Ceritasilat Novel Online

Pusaka Pedang Embun 4

Eps 4 Pusaka Pedang Embun - Sin Liong

Baca online Pusaka Pedang Embun - Sin Liong

Cersil Pusaka Pedang Embun - Sin Liong.

Sedang diatas tempat tidur, Liong Houw membujurkan bantal, lalu diselimuti dengan pakaiannya sendiri, hingga tampak sesosok tubuh yang sedang tidur telentang diatas tempat tidurnya.

Setelah mematikan lampu kamar, Liong Houw melesat keluar melalui jendela, berkelebatan diatas genteng-genteng rumah.

0)0od^wo0(0 LIONG HOUW berlompatan diatas genteng rumah-rumah penduduk dari satu wuwungan kewuwungan lain ditimpa sinar bintang-bintang kelap kelip dilangit biru, seakan siluman macan gentayangan mencari mangsa ditengah kota.

Dibagian utara dan timur tampak beberapa bayangan hitam melompati tembok disusul dengan terdengarnya suara hiruk pikuk para penjaga malam, melepaskan tanda bahaya keudara.

Keadaan malam gelap menjadi terang benderang dengan berpencarnya sinar api diudara dari tanda bahaya itu.

Tiba diatas genteng istana Thian ong-thian, Liong Houw melesat lompat ke menara, dengan tangan menyangkol jendela menara, tubuhnya bergelantungan menyaksikan keadaan dibawah.

Dimuka istana, sedang berlangsung pertempuran sengit.

Dengan bantuan sinar lampu tengloleng yang terpancang disetiap sudut-sudut istana, Liong Houw bisa menyaksikan dengan jelas jalannya pertempuran.

Koksu Tong-hong Hong, bersama seorang yang berwajah hitam berjenggot panjang, mengenakan pakaian Twa-hong-toan-hoa-kiong-leng, mengenakan topi Liok-leng-eng-hiong, orang dengan dandanan itu ia pernah lihat diatas lereng pegunungan di wihara kuno Tam-hoa-ko-sie.

Itulah Cie Tay Peng Tay-ong kepala berandal raja-raja gunung Go-kong-nia.

Kedua orang itu bertempur mengeroyok seorang tua berjenggot putih yang berumur kira-kira 60 tahunan.

Dibelakang istana terjadi lain pertempuran, Koang-koang Sin-kay, si pengemis bangkotan bersama Kim-cee Lonnie menempur Sin-piauw Lok Kun, jalan pertempuran seimbang.

Dipintu timur kota tampak si Rajawali Cakar emas bertempur menghadapi ketua berandal bangsa Biauw, si Ulung ulung berbulu hijau Chong-eng Jie Long.

Dibagian barat istana Sin-kiong-kiam, Ong Pek Ciauw bersama Pek-bie Locow, sedang berusaha menerobos pintu penjagaan kamar penjara dibawah tanah, dua orang jago ini dikeroyok oleh ratusan tentara negeri dibawah pimpinan si Kodok Buduk Phie-pian Losu.

Dalam empat group pertempuran, Liong Houw tidak mengenali seluruh jago-jago yang mana fihak Pie-tet Sin-kay dan yang mana fihak pemerintahan.

Ia belum mengenal satu persatu jago-jago tersebut.

Sesudah Liong Houw memperhatikan jalannya pertempuran, dengan ringan ia melesat turun dari atas menara melayang kearah barat dimana sedang berlangsung pertempuran hebat antara Sin-kongkiam Ong Pek Ciauw dan Pek-bie Locow menghadapi keroyokan ratusan orang tentara negeri yang sengaja dipasang dipintu penjara.

Dari corak perbedaan pakaian yang dikenakan oleh tentara negeri, dengan melayang-layang diudara Liong Houw mengibas-ibaskan tangannya melakukan totokan jarak jauh bunga-bunga berguguran.

Beberapa puluh orang tentara rubuh tertotok serangan bunga-bunga berguguran.

Si kodok buduk Phie-pian Losu menyaksikan para tentara negeri tiba-tiba pada bergelimpangan, segera menghentikan serangannya, ia berdiri melongo, tidak mengerti perubahan apa yang sudah terjadi.

Begitu pula dengan Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw dan Pek-bie Locow, segera menghentikan serangan mereka berdiri saling pandang.

Selagi ketiga jago itu terlongong-longong tubuh Liong Houw yang meluncur turun sudah tiba ditanah.

Liong Houw tidak mengenal ketiga orang yang sedang bengong menyaksikan kehadirannya ditempat itu, ia melangkahkan kakinya tidak memperdulikan kepada ketiga jago yang berdiri menatap kearahnya.

"Berhenti !"

Tiba-tiba si kodok buduk Phie-pian Losu membentak.

"Disini bukan tempatnya kau menakut-nakuti orang dengan lagak silumanmu." Begitu selesai ucapannya, serangan angin keras menyambar kearah batok kepala belakang Liong Houw. Liong Houw merasakan datangnya sambaran angin kuat, ia memiringkan kepala kekanan, kakinya menjejak tanah, melesat kesamping, memutar tubuh, lalu berdiri menghadapi kearah ketiga jago. Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw, Pek-bie Locow sangat heran atas kehadirannya Liong Houw ditengah-tengah pertarungan itu, mereka berdiri melengak, pikirnya, dari mana munculnya bocah begini macam, serta apa maksud tujuan kedatangannya? Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw yang juga merasa kesima, tiba-tiba teringat sesuatu dalam hatinya berpikir keras. Ia ingat Pie-tet Sin-kay pada tiga tahun berselang pernah menceritakan tentang munculnya si pemuda gondrong dengan mengenakan pakaian kulit macan loreng, dan juga telah menyebarkan berita itu kesetiap ketua-ketua partai. Muridnya Lie Eng Eng, sampai lupa orang tuanya, lupa tugasnya, ia mengembara mencari jejak si pemuda gondrong berpakaian kulit macan loreng ini. Tapi mendadak selama tiga tahun itu jejak si pemuda lenyap tanpa bekas. Kini tanpa diduga sudah muncul didepannya. Pek-bie Locow juga segera sadar, maka ia memandang Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw yang dibalas dengan anggukkan. Tepat pada saat itu, Liong Houw membentak kearah Phie-pian Losu.

"Hai dimana Pie-tet Sin-kay ditahan !?"

Si Kodok buduk Phie-pian Losu nyengir lalu katanya .

"Kau bocah gila ! Mau apa ?"

Selagi Phie-pian Losu bicara, Sin-kiong kiam Ong Pek Ciauw dan Pek-bie Locow cepat melesat menerobos pintu penjara.

Phie-pian Losu si kodok buduk menyaksikan kedua lawannya tiba-tiba melesat menerobos masuk, tangannya bergerak menghajar punggung Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw.

Sedang dari mulutnya terdengar suara, kung!

Dari sana menyembur uap putih menyambar kepala Pek-bie Locow.

Tapi serangan itu berhasil dielakkan oleh kedua jago dengan mudah.

Bruk......

cress......

Terdengar dua kali suara pukulan angin, tapak kodok yang lolos nyasar menyambar tembok membentuk lima jari tapak tangan dan suara benturan uap putih yang keluar dari mulut Phiepian Losu, membentur pintu besi penjara berbau sangit.

Phie-pian Losu menampak serangannya berhasil dielakkan, kembali menghajar kedua jago yang sedang lari menerobos pintu pertahanan penjara, tapak tangannya digerakkan.

Bertepatan pada saat itu, tubuh Liong Houw mencelat keudara, diatas udara tangannya menghajar belakang batok kepala Phie-pian Losu.

Liong Houw bisa membedakan, siapa kawan dan siapa lawan hanya dalam beberapa gebrakan tadi.

Phie-pian Losu merasakan sambaran angin diatas belakang kepalanya, segera membatalkan serangan, ia harus menyelamatkan dirinya lebih dahulu dari serangan maut yang datang mengancam secara tiba-tiba, ia robah gerakan kedua tangannya, memapaki datangnya serangan dari udara.

Bluss........

Terdengar suara pukulan nyasar hampir saja tubuh si Kodok buduk Phie-pian Losu terjengkang, karena pukulannya menyerang tempat kosong, sasaran pukulan tapak kodoknya membentur pian istana hingga bolong.

Serangan Phie-phian Losu mengenai tempat kosong, segera sadar bahwa ia telah tertipu oleh lawannya, cepat-cepat membalikkan tubuh, kedua tangannya diulurkan kedepan menyerang Liong Houw yang masih melayang diudara.

Belum lagi serangannya mengenai sasaran, tibatiba ia merasakan kedua telapak tangannya dibentur oleh kekuatan halus, menembusi telapak tangan, menyusup masuk kedalam tulang-tulang lengan tangan, seakan ribuan jarum menembusi tulang-tulang tangan Phie-phian Losu menjalar kerongga dadanya.

Phie-phian Losu terhuyung-huyung mundur, dengan tubuh terbongkok-bongkok, akhirnya ia jatuh rubuh ditanah, tanpa mengetahui sebabsebabnya.

Liong Houw berhasil menotok telapak tangan si kodok buduk Phie-phian Losu, dengan ilmu totokan bunga-bunga berguguran, tubuhnya kembali turun ketanah lalu melesat menerobos pintu kamar tahanan.

Liong Houw berlarian didalam lorong panjang yang berliku-liku, didinding lorong terpancang obor menerangi jalan lorong dibawah tanah itu.

Disepanjang jalan lorong menggeletak mayatmayat tentara negeri yang sudah tak bernyawa.

Berlarian setengah jam, akhirnya Liong Houw sampai pada satu tangga batu yang menurun kebawah, setelah menuruni tangga batu sebanyak 100 undakan, disana terdapat satu pintu, didalam ruangan dibalik pintu masih terdengar suara pertempuran.

Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw dan Pek bie Locow, yang juga baru tiba, segera bertempur melawan keroyokan tiga orang dengan serunya.

Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw menghadapi seorang lawan tinggi besar, bentuk kepala orang itu dua kali lebih besar dari ukuran kepala orang normal.

Setiap serangan tangannya mengeluarkan suara gemuruh.

Pek-bie Locow menghadapi dua orang cebol yang mengenakan pakaian hitam, rambut kedua orang itu gondrong riap-riapan akibat gerakan tubuhnya yang berlompatan membentur serangan-serangan Pek-bie Locow.

Didinding tembok yang merupakan kamarkamar penjara disana terdapat tiga pintu besi, dari salah satu pintu dibelakang terali besi jendela pintu penjara tampak seraut wajah lemah keriputan dengan rambut awut-awutan.

Liong Houw tiba ditempat itu, kemudian melompat ketengah kalangan pertempuran, tangannja bergerak kekiri kekanan, melancarkan serangan totokan bunga-bunga berguguran.

"Hayaaa........!"

Terdengar suara kaget.

Kelima orang yang tadi bertempur mendadak lompat mundur, Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw dan Pek-bie Locow berdiri tegak menyaksikan lawan-awannya pada sempoyongan mundur, tubuh ketiga orang itu hampir saja jatuh terjengkang.

Pertempuran berhenti, keadaan menjadi sunyi.

Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw yang mengetahui kedatangan si pemuda gondrong berpakaian kulit macan berdiri difihaknya ia tidak mau buang tempo, segera menghampiri pintu kamar penjara, dimana terdapat seraut wajah keriput dengan rambut awut-awutan.

Sedang Pek-bie-Locow masih berdiri tegak ditengah-tengah arena menjaga setiap kemungkinan.

Liong Houw berdiri kesima, ilmu totokan bungabunga berguguran tidak berhasil merubuhkan ketiga orang aneh ini, mereka hanya terhuyunghuyung mundur, lalu berdiri tegak memperhatikan wajah dan dandanan Liong Houw yang tidak kalah anehnya dengan bentuk tubuh mereka.

"Hei !"

Tiba-tiba si kepala besar membentak kearah Ong Pek Ciauw yang menghampiri pintu penjara.

"Jangan coba-coba main gila, begitu pintu itu terbuka, ruangan dibawah tanah ini segera terpendam air, kalian semua akan mampus ditempat ini."

Langkah kaki Ong Pek Ciauw ditahan, ia berdiri menjublek menatap raut wajah yang keriput dibalik tirai jendela besi pintu penjara.

"Pie-tet Sin-kay…."

Hanya suara itulah yang bisa diucapkan oleh Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw.

Pek-bie Locow juga tercekat.

Mendengar suara peringatan si kepala besar, ia baru mengetahui bahwa penjara dibawah tanah ini diperlengkapi dengan alat-alat rahasia yang sulit untuk dijebol.

Kalau saja ia berhasil membebaskan Pie tet Sinkay dari dalam kamar tahanannya, begitu pintu terbuka, ruangan akan segera terendam air.

Ucapan si kepala besar tentu bukanlah ucapan gertakan belaka.

Liong Houw dengan biji matanya berputaran memperhatikan keadaan bangunan dibawah tanah itu, langit-langit bangunan serta dindingdindingnya terbuat dari besi ternyata tak tampak tanda-tanda yang mencurigakan, juga tidak terdapat pintu jalan masuk lainnya, kecuali pintu lorong tadi.

Setelah memperhatikan keadaan ruangan dibawah tanah itu, Liong Houw berkata kepada Pek-bie Locow dan Sin-kiong kim Ong Pek Ciauw .

"jiwie locianpwee, urusan disini biar serahkan pada boanpwe........"

"Hai bocah !"

Tiba-tiba raut wajah keriput dibalik terali besi jendela, memotong kata-kata Liong Houw.

"Sebaiknya kau lekas pergi dari sini, tidak perlu mencampuri urusanku, kematian bagiku bukan soal apa-apa."

Liong Houw melangkah maju menghampiri kearah pintu penjara, kepalanya melongok kedalam, memperhatikan perawakan orang itu.

"Aaaah…"

Tiba-tiba ia mengeluarkan suara keluhan tertahan.

Ternyata orang yang bernama Pie-tet Sin-kay guru Ho Ho adalah orang tua gembel yang pernah dijumpainya pada tiga tahun yang lalu dikota Sio-shia.

Ia mengenali bentuk wajah dan potongan orang, tapi tidak kenal siapa nama orang itu.

Hanya kini wajah orang tua itu sudah begitu keriput, kotor dengan rambut awutawutan, jika tidak ia mendekati, sulit baginya mengenali si pengemis Pie-tet Sin-kay.

"Kau....."

Kata Liong Houw terharu, melihat keadaan orang tua yang begitu kumel, jauh berbeda ketika pertama kali ia berjumpa dikota Siao-shia.

"Hmm... ."

Pie-tet Sin-kay mendengus.

"Kemana saja kau selama ini ? Hai, kau membuat Ong Pek Ciauw pusing kepala." "Siapa Ong Pek Ciauw ? Mengapa dia harus pusing kepala karena aku ?"

Tanya Liong Houw heran.

"Ong Pek Ciauw,"

Berkata lagi Pie-tet Sin-kay kepalanya dianggukkan keatas matanya melirik kearah dimana berdiri Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw.

"Ehh..... cianpwee....."

Liong Houw terkejut, matanya menatap kearah Ong Pek Ciauw.

"Kau membuat orang pusing kepala saja, entah ada urusan apa, muridnya selama dua tahun ini mencari-mencari jejakmu, bocah !"

Kata Pie-tet Sinkay. Hati Liong Houw deg-degan, kini ia sadar sedang berhadapan dengan guru si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng, mulutnya bungkam seribu bahasa.

"Hai, anjing tua!"

Bentak salah seorang cebol (kate).

"Sudah mau mampus, masih ngobrol yang bukan-bukan ditempat ini."

Liong Hauw membalikkan tubuh melangkah maju sambil berkata;

"Hai ! Kalian manusia ganjil....."

Belum lagi ucapan Liong Houw selesai tiba-tiba Pek-bie Locow menarik tangan Liong Houw.

"Tunggu!"

Liong Houw menghentikan langkahnya menoleh kearah Pek-bie Locow. Pek-bie Locow berkata .

"Kau jangan gegabah, tiga orang ini memiliki kepandaian luar biasa, orang yang berkepala besar itu adalah si Gajah dungkul Tiang-pie-lo-twa Mo-mo, sedang dua orang kate ini adalah sepasang singa ompong Jie-phiethauw Lo Jie, yang sebelah kanan bernama tunggal Lo dan yang kiri bernama Jie, orang sulit membedakan mana Lo dan yang mana Jie, hingga mereka mendapat julukan Jie-phie-thauw Lo Jie alias sepasang singa ompong !"

Liong Houw menatap wajah-wajah orang kate itu, ternyata wajah mereka mirip satu sama lain, seperti pinang dibelah dua maka ia bertanya .

"Bagaimana cianpwe tahu yang satu Lo dan satu lagi Jie ?"

Tanya Liong Houw.

"Yang Lo sebelah daun kuping kanannya tidak ada,"

Kata Pek-bie Locow.

Si gajah dungkul Tiang-pie-lo-twa Mo-mo dan sepasang singa ompong Jie-phie-hauw Lo Jie menyaksikan orang-orang yang didepannya mengobrol tidak keruan, mereka kehilangan sabar, si gajah dungkul Tiang pie-lo twa Mo-mo menjulurkan tangan kanannya, menyambar tengkuk Liong Houw, gerakan itu tidak terduga oleh semua orang yang ada disitu, tahu-tahu tangan kanan si gajah dungkul sudah menyambar tengkuk Liong Houw, dan tangan kiri menyodok iga kiri dengan posisi gerak miring ke samping.

Terdengar suara teriakan terkejut dari mulut Pek-bie Locow, Ong Pek Ciauw dan Pie tet Sin-kay.

Tapi suara teriakan itu belum lenyap diudara, tubuh si gajah dungkul Tiang-pie-lo twa Mo-mo, yang menyerang dengan posisi miring kesamping, tubuhnya keterusan miring jatuh kelantai, sedang kedua tangannya yang menyerang lemah lunglai, ia rubuh melingkar dibawah kaki Liong Napasnya tersengal-sengal senen kemis.

Houw.

Sepasang singa ompong Jie-phie thauw Lo Jie menyaksikan sang kawan tiba-tiba rubuh melingkar dibawah kaki si gondrong berkulit macan, matanya terbelalak melotot, kejadian itu menyadarkan kedua singa bahwa tenaga yang membentur tubuhnya ketika tadi sedang bertempur menghadapi Pek bie Locow bukanlah tenaga kekuatan si nenek, tapi akibat serangan Liong Houw yang tak tampak.

Hati sepasang singa ompong Jie phie thauw Lo Jie panas membara, sepasang matanya terbelalak melotot, secara berbareng melayang terbang menerkam Liong Houw.

Liong Houw cepat melejit keudara, ia memapaki datangnya dua terkaman sepasang singa, kedua kakinya diangkat dijulurkan kemasing-masing perut bawah sepasang singa ompong, sedang tubuhnya dibungkukkan dengan kedua tangan menyambar kearah masing-masing mata singa ompong Jie-pie-thauw Lo Jie.

Treesss, tresss ....

truk, ...

truk ...

bukkkk .......

Ditengah udara terdengar benturan kekuatan tenaga halus, dua biji mata terpelanting lompat jatuh menggelinding dilantai, tubuh kedua singa terpental menubruk dinding besi penjara, dari sebelah mata Jie-phie-thauw Lo Jie muncrat darah.

Tubuh Liong Houw melesat turun, berdiri tegak.

Tubuh Jie-phie-thauw Lo Jie membentur dinding besi penjara kini berdiri bersandar, masing-masing sebelah biji matanya jatuh dilantai.

Si Lo kehilangan biji mata kiri sedang si Jie kehilangan biji mata kanan.

Jie-phie-thauw Lo Jie yang sudah kehilangan satu biji mata, mereka menggerang keras, mulutnya melowek-lowek, tampak gusi-gusinya yang sudah tak bergigi.

Liong Houw, Pek-bie Locow, Sin-kiong kiam Ong Pek Ciauw ber-siap-siap untuk menghadapi serangan ganas sepasang singa ompong Jie-phiethauw Lo Jie.

Dengan masih menggereng-gereng sepasang singa melesat tubuhnya meluncur keudara, clut, clut.........

Aaaaa.........

Pie-tet tertahan.

Sin-kay didalam penjara berteriak Ternyata kedua singa ompong melesat dari tempat itu.

Suara gerangannya gertakan belaka agar lawannya siap-siap menghadapi serangan.

Dengan demikian menduga kalau mereka akan lari ngiprit.

kabur hanya untuk tidak Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw, Pek-bie Locow dan Pie-tet Sin-kay, menyaksikan perobahan si tuasi demikian, dalam hati merasa heran, dengan ilmu apa si bocah gondrong merubuhkan si gajah dungkul, juga berhasil membutakan mata si singa ompong.

Kalau saja disitu terdapat lain orang yang berkepandaian tinggi, tentu mereka tidak percaya semua itu perbuatan si bocah gondrong.

Ketika tadi Liong Houw baru muncul di ruangan itu Ong Pek Ciauw dan Pek-bie Locow sudah merasa kagum atas kelihaian si pemuda yang dengan mengibas-ibaskan tangannya berhasil membuat mundur ketiga jago yang berjulukan binatang buas itu.

Kalau Ong Pek Ciauw dan Pek-bie Locow merasa kagum atas kepandaian Liong Houw, sebaliknya Liong Houw yang menyaksikan totokan bungabunga berguguran tidak bisa merobohkan sang lawan, rasa kagetnya tidak kepalang.

Dalam hati berpikir, apakah ketiga orang ini memiliki ilmu kebal seperti juga jago dari Hadramaut.

Tadi ketika si gajah dungkul menyerang Liong Houw, sepasang tangan Liong Houw masih menggantung dibawah, mengetahui si gajah dungkul tidak tembus totokan bunga-bunga berguguran, maka tangan Liong Houw yang masih berada dibawah, tiba-tiba disentilkan menyerang bagian selangkangan si gajah dungkul, meskipun si gajah dungkul memiliki kekuatan luar biasa atau memiliki kulit setebal kulit gajah tak tembus senjata, tapi ketika bandulan biji salaknya yang menggelantung diselangkangan diserang dengan totokan Liong Houw, terpaksa ia harus melingkar dibawah kaki si pemuda.

Begitu pula ketika menghadapi serangan sepasang singa ompong bertubuh kate Liong Houw dengan jurus totokan bunga-bunga berguguran menyerang sebelah biji matanya, hingga membuat mereka lari ngacir.

O)dow(O "JIWIE CIANPWE."

Kata Liong Houw.

"Urusan disini serahkan saja pada boanpwe, cianpwe berdua sebaiknya menjaga diluar, oh, juga tidak perlu, lebih baik segera membantu rombongan yang sedang bertempur dipintu belakang istana Thian-ong-thian !"

"Hmm....."

Dengus Pie-tet Sin-kay.

"Betul, sebaiknya kalian berdua pergi kesana, katakan pada mereka sudah tidak perlu memusingkan diriku, secepatnya segera meninggalkan kotaraja. Toch kalian tidak bisa berbuat apa-apa, hukuman mati dilaksanakan ditempat ini juga, tubuhku akan terendam didalam penjara ini ! Hai bocah siapa namamu ?"

Pie-tet Sin-kay menatap wajah Liong Houw.

Liong Houw mendapat pertanyaan itu, hatinya tercekat, jika ia sebutkan namanya pasti penyamarannya akan segera terbongkar sedangkan maksud ia menggunakan pakaian kulit macan, adalah untuk menarik perhatian gadis yang pernah ia selewengkan, agar segera mencari dirinya, untuk memudahkan memberi penjelasan tentang perkosaan yang pernah ia lakukan atas diri gadis itu pada dua tahun yang lalu dikelenteng rusak, hal ini dilakukannya guna menjaga nama baik dirinya dalam pengembaraan, menyelidiki asal usul dirinya yang sangat misterius, kelak bilamana Lie Eng Eng sudah bisa dibuat mengerti, bisa menerima cinta kasihnya, barulah ia membuka kedok.

Dengan menggunakan kecerdikan otaknya Liong Houw berkata .

"Nama apa artinya, sedang boanpwe tak tahu she sendiri, boanpwe serahkan pada cianpwe untuk memanggil apa saja."

"Haayaaaah…."

Pie-tet Sin-kay bergumam.

"Bocah, kau tidak perlu memusingkan diriku disini, cepat kau pergi !"

"Hmm .... kakek, apa yang aku suka lakukan pasti aku lakukan, aku ingin berbuat sesuatu disini, jangan coba menghalangi, seandainya aku hendak mencabut jiwa tuamu jangan harap kau bisa lolos .....!"

"Ha, ha, ha, ha, ....!"

Pie-tet Sin-kay tertawa bergelak-gelak. Liong Houw menatap kearah Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw dan Pek-bie Locow, dia berkata .

"jiwie cianpwe, sebaiknya jiwie segera membantu rombongan kawan yang sedang bertempur, untuk apa berdiri menjublek disini !"

Hati kedua jago itu tercekat mendengar ucapan Liong Houw, saking kesimanya mereka mundur selangkah, belum pernah selama sejarah hidupnya, mereka menemukan bocah yang berani mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu, mau tidak mau, hati mereka juga dongkol, tanpa sepatah katapun mereka melesat keluar meninggalkan ruangan kamar penjara dibawah tanah.

Pie-tet Sin-kay tertawa berkakakan, katanya ;

"Bocah, mulutmu tajam, ha, ha,.... hai, siapa-apa yang datang menyatroni ketempat ini ?"

"Tentang siapa-apa orangnya, boanpwe kurang jelas, hanya diluar telah terjadi tiga kelompok pertempuran, mendengar berita-berita diluaran yang datang diantaranya Ceng-it Cinjin, si Rajawali Cakar Emas dan si nenek yang pernah mengobati luka boanpwe dikota Siao shia tempo hari, sedang yang lain-lainnya boanpwe tidak kenal !"

"Hmm.....setan gunung Liong-houw-san juga datang, hai, mengapa dia mau mencampuri urusan dunia lagi .....!"

Terdengar Pie-tet Sin-kay bergumam.

"Hai.......!"

Tiba-tiba terdengar suara teriakan orang dipintu lorong.

"Bocah kau terima ini, pergunakanlah mungkin ada gunanya untuk menolong si tua itu."

Liong Houw menolehkan kepalanya kearah suara itu, ternyata Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw yang balik lagi.

Setelah melemparkan sesuatu benda kearah Liong Houw, ia lari keluar.

Sinar cahaya benda yang melayang kearah Liong Houw berkelerap, clep benda itu sudah berada digenggaman tangannya.

"Haaa.....!"

Liong Houw terkejut.

"Ada apa?"

Tanya Pie-tet Sin-kay heran.

"Pisau belati ini !"

Liong Houw menunjukkan pisau itu pada Pie-tet Sin-kay. Pie-tet Sin-kay mengawasi pisau belati itu, lalu ia berkata .

"Apa kau kenal benda itu?"

"Ah, tidak ! Pisau belati ini sungguh indah ?"

Jawab Liong Houw memperbaiki sikap kesalahannya. 0)0od^wo0(0

Jilid ke 08

"MMMMM, pisau belati itu sebetulnya ada dua bilah, pada setiap gagang terdapat ukiran naga dan ukiran burung Hong, pisau itu berukiran apa?"

Tanya Pie-tet Sin-kay.

Liong Houw mendengar keterangan Pie-tet Sinkay, kepalanya seperti disamber geledek, kakinya melangkah mundur, terus mundur hingga mepet kedinding besi penjara.

Ia memperhatikan ukiran yang terdapat pada gagang pisau belati itu, itulah ukiran burung Hong, sedang pisau belati yang berukiran Naga terdapat pada tubuhnya sejak ia masih bayi.

Pikirannya berkecamuk keras, apakah orang tua ini tahu asal usul pisau ini, jika Pie-tet Sin-kay tahu asal usul pisau-pisau ini, pasti jejak asal usul tentang dirinya segera terpecahkan.

Tapi mengapa pula Pie tet Sin-kay hanya mengatakan ada dua?

Sedang menurut keterangan Thian-lam-it-lo Kak Wan Kiesu semuanya ada tiga bilah.

Pie-tet Sin-kay menampak sikap Liong Houw yang seperti orang linglung, ia cepat bertanya.

"Hei, kau kenapa?"

"Ah, tidak! Gagang pisau ini berukiran burung Hong, apakah cianpwee tahu asal usulnya?"

"Hm, terlalu berbelit-belit untuk diceritakan, hanya perlu kau ketahui, sepasang belati itu milik Pendekar Budiman Thio Ban Liong, yang lenyap secara misteri dalam perkumpulan Ko-lohwee........."

Pie-tet Sin-kay tidak meneruskan kata-katanya tentang pisau itu, cepat ia berkata.

"Cepat kau berikan belati itu!"

Liong Houw menyerahkan pisau belati itu pada Pie-tet Sin-kay.

"Berapa lama kau sanggup menyelam dalam air?"

Tanya lagi Pie-tet Sin-kay.

"Aaa ...... setengah hari !"

Jawab Liong Houw.

Pie-tet Sin-kay melotot atas jawaban Liong Houw, baru pertama kali ini ia mendengar ada bocah sanggup menyelam dalam air sampai setengah hari.

Pikirnya bocah ini sedang membual dihadapannya, maka cepat-cepat Pie-tet Sin-kay berkata lagi.

"Bocah, baiklah, sebentar aku akan membuktikan bualanmu itu tidak perlu sampai setengah hari, dua jam cukup, bila selama dua jam kau berhasil hidup direndam dalam air ini, berarti kita akan selamat, jika tidak kita akan jadi cacingcacing air." Liong Houw tidak mengerti arti kata-kata Pie-tet Sin-kay, lalu bertanya .

"Apa maksud cianpwe?"

"Bocah, penjara ini aku turut ambil bagian dalam pembuatannya, haa, haa,haaa.....dengan pisau belati ini, aku bisa membobol pintu penjara, juga kubutuhkan seorang yang sanggup membantu, orang itu harus sanggup berendam dalam air selama dua jam.....ha, ha, ....penjara ini dibangun pada tigapuluh tahun yang lalu, dikerjakan oleh tiga ratus orang, waktu itu aku sendiri tidak menyangka, kalau pada saat ini aku sendiri yang dikurung dalam penjara laknat ini.......haa .... haaa ...., sayang, saying aku disekap didalam kamar ini, kalau disebelah huh, sudah lama aku bisa melarikan diri dari tempat sial ini, hei, bocah, kau lihat kamar tahanan sebelah itu tidak tertutup bukan, dibalik dinding kamar tahanan itu, terdapat sebuah lorong rahasia yang menembus kesumur istana."

"Cianpwe, pembuatan kamar penjara ini dilakukan oleh tiga ratus orang, tentu akan tersiar rahasia tentang adanya penjara dibawah tanah yang dilengkapi dengan alat-alat rahasia ini ?"

"Nng ....!"

Dengus Pie-tet Sin-kay.

"Memang demikian seharusnya tapi .... ah, beruntung saja waktu itu aku berpikir seperti kau, maka aku segera membuat pintu rahasia yang menembus kesumur istana, begitu pekerjaan dua hari lagi akan selesai aku menyelusup keluar dari pintu rahasia didalam kamar penjara sebelah, hingga jiwaku selamat, ah, kasihan kawan yang menambal kembali lubang jalan lorong rahasia itu....." "Maksud cianpwe?"

"Setelah aku keluar dari lorong rahasia disebelah kamar penjara ini, kusuruh seseorang menutup lubang lorong, sedang orang itu tidak mengerti apa maksud permintaanku, ia melaksanakan apa yang kupinta........setelah pembuatan penjara ini selesai mereka semua dibunuh mati oleh kaisar."

"Kejam !"

Teriak Liong Houw.

"Bocah siap !"

Kata Pie-tet Sin-kay.

"Begitu lubang kunci ini kukorek, kau bantu tarik keluar pintu besi ini, mengerti ?"

"Mengerti!"

Jawab Liong Houw.

"tapi apakah pisau belati itu tidak rusak?"

"Hm, kau jangan kuatir pisau ini sama hebatnya dengan pedang pusaka, barang pusaka yang jarang terdapat dimuka bumi ! Sedikitpun tidak akan lecet."

Setelah berkata begitu, tanpa memperhatikan perobahan wajah Liong Houw, Pie tet Sin-kay segera memasukkan ujung belati dibelakang lubang kunci dari dalam kamar tahanan.

"Locianpwee !"

Kata Liong Houw.

"Apakah tidak lebih mudah dikorek dari lubang kunci diluar kamar, biar boanpwe yang mengerjakannya."

Pie-tet Sin-kay menunda pekerjaannya, menatap Liong Houw dan berkata . ia "

Pintu ini dikunci dengan kunci rahasia, dimuka pintu terdapat lubang kunci, tapi itu lubang kunci palsu.

Jendral Anjing itu ketika membuat penjara ini, kuatir dirinya kelak yang akan dijebloskan kedalam penjara oleh kaisar atau oleh satu kudeta hingga ia membuat kunci-kunci rahasia pada setiap pintu yang bisa membuka tanpa menimbulkan terendamnya penjara ini, hayolah kita mulai!"

Setelah memasukkan ujung pisau dilubang kunci dalam ruangan penjara, Pie-tet Sin-kay memukul gagang pisau belati.

"Truk ..."

Ujung pisau tembus keluar.

"Tarik ….!"

Kreeeeeekeeeeeek .....

Liong Houw berhasil menarik pintu besi penjara.

Berbarengan dengan terdengarnya suara kreekekkkkk.....terdengar pula suara letusanletusan ruangan dalam penjara bergoyang-goyang, pintu lorong tertutup, atap besi penjara merekah dari sana mengucur air seperti datangnya air bah dari langit.

Begitu suara letusan terhenti, ruangan di bawah tanah itu sudah tergenang air.

Tubuh si gajah dungkul Tiang-pie-lo-twa Mo-mo yang pingsan tertotok gandulan biji salaknya, ketika tersiram air ia meletik bangun, tapi gerakannya begitu lemah, ia masih merasakan sakit dibagian bandulannya, belum lagi tahu apa yang terjadi mukanya gelagapan ruangan itu sudah tergenang air.

Begitu pintu besi terbuka Pie-tet Sin-kay segera melejit keluar, dengan gerak-gerakkan tangannya, ia menyuruh Liong Houw segera memasuki kamar tahanan disebelah, sedang tangannya segera menarik kaki si gajah dungkul Tiang-pie-lo-twa Momo yang sedang bergerak-gerak gelagapan bergantung diatas air tubuhnya ngambang keatas.

Dengan menarik kaki si gajah dungkul, Pie-tet Sin-kay memasuki kamar tahanan disebelah, dengan tangan kanan, ia memukul dinding besi kamar tahanan itu, bleng.....pukulan itu disusul dengan pukulan Liong Houw, bleng, ....

bloooss......giur.......

Dinding besi bolong, tubuh ketiga orang itu terdorong air memasuki lorong rahasia.

Kurang lebih dua jam mereka hanyut dalam arus air, akhirnya tiba diujung lorong buntu, tertutup oleh dinding batu dengan sekali pukul dinding batu itu ambruk, dan air menerobos mendorong ketiga orang itu memasuki lubang batu tadi, tak lama tubuh-tubuh mereka mumbul dipermukaan sumur.

Mereka berhasil lolos dari cengkeraman maut.

Tubuh si gajah dungkul Tiang-pie lo-twa Mo-mo yang ditarik kakinya oleh Pie-tet Sin-kay pingsan tubuhnya kembung penuh air.

Pie-tet Sin-kay berkata .

"Bocah, angkat kaki gajah tolol ini ke atas, lalu kau tendang perutnya, aku ke dapur mengambil makanan, perutku sudah setengah tahun tidak makan enak."

"Baik !"

Jawab Liong Houw, ia segera melakukan apa yang diperintahkan si pengemis Pie-tet Sinkay, kedua kaki si gajah dungkul diangkat keatas, hingga kepalanya berada dibawah.

Dengan menggunakan dengkulnya Liong Houw menghajar perut si gajah dungkul yang kembung berisi air.

Buk ....

buk ....

buk ....

Krolooook....., terdengar suara air ngocor keluar dari mulut si gajah dungkul.

Buk, buk, dua kali lagi Liong Houw menggerakkan dengkulnya, baru terdengar suara dari mulut si gajah dungkul, echeeh, eh.....hei, ....

hei ....

Bruk........

Liong Houw memberi hadiah satu dengkul lagi diperut si gajah dungkul, tubuh yang nyungsang itu jatuh celentang, air yang keluar dari permukaan sumur masih terus bor-boran, menyirami tubuh si gajah dungkul yang celentang jatuh.

Cepat tubuh berkepala besar itu bangun berdiri, gerakannya lemah sekali, matanya pelarak pelerek memperhatikan keadaan disitu, dilihatnya permukaan sumur yang masih bor-boran air, dihadapannya berdiri si pemuda berpakaian kulit macan.

Pada saat itu, Pie-tet Sin-kay sudah keluar dengan membawa seekor ayam panggang, ayam panggang itu dibesetnja menjadi dua potong, sepotong diserahkan pada Liong Houw.

Liong Houw menggeleng kepala ia menolak pemberian itu.

Pie-tet Sin-kay melemparkan potongan paha ayam kemuka si gajah dungkul yang baru saja berdiri dengan mata pelerak pelirik, sikapnya ketakutan.

Begitu melihat Pie-tet Sin-kay melemparkan sepotong panggang ayam, tangannya dijulurkan menyambak ayam panggang itu.

"Hei,"

Kata Pie-tet Sin-kay pada si gajah dungkul.

"Bagaimana ? Ingin hidup atau ingin mati?"

Mendengar pertanyaan itu, dengan terbatukbatuk si gajah dungkul Tiang-pie-lo-twa-Mo-mo berkata .

"Aku bersedia mati ! Mati dalam barisan kalian !"

"Ha, haa.....kau memang cocok mendapat julukan gajah dungkul. Seliar-liarnya gajah mudah dijinakkan, ha, ha .!"

"Hee .... eh, kemana dia ?"

Si gajah dungkul ngedumel.

Pie tet Sin-kay segera menoleh kearah di mana Liong Houw berdiri, ternyata di-sana sudah tidak tampak bayangan Liong Houw.

Ia sudah lenyap.

Od=wO KETIKA Pie-tet Sin-kay tertawa berkakakan, dengan bantuan sinar-sinar bintang dilangit, Liong Houw melihat adanya sekelumit cahaya putih kemerlapan diatas tembok kota sebelah utara.

Hatinya tercekat, itulah kilatan sinar pedang Ang-lo-po-kiam didalam kegelapan, ia masih ingat gaya kilatan pedang yang dimainkan si nona jelita Pedang Macan Betina.

Dengan kecepatan luar biasa, ia melesat kearah munculnya kelebatan sinar pedang yang telah membawa kenangan dihatinya.

Diatas tembok kota bagian utara berbaris pasukan panah, menghujani tubuh Lie Eng Eng yang berada diluar tembok kota.

Penjagaan diatas tembok kota ketat dan rapat.

Beberapa kali tubuh Lie Eng Eng melesat naik berusaha melompati tembok kota, tapi sekian kali ratusan anak-anak panah menghujani tubuhnya.

Pedang si nona berkelebat menangkis datangnya serangan anak-anak panah.

Tiba-tiba serangan anak panah terhenti, keadaan menjadi sunyi senyap, hanya terdengar suara angin malam.

Lie Eng Eng heran, perobahan apakah yang telah terjadi.

Selagi Lie Eng Eng masih terheran-heran, diatas tembok muncul satu bayangan loreng.

Itulah bayangan si pemuda gondrong berpakaian kulit macan.

Barisan pasukan panah sudah menjadi korban totokan Bunga-bunga berguguran.

Menampak bayangan yang berdiri diatas tembok kota dengan rambut gondrong riap-riapan, mata Lie Eng Eng menjadi liar, pedang ditangannya tergetar, kakinya mundur selangkah.

Hati Liong Houw juga tergetar, lebih hebat dari getaran pedang Ang-lo-po-kiam ditangan si nona, ia berdiri membisu diatas tembok kota.

"Hei ! kau !"

Terdengar nada suara gemetar dari mulut si nona, kemudian sunyi kembali.

Tiba-tiba tubuh Liong Houw melesat terbang turun kehadapan si nona.

Pedang Ang-lo-po-kiam berkelebat memapaki datangnya sambaran tubuh Liong Houw.

Tapi gerakan Liong Houw lebih cepat dan lebih aneh, ia berhasil mengelakkan sambaran pedang, bahkan berhasil menowel pipi Lie Eng Eng.

Lalu lari melesat meninggalkan tembok kota.

Lie Eng Eng menahan kemarahannya yang meluap, sampai ia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, begitu si bocah gondrong melesat lari, ia juga mengayun langkah, mengejar bayangan si pemuda gondrong.

Dalam waktu sekejapan, mereka sudah berlarian sejauh empat lie, kini memasuki daerah semaksemak belukar dipinggir kota.

Liong Houw menghentikan langkahnya.

Pedang Ang-lo-po-kiam berkelebat menyambar batang lehernya.

Angin malam berhembus dingin, bertambah dingin dengan berkesiurnya pedang Ang-lo-pokiam, mengurung tubuh Liong Houw yang masih basah kuyup.

Suara desiran angin yang keluar dari samberansamberan pedang Ang lo-po-kiam membuat semaksemak itu menjadi sunyi, suara-suara jangkerik lenyap seketika.

Kehormatannya Lie Eng Eng sudah dirusak oleh manusia gondrong ini, ia bertekad bulat membunuh mati orang yang menodai dirinya, dua tahun sudah ia ubek-ubekan mencari jejak si manusia jahanam, malam ini kesempatan itu tidak akan dilepaskan begitu saja, dia harus membunuh mati laki-laki ini atau mati bersama-sama.

Tubuh Liong Houw berputeran terkurung oleh hawa dingin sinar pedang Ang-lo-po-kiam, hampirhampir tidak bisa bernapas, ia hanya berputeran, lompat sana, lompat sini, kadang kala menggelinding ditanah mengelakan serangan tusukan pedang.

Satu ketika tubuhnya menggelinding lalu rebah di tanah, pedang Ang lo-po kiam dibiarkan menusuk ulu hatinya.

Hati Lie Eng Eng girang bukan kepalang sasarannya akan menembus jantung lawan, tapi pada saat ujung pedang menyentuh baju kulit macan Liong Houw, entah bagaimana, arah pedang nyeleweng bergeser kekiri, lalu menancap ditanah, amblas setengah badan, tubuh Lie Eng Eng terjerunuk.

Liong Houw berhasil menotok pedang Lie Eng Eng arah sasaran nyeleweng menusuk tanah, sepasang kakinya bergerak, menggunting kedua kaki si nona, sedang tangan kanannya dijulurkan cepat keatas menghajar dada Lie Eng Eng, tangan kirinya menyodok pinggangnya.

Mendapat serangan beruntun sekaligus Lie Eng Eng melejit keudara, menarik pedangnya yang tertancap ditanah.

Begitu tubuh Lie Eng Eng melejit, gerakan tangan Liong Houw berubah, ia tidak melanjutkan serangannya tadi, tangan kanan yang menyerang dada, menyentil pergelangan tangan Lie Eng Eng yang mencekal pedang, hingga pedang terlepas dari cekalannya, berbarengan tubuh Liong Houw meletik keudara, menyambar tubuh Lie Eng Eng yang sedang ngapung.

Setelah bertubrukan di tengah udara, kedua tubuh itu meluncur turun, ambruk di tanah, tubuh Liong Houw berada di bawah tertindih tubuh Lie Eng Eng, hidung Liong Houw membentur pipi Lie Eng Eng, sedang kedua tangannya memeluk erat pinggang Lie Eng Eng.

"Lepas bangsat!"

Teriak Lie Eng Eng serak tersengal-sengal.

"Kau jangan ulangi."

"Hmmm......"

Dengus Liong Houw.

"Kau juga jangan keterlaluan, pedangmu sungguh ganas, kedatanganku untuk minta maaf atas dosaku tempo hari, tapi kau tidak memberi kesempatan........"

"Maaf?.......anak jadah !.....enak saja pentang bacot !"

Bentak Lie Eng Eng sengit. kau "Jadi, kau minta lagi, seperti dalam kelenteng itu, ya?"

Kata Liong Houw sambil menempel rapatkan hidungnya dipipi Lie Eng Eng.

Lie Eng Eng menggoyang-goyangkan kepalanya, menghindari tempelan hidung si pemuda, tapi gerakan-gerakan itu malah membuat bibir-bibir mereka bergesekan satu sama lain.

"Hueek......phuih.....!"

Lie Eng Eng meludah.

"Mmm, jika kau tidak lepaskan akan kuludahi mukamu !" "Kau boleh coba !"

Kata Liong Houw.

"Begitu ludahmu nyemprot kemukaku, kau akan merasakan lagi kenikmatan seperti pada dua tahun yang lalu ... ."

Lie Eng Eng bungkam.

"Hei, apa tidak bisa berunding ?"

Tanya Liong Houw memecah kesunyian.

"Mau berunding apa ? Hayo ! Lepaskan dulu! Bajingan tengik!"

Bentak Lie Eng Eng.

Kini Liong Houw yang membungkam, ya, ia harus merundingkan apa, ia bingung bagaimana seharusnya mencurahkan isi hatinya dihadapan si jelita ini, sulit, terlalu sulit.

Tiba-tiba tubuh Liong Houw bergerak berguling, membuat posisi lain.

"Kau......"

Kata Liong Houw tidak bisa melanjutkan ucapannya, seribu satu macam perasaan berkecamuk dalam otaknya.

"Lepas !"

Bentak Lie Eng Eng.

"Kalau tidak aku akan bunuh diri menggigit lidah sendiri!"

"Jangan ! Jangan kau berbuat begitu,"

Kejut Liong Houw.

"Jika kau mati, akupun akan bunuh diri menyusulmu ! Nona, aku .... aku ,..,"

"Cinta ya?"

Potong Lie Eng Eng.

"Huh, macammu masih mengerti cinta segala, selama dua tahun kau menghilang menelantarkan diriku, membuat aku menjadi sampah busuk tersimpan dalam kopor mas, hayo lepas!" Mendengar ucapan Lie Eng Eng, hati Liong Houw tambah deg-degan, ternyata si nona sudah bisa menebak isi hatinya. Ada harapan! Pikir Liong Houw. Segera ia melepaskan bekapannya, tubuhnya melejit meninggalkan tubuh Lie Eng Eng yang masih menggeletak terlentang rebah di tanah. Sayup-sayup masih terdengar suara Liong Houw.

"Sampai jumpa lagi......"

Lie Eng Eng masih terlentang diatas rumput rumput hijau ia masih segan bangun, matanya menatap bintang-bintang di langit, telinganya kembali mendengar suara jangkrik, otaknya melayang entah kemana, pikirannya kosong melompong, semangatnya hilang mendadak.

Didalam pergumulan singkat, Lie Eng Eng bisa menatap seraut wajah Liong Houw, yang tertutup oleh rambut-rambut gondrong yang awut-awutan, masih tampak seraut wajah tampan disinari sinar bintang, sedang sinar mata Liong Houw kebirubiruan menyorot seakan menusuk ulu hatinya, membuat ia jadi lemah lunglai, menggeletak di tanah berumput, rasa cinta mulai bersemi dihatinya, mau tidak mau ia harus menyerahkan cintanya kepada orang yang pernah mencicipi tubuhnya.

Dengan gerak ogah-ogahan, ia bangkit berdiri, mencabut pedangnya yang tertancap ditanah, pedang itu ia bulang balingkan perlahan, mengikuti langkah kakinya berjalan menuju tembok kota.

Isi hati Liong Houw sudah bisa ditebak oleh Lie Eng Eng, mengetahui adanya harapan itu, semangat cintanya yang membara, tiba-tiba berganti dengan perasaan malu dan jelus.

Ia melesat lari kedalam kota, melalui jendela kamar penginapan ia memasuki kamar tidurnya.

Setelah berganti pakaian, ia tidur pada waktu kentrongan dipukul tiga kali.

Hari sudah berganti pagi, mancarkan sinar kemilauan.

matahari me-Liong Houw masih terbaring ditempat tidurnya.

Bayangan sinar matahari yang menembusi celah-celah lubang jendela menyorot mukanya.

Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar diketok orang.

Liong Houw terkejut, bangkit dari tidurnya.

Mengucek-ucek mata sebentar, lalu berjalan menghampiri pintu.

Terdengar pintu diketuk lagi.

"Ya, tunggu....."

Kata Liong Houw yang segera membuka pintu.

"Aya ... aku ketiduran tadi malam, lupa menolong suhumu !"

"Ssssssttt…"

Ho Ho meletakkan jari telunjuknya didepan mulut, berjalan masuk kamar.

"Bicara jangan keras-keras, kudengar dari pelayan, suhuku sudah berhasil lolos, ia ditolong oleh pemuda gondrong berpakaian kulit macan, sungguh aneh.......sampai pagi ini, pertempuran masih berlangsung terus. Kabarnya rombongan Ceng-it Cinjin sudah terkurung ditengah-tengah kota, tidak bisa lolos."

"Aaah......!"

Liong Houw terkejut. Ho Ho berkata .

"Tadi pagi waktu fajar menyingsing, sudah datang lagi bala bantuan pihak pemerintah dari jago-jago dari suku bangsa Lee dari Siauw-so-kam-ciep !"

"Suku bangsa Lee?"

Tanya Liong Houw.

"Apakah kehebatannya ?"

"Suku bangsa Lee sama sifatnya dengan orangorang golongan Sam-ie-hwee Pat-houw, kau masih ingat itu orang berdandan sebagai saudagar Tong hong Hong yang menjadi pimpinan golongan Samie-hwee ? Suku bangsa Lee lebih ganas mereka lebih kejam lagi, juga gila jasa, mereka datang dibawah ketuanya Kong Ko Tek, jumlah mereka semua seribu orang, terbagi menjadi dua barisan yang disebut barisan Thiat-kek-kun, kau bayangkan, satu barisan berjumlah limaratus orang, hai......mereka adalah orang-orang tidak kenal apa artinya takut."

Hati Liong Houw tercekat kaget, ia merasa berdosa, mengapa tadi malam tidak langsung turun tangan membantu para jago rimba persilatan?

Mengapa ia mengurusi soal perempuan.

Mulut Liong Houw seperti patung hidup.

melompong terbuka, ia "Hei !

Cepat cuci muka !"

Kata Ho Ho.

"Sesudah tangsal perut kita segera berdaya upaya memberi bantuan, setidak-tidaknya mengacaukan jalannya pertempuran."

Ngeloyor pergi.

setelah berkata begitu Ho Ho Setelah cuci muka, Liong Houw lompat keluar melalui jendela gerakannya sangat cepat, memasuki beberapa toko dalam kota, ia memborong pisau-pisau belati, piring mangkok sumpit, sekeranjang penuh, barang-barang itu dipondongnya kembali kepenginapan, diletakkan diatas tempat duduk kusir dikereta.

Setelah itu ia masuk kedalam rumah penginapan menghampiri Ho Ho yang sudah duduk dibawah ruang makan.

"Kau sudah makan?"

Tanya Ho Ho.

"Belum!"

Jawab Liong Houw.

"Sebaiknya cepat kita berangkat jangan sampai terlambat. Aku sudah beli alat-alat untuk senjata!"

"Hm, kau makanlah dulu !"

Kata Ho Ho sambil menyodorkan beberapa buah apel.

Setelah membereskan rekening sewa kamar, si putra hartawan tetiron Ho Ho berjalan keluar menaiki kereta kuda yang sudah disiapkan oleh si kusir Liong Houw.

Liong Houw masih mengenakan pakaian kusir serta topi kupluknya, hingga tak tampak jelas wajahnya.

Mengetahui sang majikan si putra hartawan Ho Ho sudah memasuki kereta, ia segera membedal kereta itu menuju pintu utara kota.

Di jalan raya tampak bertumpuk-tumpuk mayatmayat bergelimpangan, sedang dibagian utara di hadapannya mengepul abu-abu keudara, terdengar suara beradunya senjata tajam.

Dari atas kereta, Liong Houw memperhatikan keadaan medan pertempuran.

Yang pertama-tama ia lihat, didepan pintu gerbang kota berdiri si orang kepala besar, itulah si gajah dungkul Tiang-pie-lo-twa Mo-mo, sedang tulak pinggang, matanya pelarak pelirik memperhatikan jalannya pertempuran.

Diatas tembok kota berjejer pasukan panah.

Di medan pertempuran disebelah selatan pintu utara, tampak seorang berjenggot putih dengan memegang panji berukir naga bergagang emas, berkelebat-kelebat menyerang dan menghindari serangan kurungan dua lapis barisan Thiat-kekkun dari suku bangsa Lee.

Barisan Thiat-kek-kun yang terdiri dari dua lapis berjumlah seribu orang, mengurung tubuh orang tua berjenggot.

Lapisan yang dimuka, menyerang tubuh Ceng-it Cinjin si orang tua berjenggot, dengan panji naga ditangannya.

Barisan Thiat-kek-kun yang di belakang berputar-putaran mengurung barisan yang dimuka.

Setiap anggota barisan Thiat-kek-kun hampir memiliki wajah dan bentuk tubuh yang sama.

Pakaian mereka hitam, mukanya hitam-hitam hidung lengkung, berjenggot hitam jengat.

Dua barisan Thiat-kek-kun dibawah pimpinannya Kong Ko Tek khusus didatangkan dari Siauw-so-kam-ciep untuk mengurung Ceng-it Cinjin.

Lima ratus barisan orang yang dimuka mengurung langsung Ceng-it Cinjin dibawah komando Kong Ko Tek, menyerang dengan senjata rantai berduri berujung kaitan.

Gerakan serangan mereka sangat rapat rapih dan teratur, meskipun senjata rantai berduri, bisa meluncur jauh dan dilakukan dengan cepat, tidak terjadi benturan antara senjata-senjata mereka.

Dengan senjata gagang panji naga yang terbuat dari emas, Ceng-it Cinjin mengelakkan datangnya serangan, sekali-kali ia mengempos tenaga dalamnya memukul mundur barisan itu, kadang kala tubuhnya melesat keudara.

Ditengah udara, Ceng-it Cinjin tidak bisa berbuat apa-apa, karena begitu tubuhnya melayang diudara barisan Thiat-kek-kun yang dibelakang barisan yang pertama, bertugas menutup jalan udara dari si jago gunung Lionghouw-san, begitu tubuh Ceng-it Cinjin melayang diudara senjata-senjata rantai berduri halus menyerlang menutup jalan keluar.

Jalan darat dan udara sudah tertutup oleh barisan Thiat-kek-kun suku bangsa Lee.

Bagi Ceng-it Cinjin sebetulnya untuk memecahkan barisan itu tidak sulit, cukup dengan mengerahkan kekuatan kedua telapak tangannya, pasti ia bisa menghancurkan barisan itu.

Tapi Ceng-it Cinjin tidak berbuat begitu, karena ia sudah bersumpah tidak akan melakukan pembunuhan, ia bertempur hanya mengandalkan gagang panjinya menotok sana sini, toch hasilnya sangat luar biasa.

Pada barisan depan Thiat-kek-kun sudah menggeletak puluhan orang, roboh tertotok jalan darahnya.

Mereka tidak mati, tapi ilmu kepandaiannya mereka sudah punah.

Liong Houw mengejut les kudanya dimana terjadi pertempuran enam keroyokan banyak orang.

kearah lawan Pie-tet Sin-kay dan kawan-kawannya berenam menghadapi keroyokan pihak pemerintah di bawah dua komandan tempur yang terkenal lihay, itulah si Tong-hong Hong ketua dari Sam-ie-hwee Pathouw dengan tiga kepala suku bangsanya, dilain pihak, Komando Cie Tay Peng Tay-ong Raja-raja Gunung, dengan memakai pakaian kebesaran Twahong toan-hoa-kiong-leng dan topi kependekaran Liok leng eng-hiong dengan mengenakan pakaian luar berwarna hitam, sedangkan pakaian dalamnya berwarna merah berkembang-kembang kecil beserta barisan tempurnya terdiri dari ..Sin-piauw Lok Kun si Malaikat piauw .

Sinaga beracun Liong-tok Hui-lee 3.

si Ular mas jelita Kim-coa Ie 4.

si Ulung-ulung Berbulu hijau Chong eng Jie Long 5.

Sepasang singa ompong Phie-thauw Lo Jie yang buta sebelah matanya 6.

Si kodok buduk Phie -pian Lo-su.

Dibelakang para jago yang sedang bertempur, terdapat ratusan prajurit-prajurit kaisar yang terlatih berkepandaian tinggi.

Liong Houw yang menyaksikan jalannya pertempuran juga merasa pusing kepala, tidak meneliti satu persatu jalannya pertempuran itu, ia hanya menengok ketiap kelompok pertempuran sepintas lalu, sudah dapat membedakan, mana fihak kaisar dan mana pihaknya Pie-tet Sin-kay, matanya jelilatan mencari bayangan si pedang Macan Betina Lie Eng Eng.

"Aaaa......."

Si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng, sedang mengamuk diatas tembok kota dekat pintu utara, pedang Ang-lo-po-kiam berkelebat-kelebat, sinarsinar perak berkilauan menyambar kepala-kepala mangsanya, tapi lawan yang datang tidak terhitung dengan angka, mereka bermunculan seperti air bah, menyerang tak habis-habisnya, pedangnya sudah berlumuran darah, sedang baju sutra putihnya sudah basah merah terkena percikan percikan darah musuh.

Ho Ho siputra hartawan tetiron menongolkan kepalanya di jendela kereta, ia berteriak teriak;

"Hei......hai.....hai......!"

Liong Houw menghentikan keretanya.

Orang orang yang bertempur sudah lama mengetahui kehadirannya kereta biru laut berkuda empat, tapi karena informasi Tong hong Hong yang disebar luaskan kepada setiap komando regu tempur kaisar, maka mereka tidak satupun yang berani mengganggu kereta biru laut berikut penumpangnya, mereka hanya melihat dengan perasaan heran dan hati penuh tanda tanya.

Setelah berteriak, Ho Ho lompat naik keatas kereta.

Diatas kereta Ho Ho menyaksikan Tong hong Hong sedang menghadapi Koang-koang Sin-kay, mendengar suara teriakan Ho Ho, ia segera melejit meninggalkan medan pertempuran lompat naik keatas, lalu bertanya .

"Kongcu baru datang ! Eh mana siaocia ?"

Dengan membusungkan dada Ho Ho berkata .

"Adikku belum kembali !"

"Aaaa ....!"

"Hai, pertempuran ini kapan habisnya,"

Kata Ho Ho.

"Apakah tidak bisa diatur agar lebih cepat selesai, supaya pemberontak-pemberontak itu segera bisa dibekuk batang lehernya."

"Hmm ....!"

Tong-hong Hong mendengus.

"Bagaimana pendapat kongcu ? Akupun merasa kuwalahan, kalau saja kurungan barisan Thiatkek-kun berhasil dipecahkan oleh Ceng-it Cinjin, kukira sulit untuk memenangkan pertempuran"

"Sebaiknya kita atur diatas kereta saja,"

Kata Ho Ho.

"Bisakah tuan panggil itu orang yang mengenakan topi pendekar berbaju dalam merah berkembang ?"

Tong-hong Hong mengangguk-anggukkan kepala lalu bersiul dua kali, itulah kode rahasia yang hanya dimengerti oleh para komando-komando tempur.

Maka pertempuran segera berhenti.

Hanya barisan Thiat-kek-kun bergerak mengurung Ceng-it Cinjin.

yang masih Chie Tay Peng melesat naik keatas kereta.

Mata si Rajawali cakar emas berkilat-kilat, menampak kongcu berdiri diatas kereta.

Ia menghampiri Pie-tet Sin-kay berbisik-bisik.

Wajah Pie-tet Sin-kay berubah.

Yang datang adalah bantuan kuat kaisar, itulah suara bisikan si Rajawali cakar emas.

Si Rajawali cakar emas dan Pie-tet Sin-kay sudah sepakat akan adu jiwa dengan si kongcu diatas kereta.

Begitu menampak Cie Tay Peng sudah berdiri diatas kereta, si Rajawali cakar emas dan Pie-tet Sin-kay menerjang maju lompat keatas kereta.

Berbarengan dengan gerakan itu, Kim-coa le si ular jelita, bersama si Ulung-ulung berbulu hijau Thong-eng Jie Long menghadang gerakan Pie-tet Sin-kay dan si Rajawali cakar emas.

Si kusir kereta Liong Houw menundukkan kepala, tapi sepasang matanya jelilatan memperhatikan setiap perobahan si tuasi yang terjadi dalam medan pertempuran, tangannya mulai meraba-raba keranjang yang berada disamping tempat duduknya, yang berisi piring mangkok pisau dan sumpit.

Pie-tet Sin-kay dihadang oleh siular jelita Kimcoa le, ia berhasil melukai dan memukul mundurnya, dari pundak Kim-coa le mengucurkan darah, bajunya robek.

Si Ulung-ulung berbulu hijau Chong-eng Jie Long masih bergebrak dengan si Rajawali cakar emas.

Ho Ho menyaksikan sang guru sudah tidak mengenali dirinya, Iebih-Iebih setelah bisikan si Rajawali cakar emas, dada si gembel tua hampir saja meledak saking panasnya.

Pie-tet Sin-kay melukai si ulung-ulung berbulu hijau, menjejakkan kaki, melompat naik keatas kereta.

Tapi baru saja tenaganya diempos, mendadak terdengar suara kliningan.

Mata Pie-tet Sin-kay melotot menatap keatas kereta enjotan kakinya tertahan, bagaimana si kongcu bisa memainkan keliningan diatas kereta, tidak terkecuali keadaan si Rajawali cakar emas, ia heran menyaksikan si kongcu gila main keliningan.

Keliningan yang dibunyikan si kongcu adalah keliningan mainan murid Pie-tet Sin-kay, si pengemis cilik Ho Ho.

"Suhu! Awas!"

Teriak Ho Ho.

Hampir saja kepala Pie-tet Sin-kay yang sedang bengong terlongong-longong hancur terhajar pukulan si naga beracun Liong-tok Hui-lee yang entah kapan tiba-tiba muncul di tempat itu.

Koang-koang Sin-kay juga turut terbelalak.

Berbarengan dengan berbunyinya keliningan Ho Ho, Tong-hong dan Cie Tay Peng yang sudah berada diatas kereta, menyaksikan kelakuan si kongcu memainkan keliningan, mulut mereka melongo bengong terlongong-longong, apa pula hendak dikerjakan si kongcu ini pikirnya.

Belum lagi hilang rasa herannya, tiba-tiba tubuh Cie Tay Peng diiringi tubuhTong-hong Hong mental kebawah, dibanting oleh si kusir kereta Liong Houw.

Sesudah tubuh Cie Tay Peng dan Tong hong Hong terpental, baru mereka sadar bahwa dirinya sudah tertipu.

Meskipun bantingan colongan Liong Houw tadi sangat kuat, tapi Cie Tay Peng bukanlah sembarang jago, ia berhasil dibanting Liong Houw karena dalam keadaan tidak menduga dan tidak berjaga-jaga, begitu pula keadaan Tong-hong Hong, mereka jumpalitan di udara dan turun di tanah dengan kaki tegak menjejak tanah.

"Buka jalan darah !"

Teriak Ho Ho, sambil mengantongi kembali keliningannya.

Buka jalan darah berarti membuka jalan untuk kabur.

Tugas kusir beralih ketangan Ho Ho, sedang Liong Houw sudah mulai beraksi dengan senjata pisau belati, piring mangkok, sumpit beterbangan diudara menyambar setiap korban yang mencoba mendekati kereta.

Suara hiruk pikuk terjadi, mayat-mayat bergelimpangan, jeritan-jeritan ngeri terdengar, teriakan-teriakan menggema disana sini.

Kereta biru laut meluncur terus memutari arena medan pertempuran.

Ho Ho melarikan keretanya kearah barisan Thiat-kek-kun yang mengurung Ceng-it-Cinjin, barisan Thiat-kek-kun yang sudah hampir kucar kacir, kembali mendapat serangan senjata rahasia yang dilemparkan oleh Liong Houw.

Terdengar suara jerit menyayatkan, tubuh tubuh suku bangsa Lee, rubuh terjengkang, barisan Thian-kek-kun hancur berantakan.

Begitu kereta biru laut berputar tiga kali menggelilingi medan pertempuran posisi pertempuran berubah, pihak para jago rimba persilatan yang terkurung sejak malam tadi kini sudah bisa bernapas lega, mayat-mayat para tentara negeri bergelimpangan ditanah.

Liong Houw dengan menggunakan senjata rahasia alat-alat dapur, sudah berhasil memecahkan kurungan kuat dari tiga golongan orang-orang liar dari pasukan kaisar yang berjumlah ribuan orang.

Sang jendral tak tampak dalam pertempuran.

Kemana?

Saat itu beliau sedang mandi uap dipijit nona manis dikamar mandi khusus di sauna Thian-ongthian.

Beliau yakin kemenangan pasti berada dipihaknya, yakin para jago bisa diringkus seluruhnya, tidak satupun bisa lolos.

Liong Houw yang masih melemparkan senjata rahasianya diatas kereta, tidak menyadari bahwa dua sosok tubuh pendek kecil menyambar kearahnya dari kiri kanan, itulah sepasang singa ompong Phie-thouw Lo Jie yang sudah buta sebelah mata masing-masing.

Liong Houw yang asyik melempar-lemparkan senjata-senjata rahasianya, masih tidak menyadari bahaya datang selagi ia hendak melemparkan dua sumpit, tiba-tiba tubuhnya terbentur satu kekuatan yang dahsyat dari kiri kanan, dengan tak terkendalikan lagi tubuhnya melayang mental keudara.

Sepasang singa ompong buta tertawa berkakakan, tampak mulutnya celangap-celangap tanpa gigi, tubuhnya yang pendek bergoyanggoyang tergetar akibat tawanya yang keras dan nyaring.

Tiba-tiba, suara tawa mereka berhenti, tubuh kedua singa ompong buta jatuh ngusruk kebawah kereta.

Ternyata ketika mereka tadi sedang tertawatawa, Liong Houw yang terpental keudara berjumpalitan dengan masih memegang dua batang sumpit, menampak mulut si singa ompong yang sedang celangap-celangap tertawa berkakakan, kedua sumpit itu disesatkan kearah tenggorokan mereka.

Sepasang singa ompong, Phie-thouw Lo Jie tidak sempat mengelak, sumpit meluncur masuk kedalam mulutnya, sebagai jago kawakan Phie-thouw Lo Jie segera menggigit sumpit yang menyusur masuk kedalam mulutnya, tapi sumpit gading itu terlalu licin, terasa gusi-gusi giginya panas, sumpit menembus tenggorokannya, tak ampun lagi kedua singa ompong Phie thouw Lo Jie, ambruk jatuh ketanah, setelah kelojotan, ia masih bisa bangun berdiri melesat kembali keatas kereta, tapi ditengah udara tubuhnya ambruk kembali, nyawanya sudah melayang keakherat.

Liong Houw yang baru melepaskan senjata rahasia sumpitnya, berdiri ditengah medan pertempuran, tiba-tiba dirasakan sambaran angin kuat menyerang punggungnya, cepat ia melejit keudara mengelak datangnya serangan angin pukulan, berjumpalitan beberapa kali.

Ho Ho menyaksikan sang kawan melejit keudara mengelakkan serangan musuh, segera membelokkan arah larinya kereta, ia berteriak ;

"Saudara Liong cepat !"

Tepat pada saat tubuh Liong Houw turun kebawah, kereta sudah tiba memapak datangnya tubuh itu, hingga Liong Houw berdiri tegak kembali diatas kereta.

Dengan sepasang matanya berkilatan Liong Houw menyaksikan siapa yang membokong dirinya.

Disana tampak Cie Tay Peng Tay-ong Go-kongnia dengan memondong tubuh Kim-coa Ie yang sudah terluka masih kelabakan kehilangan sasarannya, tenaga pukulan yang dilancarkan membokong Liong Houw meluncur terus menghantam beberapa anggota suku bangsa Lee yang sudah menimbrung ketempat itu, terdengar beberapa suara jeritan ngeri dua tubuh manusia hitam berjenggot terjengkang dengan mengeluarkan kecap asin dari mulutnya.

Od..k..zO LIONG HOUW mengenali tubuh yang digendong Cie Tay Peng, itulah si wanita histeries yang ia saksikan sedang melakukan perbuatan maksiat didalam kamar dipesanggrahan Go-kong-nia pada dua tahun yang lalu, mata Kim-coa le si Ular jelita histeris dalam pondongan suaminya Cie Tay Peng meskipun terluka, tapi masih sempat menembakkan sinar mata genitnya kepada si pemuda, meskipun tubuhnya sudah terluka, darah histerisnya naik keotak, menyaksikan ketampanan dan kegagahan Liong Houw dalam medan pertempuran.

Dilain bagian, si Gajah dungkul Tiang-pie-lo-twa Mo-mo yang sejak pertempuran bertulak pinggang didepan pintu gerbang, hatinya terkejut, matanya terbelalak atas hasil prestasi si kongcu dan si kusir kereta yang berhasil mengacaukan jalannya pertempuran.

Tapi hampir saja tadi ia turun lapangan meninggalkan tugasnya dipintu yang telah ditetapkan oleh Pie-tet Sin-kay.

Ternyata si gajah dungkul Tiang-pie-lo twa Momo, sudah takluk benar-benar kepada si pemuda gondrong yang merubuhkannya tadi malam, hingga ia berbalik haluan, maka instruksi Pie-tet Sin-kay, ia berpura-pura masih memihak kaisar dan berdiri menjaga pintu.

Sewaktu-waktu agar bisa mendobrak pintu gerbang dengan kekuatan tenaga gajah dungkulnya.

Tadi ketika ia melihat lagak lagunya si kongcu yang memihak Tong-hong Hong, hampir saja ia tidak bisa menahan sabar, meninggalkan tugasnya, hai, pasti kalau sampai si Gajah dungkul Tiangpie-lo-twa Mo-mo salah tangan, kereta biru laut akan hancur berantakan digulingkannya.

Ho Ho masih terus mengendalikan keretanya berputaran ditengah lapangan.

Sedang Liong Houw masih melemparkan senjata-senjata rahasianya kearah pasukan tentara negeri, pertempuran masih terjadi antara para jago rimba persilatan dengan jago pihak pemerintah.

Senjata rahasia Liong Houw hanya berhasil merubuhkan jago kelas dua dan kelas tiga, sedang para jago-jago utama terdiri dari Tong-hong Hong, Cie Tay Peng dan lain-lainnya tidak mudah terkena sasaran samberan piring terbang atau mangkok terbang maupun pisau atau sumpit terbang, dengan mengunakan lengan bajunya senjatasenjata rahasia itu berhasil dipukul mental.

Saat itu hari sudah tengah hari bolong.

Para jago rimba persilatan yang bertempur sejak tengah malam sudah hampir kehabisan tenaga, satu persatu lompat naik keatas kereta.

Ho Ho yang menampak Lie Eng Eng masih mengamuk diatas tembok kota, segera melarikan kuda-kuda kereta kearah si nona, ia berteriak.

"Hei, cepat lompat !"

Lie Eng Eng menampak kereta biru laut mendatangi, tubuhnya segera melesat lompat kearah datangnya kereta, dengan gerakan indah dan ringan, sedang pedangnya masih bergerak berkelebat, memapas beberapa kepala musuh.

Bebasnya Ceng-it Cinjin dari kurungan barisan Thiat-kek-kun, menambah kucar kacirnya tentara negeri, dengan berkelebatan bagaikan asap mengelup gagang emas panji naga merubuhkan berpuluh-puluh jago sesat rimba persilatan, mereka lumpuh kehilangan ilmu silatnya.

Pie tet Sin-kay, begitu pula Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw bersama Si Rajawali cakar emas, diatas kereta membantu menyerang lawan dengan senjata-senjata rahasia yang tersedia diatas kereta, mata mereka masih sempat menyaksikan gerakangerakan Liong Houw dengan senjata-senjata itu berhasil merobohkan musuh-musuh kuat, sampai mata mereka melotot memperhatikan gerakangerakan Liong Houw yang lincah, cepat dan cekatan, akhirnya mereka lupa membantu si pemuda, kini hanya menonton setiap sepak terjang Liong Houw.

Apa yang lebih menakjubkan para jago itu, setiap serangan menimbulkan suara desingandesingan memenuhi angkasa diiringi jerit-jerit kematian.

Setiap jenis senjata rahasia pasti mengenakan tempat yang sama untuk si korban, sumpit menancap tepat di-tengah-tengah antara kedua mata sang korban, atau pada bagian batok kepala sang korban, piring-piring terbang membentur menembusi dada atau punggung, sedang mangkok-mangkok mampir diatas batok kepala, pisau belati menembus leher setiap korban.

Setiap sasaran seakan diatur sedemikian rupa, setiap jenis senjata setiap bagian tubuh lawan.

Hal inilah yang membuat jago-jago tua itu berdiri kesima.

Si Gajah dungkul Tiang-pie-lo-twa Mo-mo begitu melihat para jago sudah naik keatas kereta, tubuhnya jongkok, lalu clut, ia lompat kebelakang, membentur pintu gerbang kota dengan punggungnya, maka terdengar suara gedabrukan keras.

Pintu gerbang menjeblak rubuh, diikuti dengan terpelantingnya tubuh si gajah dungkul keluar pintu kota, ia buru-buru bergulingan kepinggir, kereta biru laut sudah lewat memasuki pintu gerbang.

Si gajah dungkul Tiang-pie-lo-twa Mo-mo lompat menyambar belakang kereta, lalu naik keatas bersama-sama dengan rombongan Pie-tet Sin-kay.

Beberapa jago kuat pihak kaisar berusaha menerjang keatas kereta, tapi tubuh mereka berhasil dipukul mundur oleh tenaga kekuatan Liong Houw dan kawan-kawan.

Ho Ho si pengemis cilik melarikan keretanya kearah timur, pada senja hari mereka tiba disatu perkampungan.

Diatas pintu gerbang kampung itu terpancang bergoyang-goyang ditiup angin papan merek bertulisan desa Lip Cun.

Para penduduk desa menyambut kedatangan kereta biru laut dengan wajah keheran-heranan menyaksikan kemewahan kereta yang meluncur memasuki pekarangan desanya yang miskin, disana tampak Thio Thian Su segera berlarian, menghampiri datangnya kereta itu.

Pie-tet Sin-kay berlompat turun diikuti oleh para jago lainnya.

Dari dalam kereta keluar Koang-koang Sin-kay, Kim-cie Lonnie, Pek-bie Locow.

Mereka disambut oleh Siauw-ya kepala kampung desa Lip Cun.

Liong Houw yang pernah kesasar kedesa itu sudah tentu mengenali si orang tua Siauw-ya dan si A Pong yang juga tampak berdiri diantara orangorang desa, tapi mereka tidak mengenali Liong Houw yang pernah datang kedesanya dengan pakaian kulit macan.

"Hai!"

Ho Ho menegur Thio Thian Su.

"Kau tidak turut ke Kotaraja?"

"Suhu memerintahkan aku menunggu disini,"

Jawab Thio Thian Su.

"Apa suhumu sudah tiba ?"

Tanya lagi Ho Ho.

Thio Thian Su hanya menggelengkan kepala saja.

Hari menjadi gelap, para jago masuk kamar masing-masing yang telah disediakan oleh kepala kampung Lip Cun mereka istirahat.

Hari berganti pagi.

Sinar matahari menyorot terang, suara kekeruyuk ayam jago bersahut-sahutan, burungburung berkicau lagi, bebek mengowek, kambingkambing mengembek mencari makanan.

Kesibukan diatas dunia mulai ramai kembali.

Lie Eng Eng yang baru saja membuka matanya masih rebah diatas pembaringan, ia belum mau bangun dari tempat tidurnya masih terbaring rebah mengenangkan pengalaman kemarin malam bertemu kembali dengan si pemuda gondrong berpakaian kulit macan.

Sedang otaknya melamun diawang-awang, matanya yang jeli masih sepet, kebentur dengan secarik kertas tertancap sebatang ranting pohon didinding kamar.

Ayaaaaa .......

Ia bangkit, melangkah menghampiri carikan kertas itu.

Dicabutnya ranting pohon yang menancap dipapan, kertas yang bertulisan diperhatikannya, ternyata itu adalah sepucuk surat yang berbunyi .

Nona yang gagah jelita, Pertemuan kedua, sejak hubungan tidak resmi kita dikelenteng rusak dua tahun yang lalu, mem- bawa kenangan lebih dalam dikalbuku, mohon maaf atas tindakan kasar tadi malam.

Semoga lain kali nona bisa lebih lunak untuk diajak bicara.

Cukup kiranya tulisan buruk ini pengganti kata-kata penyambung lidah.

sebagai Sampai jumpa pula.

Setelah membaca isi surat tanpa tanda tangan, Lie Eng Eng duduk numprah diatas tempat tidurnya, isi benaknya berkecamuk macam-macam pikiran, keputusan yang pernah diambil untuk membunuh si gondrong berkulit macan, mendadak lenyap seketika.

Berganti dengan keinginan bertemu kembali dengan pemuda itu.

Keputusan terakhir harus menunggu hasil dari pada pertemuan selanjutnya, apakah ia harus membunuhnya, ataukah....hai, sepintas lalu....kemarin malam ia bisa menatap wajah si gondrong dengan bantuan sinar-sinar bintang, raut-raut wajah itu menunjukkan wajahnya seorang pemuda tampan.

Menilik dari tulisan dan ucapan kata-kata disuratnya, menunjukkan ia seorang murid dari seorang terpelajar, mengingat kekuatan kepandaiannya ia juga dapat digolongkan murid orang pandai rimba persilatan.

Lain pikiran membuat hatinya bergidik, surat ini ditancapkan diatas dinding tanpa menimbulkan suara, lebih-lebih tertancap hanya dengan sebatang ranting pohon yang kecil sekali, dari sini betapa lihaynya si pemuda, kalau saja ia berniat busuk untuk mencemarkan kehormatannya kembali dikamar ini pasti dengan mudah dapat dilakukannya.

Setelah surat itu dibacanya berulang-ulang akhirnya tersungging senyum dibibirnya lalu ia bangkit dan membakar kertas itu.

Si pengemis cilik Ho Ho yang kini sudah mengenakan pakaian pengemisnya, berjalan menghampiri kamar Liong Houw.

Didalam kamar, Liong Houw baru saja membersihkan dirinya mencuci muka, begitu menyaksikan sang adik angkat sudah datang ia segera menegur;

"Hai, kau mengenakan pakaian itu lagi, apakah tidak bisa..........."

"Koko Liong,"

Potong Ho Ho.

"sebagai anggota golongan pengemis aku harus mengenakan pakaian seragam seperti ini! Oh ya kampung Lipcun adalah tumpah darahku, si kakek Siauw-ya adalah pamanku, sedang kedua orang tuaku sudah tiada."

"Bagaimana kau bisa memasuki pengemis?"

Tanya Liong Houw. golongan Ho Ho memberi keterangan.

"Ketika aku masih berusia sebelas tahun ayah ibuku meninggal dunia. Pada suatu hari aku sedang mengembala kambing ditimba belakang kampung, entah dari mana tiba-tiba muncul lima ekor serigala yang sedang kelaparan, kambing-kambing angonanku serabutan lari, salah seekor serigala menyerang menerkam diriku, tepat pada saat itu suhu tiba memberi pertolongan, nah sejak saat itulah aku mengikuti suhu berkelana dirimba persilatan sebagai anak pengemis, tidak lupa pada waktu senggang suhu memberikan pelajaran ilmu silat padaku, hingga akhirnya aku dewasa !"

Liong Houw hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar cerita sang adik angkat.

"Koko!"

Berkata lagi si pengemis cilik Ho Ho.

"Kalau sudah siap suhu menyuruh koko turut hadir dalam pertemuan diruang tengah !"

"Adik Ho, apakah semua orang sudah hadir ?"

Tanya Liong Houw. Ho Ho mengangguk.

"Ayohlah !"

Kata Liong Houw melangkahkan kakinya berjalan keluar.

Hari itu sebetulnya masih pagi, suara keruyukan ayam jago masih terdengar satu-satu disana sini.

Didalam ruang pertemuan, disebuah meja persegi panjang, sudah duduk para jago-jago rimba persilatan.

Baru saja Liong Houw meletakkan pantatnya diatas kursi, dari luar mendatangi Lie Eng Eng bersama Thio Thian Su mereka berjalan sambil bercakap-cakap perlahan, entah apa yang dipercakapkan.

Mata Liong Houw yang menyaksikan kedua muda-mudi itu sangat intim, timbul rasa cemburunya, darah mudanya meluap, tapi segera ia bisa mengendalikan perasaan itu.

Dipojok kanan duduk si orang tua dipanggil Siauw-ya sebagai tuan rumah.

yang Tak lama datang para pelayan membawakan hidangan-hidangan untuk sarapan pagi.

Mereka makan minum sambil bicara.

Si Rajawali cakar emas membuka suara .

"Saudara Pie-tet, muridmu memang luar biasa, kalau tidak ada bocah ugal-ugalan ini, mungkin sulit untuk kita meloloskan diri dari kepungan, samarannya begitu rapi sekali, aku sendiri sudah tertipu oleh samaran mereka dikota Kwie-yang-hu......ha, ha,....hua..... hai kau belum perkenalkan kawanmu itu pada kami, dan mana itu si-gadis cilik.....!"

"Teecu Liong Houw,"

Liong Houw mendahului memperkenalkan dirinya.

"Sebetulnya sejak perkenalan kami sudah saling angkat saudara juga kami masih mempunyai seorang saudara angkat perempuan, tapi ......hai….dia sudah diculik Kunsee-mo-ong Teng Kie Lang!"

"Haaa..... !"

Mendadak didalam ruangan itu menjadi gemuruh, oleh gema suara terkejut orangorang yang mendengarkan cerita Liong Houw.

Lebih-lebih mereka heran bagaimana baru berkenalan sudah saling angkat saudara.

Selanjutnya Liong Houw menceritakan dengan singkat tapi jelas semua pengalamanpengalamannya semenjak ia berkenalan dengan si pengemis cilik Ho Ho, diakuinya bahwa ia adalah murid Thian-lam it-lo Kak Wan Kie-su.

"Bocah !"

Kata Kim-ce Lonnie.

"bukankah Thianlam-it-lo Kak wan Kie-su mempunyai seorang murid bernama Leng-leng Paksu, si manusia durjana itu? Bagaimana ia bisa menerima murid manusia seperti binatang ?"

Liong Houw, menceritakan tentang si murid durhaka Leng-leng Pak Su kepada para hadirin dengan jelas, hingga melenyapkan perasaan kurang enak pada dirinya dan menjaga nama baik suhunya Thian-lam-it-lo Kak Wan Kie-su.

"Nngg ... ."

Terdengar suara dengusan ramai didalam ruangan pertemuan itu.

"Hmm, pantas Leng leng Paksu memiliki kepandaian luar biasa pada jaman ini, sulit menemukan tandingan !"

Selak si Rajawali cakar emas. Si gajah dungkul Tiang-pie-lo-twa Mo-mo berkata .

"Kepandaian saudara Liong Houw juga sangat hebat, kukira tidak berada dibawah si bocah gondrong berpakaian kulit macan itu....."

"Hebat! Tetapi terlalu kejam!"

Tiba-tiba terdengar suara sayup-sayup.

Semua orang yang berada didalam ruangan itu menjadi terkejut, mereka saling pandang satu sama lain, suara itu seperti dekat, tapi juga seperti jauh, kedengarannya terbawa angin.

Selagi orang-orang merasa heran-heran, tiba-tiba Thio Thian Su bangkit berdiri, ia lari keluar, sambil memanggil .

"Suhu .... suhu ....!"

"Ayaaa ......!" Terdengar suara riuh kembali. Kini mereka tahu, yang bicara adalah si jago tua dari gunung Lionghouw-san Ceng-it Cinjin. Tak lama, dari luar mendatangi seorang tua berjenggot putih, berjalan dengan tenang menghampiri meja pertemuan. Pie-tet Sin-kay segera bangkit, setelah memberi hormat, menyilahkan Ceng it Cinjin duduk disebelah kursi Siauw-ya. Mata Ceng-it Cinjin bersinar terang menatap wajah Liong Houw, setelah itu ia menatap wajah Thio Thian Su. Liong Houw yang ditatap oleh sinar mata Ceng-it Cinjin, sinar mata itu seakan menembus ulu hatinya, membuat si pemuda tergetar hebat. Lebih-lebih Thio Thian Su yang ditatap demikian oleh suhunya menjadi kebat-kebit, belum pernah sang suhu menunjukkan sikap yang demikian. Pie-tet Sin-kay, si Rajawali cakar emas, Lie Eng Eng dan lain-lainnya juga merasa heran menyaksikan sikap yang diperlihatkan si jago tua, tapi mereka hanya membungkam, tidak buka suara.

"Bocah !"

Berkata Ceng-it Cinjin kepada Liong Houw.

"IImu kepandaianmu boleh juga ! Hanya kusesalkan sedikit tindakanmu terlalu kejam, kau membunuh orang seperti main-main saja, nyawa orang seperti kau anggap tiada ada harganya hai…. !" "Jadi!"

Potong Liong Houw.

"Apakah seharusnya boanpwe menerima saja mati ditangan keroyokan mereka? Jika tidak karena adik angkatku Ho Ho, aku juga tidak kesudian mencampuri urusan orang ..............!"

"Hai bocah !"

Berkata lagi Ceng-it Cinjin sabar, lebih sabar dari kata-kata yang duluan.

"Kau memang beradat keras tapi berdarah dingin ! Jika salah jalan, kau akan menjadi manusia kejam luar biasa, iblis laknat pembunuh berdarah dingin, sebenarnya aku sudah bosan dengan urusanurusan dunia, tapi karena muridku Thio Thian Su, terpaksa aku ambil bagian dalam tragedi dikotaraja."

Mendengar kata-kata Ceng-it Cinjin yang lebih lembut penuh wibawa pada akhir ucapannya, semua mata hadirin seperti mendapat perintah memandang kearah Thio Thian Su dengan perasaan heran tidak mengerti.

Ceng-it Cinjin bertanya pada Pie-tet Sin-kay .

"Saudara Sin-kay, bagaimana tadi malam kau bisa lolos dari kurungan kamar penjara ?"

Pie-tet Sin-kay menjawab .

"Berkat bantuan si bocah gondrong berpakaian kulit macan."

"Mmm, kemana sekarang si bocah itu?"

Tanya Ceng-it Cinjin.

"Entahlah, setelah berhasil menolong diriku keluar dari kamar tahanan, tiba-tiba ia lenyap."

"Sayang, sayang ..."

Berkata Ceng-it Cinjin.

"Dua jago muda telah muncul dalam waktu bersamaan, hanya kukuatirkan ia akan terjerumus kejalan yang sesat, sungguh berbahaya."

Disebut-sebut nama si bocah gondrong berbaju kulit macan membuat hati Lie Eng Eng berdebar keras.

Sedang dalam hati Liong Houw tertawa, ia sangat girang sekali sudah bisa mengelabui si tua, yang ternyata masih bisa dikelabuinya.

Pie-tet Sin-kay berkata .

"Kukira, bocah gondrong itu tidak akan tersesat jalan, atas dasar pertemuan aku yang pertama tiga tahun yang lalu, aku bisa menilai pribadinya, yang kusesalkan kecerobohan orang-orang Bu-tong-pay dan Siauwlim-pay yang ceroboh, untung persoalan itu tidak menimbulkan ekor yang panjang !"

Liong Houw yang ingin segera mengetahui asal usul dirinya, maka dengan harapan orang-orang yang berada diruangan ini bisa memberi keterangan, maka tangannya dijulurkan mencomot sebuah buah apel, lalu dari dalam balik bajunya ia mengeluarkan sebilah pisau belati.

Begitu pisau belati itu keluar dari balik bajunya tanpa sarung, mengeluarkan sinar putih kemerlapan, maka terjadilah kegemparan dalam ruangan itu.

Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw bangkit berdiri, dengan mata terbelalak lebar ia menatap kearah pisau belati yang tercekal di tangan Liong Houw.

Pie-tet Sin-kay hingga bangku kebelakang.

saking yang terburu-buru berdiri, didudukinya jatuh Tidak terkecuali si Rajawali Cakar Emas, Kim-ce Lonnie, Koang-koang Sin-kay, Pek-bie Locow yang juga mengenali pisau belati itu mereka semua pada berdiri.

"Bocah!"

Tiba-tiba Ceng-it Cinjin buka suara, semua orang yang pada berdiri, segera duduk kembali. Mata mereka masih diarahkan pada pisau belati ditangan Liong Houw.

"Coba kulihat pisau belatimu,"

Berkata lagi Ceng-it Cinjin.

Liong Houw yang begitu mencabut pisau belatinya telah membuat kegemparan didalam ruangan itu, dalam hatinya terkejut juga merasa girang.

Perasaan girang dikarenakan kalau saja orangorang ini betul mengenali pisau belatinya siapa yang menjadi pemiliknya, dengan sendirinya segera ia mengetahui asal usul dirinya dan siapa ayah bundanya.

Kuatir, kalau saja orang-orang ini begitu melihat pisau belatinya, mengetahui bahwa pisau ini ada hubungan erat dengan pusaka gaib Pedang Embun, pasti akan membuat kerewelan yang tidak diingini.

Begitu ia mendengar Ceng-it Cinjin meminta lihat pisau belatinya, dengan perasaan bingung dan ragu-ragu ia menyerahkan pisau itu, sedang ia sendiri sudah siap-siap menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi, jika sekiranya orang-orang yang kini dianggapnya sebagai jago patriot pembela keadilan dan kebenaran ternyata sebangsa manusia kemaruk yang haus harta benda pusaka, maka sikap kawan akan berubah menjadi sikap bermusuhan hanya dalam waktu sedetik.

Ceng-it Cinjin memperhatikan pisau itu, lalu menyerahkan kembali pada Liong Houw, tanyanya .

"Dari mana kau dapat pisau belati ini ?"

Liong Houw yang menampak Ceng-it Cinjin mengembalikan pisaunya, hatinya menjadi agak lega, segera ia menjawab.

"Pisau belati ini sudah berada pada diri boanpwe sejak bayi......."

"Aaaaaa.......!"

Terdengar suara teriakan orangorang yang berada dalam ruangan itu. Tiba-tiba Sin kiong-kiam Ong Pek Ciauw bangun berdiri, tubuhnya agak gemetar, dengan suara tergetar ia berkata .

"Jadi.......jadi kau adalah putranya yang bontot........ Hei, Pie-tet, mana pisau yang kupinjamkan padamu kemarin malam."

Pie-tet Sin-kay segera menyerahkan sebilah pisau belati yang serupa dengan pisau belati yang dimiliki oleh Liong Houw.

Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw menyambuti pisau itu, ia bulak balikan, diperhatikannya lagi pisau yang selama ini disimpannya, lalu bertanya pada Liong Houw.

"Bocah, apakah pada gagang pisaumu terdapat lukisan Naga?"

Sebetulnya pertanyaan itu tidak perlu diajukan, karena Ceng-it Cinjin tadi sudah melihatnya sendiri, tampak perobahan wajah si jago tua.

Pasti itulah pisau yang mereka kenal sebagai tanda khas dari si pendekar Budiman Thio Ban Liong.

Sin383 kiong-kiam Ong Pek Ciauw pun sudah mengetahui akan adanya hal demikian, tapi demi untuk melenyapkan rasa keragu-raguannya maka ia bertanya menegasi.

Liong Houw menjawab pertanyaan Sin-kiongkiam Ong Pek Ciauw hanya dengan menganggukkan kepala, membenarkan dugaan si jago tua, pisau belatinya berukir Naga.

Ia tidak bisa mengeluarkan kata-katanya, mulutnya bungkam sedang hatinya bergetar keras, jiwanya menggelora menahan emosinya yang ingin segera mendapat penjelasan tentang asal usul keluarganya.

Keadaan dalam ruangan pertemuan itu hening sesaat.

dwkz MATA Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw memandang kearah isi ruangan, ia menatap satu persatu wajah-wajah para jago yang duduk mengelilingi meja perjamuan, setelah mana matanya menatap tajam wajah Liong Houw, ia berkata dengan nada suara haru dan tergetar .

"Bocah wajahmu mirip sekali dengan dia ... hai, dengan adanya pisau belati berukir Liong ditubuhmu itu membuktikan kau adalah putranya yang bontot. Dua bilah pisau belati berukir Liong dan Hong adalah ciri khas dari Pendekar Budiman Thio Ban Liong, jarang orang yang mengetahui akan hal ini, hanya aku dan beberapa kawankawan yang berada disini yang merupakan sahabat karib ayahmu, sudah pasti mengenali tanda ciri khas dari pendekar Budiman Thio Ban Liong. Ketika ayahmu lenyap tiada kabar beritanya kau baru saja berusia tiga bulan, sedang kokomu berusia tiga tahun, sampai saat ini, jejak kokomu belum diketahui orang dan tidak ada ciri-ciri ditubuhnya, hal ini menyulitkan untuk mencarinya, untung pada dirimu masih terdapat pisau belati berukir Liong, kalau tidak hay ...... lenyaplah jejak keturunan Pendekar Budiman Thio Ban Liong......Bocah, aku dengan ayahmu adalah saudara angkat, dialah yang tertua, hilangnya jejak ayah ibumu sangat misterius yang kuketahui pada waktu kau berusia satu bulan, ayahmu pernah mengatakan, ia menggabungkan kekuatan pada perkumpulan Ko-lo-hwee, dan sejak itu lenyap kabar beritanya…."

Sin koan kiam Ong Pek Ciauw menghentikan ceritanya, ia menahan gejolak emosi perasaannya, lalu berkata lagi .

"Untuk menyelidiki lenyapnya toakoku, aku memasuki perkumpulan Ko-lo-hwee, yang masa itu terkenal dengan motto Pembela Keadilan dan Kebenaran. Beberapa tahun kemudian terasa keganjilan-keganjilan dalam perkumpulan itu, aku tidak pernah berjumpa pada kaucu perkumpulan, setiap perintah atau segala macam urusan selalu melalui wakil kaucu, orang itu memiliki kepandaian setingkat dibawah kaucu, selalu menutupi wajahnya dengan sehelai kain sutra putih tipis, hanya tampak samar-samar bentuk raut wajahnya. Akhirnya aku berhasil mengendus kedok dari perkumpulan Ko-lo-hwee, ternyata perkumpulan itu adalah perkumpulan manusia berhati binatang, para jago-jago yang berusaha menentang bleid dari kaucu Ko-lo-hwee pasti mati secara misterius. Pada suatu hari akhirnya aku berhasil menemukan pisau belati berukir Hong didalam kamar penyimpanan senjata Ko-lo-hwee….."

Selanjutnya Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw menceritakan bagaimana ia melarikan diri dari kejaran orang-orang Ko-lo hwee, jatuh sakit, lalu ditemukan oleh Lie Eng Eng yang kemudian menjadi guru si nona jelita.

Ketika mendengar cerita sang supek, pada bagian akhir, wajah Liong Houw bersemu merah, hatinya berdebaran, matanya menatap kearah Lie Eng Eng yang duduk dengan tenang mendengarkan cerita suhunya, ternyata si gadis yang ia lalap di kelenteng rusak dua tahun yang lalu yang selama ini menyemikan bibit cinta dihatinya adalah sang sutitnya.

0)0od^wo0(0

Jilid ke 09 LIE ENG ENG yang ditatap oleh Liong Houw dengan sikap demikian, hatinya juga merasa jengah, ia jengah menyaksikan perobahan wajah Liong Houw yang mendadak bersemu merah, juga merasa malu bahwa kini dirinya sudah tidak gadis suci lagi, bagaimana ia harus menerangkan kepada sang toako, kalau saja rahasia pribadinya bisa diketahui Liong Houw, yang berwajah tampan menarik.

Untuk menghilangkan rasa perasaan kurang enaknya cepat-cepat ia berkata .

"Suhu, mengapa perkumpulan Ko-lo-hwee selama teecu berkelana dirimba persilatan tidak terdengar lagi gerakannya ?"

Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw menganggukkan kepala, baru berkata .

"Sejak lolosnya diriku dari ancaman maut orang-orang Ko-lo-hwee, maka perkumpulan itu lenyap mendadak, sedang markasnya sudah dibumi hanguskan."

Tiba-tiba Ceng-it Cinjin berkata, suaranya lemah penuh wibawa.

"Bocah, menilik kepandaianmu, kukira kau sudah bisa menjagoi dirimba persilatan, tapi mengingat keadaan dirimu masih diselubungi asap kemisteriusan, sebaiknya kau harus berhati-hati, pada waktu itu kepandaian ayahmu dan ibumu pun termasuk jago kelas satu, tapi toch masih bisa lenyap tanpa kabar berita dimana hutan rimbanya, sampai saat ini masih merupakan tanda tanya, sedangkan perkumpulan Ko-lo-hwee, semenjak Sin-kiong-kiam menemukan pisau belati ayahmu, perkumpulan itu mendadak bubar, sedang siapa kaucu perkumpulan itu juga masih sangat misterius, mengenai kokomu kau tidak perlu pusing, pasti pada suatu hari kau bisa berjumpa padanya."

Tiba-tiba Liong Houw bertanya pada Ceng it Cinjin;

"Cianpwee apakah mengetahui siapakah kaucu dan wakil kaucu Ko-lo hwee itu ? Dan dengan jaminan apa cianpwee mengatakan bahwa boanpwe bisa bertemu dengan kokoku?" Ceng-it Cinjin mengelus-elus memejamkan mata baru ia berkata . jenggotnya.

"Tentang kaucu Ko-lo-hwee, aku sendiri tidak tahu, sedang mengenai wakilnya, hai, itulah si Manusia durjana Leng-leng Paksu !"

"Haya...... !"

Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw terkejut, tidak nyana, wakil kaucu Ko-lo-hwe adalah Leng-leng Paksu murid Thian-lam-it-lo Kak-wan Kiesu.

Ia juga merasa kagum atas pengetahuan yang luas dari si jago tua Ceng-it Cinjin yang sudah bisa mengetahui siapa wakil kaucu Ko-lo hwee.

Ceng-it Cinjin berkata lagi .

"Soal kokomu, pasti kau akan menemukannya disuatu hari, hanya kuingatkan padamu untuk sementara kau jangan tonjolkan dirimu dirimba persilatan secara menyolok, dan siapa asal-usul dirimu juga harus kau rahasiakan, kukira orang-orang yang berkumpul disini juga bisa menyimpan rahasia ini, hal ini demi menjaga keselamatan dirimu, karena lawan-awan yang kauhadapi bukan sembarang jago-jago silat, juga kuharap setiap tindakanmu meskipun tindakan itu baik untuk menolong orang atau membela diri kau jangan terlalu telengas turun tangan terhadap jiwa orang."

Setelah berkata begitu Ceng-it Cinjin lalu pamitan dengan mengajak sang murid Thio Thian Su, meninggalkan ruangan perjamuan.

Semua orang yang ada didalam ruangan itu pada mengantarkan sampai dipintu.

Dengan langkah berat, Thio Thian Su terpaksa meninggalkan Lie Eng Eng yang juga sudah terbenam dihatinya, ia harus mengikuti sang guru naik keatas gunung Liong-houw-san.

0)0od^wo0(0 DIDALAM RUANGAN pertemuan kembali Sinkiong kiam, Ong Pek Ciauw membuka suara.

"Karena pisau belati berukir burung Hong adalah milik ayahmu, nah ambillah, kau simpan baik-baik benda ini."

Tangan Ong Pek Ciauw dijulurkan menyerahkan pisau belati yang tergenggam ditangannya.

Liong Houw segera menyambuti pisau belati itu, hatinya girang bercampur heran, mengapa orangorang ini tidak mengetahui rahasia tentang pisau belati ini, mengapa mereka hanya menyebutnyebutnya dua bilah sedang menurut keterangan Thian-lam-it-lo Kak Wan Kie-su dilembah Im-bukok, bahwa pisau itu semua berjumlah tiga bilah, dan diatas tiga bilah pisau itu terdapat peta yang menunjukkan tersimpannya pedang pusaka gaib, bagaimana para jago ini tidak mengetahui rahasia tentang pedang gaib yang disebut Pedang Embun oleh Thian-lam it-lo Kak Wan Kie-su.

Selagi ia merasa bingung terheran-heran, terdengar suara Lie Eng Eng bertanya padanya .

"Toako, ketika didalam rimba ditengah perjalanan kekotaraja, ketika itu...."

Wajah Lie Eng Eng bersemu merah ia teringat keadaan dirinya yang hampir saja menjadi korban pemuasan sex si jago Hadramaut Habib, ia juga merasa malu yang sang toako sudah memandang bagian dadanya yang tersobek selama ia terpengaruh sihirnya Habib.

Liong Houw yang berotak cerdik segera mengerti kesulitan sang sutit, maka cepat-cepat ia berkata .

"Ya, benar aku ingat waktu itu Habib berusaha merampas pisau belati ini........"

Kim-ce Lonnie yang sejak tadi diam saja, tibatiba berkata.

"Bocah, apakah kau tahu apa maksud tujuan orang itu merampas pisaumu dan siapakah orang itu?"

"Benar!"

Kata Koang-koang Sin-kay.

"coba kalian jelaskan bagaimana terjadinya kejadian itu, aku ingin dengar?"

Pie-tet Sin-kay menatap kearah muridnya si Pengemis Cilik Ho Ho katanya ;

"Kau waktu itu menyamar sebagai kongcu anak hartawan, bisakah kau menjelaskannya mengapa semalam kau tidak menceritakannya hal itu padaku?"

Si pengemis cilik Ho Ho gelagapan, ia tidak menduga kalau akan mendapat pertanyaan sang guru sedemikian rupa, cepat ia menjawab.

"Teecu waktu itu terpengaruh oleh ilmu gaib orang itu, hingga tidak sadarkan diri......."

"Betul !"

Potong Lie Eng Eng.

"Orang yang mengaku bernama Habib itu memiliki ilmu gaib, ia bisa melenyapkan ingatan orang dengan pandangan sinar matanya."

"Hnggg....."

Pie-tet Sin kay hanya mendengus. Si Rajawali cakar emas menyelak.

"Sudahlah, yang penting kita harus mengetahui apa maksud dari kedatangan orang itu kedaerah Tionggoan, kalau mengingat letak Hadramaut, adalah benua dibagian timur dari benua Tionggoan, tempat itu begitu jauh, tentu ada maksud-maksud tertentu atas kedatangan mereka kedaerah Tionggoan."

Lie Eng Eng berkata lagi.

"Suhu, orang bernama Habib itu juga orang yang sering menculik gadisgadis, setelah diperkosanya gadis itu, entah bagaimana korban perkosaan mati seketika, lalu dikuburkan."

Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw menganggukanggukkan kepalanya.

Ia tidak membuka suara, tampak dahinya berkerut-kerut, ia sedang memikirkan sesuatu persoalan yang sangat memusingkan kepalanya, akhirnya ia menggelengkan kepala menatap Liong Houw dan bertanya.

"Anak Thio, bisakah kau menerangkan apa sebabnya orang itu meminta pisaumu, apakah hal ini berhubungan dengan lenyapnya ayahmu atau ada lain soal lagi?"

Sin kiong-kiam Ong Pek Ciauw menyebut diri Liong Houw dengan sebutan anak Thio, karena Liong Houw putra Thio Ban Liong, dengan demikian iapun memiliki she Thio yaitu she ayahnya.

Mendapat pertanyaan itu Liong Houw melengak, ia ragu-ragu, apakah ia harus menceritakan hal ichwal rahasia pisau ini kepada orang-orang yang ada dihadapannya, sekiranya ia menceritakan rahasia pisau belati ini, apakah tidak menimbulkan ekses-ekses tidak baik diantara hadirin.

Pikirannya berputar bolak balik.

Jika ia tidak menceritakan dan menerangkan duduknya persoalan yang sebenarnya rahasia apa yang menyangkut pada pisau belati itu, hatinya juga tidak enak, sebagai seorang pemuda jujur bagaimana ia tidak menceritakan hal yang sebenarnya.

Setelah berpikir masak-masak akhirnya ia bersedia menceritakan rahasia pisau belati itu dihadapan para jago sahabat-sahabat karib ayahnya, ia tidak perlu lagi menyembunyikan rahasia tentang tiga bilah pisau belati berukir huruf Hong, Liong dan ukiran Kiam (pedang) toch rahasia ini sudah diketahui oleh jago Hadramaut, tidak pantas kalau ia masih menyembunyikan rahasia tentang tiga bilah pisau itu.

Maka cepatcepat ia berkata;

"Supek, apakah semasa itu ayah tidak pernah menceritakan tentang rahasia pisau belati ini?"

"Haaaah......jadi pisau belati itu ada rahasianya?"

Tanya Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw terbelalak.

Bukan saja Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw yang dibuat terbelalak oleh pertanyaan Liong Houw, semua hadirin yang berada didalam ruang perjamuan itu, mata mereka terbelalak memandang kearah si pemuda dengan mulut menganga, terheran-terheran.

Betapa mereka tidak merasa heran, bocah ini sejak berumur tiga bulan sudah berpisah dengan ayahnya, bagaimana ia bisa mengetahui tentang rahasia pisau belati itu, sedang mereka yang merupakan sahabat-sahabat kental Thio Ban Liong belum pernah mendengar Thio Ban Liong menceritakan tentang rahasia itu.

Pisau itu hanya digunakan sebagai tanda pengenal si Pendekar Budiman Thio Ban Liong, juga merupakan senjata terampuh yang lihai, karena senjata itu jika dilempar kearah lawan, bisa berbalik berputar kearah si pelempar kembali kepada tangan si pemilik.

Menyaksikan sikap para jago tua yang demikian serius terhadap rahasia pisau belati itu, mau tidak mau Liong Houw segera menceritakan rahasia yang terdapat pada tiga bilah pisau belati itu.

Setelah mendengar dengan penuh perhatian cerita Liong Houw, mereka saling pandang.

Kim-ce Lonie berkata .

"Bocah, apakah kau tahu, dimana pisau belati yang berukiran pedang?"

Liong Houw menggelengkan kepala, katanya .

"Boanpwe sendiri tidak tahu !"

Si pengemis cilik Ho Ho dengan sikapnya ugalugalan berkata kepada suhunya .

"Suhu, kukira keterangan pengembara digurun gobi yang ditemui Thian-lam-it-lo Kak Wan Kiesu kukira cerita isapan jempol belaka."

"Hngg....."

Dengus Pie-tet Sin-kay.

"Kalau cerita pengembara Arab itu tidak benar, mengapa sebagai jago luar biasa Kak Wan Kiesu mau mempercayai adanya Pedang Embun itu ?"

"Yang teecu maksud bukan Pedang Embunnya, tetapi tentang asal Pedang itu, menurut pengembara bangsa Arab digurun pasir Gobi, pedang itu adalah pusaka bangsanya, teecu kira hal ini sangat tidak masuk diakal, mengapa kalau pedang itu salah satu barang pusaka gaib bangsa mereka, mengapa petanya terdapat pada tiga bilah pisau yang berukir Liong dan burung Hong serta ukiran pedang, bukankah Liong itu hanya terdapat di Tionggoan, mana mungkin dinegara Arab terdapat Liong (Naga) dari sini saja sudah bisa dipikirkan kalau keterangan orang itu keterangan isapan jempol belaka."

"Betul-betul memang kupikir begitu,"

Terdengar suara si Rajawali cakar emas.

"Mungkin mereka mencoba menipu kita, dengan mengatakan bahwa pedang pusaka itu adalah pusaka negerinya tentunya para jago-jago rimba persilatan golongan ksatria tidak mau ambil pusing tentang pusaka bangsa lain, pasti kita tidak mau dituduh merampok barang pusaka bangsa lain."

Liong Houw berkata lagi ;

"Persoalan betul tidaknya tentang asal usul Pedang Embun itu kita tinggalkan dulu, perlahan-lahan nanti kita selidiki kebenarannya, yang perlu dijaga jangan sampai benda pusaka itu jatuh ketangan mereka, sungguh berbahaya, kalau menyaksikan tindak-tanduk jago-jago Hadramaut yang datang ke Tionggoan, kelakuan mereka sungguh keterlaluan, menculik dan memperkosa wanita sampai mati.......!"

"Betul suhu !"

Selak Lie Eng Eng.

"Kalau saja tidak datang toako bersama si pengemis cilik Ho Ho, pasti diri teecu…." Sampai disitu Liong Houw cepat memotong .

"Kepandaian mereka sangat hebat! Tubuh mereka tidak mempan senjata tajam."

"Pedang Ang-Io-po-kiam pun tidak berguna menghadapi dirinya !"

Tambah Lie Eng Eng. Si Gajah dungkul Tiang-pie-lo-twa Mo-mo yang sejak tadi hanya diam saja mendengarkan obrolan orang-orang itu, tiba-tiba ia membuka suaranya .

"Hai, saudara Liong, berapa orang jumlah mereka yang gentayangan didaratan Tionggoan ?"

"Menurut keterangan orang yang mengaku bernama Habib,"

Lie Eng Eng mendahului memberi keterangan.

"jumlah mereka lima orang, tersebar diseluruh pelosok daratan Tionggoan."

Si pengemis cilik Ho Ho memandang ke arah suhunya yang berwajah keriput, ia berkata .

"Suhu, karena pada saat ini kita harus mengerahkan segenap tenaga dan kekuatan yang ada guna membendung kejahatan yang ditimbulkan oleh lima jago Hadramaut, sebaiknya soal politik pemerintahan ditinggalkan saja dulu, toch bagi kita rakyat kecil, soal itu tidak ada gunanya dicampuri. Coba suhu pikir, umpama kata kita berhasil menghimpun satu kekuatan meletuskan satu revolusi rakyat menggulingkan kaisar serta menangkapi semua pembesarpembesar anjing, siapa kelak yang akan menggantikan kedudukan mereka. Apakah kita ? Toch tidak mungkin, yang pasti pihak golongan politik istana yang akan menggantikan kedudukan itu. Selama kita melakukan gerakan guna menggulingkan pemerintahan yang lama, tentu mereka itu dengan berkaok-kaok bahkan dengan uangnya, bersedia membantu kita bahkan menyanjung-nyanjung diri kita sebagai pahlawan revolusi segala, atau sebagainya, tapi setelah kita berhasil menggulingkan pemerintahan yang lama, digantikan oleh yang baru, akhirnya akan sama saja, rakyat juga yang sengsara, dan bila kita mengadakan protes-protes atau gerakan menentang bleid kebijaksanaan mereka, kita dicap lagi sebagai pemberontak, jadi tidak habishabisnya nasib kita melulu jadi pemberontak. Selagi tenaga dibutuhkan kita adalah pahlawan revolusi, sesudahnya kembali kepada kedudukan kita sebagai pemberontak, masih untung kalau hidup jadi gembel seperti sekarang."

Tiba-tiba saja Pie-tet Sin kay menggebrak meja, dia berkata tidak puas kepada sang murid .

"Anak dogol, didepan banyak orang kau tuduh aku makan suap........."

"Ha, ha, ha,.........."

Koang koang Sinkay tertawa berkakakan.

"Pie tet, kau jangan salahkan muridmu, apa yang diucapkannya tidak salah, haha, ha, ha, hua......."

"Ya betul !"

Kata Lie Eng Eng.

"Sejarah telah membuktikan !"

"Huh !"

Pie-tet Sin-kay uring-uringan.

"Kau turut campur bicara, baca saja buku-buku sejarahmu jejal diotakmu tidak perlu turut campur urusan orang tua....."

"Suhu!"

Kata Ho Ho menyelak, ia kuatir keadaan menjadi lebih tegang akibat kata-katanya terhadap suhunya tadi, bisa menimbulkan salah paham antara suhunya dengan Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw, guru Lie Eng Eng.

Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw yang mengetahui adat si pengemis Pie-tet Sin-kay ia hanya tertawa terbahak-bahak, lalu katanya.

"Sudahlah kita jangan bicarakan soal ini lagi, ha ha, hah, ha........."

Keadaan ruangan itu mendadak menjadi ramai suara tawa yang menggema.

Ketika matahari sudah berada tepat diatas tengah-tengah langit biru, pertemuan para jago bubar, mereka masing-masing pulang ke kampung halaman masing-masing.

Yang masih tinggal didalam kamar di-kampung Lip-cun adalah Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw, Liong Houw dan Lie Eng Eng.

Sin kiong-kiam Ong Pek Ciauw tidak segera melanjutkan perjalanannya, karena ia masih merasa perlu untuk bertanya lebih mendalam tentang riwayat hidupnya anak saudara angkatnya, bagaimana Liong Houw bisa hidup selama ini.

Sinkiong-kiam Ong Pek Ciauw didalam ruang pertemuan dihadapan para sahabat sahabat kang ouw sudah mendengarkan keterangan dari mulut Liong Houw tentang riwayat dirinya.

Tetapi sebagai seorang tua yang penuh pengalaman dunia, kenyang makan asam garam, ia sudah bisa menyelami keadaan jiwa sang keponakan, Liong Houw masih merahasiakan beberapa segi yang penting untuk diketahuinya.

Didalam kamarnya Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw menanyakan kembali dengan mendetail riwayat hidupnya Liong Houw.

Liong Houw dengan jujur menceritakan riwayat hidupnya dengan singkat dan jujur kepada sang paman.

Yang belum diceritakannya adalah mengenai dirinya yang menjelma sebagai seorang pemuda berambut gondrong dengan pakaian kulit macan yang pernah menggemparkan rimba persilatan pada waktu tiga tahun yang lalu juga menggemparkan kalangan pemerintahan dengan munculnya si pemuda gondrong dengan kulit macannya berhasil menerobos keluar dari kurungan penjara di bawah air membebaskan Pietet Sin-kay.

Hal itu tidak ia ceritakan karena mempunyai hubungan yang sulit untuk diterangkan dihadapan sang paman.

Liong Houw bermaksud kelak akan menceritakannya menjelaskannya kepada sang sutitlie Lie Eng Eng, bahwa si pemuda gondrong berpakaian kulit macan yang pernah memperkosanya itu adalah dirinya.

Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw setelah mendengarkan penuturan Liong Houw, tampak alisnya berkerut, kepalanya mengangguk-angguk, lama ia berpikir, suasana dalam ruangan kamar itu sunyi tiada terdengar ucapan kata-kata hanya terdengar suara elahan napas yang keluar dari tiga orang.

Akhirnya setelah berpikir lama Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw berkata .

"Dengan kepandaianmu yang sekarang ini, kau sudah bisa malang melintang di rimba persilatan. Tapi mengingat persoalan hilangnya ayah ibumu pada dua puluh tahun yang lalu sampai saat ini belum bisa dipecahkan maka sebaiknya kau rahasiakan lebih dulu tentang asal usul dirimu, juga baiknya kau kembali kedalam Lembah Air Terjun melatih kembali ilmu silatmu lebih dalam."

"Paman,"

Kata Liong Houw.

"Tapi para cianpwe yang tadi hadir dalam ruang pertemuan sudah mengetahui asal usul boanpwe apakah mereka tidak akan membocorkan rahasia ini?"

"Hmm, kukira mereka tidak akan membocorkan persoalan dirimu, mereka adalah tokoh-tokoh yang mempunyai pikiran luas serta banyak pengalaman."

Selanjutnya Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw menerangkan maksudnya akan pergi ke Sin-ciu-hu dipropinsi Ouw-lam bersama-sama dengan Lie Eng Eng untuk menyambangi orang tua si gadis.

Liong Houw mendengar keterangan sang paman hatinya girang bukan kepalang, karena perjalanan itu tentunya bersama si gadis yang selama ini menjadi impiannya juga menjadi sutitlienya sendiri.

Tapi rasa girang itu tiba-tiba lenyap seketika, setelah mendengar lanjutan kata-kata sang paman dimana Sin-kiong kiam Ong Pek Ciauw menyarankan kepada Liong Houw agar si pemuda tidak turut ke Sin-ciu-hu, tetapi mengembara dirimba persilatan mencari pengalaman-pengalaman baru.

Liong Houw mendengar wejangan sang paman, ia bisa menyelami makna kata-kata Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw dalam wejangannya, memang pengalaman adalah guru yang berharga, betapa tinggi kepandaian seseorang tidak ada artinya kalau tidak diisi dengan pengalaman yang luas, ia bisa mengerti apa yang diucapkan sang paman, bagaimana si pengemis kawakan Pie-tet Sin-kay yang berkepandaian tinggi dengan pengalaman yang banyak toch akhirnya ia tertangkap dikotaraja, ditawan didalam penjara dibawah tanah dengan tipu licik dan akal bangsat.

Semua wejangan-wejangan itu diterimanya dengan perasaan terharu dan berterima kasih kepada sang paman yang begitu telaten memberikan pandangan-pandangan dalam mengarungi lautan hidup manusia yang penuh dengan akal licik dan tipu muslihat.

Mengingat Liong Houw akan berpisah kembali dengan Lie Eng Eng, tiba-tiba berkelebat satu pikiran diotaknya si pemuda, perpisahan ini entah sampai kapan bisa bertemu kembali.

Tentunya Lie Eng Eng dalam kehidupannya sehari-hari tetap merasa tidak tenang jika belum berhasil menemukan si pemuda gondrong berpakaian kulit macan yang memperkosanya, Liong Houw bisa menyaksikan sikap dan gerak gerik sutitlinya, keadaan gadis itu seperti orang sedang dirundung suatu kemisteriusan yang belum bisa diatasinya.

Keadaan itu juga tidak luput dari mata Sinkiong-kiam Ong Pek Ciauw, selaku guru Lie Eng Eng, sudah lama si orang tua memperhatikan sikap sang murid yang sangat aneh dalam gerak gerik dan tingkah lakunya, tapi sampai saat itu ia belum dapat memecahkan problem apakah yang sedang dihadapi si murid perempuannya.

Liong Houw memutar otaknya untuk mengatasi persoalan dirinya dengan Lie Eng Eng, ia tidak bisa membiarkan si gadis menjadi murung terusterusan, rasa cinta kasihnya yang sudah berdarah daging lebih-lebih rasa berdosanya kepada Lie Eng Eng, maka si pemuda telah mengambil keputusan untuk menerangkan lebih dulu duduk persoalan siapa yang pernah memperkosa diri Lie Eng Eng, kini ia tidak perlu ragu-ragu lagi, toch sebagai sutitlienya, tentu Lie Eng Eng bisa diajak bicara untuk berterus terang.

Setelah berpikir begitu, cepat Liong Houw berkata kepada Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw.

"Supek, sebelum perpisahan kita, teecu ingin mengemukakan sesuatu hal kepada sutitlie.........."

"Haaaa......."

Tiba-tiba Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw tertawa.

"Bocah, untuk apa kau harus lapor kepadaku lebih dulu, toch muridku ini adalah sutitmu, ajak saja ia bicara waktu masih panjang, biar kalian kutunggu dikamar ini."

Mendengar ucapan Liong Houw ini, Lie Eng Eng terkejut, sesuatu hal apakah yang akan dibicarakan oleh toakonya ini, apakah ia juga jatuh hati kepadaku, apakah si pemuda ini akan mengemiskan perasaan hatinya.

Rasa kejut dan bingung bercampur aduk dalam benak Lie Eng Eng, kalau saja dugaannya benar bahwa Liong Houw jatuh hati kepadanya, bagaimana ia harus menerangkan kepada si pemuda keadaan dirinya yang sudah tidak perawan lagi, hai runyam sekali.

Selagi Lie Eng Eng masih termangu-mangu dengan pikiran kacaunya, Liong Houw sudah bangkit dari duduknya, ia segera mengajak Lie Eng Eng keluar.

"Sutit, marilah kita jalan-jalan keluar, untuk bicara sepatah dua patah yang mungkin menarik pikiranmu."

Mendengar kata-kata demikian hati Lie Eng Eng tambah bingung juga, ia heran bagaimana sang toako yang baru saja bertemu ini bisa memberikan kata-kata yang bisa menarik perhatiannya.

Meskipun hatinya bingung penuh tanda tanya, tapi tubuhnya bangkit berdiri berjalan keluar mengikuti dibelakang Liong Houw.

Ditepi sungai keciI dibawah pohon rindang, Liong Houw duduk diatas akar pohon sebesar paha manusia.

Lie Eng Eng bersandar pada batang pohon, pakaian sutra putihnya berkibar-kibar ditiup angin siang itu, anak-anak rambutnya riap-riap mengikuti irama silirnya angin.

"Sutit, duduklah,"

Tiba tiba Liong Houw membuka suara memecahkan kesunyian siang itu.

Lie Eng Eng yang terkenal dengan nama julukannya si Pedang Macan Betina, selama malang melintang didunia kang-ouw dengan pedang Ang-lo-po-kiamnya, entah sudah berapa banyak kepala-kepala lawan menggelinding di tanah, sifatnya ganas dan galak.

Tapi entah bagaimana menghadapi sang toako kali ini seperti seorang gadis pemalu dan rendah diri.

Mendengar kata-kata Liong Houw, ia segera celingukan mencari akar pohon yang besar menonjol di tanah, ia duduk diatas akar pohon disebelah muka Liong Houw, tapi matanya masih tetap memandang riak air sungai yang bening mengalir kemuara, sedang tangannya melemparkan batu-batu kecil ke air sungai, plung......plung......plung.......

Liong Houw yang duduk dibelakang Lie Eng Eng menyaksikan sikap sang sutitlie segera bangkit, ia berjalan menghampiri duduk disamping Lie Eng Eng, tangan kirinya mengikuti tingkah sutitlie melemparkan batu-batu kerikil kedalam sungai.

Sedang tangan kanan tiba-tiba saja meraba tangan kanan kiri Lie Eng Eng.

"Heeh........"

Lie Eng Eng menarik tangannya, wajahnya bersemu merah, kepalanya menunduk, tampak jari tangan halus si gadis gemetar.

"Sutit......"

Tegur Liong Houw.

"Pertemuan ini akan segera berpisah........aku......ingin mengemukakan sesuatu, sesuatu yang pernah menimpali dirimu pada tiga tahun berselang dikelenteng rusak........"

Tiba-tiba saja Lie Eng Eng terjangkit berdiri, matanya liar menatap wajah Liong Houw, mukanya merah tubuhnya gemetar, dijidatnya berbintikan keringat-keringat dingin.

Tampak sepasang bibirnya yang kecil mungil merah merekah itu bergemetaran.

"Duduklah!

Tenangkan hatimu!"

Kata lagi Liong Houw.

"Kau......... kau.........."

Lie Eng Eng tergetar.

"Bagaimana kau tahu kejadian itu.."

"Duduklah, duduk dulu nanti akan kuberi penjelasan secukupnya."

Dengan perasaan malu dan gusar Lie Eng Eng merosotkan tubuhnya kebawah, duduk kembali diatas akar batang pohon.

Rahasia dirinya sudah diketahui toakonya yang baru saja ia kenal, betapa tidak merasa malu, betapa pula ia tidak merasa gusar, gusar terhadap setiap laki-laki yang menurutnya hanya membuat malapetaka bagi dirinya.

Liong Houw tidak memperdulikan sikap sutitlienya, ia berkata perlahan ;

"Tadi pagi kau telah membaca surat itu bukan ?"

Wajah Lie Eng Eng merah membara, kulit muka yang kuning langsat itu berubah merah seperti udang goreng, keringatnya sudah menetel jatuh, baju sutera putihnya basah kuyup dengan keringat.

Rahasia dirinya sudah diketahui sang toakonya.

"Sutitlie......"

Berkata lagi Liong Houw, tapi katakata itu tertahan.

Ia menarik napas, ragu-ragu Liong Houw mengucapkan kata lanjutannya untuk menuturkan isi hatinya kepada sang kekasih.

Lama suasana itu membisu, hanya terdengar suara keresekan daun-daun pohon bergesek satu sama lain ditiup angin.

"Titlie......."

Hampir suara itu tak terdengar, dengan suara tergetar Liong Houw memaksakan untuk bicara.

"Pemuda itu…."

"Pemuda berbaju kulit macan!"

Potong Lie Eng Eng dengan suara gemetar.

"Ya pemuda itu, sebetulnya jatuh cinta padamu, tiga tahun lamanya semi bibit cinta itu mengeram didadanya, perbuatannya dikelenteng rusak sebetulnya ia dalam keadaan jiwa yang tertekan oleh himpitan arus tekanan manusia yang baru saja ia jumpai dalam pengembaraannya, ia juga tidak menyadari perbuatannya itu adalah satu perbuatan terkutuk......."

"Hmmmm........"

Dengus Lie Eng Eng.

"Apakah dia kokomu yang lenyap pada dua puluh tahun yang lalu bersama-bersama dengan kedua orang tuamu?"

"Bukan !"

Jawab Liong Houw tegas.

Selanjutnya Liong Houw menceritakan dengan jelas bahwa si pemuda gondrong adalah dirinya sendiri.

Semua itu diceritakannya secara jelas dan terperinci.

Mendengar cerita Liong Houw yang juga merupakan toako angkatnya, Lie Eng Eng hanya menundukkan kepala, hatinya kosong melompong otaknya butek, ia tidak bisa berpikir apapun untuk menciptakan kata-kata yang harus dicetuskan dari mulutnya.

"Titlie, apa yang telah terjadi semua sudah ditakdirkan Tuhan, urusan ini kuserahkan padamu, disini aku rela menerima apapun yang akan kau timpahkan kepada diriku, hanya sebelumnya kau harus tahu bahwa hatiku sudah lama mencintaimu, aku juga merasa berdosa atas perbuatan itu."

"Kokooh....."

Lie Eng Eng terharu.

Dua titik air mata menetes jatuh.

Tangan Liong Houw kembali meraba tangan Lie Eng Eng, ia meremas-remas jari-jari tangan halus itu.

Lie Eng Eng membiarkan si pemuda berbuat begitu, tubuh mereka sudah saling merapat.

"Titlie setelah kau menemukan orang yang selama bertahun ini kau kejar-kejar, kukira bisa meringankan beban perasaanmu, kau bisa tenang tinggal dirumah, tidak perlu menguatirkan diriku, kelak aku akan datang untuk melamarmu......."

Lie Eng Eng membungkam, ia hanya mengangguk-angguk kepala membiarkan jari-jari tangannya diremas-remas perlahan oleh si pemuda.

Od,w,zO SEBULAN sudah perpisahan Liong Houw dengan supek dan kekasihnya Lie Eng Eng, dalam pengembaraannya terlunta-lunta dari satu kota kekota lain meliwati bukit-bukit gunung, menyeberangi sungai.

Hati Liong Houw dirasa sesak, otaknya pepat, ia memikirkan adik angkatnya Liu Ing yang lenyap diculik Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang.

Ia harus mempertanggungjawabkan kepada si nenek Sian dikota Cee-lam-hu yang dititipkan pada tukang pembuat kereta.

Ditengah perjalanan didalam rimba berjalan terbungkuk-bungkuk seorang nenek berambut putih dengan tungkai kayu yang bengkok bentuknya.

Liong Houw mengenali nenek yang sedang terbungkuk-bungkuk berjalan didalam rimba itu, ia segera menghampiri dan menegurnya .

"Nenek Sian........"

Si nenek menolehkan kepala, menghentikan langkah menatap orang yang memanggilnya. Terdengar nenek Sian terbatuk-batuk menegur Liong Houw ;

"Oh, kau ........"

Ia Kepala si nenek celingukan, matanya pelarak pelirik kesekeliling rimba dibelakang Liong Houw, ia bertanya ;

"Dimana anak asuhanku Liu Ing ?"

Liong Houw tidak menjawab pertanyaan itu, ia agak bingung mencari jawab pertanyaan si nenek agar bisa memuaskan hati tuanya.

Untuk tidak menunjukkan kecurigaan si nenek Sian kalau Liu Ing sudah lenyap diculik Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang, ia cepat bertanya .

"Nenek, sedang apa keluyuran ditempat ini, mengapa tidak tinggal dirumah si tukang pembuat kereta dikota Cee-lamhu, apakah orang tua itu mengusir nenek?"

Nenek Sian yang pertanyaannya belum dijawab Liong Houw, bahkan kini Liong Houw balik bertanya, ia ketrukan tongkatnya ditanah, dengan wajah asam kriput ia membentak ;

"Bocah, dimana anak asuhanku Liu Ing apakah kau sia-siakan hidupnya, huh, mungkin kau sudah memperkosanya dan kau tinggalkan dia tersia-sia ?"

"Nenek !"

Kata Liong Houw.

"Aku Liong Houw bukan manusia seperti itu, tapi........."

"Tapi apa ?"

Potong nenek Sian.

"Hmm, kau bocah bernama Liong Houw, mana tanggung jawabmu, hayo cepat katakan dimana anak asuhanku Liu Ing, kalau tidak, huh, akan kusiarkan kebusukan hatimu, kau tukang memperkosa wanita, rimba persilatan akan digemparkan oleh munculnya anak tukang potong perawan orang."

Mendengar kata-kata nenek Sian, hati Liong Houw berdebar keras, otaknya diputar bolak balik, bagaimana ia harus menerangkan keadaan sebenarnya tentang Liu Ing, tapi demi menjaga nama baiknya atas tersiarnya fitnah yang akan disebarkan oleh si nenek Sian, cepat ia menjawab.

"Adik Liu Ing pada dua bulan yang lalu diculik orang."

"Haa ....! Diculik orang ? Kau bohong, untuk apa orang menculik anak gadis itu ..."

"Betul!"

Potong Liong Houw agak jengkel.

"ia diculik Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang, kini aku sedang berusaha mencari jejaknya."

"Mmm,"

Si nenek Sian mendengus.

"Meskipun katamu ia diculik orang, tapi aku tidak percaya, kau pasti sudah memperkosanya dan kau tinggalkan dia ..." "Nenek,"

Bentak Liong Houw.

"Kau......."

"Apa ?"

Nenek Sian membentak Liong Houw. tidak kalah galak "Aku akan mencari kembali adik Liu Ing !"

Kata Liong Houw.

"Apa jaminan atas kata-katamu ini ?"

Tanya nenek Sian. Liong Houw melengak, ia bingung menghadapi nenek tua keriput yang kukuh ini, maka bertanya lagi.

"jaminan apa?"

"Huh, jaminan kalau kau betul-betul mencari kembali anak asuhanku Liu Ing, jika betul kau mencarinya kau harus menyerahkan lebih dulu suatu benda padaku, kelak bilamana kau sudah berhasil menemukannya kembali, membawa ia kekota Cee-lam-hu, disana barangmu itu akan kukembalikan."

Liong Houw mengangguk-angguk kepala, ia merogoh sakunya, lalu berkata .

"Nenek, sepuluh mutiara ini kuberikan padamu untuk jaminan, kalau nanti adik Liu Ing kuketemukan mutiara itu tidak usah dikembalikan."

"Anak anjing, aku tidak butuh mutiaramu, aku butuh anakku, aku tidak mau menerima jaminan seperti itu."

Bentak nenek Sian.

"Jadi jaminan apa yang nenek maksudkan ?"

Tanya Liong Houw tambah tidak mengerti akan sikap aneh si nenek. Nenek Siang mengkerut-mengkerut keningnya, tampak wajahnya yang sudah keriput tambah keriput mengkerut-mengkerut, lalu tanyanya .

"Apakah ditubuhmu tidak ada benda lain selain mutiara-mutiara itu?"

Liong Houw sebagai pemuda jujur ia tanpa berpikir lagi berkata ;

"Ada, ada dua bilah pisau belati, tapi kukira pisau itu tak ada harganya untuk nenek simpan."

"Heh, heeeeh......heeeeh ....."

Si nenek Sian tertawa.

"Hmm, apa yang kau anggap tidak berharga justeru aku inginkan barang itu sebagai jaminan. Ya, serahkan kedua pisau belati itu untuk jaminan anak asuhanku Liu Ing."

Liong Houw gelagapan, justru barang yang diminta si nenek adalah pisau belati pusaka tanda dari ciri-ciri keturunannya, juga merupakan barang pusaka yang dicari banyak orang.

Pikiran Liong Houw pusing seketika kepalanya dirasakan berdenyut-denyut.

Bulak balik ia putar otak untuk mencari jalan keluar guna mengelakkan permintaan si nenek, tapi sekian balik pula ia tidak bisa menemukan jalan.

Akhirnya terpikir olehnya nenek Sian adalah seorang nenek-nenek yang tidak pandai silat, bertubuh lemah, tentunya sebagai seorang yang tidak berkepandaian silat, ia tidak pernah berkecimpungan dalam rimba persilatan, dengan sendirinya tidak mengetahui rahasia pisau belati ini.

Mungkin si nenek tidak mau menerima pemberian mutiara-mutiaranya yang berharga ratusan tail perak dikarenakan ia merasa sungkan untuk menerima barang yang sangat mahal harganya.

Maka ia hanya meminta dua bilah pisau410 belati yang dianggapnya pisau biasa yang tidak seberapa mahal harganya.

Setelah berpikir begitu, ia memasukkan kembali mutiara-mutiara tadi, dari balik bajunya ia mengeluarkan dua bilah pisau belatinya lalu diserahkan kepada nenek Sian, dan berkata.

"Nenek, pisau belati ini adalah peninggalan orang tuaku, satu-satunya barang warisan yang ada, tolong kau jaga baik-baik selama aku mencari jejak adik Liu Ing."

Dengan wajah berseri keriput nenek Sian menyambuti kedua pisau belatinya, ia perhatikan sejenak kedua bilah pisau itu, sambil menganggukangguk senyum sepasang matanya tersipit-sipit ia selipkan pisau-pisau itu kedalam balik bajunya.

"Bocah, baik-baiklah kau mengarungi hidupmu......."

Jaga diri dalam Tiba-tiba.....

Terdengar suara tertawa menggema di angkasa, memekakkan telinga orang yang mendengarnya.

Belum lenyap gema suara tawa itu, dari tengah udara melayang satu bayangan merah berdiri dimuka si nenek Sian.

"Ayaaaaa…."

Liong Houw melangkah mundur tiga tindak. Ia mengenali siapa orang yang datang. Orang itu mengenakan pakaian berwarna merah berkembang-kembang.

"Murid murtad !"

Bentak Liong Houw pada orang yang baru datang yang tidak lain adalah Leng-leng Pak su murid Thian-lam-it-lo Kak Wan Kie-su yang pernah menganiayai gurunya sendiri dilembah Imbu-kok.

Leng-leng Pak-su membentak .

"Bocah sial, tunggu ! Sebentar akan kucabut nyawamu."

Setelah berkata begitu Leng-leng membentak kepada nenek Sian. Pak-su "Iblis tua, cepat kau serahkan pisau belati kepadaku !"

"Hmmm,"

Nenek Sian mendengus.

"Pisau apa, aku tidak mengerti maksudmu."

"Kau jangan pura-pura pion iblis keparat! Orang lain bisa kau kelabui dengan penyamaran bodohmu, tapi aku Leng-leng Pak-su haa......kau Kim-nio-mo-ong Gwat Leng ..... hauaaaaaa....."

Berbarengan dengan suara tertawanya sepasang tangan Leng-leng Pak-su bergerak, ia menyerang si nenek Sian.

Nenek Sian yang masih terbungkuk-bungkuk segera menyingkir kesamping.

Sungguh aneh !

Dalam pandangan mata Liong Houw, nenek Sian yang ia kenal tidak berkepandaian silat, mendadak bisa mengelakkan serangan Leng-leng Pak-su dengan mudah, gerakan si nenek yang tadi terbungkuk-bungkuk kini tampak lincah dan gesit.

Gerakan nenek Sian disusul dengan serangan tongkatnya kearah pelipis Leng-leng Paksu, tak lama disana hanya tampak bayangan merah dan hitam bergulung-gulungan, angin menderu-deru, daun-daun pohon berguguran.

Tubuh Liong Houw terdorong mundur, mukanya dirasakan pedas tersambar angin yang ditimbulkan dari pertempuran kedua jago.

Gulungan bayangan merah dan hitam mengeluarkan angin menderu-deru, dari sana nampak asap putih mengepul, kemudian buyar kembali keudara terbawa angin puyuh serangan Leng-leng Pak-su.

Uap putih yang mengepul terbawa angin puyuh itu adalah uap putih yang keluar dari serangan si nenek Sian yang disebut Kim-nio-mo-ong Gwat Leng.

Liong Houw terkejut, cepat ia lompat mundur, uap putih itu mengandung hawa yang berbau harum, daun-daun pohon disekitarnya rontok berguguran.

Ia pernah merasakan uap harum itu hampir masuk kedalam tenggorokannya, membuat ia muntah-muntah melarikan diri dari kejaran Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang pada tiga tahun yang lalu.

Kini kembali dihadapannya muncul ilmu ini dimainkan oleh si nenek Sian.

Kepala Liong Houw pusing memikirkan kejadian yang barusan terjadi, nenek ini mengapa tiba-tiba memiliki kepandaian silat yang serupa dengan Kun-see-moong Teng Kie Lang, juga mengapa Leng-leng Pak-su memanggilnya si nenek dengan sebutan iblis Kimnio-mo-ong Gwat Leng.

Selagi otaknya berpikir-pikir, kakinya masih tetap melangkah mundur menjauhi pengaruh uap harumnya si nenek Sian alias Kim-nio-mo-ong Gwat Leng.

Tiba-tiba saja tubuh si nenek Sian alias Kim-nio-mo-ong Gwat Leng melejit keudara, ia kabur meninggalkan medan pertempuran.

Dikejar oleh Leng-leng Pak-su.

Keadaan dalam rimba itu sunyi kembali hanya tinggal bekas tanah pertempuran, tanah belukar itu gundul tiada berumput lagi, diterbangkan oleh angin puyuh Leng leng Pak-su.

Tipu muslihat !

Tipu muslihat !

Hati Liong Houw ngedumel, ia telah tertipu oleh lagak lagunya si nenek Sian yang pura-pura tidak berkepandaian silat.

Langkahnya diayun lemah meninggalkan tempat itu.

Matahari timbul tenggelam sudah berulang kali, lereng-lereng gunung lembah curam banyak sudah dilalui, Liong Houw masih melakukan perjalanannya mencari pengalaman.

Sekilas kadang kala timbul dalam otaknya untuk memutar perjalanannya, kembali kedalam air terjun melatih diri, tapi mendadak timbul pikiran lain menentang kilasan pikiran pertama, untuk apa ilmu kepandaian tinggi tanpa pengalaman yang luas, maka dengan pikiran itu Liong Houw terus mengembara dari hutan kehutan, dari kota kekota.

Banyak sudah jasa-jasanya yang diberikan kepada orang-orang yang tertimpa kemalangan atau penganiayaan dari orang kuat yang menganiaya orang-orang lemah.

Tapi ia tidak mau menonjolkan keharuman namanya, setiap tindakannya ia lakukan dengan menggunakan pakaian kulit macannya dengan rambut gondrong.

Hingga dalam waktu yang singkat dirimba persilatan sudah digemparkan dengan munculnya seorang pendekar macan loreng.

Pada harian Tiong-chiu Liong Houw tiba dikota Siang-im.

Kota Siang-im merupakan kota kecil terletak disebuah kaki gunung.

Meskipun kota itu kota kecil, tapi ramai dengan kegiatan para pedagang buah-buahan dan sayur-sayuran yang dihasilkan dari lereng gunung.

Para pedagang dari tempat jauh-jauh datang kekota itu untuk memborong buah-buahan dan sayuran untuk dijual kembali di-daerah mereka masing-masing.

Memasuki dalam kota, dimuka sebuah kelenteng kuping Liong Houw yang tajam mendengar suara pertempuran di dalam kelenteng.

Kakinya dilangkahkan kearah datangnya suara pertempuran itu, dimuka pintu kelenteng bercat merah bertuliskan Siang-ceng To-wan.

Liong Houw melangkah masuk melalui pintu tembok kelenteng yang terbuka, di sana suasana sepi sunyi.

Kembali suara benturan senjata serta bentakanbentakan terdengar dibawa angin, dengan memperhatikan arah angin, Liong Houw segera lompat keatas genteng kelenteng, ia berlarian menuju kebelakang kelenteng Siang-ceng To-wan.

Dibelakang kelenteng tampak dua orang tosu tinggi besar sedang mengeroyok seorang yang berpakaian kumel dekil.

Liong Houw kenal orang yang berpakaian kumel dekil itu, inilah seorang pemuda yang sedang sibuk mengelakkan serangan-serangan kedua tosu tadi.

Sesekali si pemuda kumel membalas menyerang kedua tosu itu membuat sang tosu kewalahan.

Dengan gerakan ringan Liong Houw lompat turun, menyelak ditengah-tengah pertempuran.

"Toako!"

Teriak si pemuda kumel yang bukan lain adalah si Pengemis cilik Ho Ho.

Liong Houw yang baru saja tiba ditempat itu tidak mengetahui sebab musababnya pertempuran ia tidak mau gegabah turun tangan membantu adik angkatnya, maka segera ia bertanya .

"Jiwie tosu, apakah kesalahan adikku sampai-sampai kau orang suci turun tangan terhadap adik kecil ini ?"

Si Tosu yang bertubuh pendek gemuk membentak .

"Kalian dua anak gembel cepat keluar dari kelenteng ini, kelentengku tidak menerima anak-anak gembel bau busuk seperti kalian."

"Eee .... gundul! Terima saja seranganku jangan banyak mulut."

Ho Ho segera menghantam tubuh sipendek gemuk dengan kepalan tangannya.

Dari dalam kelenteng mendadak muncul dua orang tosu, tanpa mengucapkan ba atau bu kedua tosu itu mengemplang kepala Liong Houw dengan toya besinya.

Buukkkkkk ....

Toja besi melayang terbang keudara disambar serangan tangan Liong Houw.

Serangan tangan Liong Houw tidak sampai disitu, tubuhnya melejit keudara, ditengah udara ia jumpalitan, kaki kanannya membentur kepala si tosu yang menyerang dengan toya.

Kontan tubuh tosu itu kelojotan rubuh ditanah, batok kepalanya pecah, darah merah bercampur gumpalan otak muncrat disana-sini.

Tindakan kejam Liong Houw diluar dugaan para tosu itu, lebih-lebih begitu melihat sang kawan kelojotan rubuh dengan kepala pecah, mereka segera melejit kabur meninggalkan kelenteng.

"Toako ..."

Panggil Ho Ho.

"Tendanganmu hebat, tapi ... ."

"Tapi kejam bukan ?"

Potong Liong Houw. Si pengemis cilik hanya nyengir.

"Ayo cepat kita periksa apa didalam!"

Kata lagi Liong Houw. yang terjadi "Eeeh, bagaimana toako bisa tahu didalam terjadi sesuatu ?"

"Ketika si tosu itu menyerang dengan toya besinya, lapat-lapat terdengar suara rintihan kesedihan didalam, kukira suara itu suara wanita. Maka mendengar suara itu kubisa pastikan bahwa tosu-tosu ini adalah tosu-tosu keparat."

Mereka berdua segera berjalan masuk memeriksa setiap ruang kelenteng Siang-ceng Towan, ruangan demi ruangan diperiksanya tapi tak terdapat satu bayangan manusiapun. "Lihat toako!"

Teriak si pengemis cilik Ho Ho, tangannya menunjuk kearah dinding tembok kelenteng diatas meja sembahyang.

Tatapan mata Liong Houw mengikuti arah yang ditunjuk si pengemis cilik Ho Ho, di atas tembok meja sembahyang terdapat tulisan .

Tiga nona manis telah kubawa pergi Kun-see-mo-ong.

Beberapa tulisan itu mengejutkan Liong Houw, lagi-lagi Kun-se-mo-ong.

Dengan wajah penuh tanda tanya ia menoleh kearah si pengemis cilik Ho Ho, apa artinya tulisan itu dan bagaimana hubungannya Kun se-mo-ong dengan para tosu dikelenteng dan siapakah nona-nona manis itu ?

Si pengemis cilik menceritakan pengalamannya.

Ternyata si pengemis cilik Ho Ho lima hari lebih dulu tiba dikota Siang im.

Dalam kota Siang-im, keluarga Kiauw Siu pie didalam kota itu namanya terkenal, tidak satupun penduduk kota atau daerah sekitarnya tidak mengenal keluarga Kiauw Siu-pie.

Kiauw Siu-pie mempunyai tiga orang anak, semua sudah menjadi gadis, anak perempuan yang paling besar bernama Tay Ceng, berusia 19 tahun.

Anak yang kedua bernama Jie Ceng berusia 18 tahun sedang anak yang ketiga yang paling kecil bernama Liep Ceng, yang baru saja berusia 17 tahun.

Ketiga anak gadis Kiauw Siu-pie memiliki paras cantik serta potongan tubuh yang menggiurkan setiap anak-anak muda yang memandangnya, serta sifat dari ketiga anak gadis itu luwes dan sopan-santun, mereka dididik oleh Kiauw Siu-pie dalam hal kepandaian kesusasteraan yang tidak bisa dipandang enteng dan belum ada keduanya didalam kota Siang-im, mereka pandai membuat syair-syair yang indah.

Didalam kota Siang-im, tiga dara dari keluarga Kiauw merupakan bunga kota itu karena kecantikan serta potongan tubuh begitu pula kepandaian kesusasteraannya belum ada orang yang bisa menyamainya.

Entah sudah berapa ratus pemuda-pemuda, kongcu-kongcu dari keluarga bangsawan datang melamar salah seorang dari gadis cantik itu, tapi tidak satupun yang diterima lamaran mereka.

Penolakan-penolakan dara-dara manis terhadap lamaran-lamaran para kongcu-kongcu putra bangsawan atau pemuda anak-anak orang kaya dikarenakan ketiga gadis itu menganggap bahwa para kongcu dan pemuda yang melamarnya itu bukanlah laki-laki yang bisa diharapkan kepandaiannya maupun kecakapannya, mereka bertiga saudara menghendaki mempunyai suami yang berkepandaian luar biasa, serta memiliki kecerdikan serta kecakapan otak yang lebih cerdas dari mereka sendiri.

Itulah pemuda yang diidamkan ketiga gadis cantik kembang kota Siangim.

Dalam mencari jodohnya, memandang kaya atau miskin.

mereka tidak Kiauw Siu-pie menghadapi sifat-sifat sang anak perempuannya yang demikian, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena soal hidup selanjutnya adalah menyangkut pada penghidupan sang putri dikelak kemudian, tergantung pada tangan mereka sendiri.

Pada hari itu, tepat pada harian Tiong-chiu, diwaktu hari masih pagi, burung-burung masih berkicau, udara masih terasa sejuk dingin menyegarkan, ketiga saudara itu bersama-sama pergi kekelenteng Sian-ceng To wan untuk bersembahyang guna minta Hok-khie !

Yang menjadi Wan-cu kepala kelenteng Siangceng To-wan adalah seorang Tosu yang bernama Kak Seng, sedang para tosu lainnya Kak Ceng, Bok Ceng dan Lo Ceng yang kepalanya pecah ditendang Liong Houw.

Si pengemis cilik Ho Ho pada lima hari yang lalu pernah numpang nginap dikelenteng tersebut, tapi dengan garang ia diusir pergi oleh Kak Ceng tosu.

Melihat sikap Kak Ceng tosu, si pengemis cilik merasa curiga, karena dalam pengembaraannya pada dua tahun yang lalu ia pernah berkunjung kekota ini dengan suhunya Pie tet Sin-kay, serta para tosu yang ada didalam kelenteng itu kenal baik dengan suhu Ho Ho.

Entah mengapa mendadak tosu yang dihadapi Ho Ho begitu galak, juga tidak satu diantara mereka yang dikenal si Pengemis cilik.

Dengan kecurigaannya, si pengemis cilik pada waktu malam ia menyatroni kelenteng Siang-ceng To-wan, dari atas genteng si-pengemis cilik Ho Ho bisa menangkap pembicaraan mereka didalam kamar.

Ternyata mereka adalah empat orang murid Liok Hap Tojin, pada waktu ini Liok Hap Tojin memerlukan banyak orang-orang perempuan yang masih gadis untuk dibuat bahan baku dalam latihannya guna mempertinggi iImunya, maka memerintahkan keempat murid-muridnya dibawah pimpinan Kak Seng pergi ke kelenteng Siang-ceng To-wan untuk menculik wanita-wanita yang bersembahyang didalam kelenteng.

Kak Seng dan Kak Ceng beserta dua adik perguruannya menjalankan perintah suhunya, dengan cepat pergi ke Siang-ceng To-wan didaerah Siang Im, mereka tiba pada tengah malam menyatroni kelenteng Siang-ceng To-wan, membunuh ketuanya beserta seluruh tosu-tosu yang ada.

Mulai saat inilah kelenteng Siang-ceng To-wan berganti pimpinan dan berganti tosu.

Kak Seng cs, melaksanakan perintah suhunya menculik orang-orang perempuan yang datang bersembahyang dengan menggunakan obat pules yang ditaroh didalam saputangan, bilamana saputangan yang sudah diberi obat Bie-hun-pe, bilamana orang yang mencium bau obat pules Biehun-pe, segera orang itu akan tidur pules tidak ingat orang.

Begitulah yang terjadi pada diri si tiga dara yang datang bersembahyang dikelenteng tersebut telah dibikin pules tidur oleh obat Bie-hun-pe Kak Seng tosu.

Kak Seng yang mendapatkan korban cantik jelita begitu, ia tidak tega untuk menyerahkan ketiga gadis jelita itu kepada suhunya Liok Hap tojin.

Maka setelah gadis itu pules tidur, dibawanya ke dalam kamar khusus, dengan maksud untuk menelan sendiri.

Kak Seng murid tertua Liok Hiap tojin mendapat giliran pertama untuk menikmati ketiga gadis itu sekaligus.

Setelah nanti ketiga gadis-gadis itu diantri oleh ketiga tosu adik seperguruan Kak Seng, barulah ketiga gadis cantik itu dibawa dengan tandu diserahkan kepada sang suhu.

Tapi baru saja niatan Kak Seng untuk memperkosa ketiga gadis itu dimulai, baru saja ia membuka pakaian luarnya, tiba-tiba menyerobot satu bayangan dekil menyerang Kak Seng.

Kak Seng kelabakan, ia berteriak-teriak, lari keluar memanggil adik-adik seperguruannya.

Maka terjadilah pertempuran dibelakang kelenteng, si pengemis cilik Ho Ho yang tadi menyerobot masuk berhasil diusir keluar dan akhirnya bertempur dibelakang kelenteng dikeroyok oleh dua orang tosu sute-sute Kak Seng.

Tepat pada saat itu Liong Houw lompat turun dari atas genteng, yang kemudian keluar pula Kak Seng yang sudah mengenakan pakaiannya kembali bersama seorang sutenya Lo Ceng yang membawa toya langsung mengemplang batok kepala Liong Houw, akhirnya tosu itu remuk batok kepalanya ditendang kaki Liong Houw.

Liong Houw yang sejak tadi diam saja mendengarkan cerita si pengemis cilik Ho Ho, tibatiba ia bertanya.

"Liok Hap Tojin si tosu keparat itu dimanakah sarangnya ? Apakah adik Ho mengetahuinya?"

Si pengemis cilik Ho Ho menggelengkan kepalanya;

"Aku hanya mendengar si tosu bercerita tentang tugas-tugas suhunya, sedang dimana sarang si tosu siluman itu aku tidak mendengar mereka sebutkan dimana tempatnya."

Setelah berkata begitu, si pengemis cilik Ho Ho, menepuk pundak Liong Houw dan berkata .

"Hayo kita berangkat kerumahnya tiga gadis tercantik kota Siang-im ini untuk menceritakan peristiwa yang terjadi kepada orang tuanya !"

Liong Houw mengikuti si pengemis cilik Ho Ho keluar kelenteng menuju rumah keluarga Kiauw Siu-pie.

00dwkz00 DlMUKA PINTU gedung keluarga Kiauw Siu-pie, disana terjadi keributan, suara hiruk pikuk ramai terdengar, orang-orang berkumpul berjejal-jejal ingin mengetahui apa yang telah terjadi dalam rumah gedung keluarga Kiauw Siu-pie yang terkenal mempunyai tiga orang anak gadis cantik jelita.

Liong Houw dan si pengemis cilik Ho Ho saling pandang sejenak, lalu mereka celingukan, lalu menyerobot masuk diantara orang-orang ramai yang berkerumun dimuka rumah gedung keluarga Kiauw Siu-pie.

Si pengemis cilik Ho Ho serabat serobot ia langsung memasuki pintu gedung rumah itu yang terbuka lebar.

Seorang tua kurus dengan matanya masih merah bendul habis menangis, menegur si pengemis cilik Ho Ho.

"Hei, kau anak bau mau apa,......Waw, waw, waw, waw,........."

Ia berkata sambil menangis.

"Kakek jangan nangis dulu, aku ingin menerangkan sesuatu padamu,"

Kata Ho Ho.

"Hu, hu.......waw....waw....waw.. waw, kau mau terangkan apa, loya sudah lenyap......waw, waw, waw, cilaka, bagaimana nona-nona kita juga belum pulang waw, waw.....waw waw,"

Orang itu berkata sambil menangis waw, waw waw, waw. Liong Houw yang juga mengikuti nyerobot dibelakang Ho Ho, bertanya kepada si kakek yang sedang menangis.

"Kakek, apa sebetulnya yang sudah terjadi ?"

Si kakek tidak menjawab, ia menangis semakin keras, waw, waww, waww, hauww...... tangannya menunjuk keatas dinding tembok dibelakang pintu.

"Aaaaa….."

Teriak Ho Ho, dan Liong Houw berbareng.

"Kun-see-mo-ong......."

Bergumam Ho Ho.

Diatas tembok dibelakang pintu terdapat tulisan yang coretan dan gayanya sama dengan tulisan yang terdapat didalam kelenteng Siang-ceng To wan, tulisan itu berbunyi .

Kiauw Siu-pie dan hujin telah kubawa sekalian.

Kun-see-mo-ong.

Setelah mereka membaca tulisan itu, Liong Houw segera berkata kepada si orang tua yang masih menangis sesenggukan waw-waw-waw.

"Lopek sudahlah ! Jangan menangis lagi, nona kalian juga sudah dibawa kabur oleh iblis itu, kau rawat saja rumah ini baik-baik."

Setelah berkata begitu Liong Houw menarik lengan si pengemis cilik Ho Ho berjalan keluar meninggalkan gedung keluarga Kiauw Siu-pie.

Mereka lalu masuk kedalam rumah makan Hopeng menangsal perutnya.

Terdengar suara Liong Houw berkata sambil menggeragoti buah apel didalam rumah makan itu.

"Adik Ho, apakah kau pernah mendengar nama Kim-nio-mo-ong Gwat Leng?"

Mendengar pertanyaan itu mata si pengemis cilik nyureng-nyureng, jidatnya berkerut-kerut agaknya ia sedang mengingat-ingat nama itu.

"Haaaaa....."

Suara kejut dan girang si pengemis cilik Ho Ho yang merasa bangga juga terkejut telah mengingat kembali siapa itu Kim-nio-mo-ong Gwat Leng, katanya .

"Menurut cerita guruku, Kim-nio mo-ong Gwat Leng pada tigapuluh tahun berselang adalah seorang iblis wanita yang malang melintang dirimba persilatan, sifat-sifatnya aneh dan sulit dijejaki, sebentar ia seperti orang dari golongan putih, sebentar melakukan kejahatan yang luar biasa jahatnya. Dialah guru Kun-se-mo-ong Teng Kie Lang. Semasa si murid Kun-se-mo-ong Teng Kie Lang malang melintang, iblis wanita itu tidak terdengar lagi kabar beritanya. Ada apakah toako tanyakan ini padaku ?"

Liong Houw menghentikan mengunyah buah apelnya, mulutnya menganga, baru ia berkata .

"Nenek Sian ! Kau masih ingat bukan nenek Sian........."

"Apakah nenek Sian dibunuhnya,"

Potong si pengemis cilik Ho Ho.

"Tidak ! Bukan dibunuh, dialah Kim-nio-mo-ong Gwat Leng si nenek Sian!"

"Haaaa, ha, haaaaa, hoooo..........,"

Si pengemis cilik Ho Ho tertawa berkakakan, ia merasa lucu mendengar kata-kata Liong Houw.

"Kau apa mimpi, toako, bagaimana nenek Sian kau katakan Kimnio-mo-ong Gwat Leng, huh, mungkin kau salah dengar cerita orang."

"Bukan, anak gembel!"

Kata Liong Houw agak mendongkol.

"Nenek Sian itulah Kim-nio-mo-ong Gwat Leng, aku sudah ditipunya, ia meminta kedua bilah pisau belatiku sebagai jaminan untuk anak asuhannya yang diculik Kun-see-moong........" Selanjutnya Liong Houw menceritakan dengan jelas apa yang pernah dialaminya didalam rimba dalam perjalanan menuju kota Siang-im. Mendengar keterangan yang terperinci si pengemis cilik menunjukkan wajah terkejut, ia mempercayai keterangan sang toakonya, lalu berkata .

"Pantas saja kejahatan Kun-se-mo-ong Teng Kie Lang sudah meningkat, ia tidak menculik gadis-gadis saja, bahkan sudah menculik orang tua mereka, huh, gila sekali."

"Mungkin ia sudah betul-betul gila,"

Kata Liong Houw.

"untuk apa ia menculik orang setua seperti Kiauw Siu-pie itu?"

"Mmmm........"

Dengus si pengemis cilik Ho Ho.

"Mungkin akan dijadikannya perkedel, atau dibuat isi bakpau."

"Hayaaa.... aku lupa,"

Kata si pengemis cilik Ho Ho.

"Ketiga tosu siluman itu entah pergi kemana, seharusnya kita mengikuti jejak mereka mencari tahu dimana sarang silumannya, sedapat mungkin harus kita hancur leburkan."

Liong Houw mengangguk-angguk, tanda setuju pendapat sang adik angkat yang ugal-ugalan.

Setelah selesai menangsal perutnya memberesi rekening makanan, mereka melanjutkan perjalanan.

Satu hari kemudian mereka tiba dikota Tonghien-cien, yang terletak diatas dataran sebuah bukit, memasuki rumah makan disana sudah ramai orang makan minum sambil bicara-bicara agaknya pembicaraan orang orang itu sangat serius sekali.

Liong Houw segera menarik tangan si pengemis cilik Ho Ho kesebuah meja yang masih kosong dipojok kanan bagian tenggara dari rumah makan itu.

Si pengemis cilik yang mendengar orang-orang pada kasak kusuk berbicara sangat serius ia segera bertanya kepada salah seorang yang duduk berdampingan dengan mejanya, orang itu berumur sekira empat puluhan tahun berpakaian ringkas seperti seorang ahli silat, berwajah terang, menunjukkan sikapnya yang baik hati.

"Aya, masakan kau belum tahu,"

Kata orang tua itu kepada si pengemis cilik Ho Ho.

"Didalam beberapa bulan dengan mendadak telah terjadi kejadian yang gaib sampai berulang empat lima kali dengan beruntun ! entah berapa banyak gadisgadis yang sedang berjalan dijalan sebelah utara dengan mendadak mereka menampak segulungan angin Yo kak hong yang melibat tubuh mereka, lalu gadis-gadis dibawa terbang dan entah mereka dibawa pergi ke-mana, kejadian itu sesungguhnya sangat mengherankan dan telah terjadi berulangulang, meskipun para famili gadis-gadis itu mencarinya ke setiap pelosok tempat, akan tetapi hasilnya tetap nihil. Ada orang bilang di beberapa gunung yang berdekatan dengan tempat ini, dengan mendadak telah muncul satu siluman macan, itu gulungan angin Yo-kak-hong, adalah hawa yang keluar dari siluman macan. Ada pula yang bilang, dibeberapa goa dipuncak gunung telah muncul satu manusia....."

Siluman yang suka makan Ho Ho setelah mendengar memandang wajah Liong Houw.

cerita itu ia Setelah selesai santapan, kembali mereka melakukan perjalanan, sebagai dua orang anak muda yang masih senang dengan segala macam keanehan-keanehan yang muncul dalam dunia, mereka berjalan pergi menyerap nyerapi berita tentang munculnya siluman-siluman itu.

Di tengah-tengah jalan mereka berjumpa dengan beberapa puluh orang yang masing-masing telah kehilangan anak gadisnya.

Karena itu maka mereka percaya akan obrolan orang didalam rumah makan.

Si pengemis cilik Ho Ho dan Liong Houw berjalan menuju ke jurusan barat, mereka meliwati beberapa puluh puncak-puncak gunung serta goagoa tempat sarang macan, akan tetapi sampai pada saat itu mereka belum menemukan tempat yang mencurigakan.

Pada suatu hari mereka tiba dibawah kaki gunung Ouw ong-san, mereka berdua melihat keadaan gunung itu sungguh sangat berbahaya, puncak gunung itu menjulang tinggi seolah menembus langit, tak tampak puncaknya tertutup oleh awan-awan yang memutih tebal.

Mereka menaiki puncak gunung tersebut, ternyata disalah satu puncak gunung lapat-lapat tampak dua buah rumah berhala yang sudah tua, yang letaknya dikelilingi pohon-pohonan yang daunnya lebat, juga diatas gunung itu tampak satu anak sungai yang mengalirkan airnya dengan deras, anak sungai itu lebarnya kira-kira 7-8 kaki lebih.

"Apakah toako sudah lihat?"

Tanya si pengemis cilik Ho Ho.

"Bilamana betul-betul disini ada semacam manusia sebangsa siluman, aku yakin mereka bersarang didalam itu rumah berhala, karena keadaan tempat ini berbeda dengan keadaan puncak gunung lainnya, mari kita terus naik menyelidiki puncak gunung itu."

"Betul !"

Kata Liong Houw sambil menganggukkan kepala.

"Menurutku, juga tidak salahnya kita naik keatas gunung buat menyelidiki, dan kita tunggu sampai matahari sudah terbenam ke barat, bilamana betul disana ada siluman pasti akan terjadi keanehan-keanehan pada malam hari."

Baca Juga: Pendekar Bego 1

Baca Juga: Pedang Angin Berbisik 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert