Ceritasilat Novel Online

Pusaka Pedang Embun 1

Eps 1 Pusaka Pedang Embun - Sin Liong

Baca online Pusaka Pedang Embun - Sin Liong

Cersil Pusaka Pedang Embun - Sin Liong.

Pusaka Pedang Embun Lanjutan Sin Tiauw Thian Lam Saduran . Sin Liong Sumber DJVU . Dewi KZ & Aditya (Buku Sumbangan anelinda-store.com , trims yee) Editor . Hendra Final Editor & Ebook oleh . Dewi KZ

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com &

http.//dewikz.com

http.//cerita-silat.co.cc &

http.//kang-zusi.info Daftar Isi . Pusaka Pedang Embun ......................................... 1 Daftar Isi . ............................................................

Jilid ke 01 ............................................................. 3

Jilid ke 02 ........................................................... 49

Jilid ke 03 ........................................................... 96

Jilid ke 04 ......................................................... 143

Jilid ke 05 ......................................................... 194

Jilid ke 06 ......................................................... 243

Jilid ke 07 ......................................................... 292

Jilid ke 08 ......................................................... 340

Jilid ke 09 ......................................................... 386

Jilid ke 10 ......................................................... 433

Jilid ke 11 ......................................................... 480

Jilid ke 12 ......................................................... 527

Jilid ke 13 ......................................................... 577

Jilid ke 14 ......................................................... 630

Jilid ke 01 CUACA diatas puncak-puncak gunung samar samar mulai terang kembali, embun diatas daundaun pohon mulai lenyap ditelan sinar sang surya dipagi hari.

Angin dingin berembus sepoi-sepoi, burung burung berterbangan berkicau, memecahkan kesunyian pegunungan dipagi hari.

Tampak satu bayangan loreng melesat turun.

Bagaikan kilat, bayangan melompati tebing-tebing gunung curam, membuyarkan kabut kabut putih.

Bayangan loreng itu terus berlari turun, dengan gerakan ringan, seakan-akan terbang diatas dahan-dahan pohon.

Tiba pada satu rimba di bawah pohon besar, bayangan loreng itu menghentikan gerakannya, memperhatikan sekeliling rimba itu sebentar, kemudian secara tiba-tiba ia melejit naik keatas dahan pohon, berlompatan terus dari satu ranting kelain ranting yang lebih tinggi, hingga sampai pada dahan yang teratas pohon itu, ia memandang jauh kesekeliling rimba belantara.

Lama ia memperhatikan keadaan sekelilingnya, tampak disana sini hanya pohon-pohon besar dan bukit-bukit pegunungan mengitari tempat sejauh mata memandang.

Setelah beberapa saat memperhatikan keadaan hutan belantara disekitar tempat itu, ia lompat turun, dengan ringan melayang kebawah.

Ternyata bayangan itu adalah seorang pemuda berumur diantara tujuhbelas tahunan, berwajah tampan, bermata bening, dengan rambut gondrong terurai sebatas bahu.

Dia mempunyai tubuh yang kekar kuat, mengenakan pakaian kulit macan loreng.

Ia duduk bersandar dibawah pohon besar, pikirannya melayang-layang, jauh dimasa ia masih anak-anak.

Samar-samar teringat dalam benak pikirannya masa ia berusia tiga tahun.

Bermainmain berlarian disatu lembah sunyi dikawani dengan seekor monyet berbulu merah darah.

Teringat pula, bagaimana si monyet merah memberi ia makan buah-buahan didalam lembah.

Pada waktu usianya mencapai sembilan tahun, ia sudah mulai dapat mengerti peri kehidupan dalam lembah itu.

Disana tidak ada lain makhluk yang hidup, hanya ia seorang diri dengan dikawani si monyet berbulu merah.

Teringat keadaan dalam lembah, disana terdapat satu air terjun, suaranya bergemuruh, memecahkan kesunyian lembah.

Ditengah-tengah lembah terdapat satu danau, ditengah-tengah danau terdapat satu pulau, di dalam pulau itu terdapat satu goa batu, pada dinding goa batu terdapat lukisan-lukisan bermacam-macam gerak posisi orang.

Itulah tempat tinggalnya.

Sekeliling lembah terkurung oleh lamping lamping puncak gunung berlumut licin.

Teringat pula sejak ia berusia empat tahun, si monyet merah menyeret ia bermain berenang dari tepian pulau ke tepi danau berulang kali, hingga akhirnya pada usia sembilan tahun ia sudah pandai berenang.

Mengenangkan pengalaman hidupnya semasa ia masih kanak-anak didalam lembah, kadang kala ia tersenyum sendiri, wajahnya jadi cerah.

Selama tinggal dalam lembah, ia hanya mengikuti kelakuan si monyet merah.

Tiap pagi si monyet merah meng-gerak-gerakkan tubuhnya, meniru gerakan-gerakan yang tertera pada lukisan-lukisan diatas tembok dinding.

Berturut-turut ia ikuti gerakan-gerakan yang tertera pada lukisan-lukisan dalam dinding goa, hingga akhirnya ia bisa mengikuti seluruh gerakan-gerakan lukisan yang terdapat pada dinding batu itu.

Ia tidak mengerti, apa gunanya gerak-gerak dalam lukisan itu, tapi dengan riang selalu melakukan gerak-gerak lukisan, tanpa bosan-bosan dikerjakannya setiap pagi hari.

Pada waktu usianya mencapai limabelas tahun, ia sudah sampai pada saat mengikuti satu lukisan yang tertera dalam dinding goa batu, lukisan itu tidak seperti lukisan-lukisan yang pernah ia tirukan, itulah satu lukisan manusia berdiri tegak tidak bergerak, diperhatikannya lukisan itu beberapa saat, baru ia bisa mengerti, itulah satu lukisan orang berdiri tegak didalam siraman air terjun.

Sedang lukisan berikutnya, adalah lukisan yang menggambarkan orang melompat keluar dari kurungan air terjun.

Beberapa hari ia lakukan perbuatan itu berdiri tegak disirami air terjun yang bergemuruh turun dari atas lamping gunung, kemudian melejit keluar.

Tambah hari tambah lama ia sanggup berdiri tegak didalam siraman air terjun, hingga pada suatu saat, ia sudah sanggup berdiri tegak dalam siraman air terjun sampai setengah harian.

Saat itu usianya sudah mencapai tujuhbelas tahunan.

Sebagai seorang pemuda berusia tujuh belasan, timbul naluri manusianya, timbul dalam benak pikirannya bermacam-macam pertanyaan.

"Heran! Bagaimana aku bisa sampai hidup ditempat ini ? Dengan hanya dikawani seekor monyet berbulu merah darah ?"

Semua perasaan naluri, bergejolak dalam dadanya, bergelora memberontak.

Ia mengelilingi sekeliling lembah mencari jalan keluar, dilakukannya beberapa kali putaran, tapi tidak mendapatkan jalan keluar dari lembah itu, semua merupakan lamping gunung berlumut licin.

Usaha pencarian jalan keluar sia-sia.

Pada suatu pagi, sebagaimana biasa, kembali memperhatikan lukisan-lukisan yang terdapat pada dinding batu dalam goa itu.

Lama sekali ia memandangnya, lama tidak mengerti.

Itulah satu lukisan corat coret tidak keruan.

Akhirnya, ditinggalkannya lukisan-lukisan itu, ia duduk termenung-menung ditepi pulau ditengah danau, memikirkan nasib dirinya.

Diperhatikannya air terjun yang bergemuruh turun dari puncak lamping gunung.

Diperhatikannya air danau yang beriak gemercik tertimpa air terjun.

Timbul rasa herannya !

Bagaimana air terjun yang tidak henti-henti mengairi danau, tapi danau itu tak pernah penuh, meluberi tepian menggenangi seluruh isi lembah.

Selagi ia masih termenung-menung demikian, tibatiba si monyet merah menarik tubuh si pemuda terjun kedalam danau berenang dibawah air.

Teringat bagaimana si monyet merah menarik tubuhnya berenang dibawah danau sampai pada saat ia memasuki lorong gelap dalam air, akhirnya sampai pada satu tepian anak sungai, mereka memunculkan dirinya.

Ternyata lorong air itu adalah jalan keluar dari dalam lembah, juga merupakan pembuangan aliran air terjun yang mengalir kedalam danau.

Kini tampak si pemuda tersenyum sendiri mengingat kejadian-kejadian itu.

Dengan mengusap-usap baju lorengnya kemudian ia memperhatikan kepalan tinjunya, pikirannya melayang kembali bagaimana ia mendapatkan pakaian loreng itu......ia tersenyum sendiri, seakan menemukan suatu yang lucu............

Teringat bagaimana bersama si monyet merah darah, setelah keluar dari dalam lembah melalui lorong dibawah air.

Berlompatan diatas dahandahan pohon dalam masih keadaan telanjang bulat sedang usianya saat itu sudah mencapai tujuh belasan tahun............

Dengan masih menyandarkan tubuhnya dibatang pohon kepalanya memandang ke-langit biru, kembali ia mengenang bagaimana dengan tinjunya ia memukul kepala seekor macan loreng hingga kepalan tangannya amblas masuk kedalam batok kepala macan itu, bagaimana macan loreng mengamuk membabi buta dengan kepalanya menyemburkan darah merah, yang kemudian kelojotan akhirnya mati tidak bergerak.

Angin pegunungan pagi berembus sejuk menyegarkan rasa tubuhnya, daun-daun pohon satu dua berguguran menimpa dirinya yang sedang bersandar melamun dibatang pohon; semua itu ia tidak hiraukan.

Dari dalam baju lorengnya, ia mengeluarkan sebilah pisau, sarung pisau terbuat dari perak berukiran indah, gagang pisau terdapat ukiran gambar naga melingkar, dicabutnya pisau itu, mata pisau mengkilat tajam mengeluarkan cahaya putih gemerlapan menyilaukan mata.

Ia bulak balikan pisau itu dipandangnya beberapa saat dan kenangannya kembali pada masa ia bersama-sama si monyet merah didalam lembah.

Itulah pisau yang sejak ia mempunyai ingatan kira-kira berumur tiga tahun, ia selalu bawa-bawa dan gunakan bermain bersama si Merah, bagaimana ia meniru gerak lemparan si Merah melemparkan pisau itu pada batang-batang pohon bunga disekeliling pulau di tengah danau.

Hingga pada usianya mencapai delapan tahun ia sudah mahir melempar pisau itu dengan jitu mengenai sasarannya.

Juga teringat bagaimana dengan pisaunya ia menguliti kulit macan loreng yang kini dijadikan pakaiannya.....

Mengingat pakaian kulit macan loreng yang kini dipakainya tiba-tiba ia tersenyum sendiri kemudian menghela napas.

Dengan menyandarkan tubuhnya dibatang pohon otaknya berpikir;

"Bagaimana dengan secara tiba-tiba timbul pikiran untuk menggunakan kulit macan lorengnya ini guna menutupi bagian tubuhnya, lebih-lebih bagaimana timbulnya satu perasaan bahwa bagian tubuh vitalnya ingin ia tutupi......"

Itulah satu naluri !

Naluri itu akan timbul pada saat-saat manusia sudah meningkat dewasa!

Tiba-tiba ia tersentak dari lamunannya, dengan masih duduk bersandar dibatang pohon ciuuut.......ia melemparkan pisaunya keatas dahan pohon diatas kepalanya.

Tidak berapa lama terdengar suara keresekan dari atas dahan itu melorot seekor ular sebesar paha menjulur jatuh tepat dihadapan si pemuda dengan kepala ular itu tertancap tembus oleh pisau si pemuda.

Dengan gerakannya itu membuktikan betapa cepatnya gerakan si pemuda melemparkan pisau, sulit digambarkan dengan kata-kata, karena pada saat pikirannya melayang-layang, tiba-tiba menyambar datang seekor ular besar menerkam kepalanya dari atas dahan dimana ia duduk, begitu ia tersentak, begitu ia lempar pisaunya, tubuh ular sudah melorot jatuh ketanah dengan kepala tertancap tembus pisau si pemuda.

Dengan ogah-ogahan si pemuda mencabut pisaunya yang tertancap dikepala ular ia gosokgosokan pisau itu ketubuh ular membersihkan noda-noda darah yang menempel pada pisaunya setelah itu ia sandarkan kembali tubuhnya dibatang pohon, memandang kelangit biru, ia masih tidak menghiraukan beberapa lembar daun berguguran tertiup angin menimpa kepala dan mukanya.

Pikirannya kembali mengambang jauh teringat si merah..............selama kecil sampai sebesar ini ia selalu bermain dengan monyet tersebut, binatang yang berbulu merah itu seakan mengerti, bagaimana harus memperlakukan seorang anak manusia, hingga pada saat ia membunuh macan loreng mendapatkan kulitnya untuk menutupi tubuhnya, tiba-tiba si monyet merah itu menunjukkan sikap buasnya seakan tidak mau lagi bermain-main dengan dia, monyet itu tidak mau lagi diikuti si pemuda kembali pulang kedalam lembah..........

bagaimana tiba-tiba sifat monyet merah berubah jauh menyerang dirinya dengan ganas berulang kali..........

yang akhirnya ia biarkan monyet itu pergi sendiri dan ia kini mengembara didalam rimba belantara seorang diri.......

Ketika sang batara surya sudah naik sembilan puluh derajat diarah timur, si pemuda bangun dari duduknya, ia kembali melanjutkan pengembaraannya seorang diri.

Sang surya timbul tenggelam diatas permukaan bumi, entah sudah berapa putaran siang berganti malam.

Dengan hanya mengenakan pakaian macan lorengnya si pemuda mengarungi rimba, gunung-gunung, tebing-tebing curam tanpa tujuan, ia melakukan perjalanannya hanya mengikuti naluri yang bergelora dalam dadanya, naluri ingin bergaul dengan sesama manusia, naluri melarikan diri dari kesunjian hidup didalam hutan rimba.

Ia lakukan pengembaraan itu dengan hanya memakan buah-buahan sebagai santapan, serta tidur diatas dahan pohon pada malam hari.

Tiba pada suatu pagi, sang surya baru memunculkan sinarnya kembali didalam rimba, sayup-sayup ia mendengar suara-suara jeritan terbawa angin gunung menusuk telinganya.

Segera ia mencari dari mana datangnya suara jeritan itu, setelah mendapat arah yang tepat, segera ia berlompatan diatas dahan-dahan pohon, berlari menuju dari mana datangnya suara tadi.

Tidak lama sampai disebuah semak-semak diatas pohon tampak tergantung lima ekor monyet hitam bergelantungan, kaki mereka diatas dan kepalanya dibawah, semula ia tidak heran, karena itulah monyet-monyet yang biasa bergelantungan diatas pohon.

Tapi setelah diperhatikannya, ternyata monyet-monyet itu terikat oleh seutas tali kulit.

Sedang dua ekor diantaranya kepalanya sudah pecah remuk, bolong dengan mengucurkan darah.

Monyet-Monyet yang masih hidup terus menerus memekik cecowetan tidak henti-hentinya.

Dibawah pohon, dimana lima ekor monyet itu tergantung, disana berjongkok tiga orang mengelilingi api unggun, memanggang seekor babi hutan.

Terdengar salah seorang diantara mereka berkata .

"Penghasilan kita hari ini rupanya lebih baik dari hari-hari sebelumnya, baru sepagi ini sudah berhasil menangkap lima ekor monyet, juga mendapat santapan yang lezat gemuk ini."

"Hok-mo, kupikir monyet-monyet ini sudah pindah boyong ke tempat ini, kalau kulihat tumbuh11 tumbuhan disini penuh dengan macam pohon buah-buahan."

Kata seorang menyambung pembicaraan kawannya.

"Hmmm, memang begitulah sifat monyet bila makanan habis disatu tempat, mereka berpindah mencari tempat lain yang subur dengan berkelompok."

Orang yang bicara duluan yang dipanggil Hokmo bicara lagi .

"Ya, biasanya monyet-monyet itu berkelompok sampai tigapuluh atau empat puluh ekor lebih dan juga mereka mempunyai pimpinan barisan sebagai ketua rombongan."

"Mana bisa jadi begitu, mereka toch binatang, mana mengerti tentang segala urusan ketua segala."

Selak seorang lagi. Hok-mo berkata lagi .

"Soal itu memang sulit dimengerti, tapi begitulah, kalau diperhatikan serombongan monyet yang boyong berduyunduyun itu selalu mengikuti seekor yang didepannya, tentulah itu dia sebagai pemimpin barisan."

Suara-suara itu sangat asing bagi si pemuda karena baru kali inilah ia mendengar manusia bicara.

Selama dalam lembah ia tidak pernah bicara, tiada kawan untuk diajak bicara, hingga sampai pada usia dewasa, ia tidak bisa bicara juga tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh orang-orang itu.

Semua percakapan-percakapan tadi tidak bisa dimengerti !

Menampak lima ekor monyet yang terikat kaki keatas kepala kebawah, kadang kala terdengar suara cecuwetan si monyet yang seakan bersedih minta tolong, telah menimbulkan rasa setia kawan si pemuda yang selama itu hidup bersama-sama si Merah, tanpa pikir dan tidak menyadari apa dan akibat dari tindakannya, dengan satu gerakan ringan, si pemuda menghampiri dahan pohon itu, dengan pisaunya ia melepaskan satu persatu ikatan kaki-kaki monyet yang masih hidup.

Ketiga monyet itu merasa dirinya bebas dari ikatan masing-masing, berlompatan menyerang kearah tiga orang dibawah yang sedang mengelilingi api unggun.

Seekor diantaranya berlompat keatas kepala salah seorang mencakar serta menggigit hidung orang itu.

Gerakan itu juga dibarengi dengan kedua ekor monyet lainnya.

Orang yang mendapat nasib sial adalah si Hokmo, begitu merasa ada benda melayang menyambar kepala, ia terkejut, berusaha mengelakkan samberan itu, tapi sudah terlambat!

Karena masih dalam perasaan girang, dalam suasananya asyik mengobrol dengan kawankawannya, Hok-mo menjadi agak lengah hingga ia sudah tidak berhati-hati lagi, lebih-lebih semua gerakan si bocah melepaskan ikatan-ikatan monyet itu tidak menimbulkan suara sedikitpun, Hok-mo berhasil diinjak kepalanya, diberaki serta dikencingi monyet.

Sesudah itu, dengan ganas, si monyet menggigit juga hidungnya.

Begitu ia sadar, segera dihempaskan dengan kedua tangannya binatang itu ketanah, tapi dasar sudah nasib malang, daging hidung Hok-mo turut terbawa gigitan monyet hingga sumpung.

Dari tempat itu, bersembur darah merah !

Melihat kejadian itu, kedua kawannya terkejut, salah seorang segera mencabut golok untuk membunuh monyet yang terbanting.

Tapi mendadak menyambar dua ekor monyet, langsung mengancam mereka, masing-masing menggigit geger dan leher kedua orang itu.

Karena keadaan mereka sudah siaga, kasihan monyet-monyet itu, satu persatu terbanting ditanah, tidak bisa bernapas lagi.

Kini ketiga orang itu sudah mengejar monyet yang dihempaskan Hok-mo.

Ternyata monyet itu tidak mati, ia kesakitan berkuik hendak melarikan diri, hampir saja serangan golok salah seorang mengenai kepalanya.

Tiba-tiba melayang satu bayangan belang menendang golok dari tangan si penyerang, golok itu terpental melayang diudara menancap disebuah batang pohon.

Dihadapan mereka tiba-tiba berdiri seorang pemuda gondrong berpakaian kulit macan loreng.

Menyaksikan serangan goloknya gagal, bahkan sudah dibikin terpental keudara oleh tendangan kaki pemuda yang kini berdiri dihadapannya.

Mereka mundur setindak.

Hok-mo dengan lubang hidung masih mengucurkan darah membentak .

"Bocah, nyalimu terlalu besar, berani main gila dihadapanku........."

Dibarengi dengan berakhirnya ucapan itu, tubuh Hok-mo melejit menyerang si pemuda dengan gerakan gesit, mengancam jalan darah kematian si pemuda.

Menyaksikan gerak-gerik Hok-mo yang berangasan, si pemuda hanya tersenyum-senyum saja, menghadapi ancaman maut demikian, ia anggap satu pemainan yang biasa dilakukan dalam menirukan lukisan-lukisan pada dinding goa dalam lembah bersama si monyet merah.

Ketika serangan Hok-mo sudah hampir mengenai sasarannya, tiba-tiba Hok-mo kehilangan bayangan si pemuda, kaget bukan kepalang, belum lagi sadar apa yang telah terjadi, tiba-tiba tubuhnya sudah tertendang dan melayang keudara, jatuh ngusruk tertumbuk batang pohon besar.

Menimbulkan suara mengguruh yang keras, dahan pohon bergoyang-goyang, daun-daun berguguran, Hok-mo pingsan dibawah pohon itu.

Setelah berhasil mengelakkan serangan Hok-mo, bahkan tanpa disadari si pemuda sudah membuat tubuh Hok-mo terpental keudara tertumbuk pohon dan kemudian pingsan, si pemuda berdiri dengan masih tersenyum-senyum menghadapi kedua orang lainnya.

Kedua orang itupun terkejut bukan kepalang, ia tidak melihat dengan gerakan apa si pemuda membuat tubuh Hok-mo melayang diudara dan juga tidak mengetahui dengan cara bagaimana pemuda itu mengelakkan dan menyerang kembali.

Hingga berakhir dengan pingsannya Hok-mo.

Mata mereka melotot keluar memperhatikan keadaan si pemuda yang kini masih berdiri tersenyum-senyum dihadapannya.

Sementara mereka kesima, ditatapnya si pemuda tanpa mengucapkan sepatah kata-pun, ia perhatikan dari ujung rambut sampai ketapak kaki si pemuda, bulak balik, kembali diperhatikan dari kaki keatas kepala, herannya bukan kepalang.

Bagaimana seorang pemuda yang masih berumur sekitar belasan tahun bisa merubuhkan Hok-mo dengan begitu mudah ?

Sedang si pemuda masih tersenyum senyum memperhatikan keadaan dua orang dihadapannya.

Rambut orang itu sama dengan rambutnya sendiri, gondrong awut-awutan, wajahnya yang seorang, pipi kiri keriput seperti bekas luka terbakar, hingga nampak kedua tulang rahang kirinya berikut gigigiginya.

Mata kanannya melotot keluar seperti mata ikan maskoki, sedang mata kirinya meletos picek, tampak sungguh menyeramkan.

Sedang seorang lagi yang disebelah kanan, bermata cekung kedalam sipit seperti mata babi, dagunya panjang, lebih panjang dari rahang atas, giginya nampak besar-besar.

Kalau saja orang biasa atau pemburu biasa yang berjumpa dengan mereka, tentunya sudah lari terbirit-birit, saking seram melihat tampangtampang mereka yang seperti setan kesiangan.

Pemuda yang selamanya hanya hidup dengan monyet, menampak wajah orang-orang ini hampir sama seperti monyet bahkan boleh dikatakan lebih buruk lagi dari pada monyet, hingga pemandangan ini adalah merupakan hal biasa baginya, hingga tidak menyeramkan.

Setelah hilang rasa kesimanya, salah seorang yang berahang bawah lebih panjang, bermata cekung sipit membentak dengan suara yang serak seram .

"Bocah gendeng, menghadapi kematianmu, kau masih cengar cengir ? Cepat sebutkan siapa nama gurumu? Nanti, kalau otakmu sudah pindah keperutku, gurumu bisa mencariku untuk menuntut balas."

Ternyata, manusia ini senang makan otak hidup ! "Siang-mo jangan banyak cincong, kepruk saja kepalanya, hmm, pasti otaknya lebih lezat dari otak monyet-monyet itu."

Kata seorang disebelah kirinya, yang memiliki pipi kiri keriput bermata kanan seperti mata ikan maskoki sedang mata kirinya picek.

Semua ucapan-ucapan orang-orang itu tidak dimengerti si pemuda, ia hanja tersenyum-senyum saja.

Melihat kelakuan si pemuda, nampak kedua orang itu menyeringai, rupanya dalam keadaan marah.

Mereka juga geli melihat kelakuan si pemuda yang tidak tahu mati, tapi tampak seringaian mereka itu sebetulnya sungguh sangat menjijikkan, menyeramkan bagi siapa yang memandangnya.

Terdengar Siang-mo membentak .

"Bocah gila, kau tahu berhadapan dengan siapa ? Kau berani cengar cengir menghadapi maut ? Sungguh gila ! Selama hidupku, belum pernah ada orang yang berani main gila di hadapan kami tiga orang,hhhmmmmm ....... sungguh hari ini aku menemukan bocah gila cengar cengir."

Kawan-kawan Hok-mo tidak tahu bahwa si pemuda tidak mengerti bahasa yang ia ucapkan, meskipun mereka berteriak-teriak sampai serak, si pemuda tidak mengerti, hanya tetap tersenyumsenyum saja, menjaksikan kelakuan orang-orang di hadapannya itu.

Juga si pemuda tidak menyadari bahwa nyawanya bisa melayang keakherat setiap detik.

Si pemuda tidak sadar bahwa ia kini sedang berhadapan dengan tiga orang iblis rimba persilatan yang sudah terkenal kekejamankekejaman dan keganasan-keganasannya membunuh manusia hanya seperti membunuh semut saja.

Juga mereka memiliki hobby aneh, mereka suka makan otak monyet mentah-mentah dan memperkosa wanita-wanita cantik.

Mereka berburu monyet hanya perlu untuk memakan otak monyet itu mentah-mentah, dengan cara menggantungkan mangsanya, monjet itu dikeprak kepalanya, langsung dicomot otaknya dimakan dengan lahap.

Di mana mereka muncul, pasti timbul kegemparan, tidak perduli wanita bersuami atau tidak, jika mereka mau, pasti dilahapnya, kemudian dibunuh begitu saja.

Siapa berani menghalangi niatnya pasti rohnya melayang keakherat.

Kejahatan serta kebejatan moral manusia jelek itu sudah meliwati takeran sampai-sampai partai18 partai besar rimba persilatan kewalahan menghadapi mereka yang memang memiliki kepandaian silat tinggi.

0)d‟w(0 MEREKA itulah tiga orang iblis dengan gelaran Sam-mo Eng ciauw dari gunung Kolo-san.

Orang yang berpipi keriput seperti bekas luka terbakar, nampak kedua tulang rahang atas bawahnya bagian pipi kiri sehingga gigi-giginya kelihatan jelas, mata kanannya melotot keluar seperti mata ikan mas koki, mata kirinya meletos picek adalah Long-mo Eng-ciauw.

Sedang orang yang memiliki mata cekung kedalam sipit seperti mata babi berdagu lebih panjang dari rahang atas, bernama Siang-mo.

Seorang lagi yang pingsan ngusruk akibat benturan pohon, adalah yang termuda bernama Hok-mo, sebetulnya dialah orang yang masih utuh wajahnya hingga merupakan yang tercakap diantara ketiga orang iblis itu, hanya kedua daun telinganya tidak ada, tampak hanya lubang telinganya saja akibat gigitan si monyet yang sudah membuat hidungnya geroak bolong, maka kini tampak mereka bertiga sudah tidak sempurna wajah-wajah manusia asli.

Iblis-iblis Long-mo dan Siang-mo menyaksikan kelakuan si pemuda yang hanya tersenyumsenyum dihadapan mereka, tentu saja membuat kedua iblis itu tidak bisa menahan sabarnya, yang memang mereka tidak punya kesabaran.

Iblis Long-mo yang mata kanannya melotot seperti mata ikan maskoki melirik kearah iblis yang berdagu menjulur panjang, rupanya memberi isyarat untuk segera membikin mampus bocah ini.

Dengan kecepatan kilat yang sulit dilihat oleh mata, mereka berbareng menyerang si pemuda dari kiri dan kanan, dengan maksud membuat si pemuda mampus sekaligus ditempat itu.

Si pemuda rupanya jadi menghadapi, masih hijau, serangan iblis yang mendapat serangan demikian, agak bingung, bagaimana harus ia belum berpengalaman tempur, bagaimana bisa menghadapi dua kawakan kotor itu.

Begitu maut hampir merenggut jiwanya, malaikat neraka membuka buku untuk memberi pendaftaran, tiba-tiba ..............

"Cluuutt..."

Si pemuda melejit keluar, dengan gerakan yang ia selalu gunakan, ketika melejit keluar dari kurungan air terjun dalam lembah, rupanya Iejitan yang sering ia lakukan ketika keluar dari kurungan air terjun juga adalah salah satu gerak yang terdapat dalam lukisan di dinding goa.

Setelah berhasil melejit dari dua serangan iblisiblis kejam itu, ia berjumpalitan, duduk diatas dahan pohon.

Karena serangan kedua iblis itu begitu cepat dan mereka begitu yakin atas kepandaian sendiri, pasti serangannya akan membuat si pemuda mampus seketika, tiba-tiba mangsa itu menghilang, mereka sudah tidak bisa mengerem lajunya kekuatan serangan.

Hingga baku hantam dan saling pukul sendiri.

Terdengar suara gedebuk, peletak, tubuh mereka terjengkang kebelakang, masing-masing menjadi babak belur.

Untung si iblis Siang-mo melihat gelagat tidak baik, ia miringkan kepalanya, sehingga pundaknya saja yang terkena cengkeraman iblis Long-mo, kalau tidak, pasti otaknya sudah muncrat berarakan.

Menyaksikan sasarannya lenyap, pukulannya mengenai tempat kosong, bahkan mengenai kawan sendiri, iblis Long-mo meletik berdiri, ia berpikir .

"Hmm .... Sam-mo Eng-ciauw dari gunung Ko-losan, selama hidup gentayangan malang melintang didunia Kang ouw belum pernah mengalami nasib sesial hari ini. Dari mana datangnya si bocah edan? Yang heran, dengan mudah dapat mengelakkan serangan mautku? Siapa guru anak gila ini? Dari golongan mana? Aku harus segera membikin mampus padanya!"

Tidak kurang herannya iblis Siang-mo, sambil bangkit berdiri ia berpikir keras.

"Siapa? Dari mana ini bocah gendeng? Sudah berani main-main dengan Sam mo Eng ciauw? Kurang ajar!"

Berpikir bolak-balik, mereka tak dapat menemukan jejak asal-usul si bocah, siapa guru dan dari golongan mana, tentu saja bagaimana mereka tahu jejak asal usul si pemuda, sedang si pemuda sendiri tidak tahu asal-usul dirinya.

Dan tidak mengerti, bagaimana ia bisa hidup dalam dunia.

Dia hanya tahu bahwa dia keluar dari satu lubang lorong air dalam lembah, mengembara dari puncak gunung ke puncak gunung lainnya mengikuti gelora rangsangan naluri pada jiwanya.

Iblis Long-mo masih penasaran, ia tidak pernah takut kepada siapapun, karena rasa jengkelnya belum lenyap, lebih-lebih melihat sikap si bocah diatas dahan, tersenyum-senyum sambil uncanguncang kaki memperhatikan adegan adu tubruk dengan kawannya sendiri, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Long-mo segera menjejakkan kakinya mencelat kearah dahan pohon dimana si pemuda nangkring sambil berteriak ;

"Bocah gila, kuhancurkan batok kepalamu."

Melihat datangnya serangan, si pemuda yang masih dalam keadaan posisi berduduk melejit keatas melalui kepala si iblis, kakinya menjejak belakang punggung iblis itu, hingga dalam keadaan melayang di udara iblis Long-mo tidak sempat lagi untuk mengelak atau menangkap dahan pohon, sudah terjejak, kontan tubuh iblis Long-mo tengkurap ditanah.

Pemuda yang masih belum mengerti perbuatan iblis itu, hanya masih tersenyum-senyum seakanakan sedang bermain-main dengan iblis-iblis itu, setelah berhasil menendang dengan kakinya, ia melejit berjumpalitan diudara, duduk kembali didahan pohon.

Pikirnya .

"Hai, rupanya setiap orang suka melakukan gerakan-gerakan seperti terdapat pada lukisan-lukisan didinding goa dalam lembah, mereka ini juga senang sekali bermain seperti itu." Si Pemuda belum sadar, bahwa ia sedang menghadapi ancaman maut, sewaktu-waktu nyawanya bisa terbang keneraka, sambil masih tersenyum-senyum diatas dahan, ia memperhatikan lawannya yang ngusruk tengkurap ditanah. Sangkanya mereka sedang bermain-main seperti mengikuti lukisan-lukisan yang terdapat dalam dinding goa. Iblis Long-mo yang sudah jatuh tengkurap dengan muka babak belur tertumbuk akar pohon, bangun dengan mengusap usap mukanya yang terasa sangat sakit, ia berpikir .

"Hm, bocah ini tentu murid seorang gaib yang sudah lama tidak muncul dalam dunia !"

Berpikir demikian ia memperhatikan keadaan sekeliling tempat itu, diperhatikannya semaksemak, dahan pohon ternyata disana sunyi tidak ada lain orang. Maka pikirnya lagi;

"Baru muridnya, bagaimana kalau sang guru si bocah yang turun tangan? Pasti aku akan mampus ditempat ini."

Memikir demikian, segera ia memberi isyarat kepada Siang-mo dan segera menyambar tubuh Hok-mo yang masih pingsan, melejit kabur dari tempat itu.

Sayup-sayup masih terdengar teriakan mereka berkumandang di udara.

"Bocah setan, biar lain kali kukeremus batok kepalamu. Aku mengurus kawanku yang pingsan. Tunggu pembalasanku......" Larinya Sam-mo Eng-ciauw begitu cepat tidak berapa lama tiba dikota Siao-shia di propinsi Shoatang. Sedang mereka berlarian, tiba-tiba hampir saja bertubrukan dengan seorang yang juga kebetulan memotong jalannya, orang ini sebelumnya tidak memperhatikan wajah iblis itu, tapi seketika hampir bertubrukan ia berteriak tertahan;

"Aaaaa........"

Terkejut bukan kepalang.

Apa yang dilihatnya itulah tiga wajah buruk, ia sudah keluar siapa adanya mereka, itulah iblis kejam Sam-mo Eng-ciauw pemakan otak monyet, pemerkosa wanita, tukang bunuh berdarah dingin.

Kontan kedua kaki orang itu gemetaran, lari salah, diam pun salah.

Karena si iblis Siang-mo masih belum hilang rasa mendongkolnya ia sudah kepruk kepala orang itu sehingga mengalami pembocoran dibagian ubun-ubunnya, mati ketika itu, tanpa bisa mengeluarkan jeritan.

Peristiwa itu sudah dapat dilihat oleh seorang hweesio gundul, yang segera menghampiri mereka, setibanya dihadapan si iblis, hweeshio gundul itu berkata dengan menyebutkan nama budha;

"Omitohud! Siang-mo Eng-ciauw tidak hujan tidak angin membunuh orang tanpa dosa, sungguh keterlaluan. Dosamu sudah liwat timbangan, meskipun bukan tandinganmu, tapi melihat perbuatan iblismu ini dihadapanku, ingin juga menghajar adat pada kalian tiga iblis terkutuk."

"Keledai gundul!"

Bentak Siang-mo.

"Apa urusanmu dengan orang ini, hmm, ya, ya, ya, kau juga rupanya sudah bosan hidup di dunia; ingin pindah keneraka, biar kuantar sekalian kau naik keneraka........"

Belum lagi gema suara iblis Ienyap diudara, entah dengan gerakan apa, tiba-tiba tubuh hweeshio gundul terpental, dan jatuh dimuka satu rumah makan, dengan kepala sudah bolong, otaknya berceceran dijalan.

Terdengar suara gedabruk yang keras di muka rumah makan, orang-orang yang mendengar suara itu keluar, ingin menyaksikan apa yang terjadi, mereka keluar dan;

"Aaaah, si iblis Sam-mo Engciauw........"

Belum habis ucapan orang itu, sudah melayang jiwanya, bahkan bukan dia saja, lebih dari sepuluh orang yang berada dimuka rumah makan itupun sudah jadi korban keganasan iblis Sam-mo Engciauw.

Mereka membunuh tanpa lihat laki, perempuan, tua dan muda, semua tidak terkecuali, asal tampak dihadapannya, nyawanya segera lapor keakherat.

Setelah melampiaskan keganasannya, kedua iblis Sam-mo Eng-ciauw memasuki rumah makan.

Didalam rumah makan itu sudah menjadi sunyi sepi tidak tampak seorangpun hanya masih berdiri si pemilik rumah makan dibelakang meja kasir, keadaan orang itu sangat ketakutan sekali menyaksikan adegan yang terjadi dipintu rumah makannya.

Iblis Siang-mo meletakkan tubuh Hok-mo yang masih pingsan kekursi, kemudian ia mengeprak meja memanggil si pemilik rumah makan yang nampak masih gemetaran .

"Hei, cepat kemari."

Pemilik rumah makan segera menghampiri iblisiblis itu, tanpa berani buka mulut ia mematung tergetar dihadapan iblis-iblis ganas itu.

"Panggil tabib!"

Bentak si iblis Long-mo dengan melototkan mata, yang memang sudah melotot itu. Pelayan rumah makan gagagugu aauu, baru setelah mana terdengar suaranya gemetar .

"Itu.......... itu.................."

"Monyet ! Itu itu apa,"

Bentak iblis Siang-mo geregetan, hampir tangannya melayang, tapi mengingat masih membutuhkan tenaga orang ini ia tahan napsunya.

"Itu........... itu......... tabib......"

Lanjut si pemilik rumah makan sambil telunjuk jarinya mengarah kedepan pintu, di mana menggeletak beberapa mayat yang sudah pecah ubun-ubunnya.

Siang-mo dan Long mo mengikuti kearah yang ditunjuk oleh si pemilik rumah makan, ia mengerti, salah seorang yang dibunuh diantaranya tentu terdapat tabib kota Siao-shia.

Long-mo membentak lagi .

"Cari tabib lain!"

Pemilik rumah makan menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata gemetar, keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya .

"Ti ..... dak .... ada .... tabib .....lagi !"

Mendengar jawaban itu, kedua iblis saling pandang, tiba-tiba si iblis Siang-mo berkata .

"Hmm, bawa seember air dingin, cepat." Tanpa mendapat perintah kedua kali si pemilik rumah makan membalikkan tubuh, hampir saja ia jatuh saking lemasnya, pergi kebelakang rumah makan mengambil air. Tidak lama si pemilik rumah makan sudah kembali dengan menenteng seember besar air dingin, diletakkan dimuka kedua iblis itu disamping meja. Siang-mo mengangkat ember itu dan byuuuurrrr..... disiramkan kemuka Hok-mo yang masih pingsan bersandar dikursi. Keruan hidungnya sudah sempoak akibat gigitan monyet, air dingin yang menyiram mukanya memasuki lubang hidung Hok-mo, hingga jalan napas hidungnya tersumbat air, ia jadi gelagapan, lalu seketika siuman dari pingsannya. Tampak wajah Hok-mo mengerinyit sakit, merasakan rasa perih luka bekas gigitan monyet yang tersiram air, ketika ia menampak disampingnya berdiri seseorang yang ia tidak kenal, itulah si pemilik rumah makan, saking geregetannya pada si monyet yang menggigit hidungnya belum terlampiaskan, maka .

"Bletak !"

Tiba-tiba kepala si pemilik rumah penginapan sudah bolong ubun-ubunnya memuncratkan darah merah, menjadi korban pelampiasan kemendongkolan Hok-mo.

Pemilik rumah makan yang tidak mengerti silat, tubuhnya kelojotan sebentar tanpa tahu bagaimana tiba-tiba nyawanya melayang keakherat.

Ia mati penasaran.

Dasar iblis-iblis, melihat perbuatan Hok-mo, mereka tertawa mengkikik.

Peristiwa pontang pantingnya Sam-mo Engciauw dari gunung Ko-lo san dipermainkan seorang pemuda yang belum terkenal, telah menimbulkan satu kekejaman baru bagi iblis-iblis itu yang semula mereka hanya gemar makan otak monyet, memperkosa wanita kini keganasan sudah meningkat lagi satu tingkat.

Tragedi ngeri dimuka rumah makan kota Siaoshia membuat kota itu menjadi sunyi sepi.

Para pedagang menutup dagangannya menyelamatkan diri, toko-toko tidak satu yang berani buka, rumah penduduk tertutup rapat tidak seorangpun yang berani lalu lalang dikota itu.

Mereka masingmasing sembunyi dalam rumah menahan napas atau pergi jauh menyelamatkan diri.

Ketiga Iblis Sam-mo Eng-ciauw, berpesta pora dengan sesuka hatinya didalam rumah makan melahap makanan minuman yang ada dalam rumah makan itu, seakan itulah milik mereka.

Mereka duduk disatu meja besar dengan membawakan sikap gaya masing-masing iblis itu.

Tiba-tiba Hok-mo yang baru sadar dari pingsannya, sambil meraba-raba hidungnya yang sumpung berkata .

"Long-mo, apa kau sudah bikin mampus itu bocah pejajaran ?"

"Hem, kau kira begitu gampang?"

Sahut si Longmo. "Ya ! Tak kusangka selama kita malang melintang puluhan tahun, baru pagi ini dipermainkan bocah ingusan."

Sambung Siang mo. Hok-mo berkata lagi.

"Aku heran, jurus apa yang ia gunakan membuat aku nyungsep, gerakannya begitu aneh sekali ...?"

"Bocah itu memiliki gerakan begitu cepat,"

Sambung Long-mo.

"Sampai aku sulit mengenali ilmu silat apa yang digunakannya. Hei, Siang-mo, apakah kau pernah lihat ada gerakan-gerakan ilmu silat seperti itu?"

Siang-mo mengkerut-kerutkan keningnya, kemudian menggeleng-gelengkan kepala katanya .

"Belum pernah kulihat gerakan ilmu silat seperti itu, gerakan-gerakan si bocah agak berbeda dengan gerakan-gerakan ilmu silat yang ada didalam rimba persilatan."

Hok-mo, dengan menahan sakit hidungnya, berkata.

"Kukira ia murid seorang berilmu yang sudah lama tidak muncul dalam dunia Kang ouw, melihat gerak-geriknya ia baru turun gunung."

"Itulah !"

Kata Siang-mo.

"Kukira begitu tapi kalau ia murid seorang berilmu yang sudah mengasingkan diri, bagaimana ia begitu bodoh?"

"Bodoh ?"

Potong Long-mo.

"Apa yang kau maksud bodoh ? Tokh hanya dengan melejit sana sini seperti setan sudah bisa merobohkan kita, bagaimana kalau ia turun tangan menyerang, bukankah nyawa-nyawa kita sudah bisa kabur dari raga masing-masing ?" Siang-mo berkata lagi sambil menunjukkan cengirannya.

"Apa yang kau kata memang betul! Itulah bodohnya mengapa dia tidak langsung balas menyerang membunuh kita, dia hanya mengelakkan serangan-serangan, apakah bocah itu tidak kuatir kelak atas pembalasan kita?"

"Ya, kita harus tuntut balas atas kekurang ajaran bocah ingusan itu."

Kata Hok-mo.

"Kita harus melatih ilmu terhebat itu .... !"

"Aaaaaa"

Berteriak Siang-mo.

"Hampir kulupa, ilmu itu selama ini belum sempat kita latih, selama ini kita hanya sibuk dengan urusan monyetmonyet hutan itu."

"Ya, ya, ha, ha, ha, hua ... ."

Tertawa Long-mo.

"Dikota ini gadisnya cantik-cantik hua, hua ha, ha, kita bisa mulai melatihnya, ha, ha, ha........"

"Tapi berapa banyak gadis dikota kecil ini, kukira tidak cukup untuk kita,"

Kata Hok-mo. Long-mo berkata lagi dengan masih tertawa-tawa .

"Hok-mo... kau jangan kuatir tidak kebagian, di sini cukup satu dua gadis untuk seorang, toch kita harus segera meninggalkan tempat ini, kalau tidak bagaimana kalau si bocah gendeng itu datang mengacaukan rencana kita."

"Ya, betul, betul."

Teriak Siang-mo.

"Kita harus cepat bertindak, jangan buang-buang waktu, toch ditempat lain masih banyak gadis-gadis cantik."

"Ha, ha, ha, .... untuk melatih ilmu ini tidak perlu gadis cantik, cukup asal masih perawan tulen."

Kata lagi Long-mo. "Hm ... ."

Dengus Hok-mo.

"Aku akan pilih yang cantik-cantik lebih meresap."

"Hmmm ... ."

Long-mo dan Siang-mo mendengus berbareng bangkit dari duduknya berjalan keluar rumah makan diikuti Hok-mo.

Diluar rumah makan, keadaan sunyi senyap, tak tampak seorang manusia yang berlalu lalang, disana hanya beberapa ekor anjing berlarian, mencium-cium bau darah mayat-mayat yang menggeletak pontang panting dimuka rumah makan.

Ketiga iblis Sam mo Eng-ciauw berkeliaran dalam kota Siao-shia, mereka mendobrak pintupintu rumah dan toko-toko yang tertutup, membunuh siapa saja yang bertemu dengannya.

Memperkosa gadis-gadis wanita cantik kemudian dibunuhnya.

Kembali terdengar suara kedubrak gedabruk, diiringi dengan suara jerit kematian memecahkan kesunyian kota Siao-shia.

Setelah puas melakukan kebiadabannya, mereka melesat pergi kearah utara, meninggalkan korbankorban itu......

Keadaan kota Siao-shia kembali sunyi senyap, disana menggeletak mayat-mayat manusia darah berceceran disana sini.

Dalam keadaan sesunyi itu belum tampak manusia berkeliaran, hanya terdengar lolonglolongan anjing memecahkan kesunyian.

O o odwo o O Saat-saat kota Siao-shia mengalami tragedi mengerikan, si pemuda dalam hutan yang ditinggal lari oleh iblis-iblis Sam-mo Eng-ciauw, ia hanya memandang dengan acuh tak acuh kepada buronnya ketiga iblis itu.

Ia juga tidak mengejar.

Dasar sudah nasib ketiga iblis masih baik, mereka bisa bebas dari kematian.

Kalau saja si pemuda tahu, mereka itu sejenis manusia apa dan ancaman apa sebetulnya sudah menimpa dirinya, sudah pasti biar bagaimanapun tingginya kepandaian ketiga iblis itu bukan tandingan si pemuda.

Pasti dalam beberapa gebrakan saja mereka harus menyerahkan nyawanya ditangan si pemuda.

Pemuda yang belum mengerti kentut busuknya rimba persilatan, ia biarkan ketiga iblis itu lari dihadapan hidungnya, dengan senyum simpul saja.

Siapakah adanya si pemuda sakti ini ?

Monyet yang ditolong si pemuda, rupanya juga mengerti bahwa si pemuda itulah yang menjadi tuan penolongnya, lebih-lebih si pemuda sendiri mengerti maksud dari gerak gerak tubuh monyet serta suara cecuwat cecuwetnya monyet hingga memudahkan hubungan persahabatan mereka dalam rimba belantara itu.

Sungguh suatu kebetulan yang tidak terduga salah satu monyet yang masih hidup mendapat pertolongan si pemuda adalah seekor yang menjadi kepala rombongan kelompok monyet-monyet yang mencari makanan, berpindah dari satu rimba kerimba lainnya, begitu mendapatkan pertolongan si pemuda, bebas dari bahaya kematian, ia sudah mengerti akan budi baik si pemuda, dengan kewawat-kewewet menyatakan maksudnya.

Binatang itu mengajak pemuda berloncatan diatas dahan-dahan pohon, sampai pada satu rimba lebat tidak jauh dari tempat dimana terjadi pertempuran dengan si iblis Sam-mo, si pemuda yang sudah lama bergaul dengan monyet merah sejak masih bayi, sudah tentu segala apa yang dilakukan monyet-monyet itu ia mengerti.

Disana tampak sunyi senyap, keadaan tempat itu meskipun dalam keadaan siang, tapi juga nampak gelap, sinar matahari tidak bisa menembus daun-daun pohon yang begitu lebat dalam hutan belantara itu.

Segerombolan monyet-monyet yang tadinya bersembunyi dibalik dahan pohon, ketika menampak sang ketua mereka tiba dengan seorang manusia, mereka tidak berani keluar dari tempat sembunyinya, tapi setelah mendengar lengking suara si monyet yang datang bersama si bocah, tiba-tiba daun di atas dahan pohon ber-gerakgerak dan bermunculanlah sekelompok monyetmonyet disekitar tempat itu, mereka berjumlah kurang lebih empat puluh ekor banyaknya.

Melihat munculnya demikian banyak monyetmonyet, hati pemuda menjadi girang, kini ia mempunyai kawan begitu banyak, setelah mana, timbul pula rasa ke-kanak-anakannya segera ia cecuwat-cecuwet kepada sang monyet yang menjadi pimpinan rombongan, kemudian berlarian pergi berlompatan diatas dahan-dahan pohon.

Tiba pada satu semak-semak belukar, disana terdapat sebidang tanah lapang, si bocah loncat turun dengan diikuti oleh keempat puluh monyetmonyet lainnya.

Setelah cecuwat-cecuwet maka terjadilah satu barisan monyet yang mengurung si bocah ditengah-tengah.

Kini pemuda sudah mulai menggerak gerakkan kaki dan tangannya sedemikian rupa, segera diikuti oleh monyet-monyet itu yang memang memiliki sifat meniru-niru perbuatan manusia.

Meskipun binatang-binatang itu tidak mengerti apa maksud dari perbuatan si pemuda.

Si pemudapun tidak mengerti apa yang ia lakukan, hanya mengingat akan perbuatan monyet merah kepada dirinya dalam mengikuti lukisanlukisan didinding goa batu di dalam lembah sunyi, lalu iapun menirukan perbuatan monyet merah itu dihadapan puluhan monyet-monyet hutan itu.

Perbuatan si bocah berhasil ditiru oleh monyetmonyet yang juga mengikuti gerakan-gerakan si bocah, tapi karena jumlah mereka terlalu banyak, serta jarak mereka tidak beraturan, hingga mereka sudah saling gebuk diantara kawan sendiri, yang menimbulkan kegaduhan, dan terjadilah satu pemandangan aneh, monyet-monyet itu saling gigit saling cakar dengan teman-temannya.

Itulah satu pertempuran gaya monyet.

Melihat ini, hati si bocah girang ia teringat bagaimana si monyet merah kadang kala juga menyerang dirinya, dalam melakukan latihanlatihan silatnya, dianggapnya monyet-monyet inipun sedang langsung mempraktekkan latihanlatihan yang diajarkannya.

Hingga ia saking girangnya sampai berlompatan ditengah-tengah arena pertempuran.

Tidak seberapa lama, disana sini terdapat monyet-monyet yang sudah menggeletak dengan tubuh penuh mandi darah akibat cakaran dan gigitan temannya sendiri.

Melihat kejadian ini tentu bagaimanapun sebagai anak keturunan manusia ia memiliki kecerdikan, kejadian itu tidak boleh terjadi lebih lama, kalau tidak monyet-monyet itu akan mati seluruhnya dalam arena pertempuran dengan kawan-kawannya sendiri.

Segera ia bersiul.

Suara siulan itu mendengung menggema angkasa.

Hutan rimba yang tadinya sunyi senyap kini terdengar suara riuh tidak keruan dari sana sini, burung-burung berterbangan diangkasa menghindari bunyi siulan yang menggema diangkasa.

Derap langkah binatang-binatang buas serabutan lari menjauhi datangnya suara itu.

Semua itu terjadi dalam sekejap saja.

Pertempuran monyet-monyet terhenti, mereka jatuh terjengkang dengan tubuh gemetaran.

Mereka begitu takut karena mendengar irama siulan si bocah menggema angkasa menggetarkan isi rimba.

Setelah bunyi siulan sirap, monyet-monyet yang berjatuhan telentang masih belum berani bergerak, tubuh mereka tergetar keras.

Setelah pemuda cecuwat cecuwet barulah monyet-monyet itu dengan perlahan-lahan bangkit berdiri, memperhatikan gerak gerik pemuda, dengan tubuh masih gemetaran.

Melihat pemuda tidak membuat gerakan-gerakan yang menunjukkan sifat bermusuhan, barulah monyetmonyet itu berani berlompatan, mereka lari serabutan naik keatas pohon, bergelayutan disana.

Seekor monyet yang menjadi pimpinan rombongan menghampiri pemuda dengan langkah lenggak lenggok lalu cecuwat cecuwet yang segera dimengerti oleh si pemuda, maka merekapun berlompatan keatas dahan pohon mengembara dalam rimba belantara.

0)d...w (0 TRAGEDI mengerikan dikota Siao-shia sudah berlalu tiga hari.

Kini keadaan kota itu sudah mulai ramai lagi, rumah-rumah penduduk yang diobrak-abrik oleh iblis-iblis Sam-mo Eng-ciauw sudah banyak diperbaiki, suasana sedih dan berkabung masih tampak disana-sini atas kemalangan yang menimpa sanak famili mereka.

Dikota itu hanya terdapat dua rumah makan, yaitu rumah makan Sun-ceng-sun-wan yang keadaannya masih tutup.

Sedang rumah makan dibagian barat kota, penuh sesak dikunjungi orang-orang yang datang dari seluruh pelosok, mereka yang datang terdiri dari macam-macam golongan dan aliran rimba persilatan, mereka ingin melihat dan mendengar sendiri bagaimana terjadinya tragedi yang menimpa kota Siao-shia.

Dari luar pintu rumah makan mendatangi masuk seorang tua bertubuh kurus kering, dia mengenakan pakaian compang camping, ia berjalan masuk seenaknya, matanya jelalatan kesana kemari mencari meja yang masih kosong.

Tiba-tiba terdengar suara orang memanggilnya .

"Hei, pengemis bangkotan, kau juga datang ketempat ini untuk mengemis."

Si pengemis terkejut menengok kearah datangnya suara itu. Ternyata orang yang menegurnya adalah seorang nenek tua berambut putih, memiliki sinar mata tajam.

"Hemm,"

Dengus si pengemis.

"Nenek bengek, sudah belasan tahun tidak berjumpa, tidak tahu angin apa yang membikin kau muncul ditempat ini."

Berkata si pengemis tua sambil menyeret satu bangku didepan si nenek. Si nenek tua berkata lagi.

"Begitu aku turun gunung mendengar berita tentang terjadinya peristiwa biadab yang dilakukan oleh iblis Sam-mo Eng-ciauw, segera kudatang kemari untuk mencek kebenaran berita itu. Ternyata disini juga sudah datang orang-orang dari enam partai rimba persilatan. Tie-kak siansu dari Siauw-lim juga sudah turun gunung datang ketempat ini."

"Kim-ce Lonnie, jangan banyak cerita dulu, lekas pesankan makanan dan minuman untukku, sesudah perut kenyang baru bicara lagi."

Berkata si pengemis.

"Dasar kau Pie-tet Sin-kay tidak tahu diri juga berani mengemis padaku."

Berkata Kim ce Lonnie yang kemudian memanggil pelayan memesankan makanan untuk Pie-tet Sin kay.

Tidak berapa lama seorang pelayan datang membawakan makanan dan minuman diletakkan dihadapan Pie-tet Sin-kay.

Pie tet Sin-kay segera berkata .

"Coba kau bawa arak lebih banyak, tenggorokanku kering, kau tidak usah takut tidak dibayar, semua rekening diperhitungkan oleh si nenek peot ini."

"Baik, baik,"

Kata pelayan berjalan pergi mengambil beberapa kati arak, lalu diletakkan diatas meja dimuka si pengemis.

"Pie-tet, bagaimana dalam keadaan orang masih berkabung kau senang-senang mabok-mabokan ditempat ini."

Kata Kim-ce Lonnie.

"Huh ! Toch tidak ada hubungannya dengan diriku, mereka berkabung salah sendiri, mengapa tidak memiliki kepandaian tinggi untuk menghajar pergi iblis-iblis Sam mo Eng ciauw!"

Jawab Pie-tet Sin-kay sambil mengunyah makanannya. Kim-ce Lonnie berkata .

"Hm, kau anggap dirimu memiliki kepandaian tinggi untuk menghadapi iblis itu."

"Jelas! Jika aku tidak merasa ungkulan menghadapi mereka, bagaimana aku berani datang mengejar ketempat ini."

Kata Pie-tet Sin-kay sambil menenggak araknya. Tiba-tiba Kim-ce Lonnie tertawa bergelak-gelak lalu berkata .

"Sudah pasti kau berani, hi, hi, hi, ... mereka toch sudah pergi. Memang dasar kau gembel pahlawan kesiangan hi, hi hi.." Pie-tet Sin-kay menenggak araknya lagi lalu katanya .

"Kau nenek setan gunung Bu san tua-tua masih suka ngocok orang, tapi kau sendiri apa kemampuanmu? Hei ! Apa kau sudah tahu, bagaimana terjadinya peristiwa itu?"

"Kurang begitu jelas,"

Kata Kim-ce Lonnie.

"Dari obrolan-obrolan orang disini, Sam-Eng-ciauw tiba sudah dalam keadaan babak belur berlumuran darah."

"Aaaaaah ...."

Pie-tet Sin-kay terkejut.

"Siapa orang yang sudah begitu berani membentur iblis dari Ko-lo-san itu."

"Tidak ada yang tahu."

Jawab Kim-ce Lonnie.

"hanya yang lebih aneh lagi seorang iblis Sam-mo, si Hok-mo sudah kehilangan batang hidungnya."

"Huah .... jadi iblis itu juga sudah rusak wajahnya ! Ah dari mana munculnya manusia pandai yang sudah bisa melukai iblis-iblis itu?"

Berkata Pie-tet Sin-kay. Kim-ce Lonnie berkata lagi .

"itulah yang mengherankan, mengapa orang itu hanya melukai iblis-iblis demikian rupa, mengapa tidak langsung membunuh ketiga iblis itu, sekalian melenyapkan bencana rimba persilatan dikemudian hari."

Pie-tet Sin-kay berkata .

"Kukira orang itu juga mendapat luka akibat serangan si iblis, barulah iblis-iblis itu bisa melarikan diri, atau, ah........kemungkinan orang itu juga sudah mati dibunuh mereka." "Mm......"

Dengus Kim-ce Lonnie.

"Sungguh mengherankan, apakah hweeshio-hweeshio gundul itu sudah berhasil menyelidiki jejak iblis-iblis itu ?"

Pie-tet Sin-kay melengak katanya .

"jadi kedatangan mereka hendak menyelidiki jejak iblisiblis itu?"

"Ya, diantara korban terdapat murid Siauw-lim, dan murid Bu-tong-pay!"

Sedang mereka bicara, dari luar mendatangi masuk tiga orang, itulah ketua Bu-tong-pay dengan dua orang muridnya, begitu sampai dimeja dimana Pie-tet Sin-kay dan Kim-ce Lonnie, salah seorang padri memberi hormat dan berkata.

"Ah, jiwi berdua juga datang."

Pie-tet Sin-kay dan Kim-ce Lonnie membalas hormat.

"Sudah belasan tahun tidak berjumpa, apakah Sung-ceng San totiang ada baik?"

Berkata Kim-ce Lonnie.

"Baik, hanya......"

Kata Sung-ceng San totiang.

"Aku sudah tahu."

Potong Kim-ce Lonnie.

"tentang muridmu itu, sudahlah tak perlu dibicarakan lagi."

"Ya, tak pinceng sangka, pada generasi ke-enam ini Bu-tong-pay mendapat malu besar atas perbuatan iblis Sam-mo itu."

Berkata lagi Sungceng San totiang ketua Bu-tong-pay.

"Totiang, carilah meja kosong, jangan mematung disitu,"

Pie-tet Sin-kay nyeletuk.

Sung-ceng San totiang tidak memandang kesana-sini, tanpa ucapan sepatah katapun dengan wajahnja masih menunjukkan rasa duka dan dongkolnya atas kematian muridnya, ia menghampiri satu meja yang baru saja kosong ditinggali oleh tamu yang berangkat keluar.

"Sungguh keterlaluan iblis-iblis Sam-mo terkutuk memperkosa wanita begitu rupa,"

Tibatiba terdengar suara orang bicara di belakang meja Pie-tet Sin-kay duduk.

"Apakah kau melihat jelas kejadian itu ?"

Tanya seorang yang duduk di depan orang yang bicara duluan.

"Bagaimana aku tidak lihat jelas, begitu mendengar ribut-ribut didepan rumah makan, semua orang bergegas-gegas lari menjauhi si iblis, pintu rumah sudah ditutup. Mendengar keributan itu segera kukeluar maksudku ingin melihat apa yang terjadi, kutanyakan kepada seorang yang berlari kearahku, orang itu hampir saja menubruk tubuhku, belum kutanya, dia sudah marah-marah, katanya, apakah sudah bosan hidup, tidak lekas menyingkir ? Iblis Sam-mo Eng-ciauw sedang mengamuk. Mendengar itu aku menjadi heran, bagaimana ibIis-ibIis ini bisa tiba-tiba muncul dikota ini, iblis yang sudah populer kejahatannya ada urusan apa dikota ini, karena rasa heranku, aku segera naik keatas pohon rindang, dari sana dengan jelas kulihat sepak terjang mereka."

Ia menenggak araknya kemudian sambungnya lagi .

"Dari pintu yang didobrak, si ibIis memperkosa anak gadis empek Ciu, ia tarik gadis itu, disobeknya seluruh pakaian gadis itu, tidak selembar benangpun menempel pada tubuhnya."

"Leng-ko, apa gadis itu tidak teriak ?"

Tanya seorang yang duduk disebelah muka Leng-ko.

"Mana bisa teriak? Tolol ! Baru lihat tampang iblis itu saja, si In-moy sudah pingsan, ia sudah lemas tak bisa bikin apa-apa lagi,"

Jawab Leng-ko sambil tarik napas.

"Jadi ......"

Selak orang itu ingin cepat mendengar cerita Leng-ko.

"Waktu itu aku juga sebetulnya ketakutan setengah mati, tapi begitu lihat tubuh In-moy yang kuning langsat telanjang bulat, kebetulan menghadap keluar, ah........aku sudah lupa takutku semangatku seakan terbang, kupandang tubuh gadis itu..........si iblis merebahkan In-moy disitu juga di lantai, rupanya sudah tidak tahan gelora napsunya, langsung.............."

"Kau lihat tegas iblis itu berbuat......."

Potong orang yang duduk didepannya.

"Dasar kau bego Beng Hok,"

Bentak Leng-ko.

"bagaimana aku tidak lihat tegas, bisa cerita padamu, toch tadi sudah kubilang jelas dipintu rumah empek Ciu !"

La menenggak araknya lalu melanjutkan ceritanya .

"Meskipun itu iblis rupanya jelek tapi kemauan kawinnya seperti orang biasa...."

"Orang biasa, bagaimana ?"

Potong Beng Hok lagi. Mata Leng-ko mendelik, katanya .

"Kau jangan potong-potong ucapanku, kalau mau dengar, ya dengarlah, kalau tidak, ya sudah."

"Ya, ya, aku mau dengar, teruskan, kau jangan marah-marah dulu, kau tahu orang-orang partai dan golongan dari segala aliran sudah meluruk kemari mencari tahu tentang peristiwa itu, juga mencari jejaknya iblis itu, hingga sampai sekarang belum ada seorang yang tahu secara mendetail kejadian perkosaan, serta apa maksudnya iblisiblis itu berbuat demikian,"

Kata Beng Hok lagi. Leng-ko meneruskan pembicaraannya .

"Mmm, sesudah iblis sumpung itu merebahkan In-moy, ia tidak terus melalap korbannya. Ia raba-raba sekujur tubuh gadis itu, buah dadanya dipijit-pijit, diusap-usap rambutnya dielus-elus ... ah tampaknya mereka seperti kemanten baru, In-moy tentu diam saja tidak bergerak, ia sudah pingsan,"

Ditenggaknya secawan arak.

"Hayo cepatan ceritamu,"

Kata Beng Hok yang sudah tidak sabar mendengar lanjutan cerita itu, juga sambil menenggak araknya. Leng-ko meneruskan penuturannja .

"Tangan iblis terus meraba-raba sampai pada .....oh .... tibatiba ia sesapkan kepalanya dibagian itu ..., hampir aku jatuh menggelinding dari atas pohon melihat adegan itu."

Ia tenggak lagi araknya.

"Terus, terus........ bagaimana?"

Tanya Beng Hok cepat.

"Kelihatannya...."

Sambung Leng-ko.

"si hidung sumpung sesapkan kepalanya, ia seperti....." "Seperti apa?"

Potong Beng Hok.

"Seperti...."

Lanjut Leng-ko.

"Menjilat-jilat."

"Hei, bocah apa kau tidak ngiler."

Tiba tiba satu suara terdengar dibelakang Leng-ko. Itulah suara Pie-tet Sin-kay. Leng-ko menoleh dan disana tampak duduk si pengemis Pie-tet Sin-kay, ia tidak kenal siapa orang itu, lalu katanya.

"Gembel tua, kalau kau yang lihat bagaimana, apa kau tidak minta mengemis untuk ambil bagian?"

Pie-tet Sin-kay tertawa berkakakan, kemudian katanya.

"Kau bocah ingusan pandai balik katakata orang, ha, ha, teruskan ceritamu aku juga mau dengar, tapi entah si nenek ini sanggup dengar apa tidak."

Kim-ce Lonnie mendengus katanya.

"Kau tua bangka gila, aku datang kesini bukan mau dengar cerita yang bukan-bukan, tapi ingin tahu jejak kemana larinya iblis-iblis Sam-mo Eng-ciauw itu."

Pie-tet Sin-kay berkata lagi, sambil tertawa .

"Ha, ha, ha, .... kau kira jejak bagaimana yang mau kau selidiki, ha, ha, aku gembel tua mau dengar kejadian mendetail. Kalau kau tidak mau dengar kau boleh tutup kupingmu, ha, ha, ha......."

Kim-ce Lonnie berdengus tidak bicara lagi.

"Hei ! Teruskan !"

Tiba-tiba Beng Hok berkata.

"Ya, hayo nyeletuk. teruskan!"

Pie-tet Sin-kay turut Leng-ko melanjutkan penuturannya ;

"Sesudahnya si iblis sumpung sesapkan kepalanya, digeleng-gelengkannya keras kepalanya itu sambil seperti menjilat, tangannya mengusap-usap....."

Ia berhenti bicara menenggak araknya, nampak muka Leng-ko sudah menjadi merah akibat banyak minum arak.

"Sesudah itu bagaimana?"

Tanya lagi Beng Hok kurang sabar.

"Sesudah kenyang, ia sesapkan kepalanya oh.........kasihan si In-moy.......hancurlah sudah......"

Kembali Leng-ko menenggak secawan arak lagi.

"Lalu..........?"

Tanya Beng Hok cepat.

"Sial,"

Bentak Leng-ko.

"Lalu apa? Ya apa, kalau sudah kejadian itu, apa lagi ? Dasar bego.........."

"Hmmm........"

Dengus menenggak araknya. Beng Hok sambil Wajah Kim-ce Lonnie dan Pie-tet sin-kay samasama merah agak jengah mendengar cerita Leng-ko yang ngelantur sampai disitu.

"Sungguh........."

Lanjut lagi Leng-ko.

"Lama sekali si hidung sumpung nengkurapi In-moy, sambil tangannya meraba-raba sana sini tubuhnya ber-gerak-gerak naik turun, ah sungguh mengerikan..........!"

"Apa yang mengerikan, toch itu sudah lumrah kalau laki-laki bisa lama........"

Kata Beng Hok.

"Bukan lamanya yang mengerikan tolol........"

Kata Leng-ko.

"Entah mengapa, tiba-tiba si iblis sumpung gerakkan tangannya, mengepruk ubunubun In-moy.........."

"Haaa.........."

Tiba-tiba terdengar suara terkejut orang-orang disekitar rumah makan itu, tidak terkecuali Pie-tet Sin-kay dan Kim ce Lonnie.

Suara itu begitu riuh, rupanya diam-diam mereka semua pasang kuping mendengar cerita Leng-ko.

Beng Hok buru-buru bertanya .

"Sesudah dia kepruk kepala In-moy, apa pula yang terjadi?"

"Iblis sumpung itu mulutnya menghisap ubunubun In-moy yang sudah pecah akibat keprukan tangannya."

Kata Leng-ko.

"In-moy yang sedang pingsan mendapat pukulan kepalanya kontan kelejetan, si iblis juga sambil menyedot kepala Inmoy, tubuhnya seperti kelejetan, tubuh iblis itu berjingkat-jingkat pelan, ia baru menduplak rubuh disamping In-moy. In-moy sudah tidak bergerak, dari ubun-ubunnya mengalir darah merah, selangkangannya juga meleleh darah ! Sesudah itu iblis sumpung bangun pakai pakaiannya lalu melejit keluar."

"Ah ... pemuasan sex abnormal ..."

"Kejam ... ."

"Iblis sadis ... ."

Terdengar makan itu. beberapa teriakan dalam rumah "Ilmu siluman."

Tiba-tiba Kim-ce Lonnie berkata. Pie-tet Sin-kay melenggak, lalu katanya.

"Ya. Serupa ilmu siluman, apakah mereka sedang melatih ilmu siluman itu, sungguh berbahaya." Leng-ko menoleh kearah Pie-tet Sin-kay, ia masih belum mengerti, segera mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

"Ilmu siluman bagaimana ?"

"Itulah cara melatih ilmu siluman ! Dengan menyedot sari perawan wanita yang masih gadis suci, tepat pada saat hampir tiba tersedotnya cita rasa kegadisan, pada saat itu juga menghisap otak gadis itu."

Kata Pie-tet Sin-kay.

"Berapa banyak gadis-gadis harus menjadi korban latihan ilmu siluman itu ?"

Tanya lagi Lengko.

"Tidak terbatas! Tambah banyak sari gadis tersedot, kekuatan iblis mereka bertambah maju, hingga sulit untuk ditaklukkan."

Kata Pie-tet Sinkay, kemudian ia bertanya pada Leng-ko;

"Dua iblis lainnya apa kau lihat ?"

"Hei gembel miskin,"

Bentak Kim-ce Lonie.

"rupanja masih senang dengan cerita begituan. Toch sama saja, seperti apa yang dilakukan si Hokmo."

"Nenek pikun, gembel ya gembel, miskin ya gembel, kau bicara tidak keruan, apa teringat waktu muda?"

Si nenek Kim-ce Lonnie cemberut asam; tampak wajahnya yang keriput tampak lebih keriput lagi.

"Hei, bocah, bagaimana dua iblis lainnya juga sama."

Desak Pie-tet Sin-kay.

"Tidak begitu jelas,"

Kata Leng-ko.

"Hanya kulihat mereka tidak romantis seperti si hidung sumpung. Begitu dapat perempuan, terus seret, tengkurap. Kadang-kadang baru tengkurap sudah kepruk kepala perempuan itu tapi tidak dihisapnya, ia melejit tanpa pake pakaian lagi."

"Hua, hua, ha, ha, ha,"

Tiba-tiba si pengemis Pietet Sin-kay tertawa.

"Rupanya iblis itu sudah salah pilih hua, hua, ha, ha........"

Sedang Pie-tet Sin-kay tertawa begitu tiba-tiba berlari seorang perempuan setengah tua sambil berteriak-teriak .

"Moy-moy ..... moy-moy .... kau dimana ...... apa saudara-saudara lihat anak gadisku? .... moy-moy ... ."

Mendengar suara teriakan perempuan setengah tua itu, orang-orang dalam rumah makan terkejut, mereka memandang kearah orang perempuan setengah umur. Leng-ko yang sudah setengah mabok bertanya .

"Siauw-ma, ada apa ?"

"Leng-ko .... tolong cari moy-moy anak itu mendadak hilang !"

"Dimana hilangnya ?"

Tanya lagi Leng-ko.

"Didapur .... didapur .....! Baru sebentar kutinggalkan ambil air disumur, baliknya anakku sudah hilang lenyap."

Jawab perempuan yang dipanggil Siauw-ma. Belum lagi hilang kejut orang-orang didalam rumah makan, diluar ramai terdengar teriakanteriakan perempuan .

"Anak gadisku hilang !"

"Oh Tuhan, kemana anak gadisku !" "Tolong, tiba-tiba anak gadisku lenyap !"

Pie-tet Sin-kay dan Kim-ce Lonnie segera lari keluar melihat suasana hiruk pikuk diluar rumah makan. Pie-tet Sin-kay menghampiri seorang perempuan tua yang berteriak teriak .

"Cucuku, cucu perempuanku didalam kamar tiba-tiba lenyap......"

"Nenek, bisakah kasih keterangan sedikit bagaimana cara hilangnya cucumu itu."

Tanya Pie tet Sin-kay.

"Oh, gembel, tolong carikan cucu perempuanku, ia hilang didepan mataku, entah bagaimana, tibatiba tampak awan putih mengepul dihadapanku, setelah mana cucuku lenyap tiba-tiba....."

Nenek itu bicara sambil menggoyang-goyangkan tubuh Pie-tet Sin-kay. Oood..wooO

Jilid ke 02

"SABAR, SABAR!"

Kata Pie-tet Sin-kay.

"nanti kucari pelan-pelan !"

Karena bingungnya si nenek lari kesana kemari berteriak-teriak .

"Cucuku .... cucuku .....?"

"Hm ...... iblis siluman mana lagi doyan perawan!"

Kata Pie-tet Sin-kay sambil berjalan masuk kedalam rumah makan. "Hei Pie-tet !"

Tiba-tiba Kim-ce Lonie berkata perlahan.

"Dalam suasana hiruk pikuk begini kemana perginya itu tosu-tosu Bu-tong-pay ?"

Ternyata dimeja yang tadi diduduki oleh Sungceng San totiang sudah kosong. Pie-tet Sin-kay berkata .

"Mungkin mengejar itu siluman-siluman yang menculik gadis-gadis."

"Gila ! Bagaimana dalam waktu sesingkat ini sudah timbul segala macam siluman. Sia-sia orang-orang Bu-tong-pay mengejar penculik gadisgadis itu. Hilangnya gadis itu lama sebelum orang didekatnya sadar apa yang telah terjadi, iblis itu menggunakan asap beracun membuat orang orang pingsan seketika. Baru menculik gadis itu."

Pie-tet Sin-kay berdengus .

"Hmmm, sungguh gila, dalam waktu sesingkat ini sudah timbul segala macam siluman."

Pie-tet Sin-kay menghela napas, kemudian berkata lagi .

"Sungguh sial nasib rakyat jaman ini, pembesar anjing, memeras, menekan kehidupan rakyat, berfoya diatas darah rakyat, timbul lagi siluman-siluman mengacaukan rimba persilatan, nenek, kita juga harus segera bertindak."

"Tidak semudah apa yang kau katakan."

Kata Kim-ce Lonnie.

"Apa sulitnya, kita satroni lebih dulu itu pembesar-pembesar anjing. Bunuh mereka, baru mengundang orang-orang sakti rimba persilatan membasmi segala macam siluman busuk itu. Kemudian kita angkat seorang patriot bangsa untuk mimpin negara, itu kaisar bangpak perlu dipancung kepalanya......"

"Pie-tet, kau bicara harus ada remnya jangan mengumbar emosi politik bulukmu disini, kalau terdengar oleh petugas-tugas kota, bukankah kepalamu dan kepalaku akan ucapkan selamat tinggal dari tubuh kita masing-masing, juga tidak sampai disitu saja rumah makan ini juga bisa jadi abu......"

Kata Kim-ce Lonnie. Pie-tet Sin-kay berkata lagi.

"Jadi melihat keadaan masyarakat dan negara kacau balau, kau sebagai tokoh persilatan mau uncang-uncang kaki sambil nyisik duduk diam."

Kim-ce Lonnie mendelik katanya.

"Kau pengemis gila politik jangan seenakmu saja menggoyang lidah, bukan aku mau uncang-uncang kaki, tapi aku tidak mau menimbulkan korban cuma-cuma, harus tunggu timing yang tepat, jangan sampai karena tindakanmu seorang akhirnya rakyat yang tidak tahu apa-apa menjadi korban, korban politikmu, mereka akan ditangkapi, dikompres suruh mengaku sebagai pemberontak, harta benda, tanah mereka disita. Bukankah keadaan ini yang diharapkan oleh pembesar-pembesar anjing itu, guna menumpuk harta kekayaan pribadinya sedang para menteri dorna melihat kekejaman pembesar-pembesar anjing itu turut kebagian komisi....."

"Hua, ha, ha, ha,....."

Pie-tet Sin-kay tertawa berkakakan.

"Kau juga rupanya bersemangat, kata-katamu sudah tidak menguatirkan kalau kepalamu akan ucapkan selamat tinggal dengan lehermu, ha, ha, hau......"

Dari luar rumah makan saat itu berjalan masuk dua orang, mereka berpakaian ringkas yang di muka wajahnya pucat pasi berumur sekitar 40 tahunan, yang berjalan dibelakang berwajah kemerah-merahan, beralis tebal, bibir tebal, tampak sangat kejam, dikedua pinggang orang itu tergantung sebatang golok.

Mereka melangkah masuk.

Matanya jelalatan mencari tempat kosong didalam rumah makan itu.

Langkahnya diayun menuju kesatu meja kosong.

Begitu mereka duduk seorang pelayan menghampiri katanya .

"Jiwie enghiong, mau pesan makanan apa ?"

Kedua orang itu melenggak kemudian saling pandang. Agaknya sedang menimbang nimbang, makanan apa yang hendak dipesan.

"Dirumah makan kami,"

Kata lagi si pelayan cepat.

"Tersedia arak wangi istimewa bakpau daging, telor pindang, nasi goreng, ikan bakar, babi panggang, ayam goreng dan bebek tim, silahkan jiwie Enghiong coba !"

"Jie Kun, apa saja boleh asal jangan bakpau, jangan lupa kau pesan arak."

Berkata salah seorang yang beralis tebal kepada kawannya.

"Kau dengar! Ambil arak dan barang makanan asal jangan bakpau !"

Berkata orang yang dipanggil Jie Kun. "Baik enghiong, tapi bakpau rumah makan kami istimewa,"

Kata pula pelayan rumah makan sambil ngeloyor pergi, tak lama sudah datang dengan senampan hidangannya.

"Toako apakah kita langsung pergi melapor pada Tay-ong?"

Bertanya Jie Kun.

"Ya ! Pasti kita harus minta bantuan Tay-ong, untuk tuntut balas atas kematian Kie-heng, perempuan sundel itu harus dipancung kepalanya !"

Kata seorang yang beralis tebal.

"Toako, apakah tidak lebih baik kita serbu saja itu gedung Siang-an piauw-kiok di Sin-ciu-hu?"

"Kau sudah gila ! Baru anak perempuannya saja, si sundel piausu pejajaran itu sudah berhasil membunuh Kie-heng. Apa lagi ...."

"Ya, kudengar sundel itu mendapat julukan Botay-tiong-kiam si Pedang macan betina, dari mana ia dapat pedang pusaka."

Kata Jie Kun. Selagi mereka bicara sambil makan minum tibatiba terdengar suara orang yang menegurnya .

"Selamat, selamat rupanya jiwie ada itu Tiauw Jie Kun dan Pang Liong Ma dari gerombolan berandal Hek-khie-hwee gunung Ouw-pok-san."

Kedua orang itu melengak, memperhatikan orang yang bicara, orang beralis tebal berkata dengan suara bengis ;

"Pengemis, jangan turut campur urusan kami !"

"Hm, tidak perlu turut campur? Ha, ha, kalau aku turut campur, tentu dua batok kepalamu akan pisah dari tubuhmu, ha, hua, ha .... baru saja kalian dihajar oleh anak perempuan kenalanku, kau sudah kucar kacir, sampai sarangmu berantakan diamuk Bo-tay-tiong-kiam, ha, ha ....apa lagi kalau aku Pie-tet Sin-kay ambil bagian."

Ternyata orang yang menegurnya adalah Pie-tet Sin-kay.

Mendengar hinaan Pie-tet Sin-kay, kedua orang itu hilang sabar, berdiri mencabut golok masingmasing, dengan cepat mereka menyerang Pie-tet Sin-kay.

Menyaksikan adegan yang terjadi secara tibatiba itu para tamu-tamu dalam rumah makan menyingkir menjauhi diri, menyelamatkan diri mereka masing-masing, mereka tidak menginginkan terlibat dalam keributan itu.

Pie-tet Sin-kay hanya mendengus.

Golok kedua orang itu hampir mengena batok kepala Pie-tet Sin-kay, Pie-tet Sin kay masih tetap berdiri tenang.

Belum lagi Pie-tet Sin-kay bergerak, tiba-tiba terdengar suara truk, truk, dua kali, kedua golok orang itu terpental menancap di tiang bangunan rumah makan itu.

Disusul dengan suara ketepak ketepok, muka kedua orang itu menjadi merah bengap, mereka sempoyongan.

"Hm, anjing kecil !"

Bentak Pie-tet Sin kay.

"Kalau berani main gila lagi, nyawamu kubetot keluar. Masih untung bagimu, Bo-tay-tiong-kiam hanya membunuh seorang diantaramu, ia sudah begitu baik, memberi kelonggaran bagimu untuk bertobat. Jika kesempatan ini tidak kau pergunakan panjang."

Baik-baik, umurmu tidak akan Orang-orang dalam rumah makan itu tidak tahu bagaimana kedua golok Pang Liong Ma dan Jie Kun terpental dan menancap ditiang rumah makan.

Mereka hanya mengangakan mulut menyaksikan kejadian itu terheran-terheran.

Dengan muka merah bengap kedua orang itu ngeloyor pergi.

"Tunggu dulu."

Bentak Pie-tet Sinkay.

"Kau tidak suka makan pakpau disini, apa alasanmu?"

"Hei! Pie-tet, untuk apa tanya-tanya urusan bakpau, toch itu urusan mereka, mau makan atau tidak untuk apa kau jadi pusing."

Teriak Kim-ce Lonnie. Pang Liong Ma berkata .

"Baiklah, kalau kau ingin tahu, sepuluh hari setelah perkumpulanku Hek-khie-hwee digunung Ouw-pok-san diamuk oleh itu sundel.....eh.....Bo-tay-tiong lihiap, aku melakukan perjalanan selama tiga bulan, tiba dikampung Cin-kee-cun, aku mampir kesatu rumah makan untuk tangsel perut, aku pesan bakpau dan arak, ternyata.....didalam bakpau terdapat jari-jari manusia."

"Haaa ... ."

Pie-tet Sin-kay terkejut.

"Jadi iblis itu sudah muncul lagi ?"

"PlE-TET, apa kau tahu itu perbuatan siapa, bagaimana dalam bakpau bisa terdapat jari-jari manusia?"

Tanya Kim-cee Lonie.

"Hm, makanya kau nenek reot jangan mendekam terus diatas gunung Bu-san saja, apa ilmu kepandaianmu sudah tambah maju, selama belasan tahun kau tapa di gunung Bu-san, ha, ha ......"

Mendengar jawaban Pie-tet Sin-kay nyeleweng dari pertanyaan Kim-cee Lonie, wajah si nenek cemberut keriput, lalu tanyanya lagi ;

"Kau pengemis apek, baru punya kemampuan menjatuhkan golok dengan tulang ayam dalam mulutnya sudah berani bicara besar, lagakmu seperti anak kecil."

Ternyata yang membuat kedua golok Pang Liong Ma dan Tiauw Jie Kun terpental adalah dua potong tulang ayam yang disemburkan dari mulut si pengemis Pie-tet Sin-kay.

Pang Liong Ma meneruskan penuturannya.

"Mengetahui isi bakpau terdapat jari manusia, segera kupanggil pemilik rumah makan, tetapi ia juga tidak mengerti, bagaimana sampai didalam bakpau terdapat jari manusia, dengan mendongkol kupukuI orang itu, tapi baru saja kepalanku bergerak, tiba-tiba berkeredap beberapa benda putih menjambar tubuhku, serangan tanganku kutarik kembali, mengelakkan datangnya serangan gelap, ternyata benda-benda berkeredap itu adalah beberapa pisau terbang, salah satu berhasil menggores kulit lenganku, darah mengucur keluar. Karena kuatir pisau beracun segera kulari meninggalkan rumah makan itu untuk mengobati luka lenganku. Hatiku agak lega, setelah tahu senjata-senjata tidak beracun, juga orang yang melemparkan pisau-pisau terbang itu ternyata tidak mengejar."

"Hei, siapa yang melemparkan pisau-pisau gelap itu?"

Tiba-tiba Kim-ce Lonie berteriak.

"Aku tidak tahu."

Jawab Pang Liong Ma.

"Begitu kurasa lenganku sakit mengucurkan darah segera kami lari meninggalkan tempat itu."

Setelah habis berkata begitu kedua orang itu ngeloyor keluar, meninggalkan rumah makan dengan meninggalkan beberapa keping uang perak diatas meja.

"Hayaa .... iblis-iblis sudah bermunculan lagi !"

Berkata Pie-tet Sin-kay sambil menyeret kursi duduk kembali dimeja. Kim-ce Lonnie mengkerutkan alis bertanya .

"Pie-tet bisa kau terangkan apa maksud katakatamu dengan iblis-iblis muncul lagi ?"

Pie-tet Sin-kay mengangkat cawan arak menghirup seteguk lalu katanya .

"Selama belasan tahun kau mendekam digunung Bu-san, pada sebelas tahun yang lalu muncul satu iblis yang menamakan dirinya Kun-see-me-ong teng Kie Lang ….."

"Jadi selama itu iblis itu malang melintang dirimba persilatan ?"

Potong Kim-ce Lonnie. Pie-tet Sin-kay melanjutkan penuturannya .

"Iblis itupun doyan melalap perempuan-perempuan cantik, membunuh manusia seperti memites semut, daging manusia dicincang dijadikan isi bakpau, ia suruh murid-muridnya menjual menyebarkan bakpau-bakpau itu keseluruh kota, sampai suatu hari, pusat kegiatan mereka dapat diketahui oleh Ceng It Cinjin dari gunung Lionghouw-san. Sarang mereka diobrak abrik, sepuluh murid-muridnya terbunuh, tapi iblis Kun-sie-meong Teng Kie Lang lenyap tanpa bekas, sejak peristiwa itu sudah tiga belas tahun berselang orang tidak tahu di mana iblis Kun-sie-me-ong menyembunyikan dirinya, kini tanda-tanda itu sudah mulai muncul kembali di kampung Cin-keecun...."

"Sungguh luar biasa,"

Berkata Kim-cee Lonnie.

"dalam waktu beberapa hari sudah bermunculan tragedi-tragedi aneh, mengganasnya Sam-mo Engciauw, hilangnya gadis-gadis secara misterius kini datang lagi berita timbulnya kembali iblis Kun-sieme-ong Teng Kie Lang, sungguh berbahaya, kalau sampai iblis-iblis itu bersatu, rimba persilatan akan menjadi kacau balau, mayat mayat manusia bergeletakan disana sini...."

"Bukankah itu bagus!"

Kata Pie-tet Sin-kay.

"Tulang-tulangku yang sudah tua, kulit keriput, urat kaku, akan mendapat pekerjaan lagi, hua, hua, munculnya iblis-iblis itu bisa menampung tubuh peotku yang selama ini sudah menjadi pengangguran, ha, ha, haaa, lapangan kerja baru terbuka didepan mata....... ha, hua, huaa......."

Sedang Pie-tet Sin-kay tertawa berkakakkan dalam rumah makan tanpa memperdulikan orangorang yang berada dalam rumah makan itu, tibatiba dari luar rumah makan terdengar suara orang berlarian serabutan kesana kemari, berteriak58 teriak, disana sini timbul suara gedabruk gedubrak pintu-pintu ditutup, mereka berteriak-teriak diluar rumah makan.

Pie-tet Sin-kay yang masih tertawa berkakakan mendengar keributan itu tertawanya terhenti seketika, mulutnya celangap, kemudian katanya heran .

"Ada apa lagi, disini memang tempat ajaib, asal aku tertawa berkakakan, pasti terjadi keributan, sungguh aneh !"

Segera Pie-tet Sin-kay geser kursinya berjalan keluar diikuti oleh Kim-ce Lonie.

Diluar rumah makan keadaan masih panik para pedagang menutup dagangannya, orang-orang serabutan berlarian tidak keruan.

Kim-ce Lonie menarik seorang yang sedang lari, lalu tanyanya .

"Hei, ada apa ?"

"Ada siluman, lekas lari......."

Kata orang yang ditanya.

Kim-ce Lonie dan Pie-tet Sin-kay berpandangan mata.

Mereka memperhatikan orang-orang yang lari berserabutan kian kemari.

Tak lama kemudian kota itu menjadi sunyi sepi kembali.

Kembali kota Siao-shia menjadi sunyi, hanya tampak dibeberapa jendela menongol kepala orang yang rupanya sudah kebal takut, ingin melihat siluman macam apa lagi yang muncul ditengahtengah kotanya.

Dari jalan sebelah timur kota tampak satu bayangan loreng bertubuh tegap, berambut gondrong berjalan lenggak-lenggok mendatangi kearah kota Siao-shia, dengan diikuti seekor monyet hitam.

Bayangan loreng itu bukan lain adalah si pemuda berambut gondrong berpakaian kulit macan loreng berjalan lenggak-lenggok, kepalanya menoleh kekiri-kanan, memperhatikan jalan-jalan yang dilewatinya.

Tampak dari jauh keadaan kota itu mendadak menjadi sunyi-senyap.

Inilah lakon kita !

Dengan perasaan tidak mengerti si pemuda berpikir hatinya berkata.

"Jelas kulihat dari atas puncak pohon tadi, ditempat itu begitu ramai orang-orang berlalu lalang, kini entah kemana lenyapnya orang-orang itu......."

Ia berkata dalam hati, langkahnya terus diayun maju kedepan, masih dengan penuh rasa tanda tanya.

Sampai dimuka pintu gerbang kota, ia melihat berderet-deret bangunan-bangunan rumah dikirikanan, pemandangan itu begitu asing baginya, matanya jelalatan memandang ke arah deretan bangunan-bangunan yang terdapat dalam kota itu, mulutnya menganga.

Disana sudah tak tampak orang berlalu lalang, hanya dari lubang-lubang jendela kadang kala menongol keluar kepala orang memandang kearah dimana si pemuda berbaju loreng mendatangi, kemudian nyelusup hilang dibalik jendela.

Langkah kaki si pemuda berbaju loreng diayun terus, mengikuti irama bisik hatinya, dia memasuki kota Siao-shia.

Berjalan lagi beberapa tindak, tampak di tengah jalan kota Siao-shia berdiri dua sosok tubuh manusia, seorang laki-laki tua berpakaian dekil compang camping dan seorang nenek tua berpakaian putih bersih.

Mereka berdiri bagaikan patung menatap arah datangnya si pemuda berbaju loreng.

Si pemuda menampak dua orang berdiri ditengah jalan, ia masih mengayunkan langkahnya terus menghampiri dua orang itu dengan tersenyum-senyum girang.

Dua orang itu adalah si pengemis Pie-tet Sin-kay dan Kim-cee Lonnie dari gunung Bu-san, mereka memperhatikan bentuk tubuh serta pakaian si pemuda dengan mulut ternganga terheran-heran, menyaksikan pakaian si pemuda sangat aneh, itulah pakaian kulit macan loreng.

Belum hilang rasa heran mereka, tiba-tiba melejit datang beberapa sosok bayangan putih menghadang perjalanan si pemuda.

Pie-tet Sin-kay dan Kim-cee Lonnie memperhatikan orang-orang yang datang.

Ternyata mereka adalah Sun-ceng San totiang dan kedua muridnya, serta beberapa hweeshio Siauw-lim-sie dibawah pimpinan Tie-kak Hweeshio.

Terdengar suara bentakan Sun-ceng San totiang yang beradat berangasan, bentaknya .

"Bocah siluman, kau bawa lari kemana itu gadis-gadis. Cepat beri jawaban, sebelum pinceng hilang sabar!" Si pemuda tidak mengerti segala ucapan katakata pertanyaan Sung-ceng San totiang, ia hanya tersenyum-senyum mengawasi tingkah laku Sungceng San totiang sambil masih tetap tersenyumsenyum, dalam hatinya berkata ;

"Semua orang yang kujumpai kelakuannya aneh-aneh, selalu menunjukkan sikap ingin bermain-main mengikuti gerak-gerak lukisan dalam dinding goa. Untung aku sudah memahirkan semua gerak-gerakan lukisan itu, kalau tidak, mungkin sulit untuk bisa bercampur gaul dengan mereka......"

Anggapnya, semua orang itu mudah digauli ! Sung-ceng San totiang yang menampak si pemuda masih tersenyum-senyum, tidak menjawab pertanyaannya, ia membentak lagi .

"Mmm, hei, anjing kecil, cepat kau bicara....."

"Suhu, biar kuajar adat pada siluman cilik ini !"

Terdengar murid Bu-tong-pay memajukan usul.

"Leng Bie, kau beri ajaran padanya, tapi hatihati."

Leng Bie mendapat perintah suhunya berjalan maju menghampiri si pemuda, ia berhenti dimuka si pemuda dan membentak .

"Siluman kurangajar, kau anggap enteng suhuku, lihat pedang, nanti apa kau masih bisa tersenyum-senyum lagi dihadapan suhuku."

Pada saat itu Pie-tet Sin-kay berbisik ke telinga Kim-ce Lonnie, untuk meninggalkan tempat itu kembali kerumah makan.

Berbarengan dengan langkah kaki Pie-tet Sinkay dan Kim-ce Lonnie meninggalkan tempat itu, tepat pada berakhirnya bentakan Leng Bie, pedang Leng Bie sudah menyambar kearah pinggang si pemuda, untuk memapas tubuh si pemuda menjadi dua potong.

"Aaaaaaa ...!"

Terdengar suara kejut orang-orang Bu-tong dan Siauw-lim.

Ternyata si pemuda sudah menghilang.

Serangan Leng Bie mengenakan tempat kosong.

Ketika si pemuda lenyap dari serangan pedang Leng Bie.

Selagi mereka terheran-heran kehilangan bayangan lawannya tiba-tiba terdengar teriakan dari atas pohon, disebelah kiri belakang bangunanbangunan rumah ;

"Tolong .... tolong ! Monyet ..... siluman!"

Orang-orang yang sedang merasa heran atas lenyapnya si pemuda, semua membalikkan badan melihat dari mana datangnya suara.

Ternyata dari batang pohon tampak merosot turun sesosok tubuh yang sudah penuh luka-luka, sedang dibelakangnya masih terus mengejar seekor monyet hitam.

Sesampainya di tanah orang itu segera lari pontang panting kearah rombongan orang-orang Bu-tong-pay dan Siauw-Iim-pay sambil masih teriak-teriak.

"Tolong! Tolong! Siluman…."

Pie tet Sin-kay dan Kim-ce Lonnie yang baru saja melangkah untuk meninggalkan orang-orang Butong dan Siauw-lim, mendengar teriakan itu.

Mereka menahan langkah.

Menengok kearah datangnya suara teriakan itu.

Sung-ceng San totiang yang beradat berangasan melihat kelakuan orang itu, amarahnya bertambah meluap, ia sudah kehilangan si pemuda, begitu menampak kedatangan orang itu berteriak-teriak, hati panasnya berkata;

"Hm, biang kerok kurang ajar!"

Kakinya menendang orang itu. Terdengar suara teriakan;

"Aduh ....."

Orang itu ngusruk di emper rumah.

Pie-tet Sin-kay segera menghampiri orang yang jadi korban tendangan Sung-ceng San totiang, ditentengnya dibawa masuk kedalam rumah makan.

Kemana hilangnya pemuda berbaju loreng?

Ketika mendadak mendapat serangan pedang, tubuhnya diputar melejit lompat melalui kepala Sung-ceng San totiang kemudian turun dengan ringan berdiri di-belakang tubuh ketua Bu-tongpay.

Gerakan si pemuda gesit dan aneh, hingga tidak tampak bayangan si pemuda berbaju loreng menggerakkan tubuhnya, seakan-akan ia menghilang dihadapan orang-orang itu.

Si pemuda melihat sang monyet berlarian mengejar seorang, ternyata orang itu juga sudah ngusruk ditendang Sung-ceng San totiang, si pemuda berbaju loreng bersiul kecil, maka mendengar siulan itu si monyet segera berlompatan lari kembali kebatang pohon tadi merambat naik.

Sung-ceng San totiang, mendengar suara siulan itu, segera membalik tubuhnya lalu perintahnya .

"Kurang ajar!

Cepat kurung anak kurang ajar ini, jangan biarkan ia lolos!"

Tie-kak hweeshio dari Siauw lim-pay pun perintahkan pada sembilan orang rombongannya ;

"Kurung ! Serang dengan menggunakan senjata biji tasbih, jangan biarkan siluman ini lolos."

Keadaan si pemuda berbaju loreng dalam sekejapan sudah terkurung rapat ditengah tengah orang-orang Bu-tong-pay dan Siauw-Iim pay.

Ia masih tenang-tenang tersenyum-senyum memandang orang-orang itu satu persatu.

Kita tinggalkan keadaan si pemuda yang terkurung oleh orang Bu-tong dan Siauw-Iim, mari kita ikuti Pie-tet Sin-kay yang menenteng orang yang jadi korban tendangan Sun-ceng San totiang.

Didalam rumah makan Pie-tet Sin-kay mendudukkan orang itu dikursi, katanya pada Kim-ce Lonnie.

"Hweeshio gundul itu sudah kalap tidak keruan. Kasihan bocah ini!"

Sambil berkata tangannya dikerjakan memencet mulut orang yang masih pingsan sampai terbuka ternganga, kemudian lidah orang itu ia tarik keluar, terdengar suara "Aaa ... ach!"

Maka orang itu siuman dari pingsannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih terasa pening, wajahnya mengerinyitngerinyit menahan sakit bekas gigitan monyet. Pie-tet Sin-kay bertanya.

"Leng-ko, bagaimana bisa terjadi begini atas dirimu?"

Leng-ko dengan mengerinyitkan wajahnya dengan napas masih memburu berkata;

"Hah begitu mendengar ribut-ribut ada siluman aku segera panjat pohon itu sembunyi disana untuk bisa melihat jelas, siluman apa lagi yang muncul dikota? Tidak tahunya diatas pohon entah dari mana datangnya, tiba-tiba monyet sialan itu mencakar pundakku, aku terkejut, kugebuk monyet itu, tapi ia gesit, sebelum gebukanku mampir ditubuhnya binatang itu sudah loncat kebelakang gegerku, menggigit, maka aku segera lari turun minta tolong. Sesampainya ditanah, aku lari kerombongan tosu-tosu gundul itu. Tapi mereka begini galak, bukan menolong, tapi malah menendang pantatku hingga aku nyungsep........"

"Sudahlah,"

Kata Kim-ce Lonnie.

"kau duduk istirahat, ini obat luka luar kautaburi ditempat luka bekas gigitan monyet, campur dulu dengan arak kau siram dilukamu."

"Terima kasih nek !"

Kata Leng-ko menyambuti obat itu. Kim-ce Lonnie berkata pada Pie-tet Sin kay.

"Hmm, kalau kuperhatikan gerak-gerik bocah itu, baru pertama kali turun gunung, entah murid orang pandai mana, kalau melihat sikapnya ia bukan dari golongan hitam."

"Hmm. apa Sam-mo Eng-ciauw dia yang menghajar sampai babak belur?"

Kata Kim-ce Lonnie.

"Kukira begitu, bocah itu memiliki gerakan aneh, dari sinar matanya yang berkilat membiru, ia pasti memiliki tenaga yang luar biasa, orang-orang Butong dan Siauw-lim itu kukira juga bukan tandingannya, pasti mereka akan roboh di bawah tangan si bocah itu."

Kata Pie-tet Sin-kay.

"Pie-tet."

Kata Kim-cee Lonnie.

"Kukira kau perlu segera memperingati padri itu, mereka mungkin sudah salah paham, aku yakin, hilangnya gadisgadis itu tidak ada hubungannya dengan si bocah."

"Huh !"

Dengus Pie-tet Sin-kay.

"Padri berangasan itu sulit dibikin mengerti, aku kenal betul wataknya, kalau kita campuri, pasti ia menganggap aku berkomplot dengan si bocah. Urusan ini bisa lebih memusingkan kepala, lebih baik kita makan minum saja ditempat ini. Menunggu hasil ronde pertandingan. Toch lebih enak."

Selagi Pie tet Sin-kay dan Kim-cee Lonnie ngobrol didalam rumah makan sambil makan minum, tiba-tiba terdengar suara siulan melengking panjang, menggema di udara menggetarkan seluruh isi kota Siao-shia.

Pie-tet Sin-kay waktu itu baru saja mengangkat cawan araknya, ketika mendengar suara gema siulan, hatinya tergetar keras, sampai cawan arak terlepas dari tangannya, jatuh dimeja.

Tidak terkecuali Kim-cee memeramkan matanya, pernapasan, menghilangkan gema siulan tadi.

Lonnie, segera ia mengatur jalan pengaruh getaran Leng-ko yang baru selesai mengobati lukalukanya bersandar dikursi, mendengar siulan itu terjengkang kebelakang berikut kursinya.

Berbarengan dengan hampir sirapnya irama siulan yang menggetarkan, tiba-tiba melayang masuk dua sosok tubuh, menubruk meja kursi didalam rumah makan.

Terdengar suara gedabruk gedubrak, meja-meja kursi berantakan berserakan kesana kemari, sedang dua sosok tubuh yang melayang menubruk meja-meja kursi dalam rumah makan jatuh ambruk dilantai rumah makan pingsan seketika itu juga.

Begitu suara siulan sirap, Pie-tet Sin-kay dan Kim-cee Lonnie segera bangkit menyaksikan apa yang telah terjadi.

Diantara meja-meja kursi yang berantakan, menggeletak dua sosok tubuh, hweeshio Siauwlim-pay, mereka pingsan.

Pie-tet Sin-kay dan Kim-cee Lonnie saling pandang, kemudian mereka berjalan keluar dengan langkah lebar.

Ditengah jalan nampak si pemuda berbaju loreng dengan pundak kirinya mengucurkan darah, berjalan menuju arah rumah makan diikuti oleh monyetnya.

Ketika berpapasan dengan Pie-tet Sin-kay dan Kim-ce lonnie, nampak sinar mata si pemuda berbaju loreng berkilat.

Membuat hati kedua tokoh silat itu menjadi tercekat mundur tiga tindak.

Si pemuda menampak Pie-tet Sin-kay dan Kimce Lonnie mundur juga tidak membuat gerakan apa-apa, si pemuda langsung nerobos masuk kedalam rumah makan.

Setelah hilang rasa kagetnya Pie-tet Sin-kay dan Kim-ce Lonnie berjalan menuju dimana tadi terjadi pengeroyokan terhadap si pemuda.

Disana tampak Sung-ceng San totiang duduk numprah ditanah, mulutnya mengeluarkan kecap asin.

Diseberang jalan tampak dua murid Bu-tong masih pingsan.

Sedang Tie-kak hweesio, keadaannya hampir serupa dengan Sung-ceng San totiang, ia duduk numprah ditanah, mulutnya mengeluarkan darah.

Sedang kedelapan anak-anak buahnya rubuh pingsan berpencaran jauh terpental kesana kemari, dua diantaranya mental masuk kedalam rumah makan.

Melihat kejadian itu, Kim-ce Lonnie segera berkata pada Pie-tet Sin-kay .

"Kau pergi kerumah makan, tolong kedua murid Siauw-lim itu, awas! Jangan sampai timbul salah paham dengan bocah itu. Aku mengurus orang-orang tolol ini."

Setelah berkata begitu Kim-ce Lonnie turun tangan memberi bantuan P3K pada anak-anak murid Bu-tong dan Siauw-lim, sedang Pie-tet Sinkay berjalan masuk kedalam rumah makan.

Didalam rumah makan tampak pemuda berbaju loreng duduk disebuah kursi, kedua kakinya ditaruh diatas meja, ia duduk seenaknya, sedang sang monyet menjilat-jilat diluka si pemuda.

Menampak kedatangan Pie-tet Sin-kay wajah si pemuda beringas, matanya memancarkan sinar berkilat memandang si pengemis.

Melihat perobahan sikap si pemuda yang semula datang kekota dengan penuh ramah senyuman diwajahnya, kini telah berobah penuh dengan sinar kebencian dan kemarahan kepada orang yang dipandangnya.

Pie-tet Sin-kay tidak menghiraukan pandangan si pemuda, ia menghampiri kedua anak murid Siauw-lim-pay, segera dipondong keluar untuk diberi pengobatan seperlunya.

Tidak lama kemudian, tugas kedua orang itu selesai sudah, para padri dan hweeshio sudah siuman dari pingsannya.

Seorang murid Bu-tongpay patah lengan kiri, dan seorang lagi terpincangpincang jalannya.

Sedang seorang murid Siauwlim-pay patah tulang rusuknya, dan dua orang lainnya patah lengan kiri, sedang yang lainnya kepalanya masih bocor mengeluarkan darah.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sungceng San totiang dan Tie-kak Hweshio ngeloyor pergi, meninggalkan tempat itu, kembali kegunung masing-masing dengan membawa rasa malu dan penasaran.

Apa yang telah terjadi?

Bagaimana ketua Butong-pay generasi keenam serta Wakil ketua gereja Siauw-lim-sie berikut seluruh anak buahnya bisa mengalami nasib naas di tempat itu?

Untuk jelasnya, mari kita mengikuti keadaan rombongan Bu-tong-pay dan Siauw-lim-pay setelah Pie-tet Sin-kay dan Kim-ce Lonnie meninggalkan rombongan mereka membawa Leng-ko kedalam rumah makan.

Setelah si pemuda berbaju loreng terkurung kembali oleh orang Siauw-lim-sie dan Bu-tong-pay yang berjumlah duabelas orang banyaknya, ia masih menunjukkan senyum ramai di wajahnya.

Ia tidak mengerti, apa maksud perbuatan orang-orang itu mengelilingi tubuhnya, hanya dianggap bahwa orang-orang itu tentunya masih ingin bermain menirukan gerak-gerak lukisan seperti terdapat didalam dinding goa dalam lembah.

Para hweeshio Siauw-lim-sie, tosu Bu-tong-pay mereka sudah mengeluarkan senjata masing masing.

"Serang !"

Sung-ceng San totiang memberi abaaba.

Maka terjadilah pertempuran satu lawan dua belas, si pemuda yang dikurung ditengah tengah kurungan hujan pedang dan biji tasbeh, tubuhnya berputaran melejit sana sini keluar dari kurungan.

Begitu tubuh si pemuda bebas keluar dari kurungan, begitu cepat orang-orang Bu-tong dan Siauw-lim bergerak mengurung kembali dengan menghujani tajamnya mata pedang dan kerasnya lemparan biji-biji tasbih.

Selama itu si pemuda hanya mengelakkan dengan gerakan-gerakan aneh luar biasa.

"Hentikan pertempuran !"

Tiba-tiba terdengar suara aba-aba Tie-kak hweeshio. Maka pertempuran berhenti seketika.

"Sung-ceng San ciangbunjin, kau atur serangan pedang bagian atas tubuh musuh, sedang dua muridmu menyerang bagian bawah, aku dengan delapan murid-muridku menghujani jalan keluar bocah ini dengan biji-biji tasbeh. Hmmm.....ingin kulihat bagaimana ia bisa lolos dari kepungan kita."

Berkata Tie-kak hweeshio.

Sung-ceng San totiang yang mendengar penuturan Tie-kak hweeshio, ia segera sadar, maka segera mengatur orang-orangnya.

Sedang si bocah yang mendengar ucapan itu masih tidak mengerti, ia masih tetap tersenyum-senyum ditengah gelanggang pertempuran.

Sung-ceng San totiang segera memberi perintah kepada dua muridnya.

"Leng Bie, kau bersama suhengmu menyerang bagian bawah pemuda itu."

Setelah memberi pesan kepala muridnya, segera ia mulai menggerak-gerakkan pedangnya, sedang muridnya meng-gerak-gerakkan pedang mengincar bagian bawah perut si pemuda, maka mulailah kembali satu pertempuran yang dahsyat seru, diiringi dengan mendesingnya suara-suara biji-biji tasbeh yang melayang terbang mengurung tubuh si pemuda.

Si pemuda yang mendapat serangan pedang dari bagian bawah perut tubuhnya, ia berusaha melejit keatas, baru sampai gerakannya setengah jalan, diudara menyambar beberapa buah biji tasbih menyerang tubuhnya.

Segera ia memutar tubuh, terdengar suara gemuruh angin menderu-deru tubuh si pemuda bergulung-gulung, kini hanya tampak berkelebatan bayangan belang terkurung oleh sinar-sinar pedang menyambar-menyambar diikuti oleh mendesingnya suara biji-biji tasbeh mengancam jalan darah si pemuda.

Bagaimanapun si pemuda belum berpengalaman tempur, menghadapi hujan serangan sinar kilatan pedang serta serangan desingan-desingan biji-biji tasbeh yang menyambar tubuhnya, ia menjadi repot, dengan masih berputaran diudara, berusaha keluar dari kurungan serangan pedang dan serangan biji-biji tasbih itu, tapi usahanya selalu gagal.

Tetap ia tidak bisa keluar dari ancaman maut.

Begitu kepalanya tersambar serangan angin dingin, ia mengelakkan sambaran angin itu, memiringkan kepalanya, baru saja kepala itu digeser miring tiba-tiba satu biji tasbeh sudah mengenai paha kirinya, dalam keadaan demikian ia hanya bisa menyelamatkan batok kepalanya dari samberan angin dingin pedang Sung-ceng San totiang, tapi bahu kirinya sudah terpapas oleh pedang itu.

Mengucurkan darah merah.

Ia jatuh duduk di tanah.

Si pemuda jatuh duduk dengan mengucurkan darah dari bahu kirinya, matanya jelalatan memperhatikan darah yang meleleh diatas tubuhnya, senyum dibibirnya lenyap seketika, berubah mengerinyit-ngerinyit, menahan sakit dan marah.

Sung-ceng San totiang, Tie-kak hwee-shio berikut anak-anak muridnya menghentikan serangan, mereka menyaksikan si pemuda jatuh duduk dengan berlumuran darah.

Sung-ceng San totiang segera berkata.

"Tie-kak hweesio, untuk melampiaskan dendam sakit hati muridku, biar kutabas saja batok kepala bocah ini."

"Hmm,"

Dengus Tie-kak hweeshio.

"jangan terlalu serakah, dendam kematian anak murid Siauw-lim juga harus dibikin impas. Kau papas leher bocah itu, berbarengan aku menghujani batok kepalanya dengan biji-biji tasbeh, kukira cara ini lebih adil !"

Tie-kak hweeshio dan Sung-ceng San totiang sepakat mereka mengangguk untuk mengakhiri riwayat hidup si pemuda.

Dengan serentak pedang dan biji-biji tasbeh menyambar kearah batok kepala si pemuda yang masih duduk mengucurkan darah, begitu serangan itu tiba, entah dengan cara bagaimana si pemuda bergulingan ditanah, serangan kedua senjata mengenai tempat kosong, terdengar suara mengguruh, debu-debu mengepul diudara.

Menyaksikan dirinya mendapat perlakuan kejam, mendadak si pemuda memancarkan sinar mata berkilatan hijau, dadanya bergolak hawa kemarahan.

Ia tidak bisa melampiaskan maksud kemarahannya.

Pedang dan biji-biji tasbeh sudah menyambar nyambar tubuhnya lagi, dalam keadaan kritis antara mati dan hidup, tiba si pemuda bersiul melengking.

Suara siulan itu menggetarkan, menggema lama diangkasa, laksana suara malaikat turun kebumi.

Jantung Sung-ceng San totiang dan Tie-kak hweeshio tergetar keras.

Telinganya dirasakan mau pecah, kepalanya terasa tidak enak, dalam keadaan perasaan demikian rupa, tahu-tahu dada Sung-ceng San totiang dirasakan sakit, pedang terlepas dari tangannya, ia jatuh numprah ditanah.

Tidak terkecuali Tie kak hweeshio begitu jantungnya tergetar, telinganya dirasakan hampir pecah seluruh sendi-sendi tulangnya seakan kehabisan sumsum.

Ia jatuh duduk dengan mulut mengeluarkan kecap asin.

Kesepuluh murid-murid Bu-tong dan Siauw-lim, berpentalan kesana kemari, dua diantaranya nyeplos masuk kepintu rumah makan dimana Pietet Sin-kay dan Kim-ce Lonnie berada.

Jatuhnya Sung-ceng San totiang dan Tie-kak Hweeshio serta terpentalnya murid-murid kedua golongan, terjadi dalam waktu singkat dan bersamaan, berbarengan dengan terdengarnya suara siulan yang menggema diangkasa.

Mereka pontang-panting, akibat serangan balasan si pemuda secara mendadak.

Kaki tangan si pemuda digerakkan, memukul, melempar dan menendang, membanting dengan diiringi suara siulannya yang menggetarkan kota Siao-shia.

Keadaan kota Siao-shia yang sunyi sepi tiba-tiba disana sini terdengar suara gedabrukkan tubuhtubuh manusia jatuh terjengkang.

Begitu suara siulan sirap, si pemuda melangkah kedepan memasuki rumah makan dengan diiringi oleh si monyet hitamnya.

Setelah mana, baru Pie-tet Sin-kay bersama Kim-cee Lonie segera memberi bantuan P3K pada orang-orang dua partai itu.

Yang akhirnya mereka pada ngeloyor pergi.

PlE-TET SIN-KAY dan Kim-cee Lonie sama-sama mengetahui, kalau padri-padri Bu-tong serta hweeshio-hweeshio Siauw-lim-pay sudah pada ngeloyor pergi, merekapun kembali memasuki ruang rumah makan.

Didalam rumah makan itu, si pemuda masih duduk dikursinya, kedua kakinya diletakkan diatas meja.

Leng-ko masih pingsan terlentang di-lantai.

Meja-meja, kursi-kursi, piring-piring dan mangkok-mangkok berantakan, pontang panting berceceran ditanah.

Pemilik rumah makan melingkar dibawah meja.

Sedang dua orang pelayan rumah makan duduk numprah bersandar di belakang meja yang terbalik.

Si monyet hitam tidak tampak disana.

Pie-tet Sin-kay duduk dimejanya, sedang Kim-ce Lonnie berjalan menghampiri si pemuda yang terluka.

Hampir Kim-ce Lonnie menghentikan langkahnya ketika menampak sinar mata si pemuda berkilatan ganas, wajahnya menunjukkan kegarangan, menyaksikan kedatangan Kim-ce Lonnie.

Meskipun tampak wajah garang, si pemuda tetap memancarkan sinar mata berkilatan, tapi ia tetap duduk tenang dikursinya dengan kedua kakinya masih diletakkan diatas meja.

Si pemuda bisa membedakan, kedua orang kakek nenek ini tidak turut ambil bagian mengeroyok dirinya, meskipun hatinya masih panas, tapi pikirannya sudah bisa bekerja dengan jernih, dibiarkan Kim-ce Lonnie mendekatinya, dengan sikap berhati-berhati.

"Bocah!"

Kata Kim-ce Lonnie dengan suara lemah lembut.

"Bahumu terluka."

Tangan Kim-ce Lonnie meraba pundak kiri si pemuda.

Menampak tangan Kim-ce Lonni bergerak kearah bahu kirinya yang masih terluka, dengan cepat si pemuda mencengkeram lengan Kim-ce Lonnie.

Kim ce Lonnie cepat menarik kembali gerakan tangannya, tapi sudah terlambat, ternyata cengkeraman si pemuda lebih cepat.

Lengan Kimce Lonnie tergenggam kuat.

Terasa tulang-tulang seakan-akan hampir remuk.

Dengan mengerahkan tenaga dalamnya kebagian lengan yang dicengkeram si pemuda, Kim-ce Lonnie membiarkan lengan itu dicengkeram demikian rupa, ia tidak melakukan gerakan apaapa.

Pie-tet Sin-kay melihat perobahan demikian, ia terkejut, bangkit dari duduknya tapi kemudian duduk kembali dengan tenang mengikuti dan menyaksikan adegan itu.

Berlangsung selama beberapa kali kedipan mata, si pemuda mengendorkan cengkeramannya, lalu melepaskan pegangan itu.

Tanpa banyak bicara lagi, Kim-ce Lonnie memasukkan tangannya kedalam saku baju, mengeluarkan sebotol obat luka, lalu katanya.

"Kau taburi obat luka ini pada bahumu !"

Sambil menyerahkan botol itu pada si pemuda.

Mendapat angsuran botol, si pemuda menyambuti dengan perasaan heran, ia bolak balik botol itu tanpa mengerti, apa maksud pemberian si nenek ?

Kim-ce Lonnie bisa menyaksikan perbuatan si pemuda yang menjadi bengong tidak keruan, hatinya turut berteka-teki, begitu juga Pie-tet Sinkay, dari kursinya, ia memandang kelakuan si bocah dengan sifat tidak mengerti.

Tanpa banyak bicara lagi, Kim-ce Lonnie menghampiri pundak kiri si pemuda yang mengucurkan darah, dengan jari-jari tangannya, ia periksa keadaan luka itu.

Si pemuda menyaksikan perbuatan Kim-ce Lonnie dengan satu pandangan sinar mata berkilatan penuh kewaspadaan.

Setelah memeriksa luka si pemuda, Kim-ce Lonnie berkata.

"Untung kau mengenakan pakaian kulit macan, kalau tidak, pasti bacokan pedang mengenai tulang."

Setelah berkata begitu, ia ambil botol obat yang dibolak-balik si pemuda, membuka tutupnya.

Dengan kedua jari tangannya, Kim-ce Lonnie melowekan pakaian kulit macan yang terobek terpapas pedang, kemudian menaburi obat bubuk pada luka si pemuda.

Kim-ce Lonnie kembali kemeja duduk dihadapan Pie-tet Sin-kay.

Si pemuda masih duduk bengong terlongonglongong.

Tambah lama, ia rasakan sakit pada lukanya berkurang, darah yang mengucur terhenti.

Matanya terkatup ia tidur ngorok dibangku.

Leng-ko, si pemilik rumah makan dan dua orang pelayan yang tadi pingsan kini sudah mulai siuman, mereka memijit-mijit kepalanya dengan sempoyongan bangun berdiri.

Mata mereka mendelik kearah si pemuda gondrong dengan pakaian macan loreng, tubuhnya penuh noda-noda darah sedang menggeros dikursi.

Leng-ko dengan tubuh masih terasa lemas duduk kembali numprah dilantai rumah makan memperhatikan si pemuda gondrong.

Seorang pelayan masih bingung, mengambil sepoci arak, diletakkan diatas meja tanpa diminta, mata Pie-tet Sin-kay terus mengawasi kearah dimana duduknya si pemuda gondrong.

Kim-ce Lonnie berkata pada Pie-tet Sin-kay.

"Sin-kay, kalau dibiarkan bocah ini keliaran tidak keruan, kukuatir akan menimbulkan bencana hebat. Juga ia seperti tidak mengerti bahasa yang kita gunakan. Apa bocah tuli?"

"Jadi, kau mau bikin apa ?"

Potong Pie tet Sinkay ugal-ugalan.

"Toch dia tidak berbuat apaapa yang membahayakan, kau perhatikan, apa yang dibuatnya disini? Soal orang orang Bu tong dan Siauw-lim, salah mereka sendiri, belum apa sudah naik darah menuduh orang yang bukanbukan. Hm, anggap mereka, orang-orang gundul itulah orang-orang suci yang tahu tata keadilan dan kebenaran, mengerti hukum-hukum Tuhan, menegakkan keadilan dan kebenaran. Nyatanya baru menghadapi persoalan sekecil ini saja sudah tidak pakai otak. Menyerang membabi buta, tanpa selidik lebih dulu seteliti-telitinya !"

Kim-ce Lonnie menarik napas panjang lalu berkata lagi .

"Maksudku biar kuajak bocah ini ke gunung Bu-san ...."

"Kau sudah gila !"

Potong lagi Pie-tet Sin-kay.

"Kalau kau bawa ia kegunungmu, bagaimana setelah gurunya tahu, ia berada digunung Bu-san bersamamu, apakah tidak menimbulkan salah paham? Kau menculik muridnya. Apa kau tidak lihat gerakan-gerakan ilmu silat bocah itu sangat aneh. Tentu gurunya juga sebangsa manusia aneh yang sulit diajak urusan. Kukira, sebaiknya jangan mencari soal tetek bengek yang tidak keruan."

"Aku kuatir kalau sampai ia tersesat ke jalan hitam !"

Kata Kim-ce Lonnie.

Pie-tet Sin-kay menghirup araknya, ia memandang langit-langit rumah makan, menikmati selusurnya cairan arak melewati tenggorokannya berputar dalam perut menghangatkan tubuh.

Baru ia berkata perlahan .

"Aku tahu, tapi kurasa tak mungkin ia sampai terjerumus dalam jalan sesat, kini jelas sudah bocah inilah yang membikin Sammo Eng-ciauw babak belur." "Apa hubungannya dengan Sam-mo Eng ciauw dengan arah perjalanan hidup bocah ini ?"

Tanya Kim-ce Lonnie dengan sinar mata tertuju kearah wajah si pemuda dengan penuh tanda tanya.

"Soalnya toch sudah logis, bocah ini menghajar Sam-mo Eng-ciauw, tentu iblis ini akan menuntut balas. Segera tersiar luas tentang munculnya satu tokoh muda anti iblis. Juga pasti Sam-mo Engciauw akan menghasut semua golongan hitam untuk membasmi bocah itu. Mereka akan mengejar-ngejar si bocah yang dianggapnya biang bencana kehancuran golongan mereka. Hanya inipun, jika dugaanku betul, si bocah ini yang pernah menghajar Sam-mo Eng-ciauw."

Kim Ce Lonnie berkata .

"Orang-orang Bu-tongpay dan Siauw-lim-pay juga akan menyiarkan bahwa bocah itulah satu siluman yang harus ditumpas, bukankah begitu ?"

"Nggg............"

Dengus Pie-tet Sin-kay.

"Urusan ini harus segera dibikin bersih, partaipartai rimba persilatan harus segera diberitahu duduk perkara yang sebenarnya, sebelum mereka terhasut oleh Sung-ceng San totiang dan Tie-kak hweeshio. Kukira kita harus bagi tugas. Aku akan ke gereja Siauw-lim-sie, menjelaskan tentang kesalah pahaman ini. Kau ke Kun-lun-san, menjelaskan tentang munculnya si bocah dalam rimba persilatan serta minta bantuan mereka mengawasi gerak gerik si bocah, jangan sampai terperosok ke jalan yang sesat. Setelah itu, Go-biepay, Swat-san-pay, Ceng-san-pay dan lainnya lagi. Masing-masing kita mengambil arah jalan yang berdekatan !"

"Bagaimana Bu-tong-pay?"

Tanya Kim-ce Lonnie.

"Siapa yang akan pergi kesana ?"

Pie-tet Sin-kay menjawab;

"Soal Bu-tong-pay jangan kita gubris dulu, tidak ada gunanya. Sungceng San totiang sangat sulit diberi mengerti, biar ia insaf sendiri akan kekeliruannya. Yang perlu, dijaga jangan sampai hasutan-hasutan Sung-ceng San totiang masuk ketelinga ketua-ketua partai lainnya. Kukira sudah cukup!"

Si pemuda yang masih menggeros tidur di kursi tiba-tiba dikejutkan oleh lompatnya seekor monyet hitam keatas bahunya.

la tersentak bangun.

Bangkit dari duduknya, setelah memperhatikan keadaan dalam rumah makan itu, ia melangkah keluar diikuti si monyet hitam.

Langkahnya terus diayun meninggalkan kota Siao-shia yang telah membawa kecewa bagi harapannya.

Ia mengembara dari satu puncak gunung kepuncak gunung, dari satu lembah ke lembah lain, dari hutan kehutan, mengikuti irama gelora naluri jiwanya, untuk bergaul dalam pergaulan hidup manusia sesamanya.

Tapi baru saja ia melangkahkan kakinya pada satu pergaulan hidup dikota Siao-shia, dengan ramai senyuman diwajahnya penuh rasa gembira tak terkira, apa yang ia cari selama ini ia telah ditemukan.

Itulah pergaulan hidup manusia.

Harapan jauh dari kenyataan !

Sambutan manusia itu begitu kejam mengeroyok dirinya tanpa salah tanpa dosa, melukai tubuhnya, menyakiti hatinya yang hampa.

Kini, dengan rasa pilu, hanya ditemani oleh monyet hitam, kembali memasuki kehidupan lamanya didalam hutan belantara.

Jauh dari kehidupan manusia.

Jauh dari angkara murka.

Jauh dari segala tipu muslihat sifat-sifat licik manusia tamak.

o o od-w o o o Hari berganti, musim berputar silih berganti, setengah tahun telah dilewatkan.

Sore itu hujan rintik-rintik membasahi bumi, tanah-tanah belukar becek tersiram air, daun pohon bergoyang tertiup angin basah.

Kilat berkeredepan, petir mengguruh dilangit hitam.

Hujan tambah lama tambah lebat, dari jauh terdengar derap langkah kaki kuda diiringi suara mengkereteknya roda kereta.

Dalam cuaca gelap, langit menghitam, tampak empat orang penunggang kuda dengan pakaian sudah basah kuyup tersiram air hujan yang ditumpahkan dari langit.

Tiga diantaranya orang laki-laki pertengahan umur.

Berbadan tegap.

Dipinggang masing-masing tergantung sebilah golok.

Mereka mencongklangkan kuda masing-masing, kepalanya menoleh kekiri kanan, seakan mencari tempat meneduh.

Seorang yang berkuda disamping kereta adalah seorang gadis berpakaian sutera putih, umurnya kira-kira diantara tujuh belasan tahun.

Parasnya cantik jelita, rambutnya mengurai basah dibalut.

Tampak jelas lekuk-lekuk tubuh bagian dadanya membusung keluar, dilapisi kain sutera putih tipis basah kuyup.

Diatas kereta duduk seorang kusir kereta, berusia kita-kita empat puluh tahunan.

Wajah tuanya masih tampak gagah kedinginan.

"Nona,"

Tiba-tiba terdengar suara salah seorang penunggang kuda dimukanya.

"Kukira sulit mencari tempat meneduh didaerah pegunungan ini."

"Hmm."

Terdengar si nona mendengus.

"kita harus cepat cari tempat meneduh, hari sudah hampir malam, dalam keadaan hujan begini, tidak mungkin bisa melanjutkan perjalanan."

Berkata si nona. Derap langkah kaki kuda terdengar lambatlambat, satu satu diiring suara mengkereteknya roda-roda kereta. Petir menyambar-nyambar dilangit.

"Nona, samar-samar kulihat didalam rimba disebelah kanan depan ada bangunan."

Terdengar lagi satu suara penunggang kuda.

"Berhenti ! Kalian tunggu disini, aku akan selidiki tempat itu."

Kata si nona sambil membedal kudanya memasuki rimba, menuju bangunan didalam rimba.

Ternyata bangunan itu adalah satu kelenteng tua yang sudah rusak, sudah tidak pernah dikunjungi manusia lagi.

Setelah menyelidik keadaan kelenteng itu, tidak terdapat seorang yang tinggal di dalam kelenteng, si nona kembali kearah rombongannya, memerintahkan semua rombongan menuju kearah kelenteng rusak itu.

"Su Hay, ajak kawan-kawanmu cepat kesana!"

Perintah si gadis sambil menunjuk kearah kelenteng.

Dalam cuaca hujan lebat, terdengar suara Iangkah-Iangkah kaki kuda, kretek-kretekan roda kereta, suara-suara dahan-dahan pohon bergeseran dengan badan kereta, bergemercik butiran air-air berlompatan tersentak dahan-dahan pohon yang beradu dengan badan kereta yang oleng-oleng melewati jalan dirimba raya menuju kelenteng rusak.

Sampai dimuka kelenteng rusak, rombongan itu istirahat dalam kelenteng, mereka berganti pakaian masing-masing.

Lantai kelenteng sangat kotor, semua yang ada dalam kelenteng itu sudah basah, tersiram air yang menetes dari genteng-genteng pecah, hingga sulit mendapatkan bahan guna memasang api unggun ditempat itu.

Si nona berjalan masuk keruangan kedua dalam kelenteng itu, merupakan ruangan Thian-ongthian, dalam ruangan agak gelap, disana disebelah kanan ruangan samar-samar tampak masih berdiri tegak sebuah patung yang sangat tinggi besar hingga hampir-hampir sampai dipiannya kelenteng, disamping bawah patung besar itu terdapat satu patung macan yang mendekam.

Dalam keadaan cuaca remang-remang, masih tampak lekuk-lekuk tubuh si nona.

Disana ia buka pakaian basahnya.

Tapi baru saja menggerakkan tangan membuka pakaian, tiba-tiba diluar kelenteng terdengar jeritan-jeritan makian dan suara beradunya senjata tajam.

"Bangsat! Rampok dari mana berani main gila disini !"

Terdengar suara salah seorang anggota rombongan si nona.

Mendengar keributan itu si nona batal membuka pakaiannya, ia segera melesat ke luar.

Diluar kelenteng tampak puluhan orang sedang bertempur mengurung empat orang anggota rombongan si nona.

"Hentikan pertempuran !"

Bentak si nona. Mendengar suara bentakan yang nyaring merdu, kedua pihak menghentikan pertempuran. Terdengar suara seorang tertawa berkakakan .

"Ha, ha, ha, .... nona manis, hujan begini besar, untuk apa kau harus diam di kelenteng bobrok, lebih baik ikut aku tidur dirumahku, bukankah lebih hangat, ha, ha, hua, hua,......."

Orang yang bicara sambil tertawa ternyata seorang laki-laki berhidung bengkung seperti paruh burung betet, bermata belo, kumis dan jenggot kasar, bertubuh tinggi besar kepala bagian tengahnya botak seperti kepala profesor.

Si nona menyaksikan orang dihadapannya, ia segera sadar ia sedang berhadapan dengan kepala gerombolan berandal.

Maka lalu membentaknya .

"Bajingan. Bacotmu akan membawa akibat pisahnya kepala dari tempat asalnya!"

"Ih, mulutmu tajam!"

Kata orang berhidung lengkung.

"Kau harus tahu, sedang berhadapan dengan si raja penyamun Bo-siang, anggota Gokong-nia, sebetulnya aku ingin merampas barangbarangmu segerobak. Tapi melihat wajahmu, semangatku sudah terbang kesurga, kupikir lebih baik mengambil kau jadi isteriku, barang-barang itu akan kuhadiahkan padamu, haaaa......"

Belum lagi mulut Bo-siang si Raja Penyamun terkatup, tiba-tiba berkeredap bayangan putih, bagaikan kilat, disana sudah menggeletak empat orang anggota penyamun Bo-siang.

Bukan kepalang terkejutnya si Raja Penyamun Bo-siang, matanya melotot keluar, bentaknya.

"Sundel, kau berani membunuh anak buahku, diajak kesorga minta keneraka."

Sinar putih berkeredap kembali memapas leher si Raja Penyamun Bo-siang.

Gerakan si Raja Penyamun juga cepat, ia lompat mundur kebelakang menghindari serangan pedang si nona manis.

Kembali berjatuhan tiga korban, dengan kepala menggelinding terpisah dari badan terkena sambaran pedang si nona jelita.

Si Raja penyamun Bo-Siang membentak .

"Perempuan liar, kau rasakan pelor beracun gendewaku, hayo serbu !"

Hujan masih turun dengan deras, pertempuran sengit berlangsung dengan gigihnya, masingmasing mempertahankan nyawanya.

Disatu pihak terjadi pertempuran empat lawan belasan orang, mereka bertempur dengan sengit, suara benturan senjata tajam ramai berdentang dengan diiringi deraian air hujan membasahi bumi.

Pihak lain, tampak berkelebat-kelebat sinar putih, dikurung puluhan sinar-sinar hitam peluru gendewa meluncur cepat mengurung tubuh si nona.

Sinar pedang terbentur peluru-peluru gendewa beracun si Raja Penyamun Bo Siang.

Terdengar suara trang, tring, trang, tring ramai sekali.

Tampak si Raja Penyamun Bo Siang terdesak mundur oleh sinar putih pedang si nona.

Bo Siang mundur tidak sanggup melayani gerakan pedang si nona.

Menampak sipemimpin terdesak, para pengeroyok semangat.

Raja sudah Penyamun kehilangan Keadaan ini menguntungkan pihak rombongan si nona yang sudah kewalahan menghadapi keroyokan-keroyokan, satu diantaranya sudah terluka.

Mendapat kenyataan keroyokan mereka mendadak menjadi kendor, semangat empat orang itu terbangun kembali, meskipun seorang diantaranya sudah terluka.

Si nona menampak lawannya sudah keteter ia berteriak .

"Hm, sebelum kepalamu menggelinding, agar kau tidak mati penasaran, kau ingat baik-baik siapa yang membuat kepalamu menggelinding ditanah, ha, ha, ha. Inilah Bo-tay-tiong-kiam Lie Eng Eng ...."

"Huah…"

Bukan kepalang terkejutnya kawanan si Raja Penyamun mendengar nama Bo-tay-tiongkiam Lie Eng Eng, mereka pernah dengar nama dan kehebatan Lie Eng Eng dengan pedang Ang-lopo-kiamnya.

Tapi belum lagi habis kejutnya si Raja Penyamun Bo-siang, dengan dibarengi suara petir menggeletar diangkasa kepala Bo-siang menggelinding ditanah, tubuhnya terjengkang kelejetan kemudian tak berkutik lagi.

Menampak pemimpinnya rubuh, mereka lari pontang-panting.

Bo-tay-tiong-kiam si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng mengkepret-kepretkan pedangnya yang penuh darah, berulang-ulang disiram butiranbutiran air hujan yang masih turun tak hentihentinya.

Kemudian ia berkata kepada keempat orang rombongannya.

"Su Hay, Kay Sin segera obati luka-lukamu kalian istirahatlah. Besok pagi kita berangkat."

Mereka memasuki ke kelenteng rusak itu.

Lie Eng, Eng, si pedang macan betina memasuki ruangan Thian ong-thian dengan membawa buntalan kulitnya saat itu cuaca sudah menjadi gelap.

Diruangan Thian ong-thian, ia membuka pakaiannya yang basah bertukar dengan pakaian kering.

Lie Eng Eng tidak ragu-ragu, ia segera membuka pakaian basahnya telanjang bulat.

Di luar hujan makin lebat halilintar bergelugur diangkasa.

Kita tinggalkan dahulu cerita si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng yang didalam kelenteng tua.

Untuk lebih jelas mengikuti jalan cerita, mari ikuti lebih dahulu riwayat si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng.

Sembilan tahun yang lalu dikota Sin-Ciu-hu dipropinsi Ouw-lam, tinggal seorang piauwsu bernama Lie Siang Hui.

Lie Siang Hui mempunyai seorang putri bernama Lie Eng Eng yang masih berusia delapan tahun.

Sejak kecil Lie Eng Eng sudah dilatih ilmu silat oleh ayahnya sendiri.

yang mana sebagai seorang Piauwsu Lie Siang Hui memiliki ilmu silat yang tidak rendah.

Lie Eng Eng sebagai anak perempuan yang waktu itu masih berumur delapan tahun, senang bermain berlarian kesana kemari, memetik bungabunga, menangkap kupu-kupu.

Pada suatu hari tepat pada musim salju dimana salju memutih menyirami bumi, membuat pemandangan diatas bumi seakan ditaburi perak memutih menutupi seluruh isi bumi.

Daun-daun pohon memutih seakan bungabunga perak menghias persada.

Diantara batangbatang pohon memutih dibelakang rumah, disana bermain-main Lie Eng Eng dengan mengenakan baju tebal melindungi dingin tubuhnya, ia memukul-memukul salju-salju yang bertebaran diatas dahan-dahan pohon berlari-larian kesana kemari.

Lie Eng Eng yang bermain diantara tumpukan tumpukan salju, suatu ketika ia tiba pada satu pohon besar, dibawah pohon besar disana menampak satu gundukan salju memutih.

Menampak tumpukan salju yang membujur, timbul kegembiraan Lie Eng Eng, ia berlompatan menghampiri tumpukan salju itu, kakinya digerakkan menendang bagian tengah tumpukan salju itu.

Begitu kakinya hampir mengenai tumpukan salju, tiba-tiba ia terkejut.

"Eh........."

Kaki yang sudah diayun ditahan.

Ia berdiri terpaku ditempat itu.

Matanya terbelalak.

Ternyata dibawah pohon tampak olehnya satu kepala manusia terlentang menghadap langit, mukanya sudah penuh dengan butiran butiran salju yang bertaburan menimpa wajahnya.

Melihat itu Lie Eng Eng berpikir .

"Siapa gerangan orang ini? Bagaimana ia bisa mati ditempat ini?" Berpikir begitu, mengingat tentang orang mati, Lie Eng Eng menjadi ketakutan, ia menjerit tertahan .

"Ayah..........."

Jeritan baru sampai disitu tiba-tiba mata orang itu terbuka, kepalanya agak bergerak lapat-lapat terdengar suara orang itu berkata lemah.

"Siauw moay-moay........."

Mata terkatup kembali.

Mendengar orang itu masih bisa bicara, rasa takut Lie Eng Eng lenyap mendadak, ia berjongkok menghampiri orang itu, tangannya segera digerakkan menyingkirkan salju-salju yang menutupi wajah dan tubuh orang itu.

Ternyata itulah wajah seorang tua.

Lie Eng Eng menggoyang-goyangkan tubuh orang tua itu sambil katanya ;

"Lopek! Kau........ bagaimana tidur di tempat penuh salju ini, apakah kau tidak dingin ?"

Mendengar Lie Eng Eng bertanya kepadanya, orang tua itu membuka matanya kembali tampak mata itu sayu tidak bersinar, orang tua menggoyang-menggoyangkan kepala lemah, katanya.

"Siauw moay-moay........."

Hanya suara itulah yang terdengar dari mulut orang tua itu. Kembali Lie Eng Eng bertanya lagi .

"Lopek apakah kau sakit ?"

Mendengar Lie Eng Eng bertanya lagi, orang tua itu dengan menguatkan tenaganya berkata.

"Siauw-moay-moay,"

Terdengar suara orang tua itu lemah tidak bertenaga, ia menghela napas lalu dengan suara lemah melanjutkan ucapannya.

"Sebetulnya begitu tadi malam aku tiba disini sudah tidak tahan menahan rasa sakit tubuhku, sudah lima hari dalam perjalanan aku tidak makan tidak minum, hingga akhirnya jatuh sakit disini, ah....... mungkin tulang-tulang tuaku akan terkubur ditempat ini…."

Lie Eng Eng mendengar penuturan orang tua itu hatinya merasa pilu, cepat cepat ia bertanya lagi .

"Lopek, kalau hanya soal makan, aku bisa membawakan kau mengambil makanan dari rumahku."

"Ah.......kau gadis berhati mulia !"

Kembali orang tua itu berkata sambil mengangguk-angguk kepala.

"Terima kasih, Siauw moay-moay, jika kau sudi, tolonglah ambilkan teh hangat, untuk kuminum, aku sudah haus sekali."

"Baiklah lopek, tunggu sebentar, akan kuambilkan air teh hangat,"

Kata Lie Eng Eng menganggukkan kepala.

Setelah itu ia berlari pulang kerumah mengambil tiga potong bakpau dari dapur dan satu teko air teh berikut satu cawan.

Lie Eng Eng berlari kembali ketempat di mana orang tua itu menggeletak, dibawah pohon dibelakang halaman rumahnya.

Melihat Lie Eng Eng sudah kembali dengan membawa satu teko air dan beberapa bakpau, orang tua itu membuka matanya.

Segera Lie Eng Eng berkata .

"Lopek, kubawakan tiga potong bakpau dan satu teko air teh, hanya air teh ini sudah agak dingin, sebetulnya baru saja masak belum lama, tapi karena cuaca dingin begini, air teh ini menjadi cepat dingin, harap Lopek minum untuk menghilangkan rasa hausmu, dan juga ini tiga potong bakpau harap dimakan!"

Orang tua itu segera berkata ;

"Siauw-moaymoay, terima kasih atas kebaikan hatimu."

Setelah berkata begitu ia mengambil air teh, menuangkan kedalam cawan segera diteguknya.

Kemudian baru orang tua itu menghabiskan bakpau-bakpau yang diberikan Lie Eng Eng.

0)0od^wo0(0 SETELAH menghabiskan tiga bakpau tampak wajah orang tua itu mulai kemerah-merahan.

Melihat perubahan wajah si kakek, Lie Eng Eng bertanya .

"Lopek apakah kau masih lapar, nanti kuambilkan kembali beberapa potong bakpau."

"Siauw-moay ... .!"

Terdengar orang tua itu berkata sambil mengangguk kepala.

"Hanya bisa merepotkanmu saja, kalau kau memang masih sudi memberi pertolongan pada orang tua sakit sengsara ini. Itulah yang kuharapkan, aku tidak bisa memberi balasan apa-apa terhadap budi baikmu."

"Ah..... jangan berkata begitu."

Kata Lie Eng Eng cepat.

"Tunggulah sebentar akan kuambil beberapa potong bakpau lagi untuk menyehatkan tubuhmu."

Lie Eng Eng segera lari kembali kedalam rumahnya, tidak lama ia telah membawa beberapa potong bakpau segera diserahkan pada orang tua. Katanya.

"Lopek, ini beberapa potong bakpau, kau makanlah."

Menyaksikan Lie Eng Eng menyerahkan beberapa potong bakpau, empek itu berkata.

"Siauw-moay, terima kasih atas kebaikanmu, seusia masih semuda ini, tapi budi pekertimu sungguh membuat aku malu, ah...dengan budi baikmu ini..... disuatu hari kau pasti akan mendapat pembalasan yang setimpal, semoga kelak kau mendapatkan kebahagiaan dan kejayaan dalam hidupmu."

Rupanya orang tua itu memang kelaparan, sesudah berkata begitu, ia segera samber beberapa potong bakpau, dalam sekejap saja sudah habis dimakan semua.

"Lopek,"

Bertanya Lie Eng Eng.

"Bolehkah Lopek memberitahukan nama dan asal usul Lopek, bagaimana dalam cuaca sedingin ini bisa tiba ditempat ini. Toch lebih baik tinggal dirumah, tidak kedinginan serta mendapat penyakit seperti ini, ah......bagaimana kalau lopek sampai mati disini apakah keluargamu tidak akan susah mencarimu......?"

Setelah menghabiskan beberapa bakpau lagi, tampak wajah orang itu menjadi segar, dan tenaganyapun bertambah, kini ia sudah bisa duduk bersandar dibatang pohon. 0)0od^wo0(0

Jilid ke 03 MENGHELA NAPAS sebentar, si orang tua baru menjawab pertanyaan Lie Eng Eng, katanya .

"Siauw-moay, sekali lagi atas pertolonganmu kuucapkan banyak terima kasih ! Ah... sebetulnya aku sudah tidak mempunyai sanak famili, keadaanku sedang melarikan diri dari kejarankejaran orang, hingga sampai disini, maksudku mengunjungi kawan karibku tapi ternyata ia sudah pindah entah kemana. Dalam perjalananku aku sangat tergesa-gesa, hingga lupa makan lupa minum guna menyelamatkan nyawaku dari kejaran-kejaran orang, begitu aku sampai disini, tiba-tiba terserang penyakit, hingga seluruh tubuhku menjadi lemes dan tidak bisa digerakkan barang sedikitpun, lebih-lebih dalam keadaan sudah beberapa hari tidak makan, maka aku jadi lebih tidak bertenaga, berjalan selangkah saja aku tidak mampu. Siao-moay mengenai pertanyaanmu siapa namaku, ah .... kukira maafkan, cukup kalau kau mau panggil aku, panggil saja dengan sebutan Lo-thian-kiong ......"

Berkata sampai disitu ayah Lie Eng Eng mendadak muncul ditempat itu, katanya .

"Hai, Eng-jie, dalam hujan salju seperti ini mengapa kau berkeliaran ditempat ini, eh........siapa orang tua itu ? Mengapa ia berada disini ?"

Menyaksikan ayahnya datang, Lie Eng Eng merengek-rengek kepada ayahnya sambil memegang lengan ayahnya ia berkata .

"Ayah, lopek ini sudah beberapa hari tidak makan, ia juga sedang sakit, melihat keadaan demikian, aku sudah mengambilkan beberapa potong bakpau dan seteko air teh untuk diberikan kepadanya, sungguh kasihan lopek ini, ia menderita penyakit bengek."

Mendengar penuturan anaknya, Lie Siang Hui mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia bertanya kepada orang tua itu, siapa nama dan shenya serta datang dari mana. Orang tua itu menjawab ;

"Siecu, dengan terus terang kukatakan sebetulnya aku sudah tidak punya sanak saudara, rumahpun tak ada, karena mengingat dahulu ada kawan karibku disini, maka aku datang kemari untuk minta bantuannya tinggal dirumahnya, sebetulnya aku adalah seorang yang sedang buron dari perkumpulan Kolo-hwee. Sebelum aku masuk anggota Ko-lo-hwee, aku suka mengembara kesana kemari menyumbangkan sedikit tenaga menolong pihak lemah, pada suatu hari, kudengar ada perkumpulan Ko-lo-hwee, dimana perkumpulan itu katanya terdiri dari kaum pendekar-pendekar budiman, pembela keadilan dan kebenaran, karena tertarik oleh motto semboyan itu aku segera masuk menjadi anggota perkumpulan tersebut, tapi setelah tujuh tahun aku menjadi anggota perkumpulan itu, ah....... ternyata itu adalah perkumpulan bangsa manusia berhati binatang, ketika aku sadar, sudah terlambat ! Maju berat, mundurpun sulit, tapi jiwaku tidak bisa lama-lama bercampur gaul dengan bajingan berkedok pendekar budiman, aku melarikan diri. Dikejarkejar oleh anggota perkumpulan itu sampai ditempat ini aku jatuh sakit." Lie Siang Hui mendengar penuturan itu terkejut, tanyanya.

"Ah, jadi kau juga salah seorang anggota perkumpulan Ko-lo-hwee?"

"Apa mau dikata,"

Kata orang tua itu menghela napas.

"Nasi sudah jadi bubur tidak perlu diceritakan panjang lebar, menyesalpun tak ada gunanya."

"Loko!"

Berkata lagi Lie Siang Hui.

"Lebih baik kau tinggal dulu disini, rumahku masih cukup kamar, saat ini musim dingin jangan berkeliaran tidak ada tujuan, lebih-lebih kesehatan loko merosot begitu rupa, tinggallah bersamaku, nanti setelah musim dingin berlalu, baru loko melanjutkan perjalananmu."

Loko adalah panggilan yang lazim kepada orang yang sederajat atau kedudukan lebih tinggi darinya.

Mendengar ucapan Lie Siang Hui orang tua itu lalu berdiri dengan susah payah kemudian membongkokkan tubuhnya memberi hormat dan berkata.

"Terima kasih atas kecintaan siecu, budi baik siecu tidak akan kulupakan seumur hidup, bila saja Tuhan memberi umur panjang, pasti suatu hari akan kubalas budi besar lie-sicu ini !"

Lie Siang Hui berkata lagi.

"Loko tidak usah berkata begitu, toch sudah seharusnya kita sesama manusia saling tolong menolong tidak perlu dipikir panjang. Mari ikut kami pulang kerumah."

Lie Siang Hui, Lie Eng Eng berjalan pergi diikuti si orang tua. "Eng-jie."

Berkata Lie Siang Hui sesampainya dirumah.

"Bersihkan kamar untuk Lopek ini istirahat."

Hari berganti hari, waktu diliwatkan begitu cepat, sebulan telah berlalu.

Seperti biasa sore itu Lie Siang Hui suami isteri, Lie Eng Eng dan orang tua yang ditolong mereka, duduk-duduk dimeja ruangan tengah sambil minum teh.

Tampak mereka merupakan satu keluarga ideal.

Meskipun si orang tua itu tidak ada hubungan keluarga dengan mereka, tapi Lie Siang Hui sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri.

Selama satu bulan itu, mereka merawatnya dengan penuh perhatian, sampai penyakit bengeknya sembuh.

"Lie siecu."

Tiba-tiba orang tua itu memecah kesunyian.

"Sudah satu bulan aku tinggal disini menerima budi baikmu, sebenarnya aku merasa sangat malu. Terhadap keluarga Lie, aku masih menyembunyikan asal usulku yang sebenarnya, maka hari ini aku ingin menceritakan hal yang sebenarnya, siapa dan orang macam apa aku ini......"

"Lo-ko !"

Memotong Lie Siang Hui.

"Kita sudah seperti saudara sendiri, apa yang kau anggap perlu diceritakan tuturkanlah, mengenai selama ini Loko tidak menerangkan asal usulmu akupun mengerti, dalam keadaan dikejar-kejar oleh orang Ko lo-hwee, sudah tentu Loko harus berhatiberhati dalam keadaan tubuh lemah dan penyakitan." Orang tua itu berkata lagi .

"Aku she Ong nama Pek Ciauw, orang-orang rimba persilatan menyebutku Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw ...."

"Aaaa .......!"

Lie Siang Hui terkejut.

"Ternyata Loko adalah Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw yang namanya menggetarkan lima provinsi barat dan selatan!"

Ternyata orang tua yang menyebut dirinya Lo thiau-kiong, yang selama satu bulan tinggal dalam rumah keluarga Lie, adalah Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw yang namanya ditakuti lawan disegani kawan, karena sifat-sifat ksatria yang dimiliki oleh Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw, membela yang lemah membasmi yang kuat tapi jahat.

Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw berkata lagi ; L‟ie siecu, sebetulnya aku bukan takut mati, melarikan diri dan orang-orang Ko-lo-hwee semula.

Aku memasuki perkumpulan itu tertarik oleh motto semboyan golongan Ko-lo-hwee membela keadilan dan kebenaran.

Tapi setelah menjadi anggota selama beberapa tahun baru kuketahui bahwa motto yang dipergunakan mereka adalah kedok belaka.

Belakangan aku juga dapat mengendus tentang sebab-sebab menghilangnya saudara angkatku Thio Ban Liong suami isteri!"

"Loko,"

Lie Siang Hui memotong lagi.

"Apakah menghilangnya si Pendekar Rajawali Mas Thio Ban Liong dibawah tangan jahat mereka?"

"Saat ini masih kurang jelas, tapi pasti ada hubungannya dengan perkumpulan Ko-lo-hwee. Dengan tidak disengaja aku berhasil menemukan satu barang bukti milik Thio Ban Liang, terdapat dalam kamar penyimpanan senjata Ko-lo-hwee."

"Barang apakah itu, Loko?"

Tanya Lie Siang Hui.

"Maaf,"

Kata Ong Pek Ciauw.

"bukan tidak sopan terhadap saudara Lie, tapi karena soal ini masih dalam penyelidikanku. Juga akibat barang itulah aku dikejar-kejar oleh orang-orang Ko lo-hwee, maka aku belum bisa menyebutkannya, kuatir kalau-kalau keluarga Lie bisa terseret dalam persengketaan ini. Peristiwa lenyapnya Tio Ban Liong secara misterius, sebelum dapat kubikin terang, maka terpaksa aku harus menerima hinaan orang-orang Ko lo-hwee dengan sabar. Karena persoalan ini juga menyangkut dengan beberapa golongan Iainnya."

Lie Siang Hui mengangguk-anggukkan kepala suasana dalam ruangan itu menjadi hening. Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw berkata lagi .

"Lie siecu, kalau tidak keberatan, aku yang bodoh ini ingin menurunkan kebodohanku kepada putrimu Lie Eng Eng! Hitung-hitung untuk sekedar kenangan semasa aku tinggal disini."

"Ong Loko, jangan merendah diri, soal kau hendak menurunkan ilmu silat, aku tidak keberatan, tapi apakah anak itu bisa cocok menerima semua kepandaianmu, anak itu agak nakal........masih suka main-main, aku pernah melatih ia ilmu silat tapi merasa kewalahan mengajarinya."

Ong Pek Ciauw tertawa lalu katanya .

"Selama satu bulan ini, putrimu Eng-jie begitu telaten merawat diriku, denganku…"

Ah rupanya ia berjodoh Wie Houw Eng, ibu Lie Eng Eng yang sejak tadi diam, tiba-tiba berkata .

"Ong tayhiap, harap kau banyak sabar menghadapi putriku yang binal itu."

Ong Pek Ciauw tertawa mengangguk-anggukkan kepala, diikuti oleh suara tawa ramai Lie Siang Hui, hingga ruangan itu ramai dengan suara tawatawa riang mereka.

Besok paginya, Lie Eng Eng mulai menerima pelajaran ilmu silat dari Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw, kemudian diberikan latihan pelajaran ilmu pedang.

Perputaran hari ternyata begitu cepat, tiga tahun telah dilewatkan.

Lie Eng Eng sudah mewarisi ilmu silat dan ilmu pedang dari Sin-kiong-kiam Ong Pek Ciauw.

Selama itu, keluarga Lie melayani Sin-kiongkiam Ong Pek Ciauw dengan baik, bahkan sudah menganggap mereka sebagai guru dan murid.

Dua tahun kemudian, Lie Eng Eng sudah mencapai umur 14 tahun, ia sudah mahir betul semua kepandaian yang diajarkan oleh Ong Pek Ciauw.

Pagi itu musim semi, burung-burung masih berkicau, daun-daun pohon masih berembun.

Didalam ruangan tengah rumah keluarga Lie terdengar Ong Pek Ciauw berkata;

"Lie Eng Eng, sudah cukup waktunya aku harus meninggalkanmu, semua ilmu kepandaianku sudah kauwarisi dengan sempurna............"

"Suhu........"

Dengan suara terisak tanpa bisa dibendung air mata Lie Eng Eng meleleh dikedua pipinya.

"Jangan kau bersedih,"

Cepat Ong Pek Ciauw berkata lagi.

"Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan, di situ ada kelahiran pasti ada kematian, lebih-lebih kau yang sudah memiliki ilmu kepandaian harus berhati kuat menghadapi segala macam kesulitan dan cobaan-cobaan hidup."

Lie Eng Eng mengangguk, ia menyusut air matanya yang turun deras di pipinya. Ong Pek Ciauw sudah berkata lagi.

"Ilmu pedang sudah kau warisi dengan sempurna, hari ini, aku akan menyerahkan padamu sebilah pedang pusaka Ang-lo-po-kiam, sebelum pedang itu kuserahkan padamu, lebih dulu kau harus bersumpah. Tidak menggunakan pedang itu untuk kejahatan ! Harus kau pergunakan pedang Ang-lo-po-kiam untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, menolong yang lemah menghancurkan yang jahat, bersediakah kau menjalankan sumpah itu?"

Lie Eng Eng hanya menganggukkan kepala, ia agak heran karena sang guru memiliki itu pedang pusaka Ang-lo-po-kiam.

Selama lima tahun ia mengawani sang guru belum pernah melihat sang guru membawa pedang atau menyebutnya bahwa ia memiliki itu pedang Ang-lo-po-kiam, juga ucapan ucapan sang guru sangat serius, tidak seperti hari biasa, selalu gembira dan tertawa-tawa dalam melatih Lie Eng Eng ilmu silat.

Selagi ia masih terheran-heran, Ong Pek Ciauw segera berkata lagi ;

"Cepat kau sediakan meja sembahyang untuk upacara angkat sumpah !"

Lie Eng Eng segera menjalankan suhunya menjalankan sumpah.

perintah Setelah upacara sumpah selesai, Ong Pek Ciauw menarik sebilah pedang dari belakang gegernya, segera diserahkan kepada Lie Eng Eng, sambil berkata .

"Gunanya pedang Ang-lo-po-kiam ini untuk menyumbangkan darma baktimu menolong si lemah, menghancurkan si jahat, sesuai dengan sumpahmu."

Lie Eng Eng menyambuti pedang itu, sreeet .... ia cabut pedang dari serangkanya, maka disana tampak sinar putih kemilauan menimbulkan rasa dingin disekitar ruangan itu.

"Aaaaa......."

Lie Eng Eng berteriak girang.

"Sungguh indah pedang ini, lebih-lebih ukiran kepala macan-macanan diatas gagang pedang, belum pernah aku melihat pedang seindah ini."

Ong Pek Ciauw berkata lagi masih dengan sikap seriusnya .

"Eng-jie, pedang itu jarang ada tandingannya didalam dunia, barang pusaka yang sulit didapatkan tidak sembarang orang bisa memiliki pedang itu! Hanya kuminta jangan sekalikali kau melanggar sumpahmu."

"Baik suhu,"

Kata Lie Eng Eng sambil berlutut dihadapan suhunya. "Bangunlah !"

Kata Ong Pek Ciauw sambil melangkah keluar meninggalkan Lie Eng Eng.

Keesokan harinya pagi-pagi setelah Ong Pek Ciauw pamitan dengan keluarga Lie Siang Hui suami isteri, berketoprakan suara kaki kuda meninggalkan kota Sin-ciu-hu.

Lie Eng Eng sejak menerima pedang pusaka pemberian suhunya, dalam pengembaraan didunia Kang-ouw ia menyumbangkan darma baktinya, banyak rakyat menerima budi pertolongannya, hingga akhirnya ia mendapatkan gelaran Bo-taytiong-kiam, si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng.

Tidak sedikit penjahat-penjahat dibuat kucar kacir.

Terakhir mengubrak abrik sarang perkumpulan berandal Hek-khie hwee di gunung Ouw pok san.

Setelah mengikuti riwayat hidup Lie Eng Eng, mari kita kembali mengikuti perkembangan yang terjadi didalam kelenteng rusak.

Hujan masih turun deras, kilat berkeredepan memecah kegelapan, petir mengguruh dilangit gelap.

Bo-tay-tiong-kiam si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng berhasil membunuh gerombolan si Raja Penyamun Bo Siang, ia memasuki ruang Thianong-thian mengganti pakaian.

Dalam keadaan telanjang bulat, tiba-tiba berkeredap kilat menerangi jagat, tampak sekelebatan bentuk tubuh Lie Eng Eng yang padat berisi berkulit putih mulus.

Kredepan kilat mengejutnya si Pedang Macan betina, dengan gerak reflek ia menutupi buah dadanya dengan kedua tangannya.

Tapi teringat bagian vitalnya juga dalam keadaan melompong, cepat kedua tangannya itu diturunkan untuk menutupinya pula.

Gerakan itu begitu cepat, secepat sinar kilat mengkeredap, secepat suara mengguruhnya halilintar diudara.

Secepat itu pula, melayang sesosok tubuh, dengan ringan menyambar tubuh si Pedang Macan Betina Lie Eng Eng.

Lie Eng Eng terkejut, kagetnya tidak kepalang, mengelakkan datangnya samberan itu, tangan didorong kedepan menghajar si penyerang gelap, lalu lompat kearah di mana ia letakkan pedang Ang-lo-po kiamnya.

Si Penyerang gelap itu juga memiliki gerakan yang lebih cepat, begitu si Pedang Macan Betina bergerak ia menyambar kearah suara gerakan si gadis.

Si Pedang macan betina kembali menghujani si penyerang gelap dengan pukulan-pukulan mautnya.

Si penyerang gelap memapaki serangan si Pedang Macan Betina.

datangnya Kedua kekuatan beradu.

"Duk!"

Terdengar suara benturan tangan.

Dalam suasana gelap gulita, begitu si Pedang Macan Betina sudah dapat mengetahui dari hasil benturan tangan tadi bahwa si penyerang gelap memiliki tenaga kekuatan beberapa tingkat lebih tinggi darinya.

Demi menjaga kehormatannya, meskipun Lie Eng Eng tahu kekuatan lawan berlipat ganda dari kekuatannya sendiri, ia tetap mengadakan perlawanan gigih.

Hujan tambah deras, ber-derap-derap menimpa genting-genting kelenteng rusak.

Pertarungan didalam ruang Thian-ong-thian masih berlangsung.

Pertempuran perebutan mustika.

Si Pedang Macan Betina mempertahankan mustikanya dengan sekuat kemampuan yang ada, sedang si penyerang gelap merangsang tubuhnya ingin mencicipi mustika itu.

Baca Juga: Warisan Jenderal Gak Hui 5

Baca Juga: Bukit Pemakan Manusia 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert