Ceritasilat Novel Online

Pusaka Pedang Embun 3

Eps 3 Pusaka Pedang Embun - Sin Liong

Baca online Pusaka Pedang Embun - Sin Liong

Cersil Pusaka Pedang Embun - Sin Liong.

"Bocah, karena jalan darahmu sebagian sudah terbuka, saluran urat halusmu yang menghubungkan dua aliran darah Im dan Yang ada beberapa bagian terbuka, hingga sulit untuk kau menerima pelajaran silat dari aliran lain, jika dipaksakan, kau akan mengalami Masuk Api. Haah, kelak, jika kau sempat, kau kembali ketempat itu, sempurnakanlah ilmu yang terdapat didalam lembah air terjun itu, aku yakin ilmu itu merupakan ilmu yang terhebat selama dunia persilatan Tionggoan berkembang. Juga kau harus pertahankan kebiasaanmu memakan buah-buahan sebagai santapan sehari-sehari, kukira itu juga ada hubungannya dengan ilmu pelajaran didalam goa dilembah itu...."

Kepala si orang tua menengadah ke langit-langit rumah batu, mulutnya berkemak kemik, lalu katanya lagi .

"Pada tigapuluh tahun yang lalu aku mendapatkan se

Jilid kitab tipis, kitab itu adalah satu kitab ilmu totokan luar biasa, hanya bagi mereka yang ingin mempelajari ilmu totokan, diharuskan melakukan puasa untuk seumur hidupnya.

Jika tidak, ilmu itu tak akan berguna, bahkan jika dipergunakan membahayakan orang itu sendiri."

Si pemuda mendengarkan penuturan orang tua itu, mulutnya menganga, ia tidak mengerti, ada ilmu silat yang harus dilakukan dengan puasa seumur hidup, saking herannya ia nyeletuk .

"Puasa.....bagaimana orang disuruh puasa untuk seumur hidupnya....." "Bocah, kau jangan main potong ucapanku......puasa itu dimaksudkan bagi siapa yang melatih ilmu totokan yang terdapat dalam kitab itu dilarang memakan barang makanan bernyawa seumur hidup. Tentu saja didunia ini dimana ada orang sanggup berbuat begitu, sedang para padri dan tosu juga tidak bisa tahan, mereka hanya pura-pura saja alim, tapi bathinnya lebih kotor dari pada kita orang-orang kasar...."

Bicara sampai disitu si orang tua menghela napas lalu katanya lagi.

"Sungguh didunia ini semua kejadian tidak bisa diduga semula, semua terjadi sangat ganjil, kau yang mudanya mendekam terkurung didalam lembah air terjun selama itu hanya memakan buah-buahan, hingga tubuhmu peka terhadap semua barang-barang makanan bernyawa.... hai luar biasa ....kau akan menjadi manusia luar biasa…."

Si pemuda memandang suhunya dengan perasaan heran, ia tidak mengerti juntrungan ucapan kata-kata gurunya. Si orang tua memasukkan tangannya kedalam saku bajunya mengeluarkan se

Jilid kitab.

"Nah, ambillah buku ini,"

Tangan orang tua itu menyodorkan se

Jilid kitab tipis berwarna kuning keemas-emasan, dikulit muka terdapat lukisanlukisan bunga-bunga aneka macam, sungguh indah dipandang mata.

"Kau perhatikan lukisan bunga ini, sepintas lalu tidak ada artinya, jika diselami kau akan mengerti sendiri arti dari pada lukisan bunga ini, didalam kitab ini terdapat ilmu totokan luar biasa. Kau pelajarilah." Menyambuti kitab itu, si pemuda lalu bertanya .

"Suhu, ketika teecu mulai masuk kedalam lembah Im-bu-kok, didalam kamar batu kotor itu, suhu terikat kaki dan tangan dengan rantai-rantai besar, keadaan suhu seperti orang sudah mati, mengapa bisa mendadak bebas, dan bisa menolong diri teecu ?"

"Hm, anak, semuanya itu kau punya gara-gara keluyuran ditempat ini, waktu itu aku sudah ingin mati saja, haaaa…"

Orang tua itu menghela napas, lalu sambungnya .

"Anak, didalam rimba persilatan, seratus tahun yang lalu, namaku pernah menggetarkan jagat, tak seorangpun bisa menandingi ilmu kepandaianku, akulah manusia super sakti tanpa tandingan, setelah malang melintang puluhan tahun didunia kang-ouw keluyuran kesana kemari mencari lawan yang setimpal, akhirnya aku merasa malu sendiri perbuatanku itu seperti lakunya orang gila, maka aku mencari tempat sunyi ini untuk menghabiskan hari tuaku....."

"Suhu, bolehkah muridmu mengetahui nama besar suhu ?"

Memotong si pemuda.

"Hmm........ Thian-lam-it-lo Kak Wan Kie-su,"

Jawab si orang tua.

"Setelah sepuluh tahun aku mengeram dilembah Im-bu-kok ini entah bagaimana timbul di otakku pikiran gila lagi, waktu itu aku bercita-cita menciptakan satu ilmu baru untuk menandingi ilmuku sendiri........."

"Haaaaah.............."

Si pemuda terbelalak heran.

"Sejak timbulnya angan-angan gila itu, aku keluar lembah mencari seorang murid yang berbakat, akhirnya aku mendapatkan orang yang kucari, orang itu juga sudah terkenal namanya dengan sebutan Leng-leng Pak Su. Aku tidak menyelidiki lebih dalam asal usul Leng-leng Pak Su, toch yang kuperlukan orang yang berbakat bisa menerima seluruh kepandaianku, yang kelak aku akan mengalahkannya dengan ilmu baruku. Ternyata pilihanku tidak salah, Leng-leng Pak Su bisa menerima warisan ilmu silatku dalam waktu singkat. Setelah itu ia kusuruh merantau dirimba persilatan, sedang aku sendiri menciptakan ilmu baru untuk mengalahkan Leng-leng Pak Su."

Orang tua itu menghentikan ceritanya, menjulurkan tangannya kearah si pemuda katanya.

"Mana pisau belatimu? Coba kulihat."

Si pemuda segera mengangsurkan pisau itu diserahkan kepada si orang tua. Orang tua kerempeng yang bernama Thian-lamit-lo Kak Wan Kie-su sedang menimang-nimang pisau itu, ia melanjutkan ceritanya.

"Sepuluh tahun kemudian aku berhasil menciptakan ilmu Cit-cu Sin-kang. Ketika aku sedang bersemedi meyakinkan ilmu Cit-cu Sin-kang hasil ciptaanku selama sepuluh tahun, muridku Leng-leng Pak Su kembali kedalam lembah Im-bu-kok bersama tiga orang murid-muridnya, Lie Ceng San, To Houw An, Liauw Hong dan Su-mo Tok-liu........ Begitu ia tiba, menyaksikan aku sedang bersemedhi, Teng-leng Pak Su menyerang diriku dengan ilmu angin puyuh. Dalam keadaan bersemedhi tidak sempat lagi aku mengelakkan serangan itu, lebih-lebih dalam melatih ilmu Cit-cu Sinkang pikiran tidak boleh terganggu, terganggu sedikit saja bisa Masuk Api. Mendapatkan serangan angin puyuhnya, tubuhku mengalami jalan darah Masuk Api........"

"Hoaya......"

Teriak si pemuda.

"Tubuhku yang sudah masuk api tidak bertenaga, jalan-jalan darahku bergeser berbalik. Dengan tidak memandang hubungan guru dan murid Leng-leng Pak Su merantai tubuhku, mereka menyiksa selama lima tahun ditempat ini......."

"Suhu..... sungguh gila perbuatan murid durhaka itu, apa sebenarnya maksud mereka berbuat begitu ......"

Bertanya si pemuda. Thian-lam-it-lo Kak Wan kie-su mengurut urut jenggotnya yang putih meletak, menghela napas baru berkata.

"Murid durhaka itu didalam rimba persilatan malang melintang sesuka hati, akhirnya orang-orang rimba persilatan golongan tua bermunculan dan mereka mengenali ilmu yang dipergunakan si murid durhaka itu adalah ilmu Thian-lam-it-lo. Juga Leng-leng Pak Su berhasil mengendus bahwa Thian lam-it-Io memiliki satu peta yang menunjukkan tersimpannya satu barang pusaka. Itulah maksud Leng-leng Pak Su menyiksa diriku agar aku mengeluarkan peta tersebut."

"Apa suhu sudah berikan peta itu ?"

Bertanya si pemuda.

"Aiiiii.....sebetulnya aku tidak memiliki peta apapun !"

"Haaa, jadi bagaimana bisa tersiar peta itu berada pada suhu?"

Bertanya si pemuda dengan nada heran.

Thian-lam-it-lo Kak Wan Kie-su menimangnimang belati si pemuda lalu sreet, dicabutnya pisau belati itu dari sana memancarkan sinar putih kemilauan.

Lalu katanya .

"Aku hanya mengetahui bahwa peta itu tersimpan didalam tiga bilah pisau belati…"

Si pemuda mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti, bagaimana ada peta tersimpan dalam tiga pisau belati. Kemudian ia bertanya .

"Apa maksudnya peta tersimpan pada tiga pisau belati, apakah suhu juga tahu dimana pisau-pisau belati itu ?"

"Aku tidak tahu, berita ini juga kudapatkan dari seorang pengembara bangsa Arab digurun pasir Gobi. Orang arab itu menceritakan bahwa tiga bilah pisau pusaka yang merupakan peta dari satu barang pusaka gaib sudah terjatuh kedalam tangan pedagang-pedagang Birma yang memasuki daerah Tionggoan, Dari ciri-ciri yang diberikan orang Arab itu, pada setiap gagang pisau terdapat ukiran-ukiran binatang, Naga, burung Hong dan lukisan pedang."

Kembali orang tua itu menimang-nimang pisau belati ditangannya lalu sambungnya .

"Salah satu pisau berukir Naga ternyata terdapat pada tubuhmu. Inilah pisau itu."

Kak Wan Kie-su memasukkan kembali pisau belati itu kedalam serangkanya, lalu diserahkan kepada si pemuda, katanya .

"Simpanlah barang ini, diatas badan pisau itu terdapat guratanguratan yang belum bisa dipecahkan, sebelum kedua pisau lainnya didapatkan." Si pemuda menyambuti pisaunya, ia cabut dari serangkanya diperhatikan kilauan pisau itu, ternyata benar diatas tubuh pisau terdapat tandatanda guratan.

"Suhu....... sebetulnya barang pusaka apakah itu ?"

Tanya si pemuda.

"Itulah satu barang pusaka luar biasa, orang Arab yang kujumpai digurun pasir Gobi menyebutnya Pusaka Pedang Embun."

"Haaa .... sungguh aneh nama pedang pusaka itu ... ."

"Ya .... pedang itu juga bukan berasal dari daratan Tionggoan, itulah pusaka gaib bangsa Arab dari jaman nabi-nabi. Entah bagaimana pusaka gaib bangsa Arab itu bisa terpendam didaratan Tionggoan."

"Suhu....mungkin pusaka itu dibawa oleh para pengembara bangsa Arab dalam mengembangluaskan ajaran agama mereka."

Kata si pemuda.

"Hai ....kau cerdik bocah !"

Kata Kak Wan Kiesu singkat. Setelah Thian-lam-it-lo Kak Wan Kie-su mengunyah beberapa buah Ouw-co, ia berkata lagi.

"Anak, selama ini kau masih belum tahu asal usulmu, bahkan namapun kau tidak punya, untuk memudahkan pergaulanmu didunia, maka sebaiknya kau menggunakan nama Liong Houw, kukira nama itu cocok dengan keadaanmu, Liong kuambil dari ukiran gagang pisau belatimu, sedang Houw dari pakaian kulit macan yang selama ini kau pakai." "Liong Houw..... Liong Houw.....Liong Houw…."

Si pemuda mengucapkan kata-kata itu berulang kali, lalu menanya .

"Liong Houw berarti naganya harimau !"

"Suhu, kemana perginya Leng leng Pak Su bersama keempat orang muridnya dan bagaimana suhu bisa bebas dari ikatan-ikatan rantai yang mengekang diri suhu.......?"

Liong Houw mengulangi pertanyaannya.

"Hao, bocah, ah, Liong Houw, rupanya Tuhan masih belum mau menerima roh tuaku, dua kali siulanmu itu telah membuat jalan-jalan darahku yang bergeser masuk api kembali normal, bahkan membantu menyempurnakan ilmu Cit-cu Sinkang, ah… suatu keanehan luar biasa. Empat orang murid Leng-leng Pak Su ternyata tidak sanggup mendengar gema siulanmu, dari mata hidung dan telinganya mengalirkan darah, nyawanya melayang keakherat. Aaaa, Liong Houw kau jangan sembarang mengeluarkan siulan semacam itu dirimba persilatan, sungguh mengerikan akibatnya."

"Suhu, teecu sendiri tidak menyadari siulan itu berakibat hebat, sedang pada siulan yang kedua kalinya, sudah hampir memakan napas teecu semuanya hingga teecu kehilangan tenaga sendiri."

Kak Wan Kie-su sudah berkata.

"Sesudah siulanmu yang kedua kali sirap, jalan darahku normal kembali, rantai yang mengekang diriku juga tidak ada artinya lagi sekali sentak saja rantairantai berarakan berhamburan dilantai. Segera kuayun langkah keluar ingin menyaksikan apa yang terjadi. Ternyata tubuhmu sudah ambruk ditanah. Murid durhaka Leng-leng Pak Su tentu kaget melihat kehadiranku, ia segera kabur meninggalkan mayat-mayat keempat muridmuridnya."

"Suhu tidak mengejar ?"

Tanya si pemuda gondrong yang kini bernama Liong Houw.

"Yang perlu menolong dirimu !"

Berkata Kak Wan Kie-su. Liong Houw hanya angguk-angguk kepala.

"Bocah !"

Berkata lagi Thian-lam-it-lo Kak Wan Kie-su.

"Hatiku sudah tawar terhadap segala urusan dunia, juga urusan murid durhaka Lengleng Pak Su kuserahkan padamu. Harapanku apa yang kau sudah miliki, pergunakanlah untuk kebaikan umat manusia, bagaimana caranya terserah padamu untuk mengatasi problemaproblema dunia Kang-ouw, sebelum kau terjunkan diri dirimba persilatan, sebaiknya kau kembali kedalam lembah air terjun, kau perhatikan lagi baik-baik lukisan-lukisan itu, apa yang kau miliki sekarang baru merupakan kulit yang tidak berarti, malah salah-salah bisa menyesatkan dirimu. Sebelum kau berhasil meyakini seluruh kepandaian yang terpendam dalam lembah air terjun, jangan coba-coba bentrokan dengan murid durhaka Lengleng Pak Su, kau masih bukan tandingannya !"

Liong Houw hanya mengangguk-angguk.

Setelah dua hari Liong Houw alias si pemuda gondrong menerima petuah-petuah berharga Thian-lam-it-lo Kak Wan kie-su, pada hari pagipagi, ia meninggalkan lembah Im-bu kok.

Liong Houw yang kini mengenakan pakaian pelajar berwarna putih, berwajah tampan dengan sinar matanya kebiru-biruan memiliki jidat lebar dengan Iangkah-Iangkah kaki perlahan berjalan menaiki tebing-tebing gunung menembus awanawan putih kembali terjun kedunia ramai.

Masih mendengung ditelinganya kata-kata Thian-lam-it-lo Kak Wan Kie-su, ia harus kembali kedalam lembah air terjun memperdalam ilmunya.

Pikiran lain berkelebat, menjejal isi rongga kepalanya, bayangan si nona jelita Lie Eng Eng mengamuk memerangi suara dengung-dengung kata-kata Kak Wan Kie-su.

Liong Houw tidak bisa mengenali nama dan wajah si nona jelita, tapi bentuk raut-raut cantik serta potongan tubuh menggiurkan terpeta jelas dibenaknya.

Pertempuran dalam bathin Liong Houw menjadikan dirinya seakan orang linglung, kadang kala tersenyum seorang diri, kadang kala berkemak-kemik, kadang kala cemberut asam.

Mendahulukan ilmu kepandaian, ataukah mendahulukan menemukan si nona jelita ?

Dua problem itulah yang memenuhi rongga kepalanya, cinta, ya, cinta… memang cinta itu gila, lebih gila dari orang yang gila, karena cinta itulah sesaat Liong Houw lupa menyelidiki asal usul dirinya, lupa ia siapa ayah ibunya, lupa siapa dirinya.

Diantara berkecamuknya pikiran-pikiran itu, akhirnya Liong Houw mengambil keputusan tegas untuk dirinya sendiri, mengutamakan si nona jelita.

Dengan bekal pengetahuan yang ditanamkan oleh Thian-lam-it-lo Kak Wan Kie-su selama dua tahun Liong Houw berdiam di lembah Im-bu-kok, ia sudah bisa membedakan perbuatan baik dan buruk.

Perbuatan susila dan asusila.

Apa yang pernah dilakukannya dikelenteng rusak tiga tahun yang lalu atas diri si nona jelita Lie Eng Eng adalah merupakan satu perbuatan terkutuk.

Melanggar norma-norma kehidupan masyarakat.

Mengingat itu, wajahnya menjadi merah, darahnya menyelusur cepat menembusi urat-urat tubuhnya.

Keputusan bulat telah diambil, ia harus segera mempertanggung jawabkan perbuatan itu dihadapan si nona jelita.

Pertanggungan jawab dengan mendapatkan uluran balasan cinta kasihnya si nona yang selama ini sudah mengeram didada Liong Houw, ataukah menerima pertanggungan jawab diatas tajamnya pedang Anglo-po-kiam si Pedang Macan Betina.

Semua itu akan dihadapinya dengan tenang serta ketulus ikhlasan sebagai laki-laki jantan sejati.

0)0od^wo0(0 LlONG HOUW menengadahkan kepalanya kelangit, awan-awan hitam bergelusuran tertiup angin memenuhi angkasa, langit tambah lama tambah gelap, kilat dan petir menyusul bersambut225 sambutan.

Hujan rintik-rintik turun membasahi persada.

Langkah si pemuda dipercepat mencari tempat meneduh.

Matanya yang jeli dapat melihat berkelebatnya bayangan hitam didalam rimba sebelah utara disusul suara derap-derap langkah kaki kuda berkecoprakan di tanah belukar becek.

Tak lama, berlari lima ekor kuda, ditunggangi lima laki-laki tegap berseragam tentara negeri.

Kuda-kuda itu mengejar kearah larinya bayangan hitam, suaranya hilang ditelan riap-riap air hujan menimpa daun-daun pohon.

Langkah kaki Liong Houw melesat mengikuti kearah larinya penunggang-penunggang kuda itu.

Tak lama, tampak dihadapannya, satu pemandangan yang mengerikan.

Ditanah belukar menggeletak rebah sosok tubuh berpakaian compang camping, kedua tangan dan kakinya terikat seutas tali kulit.

Ujung-ujung tali kulit itu terikat pada pelana ke empat ekor kuda yang ditunggangi oleh orang-orang berseragam tentara negeri.

Sosok tubuh itu sudah terikat, kaki tangannya terlentang menghadap langit.

"Anjing pemberontak. Tubuhmu akan koyak menjadi empat potong, kaki dan tanganmu akan terpisah-pisah, haaaa......."

Berkata seorang penunggang kuda, sambil memecuti tubuh yang tergeletak ditanah belukar itu.

"Phui ......lima anak anjing pemerintah, selama hidupku tidak bisa membalas dendam ini, kelak sudah mati setanku gentayangan mengejar-ngejar roh hidupmu, sampai tidak bisa hidup tenang lagi !"

Terdengar suara sosok tubuh yang menggeletak ditanah belukar.

Tar ....

tar .

...

tar .....

Terdengar suara pecut menggeletar menghujani sosok tubuh itu.

Tubuh itu bergeliat-geliat menahan sakit dan perih bekas pecutan tersiram air hujan tapi tak terdengar suara keluhan yang keluar dari mulutnya.

"Hayo....tarik..."

Si penunggang kuda dengan memecuti tubuh orang itu, memberi perintah.

Ternyata dialah Komandan Regu berkuda itu.

Kuda-kuda bergerak keempat penjuru.

Tali-tali kulit meregang kencang, tubuh orang itu perlahan naik terangkat mengambang ditengah udara, kaki tangannya tertarik oleh tali-tali kulit menegang diatas pelana kuda.

Sosok tubuh itu menghadap kelangit air hujan rintik-rintik menimpa muka mata mulut orang itu.

Mulut orang itu menganga, air hujan memasuki tenggorokannya.

"Pemberontak ....! Hua, ha, ha ... bruuuuuukkkkk…."

Tiba-tiba sang Komandan regu yang memegang pecut menghentikan tawanya, mulutnya yang sedang tertawa terbahak-bahak itu secara mendadak kemasukan gulungan air memasuki kerongkongannya, ia terbatuk-batuk muntah.

"Huuaa........anak anjing!"

Terdengar orang yang terikat kaki tangannya itu tertawa memaki.

"Enak tidak air reakku ........ha, ha, ha......" Ternyata orang itu menghadapi maut masih bisa melakukan serangan yang sangat ugal-ugalan, airair hujan yang memenuhi tenggorokannya, disemburkan muncrat tepat masuk kemulut sang Komandan Regu yang sedang tertawa-tawa, sampai si pemegang pecut muntah-muntah.

"Huuueeeek, phuih......hayo cepat beset tubuh anjing pemberontak ini !"

Sang Komandan Regu berteriak memberi aba-aba.

Langkah-langkah kaki kuda berketoprakan, tali kulit tambah menegang, wajah muka orang yang tertarik kaki dan tangannya berkerinyut otot-otot tubuhnya menonjol mengadakan perlawanan mempertahankan nyawanya.

Eeeeeeeuuuh........terdengar suara orang ngeden menahan tarikan keempat kuda-kuda.

itu Tiba-tiba..........

Cres......clus.......plus........buk.......terdengar suara tali-tali pengikat kaki tangan orang itu tibatiba putus, tubuh orang itu ambruk di tanah.

"Hooaaa......"

Kelima penunggang kuda berpakaian tentara negeri itu masih terbengongbengong, tubuh orang yang tadi terikat kaki tangannya meletik, menyambar pecut yang menguntai ketanah.

Si Komandan Regu ketika terasa pecutnya terbetot, ia terkejut, tapi sudah terlambat, gagang pecutnya sudah berpindah ketangan si pemberontak.

Tar......tar.....tar......

Orang itu memecuti tubuh si Komandan Regu yang tadi memecuti dirinya, mulutnya berteriak .

"Tayhiap..... mengapa masih sembunyikan diri, hayo cepat keluar memberesi kawanan anjing pemerintah ini."

Begitu menutup kata-katanya, keempat penunggang kuda sudah menyerang dengan golok masing-masing kearah orang tadi.

"Hayaaa......mati aku.....tayhiap......"

Tring, tring, treng, trang.........

Terdengar suara golok-golok mental diudara bertubrukan satu sama lain, berpencar lalu turun melesat kembali tepat jatuh menancap diatas empat ekor kepala kuda yang ditunggangi oleh para penyerang tadi.

Terdengar suara ringkik kuda ngusruk ambruk jatuh kedepan.

Sedang tubuh keempat orang penunggangnya meletik menghindari tubuhnya tertindih kudanya sendiri.

"Kabur.....!"

Terdengar perintah si Komandan Regu yang tadi memegang pecut sambil menarik les kudanya meninggalkan rimba itu, diikuti oleh melesat empat bayangan lainnya.

"Tayhiap, aku si pengemis cilik Ho Ho....."

Terdengar lagi suara orang yang tadi terikat kaki dan tangannya dengan tali-tali kulit yang ditarik oleh empat ekor kuda.

Begitu jiwanya tertolong ia lantas pentang mulut.

Tapi baru sampai kata Ho Ho diucapkan matanya terbelalak lebar, mulutnya menganga ia duduk numprah di tanah belukar.

Diatas dahan pohon sudah tampak duduk seorang pemuda berpakaian pelajar berumur sebaya dengan si pengemis Ho Ho, kehadiran si pemuda bagaimana ia tidak sampai mengetahuinya, toch tadi ia terlentang, menghadap langit, persis dibawah pohon di mana si pemuda itu duduk.

Ia yakin si pemuda inilah yang telah menolong dirinya.

Ternyata usia orang itu semuda usianya sendiri.

Saking herannya ia duduk lemas numprah di tanah.

Si pemuda yang duduk diatas dahan pohon bukan lain daripada Liong Houw, si pemuda yang berpenyakit rindu.

Begitu si pengemis cilik Ho Ho bangun berdiri, Liong Houw sudah berada disampingnya.

Mulut Ho Ho menganga, Liong Houw sudah memperkenalkan dirinya.

"Aku Liong Houw. Bagaimana sebutan nama saudara ?"

Ho Ho melengak mendengar pertanyaan Liong Houw, toch tadi ia sudah perkenalkan namanya Ho Ho, mengapa bocah ini bertanya lagi ?

Ho Ho berpikir begitu ia tidak tahu keadaan jiwa si pemuda yang sedang diamuk rindu.

Meskipun tangannya tadi bergerak menolong Ho Ho, tapi pikiran Liong Houw melayang-layang kewajah si nona jelita.

Hingga apa yang tadi diucapkan Ho Ho ia tidak mendengarnya.

"Ah.......... mungkin tadi saudara Liong Houw tidak dengar aku sudah perkenalkan diri, aku si pengemis cilik Ho Ho,"

Kata Ho Ho mengulangi, sambil senyum dibuat-buat. "Oh, ya, ya,.........betul pikiranku sedang ruwet!"

Jawab Liong Houw cepat.

"Sudahlah!"

Kata Ho Ho.

"Ilmu kepandaian saudara hebat. Aku sangat kagum, kukira tadi orang yang telah menolongku tentu sebangsa nenek-nenek peot, atau kakek-kakek kerempeng, tak taunya kau......."

"Ha, ha, hua, haaaaaaa........."

Keduanya tertawa geli. Liong Houw dengan senyum-senyum berkata .

"Saudara Ho Ho, bagaimana saudara bisa sampai dianiaya orang-orang itu?"

"Huh............ anak-anak anjing pemerintah itu, sungguh tidak kuduga mereka juga memiliki kepandaian begitu lumayan. Ketika aku mendengar berita guruku sudah dikeram dikamar perdeo pembesar anjing di Pak-kia, aku menyatroni tempat itu untuk membebaskan suhuku, tapi belum apa-apa sudah kekepung duluan, sampai beberapa hari aku dikejar-kejar kedalam rimba ini. Untung saudara Liong Houw datang. Eh, ilmu apa yang tadi kau gunakan ?"

Tanya Ho Ho.

"Ah, itu ilmu biasa saja, ilmu itu bukan ilmu apa-apa hanya ilmu totokan jarak jauh, juga tidak sulit untuk mempelajarinya, dalam waktu dua hari juga sudah bisa !"

Mulut Ho Ho kembali dibuat menganga lebar mendengar keterangan Liong Houw, betapa tidak, sebagai anak gembel yang bergelandangan didunia Kang-ouw, ia sudah pernah mendengar nama ilmu totokan jarak jauh, ilmu itu adalah ilmu yang sudah ratusan tahun lenyap dari muka bumi, ia belum pernah mendengar ada tokoh silat yang memiliki ilmu yang sudah lama lenyap itu.

Mengapa?

Mengapa si Liong Houw ini menyebutnya bukan ilmu apa-apa, bahkan dikatakannya dalam tempo dua hari bisa mempelajari ilmu totokan itu, apakah betul-betul ia sedang menghadapi seorang pemuda gendeng?

"Hei,"

Tegur Liong Houw menyaksikan sikap Ho Ho yang hanja terlongong-longong saja.

"Aha....."

Ho Ho sadar lalu bertanya .

"Ilmu totokan itu, apakah namanya ?"

Liong Houw mendapat pertanyaan begitu menjadi bingung, ia tidak tahu apa nama ilmu totokan itu, didalam kitab pelajaran yang diberikan oleh Kak Wan Kie-su, buku itu tidak bernama.

Dikulit buku hanya terdapat lukisan-lukisan bunga.

Sedang Kak Wan Kie-su sendiri tidak memberitahukan ilmu itu ilmu apa, mengingat lukisan-lukisan bunga dikulit buku, ia berkata .

"Ilmu totokan itu namanya bunga-bunga gugur kebumi !"

"Waduh! .......... Nama yang romantis, bungabunga gugur kebumi! Tentunya bunga yang sudah terhisap madunya oleh sang kumbang jalang,"

Ucapan Ho Ho yang asal keluar dari mulutnya membuat selembar wajah Liong Houw menjadi merah. Menyaksikan perobahan wajah Liong Houw cepat Ho Ho berkata .

"Maafkan, maafkan ...... bukan maksudku…." "Tidak apa-apa......."

Memotong Liong Houw.

"Siapakah guru saudara Ho Ho itu ?"

"Pie-tet Sin-kay, si pengemis gila politik !"

Jawab Ho Ho agak kesal yang gurunya begitu keranjingan politik, akibatnya sang guru harus mendekam dikamar tahanan dikota Pak-kia.

"Apakah saudara Liong Houw juga kenal pada guruku ?"

Liong Houw menggeleng kepala. Ho Ho heran, lalu tanyanya lagi ;

"Apakah saudara Liong Houw baru turun gunung ? Sampai tak mengetahui seluk beluk dunia Kang-ouw ?"

Liong Houw hanya tersenyum-senyum pahit, ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Si pengemis cilik Ho Ho berkata lagi .

"Saudara Liong Houw, kemana tujuanmu ?"

Liong Houw bingung, kemana tujuannya, ya, ia sendiri tak tahu mau kemana.

Selama ini langkahnya digerakkan hanya mencari bayangan si nona jelita.

Selagi Liong Houw masih bingung Ho Ho sudah berkata lagi .

"Saudara Liong Houw, kalau kau tidak ada tujuan apakah tidak keberatan berjalan bersama anak gembel busuk seperti aku?"

"Saudara Ho Ho, jika kau sudi berjalan bersamaku, aku juga tidak keberatan. Tapi hujan masih turun deras, bagaimana, apakah kita meneruskan perjalanan juga ?" "Ya, tentu saja, berdiam disini juga kehujanan ! Bagaimana sih pikiran saudara Liong Houw ini, kata-katamu selalu ngawur seperti orang lagi mabok asmara."

Lagi-lagi kata-kata si pengemis licik Ho Ho membuat selembar wajah Liong Houw menjadi merah.

Diantara berkelebatnya sinar kilat berjalan dua sosok bayangan, seorang berpakaian pelajar, seorang lagi berpakaian compang-camping dekil.

Mereka berjalan mengobrol sambil tertawa-tawa tanpa memperdulikan air hujan yang membuat baju mereka lepek, basah kuyup.

Pada suatu hari, perjalanan mereka tiba di kampung Ciu-kee-cun diluar kota Cee lam-hu dipropinsi Shoatang.

Mendadak, mereka mendengar suara tangisan seorang wanita yang sangat menyedihkan.

Liong Houw dan Ho Ho dengan perasaan heran mereka menghampiri dari mana datangnya suara tangisan tadi.

Ternyata suara tangisan itu datang dari sebuah rumah kayu yang bangunannya sangat sederhana.

Mereka mengetuk pintu.

Tapi tak terdengar suara jawaban dari dalam, yang terdengar hanya suara tangisan.

Si pengemis cilik Ho Ho yang beradat duksrulung mendorong daun pintu, ternyata pintu tidak terkunci, ia berkata pada Liong Houw.

"Saudara Liong, kalau ingin tahu apa yang terjadi didalam rimba persilatan, jangan pakai aturanaturan kesopanan segala, hayo masuk!"

Kakinya melangkah kedalam.

Liong Houw mengikuti masuk.

Didalam kamar, duduk seorang nenek tua menelungkupkan kepalanya diatas meja, ia menangis menggerunggerung.

Mendengar ada suara orang masuk, ia dongakkan kepalanya, kemudian ditelungkupkan kembali menangis sesenggukan.

"Lopekbo !"

Tanya Ho Ho.

"Kau tua bangka mengapa nangis seperti anak kecil? Apakah kau bisa memberi keterangan, mungkin kawanku yang baik hati ini bisa menolong kesulitanmu !"

Orang tua itu ketika mendengar pertanyaan Ho Ho mengangkat kepalanya, matanya basah mendelik, lalu ditelungkupkan lagi menangis sesenggukan.

Ho Ho menoleh kearah Liong Houw.

Tangan Liong Houw memegang pundak Ho Ho menyuruh ia menyingkir.

Kemudian Liong Houw menghampiri si nenek, bertanya ;

"Nenek, mendengar suara isak tangismu, hatiku turut sedih, apakah yang membuat nenek sesedih ini, bisakah menceritakan sebab-sebabnya, mungkin aku bisa menolong meringankan penderitaan nenek!"

Si nenek ketika mendengar kata-kata yang belakangan ternyata lebih sopan, hatinya tergerak, ia angkat kepalanya, dadanya masih sesenggukkan, matanya memandang ke arah Ho Ho.

Cepat Ho Ho buang muka.

Setelah itu si orang tua menatap wajah Liong Houw, baru berkata.

"Oh, siucay! Aku punya penderitaan kau juga tak mungkin bisa menolong!" "Lopekbo! Harap jangan khawatir,"

Berkata Liong Houw.

"Ceritakanlah apa yang menyebabkan nenek bersedih seperti ini."

Si nenek yang dihujani pertanyaan Liong Houw, ia menceritakan apa sebabnya ia bersedih.

"Aku she Sian, majikanku almarhum benama Ciu Liang Seng, mempunyai satu anak perempuan, pada suatu hari, enam tahun berselang, ketika anak perempuan majikanku baru berumur enam tahun, entah mengapa mereka suami istri tiba-tiba kedapatan mati dibunuh orang dengan badan berlumuran darah. Hanya tinggal hidup Liu Ing, anak perempuan majikanku itu, selang beberapa tahun harta benda habis kujual untuk menutupi biaya hidup merawat Liu lng, sampai akhirnya aku tinggal digubuk ini, dan Liu Ing sudah berusia enambelas tahun."

Nenek itu kembali menelungkupkan kepalanya diatas meja menangis lagi menggerung-gerung.

"Nenek......."

Tegur Liong Houw.

"Haa, hih, huh,......."nenek itu mengangkat kepalannya sesenggukkan lalu berkata.

"Kemarin sore, datang seorang hweeshio kerumahku, hweeshio itu minta sedekah, tadi oleh karena keadaanku juga sangat miskin, maka aku tidak bisa memberikan derma padanya, hweeshio gundul tempo melihat pada Liu Ing, ia memandang dengan wajah menjemukan sekali, lalu ia segera berjalan pergi. Siapa duga, pagi-pagi ini dengan mendadak Liu lng lenyap entah kemana perginya, aku sudah mencari ubek-ubekan tapi tidak ketemu, lalu aku pulang kembali kerumah ini menangis." "Apakah nenek mengenali wajah hweeshio yang datang minta derma?"

Tanya Liong Houw.

"Hweeshio itu mengenakan pakaian pertapaan warna hitam, mukanya bengis, dan matanya besar, tampangnya menyeramkan."

"Oh ! Kalau begitu baiklah nek, tenangkan pikiranmu, nanti aku akan pergi mencari anak perempuanmu."

Berkata Liong Houw sambil berjalan menghampiri Ho Ho yang masih berdiri diambang pintu.

"Saudara Ho Ho, apakah kita pergi bersama mencari anak perempuan nenek ini?"

Ho Ho menoleh, katanya.

"Huh, kau mau cari kemana?"

Dengus Ho Ho ugal-ugalan.

"sudah beberapa kali dirimba persilatan kejadian-kejadian seperti itu, gadis-gadis lenyap secara misteri, belum pernah ada orang yang bisa membawa kembali gadis yang hilang."

"Tapi, hilangnya Liu Ing tidak misteri, jejak si penculik sudah bisa diduga, pasti itu perbuatan hweeshio gundul berpakaian hitam. Haaaayaaa................ kini kuingat, di dekat-dekat sini, bukankah terdapat satu kelenteng?"

Tanya Liong Houw.

"Ya, disebelah barat kota terdapat satu gereja, nama gereja itu Liong-ong-bio, tapi sejak dua tahun yang lalu gereja itu tutup, tidak pernah dikunjungi orang lagi,"

Menerangkan Ho Ho. Liong Houw mengangguk, lalu katanya .

"Saudara Ho, sebaiknya kita berpencaran dulu, aku akan menyelidiki gereja Liong-ong-bio, kau boleh pergi ke kota, nanti sore kita bisa bertemu ditempat ini, bagaimana?"

"Baiklah!"

Ho Ho melesat masuk kedalam kota Cee-lam-hu.

Dengan langkah-langkah kaki cepat luar biasa, Liong Houw melesat bagaikan asap mengepul, menuju kearah kelenteng Liong-ong-bio.

Ia masih ingat peristiwa dua tahun yang lalu, dimana ia pernah menolong Swat Louw Hosiang.

Keadaan kelenteng itu masih tetap seperti dulu, hanya tampak sunyi senyap, di pekarangan kelenteng bertumpuk daun-daun kering pohon Go-tong.

Setelah melompati tembok kelenteng Liong Houw langsung menghampiri pintu, ternyata pintu itu juga tidak terkunci, dengan dorongan ringan pintu itu sudah terbuka.

Memasuki ruangan tengah kelenteng di sana tampak sunyi, tidak terdengar suara apapun.

Didalam ruangan itu masih terdapat beberapa pintu kamar yang tertutup rapat.

Menyaksikan keadaan dalam kelenteng itu begitu sunyi, tidak menemukan tanda-tanda yang mencurigakan, Liong Houw melangkahkan kakinya keluar, melompati tembok pekarangan.

Baru saja kedua kakinya sampai ditanah, diluar pekarangan kelenteng Liong-ong bio berdesir sesuatu yang mencurigakan, kupingnya yang tajam mendengar suara isak tangis lemah sayup-sayup dibawa angin.

Liong Houw celingukan, mencari dari mana datangnya suara isak tangis itu.

Hatinya merasa heran suara itu seperti keluar dari dalam kelenteng, tapi mengapa tadi ia tidak mendengar suara apa-apa.

Tidak mau berpikir panjang lebar, Liong Houw melesat kembali, melompat pagar tembok halaman kelenteng, suara itu tampak terdengar jelas, keluar dari ruangan dalam kelenteng itu.

Ternyata suara isak tangis itu keluar dari salah satu kamar didalam ruangan tengah.

Segera Liong Houw menghampiri pintu kamar itu.

Ternyata pintu itu juga tidak terkunci.

Didalam kamar, terbaring diatas tempat tidur kayu seorang gadis, dengan kaki tangan terikat.

Gadis itu menangis tersedu-sedu, matanya bendul merah.

Begitu menampak kehadiran Liong Houw, gadis itu menghentikan isakannya, tubuhnya gemetaran.

Liong Houw cepat membukai ikatan-ikatan gadis itu, lalu tanyanya .

"Apakah kau Liu Ing?"

Gadis itu yang masih ketakutan, terhuyung huyung mundur sampai mepet didinding.

"Kau jangan takut, aku datang hendak menolongmu, apakah kau Liu Ing?"

Tanya lagi Liong Houw.

Mendengar orang didepannya bermaksud menolong dirinya dan juga sudah menyebut namanya, gadis itu menganggukkan kepala.

Liong Houw cepat menyambar tubuh gadis itu, melesat keluar meninggalkan kelenteng Liong-ongbio.

Dengan masih membopong Liu Ing, hati Liong Houw kebat kebit, ternyata gadis ini juga memiliki wajah ayu, bentuk potongan tubuhnya tidak kalah dengan si Pedang Macan Betina yang pernah dilalapnya, hanya usianya gadis ini lebih muda beberapa tahun.

Hai, didunia ini rupanya banyak sekali gadisgadis cantik.

Otak Liong Houw yang selama beberapa tahun sudah terjejal bayangan wajah si nona jelita Pedang Macan Betina, berhasil memukul mundur pikiran yang baru saja berkelebat dibenaknya.

Kembali kenangannya dipenuhi bayang-bayang wajah Lie Eng Eng.

Dengan pakaian dekil Ho Ho memasuki kota Cee lam-hu, langkahnya diayun ke arah rumah makan Sam-gie, disana sudah tampak banyak tamu-tamu yang makan minum.

Diantara para tamu yang sedang makan minum, disebuah meja sebelah barat utara duduk dua orang hweeshio gundul berpakaian hitam, makan minum dengan sangat rakus.

Disudut ruangan sebelah timur, duduk seorang gadis cantik jelita mengenakan pakaian sutra putih.

Di belakang gegernya tampak menonjol gagang pedang berukiran kepalanya macan.

Ho Ho yang menampak gadis itu, segera berjalan menghampirinya lalu tegurnya .

"Kalau tidak salah nona ini adalah Bo-tay-tiong-kiam."

Mendengar teguran itu, si gadis jelita menoleh, tampak disampingnya seorang pengemis muda, Botay-tiong-kiam Lie Eng Eng, segera mengetahui siapa adanya anak gembel ini, dengan tersenyum manis, ia berkata .

"Duduklah, suhumu pernah bilang padaku, ia sudah mengangkat seorang murid. Apakah kau yang disebut si pengemis cilik Ho Ho?"

Ho Ho menganggukkan kepala.

"Nona, melihat gagang pedang berukiran macan tersembul digegermu, aku segera bisa menduga kaulah si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng."

"Hm, apakah kau sudah dengar, pembesar anjing Pakkia akan melaksanakan hukuman mati atas diri suhumu, pada tanggal sebelas bulan ini?"

Tanya Lie Eng Eng.

Ho Ho tercengang, ia belum pernah dengar berita tentang keputusan hukuman mati atas diri suhunya, ia hanya tahu, kalau sang suhu sedang mendekam dalam penjara dikota Pakkia, bahkan dirinya sendiri hampir saja binasa ditangan tentara negeri.

Ia bertanya kepada Lie Eng Eng .

"Nona betulkah ada keputusan begitu?"

"Wah.......bagaimana kau tidak tahu, keputusan tentang hukuman mati itu sudah dikeluarkan, bahkan jendral Cong sendiri yang akan memimpin dilaksanakan hukuman mati itu."

"Tanggal sebelas masih kurang delapan hari,"

Kata Ho Ho.

"Bagaimana aku harus menolong suhu ? Ah dasar adat suhu, sok politik segala, hampirhampir saja nyawakupun terbang kedunia baka, kalau tidak muncul si gendeng Liong Houw, menolong pada waktu yang tepat."

"Liong Houw ? Siapa dia?"

Tanya Lie Eng Eng.

"Aku belum pernah dengar nama Liong Houw. Dimana sekarang orang itu?"

Bo-tay-tiong-kiam Pedang Macan Betina Lie Eng Eng tidak menyadari bahwa Liong Houw adalah itu si pemuda gondrong yang pernah melalap dirinya dikelenteng rusak, selama dua tahun itu, ia mengembara mencari si manusia laknat yang sudah merusak kehormatannya, merusak mahligai hidup rumah tangganya.

Ia harus mendapatkan orang yang telah mencuri kehormatannya guna membuat perhitungan diatas tajamnya pedang Ang-lo-po kiam.

Si pengemis cilik Ho Ho sudah berkata lagi .

"Si gendeng itu seperti sedang gila asmara bicaranya tidak keruan, ia kini sedang mencari gadis yang hilang!"

"Haaah, gila asmara ?"

Tanya Lie Eng Eng.

"Bicaramu juga seenaknya saja."

"Huh !"

Dengus Ho Ho.

"Bagaimana ia tidak gila asmara, kepandaiannya begitu hebat, gerakannya seperti asap, lebih-lebih ilmu totokan jarak jauhnya, memiliki kecepatan lebih cepat dari pada cahaya. Cobalah kau pikir, ilmu sehebat itu, katanya bisa dipelajari dalam tempo dua hari, juga ia menamakan ilmu itu, Totokan Bunga-bunga Berguguran?! Menilik dari kata-katanya itu, apakah ia bukan sedang diamuk gila asmara?......Hei dua ekor kepala gundul itu sejak tadi memperhatikan dirimu ?"

"Aku tahu, mereka bekas pecundangku,"

Kata Lie Eng Eng.

"Yang kanan Tiauw Jie Kun dan yang duduk disebelah kiri Pang Liong Ma, kudengar ilmu golok mereka Jie-sie-lauw, sudah mendapat kemajuan pesat." 0)0od^wo0(0

Jilid ke 06

"HEI PELAYAN !"

Tiba-tiba terdengar suara bentakan Tiauw Jie Kun.

"Kongcu ada perintah apa ?"

Menyahuti seorang pelayan.

"Lekas kau berikan sisa-sisa makanan pada anak gembel itu, ruangan ini berbau busuk melenyapkan selera makanku ! Cepat dan suruh ia lekas keluar."

Si pelayan melenggak, ia memperhatikan kearah dimana Ho Ho bersama Lie Eng Eng duduk. Langkahnya diayun menghampiri meja itu.

"Nona, apakah tidak lebih baik kawan pengemis ini disuruh keluar saja."

Kata si pelayan kepada Lie Eng Eng.

Si pengemis cilik Ho Ho mendengar kata-kata pelayan itu, darahnya meluap ke otak, ia menjadi kalap.

Ho Ho menggeser kursi, tangannya bergerak, membanting tubuh si pelayan.

Brukkkkkk..........Tubuh pelayan itu terpental keluar.

"Kau dua ekor kepala gundul juga sebaiknya keluar menerima hajaran !"

Tantang Ho Ho sengit. Tiauw Jie Kun dan Pang Liong Ma tertawa berkakakan.

"Kau anak gembel butut hua, haaa, didepan sundelmu mau jual lagak, ha, ha, huaaa.......!"

Tertawa Tiauw Jie Kun bergelak-gelak.

Clup, huuuk........

Dengan tiba-tiba, mulut Tiauw Jie Kun yang sedang tertawa berkakakan, tersumbat sesuatu, hingga ia menghentikan tertawanya, mukanya menjadi merah padam, tubuhnya gemetar menahan sabar.

"Hei, gundul ! Bagaimana rasanya lepeh-ku, enak bukan ?"

Tanya Ho Ho mengejek.

Tiauw Jie Kun yang masih meludah-ludah matanya melotot hampir keluar semua, ternyata barang yang menyumbat mulutnya tadi adalah lepehan mulut Ho Ho yang disemburkan dengan jurus Garuda memberi makan anaknya.

"Huek, huueeek ... puih!"

Tiauw Jie Kun beriak.

"Kalau aku tidak mampu memites batok kepalamu gembel busuk, aku tak ingin lagi menjadi manusia hidup ... hueeek, koweek, puih." Ho Ho yang sudah memamerkan ilmu kepandaian semburan mulut, berjalan keluar rumah makan diikuti Lie Eng Eng. Tiauw Jie Kun dan Pang Liong Ma juga pada bangkit, berjalan keluar. Tamu-tamu yang sedang makan minum menyaksikan keributan itu, juga pada bangun berdiri, mereka serabutan keluar rumah makan ingin menyaksikan keramaian apa yang akan dipertontonkan oleh si gembel dekil.

"Nona, kau nyingkir saja, biar aku melayani dua ekor keledai gundul ini !"

Kata Ho Ho sambil masih mengunyah-ngunyah daging paha ayamnya.

"Kau harus hati-hati! Empatpuluh empat jurus Kow-kee-siang-liong-to-hoat Jie-sie-lauw si gundul Tiauw Jie Kun sangat hebat, salah-salah lehermu bisa menggelinding !"

Lie Eng Eng memberi peringatan. Dengan masih memegangi paha ayamnya, Ho Ho berkata .

"Jangan kuatir, apa itu Jie-sie-lauw ! Hei, gundul, mana golokmu ? Cepat keluarkan ! Aku sudah tidak banyak tempo lagi."

Sejak tadi Tiauw Jie Kun sudah mau mencabut goloknya, tapi mendengar Lie Eng Eng menyebutkan ilmu golok yang dibanggakannya, ia terkejut tidak kepalang, bagaimana rahasia ilmu goloknya sudah bisa diketahui orang?

Ketika mendengar Ho Ho sudah pentang mulut, kemarahannya tidak bisa ditahan lagi, sambil menggereng, tubuhnya bergerak, tahu-tahu golok245 nya sudah menyambar kepala Ho Ho, entah sejak kapan golok itu sudah keluar dari serangkanya.

Sambaran angin dingin menyerang muka si pengemis cilik Ho Ho, dengan jurus si pengemis minta makanan, tubuh Ho Ho melesat maju memapaki datangnya serangan golok, Tiauw Jie Kun yang menyaksikan si pengemis dekil berani memapaki goloknya juga terkejut, ia heran tidak kepalang, pikirnya si pengemis ini memang minta mati, bibirnya tersungging senyum iblis.

Tampak gerakan si pengemis cilik Ho Ho ugalugalan, ia seakan tidak pandang mata pada serangan golok Tiauw Jie Kun.

Tiauw Jie Kun yang sedang kegirangan bahwa serangan goloknya akan memapas putus kepala si pengemis cilik, tapi dengan mendadak bayangan si pengemis cilik lenyap dari hadapannya.

"Aaaaaaa....."

Tiba-tiba belakang tubuh Tiauw Jie Kun yang baru kehilangan lawannya tersambar angin pukulan hebat, tubuhnya miring kekiri sedang goloknya diayun, menghajar datangnya serangan bokongan tadi.

Gerakan Tiauw Jie Kun tidak sampai disitu, begitu berhasil mengelakkan datangnya serangan bokongan dengan memainkan jurus-jurus Kow-kee-siang-liong-to-hoat Jie-sielauw tubuhnya berbalik, menghujani si penyerang gelap.

Terdengar beberapa kali suara peletak peletok, tulang-tulang terpapas golok, darah berhamburan kesana kemari.

Tiauw Jie Kun belum tahu siapa yang menjadi korban goloknya, dengan dada penuh rasa panas ia memainkan keempat puluh empat jurus ilmu golok Jie-sie-lauw, hingga tubuh orang yang menjadi korban bacokan itu tercincang berkeping keping.

Setelah tulang dan daging-daging sang korban berceceran ditanah, mendadak mata Tiauw Jie Kun seperti mau melompat keluar, keringat dinginnya mengucur deras, tubuhnya gemetaran hebat.

Tubuhnya mematung seakan patung yang akan roboh tertiup angin.

Apa yang disaksikannya ?

Ternyata diantara kepingan-kepingan tulang dan daging disana menggeletak satu kepala manusia.

Itulah kepala si Pang Liong Ma, saudara angkatnya sendiri.

Si pengemis cilik Ho Ho, yang menggunakan jurus si pengemis minta makanan, ia berhasil mengelakkan serangan golok Tiauw Jie Kun, tampak gerakan Ho Ho seperti ugal-ugalan, tapi gerakan itu begitu gesit, ia berhasil mengelakkan serangan maut, dengan ugal-ugalan tubuhnya sempoyongan kebelakang Tiauw Jie Kun.

Pang Liong Ma yang berada disamping Tiauw Jie Kun, karena Tiauw Jie Kun maju merangsak kedepan dengan serangan goloknya, Pang Liong Ma masih berada ditempat semula, hingga kedudukannya berada dibelakang Tiauw Jie Kun.

Begitu Ho Ho membelakangi Tiauw Jie Kun dengan cepat isi mulutnya disemburkan menghajar muka Pang Liong Ma.

Pang Liong Ma yang masih tersenyum-senyum menyaksikan kehebatan ilmu golok saudara angkatnya, belum sadar kalau isi mulut Ho Ho terdiri dari tulang-tulang paha ayam menyambar mukanya, begitu ia sadar sudah terlambat, kedua matanya disamber dua potong tulang ayam.

Belum lagi tahu benda apa yang menyambar matanya, tiba-tiba tubuhnya melayang keudara.

Membentur belakang tubuh Tiauw Jie Kun.

Tiauw Jie Kun yang merasakan bagian belakang tubuhnya dibokong orang, dengan kecepatan luar biasa ia membalikkan tubuh, tanpa lihat lagi siapa pembokongnya, ilmu golok Jie-sie-lauw bergerak.

Crees, pletak, pelutuk.

Demikianlah jalan pertempuran dengan mengambil korban saudara angkatnya sendiri dimakan ilmu golok kebanggaan Tiauw Jie Kun.

Pertempuran itu hanya terjadi dalam saat dua kali kedipan mata saja.

"Tiauw Jie Kun !"

Bentak Lie Eng Eng.

"Kini giliranku !"

Mendengar suara bentakan Lie Eng Eng, Tiauw Jie Kun dengan kalap menyerang si Pedang Macan Betina, mulutnya memaki.

"Sundel basi...........!"

Goloknya berkelebat.

Creet......pedang Ang-lo-po-kiam keluar dari serangkanya, berkelebat sinar-sinar perak memenuhi medan pertempuran.

Tiauw Jie Kun yang sudah kalap, lupa bahwa pedang si nona jelita adalah pedang pusaka.

Hingga ia tidak mencegah terjadinya benturan senjata.

Diantara berkeredepannya sinar-sinar perak kemilauan, terdengar suara benturan dua senjata golok dan pedang.

Trang......tring ....

Kedua tubuh orang yang bertempur mundur satu tindak.

Tubuh Lie Eng Eng tergetar, pedangnya hampir saja terlepas dari cekalan, sedang keadaan Tiauw Jie Kun lebih hebat lagi, mukanya merah padam, golok ditangannya sudah kutung menjadi dua potong.

Tiauw Jie Kun melemparkan potongan pedang yang masih digenggamnya kearah dada si nona jelita, terdengar suara mendenting golok itu terpental mundur dibentur pedang Ang-lo-po-kiam menjadi dua potong lagi.

Tubuh Tiauw Jie Kun melesat meninggalkan arena pertandingan.

"Hebat !"

Tanpa disadari Lie Eng Eng memuji kehebatan ilmu golok Jie-sie-lauwnya Tiauw Jie Kun.

"Apa yang hebat?"

Dengus Ho Ho.

"Hei, kau juga keliwat pandang enteng ilmu goloknya Tiauw Jie Kun, mmm, kalau aku tidak menggunakan pedang pusaka Ang-lo-po-kiam ini, sulit aku bisa merobohkan dirinya!"

Kata Lie Eng Eng sambil memasukkan kembali pedangnya kedalam serangka. "Hei, ilmu apa yang kau gunakan tadi ?"

Tanya Lie Eng Eng.

"Huh, itu bukan ilmu apa-apa, hanya ilmu si pengemis minta sedekah ?"

Kata Ho Ho.

"Hih hihh....."

Terdengar suara merdu tawa si nona jelita.

"Kau ada-ada saja masa ada jurus pengemis minta sedekah? Tapi juga hebat luar biasa hih hi......"

Ditertawakan begitu Ho Ho tidak marah, malah ia senang sekali menikmati tawa-tawa si gadis jelita, suara tawa itu garing merdu, menambah kecantikannya.

"Apa yang hebat ! justru tidak ada gunanya, jika aku tidak berhasil membuat orang itu kalap lebih dahulu, mana bisa aku mengelabui matanya. Untung saja sambaran lepehku, berhasil membuat Tiauw Jie Kun kalap tidak keruan. Hingga dengan mudah aku baru bisa menipunya dengan jurusjurus pengemis itu, kalau tidak, huh, mungkin kepalaku sudah menggelinding."

Orang-orang yang berkerumun penonton pertandingan juga sudah pada bubar, mereka kagum, ngeri bercampur aduk menyaksikan pertandingan maut tadi.

Lie Eng Eng dan si pengemis cilik Ho Ho kembali memasuki rumah makan, mereka disambut dengan ramah tamah oleh pemilik rumah makan.

"Nona, mengapa tidak sekalian membereskan nyawa bajingan itu?"

Tanya Ho Ho. "

Hai, kejadian didunia ini memang lucu lucu, bajingan itu menguntit aku selama dua tahun ini, ia juga sudah merampas kelenteng Liong-ong-bio, menyaru jadi padri, menyelidiki keadaan diriku.

Dengan diam-diam juga aku menguntit dirinya, menyelidiki letak markas besar kepala berandal Raja-raja Gunung."

Selagi mereka bicara sambil makan minum, berjalan masuk seorang pemuda, celingukan sebentar, lalu pemuda itu menghampiri meja dimana Lie Eng Eng dan si pengemis cilik Ho Ho duduk.

Lie Eng Eng mengenali siapa yang datang, tegurnya.

"Hallo! Apa kabar?"

Pemuda yang baru datang, setelah menganggukkan kepala kearah Si pengemis cilik Ho Ho menyeret kursi lalu duduk, ia berkata.

"Nona, sudah lama tidak berjumpa apakah baikbaik saja?"

"Hei !"

Tegur si pengemis.

"Rupanya kau juga lagi gila asmara, orang bertanya apa kabar, kau belum jawab, malah sudah kesusu menanyakan keadaan orang, toch sicantik segar bugar dihadapanmu, untuk apa tanya-tanya lagi, huah, haaa....cilaka banyak orang gila asmara !"

Selembar wajah si pemuda menjadi merah. Lie Eng Eng sambil unjukkan senyum manisnya, memperkenalkan ;

"Ini si pengemis cilik Ho Ho murid Pie tet Sin-kay."

Tangan mulus menunjuk ke arah Ho Ho. "Saudara ini Thio Thian Su murid Ceng it Cinjin."

Kedua pemuda itu saling angguk meskipun hati Thio Thian Su masih merasa mendongkol atas kata-kata si pengemis barusan.

"Saudara Thian Su, bagaimana tugasmu menguntit Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang? Apakah…."

"Hai,"

Memotong Thio Thian Su.

"Aku kehilangan jejaknya digunung Ong-san ! Hei, saudara Ho Ho, apakah gurumu Pie-tet Sin-kay itu yang akan menjalani hukuman matinya pada tanggal 11 bulan ini?"

Si pengemis cilik Ho Ho mendelik, katanya .

"Kau kira ada berapa Pie-tet Sin-kay di dunia pergembelan ini?! Huh, kau jangan samakan guruku dengan orang-orang yang sedang gila asmara, guruku hanya satu, dengan satu nama. Sedang orang-orang gila asmara terlalu banyak, seharian ini saja aku menemukan dua orang."

Thio Thian Su mendengar ucapan sindiran Ho Ho jadi naik darah, dengan muka merah ia berdiri.

Tapi cepat tangan Lie Eng Eng yang halus meraba pundak kanan si pemuda, keruan saja, kemarahan Thio Thian Su mendadak lenyap, berganti dengan hawa sejuk yang keluar dari telapak tangan halus si nona manis menyelusupi urat-urat sarafnya.

"Sudahlah, duduk."

Kata Lie Eng Eng kemudian.

"kawan pengemis kita sedang pusing kepala, mabok memikirkan suhunya !" Thio Thian Su yang kemarahannya mendadak lenyap tergusur oleh rabaan tangan halus si nona manis, hatinya dug, deg-degan ia duduk dikursi kembali.

"Hei, pelayan, ambilkan lagi minuman!"

Teriak Lie Eng Eng. makanan dan Thio Thian Su dengan perasaan girang bercampur bangga mendapat elusan tangan halus si nona manis ia berkata.

"Di Pakkia mungkin akan ramai, kukira akan terjadi pertempuran hebat pada tanggal sebelas nanti."

"Bagaimana kau tahu akan terjadi pertempuran hebat ?"

Tanya Ho Ho.

"Suhuku sendiri akan datang !"

Jawab Thio Thian Su.

"Huah....... Ceng-it Cinjin akan hadir dikotaraja ?"

Tanya Lie Eng Eng. Thio Thian Su berkata lagi .

"Jendral Cong sudah mengundang orang-orang kuat rimba persilatan yang gila pangkat dan kedudukan, termasuk si Tay ong, kepala berandal Raja Gunung berikut anakanak buahnya. Mereka semua akan meluruk turun gunung berdiri dibelakang jendral Cong ! Juga dari golongan ksatria meluruk datang untuk menolong Pie-tet Sin-kay dari kematian. Hai! Disamping itu, masih banyak lagi tokoh-tokoh hitam yang akan hadir, mereka tidak memihak pembesar anjing Cong atau para kesatria, kehadiran mereka sengaja mengacau rimba persilatan. Mencari jejak peta pusaka !" "Peta pusaka?"

Dengan berbareng Ho Ho dan Lie Eng Eng bertanya.

"Ya, peta pusaka,"

Berkata lagi Thio Thian Su.

"menurut keterangan guruku peta pusaka itu menunjukkan tersimpannya satu benda pusaka gaib. Pada tiga puluh tahun berselang suhuku pernah berjumpa dengan Thian-lam-it-lo Kak Wan Kie-su, tokoh sakti tanpa tandingan, ia menceritakan terpendamnya satu pedang pusaka gaib bangsa Arab didataran Tionggoan !"

"Pusaka gaib bangsa Arab?"

Tanya Lie Eng Eng.

"Hei,"

Si pengemis cilik Ho Ho nyeletuk.

"Tadi kau kata peta pusaka, sekarang pedang pusaka? Ini bagaimana bisa terjadi petanya merupakan barang pusaka, barang yang tersimpan dalam peta itu juga merupakan barang pusaka ? Apakah ucapanmu ini tidak ngelantur lagi ?"

Dengan bangga Thio Thian Su berkata.

"Memang ! Petanya adalah merupakan satu barang pusaka, entah bagaimana bentuknya ? Barang itu tidak seorangpun yang tahu. Pedang pusakanya adalah merupakan sebilah pedang gaib luar biasa dari jaman nabi-nabi bangsa Arab."

"Apa kegunaannya pedang itu?"

Tanya lagi si pengemis cilik Ho Ho.

"Inilah yang mengherankan, bagaimana ada pedang gaib, kalau pedang pusaka itu sudah lumrah, tapi pedang gaib.......?"

"Mungkin semacam pedang siluman yang bisa menjelma menjadi ular atau naga?"

Potong Lie Eng Eng. "Ai, hampir lupa!"

Berkata lagi Thio Thian Su.

"Kudengar gurumu Sin-kiong kiam Ong Pek Ciauw locianpwe juga akan hadir dikotaraja ?"

"Apa ?!!!"

Menegasi Lie Eng Eng.

"Gurumu akan hadir dikotaraja !"

Mengulangi Thio Thian Su.

"Alaaaaa........suhuku juga akan datang ? Sudah hampir sepuluh tahun aku tidak pernah menemukan jejaknya. Kalau begitu, aku akan segera pergi kekotaraja lebih siang menunggu kehadiran suhuku."

Kata Lie Eng Eng girang.

"Begitu juga baik,"

Kata Thio Thian Su.

"Kita berangkat bersama saja bagaimana?"

Si pengemis cilik Ho Ho mendengar ucapan Thio Thian Su, ia nyengir, pikirnya; Orang ini sudah betul-betul tergila-gila kecantikan si nona manis Lie Eng Eng.

Lie Eng Eng hanya tersenyum, ia panggil pelayan, memberesi rekening makanan, baru berkata ;

"Saudara Ho, apa kau juga mau ikut berangkat bersama aku ?"

"Ach, aku ada janji dengan pacarku? Kau pergilah berdua. Nanti aku datang menyusul."

Kata Ho Ho.

"Huh, jadi kau juga gembel sudah punya pacar, eh apa pacarmu juga gembel perempuan?"

Tanya Lie Eng Eng guyon.

"Haaa... hua..... haaaa. ......" Terdengar suara riuh tertawa tiga orang dengan masih tertawa-tawa Lie Eng Eng melesat meninggalkan rumah makan diikuti Thio Thian Su si pemuda mabok asmara. Sayang ! Untuk sementara waktu, pertemuan Liong Houw dan Lie Eng Eng kita batalkan! 0)0od^wo0(0 Ho Ho dengan gayanya si pengemis kawakan berjalan meninggalkan rumah makan, langkah kakinya diayun keluar kota, kembali kerumah si nenek tua dikampung Ciu-kee-cun. Dari jauh tampak Liong Houw berlarian menyongsong kedatangan si pengemis cilik Ho Ho.

"Hei kawan, apakah kau sudah menemukan gadis itu ?"

Tanya Ho Ho. berhasil "Hayaa...... kepalaku pusing!"

Kata Liong Houw.

"nenek itu juga keliwatan, sesudah kudapatkan gadisnya, ia suruh aku mengambil anak gadis itu menjadi isteriku, kau pikir urusan ini gila apa tidak?"

"Gila apa?"

Sahut Ho Ho.

"Kalau kau tidak mau jadi suami gadis itu, asal ia cantik, oper saja padaku apa susahnya?"

"Aih.... Kau bicara jangan asal nyerocos,"

Kata Liong Houw.

"Urusan ini bukan soal main main, harus dirundingkan masak-masak."

"Apa lagi yang musti dirundingkan, jika kau mau, bilang saja sama si nenek, jangan malumalu, jika tidak boleh tolak saja ! Perlu apa pusingpusing,"

Jawab Ho Ho dongkol. "Kalau kutolak tawaran nenek itu, ia akan bunuh diri,"

Kata lagi Liong Houw.

"Hngg, hayo cepat kesana, ingin kulihat wajah gadis itu, kalau ia cantik, boleh juga untuk kawan perjalanan, tambah lumayan."

Berunding punya berunding, akhirnya Liong Houw kewalahan menghadapi desakan si pengemis cilik Ho Ho yang sudah menilai kecantikan gadis itu, ternyata tidak kalah cantiknya dengan si jelita Lie Eng Eng, maka mereka saling angkat saudara.

Si pengemis cilik Ho Ho dengan wajah riang mendapatkan kakak dan adik angkat begitu cantik, bertanya kepada Liong Houw.

"Hei, kau dapatkan dimana adik Liu Ing?"

"Dikelenteng Liong-ong-bio !"

Jawab Liong Houw.

Meskipun mereka sudah saling mengangkat saudara, Liong Houw adalah yang tertua, sedang Liu Ing si gadis cantik ayu adalah saudara angkat yang termuda tapi panggilan mereka ternyata seenak mulutnya saja, mereka tidak menggunakan istilah panggilan antara adik dan kakak.

Mereka itulah calon-calon manusia aneh yang akan menggemparkan rimba persilatan.

"Rupanya perbuatan si Tiauw Jie Kun ! Mungkin kelak ia akan kembali kemari mencari gadis itu, juga.....bisa-bisa si nenek dibunuhnya."

Kata Ho Ho.

"Apa kau kenal dengan orang itu ?"

Tanya Liong Houw. "Bukan kenal lagi, dikota Cee-lam-hu, padri palsu itu sudah dibuat ngacir oleh si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng !"

Liong Houw mendengar disebutnya nama si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng.

Sikapnya tenang-tenang, seakan tidak pernah terjadi apaapa atas dirinya dengan si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng.

Karena Liong Houw tidak tahu nama gadis yang dirindukan siang malam itu, ia hanya mengenali raut wajah muka cantik manis si nona jelita, serta mengenali pedangnya yang bisa memancarkan cahaya terang kemilauan, tapi tidak kenal nama sang gadis yang selama ini dirindu dendamkan.

Mendengar cerita Ho Ho, ia hanya merasa kagum atas kehebatan si Pedang Macan Betina !

Si pengemis cilik Ho Ho sudah berkata lagi .

"Pada tanggal 11 bulan ini, suhuku akan menjalankan hukuman mati. Aku harus segera berangkat kekotaraja. Mungkin akan terjadi pertempuran hebat !"

"Kalau begitu, biar kita pergi bersama, mungkin aku bisa menyumbangkan tenaga?"

Kata Liong Houw.

"Itulah yang kuharapkan, tapi mengingat perjalanan dari sini kekotaraja memakan waktu empat hari perjalanan, apakah adik Liu Ing sanggup melakukan perjalanan begitu jauh ? Kukira adik Liu Ing juga tidak bisa menunggang kuda."

Kata si pengemis cilik Ho Ho.

Liong Houw mengkerut-kerutkan keningnya, ia berpikir keras, kalau meninggalkan adik Liu Ingnya, pasti akan terjadi malapetaka kembali, kalau ia diajak serta, menghambat perjalanan.

Berpikir bolak balik, tiba-tiba tangannya merogoh saku baju, mengeluarkan satu kantong kecil.

Dari dalam kantong kecil itu, ia mengeluarkan sebutir mutiara yang memancarkan sinar terang benderang.

Si pengemis cilik Ho Ho menampak Liong Houw mengeluarkan sebutir mutiara berkeredepan, girangnya bukan kepalang, lalu katanya .

"Hai..... dengan sebutir mutiara itu, kita bisa membeli sepuluh kereta kuda....."

Tiba-tiba ucapannya terhenti, ia merasa jengah sendiri. Mukanya menjadi merah. Liong Houw menyaksikan perobahan wajah Ho Ho, ia bisa mengerti perasaan sang adik angkat, segera berkata .

"Ah, kau bawa saja mutiara ini kekota, segala-galanya kuserahkan padamu, tapi ingat jangan lupa ya, kau harus ganti pakaian!"

Mendengar ucapan itu, Ho Ho menjadi girang lalu katanya .

"Kalau begitu, baiknya kita kekota saja menginap dirumah penginapan ?"

"Ya, tapi bagaimana dengan nenek ini ?"

Tanya Liong Houw.

"Berapa banyak kau miliki mutiara semacam ini?"

Bertanya si pengemis cilik Ho Ho.

"Ada dua puluh butir,"

Jawab Liong Houw. "Eeeh.....banyak amat ? Dari mana dapatkan mutiara berharga sebanyak itu?"

Kau "Suhuku yang memberikan,"

Jawab Liong Houw.

"Ketika aku keluar lembah Im-bu-kok, suhuku membekali mutiara-mutiara ini untuk bekal hidup. Memang kenapa ?"

"Ah tidak apa-apa, sebutir mutiara ini bisa dibelikan sepuluh kereta kuda, biar kupesan satu kereta istimewa berkuda empat, sisa uangnya dibelikan perlengkapan pakaian, lebihnya kukira kita berikan pada tukang kereta, untuk menitipkan nenek ini disana."

"Ya, betul begitu juga baik."

Sahut Liong Houw.

0)0od^wo0(0 TANGGAL LIMA bulan enam tahun Imlek.

Dalam rumah makan Sam-gie dikota Cee-lamhu, tampak disatu meja dekat jendela duduk dua orang pemuda dan seorang gadis ayu jelita.

Si pemuda bukan lain dari pada Liong Houw, duduk menghadap selatan, si pengemis cilik Ho Ho duduk menghadap utara.

Sedang Liu Ing si gadis ayu jelita dengan mengenakan pakaian sutra merah jambu berenda, duduk menghadap barat.

"Toako."

Kata Ho Ho perlahan.

"Dalam menjalankan rencana kita kemarin, didalam perjalanan, kau tetap kusir kereta, sedang aku dengan Liu Ing berperan sebagai putra puteri bangsawan."

"Aku sudah mengerti. Semua rencana kuserahkan padamu,"

Kata Liong Houw berbisik.

Guna menolong Pie-tet Sin-kay, si pengemis cilik Ho Ho merencanakan suatu penyamaran dalam perjalanannya kekota-raja.

Liong Houw menyamar sebagai kusir kereta dengan mengenakan tudung dan pakaian kupluk sedang si pengemis cilik Ho Ho dan Liu Ing, menyamar sebagai anak-anak orang hartawan gede.

Mereka mengenakan pakaian mewah luar biasa mahalnya.

Langkah itu diambil untuk menghindari kecurigaan-kecurigaan dari para mata-mata pemerintah yang dengan ketat mengawasi setiap gerak gerik orang-orang yang masuk kekotaraja.

Dalam rumah makan itu belum begitu banyak orang.

Kursi meja masih banyak yang kosong, hari masih terlalu pagi.

"Toako,"

Berkata Ho Ho si putra hartawan tetiron.

"Didunia ini baru pertama kali aku menemukan orang seperti kau, hanya makan buah-buahan untuk tangsel perut, kedudukanmu sebagai kusir memang cocok sekali."

Mendengar ocehan Ho Ho si putera hartawan tetiron, Liong Houw hanya tersenyum saja.

"Ai….koko Liong, kereta sudah datang."

"Hmm, adik Liu Ing, mulai detik ini kau jangan panggil aku koko dulu, panggil saja jabatanku si kusir, jangan lupa,"

Kata Liong Houw memperingati adik angkatnya.

Dimuka rumah makan berhenti satu kereta mewah bercat biru laut, di ke empat pintu261 pintunya terdapat ukiran-ukiran bunga Bwee, dengan ditarik oleh empat ekor kuda berbulu putih.

Seorang tua lompat turun, lalu berjalan memasuki rumah makan.

"Kongcu....kereta sudah siap?"

Berkata orang tua yang tadi mengusiri kereta pada si kongcu tetiron Ho Ho.

"Eng….kau pergilah ! Eh, ya, apa uang yang kuberikan juga cukup untuk merawat nenek yang kutitipkan ?"

Tanya Ho Ho.

"Cukup kongcu, cukup untuk lima tahun,"

Berkata si orang tua tukang kereta. Ho Ho si kongcu tetiron berkata lagi.

"Kau harus perlakukan nenek itu baik-baik kalau kelak kudengar kau sia-siakan, hem...."

"Ya, ya, aku mengerti kongcu,"

Potong tukang kereta.

"Pergilah !"

Setelah itu si kongcu tetiron Ho Ho, berkata pada si kusir kereta tetiron alias Liong Houw, dengan suara keras.

"Hei, kusir, kau siapkan kereta, kami akan segera berangkat!"

Setelah membereskan rekening makan, mereka berjalan keluar menuju kereta.

Liong Houw selaku kusir, membukakan pintu menyilahkan siputera puteri hartawan masuk kedalam kereta.

Penduduk kota Cee-Iam-hu, yang menyaksikan didalam kotanya mendadak muncul dua orang anak bangsawan mereka menjadi heran terlongong-longong, hati mereka bertanya tanya, dari mana datangnya anak-anak orang gedean itu.

Mereka tidak tahu kalau si pemuda hartawan itulah sebetulnya anak gembel yang kemarin berkeliaran didalam kota.

Dengan mengenakan topi lebar, Liong Houw menarik les kuda.

Terdengar suara derap langkah kaki kuda, diiringi suara keretekan roda-roda kereta meninggalkan kota Cee-lam-hu.

Didalam kereta Ho Ho duduk berhadap-hadapan dengan Liu Ing.

Terdengar suara Ho Ho memecah kesunyian pagi itu.

"Adik Lui Ing, menurut apa yang kudengar dari nenek pengasuhmu, kedua orang tuamu dibunuh mati orang, apakah kau tahu sebab-sebabnya?"

Liu Ing mengedip-mengedipkan bulu matanya yang lentik, lalu berkata dengan suara garing merdu.

"Apa nenek Sian sudah menceritakan siapa kedua orang tuaku pada toako?"

"Nenek itu hanya mengatakan majikan almarhum Cu Liang San dibunuh orang."

Kata Ho Ho.

Wajah Liu Ing bersemu pucat mendengar nama ayahnya disebut-disebut Ho Ho, nama itu membangkitkan kenangan semasa ia masih kanakanak.

Kenangan indah penuh gairah cita-cita harapan hidup muluk penuh kebahagiaan.

"Hei,"

Tegur Ho Ho.

"Ah......."

Liu Ing sadar dari lamunannya.

"Oya, tentang sebab musababnya aku sendiri tidak tahu, sedang nenek Sian tidak pernah menceritakan. Ia hanya berpesan, kelak aku juga bisa membongkar rahasia itu."

Ho Ho sambil bercakap-cakap, otaknya bekerja menilai bentuk potongan tubuh serta mimik gerak bibir Liu Ing dalam mengucapkan kata-katanya, sungguh indah kedua bibir gadis itu, hai, ia menarik napas panjang.

Selanjutnya Ho Ho tidak mau mengungkit lagi soal keluarga Liu Ing, yang bisa membangkitkan kenangan lama si gadis, ia memandang keluar jendela sejenak lalu berkata perlahan;

"Bagaimana penilaianmu atas diri koko Liong?"

"Emmm,"

Liu Ing membisu seribu bahasa.

"Koko Liongmu,"

Berkata lagi Ho Ho.

"Sejak pertemuanku yang pertama, ia seperti orang yang sedang mabok asmara, entah gadis mana yang digila-gilainya."

Liu Ing tidak menggubris ocehan-ocehan Ho Ho, matanya memandang keluar jendela, menikmati pemandangan rumput-rumput menghijau, batangbatang pohon tampak seakan berlarian.

Sang Surya condong kebarat, hari mulai petang, derap-derap langkah kaki kuda menuju arah timur.

"Hei….!"

Teriak Liong Houw, tangannya menepuk-nepuk pintu kereta.

"Hari sudah mulai gelap, apakah kita meneruskan perjalanan?"

Ho Ho dalam kereta meneriaki si kusir.

"Beberapa lie didepan kita kota Kwie-yong-hu, kau bedal kuda itu lebih cepat, sebelum matahari terbenam kita bisa sampai disana."

Si kusir kereta alias Liong Houw mengayun pecutnya diudara, terdengar suara-suara menggeletar-geletar, derap-derap langkah kaki kuda semakin ramai, kereta berjalan tambah laju.

Abu-abu mengepul diudara, kereta berwarna biru laut melesat memasuki pintu kota Kwie yong-hu.

Di muka rumah penginapan Ciam-kiok-louw dikota Kwie-yong-hu, terdengar suara-suara rodaroda kereta terseret menciut-ciut, lalu berhenti disana.

Si kusir kereta lompat turun, membukakan pintu kereta.

Liu Ing siputri hartawan tetiron dengan dituntun Ho Ho, memasuki rumah penginapan, diikuti oleh si kusir kereta.

Pemilik rumah penginapan, menampak masuk dua orang muda dengan mengenakan pakaian mewah, segera menghampiri, ia tidak pandang mata pada Liong Houw yang berdandan sebagai kusir kereta.

"Kongcu !"

Kata si pemilik rumah penginapan dengan sikap menghormat. "Cepat sediakan tiga kamar,"

Potong Ho Ho cepat.

"Suruh orang urus keretaku, besok pagi harus sudah siap, kami akan berangkat melakukan perjalanan lagi."

"Baik! Baik, Kongcu !"

Jawab si pemilik rumah penginapan.

Ia menyuruh seorang pelayan membawa kereta masuk kekandang kuda.

Ho Ho, Liong Houw dan Liu Ing masing-masing memasuki kamar diatas loteng yang telah ditunjuk oleh si pemilik rumah penginapan.

Mereka memesan makanan malam menangsal perut.

Lalu pergi tidur.

Malam itu dilalui dengan tenang.

Cuaca malam yang gelap, tampak sedikit demi sedikit menjadi terang kembali, suara keruyukan ayam jago terdengar saling sahut-sahutan, dunia yang gelap pekat sunyi senyap kembali menjadi ramai pula.

Sang batara surya memancarkan sinar yang gilang gemilang.

Pagi itu cuaca cerah, udara sangat sejuk, didalam rumah penginapan Ciam-kiok-louw, dibawah loteng duduk menghadapi meja Ho Ho, Liong Houw dan Liu Ing.

Tak lama, seorang pelayan datang membawakan makanan-makanan yang dipesan, bau harum makanan membangkitkan selera makan.

Dihadapan Ho Ho dan Liu Ing, tampak dua porsi nasi goreng, satu porsi telur-telur ayam mata sapi, ayam goreng dan sepoci arak.

Sedang dihadapan Liong Houw, si kusir kereta, hanya tampak beberapa macam buah-buahan dan satu gelas air berwarna putih bening.

Para tamu yang juga pada sarapan pagi menyaksikan perbedaan makanan yang menyolok, antara si kongcu putra-putri hartawan dengan si kusir kereta dalam hati mencemoohkan si kongcu yang terlalu pelit.

Rumah penginapan Ciam-kiok-louw yang juga merupakan rumah makan kini sudah mulai ramai dikunjungi orang yang makan minum.

Disatu meja dekat pintu, tampak duduk seorang tua bertubuh kekar, berkumis tipis tidak berjenggot, kedua matanya memancarkan sinar terang.

Sepasang sinar mata Ho Ho, beberapa kali ditembakkan kearah orang tua itu, dengan suara keras ia berkoar pada Liong Houw si kusir kereta.

"Hei, hari ini kau harus membedal kuda-kuda itu dengan kecepatan maksimum, jangan sampai terlambat tiba di Pakkia, aku perlu menonton keramaian. Mungkin dalam sepuluh tahun ini baru pertama kali ada pertunjukan sungguh menarik hati, suatu kesempatan yang tidak boleh dilewatkan....."

"Kongcu ! Ada pertunjukan apakah di kota raja ?"

Terdengar suara orang yang duduk disebelah meja Ho Ho, orang itu berusia kira-kira empat puluh lima tahunan, berpakaian seperti saudagar.

Ho Ho memalingkan mukanya kearah datangnya suara itu lalu katanya .

"Apakah tuan belum dengar kabar, bahwa pada tanggal sebelas bulan ini, akan dijalankan pelaksanaan hukuman mati terhadap seorang pemberontak ?"

Orang tua yang berpakaian mengangguk-angguk kepala, katanya . saudagar "Oh, itu hukuman mati atas diri si gembel pie-tet Sin-kay ! Kukira pertunjukan apa ? Oya, sebetulnya kongcu orang daerah mana ?"

"Aku dengan adikku perempuan asal dari Kun beng anak hartawan she Ong, apakah tuan kenal dengan ayahku?"

Kata Ho Ho kebat kebit.

"Heng......!"

Dengus si saudagar.

"Jauh-jauh ratusan lie jiwie kongcu memerlukan datang kekotaraja, hanya untuk menyaksikan dilaksanakannya hukuman mati atas diri seseorang. Sungguh buang-buang tempo percuma."

"Hei, lain padang, lain belalang, lain lubuk, ikannya juga lain, rambut sama hitam tapi hidung tidak sama mancung!"

Kata Ho Ho berkoar lagi, matanya melirik kearah orang tua yang duduk didekat pintu.

"Pemberontak yang akan menjalankan hukuman matinya adalah si pengemis butut Pie-tet Sin-kay, ia pernah mengganggu ketentraman keluargaku di Kun-beng, maka pada kesempatan ini ingin sekali aku melihat dengan mata kepala sendiri, kepala gembel itu menggelinding ditanah."

Tiba-tiba orang tua yang duduk dimeja dekat pintu menggebrak meja mendengar kata-kata si Kongcu tetiron.

Gebrakan itu sungguh hebat akibatnya, keempat kaki meja yang digebrak dengan telapak tangan si orang tua amblas kedalam lantai sampai setengah bagian, orang-orang yang sedang makan minum dikejutkan oleh suara gebrakan itu pada menoleh, mereka terkejut dan kagum, heran bercampur aduk.

Dengan sinar mata jelilatan orang tua itu berjalan menghampiri meja dimana Ho Ho duduk, ia berkata .

"Hei, kukira yang akan kau saksikan adalah menggelindingnya kepala-kepala pembesar anjing Pak-kia !"

Ho Ho yang sejak tadi memperhatikan orang tua itu, sengaja membuat si orang tua naik darah, karena sebenarnya ia telah kenal betul orang tua itu adalah Si Rajawali Cakar emas, Rajawali kawan baik Pie-tet Sin-kay, tapi si Rajawali cakar emas sudah tidak mengenali kepada si pengemis cilik Ho Ho, murid konconya sendiri yang sudah berpakaian sebagai anak penggede.

Kini menyaksikan Si Rajawali cakar emas sudah berada dihadapannya dengan mengucapkan katakata kemarahan, ia pura-pura terkejut.

"Aaaa.......... kiranya tuan si Rajawali Cakar Emas yang gagah perkasa,"

Kata Ho Ho.

Si Rajawali Cakar Emas, yang namanya disebut si kongcu muda, kejutnya bukan kepalang, sampai ia mundur dua langkah, matanya merah melotot memperhatikan Ho Ho dari atas kepala sampai ke kaki, lalu menatap kearah Liu Ing, akhirnya menoleh sebentar pada Liong Houw si kusir kereta, kembali menatap si kongcu tetiron Ho Ho.

Ternyata hati Si Rajawali Cakar Mas sudah dibuat terkejut oleh ucapan si kongcu tetiron yang sudah bisa mengenali dirinya, tapi ia sendiri sebagai tokoh persilatan yang malang melintang dirimba persilatan baru kali ini menyaksikan ada kongcu muda seperti ini.

Menyaksikan si Rajawali Cakar bingungan, Ho Ho sudah berkata lagi.

Mas ke-"

Kudengar konco-konconya si gembel juga pada meluruk datang ke Pak kia untuk menolong jiwanya si gembel butut, ayaa kelakuan mereka persis seperti ular cari penggebuk.

Mereka akan menjadi umpan senjata tentara negeri yang gagah perkasa.

Haaa, huaaa......suatu tontonan yang sangat menggembirakan untuk dilihat, tidak percuma aku jalan jauh-jauh ratusan lie datang Ke Pakkia ...

"Bocah kurang ajar, tutup mulutmu!"

Bentak si Rajawali Cakar Mas, sudah tidak bisa menahan kemarahannya mendengar kawan bulim dihina si kongcu tetiron.

Tangan kanan si Rajawali Cakar Mas diangkat, jari-jari yang kuat terbentang diatas kepala si kongcu tetiron menyambar ubun ubun Ho Ho.

Sambaran angin dingin menyambar kepala Ho Ho, semua orang-orang yang menyaksikan kejadian itu menahan napas, Liu Ing menggeser kursinya kebelakang menghindari sambaran angin yang membuat rambut-rambutnya riap-riapan bergelumbang.

Sedang si kongcu tetiron menghadapi ancaman maut, ia seakan tidak menyadari adanya serangan itu, matanya melirik kearah Liong Houw, Liong Houw yang mendapat isyarat itu, segera menggunakan ilmu totokan jarak jauhnya bunga berguguran menotok sikut si Rajawali Cakar Mas.

Tanpa terlihat gerakan tangannya.

Ketika serangan maut si Rajawali Cakar Mas hampir mengenai batok kepala si kongcu tetiron, tiba-tiba dirasakan sikut kanannya dibentur oleh satu kekuatan halus, tangan itu menjadi keplek, tidak bertenaga.

Wajah si Rajawali Cakar Mas berubah-ubah dari merah menjadi pucat, merah kembali semu biru, akhirnya pucat pasi seakan tidak berdarah.

Matanya melirik ke arah Liu Ing yang duduk disamping si kongcu tetiron, katanya .

"Mmmm, kepandaian nona hebat ! Lain kali aku si Rajawali Cakar Mas ingin berkenalan denganmu, hari ini aku masih banyak urusan, tidak sempat melayani bocah-bocah ingusan."

Setelah berkata begitu, ia kembali kemejanya meletakkan beberapa uang recehan lalu ngeloyor pergi.

"Hebat !"

Terdengar suara si saudagar memuji.

"Tidak kusangka nona juga memiliki kepandaian yang begitu hebat, dengan ilmu apakah tadi nona memunahkan serangan tangan cakar rajawali mas itu hingga membuat si tua itu lari ngacir ?"

Akibat dari sandiwara yang diperankan oleh ketiga muda mudi itu, ternyata telah membuat si Rajawali Cakar Mas salah mata, disangkanya yang menotok sikutnya tadi adalah perbuatan Liu Ing, begitu pula si saudagar sudah menyangka hal yang sama, mereka tidak menduga bahwa yang telah membuat kabur si Rajawali Cakar Mas adalah si kusir kereta yang tampak tidak berkepandaian.

Mendapat pertanyaan si saudagar tentu saja Liu Ing tidak bisa menjawab, mukanya bersemu merah.

Menyaksikan itu cepat-cepat Ho Ho menalangi menjawab pertanyaan si saudagar katanya .

"Ah, tuan terlalu memuji kepandaian adikku yang tidak berarti, hanya membuat ia menjadi malu !"

Ho Ho menengguk minumannya lalu berkata lagi.

"Sebetulnya itulah ilmu totokan tunggal keluarga kami."

"Dengan kepandaian seperti itu, mana bisa dikatakan tidak berarti?"

Kata lagi si saudagar.

"Bila jiwie kongcu bersedia membantu usaha pemerintah, memperkuat barisan tentara negeri, pasti jiwie kongcu mendapat kedudukan tinggi ?"

"Ucapan tuan terlalu berlebihan,"

Berkata si kongcu tetiron Ho Ho.

"Mana bisa kami mendapat kedudukan tinggi dikota-raja, lebih-lebih kami hanyalah sebagai rakyat biasa yang tidak punya koneksi dilingkungan penggede-penggede pemerintahan, mana bisa menjabat kedudukan tinggi?"

"Haaa, huah, huah,...........!"

Tertawa si saudagar.

"Urusan tidak terlalu susah, asal kongcu bersedia, pasti diterima, aku bisa bantu usaha kongcu."

Mendengar ucapan si saudagar, hati Ho Ho tercekat, ia kaget bukan kepalang, tidak disangka orang yang berdandan seperti saudagar ini bisa mengucapkan kata-kata seperti itu, pasti ia adalah seorang tokoh silat yang punya hubungan dengan para pembesar negeri, atau setidak-tidaknya seorang mata-mata pemerintah.

Berbeda dengan keadaan Liu Ing dan Liong Houw yang tidak mengerti soal-soal pergerakan politik masa itu, juga tidak mengerti apa inti sari yang diperbincangkan oleh kedua orang tadi, mereka berdua hanya duduk diam menikmati makanan yang tersedia dimeja.

Si kongcu tetiron Ho Ho berkata lagi.

"Kalau mendengar ucapan tuan tadi, rupanya tuan juga salah seorang penting pemerintah, entah siapakah nama besar tuan yang mulia?"

"Haaa, hua….haaah…."

Tertawa bangga si saudagar.

"Aku sebenarnya adalah Tong-hong Hong ketua golongan Sam-ie-hwee Pat-houw dari Thian-ma koan!"

Mendengar nama si saudagar adalah ketua dari Sam-ie-hwee Pat-houw, hati Ho Ho tercekat, suhunya Pie-tet Sin-kay pernah bercerita, Sam-iehwee Pat-houw adalah gerombolan dari tiga suku bangsa liar, di tapal batas Burma, sifat-sifat mereka kejam dan ganas tidak berprikemanusiaan, hanya terdapat satu kelemahan mereka, sukusuku bangsa itu gila pangkat dan kedudukan.

Kini Ho Ho sedang berhadapan dengan ketua dari tiga suku bangsa liar itu, hatinya agak goncang, tapi segera ia dapat menguasai kegoncangan hatinya lalu berkata.

"Wah, rupanya rejekiku besar! Hari ini dengan tidak diduga bisa bertemu dengan ketua dari tiga suku bangsa Sam-ie yang terkenal gagah perkasa dari daerah tapal batas Burma, sering ayahku bercerita tentang kehebatan suku-suku bangsa Sam-ie, lebih-lebih ilmu kepandaian ketuanya yang begitu hebat luar biasa, entah apakah tuan juga ingin menyaksikan pelaksanaan hukuman mati itu ?"

"Kehadiranku ke kotaraja Pakkia adalah atas undangan jendral Cong ! Oh, ya, apakah kongcu juga pernah dengar tentang berita adanya peta pusaka?"

Kata Tong-hong Hong.

Ho Ho menunjukkan sikap yang terkejut, ia pura-pura tidak tahu persoalan tentang peta itu yang mulai menggemparkan rimba persilatan, ia hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Tonghong Hong menyaksikan Ho Ho hanya menggeleng-gelengkan kepala, rasa bangganya naik keawang-awang, disangkanya urusan ini hanya dialah yang baru mengetahui, maka buru-buru ia berkata lagi .

"Apakah kongcu juga sudah pernah dengar nama Ceng-it Cinjin ?"

Ho Ho pura-pura berpikir, baru katanya .

"Ayahku pernah bercerita tentang setan tua itu, tapi entah bagaimanakah keadaan orang itu......"

"Ha, ha, ha, jendral Cong dalam undangannya juga menuliskan sepucuk surat yang menerangkan panji naga milik Ceng-it Cinjin sudah tertancap dipintu gerbang istana Thian ong-thian, entah dengan cara bagaimana, Ceng-it Cinjin bisa menyelusup masuk, dan menancapkan panji naganya, hai........" "Oooh,...... begitukah?"

Tanya Ho Ho pura-pura heran.

"Kongcu,"

Berkata lagi Tong-hong Hong.

"karena aku harus cepat melapor kekota-raja, terpaksa sampai di sini saja dulu, oh ya, bagaimana apakah kongcu bersedia untuk turut membantu usaha pemerintah?"

"Membantu? Tentu saja aku bersedia, tapi kukira untuk sementara, biarlah aku melihat-lihat dulu keadaan dikotaraja, maklumlah aku masih senang keluyuran kesana kemari menikmati tempat yang indah."

Jawab Ho Ho.

"Baiklah!"

Berkata Tong-hong Hong sambil bangkit berdiri.

"Kehadiran kongcu akan kulaporkan, agar tidak mendapat gangguangangguan diperjalanan sampai masuk ke dalam kota."

"Terima kasih, terima kasih,"

Kata Ho Ho sambil berdiri memberi hormat. Menampak Tong-hong Hong memasukkan tangannya kedalarn saku, buru-buru Ho Ho berkata.

"Tuan, biarlah rekening makanan dihitung sekaligus dengan rekeningku, hitung-hitung sebagai tanda perkenalan kita."

Tong-hong Hong melengak, tapi segera ia tertawa berkakakan, berjalan keluar.

Setelah Tong-hong Hong berlalu, Ho Ho segera memanggil pelayan untuk segera menyediakan kereta yang tadi malam dititipkan.

Lalu ia memberesi rekening makanannya.

Terdengar suara derap langkah-langkah kaki kuda diiringi suara keretekannya roda-roda kereta menggelinding.

Kereta biru laut meluncur meninggalkan kota Kwie-yang-hu.

Didalam kereta yang bergoyang-goyang, Ho Ho berkata pada Liong Houw dengan suara keras .

"Koko Liong, tak kuduga penyamaran kita sangat rapi, si Rajawali Cakar Emas tidak mengenali lagi diriku, haaa.....orang tua itu sungguh lucu."

Liong Houw sambil memecuti kuda, berteriak.

"Siapa orang tua itu? Apakah adik Ho kenal dengannya ?"

"Bukan kenal lagi, dia adalah sobat kental guruku, ilmu semburan mulut adalah hadiah pemberiannya. Itulah jurus garuda memberi makan anaknya."

"Kau terlalu ! Orang tua kau permainkan seperti itu?"

Kata Liong Houw.

"Sekali-kali tidak apa, aku ingin menunjukkan pada mereka golongan tua, kalau kita generasi muda juga bisa berbuat sesuatu diluar dugaan mereka, hmmm demi menolong suhu, aku memaki suhu, demi suksesnya rencana kita, si Rajawali Cakar Mas uring-uringan, dengan bantuan si Tonghong Hong manusia gila jasa, kita akan mudah memasuki kotaraja tanpa dicurigai."

Berkata Ho Ho.

Liu Ing didalam kereta, duduk bersandar matanya memandang keluar jendela menikmati pemandangan indah disepanjang jalan.

Kereta biru laut meluncur terus menuju kotaraja, debu-debu mengepul dibelakang mereka.

Berjalan setengah harian, tiba-tiba Liong Houw menghentikan keretanya.

"Hei, mengapa berhenti menongolkan kepalanya. ?"

Tanya Ho Ho Liong Houw berdiri diatas kereta memandang kearah rimba-rimba ditepi jalan, lalu katanya .

"Barusan, sayup-sayup terbawa angin seperti terdengar ada suara orang ribut-ribut !"

"Disebelah mana?"

Tanya Ho Ho, heran, ia kagum atas ketajaman pendengaran telinga Liong Houw.

"Kalau tidak salah, dari sebelah kanan kita,"

Jawab Liong Houw.

"Kedengarannya seperti suara seorang wanita dan tawa seorang laki-laki, mereka seperti mempertengkarkan sesuatu!"

Ho Ho memasang kuping lebar-lebar, tapi ia tidak mendengar suara apa-apa, lalu tanyanya.

"Apa kau masih mendengar suara itu?"

"Tidak !"

Jawab Liong Houw.

"Hmm......... !"

Dengus Ho Ho.

"Hayo putar kereta, kita lihat apa yang sedang terjadi dibalik rimba itu."

Liong Houw segera memecut kuda memutar kereta kearah datangnya suara.

Sementara kita tinggalkan dulu perjalanan rombongan Liong Houw, kita balik kembali mengikuti perjalanan Lie Eng Eng dan Thio Thian Su yang berpisahan dengan si pengemis cilik Ho Ho dikota Cee-lam-hu.

Dua ekor kuda berbulu hitam berlari cepat, si penunggang adalah Lie Eng Eng dengan direndengi Thio Thian Su.

Baju mereka berkibar-kibar ditiup angin, kuda-kuda mereka lari pesat menuju Kotaraja.

Pada hari kedua, mereka mencongklangkan kudanya melalui jalan-jalan pegunungan.

Diatas kuda diiringi dengan suara seliweran angin menderu-deru telinga Lie Eng Eng mendengar suatu suara yang mencurigakan di balik semak-semak belukar, dengan mengedut les kudanya ia menoleh kebelakang kearah Thio Thian Su dan berkata.

"Apa kau mendengar suara itu ?"

"Ya, seperti suara orang menggali tanah."

Jawab Thio Thian Su.

"Kukira tidak jauh dari sini."

Thio Thian Su menarik les kudanya, kakinya dikeprakkeprak ke perut kuda merendengi kuda Lie Eng Eng.

"Hmm.......mari kita tengok !"

Kata Lie Eng Eng sambil memutar kudanya menuju kearah datangnya suara tadi.

Mereka mencongklangkan kudanya memasuki semak-semak belukar.

Tidak lama mereka tiba didalam rimba, tampak seorang laki-laki bertubuh tinggi besar sedang menggali tanah.

Lie Eng Eng dan Thio Thian Su menghentikan tunggangannya, lompat segera turun berjalan menghampiri orang yang sedang asyik menggali tanah.

Orang itu begitu mengetahui akan kehadiran Lie Eng Eng dan Thio Thian Su ditempat itu, ia segera menghentikan pekerjaannya, menatap kearah Lie Eng Eng dan Thio Thian Su lalu berkata dengan suara serak dan kaku.

"Ha ... selamat siang tuan dan nona."

Mendengar kata-kata orang itu yang diucapkan kaku dan bahasanya kasar, serta bentuk tubuhnya, Lie Eng Eng dan Thio Thian Su mengetahui bahwa orang itu bukan orang Tionggoan.

Tubuh orang itu tinggi hitam kekar berbulu seperti monyet, rambutnya hitam jengat ikal mengombak, bercambang tebal, berkumis tebal, pakaian orang itu mengenakan jubah putih panjang, dilehernya melingkar kalung tasbeh.

Tidak jauh dari tanah yang digali orang tadi, menggeletak sesosok tubuh wanita muda, pakaian wanita itu sudah koyak-koyak tidak keruan, dari selangkangannya masih mengucurkan darah.

Wanita itu sudah tidak bernapas.

Menyaksikan pemandangan itu Thio Thian Su dengan perasaan heran segera bertanya.

"Tuan siapakah, berada ditempat ini, kalau melihat bentuk potongan tubuh tuan dan logat bahasa tuan, tuan bukanlah orang Tionggoan juga bagaimana wanita itu bisa mati disini? Siapakah yang membunuhnya ?"

Tangan thio Thian Su menunjuk kearah mayat wanita tadi. Orang hitam berambut ikal mengombak, mendengar pertanyaan Thio Thian Su, ia tersenyum, lalu melirik kearah Lie Eng Eng baru berkata ;

"Karena kedatanganmu bersama si molek ini,"

Matanya melirik Lie Eng Eng.

"biarlah aku beritahukan siapa aku, dan bagaimana wanita ini mati disini,"

Ia menunjukkan jarinya kearah wanita yang mati menggeletak diatas tanah, lalu lanjutnya.

"Aku adalah salah seorang dari lima jago Hadramaut namaku Habib.....!"

"Hadramaut !"

Potong Lie Eng Eng.

"Dimana Hadramaut itu, dan mana keempat orang lainnya ?"

Habib tersenyum lalu katanya .

"Hai nona molek, Hadramaut jauh dari sini, itulah benua Arabia !"

"Jadi tuan bangsa Arabia ? Apakah tujuan tuan datang kedaerah Tionggoan ?"

Bertanya Thio Thian Su. Habib berpikir-pikir sebentar memuntir-muntir kumisnya baru berkata .

"Kehadiran kami ke Tionggoan mencari kembali pusaka gaib leluhur kami yang dikabarkan terpendam didataran Tionggoan untuk dibawa kembali kenegeri kami, sedang keempat jago Hadramaut lainnya berpencaran kesetiap pelosok dataran Tionggoan mencari jejak pusaka itu."

"Hm, apakah yang kau cari itu bukankah Pedang Embun ?"

Tanya Lie Eng Eng. Habib mendengar ucapan Lie Eng Eng tampak wajahnya berubah, kakinya melangkah mundur, ia bertanya heran .

"Jadi kau juga sudah tahu tentang adanya pusaka gaib itu. Sepuluh tahun sudah, kami menyelidiki jejak pusaka yang lenyap dengan hati-hati dan rahasia, tapi toch kalian juga sudah dapat mengendusnya, hebat sekali."

"Hm, apa yang hebat!"

Kata Thio Thian Su.

"Dinegeri kami pun banyak barang-barang pusaka yang tidak kalah hebatnya dengan pusaka leluhurmu."

"Hei, apakah wanita ini membunuhnya?"

Tanya Lie Eng Eng. kau yang Habib menatap wajah Lie Eng Eng, ia tersenyum katanya .

"Kalau dikatakan aku yang bunuh, juga tidak ! Tapi jika dikatakan tidak, juga ia mati akibat........."

"Akibat perbuatan terkutukmu bukan !"

Potong Lie Eng Eng.

"Ya, boleh dikata begitulah !"

Jawab Habib, terus terang.

"Heran wanita-wanita yang kutemukan, setelah kucicipi.... selalu mati! Ha ha, hua, apakah nona molek mungkin bisa tahan, ha, ha, hua.....!"

"Bedebah !"

Bentak Lie Eng Eng.

"Selama beberapa tahun ini, hilangnya gadis adalah perbuatanmu ! Bagus ! Setelah kau bunuh korbanmu lalu kau kuburkan hingga tak meninggalkan jejak. Sungguh licin perbuatanmu !"

Berbarengan dengan ucapannya Lie Eng Eng mencabut pedang Ang-lo-po-kiam, kilatan-kilatan sinar pedang menyilaukan mata. "Hah, hahahahaaa....."

Habib tertawa berkakakan.

"Sabar, nona molek! Sabar! Kau juga akan merasai nikmatnya sorga dunia......!"

Menyaksikan tingkah laku orang itu, kemarahan Lie Eng Eng dan Thio Thian Su sudah tak tertahankan lagi, mereka segera menghujani tubuh Habib dengan pedang Ang-lo-po-kiam ditangan Lie Eng Eng, sedang Thio Thian Su menghujani pisaupisau terbangnya.

Sinar pedang berkelebat-kelebat mengurung tubuh Habib, sedang pisau-pisau terbang Thio Thian Su meluncur kearah jalan-jalan darah penting ditubuh Habib.

Mendapat serangan gencar itu, tubuh Habib masih berdiri tegak, ia tidak bergeming sedikit pun, membiarkan senjata-senjata itu membentur kulit tubuhnya, dengan tertawa-tawa menyaksikan pisau-pisau terbang Thio Thian Su mental berjatuhan ditanah, sedang pedang pusaka Ang-lopo-kiam membal balik, kedua senjata itu tidak berhasil menembus kulit hitam Habib jago Hadramaut.

Lie Eng Eng dan Thio Thian Su menyaksikan serangan-serangannya tidak membawa hasil, mereka terkejut terheran-heran, segera menghentikan serangan-serangannya mundur dua langkah.

"Haaaa, huaaa........!"

Terdengar Habib tertawa.

"Kau boleh keroyok, haaa, huaaa, rupanya jagojago Tionggoan pandai main keroyok, haaaa, ha.....eh, pedang nona memang hebat luar biasa, ha, ha......bisa mengeluarkan hawa dingin, haa, ha.... tapi untuk jago Hadramaut artinya......ha…. hayo keroyok lagi...."

Tidak ada Mendengar kata sindiran itu selembar wajah kedua jago muda menjadi merah, mereka jengah atas tindakannya tadi menyerang dengan berbareng.

Sebenarnya Lie Eng Eng maupun Thio Thian Su tidak bermaksud untuk turun tangan berbareng mengeroyok si jago Hadramaut, tapi demi mendengar ucapan dan melihat tingkah tengik Habib, tanpa disadari mereka sudah bergerak berbareng.

Untuk memperbaiki kesalahannya maka cepat Lie Eng Eng membentak .

"Manusia bejat, meskipun kau memiliki ilmu setan atau siluman pejajaran, nonamu juga tidak gentar,"

Menoleh kearah Thio Thian Su, dan berkata .

"Saudara Thio kau minggir ! Biar aku yang ajar adat pada manusia berdarah binatang ini !"

Thio Thian Su mendengus, lalu mundur, ia berdiri didekat lubang yang digali si jago Hadramaut tadi. Disampingnya menggeletak tubuh wanita yang mati. Habib tertawa lagi, lalu katanya .

"Hai nonaku, ha, haa.....cepat sedikit kalau kau masih ingin main-main dengan pedangmu, haa, ha, ha......aku sudah tidak sabar menunggu !"

Lie Eng Eng mendengus melintangkan pedangnya kearah leher, gerakan Lie Eng Eng seperti orang yang hendak bunuh diri dengan memapas tenggorokannya sendiri, kejadian itu membuat Habib agak tertahan.

"Haaaaa........"

Terkejut, ia berteriak Tapi belum lagi teriakan Habib lenyap diudara tiba-tiba pedang Ang-lo-po-kiam menyambar bagian bawah pusar, begitu pedang menyambar kearah benda yang sering melakukan perbuatan terkutuk terhadap gadis-gadis sampai mati, Habib terkejut tidak kepalang, ia tidak mau membiarkan barangnya putus dipapas pedang, dengan mengeluarkan teriakan.

"Masyaaalaaah......."

Tubuhnya melejit keudara sedang kedua tangannya dijulurkan menyerang kepala Lie Eng Eng.

Lie Eng Eng mengetahui serangannya gagal bahkan sambaran angin kuat sudah menyerang batok kepalanya, segera menarik kembali serangan pedangnya, ia miringkan tubuh kekiri, serangan angin kuat dari kedua tangan Habib lewat diatas pundak kanannya.

Buumm.......

Terdengar suara tanah berhamburan daun-daun kering yang rontok ditanah beterbangan kembali sedang abu mengepul diudara.

Tubuh Habib meluncur turun, berdiri tegak lalu berkata ;

"Mmm......kalian sudah menyerangku dua kali bukan ? Pertama keroyokan, kedua dengan gagah-gagahan nona mainkan pedangnya,"

Mata Habib melirik kearah Thio Thian Su yang berdiri di pinggir lubang, lalu bentaknya .

"Kau ! Cepat kemari ! Kini giliran kalian menerima seranganku, beranikah kau ?" Thio Thian Su mendengus, ia berjalan kearah Lie Eng Eng, disana berdiri berendengan sejarak dua kaki.

"Hayo...... !"

Berbareng Lie Eng Eng dan Thio Thian Su membentak .

"Ha, ha, haa......kalian jangan kesusu, haa, ha......nah, siaplah, seranganku akan kumulai."

Lie Eng Eng melintangkan pedangnya di atas tenggorokan dengan sikap seperti orang ingin memotong lehernya sendiri, sedang Thio Thian Su berdiri tegak, memasang kuda-kuda untuk menerima datangnya serangan Habib.

Kedua mata muda mudi itu menatap kearah Habib, lama mereka menatap wajah Habib, tapi Habib tidak melakukan gerakan apa-apa, ia hanya berdiri dengan menembakkan sinar matanya kearah mata kedua jago muda kita.

Suasana menjadi hening.

Keheningan suasana tiba-tiba disusul dengan perobahan si tuasi, pedang Lie Eng Eng yang tadi ditaroh didepan lehernya siap untuk menjaga segala kemungkinan, kini tampak perlahan-lahan pedang itu turun kebawah, tangan Lie Eng Eng lemah, akhirnya terjuntai kebawah, pedang yang dipegangnya jatuh menancap di tanah belukar.

Tubuh Thio Thian Su yang tadi bersikap kudakuda kekar dan kuat, kini berubah lemah perlahan ia berdiri tegak disamping Lie Eng Eng, matanya masih menatap sinar mata Habib.

Dengan tertawa maut, Habib berkata, suaranya lemah-lembut berwibawa diucapkan perlahan satusatu ;

"Kalian .... berdiri berjajar lebih dekat ..."

Lie Eng Eng dan Thio Thian Su seakan-akan tertarik oleh gaya magnit yang keluar dari katakata Habib, mereka segera bergerak berendeng satu sama lain. Habib berkata lagi.

"Kau .... dan kau ... ."

Ia menunjukkan jarinya kearah kedua jago kita.

"Pandang mataku baik-baik .... mulai saat ini .... kalian hanya mendengar perintahku ..... mendengar suaraku seperti mendengar firman Tuhan.....kalian hanya dengar perintah dari suara yang kalian dengar ini .... kalian hanya turut perintah dari suara yang mendengung ditelinga kalian,.....tidak kenal kepada siapapun....kecuali aku, Habib ... ."

Berkata sampai disitu Habib berhenti sejenak, ia memperhatikan kedua korban yang sudah masuk perangkap ilmu sihirnya, lalu berkata .

"Apa kalian sudah mengerti ?"

"Mengerti !"

Jawab Lie Eng Eng dan Thio Thian Su berbareng. Mereka sudah terpengaruh sugesti ilmu sihir Habib dari Hadramaut.

"Kau !"

Habib menunjuk kearah Thio Thian Su.

"siapa namamu ?"

"Thio Thian Su,"

Jawab yang ditanya, singkat.

"Kubur mayat perempuan itu!"

Perintah Habib pada Thio Thian Su. "Baik !"

Jawab Thio menjalankan perintah. Thian Su, segera Setelah itu Habib menoleh kearah Lie Eng Eng, tanyanya .

"Namamu siapa ?"

"Lie Eng Eng,"

Jawabnya cepat.

"Buka pakaianmu !"

Perintah Habib dengan senyumnya.

Mendengar perintah itu Lie Eng Eng menggerakkan kedua tangannya, ia merobek baju bagian dadanya.

Breeeeet .......

Terdengar suara kain tersobek.

Menampak pemandangan itu air liur Habib meleleh keluar.

Kaki Habib melangkah menghampiri tubuh Lie Eng Eng yang sudah terbuka bagian atasnya, tangan Habib dijulurkan hendak meraba dua benda membusung kuning langsat di dada Lie Eng Eng.

Tiba-tiba ........

Terdengar derap-derap kaki kuda serta keretekan roda kereta, suara derap-derap kaki kuda kereta itu menerobos memasuki semaksemak belukar kian lama kian dekat.

Habib membatalkan niatannya, kepalanya celingukan, Lie Eng Eng masih berdiri mematung dengan posisi yang sama, menunggu perintah lebih lanjut dari jago Hadramaut.

Si kusir kereta yang bukan lain dari pada Liong Houw, matanya yang tajam tertumbuk dengan tubuh si nona jelita Pedang Macan Betina, berdiri mematung dengan pakaian atasnya sudah terobek, ia segera menghentikan keretanya lompat turun lalu berjalan menghampiri Lie Eng Eng yang selama ini ia rindu dendamkan.

Ia tidak perduli si nona dalam keadaan bagaimana yang perlu segera menjumpainya dan menerangkan isi hatinya juga ia tidak ambil pusing terhadap orang yang ada ditempat itu.

Ho Ho dan Liu Ing keluar dari dalam kereta, menyaksikan pemandangan itu juga merasa heran dan terkejut.

Liu Ing hanya bisa berdiri dipintu kereta tanpa berbuat apa-apa, sedang Ho Ho segera berjalan menghampiri Thio Thian Su yang sedang duduk bengong.

"Saudara Thio.............. kalian sedang berbuat apa?"

Thio Thian Su yang sudah terpengaruh sugesti ilmu sihirnya sijago Hadramaut, tetap duduk bengong, seakan tidak mendengar suara pertanyaan Ho Ho.

Ho Ho yang pertanyaannya tidak mendapat jawaban merasa mendongkol tangan kirinya menepuk kepala Thio Thian Su sambil berkata .

"He......apa yang terjadi ? Mengapa bengong saja?"

Thio Thian Su yang kepalanya ditepuk masih tetap tidak bergerak.

Ia mematung.

Saat itu Liong Houw yang menghampiri Lie Eng Eng melihat jelas baju atas Lie Eng Eng robek dan buah dadanya menonjol keluar, dengan perasaan bingung dan heran ia bertanya.

"No......."

Ucapan selanjutnya.

"na"

Belum tercetus dari mulutnya, tiba-tiba tubuh Liong Houw terbanting ambruk ditanah.

Ho Ho yang baru saja menepuk kepala Thio Thian Su, mendengar suara gedabruk, ia menoleh kearah suara itu, tiba tiba matanya beradu dengan sinar mata Habib, tak lama keadaan Ho Ho juga sama dengan keadaan Thio Thian Su, dia sudah terkena pengaruh sihir Habib, si jago Hadramaut.

Habib segera menggapaikan tangan ke arah Liu Ing, katanya .

"Kau kemari !"

Liu Ing menghampiri dengan langkah lemah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Berdiri dekat dia !"

Kata lagi Habib sambil menunjuk kearah Ho Ho.

Liu Ing hanya menuruti apa yang dikehendaki Habib, ia tidak memiliki kepandaian, hingga lebih mudah terpengaruh oleh sugesti sihir sinar mata jago Hadramaut.

Habib kembali mengucapkan kata-kata yang sama dengan yang ia ucapkan pada Lie Eng Eng dan Thio Thian Su.

"Ha, ha, huaaa ....!"

Habib tertawa terbahakbahak, ia melangkah maju menghampiri Liu Ing.

"Kau.....kau lebih manis dari Lie Eng Eng, hei wajahmu lebih bening bercahaya .... hai siapa namamu, ayo sebutkan....."

"Liu Ing."

Jawab si gadis singkat.

0)0od^wo0(0 LlONG HOUW yang terbanting ditanah, kepalanya terasa pusing, dunia seperti berputar terbulak balik.

Setelah ia bisa menenangkan pikirannya, segera bangkit berdiri, memperhatikan sekeliling rimba itu.

Disana berdiri Liu Ing, bicara dengan Habib dan Ho Ho yang sudah menjublek seperti patung, hatinya merasa heran, ia tidak mengerti bagaimana dengan tiba-tiba kelakuan kedua saudara angkat itu berubah wajah dan sikapnya, tampak dingin kaku dan tolol.

Liong Houw menoleh kearah Lie Eng Eng ternyata gadis itu masih seperti tadi berdiri dengan mata mendelong, buah dadanya menonjol keluar, menoleh kesebelah kirinya disana duduk Thio Thian Su diatas gundukan tanah.

Mata Liong Houw menatap wajah Habib seorang yang berkulit hitam tinggi besar berambut ikal mengombak bercambang dan berkumis.

Tadi begitu Liong Houw lompat turun dari atas kereta, pusat pikirannya hanya tertuju kepada Lie Eng Eng seorang, hingga ia tidak memperhatikan Habib yang berada disitu, sehingga Habib berhasil menangkap dan membanting tubuhnya ambruk di tanah.

Sepasang sinar mata Liong Houw menantang kilatan sinar mata Habib, pandang memandang itu berlangsung sekian saat, akhirnya si jago Hadramaut buka suara .

"Mulai detik ini, kau harus menuruti segala perintahku."

"Kau siapa ?"

Tanya Liong Houw.

"Ajow............."

Habib terkejut tidak kepalang, ia melangkah mundur setindak.

Mengapa?

Mengapa orang ini tidak terpengaruh oleh daya sugesti sinar matanya ?

Itulah pertanyaan pertama dalam hati Habib, apakah anak ini juga pandai ilmu sihir?

Tapi mengapa tadi ia dengan mudah terbanting ditanganku?

Bertubi-tubi pertanyaan dalam hati Habib si jago dari Hadramaut.

Liong Houw yang melatih diri dengan mencontoh gerakan-gerakan yang tertera dalam lukisanlukisan didinding batu dalam goa dilembah air terjun, selama ini juga tidak pernah memakan barang makanan bernyawa selain buah-buahan, membuat darahnya menjadi bersih, kebal kekotoran dunia.

Sedang cara melatih ilmu sihir Habib, keadaannya hampir sama, selama ia melatih ilmu sihirnya itu, ia dilarang memakan barang makanan yang bernyawa.

Hal inilah yang membuat keadaan Liong Houw seimbang dengan keadaan Habib, hingga ia tidak terpengaruh oleh sinar mata yang mengandung kekuatan sihir dari Hadramaut.

Hal itu Liong Houw juga tidak menyadarinya bahwa ilmu yang pernah dilatihnya didalam lembah air terjun adalah ilmu yang sangat luar biasa, hingga ia tidak terpengaruh oleh segala macam ilmu sihir, ataupun ilmu uap beracun pencabut nyawa Kun-see-mo-ong.

Ketika matanya ditatap oleh sinar mata Habib, ia juga tidak mau kalah, ia balas menatap pandangan mata itu dengan pandangan matanya yang bercahaya kebiru-biruan.

Dua sinar mata bentrok satu sama lain.

Habib mengetahui ilmu sihirnya tidak mempengaruhi jiwa Liong Houw, berkata dingin dan serak .

"Hai, bocah kau hebat ! Siapa gurumu? Ilmu apa yang kau miliki ?" 0)0od^wo0(0

Jilid ke 07 DENGAN kecerdikan otaknya Liong Houw sudah menduga tepat bahwa kawan-kawannya sudah terpengaruh oleh tatapan sinar mata Habib hingga lupa diri, katanya .

"Mmm......kau tak perlu banyak tanya lekas normalkan kembali kawan-kawanku."

"Haa, huaa......"

Habib tertawa, lalu katanya.

"Kau hebat, tidak terpengaruh ilmu sihirku...... tapi ilmu silatmu masih belum apa-apa, ha, ha ...... kau bukan tandinganku, dalam segebrakan kau pasti bisa terjungkal mampus ditanganku."

Selesai ucapannya, Habib menggerakkan tangannya menyambar tubuh Liong Houw, dengan jurus yang ia tadi gunakan untuk membanting si pemuda.

Tapi kali ini ia kecele, Liong Houw yang sudah waspada, bukanlah lawan enteng yang bisa dibuat jungkir balik dengan jurus tipu silat dari Hadramaut.

Begitu melihat tangan kanan Habib yang hitam berbulu meluncur menyambar pergelangan tangan kirinya, sedang tangan kiri Habib nyelusup kebawah pahanya, berbarengan pada saat tubuh dan serangan tangannya hampir mengenai sasaran, tangan kanan Liong Houw segera meluncur ke-arah iga kiri Habib.

Habib yang merasakan sambaran angin pukulan kearah iganya, dibiarkan serangan tangan kanan Liong Houw mengenai sasarannya, ia meneruskan serangan tadi.

Tapi mendadak serangan kepalan tangan Liong Houw berubah, ia menarik kembali serangannya, mengelakkan datangnya serangan Habib, melejitkan tubuhnya keudara, ditengah udara kepalan tangan kanannya menghantam batok kepala Habib.

Bletak..........

Terdengar suara kepalan tangan Liong Houw, terbentur batok kepala Habib.

Kaki kiri Habib amblas ketanah sebatas dengkul, tubuh Liong Houw mental keudara, ditengah udara Liong Houw jumpalitan, ia berhasil turun ketanah berdiri tegak, kembali berhadapan dengan si jago dari Hadramaut.

Habib segera mencabut kaki kirinya yang amblas ketanah.

Masing-masing hati dari dua jago saling memuji atas kehebatan ilmu yang dimiliki.

Diam-diam Liong Houw terkejut, pukulannya yang bisa menghancurkan batu-batu gunung, bisa meremukkan kepala macan, tapi kali ini membentur batok kepala orang ini tidak menunjukkan hasil apa-apa, Habib hanya amblas sebelah kakinya kedalam tanah, sedang tubuhnya melayang mental keudara akibat benturan tadi.

"Aaaiiihyaaah......pukulanmu hebat,"

Kata Habib serak memecah kesunyian.

"Tapi tidak ada gunanya terhadapku, hai aku tidak ada tempo untuk melayanimu,"

Lalu ia menoleh menatap kearah Lie Eng Eng, kemudian kearah Ho Ho dan akhirnya kepada Thio Thian Su kemudian berkata serak dan kaku .

"Kalian bertiga, ambil senjata masing-masing bunuh orang ini!"

Lie Eng Eng, Ho Ho dan Thio Thian Su yang sudah terpengaruh pandangan sinar mata Habib, segera bergerak mengurung Liong Houw.

Lie Eng Eng mencabut pedang Ang-lo po-kiam yang masih menancap ditanah, lalu menyerang Liong Houw.

Thio Thian Su dengan pisau-pisau terbangnya menghujani jalan darah ditubuh Liong Houw, sedang Ho Ho dengan gerakan-gerakan jurus si pengemis kelaparan minta derma, bergerak-gerak kekiri kanan menyerang tubuh Liong Houw, gerakan-gerakan itu sangat memusingkan kepala Liong Houw.

Mendapat serangan serentak dari tiga orang, Liong Houw cepat melejitkan tubuhnya keudara, ia tidak mau memapaki atau membalas serangan itu, ditengah udara ia berteriak .

"Hei, hai! Ho Ho......kau gila? Tahan serangan kalian !"

Ho Ho dan kedua orang lainnya yang sudah terpengaruh oleh sugesti ilmu sihir Habib tidak menghiraukan peringatan Liong Houw, mereka terus dengan gencar menghujani Liong Houw dengan serangan-serangan maut.

Liong Houw dengan lincah berlompatan keudara, melesat sana sini mengelakkan serangan-serangan itu, tubuhnya melayang tinggi turun berdiri diatas dahan pohon.

Menengok kearah Habib, setelah memerintahkan ketiga suyetnya membunuh Liong Houw, berjalan menghampiri Liu Ing.

Tangan kanannya yang kasar berbulu mengelus-elus pipi licin Liu Ing, tangan kirinya mengelus-elus rambut si gadis, setelah itu tubuh gadis itu dipeluknya erat, nampak Habib terbungkuk-bungkuk menciumi pipi, kening dan leher Liu Ing.

Mulut Habib berkemak kemik ditelinganya Liu Ing membisiki sesuatu.

Mata Liu Ing mendadak berbinar jalang, menatap wajah Habib tangannya segera bergerak merobek pakaian bawahnya, ia singkirkan pakaian bawah itu, tampak pahanya si gadis yang putih kekuningkuningan, setelah mana tangan Liu Ing bergerak menyelusuri tubuh Habib yang penuh bulu dengan mesranya.

Habib mengangkat tinggi jubahnya, pahanya yang penuh bulu digeser-geserkan kepaha Liu Ing, nampak mata Liu Ing merem melek merasakan pahanya disentuh-sentuh paha berbulu Habib, tangan Liu Ing bergerak terus menyelusuri tubuh Habib, napas si gadis tersengal, hawa birahinya memuncak.

Tangan Habib mengelus-elus tubuh Liu Ing terus turun kebawah, menekan pinggul Liu Ing erat sekali, membuat si gadis mendesis meminta sesuatu.

Liu Ing yang sudah terpengaruh oleh sugesti sihir jago Hadramaut, nafsu birahinya memuncak meluap-luap seperti air bah mendorong apa yang menghalang, ia mengikuti serta melayani apa yang dikehendaki Habib.

Mendadak Habib membopong tubuh Liu Ing dengan kedua tangannya, sedang tangan Liu Ing merangkul leher Habib dengan mesranya.

Tampak jubah Habib bagian bawah dimana tubuh Liu Ing dibopong, jubah itu mengembang sejauh dua jengkal.

Nafsu birahi Habib memuncak keras.

Langkah kaki Habib agak terburu ia menghampiri kereta, meletakkan tubuh Liu Ing didalam kereta.

Lalu diikuti oleh tubuhnya menyusup masuk.

Pintu kereta tertutup.

Liong Houw diatas dahan pohon menyaksikan semua adegan itu, hatinya geram darahnya panas menggelora, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya sibuk menghadapi serangan-serangan ketiga kawan-kawannya yang kalap tidak keruan.

Tiba-tiba saja batang pohon dimana Liong Houw berdiri, pohon itu bergerak tumbang dipapas pedang Ang-lo-po-kiam Lie Eng Eng, batang pohon itu rubuh menggedubrak.

Kreeeekeeeek ......

.brukk.

Liong Houw melejit keudara, mencabut pisau belatinya, sedang tangan kirinya mencopot satu ranting pohon yang penuh anak-anak ranting daunnya lebat menghijau.

Tubuh pemuda kita melorot turun.

Selagi ia melorot turun dari udara dengan kepala kebawah, serangan-serangan pisau terbang Thio Thian Su menyambar tubuhnya, dengan ranting pohon ditangan kiri Liong Houw menggeprak pisau-pisau belati yang menyerang tubuhnya.

Baru saja berhasil memukul mundur pisaupisau belati tadi, pedang Ang lo-po-kiarn menyerang datang mengincar batok kepalanya.

Ngguuuuungggggg.............

Terdengar suara mendengung akibat benturan pedang Ang-lo-po-kiam dan pisau belati Liong Houw.

Tubuh Lie Eng Eng rubuh di tanah.

Si Pengemis cilik Ho Ho, terhuyung-huyung mundur beberapa langkah.

Habib yang baru saja hendak melampiaskan nafsunya bersama Liu Ing ketika mendengar suara dengungan panjang, seakan suara ribuan tawon, ia menolehkan kepala kearah datangnya suara itu.

Begitu ia melihat ditangan Liong Houw menggenggam pisau belati yang mengeluarkan cahaya kilatan, segera meninggaIkan tubuh Liu Ing, yang sudah siap sedia melayani melampiaskan birahinya juga, lalu berjalan bergegas-gegas menghampiri medan pertempuran, bentaknya.

"Berhenti!"

Sebetulnya pertempuran sudah berhenti sejak Lie Eng Eng rubuh ditanah, tapi Habib yang agak terkejut bercampur girang, mulutnya sudah berkata begitu tanpa ia sadari.

Liu Ing yang sudah memuncak nafsu birahinya cepat ia mengejar keluar kereta tapi ketika mendengar bentakan Habib, ia menghentikan langkah masuk kembali kedalam kereta duduk bersandar.

Menoleh kearah Lie Eng Eng yang jatuh numprah di tanah Habib segera berkata kepada Ho Ho dan Thio Thian Su .

"Kalian payang dirinya kekereta!"

Setelah berkata begitu, ia lalu memandang Liong Houw lalu bertanya .

"Hm.........bocah, dari mana kau dapat pisau belati itu?"

Liong Houw dengan menggerak-gerakkan pisaunya berkata.

"Mmm .... kau kenal benda ini, ya ? Masih ada dua lagi yang serupa, bukan ?"

Mendengar ucapan Liong Houw, Habib menjadi girang, sepuluh tahun ia mengembara didaratan Tionggoan, mencari jejak pisau-pisau belati itu, kini tanda-tanda sudah berada didepan matanya, betapa tidak besar hatinya, pisau belati yang selama ini dicarinya sebagai petunjuk dimana tersimpannya barang pusaka gaib leluhur negerinya kini sudah berada didepan matanya.

Ditangan Liong Houw.

Dengan senyum kecut Habib berkata.

"Hei, cepat kau serahkan padaku !"

"Apa yang mesti diserahkan ?"

Tanya Liong Houw pura-pura tidak mengerti.

"Pisau itu !"

"Hmm, enak betul kau bicara ! Boleh kau ambil sendiri bila kau mampu."

"Bocah !"

Bentak Habib.

"Kau bukan tandinganku, sebaiknya serahkan saja barang itu, jiwamu kuampuni, jika tidak….."

"Jika tidak kau sendiri yang mampus,"

Potong Liong Houw mengejek.

Liong Houw sadar, bahwa orang yang berdiri dihadapannya ini merupakan lawan yang sulit ditundukkan, tapi ia masih merasa penasaran, sebelum menjajal lebih jauh, sampai dimana kelihayannya sijago dari Hadramaut.

Ia berkata lagi.

"Hayo tunggu apa lagi ambillah!"

"Bocah! Jika aku tidak bisa memuntir kepalamu, aku tak akan kembali kenegeri asalku, biar aku mati berkalang tanah di negeri orang!"

Kata Habib, berbarengan tangannya bergerak secepat kilat menyerang tubuh Liong Houw.

Liong Houw melejit mengelakkan serangan itu, lalu balik menyerang dengan ilmu totokan jarak jauh Bunga-bunga Berguguran ke kesembilan jalan darah ditubuh Habib.

Totokan Bunga-bunga Berguguran yang keluar dari jari tangan Liong Houw tak menimbulkan suara, tapi kecepatannya melebihi suara, menyamai kecepatan sinar, membentur kesembilan jalan darah ditubuh Habib dengan telak.

Habib yang mendadak tertotok kesembilan bagian jalan darah ditubuhnya, ia terhuyunghuyung mundur kebelakang sampai lima tindak, baru bisa berdiri tegak kembali.

Habib yang berhasil dipukul mundur sampai lima langkah oleh serangan totokan itu, matanya memancarkan sinar kebuasan.

Liong Houw mengetahui totokan Bunga-bunga Berguguran hanya berhasil membuat sang lawan mundur sampai lima langkah, hatinya juga berdebaran keras.

Kini ia maklum benar bahwa ia sedang berhadapan dengan lawan tangguh.

"Bocah !"

Bentak Habib sesudah menenangkan gejolak hatinya.

"Ternyata kau juga bisa mainkan ilmu gaib, heh... ."

Habib terpukul mundur, tanpa mengetahui dengan jurus apa si pemuda menyerang, juga tidak terdengar suara angin serangannya, maka ia telah menyangka Liong Houw memiliki ilmu gaib yang juga dimiliki oleh jago-jago dinegerinya.

"Hai!"

Bentak Habib.

"Siap-siap kau segera menerima kematianmu !"

Tanpa banyak bicara Liong Houw berlompatan dengan pisau belati menyerang tubuh Habib, Terjadilah pertempuran sengit, kilatan sinar pisau belati berkeredepan, kedua bayangan berkutet berputaran, sulit untuk menentukan siapa yang akan menang dan siapa yang segera keok.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh, daun-daun pohon berguguran, tubuh mereka terpental mundur tiga tindak.

Keduanya saling pandang.

Suasana hening kembali.

Dada Liong Houw dirasakan bergolak napasnya sengal-sengal, otaknya berpikir keras, ia heran tubuh lawan begitu pedot tidak tertembus ilmu totokan maupun pukulannya juga tidak mempan senjata tajam.

Tidak kalah terkejutnya Habib, pukulan gaib yang bisa menghanguskan setiap korban ternyata dengan mudah berhasil dipapaki telapak tangan Liong Houw tanpa menimbulkan akibat yang mengerikan.

Dengan perasaan mendongkol Habib sudah siap dengan pukulan Malaikat mautnya, ilmu simpanannya yang terampuh.

Setiap machluk yang terkena serangan angin pukulan itu pasti tubuhnya akan hangus terbakar.

Liong Houw dengan menggunakan kecerdikan otaknya berpikir, lawannya tidak mempan senjata tajam, ia harus menggunakan kecerdikan menghadapi lawan tangguh ini.

Setelah mendapatkan jalan keluar, ia mendahului menyerang dengan melemparkan pisau belatinya kearah mata kiri Habib, sedang jari-jari tangan kirinya disiapkan untuk menyerang dengan ilmu totokan bunga-bunga berguguran.

Begitu serangan pisau belati Liong Houw meluncur kearah mata kiri Habib, si jago Hadramaut dengan cepat miringkan kepalanya kekanan, sedang telapak tangannya didorong kemuka.

Tampak dua kilatan sinar putih saling sambar, satu kilatan sinar belati Liong Houw yang menyambar mata kiri Habib, lain cahaya keredepan kilat yang keluar dari pukulan tapak tangan si jago Hadramaut.

Pertempuran ini tidak menimbulkan suara sedikitpun, hanya tampak keredapan kedua sinar serangan dari masing-masing jago.

Serangan pisau belati Liong Houw berhasil dielakkan, meluncur kesamping kepala Habib, kemudian pisau itu berputar kembali meluncur kearah Liong Houw seakan-akan pisau itu dikendalikan, kembali ketangan kanan si pelempar.

Berbarengan ketika pisau belati Liong Houw menyambar mata kiri Habib, serangan kilat Malaikat maut, membentur tubuh Liong Houw bertepatan pada saat itu serangan totokan bungabunga berguguran berhasil membentur mata kanan Habib.

Saat itulah berbarengan terdengar dua suara yang bernada berbeda.

Huuuk......

Ceeet......

Dada Liong Houw terhajar telapak tangan Habib menimbulkan suara mendebuk, tubuhnya mundur terhuyung beberapa langkah terbentur batang pohon, ia jatuh duduk menyender pada batang pohon itu, terasa dadanya bergolak panas, kepala pusing dunia dirasakan berputar.

Serangan totokan bunga-bunga berguguran Liong Houw berhasil membentur mata kanan Habib, biji mata itu lompat keluar menggelinding ditanah.

Habib dengan menekapi mata kanannya yang mengucurkan darah, ia melangkah mundur dua tindak, tubuhnya masih berdiri tegak.

Dua jago dari dua benua sudah terluka.

Setelah mereka menenangkan gejolak hati serta menahan rasa sakit pada luka masing-masing kedua jago dari dua benua itu kembali berhadaphadapan.

Si jago Hadramaut mulai berkemak kemik, sedang tangan kanannya masih menekap mata kanan yang sudah buta mengucurkan darah.

Liong Houw dengan menahan rasa sakit dan panas pada dadanya, perlahan-lahan ia berdiri bersandar pada batang pohon.

Kedua pasang sinar mata saling bentrok keadaan tegang detik demi detik.

Setelah berkemak kemik, tangan kiri Habib dikepalkan menutupi mata kirinya yang masih utuh, sedang tangan kanan yang tadi menekapi mata kanannya yang sudah buta, kini sudah diputar-putarkannya keudara kaki kirinya menggebrak bumi tiga kali.

Liong Houw menyaksikan lawannya menutupi mata kirinya, hatinya mencelos, harapan satusatunya kini sudah ditutup oleh kecerdikan si jago Hadramaut, hingga sulit baginya untuk mencari sasaran empuk lainnya.

Dalam keadaan krisis demikian tangan kanan Habib sudah bergerak cepat menyerang kearah Liong Houw.

Dengan nekad tanpa melihat sasarannya lebih dahulu.

Liong Houw yang berdiri bersandar di batang pohon, hampir tidak bisa mengelakkan datangnya serangan itu, dadanya dirasa sakit, tubuhnya lemah.

Begitu serangan angin tanpa suara menyambar tubuh Liong Houw, cepat ia melorot turun duduk numprah ditanah, saat itu tiba-tiba terdengar suara lengkingan siulan yang menggema diangkasa, suara lengking siulan mengakibatkan getaran hebat, burung-burung berjelingsatan terbang keangkasa, empat ekor kuda kereta meringkik-ringkik berlompatan.

Tepat pada saat itu angin serangan tangan Habib yang meluncur menyerang Liong Houw lewat dikepalanya membentur pohon yang berada dibelakang Liong Houw, pohon itu menjadi sasaran pukulan Habib, roboh ambruk menimpa pohonpohon lainnya.

Tubuh Habib tergetar mundur setindak, tubuhnya oleng, urat-urat sendinya dirasakan lemas tak bertenaga, dadanya bergolak keras.

Anak telinganya dirasakan mau pecah.

Suara siulan itu menyusuri sendi-sendi tulangnya.

Lie Eng Eng, Ho Ho, Thio Thian Su dan Liu Ing yang terpengaruh oleh sihirnya Habib, ketika mendengar suara siulan itu, mendadak pengaruh sihir itu lenyap, mereka sadar diri masing-masing.

Lie Eng Eng yang begitu sadar menampak baju atasnya robek, segera ia menutupi bagian itu dengan merapatkan dengan tangannya robekanrobekan baju itu menutupi dadanya dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya dengan pedang Ang-lo-po-kiam berputar menyerang Habib.

Ho Ho menampak Liong Houw duduk numprah ditanah segera lari menghampiri.

Sedang Thio Thian Su bergerak menyerang Habib.

Liu Ing juga sadar dari impiannya, tiba tiba kereta bergoncang, akibat dari kuda-kuda pada meringkik berjingkrakan hingga kepala si gadis membentur pintu kereta, kepalanya dirasakan sakit matanya berkunang-kunang, akhirnya ia jatuh pingsan.

Liong Houw yang menyaksikan Lie Eng Eng dan Thio Thian Su sudah menyerang Habib, segera berteriak, tapi teriakan itu terdengar lemah tidak bertenaga, dadanya dirasakan sakit sekali.

"Nona ....! Hajar matanya !"

Tapi peringatan Liong Houw tidak sempat didengar Lie Eng Eng, si nona dengan pedang Anglo-po kiamnya, menyambar ke arah bagian bawah perut Habib, ia sangat penasaran sekali kalau tidak bisa membuat urat besar yang menggelantung disitu terpapas putus oleh pedangnya.

Habib berlompatan keudara mengelakkan serangan-serangan ganas Lie Eng Eng.

Thio Thian Su yang dengan tenang menghadapi si tuasi itu, ia mendengar ucapan Liong Houw tadi, lebih-lebih menyaksikan bahwa mata kanan Habib sudah mengocorkan darah, ia maklum bahwa itulah hasil dari pada serangan si pemuda yang masih duduk numprah, maka ketika Habib berlompatan keudara segera ia menyerang dengan pisau-pisau terbangnya kearah mata kiri Habib yang masih utuh.

Habib tidak sempat lagi menggunakan pengaruh sihirnya, lebih-lebih sebelah matanya sudah buta, ia kelabakan mengelakkan serangan-serangan dua lawan tangguh, meskipun tubuhnya kebal terhadap segala macam senjata atau pukulan, tapi bagian-bagian yang diincar oleh dua lawannya adalah bagian yang sangat vital, bagian yang lemah, bagian yang tidak terpengaruh oleh ilmu kebalnya.

Ia mengelakkan serangan-serangan itu dengan berputaran, kadang kala melejit keudara dan sekali-kali membalas serangan itu dengan kedua telapak tangannya.

Berusaha mendekati Liong Houw untuk merebut pisau belatinya.

Si tuasi medan pertempuran sulit untuk menentukan siapa yang berada diatas angin, sinarsinar perak pedang Ang-lo-po-kiam berkeredepan mengurung tubuh Habib, sedang pisau-pisau terbang Thio Thian Su, yang tidak mengenai sasaran amblas di-batang-batang pohon, akhirnya Thio Thian Su kehabisan persediaan senjata rahasianya, ia tidak bisa berbuat lain daripada berdiri menonton pertempuran antara Lie Eng Eng dan Habib, kalau saja Thio Thian Su turut dalam pertempuran itu, pasti tubuhnya akan terkena sasaran serangan pedang yang nyasar.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa mengikih.

"Hih, hih, nih, hih ... ."

Itulah suara khas tawa iblis Kun-see-mo-ong Teng Kie Leng.

Begitu suaranya lenyap, tubuh iblis itu sudah berdiri dimuka Liong Houw yang masih duduk numprah ditanah.

Begitu menyaksikan kehadiran lain orang disitu, Habib lebih ketakutan, sangkanya yang datang adalah kawan dari mereka, maka dengan mengeluarkan suara.

"Huaah......."

Tubuhnya melesat keudara, bagaikan asap putih mengepul, ia lenyap dari pandangan mata dibalik pohon-pohon rimbun didalam rimba.

Lie Eng Eng sudah kehilangan lawannya, begitu pandangan matanya membentur tubuh Kun-seemo-ong Teng Kie Lang, serangan pedangnya diteruskan kearah tubuh iblis itu.

Trangg........

Terdengar suara beradunya pedang Ang-lo-pokiam, dibentur serangan gelap.

"Nona...........tahan pedangmu !"

Teriak Thio Thian Su. Ternyata pedang tadi telah terbentur gagang panji naga yang dilemparkan oleh Thio Thian Su.

"Hm...."

Lie maksudmu ?"

Eng Eng mendengus.

"Apa Thio Thian Su mengambil panji naganya yang mental menancap ditanah, lalu berjalan menghampiri Lie Eng Eng, katanya.

"Kalau hendak bertempur dengan iblis ini, sebaiknya kita mencari tempat yang jauh dari sini, jangan sampai uap beracun pelumer sukma Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang, mengambil korban pihak sendiri."

"Haaaah ...."

Lie Eng Eng sadar atas kecerobohannya.

Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang berdiri dihadapan Liong Houw, tidak memperdulikan datangnya serangan pedang Lie Eng Eng tadi, ia tetap menghadapi Liong Houw dengan mata bersinar terang, ditatapnya tubuh Liong Houw dari ujung rambut sampai tapak kaki, baru ia berkata ;

"Hih, hih, hih .... bocah! Dari mana kau dapatkan pisau belati itu, cepat serahkan padaku, eh apa pisau itu pada gagangnya berukir lukisan naga ? Atau lukisan burung Hong ?"

"Ngg .... Naga .... kau mau apa?"

Jawab Liong Houw lemah.

"Bocah jawab pertanyaanku, dari mana kau dapat pisau belati itu?"

Bentak Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang.

"Hm, darimanapun apa hubungannya dengan dirimu."

Jawab Liong Houw ketus lemah. Tiba-tiba Thio Thian Su menyelak, ia berkata pada Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang .

"Hai, apa maksud kedatanganmu kemari ?"

Mendengar pertanyaan itu, Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang menoleh kearah Thio Thian Su, yang masih memegang Panji Naga kemudian ia menatap wajah Liong Houw berulang-ulang ditatapnya kedua pemuda itu, tiba-tiba saja tubuh iblis itu mundur dua tindak, mulutnya menganga, tubuhnya bergetar.

Tapi wajahnya tidak menunjukkan perobahan.

"Hai! Kau ada hubungan apa dengan bocah ini?"

Tanya Kun-see mo-ong Teng Kie Lang pada Thio Thian Su, jarinya menunjuk kearah Liong Houw.

Mendengar pertanyaan Kun-see-mo-ong, Lie Eng Eng dan Ho Ho turut merasa heran, mereka menatap wajah Thio Thian Su, kemudian menatap kearah Liong Houw, ternyata tampang-tampang mereka mirip satu sama lain, mereka juga melongo saking herannya.

Wajah Liong Houw adalah wajah jiplakan Thio Thian Su !!!

Dengan perasaan tidak mengerti Thio Thian Su berkata .

"Tidak ada hubungan apa-apa. Aku baru saja bertemu dengan saudara ini, menang ada apanya ?"

"Hih.....hih....hih...."

Kun see-mo-ong Teng Kie Lang tertawa lagi.

"Bocah, kalau kau bersedia menjawab pertanyaanku dengan jujur, aku akan segera berangkat dari tempat ini ! Jika kau main gila, hmmm........"

Mendengar ucapan Kun-see-mo-ong, Thio Thian Su segera berkata kepada Liong Houw.

"Hei, demi keselamatan kawan-kawan juga keselamatan dirimu, lebih baik kau jawab pertanyaannya !" "Jawab apa ?"

Tanya Liong Houw.

"pisau belati ini tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya, pisau ini sejak bayi sudah melekat pada tubuhku......."

Begitu Kun see-mo ong Teng Kie Lang mendengar kata-kata Liong Houw itu ia mundur lagi dua tindak, tapi wajahnya tidak menunjukkan perobahan, hanya tampak tubuh iblis itu gemetaran, lalu tertawa mengikih, kemudian ia melesat lenyap dari pandangan mata.

Lie Eng Eng tidak mengenali si pengemis cilik Ho Ho dalam penyamaran sebagai kongcu putra hartawan, ia bertanya.

"Saudara siapa?"

Hati kecil Ho Ho tertawa, ia segera menjawab pertanyaan Lie Eng Eng dengan sikap lagaknya seorang anak hartawan yang sombong .

"Hm, aku......kau siapa ? Gara-garamu itulah, kusirku terluka."

Mendengar jawaban yang sombong ketus, Lie Eng Eng merasa muak, ia masukkan kembali pedangnya kedalam serangka, membalikkan tubuh berjalan pergi.

"Nona....."

Tiba-tiba Liong Houw memanggil, suaranya lemah tidak bertenaga.

Langkah Lie Eng Eng terhenti, hatinya tergetar mendengar suara panggilan yang lemah tak bertenaga, tapi penuh dengan rasa kasih mesra.

Ia membalikkan tubuh menatap wajah Liong Houw.

"Nona.... maafkan....."

Kata Liong Houw.

"Aku bersedia menerima segala hukumanmu atas perbuatanku......" "Hei kusir !"

Bentak Ho Ho.

"Apa kau sudah gendeng, mendadak minta maaf segala. Hayo ! Cepat bangun."

Ho Ho segera memayang bangun tubuh Liong Houw yang lemah, lalu katanya lagi .

"Nona, sebaiknya lekas pergi, kita tidak kenal satu sama lain, jangan mengganggu lagi, aku perlu memberi pengobatan pada kusirku, huh dasar perempuan biang penyakit."

Lie Eng Eng hanya mendengus, lalu melesat pergi dengan membawa perasaan heran dan tidak mengerti atas ucapan Liong Houw tadi.

Thio Thian Su juga segera kabur dari tempat itu dan mengikut arah larinya Lie Eng Eng.

Liong Houw dipayang oleh Ho Ho, merasakan dadanya sakit, napasnya sesak, ia melangkahkan kakinya lemah terseret-seret ditanah dibawah payangan Ho Ho, otaknya bekerja keras, pukulan itu mengakibatkan dadanya panas seperti terbakar, hampir saja ia muntah darah, kejadian ini persis seperti apa yang ia pernah alami didalam lembah air terjun ketika ia sedang mempraktekkan latihanlatihan dari lukisan-lukisan yang terdapat pada dinding goa, beberapa kali ia pernah terkena hajaran si monyet merah, bahkan pernah sampai ia pingsan dihajar tendangan monyet merah pada bagian dadanya.

Rasa sakit dan sesak pada dadanya dirasakan sama seperti apa yang ia alami saat ini, tapi akibat pukulan Habib dadanya terasa mengandung hawa panas.

Mengingat pengalaman masa lampaunya didalam lembah air terjun bilamana ia mendapat luka si monyet merah menyeret tubuhnya duduk didalam air terjun, ia bersemedhi dibawah kurungan air terjun, sungguh aneh, setelah sekian saat, ternyata lukanya menjadi sembuh seperti sedia kala.

Mengingat itu maka cepat-cepat Liong Houw bertanya lemah pada Ho Ho.

"Saudara Ho, dimana bisa mendapatkan air terjun didaerah sekitar ini?"

"Hah?"

Tanya Ho Ho heran.

"Cepat bawa aku kesana!"

Kata Liong Houw. Dengan perasaan heran Ho Ho bertanya.

"Untuk apa air terjun? Lebih-lebih disekitar sini mana ada air terjun, kalau anak sungai tidak jauh dari sini bisa kita temukan. Tapi air terjun, ah, kau yang bukan-bukan saja."

Liong Houw berpikir, ia putar otaknya, ia tidak boleh berlaku ayal, harus cepat bertindak menyembuhkan luka didadanya, maka buru-buru berkata;

"Kalau begitu cepat kita ke anak sungai itu !"

"Apa ? Kau mau mandi, sedang tubuhmu masih terluka ?"

Tanya Ho Ho.

"Tidak, satu-satunya jalan menyembuhkan luka dalamku, aku harus bersemedi dalam air kalau bisa dibawah air terjun, kalau tidak bisa dicoba didalam sungai."

Ho Ho mengangguk, baru pertama kali ini ia mendengar ada orang bersemedi dibawah air terjun atau didalam air, sungguh suatu keganjilan dunia persilatan yang tidak habis dimengerti oleh akal Ho Ho, demi menolong sang koko angkatnya, ia tidak banyak tanya lagi segera memayang tubuh Liong Houw masuk kedalam kereta.

Liu Ing baru saja sadar dari pingsannya, ia masih duduk bersandar, mukanya agak pucat akibat kejutan hatinya, mata gadis itu sayu.

Ho Ho dan Liong Houw memperhatikan keadaan tubuh gadis itu, dari kepala sampai kakinya, ternyata keadaan Liu lng masih utuh.

Dengan menahan rasa sakit didadanya yang terpukul si jago Handramaut, lebih-lebih akibat dari emposan tenaga dalamnya yang dikuras habishabisan dalam menciptakan siulannya, Liong Houw duduk bersandar didalam kereta.

Setelah menutup pintu kereta Ho Ho segera lompat keatas bangku kusir, ia membedal kuda menerobos semak-semak belukar meninggalkan tempat itu.

Tak lama mereka tiba disatu anak sungai, ditepi tebing gunung.

Mereka meninggalkan kereta, Ho Ho memayang tubuh Liong Houw menyusuri tepi sungai diikuti oleh Liu Ing.

Setelah mendapatkan tempat yang baik, Liong Houw berkata .

"Saudara Ho dan adik Liu Ing, sebaiknya kalian menunggu dikereta saja. Aku akan segera akan bersemedi berendam didalam air sungai ini."

Ho Ho dan Liu Ing segera meninggalkan Liong Houw.

Liong Houw membuka pakaian luar dan dalamnya, setelah mana ia turun kesungai, ia duduk didasar sungai hingga tak tampak lagi tubuhnya, hanya gemercik air sungai mengalir deras.

Ho Ho bersama Liu Ing menunggu duduk disemak belukar dekat kereta membelakangi sungai, matahari sudah condong ke barat.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ketawa yang mengikik .

"Hih.....hih,....hih, nih, hih, hih........."

Itulah suara tertawanya si iblis Kun-see mo-ong Teng Kie Lang.

Mendengar suara tawa itu bulu tengkuk Ho Ho menggerinding bangun, ia sadar kalau yang datang itu adalah iblis laknat.

Dalam keadaan masih bingung, tiba-tiba iblis Kun-see-mo-ong menghampiri Liu Ing.

Belum lagi Ho Ho bisa berbuat apa-apa entah dengan gerakan apa, Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang melejit lenyap dari tempat itu, tubuh Liu Ing juga turut lenyap.

Dengan membanting kaki Ho Ho berteriak teriak;

"Iblis pengecut, mari adu jiwa!"

Ho Ho yang berteriak-teriak lari sana sini seperti orang gila, tiba-tiba mendengar suara teguran Liong Houw.

"Ada apa?"

"Hoa....adik.......Liu Ing... ."

Kata Ho Ho terputus-putus, gemetar menahan marah. "Apa? Mana adik Liu Ing?"

Tanya Liong Houw kaget.

"Kun-see-mo-ong telah menculiknya!"

Jawab Ho Ho.

Mendengar jawaban itu, tubuh Liong Houw melesat, melompat keatas dahan-dahan pohon, kelakuannya seperti kera yang berlompatan keatas puncak pohon.

Diatas puncak pohon tinggi, matanya jelilatan mencari arah lenyapnya Kun-see-mo-ong yang telah membawa kabur adik Liu Ingnya, tapi sekian saat diperhatikannya, tak tampak tanda-tanda gerakan dari si iblis, keadaan hutan rimba itu tenang, dahan-dahan pohon yang bergoyang berdesir-desir tertiup angin.

Dengan perasaan masgul Liong Houw lompat turun dari atas pohon meluncur kebawah.

Brukk......

Tubuh Liong Houw jatuh ambruk di tanah tapi membal keudara, baru turun kembali ditanah berdiri tegak.

Ho Ho menyaksikan kelakuan saudara angkatnya, tentu saja terkejut bercampur heran, matanya terbelalak, ia melihat tubuh Liong Houw yang meluncur jatuh dari atas pohon tampaknya berat seperti orang tidak berkepandaian silat jatuh dari atas pohon.

Hati Ho Ho juga tercekat, ia tahu bahwa sang kakak angkat putus asa, hingga tidak memperdulikan keselamatan dirinya lagi.

Tetapi suatu keanehan telah terjadi, begitu tubuh Liong Houw ambruk ditanah ia membal balik ke udara.

Keanehan itu bukan saja mengherankan Ho Ho, bahkan Liong Houw sendiri terkejut heran, bagaimana tubuhnya yang jatuh meluncur dari atas pohon setinggi puluhan tombak bisa membal keudara tanpa mencelakakan dirinya, sedang ketika ia tadi meluncur turun, sudah tidak memperhatikan lagi soal hidup atau mati, jiwanya kosong melompong, ia ingin cepat mati.

Keanehan itu belum bisa kita pecahkan pada bab ini, nanti pada bab-bab berikutnya bilamana Liong Houw berhasil kembali kedalam lembah air terjun, semua rahasia itu akan terpecahkan.

Hanya perlu diketahui, atas keterangan Thianlam-it-lo Kak Wan Kie-su didalam lembah Im-bukok, bahwa jalan darah yang menghubungkan kekuatan negatif dan positif (im dan Yang) ditubuhnya sebagian sudah terbuka.

Ketika dada Liong Houw menerima serangan pukulan Habib, jalan darah didada Liong Houw pecah dihajar kekuatan Yang hingga dada si pemuda dirasakan sakit tidak kepalang, kalau saja Liong Houw tidak memiliki kecerdikan otaknya yang luar biasa, pasti pada saat matahari terbenam jiwanya akan melayang keakherat.

Dengan menggunakan kecerdikan otaknya itulah ia segera bersemedhi didalam dasar sungai menyembuhkan luka-luka didadanya, jalan darah yang pecah bisa disembuhkan bahkan membantu menyempurnakan terbukanya satu bagian jalan darah yang menghubungkan Im dan Yang.

Hingga tubuh Liong Houw yang meluncur turun dengan gerak reflek yang peka pada tubuhnya, berhasil membal disadarinya sendiri.

ngapung keudara Ho Ho cepat-cepat berkata.

Liong.........maafkan aku......"

Tanpa "Saudara "

Ah sudahlah, ayo cepat kita berangkat jangan sampai terlambat menolong suhumu, urusan Kunsee-mo-ong nanti saja kita bereskan, kepandaian iblis itu juga berada diatas kepandaianku, memang ia bukan tandingan kita, hai dasar aku yang tidak mau dengar petuah orang tua, akibatnya menimbulkan bencana terhadap orang lain."

Liong Houw ngoceh begitu ia teringat kata-kata Thian-lam-it-lo Kak Wan Kiesu, orang tua itu pernah menyuruhnya kembali kedalam lembah air terjun untuk memperdalam ilmunya, tapi ia tidak pergi kesana, bahkan berkeliaran mencari perempuan yang dicintainya.

Liong Houw begitu bertemu dengan Lie Eng Eng hatinya tergoncang keras, gadis itulah yang selama ini dicari-carinya, tapi sampai saat itu ia belum mengenal nama gadis pujaannya, maka segera ia bertanya pada Ho Ho .

"Hai, saudara Ho, apakah kau kenal dengan nona yang memiliki pedang yang memancarkan sinar putih kemilauan itu ?"

"Hm !"

Ho Ho mendengus heran.

"Ya, dialah si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng!"

"Dan yang pemuda ?"

"Thio Thian Su murid Ceng-it Cinjin,"

Jawab Ho Ho.

"Ada apa ya ?" "Ah, tidak, aku hanya ada sedikit urusan dengan mereka."

Liong Houw mengatakan dia mempunyai urusan, tapi tidak dijelaskan pada siapa dari salah seorang, entah si pemuda entah si gadis ia hanya mengatakan mereka.

"Oh........"

Ho Ho agak heran atas sikap sang kakak angkat yang rada aneh. Liong Houw berkata .

"Hari hampir gelap, lekas naik kereta kita harus melaksanakan rencana semula."

Meskipun sang surya dibarat tinggal seupil, cahayanya masih bisa menerangi bumi.

Dijalan raya yang menuju ke kotaraja, kini tampak banyak sekali para penunggang kuda membedal tunggangannya dengan kecepatan kilat.

Kereta biru laut yang catnya sudah tergoresgores akibat benturan ranting pohon di dalam rimba, kini meluncur di jalan raya mengejar berlumba menyusul kuda-kuda yang dicongklangkan oleh para penunggang kuda yang mengenakan pakaian bercorak ragam.

Dibalik rimba ditepi jalan raya tampak bayangan-bayangan hitam berkelebat-kelebat menuju arah yang sama.

Perjalanan dilakukan siang dan malam tanpa henti-hentinya, akhirnya pada hari kedua, dipagi hari tampak samar-samar tembok kota yang membentang luas.

Kereta biru laut berkuda empat terus meluncur mendatangi pintu kota.

Liong Houw menyaksikan diatas tembok kota sudah terjaga kuat oleh barisan tentara negeri.

Mereka siap dengan senjata masingmasing.

Beberapa regu berkuda simpang siur mengontrol diluar tembok kota.

Regu berkuda yang mendengar derap langkah kaki kuda, serta keretekan menggelindingnya roda kereta, mereka hanya memandang sejenak tidak menegur maupun mengganggu perjalanan kereta Liong Houw.

Dipintu selatan kota, tampak beberapa orang tentara memeriksa orang-orang yang masuk ke dalam kota, mereka yang dicurigai langsung ditangkap.

Para tentara pemeriksa itu, begitu menampak mendatangi satu kereta biru laut berkuda empat, segera melapor pada komandannya.

Tiga tentara menunggang kuda mendatangi menyambut kedatangan kereta itu.

Liong Houw segera menghentikan keretanya.

Salah seorang melongok kedalam kereta, tampak disana duduk si putra hartawan tetiron Ho Ho.

Ho Ho sudah berpengalaman, segera mengetahui bahwa Tong-hong Hong sudah melaporkan akan kehadirannya dikotaraja, petugas yang melongok kedalam juga pasti merasa heran menyaksikan didalam kereta hanya ada dia sendiri, sedang menurut keterangan Tong-hong Hong yang datang adalah putra putri hartawan yang berkepandaian tinggi, lebih-lebih siputri.

Untuk melenyapkan kecurigaannya itu Ho Ho segera berkata ;

"Hai, apakah tuan Tong-hong Hong sudah tiba ?"

Salah seorang penunggang kuda yang menjadi kepala regu menjawab .

"Ya, ya, sudah datang pada dua hari yang lalu, apakah ......?"

"Akulah orang dari Kun beng !"

Potong Ho Ho cepat.

"Adik perempuanku sedang mengejar beberapa orang pemberontak, mereka mencoba mengganggu perjalanan kami."

"Ayaaa...... Cepat buka pintu gerbang !"

Teriak sipenunggang kuda.

Memasuki pintu gerbang selatan mereka dikawal oleh tiga orang tentara negeri.

Tibanya si putra hartawan Ho Ho, mendapat pelayanan baik dari para petugas-tugas tentara negeri.

Didalam rumah penginapan Ciam-kiok low dikotaraja, Ho Ho mengambil kamar diatas loteng, sebelah menyebelah dengan Liong Houw.

Seorang pelayan mengantarkan hidanganhidangan kekamar Ho Ho, setelah meletakkan hidangan itu ia berkata .

"Kongcu, pesan dari Koksu Tong-hong Hong, jika ingin bertemu dengan Koksu sampaikan saja pada hamba, nanti akan hamba sampaikan pada Koksu agar Koksu bisa menunggu !"

Ho Ho tersenyum, ia berkata ;

"Sampaikan terima kasihku pada koksu, aku tidak bisa mengganggu lebih jauh, oh ya tolong kau bawakan makanan untuk kusirku, cukup berikan saja ia buah-buahan dan air mentah !" "Baik kongcu!"

Kata pelayan itu, berjalan pergi.

Setelah menangsal perut, Liong Houw menghampiri kamar Ho Ho, mereka bercakapcakap merundingkan rencana untuk menolong Pietet Sin-kay.

Pembicaraan mereka dilakukan dengan membisu, semua ucapan-ucapan ditulis diatas kertas, perundingan itu tidak bisa didengar oleh siapapun juga.

Setelah mana, kertas-kertas itu dibakar.

Hasil perundingan selalu melalui tulisan, Liong Houw dapat mengetahui dari keterangan Ho Ho bahwa Pie-tet Sin-kay dikurung dalam penjara dibawah tanah, dibagian barat istana Thian-ongthian.

Pada tengah malam Liong Houw mendapat tugas untuk menerobos masuk kedalam penjara dibawah tanah.

Setelah perundingan itu selesai, Ho Ho dengan suara keras berkata ;

"Hai, kusir, aku ingin keliling kota, siapkan kereta !"

Lalu ia berjalan keluar kamar menuruni tangga.

Siang itu kereta biru laut mengelilingi kotaraja, seakan sedang bertamasya menikmati keindahan kota.

Pada waktu malam, ketika kentongan dipukul dua belas kali, Liong Houw membuka pakaian luarnya, kini tampak pakaian dalam Liong Houw yang terbuat dari kulit macan loreng.

Rambutnya yang digelung, kini sudah dibuat sedemikian rupa, hingga wajahnya tertutup oleh rambut-rambut gondrong yang awut-awutan.

Baca Juga: Patung Emas Kaki Tunggal Gan Kh

Baca Juga: Pendekar Patung Emas 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert