Eps 9 Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung
Baca online Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung
Cersil Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung.
Dia sudah mendengar dari balik halaman kamar sana ada manusia yang berjalan malam sedang bergerak mendekat.
Tapi dia belum juga bergerak, hanya keningnya saja yang segera berkerut kencang.
Menyusul kemudian, pintu kamar itu dibuka orang tanpa menimbulkan sedikit suarapun, namun He he koancu masih tetap tak berkutik, tentu saja dia pun tidak bersuara untuk menegur ataupun membentak.
Bayangan manusia berkelebat lewat, lamat-lamat dapat terlihat dua sosok bayangan putih bergerak mendekati pembaringannya, kemudian salah seorang diantaranya membungkukkan badan sambil melancarkan cengkeraman maut ke atas pembaringan.
Tapi begitu mencengkeram, orang itu segera menjerit kaget.
"Aaaaah, tak ada orangnya, dalam selimut hanya bantal"
"Cepat memasang tentera !"
Seru yang lain cepat. Pada saat itulah, He he koancu yang duduk disudut ruangan dibalik kegelapan berseru.
"Tidak usah, aku berada disini."
Begitu suara tersebut berkumandang, dua orang manusia berbaju putih itu segera mengundurkan diri kedepan jendela.
Tapi mereka adalah manusia-manusia yang cukup berpengalaman dalam menghadapi musuh, walaupun harus mundur dalam keadaan amat terperanjat namun selisih jarak antara kedua orang itu masih tetap berjarak beberapa depa, sehingga halmana tidak sampai membuat mereka berdua harus mengalami sergapan secara bersama-sama.
Tadi mereka mundur karena tak pernah menyangka akan terjadinya perubahan tersebut, setelah mundur sekarang kedua orang itu baru menghimpun tenaga dalamnya dan memperhatikan He he koancu dengan lebih seksama.
He-he Koancu masih belum juga bergerak dari tempat duduknya semula, tapi dengan suara sedingin es dia berseru.
"Kami guru dan murid berempat tidak bermaksud untuk melarikan diri, bahkan sudah menduga kalau kalian bakal datang, maka kalian berduapun tak usah menunjukkan sikap semacam ini."
Salah seorang diantara dua manusia berbaju putih itu mendengus dingin.
"Hmm, bagus sekali, kalau toh demikian kami pun akan mengutarakan maksud kedatangan kami secara terus terang..."
Belum habis ia berkata, kembali He-he koancu telah menukas.
"Tidak usah, maksud kedatangan kalian cukup kuketahui dengan amat jeIas!"
"Kalau memang demikian, hal mana lebih baik lagi"
Seru manusia berbaju putih itu sambil tertawa.
"Kalau memang demikian silakan koancu..."
Sekali lagi He-he koancu menukas.
"Mengapa Lok hun-pay tidak datang sendiri ?"
Tanpa berpikir panjang lagi, manusia berbaju putih itu menyahut.
"Majikan masih ada urusan lain..."
Tapi rekannya yang lain segera menyadari akan kesalahan tersebut, seperti teringat akan sesuatu, buru-buru ia menukas.
"Siapa yang koancu maksudkan ? Siapa sih Lok hun pay itu ?"
Dalam pada itu, manusia berbaju putih yang salah berbicara tadi segera menyadari akan kesilafan sendiri, mendadak saja seluruh tubuhnya gemetar keras.
Tentu saja keadaan tersebut tidak lolos dari pengamatan He-he koancu, dengan cepat dia mendengus dingin.
"Hmm!"
Tak usah mencoba untuk mengelabuhi aku, apalagi kalian toh mendapat perintah untuk membunuh kami guru dan murid hingga seakar-akarnya?
Kami berempat tahu kalau kami tak mampu berbuat banyak dan tentu akan tewas ditangan kalian, mengapa pula kalian mesti merasa takut..."
Manusia berbaju putih yang membuka suara pertama kali tadi segera mengulapkan tangannya, lalu dengan suara dalam berkata.
"Waktu yang tersedia untuk kita tak terlalu banyak, lebih baik koancu segera mengundang semua muridmu dan ikut kami pergi dari sini?"
"Pergi dari sini?"
He he koancu segera tertawa dingin.
"heeeh... heeehh... heeehh... aku rasa tak akan segampang itu...!"
"Kau bilang apa?"
Bentak manusia berbaju putih pertama dengan amat gusarnya. He-he koancu tak mau mengalah, diapun membentak dengan suara dalam.
"Aku bilang, dengan mengandalkan kalian bertiga, jangan harap pun koancu guru dan murid berempat akan menyerah dengan begitu saja, apalagi disuruh mandah digusur keluar kota dan dibunuh ditempat itu, huuuh, tak akan segampang ini."
Padahal didalam ruangan tersebut cuma ha dir dua orang manusia berbaju putih, tapi He he koancu mengatakan mereka bertiga, hal tersebut mau tak mau membuat dua orang manusia berbaju putih itu merasa terperanjat sekali.
Belum sempat mereka mengucapkan sesuatu, He he koancu telah berkata lebih jauh.
"Menurut pendapatku, lebih baik kalian sekalian mengundang masuk rekanmu itu, dari pada dia mesti keanginan diluar!"
"Hmm... kau anggap dengan kemampuan kami berdua masih belum cukup untuk membekukmu?"
Dengus manusia berbaju putih pertama.
"Terserah, cuma aku lihat ada baiknya bila kau menuruti perkataanku saja, paling baik ka au kau undang rekanmu turut."
Agaknya manusia berbaju putih yang lain berhasil menangkap sesuatu yang tak beres dari ucapan koancu itu, tiba-tiba ia berseru.
"Apakah kau mempunyai bala bantuan di-luar ?"
"Ada atau tidak merupakan urusanku sendiri, kalian tak usah banyak bertanya."
Manusia berbaju putih yang pertama tadi tampaknya sudah tidak sabar lagi, tiba-tiba ia berseru.
"Ada juga boleh... tak ada juga boleh, lohu sama sekali tidak menganggapnya sebagai suatu persoalan, sekarang lohu hanya ingin bertanya sepatah kata saja kepadamu, kau hendak bangkit berdiri untuk melangsungkan suatu pertarungan ataukah mengikuti kami pergi dari sini ?"
Pelan-pelan He he koancu bangkit berdiri, kemudian sahutnya.
"Pergi pun boleh juga, ayo berangkat !"
"Mana ketiga orang muridmu ?"
Tanya manusia berbaju puih yang pertama.
"Untuk menghindari segala kemungkinan yang tidak diinginkan aku telah memerintahkan kepada mereka untuk pergi jauh-jauh dari sini."
Sahut He-he koancu ketus.
"Omong kosong."
Bentak pemimpin berbaju putih itu ketus.
"Ayo cepat katakan, mereka berada dimana ?"
He-he koancu memandang sekejap ke arah lawannya dengan pandangan sinis, kemudian jengeknya.
"Andaikata kau menganggap aku sedang berbohong, mengapa tidak mencoba untuk menangkapnya sendiri ?"
Katanya dingin. Manusia berbaju putih yang lain segera berpaling dan ujarnya kepada rekannya itu.
"Lebih baik kita undang koancu lebih dulu, sedang soal yang lain bisa diselesaikan belakang saja !"
Pemimpin berbaju putih itu mengiakan dan segera berkelebat ke samping, sedangkan manusia berbaju putih yang lain maju ke depan pintu dengan langkah lebar sedangkan He-he koancu berjalan diapit di tengah-tengah.
Sesudah berjalan keluar dari ruangan dan tiba dihalaman, mendadak He-he koancu berhenti sambil berkata.
"Pun-koancu masih mempunyai beberapa persoalan yang hendak kutanyakan lebih dulu."
"Koancu, lohu menasehati kepadamu agar ber tindak lebih jujur, janganlah mencoba untuk berbuat curang atau licik kepada kami!"
Pemimpin berbaju putih itu memperingatkan. He-he koancu segera mendengus dingin.
"Hmm, janganlah kau anggap lantaran pun koancu bersedia pergi mengikuti kalian, berarti aku sudah menyerah begitu saja, kalian pun tak usah menganggap pun koancu sebagai seorang tawanan, sekarang dengarkan dulu baik-baik, aku hendak memberitahukan beberapa persoalan kepada kalian."
"Kalau ada persoalan cepat saja diutarakan lohu sudah tak mempunyai banyak waktu lagi!"
Tukas pemimpin berbaju putih itu cepat. He-he koancu melirik sekejap kearahnya, kemudian baru pelan-pelan ujarnya.
"Bukankah kalian datang bertiga, apakah kalian tidak memanggilnya lebih dahulu sebelum melakukan perjalanan bersama-sama?"
Mendengnar perkataan ini, pemimpin berbaju putih merasakan hatinya terkesiap, serunya tanpa terasa.
"Mengapa kau sangat memperhatikan tentang persoalan ini ?"
He-he koancu tidak menjawab, dia hanya-tertawa dingin tiada hentinya.
Sementara itu manusia berbaju putih yang lain sudah melejit ketengah udara dengan kecepatan tinggi lalu melayang turun diatas atap-rumah, sorot matanya yang berada dibalik kain cadar dengan tajam memperhatikan sekeliling tempat itu.
Tak lama kemudian, manusia berbaju putih itu sudah bertepuk tangan sebanyak tiga kali, kemungkinan besar inilah kode rahasia mereka umuk mengadakan kontak, tapi aneh, sekali pun sudah bertepuk tangan beberapa kali, namun tak kedengaran sedikit suara sahutanpun.
Pemimpin berbaju putih yang berada dibawah itu segera menyadari kalau gelagat tidak beres, tanpa terasa serunya kepada rekan yang berada diatas atap rumah.
"Bagaimana? Apakah orangnya tak ada?"
Manusia berbaju putih yang ada diatas atap rumah belum sempat menjawab, He he koan-cu sudah menukas.
"Dia tak mungkin ada disitu, kecuaIi..."
Ketika berbicara sampai disitu, He he koancu sengaja menghentikan perkataannya, kemudian mengalihkan sorot matanya ke wajah pemimpin berbaju putih itu.
Sementara itu orang berbaju putih yang berada di atas atap rumah pun sudah merasakan keadaan yang tak beres, dia segera melayang turun kebawah seraya berseru.
"Tampaknya situasi telah mengalami sedikit perubahan, lebih baik kita cepat-cepat meninggalkan tempat ini!"
Namun pemimpin berbaju putih itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sambil menuding ke arah He he koancu, ujarnya kepada rekan tersebut.
"Tunggu duIu, tampaknya dia mengetahui dengan jelas atas kejadian yang berlangsung disini !"
"Ehmm. sedikitpun tak salah, aka memang mengetahui dengan jelas atas semua kejadian disini!"
He-he koancu segera menyambung dengan suara mengejek. Mendadak pemimpin berbaju putih itu maju dua langkah ke depan dan menghampiri Hehe koancu, setelah itu serunya dengan suara dalam.
"Ayo bicara, sekarang dia berada dimana?"
He-he koancu tertawa dingin. -oo0dw0oo-
Jilid 34
"HEEEHH... HEEEHH... HEEEHH... KAU... anggap aku bisa digertak dengan seenaknya saja?"
Jengeknya.
Pemimpin berbaju putih itu mendengus dingin, mendadak ia mengayunkan telapak tangannya sambil bersiap-siap melancarkan se buah pjkulan dahsyat.
Manusia berbaju putih yang lain menjadi amat gugup cepat cepat serunya.
"Saudara Thio, tunggu sebentar!"
Pemimpin berbaju putih itu she Thio bernama Yok sim, ketika mendengar seruan tersebut ia nampak tertegun, lalu serunya sambil berpaling.
"Hei, mengapa kau memanggil aku ?"
"Betul, kalian memang terhitung pintar sekali."
Mendadak He-he koancu menukas.
"menurut apa yang kuketahui, setiap anggota Lok-hun-pay tak seorang pun yang mengetahui nama dan indetitas lawannya, apabila suatu ketika namanya telah disebut, hal itu berarti saat nya untuk mati sudah tiba, sekarang..."
Tidak menunggu He-he koancu menyelesaikan perkataannya, Thio Yok-sim sudah menukas dengan suara dalam.
"Urusan yang kau ketahui terlampau banyak sayang sekali..."
Belum habis dia berkata, mendadak dia sudah melancarkan sebuah sodokan dengan jari tangan mengancam jalan darah kematian Tam-thian diatas pusar He he koancu.
Serangan mana bukan cuma tajam dan mematikan, bahkan dilepaskan dengan kecepatan luar biasa.
Dengan kepandaian silat yang dimilikinya sekarang, bila dibandingkan dengan He he koancu maka He he koancu masih ketinggalan cukup banyak, apa lagi serangan mana dilancarkan dengan setengah menyergap, pada hakekatnya sulit buat He-he koancu menghindarkan diri.
Siapa tahu, disaat ujung jari tangannya sudah hampir menempel diujung baju He he koancu itulah, mendadak He he koancu mengayun kan tangan kanannya sambil melancarkan kebutan, ke lima jari tangannya segera tersapu telak diatas pergelangan kanan lawan.
Seketika itu juga dia merasakan sakit yang luar biasa biasa hingga merasuk ke tulang sum-sum, lengan kanannya menjadi kesemutan,dan kaki, serta merta jari tangannya itu sudah tak mampu untuk bergerak lagi.
Dalam tertegunnya lagi-Iagi dia hendak melancarkan serangan, tapi He he koancu sudah keburu buka suara, katanya.
"Pun koancu menganjurkan kepadamu agar sedikitlah tahu diri, paling baik lagi jika tidak mempergunakan kekerasan !"
Sementara itu manusia berbaju putih yang lain telah berhasil memahami segala sesuatunya, sambil maju ke muka dia berseru.
"Koancu, mengapa kau tidak menyuruh semua teman-temanmu itu keluar dari tempat persembunyian agar kita bisa berbincang-bincang dengan sebaik-sebaiknya ?"
He he koancu melirik sekejap ke arahnya lalu bertanya.
"Ooh, sekarang kalian baru berpikir untuk mengadakan pembicaraan dengan kami ?"
Manusia berbaju putih itu tertawa.
"Koancu !"
Dia berkata.
"walaupun sekarang orang kami ada yang terjatuh ke tangan koancu, bahkan ditinjau dari kepandaian ilmu se rangan yang koancu gunakan barusan, tampak nya tenaga dalam yang kau miliki betul-betul sudah teramat lihay, cuma..."
Tampaknya He he koancu seperti sudah menduga kalau pihak lawan hendak membicarakan soal apa, dengan cepat dia menimbrung.
"Kalian keliru, pun koancu sama sekali tidak bermaksud untuk menyandera orang dan memaksa kalian untuk menuruti perkataanku."
Tampaknya Thio Yok sim pun sudah mulai menyadari sekarang kalau persoalan yang sedang dihadapi tak boleh dihadapi segera gegabah, maka dia pun bertanya.
"Bagaimana kalau mempersilahkan teman-temanmu itu keluar agar kita bisa berbincang lebih jauh?"
He he Koancu segera menggeleng "Sekarang masih belum dapat dikerjakan!"
Katanya "Oooh, apakah masih ada batas waktunya?"
"Tiada batas waktu apa-apa, cuma ada sebuah syarat yang harus dipenuhi lebih dulu"
Ujar He-he koancu dengan wajah serius. Thio Yok sim segera mendengus dingin.
"Hmm, masa ada syaratnya segala? Apakah koancu tidak merasa kalau tindakanmu itu melampaui batas.."
"Dengarkan baik-baik"
Kata He he koancu dengan suara dalam.
"syarat tersebut bukan berasal dari pun koancu, melainkan sahabat kalian yang menyaru sebagai Soh hun ki dan menyaru pula sebagai Lok hun pay tersebut yang mengusulkan."
"Oooh..."
Manusia berbaju putih yang lain berseru.
"sekarang aku makin percaya kalau sahabatku itu sudah kehilangan segala kebebasannya, namun aku masih saja tetap selalu menaruh curiga, karena Koancu sama sekali tak pernah bertemu dengan sahabatku itu,"
He-he koancu tertawa hampa.
"Segala sesuatunya tentu saja sudah dipersiapkan lebih dahulu "
Katanya.
"Tapi kami sama sekali tidak mendengar suara pertarungan yang sedang berlangsung."
Sekali lagi He he koancu mendengus dingin.
"Tentu saja, seandainya terdengar suara pertarungan yang berkumandang sampai disini, majikan kalian yang khusus mengutus orang lain untuk mengantar kematian itu sudah pasti akan memburu kemari sendiri."
Ucapan mana segera membuat Thio Yok-sim dan manusia berbaju putih yang lain menundukkan kepalanya rendah-rendah. Selang berapa saat kemudian, Thio Yok sim bertanya lagi.
"Apakah sahabatmu itu adalah Sun Tiong lo?"
He-he koancu manggut-manggut "Benar, memang Sun sauhiap orangnya."
Thio Yok sim menundukkan kepalanya semakin rendah Iagi.
"Sekarang dia berada dimana? Kami memang hendak mencari dia."
Katanya lebih jauh. Belum sempat He he koancu menjawab, dari belakang tubuh Thio Yok-sim dan manusia berbaju putih itu sudah kedengaran seseorang bertanya.
"Ada urusan apa kalian berdua datang mencari diriku ?"
Thio Yok pim dan manusia berbaju putih yang lain menjadi amat terkejut sesudah mendengar perkataan tersebut, dengan cepat mereka berpaling kebelakang, ternyata Sun Tionglo sudah muncul diri disana.
Maka Thio Yok-sim segera berkata.
"Lohu adalah Thio Yok-sim, aku kenal dengan lote, cuma lote tak mungkin kenal dengan diri lohu, kini lohu ingin bertanya lebih dahulu, apakah sahabatku berada dalam keadaan selamat ?"
"Dia baik sekali"
Jawab Sun Tiong Io dengan ranah tamah.
"aman tenteram dan tak ada persoalan apapun."
"Lohu Kang Tat, bagaimana kalau lote menunjukkan tempat lain agar kita bisa berbincang lebih jauh?"
Kata manusia berbaju putih yang lain dengan cepat. Sun Tiong-lo manggut-manggut, kepada He he koancu segera ujarnya.
"Koancu, bagaimana kalau kupinjam kamar mu untuk sementara waktu ?"
"Tentu saja boleh, silahkan kongcu"
Sahut He-he koancu sambil tertawa lebar.
Setelah mengucapkan terima kasih Sun Tionglo segera mempersilahkan tamunya masuk.
Serombongan manusia masuk kembali ke dalam kamar dan mengambiI tempat duduk.
He-he koancu yang pertama kali membuka suara lebih dulu, tanyanya kepada Thio Yok-sim dan Kang Tat berdua.
"Boleh aku memasang lentera ?"
Thio Yok-sim berpikir sebentar, lalu ujarnya kepada Kang Tat.
"Saudara Kang, kejadian ini sama sekali di luar dugaan kami, menurut pendapatmu..."
Tampaknya semenjak tadi Kang Tat sudah mengambil keputusan dia segera menyela.
"Saudara Thio, waktu seperti ini belum tentu bisa kita jumpai, biar saja memasang lampu"
Sun Tiong lo yang berada disisinya segera menimbrung dengan suara yarg ramah.
"Apabila kalian berdua merasa kurang leluasa, tak apalah, mari kita berbincang-bincang didalam kegelapan saja."
"Sun lote, sebutan ini mungkin terlampau meninggikan diriku, tapi sebutan mana benar-benar muncul dari hati lohu yang tulus."
Ucap Kang Tat kemudian "lote, sudah cukup lama lohu bersaudara tak bisa bertemu orang, hari ini adalah kesempatan yang paling baik, sekali pun gara-gara pertemuan ini kami harus kehilangan segala-galanya, kamipun sama sekali tidak merasa menyesal!"
Berbicara sampai disitu, He-he koancu telah memasang lentera, Sun Tiong Io segera berpaling kearah He he koancu seraya ujarnya.
"Dapatkah kurepotkan koancu untuk mengundang suhengku dan kakakku dengan menemani sobat she Cukat itu untuk datang kemari ? sekarang kita semua adalah teman bukan musuh."
Sambil tertawa He he koancu segera berlalu dari situ, sebelum pergi mendadak ia bertanya.
"Apakah nona juga turut datang ?"
Sun Tiong lo mengangguk.
"Ya, ada sementara persoalan memang perlu didengar dan disaksikan dengan mata kepala sendiri."
He he koancu segera memahami maksudnya dan membalikkan badan berlalu dari sana.
Tak selang berapa saat kemudian Hou-ji, Bau ji.
Nona Kim dan manusia berkerudung putih yang menyaru sebagai Soh hun ki itu sudah muncul disitu didampingi He he koancu, begitu masuk ke dalam ruangan, manusia ber kerudung putih itu segera berdiri tertegun.
Rupanya Kang Tat dan Thio Yok-sim sudah melepaskan kain kerudung mereka dan muncul dengan raut wajah aslinya.
Setelah tertegun sesaat, manusia berkerudung yang baru masuk itu segera menyadari apa gerangan yang telah terjadi, diapun segera melepaskan pula kain kerudung sendiri.
Setelah tertawa getir.
dia baru berkata.
"Malam ini kita bisa hidup lagi sebagai manusia, sungguh suatu peristiwa yang tak gampang!"
Semua orang sudah duduk dan saling berkenalan, kemudian Cukat Tan yang baru datang buka suara lebih dulu, katanya.
"Saudara Kang, saudara Thio, apakah kalian sudah bertekad untuk mengadakan pembicaraan secara blak-blakan dengan Sun lote?"
Kang Tat mengangguk.
"Yaa, kami sudah tak punya pilihan lain."
Sahutnya.
"Masih ingatkah janji kita dengan Mo tua?"
Sambung Thio Yok sim.
"kini..."
"Baik. kalau begitu kita boleh berbicara secara blak-blakan, paling banter juga mati."
Tukas Cukat Tan cepat. Pada saat itulah Sun Tiong lo turut berkata sambil tertawa.
"Bukankah kalian bertiga sudah bertekad hendak melepaskan diri dari pengaruh Lok-hun pay?"
"Betul, lohu sekalian sudah cukup menderita selama ini!"
Sahut Kang Tat cepat.
"Lohu mengerti"
Ucap Thio Yok-sim pula.
"lote pasti mempunyai banyak persoalan yang hendak ditanyakan, untuk menyatakan kejujuran dan ketulusan kami, sekarang lote boleh mengajukan pertanyaan apa saja, kemudian lohu semua baru..."
"PadahaI aku pun tidak mempunyai berapa persoalan, yang bakaI merepotkan kalian bertiga"
Tukas Sun Tiong-lo.
"Entah berapa pun banyaknya persoalan asal lohu sekalian tahu, pasti akan kami jawab sejujurnya !"
Seru Cukat Tan cepat. Dengan wajah bersungguh-sungguh Sun Tiong lo segera berkata.
"Kalau begitu, kuucapkan banyak terima kasin dulu kepada kalian bertiga, persoalan yang kujumpai hanya ada dua macam, pertama, apakah Lokz-hun-pay adalah Moo Tin hong dari Bukit pemakan manusia ?"
Pada saat yang hampir bersamaan Cukat Tan, Kang Tat dan Thio Yok-sim bersama-sama menjawab.
"Dugaan lote tepat sekali, memang dialah orangnya !"
Nona Kim jadi amat terperanjat sekali, dengan suara dalam ia segera membentak.
"Omong kosong, kalian jangan mengapa belo tak karuan."
Cukat Tan memandang nona Kim sekejap, lalu sahutnya.
"Nona, lohu bersaudara adalah enam orang adik angkatnya yang disebut sebagai Lak-yu si enam sahabat, padahal kami tak lebih hanya budak-budaknya yang sudah banyak tahun menderita dan tersiksa akibat dari ulahnya..."
"Omong kosong belaka..."
Kembali nona Kim menukas sambil mendengus dingin.
"ayahku..."
Sun Tiong lo segera mencegah nona Kim untuk berbicara lebih jauh, selanya.
"Nona Kim, mengapa kau tidak mendengarkan dulu sampai kuajukan sebuah pertanyaan yang lain sebelum mengumbar amarahmu itu?"
Dengan cepat nona Kim menggeleng.
"Aku tak sudi mendengarkan aku tak sudi mendengarkan."
Sun Tiong lo hanya tersenyum kepadanya kemudian ujarnya lagi kepada Thio Yok sim.
"Persoalan kedua adalah, nona Kim itu apa benar adalah putri kesayangan dari Lok-hun-pay ?"
"Dalam persoalan ini lohu mengetahui paling jelas"
Jawab Kang Tat dengan cepat.
"Loh hun pay tak pernah mempunyai anak !"
Nona Kim menjadi tertegun sesudah mendengar perkataan tersebut untuk beberapa saat lamanya dia hanya bisa berdiri tertegun saja.
Kang Tat melirik sekejap kearah gadis itu, kemudian ujarnya lebih lanjut.
"Nona she Kwik, putri seorang musuh besar dari Lok hun pay, yang ditakuti oleh Lok hun pay waktu itu cuma dua orang, yang satu adalah ayah nona dan yang lain adalah ayah lote ini, maka dia berusaha menggunakan tipu daya untuk mencuri nona dan memeliharanya, tujuan yang sesungguhnya tak lain adalah ingin mengancam ayah nona agar tidak mencampuri urusannya lagi."
"Apakah usul ini berasal dari dia sendiri ?"
Tanya Sun Tiong lo kemudian. Dengan cepat Thio Yok sim menggeleng.
"Bukan, usul ini berasal dari seorang kepercayaannya she Kwa !"
Mendengar itu, tanpa terasa Bau ji berkata kepada Soen Tiong lo .
"Jite, mungkinkah orang itu adalah manusia she Kwa yang harus kita curigai itu?"
Sun Tiong lo manggut-manggut.
"Ya, sembilan puluh persen tak salah lagi."
Perasaan nona Kim waktu itu sangat sedih sekali, mendadak ia mendongakkan kepalanya sambil bertanya.
"Kini orang she Kwa tersebut ada dimana?"
"Kini orang itu berada di tengah telaga Tong ting ou dikota Gak yang..!"
"Di tengah telaga?"
Seru nona Kim dengan wajah tertegun.
"Ya, sekarang dia berada di atas perahu besar ditengah telaga tersebut.."
Sahut Cukat Tan.
"Sebelum lohu kemari, Lok hun pay telah menitahkan kepada kami agar setelah urusan disini selesai kami harus naik keperahu tersebut untuk bertemu dengannya, orang she Kwa itupun mungkin berada disana."
Sambung Thio Yok sim pula. Mendengar ucapan mana, nona Kim segera berseru.
"Kalau begitu bagus sekali, mari kita segera berangkat, sekarang juga aku akan mencarinya dan menanyai persoalan ini sampai menjadi jelas kembali."
Katanya kemudian.
"Ke sana sih harus ke sana, cuma nona Kim harus menuruti semua perkataanku sebab kalau tidak, bukan saja urusan akan menjadi kacau balau tak karuan bahkan bisa jadi akan menyebabkan timbulnya pelbagai kerepotan !"
Bau-ji memandang sekejap kearah nona Kim lalu ujarnya pula.
"Biasanya apa yang diduga oleh saudaraku ini tak pernah salah. mengapa kau tidak mengurangi sifatmu yang jelek itu dengan menuruti perkataannya ?"
Katanya kemudian. Nona Kim melirik sekejap ke arah Bau ji, kemudian mendengus dan tidak berbicara lagi. Sedang Bau ji segera berseru dengan gemas.
"Benar-benar menjengkelkan tahu begini, sejak berada di bukit pemakan manusia dulu, aku sudah membekuknya!"
Katanya kemudian "Sebelum diperoleh bukti yang jelas, bagaimana mungkin dia bersedia mengakui semua kesalahannya ?"
Kata Sun Tiong lo dengan wajah serius.
"sekalipun sekarang kita juga harus berusaha mengumpulkan bukti yang sebanyak-banyaknya agar dia tak bisa memberi bantahan Iagi, barulah kita menuntut balas kepadanya !"
Kini, nona Kim mulai teringat kembali akan perkataan dari Su-nio, apalagi setelah dicocokkan dengan apa yang dikatakan Kang Tat, Thio Yok sim dan Cukat Tan, ia merasa asal-usulnya memang semakin mencurigakan.
Sesudah termenung beberapa saat, dia pun bertanya lagi kepada Cukat Tat dengan suara lembut.
"Bila seperti apa yang kalian katakan, selama ini selalu dipaksa Lok hun pay untuk menuruti perintahnya, padahal sampai kini belasan tahun sudah lewat, mengapa secara tiba-tiba kau berubah sikap..?"
Cukat Tan tertawa getir.
"Membekunya salju setebal tiga depa, toh tak mungkin membeku dalam seharian, aku rasa ucapan lohu ini dapat nona mengerti, kini keadaan sudah menjadi-jadi, kebetulan sekali bertemu dengan kesempatan baik."
"Apa yang kau maksudkan sebagai kesempatan baik?"
"Kesempatan baik yang kami maksudkan adalah pertemuan kami dengan Sun lote."
Sambung Kang Tat cepat "seingat kami selama beIasan tahun belum pernah kami jumpai seorang manusiapun yang sanggup menaklukan mereka, dan sekarang orangnya sudah ada, maka dari itu..."
"Oooh."
Kembali nona Kim menukas "Mungkin kalian lupa, bila kejadian ini sesungguhnya, maka darah yang menodai tangan kalian sela ma inipun harus dicarikan akal agar bisa dicuci sampai bersih..."
Thio Yok-sim menghela napas panjang.
"Soal ini sudah kami rundingkan, bahkan telah mangambil suatu keputusan ! "
"Bolehkah kau utarakan ?"
"Tentu saja boleh !"
Sela Kang Tat lagi "setelah Lok-hun-pay berhasil diringkus, kami akan mengumpulkan segenap umat persilatan yang sebenarnya, bila sudah beres, maka kami pun akan menghabisi hidup kami untuk menebus dosa-dosa ini !"
Perkataan tersebut diutarakan dengan suara yang lantang dan gagah, hal ini membuat nona Kim segera menundukkan kepalanya rendah-rendah.
Pada saat inilah, dengan berterus terang.Sun Tiong lo bertanya kepada ke tiga orang itu.
"Kalian bertiga menghendaki aku melakukan apa saja?"
"Lohu sekalian tidak mempunyai permintaan lain"
Ucap Kang Tat.
"aku hanya memohon ke pada lote agar sudi mengikuti petunjuk kami dan secepatnya membekuk pembunuh keji tersebut, agar dia tak bisa berbuat sewenang-wenang lagi ditempat luaran"
Sun Tiong lo manggut-manggut.
"Hal ini merupakan salah satu dari tujuan kami, tentu saja permintaanmu tak akan kutampik"
Maka merekapun bekerja sama sambil merundingkan tindakan yang akan mereka ambil selanjutnya.
Keesokan harinya, He-he koancu dan murid-muridnya berpamit untuk berangkat pulang ke San say, sedangkan Sun Tiong lo sekalian balik kembali ke Gak yang.
Kang Tat, Thio Yok-sim dan Cukat Tan juga berangkat ke kota Gak-yang, hanya mereka menempuh jalan lain.
Mereka telah berhasil merundingkan suatu cara yang amat bagus untuk menghadapi peristiwa tersebut, dan sekarang sedang melakukan suatu tindakan serta pelaksanaan dari rencana tersebut.
Telaga Tong ting ou yang amar termashur namanya didaratan Tionggoan itu, kini berada dalam kegelapan malam yang tenang dan tiada berombak.
Sampan-sampan berlabuh di sepanjang pesisir dan nampak sangat indah dibawah cahaya rembulan.
Sebuah perahu loteng berlabuh ditengah telaga, sunyi, hening, tak kedengaran apa-apa.
Tiada cahaya lentera dari perahu itu, juga tak nampak sesosok bayangan manusiapun, mungkinkah hanya perahu kosong belaka ?
Tidak !
Kalau dilihat dari jangkar besar di buritan perahu yang terbenam dalam telaga, dapat diduga kalau diatas perahu itu ada orangnya, hanya sekarang orang tersebut belum sampai menampakkan diri.
"Perahu loteng yang megah dan perkasa dibangun dengan kuat dan kokoh ini boleh di bilang sangat menyolok mata, dalam wilayah telaga Tong thig-cu. boleh dibilang merupakan sesuatu yang jarang ditemukan, itulah sebabnya menarik perhatian orang. Thio Yok-sim, Kang Tat dan Cukat Tan kini sudah tiba di-tepi telaga Tong ting cu. Kentongan pertama baru Iewat, orang yang berpesiar ditepi telagapun kian lama kian bertambah sedikit. Thio Yok sim berada didepan, Kang Tat dan Cukat Tan mengikuti dibelakang, mereka sudah berhenti dibawah pohon yang liu ditepi telaga, dibawah sinar rembulan mereka sedang celingukan keempat penjuru untuk menemukan jejak "perahu loteng"
Tersebut. Cukat Tan yang pertama-tama menemukan "perahu loteng"
Tersebut, tiba-tiba saja serunya sambil menuding ke depan sana.
"ltu, coba lihat, perahunya berada disana !"
Thio Yok sim dan Kang Tat segera berpaling kesana, kemudian bersama mengangguk.
"Bagaimana, kapan kita akan kesana?"
Tanya Kang Tat kemudian dengan suara lirih.
"Sekarang juga mari kita berangkat, loji sudah bilang, kita harus segera berangkat menuju ke atas perahu loteng itu."
Dengan cepat Cukat Tan menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tunggu dulu, bukannya aku menaruh curiga atau bagaimana, setelah peristiwa Toan-thian cian, aku mempunyai suatu jalan pemikiran yang sangat aneh, tampaknya Mao loji sedang bermain gila !"
"Bermain gila? Bermain gila apa?"
Seru Thio Yok sim dan Kang Tat hampir bersamaan waktunya.
"Saudara berdua, dengan kelicikan Mao loji, setelah ia memerintahkan kepada kita sekalian untuk melakukan pembunuhan terhadap He he koancu dirumah penginapan Thian-tiang, mungkinkah dia akan pergi dengan begitu saja ?"
Kang Tat dan Thio Yok sim menjadi tertegun dan berdiri bodoh, untuk beberapa saat lamanya dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Kembali Cukat Tan melanjutkan.
"Seandainya Mao loji tidak pergi melainkan membuntuti kita secara diam-diam, aku percaya dengan kemampuan yang dimiliki tua bangka tersebut, sulit rasanya buat kita untuk mengetahui jejaknya.
"Itu berarti pembicaraan kita dengan He he koancu dirumah penginapan Thian tiang, serta kemunculan sahabat Sun yang mengadakan pembicaraan dengan kita, semuanya pasti diketahui olehnya dengan jelas.
"Seandainya apa yang kuduga benar, saudara Kang, saudara Thio, bila kita langsung menuju ketengah telaga dan memasuki perahu loteng, bukankah hal ini ibaratnya kunang-kunang yang menubruk api?"
Thio Yok sim berpikir sebentar, kemudian manggut-manggut.
"Benar, apa yang diucapkan taudara Cukat memang benar, kita memang perlu berhati-hati."
"Setelah diperingatkan oleh saudara Cukat, pandanganku pun ada sedikit berbeda"
Kata Kang Tat pula.
"Oooh, bagaimanakah menurut pendapat saudara Kang ?"
"Andaikata pada malam itu Mao loji menguntit dibelakang kita, maka sudah barang tentu Mao loji dapat menyaksikan bukan bagaimana sahabat Sun menangkap Cukat heng ?"
Tanpa berpikir panjang. Cukat Tan segera menyahut .
"Ucapanmu memang benar."
"Harap saudara Cukat pertimbangkan kembali setelah Mao loji mengetahui kalau sahabat Sun menyembunyikan diri dirumah penginapan Thian-tiang. dia segera pergi ataukah akan menyadap pembicaraan kita lebih lanjut?"
Kali ini Cukat Tan berpikir sebentar, kemudian baru menjawab.
"Kalau dibicarakan dari kelicikan Mao loji, kemungkinan pergi jauh lebih besar !"
Kang Tat manggut-manggut, katanya kemudian.
"Betul, siaute pun berpendapat demikian, oleh sebab itulah siaute rasa apa yang kemudian kita bicarakan didalam kamar tidur He he koancu, tak sepatah kata pun yang terdengar oleh loji!"
"Bcnar, kemungkinan besar loji sudah berada puluhan li jauhnya dari sana waktu itu."
Sambung Thio Yok Sim. Saat itulah Kang Tat baru berkata kepada Cukat Tan.
"Saudara Cukat, semenjak kita berpisah dengan sahabat Sun dirumah penginapan Thian-tiang, sepanjang jalan menuju ke utara, apakah saudara Cukat pernah membicarakan kembali peristiwa tertangkapnya kau ditangan Sun...."
Cukat Tan dapat memahami arti kata dari ucapan Kang Tat tersebut, segera selanya.
"Maksud saudara Kang, Mao loji sesungguh nya tidak mengintil dibelakang kita?"
Kang Tat mengangguk.
"Benar, kalau toh saudara Cukat bisa berpikir sampai kesitu, tentunya kau menganggap pendapat siaute benar bukan?"
Katanya. Cukat Tan segera manggut-manggut.
"Yaa, seharusnya benar !"
Thio Yok sim tak dapat menangkap arti pembicaraan orang, segera menukas.
"Sebenarnya apa gerangan yang telah terjadi?"
Cukat Tat tertawa.
"Beginilah duduknya persoalan, ketika berada di rumah penginapan Thian-tiang, siaute pernah melakukan penjagaan untuk kalian berdua tapi aku segera dipancing oleh seorang manusia penjalan malam yang berakibat berkobarnya suatu pertarungan apa lacur aku kena tertawan."
"Bukankah kau pernah membicarakan persoalan ini sewaktu ada dijalan?"
Tukas Thio Yok sim.
"tapi apa hubungannya dengan Mao loji."
"Jangan terburu nafsu"
Kembali Cukat Tat tertawa.
"menurut dugaan saudara Kang, andaikata pada waktu itu Mao loji sedang menguntit dibelakang kita, sudah pasti dia telah menyaksikan segala sesuatunya itu, dengan kelicikannya, sudah pasti dia tak akan memasuki rumah penginapan Thian tiang lagi !"
"Hal ini tak bakal salah lagi, Tapi kalau toh dia sudah melihat bahwa saudara Cukat kena ditawan, dan sekarang menemukan saudara Cukat berada dalam keadaan sehat wal'afiat, coba pikirlah, masa dia akan mempercayai kita lagi ?"
Menyaksikan Thio Yok-sim belum juga mengerti, Kang Tat segera menimbrung dari samping.
"Beginilah kejadiannya, setelah kukumpulkan semua kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dan kupikirkan lagi dengan lebih seksama, aku lantas berpendapat bahwa Mao loji sesungguhnya tidak menguntit dibelakang kita pada malam itu."
"Ooooh, atas dasar apa kau berani berkata demikian ?"
"Andaikata Mao loji memang benar-benar menguntit dibelakang kita pada waktu itu, apa lagi setelah menyaksikan saudara Cukat tertawan atau mendengar kita melakukan perundingan rahasia, aku yakin jauh hari sebelum kita tiba disini, segala sesuatunya pasti sudah terjadi, bahkan dapat diduga kita sudah mampus secara mengenaskan."
Tentunya saudara Thio cukup memahami watak dari Mao loji, bayangkan sendiri mungkinkah dia tidak melakukan penghadangan di tengah jalan, sebaliknya malah memberi kesempatan buat kita untuk melarikan diri ?"
Sekarang Thio Yok sim baru mengerti, dia segera menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Betul, betul, ucapanmu memang amat tepat"
Kembali Kang Tat berkata.
"Oleh sebab itu aku rasa kita harus pergi ke perahu loheng sekarang juga!"
"Baik!"
Seru Thio Yok sim.
Sedangkan Cukat Tan juga tidak memberikan penampikan, maka merekapun menelusuri jalan setapak ditepi pantai untuk mencuri perahu yang bisa dipakai untuk menyeberang ke-tengah telaga.
Sambil berjalan kembali mereka berbincang-bincang, terdengar Thio Yok sim berkata.
"Entah pada saat ini sahabat Sun sudah datang atau belum?"
"Mereka berjalan dengan memotong jalan, sepantasnya sudah sampai ditempat tujuan."
Thio Yok-sim memperhatikan lagi perahu loteng yang berlabuh ditengah telaga, kemudian ujarnya lagi.
"Bila kita perhatikan dari perahu loteng tersebut, tampaknya seperti belum pernah terjadi suatu peristiwa apapun."
"Sahabat Sun sekalian tidak akan bertindak gegabah, mereka pasti bertindak dengan menurut rencana dan penghitungan yang masak."
"Moga moga saja demikian, kalau tidak, bila Mao loji sampai terlepas dari jaring, untuk mencarinya lagi pasti akan sulit sekali !"
Mendadak Cukat Tan menghentikan langkahnya kemudian berseru tertahan dengan nada tegang.
"Aaah, tidak benar ! peristiwa ini tidak beres nampaknya..."
Kang Tat dan Thio Yok sim kelihatan tertegun, kemudian bersama sama berseru.
"Apa yang tidak beres ?"
"Mustahil, kalau Mao loji tidak mempersiapkan orang dan perahu ditepi pesisir untuk menantikan kedatangan kita, padahal sudah hampir setengah harian lamanya kita berada disini, mengapa masih belum nampak batang hidung mereka ? Aku lihat persoalan ini kurang beres."
Begitu ucapan tersebut diutarakan, Kang-Tat dan Thio Yok sim segera manggut-manggut berulang kali. Kembali Thio Yok sim berkata.
"Persoalan diatas air, mungkin aku mengetahui lebih banyak daripada kalian berdua, tempat itu merupakan tanggung jawab dari "bajingan -Kwa,"
Bangsat itu sangat teliti dan seksama, lebib baik kita bertindak lebih berhati-hati lagi"
"Jadi maksud saudara Sun, bukannya tiada orang sendiri yang menyiapkan perahu penye berang, melainkan bajingan kwa kelewat licik sehingga secara sengaja menyembunyikan perahu dan orangnya agar tidak munculkan diri untuk sementara waktu."
"Betul, bajingan ini amat teliti, kalau tidak percaya kita boleh berjalan menyelusuri telaga ini, aku yakin tak selang berapa saat kemudian, apalagi bajingan itu sudah merasa yakin kalau disini tiada orang yang menguntit kita, ia akan menitahkan orangnya untuk munculkan diri dan menyambut kedatangan kita."
Maka mereka bertiga pun tidak berbicara lagi, mereka berjalan santai menelusuri pesisir.
Waktu itu maIam semakin kelam, para pelancong pun banyak yang sudah pulang, sepanjang pantai suasana hening dan sepi ditambah pula mereka bertiga semuanya mengenakan kain kerudung berwarna putih, hingga nampaknya amat menyolok mata.
Setelah berjalan sejauh setengah lie lebih, dari kejauhan sana baru muncul seseorang yang berjalan mendekat.
Karena terlampau jauh, mereka tak sempat melihat jelas bagaimanakah tampang dan dandanan orang itu, namun Thio Yok sim, Kang Tat dan Cukat Tan menyadari bahwa sembilan puluh persen orang itu adalah petugas yang di kirim untuk menyambut kedatangan mereka.
Benar juga, tanpa ragu orang itu berjalan mendekat dan langsung menyongsong kehadapan mereka.
Thio Yok sim, Kang Tat dan Cuka Tan segera berhenti.
Sewaktu tiba dihadapan mereka bertiga, ternyata orang itu tidak berhenti melainkan ber jalan terus melalui samping mereka, ketika saling berpapasan inilah, orang tersebut segera berbisik.
"Jalan terus kemuka dan berhenti dibawah pohon Iiu nomor sepuluh dari sini."
Selesai mengucapkan perkataan itu, orang tadi sudah menjauh kembali dari mereka. Menanti bayangan punggung orang itu sudah menjauh, Thio Yok-sim baru mendengus dingin, bisiknya.
"Bagaimana ? Ucapan siaute tidak salah bukan ?"
Cukat Tan tertawa.
"Bajingan Kwa jauh lebih keji dan buas daripada Mao loji, sampai waktunya dia tak boleh diampuni !"
"Saudara Cukat, bilamana perlu dan kita harus bertarung melawan bajingan Kwa, kau harus berhati-hati"
Kata Kang Tat pula.
"menurut pendapat siaute, tenaga dalam yang dimiliki bangsat itu mungkin masih jauh lebih hebat daripada kita enam sahabat."
Mendengar perkataan itu, Cukat Tan menjadi tertegun, kemudian serunya kurang percaya.
"Aaaah, masa ada kejadian seperti ini ?"
"Ehmm, seandainya dia tidak memiliki kelebihan yang luar biasa, bagaimana mungkin ia dapat menyelundup didalam gedung keluarga Sun Pak gi dimasa lalu dan menjadi mata-matanya bajingan Mao ? Dan lagi diapun pernah seorang diri membinasakan Ji hway-su kiam..."
"Darimana saudara Kang bisa tahu kalau dialah yang telah membunuh Ji hway-su kiam (empat jago pedang dari Ji-hway) ?"
Sela Thio Yok sim cepat.
"Waktu itu mereka bermusuhan dengan Ji hway su kiam lantaran barang kiriman "penting"
Dari perusahaan Tay hoo piaukiok, aku mendapat perintah untuk membawa barang kiriman itu, tapi ketahuan su kiam sehingga mereka melakukan pengejaran.
"Diluar kora Ku keh ceng akupun berjumpa dengan bajingan Kwa yang di tugas untuk menyambut kedatanganku malam itu juga, dia mengirim surat kepada Su kiam dan menantangnya untuk berduel, aku kesitu, bajingan Kwa juga kesitu, tapi hanya dia seorang yang turun tangan."
Cukat Tan menyadari akan sesuatu, dengan cepat dia menukas.
"Tidak heran kalau saudara Kang bisa berkata demikian, rupanya kau telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri."
Kang Tat tertawa.
"Waktu itu si bajingan Kwa tak pernah menduga akan terjadinya peristiwa seperti hari ini kalau tidak bagaimana mungkin siaute berani mengucapkannya keluar ? Dan diapun tak nanti akan memperlihatkan kepandaian saktinya itu dihadapan kita."
Setelah berhenti sejenak, sambil merendahkan suaranya kembali dia berkata.
"Sekarang kita jangan berbicara lagi, kita harus bersikap seperti dahulu lagi, seharian penuh belum tentu saling berbincang sepatah kata dengan rekan sendiri, apalagi sudah hampir sampai ditempat tujuan segala sesuatunya harus bertindak menurut keadaan."
Ketiga orang itu tidak berbicara lagi, mereka segera berjalan bersama tak siapa pun tidak menggubris yang lain.
Setibanya di depan pohon liu nomor sepuluh, mendadak dari balik kegelapan muncul seseorang, orang itu mengenakan pakaian serba hitam dengan kain kerudung berwarna hitam pucat setelah memberi hormat kepada ke tiga orang itu, katanya.
"Hamba mendapat perintah untuk menunggu kedatangan kalian disini, harap mengikuti hamba naik ke sampan !"
Ketiga orang itu bersama-sama mendengus dingin, untuk menyesuaikan diri dengan peranan masing-masing.
Begitulah, dipimpin oleh manusia berbaju hitam itu, mereka segera naik ke atas sebuah sampan berukuran sedang.
Sampan semacam ini panjang dan sempit dibagian depannya dengan keistimewaan bisa bergerak cepat.
Di depan dan belakang sampan, masing-masing duduk seorang lelaki kekar yang memegang dayung.
Mereka bertiga duduk dibagian tengah, satu di muka dan di belakang, sementara lelaki petunjuk jalan itu pun tidak turut serta naik.
Dari sini bisa diduga kalau lelaki tersebut masih bertugas untuk menunggu kedatangan orang penting lainnya.
Sementara itu sampan sudah bergerak dengan cepat bagai seekor ikan disungai, dengan cekatannya bergerak menuju kearah perahu loteng ditengah telaga sana.
Pada saat itulah, mendadak dari tepi telaga kurang lebih setengah li dari situ, melesat pula sebuah sampan cepat bergerak menuju ketengah telaga.
Diatas sarapan itu tak kelihatan cahaya lentera, apa lagi kentongan kedua sudah lewat, sehingga sulit untuk melihat jelas paras muka orang yang berada diperahu tersebut.
Akan tetapi kalau dilihat dan bayangan hitam yang berada di atas sampan, bisa diketahui kalau mereka adalah dua orang.
Walau perahu itu bukan berbentuk sampan yang bisa bergerak cekatan namun kecepatannya sungguh mengagumkan.
Ada perahu yang berlayar di telaga sesungguhnya merupakan suatu kejadian yang lumrah tentu saja tiada orang yang memperhatikan secara khusus.
Tapi arah jalur pelayaran perahu itu sangat aneh, tampaknya merekapun sedang bergerak mendekati arah perahu loteng.
Thio Yok-sim yang duduk dibagian depan nampak agak termenung sebentar, kemudian tanyanya kepada lelaki pendayung tersebut.
"Kalian berdua termasuk anggota dari markas cabang disini ?"
Tampaknya lelaki itu selain pandai mendayung sampan, tenaga dalam dan kepandaian silatnya terhitung hebat juga, mendengar perta nyaan tersebut segera sahutnya.
"Benar, malam ini hamba mendapat tugas untuk melakukan perondaan."
"Jalankan perahu lebih lamban!"
Perintah Thio Yok sim. Lelaki itu tertegun lalu serunya.
"Kau menitahkan kepada hamba agar jangan menempuh perjalanan terlalu cepat?"
"Benar lambankan sedikit, aku ada urusan."
Lelaki itu segera mengangkat dayungnya dan memberi tanda kepada orang yang berada di belakang dengan tangan kirinya.
Orang yang dibelakang masih mendayung tiada hentinya, tapi jalannya sampan pun, secara otomatis menjadi lebih lamban.
Kang Tat dan Cukat Tan yang duduk dibelakang berpeluk tangan belaka.
lalu terdengar Kang Tat bertanya.
"Mengapa harus melambankan jalannya sampan ?"
Ucapan dingin dan sama sekali tidak berperasaan. Thio Yok sim mengerti akan maksud rekannya, diapun segera menjawab dengan suara dingin.
"Perahu yang berada disebelah kiri sangat mencurigakan !"
Perkataan tersebut diutarakan lebih dingin, sehingga sangat tak sedap didengar. Mendengar perkataan tersebut, Kang Tat segera berpaling dan menatapnya. Sedang Cukat Tan berseru pula.
"Perahu yang ada disebelah kanan, lebih aneh lagi."
Mendengar ucapan itu, kembali Thio Yok sim berpaling, dan yang diucapkan memang benar.
Kurang lebih pala jarak setengah panahan disebelah kanan, muncul pula sebuah sampan yang bergerak cepat, dengan perahu disebelah kiri persis membentuk sudut segitiga, kalau di lihat dari bentuknya jelas mereka bermaksud untuk menjepit dan mengurung perahu yang mereka tumpangi.
Thio Yok-sim sengaja mendengus dingin, kemudian berseru.
"Mereka yang seharusnya datang kini sudah berdatangan."
"Mereka yang datang biar datang, kita yang mau pergi biar pergi, ayo dayung sampan kuat-kuat !"
Seru Kang Tat cepat. Begitu perintah diturunkan, sampanpun segera meluncur kembali dengan kecepatan tinggi. Pada saat itulah lelaki si pendayun sampan itu berkata.
"Apakah hamba perlu untuk melepaskan tanda rahasia ke arah perahu loteng ?"
Tanyanya.
"Apakah kau yakin kalau kedua perahu itu berisi musuh-musuh kita ?"
Seru Cukat Tan. Dengan cepat lelaki pendayung itu menggeleng.
"Hamba tak berani memastikan !"
"Hmm, kalau toh begitu, siapa yang suruh kau bersikap seolaholah menjumpai masalah gawat saja ? Bila majikan minta pertanggungan jawabmu, bagaimana kau harus menjawab?"
"Sampai sekarang majikan belum kembali ke perahu, dalam perahu loteng cuma ada penanggung jawab dari markas cabang kita."
Tergerak hati Thio Yok sim setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat.
"Apakah dia adalah seorang dari tingkatan berbaju emas ?"
"Ya, dia berasal dari tingkat manusia berbaju emas."
Sekali lagi Thio Yok sim mendengus dingin.
"Hmm, tahukah kau akan kedudukan lohu di dalam partai ?"
Tegurnya ketus.
"Hamba tahu."
Jawab lelaki itu dengan nada yang sangat berhatihati sekali. Sekali lagi Thio Yok sim mendengus dingin.
"Asal tahu saja lebih baik lagi hati-hati kalau bertugas, apa yang harus kalian lakukan, lohu akan memberitahukan kepadamu"
Lelaki itu mengiakan dengan hormat, dia tidak berbicara lagi dan melanjutkan tugasnya mendayung sampan.
Walaupan sampan itu bergerak amat cepat, tapi berhubung perahu loteng itu berlabuh ditengah telaga dan kelewat jauh, maka sekarang perjalanan yang mereka tempuh baru seper-dua atau sepertiganya saja.
Dua buah perahu cepat yang berada dikiri kanan perahu tersebut masih tetap bergerak dari jarak tertentu, mereka seperti mengawasi seperti juga lagi melindungi, dengan kecepatan yang sama melaju terus kearah depan.
Begitulah, tiga buah perahu bergerak maju menembusi ombak.
sepertanak nasi kemudian, jarak mereka dengan perahu loteng itu sudah semakin mendekat.
Mendadak dari atas perahu loteng itu muncul setitik cahaya keperak-perakan yang meleset ke tengah udara dan menembusi kegelapan.
Setelah mencapai ketinggian lima puluhan kaki, terdengar suara ledakan nyaring, yang disusul munculnya sembilan kuntum lentera perak yang melayang-layang ditengah udara, separuh bagian permukaan telaga segera menjadi terang benderang bermandikan cahaya.
Thio Yok sim hanya melirik sekejap kearah beberapa buah lentera perak itu, sementara mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Kang Tat dan Cukat Tan juga menanggapi dengan berlagak seolah-olah tidak melihat.
Lama kelamaan habis sudah kesabaran lelaki pendayung sampan itu, mendadak katanya.
"Tanda rahasia telah dilepaskan, tampaknya orang yang berada diperahu loteng sudah mengetahui kalau dua buah perahu yang berada disebelah kiri dan kanan itu mencurigakan maka mereka melepaskan tanda rahasia, sekarang kita harus melepaskan juga tanda rahasia untuk memberikan jawaban". Thio Yok sim segera mendengus dingin.
"Hmmm. apakah orang-orang diperahu loteng tidak kenal dengan perahu kita ini ?"
Serunya.
"Kenal sih kenal, cuma menurut peraturan tanda rahasia, kita..."
"Tutup mulut !"
Bentak Thio Yok sim dengan nyaring.
"kau tak usah banyak berbicara lagi, tugasmu sekarang adalah mendayun sampan dan bergerak ke depan !"
Lelaki itu tak berani banyak berbicara lagi dia segera menyambar dayung dan mendayung dengan sepenuh tenaga, sehingga sampan itu pun bergerak makin cepat lagi.
Tak lama kemudian, kembali tampak serentetan cahaya kuning muncul dari arah perahu loteng dan melurcur ke tengah angkasa.
Ledakan nyaring sekali lagi berkumandang memecahkan keheningan disusul kemudian sembilan buah lentera kuning melayang turun ke atas tanah...
Lelaki itu tak bisa menahan diri lagi, sekali lagi dia berseru dengan perasaan gelisah.
"Dengan memberanikan diri hamba melapor kini lentera kuning sudah dilepaskan, pertanda orang yang berada di perahu loteng sedang menegur kepada kita, apa sebabnya tidak menjawab tanda rahasia mereka ?"
"Lohu hanya akan mengucapkan perkataan ini sekali lagi lanjutkan perahu tersebut menuju ke depan. Bila kau berani banyak bicara atau melakukan tindakan yang tidak menurut perintah, lohu akan segera mencabut nyawamu !"
Ancam Thio Yok sim dingin.
Lelaki itu menjadi ketakutan setengah mati sehingga sekujur tubuhnya gemetar kali ini dia benar-benar tak berani buka suara Iagi.
Sewaktu sampan itu sudah hampir mendekati perahu loteng itu, mendadak Thio Yok sim memerintahkan kembali.
"Hentikan sampan !"
Begitu perintah diturunkan, dua orang lela ki itu segera mendayung secara terbalik hingga perahu itu terhenti.
Mendadak pada saat itulah, dua sampan cepat yang berada disebelah kiri dan kanan maju secara piring ke samping, kemudian sesudah membentuk satu putaran busur, mereka balik kembali kearah semula dan mengundurkan diri.
Menanti kedua sampan itu sudah jauh dari pandangan mata, Thio Yok-sim baru menitahkan kepada lelaki itu untuk meneruskan perjalanannya lagi..
Ketika sampan itu merapat pada sayap kiri perahu loteng, dari atas perahu loteng itu segera diturunkan sebuah tambang untuk memanjat, tetapi pada waktu itu Thio Yok sim Kang Tat dan Cukat Tan sudah melompat naik ke perahu loteng tersebut.
Diatas geladak perahu loteng telah menanti seorang manusia berkerudung emas serta lima orang lelaki berkerudung kain hitam dibelakangnya, mereka bersama-sama membungkukkan badan menyambut kedatangan ketiga orang itu.
Pertama tama manusia berbaju emas itu yang berkata lebih dulu.
"Hamba menyambut kedatangan kalian bertiga."
Dia hanya menyebut "kalian beniga"
Tidak menyebut sebutan "Tiancu"
Yang seharusnya dipakai untuk "Lak yu"" (enam sahabat), kalau dihari biasa tentu kau akan murka, tapi kini Thio Yok sim, Kang Tat mau pun Cukat Tan sama sekali tak perduli atas panggilan panggilan itu.
Thio Yok sim mempunyai suatu maksud tertentu waktu itu, maka sambil mendengus dingin katanya.
"Hun caycu (wakil ketua markas cabang) apakah majikan tiada dalam perahu?"
"Sejak pagi tadi majikan telah keluar, hingga kini beliau belum balik kembali"
Jawab hun caycu berbaju emas itu dengan hormat. Sekali lagi Thio Yok sim mendengus.
"Hmm, sekali tebak lohu sudah tahu, sudah pasti majikan tidak berada dalam perahu."
"Hamba mempersilahkan kalian bertiga untuk melihat-lihat kamar tidur, sehingga hamba..."
"Tidak usah"
Tukas Thio Yok sim.
"sekarang bawa dulu lohu bertiga keruang rapat"
Sekali lagi Hun caycu itu mengiakan dengan hormat, kemudian membalikkan tubuh dan memimpin ketiga orang itu menuju keruang tengah dalam perahu tersebut.
Thio Yok sim, Kang Tat dan Cukat Tan segera duduk tanpa sungkan-sungkan sementara dua orang lelaki segera muncul menghidangkan air teh wangi, setelah itu mengundurkan diri dari dalam ruangan.
Ketika Thio Yok sim sedang menghirup air teh, Hun caycu itu sudah membungkukkan badannya sambil berkata.
"Bilamana kalian bertiga tiada perintah lainnya, hamba ingin mohon diri lebih dulu."
Thio Yok-sim segera meletakkan cawan air tehnya keras-keras ke atas meja, lalu serunya.
"Hun caycu, tahukah kau bahwa perahu ini sangat menyolok mata?"
"Hamba tahu, tapi Tiancu nomor satu memerintahkan agar perahu ini berlabuh disini !"
"Hmmm. kalau begitu sewaktu melihat munculnya ke dua buah sampan yang mencurigakan tadi atas perintah Tiancu nomor satu juga kau di perintahkan untuk melepaskan tanda rahasia perak dan kuningan dengan memaksa lohu memberi jawaban..?"
Cepat-cepat Hun caycu menggeleng.
"Itu mah tidak, Tiancu dan majikan telah pergi bersama-sama..."
Katanya.
"Oooh, lantas siapa yang memerintahkan untuk melepaskan kode rahasia tersebut ?"
"Hamba sendiri, karena hamba melihat perahu itu mencurigakan..."
Thio Yok sim segera menggebrak meja keras-keras, tukasnya dengan suara dalam.
"Tutup mulut, sekarang lohu bertanya pada lagi, apakah kau merasa keheranan apa sebabnya dari sampan tidak didapati kode rahasia yang menjawab pertanyaanmu tadi?"
"Yaaa, hamba memang hendak mohon diri untuk menanyai kedua orang anak buah hamba itu!"
Hun caycu tertawa dingin.
"Hee... heeh... tak usah ditanyakan lagi, lohu lah yang menurunkan perintah melarang mereka untuk melepaskan kode rahasia dan memberi jawaban."
Sesungguhnya hal tersebut sama sekali tak meleset dari dugaan Hun caycu tersebut, tetapi dia toh berpura-pura kaget dan berdiri termangu-mangu disitu sampai lama sekali.
Kemudian ia baru bertanya lagi sambil tersenyum.
"Bolehkah hamba bertanya apa alasannya?"
"BoIeh! sekalipun tidak kau tanyakan, lohu juga akan memberitahukan kepadamu, walaupun perahu loteng itu agak menyolok pandangan, tapi sama sekali tidak mencurigakan oleh sebab itulah majikan baru menitahkan untuk melakukan pertemuan diatas perahu.
"Kedua sampan cepat tadi memang melakukan pengepungan dan pengejaran yang ketat semenjak lohu sekalian berangkat menuju ke tengah telaga, padahal sampan itu bukan milik partai kita, berarti mereka adalah musuh bukan teman..."
"Akan tetapi, seandainya pihak lawan benar-benar sudah mempunyai bukti, mengapa mereka cuma mengejar sampan kecil dan bukannya melakukan penyelidikan atas perahu loteng ini? Dari sini bisa disimpulkan kalau pihak lawan cuma menaruh curiga."
"Kedudukanmu didalam partai amat tinggi yakni seorang caycu deri cabang markas besar tentunya kau cukup memahami bukan pertarungan serta tindakan dari partai kita terhadap lawan, dengan munculnya kedua buah sampan itu. entah siapakah mereka, sudah seharusnya kalian berupaya untuk menahan mereka.
"lnilah yang menyebabkan lohu sekalian meski sudah mengetahui akan hal ini, tapi sengaja berlagak acuh, padahal tujuan kami adalah membiarkan mereka mendekati perahu loteng, kemudian baru turun tangan untuk membekuk mereka.
"Sebab bila kita bertindak pada waktu itu, maka dengan jarak yang amat jauh dari pantai sulit buat mereka untuk melarikan diri, Sebetulnya kami sudah merencanakan segala sesuatunya dengan lancar dan sempurna, siapa tahu rencana kami harus berantakan akibat ulahmu yang sama sekali tidak bertanggung jawab itu."
"Sekali melepaskan kode rahasia masih belum puas. eh. tahu-tahu melepaskan lagi kode rahasia untuk kedua kalinya kalau dibilang kau kan tidak tahu, rasanya keenakan bagimu, bila dibilang kau sengaja melepaskan tanda agar musuh bisa kabur, rasanya juga kebangetan."
"Lohu tahu, mungkin kau masih bisa membeberkan alasanmu yang kuat untuk membela diri maka sekarang kuberi kesempatan kepadamu untuk membeberkan alasanmu itu, lohu ingin tahu sampai dimanakah kebenaran dari alasanmu itu."
Kali ini, Hun caycu tersebut benar-benar dibikin tertegun, dia tak pernah berpikir sebanyak itu, juga tak pernah menyangka kalau persoalannya akan berkembang menjadi begitu serius, kini dia mulai merasakan hatinya berdebar-debar.
Menyaksikan Hun caycu membungkam terus sampai cukup lama, dengan gusar Thio Yok sim membentak lagi.
"Ayo cepat beberkan alasanmu, cepat!"
Hun caycu merasa tak mampu berkata-kata lagi, di dalam cemasnya dia lantas mempergunakan suatu cara yang sepatutnya tak boleh dia gunakan, sayang ia tak berpikir kelewat jauh.
Sesudah gelagapan beberapa waktu, diapun berkata.
"Hamba mempunyai alasan, tapi harus hamba laporkan sendiri kepada Tiancu nomor satu."
Celaka! Thio Yok sim yang pada dasarnya memang berniat untuk memberi pelajaran kepadanya, Thio Yok sim kini semakin bertekad untuk membunuhnya, maka ia segera mendengus dingin.
"Hmm! Hu-caycu... apakah kau tidak tahu kalau lohu sekalian juga Tiancu ?"
"Soal itu hamba tahu."
Thio Yok-sim segera tertawa seram.
"Heeeehh... heeehh... heeehh... tentunya kau masih belum melupakan peraturan dari majikan bukan?"
"Hamba tidak berani melupakannya !"
Thio Yok sim manggut-manggut "Bagus, kalau begitu lohu ingin bertanya kepadamu, atas dasar alasan apakah kau tak bisa melaporkan alasanmu tersebut kepada lohu sekalian..."
Sementara itu Bun caycu sudah berhasil menemukan jawaban yang tepat, maka sahutnya dengan cepat.
"Sebelum berangkat Tiancu nomor satu telah berpesan kepada hamba, bahwa didalam menghadapi persoalan apa saja, hamba hanya melaporkan semua peristiwa tersebut kepadanya dan tak boleh dilaporkan kepada orang lain, oleh sebab itu hamba tidak berani membangkang perintah !"
"Apakah dia mengatakan termasuk juga lohu sekalian ?"
Seru Thio Yok sim dengan gusar.
"Tiancu nomor satu mengatakan, hamba dilarang melaporkan semua kejadian kepada siapapun!"
"Oooh, aku mengerti sekarang, kalau begitu lohu sekalian juga termasuk dalam ucapan "siapapun"
Tersebut bukan?"
"Harap Tiancu memaklumi!"
Jawab Hun caycu sambil tersenyum. Inilah untuk pertama kalinya dia menggunakan sebutan "Tiancu"
Untuk memanggil Thio Yok sim. Thio Yok sim segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah... haaahh... haaahh... bagus sekali, berulang kali majikan telah menegaskan bahwa semua anggota partai harus menghormati atasannya menuruti tingkat kedudukan masing-masing dan tak boleh merahasiakan sesuatu terhadap atasan, jadi rupanya kau menganggap lohu sekalian kurang berhak untuk..."
"Hamba tidak berani."
Buru-buru Hun caycu menukas.
"apabila tiada perintah dari Tiancu nomor satu..."
"Tutup mulut!"
Bentak Thio Yok sim.
"jangan kau anggap lohu tidak memahami maksud hatimu itu, sudah jelas kau merasa tersudut karena tak mampu menjawab maka kau lantas mempergunakan kedudukanmu sebagai orang kepercayaan Kwa tiancu untuk membohong dan menggertak lohu..."
Hun-caycu ini memang bernyali besar, cepat-cepat dia menukas kembali dengan tegas.
"Maaf kalau terpaksa hamba harus menegur, rasanya tiancu tidak seharusnya menyebut nama Tiancu nomor satu secara langsung!"
Thio Yok-sim mendongakkan kepalanya lalu tertawa tergelak-gelak, kepada Kang Tat dan Cukat Tan segera serunya.
"Apakah kalian berdua sudah mendengar jelas ucapannya itu ?"
"Yaa, kami mendengarnya amat jelas!"
Jawab Kang Tat. Cukat Tan juga ikut mengangguk.
"Orang ini berani mengucapkan kata-kata semacam itu, kalau dibilang yang sebenarnya, dia memang pantas untuk menerima kematian."
Begitu ucapan tersebut diutarakan paras muka Hu-caycu yang berada dibalik sebelah kain cadar berwarna emas itu segera berubah hebat, cepat-cepat serunya.
"Tiancu, apa salah hamba, mengapa kau menjatuhkan hukuman mati kepadaku ?"
"Lepaskan kain cadar emasmu dan sebutkan siapa namamu !"
Bentak Thio Yok-sim gusar. Dengan gugup Hun caycu itu melompat mundur ke belakang, sambil mundur serunya.
"Hamba merasa yakin tak pernah bersalah, mengapa tiancu hendak membunuhku..."
Thio Yok-sim mendengus dingin.
"Hmmm, kau tak lebih cuma seorang manusia berbaju emas yang ditugaskan menjaga markas besar diatas air ini, darimana kau bisa mengetahui nama dari Tiancu nomor satu? Ayo bicara ! Hmmm, hmm, tak heran kalau malam ini kau sengaja melepaskan kode rahasia sehingga musuh pada kabur menyelamatkan diri !"
Hun caycu itu tak mampu membantah lagi, dia segera melakukan suatu tindakan yang merupakan pelanggaran pantangan terbesar, mendadak sambil membalikkan badan dia mendorong pintu dan siap sedia untuk melarikan diri.
Siapa tahu belum lagi tubuhnya melejit ke tengah udara, Thio Yok sim telah berhasil mencengkeram bahunya.
Berbicara dari kepandaian silat dan tenaga dalam yang di milikinya bagaimana mungkin seorang manusia berbaju emas bisa menandingi seorang Tiancu seperti dia?
Dengan suatu gerakan yang amat cepat, Thio Yok sim segera mencengkeram bahu lawan dengan tangan kanannya, setelah itu dengan jari telunjuk kirinya dia menyodok ulu hati orang-Hun caycu mendengus tertahan, lalu muntah darah dan menemui ajalnya seketika.
Thio Yok sim segera melemparkan jenazah itu ke tanah, kemudian sambil berpaling ke arah Kang Tat dan Cukat Tan, katanya.
"Sekarang kita telah berhasil menyingkirkan seorang kuku garudanya bajingan she Kwa itu!"
"Seandainya loji pulang, bagaimana kita harus menjawab kepadanya? "sambung Cukat Tan.
"SegaIa sesuatunya kita laporkan saja kenyataan yang sebenarnya dan bagaimana dia mengetahui nama she Kwa itu, katakan saja dalam keadaan terdesaknya ketika kutanyai tentang alasannya melepaskan tanda rahasia, ternyata dia bersikeras mengatakan kalau alasannya cuma bisa dilaporkan pada Kwa tiancu"
Kang Tat dan Cukat Tan manggut-manggut, kemudian mereka memanggil anak murid yang ada di luar ruangan untuk masuk.
Mendapat perintah, kedua orang lelaki itu masuk, tapi mereka jadi tertegun setelah menyaksikan mayat yang terkapar ditanah.
Dengan sikap acuh dan seakan-akan tak ada suatu urusan apapun, Thio Yok sim berpesan.
"Gotong keluar jenazah itu, ingat, jangan bertindak sembarangan sebelum ada perintah!"
Dua orang lelaki itu mengiakan dengan badan gemetar, kemudian menggotong pergi mayat Hun caycu dari situ.
oooOdezOooo PADA jarak satu lie dari perahu loteng itu, berlabuh pula sebuah perahu yang amat besar.
Perahu itu biasa dan sederhana, tidak jauh berbeda dengan perahu telaga yang lain.
Perahu itu sudah kuno, dipandang dari luar pun sama sekali tak nampak menyoIok, tapi bila kau dapat memasuki ruangan perahu tersebut maka akan segera dijumpai kalau perahu itu adalah sebuah perahu besar yang amat aneh.
Di tengah ruangan perahu tidak terdapat sekatan yang membagi antara ruang muka dan belakang, ruangan tersebut terbuka dari muka sampai belakang.
Kain sutra berwarna merah yang mahal harganya digunakan sebagai tirai untuk melapisi dinding perahu tersebut, sementara lantainya dilapisi oleh permadani tebal yang berwarna kuning emas.
Disekeliling ruangan terdapat pula banyak sekali kasur untuk duduk yang tebal lagi lunak khusus dipersiapkan sebagai tempat duduk manusia yang berkunjung kesana.
Ruang perahu yang besar itu mencapai tiga kaki lebarnya dan enam kaki panjang, dibelakang sana terdapat sebuah pintu yang berlapiskan kaca, sementara dibalik pintu itu merupakan ruangan apa, tak seorangpun yang tahu.
Diatas ruang perahu yang memanjang, tergantung sembilan buah lampu kristal yang indah.
Cahaya lampu yang lembut memancarkan tujuh warna, menambah suasana misterius perahu ini.
Kalau suasana didalam ruangan perahu begini, maka kalau dilihat dari luar, seluruh perahu itu nampak gelap-gulita, siapapun pasti akan mengira kalau orang yang berada didalam perahu itu sudah terlelap kealam impian.
Tapi kenyataannya tidak demikian, tuan rumah sedang duduk didalam ruangan perahu yg megah dan misterius itu untuk menantikan kedatangan seorang tamu kemudian merundingkan suatu masalah besar.
Tak selang beberapa saat kemudian, pintu kristal didepan ruangan itu terbuka dan masuk lah seorang gadis cantik berdandan menyolok yang cuma mengenakan kain tipis untuk menutupi anggota badannya.
Disaat pintu itu berputar ke samping kanan itulah, gadis cilik itu membungkukkan badan sambil berkata.
"Sudah hendak mengabarkan bahwa sang tamu telah datang !"
Katanya kemudian.
Pintu kristal itu membuka kearah sebelah kanan, sedang gadis cantik itu segera berdiri disebelah kanan setelah masuk ke dalam pintu hal ini menunjukkan kalau hujin tersebut sedang duduk ditempat itu.
Tak salah lagi, rupanya pintu kristal tersebut tidak terdiri dari sebuah saja, di sebelah kiripun terdapat sebuah, bahkan kedua lembar daun pintu itu berbentuk menonjol keluar, sehingga bentuk ruang belakang perahu itu menjadi cekung.
Ditengah-tengah kedua lembar daun pintu itu adalah sebuah ruangan yang dalam, didalam nya terdapat sebuah kursi singgasana yang tempat pegangannya bertaburkan intan permata.
Di atas singgasana itu duduk seseorang, tapi seandainya tidak diperhatikan dengan seksama siapa pun tak akan melihat akan kehadirannya disitu.
Sekalipun kau perhatikan dengan seksama, mungkin akan membuat hatimu terperanjat, mungkin kau akan mengira telah menyaksikan suatu makhluk aneh.
Rambutnya yang panjang digelung indah dengan sekuntum bunga besar.
Kulit wajahnya halus dan lembut, putih ditengah merah, merah dibalik putih, amat menawan hati.
Sepasang alis matanya melentik bagaikan semut beriring, sepasang matanya jeli dan berkedip-kedip bagaikan bintang timur, apalagi kalau sedang tersenyum, akan terlihat bibirnya yang kecil mungil.
Dia mempunyai potongan muka berbentuk kwaci, dagunya bulat lagi menonjol, sangat menarik hati.
Tapi yang nampak hanya kepalanya saja, sedang sisanya seperti bahu, dada, lengan, kaki dan tubuh lainnya sama sekali tak nampak.
Mungkin perempuan itu adalah makhluk aneh yang mempunyai kepala saja.
Seandainya ada orang yang kebetulan menyaksikan peristiwa tersebut entah dia adalah seorang lelaki kekar bertubuh penuh berotot sekalipun pasti akan jatuh pingsan karena ketakutan.
Pada saat itulah, batok kepala perempuan yang cantik jelita itu bergerak sedikit lalu bertanya.
"Apakah dia datang seorang diri?"
Dayang genit itu buru-buru menyahut dengan hormat.
"Tidak, ia datang diikuti seorang pengiring-nya!"
Perempuan cantik itu segera mendengus, wajahnya yang semula dihiasi dengan senyuman kini berubah menjadi penuh amarah. -ooo0dew0ooo-
Jilid 35 SETELAH mendengus serunya.
"Pergi dan cepat undang dia kemari, dia berani membangkang syaratku dengan datang membawa pengiring Hmm! Setelah ia masuk nanti, serahkan pengiringnya kepada Toa hek dan Ji kim!"
Rupanya dayang cantik itu merupakan orang kepercayaan dari perempuan cantik itu, dan lagi dia pasti sudah menerima hadiah dari tamunya, maka sambil tertawa jalang katanya.
"Majikanku yang baik, hal ini mana boleh jadi?"
"Mengapa tak boleh jadi?"
Kata siperempuan cantik itu sambil mengerdipkan matanya yang jeli."
"Pengiringnya itu toh tidak sampai ikut naik ke atas sampan terlarang kita !"
Perempuan cantik itu kembali tertawa.
"Hei, budak ! Kau telah mengincar mestika apa lagi darinya ?"
Dia menegur. Dayang itu benar-benar bernyali besar, dengan lantang dia menjawab.
"Tiada mestika apa-apa, cuma enam belas kata yang terdiri dari empat bait kalimat !"
Seperti memahami akan sesuatu, perempuan cantik itu manggutmanggut lalu tertawa terkekeh-kekeh. Selesai tertawa, dengan wajah serius perempuan cantik itu menegur lagi.
"Hei budak, apakah kupasan Hong ti soh cut ?"
Agaknya budak genit itu dapat melihat paras muka majikannya yang kurang beres, dengan serius segera jawabnya.
"Benar, cuma budak tidak akan melawan perintah majikan hanya dikarenakan soal kecil itu."
Sekali lagi perempuan cantik itu tertawa.
"Apa maksudmu ? Kalau sudah menerima hadiah orang, mana boleh kau tampar wajahnya? Cuma kita tak boleh tertipu, harus mencari orang untuk dijajalkan lebih dulu !"
"ltulah pemberian dari majikan."
Kata budak itu sambil tertawa. Perempuan cantik itu berpikir sebentar kemudian katanya lagi.
"Disaat aku mengajaknya membicarakan persoalan kami, kau bawalah pengiringnya itu ke istana Mi-kiong disamping sana, kau harus mencobanya secara baik-baik, tapi apa kau yakin?"
Mendengar ucapan mana, dengan wajah berseri dayang genit itu segera menyahut.
"Tak usah kuatir majikan, budak tanggung pasti menang !"
Perempuan cantik itu kembali tertawa terbahak-bahak.
Sewaktu semua lampu kristal dalam istana Mi-kiong telah berubah menjadi merah semua, kau harus membuka cermin iblis Mo-cing tersebut, aku hendak menonton bagaimana akhir dari pertarunganmu bersamanya dari ruangan ini."
Dayang itu berlagak tersipu-sipu, serunya dengan muka agak memerah.
"Majikan. memalukan sekali keadaanku waktu itu !"
Perempuan cantik itu segera tertawa.
"Bila kau bisa malu, seharusnya sejak dulu sudah mampus, nah, pergilah !"
Kata-katanya yang terakhir ternyata sudah berobah menjadi dingin sekali bagaikan es.
Dayang genit tersebut tak berani banyak komentar lagi, sesudah menjura dalam-dalam, ia segera mendorong pintu kristal itu dan berlalu dari situ.
Tak lama kemudian pintu dibuka kembali dan dayang itu mempersilahkan tamunya masuk sembari melapor.
"Kokcu dari lembah Tay hian mo-kok tiba!"
OoooOdewOoooo SEORANG lelaki yang bertubuh kekar segera berjalan masuk pula ke dalam ruangan itu dengan langkah lebar.
Sementara itu, dayang genit tadi telah mengundurkan diri dari ruangan sambil merapatkan kembali pintu ruangan.
Berhubung lelaki kekar itu sedang menundukkan kepalanya ketika dayang genit itu memberikan laporannya, maka dia tak tahu kalau tuan rumah sedang duduk diruangan tengah tersebut, tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya dan celingukan ke sekeliling tempat itu, Ketika lelaki itu mendongakkan kepalanya untuk mencari dimana tuan rumah berada itulah, serta merta tampak jelas wajah aslinya, ternyata dia tak lain adalah Lok-hun-pay tersebut.
Tentu saja diapun tak lain adalah Sancu dari Bukit Pemakan Manusia, Mao Tin-hong adanya.
Tapi mengapa dayang genit itu melaporkan namanya sebagai Kokcu dari lembah Tay hian-mo-kok ?
Tapi terlepas dia adalah Kokcu dari lembah manapun, yang pasti dia tak lain adalah Mao Tin-hong.
Sudah satu putaran Mao Tin hong mencari tuan rumah tapi belum juga ketemukan orangnya, tanpa terasa lagi dia masuk ke ruang tengah dengan kening berkerut.
Sesudah berjalan beberapa langkah akhirnya dia menemukan tempat yang menonjol ke dalam itu, kemudian setelah diperhatikan berapa saat, tertawalah dia, dengan cepat ia berpaling ke arah singgasana dimana kepala perempuan cantik itu berada, kemudian setelah menjura katanya.
"Hujin, semenjak berpisah baik-baikkah kau?"
Perempuan cantik itu tertawa.
"Apakah kaupun berada dalam keadaan baik-baik ? Mari, mari, mari, duduklah disisiku sini!"
Ucapan itu amat lembut dan menggairahkan, siapa pun tak akan menampik atas tawaran tersebut. Tapi Mao Tin nong tidak bergerak, ia masih tetap berdiri di posisi semula sembari menampik.
"Tak usah, silahkan hujin saja yang datang kemari, bagaimana kalau kita duduk dalam kursi yang terpisah saja."
Mendengar itu, sambil tertawa perempuan cantik itu berseru .
"Kenapa ? Apakah toa Kokcu masih merasa begitu ketakutan?"
Mao Tin-hong tertawa getir.
"Harap hujin memaafkan, sekali kena dipagut ular, selama sepuluh tahun lohu takut dengan tali jerami"
Kembali perempuan cantik itu tertawa terkekeh-kekeh, lama kemudian dia baru berkata.
"BetuI juga perkataanmu itu, dalam kolong langit dewasa ini memang hanya kokcu seorang yang berhasil meloloskan diri dari sisiku dengan selamat tanpa cidera, bahkan berhasil kabur dengan aman sentosa, itulah sebabnya aku benar-benar sangat merindukanmu."
Walaupun berada diatas perahu musuh, kegagahan dan kewibawaan Mao Tin hong sedikitpun tidak berkurang, katanya kemudian.
"Sama-sama, hujin pun merupakan satu-satunya musuh besar lohu yang ingin kubunuh untuk melampiaskan rasa sakit hatiku, tapi aku merasa tak mampu untuk melakukannya."
Kini, perempuan cantik itu tidak tertawa lagi, ujarnya dengan wajah serius.
"Mao kokcu, kau benar-benar merusak suasana, sebenarnya aku pikir setelah bersusah-payah kita berjumpa lagi, urusan serius kita bicarakan belakangan saja, yang penting kita harus bersenang-senang lebih dulu."
"Hujin, lohu tidak keberatan untuk bersenang-senang, cuma kebiasaan lohu justru jauh berbeda dengan kebiasaan hujin, aku harus menyelesaikan semua persoalan lebih dahulu sebelum mempunyai kegembiraan untuk bersenang-senang !"
"Ooh, kalau begitu mari kita bicarakan soal serius lebih dulu !"
Sembari berkata, kepala perempuan cantik itupun segera melayang keluar..
Setelah melayang keluar maka segala sesuatunya pun jadi terang, rupanya ia mengenakan pakaian yang berwarna dan terbuat dari bahan yang sama dengan kain tirai, seluruh tubuhnya terbungkus rapat sehingga cuma kepaIanya saja yang kelihatan.
Tangan maupun kakinya juga sama sekali tidak terlihat, itulah sebabnya ketika ia duduk di singgasana tadi, sepintas lalu seperti nampak kepalanya saja, coba kalau orang tak tahu rahasia tersebut pasti mereka akan menganggapnya sebagai mahluk aneh.
Dengan langkah yang lemah gemulai dia berjalan menuju kesisi kiri ruangan dan duduk di sana.
Lalu sambil mengulapkan tangannya, dia berseru kepada Mao Tin hong sambil tertawa.
"Mao kokcu, silahkan duduk."
Mao Tin hong manggut-manggut, dia lantas duduk dihadapan perempuan cantik itu.
Ketika perempuan cantik itu menekan dialas meja yang berbentuk empat persegi panjang itu, dari sisi meja segera meuncur keluar dua buah kotak, dalam kotak berisikan buah-buahan dan botol porselen.
Isi botol itu adalah cairan yang berwarna-warna, ada yang penuh ada pula yang tinggal separuh isinya.
"Mao kokcu"
Ucap perempuan cantik itu kemudian.
"tentunya kau mengetahui akan watak ku bukan?"
Mao Tin hong mengangguk.
"Betul, lohu merasa bangga akan hal itu."
Sambil tertawa kembali perempuan cantik itu berkata.
"Bagus sekali, dalam botol itu berisikan berbagai macam sari bunga dan sari tumbuh tumbuhan yang kukumpulkan dengan susah payah untuk dibikin minuman lezat.
"Apabila Mao kokcu benar-benar mengetahui akan watakku itu maka silahkan saja minum, diatas botol semuanya tercantum nama, cuma aku percaya sekalipun sudah kau baca juga belum tentu mengetahui artinya."
Mao Tin hong tertawa.
"Persis seperti apa yang hujin katakan, lohu memang tidak begitu menguasai tentang minuman arak."
"Bagus sekali"
Kata perempuan cantik itu sambil tertawa merdu.
"kalau begitu kau boleh perhatikan diriku, bila aku menuang warna apa, kaupun menuang warna apa, tanggung kau tak bakal salah, lagipula setelah diminum pun akan mendatangkan banyak manfaat !"
Mao Tin hong cuma tersenyum dan tidak menjawab. Saat itulah perempuan cantik itu berkata.
"Sekarang, ambillah dulu cawan kristal di-pinggir sana."
Mao Tin hong menurut dan melaksanakan apa yang diminta. Kemudian perempuan cantik itu berkata lebih jauh.
"Sekarang tuanglah satu bagian yang berwarna hijau, dua bagian yang putih ditambah satu bagian yang merah dan satu bagian yang kuning emas, akhirnya tambah dengan dua tetes yang berwarna jeruk, maka siaplah minuman tersebut."
Sementara perempuan cantik itu menyebutkan satu persatu, maka Mao Tin hong segera melaksanakan seperti apa yang diperintahkan.
Ketika minuman tersebut sudah siap, perempuan cantik itu segera menekan lagi sebuah tombol dan arak itu pun meluncur masuk kembali ke balik dinding.
Mao Tin hong yang menyaksikan kejadian itu diam-diam mengangguk pikirnya.
"Hanya dua puluh tahun tidak berjumpa dengan perempuan ini, nampaknya kemampuan yeng dimiliki tersebut kian lama kian bertambah hebat..."
Sementara dia berpikir, perempuan cantik itu sudah mengangkat cawannya sambil berseru.
"Mao kokcu, silahkan !"
Dengan serius Mao Tin hong menggeleng, tampiknya.
"Tidak, harap hujin sudi memaafkan penampikanku ini."
"Mengapa ?"
Seru perempuan cantik itu dengan wajah tertegun.
"apakah kau masih tidak merasa lega hati ..."
Tapi secara otomatis dia menghentikan perkataannya, lalu sambil tertawa manggut-manggut, sambungnya kemudian.
"Baik, mari kita bertukar cawan, seharusnya sekarang tak ada persoalan lagi bukan?"
Sementara berbicara, dia lantas mengendorkan pegangannya pada cawan tersecut, sementara cawan itupun meluncur kedepan dengan mantap dan lamban, seakan ada sesosok sukma gentayangan saja yang menghantar cawan itu ke hadapan Mao Tin-hong.
Bukan hanya itu saja, sembari bicara tangan kanannya melemparkan cawan arak sendiri ke depan, tangan kirinya segera menunjuk kearah cawan arak milik Mao Tin-hong yang berada dimeja.
cawan itu segera melayang keudara dan meluncur kehadapannya.
"Tidak usah, cawan araknya tidak usah di tukar!"
Kata Mao Tin hong kemudian.
Sembari berseru, Mao Tin hong segera mendorong tangan kirinya kedepan.
sedang tangan kanannya segera melakukan cengkeraman ke tengah udara.
Akhirnya kedua buah cawan arak itu sama-sama terhenti ditengah udara dalam posisi sejajar, selisih jarak antara kedua cawan itu hanya beberapa inci saja, untuk maju tak bisa maju, untuk mundurpun tak dapat mundur.
Perempuan cantik itu kontan saja berteriak.
"Bagaimana sih ini? Masa baru saja datang sudah mengajakku beradu tenaga dalam? Apakah kau tidak merasa rikuh ?"
Sementara berbicara tangan kirinya segera menggapai dengan cepat, sedangkan tangan kanannya melakukan tekanan, tampaknya dia tetap bersikeras hendak bertukar cawan.
Tapi kali ini Mao Tin-hong sudah melakukan persiapan yang matang, dia segera menggapaikan pula tangan kanannya sementara tangan kirinya mendorong.
Ke dua cawan arak tersebut masih tetap melayang diatas udara, hanya arak yang ada didalam cawan tersebut bergoncang keras.
Lama kelamaan perempuan cantik itu menjadi agak mendongkol juga, tiba-tiba dia berseru.
"Mao kokcu, caramu ini sama sekali tidak mirip dengan sikap seorang tamu ?"
Dengan lembut Mo Tin-hong segera berkata.
"Harap hujin segera menarik kembali cawan mu, lohu ada persoalan yang hendak disampaikan."
Menggunakan kesempatan ituIah perempuan cantik tersebut segera menarik kembali kekuatannya dan berkata.
"Mengapa tidak kau katakan sedari tadi ? Betul-betul kelewatan kau ini."
Sembari berseru dia lantas menggapai lagi dan menarik kembali cawan araknya. Sedangkan Mao Tin-hong segera menarik cawan araknya dan diletakkan diatas meja, katanya kemudian.
"Hujin, bukankah tadi lohu sudah mengatakan lebih baik kita membicarakan masalah pokoknya lebih dulu kemudian baru mencari kesenangan..?"
"Masa menghormat secawan arak untuk tamupun kau anggap sebagai suatu kesenangan?"
Seru perempuan cantik itu dengan kening berkerut.
"Tidak, itu merupakan kesopanan dan tata krama belaka."
Mao Tin hong segera tertawa.
"Yang dimaksudkan menghormati tamu dengan secawan arak sebagai tata kesopanan tidak termasuk hujin diantaranya."
"Kokcu, apa maksud dan penjelasan dari perkataanmu itu?"
Seru perempuan cantik itu dengan perasaan tidak habis mengerti. Sekali lagi Mao Tin hong tertawa.
"Hujin, cairan hijaumu itu adalah Hoat-coa-tan (empedu ular hidup), yang merah adalah Ci coa hiat (darah ular merah), yang putih adalah C'n yo ho cing (sari sperma kambing birahi), sedangkan setetes cairan jernih itu melampaui pil Kut su wan dari istana terlarang, apabila benda-benda tersebut dicampurkan jadi satu, sekalipun Lu lun yang minumnya, aku rasa diapun tak akan mampu untuk membicarakan persoalan pokok dulu?"
Serunya. Perempuan cantik itu segera membelalakkan matanya lebar-lebar sambil memperlihatkan sinar yang amat aneh, serunya kemudian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Luar biasa, luar biasa, Mao Kokcu kali ini aku benar-benar merasa amat kagum dengan dirimu !"
"Perkataan hujin kelewat serius, itu mah masih belum terhitung seberapa !"
"Sungguh tak kusangka setelah berpisah hingga kini, pengetahuan dari kokcu bertambah luas, kalau dilihat dari sini, mungkin segala mestika andalanku selama ini tak akan mempan lagi terhadap dirimu".
"Aah, semuanya itu karena hujin terlampau sungkan."
Seru Mao Tin hong cepat.
Perempiian cantik itu kembali memutar biji matanya, kemudian menatap wajah Mao Tin hong lekat-lekat, memandangnya sampai lama dan lama sekali.
Tanpa terasa Mao Tin hong bertanya.
"Hujin, apa yang kau perhatikan ?"
Sambil mengerdipkan matanya, jawab perempuan cantik itu.
"Tin-hong, mungkin aku hendak mengundurkan diri !"
Mendengar perkataan tersebut, Mao Tin hong segera merasakan emosinya bergolak, hampir saja dia tak mampu untuk mengendalikan diri.
Tapi sekejap mata kemudian, dia berhasil menenangkan diri, namun sengaja dengan menunjukkan perasaan emosi yang meluap-luap, dia berseru.
"Jin Jin. kau ....kau,... sungguhkah perkataanmu itu ?"
Temyata perempuan itu bernama Jin Jin, sebuah nama yang sangat indah sekali. Jin-Jin mengerdip genit lalu sahutnya dengan suara yang sangat aleman.
"Tin hong dahulu aku hendak membunuhmu, bahkan tidak segan-segan menggunakan ilmu Huan yang soh kut toa hoat untuk menghadapimu, hendak membinasakan kau, tahukah kau apa sebabnya ?"
Sepasang mata Mao Tin hoog telah berubah menjadi merah, air mata sudah mengembang dalam kelopak matanya agak terisak sahutnya.
"Aku ... hingga kini pun aku masih tidak habis mengerti !"
Jin Jin segera menghela napas panjang.
"Aaaai... hal ini semua tak lain karena aku gemas kepadamu.. !"
Ucapan tetsebut amat merayu, amat mempersonakan hati orang, membuat pendengaran nya serasa tulang belulangnya pada lepas semua.
Demikian pula halnya dengan Mao Tin hong tapi sekarang hatinya sudah mendingin dan mengeras seperti baja, hatinya kaku seperti batu karang, lambungnya seperti bukit salju dan dadanya penuh dengan hawa dingin yang merasuk tulang.
"Oleh sebab itu, ia sama sekali tidak terpengaruh oleh rayuan perempuan cantik itu. Tapi dia toh berlagak jaga seakan-akan terayu oleh perempuan itu, mendadak saja dia bangkit berdiri, mukanya, telinganya berubah menjadi merah, tangan dan kakinya gemetar. Napasnya memburu. seakan-akan setiap saat hendak menubruk tubuh Jin-jin, dan menelannya hidup-hidup. Tapi akhirnya dia hanya melelehkan dua titik air mata, sambil menghela napas katanya pura-pura.
"Yaa, akupun tahu kalau kau amat benci kepadaku, tapi... tapi mengapa bisa begitu?"
"Karena kau tidak becus, selalu saja selisih sedikit daripadaku meski hanya selisih sedikit saja, tapi kau harus tahu, selisih tersebut adalah begitu menggemaskan begitu menjengkelkan hati."
"Kau bilang, setiap kali berhubungan sudah pasti akan gembira dan merasa tenang, tetapi justeru karena ketidak becusanmu itu. karena kau tak man berlatih ilmu Tian im ci sut? akhirnya disaat-saat terakhirku mendapatkan kegembiraan yang paling top, aku selalu harus kecewa dan seolah-olah terperosok dalam gudang salju nan dingin, sekali begitu, dua kali begitu dan selanjutnya begitu terus, aku.... kecuali aku membencimu, akhirnya aku jadi ingin membunuhmu selain itu, apalagi yang bisa ku lakukan. Apa lagi?"
Mao Tin hong menghela napsu panjang.
"Tegurmu itu memang tepat, tapi... Jin jin ... mengapa kau tidak berpikir, pernahkah kau memberi waktu kepadaku agar hatiku menjadi tenang dan berlatih diri beberapa saat?"
Jin jin segera tertawa cekikikan.
"Buat apa kau harus berkata demikian? Seandainya di kemudian hari aku tidak merasa kalau diriku pun bersalah, hari ini apa mungkin aku bersedia datang dari tempat jauh untuk menantikan kedatanganmu di telaga yang dingin ini?"
Mao Tin hong menundukkan kepalanya rendah-rendah, lalu menghela napas panjang.
"Terima kasih atas kebaikanmu itu, sayang sekali..."
Dia sengaja berhenti berbicara dan menghela napas lagi.
"Sayang apa?"
Seru Jin Jin dengan tak sabar. Dengan sorot mara yang murung dan penuh kekesalan Mao Tin hong melirik sekejap ke arahnya, lalu menjawab.
"Jin Jin, tahukah kau mengapa aku menggunakan tanda pengenalan untuk mengundang kau bertemu disini kali ini ?"
Jin Jin menggeleng.
"Aku toh bukan dewa, darimana bisa tahu?"
Ditinjau dari sikap maupun nada pembicaraan dari Jin Jin, bisa diketahui kalau perasaan hatinya sekarang adalah luapan emosi yang sungguh dan tulus.
Sekali lagi Mao Tin hong menundukkan kepalanya rendah-rendah, lama kemudian dia baru menjawab.
"Sebab pertemuan kali ini adalah pertemuan yang terakhir kalinya untuk kita suami isteri berdua !"
Paras muka Jin-jin segera berubah hebat sesudah mendengar perkataan itu, dengan cepat dia melompat bangun dan melayang ke depan, lalu duduk disisi Mao Tio hong.
Kali ini Mao Tin liong sama sekali tidak bergerak barang sedikitpun jua, dia hanya melirik sekejap ke arahnya sambil tertawa getir.
"Jin jin"
Katanya lagi.
"Kali ini, sekalipun kau hendak menghadapi diriku dengan cara yang apa pun, aku tak akan ambil perduli"
Jin jin segera menggenggam tangan Mao Tin hong, lalu digoyangkan berutang kali, serunya.
"Aku tak akan menghadapimu dengan cars seperti dahulu lagi, tahukah kau aku berbicara sejujurnya kini, kau lebih hebat daripadaku bayangkan sendiri, mana aku tega untuk menggunakan cara seperti itu lagi untuk menghadapi kau ?"
Sekali lagi Mao Tin hong tertawa getir, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Terdengar Jin jin mendesak lebih jauh.
"Tin hong, cepat katakan, mengapa pertemuan kita yang terakhir kalinya ?"
"Pada waktu itu, setelah aku berpisah denganmu, suatu ketika aku telah berkenalan dengan seorang she Sun bernama Pak gi. berhubung banyak hawa murniku yang rusak ditanganmu sehingga tenaga dalamku maju amat lamban akhirnya aku ketinggalan jauh dengan kemampuan yang dimiliki sanabatku itu.
"Justru karena alasan ini, lagi lagi aku melakukan suatu kesalahan besar, watakku makin lama semakin berubah, aku menjadi mendendam kepadanya sehingga akhirnya membantai seluruh isi keluarganya."
"Dan sekarang, keturunan Sun Pak gi hendak melakukan pembalasan dendam terhadap dirimu?"
Seru Jin Jin mendadak.
"Benar, dia sudah datang dan aku pernah berjumpa dengannya, akupun telah mencoba kepandaian silatnya yang tangguh!"
"Mugkin dia juga lebih tangguh daripada dirimu?"
Sekali lagi Mio Tin hong mengiakan.
"BetuI, dia memiliki ilmu Sin kiam hap it ( pedang dan tubuh berpadu) yang luar biasa sekali, mungkin tiada manusia Iagi dikolong langit dewasa ini yang mampu menandingi kelihayannya !"
Jin Jin segera mendengus dingin.
"Hmmm. belum tentu begitu, dia akan mampus bila terperangkap dalam barisan Toa mi thian hu siu tin ku ..."
Berbicara sampai disini, mendadak perempuan tersebut seperti menyadari akan sesuatu, segera serunya.
"Tin hong, bukankah kedatanganmu kemari adalah untuk memohon kepadaku agar mengurungnya dengan mempergunakan ilmu barisan tersebut..?"
Ternyata Mao Tin hong mengakui secara terus terang.
"Benar, aku memang ingin memohon bantuanmu, sebab cuma barisan itu saja yang mampu untuk mengurungnya, dan hanya kau yang mungkin bisa menolongku untuk lolos dari bencana ini!"
"Tin hong, apakah kau tidak merasa terlalu berani untuk mengambil keputusan tersebut ?"
Mao Tin hong manggut-manggut.
"Benar, tapi bagaimanapun juga kita kan suami isteri, apalagi aku toh merupakan seorang yang sudah ditakdirkan mati, daripada mati di ujung pedang Iawan, toh jauh lebih enakan mati di tanganmu sendiri?"
Jin Jin segera berkerut kening.
""Apakah tak bisa dibereskan persoalannya dengan mempergunakan cara yang lain."
Mao Tin hong menggeleng.
"Tak mungkin, karena persoalannya adalah dendam berdarah, hutang berdarah dan pembalasan berdarah, maka hanya darah yang bisa menyelesaikan masalah ini."
Sekali lagi Jin-Jin berpikir sejenak.
"Seandainya kukabulkan permintaanmu itu dan berbaikan kembali denganmu, bersediakah kau untuk turut aku pulang ke rumah kita sana. Mao Tin hong menggeleng.
"Keamanan disitu hanya bersifat sementara saja, masa dia tak bisa mengejar sampai kesitu?"
Jin Jin segera bangkit berdiri, lalu mulai berjalan mondar mandir diseputar ruangan.
Menggunakan kesempatan disaat perempuan itu sedang berjalan mondar mandir itulah, diam-diam Mao Tin boog melepaskan jubah panjangnya...
Ketika Jin-jin melihat Mao Tin-hong sudah melepaskan jubah panjangnya itu, tanpa terasa dia bertanya.
"Hai, apa yang hendak kau lakukan ?"
Mao Tin hong tertawa getir.
"Jin Jin, marilah, pertemuan kita kali ini adalah pertemuan yang terakhir kalinya, mungkin kesenangan yang kita lakukan sekarangpun merupakan kesenangan yang terakhir kalinya, persoalan apapun tak usah dibicarakan lagi, marilah kita..."
"Tidak"
Tukas Jin Jin sambil menggelengkan dengan wajah serius.
"Tin hong, sekarang aku sudah benar-benar menganggap dirimu sebagai suami sendiri, sekalipun perasaan dan sifat kita berbeda pun tak mungkin bakal terjadi lagi peristiwa yang lalu."
Mao Tin hong segera menggeleng pula.
"Tidak mungkin. tak mungkin bisa kulakukan karena aku adalah orang yang sudah ditakdirkan untuk mati."
Katanya seolah putus asa. Sekali lagi Jin Jin mendengus.
"Aku tidak percaya, bila aku tidak mengijinkan kau untuk mati, siapa mampu untuk membunuhmu?"
Mao Tin hong masih saja menggelengkan kepalanya, cuma kali ini dia tidak bersuara lagi. Dengan gembira Jin-Jin berkata lagi.
"Tin hong, apakah orang she Sun itu bakal mencari sampai disini?"
Mao Tin hong termenung sambil berpikir sejenak, lalu sahutnya sambil tertawa getir.
"Siapa tahu? Anak muda itu memang memiliki kemampuan yang luar biasa mengelabuhi dirinya."
Jin-jin segera tertawa.
"Sekalipun dia bisa mencari sampai disini, juga tak mungkin muncul disaat sekarang, atau sekalipun malam ini dia bisa mencari sampai disini, rasanya juga tiada sesuatu yang perlu ditakuti."
"Jin-jin"
Kata Mao Tin hong kemudian "tahukah kau bahwa selama banyak tahun ini aku terlalu banyak berhutang kepadamu?
Tentu saja aku tidak menyangkal kalau ada sementara waktu akupun merasa amat mendendam kepadamu, tapi setelah kau menjelaskan alasanmu yang lalu, aku lantas mengakui bahwa kesemuanya ini sebetulnya merupakan kesalahanku."
"Tidak"
Tukas Jin Jin cepat.
"Tin hong, ucapanmu memang betul, waktu itu aku terlampau menyiksa kau, pada hakekatnya sama sekali tidak memberi kesempatan kepadamu untuk berlatih diri, itu terlampau mementingkan diriku sendiri."
Pelan-pelan Mao Tin hong mengulurkan tangannya dan memeluk pinggang Jin Jin, kemudian katanya.
"Sudahlah, jangan berbicara lagi, dalam peristiwa yang lalu kita semua mempunyai kesalahan, yang sudah lewat biarkan saja lewat!"
Jin Jin tertawa manis, dia lantas bersandar diatas dada Mao Tin hong sembari berbisik.
"Kau baik sekali, sudah banyak tahun aku tak pernah bersandar diatas dada yang begini lebar dan berotot, dimasa masa lampau aku selalu merasa seakan-akan telah kehilangan sesuatu, tetapi sekarang aku baru mengerti !"
Mao Tin hong turut tertawa, dia memberikan reaksi yang amat mesra dan hangat.
Serta merta keempat lembar bibir mereka menempel dan berciuman dengan mesranya.
Dua tubuh itupun menggeliat-geliat seperti dua ekor ular, saling mengisap dan saling meludah, lama-lama dan lama sekali..
Akhirnya Mao Tin-hong mendapat kesempatan untuk berganti napas, dia menghela napas panjang.
Jin Jin membetulkan duduknya, lalu katanya.
"Coba lihatlah keadaanmu, baik-baik begini mengapa lagi mesti menghela napas panjang?"
Mao Tin-hong menundukkan kepalanya rendah-rendah. sewaktu mendongakkan kembali dengan wajah serius sahutnya.
"Jin Jin, benarkah kau bersedia membantuku untuk menghadapi si anak muda tersebut ?"
Jin Jin mengangguk "Tentu saja. aku bersedia untuk melakukan apa saja bagimu."
Katanya. Ternyata tidak tidak terlintas rasa gembira di atas wajah Mao Tin hong, kembali ujarnya.
"Jin Jin, aku cukup tahu bagaimanakah perasaan cintamu kepadaku, dan aku merasa berterima kasih kepadamu, tapi bagaimana pun juga, dalam peristiwa yang lampau, semuanya merupakan kesalahanku."
"Oleh sebab itu aku merasa bahwa untuk melindungi jiwaku, hal ini sudah merupakan hal yang lumrah, tapi tidaklah pantas bila kita harus turun tangan untuk mencelakai si anak muda itu lagi."
Mendengar ucapan tersebut, Jin Jin menjadi kegirangan setengah mati, serunya tanpa terasa.
"Tin hong, kau benar-benar telah berubah, aku... aku merasa gembira sekali !"
"Bukankah kaupun telah berubah juga?"
Kata Mao Tin hong sambil tersenyum.
"Dahulu aku terlalu tak mengerti urusan, tapi sekarang sudah tidak..."
Mao Tin hong segera menepuk-nepuk bahu Jin Jin, kemudian katanya lebih jauh.
"Jin Jin, apakah kau telah mengabulkan semua persoalan yang telah kuucapkan tadi?"
Jin Jin mengangguk.
"Tentu saja aku akan mengabulkan permintaanmu itu, dan sudah sepantasnya bila mengabulkan permintaanmu tersebut."
Mao Tin-hong tertawa.
"Kalau begitu aku harus berterima kasih dulu kepadamu, kemudian baru memohon suatu hal lagi kepadamu."
"Katakanlah, apa permintaanmu itu?"
Tanya Jin Jin sambil bersandar kembali dalam rangkulan Mao Tin hong.
"Aku berharap agar kau sudi memberi petunjuk kepadaku tentang ilmu Toa-mi thian hun siu tin tersebut !"
"Aaah, buat apa kau mempelajari ilmu tersebut ?"
Jin Jin berseru tertahan. Dengan wajah bersungguh-sungguh Mao Tin hong berkata.
"Jin Jin, aku mempunyai dua alasan., per fama, aku tidak menginginkan kau yang menampilkan diri untuk bermusuhan dengan pemuda she Sun tersebut, karena persoalan ini adalah persoalanku sendiri.
"Ke dua, aku ingin menggunakan sendiri barisan tersebut untuk mengurungnya, agar dia mengira telah kalah ditanganku dan menyerah dengan perasaan takluk, sehingga ambisi nya untuk membalas dendam kepadamu diurungkan.
"Cuma... kau tidak usah kuatir Jin jin. aku tidak ingin mengetahui rahasia dari ilmu barisan tersebut karena kepandaian itu merupakan andalanmu, aku tidak lebih hanya ingin mengetahui bagaimana caranya masuk dan ke luar secara bebas karena hal mana sudah lebih dari cukup bagi diriku!"
Penjelasan mana segera berhasil memusnahkan kembali rasa curiga yang baru saja timbul dalam hati Jin Jin, pada hal disinilah letak kelihayan dari akal muslihat dan kelicikan Mao Tin hong, dia telah menunggangi ke terus terangan Jin Jin yang sedang di mabuk cinta.
Maka Jin Jin segera bangkit berdiri dan berjalan menuju ketempat singgasananya, dari suatu tempat disekitar sana dia mengeluarkan kitab rahasia Toa mi thian hun siu tin tersebut.
Setelah itu sambil melemparkan kitab tadi kehadapan Mao tin hong, dia berkata.
Periksalah sendiri, pada halaman pertama diterangkan asal mula dari ilmu barisan tersebut, kemudian cara untuk mengatur ilmu barisan, sedangkan pada dua halaman yang terakhir tercantum cara untuk masuk keluar dari barisan tersebut secara leluasa seperti apa yang kau kehendaki !"
Sambil tersenyum Mao Tin hong manggut-manggut terhadap Jin Jin sebagai tanda terima kasihnya.
Kemudian ia tidak memperhatikan ke arah Jin Jin lagi, diapun tidak membuka halaman pertama kitab tersebut, melainkan hanya membuka pada dua halaman yang terakhir dan memusatkan seluruh perhatiannya untuk mempelajari semua isi kitab mana.
Jin Jin sendiri, meski sudah hilang rasa curiganya, bukan berarti sama sekali mengendor kan kewaspadaannya, sekarang dia baru benar-benar merasa berlega hati, dan sekulum senyuman yang polos segera tersungging diujung bibirnya.
Jin Jin memang seorang perempuan jalang, dan hal ini tak bakal keliru, tapi dulunya dia adalah seorang gadis polos yang berhati bajik, justru salah bertemu orang itulah berakibat dia melakukan hal-hal seperti itu.
Sejak dipaksa untuk meninggalkan perempuan itu, sesungguhnya Mao Tin hong sudah merasa membenci dirinya sehingga merusak ketulang sumsum, tapi Mao Tii hong yang memang memahami watak dari Jin Jin segera melakukan siasat menyiksa diri untuk memancing perempuan tersebut agar masuk ke dalam perangkap.
Ternyata Jin Jin memang masuk perangkap.
Tak selang berapa saat kemudian, Mao Tin-hong telah menutup kembali kitab pusaka itu dan disodorkan kembali kehadapan Jin Jin.
kemudian katanya.
"Aku rasa cara itu sudah cukup kupahami, terima kasih banyak atas kebaikanmu itu."
Jin Jin tertawa.
"Simpan saja dalam sakumu, bila adu waktu boleh kau periksa sekali lagi dari awal sampai akhir, aku sudah hapal semua itu kitab itu diluar kepala, bahkan berhasil juga menciptakan banyak perubahan yang lain, aku sudah tidak membutuhkan kitab itu lagi !"
"Tidak"
Kata Mao Tin hong dengan wajah serius sembari menggeleng.
"aku bersumpah tak akan memeriksa kitab pusaka itu lagi !"
"Mengapa begitu?"
Tanya Jin Jin dengan kening berkerut.
Mao Tin hong hanya tersenyum sambil menggeleng, mulutnya membungkam dalam seribu bahasa, kitab tersebut segera disodorkan kembali kedalam pangkuan Jin Jin.
Sikap maupun tindak tanduknya yang gagah dan hangat ini.
segera membuat Jin Jin merasa gembira sekali.
Baru saja dia menyimpan kembali kitab pusaka itu, Mao Tin hong telah memeluknya sambil berbisik.
"Jin Jin, aku... aku... ingin..."
Merah jengah selembar wajah Jin Jin, ucapan tersebut kontan saja membuat seluruh tubuh perempuan itu menjadi lemas, dia segera menyandarkan kepalanya diatas dada Mao Tin hong dan merintih lirih.
Dengan lembut dan metra Mao Tin hong membaringkan tubuh Jin jin diatas permadani yang tebal, kasur untuk duduk dijadikan sebagai bantal merekapun berbaring sambil ber pelukan.
Mao Tin hong segera menfaatkan kesempatan itu untuk mulai menggerayangi seluruh bagian rahasia dari tubuh si perempuan cantik itu.
Mendadak Jin Jin berseru tertahan.
"Aduh celaka, hampir saja aku membuat suatu kesalahan besar !"
"Kesalahan apa?"
Tanya Mao Tin hong dengan paras muka berubah sangat hebat.
"Aku ingin bertanya kepada mu, apa hubunganmu dengan pengiringmu itu..?"
Mao Tin-hong menghela napas panjang.
"Terus terang saja kukatakan, dia adakah piauko ku, aku bisa berubah menjadi seperti ini, delapan puluh persen gara-gara menuruti kata-kata jahatnya cuma..."
Berkilat sepasang mata Jin Jin, segera selanya.
"Tin-hong, bukankah dikemudian hari kita akan menjadi orang baik...?"
"Kau tak usah kuatir, aku bersumpah akan..."
Jin Jin segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tak usah bersumpah, aku mempercayai perkataanmu itu!"
Tukasnya. Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya Iagi.
"Tapi aku rasa piauko mu itu benar-benar merupakan seorang manusia jahat sekali..."
Mao Tin hong segera menghela napas panjang.
"Aaai aku tahu kalau dia jahat, tapi apa dayaku?"
Keluhnya dengan sedih. Jin-Jin segera tertawa manis.
"Masih ingatkah kau dengan inang pengasuh ku dulu?"
"Tentu saja masih ingat, masa dia masih hidup?"
Jin jin menggeleng.
"Sudah mati, cuma dia mempunyai seorang anak gadis yang tetap berada disisiku."
Mao Tin hong yang cerdik segera berseru.
"Apakah orang itu adalah si nona yang memberi laporan tadi?"
"Yaa, betul, memang dia, ia memberitahukan kepadaku kalau kau pernah mewariskan ilmu Hong tee-soh cut sinkang kepadanya sebagai imbalan karena kau membawa pengiringmu benarkah demikian?"
Mao Tin hong segera tertawa jengah.
"Maafkanlan daku Jin jin. aku harus berbuat demikian."
Jin jin segera melemparkan sebuah kerlingan kearah Mao Tin hong, kemudian serunya.
"Aku tahu, pada walau itu kau memang harus bersikap sangat berhati-hati..."
"Tidak"
Mao Tin hong menggeleng "piauko kulah yang memaksa aku berbuat demikian..."
Jin Jin segera mencegahnya untuk berkata lebih jauh tukasnya.
"Tin hong, aku ingin bertanya kepada mu, mati hidup piauko mu itu apakah..."
"Aku merasa tak tega untuk turun tangan sendiri terhadap dirinya"
Sela Mao Tin hong cepat.
"seandainya ada orang yang bisa mewakili aku untuk menyingkirkan dia, berbicara soal perasaan, aku akan berterima kasih sekali terhadap orang ini."
Jin Jin mencibirkan bibirnya dan tertawa.
"Tin hong terlepas apapun yang kau ucapkan, orang itu adalah piauko mu. Begini saja, asalkan dia tidak menaruh niat jahat terlebih dulu, aku akan mengampuni jiwanya..."
Tanpa terasa Mao Tin hong segera bertanya.
"Niat jahat apakah yang timbul di dalam hatinya?"
Jin Jin segera mcndengus.
"Hmm, bila dugaanku tidak salah, dia telah tertarik oleh kecantikan Bi-kui (si Mawar) bahkan menaruh maksud jelek, justeru dialah yang hendak memanfaatkan ilmu Hwe-tee-soh-cut tayhoat tersebut untuk menghisap sari hawa im dari dalam tubuh si mawar !"
Mao Tin-hong segera berlagak seolah-olah terperanjat.
"Aduh celaka, kalau begitu cepat beritahu kepada si mawar, sekarang mereka berdua justeru sedang berada bersama-sama."
Jin Jin segera mengerling sekejap ke arah Mao Tin hong, lalu ujarnya pelan.
"Apa tidak terlambat bila diberitahu pada saat ini ? sekarang mereka berdua sedang mencoba untuk mempraktekkan pekerjaan yang menarik hati itu, mari kita saksikan bersama, coba kita lihat bagaimanakah watak dari piauko mu itu !"
"Apakah tak terlalu terlambat untuk mencegah mereka ?"
Tanya Mao Tin hong. Jin Jin menggeleng.
"Mereka toh bukan laki perempuan biasa, sekalipun permainannya berhenti sampai ditengah jalanpun tidak menjadi soal, tapi sekarang mereka sedang bersenggama dengan saling mengisap tenaga murni masing-masing, apabila sampai kaget, bisa jadi akan berakibat jalan api meruju neraka!"
"Aaai... kalau begitu, akulah yang mencelakai jiwa sibunga mawar!"
Kata Mao Tin hong sambil menghela napas panjang.
Kembali Jin jin tertawa "Belum tentu, seandainya piauko mu telah mempunyai niat jahat, mungkin akibatnya sukar dilukiskan dengan kara-kata, sekarang coba bantulah tekanlah tombol dibawah meja sebelah kanan sana!"
"Untuk apa?"
Tanya Mao Tin hong dengan perasaan tidak habis mengerti. Jin Jin tertawa.
"Tak usah bertanya, asal tekan saja tombol tersebut, dengan sendirinya kau akan tahu apa gerangan yang bakal terjadi!"
Mao Tin hong menurut dan segera mencari tombol rahasia tersebut, kemudian menekannya.
Disaat ia bangkit berdiri tadi, entah sejak kapan Jin Jin telah melepaskan gaun panjang serta pakaian luarnya yang berwarna merah.
Ternyata dibalik pakaian tadi, perempuan tersebut sama sekali tidak mengenakan apa-apa lagi, jadi dia berada dalam keadaan telanjang.
Potongan badannya yang indah dan menggiurkan ini tak pernah dilupakan Mao Tin hong selama ini, tanpa terasa lagi dia menelan air liur, sementara dari balik matanya terpancar keluar hawa napsu birahi yang menyata-nyala.
Pada saat itulah, terdengar suara berisik dan meja itu telah bergeser kesamping sehingga di tengah ruangan itu muncul sebuah kaca yang lebar.
Diatas kaca tadi terbias bayangan manusia, ternyata mereka adalah sepasang lelaki perempuan dalam keadaan telanjang bulat.
Yang bukan lain adalah pengiringnya, bajingan she Kwa, sedangkan yang perempuan sibunga mawar.
Waktu itu, kedua orang lelaki perempuan itu sedang bertumpang tindih dengan hebatnya.
Sibunga mawar sedang menggoyangkan pinggulnya meliuk kemana kemari bagaikan orang kalap, sedangkan Kwa Cun seng seperti seekor harimau ganas menyerang dengan sangat hebatnya.
Semua kejadian dan pemandangan yang tertera didepan mata itu, kontan saja menimbulkan rangsangan dan gejolak birahi dalam dada Mao Tin-hong.
Apalagi disisi telinganya terdengar suara bisikkan Jin Jin yang lemah lembut, meski sorot mata Mao Tin-hong tak pernah berpisah dari balik kaca tersebut, tangannyapun tak pernah berhenti menggerayangi bagian-bagian terahasia ditubuh Jin Jin.
Tak selang berapa saat kemudian, mereka berdua pun....
oooo O-de-O ooco WALAUPUN Mao Tin-hong sedang bekerja keras untuk melakukan pertempuran, namun ia tak pernah melupakan semua rencana busuknya, ketika matanya melirik sekali lagi kearah cermin, paras mukanya segera berubah, peluh sebesar kacang kedelai pun jatuh bercucuran dengan amat derasnya.
Kalau dilihat dari apa yang terpampang dari cermin, rupanya Kwa Cun-seng sedang mempergunakan Hong-tee-soh-cut tayhoat untuk membuat si bunga mawar menjadi kalap.
Bila keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung beberapa saat lagi, dalam keadaan tanpa sadar si Bunga mawar tak akan mampu untuk mengendalikan gejolak aneh yang membara dalam dadanya itu sehingga tanpa sadar akan memuntahkan sendiri seluruh hawa murninya.
Perasaan seperti ini sudah pernah dirasakan sendiri oleh Mao Tin hong dimasa lalu.
Kenikmatan dan kegembiraannya.
pada waktu itu tak mungkin bisa dibandingkan dengan kenikmatan apapun yang lain didunia ini.
Akan tetapi disaat kenikmatan tersebut sudah mendekati akhir, maka sebagai gantinya dia akan kehilangan selembar nyawa, dahulu disaat yang terakhir inilah Mao Tin hong segera menyadari kesilafannya itu dan segera mengendalikan diri, sehingga walaupun hawa murninya sudah ditumpahkan keluar namun tenaga dalam nya tidak sampai lenyap.
Dan sekarang Mao Tin hong sudah dapat melihat, dalam saat-saat itulah si bunga mawar akan kehabisan tenaga murni, diapun bakal mati.
Menyaksikan semua rencana busuknya satu persatu berhasil dengan sukses itulah, dia sengaja berubah wajah untuk menenteramkan hati Jin Jin.
BetuI juga, ketika Jin Jin menyaksikan Mao Tin hong menunjukkan rasa gelisah untuk keselamatan jiwa sibunga mawar, tiba-tiba ia tertawa cekikikan.
Mendengar suara cekikikan tersebut tanpa terasa Mao Tin hong bertanya.
"Bajingan keparat itu akan segera berhasil dengan niat busuknya, sekarang bukannya kau berusaha untuk menolong si bunga mawar, sebaliknya malah tertawa, aku benar-benar tidak habis mengerti apa maksud hatimu sebenarnya?"
Jin Jin mendengus.
"Tin Hong, kau toh sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, sekarang aku ingin bertanya kepadamu, seandainya aku ingin membunuh manusia seperti piaukomu itu, menurut pendapatmu pantaskah kulakukan hal mana?"
"Dia berani berbuat sewenang-wenang, tentu saja pantas menerima hukuman tersebut !"
"Bagus sekali, kalau begitu mari kita beristirahat sebentar dalam keadaan begini, coba kita saksikan bagaimana akhirnya?"
Tergerak hati Mao Tin hong setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian.
"Buat apa kita mesti menyaksikan akibat dari peristiwa tersebut ? Si bunga mawat akan kehilangan hawa murninya dan mati secara mengenaskan..."
"Huuuh, enak betul kalau berpikir, si bunga mawar adalah orang kepercayaanku, masa aku tega membiarkan dia mati ? Terus terang saja kukatakan sesungguhnya piaukomu itulah yang sudah hampir mampus..."
Mendengar perkataan itu. Mao Tin-hong baru benar-benar merasa terperanjat, serunya.
"Jin jin, kau jangan membandingkan diriku yang kena kau tipu tempo hari."
Jin jin tertawa merdu.
"Aku mengerti, kali ini kau memang tidak bermaksud, tapi piauko mu yang justru punya maksud jahat sehingga tertipu oleh tipu muslihat sendiri, apakah kau tidak mengerti apa yang menjadi tandingan dari ilmu Hong teo soh-cut tersebut ?"
Mao Tin-hong segera merasakan hatinya amat terkesiap. Apakab selama beberapa tahun ini kau telah berhasil menguasai ilmu Sik Huay hoat (ilmu perempuan batu)?"
Jin Jin segera tertawa terkekeh-kekeh.
"Bukan cuma Sik-h tay hoat saja, bahkan aku pun dapat menggeserkan posisi jalan darah, bayangkan saja, kalau piauko mu itu tak mampu berhubungan Iangsung dengan hawa Im, bagaimana mungkin dia akan berhasil dengan niat jahatnya ?"
Mendengar penjelasan mana, Mao'Tin hong segera berpekik.
"Oooh... sungguh beruntung!"
Sebenarnya dalam rencana semula dia menganggap sudah tidak membutuhkan Jin Jin lagi setelah dia berhasil mengetahui bagaimana cara untuk masuk keluar dari barisan Toa mi thian slu hun tin tersebut serta tempat menyimpan kitab pusaka itu.
Maka dia pun bermaksud menggunakan kesempatan dikala mengadakan hubungan senggama nanti, seperti apa yang pernah dialami dulu, diam-diam dia akan menggunakan ilmu Hong tee soh cut untuk menghisap hawa murni Jin Jin sehingga perempuan itu mampus Tapi sekarang sekarang, dia baru merasa bersyukur karena ia tidak bertindak secara gegabah, kalau tidak, bisa jadi ia sudah mampus dalam melaksanakan permainan menuju kesorga dunia itu.
Berpikir sampai disini, dia segera memperlihatkan sikap yang amat gembira, serunya sambil tertawa.
"Bagus sekali kalau begitu!"
Jin jin berpaling dan memandang kearahnya lalu serunya.
"Apakah kau tidak merasa beriba hati menyaksikan kematian dari piauko mu itu?"
Mao Tin hong menggeleng.
"Jin Jin merupakan kebalikannya, demi ketenanganku di kemudian hari serta ketenangan dunia persilatan dimasa mendatang, dia memang lebih baik mati daripada hidup, oleh sebab itu aku..."
Mendadak ucapannya terpotong oleh adegan yang muncul dari balik cermin tersebut.
Rupanya adegan pertempuran yang muncul dari balik cermin itu sudah menunjukkan perkembangan lebih jauh.
Si bunga mawar yang tadi masih bergoyang pinggul seperti orang kalap itu sekarang nampak jauh lebih tenang, sebaliknya terhadap dirinya Kwa Cun seng kini justeru telah berubah hebat, selembar wajahnya berobah menjadi merah padam seperti buah apel yang sudah matang.
Ketika ia memperhatikan lebih jauh, maka tampaklah tubuh kedua orang itu dari batas pinggang keatas saling menempel satu sama lain.
Tidak, atau lebih tepatnya adalah Kwa Cun-seng sudah kehabisan tenaga dan lelah setengah mati sehingga tak mampu lagi untuk mempertahankan berat badannya.
Yang lebih aneh lagi adalah keadaan Kwa Cun seng yang sebenarnya sudah ibarat ikan yang terpancing dan tinggal menunggu saat kematiannya, namun ia seperti tidak menyadari ikan hal itu, ia masih saja menelan dan melalap perempuan cantik itu dengan rakus dan...
Tentu saja keadaannya saat ini sudah terperangkap sama sekali dan tak mungkin bisa lolos, kendatipun dia ingin melepaskan diripun, sama saja akan menemui jalan kematian, memang hal inilah yang menjadi alasan Kwa Cun-seng mengapa dia "mati pun mati romantis", Agaknya Mao Tin-hong sudah dapat menyaksikan kesemuanya itu dengan jelas, sambil bersandar di tubuh Jin Jin, katanya dengan tak bertenaga.
"Singkirkan cermin tersebut, aku sudah tak tega untuk memandang lebih jauh !"
Sewaktu dia mengucapkan kata-kata itu, situasi kembali terjadi perubahan. Rupanya pada saat itu Jin Jin pun dipengaruhi oleh perasaan tak tega, mendadak ia menekan sebuah tombol dan berseru.
"Hei budak, sudah cukup, enyahkan saja dia dari sini, jangan kau kotori perahu ku ini !"
Sembari berkata, cermin itu segera menutup kembali, Tapi saat itulah terdengar si bunga mawar sedang berseru.
"Hujin, sudah terlambat... dia... dia telah mengotori perahu kita..."
"Budak setan"
Bentak Jin Jin keras keras.
"biarkan dia hidup dan hantar dia pergi, kemudian datang kemari untuk melayani tuan kita"
"Tuan kita ? Hujin apakah kau lupa..."
"Tutup muIut"
Bentak Jin Jin dengan penuh kegusaran.
"makin lama kau semakin tak tahu diri !"
Suasana menjadi hening untuk sementara dan tidak terdengar suara jawaban lagi.
"Memanfaatkan kesempatan tersebut. Mao Tin hong segera berkata dengan nada menyesal.
"Jin Jin, tampaknya perempuan yang belum pernah kujumpai inipun menaruh perasaan benci kepadaku ?"
"Tin-hong..."
Kata Jin Jin sambil memeluknya erat-erat.
"anak kecil tak tahu urusan, harap kau jangan masukkan ucapkan tersebut dalam hati kecilmu !"
Mao Tin hong tertawa getir.
"Jin Jin, apakah kau tidak melihat keadaan kita sekarang, kau suruh dia datang kemari..."
Sambil tersenyum Jin Jin segera mendorong tubuh Mao Tin hong, kemudian katanya.
"Hampir saja aku lupa akan hal ini, cepat lah kenakan kembali pakaianmu..!"
"Memakai baju ?"
Seperti ada maksud tertentu Mao Tin hong berseru.
"apakah kita tidak..."
Jinjin segera menowel pipi Mao Tin hong seraya berseru.
"Anak bodoh, kau anggap aku tidak mengetahui akan maksud hatimu itu ? Tapi setelah menyaksikan adegan yang mengesankan tadi, siapa lagi yang berniat untuk mencari kesenangan? Sudahlah, ayo cepat mengenakan kembali pakaianmu !"
Mao Tin hong tertawa getir.
"Semakin baik hatimu kepadaku, aku jadi semakin menyesali perbuatanku dahulu atas diri mu !"
Jin jin mengerling mesra ke arahnya lalu berseru.
"Sudah cukup. kalau berbicara kelewat banyak, jangan salahkan kalau aku akan menaruh curiga lagi atas dirimu !"
Mao Tin hong tertawa dan tidak berbicara lagi, dengan cepat dia mengenakan kembali pakaiannya.
Jm jinpun mengenakan kembali pakaiannya kemudian mengatur segala sesuatunya menjadi seperti semula.
Tak selang berapa saat kemudian, pintu kristal disebelah kanan sudah dibuka orang, si Bunga mawar cantik pun dengan muka merah bercahaya rapi menatap wajah Mio Ting-hong berulang kali.
Mao Tin-bong memang pandai bersandiwara dia segera menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Hujin..."
Seru si bonga mawar Tapi belum selesai perkataan tersebut diutarakan, Jin Jm telah menukas dengan cepat.
"Coba kau lihat keadaanmu si budak, makin lama semakin tak genah saja, rambut belum lagi disisir sudah masuk kemari, ayo cepat pergi membersihkan badan lebih dulu, mana orang itu ?"
Si Mawar tertawa manis.
"Hujin, aku sudah menyuruh Kim Ji-nio untuk menghantarkan orang itu naik ke daratan"
"la masih bisa berjalan ?"
Tanyanya, Si bunga mawar segera tertawa cekikikan "jalannya sih masih bisa berjalan, tapi keadaannya menggelikan sekali, macam... hiiih hiiiih, hiiiih...."
Dayang itu segera tertawa terpingkal-pingkal seperti menyaksikan sesuatu yang amat lucu.
Jin-jin melirik sekejap kearah Mao Tin hong yang duduk menunduk dan membungkam dalam seribu bahasa, kemudian bentaknya keras-keras.
"Benar-benar tak tahu malu, ayo cepat pergi dan segera kembali kesini."
Sambil tertawa si bunga mawar mengiakan dia berlalu dari situ, sebelum pergi, dia masih sempat berpaling dan melotot sekejap kearah Mao Tin hong.
Agaknya Mao Tin hong ada niat untuk menyuruh si bunga mawar mendengar perkataan maka sebelum pintu kristal tersebut menutup kembali, dia sudah menghela napas dan berkata kepada Jin-Jin.
"Nampaknya bocah itu amat setia kepadamu!"
Tampaknya Jin-jin dapat menangkap maksud dari Mao Tin hong, maka sahutnya sambil tertawa.
"Kalau dibicarakan yang sebenarnya, mungkin kau tak percaya, hubunganku dengannya erat bagai kakak terhadap adik !"
Berbicara sampai disitu, Jin-Jin memandang sekejap kearah Mao Tin hong kemudian mengerling ke arah pintu.
Disisi pintu kristal nampak masih ada sedikit celah yang kecil, pintu itu belum tertutup rapat.
Mao Tin hong segera berpaling ke arah Jin-jin, kemudian kedua orang itu saling berpandangan sekejap dan tersenyum.
Kalau ucapan yang diutarakan secara terang terangan belum tentu benar, maka orang bilang Kata-kata yang diutarakan dibelakang mereka yang bersangkutan tentulah kata-kata yang sebetulnya.
Maka si bunga mawar yang menyadap pembicaraan tersebut dari balik pintu benar-benar masuk perangkap.
Mao Tin hong memang ada niat untuk membaiki si Bunga mawar, maka Jin jin yang mengetahui akan rial ini segera menambahi dengan beberapa patah kata, hal tersebut kontan saja membuat si bunga mawar menjadi kegirangan setengah mati.
Tak selang beberapa saat kemudian, si bunga mawar telah muncul kembali, bukan saja rambutnya telah disisir dengan rapih, diapun sudah berganti pakaian baru.
Saat itulah Jin jin baru menggapai kearah si bunga mawar sembari berkata.
"Hei budak, kemarilah dan jumpai toaya !"
"Hujin, apakah harus memberi hormat?"
Seru si bunga mawar. Jin jin segera melotot besar.
"Kalau tidak demikian, buat apa aku suruh kau memberi hormat?"
Tegurnya. Dengan perasaan apa boleh buat si bunga mawar segera maju kedepan dan memberi hormat kepada Mao Tin hong, katanya.
"Toaya Bi kui memberi hormat untuk kau orang tua."
Mao Tin hong segera mengulapkan tangannya seraya berseru.
"Bunga mawar, hujin sudah banyak membicarakan tentang dirimu, selanjutnya kita adalah sekeluarga dan kaupun tak usah banyak adat lagi, cara seperti ini hanya akan membuat hatiku merasa tidak tenteram saja."
Ucapan yaag terakhir itu sengaja di ucapkan oleh Mao Tin hong yang licik untuk menarik simpatik orang.
Didalam waktu yang amat singkat inilah dia telah berhasil meraba watak dari perempuan tersebut dan dia tahu bahwa ucapan yang terakhir ini pasti akan menimbulkan reaksi dari si mawar cantik ini.
Padshal dia justeru hendak menggunakan cara itu untuk menunjukkan bahwa ia menyesal.
Benar juga si bunga mawar segera masuk perangkap, dengan cepat perempuan itu berseru.
"Tuan mengapa kau berkata begitu, setiap rumah tangga mempunyi aturan rumah tangga yang berbeda, Bi kui tak terani membangkangnya, asalkan tuan juga tidak melakukan permainan gila lagi, sudah barang tentu akupun akan melayani kau sebagaimana mestinya."
Katanya. Dengan perasaan malu Mao Tin hong segera manggut-manggut.
"Benar juga perkataanmu itu, selanjutnya kita adalah anggota sekeluarga mari kita bertindak menurut perasan liang sim masing masing."
Si bunga mawar seperti hendak mengucapkan sesuatu lagi, tapi Jin Jin segera menukas.
"Cukup, sekarang kau boleh menitahkan kepada Ji-nio untuk menyiapkan hidangan, ayo cepat !"
Katanya.
Si bunga mawar mengiakan, sambil tersenyum dia lantas berlalu dari situ.
Menggunakan kesempatan tersebut Mao Tin hong segera mendekati Jin Jin dan mengambil cawan arak yang beIum diminum tadi, sambil mengangkat cawannya ia berkata lembut.
"Jin jin, mari kuhormati secawan arak ini untukmu sebagai kenang-kenangan untuk kejadian hari ini."
Selesai berkata, tidak menunggu dicegah oleh Jm jin lagi, dia segera meneguk habis isi cawan tersebut. Dengan gugup si Jin-jin berseru.
"Mengapa sih kau ini? Toh sudah kau ketahui bahwa arak tersebut ada racunnya? Mengapa kau memaksakan diri untuk meneguknya?"
"Inilah hukuman yang paling setimpal bagiku atas kesalahan yang telah kuperbuat!"
Jawab Mao Tin hong sambil tertawa getir.
Jin jin mendengus dingin, ternyata diapun mengangkat cawannya dan meneguk pula isi cawan tersebut sampai kering.
Menyaksikan hal ini, Mao Tin-hong kembali menghela napas panjang.
"Aaai Jin-jin, mengapa kau harus nekad berbuat demikian ?"
Jin jin segera tertawa.
"Apakah kan lupa bahwa akupun pantas dihukum ? Dengan begitu baru adil namanya, nah sekarang mari kita menelan obat penawar racunnya !"
Akhirnya setiap orang menelan sebutir pil penawar tersebut bahkan kedua duanya sama-sama menderita.
Sepintas Ialu, kejadian ini nampaknya hanya suatu peristiwa yang berlebih-lebihan dan sama sekali tak ada artinya padahal bukan demikian kenyataannya.
Mengapa bukan demikian?
HaI ini baru akan terjawab diakhir dari kisah tersebut.
Selang berapa saat kemudian, si Bunga mawar telah muncul menghidangkan sayur dan arak dan melayani mereka berdua mengisi perut.
oooOdeOooo FAJAR menyingsing, Thio Yok sim, Kang Tat dan Cukat Tan yang berada diperahu loteng belum juga nampak Mao Tin hong balik kembali, mereka pun tidak melihat Kwa Cun-seng kembali pula ke perahu loteng tersebut.
Thio Yok-sim sudah menduga kalau persoalannya agak kurang beres, maka kepada Kang Tat dan Cukat Tan segera katanya.
"Aku rasa sudah pasti telah terjadi peristiwa, perahu ini tak bisa dipertahankan terus, lebih baik kita turun ke darat saja !"
"Seandainya situa bangka itu mendadak kembali?"
Bisik Kang Tat dengan perasaan kuatir.
"Tak menjadi soal, sewaktu meninggalkan perahu tak usah meninggalkan pesan apa-apa, sekembalinya nanti baru memberi jawaban sesuai dengan situasi dan kondisi. Cukat Tan termenung beberapa saat Iamanya, kemudian berseru.
"Eeeh, tunggu dulu, aku merasa heran, sebenarnya situa bangka itu telah pergi kemana..."
"Bagaimana juga, dia baru bisa di temukan bila kita sudah turun dari perahu ini, di atas perahu..."
Baru saja berbicara sampai disitu, mendadak terdengar ada orang mengetuk pintu, menyusul kemudian pintu ruangan dibuka orang.
Salah seorang diantar dua orang anggota perkumpulan yang bertugas daIam ruangan itu sudah melangkah masuk ke dalam.
kemudian sambil menjura katanya.
"Hamba mendapat perintah dari Tiancu nomor satu untuk mengundang Tiancu bertiga membicarakan sesuatu dalam ruang rahasia"
Thio Yok sim menjadi tertegun, kemudian serunya.
"Jadi Tiancu nomor satu telah kembali?"
"Benar, baru saja kembali."
Jawab orang itu dengan sikap yang sangat menghormat. Cukat Tan sengaja mendengus, lalu serunya.
"Kau kembali dan mengatakan kepada Tiancu nomor satu, kalau lohu sekalian akan menantikan kedatangannya disini !"
Baru saja perkataan tersebut diutarakan mendadak Cukat Tan teringat akan satu hal, dia segera bertanya.
"Apakah majikan ikut kembali ?"
Orang itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Hanya Tianeu nomor satu seorang diri yang kembali keatas perahu "
Sahutnya cepat. Kang Tat menjadi keheranan setelah mendengar perkataan itu, kembali tanyanya.
"Apakab Tiancu kalian sudah tahu kalau lohu sekalian menjatuhkan hukuman mati kepada wakil Cay-cu ?"
"Hamba kurang begitu tahu, hamba tidak mengerti apakah Tiancu nomor satu sudah mendengar kabar tentang hal ini atau belum."
Thio Yok sim segera mendengus.
"Baik, kalau begitu sampaikan saja seperti apa yang telah kukatakan tadi, suruh Tiancu nomor satu yang datang kemari untuk berbincang-bincang dengan kami."
Namun orang itu sama sekali tidak menjadi gugup, kembali ujarnya dengan hormat.
"Lapor kepada Tiancu sekalian, Tiancu nomor satu tak dapat datang kemari !"
"Tak dapat datang kemari", keempat patah kata itu kontan saja membangkitkan amarah bagi Cukat Tan, ia segera membentak keras.
"Apakah sepasang kakinya sudah putus !"
Siapa tahu perkataan tersebut segera memancing datangnya jawaban dari orang, tadi, sahutnya.
"Tiancu nomor satu tidak kehilangan sepasang kakinya, namun dia sudah tak mampu berjalan lagi, seluruh tubuhnya menjadi lemas dan bicaranya tidak bertenaga lagi, ketika sampai di bawah perahu tadi, hamba sekalianlah yang membopongnya naik."
Paras muka Thio Yok Sim segera berobah hebat setelah mendengar perkataan itu, tanpa terasa dia memandang sekejap kearah Cukat Tan serta Kang Tat.
Sekalipun raut wajah mereka bertiga ditutup dengan kain kerudung putih, namun masing-masing pihak dapat memahami perasaan dari rekan-rekan lainnya.
-ooo0dw0ooo
Jilid MEREKA telah salah menyangka, mereka mengira Kwa Cun-seng dan Mao Tin-hong telah bertemu dengan Sun Tiong-lo.
Oleh sebab itu, setelah Thio Yok sim memandang sekejap ke arah Cukat Tan dan Kang Tat, dia lantas bertanya.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi ?"
"Bagaimanakah keadaan yang sebenarnya hamba sendiripun kurang tahu, oleb sebab itu dipersilahkan Tiancu sekalian berkunjung kedalam ruang rahasia"
Cukat Tan segera bangkit berdiri, kepada Kang Tat dan Thio Yok sim katanya.
"Kalau msmang begitu, mari kita berangkat kesitu untuk menengok keadaannya."
Sementara berbicara, dia lantas mengulapkan tangannya dan menitahkan orang itu untuk berjalan lebih dahulu sebagai petunjuk jalan, yang dimaksudkan sebagai Ruang rahasia adalah ruangan paling atas dari perahu loteng tersebut, bila mereka berada disitu, maka semua pemandangan disekitar sana dapat terlihat jelas, apalagi bila ada orang yang mencoba untuk mendekati perahu, dengan jelas jejak mereka akan terlihat.
"Ruang rahasia"
Itu melupakan sebuah ruangan yang besar dengan daun jendela yang besar pula, setelah masuk ke dalam pintu, mereka segera menyaksikan Kwa Cun-seng sedang duduk diatas pembaringan bersandar padi dinding ruangan.
Paras muka Kwa Cun seng ditutupi pula dengan selembar kain kerudung.
tatkala melihat Thio Yok-sim sekalian bertiga berjalan masuk dia segera menggerakkan badannya seperti hendak duduk, namun dia tak mampu untuk berbuat begitu.
Cukat Tan yarg menyaksikan keadaan tersebut segera maju menyongsong ke depan sambil berseru.
"Terhadap orang sendiri tak usah sungkan-sungkan, berbaring saja di tempatmu semula."
Sebaliknya Kang Tat segera berpaling kepada petunjuk jalan tadi sembari memerintahkan.
"Turunkan perintah agar segenap anggota yang ada dalam perahu meningkatkan kewaspadaannya, siapapun dilarang masuk ke tempat ini sebelum memperoleh panggilan !"
Orang itu mengiakan dan segera berlalu. Kang Tat pun segera menutup pintu rapat -rapat. Dalam pada itu, Thio Yoksim telah maju ke depan menghampiri pembaringan kemudian tegurnya.
"Sebetulnya apa yang telah terjadi ? Apakah Tiancu telah bertemu dengan musuh tangguh?"
"Aaai... tak akan habis diceritakan dalam waktu singkat"
Jawab Kwa Cun seng dengan suara lemas seperti tak bertenaga.
"tolong para Tiancu sudi membimbingku untuk duduk sebelum pembicaraan dimulai..."
Cukat Tan segera membimbing Kwa Cun-seng untuk duduk bersandar pada dinding, lalu katanya.
"Tiancu, dimana majikan sekarang ?"
Kwa Cun-seng menghela napas panjang.
"Sekarang, majikan sedang terjebak..."
Kang Tat sengaja menjerit kaget, kemudian teriaknya.
"Apa? Dengan kepandaian silat yang dimiliki majikan, bagaimana mungkin dia bisa tersekap ?"
Thio Yok sim juga berlagak menjerit kaget.
"Da terjebak dimana ? Berapa banyakkah jago lihay dari pihak lawan yang telan menjebaknya?"
Dengan cepat Kwa Cun-seng menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya pelan.
"Harap kalian bertiga jangan cemas, walau pun majikan terkurung namun untuk beberapa saat tak akan sampai membahayakan jiwanya, sebab pihak lawan bukan bertujuan untuk membunuh-majikkan, melainkan..."
"Tiancu, harap kau utarakan saja hal hal yang penting dengan kata paling ringkas!"
Tukas Cukat Tan cepat. Dengan lemah dan napas tersengal-sengal. Kwa Cun-seng menyahut.
"Pada jarak beberapa li disebelah kanan petahu kita sekarang, berlabuh sebuah perahu itulah majikan terkurung."
"Oooh, lantas berapa banyakkah jago lihay yang berada diatas perahu tersebut?"
Tanya Thio Yok sim.
"Isi perahu itu semuanya adalah kaum wanita, jumlah nya tidak jelas tapi dipimpin oleh seseorang yang dipanggil dengan sebutan "hu Jin", mereka tak lain adalah kawanan penjahat dari perkumpulan Hu ho kau yang sudah sering melakukan banyak kejahatan semenjak puluhan tahun berselang."
Tergerak hati Kang Tat setelah mendengar perkataan itu, serunya cepat.
"Jadi mereka adalah sisa-sisa dari kekuatan Hu hoa kau..?"
Dengan lemas tak bertenaga Kwa Cun seng mengangguk.
"Betul, mereka adalah sisa-sisa penjahat yang berhasil lolos dan kabur dari kepungan para jago dari perbagai perguruan dibukit Thi Hud nio tempo dulu, bahkan dialah yang menjadi kaucu dari Hu hoa kau pada saat ini!"
Kang Tat termenung beberapa saat lamanya, kemudian kembali dia bertanya.
"Darimana Tiancu bisa tahu kalau dia adalah bekas anggota perkumpulan Hu hoa kau !"
"Majikan yang berkata demikian, jadi aku duga tak mungkin bakal salah lagi !"
"Tahukah kau, apa yang hendak dilakukan majikan dengan mengunjungi perahu besar itu?"
Tanya Thio Yok sim lebih lanjut. Tentu saja Kwa Cun seng tahu namun dia tak dapat berterus terang, maka sembari menggeleng sahutnya.
"Majikan tidak mengungkap alasannya, sudah barang tentu aku tak berani banyak bertanya!"
"Apa yang terjadi setibanya diatas perahu besar tersebut?"
Cukat Tan bertanya kemudian.
"Majikan diundang masuk ke ruang dalam, sedangkan aku di jamu didalam sebuah ruang kecil dibelakang buritan tak lama kemudian akupun terkena sergapannya sehingga seluruh tenaga dalamku punah tak berbekas..."
Mendengar jawaban tersebut, Thio Yok sim bertiga menjadi terperanjat sekali. Kang Tat segera berkata.
"Jadi tenaga dalam Tiancu benar-benar sudah punah ?"
Dengan gelisah Kwa Cun seng berseru.
"Aku tidak percaya kalau kalian bertiga tak dapat melihat sendiri keadaanku sekarang."
Cukat Tan tertawa dingin didalam hati, namun diluarnya dia berkata kembali.
"Wajah kita semua tertutup oleh kain kerudung bagaimana mungkin aku bisa mengetahui kalau tenaga dalammu benar-benar sudah hilang atau tidak ?"
Kwa Cun seng tertawa getir.
"Aaaah, yaa, aku memang bersalah, aku lupa akan hal ini..."
Serunya dengan cepat. Kang Tat tertawa lagi, katanya lebih jauh.
"Tolong tanya tiancu, ada urusan apakah mengundang kehadiran kami bertiga disini ?"
"Kita harus menolong majikan, bahkan menenggelamkan pula perahu besar tersebut."
Kang Tat segera mengejek dingin.
"Hmm, dengan kemampuan yang dimiliki Tiancu saja masih kena dipecundangi hingga kehilangan seluruh tenaga dalamnya, padahal ilmu silat yang kami bertiga miliki bukan tandingan dari Tiancu bagaimana mungkin kami bisa, menandingi pihak lawan yang begitu tangguh?"
Kwa Cun seng memaksakan diri untuk mempertahankan tubuhnya, lalu menyahut.
"Itulah sebabnya kita harus bertindak dengan suatu rencana yang cukup matang !"
"Katakan saja Tiancu, bagaimana kita harus turun tangan?"
Ucap Cukat Tan kemudian.
Ketika masih berada diatas perahu besar tadi, dan mengetahui kalau tenaga dalam yang dimilikinya belum punah, Kwan Cun seng mengira jiwanya tak bisa tertolong lagi.
Siapa tahu disaat yang paling kritis Jin Jin telah menurunkan perintah kepada si bunga mawar agar mengampuni selembar jiwanya.
Kemudian apa yang dibicarakan antara Mao Tin hong dan Jin Jin pun dapat didengar semua oleh Kwa Cun seng dengan jelas karena alat rahasia penghubung suara dalam ruangan tersebut belum dimatikan.
Waktu itu Kwa Cun seng sudah bertekad didalam hatinya, entah berapa kita harus membayarnya dengan harga yang mahal sekalipun dia hendak menenggelamkan perahu besar tersebut bersama Jin Jin, terhadap Mao Tin hong pribadi, diapun merasa amat membenci sehingga merasuk sampai ke tulang sum sum.
Tatkala dia diusir pergi dari perahu tersebut, didalam benaknya sudah memikirkan berbagai akal muslihat untuk membalas dendam, akhirnya teringat olehnya akan suatu siasat keji sekali timpuk mendapat dua ekor burung, itulah sebabnya dia bertekad untuk kembali ke perahu loteng tersebut.
Tatkala Cukat Tan bertanya bagaimana caranya untuk turun tangan, hal ini kebetulan sekali sesuai dengan keinginannya, maka segera dia menjawab.
"Sewaktu majikan dikurung tadi, dia pernah memberi perintah kepadaku agar mengumpulkan kalian semua apabila aku berhasil lolos dari situ, lalu menyerang pihak lawan ditengah malam buta nanti dengan serangan panah berapi."
Kang Tat berpikir sebentar, kemudian sahutnya.
"Menyerang perahu dengan api, boleh dibilang siasat ini merupakan suatu yang amat keji, tapi bukankah majikan masih berada di atas perahu musuh ? Apabila kita menyerang dengan api. bukankah mereka akan tewas semua?"
Dengan cepat-cepat Kwa Cun-seng menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kalian tak usah kuatir, majikan memiliki akal yang luar biasa dan lagi memiliki kemampuan yang melebihi siapapun."
"Walaupun begitu, jangan lupa kalau majikan sedang berada dalam sekapan orang pada saat ini"
Tukas Cukat Tan cepat.
"siapa tahu dia sama sekali tak mampu bergerak dengan bebas ? seandainya perahu tersebut sampai terbakar, maka..."
Sekali lagi Kwa Cun-seng menggoyangkan tangannya berulang kali.
"Tentang soal ini, kalian semua tak perlu kuatir, bukan saja majikan tidak kehilangan kebebasannya untuk bergerak, bahkan dalam tiga hari ini, dia tak bakal menghadapi ancaman bahaya apapun."
"Yang dimaksudkan oleh Tiancu sebagai "sama sekali tidak kehilangan kebebasannya"
Tadi apakah menunjukkan diseputar perahu besar itu saja?"
Kata Thio Yok-sim dingin.
"Benar, pihak lawan hendak memaksa majikan untuk bekerja sama dengannya, ia memberi batas waktu tiga hari buat majikan untuk mempertimbangkannya, sehingga didalam tiga hari ini dia tidak dapat meninggalkan perahu besar itu."
"Oooh !"
Setelah berhenti sejenak, Thio Yok Sim segera berkata lagi.
"dengan kemampuan dari majikan seandainya tenaga dalam yang dimiliki masih utuh, siapakah yang bisa membatasi gerak geriknya ?"
"Aku hanya tahu majikan berpesan demikian sedang mengenai apa sebabnya majikan tak bisa bergerak dengan bebas, berhubung majikan tidak menjelaskan maka akupun tak bisa menduga secara pasti !"
"Tiancu, seandainya kita menyerang perahu musuh dengan api besok malam, apakah jiwa majikan akan terancam bahaya ?"
Tanya Kang Tat lagi.
"Perintah majikan hanya menyebutkan demikian, sehingga soal yang lain tak dapat ku ucapkan."
"Betul juga perkataan itu!"
Sengaja Cukat Tan berseru. Kemudian setelah berhenti sebentar. sambungnya lebih jauh.
"Kalau begitu, harap Tiancu sudi mengeluarkan lencana emas dari majikan untuk diserahkan kepada kami."
Mendengar perkataan tersebut, Kwan Cun-seng menjadi duduk seperti orang bodoh, sebelumnya dia berangkat bersama-sama Mao Tin-hong, ketika pergi pun membawa suatu perhitungan yang matang, pada hakekatnya sama sekali tak pernah diduga olehnya akan keadaan saat ini."
Selain itu, setelah tenaga dalamnya hilang, diapun bermaksud untuk melaksanakan rencana busuk itu untuk membalas dendam termasuk juga untuk meringkus dan menghabisi nyawa Mao Tin hong,sudah barang tentu dia tak mampu menunjukkan lencana emas yang diminta.
Namun dasar seorang manusia licik, dengan cepat dia berhasil memperoleh suatu siasat, katanya kemudian.
"Tiancu, bila kau menginginkan lencana emas dariku pada saat ini, bukankah hal mana sama artinya dengan menyusahkan diriku?"
"Apa maksud ucapan Tiancu tersebut?"
Kata Cukat Tan dengan suara dalam dan berat "untuk menggunakan tenaga Lak yu, selamanya majikan menurunkan perintah dengan mempergunakan lencana emas, peraturannya memang begitu, kebiasaannya juga begitu, dalam hal mana kami salah berbicara...?"
Buru-buru Kwa Cun seng berseru.
"Tiancu salah paham rupanya, maksudku perintah dari majikan disampaikan ketika ia tersekap, perintah itupun disampaikan dengan ilmu menyampaikan suara, coba bayangkan sendiri, darimana bisa muncul lencana emas tersebut ?"
Mendengar perkataan itu, Cukat Tan segera menggelengkan kepalanya berulang kali ujarnya.
"Bukannya kami semua tidak percaya dengan Tiancu nomor satu, tapi berhubung majikan pernah memperingatkan dengan tegas bahwa semua perintah hanya bisa dilaksanakan bila ada lencana emas, maka seandainya tiada lencana emas disini, kami pun tak dapat melaksanakan perintah dengan begitu saja !"
"Lantas, apakah kita akan membiarkan majikan ditangkap lawan tanpa berusaha untuk menolongnya?"
Tegur Kwa Cun-seng dengan suara yang dalam dan berat.
"Sekalipun kenyataannya mungkin begitu, kami sekalian tak bisa berbuat apa-apa !"
Kwa Cun seng segera mendengus dingin.
"Apakah kalian bertiga tidak kuatir dihukum majikan setelah ia berhasil lolos dari bahaya?"
Ancamnya. Cukat Tan ikut mendengus dingin.
"Hmmm, sampai waktunya, kami pun akan menjawab dengan perkataan yang sama, kami yakin tiada hukuman yang bakal dilimpahkan atas diri kami !"
Kwa Cun-seng benar-benar kehabisan akal, maka katanya kemudian dengan marah.
"Bagus sekali, kalau memang begitu, harap kalian bertiga pergi dari sini, aku percaya masih dapat memerintahkan semua anggota lainnya untuk melaksanakan tugas kecil itu!"
"Terserah kehendak Tiancu sendiri yang penting toh urusan tersebut bukan menjadi tanggung jawab kami!"
Cukat Tan sama sekali tidak mau mengalah. Kwa Cun seng makin geram, akhirnya dia mengancam.
"Harap kalian jangan lupa, aku telah menyampaikan perintah dari majikan, bila nanti ketika majikan kembali, aku harap Kalian bertiga mengakui akan kejadian hari ini."
"Tak usah kuatir"
Sahut Cukat Tan cepat.
"kami semua pasti akan mengakui akan hal ini."
Kwa Cun seng benar-benar mati kutunya, terpaksa dia membungkam diri dalam seribu bahasa.
Maka Cukat Tan bertiga pun segera meninggalkan ruang rahasia tersebut.
Mereka tidak kembali keruang tamu, melainkan berhenti dimulut tangga luar ruang rahasia ifu, kemudian dengan suara yang amat lirih membicarakan masalah tersebut.
Thio Yok sim yang pertama-tama buka suara lebih dulu, katanya dengan lirih.
"Percayakah kalian berdua bahwa diatas perahu tersebut ditempati orang-orang dari Hu-hoo kau ?"
Cukat Tan termenung beberapa saat, lalu jawabnya.
"Apakah saudara Thio menganggap orang yang berada diatas perahu itu adalah Sun sauhiap?"
Thio Yok-sim manggut-manggut "Benar, kalau tidak, siapa pula yang bisa menahan bajingan tua she Mao itu?"
Dengan cepat Cukat Tan menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya kemudian.
"Menurut pendapat siaute, orang yang berada diatas perahu itu bukan Sun sauhiap."
"Oooh, darimana kau bisa tahu?"
Cukat Tan melirik sekejap ke arah pintu ruang rahasia, kemudian sahutnya.
"Andaikata orang yang berada diatas perahu itu adalah Sun siauhiap, mana mungkin bajingan itu bisa hidup lebih jauh ?"
Pada saat inilah Kang Tat ikut berkata.
"Betul, bajingan ini merupakan pentolan yang menyebabkan keluarga Sun Tayhiap tumpas sama sekali dimasa lalu, seandainya orang yang berada di perahu itu adalah Sun tayhiap masa mungkin bajingan tersebut bisa hidup hingga kini."
"Ya, betul juga perkataan kalian itu, aku memang lupa akan hal tersebut."
Kata Thio Yok sim kemudian.
"Terlepas siapakah orang yana berada diperahu itu, yang pasti bajingan tua Mao memang benar-benar sudah tersekap, menurut pendapat kalian berdua, sekarang apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi kejadian itu ?"
Kang Tat berpikir sebentar, kemudian jawab nya.
"Menurut pendapatku, lebih baik kita naik kedaratan lebih dulu untuk mencari Sau sauhiap."
Belum habis dia berkata, Cukat Tan sudah menukas.
"Tentu saja hal ini penting artinya, cuma sepeninggal perahu ini, seandainya bajingan tua she Kwa itu benar-benar menitahkan anak buah nya untuk membakar perahu tersebut pada malam ini juga, apa yang harus kita lakukan ?"
"Berusaha untuk mensukseskan serangan tersebut, kalau bajingan tua she Mao tersebut sampai mati terbakar, bukankah hal ini jauh lebih baik lagi."
Cukat Tan segera tertawa.
"Seandainya benar-benar sampai terjadi peris tiwa tersebut, tentu saja jauh lebih baik lagi, yang dikuatirkan adalah kaburnya bajingan tua she Mao itu menggunakan kesempatan disaat kebakaran itu berlangsung, pada waktu itu bajingan tua she Kwa tentu akan menghasutnya dengan beberapa macam perkataan yang kurang sedap didengar, akibatnya sungguh tak bisa dibayangkan lagi.."
Thio Yok sim termenung dan berpikir beberapa saat lamanya. kemudian usulnya.
"Mengapa kita tidak berusaha untuk membekuk bajingan tua she Kwa itu lebih duu, agar dia tak mampu berbicara apa-apa lagi?"
Mendengar usul mana, Cukat Tan segera bertepuk tangan sambil memuji.
"Suatu usul yang amat bagus. baik kita laksanakan begitu saja!"
Kang Tat segera berkata lagi.
"Agar tindakan lebih berhati-hati, menurut pendapat staute, diantara kita bertiga harus ada seorang yang ditinggalkan diatas perahu ini bukan saja dapat mengawasi sesuatunya, juga dapat berjaga terhadap segala kemungkinan yang tidak diinginkan!"
Thio Yok-sim mengangguk.
"Begitupun ada baiknya, biar siaute saja yang tetap tinggal disini, sedang kalian berdua segera naik ke darat untuk mengadakan hubungan kontak dengan Sun sauhiap, selesai berunding kalian baru memberitahukan hasilnya kepada siaute"
"Ehmmm... meski cara ini bagus, namun belum cukup sempurna".kata Cukat Tan kemudian.
"mengapa kita tidak membekuk dulu bajingan tua she Kwa itu, kemudian dengan alasan mencarikan tabib buat bajingan tua itu kita mengajaknya bersama-sama naik kedarat?"
Thio Yok sim dan Kang Tat segera merasa cara ini jauh lebih baik lagi, maka keputusan pun segera diambil. Maka Cukat Tan pun manggutkan kepalanya kearah Kang Tat sembari berkata.
"Saudara Kang, harap kemari. kita berdua segera masuk dan membimbing bajingan she Kwa itu keluar dari ruangan, sedang saudara Thio harap menurunkan perintah agar mereka segera menyiapkan perahu untuk naik kedarat, kita berpencar dulu untuk melaksanakan tugas masing masing..."
Thio Yok sim mengiakan dan berlalu dari situ dengan cepat.
Sedangkan Cukat Tan dan Kang Tat segera mendorong pintu ruang rahasia dan berjalan masuk kembali.
Tatkala Kwa Cun-seng menyaksikan Cukat Tan dan Kang Tat masuk kembali ke dalam ruangan untuk ke dua kalinya, tergerak hati nya, dia segera menegur.
"Mau apa kalian berdua datang kemari lagi?"
Sahut Cukat Tan sambil tertawa "Barusan kami sudah berunding sebentar di luar, maka sekarang balik kembali kemari."
Kwa Cun seng salah mengira keadaan telah berbalik menguntungkan pihaknya, maka sambil tertawa paksa dia berkata.
"Keadaan sekarang amat kritis, bagaimanakah hasil perundingan dari Tiancu sekalian!?"
"Akhirnya kami putuskan untuk memperoleh jaminan lebih dulu sebelum dapat melaksanakan perintah tersebut!"
Sahut Kang Tat cepat. Kwa Cun-seng menjadi tertegun.
"Jaminan ? jaminan apa ?"
Pelan-pelan Cukat Tan berjalan ke muka dan duduk disamping Kwa Cun-seng, kemudian katanya.
"Kami harus dapat jaminan bahwa saudara Kwa tak akan mengganggu pekerjaan besar kami ini !"
Begitu mendengar Cukat Tan menyebut namanya secara langsung, Kwa Cun seng sudah tahu kalau keadaan tidak menguntungkan, baru saja dia hendak memanggil anak buahnya, Cukat Tan telah berkata lebih lanjut.
"Kwa Cun-seng, lebih baik bersikaplah lebih pandai, jangan berteriak-teriak macam anak kecil, lohu berduapun tidak berniat melukaimu, tapi jka kau berani berani berteriak hal ini berarti kau sendiri yang mencari kesulitan."
Kini, tenaga dalam yang dimiliki Kwa Cun seng telah punah.
seluruh tubuhnya sudah tak mampu berkutik lagi, persendian tulangnya mana linu, kakunya bukan kepalang, dia tahu sekalipun berteriak juga tak ada gunanya.
Terpaksa ujarnya setelah menghela napas panjang.
"Cukat Tan, mungkin kalian ingin menghianati majikan !"
"Tutup mulut anjingmu! Kau tahu manusia macam apakah lohu bersaudara ? Selama banyak tahun ini berapa banyak sudah siksaan dan penderitaan yang telah kami alami, tentunya kau si tua bangka mengerti dengan jelas."
Kini, bajingan tua tersebut sudah disekap orang tenaga dalammu juga telah punah, bila lohu sekalian tidak bertindak saat ini juga, mana mungkin ada kehidupan lagi bagi kami dikemudian hari."
Sambil mengulapkan tangannya Kwa Cun seng segera menukas.
"Aku mengerti, saudara Kang tidak usah banyak berbicara lagi!"
Kang Tat mendengus dingin.
"Hmm, sungguh menggelikan jika lohu ingin mengutarakan apa yang hendak kuucapkan memangnya kau dapat menghalangi ?"
Mendadak Kwa Cun-seng menarik kain cadarnya hingga terlepas kemudian katanya.
"Saudara Kang, dapatkah kau mendengarkan dulu aku bercerita ?"
Katanya kemudian.
Tindakan Kwa Cun-seng yang secara otomatis melepaskan kain cadar sendiri membuktikan kalau saat ini dia sudah bukan merupakan anak buah dari Mao Tin hong lagi namun Cukat Tan dan Kang Tat masih belum berapa mempercayai hal tersebut sebagai kenyataan.
Oleh sebab im sambil mendengus Kang Tat berkata.
"Orang she Kwa, lebih baik jangan bermain setan didepan kami berdua lagi."
Kwa Cun-seng tertawa getir "Aku bermaksud tulus dan jujur. bolehkah aku memberi keterangan lebih dulu?"
Katanya. Pada saat itulah Cukat Tan telah berpaling kearah Kang Tat sambil berkata.
"Saudara Kang, tak ada salahnya untuk mendengarkan dulu obrolannya itu."
"Baik!"
Sahut Kang Tat sambil mengangguk "kita dengarkan dulu obrolannya."
Maka secara ringkas Kwa Cun-seng segera mengisahkan kembali semua pengalaman yang telah dialaminya selama ini.
Saat itu Kang Tat dan Cukat Tan baru mengetahui latar belakang yang sebenarnya dari pertentangan situasi waktu itu.
Ketika selesai menuturkan pengalamannya semalam, Kwa Cun seng segera menambahkan.
"Sekarang kalian berdua tentunya sudah mengerti bukan bahwa serangan api yang siaute maksudkan tadi adalah bertujuan untuk membakar mampus pula Mao Tin hong diatas perahu tersebut, sehingga boleh dibilang kita mempunyai musuh yang sama."
"Belum tentu."
Tukas Kang Tat dingin "Kwa Cun-seng, kau harus mengerti, diantara kita bukannya sama dendam.
apalagi menghadapi musuh yang bersama-sama.
Kami berkhianat pada Mao Tin hong, karena dia sudah kelewat banyak melakukan perbuatan jahat yang terkutuk.
Sedang kau, gara-gara watakmu yang kemaruk harta dan kemaruk main perempuan berakibat hilangnya tenaga dalam, kau berkhianat kepada Mao Tin-hong karena dorongan rasa dendam dan sakit hati, bahkan tak segan-segan menggunakan berbagai akal licik untuk berbaikan dengan lohu sekalian, dalam sifatmu itu hingga rencana busukmu dapat terwujud."
Merah padam selembar wajah Kwa Cun seng karena jengah, cepat-cepat timbrungnya lagi.
"Ucapanmu itu memang benar, tapi bagai manapun juga tujuan kita toh sama !"
"Tidak, tujuan kita sama sekali tidak sama"
Bantah Kang Tat dengan suara dalam.
"Tapi toh tak terlepas dari usaha kalian untuk mencabut nyawa anjing bajingan tua she Mao tersebut ?"
Kang Tat tidak menggubris perkatannya, dia hanya mendengus dingin berulang kali. Terdengar Cukat Tan berkata lebih jauh.
"Kwa Cun-seng, tujuan kita sama sekali berbeda, tujuan lohu sekalian hendak membekuk Mao Tin-hong adalah untuk diserahkan kepada Sun sauhiap, agar dia yang mengumumkan semua dosa dan kesalahannya, lalu dijatuhi hukuman mati."
"Sedangkan kau, sama sekali berbeda, kau adalah orang kepercayaan bajingan tua she Mao itu, karena serakah dan napsu jahatmu akhirnya kau tertimpa bencana, tapi akibatnya kau membenci terhadap tulang punggungmu sendiri, kau lantas menyusun rencana busuk untuk mencelakainya. Sudah mengerti ?"
Kwa Cun-seng baru merasa terkesiap setelah mendengar ucapan tersebut, segera serunya.
"Apa ? Jadi kalian mempunyai hubungan dengan Sun Tiong lo ?"
Sekali lagi Cukat Tan mendengus dingin.
"Hmmm, kenapa ? Apakah tidak boleh ?"
Jengeknya.
Kwa Cun-seng segera membungkam dalam seribu bahasa, sementara otaknya berputar kencang untuk memikirkan persoalan tersebut Sementara itu, Kang Tat telah berkata pula dengan suara yang dingin bagaikan es.
"Kwa Cun seng, lohu masih ingat, tempo dulu kaulah yang telah menyaru dan menyusup ke dalam gedung keluarga Sun sebagai mata-mata, apakah semua rencana keji tersebut merupakan hasil dari rencanamu?"
Dengan cepat Kwa Cun seng menggelengkan kepalanya berulang kali, bantahnya.
"Bukan, aku hanya mendapat perintah untuk menyelundup sebagai mata-mata, sedangkan yang menyusun rencana adalah orang lain."
"Hmm, setelah urusan berkembang jadi begini, kau masih mencoba untuk mungkir?"
Kwa Cun seng segera tertawa getir.
"Daripada banyak berbicara, lebih baik kita kembali kesepakatan saja, sekarang aku Kwa Cun seng telah berada dalam keadaan seperti ini, keadaanku tak ada bedanya dengan mati, apa rencana kalian berdua sekarang terhadap diriku..."
"Yang penting sekarang adalah menyembuhkan dulu penyakitmu itu, kami hendak mempersilahkan kau untuk ikut kami pergi ke daratan"
Sahut Kang Tat cepat.
"Oooh. apakah kalian menghendak serahkan diriku kepada Sun Tiong lo ?"
Kwa Cun seng menegaskan. Cukat Tan cepat-cepat menggeleng.
"Tidak, bukan dia yang menginginkan dirimu"
Mendengar jawaban tersebut, segera timbul harapan dalam hati Kwa Cun-seng untuk melanjutkan hidup, buru-buru tanyanya.
"Lantas siapakah yang menginginkan aku ?"
"Dia adalah kakak dari Sun sauhiap dari lain ibu, orang itu bernama Bau-ji !"
Paras muka Kwa Cun seng kontan saja berubah sangat hebat.
"Aku tahu, sekalipun kumohon kepada kalian juga tak berguna, mau kabur juga tidak mungkin, sudahlah, aku hanya pasrah pada keputusan kalian berdua."
Setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh.
"Cuma ada satu hal yang membuatku merasa heran, tak habis mengerti selama banyak tahun ini, tatkala aku diselundupkan kedalam gedung keluarga Sun sebagai mata-mata dulu, kecuali Mao Tin hong seorang, siapapun tak ada yang tahu."
"Siapa sangka belasan tahun kemudian Sun Tiong lo dan Bau ji bisa muncul secara tiba-tiba di Bukit Pemakan manusia, bukan saja mereka berdua tahu kalau aku she Kwa, bahkan mencoba untuk menulusuri jejakku keempat penjuru."
Cukat Tat segera tertawa terbahak-bahak, selanya.
"Kwa Cun seng, apakah kaupun tidak merasa heran, darimana kami semua bisa tahu kalau orang yang menyusun rencana licik untuk menyelundup kedalam gedung keluarga Sun tempo hari adalah kau?"
Kwa Cun seng menghela napas panjang.
"Kalian adalah orang sendiri, mungkin saja tanpa disengaja Mao Tin-hong pernah menyinggung tentang peristiwa tersebut, tapi hal ini jauh berbeda dengan Bau ji dan Sun Tiong lo."
"Soal inipun tak usah kau bingungkan, mereka pun mendapat tahu berita ini dari mulut Mao Tin hong"
Tukas Kang Tat dengan cepat.
"Ooh, rupanya begitu!"
Keluh Kwa Cun seng sambil menghela napas sedih. Kang Tat segera mendengus.
"Inilah akibat yang harus kau terima atas perbuatanmu membantu kaum durjana melakukan kejahatan."
Sedangkan Cukat Tan juga berkata dengan wajah bersungguhsungguh.
"Hukum karma selalu akan berputar, siapa yang membantu kebaikan dia akan memperoleh pahala, siapa yang membantu kejahatan dia akan mendapat cela, siapa suruh kau membantu kaum durjana untuk melakukan kejahatan? setelah terjadi peristiwa separti ini ! kau harus menyalahkan kepada siapa lagi?"
Mendadak Kwa Cii seng tertawa terkekeh-kekeh dengan nada seram. tukasnya dengan cepat.
"Kalian berdua tak usah mengucapkan kata-kata yang menyindir dan mencemooh diri itu lagi, mari kita berangkat !"
Seraya berkata dengan tangan sebelah memegang dinding, tangan lain bertahan pada pembaringan dia berusaha bangkit dan duduk.
Baru saja Cukat Tan dan Kang Tat hendak maju untuk membimbingnya, mendadak Kwa Cun seng membentak keras.
"Tidak usah, aku masih mampu untuk berjalan sendiri !"
Mendengar itu Kang Tat segera tertawa dingin.
"Kau bisa adalah urusanmu sendiri kami tak bisa membiarkan kau berbuat sesuka hati. maaf. sebelum kami menotok jalan darah bisumu, hati kami tak akan merasa lega, matikanlah..."
Kwa Cun-seng segera mengulapkan tangannya sambil menukas.
"Aku berjanji tak akan banyak berbicara !"
Tapi Kang Tat segera menggeleng kembali.
"Jaminanmu tidak lebih berharga daripada kentut busuk seekor anjing budukan !"
Kwa Cun seng menghela napas panjang.
"Baiklah"
Katanya kemudian.
"aku akan menurut seperti apa yang kalian inginkan, padahal hatiku sekeras baja, aku hanya ingin mempergunakan tubuhku yang setengah mati ini untuk ditukar dengan selembar nyawa dari bajingan Mao Tin hong, kalau tidak. hm..."
"Kalau tidak kau masih bisa berbuat apa?"
Jengek Kang Tat dengan suara dalam. Kwa Cun seng kembali tertawa terkekeh-kekeh.
"Kang Tat!"
Serunya.
"kau jangan menganggap aku Kwa Cun seng sudah tidak memiliki kemampuan lagi untuk melakukan pembalasan."
Ucapan tersebut segera membuat Kang Tat menjadi tertegun, serunya kemudian.
"Hemm, darimana kau bisa mengenali siapakah diriku hanya didalam sekilas pandangan saja ? Kwa Cun seng mendengus dingin.
"Sekalipun kuutarakan juga belum tentu akan kau pahami !"
Kang Tat segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh... haaahh... haaahhh kalau tidak dikatakan memang jauh lebih baik, aku sama sekali tidak terlalu menguatirkan tentang masalah ini."
Selesai berkata tiba tiba ia melepaskan kain kerudungnya sambil berkata lagi.
"Kwa Cun seng, kau mengatakan dirimu masih mempunyai kemampuan untuk melancarkan serangan balasan, baik, orang she Kang bukan nya mencemoohmu karena melihat tenaga dalammu itu sudah punah, aku hanya ingin mengetahui dengan cara apakah kau hendak melancarkan serangan balasan tersebut nah. silahkan!"
Kwa Cun seng tertawa.
"Saudara Kang, benarkah kau ingin bukti?"
Dia mengejek.
"Toh kau sendiri yang mengatakan tentu saja benar atau tidaknya hanya kau sendiri yang tahu!"
Pelan-pelan Kwa Cun seng mengalihkan sorot matanya ke wajah Cukat Tan, kemudian bertanya.
"Saudara Cukat, bagaimana menurut pendapatmu?"
Cukat Tan segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh... haaah... haaahh... tenaga dalam mu sudah punah. lohu percaya saudara Kang bukan nya sengaja hendak memperolokorang, akupun yakin dia tak akan menggunakan ilmu silatnya untuk menghadapimu, oleh sebab itu lohu bersedia untuk berdiri sebagai penonton saja."
Kwa Cun seng segera menuding kearah kursi disampingnya sambil berkata.
"Kalau begitu aku orang she Kwa mengucapkan banyak terima kasih lebih dulu, silahkan saudara Cukat untuk duduk dulu sambil melihat keadaan..!"
Sambil tertawa terkekeh kekeh Cukat Tan duduk diatas kursi tersebut, katanya kemudian.
"Tampaknya kau seperti benar-benar mempunyai kemampuan untuk melancarkan balasan!"
"Siapa tahu?"
Kata Kwa Cun seng sambil tertawa. Kemudian setelah berhenti sejcnak, katanya kepada Kang Tat.
"Saudara Kang, kita hanya akan bergurau saja suatu gurauan yang biasa, cuma sebelumnya aku menerangkan dulu, aku adalah seorang manusia yang sudah kehilangan tenaga dalam..."
"Aku mengerti"
Tukas Kang Tat tak sabar.
"tadipun saudara Cukat sudah berkata bahwa aku tidak akan mempergunakan ilmu silatku untuk melukaimu, soal ini kau tak usah kuatir dan kaupun boleh melancarkan serangan dengan berlega hati."
"Tolong tanya, saudara Thio Yok sim kini berada dimana?"
Tauya Kwa Cun seng tiba tiba.
"Dia sedang mempersiapkan perahu dibawah sana"
Jawab Cukat Tan cepat.
"mengapa? Apakah kau ada urusan hendak mencarinya?"
Kwa Cun seng menghela napas panjang.
"Sayang sekali dia tidak berada disini!"
Mendengar ucapan tersebut, tergerak hati Kang Tat, serunya mendadak.
"Bila ia tak hadir disini, apakah kau tak mampu membuktikan ucapanmu itu ?"
Slkap Kwa Cun seng amat tenang dan sedikitpun tidak gugup, sahutnya pelan.
"Bukan begitu, hanya saudara Thio jadi tak dapat menyaksikan kepandaianku ini, bagiku hal tersebut patut disayangkan dan dia pun pasti akan merasa sayang juga !"
Kang Tat segera tertawa.
"Tidak menjadi soal, setelah kejadian aku toh bisa menceritakan semua peristiwa ini kepadanya!"
Kwa Cun-seng segera manggut-manggut "Yaa, nampaknya memang terpaksa begitu"
Sesudah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Mari. mari, silahkan saudaia Kang juga duduk dulu, duduk agak lebih dekat agar bisa melihat dengan lebih jelas lagi !"
Disamping pembaringan tersebut masih terdapat sebuah kursi lagi, maka Kang Tat segera duduk disana.
Sementara itu Kwa Cun-seng telah menyandarkan seluruh tubuhnya diatas tangan kiri yang berpegangan diatas dinding, nampaknya payah sekali, tubuhnya yang bersandar diatas dinding pun nampak kepayahan, katanya kemudian sambil mengebaskan tangannya itu.
"Payah, benar-benar terlampau payah, aku ingin sekali bisa tidur dengan nyenyak..."
Menyaksikan tingkah laku orang itu, dengan kening berkerut Kang Tat segera berseru.
"Hei dapatkah bertindak lebih cepat sedikit"
Setelah mengatur napasnya yang tersengkal-sengkal Kwa Cun seng berkata.
"Tak usah gelisah, segera pun akan terlihat!"
Sambil berkata tangan kirinya diletakkan dulu diatas pembaringan tersebut kemudian tangan kanannya berpegangan diatas sebuah cawan kecil disisi pembaringan kemudian kata nya kepada Kang Tat sambil tertawa.
"Hati-hatilah saudara Kang !"
Kang Tat mendengus dingin.
"Tak usah kau risaukan, aku bisa menjaga diri baik-baik !"
Siapa tahu baru saja dia selesai berkata, terdengar suara gemerincing nyaring bergema memecah keheningan lalu dari atas kursi yang di tempati oleh Kang Tat itu muncul beberapa buah jepitan besi yang segera membelenggu kaki, tangan serta pinggangnya sehingga tubuh Kang Tat sama sekali tak mampu berkutik.
Kang Tat mencoba untuk meronta, namun tidak berhasil, akhirnya dengan suara dalam teriaknya.
"Kwa Cun seng, kau bedebah yang berotak licik dan berhati pengecut, kau manusia tak tahu malu!"
Kwa Cun seng sama sekali tidak menjadi gusar, sambil tertawa katanya kemudian kepada Cukat Tan yang duduk disamping lain.
"Saudara Cukat, katakanlah secara adil, bukankah serangan balasanku telah berhasil?"
Cukat Tan segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah... haaahh... haaah... Kang tua kau memang harus mengakui..."
Belum selesai dia berkata, mendadak Kwa Cun seng telah membentak lagi dengan suara menggeledek.
"Cukat Tan kaupun harus menyerah dengan puas !"
Begitu ucapan tersebut diutarakan segera terdengar lagi bunyi gemerincing, seperti juga Kang Tat, Cukat Tan mengalami nasib yang sama duduk terbelenggu diatas kursi tersebut.
Gelak tertawa Cukat Tan kontan saja terhenti ditengah jalan, sebaliknya Kwa Cun se gera menjengek dengan suara dingin.
"Cukat Tan, sekarang dapatkah kau tertawa lagi ?"
"Kwan Cun seng"
Seru Cukat Tan dengan gusar.
"kecuali kau membunuh lohu sekarang juga, kalau tidak..."
"Tak usah kuatir"
Sahut Kwa Cun-seng sambil mengulapkan tangannya.
"sekarang aku tak punya minat untuk membunuh orang, cuma masih berminat melihat orang lain terbunuh, terutama sekali menyaksikan Mao Tia-bong di bunuh orang.
"Sekarang aku hendak pergi duIu, cuma kalian-pun tak usah kuatir keadaanku sekarang telah berubah menjadi begini, daripada hidup begitu lebih baik mati, aku tak bakal melarikan diri dan menyembunyikan diri."
"Sekarang aku hendak mencari Sun Tiong-lo, dengan menggunakan selembar nyawaku untuk ditukar dengan kematian Mao Tin hong, tentu saja kalian mungkin akan mati jauh lebih awal daripadaku.
"Nah aku pergi dulu sebelum pergi aku hendak memperingatkan kepada kalian berdua, selanjutnya janganlah kalian berdua gegabah menghadapi setiap persoalan, terutama jangan jadi gampang mempercayai perkataan orang lain !"
Berbicara sampai disitu, Kwa Cun-seng segera bangkit berdiri dan melemparkan tertawa yang seram kepada Kang Tat serta Cukat Tan.
Dalam pada itu, dari arah lorong rahasia sana terdengar Thio Yok sim sedang berseru.
"Perahu sudah disiapkan, cepatlah kalian bekerja !"
"Saudara Thio, cepat kemari !"
Sebetulnya Cukat Tan hendak bertertak, namun ketika dilihatnya Kwa Cun seng sama sekali tidak gugup atau panik, bahkan masih duduk dengan tenangnya dipembaringan, kata selanjutnya segera ditelan lagi kedalam perut.
Tapi dengan t er iak an dar i Kang Tat t adi sudah cukup, Thio Yok s im t elah mendorong pintu sambi l masuk k e dBeagl iatum d.i lihatnya keadaan dari Kang Tat dan Cukat Tan, serta merta dia menerjang kearah Kwa Cun-seng.
Mendadak terdengar Kwa Cun-seng tertawa terkekeh kekeh, tubuhnya segera bergelinding kedalam pembaringan itu, dibawah tatapan mata ThioYok-sim dan Kang Tat serta Cukat Tan itulah, bayangan tubuhnya tahu-tahu lenyap tak berbekas.
Menyusul kemudian pintu dan jendela dalam luang rahasia itupun menutup secara otomatis sehingga sama sekali tak nampak sedikit cahaya pun yang menyorot ke dalam.
Dengan tangannya Thio Yok sim mencoba untuk menyentuh pintu dan jendela tersebut, ternyata semuanya terdiri dari lapisan besi yang amat tebal.
Ilmu silat mereka bertiga sesungguhnya amat lihay, gara-gara ingin menang sendiri, akhirnya malah kena terperangkap dalam ruangan rahasia oleh Kwa Cun seng yang sama sekali sudah kehilangan tenaga dalamnya itu.
Menanti Thio Yok-sim atas petunjuk Kang Tat dan Cukit Tan berhasil meraba tombol alat rahasia dan menarik kembali jepitan besi yang membelenggu tubuh Kang Tat serta Cu kat Tan, waktu itu Kwa Cun-seng sudah naik ke daratan.
Tatkala mereka bertiga berhasil menemukan alat rahasia untuk membuka pintu dan jendela tersebut, saat itu Kwa Cun-seng sudah setengah harian di daratan, bagaimana mungkin mereka bisa menemukan jejaknya lagi ?
Waktu itu, mereka bertiga benar-benar merasa malu bercampur menyesal, maka setibanya diatas daratan mereka mulai melakukan pencarian dalam anggapan mereka, Kwa Cun-seng sudah sulit berjalan, mungkin gampang untuk diketahui jejaknya.
Siapa tahu hingga malam tiba, sedikitpun tiada kabar beritanya.
Yang lebih aneh lagi, Sun Tiong-Io yang berjanji akan bertemu dengan mereka disitu pun tidak nampak batang hidungnya.
Akhirnya bertiga mereka bersantap malam kemudian merundingkan langkah mereka selanjutnya ditempat yang sepi, tapi mereka menarik kesimpulan, entah kemanapun Kwa Cun-seng melarikan diri, yang pasti ia tak akan pergi mencari Mao Tin hong lagi.
Oleh sebab itu setelah melakukan perundingan rahasia serta pertimbangan yang Iain, mereka segera mengambil suatu rencana yang amat berani, dengan menumpang sampan kecil mereka langsung menuju ke perahu besar dimana Mao Tin hong terkurung.
Sewaktu tiba di tepi perahu, si bunga mawar telah mendapat perintah dari Jin Jin untuk menyambut kedatangan mereka.
Di dalam anggapan mereka mereka, tindakan mereka itu pasti akan dihadapkan pada suatu pertarungan sengit, siapa sangka keadaannya justeru merupakan kebalikannya.
Baru saja sampan itu mendekat perahu besar, si gadis mawar sudah berseru kepada mereka bertiga.
"Atas perintah dari hujin serta toaya, kalian di haruskan untuk melepaskan kain kerudung sebelum bertemu !"
Ketiga orang itu saling berpandangan sekejap, lalu diwakili oleh Cukat Tan katanya.
"Maaf, bila tiada lencana emas dari majikan, kami semua tak dapat menuruti perintah !"
Bunga mawar tertawa, dia segera memperlihatkan lencana tersebut sembari berseru.
"Nah, kalian sudah puas bukan ?"
Cukat Tan sekalian bertiga kembali saling berpandangan sekejap, setelah mengetahui kalau lencana emas itu asli, mereka segera melepaskan kain kerudung masing-masing dan naik ke atas perahu, kemudian mengikuti di belakang Bi-kui li (gadis bunga mawar) berjalan masuk kedalam ruangan tengah.
setelah memberi laporan, ketiga orang itu dipersilahkan masuk, mereka segera menyaksikan Mao Tin-hong sedang duduk di ruang tengah sambil tersenyum, dia duduk bersandar dalam pelukan seorang perempuan cantik.
Ketiga orang itu bersikap seakan-akan tak melihat kehadiran perempuan cantik itu, setelah memberi hormat kepada Mao Tin hong, serunya bersama.
"Hamba menjumpai majikan."
Sambil tertawa Mao Tin-hong segera mengulapkan tangannya.
"Duduk, semuanya duduk, setelah duduk kita baru berbicara."
Katanya kembali. Setelah mereka duduk semua, Kang Tat baru bertanya.
"Tolong tanya sampai kapan majikan baru akan kembali ke perahu.?"
Sebelum Mao Tin-hong menjawab, Jin-Jin telah menyela lebih dulu.
"Perahu loteng itu sudah tak ada gunanya lagi, di buang saja !"
Untuk kesekian kalinya ke tiga orang itu berlagak seakan-akan tidak mendengar, mereka hanya menantikan jawaban dari Mao Tinhong.
Mao Tin hong memandang sekejap kearah Jin Jin kemudian katanya kepada ketiga orang itu.
"Soal itu kita bicarakan nanti saja, sekarang kalian harus memberi hormat dulu kepada hujin !"
Ke tiga orang itu pun tidak bertanya hujin apa atau hujin siapa, seakan-akan mereka hanya tahu melaksanakan perintah. Maka sekali lagi mereka memberi hormat kepada Jin Jin sambil katanya bersama.
"Menjumpai hujin !"
Sambil balas memberi hormat, Jin Jin berpaling dan ujarnya kepada Mao Tin hong.
"Sungguh tidak kusangka anak buahmu itu semuanya setia dan berbakti kepadamu !"
Mao Tin hong segera tertawa bangga.
"Tentu saja, aku menganggap mereka sebagai saudara sendiri, ada kesenangan kita nikmati bersama, ada bencana kita hadapi berbareng."
Mendengar ucapan mana, ke tiga orang im segera mendengus dingin, namun tidak sampai diperlihatkan pada perubahan wajahnya. Terdengar Jin Jin berkata lagi.
"Tampaknya perkataanku tak mungkin bisa memerintahkan mereka untuk menurut, lebih baik kau saja yang menurunkan perintah, beritahu kepada mereka kalau perahu loteng itu sudah tak dipakai lagi sekalipun menggunakan perahu ini juga sama saja."
Mao Tin-hong manggut-manggut, kepada ketiga orang itu segera serunya cepat.
"Nah sudah kalian dengar belum ? laksanakan seperti apa yang dikatakan hujin!"
Cukat Tan segera berseru.
"Kini Tiancu nomor satu telah kehilangan tenaga dalamnya, setelah kembali ke perahu dia mengatakan..."
Berbicara sampai disitu, dia sengaja berhenti berkata untuk melihat reaksi dari Jin Jin. Dengan cepat Mao Tin-hong menyambung.
"Soal itu aku sudah tahu, sekarang aku perlu memperkenalkan kepada kalian hujin adalah isteriku, kami sudah berpisah banyak tahun dan hari ini baru bersua kembali, maka aku telah bertekad untuk mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan."
"Perahu loteng dan seluruhnya peralatan yang ada di sana, mulai hari ini kuserahkan pengusahaannya kepada kalian bertiga, hubungan kita sebagai majikan dengan pembantupun berakhir sampai disini saja, mulai saat ini kalian tidak akan bisa bersua lagi denganku..."
Dengan cepat Kang Tat menyela.
"Menurut laporan dari Tiancu nomor satu, majikan terkurung dalam perahu ini."
Belum habis perkataan itu diucapkan, Jin Jin telan tertawa terkekeh-kekeh.
"Haaah, haah, haaah, siapa namamu ?"
Tegurnya tiba-tiba.
"Lohu Kang Tat !"
Jawabnya tegas.
"Kang Tat. coba kau perhatikan dengan jeIas. Dengan keadaan dari majikanmu sekarang miripkah dia seperti orang yang sedang dikurung ?"
Kang Tat bertiga sudah mengetahui duduk perkaranya, tapi setelah mendengar perkataan itu, segera mereka menyahut.
"Benar, majikan memang sudah dikurung oleh hujin !"
"Aaah, sungguh aneh. apakah mata kalian sudah dipergunakan lagi ?"
Thio Yok sim segera menimbrung.
"Hujin, majikan kami menitahkan kepada lohu sekalian untuk menyebut demikian, lohu sekalian tak berani membangkang, cuma kalau hujin ingin membohongi lohu sekalian aku rasa tidak akan begitu gampang."
Mendengar itu Mao Tin hong segera mengulapkan tangannya dan berkata sambil tertawa.
"Kalian tak boleh bersikap begitu kurang ajar terhadap hujin, aku sama sekali tidak disekap kebebasanku juga tidak hilang, aku benar-benar berniat untuk mengundurkan diri dari dunia persilatan dan tidak berebut nama dan kedu dukan lagi dengan orang lain."
"Kalian adalah sobat karibku. pembantu kami yang baik, saudara yang terbaik, lain waktu, hasil karyaku akan menjadi milik kalian semua, siapa tahu kalau suatu hari aku masih akan pulang untuk menjenguk kalian semua."
Jin Jin berseru tertahan, tukasnya.
"Apa ? Kau masih hendak pulang ?"
Sambil tertawa cepat-cepat Mao Tin hong menghibur Jin Jin, katanya dengan suara lembut.
"Terhadap anak buahku yang sudah hidup bersama selama puluhan tahun, masa aku harus menggunakan kata kata yang kurang sedap untuk melepaskan mereka? ini kan kesempatan terakhir buat kami untuk berkumpul sebelum perpisahan terjadi sudah sepantasnya bila ku ucapkan beberapa patah yang enak di dengar, mengapa kau mesti banyak curiga ?"
Jin Jin segera tertawa dia berpaling kearah Cukat Tan bertiga, kemudian katanya.
"Aku hanya bisa mengucapkan kata-kata yang jujur, betul, majikan kalian dengan diriku memang merupakan suami isteri, tapi dahulu pun diantara kami terikat dendam dan sakit hati, cuma sekarang dendam dan sakit hati sudah punah, dan kami hidup bersama kembali."
"Aku melarangnya untuk mencari nama dan kedudukan lagi, maka kami bertekad untuk bersama-sama mengundurkan diri, tempat itu terpencil dan tak senang menerima tamu, oleh sebab itulah kami tak dapat membawa serta kalian semua."
"Aku percaya hasil karya yang ditinggalkan majikan kalian amat banyak, cukup untuk menjamin kehidupan sandang pangan untuk kalian dihari-hari berikutnya, nah aku sudah selesai berkata dan kalianpun boleh segera meninggalkan tempat ini !"
"Apa yang dikatakan hujin merupakan pula perkataanku sekarang kalian boleh pergi !"
Sambung Mao Tin hong pula. Dengan kening berkerut Thio Yok sim segera berseru.
"Majikan, tahukah kau bahwa Sun Tiong-lo sekalian sudah sampai di kota Gak yang ?"
"Aku sudah tahu."
Tukas Jin Jin cepat.
"coba kalau bukan begitu, pagi tadi perahu kami sudah berangkat untuk berlayar kembali, justru karena menunggu dia kami menunda saat pemberangkatan kami, aku hendak menyelesaikan dendam kesumat diantara mereka lebih dulu sebelum berangkat."
"Tampakrya usaha itu tidak gampang !"
Tukas Cukat Tan. Jin Jin tertawa.
"Selama hidup aku tidak mengenal apa yang dinamakan sukar, kalianpun tidak usah merisaukan persoalan ini lagi."
Kang Tat merasa apa yang mereka ketahui sudah terlampau banyak, berdiam terus disitu pun tak ada gunanya maka segera ujarnya.
"Majikan, apakah segala sesuatunya hanya begitu?"
"Yaa, cuma begitu"
Mao Tin-bong mengangguk.
"ingat, baik-baik meneruskan hasil karyaku."
Agaknya Kang Tat memiliki kecerdasan yang luar biasa dengan cepat dia mengiakan.
"Jangan kuatir majikan hamba hendak mohon diri lebih dulu."
Selesai berkata, mereka bertiga segera memberi hormat, bangkit berdiri dan siap mengundurkan diri. Mendadak Cukat Tan bertanya lagi.
"Majikan, selanjutnya tentang peraturan mengenakan kain cadar.."
Mao Tin-hong berpikir sebentar, kemudian menjawab.
"Tak ada gunanya lagi, suruh mereka semua menampakkan diri dengan wajah aslinya."
"Tapi hamba sekalian tidak mengetahui tentang nama mereka semua..."
Kata Thio Yok sim.
"DidaIam ruang rahasia bukit pemakan manusia terdapat daftar nama mereka, asalkan diperiksa maka kau akan tahu."
Ke tiga orang itu kembali mengiakan, kemudian mengundurkan diri dari situ.
Sampan mereka masih berada disitu, maka tanpa banyak bicara mereka segera meninggalkan perahu tersebut.
Kini, mereka bertiga sudah mengetahui semua persoalan dengan jelas, maka setibanya didarat, sekali lagi mereka merundingan persoalan tersebut.
Pertama-tama Kang Tat yang berkata lebih dulu.
"Agaknya si tua bangka ini sudah mengandung maksud jahat, dia masih mempunyai rencana untuk mengerjai hujin tersebut!"
"ltulah sebabnya kita harus menggunakan kesempatan ini untuk menemukan Sun sauhiap"
Seru Thio Yok-sim. Cukat Tan menambahkan pula.
"Yaa, kita harus bertindak cepat, mari kita mencari secara terpencar besok pagi kita berjumpa lagi disini !"
Untuk sementara waktu pun mereka berpisah dan mengunjungi rumah makan, rumah penginapan pemilik perahu untuk mencari keterangan mengenai Sun Tiong-lo, termasuk Kwa Cun seng yang hendak mereka cari jejaknya...
ooO-de-Ooo Dibelakang kota Oh cian tin yang berjarak dua puluh lie dari kota Gak-yang, terdapat sebuah tebing Luan kong kang.
Malam itu, dikala Thio Yok-sim bertiga sedang mencari Sun Tiong-lo sekalian, waktu itu Sun Tiong-lo, Hou-ji, Bau ji dan nona Kim sedang berkumpul di Lung kong-kang.
Waktu itu baru kentongan ke dua, mereka datang agak lebih awal.
Datang lebih awal memang ada manfaatnya, tak ada ruginya, pertama-tama mereka mencari kuburan besar yang terdapat meja besarnya, meja besar yang sudah disapu bersih dan menunggu kedatangan mereka.
Baru saja mereka berempat mengambil tempat duduk, nona Kim segera berkata.
"Menurut pendapatku malam ini aku tak akan datang,"
"Kenapa?"
Tanya Sun Tiong lo tertawa.
"Persoalan ini merupakan suatu masalah yang tanpa bayangan, tanpa nama tanpa marga, hanya menyuruh seseorang menyampaikan sepatah kata pesanan, ternyata kita menuruti permintaan orang dan bersama sama datang kesini, seandainya peristiwa ini hanya sebuah perangkap untuk menjebak kita..."
"Jangan lagi hanya jebakan, sekalian sarang naga gua harimau, aku juga akan kemari !"
Nona Kim kembali menggelengkan kepalanya. gumamnya dengan naaa kesal .
"Aku benar benar tidak mengerti !"
Bau ji yang berada disisinya segera menukas dengan dingin.
"Benar, kau memang tidak mengerti, maka harap kau jangan mencampuri-urusan yang tidak kau pahami itu kami bukan orang tolol yang-tak punya otak, kami berani kemari tentu saja mempunyai alasan-alasan tertentu..!"
Nona Kim segera mendengus.
"Alasan apa?"
Serunya.
"aku lihat kau sudah dibikin keblinger, Baru mendengar ada kabar tentang orang she Kwa itu, kau sudah buru-buru berangkat kemari. hmmm!"
Bau ji turut mendengus.
"Hmm, tahukah kau betapa pentingnya orang she Kwa tersebut untuk kami berdua?"
"Benarkah terdapat manusia seperti ini, sampai sekarang pun merupakan tanda tanya..."
Belum habis sinona menyelesaikan perkataannya, Sun Tiong lo sudah mencegah sambil berseru.
"Adik Kim, jangan berbicara lagi, ada orang yang datang!"
Mendengar ucapan tersebut, semua orang menjadi tenang kembali, betul juga, dari kejauhan sana segera terdengar suara langkah yang kedengarannya sangat aneh.
Hou ji memandang sekejap kearah Sun Tiong lo, kemudian bisiknya.
"Bukankah dia sengaja berbuat begitu ? Kalau tidak, mengepa untuk berjalan pun harus mengeluarkan suara yang begitu keras ?"
"Jite, apakah kita harus duduk menanti?"
Bau ji bertanya pula dengan kening berkerut. Sun Tiong lo manggut-manggut.
"Benar, kita duduk menantikan kedatangannya."
"Aku lihat lebih baik kalian berdua bersembunyi dulu"
Usul nona Kim cepat.
"andaikata kejadian ini merupakan perangkap..."
Sebelum nona Kim menyelesaikan perkataannya, Sun Tiong-lo telah menggelengkan kepalanya sambil menukas.
"Tidak mungkin yang datang bukan sahabat dunia persilatan, agaknya dia kurang leluasa dalam berjalan memerlukan bantuan tongkat dan menyeret langkahnya yang berat, itulah sebabnya kita mendengar suara semacam itu!"
Semua orang merasa kurang percaya sesudah mendengar perkataan itu, tapi kebetulan sekali orang itu sudah muncul dihadapan mereka.
Dibawah sinar rembulan, seperti apa yang dikatakan Sun Tiong-lo tadi, kakek itu memang harus berjalan dengan bantuan tongkat.
Sun Tiong lo segera bangkit berdiri untuk menyambut kedatangannya sementara yang lain pun ikut bangkit berdiri.
Tak lama kemudian, kakek bertongkat itu sudah menghampiri mereka semua, setelah memandang sekejap wajah orang-orang itu, dia berkata.
"Lohu kurang leluasa dalam bergerak, bagaimana kalau kita duduk dulu sebelum berbincang-bincang?"
Sun Tiong-lo segera menjura.
"Yaa, memang sudah sepantasnya demikian, silahkan kau orang tua untuk duduk."
Kakek bertongkat itu tidak sungkan-sungkan lagi, sesudah tertawa dia lantas duduk di meja sebelah kiri. Kemudian sambil menuding meja di sebelah kanan kepada Sun Tiong-lo, sambungnya.
"Sauhiap, silahkan duduk pula, dengan begitu kita baru bisa berbincang lebih enak."
Sun Tiong-lo mengiakan sambil tertawa, kemudian duduk disebelah kanan, setelah itu baru tegurnya.
"Lotiang, nampaknya kau seperti kenal dengan diriku ?"
Kakek itu tertawa getir.
"Bukan cuma terhadap sauhiap saja, beberapa orang inipun kukenal semua."
Menyusul kemudian, dia lantas menuding ke arah Bau ji, Hoa ji daa nona Kim sembari menyebutkan nama mereka satu persatu.
Diam-diam Sun Tiong lo terkejut sekali, namun perasaan mana tak sempat diperlihatkan diatas wajahnya.
"Lotiang memang tidak salah menyebut"
Katanya kemudian.
"hal ini benar-benar membuat aku merasa keheranan sekali"
Si Kakek itu segera tertawa.
"Tiada yang perlu diherankan, yang penting sekarang adalah membicarakan masalah pokoknya!"
Bsu ji paling gelisah diantara sekian orang yang hadir buru-buru serunya.
"Benar, tolong tanya lotiang, darimana kau bisa tahu kalau kami sedang mencari seseorang dari marga Kwa?"
Kakek bertongkat itu memandang sekejap ke arah Bau ji kemudian balik bertanya.
"Apakah lohu sudah salah menduga?"
Cepat Bau ji menggelengkan kepalanya.
"ltu mah tidak, cuma..."
"Asal persoalannya tidak salah, hal ini sudah lebih dari cukup"
Tukas si kakek bertongkat itu cepat.
"tentang bagaimana ceritanya sehingga lohu bisa mengetahui kalau saudara sekalian hendak mencari orang ini, kalau dibicarakan yang sebenarnya, mungkin kalian akan tertawa dan kalian akan mengerti sendiri setelah pembicaraan dilangsungkan nanti."
Sun Tiong lo tertawa, selanya tiba tiba.
"Lotiang, bersediakah kau untuk memberitahukan siapa nama lotiang yang sesungguhnya !"
Kakek itu menggeleng dengan cepat.
"Maaf kalau aku mempunyai kesulitan hingga tak bisa menyebutkan nama asliku !"
Nona Kim mendengar ucapan tersebut segera mendengus.
"Hmmm! Kau bersikap sok rahasia, sengaja menyembunyikan nama dan indentitas yang sebenarnya, siapa tahu kalau kau mempunyai sesuatu maksud dan tujuan tertentu?"
Kakek bertongkat itu tidak menjawab pertanyaan mana lebih dahulu, dia mengulurkan tangan kirinya kedepan dan berkata kepada Sun Tiong lo.
"Silahkan Sun sauhiap untuk memeriksa dahulu denyutan nadi lohu..."
Tentu saja Sun Tiong-lo mengetahui maksud dan tujuan lawannya, sambil tertawa dia lantas menampik.
"Aku mempercayai diri lotiang, soal memeriksa denyutan nadi mah tidak usah."
"Tidak bisa jadi."
Seru kakek bertongkat itu dengan wajah serius.
"bagaimana pun jua, kau harus memeriksanya !"
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Sun Tiong-lo menempelkan ketiga jari tangannya diatas urat nadi pada pergelangan tangan kakek itu, setelah diperiksa, ia baru merasa amat terkejut.
Dengan mata terbelalak besar dan wajah tertegun, ia segera berseru lantang.
"Lotiang, apakah kau telah berjumpa dengan musuh tangguh? Kalau tidak, mengapa tenaga dalammu dipunahkan orang ? Bahkan cara pemunahan tersebut bukan pemunahan biasa, sebenarnya.."
Kakek bertongkat itu segera tertawa getir, tukasnya.
"Masalah lohu pribadi tiada sangkut pautnya dengan masalah kita, sekarang, Sun sauhiap telah memeriksa nadiku dan tentunya kau tahu bukan dengan tubuh begini lemah dan hampir mampus, lohu sudah tidak berkemampuan lagi untuk mencelakai sauhiap sekalian ?"
Merah padam selembar Sun Tiong-lo karena jengah.
"Sebenarnya aku sendiri memang tiada bermaksud untuk berbuat demikian."
Katanya.
"Oh, kalau memang begitu, hal ini lebih bagus lagi, bolehkah aku membicarakan persoalannya secara langsung ?"
Kata kakek itu. Dengan sikap hormat dan sungkan Sun Tiong lo menjawab.
"Aku memang sedang siap mendengarkan perkataanmu itu !"
Hou-ji memandang sekejap ke arah kakek itu, kemudian menyela.
"Tunggu sebentar, bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan kepada Lo-tiang ?"
Katanya. Kakek itu segera manggut-manggut setuju.
"Tentu saja boleh, katakan saja Hou-hiap."
Houji mengerdipkan matanya berulangkali kemudian berkata.
"Lotiang mengundang kami sekalian datang kemari untuk membicarakan masalah mengenai orang she Kwa tersebut, bukannya aku curiga, namun sesungguhnya terdapat beberapa persoalan yang membuatku tidak habis mengerti, maka terpaksa soal tersebut harus kutanyakan lebih dulu. Pertama, darimana Lotiang bisa tahu kalau kami berada disini, dan sekali mencarinya sudah ketemu ? Kedua, untuk memberitahukan dimanakah she Kwa itu berada, apakah lotiang mempunyai suatu syarat ?"
"Ketiga, darimana lotiang bisa tahu kalau kami sedang mencari jejak dari orang she Kwa tersebut..."
Katanya terputus. Belum selesai perkataan itu diucapkan kakek bertongkat itu menukas dengan cepat.
"Semenjak sauhiap sekalian memasuki kota Gak yang, jejak kalian tidak pernah lolos dari mata-mata lohu. oleh karena itu untuk mencari jejak kalian, sepertinya bukan soal yang pelik buat lohu !"
"Soal memberitahukan jejak orang she Kwa tersebut, benar, lohu menang mempunyai syarat tersebut ringan dan lohu percaya kalian pasti bisa menyetujuinya dengan segera."
"Sedangkan mengenai pertanyaan yang ketiga hal ini lebih gampang lagi. Dimasa lalu orang she Kwa itu merupakan otak pembantu dari suatu pembunuhan, sedangkan kalian bermaksud untuk membalas dendam, bagaimana mungkin kalian tidak akan mencari jejaknya ?"
Bau ji segera kerkerut kening ucapanmu ini memang masuk di akal, tapi yang membuat orang tidak habis mengerti adalah darimana lotiang bisa mengenali kami semua bahkan mengetahui dengan begitu jelas tentang masalah yang sedang kami hadapi?"
Agaknya kakek bertongkat itu sudah merasa tak sabar lagi, dia segera menyela.
"Apakah masalah seperti itu tak bisa dibicarakan dibelakangan nanti saja ?"
"BetuI !"
Dukung Sun Tiong-lo dengan cepat.
"harap lotiang membicarakan dulu masalah menyangkut tentang orang she Kwa tersebut !"
Kakek bertongkat itu manggut-manggut, sesudah menarik napas panjang, dia berkata.
"Orang itu bernama Kwa Cun-seng, dia adalah kakak misan dari Mao Tin hong, anak bibi, tenaga dalam yang dimilikinya sama sekali tidak berada dibawah Mao Tin hong, terutama akal dan kecerdasannya, boleh dibilang tipu muslihat banyak sekali."
"Sayang sekali, meskipun dia pintar namun justru keblinger oleh kecerdasannya itu sehingga terjebak oleh siasat licik Mao Tin hong, tanpa disadari dia telah melakukan suatu perbuatan yang memalukan sekali, akibatnya dia terdesak untuk bergabung dengan Mao Tin hong dan menjadi komplotannya." -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***
Jilid 37
"SUATU waktu, ketika Mao Tin-hong sedang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, dia telah berkenalan dengan seorang iblis wanita dan kawin, sesungguhnya tidak pantas bila dia bermaksud untuk mengincar kitab pusaka dan kecantikan perempuan itu, sehingga akibatnya tindakan mana menimbulkan amarah iblis tersebut dan menghisap sari hawa lelakinya dengan maksud hendak membinasakannya.
"Dasar nasibnya masih mujur, disaat yang kritis dia tahu bahaya dan segera mempertahankan sedikit hawa murninya dan kabur dari cengkeraman iblis wanita itu..."
Bau ji yang mendengar cerita mana tidak bersangkutan dengan masalah apa yang sedang dihadapinya, dentan perasaan tidak sabar dia segera menukas.
"Lotiang, silahkan kau membicarakan dulu hal-hal yang terpenting, masalah yang tetek bengek tak usah dibicarakan lagi."
Dengan cepat kakek bertongkat iiu menggelengkan kepalanya berulang kali, tukasnya.
"Semuanya itu melupakan soal yang penting sobat Bau-ji, apakah kau tidak ingin tahu, apa sebabnya ibumu dan nenek mu sampai mati terbunuh ?"
Paras muka Eau ji segera berubah hebat setelah mendengar perkataan ini, serunya.
"Apakah kejadiannya ada sangkut pautnya dengan kejadian di atas ?"
Kakek bertongkat itu segera tertawa-tawa.
"Tentu saja, tentu ada sangkut pautnya, bahkan besar sekali sangkut pautnya !"
Katanya.
"Ooh. baik, baik, kalau begitu lanjutkan kembali kisah ceritamu tadi !"
Kakek bertongkat itu manggut-manggut, katanya kemudian.
"Ketika dalam perjalanan pulang ke daratan Tionggoan Mao Tinhong telah berkenalan dengan seorang jago pedang muda yang sedang termashur namanya pada waktu itu, jago muda itu bernama Sun Pak gi, karena hubungannya yang akrab akhirnya mereka berdua mengikat diri menjadi saudara angkat !"
Mendengar perkataan itu, Sun Tiong-lo manggut-manggut, Hou ji berkerut kening sedangkan Bau ji segera menghimpun semangatnya untuk mendengarkan dengan lebih seksama.
Kakek bertongkat itu segera bercerita lebih jauh, bercerita untuk mengungkap kembali kejadian lama...
Kisah cerita tenrang keluarga Sun yang mempunyai hubungan dengan Mao Tin-hong itu di kisahkan oleh kakek bertongkat itu dengan teliti dan cermat, membuat semua orang terpukau rasanya dan mendengarkan dengan lebih bersemangat lagi.
Perasaan Sun Tiong lo waktu itu amat berat, setelah memandang sekejap ke arah kakek bertongkat itu, katanya.
"Lotiang, sebenarnya masalah apakah yang membuat Mao Tin-hong bermusuhan dengan mendiang ayahku ?"
Kakek itu tertawa getir.
"Harap sauhiap jangan terlalu terburu napsu-berilah kesempatan bagi lohu untuk berkisah secara pelan-pelan hingga segala sesuatunya menjadi jelas!"
Persoalan itu memang tak bisa dipaksakan untuk diungkap secara cepat, oleh sebab itu semua orang pun terpaksa hanya manggutmanggutkan kepalanya tanda setuju.
Untuk sesaat suasana menjadi hening...
ooO-de-Ooo SESAAT KEMUDIAN, setelah kakek bertongkat itu menarik napas panjang, dia baru berkata lagi.
"Semenjak berkenalan dengan Sun Pak-gi, sikap dari Mao Tinhong berobah agak gagah, lagaknya sok enghiong dan sok hohan, boleh dibilang sikap Sun Pak-gi kepadanya amat tulus, sebaliknya Mao Tin-hong juga tidak menaruh sesuatu pikiran terhadapnya.
"Oleh sebab itu mereka berdua pun melakukan pengembaraan bersama dalam dunia persilatan, hanya didalam satu dua tahun saja, mereka berdua sudah berubah menjadi menjadi seorang pendekar muda yang dihormati dan di segani dalam dunia persilatan.
"Suatu tahun, Sun Pak-gi pulang sendiri ke desa kelahirannya untuk berziarah dikuburan leluhurnya, sedang Mao Tin-hong juga merasa cukup umur, maka dia pulang ke dusunnya dan membangun sebuah perkampungan disana yang pada akhirnya menjadi perkampungan Ang-liu ceng yang amat termasyur itu."
"Perpisahan mereka berdua berlangsung dua tahun lamanya, sementara Sun Pak-gi telah berkenalan pula dengan lima saudara "Ngo kian"
Dan didalam suatu peristiwa, secara kebetulan pula bertemu dengan Wan Lihiap."
Rupanya mereka berdua saling jatuh cinta dalam pandangan yang pertama, sejak itulah mereka berkelana bersama dalam dunia persilatan diiringi Ngo kian.
"Suatu ketika, dia mengundang Mao Tin hong untuk bertemu di rumah makan Ping oa ciu lo ditepi telaga Say cu oh,,."
Berbicara sampai disini, kakek bertongkat itu berhenti berbicara dan memandang sekejap kearah Sun Tiong lo dan bau ji sambil menghela napas panjang, sikapnya itu membuat orang merasakan betapa seriusnya masalah itu.
Betul juga, setelah menghela napas panjang kakek bertongkat itu berkata lebih jauh.
"Sun sauhiap, pertemuan yang diselenggarakan ditepi telaga Say cu oh tersebut merupakan sumber dari permusuhan tersebut!"
Sun Tiong lo tidak menjawab, alis matanya saja yang segera berkenyit kencang. Melihat Sun Tiong lo tidak bicara terpaksa kakek bertongkat itu melanjutkan katanya.
"Dalam pertemuan dirumah makan Ping oh-ciu lo tersebut yang hadir boleh dibilang sahabat lama semua, rupanya Mao Ting hong dan Wan lihiap pun sudah pernah saling berkenalan dalam dunia persilatan pada dua tahun berselang, rupanya secara diam-diam Mao Tin hong pun menaruh hati terhadap pendekar wanita tersebut.
"Setelah diperkenalkan oleh Sun Pak-gi, suasana bertambah akrab dan rumah makan itu penuh dengan gelak tertawa yang amat ramai.
"Selama perjamuan berselang, baik Mao Tin hong maupun Sun Pak gi sama-sama berusaha merebut hati Wan lihiap, mungkin yang terlibat tidak menyadari akan hal ini, lain halnya dengan Ngo-kian yang ikut menyaksikan dari samping.
"Sebagai orang yang berpengalaman entah mengapa Ngo kian telah merasakan betapa licik dan banyak tipu muslihatnya Mao Tin hong tersebut bahkan mengetahui pula akan perasaan hati Sun Pak gi terhadap Wan lihiap, maka secara diam-diam mereka lantas berunding dan mengambil suatu keputusan.
"Keesokan harinya, Ngo kian segera tampil kedepan dan berkunjung ke rumah orang tua Wan lihiap serta mewakili Pak-gi untuk melamar gadis tersebut, ternyata segalanya berjalan lancar, hari perkawinanpun segera ditetap kan !"
"Mendengar sampai disitu, Sun Tiong lo segera dapat meraba garis besar dari jalannya peristiwa tersebut, dia segera menghembuskan napas panjang. Ketika Bau-ji menyaksikan kakek itu berhenti bercerita, dengan kening berkerut dia segera menegur.
"Ayolah lanjutkan ceritamu!"
Katanya. Kakek bertongkat itu menggeserkan tongkatnya lebih dulu, lalu baru berkata lebih jauh.
"Tatkala lima saudara Ngo-kian minta ijin untuk meninggalkan rumah makan Ping-ou ciu lo tersebut dan meminta kepada Sun Pak-gi. Mao Tin-hong serta Wan Lihiap untuk menunggu dua hari disitu, Mao Tin hong sudah menaruh curiga.
"Maka ketika malam ke tiga disaat Ngo-kian bersaudara kembali ke rumah makan itu dan memberitahukan keadaan yang sebenarnya kepada Wan lihiap dan Sun Pak gi, karena malunya Wan lihiap segera mohon diri lebih dulu untuk pulang kerumah.
"Mao Tin hong mendengar pula berita tersebut menjadi cemburu bercampur sedih, meskipun dia sempat menyampaikan ucapan selamat kepada Sun Pak gi, nanum hatinya ketika itu sudah membencinya setengah mati.
"Maka sewaktu hari yang ditentukan hampir tiba dan Sun pak gi mengundang Mao Tin hong untuk mendampinginya, permintaan tersebut di tolak rnentah-mentah oleh Mao Tin hong, bahkan dengan alasan masih ada janji lain, dia pergi meninggalkan tempat itu."
Tiba tiba Hou ji menukas.
"Peristiwa itu lebih pantas dikatakan sebagai takdir dan jodoh, mengapa Mao Tin hong malah menaruh benci dan dendam terhadap sahabat karibnya sendiri?"
"Kita tidak bisa membicarakan masalah ini menurut ukuran yang sewajarnya, terutama terhadap manusia yang berjiwa sempit dan berpikiran picik seperti Mao Tin hong itu, kalau bukan begitu, diapun tak akan melakukan tindakan berikutnya yang brutal dan sama sekali diluar dugaan itu"
"Anggap saja Mao Tin hong memang menaruh rasa dendam terhadap toa nio dan mendiang ayahku."
Sela Bau ji dingin.
"tapi dengan ibu dan nenekku..."
Cepai kakek itu menukas kembali.
"Kau tak usah terburu napsu, satu persatu semuanya akan kuceritakan sampai jelas.
"Ketika Mao Tin hong merasa ia sudah tak berdaya lagi untuk menolong keadaan dan merebut hati Wan lihiap, hatinya baru merasa sakit dan pukulan batin yang dialaminya itulah memaksa dia untuk menampik undangan dari Sun Pak gi.
"Namun kemudian, semakin dipikir dia merasa semakin benci, hingga rasa dendamnya terhadap Sun Pak gi boleh dibilang sudah merasuk ke tulang sumsum, terutama sekali terhadap lima bersaudara Ngo kian yang dianggap sebagai biang keladinya, rasa bencinya boleh dibilang sukar dilukiskan dengan kata kata, yang lebih aneh lagi, terhadap Wan Lihiap pribadi pun ia turut mendendam.
"Sudah cukup lama dia memikirkan masalah tersebut dengan seksama, bahkan pernah pula membicarakan soal itu dengan sahabat karib nya, dia merasa bila dibandingkan dengan Sun Pak-gi, maka seharusnya dia hanya lebih tangguh dan tak mungkin lebih lemah..."
"Apa yang dimaksudkan sebagai. Lebih tangguh dan tak mungkin lebih lemah itu?"
Tukas Hou-ji. Kakek bertongkat itu segara tertawa terkekeh-kakeh.
"Yang dia maksudkan adalah baik paras muka kedudukan, harta kekayaan maupun nama besar mereki berdua, Yaa, berbicara soal hal tersebut, terus terangnya saja waktu itu Mao Tin hong memang lebih mengungguli Sun Pak gi !"
Walaupun Sun Tiong lo sekalian dilahirkan lebih muda dan tidak menyaksikan sendiri kesemuanya itu, namun mereka sudah banyak mendengar dari cerita orang persilatan seperti apa yang dikatakan kakek bertongkat tersebut, dulu Mio Tin hong memang jauh mengungguli Sun Pak gi dalam bidang apa saja.
Sementara itu, si kakek sudah memandang sekejap kearah Hou ji, kemudian berkata lebih jauh.
"Tentu saja berbicara soal tenaga dalam, ilmu silat dan watak, Mao Tin hong masih kalah bila dibandingkan dengan Sun Pak gi, oleh sebab itu kalau dibilang Win lihiap penuju pada Sun Pak gi, hal ini memang merupakan hasil dari kejelian mata pendekar wanita itu!"
Oleh karena orang lain sedang menyanjung orang tuanya, tentu saja Sun Tiong lo tidak dapat berbicara apa apa lagi, dia hanya tertawa belaka. Sesudah tersenyum kakek itu melanjutkan.
"Sementara itu, Mao Tin hong masih memutar otak untuk mencari jalan yang terbaik untuk melenyapkan musuhnya, tapi hingga saat perkawinan Sun Pak gi dan Wan lihiap dilangsungkan, ia masih belum berhasil menemukan suatu cara pun.
"Maka diapun menggunakan suatu alasan untuk tidak menghadiri pesta perkawinan tersebut, sebaliknya menyembunyikan diri sambil mengatur bagaimana untuk menjalankan siasat satu batu mendapat dua ekor burung dan menghindari kecurigaan orang terhadap dirinya.
"Akhirnya dia berkenalan dengan Yan li-hiap, Yan Wan hong dari bukit Siau-han san, dari tubuh Yan lihiap inilah dia memperoleh suatu rencana yang amat bagus untuk melakukan pembalasan dendam.
"Maka dengan suatu alasan, dia mengundang adik angkatnya Sun Pak gi untuk berkunjung ke perkampungannya untuk merayakan hari ulang tahunnya, waktu itu Yan lihiap juga hadir, masih ada lagi komplotan orang kepercayaannya.
"Dalam perjamuan mana diam-diam ia mencampuri arak Yan lihiap dan Sun Pak gi dengan obat perangsang, kemudian mengantar mereka dalam satu kamar yang berakibat Yan lihiap kehilangan kehormatannya dan mengandung..."
Bau ji mendengar sampai disitu, mendadak dia menjadi teringat kembali dengan perdebatan yang sedang dilangsungkan antara ayah dan ibunya dalam ruangan, dimana dia dan Sun Tiong-lo turut mendengarkan dari luar jendela.
Waktu itu ibunya menuntut kepada ayahnya, tapi ayahnya selalu menyangkal telah berbuat sesuatu atas dirinya.
Berpikir sampai disana, tanpa terasa Bau-jl segera memperlihatkan rasa sangsi.
Menyaksikan hal mana, sambil tertawa kakek itu segera berkata agak pelan-pelan.
"Keadaan pada waktu itu masih terselip sebuah rahasia besar, seperti diketahui Yan lihiap kehilangan kehormatannya dalam keadaan tak sadar, demikian pula dengan keadaan dari Sun Pak gi, Ketika selesai melakukan perbuatan tersebut dan mereka berdua tertidur, secara diam-diam Mao Tin hong telah menggotong Sun Pak-gi untuk dipindahkan ke kamar lain, sedangkan ia sendiri justru menyaru Sun Pak gi untuk tidur bersama Yan lihiap."
Dengan cepat Hou ji dapat menangkap kejanggalan dari cerita itu, dengan cepat dia menyela.
"Mengapa dia harus membuang banyak waktu dengan berbuat demikian...?"
Sedangkan Bau ji juga segera bertanya.
"Aku dan jite pernah mendengarkan perdebatan antara ayah dan ibu ku dimasa lalu, waktu itu ayanku bersikeras mengatakan kalau tidak menginap dalam kamar ibuku, apa pula yang sesungguhnya telah terjadi..?"
Kakek itu menghela napas panjang.
"Aaaai, disinilah terletak kekejaman Mao Tin-hong, malam itu Yan lihiap yang pertama-tama tidak kuat minum arak sehingga sebelum kehilangan kesadarannya telah dihantar kembali ke kamarnya.
"Menyusul kemudian Sun Pak-gi juga di hantar ke sana, waktu itu Sun Pak gi sudah rada terpengaruh namun masih sanggup menahan diri, orang yang menghantarnya sengaja membukakan pintu kamar Yan lihiap dan menyuruhnya masuk.
"Waktu itu Yan lihiap memang belum terpengaruh oleh obat perangsang, maka dia lantas menegur ada urusan apa memasuki kamarnya. Sun Pak-gl yang masih sanggup mempertahan diri tahu kalau salah masuk, dia segera minta maaf kepada Yan lihiap dan segera mengundurkan diri dari sana.
"Tapi belum lama sesudah keluar dari kamar, dia roboh tak sadar, sedangkan Yan lihiap juga tak sadar pula terpengaruh obat perangsang, akhirnya secara diam-diam mereka disatukan kembali didalam kamar dan terjadi lah peristiwa itu !"
Sun Tiong-lo dan Bau-ji saling bertukar pandangan sekejap kemudian manggut-manggut.
Sekarang mereka berdua sudah mengetahui garis besar dari peristiwa itu, bahkan dari apa yang diketahui itu, mereka pun semakin memahami lagi watak yang sesungguhnya dari Mao Tin hong.
Dari sini, bisa disimpulkan kalau Mao Tm hong adalah seorang manusia yang licik, teliti dan banyak tipu muslihatnya.
Nona Kim yang selama ini membungkam terus, hingga kini masih belum percaya kalau dia bukanlah mereka itu putri Mao Tin-hong, oleh sebab itu terhadap ucapan dari kakek ber tongkat inipun merasa sangsi dan tidak mempercayainya.
Sekarang dia seperti berhasil menangkap suatu titik kelemahan, dengan dingin segera tegurnya.
"Waaah, tampaknya kau mengetahui jelas sekali akan persoalan yang menyangkut keluarga Sun dan keluarga Mao !"
Kakek itu memandang sekejap kearah nona Kim, lalu menjawab.
"Benar, dalam kolong langit dewasa ini, selain Mao Tin hong pribadi, siapapun tak bisa mengetahui persoalan yang begini banyak melebihi apa yang lohu ketahui, apakah nona tidak percaya ?"
Nona Kim mendengus dingin.
"Hmm, betul aku memang tidak percaya !"
Kakek bertongkat itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahh... haaahh... haaahhh... terserah bagaimana pendapat nona ! Namun bila aku sudah selesai mengutarakan semua persoalan yang kuketahui nanti, aku percaya pikiran nona nanti alan sama sekali berubah dengan pandanganmu sekarang!"
"Aaah belum tentu begitu!"
Sahut nona Kim sambil melotot gusar kearahnya. Kakek bertongkat itu tidak memberi tanggapan lebih jauh, sambil tertawa dia lantas berpaling kearah Sun Tioog lo sambil melanjutkan keterangannya.
"Sun Pak gi yang dijumpai Yan lihiap setelah sadar tak lain adalah hasil penyaruan diri Mao Tin hong, kebetulan sekali tak lama sesudah peristiwa tersebat, Sun Pak gi juga mengajak istrinya mengundurkan diri dari dunia persilatan.
"Yang dimaksudkan sebagai mengundurkan diri hanyalah tidak melakukan perjalanan lagi dalam dunia persilatan sampai akhirnya gedung mereka telah selesai dibangun, suami istri berdua itu baru mengambil keputusan untuk mengundurkan diri benar-benar dari keramaian dunia. rencananya niat tersebut akan diumumkan dihadapan para tamu yang menyampaikan selamat.
"Siapa tahu, pada saat itulah mereka mendapatkan pemberitahuan dari Lok hun pay, sebetulnya suami isteri berdua tak berniat untuk meminta bantuan dari sahabat karibnya, apa mau dikata pada saat itulah Ngo kian telah datang kesana..."
"Bukankah kejadian ini sangat kebetulan?"
Sela nona Kim dengan cepat.
"Benar, sekilas pandangan, kedatangan dari lima bersaudara Ngo kian seperti suatu kebetulan saja, pada hal bukan demikian sesungguhnya, mereka bisa muncul disitu karena diundang orang?"
"Siapa yang mengundang mereka?"
Tanya Hou ji.
"Mao Tin hong yaitu silencana Lok hun pay!"
Nona Kimbali mendengus dingin.
"Hmm, darimana kau bisa tahu kalau dia yang mengundang kehadiran mereka?"
"Mao Tiu hong sudah bertekad hendak membunuh Ngo kian untuk melampiaskan rasa bencinya, itulah sebabnya dia memberitahukan kepada ke lima orang bersaudara itu bahwa Sun Pak gi sedang mengalami ancaman bahaya maut, sehingga dengan demikian mereka ber lima akan berkumpul menjadi satu."
"Sesungguhnya dendam sakit hati apakah yang terjalin antara Mao Tin hong dengan Ngo-kian?"
Tanya Hou ji pula dengan kening berkerut.
"Dulu, andaikata Ngo-kian tidak bertindak sebagai Mak comblang dan meminangkan Wan lihiap untuk Sun Pak gi, bagaimana mungkin Wan lihiap bisa menjadi istri Sun Pak gi ? Oleh sebab itu, di dalam anngapan Mao Tin hong, lima bersaudara Ngo kian merupakan biang keladi dari semua peristiwa tersebut."
Tanpa terasa Sun Tiong-lo manggut-manggut.
"Oooh, rupanya begitu, kasihan benar ke lima orang paman angkatku itu..."
Kini, sorot mata kakek tersebut baru dialihkan kembali ke wajah Bau ji, kemudian melanjutkan.
"Malam itu, didahului dengan pengiriman kode rahasia oleh Kwa Cun seng yang sudah menyelundup ke dalam gedung keluarga Sun, mula2 Mao Tin-hong menuju keruang belakang dulu untuk membunuh Wan lihiap, kemudian ia muncul kembali dengan dandanan sebagai pelayan gedung keluarga Sun yang meneriakkan kalau Cubo sudah mati terbunuh."
"Disaat Sun Pak gi sedang tertegun karena mendengar berita kematian itu, diapun menggunakan ilmu Ciat lik sinkang untuk mendorong tangan Yan hliiap hingga pedangnya menusuk ke perut Sun Pak gi.
"Berhasil dengan usahanya itu, menggunakan kesempatan dikala Yan lihiap sedang terperanjat diapun menggunakan alasan membantu Yan Sian poo dan manfaatkan kesempatan itu untuk membinasakan lima bersaudara Ngo kian, disusul kemudian dengan melakukan pencarian terhadap sauhiap dengan tujuan membabat rumput sampai ke akar-akarnya.
"Tapi Thian memang maha kuasa, dikala ia sedang menghabisi nyawa lima bersaudara Ngo kian itulah, sauhiap telah ditolong oleh paman angkatmu hingga lolos dari ancaman bahaya maut, hal inipun membuat Mao Tin hong menanamkan bibit bencana baginya untuk di kemudian hari. Gagal didalam usahanya menemukan sauhiap ia lantas teringat kembali kalau putra Yan li hiap pun merupakan darah daging keluarga Sun, tentu saja dia tak akan melepaskannya dengan begitu saja, akhirnya terjadilah pembantaiannya atas Yan Sian-poo dan Yan lihiap.
"Tujuannya untuk membunuh Yan poo berdua sesungguhnya palsu, yang sebenarnya adalah dia hendak membunuh anak yatim yang mengenaskan itu, siapa tahu semuanya sudah ditakdirkan oleh Yang Kuasa, justru si bocah itu berhasil meloloskan diri dari cengkeraman mautnya !"
Berbicara sampai disitu, kakek tersebut terengah-engah dengan wajah pucat, nampaknya dia merasa lelah sekali. Lama kemudian, dia baru menggelengkan kepalanya dan berkata lagi dengan sedih.
"Persoalan tentang hubungan keluarga Mao dan keluarga Sun sudah banyak yang kucerita kan, lohu yakin kau pun sudah mengetahui cukup jelas, nah. apa bila sauhiap ada pertanyaan, silahkan diajukan kepadaku.."
Bau jl segera berpaling ke arah Sun Tiong-lo sambil bertanya.
"Jite, apakah kau hendak menanyakan sesuatu ?"
"Siaute sudah tiada masalah yang perlu ditanyakan lagi"
Jawab Sun Tiong lo dengan hormat. Bau ji manggut-manggut kepada kakek itu segera ujarnya.
"Orang tua, aku masih ingin meminta keteranganmu tentang satu hal..."
"Katakan, asal lohu tahu, pasti akan kuterangkan"
Dengan wajah serius Bau ji berkata.
"Kalau bicara soal perasaan, apa yang dikatakan kau orang tua barusan, kendatipun ditinjau dari sudut yang manapun dapat dibuktikan kalau semua itu merupakan kenyataan dan tak dapat diragukan lagi kebenarannya. Tapi, diantara sekian banyak persoalan yang kau ungkapkan, banyak diantaranya yang seharusnya merupakan suatu rahasia pribadi. kecuali Mao si bajingan tua itu, sulit bagi orang lain untuk mengetahuinya, tapi kenyataannya kau orang tua bisa mengetahui dengaa jelas sekali."
Kakek itu segera menukas.
"Lohu cukup memahami maksud hati dari sauhiap, tentang ini maaf bila lohu sengaja merahasiakannya, namun sauhiap tak usah kuatir tak lama lagi lohu pasti akan memberi penjelasan tentang persoalan ini."
Bauji tidak berkata apa apa lagi, katanya kemudian sambil tertawa.
"Baik, kalau begitu aku akan mendengarkan."
Kakek itu tertawa sorot matanya segera dialihkan kewajah nona Kim, lalu katanya.
"Seharusnya nonapun mempunyai banyak persoalan yang mencurigakan hatimu bukan ?"
"Kau memang pintar, benar, aku memang banyak persoalan yang membingungkan, tapi aku tak ingin bersia-sia untuk mengutarakan nya keluar, akupun tak ingin bertanya lagi."
"Oooh, apa sebabnya nona menganggap ucapan mana hanya sia-sia saja?"
Sudah tahu namun rupanya kakek itu sengaja bertanya lagi. Nona Kim tertawa dingin.
"Selama ini, kau selalu menolak untuk mengungkapkan nama serta asal usulmu yang sebenarnya kau selalu sok rahasia dan berdalih akan menerangkan hal ini belakangan nanti, hmmm ! Terhadap seseorang yang tak berani mengungkapkan nama serta asal usul yang sebenarnya, buat apa aku mesti banyak bertanya lagi ?"
Tampaknya kakek itu seperti ada maksud untuk menggoda nona Kim, katanya kemudian.
"Maksud nona berhubung selama ini lohu selalu merahasiakan namaku. maka kau menganggap lohu tak dapat dipercaya, maka kau pun tak usah banyak berbicara lagi ?"
Nona Kim manggut manggut "Benar, memang begitu maksudku !"
Kakek itu segera tertawa.
"Sekarang untuk kesekian kalinya aku hendak menandaskan kepada nona, nama dan asal usul lohu pasti akan kuungkapkan bila pembicaraan disini telah selesai, aku tidak akan berusaha untuk merahasiakannya."
"Cuma, sebelum lohu menyinggung soal nama dan asal usul lohu itu, terlebih dahulu lohu minta maaf kepada nona dan ingin mengajukan suatu pertanyaan kepadamu !"
"Kau boleh mengajukan pertanyaan, mau menjawab atau tidak adalah urusanku sendiri."
"Ooooh, lohu saja"
Kata si kakek sambil tertawa,"
Lohu sudah tentu tak akan memaksa !"
Kemudian setelah berhenti sejenak, tanyanya lagi.
"Nona, hingga sekarang tentunya kau masih belum mengetahui riwayat hidupmu yang sebenarnya bukan ?"
"Tentang persoalan ini, lebih baik kau tak usah membuang banyak pikiran untuk mengurusi diriku !"
Bentak nona Kim dengan mata melotot penuh kemarahan.
"Nona"
Kata sikakek lagi dengan wajah bersungguh-sungguh.
"bila lohu tidak menunjukkan sikap baik dengan mengungkapkan asal usul nona, mungkin nona akan menyesal sepanjang masa dan selalu bersedih hati.."
Dengan gusar Nona Kim kembali membentak.
"Lebih baik kau jangan mengaco belo lagi dihadapanku!"
Kakek itu menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang, ke mudian berkata.
"BiIa nona tidak memberi kesempatan kepada lohu untuk membicarakan persoalan ini, terpaksa lohupun tidak akan membicarakannya tapi ada satu persoalan lain yang mau tak mau harus lohu terangkan lebih dahulu..!"
"Apakah persoalan itupun menyangkut tentang persoaIanku...?"
Seru nona Kim dengan kening berkerut. Kakek itu berpikir sebentar, kemudian baru menyahut.
"Bukan hanya menyangkut soal nona saja!"
"Kalau masih ada sangkut pautnya dengan orang lain, mau bicara atau tidak terserah pada dirimu sendiri"
Kata nona Kim kemudian dengan suara dingin. Kakek itu menyapu sekejap wajah nona Kim kemudian ujarnya.
Baca Juga: Perawan Lembah Wilis 8
Baca Juga: Perawan Lembah Wilis 11