamu, langkah terakhir dari karya seni ini adalah menuangkan sebaskom air mendidih ke atas tubuh telanjang tanpa kulit itu."

Tokko Siang meraung murka serupa air mendidih mendadak tertuang di atas tubuhnya.

"Biar kuadu jiwa denganmu ...."

"Berhenti, jangan bergerak,"

Bentak Yu-leng-kiongcu mendadak.

"Memangnya kau tahu apa yang terletak di depanmu?"

Bentakan ini serupa pisau belati yang mengancam di depan dadanya, seketika Tokko Siang lantas menghentikan langkahnya. Dengan suara lembut Yu-leng-kiongcu berkata pula.

"Nah, supaya kau tahu, di depanmu justru ada sebuah kolam, tapi bukan kolam teratai sebagaimana pernah kau lihat dengan daun dan bunga teratai yang mengapung di permukaan kolam serta direnangi oleh angsa putih dan sebagainya, kolam ini jauh lebih menarik daripada kolam yang pernah kau lihat ....Ïa tertawa terkekeh, lalu menyambung.

"Inilah kolam darah, di dalam kolam tidak ada air tapi darah melulu, tidak ada daun dan bunga teratai, tidak ada angsa segala, yang terapung di kolam ini hanya hati manusia, jantung dan paru-paru manusia, mungkin juga ada biji mata yang baru dicungkil dan hidung atau lidah yang baru dipotong.Ïa merandek sejenak, lalu melanjutkan.

"Maka bila sampai kau jatuh ke dalam kolam, tentu rasanya sukar dibayangkan. Nah, apakah engkau tetap hendak melangkah lagi ke depan?"

Suaranya berubah tidak menentu sehingga sukar dibedakan apakah keterangannya benar atau cuma gertakan belaka.

Tokko Siang menjadi ragu sehingga tidak berani sembarangan bergerak.

Mendadak Sim Long yang sejak tadi diam saja bergelak tertawa.

"Apa yang kau tertawakan, Sim Long?"

Jengek Yu-leng-kiongcu.

"Engkau sungguh seorang pintar, aku merasa kagum padamu,"

Kata Sim Long.

"Oo?!"

Melenggong juga Yu-leng-kiongcu.

"Kutahu di dunia persilatan ada sementara orang yang suka berlagak setan dan menyamar seperti malaikat, untuk menakuti orang dia tidak segan menggunakan berbagai akal licik dan membikin suatu tempat sedemikian seram, bahkan memberinya nama yang mengerikan seperti neraka dunia segala."

Hihi, apa lagi?"

Tanya Yu-leng-kiongcu dengan tertawa.

"Tapi engkau berbeda dengan mereka,"

Kata Sim Long.

"Engkau jauh lebih pintar daripada mereka. Cukup dengan beberapa patah katamu saja sudah jauh lebih menakutkan daripada tempat yang dibangun dengan memakan biaya dan tenaga yang sukar dinilai."

Memangnya kau kira apa yang kukatakan tidak benar?"

Tanya Yu-leng-kiongcu dengan terkekeh.

"Benar atau tidak bukan soal bagiku,"

Kata Sim Long.

"Tentunya kau tahu, orang semacam kami ini tidak mungkin ditakuti. Jika kau inginkan kematian kami masih diperlukan keahlian lain."

Yu-leng-kiongcu menghela napas.

"Aku hanya dapat menakuti orang dan tidak ada keahlian lain."

Belum lenyap suaranya, mendadak dari berbagai penjuru bergema suara mendenging tajam menyambar ke arah berdiri Sim Long dan Tokko Siang.

Dari suaranya dapat diketahui bukan sebangsa anak panah melainkan jenis senjata rahasia yang sangat lembut dan keji, biarpun dalam keadaan biasa pun sukar dihindari, apalagi dalam kegelapan yang tidak diketahui tempat macam apa sehingga tidak berani sembarangan bergerak.

Suara mendesing itu terus berlangsung hingga sekian lamanya dan Sim Long serta Tokko Siang juga tidak terdengar melakukan sesuatu gerakan.

Jangan-jangan mereka sudah binasa?

Sampai lama baru terdengar suara Yu-leng-kiongcu memanggil.

"Sim Long .... Sim Long! ...."

Dalam kegelapan tidak ada suara jawaban. Sekian lama lagi baru terdengar suara seorang perempuan lain berucap.

"Akhirnya bencana ini dapat ditumpas juga."

"Mungkin ... tidak,"

Kata Yu-leng-kiongcu.

"Mereka pasti tidak dapat menghindar, apalagi, sama sekali tidak terdengar sesuatu suara mereka."

Betul, tidak ada suara gerakan apa pun, tapi juga tidak ada suara teriakan."

"Orang semacam mereka biarpun mati juga takkan berteriak."

Dapat juga Yu-leng-kiongcu menghela napas, rasanya seperti timbul dari lubuk hatinya yang dalam.

"Apa boleh menyalakan lampu sekarang?"

Tanya suara orang perempuan tadi.

"Tunggu sebentar lagi ...."

Dalam kegelapan tidak terdengar suara apa pun, juga tidak terdengar suara napas Sim Long dan Tokko Siang, padahal bila manusia tidak bernapas kan berarti sudah mati.

"Sim Long, apakah benar engkau mati? ....ücap Yu-leng-kiongcu perlahan.

"Ini pun bukan salahku, tapi salahmu sendiri. Tapi meski engkau mati juga jauh lebih enak daripada yang masih hidup."

Mendadak berkumandang suara Ong Ling-hoa dari kejauhan.

"Tapi aku justru ingin hidup saja."

Engkau masih hidup sebab aku belum menghendaki kematianmu,"

Kata Yu-leng-kiongcu.

"Tentu kutahu,üjar Ong Ling-hoa tertawa.

"kalau tidak masakah ibuku mengirim dirimu pulang ke sini dan menyerahkan orang bencong itu kepadamu."

Ibumu memang orang pintar,"

Kata Yu-leng-kiongcu.

"Dan mulutku juga cukup rapat,üjar Ling-hoa.

"Urusan yang menyangkut Kiongcu tidak pernah kukatakan satu kata pun. Meski sampai sekarang baru kutahu nona ialah Yu-leng-kiongcu, tapi soal nona seorang yang luar biasa sebenarnya sudah lama kuketahui, juga sudah lama kutahu nona adalah ...."

Tutup mulut,"

Jengek Yu-leng-kiongcu.

"Jika mulutmu tidak rapat, memangnya saat ini dapat kau hidup?Öng Ling-hoa mengiakan.

"Setelah kubunuh Sim Long, entah bagaimana reaksi ibumu nanti?"

Tanya Yu-leng-kiongcu.

"Bahwa nona dapat turun tangan membinasakan Sim Long, tentu saja ibuku sangat kagum padamu."

Hm, kecuali diriku sendiri, siapa pun dapat kubunuh,"

Jengek Yu-leng.

"Sudah lama ibuku mengetahui bakat nona yang luar biasa, kecuali nona, siapa pula yang mau menerima penderitaan semacam itu dan siapa pula yang mampu berpura-pura sedemikian rupa?"

Yu-leng-kiongcu mendengus.

"Makanya ibu ingin bekerja sama denganmu setulus hati,"

Kata Ling-hoa pula.

"Pertama ingin menumpas Koay-lok-ong itu. Kedua, ingin membagi dunia bersama nona."

Kupergi ke Tionggoan sebagian besar juga karena ingin mencari ibumu,"

Tutur Yu-leng-kiongcu.

"Sejak kecil sudah timbul keinginanku untuk melihat orang cantik macam apakah ibumu sehingga dapat membuat 'dia' meninggalkan ibuku."

Urusan masa lampau, untuk apa nona mengungkitnya lagi,üjar Ling-hoa.

"Yang jelas, ibumu dan ibuku sama-sama orang yang ditinggalkan oleh 'dia', dan antara kita sebenarnya ...."

Tutup mulut!"

Bentak Yu-leng-kiongcu.

"Ya, sekarang ...."

Jika tidak kubunuh dirimu, apa pula yang akan kau katakan?"

"Apakah sekarang nona sudi memberikan setitik cahaya terang agar aku dapat maju ke sana, biar kulihat bagaimana bentuk Sim Long sesudah mati."

Yu-leng-kiongcu terdiam hingga lama, akhirnya berkata perlahan.

"Nyalakan lampu!"

Seperti keajaiban dalam mimpi saja, setelah lampu menyala, suasana yang mencekam dan kegelapan yang seram seketika lenyap.

Tempat ini bukan kamar anak perawan, juga bukan neraka dunia segala.

Di sini tidak ada meja rias, lukisan indah dan tulang tengkorak serta kolam darah segala.

Tempat ini tidak lain cuma sebuah gua karang yang gelap dengan batu padas yang keras.

Sedangkan Sim Long dan Tokko Siang, mereka pun tidak mati, mereka tetap berdiri di situ dengan segar bugar.

Sim Long tampak berdiri tidak bergerak dengan wajah tetap mengulum senyum yang khas itu, bahkan senyumnya terasa menggemaskan hati.

Dia berdiri dengan mengadu punggung dengan Tokko Siang, baju mereka sudah ditanggalkan dan dibentangkan dengan kedua tangan sehingga berwujud serupa layar menggembung dan mereka justru bersembunyi di balik layar.

Baju yang basah kuyup dan dikembangkan dengan tenaga dalam mereka, tentu saja senjata rahasia yang lembut itu tidak dapat menembusnya.

Seketika pucat pasi wajah Ong Ling-hoa yang berdiri di kejauhan sana.

Bayangan serupa badan halus di tempat kelam sana juga timbul kegemparan.

"Hahahaha!"

Sim Long terbahak.

"Betapa pun pintarnya seorang sekali tempo pasti juga akan salah hitung. Bualan nona tadi hampir saja membuat sukmaku terbang ke awang-awang saking takutnya, tentu tujuan nona kemudian akan membinasakan kami, tak kau duga ketika engkau mengoceh tadi kami lantas membuat benteng pertahanan ini sehingga ...."

Sim Long, engkau sungguh setan dan bukan manusia,"

Teriak Yu-leng-kiongcu dengan geram.

"Tapi aku hanya ingin menjadi manusia dan tidak mau menjadi setan,"

Sim Long lantas berpaling ke arah Ong Ling-hoa, katanya.

"Untuk ini kukira Ong-heng mempunyai pikiran serupa diriku.Öng Ling-hoa hanya berdehem saja tanpa menanggapi.

"Wahai Ong Ling-hoa,"

Kata Sim Long pula.

"apa pun juga seharusnya tidak boleh membeberkan rahasia kalian sendiri sebelum tahu pasti apakah aku sudah mati atau belum."

Ah, semua itu kan juga bukan rahasia lagi,üjar Ong Ling-hoa.

"Betul, sebelum ini memang sudah kuketahui Ong-hujin pasti mempunyai maksud tujuan tertentu dengan melepaskan Pek Fifi, juga sudah kuketahui cara Pek-Fifi membunuh si bencong itu bukanlah tanpa sengaja, semua ini memang bukan rahasia lagi. Tapi baru sekarang dapat kutahu dengan pasti bahwa antara Ong-heng dengan nona Pek adalah saudara seayah lain ibu, inilah yang merupakan rahasia besar bagiku."

Apa katamu?"

Sedapatnya Ong Ling-hoa berlagak bodoh.

"Demi mendapatkan kitab pusaka Yu-leng-pit-kip itu, Koay-lok-ong telah berhasil menipu ibu Pek Fifi, tapi demi Ong-hujin, dia meninggalkan ibu Fifi. Kemudian, supaya rahasia pertarungan Wi-san tidak terbongkar, dia meninggalkan pula Ong-hujin, dengan dua kali meninggalkan dua orang perempuan akibatnya juga meninggalkan seorang putra dan seorang putri, yaitu dirimu dan Pek-Fifi."

Bagus, apa pula yang kau ketahui?"

Jengek Ong Ling-hoa.

"Dapat kuketahui pula bahwa putra-putri Koay-lok-ong ini sama sekali tidak memandangnya sebagai ayah, sebaliknya membencinya sampai merasuk tulang, kalau bisa bahkan ingin membunuhnya."

Hm, jika kau jadi diriku bagaimana tindakanmu?"

Jengek Ong Ling-hoa.

"Inilah urusan kalian, orang lain tidak boleh ikut campur, tapi betapa keji perbuatan kalian boleh dikatakan cocok dengan ayah kalian. Terutama Pek Fifi, sungguh kukagum atas kesabaranmu dan dapat menyamar serapi ini."

Apakah cuma ini saja yang hendak kau katakan?"

Jengek Yu-leng-kiongcu sambil melayang keluar dari tempat sembunyinya. Ong Ling-hoa juga mulai melangkah maju setindak demi setindak. Sim Long berkata pula.

"Sebelumnya sudah kuselidiki asal-usul Ong-hujin dan Ong Ling-hoa, maka engkau lantas menyusup ke Tionggoan dan sengaja menjual diri sebagai budak, tujuanmu agar dapat dibeli oleh Ong Ling-hoa yang mata keranjang itu dan engkau dapat mencari kesempatan untuk melampiaskan dendam ibumu."

Ya, setelah kutahu betapa keji mereka ibu dan anak, kusadar bukan tandingannya bila kulawan dengan kekerasan, terpaksa harus kukerjai mereka dengan akal,üjar Fifi dengan tenang.

"Dan tak kau duga tipu muslihatmu telah dikacau oleh Cu Jit-jit yang bermaksud baik itu, sehingga berbalik membikin susah padamu."

Tapi aku tidak dendam padanya, aku cuma kasihan karena kebodohannya,"

Jengek Fifi.

"Namun segala sesuatu sudah kuperhitungkan juga, hanya ketika jatuh ke tangan orang banci itulah yang tidak pernah kuperhitungkan."

Namun waktu itu engkau berbalik mendapat untung karena bisa berdekatan dengan Ong Ling-hoa,üjar Sim Long.

¡ "Siapa tahu Cu Jit-jit yang berhati baik itu kembali membawa pergi dirimu, terpaksa engkau berlagak bodoh sebisanya dan ikut pergi bersama dia."

Memang betul, coba teruskan,üjar Fifi.

"Maka sejak di gua rahasia di puncak gunung itu sengaja kau lepaskan Ong Ling-hoa, lalu berlagak bodoh seperti tidak tahu apa-apa, sampai aku pun tertipu. Sungguh lucu juga, aku berbalik menghiburmu agar jangan susah dan jangan cemas."

Mendadak Ong Ling-hoa terbahak-bahak, katanya.

"Hahaha, aku pun terkejut ketika dia melepaskan diriku waktu itu, sungguh mimpi pun tak terpikir olehku Pek Fifi yang kelihatan lemah dan harus dikasihani ternyata seorang licin begini."

Hm, kebanyakan orang lelaki memang mudah tertipu,ëjek Fifi.

"Sungguh kasihan anak perempuan semacam Cu Jit-jit itu, segala apa dia tidak paham, tapi dia justru sok berlagak jempolan, berlagak serbatahu, makanya juga sering tertipu oleh orang lelaki."

Kasihan Cu Jit-jit,"

Kata Sim Long dengan menyesal.

"Waktu di hotel tempo hari aku malah menyalahkan dia tidak menjaga dirimu, siapa tahu engkau sendiri yang sengaja diculik oleh Kim Put-hoan."

Ya, kalau tidak, tentu aku kan dapat berteriak minta tolong,üjar Fifi.

"Dan yang lebih harus dikasihani ialah Kim Bu-bong yang keras kepala itu,"

Kata Sim Long sambil menggeleng kepala.

"Dia ... dia justru tercedera karena membela dirimu, tentu diam-diam engkau menertawai dia sebagai orang tolol, begitu bukan?"

Dalam sekejap ini, mendadak senyumnya yang khas itu lenyap dan matanya yang selalu memancarkan cahaya lembut itu berubah menjadi mencorong terang setajam sembilu.

Tanpa terasa Fifi menunduk, ucapnya sedih, ¡Ya, hal itu pun tidak ...

tidak kuduga."

Sim Long juga menghela napas, katanya pula.

"Maka akhirnya dapatlah engkau mendekati Ong-hujin dan Ong Ling-hoa, tapi waktu itu juga dapat kau rasakan daripada membunuh mereka akan lebih baik lagi kalau memperalat mereka."

Ya, sebab waktu itu dapat kuketahui nasibnya sebenarnya juga serupa dengan ibuku, sesungguhnya dia juga seorang perempuan yang ditinggalkan kekasih."

"Apa pun juga engkau telah dapat mendekati Koay-lok-ong dengan memperalat tipu daya mereka, sedangkan Koay-lok-ong yang mata keranjang itu ternyata mau menuruti kehendakmu dan tidak pernah memaksakan sesuatu padamu¡"

Sim Long tersenyum getir, lalu menyambung.

"Dalam hal ini mungkin Koay-lok-ong sendiri pun merasa heran, tak disadarinya bahwa kebaikannya padamu hanya lantaran nalurinya sebagai seorang ayah kandungmu, betapa pun dia seorang gembong iblis dan tidak mengetahui engkau adalah putrinya, tapi dia toh bukan binatang dan naluri kemanusiaannya tetap ada."

Ya, betul,"

Mendadak Fifi pun menghela napas panjang.

"Tapi apakah engkau juga mempunyai naluri terhadap seorang ayah?"

Tanya Sim Long. Mendadak Fifi mendongak dan berteriak.

"Tidak, sedikit pun tidak. Aku bukan hewan, juga bukan manusia, sudah lama aku bukan manusia lagi. Sejak kusaksikan kematian ibuku yang menderita itu, sejak itu pula aku bersumpah tidak mau menjadi manusia lagi."

Sim Long terdiam sejenak, lalu berkata.

"Tapi tak tersangka olehmu bahwa aku pun datang kemari."

Dapat kuduga, sebelumnya sudah kuketahui engkau akan datang kemari."

"Maka sebelumnya juga sudah kau pikirkan tipu daya untuk membohongiku."

Fifi juga terdiam hingga lama, ditatapnya Sim Long dengan sorot matanya yang tajam menembus cadar yang dipakainya, katanya kemudian.

"Kau kira segala kata-kataku kubohongimu?"

Memangnya bu ... bukan begitu?"

Pek-Fifi tersenyum pedih.

"Bukankah engkau sangat memahami hati orang perempuan? Mengapa tak dapat memahami hatiku?"

Memang kusangka engkau menaruh perhatian kepadaku, tapi ... tapi sampai tadi ...."

"Kan sudah kukatakan bila seorang perempuan mencintai seorang lelaki dan gagal mendapatkannya, maka baginya terpaksa memusnahkan dia. Apalagi bila engkau mati memang akan jauh lebih enak daripada orang hidup."

Ya, betapa pun tadi engkau juga telah menghela napas bagiku, tapi ...."

Mendadak Sim Long perkeras suaranya.

"tapi selanjutnya jangan kau bilang aku memahami perasaan orang perempuan. Baru sekarang kutahu, bilamana engkau hendak membikin gila seorang lelaki, jalan paling baik adalah membikin dia merasa sangat memahami pikiran orang perempuan."

Mendadak Ling-hoa juga berkata dengan menyesal.

"Aha, ucapanmu ini mungkin adalah kata-kata yang paling tepat yang kudengar seharian ini. Bilamana ada orang sok tahu pikiran orang perempuan, maka dia pasti akan konyol sendiri."

Hm, bagus! Kalian sama-sama orang lelaki, sekarang kalian berdiri satu garis lagi, bukan? Tapi apakah kau tahu dengan cara bagaimana akan kuhadapi kalian?"

"Sungguh aku ingin tahu,"

Jawab Sim Long.

"Cara menghadapi orang lelaki yang digunakan orang perempuan sering kali adalah cara yang sangat bodoh, tapi cara yang sangat bodoh terkadang juga paling efektif."

Cara yang paling bodoh ...."

"Cara yang pernah digunakan tapi gagal, jika digunakan lagi cara ini kan terhitung cara yang paling bodoh? ...."

Di tengah suaranya bayangan Pek Fifi kembali melayang ke sana lagi. Air muka Sim Long berubah seketika.

"Pek Fifi!"

Bentak Ong Ling-hoa.

"Jangan kau ...."

Tapi pada saat itu juga cahaya lampu mendadak padam pula, keadaan menjadi gelap gulita lagi.

"Sudah kulihat jelas jalan mundur, ayo lekas mundur!"

Seru Sim Long dengan suara tertahan. Selagi dia bergerak, tiba-tiba dari kegelapan berkumandang suara Pek Fifi, ¡"

Kalian tidak dapat mundur lagi!¡"

Segera terdengar suara gemuruh yang bergetar disertai berhamburnya batu pasir, biarpun cepat gerak mundur Sim Long, tidak urung tubuh sakit pedas juga.

"Celaka, budak ini ternyata sudah siapkan langkah ini dan memotong jalan mundur kita,"

Kata Tokko Siang sambil mengentak kaki.

"Pek Fifi, masa cara begini kau perlakukan diriku?"

Bentak Ong Ling-hoa.

"Oo, kenapa tidak boleh?"

Jawab Fifi.

"Bukankah sudah kau nyatakan tadi ...."

Meski tadi kubilang takkan membunuhmu, tapi sekarang pikiranku telah berubah, engkau tentu tahu, hati orang perempuan paling gampang berubah ...."

"Jika aku kau bunuh, cara bagaimana engkau akan bertanggung jawab terhadap Hujin?"

Tanya Ling-hoa.

"Dari mana dia tahu siapa yang membunuhmu? Dia kan tidak menugaskan kau menjadi pengawalku. Jika kau mati, mana dapat aku yang disalahkan. Hah, cara bicaramu seperti anak kecil saja."

Tapi ... tapi jangan kau lupa, aku dan engkau adalah ...."

Belum lanjut ucapan Ling-hoa, mendadak sebuah tangan telah menariknya ke sana, lalu terdengar suara Sim Long membisiknya.

"Tempelkan tubuhmu di dinding dan jangan bersuara, belum lagi kuingin kau mati di sini."

Budak hina dina ini ...."

Maki Ling-hoa dengan geregetan.

Dengan sendirinya ia bukan orang bodoh, ia pun tahu bila bersuara tentu akan dijadikan sasaran maut oleh musuh.

Karena itu segera ia tutup mulut.

Terdengar suara Pek Fifi berkumandang dari kejauhan.

"Sim Long, jangan kau sesalkan diriku, mestinya aku takkan membunuhmu, namun apa nyana dikatakan lagi, engkau sudah tahu terlalu banyak. Bilamana seorang tahu terlalu banyak pasti juga takkan hidup lama.Ïa tertawa nyaring, lalu menyambung.

"Mengenai Tokko Siang, dia tidak lebih hanya teman kuburmu saja."

Suaranya lantas berhenti, habis itu tidak terdengar sesuatu suara pula.

Sim Long, Tokko Siang, dan Ong Ling-hoa bertiga berdiri dengan punggung menempel gua yang dingin, sampai bernapas pun tak berani terlalu keras.

Meski mulut ketiga orang tidak berbicara, tapi dalam hati sama membatin.

"Pek Fifi mungkin adalah perempuan paling menakutkan di dunia ini."

Dengan sendirinya ada anak perempuan lain lagi yang jauh lebih keji daripada dia, tapi siapa pula yang lebih lembut dan ramah daripada dia?

Dia boleh dikatakan adalah racun buatan bunga dan madu.

Begitulah Sim Long terus merambat dalam kegelapan menyusur dinding gua, dapat dicapainya arah keluar yang telah diincar tadi.

Tapi tempat keluar ini sekarang ternyata sudah disumbat oleh sepotong batu besar.

Nyata segala sesuatu telah diatur dengan sangat rapi oleh Pek Fifi.

Sim Long menghela napas dan merambat mundur kembali, sekonyong-konyong sepasang tangan terjulur tiba dan merabai tangannya, lalu menulis satu huruf "

Sim"

Di tengah telapak tangannya. Sim Long mengetuk perlahan punggung tangan orang sebagai jawaban. Lalu tangan itu menulis pula huruf "Tok". Kembali Sim Long mengetuk punggung orang dan menulis huruf.

"Ada apa?"

Dengan perlahan tangan itu menulis pula.

"Kau kira cara bagaimana dia akan memperlakukan kita?Ïa menulis dengan sangat perlahan, dan sangat jelas tulisannya. Sim Long menghela napas dan balas menulis.

"Tidak tahu, terpaksa harus tunggu dan lihat dulu."

Sejenak tangan itu berhenti, lalu menulis lagi.

"Harus menunggu ...."

Belum lanjut tulisannya, sekonyong-konyong tangan Sim Long dicengkeramnya dan tangan lain lantas menebas tenggorokan Sim Long.

Perubahan ini sungguh teramat cepat dan terlalu mendadak, siapa pun tidak menyangka Tokko Siang akan menyergap Sim Long.

Dalam kegelapan Sim Long sama sekali tidak siap, jika Sim Long terbunuh begitu saja kan penasaran.

Tapi Sim Long tetap Sim Long, justru pada detik terakhir, tangan yang tercengkeram sempat memberosot lepas, berbareng telapak tangan membalik terus balas memotong pergelangan tangan lawan.

Tangan yang lain seakan-akan juga sudah siap dalam kegelapan, begitu lawan bergerak, secepat kilat ia mendahului menutuk beberapa Hiat-to kelumpuhan orang.

Rupanya orang itu yakin sergapannya pasti akan berhasil, betapa pun tak terpikir olehnya Sim Long sudah siap siaga, ia ingin orang lain tertangkap, tak tahunya ia sendiri yang terjebak malah.

Seketika setengah badannya kaku.

Sim Long menyeretnya lebih dekat, lalu membisiki telinganya.

"Ong Ling-hoa, memang sudah kuketahui akan dirimu, jangan coba main gila padaku."

Bergetar tubuh orang itu seperti ingin tanya dari mana Sim Long tahu. Agaknya Sim Long dapat meraba perasaan orang, jengeknya.

"Jarimu panjang lentik, telapak tanganmu halus, Tokko Siang tidak memiliki tangan semacam ini."

Dalam kegelapan Ong Ling-hoa mengeluh dan mengomel, Sim Long sungguh bukan manusia melainkan setan, segala apa pun sukar mengelabuinya.

"Kau kira setelah membunuhku engkau akan diampuni Pek Fifi?"

Kata Sim Long. Meski Ong Ling-hoa tidak ingin mengangguk tapi juga tidak boleh tidak mengangguk.

"Kau orang tolol yang kejam, biarpun kau bunuhku juga dia takkan melepaskanmu. Padahal dalam keadaan demikian bila kita bertiga mau bahu-membahu mungkin masih dapat kabur. Sebaliknya jika kau main gila lagi tentu akan mati konyol semuanya."

Pada saat itulah mendadak terdengar suara "

Plak-pluk"

Dua kali, menyusul lantas bergema suara gemuruh yang sangat keras. Di tengah suara gemuruh baru Tokko Siang berani bicara, katanya.

"Tampaknya dia telah menyumbat lagi jalan keluar yang lain."

Hah, tipu ini namanya menangkap kura-kura di dalam tempurung,üjar Sim Long tertawa.

Suara gemuruh tadi mulai lenyap, terpaksa mereka tutup mulut lagi.

Tiba-tiba dalam kegelapan seperti ada suara keresak-keresek.

Seketika Tokko Siang mengirik.

Perlahan ia menulis dengan jarinya di pundak Sim Long.

"Di depan ada orang, jangan-jangan mereka akan mulai turun tangan!"

Sim Long cepat menjawab dengan menulis.

"Kutahu, biar kubekuk dia lebih dulu."

Segera ia menggeser ke sana dengan licin tanpa menimbulkan suara.

Tapi pada saat itu juga sesosok tubuh juga sedang menubruk, tapi secara naluri keduanya sama terkejut.

Kontan sebelah tangan Sim Long menghantam.

Namun pihak lawan juga tokoh kelas tinggi, berbareng dia juga menghantam dengan kuat dan tidak kalah cepatnya.

Terkejut juga Sim Long bahwa di sini ternyata ada jago selihai ini.

Sekaligus ia pun melancarkan serangan beberapa kali, akan tetapi betapa dia menyerang juga tidak dapat mengenai lawan, sungguh lawan tangguh yang jarang ditemui Sim Long, entah siapakah orang ini?

Tokko Siang dan Ong Ling-hoa tidak meragukan kehebatan kungfu Sim Long, keduanya sama tahu tidak perlu memberi bantuan.

Apalagi bertempur dalam kegelapan juga sukar untuk memberi bantuan, bila banyak orang bisa jadi akan kacau dan keliru serang malah.

Terdengar angin pukulan kedua orang menderu-deru dan sangat mengejutkan.

Padahal mereka tahu ilmu silat Sim Long tidak mengutamakan kekerasan, jika demikian angin pukulan ini jelas timbul dari daya pukulan lawan.

Menurut perkiraan Tokko Siang dan Ong Ling-hoa, ilmu silat orang pasti tidak di bawah mereka.

Padahal di dunia Kangouw zaman ini, sangat terbatas orang yang mampu bergebrak sama kuatnya dengan Sim Long.

Tiba-tiba Sim Long melancarkan suatu pukulan untuk mematahkan serangan lawan, habis itu mendadak ia meloncat ke atas sambil membentak.

"Apakah Miau-ji di situ?"

Pihak lawan lagi terkejut ketika mendadak melihat Sim Long melompat ke atas, dia lagi bimbang cara bagaimana akan mematahkan serangan berikutnya, tapi ia pun terkejut demi mendengar teriakan Sim Long itu, cepat ia menjawab.

"Hei, apakah Sim Long?!"

Sim Long menghela napas, katanya lirih sambil melayang turun.

"Untung mendadak terpikir olehku di dunia ini selain Him Miau-ji jarang yang memiliki tenaga pukulan sekuat ini. Wah, bisa ditertawai orang bila antara kita saling labrak mati-matian."

Dia sudah memperhitungkan saat ini Pek Fifi tidak berani bertindak sesuatu, maka dia berani bicara dengan suara keras. Rupanya maksud tujuan Pek Fifi memang ingin membuat mereka saling labrak.

"Wah sialan, seharusnya sejak tadi kupikirkan kecuali Sim Long siapa pula yang mampu mendesak hingga aku kelabakan sedemikian rupa?üjar Miau-ji dengan gegetun. Bahwa yang muncul ini ialah Him Miau-ji, hal ini membuat Ong Ling-hoa dan Tokko Siang sama melengak. Terdengar Miau-ji berkata pula.

"Mengapa kau pun datang ke tempat setan ini?"

Bukan saja aku datang, Tokko-heng dan Ong-kongcu juga berada di sini,"

Kata Sim Long.

"Hah, tentu akan ramai sekali,üjar Miau-ji. Meski kedua orang tetap tidak dapat melihat jelas pihak lain, tapi dari suara yang terdengar sudah menimbulkan rasa persahabatan yang hangat. Sim Long menarik tangan Miau-ji dan diajak mundur ke tepi dinding, katanya dengan tertawa.

"Engkau tetap tidak berubah, tampaknya siksa derita apa pun takkan membuatmu berubah, siksaan apa pun tidak kau hiraukan."

Engkau sendiri adalah lelaki baja, aku sendiri kucing baja,ücap Miau-ji dengan terbahak.

"Ssst, mengapa kau bicara sekeras ini,"

Desis Tokko Siang dengan khawatir.

"Sementara ini tidak menjadi soal,üjar Sim Long.

"Jika Pek Fifi telah mengantarnya ke sini, kuyakin dia pasti telah mengatur akal keji dan takkan menyerang lagi dengan senjata rahasia. Kalau tidak, kan di sana dia dapat membunuh Miau-ji dengan leluasa?"

Ya, betul,"

Kata Tokko Siang setelah berpikir.

"Memang banyak cara permainannya, untuk apa dia menggunakan senjata rahasia lagi. Apalagi dia juga tahu, hanya senjata rahasia saja masakah dapat melukai kita."

Dia sengaja bicara dengan suara keras supaya didengar oleh Pek Fifi, sama halnya sengaja berkata kepada Fifi bahwa senjata rahasia tidak ada gunanya lagi dan jangan dipakai pula.

Padahal jika benar dia tidak takut dihujani senjata rahasia kenapa bicara demikian.

Syukur Fifi tidak mendengar ucapannya, kalau mendengar mustahil tak dapat meraba perasaannya dan tentu akan menghujaninya senjata rahasia.

Lantas di manakah Pek Fifi?

Apakah sudah pergi?

Memangnya pergi ke mana?

Apa artinya dia meninggalkan orang-orang ini di sini?

Akhirnya Ong Ling-hoa tidak tahan, segera ia tanya.

"Mengapa engkau dapat datang ke sini?"

Mestinya aku pun tidak tahu mengapa dia mengantarku ke sini, bahkan membuka Hiat-to serta membuka kerudung yang membungkus kepalaku,"

Tutur si Kucing.

"Kupikir dia pasti tidak bermaksud baik, maka aku tidak berani sembarangan bergerak, selagi kucari akal, tak terduga pada saat itulah Sim Long lantas muncul."

Mendadak ia mendengus.

"Ong Ling-hoa, keteranganku ini bukan menjawab pertanyaanmu, tapi kukatakan kepada Sim Long."

Aku tidak urus kau bicara kepada siapa, yang jelas kan sudah kudengar juga,"

Jawab Ling-hoa.

Mereka tidak tahu bahwa kecuali mereka berempat ada juga orang kelima yang ikut mendengarkan, orang kelima ini sudah sejak tadi bersembunyi dalam kegelapan dengan menahan napas.

Maka Sim Long berkata pula dengan menyesal.

"Maksud tujuan perbuatan Pek Fifi itu dengan sendirinya ingin kita saling membunuh dalam kegelapan, selain ini dia pasti juga ada tujuan lain."

Tengah bicara, orang kelima dalam kegelapan itu sudah merayap ke arahnya, dalam keadaan dan saat demikian tentu saja tidak terpikir dan diperhatikan oleh siapa pun. Dengan gemas Miau-ji lagi berkata.

"Yu-leng-kiongcu sungguh seorang perempuan yang kejam dan mahir menggunakan obat bius, aku sampai terbius roboh juga. Hah, dia dan Ong Ling-hoa boleh dikatakan satu pasangan yang setimpal."

Apakah kau lihat wajah aslinya?"

Tanya Sim Long.

"Sesudah roboh terbius, kepalaku ditutup dengan kerudung kain hitam, mulutku juga tersumbat, aku cuma mendengar orang menyebutnya Yu-leng-kiongcu,"

Tutur Miau-ji.

"Apabila sampai dapat kulihat dia, saat itulah merupakan saat ajalnya."

Apakah kau tahu siapa dia?"

Tanya Sim Long pula.

"Aku justru ingin tahu siapa dia."

Sim Long menghela napas, tuturnya.

"Tentu tidak pernah kau bayangkan bahwa Yu-leng-kiongcu itu ialah Pek Fifi."

Sekali ini Miau-ji dibikin berjingkat, serunya.

"Apa katamu? Yu-leng-kiongcu sama dengan Pek Fifi? Apa betul?"

Semula aku pun tidak percaya, tapi ...."

"Tapi Pek Fifi yang kelihatan lemah lembut, seekor semut saja tidak tega menginjaknya, mengapa dia bisa bertindak sekejam ini?"

Tukas Miau-ji.

"Hati orang perempuan umumnya memang sukar diraba, Pek Fifi justru orang perempuan yang paling sukar dimengerti, betapa jauh jalan pikirannya sungguh belum pernah kutemukan bandingannya."

Pada saat itulah mendadak suara seorang perempuan tertawa ngekek dan berkata.

"Terima kasih atas pujianmu, Sim Long, biarlah kuberi kematian secara cepat kepadamu."

Suara tertawanya sungguh membuat orang merinding.

Di tengah suara tertawa seram itu segera Sim Long merasakan sambaran angin pukulan mengarah Thian-cong-hiat di belakang pundaknya.

Cepat ia membalik dan mengayun tangannya, menangkis sekaligus balas memukul.

Tapi gerak serangan Yu-leng-kiongcu alias Pek Fifi ini memang cepat luar biasa, kembali ia melancarkan serangan berantai dan selalu mengincar Hiat-to maut di tubuh Sim Long.

"Berikan dia kepadaku, Sim Long!"

Seru Miau-ji. Namun Sim Long diam saja dan tetap melayani serangan orang.

"Jika dia bukan orang perempuan, sungguh ingin kubantu padamu,"

Kata Miau-ji pula.

"Sim Long tidak perlu bantuanmu,"

Kata Tokko Siang.

"He, ternyata kau pun tahu Sim Long, bagus sekali,"

Seru Miau-ji dengan tertawa.

"Biarpun hatinya keji, ilmu silatnya masih selisih jauh dibandingkan Sim Long,üjar Tokko Siang.

"Memang betul,"

Seru Miau-ji tertawa. Tiba-tiba terdengar suara "

Plak"

Sekali, menyusul Yu-leng-kiongcu menjerit kaget.

"Apakah berhasil?"

Tanya Tokko Siang dengan senang. Terdengar Sim Long mendengus. Tapi segera terdengar Yu-leng-kiongcu tertawa terkekeh dan berkata.

"Sim Long, berani kau bunuh diriku?"

Aku tidak berani,"

Jawab Sim Long perlahan. Mendadak Yu-leng-kiongcu berteriak.

"Jika engkau tidak berani membunuhku berarti engkau ini pengecut, manusia hina!"

Sim Long lantas menghela napas panjang, katanya.

"Sudah jelas aku tidak dapat ditipu, mengapa selalu ada orang ingin menipuku?"

Tokko Siang dan Him Miau-ji sama melengak.

"Menipumu? Masakah dia bukan Yu-leng-kiongcu?"

Dengan sendirinya bukan,"

Sela Ong Ling-hoa mendadak.

"Habis sia ... siapa dia?"

Tanya Miau-ji.

"Dia ...."

Belum lanjut ucapan Ong Ling-hoa, mendadak suara tadi berkumandang lagi.

"Siapa bilang aku bukan Yu-leng-kiongcu? Siapa bilang .... Sim Long, jika tidak kau bunuh diriku tentu engkau akan menyesal selama hidup, pasti akan kubikin engkau menyesal selama hidup."

Sim Long menghela napas, katanya.

"Cu Jit-jit, mengapa selalu kau minta kubunuh dirimu?"

Dalam kegelapan terdengar orang menjerit dengan gemetar.

"Apa ... apa katamu?"

Dengan pedih Sim Long berkata.

"Memangnya kau kira aku tidak tahu? Padahal seharusnya kau pikirkan sebelumnya, jika benar Yu-leng-kiongcu hendak menyergap diriku, mana bisa dia bersuara lebih dulu."

Ah, betul, seharusnya kupikirkan juga hal ini,ücap Tokko Siang.

Jilid 32 Tapi Ong Ling-hoa lantas mendengus.

"Apalagi Yu-leng-kiongcu juga bukan orang tolol, tidak mungkin dia turun tangan sendiri menyergap Sim Long."

Tutup mulutmu!"

Teriak Jit-jit parau. Ong Ling-hoa menyengir dan benar juga tidak bicara lagi. Jit-jit menangis dan berteriak.

"O, Sim Long, mengapa tidak kau bunuh saja diriku?"

Mana boleh kubunuh dirimu, Jit-jit, jangan-jangan engkau memang tidak tahu apa-apa."

"Kutahu ... namun sekarang sudah terlambat, mana ... mana dapat kuhidup lagi, apa artinya pula hidup ini bagiku?"

Ratap Jit-jit.

"Kuharap dapat mati saja di tanganmu. O, Sim Long, kumohon dengan sangat, bunuhlah aku, biarlah kumati dengan senang."

Tokko Siang melenggong, gumamnya.

"Sungguh aneh, ada sementara orang berniat membunuh Sim Long, tapi ada juga anak perempuan yang sengaja ingin mati di tangan Sim Long, sungguh peristiwa mahaaneh."

Kau tidak paham, kalian sama tidak paham,"

Teriak Jit-jit.

"Aku juga tidak paham, mengapa ...."

Belum lanjut ucap Sim Long segera Jit-jit memotong.

"Masa benar engkau tidak paham?"

Sim Long merangkulnya dengan mesra, ucapnya lembut.

"Jit-jit ....ïa hanya menyebut namanya dengan halus dan tidak dapat bicara lain, namun melulu panggilan itu pun sudah cukup. Segala kesalahpahaman yang lampau kini pun sudah menjadi peristiwa lalu. Suara tangis Jit-jit mulai mereda. Tokko Siang merasa gua yang gelap ini mulai hangat, meski tidak terlihat sesuatu, tapi siapa yang tidak dapat merasakan kemesraan kedua muda-mudi itu. Mendadak Ong Ling-hoa mendengus.

"Hm, alangkah mesranya!"

"Apakah engkau penasaran?"

Tanya Miau-ji.

"Jangan kau lupa, paling tidak sampai saat ini aku adalah bakal suami Cu Jit-jit, tentu dapat kau bayangkan sendiri betapa perasaan seorang menyaksikan bakal istri sendiri sedang bermesraan dengan orang lain."

Terdengar Sim Long bersuara, seperti tercengang dan melepaskan rangkulannya. Miau-ji juga melenggong dan tidak bicara lagi.

"Wahai Sim Long, apabila kalian ingin main cinta, sepantasnya kalian menghindariku dan harus menunggu untuk sementara ...."

Menunggu? Menunggu apa?"

Tanya Miau-ji.

"Memangnya kalian mengira aku tidak mungkin mendapatkan istri? Apa aku harus menikahi dia? Memangnya orang perempuan di dunia ini tinggal Cu Jit-jit seorang saja?"

Hah, apa maksudmu?"

Tanya Miau-ji.

"Jika dia tidak suka padaku, apa artinya kukawini dia? Huh, kan lebih baik kukawin dengan sepotong kayu saja, sedikitnya aku tidak perlu memberi makan kepadanya, kan hemat."

Eh, apakah kau bicara dengan sesungguh hati?"

Tanya Miau-ji pula.

"Orang yang suka omong kosong terkadang juga dapat bicara benar,üjar Ling-hoa.

"Pendek kata, wahai Sim Long dan Cu Jit-jit, apa pun yang ingin kalian lakukan boleh silakan berbuat sesuka kalian, soal perkawinanku dengan Cu Jit-jit boleh dianggap sebagai embusan kentut saja, sesudah berbau dan habis perkara."

Terdengar Jit-jit bersuara gembira tertahan.

"Bagus, Ong Ling-hoa, sejak kukenal dirimu sampai sekarang, baru sekarang kau bicara secara manusiawi. Sayang tidak ada arak di sini, kalau tidak, ingin kusuguhmu tiga cawan ...."

Kegelapan kembali sunyi. Sampai lama dan lama sekali, mendadak Tokko Siang berkata.

"Mengapa sejauh ini dia tidak bertindak sesuatu, apakah sebabnya?"

Dia bicara tanpa menunjuk siapa yang ditanya, tapi dengan sendirinya Sim Long yang dimaksudkannya.

Mulut Sim Long seperti baru saja dipindahkan dari dekapan sesuatu benda, ia menarik napas dulu, lalu berkata.

"Dengan sendirinya dia sedang mengatur tipu daya."

Kau pikir tipu keji apa yang akan dilaksanakannya?"

Tanya Tokko Siang.

"Aha, dapat kuterka,"

Seru Miau-ji mendadak.

"Kau dapat terka apa?"

Api ... dia akan menggunakan api!"

"Ya, betul juga, dia telah menyumbat jalan keluar di sini, tujuannya memang hendak menyerang kita dengan api. Cuma, di sini batu melulu, mungkin juga sukar menyalakan api."

Batu memang tidak dapat menyala, tapi apakah dia tidak dapat melemparkan benda yang mudah terbakar api ke dalam sini?"

"Ai, betul juga, jika dia benar menyerang dengan api, tampaknya kita seluruhnya akan terpanggang hidup-hidup,"

Seru Tokko Siang.

"Tapi jangan kau khawatir, jika benar dia mau menyerang dengan api tentu takkan menunggu sampai sekarang, tidak nanti dia memberi kesempatan kepada Sim Long untuk main cinta di sini,üjar Ong Ling-hoa.

"Bagaimana menurut pendapatmu, Sim Long?"

Seru Miau-ji.

"Apakah dia akan menyerang dengan api?"

"Tidak,"

Jawab Sim Long singkat.

"Jika begitu, apakah dengan air?"

Hm, di gua pegunungan ini dari mana ada air sebanyak itu?"

Jengek Ling-hoa.

"Orang lain tidak bisa, tentu dia punya akal, betul tidak, Sim Long?"

Tanya Miau-ji.

"Tidak, dia juga takkan menggunakan air,"

Jawab Sim Long.

"Sebab apa?"

Miau-ji menegas.

"Sebab menyerang dengan api atau air adalah cara yang jamak, terlalu umum,üjar Sim Long.

"Umum? Jamak?"

Miau-ji menegas dengan heran.

"Sekalipun dia seorang momok, tapi dia adalah bidadarinya setan iblis, meski dia busuk, tapi kebusukan yang istimewa,"

Kata Sim Long dengan gegetun.

"Pokoknya cara yang biasa pasti takkan dipakainya. Yang akan digunakan untuk menghadapi kita pasti satu cara yang aneh, yang sukar ditebak oleh siapa. Dia akan mematikan kita, tapi juga ingin membuat kita mati dengan takluk lahir batin."

Engkau ternyata sangat memahami dia,"

Mendadak Jit-jit menyela.

"Urusan sudah sejauh ini, tidak boleh tidak kupahami dia,"

Kata Sim Long dengan menyengir.

"Masa dia benar-benar sehebat itu?"

Dia memang perempuan luar biasa, hal ini tidak dapat disangkal oleh siapa pun."

"Sayang dia tidak di sini, kalau dia mendengar ucapanmu ini tentu akan sangat senang ...."

Sampai di sini mendadak ia menggigit muka Sim Long.

***** Meski Jit-jit berlagak gusar, padahal hatinya sangat gembira, kalau ada orang yang paling gembira sekarang, maka orang itu ialah Cu Jit-jit.

Baginya keadaan yang berbahaya, apakah akan mati atau hidup, semuanya tidak menjadi soal lagi, asalkan didampingi Sim Long, apa artinya mati?

Kecuali dia, perasaan semua orang sama tertekan.

Mendadak Miau-ji berteriak.

"Peduli dia akan memakai cara apa, kuharap lekas dia muncul, makin cepat makin baik, kalau cuma menunggu begini, sungguh aku bisa gila."

Sabar, sudah hampir, dia takkan membuatmu menunggu terlalu lama,"

Kata Ong Ling-hoa dengan dingin.

Baru lenyap suaranya, benar juga, segera terdengar gema langkah orang datang.

Meski ringan langkah orang, tapi di tengah kesunyian terdengar dengan jelas.

Tokko Siang mengepal tinjunya erat-erat, ucapnya dengan parau.

"Sia ... siapa ini yang datang?"

"Tak mungkin dapat kau terka,üjar Ling-hoa.

"Kau pun tidak?"

Tanya Miau-ji.

"Ya, aku pun tidak tahu,"

Jawab Ling-hoa menyesal.

Suara langkah orang itu sudah berhenti, tepat berhenti di luar gua.

Habis itu batu yang menyumbat mulut gua tergeser dua potong, cahaya lampu lantas menyorot masuk dan menyinari wajah Tokko Siang yang pucat.

Tanpa terasa Tokko Siang menyurut mundur sambil menutupi matanya, bentuknya.

"Siapa itu?"

Aku,"

Jawab seorang dengan suara berat, dingin dan berwibawa.

Menyusul di luar celah batu yang terbuka itu muncul sepasang mata yang bersinar, mata siwer (warna hijau-biru) yang lain daripada orang biasa.

Tokko Siang bergemetar.

"Hah, Koay ... Koay-lok-ong!"

Bagus, masih ingat juga kau padaku,"

Jengek orang itu. Tanpa terasa Tokko Siang menyurut mundur pula serupa dicambuk orang, ia tidak sanggup bicara lagi, tapi kerongkongannya mengeluarkan suara parau.

"Tak kau sangka tentunya bahwa aku dapat menemukan kalian di sini,"

Kata Koay-lok-ong.

"Dari ... dari mana kau tahu?"

Dari mana kutahu? .... Haha, kan berlebihan pertanyaan ini?"

Seru Koay-lok-ong dengan terbahak.

"Kan sudah kau ketahui bahwa tiada sesuatu pun yang dapat mengelabuiku, apalagi cuma tempat kurungan kalian ini?"

Bluk", Tokko Siang duduk lemas di tanah. Cahaya api bergeser dan menyinari wajah Him Miau-ji. Muka Miau-ji juga pucat, ia pun menyurut mundur.

"Hah, bagus, kau pun tidak mati, sungguh harus kuakui sebagai kejadian yang luar biasa bahwa Tokko Siang yang suka membunuh ternyata tidak membinasakanmu,"

Seru Koay-lok-ong dengan tertawa.

"Hal ini lantaran dia tetap manusia dan berperasaan, sebaliknya kau ... kau ...."

Miau-ji tidak sanggup meneruskan makiannya karena tatapan sinar mata yang aneh itu.

Cahaya lampu bergeser lagi dan sekarang menyinari wajah Ong Ling-hoa.

Dia berdiri mepet dinding, butiran keringat dingin memenuhi wajahnya yang juga pucat dengan warna serupa dinding batu.

Namun sinar matanya tetap berjelalatan kian kemari dengan licik, masih terus mencari kalau-kalau menemukan jalan untuk menyelamatkan diri.

"Bagus, tentu kau ini Ong Ling-hoa yang termasyhur itu, kecuali Ong Ling-hoa kukira tak ada orang yang mempunyai sinar mata keji begini,"

Kata Koay-lok-ong dengan tertawa.

"Terima kasih,"

Tertawa juga Ong Ling-hoa.

"Sudah sering kudengar cerita orang bahwa kecerdikan Ong Ling-hoa jarang ada di zaman ini, setelah berjumpa sekarang, tampaknya engkau memang berbentuk orang pintar."

Terima kasih atas pujianmu."

"Cuma sayang, yang kau lakukan ternyata sangat bodoh!"

Jengek Koay-lok-ong.

"Oo?!"

Ling-hoa melengak.

"Barang siapa yang bermusuhan denganku, jelas dia kalau bukan orang gila pasti juga orang sinting,"

Teriak Koay-lok-ong dengan bengis.

"Orang pintar semacam dirimu mestinya tahu tidak berguna bermusuhan denganku."

Ong Ling-hoa menghela napas.

"Sebenarnya, aku pun tidak terlalu suka memusuhimu, asalkan kau bebaskan aku ...."

Hm, rasanya sudah terlalu kasip baru sekarang kau bilang demikian,"

Jengek Koay-lok-ong.

Cahaya lampu bergeser pula, akhirnya menyinari Sim Long dan Cu Jit-jit.

Jit-jit tidak memperlihatkan rasa takut, pandangan tetap tertuju kepada Sim Long dengan terkesima, penuh kasih sayang.

Perlahan ia meraba muka Sim Long, ucapnya dengan lembut.

"Akhir-akhir ini tampaknya engkau tambah kurus."

Haha, sungguh hebat!"

Seru Koay-lok-ong dengan bergelak tertawa.

"Sungguh cinta yang luhur sehingga benar-benar membuat orang melupakan segalanya. Wahai Sim Long, engkau sungguh seorang yang beruntung."

Sim Long tersenyum hambar, katanya.

"Meski cinta sedemikian luhur, cuma sayang kebanyakan orang justru tidak menghargainya, banyak orang yang memupuknya, tapi akhirnya ditinggalkan juga."

Koay-lok-ong seperti melengak, tanyanya kemudian.

"Apa artinya ucapanmu ini?"

Apa artinya ucapanku kan seharusnya cukup jelas bagimu,"

Jawab Sim Long. Koay-lok-ong termenung sejenak, mendadak ia bergelak tertawa dan berkata pula.

"Apa pun juga kalian ternyata masih hidup di sini, hal ini sungguh kejadian yang menggembirakan dan harus diberi selamat."

Menggembirakan dan selamat?"

Kata Sim Long.

"Ya, kalian tentu takkan tahu, bilamana kalian mati, entah betapa aku akan berduka,ücap Koay-lok-ong.

"Kentut busuk!"

Teriak Miau-ji. ¡"

Haha, soalnya bila aku tidak dapat membunuh kalian dengan tanganku sendiri, hal ini tentu akan kusesalkan selama hidup, sekarang kalian ternyata masih menunggu di sini, dengan sendirinya aku sangat gembira,"

Seru Koay-lok-ong. Miau-ji meraung murka.

"Dan mengapa engkau belum lagi turun tangan."

"Membunuh orang juga semacam seni,üjar Koay-lok-ong.

"Kalian adalah orang tidak biasa, bila kubunuh kalian begini saja, kan terasa kurang menarik."

Sesungguhnya apa kehendakmu?"

Tanya Tokko Siang.

"Apakah kalian ingin tahu?"

Mendadak Ong Ling-hoa tertawa.

"Jika benar kau bunuh diriku, engkau pasti akan menyesal."

Selamanya aku tidak pernah menyesal,ücap Koay-lok-ong.

"Apa betul?"

Tertawa Ong Ling-hoa bertambah misterius.

"Jika begitu, boleh kau coba, silakan bunuh saja."

"Sim Long,"

Kata Koay-lok-ong.

"apakah kau pun ....¡"

Aku sih tidak khawatir, kutahu untuk sementara ini engkau takkan membunuhku,üjar Sim Long tak acuh.

"Haha,"

Koay-lok-ong tertawa.

"Betapa pun Sim Long memang lebih cerdik. Saat ini kalian sudah merupakan kura-kura di dalam tempurungku, cepat atau lambat kalian pasti akan mati, kenapa aku terburu-buru membunuh kalian?Ïa merandek sejenak, lalu menyambung.

"Bagi kalian sebenarnya masih ada dua jalan."

"Dua jalan apa?"

Tanya Miau-ji.

"Pertama, dengan sendirinya mati, setiap saat dapat kubinasakan kalian, kuyakin kalian takkan meragukan kemampuanku akan hal ini."

Miau-ji dan Ong Ling-hoa saling pandang tanpa bicara. Mereka tahu Koay-lok-ong memang memiliki kemampuan itu dan tidak dapat disangkal. Selang sejenak, Ong Ling-hoa bertanya.

"Dan apa jalan yang kedua?"

Jalan kedua adalah cukup kalian berjanji sesuatu padaku dan segera kubebaskan kalian keluar. Bahkan dalam satu jam pasti takkan kukejar."

"Dalam satu jam? Betul?"

Miau-ji menegas.

"Tentu saja betul,"

Jawab Koay-lok-ong.

"Di dalam satu jam tentu kalian dapat kabur dengan jauh. Pula, asalkan dalam waktu tiga-hari-tiga-malam kalian tidak tersusul lagi olehku, seterusnya takkan kuganggu lagi seujung jari kalian."

Semua orang saling pandang dengan girang.

Biarpun mereka rata-rata orang yang tidak takut mati, tapi demi diberi kesempatan untuk hidup, tentu saja kesempatan baik ini tidak disia-siakan dan tidak diabaikan.

Apalagi betapa pun lihainya Koay-lok-ong, bilamana mereka diberi peluang untuk lari dulu selama satu jam, tentu sukar lagi menyusul mereka.

Hanya Sim Long saja yang menghela napas, ucapnya.

"Tapi bila kami memilih jalan yang kedua ini, tentu masih ada syarat sampingan, bukan?"

Haha, tetap Sim Long saja yang tahu akan isi hatiku,üjar Koay-lok-ong dengan tertawa.

"Syarat sampingan apa?"

Sela Ong Ling-hoa cepat.

"Kuminta kepala satu orang,ücap Koay-lok-ong, mendadak ia berhenti tertawa.

"Kepala siapa?"

Tanya Ling-hoa. Dengan suara bengis Koay-lok-ong menjawab.

"Selama hidupku, yang paling kubenci adalah orang yang mengkhianatiku, asal dia kepergok lagi olehku, tidak nanti kuberi kesempatan hidup lagi baginya."

Belum habis ucapannya, Tokko Siang yang baru berdiri segera jatuh terduduk lagi dengan lemas. Sebaliknya Ong Ling-hoa merasa lega, katanya.

"Jadi yang hendak kau bunuh ialah Tokko Siang ...."

Betul, asal kalian penggal kepalanya, segera kulepaskan kalian pergi."

Dengan sorot mata kejam Ong Ling-hoa memandang ke arah Tokko Siang. Mendadak Him Miau-ji berteriak.

"Aku utang budi kepada Tokko Siang, barang siapa berani mengganggu seujung jarinya, dia harus melangkahi dulu mayatku."

Masa tidak kau pikirkan dengan cermat, jika kalian tidak terima permintaanku ini, maka kalian harus mati seluruhnya.

Bila terima, jiwa kalian berempat yang selamat.

Masakah jual-beli yang menguntungkan ini tidak kau terima, sungguh bodoh."

"Ken ... kenapa kau paksa kami melakukan hal yang tak berbudi ini?"

Teriak Miau-ji dengan gemas.

"Aku cuma ingin orang lain tahu bagaimana nasib orang yang berani mengkhianatiku,"

Jengek Koay-lok-ong. Ong Ling-hoa menghela napas.

"Caramu memberi peringatan kepala orang lain memang sangat bagus, hal ini tidak dapat disalahkan. Bahkan aku setuju."

Tidak bisa, aku lebih suka mati bersama dia dan takkan membiarkan kalian membunuhnya,"

Teriak Miau-ji.

"Sungguh tolol kau, untung kukira Sim Long takkan bodoh seperti kau,üjar Ling-hoa dengan gegetun. Mendadak Jit-jit berseru.

"Sim Long juga seperti dia, takkan membiarkan kau ...."

Sim Long yang kutanya dan bukan pendapatmu,"

Jengek Ling-hoa. Ia tahu, asalkan Sim Long setuju, apa gunanya yang lain anti? Tanpa terasa pandangan semua orang sama tertuju kepada Sim Long. Dengan tersenyum Sim Long berucap.

"Ong Ling-hoa, kuharap engkau mengerti satu hal.

"Kusiap mendengarkan,"

Kata Ling-hoa.

"Perlu kau ketahui, aku bukan orang takut mati serupa dirimu!"

Kata Sim Long. Air muka Ong Ling-hoa berubah seketika, sebaliknya air mata Tokko Siang bercucuran. Si Kucing lantas berkeplok tertawa, katanya.

"Haha, betapa pun Sim Long tetap Sim Long, nyata si Kucing tidak salah menilainya."

Jit-jit lantas menjatuhkan diri ke dalam pangkuan Sim Long pula, katanya.

"Aku terlebih tidak salah lihat, sungguh aku ... aku sangat gembira."

Hm, bagus, kalian memang gagah berani,"

Jengek Koay-lok-ong.

"Tapi justru ingin kulihat mampu bertahan sampai kapan keberanian kalian ini."

Mendadak ia bertepuk tangan. Di bawah cahaya api serentak beberapa titik emas melayang masuk dengan membawa semacam suara mendengung tajam aneh membuat orang merinding.

"Celaka, Kim-jan-tok-hong (ulat emas dan tawon berbisa),"

Pekik Sim Long.

"Hm, mendingan kau kenal kualitas barang,üjar Koay-lok-ong dengan tertawa.

"Ini memang Kim-jan-tok-hong yang paling jahat di dunia ini, asal kena disengat sekali olehnya, maka akan tersiksa selama tujuh-hari-tujuh-malam, habis itu sekujur badan akan membusuk dan akhirnya mati."

Tanpa terasa Miau-ji menggigil, dilihatnya sesudah beberapa bintik emas itu melayang masuk, lalu terbang kian kemari dengan cahaya yang menyilaukan.

Ong Ling-hoa membentak perlahan, lengan bajunya mengebas, seketika dua titik emas itu tergulung oleh lengan bajunya.

Tokko Siang juga melompat dan menginjak mati seekor makhluk berbisa itu.

Si Kucing tidak memegang senjata, juga tidak berlengan baju panjang, apalagi dia telanjang kaki, jadi sia-sia ia mempunyai kepandaian tinggi, namun tidak berani ikut turun tangan, terpaksa ia menghindar kian kemari, butiran keringat pun menghias dahinya.

Berulang Sim Long juga menyelentik dengan jarinya.

"crit-crit"

Beberapa kali, beberapa ekor ulat tawon berbisa itu lantas rontok juga ke lantai.

"Hm, ilmu tenaga jari sakti yang hebat,"

Jengek Koay-lok-ong.

"Apa baru sekarang kau kenal kelihaian kawanku ini?ëjek Miau-ji tertawa.

"Hm, apakah tidak terlalu pagi engkau bergembira sekarang? Beberapa ekor ulat tawon ini tidak lebih hanya contoh saja yang kuperlihatkan,"

Seru Koay-lok-ong dengan tertawa.

"Padahal di sarangnya masih ada beribu ekor lagi, bilamana kulepaskan seluruhnya, apakah masih kau dapat tertawa?"

Benar juga si Kucing seketika cep klakep alias bungkam. Ong Ling-hoa meraung.

"Apa lagi yang kau tunggu, masa engkau masih sok gagah? Lebih baik kau sendiri yang memenggal kepalanya, supaya orang lain tidak ikut mampus bersama dia."

Tidak, tidak bisa,"

Teriak Miau-ji tegas.

"Apa pun juga dia tidak boleh diganggu."

"Apakah kau pun sebodoh dia, Sim Long?"

Tanya Ling-hoa.

"Terkadang aku malahan lebih bodoh daripada si Kucing,üjar Sim Long.

"Aku juga rela ikut mati bersama Tokko Siang,"

Tukas Jit-jit.

"Wah, sialan, tampaknya aku berkumpul dengan segerombolan orang gila,"

Keluh Ling-hoa. Mendadak Tokko Siang berseru.

"Meski Koay-lok-ong mahajahat dan keji, tapi apa yang sudah diucapkannya tidak pernah dijilat kembali. Jika dia sudah menyatakan akan mengejar setelah kita lari dulu dalam satu jam, maka dia pasti akan menunggu sejam dan membiarkan kita lari."

Tapi itu adalah soal lain,"

Seru Miau-ji. Air muka Tokko Siang tampak kaku, ucapnya perlahan.

"Kalian berdua sedemikian baik terhadapku, sungguh tak pernah kubayangkan sebelum ini. Selama hidupku baru sekarang mendapatkan dua sahabat sejati seperti kalian, sungguh tak tersangka orang semacam diriku juga bisa memperoleh sahabat murni semacam ini. Sungguh hebat, sungguh puas aku."

Habis berkata mendadak ia membenturkan kepalanya ke dinding.

Miau-ji menjerit kaget, cepat ia memburu maju, namun sudah terlambat.

Darah sudah muncrat dan membasahi muka dan dadanya.

Tokko Siang telah roboh dengan wajah memar, tapi masih juga bergumam.

"Orang hidup dapat mengikat seorang sahabat sejati, mati pun tidak perlu menyesal, apalagi kuperoleh dua sahabat sejati."

Ai, engkau sungguh bodoh, mengapa ...."

Seru Miau-ji dengan menangis. Tokko Siang tersenyum pedih, ucapnya.

"Jika kalian dapat menjadi orang bodoh, mengapa aku tidak .... Tapi jangan kalian lupa, kumati bagi kalian, maka kalian harus hidup bagiku, hidup dengan baik ...."

Makin lemah suaranya dan akhirnya meraung keras sekali, lalu tidak bersuara lagi. Wajah Jit-jit basah dengan air mata.

"Di tengah orang jahat kiranya juga ada yang berhati baik .... Di dunia ini ternyata banyak juga orang berhati baik.Öng Ling-hoa juga berpaling ke sana dan tidak tega memandangnya, teriaknya.

"Baiklah Koay-lok-ong, kau mau apa lagi?"

Koay-lok-ong tertawa.

"Yang menurut padaku hidup, yang melawanku akan mati, di antara ini tiada pilihan lain, kukira kalian sudah cukup jelas bagaimana nasib kalian nanti."

Keempat duta bawahanmu ada yang mati dan ada yang meninggalkanmu, tangan kanan kirimu sudah patah, bila anak buahmu yang lain juga mengkhianat, maka nasibmu mungkin akan lebih mengenaskan daripada ini."

"Dengan bakatku yang tiada bandingannya biarpun kupergi-datang sendirian juga tiada yang mampu merintangiku, apa lagi .... Haha, sekarang kutambah lagi seorang pembantu baru, kan jauh lebih hebat berpuluh kali dibandingkan kawanan orang tolol itu?"

Tergerak hati Sim Long, namun dengan tak acuh ia tanya.

"O, pembantu baru siapa yang kau maksudkan?"

Koay-lok-ong tertawa latah.

"Hahahaha! Selamanya kalian takkan mampu menerka siapa dia, berkat tipu akalnya yang bagus barulah dapat kutemukan kalian, asalkan dia membantuku, apa pula yang kukhawatirkan?"

Semua orang sama terperanjat, jika ada orang yang sedemikian dipuji oleh Koay-lok-ong maka kepintarannya pasti tidak perlu disangsikan lagi dan mungkin sekali tidak di bawah Sim Long.

Tapi siapakah di dunia ini yang sedemikian hebat?

Ong Ling-hoa tertawa perlahan, katanya.

"Apa pun kau harus memegang janji, bebaskan dulu kami."

Silakan keluar saja, kan tidak kurintangi kalian,üjar Koay-lok-ong dengan tertawa.

"Tapi kau ... kau hendak ...."

Batu penghalang di sini sudah longgar, kalian tentu dapat mencari liang keluar dan takkan kurintangi kalian melainkan akan menunggu di luar sini."

Sembari bicara, lambat laun makin menjauh suaranya.

"Nanti dulu, Koay-lok-ong ...."

Teriak Ling-hoa.

Akan tetapi tidak ada jawaban.

Keadaan kembali sunyi, untung cahaya lampu di luar masih menyala.

Ong Ling-hoa menerjang maju, digaruknya batu penyumbat dengan tangan, setelah ditarik dan didorong, akhirnya ia menghela napas lega, katanya.

"Dia memang tidak bohong, batu ini memang sudah longgar."

Dengan mendelik Miau-ji menghardiknya.

"Apa benar kau pandang mati-hidup sedemikian penting?"

Sungguh aku tidak ingin mati, kalau orang lain mau tentu juga aku tidak perlu mencegahnya,"

Jawab Ling-hoa tak acuh.

Meski batu penyumbat itu sudah longgar, tapi tumpukan batu cukup banyak dan rapat, disertai tanah pelengket pula, mereka harus bekerja keras cukup lama, akhirnya baru dapat menggali sebuah lubang yang tiba cukup untuk diterobos tubuh seorang.

Dengan hati-hati mereka lantas merangkak keluar, terlihat sebuah lentera tertaruh di lekukan dinding.

Kedatangan mereka serupa orang buta yang terpancing oleh api setan, sesungguhnya bagaimana bentuk tempat ini sama sekali tidak diketahui mereka.

Baru sekarang mereka dapat melihat lubang gua yang berliku-liku ini, sedikitnya ada tiga buah jalan yang tampaknya menuju ke luar, tapi sukar diraba akhirnya entah menembus ke mana.

"Wah, celaka, kita tertipu olehnya,"

Seru Ling-hoa.

"Ya, memang konyol,"

Sim Long juga berkeluh.

"Meski kita dibebaskan olehnya, tapi lubang gua ini ada beberapa jalan tembus yang menyesatkan, betapa pun kita tetap tak dapat keluar, akhirnya kita akan mati terkurung juga di sini."

Lebih tepat dikatakan mati kelaparan di sini,"

Sambung Sim Long. Miau-ji keluar dengan memanggul mayat Tokko Siang, ia pun berseru.

"Ya, sampai sekarang sedikitnya sudah seharian kita tidak makan-minum, jika kelaparan satu dua hari lagi, tentu semuanya akan mampus."

Justru inilah akal keji Koay-lok-ong,ücap Sim Long dengan gegetun.

"Dia sengaja membuat kita kelaparan setengah mati, dalam keadaan lemas, andaikan dapat keluar, mustahil kita mampu lari lagi?"

Betul, dalam keadaan begitu, jangankan kita cuma disuruh lari lebih dulu satu jam, biarpun lari lebih dulu sehari juga tidak berguna,ücap Ling-hoa dengan gemas.

"Ai, orang ini sungguh licik lagi licin."

Sambil bersandar pada bahu Sim Long, Jit-jit berkata.

"Wah, mendingan kalian tidak membicarakannya, sekali bicara aku jadi merasa lapar benar-benar."

Aha, ada akal,"

Mendadak Sim Long berseru.

"Akal apa?"

Tanya Miau-ji.

"Coba ambilkan lentera itu,"

Kata Sim Long.

Lalu ia berjongkok memeriksa dengan teliti.

Tanah padas demikian tentu saja sukar meninggalkan bekas kaki, untung tanah di luar agak lunak, betapa pun masih terdapat sedikit jejak yang tertinggal.

Namun orang yang datang tadi tidak sedikit, bekas kaki ternyata sangat ruwet dan sukar dikenali.

Sim Long bergumam.

"Asalkan dapat menemukan jalan hidup di antara ketiga jalan ini tentu segala urusan akan beres."

Dengan sendirinya ia tidak berani gegabah, orang lain juga tidak berani mengganggu dia, sampai Cu Jit-jit juga menyingkir agak jauh, hanya pandangannya tetap mengikuti setiap gerak-gerik pemuda itu.

Sekonyong-konyong lentera padam.

Keadaan gelap gulita lagi, kegelapan yang membuat putus asa.

Ong Ling-hoa mengguncangkan lentera itu, lalu membantingnya di tanah sambil menggerutu.

"Sialan, minyak habis!"

"Sungguh bangsat yang keji,ömel Miau-ji.

"Rupanya setiap langkah sudah diperhitungkannya dengan baik. Dia sengaja meninggalkan sebuah lentera di sini untuk memperlihatkan kebaikan hatinya, tapi sudah diperhitungkan dengan tepat begitu kita keluar ke sini segera lentera ini akan padam."

Sim Long menyengir.

"Dia berbuat demikian kan serupa kucing menangkap tikus. Tikus tidak segera dimakan, tapi dipermainkan lebih dulu. Sudah diperhitungkannya bahwa kita serupa tikus di bawah cengkeramannya dan tidak mungkin bisa lolos."

Masa ... masa engkau juga tidak berdaya?"

Tanya Ling-hoa.

"Memangnya kita ini tikus?"

Sahut Sim Long dengan tersenyum hambar.

"Tentu saja bukan, jadi engkau punya akal?"

Seru Ling-hoa girang.

"Syukur sudah dapat kutemukan bekas kakiku sendiri waktu datang tadi,"

Tutur Sim Long.

"Bekas kaki menunjukkan mengarah ke jalan sebelah kiri, jika dari sana dapat masuk ke sini, dengan sendirinya dari sini dapat keluar ke sana."

Aha, betul, ayo lekas kita keluar,"

Seru Ling-hoa.

"Kita merambat dinding dengan tangan kiri dan tangan kanan bergandengan tangan satu sama lain, sekali-kali jangan sampai terpencar, biar kubuka jalan di depan dan Jit-jit di belakangku,"

Kata Sim Long.

"Dan Miau-ji di belakangku,"

Tukas Jit-jit.

"Tentu saja aku pengiring di belakang,üjar Ling-hoa.

"Miau-ji, harus hati-hati terhadap manusia demikian yang mengikut di belakangmu ...."

Jangan khawatir,"

Kata si Kucing.

"Dia orang pintar, sebelum lolos dengan hidup tidak nanti dia berani menyergap orang lain."

Tapi urusan begini tidak dapat diukur secara umum, akan lebih baik engkau tetap berhati-hati,üjar Jit-jit.

"Ai, perempuan ... dasar hati perempuan ....ücap Ong Ling-hoa dengan menyesal.

"Memangnya bagaimana hati perempuan? Paling sedikit hati perempuan kan lebih baik daripada hatimu,"

Jengek Jit-jit.

"Eh, jangan lupa, jika tidak ada aku, kau dan Sim Long ...."

Belum lanjut ucapan Ling-hoa, mendadak Jit-jit tertawa dan berkata.

"Kan sudah kukatakan di antara orang jahat juga ada yang berhati baik. Hatimu terkadang juga tidak busuk, bilamana engkau dapat sering-sering berbuat demikian, tentu juga semua orang akan suka padamu."

Oo ...."

Ling-hoa lantas bungkam.

"Hendaknya kau tahu, menjadi orang baik jauh lebih menyenangkan daripada menjadi orang busuk,"

Kata Jit-jit pula.

Begitulah keempat orang terus merambat ke depan dalam kegelapan, masing-masing sama menanggung pikiran sendiri sehingga tidak ada yang bicara lagi.

Entah sudah berapa lama mereka berjalan, dalam perasaan mereka rasanya seperti sudah lewat sekian hari, namun tiada terlihat apa pun di depan.

Akhirnya Miau-ji tidak tahan, tanyanya.

"Apakah engkau tidak kesasar?"

"Dia pasti takkan keliru,"

Seru Jit-jit.

"Hm, kepercayaan orang lain terhadap Sim Long tentu tidak sepenuh kepercayaanmu kepadanya,"

Jengek Ling-hoa.

"Jika tidak percaya padanya, kenapa engkau tidak pergi sendiri saja?"

Jawab Jit-jit ketus.

Maka Ong Ling-hoa tidak dapat omong lagi.

Dengan sendirinya dia tidak mau ribut mulut dengan anak perempuan, apalagi anak perempuan serupa Cu Jit-jit.

Setelah berjalan sebentar lagi, akhirnya Ong Ling-hoa bersuara pula.

"Eh, Sim Long, pada waktu kita masuk kemari rasanya tidak makan waktu sekian lama."

Sim Long berpikir sejenak, katanya.

"Waktu datang kan ada orang memberi petunjuk jalan, dengan sendirinya kita berjalan dengan cepat."

Terpaksa Ong Ling-hoa tutup mulut pula.

Kembali mereka merambat ke depan.

Meski tidak terlihat sesuatu tapi dapat dirasakan lorong gua itu makin lama makin sempit dan tambah sumpek.

Jit-jit yang bertubuh lemah hampir saja tidak mampu bernapas.

"Sim Long keliru jalan tidak?"

Jengek Ling-hoa pula.

"Dia ... dia tidak ...."

Belum selesai ucapan Jit-jit, mendadak Sim Long memotong.

"Keliru!"

"Jiwa kita terletak di tanganmu, hendaknya jangan dibuat main-main,üjar Ong Ling-hoa.

"Bagaimana kalau Ong-heng yang mencari jalan?"

Kata Sim Long. Cepat Ong Ling-hoa menjawab dengan menyengir.

"Ah, maaf jika ucapanku agak kasar. Padahal kalau Sim-heng saja tidak sanggup membawa kita keluar, siapa pula di dunia ini yang sanggup?"

Maka mereka lantas merambat kian kemari tanpa berhasil, kaki mereka bertambah lemas.

Rasa lapar masih dapat ditahan, rasa haus yang membuat mereka kelabakan setengah mati.

Menurut perkiraan, sedikitnya sudah sehari suntuk mereka berputar-putar di situ tanpa berhenti, biarpun tubuh gemblengan baja juga tidak tahan.

Yang paling payah adalah Cu Jit-jit, napasnya terengah-engah dan hampir tidak sanggup berdiri lagi.

"Bagaimana kalau istirahat sebentar?üjar Miau-ji.

"Dalam keadaan begini, siapa pun tidak boleh berhenti, harus sekaligus meneruskan perjalanan, sekali berhenti mungkin tidak sanggup berbangkit lagi,üjar Sim Long.

"Aku tidak lelah, ayo, terus jalan,"

Kata Jit-jit.

"Jika kita hanya merambat secara ngawur begini, sampai kapan baru akan berakhir? Betapa pun kita harus mencari jalan lain,üjar Ling-hoa. Miau-ji mendengus.

"Hm, dalam keadaan begini, jalan lain apa yang dapat kau pikirkan?"

Di sana tadi kulihat jelas kita datang dari jalan sebelah kiri dan pasti tidak keliru, entah mengapa menjadi salah jalan, di manakah letak kekeliruannya?"

Kata Sim Long dengan menyesal.

"Thian yang tahu apa kekeliruan ini,"

Tukas Ling-hoa.

"Apa pun juga kita jangan putus asa, terlebih tidak boleh berhenti,"

Seru Sim-Long.

"Asalkan kita tetap menuju ke depan, lambat atau cepat pasti akan kita temukan jalan keluarnya."

Betul, kita pasti akan berhasil keluar,"

Sambung Miau-ji. Maka dengan mengertak gigi semua orang merambat ke depan lagi. Entah berapa lama lagi.

"trang", mendadak kaki kesandung sesuatu benda.

"He, apa itu?"

Tanya Sim Long dan berhenti seketika. Ling-hoa coba meraba benda itu di tanah dan menjemputnya, katanya tiba-tiba dengan lemas.

"Wah, runyam!"

"Apa yang kau temukan? Kenapa kau bilang runyam?"

Tanya Miau-ji cepat.

"Inilah lentera tembaga yang kubanting ke tanah tadi,"

Tutur Ling-hoa dengan sedih.

"Ah, apakah ... apakah mungkin kita telah putar kembali ke tempat tadi?"

Kata Miau-ji.

"Memang betul, tampaknya tempat inilah kuburan kita."

Siapa bilang runyam, justru kita pasti akan selamat,"

Seru Sim Long mendadak.

"Se ... selamat?"

Ling-hoa menegas.

"Ya, asal kita berada kembali di sini berarti akan tertolong,"

Kata Sim Long.

"Apa katamu, sungguh aku tidak paham?"

Tanya Ling-hoa.

"Jalan yang kita tempuh tadi tidak keliru, hanya arahnya yang salah."

Aku tambah tidak paham keteranganmu ini?"

"Tadi kita merambat dinding dengan tangan kiri, bila di sebelah ada jalan segera kita membelok, makin jauh makin tersesat, akhirnya kita putar balik lagi ke sini, padahal jalan hidup yang sebenarnya adalah sebelah kanan."

Aha, betul, memang benar selamat,"

Seru Ling-hoa girang.

"Baru sekarang kau percaya Sim Long memang tidak keliru, bukan?ëjek Jit-jit.

"Kan sudah kukatakan, di dunia ini jika ada orang mampu membawa kita keluar dari sini, maka orang itu ialah Sim Long,"

Kata Ling-hoa.

"Sekarang kita merambat dinding dengan tangan kiri, setelah belasan langkah ke depan baru berganti merambat dinding dengan tangan kanan, namun tangan kiri masing-masing tetap bergandengan dan jangan sampai terpencar."

Meski keadaan semua orang sekarang sudah lemas lunglai, lapar dan haus, tapi sinar hidup sudah muncul, semangat mereka terbangkit, jalan mereka pun seakan-akan bertambah cepat.

Sekali ini mereka hanya berjalan sebentar saja dan segera kelihatan cahaya remang langit di luar, makin ke depan makin terang.

Jit-jit memegang tangan Sim Long dengan erat sambil bersorak gembira.

"Akhirnya kita dapat bebas."

Ssst, kita belum lagi lari keluar, ini baru saja permulaan,"

Desis Sim Long.

"Baru permulaan?"

Miau-ji menegas.

"Jangan kau lupa, Koay-lok-ong masih menunggu di luar gua, pelarian kita baru akan dimulai, kesulitan yang sesungguhnya masih banyak menunggu." ***** Koay-lok-ong memang benar menunggu di luar gua. Cahaya sang surya gilang-gemilang, cuaca cerah. Di luar gua dibangun sebuah barak bambu, Koay-lok-ong duduk di kursi malas berkasur empuk diembus angin semilir sejuk. Di depannya tentu saja tersedia santapan lezat dan arak, di sampingnya menunggu kawanan gadis cantik, di mana ia berada tidak pernah berkurang hal-hal demikian itu. Kecuali itu ada lagi 30-an pemuda gagah perkasa dengan pakaian ringkas dan berpedang siap tempur mengelilingi Koay-lok-ong. Dia dapat melihat Sim Long, keadaan Sim Long ternyata tidak sekonyol sebagaimana dibayangkannya. Tubuh Sim Long tetap tegak, mata masih bersinar, terlebih senyumnya yang khas itu menghiasi ujung mulutnya. Air muka Koay-lok-ong rada berubah, tapi segera ia bergelak tertawa.

"Haha, bagus, akhirnya kalian datang juga."

Masa kami harus membikin kecewa Anda?üjar Sim Long dengan tersenyum.

"Memang sudah kuduga Sim Long pasti takkan membikin kecewa padaku,ücap Koay-lok-ong dengan tertawa.

"Apabila kalian tidak dapat keluar, itulah yang membuatku kecewa."

Masa di dunia tidak ada jalan keluar bagi orang?üjar Sim Long tertawa sembari melangkah ke depan.

Jit-jit dan Miau-ji mengikut rapat di belakangnya, terpaksa Ong Ling-hoa juga membusungkan dada dan melangkah maju.

Walaupun mereka melangkah dengan tegap, dalam hati diam-diam mengeluh, terutama bau sedap santapan dan bau arak yang merangsang itu membuat perut mereka bertambah keroncongan.

Malahan Koay-lok-ong lantas mengangkat cawan arak dan berkata dengan tertawa.

"Sebenarnya ingin kusuguh kalian minum satu-dua cawan dulu, namun sayang, rupanya kalian terburu-buru menempuh perjalanan, terpaksa tidak ingin kuganggu waktu kalian yang berharga."

Baca Juga: Bangau Sakti 2

Baca Juga: Tugas Rahasia 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert