Ceritasilat Novel Online

Pusaka Pedang Embun 5

Eps 5 Pusaka Pedang Embun - Sin Liong

Baca online Pusaka Pedang Embun - Sin Liong

Cersil Pusaka Pedang Embun - Sin Liong.

Berkata sampai disitu, mendadak saja mereka melihat diatas jalanan sempit berjalan seorang tukang potong kayu yang sedang jalan mendatangi.

Liong Houw melihat orang itu, cepat mendatanginya, ia bertanya ;

"Toako, numpang tanya, diatas gunung ini semuanya ada berapa puluh rumah berhala? Dan didalam rumah berhala-berhala itu apakah ditinggali oleh padripadri?"

"Adik-adik apakah datang dari tempat jauh?"

Balik tanya si tukang kayu dengan keringat yang masih mengalir.

"Betul,"

Jawab si pengemis cilik Ho Ho. "Pantas saja kalian tidak tahu, kiranya kalian anak-anak dari luar daerah ini,"

Kata tukang kayu sambil menganggukkan kepala.

"Aku beri tahu pada kalian, gunung ini bernama Ouw-ong-san, diatas gunung terdapat tiga buah rumah berhala, yaitu Ouw hong-ko-sat, Liok-ong-sie dan Ma-kongsu, semua rumah-rumah berhala kuno. Dan diatas gunung terdapat banyak sekali binatang-binatang buas yang seringkali mencelakakan orang yang sedang jalan, maka rumah berhala itu sudah tidak lagi didiami oleh para padri-padri. Tapi pada tiga bulan belakangan ini, di pintu dirumah berhala Ouw-hong-ko-sat dengan mendadak terpasang satu Teng-liong semacam lampu gantung yang berwarna merah diwaktu hari sudah mulai gelap Teng mulai dinyalakan, sehingga sampai pada bunyi kentrongan yang ketiga baru teng itu dipadamkan kembali."

"Hmmm....."

Dengus Ho Ho.

"Setiap hari biasanya tidak tertampak ada bayangan orang yang naik keatas puncak gunung,"

Berkata lagi si tukang kayu.

"Tapi sangat heran sekali, pada waktu-waktu belakangan ini aku sering melihat keanehan keanehan, sudah dua kali aku melihat dari sebelah timur tertampak segulungan angin Yo-kak-hong yang melayang mengepul keatas gunung, tingginya kirakira -kira 0 kaki lebih, dan besarnya gulungan angin itu kira kira ada 4 atau 5 kali pelukan orang, angin Yo kakhong itu bergulung-bergulung melewati pohonpohonan yang lebat, terus menuju keatas puncak gunung dengan mengikuti jalanan yang melingkar dan ketika sampai dipintu gereja Ouw-hong-Ko-sat gulungan angin Yo-kak-hong berhenti dan lenyap, kejadian itu selalu terjadi pada waktu menunjukkan Sin-sie (antara jam 3-5 sore). Kejadian itu sebetulnya permainan apa sampai saat ini juga aku tidak mengetahui."

Si pengemis cilik Ho Ho yang mendengar penuturan tukang kayu itu, berjingkrak-jingkrak kegirangan.

Si tukang kayu yang menyaksikan kelakuan si pengemis cilik Ho Ho agak tercengang heran, tapi cepat ia berkata.

"Sebaiknya kalian anak-anak jangan menuju kepuncak gunung itu, sungguh berbahaya, selain binatang-binatang buas mungkin juga di sana muncul siluman."

Setelah berkata begitu si tukang kayu segera melanjutkan perjalanannya. Tanpa menunggu reaksi kedua pemuda itu ia mengangkat potonganpotongan kayunya dipanggul lalu lari turun gunung.

"Toako, bagaimana rencana selanjutnya untuk menyelidiki tempat itu ?"

Tanya si pengemis cilik Ho Ho.

"Mengapa kau mesti tanya bagaimana, atau tidak bagaimana ?"

Berkata Liong Houw.

"malam ini juga kita lanjutkan perjalanan menuju puncak gunung untuk membasmi para siluman-siluman itu." 0)0od^wo0(0

Jilid ke 10 SI PENGEMIS cilik berpikir sebentar lalu memberi usul .

"Menurut hematku, lebih baik kita pulang dulu, memberitahukan kepada suhu dan kawan-kawan yang berkepandaian tinggi, karena dengan ilmu siluman yang menculik gadis-gadis dengan menggunakan angin Yo-kak-hong tentunya siluman itu memiliki ilmu kepandaian hebat, sudah pasti ilmu silatnya tidak berada dibawah kepandaian kita."

Tapi Liong Houw lain pendapatnya, sebelum menjajal kepandaian orang itu perlu apa takuti segala macam siluman.

"Aku si pengemis cilik Ho Ho bukannya bernyali tikus takut mati,"

Kata Ho Ho.

"Yang kupikirkan setiap apa yang kita kerjakan harus mendapatkan hasil yang gemilang, jangan sampai gagal ditengahtengah, bagaimana sekiranya kalau akhirnya kita tertangkap mereka, toch rahasia ini akan tertutup, untuk seterusnya si siluman bebas melakukan kejahatannya didalam rimba persilatan."

Setelah mendengar keterangan si pengemis cilik, Liong Houw menganggukkan kepala, ia setuju pendapat sang adik angkat yang ugal-ugalan tapi juga bisa berpikir panjang.

Maka mereka berunding.

Liong Houw naik keatas puncak gunung menyelidiki kemisteriusan itu, sedang si pengemis cilik Ho Ho menunggu dibawah kaki gunung.

Liong Houw berkata kepada si pengemis cilik Ho Ho.

"Kalau pada kentrongan ketiga nanti malam aku belum turun gunung, itu berarti kau tidak perlu tunggu lama-lama disini, cepat laporkan pada suhumu yang aku disini mendapat kecilakaan."

Setelah berkata begitu Liong Houw dengan gesit melejit kearah puncak gunung.

Mengikuti petunjuk si tukang kayu yang mengatakan bahwa itu angin Yo-kak-hong selalu berjalan melalui jalan timur naik keatas gunung, maka langkah kaki Liong Houw diputar menuju ketimur mengikuti jalan yang kecil berliku-liku diatas lereng pegunungan itu.

Tak lama kemudian matahari doyong ke sebelah barat dan terus menyelusup diantara puncakpuncak pegunungan, tampak pemandangan sore diatas puncak gunung itu amat indah dan permai.

Liong Houw yang mengikuti jalan berliku-liku, tiba pada satu jalan yang bercabang tiga berliku menuju keatas puncak gunung, ia tidak mengetahui jalan yang mana jalan yang menuju ke tempat sarang siluman.

Dengan kecerdikan otaknya, Liong Houw dengan sekali lihat saja ia sudah dapat mengetahui jalan yang sebelah kiri adalah jalan yang benar, karena jalanan itu tampak rata seperti pernah diinjak kaki manusia, sedang kedua cabang jalan yang lain banyak batu-batu dan rumput tumbuh disana sini.

Dengan melalui jalan itu Liong Houw terus naik keatas hingga akhirnya sampailah ia kesebuah jurang.

Waktu itu hari perlahan-lahan sudah mulai gelap, suara gerengan macan dan berbagai binatang buas terdengar dengan saling sahutsahutan, suara-suara itu mirip dengan jeritan atau tangisan setan atau jin.

Sebagai seorang pemuda yang biasa berjalan diatas pegunungan, berkeliaran di atas lampinglamping gunung dan jurang, maka suara-suara gerengan yang menyerupai suara setan dan jin itu yang ditimbulkan oleh binatang-binatang buas sudah menjadi biasa, Liong Houw tidak takut atau keder, dengan tenang terus berjalan kesebelah atas, hingga akhirnya ia berhasil tiba diatas jurang yang lebih tinggi.

Jurang itu yang merupakan puncak dari gunung Ouw-ong-san.

Diatas puncak itu Liong Houw menampak tiga rumah berhala, rumah berhala yang paling besar letaknya ditengah-tengah, dan tampak sangat angker, sedang disebelah timur selatan berdiri sebuah pagoda yang sangat tinggi seolah-olah menembus awan !

Selain itu masih ada dua kelenteng kuno, yang satu berada dilamping sebelah barat sedang yang lainnya terletak disebelah puncak barat utara.

Malam itu sang rembulan menguning di atas langit biru dihiasi bintang-bintang kemerlapan.

Dengan bantuan sinar sang rembulan Liong Houw memperhatikan sekeliling puncak gunung Ouwong-san, disana tak terdapat sebuah rumahpun, empat penjuru puncak gunung tampak sepi sunyi, hanya terdengar deruan angin pegunungan menghembus daun-daun pohon bergoyang-goyang.

Kedua rumah berhala disebelah barat dan dibarat utara tidak tampak api penerangan, keadaan kedua rumah berhala itu gelap sunyi sepi.

Pada kelenteng yang berada di-tengah; diruang besar tampak sinar lampu pelita yang menyorot keluar, juga dari sana berhembus bau harum asap hio, juga sayup-sayup terdengar orang bicara.

Liong Houw yang menyaksikan itu, segera mengetahui bahwa didalam berhala itu tentu ada penghuninya, entah manusia atau siluman jin atau setan, lalu ia berlari ke arah berhala itu, menjejakkan kaki lompat keatas wuwungan berhala laksana siluman terbang.

Dari wuwungan sebelah barat ia berjalan ke wuwungan sebelah timur dengan kecepatan laksana terbang.

Liong Houw sampai diatas wuwungan dalam ruangan sebelah timur, ia lalu membelok pula terus menuju keruang tengah, disana ia ngedakom diatas wuwungan genteng berhala, dengan menggunakan sepasang matanya yang jeli berwarna biru, ia memperhatikan sekeliling empat penjuru, memperhatikan dengan teliti.

)kzdw[ PINTU DEPAN berhala sudah tertutup rapat, juga tidak tampak sinar penerangan, sedang dikedua pinggiran dipavilyun tertampak banyak sekali bayangan orang yang sedang bergerak-gerak dengan tidak berhenti-henti, mereka simpang siur.

Ternyata rumah berhala itu adalah rumah berhala Ouw-hong-ko-sat, didalamnya terdapat lima ruangan, diantara ruangan depan dan ruangan tengah, terdapat satu ruangan Thian-ongthian dengan tiga kamar, diantara ruangan tengah dan ruangan besar juga terdapat satu ruangan Ceng-bu-thian yang mempunyai tiga kamar pula.

Didalam ruangan Thian-ong-thian, terdapat sinar lilin serta bau harumnya asap-hio yang menembus lubang hidung Liong Houw, begitu pula dalam ruangan Ceng-bu-thian yang terletak disebelah belakang ruangan tengah, disana tampak beberapa orang sedang menyakinkan ilmu berlatih di waktu malam.

Mata Liong Houw terbelalak lebar, karena orangorang itu adalah orang-orang perempuan yang berusia kira-kira baru -baru 0 tahun, rata-rata mereka berparas cantik dan memiliki bentuk potongan tubuh yang menggiurkan bagi laki-laki yang melihatnya.

Liong Houw segera melangkahkan kakinya terus berjalan menuju keruangan Ceng-bu-tian dengan mengambil jaIan dari lubang pian rumah berhala lalu memandang kebawah.

Didalam ruangan itu terdapat seorang tosu yang berwajah persegi dan berjenggot pendek, sedang badannya memakai pakaian Pak-kwa-siu-kim-toopauw, ditangannya mencekal kebutan, si tosu itu sedang duduk dibawah patung Ceng-bu-tay-tee, didepannya berbaris berpuluh-puluh perempuan muda dengan setiap barisan terdiri dari 4 orang dengan berbaris empat-empat kebelakang, hingga sampai pada barisan yang kesembilan.

Barisan yang kesembilan paling belakang disana hanya terdiri dari tiga orang.

Perempuanperempuan cantik yang berbaris itu mengenakan pakaian aneh-aneh, sikap mereka lemah lembut.

Dan menghormat kepada si tosu.

Si Tosu dengan menggunakan sepasang matanya yang bersinar, memandang kepada perempuanperempuan muda.

Begitu pandangan matanya sampai dibelakang barisan yang kesembilan, ternyata hanya terdiri dari tiga orang, wajah si tosu berubah bengis dan gusar, ia membentak .

"Itu perempuan she Lie, mengapa tidak ikut serta datang kesini mendengar Pun-hoat-su punya pelajaran ?"

Mendengar suara si tosu bernada bengis, segera tampil satu perempuan yang menjadi kepala rombongan, perempuan itu berkata .

"Harap Hoatsu jangan gusar, itu perempuan memang mempunyai tulang sombong dan bandel sekali, tapi setelah menerima nasehat-nasehat serta bujukan hamba, barulah ia mengetahui bahwa disinilah sesungguhnya merupakan satu tempat dewa, dan selanjutnya ia bersedia menerima pelajaranpelajaran Tay-hoat-su, hanya disayangkan bahwa ia sudah dua hari ini tidak enak badan, kepalanya sakit dan badannya juga panas, maka ia minta ijin pada Tay-hoat-su supaya memberikan sedikit kelonggaran buat tiga hari lamanya......" "Oh kalau begitu, baiklah,"

Berkata si tosu sambil menganggukkan kepala.

Setelah berkata demikian, si Tosu mengambil satu peles yang berwarna emas, dari dalam peles itu, ia keluarkan dua butir pel yang agak besar, kemudian ia berikan pada perempuan yang menjadi ketua rombongan dan berkata .

"Kau berikan dua butir pel ini padanya penyakitnya pasti segera sembuh."

Perempuan kepala rombongan itu menyambuti dua butir pel, sambil mengucapkan terima kasih, lalu ia berjalan pergi.

Perempuan kepala rombongan keluar melalui jalan pintu sebelah barat dan terus berjalan keserambi yang panjang, setelah sampai diujung serambi kamar tersebut, lalu ia membelok masuk kesatu pintu yang berbentuk bunder, lalu ia terus berjalan lagi menuju kesebelah barat.

Perempuan kepala rombongan itu sampai disuatu ruangan besar, ruangan itu terdiri dari dari 0 lebih kamar, lalu si perempuan kepala rombongan itu masuk kesalah satu kamar.

Dalam kamar itu terhias indah, didinding kamar tergantung lukisan Naga, lukisan bunga-bunga aneka warna, keindahan dan susunan kamar itu seperti kamarnya permaisuri raja.

Dari atas wuwungan Liong Houw terus mengikuti langkah-langkah kaki perempuan kepala rombongan itu, ia ingin tahu apa yang akan dikerjakan oleh perempuan itu.

Mata Liong Houw yang jeli bisa melihat didalam kamar itu duduk seorang wanita cantik sedang tulak dagu, ia duduk bengong dengan wajah cemas dan kuatir.

Hampir saja Liong Houw menubruk masuk menampak wanita muda itu, karena itulah sang kekasih Lie Eng Eng !

Tapi pikiran jernihnya segera menahan maksud hatinya, ia urungkan tubrukannya, ia tetap mengawasi tingkah lakunya perempuan yang membawa dua pel tadi.

Ketika si perempuan kepala rombongan memasuki kamar, Lie Eng Eng sedang menunjukkan wajah duka, dengan tertawa dipaksa kemudian ia bertanya pada si perempuan kepala regu yang baru masuk.

"Cici datang kesini ada urusan apakah?"

"Moay-moay !"

Terdengar perempuan itu berkata pada Lie Eng Eng sambil tertawa.

"Semua orang mengatakan kau ini sesungguhnya sangat bodoh sekali, kau harus ketahui, pelajaran Hoat-su sesungguhnya sangat baik, karena kalau saja ia tidak berjodoh denganmu tentunya Hoat-su tidak bisa menggunakan ilmunya untuk membawamu kemari, setelah tiba disini membuktikan jodohmu sangat bagus. Rejekimu besar. Seorang hidup didunia buat waktu 100 tahun lamanya, sangatlah pendek, maka siapakah yang tidak menginginkan mempunyai umur yang panjang dan awet muda ? Moay moay ! Kau harus dengar nasehat Gie-cie yang baik ini, tentu apa yang kukatakan tadi tidak akan merugikan dirimu, bahkan membawa banyak faedah bagi kehidupanmu kelak dikemudian hari. Kesehatanmu kini terganggu, sudah kulaporkan pada Hoat-su, ia memberikan dua butir obat pel ini, makanlah, nanti kesehatanmu segera akan pulih kembali dan tubuhmu jadi tambah segar dan bersemangat."

Lie Eng Eng menganggukkan kepala lalu menghaturkan terima kasih, kemudian ia telan dua butir pel pemberian si Tosu.

Tak lama kemudian perut Lie Eng Eng terdengar berbunyi keras sekali, sehingga tidak bedanya dengan bunyi guntur dan hawa panas segera menembus keatas dan kebawah tubuhnya, sedang semangatnya betul saja ia merasakan bertambah, dalam hati Lie Eng Eng sangat heran, tapi ia masih tidak mengetahui yang dirinya telah dipengaruhi oleh satu kekuatan iblis, karena setelah memakan pel itu, sikapnya berubah, ia kongkouw-kongkouw dengan perempuan kepala regu tadi membicarakan soal pelajaran ilmu To dan Siu-heng.

"Kalau aku disuruh Siu-heng dan mempelajari ilmu To ditempat ini, aku tidak keberatan, karena hal itu tidak ada bahayanya bahkan banyak kebaikannya,"

Demikian kata Lie Eng Eng.

"Tapi terhadap satu soal, maafkan saja, meskipun aku mati aku tidak akan menurut."

"Terhadap soal apakah itu ?"

Perempuan kepala regu dengan cepat. tanya si Lie Eng Eng mendengar pertanyaan itu, wajahnya berubah merah lalu dengan agak kemalu-kemaluan ia berkata ;

"Itulah soal Twahoat-su berniat mencemarkan kehormatanku ! Itulah yang aku tidak bisa lulusi, dengan terusterang kukatakan, meskipun aku dibunuh tidak nanti aku berikan kehormatanku dicemarkan."

"Anak bodoh !"

Bentak perempuan kepala regu itu sambil tertawa.

"Hoat-su mau memberikan dua pil obat padamu, itu disebabkan keberuntunganmu yang amat besar, mengapa kau tidak mau melulusi niatannya ?"

"Mana aku berani terima?"

Berkata Lie Eng Eng menggelengkan kepala.

"Biarlah rejekiku tipis, tapi aku ingin belajar ilmu dengan jalan suci."

"Setiap orang memang memiliki pikiran lain,"

Berkata pula si perempuan kepala regu sambil tertawa.

"Semua itu tidak bisa dipaksakan, jika kau hanya ingin mempelajari ilmu saja, dikemudian hari kau jangan menyesal, apabila tidak bisa Ceng ko (naik jadi dewa)."

"Aku tidak akan menyesal,"

Berkata Lie Eng Eng dengan tegas. Perempuan kepala regu itu tertawa dan lalu kongkouw-kongkouw yang tidak ada juntrungannya. Akhirnya si perempuan kepala regu berkata .

"Malam ini Hoat-su akan pergi kekamar no. 13 disebelah timur, untuk memberikan obat pada itu perempuan yang menetap di kamar itu, maka aku terus membantu Hoat-su, sampai disini saja dulu, nanti kita akan bertemu lagi pada besok pagi,"

Lalu perempuan kepala regu itu pergi keluar kamar meninggalkan Lie Eng Eng.

Liong Houw yang berada diatas wuwungan, ia telah dengar apa yang dibicarakan oleh perempuan itu dengan terang dan jelas, ketika menampak perempuan itu sudah meninggalkan kamar Lie Eng Eng, segera ia enjot kakinya melayang masuk kedalam kamar Lie Eng Eng.

Lie Eng Eng melihat adanya sesuatu yang melayang masuk, kagetnya bukan kepalang, dan ketika ia tegasi ternyata bayangan itu adalah bayangannya Liong Houw si pemuda yang sudah menjadi idaman hatinya.

Tanpa disadari ia berseru kaget dan girang bercampur aduk.

"Titlie !"

Tegur Liong Houw terharu.

"Bagaimana kau bisa sampai dibawa ketempat ini ?"

"Toako.........sulit untuk menerangkan secara jelas bagaimana aku sampai diculik ketempat ini,"

Berkata Lie Eng Eng.

"Hai siluman itu memiliki ilmu siluman yang tinggi sekali, aku sudah tiga kali mencoba melarikan diri, tapi setiap kali melarikan diri setiap kali itu pula si tosu membetot kembali diriku dengan ilmu silumannya hingga aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ingin rasanya aku cepat mati ditempat ini, tapi kematian itu tidak pernah kunjung datang. Toako sebaliknya lekas toako turun gunung cari suhuku, katakan padanya agar secepatnya minta bantuan Ceng-it Cinjin cianpwe, hanya Ceng-it Cinjinlah satu-satunya orang yang sanggup memecahkan ilmu siluman si tosu. Cepatlah toako pergi turun gunung sebelum mereka mengetahui kehadiranmu ditempat ini!"

"Sutit, cepat kita lari dari tempat ini!"

Ajak Liong Houw.

"Tidak mungkin, si tosu siluman sangat lihai dengan gerakan kita berdua telinganya lebih tajam mendengar langkah-langkah kaki, lebih aman kalau Toako pergi sendiri, biarlah aku menunggu disini!"

Kata Lie Eng Eng.

Liong Houw setelah mendengar ucapan itu, hatinya sangat terperanjat, tanpa mengucapkan apapun ia segera melesat pergi meninggalkan kamar Lie Eng Eng guna secepatnya mencari daya upaya menolong sang kekasih.

Dari kamar Lie Eng Eng ia terus berjalan menuju keruangan sebelah timur, ruangan itu mempunyai satu pekarangan luas disana terdapat berderetderet beberapa kamar.

Jumlah kamar-kamar tersebut sebanjak sebanjak 0 buah, dengan menggunakan jari tangannya Liong Houw menghitung, sampai pada kamar yang ketiga belas disana tampak sinar lampu yang menyorot keluar keadaan kamar itu terang benderang, sedang penghuni kamar itu tampak begitu jelas.

Pemuda kita dengan berindap-indap berjalan mendekati kamar itu, ia berdiri dimuka jendela kamar, ditepi jendela terdapat pot bunga ros, maka dengan mudah ia berlindung bersembunyi dibalik pohon bunga ros itu, ia mengintai kedalam.

Apa yang tampak didalam ruangan itu membuat hati pemuda kita berdebar keras, rasa kemarahannya memuncak.

Didalam kamar nomor 13 itulah, seorang gadis yang baru berusia kira-kira 17 tahun sedang meronta-ronta berusaha membebaskan dirinya dari rejangan empat orang perempuan yang sedang menelanjangi tubuhnya, gadis itu diringkus kaki tangannya, meskipun si gadis berusaha terus berontak, tapi akhirnya tidak berdaya menghadapi rejangan keempat perempuan.

Dan tubuhnya berhasil ditelanjangi.

Dari luar kamar mendatangi si tosu yang kini mengenakan pakaian hitam dengan langkah tenang dan perlahan-lahan ia memasuki kamar itu dan lalu berdiri didepan pembaringan gadis yang sudah telanjang tidak berdaya direjang oleh empat orang perempuan.

Tampak tubuh si gadis masih berkutetan berusaha membebaskan diri.

Mulut si Tosu jahat tampak berkemak-kemik didepan gadis tadi, matanya menatap tajam kearah mata si gadis yang masih direjang oleh empat orang perempuan.

Setelah mulut si tosu selesai berkemak-kemik, tampak si gadis yang direjang mendadak tidur pulas.

"Apakah kotorannya sudah keluar ?"

Tanya si tosu pada perempuan yang merejang gadis tadi.

Perempuan itu menganggukkan kepala mengiyakan, kemudian ia mengambil sepotong baju dalam dari bawah ranjang, dengan tangannya perempuan itu menunjukkan pada tanda darah yang terdapat diatas baju dalam itu, kemudian berkata .

"Baru tadi sore keluar."

Setelah itu si tosu memerintahkan keempat perempuan itu pergi.

Si gadis yang tadi tidur pulas setelah memakan pel yang dijejalkan kedalam mulutnya, tak lama kemudian membuka mata, wajahnya merah, sepasang mata jeli si gadis itu memandang kearah si tosu dengan pandangan mata penuh birahi, mulutnya berkemak kemik seakan hendak mengucapkan sesuatu tetapi selalu diurungkan pula.

Si tosu yang menyaksikan korbannya sudah terpengaruh pel obatnya yang ternyata adalah obat perangsang.

Mengetahui kalau sang korban sudah naik birahinya, ia pura-pura tidak tahu akan kejadian itu.

Ia berjalan mundar mandir dalam kamar.

Sedang si gadis yang nafsu birahinya sudah terangsang hebat akibat pel obat tadi, matanya berbinar-binar menatap kearah sipadri yang masih berjalan mundar mandir didalam kamarnya, dipengaruhi oleh hawa nafsu birahi yang meluapluap si gadis berkata .

"Harap Tay-hoat-su cepat berikan pelajaran untuk teecu segera laksanakan."

Si tosu yang mendengar permintaan si gadis, ia membalikkan tubuh menghadapi si gadis yang masih terlentang telanjang bulat diatas tempat tidurnya lalu katanya.

"Touw-jie. Ini adalah keinginanmu sendiri.......sudahlah, aku akan memberikan kepadamu kenikmatan yang luar biasa yang tidak pernah terdapat didalam dunia ini."

Setelah berkata begitu, si tosu membuka bajunya dan naik keatas pembaringan.

Disaat itu, telinganya mendengar suara dengusan dari sebelah luar jendela.

Mendengar suara dengusan itu, si Tosu mengetahui kalau diluar ada orang yang sudah mengetahui akan perbuatannya, tapi dengan tenang ia menggerakkan tangan kanannya, dari sana meluncur sinar merah dengan kecepatan luar biasa menyerang ke arah suara dengusan tadi, tak lama terdengar suara gedabrukan satu tubuh manusia.

Ternyata suara kedabrukan itu adalah suara jatuhnya tubuh Liong Houw yang ketika ia hendak menerobos masuk dengan mendadak menampak satu sinar merah menyerang kearahnya, tubuhnya segera melejit mengelakkan datangnya sambaran sinar merah tadi, tapi kecepatan sinar merah sungguh luar biasa, belum lagi Liong Houw tahu apa yang terjadi tubuhnya sudah terjerat oleh jala kawa-kawa berwarna merah, jatuh ambruk kelantai.

Tubuh Liong Houw berkutetan berusaha melepaskan jaring kawa-kawa yang mengikat dirinya, tapi begitu tubuhnya bergerak, begitu pula si jala itu menjerat semakin erat, akhirnya pemuda kita terperangkap kedalam sebuah sarang labalaba berwarna merah.

Bertepatan pada saat itu, tampak dua perempuan muda berlari datang, menggotong tubuh Liong Houw kesebelah dalam, kemudian dikeram dikamar kosong dalam pavilyun sebelah barat.

Si Tosu siluman karena adanya gangguan Liong Houw terpaksa menunda niatannya, setelah mengetahui si pemuda sudah tertangkap, dengan kalem, ia melanjutkan usahanya.

Didalam kamarnya si tosu siluman berkemak kemik sekian lama, baru ia suruh seorang perempuan membawa Liong Houw menghadap.

Tak lama kemudian Liong Houw telah dibawa menghadap diruangan besar.

"Binatang alas dari mana yang begitu berani datang ketempat keramat ini?"

Kata si tosu siluman sambil tersenyum dingin.

"Hayo lekas terangkan agar nanti kalau kau mati tidak mati penasaran."

Mendengar ucapan si tosu siluman Liong Houw naik darah, lalu memaki.

"Siluman durhaka! Kau telah banyak berbuat kejahatan, semua orang ingin sekali membunuh dirimu, kau tanya aku datang kesini hendak berbuat apa? Huh, tuan besarmu ini datang kemari sebetulnya hanya hendak mencopot batok kepalamu, sungguh sial tuan besarmu masuk perangkap, mungkin sudah takdir, sekarang setelah tuan besarmu tertangkap kalau kau mau bunuh, bunuhlah, jangan banyak cingcong tidak keruan."

"Sungguh satu binatang alas yang bandel."

Terdengar si tosu berkata sambil gelengkan kepala dan tersenyum dingin.

"Kau berani mati, justru sebaliknya aku tidak menghendaki kau mati. Hai, kalian cepat bawa binatang alas ini, sekap didalam kamar tahanan, setiap hari beri sedikit makanan kering jangan diberi minum, biar ia mati kelaparan!"

Dua orang perempuan segera menganggukkan kepala, lalu membawa Liong Houw dijebloskan kedalam kamar tahanan.

Pengemis cilik Ho ho menunggu Liong Houw sampai pada keesokan harinya di waktu Sien-sie (antara jam 7-9), ia masih belum melihat bayangan Liong Houw turun gunung.

Atas kejadian itu maka ia lantas mengetahui bahwa Liong Houw mendapat kecilakaan diatas puncak gunung, atau setidak-tidaknya tertawan oleh manusia siluman.

Maka segera ia meninggalkan tempat itu menuju kota Siang-im, selanjutnya meneruskan perjalanan mencari suhunya.

Dengan sangat kebetulan sekali didalam perjalanan ia bertemu dengan Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw, guru Lie Eng Eng yang juga sedang mencari-cari jejak muridnya.

Pengemis cilik Ho Ho menceritakan kepada Sinkiong-kiam Ong Pek Ciauw tentang apa yang terjadi atas diri Liong Hauw.

Setelah mendengar laporan pengemis cilik Ho Ho, wajah Ong Pek Ciauw menjadi pucat, dengan cepat berkata .

"Celaka duabelas, menurut cerita orang, pada limabelas tahun yang lalu digunung Ong-ong-san telah terjadi beberapa kejadian yang aneh-aneh, menurut keterangan tokoh tokoh silat yang pernah menyelidiki di-puncak gunung itu berdiam seorang tosu siluman yang sering melakukan kejahatan-kejahatan mencemarkan kesucian wanita baik-baik, ia senang sekali menggunakan ilmu silumannya menculik gadisgadis dari berbagai tempat, dibawa keatas gunung dicemarkan kesuciannya, tapi mendadak selama belasan tahun entah mengapa tidak terdengar lagi jejak beritanya si tosu siluman. Tak kuduga kini ia muncul kembali digunung Ouw-ong-san. Si tosu siluman itu ilmunya tinggi dan lihai, orang-orang yang diculiknya bukan saja gadis-gadis yang tidak berkepandaian, bahkan orang-orang berilmu tinggi masih bisa dicomot oleh ilmu siluman si tosu. Si tosu juga tidak mempan segala senjata tajam, kulitnya kebal. Menurut kabar, si tosu siluman paling takut mendengar suara Guntur dan api, orang yang paling ia takuti ialah Ceng-it cinjin. Pernah pada limabelas tahun yang lalu, ketika Ceng-it cinjin melakukan perjalanan ke Siang-im dari See-cong, lebih dulu ia pergi ke 18 gunung dan bukit membasmi segala macam siluman dengan menggunakan pedang Guntur, sejak itulah si tosu siluman lenyap tiada kabar beritanya lagi. Kau cepat cari suhumu dua hari kemudian kita berkumpul dikota Siang-im di Kelenteng Siangceng To-wan. Aku akan berkunjung kegunung Liong-houw-san meminta bantuannya Ceng it cinjin."

O o odzo o O Mengikuti perjalanan Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw dengan menunggang kuda siang malam melakukan perjalanan menuju gunung Lionghouw-san, hingga keesokan harinya ia tiba dikaki gunung Liong-houw-san lalu melanjutkan perjalanannya dengan berlarian mendaki puncak gunung Liong-houw-san menuju ke pesanggerahan Ceng-it cinjin.

Setibanya dipesanggerahan, Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw menceritakan hal yang menimpa diri Liong Houw.

Setelah mendengar cerita Ong Pek Ciauw, Cengit cinjin mengangguk-anggukkan kepala lalu berkata .

"Pada lima belas tahun yang lalu, aku mengubrak abrik sarangnya, entah ia lenyap kemana, mendadak kini sudah muncul kembali. Sulitnya si tosu siluman itu memiliki ilmu yang luar biasa tingginya, ia hanya takut kepada pedang guntur milikku tapi itupun hanya bisa membuat siluman itu lari ngacir belum bisa membunuhnya, lebih-lebih aku sudah bersumpah tidak akan membunuh, aku tidak bisa melakukan pembunuhan."

"Senjata apakah yang bisa memusnahkan tosu siluman itu dari muka bumi ?"

Tanya Sin-kiongkiam Ong Pek Ciauw. Ceng-it Cinjin mengkerutkan kening menarik napas lalu katanya .

"Pedang guntur harus dibantu dengan Pedang Embun, baru bisa membinasakan siluman itu menjadi hancur ribuan keping."

"Pedang Embun?"

Tanja Ong Pek Ciauw heran.

"Apakah pedang yang dimaksud itu Pedang Embun yang sedang dicari-cari oleh beberapa orang dari luar benua, lohu maksud orang-orang dari Hadramaut ?"

Ceng-it Cinjin mengangguk kepala.

"Bukankah pedang itu pusaka leluhur dari jagojago Hadramaut ?" Ceng-it Cinjin menggelengkan kepala, katanya .

"Pedang Embun itu adalah pusaka dataran Tionggoan, bukan pusaka orang-orang Hadramaut."

"Aaaaa........"

Sin kiong-kiam Ong Pek Ciauw terkejut.

"Apakah Cinjin mengetahui jelas tentang pusaka itu ?"

"Tidak!"

Jawab Ceng-it Cinjin. Jawaban itu membingungkan Sin-kiong kiam Ong Pek Ciauw. Ceng-it Cinjin mengetahui perasaan Ong Pek Ciauw maka cepat-cepat ia berkata lagi .

"Baiklah, setelah berhasil menolong Liong Houw dan muridmu, akan kutunjukkan sesuatu yang berhubungan dengan rahasia Pedang Embun."

Sin-kiong-kiam Ong Pek mengangguk-anggukkan kepala. Ciauw hanya Ceng-it Cinjin sudah berkata lagi.

"Kau bersama muridku Thio Thian Su segera turun gunung, sedapat mungkin mencari bantuan beberapa orang untuk mengurung tempat itu jangan lupa sedia sebanyak-banyaknya darah anjing hitam dan ambil kotoran orang perempuan untuk diletakkan dimana jalan penting, bilamana kalian menampak si tosu siluman melarikan diri cepat gunakan senjata-senjata yang sudah diolesi darah anjing hitam, pasti si tosu siluman akan lari terbirit-birit, pada saat itu bilamana kalian melihat binatang gaib macam apa saja bentuknya, jangan sekali-kali kalian kaget atau takut, karena semua itu adalah ilmu silumannya si tosu, cuma bisa mengelabui mata orang saja. Maka bilamana kalian menemukan binatang atau makhluk jejadian apapun, gunakanlah senjata-senjata yang sudah dipolesi darah anjing hitam. Nah sekarang berangkatlah, aku akan menyusul kemudian."

Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw setelah mendengar keterangan Ceng-it Cinjin lalu mengucapkan terima kasih kemudian turun gunung bersama Thio Thian Su.

Sesampainya dikota Siang-im, didalam kelenteng Siang-ceng To-wan si pengemis cilik Ho Ho sudah menunggu lama bersama gurunya dan Koangkoang Sin-kay serta sembilan orang anggota pengemis lainnya.

Didalam kelenteng itu mereka mengatur siasat.

Beberapa orang anggota pengemis ditugaskan mencari beberapa anjing hitam diambil darahnya, semua senjata, pedang, tongkat maupun senjata rahasia dipolesi dengan darah anjing hitam, begitu pula mereka mendapatkan kain kotoran perempuan, baru kemudian berangkat menuju kekaki gunung Ouw-ong san.

O o odwo o O Kembali kita melihat keadaan Liong Houw yang tertangkap oleh Liok Hap Tojin, itulah nama si tosu siuman.

Liong Houw dijebloskan dalam kamar tahanan disalah satu kamar pavilyun sebelah barat, dimana dia sudah tidak punya harapan untuk bisa hidup lagi.

Ketika baru mulai gelap, kuping Liong Houw yang memiliki ketajaman menangkap suara luar biasa, mendengar suara langkah-langkah kaki orang.

Dari jendela kamar tahanan ia melihat empat orang perempuan muda dengan mengenakan pakaian ringkas berjalan mendatangi, dua orang perempuan tampak membawa kayu yang berlubang ditengah sebesar piring panjangnya kirakira 10 kaki lebih, kayu itu diletakkan ditengahtengah Cim-chee.

Dari kayu berlubang itu berhembus bau harum semerbak dihembus angin.

Dua orang perempuan lainnya membawa lambang berwarna merah yang terbuat dari bahan wool, juga hio, lilin, dan lain-lain macam barang untuk keperluan upacara sembahyang.

Kembali tampak dua orang perempuan mendatangi dengan menggotong sebuah meja untuk sembahyang yang terbuat dari kayu jati, yang kemudian meja itu diletakkan didepan kayu yang berlubang sedang lilin dan hio diletakkan diatas meja.

Diatas kayu berlubang ditancapkan sebuah bendera Siu-kiam-chit-seng khie berwarna merah.

Setelah selesai menyiapkan meja sembahyang membakar lilin dan hio, keempat perempuan muda itu berjalan kedalam ruangan disebelah barat.

Tidak lama kemudian, dari dalam kamar, tampak dua orang perempuan tadi memayang seorang perempuan muda yang berusia kurang lebih -lebih 0 tahun, dibadannya cuma dikeredongi oleh jubah Kwan-im-tay-piauw yang tersulam kembang-kembang, ditubuh perempuan itu tidak mengenakan pakaian dalam, tampak dari jubahnya yang tipis lekuk liku tubuhnya.

Kaki perempuan itu kecil tidak bersepatu!

Perempuan muda itu langsung dibawa kedepan meja sembahyang yang sudah disiapkan.

Dari kamar lain mendatangi pula dua orang perempuan yang juga mengenakan pakaian ringkas, kedua perempuan itu berjalan dengan membawa sebuah peti panjang yang terbuat dari gading, peti gading itu panjangnya kira-kira 8-9 cun lebih, dengan sikap hormat sekali, kedua perempuan itu meletakkan peti gading tadi diatas meja sembahyang.

Setelah meletakkan peti gading itu, perempuan tadi membalikkan tubuh menghadapi perempuan yang dikerudungi oleh jubah tipis.

"Moay-moay ! Aku ucapkan selamat padamu, karena Couw-su-ya akan membersihkan semua darah yang bergelimang dosa dalam tubuhmu, maka dengan begitu berarti kau akan segera menjadi seorang suci yang kelak dikemudian hari akan naik menjadi dewa, dan berumur panjang serta awet muda, peristiwa ini adalah suara hal yang sangat bersejarah bagi dirimu dalam menuju kesucian serta menjaga kecantikan agar kau tetap awet muda, oleh sebab itu kau tidak usah merasa takut atau ragu-ragu, tunjukkanlah semangat keberanianmu serta kerelaan hatimu dihadapan Couw-su-ya yang akan memberi kemurahan hati akan membersihkan darahmu dan memberikan obat mujijat padamu, nanti dihadapan Couw-su-ya kau harus mengucapkan terima kasih."

Perempuan muda itu yang mendengarkan ceramah tadi, dengan tertawa dipaksakan ia berkata .

"Twa-cici! Sama sekali aku tidak takut, lebih-lebih Couw-su-ya hendak membersihkan darahku yang mengandung dosa, dan memberi obat mujijat awet muda, tapi yang membuat hatiku cemas dan ragu, mengapa dalam melakukan upacara ini tubuhku harus ditelanjangi bulat bulat, juga kaki tanganku diikat oleh tali wool merah ini, seakan jika kupikirkan aku sedang menjalani hukuman mati, bagaimana aku tidak menjadi takut ?"

Perempuan berpakaian ringkas, segera berkata dengan lemah lembut ;

"Moay-moay, dengarlah keteranganku, seseorang yang hendak menjadi dewa, tidak ubahnya seperti seorang yang akan mati, dengan berbuat seperti orang yang akan mati barulah kita berhasil menjadi dewa. Couw-su-ya hari ini akan melimpahkan kebaikan hatinya kepadamu untuk membantu kau naik menjadi dewa, maka ia memerintahkan kami berbuat apa yang sekarang kau alami itu dikarenakan ingin membantu dirimu dalam menunaikan cita-citamu menjadi dewa yang sebelumnya harus membersihkan darah kotor yang mengalir dalam tubuhmu. Setelah darah kotor yang mengandung dosa itu dikeluarkan, maka tubuhmu akan menjadi suci, apakah kau mengerti moay-moay?" Si gadis yang akan dijadikan korban setelah mendengar keterangan perempuan tadi bertanya lagi .

"Cici, kuharap kau jangan terlalu membohongi aku, sebenarnya Couw-su-ya dengan cara bagaimana ia akan membersihkan darahku yang kotor penuh dosa. Bisakah cici memberi keterangan yang jelas dan jujur agar hatiku tenang, dan tidak berdebar-debar ketakutan seperti ini."

"Anak bodoh !"

Kata perempuan berpakaian ringkas, sambil tertawa.

"Kau besarkan hatimu, Couw-su-ya tidak akan menggunakan golok atau pedang untuk membabat lehermu, ia hanya akan menggunakan alat yang kecil untuk menyedot darahmu yang penuh dosa, juga tidak akan merasa sakit. Bahkan setelah darah kotor yang mengandung dosa itu diisap keluar tubuhmu akan bersemangat, kaki tanganmu terasa lemas sehingga kau mudah untuk naik keatas awan menjadi dewa. Nah tenangkanlah hatimu dan jangan takut-takut lagi."

Si gadis yang akan dijadikan korban setelah mendengar keterangan itu, hatinya menjadi tenang dan tentram.

Perempuan yang berpakaian ringkas setelah membuat calon korbannya tenang, segera ia membuka jubah yang mengerudungi tubuh gadis yang akan dijadikan korban siluman.

Keadaan gadis itu kini sudah telanjang bulat, tampak kulitnya yang putih bagaikan salju tampak sangat nyata, sedang kedua buah dadanya yang menonjol keluar laksana puncak gunung disinari sang matahari pagi, pemandangan demikian bila tampak oleh seorang laki-laki mata keranjang atau Iaki-Iaki yang kurang kuat imannya, niscaya semangatnya akan ketarik dan siang-siang sudah melayang keluar dari tubuhnya.

Tak lama kemudian dari arah ruangan Samceng-tian terdengar suara gong dipukul tiga kali, kemudian disusul dengan terdengarnya suara pukulan gong 3 kali dari jurusan kamar sebelah timur.

Setelah mendengar suara gong tersebut empat perempuan yang berpakaian ringkas menjadi sibuk, dengan tali yang terbuat dari wool merah mengikat sepasang kaki dan tangan perempuan yang akan dijadikan korban, setelah selesai mengikat perempuan itu, keempat perempuan tadi segera menggerek tubuh korban keatas dua buah patok yang sudah disiapkan, hingga keadaan perempuan yang akan menjadi korban itu tergantung seperti orang yang akan melaksanakan hukuman mati.

"Ciecie sekalian ! Harap memberi sedikit kelonggaran kepadaku,"

Berkata gadis yang menjadi korban.

"Kendorkan sedikit ikatan yang mengikat tangan dan kakiku, aku sudah tak tahan lagi, juga lekas dilakukan upacara itu untuk meringankan penderitaanku ini."

Keempat perempuan yang mengenakan pakaian ringkas tadi mendengar kata-kata si gadis yang akan menjadi korban hatinya merasa terharu, cepat-cepat mereka mengendorkan ikatan tubuh gadis itu, hingga gadis yang akan dijadikan korban itu tidak merasa sakit akibat ikatan yang mengikat tubuhnya.

Pada saat itu tampak dari pintu bunder kamar sebelah timur berjalan mendatangi si Tosu siluman dengan mengenakan jubah Pat-kwa Sia-kim-pauw yang berwarna kuning, kepalanya memakai topi tosu, kakinya memakai sepatu yang agak tinggi, sedang ditangannya memegang kebutan.

Dibelakang si tosu siluman berjalan mengikutinya dua orang gadis kecil yang berusia baru 13 tahun, ditangan kedua gadis kecil itu memegang sebuah kaca tembaga enam persegi.

Ketika si tosu siluman tiba didalam ruangan sembahyang, dimana sang korban tergantung, keempat orang perempuan yang mengenakan pakaian ringkas lalu berbaris menyambut memberi hormat kemudian memberikan laporan pekerjaannya.

Si tosu siluman setelah mendengar laporan keempat perempuan itu segera berjalan menghampiri meja sembahyang yang sudah siap teratur rapi yang katanya untuk menjalankan upacara membersihkan darah yang kotor kepada sang korban agar dikemudian hari sang korban bisa naik menjadi dewa.

Si gadis yang dijadikan korban tergantung, seperti seekor kambing yang akan disembelih.

Gadis itu dengan memaksakan diri tersenyum getir, dengan mata merah tidak berani memandang si tosu ia berkata perlahan .

"hamba penghuni kamar no 17 bernama Cu Loan Ing yang akan mendapatkan budi besar Couw su-ya, maka sebelumnya hamba haturkan banyak terima kasih atas budi kebaikan Couw-su-ya yang sangat besar, hamba tidak akan melupakan budi besar ini sampai hamba mati."

"Anak yang baik,"

Berkata si tosu sambil tertawa.

"Kau sungguh baik, tidak percuma aku hari ini mengeluarkan tenaga untuk menolongmu agar dikemudian hari bisa naik jadi dewa."

Setelah berbicara begitu si tosu siluman mengambil sebatang pedang-pedangan kayu yang terbuat dari kayu Tho yang terletak diatas meja, pedang-pedangan kayu itu diacungkannya kelangit kemudian kebumi, kemudian tosu siluman itu berjalan mengelilingi meja sembahyang mulutnya berkemak-kemik membaca doa.

Bertepatan dengan itu, dari dalam ruangan Samceng-tian nampak berlari datang seorang perempuan muda, perempuan itu memberi hormat pada si tosu kemudian berkata.

"Lapor kepada Couw-su-ya waktu upacara sudah tiba."

Setelah mendengar laporan itu si tosu siluman menggurat-guratkan pedang-pedangan kayu ke lehernya sendiri kemudian kebagian urat-urat bawah tubuhnya dengan mengikuti arah jalan darah sambil berkemak-kemik.

Setelah berbuat demikian, si tosu siluman menyerahkan pedang-pedangan kayu pada si perempuan yang memakai pakaian ringkas.

Sedang seorang perempuan lainnya, dengan sikap hormat memberikan peti gading kepada si tosu.

Si tosu siluman mengambil dua buah perkakas yang seperti terompet, panjangnya kurang lebih delapan chun, ditangannya masing-masing memegang sebuah benda itu.

Dengan tangan kanan memegang sebuah alat seperti terompet si tosu menyingkapkan rambut si gadis yang menjadi korban, mencari jalan darahnya, tangannya terus menyelusuri bagian dada, iga dan perut di mana terdapat jalan-jalan darah ditubuh si gadis.

Ketika tiba dipaha si gadis, tangan si tosu dengan masih memegang alatnya meraba-raba sebentar, ia tersenyum kecil setelah mendapatkan jalan darah yang dimauinya, lalu menggapaikan tangan kearah perempuan yang berpakaian ringkas.

Perempuan itu segera menghampiri, ditangannya memegang bendera Chit-seng-khie, kemudian bendera itu ditepokkan ke kepala si gadis yang dijadikan korban sambil berkata .

"Cici hari ini Couw su-ya akan melepaskan budi kebaikan kepadamu, budi ini kelak tak boleh kau siasiakan...........!"

Cu Loan Ing si gadis yang menjadi korban matanya masih meram, ketika kepalanya ditepok oleh bendera Chit-seng-khie, ia merasakan pahanya sakit seperti digigit serangga.

Ternyata ketika bendera Chit-seng khie ditepokkan ke kepalanya Cu Loan Ing, si tosu berbareng menusukkan perkakas yang seperti terompet kepaha gadis itu.

Ternyata alat itu adalah alat untuk mengisap darah orang.

Liok Hap Tojin si tosu siluman menusukkan alat untuk menghisap darahnya dipaha si gadis, ia menyedot darah gadis itu pada bagian pahanya, setelah berlangsung sekian saat barulah ia melepaskan sedotannya dan mencabut kembali alat penghisap darahnya.

Cu Loan Ing seorang gadis yang lemah, setelah darahnya dikuras dihisap si tosu siluman Liok Hap tojin, wajahnta berubah pucat laksana kertas, hampir-hampir ia tidak sanggup mempertahankan nyawanya lebih lama lagi hidup dalam dunia.

Liok Hap tojin setelah menghisap darah gadis itu, ia meletakkan kembali alatnya diatas tempat peti gadingnya, lalu memijit dua kali pada bagian tubuh Cu Loan Ing, setelah berbuat demikian ia memerintahkan perempuan yang berpakaian ringkas membawa masuk sang korban didalam kamarnya.

Cu Loan Ing yang sebagian besar darahnya sudah dihisap si tosu siluman, tubuhnya menjadi lemas, ia tidak kuat berdiri, sehingga terpaksa dipayang oleh empat orang wanita berpakaian ringkas memasuki kamar.

Si tosu siluman cuci mulutnya dan kemudian duduk dimuka meja sembahyang.

Seorang budak perempuan segera datang menghampiri dengan membawa peles kecil berwarna emas yang tingginya kira-kira 5-7 chun, sedang tutup peles itu berbentuk kepala singasingaan.

Liok Hap Tojin lalu membuka tutup peles itu, dari dalamnya ia mengeluarkan dua butir pel berwarna putih sebesar buah seri, berbarengan seorang budak perempuan membawakan segelas air bening.

Tak lama datang pula empat orang perempuan berpakaian ringkas dengan membawa seorang perempuan muda yang berusia kira-kira 18--0tahun, perempuan itu sama keadaannya dengan Cu Loan Ing, hanya dikerudungi oleh kerudung tipis.

Wajah perempuan itu sangat cantik serta berpotongan tubuh ramping menggiurkan.

Keadaan perempuan itu tidak seperti keadaannya Cu Loan Ing korban pertama yang ragu-ragu dan takut-takut menghadapi si tosu, tapi perempuan itu berseri-seri tampak wajahnya gembira sekali.

"Perempuan dari kamar No. -. 4 bernama Thio Yok Bwee dibawa menghadap,"

Berkata salah seorang perempuan yang memakai pakaian ringkas kepada Liok Hap Tojin dengan membungkukkan badan.

"Apakah ia baru pertama kali ini menerima pelajaran ?"

Bertanya Liok Hap Tojin sambil mengangkat kepala memandang.

"Ia naik keatas gunung baru 10 hari lamanya,"

Berkata si perempuan yang mengenakan pakaian ringkas sambil membungkukkan badan.

"Belum pernah mendapatkan sedikit pelajaranpun, atau mendapatkan sumbangan budi Taysu." "Kalau begitu baiklah, segera kau turun tangan membantu pekerjaanku !"

Perintah Liok Hap Tojin menganggukkan kepalanya.

Keempat perempuan tadi segera membuka kain kerudung yang menutupi tubuh Thio Yok Bwee lalu mengangkat tubuh itu seperti tadi ia lakukan terhadap korban pertamanya.

Liok Hap tojin si tosu siluman setelah menyaksikan Thio Yok Bwee diikat tubuhnya segera menempelkan alat penghisap darahnya ketubuh gadis itu.

Liong Houw yang menyaksikan adegan itu dari dalam kamar tahanannya darahnya meluap, ia marah dan gusar, hampir saja disangkanya ia sedang mimpi menyaksikan perbuatan terkutuk yang tidak mengenal prikemanusiaan, ia berusaha berontak keluar dari kamar tahanan itu, tapi apa mau dikata, kedua tangannya kini sudah dirantai oleh sebuah rantai yang entah terbuat dari bahan apa, begitu tangannya bergerak ikatan rantai itu semakin erat membuat kedua pergelangan tangannya bertambah sakit.

Akhirnya ia menghentikan usahanya yang sia-sia itu.

Ia hanya bisa menyaksikan kelakuan si tosu dengan rasa kemendongkolan dan gusarnya meluap-luap melewati batas takeran, tapi semua itu ia hanya bisa ditelan mentah-mentah dan pentang mata selebar-selebarnya, untuk menyaksikan perbuatan yang sangat terkutuk tidak mengenal prikemanusiaan.

Sementara itu si tosu siluman ketika telah mendapatkan jalan darah korban kedua, dengan cepat lalu menusukkan alat penghisap darahnya, tapi baru saja mulutnya akan menghisap darah perempuan itu, mendadak ia merasakan ada hawa busuk menyerang masuk kedalam lubang hidungnya, ia mengetahui tentu ada perobahan apa-apa yang terjadi, tapi sudah terlambat untuk menarik kembali alat penghisap darahnya.

"Ooooh....Ooooh....Ooooh....."

Terdengar si Tosu siluman mengeluh memuntahkan darah, dan berbareng dengan kejadian itu ia rasakan kepalanya terasa pening hampir saja ia jatuh ngusruk, bilamana ia tidak cepat-cepat kendalikan tubuhnya.

Kejadian itu membuat keempat pengawal wanita yang berpakaian ringkas terkejut, sehingga menyebabkan muka mereka pucat, dengan cepat mereka pada berlutut untuk menerima hukuman atas kelalaian mereka.

Si tosu siluman yang mendadak mencium bau busuk sehingga kepalanya pening dan muntahmuntah, ia hanya menelungkupkan kepala diatas meja sembahyang.

Ketika sadar dari mabuknya si tosu siluman menampak keempat wanita pembantu-pembantunya sedang sujut minta ampun atas kelalaian mereka yang menyebabkan peristiwa yang tidak diingini terjadi pada diri si tosu siluman Liok Hap tojin.

Si tosu siluman tidak menggubris keempat perempuan yang sedang sujut minta-minta ampun, ia melangkah menghampiri perempuan yang masih telanjang bulat, ia mengangkat tangannya, dari sana meluncur sinar merah melayang keluar menabas putus tubuh korban keduanya dari kamar No.

-..Sungguh kasihan nasib perempuan bernama Thio Yok Bwee dari kamar no.

4, ia telah menjadi kurban mati seketika dengan tubuh terpotong dua menghadap giam-lo-ong.

Keempat perempuan yang sedang sujut meminta ampun begitu melihat kejadian itu tubuhnya gemetaran ketakutan, dan dengan suara gemetaran terputus-putus meratap .

"Couw-su-ya harap ampuni jiwa anjing kami, dan sudilah mengampuni semua kelalaian kita yang telah membuat kejadian seperti ini."

Diluar dugaan si Tosu siluman bukannya marah malahan tertawa berkakakan lalu berkata .

"Anakanak, kalian jangan takut ! Aku tidak akan menghukum orang yang tidak berdosa, aku juga percaya kalian sudah memeriksa diri perempuan itu, maka kejadian ini bukanlah kesalahan kalian, kalian jangan kuatir."

Keempat perempuan yang berpakaian secara ringkas setelah mendengar kata-kata si tosu siluman perasaan mereka menjadi girang lalu menghaturkan banyak terima kasih sambil berlutut diatas lantai.

Pembaca yang terhormat, mengapa dengan tanpa sebab si tosu siluman dengan mendadak mencium bau yang busuk hamper saja membikin dia pingsan tak sadarkan diri, lalu melepaskan sinar merah mencabut nyawanya Thio Yok Bwee korban keduanya ?

Perlu dijelaskan, si tosu siluman sebelumnya mengisap darah sang korban, ia memeriksa keadaan perempuan itu dengan teliti, setiap korbannya diperiksa lebih dulu oleh pembantupembantunya yaitu perempuan-perempuan berpakaian ringkas tadi, setelah itu barulah si tosu siluman melakukan kebiadabannya menghisap darah.

Setiap korban yang dihisap darahnya haruslah seorang perempuan yang masih suci yaitu seorang gadis betul-betul masih perawan, barulah ia bisa menghisap darah perawan itu dengan nikmatnya, tetapi bilamana perempuan yang akan dijadikan korbannya bukan seorang gadis, ia mengisap darah perempuan tadi dengan cara lain yang lebih kejam dan lebih biadab.

Siapakah perempuan itu yang sebenarnya, dia adalah bukan lain Kim-coa Ie si Ular mas jelita isteri mudanya Cie Tay Peng yang berdarah histeris.

Karena mendengar berita digunung Ouw ong-san terdapat seorang tosu yang bisa membuat seorang wanita awet muda dan umur panjang, maka Kimcoa Ie tertarik akan hal itu, segera ia mengembara mencari tempat itu dengan menggunakan nama samaran Thio Yok Bwee, agar ia bisa mendapatkan ilmu awet muda dan panjang umur.

Ketika Kim-coa le diperiksa oleh keempat perempuan anak murid Liok Hap tojin, ia mengaku dirinya sebagai perawan bernama Thio Yok Bwee.

Karena darah Kim-coa le yang mengaku dirinya bernama Thio Yok Bwee telah kotor akibat perbuatannya sering berhubungan dengan laki mana saja yang ia maui, maka darahnya mengandung bau busuk.

Membuat si tosu siluman muntah-muntah dan pening kepala, kejadian itu juga membuat pekerjaan si tosu selama bertahuntahun menghisap darah gadis telah terbuang sebagian, sehingga tenaganya lenyap beberapa bagian, karena itu meluap marahnya, dan membunuh Kim-coa le dengan sinar merahnya.

Liong Houw dengan jelas menyaksikan semua kejadian itu, ketika si gadis yang mengaku bernama Thio Yok Bwee itu terpancang telanjang bulat dihadapannya, hati Liong Houw merasa mendongkol setengah mati, ia tahu bahwa orang itu sebenarnya adalah Kim-coa le si Ular mas jelita yang memalsukan namanya menjadi Thio Yok Bwee, pikirnya sungguh sial sekali dirinya sampai dua kali melihat tubuh wanita histeris itu dalam keadaan telanjang bulat, pertama kali ia melihatnya didalam kamar dibukit dibawah berhala kuno Tam-hoa-ko-sie sedang melakukan perbuatan maksiatnya dengan orang bawahan suaminya sendiri.

Liok Hap Tojin setelah membinasakan Kim-coa le alias Thio Yok Bwee memerintahkan orangorangnya untuk membawa bangkainya serta memberesi alat-alat upacara penghisap darahnya, kemudian ia berjalan kedalam ruangan sebelah barat.

0odwo0 PADA keesokan harinya, ketika hendak santapan pagi, Liok Hap Tojin merasakan tubuhnya tidak bersemangat seakan-akan kehilangan sesuatu.

orang yang baru Liok Hap Tojin cepat duduk bersemedhi menenangkan pikirannya yang kalut tanpa sebab serta memulihkan perasaannya yang tidak tenang membuat tubuhnya menjadi lemas tak bersemangat.

Setelah bersemedhi sekian saat, Liok Hap Tojin masih saja merasakan kehilangan semangat, perasaannya kini masih dirasakan tidak enak, maka ia berpikir.

"Apakah ini suatu tanda akan adanya mara bahaya yang akan menimpa diriku?"

Karena pikiran itu, maka ia pergi berjalan ke jendela sebelah timur, disana ia membakar sebatang hio untuk meramalkan apa yang akan terjadi ?

Setelah selesai meramal, tanpa disadari ia mengangguk kepala sambil berkata kepada dirinya sendiri.

"Pantas aku merasakan tubuhku tidak bersemangat, sangat lesu dan pikiran tidak enak, ternyata ada sekawanan anjing hutan yang hendak membikin susah padaku ! Baik, aku tidak akan gubris mereka, aku suruh anak-anak muridku saja yang menghadapi mereka untuk mengusir pergi semua anjing hutan yang coba menganggu ketenteramanku, suruh mereka membunuh bunuhi semua anjing-anjing hutan yang tidak mengenal mampus !"

Setelah bergumam begitu Liok Hap tojin segera memanggil dua orang pengawal perempuannya, setiap betis perempuan itu ditempeli sebuah jimat Sin-heng (jimat jalan cepat) lalu memerintahkan mereka berdua untuk pergi ke Lok-hong-san dan Leng cu-nia untuk memanggil murid bagian depan dan belakang yang berjumlah-jumlah orang !

Perlu dijelaskan, Liok Hap Tojin mempunyai dua kelompok murid-murid, yang disebut bagian depan dan bagian belakang, murid-murid yang berada dibagian depan berada di Sam-ceng-koan yang berkediaman digunung Lok-hong-san, sedang murid-murid yang berada dibagian belakang berdiam dikelenteng Sam-sam-koan yang terletak dibukit Leng-cu nia.

Setiap pada tanggal 1 dan 5, Liok Hap Tojin mengunjungi tempat murid-muridnya untuk melatih mereka yang bertempat tinggal di Samceng-koan dan di Sam-sam-koan untuk memberikan Iatihan-Iatihan ilmu siluman kepada seluruh murid-muridnya.

Hasil dari latihan Liok Hap tojin murid muridnya telah paham dan ahli dalam hal ilmu siluman, bahkan sifat-sifat seluruh muridnya itu mengikuti sifat gurunya yang cabul dan tidak berperikemanusiaan.

Menerima panggilan sang guru, semua muridmurid Liok Hap Tojin segera berangkat menuju kegunung Ouw-ong-san, dimana sang guru tinggal dan melakukan perbuatan terkutuknya.

Anak-anak murid bagian depan disediakan kamar diruangan bagian barat sedang anak murid dari bagian belakang diharuskan tinggal dalam ruangan kamar disebelah timur, dan diharuskan menunggu kedatangan sang guru si tosu siluman, setiap saat menunggu perintah atau lain-lain tugas.

Ketika hari sudah menunjukkan waktu Yu-sie (antara jam 5 sampai jam 7 sore) Liok Hap Tojin lalu berganti pakaian, dengan memakai pakaian pertapaan yang berwarna kuning, setelah itu ia berjalan menuju keruangan kamar disebelah barat untuk memberi perintah kepada murid-murid yang bagian depan.

Semua anak muridnya ketika menampak sang guru datang, cepat mereka pada berdiri dan memberi hormat, baru kemudian mereka duduk kembali membentuk barisan huruf Pat (delapan), sedikit suara pun mereka tidak berani ucapkan, suasana ditempat itu menjadi sunyi senyap.

"Murid-muridku sekalian."

Berkata si tosu siluman.

"Pun-su dengan tanpa hujan angin telah memanggil kalian datang ketempat ini, disebabkan ada sekawanan berandal dari kalangan Liok-lim yang tidak tahu diri, dengan kurang ajar berani datang ketempat suci ini guna membikin kerusuhan dan membuat susah kalian semua, sebetulnya kita tidak perlu membuat penjagaan yang ketat, cukup bilamana menggunakan sedikit ilmu saja, kita sudah bisa membuat mereka mundur kucar kacir sekaligus, hanya dikarenakan dari jumlah orangorang yang menyatroni tempat kita ini terdapat orang yang berilmu, maka kita tidak boleh pandang enteng mereka, sedapat mungkin kita harus memukul mundur mereka dengan menggunakan ilmu sakti kita, kalian jangan membunuh banyak manusia, hanya kalau mereka keterlaluan tidak tahu diri apa boleh buat, bunuh habis mereka, karena itulah mereka sendiri yang mencari mampus. Ingatlah baik-baik pesanku ini."

Semua anak muridnya setelah mendengar katakata itu mereka serentak menyatakan mengerti dan menganggukkan kepala.

"Menurut ramalanku,"

Berkata lagi si tosu siluman.

"Nanti malam mereka akan mulai bergerak, maka dari itu kita tidak boleh lengah harus segera membuat persiapan untuk menghadapi mereka."

Kembali semua murid-muridnya menyatakan mengerti serta menganggukkan kepala.

Si tosu siluman setelah memberikan ceramah kepada murid-murid bagian depan, lalu berjalan keluar ruangan menuju keruangan kamar sebelah timur untuk memberikan perintah kepada murid bagian belakang.

Liok Hap Tojin kepada murid-muridnya dibagian belakang ia juga berpidato panjang lebar, intinya sama dengan apa yang ia pernah uraikan kepada murid-muridnya dibagian depan.

"Karena ilmu kesaktian kalian sebetulnya masih belum seberapa tinggi,"

Menambahkan si tosu siluman.

"maka aku harap saja kalian cukup berdiri saja disebelah belakang suheng-suheng kalian dari bagian depan, dan berikan bantuan secukupnya kepada suheng-suheng kalian, bilamana nampak mereka berada dalam keadaan terjepit, barulah kalian keluarkan ilmu kepandaian kalian untuk memberikan bantuan menggempur musuh."

Semua anak murid dibagian belakang setelah mendengar ucapan itu, dengan suara berbareng mengatakan baik !

Liok Hap tojin setelah memberikan ceramah kepada semua muridnya, dengan tergesa-gesa ia pulang kembali kedalam ruangan belakang.

Pada saat itu didalam ruangan tengah sudah teratur delapan meja perjamuan, serta dalam ruangan tersebut diatas telah dihiasi mentereng sekali, juga terpasang lampu-lampu yang berwarna warni memancarkan sinarnya terang benderang, sungguh keadaan didalam ruangan tersebut sangat indah permai.

Tak lama kemudian si tosu siluman telah keluar dari sebelah dalam, dan lalu menyilahkan sekalian anak muridnya untuk makan minum dengan riang gembira.

Untuk menghibur anak muridnya si Tosu siluman lalu memerintahkan seorang pengawal perempuan menari dan menyanyi sehingga telah membuat ruangan itu jadi ramai pula.

Semua anak murid si tosu siluman mendapat perlakuan demikian dari sang guru mereka semua riang gembira.

Mereka memuji dan bersorak-sorak bergembira menyaksikan seorang perempuan menyanyi dan menari, keadaan mereka layaknya seperti dalam sorga dunia !

Tiba-tiba sang Tosu siluman bangkit berdiri, murid-muridnya yang menyaksikan sang guru telah berdiri, mereka segera pada bangkit berdiri, mereka tahu kalau sang guru itu berdiri berarti akan memberikan perintah atau pesan apa-apa kepada mereka.

Si Tosu siluman menggoyang-goyangkan tangannya lalu berkata.

"Malam ini kalian bergembira ria, sengaja aku sediakan untuk kalian berpesta pora. Tapi ingat ! Kalian jangan sekali-kali lalai dalam tugas, karena pada waktu-waktu yang akan mendatang ini, kalian punya tugas berat, nah disini aku menjamu kalian agar kalian melampiaskan kesenangan kalian bersuka ria segembira-gembiranya, kelak apabila kalian menghadapi musuh, kegembiraan itu harus segera kalian Ienyapkan, kalian harus ganti dengan rasa nafsu yang gagah berani tanpa kenal takut untuk menempur musuh yang mengacaukan tempat dewa kita."

Setelah mendengarkan pidato sang guru, mereka bersorak-sorai mengucapkan terima kasih kepada guru yang baik berhati siluman itu.

Ketika perjamuan telah hampir selesai, mendadak seorang intel perempuan yang ditugaskan dibawah gunung, datang berlarian menghadap si tosu siluman, ia melaporkan .

"Dibawah gunung tampak banyak orang-orang asing yang bergerak mendaki gunung, dengan membawa Iampu-Iampu penerangan......"

Liok Hap Tojin mendengar berita itu, tanpa disadarinya, ia berkata sambil tertawa .

"Bagaimana ? Apakah ramalanku meleset? Sudahlah sekarang mereka sudah datang, cepat panggil Toa-touw jie Kak Cun datang kemari !" Berbarengan dengan akhir ucapannya seorang tosu yang berusia kurang lebih -lebih 8 tahun dan mempunyai wajah bengis berwarna ungu, telah muncul memberi hormat pada Liok Hap tojin! Liok Hap tojin mengetahui muridnya yang tertua datang, ia segera berkata memberikan pesan-pesan yang perlu kepada sang murid, bagaimana harus berbuat, apa yang harus dilakukan lebih dulu, apa yang harus dilakukan kemudian dan seterusnya, semua pesanan itu diberikan sangat wanti-wanti sekali, juga ia menasehati supaya Kak Can jangan terlalu memandang rendah pada musuhmusuhnya yang datang menyerang. Setelah itu ia memanggil pula beberapa murid tertua dari bagian belakang, murid itu bernama It Bok tojin, kepada sang murid dari bagian belakang Liok Hap tojin juga memberikan petunjuk-petunjuk yang perlu, setelah itu lalu ia memanggil lagi 9 murid dari bagian depan dan 9 lagi dari bagian belakang hingga mereka berjumlah 18 orang, pada mereka Liok Hap tojin juga memberikan petunjukpetunjuk yang perlu. Setelah semua persiapan selesai diberikan barulah Liok Hap tojin menyuruh mereka turun gunung untuk memberikan perlawanan terhadap orang-orang yang datang menyerang. Sekeluarnya dari dalam kelenteng Kak Cun dan It Bok lalu berdamai, mereka lalu memencar sutesutenya untuk melakukan penjagaan setelah diambil keputusan Kak Cun yang lebih dulu turun gunung untuk melakukan perlawanan kepada orang-orang yang sedang datang menyatroni gunung musuh. mereka sambil menyelidiki kekuatan O o dkz o O Kita kembali kepada rombongan Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw yang telah mengatur persiapan menyerang keatas gunung Ouw-ong-san guna membasmi si Tosu siluman yang telah berbuat banyak kejahatan dan juga menolong jiwa Liong Houw dari cengkeraman si manusia siluman. Pie tet Sin-kay memberikan tugas kepada para anggota pengemis tang jumlahnya ternyata sudah terkumpul 100 orang lebih. Perlahan-lahan sang surya tenggelam dibarat, hari sudah menjadi gelap. Semua anggota rombongan para jago menangsal perutnya. Selagi mereka sedang makan, tiba-tiba berlari datang seorang anggota pengemis yang ditugaskan memata-matai gerakan para tosu siluman diatas gunung, anggota pengemis itu memberikan laporan bahwa diatas gunung sudah tampak banyak tengloleng yang terang benderang, tampak juga disana berkelebatan bayangan-bayangan orang. Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw mendengar laporan anggota pengemis itu tanpa disadari ia tertawa lalu berkata .

"Saudara-saudara sekalian ! Harap jangan gugup tidak keruan, gerakangerakan itu adalah ilmu siluman yang mereka sedang atur untuk menghadapi serangan kita, makanlah dulu." Setelah mendengar perkataan Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw, anggota pengemis itu lalu berangkat kembali keposnya dimana ia bertugas. Tapi tak lama kemudian anggota pengemis tadi balik kembali kedalam perkemahan dengan mengatakan bahwa diatas gunung telah datang seorang tosu muda yang ingin bertemu dengan pemimpin rombongan, karena ada sesuatu yang akan dibicarakan. Sin kiong-kiam Ong Pek Ciauw memandang kearah Koang-koang Sin-kay dan Pie-tet Sin-kay. Pie tet Sin-kay berkata .

"Tentu itulah utusan si tosu siluman yang hendak menyelidiki keadaan kita, mari kita pergi kesana untuk melihat macam apakah rupa tosu itu? Berbentuk manusia ataukah bagaimana?"

Ong Pek Ciauw lalu menganggukkan kepala kemudian bersama-sama dengan Thio Thian Su, Koang-koang Sin-kay daa Pie-tet Sin-kay, si pengemis cilik Ho Ho dan para anggota pengemis lainnya mereka naik ke-atas gunung dengan menunggang kuda.

Ketika Ong Pek Ciauw telah sampai diatas jurang, mereka menampak diatas berdiri berbaris empat orang berbadan tinggi besar yang gaib, tingginya rata-rata 18 kaki, dibadannya semuanya memakai pakaian perang jaman kuno, dari matanya tampak mengeluarkan sinar mata yang bengis, ditengah-tengah empat orang tinggi besar itu berdiri seorang tosu muda yang memiliki muka bengis, dilihat sepintas lalu saja sudah dapat diketahui bahwa Tosu itu tentulah bukan orang baik-baik.

Ketika rombongan Ong Pek Ciauw tiba sejarak kira-kira beberapa ratus tindak, Tosu muda itu tampak mengangkat tangan menggoyang-goyang kebutannya kesebelah bawah, mulutnya berkata.

"Kalian yang berada disebelah bawah dengan alasan apa tanpa sebab musabab datang keatas gunung kedewaan tapal batas dari nabi-nabi untuk membuat kekacauan."

Ong Pek Ciauw mendengar perkataan itu, tanpa disadari tersenyum dingin kemudian ia bertanya ;

"Aku Ong Pek Ciauw dengan memberanikan diri ingin mengajukan pertanyaan padamu, apa yang kau namakan gunung kedewaan itu seumur hidup aku belum mendengarnya dan dimana letaknya? Dan apa itu segala tapal batas nabi-nabi !"

"Mm......"

Terdengar si Tosu muda berdengus, katanya.

"Percuma kalian dijelmakan jadi orang didalam dunia, memiliki mata tidak berbiji, harus kalian ketahui bahwa Pun-su mendapat perintah Liok Hap Tay-su untuk segera membuka kedogolan kalian rakyat desa seumumnya, kau sebagai seorang yang sedikit memiliki kepandaian, aku minta supaya cepat-cepat meninggalkan tempat ini dan ajak bekicot-bekicot konco kalian pergi dari sini, nanti Pun-su beri ampun pada jiwa anjing kalian, jika tidak, hmm.....ketahuilah kesaktian kami tidak ada tandingannya, asal saja kami membaca sekelumit doa, maka dengan cepat turun pasukan-pasukan dari langit untuk membasmi kalian cecunguk, waktu itu keadaan kalian sudah terlambat, meski pun kalian sesambatan minta ampun jangan harap nyawa kalian masih bisa bertahan didalam dunia untuk menangsel perut kalian."

Koang-koang Sin-kay berdengus, katanya.

"Aku tidak perduli berapa banyak jumlahnya tentara langit yang kau akan turunkan, aku si gembel bangkotan ini tidak takut segala macam ilmu siluman pejajaranmu, jika pemimpinmu mempunyai keberanian, suruh ia datang kemari, jangan kau dibiarkan pentang mulut tidak keruan biarkan Liok Hap Tojin sendiri tongolkan batang hidungnya, jangan hanya bekoar-koar menakutnakuti orang dengan gertak sambel!"

Si Tosu muda yang bukan lain dari pada Kak Cun, ketika mendengar ucapan Koang koang Sinkay yang menghina gurunya, hatinya menjadi murka sekali, dengan suara keras ia memaki ;

"Binatang tua durhaka, jangan banyak bacot ! Aku segera akan perintahkan empat Malaikat Kim Kong turun tangan untuk membekuk batang lehermu......"

Setelah berkata demikian, Kak Cun segera berkemak-kemik, mulutnya membaca doa, dan berbareng dengan itu segera bergerak dua orang tinggi besar yang berdiri disebelah kirinya, dengan senjata masing-masing berbentuk pedang dan ruyung kedua makhluk aneh itu menyerang maju laksana terbang, dengan mengeluarkan gerengan yang keras menyerang kearah Koang koang Sinkay.

0)0od^wo0(0

Jilid ke 11 KEJADIAN itu didalam malam gelap betapa tidak membuat rombongan pengemis menjadi ketakutan setengah mati, sehingga wajah mereka berubah pucat pasi sedang tubuh mereka tampak gemetaran.

Ong Pek Ciauw, Pie-tet Sin-kay, Koang koan Sinkay, Thio Thian Su dan si pengemis cilik Ho Ho yang sudah mengenal siapa tosu itu sama sekali tidak merasa takut.

Thio Thian Su mengeluarkan dua bilah pisau belati yang sudah dipolesi darah anjing hitam.

Serr.......serrr….

dua bilah pisau terbang meluncur dengan kecepatan kilat tepat mengenai sasarannya, menembus kedua badan Kim Kong jejadian tadi.

Sungguh sangat ajaib sekali, kedua tubuh malaikat Kim Kong yang masing-masing tertancap sebilah pisau belati Thio Thian Su, tubuh itu berubah seperti dua ekor kerbau bergulingan jatuh menggelinding kedalam sungai lalu hancur berantakan.

Lenyap ditelan kegelapan.

"Ha, ha, haaaa…."

Terdengar Ong Pek Ciauw tertawa berkakakan, katanya .

"Panglima siluman langit ternyata telah menjadi setan tanah ! Tosu siluman, apakah kau mengetahui kematian telah berada didepan matamu.........." Belum lagi ucapan Ong Pek Ciauw selesai, tibatiba meluncur datang lagi dua malaikat Kim Kong sebesar kerbau, menyerang kearah mereka. Dengan cepat si pengemis cilik Ho Ho melemparkan dua biji keliningannya yang juga sudah diolesi darah anjing hitam, tepat mengenai kedua siluman malaikat Kim Kong tadi, tanpa ampun lagi si Malaikat Kim Kong yang sebesar kerbau itu menggelinding bergelundungan jatuh kebawah jurang dengan mengeluarkan suara gemuruh, badan mereka lalu hancur berantakan menjadi satu dengan tanah pegunungan. Sebetulnya apa yang dinamakan Malaikat Kim Kong itu adalah orang-orangan yang dibuat dari tanah, dan hanya bisa mengelabui mata orang. Anggota-anggota pengemis yang tadinya merasa ketakutan dengan munculnya Malaikat Kim Kong ditengah malam diatas pegunungan setelah mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri sang malaikat dengan mudah bisa dihancur leburkan, mereka lalu bertepuk sorak, berteriak-teriak gegap gempita menyaksikan kemenangan itu. Membuat keadaan malam dipegunungan menjadi riuh. Kejadian itu membuat hati Kak Cun tambah mendongkol, kegusarannya telah melewati takeran, selagi ia hendak menggunakan ilmu siluman lainnya untuk menyerang menghajar orang-orang itu, tiba-tiba pentungan Pie-tet Sin-kay yang telah diolesi darah anjing hitam menyambar kearah kepala Kak Cun. Mengetahui datangnya bahaya elmaut mengancam jiwanya, Kak Cun lompat berkelit, tubuhnya melesat masuk kedalam sebuah lubang batu gunung yang banyak terdapat di situ. Lenyap ditelan kegelapan malam. Terdengar si pengemis cilik Ho Ho mengejek .

"Hoat-sut pengecut! Kau sungguh tidak beda dengan ayam sayur ! Hi hi hi, Kak Cun hayo keluarkan lagi ilmu silumanmu, mengapa kau sembunyi dilubang gelap, jika kau tidak punya nyali, dari siang-siang saja sebaiknya kau mengkeretkan kepala kura kuramu.....!"

Kak Cun yang mendengar ejekan itu, ia gusar, kembali berkemak-kemik membaca doa, dan setelah itu satu setan yang tinggi besar yang mempunyai mata sebesar baskom, mulutnya sebesar tempayan, giginya sebesar pisang ambon menonjol keluar, sedang suara napas setan itu memburu seperti kerbau dipotong, dengan sepasang tangannya yang sebesar batang pisang dan kuku-kuku runcing seperti golok dengan kecepatan laksana terbang si-setan jejadian menyerang kearah si pengemis cilik Ho Ho.

Si pengemis cilik Ho Ho yang mendadak mendapat serangan demikian segera mengelak.

Setan tinggi besar itu begitu sasarannya, tubuhnya terus sempoyongan kesebelah belakang.

kehilangan meluncur Thio Thian Su yang kebetulan berada dibelakang si pengemis cilik Ho Ho, segera menggerakkan pisau belatinya, menyambar tubuh setan itu.

"Begggg!" Terdengar suara benturan yang keras sekali, dibarengi dengan rubuhnya setan tinggi besar itu. Ketika ditegasi ternyata setan tinggi besar itu tidak lebih dan tidak bukan adalah sebatang dari kayu kering yang dicat lima warna! "Tosu siluman ! Kau masih memiliki berapa macam permainan apa lagi, hayo cepat keluarkan! Aku ingin menonton,"

Berkata si pengemis cilik Ho Ho.

"Siluman jejadianmu ini tidak berguna, cepat kau keluarkan yang lebih hebat dan lebih seram lagi haaaa….."

Kemarahan Kak Cun sudah tidak bisa ditahan lagi sudah meluap keluar dari takerannya, ia berpikir akan mengeluarkan ilmu silumannya pula tapi segera ia menyadari cara demikian tidak ada gunanya pula, toch semua ilmu-ilmu silumannya sudah bisa dipunahkan mereka.

Hati si tosu muda heran tidak mengerti, bagaimana rombongan orang-orang ini bisa memecahkan ilmu silumannya yang selama ini dibanggakan.

Setelah berpikir bolak-balik, Kak Cun merasa ketakutan, membalikkan tubuh melarikan diri keatas gunung.

Tapi baru saja kakinya melangkah tiba-tiba tubuhnya rubuh terjungkal dan mampus disaat itu juga.

Ternyata Thio Thian Su yang menyaksikan Kak Cun melesat pergi, dengan menggunakan dua bilah pisau terbangnya menyambar tubuh si siluman hingga tubuh siluman itu terjungkal rubuh.

Pisau pertama diluncurkan tepat mengenai geger si siluman Kak Cun sedang yang kedua tepat mengenai sasaran yang berbahaya telah menancap ditengah-tengah geger sehingga tembus kehatinya, maka dengan tanpa ampun lagi tubuh Kak Cun terjungkal terbanting kebawah jurang, sedang jiwanya lantas menghadap Giam-lo-ong.

Kejadian matinya Kak Cun membuat para adik seperguruannya yang berjumlah 10 orang menjadi ketakutan setengah mati, karena mereka telah menyaksikan sendiri sang Toa suheng telah binasa dengan mudah oleh lawan-lawan yang datang menyatroni gunung mereka, maka mereka berunding satu sama lain dan mengambil keputusan untuk kembali keatas gunung guna memberikan laporan kepada sang suhu, sedang tugas menjaga disitu diserahkan kepada Kak Jiong.

Waktu itu hari sudah mulai terang tanah akan tetapi karena kabut disekitar puncak gunung itu amat tebal, maka sinar matahari belum tertampak muncul sehingga keadaan tetap gelap seperti malam buta.

Ong Pek Ciauw cs, ketika mengangkat kepala memandang keatas puncak gunung, ia menampak seorang tosu kecil yang sedang menjaga dengan sikap ketakutan, maka mereka mengetahui bahwa kawanan tosu siluman sudah pergi memberikan laporan kepada Liok Hap tojin tentang kekalahan yang telah diderita malam tadi.

"Pie-tet !"

Berkata Koang-koang Sin kay.

"Apakah kau sudah mengetahui bagaimana rupa itu tosu siluman ? Apakah memiliki kepandaian yang hebat ?"

"Sudah tentu !"

Jawab Pie-tet Sin-kay sambil menganggukkan kepala.

"Kalau dikatakan kepandaian si tosu siluman itu jauh lebih hebat dari pada muridnya Kak Cun yang hanya pandai gegares saja, tapi mengapa sampai saat ini Ceng it Cinjin belum kelihatan muncul ? Bagaimana kalau sekiranya si tosu siluman, karena meramal keadaan pihaknya yang buruk ia segera mengeluarkan ilmu silumannya yang hebat untuk melarikan diri? Bukankah itu berarti membuat kerja percuma saja tanpa hasil yang memuaskan ?"

"Menurut pendapatku, Ceng-it Cinjin pasti sudah tiba,"

Selak Ong Pek Ciauw.

"Akan tetapi ia tidak mau menunjukkan muka secara terangterangan, kuatir kalau si tosu siluman itu begitu melihat Ceng-it Cinjin segera kabur, kukira Ceng-it Cinjin menggunakan ilmunya sedapat mungkin untuk membekuk siluman itu........"

Berkata sampai disitu dengan mendadak mereka menampak segumpalan awan yang menggelusur dari sebelah timur, semakin lama menjadi semakin tebal, dan menutupi seluruh alam disebelah timur, angin yang bertiup keras sekali, bisa diduga tidak lama kemudian akan turun hujan besar.

Ketika awan tebal telah sampai diatas kelenteng Ouw-hong-ko-sat, dari atas udara tiba-tiba terdengar suara guntur yang berbunyi sangat keras menyambar kesebelah dalam kelenteng tersebut !

Blegurrrrrrrr...........

Liok Hiap tojin yang sedang duduk, ketika menampak ada guntur menyambar kedalam kelenteng, tidak terasa pula ia jadi gugup sehingga mukanya menjadi pucat laksana kertas, dengan gugup ia lompat turun dari tempat duduknya lalu menjambret kelenengan yang segera digoyangkan berulang-ulang.

Klenong, klenong, klenong, klenong......

Mendengar suara kelenengan itu dari kamar sebelah timur dan barat bermunculan 40 lebih orang perempuan muda menghadap tosu siluman Liok Hap Tojin.

Liok Hap Tojin ketika menampak murid-murid perempuannya telah muncul dengan suara keras berkata .

"Bencana telah tiba, bencana itu akan menimpa diri kalian, bilamana kalian masih ingin hidup menyelamatkan jiwa masing-masing, lekas buka pakaian yang menutupi tubuh kalian, kalian harus telanjang bulat, untuk mengusir datangnya guntur dari langit, dengan demikian guntur itu tidak akan bisa mencelakakan diri kalian, lekas........hayo lekas buka pakaian kalian telanjang bulat....... dimana keempat pengawal perempuanku."

Liok Hap tojin mulai gugup.

"Disini,"

Jawab keempat pengawal perempuan yang mengenakan pakaian ringkas suara mereka hampir berbareng.

"Kau lekas gusur itu mata-mata musuh yang kemarin kita tangkap bawa ia kemari dan gantung ditiang bendera yang berada di depan pintu,"

Berkata Liok Hap Tojin.

"Ia bisa mewakili kalian untuk menghindarkan dari bahaya kematian." Keempat perempuan pengawal yang berpakaian ringkas segera berlari pergi menuju kekamar sebelah barat dan lalu mereka menggusur tubuh Liong Houw. Blegurrrrr...... Terdengar pula suara guntur menyambar kearah kelenteng, diiringi dengan sinar kilat yang tidak hentinya menyambar kearah kelenteng. Ong Pek Ciauw yang berada dibawah gunung menampak diatas puncak Ko-sian hong dibukit Kopok-nia sebelah barat terdapat seorang tosu yang sedang berdiri sambil menggunakan pedang ditangannya digerak-gerakkan kearah kelenteng Ouw-hong-ko sat, sedang guntur dan kilat yang menyambar kearah kelenteng itu keluar dari pedang tojin itu ! "Pie-tet!"

Berkata Ong Pek Ciauw sambil menunjuk kearah jurusan dimana si-tosu memegang pedang.

"Kau lihat, diatas puncak Kosian-hong berdiri seorang tosu, apakah itu bukannya Ceng-it Cinjin dengan pedang gunturnya menyerang si tosu siluman dengan kekuatan tenaga gaib."

Pie-tet Sin-kay setelah mendengar ucapan itu ia menoleh kearah jurusan yang ditunjuk, betul saja disana ia menampak satu tosu yang sedang berdiri diatas puncak sedang menggerak-gerakkan pedangnya kejurusan kelenteng Ouw-hong-ko-sat.

Suara guntur dan kilat berkeredepan menggetarkan bumi sekitar tempat itu, cahaya kilat berkelebat menyambar berulang, tetapi guntur dan sinar kilat berhasil ditolak pergi oleh si tosu siluman yang menggunakan para wanita yang telanjang bulat sebagai tameng, itulah sebabnya guntur dan kilat selalu tidak berhasil menghancurkan kelenteng dan isinya.

oo odwo o o Kembali kepada Liong Houw yang digusur keluar dari kamar tahanan oleh empat perempuan pengawal si tosu siluman, ketika ia keluar dari kamar tahanannya, dengan kecepatan kilat menggerakkan sepasang kakinya menendang kearah dua pengawal perempuan yang berada disebelah kanannya.

Kontan perempuan itu terjungkal rubuh dilantai tidak berkutik lagi.

Setelah merubuhkan kedua perempuan itu Liong Houw lalu membalikkan tubuh menggerakkan kakinya mengirimkan tendangan maut dua kali kepada kedua perempuan yang lainnya yang berada disebelah kirinya.

Keadaan dua perempuan itu sama halnya dengan yang tadi, tubuhnya terjungkal rubuh dilantai tidak berkutik lagi.

Dikarenakan sepasang tangan Liong Houw masih dirantai, oleh rantai istimewa si siluman, maka ia tidak bisa berbuat lebih dari pada itu, jiwanya masih terancam bahaya maut.

Berbarengan dengan kejadian itu tiba-tiba dari pintu bunder sebelah barat terdengar suara orang yang berseru .

"Tosu siluman, kematianmu sudah diambang pintu, tapi masih berani berbuat kejahatan mencelakakan orang baik-baik........"

Baru saja ucapan itu terdengar pula suara guntur.

selesai diucapkan Bleguuurrrr..........

Suara guntur itu keras jauh lebih keras dari suara yang pertama.

Maka terjadilah satu keanehan pula, di tengahtengah udara timbul satu mahluk yang panjangnya kira-kira ada 5 — 60 kaki dengan sepasang mata yang galak diatas jidat binatang itu terdapat satu tanduk yang bercagak dibawah janggutnya terdapat beberapa lembar kumis yang tajam, binatang aneh itu mempunyai empat kaki, ratarata berkuku tajam, binatang itu merupakan binatang siluman jejadian, tepat pada saat itu, tubuh si tosu siluman lenyap dari pandangan mata.

Maka lenyap pulalah itu binatang jejadian yang muncul diudara.

Liong Houw yang menyaksikan lenyapnya si tosu siluman tidak kepalang herannya, selagi ia masih terheran-heran, muncul Ceng-it Cinjin didalam ruangan itu, begitu menampak keadaan Liong Houw yang terantai tangannya Ceng it Cinjin dengan menggunakan pedang guntur memapas rantai itu menjadi hancur berkeping-keping.

Setelah tangannya bebas dari rantai yang mengekang kebebasannya Liong Houw segera berlari kekamar dimana Lie Eng Eng disekap ia segera membebaskan sang kekasih.

Tak lama bermunculan disana Sin-kong kiam Ong Pek Ciauw dan kawan-kawan lainnya.

Semua perempuan yang telanjang bulat ketika menampak perobahan itu, tidak terasa pula tubuh mereka berkeringat gemetaran mereka berlutut minta diampuni.

"Kalian adalah orang-orang yang telah tertipu oleh si siluman,"

Berseru Lie Eng Eng kepada orang-orang perempuan yang bertelanjang bulat.

"Seharusnya kalian memang harus dikasihani, lebih-lebih keadaan kalian sama dengan keadaan diriku yang hampir saja dipengaruhi oleh tipu muslihat dan obat-obat maksiatnya si tosu siluman, maka kami juga tidak akan menghukum kalian, nah cepat masuk kedalam kamar berpakaian."

Waktu itu murid tertua si tosu siluman dari bagian belakang It Bok Tojin begitu melihat guntur dan kilat selalu menyambar-nyambar diatas kepalanya sehingga ia jadi ketakutan sekali, dan cepat-cepat lari kedalam kelenteng untuk minta bantuan gurunya, tapi siapa nyata sang guru telah lenyap secara mendadak, ketika tiba didalam ruang tengah disana ia bertemu dengan Liong Houw yang baru saja membebaskan Lie Eng Eng.

Liong Houw tanpa ragu lagi menggerakkan kepalan tangannya menghajar jidat It Bok tojin, tanpa ampun kepala si tosu muda bonglak terpecah, darah dan otak berceceran, tubuhnya ambruk dilantai kelojotan kemudian diam tak bergerak nyawanya putus seketika.

Dibagian ruang sebelah barat beberapa orang tosu murid si tosu siluman Liok Hap tojin lari serabutan mereka sangat ketakutan sekali.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan si pengemis cilik Ho Ho yang juga sudah tiba bersama gurunya.

"Hai tosu-tosu siluman bilamana kalian sayang jiwamu lekas lucuti senjata masing-masing, jangan lari serabutan tidak keruan."

Para murid-murid si tosu siluman tidak berani membantah segera mereka melepaskan senjata masing-masing dengan tubuh gemetaran berlutut dihadapan si pengemis cilik Ho Ho.

Liong Houw yang kebetulan baru tiba di tempat itu, tampak sikap pengecut para tosu murid Liok Hap tojin, yang sedang berlutut minta ampun, hawa marahnya meluap menggerakkan kakinya, menendang satu persatu anak murid si tosu siluman, bruk, brang, bruluk gedebuk.....

terdengar suara terpentalnya murid-murid si tosu siluman Liok Hap tojin.

Si pengemis cilik Ho Ho yang menyaksikan perbuatan sang kakak angkat ia tertawa berkakakan.

Menampak kelakuan kedua anak muda itu Ceng-it Cinjin membentak .

"Bocah gendeng, apakah kau sudah kemasukan ilmu siluman si tosu keparat...."

Mendengar suara bentakan Ceng-it Cinjin, suara tawa si pengemis cilik Ho Ho terhenti diudara, wajah Liong Houw merah karena jengah.

Pagi itu tampak asap mengepul diatas puncak gunung Ouw-ong-san, ketiga kelenteng yang menjadi sarang si tosu siluman musnah menjadi abu.

kz SELESAI sudah pembakaran markas Liok Hap Tojin si tosu siluman.

Lenyapnya dengan mendadak si tosu siluman membuat para jago lebih prihatin, pasti kelak pada suatu hari Liok Hap Tojin akan muncul kembali dengan aneka cara silumannya membuat kegemparan didalam rimba persilatan.

Setelah selesai menjalankan tugas membasmi sarang Liok Hap Tojin, Ceng-it Cinjin mengajak para jago turut naik keatas gunung Liong-houwsan untuk mendengarkan tentang riwayat munculnya Pedang Embun dalam rimba persilatan.

Singkatnya cerita mereka telah puncak gunung Liong-houw-san pesanggrahan Ceng-it Cinjin.

tiba di diatas dalam Hari itu masih pagi suara kicau burung ramai disana sini, dimuka pesanggrahan duduk diatas bangku batu Ong Pek Ciauw, Lie Eng Eng, Liong Houw, Pie tet Sin-kay, si pengemis cilik Ho Ho, Koang-koang Sin-kay.

Dihadapan mereka duduk bersila Ceng-it Cinjin.

"Thian Su, ambil kotak besi didalam peti batu disudut ruangan dalam goa, hati-hati jangan sampai jatuh."

"Baik suhu!"

Jawab Thio Thian Su berjalan pergi.

Tak lama kemudian Thio Thian Su sudah kembali dengan membawa sebuah peti besi yang berukuran -berukuran 0X30 cm, peti besi itu diletakkan diatas sebuah batu datar persegi dihadapan Ceng-it Cinjin.

Ceng-it Cinjin segera membuka tutup peti besi itu, dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah bungkusan berwarna kuning.

Setelah bungkusan itu dibuka tampak se

Jilid kitab kecil yang sudah bulukan disana sini tampak kitab itu sudah koyak-koyak.

Para jago yang menyaksikan keadaan kitab itu hatinya tercengang, dengan sepintas lalu saja dapat dilihat keadaan kitab itu sudah begitu tua tidak mungkin bisa terbaca lembaran-lembaran yang terdapat pada kitab itu, sebagai jago-jago tua Ong Pek Ciauw, Koang-koang Sinkay dan Pie-tet Sin-kay sudah bisa menduga bilamana lembaran kitab itu dibuka pasti lembaran-lembaran kitab itu akan hancur berantakan jadi berkeping-keping.

Selagi para jago tua memperhatikan keadaan kitab itu dengan perasaan heran dan bingung, Ceng-it Cinjin sudah berkata.

"Kitab ini sudah terlalu tua sekali usianua, apabila tersentuh oleh tangan kasar pasti lembaran-lembaran akan hancur berkeping-keping sehingga tidak mungkin untuk membaca isinya. Lohu mendapatkan kitab ini secara sangat kebetulan sekali, pada tigapuluh tahun berselang, ketika terjadi gempa bumi yang menimbulkan tanah longsor digunung Thian-san, lohu menemukan peti besi ini yang tersimpan dalam sebuah goa batu yang baru saja merekah akibat longsor dan gempa bumi. Menampak kitab yang sudah begitu tua usianya, lohu merasa sayang untuk merusaknya, tapi karena keadaan kini sudah berbeda dan kita membutuhkan petunjuk dari kitab ini, maka para sahabat rimba persilatan lohu ajak kemari untuk turut bersamasama menyaksikan dan mendengarkan agar kelak isi kitab ini dapat diselidiki!"

"Cinjin,"

Tiba-tiba si pengemis cilik Ho Ho nyeletuk.

"Apakah selama kitab itu dibawa-bawa oleh cinjin tidak menjadi rusak sehingga utuh sampai hari ini, bisakah cinjin menerangkan sebab-sebabnya."

Ceng-it Cinjin mengangguk-anggukkan kepala lalu katanya.

"Kitab ini bukan dibuat dari kertas tapi terbuat dari bahan sutra yang halus, meski pun usianya sudah tua dan bahan sutera itu sudah lapuk tapi lembaran-lembaran kitab itu masih menempel satu sama lain, hingga tidak akan hancur bila tidak terbuka lembarannya. Bilamana lembar pertama dibuka, maka lembaran itu akan segera hancur, bila tidak dibuka lembarannya ia tetap seperti keadaan seperti sedia kala. Ketika lohu menemukan kitab ini, lohu pernah membuka selembar kulitnya, maka kulit itu berantakan hancur berkeping-keping, maka mendapat kenyataan demikian lohu segera masukan kembali perlahan-lahan kitab ini kedalam tempatnya yang juga terbuat dari bahan besi yang aneh luar biasa ..." "Cinjin,"

Tanya pula si pengemis cilik Ho Ho.

"apakah bunyi lembaran kitab yang hancur berantakan itu?"

"Lembaran pertama yang merupakan kulit dari kitab itu berbunyi . Hikayat pedang Embun."

"Aaaaaa....."

Terdengar suara kejut tertahan.

"Kini karena lembaran pertama sudah hancur maka disini bisa dibaca tulisan pada lembar kedua yang berbunyi; Riwayat terciptanya Pedang Embun......"

Seterusnya Ceng-it Cinjin dengan suara tenang membaca lembar demi lembar kitab tersebut, setiap lembar yang tertarik lembarannya, lembaran kitab itu segera hancur berantakan, dengan sangat hati-hati menggunakan tenaga dalamnya Ceng-it cinjin terus membalik dan membaca setiap lembar yang masih utuh.

Pie-tet Sin-kay, Koang-koang Sin-kay, Sin-kiongkiam Ong Pek Ciauw beserta ketiga jago muda kita menyaksikan tulisan yang tertera pada kitab itu dan mendengarkan dengan penuh perhatian akan riwayat pedang tersebut.

Ternyata isi kitab tersebut menceritakan tentang terciptanya pedang Embun serta rahasia tersimpannya pedang pusaka yang berbunyi sebagai berikut.

Pada 500 tahun sebelum tahun Imlek, di dalam goa Pek-lok-tong dipuncak gunung Ngo-lo-long dipegunungan Lu-san, hidup seorang gaib yang hanya makan buah-buahan dan minum air dari sumber air diatas gunung, orang gaib itu sama sekali belum pernah makan makanan yang kena asap api atau makanan dari makhluk bernyawa.

Orang gaib itu sebetulnya adalah seorang yang sudah memiliki banyak pengalaman dalam ilmu To, banyak orang-orang mencari orang gaib itu untuk meminta pelajaran gaib darinya.

Meskipun ada beberapa orang yang mendaki gunung berhasil menjumpainya, tapi orang gaib itu tidak pernah membuka suara melayani mereka, hal mana membuat orang-orang itu putus asa dan kembali turun gunung.

Jelasnya siapa siapa yang datang kepadanya sudah pasti tidak akan mendapat pelayanan, jangankan pelayanan, bicarapun orang gaib itu tidak pernah.

Dengan pengalaman-pengalaman itu, maka tidak lagi seorangpun yang naik keatas puncak gunung Lu-san untuk minta pelajaran dari orang itu.

Dikaki pegunungan Lu-san terdapat sebuah perkampungan kecil yang disebut Hu tian-hong, dikampung itu hidup seorang anak yatim piatu bernama Tong Pok, sejak kecil ia sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya.

Tong Pok yang hidup sebatang kara terluntalunta dalam kampung itu, telah dipungut oleh seorang hartawan untuk tinggal didalam rumah keluarga hartawan itu.

Usia Tong Pok waktu itu baru 1 tahun, didalam rumah hartawan itulah Tong Pok bekerja sebagai pengembala kambing.

Tong Pok yang sudah yatim piatu sebagai seorang anak yang numpang hidup dirumah keluarga hartawan, ia juga sangat tahu diri, semua pekerjaannya dilakukan dengan hati-hati dan teliti, ia sangat rajin mengurus kambing-kambing majikannya.

Ketika Tong Pok telah bekerja beberapa bulan, hari itu tepat pada akhir bulan sembilan rumputrumput yang berada disekitar kampung berkurang dan tanahpun menjadi kering.

Dengan kecerdikan otaknya si bocah angon Tong Pok membagi kambingnya menjadi beberapa kelompok untuk mencari rumput.

Bencana tiba-tiba menimpa diri si bocah angon, karena pada hari itu dengan mendadak ia kehilangan seekor kambing, sehingga ketika ia pulang, sang majikan si hartawan memarahinya.

Kejadian hilangnya kambing angonan Tong Pok, terjadi berturut-turut setiap hari, akhirnya karena kehilangan kambing-kambingnya si hartawan tidak hanya memarahi Tong Pok, tapi juga menggebuki si bocah dengan rotan.

Karena pengalaman itu Tong Pok lebih hati-hati mengangon kambingnya.

Sebagaimana biasanya jika matahari sudah doyong dibarat Tong Pok mengumpulkan kambingkambingnya untuk digiring pulang.

Dalam mengumpulkan kambingnya, tiba-tiba Tong Pok menampak seekor binatang berkaki empat berbulu hitam, berbadan lebih besar dari pada anjing, dan lebih kecil dari babi hutan, melompat dari dalam semak-semak belukar menerkam seekor kambing dan menyeret kambing itu masuk kedalam rimba.

Menampak kejadian itu, tentu saja telah membuat Tong Pok menjadi gusar dan gugup, dengan cepat ia lalu lari mengejar binatang yang menyeret kambingnya, tapi apa mau dikata, sewaktu binatang bertubuh hitam itu berlari dibawah kaki gunung Lu-san memasuki hutan rimba, mendadak binatang itu lenyap bayangannya.

Tong Pok yang merasa penasaran belum menemukan binatang itu, terus mengejar keatas gunung dengan harapan bisa menemukan sarang binatang yang mencuri kambingnya, kemudian baru ia pulang memberi laporan kepada sang majikan.

Tanpa dirasa langkah kaki Tong Pok membawa tubuh si bocah sampai dipuncak Ngo lo-long dimuka goa Pek-lok-tong, dimana tinggal si orang tua gaib.

Begitu Tong Pok tiba dimuka goa, matanya dibuat silau oleh berkelebatnya seekor binatang berbulu putih memasuki kedalam goa, dengan perasaan girang maka ia lalu mengejar masuk kedalam goa.

Tiba didalam goa, pandangan mata Tong Pok terbentur oleh seorang tua berjenggot putih sedang duduk, disampingnya berdiri seekor binatang menjangan berbulu putih.

Setelah menyaksikan dengan jelas bahwa binatang yang berbulu putih itu adalah bukan kambingnya yang hilang, hati Tong Pok menjadi jengkel.

Karena jengkelnya Tong Pok lalu bertanya kepada si orang tua yang sedang duduk bersila disamping menjangan putih itu.

"Lotiang, apakah disini ada seekor binatang yang berbulu hitam menyeret seekor kambing yang berbulu putih ?"

Orang tua itu selama berdiam didalam goa belum pernah bicara, mendengar pertanyaan Tong Pok si orang tua hanya menggelengkan kepala.

Tong Pok mendapat jawaban demikian ia putus asa, tanpa dirasa air mata meleleh dikedua pipinya dengan deras sekali.

"Sudahlah, kau jangan menangis,"

Terdengar suara orang tua didalam goa, dengan wajah yang manis budi.

"Bocah kau dari mana ?"

Sambil menangis, dengan suaranya yang terputus-putus Tong Pok memberikan keterangan dengan jelas kepada si orang tua apa yang ia alami selama ini.

Orang tua itu setelah mendengar cerita Tong Pok, ia menganggukkan kepala lalu berkata .

"Kalau kau tidak berani pulang kerumah majikanmu, biarlah kau tinggal di sini saja bersama aku."

"Bilamana lotiang bersedia menerima aku tinggal disini,"

Berkata Tong Pok dengan perasaan girang.

"Aku selalu menurut apa yang lotiang perintahkan, pokoknya semua apa yang lotiang perintahkan asal aku mampu mengerjakannya, tidak akan aku lalaikan." Orang tua itu mengangguk, lalu katanya.

"Sekarang hari sudah malam. Kau tutup dulu pintu goa.'' Tanpa diperintah dua kali, Tong Pok segera berjalan pergi menutup pintu goa, yang membuat hati si bocah heran ialah meskipun didalam goa itu tidak dipasang api penerangan, akan tetapi dalam ruangan goa di malam hari nampak terang benderang. Apakah yang menyebabkan keadaan didalam goa itu terang benderang? Ternyata diatas tanduk manjangan putih memancar sinar putih yang terang benderang, yang membuat keadaan dalam goa seperti juga keadaannya diwaktu siang. Orang tua itu tampak mengambil segenggam buah Ouw-co dari paso batu, lalu diberikan kepada Tong Pok untuk dimakan. Tong Pok memakan buah tersebut, ternyata buah itu terasa sangat manis dan harum, setelah ia makan tiga buah, ia merasakan perutnya sudah kenyang, maka lalu mengembalikan pula sisa buah itu kepada si orang tua.

"Tong Pok kau harus ingat,"

Berkata orang tua itu sambil tertawa.

"Kau telah memakan tiga buah pemberianku, dengan demikian berarti kau berjodoh denganku untuk bersama-sama tinggal didalam goa ini selama tiga tahun, setelah tiga tahun kau harus pergi dari tempat ini untuk mencari penghidupan dilain tempat." Tong Pok mendengar ucapan si orang tua tanpa disadari hatinya menjadi sedih, ia pikir kalau begitu tadi kumakan saja semua buah itu yang berjumlah lebih dari 10 buah agar aku bisa tinggal bersama si orang tua untuk selama 10 tahun. Si orang tua yang melihat perubahan wajah Tong Pok, dengan tertawa berkata .

"Anak! Kau harus mengerti, dengan mengandalkan kepada orang lain, kau tidak nantinya bisa menemukan penghidupan yang baik, setiap orang hidup didalam dunia ini harus mengandalkan pada tenaga sendiri, itulah baru betul. Kau tinggal disini belajar sedikit ilmu kepandaian yang akan kuturunkan kepadamu, kelak tiga tahun kemudian setelah kau turun gunung, kau bisa menggunakan kepandaian yang kuturunkan untuk menuntut kehidupan mencari nafkah."

Tong Pok sangat kegirangan, dengan cepat ia jatohkan dirinya berlutut dihadapan orang tua gaib seraya menghaturkan terima kasihnya.

Mulai hari itu, Tong Pok tinggal dalam goa Peklok-tong bersama orang tua gaib, dimana dia mendapat pelajaran dari gurunya untuk membikin golok dan pedang.

Dalam goa tersebut ternyata cukup tersedia baja dan besi serta lain-lain alat-alat keperluan untuk membikin golok atau pedang, begitu pula dapurdapur besar untuk membakar bahan besi atau baja juga tersedia alat-alat lainnya yang komplit.

Mula-mula Tong Pok diberikan pelajaran caracara membakar besi mentah, baru kemudian ia diberi pelajaran bagaimana menempa besi atau baja yang akan dijadikan golok atau pedang.

Mengingat waktu untuk mempelajari semua pelajaran-pelajaran itu hanya terbatas pada waktu tiga tahun saja, maka Tong Pok mempelajari dan melatih ilmu-ilmu membuat golok dan pedang itu dengan rajin dan penuh perhatian, semua pelajaran-pelajaran serta latihan-latihan itu ia pelajari siang dan malam tanpa bosan atau malas.

Sehingga belum sampai waktu tiga tahun apa yang diajarkan oleh si orang tua gaib ternyata sudah dapat dipelajari sampai tamat.

Golok dan pedang yang selama ini ia buat sebagai latihan, ternyata semuanya sangat tajam luar biasa, sampai-sampai gurunya merasa kagum atas hasil kerja si murid.

Masa tiga tahun telah dilewatkan, pada suatu hari sang guru memberikan sebutir benda yang berwarna hitam bersinar, besarnya kira-kira tiga kali kepalan tangan orang dewasa.

Tong Pok menerima benda itu yang ternyata sangat berat, berat-beratnya kira-kira 18 kati lebih.

"Kau jangan sembarang menggunakan benda ini,"

Kata gurunya dengan sikap sungguh-sungguh.

"Karena sebutir benda ini, adalah baja pilihan yang kubuat, nama baja ini Kong ceng-wan, barang ini juga sangat susah didapatkan, karena menilik kecerdikanmu, dalam waktu tiga tahun saja kau sudah berhasil meyakinkan seluruh ilmu kepandaian yang kuturunkan kepadamu, maka aku berikan benda ini kepadamu, kelak pada suatu hari kau gunakan benda ini untuk membuat sebilah pedang wasiat yang mempunyai ketajaman luar biasa, yang mana pedang itu kelak dapat digunakan oleh seseorang untuk membela keadilan dan kebenaran membasmi segala macam setan dan siluman yang selalu mengganggu ketertiban dunia. Hari ini kau harus turun gunung, bawalah semua pedang dan golok yang selama tiga tahun ini telah kau buat dengan jerih payahmu, dan juallah semua itu, uangnya bisa kaubelikan toko, dengan demikian kau akan punya mata pencaharian untuk membangun rumah tanggamu."

Tong Pok mendengar penuturan gurunya ia segera menyimpan Kong-ceng-wan tadi sambil mengucapkan terima kasih kepada gurunya, lalu dengan menggendong sebanyak -sebanyak 1 pedang dan 30 bilah golok yang ia buat selama tiga tahun, meskipun barang itu berat, tapi tenaga Tong Pok kini sudah bukan lagi tenaga ketika ia baru tiba di-dalam goa ini pada tiga tahun yang lalu, kini ia telah menjadi seorang pemuda yang bertubuh kekar bertenaga besar.

Setelah pamitan dengan gurunya ia lari turun gunung meninggalkan goa Pek-lok-tong.

Disepanjang jalan Tong Pok menjual golok dan pedang-pedang bawaannya.

Ketika ia tiba dikota Lam-kong-hu, karena orang-orang melihat semua golok dan pedang buatan Tong Pok sangat tajam, maka orang-orang pada berebut membeli barang dagangannya, tidak sampai tiga hari semua pedang dan golok telah habis terjual.

Uang hasil penjualan pedang dan golok, ia belikan sebuah rumah untuk toko dimana ia memulai kariernya, semua alat-alat keperluan pembuatan pedang dan golok sudah dibeli semua, maka mulailah ia melakukan pekerjaan sebagai tukang pembuat golok dan pedang didalam kota Lam-kong itu.

Golok dan pedang hasil buatan Tong Pok terkenal tajam dan berkwalitet tinggi hingga dalam waktu lima tahun, ia sudah bisa mengumpulkan uang sebanyak 100 tail perak.

Kerajinan serta keistimewaan kerja Tong Pok, telah membuat perhatian seseorang terhadap dirinya, maka pada suatu hari malah seorang penduduk Lam-kong-hu telah memungut mantu padanya untuk dinikahkan kepada putri orang itu.

Mengingat budi sang guru, pada suatu hari, ia menceritakan kepada istrinya untuk menyambangi gurunya, maka setelah membeli buah-buahan yang segar, Tong Pok dengan pikulan penuh buahbuahan ia mendaki keatas gunung Lu san.

Tetapi setelah Tong Pok tiba digoa Pek lok-tong, ternyata gurunya sudah tidak berada didalam goa.

Dengan perasaan duka Tong Pok lalu meletakkan buah-buahannya didalam goa, dan ia lalu berlutut menghadap kelangit, setelah sembahyang baru ia pulang kembali.

Waktu itu toko Tong Pok serta alat-alat yang dibuatnya pedang atau golok sudah terkenal di mana-mana, diseluruh pelosok, maka tidak heran orang-orang dari setiap penjuru kota datang kekota Lam-kong-hu untuk membeli golok atau pedang buatan Tong Pok.

Waktu berjalan sangat cepat, Tong Pok sudah berusia empat puluh lima tahun, ia hanya dikaruniai seorang perempuan yang diberi nama Liam-su Lok-kho (ingat guru nona manjangan).

Nama itu diberikan kepada sang putri dikarenakan Tong Pok ingat kepada budi dan juga kepada simanjangan putih.

Ketika Liam-su Lok-kho berusia 16 tahun, gadis itu sangat berbakti kepada ayah ibunya, sehingga kedua orang tuanya sayang kepada sang puteri tunggal itu.

Untuk melakukan pekerjaannya Tong Pok mengangkat beberapa orang murid laki-laki yang dididiknya bagaimana cara menempa besi dan menempa baja.

Pada suatu hari Tong Pok berpikir, keadaan rumah tangga boleh dibilang cukup baik serta penghasilan dari pembuatan pedang dan golok berjalan lancar, juga muridnya yang dilatihnya kini sudah pandai mengurus sendiri pekerjaannya, sedang usianya tambah lama tambah tua jua, tenaganyapun tambah lemah, sedang sebutir baja Kong-ceng-wan pemberian suhunya belum juga diolah menjadi pedang wasiat, bila hal ini tidak segera dilaksanakan, kapan lagi ?

Mengingat tenaganya kini tambah lama tambah lemah.

Kuatir terhadap pesan suhunya yang ia harus membuat pedang wasiat dari bahan baja Kong-ceng-wan tidak keburu dilaksanakan, maka ia segera membuat sebuah kamar terpisah, lalu membuat sebuah dapur untuk mengolah baja Kong-cengwan menjadi pedang wasiat.

Tiga tahun sudah lamanya baja Kong-ceng-wan didalam dapur pembakaran tapi baja itu tidak menunjukkan perobahan yang menunjukkan tanda-tanda akan melumer, selama tiga tahun itu Tong Pok melakukan pembakaran dan menempa butiran baja itu, tapi tidak membawa hasil yang diharapkan, baja itu tetap keras seperti sediakala.

Atas kejadian itu Tong Pok sangat heran sekali, sehingga sang istri sering memberikan nasehatnya, agar jangan meneruskan pekerjaannya yang hanya menghabiskan arang percuma dan membuang waktu yang tiada artinya.

Tetapi nasehat sang istri tidak pernah didengar oleh Tong Pok, ia masih tetap melakukan pekerjaannya tanpa putus asa.

Pada suatu hari kembali sang isteri memberi nasehat agar ia menghentikan pekerjaannya.

Tapi dijawab oleh Tong Pok dengan sungguh-sungguh;

"Barang ini pemberian suhu atas budi baik suhu, aku tidak boleh mensia-siakan semua kepercayaan yang telah dilimpahkan kepadaku, untuk membuat sebilah pedang wasiat guna diberikan kepada seseorang yang berguna untuk kepentingan nusa dan bangsa."

Hari dilewatkan sehari demi sehari Tong Pok masih tetap melakukan pembakaran baja Kongceng-wan yang tidak pernah lumer, setahun sudah dilewatkan lagi, tapi sang baja tetap tidak mau lumer.

Kejadian itu akhirnya membuat Tong Pok serba salah, duduk salah berdiri salah, makan dan minum sudah dilupakannya.

Kadang kala Tong Pok duduk menung seorang diri seperti gila.

termenung-Liam-su Lok-kho yang menyaksikan sang ayah sedemikian rupa tingkah lakunya, hatinya merasa sedih dan duka.

Sang putri juga turut membantu ibunya untuk memberi nasehat kepada sang ayah tetapi semua itu sia-sia belaka.

Pada suatu hari Liam-su Lok-kho berpikir untuk menolong ayahnya dari kesulitan ini tidak lain hanya satu-satunya jalan hanyalah membantu sang ayah agar baja itu segera bisa lumer.

Setelah berpikir begitu siputri tunggal Tong Pok yang bernama Liam-su Lo-kho diam-diam pada waktu malam ia masuk kedalam kamar spesial pembakaran baja itu.

Di muka dapur si gadis berpikir dalam hati.

"Sebutir baja ini sungguh sangat mengherankan apakah didalam dapur ini ada setan yang mengganggu? Sayang sekali aku tidak bisa lompat kedalam dapur yang menyala ini untuk segera mengusir setan yang mengganggu usaha ayahku."

Setelah berpikir begitu, si gadis tiba-tiba teringat kepada cerita-cerita orang bahwa semua pekerjaan ada malaikatnya dan juga mungkin pekerjaan ini telah diganggu oleh si malaikat dapur, sehingga baja ini tidak bisa lumer-lumer meskipun api dapur tetap menyala siang dan malam.

Mengingat kepada malaikat dapur maka si gadis lalu berlutut dihadapan dapur yang apinya sedang menyala, mulutnya berkemak-kemik membaca doa.

Mendadak terjadi perobahan yang ajaib, butiran baja didalam dapur tampak berputar, tak lama warnanya juga mulai berubah menjadi merah.

Menampak kejadian itu hati si gadis menjadi girang tidak kepalang.

Tapi tiba-tiba.........

Segulungan angin keras berembus masuk meniup api yang sedang berkobar, api mana lalu padam butiran baja yang sudah mulai memerah kembali menjadi hitam sebagaimana warna asalnya.

Menyaksikan keadaan itu hati si gadis panas membara, ia marah tidak kepalang darahnya naik ke otak, ia berkata ;

"Rupanya betul dapur ini ada setannya yang mengganggu, mmm….aku akan bertarung dengan setan kurang ajar ini, hai setan, aku akan menempurmu mati-matian......"

Setelah berkata begitu, tubuh si gadis lompat kedalam dapur, alangkah kasihan si gadis harus mengorbankan jiwanya didalam bara api yang merah marong didalam dapur.

Ketika si gadis lompat masuk kedalam dapur, salah seorang murid Tong Pok mendengar suara gadabrukan, segera ia masuk ke dalam untuk melihat apa yang terjadi, di sana tampak tubuh gadis itu sudah terbakar diatas api yang berkobarkobar.

Si murid laki-laki itu segera lari keluar menceritakan apa yang telah terjadi kepada majikannya.

Ketika mereka datang kedalam kamar dapur tampak asap mengepul-ngepul, sedang tubuh si gadis yang terbakar sudah lenyap menjadi abu, sedang baja didalam dapur berputaran, baja itu kini nampak memerah tanda akan melumer.

Sang ibu yang menampak gadisnya sudah menjadi abu, ia kalap seperti orang gila lalu nyusul anaknya menyemplungkan diri kedalam dapur.

Tong Pok yang menyaksikan istri dan anaknya sudah binasa dengan lompat masuk kedalam dapur yang sedang berkobar, ia menjadi sedih dan jengkel hingga ia jatuh pingsan.

Ketika Tong Pok sadar, ia segera ingin lompat kedalam dapur menyusul istri dan putrinya, tapi para murid-muridnya menahan maksud sang guru dan memberikan hiburan hingga Tong Pok gagal bunuh diri di dapur pembakaran baja.

"Mereka ibu dan anak,"

Kata Tong Pok sedih.

"Lantaran hanya dikarenakan sebilah pedang, telah mengorbankan jiwa isteri dan anakku yang tercinta. Beruntung Tuhan merasa kasihan pada diriku, membuat baja ini menjadi lumer, hingga pengorbanan istri dan anakku tidak akan sia-sia belaka, aku bersumpah untuk membuat pedang ini, jika tidak bagaimana kelak dialam baka aku bisa berjumpa dengan istri dan anakku yang telah berkorban untuk pengorbananku ini?" Dengan menanggung sedih dan pilu Tong Pok lalu membuat sebilah pedang dari baja yang dilumerkan oleh darah seorang gadis dan seorang ibu yang dicintainya. Setelah memakan waktu dua tahun lamanya barulah pedang itu hampir selesai dalam pembuatannya. Ketika ia sedang melakukan pembakaran pedang yang hampir jadi itu,tiba-tiba tampak bara api yang menyala berkobar-kobar merah berubah menjadi putih, disana mengepul uap putih keudara, sedang arang besi yang tadinya merah membara kini berubah menjadi keputih-putihan, disana sini berterotolan butiran air mengkilat seperti embun pagi pada bara api, maka tampaklah disana sebilah pedang yang memancarkan sinar putih yang mengeluarkan hawa dingin membuat tubuh Tong Pok menggigil gemetar. Dengan demikian selesailah pembuatan pedang wasiat yang memakan korban dua jiwa manusia, seorang dara dan seorang ibu. Setelah hawa dingin lenyap Tong Pok mengambil pedang itu dari atas dapur. Setelah mana ia perintahkan kepada muridmuridnya untuk membuatkan sebilah sarung pedang. Setelah sarung pedang selesai Tong Pok mengumpulkan semua murid-muridnya, ia berpesan kepada murid-muridnya agar pekerjaan itu dilanjutkan, sedang ia sendiri akan segera meninggalkan kota untuk mengembara. Didalam pengembaraannya Tong Pok berjumpa dengan seorang imam bangsa Arabia, hasil dari perkenalan itu Tong Pok selainnya telah mahir dalam ilmu To juga ia mempelajari ilmu kebathinan dari imam bangsa Arabia, yang kemudian imam itu kembali kenegeri asalnya dengan membawa hasil pelajaran agama To yang ia dapatkan dari Tong Pok. Didalam goa pertapaannya Tong Pok membuat tiga bilah pisau belati yang bergagang berukiran burung Hong, Liong dan Kiam diatas badan pisau belati itu tertera peta tempat dimana ia bertapa dan dimana tersimpannya Pusaka Pedang Embun. O~>d^w<~O CENG-IT CINJIN setelah membaca kitab yang berisi catatan riwayat Pedang Embun, selembar demi selembar menjadi abu pada lembar terakhir ia menarik napas panjang. Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw, Koang-koan Sinkay dan para jago lainnya mengangguk-anggukkan kepala mendengar cerita itu. Mata Lie Eng Eng terbetik dua butir air mata, tampak juga sepasang mata si pengemis cilik Ho Ho basah menahan jatuhnya air mata. Mereka terharu atas pengorbanan ibu dan anak yang setia kepada ayah dan suami.

"Pengorbanan yang tidak sia-sia,"

Tiba-tiba terdengar suara Pie-tet Sin-kay.

"Tapi mengapa pisau yang ada hanya dua buah, entah ditangan siapa lagi yang sebilah berukir gambar pedang. Sunguh berbahaya bila pedang itu jatuh ketangan sebangsa manusia siluman."

Si pengemis cilik Ho Ho menatap wajah Liong Houw dengan penuh tanda penyesalan bahwa kedua pisau belati itu telah dirampas oleh Kim-niomo-ong Gwat Leng dengan akal tipu daya yang licik.

"Paman......."

Tiba-tiba Liong Houw membuka suara.

"Teecu yang tidak berguna ini telah mensiasiakan kepercayaan paman atas kedua pisau belati itu......"

"Pisau belatinya telah ditipu oleh Kim-nio-mo ong Gwat Leng,"

Sambung si pengemis cilik Ho Ho.

"Kim-nio-mo-ong Gwat Leng????!!!"

Terdengar suara kejut Ceng-it Cinjin.

"Ngg, iblis itu sudah muncul kembali, hebat akibatnya bila pedang itu terjatuh ditangan iblis wanita itu."

Mata Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw menatap tajam Liong Houw dengan tatapan tidak puas.

Liong Houw yang ditatap demikian juga merasa tidak puas, sang paman ini baru saja ia kenal, betul tidaknya kalau Ong Pek Ciauw adalah adik angkat ayah ibunya belum dibuktikan, kembali teringat akan tipu muslihat si nenek Sian, maka muncul pikiran diotak Liong Houw, jangan-jangan orang-orang inipun berakal licik, penuh tipu muslihat hingga timbul keragu-raguannya terhadap orang yang berada dihadapannya.

Ditatapnya sinar mata orang-orang sekeliling satu demi satu, semua menunjukkan sinar ketidak puasan terhadap dirinya, hanya tampak sinar mata Ceng-it Cinjin, sinar mata itu berbeda dengan sinar mata para jago yang lainnya, sinar mata Ceng-it Cinjin penuh dengan rasa welas asih yang penuh keagungan.

Menatap kearah Lie Eng Eng mata sang kekasih basah digenangi air mata.

Sedang si pengemis cilik Ho Ho menundukkan kepala.

Menampak sikap orang-orang itu, mendadak tubuh Liong Houw melejit keudara, ia berlari berlompatan diantara dahan-dahan pohon meninggalkan gunung Liong-houw-san.

Lie Eng Eng bangkit, berbarengan dengan suhunya Ong Pek Ciauw untuk mencegah kepergiannya Liong Houw, tapi gerakan mereka cepat dicegah Ceng-it Cinjin.

"Duduklah, biarkan penyesalannya !"

Ia pergi melampiaskan Tak lama bayangan Liong Houw sudah lenyap dibalik pohon dibawah gunung.

Setelah Liong Houw meninggalkan tempat itu, si pengemis cilik Ho Ho menceritakan semua apa yang ia ketahui tentang hilangnya kedua pisau belati yang ditipu oleh Kim-nio-mo-ong Gwat Leng, juga bagaimana kedua gadis cantik kota Siang-im beserta kedua orang tuanya sudah diculik oleh Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang.

Guru dan murid muncul didalam rimba persilatan menggegerkan ketenangan dunia.

"Hmm...."

Ceng-it Cinjin menghela napas.

"Kunsee-mo-ong Teng Kie Lang masih mengganas belum bisa dibasmi dari muka bumi, kini muncul pula gurunya Kim-nio-mo-ong Gwat Leng yang selama belasan tahun sudah tidak terdengar kabar beritanya. Hai, bagaimana mendadak para iblis dan siluman bermunculan kembali pada jaman ini."

"Cinjin !"

Berkata Koang-koang Sin-kay.

"apakah ada daya upaya untuk membasmi iblis dan siluman itu ?"

Ceng-it Cinjin memandang kelangit baru berkata.

"Semua bisa dilaksanakan, tapi harus ada syarat-syarat, kepandaian didalam dunia ini tidak ada batasnya, mungkin kepandaian para iblis itu sulit untuk ditundukkan, tapi untuk sementara ini kita hanya bisa membendung kejahatan mereka, hanya itulah yang saat ini dapat kita lakukan, kecuali ... hai ..kecuali Pedang Embun itu ... tidak ada lain jalan lagi untuk membasmi dan memunahkan ilmu siluman."

"Cinjin !"

Berkata Ong Pek Ciauw.

"Tentang kelima jago Hadramaut itu adakah cara untuk menghadapi ilmu kebal mereka ?"

Ceng-it Cinjin mengangguk kepala, katanya.

"Kelima jago Hadramaut mencari Pedang Embun, tentu berita ini telah turun menurun dikisahkan oleh para pengikut imam yang telah mengetahui tentang pedang Embun itu hingga mereka berusaha untuk mencari pedang tersebut dan menyiarkan bahwa pedang itu adalah pusaka negerinya. Tapi tipu muslihat itu telah terbongkar dengan adanya kitab sejarah pedang tadi. Sedang persoalan untuk menghadapi ilmu kebal mereka, kukira hal ini tidak sulit. Karena kalau ditilik dari ilmu kebal yang dianut oleh bangsa-bangsa benua Arabia, mereka menggunakan dasar ilmu kebathinan, meskipun pedang embun belum tentu dapat membunuh mereka. Tapi berdasarkan pelajaran-pelajaran dan kitab-kitab kebathinan yang lohu temukan, ilmu kebal itu tidak sulit untuk dipunahkan. Untuk menghadapi ilmu kebal mereka, kalian harus memperhatikan beberapa soal, yang pertama, kaki kalian tidak boleh bertatakan apapun, tidak boleh bersepatu atau lainnya, kulit tapak kaki harus langsung menempel ditanah. Sebelum menggerakkan senjata untuk membunuh mereka, semua senjata pedang pisau atau apapun harus terlebih dahulu dipukulkan kebumi sekuatnya, nah setelah itu seranglah, pasti apabila serangan kalian mengenai sasaran tubuh mereka akan tercincang."

"Ayaaaaaaaa.........."

Setelah mendapat petunjuk-petunjuk dari Ceng it Cinjin, para rombongan Pie-tet Sin-kay pamitan turun gunung.

Ceng-it Cinjin tidak lupa berpesan kepada mereka bahwa dalam jangka waktu tiga tahun ia tidak mau diganggu oleh siapa pun karena dalam waktu itu Ceng-it Cinjin akan melatih Thio Thian Su suatu ilmu andalannya, agar sang murid bisa menggunakan pedang guntur yang sangat luar biasa itu.

o o dw o o LIONG HOUW berjalan dengan langkah kaki tetap, jiwanya bergelora untuk merebut kembali dua bilah pisau belati pusakanya yang menjadi milik warisan orang tuanya, juga merupakan peta dari tersimpannya pusaka Pedang Embun.

ia harus mencari jejak Kim-nio-mo-ong Gwat Leng yang telah menipunya demikian rupa, ia harus bisa menunjukkan kepada paman dan kekasihnya serta para jago-jago tua sahabat karib ayahnya, bahwa sebagai putra seorang pendekar kenamaan, darahnya harus memiliki jiwa kependekaran, ia harus bisa membongkar kemisteriusan lenyapnya sang ayah dan ibu, ia juga harus sanggup menuntut balas sekiranya lenyapnya orang tuanya itu diakibatkan penganiayaan orang-orang rimba persilatan, entah mereka itu dari golongan sesat atau yang mengaku dirinya sebagai golongan putih, bilamana terbukti mereka tersangkut dalam urusan dengan lenyapnya sang ayah, Thio Liong Houw bertekad membuat perhitungan.

Hasil pengalamannya selama ia malang melintang mengembara dirimba persilatan dapat disimpulkannya, bahwa segala tindakan tidak boleh dilakukan dengan hati lemah dan ragu-ragu, semua apa yang dihadapinya ia tidak boleh percaya seratus persen, setiap orang, setiap machluk harus dicurigai meskipun terhadap diri sang paman atau kawan-kawan karib sang ayah.

Tipu muslihat akal licik merajalela meracuni setiap darah manusia yang semuanya kemaruk terhadap nama besar, serakah terhadap harta benda.

Perjalanan kali ini dilakukan diatas jalan lerenglereng pegunungan, meliwati bukit-bukit curam, sungai lebar, pemuda kita kembali menuju kearah kota Siao-shia, dimana dikala itulah untuk pertama kalinya ia terjun dalam pergaulan hidup manusia.

Dari sana ia akan melanjutkan perjalanannya mendaki lereng-lereng gunung diatas puncak puncak gunung menuju lembah air terjun.

Hari berikutnya, matahari baru menyorotkan sinar-sinar masnya, diatas hutan rimba suara kicau burung ramai bersahut-sahutan, sesekali terdengar suara gerengan binatang buas serabutan mencari mangsa.

Liong Houw masih menelentangkan tubuhnya diatas batang pohon, matanya baru saja dibuka menikmati pemandangan pagi dalam hutan belantara.

Kraakkkkk, bruukkkkk..........

Tiba-tiba saja dahan pohon dimana tadi ia menelentangkan tubuhnya patah tanpa hujan tanpa angin.

Tubuh Liong Houw yang masih menelentang diatas dahan tadi, meletik keudara, kemudian meluncur turun, berdiri jejak disemak-semak belukar dalam hutan rimba belantara itu.

"Omotohud...... huaahh, haaaa, bocah sial, cepat kau potes batok kepalamu, aku tidak mau mengotorkan tangan untuk membunuh dirimu."

Ternyata patahnya batang pohon tadi disamber oleh sinar merah yang berkeredap, keluar dari tangan orang yang bicara berdiri dihadapan Liong Houw. "Tosu siluman,"

Bentak Liong Houw. Ternyata orang yang datang adalah itu tosu siluman Liok Hap tojin.

"Mmm........"

Dengus Liok Hap tojin dingin.

"Gara-gara perbuatanmu, markasku dibumi hanguskan, murid-muridku terbunuh, hari ini kalau aku tidak bisa menyaksikan kepalamu copot dari tubuhmu, hmmm......hayo cepat kau copotkan kepalamu."

"Tosu siluman, lebih baik kau pecahkan mulutmu yang bau busuk itu agar tidak ngoceh tak keruan dihadapanku, kau kira aku takut dengan segala macam permainan ilmu silumanmu. Jika kau menghendaki kepalaku, ambillah asal saja kau mampu….."

Kreeelap.....

Meluncur sinar merah dari tangan Liok Hap Tojin menyambar leher Liong Houw.

Liong Houw bergerak cepat sebelum sinar merah itu menyambar lehernya, tubuhnya mengkeret kebawah, setelah sinar itu lewat diatas kepalanya Liong Houw melejit keudara, di tengah udara jari tangannya bergerak menotok kearah biji mata Liok Hap tojin dengan ilmu totokan bunga-bunga berguguran.

Entah dengan cara bagaimana mendadak tubuh Liok Hap tojin lenyap.

Begitu tubuh Liong Houw tiba ditanah tiba-tiba tampak kabut putih halimun mengurung tubuhnya, pandangan matanya menjadi gelap, ia tidak dapat disekitarnya.

melihat pemandangan alam Liong Houw berusaha membentur kurungan halimun putih yang mengurung tubuhnya, tapi setiap kali ia membentur lapisan halimun itu tubuhnya seakan membentur dinding tembok, mental balik terhuyung-huyung.

Berulang kali dicobanya, tapi hasilnya sama saja bahkan kini tubuhnya dirasakan sakit sampai menyelusup ke-tulang-tulang akibat benturanbenturan yang membabi buta.

Teringat akan bunyi siulannya, maka Liong Houw segera mengempos tenaga, ia mengeluarkan siulan yang menggema angkasa menggetarkan seluruh isi rimba.

Begitu suara lengking siulan menggema halimun yang mengurung tubuhnya pecah buyar kian kemari, terbawa angin akhirnya lenyap sama sekali.

Kini dihadapannya berdiri si tosu siluman Liok Hap Tojin.

"Mmm, siulan setanmu hebat juga, bocah, tapi kematianmu sudah tidak bisa dielakkan lagi, ha, ha, ha........"

"Siluman pejajaran ! Tidak perlu banyak pentang bacot disini, kalau kau mampu, cepat keluarkan lagi ilmu silumanmu!"

Liok Hap tojin menggerakkan tangannya dari sana kembali meluncur cahaya merah menyerang dada Liong Houw.

Liong Houw mengelak kekiri, menjejak tanah ia membal keudara.

Kembali sinar-sinar merah menyerang tubuhnya, kemana Liong Houw bergerak sinar merah selalu membatangi, si pemuda segera bersiul kembali, suara siulan itu menggema memecahkan kesunyian didalam hutan itu.

Terdengar Liok Hap tojin tertawa berkakakan.

Berbarengan dengan lenyapnya suara tertawanya tiba-tiba nampak sekeliling rimba itu terkurung oleh sinar merah membara seakan telah terjadi kebakaran hebat dalam hutan mengurung tubuh Liong Houw.

Terasa hawa panas menghimpit tubuh si pemuda, suara siulannya kian lama kian melemah dan akhirnya lenyap ditelan sinar merah, Liong Houw dengan menahan rasa panas berputaran tubuhnya melejit tinggi, tapi sinar merah itu bergerak mengikuti kemana bayangan si pemuda bergerak.

Kini kepalanya mulai dirasa pening, matanya berkunang-kunang, tubuhnya limbung, dadanya sesak, Liong Houw memuntahkan darah tubuhnya jatuh ambruk ditanah.

Terdengar suara gema tertawa Liok Hap tojin.

Kakinya melangkah mendekati tubuh Liong Houw yang sudah jatuh pingsan tak sadarkan diri.

"Mmm . ."

Dengus Liok Hap tojin, tangannya diangkat tinggi, tampak kepalan tangan Liok Hap tojin memerah seperti bara api, digerakkan menghajar batok kepala Liong Houw yang sudah pingsan menunggu saat kematiannya.

Blegurrrrrr ....Berbarengan dengan gerakan tangan Liok Hap tojin menghajar kepala Liong Houw terdengar suara guntur dilangit.

Bleguaurrrrrr …..

kerelap ....

Hawa udara menjadi lembab, awan yang tadinya terang benderang menjadi gelap tak lama rintikrintik air hujan jatuh dari langit.

Tubuh Liong Houw yang masih tengkurap pingsan, tertimpa rintikan air hujan badannya basah kuyup.

Dari balik pohon-pohon didalam rimba melesat satu bayangan merah mendatangi, begitu bayangan merah menampak tubuh Liong Houw yang tengkurap pingsan basah kuyup, tangan bayangan merah bergerak memondong tubuh Liong Houw kemudian lari meninggalkan tempat itu.

Entah sudah berapa lama Liong Houw dipondong oleh bayangan merah dalam keadaan cuaca gelap hujan besar diatas pegunungan, Liong Houw yang masih pingsan tiba-tiba sadar kepalanya masih dirasakan sakit dadanya terasa sesak, ia merasakan tubuhnya tertimpa air hujan, telinganya mendengar kesiuran angin menderu karena cepatnya si bayangan merah berlari, dengan perasaan yang tersiksa Liong Houw samarsamar dapat melihat bentuk potongan bayangan merah.

Ia bisa merasakan bahwa dirinya sedang dibawa lari oleh suatu machluk berkulit merah, tubuh mahluk itu berwarna merah licin tiada berbulu, juga tidak berpakaian karena kepala Liong Houw menghadap belakang, ia tidak bisa menyaksikan wajah machluk itu.

Dalam keadaan pusing seperti itu timbul rasa herannya, kemanakah ia akan dibawa oleh machluk merah ini.

Dicobanya bergerak, tapi tenaganya tidak mengijinkan, terasa dadanya sakit tidak kepalang.

Si bayangan merah melesat bagaikan terbang melompati tebing-tebing gunung, berlarian terus.

Tiba didalam semak-semak belukar si bayangan merah menghentikan larinya, tubuh Liong Houw diletakkan diatas rumput-rumput hijau yang memenuhi semak-semak belukar, dengan cepat tangan si bayangan merah bergerak menotok beberapa bagian jalan darah Liong Houw, setelah itu, ia menjejalkan sebutir pel berwarna merah kedalam mulut si pemuda.

Kemudian bayangan merah menepuk-nepuk geger si pemuda.

Samar-samar Liong Houw bisa melihat wajah bayangan merah, wajah itu merah pucat pasi, hanya tampak sinar matanya yang memancarkan cahaya bening.

Setelah selesai memberikan pel obat kedalam mulut Liong Houw, bayangan merah itu melesat pergi meninggalkan Liong Houw yang tergolek diatas rumput-rumput hijau.

Tak lama terasa perut Liong Houw bergolak seakan ada hawa udara hangat berputaran, hawa itu menyelusuri keseluruh sendi urat-urat ditubuh si pemuda.

Mendadak Liong Houw merasakan tubuhnya nyaman, segala rasa pening dikepalanya lenyap, sesak napasnya hilang seketika, dirasakan jalan pernapasannya kini tidak terganggu oleh rasa yang menyesakkan akibat benturan halimun dan sinar merah api yang diciptakan oleh Liok Hap tojin.

Masih terbayang didalam benak pikiran Liong Houw, bagaimana si tosu siluman ketika mendengar suara geledek menyambar, ia segera angkat kaki ngacir menyelamatkan diri, ketika suara guntur terdengar untuk kedua kalinya keadaan Liong Houw sudah tidak ingat orang lagi, ia jatuh pingsan.

Kembali mengingat kepada si bayangan merah yang membawa ia lari ketempat belukar ini, hati si pemuda heran tidak kepalang, siapakah orangnya yang telah menolong dirinya dengan menotok beberapa jalan darahnya dan juga memberikan pel obat.

Meskipun keadaan Liong Houw saat itu dalam keadaan terluka parah, tapi mata dan pikirannya masih bisa bekerja, dengan sepasang matanya, ketika tubuhnya diletakkan diatas rumput hijau itu, ia bisa menampak wajah si bayangan merah, wajah itu merah tapi pucat seperti mayat hidup, hanya sepasang sinar matanya yang tampak bening tubuh itu merah seluruhnya, tanpa pakaian lekuk-lekuk tubuh menunjukkan tubuh seorang wanita yang bertelanjang bulat, hanya anehnya kulit wanita itu tampak merah, sehingga tonjolan buah dadanya juga cembungan bagian belahan paha tampak rata merah.

Berpikir bolak balik, hati Liong Houw menggidik sendiri, apakah ia baru saja berjumpa dengan setan atau siluman?

Atau machluk yang luar biasa dari luar bumi?

Hujan mulai mereda, pakaian putih Liong Houw basah kuyup.

Guna mempercepat waktu dalam perjalanan menuju kelembah air terjun, Liong Houw membuka pakaian yang basah kuyup, kini ia hanya mengenakan pakaian dalamnya berupa pakaian kulit macan.

Perjalanan selanjutnya dilakukan melalui jalanjalan pegunungan yang sepi sunyi, ia menghindari pertemuan dengan manusia manapun yang hanya akan menghambat perjalanannya.

Dua bulan sudah ia berkelana dipuncak gunung dengan memakan buah-buahan untuk menangsal perutnua serta minum air dari sumber mata air diatas pegunungan, tapi tempat yang dituju belum juga ditemui, ia kehilangan arah tujuannya.

Liong Houw berdiri diatas puncak gunung, disekitarnya hanya tampak puncak-puncak gunung yang mengelilingi tempat itu.

Menengok kebawah, disana tampak awan-awan memutih menghalangi pandangan matanya, hingga ia tidak dapat melihat keadaan di bawah gunung.

Angin berembus kencang sekali, seakan hendak menerbangkan tubuhnya, rambutnya riap-riapan bergelombang ditiup angin pegunungan, mata dan pipinya terasa mulai perih tersambar tiupan angin yang menderu-menderu ditelinganya.

Tiba-tiba diatas lamping gunung diseberang puncak dimana ia berdiri, tampak satu titik merah bergerak-gerak menyelusup diantara awan-awan memutih yang mengurung puncak gunung itu.

Hati Liong Houw tergerak, kakinya segera melesat berlompatan menuruni puncak gunung dimana ia berdiri, akhirnya ia tiba dibawah kaki gunung, disana terdapat satu batang kali kecil yang mengalirkan airnya deras dan bening.

Ternyata kedua puncak gunung itu dibatasi oleh kali kecil yang mengalir deras dibawahnya.

Melompati kali kecil itu, tubuh Liong Houw melesat menaiki tebing gunung mengejar kemana larinya titik merah yang menembus awan diangkasa puncak gunung tadi.

Keadaan puncak gunung ini hampir serupa dengan puncak gunung diseberang sana dimana ia tadi berdiri.

Menerobos awan-awan memutih yang mengelilingi lamping gunung, tubuh Liong Houw melesat terus kearah puncak pegunungan, tibatiba tampak kembali titik merah tadi bergerak kearah barat dibalik tikungan pegunungan.

Cepat langkah kakinya digerakkan mengejar titik merah tadi, kini tampak tambah lama tambah jelas, ternyata titik merah tadi adalah bayangan seseorang yang berlarian diatas lamping gunung dengan mengenakan jubah merah.

Setibanya dibalik tikungan bagian barat puncak gunung, tiba-tiba Liong Houw kehilangan jejak bayangan tadi.

Diperhatikan sekeliling tempat itu, tidak terdengar derap langkah kaki manusia, hanya terdengar suara menderunya angin santer menerjang tubuhnya.

Mata Liong Houw menatap jauh ke muka tak tampak lagi bayangan merah, kini ia memandang kebawah dimana awan-awan putih menghalangi pandangannya, terpikir olehnya bahwa bilamana bayangan merah tadi berlari menuju terus kemuka, pasti ia dapat melihatnya meskipun betapa cepat larinya bayangan tadi.

Tidak ada lain jalan lagi, bayangan itu pasti menuju kearah bawah puncak gunung, setelah berpikir berputar-putar dalam otaknya Liong Houw melesat turun menerjang awan putih lari kebawah, berlarian beberapa saat tibalah ia disuatu lamping gunung yang penuh batu-batu gundul tak tumbuh rumput maupun pohon.

Sedang dibawahnya adalah jurang yang curam.

Melongok ke bawah tak tampak dasar jurang, keadaan disana gelap pekat.

Selagi Liong Houw celingak-celinguk tiba-tiba terdengar suara tertawa terbawa angin yang datangnya dari sebelah utara lamping gunung itu.

Mendengar suara tertawa itu, Liong Houw segera mengejar kearah datangnya suara tawa tadi, ia ingin mengetahui machluk macam apakah yang berdiam diatas puncak gunung tinggi terasing ini.

Melalui jalan kecil licin berIiku-Iiku, tibalah ia dimuka sebuah goa batu dilamping gunung.

Liong Houw menghentikan langkahnya, ia memperhatikan keadaan dalam goa itu, tampak gelap, tak tertampak bayangan apa pun.

"Masuklah!"

Tiba-tiba terdengar suara orang dari dalam goa. Kaki Liong Houw melangkah, tapi cepat langkah itu ditahan, ia mundur dua tindak.

"Tipu muslihat !"

Tiba-tiba tercetus ucapan itu dari mulut Liong Houw.

"Hengggg…."

Terdengar dengus dari dalam.

"Tipu muslihat apa, bukankah kau yang bernyali tikus, tidak berani menerobos masuk."

"Manusia Iicik, keluarlah ! Aku tidak sebodoh yang kau sangka....keluarlah jika kau manusia baik, jika tidak goa ini akan kuhancurkan dengan obat pasang .....!"

Orang yang berada dalam goa gelap ketika mendengar ucapan Liong Houw yang akan menghancurkan goa dengan obat pasang, tanpa pikir lagi tiba-tiba ia melesat keluar menyambar tubuh Liong Houw.

0)0od~wo0(0

Jilid ke 12 TERASA ada sambaran angin Liong Houw menjejakkan kakinya, melejit masuk kedalam goa.

Hingga keadaan berubah, kini Liong Houw yang berada didalam goa dalam keadaan gelap, sedang orang yang menyambar tadi adalah itu orang yang mengenakan jubah merah.

"Haaaaa......tua bangka goblok, haaaaa......dari mana aku memiliki obat pasang, hmmm.....murid murtad terkutuk, sebagai wakil kaucu Ko-lo-hwee, sudah sering melakukan perbuatan terkutuk, binatang buas berbentuk manusia ......"

Maki Liong Houw.

Ternyata orang berjubah merah itu adalah si murid murtad Leng-leng Pak su, murid durhaka Thian-lam-it-Io Kak Wan Kiesu.

Begitu mendengar disebutnya wakil kaucu Ko-lohwee, hatinya Leng-leng Pak-su tergetar, sampai ia melangkah mundur tiga langkah ketepi jurang.

"Bocah sundel, apakah si tua Kak Wan sudah menurunkan ilmu kepandaiannya padamu, sehingga kau berani kurang ajar terhadap suhengmu, hayo cepat keluar kalau tidak tubuhmu akan hancur berkeping-keping didalam goa."

Teringat akan serangan angin puyuh Leng-leng Paksu, hati Liong Hauw tercekat, bilamana Lengleng Paksu mengerahkan ilmu pukulan angin puyuhnya, pasti tubuhnya akan hancur gepeng, tergencet angin puyuh dan dinding batu dalam goa.

Mengingat akan itu, tubuh Liong Houw segera melesat keluar.

Berbarengan dengan melesatnya tubuh Liong Houw, dengan membarengi kata-katanya, Lengleng Paksu sudah menyerang kearah dalam goa.

Bledurrrrrrrr.......

Terdengar suara batu-batu berhamburan, abuabu kerikil batu bermuncratan keluar pintu goa dibarengi dengan melayangnya tubuh Liong Houw terpental jauh keudara kemudian tubuhnya melayang turun jatuh kedalam jurang........

Dengan mata terbelalak lebar, Leng-leng Paksu memperhatikan melayangnya tubuh Liong Houw jatuh kedalam jurang penuh kabut putih menebal.

Cepat Leng-leng Paksu tiarap, kupingnya ditempelkan kebatu lamping gunung, ia ingin mendengar suara jatuhnya tubuh Liong Houw yang hancur lebur terbanting ke bawah.

Lama .......

lama sekali Leng-leng Paksu merapatkan kupingnya dibatu lamping gunung, tapi tak terdengar suara apapun.

~d~w~ LlONG HOUW yang meluncur jatuh kedalam jurang, melayang-layang laksana layang-layang putus tali, suara angin yang lewat ditelinganya menderu-deru menambahkan rasa ngeri dan seram dihati si pemuda.

Kaki tangan Liong Houw bergerak-gerak mengimbangi keadaan berat tubuhnya yang meluncur, kadang kala tubuhnya berputaran tanpa dapat dikendalikannya.

Akhirnya keadaan dalam jurang menjadi gelap, karena hari sudah menjelang malam.

Tubuh Liong Houw masih tetap meluncur turun kebawah.

Tiba-tiba kaki Liong Houw yang digerakgerakkan untuk mengimbangi berat badannya, menyentuh sesuatu, ia kaitkan kakinya kearah benda yang tersentuh, tapi terlambat, tubuhnya masih meluncur turun, dan kini tangannya menjambret benda tadi, kreeekkk.......

Liong Houw tidak melihat benda apa yang dijambretnya tadi, tapi dengan memegangi benda itu, tubuhnya bergelantungan.

Tenggelamnya sang surya dibarat, berganti dengan munculnya rembulan menerangi jagat.

Kini samar-samar mata Liong Houw bisa melihat benda yang dipegangnya adalah sebuah ranting pohon, tapi juga bukan ranting pohon, bentuknya seperti akar, tapi alot keras seperti dahan pohon.

Tubuh si pemuda masih bergoyang-goyang bergelantungan diatas akar tadi.

Dengan bantuan sinar rembulan, Liong Houw meneliti keadaan sekitar lamping jurang.

Menengok keatas disana sudah tak tampak tepi jurang, menengok kebawah, tak tampak dasar jurang, keadaan tebing sekeliling tempat itu licin berlumut.

Menampak lamping jurang seluruhnya berlumut, hati Liong Houw tercekat girang.

Haaaaa.

Inilah lamping jurang diatas lembah air terjun......

Tapi rasa girang itu hanya sebentar, karena telinganya tak mendengar suara gemuruhnya air terjun yang mengalir turun dari puncak-puncak gunung.

Dengan masih bergelantungan bergoyang goyang diatas akar tadi otak Liong Houw diputar keras.

Akhirnya ia melepaskan pegangan akar yang menjulur, tubuhnya kembali melayang meluncur turun.

Tapi kali ini luncuran tubuh Liong Houw diiringi dengan suara siulannya menggema disekeliling lamping jurang.

Suara pantulan gema siulannya hampir-hampir membuat pecah anak telinganya sendiri.

Tubuh Liong Houw masih meluncur terus, gema siulan masih berkumandang dilamping jurang, sayup-sayup mulai terdengar suara riuh mengguruh bercampur dengan suara gema siulan si pemuda.

Mendengar suara mengguruh tadi, hati Liong Houw girang tidak kepalang, jelas itulah suara air terjun bergulung-gulung, Liong Houw mengempos tenaganya, menciptakan suara siulan yang lebih menggetarkan isi lembah.

Suara mengguruh air terjun kian keras jua.

Tiba-tiba terdengar suara jerit yang melengking dari dasar jurang, dibarengi dengan meluncurnya sesosok bayangan merah membentur tubuh Liong Houw.

Mendapat benturan bayangan merah tadi, tubuh Liong Houw yang sedang turun meluncur mental kemuka, dan byurrr ....

Tubuh Liong Houw kecemplung kedalam air.

Byurrrr .....

Terdengar kembali suara benda nyemplung keair, tak lama tampak permukaan air beriak-riak bergelombang dua sosok tubuh meluncur ketepian.

Ternyata bayangan merah yang membentur tubuh Liong Houw yang sedang meluncur turun adalah seekor monyet berbulu merah.

Monyet berbulu merah pada tengah malam itu mendengar suara gema siulan diudara, ia mengenali betul suara itu adalah suara sang sahabat yang dilepas mengembara pada tiga tahun yang lalu, begitu tubuh si monyet merah lompat keluar dari goa didalam pulau ditengah danau, matanya dapat melihat sesosok bayangan yang sedang meluncur dari atas jurang dengan mengeluarkan siulannya.

Si monyet merah meskipun hanya seekor binatang, tapi kecerdikannya tidak kalah dengan manusia, begitu menampak bayangan yang meluncur mengeluarkan siulan, serta lapat-lapat ia melihat tubuh yang sedang meluncur itu lorengloreng, jelas itulah sang sahabat yang sedang jatuh dari atas puncak gunung.

Suatu hal yang membuat bingung si monyet merah, tubuh yang meluncur itu tepat berada diatas tepi danau yang berbatu-batu, maka dengan kecerdikannya, begitu tubuh Liong Houw masih ditengah udara, cepat si monyet merah melejit keudara mendorong tubuh Liong Houw menyemplung kedalam danau.

Oood*wooO Keesokan paginya.........

Setelah Liong Houw mengetahui bahwa secara kebetulan akhirnya ia telah kembali kedalam lembah air terjun,segera ia berdiri dimuka dinding goa yang terdapat lukisan corat moret.

Pada tiga tahun yang lalu, ia tidak mengerti apa maksud dari lukisan corat coret itu.

Kini dengan jelas ia bisa membaca lukisan yang terdapat pada dinding goa, itulah tulisan-tulisan yang diukir oleh jari tangan manusia dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam yang luar biasa.

Setelah selesai membaca tulisan-tulisan itu Liong Houw mengetahui bahwa dibalik dinding goa masih terdapat sebuah goa, dalam tulisan itu jelas menerangkan bagaimana cara membuka pintu rahasia dinding batu yang menghubungi goa luar dengan goa yang berada didalam.

Menyaksikan Liong Houw berdiri dengan mata bergerak-gerak mengikuti lukisan-lukisan yang terdapat pada dinding goa itu, si monyet merah berlompatan, tampak ia sangat girang bahwa sang sahabat telah pandai membaca apa yang tertera didalam lukisan itu.

Setelah selesai membaca tulisan-tulisan tadi, kepala Liong Houw mendongak keatas langit-langit goa, disana terdapat sebuah lubang selebar tapak tangan, lubang itu melekuk kedalam.

Dengan menggunakan batang pohon bunga, Liong Houw mengorek-ngorek beberapa lama lubang itu.

Setelah mengetahui didalam lubang itu tidak terdapat binatang berbisa, segera ia lompat, tangannya dimasukkan kedalam lubang itu, dengan erat ia menggelantung disana.

Dengan sepasang kakinya, ia menjejak dinding goa yang terdapat tulisan tadi, tepat pada bagian tiga baris tulisan dari atas, maka tiba-tiba terdengar suara berkeretekan, diiringi dengan abu-abu mengepul, dimana dinding goa yang terdapat lukisan gambar orang sedang melakukan gerakan memukul dan menendang, dinding itu merekah, dan disana tertampak sebuah pintu.

Si monyet merah yang menyaksikan kejadian itu melompat, lalu masuk kedalam pintu yang baru terbuka tadi.

Liong Houw lompat turun, dengan langkah hatihati memasuki pintu raksasa dalam goa itu.

Didalam goa raksasa itu terdapat satu jalan lorong yang tampak gelap.

Dengan memperhatikan sekitar lorong itu Liong Houw melangkah maju menyusuri lorong.

Berjalan lagi beberapa langkah, lorong itu membelok kekanan, kemudian membelok lagi kekanan, terus kekanan, terasa jalan lorong itu berputar turun kebawah.

Diakhir jalan lorong yang berputar menurun kebawah, yang makin lama makin gelap kini tampak disudut kiri terdapat dinding batu yang berbentuk empat persegi berwarna putih.

Dinding batu itu berwarna putih mengkilat, sehingga dalam kegelapan tampak cahaya yang dipantulkan oleh dinding batu persegi tadi.

Tangan Liong Houw meraba-raba dinding batu persegi itu, terasa dingin sekali, keadaan dinding batu persegi itu lain dengan keadaan dinding goa yang terdapat pada lorong, dinding putih itu terasa licin.

Setelah meraba-raba dinding batu tadi Liong Houw segera mendorong dinding batu persegi tadi.

Cittttttt...........

Dinding batu persegi empat tadi ternyata tidak berat, dengan mudah Liong Houw berhasil mendorong dinding persegi putih itu melesak kedalam, dari sisi-sisi kiri kanan atas dinding yang melesak tadi memancar sinar putih terang benderang.

Liong Houw segera nyelusup kesela-sela dinding yang terbuka yang ternyata hanya pas dengan ukuran tubuhnya.

Setelah berada didalam, dinding pintu putih persegi itu mendadak bergeser menutup sendiri.

Didalam ruangan goa itu jauh berbeda dengan goa diluar, ruangan goa itu tampak terang benderang, dinding persegi empat putih mengkilat, dari dinding-dinding batu itu memancar sinarsinar berkeredapan.

Memperhatikan keadaan didalam goa, di sudut kanan ruangan, dimana Liong Houw berdiri tampak seorang tua duduk bersila diatas batu setinggi satu kaki.

Orang tua itu mengenakan pakaian jubah putih, rambut dan jenggotnya putih menjulur sampai dilantai, mata orang tua itu meram.

Sedang tangannya disilangkan diatas dada.

Entah sejak kapan si monyet merah yang lebih dulu masuk, kini berlutut dihadapan orang tua itu.

Setelah memperhatikan sejenak keadaan orang tua itu, Liong Houw mengetahui bahwa itu adalah sesosok mayat manusia yang membeku.

Memperhatikan jejak kelakuan si monyet merah, Liong Houw segera berlutut dihadapan patung orang tua itu.

Lama Liong Houw berlutut, menampak kelakuan si monyet merah yang juga masih tetap berlutut, Liong Houw yang sudah biasa sejak kecil mengikuti gerak gerik si monyet merah, kali ini meskipun pikirannya lebih banyak bercabang, tapi ia masih tetap mengikuti kelakuan si monyet merah, ia ingin mengetahui apa yang akan dilakukan kemudian oleh si monyet merah.

Tubuhnya masih tetap berlutut.

Tidak berani bergerak sembarangan.

Tiba-tiba…..

Batu bundar setinggi satu kaki dimana mayat beku orang tua berjenggot putih duduk bersila bergeser bergerak, membentuk sebuah lubang persegi.

Krekekkkkkkkkkkk…..

Bau harum menyerang hidung, memenuhi ruang kamar batu itu.

Begitu bau harum menyembur keluar dari dalam lubang tadi, tubuh si monyet merah bangkit berdiri, ia menarik tangan Liong Houw berdiri, si monyet merah lalu menunjukkan jarinya kedalam lubang tadi.

Liong Houw memperhatikan keadaan dalam lubang persegi itu yang lebarnya hanya setengah depa dan tingginya hanya setinggi lutut Liong Houw.

Didalam lubang itu terdapat sebuah kotak terbuat dari batu giok putih.

Sedang disamping kanan sisi lubang disana tampak sekuntum bunga yang tumbuh seperti jamur melekat didinding lubang itu.

Warna bunga itu putih laksana salju.

Setelah melongokkan kepalanya kedalam lubang serta memperhatikan isi lubang itu Liong Houw belum berani mengeluarkan benda itu dari tempatnya.

Ia menatap ke arah si monyet merah.

Si monyet merah dengan berkuikan menggerakgerakkan tangannya.

Liong Houw segera mengerti maksud si monyet segera ia mengeluarkan kotak batu giok itu lebih dulu, sedang bunga yang mengeluarkan bau harum semerbak ini ia belum berani menyentuhnya.

Dengan hati-hati kotak batu giok tadi dibawanya ketengah-tengah ruangan dimuka patung orang itu tadi.

Liong Houw duduk dilantai batu, sedang si monyet merah masih berdiri memperhatikan kotak batu giok itu, tangannya segera digerak-gerakkan memerintahkan Liong Houw agar membuka tutup kotak batu giok tadi.

Setelah meraba-raba beberapa saat, Liong Houw menemukan cara membuka tutup kotak batu giok itu, maka dengan memijit sebuah tombol yang terdapat di bawah kotak, terbukalah tutup kotak itu.

Didalam kotak itu terdapat se

Jilid kitab yang terbungkus dengan kain sutera berwarna kuning, dan sebuah kalung tasbih.

Liong Houw mengangkat lebih dulu kalung tasbih yang menggeletak didalam kotak batu giok, ia perhatikan bahan butiran butiran tasbih, biji-biji tasbih itu berwarna putih dibuat dari semacam logam, serta tali rantai juga terbuat dari logam putih.

Setelah meneliti biji-biji tasbih tadi sebegitu jauh ia tidak mengetahui biji-biji tasbih itu terbuat dari bahan apa.

Lalu dikalungkannya tasbih itu dilehernya.

Si monyet merah menampak perbuatan Liong Houw, berlompatan girang.

Setelah menggantungkan tasbih dilehernya Liong Houw mengangkat bungkusan kitab yang terbungkus dengan kain sutra berwarna kuning.

Begitu tangannya menyentuh bungkusan kain berwarna kuning itu, kain itu hancur berhamburan.

Kini nampak diatas kulit kitab yang terbungkus tadi terdapat lukisan lukisan bunga, kulit kitab dengan lukisan-lukisan bunga itu sama dengan kitab yang pernah ia dapatkan dari Thianlam-it-lo Kak Wan Kiesu yang berisi ilmu totokan.

Lembaran-lembaran kitab itu ternyata terbuat dari pada kulit.

Dilembar pertama yang merupakan kulit kitab tak tampak tulisan apapun, disana hanya terdapat lukisan bunga-bunga beraneka macam...

Membuka lembaran kedua, disana terdapat gambar orang yang duduk bersila, membuka kembali lembar ketiga, juga terdapat gambar orang yang sedang melakukan semedhi hingga pada lembar yang terakhir Liong Houw tidak mendapatkan tulisan apapun, ia hanya menemukan gambar berpuluh macam orang yang sedang melakukan semedhi, ia perhatikan kembali setiap lukisan gambar dalam kitab itu, ternyata kesemuanya itu dilakukan didalam air terjun diluar goa.

Setelah memperhatikan isi kitab kulit itu, Liong Houw menutupnya kembali.

Baca Juga: Warisan Jenderal Gak Hui 4

Baca Juga: Badai Laut Selatan 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert