Eps 6 Pusaka Pedang Embun - Sin Liong
Baca online Pusaka Pedang Embun - Sin Liong
Cersil Pusaka Pedang Embun - Sin Liong.
Si monyet merah dengan gerakan-gerakan tangannya memerintahkan Liong Houw segera meninggalkan ruangan itu dengan membawa kitab tersebut.
Gerakan-gerakan itu sudah dimengerti oleh Liong Houw maka ia segera membalas dengan gerakan tangan pula sambil menganggukkan kepalanya.
Si monyet merah yang menyaksikan sang kawan mengerti maksudnya, ia melangkah kearah lubang dibawah batu tempat orang tua tadi duduk bersila, ia segera memetik bunga yang menimbulkan bau harum itu, bunga itu diletakkan di telapak tangannya, kemudian ia duduk bersila dibawah batu dimuka mayat beku orangtua tadi.
Cluppp…….
Bunga yang mengeluarkan bau harum ditelan oleh si monyet merah.
Menampak kelakuan monyet merah itu hati Liong Houw heran bukan kepalang.
Tapi rasa heran itu hanya sebentar saja, karena kemudian disusul dengan rasa terkejut yang tidak kepalang.
Tubuh si monyet merah setelah menelan bunga tadi tetap duduk bersila, tubuhnya tergetar sebentar, kemudian matanya meram duduk tak bergerak.
Liong Houw dengan mata mendelong memperhatikan perobahan-perobahan yang terjadi pada tubuh si monyet merah.
Lama ia perhatikan tubuh monyet itu tapi lama pula tak ada gerakan.
Kaki Liong Houw mendadak bergerak maju, tanpa ia sadari tangannya menyentuh tubuh monyet itu.
Haaaaaaaa !
Tubuh monyet merah sudah membeku menjadi patung, ia duduk bersila dibawah patung orang tua berjenggot.
Ternyata bunga yang menimbulkan bau harum itu adalah bunga kematian !
Dengan menelan bunga tadi, tubuh manusia atau machluk apapun akan segera membeku menjadi patung untuk selama-lamanya.
Tanpa disadari Liong Houw melelehkan air mata.
Ia jatuh duduk menumprah dimuka patung monyet merah dan patung orang tua.
ooodwooo Waktu berjalan sangat cepat, setahun sudah Liong Houw menetap didalam lembah air terjun melatih ilmu semedhi yang aneh luar biasa, setiap latihan dilakukan didalam kurungan air terjun.
Kadang kala, pikirannya teringat kepada si monyet merah dan patung si orang tua yang didalam goa batu yang kini telah tertutup dalam goa dibawah tanah.
Air matanya menetes keluar.
Orang tua yang kini sudah menjadi patung, tidak meninggalkan nama maupun asal usulnya, ia hanya meninggalkan ilmu-ilmu yang diturunkannya didalam kitab kulit.
Betapa besar budi pekerti si orang tua, ia tidak mementingkan nama besar, tidak menyebut-nyebut namanya didalam kitab itu maupun di dinding goa, tiga hari Liong Houw menyelidiki keadaan dinding-dinding goa didalam air terjun tapi ia tidak pernah menemukan tulisan yang menyebutkan nama si orang tua, bahkan ilmu yang ditinggalkannya pun tidak disebut ilmu apakah itu, semua diturunkan melalui lukisan-lukisan gerak gambar manusia.
Selembar demi selembar semua pelajaran ilmu bersemedhi ia latih, akhirnya sampai pada lukisan yang terakhir, dimana ia melakukan latihan bersemedhi didalam lembah air terjun.
Sebagaimana biasa setiap hari, begitu matahari terbit Liong Houw merendam dirinya didalam kurungan air terjun hingga sampai pada matahari terbenam.
Segala macam posisi gerak yang tertera dalam kitab kulit itu telah berhasil ia latih dengan baik meskipun pada mulanya mengalami banyak kesulitan-kesulitan, kini ia melakukan gerak posisi yang terakhir.
Tampak semedhi yang terakhir ini lebih mudah dari pada apa yang pernah ia lakukan, kalau pada latihan-latihan yang lalu ia mengalami kesulitankesulitan karena harus mengikuti cara-cara yang rumit, dengan kepala ke bawah ditunjang sebagai kaki, sedang kaki diluruskan keatas, atau dengan sebelah tangan sebagai kaki, sedang kaki lurus ke atas, serta beberapa puluh macam gerak yang sulit-sulit.
Tapi pada semedhi terakhir ini, nampak mudah dan ringan sekali.
Tubuh Liong Houw hanya menelentang diatas batu, membujur lurus sedang kedua tangannya diluruskan, matanya meram seperti tidur pulas, napasnya turun naik teratur.
Ketika sang surya telah berada tepat di tengahtengah langit, tubuh Liong Houw masih telentang membujur ditimpa kurungan air terjun yang menggelugur turun dari puncak gunung.
Kembali matahari doyong kebarat, tubuh Liong Houw masih tetap menelentang, gelappun tiba, tubuh itu masih tetap tidak bergerak.
Sampai keesokan harinya, matahari terbit kembali, didalam lembah air terjun itu tidak terdengar suara bunyi kicau burung, hanya suara gemuruhnya air terjun yang menggema isi lembah.
Tubuh Liong Houw masih menelentang didalam kurungan air terjun.
Kembali matahari bergeser ketengah langit biru, tubuh itu masih tetap menelentang, tak tampak gerakan apapun hanya napas Liong Houw yang turun naik dengan teratur sedang sepasang matanya tetap meram.
Tiba-tiba air terjun yang mengalir turun ke danau kini tampak berwarna merah.
Darah!
Darah itu mengalir keluar dari bagianbagian tubuh Liong Houw, dari telinga, hidung, mata, mulut mengalirkan darah merah terbawa air mengalir kedanau.
Kejadian itu tampak menyeramkan, entah apa yang telah terjadi dalam diri Liong Houw, sedang Liong Houw sendiri masih tetap telentang dengan napas turun naik teratur.
Ketika matahari doyong kembali kebarat darahdarah yang mengalir dari bagian-bagian tubuh Liong Houw telah lenyap, mata Liong Houw tampak terbuka lebar, ia menatap air yang turun menimpa biji matanya, mulut si pemuda tersungging senyum.
Perobahan apakah yang telah terjadi pada diri Liong Houw ?
Ternyata dalam kitab pelajaran semedhinya yang hanya tertera lukisan-lukisan posisi gerak orang bersemedi, pada lembar terakhir dimana terdapat sebaris tulisan yang menerangkan bahwa pelajaran semedhinya itu sudah hampir berakhir.
Jalan-jalan darah yang menghubungkan Im dan Yang ditubuhnya telah terbuka, dengan terbukanya jalan darah urat nadi besarnya Jin dan Tok.
Kini ia harus melakukan semedhi yang terakhir, semedhi mana harus dilakukan sampai pada bagian tubuhnya mengeluarkan darah.
Dengan bagianbagian tubuh itu mengeluarkan darah, maka pecahlah urat-urat darah yang mengganggu jalan pernapasannya didalam air, hingga kini ia telah menjadi seorang manusia amphibi.
Maka dengan berakhirnya latihan itu berakhir pulalah pantangannya terhadap segala jenis makanan.
Didalam keterangan di lembar akhir kitab itu juga tidak terdapat apa nama ilmu yang ia latih dan siapa penciptanya.
Kembali keadaan lembah air terjun itu menjadi gelap, tubuh Liong Houw meletik bangun, ia keluar dari kurungan air terjun, melesat menuju goa didalam pulau di tengah danau.
Malam berganti pagi.
Setelah tiga tahun melatih diri didalam lembah air terjun, kembali Liong Houw mengembara didalam rimba persilatan, ia mencari jejak ayahnya menyelidiki sebab musabab lenyapnya kedua orang tuanya, lebih-lebih tentang keadaan dirinya yang sangat misterius semenjak bayi telah terkurung didalam air terjun, hidup bersama si monyet merah.
Ooow‟dooO Pat-hong-cip adalah satu tempat yang terpisah hanya beberapa belas lie lebih dari Go-kong-nia.
Diatas jalan yang menuju Pat-hong-ciep dari jauh tampak abu mengepul ke udara, diiringi dengan suara derap langkah kaki kuda yang dilarikan sangat kencang sekali.
Tambah lama tampak jelas raut wajah sipenunggang kuda, itulah seorang gadis jelita dengan rambut dikepang dua, mengenakan pakaian sutera putih, dibelakang gegernya tampak sebilah pedang berukiran kepala macan-macanan.
Menilik ciri khas gagang pedang berukir, kepala macan-macanan itu kita sudah bisa menebak dengan jitu siapa dianya.
Lie Eng Eng dengan melarikan kuda putihnya memasuki Pat-hong ciep, tiba dimuka sebuah rumah makan kecil dikampung itu Lie Eng Eng menambatkan kudanta di muka rumah makan, ia melangkah masuk mencari meja kosong lalu duduk disana.
Seorang laki-laki tua yang menjadi pemilik rumah makan juga merangkap pelayan menghampiri meja dimana Lie Eng Eng duduk.
"Nona, mau makan hidangan apa?"
Tanya orang tua itu serak tapi sopan.
"Aaaaa......... apa sajalah, asal mengenyangkan perut."
Jawab Lie Eng tersenyum manis. bisa Eng Si pelayan meninggalkan meja setelah sedikit membungkuk, kemudian kembali dengan senampan hidangan, katanya .
"Nona, melihat debu-debu yang mengotori pakaian nona, tentunya nona datang dari tempat jauh." "Hmmm, apakah tempat ini dekat dengan Gokong-nia ?"
Tanya Lie Eng Eng sambil menyambuti makanan yang dibawakan si orang tua pelayan.
"Go-kong-nia dari sini hanya tinggal beberapa belas lie saja, ada keperluan apakah nona ?"
"Lopek,"
Kata lagi Lie Eng Eng.
"Menurut kabar angin, bahwa diatas bukit Go-kong-nia didiami oleh kawanan berandal ?"
"Menurut pengetahuanku yang rendah, tidak terdapat kawanan penjahat dibukit itu,"
Berkata si orang tua pelayan rumah makan.
"Hanya pada bulan yang tertentu dari atas bukit ada juga orang yang datang kemari, mereka datang untuk membeli barang-barang untuk bekal keperluan hidup sehari-hari, tapi sejauh itu mereka tahu aturan dan tingkah laku mereka baik, juga setiap membeli barang-barang selalu dibayarnya dengan tertib, tak kurang sesenpun, sedikitpun tak tampak hal-hal yang mencurigakan kalau mereka itu adalah kawanan berandal."
"Hm, kalau begitu mereka melakukan kejahatan kejahatan ditempat-tempat yang jauh, begitu banyak berita setiap kejahatan selalu dilakukan oleh anggota berandal Go-kong-nia, pasti mereka mempunyai seorang pimpinan yang pandai mengatur siasat, dengan demikian, setiap raja gunung yang menjadi anggota berandal Go-kongnia akan selamat kediaman mereka, sedang orangorang akan mencari jejak markas berandal dibukit Go-kong-nia, tapi setelah menyelidiki, ternyata dibukit itu tak ada tanda-tanda yang mencurigakan, sungguh suatu politik berandal yang tinggi."
Si pelayan rumah makan mengangguk, rupanya ia tertarik dengan pembicaraan Lie Eng Eng, lalu duduk dikursi didepan kanan dan berkata .
"Mungkin ! Karena sering kali orang-orang Kangouw dari tempat jauh-jauh datang kemari untuk menyelidiki bukit tersebut, tapi sekian banyak mereka tidak menemukan bukti-bukti yang meyakinkan. Juga menurut kabar dibagian selatan bukit itu kira-kira 7-8 lie jauhnya disana terdapat satu perkampungan bangsa Biauw dan Yauw yang berjumlah ratusan ribu orang, dan kudengar yang menjadi kepala bukit Go-kong-nia bernama Cie Tay Peng, kudengar mereka juga berhubungan baik dengan kedua suku bangsa itu, bilamana suku bangsa Biauw dan Yauw mengalami penderitaan, sering kali Cie Tay Peng turun tangan memberikan bantuan, kukira bila betul Cie Tay Peng itu adalah ketua berandal Go-kong-nia juga sangat sulit untuk membasmi mereka, jelas mereka mendapat bantuan tenaga dari suku bangsa Biauw dan Yauw yang seringkali menerima budi Cie Tay Peng."
"Hmm, kalau begitu tidak salah Cie Tay Peng bercokol disana dan terbukti nama itu sesuai dengan orang yang kucari, tidak perduli mereka memiliki pasukan berapa ratus ribu, aku harus membunuh bangsat itu !"
Kata Lie Eng Eng sambil gertak gigi.
Setelah sang batara surya silam dibarat Lie Eng Eng memberesi rekening makanan, ia melanjutkan pula perjalanannya kejurusan Go-kong-nia.
Ketika kentrongan dipukul satu kali, Lie Eng Eng telah tiba di Go-kong-nia di jalan bagian timur.
Karena jalan mulai mendaki, Lie Eng Eng menambatkan kudanya ditempat yang penuh rumput-rumput hijau, dengan berjalan kaki ia mendaki bukit Go-kong-nia dimana terdapat pesanggrahan.
Setelah berjalan kira-kira setengah lie jauhnya, telinga Lie Eng Eng yang tajam mendengar suara orang yang sedang berbicara, maka cepat-cepat ia sembunyi dibalik semak-semak belukar.
Mata Lie Eng Eng dipentang lebar, kini tampak dibagian depan dua sosok bayangan hitam sedang berjalan menuruni bukit, seorang bertubuh gemuk dan seorang lagi bertubuh tinggi kurus, salah seorang yang bertubuh pendek gemuk berkata .
"Malam ini ada perobahan kode, karena pada beberapa hari ini sering tampak orang asing menyelidiki pesanggrahan maka kode yang tadinya berhuruf Thian (langit) dirubah menjadi Tek Sian (dapat kemenangan) ! Nah! Kau jagalah baik-baik posmu, jangan kau ngantuk, agar jangan sampai Go-kong-nia kemasukan mata-mata musuh."
"Jangan kuatir, akan kulakukan tugasku dengan baik !"
Berkata orang tinggi kurus.
Setelah berkata begitu mereka lalu pergi turun kesebelah bawah bukit.
Baru saja Lie Eng Eng hendak keluar dari dalam semak-semak, tiba-tiba muncul kembali 6 orang yang juga pada turun kebawah bukit.
d~w SETELAH menunggu sampai orang-orang itu berlalu jauh, barulah Lie Eng Eng keluar dari tempat persembunyiannya, dengan tenang ia lalu berjalan menuju keatas bukit.
Tak lama berjalan Lie Eng Eng tiba dimuka pos penjagaan yang pertama yang dibangun ditepi lamping gunung yang sangat berbahaya, disekeliling pos itu dipagari dengan pagar bambu setinggi 15 kaki lebih, disana tampak sebuah pintu yang terjaga oleh seorang penjaga malam dengan mengenakan pakaian ringkas berwarna hitam.
Sipenjaga begitu menampak dibawah bukit ada gerakan orang, cepat-cepat ia berteriak .
"Kode....."
"Tek-sin !"
Jawab Lie Eng Eng tenang.
Mendengar jawaban kode yang tepat, si penjaga menganggap itulah kawannya yang baru mau naik bukit, maka ia tidak bicara apa lagi, juga tidak melakukan pemeriksaan.
Tiba dipos penjagaan yang kedua disana terdapat 9 orang penjaga malam, setelah menanyakan kode dan dijawab dengan tepat maka Lie Eng Eng bisa meneruskan perjalanannya menaiki keatas bukit yang lebih tinggi.
Melewati pintu penjagaan yang ketiga disana tidak ada pertanyaan apapun karena mereka mengetahui bahwa pos pertama dan kedua telah mencek tentang kodenya, lebih-lebih keadaan disitu sangat gelap, maka memudahkan gerak Lie Eng Eng.
Setelah melewati pos penjagaan yang ketiga, dimuka terdapat berderet-deret bangunan rumah yang nampak hitam gelap, samar-samar tampak salah satu bangunan terdapat yang berloteng, dari celah lubang-lubang jendela tampak menyorot sinar lampu.
Suara kentongan dari para peronda terdengar tanpa henti-hentinya, tampak beberapa puluh teng berwarna merah yang dibawa oleh tukang ronda itu bergerak-gerak memasuki semak-semak belukar laksana setan api yang gentayangan ditengah malam buta.
Disebelah timur utara tampak sebuah rumah berloteng dengan tiga tingkatan, disebelah selatan pintu besar tertampak sebuah menara yang mempunyai tujuh tingkat, sedang dibagian pinggir bangunan terdapat sebuah jalan kecil yang menuju kearah barat.
"Bilamana aku dengan terang-terangan memasuki pesanggrahan, pasti akan diketahui mereka dan gagallah rencanaku,"
Demikian pikir Lie Eng Eng.
"Maka sebaiknya aku masuk dari belakang pesanggrahan secara menggelap."
Setelah berpikir begitu, Lie Eng Eng lalu mencabut pedang Ang-lo-po-kiamnya yang terselip dibelakang gegernya, lalu digantungkan di pinggang, agar mudah bila mendapat serangan yang mendadak.
Selanjutnya ia berjalan menuju ke jalan yang menuju kebelakang pesanggrahan dengan mengikuti gerakan-gerakan tukang ronda.
Tak lama kemudian ia tiba dibelakang pesanggrahan tanpa diketahui oleh siapa pun juga.
Dari sana, ia memandang kearah rumah-rumah pendek yang mengelilingi ruangan besar dan rumah berloteng yang terletak disebelah timur.
Dengan ringan Lie Eng Eng lompat keatas genteng rumah, lalu berjalan diatas genteng.
Dari atas genteng Lie Eng Eng melihat di dalam ruangan tengah terdapat banyak orang yang simpang siur pergi datang, diruangan sebelah barat tampak beberapa orang laki-laki sedang makan malam.
Diruangan besar tampak menyorot sinar lilin dan lampu-lampu yang terang benderang sehingga keadaan dalam ruangan itu seperti juga siang hari.
Didalam ruangan itu banyak orang yang sedang makan minum.
Ketika Lie Eng Eng mengangkat kepala memandang ke jurusan ruangan tengah, tiba-tiba matanya menampak satu bayangan hitam yang berkelebat cepat, ia mengetahui bahwa diatas tentu ada orang yang melakukan penjagaan, maka dengan cepat ia lompat turun dan terus masuk kedalam kebun.
Tapi baru saja ia tiba didalam kebun bunga tibatiba berkelebat dua bayangan hitam yang membentak;
"Berhenti !"
Mengetahui bahwa orang-orang dalam pesanggrahan kenal satu sama lain, lebih-lebih dalam keadaan remang terang hingga mudah tampak wajahnya, maka Lie Eng Eng tidak bisa menggunakan kodenya, maka segera ia mencabut keluar pedang dari serangkanya, menggunakan pedang membabat kepala salah seorang yang datang menerjang.
Begitu sinar perak berkeredep, kepala orang itu menggelinding ketanah sedang rohnya lalu terbang menghadap Giam-lo-ong.
Bayangan yang muncul belakangan begitu melihat sang kawan sudah menggeletak mandi darah ia tidak berani maju lagi, sambil berteriakteriak ia lari meninggalkan tempat itu melaporkan kepada Cie Tay Peng.
"Ayaaa..... didalam kebun kemasukan seorang pembunuh ! Lekas perintahkan tangkap,"
Berkata orang itu dengan gugup. Cie Tay Peng yang sedang minum arak, ketika mendengar suara ribut-ribut si tukang ronda, ia meletakkan cawan araknya dimeja, lalu berkata .
"Lekas bawa senjata."
Dua orang pengawal yang duduk bersama sama Cie Tay Peng segera bangkit dengan membawa sepasang senjata pian yang sangat berat.
Tiauw Jie Kun, Lok Huy Hiem, Coa Tek Sien, Sim It Cian, dan beberapa anggota Go-kong-nia lalu keluar menyusul Cie Tay Peng dengan membawa senjata masing-masing.
Tak lama disebelah belakang terdengar suara senjata tajam yang berbenturan dengan seru.
Ternyata Lie Eng Eng telah terkurung rapat oleh para berandal, tapi mereka tidak bisa mendekati si nona, karena pedang Ang lo-po-kiam bergerak berkelebatan memancarkan sinar perak membentuk sinar lingkaran yang bergulunggulung, dimana lingkaran sinar pedang itu bergerak, pasti disitu terdapat seorang rubuh menggeletak mandi darah.
Tiauw Jie Kun adalah musuh lama Lie Eng Eng, begitu melihat si nona agak lengah, cepat ia menggerakkan goloknya kearah batang leher si nona, tapi gerakan Lie Eng Eng masih lebih cepat, dengan cepat ia menangkis datangnya serangan golok, trang….
Golok Tiauw Jie Kun terpental dua potong, ternyata gerakan Lie Eng Eng tidak sampai disitu, pedangnya digerakkan kembali, maka terdengarlah jeritan Tiauw Jie Kun, dengan dibarengi putusnya lengan kanannya.
Dengan mengeluarkan jerit yang menyeramkan, Lie Eng Eng lompat keluar kalangan, tapi baru saja kakinya menjejak tanah, tiba-tiba melesat datang seorang yang menghalangi gerakan Lie Eng Eng, orang itu menggunakan senjata golok Pok-to, menghalangi jalan keluar Lie Eng Eng.
Ternyata orang yang menghalangi jalan keluar Lie Eng Eng adalah murid Cie Tay Peng yang bernama Jie-thauw coa Ciu Tek Po, yang dengan gesit membacokkan goloknya ke kepala Lie Eng Eng.
Lie Eng Eng menggerakkan pedangnya memapaki datangnya serangan golok tadi.
Belum lagi sampai tiga jurus, mendadak Lie Eng Eng berteriak keras, dengan tipu Ciu-hong-sawlok-yap pedang Ang-lo po kiam membabat tubuh Ciu Tek Po.
Ciu Tek Po yang masih belum mengetahui kelihaian pedang Lie Eng Eng, maka ia menangkis pedang itu dengan goloknya.
"Trang......setttt !"
Terdengar dua suara berbareng, ternyata golok serta tubuh dari orang yang memegangnya telah terpapas putus menjadi dua potong, darah berhamburan muncrat.
Maka berakhirlah riwayat hidup Jie-thauw-coa si uler kepala dua, karena rohnya harus melapor kepada Giam-kun diantar bacokan pedang Lie Eng Eng.
Kembali Tiauw Jie Kun,Lok Huy Hiem dan Cie Tay Peng cs, telah mengurung Lie Eng Eng dengan rapet, sehingga umpama kata tidak ada setetes air pun yang bisa muncrat keluar dari kurungan mereka.
Tapi Lie Eng Eng dengan bersemangat berkobarkobar lalu memberikan perlawanan, sedikitpun ia tidak gentar menghadapi kepungan para berandal Go-kong nia.
Setelah bertempur selama 30 jurus lebih mendadak berlari datang seorang gadis berpakaian putih, dengan mengenakan ikat pinggang berwarna ungu, usia gadis itu kira-kira 18 tahun, ditangannya menggenggam sepasang golok Cenghong-eng-ie-to, dengan mata bersinar menyalanyala, gadis itu langsung menyerobot kedalam kalangan pertempuran.
Lie Eng Eng yang menampak gadis itu, ia menyadari bahwa gadis itu tentunya bukan lawan enteng, saat itu keadaan Lie Eng Eng sangat kritis, untuk melarikan diri sudah terlambat, untuk bertempur terus tidak mungkin bisa menang, karena kawanan berandal yang datang jumlahnya semakin banyak, sehingga mengurung tubuhnya sangat rapat sekali seakan-akan anginpun tidak bisa menembusi kurungan mereka !
Oleh sebab itu maka Lie Eng Eng menjadi nekad, dengan semangat yang menggelora ia melakukan perlawanan sengit.
"Supek !"
Terdengar gadis itu berseru.
"harap supek sekalian mundur istirahat dulu, ini kepala anjing serahkan pada Cie-jie untuk membekuknya."
Cie Tay Peng yang menampak sang keponakan perempuan keluar membantu, tanpa disadarinya ia sangat girang, maka cepat-cepat berkata .
"Cie-jie, kau harus hati-hati, perempuan siluman ini memiliki kepandaian yang lumayan."
Setelah berkata begitu Cie Cay Peng menggerakkan sepasang piannya lalu mundur dari medan pertempuran.
Berbarengan dengan mundurnya Cie Tay Peng, gadis yang menyebut namanya Cie jie menggerakkan goloknya menyerang Lie Eng Eng.
Lie Eng Eng menyambut serangan si gadis dengan tenang, yang ternyata juga memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, sebentar saja pertempuran sudah berlangsung limapuluh jurus lebih.
Cie Tay Peng segera memberikan perintah kepada anak buahnya mundur dan segera membuat penjagaan di jalan timur dan selatan yang penting, begitu pula setiap pos diperintahkan untuk dijaga dengan ketat, agar jangan sampai Lie Eng Eng berhasil lolos melarikan diri.
Dengan penjagaan yang ketat kuat, Lie Eng Eng meskipun tumbuh sayap, juga tidak mungkin lolos dari kepungan mereka.
Sedang dalam arena pertempuran hanya tinggal Tiauw Jie Kun, Lok Huy Hien, Cie lay Peng dan Ciejie yang sedang melakukan pertempuran dengan Lie Eng Eng.
Ternyata Cie Tay Peng mempunyai seorang keponakan perempuan yang bernama Cie Giok Peng, orang-orang menjulukinya dengan sebutan Hun-kwan-im, karena ia memiliki paras cantik, sedang potongan tubuhnyapun langsing dan tegap, gadis itu baru berusia 18 tahun.
Cie Giok Peng, pada waktu berusia 8 tahun telah ditinggal mati oleh ayah ibunya yang menjadi adik Cie Tay Peng, maka sejak itu Cie Giok Peng dirawat oleh sang supek, karena sayangnya Cie Tay Peng kepada anak adik saudaranya almarhum maka gadis itu telah dididik ilmu silat, bahkan Cie Tay Peng telah mengundang dua orang guru silat dan guru surat yang tinggi kepandaiannya untuk memberi pelajaran kepada sang keponakan perempuan.
Giok Teng seorang gadis yang memiliki otak cerdik, maka ketika ia berusia 13 tahun, semua jenis senjata tajam itu telah bisa menggunakan dengan jitu, sehingga membuat orang-orang kagum atas dirinya.
Waktu ia sedang santapan malam diatas loteng, begitu ia mendengar suara ribut-ribut diluar, maka cepat-cepat turun menghampiri suara ribut-ribut tadi dengan membawa senjatanya.
Lalu membantu sang supek untuk membekuk Lie Eng Eng.
Cie Giok Peng dengan sepasang golok Cenghong-eng ie-to, yang merupakan barang pusaka dari jaman kerajaan Song, golok itu memiliki ketajaman yang luar biasa, bisa memotong besi seperti tempe.
Karena Cie Giok Peng menggunakan golok wasiat, maka pedang Ang-lo-po-kiam Lie Eng Eng tidak bisa membuat senjata itu menjadi terpapas putus.
Lebih-lebih kini Cie Tay Peng telah menggerakkan senjata piannya untuk membantu keponakan perempuan mengurung Lie Eng Eng.
Lie Eng Eng yang menghadapi dua lawan langguh, bertempur sampai 10 jurus lamanya.
Saat itu Lie Eng Eng menampak sepasang golok Cie Giok Peng diputar demikian rupa menyerang dirinya, ia sadar kini sulit untuk mendapatkan kemenangan, maka ia lalu mencari jalan keluar untuk lolos dari lubang jarum.
Dalam keadaan terjepit Lie Eng Eng tambah nekad, ia memutarkan pedangnya sedemikian rupa untuk mengimbangi gerakan ilmu golok Konghong-pat-kwa-to yang dimainkan oleh Cie Giok Peng sangat dahsyat.
Setelah pertempuran berlangsung sampai sampai 00 jurus lebih, tiba-tiba tanpa disadari kaki Lie Eng Eng menginjak batu, membuat tubuh Lie Eng Eng terjungkal.
Cie Tay Peng menampak keadaan lawan mendadak jatuh terjungkal, segera menggerakkan kakinya menendang Lie Eng Eng.
Cepat Lie Eng Eng dengan menggunakan jurus Lie-hie-tiat-cu mengangkat kaki kanannya menangkis serangan kaki Cie Tay Peng.
Tubuh Lie Eng Eng cepat meletik berdiri, tapi tiba-tiba ia menjerit .
"Haaaahh….."
Berbareng dengan suara jeritannya, pedang Anglo-po-kiam terlepas dari tangannya, diiringi dengan terjungkalnya kembali tubuh Lie Eng Eng diatas tanah dengan tidak bisa berkutik lagi.
Ternyata sewaktu Lie Eng Eng hendak berdiri, Cie Giok Peng menotok jalan darah dibahunya dengan ujung sepatu yang kecil lancip, hingga pada saat itu juga tubuh Lie Eng Eng dirasakan kesemutan dan jatuh ngusruk kembali.
Ketika menampak Lie Eng Eng rubuh, cepatcepat Coa Tek Sien mengambil tambang, mengikat erat-erat tubuh Lie Eng Eng, sehingga tubuh itu seperti lepet !
Setelah diikat, barulah ia dibawa keruangan Cie-gie-thia untuk diperiksa.
Didalam ruangan Cie gie-thia telah dipasang api penerangan hingga keadaan dalam ruangan itu terang benderang seperti juga keadaan disiang hari.
Lie Eng Eng yang tubuhnya terikat, ia pendelikkan matanya, sambil tersenyum dingin berkata .
"Sebagai jago, satu lawan satu, kalian anjing-anjing hutan, sebetulnya bukanlah tandinganku, tapi karena nona besarmu kurang hati-hati menghadapi keroyokan kalian hingga terpeleset, dan dibekuk kalian dengan curang, sekarang bunuhlah, jika kalian hendak menyembelih, sembelihlah, silahkan cepat turun tangan, aku bersumpah tidak akan mengerutkan alis sedikit pun menghadapi ancaman maut kalian."
"Anak baik !"
Berkata Cie Tay Peng sambil tersenyum dingin.
"siapakah nama dan shemu ?"
"Nona besarmu selama hidup belum pernah ganti she, berjalan tidak ganti nama."
Berkata Lie Eng Eng sambil tersenyum dingin.
"Kalau kalian mau mengetahui namaku dengar baik-baik, pasang kuping yang lebar, aku adalah Bo-tay-tiong-kiam Lie Eng Eng."
Cie Tay Peng dan semua orang bawahannya ketika mendengar nama itu disebut, tanpa dirasa mereka terkejut, tidak diduga kini mereka sedang berhadapan dengan si pedang Macan Betina Lie Eng Eng yang tersohor, mereka menyadari memang sepantasnya Lie Eng Eng mendapatkan gelar itu karena mereka telah membuktikan betapa lihai dan uletnya si jago pedang macan betina ini.
Tiauw Jie Kun yang beberapa kali pernah menjadi pecundang bahkan kini tangan kanannya sudah kutung ia sudah mengenali Lie Eng Eng, begitu orang-orang merasa heran dan terkejut, ia hanya tersenyum kecut.
"Lie Eng Eng !"
Terdengar Cie Tay Peng berkata.
"Kau boleh pilih salah satu hukuman yang akan kujatuhkan pada dirimu, dikubur hidup-hidup atau dibakar, ataukah menjalani hukuman daging dan tulang terpisah ? Nah kau boleh pilih sendiri mana yang kau suka ?"
Hukuman daging dan tulang terpisah adalah suatu cara hukuman mengadu manusia dengan binatang-binatang buas.
Hukuman dilakukan dibawah lamping gunung Go-kong-nia, dibawah lamping itu terdapat binatang-binatang buas, harimau, macan tutul dan biruang, setiap hari binatang-binatang itu diberi makan.
Cie Tay Peng yang berhati kejam dan tidak berkeperimanusiaan sesekali ia mengerek turun orang hidup untuk dijadikan santapan binatangbinatang itu, maka itulah yang dimaksudkan dengan hukuman daging dan tulang terpisah.
Tiauw Jie Kun yang menaruh dendam luar biasa kepada Lie Eng Eng segera berkata .
"Tay ong; hamba kira pada kesempatan ini kita lebih baik menjatuhkan hukuman daging dan tulang terpisah, dimana kita juga bisa menyaksikan pertarungan antara manusia dan binatang, bukankah hal itu merupakan suatu pemandangan yang menggirangkan untuk ditonton, berikan senjatanya, kita lihat apa yang ia bisa lakukan?"
Cie Tay Peng yang mendengar usul Tiauw Jie Kun mendadak menjadi girang, dengan cepat ia berkata .
"Jie Kun pendapatmu sungguh jitu, maka pada besok siang kita suruh dia bertempur dengan binatang-binatang buas !"
"Apakah ia tidak akan melarikan diri?"
Tiba-tiba terdengar Cie Giok Peng berkata.
"Hmm, kau tidak usah kuatir Cie jie, dibawah lamping terdapat banyak harimau dan macan tutul, meskipun ia berhasil membunuh seekor tapi tidak mungkin bisa membunuh seluruhnya, seandainya ia juga tumbuh sayap, tidak mungkin juga bisa terbang. Dan jangan kuatir, Cie-jie, meskipun Su tay-thian-ong (empat raja langit yang terbesar) atau Pai-tong-sin-sian (dewa dari delapan goa) juga jangan harap bisa lolos keluar dari bawah lamping! Jie Kun, cepat bawa budak ini dan keram dalam penjara !"
Tiauw Jie Kun segera menyeret tubuh Lie Eng Eng untuk dijebloskan kedalam penjara.
Keesokan harinya, Cie Tay Peng telah bangun, ia memerintahkan anak buahnya untuk menyediakan beberapa peti mati untuk mengubur anak buahnya yang tewas dalam pertempuran tadi malam.
Ketika hari sudah hampir menunjukkan waktu Ngo-sie (antara jam 11 -1 siang), Lie Eng Eng baru dikeluarkan dari dalam kamar penjara, digiring oleh beberapa orang anggota berandal.
Cie Giok Peng segera memberikan pedang Anglo-po-kiam pada Lie Eng Eng, tapi segera dicegah oleh Cie Tay Peng, katanya ;
"Tunggu! Jangan berikan dulu itu pedang, lebih baik kita kerek dulu ia turun kebawah, baru kemudian mengerek pula pedangnya untuk diberikan padanya, hal itu untuk menjaga timbulnya sesuatu yang diluar rencana!"
Setelah mendengar ucapan itu maka mereka lalu menggiring Lie Eng Eng ke See-peng-gay, disana terdapat lamping yang berkeliaran banyak binatang buas.
Setelah ikatan mengerek diikatkan ke tubuh Lie Eng Eng, maka ikatan kaki dan tangan Lie Eng Eng segera dilepaskan berbarengan tubuhnya segera dikerek turun ke bawah lamping untuk diadu dengan binatang-binatang buas.
Setelah Lie Eng Eng dikerek turun kira-kira sepuluh kaki, barulah salah seorang anggota berandal mengerek pedang Ang-lo-po-kiam.
Sedang di bawah lamping, disana tampak berserabutan binatang-binatang buas mengeluarkan gerengan-gerengan yang menyeramkan, menanti kehadiran Lie Eng Eng yang merupakan makanan lezat bagi mereka.
Tiba-tiba terdengar suara gerengan yang mirip suara guntur, dengan dibarengi oleh munculnya seekor macan jantan yang berjidat putih, keluar dari dalam goa batu sebelah kanan, macan itu begitu keluar berlarian menubruk tubuh Lie Eng Eng yang masih tergantung.
Lie Eng Eng yang dikerek turun masih bergelantungan terpisah tidak berapa jauh lagi dari bawah lamping, ketika mendengar suara gerengan macan tadi, cepat ia mengambil pedangnya dan menggerakkan pedang itu memutuskan tali kerekan sehingga dengan ringan badannya turun kebawah.
Menghadapi seekor macan yang bertubuh besar panjang berjidat putih, Lie Eng Eng tidak gugup, dengan tenang ia menunggu datangnya binatang buas itu.
Begitu sang raja hutan menubruk dirinya, dengan gesit Lie Eng Eng melejit kekiri, hingga macan yang menubruknya ngusruk nyelonong kebelakang Lie Eng Eng, hampir saja kepala macan yang berjidat putih itu terbentur batu cadas.
Sang macan yang terkamannya tidak mengenai sasaran, sambil menggoyang-goyangkan ekornya membalikkan tubuh, setelah mendekam sebentar, barulah ia menubruk kembali untuk kedua kalinya.
Dalam keadaan berbahaya, mendadak kembali dibagian belakang Lie Eng Eng terdengar lain suara gerengan yang amat panjang, berbarengan dengan munculnya suara gerengan itu, kini bertambah pula seekor macan yang badannya agak kecil, tapi romannya lebih kereng dan menakutkan dari pada macan yang besar berjidat putih, macan itu dengan cepat menubruk tubuh Lie Eng Eng.
Lie Eng Eng yang berjulukan Pedang Macan Betina, ketika menampak dari depan dan belakang dengan berbarengan diterkam oleh dua ekor macan, ia tak gugup, dengan tenang ia menunggu datangnya terkaman kedua raja hutan yang mengincar jiwanya.
Ketika kedua binatang hampir sampai pada dirinja dengan kecepatan luar biasa ia lalu enjot kakinya melayang kesamping hingga kembali kedua macan itu menubruk angin.
Lie Eng Eng cepat membalikkan tubuh tapi dengan kecepatan luar biasa, macan yang berjidat putih telah menerkam kembali, dengan mengembangkan kuku-kukunya yang tajam.
Saat itu, Lie Eng Eng agak sulit untuk mengelak, maka dengan berdiri tegak ia angkat pedangnya keatas.
Tepat pada saat pedang Lie Eng Eng diangkat keatas, bertepatan dengan itu pula macan berjidat putih menerkam tiba, maka tak ampun lagi tubuh macan itu tertancap pedang Ang-lo-po-kiam, dengan gerakan cepat Lie Eng Eng menekankan pedangnya kebawah, maka tubuh macan itu terbelah menjadi dua bagian, membuat sang macan mampus seketika.
Begitu datang terkaman pula, Lie Eng Eng melejit kesamping, pedangnya digerakkan menusuk kearah perut macan yang lebih kecil, pedang tertembus, perut macan itu berarakan isinya dan menyusul sang kawan ke akherat.
Setelah berhasil membunuh kedua ekor macan, Lie Eng Eng membalikkan tubuh mencari jalan keluar untuk meninggalkan tempat yang penuh bahaya itu, tapi dengan mendadak menyambar hembusan angin yang bercampur bau amis menubruk kearah belakang gegernya.
Lie Eng Eng yang tidak menduga sebelumnya kalau dibawah lamping itu terdapat banyak raja hutan, maka dengan membabatkan pedangnya ia membalikkan tubuh.
Berbarengan dengan berbaliknya tubuh Lie Eng Eng, seekor macan tutul telah menerkam kepalanya.
Lie Eng Eng tidak sempat menggerakkan pedangnya, karena kedua kaki depan macan tutul yang berkuku tajam telah sampai di kedua pundaknya, sedang mulut simacan yang menganga sebesar baskom dengan gigi taring yang telah siap mencaplok batok kepala Lie Eng Eng.
Mendapat serangan demikian, dengan cepat tangan kanan Lie Eng Eng diangkat ke atas, sedang tangan kirinya digerakkan kebawah mulut macan yang sedang mementangkan mulutnya, kemudian kedua tangan itu digerakkan memukul berbareng menghajar rahang dan mulut atas macan tutul, maka mulut macan yang sedang terpentang lebar hendak mencaplok batok kepalanya beradu keras.
Trukk…..
Gigi macan tutul itu beradu satu sama lain.
Begitu mulutnya berhasil dipukul rapat oleh kedua tangan Lie Eng Eng, maka gigi atas dan bawah saling bentur hingga mulut macan tutul itu mengeluarkan darah.
Dengan mengeluarkan gerengan yang keras tubuh macan tutul itu jatuh rubuh ditanah, tubuhnya menjadi dua potong.
Ternyata begitu berhasil memukul mulut macan tutul, pedang Ang-lo-po-kiam disabetkan kearah perut macan tutul, membuat macan itu putus menjadi dua potong.
--d,w-MESKIPUN Lie Eng Eng berhasil membunuh macan tutul itu, tapi kedua pundaknya telah mengucurkan darah, terkena cakaran kuku-kuku macan tadi, hingga pakaiannya yang putih sudah dibasahi dengan darah segar yang mengucur dari pundaknya.
Karena masih merasa mendongkol, Lie Eng Eng menendang kepala macan tutul itu, sehingga tubuh bagian depan yang terdiri dari kepala dan dua kaki depan macan tutul itu terpental sampai 15 kaki jauhnya.
Baru saja kakinya bergerak menendang bangkai macan tutul itu, kembali terdengar lagi suara gerengan yang datang dari sebelah kiri, berbarengan dengan itu, keluar pula seekor macan kecil dari balik pohon yang tumbuh disekitar lamping.
Lie Eng Eng cepat berdiri tegak dengan melintangkan pedang didada, ia siap sedia untuk menyambuti terkaman macan itu.
Tapi macan yang berbadan kecil itu, berjalan perlahan-lahan mendekati Lie Eng Eng, nampak sepintas lalu, macan itu sudah jinak, tidak seperti keadaan tiga ekor macan besar yang telah berhasil dibinasakannya, begitu datang lantas menerkam, tapi macan kecil ini berjalan dengan tenang-tenang mendekati Lie Eng Eng sambil goyangkan ekornya yang belang.
menggoyang-Lie Eng Eng yang berotak cerdik segera mengetahui, dengan sikap binatang yang setenang ini, ia bisa menduga bahwa binatang ini lebih lihai dan lebih cerdik dari pada ketiga macan yang besar tadi.
Memperhatikan bentuk tubuh macan itu, ternyata macan itu berbeda dengan macan yang lainnya, loreng-loreng kulitnya juga agak berbeda warnanya dengan macan biasa, karena macan itu adalah seekor macan baster dari macan biasa dan macan tutul, para pemburu biasanya menyebut Sam kun-cu.
Macan itu meskipun tubuhnya kecil tapi memiliki kecerdikan yang luar biasa, bila mana macan biasa, bila menampak sang ...
(hal.
53 tidak ada kz…) Sam-kun-cu yang menampak terkamannya selalu mengenai tempat kosong, ia menjadi kalap, seperti anjing gila, menggerang-gerang sambil menubruk sana sini dengan gesitnya, sedang cakar kuku-kukunya yang tajam terkembang menyambar-menyambar diri Lie Eng Eng.
Orang yang menonton pertandingan di atas lamping gunung menyaksikan dengan hati berdebar-debar dengan mata melotot tidak berkedip, mereka dengan penuh perhatian mengikuti jalan pertandingan antara binatang dan manusia.
Pertandingan yang banyak mengeluarkan tenaga itu, membuat gerakan Lie Eng Eng semakin lama semakin kendor, gerakan kaki dan tangannya tampak semakin lemah.........
Mendadak saja, tiba-tiba terdengar suara jeritan Lie Eng Eng, dengan disusul oleh rubuhnya Lie Eng Eng terjengkang ke-belakang.
Ketika menampak sang lawan rubuh terjengkang, dengan mementangkan mulutnya yang besar, macan Sam-kun-cu cepat maju menerkam.
Wajah Lie Eng Eng berubah pucat, tubuhnya mengucur keringat dingin.
Tiba-tiba pada saat yang sangat kritis itu, terdengar suara jeritan Sam-kun-cu yang menggerang panjang, lalu disusul dengan melayangnya tubuh si macan kecil sejauh 6 kaki, dengan kepala pecah terbentur batu cadas, otaknya meleleh keluar, sedang jiwanya melayang !
Kawanan berandal yang berada diatas lamping ketika melihat pemandangan yang mengagumkan, tanpa disadari pula mereka bertepuk tangan, dengan memuji-muji, sehingga pada saat itu keadaan diatas lamping gunung menjadi riuh.
Tidak terkecuali dengan Cie Tay Peng, begitu melihat kejadian itu ia juga bertepuk tangan sambil berkata .
"Anak itu sesungguhnya memiliki kemampuan yang tidak memalukan gelar dan namanya."
Ternyata Lie Eng Eng yang bertarung dengan Sam-kun-cu sampai setengah harian, masih juga belum bisa membunuh macan itu, dengan tanpa disadari tiba-tiba ia merasa gugup.
Dalam kegugupannya Lie Eng Eng timbul satu akal, maka dengan sengaja ia membuat kalut gerakangerakannya, dan juga ia pura-pura jatuh celentang kebelakang, tapi pedangnya disiapkan untuk segera menghajar mangsanya.
Sam-kun-cu yang menampak Lie Eng Eng jatuh terjengkang ia segera menerkam.
Lie Eng Eng sudah siap sedia, ketika menampak Sam-kun-cu menerkam sambil celentang dengan tenang ia menggunakan jurus Lie-bie tiat-cu, menusuk pedangnya kearah mata sebelah kanan simacan kecil Sam-kun-cu.
Serangan Lie Eng Eng ternyata sangat jitu, tepat mengenai sasarannya, sehingga Sam-kun-cu menggerang-gerang kesakitan, berbareng dengan mana Lie Eng Eng menggerakkan kedua kakinya menendang perut Sam-kun cu dengan keras sekali.
Tendangan Lie Eng Eng tadi membuat tubuh Sam-kun-cu terpental sejauh 6 kaki dan kepalanya membentur batu cadas, akhirnya binatang itu mati seketika.
Lie Eng Eng segera meletik bangun, tapi baru saja ia melangkah, kembali muncul seekor macan yang berjidat putih bermata besar, berjalan lenggang lenggok dari arah selatan, ternyata macan itu adalah macan yang terbesar dan terpanjang.
Begitu tiba macan itu segera menerkam, Lie Eng Eng segera mengayunkan pedang menabas kepala macan jidat putih yang bertubuh jauh lebih besar dan lebih panjang dari macan-macan yang muncul duluan, tapi dengan mendadak tangan kanannya telah beradu dengan kaki depan macan jidat putih, sehingga terdengar suara mendenting.
Tranggg !
Pedang Ang-lo-po-kiam terlempar jatuh.
Setelah pedang Lie Eng Eng jatuh, sang macan terus menerkam, kini tampak kedua tubuh manusia dan seekor binatang berguling gulingan ditanah.
Terdengar pula tepuk sorak dari atas lamping gunung.
Ternyata Lie Eng Eng menerima terkaman sang macan yang besar, sehingga kembali ia terjungkal kebawah, dengan tubuh tertindih oleh tubuh macan yang besar dan berat.
Lie Eng Eng hanya seorang wanita, meskipun memiliki tenaga besar, tapi jangan harap bisa meloloskan diri dari tindihan sang harimau yang besar dan berat itu, sehingga membuat ia menjadi gugup tidak terkira, dalam keadaan terjepit demikian, tangannya digerakkan, dengan tangan kiri menahan janggut harimau itu agar tidak jatuh menimpa tubuhnya dan tangan kanan memeluk leher macan, sedang kedua kakinya ditumpangkan kebelakang geger harimau, maka dengan mengempos tenaganya ia segera membalikkan tubuh, menghindari tindihan tubuh harimau yang berat dan besar itu, tapi meskipun demikian, ia belum bisa meloloskan diri dari ancaman maut, ia hanya bisa bergulingan dengan memeluk erat-erat leher macan.
Seorang gadis dan seekor macan bergulingan sampai 10 kali lebih ditanah.
Dengan bergulingan demikian macan itu tidak bisa menggunakan mulutnya untuk menggeragoti tubuh Lie Eng Eng, ia menggereng-gereng keras laksana guntur disiang hari bolong.
Sedang keduanya masih tetap bergulingan diatas tanah.
Kawanan berandal yang berada diatas lamping gunung, ketika menampak pemandangan demikian mereka bersorak sorai, kembali terdengar suara ledekan-ledekan yang sangat kurang ajar terdengar ditelinga Lie Eng Eng.
"Haaaaa....... huaaaaa......"
Terdengar teriakan-teriakan diatas lamping gunung, ternyata dibawah lamping gunung kini muncul pula seekor ular Hiang-bwee-coa (ular yang ekornya bisa berbunyi), panjang ular itu kira-kira 30 kaki lebih, ular itu melata dengan cepat mendatangi ke arah dimana Lie Eng Eng dan macan sedang berguling-gulingan, bertarung seru.
Lie Eng Eng yang sedang bertarung mati matian dengan harimau berjidat putih, belum juga bisa memenangkan pertandingan membuat hati si nona menjadi gugup, tapi kegugupan itu belum lenyap kini muncul pula seekor ular berbisa.
Dalam keadaan terjepit demikian, maka tiba-tiba timbullah akal dalam otak Lie Eng Eng mendapatkan jalan keluar dari bahaya itu, dengan menggunakan kekuatan yang luar biasa Lie Eng Eng mengigit leher harimau itu dimana terdapat lubang hawa dan lubang saluran makanan ditenggorokannya.
Macan berjidat putih ketika lehernya terasa digigit oleh Lie Eng Eng, maka ia menggereng karena sakitnya, lalu berjumpalitan tidak hentinya berusaha melepaskan gigitan itu akhirnya jatuh masuk kedalam sebuah lubang, yang membuat Lie Eng Eng dan macan itu jatuh bersama-sama masuk kedalam lubang.
Sementara itu ular beracun Hiang bwee-coa dengan cepat menggerakkan badannya menggelosor hendak masuk kedalam lubang.
Suara diatas lamping gunung yang tadi riuh dengan tepuk sorak, kini menyaksikan pemandangan itu, mendadak sepi sunyi, hati mereka juga turut berdebar menahan napas menyaksikan apa yang terjadi dibawah lamping gunung.
Tapi baru saja kepala ular Hiang-bwee-coa menjulur ditepi lubang, tiba-tiba meluncur angin keras mengempaskan tubuh ular itu keudara melayang berkutetan dan membentur batu cadas.
Trukkk.......kepala ular pecah, tubuh ular itu jatuh ketanah menggeliat-geliat kemudian tidak bergerak.
Lie Eng Eng yang masih berada didalam lubang sedalam 16 kaki lebih, masih tetap menggigit leher macan tadi, ia tidak berani melepaskan gigitannya.
Setelah sekian saat ketika sang macan tidak lagi membuat gerak-gerakan, tangan Lie Eng Eng menggoyang-goyangkan tubuh macan itu, ternyata macan itu tidak bergerak, ia sudah mati.
Lie Eng Eng melepaskan gigitannya, ia berdiri diatas tubuh macan itu, keadaannya sangat lemah sekali, sedang kedua bahunya masih mengucurkan darah, tenaga yang dikeluarkan untuk menggigit leher macan tadi adalah tenaga yang penghabisan.
Selagi Lie Eng Eng merasa bingung, kalau-kalau muncul lagi binatang buas, tiba-tiba terdengar suara menegurnya.
"Cepat, ulurkan tanganmu......."
Begitu mengetahui siapa yang berada diatas lubang, hati Lie Eng Eng girang tidak kepalang, segera ia menangkap uluran tangan, mencekal pergelangan tangan tadi kemudian tubuhnya terangkat naik keatas.
Dengan mengempit tubuh Lie Eng Eng, Liong Houw cepat lari meninggalkan lamping gunung, disana sini terdapat binatang binatang buas harimau, macan tutul, yang mati menggeletak dengan kepala pecah.
Ternyata Liong Houw keluar dari dalam lembah air terjun, mengikuti arah perjalanan dimana ia pernah lalui pada pertama kali terjun dalam dunia ramai, maka ketika tiba diatas bukit Go-kong-nia mendengar suara tepuk sorak, segera ia mendatangi, dan apa yang dilihatnya dibawah lamping gunung Lie Eng Eng sedang bertarung dengan macan besar.
Begitu menampak sang kekasih dalam bahaya, Liong Houw cepat lompat kedalam lamping gunung, disana ia membunuh berpuluhpuluh binatang buas dengan kepalan tangannya hingga akhirnya berhasil menolong jiwa Lie Eng Eng.
Bertepatan dengan munculnya Liong Houw yang berhasil menyelamatkan Lie Eng Eng dari terkaman binatang-binatang buas dibawah lamping gunung, tiba-tiba diatas lamping gunung dimana Cie Tay Peng beserta anak buahnya sedang bersorak-sorak menonton adu gulat antara seorang jago wanita dengan binatang piaraannya, tiba-tiba terdengar jerit-jerit yang menyayatkan hati.
Puluhan tubuh terbang melayang kebawah lamping gunung dengan kepala terputus dari tempatnya.
Tubuh-tubuh itu begitu jatuh dibawah lamping gunung, tidak sempat lagi untuk kelojotan, tubuhtubuh mereka diterkam oleh binatang-binatang buas.
Cie Tay Peng sadar apa yang terjadi diatas lamping gunung, baru saja ia bangkit berdiri, tibatiba satu bayangan merah berkelebat menghajar batok kepalanya.
Masih sempat Cie Tay Peng mengelak, ia lompat terjun kedalam lamping gunung dimana terdapat banyak binatang-binatang buas.
Begitu kaki Cie Tay Peng menginjak tanah, beratus-ratus binatang buas ular harimau srigala mengurung tubuhnya.
Tiba-tiba lain keajaiban terjadi, entah dengan menggunakan ilmu apa Cie Tay Peng berjalan ditengah-tengah kurungan binatang-binatang buas, binatang-binatang itu tidak mengganggu padanya, bahkan mengurung melindungi Cie Tay Peng memasuki salah satu goa didalam jurang itu, bayangannya segera lenyap.
Bertepatan lenyapnya bayangan Cie Tay Peng, diatas pesanggrahan berkelebat-kelebat beberapa puluh bayangan merah, kaki tangan mereka bergerak, tidak ampun lagi, siapa yang ditemuinya pasti menjadi korban tangan maut si bayangan merah.
Selesai membunuh-bunuhi seluruh isi pusat berandal Go-kong-nia, bayangan-bayangan merah itu melesat beterbangan seakan secarik kupu-kupu terbang keangkasa, gerakan mereka sungguh cepat dan indah dipandang mata.
Tak lama terdengar letusan-letusan diatas bukit Go kong-nia, maka pesanggrahan berandal kepala raja-raja gunung hancur menjadi puing-puing reruntuhan.
Liong Houw sedang memondong Lie Eng Eng, dia masih dapat menyaksikan gerak gerik bayanganbayangan merah yang menyerang dan menghancurkan sarang berandal raja gunung Gokong-nia, bayangan itu sama bentuknya seperti bayangan merah yang pernah memondong tubuhnya didalam keadaan hujan setelah terpukul oleh ilmu siluman Liok Hap tojin.
Mereka adalah itu machluk sebesar manusia yang berkulit merah, tanpa pakaian dengan bentuk tubuh seperti lekuklekuk orang wanita, wajah mereka merah pucat.
Liong Houw melarikan tubuh Lie Eng Eng memasuki semak-semak belukar.
Lie Eng Eng yang dibawa melayang ke udara oleh pemuda berkulit macan, membiarkan dirinya dipondong dalam dekapan pemuda kekasih yang selama tiga tahun ini tidak ada kabar ceritanya.
Semenjak Liong Houw lari turun gunung dari puncak Liong-houw-san dipesanggrahan Ceng-it cinjin, hati si nona gundah gulana memikirkan pemuda idamannya.
Tiba didalam rimba, Liong Houw menghentikan langkah kakinya, ia meletakkan tubuh Lie Eng Eng dibawah pohon ditepi sungai kecil, memeriksa luka dikedua pundak Lie Eng Eng, ternyata luka itu tidak dalam hanya tergores cakaran kuku macan.
Setelah membersihkan luka Lie Eng Eng, Liong Houw bertanya .
"Sutit apakah membawa obat luka?"
"Hmm, luka ini tidak ada artinya, untuk apa diributkan, nih kau taburi obat bubuk ini dibahuku."
Liong Houw segera menyambuti botol obat lalu tangannya bergerak menaburi bubuk yang terdapat dalam botol. Tangan Lie Eng Eng segera menarik lengan si pemuda disuruhnya duduk disamping.
"Hmmm.... kemana saja toako selama ini?"
Tanya Lie Eng Eng yang sudah melupakan bahaya yang baru saja nyaris mencelakakan jiwanya.
Liong Houw menyandarkan kepalanya ke dada lembut si nona, ia tidak menjawab pertanyaannya itu, matanya liar memandang arah jauh dimana tadi ia menampak beberapa bayangan merah melesat beterbangan bagaikan kupu-kupu.
Ooo~d-dw~ooO
Jilid ke 13
"HEI, ada apa?"
Tanya Lie Eng Eng, ia heran atas sikap sang kekasih yang masih bengong.
"Machluk-machluk itu apakah titlie mengetahui asal usulnya ?"
Lie Eng Eng mengangkat kepala, ia menatap wajah sang toako, tanyanya .
"Machluk apa?"
"Aaaaah !"
Kini Liong Houw yang menjengkitkan kepalanya, ia heran mengapa sang sutit ini tidak mengetahui tentang munculnya machluk-machluk merah tadi.
Sebenarnya Lie Eng Eng tidak mengetahui munculnya machluk merah yang telah menghancurkan markas Go-kong-nia, karena begitu tubuhnya dikempit oleh Liong Houw, ia mengetahui sang toako yang menolongnya, dibiarkannya tubuhnya ditenteng terbang, sedang matanya meram, ia merasai betapa nikmatnya dalam pondongan sang kekasih, hingga tak melihat munculnya beberapa bayangan merah, hanya ditelinganya yang masih mendengar suara letusan, tapi ia tidak mau ambil pusing semua itu.
"Machluk merah tadi yang datang menyatroni Go-kong-nia,"
Berkata lagi Liong Houw.
"Oooh .... jadi mereka datang?"
Bertanya Lie Eng Eng. "Bukan datang saja, bahkan sudah membasmi seluruh anggota Go-kong-nia, dan menghancurkan markas mereka,"
Jawab Liong Houw.
"Cie Tay Peng ?"
Tanja Lie Eng Eng.
"Apakah biang berandal itu juga berhasil dibunuhnya?"
"Entahlah! Aku kurang memperhatikan."
Jawab Liong Houw.
"Eh, sutit apakah selama tiga tahun ini kau pernah berjumpa dengan Kun-sen-mo-ong Teng Kie Lang atau gurunya Kun-see-mo-ong Gwat Leng?"
Lie Eng Eng menggeleng kepala, katanya.
"Semenjak enam bulan belakangan ini aku tidak pernah mendengar lagi jejak kedua iblis itu melakukan penculikan-ikan, tapi semenjak lenyapnya jejak Kun-see mo-ong maupun suhunya, muncullah itu manusia aneh yang menyebutkan dirinya dari golongan Kupu-kupu Merah. Gerak gerik mereka sangat misterius, sukar dijejaki maksud tujuan mereka berkeliaran dalam rimba persilatan, kalau kau saksikan sendiri, barusan mereka menghancurkan gerombolan berandal rajaraja gunung Go-kong nia, kita bisa menilai bahwa mereka adalah satu golongan ksatria. Tapi kemisteriusan gerak mereka sangat memusingkan kepala, pada limabelas hari yang lalu mereka menyatroni Butongpay, memberikan ultimatum, agar partai Bu tong segera dibubarkan, serta ketuanya segera mengumumkan pembubaran itu keseluruh lapisan rimba persilatan. Kalau sampai pada tanggal 9 bulan tujuh nanti Bu tong pay belum mengumumkan pembubaran partai, golongan Kupu-kupu Merah akan segera membumi hanguskan partai Bu tong pay serta membunuh seluruh anak murid yang masih berdiam digunung Bu tong san. Tindakan ancaman mereka tidak sampai disitu saja, seluruh partai-partai rimba persilatan telah diberikan surat ultimatum untuk tidak turut campur dalam setiap tindak yang mereka lakukan, jika tidak, mereka tidak akan sungkan-sungkan untuk menghancurkan seluruh kekuatan rimba persilatan yang ambil dalam sengketa dengan mereka. Tidak terkecuali gunung Liong houw-san, Ceng-it Cinjin beberapa hari ini juga menerima surat ancaman untuk tidak turut campur dalam segala tindakan yang dilakukan mereka."
"Kupu-kupu merah!"
Gumam Liong "Mereka sebetulnya machluk macam apa?"
Houw.
"Huh!"
Dengus Lie Eng Eng.
"Mereka hanyalah terdiri dari kaum wanita, dengan mengenakan pakaian kulit tipis berwarna merah, entah bahan apa yang mereka buat untuk pakaian mereka, seakan-akan mereka itu seperti machluk berwarna merah, hingga tampak jelas lekuk-lekuk liku tubuhnya, kalau ditilik dari bentuk potongan mereka, kukira mereka itu adalah gadis-gadis remaja."
"Apakah sutit pernah melihat jelas mereka?"
"Mmm, pada sebulan berselang, orang-orang Gokong-nia dibawah pimpinan Cie Tay Peng sendiri menyerang piauwki ayahku di Sin-ciu-hu, ketika pihak ayahku dalam keadaan terjepit menghadapi keroyokan mereka, entah dari mana datangnya dengan mendadak muncul beberapa puluh bayangan merah, mereka membantu pihak ayah mengusir mereka, maka dengan peristiwa itu, aku penasaran untuk menyelidiki bukit Go-kong-nia yang sudah beberapa kali diselidiki oleh suhu, tapi selama itu suhu tidak pernah menemukan tandatanda yang mencurigakan, maka aku sendiri datang mengadakan penyelidikan dan akhirnya aku tertangkap."
Seterusnya Lie Eng Eng juga menceritakan bagaimana jalannya pertempuran didalam pesanggrahan Go-kong-nia kepada Liong Houw.
Liong Houw mendengar keterangan sang kekasih hanya mengangguk-anggukkan kepala.
"Dengan adanya peristiwa di Sin-ciu-hu itu,"
Berkata lagi Lie Eng Eng.
"Mereka memperkenalkan diri sebagai golongan Kupu-kupu Merah, juga memberikan ultimatum secara halus agar kita jangan turut mencampuri segala tindakan yang dilakukan mereka. Jika tidak menghendaki kehancuran total."
"Sungguh sombong !"
Gumam Liong Houw.
"Toako,"
Berkata lagi Lie Eng Eng.
"Tanggal 9 bulan tujuh masih satu bulan, kukira masih keburu kita untuk pergi ke Bu-tong-pay untuk menyaksikan apa yang mereka bisa buat disana, kalau perlu kita juga membantu pihak Bu tongpay, sedang suhu menurut keterangannya akan menuju kesana setelah menyambangi beberapa kawan."
"Mmmm......"
Liong Houw masih malas mengangkat kepalanya didada si gadis, ia masih tetap menyandarkan kepala itu di dada sang kekasih yang empuk padat berbau harum.
"Sudahlah ! Kita jangan berlarut-larut disini nanti bisa........."
"Bisa naik spaning !"
Potong Liong Houw tertawa kecil.
"Hiiii....."
Lie Eng Eng mencubit paha sang kekasih yang mulai kolokan.
"Ayohhh......"
Tangan Lie Eng Eng mendorong pundak Liong Houw perlahan.
Tapi pipi Liong Houw segera digeser-geserkan kejari halus Lie Eng Eng yang mendorong pundak, ia masih tetap segan bangun.
Bahkan kakinya kini sudah ditumpangkan diatas paha Lie Eng Eng.
Tiba-tiba terdengar suara alunan irama musik sayup-sayup datang terbawa angin dari arah pathong-ciep.
"Aaaaa......lagi-lagi suara itu !"
Gumam Lie Eng Eng.
"Bunyi apakah itu ?"
Tanya Liong Houw heran.
"Irama mandolin ! Hayo ! Cepat kejar iblis itu."
Begitu selesai ucapannya, begitu pula tubuh Lie Eng Eng bergerak bangun, ia tidak memperdulikan Liong Houw, segera bergerak kearah Pat-hong ciep, dimana terdengar datangnya suara irama mandolin tadi.
Liong Houw terkejut bercampur heran, dalam hatinya berpikir, iblis apa lagi yang muncul disiang hari bolong.
Tapi ia tidak mau berpikir panjang tubuhnya meletik bangun mengejar kearah larinya Lie Eng Eng, sambil berlarian ia bertanya.
"Sutit, iblis apakah....?"
"Lihat saja nanti !"
Potong Lie Eng Eng.
Tak lama mereka sudah tiba di Pat-hong ciep.
Ditengah hari bolong itu keadaan Pat-hong-ciep panik tidak keruan, orang-orang berlarian kian kemari menjerit histeris, tapi suara mandolin telah lenyap.
Dibeberapa rumah penduduk terdengar ratap tangis.
Beberapa orang yang lalu lalang dijalan mereka dapat melihat keadaan pakaian Liong Houw yang mengenakan pakaian kulit macan, tapi mereka tidak menjadi gentar ataupun panik karena menampak disebelah Liong Houw berjalan merendengi seorang gadis cantik berpakaian sutera putih.
Lie Eng Eng tidak memperdulikan kehiruk pikukan orang-orang itu, ia terus berlarian laksana bayangan setan menuju keutara dimana terdengar lenyapnya suara mandolin.
Sebentar saja mereka sudah jauh meninggalkan Pat-hong-ciep mendaki kearah bukit-bukit pegunungan.
Tiba-tiba.......
Clut ....
clutttttt......clutttt......
Beberapa bayangan merah meluncur datang mengurung tubuh Liong Houw dan Lie Eng Eng.
Liong Houw dan Lie Eng Eng masih berlarian, tiba-tiba muncul beberapa puluh bayangan merah mengurung dengan posisi berlari mengikuti arah mereka.
Maka cepat mereka menghentikan langkah.
Begitu langkah mereka terhenti, bayangan merah itupun menghentikan langkahnya pula.
Kini mereka berdiri berputar mengurung Lie Eng Eng dan Liong Houw.
"Kupu-kupu merah ! Cepat kalian minggir !"
Bentak Lie Eng Eng.
Salah seorang dari rombongan Kupu-kupu merah yang menjadi pemimpin rombongan berjalan maju, tampak tubuh itu merah seperti sesosok tubuh machluk berwarna merah telanjang bulat tidak berpakaian.
-dkwLIONG HOUW menatap memperhatikan orang yang jalan mendatangi dengan gayanya lenggak lenggok, tampak bagian buah dadanya membusung dua bukit yang juga rata berwarna merah sedang di bagian selangkangan antara kedua pangkal pahanya jelas menonjol segumpal daging juga rata berwarna merah sama dengan kulit bagian lainnya.
Wajahnya tampak merah beku.
Tiba dihadapan Lie Eng Eng ia berkata.
"Tidak perlu kau kejar setan mandolin itu, jejaknya tidak mungkin bisa kalian kejar."
"Siapa setan mandolin itu,"
Tanya Liong Houw.
"Dan kalian machluk-machluk aneh dari mana ?" "Ngg ... ."
Gadis merah mendengus.
"Setan mandolin adalah iblis wanita yang baru muncul, setiap kali ia memakan korban, selalu memainkan alat mandolinnya."
"Memakan "Apa...."
Korban....?"
Tanya Liong Houw.
"Kau juga harus hati-hati, mungkin kau juga kelak akan menjadi korban dari si iblis mandolin !"
Potong si wanita merah.
"Iblis itu senang sekali mencari laki-laki perjaka, diperasnya tenaga kelakian si perjaka untuk disalurkan kedalam tubuhnya, melalui hubungan sex yang dipaksakan, tidak seorang laki-laki pun bisa menghindar dari cengkeraman si iblis mandolin."
"Sex dipaksa?"
Tanya "Bagaimana terjadinya ?"
Liong Houw heran.
"Hei, apakah kau yang bernama Liong Houw ?"
Tiba-tiba si wanita merah bertanya, ia tidak menjawab pertanyaan Liong Houw. Liong Houw mengangguk.
"Dari mana kau tahu aku bernama Liong Houw ?"
"Segala apa aku tahu, bukankah kau juga pernah ditipu oleh seorang nenek yang mengaku bernama Sian, hingga kedua bilah pisau belatimu lenyap dibawa lari olehnya yang bukan lain adalah Kim-nio-mo-ong Gwat Leng, guru Kun-see-mo ong Teng Kie Lang ?"
"Hebat!"
Puji Lie Eng Eng.
"golongan kalian baru muncul beberapa bulan saja, tapi kalian sudah bisa mengetahui peristiwa yang terjadi pada tiga tahun yang lalu." "Bukan saja apa yang terjadi pada tiga tahun yang lalu, bahkan peristiwa tragis pada duapuluh tahun yang menimpa sepasang pendekar budiman Thio Ban Liong kami tahu jelas beberapa bagian ...."
"Ayaaaaa....."
Liong Houw mundur selangkah.
Ia menatap sepasang sinar mata wanita tadi.
Tidak terkecuali Lie Eng Eng, memandang tajam kearah wanita itu.
matanya "Hmmm ....
kau Liong Houw!
Sebagaimana partai-partai rimba persilatan telah kuberi ultimatum untuk tidak turut campur dalam segala sepak terjang golongan kupu-kupu merah, maka pada kesempatan ini kuharap kau tidak campur urusan-urusan yang akan kami lakukan."
"Apakah urusan Bu-tong-pay ?"
Tanya Lie Eng Eng.
"Bukan saja Bu-tong-pay tapi juga menyangkut beberapa partai lainnya, kalau mereka membangkang untuk membubarkan diri, kami tidak segan-segan mengambil tindakan yang diluar perikemanusiaan."
"Kalian sebetulnya siapa ?"
Tanya Liong Houw.
"Dendam permusuhan apa antara kalian dengan partai-partai rimba persilatan itu?"
"Sementara belum bisa diterangkan,"
Berkata pula si perempuan merah.
"Hanya yang perlu kau perhatikan, jangan sekali kali kau turut campur gerakan kami agar tidak menyesal dikemudian hari." "Hm, kau sungguh jumawa, apakah ilmu kepandaian kalian saja yang bisa membuat diri kalian malang melintang dirimba persilatan, tanpa ada seorang yang bisa menghalangi ?"
"Untuk masa ini begitulah!"
Jawab si perempuan merah.
Tiba-tiba saja tubuh Liong Houw melejit tangannya dijulurkan menyambar muka wanita tadi.
Wanita itu mengetahui maksud sambaran tangan Liong Houw, tentunya si pemuda ingin mencopot kedok kulit pada mukanya, tangan kanannya diangkat memapaki datangnya samberan tangan Liong Houw.
"Brukkkk........."
Terdengar benturan dua kekuatan, tubuh Liong Houw mental balik ketempat semula dimana ia berdiri. Sedang si wanita merah dengan senyum tanpa seri, masih tetap berdiri tegak ditempatnya.
"Diam ditempatmu!"
Tiba-tiba wanita merah itu membentak kearah Lie Eng Eng.
Lie Eng Eng turut menyaksikan perbuatan Liong Houw yang menubruk wanita itu, ia juga mempunyai pikiran sama, wanita ini pasti mengenakan kulit kedok tipis, maka setelah Liong Houw berhasil dipukul mundur, cepat ia bergerak menubruk untuk mencopot kedok wanita itu Tapi baru saja tubuhnya bergerak, tiba-tiba si wanita merah membentak, dan entah bagaimana, Lie Eng Eng tidak bisa maju, seakan timbul satu kekuatan yang tak tampak menahan maju tubuhnya.
Liong Houw merasa penasaran, didorong mundur oleh gerakan tangan si wanita merah segera menyerang maju kembali.
Tapi baru saja kakinya melangkah maju si wanita merah itu menjulurkan tangan kemuka dengan tapak tangannya terkembang menahan datangnya tubuh Liong Houw.
Mendadak, seperti ada satu kekuatan yang menahan majunya Liong Houw, keadaannya seperti dengan keadaan Lie Eng Eng.
Tubuh Liong belakang.
Houw tiba-tiba terjungkel ke "Hayaaa.........."
Si wanita merah terkejut.
Tidak kalah terkejutnya Lie Eng Eng, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, tubuhnya masih tertahan oleh kekuatan yang menghalang gerak majunya.
Belum lagi hilang terkejutnya si wanita merah, tubuh Liong Houw yang terjungkel kebelakang tiba-tiba meletik bangun, ia mendorong kedua telapak tangannya.
Byurr .........
Satu kekuatan laksana air bah mendorong mendobrak setiap penghalang meluncur keluar dari telapak tangan Liong Houw.
Tubuh si wanita merah tergetar menahan dorongan kekuatan tadi.
Tak lama ia melesat keudara menghindari datangnya serangan yang sangat luar biasa.
Begitu tubuh wanita merah meluncur keudara, kekuatan angin serangan Liong Houw meluncur terus, membentur tiga orang wanita merah yang mengurung yang tadi berdiri dibelakang pemimpin mereka, tubuh mereka melayang terpentalan ke semak-semak belukar.
"Hihhihihihihi......hi hi..."
Ditengah udara si wanita merah tertawa mengikik, lalu tubuhnya meluncur kembali ketanah.
"Mmm, boleh juga tenaga dalammu sudah lumayan."
Berkata lagi si wanita merah.
"Eeeeeeee. ...... eh, tunggu ! Sabar! Jangan menyerang lagi."
Liong Houw begitu menampak si wanita merah telah berdiri kembali didepannya, ia segera menggerakkan tangan untuk menyerang, tapi keburu dicegah oleh si wanita merah, maka Liong Houw pun tidak melanjutkan serangannya.
"Liong Houw!"
Berkata lagi si wanita merah.
"Ilmumu hebat, tapi untukmembalas sakit hati orang tuamu, kau masih memerlukan sebilah pedang, itulah Pedang Embun, sebelum kau mendapatkan pedang itu, jangan harap kau bisa membalas sakit hati orang tuamu, meskipun kepandaianmu sudah mencapai taraf yang tinggi, tapi lawan-awanmu adalah manusia yang memiliki kekuatan tenaga luar biasa, diantaranya terdapat beberapa manusia iblis yang berilmu gaib."
"Hmm, lebih baik kau jangan ngoceh bertele-tele, cepat buka kedokmu, aku ingin lihat wajah aslimu !"
Kata Liong Houw. "Apakah kau tidak menginginkan kedua bilah pisau belatimu itu ?"
Berkata si wanita merah. Mendengar perkataan itu, Liong Houw berdiri mematung, telinganya seakan mendengung, katakata itu menusuk telinganya.
"Hai, jangan mematung ! Cepat jawab, apakah kau menginginkan kembali pisau belatimu?"
Berkata lagi si wanita merah.
"Hmmm...."
Dengus Liong Houw.
"cepat kau tunjukkan di mana jejak nenek Sian !"
"Tidak perlu mencarinya,"
Berkata si wanita merah.
"Kedua bilah pisau itu telah berhasil kurebut dari tangan si iblis tua."
"Kalau begitu cepat serahkan!"
Berkata Liong Houw dengan debaran dadanya yang keras. Si wanita merah tersenyum, tapi senyum itu tak sedap dipandang, terlalu dingin tak berseri. Kaki Liong Houw melangkah maju.
"Berhenti! Jangan maju lagi."
Berkata si wanita merah.
"Kau tahan nafsumu, jika kau menghendaki pisau belatimu itu mudah, asal kau bersedia memenuhi syarat-syaratku, bahkan bukan dua bilah saja, juga aku akan memberi hadiah sebilah yang berukir gambar pedang."
"Haaaaa..........jadi kau..........kau...........telah memiliki ketiga pisau-pisau itu............."
Kata Liong Houw tergetar.
"Bersediakah kau menerima syarat-syaratku?"
Bertanya si wanita merah.
Sejenak Liong Houw tidak bisa menjawab, ia bingung, syarat-syarat apakah yang harus dipenuhinya untuk mendapatkan pisau-pisaunya yang mengandung peta rahasia itu?
Lie Eng Eng melangkah berjalan kesamping Liong Houw, ia membisiki sesuatu di-telinga si pemuda.
Liong Houw menganggukkan kepala, lalu katanya .
"Sebutkan lebih dulu apa syaratsyaratmu nanti akan kupertimbangkan."
"Huh ! Kau katakan dulu! apakah bersedia menerima syarat-syarat itu ?"
Berkata lagi si wanita merah.
"Gila!"
Bentak Lie Eng Eng.
"Cepat! Kau katakan terima atau tidak syarat itu, aku tidak ada waktu untuk ngobrol lama-lama denganmu."
"Hmmm, tanpa segala macam syarat aku bisa mengambil pisau belati itu dari tubuhmu!"
Kata Liong Houw marah.
"Kau lihat!"
Si wanita merah mengangkat tangan keatas.
"Ditubuhku tak terdapat apapun, bilamana kau tidak segera menyatakan menerima syarat aku akan segera pergi dari tempat ini, dan pisau-pisau itu akan kuberikan kepada siapa saja yang bersedia menerima syaratku tanpa syarat."
"Syarat tanpa syarat! Sial!"
Gumam Liong Houw.
"Ya, syarat tanpa syarat!"
Berkata si wanita merah.
"Dan kau jangan coba-coba main gila, meskipun kau berhasil membekuk tubuhku, tapi jangan harap selama hidup kau bisa mendapatkan pisau-pisaumu, setiap setengah lie dari jarak tempat ini, disana sudah menunggu seorang anggota Kupu-kupu merah, bilamana terjadi bencana terhadap diriku, mereka segera melaporkan semua ini kepada kaucu kami, dan kaucu kami bisa segera menghancurkan pisaupisau belati itu atau menyerahkan kepada seorang Iblis salah satu dari musuh pembunuh ayahmu, nah jika sudah demikian apa yang bisa kau katakan, juga sudahkah kau mengetahui siapa-apa musuh-musuh ayahmu itu? Golongan kami mengetahui jelas duduk perkara ini."
Mendengar penuturan itu hati Liong Houw tergerak, selama ini ia belum mengetahui siapa pembunuh ayah ibunya, kemana lenyapnya sang orang tua, kini dihadapannya muncul orang-orang berkulit merah yang mengetahui seluk beluk tentang lenyapnya sang ayah, ia menatap kearah Lie Eng Eng, tatapan itu dibalas dengan anggukkan, yang menyatakan Liong Houw boleh menerima syarat, apa boleh buat.
Jika perlu kelak sesudah mendapatkan pedang embun ia toh bisa berbuat sesuka hatinya, malang melintang tanpa ikatan atau tekanan dari golongan manapun maka setelah berpikir demikian Liong Houw berkata.
"Baik aku terima syaratmu."
"Nah dengar baik-baik, syarat pertama, kau tidak diperkenankan turut campur dalam urusan Bu-tong-pay dan segala akibat yang ditimbulkan dari tindakan kami terhadap partai tersebut."
"Mmm, syarat lainnya ?"
Tanya Liong Houw. "Syarat kedua, bilamana kau telah mendapatkan pedang embun, harus bersedia bekerja sama dengan golongan kami !"
"Mmmm........"
"Bagaimana apakah kau sudah mengerti?"
"Tidak, aku tidak mengerti syarat-syarat gilamu......."
"Cukup, mengerti atau tidak itulah yang harus kau lakukan, nah sampai pada tanggal 9 bulan 7 digunung Bu-tong, kalian tunggu kami disana, hei, kau juga harus segera membekuk Leng-leng Paksu, dari padanya kau akan mendapatkan keterangan-keterangan, siapa-apa yang turut dalam pembunuhan terhadap ayahmu, jika ia tidak mau membuka suara, siksa saja, jika perlu langsung bunuh."
Selesai ucapannya, tubuh si wanita merah melejit keudara diikuti oleh beberapa orang rombongan anggotanya, meninggalkan semak belukar.
Singkatnya cerita, tanggal 9 bulan 7 sudah tiba.
Hari masih terlalu pagi, burung-burung masih ramai berkicau, suara gerengan binatang buas terdengar disana sini, tampak seorang pemudi berpakaian sutera putih dan seorang pemuda mengenakan pakaian kulit macan berlarian mendaki keatas puncak gunung Bu-tong-san.
Halimun masih tebal diterjang dua sosok tubuh yang berlari pesat membuyarkan halimun yang menebal dibukit pegunungan.
Dari jauh, tampak bangunan megah berdiri angker dipuncak gunung, itulah kelenteng partai Bu-tong-pay.
Memasuki pintu gerbang, disana bergelimpangan mayat-mayat tosu yang sudah membengkak, bau amis darah menusuk hidung.
Keadaan suasana kelenteng Bu-tong-pay sunyi senyap tidak ada seorangpun yang masih hidup, beberapa puluh mayat-mayat bergelimpangan ditanah.
Dengan menggunakan pedang Ang-lo-po-kiam Lie Eng Eng memeriksa tubuh mayat-mayat yang menggeletak ditanah, dari tubuh-tubuh mayat itu tidak terdapat luka bekas bacokan atau tusukan pedang atau luka pukulan tangan.
Kematian mereka sungguh sangat mengherankan.
Entah dibunuh oleh ilmu atau senjata apa, sampai detik itu, Lie Eng Eng belum menemukan tanda-tanda.
Meninggalkan mayat-mayat yang membengkak, Lie Eng Eng berjalan masuk kedalam kelenteng diikuti Liong Houw.
Kamar demi kamar, ruangan demi ruangan diperiksa oleh mereka, disana tak tampak manusia hidup, keadaan dalam kelenteng sama dengan keadaan diluar, mayat-mayat yang membengkak menggeletak disetiap langkah.
"Aaaaa.......... Bu-tong Kiam-khek......."
Tiba-tiba Lie Eng Eng berteriak.
Langkahnya diayun kearah tubuh mayat yang saling tindih dengan pedang di tangan.
Baru saja Lie Eng Eng mendekati ke tubuh mayat-mayat itu, tiba-tiba dari luar melesat masuk sesosok bayangan, kemudian disusul pula oleh beberapa langkah kaki yang berlari masuk mengikuti langkah kaki sesosok bayangan yang terdahulu.
"Suhu !"
Teriak Lie Eng Eng.
"Apa kalian temukan......."
Baru saja kata-kata itu sampai dipintu, Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw menatap kearah Liong Houw yang sedang berjongkok memeriksa mayat-mayat itu.
"Aaaaaaa........"
Terdengar suara Pie-tet Sinkay.
"Kau bocah.....heei, eh, kau Liong Houw !"
Ternyata baru pertama kali ini rombongan Pietet Sin-kay mengetahui rahasia tentang si pemuda yang berpakaian kulit macan ternyata dialah Liong Houw.
Si Pengemis cilik Ho Ho yang sejak tadi memperhatikan Liong Houw yang jongkok memeriksa mayat-mayat para tosu Bu-tong-pay ia belum mengenalinya, setelah suhunya berkata tadi barulah ia tahu bahwa pemuda yang berambut gondrong mengenakan pakaian kulit macan adalah Liong Houw.
"Toako,"
Teriak si pengemis cilik Ho Ho.
"Aaaaah, kalian juga datang!"
Berkata Liong Houw mendongakkan kepala.
"Hebat ilmu kepandaian si kupu-kupu merah, mayat-mayat ini mati tanpa luka, entah ilmu apa yang mereka gunakan." "Kupu-kupu merah?"
Tanya Ong Pek Ciauw.
"Bukankah mereka akan datang pada hari ini, menurut tanda-tanda mayat-mayat ini mereka sudah mati sejak empat hari yang lalu..."
"Pasti mereka mengetahui kalau kita akan datang membantu Bu-tong-pay, untuk tidak melibatkan diri kita dalam urusan ini mereka telah memajukan waktu yang ditetapkan."
Berkata Lie Eng Eng.
"Tapi tindakan mereka sungguh keterlaluan."
"Mmm, tidak ada seorangpun yang hidup. Butong pay mengalami kehancuran total!"
"Hihhhhhh, hihihi......"
Tiba-tiba terdengar suara tertawa yang melengking garing, kemudian disusul dengan suara yang halus merdu.
"Kalian jago-jago rimba persilatan cepat keluar meninggalkan kelenteng ini, jangan sampai terlambat......."
"Kau tunjukkan rupamu."
Bentak Lie Eng Eng.
"Ngg, jangan banyak bicara didalam, cepat kelenteng ini akan segera meledak!"
"Cepat keluar!"
Liong Houw memberi peringatan, ia maklum kata-kata suara tadi bukan kata-kata gertakan, tentu itulah salah seorang anggota kupukupu merah.
Bertepatan dengan melesatnya para jago meninggalkan kelenteng itu, maka terdengar suara-suara ledakan yang menggema menggetarkan tanah disekitarnya.
Liong Houw, Lie Eng Eng, Ong Pek Ciauw dan Pie-tet Sin-kay dengan muridnya si pengemis cilik Ho Ho jumpalitan menggelinding jatuh kebawah gunung, mereka menghindari ledakan-ledakan yang baru saja meledakkan kelenteng Bu-tong-pay, tak lama asap mengepul keudara, kelenteng Butong-pay runtuh menjadi puing-puing.
"Aaaaaaa dimana dia ....?"
Terdengar si pengemis cilik Ho Ho berteriak.
Wajah Lie Eng Eng berubah, ia celingukan mencari jejak Liong Houw tapi bayangan si pemuda sudah lenyap.
Kemana perginya Liong Houw ?
Ketika tubuh Liong Houw jumpalitan ke bawah gunung menghindari letusan-letusan kelenteng Butong, tiba saja tubuh si pemuda terayun terbang.
Liong Houw sendiri begitu merasakan tubuhnya terangkat terbang ia berusaha memberatkan tubuhnya, tapi usahanya sia-sia karena daya tarikan yang menarik tubuhnya keudara kuat sekali, tubuh itu terumbang ambing terbang diantara batang-batang pohon.
"Brrukkkkkkkkkk......."
Tiba-tiba Liong Houw ambruk di tanah.
Secepat itu pula Liong Houw meletik bangun.
Dihadapannya berdiri berbaris wanita-wanita berkulit dan berwajah merah dua dikanan dan dua lagi disebelah kirinya.
"Mmm, permainan apa pula yang kalian akan tunjukkan !
Cepat serahkan pisau-pisau belatiku menurut perjanjian !"
Setelah menggulung masing-masing tali tenur merah yang tadi digunakan untuk mengait tubuh Liong Houw, dan menyesapkan disisipan rambutrambut mereka, salah seorang berkata .
"Liong Houw kau ikutlah kami untuk menerima pisaupisau belatimu."
"Tipu muslihat apa yang kalian akan lakukan !"
Bentak Liong Houw.
"Bukan tipu muslihat, tapi....."
"Tapi apa?"
Potong Liong Houw tidak sabar.
"Pisau-Pisau itu tidak berada di tubuh kami, jika kau menghendakinya, ikut kami, itu pun terserah padamu, dengan suka rela mengikuti jejak kami, ataukah kami akan menggunakan tenur-tenur merah ini untuk menyeret tubuhmu!"
Si wanita merah berkata dengan menunjukkan tali tenur berwarna merah yang sudah tergulung, diujung tali tenur itu terdapat kaitan.
Tadi ketika Liong Houw masih berguling gulingan, keempat wanita merah memancing tubuh Liong Houw, setiap kaitan tepat mengenai pakaian belakang Liong Houw yang terbuat dari kulit macan, maka dengan mudah keempat wanita itu menarik tubuh si pemuda, mereka berlompatan diatas dahan-dahan pohon yang berjejer di tepi jalan yang mereka lalui, sehingga keadaan Liong Houw seakan terbang.
"Kalian sebangsa siluman gila!"
Kata Liong Houw.
"Kalian kira aku takut dengan segala macam tipu muslihat kalian, hayo jalan, apa yang akan kalian lakukan."
Wanita merah yang berbicara dengan Liong Houw, menepuk tangan, kemudian ketiga wanita lainnya melesat pergi, gerakan mereka seakan kupu-kupu terbang berlompatan diatas dahandahan pohon.
"Liong Houw, ketahuilah, golongan kami dengan dirimu mempunyai kesulitan serta musuh yang sama, hanya sampai saat ini kami belum bisa berbuat apa-apa, kelak setelah Pedang Embun kau dapatkan, kami akan membantumu menumpas musuh-musuhmu."
"Aku tidak butuh bantuan kalian."
Berkata Liong Houw.
"Hayo cepat, dimana pisau-pisau belati itu."
"Ikut aku!"
Berbarengan dengan ucapannya si wanita merah melesat menuju ke timur.
Liong Houw mengikuti langkah larinya wanita merah tadi.
Meskipun Liong Houw terlambat sedetik saja, tapi ia harus mengerahkan tenaga sepenuhnya untuk mengejar larinya si wanita merah, baru ia berhasil merendengi si wanita tersebut.
"Ilmu lari cepatmu boleh juga,"
Kata si wanita merah.
"Kau sudah berhasil melatih ilmu didalam lembah air terjun?" "Dari mana kau tahu ?"
Tanya Liong Houw heran.
"Mmmm, setiap gerakanmu sudah lama kami ketahui, lama ketika kau baru saja terjun didunia kaug-ouw, suhu sudah mengetahui hal ichwalmu, bahkan urusanmu dengan Lie Eng Eng.......hiihihhh........."
"Kau ngoceh !"
Bentak Liong Houw.
Perjalanan dilakukan siang malam, mereka berlarian dijalan hutan-hutan rimba, tidak pernah masuk kota, makan setiap hari hanya buah-buahan, atau minum sumber mata air jika perlu meminum air sungai.
Pada hari kesepuluh sejak terjadinya penghancuran partai Bu-tong-pay, mereka tiba ditepi pantai yang berlamping curam.
Terdengar deburan ombak membentur batu-batu karang yang bertebaran ditepi pantai.
Liong Houw berdiri ditepi pantai, menatap ketengah lautan bebas.
"Lihat !"
Berkata si wanita merah menunjukkan jarinya ke tengah laut.
matanya sambil Liong Houw memandang arah yang ditunjuk oleh si wanita merah.
Ditengah-tengah deburan ombak yang menggulung berbuih, nampak meluncur sebuah kapal layar berwarna merah mendatangi ketepi pantai di mana mereka sedang berdiri.
Angin laut bertiup kencang, rambut kedua orang yang berdiri tegak ditepi pantai riap-riap berkibar, suara deburan ombak tidak hentinya, sedang kapal layar merah masih meluncur mendatangi.
Kini tampak kapal layar merah mulai menurunkan layar, gerakan lajunya terhenti, hanya tampak kapal itu bergoyang-goyang dihembus ombak yang turun naik.
Tak lama, tampak sebuah perahu kecil dikayuh oleh tiga orang yang juga berkulit merah, rambut para pengayuh beriap-riapan ditiup angin.
Perahu itu meluncur ketepi pantai, kadang kala tampak mumbul diatas gulungan ombak kadang kala lenyap terhalang oleh ombak yang menggulung.
Seakan perahu itu mendatangi timbul tenggelam di permukaan laut.
Byur...
byurrrr....
Kedua orang wanita merah yang mengayuh perahu kini lompat turun, mereka menyeret perahu kepantai.
"Hayo....."
Berkata si wanita merah sambil menarik tangan Liong Houw lompat turun dari atas tebing, lalu berlarian berlompatan diantara batubatu karang menuju kearah perahu kecil itu.
Liong Houw hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh wanita-wanita merah itu, meskipun dalam hatinya penuh tanda tanya, siapakah dan dari manakah machluk-machluk aneh seperti ini dan apa yang akan dilakukan terhadap dirinya, tipu muslihat apa lagi yang akan dialami si pemuda.
Ketika telah sampai diatas kapal layar berwarna merah, maka sauh diangkat, layar terkembang mengarungi lautan bebas.
Semua anak kapal terdiri dari wanita-wanita merah, jumlah mereka tidak kurang dari tigapuluh orang.
Didalam kamar yang merupakan kamar Kapten, didinding-dinding ruangan terdapat macam-macam peta, sedang disudut kanan terdapat meja persegi diatas mana terdapat gambar peta dunia, berikut ukuran-ukuran garis-garis vertikal dan horisontal, juga terdapat beberapa alat-alat pengukur jarak, teropong dan lain-lain.
Sedang ditengah-tengah ruangan terdapat sebuah meja, dibelakang meja duduk lima orang berpakaian merah, sedang ditengah-tengah dikursi yang lebih tinggi dari keempat kursi yang diduduki oleh empat wanita merah itu duduk seorang yang juga berkulit dan berwajah merah, sinar mata itu berkilat terang, menunjukkan betapa tingginya ilmu kepandaiannya.
Sedang wanita yang datang bersama Liong Houw duduk disamping kanan wanita merah yang bermata berkilat itu.
Liong Houw duduk dimuka mereka, seperti seorang persakitan yang menunggu pemeriksaan para jaksa dan menunggu keputusan vonis hakim, ia duduk dengan tenang menatap satu persatu dari kelima wanita tadi, Liong Houw dengan sepintas lalu bisa membedakan bahwa wanita yang duduk dikursi yang lebih tinggi, tentunya adalah seorang nenek-nenek tua, ia bisa melihat bentuk buah dada yang menonjol merah, wanita itu tampak buah dadanya sedikit gepeng, tidak menonjol tajam seperti keempat wanita lain, yang merupakan wanita-wanita muda.
"Nenek!"
Berkata Liong Houw, ia menahan rasa gelinya atas permainan yang ditunjukkan didepannya.
Si wanita yang duduk dikursi tertinggi, mendengar sebutan itu tampaknya ia terkejut hampir saja ia bangun dari kursinya, matanya berkilat terang, tapi cepat-cepat ia tersenyum dan lalu berkata.
"Bocah ! Hebat pandangan matamu, darimana kau bisa mengetahui kalau aku seorang nenek ?"
"Hmmm, nenek, meskipun pakaian tipismu berwarna dan berbentuk sama dengan wanita lainnya, huh, kau lupa sesuatu ..."
"Sesuatu apa ?"
Potong si wanita merah yang duduk dikursi tertinggi.
"Tetekmu, tetekmu yang gepeng peot, berbeda dengan keempat wanita-wanita lainnya."
Keempat wanita merah yang mendampingi si wanita tadi segera menolehkan kepala berbareng, memperhatikan kearah apa yang disebut Liong Houw, memang benar buah dada itu agak gepeng peot.
Begitu mereka menampak buah dada wanita itu, mereka tidak bisa menahan rasa gelinya.
Keempatnya tertawa cekikikan.
Braaaaakkkkk.......
Tiba-tiba si nenek merah yang duduk di kursi tinggi menggeprak meja.
"Apa yang kalian tertawakan ?"
Keadaan ruangan dalam kamar itu sunyi kembali hanya terdengar suara deburandeburan ombak yang memecah memukul samping kapal.
Dan terasa olengnya kapal layar itu.
"Hei, kalian menjanjikan mau menyerahkan pisau belati itu ?"
Tiba-tiba Liong Houw membuka pembicaraan kembali.
"Mmm . ."
Terdengar si nenek merah berdengus.
"Hei, kalian sudah mengetahui namaku, tapi bagaimana kalian belum memperkenalkan nama masing-masing hingga sulit bagiku untuk bicara dengan siapa diantara kalian!"
"Hmm. Kami sudah melupakan nama, yang masih aku ingat adalah dendam. Pembalasan dendam. Jika kau hendak bicara, tatap saja mataku, berarti kau bicara padaku, bila kau hendak bicara dengan para pengawalku, kau pandang, tatap mata mereka. Pasti mereka akan melayani kau bicara."
"Mana pisau-pisau belati itu ?"
Bertanya lagi Liong Houw.
Si nenek merah yang duduk diatas kursi tinggi, melirik kearah wanita merah yang berada disamping kirinya, sambil menganggukkan kepala.
Wanita tadi segera bangkit dari duduknya, lalu menghampiri sebuah lemari, dari sana ia mengeluarkan tiga bilah pisau belati.
Setelah mana balik duduk kembali kekursinya dan meletakkan ketiga bilah pisau itu dihadapan si nenek merah yang duduk dikursi tinggi.
"Kau lihat! Bukankah yang dua milikmu?"
Kata nenek merah yang menjadi pimpinan mereka. Liong Houw hendak menjulurkan tangan. "Jangan sentuh!"
Bentak wanita merah yang mengambil pisau itu dari dalam lemari.
"Pisau itu telah direndam dalam racun, bilamana kau menyentuhnya, maka seluruh tubuhmu akan segera membusuk."
Cepat Liong Houw menarik kembali tangannya yang tadi ia ulurkan untuk mengambil kedua bilah pisaunya.
"Apa maksud kalian ?"
Bentak Liong Houw.
"Dan apa yang akan kau lakukan, nenek peot !"
Si nenek merah yang duduk dikursi tinggi yang ternyata memang seorang nenek, dengan tersenyum mengangguk anggukkan kepala, lalu mengambil ketiga bilah pisau belati itu, dengan sekali gerak, ketiga bilah pisau itu meluncur dan menancap diatas langit-langit ruangan dalam kamar itu.
"Kau tidak perlu memecahkan arti tulisan tulisan yang terdapat dalam tiga bilah pisau belati itu, semua telah kami ketahui, ketiga bilah pisau belati itu sengaja kami rendam dalam racun yang sangat berbisa untuk mencegah pencurian terhadap benda itu atau penghianatan dari anak-anak muridku, dari empat puluh orang anak muridku hanya seorang yang bisa memegangnya sedang yang lainnya bilamana menyentuh pisau-pisau itu, daging-daging mereka akan segera membusuk, meskipun kulit tubuh dilapisi pakaian kulit yang setebal apapun."
Liong Houw mendongak keatas, papan-papan langit-langit kamar yang tertancap ketiga pisau belati tadi tampak sekeliling papan langit-langit kini berwarna hitam akibat pengaruh racun yang terdapat pada pisau belati.
Sedang diatas meja dimana tadi diletakkan ketiga pisau belati itu masih jelas terpeta warna hitam seakan-akan lukisan tiga bilah pisau.
Hebat sungguh luar biasa racun yang melekat pada pisau-pisau belati itu.
Tambah lama keadaan dalam kamar kapal layar tambah goncang, kapal layar itu kadang kala oleng kekiri kanan, kadang kala seakan terbanting dari belakang kedepan sedang suara ombak laut yang memukul-mukul tepian kapal terdengar mendebur keras sekali.
Membuat orang-orang yang duduk dalam kamar kapten itu mengikuti irama gerak goyang kapal layar tadi.
"Liong Houw !"
Terdengar kembali si nenek merah berkata.
"Kau sengaja dibawa kemari, untuk mengambil Pedang Embun itu."
"Dimana berdebar. Pedang itu?"
Tanya Liong Houw "Disekitar pulau gunung api dilaut Lam-hay !"
Kata si nenek.
"Pulau gunung api ?"
Liong Houw heran.
"Menurut keterangan peta dan tulisan yang didapat dari tiga bilah pisau belati itu, Pedang Embun terdapat di pulau terpendam didasar laut, disekitar pulau gunung Api."
"Pulau terpendam?"
Tanya Liong Houw. Si nenek merah mengangguk, katanya .
"Tentang pulau terpendam, setiap tokoh rimba persilatan dari kalangan tua pernah mendengarnya, pulau itu terdapat disekitar pulau Gunung Api, pada seribu tahun yang lalu telah terjadi perobahan alam disekitar kepulauan tersebut, hingga pulau berikut penghuni tenggelam kedasar laut dan hanya beberapa orang saja yang berhasil menyelamatkan diri. Cerita itu telah turun temurun. Hanya tidak ada seorang-pun yang mengetahui siapa-apa penghuni pulau itu, juga tidak ada orang yang mengetahui bahwa sebilah pedang pusaka terpendam didasar laut diatas pulau terpendam itu."
"Mmm, jadi bagaimana kita bisa percaya ketiga bilah pisau itu merupakan peta dari pulau terpendam ?"
Berkata si wanita merah yang duduk disebelah kanan si nenek.
"Mungkin salah seorang dari mereka yang berhasil menyelamatkan diri membuat tiga bilah pisau itu,"
Berkata Liong Houw.
"Itulah,"
Si nenek berkata.
"Kejadian ini sulit di ilmiah, tapi dengan kepandaianmu dan berkat latihanmu didalam lembah air terjun, kau sudah memiliki ilmu ampibi hingga sanggup hidup didalam air."
"Apa????"
Liong Houw terjengkit bangun.
"Bagaimana kau tahu akan ilmu yang kulatih?"
"Duduk, ayo duduklah, tidak perlu panik, muridku bukankah sudah pernah mengatakan setiap gerak gerikmu sudah dalam pengawasan kami selama bertahun-tahun, dan tentang lembah itu, aku pernah memasukinya."
"Haaa, kau juga pernah memasukinya ?"
Kata Liong Houw terkejut.
"Mengapa tidak melatih ilmu itu ?" "Bagi orang-orang yang sudah pernah melatih ilmu silat dari cabang lain tidak mungkin bisa melatih ilmu itu, begitu pula sebaliknya, bilamana memaksakan diri untuk melatih pasti orang itu akan mengalami jalan darah masuk api. Lebihlebih selama berlatih orang diharuskan belum pernah memakan makanan-makanan selain dari buah-buahan. Kau masih kurang hati-hati, kitab semedhi itu kau tinggalkan begitu saja didalam goa !"
"Mana kitab itu, apakah kau bawa ?"
Tanya Liong Houw.
"Sudah kuhancurkan,"
Jawab si nenek merah.
"Hei siapa sebenarnya kalian ?"
Tanya Liong Houw.
"Belum waktunya kau mengetahui!"
Jawab si nenek. Perjalanan dilanjutkan. Suatu ketika....... Tiba-tiba dari luar datang memasuki seorang wanita merah, lalu berkata .
"Suhu ! nampak !"
Puncak pulau gunung api sudah "Putar haluan kearah kiri !"
Perintah si nenek.
"Ayo kita naik kegeladak." -dwDlATAS geladak kapal layar merah Liong Houw berdiri memperhatikan puncak pulau gunung api yang mengepulkan asap timbul tenggelam dipermukaan laut. Pemandangan itu tidak mengherankan Liong Houw meskipun tampaknya puncak gunung api itu timbul tenggelam dipermukaan laut, tapi bukanlah pulau itu yang timbul tenggelam, tapi kapal layar merah yang ditumpanginya yang timbul tenggelam, sebentar mumbul diangkat ombak setinggi gunung, kadang kala terhempas kebawah ditinggalkan gulungan ombak yang menderu-deru.
"Kurangi kecepatan."
Perintah si nenek merah.
Beberapa wanita merah segera menaiki tanggatangga tali, mereka melepaskan beberapa tali layar, maka layar-layar yang sedang terkembang ketika tali-talinya terputus segera menggulung menyelorot turun, dan seketika kecepatan kapal layar itu berkurang.
"Putar kekanan."
Perintah lagi si nenek merah. Sambil memperhatikan keadaan letak arah pulau gunung api.
"Kurangi kecepatan !"
Perintah lagi si nenek. Maka satu tiang layar kembali melorot turun. Kecepatan lajunya perahu tambah berkurang, diombang ambingkan ombak.
"Ambil arah barat laut."
Terdengar pula si nenek memberi perintah.
Disebelah barat laut pulau Gunung Api, perahu layar merah menurunkan sauh, layar layar sudah tidak berkembang lagi, ombak-ombak menggunung berkejar-kejaran mengombang ambingkan kapal layar.
Kira-kira dibawah sini letaknya pulau yang terpendam, nah kau terjunlah, sebelum kau naik kepermukaan, kami selama itu menunggu. Selamat bekerja."
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Liong Houw terjun kedalam lautan.
Baru saja Liong Houw menerjunkan diri, tubuhnya diombang-ambingkan ombak tapi begitu Liong Houw memasuki lebih dalam tekanan ombak berkurang, akhirnya sudah tidak terasa lagi tekanan ombak, ia terus meluncur turun.
Ikan-ikan kecil beraneka warna berkelompok berenang kian kemari.
beriring Diatas karang-karang laut ikan-ikan karang berenang kejar-kejaran.
Liong Houw melangkahkan kakinya didasar lautan seakan ia berjalan ditanah daratan.
Sementara kapal layar merah masih menunggu diperairan pulau Gunung Api.
Mata para awak kapal memperhatikan gerakan tubuh Liong Houw yang makin lama makin tenggelam kedalam, kemudian tak tampak pula bayangannya.
Puncak gunung Api yang mengepulkan asap hitamnya kadangkala mengeluarkan suara letusanletusan.
"Suhu!"
Terdengar suara kejut salah seorang wanita merah ditujukan kepada si nenek merah.
"Hmmm..........."
Dengus si nenek merah. "Belakangan ini sering kali pulau gunung api itu mengeluarkan letusan-letusan, mungkin........."
Baru berkata sampai disitu, tiba-tiba terdengar kembali suara letusan gunung berapi, letusan itu lebih keras dari pada letusan-letusan yang terdahulu.
"Suhu, apakah pulau gunung api ini akan meletus?"
"Hmm, kalau dilihat dari letusan-letusan, mungkin gunung berapi ini akan segera meletus."
Beberapa kali terdengar pula suara letusanletusan dari puncak gunung berapi yang mengeluarkan asap, kini tampak letusan-letusan itu mengeluarkan bara api yang menjulang tinggi setiap kali terjadi letusan, pulau sekitar pulau gunung api itu bergerak, seakan terjadi gempa bumi, gerakan-gerakan itu juga terasa sampai dikapal layar yang mereka tumpangi.
Si nenek merah yang menyadari bahaya hatinya bergoncang keras, meskipun tidak tampak perobahan wajahnya, tapi sinar matanya memancarkan cahaya kekuatiran.
Sedang para anak buah kapal yang terdiri dari wanita-wanita berkulit merah, tampak mereka sudah gelisah sedemikian rupa, hanya mereka tidak berani mengemukakan sesuatu dihadapan sang kapten kapal yang juga merupakan suhu mereka.
Setiap gerak mata berganti ganti memandang keatas puncak gunung berapi yang meletus-letus mulai mengeluarkan lahar meleleh turun, kadang kala mata-mata mereka menatap kebawah dasar laut, tapi disana tak tampak bayangan Liong Houw, yang tampak hanya beberapa kelompok ikan yang berlarian menyingkir dari getaran air yang diakibatkan dari letusan-letusan tadi.
"Suhu, apakah tidak lebih baik kita menyingkir lebih dulu dari pulau gunung api ini menunggu munculnya Liong Houw ?"
Berkata si wanita merah yang berdiri disebelah kanan si nenek merah.
"Hmmm, jika gunung berapi ini meletus, tubuh bocah itu akan segera hancur isi dalamnya. Getaran letusan yang terbawa oleh arus air akan menghancurkan setiap machluk yang hidup didalam air, meskipun tubuh mereka masih utuh, tapi isi dalamnya hancur. Sudah pasti mereka akan menjadi korban letusan gunung berapi ini, tidak terkecuali si bocah. Bahkan getaran letusan akan terasa ribuan lie dari tempat ini, kukira juga kapal kita akan segera tenggelam, lebih-lebih keadaan ombak yang begini besar, ditambah dengan letusan gunung berapi akan mengakibatkan gempa air yang hebat."
"Aaaaa, suhu lihat ! Darah !.........Darah........."
"Tenang bodoh !"
Bentak si nenek merah.
"Tapi, darah itu......apakah bukan darah Liong Houw........."
Terdengar pula suara salah seorang wanita merah yang sudah mulai panik.
Bledurrrrrrrrr........
bummmmm.........kawah pulau gunung api memuntahkan lahar panas yang memerah meleleh meluncur menuruni lerenglereng pulau gunung api.
Kembali tampak gumpalan merah mumbul dipermukaan air laut diumbang ambingkan ombak.
Akibat letusan-letusan pulau gunung api yang kian lama kian keras, terasa kini getaran itu sampai mempengaruhi kapal layar.
Letusan-letusan pulau gunung api, terasa sampai didasar laut, Liong Houw yang baru saja menginjakkan kakinya didasar laut, tiba-tiba menampak seekor ikan hiu besar dengan cucuk yang bergigi tajam meluncur kearahnya.
Nampak ikan itu bergerak cepat tubuhnya kadang kala meliuk kekiri kanan seakan sedang membingungkan pandangan mata Liong Houw.
Dengan tenang Liong Houw menunggu datangnya ikan hiu yang memang akan menyerang tubuhnya.
Begitu ikan itu tepat berada dimukanya, cepat ia bergeser kekiri, dengan kepalan tangannya menghajar batok kepala ikan itu hingga ambles seluruh kepalannya.
Dari kepala ikan hiu yang remuk, mengambang darah merah.
Sedang ikan hiu itu menggelusur terus.
Baru saja kepalan tangan Liong Houw ditarik, darah ikan hiu mengambyang di-sekitar air laut itu, menimbulkan bau amis yang merangsang ikanikan hiu lainnya mendatangi tempat itu.
Kini dari arah dimana ikan hiu yang sudah menjadi korban mendatangi sepuluh ekor yang nampaknya lebih ganas dan lebih besar dari ikan hiu yang pertama datang.
Liong Houw segera menghindari dari kerewelan ikan hiu itu, tubuhnya cepat berenang meninggalkan daerah berdarah.
Ternyata ikan-ikan hiu itu tertarik dengan bau amis darah tadi, mereka terus meluncur kearah mengembangnya darah merah, kemudian berserabutan menggigiti bangkai ikan hiu yang sudah mati.
Hanya dalam sekejap mata saja bangkai ikan hiu tadi sudah lenyap berpindah kedalam perut kawan-kawannya sendiri.
Begitu santapannya habis rupanya ikan-ikan hiu itu memang sedang kelaparan, begitu menampak gerakan Liong Houw yang berenang menjauhi, mereka berebutan mengejar kearah Liong Houw.
Mendapat serangan sepuluh ekor lebih ikan-ikan hiu yang besar, Liong Houw agak sulit menghadapi serangan demikian didalam air, meskipun ia bisa tahan sekian lama tapi kepandaian renang machluk-machluk air ini bukanlah tandingannya.
Selagi dalam keadaan bingung, mendadak seekor ikan hiu yang berenang lebih dulu menerjang kearah perutnya.
Cepat Liong Houw mengelak kesamping, tapi begitu ia bergerak kesamping, dari atas kepalanya meluncur pula seekor ikan hiu raksasa yang hendak memotong lehernya dengan cucut-cucut yang bergigi seperti gergaji.
Belum lagi ia sempat mengelakan samberan ikan hiu diatas kepalanya, tiba-tiba tubuhnya sudah terkurung oleh sekelompok ikan-ikan hiu, dari depan belakang kiri kanan atas, bahkan kakinya hampir saja putus disambar salah seekor ikan hiu.
Dalam keadaan panik demikian, tiba-tiba ia teringat akan kalung tasbihnya yang didapatkan dari lembah air terjun, segera ia meloloskan kalung tasbih itu, dan memutarkan melindungi tubuhnya.
Maka tak lama terdengar suara krak, trok, beberapa kali dan darahpun bermuncratan dari kepala -kepala ikan hiu yang tersambar oleh sabetan kalung tasbih Liong Houw, maka kini keadaan berubah, beberapa ikan hiu yang masih belum kena sasaran tasbih, segera menyerang ke arah kawan mereka yang mengucurkan darah.
Gerakan Liong Houw tidak sampai disitu, begitu ada kesempatan, segera kalung tasbihnya bergerak pula, maka ikan-ikan hiu yang berusaha akan memakan kawan-kawan mereka kini menjadi korban kalung tasbih, dan tak lama seluruh ikanikan hiu itu sudah bergelimpangan, darah mereka mengambyar naik keatas permukaan laut.
Dengan masih memegangi kalung tasbehnya, Liong Houw meluncur berenang, ternyata gerakan berenang dibawah air lebih cepat dari pada ia melangkahkan kakinya berjalan didasar laut.
Matanya yang sudah terlatih baik, kini dapat melihat dengan tegas pemandangan yang terpeta didasar lautan, beraneka macam warna dan bentuk karang berkembang-kembang hidup bergerak-gerak seakan machluk bernyawa, ikanikan karang berseliweran berkelompok berkelompok menambah keindahan taman dibawah laut.
Liong Houw terus berenang mencari tempat dimana tersimpannya Pedang Embun yang menurut si nenek merah pedang itu tersimpan diatas pulau yang telah tenggelam.
Kini mata Liong Houw dapat melihat sebuah bukit karang yang menonjol, menggunung, segera ia berenang kesana, tapi tiba-tiba saja perutnya dilibat oleh benda hitam yang menjulur panjang seperti ular, libatan pada perut Liong Houw itu begitu erat, sudah beberapa kali ia berusaha memutuskan benda yang melibat perutnya dengan menyabetkan tasbihnya, tapi libatan itu kian keras, hingga perutnya dirasakan terjepit oleh benda bulat, terasa seakan perut itu hampir putus.
Dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dari hasil latihan semedhi didalam air terjun, Liong Houw masih bisa bertahan dari cekikan machluk yang melibat perutnya.
Kini ia tidak lagi melakukan gerakan.
la mengikuti setiap gerak dari machluk yang melibatnya, sedang tenaga dalamnya dikerahkan dengan kekuatan tetap untuk menahan cekikan itu.
Tubuh Liong Houw perlahan tertarik, dan kini mendadak meluncur pula machluk yang sama, kini kaki Liong Houw dilibat keras sekali dengan berbarengan Liong Houw ditarik, memasuki sebuah lubang besar.
Didalam lubang tadi keadaan tampak gelap, sedang machluk-machluk yang melibat tubuhnya terasa tambah banyak menyelusuri tubuhnya, dalam keadaan gelap itu mata Liong Houw terus jelilatan mencari sesuatu yang kira-kira dapat dibuat pegangan untuk meloloskan diri, bahkan ia ingin mengetahui binatang apakah yang kini melibat tubuhnya, dalam keadaan pikiran yang kacau penuh dengan rasa seram dan takut, tampak disudut sebelah dalam dua sinar kelapkelip, sedang dibawah sinar kelap kelip itu samarsamar bergerak-gerak beberapa machluk aneh yang sama bentuknya dengan yang melibat tubuhnya, hanya lebih pendek.
Liong Houw lambat tapi pasti tertarik ke arah dimana terdapatnya dua sinar kelap kelip sebesar manggis.
Aaaaa, kini ia tahu sudah, kedua sinar yang berkelap kelip itu adalah dua buah mata binatang yang sedang menarik tubuhnya dengan tangantangan panjangnya, ternyata kini ia sedang bertarung melawan maut dengan seekor gurita raksasa.
Dengan kecerdikan otaknya Liong Houw tidak melakukan perlawanan, dibiarkan kaki dan perut yang sudah dibelit oleh kumis-kumis gurita raksasa tadi, sedang tangan yang masih memegang tasbih, ia tekukkan diletakkan diatas libatan kumis gurita yang melibat tadi agar bila salah satu kumis gurita melilit bagian dadanya, tangannya masih bisa digerakkan untuk menghajar kepala gurita raksasa.
Secepat pikirannya bergerak, secepat itu pula tubuhnya ditarik kearah kepala gurita raksasa, ternyata kepala itu tampak sebesar tempayan.
Liong Houw mengukur-ukur jarak antara mata dan tubuhnya, begitu jarak itu sudah demikian dekat, maka tangan kanannya segera bergerak, dengan kekuatan penuh ia menghantamkan tasbihnya kearah tengah-tengah diantara kedua mata cumi-cumi raksasa tadi.
Dukkkkkkk............blasssssss, darah berhamburan dari atas kepala cumi-cumi raksasa itu, libatan tubuh Liong Houw mengendur akhirnya terlepas sama sekali.
Keadaan dalam lubang itu gelap, Liong Houw meraba-raba dinding-dinding lubang itu, tak lama ia mendapatkan sebuah lubang lagi, tubuhnya segera memasuki lubang berikutnya dibalik lubang itu tampak masih gelap pekat.
Berenang kembali kearah bagian lain, tangannya tetap meraba-raba, ternyata juga setiap ruangan yang dilaluinya tetap gelap tak tampak sinar penerangan.
Suara letusan-letusan pulau gunung berapi terdengar sampai didasar laut, kian lama letusan itu kian keras sedang getaran air seakan tekanan yang menghimpit tubuhnya.
Cepat Liong Houw berenang meninggalkan lubang gelap itu, jauh dimukanya tampak sinar terang menyorot masuk.
Itulah jalan keluar dari sarang gurita raksasa yang tadi menyeret tubuhnya kedalam lubang itu.
Tapi baru saja ia hendak keluar dari lubang itu, dibawah lubang yang tembus sinar terang ternyata masih terdapat lubang yang menurun kedalam.
Liong Houw batal keluar, ia berenang memasuki lubang dibawah, didalam lubang itu terdapat sebuah ruangan yang berlumut disana sini tumbuh karang-karang laut, ikan-ikan kecil beraneka warna berenang kian kemari.
Karena tembusnya sinar dari lubang tadi keadaan ruangan itu agak samar-samar terang.
Selagi Liong Houw memperhatikan keadaan ruangan itu, tiba-tiba seekor ular putih sepanjang setengah depa berliuk-liuk meluncur menuju kearahnya.
Liong Houw cepat menggunakan kalung tasbihnya memukul ular yang datang meluncur menggigit kearahnya.
Dukkkkk............
Kepala ular itu terhajar oleh ujung rantai tasbih, tapi aneh, tidak seperti ikan hiu dan juga gurita raksasa yang begitu terhajar pasti kepalanya remuk mengocorkan darah, ular ini begitu terkena serangan tasbih, segera melejitkan kepalanya keatas, buntutnya yang putih mengkilat menyambar kearah tangan kanan Liong Houw yang menyerangnya dengan tasbih.
Serangan buntut ular itu berhasil dielakkan, tapi tiba-tiba kepala ular yang meluncur keatas kini balik menukik menghajar ubun-ubun Liong Houw.
Gerakan itu sangat cepat sekali, sehingga Liong Houw hampir saja tidak dapat mengelakkan serangan maut tadi, tapi dengan gerakan yang gesit sekali Liong Houw melesat menghindari serangan ular putih itu.
Si ular putih yang tiga kali serangannya berhasil dielakkan, kini ia tidak menyerang kembali, buntut ular itu meliuk-liuk melingkar, kemudian memanjang kembali sedang kepalanya bergoyanggoyang kekiri kekanan.
Kepala Liong Houw bergerak-gerak mengikuti gerakan kepala ular itu, sambil terus berenang mundur.
Sedang tasbihnya siap sedia untuk membuat penjagaan dan penyerangan.
Kepala ular yang bergerak kekiri kekanan meluncur maju lagi mendekati Liong Houw, sedang buntutnya berlengkok-lengkok.
Liong Houw yang terus mundur, tiba-tiba belakang tubuhnya terbentur sesuatu, jalan mundurnya terhalang oleh benda tadi, ternyata itulah dinding batu yang berlumut.
Begitu tubuh Liong Houw mepet di dinding batu, ular yang tadi meluncur perlahan, tiba-tiba ular itu mundur cepat gerakannya berlenggok-lenggok.
Mata Liong Houw terbelalak, ia heran atas tingkah laku binatang laut yang aneh ini, tapi ia bisa menduga pasti setelah mundur ular ini akan menyerang tubuhnya, maka cepat-cepat Liong Houw membuka pakaian kulit macannya, ia akan menggunakan pakaian kulit macan itu sebagai senjata guna menutup kepala ular putih tadi, apabila kepala ular putih itu sudah tertutup dengan pakaiannya, dengan mudah Liong Houw akan segera menyabetkan rantai tasbihnya.
Baru saja pakaian kulit macan Liong Houw terlolos dari tubuhnya, tiba-tiba ular putih itu meluncur datang.
Tangan kiri Liong Houw yang memegang pakaian kulit macannya segera digerakkan, ia akan menghajar kepala ular itu dengan pakaiannya, tapi anehnya, si ular putih seakan tahu apa yang akan dilakukan Liong Houw, tiba-tiba saja gerakannya berubah, bukan kepalanya yang meluncur terus tapi buntut ular itu tiba-tiba melesat kebawah menyambar kaki Liong Houw.
Hampir saja terlambat, jika saja Liong Houw lengah, pasti kakinya terbelit oleh ular putih itu, sedang kepala ular tadi mengikuti arah buntutnya meluncur kebawah, kepala ular itu bergerak mencaplok benda vitalnya Liong Houw yang berbentuk ular pendek tergantung telanjang bulat.
"Kurang ajar, ular laknat,"
Teriak Liong Houw sambil mengelak kesamping menyelamatkan anggota vitalnya dari caplokan mulut ular.
Setelah serangannya mengalami kegagalan kembali, ular itu melesat meluncur menjauhi tubuh Liong Houw, kini ular putih itu menggelinding-gelinding di batu-batu karang.
Menampak kelakuan ular yang demikian mendongkolkan hati, dari hawa takut kini berubah menjadi hawa panas yang membara, ia segera melepaskan pegangan kalung tasbihnya juga pakaian kulit macannya yang dipegang ditangan kirinya ia buang keatas karang, kemudian dengan tangan kosong telanjang bulat Liong Houw perlahan melangkah mendekati ular yang sedang bergulingan.
Liong Houw sudah nekad, dengan tangan kosong ia akan membunuh ular itu, atau dirinya yang akan jadi santapan ular putih tadi, yah daripada dipermainkan oleh binatang, lebih baik mati, atau membunuh binatang itu lebih dahulu.
Ular yang bergulingan diatas karang-karang tadi mengetahui sang lawan mendekati kini mumbul keatas, dengan mendadak saja meluncur menyambar ke leher Liong Houw.
Dengan tangan kanan Liong Houw menangkap leher ular, dan dengan cepat berbarengan tubuhnya melesat kesamping menyambar buntut sang ular.
Setelah berhasil menangkap kepala dan buntut ular terasa telapak tangannya licin, perasaan jijik menyerang hatinya, hampir saja Liong Houw melepaskan cekalannya karena rasa jijik tadi, tapi dengan memeramkan matanya, ia membetot tubuh ular itu, ditariknya.
Cretttttttt.......
Dengan masih memeramkan matanya Liong Houw membetot terus tubuh ular itu sehingga dirasakan ular itu putus menjadi dua potong.
Begitu dia membuka matanya, tiba-tiba saja hampir jatuh ngusruk diatas karang saking kaget dan terkejutnya.
Hatinya berdebar-debar keras, darah didadanya dirasa bersembur keras, sedang matanya mendelik melihat apa yang berada ditangannya.
Lama Liong Houw mematung didalam air, ia menggigit bahunya sendiri, ternyata terasa sakit, ia bukan dalam keadaan mimpi.
Suasana didalam ruangan dibawah air yang tadi samar samar terang kini telah menjadi terang, tapi terang itu terang pudar memutih, bukan terang seperti cahaya lampu, tapi terang seperti beningnya air embun diwaktu pagi.
"Inilah Pedang Embun!"
Teriak Liong Houw dalam hati.
Ternyata ular yang tadi menyerang diri Liong Houw dan akhirnya tertangkap olehnya dibetot putus itu adalah jelmaan dari sebilah pedang yang menjelma menjadi ular, kemudian setelah terbetot oleh tenaga kekuatan Liong Houw, menjelma kembali menjadi sebilah pedang, kini ditangan kanan yang tadi merupakan kepala ular terpegang sebilah pedang putih memancarkan sinar putih bening laksana air embun pagi, sedang ditangan kiri tercekal sarung pedang.
Liong Houw meluruskan pedang itu keatas kemudian dikecupnya tubuh pedang tadi lalu ia memasukinya kedalam sarungnya kembali, lama ia tidak berani melepaskan pegangannya, kuatir kalau pedang itu kembali menjadi ular.
Setelah beberapa saat tidak ada perobahan, maka barulah ia menggigit pedang itu, dengan cepat ia mengenakan pakaian macannya, mendadak selembar wajah Liong Houw menjadi merah, dan tubuhnya seketika menjadi dingin.
Ia teringat kisah yang dibacakan Ceng-It Cinjin bahwa terciptanya pedang ini mengorbankan nyawa seorang gadis dan seorang ibu, maka mengingat itu wajahnya berubah merah seketika, ia teringat dirinya dalam keadaan telanjang bulat, seketika tubuhnya menjadi dingin, timbul pikiran takutnya kalau kedua arwah gadis dan ibu tadi menjadi setan, kuatir kalau-kalau pedang ini menjelma kembali menjadi setan penasaran yang akan menelan tubuhnya hidup-hidup.
"Maafkan !"
Kata Liong Houw dalam hati yang gemetar sambil memegangi pedang itu.
"Kedua arwah yang menciptakan pedang ini sesuai dengan sumpah terciptanya dan juga tidak mensia-siakan pengorbanan, maka aku akan menggunakanmu untuk membasmi segala macam setan dan siluman yang mengganggu ketertiban, demi keadilan dan kebenaran, terutama membela hak-hak kaum wanita lemah."
Setelah berkata begitu, Liong Houw menyisipkan pedang itu dibelakang gegernya, lalu memungut kembali rantai tasbihnya, dan berjalan keluar meninggalkan ruangan tadi.
Tapi baru saja ia meluncur berenang, tiba-tiba teringat sesuatu, ia kembali kedalam ruangan tadi memperhatikan keadaan sekitar tempat itu.
Aaaa......ternyata batu karang tempat ular tadi bergulingan, adalah sesosok kerangka manusia yang masih lengkap.
Hati Liong Houw bimbang, apakah kerangkakerangka ini ia angkat naik kedarat dan dikuburkan didaratan ataukah ia menggali tanah didasar laut ini memakamkan kerangka tadi.
Bummmm.......
Tubuh Liong Houw tergetar hebat, bunyi letusan pulau gunung api menggetarkan dasar lautan, keadaan ruangan itu kini mulai retak, belum lagi sempat Liong Houw berpikir terdengar pula dua kali suara letusan, bummm, ...
bummm ...
maka ambruklah langit-langit ruangan itu, entah dengan cara bagaimana tanpa disadari tubuh Liong Houw terdorong mumbul keatas, sedang ruangan itu telah ambruk mengubur kerangka-kerangka tadi didasar laut.
Suasana dipermukaan laut tambah panas, letusan-letusan pulau gunung berapi semakin gencar dan semakin keras, api yang keluar dari lubang kawah membuat keadaan disekitarnya memerah panas.
Bumm ...
bum ....
Ombak yang menggunung, mengombangambingkan kapal layar merah dipermukaan laut.
"Suhu, pulau itu akan segera meletus."
"Hmm, tutup mulutmu, jika tidak, kau akan kulemparkan kedasar laut !"
Bentak si nenek merah.
"Tapi....."
"Cukup! Jika pulau ini meletus sebelum bocah itu muncul, tidak ada gunanya kembali kedunia ramai, lebih baik mati bersama-sama disini, menjadi umpan ikan dari pada menjadi umpan manusia palsu penuh akal tipu muslihat licik......"
Bummm.....bummm......
bumm.......
Hampir dirasakan pecah kapal layar merah dibanting ombak yang ditimbulkan oleh letusanletusan pulau gunung berapi.
Liong Houw yang berenang menuju permukaan air dirasakan dadanya terhimpit oleh tekanan air yang menggempa akibat letusan pulau gunung api tadi.
Tenaganya diempos, seluruh latihan-latihan samadhinya diingatnya satu persatu, akhirnya ia berhasil menyatukan ingatan latihan samadhinya, maka dengan mengumpulkan seluruh kekuatan inti dari latihan-latihannya, tiba-tiba tubuhnya meluncur keatas dengan kecepatan laksana roket meluncur dari dasar laut meluncur kepermukaan laut.
Bummm...
....
bummmm.....
Kembali gunung berapi meletus.
Ciuttttttt............
Melewati gulungan ombak yang menggunung tubuh Liong Houw meluncur keluar dari dalam air terus meluncur keudara, dengan berjumpalitan beberapa kali, tubuhnya meluncur turun dengan ringan diatas dek kapal layar merah.
Terdengar suara pujian-pujian anak kapal, memuji kepandaian si pemuda yang luar biasa mengagumkan.
"Cepat angkat sauh ....."
Teriak si nenek merah kemudian.
Bummmm,..........
blegurrrr......
Goncangan hebat !
Gunung berapi meletus, berhamburan letusan-letusan mengakibatkan gempa air yang luar biasa, kapal layar merah yang baru saja mengangkat sauhnya terlempar dibentur ombak yang menggunung, air laut memasuki dek kapal layar, kapal layar merah bergoyang, diombang ambingkan, para anak buah kapal porak poranda dek.
terpelanting berguling-gulingan diatas Bummm.........
"Liong Houw! Cepat pegang kemudi gantikan mereka......"
Teriak si nenek merah.
Liong Houw yang tidak mengerti seluk beluk kapal, mendapat perintah si nenek ia menengok kekiri kekanan, glurrr......debur ombak menerjang tubuhnya, tapi si pemuda masih berdiri tegak.
"Hai, hai.......cepat....."
Teriak salah seorang wanita merah menggapaikan tangan kirinya kearah Liong Houw sedang tangan kanannya memegangi tali tiang layar.
Liong Houw cepat menghampiri wanita itu, lalu ia diajak naik keatas tempat kemudi kapal, disana beberapa orang wanita merah sedang memegangi kemudi, dengan terombang-ambingkan keadaan kapal yang terbanting-banting dihempas ombak.
"Cepat ambil alih!"
Teriak wanita merah yang sudah kepayahan menahan kemudi kapal.
Liong Houw mengerti, ia segera mengambil alih kedudukan, segera dengan kedua tangannya, ia mengendalikan arah kemudi itu !
"Tetap arahkan ke utara,"
Teriak nenek merah dari atas geladak.
"Naikkan layar tengah........"
Tambah lama ombak tampak menggunung suara-suara letusan pulau api kian gencar, akhirnya lambat laun tak terdengar pula.
Pulau gunung berapi yang menjulang megah di tengah lautan biru perlahan-lahan tenggelam, akhirnya lenyap ditelan air......
"Ah ya, bocah, dan serahkan kemudi kepadanya,"
Si nenek menunjuk kearah seorang wanita merah.
"Kau turut aku ke kamar."
Saat itu hari sudah gelap, keadaan angin laut tenang, suara deburan ombak yang memukulmukul buritan perahu terdengar lemah tidak sekuat ketika mereka baru berlayar mendatangi pulau Gunung Api, suasana kamar kapten terang benderang diterangi beberapa batang lilin-lilin besar yang dipasang di setiap dinding-dinding kamar.
Di tengah-tengah kamar tergantung lampu gantung yang memancarkan sinarnya.
Pakaian Liong Houw masih basah, rambutnya terurai sebatas bahu, matanya memancarkan sinar biru terang menatap si nenek merah yang duduk diatas kursi dengan diapit oleh empat orang pengawalnya.
"Bocah, coba perlihatkan Pedang Embun itu."
Berkata si nenek merah. Dengan masih berdiri tegak Liong Houw menjawab.
"Kau boleh lihat, tapi ingat! Kalian jangan bergerak dari tempat masing-masing, bila mana kalian main gila, jangan salahkan aku berlaku kejam dan tidak kenal budi."
"Mmm, kami tidak menuntut budi, tapi menuntut dilaksanakannya syarat yang pernah kau sanggupi."
"Ngg......."
Dengus Liong Houw. Dari belakang gegernya ia mengeluarkan pedang Embun. "Lihatlah! Lihat baik-baik....aaa..aa.... Jangan bergerak kalau tidak...."
Duduk! "Bocah!"
Potong si nenek.
"Cepat kau cabut pedang itu, aku ingin melihat pedangnya bukan serangka yang karatan...."
Srettt......
krelapppp...
Pedang Embun keluar dari serangkanya, suasana dalam ruangan kapal yang terang benderang disinari sinar lampu, kini berubah terang pudar, demikian beningnya, sinar bening menembusi keluar ruangan.....
"Aaaaaaaaahhhhhhhhh......"
Terdengar suara keluh si nenek beserta keempat pengawalnya.
Apa yang mereka saksikan sungguh luar biasa, bentuk tubuh pedang itu tidak seperti pedangpedang biasa, berliku seperti bentuk keris, sedang warna pedang putih pudar dari sana tampak terotolan air yang menggenangi batang pedang.
"Embun.......... pedang berembun........."
Gumam si nenek merah.
Sreeettttttttt, kembali pedang embun masuk kedalam serangkanya, cepat Liong Houw menyelipkan kembali di balik gegernya.
Tapi baru saja tangannra bergerak, tiba-tiba si nenek merah dengan diikuti oleh keempat pengawalnya menyerbu kearah Liong Houw.
Serbuan mendadak ini membuat hati si pemuda terkejut, tapi dengan cepat ia jejakkan kakinya, clutt, brakkkkkkkkkk...
tubuh Liong Houw melejit keatas, menubruk langit-langit ruangan yang menjadi hancur berantakan, setelah lolos dari kamar itu Liong Houw turun terjun kedalam laut.
Si nenek merah yang tubrukannya mengenai tempat kosong, bukan cepat mengejar tubuh Liong Houw, tapi mereka tertawa berkakakan.
Sungguh ganjil kelakuan golongan Kupu-kupu merah.
Liong Houw yang terjun kedalam laut, ia dengan menggunakan ilmu amphibinya berenang menuju ke arah tujuan kapal layar, gerakan Liong Houw ternyata lebih cepat dari gerakan kapal layar merah, tubuhnya bagaikan kapal silam, kadang kala kepalanya mumbul dipermukaan air, kemudian lenyap kembali.
Akhirnya setelah ia menampak lampu-lampu para nelayan yang mencari ikan dimalam hari dengan tetap berenang dibawah air, ia menuju kedarat mencari tempat yang sunyi.
Liong Houw merebahkan dirinya telentang di pasir putih, sekali-kali ombak yang menggulung kepantai menggilas dirinya.
Lama ia memandangi bintang-bintang yang kelap kelip dilangit, pikirannya melayang-layang memikirkan jejak lenyapnya kedua orang tuanya.
Tiba-tiba melayang lima sosok bayangan mengurung dirinya, belum lagi Liong Houw mengetahui siapa yang datang, segulungan angin kuat menyambar kepalanya sedang empat bilah pedang menyerang datang menusuk perut, dada, leher dan paha kirinya.
Liong Houw memiringkan tubuh dengan kaki keatas ia melejit keudara, melewati kepala para penyerang gelap kemudian berdiri tegak ditepi pantai membelakangi para pengeroyok.
"Hmmm, jago-jago Hadramaut,"
Gumam Liong Houw, ia mengenali orang yang bertubuh hitam berbulu, berambut keriting, bercambang dan berkumis, dengan mengenakan jubah panjang warna putih berkalung tasbih.
Sedang sebelah mata kanannya sudah buta, itulah Habib yang pernah menempur dirinya didalam rimba dalam perjalanan kekota raja.
Hampir saja Liong Houw binasa ditangan jago itu.
"Hoiiiiii......."
Teriak lima orang jago Hadramaut.
"Darimana kau mengenali kami adalah jago-jago Hadramaut ?"
Tanya salah seorang diantara mereka. Ooo~d-dw~ooO
Jilid ke 14 HABIB yang menyaksikan keadaan Liong Houw dengan pakaian kulit macannya, ia tidak mengenali si pemuda adalah orang yang pernah membutakan sebelah mata kanannya, maka cepat-cepat membentak .
"Bocah gila ! Apakah kau melihat Kapal Layar merah mendarat?"
"Oh, kau ingin tahu tentang kapal layar itu? Tapi mengapa kalian tidak hujan tidak angin menyerangku." "Salahmu sendiri."
Berkata salah seorang yang dandanan dan bentuk tubuhnya sama dengan Habib.
"Dalam keadaan gelap begini kau masih mengenakan pakaian seperti itu, heheh, bukankah kau yang bernama Liong Houw yang menggemparkan rimba persilatan Tionggoan. Nah disini aku Faisal ingin mencoba kepandaianmu....."
"Faisal !"
Berkata seseorang yang bernama Balachmar.
"Tanyakan dulu tentang kapal Merah itu, baru kita coba-coba ilmu kepandaiannya."
"Hmm, betul ! Dimana kapal merah itu apakah kau melihatnya?"
Tanya salah seorang lagi yang bernama Alparisi.
"Baik, akan kujelaskan tentang kapal layar merah itu, juga tentang Pedang Embun, bukankah begitu ? Tapi sebelumnya aku ingin mengirimkan kalian keakherat lebih dulu, nanti diakherat kalian tunggulah, bila mencium bau harum dupa kemenyan, nah kalian dengar baik-baik suaraku disana, aku menceritakan semua pada roh-roh kalian melalui asap dupa kemenyan, haaaa........"
Setelah tertawa terbahak-bahak Liong Houw lalu melolosi kalung tasbihnya.
"Bocah kurang ajar ! Kau akan segera merasai betapa hebatnya seorang jago Hadramaut!"
Bentak Alparisi.
"Aku sudah tahu kehebatan seorang jago Hadramaut, sampai-sampai matanya buta diserang oleh seorang kusir.......hahahaaaaa...."
Kembali Liong Houw tertawa mengejek.
Selagi Liong Houw masih tertawa, kelima jago Hadramaut bergerak, mereka membuat posisi mengurung, pada saat itu pula tanpa disadari Liong Houw menyabetkan rantai tasbihnya kebawah, ceett....
rantai itu membentur tanah berpasir, perbuatan itu dilakukannya sampai empat kali.
"Aaaaaaah........."
Kelima jago Hadramaut mundur lima tindak.
Lalu mereka memperhatikan kaki Liong Houw yang masih terendam air laut.
Perobahan gerakan itu membuat Liong Huow bersiap siaga, ia menduga bahwa dengan mundurnya lima jago, mereka sedang melakukan jurus pembukaan untuk menyerang.
Liong Houw tidak mengetahui bahwa gerakan menyabetkan rantai kalung tasbih tadi hingga memukul tanah pasir dipantai itu adalah satu cara untuk memunahkan ilmu kebal dari kelima jago Hadramaut, begitu pula kakinya yang tidak bersepatu itu membuat kelima jago Hadramaut terkejut.
"Hayo kalian manusia manusia, majulah."
Perusak keturunan Sambil berkata begitu tubuh Liong Houw melesat keudara, tangan kanannya memutarmutar rantai tasbihnya hingga menimbulkan suara mendengung-dengung diangkasa malam gelap gulita.
Lima jago Hadramaut serabutan menghindari datangnya serangan tasbih.
Tapi belum sempat lagi mereka tahu bagaimana Liong Houw bergerak, tiba-tiba terdengar lima kali suara ketrukan, dan terdengar suara jerit kematian diiringi suara deburan ombak memecah kesunyian.
Lima sosok tubuh menggeletak dengan masingmasing batok kepala mengucurkan darah.
Riwayat lima jago Hadramaut tamat di tangan Liong Houw.
Setelah mengetahui kelima jago Hadramaut dengan mudah dirubuhkan, ia segera mengalungkan kembali kalung tasbihnya, kemudian meninggalkan pantai.
Oo d w oO KEESOKAN harinya, pagi-pagi Liong Houw melanjutkan perjalanan menuju kebarat, melalui jalan-jalan pegunungan.
"Haaaa binatang ....."
Tiba-tiba terdengar sayupsayup suara orang memaki. Arah datangnya suara dari sebelah utara diluar rimba.
"Ayo cepat seret, bawa ia kekota raja serahkan pada Cong ciangkun ... ."
Liong Houw segera mengejar kearah datangnya suara itu, dengan ringan ia berlompatan diatas dahan-dahan pohon.
Tiba ditepi jalan disana nampak seorang yang berkepala besar, dengan kedua tangan dirantai sedang kepalanya dikalungkan rantai besi, sedang diseret-seret oleh seekor kuda.
Penunggang kuda yang menyeret orang kepala besar itu tidak lain adalah Sin-piauw Lok Kun, sedang orang yang tadi berteriak-teriak adalah Cie Tay Peng.
Si kepala besar dengan berlarian mengikuti seretan rantai yang ditarik oleh kuda yang ditunggangi oleh Sin-piauw Lok Kun sedang beberapa penunggang kuda lainnya dengan mengenakan seragam tentara menggiring dibelakang, kadang kala salah seorang tentara memecuti tubuh orang yang dirantai terseret-seret itu.
Liong Houw mengenali siapa orang itu, dia adalah si Gajah Dungkul Tiang-pie Lo twa Mo-mo, bekas anggota berandal Go-kong-nia berbalik insyaf memihak Pie-tet Sin-kay dalam pertempuran di kotaraja.
Kini tubuh Tiang-pie Lo-twa Mo-mo, sudah hitam dekil penuh debu sedang di beberapa bagian bajunya sudah koyak-koyak, darah mengucur dari sobekan-sobekan baju tadi.
Liong Houw duduk nongkrong diatas dahan pohon menunggu tibanya rombongan itu, begitu Sin-piauw Lok Kun yang menunggang kuda tepat berada dibawah, segera Liong Houw melejit turun dibarengi dengan kepalan tangannya menghajar batok kepala si Malaikat piauw Sin-piauw Lok Kun.
"Bletaakkkkkkk............"
Tak ampun lagi tubuh Sin-piauw Lok Kun terjungkel kebawah.
Sedang kuda tunggangannya meringkik-ringkik berlompatan.
Membuat keadaan Tiang-pie Lo-twa Mo-mo terseret-seret.
Begitu mengetahui siapa yang datang menolong, Tiang-pie Lo-twa Mo-mo segera menarik rantai, ia menahan larinya kuda, maka dengan cepat tubuhnya berguling ditanah mendekati bangkai Sin-piauw Lok Kun, segera dari sana ia merabaraba saku bajunya, dari sana mengeluarkan sebilah kunci lalu ia membukai kunci rantai yang mengikat leher dan kakinya, kemudian duduk numprah di tanah, tampaknya si gajah dungkul Tiang-pie Lo-twa Mo-mo sudah kehilangan tenaga.
Cie Tay Peng begitu menampak bayang loreng tiba-tiba meluncur turun, dibarengi oleh terjengkangnya Sin-piauw Lok Kun dari atas kudanya, dengan menggunakan sepasang senjata piannya menubruk kearah Liong Houw.
Liong Houw yang kini bukan lagi Liong Houw pada tiga tahun yang lalu, begitu menampak datangnya serangan angin, ia segera memapaki datangnya serangan sepasang pian dengan kedua tangannya, membetot pian yang tergenggam ditangan Cie Tay Peng, kemudian senjata yang sudah berhasil direbutnya itu ditusukkan kembali ke jalan darah didada Cie Tay Peng, maka terjadilah adegan senjata makan tuan, mulut Cie Tay Peng menyemburkan darah, tubuhnya roboh terjengkang.
Beberapa tentara kerajaan yang mengawal rombongan tawanan, menyaksikan betapa sang jago andalan mereka dengan mudah dirobohkan oleh bocah berpakaian kulit macan, lebih-lebih mereka telah mendengar bahwa bocah ini pernah berani menerobos penjara di bawah tanah, dengan sendirinya nyali-nyali mereka menjadi ciut, lalu memutar kuda mereka lari serabutan meninggalkan arena pertempuran.
Selesai memberesi kedua lawannya, Liong Houw menghampiri Tiang-pie Lo-twa Mo-mo, yang masih duduk numprah ditanah dengan lesu.
Tiang-pie Lo twa Mo mo segera menceritakan hal ikhwalnya ia sampai tertangkap dan diseret-seret oleh Sin-piauw Lok-kun.
Ternyata tenaganya telah dibuyarkan oleh obat yang berbau harum, begitu hidung si gajah dungkul mencium itu bau yang disemburkan dari telapak tangan Cie Tay Peng, maka segera tubuhnya dirasakan lemah tidak bertenaga.
Setelah mendengar keterangan itu segera Liong Houw menghampiri mayat Cie Tay Peng, ia merogoh saku mayat itu, dari saku mayat itu, dari sana mengeluarkan sebotol kecil yang berwarna ungu.
Kemudian dari dalam botol itu, ia mengeluarkan sebutir pel berwarna jingga, pel itu tidak menimbulkan bau apapun, ia sodorkan kepada si gajah dungkul.
Si gajah dungkul yang tenaganya lenyap ia tidak mau ambil perduli lagi apakah obat itu racun atau pemunah racun yang membuat tenaganya lenyap, maka segera menelan pel tadi.
Tak lama tubuhnya mengucur keringat, cepatcepat Tiang-pie Lo-twa Mo-mo bersila, ia memeramkan matanya bersemadhi.
Tak lama tampak butiran-butiran keringat berwarna ungu menetel turun.
Setelah menetelkan keringat ungu tadi; semangat Tiang-pie Lo-twa Mo-mo bangun kembali, tenaganya dirasakan pulih, jalan pernapasannya normal.
"Aaaaah .... untung kau datang, kalau tidak aih, sulit untuk diramalkan."
"Saudara Mo-mo, kau hendak kemana ?"
Tanya Liong Houw. Tiang-pie Lo-twa Mo-mo sambil menggibrik gibrikan pakaian yang kotor penuh debu berkata.
"Sebetulnya aku sedang menguntit gerak gerik kelima jago Hadramaut, mendadak saja berjumpa dengan mereka, dan akhirnya aku berhasil ditawan."
"Mari kita masuk jalan hutan, agar tidak banyak buang tenaga menghadapi para kurcaci."
Setelah berkata begitu Liong Houw berjalan memasuki hutan rimba diikuti oleh Tiang-pie Lotwa Mo-mo.
Baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang berkakakan.
Liong Houw menatap mengangkat pundak.
sang kawan, ia Tak lama terdengar suara bentakan .
"Bocah... ternyata kau belum mampus!"
Dibarengi dengan terdengarnya kata-kata itu, dihadapan mereka telah berdiri seorang yang mengenakan jubah merah.
"Hm, murid murtad! Hari ini kalau aku Liong Houw tidak dapat memotes batok kepalamu orang she Leng-leng, aku tidak mau panjang umur lagi."
Kata Liong Houw sengit.
"Haaaa, huaaaa, haaaaa..."
Leng-leng Pak-su tertawa berkakakan.
"Bocah, ilmu apa yang kau dapatkan dibawah jurang, haaaaa......uhhh......huhhhhh......."
Tiba-tiba suara tertawa Leng-leng Pak-su tersumbat, disusul dengan terdengarnya suara pletak-pletok dua kali.
Ternyata ketika Leng-leng Pak-su tertawa berkakakan, Liong Houw dengan kecepatan kilat menggerakkan kalung tasbihnya, menghajar kedua pundak Leng-leng Pak-su, sedangkan Leng-leng Pak-su hanya menampak dua kali kilatan putih menyambar dipundaknya, belum lagi ia bisa berbuat apa-apa kedua tulang pundak sudah remuk.
"Ngggg....."
Dengus Liong Houw.
"Selama bertahun-tahun kau menyiksa suhu dilembah Imbu-kok, hingga orang tua itu tersiksa, hanya karena kau ingin mendapatkan peta Pedang Embun ! Kau manusia tidak berbudi...."
Baru saja Liong Houw berkata sampai disitu, Leng-leng Pak-su yang kedua tulang pundaknya remuk mengetahui bahwa ia tidak bisa menggunakan ilmu silatnya, maka cepat melesat lari meninggalkan tempat itu.
Tapi gerakannya terlambat, karena tangan si Gajah dungkul Tiangpie Lo-twa Mo-mo dengan kecepatan kilat meluncur memanjang menangkap kaki Leng leng Pak-su kemudian dibanting.
"Saudara Mo-mo patahkan sebelah kakinya!"
Perintah Liong Houw. Bletakkkk. Kaki Tiang pie-twa Mo-mo menjejak tulang kering Leng-leng Pak-su hingga remuk.
"Eehhh....kau...... bunuh....... bunuhlah, cepat jangan menyiksa demikian....."
Keluh Leng-leng Pak-su. Liong Houw tertawa berkakakan, lalu katanya .
"Justru aku ingin menyiksamu, agar kau merasakan betapa sengsaranya Thian-lam-it lo Kak Wan Kiesu cianpwee tersiksa selama beberapa tahun......haaaa... he, eh....ya, setelah kau mewarisi ilmu angin puyuh Kak Wan Kie-su cianpwee, kau menjabat wakil kaucu perkumpulan Ko-lo-hwe ... he he setelah Ong Pek Ciauw membuka tabir kedok perkumpulan itu, kau kembali ke lembah Im-bu-kok menyiksa Kak Wan Kiesu cianpwe.... Mo mo, copot daun telinganya."
Si gajah dungkul Tiang pie Lo twa Mo mo, dengan kepalanya yang besar itu menganggukkan kepala, lalu sebelah tangannya menahan batok kepala Leng-leng Pak-su sedang tangan kanannya mencengkeram daun telinga sebelah kanan dan cluppp.....daun telinga itu nyoplok dibetot.
"Aaahhhhh..."
Terdengar suara rintihan Lengleng Pak-su, darah mengucur membasahi tubuhnya.
"Hmmm ... ."
Dengus Liong Houw. "Cepat kau bunuh! Bunuhlah, jangan kau hina aku demikian rupa?"
Terdengar ratap sedih penuh penderitaan dan kesengsaraan menahan gusar dan malu dari Leng-leng Pak-su.
"Aku sudah tua, kau jangan keterlaluan menyiksa diriku....."
"Kau ingin cepat mati?"
Berkata Liong Houw.
"Mudah, itu mudah ... tapi ingatkah kau kepada sepasang Pendekar Budiman Thio Ban Liong, bagaimanakah cara kematiannya? Huh ... ."
"Ia mati tidak disiksa seperti aku,"
Potong Lengleng Pak-su.
"Hah, jadi kau tahu bagaimana cara matinya Thio Ban Liong ?"
Bentak Liong Houw.
"Cepat kau ceritakan, jika kau ingin cepat mampus tanpa penderitaan."
Leng-leng Pak-su segera menceritakan tentang lenyapnya pendekar budiman Thio Ban Liong.
Ternyata sesudah Thio Ban Liong menjadi anggota perkumpulan Ko-lo-hwee, ia mengetahui bahwa perkumpulan itu adalah perkumpulan yang dipimpin oleh seorang iblis berkedok ksatria, maka ia berusaha untuk membasmi perkumpulan tersebut.
Tapi tindakannya terlambat, karena pada sebelum ia melakukan pemberontakan terhadap perkumpulan itu, para sahabat yang terdiri dari beberapa orang ketua-ketua partai membocorkan rahasianya, melaporkan kepada Leng-leng Pak-su tentang itikad pemberontakannya.
Leng-leng Pak-su yang setelah mendapat info itu segera mengadakan pembersihan di kalangan anggota Ko-lo-hwee, pada malamnya dengan membawa beberapa anggota yang terkuat ia menyatroni rumah Thio Ban Liong, disana ia berhasil meringkus Thio Ban Liong dengan anaknya yang baru berusia tiga tahun, sedang istri Thio Ban Liong dengan membawa anak bayinya berhasil meloloskan diri.
Ketika dalam perjalanan menuju markas besar Ko-lo-hwee, ditengah jalan terjadi penghadangan oleh para ketua-ketua partai Siauw-lim-sie, Butong-pay, Ceng-san-pay, Go bi-pay, Kong-tong-pay, dan si Tosu siluman Liok Hap tojin.
Menghadapi keroyokan tokoh-tokoh kuat, akhirnya Leng-leng Pak-su tidak dapat menyelamatkan jiwa Thio Ban Liong dengan beberapa kali menerima tusukan pedang dan golok, tubuh Thio Ban Liong menjadi rebutan para ketua partai dan si tosu siluman.
Melihat itu Lengleng Pak-su tidak mengerti tindakan gila dari para ketua partai memperebutkan tubuh Thio Ban Liong yang telah menjadi mayat.
Putra Thio Ban Liong berhasil ditolong oleh sesosok bayangan hitam.
Dengan mengorbankan beberapa anggota Ko-lo hwee, akhirnya Leng-leng Pak-su berhasil membawa lari mayat Thio Ban Liong kemarkas Kolo-hwee, setelah diperiksa dengan teliti ternyata ditubuh Thio Ban Liong tidak terdapat benda yang berharga hanya sebilah pisau berukiran burung Hong.
Dengan adanya kejadian itu Leng leng Pak-su segera menyerap-nyerapi berita tentang kejadian aneh tindakan para ketua partai, ternyata pada Thio Ban Liong terdapat peta tentang tersimpannya Pedang Embun, dan ia juga mengetahui bahwa suhunya Thian-lam-it-lo Kak Wan Kie su mengetahui hal ihwal peta pedang itu, maka setelah rahasia lenyapnya Thio Ban Liong secara misterius itu hampir terbongkar oleh Sin-kiongkiam Ong Pek Ciauw yang menemukan sebilah pisau berukiran burung Hong, maka perkumpulan itu bubar, sedang Leng-leng Paksu bersama keempat muridnya Lie Ceng San, To Houw An, Liauw Hong dan Su-mo Tok-liu kembali ke lembah Im-bu-kok, dimana kebetulan Thian-lam it-lo Kak Wan Kiesu sedang bersemedhi, dengan menggunakan kesempatan itu, Leng-leng Pak-su menyerang gurunya sendiri dengan ilmu pukulan angin puyuh hingga sang guru menderita jalan darah masuk api.
Dan akhirnya muncul Liong Houw kelembah Im-bu-kok, dengan siulannya membunuh empat murid Leng-leng Pak-su, tapi ia sendiri pingsan dipukul ilmu angin puyuh Lengleng Pak-su.
Setelah bercerita sampai disitu, tiba-tiba Liong Houw membentak.
"Cukup, selanjutnya kau tahu dimana jejak isteri Thio Ban Liong ?"
"Aku tak tahu, ia berhasil meloloskan diri."
"Siapa kaucu Ko-lo-hwee?"
Bentak Liong Houw.
"Aku tidak tahu, ia selalu mengenakan kerudung mukanya, ilmu kepandaiannya dua kali lipat lebih tinggi dari ilmu kepandaianku, aku berhasil dikalahkannya hanya dalam dua jurus, maka mulai saat itu aku tunduk dibawah perintahnya." "Hmmm..."
Dengus Liong Houw.
"Nah, baiklah, sekarang tiba waktunya aku akan mengirim kau keakherat..."
"Ya, ya... cepatlah, aku tidak tahan menderita seperti ini......."
Bletakkkk......crottttt......otak berhamburan dari kepala Leng-leng Pak-su, tubuh tua itu kelejetan, kemudian tak bergerak nyawanya melayang melaporkan ke Giam-lo ong !
Menyaksikan sikap Liong Houw yang seperti itu, hati Tiang-pie lo-twa Mo-mo bergidik.
Ia bisa membayangkan, dengan adanya keterangan Lengleng Pak-su, rimba persilatan akan geger, partaipartai yang turut dalam pengeroyokan Thio Ban Liong pasti akan mendapat pembalasan.
Setelah menamatkan riwayat Leng-leng Pak-su, dengan senyum Liong Houw menoleh kearah Tiangpie Lo-twa Mo-mo, lalu katanya .
"Saudara Mo-mo sampai disini kita berpisah."
"Kau hendak ke mana saudara Liong ?"
Tanya Tiang-pie-lo-twa Mo mo terharu.
"Aku akan kedesa Lip-cun, ingatkah saudara Mo-mo, disana pernah dititipkan sebuah kereta, dengan kereta itu aku akan menjelajahi gunung, memasuki hutan rimba membuat perhitungan kepada partai-partai yang tersangkut dalam peristiwa pembunuhan ayahku, juga mencari jejak ibuku, kukira ia masih hidup.......mudah-mudahan Tuhan mempertemukan kami ibu dan anak....."
Tidak terasa dua tetes air mata menetes turun dipipi Liong Houw.
Dengan menelan mengangguk kepala.
ludah Tiang-pie Lo-twa oodwoo Tiga tahun, Thio Thian Su mendapat gemblengan dari Ceng-it Cinjin, kini ilmu kepandaiannya telah maju pesat lebih-lebih ilmu tenaga dalamnya, bahkan kini ia sudah bisa memainkan jurus ilmu Pedang Guntur.
"Thian Su,"
Terdengar Ceng-it Cinjin berkata .
"Tiga tahun sudah kumenggembleng dirimu untuk memperdalam ilmu silat serta tenaga dalammu, ternyata semua jerih payahku tidak sia-sia, kini kau sudah mahir memainkan ilmu pedang guntur, pergunakanlah kepandaianmu untuk membela keadilan dan kebenaran, sedapat mungkin kau jauhkan semua dendam-mendendam yang tidak akan habis-habisnya, nah hari ini masih pagi baik untukmu, segera melakukan perjalanan turun gunung, guna mengamalkan ilmu yang kuturunkan."
"Suhu ... teecu ... teecu ... ?"
"Ayah ibumu?"
Potong Ceng-it Cinjin.
Thio Thian Su mengangguk.
Ceng-it Cinjin mengurut-urut jenggotnya mengangguk-angguk, baru berkata .
ia "Thian Su, tentang orang tuamu.....dialah si Pendekar Budiman Thio Ban Liong."
"Aaaaaaaa .... suhu .... ka ... kalau begitu ... Liong Houw adalah adik teecu ..."
Kata Thio Thian Su terputus-putus, tubuhnya agak gemetar.
"Hmm ...
kukira sudah waktunya kalian bertemu.
Selama ini aku merahasiakan hubungan kalian, agar kalian masing-masing bisa memperdalam ilmu dengan giat, tanpa mendapat gangguan dari musuh-musuh kalian, nah menurut pirasatku, si bocah Liong Houw itu tentu sudah mendapatkan sesuatu yang luar biasa, kau awasilah dia!
Ia memiliki sifat keras seperti ibumu ...
"Tapi .... bagaimana dengan keadaan ayah-ibu yang lenyap? Apakah suhu mengetahui hal itu?"
Tanya Thio Thian Su. Ceng-it Cinjin menghela napas lalu katanya .
"Kau berhasil kuselamatkan, tapi ayahmu sudah terlambat, waktu aku tiba, ayahmu sudah mandi darah, untung masih dapat menyelamatkan dirimu ..."
"Siapa, siapa yang membunuh ayah ?"
Teriak Thio Thian Su histeries.
"Aku kurang jelas, karena waktu itu malam hari, keadaan cuaca gelap, yah sudahlah, pergilah kau turun gunung, cari adikmu Liong Houw, mungkin ia mengetahui siapa yang melakukan pengeroyokan tapi ingat, jangan kau umbar hawa nafsu dendammu, kalau dapat apa yang bisa dimaafkan maafkan, jangan sampai timbul dendam mendendam yang tiada habisnya."
Ceng-it Cinjin sebetulnya mengetahui jelas siapa-apa yang turut dalam pengeroyokan ayah Thio Thian Su, tapi ia tidak mau menjelaskan yang sebenarnya, sedapat mungkin orang tua itu berusaha melenyapkan dendam kesumat dari satu generasi kelain generasi.
Setelah pamitan dengan gurunya, Thio Thian Su meluncur turun gunung, meninggalkan puncak gunung Liong houw-san.
Ketika baru saja Thio Thian Su turun gunung, dirimba persilatan terjadi kegemparan hebat, seorang pemuda berpakaian kulit macan dengan menggunakan pedang pusaka Embun telah melakukan dua kali pembasmian terhadap partai Kong-tong-pay dan Ceng-san-pay, tidak seorangpun diantara mereka berhasil lolos dari cengkeraman maut Pedang Embun.
Partai Siauw-lim-sie, Kun-lun-pay, Swat-sanpay, Go-bi-pay dan para jago-jago rimba persilatan mengerahkan kekuatan untuk menangkap si pemuda yang menamakan dirinya Liong Houw, yang dianggap menjadi biang bencana rimba persilatan.
Tapi jejak si pemilik pedang embun sungguh misterius, datang dan lenyapnya tak diketahui orang, jejak kereta biru lautnya, datang dan pergi seperti angin.
Dimana kereta itu tiba disitulah terjadi banjir darah.
Belum lagi para jago-jago dari berbagai partai berhasil menemukan jejak si pemilik pedang embun, telah tersiar lagi berita tentang mengamuknya Liong Houw membunuh seribu orang anggota Sam-ie-hwee Pat-houw di Thian-makwan, rombongan golongan Sam-ie hwee Pat-houw di bawah Tong-hong Hong yang juga mencari jejak si pemilik pedang embun dengan membawa dua barisan Thiat-kek-kun yang terkenal ganas berusaha mencoba merebut Pedang Embun dari tangan si pemuda, tapi ternyata mereka bukanlah tandingan Liong Houw, mereka datang hanya menyerahkan jiwa diatas tajamnya pedang Embun, tidak seorangpun luput dari maut Tong-hong Hong sendiri tubuhnya sampai belah tujuh bagian.
Berita yang sangat mengejutkan itu membuat para ketua-ketua partai ciut nyali.
Mereka mengetahui sampai dimana kelihaian barisan Thiat-kek-kun dari Sam-ie-hwee Pat-houw, toch berhasil ditumpas oleh si pemilik Pedang embun, dengan adanya peristiwa itu, semua partai menarik kembali anggota-anggotanya untuk siap siaga menjaga diatas gunung masing-masing.
Baca Juga: Si Tangan Halilintar 7
Baca Juga: Keris Pusaka Sang Megatantra 2