Ceritasilat Novel Online

Pusaka Pedang Embun 2

Eps 2 Pusaka Pedang Embun - Sin Liong

Baca online Pusaka Pedang Embun - Sin Liong

Cersil Pusaka Pedang Embun - Sin Liong.

Tubuh si Pedang Macan Betina tertubruk si penyerang gelap, tubuh itu jatuh bergulingan diikuti oleh tubuh si penyerang gelap.

Terjadi pergumulan seru, si Pedang Macan Betina bergulingan, sedang tubuh si penyerang gelap turut bergulingan mendekap tubuh si gadis.

Hujan masih mengocor turun dari langit, pergumulan terus berlangsung,..

satu bertahan, satu menyerang.

Dua insan bergulingan didalam hujan lebat, udara sangat dingin merangsang tubuh.

Suhu udara yang demikian dingin, gesekan kedua tubuh insan yang bergulingan satu bertahan satu menyerang, akibat gesekan gesekan kulit kedua insan itu, menimbulkan satu cita rasa pada masing-masing tubuh yang bergeser.

Sukma si Macan Pedang Betina tidak luput dari rasa yang timbul dari akibat pergesekan kulit-kulit mereka dalam hujan dingin seperti itu.

Rasa hangat tiba-tiba menjalar keseluruh tubuhnya.

Napasnya sangat sengal.

Rasa itu timbul dari akibat gesekan-gesekan kulit tubuh si penyerang dibagian buah dadanya yang mengkal, menyelusuri seluruh urat-urat sendi dalam tubuhnya.

Rasa rangsang yang tiba-tiba muncul itu bercampur aduk dengan rasa kemarahan, mempertahankan kehormatan, Lie Eng Eng dalam mempertahankan mustika pusakanya.

Pertempuran berlangsung terus, bergulingan kian kemari, sedang hujan turun semakin deras seakan irama musik mengiringi pergulatan itu.

Lie Eng Eng merasakan rangsang aneh pada tubuhnya bercampur dengan rasa marah meluapluap, tetap masih bertahan bergulingan, tangannya meraba-raba kelantai mencari pedang pusakanya.

Pergumulan merebut berlangsung......

pedang pusaka masih Tubuh si Pedang Macan Betina akhirnya tambah lama tambah melelah, sedang rangsang-rangsang menyerang sekujur tubuhnya makin memuncak.

Akhirnya.

"Akh.......jangan......jangan…aduh....... ukhhh !"

Terdengar suara rintih perlahan si Pedang Macan Betina.

la tidak berkutik lagi.

Nasi sudah jadi bubur.

Si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng merintihrintih, rasa rangsang tubuhnya memuncak.........

tubuhnya lemah lunglai.

Tubuh si penyerang gelap selesai membuang tai macannya didalam tubuh si Pedang Macan Betina, sesudah itu, dia berkelebat lompat keluar ruangan Thian-ong-thian, melalui jendela yang sudah rusak.

Hilang lenyap ditelan kegelapan, diiringi irama musik air hujan ber-derap-derap jatuh kebumi.

Si Pedang Macan Betina, setelah sadar kehilangan mustikanya, juga dalam masih keadaan lemah melejit mengejar bayangan itu.......

Tapi bayangan sipencuri mustika sudah lenyap ditelan kegelapan malam.

Tangannya meraba-raba mencari pedangnya.

Dengan tangan kiri memegang sarung pedang, tangan kanannya menarik pedang dari sarungnya.

"Sreet..........."

Ruangan Thian-ong-thian yang gelap menjadi terang benderang disinari sinar pedang.

Dia berhasil mempertahankan pusaka pedang, tapi kehilangan pusaka gadisnya.

Tampak jelas tubuh si Pedang Macan Betina, rambutnya awut-awutan, mukanya pucat pasi dipipinya meleleh air mata.

Segera ia ayunkan pedang Ang-lo-po-kiam membabat lehernya sendiri.

Maksudnya hendak bunuh diri!

Pedang Ang-lo-po-kiam berkeredapan sampai ditengah udara, membabat kearah leher si Pedang Macan Betina, tiba-tiba telinga si Pedang Macan Betina mendengar suara beberapa langkah kaki orang disekitar kelenteng itu.

Ayunan pedang Ang lo-po-kiam tertahan, semangat Lie Eng Eng bangun kembali.

Untuk menuntut balas lebih dahulu terhadap si pencuri mustikanya.

Pedang Ang-lo po-kiam masuk kembali kedalam sarung.

Lie Eng Eng cepat memakai pakaian kering, lalu berlari keluar ruangan kelenteng dimana tadi terdengar suara derap langkah kaki orang.

Rombongan piauwsu yang tidur melingkar didepan ruangan Thian-ong-thian terkejut, semua orang terbangun.

Belum lenyap rasa kejut mereka disana sudah meluncur datang empat bayangan, dalam keadaan gelap itu tidak tampak jelas wajah-wajah mereka.

Krelap, krelap............

Dua kali sinar kilat menerangi ruangan dalam kelenteng, tapi masih tidak tampak jelas wajah orang-orang pendatang, mereka menghadap kedalam kelenteng.

Sedang wajah si Pedang Macan Betina yang menghadap keluar sudah tampak jelas sekelebatan disinari sinar kilap.

"Hi, hi, hi, hi,.........."

Terdengar suara tawa menyeramkan dari salah seorang dari keempat orang pendatang itu. Katanya kemudian;

"Sekali ini giliranku, hi, hi, hi, hi,.."

Ketiga orang lainnya berbareng mendengus.

"Hmmmm........."

Tiba-tiba ruangan depan kelenteng yang gelap pekat itu berkeredapan terang benderang, pedang Ang-po-kiam si Pedang Macan Betina berputaran menyerang empat orang pendatang itu.

Keempat orang itu berpencaran, mengelakkan datangnya samberan sinar pedang Ang lo-po-kiam.

"Tahan pedangmu !"

Terdengar bentakan dari salah seorang dari keempat orang itu. Lie Eng dengusan. Eng hanya mengeluarkan suara Orang itu sudah berkata lagi .

"Kunasehatkan lebih baik jangan banyak tingkah didepanku. Hmm.......sayang sekali kalau tubuhmu yang menggiurkan harus mati cuma-cuma, toch dari pada keneraka lebih baik kesorga.........hi, hi, hi…"

Krelap...... sinar pedang Ang-lo-po-kiam memapas batang leher orang yang bicara tadi.

"Sundel!"

Bentak orang itu setelah mengelakkan serangan Pedang Ang-lo-po-kiam.

"Kalau mau cepat mampus, bilang saja. Aku tak sungkan-sungkan menuruti kehendak hatimu."

Keluarnya pedang Ang-lo-po-kiam dengan menimbulkan sinar berkeredepan dua kali, telah membuat ruangan yang tadi gelap menjadi terang benderang.

Tampak jelas orang yang bicara sambil ketawa hi, hi, hi, wajah itu tampak putih tidak berkumis, juga tidak berjenggot, hanya kerut-kerut kulit mukanya yang menunjukkan ketuaannya.

Sedang wajah ketiga orang Iainnya itulah wajahwajah yang sudah rusak, tidak normal lagi.

Ternyata mereka adalah Sam-mo Eng-ciauw yang pernah mengganas dikota Siao-shia.

Lie Eng Eng tidak banyak bicara lagi, ia segera memainkan ilmu pedangnya.

Disana tampak berkilauan bayangan putih bergulung-gulung menyambar-nyambar keempat orang-orang itu.

Keempat orang itu juga segera meng-gerakgerakkan kaki tangan, memapaki datangnya serangan sinar pedang si Pedang Macan Betina.

Pertempuran berlangsung sampai 100 jurus, hujan masih nyerocos turun menimpa genteng kelenteng rusak.

Disana sini air mengocor turun dari lubang-lubang genteng yang pecah.

Bercipratan kesana kemari tersamber angin pedang dan pukulan kedua pihak.

Para piauwsu bisa menyaksikan pertempuran itu, kepala mereka menjadi pusing tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa membedakan, mana Lie Eng Eng dan mana lawannya.

Bercampur aduk.

Mereka hanya menonton dipojok-pojok ruangan dengan mata terbuka lebar mulut menganga.

"Hih, hih, hih, hih.....

mundur!"

Terdengar suara orang tertawa itu memberi perintah.

Maka ketiga iblis Sam-mo mengundurkan diri, mereka melejit keluar ruangan berdiri hujanhujanan diluar kelenteng.

Sedang didalam ruangan depan kelenteng itu, pertempuran masih terus berlangsung.

Lie Eng Eng dengan gigih memainkan pedangnya bergulungan sinar-sinar putih kemilauan ditempat itu.

"Hmmm ....hih, hih, hih .. .. dikasih urat minta tulang, hi, hih, hi ..."

Terdengar orang itu berkata.

"Hei nyawamu sebentar lagi melayang keakherat, lekas berlutut dihadapan Kun-see-moong Teng Kie Lang, hih, hih, hih, hih......."

Sirapnya suara tertawa Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang dibarengi dengan berhembusnya uap-uap putih, bau harum menyengat hidung.

Mendadak gerakan pedang Lie Eng Eng melemah, kepala si Pedang Macan Betina menjadi berat, dadanya sesak matanya berkunang kunang gelap, ia ambruk jatuh ditanah.

Sedang keempat rombongan Lie Eng Eng juga sudah ambruk lebih dulu wajah-wajah mereka berubah membiru.

Berbarengan dengan rubuhnya si Pedang Macan Betina, tiba-tiba melayang satu bayangan loreng berputaran menghajar ketiga Iblis Sam-mo Engciauw, mereka berpentalan.

Bedebuk, gedebuk, braaak.

"Suhu, suhu."

Tiba-tiba Siang-mo berteriak kearah Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang.

"Itulah si bocah siluman......"

Ternyata Kun-see mo-ong Teng Kie Lang adalah guru dari tiga manusia buruk-buruk itu! "Haaaa ... ."

Terdengar suara kejut tertahan Kun-see-mo-ong.

"hih, hih, hih..... hih.....muridmuridku kau hanya dengan bocah gila itu saja tidak mampu hih, hih, hih . ."

Ketiga Sam-mo Eng-ciauw sudah ditanah, mereka cepat berdiri kembali. ambruk "Suhu ! Bagaimana ....?"

"Tolol .... hih hih, hih, hih....."

Bentak Kun-seemo-ong.

"Bikin mampus bocah ini dulu, cincang dagingnya, jadikan isi bakpau, hih, hih, hih, hih ... ."

Sambil tertawa, Kun-see-mo-ong melejit kearah si pemuda. Menyaksikan kembali ketiga muridmuridnya terdesak mundur, ia berteriak .

"Mundur, mundur .... hih, hih, hih ....."

Ketiga iblis Sam-mo Eng-ciauw mundur.

Si pemuda menghadapi Kun-see-mo-ong.

Disana tersembur bau harum semerbak yang keluar dari tangan Kun-see-mo-ong.

Si pemuda yang mencium bau harum itu yang berupa uap-uap putih tiba-tiba muntah, crooh ....

Kemudian ia lompat melesat keatas genting, lompat keatas dahan-dahan pohon, kabur dari tempat itu.

Muntahan si pemuda tepat mengenai muka Kunsee-mo-ong Teng Kie Lang, tanpa bisa dielakkan lagi, muka si iblis dipupuri muntahan si pemuda baju loreng yang berbau zat buah-buahan.

Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang marah bukan kepalang, ia memberi aba-aba pada muridmuridnya .

"Kejar, hih, hih, hih, hih.......jangan biarkan ia lolos.....hih, hih,hih....."

Dalam keadaan marah besar Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang masih bisa tertawa-tawa, mereka mengejar si pemuda berbaju loreng.

Wajah Lie Eng Eng sudah mulai membiru, napasnya mulai menjadi lemah, sedang keempat piauwsu rombongannya sudah matang biru, kemudian mencair, dan akhirnya hanya tinggal gumpalan rambut-rambut hitam yang tertinggal.

Daging dan tulang-tulang mereka mencair bercampur air hujan.

Keadaan Lie Eng Eng sudah demikian kritis, napasnya tinggal satu-satu, seluruh tubuhnya sudah berganti warna semu biru.

Dalam keadaan kritis demikian, tiba-tiba melayang sesosok bayangan putih, melesat masuk kedalam ruangan muka kelenteng.

Tangannya digerakkan, menjejalkan sesuatu kemulut si Pedang Macan Betina, kepala Lie Eng Eng diangkat, didongakkan keatas, gegernya ditepuk-tepuk beberapa kali.

Gerakan itu begitu cepat !

Kemudian bayangan putih merebahkan kembali tubuh Lie Eng Eng.

Air hujan rintik-rintik mulai mereda, kilat dan guntur sudah tak terdengar lagi.

Angin berembus sejuk, memasuki ruang kelenteng rusak didalam rimba itu.

Sinar sang surya menyorot diufuk timur.

Hari berganti pagi.

Daun-daun pohon masih basah tersiram air hujan semalam suntuk.

Bergoyang goyang tertiup angin pagi.

Lantai ruangan kelenteng rusak digenangi air, mengambang disana sini.

Diluar kelenteng masih bergeletakan mayatmayat gerombolan si Raja Penyamun Bo Siang.

Dipojok lantai demak, masih tampak si Pedang Macan Betina telentang, tidur bernapas teratur.

Dadanya membusung turun naik.

Dibawah tiang batu kelenteng yang sudah tampak gompal, bersandar seorang pemuda berpakaian putih, berwajah tampan, berumur sekitar delapan belasan tahun.

Sinar mata si pemuda memancarkan cahaya terang, mengawasi bentuk tubuh yang masih terlentang tidur dihadapannya.

Wajahnya senyum riang, seakan baru mendapatkan sesuatu yang menggirangkan hatinya.

Sinar sang surya pagi menerobos masuk keruangan kelenteng, menyinari wajah si jelita Pedang Macan Betina Lie Eng Eng.

Bulu-bulu mata Lie Eng Eng ber-gerak-gerak tertojos sinar matahari pagi.

Kelopak matanya terbuka lebar.

Bola mata jeli berputar menantang datangnya tojosan sinar sang surya pagi itu.

Dengan malas-malasan Lie Eng Eng angkat tubuhnya, duduk dilantai demak kelenteng rusak.

Diraba gagang pedang Ang-lo-po-kiam disamping.

Digenggamnya erat-erat.

Rambut Lie Eng Eng awut-awutan, pakaiannya kotor basah terkena air hujan bercampur lumpur.

Sinar matanya masih menantang datangnya sinar sang surya pagi itu, kelopak matanya menetes dua titik air mata.

Air mata kesedihan, penasaran, keputus asaan kehilangan mustika pusakanya.

Mahkota keperawanan.

Mendadak tubuh Lie Eng Eng bergerak pedang Ang-lo-po-kiam berkelebat memapas arah kirinya.

Bruluk.......terdengar suara tiang batu runtuh tertabas pedang, genteng-genteng pecah berantakan, atap kelenteng ambruk seketika.

Dua sosok tubuh melejit keluar meninggalkan kelenteng ambruk.

Bau amis mayat merangsang hidung, mayatmayat anak buah si Raja Penyamun masih bergelimpangan membujur malang melintang diantara semak-semak belukar.

Dua sosok tubuh berhadap-hadapan saling pandang, seorang pemuda tampan dan seorang gadis jelita.

Suasana tegang timbul kembali.

Krelap, sinar pedang Ang-lo-po-kiam bergerak, tubuh si Pedang Macan Betina bergulungan, terkurung sinar pedang, menyerang kearah si pemuda.

Tiing, trang, tring, tring...............

Terdengar suara berdenting-denting, disana bergemerincingan pisau-pisau terbang, tertancap di-batang-batang pohon.

Terbentur pedang Ang-lopo-kiam.

Dibarengi melesatnya bayangan putih, keluar dari ancaman maut kurungan pedang Lie Eng Eng.

"Tahan.......!"

Terdengar suara bentakan pemuda itu ! "Hm......"

Lie Eng Eng mendengus.

"senjata pisau terbangmu boleh juga. Tapi pedangku tidak pernah kenal apa artinya segala macam pisau rongsokan itu."

"Nona.........tahan........"

Terdengar lagi suara kejut tertahan dibarengi dengan gerakan tubuh mengelakkan serangan ganas si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng.

Bo-tay-tiong kiam si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng yang sudah kehilangan mustika pusakanya, mahkota keperawanan, tidak bisa menahan gejolak emosi dadanya yang menggelora, jengkel, gemas geregetan, sedih, putus asa berputaran mengaduk-aduk isi otaknya.

Pedang Ang-lo-po-kiam tetap berayun berkeredepan, suara mendengung menggema disekitar tempat itu.

Hawa dingin sinar pedang menusuk tulang.

Bayangan si pemuda berbaju putih melesat kesana kemari mengelakkan datangnya serangan pedang Ang-lo-po-kiam.

Kreek, kreekek ....

krekeek ...

gedubrak ....

Sebatang pohon rubuh ambruk menimpa bangunan kelenteng, tertabas pedang Ang-lo-pokiam.

"Nona .... Tahan seranganmu! Dengar penuturanku! Setelah itu, kau boleh ambil batok kepalaku, jika kau mau....."

Terdengar suara si pemuda berbaju putih yang masih melesat kesana kemari mengelakkan serangan dingin pedang Anglo po-kiam.

"Huh ... .!"

Dengus Lie Eng Eng menghentikan serangan pedangnya.

"Apa yang mau kau katakan? jangan main gila lagi !"

"Maaf, kalau aku berbuat salah. Tapi seingatku, aku tidak pernah berbuat dosa apa-apa terhadap diri nona !"

Kata si pemuda.

"Binatang! Dalam keadaan aku tidak ingat diri, kau tentu sudah berbuat yang tidak senonoh......!"

Bentak Lie Eng Eng.

"Nona .... aku tidak pandai berdebat, tapi dengar dulu keteranganku, baru boleh kau bertindak."

"Heemm ...."

Lie Eng Eng mendengus.

"Sebetulnya.....aku sampai ditempat ini sedang melakukan tugas suhu, mengikuti jejak Kun see mo ong Teng Kie Lang dengan tiga orang muridmuridnya. Sampai di kelenteng ini, kau sudah menggeletak rubuh, wajahmu sudah berubah semu biru."

Mata Lie Eng Eng berkilat mendengar penuturan si pemuda, ia ingat pada saat kepalanya dirasakan pening, dadanya dirasakan mau meledak, tubuhnya hampir roboh, tiba tiba berkelebat satu bayangan loreng menghajar Sam-mo Eng-ciauw.....

kemudian, ia roboh tak sadarkan diri.

"Jadi bayangan loreng itu kemana?"

Tanya Lie Eng Eng tertegun.

"Entahlah!"

Jawab tegas si pemuda.

"Itulah si pemuda gondrong misterius berpakaian kulit macan loreng yang pernah menghajar Sam-mo Eng-ciauw kucar kacir."

"Aaaaa........"

Teriak Lie Eng Eng tertahan. Ternyata, orang yang sudah memberi benih bibit adam dan hawa kedalam ini perut Lie Eng Eng bukanlah pemuda ini!"

Begitu aku tiba disini Kun-see-mo-ong dengan tiga muridnya Sam-mo Eng-ciauw sudah lari mengejar si pemuda misteri.

Tampak disudut ruangan empat sosok tubuh menggeletak biru mencair........menampak wajahmu dan tubuhmu sudah mulai bersemu biru, segera kujejalkan dua butir pil obat, kuangkat duduk badanmu, kepala kudongakkan lalu kupukul gegermu.

Obat masuk dalam perutmu.

Kemudian kurebahkan kembali tubuhmu dilantai.

Ternyata belum terlambat, warna biru diwajah dan tubuhmu perlahan lahan normal kembali........

kemudian aku tersandar tidur." Setelah berkata sampai disitu, pemuda itu mengawasi wajahnya si nona dengan seksama, ingin melihat perobahan wajah itu.

Wajah Lie Eng Eng tidak menunjukkan perobahan.

Wajahnya tetap kecut, penuh sinar guram, rasa kecewa dan penyesalan.

Hati si nona berkata.

"Kau menolong jiwaku! Tapi aku tidak membutuhkan pertolonganmu. Sebaiknya biarkan aku mencari lenyap dari permukaan bumi, bebas dari sengsara derita pukulan bathin."

"Nona,..........."

"Heemm,"

Dengus Lie Eng Eng memotong katakata si pemuda.

"Seharusnya memang aku harus mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu menyelamatkan jiwaku, tapi........ ach....... seharusnya kau biarkan aku meninggalkan dunia fana ini, mencair bersatu padu dengan air hujan mengalir kelautan bebas..........!"

Mendengar kata-kata Lie Eng Eng yang dianggapnya tidak ada juntrungannya, si pemuda memandang terheran-heran, tentu saja dia tidak mengerti, lalu katanya ;

"Nona, menilik pedangmu, tentunya kau Bo-taytiong-kiam, si Pedang Macan betina Lie Eng Eng! Namamu sangat populer di-kalangan kang-ouw !"

"Hmmm......"

Dengus Lie Eng Eng dengan wajah sedih dan duka.

"Kau, kau siapa ?"

Tanyanya acuh tak acuh.

"She ku Thio nama Thian Su murid Ceng It Cinjin........

" "Aaaa.....jadi kau murid Ceng-it Cinjin? Cianpwe dari gunung Liong-hauw-san ?"

Berkata Lie Eng Eng sambil berjalan duduk dibatang pohon besar yang tumbang akibat papasan pedang Ang-lo-po kiamnya, lalu katanya lagi .

"Kudengar, belasan tahun yang lalu, Ceng It cinjin cianpwe membasmi sarang siluman Kun-see mo-ong Teng Kie Lang."

"Ya! Waktu itu, suhuku mendengar tentang sepak terjangnya iblis Kunsee-mo-ong mengganas dirimba persilatan. Segera beliau turun gunung membakar sarang iblis itu."

"Membunuh beberapa orang muridnya. Tapi si iblis Kun-see-mo-ong mendadak lenyap bersama tiga orang muridnya, si Sam-mo Eng-ciauw yang sudah terluka paras wajahnya akibat samberan beberapa bilah pisau terbang suhu, mereka lenyap dibalik berkobarnya api yang menjilat bangunan gedung markas mereka. Suhu berhasil mensita satu bungkusan pil beracun pelumer sukma. Pil itulah satu pil terganas. Bilamana pil racun itu termakan orang, maka dalam waktu tiga kali kedipan mata, orang itu akan mencair tubuh dan tulang-tulangnya. Waktu itu Kun-see-mo-ong baru hanya mengandalkan pil beracunnya pelumer sukma. Wanita-wanita yang diperkosanya dibunuh dan dicincang. Dagingnya dijadikan isi bakpau. Setelah lenyap belasan tahun, kini iblis itu muncul kembali. Kepandaiannya sudah berlipat ganda, ia berhasil meyakinkan ilmu uap beracun pelumer sukma." "Mengapa Ceng-it-cinjin cianpwe tidak turun gunung sendiri membasmi iblis itu ?"

Tanya Lie Eng Eng. Thio Thian Su berkata lagi .

"Aku tidak mengerti pendirian suhu, ia hanya perintahkan aku turun gunung, mengikuti jejak iblis-iblis itu. Dilarang bentrokan dengan mereka. Juga sedapat mungkin menolong korban-korban keganasan iblis-iblis itu selagi bisa."

"Bocah gondrong misteri itu,"

Potong Lie Eng Eng.

"kau bilang dialah yang pernah membuat Sam-mo Eng-ciauw babak belur ? Apa kau melihat pertempuran itu?"

Thio Thian Su menjawab.

"Mengikuti sampai pada suatu semak belukar, ketika itu aku baru saja menemukan jejak Sam-mo Eng-ciauw, belum menemukan jejak Kun-se-mo-ong Teng Kie Liong, tiba-tiba dengan gerakan ringan si pemuda gondrong melepaskan ikatan-ikatan monyetmonyet yang tergantung didahan pohon....."

"Monyet ?"

Tanya Lie Eng Eng memotong.

"Untuk apa monyet itu?"

"Itulah hobby mereka memakan otak monyet mentah-mentah !"

"Aaaaach…."

"Sebetulnya kalau dikatakan pertempuran juga bukan pertempuran. Si pemuda gondrong hanya melesat sana-sini, toch berhasil membuat Sam-mo Eng Ciauw pontang panting!"

Kata lagi Thio Thian Su. "Hebat !"

Tanpa disadari Lie Eng Eng memuji. Thio Thian Su berkata lagi ;

"Sampai dikelenteng ini, ternyata mereka sudah berkumpul dengan Kim-see-mo ong, keadaan nona sudah jatuh rebah dengan wajah mulai membiru, keempat iblis itu mengejar si pemuda gondrong misteri! Nah selesai sudah penuturanku, kalau nona masih mau memapas kepalaku dengan pedang Ang-lo-po-kiam, silahkan!"

Wajah Lie Eng Eng bersemu merah. Memandang kearah burung-burung pemakan bangkai yang berterbangan berputaran diangkasa. Lalu katanya perlahan.

"Apa kau juga membawa Pel racun pelumer sukma?"

Thio Thian Su terkejut, ia memperhatikan wajah si nona tidak mengerti, kemudian katanya.

"Pel itu diberikan beberapa butir padaku oleh suhu untuk bekal dalam perjalanan."

"Hei, bisa kau berikan aku sebutir, aku ingin lihat, bagaimana bentuk pel racun pelumer sukma itu?"

Kata Lie Eng Eng.

Tanpa mengucap sepatah kata, Thio Thian Su mengambil sebotol kecil dari dalam saku bajunya, dibuka tutupnya, lalu mengambil sebutir diserahkan kepada Lie Eng Eng.

Dari botol obat yang terbuka tutupnya berembus bau wangi harum semerbak menyegarkan tubuh.

Lie Eng Eng menyambuti sebutir pel pelumer sukma, ia letakkan diatas telapak tangannya, diendus-endusnya dengan hidung yang mancung.

Pel itu berwarna merah jambu harum semerbak.

Mata Lie Eng Eng menatap tajam wajah Thio Thian Su dengan tatapan curiga, lalu katanya ;

"Obat pelumer sukma ini apakah….?"

"Betul,"

Potong Thio Thian Su.

"itulah pel beracun pelumer sukma yang sangat ganas. Lain dari pada pel beracun lainnya. Pel itu berbau harum, itulah seni racun Kun-sie-mo ong. Pel berbentuk indah berbau harum. Dengan bau harum itulah Kun-see mo-ong menipu mangsamangsanya. Jika pel itu dicampur kedalam air atau arak, air dan arak itu akan berbau harum menyegarkan, tapi setelah masuk kedalam perut, selama dua kali tarikan napas, orang itu akan jatuh, dengan tubuh dan tulang-tulang mencair!"

"Haaaai ... ."

Kejut Lie Eng Eng heran. Ia timang-timang pel wangi itu diatas telapakannya. Kemudian cluuuut, pel itu masuk kedalam mulut mungil si nona jelita. Thio Thian Su terkejut.

"Nona........."

Tapi kemudian ia duduk tenang kembali di atas batang pohon tumbang. Dengan senyum ia berkata pada Lie Eng Eng.

"Apa nona tidak percaya itu pel beracun pelumer sukma?"

"Justru aku percaya !"

Kata Lie Eng Eng.

"Aku ingin lekas mati, daging dan tulang tulangku biar melumer mencair ditelan bumi."

"Aaaah......."

Thio Thian Su menghela panjang. Pikirnya .

"Bu-tay-tong-kian ingin Ah dunia semakin lama semakin ganjil. sejelita ini sungguh keterlaluan. Hatikupun napas mati? Nona masih menerima Achh......"

Hatinya mengapa ia ingin mati? Lie Eng Eng membentak .

"Hei ! Mengapa pel ini belum memperlihatkan reaksinya? Apa kau sedang mempermainkan aku !"

Thio Thian Su cepat menjawab .

"Aku tidak main-main, itulah pel beracun pelumer sukma !"

"Mengapa tidak segera melumeri daging dan tulang-tulangku !"

Berkata lagi Lie Eng Eng dengan kasar.

"Toch kau bilang hanya dalam dua kali tarikan napas, tubuh orang yang memakan pel itu akan melumer, kini entah sudah berapa puluh kali tarikan napas. Tapi belum juga ada tanda bekerjanya pel beracun ini !"

Thio Thian Su angguk-anggukkan kepala lemah kemudian katanya .

"Aku hanya melaksanakan tugas suhu mengikuti jejak Kun-see-mo-ong untuk menolong korban-korban yang masih bisa ditolong dengan membekali beberapa butir pel itu .... ketika tubuh nona rubuh, beruntung aku tiba pada saat yang tepat, terlambat sedikit berarti …."

"Tubuhku geregetan. mencair,"

Potong Lie Eng Eng "Ya, begitu nona jatuh aku segera menjejalkan pel beracun pelumer sukma ini kedalam mulutmu.

Terjadi beberapa kali perobahan diwajah nona, karena hari sudah gelap aku tidak memperhatikan lebih lanjut.

Kubiarkan nona terbaring, sedang aku sendiri tertidur bersandar ditiang batu kelenteng."

"Hm .... mengapa begitu ?"

Tanya Lie Eng Eng heran. Thio Thian Su berkata lagi .

"Itulah pesan guruku, setiap orang yang baru jatuh ditangan Kun-see-mo-ong terkena hawa harum beracunnya, jiwa orang itu tak akan bisa tertolong lagi. Hanya satu-satunya harapan, adalah dengan memberi makan orang itu pel beracun pelumer sukma buatannya sendiri."

"Aaah ....."

Lie Eng Eng terkejut.

"bagaimana bisa terjadi begitu?"

"Suhuku...."

Berkata lagi Thio Thian Su.

"Ketika baru saja mensita pel racun ini, sebenarnya ia berniat untuk melenyapkan racun jahat ini dari muka bumi, tapi hendak dibuang kemana ? Salahsalah akan membunuh orang yang tidak berdosa, berpikir bolak balik, ia simpan pel beracun pelumer sukma. Ketika setahun yang lalu, suhuku mengendus munculnya kembali Kun see-mo-ong yang sudah berhasil meyakini ilmu siluman uap harum beracun pelumer sukma. Karena suhuku masih belum selesai meyakinkan ilmu ciptaannya yang terbaru, maka ia perintahkan aku turun gunung. Dengan dibekali pel beracun pelumer sukma juga harus segera menolong orang yang menjadi korban uap beracun harum Kun-see-moong selagi bisa ditolong."

Mendengar keterangan Thio Thian Su, mulut Lie Eng Eng ternganga, nampak wajah si nona jelita tambah manis dalam pandangan mata Thio Thian Su, hingga seketika ia menghentikan ceritanya memandang mulut mungil yang menganga itu.

"Hei......"

Tiba-tiba Lie Eng Eng menegurnya .

"Setelah orang yang terkena uap beracun pelumer sukma, kau berikan lagi pil beracun pelumer sukma, apakah tidak akan mempercepat kematian orang itu?"

"Hmm........."

Thio Thian Su menghela napas katanya lagi .

"Tuhan memang adil ! Tanpa disadari oleh Kun-see-mo-ong, kalau ilmu siluman yang dianggap sudah tidak ada tandingannya ternyata pil beracunnya sendiri lawan yang terampuh."

Bicara sampai disitu Thio Thian Su menatap wajah si nona, kemudian katanya lagi .

"Racun dilawan dengan racun !"

"Haa.........."

Lie Eng Eng tambah tidak mengerti lalu katanya.

"Maksudmu?"

"Tubuh orang yang terkena serangan uap harum pelumer sukma, dalam tubuhnya sudah mengendap racun-racun jahat berbisa. Dengan pel pelumer sukma dimasukkan kedalam tubuh orang itu, disana terjadi satu proses asimilasi, kedua racun bersatu padu, akhirnya terbentuk satu sintesa dari kedua racun yang langsung menjalar ke seluruh pembuluh-pembuluh darah sikorban. Sintesa kedua zat-zat racun itu merupakan anti racun ... ."

"Jadi dalam tubuhku mengandung sintesa zatzat racun itu ?"

Tanya Lie Eng Eng heran.

"Betul !"

Kata Thio Thian Su.

"Sejak itu, tubuh nona doyan racun, racun apapun yang terganas didunia ini, nona boleh makan sesuka hati termasuk itu pel pelumer sukma."

"Hmmm,"

Bungkam. Lie Eng Eng hanya hemm. Ia "Hei, kukira cukup keteranganku, aku harus menjalankan tugas, mengintil iblis-iblis itu, janganjangan si pemuda gondrong itu juga sudah jadi korban."

Kata Thio Thian Su, sambil bangkit melesat kearah dimana Kun-see-mo-ong mengejar si pemuda gondrong.

Lie Eng Eng yang masih duduk termenungmenung ketika mendengar kata-kata Thio Thian Su menyebut nama Si pemuda gondrong, hatinya tibatiba berdebaran keras.

Matanya berkilatan, wajahnya beringas, kemudian kilatan sinar mata itu lenyap, sayu, menetes dua titik air mata.

Lie Eng Eng sadar.

Otaknya bekerja keras.

Jelas tubuh manusia yang menerjang dirinya sampai bergulingan, akhirnya melalap kesuciannya, orang itu berambut gondrong.

Pasti !

Pasti dia !

Sejenak sinar matanya kemudian sayu melemah.

jelalatan terang, Selagi otaknya masih dipenuhi perasaan penasaran, panas dan putus asa, tiba-tiba terdengar suara ketoprakan kaki kuda dijalan becek, terdengar seseorang berkata.

"Pan Kui, mengapa kita tidak berpapasan dengan rombongan piauw Lie siaocia, apakah mereka dapat halangan dijalan ?"

Lie siaocia berarti nona Lie -Lie Eng Eng yang dimaksudkan! "Ah, kukira karena cuaca seperti ini, Lie siaocia terlambat ! Can Kui bagaimana pendapatmu?"

Berkata orang yang dipanggil Pan Kui. "Kuharap begitu, lebih baik terlambat dari pada cepat tiba . .....ah…."

Berkata lagi orang yang dipanggil Can Kui. Mendengar suara percakapan itu, Lie Eng Eng melesat, menghampiri mereka di luar rimba.

"Aaaaa ....."

Terdengar suara kejut Can Kui dan Pan Kui.

"Nona ..."

Kedua orang itu segera turun dari kuda masing masing, serta merta memberi hormat. Terdengar Can Kui berkata .

"Nona ...."

"Kau bawa barang-barang ini,"

Potong Lie Eng Eng.

"Setibanja di Pakkhia, kau serahkan pada tuan Lie Min Cu!"

"Nona, sebaiknya barang-barang ini kami bawa kembali ke si pengirimnya. Pembesar anjing kota Pakkhia mensita semua barang-barang antaran. Dikatakan barang-barang itu adalah ransum perlengkapan pemberontak !"

Kata Pan Kui memberi penjelasan.

"Mmmm .... kau bawa balik kembali ke Sin-ciuhu !"

Perintah Lie Eng Eng.

"Baik nona, tapi kemana rombongan piauwsu yang mengiring nona ?"

"Mereka sudah mencair !"

Jawab Lie Eng Eng. Pan Kui dan Can Kui mendengar keterangan itu saling pandang tidak mengerti. Lie Eng Eng mendelikkan mata ! "Baik! Baik!"

Dengan berbareng Can Kui dan Pan Kui menyahut, menjalankan perintah tanpa banyak tanya.

Pan Kui dan Can Kui kembali kekota Sin ciu-hu dengan membawa segerobak barang-barang antaran.

Lie Eng Eng duduk dipilar rusak kelenteng yang sudah roboh.

Otaknya kembali berkecamuk.

Ia harus mendapatkan si gondrong untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya diatas tajamnya pedang Ang lo-po-kiam.

Itulah keputusan tegas dari si nona jelita Pedang Macan Betina.

Tubuhnya melejit kedalam rimba lebat mengikuti arah larinya Sam-mo Eng Ciauw, Kun-see mo ong dan Thio Thian Su.

Apakah betul yang melalap perawan si-jelita Pedang Macan Betina Lie Eng Eng adalah si pemuda gondrong?

Betul !

Itulah perbuatan si pemuda gondrong berpakaian kulit macan loreng.

0 o od<>wo o O Setelah keluar dari kota Siao-shia, si pemuda gondrong mengembara dihutan belantara dengan dikawani si monyet hitam.

Akhirnya ia tiba dikelenteng rusak.

Kelenteng itu sunyi, tidak pernah lagi dikunjungi orang.

Maka si pemuda gondrong menjadikan tempat itu sebagai tempat meneduh dari hujan dan angin.

Memakan buah-buahan yang dibawa oleh monyet hitam.

Selama hampir setengah tahun si gondrong menetap dikelenteng rusak itu.

pemuda Hidup dalam alam bebas.

Bebas dari segala tekanan-tekanan, bebas dari segala pengeroyokan, bebas dari segala macam keruwetan dunia.

Bebas dari segala keinginan yang tidak pernah terpuaskan.

Sore itu keadaan hujan lebat, sebagaimana biasa ia meneduh dikelenteng rusak.

Ketika hujan sedang turun lebat, suara langkahlangkah kaki kuda, kretekan suara roda kereta diluar mendatangi kelenteng, ia sedang tidur dibawah kaki patung, dalam ruangan Thian-ongthian.

Itulah rombongan Lie Eng Eng!

Mendengar suara berisik, si pemuda gondrong terkejut, ia mendusin.

Tapi ia tidak mengambil pusing.

Ketika Lie Eng Eng memasuki ruangan Thianong-thian, ia sedang mendekam dibawah kaki patung, diam tidak bergerak, hanya sepasang matanya jelalatan, memperhatikan gerak gerik si nona jelita!

Melesatnya Lie Eng Eng keluar ruangan Thian ong-thian, terjadinya pertempuran dengan si Raja Penyamun Bo Siang, ia tidak ambil perhatian.

Tetap mendekam disana.

Mata si pemuda gondrong yang sudah biasa dengan keadaan gelap, dapat melihat dengan jelas bentuk lekuk-lekuk tubuh serta paras cantik si nona jelita berjalan masuk kembali kedalam ruangan Thian-ong-thian, salah sendiri!

Mengapa Lie Eng Eng membuka pakaian telanjang bulat.

Mata yang kebiru biruan, menampak pandangan matanya yang tertumbuk tubuh si jelita yang masih padat dan montok, dari atas kepala sampai betis kaki, hidung kecil bangir, mulut mungil merangsang, betis mulus memutih, buah dada yang membusung mengkal, menimbulkan satu rangsangan!

Rangsangan naluri untuk bisa keindahan bentuk tubuh si jelita.

menikmati Rangsangan naluri yang meresap cepat diotak si pemuda gondrong tersalur keseluruh sendi-sendi urat-urat tubuhnya.

Membuat ia tak dapat lagi mengendalikan rasa emosi rangsangan naluri yang timbul mendadak tanpa diketahui dari mana datangnya rangsangan rangsangan itu.

Dengan gerak reflek ia melesat menyambar tubuh si jelita.

Sangka Lie Eng Fng, ada orang yang mau merebut pedang pusakanya !

Timbul perlawanan !

Pergumulan terjadi !

Pakaian loreng si pemuda gondrong terpisah dari tubuhnya.

Pergumulan bumi.....

terjadi, hujan deras menyiram "Ach.....binatang jangan berbuat begitu ....

hai ....

hai ...

uuh ...uh ....

ayaaa ....

aduh ...........uh......" Akhirnya terdengar suara rintihan-rintihan si Pedang Macan Betina diiringi suara riap-riapan air hujan menimpa genting.

Si Pemuda gondrong berhasil menikmati tubuh si nona jelita, memenuhi rangsangan nalurinya.

Melampiaskan tai macannya di tubuh si jelita, sesudah itu ia melejit keluar.

Secepat itu pula Lie Eng Eng meletik mengejar si pencuri pusakanya.

Tapi bayangan si pemuda lenyap ditelan kegelapan.

Kemana lenyapnya si pemuda gondrong ?

Si pemuda gondrong lenyap mendekam diatas genteng gelenteng.

Mandi hujan-hujanan.

Napasnya masih memburu ngos-ngosan.

Ketika Lie Eng Eng keluar menghadapi Kun-seemo ong dan ketiga murid-muridnya, segera si pemuda gondrong melompat masuk kedalam ruangan Thian-ong-thian meraup pakaian kulit macannya.

Lalu melejit lagi keatas genteng.

Dari celah-celah genteng pecah ia menyaksikan jalannya pertempuran.

Berakhir dengan turun tangannya si pemuda menghajar Sam-mo Eng-ciauw, lalu muntah-muntah muncrat kemuka Kun-see-mo ong, akibat mencium bau harum uap pelumer sukma, ia kabur dikejar-kejar Kun-see mo-ong cs.

Kejar mengejar berlangsung.

Hujan turun deras, kilat berkeredap-berkeredap guntur mengguruh.

Pohon-pohon bertumbangan dihajar Kun see mo-ong.

Malam semakin larut, si pemuda gondrong terus lari tanpa arah tujuan.

Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang dkk.

mengejar terus kearah suara desiran angin dan bergoyangnya dahan-dahan pohon yang dilewati pemuda gondrong.

Batang-batang pohon tumbang disana-sini.

Setiap langkah Kun-se-mo-ong pasti menimbulkan satu atau dua batang pohon yang dihajar roboh, ilmu pukulan telapak tangan beracunnya memang sangat hebat dan kuat !

Si pemuda lari terus, terus menghindari kejarankejaran Kun-see-mo-ong, menghindari bau harum yang bisa membikin perutnya enek mual.

Hingga membuat ia muntah-muntah.

odkzo HUJAN MULAI REDA, reda kemudian lenyap sama sekali seakan dihentikan dari langit, udara mulai terang, burung-burung berkicauan kembali.

Hari berganti pagi.

Rimba yang dilewati Kun-see-mo-ong terdapat banyak batang pohon tumbang malang melintang hangus seakan baru terbakar.

Keempat iblis celingukan kesana kemari.....braak ....

sebatang pohon lagi dihajar telapak tangan Kun-see-mo-ong.

Hangus terbakar.

Bau harum semerbak menjalar disekitar tempat itu.

Burung burung berjatuhan mencair.

"Heeeeh .... hih, hih, hih ... ."

Terdengar tawa Kun-see-mo-ong, lalu katanya .

"Siang-mo, Long135 mo, Hok-mo, kalian naik keatas pohon, perhatikan disekitar tempat ini, bocah itu tidak bisa lari jauh, hih, hih, hih......"

Mendapat perintah gurunya ketiga Sam-mo Engciauw berlompatan memanjat pohon. Celingukan diatas pohon kemudian berlompat turun. Siang-mo berkata .

"Suhu .... tak tampak gerakan yang mencurigakan."

"Ya. Aneh ! Jelas bocah itu lari kemari."

Berkata Long-mo.

"Eeeh .... hih, hih, hih, hih .... anak sialan ... .!"

Berkata Kun-see-mo-ong masih sambil perdengarkan suara ketawanya.

"Ketika terkena serangan uap harum pelumer sukma dikelenteng, mengapa bocah itu tidak rubuh ?"

Tanya Hok-mo.

"Heng ... ."

Siang mo dan Long-mo berdengus berbareng.

"Hih, hih, hih, hih....."

Kun-see-mo ong tertawa hih, hih, hih.

Dalam hatinya juga merasa heran.

Ilmu uap harum beracun pelumer sukma yang diyakinkannya hampir memakan waktu tigabelas tahun.

Baru ilmu itu rampung, ternyata ilmu yang dibanggakannya itu tidak berguna terhadap seorang bocah.

Malah mukanya sendiri tersiram semburan muntahan si bocah.

Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang terheran-heran, ia tidak habis mengerti, bagaimana si bocah bisa tidak mempan uap beracun harumnya.

Tapi rasa herannya, tidak ditunjukkan dimuka ketiga orang muridnya.

Kembali kita mengikuti pengalaman Lie Eng Eng.

Sesudah Lie Eng Eng menggebah rombongan piauwsu yang kedua, mengantar kembali barang antaran ke Sin-ciu-hu, tubuhnya melesat mengejar kearah larinya si pemuda gondrong.

Jalan-jalan yang dilaluinya malang melintang batang-batang pohon yang tumbang, sayup-sayup dari jauh masih terdengar suara bergedebukan batang-batang pohon rubuh.

Lie Eng Eng terus mengejar kearah datangnya suara gedabrukan.

Saat itu Kun-see-mo-ong cs, dengan sinar mata jelilatan sedang memperhatikan sekeliling rimba itu.

Ia tidak menemukan mayat atau jejak-jejak si bocah gondrong.

Tiba-tiba melesat satu bayangan putih meluncur datang, dibarengi dengan berkeredepannya sinar putih menyambar leher Kun see-mo ong Teng Kie Lang.

"Hayaaaaa........hih, hih, hih, hih…"

Kejut Kusee-mo ong Teng Kie Lang, tangannya digerakkan menyambuti datangnya serangan mendadak itu.

Bruuuuk.......

Terdengar suara serangan nyasar.

pohon tumbang terkena "Iiiihh.....hih, hih, hih, hih,"

Kun see-mo-ong tertawa.

Dihadapannya berdiri seorang nona jelita.

Ia sudah tidak mengenali bahwa nona jelita itu adalah Lie Eng Eng yang pernah roboh dikelenteng, akibat serangan uap harum pelumer sukmanya.

Kun-see-mo-ong yakin benar, setiap korbannya pasti segera mencair, tidak akan hidup dialam dunia.

Karena keyakinan serta kepanatikan terhadap ilmunya sendiri yang sudah tidak ada tandingannya, membuat otaknya agak butek.

Begitupun ketiga murid-muridnya, iblis-iblis Siang mo, Long-mo, dan Hok mo, begitu matanya tertojos wanita cantik, sudah melupakan apa yang terjadi barusan, lelahnya selama berlarian semalam suntuk dan rasa ngantuknya mendadak hilang.

Berganti dengan birahi yang mendenyut denyut.

"Suhu ...!"

Berkata Siang-mo mendahului.

"Serahkan perempuan ini, aku yang bereskan !"

"Hih, hili, hih, hih ..... Siang-mo, Hok-mo, Longmo, kalian tangkap gadis ini, ingat jangan sampai terluka.....hih, hih, hih, ....nanti setelah aku, kalian boleh bergiliran hih, hih, hih ..."

Perintah Kunsee-mo-ong.

Ia mengundurkan diri berdiri agak jauh.

Sam-mo Eng-ciauw sudah mengurung Lie Eng Eng ditengah.

Ketika Sam-mo Eng-ciauw mulai menggerakgerakkan tangan, menyerang si nona.

Serangan Sam-mo Eng-ciauw sangat kurang ajar.

Siang-mo menyerang bagian bawah perut si nona, Hok-mo menyerang dada si nona yang membusung, sedang Long-mo menubruk pinggul si nona yang bahenol.

Mereka ingin mempermainkan Lie Eng Eng.

Gerakan-gerakan serangan Sam-mo Eng-ciauw belum lagi mengenai sasaran, niatan mereka mempermainkan si jelita belum lagi terlampiaskan, tiba-tiba pedang Ang-lo-po-kiam berkelebat, sinar putih mengurung melindungi tubuh si nona jelita, membentur serangan ketiga iblis-iblis itu.

Cress, cresss, cresss, .....gedebuk, beg.....

duk, drukk, druluk Tiga kepala menggelinding ditanah, tiga badan tanpa kepala kelojotan.

Mengucurkan darah dari leher masing-masing.

Tiga Sam-mo Eng-ciauw yang terkenal ganas malang melintang di dunia, pulang keakherat diantar oleh pedang Ang-Io-po-kiam Botay-tiong-kiam si pedang Macan Betina.

"Hih, hih, hih ... ."

Terdengar Kun-see-mo-ong Teng Kie Lang ketawa. Tubuhnya tiba-tiba sudah berada dihadapan Lie Eng Eng.

"Heem .... hih, hih, hih, hih ..."

Terdengar Kunsee-mo-ong Teng Kie Lang masih tertawa-tawa menyaksikan ketiga murid-muridnya menggeletak dengan kepala berpisah dari tubuhnya.

"Iblis....."

Bentak Lie Eng Eng.

"Keluarkan semua ilmu silumanmu, aku ingin lihat apa yang bisa kau buat ..."

"Hih, hih, hih, hih .... sabar nona manis! Pedangmu hebat, tapi umurmu pendek, hih, hih, hih....." Tanpa banyak bicara Lie Eng Eng sudah menggerakkan pedang Ang lo-po-kiam menyerang kearah Kun-see-mo-ong. Hawa dingin merangsang tubuh.

"Hi, hi, hi…."

Tubuh Kun-see-mo-ong bergerak, memapaki datangnya benturan-benturan sinar pedang yang menimbulkan hawa dingin.

Terjadi pertempuran.

Sinar putih berkeredapan, bercampur aduk dengan uap-uap putih, mengurung tempat itu.

Bayangan kedua orang yang bertempur sudah tak tampak.

Hanya tampak bergulungan uap-uap putih mengepul diiringi sinar kelebatan diantara mengepulnya uap-uap putih itu.

Bau harum semerbak bertebaran disekitar rimba itu.

Suara angin menderu-deru berbau harum, daun-daun pohon berguguran.

Batang-batang pohon bergoyang-goyang, seakan terjadi gempa bumi.

Mayat-mayat Sam-mo Eng-ciauw mencair tanpa bekas.

Burung-burung yang sedang berterbangan diudara berjatuhan bulu-bulunya terhambur terbang kesana kemari tubuh burung-burung itu turut mencair.

Pertempuran maut berlangsung beberapa jurus, akhirnya terdengar suara .

Dukk......triiiingg....

Suara gaduh, beradunya Pertempuran terhenti!

kedua kekuatan.

Lie Eng Eng sempoyongan, mundur lima tindak.

Tubuhnya limbung, Kun-see-mo ong berdiri ditempatnya, tubuhnya bergoyang-goyang kekirikanan.

Sinar matanya jelilatan.

Wajah yang putih tanpa kumis dan jenggot, memucat lebih putih seperti mayat.

Apa yang terjadi?

Kun-see-mo-ong yang menyaksikan Lie Eng Eng tidak roboh terkena serangan uap racun harum pelumer sukmanya, menjadi heran bukan kepalang.

Dalam herannya, ia menjadi lengah, hampir pedang Lie Eng Eng membabat batang leher Kun-see-mo-ong.

Tapi Kun see-mo-ong bukan Kun-see-mo-ong, kalau tidak dapat menyingkirkan datangnya serangan pedang.

Dalam keadaan masih terheran-heran bercampur kejut, ia kerahkan kekuatan tenaga dalamnya keatas telapak tangan, dengan menggunakan ilmu pukulan cengkeram maut Kun-see-mo-ong menyambuti datangnya serangan pedang Ang-lo-po-kiam.

Pedang Lie Eng Eng dicengkeram oleh cengkeraman maut Kun-see-mo-ong.

Mandek disana.

Lie Eng Eng terkejut bukan kepalang, pedang Ang lo-po-kiam tercengkeram ditangan Kun-seemo-ong, tanpa bisa melukai tangan si iblis.

Tidak kalah kejutnya Kun-see-mo-ong, begitu pedang tercengkeram, ia keremus badan pedang.

Tapi pedang itu tidak hancur.

Selagi masih kebingungan, tiba-tiba mengalir satu hawa dingin menyerang telapakan tangan Kun-see-mo-ong, menyelusuri urat-urat lengan menyerang jantung.

Hawa dingin itu terasa begitu tajam menusuk jantung.

Terjadi pergumulan beku.

Lie Eng Eng terus menyalurkan tenaga dalamnya ketubuh pedang, hingga hawa dingin menusuk tulang menyerang Kun-see-mo-ong.

Kuu-see-mo-ong mengetahui datangnya serangan arus dingin, segera mengatur peredaran darahnya, ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya.

Berhasil memukul mundur sebagian serangan dingin pedang Ang-lo-po-kiam.

Tenaga serangan pedang Ang-lo-po-kiam yang terpukul mundur mental balik menyerang tubuh Lie Eng Eng, membuat si nona sempoyongan mundur lima tindak, sedang Kun-see-mo-ong masih terkejut, setelah berhasil memukul balik sebagian kekuatan hawa dingin pedang Ang-lo-pokiam segera melepaskan cengkeramannya.

Tubuhnya tergetar hebat.

"Hih, hih, hih, ....."

Kun-see-mo-ong menenangkan gejolak hatinya, tertawa mengkikik, sedang jantungnya masih terasa mendenyutdenyut seakan tertusuk jarum-jarum dingin.

Menyaksikan Lie Eng Eng masih belum rubuh, Kun-see-mo-ong segera mengangkat tangannya diatas kepala, sedang tangan kirinya diletakkan didepan dada, dengan posisi gerak mencengkeram.

Menyerang Lie Eng Eng yang masih sempoyongan.

Lie Eng Eng yang masih termundur-mundur sempoyongan, pedang Ang-lo-po-kiamnya hampir terlepas dari tangannya.

Menampak Kun-see-moong sudah menyerang kembali, ia lompat melejit.

Tapi baru kakinya terangkat tubuhnya sudah jatuh ngusruk.

Menunggu kematian.

"Hih, hih, hih, hih,....."

Kun-see mo ong yang menampak tubuh Lie Eng Eng yang montok sudah rubuh duluan sebelum terkena serangannya, ia segera membatalkan serangan itu. Menghampiri Lie Eng Eng yang masih tengkurap ditanah.

"Hih, hih ....dadaku masih terasa sakit akibat serangan dingin pedangmu, tapi tubuhmu bisa segera memberi kekuatan tenaga baru pada diriku, menyembuhkan luka-luka dalam.......... hih, hih, hih, hih......"

Kun-see-mo-ong tidak membunuh Lie Eng Eng, ia akan menggunakan kesucian gadis itu menyembuhkan luka-luka dalamnya.

Dengan menyedot sari kegadisannya.

Itulah ilmu dracula Kun-see-mo-ong.

Dikiranya Lie Eng Eng masih gadis.

0)0od^wo0(0

Jilid ke 04 MASIH sambil tertawa hi hi hih, Kun-see-mo-ong merangkul pinggang Lie Eng Eng.

Tiba-tiba ........Clup ..........

Kun-see-mo ong tergetar, seluruh tubuhnya gemetaran dijidatnya menetes keringat bertetelan jatuh ketanah.

Matanya jelilatan kesana kemari, baru memperhatikan suara jatuhnya satu benda.

Tanpa banyak bicara, tiba-tiba tubuh Kun-see-mo- ong melesat bagaikan asap lari dari tempat itu.

Tidak terdengar suara khas tertawanya.

Suasana menjadi sunyi tubuh Lie Eng Eng masih terbujur tengkurap.

Apa yang menyebabkan kaburnya Kun see moong, sampai-sampai ia tidak sempat mengeluarkan suara tawa khasnya?

Ternyata ditanah disamping kepala Lie Eng Eng tertancap satu panji kecil segi tiga, gagang panji berwarna kuning berkilauan terbuat dari mas murni.

Warna panji putih dengan garis-garis menguning mas di setiap pinggiran segitiga.

Ditengah-tengah terdapat lukisan naga terbang.

Panji itulah yang membuat Kun-see-mo ong Teng Kie Lang lari terbirit-birit.

Lama setelah Kun-see-mo ong ngiprit dari tempat itu, melesat datang satu bayangan putih.

Mencabut panji yang tertancap ditanah.

Bayangan putih itu segera mengangkat tubuh Lie Eng Eng yang masih tengkurap didudukkan ditanah, kemudian menotok beberapa jalan darah ditubuh si nona dengan menggunakan gagang panji yang terbuat dari mas murni.

Tidak lama Lie Ing Eng sadar, matanya terbuka.

"Haaa ... ."

Lie Eng Eng terkejut.

"Kau juga datang?"

"Aku datang lebih dulu dari nona, semua kejadian sudah kusaksikan dengan jelas."

Kata orang yang baru datang. "Apakah saudara Thio Thian Su tahu kemana Kun-see-mo-ong ? Mengapa ia tidak membunuh diriku?"

Tanya Lie Eng Eng. Thio Thian Su menunjukkan panji keciI segitiga bergagang mas murni. Lalu katanya.

"Benda inilah yang membuat Kun-see-mo-ong melarikan diri."

Mata Lie Eng Eng terbelalak, lalu tanyanya heran.

"Apa artinya?"

"Inilah panji Naga, milik suhuku! Kun see-mo ong kenal betul panji ini, begitu ia melihat panji ini segera lari terbirit-birit !"

Kata Thio Thian Su.

"Aaah .....jadi iblis itu sangat takut pada gurumu Ceng It cinjin cianpwe."

"Heem ... tigabelas tahun yang lalu sebelum sarang Kun-see-mo-ong digunung Mong san diobrak abrik, suhu menancapkan panji ini dipintu gerbang sarang Kun-see-mo-ong sebagai tanda kehadiran suhu disana !"

"Waah ... jadi setiap Ceng It Cinjin muncul, didahului dengan munculnya panji itu?"

Kata Lie Eng Eng yang mulai mengerti duduknya perkara.

"Betul ! Ketika keadaan nona sangat kritis, kulemparkan panji ini. Ternyata Kun-see-mo-ong yang sudah terluka dalam tubuhnya begitu melihat panji ini segera kabur. Kalau ia belum terluka ....aku sendiri.....ach, tak ada gunanya panji ini diperlihatkan dihadapannya. Sebelum lari, ia akan menjajal kepandaian pemilik panji ini .... juga menuntut balas atas tindakan suhu pada tigabelas tahun yang lalu." "Hai, apa kau tahu, dimana si gondrong itu?"

Tanya Lie Eng Eng. Thio Thian Su menggoyang kepala, lalu katanya .

"Setibanya ditempat ini, bayangan si pemuda lenyap entah kemana. Ternyata Kun-see-mo-ong juga sudah kehilangan jejaknya. Eeei, apa nona tidak terluka ?"

"Hai .....ilmu kepandaian iblis itu sungguh lihay, tapak tangannya tidak mempan tajamnya pedang pusaka Ang-lo-po-kiam, ia juga berhasil memukul balik serangan hawa dingin pedang, hingga mental balik menyerang tubuhku, hampir-hampir mencelakakan diriku sendiri, tubuhku tergetar dingin sekali."

Thio Thian Su terbelalak, lalu katanya .

"Dalam keadaan terluka, lebih baik nona jangan banyak bicara, sembuhkan dulu luka-luka nona, ini aku membawa obat luka dalam,"

Berkata begitu ia memasukkan tangannya kedalam saku baju. Cepat Lie Eng Eng menggoyang-goyangkan tangannya, katanya .

"Tidak usah, luka dalam ini tidak bisa diobati oleh obat apapun......."

"Huaaah........"

Thio Thian Su terkejut tidak terkira.

"Jadi......jadi........"

"Ah, kenapa kau yang kebingungan tidak keruan,"

Potong Lie Eng Eng.

"Luka ini akibat dari berbaliknya serangan dingin pedang Ang-lo-pokiam, dengan cara bersemedi menurut ilmu pedang Ang-lo po-kiam luka itu baru bisa disembuhkan."

Thio Thian Su mendengar keterangan si nona jelita hatinya lega. Lie Eng Eng sudah berkata lagi .

"Jika saudara Thio bersedia membantu sedikit membuang tenaga, dapatkah kiranya saudara Thio menjaga sekeliling tempat ini, selagi aku bersemedi?"

"Tentu, tentu ...."

Jawab Thio Thian Su.

"jangankan hanya menjaga ...."

Ia tidak bisa meneruskan katanya yang seharusnya diucapkan.

"menemani selamanya juga aku bersedia."

Melirik dengan kerlingan matanya yang manis tapi sayu si jelita mengawasi wajah Thio Thian Su, tiba-tiba bersemu merah dalam mengucapkan kata-katanya yang terputus ditengah jalan.

Lalu Lie Eng Eng mencari tempat yang aman untuk ia melakukan semedinya.

Lie Eng Eng duduk bersila tepat menghadapi kearah sinar matahari pagi.

Pedang Ang-lo-pokiamnya dengan ujung pedang menuju keatas, tepat menempel dijidatnya, hidung dan mulut tertempel batang pedang, sedang gagang pedang dipegang diatas pangkuan dengan tangan kanan, tangan kirinya menempel diujung pedang didepan jidatnya.

Tak lama kemudian, tubuh si nona mengeluarkan butiran-butiran air seperti embun membasahi tubuhnya bertetelan jatuh, lalu lenyap ditelan panasnya sinar matahari pagi.

Thio Thian Su memperhatikan cara bersemedi dengan menggunakan pedang seperti itu matanya terbelalak, belum pernah ia melihat ada cara-cara bersemedi seaneh yang dilakukan si nona jelita.

Berselang beberapa saat, embun-embun yang keluar dari pori-pori tubuh Lie Eng Eng lenyap berganti dengan hawa dingin yang keluar dari pedang Ang-lo-po-kiam.

Tiba-tiba Lie Eng Eng melejit lompat berdiri dengan wajah merah berseri.

Thio Thian Su dengan perasaan masih terheranterheran bertanya .

"Nona, cara bersemedi seperti itu selama hidupku baru pertama kali ini kusaksikan, sungguh ganjil sekali."

Lie Eng Eng tersenyum manis, hampir saja jantung Thio Thian Su copot dari tempatnya, memandang senyum si jelita yang baru pertama kali ini ia saksikan, membuat dengkulnya mendadak lemas.

"Itulah cara bersemedi menarik kembali serangan hawa dingin dari akibat berbaliknya hawa dingin pedang Ang-lo-po-kiam!"

Kata Lie Eng Eng memberi penjelasan.

"Setiap orang yang memegang pedang Ang-lo-po-kiam harus tahu cara-cara itu. Kalau tidak pasti senjata makan tuan."

"Jadi pedang Ang-lo-po-kiam tidak bisa dipergunakan sembarang orang yang tidak mengerti cara-cara memunahkan akibat pukulan balik hawa dingin itu?"

Bertanya lagi Thio Thian Su.

"Ya,"

Kata Lie Eng Eng.

"itulah suatu cara pengamanan pedang Ang-lo-po-kiam dicuri orang."

"Ah, sungguh pedang ajaib!"

Bergumam Thio Thian Su.

"Kukira Kun-see-mo-ong sulit untuk membuyarkan tubuhnya."

Hawa dingin yang menyerang "

Ya.........meskipun iblis Kun-see-mo-ong memiliki ilmu cakar ayam setannya yang tak mempan senjata pedang pusaka ini, tapi hawa dingin pedang Ang-lo-po-kiam sudah menyerang ulu hatinya.

Meskipun dengan kekuatan tenaga dalamnya ia berhasil membalikkan serangan hawa dingin, tapi sebagian masih bersarang dalam tubuh iblis itu...."

"Pantas,"

Kata Thio Thian Su.

"begitu ia melihat panji naga, cepat-cepat lari terbirit-terbirit. Kalau begitu, dugaanku tidak meleset, betul-betul si iblis sudah terluka !"

Lie Eng Eng hanya anggukkan kepala.

"Nona .."

Thio Thian Su sudah berkata lagi.

"Kukira sampai disini dulu pertemuan kita, aku harus mengintil kembali Kun-see-mo-ong,"

Mulutnya berkata begitu hatinya terasa berat meninggalkan si jelita.

Tapi tugas suhunya harus dilaksanakan.

Thio Thian Su melesat mengintil kearah larinya Kun-see-mo-ong dengan membawa kenangan senyum manis si jelita Pedang Macan Betina.

0)0od^wo0(0 Mari kita ikuti kembali perjalanan si pemuda gondrong.

Setelah si pemuda muntah-muntah kena uap beracun harum pelumer sukma, perutnya dirasakan mual, hingga ia terus muntah-muntah tanpa hentinya.

Melarikan diri menjauhi pengaruh uap harum itu.

Apa sebabnya si pemuda gondrong tidak rubuh terkena serangan uap beracun harum Kun-see-moong Teng Kie Lang ?

Karena selama hidupnya si pemuda gondrong hanya memakan buah-buahan.

Tidak pernah memakan makanan berasap, semua buah buahan dimakannya mentah-mentah, tidak dimasak tidak terkena pengaruhnya asap api.

Karena didalam tubuhnya hanya terdiri dari zatzat buah-buahnya yang tidak mengandung bau asap dari hasil proses pematangan dengan api, maka darah daging si pemuda peka terhadap segala macam asap.

Hingga apapun yang dimakannya dengan melalui pematangan, ia pasti muntah-muntah.

Tegasnya mengharamkan semua makanan, kecuali makanan-makanan yang dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan.

Untuk lebih jelas kejadian itu, akan dipaparkan secara terperinci dibab-bab berikutnya dari cerita ini.

Ilmu apa yang dimiliki si pemuda gondrong misteri itu, siapa gurunya kelak kita bisa menyaksikan bersama-sama.

Sekarang kita ikuti larinya si pemuda.

Waktu dikelenteng rusak ketika tubuh si pemuda gondrong lompat melesat, si monyet hitam yang selama ini menemaninya sudah melesat lebih dulu berlompatan diatas dahan-dahan pohon.

Kun-see mo-ong mendengar suara dahan-dahan pohon bergeseran, segera ia mengejar ke arah terdengarnya suara-suara berisik itu.

Dalam keadaan gelap, hujan deras, Kun-see-mo ong terus mengejar.

Batang-batang pohon yang tampak daun-daunnya bergoyang-goyang dihajarnya sampai tumbang.

Akhirnya hari berganti pagi Kun-see-mo-ong cs kehilangan jejak si pemuda.

Kemana larinya si pemuda gondrong?

Dalam keadaan hujan gelap si pemuda lari membabi buta menghindari bau harum asap beracun Kun-see-mo-ong.

Ternyata arah lari si pemuda dengan arah lari si monyet hitam.

berpencaran Gerakan si pemuda lebih ringan dari si monyet, hingga dalam melarikan diri tidak mengeluarkan sedikit suarapun, sedang larinya si monyet berlompatan diatas dahan-dahan pohon menimbulkan suara kresek-kresek.

Yang juga diikuti oleh beberapa kawanan monyet lainnya.

Disitulah letak kebodohan Kun-see-mo-ong, suara keresek keresek daun-daun pohon tidak terpikir olehnya, kalau gerakan suara-suara itu begitu banyak, hingga ia terus mengejar kearah larinya suara beresekan-beresekan yang ditimbulkan oleh lompatan-lompatan monyet hutan diatas dahan-dahan pohon.

Sedang si pemuda lari kearah lain, ia terus masuk rimba menerobos sana sini, berlompatan diatas dahan-dahan pohon.

Monyet yang dikejar!

Manusia yang lari!

Ketika hujan mereda, hari sudah hampir pagi.

Karena rasa ngantuknya, si pemuda gondrong lompat turun dari atas dahan pohon, berdiri celingukan sebentar.

Mengetahui sudah tidak terdengar lagi suara ribut-ribut Kun see-mo-ong cs, lalu ia duduk bersandar di batang pohon, matanya meram.

Baru saja pemuda memeramkan kedua pasang matanya, tiba-tiba dikejutkan oleh suara riuh!

Tong-Tong ..

tong-tong ..

tong-tong ..

tong-tong ..

tong-tong ....

Matanya terbuka kembali.

Hatinya berpiker.

"Heran, mengapa tidak habis-habisnya keributan didalam dunia ini, mengapa tidak seperti didalam lembah air terjun bersama si monyet merah disana begitu tenteram, tidak pernah terjadi keributankeributan, hai ... ."

Belum lagi pikirannya lenyap, dari jauh bermunculan gumpalan-gumpalan api diudara berputar-putar memencar kian kemari asapnya hitam mengepul keudara.

Mata si pemuda terbelalak melihat pemandangan itu.

Ia perhatikan terus setan apa lagi yang gentayangan dipagi buta.

Terdengar suara teriakan-teriakan;

"Kejar! Awas hati-hati! Macan itu ganas!"

Tong-Tong .. tong-tong .. tong-tong… Si pemuda tidak mengerti arti suara teriakanteriakan, ia tetap duduk menumprah dibawah pohon, pikirnya .

"Kali ini biar apapun yang terjadi aku tak akan lari, ingin kulihat, suara ribut-ribut itu bisa berbuat apa lagi terhadap diriku."

"Hei, Tok Hu, kau lihat kemana larinya macan itu ?"

"Song Beng ! Baru tadi kulihat ia lari ketempat ini, tapi mendadak lenyap, macan itu sungguh besar panjang !"

"Awas kau hati-hati jangan sampai kau diterkamnya."

Teriak lagi orang yang dipanggil Song Beng.

Tong-Tong......

tong-tong.......

tong-tong......

Suara ramai tong tong tidak hentinya obor menyala tampak seperti bola api berkeliaran kian kemari.

Mata si pemuda meram melek menahan ngantuk memperhatikan sinar-sinar api obor berlarian, diiringi suara tong-tong dan teriakan yang ia tidak mengerti maksudnya.

Mata si pemuda masih merem melek, tiba-tiba terdengar samberan angin dari samping kiri, menyerang si pemuda yang masih duduk memperhatikan api-api obor.

Merasa ada samberan angin, tubuh si pemuda melesat mengelakkan datangnya serangan gelap itu.

Buk.........

Terdengar suara tubuh si penyerang ambruk ditanah.

Si pemuda gondrong berdiri menyaksikan penyerang gelap itu.

Tiba-tiba matanya terbuka lebar, rasa kantuknya lenyap.

Timbul rasa kekanak-kanakannya.

Tubuhnya melesat menubruk kearah tubuh si penyerang tadi.

Brukk............

Tubuh si pemuda berhasil menubruk punggung si penyerang, ia duduk diatas punggung itu.

Sepasang kakinya menjepit keras pinggang lawan, sedang kedua tangannya mencengkeram kedua telinga si penyerang.

Terdengar suara berlompatan ditempat itu.

menggerung-gerung, Suara gerungan-gerungan itu terdengar oleh orang-orang yang sedang membawa obor, mereka berlarian, ada yang membawa golok, kentongan, tumbak, kelewang, semua orang-orang itu serabutan menghampiri datangnya suara gerungan-gerungan tadi.

"Hai, binatang sialan, kucari-kucari kesana kemari taunya kau sedang enak-enakan kawin disini..............."

"Hayo lekas serang, lempar tombak-tombak itu awas jangan sampai meleset."

Terdengar suara orang memerintah.

Maka terjadilah hujan tombak kearah tubuh si pemuda.

Clut..............

Tubuh si pemuda melejit keatas, lalu jumpalitan, kemudian berdiri tegak ditengah-tengah kurungan orang-orang itu.

"Haaaaaa.........."

"Ayaaaaa............"

"Awas macan itu jangan sampai lari lagi."

Terdengar suara riuh terkejut.

Rupanya orangorang itu sedang mengejar seekor macan.

Sampai ditempat itu menampak si pemuda yang mengenakan pakaian kulit macan sedang menunggang macan yang mereka sedang kejarkejar, mereka menyangka itu adalah dua ekor macan yang sedang kawin, maka mereka serentak menghujani kearah macan kawin itu dengan tumbak-tumbak mereka.

Ternyata seekor macan yang sedang menunggang macan lainnya bisa melejit ke-udara jumpalitan kemudian berdiri tegap di tanah.

Keruan mereka terkejut tidak kepalang, ternyata apa yang mereka lihat tadi bukanlah dua ekor macan yang sedang kawin, tapi seorang pemuda gondrong berpakaian kulit macan loreng sedang duduk diatas punggung macan dengan memegang menarik-narik kedua kuping macan itu.

Bermainmain ?!?!

Setelah mereka sadar, macan yang tadi ditunggangi si pemuda gondrong berindap-indap berkeliling dalam kurungan mereka, sedang si pemuda sudah berdiri dibawah pohon menyaksikan kelakuan orang-orang itu.

Menyaksikan orang-orang itu ternyata hanya bermaksud untuk membunuh macan.

Dengan melemparkan beberapa batang tumbak lagi kearah macan yang sedang berindap-indap, si pemuda diam tak bergerak.

Ia hanya memperhatikan kelakuan orang-orang kampung itu.

Sang macan yang dapat perlakuan demikian tiba-tiba menggerang keras, ia lompat menerjang salah seorang yang sedang memegang obor, terdengar jeritan tubuh orang itu terjengkang, dadanya mandi darah.

Kembali simacan dihujani tombak-tombak.

"Hayo bunuh macan itu ... ."

"Jangan biarkan ia lari mengganas kampung lagi."

Setelah menubruk seorang yang memegang obor, sang macan berlompatan kian kemari, tiba-tiba matanya tertumbuk pada satu bayangan loreng yang berdiri dimukanya.

Itulah si pemuda gondrong.

Macan menggerang-gerang, terdengar suara gerengan itu sangat bising sekali, begitu keras hingga orang-orang yang melemparkan tombaktombak tadi serabutan mundur.

Obor-obor tampak bergerak mundur.

Kini tampak diarena pertempuran seekor macan dengan seorang anak manusia berpakaian loreng berhadap-berhadapan.

Dengan mengeluarkan suara gerungannya, sang macan dengan kuku-kukunya menerkam dengan ganasnya kearah si pemuda berbaju kulit macan loreng.

Tubuh si pemuda yang diterkam sang macan, lompat keudara, berbarengan dengan itu tangan kanannya digerakkan, bluk, amblas kedalam kepala macan itu, darah berceceran disana.

Si pemuda lompat menghindari amukan sang macan.

Orang-orang kampung yang menyaksikan si pemuda hanya dengan menggunakan kepalan tangannya sudah bisa memukul remuk kepala sang macan, tanpa disadari mereka sudah berteriak-teriak saking heran dan girangnya .

"Haaaaa......"

"Sin-kun-bu-tek....."

"Pukulan dewa....."

Dalam keadaan girang, mereka tidak menyadari maut masih mengancam, sang macan yang terkena pukulan tangan si pemuda tidak lantas mati.

Macan itu mengamuk menubruk membabi buta kearah dimana terdengarnya suara-suara riuh tadi.

Timbul suara jeritan-jeritan mengerikan tubuhtubuh manusia bergeletakan mandi darah.

Kemudian keadaan sunyi senyap.

Udara mulai terang, matahari memancarkan sinar masnya diufuk timur.

Disana menggeletak tubuh-tubuh manusia mandi darah akibat terkaman kuku sang macan yang tajam ganas.

Ditengah-tengah menggeletaknya tubuh-tubuh yang terluka, menggeletak seekor macan loreng, besar tubuh macan sebesar kambing domba, sedang panjangnya sama dengan panjang tubuhtubuh orang yang masih menggeletak luka parah.

Orang-orang kampung sudah berkerumun ditempat itu.

Suasana menjadi ramai hiruk pikuk suara orang membuat komentar atas terjadinya peristiwa pagi itu.

Beberapa orang mengusung tandu mengangkat kawan-kawan mereka yang terluka.

"Tayhiap....."

Tiba-tiba terdengar suara seorang tua berkata.

"Atas bantuan tayhiap, aku atas nama penduduk desa Lip Cun mengucapkan banyak terima kasih. Binatang ini sudah lama mengganas desa kami, kambing lenyap, beberapa anak-anak desa tewas diterkam macan gila ini. Ah, kalau tayhiap sudi mampir kedesa kami, itulah satu penghormatan besar bagi desa kami yang miskin ini, juga terimalah maafku atas kesalahan tangan tadi."

Si pemuda gondrong menyaksikan dan mendengar apa yang diucapkan orang tua itu ia tidak mengerti, tapi melihat gerak-gerik serta mimik wajah orang tua, dalam hatinya timbul suatu perasaan orang ini tidak sama dengan orangorang yang pernah ia jumpai.

Tidak mengejarngejar, tidak mengeroyok.

Maka menghadapi orang tua ini si pemuda tersenyum ramai diwajahnya.

Menampak si pemuda tersenyum-senyum ramai, orang tua itu jadi girang bukan kepalang, sangkanya si pemuda sudah melulusi permintaannya, ia lalu berkata kepada salah seorang diantara orang yang berkerumun disitu.

"Hei, A Pong, angkat bangkai macan kedalam kampung !"

"Baik,"

Jawab orang yang dipanggil A Pong, menjalankan perintah.

"Tayhiap,"

Berkata lagi orang tua tadi.

"Mari silahkan ikut aku."

Si pemuda yang tidak mengerti apa arti katakata orang tua itu, ia hanya mengikuti di belakang orang tua, dengan diiringi berpuluh-puluh penduduk desa memasuki perkampungan mereka.

Didalam desa, si orang tua mengajak si pemuda masuk kedalam sebuah rumah.

Memasuki rumah, disana mereka disambut oleh beberapa orang laki-laki dan perempuan, mengajak si pemuda memasuki ruangan tengah.

Dalam ruang tengah yang merupakan ruang pertemuan terdapat satu meja besar persegi panjang.

Orang tua mempersilahkan si pemuda duduk dikursi disamping kanan meja, sedang ia sendiri duduk disudut kanan meja, orang laki-laki yang menyambutnya segera mengambil kursi masingmasing duduk mengelilingi meja.

Beberapa orang pelayan datang menenteng senampan makanan dan minuman diletakkan diatas meja.

"Tayhiap, mari kita sarapan pagi,"

Berkata si orang tua.

Didalam ruangan perjamuan makan pagi, mereka makan minum tanpa mengucapkan sepatah katapun, ini disebabkan menyaksikan sikap si bocah yang hanya diam dan tersenyumsenyum saja, sedang makanan yang disajikan diatas meja, hanyalah buah-buahan yang dimakan si pemuda, selain itu ia tidak makan barang lainnya.

Ataupun minum-minuman yang tersedia.

Setelah selesai makan pagi, salah seorang setengah umur yang duduk paling depan diujung meja berkata.

"Siauw-ya, mungkin tayhiap perlu istirahat."

Orang tua itu ternyata bernama Siauw-ya yang menjadi kepala desa kampung Lip-cun, mendengar ucapan orang setengah umur tadi ia hanya menganggukkan kepala. Baru berkata.

"Tayhiap, karena kami masih banyak pekerjaan sehari-hari yang harus diselesaikan, maka sambil istirahat, tayhiap silahkan untuk menikmati makananmakanan yang tersedia."

Setelah berkata orang tua itu meninggalkan meja diikuti oleh beberapa orang laki-laki lainnya.

Si pemuda menyaksikan keramah tamahan orang tua itu, ia hanya tersenyum senyum.

Seorang pelayan wanita datang menghampiri.

Katanya.

"Kongcu, kalau perlu apa-apa perintahkan saja!"

Si pemuda menoleh kearah pelayan perempuan yang tadi bicara.

Pelayan itu berusia kira-kira tujuh belasan tahun mukanya bulat, badannya gempal berisi, meskipun tidak bisa dikatakan cantik, tapi cukup menarik hati.

Menampak wajah gadis pelayan itu, hati si pemuda berdebaran.

Teringat pada gadis yang pernah dilalapnya dikelenteng rusak.

Suatu perasaan yang tidak dapat dilupakannya, kecantikan serta potongan tubuh gadis itu selalu mengganggu benaknya.

Ingatannya tidak pernah lepas dari wajah manis gadis itu.

Meskipun dihadapannya berdiri seorang gadis pelayan yang menarik hati, tapi ingatan si pemuda selalu terkenang kepada Lie Eng Eng yang pernah menimbulkan rangsang birahinya.

Perasaan itu bergejolak dalam benaknya, terbenam dalam hati sanubarinya.

Tapi ia tidak bisa mengutarakan arti dalam kata-kata.

Si pelayan wanita yang menyaksikan si pemuda hanya bengong-bengong seperti orang linglung, ia menegor lagi.

"Kongcu, adakah yang salah ?"

Tapi si pemuda masih tetap dengan sikapnya seperti orang linglung. Tiba-tiba..........

"Haaaa .... kongcu ... kongcu ..."

Si pelayan wanita berteriak-teriak, ia cepat lari keluar.

"Siauw-ya,.... Siauw-ya..."

Mendengar teriakan gadis pelayan, orang orang berlarian berkerumun dimuka rumah, ingin mengetahui apa yang telah terjadi. "Ada apa kau teriak-teriak?"

Tanya Siauw-ya. Dengan tubuh gemetaran si pelayan berkata .

"Siauw-ya .... kongcu ... kongcu......"

Menyaksikan sikap pelayan itu yang gemetaran, orang tua Siauw-ya melangkah masuk kedalam ruangan, diikuti oleh beberapa orang laki-laki. Didalam ruangan itu, sudah tak tampak lagi bayangan si pemuda.

"Leng-jie, kemana tayhiap?"

Tanya Siauw-ya.

"Entahlah!"

Jawab gadis pelayan yang dipanggil Leng-jie.

"Ketika hamba katakan padanya, kalau perlu apa-apa perintahkan saja pada hamba, Kongcu itu diam, setelah memperhatikan hamba ia terbengong-bengong."

"Hm.......kemudian?"

Tanya lagi Siauw-ya.

"Menyaksikan ia terlongong-longong,"

Kata Leng jie.

"hamba bertanya lagi, apakah hamba telah berbuat salah ? Tapi ia tetap terlongong-longong, kemudian entah bagaimana, tiba-tiba ia lenyap, hanya terasa samberan angin berkesiur melalui jendela."

"Haaa................"

Terdengar suara orang riuh didalam ruangan itu. Siauw-ya berkata lagi.

"Sudahlah kalian urus pekerjaan masing-masing, Tayhiap aneh itu memang memiliki kelakuan yang luar biasa kukoay sulit dimengerti." Maka orang-orang desa itupun dengan perasaan terheran-heran mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Si pemuda dengan benak dipenuhi keinginan bertemu kembali dengan si gadis yang ia temukan dikelenteng rusak melesat keluar melalui jendela meninggalkan kampung Lip-cun tanpa pamit. Berlarian sehari penuh akhirnya ia kembali kelenteng rusak didalam rimba. Keadaan kelenteng ternyata sudah rubuh, disana tidak terdapat bayangan seorangpun. Si pemuda membongkar reruntuhan kelenteng tapi tak menemukan apa yang ia cari. Burung-burung pemakan bangkai yang sedang asyik mematok-matokkan paruhnya dibangkai anak buah si Raja Penyamun Bo-siang beterbangan keudara, dikejutkan suara gedabruk kedubrak dikelenteng rusak. Apa yang dicari tidak ditemukan didalam timbunan kelenteng, si pemuda melesat pergi meninggalkan tempat itu. Mengembara kembali seorang diri dengan membawa kenangan yang tidak bisa dilupakan untuk seumur hidupnya. Kenangan wajah cantik si jelita Pedang Macan Betina Lie Eng Eng. Waktu berjalan sangat cepat, sebulan sudah berlalu, pada suatu malam bulan purnama, ia tiba disatu puncak lereng pegunungan yang sunyi sepi. Diatas puncak lereng pegunungan itu tampak dari kejauhan samar-samar satu bangunan besar. Si pemuda melesatkan kakinya kearah bangunan itu, ternyata bangunan itu adalah satu bangunan wihara kuno Tam-hoa-ko-sie. Dengan gerakan ringan, ia lompat keatas genteng wihara, disana membuka satu genteng, ia mengintip kebawah, sepasang matanya memandang kedalam ruangan itu, dengan bantuan sinar sang rembulan yang menembusi celah-celah genteng yang pecah, tampak dalam ruangan itu berdiri satu patung Sin Kham, patung tersebut menghadap utara, patung itu kelihatan seperti hidup, juga seperti mati, tampak hidup karena raut-raut ukiran patung sedemikian bagusnya hampir-hampir seperti bernyawa. Tampak mati, karena beberapa bagian patung itu terdapat gompal-gompal rusak, dimakan hujan dan angin. Karena dalam ruangan itu tak tampak sesuatu yang mencurigakan. Si pemuda melompat kearah satu wuwungan lain yang merupakan ruangan kedua dari berhala kuno itu. Ternyata ruangan itu merupakan satu ruangan Thian-ong-thian. Didalam ruangan itu juga terdapat sebuah patung, hanya wajah patung itu kelihatan tidak sedap dipandang mata, didalam Cim-chee tampak banyak sekali kotoran-kotoran, rumput-rumput, tai burung dan tai kambing bertumpuk-tumpuk. Keadaan ruangan itu sangat kotor. Si pemuda melompat kembali kelain wuwungan, ia membuka lagi satu genteng, dari sana si pemuda dapat melihat satu lilin besar masih menyala, keadaan ruangan itu berbeda dengan ruangan yang pernah ia lihat tadi, keadaan didalam ruangan itu agak bersih. Pintu ruangan tertutup rapat, samar-samar dari cahaya lilin yang menyala tampak beberapa bayangan orang sedang mundar mandir entah apa yang sedang mereka kerjakan. Diruangan sebelah utara berhala itu terdengar ramai suara orang bicara, si pemuda segera melesat kearah ruangan itu, ternyata itulah ruangan Tay-tian, sedang disebelah muka terdapat satu ruangan lagi yang merupakan ruangan Tayhiong-po-tian. Dikedua ruangan tersebut sangat ramai dari pada ruangan-ruangan lainnya. Keadaan ruangan itu serba baru dan bersih. Dibagian luar pintu sebelah timur dan barat terdapat beberapa puluh rumah-rumah gubuk. Suasana dalam rumah-rumah gubuk itu sangat berisik sekali. Dalam keadaan terang bulan didalam wihara kuno diatas lereng pegunungan terdengar suara hiruk-pikuk kesibukan-kesibukan orang orang bekerja, sungguh suatu keanehan yang jarang terjadi. Diatas lereng puncak gunung yang sepi sunyi didalam berhala kuno Tam-hoa-ko-sie yang telah puluhan tahun tidak pernah dikunjungi orang, kini mendadak terdengar suara-suara kesibukan! Jika ada orang yang mendengar suara didalam wihara yang sudah tidak pernah dikunjungi orang, pada tengah malam mendadak menjadi ramai, bulu-bulu roma orang yang mendengar itu akan menggelinding bangun saking takutnya. Mereka akan lari pontang-panting karena takut dalam wihara itu hidup sebangsa siluman atau setan gentayangan. Tapi bagi si pemuda yang tidak kenal apa artinya siang dan malam, baginya hal itu merupakan suatu yang menggirangkan untuk dilihat, lebihlebih setelah mendengar ada suara orang bicara. Matanya jelilatan mencari-cari seseorang yang selama ini ia rindukan siang dan malam. Dengan masih mendekam diatas genteng; si pemuda dapat melihat satu jalanan yang menghubungkan ruangan ketiga dan keempat disana tampak bersimpang-siur orang-orang lalu lalang. Orang-orang itu berpakaian aneh, mereka rata-rata mengenakan pakaian serba hitam dengan batok kepala masing-masing diikat oleh kain berwarna hitam pula. Dipinggang mereka tampak tergantung macam-macam jenis senjata, ada yang membawa golok, pedang, gendewa, pecut dan lainlainnya lagi. Si pemuda memperhatikan orang-orang itu dengan perasaan heran, entah apa yang mereka akan lakukan ditempat ini? Melompat kearah wuwungan ruangan ke empat yang merupakan ruangan terbesar dari berhala itu. Dihalaman belakang ruangan itu terdapat beberapa tenda beraneka warna. Didalam tenda, tampak kelap kelip api penerangan. Diserambi ruangan Tay-hiong-po-tian tampak tergantung 8 buah tengloleng persegi enam, begitu pula diruangan Tay-tian terdapat penerangan lilinlilin besar yang menyala. Tampak suasana disitu terang benderang. Ditengah-tengah ruangan terdapat dua belas meja perjamuan. Beberapa orang pelayan tampak sibuk di dapur. Sedang sepuluh orang tukang masak repot memasak makanan dan sayur-sayuran. Diatas dapur yang menyala terdapat dua kuali besar yang dalamnya kira-kira delapan kaki, lebarnya sekitar sepuluh kaki lebih, didalam kuali terdapat nasi yang mengepul. Didalam ruangan dapur itu terdapat seorang gemuk pendek berkepala gundul, berjalan mundar mandir memperhatikan kesibukan kesibukan orang-orang yang sedang masak; itulah si mandor dapur. Salah seorang tukang masak nyeletuk.

"Hei, jangan mondar mandir saja, coba tolong angkat kuali nasi ini!"

Si gemuk pendek mendelikkan mata, katanya .

"Hemm, kalian selalu mengganggu ketenanganku, masakan mengangkat kuali itu saja masih membutuhkan tenagaku, aku si Lo Pao mendapat tugas memandori kerjaan kalian, bukan disuruh jadi tukang angkat kuali."

Mendadak satu pelayan laki-laki memasuki ruangan dapur ia berkata . berjalan "Pauw-lo soe ! Tay-ong minta dibuatkan lebih banyak masakan Sam-kee-tiang-sie-bian dan Houw-hoen-soe-heng-jok."

Tay-ong berarti raja besar, boleh juga diartikan sebagai majikan atau raja gunung. "Aku sudah tahu !"

Berkata Lo Pao menganggukkan kepala.

"Kedua macam makanan itu sudah siap. Tinggal menunggu perintah Tayong, kapan harus dihidangkan ?"

Pelayan tadi berkata lagi .

"Tay-ong pesan makanan-makanan itu supaya disajikan pada waktu Hay-sie (antara jam 10-11 malam) karena waktu itulah perjamuan akan dimulai, dan sekarang sudah menunjukkan waktu Sut-sie (antara jam 8-9 malam) maka kalian siap-siaplah, begitu mendengar suara gong dipukul diruangan Tay-tian, kalian harus segera membawakan masakan-masakan itu."

"Ya, aku sudah mengerti semua!"

Kata lagi si mandor Lo Pao.

Beberapa saat kemudian waktu Hay sie tiba, dari ruangan Tay-tian, terdengar suara.

Gong........

goonggg.....gooonngg.........berturut turut sampai tiga kali.

Para pelayan mendengar suara gong dipukul tiga kali, tampak mereka sibuk.

Lo Pao segera memerintahkan tukang masak untuk menghangati sayur-sayuran.

Diatas meja perjamuan diruangan sudah terhidang panggang babi hutan.

Tay-tian Si pemuda yang mengintip dari lubang celahcelah genteng yang dibukanya, dapat melihat jelas keadaan dalam ruangan itu.

Disitulah sudah hadir banyak orang.

Tampang-tampang mereka bengis menyeramkan, bermata belo-belo dan memiliki alis yang tebal.

Diatasnya kursi kebesaran duduk seorang tua yang usianya kurang lebih 50 tahun, bentuk mukanya persegi panjang, berkulit hitam berjenggot panjang, mengenakan pakaian Twahong-toan-hoa-kiong-leng, kepalanya mengenakan topi Liok-leng-eng-hiong, sedang pakaian dalamnya berwarna merah bersulam kembang-kembang kecil, dihiasi kancing-kancing mengkilap.

Orang itu menjulurkan tangannya yang berwarna hitam berbulu, otot-ototnya tampak menonjol jelas menunjukkan betapa orang itu memiliki kekuatan yang sangat besar.

Dengan mengangkat cawan araknya ia memulai membuka perjamuan, mempersilahkan tamu-tamunya makan minum.

Selagi orang-orang makan minum, tampak berdiri seorang protokol berusia kurang lebih -lebih 5 tahun, orang itu mengetok meja beberapa kali, lalu katanya .

"Hari ini adalah hari ulang tahun Tay-ong, maka saudara-saudara seperjuangan, mari kita bersamasama memberikan secawan arak sebagai ucapan selamat panjang umur."

Mendengar ucapan sang protokol tadi semua orang pada berdiri, mereka mengangkat cawan arak masing-masing, dengan berkata .

"Semoga Tay-ong panjang umur untuk melanjutkan kepemimpinan kami kaum seperjuangan! Selanjutnya kami menunggu perintah Tay-ong!" Suara itu menggema keras didalam ruangan seperti guntur ditengah malam. Orang yang dipanggil Tay-ong dengan wajah berseri-seri bangkit berdiri dan berkata .

"Saudarasaudara, ada pepatah mengatakan berat sama dipikul ringan sama dijinjing, ada kesenangan kita cicipi bersama ada kesusahan kita pikul ramerame."

"Hidup Tay-ong kita !"

Terdengar suara orang berteriak.

Maka terdengarlah suara-suara cawan beradu disusul dengan suara beradunya piring mangkok tersentuh sendok-sendok.

Dalam suasana makan minum itu tiba-tiba mendadak berdiri seseorang lalu berkata .

"Hamba Tiauw Jie Kun bersama Pang Liong Ma, hari ini datang kepesanggrahan besar memberi selamat panjang umur pada Tay-ong yang mulia, juga ada membawa bingkisan yang tidak berarti. Selain itu hamba juga mempunyai lain urusan yang mohon bantuan Tay-ong untuk turun tangan guna membalas dendam sakit hati hamba."

Sang Tay-ong tampak mengurut-urut jenggotnya lalu berkata .

"Hm, kau katakan saja siapa yang telah begitu berani membentur anak buah Gokong-nia."

Ternyata orang itu adalah kepala Go-kong-nia ! Tiauw Jie Kun berkata lagi .

"Tay ong yang mulia, pada beberapa bulan berselang, markas Hek-khie-hwee di-gunung Ouw-pok-san dibakar ludes oleh itu perempuan sundel yang menamakan dirinya Bo tay-tiong-kiam Lie Eng Eng, ia juga sudah membunuh mati Kie-heng, saudara angkat hamba dibawah pedang pusakanya, beruntung hamba bersama saudara Pang Liong Ma berhasil lari meloloskan diri."

Mendengar penuturan Tiauw Jie Kun, Tay-ong hanya menggumam .

"Ayaaa .... ya ...."

Setelah itu ia menggerang keras, hingga ruangan perjamuan itu tergetar, abu-abu diatas genteng berguguran, beberapa genteng jatuh, sedang si pemuda gondrong yang masih mendekam mengintip diatas genteng juga terkejut mendengar suara gerangan itu.

"Hmmm, markas perkumpulan Hek-khie hwee dibikin musnah. Apabila aku tidak bisa mencincang perempuan sundel itu, aku bersumpah tidak akan jadi biang lagi."

Berkata Tay-ong gemes.

Para hadirin yang ternyata mereka adalah ketuaketua berandal dari berbagai pelosok gunung, ketika mendengar penuturan Tiauw Jie Kun tentang dihancurkannya markas berandal Hekkhie-hwee digunung ouw-pok-san oleh si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng, wajah-wajah mereka berubah, hati mereka tergetar.

Tak diduganya Tiauw Jie Kun dan Pang Liong Ma yang memiliki kepandaian tinggi, lebih-lebih ilmu goloknya yang lihay, ternyata dengan mudah sudah dapat dibuat kucar kacir oleh seorang wanita yang baru menanjak namanya.

"Tay-ong !"

Terdengar salah satu kepala berandal bangsa Biauw berkata.

"Apakah asal usul Bo-taytiong-kiam sudah diketahui ?"

"Hm......."

Tay-ong bergumam.

"Menurut hemat hamba,"

Berkata lagi si kepala berandal bangsa Biauw itu.

"Sebelum kita bertindak, sebaiknya menyelidiki lebih dulu siapaapa keluarga, kawan, anak famili perempuan sial itu. Setelah itu baru kita membasmi mereka semua, jangan dibiarkan seorangpun bisa hidup, termasuk binatang-binatang peliharaannya harus dibunuh semua sampai keakar-akarnya."

Tay-ong hanya mengangguk-angguk kepala.

"Tay-ong ..."

Tiba-tiba Pang Liong Ma berkata.

"Menurut penuturan beberapa anak buah si Raja Penyamun Bo-siang, ternyata mereka juga sudah dibasmi oleh si perempuan sial dangkalan itu."

"Haaayaaaa . ."

Terdengar ruangan pertemuan menjadi riuh.

"Tenang-tenang ..."

Berteriak Tay-ong.

"Kalian, Tiauw Jie Kun dan Pang Liong Ma ! Secepatnya segera menyelidiki lebih dulu identitas perempuan sundel itu. Begitu kalian tahu jelas orang-orang yang berdekatan dengan perempuan sundel itu, segera memberi laporan."

"Tay ong."

Tiba-tiba terdengar suara orang berkata.

"Untuk memudahkan penyelidikan saudara Tiauw dan Pang, apakah tidak lebih baik kita rebut dulu kelenteng Liong ong-bio diluar kota Cee lam-hu?" "Heng..."

Tay-ong menggumam.

"Bagus..., begitu juga bagus guna menyebarkan jaringan-jaringan kegiatan kita, tugas ini kuserahkan padamu, Sinpiauw Lok-kun."

Orang yang bicara tadi ternyata adalah si Malaikat piauw, Sin-piauw Lok Kun, ia berkata lagi.

"Sesudah kelenteng Liong-ong-bio kita rebut, lalu kita menggunakan pakaian seragam paderi, dengan demikian lebih memudahkan usaha kita tanpa dicurigai oleh siapapun."

Mendengar rencana si Malaikat piauw Sin piauw Lok Kun, para hadirin bersorak sorai.

Mereka tahu benar, siapa si Malaikat piauw Sin-piauw Lok Kun, yang sudah terkenal keganasan dan kegagahannya, terutama ilmu melempar piauw beracun yang sangat lihay, bila ia lepaskan piauw beracunnya, belum ada seorangpun yang dapat mengelakkan dari kematian.

Si Malaikat piauw Sin-piauw Lok Kun juga pandai ilmu pedang, selama 10 tahun malang melintang menjagoi dunia Kang ouw dan Liok-lim, belum pernah menemukan tandingan.

Menganggap dirinya sudah tidak ada tandingannya, si Malaikat piauw Sin-piauw Lok Kun menjadi keras kepala, ia suka berbuat sewenang-wenang, tidak kenal apa artinya peri kemanusiaan, merampok, memperkosa, dianggapnya didunia ini sudah tidak ada undangundang yang berlaku.

Tidak ada kekuasaan pemerintah, yang ada hanya tangan maut si Malaikat piauw Sin-piauw Lok Kun.

0)0od^wo0(0 Pada lima tahun yang lalu, ketika Sin piauw Lok Kun malang melintang di telaga Pho-yang-ouw, matanya menampak satu pemandangan di tengah telaga.

Itulah satu perahu pesiar yang terhias indah.

Menyaksikan keadaan perahu pesiar yang luar biasa mewahnya, si Malaikat piauw Sin-piauw Lok Kun, timbul hawa kemaruknya untuk merampok perahu itu.

Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya ia melompat menotolkan kakinya diatas perahu yang sedang simpang siur di telaga dengan tipu capung menotol air, akhirnya ia berhasil tiba didalam perahu mewah berhias indah.

Didalam perahu yang mewah itu, beberapa orang berpakaian parlente.

terdapat Kehadiran Sin-piauw Lok Kun disambut dengan keramah-tamahan oleh salah seorang berpakaian parlente, katanya ;

"Aaa ... kongcu ada keperluan apakah hingga sampai keperahu kami ?"

"Hmmm,"

Sin-piauw Lok Kun dengan gaya mautnya mendengus memandang enteng orang berpakaian parlente tadi.

"Kalian orang-orang darimana banyak tingkah ditelaga Pho-yang-ouw, sampai-sampai tak mengenali nama besar Malaikat piauw!"

"Oh, rupanya si Malaikat piauw Sin-piauw Lok Kun yang datang,"

Terdengar seseorang bicara dari dalam kamar perahu.

"Siong Song, suruh ia masuk, aku ingin lihat bagaimana bentuknya piauw-piauw karatan itu." Mendengar suara ejekan dari dalam kamar, si Malaikat piauw Sin-piauw Lok Kun naik darah, ia sentilkan jari tangannya, dari sana meluncur sinar hitam berkeredepan melesat masuk kejendela kamar itu. Berbarengan dengan melesatnya sinar-sinar hitam piauw si Malaikat piauw, dari dalam kamar melesat keluar cahaya kuning memapaki bayangan hitam yang dilesatkan si Malaikat piauw Sin-piauw Lok Lun. Terjadi benturan ditengah udara. Hasil benturan itu, sinar-sinar hitam yang dilepaskan si Malaikat piauw lenyap seketika, ditelan bayangan kuning yang menyambar kearah datangnya sinar hitam tadi, sinar kuning setelah memunahkan sinar hitam si malaikat piauw, berputaran sejenak diudara, baru jatuh dimuka si Malaikat piauw. Menyaksikan serangan piauw beracunnya yang selama ini dibanggakannya tidak ada tandingan, ternyata sudah bisa dipunahkan oleh bayangan kuning tadi, si malaikat piauw Sin-piauw Lok Kun kaget tidak terkira. Ia mundur setindak, matanya ditujukan kebawah dek perahu.

"Haaaa........."

Semangat si Malaikat piauw Sin-piauw Lok Kun terbang seketika.

Ternyata yang sudah memunahkan serangan piauw beracunnya adalah tiga biji kue mangkok.

Menyadari dirinya menghadapi tokoh luar biasa timbul pikiran pengecutnya simalaikat piauw, tubuhnya melesat kabur meninggalkan perahu mewah itu.

Tapi gerakan si malaikat piauw terlambat, belum lagi berhasil lompat, tubuhnya sudah ambruk ditanah tanpa ia sendiri mengetahui apa sebabnya.

Gedebuk .....

Tubuh si Malaikat piauw ambruk di dek perahu.

"Hm, malaikat piauw yang selama ini digembar gemborkan kehebatannya, ternyata bernyali tikus,"

Terdengar suara dari dalam kamar perahu. Diiringi suara tertawa cekikikan wanita.

"Siong Song, bawa ia masuk !"

Perintah orang didalam kamar perahu kepada orang yang berpakaian parlente diluar kamar.

Siong Song menghampiri si Malaikat Piauw Sinpiauw Lok Kun yang masih duduk numprah.

Ia menotok beberapa jalan darah ditubuh Sin-piauw Lok Kun, baru si Malaikat piauw bisa bergerak bangkit berdiri.

"Sin-piauw ! Harap ikut aku masuk kedalam !"

Kata orang berpakaian parlente Siong Song masih dengan suara lemah lembut.

Sin-piauw Lok-kun mati kutu, ia menuruti ajakan Siong Song, berjalan masuk kedalam kamar perahu.

Didalam kamar perahu duduk seorang tua berjenggot putih mengenakan pakaian berkembang kecil melingkar dileher Matanya bersinar terang.

dan lengan bajunya.

Dikiri kanan orang tua itu duduk dua orang wanita cantik berbaju merah.

"Sin-piauw, duduklah,"

Kata orang tua berjenggot.

"Sudah lama kudengar nama si Malaikat piauw menggetarkan dunia Liok Lim....."

"Hei, kambing tua......kau tidak perlu banyak komentar,"

Berkata Sin-piauw Lok Kun sengit.

"Seorang laki-laki lebih suka dibunuh dari pada dihina."

"Hi, hih haaa......"

Tertawa orang tua berjenggot.

"Bukan maksudku menghina, setelah mendengar bahwa kepandaianmu yang hebat serta kegagahanmu yang selama ini ngacak-ngacak dunia Kang-ouw, aku tertarik, hm, aku membutuhkan beberapa orang gagah seperti kau."

Mulai saat itulah Sin-piauw Lok-kun menjadi anggota kehormatan Go-kong-nia.

Ternyata orang tua didalam perahu itu adalah si Tay-ong, kepala dari kepala-kepala berandal!

Para pemimpin berandal Raja Gunung yang menyaksikan Sin piauw Lok Kun sudah buka suara untuk membasmi semua keturunan si Pedang Macan Betina, mereka sangat girang.

Juga memuji atas kecerdikan si Malaikat Piauw Sinpiauw Lok Kun.

Perjamuan diatas lereng pegunungan dalam berhala kuno Tam-hoa-ko-sie dilangsungkan sampai pagi hari, mereka makan minum dengan riang gembira, suntuk.

bermabok-mabokan semalam Pada waktu kentrongan dipukul empat kali perjamuan ditutup.

Kepala-kepala berandal Raja Gunung pulang kegunung masing-masing.

Tay-ong dengan diiringi lima orang berpakaian hitam berbadan tegap, berjalan menuruni lereng pegunungan.

Dibawah lereng pegunungan, disana terdapat berderet bangunan rumah yang merupakan satu perkampungan.

Perkampungan itulah markas besar berandal Go-kong-nia, keadaan perkampungan itu tampak begitu aman dan tenteram, para pemburu yang kemalaman sering menginap dalam perkampungan itu tanpa mendapat gangguan dari para berandal Go kong nia, bahkan mereka mendapat pelayanan yang baik dari orang Go-kong-nia, hingga orang tidak akan menyangka bahwa perkampungan itu merupakan markas besar dari berandal-berandal Go-kong-nia.

Si pemuda gondrong menyaksikan orang-orang berpakaian serba hitam sudah pada berjalan keluar ruangan dengan langkah-langkah kaki sempoyongan menuruni lereng pegunungan, matanya jelilatan, pikirannya bekerja.

Selama ini ia selalu mengenakan pakaian kulit macan, setelah beberapa kali bertemu dengan orang-orang yang dijumpai, ternyata tidak satupun dari mereka yang mengenakan pakaian seperti apa yang kini ia pakai.

Begitu melihat orang-orang dalam ruangan pertemuan mengenakan pakaian ringkas hitam, dengan kepala digubet oleh kain hitam pula, timbul rasa keinginannya untuk turut menggunakan pakaian itu.

Tubuh si pemuda melesat turun, menyambar salah seorang yang berjalan paling belakang.

Orang yang disambar oleh si pemuda masih dalam keadaan mabok.

Terasa tubuhnya tiba-tiba melayang ditenteng, ia hanya tertawa-tawa.

Sampai disemak belukar, tubuh orang itu dilempar ketanah, bukkk.....

terdengar suara mendebuk orang yang terbanting, kontan ia pingsan.

Pakaiannya serta gubetan hitam orang itu dilucuti, kemudian dipakainya ketubuh sendiri yang ternyata ukurannya pas, hanya agak longgar sedikit.

Setelah mana ia lalu melesat berjalan kembali kearah wihara kuno, lompat keatas genteng, diruang perjamuan masih terdengar suara orang bicara.

"Sin-piauw,"

Terdengar suara orang itu.

"Sebaiknya kita istirahat dulu, nanti pada tengah hari baru kita melakukan perjalanan ke Cee-lamhu, kukira lusa tengah hari kita bisa tiba disana."

"Begitu juga baik,"

Kata Sin-piauw.

"Hanya kukira bilamana saudara Tiauw Jie Kun dan saudara Pang Liong Ma setuju kita ambil jalan arah Sian-see, dari Sian-see ke Shoa-tang lalu ke propinsi Ouw-pak perjalanan lebih cepat setengah hari." Setelah berunding, mereka berjalan keluar menuruni bukit Go-kong-nia. Istirahat di pesanggrahan dibawah bukit diatas lamping gunung. Menyaksikan mereka sudah meninggalkan ruang berhala, si pemuda yang sudah mengenakan pakaian hitam melompat turun memasuki ruangan pertemuan. Didalam ruangan pertemuan, diatas meja-meja masih berserakan piring mangkok, tulang-tulang, sisa nasi, dan buah-buahan. Menampak masih terdapat buah-buahan, perut si pemuda keruyukan, tangannya dijulurkan mengambil sebuah, lalu dimakan, tidak tahu buah apa namanya. Setelah menangsal perutnya dengan beberapa buah-buahan, si pemuda melesat menuruni lereng pegunungan, meninggalkan berhaIa Tam-hoa-kosie yang dijadikan balai pertemuan para berandal raja gunung Go-kong-nia, berlari sampai di bawah lereng gunung diatas tebing terdapat sederetan rumah-rumah, juga terdapat beberapa rumah berloteng. Disebelah utara tampak bangunan rumah berloteng tingkat tiga, juga mempunyai menara yang bertingkat tujuh, disebelah selatan bangunan rumah itu terdapat satu pintu besar. Dipinggir tebing terdapat satu jalan kecil yang menuju kejurusan barat. Si pemuda berjalan mengikuti jalan kecil kejurusan barat, ternyata jalan itu menuju kebagian belakang bangunan loteng tadi. Dibelakang bangunan rumah berloteng tadi juga tampak sederetan bangunan-bangunan rumah pendek-pendek yang mengelilingi belakang bangunan rumah berloteng itu. Dengan menggunakan keringanan tubuhnya, si pemuda meloncat naik keatas genteng rumah berloteng, berjalan beberapa langkah matanya memandang kebawah, lalu ia melompat turun, berjalan dijalan lorong kecil, akhirnya memasuki sebuah kamar bersih yang terhias indah. Baru saja ia memasuki kamar itu, diluar kamar terdengar suara Iangkah-Iangkah kaki orang mendatangi. Si pemuda jelalatan mencari tempat sembunyi, lalu ia lompat keatas wuwungan tia, ia bersembunyi di sana. Tak lama masuk dua orang, seorang wanita muda berparas cantik berusia kirakira -kira 0 tahun, mengenakan pakaian biru muda berenda, sedang seorang lagi adalah seorang laki-laki tinggi besar berwajah tampan berusia kira-kira tiga puluhan tahun, dengan mengenakan jubah panjang. Orang laki-laki yang mengenakan jubah panjang terdengar berkata .

"Baiklah ! Kau sebenarnya menduduki kedudukan tinggi didalam Go-kongnia, sebagai isteri mudanya Ceecu. Seharusnya aku menghormatimu, meskipun bagaimana toch aku hanya orang berkedudukan rendah, maka tidak berani berlaku kurang hormat, lebih-lebih melakukan perbuatan yang tidak senonoh. Bila sampai diketahui oleh Cee-cu apakah jiwaku masih bisa dipertahankan, terus terang saja, meskipun aku tumbuh dua kepala lagi, juga aku bukan tandingan Cee-cu, pasti kepalaku akan menggelinding ditanah, apakah kau tidak bisa mengurungkan niatmu itu?"

Cee-cu berarti kepala pesanggerahan!

Yang dimaksud dengan Cee-cu adalah Tay-ong Go-kong-nia yang bernama Cie Tay Peng.

Si orang tinggi besar berjubah panjang, ternyata sangat ketakutan menghadapi sikap isteri mudanya Tay-ong yang histeries, tapi perempuan itu tetap menarik-narik laki-laki tadi diajaknya naik keatas tempat tidur.

Orang laki-laki tadi masih tetap meratap-ratap mohon diberi kebebasan, tapi si wanita isteri Tayong dengan sepasang alisnya yang lentik dikerutkan, ia mengancam.

"Hm, kalau kau berani menolak kemauanku akan kuadukan pada Tay-ong yang kau telah berani kurang ajar mengganggu diriku......"

Si lelaki tinggi besar berjubah panjang mendengar ancaman itu, wajahnya berubah pucat lalu ia berkata.

"Baiklah, thay-thay yang baik hati, aku akan menurut, aku menurut, tapi sekarang masih pagi, tidak bisa berbuat begitu, apakah tidak bisa kita menunggu sampai nanti malam?"

Tapi si bini muda Tay-ong yang cantik, darah histeriesnya sudah naik ke otak, nafsu birahinya sudah berkobar-kobar, mana bisa menunggu lagi sampai malam tiba, maka cepat-cepat ia berkata .

"Tolol! Tay-ong pagi ini sedang tidur, ia semalam suntuk berpesta pora, inilah kesempatan baik ! Lebih-lebih cuaca pagi ini begitu sejuk bukankah menambah kenikmatan? Mau tunggu apa lagi? Kau juga tidak usah kuatir, ditempat ini tidak ada orang lain, meskipun ada orang, mereka semua adalah orang-orangku, tidak berani masuk kekamar ini, juga tidak akan membuka rahasia."

Mendengar ucapan itu, si orang tinggi besar berjubah panjang berkata .

"Baiklah, tapi kau harus tutup pintu kamar dulu, baru kita mulai......!"

Si pemuda gondrong yang mengintip dari atas wuwungan tia, kini sudah bisa menyaksikan perempuan itu dengan jari-jari tangan yang halus mulus membukai jubah panjang laki-laki tinggi besar, ternyata si laki-laki itu juga sudah terbangun birahinya, tangannya segera membukai pakaian si istri muda Tay-ong, lalu meraba-raba bagian-bagian yang menarik, akhirnya mereka telanjang bulat bergulingan diatas tempat tidur, napas-napas mereka berdengusan seakan sedang melakukan pertempuran mati-matian.

"Hmmm, ah, ya .... kau hebat... ."

Terdengar rintih kenikmatan si bini muda Tay-ong.

"Kau tidak seperti Tay-ong, lemah tidak bersemangat....."

Dialas wuwungan tia, si pemuda yang menyaksikan adegan semaksiat itu, matanya jelilatan, tubuhnya juga dirasakan terpengaruh atas pemandangan yang ia saksikan, akhirnya ia tidak bisa lama-lama untuk menunggui berakhirnya permainan seks gelap yang dilakukan oleh bini muda si kepala berandal Raja-raja Gunung yang histeries dengan orang bawahannya, segera tubuh si pemuda lompat turun, langsung menubruk pintu ia lari keluar.

Sepasang insan yang sedang enak-enakan menikmati sorga dunia dipagi hari, tiba-tiba dikejutkan oleh suara gedabrukan pintu yang terbuka, mereka pada bangun menghentikan permainannya.

Nampak wajah si perempuan histeries pucat pasi, lebih-lebih si orang tinggi besar berjubah panjang, dengan badan gemetaran ia meraup jubahnya, tapi sekian saat tidak tampak ada tanda-tanda orang masuk, mereka saling berpandangan dengan rupa heran.

Si laki-laki tinggi besar masih gemetaran, tiba-tiba si perempuan bini muda Tay-ong yang histeris sudah menarik tubuh laki-laki itu diajaknya bergumul kembali, melanjutkan apa yang sudah terganggu, tanpa perduli apa lagi yang akan terjadi.

Gerakan si pemuda yang lompat turun dari wuwungan tia begitu cepat, hingga tak tampak bayangan si pemuda, lebih-lebih mereka sedang dalam keadaan begitu, sudah melupakan segala isi dunia ini akan mengalami kejadian apa bahkan tubuh si pemuda yang berada diatas wuwungan tia, mereka juga tidak melihatnya.

Setelah mendobrak pintu, si pemuda terus lari melesat keatas lereng pegunungan, otaknya berkecamuk segala macam perasaan, ia menyaksikan dua orang itu bergumul begitu mesranya, si wanita tidak melakukan perlawanan, bahkan wanita itulah yang mengajak si laki-laki berbuat seperti itu.

Beda dengan keadaan dirinya dikelenteng rusak, disana si jelita Pedang Macan betina melakukan perlawanan kuat menolak kehadiran dirinya ditubuh si nona manis.

Perbedaan pengalaman itulah yang membuat otak si pemuda pusing tidak mengerti, dan akhirnya ia meninggalkan kamar itu, kembali kedalam berhala kuno Tam-hoa-ko-sio diatas lereng pegunungan.

Setelah menenangkan gejolak-gejolak hatinya si pemuda tidur diatas bangku.

Ketika itu, kuping si pemuda yang tajam mendengar suara ketoprakan kaki kuda dibawah bukit, ia mendusin, berjalan keluar, ternyata matahari sudah berada tepat diatas kepala.

Tampak tiga pesanggrahan.

penunggang kuda keluar Tertarik oleh rasa ingin tahu, si pemuda melesat, kembali turun dengan menggunakan ilmu Liok-teehuy-heng, seakan asap hitam mengepul turun dari atas gunung.

Menampak bayangan hitam meluncur turun dari atas bukit Go-kong-nia, para penghuni perkampungan tidak menjadi heran.

Dianggapnya itulah salah seorang Raja Gunung yang baru turun dari atas bukit menghadiri hari sejitnya Tay-ong.

"Haaa .... kongcu begitu terlambat, sudah setengah harian hamba menunggu, kuda kongcu sudah diberi makan !"

Kata seorang bertubuh pendek kurus menuntun seekor kuda diserahkan kepada si pemuda gondrong.

putih Tanpa bicara apa-apa si pemuda meletik naik kepunggung kuda.

Begitu tubuhnya tiba diatas punggung kuda, kuda itu melompat lari dengan kencangnya, hampir-hampir si pemuda terjengkang jatuh.

Kakinya menjepit perut kuda, tubuhnya oleng kebelakang kekiri kekanan.

Orang pendek kurus yang mengantarkan kuda geleng-geleng kepala bergumam.

"Haya, Raja-raja Gunung luar biasa kelakuannya, dengan masih mabok mencongklang kuda, hai.......!"

Belum lagi kata-katanya lenyap diudara, dari atas puncak bukit meluncur turun lagi satu bayangan.

Orang yang baru datang ternyata tidak mengenakan pakaian luar, setibanya ditempat berdirinya orang pendek kurus tadi ia berkata;

"Hei mana kudaku? Cepat bawa kemari! Ambilkan sepotong pakaian."

Orang pendek kurus hanya bengong terlongonglongong.

"Hei!"

Bentak orang yang hanya mengenakan pakaian dalam.

"Apa kau tuli ?"

"Hah, ah....... ya, ya !"

Orang pendek kurus itu ketakutan setengah mati, sambil berlarian ia pergi menjalankan perintah. Tidak lama orang itu sudah kembali dengan membawa satu stel pakaian, katanya.

"Kongcu, pakaian beberapa potong masih bisa hamba sediakan, tapi kuda, kuda ..... sudah tidak ada lagi....."

"Bangsat ! Kau jual ? Kemana kudaku!"

Bentak orang itu geregetan, menyambar pakaian yang dibawa oleh orang pendek kurus.

"Kongcu.....maaf....tadi sudah ada orang yang ambil kuda !"

"Hm, .... matamu buta! Orang itu siapa? Mengapa kau serahkan kuda kepada orang yang bukan menjadi pemiliknya? Hehh, kalau aku tidak pandang mata Tay-ong, tubuhmu kuhancur leburkan."

Plak plok......

Terdengar suara tamparan dua kali, dibarengi dengan melesatnya bayangan hitam meninggalkan pesanggerahan Go-kong-nia.

Orang itulah yang tadi pagi dilucuti pakaiannya oleh si pemuda.

Dan ia pingsan akibat bantingan si pemuda.

Dengan masih mengusap-usap pipinya yang merah bengap, orang pendek kurus menggumam .

"Sialan......Raja Gunung Pejajaran!"

Mengikuti perjalanan si pemuda dengan mengenakan pakaian ringkas warna hitam baru pertama kali ini naik kuda, mencongklangkan kudanya dengan tubuh bergejlak gejlak diatas punggung binatang tunggangannya.

Sesudah selang beberapa saat, baru si pemuda dapat menguasai larinya kuda itu, serta mengimbangi tubuhnya diatas punggung congkangannya.

Dengan mengikuti arah mengepulnya debu-debu diudara, ia mengikuti larinya ketiga penunggang kuda tadi.

Satu hari telah berlalu, diluar kota Ce-lam-hu, tampak abu-abu debu mengepul ke udara, tak lama terdengar derap-derap langkah tiga ekor kuda yang dicongklangkan dengan kecepatan luar biasa.

Ditempat 4 lie dari kota, terdapat satu kelenteng, keadaan kelenteng sangat megah, suasana dalam kelenteng sunyi senyap.

Setibanya ketiga penunggang kuda di muka pintu kelenteng, masing-masing menghentikan tunggangannya.

Mereka turun dari punggung kuda.

Tampak diatas pintu kelenteng bercat merah tergantung papan merek bertulisan hurup-hurup besar yang berwarna kuning mas .

KELENTENG LIONG ONG BIO.

Si Malaikat piauw Sin-piauw Lok Kun, Tiauw Jie Kun dan Pang Liong Ma, meninggalkan kuda masing-masing, melesat melompati tembok kelenteng.

Didalam pekarangan kelenteng disudut halaman sebelah kanan terdapat pohon Gotong.

Dua orang padri kecil sedang menyapu daun-daun pohon yang berguguran tadi malam.

Mereka tidak menyadari, kalau ketiga orang malaikat elmaut sudah menyatroni kelenteng dengan melompati tembok.

"Omitohud,"

Terdengar seorang hweesio menyebut nama budha dimuka pintu ruangan kelenteng.

"Sam-wie bertiga ada keperluan apa, begini pagi datang melompati tembok kelenteng kami."

Kedua padri kecil yang sedang menyapu ketika mendengar suara tadi, segera menoleh.

Ternyata dimuka pintu kelenteng sudah berdiri berbaris tiga orang berpakaian ringkas berwarna hitam, menghadapi seorang hweeshio.

"Gundul!"

Bentak Pang Liong Ma.

"Siapa yang menjadi ketua kelenteng ini, cepat suruh keluar... ."

"Omitohud....."

Terdengar lagi suara menyebut nama budha dari dalam kelenteng, tampak berjalan keluar seorang hweeshio, berumur sekitar 50 tahun.

"Pinceng Swat Louw Hweeshio, ketua kelenteng ini."

"Hm ...."

Dengus Sin-piauw Lok Kun.

"cepat kumpulkan semua anak buahmu keluar."

Mendengar suara ribut-ribut diluar kelenteng, kembali enam orang hweeshio, mereka memandang sejenak kearah Swat Louw Hosiang, setelah menerima anggukkan kepala Swat Lauw Hosiang, keenam hweeshio itu berjalan kehalaman kelenteng berdiri dibelakang Sin-piauw Lok Kun Cs.

Sin-piauw Lok Kun mengetahui dirinya sudah dikurung oleh para hweeshio, dua didepan dan enam dibelakang, ia tertawa bergelak-gelak, lalu katanya .

"Rupanya kalian sudah tahu yang aku akan membantu menyempurnakan nyawa-nyawa kalian keakherat, ha, ha, ha, ......!"

Dengan menahan sabar, Swat Louw Hosiang berkata dingin .

"Sam-wie bertiga dari mana serta ada keperluan apa, mengganggu ketenteraman kelenteng Liong-ong-bio ?"

"Nngg.....heh, heh....."

Gumam Sin piauw Lok Kun, jari tangannya menyentil, dari sana meluncur satu sinar berwarna hitam menyerang Swat Louw Hosiang.

Bruk........

Terdengar suara benda jatuh ditanah, dikebut lengan jubah Swat Louw Hosiang.

Sin-pauw Lok-Kun menampak serangan pertama berhasil digagalkan, ia berteriak .

"Serang! Jangan satu diberi hidup."

Terjadilah pertempuran acak-acakan, tiga lawan delapan orang.

Suasana kelenteng Liong ong-bio yang sunyi, kini terdengar suara beradunya senjata senjata tajam.

Tak lama terdengar dua jeritan, dua sosok tubuh padri kecil menggeletak dengan tubuh berlumuran darah tertembus serangan piauw beracun Sinpiauw Lok Kun.

Pertempuran itu kini sudah berubah menjadi dua kelompok.

Satu kelompok Tiauw Jie Kun dan Pang Liong Ma menghadapi enam orang hweeshio.

Sedang kelompok lainnya Sin-piauw Lok Kun menghadapi keroyokan Swat Louw Hosiang dan seorang hweeshio lainnya.

Tiauw Jie Kun dan Pang Liong Ma yang memiliki kepandaian tinggi dengan golok ditangan masingmasing, menghadapi serangan-serangan enam orang hweeshio, bertempur dengan sengitnya.

Sedang keenam hweeshio yang juga memiliki kepandaian yang tidak rendah, memapaki datangnya serangan-serangan golok dengan senjata lengan jubah mereka.

Keenam hweeshio yang menghadapi serangan golok Tiauw Jie Kun dan Pang Liong Ma ternyata mereka bukan tandingan dua jago golok itu.

Pada jurus-jurus ke tiga puluh, terdengar suara jeritan, seorang hweeshio rubuh menggeletak ditanah dengan batok kepala belah dua.

Di pihak Swat Louw Hosiang, seorang hweeshio sudah tewas terkena piauw beracun si Malaikat piauw.

Swat Louw Hosiang dengan menggunakan lengan jubahnya menangkis datangnya seranganserangan piauw beracun Sin-piauw Lok Kun.

Pertempuran berlangsung beberapa saat lagi, keadaan Swat Louw Hosiang terdesak mundur, ia hanya bisa mengelakkan dengan main mundur tanpa bisa membalas serangan si Malaikat piauw yang ganas, tiba-tiba telinganya mendengar suara jeritan-jeritan beruntun sampai lima kali.

Tampak tubuh-tubuh para hweeshio sudah pada menggeletak di tanah, dengan kepala mereka belah dua, dada belah terbacok golok, tubuh menjadi dua potong, mereka adalah korban-korban dari keganasan golok Tiauw Jie Kun dan Pang liong Ma.

Setelah Tiauw Jie Kun dan Pang Liong Ma memberesi keenam hweeshio-hweeshio itu, tubuhnya melejit dikiri kanan Swat Louw Hosiang menutup jalan mundur ketua kelenteng Liong ong bio.

Dari kepala botak Swat Louw Hosiang sudah mengucurkan keringat, tubuhnya basah napasnya mulai sengal-sengal.

"Huaaa, ha, haaa......"

Tiba-tiba terdengar suara tertawa si Malaikat piauw Sin piauw Lok Kun tertawa berkakakan, lalu menghentikan serangannya.

"Gundul, cepat kau berdoa sebelum terlambat, agar rohmu diterima diakherat, ha, hua, haa......!"

Tiba-tiba terjadi Duk......brukkk........

lain perobahan .

Terdengar dua kali suara gedabrukan keras, tubuh Tiauw Jie Kun dan Pang Liong Ma terpental membentur dinding tembok kelenteng, kepalanya dirasakan berat, dunia seakan-akan berputar.

Sin-piauw Lok Kun alias si Malaikat piauw yang masih tertawa, mendadak menyaksikan kedua kawannya sudah terpental tanpa tahu sebab musababnya.

Tiba-tiba menyambar satu benda hitam kearah batok kepalanya.

Sambaran angin yang keluar dari benda hitam itu begitu keras berkesiur menyambar kepala Sinpiauw Lok Kun hingga mukanya dirasakan dingin pedas, secepat kilat si Malaikat piauw Sin-piauw Lok Kun dengan tipu jurus Moa masuk kelubang, menghindari datangnya serangan benda hitam tadi.

Tubuh si Malaikat piauw Sin-piauw Lok Kun rebah kebelakang menggelesot kesamping dengan kecepatan kilat.

Begitu Sin-piauw Lok Kun berhasil mengelakkan serangan benda hitam, Swat louw Hosiang sudah lenyap.

Kejadian itu sangat mengejutkan, juga menggirangkan si Malaikat piauw Sin piauw Lok Kun.

Terkejut karena ia tahu sudah muncul tokoh gaib menolong Swat Louw Hosiang, girang karena tokoh gaib itu ternyata tidak mengambil nyawanya.

Inilah sifat licik dan pengecut si Malaikat piauw.

Mata si Malaikat piauw Sin piauw Lok Kun menatap kearah benda yang menyerang batok kepalanya tadi, ternyata itulah sehelai kain gubet kepala berwarna hitam.

Menyaksikan benda itu, tubuh si Malaikat piauw mengucurkan keringat dingin saking takutnya, ia dapat menduga bahwa si penyerang memiliki ilmu kepandaian yang lebih hebat dari kepandaiannya sendiri.

Menghampiri Tiauw Jie Kun dan Pang Liong Ma ternyata kedua orang itu sudah siuman kembali, mereka menggeleng-gelengkan masih pusing.

kepalanya yang Terdengar suara si Malaikat piauw Sin-piauw Lok Kun mendumel ;

"Hmmm, terlambat sedikit saja, kepala gundul itu lolos dari kematian."

Tiauw Jie Kun dengan suara serak berkata.

"Sinpiauw, siapakah tokoh misteri itu........dan bagaimana selanjutnya urusan kelenteng Liongong-bio ini?"

"Tetap laksanakan rencana semula, kau urus urusan disini, aku kembali melaporkan pada Tayong tentang adanya semua kejadian yang baru kita alami."

Jawab Sin-piauw Lok Kun. Pang Liong Ma berkata .

"Bagaimana kalau mereka mengadakan penyerangan balasan ?"

"Kukira sementara tidak akan terjadi."

Berkata Sin-piauw.

"Toch kelenteng ini kita gunakan untuk sementara, takut apa?"

Siapa yang telah menyelamatkan jiwa Swat Louw Hosiang dari tangan elmaut Sin-piauw Lok Kun ? Mari kita ikuti cerita berikutnya. 0)0od^wo0(0

Jilid ke 05 SI PEMUDA gondrong yang mengikuti jejak Sinpiauw Lok Kun cs, menampak ketiga orang itu sudah melesat masuk melompati tembok kelenteng, ia segera melesat naik keatas pohon Gotong yang tumbuh disudut kanan pekarangan.

Semua kejadian didalam halaman kelenteng itu, tewasnya dua padri kecil berturut-turut disusul oleh kematian tujuh orang hweeshio disaksikan dengan jelas.

Menampak dipekarangan kelenteng menggeletak beberapa mayat.

Menampak kedua mayat padri kecil tewas berlumuran darah.

Dengan mendadak, tapi pasti timbul suatu perasaan yang mendorongdorong dirinya untuk tidak tinggal diam.

Meskipun semua kejadian itu tidak ada hubungannya dengan dirinya sendiri.

Lebih-lebih bentuk tubuh serta cara berpakaian hweeshio ini, sama dengan orang-orang yang pernah melukai dirinya dikota Siao-shia.

Tapi bisikan hati nuraninya si pemuda, perbuatan ketiga orang itu bertentangan dengan apa yang dirasakan dalam sanubarinya.

Dengan dorongan bisikan hati nurani, si pemuda melompat turun dengan kecepatan luar biasa, menyelamatkan Swat Louw Hosiang dari tangan Maut si Malaikat piauw Sin-piauw Lok Kun dkk.

0)0od^wo0(0 MELOMPATI tembok kelenteng Liong-ong-bio, dengan menenteng tubuh Swat Louw Hosiang, si pemuda berlarian kearah utara, memasuki rimba, meninggalkan kelenteng.

Berlarian sejauh dua lie, ia menghentikan langkahnya, melepaskan tubuh Swat Louw Hosiang.

Swat Louw Hosiang merasakan dirinya tiba-tiba dibawa terbang melompati tembok kelenteng, ia mengetahui kalau dirinya sudah ditolong oleh orang gaib.

"Inkong........"

Ucapan Swat Louw Hosiang tertahan, matanya terbelalak memancarkan sinar keheran-heranan, dihadapannya berdiri seorang pemuda berambut gondrong berpakaian hitam.

Ia seperti tidak percaya akan penglihatan matanya sendiri, apakah pemuda seperti orang hutan ini yang telah menolong dirinya dari kematian.

Ia perhatikan keadaan sekitar rimba itu, ternyata disana tak ada orang lain kecuali ia dengan si anak gondrong.

Dengan perasaan heran Swat Louw Hosiang berkata .

"Apakah kau yang telah menolong diriku?"

Si pemuda mendengar pertanyaan itu, hanya menatap wajah ketua hweeshio itu dengan tatapan mata berkilatan, kemudian meredup gelap, segelap awan mendung di langit.

Benak si pemuda dipenuhi perasaan-perasaan yang membuat sinar matanya redup wajahnya pucat pasi, tampak sedih dan pilu.

Selama ia bergelandangan didunia bebas, mengikuti gejolak naluri jiwanya untuk bercampur gaul dengan kehidupan manusia, selama itu pula ia tidak mengerti ucapan-ucapan orang-orang yang dijumpainya.

Menghadapi pertanyaan Swat Louw Hosiang, kembali ia menghadapi satu problem yang sulit untuk dipecahkan, lebih sulit dari pada memecahkan segala lukisan-lukisan yang terdapat didinding goa dalam lembah air terjun.

Pengalaman-pengalaman pahit, membuat hatinya sedih, duka dan pilu bercampur aduk, akhirnya timbul rasa rendah dirinya menghadapi orang didepannya.

Dirasakan dirinya suatu machluk yang tidak berarti, suatu machluk yang tidak bisa bercampur gaul dengan kehidupan manusia lainnya.

Kakinya melesat meninggalkan Swat Louw Hosiang.

Swat Louw Hosiang yang menyaksikan kelakuan aneh itu, kini ia yakin benar bahwa anak gondrong itulah yang telah menolong jiwanya.

Mata Swat Louw Hosiang terbelalak menyaksikan lenyapnya bayangan si pemuda mengepul bagaikan asap hitam lenyap dibalik batang-batang pohon.

Si pemuda dengan kecepatan luar biasa, menerobos hutan-hutan, melompati sungai, jurang, tebing-tebing gunung mengembara dengan tiada tujuan.

Diatas puncak gunung, daun-daun pohon masih basah digenangi butiran-butiran embun,burungburung berkicauan beterbangan diudara, gerungan suara binatang buas menambah keseraman, sinar matahari pagi redup menerangi keadaan diatas puncak gunung, pagi itu tidak seperti hari-hari biasanya, si pemuda yang masih melingkar tidur dibawah semak belukar, dikejutkan oleh kicau burung serta auman binatang buas.

Matanya terbuka, ditatapnya sinar matahari pagi, sinar sang surya tampak begitu redup seredup sinar matanya.

Dengan masih bermalas-malasan si pemuda bangkit, berjalan menuju tepian dimana tadi ia tidur, ternyata ia tidur diatas sebuah lamping puncak gunung.

Melongok kebawah, disana kabut-kabut tebal memutih mengambang tak tampak apa yang terdapat dibawah lapisan kabut itu.

Diutara dan selatan, barat dan timur tampak puncak-puncak gunung menjulang tinggi.

Tanpa banyak pikir si pemuda lompat menuruni lamping gunung, melesat turun menerjang kabutkabut memutih, bayangannya hilang dibalik kabut.

Dengan gerak-gerak langkah kakinya yang lincah ia menuruni lamping gunung, seakan kabut hitam mengepul menerjang kabut-kabut putih.

Berlarian setengah hari, tibalah ia didalam satu lembah.

Lembah itu terkurung oleh lampinglamping puncak gunung, kepala si pemuda menengadah kelangit, disana hanya tampak mengambang kabut putih memenuhi udara, sudah tidak tampak lagi tempat dimana ia tidur semalam.

Dalam lembah udara begitu lembab, disana tak tampak apapun hanya barisan pohon-pohon Siong berjejer-jejer memenuhi lembah itu.

Si pemuda menerobos masuk kedalam rimba pohon Siong, disana udara lembab gelap, mata si pemuda tidak bisa melihat apa yang ada didepannya.

Semua pemandangan gelap pekat.

Dengan perasaan untung-untungan, hidup yah sukur matipun boleh, si pemuda menerobos hutan pohon Siong yang lembab gelap itu.

Dengan pikiran yang gelap pula, ia memasuki alam yang gelap gulita.

Langkahnya maju terus, menerobos barisan pohon-pohon Siong, membentur batang-batang pohon, jatuh bangun berulang kali.

Entah sudah berapa lama ia berlarian membabi buta menerobos barisan pohon-pohon Siong yang gelap gulita, kini mulai tampak didepannya samar-samar sinar terang, akhirnya ia keluar dari kurungan pohonpohon Siong yang gelap gulita itu.

Haaaa..............

Hati si pemuda tergerak, ditengah-tengah hutan pohon Siong didalam lembah ternyata terdapat satu bangunan rumah batu.

Rumah batu itu terbagi dua bangunan, bangunan depan yang lebih besar bentuknya dan bangunan disebelah belakang yang agak kecil.

Satu jalan kecil berbatu-batu menghubungi kedua bangunan rumah batu itu.

Terdengar sayup-sayup suara orang bicara.

"Suhu, sudah lima tahun kita berdiam disini mengompres setan tua itu, tapi ia masih kukuh tidak mau memberi keterangan. Untuk apa lagi buang-buang waktu percuma ditempat ini, lebih baik kita bunuh saja habis perkara."

"Hah, kau harus bersabar sehingga lima tahun, untuk apa ? Untuk mendapatkan barang itu,"

Terdengar lain suara. "

Suhu, kukira pendapat Lie suheng tidak salah, selama lima tahun, semua daya upaya kita sudah lakukan, tapi setan tua itu masih tidak mau buka mulut, bukankah percuma saja.

Kulihat keadaannya juga sudah lupa ingatan, apa guna lagi........"

"Ya sebaiknja kita bunuh saja,"

Menyambung seseorang.

"Kukira juga barang itu tidak berada ditubuh si tua."

Pembicaraan orang-orang itu masuk ketelinga si pemuda, mendengar didalam ruangan bangunan besar itu ada suara orang, si pemuda tidak mau mendekati rumah itu, tapi hatinya ingin tahu apa yang sedang mereka kerjakan.

Dengan gerakan ringan ia melompat ke atas genteng pada bagian rumah dibagian belakang, ia membuka sebuah genteng memperhatikan keadaan didalam.

Didalam ruangan itu sangat kotor, di lantai masih terdapat noda darah kering, ruangan itu keadaannya tidak teratur.

Disebelah barat ruangan, disana berdiri seorang tua kurus kering rambutnya awut-awutan, jenggotnya yang putih bercampur merah mengurai sampai pusar.

Mata orang tua itu meram, napasnya lemah, saking kurusnya tampak orang itu seperti tengkorak terbungkus kulit.

Kedua tangan dan kakinya terikat sebuah rantai terpantek kuat didinding rumah batu.

Menampak pemandangan serupa itu, hati si pemuda heran, tapi ia hanya memperhatikan, tidak mau ambil pusing.

Meninggalkan pemandangan aneh itu, si pemuda dengan ringan berlarian diatas genteng melompat kearah wuwungan bangunan rumah yang lebih besar dimana terdengar suara orang bicara.

Tubuhnya mendekam, tangannya bergerak menggeser sebuah genteng.

Tapi baru saja genteng itu terbuka, dari dalam meluncur sinar-sinar gemelapan menyerang mukanya, diiringi suara bentakan .

"Binatang! Siapa berani main gila di tempat ini."

Berbarengan dengan sirapnya suara bentakan itu, dari dalam ruangan melesat lima bayangan merah berlompatan keatas genting.

Si pemuda yang sedang mendekam diatas genting begitu melihat sambaran sinar-sinar gemerlapan segera lompat turun.

Sinar-sinar gemerlapan itu membentur cabang pohon Siong, disana menancap tiga bilah pisau kecil.

Lima bayangan merah menampak orang yang diserang dengan pisau-pisau terbang tadi sudah melompat turun, mereka segera berlompatan menyusul kearah larinya orang tadi.

Begitu melihat jelas tubuh orang yang dikejarnya, kelima orang itu terkejut berbareng .

"Hayaaaa........."

Si pemuda yang mengetahui dirinya dikejar, ia sudah tidak perdulikan lagi soal mati dan hidup, ia hadapi kelima orang itu dengan tenang.

Disana berdiri lima orang berbaju merah berkembang-berkembang biru muda.

Seorang diantaranya berusia kira-kira limapuluh tahun, sedang empat orang lainnya berusia sekitar tigapuluh tahun.

Tampang-tampang mereka sangat asam, tidak sedap dipandang mata.

"Hei, bocah, kau kira ini tempat apa ? Berani kau main-main ditempat angker ini."

Bentak orang tua berbaju merah.

"Suhu! Biar kuremukkan batok kepala bocah ini!"

Berkata salah seorang yang berusia duapuluh lima tahunan.

"Ceng san, tangkap bocah itu, jangan bunuh! Aku ingin tahu, bagaimana ia bisa masuk kedalam lembah Im-bu-kok ini! Bagaimana ia bisa memecahkan tin pohon Siong,"

Berkata orang tua itu.

Tubuh orang yang disebut Ceng San melejit, tangan kanannya dijulurkan, mencengkeram tengkuk si pemuda, sedangkan tangan kirinya menyambar kaki kanan lawan gondrong itu.

Gerakan Ceng San sangat cepat, menubruk si pemuda, tapi gerakan tubuh si pemuda lebih cepat, begitu angin serangan tiba kaki kanan diangkat keatas, sedang tubuhnya direndahkan setengah badan, hingga serangan Ceng San menubruk tempat kosong, bahkan tubuh Ceng San terpental dua tombak menggeletak rubuh ditanah, kebentur serangan dengkul si pemuda yang hampir dibawah pusat Ceng San, sedang kepala gondrong si pemuda membentur dada Ceng San.

Kejadian itu hanya berlangsung satu kedipan mata saja.

"Suhu!

Biar aku turun tangan!"

Terdengar lagi seorang bicara.

"Mmm, bocah ini bukan tandingan kalian, suhengmu sudah terluka, kau bersama sutemu bawa ia masuk kedalam, beri pertolongan, bocah ini biar kukirim keakherat."

Mereka memayang rumah batu. sang suheng memasuki "Bocah, kepandaianmu boleh juga heh!"

Berkata lagi orang tua berbaju merah.

"Hm, kukira didalam rimba persilatan ini sudah jarang orang yang bisa menandingimu, pantas lagakmu begitu besar, sudah berani main gila disini."

Orang tua berbaju merah berkata begitu, karena ia sudah menyaksikan sendiri murid tertuanya dengan satu kali gebrakan sudah berhasil dirobohkan si pemuda, sedang sang murid sudah mewarisi 75% ilmu kepandaiannya, masih bisa dirobohkan.

Setelah berkata begitu orang tua berbaju merah berjalan berputaran mengelilingi tubuh si pemuda.

Gerak langkah orang tua itu, lambat-lambat tapi mata si pemuda dirasakan menjadi berkunangkunang.

Begitu matanya si pemuda dirasakan berkunang-kunang timbul rasa jengkel si pemuda atas kelakuan orang tua itu.

Terdengar suara siulan melengking menggema angkasa, daun-daun kering pohon Siong beterbangan gugur kebumi, burung yang sedang bertengger didahan-dahan pohon beterbangan.

Siulan memekakkan telinga, mendebarkan jantung.

Lama suara siulan itu menggema baru sirap kembali ditelan kesunyian lembah.

Si orang tua berbaju merah mendengar suara siulan yang keluar dari mulut si pemuda menghentikan gerakannya, tubuhnya oleng oleng lalu berdiri tegak kembali, ia membentak .

"Anak jadah, kelakuanmu sungguh kurang ajar, berani bersiul begitu didepan orang tua, hampirhampir membuat kumat penyakit jantungku.....haaa ..... ,kalau tidak lekas dibikin mampus, kau tidak akan tahu rasanya diakherat…."

Selesai ujarannya, orang tua berbaju merah itu kembali berjalan memutari tubuh si pemuda, menggosok-gosokkan telapak tangannya, kemudian direntangkan, lalu digerak-gerakkannya menghajar tubuh si pemuda.

Si pemuda yang menyaksikan kelakuan aneh orang tua berbaju merah, ia masih bengongbengong saja, tiba-tiba berkesiur angin kencang menyerang dirinya, ia berusaha mengelakkan kesamping, tapi ternyata angin yang keluar dari dua telapakan tangan orang tua itu tidak sampai disitu saja, kemana si pemuda bergerak selalu terkurung oleh hembusan angin yang santer.

"Ha, ha, ha,. ..... hayo bersiul lagi, ingin kulihat permainan apa lagi yang akan kau pamerkan!"

Berkata si orang tua berbaju merah sambil masih menari menggerakkan kedua telapak tangannya.

Tambah lama, angin keras menggulung si pemuda tambah menderu-deru berputaran mengurung tubuhnya menggulung-gulung naik keudara, abu-abu mengepul keudara daun-daun yang tadi berguguran digetarkan suara siulan si pemuda kini kembali beterbangan menubruk dahan-dahan pohon lalu berputaran diangkasa.

Dalam kurungan angin menderu-deru, terdengar lagi suara siulan menggema angkasa menembusi angin yang menderu-deru, suara siulan itu lebih hebat dari yang pertama, batang-batang pohon Siong bergoyang-goyang, daun-daun berguguran, suara gema siulan bercampur aduk dengan suara mengguruhnya angin yang berputaran, dunia seakan bergoncang, rumah batu sejauh 10 tombak dari tempat itu ter-gerak-gerak seakan digerakkan oleh gempa bumi yang hebat.

Suara siulan si pemuda dikerahkan dengan tenaga penuh, semua tenaganya dikuras untuk menciptakan suara siulan gaib itu.

Tambah lama, suara siulan melemah, terdesak oleh deru angin yang keluar dari telapak tangan orang tua berbaju merah, tubuh si pemuda dirasakan tergencet oleh satu kekuatan, tubuhnya mulai oleng, keringat dinginnya mengucur membasahi tubuhnya, genta siulan tambah lama tambah sirap, melemah lagi, kemudian terpecahpecah menimbulkan irama-irama yang berpencaran, tertiup angin terbang keudara.

Berbareng dengan lenyapnya gema suara siulan, tertiup gulungan angin yang menderu-deru, terbang terpecah-pecah di udara, tubuh si pemuda turut melayang, seakan daun kering tertiup angin.

Akhirnya hanya tampak satu titik hitam menembus kabut-kabut tebing-tebing gunung.

putih diatas puncak "Hua, ha, ha…"

Orang tua berbaju merah tertawa. Kepalanya menengadah kelangit menyaksikan lenyapnya bayangan si pemuda ditelan kabut putih.

"Haaaa .... huaaaa .... ingin kulihat, apakah bacotmu masih bisa mengeluarkan siulan setan itu, sesampaimu dibumi ....."

Bayangan si pemuda yang lenyap ditelan kabutkabut putih dipuncak gunung, kini perlahan-lahan tampak meluncur satu titik hitam turun melesat dengan cepat, kemudian tampak jelas bentuk tubuh si pemuda melayang-layang turun.

Breeet ....

krak ....

kreak .....

Tubuh si pemuda jatuh membentur dahan pohon, bajunya koyak tersangkut, ia bergelantungan, dari mulut dan hidungnya menetes darah merah.

Breeet.......tiba-tiba baju yang tersangkut itu robek, tubuh si pemuda jatuh ambruk terbanting tengkurap ditanah.

Ia tidak bergerak.

0)0od^wo0(0 Sang surya timbul tenggelam memutari bumi, suasana dalam lembah Im-bu-kok sunyi sepi, tidak terdengar suara apapun, tidak terdengar suara burung berkicau.

Diatas tempat tidur batu didalam ruangan kamar batu dilembah Im-bu-kok menggeletak sesosok tubuh.

Disamping tempat tidur batu itu tampak duduk diatas bangku batu persegi, seorang tua berjenggot putih meletak, berbadan kurus kering, tampak tulang-tulangnya terbungkus kulit, mata orang tua itu memancarkan sinar tajam berkilauan, memperhatikan sosok tubuh yang masih menggeletak terbaring diatas tempat tidur batu.

"Hmmm, bocah......."

Terdengar suara orang tua itu mengguman menarik napas.

"Kau membuat aku pusing kepala, mengapa tidak biarkan aku mati ditempat ini, mengapa kau .... ah....."

Berbarengan dengan sirapnya suara keluh kesah orang tua kurus kering itu, sosok tubuh yang tidur terlentang, menggerak-gerakkan kelopak matanya, mata itu terbelalak memancarkan sinar kebirubiruan.

Sinar mata itu seakan-akan mencari, mencari sesuatu, itulah bayangan si jelita Lie Eng Eng, bayangan yang tidak bisa dilupakannya, bayangan itulah yang pertama kali membayang dibiji matanya begitu ia tersadar, dari sinar matanya bayangan Lie Eng Eng mengisi benak pikirannya yang kosong.

Perlahan-lahan kedua tangannya ditelakkan di atas tempat tidur batu, tubuhnya terangkat naik ia duduk diatas tempat tidur batu itu.

Orang tua kurus kering berjenggot putih meletak, memperhatikan kelakuan pemuda itu, ia menarik napas lalu katanya.

"Bocah .... sungguh hebat kekuatan pisikmu ...."

Sosok tubuh yang baru saja duduk diatas tempat tidur batu bukan lain dari pada si pemuda gondrong.

Mendengar suara orang bicara disampingnya ia terkejut, tubuhnya meletik menjauhi datangnya suara tadi, dengan masih sempoyongan si pemuda berdiri terpaku memandang orang tua kurus kering itu.

Mulutnya ternganga.

Apa yang dilihatnya?

Dihadapannya duduk diatas bangku batu, seorang tua kurus kering berjenggot putih sampai pusar, itulah orang tua yang beberapa hari yang lalu ia lihat terikat kaki tangannya dengan rantai-rantai diruangan kotor.

Bagaimana mendadak orang tua kurus kering itu bisa duduk bebas dihadapannya, tanpa rantairantai mengikat tubuhnya?

Si pemuda melangkahkan kakinya berjalan, mencari pintu ruangan kamar batu itu, ternyata ia tidak menemukan apa yang dicarinya.

Hanya tampak beberapa obor terpajang disetiap dindingdinding empat persegi ruangan itu.

"Bocah, duduklah !"

Kata orang tua tadi.

"Tubuhmu belum kuat, jangan banyak bergerak."

Si orang tua kurus kering bangkit, lalu berjalan kesudut ruangan, di mana terdapat satu meja batu, dari atas meja itu ia mengambil satu paso yang berisi buah Ouw co, lalu menghampiri si pemuda, katanya.

"Bocah, di sini tidak terdapat makanan lain, hanya buah-buah Ouw-co ini, makanlah. Sudah tujuh hari tujuh malam kau pingsan tak ingat diri, tentu perutmu kini terasa lapar."

Begitu mata si pemuda tertumbuk tumpukan buah Ouw-co diatas paso, tentu saja membuat perutnya terasa keruyukan.

ia segera menyambuti paso itu, duduk diatas pembaringan memakan buah-buah Ouw-co dengan lahapnya.

"Bocah,"

Berkata lagi si orang tua kurus kering dengan suara perlahan.

"Inilah ruangan dibawah tanah...."

Mendengar kata-kata orang tua tadi, si pemuda hanya melirikkan sudut matanya, sedang mulutnya menggayem buah-buah Ouw-co.

"Aiiii...... apakah kau tidak ingin keluar dari ruangan ini?"

Berkata lagi si orangtua.

Si pemuda hanya melirikkan sudut matanya lagi, tidak mengeluarkan suara apapun.

Menyaksikan sikap dan kelakuan si pemuda, orang tua kurus kering itu menggeleng-geleng kepala, bangkit dari tempat duduknya, berjalan kembali kemeja batu disudut ruangan sambil bergumam.

"Hayyaah.... benar-benar bocah ini membuat aku pusing, setua ini aku masih harus merawat anak orang, haiii... kasihan...... ia sudah kehilangan ingatannya........."

Sambil mengoceh begitu, orangtua itu mendorong meja batu, bergeser beberapa dim, tibatiba terdengar suara geresekan, bangku batu persegi yang tadi diduduki si orang tua bergerak melesak kebawah, hingga tampak di situ terdapat satu lubang persegi empat.

"Hei, bocah, inilah pintu keluar,"

Tangannya menunjuk kearah lobang itu.

Kakinya bergerak turun kedalam lubang.

Si pemuda menyaksikan orang tua tadi berjaIan memasuki lubang segera bangkit, ia mengikuti gerakan orang tua itu, lompat kedalam lubang.

Didalam lubang batu terdapat beberapa obor yang menerangi lorong tangga, undakan-undakan tangga batu menaiki keatas, berjalan menaiki tangga batu seratus undakan, dikiri tembok lorong terdapat satu patung ular menjulur keluar, orang tua itu menekan kepala patung ular, maka terdengar suara bergeresek, disana terbuka satu pintu.

Si pemuda mengikuti gerakan langkah-langkah kaki si orang tua kurus kering, keluar dari pintu batu itu, dan pintu itu bergeresekan kembali menutup secara otomatis.

Ternyata mereka sudah berada didalam ruangan kotor dimana orang tua kurus kering itu pada beberapa hari yang lalu pernah terikat kedua kaki dan tangannya ditembok dinding batu, dilantai masih tampak bekas-bekas noda darah kering.

Mata si pemuda jelilatan kesana kemari menyaksikan keadaan ruangan itu, langkah kakinya dipercepat keluar dari ruangan kotor, ia memasuki bangunan yang lebih besar di muka bangunan tadi.

Dalam bangunan itu keadaan sunyi senyap tak tampak lagi bayangan orang-orang berbaju merah, hati si pemuda penasaran, ia memasuki beberapa kamar didalam ruangan itu, ternyata kamar-kamar itupun kosong belaka.

Cepat kakinya melangkah keluar, berjalan ke tempat mana ia pernah diterbangkan oleh angin puyuhnya si orang tua berbaju merah, disana juga tidak terdapat apapun, hanya tampak bekas dimana tubuhnya terkurung oleh angin puyuh, terdapat satu lekuk yang dalam.

Orang tua kurus kering menyaksikan kelakuan si pemuda, sepintas lalu si pemuda seperti orang sudah kehilangan ingatan.

Tapi bagaimana gerakan-gerakan si pemuda menunjukkan seakan masih mengingat apa yang telah terjadi pada tujuh hari yang lalu.

Dengan perasaan heran ia menghampiri lalu bertanya .

"Bocah, apakah kau masih ingat apa yang telah menimpa dirimu pada tujuh hari yang lalu ?"

Mendengar pertanyaan itu si pemuda hanya menoleh ia tidak menjawab. Kembali otak si orang tua kurus kering dibuat pusing oleh kelakuan si pemuda.

"Aaaa, ..... apakah bocah ini gagu? ah .....kalau ia gagu bagaimana bisa mengeluarkan suara siulan yang bisa menggetarkan lembah Im-bu-kok ?"

Perputaran hari berlalu begitu cepat, enam bulan sudah dilewatkan, si pemuda masih menetap didalam rumah batu didalam lembah Im-bu-kok, dikawani si orang tua kurus kering.

Selama enam bulan, orang tua kerempeng itu ternyata sudah bisa menyelami kesulitan yang dialami si pemuda, ternyata si pemuda tidak kehilangan ingatan, juga tidak gagu, ia hanya tidak pandai bicara.

Dengan perasaan heran atas apa yang dialami si pemuda, dengan sabar orang tua kerempeng itu mulai mengajari si pemuda bicara, sepatah demi sepatah ternyata otak si pemuda juga cerdas, sekali mendengar apa yang diucapkan oleh orang tua kurus kerempeng itu, ia sudah ingat untuk selamanya.

Selama enam bulan itu orang tua kerempeng hanya mengajarkan si pemuda belajar bicara.

Ia melarang si pemuda untuk melakukan apa yang tidak diperintahkannya.

Si pemuda juga ternyata adalah seorang murid yang taat kepada perintah gurunya.

Kembali dua tahun sudah dilewatkan.

Si pemuda dibawah pendidikan orang tua kurus kerempeng, kini ia sudah pandai bicara, membaca dan menulis.

Rambut gondrongnya sudah tidak awut-awutan lagi wajahnya putih terang bercahaya.

Hari itu mereka sedang duduk disatu meja bundar didalam ruangan tengah rumah batu dilembah Im-bu-kok.

Si orang tua kurus kerempeng menghadap utara, sedang si pemuda disebelah kiri menghadap timur.

duduk duduk Diatas meja masih terdapat satu paso berisi buah-buah Ouw-co.

Suasana itu adalah suasana dipagi hari.

"Bocah !"

Si orang tua memecah kesunyian.

"Selama dua tahun ini kaudiam didalam rumah batu, sudah membuat perobahan besar terhadap dirimu. Selama ini aku hanya memberikan kau pelajaran bicara membaca dan menulis, semua pelajaran-pelajaran yang kuberikan untuk bekal hidupmu dalam dunia pergaulan masyarakat, kini apa yang kuberikan kau sudah pahami seluruhnya. Maka hari ini aku ingin mendengar keteranganmu, tentang asal usul dirimu." "Suhu,"

Berkata si pemuda penuh haru, gembira, sedih bercampur aduk dengan bayanganbayangan wajah si jelita Pedang Macan Betina Lie Eng Eng yang tidak pernah hilang dari ingatannya.

Setelah dapat menahan emosi perasaan itu, si pemuda melanjutkan kata-katanya .

"Teecu sungguh berterima kasih atas budi besar suhu, yang telah membuat teecu menjadi manusia sempurna dalam arti untuk mengikuti arus perkembangan kehidupan masyarakat umum diatas dunia ini..........."

"Bocah, bicaramu jangan terlalu tidak keruan, kau tidak perlu sebut-sebut budi atau segala peradaban dunia yang palsu..............cukup kau terangkan bagaimana asal usul dirimu. Itulah yang ingin kuketahui."

Berkata si orang tua.

Si pemuda menatap orang tua itu dengan pandangan mata sayu, tampak pada kedua kelopak matanya digenangi air mata, ia berusaha membendung turunnya tetesan air mata itu, tapi emosinya meluap begitu rupa hingga air mata itu tak terbendung, turun deras dipipinya.

Setelah memesut air mata yang turun mengalir, baru ia berkata lagi .

"Suhu, sebetulnya asal usul diri teecu, teecu juga tidak tahu. Siapa ayah ibu teecu, sampai saat ini masih gelap, seingat teecu, sejak berusia tiga tahun, teecu merasakan suatu kehidupan didalam lembah air terjun diatas puncak-puncak gunung. Disana hanya hidup bersama si monyet merah......"

Selanjutnya ia menceritakan, bagaimana bersama-sama si monyet merah menirukan lukisan lukisan yang terdapat dalam dinding goa batu didalam lembah air terjun.

Bagaimana ia merendam dirinya dibawah siraman air terjun.

Akhirnya dengan mengenakan pakaian kulit macan loreng, ia mengembara dirimba persilatan.

Diceritakan dengan jelas, bagaimana ia tanpa hujan tanpa angin dikeroyok oleh para tosu Butong-pay dan hweeshio-hweeshio Siauw-lim-pay, hingga terluka pundak kirinya, bagaimana si nenek Kim ce Lonie memberikan pengobatan atas lukanya itu.

Semua pengalaman-pengalamannya diceritakan dengan jelas, terkecuali pengalamannya didalam kelenteng rusak, hujan-hujan melahap kegadisan si jelita Pedang Macan Betina Lie Eng Eng tidak disebut sebutnya.

"Hmmm........"

Orang tua itu menganggukangguk kepala sambil mengurut-mengurut jenggotnya yang putih.

"Luar biasa..... luar biasa...... Iukisan-Iukisan didinding goa batu itu juga sungguh mengherankan, akibat dari latihanmu mengikut gerak lukisan-lukisan itu, jalan-jalan darahmu sebagian sudah terbuka, tapi hai........ mengapa hanya setengah jalan, mengapa lukisan-lukisan itu tidak rampung seluruhnya.............."

"Suhu.........."

Memotong si pemuda.

"Apakah lukisan-lukisan didinding goa batu dalam lembah air terjun belum selesai semua?"

Si orang tua hanya mengangguk-anggukkan kepala. "Aaaa, kini teecu mengerti Iukisan-Iukisan yang awut-awutan, ternyata adalah tulisan yang waktu itu teecu tidak mengerti."

Berkata lagi si pemuda.

Baca Juga: Kilat Pedang Membela Cinta Kho Ping Hoo

Baca Juga: Raja Silat 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert