Eps 9 Pendekar Baja - Gu Long
Baca online Pendekar Baja - Gu Long
Cersil Pendekar Baja - Gu Long.
"Kongcu itu .... Ai, anak perempuan mana yang tidak kepincuk padanya, asal pernah melihat dia sekejap, anak perempuan mana yang dapat melupakan dia ...."
Jun-sui bicara seperti mengeluh, tapi mata terbelalak seperti lagi mimpi. Lalu ucapnya pula seperti lagi mengigau.
"Terlebih senyumnya itu .... Ai, Enci Beng-cu, apakah kau perhatikan senyumnya, aku menjadi tidak ... tidak bernafsu makan."
Tapi ... tapi aku tidak memerhatikan senyumnya,"
Kata Beng-cu.
"Ah, dusta ....üjar Jun-sui.
"Pada waktu kau tuangkan teh baginya, dia memandangimu dengan tersenyum, hampir saja cangkir teh terlepas dari tanganmu, memangnya kau kira aku tidak tahu?"
Muka Beng-cu tambah merah.
"Setan kau ...."
Ah, kenapa mesti malu? Lelaki semacam dia, jangankan kita, sampai bibi Jun-kiau kita yang sudah berpengalaman juga terpikat melihat dia.Äkhirnya Beng-cu tertawa juga.
"Ya, tampaknya dia ingin ... ingin mencaploknya bulat-bulat, kulihat Li-toasiok (paman Li) kita menahan gusar dengan muka masam."
Sebelum kulihat dia,"
Demikian Jun-sui bergumam.
"sungguh aku tidak percaya di dunia ini ada lelaki menyenangkan begini. Senyumnya, matanya, sikapnya yang kemalas-malasan seakan-akan segala urusan tidak menjadi soal baginya ... semua itu, asooi!"
Beng-cu menghela napas.
"Cuma sayang orang sudah ada yang punya."
O, maksudmu nona yang bernama Hiang apa itu?"
Tanya Jun-sui.
"Ya, namanya Ci-hiang,"
Kata Beng-cu.
"Huh,"
Jun-sui mencibir.
"mana dia setimpal baginya. Coba kau lihat mulutnya itu, sepanjang hari terus moncong melulu seperti dia paling cantik sendiri. Padahal, melihatnya saja aku mual."
Tapi dia memang ... memang ayu ...."
"Ayu apa, paling banyak juga cuma siluman rase ...."
Mendadak ia berdiri dengan pinggang meliuk.
"Padahal dalam hal apa kita lebih asor daripada dia? Terutama ... terutama pahamu, kutanggung sekali pandang saja dia pasti akan semaput."
Setan alas, kapan pernah kau lihat pahaku?ömel Beng-cu dengan muka merah.
"Pernah, waktu kau mandi,"
Tutur Jun-sui dengan terkikik.
"diam-diam aku mengintip dari luar, kulihat engkau sedang ... sedang .... Wah, bentukmu itu sungguh sangat menarik."
Beng-cu mengomel sambil menubruk maju, cepat Jun-sui angkat teko tadi dan lari.
Maka terjadilah kejar-mengejar dengan cepat, namun air dalam teko tidak tercecer setetes pun.
***** Pada saat itu juga di bawah pepohonan yang rimbun di kaki bukit sana juga ada seorang perempuan dan seorang lelaki sedang kasak-kusuk, suara bicara mereka sangat lirih, seperti khawatir didengar orang lain.
Lelaki itu berusia 40-an, namun dandanannya serupa anak muda berumur likuran, pakai baju panjang warna biru safir dengan ikat kepala warna yang sama, malahan ikat kepala biru dihiasi sepotong batu zamrud, pakai ikat pinggang tali sutra hijau dan pada ikat pinggang tergantung sebuah pot tembakau dengan pipanya, perawakannya jangkung dengan raut muka yang lonjong, matanya setengah tertutup dan berulang-ulang menguap serupa orang yang selalu mengantuk.
Yang perempuan juga sudah setengah baya namun tetap kelihatan cantik menarik, mata alisnya selalu memperlihatkan kerlingan yang memabukkan lelaki.
Di bawah cahaya senja dia kelihatan sangat cantik, kecantikannya inilah senjata yang selalu dipupuknya untuk melayani lelaki.
Matanya yang jalang kelihatan sedang melirik kian kemari, ingin tahu apakah di sekitarnya ada orang mengintip atau tidak.
Lelaki itu masih terus menguap, katanya kemalas-malasan.
"Orang lagi kantuk dan ingin tidur sebentar, sengaja kau seret ke sini, kita kan suami-istri resmi, memangnya perlu semokel dan main di sini?"
Meski muka si perempuan tidak merah, tapi sengaja bersikap malu-malu genit, omelnya.
"Cis, siang dan malam yang kau pikirkan selalu urusan begituan melulu."
Eh, apa jeleknya urusan ini?üjar si lelaki sambil memicingkan mata dengan tertawa.
"Bukankah kau pun selalu minta, semalam juga ...."
Sudahlah, Tuanku, orang lain kelabakan setengah mati, kau sengaja bergurau malah?"
Gerutu si perempuan.
"Apa yang membuatmu kelabakan?"
Tanya si lelaki.
"Hendaknya kau ingat, sekarang engkau bukan lagi tuan muda yang dapat berbuat sesukamu, tapi apa yang kita makan, minum dan pakai, semuanya berkah orang lain."
Jilid 26
"Tapi hidup kita kan juga tidak jelek,üjar si lelaki dengan tertawa.
"Justru tidak jelek, maka aku merasa khawatir,üjar si perempuan.
"Coba kau pikir, untuk apa bocah she Sim itu datang kemari? Jauh-jauh dia datang ke sini apakah cuma untuk pesiar saja?"
Lelaki itu menguap lagi dan berkata.
"Masa tidak boleh datang main-main saja?"
Ai, engkau ini sungguh tuan muda yang linglung,ömel si perempuan.
"Jika aku tidak linglung masakan bisa kecantol padamu?"
Kata si lelaki dengan tertawa.
"Huh, kalau engkau tidak linglung, mana bisa harta kekayaan keluargamu sebanyak itu kau ludeskan begitu?"
Kata si perempuan.
"Masa engkau belum lagi tahu bahwa kedatangan bocah she Sim ini adalah atas suruhan Ong-hujin agar mengambil alih pengelolaan Koay-hoat-lim ini? Sebab itulah ketika kita tanya dia untuk keperluan apa dia datang kemari, bukankah dia menjawab dengan tidak jelas dan pakai alasan yang sukar dimengerti.Ägaknya si lelaki jadi melengak, lalu berkata pula.
"Ah, kukira tidak segawat itu ...."
Memangnya sudah kau lupakan kehidupan kita yang menderita selama beberapa tahun itu, mungkin kau lupa, tapi aku tidak, aku pun tidak ingin mengulangi hidup susah lagi,"
Kata si perempuan dengan gemas.
"Jika dia datang untuk membikin periuk nasi kita pecah berantakan, betapa pun harus kita kerjai dia."
Ah, tidak, mana bisa jadi begitu, tampaknya orang she Sim itu bukanlah manusia demikian,üjar si lelaki.
"Huh, jika kau pintar menilai orang, tentu dahulu engkau tidak tertipu,"
Kata si perempuan.
"Pokoknya kalau tidak kau cari akal untuk menghadapi dia, terpaksa aku harus berdaya."
Kembali si lelaki menguap sehingga ingus dan air mata sama merembes keluar, cepat ia mengeluarkan pipa tembakaunya untuk udut, lalu berkata.
"Baiklah, sayang! Jika kau mau cari akal untuk menghadapi dia, silakan cari saja. Apa pun yang akan kau lakukan aku tentu setuju, asal saja jangan kau bikin kupakai topi hijau (lelaki yang bininya menyeleweng disebut memakai topi hijau)."
Ai, dasar!ömel si perempuan sambil mencolek dahi si lelaki.
Setelah udut, agaknya semangat si lelaki lantas pulih kembali, mendadak ia merangkul pinggang si perempuan dan diciumnya, lalu direbahkan di tanah terus hendak melaksanakan tugas.
Perempuan itu meronta dan berteriak.
"Oo, tidak, jang ... jangan di sini."
Di mulut bilang jangan tapi belum disuruh sudah lantas ambil posisi. Pada saat itulah mendadak terdengar suara ngikik tawa orang. Cepat perempuan itu mendorong si lelaki dan berkata.
"Beng-cu dan Jun-sui datang, lekas bangun!"
Dengan terengah lelaki itu berkata.
"Memangnya kenapa jika kedua genduk itu datang kemari? Mereka kan sudah pernah melihat juga adegan begini. Ayolah ... lekas ...."
Tapi dengan gesit seperti ular, perempuan itu memberosot keluar dari rangkulan si lelaki.
Rupanya Jun-sui dan Beng-cu juga sudah melihat mereka, keduanya tidak kejar-mengejar lagi.
Sambil membetulkan gelung rambutnya si perempuan tadi lantas muncul dari dalam hutan, bentaknya.
"Budak gila, suruh kalian mengambil air, kalian keluyuran ke mana saja, baru pulang sekarang?"
Bibi Jun-kiau, soalnya Enci Beng-cu mengusik saja sepanjang jalan,"
Segera Jun-sui mengadu.
"Wah, setan cilik, malah aku yang dituduh mengusiknya,"
Seru Beng-cu.
"Dia sendiri sepanjang jalan terus omong yang tidak-tidak, katanya ...."
Katanya apa?"
Tiba-tiba tuan muda Li-siauya muncul dari dalam hutan dengan muka masam.
"O, tidak ...."
Cepat Beng-cu menunduk sambil melelet lidah.
"Lekas menyeduh teh,"
Kata Li-siauya pula. Jun-sui mengedipi Beng-cu.
"Kutahu sebab apa Li-siauya marah, soalnya kita telah mengacaukan ...."
Belum lanjut ucapannya ia terus berlari pergi sambil tertawa ngikik.
Setelah melintasi hutan dan menyeberangi sebuah jembatan kecil, tertampak tiga buah rumah dengan dinding papan hijau dan kerai bambu yang menutupi jendela, di balik kerai lamat-lamat sudah ada cahaya lampu.
Pintu tertutup, tiada sesuatu suara di dalam.
Setiba di sini langkah Jun-sui dan Beng-cu lantas dibikin perlahan.
Sambil menggigit bibir Jun-sui mendesis sambil menatap daun pintu.
"Coba lihat, santap malam saja tidak makan lantas menutup pintu, apa saja yang mereka lakukan di dalam?"
Ya, sungguh berengsek,ömel Beng-cu dengan muka merah.
"Jangan kau maki dia, jika engkau yang menemani Sim-kongcu, mungkin pintu akan kau tutup terlebih dini,üjar Jun-sui dengan tertawa.
"Dan kalau aku, bisa jadi tiga-hari-tiga-malam tanpa membuka pintu juga tidak menjadi soal."
Setan cilik, masakah nasi pun tidak kau makan?ömel Beng-cu sambil terkikik.
"Makan nasi? Apa artinya makan nasi?"
Jawab Jun-sui sembari mendekati pintu dengan langkah perlahan.
"He, setan cilik, kau ... kau mau apa? Ingin mengintip?"
Ssst,"
Jun-sui memberi tanda jangan bersuara.
"Jangan keras-keras, coba kau pun melihatnya."
Muka Beng-cu tambah merah.
"Tidak, aku tidak mau!"
Di mulut dia bilang tidak mau, tapi kakinya lantas melangkah ke dekat jendela. Sekonyong-konyong pintu terbuka. Seorang pemuda tampan berbaju ringan dan berkasut tipis muncul sambil menyapa.
"Ah, kukira kucing, rupanya kedua nona."
Seketika Jun-sui dan Beng-cu melongo, tubuh kaku, mata juga kaku, mereka berdiri seperti patung dan memandang lurus padanya.
"Tentu kalian lelah menimba air, apakah perlu kubantu,"
Tanya pula si Kongcu muda dengan tertawa.
"O, ti ... tidak perlu, banyak terima kasih Sim-kongcu."
Jawab Beng-cu dengan tergagap.
"Bila makan malam sudah siap, harap nona suka memberi tahu,"
Kata Sim-kongcu itu. Beng-cu mengiakan, mendadak ia membalik tubuh terus lari secepat terbang. Dengan sendirinya Jun-sui ikut lari, sesudah sekian jauhnya baru Jun-sui bertanya.
"Kenapa kau lari?"
"Aku tidak ... tidak tahan,"
Jawab Beng-cu.
"Ia pandang diriku begitu rupa, bila terpandang sekejap lagi, tentu aku akan semaput."
Mendingan engkau masih dapat bicara dengan dia, aku justru tidak sanggup bersuara sama sekali,üjar Jun-sui.
"Kau baru akan semaput, aku ... aku boleh dikatakan sejak tadi sudah semaput."
Sim-kongcu yang disebut mereka itu dengan sendirinya ialah Sim Long.
Dengan tersenyum Sim Long memandangi kepergian kedua genduk kenes itu.
Ia merapatkan pintu lagi, maka di dalam rumah hanya tinggal dia dan Ci-hiang yang berbaring di tempat tidur sana.
Ci-hiang sudah bersolek dengan lebih cantik.
Dandanannya sangat serasi, bajunya lunak dan enak dipakai, sikapnya yang kemalasan serupa seorang Siocia, seorang putri atau nyonya muda keluarga hartawan, siapa pun pasti tidak menyangka dia hanya seorang genduk, sampai dia sendiri seolah-olah juga melupakan hal ini.
Saat itu, jari kakinya yang dicat warna merah dari getah bunga mawar itu sedang menggoda seekor kucing kecil berbulu putih tebal, kucing Persi yang meringkuk di ujung tempat tidur.
Mata Ci-hiang juga serupa mata si kucing lagi menatap Sim Long, tiba-tiba ia berkata dengan menghela napas.
"Ai, apakah kau tahu aku hampir gila lantaran dirimu."
"Oo, sebab apa?"
Jawab Sim Long.
"Sebab ... sebab engkau sungguh seorang lelaki yang maha aneh."
Aku sendiri merasa diriku sangat normal, di mana letak keanehanku?"
"Jika engkau tidak aneh, di dunia ini tentu tidak ada orang aneh lagi."
Di mana keanehanku? Hidungku tumbuh kurang benar? Atau mataku juling? Atau alisku tumbuh di bawah mata? Atau ...."
"Hidungmu tidak aneh, matamu juga tidak aneh, cuma hatimu ...."
Di mana letak keanehan hatiku?"
"Jika hati manusia semuanya terjadi dari daging, hanya hatimu terbuat dari baja."
"Dari mana datangnya baja? Ah, barangkali ada bandul timbangan yang kutelan?"
"Jika hatimu bukan terbuat dari baja, mengapa pada waktu berangkat sama sekali engkau tidak memberi tegur-sapa kepada nona Cu, sungguh aku berduka baginya."
"Jika toh harus berpisah untuk apa menyapanya? Biarlah tegur-sapa ini kusimpan saja sampai pulang nanti, bukankah akan lebih baik?"
Ci-hiang berkedip-kedip, katanya dengan tertawa.
"Baiklah, anggap cukup baik alasanmu. Tapi ... tapi sepanjang jalan ini engkau selalu berduduk saja di dalam kereta, melongok sekejap keluar saja tidak. Jika hatimu bukan terbuat dari baja, masa kau tahan?"
Jika kulongok keluar jendela, bila kebetulan melihat orang yang ada sangkut pautnya denganku, mungkin aku takkan jadi datang ke sini, maka terpaksa aku tidak melongok keluar."
"Baik, anggap kau benar, tapi ... tapi sepanjang jalan aku tidur di sampingmu, dan engkau sama sekali tidak tergerak, apa lagi hatimu kalau bukan terbuat dari baja? Atau mungkin terbuat dari batu?"
Jika aku tidak bergerak, engkau saja yang bergerak kan sama saja,üjar Sim Long dengan tertawa. Maka Ci-hiang menjadi merah.
"Apa gunanya aku bergerak, sialan .... Engkau serupa orang mampus saja, bahkan ... bahkan tidak bisa membandingi kucing ini."
Waktu jari kakinya menyungkit perlahan, benar juga kucing itu bersuara "
Meong"
Terus melompat ke dalam pangkuannya.
"Nah, coba lihat, mengapa engkau tidak meniru kucing ini?"
Kata Ci-hiang.
"Wah, mana boleh kutiru dia? Kucing ini kan betina?üjar Sim Long dengan tertawa. Serentak Ci-hiang melompat bangun dan menatap Sim Long dengan mendongkol. Sampai sekian lama ia melotot, akhirnya ia menghela napas panjang dan menggerutu, ¡Wahai Sim Long, orang macam apakah dirimu ini, sungguh aku tidak mengerti."
Sampai aku sendiri pun tidak mengerti, tentu saja engkau terlebih tidak mengerti,üjar Sim Long dengan tertawa.
"Ai, orang seperti dirimu ini, sungguh aku tidak tahu mengapa Hujin dapat memercayaimu."
Yang tidak dipercayai dia seharusnya dirimu,"
Kata Sim Long.
"Huh, jangan kau bicara demikian, memangnya engkau benar menyukai dia? Hm, aku tidak percaya. Engkau lagi berdusta padanya. Pada suatu hari tentu akan kubongkar kepalsuanmu."
Jika dia yang menipuku, apakah kau mau membongkar kepalsuannya?"
"Dia menipumu dalam hal apa?"
Coba jelaskan.
Duta Koay-lok-ong yang banci itu kan sudah jelas kabur dengan menggondol Pek Fifi, mengapa dia tetap bilang si banci masih dipenjarakan olehnya?
Memangnya dia sengaja menghendaki si banci membongkar rahasiaku di depan Koay-lok-ong, bukankah maksud tujuannya hanya ingin supaya aku bertempur mati-matian dengan Koay-lok-ong?Äir muka Ci-hiang ternyata tidak berubah, tuturnya dengan tenang.
"Caramu berpikir ternyata sangat lucu, namun engkau telah salah duga."
Di mana letak salah dugaku?"
Tanya Sim Long.
"Bukanlah engkau orang yang pintar? "
Orang pintar terkadang juga bisa keblinger."
"Kau tahu meski benar si banci itu sudah kabur, tapi Hujin tidak berdusta padamu, ia bilang si banci pasti takkan bertemu dengan Koay-lok-ong untuk selamanya, hal ini memang benar."
Jika dia berhasil kabur, masakah tidak dapat bertemu dengan Koay-lok-ong?"
"Orang yang kabur kan juga bisa mati?"
O, maksudmu si banci sudah keracunan dan sebelum bertemu dengan Koay-lok-ong dia akan mati lebih dulu serupa orang-orang yang baru tiba di Jin-gi-ceng dan segera mati itu?"
"Jadi engkau sudah paham sekarang?"
"Aku tetap tidak paham,üjar Sim Long.
"Mengapa ia membiarkan Pek Fifi ikut dibawanya ke tempat Koay-lok-ong, memangnya dia sengaja menggunakan ¡¥Bi-jin-keh¡¦ (akal wanita cantik) untuk meruntuhkan Koay-lok-ong?"
Bisa jadi begitu,üjar Ci-hiang. Kembali Sim Long menghela napas.
"Cuma kasihan pada Pek Fifi, dia sebenarnya seorang anak perempuan suci bersih."
Mendadak mata Ci-hiang terbelalak.
"Kau suka padanya?"
Tidak boleh kusuka padanya?"
"Boleh ... boleh ...."
Mendadak Ci-hiang tertawa nyaring hingga terpingkal-pingkal. Sim Long tersenyum, katanya.
"Kutahu kalian tidak percaya kepada siapa pun, sampai Coh Bin-kim dan Li Ting-liong suami-istri yang bekerja bagimu juga tetap kalian kelabui, mereka sama sekali tidak tahu untuk apa kudatang kemari, bahkan mereka sendiri tidak tahu untuk apa mereka datang ke sini."
Jika mereka tahu, siapa yang berani menjamin mereka takkan membocorkan rahasia Koay-hoat-lim kepada Koay-lok-ong?"
Kata Ci-hiang.
"Lebih-lebih si Jun-kiau itu .... Hm, perempuan semacam itu, siapa yang percaya padanya pasti celaka."
Dirimu bagaimana?"
Tanya Sim Long.
"Boleh coba kau terka,"
Jawab Ci-hiang dengan tersenyum manis.
"Kurasa ...."
Belum lanjut ucapan Sim Long, mendadak ia melompat ke pintu sambil menarik daun pintu.
Benar juga, Jun-kiau yang setengah baya itu ternyata berdiri di luar pintu ....
***** Rupanya makan malam sudah siap.
Santapan malam yang padat, araknya juga pilihan.
Coh Bin-kim memang ahli pencampur arak.
Pada waktu mencampur arak, sikapnya secermat tabib sakti yang sedang memegang nadi pasiennya, seluruh perhatiannya tercurah ke dalam cawan arak.
Dandanannya sangat sederhana, rambutnya juga tidak teratur.
Bila ia berdiri di samping Li Ting-liong, tentu orang akan mengira dia adalah pesuruh tuan muda Li kita.
Namun wajahnya tetap dingin, wajah yang tidak ada senyuman itu kelihatan angkuh, jika melulu melihat wajahnya, orang tentu mengira Li Ting-liong adalah budaknya.
Sim Long memandangnya tertawa, katanya.
"Sebelum bertemu, sungguh tak kusangka Anda adalah orang semacam ini. Aku pun mempunyai seorang teman tukang minum, dia sama sekali berbeda daripada Anda."
Aku bukan tukang minum,"
Kata Coh Bin-kim dengan ketus.
"Oo?!"
Melengak juga Sim Long. Li Ting-liong lantas menukas.
"Meski Coh-heng ini ahli mencampur arak, tapi selain mencicipi pada waktu mencampur, biasanya sama sekali dia tidak suka minum."
Jika Coh-heng tidak suka minum arak, mengapa suka mencampur arak?"
Tanya Sim Long dengan geli.
"Minum arak dan mencampur arak adalah dua hal tersendiri,"
Jawab Coh Bin-kim dingin.
"Minum arak hanya main-main saja, mencampur arak adalah seni. Bila dapat mencampur beberapa macam arak jelek menjadi minuman enak, itulah pekerjaan yang menyenangkan. Hal ini sama halnya seorang pelukis mengatur warna lukisannya. Bilakah Anda pernah melihat seorang pelukis makan lukisan buah karya sendiri?"
Sim Long tercengang juga oleh komentar orang, ia berkeplok tertawa dan berkata.
"Haha, ucapan bagus, perumpamaan yang tepat!"
Dia memang seorang ajaib,"
Tukas Jun-kiau mendadak sambil tertawa nyekikik.
Pada waktu minum arak Li Ting-liong tampak sangat bersemangat, ia angkat cawan ke kanan dan ke kiri tanpa berhenti, sama sekali tidak dilihatnya bahwa kaki Jun-kiau telah menyelonong ke atas kaki orang "ajaibïni.
Namun Sim Long dapat melihatnya.
Selain minumnya cepat, cara menuang Li Ting-liong juga tidak kurang cepatnya, dengan sendirinya ia terlebih tidak tahu bahwa sebelah tangan Jun-kiau telah menggerayangi tangan Sim Long di bawah meja.
Hal ini telah dilihat oleh Ci-hiang, mendadak ia mendengus.
"Hm, sungguh sayang."
"Sayang apa?"
Jun-kiau berlagak ingin tahu.
"Sayang seorang hanya dilahirkan dengan dua tangan dan dua kaki, sungguh terlalu sedikit,"
Kata Ci-hiang,¡"
Umpama dirimu, nona Jun-kiau. Jika ... jika engkau dilahirkan dengan empat tangan dan empat kaki, wah, alangkah senangnya."
Betapa tebalnya kulit muka Jun-kiau tidak urung merah juga. Ci-hiang mendengus pula.
"Nona Jun-kiau, mengapa mukamu menjadi merah? Ah, jangan-jangan mabuk? .... Ya, pasti sudah waktunya kita angkat kaki!"
Segera ia menarik Sim Long dan diajak keluar. Sim Long menggeleng kepala dengan tertawa sesudah di luar.
"Meng ... mengapa ...."
"Jangan lupa, saat ini aku menyamar sebagai binimu,"
Kata Ci-hiang.
"Apakah bini tua atau bini muda aku harus bertindak demikian, kalau tidak kan tidak cocok lagi?"
Untung aku tidak menikahimu benar-benar,üjar Sim Long sambil menyengir. Dan begitu Sim Long dan Ci-hiang angkat kaki seketika Jun-sui lantas mengomel.
"Huh, rase garang, tentu dia tidak sabar menunggu lagi!"
Wajah Jun-kiau yang merah berubah menjadi masam, dampratnya.
"Siapa suruh kau banyak mulut? Ayo lekas membawa Li-siauya pulang ke kamar."
Jun-sui memicingkan sebelah mata dan berucap.
"Malam ini Siauya tentu takkan mendusin lagi, bibi jangan khawatir."
Lalu ia tarik Beng-cu, keduanya pergi dengan memapah Li Ting-liong.
"Setan ... setan alas¡ömel Jun-kiau. Makiannya ternyata bernada genit dan menggiurkan, rupanya makiannya itu selain ditujukan kepada Jun-sui juga dialamatkan kepada Coh Bin-kim. Sembari memaki ia pun menjatuhkan diri dalam pangkuan orang she Coh itu. Tapi Coh Bin-kim hanya memandangnya dengan dingin serupa orang yang tidak dikenalnya.
"Apa yang kau pandang? Memangnya tidak pernah kau lihat?"
Tanya Jun-kiau dengan senyum memikat.
"Memang belum pernah kulihat,"
Kata Coh Bin-kim.
"Ai, dasar lelaki tidak punya perasaan,ömel Jun-kiau.
"Memangnya bagian mana di tubuhku yang tidak pernah kau lihat sampai ratusan kali?"
Huh, baru sekarang kukenalmu dengan jelas,"
Jengek Coh Bin-kim.
"Eh, ada apa ini?üjar Jun-kiau.
"Barangkali hari ini kau makan obat sehingga caramu bicara selalu berbau kecut?"
Coba jawab, apakah setiap lelaki tentu kau taruh minat padanya?"
Tanya Coh Bin-kim. Jun-kiau tertawa.
"Ah, kiranya engkau bukan minum obat melainkan minum cuka. Ai, dasar tolol, masakah tidak dapat kau rasakan bila mana aku ada main dengan bocah itu, kan juga demi kepentinganmu."
Hm, demi kepentinganku?!"
"Coba pikir, kita bertiga hidup aman tenteram di sini, sekarang bocah she Sim itu datang, jika kita lantas dienyahkan, kan ... kan bisa berabe."
Huh, bila engkau sudah menaksir dia, tentu saja banyak alasanmu."
"Jangan khawatir,üjar Jun-kiau dengan tertawa.
"Bocah she Sim itu sudah tergoda oleh budak gasang Ci-hiang itu, andaikan aku mau juga sukar turun tangan ...."
Maka engkau sangat kecewa bukan?"
Jengek Coh Bin-kim.
"Untung masih ada akal lain meski akal ini gagal."
Memangnya dapat kau perkosa dia?"
"Bukan perkosa, tapi dapat kubunuh dia."
"Bunuh dia? kau berani?"
Tertarik juga Coh Bin-kim.
"Tapi bila diketahui Ong-hujin ...."
Dengan sendirinya aku tidak perlu turun tangan sendiri,üjar Jun-kiau dengan tertawa.
"Habis siapa yang hendak kau suruh membunuhnya?"
Masa kau lupa siapa yang akan datang ke sini besok?"
"O, maksudmu ... Koay-lok-ong?"
Betul, selain Koay-lok-ong, siapa pula yang dapat membunuh orang dengan sesukanya. Jika bocah she Sim itu dibunuh Koay-lok-ong, siapa pula yang berani membelanya?"
"Mana bisa Koay-lok-ong membunuh dia?"
Dengan sendirinya aku mempunyai akal, jangan khawatir,"
Kata Jun-kiau lembut.
"Sekarang engkau tidak perlu memikirkan urusan lain, tapi peluklah aku seeratnya ... ya, begitu ... lebih erat lagi ...."
Sementara itu Ci-hiang telah menyeret Sim Long kembali ke tempat tinggalnya, setiba di depan pintu baru dilepaskan.
Tapi sehabis dia membuka pintu dan menoleh, Sim Long sudah menghilang lagi.
Tentu saja Ci-hiang mendongkol, terpaksa ia menunggu dengan geregetan.
Ketika cahaya bulan mulai memancar dengan gemilangnya, mendadak Sim Long melompat masuk menerobos jendela.
Dengan gemas Ci-hiang menggerutu.
"Baru sekarang kutahu betapa pahitnya seorang istri menunggu kepulangan suami di rumah."
Menjadi suami juga tidak enak, meleng sedikit tentu akan pakai topi hijau, maka lebih baik tidak kawin, bahkan lebih baik jangan mendekati orang perempuan,"
Kata Sim Long.
"Kenapa, memangnya perempuan sama dengan ular berbisa?"
Meski bukan ular berbisa, tapi kebanyakan juga makhluk aneh."
"Makhluk aneh? Di mana letak keanehan orang perempuan?"
Tanya Ci-hiang.
"Seorang perempuan biasanya mungkin kelihatan lemah lembut, tapi bilamana dianggap kepentingannya dilanggar orang lain, seketika dia bisa berubah menjadi lebih keji daripada ular."
Eh, barangkali engkau habis ketemu setan, maka begitu pulang lantas bicara kata-kata setan begitu?"
"Meski tidak ketemu setan, tapi telah kudengar pembicaraan setan yang menarik,"
Tutur Sim Long dengan tersenyum. Serentak Ci-hiang melompat bangun dengan muka merah, tanyanya.
"Ah, kiranya kau pergi mengintip dan mencuri dengar begituan!"
Ai, dasar perempuan, mengapa perempuan selalu menaruh minat besar terhadap urusan begituan?"
Keluh Sim Long.
"Cuma sayang, yang kudengar bukanlah apa yang kau sangka ....Ïa berhenti sejenak, lalu menyambung.
"Yang kudengar adalah ada rencana orang hendak membunuhku."
Jun-kiau maksudmu? Apakah dia sudah gila?"
Seru Ci-hiang.
"Sebenarnya hal ini juga tidak dapat menyalahkan dia,üjar Sim Long.
"Maksud kedatangan kita tidak jelas, pantas juga mereka berprasangka."
Baik, akan kulihat dengan cara bagaimana dia akan membunuhmu."
"Dengan sendirinya dia takkan turun tangan sendiri. Besok juga Koay-lok-ong akan datang kemari,"
Tutur Sim Long.
"Wah, lantas bagaimana baiknya? Kusadari memang tidak seharusnya kuberi tahukan namamu padanya, segala urusan bisa runyam."
Serentak Ci-hiang melompat turun dari tempat tidur, memakai baju terus hendak pergi.
"Kau mau pergi ke mana?"
Tanya Sim Long.
"Ke mana? Dengan sendirinya hendak kusembelih dia lebih dulu."
Nah, betul tidak perkataanku tadi. Asalkan tahu kepentingannya dilanggar orang, seketika perempuan bisa berubah menjadi sangat keji dan berbisa. Jun-kiau begitu, kau pun sama."
"Tidak kau bunuh dia, memangnya harus menunggu dia merusak urusan kita?"
Dia takkan merusak urusan apa pun."
"Sebab apa?"
"Dia punya akal, aku kan juga ada akal,"
Kata Sim Long.
"Aku lagi bingung cara bagaimana supaya dapat mendekati Koay-lok-ong, sekarang jadi kebetulan, dapat kuperalat akalnya ...."
Sampai di sini mendadak ia berhenti terus menjatuhkan diri ke tempat tidur, selimut ditarik dan hendak tidur.
"Ayolah katakan, sambung terus!"
Pinta Ci-hiang.
"Tidak boleh kukatakan sekarang, rahasia alam tidak boleh kubeberkan."
Waktu Ci-hiang bertanya pula, Sim Long ternyata sudah tidur, meski didorong dan digoyang tetap tidak mau mendusin, serupa batu belaka.
Akhirnya Ci-hiang letih sendiri, sambil mengomel terpaksa ia harus tidur juga.
Tapi ketika mendusin, Sim Long sudah menghilang.
Pagi itu hawa sejuk, dedaunan masih basah oleh air embun, suara burung berkicau merdu.
Sim Long bersedekap dan berjalan-jalan di tengah hutan, tampaknya sangat iseng dan juga gembira.
Sekalipun dalam hatinya menanggung beribu persoalan yang sukar tertampak dari luar.
Mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang cepat menerobos hutan.
Sim Long tersenyum dan bergumam.
"Pagi amat datangnya."
Sekali melejit, ia melompat ke atas dahan pohon yang cukup tinggi, ketika ia memandang ke bawah, tertampaklah muncul dua ekor kuda yang dilarikan secepat terbang.
Kedua penunggangnya memakai mantel hijau bersulam bunga emas dan berkibar tertiup angin.
Tangkai pedang tampak menongol di atas pundak, pita merah hiasan tangkai pedang juga beterbangan tertiup angin, dipandang dari atas sungguh sebuah lukisan yang indah.
Kedua orang ini selain mahir menunggang kuda, tampaknya juga sudah hafal jalannya, mereka menyusuri hutan ini dan langsung menuju ke tempat tinggal Li Ting-liong.
Jun-kiau sudah pulang di rumah, dia berada di loteng dan sedang melambaikan sehelai selendang sutra terhadap kedua pendatang.
Dari jauh terlihat oleh Sim Long kedua penunggang kuda itu turun di depan rumah dan disambut Jun-kiau dengan akrabnya, ketiganya bicara dan tertawa, entah apa yang dipercakapkan mereka, mendadak sikap kedua penunggang kuda itu berubah.
Seorang di antaranya seperti berteriak dengan beringas.
"Apa betul?"
Jun-kiau tampak mengangguk.
Serentak kedua penunggang kuda lantas membalik, arah yang dituju adalah tempat tinggal Sim Long dan kebetulan Sim Long memang sedang menunggunya di tengah jalan.
Saat ini ia yakin benar kedua penunggang kuda ini pasti anak buah Koay-lok-ong, anggota ke-36 penunggang kuda Angin Ribut.
Mereka masih muda dan tangkas, dari langkah mereka yang gesit, jelas kungfu mereka tidak lemah.
Tapi Sim Long tidak tahu sesungguhnya Jun-kiau berkata apa kepada mereka.
Dilihatnya kedua orang itu makin mendekat.
Ketika kedua orang sampai di bawah pohon barulah Sim Long berseru mendadak dengan tertawa, ¡"
Haha, apakah kalian mencari orang?¡"
Kedua orang itu terkejut dan serentak berhenti sambil meraba pedang, mereka mendongak, gerak-gerik kedua orang sama, bahkan suara bentakan kedua orang dicetuskan berbareng.
"Siapa?"
Demikian bentak mereka, dan baru bersuara segera mereka melihat Sim Long yang menongkrong di dahan pohon itu.
Dahan pohon bergoyang-goyang tertiup angin, tubuh Sim Long juga ikut terbuai kian kemari seperti setiap saat dapat jatuh ke bawah.
Dengan sendirinya anak buah Koay-lok-ong dapat membedakan kualitas lawan mereka, tapi tidak menjadi gugup.
Diam-diam Sim Long memuji.
"Nyata di bawah panglima yang lihai tidak ada prajurit yang lemah."
Dilihatnya usia kedua orang itu baru likuran, semuanya berhidung tinggi, bermata besar, dandanan kedua orang juga serupa, mantel hijau bersulam emas, berbaju satin ringkas, bagian dada baju masing-masing sama terhias sebuah cermin pelindung hulu hati, hanya huruf yang terukir pada cermin masing-masing tidak sama, orang sebelah kiri pakai huruf "
Tujuh"
Dan yang kanan tertulis "delapan."
Rupanya inilah nomor pengenal barisan ke-36 jago Angin Ribut.
"Jago Angin Ribut, sungguh gagah perkasa!ücap Sim Long dengan tertawa.
"Siapa kau?"
Bentak jago nomor tujuh tersebut.
"Jika kalian hendak mencari orang, tentu diriku ini yang hendak kalian cari,"
Jawab Sim Long. Kedua orang saling pandang sekejap, tangan yang meraba pedang sudah siap memegang tangkai pedang.
"Engkau inikah orang yang hendak mencari Ongya kami?"
Bentak si jago kedelapan.
Diam-diam Sim Long merasa geli, semula tidak diketahuinya apa yang dikatakan Jun-kiau kepada mereka, kiranya perempuan itu mengadu bahwa dirinya hendak mencari perkara kepada Koay-lok-ong.
Meski cara mengadu domba ini sangat sederhana, tapi juga paling efektif untuk membunuh orang dengan meminjam tangan orang lain.
Sim Long tertawa, jawabnya kemudian.
"Jika kubilang bukan, tentu kalian takkan percaya, bila kujawab ya, kalian juga belum tentu mau percaya. Maka ya atau bukan boleh terserah kepada keputusan kalian sendiri."
Kembali kedua orang itu saling mengedip mata dan berucap berbareng.
"Bagus, bagus sekali!"
Lalu mereka terus membalik tubuh dan melangkah pergi. Hal ini berbalik di luar dugaan Sim Long malah. Selagi ia tercengang, sekonyong-konyong terdengar suara "
Crit-crit"
Dua kali.
Dua batang panah kecil menyambar dari balik mantel kedua orang itu langsung mengarah tenggorokan Sim Long.
Sambaran kedua anak panah ini cukup kuat, tapi sekali tangan Sim Long meraih kedua panah itu sudah terpegang olehnya.
Ia tersenyum dan berkata.
"Haha, terima kasih atas hadiah kalian ini."
Ketika tangannya bergerak lagi, kontan kedua anak panah itu menyambar balik ke sana, menyambar terlebih cepat dan lebih keras. Cepat kedua penunggang kuda itu menggeser mundur.
"creng", pedang lantas dilolos. Tapi kedua anak panah itu seperti sudah tahu tempat pedang mereka, baru terlolos.
"tring-tring", ujung pedang mereka tepat terkena panah, pedang tergetar dan menerbitkan suara mendenging. Di tengah suara mendenging itu sinar pedang lantas berkelebat juga, pedang yang satu menebas dahan dan pedang lain menebas kaki.
"Haha, 13 jurus Angin Ribut memang boleh juga,"
Seru Sim Long tertawa.
Baru habis ucapannya, dahan pohon pun putus, namun kakinya tidak putus, dengan enteng dan anteng ia sudah duduk lagi di dahan pohon yang lain dan tersenyum terhadap kedua lawan.
Kedua jago Angin Ribut itu tidak mampu tertawa lagi, muka keduanya berubah kelam, mereka sadar kungfu orang jauh di atas mereka.
Akan tetapi ke-36 jago Angin Ribut anak buah Koay-lok-ong biasanya cuma kenal maju dan tidak boleh mundur, apalagi ke-13 jurus Angin Ribut andalan mereka itu baru dikeluarkan satu jurus saja.
Baru saja kaki mereka menyentuh tanah, serentak mereka melompat lagi ke atas, sinar pedang bertaburan, secepat kilat mereka menebas dari kanan dan kiri, mengarah dada dan punggung Sim Long.
Mendadak tubuh Sim Long anjlok ke bawah, tepat menerobos di tengah sambaran sinar pedang, malahan kedua tangan Sim Long tidak menganggur, berbareng ia tolak bawah kaki kedua orang itu.
Ketika Sim Long hinggap di tanah, kedua jago Angin Ribut itu berbalik ditolak ke atas dahan pohon, terdengar suara gemeresak, sebagian ranting pohon sama patah diterjang mereka.
Meski agak kelabakan, kedua orang itu tidak menjadi bingung, sinar pedang lantas menusuk ke bawah dengan lebih cepat, keji dan jitu.
Tapi Sim Long lantas melayang lagi ke atas di tengah sambaran pedang, ketika kedua orang tadi berada di bawah, Sim Long sendiri sudah berduduk kembali di atas dahan pohon, katanya dengan tersenyum.
"Lain kali bila melompat ke atas lagi hendaknya hati-hati atas mantel kalian, kan sayang bila terobek."
Kedua jago Angin ribut itu meraung murka, sekali lagi ia menerjang ke atas.
Dan begitulah seterusnya sampai tujuh atau delapan kali naik-turun, ujung baju Sim Long tidak tersentuh, sebaliknya mantel kedua jago Angin Ribut telah robek tak keruan karena kecantol oleh ranting pohon.
Tentu saja kedua orang itu mandi keringat, mata merah beringas, ikat kepala juga penuh ranting kecil, bahkan sepatu mereka sempat dicopot oleh Sim Long.
Tapi dengan nekat kedua orang itu masih ingin mengadu jiwa.
Sim Long mengangguk dan memuji.
"Ehm, boleh juga kalian!"
Sekali ini dia tidak menunggu orang menerjang ke atas, tapi terus melompat turun.
Kedua orang itu berbalik terkejut, namun pedang mereka tetap berputar dengan teratur dan menyerang tanpa kendur sedikit pun.
Serangan sekarang baru benar-benar kungfu andalan mereka, betapa cepat gerak serangan mereka sehingga sukar diketahui ke arah mana pedang mereka menusuk.
Namun Sim Long tidak perlu mengetahui arah serangan mereka.
Mendadak kedua telapak tangan mencakup, tahu-tahu pedang mereka terjepit.
"krek-krek", pedang mereka sama patah. Waktu tangan Sim Long membalik, kedua potong pedang patah yang dipegangnya terus menyambar ke sana.
"cret-cret", dengan tepat ujung pedang patah itu menancap di ikat kepala kedua jago Angin Ribut. Betapa nekat kedua orang itu, sekarang mereka pun tidak berani melawan lagi, mereka memandang Sim Long dengan melongo sambil memegang pedang kutung. Sungguh mereka tidak habis mengerti dari mana pemuda yang berusia sebaya mereka memiliki kungfu sakti begini? Sim Long juga memandang mereka dengan tersenyum.
"Bagaimana, mau berkelahi lagi?"
Tidak,"
Jawab kedua orang itu berbareng setelah saling pandang sekejap.
"Jika tidak, boleh pulang saja,"
Kata Sim Long.
"Baik, kami pulang,ücap kedua orang itu, mendadak mereka memutar balik ujung pedang patah terus menikam dada sendiri. Agaknya Sim Long sudah menduga akan tindakan mereka ini, serentak ia pun turun tangan.
"trang", kedua pedang patah orang itu tergetar jatuh ke tanah.
"Ken ... kenapa kau ...."
Seru kedua orang itu dengan suara parau.
"Tidak menang biar mati, anak buah Koay-lok-ong sungguh keras hati,"
Kata Sim Long.
"Pedang ada orang ada, pedang patah orang gugur, inilah peraturan perguruan kami,"
Teriak salah seorang jago Angin Ribut itu dengan beringas. Sim Long tersenyum.
"Tapi apa alangannya kalian pulang dan lapor kepada Ongya kalian bahwa orang yang mengalahkan kalian ini bernama Sim Long, kuyakin Ongya kalian pasti takkan marah kepada kalian."
Sim Long?!"
Kedua orang itu mengulang nama itu sambil saling pandang sekejap.
Habis itu mendadak ia membalik tubuh terus berlari pergi.
***** Cahaya sang surya memancar ke dalam kamar, menyinari tubuh Ci-hiang yang masak dan padat itu, tubuh yang penuh gairah.
Hampir telanjang bulat tubuhnya, ia memeluk selimut erat-erat dan meringkuk di tempat tidur dengan penuh harap.
Waktu Sim Long masuk ke kamar, ia pandang tubuh orang yang mulus dengan sinar matanya yang kehausan itu, tapi bagi pandangan Sim Long tubuh yang menggiurkan ini serupa sepotong kayu saja, ia cuma tersenyum dan menyapa.
"He, engkau belum bangun?"
Dengan pandangan mesra Ci-hiang berkata.
"Aku sedang menunggu dirimu, masa engkau tidak tahu, bilamana kau tolak undangan demikian, pasti engkau seorang mati."
Selama ini masa belum lagi kau kenal orang mati seperti diriku?"
Jawab Sim Long. Serentak Ci-hiang melompat bangun, selimut dilemparkan dan diinjak-injak, teriaknya.
"Orang mampus, orang mampus!"
Sim Long lantas berduduk dan memandangnya dengan tersenyum.
"Jangan kau benci padaku, tapi lebih baik berdandanlah yang betul. Segera Koay-lok-ong akan datang, kabarnya dia tidak pernah menolak undangan setiap wanita cantik."
Benar dia akan datang?"
Seru Ci-hiang.
"Ya, kedatangannya mungkin terlebih cepat daripada perkiraan."
Dari mana kau tahu?"
"Sudah kulihat dua orang jago Angin Ribut anak buahnya."
Dan tentu si genit Jun-kiau itu sudah mengembuskan kebusukanmu kepada mereka dan anak buah Koay-lok-ong itu mana dapat melepaskanmu."
"Ya, mereka memang tidak tinggal diam, cuma sayang, akulah yang telah mengenyahkan mereka dan suruh mereka melapor kepada Koay-lok-ong ...."
Hah, mana boleh begitu,"
Seru Ci-hiang.
"Jika Koay-lok-ong mengetahui engkau inilah Sim Long, mana dia bisa mengampunimu, mungkin begitu dia datang segera engkau akan dibunuhnya."
Mengapa dia membunuhku?"
"Tolol,ömel Ci-hiang.
"Betapa tenar namamu, begitu banyak mata-telinga Koay-lok-ong yang tersebar di daerah Tionggoan, masakah dia tidak memperoleh laporan tentang dirimu?"
Jika dia tahu siapa diriku, dia yang terkenal pencinta orang pandai pasti akan berusaha merangkul diriku, bila aku menolak baru ada kemungkinan dia akan membikin susah padaku."
"Tapi dia pasti takkan berusaha membeli dirimu,üjar Ci-hiang.
"Sebab apa?"
Sebab ia pasti tahu engkau tidak dapat dibeli."
"Mengapa tidak, masakah aku orang begitu baik? Tokoh Kangouw zaman ini mana ada yang terlebih banyak dimaki orang daripada diriku? Umpama dirimu, mungkin kau pun tak dapat memastikan aku ini orang baik atau orang busuk."
Ci-hiang jadi melenggong.
"Ah, kau ... ini ...."
Nah, jika kau pun tidak dapat memastikan aku ini baik atau busuk, apalagi Koay-lok-ong? Untuk itu dia pasti akan menguji diriku, dan sekali menguji tentu jadi."
"Tapi ... tapi caramu ini sangat berbahaya, kukhawatir ...."
Tidak perlu kau khawatir bagiku, aku takkan mati,üjar Sim Long tertawa. Ci-hiang mengentak kaki.
"Apa, kukhawatir bagimu? Persetan! Biarpun kau mati dicencang orang pun aku tidak peduli."
Sim Long tertawa.
"Wah, dapat dibenci perempuan cantik begini, menyenangkan juga rasanya. Cuma sayang kebanyakan lelaki di dunia ini jarang yang dapat menikmati kesenangan begini ...."
Mendadak ia berlari ke sana dan menarik pintu. Ternyata Jun-kiau kembali berdiri di luar lagi.
"Hahaha!"
Sim Long tertawa.
"Apakah kau datang mengundang kami makan siang? Apakah tidak terlalu dini makan siang sekarang?"
Jun-kiau berdiri kaku di tempatnya dengan muka merah, dengan tergegap ia menjawab.
"O, ti ... tidak, kudatang melihat ...."
Melihat apakah aku mati atau belum, begitu bukan?"
"Ah, Sim-kongcu jangan ... jangan bergurau,"
Sahut Jun-kiau dengan likat.
"Tentu ... tentu semalam Sim-kongcu dan nona Hiang tidur dengan nyenyak."
Ci-hiang mengejek.
"Tentu saja kami tidur dengan nyenyak, mungkin nona Jun-kiau yang tidak dapat tidur. Coba, kelopak matamu sampai hitam seluruhnya. Wah, terlalu letih terkadang juga membuat orang tidak dapat tidur nyenyak."
Biasanya Jun-kiau tidak mau manda disindir orang, tapi sekarang terpaksa ia bungkam.
"Eh, tamu tentu sudah hampir tiba, kukira nona Jun-kiau perlu pulang untuk mengatur seperlunya,"
Kata Sim Long.
"Ya, aku permisi pulang,"
Kata Jun-kiau, lalu ia melangkah pergi dengan pinggang meliuk-liuk.
"Eh, tolong suruh nona Jun-sui kemari, ingin kuminta dia mengiringiku berjalan-jalan,"
Seru Sim Long.
Jun-kiau mengiakan dari jauh ....
Jantung Jun-sui berdetak keras.
Bahwa Sim-kongcu minta dia mengiringinya berjalan-jalan, apakah ini bukan dalam mimpi?
Cuma sayang, si genit Ci-hiang selalu ikut di samping Sim-kongcu.
Mengapa dia tidak sakit perut mendadak?
Begitulah Jun-sui merasa geregetan.
Suasana tenang, pemandangan indah, angin meniup semilir, sinar sang surya gilang-gemilang, burung berkicau merdu.
Hati Jun-sui serasa dibuai dalam mimpi, jika Sim Long bertanya baru dia menjawab, sungguh ia ingin melupakan masih ada orang ketiga yang berada di tengah mereka.
Sekonyong-konyong suara roda kereta bergemertak di luar hutan sana.
Sederet kereta kuda melintas ke kaki gunung sana.
Kereta kuda itu bercat hitam gilap, keretanya sendiri tidak ada hiasan apa-apa, tapi sekali pandang siapa pun tahu penumpang kereta itu pasti bukan sembarang orang.
Kuda penarik kereta tinggi besar, gagah perkasa larinya cepat, langkahnya enteng, jelas kuda bibit unggul dari padang rumput.
Sais kereta berbaju sutra biru safir dan duduk tenang di tempat kasir sambil memegang tali kendali dengan santai.
Di belakang dan depan kereta masih ada delapan ekor kuda bagus lagi, kedelapan penunggangnya lelaki kekar berbaju biru, semuanya gagah perkasa, dan jelas tidak lemah kungfunya.
"Hebat benar orang ini!"
Terkejut juga Sim Long memandang kereta besar ini.
"Jangan-jangan Koay-lok-ong sudah datang."
Seru Ci-hiang.
"Koay-lok-ong?"
Jengek Jun-sui.
"Hm, bila Koay-lok-ong datang, suasana serupa gempa bumi dan langit seperti mau ambruk, mana bisa aman seperti ini. Agaknya nona Hiang terlalu memandang rendah Koay-lok-ong."
Habis siapa kalau bukan Koay-lok-ong,"
Tanya Ci-hiang.
"Biar kukatakan juga tidak kau kenal,"
Jawab Jun-sui.
"Kenapa tidak coba kau katakan,üjar Sim Long dengan tertawa. Jun-sui lantas tertawa manis, tuturnya.
"Orang ini bernama The Lan-ciu."
Diam-diam Ci-hiang mendongkol, ia tanya tidak digubris, ditanya Sim Long lantas dijawabnya, sungguh ia ingin menampar muka Jun-sui.
"The Lan-ciu? Orang macam apakah dia? Hebat benar perbawanya?üjar Sim Long.
"Konon keluarga The adalah keluarga hartawan turun-temurun di daerah sini, hampir semua kebun buah-buahan di Lanciu sini adalah milik keluarga The, kata orang kekayaannya sanggup menandingi milik negara,"
Tutur Jun-sui.
Ketika kereta tadi lewat belum lama, debu mengepul lagi di jalan raya sana.
Rombongan kereta ini tampaknya jauh lebih kereng daripada kereta The Lan-ciu tadi.
Dua kereta besar dengan 16 ekor kuda penarik, kereta berwarna emas dan memantulkan cahaya menyilaukan mata.
Kereta ini berlapiskan emas, bahkan pelana kuda, roda kereta dan bagian lain, sampai tangkai cambuk yang dipegang kusir juga bersepuh emas.
Cambuk menggelegar, lelaki yang berbaju satin bersulam benang emas tampak gagah dengan membusungkan dada sambil membentak-bentak sepanjang jalan.
Sim Long tertawa, ucapnya.
"Tampaknya bagian yang dapat disepuh emas seluruhnya disepuhnya emas, hanya sayang muka mereka tidak disepuh sekalian, kalau tidak kan serupa patung di dalam kelenteng."
Jun-sui tertawa, katanya.
"Emas di rumahnya memang terlalu banyak."
"Orang macam apa pula dia?"
Tanya Sim Long.
"Konon orang ini asalnya cuma seorang belantik sapi, entah bagaimana terjadinya, akhirnya ia menemukan beberapa tambang emas sehingga rumahnya penuh tertimbun emas, sejak itu namanya yang berbau kuli lantas berganti menjadi Ciu Thian-hu atau Ciu yang diberi rezeki oleh langit."
Haha, ternyata seorang kaya baru mendadak,üjar Sim Long tertawa.
"Pantas dari jauh dapat kucium bau emas,"
Gumam Ci-hiang. Setelah rombongan kedua ini lalu, Sim Long berkata pula.
"Wah, tampaknya masih ada rombongan lain lagi."
Ya, siang ini sedikitnya ada enam atau tujuh rombongan akan datang ke sini,"
Tutur Jun-sui.
"Oo, masih ada siapa lagi?"
Dengan sendirinya orang terkemuka, kalau tidak berpangkat tentu orang kaya, misalnya ...."
Belum lanjut cerita Jun-sui, tiba-tiba dari jauh berkumandang lagi suara kaki kuda berlari.
Cepat sekali datangnya kuda ini, baru terdengar detak kaki kuda, penunggangnya segera muncul, seluruhnya ada tujuh orang, semuanya memakai ikat kepala hijau, pakaiannya sangat sederhana.
"Masa ini pun terhitung anggota keluarga orang kaya atau berpangkat?"
Ci-hiang menggerundel.
Sim Long tidak menghiraukan ucapannya, perhatiannya tertarik pada salah seorang penunggang kuda itu.
Baju orang ini tiada bedanya daripada keenam orang lainnya, tapi sikapnya sangat berbeda.
Perbawanya yang lain daripada lain itu biarpun berdiri di tengah beribu orang yang berseragam sama tetap akan dapat dibedakan orang dengan sekali pandang saja.
"Lelaki yang hebat, sikapnya ini sangat mirip si Kucing,"
Kata Sim Long.
"Kucing? Dia bukan kucing, tapi naga,ücap Jun-sui dengan tertawa.
"Naga?"
Sim Long menegas.
"Ya, dia she Liong (naga), namanya Su-hay,"
Tutur Jun-sui.
"Tapi tidak ada orang berani menyebut namanya, siapa pun bila berhadapan dengan dia sama menyebutnya Liong-lotoa."
O, apa kedudukan orang ini?"
Tanya Sim Long.
"Perairan Huang-ho bagian hulu hanya dapat ditempuh dengan rakit, sedangkan seluruh rakit di perairan sana semuanya di bawah pengawasan Liong-lotoa, tanpa izin Liong-lotoa siapa pun jangan harap akan dapat lalu di sana."
Arus Huang-ho sangat keras, sahabat yang hidup mengemudikan rakit di hulu sungai sana boleh dikatakan semuanya orang yang bergurau dengan nyawa sendiri, jadi setiap orang pasti menguasai sejurus-dua, untuk mengurus orang-orang ini sungguh tidak gampang,"
Demikian kata Sim Long.
"Dia berbaju seragam serupa anak buahnya, jelas dia bukan tokoh sembarangan,üjar Ci-hiang.
"Tidak perlu bicara tentang ilmu silatnya, melulu hal pakaian saja sudah cukup membuat orang tertarik kepada kebijaksanaannya. Jika dia sendiri makan daging dan orang lain cuma menggerogoti tulangnya, orang semacam ini mana bisa menjadi Lotoa (si tertua, kepala, pemimpin atau bos)."
Ada sementara orang pembawaannya memang pantas menjadi Lotoa, Liong-lotoa adalah satu di antara orang demikian ini,"
Kata Sim Long. ¡ "Selain dia, Him Miau-ji juga terhitung satu tokoh istimewa begitu."
Him Miau-ji,üjar Ci-hiang dengan tertawa.
"Tapi ... apakah dia ingat padamu? Sekarang, bukan mustahil dia sudah ada main dengan nonamu she Cu itu."
Mendadak Sim Long menarik muka, jengeknya.
"Hm, kau kira setiap perempuan di dunia ini sama tidak punya muka serupa dirimu?"
Tanpa terasa Ci-hiang menyurut mundur dua langkah, tak pernah terpikir olehnya wajah Sim Long yang selalu tersenyum itu bisa juga berubah masam dan menakutkan seperti ini.
Jun-sui dapat melihat jelas, hampir saja ia berkeplok gembira.
Untunglah pada saat itu juga dari kejauhan datang pula beberapa puluh orang mengiringi sebuah tandu besar berbungkus kain laken hijau.
Terdiri dari macam-macam orang rombongan ini, ada lelaki ada perempuan, baju mereka juga berwarna-warni, ada merah ada hijau, tapi usianya tidak ada yang di atas 25 tahun, kebanyakan adalah pemuda berumur 17-18 tahun.
Rombongan muda-mudi ini saling berpegangan pundak sambil tertawa haha-hihi sepanjang jalan, ada yang sibuk makan jajanan sehingga kulit buah dan kertas bungkus beterbangan terlempar begitu saja.
Dari dalam tandu besar itu pun terus-menerus ada kulit buah dan kertas bungkus dilemparkan keluar, di dalam tandu juga ada suara senda gurau orang, ada suara lelaki dan juga suara perempuan.
Di dalam sebuah tandu rupanya berjubel lima atau enam penumpang.
Begitu melihat rombongan ini, segera Jun-sui berkerut kening, katanya.
"Wah, kenapa kawanan kakek moyang cilik ini juga datang?"
Orang-orang macam apakah mereka ini?"
Tanya Sim Long dengan tertawa. Jun-sui menghela napas, tuturnya.
"Mereka semuanya putra-putri keluarga hartawan, sepanjang hari mereka selalu membikin onar di kota Lanciu, perkara besar sih jarang terjadi, tapi urusan kecil sering membikin pusing orang. Mereka boleh dikatakan satu gerombolan pencoleng kecil."
Tapi tandu besar ini tampaknya milik orang ternama atau berpangkat, jangan-jangan penumpangnya adalah pembesar negeri? Tapi mengapa bisa bergaul dengan kawanan pengacau cilik ini."
"Penumpang tandu itu justru tergolong mestikanya mestika,"
Kata Jun-sui.
"Pada waktu ayahnya masih hidup, setiap hari dia selalu bergaul dengan kawanan pencoleng cilik ini, makan, minum, main (judi), madon (main perempuan), pokoknya hampir segala macam M telah dilakukannya. Ketika ayahnya mati, dia menerima warisan yang tak terhitung jumlahnya, bahkan mendapatkan warisan gelar tituler sebagai Bi-hui-su (inspektur), keruan dia lantas malang melintang."
O, kiranya seorang anak pembikin bangkrut,"
Kata Sim Long tertawa.
"Tapi penduduk kota Lanciu telah ikut dibikin susah oleh anak berandal ini, sampai nona cilik atau perempuan muda tidak ada yang berani berjalan sendirian di tempat umum. Siapa pun bila mendengar nama Siau-pa-ong (si Raja Berandal Cilik) Si Bing tentu kepala pusing."
Wah, jika demikian, tampaknya semua keluarga hartawan dan pembesar di sekitar sini hari ini telah hadir seluruhnya,"
Kata Sim Long.
"Mengapa bisa kebetulan begini? Jangan-jangan memang sudah ada janji?"
Orang-orang ini memang diundang oleh Koay-lok-ong,"
Tutur Jun-sui.
"Oo?!"
Sim Long melengak.
"Memangnya ada sangkut paut apa antara orang-orang ini dengan Koay-lok-ong?"
Sangkut paut kentut,"
Jun-sui mencibir.
"Koay-lok-ong mengundang mereka tidak lebih hanya untuk berjudi saja. Setiap kali Koay-lok-ong datang kemari tentu mengadakan perjudian besar-besaran."
Haha, betul, memang sudah lama kudengar hobi Koay-lok-ong ini, kecuali undangannya ini siapa pula yang mampu berjudi besar dengan dia?"
Seru Sim Long dengan tertawa.
"Tapi cara berjudi Koay-lok-ong sangat bersih, sebab itulah orang lain pun mau berjudi dengan dia,¡"
Kata Jun-sui. ¡"
Eh, barangkali Sim-Kongcu juga berminat ikut serta?"
Gemerdep sinar mata Sim Long.
"Ya, tampaknya aku pun akan ikut." ***** Setelah makan siang, Sim Long lantas menunggu di rumahnya. Tidak berapa lama, terdengarlah suara ribut di luar, suara orang bicara, bergurau, suara ringkik kuda dan gemertak roda kereta serta suara gedubrakan peti dilemparkan. Begitulah macam-macam suara itu terus berlangsung sampai sekian lama, kedengarannya serupa ada suatu pasukan besar akan berkemah di sini. Air muka Ci-hiang tampak berubah, akhirnya ia berseru.
"Koay-lok-ong datang."
Betul, datangnya orang ini ternyata benar menimbulkan kekacauan luar biasa,üjar Sim Long.
"Kita ... kita bagaimana?"
Tunggu dan lihat saja, masakah kau khawatir dia takkan mencari diriku?"
Dia lantas duduk mengantuk di kursinya.
Sebaliknya Ci-hiang terus mondar-mandir di dalam ruangan, kelabakan serupa semut di dalam wajan panas.
Mungkin sudah sekian ratus kali ia mondar-mandir dan Koay-lok-ong tetap tidak ada kabar beritanya.
Ia tidak tahan, ia mengentak kaki di depan Sim Long dan berseru.
"Hei, jangan kau duduk saja seperti orang mampus!"
Aku ini kan simpan tenaga untuk menghadapi Koay-lok-ong nanti,"
Jawab Sim Long tertawa.
"Tapi jangan salah sangka, aku tidak akan berkelahi dengan dia melainkan bertarung di atas meja. Emas perak pemberian Ong-hujin agaknya dapat kugunakan sekarang ...."
Tapi engkau ...."
"Makanya aku harus simpan tenaga sekarang,"
Kata Sim Long pula.
"Kau tahu, berjudi jauh lebih membuang tenaga daripada berkelahi. Perjudian besar tiada ubahnya pertarungan maut di medan laga. Pertarungan di atas meja juga memeras tenaga dan pikiran dengan aneka macam perubahan yang sukar diraba, sungguh jauh lebih merangsang dan berbahaya daripada di medan perang."
Jangan-jangan engkau sengaja akan mengalah sebagai jalan untuk bekerja baginya?"
"Mana boleh kukalah,üjar Sim Long.
"Jika kukalah, tentu aku takkan berharga lagi dalam pandangannya. Jika aku kalah berarti aku tidak punya otak, apakah aku terpandang olehnya? Dan jika aku dipandang hina olehnya, cara bagaimana dia mau membeli diriku, dan bila aku tidak berharga baginya, mungkin jiwaku yang akan dicabut olehnya ....Ïa tersenyum, lalu menyambung.
"Maka dari itu di atas meja judi juga harus kuberi pukulan keras padanya, kalau tidak tentu segala rencana akan gagal total dan jiwaku pun mungkin sukar dipertahankan."
Ci-hiang terbelalak.
"Kau yakin dapat mengalahkan dia di atas meja?"
"Tidak,"
Jawab Sim Long tak acuh.
"Tanpa keyakinan kau pun berani berjudi dengan dia?"
Seru Ci-hiang kaget.
"Dan sampai sekarang engkau masih tetap tenang seperti ini tanpa tegang sedikit pun, tidak gelisah setitik pun."
Dari mana kau tahu aku tidak tegang dan tidak gelisah?"
"Masa ... masa tidak dapat kulihat?"
Haha, jika perasaanku dapat kau lihat, mana boleh lagi aku berjudi dengan orang semacam Koay-lok-ong.
Di atas meja judi, setiap detik dapat berubah, jika tidak tahan, mungkin bini pun akan dibawa orang."
"Haha, tak tersangka engkau selain setan perempuan dan setan arak, ternyata juga setan judi,ücap Ci-hiang dengan tertawa. Pada saat itulah tiba-tiba seorang bersuara di luar.
"Apakah Sim Long, Sim-kongcu tinggal di sini?"
Bergetar tubuh Ci-hiang, desisnya.
"Ssst, itu dia?"
Dengan tersenyum Sim Long lantas membuka pintu, tertampaklah seorang pemuda cakap berdiri di depan pintu dengan membawa sehelai kartu merah besar, setelah memberi hormat lantas menyapa.
"Apakah Anda ini Sim-kongcu?"
Betul, saudara ini utusan Koay-lok-ong?"
Jawab Sim Long tersenyum. Gemerdep sinar mata pemuda itu, dengan cepat ia mengamati Sim Long sekejap dan menjawab.
"Betul, hamba anggota Angin Ribut ke-18 anak buah Koay-lok-ong, atas perintah Ongya untuk menyampaikan surat kepada Kongcu, harap Kongcu sudi menerimanya."
Sembari bicara, ia maju selangkah, kartu merah yang dipegang terangkat ke atas sebatas mata, lalu didorong ke depan dengan cepat.
Gerakan ini seperti tanda penghormatan, padahal mengandung daya pukulan yang sangat kuat.
Bilamana Sim Long tidak dapat melayaninya, kontan pasti akan dibikin malu.
Tapi Sim Long anggap seperti tidak terjadi apa-apa, kedua kepalan terangkap di depan dada sebagai tanda hormat, katanya dengan tersenyum.
"Terima kasih!"
Berbareng dengan ucapan terima kasih itu, perlahan ia tarik kartu merah itu, tahu-tahu kartu itu sudah berpindah ke tangan Sim Long.
Dengan air muka rada berubah pemuda itu menyurut mundur lagi, lalu memberi hormat dan berucap pula.
"Sim-kongcu memang luar biasa."
Terima kasih atas pujianmu,"
Kata Sim Long dengan tertawa. Ia coba membentang kartu undangan itu, di situ tertulis.
"Waktu Cu (antara pukul 2-3) tengah malam nanti, tersedia perjamuan sederhana, mohon kedatangan Anda untuk mengobrol iseng, selesai bersantap tersedia pula berbagai hiburan. Harap memberi jawaban."
Kartu ini tanpa menyebut si alamat, juga tidak ada nama si pengirim. Setelah membaca, Sim Long berkata.
"Harap sampaikan kepada Ongya bahwa Sim Long pasti akan hadir tepat pada waktunya."
Pemuda itu memandang Sim Long lagi sekejap dengan rasa kagum, kemudian memberi hormat sambil mengiakan, lalu melangkah pergi.
"Aneh juga, mengapa perjamuan diadakan lewat tengah malam buta, memangnya supaya tetamunya lelah dan mengantuk, lalu akan disembelihnya di atas meja?ücap Ci-hiang dengan kening bekernyit.
"Makanya sekarang aku harus simpan tenaga, sebaiknya jangan kau ganggu diriku,"
Kata Sim Long tertawa.
Waktu Sim Long bangun tidur, masih ada waktu cukup baginya untuk mandi dulu dan ganti pakaian yang paling ringan dan bersih.
Kemudian ia gunakan sepotong handuk bersih, dibungkusnya Ginbio bernilai nominal besar pemberian Ong-hujin itu dengan rajin, lalu dimasukkan ke dalam baju.
Setelah merasa semuanya serbafit, kemudian ia menuang secangkir teh kental dan duduk menikmati air teh untuk menantikan pertarungan sengit yang bakal berlangsung nanti.
Ci-hiang juga sudah selesai berdandan, dia memakai baju sutra yang indah, seluruh tubuh terembus bau harum semerbak.
Namun dia kelihatan tidak tenang, sebentar berduduk, segera berdiri lagi, rupanya ia khawatir Sim Long akan kalah, bila kalah, lantas bagaimana?
Karena itulah ia coba bertanya.
"Sim Long, sesungguhnya ada berapa bagian keyakinanmu akan menang?"
Sim Long memejamkan mata dan tersenyum, katanya.
"Sebelum kulihat cara bertaruh Koay-lok-ong tidak dapat kukatakan bagaimana hasilnya nanti."
Sedikitnya ada setengahnya pasti menang bukan?"
Tanya Ci-hiang pula.
"Kukira ada,"
Jawab Sim Long.
"Syukurlah ...."
Ci-hiang menghela napas lega.
"Tapi modal yang kubawa cuma ada delapan belas ribu tahil, tidak perlu diragukan lagi modal Koay-lok-ong pasti jauh lebih tebal daripadaku. Bilamana modal lebih kuat biasanya sudah menang satu langkah lebih dulu."
Wah, tahu begitu mestinya kita juga bawa modal sebanyaknya,üjar Ci-hiang gegetun.
"Namun tidak apalah, asalkan Koay-lok-ong tidak dapat menerka berapa banyak modalku, tentu dia tidak berani bergebrak sepenuh tenaga, apalagi ...."
Sim Long tersenyum, lalu menyambung.
"Dapat juga kusikat dulu dari orang lain, habis itu baru kutempur mati-matian dengan Koay-lok-ong. The Lan-ciu dan Liong Su-hay mungkin sangat pandai berjudi, sebaliknya kulihat Ciu Thian-hu dan Siau-pa-ong pasti makanan empuk."
Makanan empuk?"
Ci-hiang menegas dengan tertawa.
"Yang penting janganlah engkau sendiri menjadi makanan empuk bagi orang lain."
Waktu mereka memandang ke luar jendela, terlihatlah dari jauh ada dua tenglong atau lampu berkerudung sedang menuju kemari. Sim Long berbangkit dan berucap.
"Ayo berangkat, kita sudah dipapak!" ***** Ciu-jui-han atau vila zamrud, inilah vila musim panas bagi Koay-lok-ong. Dengan sendirinya vila ini terhitung tempat yang paling mewah dan paling megah di lingkungan Koay-hoat-lim. Di luar rumah cahaya lampu terang benderang, namun suasana sangat sepi tiada tampak seorang pun, hanya di tempat yang gelap terkadang ada bayangan orang berkelebat. Di dalam vila indah ini sudah disiapkan meja perjamuan, hidangan yang tersedia terdiri dari lohi (ikan loh) dari sungai Siong, kepiting besar dari danau Yangting, udang galah dari Tinghay, bulus dari Kanglam .... Semua makanan ini mestinya tidak mungkin muncul bersama di daerah tandus ini, tapi sekarang tersedia semua di atas meja, sungguh seperti dalam dongeng saja. Ternyata sesuai dengan dugaan Sim Long, hidangan yang tersedia tidak pakai daging, semuanya makanan laut, seafood, kalau mau pakai istilah zaman sekarang. Yang di luar dugaan Sim Long adalah pajangan rumah ini ternyata sangat sederhana, tapi cukup serasi, sedikit pun tidak ada tanda mewah yang berlebihan. Di atas meja juga tidak tersedia piala emas atau poci kemala segala, yang ada cuma alat terbuat dari keramik, dengan sendirinya keramik yang indah, malahan hampir seluruhnya barang antik. Sim Long jadi teringat kepada Cu Jit-jit yang pernah menyaru sebagai Koay-lok-ong, diam-diam ia merasa geli, pikirnya.
"Beginilah baru gaya asli Koay-lok-ong, cara Jit-jit itu kan lebih mirip orang kaya mendadak."
Meja perjamuan sudah dikitari delapan atau sembilan orang.
Sekali pandang saja Sim Long lantas mengenali Liong-lotoa, Liong Su-hay.
Meski dia tetap pakai baju kain kasar, namun di tengah orang banyak dia tetap kelihatan seperti bangau di tengah kawanan ayam, sangat mencolok.
Di samping Liong Su-hay berduduk seorang setengah baya dengan jenggot pendek, tubuhnya rada gemuk, jelas seorang yang biasa hidup senang.
Ia pun memakai baju tipis biasa tanpa sesuatu hiasan yang mencolok, hanya di depannya tertaruh sebuah pot tembakau dengan pipanya yang berwarna hijau, jelas benda ini tidak boleh dipandang sepele.
Tanpa pikir Sim Long lantas tahu orang ini pasti The Lan-ciu.
Putra keluarga hartawan terkenal tentu saja mempunyai perbawa yang tersendiri.
Orang yang duduk di samping The Lan-ciu tampak berbeda lagi.
Di atas tubuhnya bergelantungan macam-macam hiasan, setiap benda itu sukar diukur nilainya, namun begitu dia tetap kelihatan seperti orang miskin.
Tapi lagaknya angkuh seperti dunia ini dia punya.
Tanpa pikir Sim Long juga lantas tahu orang ini pastilah Ciu Thian-hu yang kaya mendadak itu.
Di samping Ciu Thian-hu berduduk seorang perempuan dengan macam-macam perhiasan pula.
Dia duduk menggelendot di samping Ciu Thian-hu, tapi matanya sebentar lirik sini sebentar lirik sana, walaupun tidak jelek mukanya, namun kelakuannya yang jalang dan rendah itu membuat orang muak.
Di sebelah lagi adalah Siau-pa-ong Si Bing, si Raja Berandal Cilik.
Benar juga dia baru berumur 18-19 tahun, namun matanya tampak celung, mata yang tidak kecil itu tidak bercahaya, serupa orang yang selalu mengantuk sepanjang tahun.
Pakaiannya tidak terlalu mencolok serupa Ciu Thian-hu.
Di sampingnya juga berduduk seorang perempuan muda, tapi caranya berpakaian jauh lebih mengejutkan daripada perempuan di samping Ciu Thian-hu itu.
Boleh dikatakan dia tidak memakai baju melainkan memakai sebuah kutang saja, sehingga kedua lengannya sebatas bahu kelihatan putih bersih, dadanya juga kelihatan menonjol tinggi, gelang emas pada tangannya berbunyi gemerencing.
Kelihatannya perempuan muda ini baru berumur 15-16, tapi caranya bersolek sungguh luar biasa, bahkan mulut menggigit pipa tembakau dan asap mengepul dari hidungnya.
Sim Long tidak berani memandang lagi "
Nona pencolengïtu, tapi nona itu lantas menepuk kursi di sebelahnya dan berseru dengan tertawa.
"Eh, anak muda, duduklah di sini!"
Sim Long tersenyum, jawabnya.
"Terima kasih, namun ...."
"Namun apa?"
Nona itu mendelik.
"kursi ini tidak membara dan takkan membakar pantatmu, kenapa takut?"
Terpaksa Sim Long berduduk di situ. Nona itu lantas memandang Ci-hiang dan tertawa.
"Haha, boleh juga pandanganmu. Meski anak muda semacam ini kelihatan malu-malu kucing tapi biasanya tidak jelek permainannya. Jangan kau kira usiaku masih kecil, pengalamanku pasti tidak lebih sedikit daripadamu."
Sungguh gemas Ci-hiang, rasanya ingin memberi dua kali gamparan kepada nona cilik bejat itu. Malahan nona cilik itu lantas menepuk pundak Sim Long dan berkata lagi.
"Namaku He Wan-wan, kawan-kawan sama menyebutku Li-pa-ong (raja berandal perempuan), yang duduk di sebelahku inilah kekasihku si Siau-pa-ong. Engkau sendiri bernama siapa?"
Sim Long,"
Jawab Sim Long dengan tertawa.
"Sim Long?ülang He Wan-wan.
"Ehm, boleh juga tampaknya kau ini."
Sejak Sim Long masuk tadi, pandangan Liong-lotoa yang tajam lantas terpusat ke arahnya, tiba-tiba ia menyapa sambil angkat cawan terhadap Sim Long.
"Apakah Sim-kongcu datang dari daerah Tionggoan?"
Betul,"
Sahut Sim Long sambil angkat cawan juga.
"Cayhe juga sudah lama mendengar nama kebesaran Liong-toako, setelah bertemu sekarang nyata memang tidak bernama kosong."
Jilid 27
"Haha, terima kasih,"
Liong-lotoa bergelak tertawa. Mendadak ia berhenti tertawa dan menatap Sim Long, katanya pula.
"Kudengar di daerah Tionggoan akhir-akhir ini muncul seorang Sim-kongcu sekaligus mengalahkan Sam-jiu-long Lai Jiu-hong dan menjatuhkan Thian-hoat Taysu dari Ngo-tay-san, hanya dalam sebulan saja namanya sudah mengguncangkan seluruh negeri, apakah Sim-kongcu itu ialah Anda sendiri?"
Ah, itu cuma pujian teman saja padaku,"
Sahut Sim Long dengan tertawa.
Seketika para hadirin sama gempar oleh keterangan Liong-lotoa itu, bahkan si Raja Berandal Cilik juga melenggong dan Ciu Thian-hu pun melongo.
Dalam pada itu sebagai tuan rumah Koay-hoat-lim, Li Ting-liong dan Jun-kiau lantas mengajak angkat cawan dengan para tamu.
Dengan tertawa Jun-kiau berkata.
"Yang duduk di sini seluruhnya adalah orang ternama, cuma sayang kesehatan Ongya agak terganggu sehingga tidak dapat keluar mengiring tamu, terpaksa silakan hadirin makan minum sekadarnya, lalu menemui beliau."
Beramai-ramai mereka lantas angkat cawan dan menenggak arak, lalu bersantap. Tiba-tiba Ciu Thian-hu bertanya setelah menenggak arak.
"Apakah Sim-laute ini juga suka bertaruh?"
Kukira sangat sedikit orang lelaki yang tidak berjudi,"
Jawab Sim Long dengan tersenyum.
"Wah, jika begitu sebentar lagi aku ingin belajar kenal,"
Tukas The Lan-ciu.
"Tentu akan kuiringi kalian,"
Kata Sim Long. Segera Siau-pa-ong Si Bing menukas.
"Sudah lama ingin kudatang ke sini, entah permainan apa saja yang terdapat di sini?"
Ongya paling suka main Pay-kiu,"
Jawab Jun-kiau.
"Beliau merasa permainan Pay-kiu paling merangsang."
Bagiku Pay-kiu tidak lebih menarik daripada main dadu, tapi boleh juga.üjar Si Bing.
"Ah, kukira saudara cilik ini lebih suka main lempar mata uang,"
Kata Liong-lotoa dengan tertawa.
"Itu kan permainan anak kecil,"
Sahut si berandal cilik. Pada saat itulah muncul seorang pemuda berbaju satin, yaitu jago Angin Ribut yang mengirim undangan kepada Sim Long itu, ia memberi hormat dan berseru.
"Bilamana hadirin sudah dahar, silakan ikut hamba, Ongya sudah menunggu."
Segera Sim Long berbangkit, bahwa sebentar lagi akan berhadapan dengan tokoh yang paling misterius zaman ini, yaitu Koay-lok-ong, seketika darah terasa bergolak.
Ruangan dalam tidak luas, tapi juga sangat indah.
Keadaan ruangan gelap sekali, hanya di tengah tergantung sebuah lampu minyak kristal yang besar, cahaya lampu terkerudung oleh kertas putih bersih sehingga sinarnya tidak terpancar ke tempat lain.
Karena sekelilingnya gelap maka cahaya lampu jadi terlebih terang, seluruhnya menyorot ke atas meja bundar yang berlapis laken hijau.
Sekitar laken hijau diberi tepian warna emas, sekeliling meja adalah beberapa kursi besar longgar, di belakang kursi dikitari pagar tembaga yang tergosok mengilat.
Di atas meja sudah tertaruh seperangkat kartu Pay-kiu yang terbuat dari gading serta sepasang dadu gading berukir indah.
Kecuali itu masih ada sepasang tangan.
Tangan ini pun sangat indah, mulus, serupa ukiran gading, jari yang panjang lurus tertaruh di atas laken hijau, kukunya terawat rapi, jari tengah memakai tiga bentuk cincin aneh dan memancarkan cahaya menakjubkan.
Jelas inilah tangan Koay-lok-ong.
Akan tetapi tubuh dan mukanya tersembunyi di balik kegelapan.
Meski Sim Long berusaha melihatnya dengan cermat di bawah cahaya lampu sorot itu juga cuma tertampak wajahnya yang samar-samar dan bola matanya yang bersinar tajam.
Cukup juga dapat melihat bola mata yang bisa membuat jantung orang yang memandangnya berdetak.
The Lan-ciu maju lebih dulu, ia menjura dan berucap.
"Selamat, Ongya!"
Suara lembut, tenang dan perlahan, tapi mengandung semacam daya tarik menjawab.
"Selamat, silakan duduk!"
Terima kasih,"
Kata The Lan-ciu pula sambil melangkah ke dalam pagar dan duduk di kursi sebelah Koay-lok-ong.
"Selamat, Ongya,"
Giliran Liong Su-hay yang memberi hormat dan dia juga disilakan duduk di sebelah Koay-lok-ong yang lain.
Kemudian giliran Ciu Thian-hu dan dia duduk di samping The Lan-ciu.
Siau-pa-ong tidak berani gegabah, ia pun memberi hormat.
"Apakah engkau ini putra Si-ciangkun?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Betul ...."
Jawab Si Bing.
"Dan aku adalah bakal menantu Si-ciangkun,"
Sambung He Wan-wan mendadak.
"Apakah Ongya ...."
Tapi mendadak Koay-lok-ong mendengus.
"Yang tidak berjudi berdiri di luar pagar."
Eh, jangan Ongya mengira aku ini orang perempuan, kalau berjudi masakah kukalah berani dibandingkan orang lelaki ...."
"Perempuan tidak boleh judi,"
Kata suara itu.
"Mengapa, masa perempuan ...."
Belum lanjut ucapan He Wan-wan, mendadak dari belakang bayangan Koay-lok-ong terjulur sebuah tangan dan menolak ke arah He Wan-wan, kontan ia jatuh terjungkal.
Keruan He Wan-wan ketakutan setengah mati, cepat ia merangkak bangun dan berdiri di luar pagar dan tidak berani bertingkah lagi.
Diam-diam Sim Long terkejut, pikirnya.
"Hebat benar tenaga dalam orang ini, jangan-jangan dia inilah salah satu duta Koay-lok-ong?"
Segera ia pun memberi hormat dan mengucapkan selamat bertemu. Dapat dirasakan sinar mata orang yang tajam itu sedang menatapnya, lalu suara orang berkata.
"Anda inikah Sim-kongcu?"
Sim Long membenarkan. Orang itu memandangnya lagi sejenak, lalu berkata.
"Baik silakan duduk."
Sim Long lantas berduduk tepat di depan Koay-lok-ong.
Tanpa disuruh lagi Ci-hiang berdiri juga di luar pagar.
Sekonyong-konyong tangan di belakang Koay-lok-ong bertepuk perlahan, dua pemuda berbaju satin lantas membawa datang sebuah kotak berukuran dua kaki persegi.
Ketika kotak itu dibuka di atas, meja mendadak melompat keluar satu orang.
Sungguh aneh bin ajaib, dari dalam kotak sekecil itu dapat melompat keluar seorang manusia hidup.
Kiranya seorang manusia kerdil, manusia mini.
Tinggi tubuh orang ini kurang dari dua kaki.
Berbeda daripada orang kerdil umumnya yang tidak rata pertumbuhannya, orang kerdil ini tumbuh dengan sama rata ukuran anggota badannya sehingga sekilas pandang serupa manusia normal biasa, hanya ukurannya memang mini.
Hanya kepalanya saja yang agak lebih besar sedikit, ditambah sepasang mata yang lincah dan mulut yang tipis sehingga tampaknya cukup menyenangkan.
Manusia mini ini memakai topi putih dengan baju dan sepatu putih pula, malahan tangan juga memakai kaus putih, semuanya serbaputih bersih.
Sampai Sim Long juga kaget ketika seorang melompat keluar dari kotak kecil itu.
Segera manusia mini ini berjongkok di atas meja dan menyembah kepada para tamu.
Kemudian ia melompat bangun, ucapnya sambil berkedip-kedip lucu.
"Main perempuan mencari yang cantik, berjudi harus main jujur .... Hamba Siau-ling-ci (si Cerdik Pandai Cilik) khusus akan meladeni dan mencuci kartu bagi hadirin ...."
Nyata ucapannya jelas dan bicaranya pintar meski ukurannya mini. Diam-diam Sim Long membatin.
"Agaknya Koay-lok-ong khawatir orang lain menyangka dia main curang, maka sengaja menyuruh seorang kerdil untuk menjadi tukang bagi kartu."
Siau-ling-ci atau si Cerdik Pandai Kecil lantas mendorong kartu Pay-kiu ke depan para hadirin sambil bicara.
"Tuan-tuan, kartu ini berkualitas tinggi dan berharga mahal, mulus tanpa sesuatu kode rahasia, silakan hadirin memeriksanya sendiri."
Cukup, tidak perlu periksa lagi,"
Kata semua orang.
"Setiap kali setelah hamba mencuci kartu, setiap orang masih diperbolehkan menyuruhku mencuci sekali lagi. Bilamana di antara hadirin mengetahui sesuatu permainanku pada waktu mencuci kartu, silakan segera bertindak, boleh langsung potong tangan hamba."
Dengan tertawa Liong Su-hay menanggapi.
"Ah, selamanya Ongya bertaruh dengan adil dan bersih, hal ini diketahui siapa pun."
Jika begitu, silakan hadirin mulai pasang,"
Kata pula Siau-ling-ci dengan tertawa.
"Uang kontan, emas perak, Ginbio dari kedelapan Ci-ceng (serupa bank zaman sekarang) besar, semuanya berlaku di atas meja. Benda mestika, batu permata juga boleh langsung dihargai di sini. Sebaliknya pinjam utang takkan diladeni."
Dengan sendirinya kami tahu peraturan ini,"
Kata Liong Su-hay.
"Nah, hamba yang cuci kartu, hadirin lempar dadu, kecuali Ongya yang menjadi bandar, hadirin boleh lempar dadu secara bergiliran,"
Kata Siau-ling-ci pula.
Diam-diam Sim Long juga mengakui cara bertaruh ini memang jujur dan tidak memberi peluang untuk main curang, tampaknya cara berjudi Koay-lok-ong memang bersih.
Segera si manusia mini itu sibuk mencuci kartu dengan gesit.
The Lan-ciu yang mendahului mengeluarkan sehelai Ginbio dan perlahan ditaruh di atas meja.
Sedangkan si berandal merogoh segenggam biji emas dan ditaruh seluruhnya ke depan.
Mendadak terdengar Koay-lok-ong mendengus.
"Ambil kembali dan enyah!"
Siau-pa-ong melengak.
"He, ken ... kenapa, masakah emasku tidak laku?"
Sama sekali Koay-lok-ong tidak menggubrisnya, tapi orang di belakangnya lantas mendengus.
"Emasnya sih laku, cuma tanganmu terlalu jorok."
Suaranya lambat, kaku, sepat, seperti orang yang jarang bicara sepanjang tahun sehingga lidah pun berubah kelu.
Maklum, cara menggerakkan tangan orang ini biasanya memang jauh lebih cepat daripada dia menggunakan mulutnya.
Siau-pa-ong jadi melengak, katanya dengan tertawa.
"Tangan jorok? Apa sangkut pautnya tangan jorok? Kedatangan kita ini adalah untuk berjudi dan bukan untuk berlomba tangan siapa paling bersih dan indah."
Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong sebuah tangan mencengkeram baju lehernya dari belakang.
Keruan ia terkejut dan bermaksud melawan, tapi entah mengapa, sekujur badan terasa lemas lunglai tak bertenaga, kontan ia diangkat orang serupa elang mencengkeram anak ayam.
"Enyah!"
Demikian dengus suara yang dingin sepat tadi. Berbareng dengan kata "
Enyahïtu, tubuh Siau-pa-ong terus melayang ke luar dan "bluk", ia terbanting di luar pintu dan sukar merangkak bangun lagi.
Cara bagaimana orang itu sampai di belakang Siau-pa-ong dan cara bagaimana dia turun tangan, bukan cuma Siau-pa-ong saja tidak tahu, bahkan orang sebanyak ini pun tidak ada yang tahu.
Si berandal perempuan tadi pun menjerit dan berlari keluar.
Habis itu keadaan lantas sepi.
Suara napas setiap orang sama terdengar.
Akhirnya Koay-lok-ong tersenyum katanya.
"Janganlah hadirin terganggu oleh bocah yang menjemukan ini, marilah kita lanjutkan."
Siau-ling-ci lantas membawa dua biji dadu ke depan The Lan-ciu, tubuhnya yang berukuran mini itu melangkah kian kemari di atas meja besar itu serupa sebuah boneka yang lincah.
Ia berlutut di depan The Lan-ciu sambil mengangkat dadu, serunya.
"Silakan The-siansing membuka dasar!"
Terima kasih,"
Kata The Lan-ciu dengan tersenyum.
Kegunaan kedua biji dadu dalam permainan Pay-kiu adalah untuk menentukan nomor urutan pembagian kartu.
Meski kecil kedua biji dadu itu, tapi dapat menentukan nasib untung-malang orang-orang yang ikut bertaruh ini, dapat membuat mereka gembira dan menderita, bahkan dapat menentukan mati-hidup mereka.
Dan kedua biji dadu itu lantas meluncur dari tangan The Lan-ciu yang putih itu, perjudian besar sepanjang malam pun dimulai.
Dadu berputar di dalam sebuah mangkuk porselen, berpasang mata sama memandangnya dengan tegang tanpa berkedip.
Akhirnya dadu berhenti dan menunjukkan tujuh titik total.
Segera si manusia mini berteriak menyatakan tempat yang berhadapan dengan bandar.
Maka dua potong kartu (kartu Pay-kiu terbuat dari kayu atau gading dengan angka serupa kartu domino) yang indah lantas didorong oleh setangkai tongkat kecil ke depan Sim Long.
Perlahan Sim Long mengintip kartunya, kartu pertama angka delapan campur, kartu ini tidak baik, tapi juga tidak jelek.
Ketika kartu kedua dibuka ternyata dua titik alias balok satu (istilah domino), kartu ini disebut "Te"
Dalam permainan Pay-kiu dan terhitung kartu nomor dua setelah "
Thian", yaitu balok enam. Kartu delapan campur berpasangan dengan kartu "Te"
Disebut "
Te-kong", terhitung kartu bagus.
Sim Long tersenyum puas.
Dilihatnya kawan bertaruh yang lain, yaitu The Lan-ciu, Liong Su-hay dan Ciu Thian-hu sama menggerutu, rupanya mereka mendapatkan kartu jelek.
Terdengarlah Siau-ling-ci berteriak menyerukan angka kartu bandar yang terdiri dari tujuh dan delapan, kartu jelek, namun masih lebih tinggi daripada kartu kedua pemasang kanan-kiri.
Maka perak, Ginbio dan emas lantas disapu oleh bandar.
Hanya Sim Long saja yang mendapat seribu tahil perak.
Taruhan pertamanya memang tidak besar.
Dan begitulah seterusnya, agaknya angin Sim Long cukup baik, berturut-turut dia menang lagi, pasangnya juga terus ditumpuk atau dilipatkan.
Lima kali pasangan jumlah taruhannya sudah berjumlah 16 ribu tahil.
Ci-hiang yang berdiri di belakangnya sama terbelalak.
Sedangkan Ciu Thian-hu tampak tidak tenang, matanya mulai merah, ia pandang Sim Long dengan iri.
Tampaknya sudah lebih selaksa tahil kekalahannya.
Liong Su-hay dan The Lan-ciu juga kalah, namun mereka tetap tenang saja walaupun tangan pun mulai berkeringat.
Mata yang tajam di balik kegelapan itu tetap dingin, namun juga berulang melotot ke arah Sim Long.
Dadu dilempar dan kartu dibagi lagi.
Sekali ini pihak bandar cukup beruntung dan mendapat kartu sepasang "Jin", yaitu dua kartu balok empat.
Kartu Thian dan Te sudah keluar semua, jelas sepasang kartu Jin ini paling tinggi.
Para petaruh sama putus asa dan menghela napas perlahan.
The Lan-ciu mengusap keringat.
Ia kalah lagi, yang lain juga kalah, tinggal Sim Long saja yang masih mengintip kartu.
Mendadak Sim Long tertawa, kartu dibuka ternyata mendapat pasangan empat-dua dan dua-satu.
Kedua kartu ini dalam permainan Pay-kiu disebut "Ci-cun", artinya yang maha agung, dari arti istilah ini sudah cukup melambangkan keagungannya yang tak terkalahkan oleh kartu lain.
Seketika penonton sama gempar.
Kembali cuma Sim Long saja yang menang.
The Lan-ciu dan lain-lain sama bermuka merah dan mandi keringat.
Rupanya mereka menjadi iri terhadap kartu Sim Long, untuk selanjutnya mereka ikut bertaruh bagi kartu Sim Long dan mengosongkan bagian kartu sendiri.
Siapa tahu hal ini pun tidak menjamin akan kemenangan mereka, sebaliknya kartu Sim Long menjadi buruk setelah mereka ikut taruhan pada kartunya.
Dengan begitu Ciu Thian-hu dan lain-lain tambah banyak kalahnya, sebaliknya kemenangan Sim Long masih utuh.
Keruan yang kalah tambah menggerutu.
Dan biasanya, pejudi yang kalah selalu ngotot terus dengan harapan bisa kembali modal.
Maka setelah berputar lagi beberapa kali, kekalahan Ciu Thian-hu sudah mendekati 50 ribu tahil, Liong Su-hay juga kalah 20-an ribu tahil.
Hanya The Lan-ciu berbalik ada kemenangan sedikit karena kartunya mulai membaik.
Tapi ketika Ciu Thian-hu dan Liong Su-hay memegang kartu sendiri lagi, segera Sim Long bertaruh pula dan kembali mendapat kartu bagus dan menang.
Hanya sebentar saja kemenangannya telah bertambah sehingga seluruhnya menang ratusan ribu tahil.
Bagi pandangan kaum pejudi, hanya pemenang saja menjadi kebanggaan dan pujaan mereka, sekarang Sim Long dipandang mereka tiada ubahnya superman.
Tampaknya Ciu Thian-hu yang lagi sial, hampir setiap kali taruhannya pasti dimakan bandar, ia mulai lemas, mukanya merah padam.
Tiba-tiba The Lan-ciu berkata.
"Malam ini engkau kurang mujur, akan lebih baik jika istirahat dulu."
Tidak, harus kuteruskan, kupasang lagi tiga laksa tahil,"
Seru Ciu Thian-hu penasaran sambil merogoh saku. Setelah tiga laksa tahil Ginbio dikeluarkan, agaknya sudah kosong isi sakunya. Mendadak Liong Su-hay berbangkit dan tertawa.
"Haha, akulah yang harus berhenti, bila diteruskan, mungkin seluruhnya bisa ludes dan akhir bulan para saudaraku terpaksa harus makan angin."
Sembari membetulkan bajunya ia lantas melangkah pergi, dia memang seorang pejudi yang berani menang juga berani kalah.
Karena Ciu Thian-hu ikut bertaruh atas kartunya, sekali ini Sim Long cuma pasang seribu tahil saja.
Waktu kartu dibuka, lagi-lagi semua pasangan disapu oleh bandar.
Butiran keringat memenuhi dahi Ciu Thian-hu, ia termangu-mangu sejenak, mendadak ia mengeluarkan semua barang berharga yang dibawanya, seluruhnya ditaruh di atas meja.
Katanya parau.
"Uangku sudah ludes, barang ini dinilai berapa?"
Siau-ling-ci memeriksa barang-barang itu, lalu berkata.
"Lima laksa lima ribu tahil."
Baik, seluruhnya kutaruh lagi di sini ...."
Dengan penasaran Ciu Thian-hu bertaruh pula atas kartu Sim Long.
"Sungguh aku tidak percaya, jika dia bertaruh sendiri mendapatkan kartu besar, bila aku ikut bertaruh tentu kalah. Maaf, sekali ini kuharap dapat memegang kartu."
Silakan,"
Jawab Sim Long dengan tersenyum.
Sekali ini ia malah tidak bertaruh sama sekali.
Dengan tangannya yang rada gemetar Ciu Thian-hu memegang kartu, diintipnya dengan perlahan dengan mata setengah terpicing.
Tapi mendadak ia berteriak, orangnya terus jatuh merosot ke lantai.
Kartunya jatuh di atas meja dan terbuka, ternyata sepuluh campur, jeblok, kartu yang paling jelek.
Sinar mata tajam dalam kegelapan itu tampak gemerdep, desisnya.
"Bawa dia keluar!"
Li Ting-liong yang menunggu di luar pagar mengiakan dan Ciu Thian-hu segera diusung pergi. Tiba-tiba The Lan-ciu berkata.
"Rasanya aku pun lebih baik berhenti saja, biarlah pertarungan besar berlangsung antara Ongya dan Sim-kongcu, apabila tidak keberatan, boleh juga kulemparkan dadu bagi kalian sekadar ikut meramaikan pertarungan besar yang sesungguhnya ini."
Sim Long tetap duduk saja dengan tersenyum, ia tahu ucapan The Lan-ciu memang tidak salah, pertarungan besar yang sebenarnya memang baru akan mulai antara dia dan Koay-lok-ong.
Sasaran Koay-lok-ong malam ini jelas adalah dia, begitu pula yang ditujunya juga Koay-lok-ong.
Meski dia telah mendapatkan kemenangan belasan laksa tahil perak dan menambah modalnya, ini berarti pula menambah ketabahannya menghadapi lawan, tapi lawannya memang teramat kuat, sampai saat ini belum lagi ditemukan sesuatu lubang kelemahannya.
Dalam pada itu 32 potong kartu gading yang mengilat telah ditumpuk rajin lagi di atas meja.
Tiba-tiba Koay-lok-ong berkata.
"Hanya dua orang saja yang bertaruh, rasanya tidak perlu lagi aku menjadi bandar, betul tidak?"
Ongya memang sangat adil,üjar Sim Long dengan tersenyum.
Hendaknya maklum, bila kartu pemasang dan bandar sama besarnya, biasanya dianggap bandar yang menang.
Jika demikian halnya berarti Sim Long dirugikan karena sekarang tiada petaruh yang lain.
"Menjadi bandar secara bergiliran juga kurang enak, maka ingin kuusulkan suatu cara pertarungan yang adil dan menarik, bahkan merangsang,"
Kata Koay-lok-ong pula.
"Bagaimana caranya?"
Tanya Sim Long dengan tertawa.
"Begini,"
Tutur Koay-lok-ong.
"Setelah kita sama-sama melihat kartu masing-masing, pihak yang mendapat bagian kartu lebih dulu boleh menambah pertaruhannya, bila lawan tidak ikut menambah taruhannya dalam jumlah yang sama berarti dia menyerah. Jika tambahan taruhan itu diterima barulah berhak untuk mengadu kartu. Tapi kalau lawan merasa kartunya lebih bagus, kecuali ikut jumlah taruhan tambahan itu, dia masih boleh "
Kik"
Lagi lebih banyak dan begitu seterusnya sampai kedua pihak tidak tambah lagi baru dilakukan mengadu kartu atau sampai salah satu pihak tidak berani ikut lagi dan menyerah."
Rupanya cara bertaruh yang diajukan Koay-lok-ong ini adalah pertaruhan sistem main poker zaman sekarang. Sim Long berkeplok senang.
"Haha, bagus sungguh permainan yang bagus! Pertaruhan cara begini, kecuali nasib mujur, masih diperlukan kecerdasan dan keberanian, bahkan tidak boleh ketinggalan ketenangan dan ketabahan ...."
Betul, kunci pada cara pertaruhan ini terletak pada pribadi dirimu, harus berusaha agar lawan tidak dapat menerka kartumu dari sikapmu.
Sebaliknya engkau juga harus berusaha menebak besar-kecil kartu yang dipegang lawan."
"Haha, sungguh pertaruhan yang menarik ...."
Seru Sim Long dengan tertawa. Para penonton juga sama melongo, sungguh perjudian yang belum pernah mereka dengar, apalagi melihat. The Lan-ciu berucap dengan gegetun.
"Ai, cara pertaruhan ini sungguh lain daripada yang lain, bisa saja Ongya menciptakan sistem pertaruhan yang menarik ini."
Koay-lok-ong tertawa bangga, katanya.
"Medan judi serupa medan perang. Di medan judi kedua pihak juga harus mengadu kepintaran, mengadu otak, menggunakan segala tipu akal, dengan begitu barulah menarik."
Ongya jelas adalah jago kelas tinggi, Sim-kongcu tampaknya juga tidak lemah, wah, pertarungan di antara kalian pasti sangat seru, sungguh sukar mencari tontonan menarik ini,üjar The Lan-ciu.
"Nah, bilamana Sim-kongcu tidak mempunyai pendapat lain, bagaimana kalau sekarang juga kita mulai?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Dan supaya tidak membuang waktu, kita tentukan taruhan minimum adalah lima ribu tahil, setiap kali taruhan yang ditambahkan juga harus perkalian dari lima ribu, umpamanya boleh sepuluh, lima belas, dua puluh ribu dan seterusnya."
Baik,"
Tanpa pikir Sim Long menerima tantangan orang dengan tersenyum.
Maka dadu lantas dilempar dan kartu dibagi.
Para penonton sama terbelalak menyaksikan perjudian besar dengan cara yang aneh antara dua seteru yang sama kuat ini.
Mencorong juga sinar mata Sim Long menghadapi lawan yang hebat ini, namun dia tetap tenang, senyumnya tambah memesona.
Perlahan ia memegang kartu.
Ternyata tujuh campur, tidak bagus, tapi juga tidak jelek, lumayanlah begitu.
Ia tumpuk kartunya, lalu berduduk dengan kepala agak mendoyong ke belakang untuk menyembunyikan wajahnya di balik bayang kegelapan sambil menatap Koay-lok-ong.
Dengan cara yang sama Koay-lok-ong juga sedang memandangnya.
Dua pasang mata sama memancarkan sinar tajam, namun tidak memperlihatkan sesuatu perubahan perasaan.
Dilihatnya tangan Koay-lok-ong yang putih mulus itu mendorong seonggok perak ke depan sambil berucap.
"Tambah lagi selaksa tahil.Örang berani menambah selaksa, jangan-jangan memegang kartu besar atau cuma main gertak saja? Sim Long ragu sejenak, akhirnya ia keluarkan dua helai Ginbio bernilai dua laksa lima ribu tahil, katanya.
"Selaksa kuikut dan tambah lagi lima belas ribu tahil."
Baik, dan kutambah lagi tiga laksa,"
Jawab Koay-lok-ong.
Tanpa pikir orang menambah sejumlah besar itu, jelas bukan main gertak, kartunya pasti tidak kecil.
Perlahan Sim Long hampir membuang kartunya sebagai tanda menyerah.
Tapi pada saat terakhir mendadak pendiriannya berubah.
Ia berbalik menaruh sehelai Ginbio dan berkata.
"Baik, aku ikut tiga laksa."
Hanya ikut tanpa menambah lagi berarti sampai di sini kedua pihak harus mengadu kartu. Koay-lok-ong hanya memandang Sim Long tanpa melihat kartunya, katanya hambar.
"Engkau menang."
Tapi kartuku cuma tujuh campur,"
Kata Sim Long.
Perlahan Koay-lok-ong membuka kartunya, cuma satu, memang kalah.
Para penonton sama bersuara gegetun, berani menambah taruhan sebesar itu, ternyata cuma memegang kartu sekecil itu, sungguh sukar dibayangkan.
Babak pertama telah dimenangkan Sim Long dengan gemilang.
Mungkin inilah kunci kemenangan selanjutnya, Ci-hiang ikut tersenyum senang.
Dan begitulah permainan terus berlanjut, beberapa babak permulaan selalu dimenangkan oleh Sim Long sehingga modalnya telah bertambah hingga hampir setengah juta tahil.
Tapi setelah berputar lagi, beberapa kali taruhan berikutnya angin berganti arah, Koay-lok-ong yang menang, modal Sim Long menyusut dan akhirnya tersisa belasan laksa tahil saja.
Diam-diam Ci-hiang menahan napas dan mengeluh, jika sisa modal ini pun hanyut berarti tamatlah segalanya.
Dilihatnya Sim Long masih tetap tenang saja.
Cahaya lampu yang semula mencorong terang kini pun terasa berubah agak guram.
Para penonton juga ikut tegang karena pertaruhan semakin besar.
"Tambah tiga laksa,ücap Koay-lok-ong setelah membaca kartunya. Sim Long ragu sejenak sambil menghitung Ginbio yang dipegangnya, katanya kemudian.
"Dan kutambah lagi tiga laksa."
Baik, tambah pula tiga laksa,"
Jawab Koay-lok-ong.
Sekaligus pertaruhan dari lima ribu tahil telah berubah menjadi 95 ribu, para penonton sama tercengang, jantung Ci-hiang juga berdetak.
Ia tahu sisa modal Sim Long saat ini paling banyak tinggal enam atau tujuh laksa saja, bila ini pun kalah berarti selesailah perjudian ini.
Siapa duga, Sim Long lantas menaruh sisa modalnya dan berkata.
"Baik, tiga laksa kuikut dan kutambah lagi 35 ribu."
Hampir saja Ci-hiang menjerit, tapi setelah dipikir lagi, hampir juga ia tertawa, sebab ia yakin Sim Long pasti memegang kartu besar, bisa jadi Ci-cun yang tak terkalahkan, kalau tidak masakah dia berani mempertaruhkan seluruh modalnya.
Begitulah ia tersenyum senang.
Padahal kalau dia tahu kartu yang dipegang Sim Long cuma dua titik, mungkin dia akan kelengar seketika.
Sekali ini Koay-lok-ong berpikir, ia tatap Sim Long dengan tajam, seperti ingin menyelami pikiran lawan sesungguhnya lagi main gertak atau main "
Colong"
Belaka. Sim Long tidak bergerak dan membiarkan orang memandangnya, mendadak Koay-lok-ong berkata dengan tertawa.
"Haha, mana aku dapat kau gertak, belum pernah ada orang berani main curi padaku. Kuyakin kartumu tidak lebih cuma empat atau lima saja."
Masa?üjar Sim Long tertawa.
"Ya, pasti, sudah kuhitung,"
Kata Koay-lok-ong.
"Jika begitu mengapa engkau tidak tambah lagi? Jangan-jangan kartumu sendiri cuma satu atau dua?"
Koay-lok-ong mendengus, mendadak ia tepuk tangan, dari belakangnya segera ada orang menyodorkan sebuah peti kecil. Sambil mendorong peti itu Koay-lok-ong berkata.
"Kutambah lagi 90 laksa tahil."
Hal ini membikin gempar para penonton lagi, entah sejak kapan Liong Su-hay dan Ciu Thian-hu juga sudah datang lagi tertarik oleh pertaruhan luar biasa ini.
Mata Liong Su-hay terbelalak seperti gundu, hidung Ciu Thian-hu berkembang-kempis.
Namun Sim Long tetap tenang saja, ia tersenyum sambil meraba kartunya.
"Bagaimana, berani masuk tidak?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Tadi kulupa tanya dulu, bilamana modal sudah habis, apakah dianggap kalah?"
Kata Sim Long.
"Masakah modalmu habis?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Ongya tentu maklum, siapa pun tidak mungkin dapat kian kemari membawa 90 laksa tahil perak,üjar Sim Long. Serupa mata elang Koay-lok-ong menatap Sim Long.
"Jika tidak ada modal lagi, boleh juga pakai barang gadai."
Sekalipun Ciu-heng itu juga tidak membawa barang berharga 90 laksa tahil untuk digadaikan, apalagi diriku yang memang ... memang tidak membawa sesuatu benda berharga."
"Orang lain jelas tidak punya benda bernilai sebesar itu, tapi Sim-kongcu ada,üjar Koay-lok-ong dengan tersenyum licik.
"Aku punya? ...."
Sim Long melengak. Mendadak ia bergelak tertawa.
"Haha, jangan-jangan Ongya menghendaki kugadaikan jiwaku itu."
Jika jiwamu cuma digadaikan 90 laksa tahil perak, apakah engkau tidak terlalu menilai rendah diri sendiri?"
"Habis apa yang kupunyai?"
Sim Long berhenti tertawa.
"Jarimu!"
Kata Koay-lok-ong.
"Jariku?"
Sim Long menegas dengan kening bekernyit.
"Betul, setiap jarimu dapat kuhargai 45 laksa tahil."
"Hahaha,"
Sim Long tertawa.
"baru sekarang kutahu jariku sedemikian berharga."
Nah, jika pertaruhan kau menangkan, uang di atas meja boleh kau sapu, tapi jika Anda kalah, cukup kupotong dua jarimu saja ...."
Koay-lok-ong tertawa dingin, lalu menyambung.
"Jarimu seluruhnya ada sepuluh, kalau cuma dipotong dua kan belum apa-apa."
Tanya-jawab mereka itu membuat air muka para penonton sebentar berubah merah dan sebentar lagi berubah pucat, semuanya sama berkeringat dingin.
Kalau saja tidak berpegangan pagar, mungkin sejak tadi Ci-hiang sudah jatuh semaput.
Betapa kejamnya pertaruhan ini, masakah harus menggunakan darah daging untuk bertaruh dengan emas perak yang dingin itu.
Namun Sim Long tetap tersenyum, ia pandang Koay-lok-ong, jawabnya.
"Bila jariku dipotong Ongya berarti selama hidupku tak dapat lagi menggunakan pedang. Jika Ongya memotong jari tengah dan jari telunjukku, selama hidupku pun takkan mampu Tiam-hiat (menutuk Hiat-to) .... Ya, dua jari memang tidak sedikit kegunaannya."
Jika engkau tidak berani juga tidak menjadi soal,üjar Koay-lok-ong. Sim Long menatapnya sebentar lagi, mendadak ia berseru.
"Baik, jadi!Ücapan ini membuat semua orang hampir tidak bisa bernapas lagi. Tubuh Koay-lok-ong agaknya juga bergetar sedikit, serunya.
"Maksudmu kau ikut 90 laksa tahil ini!"
"Ya, masuk!"
Jawab Sim Long tersenyum.
"Apa kartumu?"
Bentak Koay-lok-ong.
"Kartuku tidak bagus, tapi juga tidak terlalu jelek,üjar Sim Long tertawa sambil membuka kartu. Dua, ternyata cuma dua titik. Baru sekarang para penonton mengembuskan napasnya yang ditahan, walaupun semua orang tidak berani sembarang bersuara di sini, tidak urung terjadi juga kegemparan. Tubuh Ci-hiang juga lemas dan jatuh terkulai di lantai. Tamat, tamatlah segalanya! Sungguh gila Sim Long, kartu sekecil itu berani bertaruh sebesar itu, benar-benar gila! Di tengah kegemparan itu. Koay-lok-ong justru duduk serupa patung di balik bayangan kegelapan tanpa bergerak, sorot matanya yang tajam itu mendadak berubah kosong hampa. Ia pandang kartu Sim Long dengan hampa dan berucap sekata demi sekata.
"Cuma dua ... bagus sekali, cuma dua ...."
Suaranya juga terasa hampa, entah girang, entah murka. Sim Long tersenyum.
"Betul, memang cuma dua."
Mendadak Koay-lok-ong membentak bengis.
"Mengapa kau berani menyerempet bahaya?"
Sebab sudah kuperhitungkan kartu Ongya pasti tidak melebihi dua,"
Jawab Sim Long dengan tertawa.
"Hm, cara bagaimana dapat kau hitung? Coba jelaskan, kuingin tahu,"
Jengek Koay-lok-ong.
"Pertama, sudah dapat kuraba cara permainan Ongya."
Bagaimana permainanku?"
"Bila Ongya memegang kartu besar, engkau tidak menyerang dengan terburu-buru melainkan menanti dengan tenang, menunggu lawan masuk perangkap sendiri, dengan taruhan pancingan. Sebaliknya jika kartu Ongya kurang bagus, Ongya pasti menambah taruhan secara besar-besaran untuk menggertak lari lawan."
Hm, apa lagi?"
Jengek Koay-lok-ong.
"Dengan begitu aku lantas memasang jeratan juga,"
Tutur Sim Long.
"Jeratan?"
Koay-lok-ong menegas.
"Ya, aku sengaja menghitung modalku agar Ongya mengetahui modal judiku tersisa tidak banyak lagi, ingin kupancing supaya Ongya main "
Curi ".
Sebab Ongya pasti berpendapat orang yang modal judinya tidak banyak pasti akan bertaruh dengan hati-hati, kartu yang tidak meyakinkan pasti tidak berani bertaruh, sekalipun tahu Ongya cuma main gertak juga belum tentu berani masuk ...."
Sim Long tertawa, lalu menyambung.
"Apalagi setelah kartu besar jelas sudah keluar sedang kartu yang kupegang pasti tidak besar, inilah kesempatan bagi Ongya untuk main gertak atau curi, dan ternyata kesempatan ini memang tidak disia-siakan Ongya."
Hm, jadi kesempatan ini sengaja kau bikin?"
Jengek Koay-lok-ong.
"Betul, dan ternyata Ongya tidak tahan oleh pancinganku ini,"
Jawab Sim Long dengan tertawa.
"Ketika Ongya benar-benar menambah taruhan sebesar itu, aku tambah yakin Ongya cuma ingin menggertak lari diriku saja."
Masakah kau yakin aku pasti akan main gertak begitu? Apakah tidak mungkin kuganti cara bermain?"
"Dengan sendirinya juga mungkin terjadi begitu. Cuma, kebiasaan berjudi seorang kebanyakan sudah berakar dan sukar berubah lagi, semakin tegang keadaan yang dihadapi semakin nyata kebiasaannya itu akan menonjol."
Hahaha, tapi mungkin juga sengaja kupasang tabir begitu untuk mengelabui pandanganmu atas cara permainanku, padahal justru engkau sendiri yang tertipu ...."
Di tengah gelak tertawanya Koay-lok-ong lantas berbangkit dan melangkah pergi sambil menambahkan.
"Bagus ... bagus, boleh kau lihat sendiri berapa kartuku."
Sampai sekarang semua orang belum lagi tahu sesungguhnya besar atau kecil kartu yang dipegang Koay-lok-ong, dengan sendirinya setiap orang ingin melihatnya.
Akan tetapi meski Koay-lok-ong sudah pergi, tetap tiada seorang pun berani membuka kartu yang ditinggalkannya di atas meja.
Sim Long tersenyum.
"Ongya sudah pergi, sesuai pesannya, biarlah kubuka kartunya."
Baru saja tangannya bergerak, mendadak sebuah tangan terjulur dari tempat gelap dan menahan kedua potong kartu Pay-kiu itu.
Ia cuma menekan perlahan dan kedua kartu lantas ambles rata dengan permukaan meja.
Tangan ini tangan yang membikin He Wan-wan mencelat tadi, juga tangan yang melempar keluar Siau-pa-ong Si Bing.
Baru sekarang semua orang dapat melihat jelas tangan ini kurus kering, tiada terlihat guratan otot, tangan yang mirip sepotong kayu kering.
Terdengar suara yang dingin dan sepat itu berkata.
"Kartu ini tidak perlu kau lihat lagi."
"Sebab apa?"
Tanya Sim Long tersenyum.
"Sudah kuperiksa, kartu ini lebih besar daripada kartumu, tiga titik,"
Jengek suara itu.
"O apa betul?"
Masa kau berani tidak percaya padaku?Ücapan ini membikin air muka semua orang sama berubah, sebab kalau Sim Long menjawab "tidak", jelas segera orang ini akan turun tangan.
Meski nama Sim Long akhir-akhir ini sangat cemerlang, tapi usianya masih sedemikian muda, semua orang menyangsikan apakah dia sanggup melayani jago nomor satu dari Kwan-gwa ini.
Apalagi jika benar keduanya bergebrak, rencana Sim Long juga akan berantakan.
Tapi kalau tanpa melihat kartu lawan dan Sim Long disuruh mengaku kalah, hal ini pun tak dapat diterima oleh siapa pun.
Seketika semua orang merasa cemas bagi Sim Long, mereka tahu bilamana Sim Long ingin menggeser tangan orang dari atas kartu, jelas mahasulit.
Tak terduga Sim Long cuma tersenyum, katanya.
"Tadi sudah kusaksikan kungfu Anda, memang hebat dan tidak malu sebagai jago utama di bawah Ongya. Tapi apakah dapat kau lihat ada sesuatu yang tidak beres pada benda ini?"
Sembari bicara tangan Sim Long terjulur ke sana dan memegang sesuatu.
Secara di bawah sadar tangan kurus kering itu menerima barang yang dimaksud Sim Long dan diperiksa, ternyata cuma dua biji dadu.
Orang itu melengak, katanya dengan gusar.
"Apa yang kau katakan tidak beres pada dadu ini?"
Dadu ini memang baik, tapi kartu ini apakah juga baik?"
Kata Sim Long dengan tertawa, berbareng tangannya lantas menekan permukaan meja, kontan kedua kartu yang ambles rata dengan meja itu melompat ke atas.
Bahwa sekali tekan kedua potong kartu gading itu dapat ambles ke dalam meja jelas sangat mengejutkan, tapi sekali tekan meja segera membuat kartu yang ambles itu melompat ke atas inilah kungfu terlebih mengejutkan.
Semua orang sama bersorak memuji, segera pula Sim Long hendak menangkap kedua biji kartu itu.
Siapa tahu mendadak terdengar suara "cret-cret"
Dua kali, kedua potong kartu tertimpuk hancur, remukan kartu muncrat mengenai pundak Li Ting-liong dan membuatnya meringis kesakitan.
Lalu dua biji benda jatuh di atas meja, ternyata kedua biji dadu yang terpegang oleh tangan yang kurus kering tadi.
Kartu gading sudah remuk, tapi kedua biji dadu masih utuh, nyata kungfu timpukan orang ini sangat lihai.
Terdengar suara dingin sepat tadi mendengus.
"Tiga lebih besar dari dua, jelas engkau yang kalah."
Sim Long tetap tersenyum saja, jawabnya.
"Apa betul tiga titik kartu Ongya?"
Dua tangan yang kurus kering terus mencakup sisa 30 biji kartu Pay-kiu, beberapa kali tangannya meremas, seketika 30 potong kartu tergilas menjadi bubuk.
Dengan demikian sukar untuk mengecek berapakah angka kedua kartu Koay-lok-ong tadi, sebab semua kartu Pay-kiu kini sudah remuk.
"Sekali kubilang tiga pasti tiga,"
Demikian suara dingin tadi berkata pula.
"Wah, tampaknya mau tak mau aku harus percaya kepada ucapanmu,"
Gumam Sim Long.
"Makanya engkau tiada jalan lain kecuali mengaku kalah saja,"
Jengek orang itu.
"Namun Anda telah melupakan sesuatu,"
Kata Sim Long dengan tertawa.
"Sesuatu apa?örang itu melengak.
"Ini,"
Seru Sim Long sambil menjulurkan tangan ke bawah meja.
"plo¡", tahu-tahu dari tengah meja melejit ke atas sesuatu benda. Kiranya papan meja telah diketuknya hingga berlubang, potongan kayu meja itu bukan lain adalah tempat ambles kedua biji kartu Pay-kiu. Secepat kilat Sim Long tangkap kedua potong kayu kecil serupa kartu itu dan diperlihatkan di bawah cahaya lampu, jelas ada sepuluh titik bundar pada kedua potong kayu itu. Yang sepotong tercetak " 4-2"
Dan yang lain tercetak balok dua, total menjadi sepuluh angka jeblok.
Meski tangan kurus kering tadi telah menghancurkan seluruh kartu Pay-kiu, disangkanya bukti sudah hilang, tapi dia lupa kartu yang ditekan ambles ke meja itu telah mencetak bukti lain.
Bukti yang dibuatnya sendiri.
Seketika semua orang sama melongo dan terbelalak, entah kaget, heran, atau memuji.
Sim Long tersenyum, katanya.
"Dua lebih besar daripada sepuluh jeblok, jelas Ongya yang kalah.Örang di balik bayang kegelapan itu tidak bergerak, hanya matanya yang liar serupa mata serigala melototi Sim Long dengan beringas. Namun Sim Long hanya memandangnya dengan tersenyum. Entah berlangsung beberapa lama sehingga semua orang sampai menahan napas. Mendadak orang itu menghela napas perlahan, jengeknya.
"Baik, kau menang!" ***** Hasil perjudian ini dimenangkan oleh Sim Long berjumlah sejuta tahil, di bawah pandangan iri dan kagum orang banyak harta sebesar itu diusung pergi. Sementara itu fajar sudah menyingsing. Sim Long berduduk lagi di kursinya yang longgar dan lunak itu dengan santainya, ujung mulutnya mengulum senyum, kemalas-malasan, seperti tiada sesuatu yang patut dibuat bangga. Ci-hiang meringkuk lagi di tempat tidur dan memandang Sim Long dengan termangu-mangu, mendadak ia berkata dengan tertawa.
"Caramu itu sungguh berbahaya, aku ketakutan setengah mati."
Cuma sayang tidak benar-benar mati,üjar Sim Long. Ci-hiang menggigit bibir dengan mendongkol, akhirnya ia berkata lagi.
"Apa pun juga engkau sudah menang, sekarang engkau sudah terhitung jutawan. Ai, satu juta tahil perak, berapa orang di dunia ini yang memiliki kekayaan sebesar ini?"
Sim Long tidak menghiraukannya.
"Apakah kau tahu dengan satu juta tahil perak itu pekerjaan apa yang dapat kau lakukan?"
Melakukan apa?"
Sim Long berlagak dungu.
"Melakukan macam-macam,ücap Ci-hiang sambil memejamkan mata.
"Misalnya rumah yang kau bangun dengan satu juta tahil itu cukup untuk dihuni separuh penduduk kota Lan-ciu, ransum yang kau beli dengan sejuta tahil perak cukup untuk makan seluruh penduduk provinsi Kamsiok ini selama dua tahun ....Ïa menghela napas, lalu menyambung.
"Dengan sejuta tahil perak dapat kau bikin seribu orang hamba yang paling setia untuk mengkhianati tuannya, dapat kau bikin seribu perawan kehilangan kesuciannya."
Mendadak Sim Long menukas dengan tertawa.
"Tapi sejuta tahil perak juga dapat hilang begitu saja tanpa berbuat apa pun."
Mana bisa, tidak mungkin,"
Seru Ci-hiang.
"Biarpun kau lemparkan sejuta tahil perak itu ke sungai, paling sedikit ada separuh penduduk kota Lanciu akan terjun ke sungai untuk mencarinya."
Kenapa tidak ...."
"Sudahlah, kita tidak perlu berdebat,üjar Ci-hiang.
"Aku cuma ingin tanya padamu, setelah kemenangan babak pertama ini, lalu bagaimana selanjutnya? Apakah engkau cuma berduduk saja di sini agar Koay-lok-ong mencarimu?"
Tentu saja aku pun dapat mencarinya,"
Jawab Sim Long.
"Mencarinya?"
Ci-hiang menegas. Sim Long tidak menjawab, mendadak ia berteriak.
"Silakan masuk saja, nona Jun-kiau!"
Sekali ini Jun-kiau lantas mendorong pintu dan masuk sendiri. Dengan wajah berseri ia memberi hormat dan berkata.
"Selagi aku hendak mengetuk pintu, tak terduga Sim-kongcu sudah tahu akan kedatanganku."
Hm, kau memang tidak biasa ketuk pintu segala, ketuk dan tidak kan sama saja,"
Jengek Ci-hiang. Tapi Jun-kiau tidak menghiraukannya, ia berkata pula kepada Sim Long.
"Kedatanganku hanya ingin tahu apakah Sim-Kongcu ada sesuatu keperluan."
Ya, memang ingin kucari dirimu,"
Kata Sim Long dengan tertawa. Air muka Jun-kiau berubah.
"Sim-kongcu men ... mencari diriku?"
Maksudku hendak minta kau pergi ke Lanciu untuk membelikan satu partai mutiara paling bagus bagiku."
Hati Jun-kiau merasa lega, ucapnya dengan tersenyum cerah.
"Itu kan pekerjaan gampang, entah Sim-kongcu mau beli berapa?"
Beli sejuta tahil perak¡"
Kata Sim Long.
"Kuminta mutiara yang paling besar dan paling putih, harus sebesar gundu."
Wah, mutiara semacam itu mungkin ... mungkin sangat sulit dicari ...."
"Asalkan ada uang masakah tidak ada barang?"
Tapi ... tapi harganya ...."
"Berapa pun harganya tidak menjadi soal, mahal sedikit tidak apa asal saja barang baik, yang penting harus dibeli hari ini, jangan lewat tengah malam nanti."
Sejuta tahil kau belikan mutiara seluruhnya, apakah ... apakah engkau sudah gila? Untuk apa mutiara sebanyak itu?"
Tanya Ci-hiang.
"Dengan sendirinya ada gunanya,"
Jawab Sim Long. Jun-kiau berkedip-kedip, mendadak ia tertawa.
"Ah, kutahu, jangan-jangan akan Sim-kongcu sumbangkan kepada orang?"
Hah, apakah hendak kau sumbangkan kepada Koay-lok-ong?"
Tukas Ci-hiang.
"Kenapa mesti disumbangkan kepada Koay-lok-ong, memangnya tidak boleh kuhadiahkan kepada kalian?"
Jawab Sim Long dengan tertawa. Jun-kiau dan Ci-hiang saling pandang dengan melongo.
"Ayolah lekas pergi membelikan mutiara,"
Kata Sim Long. Jun-kiau mengiakan.
"Ada lagi, tolong siapkan beberapa kartu undangan, orang sudah menjamu kita, betapa pun kita harus balas menjamu orang,"
Sim Long menambahkan.
"Baiklah, segera akan kusiapkan santapan bagi Kongcu,üjar Jun-kiau.
"Tidak perlu santapan, apalagi arak,"
Kata Sim Long. Jun-kiau jadi melengak.
"Perjamuan tanpa santapan, lantas apa ... apa yang akan Kongcu hidangkan?"
Dengan sendirinya ada hidanganku yang akan kusuguhkan kepada mereka,"
Kata Sim Long dengan tersenyum misterius.
***** Perjamuan sudah tiba waktunya, tamu undangan juga sudah hadir.
Di depan setiap orang hanya terdapat secawan arak.
Hanya inilah suguhan Sim Long kepada tetamunya.
Cawan arak terbuat dari emas, ukurannya juga cukup besar, araknya juga kelihatan arak bagus.
Tapi menjamu tamu hanya disediakan secawan arak untuk setiap tamu, rasanya agak keterlaluan pelitnya.
The Lan-ciu, Liong Su-hay, Ciu Thian-hu, bahkan Siau-pa-ong Si Bing juga hadir, semuanya memandangi cawan arak di depan masing-masing dengan termenung.
Hanya Koay-lok-ong yang belum muncul, sungguh besar lagaknya.
Sekali ini tidak ada tamu yang membawa cewek, mungkin sudah kapok oleh pengalaman semalam.
The Lan-ciu memandangi cawan arak di depannya dengan tersenyum, tidak heran, juga tidak ada tanda kurang senang, agaknya dia sudah menduga di dalam cawan arak ini pasti mengandung sesuatu permainan Sim Long.
Liong Su-hay tampak tersenyum, senyuman heran dan sangsi.
Sedangkan Ciu Thian-hu sebentar berkerut kening, lain saat berkerut hidung sambil lihat sini dan pandang sana, dia bukan lagi menunggu kedatangan Koay-lok-ong melainkan berharap munculnya hidangan lezat.
Siau-pa-ong Si Bing hanya sibuk bermain memupuk pagoda kecik emas, sudah sekian lama pagoda kecik tetap tidak jadi ditumpuknya.
"Apakah Ongya itu akan hadir?"
Tiba-tiba Si Bing bersuara.
"Tidak tentu,"
Jawab Sim Long tersenyum.
"Berapa lama lagi kita harus menunggu,"
Tanya Si Bing pula.
"Juga tidak pasti,"
Sahut Sim Long.
"Wah, mungkin hidangan yang tersedia akan dingin bila dia belum lagi muncul,"
Gerutu Ciu Thian-hu.
"Takkan dingin,"
Sela Ci-hiang mendadak dengan tertawa.
"Ooh!"
Ciu Thian-hu bersuara heran.
"Sebab memang tidak disediakan hidangan,"
Sambung Ci-hiang. Ciu Thian-hu melongo, mendadak ia terbahak, katanya sambil menuding Sim Long.
"Hahaah, tak tersangka engkau pintar menghemat."
Biasanya aku memang suka menghemat,üjar Sim Long tersenyum.
"Dia kan tidak punya tambang emas, dengan sendirinya perlu hemat,"
Tukas Ci-hiang pula.
Mendadak ia berhenti tertawa dan memandang ke arah pintu dengan terbelalak.
Entah sejak kapan di depan pintu sudah berdiri seorang.
Pintu cukup tinggi, tapi orang ini ternyata lebih tinggi satu kepala daripada pintu sehingga cuma kelihatan tubuhnya, sedang kepalanya teraling oleh kosen pintu.
Ci-hiang cuma dapat melihat perawakannya yang kurus kering serupa galah bambu tanpa kelihatan kepalanya, tapi cukup melihat tubuhnya saja sudah membuat orang merasa seram.
Dia memakai baju kulit hitam mulus membungkus erat tubuhnya yang jangkung itu sehingga serupa kulit ular, dia memang serupa seekor ular berbisa, setiap bagian tubuhnya seolah-olah tersembunyi bahaya yang sukar diraba, dia tidak bergerak, tapi setiap saat seperti siap mencaplok mangsanya.
Tangannya yang kurus kering serupa kepala ular itu terjulur hampir melampaui dengkul, orang lain hanya dapat mencapainya dalam jarak tiga kaki, tapi dia sanggup menyerang orang dari jarak lima kaki.
"Gi-su (Duta Hawa) sudah berkunjung, mengapa tidak masuk kemari untuk minum secawan?"
Segera Sim Long menyapa sembari menjura. Suara yang dingin dan sepat itu menjawab di luar pintu.
"Namaku Tokko Siang."
"Ah, kiranya saudara Tokko,"
Kata Sim Long dengan tertawa.
"Orang she Tokko tidak pernah bersaudara,ücap orang itu ketus.
"O, ya, silakan Tokko-siansing masuk kemari,"
Tetap Sim Long menanggapi dengan tertawa.
"Memang ingin kuminum secawan arakmu,"
Kata orang itu alias Tokko Siang.
"Bilakah kiranya Ongya akan hadir?"
Tanya Sim Long.
"Mestinya dia akan kemari, tapi malam ini justru ada seorang sahabat ingin mencari dia,"
Tutur Tokko Siang.
"Terpaksa dia menunggu di sana untuk mengorek hati orang itu, kalau tidak orang itu pasti akan kecewa."
Perbuatan mengorek hati manusia dan bunuh-membunuh diucapkannya dengan santai, tapi bagi pendengaran orang lain seketika bisa merinding.
"Jika Ongya tidak sempat hadir, sama saja Tokko-siansing mewakili beliau,"
Kata Sim Long.
Kembali Tokko Siang mendengus, mendadak dari lengan bajunya menyambar keluar seutas benang emas, meski kepalanya seperti teraling kosen pintu, namun tangannya seakan-akan bermata.
Benang emas itu berkelebat, tahu-tahu sebuah cawan arak sudah terbelit, sekali tarik cawan sudah terpegang olehnya.
"Ehm, arak enak?"
Kata Tokko Siang sehabis menenggak arak.
Kembali tangannya bergerak, cawan emas terbang kembali dan jatuh di tempat semula tanpa selisih setitik pun.
Padahal berat cawan atau piala emas berikut araknya sedikitnya ada dua kati, namun dengan seutas benang lemas ia sanggup mengangkatnya dari jauh, sungguh ketepatan menggunakan tenaga dan kekuatan pergelangan tangannya sangat mengejutkan.
Apalagi piala emas dapat ditaruh kembali ke tempat semula, kepandaian ini sungguh sukar untuk dibayangkan.
Semua orang sama menahan napas setelah menyaksikan pamer kungfu orang ini, ketika mereka memandang lagi keluar pintu, Tokko Siang sudah menghilang.
"Lihai amat!ücap Liong Su-hay.
"Kepandaian orang ini mungkin terhitung nomor satu di Kwan-gwa,"
Kata Sim Long dengan tertawa.
"Haha, sekali ini Sim-heng telah salah nilai,"
Mendadak The Lan-ciu menanggapi ucapan Sim Long itu.
"Oo?! Salah nilai?"
Ya, sebab biarpun di Kwan-gwa dia belum lagi terhitung jago nomor satu,"
Kata The Lan-ciu.
"Kutahu juga di padang rumput dan gurun pasir sana banyak tokoh terpendam, tapi biasanya jago terpendam itu mengutamakan Lwekang, jarang ada yang lihai gerak tangannya seperti orang tadi."
Pernahkah Sim-heng mendengar sebutan Kui-jiau-coa-hun (cakar setan mencengkeram sukma)?"
Tanya The Lan-ciu.
"Kui-jiau-coa-hun? Jangan-jangan nama lain daripada Pek-kut-yu-leng-ciang (ilmu pukulan setan tulang putih) yang paling keji dan misterius yang dulu pernah menggemparkan dunia persilatan itu?"
Betul, Sim-heng memang berpengetahuan luas,"
The Lan-ciu mengangguk.
"Tapi kawanan setan perguruan Yu-leng-bun konon sudah tertumpas habis oleh Sim Thian-kun, Sim-tayhiap bersama ketujuh aliran besar ilmu pedang pada 30 tahun yang lalu di Im-san? Sejak itu kabarnya Yu-leng-bun tidak ada ahli waris lagi, mengapa sekarang bisa muncul di Kwan-gwa?"
Agaknya Sim-heng tidak tahu meski kawanan setan Yu-leng-bun itu sudah mati semua tapi kitab pusaka ilmu sihir Yu-leng-bun entah mengapa telah tersiar ke Kwan-gwa sana,"
Tutur The Lan-ciu.
"Ah, tak tersangka setelah pertempuran Im-san bisa tertinggal lagi ekor seperti ini, bilamana Sim-tayhiap dan para ketua ketujuh aliran besar mengetahuinya, mungkin mereka takkan tenteram di alam baka,üjar Sim Long dengan gegetun, sikapnya mendadak berubah prihatin, hal ini jarang terjadi. Karena semua orang sama tertarik oleh cerita Yu-leng-bun yang misterius itu sehingga tidak ada yang mengetahui perubahan sikap Sim Long itu.
"Konon pada 30 tahun yang lalu kalangan persilatan di Kwan-gwa pernah geger lantaran memperebutkan kitab pusaka Yu-leng-pit-boh, anehnya peristiwa ini tidak banyak diketahui orang Kangouw,"
Tutur The Lan-ciu.
"Bisa jadi hal ini disebabkan orang yang ikut dalam perebutan kitab pusaka itu tidak banyak, bahkan semuanya tutup mulut dan jaga rahasia, hanya diam-diam di antara mereka terjadi pertarungan sengit, tapi berita ini tidak disiarkan keluar."
Ya, bilamana berita ini tersiar, entah berapa banyak orang persilatan daerah Tionggoan akan memburu ke sana untuk ikut dalam kemelut perebutan kitab pusaka itu.
Kecuali itu juga masih ada sebab lain, yaitu orang yang ikut berebut kitab pada waktu itu namanya tidak terkenal, karena itulah gerak-gerik mereka tidak menarik perhatian orang lain."
"Betul, tapi siapa pun juga, sekalipun namanya semula tidak menonjol dan kedudukannya rendah, kalau sudah memperoleh Yu-leng-pit-boh, tentu nilainya akan berubah sama sekali,üjar Sim Long.
"Dan entah siapa akhirnya yang mendapatkan kitab pusaka itu? "
Konon beberapa keluarga yang ikut dalam perebutan kitab itu akhirnya sama gugur seluruhnya, hanya tertinggal seorang budak tukang cuci saja, dan dengan sendirinya Yu-leng-pit-boh itu lantas jatuh di tangan budak cilik ini.
Cuma, kabarnya budak ini kemudian juga tidak berhasil meyakinkan kungfu rahasia Yu-leng-bun ini."
"O, sebab apa?"
Tanya Sim Long.
"Duduk perkara yang sebenarnya tidak diketahui siapa pun,"
Tutur The Lan-ciu.
"Cuma menurut cerita yang pernah kudengar, rahasia ini akhirnya diketahui juga oleh seorang tokoh dunia persilatan."
Dan kitab pusaka itu dirampas olehnya?"
Tanya Sim Long pula.
"Tidak,"
Tutur The Lan-ciu.
"Jika dia mau membunuh budak itu, tentu saja terlalu mudah baginya. Susahnya si budak sendiri juga mengetahui padanya terdapat se
Jilid kitab pusaka yang diincar orang, hal ini akan mendatangkan malapetaka bagi dirinya sendiri, sebab itulah kitab itu telah disembunyikannya di suatu tempat rahasia.
Dalam keadaan demikian, biarpun tokoh itu membunuhnya juga tetap tidak mendapatkan kitab pusaka yang diharapkan."
"Tentu dia tidak rela mengakhiri urusan dengan begitu saja?"
"Ya, memang. Orang ini ternyata sangat licin dan licik, culas dan keji. Dia memakai cara halus, budak itu ditipunya sehingga kehilangan kehormatannya. Ia yakin seorang anak perempuan jika sudah mau menyerahkan tubuhnya kepada seorang, maka segala apa pun akan diserahkannya. Tak tersangka olehnya si budak ternyata jauh lebih cerdik daripada perkiraannya, betapa pun ia tidak mau memperlihatkan kitab itu. Setelah menunggu lagi sekian lamanya, orang itu tidak sabar lagi, lambat laun tertampaklah wajah aslinya. Tapi si budak menjadi lebih waspada dan tetap tidak mau menyerahkan kitab yang diminta."
"Pintar juga budak itu,üjar Sim Long. The Lan-ciu tertawa.
"Budak itu pun menyadari wajahnya tidak cantik, jika ada tokoh persilatan penujui dia, dengan sendirinya bukan terpikat pada wajahnya melainkan mengincar kitab pusaka yang dikuasainya itu, jika dia menyerahkan kitab, sekalipun dirinya tidak diganggu, tentu juga akan ditinggal pergi. Dan bila kitab tidak diserahkannya, sedikitnya masih dapat hidup bersama untuk sekian lamanya."
Tampaknya budak itu jadi menyukainya,"
Kata Sim Long.
"Bukan saja menyukainya, bahkan tergila-gila,"
Tutur The Lan-ciu.
"Tapi semakin si budak tergila-gila padanya, orang itu tambah jemu, gagal dengan cara halus, akhirnya dia menggunakan cara kasar, bahkan cara keji untuk memaksa si budak menyerahkan kitabnya."
Ia menghela napas lalu menyambung.
"Konon cara yang digunakannya sungguh luar biasa kejamnya, genduk itu tersiksa sehingga tidak berbentuk manusia lagi, mata buta, kaki dan tangan pun cacat, tapi dia tetap tutup mulut, mati pun tidak mau mengaku di mana dia menyembunyikan kitabnya."
Blang", mendadak Liong Su-hay menggebrak meja dan berteriak.
"Jahanam, siapa bocah itu, ingin kutemui dia."
Siapa dia tidak ada yang tahu, yang jelas sampai akhirnya dia tetap tidak mendapatkan kitab pusaka idamannya dan tetap pulang dengan tangan hampa."
"Masa dia mau melepaskan genduk itu begitu saja?"
Tanya Sim Long.
"Konon genduk itu juga bukan orang biasa, meski sudah cacat, pada suatu kesempatan dia dapat melarikan diri. Pada waktu itu juga tokoh persilatan itu kebetulan ada urusan penting harus segera pulang ke Tionggoan. Ketika urusannya sudah selesai dan kembali lagi ke Kwan-gwa, budak itu entah bersembunyi di mana dan sukar ditemukan lagi. Terpaksa ia pulang lagi dengan putus harapan."
Ai, budak itu ...."
"Budak itu tentu juga tidak mampu menguasai kungfu dalam kitab pusaka, namun dia telah duduk perut, akhirnya ia melahirkan anak,"
The Lan-ciu menghela napas, lalu menyambung.
"Dan agaknya anak inilah ahli waris kungfu Yu-leng-bun sekarang."
Wah, anak yang dilahirkan cara demikian tentu saja sangat benci kepada sesamanya,ücap Sim Long.
"Jika dia berhasil lagi menguasai kungfu yang keji, tentu ... tentu runyam."
Memang,"
Kata The Lan-ciu.
"Konon setelah anak itu dewasa dan berhasil meyakinkan kungfu sakti ia pun menerima sejumlah murid, Yu-leng-kun-kui (kawanan setan alam halus) dahulu sudah mati, Yu-leng-kun-kui yang sekarang telah lahir lagi."
Orang macam apakah anak ini?"
Tanya Sim Long.
"Belum pernah ada orang Kangouw yang melihat bentuknya,"
Tutur Lan-ciu.
"Di dunia Kangouw ada macam-macam berita, katanya dia seorang gadis yang sangat cantik laksana bidadari, tapi tindak tanduknya kejam dan keji serupa setan iblis."
Seorang perempuan kalau sudah kejam, biasanya bisa berpuluh kali lebih kejam daripada orang lelaki,üjar Sim Long.
"Huh, semua itu kan lantaran kebanyakan lelaki adalah orang berengsek,"
Ci-hiang mencibir.
"Nama kawanan setan Yu-leng baru beberapa tahun terakhir terdengar di dunia persilatan Kwan-gwa, tapi entah berapa banyak korban yang telah jatuh di tangan kawan setan itu. Konon gadis ini suka makan hati manusia, setiap orang yang dibunuhnya akan dikorek hatinya untuk dimakan, yang dibunuhnya dengan sendirinya seluruhnya orang lelaki, jadi hati orang lelaki yang dimakannya."
Ibunya ditipu oleh lelaki, dapat dibayangkan betapa dia membenci orang lelaki,"
Kata Sim Long.
"Eh, bagaimana rasanya hatimu, Sim Long?"
Tanya Ci-hiang mendadak.
"Kukira pahit,"
Jawab Sim Long tertawa. Ci-hiang berkedip-kedip.
"Biarpun pahit juga ingin kucicipi. Kukira orang perempuan yang ingin mencicipi rasa hatimu tidak cuma aku seorang saja."
Aha, kiranya Sim-kongcu juga lelaki yang disiriki perempuan,"
The Lan-ciu berseloroh. Mendadak ia menahan suaranya dan berkata pula.
"Selain itu tadi, ada lagi satu hal aneh."
"Aneh apa?"
Tanya Sim Long.
"Entah mengapa, kawanan setan itu selalu memusuhi Koay-lok-ong, setiap anak buah Koay-lok-ong yang terpencil sendirian tentu akan disembelih kawanan setan itu dan dimakan hatinya."
Oo?!"
Sim Long melengak.
"Dari ucapan Tokko Siang tadi, katanya hari ini Koay-lok-ong lagi menunggu kedatangan seorang yang akan dikorek hatinya, mungkin ... mungkin orang yang dimaksudkan ialah ...."
Gembong setan perempuan Yu-leng-kun-kui itu, maksudmu?"
Tukas Ci-hiang.
"Ya, tapi mudah-mudahan bukan dia,üjar The Lan-ciu. Semua orang sama terkesiap. Selang sejenak mendadak Ciu Thian-hu berbangkit dan berkata.
"Wah, bila mendengar cerita yang menakutkan perutku lantas lapar, perlu kumakan dulu."
Arak ini tidak kau tenggak?"
Kata Sim Long dengan tersenyum.
"Engkau kan ingin menghemat, biarlah arak ini boleh kau hemat sekalian,üjar Ciu Thian-hu sambil bergelak tertawa.
"Hm, jika arak ini tidak kau minum, selama hidupmu selanjutnya pasti sukar lagi minum arak semacam ini,"
Jengek Ci-hiang.
"Haha, sekalipun arak ini air emas juga dapat kuminum setiap hari,"
Seru Ciu Thian-hu.
"Air emas? Hm, arak ini sedikitnya lebih mahal seribu kali daripada air emas,"
Jengek Ci-hiang. Ciu Thian-hu melengak, tapi segera ia tertawa pula.
"Ah, membual kan tidak perlu modal. Memangnya harga arak ini sampai seribu tahil perak?"
Hm, mestinya tidak ingin kukatakan, tapi sekarang justru ingin kujelaskan supaya kau tahu,ëjek Ci-hiang.
"Arak yang disuguhkan ini berharga 125 ribu tahil perak dan tidak kurang."
Hah, 125 ribu tahil? Haha, masa ada arak semahal ini, kau sangka orang she Ciu ini orang udik yang dapat kau bohongi?"
"Jika sejuta tahil perak dibelikan mutiara seluruhnya dan digiling menjadi bubuk, lalu semua bubuk dicairkan menjadi delapan cawan arak, coba hitung sendiri, secawan arak lantas berharga berapa?"
Ciu Thian-hu melongo, jawabnya dengan tergegap.
"Ya, betul, 125 ribu tahil perak ....Ïa melototi arak di depannya dengan rasa kagum dan hormat, sampai lama ia memandang, akhirnya cawan arak diangkatnya dan ditenggaknya. Pada saat itulah mendadak terdengar suara suitan nyaring panjang, entah suara apa, jelas bukan suara manusia. Kedengaran suara suitan itu sangat jauh, tapi hanya sekejap lantas mendekat, betapa cepat datangnya sungguh sukar dibayangkan. Hal ini pasti tidak dilakukan manusia, manusia pasti tidak mempunyai kecepatan sehebat ini. Lantas suara apakah sesungguhnya? Itulah tangisan setan! Suara itu membuat orang merinding, kaki dan tangan sama dingin, kontan pucat muka Ciu Thian-hu. Suara itu terus berjangkit, sekali berubah, menjadi dua kali, berubah lagi menjadi empat kali dan seterusnya hingga dalam sekejap suara melengking itu bergema dari empat penjuru, sebentar timbul di kanan, mendadak terdengar lagi di kiri, sekonyong-konyong di depan, tahu-tahu di belakang. Ciu Thian-hu bergemetar, hampir saja ia sembunyi di kolong meja. The Lan-ciu dan Liong Su-hay juga berubah pucat.
"Yu-leng-hui ...ücap Ci-hiang dengan rada gemetar. Mendadak Sim Long berdiri dan melangkah keluar.
"He, jangan ...."
Seru Ci-hiang khawatir. Sim Long tetap melangkah tanpa menoleh, ucapnya dengan tertawa.
"Jika hatiku bakal dimakan orang, biarlah dimakan oleh setan perempuan ini saja."
Jilid 28 Ternyata seluruh taman yang luas ini sudah penuh bintik-bintik api setan.
Api setan yang berwarna hijau pucat berkelip di tengah kegelapan taman yang sunyi sehingga membuat keadaan terasa sangat seram.
Setiba di luar, sekonyong-konyong setitik api setan menyambar tiba dengan membawa suara mendenging.
Sekali lengan baju Sim Long mengebut, api setan ini tergulung ke dalam lengan baju, kiranya cuma sepotong tembaga tipis yang dibikin serupa sempritan dan disambitkan orang dengan kuat sehingga menerbitkan suara mendenging seperti suara suitan.
Adapun api setan itu cuma api fosfor saja.
Sim Long tersenyum dan membuang sempritan itu, ucapnya dengan tertawa.
"Hah, kepandaian kawanan setan juga cuma begini saja."
Tanpa berhenti ia terus menuju ke vila zamrud.
Vila itu juga gelap gulita, hanya di serambi ada sebuah meja pendek, di situ ada sebuah pelita.
Seorang berbaju kuning dengan baju dada terbuka menongkrong di situ asyik minum arak.
Menghadapi api setan yang memenuhi udara, orang ini tampak tetap santai saja seakan-akan beribu titik api setan yang misterius ini serupa bunga api yang mengiringi dia minum arak.
Dipandang dari jauh, lamat-lamat Sim Long melihat orang berjidat lebar, bermuka putih, berjenggot panjang terawat.
Sim Long menarik napas, akhirnya wajah asli Koay-lok-ong dapat dilihatnya juga, tokoh misterius yang selama belasan tahun paling disegani di dunia persilatan.
Koay-lok-ong asyik makan minum, ketika ia menaruh cawan araknya mendadak ia berpaling ke arah tempat sembunyi Sim Long, serunya dengan tertawa lantang.
"Jika Anda sudah datang, kenapa tidak muncul kemari untuk minum bersamaku?"
Diam-diam Sim Long terkejut oleh ketajaman mata-telinga orang, cepat ia menjawab dengan tersenyum.
"Cayhe Sim Long."
O, kiranya engkaulah Sim-kongcu,"
Kata Koay-lok-ong. Dengan langkah lebar Sim Long mendekati orang, sapanya sambil memberi hormat.
"Api setan memenuhi udara, Ongya asyik bersantap sendiri, sungguh sangat menyenangkan tampaknya."
Api setan memenuhi udara dan Sim-kongcu masih juga pesiar keluar, tentu tidak kecil juga hasrat Sim-kongcu,üjar Koay-lok-ong tertawa.
"Karena Ongya tidak dapat diundang, terpaksa kudatang kemari untuk belajar kenal,"
Sahut Sim Long.
"Bagus, aku memang lagi kesepian minum sendirian, kini Sim-kongcu datang menemani, sungguh bagus sekali. Silakan!"
Sambil mengucapkan terima kasih, kini Sim Long dapat melihat lebih jelas wajah Koay-lok-ong.
Dilihatnya alisnya tebal, matanya panjang lebar dan gemerdep ditambah dengan hidungnya yang besar sehingga melambangkan perbawanya yang besar dan kecerdasan serta gairah hidupnya yang sukar ditandingi orang biasa.
Sim Long tidak dapat melihat mulutnya, karena mulut tertutup oleh kumis jenggotnya yang lebat, namun kumis jenggot terawat dengan rapi.
Koay-lok-ong juga sedang mengawasi Sim Long.
Banyak pemuda cakap anak buahnya, tapi kalau dibandingkan Sim Long hampir tidak ada artinya.
Di samping meja pendek ada kasur berlapis kain sutra, mungkin tersedia untuk Yu-leng-kui-li (setan perempuan alam halus), di atas meja juga masih ada cawan kosong.
Tapi Sim Long lantas duduk saja di situ, lalu menuang arak sendiri, katanya.
"Sudah lama kudengar Ongya seorang ahli minum, marilah kusuguh dulu Ongya secawan."
Keduanya lantas angkat cawan dan menenggaknya hingga habis.
"Ehm, arak sedap!ücap Sim Long.
"Betapa bagusnya arak ini masakah dapat membandingi arak bubuk mutiaramu yang berharga sejuta tahil itu,üjar Koay-lok-ong dengan tertawa terbahak. Suara gelak tertawanya keras mengguncang atap, daun pohon pun sama rontok di luar. Namun tiada setetes arak dalam cawan Sim Long yang tercecer.
"Mengapa Ongya bergelak tertawa segembira ini?"
Tanya Sim Long.
"Hahahaha!"
Koay-lok-ong tertawa latah pula.
"Setiap orang Kangouw sekarang sama tahu Sim Long adalah musuhku yang terbesar, tapi kau Sim Long saat ini berani duduk berhadapan denganku, bahkan menyanjung puji diriku, coba apakah tidak lucu dan menggelikan? Haha! ...."
Sim Long tenang saja, mendadak ia pun tertawa keras. Karena suara tertawa kedua orang berjangkit sekaligus.
"prak", tahu-tahu cawan arak di atas meja sama retak tergetar. Seketika Koay-lok-ong berhenti tertawa dan bertanya.
"Dan mengapa Sim-kongcu mendadak ikut tertawa?"
Dengan lantang Sim Long menjawab.
"Bahwa setiap orang Kangouw sama tahu mata-telinga Koay-lok-ong tersebar di segenap pelosok dunia ini, siapa duga seluk-beluk seorang Sim Long ternyata tidak dapat diketahui oleh Koay-lok-ong, coba, kan lucu dan menggelikan? Hahaha!"
Huh, kau salah besar bila mengira aku tidak tahu seluk-belukmu,"
Kata Koay-lok-ong dengan bengis.
"Memangnya apa yang diketahui Ongya mengenai diriku?"
Tanya Sim Long.
"Critt", mendadak sebuah panah kecil dengan membawa kerlipan api setan menyambar tiba memecah angkasa gelap. Sim Long tidak gugup, ia pegang sumpit dan menjepit perlahan, tampaknya dia bergerak dengan santai, tahu-tahu anak panah yang menyambar tiba itu tepat terjepit oleh sumpitnya. Tanpa memandang anak panah itu dibuangnya, lalu berkata lagi dengan tertawa.
"Coba, apakah Ongya tahu kungfuku berasal dari aliran atau perguruan mana atau ajaran, siapa?"
Hmk,"
Jengek Koay-lok-ong.
"Hmk artinya tahu atau tidak tahu?"
Sim Long sengaja bertanya.
"Tidak tahu,"
Jawab Koay-lok-ong sambil menenggak arak untuk menutup rasa kikuknya. Sim Long juga angkat cawan, katanya pula.
"Dan apakah Ongya tahu aku mempunyai saudara, punya sanak kadang, ada kawan atau lawan?"
"Tidak tahu,"
Teriak Koay-lok-ong gemas.
"Nah, jika begitu apakah Ongya tahu persis nama asliku memang Sim Long?¡ "
Ini ... ini pun tidak tahu,"
Melengak juga Koay-lok-ong.
"Haha, mendingan jika Ongya tidak tahu hal lain, bila namaku saja Ongya tidak tahu secara pasti, lantas berdasarkan apa Ongya bilang tahu seluk-beluk diriku?"
Ini ...."
Kening Koay-lok-ong bekernyit. Sim Long tidak memberi kesempatan bicara baginya, langsung ia menyambung lagi dengan tertawa.
"Dan bila Ongya tidak tahu seluk-belukku, dari mana Ongya mendapat tahu aku adalah musuh besarmu?"
Setiap orang Kangouw sama tahu hal ini,"
Teriak Koay-lok-ong gemas.
"Desas-desus orang Kangouw masa dapat dipercaya?"
Tanya Sim Long.
"Perkataan sepuluh orang mungkin palsu, pembicaraan seribu orang pasti benar, kenapa aku tidak percaya?üjar Koay-lok-ong. Sim Long tertawa.
"Jika demikian, sebenarnya apa yang dikatakan orang Kangouw mengenai diriku? Sesungguhnya apa yang didengar Ongya? Bolehkah kudengarkan penjelasan Ongya?"
Koay-lok-ong tersenyum, mendadak ia bertepuk tangan dua kali.
Begitu tangan bertepuk, serentak Tokko Siang melompat keluar.
Dengan ketajaman daya dengar dan pandang Sim Long ternyata tidak mengetahui orang ini sejak tadi sudah berada di sekitar situ.
"Haha, orang bilang Tokko-heng dan Ongya bagaikan bayangan yang tidak pernah berpisah, tampaknya memang tidak salah kabar ini,üjar Sim Long dengan tertawa. Tokko Siang hanya mendengus saja, lalu menyodorkan seberkas gulungan warna kuning ke atas meja. Sambil tertawa Koay-lok-ong berkata.
"Memangnya kau kira kami tidak tahu bahwa secara diam-diam kau pun mengintai gerak-gerikku, segala tata kehidupan pribadiku pun kau selidiki dengan jelas. Namun sebaliknya setiap gerak-gerikmu dapat terhindar dari mata-telingaku?"
Sembari bicara ia lantas melolos tiga helai dari berkas itu dari dilemparkan ke depan Sim Long, katanya.
"Nah, boleh kau baca sendiri."
Ternyata isi ketiga helai kertas itu mencatat lengkap segenap tingkah laku Him Miau-ji, Cu Jit-jit dan Sim Long sejak pertemuan mereka di Jin-gi-ceng, kemudian keduanya mengikat persahabatan dengan si Kucing, semua itu tercatat dengan jelas.
Dengan sendirinya Ong Ling-hoa juga disinggung, malahan urusan persaingan antara Sim Long dan Ong Ling-hoa juga diselidiki secara terperinci.
Habis baca, meski lahirnya tetap tenang saja, tapi dalam hati Sim Long sangat terkejut.
Maklumlah, sebagian kejadian sebenarnya cuma diketahui antara mereka bertiga saja dan tidak mungkin diketahui orang lain lagi, terutama apa-apa yang dibicarakan mereka bertiga, entah cara bagaimana juga dapat diketahui Koay-lok-ong.
Jika begitu, apakah mungkin satu di antara mereka bertiga adalah agen rahasia Koay-lok-ong?
Lantas siapa?
Him Miau-ji?
Jelas tidak mungkin.
Si Kucing pasti bukan manusia begitu, apalagi dia sama sekali tidak ada kesempatan mengadakan kontak rahasia dengan Koay-lok-ong, setiap gerak-geriknya pada hakikatnya tidak pernah bebas dari mata-telinga Sim-Long.
Apakah Cu Jit-jit?
Juga tidak mungkin.
Jit-jit juga pasti bukan orang semacam ini, dia berasal diri keluarga kaya, sama sekali tidak ada hubungan apa pun dengan Koay-lok-ong.
Apalagi dia pernah jatuh dalam cengkeraman antek Koay-lok-ong yang banci itu dan mengalami berbagai siksaan lahir batin.
Mati pun Sim Long tidak percaya jika orang bilang kedua orang itu agen rahasia musuh.
Tapi kecuali kedua orang itu tinggal Sim Long sendiri.
Apakah mungkin Sim Long sendiri yang menjadi mata-mata musuh?
Sungguh Sim Long tidak habis mengerti, diam-diam ia cuma menyengir saja, perlahan ia taruh kembali ketiga helai kertas itu, kertas yang tipis itu mendadak dirasakannya sedemikian berat.
"Apakah ada yang omong kosong apa yang tertulis di situ?"
Tanya Koay-lok-ong sambil menatapnya dengan tajam. Sim Long termenung sejenak, jawabnya kemudian.
"Tulen atau palsu, benar atau omong kosong, memangnya Ongya sendiri tidak dapat memastikannya?"
Jika begitu, apa yang dapat kau katakan lagi?üjar Koay-lok-ong.
"Apa yang tertulis di situ cuma ada sesuatu yang tidak benar,"
Kata Sim Long tiba-tiba.
"Oo, satu hal apa?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Apa yang ditulisnya tentang pribadi Sim Long terasa terlampau baik."
Untuk itu mengapa engkau mesti rendah hati?üjar Koay-lok-ong dengan tertawa.
"Di situ Sim Long ditulis sebagai seorang yang luhur budi, seorang kesatria yang murah hati dan suka menolong sesamanya, padahal yang benar Sim Long adalah seorang rendah yang suka mementingkan diri sendiri."
Terkutuklah manusia yang tidak membela diri sendiri, sekalipun seorang pendekar atau pahlawan terkadang juga berhitung bagi kepentingan sendiri, dari dulu kala hingga sekarang siapa yang tidak memikirkan diri sendiri selain orang gila atau orang linglung."
"Memang betul,"
Kata Sim Long.
"Betapa besarnya seorang juga tak terlepas dari urusan nama dan kedudukan serta keuntungan, biarpun sang nabi dahulu juga berkeliling ke berbagai negara, tujuannya kan juga ingin mencari seorang junjungan yang dapat diandalkan untuk menggunakan tenaga dan pikirannya."
Haha, uraian yang bagus, harus kusuguh satu cawan,"
Kata Koay-lok-ong dengan tertawa.
Dalam pada itu api setan di udara semakin banyak, suara suitan juga semakin nyaring, nyata bahaya yang belum dapat diramalkan sudah sangat mendesak, namun kedua orang masih tetap makan minum seperti tidak terjadi apa pun.
"Menjemukan!"
Gerutu Tokko Siang mendadak.
Mendadak ia meraup segenggam kacang dari atas meja terus ditebarkan ke luar.
Terdengarlah suara mendesing ramai memecah udara.
Seketika api setan berjatuhan bagai hujan.
Akan tetapi api setan memang terlalu banyak, hanya sekejap saja udara sudah penuh lagi oleh bintik api setan.
Sim Long memegang cawan arak, katanya dengan tersenyum.
"Api setan ini memang agak mengganggu, biarlah kubantu Tokko-heng.Ïa minum arak seceguk, mendadak arak disemburkan, seketika arak berubah seperti kabut membanjir ke depan, seketika beribu bintik api setan terhapus.
"Khikang (kekuatan hawa) yang hebat!"
Puji Tokko Siang. Koay-lok-ong pun berkata.
"Kungfu Anda sungguh harus kuakui sebagai jago nomor satu yang pernah kutemui selama dua tahun terakhir ini. Sekarang kita berhadapan, mengapa engkau tidak turun tangan saja padaku?"
Mengapa aku perlu turun tangan?"
Sim Long tertawa.
"Turun tangan lebih dulu akan menang, masakah kau lupa?"
Sebenarnya kita ini kawan atau lawan, masakah Ongya tidak tahu?"
"Kawan atau lawan memang bergantung pada pikiran sekejap ...."
Belum habis ucapan Koay-lok-ong, mendadak di kejauhan ada suara orang bersorak.
"Koay-lok-ong, nyawa takkan panjang, sebelum fajar jiwa melayang!"
Lalu terdengar gelak tertawa seram serupa lolong serigala dan seperti tangis setan. Koay-lok-ong juga tertawa sambil mengelus jenggotnya, serunya lantang.
"Koay-lok-ong, usianya paling panjang, jiwa kawanan setan yang pasti melayang!"
Baru lenyap suaranya, berpuluh sosok bayangan orang muncul di tengah bintik api setan yang memenuhi udara itu.
Bayangan orang dengan hiasan bintik api hijau, bayangan setan bergoyang, seram kelihatannya seperti kawanan setan yang baru muncul dari neraka.
Tiba-tiba suara berdendang berkumandang pula.
"Pintu neraka sudah terbuka, api hijau dari alam halus, membakar Koay-lok-ong sampai mati!"
Berbareng itu berpuluh orang sama mengangkat tangan dan menebarkan beribu titik api setan dan membanjir tiba. Koay-lok-ong tetap duduk tenang, serunya.
"Di mana Tokko Siang?"
Serentak Tokko Siang beraksi, kedua tangan terpentang, lengan baju mengebas.
"Hanya api setan begini, apa artinya?üjar Sim Long sambil menenggak arak sepoci penuh, habis itu lantas disemburkan kembali sebagai hujan untuk menyirapkan api setan.
"Haha, rupanya kawanan setan alam halus tidak suka minum arak,"
Seru Koay-lok-ong dengan tertawa.
Belum habis ucapannya api setan kembali membanjir lagi, berpuluh bayangan orang sama menyerbu tiba.
Dua orang paling depan bersuara tertawa ngekek, muka mereka pun dilumuri fosfor sehingga bersinar gemerdep dan sukar dibedakan wajah aslinya.
Rambut mereka panjang terurai dan bertebaran tertiup angin, dipandang dalam kegelapan sungguh lebih menakutkan daripada setan sungguhan.
Seorang di antaranya bersenjata garpu pandak, seorang lagi berpedang hijau, panjangnya juga cuma satu kaki saja.
Kawanan setan Yu-leng ini ternyata berani menggunakan senjata pendek, tentu saja mempunyai kungfu yang lain daripada yang lain.
Serentak mereka menubruk maju lagi.
"Silakan Ongya duduk saja ...."
Kata Sim Long, sekali tangannya bergerak, setan Yu-leng yang bersenjata garpu kontan menjerit dan mencelat.
Namun setan yang berpedang hijau sudah menerjang tiba, cepat sumpit Sim Long bekerja, pedang si setan terjepit.
Meski setan Yu-leng itu membetot sekuatnya tetap tak terlepas.
"Kepiting ini sangat lezat, barangkali kau ingin mencicipinya?üjar Sim-Long dengan tertawa, tangan lain segera mencomot seekor kepiting. Capit kepiting dicapitkan pada hidung setan hidup itu, terdengarlah jeritan kaget dan kesakitan, sambil mendekap mukanya si setan lari terbirit-birit. Sumpit Sim Long masih menjepit pedang hijau rampasan, katanya.
"Barang setan takkan kuambil, kukembalikan saja kepadamu!"
Sekali sumpit menggeser, pedang hijau menyambar ke depan secepat anak panah terlepas dari busurnya.
Kebetulan seorang setan Yu-leng lain sedang menubruk maju, ia kaget ketika cahaya hijau menyambar tiba, cepat ia mengegos, tidak urung pedang pandak itu menancap di bahunya.
Segera ia pun kabur.
Hanya sekejap saja sambil bicara dan bergurau Sim Long telah melukai tiga penyatron.
Meski kawanan setan masih berkeliaran di luar sambil mengeluarkan suara seram, namun tidak ada lagi yang berani menyerbu.
"Hah, bagus, bagus sekali!"
Seru Koay-lok-ong sambil menatap Sim Long.
"Terima kasih atas pujian Ongya,"
Kata Sim Long.
"Mestinya aku adalah musuhmu, sekarang kau bantu diriku, biasanya kau caci maki diriku, sekarang engkau sedemikian hormat padaku,"
Mendadak Koay-lok-ong menarik muka dan membentak.
"Sebenarnya apa maksud tujuan tindakanmu ini?"
Masa Ongya tidak tahu?"
Jawab Sim Long.
Belum lanjut ucapannya, mendadak lima sosok bayangan menerjang tiba pula.
Golok, pedang, garpu, godam, cambuk, lima jenis senjata sekaligus menghantam Sim Long, jurus serangannya aneh, gerakannya cepat, caranya keji.
Tokko Siang berdiri di belakang Sim Long, ia sengaja tinggal diam saja.
Mendadak lengan baju Sim Long mengebas, kontan golok musuh terlibat, waktu ia tarik, orang itu menumbuk kawannya yang berpedang sehingga keduanya jatuh terguling.
Yang bersenjata garpu segera menusuk mata Sim Long, tapi entah cara bagaimana.
"trang", tahu-tahu ujung garpu menusuk cawan arak, malahan mulutnya juga dijejal sepotong ikan, badan pun tak berkuasa, kepala tertekan di atas piring kuah ikan oleh sumpit Sim Long.
"Apakah Ongya mau mencicipi ikan hidup ini?"
Kata Sim Long dengan tertawa.
Melihat kejadian itu, yang bersenjata godam melengak, tapi segera ia meraung, dengan nekat godam menghantam kepala Sim Long.
Siapa tahu mendadak Sim Long menarik diri ke belakang sehingga godam menghantam cambuk yang saat itu menyambar tiba, kontan cambuk dan godam terlepas dari pegangan, tahu-tahu iga kedua orang itu merasa kesemutan dan jatuh terkulai.
Hanya dalam sekejap, dengan gerakan sepele, kembali Sim Long merobohkan lima orang lagi.
"Hm, sedemikian besar kau jual tenaga, apakah sengaja kau perlihatkan kepadaku?¡ jengek Koay-lok-ong malah. Dalam pada itu yang berpedang telah merangkak bangun, kembali ia menusuk lagi dengan pedangnya.
"Betul, sengaja kuperlihatkan kepada Ongya,"
Demikian sembari bicara Sim Long sempat mengelak, sekali tarik, kepala orang berpedang itu juga kena ditolak ke dalam piring yang berisi Ang-sio-hi.
Seketika lengking kawanan setan di luar bertambah riuh, tapi tidak ada yang berani menerjang maju lagi.
Kungfu Sim Long yang lihai sungguh tidak pernah mereka lihat.
Dengan tersenyum Sim Long berkata pula.
"Binatang mencari tempat berteduh yang baik, manusia ingin mendapatkan majikan ternama, sudah lama aku berkelana, untuk melakukan pekerjaan besar tidak mungkin terlaksana oleh tenagaku sendiri. Bagaimana maksudku, tentu cukup gamblang bagi Ongya."
Memangnya maksudmu hendak mengabdi padaku?"
Gemerdep sinar mata Koay-lok-ong.
"Ya, begitulah,"
Kata Sim Long.
Pegangannya lantas dikendurkan, dua orang yang kepalanya tertekan di atas meja lantas terlepas dan cepat melarikan diri.
Koay-lok-ong tidak menghiraukan orang lain, perhatiannya terpusat atas diri Sim Long katanya kemudian.
"Tapi dahulu kau ...."
Orang berkelana, setiap petualang, apa yang dikerjakan bergantung pada cocok dan tidak satu sama lain.
Meski dahulu pernah kubekerja bagi kepentingan Jin-gi-ceng, tapi sekarang sudah lain daripada yang dulu.
Kini Jin-gi-ceng sudah tua, bukan lagi tempat tinggal bagi orang yang bercita-cita besar.
Jika ditinjau apa yang ada sekarang, kecuali Jin-gi-ceng, siapa pula yang sesuai untuk menerima orang semacam orang she Sim?"
"Barangkali cuma diriku?ücap Koay-lok-ong dengan tertawa keras.
"Itulah, jika Ongya sudah tahu apakah diriku takkan kau terima?"
Mendadak berhenti tertawa Koay-lok-ong, bentaknya.
"Sim Long, apakah benar begitu maksudmu?"
Jika bukan begitu maksudku, untuk apa kudatang kemari?"
Jawab Sim Long. Koay-lok-ong menatapnya lekat-lekat, sampai sekian lama, lambat laun di antara sorot mata kedua orang sama menampilkan senyuman. Mendadak Tokko Siang berseru.
"Jangan Ongya, hati orang ini sukar diraba, sekali-kali tidak boleh menerimanya."
Enyah,"
Bentak Koay-lok-ong tanpa menoleh.
Air muka Tokko Siang berubah hebat, kata "enyahïni sungguh tidak pernah diterimanya, tubuhnya sampai gemetar, diam-diam ia mengundurkan diri dengan pedih.
Koay-lok-ong tidak menghiraukannya, katanya pula sekata demi sekata.
"Wahai Sim Long, jika betul engkau bermaksud demikian sungguh terhitung mujur bagimu, juga beruntung bagiku. Dengan mendapat pembantu sebagai dirimu, aku akan serupa harimau bertumbuh sayap."
Terima kasih,ücap Sim Long.
"Tapi ingat, jika maksudmu ini palsu, mungkin ...."
Belum lanjut ucapannya, dari kejauhan kembali berkumandang suitan aneh.
Habis itu suara berisik lengking setan tadi lantas berlarian ke sana, api setan yang memenuhi udara juga lantas lenyap mendadak.
Jagat raya ini seketika kembali sunyi senyap, suasana seram tadi dalam sekejap saja sudah berubah pada asalnya, yaitu taman hiburan yang indah, cahaya bulan menyinari bumi raya pula.
Angin meniup semilir, bayangan pohon bergoyang perlahan, kalau tidak ada dua orang berbaju hijau yang masih menggeletak di situ karena tertutuk oleh Sim Long tadi, sungguh orang akan mengira apa yang terjadi tadi hanya di alam mimpi.
"Kedatangan kawanan setan itu sangat cepat, perginya juga tidak lambat,üjar Sim Long dengan tertawa.
"Yang datang tadi hanya sekawanan setan cilik Yu-leng-bun saja untuk menguji kekuatan di sini, peranan yang terlebih lihai kukira baru sekarang akan muncul,"
Kata Koay-lok-ong.
"Konon Yu-leng-kui-li itu memang sangat lihai,üjar Sim Long.
"Betapa lihainya, jika kita berdua berada di sini, apa yang mampu diperbuatnya?üjar Koay-lok-ong dengan tertawa lantang. Dapat dianggap sebagai tokoh setingkat Koay-lok-ong, biarpun Sim Long juga merasa senang.
"Konon di dunia persilatan Tionggoan ada seorang Ong Ling-hoa juga tokoh yang tidak boleh diremehkan,"
Tiba-tiba Koay-lok-ong berkata pula.
"Ya betapa keji cara orang ini dan betapa licik dan licin akalnya, sungguh harus diakui jarang ada bandingannya, terlebih jejaknya yang misterius dan sukar dilacak, kemahirannya menyamar, membuat orang sukar berjaga."
Bagaimana dia kalau dibandingkan dirimu?"
"Memang sukar dibicaranya, bila terjadi pertarungan antara kami, entah siapa yang akan kecundang."
Sungguh luar biasa di dunia Kangouw masih ada tokoh muda seperti dia, sesungguhnya bagaimana asal-usulnya dan dari perguruan mana dia?"
"Ini ...."
Mendadak Sim Long balas bertanya malah.
"Apakah Ongya tahu ada tiga orang yang paling misterius asal-usulnya di zaman ini?"
Tidak tahu,"
Jawab Koay-lok-ong.
"Seorang jelas ialah orang she Sim seorang lagi ialah Ong-Ling-hoa."
Dan siapa orang ketiga?"
"Tentu saja Ongya sendiri."
Haha, dan entah orang macam apakah Yu-leng-kui-li itu? Kukira usianya juga tidak terlalu lanjut, sungguh ingin kulihat dia mempunyai kemampuan apa sehingga sanggup mengendalikan kawanan setan."
"Agaknya Ongya tidak perlu menunggu lagi, dia sudah datang,ücap Sim Long. Mendadak ada cahaya lampu di halaman yang gelap sana. Enam belas gadis jelita dengan rambut tersanggul tinggi berbaju sutra putih membawa lampion istana muncul dari taman sana. Langkah mereka ringan, gayanya menarik sehingga serupa bidadari yang turun dari kahyangan. Dua orang lagi adalah lelaki kekar bercelana satin biru dan memakai kopiah berhias mutiara, tapi setengah badan atas telanjang bulat sehingga kelihatan dadanya yang bidang, kedua lelaki ini mengangkat sebuah tandu kecil dan berjalan di tengah rombongan kawanan gadis jelita.
"Yang menumpang tandu tentulah Yu-leng-kui-li, besar juga lagaknya,üjar Sim Long tertawa.
"Nyalinya juga tidak kecil,"
Sambung Koay-lok-ong.
Sesudah dekat, kawanan gadis jelita itu memberi hormat, lalu berdiri sejajar di samping.
Ketika tandu berhenti, di belakang tandu ternyata masih mengikut lagi seorang gadis cilik berdandan sebagai putri keraton, dengan langkah cepat ia menyusul ke depan dan membukakan tabir tandu, lalu menyembah dan berucap.
"Silakan Kiongcu (Tuan Putri) turun!"
Segera suara orang perempuan berkumandang dari dalam tandu.
"Apakah Koay-lok-ong berada di sini?"
Semula Sim Long menduga suara pimpinan kawanan setan itu pasti seram dan mengerikan, siapa tahu suaranya sedemikian merdu dan menggetar sukma.
Namun dia tetap diam saja dan mengikuti apa yang akan terjadi.
Koay-lok-ong juga tetap menunggu.
Terdengar gadis cilik tadi menjawab.
"Koay-lok-ong memang berada di sini."
Mengapa dia tidak menyambut kedatanganku?"
Kata orang di dalam tandu. Si gadis cilik mengerling sekejap ke dalam rumah, lalu menjawab dengan tertawa.
"Mungkin dia sudah mabuk." ¡Orang mabuk sukar untuk diajak bicara, marilah kita pergi saja, bila dia siuman baru kita datang lagi."
Baru saja gadis cilik itu mengiakan, Koay-lok-ong tidak tahan lagi, serunya mendadak.
"Kalau sudah datang, kenapa terburu-buru pergi lagi?"
Engkau tidak mabuk?"
Tanya orang di dalam tandu.
"Takaran minumku seribu gantang tanpa mabuk,"
Kata Koay-lok-ong.
"Jika tidak mabuk, mengapa tidak menyambut kedatanganku?"
Haha, anak perempuan semacam dirimu minta kusambut, apakah tidak keterlaluan?üjar Koay-lok-ong dengan tertawa.
"Betapa pun aku adalah pemimpin suatu perguruan tersendiri, jika kau sambut kedatanganku kan lumrah dan tidak menurunkan derajatmu?"
Jengek orang di dalam tandu.
"Ya, padahal banyak orang yang ingin menyambut Kiongcu kami tanpa diminta dan belum tentu Kiongcu kami mau,"
Tukas si dayang cilik. Koay-lok-ong tertawa.
"Engkau adalah Kiongcu dan aku adalah Ongya, masakah Ongya diharuskan menyambut Kiongcu?"
Tapi Ongya semacam dirimu kan palsu?üjar si dayang cilik. Koay-lok-ong tidak marah, sebaliknya tertawa dan menjawab.
"Dan memangnya Kiongcu kalian itu tuan putri tulen?"
Mendadak terdengar suara tertawa nyaring bagai bunyi keleningan, katanya.
"Tadinya kusangka Koay-lok-ong pasti seorang culas, dingin dan kaku, siapa tahu juga penuh humor dan menarik. Jika Ongya dan Kiongcu sama-sama palsu, dengan sendirinya Kiongcu harus menyembah kepada Ongya."
Makin didengarkan Sim Long merasa suara ini seperti sudah dikenalnya dengan baik, cuma seketika tak ingat siapa dia, ia yakin tidak keliru dugaannya ini.
Dalam pada itu Yu-leng-kiongcu telah melangkah turun dari tandunya, benar juga seorang gadis mahajelita, sama sekali tidak berbau setan, bahkan memang serupa bidadari.
Meski bajunya sutra tipis berlapis-lapis, namun samar-samar kelihatan garis tubuhnya yang ramping, gayanya yang memesona, wajahnya juga memakai sari, tapi tidak perlu melihat wajahnya yang sebenarnya dapat membayangkannya pasti mahacantik.
Dengan langkah gemulai dia berjalan sambil berpegangan pada pundak si dayang cilik.
Mata Koay-lok-ong seakan-akan memercikkan lelatu api, seketika ia tidak mampu bersuara.
Sim Long juga memandang dengan terkesima.
Setelah menaiki undak-undakan dan langsung menuju ke depan meja, tanpa disuruh ia angkat cawan arak dan berucap dengan suara lembut, ¡"
Maaf jika kedatanganku ini mengganggu keasyikan Ongya, kurela terima hukuman.¡"
"Betul, memang harus dihukum,üjar Koay-lok-ong.
"Hanya mohon hukuman jangan terlalu berat,üjar Yu-leng-kiongcu dengan sikap yang mohon dikasihani.
"Haha, mana tega kuberi hukuman berat padamu ...."
Seru Koay-lok-ong dengan tertawa.
"Eh, cara bagaimana memberi hukuman menurut pendapatmu?"
Pertanyaan ditujukan kepada Sim Long. Maka Sim Long menjawab.
"Menghukum dia menuangkan tiga cawan arak bagi Ongya."
Hahahaha! Si cantik menuangkan arak bagiku, sebelum minum aku sudah mabuk,"
Seru Koay-lok-ong sambil bergelak. Segera Yu-leng-kiongcu mengangkat poci arak dan menuangkan secawan, ucapnya lembut.
"Asalkan Ongya tidak mencela tanganku kotor, silakan minum secawan ini."
Di bawah cahaya lampu tampak tangannya yang putih bersih sebagai salju, jika ada mata orang dapat bicara maka kedua tangannya ini seakan-akan juga dapat bicara. Koay-lok-ong terbelalak.
"Haha, jika tanganmu dibilang kotor, di dunia ini mana ada tangan yang bersih."
Baru saja ia terima cawan arak itu sebuah tangan terjulur dari belakangnya dan menitikkan setetes air obat. Namun arak tidak menimbulkan reaksi, nyata arak tidak beracun. Yu-leng-kiongcu tertawa.
"Anak buah Ongya sungguh sangat cermat, cuma sayang ...."
Sayang mengukur pikiran orang baik dengan tujuan jahat sendiri, begitu bukan maksudmu?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Baik, anggap aku bersalah, biarlah aku pun dihukum balas menyuguhmu secawan."
Langsung ia menuang penuh cawannya dan disodorkan kepada Yu-leng-kiongcu. Yu-leng-kiongcu menerima cawan arak itu, dengan tertawa merdu ia berkata.
"Tapi badanku biasanya lemah dan tidak sanggup minum arak, kuharap secawan ini pun Ongya mewakili diriku menghabiskannya."
Hahaha, mewakili si cantik minum, kenapa aku tidak mau, tapi sedikitnya kan harus kau minum seceguk dulu,üjar Koay-lok-ong.
Sang putri tampak menunduk malu, perlahan ia menyingkap sari penutup muka dan dikecupnya perlahan arak dalam cawan, lalu disodorkan lagi kepada Koay-lok-ong, katanya.
"Apakah Ongya tidak ... tidak menolak sisa arak yang kuminum ini?"
Koay-lok-ong tampak berseri dan lupa akan bidadari yang berada di depannya ini adalah pemimpin Yu-leng-bun yang merontokkan nyali setiap orang Kangouw ini, dengan gelak tertawa ia berkata.
"Minum arak dengan layanan si cantik, biarpun mati juga rela!"
Segera ia angkat cawan dan hendak diminum. Mendadak sebuah tangan terjulur tiba dan menahan cawan araknya. Kiranya tangan Sim Long.
"Arak ini tidak boleh diminum,"
Seru Sim Long.
"O, barangkali engkau juga ingin minum?"
Tanya Koay-lok-ong dengan berkedip-kedip.
"Baiklah, secawan ini kuberikan padamu."
Sim Long terima cawan arak itu, katanya dengan tersenyum.
"Cuma rasanya aku pun tidak sanggup minum."
Mendadak ia tuang arak ke lantai, butiran arak muncrat dan berubah menjadi uap.
"Hah, arak ... arak ini beracun!"
Seru Yu-leng-kiongcu.
"Masa Kiongcu tidak tahu arak ini beracun?üjar Sim Long.
"Kan Ongya sendiri yang menuang arak ini, dari mana kutahu?"
Jawab Yu-leng-kiongcu dengan suara lembut.
"Justru Ongya yang menuang araknya, maka biarpun Kiongcu menaruh racun juga takkan disangka oleh siapa pun,üjar Sim Long.
"Kau bilang aku ... aku menaruh racun? Ah, jang ... jangan kau ...."
Ketika menyingkap sari, saat itu juga Kiongcu sudah mulai main,"
Tutur Sim Long.
"Jika orang lain menaruh racun dengan tangan Kiongcu justru menaruh racun dengan bibir. Sungguh sangat mengagumkan cara yang luar biasa ini."
Wah, kukira justru matamu yang beracun,üjar Yu-leng-kiongcu dengan gegetun.
"Jadi benar kau taruh racun dalam arak?"
Teriak Koay-lok-ong mendadak.
"Besar amat nyali, apakah engkau tidak tahu sekali bergerak saja dapat kubinasakanmu?"
Kuyakin Ongya takkan tega membunuhku,üjar Yu-leng-kiongcu sambil tertawa menggiurkan.
"Haha, memang betul, Ongya seorang yang bijaksana, mana mungkin marah kepada Kiongcu mahacantik ...."
Belum lanjut ucapan Sim Long, mendadak Yu-leng-kiongcu memotong.
"Tuan ini ...."
"Sim Long,ücap anak muda itu.
"Huh, sayang orang sebagai Kongcu rela menjadi antek orang,"
Jengek Yu-leng-kiongcu.
"Jika si cantik sudi menjadi setan, kenapa aku tidak boleh menjadi antek orang?"
Jawab Sim Long.
Yu-leng-kiongcu menatapnya tajam dari balik kain sari, selang sejenak, mendadak tubuhnya berguncang dan sempoyongan seperti mau roboh.
Cepat si dayang cilik memburu maju untuk memapahnya, serunya khawatir.
"Wah, celaka, penyakit hati Kiongcu kami kumat."
"Penyakit hati?"
Kening Koay-lok-ong bekernyit.
"Ya, bila melihat orang jahat, penyakit Kiongcu ini lantas kumat,üjar si dayang cilik.
"Wah, jika begitu, aku dan Sim-kongcu adalah orang jahat,"
Koay-lok-ong menggeleng kepala. Si dayang cilik melototi Sim Long sambil mencibir.
"Bukan dia, tapi kau inilah, kau bikin susah Kiongcu kami, harus kau ganti rugi."
Bagaimana dapat kuberi ganti rugi, betapa pun pintar juga tidak mampu kusembuhkan penyakit hati si cantik,üjar Sim Long.
"Jika tidak dapat kau sembuhkan penyakit Kiongcu, aku Ko-jin akan mengadu jiwa denganmu,"
Teriak si dayang cilik.
"Aha, namamu Ko-jin (kasihan), tapi tiada kelihatan sesuatu yang perlu dikasihani,üjar Koay-lok-ong dengan tertawa. Muka si dayang cilik alias Ko-jin menjadi merah.
"Hm, rupanya Ongya juga orang jahat. Bisa jadi penyakit Kiongcu kami akibat marah padamu."
Jangan khawatir, penyakit Kiongcumu akan kusembuhkan,"
Kata Koay-lok-ong.
"Tapi penyakitku mungkin sukar disembuhkan,"
Tiba-tiba Yu-leng-kiongcu mendesis sambil memegang hulu hatinya, tampaknya sangat menderita.
"Omong kosong, mana ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan,üjar Koay-lok-ong.
"Meski penyakitku mudah disembuhkan, obatnya yang sukar dicari,"
Kata Yu-leng-kiongcu.
"Jika ada obatnya pasti dapat dicari,üjar Koay-lok-ong tegas.
"Memangnya Ongya sungguh-sungguh mau mencarikan obat bagiku?"
Tanya Yu-leng-kiongcu dengan sendu.
"Bila dapat kucarikan obat bagimu, lantas balas jasa apa yang akan kau berikan padaku?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Apa pun kehendak Ongya pasti akan kuturuti,"
Jawab Yu-leng-kiongcu dengan menunduk.
"Baik, coba katakan di mana obat yang kau perlukan,"
Seru Koay-lok-ong dengan gembira.
"Obat itu berada ... berada pada Ongya sendiri."
Kata Yu-leng-kiongcu tiba-tiba.
"Oo?!"
Koay-lok-ong melengak.
"Meski obatnya berada pada Ongya, mungkin Ongya keberatan untuk memberikannya,"
Tukas Ko-jin.
"Budak kurang ajar, masakah kau pandang diriku sebagai orang pelit?ömel Koay-lok-ong.
"Ongya benar-benar tidak keberatan?"
Tanya Ko-jin.
"Sesungguhnya obat apa? Coba katakan!"
Ko-jin berkedip-kedip, jawabnya kemudian.
"Penyakit hati harus diobati dengan hati, apakah Ongya tahu pepatah ini?"
Obat hati?"
Gumam Koay-lok-ong.
"Ya, asalkan Ongya memberikan hatimu untuk obat Kiongcu kami, penyakit Kiongcu pasti akan segera sembuh,"
Sahut Ko-jin dengan tertawa. Seketika berubah air muka Koay-lok-ong, mendadak ia menengadah dan tertawa.
"Hahaha, budak jahil, kiranya kau minta hatiku."
Seorang raja tidak bicara kelakar, sekali Ongya sudah berjanji harus ditepati,"
Kata Ko-jin. Mendadak Koay-lok-ong membuka dada bajunya dan berseru.
"Baiklah, hatiku berada di sini, silakan ambil saja!"
Ko-jin memberi hormat, katanya dengan tertawa.
"Wah, Ongya benar-benar seorang welas asih, bila sembuh penyakit Kiongcu kami, pasti takkan melupakan budi kebaikan Ongya."
Mendadak ia mencabut sebilah belati terus mendekati Koay-lok-ong.
"Nanti dulu!"
Bentak Koay-lok-ong dengan suara menggelegar. Tubuh Ko-jin tergetar dan menyurut mundur dua tindak.
"Masa ... masa Ongya mau ing ... ingkar janji?"
Hatiku hanya diberikan kepada si mahacantik, jika menghendaki hatiku harus diambil sendiri oleh Kiongcumu,"
Kata Koay-lok-ong.
"Baiklah, jika begitu aku menurut saja,ücap Yu-leng-kiongcu.
"Haha, silakan ambil!"
Seru Koay-lok-ong.
Belum lenyap suaranya, mendadak sinar pisau sudah menyambar tiba.
Dan Koay-lok-ong ternyata benar tidak bergerak atau mengelak.
Tapi pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara bentakan keras, bayangan Yu-leng-kiongcu melayang mundur beberapa tombak, di depannya sudah berdiri seorang berbaju hitam bertubuh tinggi kurus, dia inilah Tokko Siang.
"Ai, Koay-lok-ong benar-benar menjilat kembali ucapannya sendiri,ëjek Ko-jin. Koay-lok-ong tersenyum, katanya.
"Meski aku sudah berjanji, tapi orang lain yang keberatan, apa boleh buat?"
Masa Ongya takut dan tunduk padanya?"
Tanya Yu-leng-kiongcu tertawa.
"Maklumlah, bila aku mati berarti pecah periuk nasinya, soalnya menyangkut untung ruginya, kan tidak dapat menyalahkan dia,üjar Koay-lok-ong.
"Aku pun ada penyakit yang harus disembuhkan dengan makan hatimu,"
Mendadak Tokko Siang berkata kepada Yu-leng-kiongcu.
"Apa betul?"
Yu-leng-kiongcu menegas.
"Jika kau betul, aku juga betul,"
Jawab Tokko Siang.
"Huh, kau kira aku pun pelit serupa Ongya kalian?"
Kata Yu-leng dengan tertawa.
"Ini, jika kau mau, boleh ambil!"
Habis bicara, mendadak ia tarik kain sari dan merobek dada baju sendiri sehingga kelihatan dadanya yang putih bersih, montok dan kenyal memesona.
Seketika Koay-lok-ong dan Sim Long jadi melongo.
Tokko Siang menjadi bingung menghadapi dada telanjang demikian, napas pun terasa sesak.
"Ayolah maju, ambil saja, kau takut apa?"
Seru Yu-leng-kiongcu pula. Biji leher Tokko Siang tampak naik-turun dan tidak sanggup bersuara. Yu-leng-kiongcu lantas mendekatinya malah, dada bajunya ditariknya lebih terbuka, ucapnya lembut.
"Eh, coba kau pegang, hatiku lagi berdetak, dadaku juga hangat ... semua ini kuberikan padamu, kenapa tidak kau ambil?"
Kau ... kau ...."
Mendadak Tokko Siang berteriak murka, perawakannya yang tinggi tegak itu tiba-tiba berguncang.
Segera Yu-leng-kiongcu tertawa nyaring lagi dan berkata, ¡Wah, tampaknya sekarang hati siapa pun tidak ada gunanya bagimu."
Ketika tangan Tokko Siang menghantam, Yu-leng-kiongcu diam saja, namun sewaktu telapak tangannya menyentuh dada Yu-leng-kiongcu, kontan tubuhnya lantas roboh terjengkang.
Koay-lok-ong tetap bersabar, ia malah tertawa.
"Haha, mati di bawah bunga, jadi setan pun gembira."
Memang, dapat melihat dada Kiongcu kami, mati pun tidak penasaran,"
Tukas Ko-jin dengan tertawa. Ia melirik Koay-lok-ong dan Sim Long sekejap, sambungnya.
"Kalian juga telah melihat dada yang paling indah di dunia ini, kalian juga boleh mati."
Yu-leng-kiongcu lantas mendekati Koay-lok-ong pula, ucapnya.
"Sekarang tidak ada lagi yang merintangi kehendak Ongya, apakah hati Ongya boleh dihadiahkan padaku?"
Haha, wajahmu saja tidak diperlihatkan kepadaku, tapi berkeras minta hatiku, kan terlalu tidak adil?üjar Koay-lok-ong.
"Tubuhku sudah Ongya lihat, apakah belum cukup?üjar Yu-leng-kiongcu dengan tertawa.
"Memangnya tubuhku ini tidak berharga untuk menukar hati Ongya?"
Mendadak Sim Long menyela.
"Tubuhmu saja tidak sayang diperlihatkan kepada orang, sebaliknya wajahmu tersembunyi, kan aneh? Jangan-jangan mukamu terlampau buruk dan tidak boleh dilihat orang?"
Yu-leng-kiongcu tertawa ngikik.
"Jika kau ingin melihat mukaku, boleh kau lihat sendiri saja."
Cuma jangan semaput setelah kau lihat,"
Sambung Ko-jin.
"Haha, meski bau harum bajumu dapat membunuh Tokko Siang, harum di balik sari belum tentu mampu membunuhku ...."
Di tengah gelak tawa Sim-Long tahu-tahu sudah berada di depan Yu-leng-kiongcu. Gerak cepat Sim Long ini sangat mengejutkan, cepat Yu-leng-kiongcu melompat mundur.
"Lho, katanya boleh kulihat, kenapa sekarang lari?"
Tanya Sim Long. Dan entah cara bagaimana, tahu-tahu ia melayang maju lagi ke depan Yu-leng-kiongcu dengan gaya yang santai.
"Hati-hati, jangan sampai membikin lecet kulit badannya yang halus,"
Seru Koay-lok-ong dengan tertawa gembira.
"Coba, alangkah sayangnya Ongya terhadap si cantik, sampai saat ini dia masih memikirkanmu,üjar Sim Long. Sembari tertawa, kedua tangannya lantas bergerak cepat, dalam sekejap saja ia telah melancarkan belasan kali pukulan, namun Yu-leng-kiongcu juga tidak kurang gesitnya, setiap serangan Sim Long dapat dihindarinya dengan mulus. Walaupun begitu, serangan Sim Long itu baru ujian pertama saja untuk menjajaki kelihaian musuh, entah masih berapa banyak serangan ikutan yang belum dilancarkannya. Namun untuk sementara belum kelihatan Sim Long akan dapat menundukkan lawan. Tiba-tiba Ko-jin berseru.
"He, lelaki baik tidak bakalan berkelahi dengan orang perempuan, orang lelaki yang mau berkelahi dengan orang perempuan pasti tidak tahu harga diri."
Ketika dilihatnya Sim Long tidak menghiraukannya dan tetap melancarkan serangan, kembali ia mengentak kaki dan berteriak.
"Orang she Sim, wah, engkau memang tidak tahu malu, masa ... lihatlah Ongya, dia hendak meraba dada Kiongcu."
Jika aku menjadi dia juga ingin kuraba dada yang kenyal itu,üjar Koay-lok-ong dengan tertawa. Ko-jin terbelalak.
"Ai, masa ... masa Ongya tidak ... tidak cemburu?"
Koay-lok-ong tertawa, katanya.
"Jika ingin kau ganggu konsentrasi Sim Long jelas kau salah hitung. Biarpun di sekeliling sini ada 200 orang membunyikan genderang juga takkan dihiraukannya."
Huh, berlagak tuli dan pura-pura bisu, terhitung kepandaian apa?"
Jengek Ko-jin.
"Berlagak bisu dan tuli justru adalah senjata paling baik untuk melayani orang perempuan,üjar Koay-lok-ong.
"Dasar lelaki, tidak ada seorang pun baik,ömel Ko-jin sambil mengentak kaki. Dengan menggerutu, diam-diam dari dalam lengan bajunya melayang keluar tujuh jalur benang perak dan menyambar ke punggung Sim Long tanpa bersuara. Sebenarnya Ko-jin juga menyadari senjata rahasianya takkan mampu melukai Sim Long, tujuannya cuma ingin mengacau perhatian Sim Long saja untuk memperlambat daya serangannya. Untuk menghindari "
Yu-hun-siätau benang arwah gentayangan yang beracun keji dan tak bersuara ini sedikitnya perhatian Sim Long akan terpencar, dengan begitu Yu-leng-kiongcu ada kesempatan untuk mengatasi lawan.
Benarlah, ketika Sim-Long terpaksa menarik sebelah tangannya untuk mengebas ke belakang, kesempatan itu segera digunakan Yu-leng-kiongcu untuk mendesak maju, sebelah tangannya yang putih halus sudah mencengkeram sampai di depan Sim Long.
Cakar setan mencengkeram hati, itulah jurus maut andalannya.
Tangan yang putih halus itu kini telah berubah serupa kaitan yang tajam.
Dalam keadaan demikian bila Sim Long ingin menghindarkan cengkeraman ini berarti akan terserang oleh benang maut dari belakang.
"Hihi, entah bagaimana rasanya hati lelaki ini, aku jadi ingin mencicipi juga,"
Seru Ko-jin sambil berkeplok tertawa.
Siapa tahu pada saat berbahaya itulah sekonyong-konyong Sim Long menggeser sedikit ke samping, tanpa menghiraukan benang maut yang menyambar dari belakang, tangan berbalik meraih ke depan untuk mengepit tangan halus Yu-leng-kiongcu, berbareng itu ia terus berputar ke belakang sang Kiongcu.
Dengan cara demikian, sambil menghindari benang maut itu, sekaligus Sim Long menggunakan tubuh Yu-leng-kiongcu sebagai tameng, keruan Ko-jin terkejut, untuk membatalkan serangan benang maut itu sudah tidak keburu lagi.
Untunglah sebelah tangan Yu-leng-kiongcu masih bebas, ia sempat mengebas dengan lengan bajunya sehingga benang itu tergulung lenyap.
Pada detik lain, kempitan Sim Long diperkeras, seketika tubuh Yu-leng-kiongcu terasa kaku kesemutan, lalu tidak sanggup bergerak lagi, padahal jari tangannya mestinya bermaksud ditutukkan ke iga Sim Long.
Baru sekarang Yu-leng-kiongcu merasakan gawatnya keadaan, teriaknya.
"Bangsat ... akan kau apakan diriku? Lepaskan!"
Ko-jin juga lantas berteriak.
"Wah, celaka! Tolong! Orang she Sim itu hendak memerkosa Kiongcu kami!"
Sim Long tertawa.
"Jika begitu, sedikitnya harus kucium pipimu dulu!"
Dengan lengan kanan mengepit Yu-leng-kiongcu, tangan lain segera menyingkap kain penutup mukanya.
"Ber ... berani kau lihat mukaku, segera kumatikan kau!"
Seru Yu-leng-kiongcu dengan agak gemetar.
"Haha, Sim Long, mungkin dia akan membunuhmu dengan menggigit,"
Koay-lok-ong berolok sambil tertawa.
Ia pun memerhatikan setiap gerak tangan Sim Long dan berharap lekas menyingkap kain sari orang, sebab ia pun sangat ingin tahu betapa wajah di balik sari itu, apakah benar cantik atau buruk?
Mengapa Yu-leng-kiongcu hanya memperlihatkan tubuhnya kepada orang dan berbalik menyembunyikan mukanya?
Jangan-jangan terdapat sesuatu rahasia pada mukanya.
Dalam pada itu perlahan Sim Long mulai menyingkap kain penutup muka orang.
Tapi baru saja tersingkap sedikit, seketika air muka Sim Long berubah, serupa orang yang mendadak dicambuk satu kali, hati bergetar sehingga kempitannya juga kendur.
Kesempatan itu segera digunakan Yu-leng-kiongcu untuk memberosot keluar dan melompat mundur dua-tiga tombak jauhnya, mendadak terjadi letusan disertai berhamburnya kabut merah jambon di depan, secara ajaib tubuh Yu-leng-kiongcu lantas terbenam hilang di tengah kabut tebal.
Kejadian ini sungguh di luar dugaan, sampai Koay-lok-ong juga melenggong.
Terdengar suara Yu-leng-kiongcu berseru di tengah kabut.
"Sim Long, sudah kau lihat wajahku, biji matamu sudah menjadi milikku, cepat atau lambat pasti akan kuambil ... pasti akan kuambil ...."
Suaranya makin menjauh, kabut tebal pun mulai buyar dan secara ajaib Yu-leng-kiongcu pun menghilang.
Dengan sendirinya Ko-jin belum sempat kabur.
Bola matanya berputar mendadak ia tertawa ngikik dan mulai menari dengan gaya menggiurkan.
Kain sari yang menutupi tubuhnya perlahan mulai terbuka mengikuti gaya tarinya sehingga kelihatanlah bahunya yang putih bagai salju.
Ke-16 gadis jelita yang memegang lampion semula berdiri seperti patung di tempatnya, sekarang mendadak mereka pun bergerak, lampion ditaruh, pinggang mulai bergoyang.
Mereka menari dan menyanyi, tidak ada yang tahu lagu apa yang dinyanyikan mereka, nadanya lebih menyerupai orang berdesah dan berkeluh kesah, akan tetapi suara keluhan ini terlebih menggiurkan daripada lagu merdu apa pun.
Suara nyanyian yang menggetar kalbu, gaya tarinya juga membetot sukma.
Kain sari yang dikenakan kawanan gadis jelita itu mulai terbuka selapis demi selapis, di bawah cahaya lampion yang terletak di lantai samar-samar kelihatan paha mereka yang panjang.
Gerak tari mereka mulai berubah, kini bukan lagi gerak tari melainkan semacam gerak erotis yang gila ....
Semua perubahan ini datangnya sangat cepat, hanya dalam sekejap saja medan tempur yang seram tadi telah berubah menjadi surga yang memabukkan.
Asalkan lelaki yang berdarah daging, bila mendengar suara keluh dan desah demikian, kalau tidak terguncang perasaannya tentu orang ini tidak normal, tentu ada penyakit.
Dan sekarang Sim Long seperti punya penyakit.
Terhadap apa yang terpampang di depan mata seolah-olah dipandang tapi tak terlihat.
Ia cuma berdiri tegak di tempatnya dan bergumam seperti orang mengigau.
"Mengapa bisa dia ... mengapa dia ....Ägaknya Koay-lok-ong juga sangat ingin tahu apa yang diucapkan Sim Long, tapi suara Sim Long tenggelam di tengah suara keluh para gadis yang menghanyutkan itu. Suara keluh mereka semakin menggelisahkan, gaya tari mereka pun semakin gila, dahi kawanan gadis itu sama berhias butiran keringat, muka pun merah seperti bara. Koay-lok-ong tampak terbelalak, entah terkesima oleh adegan di depan mata atau lagi termenung, memangnya apa yang dipikirkannya, tentu saja tidak ada yang tahu. Sekonyong-konyong tubuh kawanan gadis itu mengejang, anggota tubuh mereka menggeliat-geliat, lalu gemetar dan roboh di tanah, kulit badan mereka yang halus bergelimang di atas tanah pasir yang kasar seakan-akan ingin merobek tubuh sendiri. Kemudian, mendadak tidak ada yang bergerak lagi, mereka berbaring telentang, dada mereka tampak naik-turun, napas terengah, semuanya tampak lemas, seperti tidak sanggup bergerak pula. Tapi air muka mereka menampilkan semacam perasaan kepuasan yang tuntas, seolah-olah sekarang ini dunia kiamat juga tidak dipedulikan mereka. Sejenak kemudian, perlahan Ko-jin merangkak bangun, dengan siku menahan tubuh ia pandang Koay-lok-ong lalu bertanya dengan napas masih setengah tersengal.
"Ongya, apakah engkau juga ... juga sudah puas?"
"Budak setan!¡ omel Koay-lok-ong dengan tertawa.
"Lekas pergi saja kalian!"
"Oo, Ongya tidak ... tidak menghendaki kami?"
Ko-jin tampak melengak.
"Hahaha, meski kalian merasa gaya kalian sangat memikat, tapi bagi pandanganku kalian tidak lebih cuma serombongan setan cilik yang masih berbau kencur ...."
Ah, ka ... kau ...."
Seru Ko-jin sambil melompat bangun.
"Sudahlah, sia-sia belaka permainan kalian ini,"
Kata Koay-lok-ong dengan tertawa.
"Lekas pakai baju kalian dan pulang saja. Bila datang lagi lain kali hendaknya jangan lupa membawa kain popok."
Muka Ko-jin menjadi merah, cepat ia meraih kain sari untuk menutupi tubuh sendiri, teriaknya dengan gemas.
"Kau ... bangsat tua, engkau bukan ... bukan manusia ...."
Serentak ia membalik tubuh dan berlari pergi.
Kawanan gadis lain juga ikut berlari pergi dengan muka merah.
Koay-lok-ong terbahak-bahak, tiba-tiba ia bertepuk tangan perlahan.
Sesosok bayangan kecil segera menerobos keluar dan memberi sembah hormat.
"Ongya ada perintah apa?"
Perawakan orang ini kecil serupa anak kecil, nyata si manusia mini tukang bagi kartu semalam itu.
Sim Long juga tidak menyangka manusia kerdil ini memiliki Ginkang setinggi ini.
Terdengar Koay-lok-ong lagi berkata, ¡"
Kuntit di belakang mereka, selidiki tempat berkumpul mereka dan cepat memberi laporan lagi!¡"
Manusia kerdil itu mengiakan sambil menghormat.
Mendadak tubuhnya melejit serupa seekor kutu, hanya sekali berkelebat lantas menghilang.
Sim Long menghela napas, diam-diam ia mengakui anak buah Koay-lok-ong memang tidak ada jago rendahan.
Segera ia mendekati Koay-lok-ong, katanya sambil memberi hormat.
"Maaf Ongya bila aku tidak mampu menawan seorang perempuan lemah saja."
Bahwa setan perempuan itu dapat membuat lunak hati Sim-kongcu, tentu kecantikannya sukar dilukiskan, sayang aku tidak sempat melihatnya,"
Kata Koay-lok-ong dengan menyesal.
"Malahan aku harus bersyukur engkau telah menyelamatkan diriku, sungguh entah cara bagaimana harus kubalas kebaikanmu."
Tapi kalau aku tidak ikut turun tangan, saat ini perempuan itu tentu sudah menjadi tawanan Ongya,"
Kata Sim Long.
"Tidak, kalau tidak dicegah olehmu, tentu sudah kuminum araknya dan saat ini mungkin akulah yang menjadi tawanannya."
Sim Long tersenyum.
"Masa Ongya benar-benar tidak tahu di dalam arak beracun?"
Bila kutahu, untuk apa kuminum,"
Kata Koay-lok-ong.
"Ongya sudah angkat cawan, tapi sama sekali tidak tertempel di bibir, apa yang dilakukan Ongya itu apakah bukan sengaja hendak menguji pandanganku?"
Haha, sungguh Sim Long yang hebat, hanya kau yang dapat menyelami isi hatiku,"
Seru Koay-lok-ong dengan tergelak.
Saat itu Tokko Siang yang selalu mendampinginya masih menggeletak di lantai dan tidak diketahui mati-hidupnya, namun sama sekali Koay-lok-ong tidak memandangnya barang sekejap pun.
Ia menarik tangan Sim Long, katanya.
"Pertempuran sudah selesai, sepantasnya kuadakan sekadar pesta untuk menghargai jasamu, marilah boleh kau lihat kawanan si cantik dalam istanaku."
Selir kesayangan Ongya tentu saja semuanya si cantik pilihan, tapi yang paling ingin kutemui sekarang justru adalah seorang lelaki yang bermuka paling buruk."
"Kim Bu-bong maksudmu?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Kiranya Ongya sudah tahu."
Kusangka engkau sudah melupakan dia."
"Sahabat baik mana dapat kulupakan."
Haha, sungguh luar biasa bahwa engkau dan Kim Bu-bong dapat terikat menjadi sahabat, bahkan kau berani mengakui Kim Bu-bong sebagai sahabatmu di depanku, ini lebih membuktikan kesetiaanmu kepada kawan."
"Ongya juga menghargai diriku, mana berani kudusta,"
Kata Sim Long. Koay-lok-ong mengangguk.
"Bagus, bagus! Apakah sekarang juga hendak kau temui dia?"
"Memang sudah cukup lama kutunggu saat seperti ini."
Baik, segera kupanggil keluar dia."
Kembali Koay-lok-ong bertepuk tangan, segera ada orang membawakan sebuah peti kayu cendana kecil, pembawa peti ini tinggi semampai, seorang pemuda gagah, tapi jelas bukan Kim Bu-bong.
Terkesiap hati Sim Long, tanpa terasa agak berubah juga air mukanya.
Dengan hormat pemuda itu mempersembahkan peti itu.
Sambil menepuk peti Koay-lok-ong lantas berkata kepada Sim Long.
"Kau ingin melihat dia, nah, boleh kau buka peti ini."
Sim Long sudah berpengalaman, selama hidup sudah sering menghadapi bahaya apa pun, tapi belum pernah takut seperti sekarang ini.
Dalam sekejap ini kaki dan tangannya terasa dingin seluruhnya.
Jangan-jangan Kim Bu-bong telah mengalami nasib malang?
Mungkinkah isi peti adalah kepala Kim Bu-bong?
Sungguh Sim Long tidak berani memikirkannya.
Peti itu berukuran panjang empat kaki dan lebarnya tidak lebih dari dua kaki, bagian tutupnya diberi gelang bersepuh emas, peti terukir sangat indah.
Waktu tangan Sim Long menyentuh tutup peti yang licin, tanpa terasa agak gemetar.
Padahal dia sanggup angkat benda seberat seribu kati, sekarang peti sekecil ini rasanya sulit untuk dibukanya.
Koay-lok-ong memandangnya dengan dingin, mendadak terembus napas panjang.
Akhirnya peti terbuka juga, Koay-lok-ong yang membukanya.
Tapi peti itu tampak kosong, mana ada kepala manusia segala?
Yang ada tidak lebih sepucuk surat saja.
Sim Long menghela napas lega.
Ia ambil surat itu dan dibaca, surat itu tertulis.
Kaki dan tangan hamba sudah cacat, meski masih ada maksud mengabdi bagi Ongya, namun sudah tidak bertenaga lagi untuk bersetia.
Ongya menganggap hamba sebagai orang kepercayaan, sungguh sayang hamba tidak dapat membalas kebaikan ini dengan jiwa hamba.
Sejak kini hamba mohon diri untuk menjelajahi dunia dan entah akan menetap di mana nanti.
Namun budi yang kuterima dan dendam yang kusimpan tetap takkan kulupakan, kelak bilamana ada kesempatan dan mendapatkan tenaga untuk membalas budi dan menuntut dendam, tentu hamba akan kembali mengabdi di bawah Ongya.
Habis membaca surat itu, Sim Long jadi melongo.
"Keempat duta bawahanku kini sebagian sudah mati, sebagian lagi sudah angkat kaki, sudah habis semua, namun begitu aku tidak perlu menyesal dan tetap gembira, apakah kau tahu apa sebabnya?"
Tanya Koay-lok-ong dengan tergelak.
"Tidak tahu,"
Jawab Sim Long.
"Sebab aku sudah mempunyai dirimu, dengan tenagamu seorang lebih dari cukup untuk menambal kehilangan tenaga keempat duta itu,üjar Koay-lok-ong. Di tengah gelak tertawanya ia gandeng tangan Sim Long dan diajak masuk ke ruangan belakang. Betapa indah tempat tinggal Koay-lok-ong sungguh sukar dilukiskan dengan kata-kata apa pun. Di dalam ruangan ada belasan gadis mahajelita, ada yang berdiri, ada yang duduk setengah berbaring, ada yang asyik bersolek, yang berduduk kelihatan kedua kakinya yang putih mulus. Kawanan gadis jelita itu kaget juga ketika melihat Koay-lok-ong datang membawa seorang pemuda. Mereka sama memandang Sim Long dengan terbelalak seperti pada wajah anak muda itu berbunga. Ada lelaki lain masuk ruangan rahasia ini, hal ini tidak pernah terjadi sebelum ini. Siapakah sesungguhnya pemuda ini? Mengapa Ongya sedemikian menghargai dia, bukan saja membawanya masuk ke ruangan terlarang bagi kaum lelaki itu, bahkan menggandeng tangannya dengan akrab. Mereka pun terkesima oleh senyuman Sim Long yang khas itu, senyuman yang memikat, menyenangkan, tapi juga menggemaskan. ¡"
Hahaha, kukira hanya kaum lelaki saja yang melotot melihat perempuan cantik, kiranya cara orang perempuan melihat pemuda cakap juga sama linglung seperti ini,¡"
Seru Koay-lok-ong dengan tertawa.
Kawanan gadis jelita itu menjadi jengah dan sama menunduk, ada yang tertawa nyekikik, ada yang melirik lagi ke arah Sim Long.
Koay-lok-ong menepuk pundak Sim Long dengan tertawa, katanya.
"Bagaimana pendapatmu mengenai mereka?" ¡ Semuanya secantik bidadari,"
Jawab Sim Long. ¡Pantas Ongya tidak tergiur sama sekali oleh kawanan gadis genit tadi."
Kau suka yang mana, segera kuberikan padamu,"
Kata Koay-lok-ong.
"Hamba tidak berani,"
Sim Long. Koay-lok-ong terbelalak.
"Setiap gadis jelita di sini berani kukatakan jarang ada bandingannya, biarpun selir simpanan raja negeri Tionggoan juga tidak lebih daripada ini. Masa tiada seorang pun kau sukai?"
Cantiknya memang sangat cantik, cuma sayang cantik karena bersolek,üjar Sim Long.
"Wahai Sim Long, tinggi amat penilaianmu,üjar Koay-lok-ong.
"Memangnya kau sangka kecantikan setan perempuan itu benar tidak ada bandingannya di dunia ini?"
Tanyanya kemudian. Sim Long hanya tertawa saja tanpa menjawab.
"Baik, biar kuperlihatkan orang cantik benar-benar di bumi ini,ücap Koay-lok-ong akhirnya.
"Setelah kau lihat dia, jika tetap kau katakan Yu-leng-kui-li itu lebih cantik, anggaplah aku yang kalah."
Segera ia tarik tangan Sim Long lagi dan menambahkan.
"Cuma setelah kau lihat dia, jangan sekali-kali kau jatuh hati padanya. Segala apa dapat kuberikan padamu, hanya dia saja ...."
Mendadak ia menengadah dan tergelak keras, jelas dia sangat gembira dan juga bangga. Sim Long bergumam.
"Semoga dia tidak membuat kukecewa ...."
Di balik ucapannya seperti mengandung makna yang dalam, cuma sayang tidak dirasakan oleh Koay-lok-ong.
***** Di dalam ruangan rahasia itu ternyata masih ada kamar rahasia lagi.
Sim Long ikut Koay-lok-ong menyusur berlapis-lapis tabir, sayup-sayup terdengar celoteh kawanan gadis jelita tadi yang mengomel, mencibir, dan memaki atas sikap angkuh Sim Long.
"Wahai Sim Long, seharusnya jangan kau singgung perasaan mereka, dengan demikian betapa anak perempuan tadi akan kecewa dan berduka,üjar Koay-lok-ong.
"Hamba memang seorang lelaki kasar, mana dapat membandingi Ongya yang pandai membujuk rayu ...."
Sim Long tersenyum.
"Ssst,"
Mendadak Koay-lok-ong mendesis.
"jangan keras-keras, langkahmu juga perlahan sedikit, tubuhnya lemah, tidak tahan terkejut."
Diam-diam Sim Long merasa geli, tak tersangka Koay-lok-ong sedemikian sayang kepada si cantik yang dimaksud. Tiba-tiba terpikir olehnya.
"Tapi apakah dia memang benar orang yang kubayangkan itu?"
Tertampak di ujung sana ada sebuah pintu mungil.
Sudah macam-macam pintu yang pernah dilihat Sim Long, baik pintu terbuat dari kayu atau dari logam, tapi daun pintu ini lain daripada yang lain.
Daun pintu ini terbingkai dari bunga segar, beribu kuntum bunga yang berwarna-warni secara artistik dikarang menjadi satu, sungguh seni merangkai bunga yang bernilai tinggi.
Dua orang genduk cilik tampak berdiri bersenda di depan pintu, ketika melihat Koay-lok-ong muncul, serentak mereka menyembah dan menyapa.
"Pagi benar hari ini Ongya datang kemari!"
Mata kedua genduk itu pun tiada hentinya mengerling Sim Long, meski usianya masih kecil, namun lirikan mata mereka bisa membuat orang semaput.
"Hari ini bukan kedatanganku terlalu pagi, tapi kedatanganku kemarin yang terlalu malam,üjar Koay-lok-ong dengan tertawa.
"Memang,"
Kata si genduk yang sebelah kiri dengan kenes.
"setiap malam Ongya pasti datang menjenguk nona, hanya semalam .... Ai, nona telah menunggu hingga cemas dan Ongya tetap tidak muncul."
Apakah betul dia cemas menunggu kedatanganku?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Masa hamba berdusta, kalau Ongya tidak percaya kepada Eng-ji, silakan tanya kepada Yan-ji,"
Jawab genduk itu sambil melirik kawannya sekejap.
"Betul,"
Segera kawannya, Yan-ji, menukas.
"jelas nona menunggu dengan gelisah, saking tak sabar sampai bunga melati yang menjadi kesayangannya itu diremas-remas."
Dan saat ini apakah nona sudah tidur?"
Desis Koay-lok-ong.
"Baru saja minum setengah mangkuk kuah jinsom, mungkin lagi tidur,"
Jawab Eng-ji.
"Oo ...."
Tertampil rasa kecewa Koay-lok-ong, tapi tampaknya juga tidak berani membangunkan si cantik.
"Saat ini sebaiknya Ongya menunggu sebentar di depan sambil minum teh, sebentar bila nona sudah mendusin segera Eng-ji dan Yan-ji akan memanggil Ongya ke sini."
Jilid 29 Senyum Koay-lok-ong tampak lembut, lenyap perbawanya sebagai seorang gembong penguasa yang malang melintang, dengan suara lirih yang dibuat-buat ia berkata.
"Bagaimana kalau kumasuk ke situ dengan perlahan, akan kulihat dia sekejap saja, boleh?!"
"Jika Ongya ingin masuk, siapa berani melarang,üjar Eng-ji.
"Tapi Ongya kan tahu nona mudah terkejut,"
Tukas Yan-ji.
"Pada waktu nona sedang tidur, siapa pun dilarang mengganggunya. Bukankah Ongya yang memberikan perintah demikian ini."
Wah, lantas ... lantas bagaimana ...."
Koay-lok-ong merasa ragu. Ia berpaling dan berkata kepada Sim Long.
"Tentunya aku tidak boleh melanggar perintah sendiri di depan kawanan budak ini, bukan?"
Betul,"
Kata Sim Long tersenyum.
"Jika ... jika begitu, apakah kita pergi saja?"
Ya, pergi saja,"
Jawab Sim Long.
Tak terpikir olehnya Koay-lok-ong yang biasanya malang melintang itu sekarang tunduk kepada seorang nona, bila nona ini benar orang yang diduganya itu, maka caranya dia mengatasi Koay-lok-ong sungguh jauh di luar perkiraannya.
Baru saja Koay-lok-ong membalik tubuh, tiba-tiba dari dalam berkumandang suara lembut bertanya.
"Apakah Ongya yang datang?"
Seketika Koay-lok-ong berseri-seri, tapi di mulut ia menjawab.
"Tidurlah, boleh kau tidur saja!Ëng-ji mencibir dan mendesis.
"Jelas bikin orang terjaga bangun, tapi malah suruh orang tidur."
Koay-lok-ong berlagak tidak mendengar, serunya pula.
"Biarlah kudatang sebentar lagi."
Jika sudah datang, kenapa Ongya tidak masuk kemari,"
Kata suara lembut di dalam itu dengan tertawa.
"Jika masuk ke situ kan tambah mengganggu tidurmu?üjar Koay-lok-ong.
"Jika Ongya datang kemari, biarpun hamba tidak tidur beberapa hari juga tidak menjadi soal,üjar suara halus itu. Suaranya begitu lembut, begitu hangat, begitu indah, bahkan nadanya membawa semacam rasa yang menggetar hati dan menimbulkan kasih sayang orang. Mendengar suara itu, seketika mata Sim Long terbeliak. Dengan tertawa Koay-lok-ong berkata.
"Jika demikian, baiklah kumasuk ke situ, cuma ... di sini masih ada seorang tamu yang juga ingin berkenalan denganmu, apakah kau suka menemuinya?"
Jika Ongya membawanya ke sini, tentu dia seorang tokoh luar biasa, kalau hamba dapat bertemu dengan tokoh demikian tentu saja sangat bahagia,"
Jawab suara lembut itu. Koay-lok-ong menarik lengan baju Sim Long dan mendesis.
"Coba dengar, betapa manis mulutnya itu."
Memang hebat,üjar Sim Long tersenyum. Segera Eng-ji dan Yan-ji membukakan pintu dan berucap.
"Silakan Ongya!"
Di balik pintu ternyata merupakan dunia yang lain, dunia bunga.
Dalam ruangan di mana-mana hanya bunga belaka dan hampir tidak tertampak barang lain.
Beribu tangkai bunga menciptakan sebuah surga yang memesona.
Di tengah lautan bunga yang berwarna-warni berbaring setengah bersandar seorang perempuan mahacantik berbaju putih seperti salju dengan rambut panjang terurai, alisnya lentik, matanya jeli, muka ayu tanpa berpupur.
Kumpulan bunga sejagat ini ternyata tidak dapat membandingi kecantikannya.
Melihat dia, jantung Sim Long berdebar dengan keras.
Si dia ternyata benar orang yang diduga oleh Sim Long itu.
Dia bukan lain adalah Pek Fifi yang sudah lama tiada kabar beritanya.
Kerlingan mata Pek Fifi yang lembut itu berputar sekejap pada wajah Sim Long, hanya kerlingan sekejap itu saja sudah jauh melebihi beribu kata.
Kerlingan mata yang indah itu serupa ingin menumpahkan rasa menyesal, rasa girang, rasa minta maaf dan juga seperti rasa dongkol, tapi lebih mirip juga rasa cinta yang tak terhingga ....
Namun di mulut nona itu berkata lembut.
"Maaf, bila hamba tidak kuat berdiri menyambut kedatangan Ongya."
Berbaring saja ... biar tetap berbaring saja,"
Kata Koay-lok-ong. Lalu ia menarik Sim Long ke depan dan berucap pula dengan tertawa.
"Ini Sim-kongcu, dia sangat ingin menemuimu."
Dalam sekejap itu timbul juga berbagai pikiran dalam benak Sim Long.
Apakah Koay-lok-ong memang tidak tahu Fifi kenal padanya?
Apakah si dia sengaja berlagak tidak mengenalnya?
Apakah aku juga mesti pura-pura tidak kenal dia?
Meski biasanya Sim Long dapat mengambil sesuatu keputusan dengan cepat dan tepat, tapi dalam sekejap ini ia menjadi bingung, sebab ia tahu di depan Koay-lok-ong tidak boleh berbuat salah satu langkah pun.
Didengarnya Pek Fifi lagi menghela napas dan berkata.
"Sudah jelas Ongya mengetahui hamba kenal Sim-kongcu, mengapa engkau sengaja bicara demikian?"
Koay-lok-ong menepuk dahi sendiri dan berseru.
"Ahh, kiranya Sim-kongcu yang pernah kau singgung itu ialah Sim-kongcu yang ini?!"
Fifi tertawa lembut.
"Tempo hari selagi hamba terlunta-lunta di dunia Kangouw, kalau tidak berulang-ulang mendapat pertolongan Sim-kongcu ini, mungkin ... mungkin hamba tidak dapat melayani Ongya seperti sekarang ini."
Wah, jika begitu, rasanya aku harus berterima kasih kepadanya,üjar Koay-lok-ong tertawa.
"Ah, mana kuberani,ücap Sim Long.
"Sungguh hamba sangat senang bahwa Sim-kongcu hari ini dapat berkunjung ke sini,"
Kata Fifi.
"Biarlah kuberi tahukan padamu, saat ini dia dan kita sudah merupakan orang sekeluarga sendiri,"
Tutur Koay-lok-ong.
"Hah, apa ... apa betul?"
Seru Fifi, tampaknya sangat senang.
"Masa tidak betul?"
Kata Koay-lok-ong.
"Biarpun aku berdusta kepada orang sejagat juga takkan berdusta kepadamu."
Wah, sungguh peristiwa menggembirakan, betapa pun hamba harus memberi selamat kepada kalian untuk minum secawan,"
Seru Fifi sambil meronta untuk turun dari tempat tidur lautan bunga itu. Cepat Koay-lok-ong memburu maju untuk memegangnya.
"Eh, jangan melelahkan diri, bila aku ingin minum arak tentu dapat kuminta dilayani orang lain."
Ongya jangan khawatir, saat ini hamba sudah sehat,üjar Fifi.
"Apalagi, pada saat kedua tokoh besar zaman ini bertemu, kalau hamba tidak dapat menyuguhkan arak sendiri kepada kalian, tentu aku akan menyesal selama hidup."
Perlahan ia melepaskan pegangan Koay-lok-ong dan berjalan keluar dengan lemah gemulai. Memandangi bayangan punggung si dia, Koay-lok-ong berucap dengan gegetun.
"Dia baik dalam segala hal, hanya kesehatannya yang kurang."
Lalu ia berpaling dan tanya Sim Long.
"Bagaimana pendapatmu?"
Sim Long tersenyum, tapi sengaja menghela napas dan berkata.
"Jika si dia sudah ada yang punya, apa yang dapat kukatakan lagi."
Wahai Sim Long, apakah engkau cemburu padaku?"
Tanya Koay-lok-ong sambil mengelus jenggotnya. Sim Long tertawa.
"Bukankah Ongya justru berharap agar orang she Sim cemburu padamu?"
Hahaha,"
Koay-lok-ong tertawa keras.
"Kemampuan Sim Long sungguh sukar ditandingi seribu orang, ketajaman mulut Sim Long juga sukar dilawan, bilamana aku disuruh memilih satu di antara Sim Long dan Pek Fifi, maka aku lebih suka memilih Sim Long."
Terima kasih,"
Kata Sim Long sambil menjura. Mendadak Koay-lok-ong berhenti tertawa, ditepuknya pundak Sim Long dan berkata.
"Bagus, hari ini kita harus minum sampai mabuk."
Dalam pada itu Pek Fifi tampak muncul lagi dengan gemulai serupa dewi kahyangan.
Yan-ji dan Eng-ji mengikut di belakangnya, yang seorang membawa talam berisi santapan dan yang lain membawa poci arak dengan piala emas.
"Tiada sesuatu yang dapat kusuguhkan kepada Sim-kongcu, hanya arak yang hamba suling sendiri ini biasanya dipuji Ongya sebagai lumayan rasanya, mungkin dapat sekadar memenuhi selera Kongcu,"
Demikian Pek Fifi bertutur dengan tersenyum manis.
"Ongya adalah ahli penilai, bila Ongya bilang baik, apa pula yang perlu disangsikan lagi?üjar Sim Long dengan tertawa. Belum habis ucapannya, Yan-ji yang membawa poci arak mendadak menjerit kaget, entah kesandung apa, mendadak tubuhnya mendoyong ke arahnya. Cepat Sim Long menahannya, ketika tangan bersentuh tangan, dirasakan Yan-ji menyisipkan secarik kertas kepadanya. Diam-diam Sim Long terima kertas itu, seperti tidak terjadi sesuatu ia berseru.
"Hati-hati!"
Koay-lok-ong mengomel.
"Budak kurang ajar! Kau jatuh tak menjadi soal, bila bikin kotor baju Sim-kongcu dan menumpahkan arak buatan nona, itulah yang sayang ...."
Untung tidak tumpah,"
Tukas Fifi.
Segera ia mengangkat poci arak dan menuangkan Koay-lok-ong secawan, seketika lenyap rasa dongkol Koay-lok-ong.
Setelah minum secawan, segera Sim Long merasakan arak itu memang sedap, tapi juga keras.
Nyata arak campuran dari beberapa jenis yang berlainan kadarnya, begitu masuk perut, seketika isi perut seperti mau berontak, bila tidak biasa minum arak, mungkin dalam sekejap bisa menggeletak.
Diam-diam Sim Long waspada, habis menenggak secawan, seterusnya ia hanya berkecup sekadarnya saja.
Sebaliknya Koay-lok-ong menenggak sepuasnya, setiap cawan yang dipenuhi Fifi pasti dihabiskannya.
Meski dia seorang luar biasa juga mempunyai kelemahan manusia.
Yaitu gemar arak dan perempuan.
Orang hidup memangnya ada berapa orang yang mampu terhindar dari godaan perempuan dan arak?
Maka akhirnya Koay-lok-ong pun mabuk.
Meski belum lagi roboh, namun sinar matanya sudah buram, kaku.
Sim Long berlagak memegangi kepalanya dan berkata.
"Cayhe tidak tahan minum lebih banyak lagi, ingin mohon diri saja."
Masa sudah mabuk?"
Tanya Koay-lok-ong.
"Dengan sendirinya Ongya tidak mabuk, Cayhe yang tidak tahan lagi,"
Kata Sim Long. Koay-lok-ong bergelak tertawa.
"Wahai Sim Long, tampaknya engkau selisih jauh denganku, baru saja minum secawan sudah tak tahan .... Jangan, jangan pergi dulu, ayo minum lagi secawan, tidak ... minum sepuluh cawan lagi!"
Habis itu kembali ia menuang dan menenggak pula.
Dia meski seorang tokoh besar, seorang gembong, tapi pada waktu mabuk keadaannya tidak berbeda dengan kuli di tepi jalan.
Tertampak sebentar dia bernyanyi, sebentar mengetuk meja dengan sumpit, lalu terbahak-bahak dan akhirnya mendekap di atas meja sambil bergumam.
"O, Fifi, mengapa ... mengapa kau suruh kutunggu melulu, aku ... aku tidak mau menunggu lagi, malam ini juga ... malam ini juga aku tidur di sini."
Sim Long melirik Fifi sekejap, berada di sarang harimau, anak perempuan ini ternyata dapat mempertahankan kesuciannya dan belum lagi tercemar oleh Koay-lok-ong.
Sungguh hati Sim Long entah bergirang atau kagum.
Fifi juga sedang menatapnya dengan sinar mata yang lembut penuh perasaan yang sukar diuraikan.
Dia seperti hendak bilang.
"Apakah kau tahu, semua itu kupertahankan bagimu."
Keduanya hanya saling pandang sekejap saja dan seperti sudah paham isi hati masing-masing. Lalu Fifi melirik Koay-lok-ong sekejap dengan tersenyum. Sim Long mengangguk dan berbangkit, katanya.
"Kumohon diri saja sekarang, bila Ongya siuman nanti, katakan saja Sim Long mabuk."
Jangan, jangan pergi, minum lagi tiga cawan!"
Seru Koay-lok-ong dengan mata setengah terpejam sambil meraih baju Sim Long.
Perlahan Sim Long melepaskan tangan orang dan melangkah keluar, didengarnya Koay-lok-ong masih bergumam sendiri, namun suaranya sudah tak jelas.
Yan-ji berdiri di depan pintu, ucapnya dengan tersenyum.
"Biar Yan-ji membawa Kongcu keluar."
Sim Long mengucap terima kasih. Dengan langkah gemulai Yan-ji berjalan ke depan, ia menoleh dan tertawa, katanya.
"Sim-kongcu sungguh baik hati dan sopan, pantas nona kami ...."
Segera ia mendekap mulut dengan tertawa dan mendahului berlari keluar.
Setelah kembali di rumah depan tadi, kawanan gadis jelita itu sebagian sudah tidur, sebagian sedang bersolek, ada yang lagi menggosok betis, ada yang asyik memotong kuku dan ada juga yang mengecat kuku dengan getah bunga mawar.
Mereka terus menuju ke depan, di halaman sana suasana tenang, pepohonan menghijau permai di bawah sinar matahari yang gilang-gemilang, rasa seram semalam sudah sama sekali tanpa bekas.
Tokko Siang juga tidak kelihatan lagi, jika dia belum mati, tentu dia sangat berduka.
Tiba-tiba Sim Long berkata.
"Kukira nona tidak perlu mengantar lebih jauh lagi."
Yan-ji tersenyum, segera ia membalik tubuh dan berlari kembali ke sana, tapi baru beberapa langkah mendadak ia berpaling dan berseru dengan suara tertahan.
"Hei ...."
Lalu ia menuding tangan Sim Long dan menuding pula tangan sendiri.
Sim Long tahu maksudnya, ia mengangguk.
Perlahan ia melangkah keluar dari taman yang sejuk itu, meski bersusah payah semalam suntuk, namun rasanya cukup berharga.
Akhirnya dia mendapatkan kemenangan, yaitu memperoleh kepercayaan Koay-lok-ong.
Ia berjalan di bawah cahaya sang surya yang menyinari pertamanan itu, sekujur badan penuh gairah hidup, keletihan dalam pertempuran semalam sama sekali tidak terasakan lagi.
Ia yakin apa pun yang akan terjadi mampu dihadapinya.
Meski di dalam hati masih dirasakan ada beberapa hal yang belum lagi dimengerti, tapi lantas dikeluarkannya secarik kertas yang disimpannya tadi, ia tahu segala apa tentu akan mendapatkan penjelasan dari situ ....
***** Begitu dia melangkah masuk, segera Ci-hiang merangkulnya dengan mesra.
Rambut Ci-hiang tampak kusut, pakaiannya tidak rapi, matanya juga penuh garis merah, seperti semalam suntuk tidak tidur.
Begitu memeluk Sim Long, dengan suara agak gemetar ia berkeluh.
"O, akhirnya engkau pulang juga. Syukur engkau tidak beralangan apa pun."
Setelah menghela napas lega lalu ia berkata pula.
"Ai, seharusnya kau memberi kabar sekadarnya, kau tahu betapa kukhawatir bagimu, semalam suntuk aku tidak dapat tidur."
Sekarang boleh kau tidur saja,"
Kata Sim Long. Ci-hiang meliriknya penuh arti.
"Dan kau?"
"Rasanya aku seperti dilahirkan tidak boleh tidur,üjar Sim Long.
"Engkau tidak tidur, aku pun tidak tidur."
Memangnya engkau tidak pernah tidur sebelum kenal diriku?"
"Ai, dasar lelaki tidak punya perasaan!ömel Ci-hiang sambil menggigit kuduk Sim Long. Sambil meraba kuduknya, Sim Long meringis kesakitan. Kecuali meringis, apa yang dapat diperbuatnya. Sim Long menuang secangkir teh, selagi hendak diminum, mendadak ia membalik tubuh dan menarik pintu. Benar juga, seperti pencuri saja kembali Jun-kiau berdiri di depan pintu, tentu saja ia kaget. Rambutnya juga kelihatan kusut dan matanya merah, agaknya juga semalam suntuk kurang tidur.
"Ada apa?"
Tanya Sim Long dengan mendelik.
"O, ti ... tidak apa-apa, hanya ingin kutanya apakah ... apakah Kongcu baik-baik saja,"
Jawab Jun-kiau dengan gelagapan.
"Memangnya kau pun khawatir aku disembelih Koay-lok-ong?"
Tanya Sim Long.
"O, tidak, hanya ... hanya hatiku tidak tenteram, maka ...."
Mendadak Ci-hiang memburu maju ke depan Jun-kiau dan membentak.
"Apabila lain kali kau berani lagi mengintip atau mencuri dengar, bisa kupotong hidungmu atau kucungkil matamu, bahkan akan kuberi tahukan kepada Li Ting-liong tentang hubunganmu dengan lelaki lain ...."
Muka Jun-kiau tampak pucat.
"Ya, ya, lain kali tidak berani lagi."
Segera ia berlari pergi tanpa berpaling.
"Nanti dulu!"
Bentak Sim Long mendadak. Tergetar tubuh Jun-kiau.
"Kongcu ada ... ada pesan apa lagi?"
Lekas suruh mengantarkan sarapan pagi, buatkan santapan yang paling enak dan ditambah sebiji semangka Hami yang paling manis. Aku tidak ingin yang lain, hanya ingin sarapan pagi sekenyangnya."
Tidak lama kemudian hidangan yang diminta sudah tersedia di depan Sim Long.
Memang hidangan pilihan, terutama semangka Hami yang diminta, manisnya seperti madu.
Sim Long sarapan dengan tenang, di belakangnya terdengar suara napas Ci-hiang yang berat, nona itu akhirnya tertidur juga.
Habis sarapan, Sim Long merebahkan diri juga, ia memejamkan mata sambil mengingat kembali tulisan pada surat yang diterima dari Yan-ji itu, isinya berbunyi.
Baca Juga: Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 16
Baca Juga: Pusaka Pedang Embun 6