Eps 8 Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo
Baca online Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo
Cersil Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo.
"Andika membiarkan dua di antara mereka tertawan hidup-hidup dan diperiksa di depan gusti sinuwun. Hatiku hampir berhenti berdetik ketika mereka dlperiksa, apalagi ketika mereka digertak oleh Brotomenggala. Bagaimana andaikata mereka itu ketakutan dan mengaku terus terang?"
Patih Warutama memandang ke arah dada Suminten yang membusung, seolah-olah hendak menembus kulit halus itu menjenguk hati yang hampir berhenti berdetik. Mulutnya masih tersenyum bangga.
"Tidak mungkin. Mereka itu adalah orang-orang yang sudah kehilangan pengaruh atas diri pribadi, sepenuhnya mereka dIkuasaI oleh ilmu kesaktian sahabat kita yang bernama Cekel Wisangkoro, murid Sang Wasi Bagaspati yang sakti mandraguna, wakil dari Negeri Cola."
"Hemm, kiranya begitu? Aku pun amat khawatir tadinya. Akan tetapi, kupikir bahwa pelaksanaan siasat itu agak merugikan. Untuk itu Andika telah mengorbankan hampir lima puluh orang anggauta pasukan gundul. Bukankah ini berarti mengorbankan nyawa teman-teman sendiri?"
Tanya Pangeran Kukutan. Berkerut kening tebal Patih Warutama.
"Pangeran, Paduka agaknya masih harus banyak belajar. Untuk mencapai cita-cita, tidak ada jalan yang tak boleh ditempuh dan dipergunakan. Jangankan hanya mengorbankan nyawa lima puluh orang kawan, kalau perlu, jalan yang lebih keji dan buruk lagi harus dilakukan demi tercapainya cita-cita. Yang penting, cita-cita kita tercapai, bukan? Apa artinya nyawa puluhan orang mayat hidup itu? Ha-ha-ha!"
Diam-diam Suminten dah Pangeran Kukutan bergidik.
Mereka pun bercita-cita tinggi dan tidak segan-segan melakukan apa saja demi cita-cita tercapai.
Akan tetapi tidak pernah terpikirkan oleh mereka untuk menempuh jalan seperti itu, membunuhi kawan sendiri sekian banyaknya.
Kini mereka diam-diam menganggap betapa benarnya pendapat kawan baru ini dan mereka mengangguk-angguk, seperti murid-murid yang menerima ajaran lebih tinggi dari seorang guru yang pandai.
Melihat sikap mereka, Patih Warutama lalu melanjutkan kata-katanya dengan suara bangga.
"Manusia hidup harus bercita-cita untuk mencapai kedudukan tertinggi, karena hanya dengan kekuasaan dan kedudukan tinggi kita akan dapat menikmati kesenangan dunia. Selagi hidup, kalau tidak mereguk arak kenikmatan dunia sepuasnya, apa artinya? Hanya menanti mati. Dan untuk mencapai cita cita, kita tidak boleh memilih cara. Cara apa saja harus ditempuh demi tercapainya cita-cita!"
Orang ini hebat, pikir Suminten Dengan dia ini sebagai sekutuku, akan berhasillah segala cita-citaku.
Maka kini pandang matanya mulai memancarkan daya tarik yang amat memIkat ke arah Patih Warutama.
Ki patih bukan tidak tahu akan hal ini.
Dia seorang pria yang sudah berpengalaman dan sudah mengenal belaka segala sifat wanita, maka ia makin bangga, wajahnya berseri dan tanpa diminta ia melanjutkan kata-katanya seperti seorang guru besar memberi kuliah atau seorang pendeta memberi wejangan.
"Hanya orang yang memperoleh kemenangan saja yang akan tercapai cita-citanya. Kemenangan adalah kunci pertama, karena yang menang itu berarti yang berkuasa, dan sudah barang tentu bahwa yang berkuasa itu selalu baik dan benar. Yang buruk dan salah, yang patut diinjak-injak adalah mereka yang kalah. Bayangkan saja, andaikata dalam urusan menghadapi keluarga Brotomenggala kita yang kalah, akan bagaimana jadinya dengan kita? Kalau mereka yang menang, tentu mereka yang berkuasa dan mereka yang baik dan benar. Kita yang kalah? Menjadi makanan cacing!"
Pangeran Kukutan dan Suminten mendengarkan dengan pandang mata kagum dan gembira.
Mereka lalu minum hidangan yang terbuat daripada campuran madu dan sari buah, minuman yang memabukkan dan mempunyai daya merangsang.
Kalau kita mengetahui latar belakang tiga orang ini, akan terdengar sumbang dan melantur pendapat yang dikemukakan oleh Warutama tadi.
Namun, ah, betapa banyaknya orang di luar kesadaran pribadi mempunyai pendapat yang serupa.
Untuk mencapai cita-cita maka segala cara dibenarkan!
Betapa kotor dan menyesatkan pendapat seperti itu!
Mereka lupa bahwa yang kotor tidak mencerminkan yang bersih, bahwa yang pahit tidak memberikan buah yang manis.
Kalau cara yang dipergunakan untuk menempuh cita-cita itu keji, maka sudah tak dapat disembunyikan lagi bahwa cita-citanya sendiri pun tentu keji!
Tidak mungkin cita-cita yang bersih ditempuh dengan jalan atau cara yang kotor!
Sebaliknya, cita-cita yang kotor takkan dapat ditempuh dengan cara yang bersih, atau kalau pun bersih, maka kebersihan cara itu hanya merupakan siasat atau kedok belaka.
Sudah jelas bahwa cita-cita yang baik dan bersih HARUS dicapai dengan cara yang baik dan bersih pula!
Pendapat ke dua dari Warutama yang bermoral bejat tentang kemenangan, kekuasaan dan kebenaran merupakan pendapat yang tersesat jauh, bahkan mudah menyesatkan orang.
Memang tak dapat disangkal kenyataannya bahwa di dunia ini banyak berlaku hukum seperti yang dikatakannya, yaitu siapa menang dia berkuasa dan siapa berkuasa dia benar dan baik!
Akan tetapi ini hanya pendapat orang yang menjadi kawula iblis, yang hidup demi pemuasan nafsu pribadi.
Pendapat Warutama itu merupakan hukum rimba yang hanya patut diterapkan pada kehidupan binatang yang tidak mengenal peri kemanusiaan.
Manusia mengenal pribudi, tahu akan baik dan buruk, mana benar mana salah.
Justeru pribudi menuntut agar setiap manusia ingat bahwa dalam kemenangan tidak boleh sombong dan mabuk serta gila kekuasaan.
Kemudian, yang kebetulan berkuasa tidak boleh sewenang-wenang menganggap diri sendiri selalu benar dan baik.
Karena menang dan kalah itu hanya pandangan belaka, seperti suka dan duka.
Yang menang di lain waktu bisa kalah, demikian sebaliknya.
Juga kedudukan-tinggi atau rendah hanya pandangan, yang tinggi sewaktu-waktu bisa saja menurun, yang rendah menalk.
Karena itu, pedoman terbaik adalah tidak patah hati di waktu kalah dan tidak tinggi hati di waktu menang.
Selalu rendah hati, menujukan langkah di atas jalan yang benar, dan menerima segala peristiwa yang menimpa diri sebagai kehendak Yang Maha Kuasa!
Suminten yang sedang dimabuk cita-cita setinggl langit, mendengar ucapan-ucapan Patih Warutama, menjadi amat tertarik.
"Sungguh beruntung bagiku dapat berjumpa dengan seorang yang pandai seperti Andika! Semoga kerja sama di antara klta akan tetap kekal abadIl"
Ucapan ini disertai senyum dan diikuti kerling memikat dari sudut mata. Warutama tertawa, lalu tanpa malu-malu terhadap Pangeran Kukutan ia berkata.
"Bolehkah sekarang raya mengharapkan hadiah pribadi dari Sang Ayu?"
Suminten terkekeh genit, bibir yang merah itu merekah dan tampak deretan gigi yang putih dan berbentuk bagus seperti mutiara.
Dengan gaya manja ia menggeliat, menoleh kepada Pangeran Kukutan sambil berkata.
"Puteranda Pangeran, sudikah Paduka pulang sekarang karena ibunda ingin sekali beristirahat sambil minta nasehat-nasehat dari ki patih?"
Pangeran Kukutan maklum akan maksud hati Suminten.
Dia tidak cemburu lagi, karena dia sudah mengenal betul watak ibu tiri atau juga kekasihnya ini.
Tiada bedanya dengan dia sendiri.
Setiap malam harus ada seorang kekasih yang mengawani melewatkan malam panjang!
Dia mengenal tubuh indah wanita ini yang tak pernah merasa puas dalam mengabdi nafsu berahi.
Ia bangkit dan tersenyum maklum sambil mengangguk kepada Warutama.
Kemudlan pergi meninggalkan kamar itu untuk mengunjungi seorang di antara kekasihnya yang banyak terdapat di antara para puteri, abdi wanita, dan selir-selir pangeran sepuh!ainnya.
Asyik dan mesralah kini mereka berdua, Suminten dan Warutama, setelah mereka ditinggal berdua saja di dalam kamar itu.
Para abdi diusir keluar, pintu kamar ditutup dan mulailah mereka saling mengenal pribadi masing-masing.
Diam-diam Warutama kagum sekali karena sekarang ia mengenal betul siapa sebenarnya wanita yang bernama Suminten ini dan mengapa wanita ini dapat mencapai kekuasaan di Kerajaan Jenggala.
Banyak sudah ia mengenal wanita yang secara suka rela atau paksaan menjadi kekasihnya, namun baru sekali ini ia bertemu dengan seorang wanita yang benar-benar dapat mengimbangi keahliannya dalam bermain asmara.
Sebaliknya, Suminten juga mendapat kenyataan yang jauh melampaui dugaannya, bahkan mendapatkan pengalaman yang jauh berada di luar batas lamunannya.
Mimpi pun belum pernah ia menemui pria yang seperti Warutama, seorang yang sudah matang dan benar-benar merupakan seorang ahli dalam menyenangkan perasaan dan hati wanita.
Mereka berdua seperti mabuk dan lupa diri, tenggelam dalam lautan nafsu yang memabukkan dan barulah Patih Warutama sadar dan tergesa-gesa meninggalkan kamar itu ketika keesokan harinya, seorang abdi kepercayaan secara terpaksa mengetuk pintu kamar karena khawatir kalau-kalau sang prabu berkenan datang berkunjung di pagi hari itu.
Dengan adanya Patih Warutama, makin kuatlah kedudukan persekutuan yang bercita-cita menguasai Jenggala ini, dan makin berkembanglah sayap persekutuan ini, makin jauh kuku-kukunya mencengkeram Jenggala.
Sang prabu yang makin lemah sudah menyerahkan seluruh kepercayaannya kepada Suminten yang tak kunjung gagal menina-bobokkan raja tua itu di malam hari, kepada Pangeran Kukutan yang selalu pandai mencari muka sebagai seorang putera mahkota yang penuh hormat, taat, dan berbakti, dan kepada Patih Warutama yang sikapnya tenang, pribadinya berwibawa, dan pendapat-pendapatnya jitu itu.
HANYA tinggal sang permaisuri saja yang kini selalu diliputi kegelisahan.
Permaisuri ini merasa kehilangan tangan kanannya ketika Ki Patih Brotomenggala sekeluarga dibasmi.
Diam-diam ia menangis di dalam kamarnya dan di dalam hatinya ia maklum bahwa gilirannya akan tiba kalau dia tidak cepat-cepat bertindak.
Dia tahu benar bahwa yang menjadi biang keladi pembasmi keluarga Ki Patih Brotomenggala tentulah Suminten dan Pangeran Kukutan.
Tentu saja sang permaisuri tidak tahu bagaimana caranya, hanya tahu bahwa Suminten dan Pangeran Kukutan merupakan persekutuan yang ingin merebut kekuasaan dengan cara mempengaruhi dan menundukkan sri baginda, suaminya.
Permaisuri ini tidaklah gelisah mengkhawatirkan keselamatan dirinya pribadi, sama sekali tidak.
Dia sudah tua, dan pula di dalam tubuhnya mengalir darah ksatria utama.
Yang dia khawatirkan adalah keadaan suaminya, dan terutama sekali keadaan kerajaan.
Dapat ia membayangkan betapa Jenggala akan hancur dan akan cemar kalau kelak dirajai oleh seorang macam Pangeran Kukutan yang ia tahu benar adalah seorang muda yang suka mengganggu anak isteri orang lain, berhati palsu, pandai bermuka-muka, dan terutama sekali, menjadi kekasih dan sekutu Suminten.
Namun, apakah yang dapat dilakukan oleh seorang wanita tua yang lemah?
Memang, ada beberapa orang ponggawa tinggi yang selalu setia kepadanya, akan tetapi dlbandingkan dengan kekuasaan Suminten dan Pangeran Kukutan di waktu ini, apalagi dibantu oleh patih yang baru, maka ia sama sekali tidak mempunyai kekuatan apa-apa.
Sang permaisuri hanya berdoa setiap hari sambil menanti kesempatan baik untuk menjatuhkan pukulan untuk menghancurkan Suminten dan sekutunya.
-oo0dw0oo-Gadis itu menangis tersedu-sedu sambil melangkah terhuyung-huyung di dalam hutan yang gelap.
Malam telah tiba, namun dia dipaksa berjalan terus oleh temannya, seorang laki-laki tua yang membawa obor di tangan kanan, sedangkan tangan kiranya menggandeng lengan gadis itu.
Mulutnya mengeluarkan suara menghlbur, sungguhpun suaranya sendiri menggetar penuh keharuan dan hiburan itu tidak ada artinya sama sekali bagi gadis yang berjalan sambil tersedu-sedu menangis itu.
Gadis itu bukan lain adalah Widawati, gadis berusia sembilan belas tahun, cucu Ki Patih Brotomenggala.
Tubuhnya tinggi semampai, perawakannya sedang berisi, kulitnya hitam manis dan halus, gerak-geriknya serba luwes.
Pada saat itu, pakaiannya kusut, sekusut rambutnya yang terurai.
Ketika sinar obor di tangan laki-laki tua itu menerangi wajahnya, tampaklah wajah yang ayu menarik.
Wajah yang dapat diduga tentu biasanya cerah gemilang seperti sinar matahari pagi, dengan bentuk mulut yang selalu senyum, bibir yang selalu merekah, selalu siap untuk senyum dan tertawa, siap selalu untuk mengucapkan kata-kata halus lembut, menutupi deretan gigi yang tidak begitu rata namun putih bersih, dengan ketidakrataan yang bahkan menambah manis!
Alisnya menjelirit hitam, di atas sepasang mata yang indah sinarnya karena pandang mata itu mengandung pengertian mendalam, mengandung kesabaran dan kasih sayang terhadap segala yang dipandangnya.
Gadis seperti yang muda-muda selalu datang kepadanya ini, kalau sedang berduka akan mengharukan hati setiap orang, kalau sedang gembira akan menyinari semua orang, dan kalau marah akan disangka pura-pura karena wajah seperti ini memang "tidak pantas"
Kalau dipakai marah.
Wajah yang bulat telur dengan dagu kecil meruncing itu menyembunyikan usianya, membuat ia tampak jauh lebih muda daripada usianya.
Widawati cucu Ki Patih Brotomenggala ini adalah seorang gadis yang amat rajin mempelajari segala kepandaian puteri.
Terkenal di kepatihan sebagai sebagai seorang gadis yang cerdik dan pandai, baik dalam olah kewanitaan, kesenian, dan kerajinan tangan, maupun dalam olah keperajuritan karena sebagai cucu Ki Patih Brotomenggala yang sakti, tentu saja ia tidak mau ketinggalan mempelajari seni bela diri yang gerakan-gerakannya mendekati seni tari itu.
Karena kecerdikannya, gadis ini amat disegani oleh para abdi, bahkan ariggauta keluarga untuk bertanya segala macam hal yang tidak dimengertinya.
Widawati dengan tekun dan sabar memberi bimbingan kepada mereka sehingga tampaklah bakatnya sebagai seorang pendidik yang sabar.
Biasanya, jika mendapat kesempatan mengikuti ramandanya yang sebagai mantu ki patlh yang juga menjabat pangkat, yaitu sebagai petugas perairan untuk mengatur pengairan sawah ladang milik istana, seringkali keluar dan melakukan pemeriksaan, Widawati merasa amat gembira.
Dia seorang gadis pencinta alam dan sifatnya yang ramah dan riang itu pun sesuai dengan suasana alam terbuka.
Melihat tanah merekah merah dan subur, melihat rumput hijau seperti permadani, melihat padi di sawah menguning emas dan bernyanyi tertiup angin, disinari matahari yang cerah, semua ini menciptakan watak yang ramah dan baik pada dirinya.
Widawati seorang gadis pencinta alam, seorang gadis pencinta sesama manusia, yang ramah-tamah, tidak suka menyakiti hati orang lain, dengan kecantikannya dan kesegaran yang wajar.
Namun kini, biarpun ia melakukan perjalanan melalui hutan-hutan, di alam yang liar terbuka, ia sama sekali tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Ia hanya menangis terus, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya, pikirannya kalut, perasaannya hancur, mulutnya merintih-rintih menyebut nama ayah bundanya, kakek nenek, dan saudara-saudaranya yang kesemuanya terbasmi habis oleh sri bagirida dengan tuduhan berkhianat.
Sepasang mata yang biasanya jernih dan berseri penuh kasih dan pengertian itu kini menjadi merah dan membendul oleh tangis.
Kakek itu adalah Ki Mitra, seorang juru taman, abdi keluarga pelatih tarian.
Hanya juru taman ini sajalah yang dapat mengantar Widawati lolos dari kerajaan dengan aman, karena seorang abdi tidak akan kentara kalau pergi meninggalkan ramah.
Memang ini merupakan siasat para ponggawa tua yang masih setia kepada Ki Patih Brotomenggala yang cepat-cepat turun tangan mengatur kebebasan Widawati begitu mendengar bahwa gadis ini kebetulan saja lolos daripada cengkeraman maut.
Memang dugaan mereka benar karena tidak lama kemudian setelah Widawati melarikan diri diantar juru taman, datang orang-orang kepercayaan Pangeran Kukutan mencari gadis itu di rumah pelatih tarian.
Biarpun diberi tahu bahwa gadis itu tidak berada di situ dan sudah pulang, namun pasukan pengawal ini tidak percaya dan tetap melakukan penggeledahan sehingga andaikata Widawati bersembunyi di dalam gedung itu, pasti akan tertangkap.
Pula, para pengawal ini meneliti apakah penghuni rumah pelatih tari-tarian itu masih lengkap, dan baru mereka meninggalkan rumah itu setelah mendapat kenyataan bahwa tidak ada seorang pun di antara keluarga guru tari itu meninggalkan rumah.
Tentu saja mereka ini tidak perduli dan tidak menyelidiki apakah seorang juru taman ada atau tidak!
Dengan bantuan para ponggawa tua, akhirnya Ki Mitra si juru taman bersama Widawati, berhasil lolos keluar dari istana melalui pintu gerbang bagian selatan.
Ki Mitra yang juga merupakan seorang yang biarpun hanya berpangkat juru taman namun dapat melihat kemaksiatan merajalela di dalam kerajaan, dengan taruhan nyawa sendiri membawa gadis cucu ki patih itu terus melakukan perjalanan ke selatan, tidak pernah benhenti karena takut kalau-kalau ada pengejaran dari istana.
Widawati adalah seorang gadis yang terlatih, kalau hanya berjalan kaki sampai jauh saja ia cukup kuat.
Akan tetapi, melakukan perjalanan terus-menerus tanpa henti dan dengan hati hancur, benar-benar.
amatlah sengsara.
Baiknya di situ ada Ki Mitra yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya, menggugah semangatnya sehingga ia dapat bertahan dan malam hari itu, dengan penerangan obor yang dinyalakan Ki Mitra, mereka berjalan terus menyusup-nyusup hutan liar.
"Aduh, Ki Mitra. hendak kau bawa ke manakah aku ini? Ah, mengapa mereka tidak membiarkan aku mati bersama keluargaku agar aku terbebas dari-pada segala derita. ’ Widawati berhenti dan menyandarkan diri di batang pohon. Tubuhnya gemetar, wajah yang pucat itu penuh peluh, dadanya bergelombang, kedua, tangan membelai leher sendiri seakan-akan hendak mencekik leher sendiri, kedua matanya dipejamkan dan air matanya menitik turun melalui kedua pipinya. Ki Mitra membetulkan obornya yang hampir padam. Setelah obornya bernyala baik kembali, ia menoleh kepada gadis itu. Hatinya penuh keharuan dan ia berkata.
"Den-ajeng, hendaknya tenang dan jangan berpendirian seperti itu. Keluarga Paduka tewas karena fitnah, sama halnya dengan dibunuh. Paduka tidak boleh bersikap lemah. Ingat bahwa Paduka adalah keturunan gusti patih yang sakti mandraguna dan gagah perkasa. Keluarga Paduka difitnah dan dibunuh orang, hanya Paduka yang dapat lolos, ini berarti bahwa kelak ada orang yang dapat membalaskan segala dendam sakit hati ini. Marilah, Den-ajeng, saya diberi kepercayaan dan tugas oleh para gusti yang menjadi sahabat keluarga Paduka untuk menyelamatkan Paduka, agar jauh dari jangkauan tangan iblis-iblis bermuka manusia itu."
"Ke mana? Ke mana engkau hendak membawaku?"
Widawati menyusut air matanya, semangatnya mulai bangkit karena panas oleh ucapan Ki Mitre yang mengingatkannya akan semua peristiwa yang menimpa keluarganya.
Dengan tangan terkepal ia teringat kepada Pangeran Kukutan yang sudah beberapa kali berusaha untuk menggodanya, namun yang selalu ia tolak dengan tegas karena biarpun Pangeran Kukutan itu seorang muda belia yang tampan gagah, namun ia dapat mengenal moralnya yang bejat.
Dari penuturan Ki Mitra di sepanjang jalan, ia tahu bahwa yang menjatuhkan fitnah, entah bagaimana caranya sehingga terdapat bukti-bukti bahwa kakeknya melakukan khianat terhadap raja, adalah Pangeran Kukutan dan Suminten, wanita cantik selir raja yang amat dibencinya karena ia sudah banyak mendengar tentang sifat rendah hina wanita itu.
"Menurut pesan para sahabat keluarga Paduka, kakek Paduka gusti patih mempunyai dua belas orang pengawal kepercayaan yang secara aneh telah menghilang pada saat terjadinya penangkapan keluarga Paduka. Dua belas orang pengawal itu adalah orang-orang gagah per kasa dan saya hanya mengenal dan tahu tempat tinggal seorang di antara mereka yang bernama Wiraman. Ki Wiraman ini berasal dari dusun Suko, dekat desa tempat asal saya, di selatan. Ke sanalah saya hendak membawa Paduka, mencari Ki Wiraman dan selanjutnya menyerahkan Paduka kepadanya. Karena hanya seorang yang memiliki kesaktian dan sudah terpercaya penuh seperti dua belas orang pengawal itu sajalah yang akan mampu menyelamatkan paduka, tidak seperti saya ini, seorang juru taman yang lemah."
Perjalanan dilanjutkan dan dengan bekal dendam sakit hati terhadap musuh-musuh yang membasmi keluarganya, Widawati menderita kesengsaraan perjalanan tanpa mengeluh lagi.
Selama sepekan ia mengikuti Ki Mitra melakukan perjalanan menyusup-nyusup hutan, melalui dusun-dusun kecil, makan seadanya tidur di mana saja.
Akhirnya tibalah mereka di dusun Suko dan di sini pun mereka menjumpai bekas tangan musuh-musuh kepatihan.
Ternyata bahwa dusun ini pun diobrak-abrik oleh pasukan pengawal kerajaan karena pasukan ini terlambat datang mencari keluarga Wiraman yang telah lolos sehari sebelum pasukan pengawal datang.
Banyak penduduk dusun Suko disiksa, ada beberapa orang malah dibunuh karena mereka tidak dapat memberitahukan ke mana perginya Wiraman dan keluarganya!
Apakah sesungguhnya yang terjadi?
Wiraman adalah seorang di antara dua belas orang pengawal kepercayaan Ki Patih Brotomenggala yang dapat lobos dengan luka-luka di tubuhnya ketika dua belas orang pengawal ini berusaha melindungi sang prabu di dalam hutan.
Seperti telah diceritakan , di bagian depan ketlka peristiwa penghadangan rombongan sang prabu diserbu gerombolan gundul di hutan dan ketika para pengawal sri baginda terdesak oleh gerombolan itu, dua belas orang pengawal pilihan yang secara sembunyi mengawal, lalu muncul dan mengamuk.
Akan tetapi mereka ini disambut oleh tiga orang yang sakti mandraguna, yaitu Warutama, Ni Dewi Nilamanik, dan Ki Kolohangkoro sehingga sebelas orang di antara mereka tewas dan hanya Wiraman saja yang berhasil melarikan diri.
Ki Wiraman ini langsung menuju ke kepatihan, akan tetapi karena ia terluka dan hanya dapat melakukan perjalanan lambat-lambat, ia datang terlambat karena keluarga kepatihan sudah ditangkap semua!
Dapat dibayangkan betapa kaget dan duka hati ksatria ini.
Ia maklum bahwa keselamatan keluarganya sendiri pun terancam, maka dengan menahan nyeri di dadanya akibat luka pukulan, ia memaksa diri pulang ke dusunnya di Suko dan cepat-cepat ia membawa keluarganya pergi dari dusun itu, bersembunyi di daerah liar di pantai laut kidul.
Untung ia berlaku cepat, karena Pangeran Kukutan yang kemudian mendengar akan dua belas orang pengawal rahasia ini, cepat-cepat mengerahkan pasukan pengawal mencari keluarga dua belas orang itu dan menangkap mereka semua!
Hanya sehari setelah ia membawa keluarganya lari dari Suko, datanglah sepasukan pengawal ke dusun itu dan mengobrak-abrik dusun Suko.
Mendengar berita ini, Ki Mitra maklum bahwa amatlah tidak aman bagi Widawati untuk berdiam di dusun Suko, maka terpaksa ia mengajak gadis itu pergi meninggalkan Suko, untuk ia ajak ke dusunnya sendiri di mana tanggal keluarga adik kandungnya yang hidup sebagai petani di situ.
Memang dia berasal dari dusun ini, dan ia bermaksud menitipkan Widawati pada keluarga adiknya untuk sementara waktu sehingga ia akan lebih mudah pergi menyusul dan mencari Wiraman yang telah melarikan diri.
Menjelang senja mereka telah melewati gunung karang terakhir dari pegunungan yang berderet-deret dari barat ke timur seolah-olah menjadi tanggul pembendung ancaman Laut Selatan.
Widawati sudah lelah sekali, dan baru sekarang ia mengeluh.
"Ki Mitra.......... , masih jauhkah dusunmu? Aku ingin sekali beristirahat dan berpikir "
"Sudah dekat, Den-ajeng, itu di depan eh, hati-hatilah, di depan ada orang!"
Widawati cepat menundukkan mukanya.
Pakaiannya sudah kusut dan kotor, juga kakinya penuh lumpur dan debu sehingga ia tidak banyak bedanya dengan gadis-gadis dusun biasa, apalagi karena telah melepaskan semua perhiasan emas permata dari tubuhnya dan menyimpannya di dalam kemben.
Hanya menurut nasehat Ki Mitra, ia harus selalu menyembunyikan mukanya karena wajahnya terlalu cantik untuk mengaku seorang gadis dusun.
Maka kini otomatis ia menundukkan mukanya agar orang yang disebut oleh Ki Mitra itu tidak akan melihat wajahnya apabila mereka bersilang jalan.
Ketika orang yang datang dari depan dan jalannya berindap-indap menyusuri tepi sawah itu telah datang dekat, Ki Mitra berseru, suaranya girang sekali, Ah, Denmas Wiraman..........?"
Ki Mitra tertegun memandang.
"Bukankan andika.......... Denmas Wiraman ?"
Mendengar sebutan nama ini, Widawati mengangkat muka memandang.
Pria itu bertubuh sedang dan tegap, terbayang kekuatan di balik kulit lengan dan dadanya yang bidang.
Usianya empat puluh tahunan, dengan pandang mata tajam dan wajahnya yang tampan membayangkan derita hidup yang diterimanya penuh kesabaran.
Sabar, kuat, penuh pengertian membayang pada wajah di bawah rambut yang sudah mulai terhias warna putih.
Seorang pria yang gagah dan wajahnya mendatangkan kepercayaan.
Wiraman, pria itu, juga memandang penuh perhatian, dan hanya mengerling sebentar kepada Widawati, lalu perhatiannya tercurah kembali kepada Ki Mitra.
Pakaiannya compang-camping, tubuhnya kelihatan menderita kelelahan hebat.
Akan tetapi pandang matanya bersinar dan mulutnya tersenyum ketika ia mengenal Ki Mitra.
"Kakang Mitra kalau aku tak salah', duga?"
Tanyanya.
"Betul, saya adalah Ki Mitra! Ah, Denmas Wiraman, betapa susah payah saya mencari Andika. !"
Dengan girang Ki Mitra memegang lengan tangan prla itu.
"Ada apakah? Engkau yang telah bekerja sebagai juru taman di kota raja, mengapa datang mencariku?"
"Denmas, ceritanya panjang sekali. Marilah Andika ikut bersama kami ke rumah adik saya di dusun itu, nanti saya ceritakan semua persoalan yang amat gawat dan penting "
"Hemm.......... , boleh, marilah. Akan tetapi. siapakah nini yang ikut bersamamu ini?"
Ki Mitra menoleh ke kanan kiri sebelum menjawab, lalu berbisik.
"Untuk dia inilah maka saya mencari Andika. Dia ini adalah satu-satunya cucu gusti patih yang berhasil lolos dari cengkeraman maut."
"Ahhh.......... Ya Dewata Yang Maha Kasih! Paduka cucu gusti patih..........? Aduhai puteri yang patut dikasihani betapa hebat penderitaan Paduka.........!"
Digerakkan oleh hati yang penuh iba Wiraman mendekati Widawati dengan pandang mata penuh perasaan.
Kedukaan yang sudah memenuhi hati gadis itu kini meluap.
Pria ini adalah seorang kepercayaan kakeknya dan sikap yang amat baik itu membuatnya terharu sehingga ia pun lupa diri, melangkah maju dan membiarkan dirinya dirangkul, menangis di atas dada yang bidang itu.
Wiraman mengelus rambut yang kusut itu, hatinya seperti disayat-sayat pisau beracun.
"Duh para dewata yang agung, lindungilah kiranya puteri yang malang ini."
Bisiknya. Namun dia seorang satria yang segera dapat mengatasi keharuan hatinya.
"Harap Paduka tenang dan teguh hati, menerima nasib seperti yang telah ditentukan para dewata. Manusia hanya sekedar menerima dan mengalami. Mari, mari kita pergi ke dusun dan di sana bicara panjang lebar dan menentukan langkah selanjutnya."
Pergilah mereka bertiga ke dusun kecil yang menjadi kampung halaman Ki Mitra.
Mereka disambut dengan penuh keheranan akan tetapi juga penuh kegirangan oleh keluarga adik kandung Ki Mitra.
Terhadap adiknya, Ki Mitra memperkenalkan Wiraman sebagal seorang rekan kerja di kota raja, adapun Widawatt diperkenalkan sebagal adik misan Wiraman.
Agar tidak menimbulkan keraguan, terpaksa Widawati menyebut "kakang"
Kepada Wiraman, sebaliknya Wiraman menyebutnya "nimas".
Malam hari itu, mereka bercakap-cakap dan menceritakan pengalaman masing-masing.
Hati Wiraman terharu sekali ketika ia mendengar betapa seluruh keluarga kepatihan musnah dibasmi oleh Pangeran Kukutan dan Suminten.
Wajah satria ini menjadi merah, giginya berkerot dan kedua tangannya dikepal.
"Hem m.......... si bedebah Kukutan dan Suminten! Tentu saja sang prabu yang sudah sepuh dan kehilangan kewaspadaan karena mabuk nafsu itu tidak mengerti akan tipu muslihat mereka! Kalian tunggu saja! Di dunia ini, masih ada aku Wiraman yang tahu akan semua muslihat kalian!"
"Sebetulnya, rahasia apa yang tersembunyi di balik peristiwa itu, Kakang Wiraman?"
Tanya Widawati yang kini tidak merasa canggung lagi di hadapan pria itu, karena memang sikap Wiraman wajar dan sopan serta jujur terhadap dirinya.
Wiraman menghela, napas panjang, kemudian mulai bercerita.
"Ketika sang prabu pergi berburu, kami dua balas orang kepercayaan gusti patih mendapat tugas rahasia dari gusti patih untuk secara sembunyi melindungi keselamatan sang prabu. Kami melihat betapa rombongan sang prabu diserbu oleh gerombolan orang-orang gundul. Tentu saja kami segera menerjang keluar dari tempat persembunyian karena para pengawal kewalahan menghadapi serbuan liar mereka. Akan tetapi, tiba-tiba muncul tiga orang yang memiliki kesaktian luar biasa sehingga sebelas orang teman-temanku tewas semua, sedangkan aku sendiri terluka parah. Aku bersembunyi dan menyaksikan peristiwa hebat. Sang prabu, Pangeran Kukutan, dan wanita iblis Suminten itu ditangkap dan diancam hendak dibunuh sisa gerombolan gundul. Tiba-tiba muncul seorang pria yang mengaku bernama Raden Warutama yang membunuhi sisa gerombolan gundul, padahal aku mengenal dia itu sebagai seorang sakti yang tadinya membantu gerombolan gundul. Hemm ! Dan sekarang, Warutama itu menjadi seorang yang berjasa!"
"Kabarnya akan diangkat menjadi patih !"
Kata Ki Mitra. Wiraman memukulkan tinjunya di atas tanah lantai kamar kecil itu.
"Tentu saja! ini adalah hasil persekutuan mereka! Siasat yang busuk sekali untuk menonjolkan jasa Warutama dan untuk menjatuhkan fitnah kepada gusti patih! Keparat…….! Kalau aku tidak dapat membalas kekejian ini, aku tidak akan sudi memakai nama Wiraman lagi!"
Suasana menjadi sunyi.
Mereka bertiga tenggelam ke dalam lamunan masing-masing, merasa ngeri kalau mengenangkan peristiwa itu, ngeri mengingat tipu muslihat yang demikian keji dan busuknya.
Kemudian kesunyian dipecahkan suara Ki Mitra.
"Sekarang,........... bagaimana........... selanjutnya harus diatur, Denmas? Tentang Den-ajeng Widawati ini."
"Kakang Mitra lebih baik besok kembali ke kota raja agar jangan menimbulkan kecurigaan. Kakang berjalan seperti biasa dan diam-diam memperhatikan keadaan dan perkembangan di dalam istana agar siap untuk memberi laporan kalau dibutuhkan. Sedangkan mengenai Diajeng Widawati, serahkan saja kepadaku. Akulah yang mulai detik ini bertanggung jawab atas keselamatannya. Aku sedang memikirkan. jalan terbaik untuk Diajeng Widawati."
Widawati menyusut air matanya.
"Kakang Wiraman, karena membela mendiang Eyang Patih, engkau telah mengalami kesengsaraan. Bagaimana aku kini tega untuk menjadi beban tanggunganmu lagi? Aku akan memperberat hidupmu, akan membahayakan hidupmu; dan keluargamu masih amat membutuhkan perlindunganmu "
"Keluargaku..........?"
Wiraman menghela napas panjang.
"Jangan kau khawatir, Diajeng Widawati. Keluargaku telah kuungsikan dan mereka kini hidup sebagai petani-petani yang cukup aman tenteram. Bahkan sementara ini aku tidak berani mendekati mereka, karena keadaanku seperti sebuah penyakit menular, siapa yang kudekati berarti terancatn bahaya. Jenggala sedang mencari-cariku sebagai seorang yang berbahaya bag Pangeran Kukutan dan Suminten, juga bagi Patih Warutama, karena akulah satu-satunya orang yang mengetahui akan rahasia mereka. Aku bahkan harus menjauhkan diri dari keluargaku. Isteriku seorang bijaksana, dan aku tidak khawatir akan keadaan mereka. Juga engkau sendiri merupakan seorang buronan seperti aku, Diajeng. Engkau dicari karena engkau merupakan sisa musuh besar yang tentu akan membalas dendam. Keadaan kita berdua sama-sama sebagai buronan, maka tidak ada yang saling men jadi beban, tidak ada yang saling memberatkan. Asal saja engkau menaruh kepercayaan penuh kepadaku, demi para dewata, aku tidak akan membiarkan engkau tertimpa malapetaka, akan kubela dengan seluruh jiwa ragaku."
Makin deras air mata Widawati mengalir dan di antara linangan air matanya ia memandang kepada pria yang begini baik terhadap dirinya.
Seolah-olah ia mendapatkan pengganti orang tua dan keluarga dalam diri Wiraman.
Mendapatkan seorang sahabat baik, seorang pelindung, seorang yang dapat ia sandari dalam kehidupan mendatang, yang boleh ia percaya sepenuhnya.
Pada keesokan harinya, mereka meninggalkan dusun itu sesuai rencana yang diatur oleh Wiraman.
Ki Mitra kembali seorang diri ke kota raja setelah dilepas pergi oleh Widawati yang berkali-kali menghaturkan terima kasih sambil berlinang air mata.
Kemudian Wiraman bersama gadis itu pergi meninggalkan dusun.
Widawati kali ini tidak pernah bertanya ke mana mereka pergi, karena dia sudah menyerahkan seluruh keselamatan dirinya ke tangan pria ini, akan menurut saja ke mana dia dibawa pergi.
-oo0dw0oo-Permaisuri Jenggala seringkali duduk termenung seorang diri di dalam kamarnya sambil meruntuhkan waspa (air mata).
Semenjak terbasminya keluarga kepatihan, ia merasa sunyi dan duka, merasa betapa kini ia menghadapi lawan yang ;amat kuat tanpa kawan yang dapat ia andalkan.
Hatinya selalu perih kalau ia mengingat betapa kini seluruh istana telah dicehgkeram oleh Suminten, sedangkan seluruh kerajaan berada di telapak tangan Pangeran Kukutan dan Patih Warutama yang baru diangkat.
Betapapun juga, sang prameswari tidak pernah putus harapan untuk menolong suaminya dari cengkeraman Suminten, terutama sekali mengingat bahwa usahanya menentang persekutuan mereka itu demi untuk menolong Kerajaan Jenggala daripada keruntuhan.
Ia maklum bahwa diam-diam masih banyak sekali ponggawa dan para pangeran yang setia kepadanya, yang diam-diam membenci persekutuan busuk itu.
Dan permaisurl yang sabar dan tekun ini tidak pernah menghentikan usahanya memata-matai Suminten.
Ia percaya bahwa akan tiba saatnya ia akan dapat menghancurkan Suminten melalui perbuatan Suminten sendiri yang ia tahu merupakan seorang wanita muda pengabdi nafsu berahi, seorang wanita muda yang hanya pada lahirnya saja mencinta dan setia kepada sang prabu, akan tetapi sesungguhnya merupakan seorang wanita yang bermoral bejat, yang setiap malam berganti pacar untuk melayani nafsu berahinya.
Hanya sukarnya, Suminten amat pandai menjaga diri.
Kamarnya selalu dikepung ketat oleh para pengawal penjaganya, juga para abdi dalem yang melayaninya adalah orang-orang kepercayaannya sendiri sehingga sukarlah bagi sang permaisuri untuk "menerobos"
Pertahanan penjagaan yang ketat itu.
Namun, sang permaisuri yang sabar dan tekun ini tak pernah menyerah kalah.
Setiap malam ia berdoa mohon bantuan dewata, dan diam-diam ia selalu memasang mata-mata yang berupa emban-emban tua yang setia untuk mengawasi gerak-gerik di keputren di mana Suminten tinggal dalam bangunan-bangunan dan taman yang amat mewah.
Dan pada malam hari itu agaknya doa yang selalu ia panjatkan terkabul, karena tiba-tiba masuklah seorang emban dengan tergesa-gesa, bersembah sujud di depan sang permaisuri sambil berbisik.
"Duh Gusti, tibalah saatnya kini yang telah dinanti-nanti oleh Paduka Gusti. Ibis betina itu kini berada di pesanggrahan di taman sari, agaknya menanti kekasihnya. Dan pintu tembusan ke taman sari tidak terjaga, sehingga Paduka dapat masuk ke taman sari bersama hamba. Mudah-mudahan sekali ini paduka dapat menarigkap basah si iblis betina, itu."
Wajah yang tua dan masih membayangkan kecantikan itu, yang selama ini keruh, tiba-tiba berseri.
Sejenak sang permaisuri memejamkan mata dan menengadahkan muka, seolah-olah menghaturkan terima kasih kepada para dewata.
Kemudian dengan cepat namun tenang ia bangkit, lalu membiarkan dirinya digandeng oleh emban keperdayaannya itu, keluar dari kamar memasuki taman sari.
Taman sari milik sang permaisuri ini bersambung dengan taman sari milk Suminten, hanya dibatasi pagar tinggi.
Biasanya, pintu tembusan antara kedua taman itu dijaga oleh pengawal kepercayaan Suminten dan ditutup.
Akan tetapi malam ini tidak ada pengawal menjaga dan daun pintunya tidak dipalang sehingga mudahlah sang permaisuri bersama emban memasukinya.
Kedua kaki sang permaisuri menggigil karena hatinya tegang.
Kalau saja tidak mengingat keselamatan raja dan kerajaan, tentu ia tidak sudi bertindak sebagai maling dan pengintai macam ini.
Berindap-indap mereka menghampiri pesanggrahan bercat merah yang mungil di dalam taman sari Suminten itu.
Malam itu gelap, dan hal ini menguntungkan sang permaisuri yang dapat menghampiri pondok kecil mungil bercat merah itu sampai dekat sekali.
Emban kepercayaannya member!
isyarat agar sang permaisuri tidak mengeluarkan suara sambil menunjuk ke arah jendela kecil yang bertirai sutera merah.
Mereka berdua lalu berindap-indap menghampiri jendela, di mana emban kepercayaannya itu mengintai ke dalam.
Sang permaisuri juga mengintai dan melihat bahwa Suminten sedang duduk seorang diri dii dalam kamar itu, termenung.
Melihat wajah cantik madunya ini, hati wanita tua itu menjadi panas.
Sesungguhnya dia bukanlah seorang wanita pencemburu, bukan wanita yang berhati sesempit itu.
Kalau melihat madunya yang lain, betapapun sang prabu mencinta madu itu, dia tidak akan menjadi panas hatinya.
Akan tetapi lain lagi halnya dengan Suminten.
Dia menganggap wanita ini bukan hanya memikat sang prabu, melainkan menganggapnya sebagai seorang wanita pengacau kerajaan yang menimbulkan banyak malapetaka, yang membuat sang prabu mabuk dan lupa diri sehingga melakukan hal-hal kejam, dan menganggapnya sebagai seorang musuh kerajaan yang berniat meruntuhkan Jenggala.
Diam-diam sang permaisuri berdoa kepada para dewata agar malam ini dia mendapatkan jalan untuk menjatuhkan wanita berbahaya itu.
Ia berdoa agar dapat menangkap basah Suminten yang menerima kekasihnya di dalam kamar pesanggrahan di taman, sehingga dia mendapatkan senjata untuk menghantam Suminten di depan sang prabu.
Doa permaisuri tua yang menderita batinnya itu agaknya diterima karena belum lama dia dan embannya mengintai, tampak sesosok bayangan berindap-indap memasuki taman sari, langsung menghampiri pondok Itu dan mengetuk pintunya tiga kali.
Suminten sendiri yang membuka pintu pondok, kemudian terdengar suara mereka berdua di dalam kamar itu.
Ketika sang permaisuri mengintai, hatinya agak kecewa karena yang memasuki pondok itu bukanlah seorang pria, melainkan seorang abdi pelayan yang masih muda dan cantik.
Akan tetapi hatinya berdebar tegang ketika mendengar percakapan mereka.
"Emban, mengapa engkau yang datang? Mana gustimu?"
Tanya Suminten, suaranya membayangkan kekecewaan dan kemarahan.
"Hamba diutus oleh gusti pangeran untuk menghadap Paduka dan menyatakan penyesalannya bahwa gusti pangeran berhalangan datang. Akan tetapi gusti pangeran memerintahkan hamba menghaturkan sepucuk surat kepada paduka."
Berkata emban itu sambil bersujut dan menghaturkan sebuah sampul surat.
Suminten menjadi merah mukanya, mulutnya merengut dan ia menampar tangan emban itu sehingga suratnya melayang jatuh ke atas lantai.
"Aku tidak butuh surat! Pangeran itu memang terlalu! Kalau dia sudah tidak suka mematuhi panggilanku, bilang saja terus terang! Sudah sejak sore aku menantinya di sini, untuk bertemu dengan dia, bukan dengan suratnya! Engkau adalah kepercayaan sang pangeran, bahkan abdi kinasih (abdi tercinta), tentu engkau dapat merasakan kekecewaan seorang wanita yang menanti-nanti akan tetapi tidak diperhatikan!"
"Ampun, Gusti Ayu, harap sudi bersabar. Gusti pangeran tentu saja terhalang oleh kesibukannya sebagai seorang putera mahkota, agaknya ada urusan penting yang "
"Alasan! Kau abdi terpercaya dan terkasih, tentu saja hanya akan membelanya. Pendeknya aku tidak suka menerima suratnya, aku tidak sudi membacanya!"
Sang permaisuri yang mendengarkan dari luar menjadi berdebar tegang hatinya.
Maklumlah ia kini bahwa emban itu adalah utusan Pangeran Kukutan!
Kalau saja ia bisa mendapatkan surat itu, terrtu dapat ia bawa kepada sang prabu sebagai bukti pengkhianatan hubungan jina antara Suminten dan Kukutan!
Juga diam-diam dia merasa geli mendengar ucapan Suminten yang menolak membaca surat karena ia tahu benar bahwa selir ini tidak pandai membaca!
Seorang selir yang tadinya hanya menjadi abdi dari Pangeran Panjirawit, mana mungkin dapat membaca surat?
Akan tetapi hatinya makin tegang ketika ia mendengar percakapan mereka berdua itu lebih lanjut.
Sang emban tertawa genit.
"Gusti, hamba sudah mendapat perintah gusti pangeran bahwa kalau paduka tidak sudi membaca, hamba disuruh membacakan surat beliau itu di hadapan Paduka."
"Sukamu! Masa bodoh kalau kau mau baca! Aku sendiri tidak sudi menyentuh suratnya, apalagi membaca,"
Kata Suminen dengan sikap ngambek dan duduk di atas pembaringan memutar tubuh membelakangi emban itu.
Emban itu yang agaknya tahu belaka akan hubungan gelap antara selir sang prabu dan puteranya itu, tersenyum-senyum dan dengan gerakan genit mengambil surat dari atas lantai, membuka sampulnya dan kemudian membaca dengan suara dibuat-buat, merdu dan mesra .
"Adindaku yang tercinta, juita sayang pujaan kalbu,Adinda Suminten yang denok ayu,Betapapun rindu hatiku kepada Adinda, ingin sekali berdekatan dengan Adinda, bercumbu-rayu bersendau-gurau, berenang berdua di lautan cinta, ingin mendengar suara emas Adinda, mencium rambut Adinda yang sedap harum, memeluk tubuh Adinoa yang indah, kulit yang halus lunak dan hangat, namun terpaksa malam ini kakanda tak dapat datang menjumpai Adinda. Malam ini kakanda sibuk dengan Ki Dukun untuk mengatur siasat yang Adinda rencanakan. Ramuan racun telah dibuat Ki Dukun, tidak ada rasanya dan dapat dicampurkan dalam minuman untuk sang prabu dan permaisuri. Di malam Respati depan. Harap Adinda. agar pada malam Respati……"
"Cukup! Goblok engkau, emban! Masa hal begitu kau baca keras-keras! Sang pangeran juga sembrono sekali, mengirim surat seperti itu kepadaku! Bagaimana kalau terjatuh ke tangan orang lain? Lekas kau pergi dari sini, bawa surat yang berbahaya itu, kembalikan kepada sang pangeran. Katakan bahwa aku bukan anak kecil, aku tahu apa yang harus kulakukan. Cepat, pergi. !"
Emban itu menyembah, menyelipkan surat itu ke dalam sampul kembali, lalu membawa surat itu pergi keluar dari dalam pondok.
Akan tetapi, ketika emban ini sedang berjalan tergesa-gesa menyelinap di antara pohon-pohon yang gelap, tiba-tiba ia menahan pekik karena tahu-tahu di depannya telah berdiri sang permaisuri!
Cepat dia menjatuhkan diri berlutut dengan tubuh menggigil.
Seorang emban tua yang menemani permaisuri dengan cepat menangkap kedua lengannya, dan ditelikung ke belakang, dan tanpa banyak cakap sang permaisuri lalu merampas surat bersampul.
"Ampun.......... ampunkan hamba.....harap kembalikan surat itu.......... surat itu milik hamba.......... hendak dipersembahkan kepada Gusti Ayu Suminten Emban itu meratap dan menangis dengan muka ketakutan, tubuhnya menggigil seperti orang menderita sakit demam.
"Diam kau?"
Sang permaisuri membentak penuh wibawa.
"Hayo ikut bersamaku!"
Dengan masih menangis emban yang sial itu lalu dibawa pergi memasuki taman sang permaisuri.
"Kau lihat, aku tidak membuka sampul surat kotor yang kau bawa. Kita tunggu hadirnya sang prabu agar sang prabu sendiri yang membuka dan memeriksa!"
"Tapi.......... tapi, duh Gusti.... ampunkan hamba.......... surat.......... surat itu adalah surat. ,"
"Cukup! Aku tahu surat kotor macam apa!"
Bentak sang permaisuri yang segera memerintahkan seorang abdi untuk melaporkan sang prabu bahwa urusan darurat yang amat penting memaksa sang permaisuri untuk mohon menghadap di ruangan dalam.
Ruangan ini khusus untuk tempat keluarga raja berunding tentang masalah-masalah kekeluargaan yang pelik-pelik dan tidak perlu diketahui oleh para ponggawa.
Tak lama kemudian abdi yang diperintah datang kembali menyampaikan perintah sang prabu yang telah siap menanti di ruangan dalam.
Permaisuri bersama emban tua menggiring emban cantik itu memasuki ruangan dalam di mana sang prabu telah duduk di atas kursi dengan wajah keruh.
Agaknya sang prabu merasa tidak senang diganggu pada malam hari itu, malam yang merupakan malam istirahat baginya.
Maka begitu sang permaisuri muncul bersama dua orang emban, sang prabu telah menegurnya dan dengan sikap yang tidak terlalu manis menanyakan maksud isterinya mengganggu istirahatnya.
"Harap Kakanda sudi memaafkan kalau mengganggu Paduka, akan tetapl urusan yang amat penting terjadi sehingga terpaksa saya mengganggu. Akan tetapi karena urusan ini menyangkut diri selir Paduka Suminten yang jelas sedang merencanakan pengkhianatan dan pembunuhan, maka saya harap sukalah Paduka memerintahkan agar Suminten dipanggll menghadap."
Wajah sang prabu berubah mendengar ucapan yang tenang ini.
Sekilas ia memandang ke arah sampul yang berada di tangan permaisuri dan keningnya berkerut.
Sang prabu cukup mengenal isterinya ini, seorang puteri yang angkuh dan berbudi luhur.
Lain orang isterinya boleh jadi akan menurutkan hati cemburu menjatuhkan fitnah, namun ia merasa yakin bahwa permaisuri tidak akan mau bertindak seperti itu.
Maka dia kini menjadi berdebar risau, karena biasanya, apa yang dinyatakan oleh permaisuri pastilah benar dan bukan fitnah, bukan pula main-main.
Ia menekan perasaan yang tegang lalu bertepuk tangan memberi isyarat.
Seorang pengawal yang hanya boleh menjaga di luar ruangan itu, muncul dan sang prabu segera memerintahkan untuk memanggil Suminten menghadap.
Karena panggilan ini datangnya dari sang prabu yang berada di ruangan dalam, tanpa dijelaskan pun Suminten akan tahu bahwa panggilan ini ada hubungannya dengan urusan penting mengenai keluarga, dan ia tidak boleh membawa pelayan.
Suasana menjadi tegang sekali ketika mereka yang berada di dalam ruangan itu menanti munculnya Suminten.
Hanya terdengar isak tertahan si emban muda yang menangis.
Sang prabu mengerti bahwa dalam keadaan seperti itu, tidak perlu ia bertanya-tanya.
Sang permaisuri akan menjelaskan kesemuanya setelah Suminten datang.
Sementara itu, sang permaisuri lalu menyimpan surat yang dipegangnya tadi di balik bajunya karena ingin menjatuhkan Suminten dengan tepat dan baru mengeluarkan surat itu ketelah mendengar pengakuan palsu Suminten yang ia tahu pasti akan mencari-cari alasan.
Ia harus bersikap cerdik menghadapi ular betina itu, pikirnya.
Akhirnya orang yang dinanti-nanti muncullah Suminten yang cantik jelita, yang ayu dan segar seperti orang baru saja keluar dari kamar mandi.
Sekali lirik tahulah sang permaisuri bahwa Suminten telah bertukar pakaian.
Tadi ketika berada di pesanggrahan dalam taman, pakaiannya serba merah jambon, kembennya tipis semrawang sehingga terbayang tubuhnya dan lekuk lengkung tubuhnya.
Berbeda dengan tadi ketika menanti kekasih, kini pakaiannya lebih sopan, masih serba merah dan jelas menonjolkan tubuhnya yang berbentuk indah menggairahkan, namun patut menjadi pakaian seorang selir terhormat.
Suminten serta merta menjatuhkan diri berlutut menghaturkan sembah kepada sang prabu dengan gerak tubuh yang lemah lembut.
Melihat selir terkasih ini, seketika keraguan di hati sang prabu melenyap.
Selirnya ini, Suminten yang begitu mesra dan penuh kasih sayang kepadanya setiap kali mereka memadu kasih, menjadi pengkhianat dan pembunuh?
Tidak mungkin!
"Duhai Kakanda prabu junjungan hamba!"
Suminten berkata dengan suaranya yang halus merayu, membuat hati sang permaisuri makin mendidih apalagi mendengar bahwa kini Suminten tidak lagi menyebut gusti melainkan kakanda kepada sang prabu.
"Paduka amat memerlukan istirahat, mengapa malam-malam Paduka masih terjaga? Hal ini amat tidak baik bagi kesehatan Paduka!"
Senang hati sang prabu mendengar betapa selirnya ini amat memperhatikan keadaan kesehatannya. Tidak seperti permaisuri tua yang rewel.
"Bukan kehendakku, Suminten. Adinda permaisuri yang menghendaki karena katanya ada urusan penting hendak disampaikan kepadaku, di hadapanmu. Nah, Adinda permaisuri, Suminten telah datang menghadap. Lekas ceritakan apa yang menjadi kehendak hatimu."
Nada suara sang prabu tidaklah ramah. Namun permaisuri itu tetap tenang, karena ia yakin bahwa sekali ini ia akan menang dengan adanya senjata surat rahasia itu di tangannya.
"Kakanda tentu masih ingat betapa seringnya saya memperingatkan Kakanda akan kepalsuan wanita ini, bukan karena cemburu, melainkan demi mengingat keamanan paduka dan kerajaan. Namun Paduka tidak pernah mempercaya saya. Sekarang, saya telah mendapatkan bukti kuat akan kepalsuan Suminten. Eh, emban yang menjadi kaki tangan pengkhianat, katakan apa yang kaulakukan di waktu malam tadi?"
Sang permaisuri bertanya kepada emban cantik pembawa surat. Emban itu gemetar bibirnya ketika menjawab.
"Hamba.................... hamba tidak melakukan sesuatu kesalahan "
"Cukup!"
Permaisuri membentak, kini menoleh ke arah Suminten yang bangkit berdiri dengan sikap menantang.
"Suminten, engkau tadi berada di dalam pesanggrahan di dalam taman, lalu datang emban ini mengantar surat untukmu. Betulkah itu?"
Permaisuri mengira bahwa Suminten pasti akan menyangkal, maka amatlah heran hatinya menyaksikan keberanian wanita itu ketika Suminten menjawab.
"Memang benar hamba telah menerima surat yang hamba suruh emban membawa kembali kepada pengirimnya."
Bagus, pikir permaisuri.
Engkau berani dan tabah, akan tetapi keberanianmu memudahkan penyelesaian perkara ini yang akan menjatuhkanmu!
Wajah yang tua itu tersenyum penuh kemenangan ketika ia menoleh ke arah emban yang berdiri menggigil di belakang Suminten sambil menghardik.
"Engkau abdi dari mana?"
"Hamba.......... abdi dalem pangeran mahkota."
"Suminten, dari siapakah surat yang kauterima tadi?"
Masih tenang sikap Suminten, bahkan dia mengerling ke arah sang prabu dengan bibir tersenyum dan mata seolah-olah menyatakan betapa cerewetnya permaisuri tua ini.
"Surat itu dari puteranda pangeran mahkota."
Suaranya mengandung tuntutan mengapa hal begitu saja dihebohkan.
Akan tetapi wajah sang permaisuri menjadi pucat mendengar jawaban emban dan Suminten.
Jawaban ini saja sudah jelas membuktikan bahwa antara Pangeran Kukutan dan Suminten terdapat hubungan gelap, dan mereka telah bersurat-suratan!
Wajah sang prabu berubah menjadi makin merah dan makin merah, tanda bahwa ia mulai cemburu dan marah.
Sang permaisuri sebaliknya berseri wajahnya.
Wajah tua yang masih berbekas garis-garis cantik ini tersenyum ketika ia menoleh sang prabu sambil mengeluarkan surat dari balik bajunya.
Melihat surat ini, Suminten kelihatan kaget, menahan jerit dengan jari-jari tangan halusnya menutupi bibirnya yang merekah merah.
Melihat ini, sang prabu makin merah mukanya dan sang permaisuri makin berseri.
"Harap Paduka bersabar. Sebelum saya menyerahkan surat agar dapat dibaca oleh Paduka pribadi, lebih baik Paduka mendengarkan lebih dulu apa yang telah saya dengar dan didengar pula oleh emban saya di pondok dalam taman sari Karena saya tidak menjatuhkan fitnah, biarlah emban saya yang menceritakani kesaksiannya. Emban, ceritakanlah apa yang engkau dengar tadi."
Emban tua Itu sebenarnya amat takut terhadap Suminten, apalagi Suminten memandangnya dengan mata bersinar-sinar dan terdengar suara Suminten.
"Hm emban!."
"Perlukah engkau menceritakan hal yang mendatangkan bencana?"
Suara Suminten mengandung aricaman mengerikan sehingga emban tua. itu menjadi ketakutan, menjatuhkan did berlutut di depan sang permaisuri sambil berkata.
"Mohon Paduka melindungi hamba,Gustl,"
Katanya sambil menangis.
"Emban! Jangan banyak tingkah, lekas Ceritakan!"
Sang prabu membentak. Emban itu cepat menyembah dan bercerita.
"Hamba bersama gusti permaisuri menyaksikan dan mendengar ,dari luar jendela pondok ketika surat itu di-serahkan oleh abdi gusti pangeran mahkota kepada. Gusti Ayu Suminten. Kemudian surat itu dibaca oleh abdi ini dan.......... dan "
"Apa bunyinya surat? Katakan!"
Desak sang permaisuri.
"Menurut pendengaran hamba.......... surat dari gusti pangeran mahkota itu menyebut tentang persekutuan dan rencana untuk.......... untuk meracuni Paduka berdua, Gusti Sinuwun dan Gusti Ratu… "
"Bohong !!"
Tiba-tiba Suminten menjerit dengan mata terbelalak memandang emban tua itu.
"Engkau wanita setan, engkau bohong.......... , menjatuhkan fitnah keji.......... Kakanda harap jangan mendengarkan hasutan-hasutan busuk dan keji! Hamba lebih baik pergi saja dari sini daripada mendengarkan fitnah keji yang amat memuakkan !"
Setelah berkata demikian, Suminten bergerak hendak meninggalkan ruangan itu...........
Akan tetapi sang permaisuri sudah mengulurkan tangannya memegang lengan muda yang halus itu.
Biarpun jauh lebih tua, namun permaisuri adalah seorang puteri yang di masa mudanya suka mempelajari olah keperajuritan, maka masih memiliki tenaga yang kuat sehingga Suminten tak dapat bergerak.
"Jangan pergi dulu Kedudukanmu hanya selir, itu pun selir palsu yang berkhianat, bagaimana engkau berani pergi tanpa diperintah?"
Tadinya sang prabu tidak percaya akan tuduhan yang dijatuhkan kepada selirnya yang terkasih, akan tetapi mendengar cerita emban tua dan melihat betapa Suminten yang menyangkal itu hendak melarikan diri, hatinya seperti ditusuk rasanya.
Sikap Suminten yang hendak melarikan diri itu menghapus keraguannya dan timbullah kecurigaannya.
"Suminten, jangan pergi dan tunggu sampai selesai perkara ini!"
Katanya.
Nada suaranya sudah berbeda, kehilangan irama kasih sayang yang biasanya terdapat dalam ucapannya terhadap Suminten.
Sementara itu, dengan wajah berseri penuh kemenangan yang sudah membayang di depan mata, sang permaisuri lalu mempersembahkan sampul surat itu -kepada suaminya sambil berkata.
"Saya bersumpah bahwa saya sendiri tidak pernah membaca surat ini yang semenjak saya rampas dari tangan emban pengkhianat itu tak pernah terlepas dari tangan saya. Dan untuk membuktikan bahwa saya dan juga emban saya tidak membohong, saya persilahkan Paduka membacanya sendiri surat yang menjijikkan dan kotor ini."
Jari-jari tangan sang prabu yang Sudah tua itu menggigil ketika ia -mengeluarkari surat dari sampulnya.
Bukan mengglgil karena sudah buyuten, melainkan menggigil karena tegang, seolah-olah bukan nasib Suminten yang akan dihancurkan oleh surat Itu, melainkan nasibnya sendiri.
'"Aduh, Kakanda sinuwun sesembahan hamba "
Suminten sudah merenggutkan lengannya dan lari menjatuhkari diri berlutut menclumi kaki sang prabu sambil menangis.
"Hamba mohon dengan seluruh hati hamba, hendaknya jangan dibuka dan dibaca surat itu oleh Paduka.......... hamba.......... hamba. tidak ingin mencelakakan siapa-siapa, hamba lagi, hamba tidak ingin melihat Paduka menjadi berduka Percayalah, hamba selalu mencinta dan setia kepada Paduka.......... dan bahwa kesemuanya inI hanyalah fitnah semata."
"Kau hendak mengatakan bahwa surat ini bukan dari Kukutan untukmu?"
Sang prabu yang merah mukanya menghardik.
"Tidak hamba sangkal, memang benar demikian akan tetapi."
"Mundurlah engkau!"
Sang prabu menggerakkan kakinya dan tubuh Suminten terjengkang ke belakang, di mana wanita ini berlutut lagi sambil menangis sesenggukan.
Emban cantik segera menubruknya dan ikut pula menangis.
Sang permaisuri memandang dengan mulut mengejek, maklum bahwa tangis wanita muda itu adalah tangis palsu, air mata buaya.
Ia merasa girang bahwa sang prabu mulai sadar, tidak terpengaruh oleh tangis wanita palsu itu.
Jari-jari tangan sang prabu masih menggigil ketika ia membuka surat itu, lalu bibirnya yang gemetar mulai bergerak ketika membaca.
Wajah keriputan yang tadinya mulai memucat, itu kini merah kembali, sepasang mataya makin lama makin terbelalak lebar.
Tiba-tiba sang prabu tertawa bergelak, suara ketawa aneh yang mengandung rasa sesal di hati, kemudian ketawanya terhenti diganti suara menggeram dan tangan kirinya menampar lengan kursinya.
la masih terbelalak seolah-olah tak percaya akan isi surat yang dibacanya lagi.
"Ha-ha-ha! Aahhhh.......... kalau Adinda Ratu sudah sekeji ini entah aku sudah menjadi gila ataukah masih waras. !."
Serunya.
Tentu saja sang prameswari menjadi kaget dan heran.
Melihat wajah suaminya, ratu ini menjadi gelisah dan mukanya berubah pucat.
Sudah gilakah sang prabu?
Dia khawatir dan menyesal sekali.
Kalau sang prabu menjadi gila saking hebatnya pukulan batin yang dideritanyari sungguh bukan demikian yang ia kehendaki.
Ia menghendaki sang prabu menjadi sadar dan bebas daripada cengkeraman wanita iblis Suminten, demi keselamatan keluarga dan kerajaan.
"Kakanda.......... mengapa Paduka. ? "
"Diam! Jangan buka lagi mulutmul yang berbisa itu! Baca saja surat ini!"
Bentak sang prabu sambil melemparkan surat ke arah permaisuri.
Surat itu melayang ke atas lantai dan sang permaisuri membungkuk untuk memungutnya dengan tangan gemetar.
Isak tangis Suminten makin mengguguk.
Sang permaisuri memegang surat itu dan membacanya.
Matanya terbelalak, makin lama makin lebardan mukanya menjadi lebih putih daripada kertas yang dipegangnya.
Bibirnya gemetar dan akhirnya terlontar dari mulutnya.
"Aduhh.......... Dewata..........!"
Tubuh sang ratu menjadl lemas dan robohlah wanita tua Ini, terkulai dan pingsan di atas lantai.
Surat itu terlepas dari tangannya dan melayang di atas lantai pula.
Emban tua menjerit dan menubruk junjungannya, memanggil-manggil dan menangisi dengan bingung.
Dalam kebingungannya, ia menjadi penasaran, cepat menyambar surat itu dan membacanya tanpa permohonan lagi.
"Ha-ha-hal Emban berhati busuk, boleh.......... kau bacalah I"
Sang prabu masih ter tawa-tawa, kemudian terdengar suaranya bercampur isak.
"Tak kunyana.......... tak kusangka.......... Adinda Ratu.......... demikian keji.....Setelah dia sendiri begini palsu, siapa pula yang dapat kupercaya. ? Suminten cepat berdiri dan menubruk sri baginda, merangkulnya dan berkata dengan kata-kata halus.
"Aduh junjungan hamba, masih ada hamba di sini,. mengapa Paduka berkeluh-kesah? Di sini hamba, Kakanda, di sini Suminten. biarlah hamba yang akan mengusir semua kedukaan Paduka! Bukankah hamba tadi sudah memperingatkan Paduka agar jangan dibaca saja surat itu? Hanya menimbulkan malapetaka belaka, sang ratu pingsan dan Paduka berduka… "
Sang prabu memeluk dan merangku! leher selir terkasih ini, mengecup dahinya dan berkata mesra.
"Aduh wong ayu.......... kalau tidak ada engkau agaknya sudah bosan aku hidup lebih lama lagi."
Sementara itu, emban yang membaca surat, sama halnya dengan sang prabu dan sang ratu, terbelalak seolah-olah tidak percaya.
Wajahnya pucat sekali dana mengulang membaca isi surat itu .
Puteranda mohon maaf telah beranl menyurat kepada Ibunda, akan tetapl karena keselamatan Ibunda, terutama sekali Ramanda terancam bahaya, terpaksa puteranda melakukannya juga.
Puteranda mendengar dari para penyelidik bahwa Ibunda Ratu telah merencanakan siasat untuk membunuh Ramanda dan Paduka.
Dan puteranda setiap saat telah memasang mata-mata untuk mengawasi gerak-gerak Paduka dan puteranda yang selalu menjaga keselamatan Ramanda yang sudah sepuh (tua).
Karena puteranda tidak berani mengingatkan sendiri kepada Ramanda berhubung hal Ini akan menyinggung nama balk Ibunda Ratu, terpaksa puteranda mohon kepada Ibunda sudilah kiranya memperingatkan Ramanda daripada bahaya yang tak tersangka-sangka Ibunda Ratu agaknya telah lupa diri dengan nafsu kebenciannya kepada Paduka yang dikasihi Ramanda, kepada puteranda yang diangkat menjadi pangeran mahkota, dan kepada Ramanda yang agaknya telah menyia-nyiakan cinta, kasihnya menurut bisikan hati sang cemburu.
Kemudian terserah kebijaksanaan Ibunda.
Demikianlah bunyi surat Pangeran Kukutan kepada Suminten.
Emban tua itu terbelalak keheranan.
Alangkah bedanya bunyi surat itu dengan yang dibaca emban cantik tadi!
Padahal surat rampasan itu tak pernah berpisah dari tangan sang ratu.
Emban itu mengerling ke arah emban muda yang kini bersimpuh di sudut sambil tersenyum-senyum penuh ejekan kepadanya.
Maka tahulah emban tua ini bahwa ia dan junjungannya telah masuk perangkap, telah menjadi korban siasat yang busuk dan licik sekali, yang hanya dapat dilakukan oleh manusia-manusia berhati iblis!
Tahulah dia yang memang mengerti akan segala persoalan di dalam keraton, bahwa sang ratu telah.
terkena pancingan, bahwa Suminten sengaja memancing dengan membuka pintu taman dan berada di dalam pondok taman malam itu, kemudian emban muda yang menjadi kaki tangan itu datang membawa surat.
Kini mengertilah ia bahwa sesungguhnya Suminten dan embannya itu tahu akan kedatangan sang ratu yang mengintai, lalu sengaja si emban membaca Surat secara palsu, kemudian bahkan membiarkan dirinya tertangkap.
Dan kini jelas pula baginya bahwa segala sikap Suminten semenjak dipanggil datang, adalah sikap yang amat cerdik, menjalankan siasat dan sandiwara yang sukar dimainkan oleh lain orang, kecuali wanita cantik berhati ular beracun itu.
Timbullah kemarahan besar di hati emban tua ini.
Dan karena dia hanya seorang emban, maka kemarahannya ia timpakan kepada si emban cantik yang tersenyum-senyum Itu.
"Engkau manusia keji!"
Jeritnya sambil menubruk emban muda yang tentu saja melakukan perlawanan.
Maka bergumullah kedua orang emban itu dan karena lebih muda, emban kepercayaan Suminten yang menang dan akhirnya, dengan kain tersingkap memperlihatkan pahanya yang putih pada emban muda itu dapat menunggangi emban tua dan menjambak-jambak sambil memukul dan mencakarl muka lawannya.
Sang prabu yang masih memeluk Suminten lalu berseru memanggil pengawal.
Lima orang pengawal yang mendengar ribut-ribut itu cepat muncul dan sang prabu lalu menudingkan telunjuknya ke arah sang ratu sambil berkata.
"Tangkap sang ratu yang berkhianat, bersama emban tua keparat ini! Jebloskan sang ratu dalam tahanan dan bunuh mati sl emban tua!"
Lima orang pengawal itu ternganga keheranan, saling pandang dan sejenak mereka tidak bergerak. Menangkap sang ratu yang tua? Mereka takut kalau-kalau salah dengar, maka tidak berani bergerak.
"Apakah kalian tuli? Gusti sinuwun sudah memberi perintah, kalian masih berdiri seperti arca?"
Suminten berseru marah.
"Akan tetapi.......... tetapi "
"Kalian berani membangkang terhadap perintahku? Apakah pengawal-pengawalku sendiri hendak memberontak?"
Mendengar perintah ini, para pengawal itu hilang keraguannya dan cepat mereka menyeret tubuh emban tua yang sudah dltunggangi dan dipukuli emban muda itu, dan karena sang permaisurl sudah siuman dan tengah menangis, para pengawal lalu memegang lengannya, dengan halus namun paksa mereka membantunya bangun dan menggiringnya keluar dari ruangan itu.
Kembali Kerajaan Jenggala menjadi geger ketika beberapa hari kemudian rakyat mendengar bahwa sang ratu mereka ini telah "dibuang"
Atau "diasingkan", yaitu ditempatkan di luar istana, di sebuah pesanggrahan yang terletak di kaki Bukit Anjasmoro sebelah utara, sebuah pesanggrahan yang amat sederhana bagi seorang bekas permaisuri raja namun cukup mewah dan indah bagi rakyat kecil, lengkap dengan segala keperluan dan pelayan, namun pondok-pondok itu dikurung dinding tinggi dan terjaga oleh beberapa orang perajurit.
Mengingat akan kedudukannya dan akan hubungan mereka, maka oleh sang prabu, bekas permaisuri ini tidak dihukum, hanya diasingkan dan dilarang meninggalkan tempat pengasingan ini sampai mati.
Adapun emban tua yang menjadi abdi kepercayaan bekas permaisuri itu dihukum mati.
Sang ratu yang kini telah diasingkan, tidak merasa berduka akan nasib yang menimpa diri.
pribadi, melainkan dia merasa berduka dan gelisah memikirkan nasib sang prabu, dan terutama sekali nasib Kerajaan Jenggala.
Dia maklum bahwa setelah ia gagal dalam melawan manusia-manusia iblis yang pada waktu itu sedang mencengkeram kerajaan, tidak akan ada lagi yang dapat melawan Suminten dan kaki tangannya.
Saking prihatin dan nelangsa hatinya, bekas ratu ini menanggalkan pakaiannya yang indah dan mengganti pakaiannya dengan pakaian pendeta, dan setiap hari pekerjaannya hanya duduk bersamadhi, mengheningkan cipta dan memanjatkan doa kepada para dewata agar supaya sang prabu dan Kerajaan Jenggala dilindungi daripada kehancuran.
Dan memang tidak kelirulah apa yang dikhawatirkan bekas permaisuri ini.
Kemenangan mutlak atas diri permaisuri yang siasatnya diatur oleh Suminten, benar-benar membuat Suminten dapat mencapai puncak kekuasaannya.
Tepat pula seperti dugaan emban tua yang kini telah dihukum mati, semua yang terjadi, semenjak di dalam taman sari, di pesanggrahan Suminten, sampai kejadian di depan sang prabu, telah lebih dahulu diatur oleh Suminten.
Akal siasat yang amat cerdik dan licik itu adalah hasil pengolahan mereka bertiga, yaitu Suminten, Ki Patih Warutama, dan Pangeran Kukutan!
Diolah di antara buih-buih gelombang cinta berahi antara Suminten dan kedua orang pria yang ia layani bermain cinta secara bergiliran.
Dan hasilnya hebat, seperti siasat yang diatur iblis sendiri.
Sang ratu yang berbathin bersih itu mana mungkin dapat menghadapi siasat manusia-manusia iblis ini?
Dia terjebak dan terpaksa mengaku kalah.
Kalau Suminten makin besar kekuasaan dan pengaruhnya atas diri sang prabu yang sudah tua, dan Pangeran Kukutan kini sudah dapat merasa yakin bahwa sepeninggal ayahandanya, pasti dia yang akan menjadi penggantlnya, adalah Ki Patih Warutama yang kini hidup penuh kemewahan dan kesenangan.
SERINGKALI ia tersenyum puas menyaksikan hasilnya.
Dahulu dia hanyalah seorang perwira kecil di Jenggala, dan karena dia bermain cinta dengan seorang puteri dari selir raja, dia terpaksa melarikan diri agar tidak dihukum mati.
Dan setelah berkali-kali gagal dalam usahanya mengejar kemuliaan, gagal di Blambangan dan merantau terlunta-lunta di Bali, kini dia berhasil menjadi Patih Jenggala!
Ki Patih Warutama yang dahulunya bernama Raden Sindupati ini adalah seorang pria yang tampan dan gagah, namun sayang ketampanan dan kegagahannya itu hanya menjadi pulasan belaka, hanya setebal kulitnya.
Hati dan pikirannya selalu kotor dan menjadi hamba daripada nafsu-nafsunya sendiri, terutama sekali nafsu berahi yang membuat dia menjadi seorang pria yang gila wanita.
Setelah kini kedudukannya kokoh kuat, la mulai membujuk Suminten dan Pangeran Kukutan untuk mulai mengadakan kontak dengan fihak Sriwljaya dan Cola yang wakil-wakilnya memang sudah banyak yang menyelundup ke Jenggala.
Mulailah kini Ki Patih Warutama mengangkat pembantu-pembantu yang sesungguhnya adalah anak buah Sang Wasi Bagaspati dan Sang Biku Janapati!
Mulailah pengaruh kedua kerajaan itu menyusup ke Jenggala.
Bukan hanya ini saja usaha yang dilakukan oleh KI Patih Warutama.
Juga kedudukan dan kemuliaannya membuat penyakit lama dalam dirinya kambuh, yaitu mengejar wanita-wanita cantik!
Dan di Jenggala adalah kedungnya wanita-wanita cantik!
Dengan ketampanan wajahnya, ditambah kedudukannya sebagai patih, diperkuat pula oleh kesaktiannya, akan mudah sekali bagi Warutama untuk mencari perawan, janda, atau isteri orang untuk diambilnya.
Mulailah pria ini berpesta-pora, pesta palsu, dan ia seolah-olah berlomba dengan Suminten.
Suminten adalah seorang wanita yang gila pria yang selalu haus dan tak terpadamkan, tak pernah puas nafsu berahinya, sehingga setiap malam dia harus ditemani seorang pria, ganti-berganti bahkan hampir setiap malam berganti pria.
Demikian pulalah dengan Warutama.
Setelah kini kedudukannya mencapai tingkat tinggi dan kokoh kuat, ia tidak menyembunyikan sifatnya ini dan menyaingi Suminten dalam hal mengumbar nafsunya, berganti-ganti wanita setiap malam, entah puteri siapa, entah isteri siapa asalkan cantik jelita dan sesuai dengan seleranya!
Ketika teringat akan bekas kekasihnya dan mengadakan penyelidikan, ia mendengar bahwa puteri yang dahulu menjadi kekasihnya, yaitu puteri raja dari selir yang bernama Wulandari telah menjadi isteri seorang tumenggung, dia menjadI penasaran sekali dan hatinya takkan dapat merasa puas dan tenteram sebelum ia berhasil mendapatkan kembali kekasihnya yang dahulu dipaksa berpisah darinya itu.
Dia tidak perduli akan kenyataan bahwa menurut penyelidikannya, suami Wulandari itu, yang bernama Tumenggung Matunggal adalah seorang tumenggung yang menjadi kaki tangan Pangeran Kukutan pula, jadi merupakan "anak buah", dan tidak perduli pula bahwa suami isteri itu telah mempunyai seorang anak perempuan yang kini sudah menjadi seorang gadis dewasa!
Mulailah ki patih merenung dengan hati penuh kerinduan kepada bekas kekasihnya dahulu, padahal iapun mengetahui bahwa, kekasihnya itu, Wulandari yang dahulu amat cantik jelita, kenes dan kewes memikat, kini sedikitnya tentu sudah berusia empat puluh tahun!
Makin rindu rasa hatinya kalau ia mengenang peristiwa di masa yang lalu.
Wulandari mencinta dirinya, menyerahkan jiwa raga kepadanya dan ketika hubungan gelap mereka ketahuan, terpaksa ia melarikan diri.
Tadinya dikabarkan orang bahwa Wulandari telah membunuh diri.
Baru sekarang ia ketahui bahwa hal itu hanya disiarkan untuk menjaga nama dan kehormatan keluarga raja, padahal diam-diam gadis bekas kekasihnya itu dikawinkan dengan Tumenggung Matunggal.
Apalagi setelah ia melakukan penyelidikan dan berhasil melihat bekas kekasihnya itu, rindu dendam dan berahinya makin memuncak.
Bukan saja terhadap kekasihnya yang ternyata masih cantik jelita, bahkan lebih "matang"
Daripada duapuluh tahun lebih yang lalu, melainkan juga terhadap Dyah Handini, puteri bekas kekasihnya itu yang kini telah menjadi seorang perawan jelita!
Dan mulailah otaknya yang cerdik seperti setan itu merencanakan siasatnya yang keji.
-oo0dw0oo-Ki Tumenggung Matunggal merasa girang dan bangga sekali ketika ia diserahi tugas oleh Ki Patih Warutama untuk melakukan peninjauan ke Nusabarung dan terus ke Blambangan, dua kadipaten yang telah ditaklukkan oleh Jenggala.
Baik Nusabarung (baca Badai Laut Selatan) maupun Belambangan dahulu dapat diserbu dan ditaklukkan berkat kesaktian Endang Patibroto.
Setiap orang pembesar tentu akan merasa girang dan bangga kalau menjadi utusan atau wakil kerajaan menInjau daerah taklukan, girang karena biasanya daerah taklukan tentu akan mellmpahkan hadiah-hadiah dan tanda bukti yang akan membuatnya pulang dengan harta benda bertumpuk, dan bangga karena tugas ini membuktikan bahwa dia adalah orang yang dipercaya oleh kerajaan!
Dengan hati bangga dan besar Ki Tumenggung Matunggal berangkat beserta pasukannya setelah berpamit dari isterinya, puterinya, dan selir-selirnya.
Sama sekali ki tumenggung ini tidak pernah mimpi bahwa kepergiannya yang takkan pernah kembali, dan bahwa perpisahannya dengan keluarganya adalah perpisahan terakhir!
Mengapa demikian?
Karena semua ini adalah siasat keji yang dilakukan oleh Patih Warutama yang bertekad bulat untuk mendapatkan kembali bekas kekasihnya, Wulandari yang telah menjadi nyi tumenggung itu, mendapatkan kembali Wulandari berikut puterinya, Dyah Handini.
Dan untuk mencapai niat hati keji ini, Patih Warutama tidak segan untuk melakukan hal yang bagaimana kejamnya pun.
Tumenggung Matunggal harus dilenyapkan!
Demikianlah siasat yang amat busuk dan yang hanya timbul dalam hati seorang manusia yang sudah menjadi hamba nafsu dan menjadi murid iblis!
Sungguh patut dikasihani orang-orang seperti Ki Tumenggung Matunggal ini.
Seorang manusia pengejar kemuliaan dan kedudukan dengan -cara apa pun juga, tidak segan untuk menjilat-jilat atasannya, rela menjadi kaki tangan Pangeran Kukutan dan mengkhianati kerajaan, sama sekali tidak tahu bahwa sebetulnya ia hanya dipergunakan sebagai alat oleh fihak atasan yang dalam hal mengejar kesenangan pribadi jauh melebihinya, dalam kekejaman jauh 'melewatinya.
Tidak sadar bahwa ia hanya dipermainkan, dipuji-puji dan diberi hadiah apablia masih diperlukan, namun sekali fihak atasannya tidak memerlukannya, dia akan dilempar dan dibunuh begitu saja!
Dan alangkah banyaknya manusia-manusia macam Tumenggung Matunggal ini, yang tidak mempunyai pendirian, tidak mempunyai kesetiaan.
Kepergiannya melaksanakan tugas meninjau ke daerah-daerah taklukan, diakhiri dengan kematian dalam perjalanan karena diracun oleh pengawalnya sendiri, sudah tentu saja pengawal yang menjalankan perintah Ki Patih Warutama.
Adapun racun yang dipergunakan adalah racun yang diminta oleh Ki Patih Warutama dari Ni Dewi Nilamanik, racun yang amat hebat dan tidak dikenal orang sehingga kematian Tumenggung Matunggal dianggap sebagai kematian wajar, kematian karena sang tumenggung diserang penyakit mendadak di dalam perjalanannya.
Malam hari itu nyi tumenggung atau yang dahulunya bernama Wulandari, puteri dari selir sang prabu, menangis di dalam kamarnya, menangisi kematian suaminya.
Sesungguhnya ia tidak mencintai suami ini, suami yang dijodohkan dengan dia secara paksaan.
Akan tetapi karena suaminya itu selalu baik terhadapnya, maka kematiannya yang mendadak dalam perjalanan itu membuatnya berduka juga.
Dan menjelang tengah malam, ketika nyi tumenggung yang berduka ini sudah hampir dapat melupakan dukanya dengan tidur, tiba-tiba jendela kamarnya terbuka dari luar dan sesosok bayanganberkelebatmasuk ke kamar itu.
Wulandarl terkejut dan sejenak berdiri bulu tengkuknya, mengira bahwa roh suaminya yang datang melayang masuk dari jendela itu.
Akan tetapi betapa kagetnya ketika ia melihat bahwa pria tampan dan gagah yang berdiri di kamarnya, yang memandangnya dengan senyum membayang di balik kumis tipis dan pandang mata mesra, adalah Ki Patih Warutama!
Baru satu kali Wulandari melihat patih yang baru ini, yang sekali itu pun hanya sepintas lalu, akan tetapi ia telah mengenal ki patih ini karena wajah ki patih mengingatkan dia akan seorang yang pernah dikenalnya baik-baik, akan wajah Raden Sindupati, bekas kekasihnya belasan tahun yang lalu!
Mengapa Ki Patih Warutama memasuki kamarnya?
Dan pada waktu malam buta dengan melalui jendela seperti seorang maling?
Jantung Wulandari berdebar keras, wajahnya menjadi pucat dan kalau saja ia tidak melihat jelas bahwa ki patihlah orang ini, tentu ia telah menjerit.
Kini dengan tubuh gemetar ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata dengan suara penuh teguran, namun halus.
"Gusti Patih......... mengapa Paduka. ?"
"Wulandari, jangan takut, bintang pujaanku."
Kata Warutama sambil melangkah maju, mendekat.
Wulandari membelalakkan kedua matanya.
Ia mengangkat muka dan memandang dengan mata terbelalak, muka makin pucat.
Nama kecilnya disebut begitu saja oleh ki patih, padahal di dalam dunia ini hanya satu orang saja yang menyebutnya dengan ucapan mesra "bintang pujaan".
"Paduka......... Paduka."
Ia menggagap kebingungan.
Namun kedua tangan ki patih yang kuat itu sudah memegang pundaknya dan mengangkat nya berdiri.
Muka mereka berdekatan, dua pasang mata berpandangan, dan terdengar bisikan keluar dari mulut yang menggigil.
"Paduka Gusti Patih Warutama."
Warutama tersenyum.
"Benar, aku Ki Patih Warutama……."
"Kenapa Paduka masuk kamar ini.....? Di tengah malam melalui jendela? Apakah apakah kehendak Paduka?"
Wulandari sudah dapat menguasai hatinya dan merenggutkan dirinya terlepas dari pelukan ki patih.
"Apa salahnya? Aku datang untuk menghiburmu, karena aku merasa kasihan kepada keluarga Tumenggung Matunggal yang sudah berjasa."
"Akan tetapi......... ah, Paduka harus cepat keluar dari sini."
Kembali lengan ki patih bergerak dan tanpa dapat mengelak lagi Wulandari sudah dipeluknya dan dipaksanya muka yang masih cantik itu menengadah sehingga mereka kembali saling memandang, muka mereka amat dekat.
"Wulandari, bintang pujaanku. tidakkah engkau mengenal aku, Diajeng? Pangling orangnya masa pangling suaranya? Andaikata engkau pangling rupa dan suara, apakah engkau sudah melupakan ini?"
Sambil berkata demikian, Ki Patih Warutama atau yang dahulu bernama Raden Sindupati itu menundukkan mukanya lalu mencium leher Wulandari di bawah telinga kini.
Ciuman yang khas, seperti yang ia lakukan dahulu kalau dia bermain cinta dengan bekas kekasihnya ini, bibirnya mengecup kulit kuning langsat yang halus itu dan giginya menggigit.........."Aaggghhhh.........
engkau.........
engkau benar Kakangmas Sindupati."
Wulandari berkata lirih dan mereka kembali berpandangan.
"Engkau mengenalku kini, Diajeng. Akan tetapi Sindupati sudah tidak ada nama itu sudah dikubur. Aku Ki Patih Warutama. Sindupati lenyap namun cinta kasihku kepadamu tak pernah lenyap Diajeng bintang pujaanku."
Warutama lalu mencium mulut yang terbuka karena tercengang keheranan itu, mencium mata yang memandangnya penuh takjub karena memang wajah pria ini sudah amat berubah.
Wulandari mula terengah-engah dan berkata seperti merintih.
"Akan tetapi......... Kakangmas.....aku......... aku sudah menjadi isteri."
Kembali Warutama mencium dan membungkam mulut itu sehingga Wulandari tidak dapat melanjutkan kata-kata nya.
"Bukan, engkau kini sudah menjadi seorang janda, Wulandari kekasihku."
".......... tetapi......... aku......... suda tua, Kakangmas."
Kembali bibir Warutama sudah menghentikan kata-katanya.
Ki patih ini menciumi kekasih lama ini dengan penuh kemesraan, menumpahkan semua kerinduannya selama ini sehingga Wulandari menggigil dibuatnya.
Wanita ini memejamkan matanya dan belaian serta ciuman kekasihnya yang tak pernah dilupakannya ini membuat semua bulu di tubuhnya meremang.
"Engkau tidak pernah tua bagiku, Diajeng. Engkau akan kuboyong ke kepatihan bersama puterimu, engkau akan hidup bahagia di sampingku, akan kutebus semua penderitaan yang kita alami selama berpisah, kita takkan berpisah lagi, Diajeng "
"Kakangmas Sindupati."
"Hushh, namaku Warutama."
"Kakangmas Warutama, betapa mungkin itu? Apa yang akan dikatakan orang kalau kami diboyong ke kepatihan? Suami......... suamiku baru saja meninggal......... dan "
Kembali bibir Warutama yang tiada puasnya itu sudah menghentikan kata-katanya, menciuminya dengan penuh kemesraan sehingga naik sedu-sedan dari dalam dada Wulandari, membuat napasnya sesak, kepalanya pening seperti, orang mabuk.
"Tidak mengapa, Diajeng. Mendiang suamimu seorang berjasa, sudah sepatutnya kalau keluarganya menerima penghargaan dariku. Engkau menurut sajalah aku yang akan mengatur segalanya, aku yang bertanggung jawab."
"Tapi......... tapi "
Hanya sampai di situ saja bantahan yang keluar dari mulut Wulandari karena ciuman-ciuman dan belaian-belaian disertai suara bujuk rayu bekas kekasihnya telah membuai seluruh tubuhnya menjadi lemas, napasnya terengah-engah dan membuat dia seperti mabuk, tidak lagi sadar apa yang dilakukannya melainkan tunduk akan kekuasaan nafsu yang sudah mencengkeramnya.
Bahkan ketika Ki Patih Warutama memondongnya menuju ke pembaringan, dengan sepasang mata dipejamkan dan mulut merintih tak tentu apa yang diucapkannya, Wulandari melingkarkan kedua lengannya ke leher bekas kekasihnya, seperti dua puluh tahunan yang lalu.
Peristiwa pemboyongan nyi tumenggung dan puterinya ke kepatihan tentu akan menimbulkan geger kalau saja yang melakukan pemboyongan itu adalah "orang kecil"
Atau ponggawa yang kedudukannya masih rendah.
Perbuatan tidak wajar, apalagi melanggar hukum, dari ‘orang kecil’ tentu akan mencelakakan pembuatnya sendiri.
Akan tetapi, siapakah yang berani mencela atau menghalangi perbuatan "orang besar"
Seperti Ki Patih Warutama?
Tidak dahulu tidak sekarang, orang yang berkedudukan tinggi dan memiliki kekuasaan, dapat berbuat seenak perutnya sendiri tanpa ada orang yang berani mengganggu, karena bukankah "hukum"
Berada mutlak di dalam telapak tangannya?
Semenjak dahulu sampai kini, hukum yang dibuat manusia ternyata gagal untuk melindungi manusia-manusia yang termasuk golongan kecil, dan pada hakekatnya merupakan cara untuk menekan si kecil dan sebaliknya melindungi si besar.
Pemboyongan ibu yang baru saja menjadi janda bersama puterinya ke kepatihan tentu saja menimbulkan keheranan dan pelbagail dugaan, namun semua ini dapat ditutup oleh alasan ki patih bahwa hal ini dilakukan oleh ki patih mengingat akan jasa Tumenggung Matunggal yang tewas dalam melakukan tugas.
Maka habislah urusan itu, bahkan ki patih dipuji-puji sebagai seorang atasan yang pandai menghargai jasa bawahannya, dan bahwa ki patih adalah seorang baik hati yang menaruh kasihan kepada ibu dan puterinya itu.
Namun, sesungguhnya bukan sesederhana ini persoalannya dan hal ini hanya Wulandari yang mengetahuinya.
Mula-mula janda ini merasa berbahagia sekali karena dia telah dapat berkumpul kembali dengan kekasih lama, bahkan dapat melanjutkan cinta kasih mereka yang dahulu diputus dengan paksa.
Mula-mula Wulandari terlena dalam kenikmatan cinta, terbuai oleh bujuk rayu dan cinta asmara yang dilimpahkan oleh Ki Patih Warutama.
Akan tetapi, ketika pada suatu malam ki patih menyatakan bahwa ki patih hendak mengambil puterinya, Dyah Handini, menjadi isteri ki pitih, ia terkejut sekali seperti disambar halilintar di malam terang bulan!
"Ahhh, Kakangmas.........!
Betapa mungkin?
Tidak bisa.........
tidak boleh Handini menjadi isterimu "
Ki Patih Warutama merangkulnya, memeluk dan membelainya sambil tersenyum.
"Mengapa tidak, Wulandari? Dia akan menjadi isteriku, dan kita bertiga akan dapat berkumpul terus sampai selamanya! Bukankah hal ini membahagiakan kita bertiga?"
"Tidak boleh......... ah, Kakangmas, tidak boleh."
Wulandari menangis. Warutama mengerutkan alisnya, akan tetapi ia masih tersenyum dan menciumi muka yang mulai basah air mata itu.
"Diajeng Wulandari, ketahuilah bahwa aku mencinta puterimu. Dia mengingatkan aku kepada engkau ketika masih muda. Ketika kita dipaksa berpisah, engkau seumur dia dan persis seperti dia sekarang inilah keadaanmu. Apakah engkau cemburu? Dia puterimu sendiri. Dan engkau tentu yakin bahwa kalau dia menjadi isteriku, dia akan hidup bahagia. Dan engkau pun akan selalu bersanding di sisiku dan di sisi puterimu. Jangan khawatir, bintang pujaanku, aku dapat membagi cinta kasihku antara kalian berdua. Bahkan hubungan suci ini akan mengikat kita bertiga erat-erat, selamanya tidak akan berpisah lagi."
"Tidak.........! Tidak......... Aahhh, jangan "
Wulandari menangis makin mengguguk.
Sinar mata yang menyeramkan memancar keluar dari mata Ki Patih Warutama.
Kedua tangannya yang tadi membelai tubuh Wulandari, masih membelainya dan naik ke atas, membelai dan meraba-raba leher wanita itu, mengusap usap dengan gerakan-gerakan tangan seperti hendak mencekiknya.
Mulutnya tersenyum dan suaranya dingin sekali ketika ia bertanya lirih.
"Mengapa? Mengapa tidak? Katakanlah, apa sebabnya mengapa kau tidak setuju."
Wulandari mengangkat mukanya memandang wajah pria yang sudah menjatuhkan hati dan segala-galanya itu.
"Kakangmas, dia......... Dyah Handini itu......... , dia......... adalah anakmu sendiri "
Jari-jari yang mengelus leher itu menegang, akan tetapi belum mencekik, sungguhpun masih membelainya, agak lebih kasar daripada tadi. Wulandari hendak merenggutkan dirinya namun tidak dapat.
"Apa kau bilang.........? Dia anakku… ?"
"Betul, Kakangmas. Dengarlah dahulu, ketika engkau melarikan diri dan aku dipaksa kawin dengan Tumenggung Matunggal, aku sudah......... sudah mengandung satu bulan. Dia anakmu, Kakangmas, karena itu......... tidak boleh engkau mengambilnya sebagai isterimu ’ "Aku tidak percaya! Juga tidak perduli. Dia akan menjadi isteriku, tak perduli dia anakku atau bukan, tak perduli engkau setuju atau tidak!?"
"Kakangmas. Wulandari berseru dengan suara penuh permohonan, dengan air mata bercucuran.
"Cukupl Dengar baik-baik. Aku cinta kepada Dyah Handini, seperti cintaku kepadamu dahulu. Cintaku kepadamu yang terputus. Kini aku minta dilanjutkan, karena dia serupa benar dengan engkau dahulu. Hanya ada dua jalan bagimu. Menyetujui dia menjadi isteriku sehingga kita bertiga akan dapat terus berkumpul, akan tetapi terus saling mencinta, atau......... engkau mati sekarang juga dan dia tetap menjadi isteriku!"
Jari-jari tangan yang masih melingkari leher Wulandari itu kini mengeras dan cekikan mulai terasa.
Dengan wajah pucat dan air mata mengalir, Wulandari terpaksa mengangguk, tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi.
"Ha-ha-ha, bagus, itu baru namanya bintang pujaanku yang sejati!"
Ki Patih Warutama tertawa lalu mengecup bibir Wulandari dengan buas, lalu memaksa wanita yang nelangsa batinnya itu untuk melayani cinta kasihnya yang sesungguhnya hanya merupakan cinta berahi, cinta berahi, cinta nafsu yang selalu menjadi penuntun bagi setiap perbuatan seorang manusia macam Warutama atau Sindupati.
Demikianlah, biarpun sudah mendengar dari mulut Wulandari sendiri bahwa Dyah Handini adalah anaknya, Ki Patih Warutama tidak mau mundur dan melangsungkan pernikahannya dengan dara yang denok ayu itu.
Tentu saja pesta pernikahan diramaikan dengan mewah dan meriah, dan orang-orang mulai memuji-muji lagi ki patih yang dianggapnya amat baik, suka mengangkat derajat anak seorang tumenggung.
Semua orang menganggap betapa baik nasib Dyah Handini dan ibunya, yang biarpun telah kehilangan ayah dan suami, namun kini malah dinaikkan derajatnya sampai berlipat kali!
Dyah Handini sendiri sebagai seorang gadis pada masa itu, hanya menurut kehendak ibunya dan akhirnya dia pun berbahagia karena suaminya, biarpun usianya sudah mendekati setengah abad, harus diakui merupakan seorang pria yang tampan dan gagah, apalagi amat pandai dan seorang ahli dalam merayu wanita dan bermain cinta.
Segera dara yang denok ini jatuh dan mabuk oleh rayuan pria yang menjadi suaminya, sedikit pun tak pernah menduga bahwa suaminya ini sesungguhnya adalah ayahnya sendiri Ki Patih Warutama yang pada lahirnya merupakan seorang patih yang berpengaruh dan berkuasa, merupakan seorang pria yang tampan dan gagah, sebenarnya batinnya amatlah rendah.
Hanya manusia berperangai binatang saja kiranya yang sudi melahap puterinya sendiri!
Bukan hanya itu saja, bahkan lebih jauh lagi tingkah dan ulah ki patih ini.
Terang-terangan di depan isterinya, ia melanjutkan hubungan rahasianya dengan Wulandari!
Akhirnya Dyah Handini juga mengetahui bahwa ibunya telah "diselir"
Oleh suaminya.
Anak dan ibu menjadi madu!
Namun, Dyah Handini yang sudah jatuh bertekuk lutut oleh belaian kasih sayang ki patih yang amat pandai, tidak berani marah, bahkan diam-diam menjadi gembira karena baginya, lebih baik membagi suaminya dengan ibunya daripada dengan wanita lain.
Terjadilah kemaksiatan yang menjijikkan dalam kamar Kl Patih Warutama.
Kini terang-terangan saja dia bermain cinta dengan ibu dan anak itu.
Dia tidur sekamar dengan Wulandari dan Dyah Handini, bergiliran mencintai ibu dan anak, tanpa malu-malu lagi bertiga tidur seranjang!
Kadang-kadang, mereka bertiga duduk bercengkerama, bersendau-gurau, ki patih duduk di tengah, Wulandari duduk di atas paha kanannya, Dyah Handini duduk di atas paha kirinya, memeluk kedua ibu dan anak itu dengan dua lengannya, bergiliran menciumi dan mencumbu mereka!
Hebatnya, lambat-laun Wulandari dapat melupakan rasa nelangsa di hatinya dan mulailah ia bergembira dan akhirnya ia merasa berbahagia mendapat kenyataan betapa ki patih masih tetap mencintanya seperti cintanya terhadap puterinya.
Wulandari merasa mendapat kepuasan lahir batin dan tak perduli lagilah akan tata susila, tidak malu menyaksikan puterinya bermain cinta dengan ki patih, juga tidak malu lagi disaksikan puterinya apabila dia mendapat giliran!
Adakah perbuatan a-susila yang lebih gila daripada ini?
Sementara itu, kedudukan Suminten makin kuat.
Keadaan sang prabu yang sudah tua tiada lebih kuat daripada seorang tapadaksa yang tak berdaya.
Semua persoalan pemerintahan dipegang oleh tiga serangkai itu, Suminten, Pangeran Kukutan, dan Ki Patih Warutama.
Hubungan dengan wakil-wakil Kerajaan Sriwijaya dan Cola makin diperkuat dan mulailah diatur rencana untuk menguasai seluruh Jenggala, kemudian menghantam Panjalu.
Kadipaten sebelah timur sudah pula dihubungi dan mereka ini, termasuk Kadipaten Nusabarung dan Kadipaten Blambangan yang menaruh dendam terhadap Panjalu, sudah siap-siap pula untuk membantu jika pecah perang.
Awan gelap menyelimuti angkasa di atas kedua kerajaan bersaudara itu, kerajaan yang menjadi keturunan Mataram, yang terpecah karena mendiang Sang Prabu Airlangga bermaksud bersikap adil dan mencegah perang saudara dengan cara membagi kerajaan menjadi dua.
-oo0dw0oo-Di kaki Gunung Anjasmoro sebelah utara merupakan pedusunan yang amat sunyi, yang hanya berpenduduk beberapa puluh keluarga petani miskin.
Namun tempat ini memiliki pemandangan alam yang indah dan kesunyian selalu merupakan sifat yang khas daripada keindahan alam.
Di antara pondok-pondok kecil, gubuk-gubuk berdinding anyaman bambu dan beratap daun kelapa itu terdapatlah sekelompok bangunan yang dikurung pagar tembok.
Pintu gerbang dinding yang mengurung kelompok bangunan ini selalu terjaga oleh beberapa orang perajurit pengawal.
Keadaan sekeliling pondok sunyi dan hening, dan hanya beberapa kali saja setiap harinya ada pelayan tua yang keluar melalui pintu gerbang untuk mengurus keperluan penghuni pondok.
Pondok ini adalah tempat pengasingan atau pembuangan bagi bekas permaisuri, sang ratu dari Jenggala!
Setelah sang ratu ini gagal menandingi Suminten yang sangat cerdik sehingga sang ratu yang hendak "menangkap basah"
Selir itu sebaliknya malah masuk perangkap, wanita tua ini sekarang menjadi seorang buangan, hidup bersunyi diri di dalam pondok yang dikurung dinding tinggi dan terjaga slang malam ini.
Tidak pernah keluar dari pondok, tidak pernah bertemu dengan orang lain kecuali para pelayannya karena bekas permaisuri ini dilarang keluar, dan dilarang pula menerima kunjungan orang luar.
Akan tetapi pada suatu hari, lewat pagi, sepasang orang muda memasuki pintu gerbang dinding yang mengurung pondok pengasingan ini.
Mereka berdua tidak dilarang oleh para penjaga, bahkanpara penjaga cepat-cepat berlutut memberi hormat dan menyapa dengan penuh kehormatan kepada pria yang lewat menggandeng wanita itu.
Mereka itu masih muda-muda dan keduanya amatlah eloknya, bagaikan sepasang dewa asmara Sang Hyang Komajaya dan Komaratih.
Kedua orang muda ini bukan lain adalah Pangeran Panji Sigit dan isterinya, Setyaningsih.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, setelah menikah di Padepokan Wilis, Pangeran Panji Sigit mengajak isterinya untuk ke Jenggala.
Pangeran Panji Sigit maklum bahwa kembalinya ke Jenggala merupakan perbuatan yang banyak resikonya bagi dirinya karena dia telah mempunyai seorang musuh yang berbahaya, yaitu Suminten.
Akan tetapi karena pangeran ini amat mencinta ramandanya, dan pula karena ia berpikir bahwa setelah ia beristeri, kiranya Suminten tidak begitu gila untuk menggodanya lagi, maka ia bertekad untuk pulang ke Jenggala.
Di sepanjang perjalanan, pangeran yang amat memperhatikan keadaan ramandanya dan keadaan kota raja, bertanya-tanya dan alangkah kaget hatinya ketika ia mendengar segala peristiwa hebat yang terjadi di kerajaan ramandanya.
Tentang pengangkatan Pangeran Kukutan menjadi putera mahkota, sama sekali tidak mendatangkan kesan apa-apa di hatinya karena memang Pangeran Panji Sigit bukan seorang yang gila akan kedudukan.
Peristiwa yang menimpa keluarga ki patih, yang didengarnya di jalan, dan tentang penggantian patih baru, hanya mendatangkan rasa haru dan kasihan di samping rasa penasaran mengapa paman patih yang dianggapnya amat baik dan setia itu sampai dijatuhi hukuman sekeluarga sedemikian mengerikan.
Akan tetapi ketika ia mendengar bahwa ibunda ratu diasingkan, dibuang ke kaki Anjasmoro, Pangeran Panji Sigit menjadi marah sekali.
"Setan betina, iblis laknat, siluman keji! Semua ini gara-gara dial"
Seru Pangeran muda itu sambil mengepal tinju dan mukanya menjadi merah sekali.
"Eh, Kakangmas. !"
Setyaningsih menegur suaminya. Pangeran Panji Sigit merangkulnya dan ia sadar, dapat pula menguasai hatinya yang terbakar. Setelah menghela napas panjang ia berkata.
"Diajeng, sungguh jahat sekali dia itu. Semua ini tentu hasil perbuatan Suminten. Aduh dewata Yang Maha Agung......... mengapa Ramanda Prabu sampai tenggelam sedemikian dalamnya. Diajeng, mari kita pergi ke kaki Anjasmoro, lebih dahulu kita menjenguk Ibunda Ratu."
Perjalanan dilanjutkan.
Kuda tunggangan mereka dilarikan lebih cepat dan akhirnya mereka dapat juga menemukan pondok pengasingan di kaki.
Gunung Anjasmoro.
Para penjaga tentu saja mengenal Pangeran Panji Sigit yang memang sejak dahulu amat disuka oleh semua perajurit, maka dengan mudah saja Pangeran Panji Sigit dan isterinya memasuki pintu gerbang dan langsung mencari bekas permaisuri yang menurut para abdi sedang duduk seperti biasa di belakang pondok.
Hati Pangeran Panji Sigit terasa seperti disayat-sayat pisau ketika ia melihat wanita tua itu duduk bersila di atas lantai bertilam tikar.
Wajah permaisuri itu masih agung, sungguhpun segala keadaan memperlihatkan kesederhanaan yang amat tidak pantas bagi seorang bekas ratu.
Muka itu tidak dirias, tidak dibedaki, rambutnya digelung bersahaja ke belakang, rambut yang sudah bercampur banyak uban, tubuhnya ditutup libatan kain berwarna putih sederhana, pakaian seorang pertapa.
Hanya sepasang gelang sederhana yang menghias kedua tangannya yang bertelanjang sampai ke siku.
Sang ratu itu sedang duduk bersamadhi, hening dan tidak bergerak seperti sebuah arca.
Wajahnya yang tua itu membayangkan ketenangan, namun gurat-gurat pada dahinya jelas membayangkan penderitaan batin yang hebat.
Betapapun juga, mulutnya menjadi pencerminan kesabarannya sehingga makin mengharukan hati Pangeran Panji Sigit yang segera menggandeng tangan isterinya, diajak maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan sang ratu sambil berkata lirih.
"Duhai Ibunda Ratu yang mulia, hamba Panji Sigit bersama isteri datang menghadap Paduka."
Kata Pangeran Panji Sigit dengan suara terharu. Wanita itu membuka kedua matanya. Wajahnya berseri, matanya bersinar dan mulutnya tersenyum, tanda bahwa hatinya gembira sekali.
"Panji Sigit......... Ah, Pangeran, alangkah gembira hatiku. Mendekatlah, Puteraku wong bagus."
Panji Sigit mendekat dan wanita tua itu lalu membelai rambut kepalanya. Sentuhan ini membuat hati Panji Sigit makin terharu sehingga dua titik air mata membasahi pipinya.
"Dia ini isterimu, Kulup? Ah, Nini, mendekatlah, Mantuku. !"
Setyaningsih menyembah dan menghampiri.
Dengan kedua tangan di atas kepala kedua orang itu, sang ratu menengadah seolah-olah mohon berkah dewata untuk sepasang orang muda itu.
Wajahnya jelas membayangkan keharuan dan kegembiraan.
"Duhai Ibunda Ratu......... apakah yang telah terjadi.........? Paduka."
"Husshhhh, Panji Sigit puteraku. Tidak ada apa-apa denganku, cerita tentang aku tidak menarik. Lebih baik kauceritakan pengalamanmu semenjak kau pergi dari istana. bagaimana sekarang tahu-tahu pulang membawa isteri yang begini cantik jelita? Anak nakal, agaknya engkau baru pulang dari taman sorga dan mempersunting seorang bidadari "
Di dalam hatinya, Pangeran Panji Sigit makin terharu dan kagum sekali ia akan ketenangan dan ketabahan hati sang ratu.
Sudah mengalami nasib yang demikian sengsara dan terhina, masih bersikap tenang, tidak menonjolkan penderitaan pribadinya.
Dan seorang wanita yang begini telah dibuang oleh sang prabu!
Maka ia pun menenangkan perasaan hatinya dan bercerita tentang pengalamannya setelah dia pergi meninggalkan istana.
Betapa ia memasuki sayembara di lembah Wilis dan berhasil mempersunting Setyaningsih.
"Kanjeng Ibu, dia ini bukan orang lain, melainkan adik kandung dari Ayunda Endang Patibroto yang kini menjadi ketua Padepokan Wilis."
Ia menutup ceritanya.
"Ahhhh......... Endang Patibroto manluku yang terkena fitnah dan......... kasihan puteraku Panjirawit......... Jadi Andika adik kandung Endang Patibroto? alangkah baiknya, kalian menyambung kembali ikatan yang terputus oleh keadaan. Aku girang sekali, Panji Sigit dan Setyaningsih."
"Duh Kanjeng Ibu, sekarang hamba mohon Paduka suka menceritakan, mengapa Paduka sampai menjadi begini....……. sungguh bingung dan sedih hati hamba mendengar dalam perjalanan tentang paduka."
Sang ratu tersenyum.
"Apa yang engkau dengar, Pangeran?"
"Hamba mendengar cerita orang dalam perjalanan hamba bahwa Paduka di. diasingkan ke tempat ini oleh Ramanda Prabu karena katanya Paduka.... Paduka melakukan fitnah kepada ibunda selir."
Sang ratu mengangguk.
"Memang tampaknya begitulah, Puteraku. Akan tetapi sebetulnya di balik kenyataan ini terdapat rahasia-rahasia yang amat pelik. Nah, kau dengarlah penuturanku, karena engkau sebagai seorang Pangeran Jenggla berhak mengetahuinya."
Maka berceritalah wanita tua itu dengan suara tenang dan sabar.
Diceritakan segala peristiwa yang terjadi di dalam istana, yang tidak diketahui orang lain.
Tentang sepak terjang Suminten dan Pangeran Kukutan tentang persekutuannya dengan ki patih yang baru, tentang kelemahan sri baginda dan kemudian betapa dia sendiri terjebal ke dalam perangkap yang mereka pasang yang menjebloskannya sehingga mengakibatkan dia terbukti melakukan fitnah dan dihukum buang.
"Ah, si keparat, iblis betina yang keji!"
Pangeran Panji Sigit mengepa tinju, mukanya merah dan matanya terbelalak penuh kemarahan.
"Agaknya dahulu pun dia sengaja menggoda dan menyinggungku agar aku pergi dari istana dan dia dapat berbuat sesukanya! Keparat!"
"Kakangmas, tenanglah "
Setyaningsih memperingatkan. Sang ratu tersenyum.
"Wah, isterimu ini mengagumkan, Pangeran. Agaknya tidak semudah ayundamu dikuasai kemarahan. Dia benar, Puteraku, tenanglah dan ceritakan kepadaku, apa yang dia lakukan dahulu terhadap dirimu."
"Hamba. hamba merasa malu untuk menceritakan peristiwa menjijikkan itu, Kanjeng Ibu!"
"Biarlah hamba yang bercerita, Kanjeng Ibu. Sebelum Kakanda Pangeran pergi dari istana, Kakanda pernah digoda oleh Ibunda selir, dibujuk rayu dan diajak bermain asmara. Kakanda Pangeran tidak mau melayani niatnya yang kotor itu, kemudian Kakanda yang merasa malu sekali lalu pergi meninggalkan istana."
Sang ratu mengangguk-angguk.
"Hemm......... tidak aneh. Betapa banyaknya pangeran yang terjatuh oleh rayuannya! Syukur engkau teguh hati, Angger."
"Ibunda Ratu, kita harus menghancurkan iblis betina itu! Penghlnaan terhadap Paduka harus dibalas. Biarlah hamba yang !"
"Jangan, Kulup. Jangan menurutkat hati panas. Ingatlah bahwa benci dan dendam hanya akan mengotori dan mengeruhkan batin sendiri. Aku tidak membenci Suminten, aku tidak mendendamnya, setelah aku mendapat ketenangan batin di sini baru kuketahui akan hal ini. Aku menerima nasib dan sisa hidupku yang tak lama lagi ini tidak boleh sekali-kali dikotori oleh benci dan dendam."
"Akan tetapi, lblis betina itu telah merusak kebahagiaan Paduka, telah menghina Paduka sehingga Paduka mengalami nasib sengsara seperti ini. Dia adalah musuh Paduka."
"Keliru wawasanmu, Angger. Boleh jadi dia menganggap aku sebagai musuh, akan tetapi biarlah kalau begitu. Aku tidak menganggap dia atau siapa saja sebagai musuh, dan peristiwa yang menimpa diriku tidak kuanggap sebagai salah siapa-siapa, melainkan semata-mata adalah tepat seperti yang dikehendaki Sang Hyang Wisesa. Apa pun yang terjadi di dunia ini adalah tepat seperti yang dikehandaki-Nya, karena di luar kehendakNya , takkan terjadi sesuatu."
Diam-diam Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih menjadi kagum dan di dalam hati mereka tunduk terhadap wawasan yang sedemikian hebatnya, yang sukar dilaksanakan oleh siapa pun.
"Maaf, Ibunda Ratu, hamba takkan sanggup dan berani membantah kebenaran wejangan Paduka itu. Akan tetapi, kerajaan berada dalam cengkeraman manusia-manusia iblis, kerajaan terancam bahaya, juga Ramanda Prabu ah, betapa mungkin hamba yang melihat hal itu semua lalu berpeluk tangan, mendiamkannya saja?"
"Hal itu lain lagi persoalannya, Puteraku. Sudah menjadi kewajibanmu sebagai seorang pangeran dan ksatria untuk membela Ramandamu dan kerajaan.Sudah menjadi kewajibanmu pula untuk menghalau musuh negara. Akan tetapi kalau demikian, semua tindakanmu mempunyai dasar yang bersih, bukan semata-mata karena kebencian dan hendak membalas dendam yang ditimpakan kepadaku. Mengertikan engkau akan perbedaannya, Angger Pangeran?"
Pangeran Panji Sigit menganggukangguk.
Tahulah ia sekarang apa yang dimaksudkan ibu tirinya ini.
Tentu saja sebagai seorang gemblengan, ia sudah banyak menerima wejangan dari guru-gurunya, sudah mengerti pula akan perbedaan antara dua perbuatan yang sama.
Hanya sama tampaknya, namun seperti bumi dan langit perbedaannya yang terletak pada dasar perbuatan itu yang menjadi sebab.
Membunuh dan membunuh tidaklah sama kalau membunuh yang pertama berdasarkan kebencian dan dendam sedangkan membunuh yang ke dua berdasarkan membela negara.
Bukanlah perbuatannya yang dinilai, melainkan yang tersembunyi di balik perbuatan itu, pendorong dan pamrihnya.
"Hamba mengerti, Kangjeng Ibu. Akan hamba usahakan sekerasnya agar hamba tidak melibatkan persoalan pribadi dalam perjuangan hamba, melainkan persoalan membela negara dan melindungi Ramanda Prabu. Hamba bermohon diri, Kanjeng Ibu, sekarang juga hamba bersama Setyaningsih hendak mulai menentang dan menghalau iblis-iblis yang mencengkeram Kerajaan Jenggala."
"Kau terlalu sembrono, Pangeran. Kalian berdua tidak boleh pergi ke Jenggala, hal ini amat berbahaya bagi kalian berdua."
"Hamba tidak takut. Harap Kanjeng Ibu jangan khawatir. Selama hamba pergi merantau, hamba telah menerima banyak gemblengan ilmu, dan di samping hamba ada Diajeng Setyaningsih yang memiliki kesaktian. Hamba berdua dapat menjaga diri. Pula, di kota raja banyak terdapat para ponggawa yang masih setia kepada Ramanda Prabu, dan banyak sahabat-sahabat hamba."
"Ah, engkau tidak tahu, Angger. Seluruh ponggawa telah menjadi kaki tangan Kukutan. Dan ketahuilah bahwa Ki Patih Warutama memiliki kesaktian yang amat luar biasa sehingga dia berhasil menyelamatkan ramandamu dari serbuan orang-orang jahat seperti yang kuceritakan padamu tadi. Engkau sudah pernah bentrok dengan Suminten. Hal ini amat berbahaya bagimu. Sekali Suminten menudingkan telunjuknya kepadamu, engkau akan dikeroyok dan ramandamu takkan dapat berbuat apa-apa karena ramandamu kini tidak pernah keluar dari dalam kamarnya. Tak ada seorang pun sahabat yang berani membelamu, Angger."
Pangeran Panji Sigit mengerutkan alisnya yang tebal.
"Habis, apakah yang harus hamba Iakukan, Kanjeng Ibu? Apakah menerima nasib dan berdiam diri saja?"
"Hanya ada satu jalan terbaik yang dapat kutunjukkan kepadamu, Puteraku. Pergilah engkau bersama isterimu ke Panjalu. Di Jenggala sendiri sudah tidak ada orang yang akan dapat menolong kerajaan. Panjalu sajalah yang akan dapat mengatasi keadaan. Pergilah menghadap uwa prabu di Panjalu dan ceritakan semua yang telah kaudengar dariku tadi. Di sana banyak terdapat orang-orang pandai, bahkan Adipati Tejolaksono pun kabarnya berada di Panjalu menjadi patih muda. Nah, ke sanalah tempat engkau mencari bantuan, Angger."
Pangeran Panji Sigit bukanlah seorang pemuda yang hanya menurutkan nafsu amarah.
Mendengar nasehat ini ia dapat menerima, maka ia pun lalu berpamit dan pergilah ia bersama Setyaningsih menuju ke Panjalu.
Setyaningsih juga merasa girang sekali karena mendengar bahwa Adipati Tejolaksono telah pindah ke Panjalu, dengan demikian dia akan mendapat kesempatan untuk berkunjung dan bertemu dengan mereka, terutama sekali dengan Pusporini yang sudah amat dia rindukan.
Tidak ada halangan merintangi perjalanan sepasang suami isteri yang perkasa ini, dan perjalanan dilakukan dengan cepat.
-oo0dw0oo-"Kalian berhati-hatilah.
Ular itu bukan sembarang ular, melainkan ular yang sudah bertapa ratusan tahun lamanya.
Sudah ribuan kali berganti kulit dan sudah banyak menerima cahaya sakti bulan dan matahari.
Batu mustika itu berada di dalam kepalanya, di atas lidah, tepat di antara kedua matanya.
Mustika itu tidak ada gunanya bagi seekor ular, hanya menambah kebuasannya membahayakan mereka yang lewat di hutan itu, namun sebaliknya amatlah berguna kelak bagi kalian berdua.
Aku sudah memberi ijin kepada kalian, pergi cari ular itu, bunu dia sebagai hukuman karena dia telah menelan tiga orang anak penggembala, dan ambil mutiaranya.
Akan tetapi hati-hatilah!"
Demikian pesan Sang Resi Mahesapati kepada dua orang muridnya, Joko Pramono dan Pusporini.
Telah tiga tahun lebih mereka berdua digembleng oleh guru mereka yang sakti mandraguna itu di puncak Gunung Kawi dan biarpun guru mereka ini tidak menurunkan ilmu baru, namun gemblengannya hebat luar biasa sehingga aji-aji yang telah mereka berdua miliki kini memperoleh kemajuan pesat sekali dan kekuatan sakti mereka menjadi berlipat ganda.
"Eyang Resi, untuk membunuh ular dan mengambil mustika di dalam kepalanya saja mengapa Eyang menyuruh dia ini ikut? Dia hanya akan menghalang-alangi pekerjaanku saja. Biar kulakukan sendiri, Eyang. Hamba berjanji akan membawa mustika ular itu kepada Eyang tanpa bantuan dial"
Kata Pusporini sambil melirik-lirik ke arah Joko Pramono.
Hatinya sedang kesal karena tadi pagi dalam latihan mempergunakan tenaga sakti memukul air, ternyata air telaga muncrat lebih tinggi ketika dipukul Joko Pramono dan pemuda itu sengaja mengejeknya.
"Wah-wah, coba Eyang Resi perhatikan, bukankah murid Eyang yang satu. ini makin lama makin sombong? Makin besar kepala!"
Joko Pramono juga menyerang marah.
"Apa? Kepalaku besar? Tidak sebesar kepalamu! Engkaulah yang sombong! Pagi tadi dia menyombongkan tenaganya dan mengatakan bahwa aku kalah kuat olehnya, Eyang Resi. Coba, bukankah dia yang sombong?"
"Aku kan bicara apa adanya?"
Bantah Joko Pramono.
"Aku pun bicara apa adanya. Memangnya aku membutuhkan bantuanmu untuk membunuh ular itu?"
"Wah aksinya. Melihat ular nanti ku rasa kau akan menjerit-jerit kegelian dan ketakutan!"
"Coba saja! Memangnya aku ini anak kecil? Sepuluh ekor ular ditambah engkau aku tidak takut!"
Sang Resi Mahesapati tertawa bergelak.
"Sudah, sudah......... ha-ha-hal....…. Kalian ini seperti bocah-bocah nakal saja; Mendengarkan kalian bertengkar setiap hari, benar-benar membuat aku awet muda! Pertengkaran kalian itu membayangkan jiwa muda yang masih panas membara, semangat yang menyala-nyala dan......... dan ha-ha-ha, benar-benar lucu. Sekarang begini saja. Kalian berdua kuijinkan berlomba mencari dan membunuh ular Puspo Wilis itu. Siapa yang nanti membawa mustika dan menyerahkannya kepadaku, kuanggap lebih pandai!"
"Baik, hamba pamit mundur, Eyang!"
Pusporini menyembah lalu berkelebat, sekejap mata saja lenyap dari hadapan gurunya yang duduk di depan pondok bambu.
"Hamba pun minta diri, Eyang!"
Joko Pramono juga berkelebat cepat mengejar Pusporini, khawatir kalau kalah dulu. Kembali kakek tua renta itu tertawa bergelak dan menengadah ke angkasa, mulutnya berkemak-kemik.
"Lucu......... lucu......... alangkah indahnya hidup bagi orang-orang muda......... ha-ha-ha. !"
Seperti burung terbang setidaknya seperti seekor kijang Pusporini lari sambil mengerahkan seluruh aji kesaktian Bayu Sakti yang pernah ia pelajari dari Adipati Tejolaksono dahulu.
Namun kini Aji Bayu Sakti yang ia pergunakan jauh mendapat kemajuan yang hebat sehingga larinya amat cepat, tubuhnya ringan sekali dan kedua kakinya seolah-olah tidak menginjak tanah melainkan terbang di atas ujung rumput-rumput hijau!
Dalam hal tenaga sakti mungkin dia kalah kuat setingkat kalau dibandingkan dengan Joko Pramono, akan tetapi dalam aji keringanan tubuh dan kecepatan berlari, pemuda itu masih sukar untuk dapat mengalahkannya.
Apalagi sekarang Pusporini mengerahkan seluruh kepandaiannya karena ia memang sedang berlomba dengan pemuda itu!
Jauh di belakang, makin lama makin jauh tertinggal, Joko pramono juga berlari secepatnya melakukan pengejaran.
Di dalam hatinya, pemuda ini sebetulnya sama sekali tidak berniat untuk mendahului Pusporini, sungguhpun harus ia akui bahwa kalau berlomba lari ia takkan menang.
Namun, ia melakukan pengejaran karena di dalam hatinya timbul rasa khawatir akan keselamatan gadis yang menjadi teman belajar, menjadi teman berlatih akan tetapi juga menjadi lawan bertengkar itu.
Seringkali ia merasa heran mengapa dia selalu bertengkar dengan Pusporini, mengapa agaknya ada terasa kenikmatan dan kegembiraan di hatinya kalau mereka sedang bertengkar itu.
Bagi dia, Pusporini tampak paling manis kalau sedang marah-marah seperti itu!
Dan pemuda ini merasa di dalam hatinya bahwa mereka berdua selalu bertengkar karena tidak mau kalah, karena masing-masing ingin dihargai, ingin dikagumi.
Namun, sehari saja tidak bertengkar, apalagi tidak berjumpa, merupakan siksaan batin yang tiada taranya Demikianlah, dua orang muda itu berlari-lari seperti terbang menuju ke sebuah hutan di lereng Gunung Kawi sebelah timur, yaitu hutan yang oleh guru mereka disebut hutan Kaloka, di mana terdapat ular besar Puspo Wilis yang bertapa dan yang harus mereka bunuh dan ambil mustikanya.
Beberapa pekan yang lalu, ular itu telah menelan tiga orang anak penggembala kerbau yang sedang menggembala kerbau di pinggir hutan.
Sementara itu, dari kaki Gunung Kawl sebelah timur, tampak dua orang berjalan kaki, mendaki lereng.
Mereka adalah seorang laki-laki setengah tua yang tampan dan gagah, berusia empat puluhan tahun, mengiringkan seorang gadis yang usianya takkan lebih dari dua puluh tahun, seorang gadis tinggi semampai yang manis sekali, berwajah cerah bermata jeli.
Gadis itu tidak tahu betapa pria yang mengiringkannya memandang kepadanya dari belakang dengan pandang mata mesra, dan betapa pria itu berkali-kali menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mereka itu bukan lain adalah Wiraman dan Widawati, pengawal perkasa yang setia kepada Ki Patih Brotomenggala dan cucu mendiang ki patih itu, satu-satunya orang dari keluarga kepatihan yang lolos dari cengkeraman maut.
Sebagai orang-orang yang diburu oleh kaki tangan Pangeran Kukutan, keduanya harus selalu berpindah-pindah dan bersembunyi-sembunyi, keluar masuk hutan, naik turun gunung.
Tujuan perjalanan Wiraman adalah ke Panjalu, namun karena ia harus melakukan perjalanan sambil bersembunyi, maka mereka terpaksa mengambil jalan memutar yang amat jauh dan sukar.
Bagi Wiraman sendiri, seorang pengawal gemblengan yang bertubuh kebal dan kuat, perjalanan sukar dan jauh itu tidaklah amat berat.
Akan tetapi patut dikasihani Widawati, biarpun dia pernah ia mempelajari ilmu olah keperajuritan, namun karena sebagai cucu patih dia lebih sering melakukan pekerjaan-pekerjaaan halus dan tubuhnya tidak begitu terlatih, perjalanan itu amatlah menyiksa dan melelahkan.
Apalagi semua kesukaran ini diderita dengan hati hancur apabila teringat akan nasib buruk yang menimpa keluarganya.
Untung baginya, di sampingnya terdapat Wiraman yang pandai menghiburnya, yang slap membela dan melindunginya, dan yang menjamin akan segala keperluannya di sepanjang perjalanan.
Ketika mereka sampai di sebuah tanjakan terjal, di luar sebuah hutan yang nampaknya angker dan liar, kaki Widawati tersandung dan ia terhuyung ke depan.
Untung pada saat itu Wiraman cepat melompat dan menyambar lengannya sehingga dia tidak sampai jatuh tersungkur, akan tetapi renggutan tangan Wiraman itu membuat tubuh Widawati tersentak ke belakang dan berada di dalam pelukan pria itu, rapat bersandar di atas dada yang bidang.
"Hati-hatilah !"
Hanya demikian Wiraman dapat berkata karena pria segera memejamkan mata, dadanya bergelombang ketika perasaan yang aneh meresap di dalam tubuhnya.
Tangan kanannya masih memegang lengan Widawati, tangan kirinya memegang pundak gadis itu.
Merasa betapa punggung dan kepala gadis itu bersandar ke dadanya, mencium keharuman khas dari rambut dan peluh gadis itu, berdebar jantungnya dan kakinya.
Widawati amat lelah.
Juga tadi la terkejut karena tersandung dan akan.
tersungkur ke depan, di mana terdapat jurang yang dalam.
Kini merasa betapa ia selamat dan mendapat sandaran yang kokoh kuat, ia merasa aman dan tenteram.
Tiada henti-hentinya Wiraman melimpahkan budi kebaikan kepadanya.
la tidak tahu,, apa yang akan dia lakukan kalau di sampingnya tidak ada Wiraman.
Tanpa disadari lagi, ketika kali ini kembali Wiraman yang menolongnya pada saat yang tepat, menjadi bukti bahwa Wiraman selalu memperhatikannya, selalu menjaganya, ia bersandar pada dada yang bidang dan kuat itu dan sampai beberapa lamanya mereka hanya berdiri dalam keadaan seperti itu, keduanya memejamkan mata.
Widawati dapat mendengar dengan telinganya betapa dada yang bidang itu berdetak-detak keras.
Hal ini menyadarkannya dan ia segera memisahkan diri.
"Terima kasih, Kakang Wiraman, engkau telah menyelamatkan aku."
"Ah, tidak perlu berterima kasih, Diajeng. Memang sudah menjadi kewajibankulah untuk menjaga dan melindungimu. Engkau tentu lelah sekali, dan di depan adalah hutan yang amat lebat, mari kita mengaso dulu."
"Baik, Kakang "
Maka duduklah mereka berdua di bawah sebatang pohon, berteduh dari panas terik matahari yang membakar kulit.
Widawati menyusuti peluhnya dengan ujung baju, menjilat-jilat bibirnya yang merah dengan ujung lidah.
Sebentar Wiraman terpesona memandang mulut itu, ketika pandang mata mereka bertemu, Wiraman cepat-cepat menunduk dan berkata.
"Engkau tentu haus, Diajeng. tunggu sebentar kucarikan air."
Tanpa menanti jawaban, Wiraman sudah pergi mencari air gunung yang jernih.ditampungnya air itu dengan daun talas dan dibawanya air itu kepada Widawati yang menerima dan meminumnya dengan lahap karena memang ia haus sekali.
Sampai lama mereka beristirahat di situ.
Angin sumilir membuat Widawati mengantuk.
Ia bersandar pada batang pohon dan memejamkan matanya.
Wiraman tidak mengganggunya, melainkan duduk pula tidak jauh dari situ, memandang ke arah hutan lebat dengan pandang mata melamun.
Berkall-kali, sama halnya ketika dalam per jalanan tadi, Ia memandang ke arah Widawati, menghela napas panjang dan menggeleng-geleng kepala, menghela napas lagi.
"Kakang Wiraman."
Wiraman terkejut, seperti disentakkan dari alam mimpi.
Tadinya ia tengah melamun, memandang ke hutan dan mengglgit-gigit rumput yang tanpa disadarinya telah ia cabut dari dekat kakinya.
Ia menoleh dan pandang mata mereka bertemu, bertaut, dan dari pandang mata Wiraman masih memancar sinar cinta kasih yang jelas dan mesra.
Mereka tidak berkata-kata lagi, hanya pandang mata mereka yang melekat dan seolah-olah mewakili mulut dan hati.
Akhirnya Widawati yang berkata lirih.
"Kakang , engkau kenapakah? Sejak tadi kulihat engkau menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala. Ada sesuatu yang mengganggu hatimu, Kakang. Katakanlah, apakah gerangan yang kau susahkan? Kalau tidak kau ceritakan kepadaku, aku tentu akan menganggap bahwa akulah yang menyusahkan hatimu, Kakang."
"Ah, tidak......... tidak sama sekali, Diajeng......... aku hanya."
Wiraman terdiam, amat sukar agaknya untuk mengeluarkan isi hatinya.
Mereka berpandangan kembali dan slnar mata penuh ketulusan hati dari gadis itu seolah-olah memberi semangat dan keberanlan kepadanya.
"Biarlah kubukakan semua rahasia hatiku, Diajeng. Aku seorang laki-laki yang suka berterus terang, dan aku berani pula mempertanggungjawabkan semua perbuatan atau ucapanku. Semenjak aku bertemu denganmu, Diajeng, ketika kau dibawa oleh Kakang Mitra......... semenjak itulah terjadi sesuatu yang tidak wajar di hatiku. Bagiku, ada sesuatu pada dirimu yang mengikat, mempesona, dan mengguncang hatiku. Ada suatu daya tarik luar biasa yang tidak wajar. Bukan kecantikanmu, bukan pula kemudaanmu, entah apamu aku sendiri tidak dapat mengatakan, melainkan yang sudah pasti, ada sesuatu yang membuat aku amat tertarik. Inikah yang disebut ikatan Karma? Aku harus jujur, Diajeng, dan dengan segala kejujuran kunyatakan sekarang juga demi menjaga segala kepura-puraan bahwa aku. cinta kepadamu, Diajeng."
"Ahhh I"
Suara Widawati seperti rintihan perlahan yang langsung keluar dari lubuk hatinya. Sepasang mata yang lebar jernih Itu mulai basah.
"Aku bukan..seorang yang tidak tahu diri, Diajeng. Aku sadar bahwa aku telah beristeri, telah mempunyai anak-anak, dan bahwa usiaku pun sudah setengah tua! Aku bukan seorang penghamba nafsu, aku mencinta isteri dan anak-anakku, sampai kini aku belum pernah mengambil selir. Akan tetapi terhadap engkau, Diajeng, entah mengapa aku sendiri tidak mengerti. Ada sesuatu yang menarik hatiku sehingga hatiku menjerit bahwa aku mencintamu, bukan cinta nafsu, akan tetapi. ah, seolah-olah aku tidak akan sanggup untuk berpisah lagi dari sampingmu."
"Kakang Wiraman "
Widawati mulai terisak.
"Mungkin aku telah menjadi gila, Diajeng,"
Suara Wiraman terdengar gemetar.
"akan tetapi demi semua Dewata, aku tidak berpura-pura, tidakpula dimabuk nafsu. Sudah banyak kujumpai puteri-puteri cantik jellta, lebih cantik dari padamul sudah pula kuhadapl godaan wanita-wanita cantik, namun aku selalu menghindari karena hatiku tidak suka menerima semua itu. Akan tetapi terhadap engkau, aku benar-benar jatuh! Duhai Dewata, salahkah Wiraman ini? Salahkah Wiraman yang setengah tua ini menjatuhkan hatlnya kepada seseorang, dalam hal ini seorang gadis seperti, Widawati? Berdosakah kalau hati ini jatuh cinta?"
Ucapan-ucapan terakhir itu tidak lagi ditujukan kepada Widawati, melainkan kepada diri sendiri atau kepada para dewata.
Sampai lama keadaan sunyi, hanya terdengar Widawati menangis sesenggukan sambil menyembunyikan mukanya di balik telapak tangannya.
Kemudian terdengar gadis itu berkata lirih.
"Kakang, bagaimana aku akan menjawab? Engkau merupakan satu-satunya orang yang paling baik bagiku, seorang yang telah melimpahkan budi kepadaku.......... cintamu itu, sungguhpun amat mengejutkan hatiku, namun aku percaya akan kemurnianhya. Engkau adalah seorang pria yang patut dihormati, patut disuwitani, patut dicinta. Sesungguhnya, alangkah akan mudahnya bagi hatiku untuk membalas cinta kasih-mu, Kakang, akan tetapi "
"Akan tetapi aku sudah terlalu tua bagimu? Pantas menjadi ayahmu, menjadi pamanmu? Katakanlah terus terang, Diajeng. Aku Wiraman bukan seorang lemah dan aku dapat menghadapi semua kenyataan dengan mata terbuka dan pikiran sadar."
"Bukan, bukan begitu, Kakang Wiraman. Aku pun maklum bahwa cinta tidaklah melihat usia, tidak pula melihat kedudukan dan keadaan seseorang. Akan tetapi......... engkau telah mempunyai anak isteri, Sedangkan aku......... aku semenjak dahulu bercita-cita untuk cinta mencinta dengan satu orang saja, tidak suka aku dimadu tidak suka aku melihat seorang pria mempunyai selir. Banyak sudah terbukti kekacauan timbul karena selir, contohnya sang..prabu sendiri "
"Akan tetapi, tidak semua selir sejahat dia, Diajeng. Bukan sekali-kali aku menyatakan ini untuk memaksamu menjadI selirku. Tidak. Sudah kukatakan tadi bahwa aku mencintamu bukan oleh dorongan nafsu. Aku hanya tidak ingin berpisah darimu dan......... dan......... ah, sudahlah, Diajeng, aku hanya membuatmu berduka saja. Sudah cukup bagiku kalau engkau mendengar akan perasaan hatiku, sudah cukup kalau engkau mengetahui bahwa aku mencintamu. Lebih daripada itu, tidak kuharapkan. Kalau engkau tidak membalas cintaku, itu pun dapat kuterima dengan penuh kesadaran. Aku tidak menyalahkanmu, hanya aku sendiri-lah yang gila. Aku tidak ingIn menyeretmu ke lembah kedukaan dan kesengsarain, dan semoga Sang Hyang Wisesa akan dapat mengangkatku daripada keadaan yang gila ini. Kau tinggallah di sini, Diitjeng, aku akan memburu kijang untuk kIta makan. dagingnya. Di dalam hutan di depan itu pasti banyak binatang buruan."
Tanpa menanti jawaban, Wiraman sudah lari meninggalkan Widawati memasuki hutan yang liar itu untuk mencari binatang buruan, terutama kijang yang lembut dan lezat rasa dagingnya.
HATINYA, terasa ringan, dadanya lapang setelah ia membuka rahasia hatinya.
Ia tidak mengharapkan balasan cinta karena maklum bahwa tak mungkin seorang gadis seperti Widawati dapat mencinta seorang setengah tua seperti dia.
Dia tidak berduka akan kenyataan yang sudah diketahuinya ini, dan dia hanya ingin melihat Widawati hidup bahagia.
Wiraman menjadi terheran-heran ketika ia memasuki hutan itu karena hutan ltu amat sunyi, tidak tampak seekor pun binatang buruan.
Hanya burung-burung beterbangan dl atas pohon dan agaknya hurung-burung itu pun dalam keadaan gelisah.
Karena belum juga melihat adanya binatang buruan, Wiraman menyusup makin dalam ke dalam hutan dengan hati penasaran.
Ia harus mendapatkan makanan untuk Widawati, kalau tidak murigkin menangkap atau membunuh seekor binatang yang dapat dimakan dagingnya sedikltnya ia harus bisa mendapatkan buah-buah untuk gadis itu.
Wiraman mengusap peluhnya.
Di sekitarnya pohon pohon raksasa menjulang ,tInggi dan membuat hutan itu kelihatan gelap dan menyeramkan.
Pakaiannya, pakaian pengawal sudah 1usuh dan basah oleh kerlngat.
la merasa makin heran karena kini la telah berada di tengah hutan, namun masih juga belum ditemuinya seekor pun binatang buruan.
Mulailah ia putus asa untuk mendapatkan daging binatang dan ia kIni mencari-cari ke atas kalau-kalau ada buah yang dapat dimakan.
Sudah lebih satu jam ia berkeliaran di hutan tanpa hasil.
WIdawati tentu menunggunya dengan hati gelisah dan perut lapar.
Teringat akan gadis itu, teringat pula ia akan pengakuannya terhadap Widawati, cinta kasihnya, Wajah orang gagah ini menjadi merah.
Berhakkah ia menyatakan cinta kasihnya secara terus terang seperti tadi?
Benarkah ia seorang pria yang mata keranjang, yang mudah tergiur hatinya melihat perawan cantik?
Tidak!
Biasanya dia tidak pernah tertarik kepada wanita lain, betapapun cantiknya dan muda belianya.
Dia mencinta isterinya dan teringat akan penderitaan isterinya ketika melahirkan anak-anaknya, teringat pula betapa isterinya terlunta-lunta karena dia menjadi seorang buruan, cintanya diperdalam dengan rasa kasihan.
Tidak!
Dia bukan seorang yang kurang setia, bukan seorang suami yang bosan kepada isterinya karena cintanya terhadap isterinya bukanlah cinta nafsu belaka, melainkan cinta yang mendalam dan murni.
Isterinya tentu akan memaafkannya, dan akan menyetujuinya kalau dia menjatuhkan hati kepada seorang wanita seperti Widawati.
Selamanya dia tidak pernah mempunyai selir seperti orang lain.
Dan terhadap Widawati, ada sesuatu yang amat aneh pada diri gadis itu yang menarik hatinya.
Bukan nafsu semata!
Widawati tidaklah terlalu cantik kalau dibandingkan dengan wanita-wanita cantik yang pernah dijumpainya.
Tiba-tiba Wiraman yang mengaso duduk di bawah pohon itu tersentak kaget dan meloncat bangun.
mendengar jerit mengerikan.
Jerit seorang wanita yang ketakutan!
Widawati!
Jerit itu datangnya dari arah di mana tadi meninggalkan gadis itu.
Bagaikan seekor kijang ketakutan, dengan sigap Wiraman lari ke arah suara jerit yang kini makin santer dan berulang-ulang didengarnya itu.
Keris pusaka telah berada di tangannya dan sambil mengerahkan tenaga berlari cepat, jantungnya berdebar penuh kekhawatiran.
"Aiiihhhh.........! Kakang Wiraman......... tolongggg !"
Pucat wajah Wiraman.
Kalau tadi ia masih setengah berharap bahwa jerit wanita itu bukan keluar dari mulut Widawati, kini harapan itu musnah dan kekhawatirannya makin memuncak.
Widawati dalam bahaya!
Ia mengerahkan seluruh tenaganya dan berloncatan ke arah jerit yang terakhir didengarnya itu.
Tibalah ia di sebuah tempat terbuka di mana pohon-pohon raksasa agak berjauhan tumbuhnya.
Dan apa yang ia lihat membuat bulu romanya bangun, kedua kakinya menggigil dan mukanya panas karena marah dan khawatir.
Widawati berada di situ, menggigil dan bingung, matanya terbelalak memandang ke depan, Mulutnya bergerak-gerak terbuka tanpa ada suara yang keluar.
Agaknya saking takutnya, gadis itu kehilangan suaranya!
Bajunya compang-camping, robek sebagian besar sehingga tampaklah sebagian dari dadanya.
Kulit tubuhnya banyak yang terkait dan tergores duri-duri sehingga pecah mengeluarkan darah.
Apakah yang membuat dara itu ketakutan setengah mati seperti itu?
Wiraman sejak tadi sudah melihatnya dan ia sudah siap dengan seluruh urat syaraf menegang, gagang keras dipegang erat di tangan.
Ular itu tidaklah amat besar.
Kurang lebih sepaha manusia besarnya, akan tetapi amat panjang dan kulit tubuhnya yang membelit pohon itu amat indahnya, berwarna dasar hijau dengan kembang-kembang kuning bergaris merah.
Karena warna yang kehijauan, dari jauh tidak tampak di antara daun-daun pohon.
Akan tetapi sepasang matanya yang merah menyala amat mengerikan, seolah-olah sepasang mata itu mengeluarkan api.
Lidahnya yang bercabang dan amat merah itu menjilat-jilat keluar masuk cepat sekali.
Kepalanya tergantung ke bawah dan mendekati tubuh Widawati yang berdiri seperti arca, dengan mata terbelalak kehilangan akal.
Ular itu siap agaknya untuk melakukan serangan terakhir, untuk meluncurkan kepala dan menggigit daging lunak pada dada dan leher dara itu.
Pada detik yang tepat tubuh Wiraman sudah meloncat ke depan, menerjang ular itu yang juga sudah meluncurkan kepalanya dengan mulut terbuka lebar ke arah dada Widawati yang membusung!
"Ular jahanam!!"
Wiraman mengeluarkan pekik dahsyat dan untunglah bahwa kemarahannya membuat ia mengeluarkan bentakan itu karena andaikata tidak, tentu dia akan kalah cepat oleh ular itu dan tentu Widawati sudah terkena gigitan mulut yang mengerikan itu.
Karena pekik yang nyaring ini, ular itu terkejut dan menahan kepalanya yang sudah siap menggigit, lalu memutar kepala memandang ke kanan dari mana tubuh Wiraman sudah menerjang maju.
Cepat sekali gerakan Wiraman, tangan kanannya yang memegang keris sudah menyerang, keris pusakanya ditusukkan tepat ke arah ular dari arah kanan.
"Tessss. ' Wiraman mengeluarkan seruan dan cepat-cepat ia membuang diri ke kini sehingga terhindar daripada serangan ular yang kini membalik dan menyerangnya. Ternyata bahwa tusukan kerisnya itu sama sekali tidak dapat menembus leher ular, bahkan sedikit pun tidak dapat melukai kulit ular yang indah itu. Kerisnya meleset dan ular itu seolah-olah tidak merasakan tusukannya lalu membalik dan menyerangnya. Namun Wiraman tidak menjadi gentar. Demi keselamatan Widawati ia harus melakukan perlawanan. Ia melihat betapa gadis itu masih berdiri terpaku di tempat yang tadi, terbelalak seperti telah berubah menjadi arca. Mukanya merah sekali dan hal ini amat mengherankan hati Wiraman.
"Diajeng, larilah.........! Pergilah menjauh !"
Teriaknya namun Widawati tIdak menjawab, juga tidak bergerak.
Terpaksa Wiraman menghentikan teriakannya karena kini ular itu meluncur ke arahnya dalam sebuah serangan yang amat cepat dan dahsyat.
Wiraman adalah seorang perajurit perkasa yang sudah banyak mengalami pertandingan.
Gerakannya sigap, terampil dan matanya awas.
Serangan ini dapat Ia hindarkan dengan mengelak ke kiri, kemudian pada saat kepala ular meluncur lewat, ia sudah menghunjamkan kerisnya, kini mengarah mata kanan ular itu.
Dia maklum bahwa kulit ular itu kebal, maka kini ia menyerang matanya karena tidak mungkin matanya kebal, pikirnya.
Akan tetapi, ternyata ular hijau Itu tangkas dan tidak dapat diakali begitu saja.
Kepalanya bergerak sedikit dan tusukan keris Wiraman meleset karena tidak mengenal mata melainkan mengenai kulit kepala.
Bukan hanya meleset, bahkan hampir terlepas dari tangan Wiraman karena "tangkisan"
Dengan kepala itu mengandung tenaga yang amat kuat, membuat tangan Wiraman seperti lumpuh sesaat.
Dan sebelum Wiraman dapat menguasai dirinya, tiba-tiba ular itu mengeluarkan suara mendesis keras dan uap yang kehijuan menyambar ke arah muka bekas pengawal ini.
Wiraman cepat miringkan mukanya, namun masih tercium bau yang amat harum mengandung bau amis yang memuakkan.
Kepalanya menjadi pening, pandang matanya gelap sedetik, kemudian berubah menjadi ganjil sekali karena ia melihat beraneka warna-warna cemerlang terbentang di depan matanya.
Pohon-pohon tidak berwarna hijau lagi melainkan berwarna indah barmacam-macam seperti seribu pelangi mewarnai segala sesuatu yang berada di depan matanya.
Ia terpesona dan tak dapat bergerak seperti berubah menjadi arca dan pada saat itu tubuhnya telah dibelit ekor ular.
Kepala ular Itu sejenak bergoyang-goyang seperti menari di depan mukanya, kemudian mulut yang bergigi runcing itu dibuka lebar, siap untuk menggigit.
Wiraman maklum akan bahaya yang mengancam dirinya namun ia masih terpesona oleh warna-warna aneh yang mengelilinginya.
Muka ular yang dekat dengan mukanya itu pun kini tidak berwarna hijau seperti tadi, melainkan menjadi bermacam-macam warnanya, cemerlang dan amatlah indahnya.
Sebagai seorang yang sudah banyak pengalaman hidupnya, Wiraman segera dapat menekan perasaannya dan mengerjakan otaknya.
Kini terlintas di otaknya dalam keadaan bahaya mengancam seperti itu bahwa dia telah terkena racun yang amat hebat.
Dan kini teringatlah ia akan keadaan Widawati yang juga berdiri seperti orang terpesona.
Tidak salah lagi.
Gadis itu yang agaknya tidak lagi melihat bahaya, yang berdiri memandang dengan mata kagum, tentu telah terkena racun pula seperti dia.
Teringat akan ini, Wiraman mengerahkan tenaganya, hendak meronta dari libatan tubuh ular, hendak melawan mati-matian dan menyelamatkan Widawati.
Namun, sia-sia belaka.
Ular itu bukan main kuatnya dan kini moncong yang terbuka lebar itu telah mendekatinya, mengeluarkan bau amis-amis harum dan tampak olehnya rongga mulut ular yang merah seperti darah.
Karena usahanya untuk melepaskan diri dari belitan ular sia-sia belaka, mendadak Wiraman mendapat pikiran untuk mengorbankan dirinya saja.
Kalau ular ini sudah menelan tubuhku, tentu ia menjadi kenyang dan tidak akan mengganggu Widawati lagi.
Pikiran ini membuat Wiraman menjadi tenang dan dia memandang ular itu dengan penuh keberanian, bahkan ada rasa girang terselip di hatinya bahwa pada detik terakhir ini dia dapat melakukan sesuatu untuk Widawati.
"Desss."
Wiraman hanya melihat berkelebatnya sesosok bayangan manusia yang menghantam ke arah kepala ular yang sudah siap mencaplok kepalanya.
Wiraman mengerahkan tenaganya ketika merasa betapa Iibatan ular pada tubuhnya menegang dan mengencang, kemudian tiba-tiba ekor itu bergerak dan melontarkannya ke udara Wiraman terkejut sekali dan hanya dan mencegah tubuhnya terbanting keras dengan cara meringankan tubuhnya menyembunyikan kepala dalam pelukan kedua tangannya.
Ketika ia berguling lalu meloncat bangun dalam keadaan pening, ternyata ia telah terlempar tidak jauh dari tempat Widawati berdiri.
Gadis itu masih berdiri seperti arca dengan mata terbelalak.
Ketika ia menoleh, kagum dan kaget sekali melihat seorang gadis cantik sedang bertanding melawan ular sakti itu.
Tak lama kemudian berkelebat bayangan orang lain dan muncul seorang pemuda yang tangkas dan tanpa banyak cakap gadis dan pemuda itu lalu mengeroyok ular yang mengamuk hebat sambil berdesis-desis mengerikan.
Melihat gerakan mereka, Wiratama dapat mengenal orang-orang sakti.
Maka dia lalu menghampiri Widawatl, merangkul pundaknya dan membawa gadis yang masih terpesona itu pergi dari situ.
Widawati terisak lalu terhuyung, tubuhnya lemas.
Wiraman cepat memondong-nya lari menjauhi tempat berbahaya itu.
Setelah jauh berada di dalam hutan, Wiraman menurunkan tubuh Widawati ke atas rumput hijau yang tebal.
Dia sendiri masih merasa pening dan pandang matanya masih aneh seperti tadi, masih tampak warna-warna yang cemerlang indah.
Namun dia berusaha melawan perasaan aneh dan pandangan luar biasa itu dengan kekuatan batinnya, karena ia harus cepat-cepat menolong Widawati yang agaknya berada dalam keadaan tidak wajar.
Gadis ini setelah ia turunkan dan baringkan di atas rumput, menggeliat-geliat dan mengeluarkan rintihan-rintihan lirih.
Karena khawatir, Wiraman cepat memeriksanya, dan melihat guratan-guratan merah di leher dan dada, ia menjadi bingung.
Dia tidak tahu apa yang menyebabkan guratan-guratan yang mengeluarkan sedikit darah seperti tertusuk dan terbarut duri.
Hanya terkena duri ataukah luka karena ular?
"Diajeng.........
apanya yang nyeri.
Di mana yang luka.
Akan tetapi Widawati hanya merintih dan menggeliat-geliat sambil memejamkan matanya.
Wiraman terpaksa menekan perasaannya karena melihat tubuh yang muda dan sebagian besar tidak tertutup rapat karena bajunya robek-robek, ia diserang rangsangan aneh yang membuat napasnya menjadi sesak.
Setan!
Dia mengutuk diri sendiri, lalu berusaha mencurahkan perhatiannya untuk memeriksa dan menolong gadis ini dari bahaya.
Karena dia tidak tahu apakah luka-luka guratan di leher dan dada beracun atau-kah tidak, ia cepat berkata lirih dan merasa heran mengapa suaranya menjadi menggetar seperti itu dan mukanya terasa panas, bahkan seluruh tubuhnya menjadi panas.
"Diajeng, maaf......... aku akan membersihkan lukamu dari racun "
Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menempelkan mulutnya pada luka guratan di leher Widawati dan mengecupnya untuk menyedot darah dan mengeluarkan racun jika kiranya luka itu ada racunnya.
Akan tetapi begitu bibirnya mengecup luka di pangkal leher yang melekuk dan hangat itu, naik sedu-sedan dari dadanya yang membuat napas Wiraman menjadi sesak.
Terpaksa ia memejamkan mata untuk melawan rangsangan hebat yang mengguncang seluruh tubuh dan perasaannya.
Telinganya mendengar betapa Widawati mengeluh dan mengeluarkan suara aneh.
Dia cepat menyedot darah yang terasa asin panas, meludahkannya, membuka mata kemudian menyedot lagi luka yang agak ke bawah di bawah tulang pundak kiri.
Hampir ia tidak kuat menghisap luka itu karena pada saat itu dari dalam pusarnya naik rangsangan yang tidak wajar, yang membuat matanya berkunang, napasnya memburu kepalanya berdenyut-denyut.
Pada saat itu, ia merasa betapa dua buah lengan yang halus hangat melingkari lehernya, betapa wajah yang halus dan panas itu mendekap mukanya, betapa hidung yang mancung itu mendengus-dengus seperti kehabisan napas.
Widawati telah memeluknya, dan menciuminya!
Wiraman hanyalah seorang manusia biasa.
Memang dia seorang manusia gemblengan yang telah lama berlatih untuk menguasai hawa nafsunya sendiri.
Namun saat itu tanpa ia sadari, ia telah terbius oleh racun ular Puspo Wilis yang amat hebat.
Racun yang keluar dari desis ular itu mula-mula telah meracuni Widawati sehingga dara itu menjadi terpesona, pandang matanya melihat beraneka warna cemerlang indah, telinganya berdengung-dengung mendengar gamelan yang merayu indah, dan tubuhnya terangsang oleh hawa nafsu yang selama ini belum pernah dikenalnya.
Kemudian Wiraman juga terkena racun itu.
Biarpun ila sudah berusaha untuk meneguhkan hatinya, untuk menekan perasaannya, namun keadaan tldak membantunya.
Kalau saja ia tidak khawatir akan keselamatan Widawati, kalau saja ia tidak berusaha menghisap racun yang disangkanya berada dalam luka-luka guratan yang sebetulnya hanya guratan terkena duri-duri saja, agaknya pria itu akan dapat menguasai rangsangan yang timbul dari racun ular Puspo Wilis itu.
Akan tetapi, keadaan tidak demikian.
Dia harus menghisap luka-luka itu, di leher yang indah, di dada yang menggairahkan.
Semua ini memperlipatgandakan rangsangan yang menguasainya, ditambah lagi dengan pelukan dan ciuman Widawati 'yang berada dalam keadaan tidak sadar dan dipermainkan oleh pengaruh racun.
Wiraman jatuh!
Gadis yang telah menyelamatkan Wiraman pada detik terakhir tadi bukan lain adalah Pusporini.
Dalam lomba, lari mencari ular, Pusporini menang cepat, akan tetapi karena ia harus mencari-cari dengan teliti dan tidak dapat berlari cepat di dalam hutan itu, Joko Pramono dapat menyusulnya dan pemuda ini sudah mulai pula mencari-cari dalam hutan sebelum Pusporini berhasil menemukan ular Puspo Wilis yang dicari-cari.
Kemudian, tiba-tiba terdengar pekik yang keluar dari mulut Widawati tadi.
Pusporini yang berada dalam jarak lebih dekat, lebih dahulu tiba di tempat itu dan kebetulan sekali ia menyaksikan betapa ular itu sudah hendak mencaplok kepala Wiraman.
Pusporini menggunakan Aji Bayu Tantra, tubuhnya mencelat ke depan laksana kilat menyambar dan dengan pukulan Aji Pethit Nogo ia menghantam ke arah kepala ular itu!
Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya menyaksikan betapa ular itu tidak remuk kepalanya oleh pukulannya Pethit Nogo, melainkan tersentak ke belakang, melepaskan lingkarannya dan melemparkan tubuh Wiraman sampai jauh.
Pusporini maklum bahwa ular inilah yang dimaksudkan Sang Resi Mahesapati, maka ia cepat menerjang maju lagi dengan pukulan Pethit Nogo yang lebih keras lagi ke arah moncong yang mendesis-desis itu.
"Desss. !!"
Pukulan Pethit Nogo amatlah ampuhnya, akan tetapi benar-benar luar biasa sekali ular itu karena kepalanya tidak pecah terkena pukulan itu, hanya desis mulutnya makin menghebat seolah-olah dia bersambat kesakitan.
Tubuhnya kini sudah membelit pohon lagi dan kepalanya bergoyang-goyang kemudian ia membalas dengan luncuran kepalanya yang amat cepat, mengimbangi kecepatan gerak tangan Pusporini tadi.
KepaIanya itu seolah-olah merupakan tangan seorang lawan tangguh yang mengirim pukulan ke arah dada Pusporini, bahkan lebih hebat daripada pukulan orang karena mulutnya terbuka, mengirim semburan uap kehijauan dan giginya siap menggigit.
Pusporini penasaran dan menangkis, akan tetapi biar pun ia berhasil menangkis serangan itu, ketika lengannya bertemu dengan leher ular, tenaga serangan binatang itu membuat ia terhuyung ke belakang.
Dan ular itu dengan amat cepatnya sudah menerjang lagi dengan mulut mendesis-desis.
"Plakk!!"
Kepala ular itu terlempar belakang oleh sebuah pukulan keras yang dilakukan Joko Pramono yang sudah tiba di situ.
Hebat pukulan ini, tidak kalah hebat oleh Aji Pethit Nogo tadi, bahkan mengandung tenaga yang lebih kuat lagi karena itulah pukulan dengan Aji Cantuka Sekti.
Namun ular itu hanya pening sebentar karena kembali ia sudah membalas dengan serangan kuat ke arah leher Joko Pramono yang tertegun dan cepat menangkis.
"Aku tidak membutuhkan bantuanmu!"
Pusporini membentak.
"Aku tidak membantumu! Kita berlomba membunuhnya!"
Jawab Joko Pramono.
Celakalah binatang itu karena sekarang dia dikeroyok dua oleh sepasang orang muda sakti yang berlomba untuk membunuhnya!
Betapapun kuatnya ular yang sudah ratusan tahun umurnya ini; berat juga ia menanggulangi amukan dua orang muda murid Sang Resi Mahesapati.
Ia menjadi bulan-bulan pukulan sakti, tidak mampu balas menyerang dan untuk melampiaskan kemarahannya, ular itu terus-menerus mendesis-desis mengeluarkan uap hijau yang makln lama makin tebal.
Dua orang muda itu tadinya terlalu mengandalkan kekebalan tubuh dan kekuatan hawa sakti mereka, akan tetapi lama-kelamaan mereka menjadi terkejut sekali karena napas mereka sesak dan pandang mata mereka selain berkunang-kunang juga mulailah tampak warna-warna cemerlang yang amat aneh.
"Pusporini......... hati-hati....racun !"
Joko Pramono memperingatkan, agak terengah napasnya.
"Kalau takut racun, pergilah!"
Jawab Pusporini tak acuh sungguhpun ia sendiri merasa heran mengapa pandang matanya melihat warna-warni cemerlang sehingga wajah Joko Pramono memiliki warna cemerlang yang amat indah dan luar biasa.
Keduanya kini mengerahkan tenaga dan biarpun ular itu tidak remuk kepalanya oleh pukulan-pukulan mereka, akan tetapi jelas menjadi agak lemah.
Bahkan kini ekor yang tadi membelit pohon telah terlepas dan membelit tubuh Joko Pramono.
Pemuda ini mengerahkan hawa saktinya sehingga belitan yang kuat itu tidak terasa olehnya, malah ia sudah mencengkeram perut ular itu.
Pada saat yang sama, Pusporini yang mengelak dari gigitan kepala ular itu, cepat sekali menggunakan kesempatan itu menangkap leher ular.
Tadi tidak mungkin hal dilakukan karena ular itu memiliki gerakan yang amat gesit.
Akan tetapi setelah tenaganya berkurang dan agaknya binatang itu lelah, kegesitannya pun berkurang sehingga lehernya dapat ditangkap Pusporini.
Melihat ini, Joko Pramono takut kalau ia sampai kalah, maka ia membetot tubuh ular yang ia cengketam perutnya itu.
Purporini tidak mau kalah, ia juga membetot leher binatang itu.
Terjadilah tarik-menarik antara Pusporini dan Joko Pramono.
Sungguh sial binatang itu yang kini tidak mampu bergerak, dijadikan seperti tambang untuk tarik-tarikan adu tenaga.
Kekuatan ular terletak pada urat-urat di tubuhnya yang dapat digerak-gerakkan dan dapat menggeliat-geliat.
Kini setelah tubuhnya ditarik, lumpuhlah dia.
Dua orang muda itu terus menarik, mengerahkan tenaga saktinya dan........."krakk.........!"
Tubuh ular itu terobek dan putus menjadi dua!
Bagian belakangnya berada di tangan Joko Pramono sedangkan bagian depannya berada di tangan Pusporini.
Dua bagian tubuh ular itu masih menggeliat-geliat hidup, bahkan bagian depan yang berada di tangan Pusporini tiba-tiba melakukan gerakan sarentak dan kulit tubuhnya mengeluarkan minyak, kepalanya mendesis keras dan tubuh itu dapat melepaskan diri dari pegangan Pusporini.
Dari kepala sampai ke bagian tubuh yang buntung masih ada semeter lebih panjangnya.
Ular yang tinggal sepotong itu begitu tiba di tanah lalu meluncur cepat hendak melarikan diri.
Pusporini seperti, orang terpesona atau bingung karena dia berdiri terbelalak saja memandang.
Adapun Joko Pramono ketika melihat ini, melemparkan bagian belakang ular yang berada di tangannya kemudian berteriak,.."Pusporini!
Jangan biarkan dia lari… !
Pemuda Itu menubruk, berbareng dengan Pusporini yang juga menubruk, agaknya gadis ini sadar kembali oleh teriakan Joko Pramono.
Mereka masih berlomba, berebutan.
Begitu ular itu dapat ditangkap, dua pasang tangan berebut dulu menangkap bagian kepala dan merobek mulut ular itu.
''Kraaaak.........
brettttt.
Uap hijau makin tebal mengepul.
Kedua orang itu tidak memperdulikan, melainkan berebut mencari batu mustika yang menurut guru mereka berada di kepala ular.
Mulut ular sudah robek menjadi dua dan kini tampaklah benda mencorong di telak (rongga mulut atas) yang bersinar hijau.
Karena perebutan ini, tangan mereka bertemu dan cengkeraman mereka membuat setengah kepala ular bagian atas itu hancur.
Sinar berkelebat dan sebutir batu bulat lonjong meloncat karena licin sekali dari dalam kepala yang hancur, jatuh ke atas tanah.
Itulah mustika ular yang dimaksudkan Sang Resi Mahesapati, sebuah batu hijau mencorong yang besarnya hanya seibu-jari kaki.
Melihat benda ini, Joko Pramono dan Pusporini menubruk ke bawah dalam detik yang sama.
Karena mereka tergesa-gesa dan batu itu amat kecil, apalagi karena pandang mata mereka telah disilaukan warna-warni yang aneh, mereka bertubrukan dan saling cengkeram.
Tanpa disengaja, Pusporini memegang lengan Joko Pramono, sedangkan pemuda itu pemegang kedua pundak Pusporini.
Mereka beradu pandang, muka mereka hampir beradu dan pada saat itulah terjadinya getaran yang amat hebat, yang membuat keduanya menggigil, mata saling pandang, napas agak terengah dan batu mustika ular dilupakan.
Bagaikan dalam mimpi, mereka saling pandang penuh kemesraan, penuh gairah dan berahi,, mulut berbisik lirih.
"Pusporini. !"
"Joko Pramono !"
Bagaikan digerakkan tangan-tangan setan yang tak tampak, dua muka yang elok itu saling berdekatan, hidung sudah hampir saling menyentuh, hembusan napas masing-masing terasa hangat di pipi.
Rangsangan yang hebat menguasai mereka, mendorong hasrat ingin saling berpelukan, saling berciuman, saling melimpahkan cinta kasih.
Tangan mereka menggigil dan mulut mereka sudah saling berdekatan, bibir sudah saling bersentuhan.
Pada saat itulah, keduanya sadar ketika pandang mata mereka bertemu kembali.
"Ah, ini tidak benar!"
Seru Pusporini melepaskan pelukannya.
"Memang salah! Harus kita lawan. !"
Joko Pramono juga berseru dan keduanya melepaskan pelukan dan meloncat mundur.
Akan tetapi mereka terhuyung lagi ke depan, saling pandang penuh kasih mesra dan sebelum mereka sadar apa yang mereka lakukan, keduanya sudah saling tubruk dan saling rangkul.
Joko Pramono menundukkan mukanya mencium Pusporini dengan penuh nafsu yang dibalas oleh gadis itu tanpa malu-malu lagi, dengan mata setengah dipejamkan.
Akan tetapi setelah ciuman yang bagi mereka seakan tiada putus-putusnya itu mereka saling berpandangan dekat sekali dan melihat bayangan sendiri di dalam manik mata masing-masing, kesadaran mereka membuat keduanya memekik keras, melepaskan dekapan dan meloncat tiga tindak ke belakang, berdiri terbelalak.
Mereka berdua melawan rangsangan yang membuat mereka ingin saling dekap dan ingin melakukan hal-hal yang lebih berani lagi untuk melampiaskan dorongan hasrat yang amat kuat, dan terdengarlah Joko Pramono berkata terengah-engah.
"Pusporini......... racun......... racun ular......... kita harus melawan......... kumpulkan hawa sakti......... bernapas sempurna mengusir hawa jahat. !"
Pusporinl yang terengah-engah mengangguk dan keduanya lalu menjatuhkan diri duduk bersila dan melakukan samadhi sekuamungkin, melawan rangsang-an yang amat hebat itu.
Sungguhpun mereka itu adalah orang-orang gem-blengan, namun mereka masih muda dan masih berdarah panas; maka dapat dibayangkan betapa sukar-nya melawan racun yang merangsang nafsu berahi itu.
Syukur bahwa keduanya adalah murid-murid sang sakti Resi Mahesapati yang sudah cukup mengisi mereka dengan kekuatan batin yang dahsyat sehingga setengah jam kemudian mereka pun sudah berhasil mengusir hawa beracun dari tubuh dan kepala mereka.
Keduanya sadar dan begitu membuka mata saling berpandangan, keduanya malu sekali.
Entah mana yang lebih merah mukanya, Pusporini ataukah Joko Pramono.
Akan tetapi pengalaman itu membuat mereka berdua makin yakin akan perasaan hati selama ini bahwa biarpun lahirnya mereka selalu berlomba dan bersaingan, namun di dalam hati.
mereka sudah berakar benih cinta kasih yang mendalam.
"Batu mustika itu.........!"
Kata Joko Pramono tiba-tiba dan keduanya memandang ke arah batu yang masih terletak di antara mereka.
Akan tetapi aneh sekali.
Kini keduanya tidak bersicepat berdahuluan merebut batu.
Keduanya tetap duduk bersila dan tenang-tenang saja.
Ketika kembali mereka beradu pandang, keduanya.
menunduk dan tahulah mereka bahwa kini mereka tidak berpura-pura lagi, tidak perduli akan batu mustika itu, tidak ingin bersaing dan mengalahkan satu kepada yang lain.
"Pusporini."
"Hemm ?"
Tanpa mengangkat muka Pusporini menjawab lirih.
"Batu itu. mengapa tidak kau ambil?"
"Kau ambillah, sama saja."
Joko Pramono tidak bergerak dari duduknya dan sunyi sampai lama.
"Pusporini."
"Hemmm ?"
"Alangkah bahayanya racun itu."
"Benar, mengerikan "
"Untung engkau kuat."
"Engkau pun kuat, Joko Pramono."
"Hemm, masih baik kita berdua sadar. Hal itu berarti bahwa kita saling menghargai, bahwa kita saling "
"……… apa."
"Saling mëncinta!"
"Husshhh!". Setelah kini terlepas dari bahaya yang mengerikan itu, saking girangnya Pusporini mulai timbul kembali kegalakannya, sungguhpun kini dia sama sekali tiada niat untuk bersaing lagi dengan Joko Pramono.
"Pusporini, tidakkah kau merasa di dalam hatimu seperti yang kurasakan sekarang?"
Pusporini mengangguk lalu menyambung.
"Sudahlah. Kau bawa batu itu dan kita kembali kepada Eyang Resi. Kita serahkan batu itu kepada Eyang Resi."
Joko Pramono tersenyum penuh kebahagiaan, lalu bangkit, mengambil batu, membersihkannya dari darah dengan bajunya, mengamatinya sebentar.
penuh kekaguman, lalu menghampiri Pusporini yang juga sudah bangkit.
Ia menyerahkan batu itu dan berkata.
"Kau yang membawa dan menyerahkannya kepada Eyang Resi, Pusporini."
"Tidak! Kau saja."
"Aku laki-laki, aku lebih patut mengalah."
Mereka berdiam.
Pusporini menerima batu itu dan keduanya sejenak merasa terheran-heran akan perubahan yang mendadak ini.
Tadinya mereka ingin sekali saling mengalahkan dan bersaing, kini mereka ingin sekali saling mengalahl "Eh, kulihat tadi si laki-laki gagah dan gadis itu.
ke mana mereka?"
Joko Pramono tiba-tiba bertanya dan memandang ke kanan kiri. Pusporini juga teringat, cepat menyimpan batu mustika ular di dalam kembennya dan juga mencari-cari denga pandang matanya.
"Ah, jangan-janga mereka telah tewas karena racun ular. Mari kita mencari mereka."
Keduanya lalu melompati bangkai ular dan mencari-cari.
Tak lama kemudian mereka berdiri terhenyak dan memandang ke atas rumput tebal di bawah pohon, di mana mereka melihat laki-laki itu dan gadis yang berpakaian robek-robek rebah di situ!
Keduanya agaknya pingsan dalam keadaan masih saling berpelukan!
"Ihhh Bedebah!
Tak tahu malu!"
Pusporini berseru sambil membuang muka.
Ia dapat menduga apa yang telah terjadi antara kedua orang yang masih berpelukan itu.
Wajah Joko Pramono juga menjadi merah sekali, dan ia hanya dapat berkata lirlh.
"Betapa mungkin mereka masih dapat berbuat seperti itu. ?"
"Dasar manusia rendah! Lebih baik kubunuh saja!"
Seru Pusporini sambil menyambar sebuah batu besar di dekatnya. Akan tetapi Joko Pramono cepat memegang lengannya. Dia teringat akan sesuatu dan cepat berbisik.
"Jangan, Pusporini! Ingatlah keadaan kita tadi! Kita yang sudah lama melatih diri dengan segala ilmu kesaktian, masih hampir tidak kuat menghadapi rangsangan hawa beracun. Tentu mereka berdua juga menjadi korban hawa beracun ular itu."
Pusporini melepaskan batunya dan menghela napas sambil mengangguk.
"Kalau begitu..... patut dikasihani mereka itu. siapakah gerangan mereka?"
"Kita bersembunyi di sana. ssttt, mereka sudah bergerak. Kita dengarkan apa yang mereka katakan dan kalau memang laki-laki itu seorang jahat, aku yang akan memberi hajaran kepadanya. Mari !"
Keduanya meloncat dan menyusup ke dalam semak-semak, mengintai.
"Aduh......... Jagad Dewa Bathara.........! Apa yang telah kulakukan ini. ??"
Begitu sadar dari pingsannya dan mendapatkan dirinya rebah berpelukan dengan Widawati, Wiraman meloncat bangun.
Melihat keadaan pakaian gadis itu cepat ia membereskan dan menyelimuti gadis itu dengan sarungnya karena baju gadis itu robek-robek, kemudian ia duduk, menghela napas berkall-kali kemudian menutupi mukanya dengar kedua tangan.
"Aku telah gila.........! Gila......... Gila. !"
Wiraman menampari kepala sendiri dan merenggut-renggut rambutnya.
Isak tangis yang terdengar tiba-tiba membuat Wiraman menurunkan kedua tangannya dan ia memandang Widawati yang sudah duduk menangis itu dengan wajah pucat.
Gadis itu menangis terisak-isak dan air matanya mengalir turun melalui cela-cela kedua tangan yang menutupi muka.
Beberapa kali Wiraman menelan ludah, agaknya sukar baginya untuk membuka mulut, kemudian dapat juga ia berkata, suaranya gemetar dan lirih.
"Di ajeng Widawati......... aku......... aku berdosa......... aku telah merusakmu aku manusia berhati binatang. Aku terkutuk! Aku patut dihukum seberat-beratnya, seribu kali mati pun masih belum dapat mencuci dosaku kepadamu. Akan tetapi, demi semua Dewata, aku bersumpah bahwa itu yang kulakukan tadi benar-benar terjadi di luar kesadaranku, Diajeng "
Widawati masih menangis, makin mengguguk sampai pundaknya terguncang.
"Diajeng, penyesalanku lebih besar daripada penyesalanmu. Percayalah dan sebagai bukti, biarlah kausaksikan kepalaku remuk oleh batu ini! Selamat tinggal, Diajeng !"
"Kakang.........! Jangan !!"
Widawati yang menurunkan kedua tangannya dan melihat betapa laki-laki itu sudah mengangkat sebuah batu besar hendak ditimpakan kepalanya sendiri, menjerit dan menubruk.
"Jangan, Kakang....…… lebih baik kaubunuh aku lebih dulu "
Dan ia menangis tersedu-sedu. Wiraman menjadi lemas. Diturunkan batu itu dan dielus-elusnya rambut kepala yang bersandar di dadanya.
"Diajeng Widawati. apakah yang kau maksudkan? Mengapa engkau berkata demikian? Aku telah menodaimu aku telah berdosa dan aku hendak menebus dosa dengan nyawaku. Mengapa kau melarangku?"
Widawati masih menangis di dada Wiraman ketika ia menjawab.
"Kakang......... bukan kesalahanmu seorang........., aku teringat semua sekarang......... ah, akulah yang bersalah......... aku gadis tak tahu malu......... aku.......... aku yang menggodamu, Kakang !"
Wiraman mengerutkan alisnya dan mengingat-ingat.
Terbayanglah semua peristiwa tadi, peristiwa yang amat mesra namun juga amat memalukan setelah kini diingat dalam keadaan sadar.
Memang sesungguhnyalah, dia tidak memperkosa Widawati, hal itu terjadi bukan karena kekerasan atau bujukan.
Sama sekali bukan, melainkan terjadi atas kehendak kedua fihak.
Terjadi karena rangsangan yang luar biasa, yang membuat keduanya seperti mabuk, melakukan hal itu karena tidak dapat menguasai diri sendiri, tidak sadar menjadi boneka-boneka yang dikuasai nafsu, dipermainkan rangsangan nafsu sampai mereka pingsan.
Wiraman menarik napas panjang.
"Sekarang aku pun ingat, Diajeng. Tidak salah lagi, kita menjadi korban hawa racun ular itu......... ah, setan telah menguasai kita berdua......... dan......... dan hal itu telah terlanjur. terjadi di luar kesadaran kita."
"Aku aku. malu sekali, Kakang. Kaubunuhlah aku "
Wiraman mendorong kedua pundak gadis itu, memaksanya untuk beradu pandang dengannya.
"Diajeng, setelah hal itu terjadi di luar kesadaran kita......... apakah apakah engkau merasa terhina? Apakah engkau merasa menyesal?"
Widawati terpaksa memandang wajah Wiraman dengan mata merah dan muka basah air mata. Ia menggeleng kepala.
"Bukan merasa terhina atau menyesal......... hanya malu......... karena aku......... seolah-olah telah merampasmu dari isterimu, Kakang "
Wiraman menarik napas panjang lagi.
"Ah, jangan berkata demikian, Diajeng Widawati. Hal ini telah terjadi di luar kehendak kita, berarti bahwa Hyang Widi Wisesa telah menentukan demikian. Kalau engkau sudi......... aku pun bersumpah bahwa mulai saat ini kau kuanggap sebagai seorang Isteriku. dan aku akan melindungimu sebagai seorang suami, selama-lamanya, Diajeng "
Widawati mengeluh dan menyandarkan mukanya di dada Wiraman.
"Ahh, Kakang......... aku hidup sebatangkara di dunia ini, hanya engkaulah yang kupandang, hanya engkau seorang yang menjadi sandaran, hidupku. tadinya engkau kuanggap sebagai seorang kakak, sebagai pengganti orang tua dan saudara-saudaraku......... akan tetapi, sekarang terjadi hal ini......... terserah kepadamu, Kakang, terserah kebijaksanaanmu."
"Jangan khawatir, kelak kalau bertemu dengan keluargaku, akan kuceritakan semua peristiwa ini. Isteriku seorang yang bijaksana, tentu dapat memahami dan akan menerimamu sebagai saudara muda dengan tangan dan hati terbuka."
Agak lega hati Wiraman bahwa peristiwa yang mengerikan itu berakhir dengan dipertemukannya hatinya dengan hati Widawati sehingga terdapat persesualan faham.
Tiba-tiba ia teringat akan dua orang muda sakti yang tadi telah menolongnya.
"Ah, di mana mereka. ? Diajeng, kalau tidak ada dua orang muda yang sakti mandraguna datang menolong, tentu kita berdua telah berada di dalam perut ular itu."
Widawati bergidik.
"Aku pun samar-samar melihat berkelebatnya bayangan mereka. Mari kita cari mereka, Kakang "
Keduanya bangkit berdiri dan Widawati kini menggunakan sarung Wiraman untuk menutupi tubuh atasnya, karena pakaiannya koyak-koyak.
Akan tetapi ketika mereka berdua keluar dari belakang semak-semak, mereka melihat dua orang muda sakti itu berdiri dengan wajah berseri.
Seketika wajah Widawati menjadi merah sekali dan jantungnya berdebar penuh kekhawatiran.
Apakah kedua orang muda itu melihatnya dan mendengarkan semua percakapannya dengan Wiraman?
Akan tetapi, Wiraman segera maju dan memberi hormat.
"Syukur kepada para Dewata Yang Agung bahwa Andika berdua dalam ke-, adaan selamat. Saya yakin bahwa Andika berdua yang sakti mandraguna telah berhasil membunuh ular siluman itu. Boleh-kah kami mengenal nama Andika berdua yang sakti mandraguna?"
Joko Pramono yang tadi mendengarkan percakapan mereka dan bersama Pusporini mendapat kesan baik atas diri Wiraman dan Widawati, juga merasa kasihan kepada dua orang itu, membalas penghormatan itu dan menjawab.
"Nama saya Joko Pramono dan dia ini adalah adik seperguruan saya, namanya Pusporini. Kami adalah murid-murid Sang Resi Mahesapati yang mentaati perintah guru kami untuk membunuh ular sakti Puspo Wilis. Andika siapakah dan mengapa sampai berada di dalam hutan liar ini?"
Berdebar jantung Wiraman.
Dia telah diselamatkan oleh dua orang sakti ini, dan mereka itu telah mengaku dan memperkenalkan diri secara terus terang.
Sungguhpun dia belum pernah mendengar nama mereka, belum pula mendengar nama Sang Resi Mahesapati, namun ia dapat menduga bahwa mereka ini tentu murid-murid seorang pertapa yang maha sakti.
Sudah sepatutnya sebagai orang yang berhutang budi, ia mengaku terus terang akan keadaannya dan keadaan Widawati.
Akan tetapi, mengingat bahwa mereka berdua adalah orang-orang buruan yang harus melakukan perjalanan secara rahasia, membuka rahasia mereka berarti membahayakan keselataman Widawati.
Wiraman merasa serba salah dan setelah ragu-ragu sebentar, ia lalu menjawab, setengah benar setengah bohong.
"Nama saya Wiraman dan dia ini adalah adik misan saya bernama Widawati. Kami berdua adalah perantau-perantau dari dusun yang hendak pergi ke kota raja Panjalu, dengan niat mencari pekerjaan di sana."
"Eh, paman mengapa bersembunyi-sembunyi dan membohong kepada kami?"
Tiba-tiba Pusporini mencela. Gadis ini memang lincah dan kenes, juga paling membenci segala macam bentuk kebohongan karena dia sendiri tidak pernah membohong dan selalu menghendaki kejujuran.
"Paman bukan orang dusun, apa-lagi Ayunda ini, pasti. sekali bukan seorang gadis dusun! Cara Paman melawan ular tadi pun menunjukkan bahwa Paman bukan seorang petani biasa! Kami tidak keberatan Paman tidak mengaku siapa sebenarnya Andika berdua karena bukan urusan kami, akan tetapi kami pun tidak suka dibohongi karena yang membohong dan menyembunyikan diri hanyalah para pengecut. Dan kami yakin Paman bukan seorang pengecut!"
Ucapan ini keluar dari hati yang jujur karena setelah tadi mendengar percakapan mereka, Wiraman mendatangkan kesan yang baik dalam hati Pusporini, maka gadis perkasa ini menjadi kecewa mendengar pengakuan Wiraman yang tidak sejujurnya.
Merah wajah Wiraman dan sejenak ia tidak dapat bicara.
Tak disangkanya ia akan bertemu dengan gadis sakti yang begini terus terang tanpa tedeng aling-aling kalau bicara!
"Saya.........sesungguhnya."
Ia menggagap.
Melihat keadaanWiraman ini, Widawati menjadi kasihan.
Gadis ini tentu saja maklum mengapa Wiraman perlu membohong, tentu untuk menjaga keselamatannya karena mereka berdua belum mengenal betul siapa adanya muda-mudi yang sakti itu.
BagaImana kalau mereka itu orang-orang yang pro kepada kekuasaan baru yang kini mencengkeram Jenggala?
Cepat ia membela, siap mengorbankan dirinya.
"Sesungguhnya, saya bernama Widawati dan saya adalah satu-satunya cucu Ki Patih Brotomenggala di Jenggala yang terbebas daripada malapetaka yang membasmi keluarga kepatihan. Dan Kakang Wiraman ini hanya mengantar saya menuju ke Panjalu minta pengadilan "
"Diajeng !"
Wiraman hendak mencegah, namun pengakuan itu telah lengkap.
Pusporini dan Joko Pramono terkejut sekali mendengar pengakuan itu dan mereka saling pandang.
Kemudian Pusporini cepat melangkah maju dan memegang tangan Widawati sambil berkata.
"Ah, kIranya Andika ini cucu Ki Patih Brotomenggala di Jenggala? Dan keluarga-kepatihan Jenggala terbasmi habis? Apa artinya itu? Apa yang telah terjadi di Jenggala?"
Widawati dan Wiraman saling pandang dan pada pandang Wiraman terdapat pesan kepada Widawati, agar jangan mengaku sebelum mengenal siapa adanya dua orang muda-mudi ini.
Melihat ini, Pusporini menjadi tidak sabar dan cepat berkata.
"Andika berdua tidak perlu curiga. Kami adalah orang-orang yang setia kepada kerajaan. Ketahuilah, aku adalah seorang dari Kadipaten Selopenangkep. Sang Adipati Tejolaksono adalah rakandaku, kakak misanku! Ayunda Endang Patibroto adalah kakakku! Masih tidak percayakah Andika kepadaku?"
Kini yang menjadi amat terkejut adalah Wiraman, sedangkan Widawati memandang dengan mata terbelalak karena tentu saja ia sudah mendengar dan tahu siapa adanya Endang Patibroto yang dahulu menjadi isteri Pangeran Panjirawit di Jenggala!
Serta-merta kedua orang ini lalu menjatuhkan diri berlutut dan Widawati lalu menangis.
"Sungguh merupakan kemurahan para Dewata bahwa hamba berdua mendapat pertolongan dari Paduka yang menjadi saudara muda Gusti Patih Tejolaksono di Panjalu.........!"
Kata Wiraman dengan girang sekali. Kini giliran Pusporini yang tercengang.
"Apa kau bilang? Rakanda Tejolaksono adalah adipati di Selopenangkep, mengapa Andika menyebutnya gusti patih?"
Wiraman melongo.
"Betapa mengherankan pertanyaan Paduka ini! Gusti Adipati Tejolaksono kini telah menjadi patih muda di Panjalu. Bagaimana Paduka sampai tidak mengerti?"
Pusporini mengangguk-angguk.
"Syukurlah kalau begitu. Ketahuilah, Paman Wiraman. Telah bertahun-tahun aku meninggalkan Selopenangkep dan menjadi murid Eyang Resi Mahesapati. Sekarang ceritakannya kesemuanya, ceritakanlah apa yang terjadi di Jenggala, siapa sebenarnya Andika ini, dan mengapa kepatihan Jenggala terbasmi, oleh siapa."
Maka berceritalah Wiraman tentang dirinya, betapa dia bersama sebelas orang temannya sebagai orang-orang kepercayaan mendiang Ki Patih Brotomenggala melakukan tugas mengawal secara diam-diam pada sri baginda yang mengadakan perburuan.
Betapa kemudian sri baginda diserbu penjahat.
Dia menceritakan semua rahasia, juga membongkar rahasia orang yang bernama Raden Warutama yang dengan licik telah dapat mengangkat diri menjadi patih di Jenggala.
Dia juga menceritakan bagaimana Ki Patih Brotomenggala difitnah dan dijatuhi hukuman mati sekeluarga dan hanya Widawati saja yang kebetulan dapat lolos.
Diceritakan pula betapa Kerajaan Jenggala kini dicengkeram oleh selir baru yang bernama Suminten dan persekutuan antara Suminten, Pangeran Kukutan, dan patih baru yang bernama Warutama.
"Karena hamba berdua merupakan orang-orang buruan Jenggala, maka hamba mengajak. Diajeng Widawati untuk melarikan diri ke Panjalu, untuk mohon bantuan dan pengadilan sri baginda di Panjalu. Karena hamba berdua melakukan perjalanan secara rahasia, maka hamba melewati daerah-daerah yang sunyi. Siapa nyana, di sini hamba berdua diserang ular siluman dan untung tertolong oleh Paduka. Akan tetapi hamba."
Wiraman tak dapat melanjutkan kata-katanya karena ia teringat akan peristiwa yang terjadi antara dia dan Widawati.
Joko Pramono maklum akan isi hati bekas pengawal yang gagah perkasa itu, maka ia cepat berkata.
"Paman Wiraman harap menenangkan hati. Aku dan Pusporini yang menjadi saksi bahwa Paman berdua telah menjadi korban racun ular yang amat jahat. Kami berdua yang menjadi saksi akan perlindungan dan pembelaan Paman yang amat setia terhadap cucu mendiang Ki Patih Brotomenggala."
Wiraman mengangkat muka memandang wajah Joko Pramono dengan penuh syukur dan terima kasih.
"Kalau begitu, perkenankan hamba berdua untuk melanjutkan perjalanan agar dapat segera sampai di Panjalu."
"Nanti dulu, Paman. Cerita Paman sungguh menarik hati dan aku sendiri ingin pergi menjumpai Rakanda Tejolaksono di Panjalu, Akan tetapi, aku harus minta ijin dulu dari Eyang Resi dan sebaiknya Andika berdua ikut dengan kami menghadap Eyang Resi untuk mendapat nasehat dan doa restunya."
Wiraman tidak berani membantah, apalagi sebagai seorang gagah perkasa, ia pun ingIn sekali menghadap guru dua orang muda yang sakti itu, yang ia percaya tentu memiliki ilmu kesaktian, yang luar biasa hebatnya.
Adapun Widawati yang telah menyerahkan jiwa raga dan nasibnya ke tangan Wiraman, hanya menurut saja.
Berangkatlah mereka berempat menuju ke puncak Gunung Kawi dan di sepanjang perjalanan Wiraman dihujani pertanyaan-pertanyaan, terutama sekali oleh Pusporini yang ingin tahu tentang keadaan keluarganya.
Ketika mendengar akan kejahatan Suminten yang telah mencengkeram Jenggala melalui sang prabu yang lemah dan tua, dua orang murid Resi Mahesapati ini menjadi marah.
Akan tetapi sungguh berbeda dengan kedua orang muridnya yang marah mendengar kelaliman merajalela di Jenggala, Sang Resi Mahesapati malah tersenyum lebar, seolah-olah tidak merasa heran dan juga tidak menganggap peristiwa-peristiwa mengerikan yang terjadi di Jenggala itu sebagai hal-hal yang menjadikan penasaran.
Ia menerimanya dengan tenang, tersenyum dan mengangguk-angguk, menganggapnya sudah wajar!
"Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, baik maupun buruk menurut penilaian orang, adalah wajar dan sudah ditentukan oleh Sang Hyang Widi Wisesa, sesuai dengan hukum karma, sama wajarnya dengan perkembangan sebab-akibat sebutir benih yang ditanam lalu tumbuh, berdaun, berkembang, dan berbuah.
Dan sesungguhnya, untuk menghadapi semua itulah maka aku dahulu mengambil kalian sebagai murid, Joko Pramono dan Pusporini!"
"Eyang Resi, kalau begitu, hamba mohon Eyang sudi memperkenankan hamba pergi bersama Paman Wiraman berdua ke Panjalu untuk menghadap Rakanda Tejolaksono dan membantunya membebaskan Jenggala dari cengkeraman persekutuan busuk itu!"
Kata Pusporini penuh semangat.
"Ha-ha, belum tiba saatnya, Pusporini. Ingatkah engkau akan janjimu dahulu bahwa kalian berdua harus lima tahun menerima gemblengan? Baru berjalan tiga tahun, dan yang kalian bantu bukanlah Sang Patih Muda Tejolaksono. Jangan tergesa-gesa, muridku." .
"Pusporini, agaknya engkau lupa akan tugas yang kita lakukan atas perintah Eyang Resi. Mengapa tidak kau keluarkan mustika ular itu dan kita sama sekali belum menceritakan hasil tugas kita kepada Eyang Resi."
Pusporini terkejut.
Peristiwa perjumpaan dengan Wiraman dan Widawati, kemudian mendengar tentang rakandanya, membuat ia lupa sama sekali akan hal itu.
Cepat ia mengeluarkan batu mustika ular itu dan menyerahkannya kepada Resi Mahesapati, sedangkan Joko Pramono lalu menceritakan secara ringkas tentang hasil mereka membunuh ular Puspo Wilis.
Tentu saja ia tidak menyinggung-nyinggung tentang peristiwa mengerikan yang hampir saja menyeret mereka menjadi hamba-hamba nafsu karena pengaruh racun mujijat dari ular itu, juga tidak menceritakan tentang keadaan Wiraman dan Widawati.
Kakek itu menerima batu mustika ular, memandanginya sejenak dan mengangguk-angguk sambil tersenyum.
Kemudian sinar matanya yang halus penuh wibawa itu menyapu ke arah wajah keempat orang itu.
Sinar mata ini begitu penuh pengertian sehingga tanpa dapat ditahan lagi empat orang yang duduk menghadap itu menundukkan muka yang menjadi merah padam, terutama sekali Wiraman dan Widawati.
"Kau simpaniah batu mustika ular Puspo Wilis ini, Pusporini. Ketahuilah bahwa di antara semua binatang berbisa, ular Itu telah menghimpun segala macam bisa dan kebal terhadap semua bisa karena khasiat batu mustika ini. Batu ini kelak, sesuai dengan kehendak para Dewata, akan dapat menyelamatkan banyak orang yang terancam keselamatannya oleh racun-racun yang disebar oleh orang-orang sesat. Semua luka berbisa dapat digosok bersih dengan batu ini, dan semua racun dalam tubuh dapat dibersihkan dengan minum air yang merendam batu ini."
"Eyang, mengapakah hamba belum diperkenankan pergi ke Panjalu sekarang untuk membantu pembersihan di Jenggala terhadap persekutuan jahat?"
Pusporini masih penasaran.
"Telah tiga tahun hamba mempelajari ilmu dari Eyang, dan hamba merasa cukup kuat untuk menghadapi lawan-lawan jahat itu. Hamba tidak takut biar menghadapi iblis sekalipun yang mengeruhkan Kerajaan Jenggala!"
Kakek itu tertawa.
"Pusporini, engkau tidak tahu. Calon-calon lawanmu adalah orang-orang yang sakti mandraguna, dikemudikan oleh orang-orang yang maha sakti. Jangankan hanya engkau dan Joko Pramono, biar aku sendiri belum tentu dapat menandingi mereka. Karena itu, bersabarlah dan belajarlah lebih rajin lagi. Selama dua tahun. Kalau sudah tiba masanya, tentu kuperkenankan kalian berdua untuk pergi. Juga Ki Wiraman dan Nini Widawati kuperkenankan tinggal selama dua tahun di sini. Ki Wiraman adalah seorang hamba yang setia di Jenggala, adapun Nini Widawati adalah seorang korban kekeruhan yang melanda Jenggala, karena itu keduanya berhak untuk menerima ilmu sekedarnya dan kelak menjadi pembantu-pembantu yang baik. Tentu saja kalau Andika berdua suka menerima bimbinganku."
Wiraman sudah menyembah dan menjawab dengan suara mantab.
"Hamba menghaturkan banyak terima kasih bahwa Paduka sudi menurunkan kasih sayang dan hendak memberi petunjuk kepada hamba berdua Diajeng Widawati."
Demikianlah, semenjak hari itu, bukan hanya Pusporini dan Joko Pramono yang dengan rajin memperdalam ilmu mereka, juga Wiraman dan Widawati digembleng dengan aji-ajI kesaktian oleh Sang Resi Mahesapati di puncak Gunung Kawi.
KI DATUJIWA yang biasanya bersikap tenang itu kini memandang nenek itu dengan wajah pucat dan ia berkata.
"Dewi Sarilangking...........! Maafkan kalau saya keliru menduga........... bukankah Andika ini Sang Dewi Sarilangking yang kemudian terkenal dengan julukan Nini Bumigraba."
"Hik, hik, Datujiwa! Matamu masih tajam. Lima puluh tahun yang lalu kita pernah bertemu dan engkau masih belum lupa kepadaku. Bagus! Hai ini saja sudah menyelamatkan kepalamu!"
"Saya menghaturkan salam dan hormat kepada Nini Bumigarba yang sakti mandraguna. Kalau boleh saya bertanya, apakah kehendak Andika sehingga memberi penghormatan kepada kami dengan kunjungan ke Wilis ini?"
"Ketahuilah, heh engkau Datujiwa! Aku sedang nganglang jagad (mengelilingi dunia) untuk, mencari seorang murid yang cocok. Di sini aku melihat bocah ini, hatiku tertarik sekali. Dia cocok untuk mewarisi ilmu-ilmuku. Sayang engkau telah merusaknya dengan omongan-omongan kosong tentang mengalah dan macam-macam obrolan tiada guna."
Sebelum ada yang menjawab, Retna Wilis yang baru berusia enam tahun itu bangkit berdiri dan berkata kepada nenek aneh yang mukanya diselimuti uap hitam itu, suaranya nyaring dan matanya bersinar-sinar.
"Nenek yang aneh! Aku adalah murid Eyang Datujiwa yang sakti. Engkau hendak mengambil murid aku? Apakah kesaktianmu? Apakah engkau lebih sakti dari Eyang Datujiwa? Aku hanya mau menjadi murid orang yang memiliki kesaktian lebih dari Ibuku dan Eyang Datujiwa!"
"Retna............ Diam kau!"
Bentak Endang Patibroto yang masih merasa ngeri melihat nenek itu.
Ia mengerti bahwa nenek ini biarpun seorang sakti, namun dikelilingi oleh hawa jahat seperti iblis.
Mana mungkin ia membolehkan puterinya menjadi murid nenek iblis ini?
"Heh-heh-heh, semangatnya boleh juga!
Nah, Datujiwa, engkau mendengar sendiri.
Hayo bangkit dan kau lawan aku beberapa jurus untuk membuka mata calon muridku!"
"Tidak! Tidak boleh anakku diambil murid orang begitu saja!"
Endang Patibroto berteriak marah.
Kekhawatirannya bahwa anaknya akan diambil murid nenek iblis itu membuat ia marah dan lupa akan kengeriannya.
Timbul keberaniannya dan kalau Endang Patibroto sudah marah, biar setan dan iblis sendiri muncul di depannya, dia tidak akan mundur selangkah untuk melawannya!
Nenek yang tadinya sama sekali tidak memperhatikan Endang Patibroto, kini membalikkan mukanya memandang penuh perhatian.
"Hemm........... jadi engkaukah yang menjadi ibu anak ini? Wah, engkau boleh juga. Pantas saja mempunyai puteri seperti dia. Siapakah namamu, Nini?"
"Namaku Endang Patibroto dan akulah ketua Padepokan Wilis. Retna Wilis adalah puteriku, dan dia menjadi murid Ki Datujiwa atas kehendakku. Aku, tidak memperkenankan dia menjadi muridmu, harap kau orang tua jangan memaksa!"
"Heh-heh-heh, siapa yang memaksa? Anakmu itu dengan suka hati sendiri datang kepadaku. Bukankah begitu, Retna Wilis yang manis? Engkau yang datang sendiri kepadaku? Lihatlah."
Retna Wilis hanya memandang dengan matanya yang lebar bersinar-sinar, akan tetapi tiba-tiba anak itu lalu berjalan menghampiri nenek itu.
Ada sesuatu yang mendorongnya sehingga kedua kakinya dengan sendirinya melangkah menghampiri nenek iblis itu.
"Retna Wilis! Jangan lancang engkau!"
Endang Patibrotb membentak.
"Heh-heh, tidak ada yang memaksa dan engkau pun akan merelakan anakmu, Endang Patibroto. Retna Wilis bocah ayu, kembalilah dulu kepada ibumu, aku tidak memaksa siapa-siapa dan kalau kau ingin menyaksikan kesaktianku, Ibu dan gurumu ini boleh belajar seratus tahun lagi masih takkan mampu menandingiku."
Setelah Ratna Wilis berjalan mendekatinya, Endang Patibroto maklum dari pandang mata anaknya bahwa anaknya tadi menghampiri si nenek iblis itu bukan atas kehendak sendiri.
Kemarahannya memuncak dan ia lalu menerjang maju, meloncat dan menampar dengan tangan terbuka.
Hebat bukan main gerakan Endang Patibroto ini karena dalam kemarahannya dan dugaannya bahwa lawannya amat sakti, ia meloncat dengan Aji Bayu Tantra dan menghantam dengan Aji Pethit Nogo yang ampuh sekali.
"Wuuuutttt........... dessss........... tubuh Endang Patibroto terpental membalik seperti dilontarkan. Padahal pukulannya belum menyentuh tubuh nenek itu masih terpisah setengah meter. Akan tetapi ada hawa mujijat yang mendorongnya ke belakang sehingga kalau dia tidak memiliki ilmu keringanan tubuh yang hebat tentu ia telah terbanting "Jangan.....Ni-dewi. !"
Namun cegahan Ki Datujiwa itu terlambt karena Endang Patibroto dalam kemarahan-nya telah memekik dengan aji kesaktian Sardulo Bairowo dan dia telah menerjang lagi sambil menggunakan pukulan Gelap Musti yang amat dahsyat.
"Blaarrrr!!"
Pukulan yang hebat bagaikan halilintar menyambar itu juga tidak sampai menyentuh tubuh si nenek yang hanya tersenyum.
Pukulan itu tertumbuk pada dinding yang tak tampak, namun yang kuatnya melebihi baja, dan yang membuat Endang Patibroto terhuyung-huyung ke bela-kang dengan tubuh tergetar hebat.
Kini Endang Patibroto memandang dengan mata terbelalak "Hi-hi-hik, kau benar-benar hebat.
Tak kusangka engkau sehebat ini, Nini.
Ah, makin berhargalah puterimu.
Ibunya begini hebat, dan sudah sepatutnya kalau puterinya kelak lebih hebat lagi.
Siapa-kah gurumu, Nini Endang Patibroto.?"
Suara itu terdengar halus lembut dan manis sekali dan ada pengaruh yang mendorong Endang Patibroto untuk menjawab dengan suara gemetar.
"Guruku........... adalah Dibyo Mamangkoro !! "Heh-heh-heh-heh! Pantas........... pantas........... Dibyo Mamangkoro adalah paman dari iblis betina Mamangsari isteri Prabu Boko! Ha-ha-ha, sungguh kebetulan sekali. Dan aku adalah guru dari Mamangsari! Kalau kini puterimu belajar kepadaku, berarti dia menjadi murid dari Eyang Canggahnya sendiri hi-hik!"
Endang Patibroto terbelalak dan tertegun.
Pantas saja nenek ini sakti seperti iblis sendiri, kiranya adalah guru dari Mamangsari permaisuri Sang Prabu Boko yang kabarnya dahulu memiliki aji-aji kesaktian sejajar dengan kesaktian Sang Prabu Boko!
Akan tetapi kini Ki Datujiwa yang sudah bangkit berdiri maju dan memberi hormat kepada nenek itu.
"Sadhu-sadhu-sadhu........... Nini Bumigarba! Pengambilan murid harus dilakukan dengan suka rela antara guru dan muridnya, juga harus pula mendapatkan ijin orang tuanya Memaksakannya berarti memperkosa dan hal itu amatlah tidak baik. Apalagi Retna Wilis sudah menjadi muridku, biarpun kepandaianku masih dangkal, kalah jauh kalau dibandingkan dengan kepandalanmu, akan tetapi dia menjadi muridku secara suka rela, Kalau aku sebagai gurunya melarang dia menjadi murid orang lain , ibunya sendiri pun tidak setuju, tidak semestinya Andika memaksakan kehendakmu, Nini Bumigarba."
Kini dari balik tabir asap atau uap menghitam itu tampak sepasang mata yang menyinarkan api.
"Datujiwa! Engkau ini siapa berani menentangku? Sudah kukatakan bahwa aku tidak memaksa, dan bocah ini dengan suka sendiri hendak menjadi muridku, dengan syarat aku harus dapat mengalahkanmu. Tidak perlu banyak wawasan lagi, majulah dan lawanlah aku kalau kau hendak mempertahankan kedudukanmu sebagai guru Retna Wilis!"
Ki Datujiwa menoleh kepada Retna Wilis dan bertanya, suaranya halus dan sikapnya masih tenang.
"Angger, Retna Wilis benarkah engkaupun akan suka berguru kepada Nini Bumigarba ini kalau dia dapat mengalahkan aku?"
Retna Wilis semenjak kecil dimanja ibunya dan anak ini paling ingin menjadi seorang yang sakti.
Dia belum dapat membedakan mana baik dan mana jahat, bahkan tidak memperdulikannya.
Baginya, kalau dia bisa menjadi seorang sakti, seperti ibunya, atau melebihi, dia akan merasa senang sekali.
Kini ditanya oleh gurunya, dia menjawab sambil mengangguk .
"Benar, Eyang. Saya percaya bahwa Eyang yang sakti tentu akan dapat mengalahkan nenek ini."
Ki Datujiwa menghela napas dan ketika bertemu pandang dengan Endang Patibroto, ia makin kecewa.
Dalam pandang mata Endang Patibroto, ia dapat merangkap pernyataan wanita itu yang ingin agar dia turun tangan menandingi Nini Bumigarba.
Agaknya Endang Patibroto sendiri pun percaya bahwa dia akan dapat mengalahkan nenek ini.
"Baiklah, Nini Bumigarba. Entah apa hubungannya kemunculanmu yang aneh ini dengan munculnya awan gelap dari Sriwijaya dan Cola, aku tidak tahu. Akan tetapi, jangan salah menduga bahwa aku menghadapimu karena memperebutkan siswa. Kalau hanya untuk itu, aku rela mengalah. Akan tetapi terpaksa aku melupakan kebodohan sendiri menentangmu karena aku tahu pasti bahwa kalau Retro Wilis menjadi muridmu, dia akan kaubawa menyeleweng daripada kebenaran dan kelak dia hanya akan menimbulkan malapetaka saja. Nah, aku sudah siap!"
Nini Bumigarba bergelak, suara keta-wa yang mengandung kekejaman karena sesungguhnya nenek ini marah sekali.
Rahasianya telah dibuka oleh dugaan Ki Datujiwa dan dia mengambil keputusan untuk melenyapkan orang yang dianggap-nya hanya akan menjadi penghalang saja ini.
"Nah, hadapilah kematianmu!"
Nini Bumigarba mendengus dan kedua tangannya bergerak seperti orang menampar.
Jarak antara dia dan Ki Datujiwa ada dua meter jauhnya, akan tetapi tamparannya itu mendatangkan angin dan hawa pukulan amat dahsyatnya.
Ki Datujiwa yang maklum akan kesaktian lawan, cepat mengelak dan menangkis.
Namu tetap saja ia terhuyung-huyung ke belakang dengan wajah pucat.
"Hi-hi-hik, Retna Wilis bocah ayu lihatlah, baru sekali pukulan saja dungu yang menjadi gurumu ini sudah tidak kuat!"
Nini Bumigarba melangk maju dua tindak dan kembali kedua tangannya menampar dari kanan kiri.
Ki Datujiwa sebetulnya bukan seorang sakti biasa saja.
Dia memiliki kesaktian yang sudah tinggi tingkatnya dan jaranglah ada orang yang mampu menandinginya.
Endang Patibroto sendiri yang memiliki kesaktian menggemparkan kedu kerajaan Jenggala dan Panjalu, masih kalah olehnya.
Akan tetapi kini dia menghadap Nini Bumigarba, bukan manusia lumrah, maka dia terpaksa mengerahkan seluruh tenaga batin dan tenaga saktinya.
Kembali dia menangkis pukulan jarak jauh itu sambil meloncat ke kiri sehingga kini tidak lagi dia terhuyung.
Dia maklum bahwa kalau dia membalas dengan pukulan jarak jauh, tenaga saktinya masih tidak akan kuat merobohkan si nenek iblis, maka kini dengan nekat ia lalu melanjutkan loncatannya mengelak tadi, sebelum kakinya kembali menyentuh tanah ia sudah melejit dan tubuhnya menyambar miring ke arah Nini Bumigarba, tangan kananhya menatnpar dan ia mengeluarkan pekik nyaring.
Telapak tangan kakek ini berubah merah dan pukulannya ini kalau mengenai tubuh lawan, dapat membuat tubuh lawan tewas dalam keadaan hangus!
"Plakkk...........
Pukulan telapak tangan itu sama sekali tidak menyentuh kulit tubuh Nini Bumigarba, masih sejengkal jauhnya, akan tetapi sudah tertangkis hawa sakti yang kuat sekali sehingga Ki Datujiwa terpelanting jatuh!
Dengan sigapnya Ki Datujiwa meloncat bangun, akan tetapi gerakannya ini dipapaki oleh sebuah tamparan tangan kiri Nini Bumigarba.
Telapak tangan nenek ini tidak menyentuhnya, namun hawa pukulan yang ampuhnya menggila telah mengenai kepala sehingga kakek yang sakti itu mengeluarkan suara keluhan perlahan dan robohlah ia, roboh miring tak betgerak lagi karena nyawanya telah meninggalkan badan.
"Kau........... kau bunuh dia ?"
Endang Patibroto memeklk marah dan siap untuk menyerang nenek itu. Akan tetapi tiba-tiba Retna Wilis berseru.
"Ibu , dia hebat sekali! Eyang Datujiwa dikalahkannya dengan mudah! Ibu, aku suka menjadi muridnya!"
"Retna Wilis. !!"
Endang Patibroto membentak akan tetapi tiba-tiba terjadilah keanehan.
Endang Patibroto merasa seolah-olah tubuhnya kemasukan air dingin yang mengusir semua kemarahannya, membuat semangatnya lemah dan tubuhnya lesu dan dingin.
Ketika ia mengangkat muka, ia melihat betapa kini tabir asap yang menyelubungi wajah nenek itu lenyap, tampaklah wajah yang masih membayangkan kecantikan, wajah yang kini dalam pandang matanya tampak agung dan suci, yang mempunyai sinar mata seperti kilat menyambar.
Ia pun menunduk dan seperti bukan atas kehendak sendiri, Endang Patibroto berkata.
"Baiklah, Retna Wilis, kuijinkan engkau menjadi murid Nini Bumigarba."
Nini Bumigarba tertawa mengikik, tubuhnya menyambar didahului asap hitam kemudian ia melayang pergi dari situ dan lenyaplah nenek itu bersama Retna Wilis!.
Setelah nenek itu lenyap, barulah Endang Patibroto seperti disiram air dingin, seperti baru sadar dari mimpi buruk.
Ia terbelalak mencari anaknya, kemudian menjerit.
"Retna........... Anakku...........! Jangan pergi !"
Ia lalu meloncat dengan Aji Bayu Tantra, melakukan pengejaran ke arah lenyapnya tubuh nenek tadi.
Namun sampai ke bawah puncak ia berlari-lari, dipandang penuh keheranan oleh semua anggauta Padepokan Wilis yang tidak tahu apa yang telah terjadi.
Kemudian Endang Patibroto berlari-lari ke puncak, kini diikuti oleh semua anak buahnya yang menduga terjadi hal-hal yang amat hebat.
Ketika para anggauta Padepokad Wilis tiba di puncak, mereka terbelalak memandang ketua mereka itu menangisi Ki Datujiwa yang telah menjadi mayat!.
Beberapa hari kemudian, setelah mengurus jenazah Ki Datujiwa dan berkabung, Endang Patibroto mengumpulkan semua anak buahnya.
Dengan rambut awut-awutan dan pakaian lusuh dia berkata.
"Puteriku diculik orang. Aku akan pergi mencarinya. Kalian semua bekerja seperti biasa dan jagalah Padepokan Wilis baik-baik. Jangan mencari perkara dengan orang luar dan hanya kalau ada orang luar datang mengganggu, lawan sekuatnya. Tunggu sampai aku kembali ke sini."
Demikian pesannya dan semua anak buahnya mengantar kepergian ketua mereka itu dengan hati penuh prihatin.
Setelah jauh meninggalkan Wilis, Endang Patibroto menjadi bingung.
Kemana ia harus mencari puterinya?
Penculik puterinya adalah seorang manusia seperti iblis, sukar sekali dicari jejaknya.
Andai-kata dia berhasil menemukan puterinya bersama penculiknya sekali pun, apakah dayanya?
Dia tidak akan dapat berbuat apa-apa terhadap seorang yang sakti mandraguna seperti Nini Bumigarba itu!
Makin nelangsa rasa hati Endang Patibroto, nelangsa dan merasa ditinggalkan seorang diri di dunia yang penuh derita ini.
Teringatlah Endang Patibroto kepada ayah Retna Wilis dan tiba-tiba wanita perkasa ini menjatuhkan diri di atas tanah dan menangis terisak-isak.
Wanita gagah perkasa yang di waktu mudanya menimbulkan geger, yang tidak mengenal takut tidak mengenal susah berwatak keras seperti baja itu kini menangis sesenggukan.
"Joko Wandiro........... aduhh, Joko Wandiro........... , bagaimana anakmu........... Tidak tahukah engkau betapa hancur hatiku ?"
Ia merintih-rintih menyebut nama kecil Tejolaksono.
Terbayanglah wajah kekasihnya itu.
Tejolaksono atau Joko Wandiro, adipati di Selopenangkep dan rasa rindunya tak tertahankan lagi.
Dia harus mencari Tejolaksono.
Dia harus menyampaikan kesusahan ini kepada ayah Retna Wilis.
Hanya bersama Tejolakson saja di sampingnya ia akan merasa kuat menghadapi Nini Bumigarba, merasa kuat untuk melanjutkan hidup, menempuh gelombang kehidupan, mengatasi segala kepahitan dan derita.
Dia tidak perlu malu kepada Ayu Candra.
Setelah mendapat pikiran ini, bulat tekad di hati Endang Patibroto untuk kembali ke Selopenangkep minta bantuan Tejolaksono untuk bersama-sama mencari puteri mereka yang dilarikan Nini Bumigarba.
Wanita perkasa ini melakukan perjalanan cepat siang malam tanpa berhenti dan dalam beberapa hari saja tiba-lah dia di Kadipaten Selopenangkep.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kecewa hatinya ketika mendapat keterangan bahwa Adipati Tejolaksono tidak lagi menjadi adipati di Selopenangkep dan bahwa Adipati Tejolaksono telah di ganti orang lain.
Namun kekecewaan in terobati oleh keterangan bahwa kekasihnya itu kini telah menjadi patih muda Kota Raja Panjalu!
Diam-diam ia merasa girang dan bersyukur bahwa kini orang yang dicintanya telah mendapat kemuliaan.
Kemudian rasa girang dan syukur ini terganggu pula oleh berita bahwa di dalam kekacauan yang ditimbulkan oleh musuh-musuh Panjalu, Selopenangkep pernah diduduki musuh dan dalam perang itu banyak sekali orang gagah Selopenangkep yang gugur, di antaranya adalah Roro Luhito, ibu tirinya yang gugur dalam medan perang.
Juga bahwa adik tirinya Pusporini, lenyap dalam keributan itu.
Ketika Endang Patibroto mendengar cerita tentang hancurnya Selopenangkep dan larinya Tejolaksono bersama Ayu Candra, ia menjadi terharu.
Ah, kiranya orang yang dikasihinya itu pun mengalami penderitaan.
Putera mereka, Bagus Seta, masih belum kembali dan akhirnya Tejolaksono berdua Ayu Candra saja yang masih tinggal, namun kemudian terpaksa pula lari dari Selopenangkep.
"Aku harus menyusul mereka ke Panjalu,"
Pikirnya.
Tidak ada orang lain di dunia ini yang dapat ia sambati, yang dapat ia harapkan bantuannya untuk mencarI kembali anaknya yang hilang.
Tanpa mengenal lelah Endang Patibroto lalu meninggalkan Selopenangkep dan melakukan perjalanan yang jauh dan melelahkan, yaitu menuju ke Kota Raja Panjalu di timur.
Sungguh ia tidak mengira bahwa ia masih akan kembali ke kota raja, padahal ketika ia tinggal di Wilis, ia berjanji dalam hatinya tidak akan mencampuri urusan kedua Kerajaan Panjalu dan Jenggala lagi.
Endang Patibroto adalah seorang wanita yang sudah amat terkenal, baik di Panjalu maupun di Jenggala.
Karena maklum akan hal ini, Endang Patibroto memasuki Kota Raja Panjalu secara diam-diam, menggunakan kepandaiannya untuk masuk dengan cara meloncati pagar tembok yang mengelilingi kota raja.
Kemudian ia pergi mencari tempat tinggal Patih Muda Tejolaksono.
Waktu itu telah lewat tengah hari, menjelang senja dan dengan gerakan seperti seekor burung srikatan, Endang Patibroto meloncati pager di belakang kepatihan, kemudian melayang turun masuk ke dalam taman kepatihan.
Teringat bahwa ia telah berada di taman tempat tinggal kekasihnya dan bahwa ia akan bertemu dengan orang yang selama bertahun-tahun ini menjadi kembang mimpi, menjadi kenangan yang menimbulkan kerinduan, jantungnya berdebar karena girang dan tegang, juga amat terharu.
Pada saat itu, kebetulan sekali Patih Muda Tejolaksono sedang duduk di dalam taman bunga, duduk melamun seorang dia.
Hati Ki Patih Tejolaksono sedang ruwet, pikirannya tidak tenang dan hatinya selalu merasa tidak enak.
Hal ini disebabkan karena ki patih ini memikirkan keadaan di Jenggala.
Beberapa pekan yang lalu, secara tak terduga-duga ia dan isterinya, Ayu Candra, menerima kedatangan Setyaningsih dan suaminya, Pangeran Panji Sigit.
Suami isteri yang untuk beberapa tahun hidup kesepian di Panjalu ini tentu saja menjadi girang dan hampir tidak percaya kepada pandang matanya sendiri ketika melihat Setyaningsih tiba-tiba muncul itu.
Baru setelah Setyaningsih yang menangis itu memeluk Ayu Candra, mereka sadar bahwa yang mereka alami bukanlah dalam mimpi.
"Aduh, adikku yang cantik..... engkau........... engkau Setyaningsih Puji syukur kepada para dewata bahwa engkau........... engkau sekarang telah menjadi puteri jelita. betapa lamanya engkau pergi, Adikku."
Akhirnya Ayu Candra dapat berkata setelah berangkul-rangkulan dan bertangisan.
Setyaningsih mengusap air matanya kemudian memberi hormat, menyembah kepada Ki Patih Tejolaksono yang memandang penuh keharuan.
Wajah ki patih yang masih tampan itu penuh gores-gores tanda kepahitan dan penderitaan batin yang menimpanya selama bertahun-tahun ini.
Setelah mengelus rambut kepala Setyaningsih penuh keharuan, Ki Patih Tejolaksono berkata;
"Adinda Setyaningsih, sungguh saat ini amat membahagiakan hatiku. Duduklah dan ceritakan semua pengalamanmu. Siapakah ksatria perkasa yang datang bersamamu ini, Adinda?"
Wajah yang ayu itu tiba-tiba menjadi merah dan dengan suara lirih ia berkata memperkenal kan.
"Dia........... dia adalah suami hamba, dia Pangeran Panji Sigit dari Jenggala."
"Ahhhh !"
Tejolaksono berseru, tercengang kemudian cepat-cepat ia menjatuhkan diri berlutut, diikuti oleh Ayu Candra, hendak menghaturkan sembah.
"Harap Paduka maafkan, karena hamba tidak tahu bahwa Paduka."
Akan tetapi Pangeran Panji Sigit cepat-cepat berlutut juga dan mengangkat bangun Ki Patih Tejolaksono.
"Duh Rakanda Patih dan Ayunda, mohon jangan membikin saya menjadi malu dan kikuk. Setelah saya menjadi suami Diajeng Setyaningsih, berarti saya adalah adik ipar Paduka sendiri. Rakanda Patih, saya tidak berani menerima penghormatan Paduka berdua, bahkan sayalah yang menghaturkan sembah kepada Rakanda berdua."
Ki Patih Tejolaksono menjadi gembira sekali menyaksikan kerendahan hati dan keramahan pangeran muda itu. Dia tersenyum dan berkata.
"Baiklah, Adinda Pangeran, silahkan duduk. Sungguh amat besar rasa bahagia di hati saya mendengar bahwa Adinda Pangeran berkenan mengambil Yayi Setyaningsih sebagai isteri."
"Setyaningsih, kau bocah nakal! Sungguh terlalu sekali, mengapa menikah secara diam-diam saja tidak mengundang kami? Betapa tega hatimu........... melupakan kami."
Ayu Candra menegur. Setyaningsih menunduk.
"Maafkan saya, Ayunda. Sesungguhnya, belum lama saya dinikahkan secara sederhana di Wilis. Ayunda Endang Patibroto menghendaki demikian, dan dia adalah ketua Padepokan Wilis dan tinggal di sana semenjak. semenjak pergi dari Selopenangkep."
"Aduh Dewa........... Kasihan sekali Endang Patibroto !"
Ayu Candra terisak menangis sedangkan Ki Patih Tejolaksono mengerutkan keningnya, merasa jantungnya seperti ditusuk keris berbisa.
"Ohhh, Endang Patibroto, mengapa engkau meninggalkan kami dan hidup bersunyi sendiri di puncak Wilis..........? Ah, betapa besar penderitaanmu "
Kembali Ayu Candra menangis, dan Setyaningsih ikut pula menangis. Ki Patih Tejolaksono menghela napas panjang lalu berkata, suaranya menggetar namun nadanya senang.
"Sudahlah, tidak perlu disedihkan karena hal itu sudah terlewat. Kurasa, penderitaannya tidaklah lebih besar daripada penderitaan kita, bahkan mungkin sekali dia lebih senang karena dapat hidup tenteram dan damai di puncak Wilis, tidak seperti kita yang selalu tertimpa keributan dan kekacauan perang."
Ayu Candra terhibur pula dengan ucapan suaminya yang cukup beralasan ini, maka sambil menyusut air matanya ia lalu bertanya.
"Adinda Setyaningsih, bagaimana........... bagaimana dengan puteranya. ?"
Setyaningsih mengerling ke arah Ki Patih Tejolaksono dan menjawab perlahan.
"Ayunda Endang Patibroto mempunyai seorang puteri, namanya Retna Wilis, keponakanku cantik manis dan amat pintar. Kini telah berusia enam tahun dan bahkan baru-baru ini mendapatkan seorang guru yang sakti mandraguna, yaitu Eyang Resi Datujiwa."
"Aahhhh, Kakangmas........... Paduka harus menyusul ke Wilis, harus memboyong Adinda Endang Patibroto dan Nini Retna Wilis! Endang Patibroto adalah isteri Paduka dan Retna Wilis adalah puteri Paduka, anak kita........... ah, Kakangmas, Paduka harus memboyong mereka ibu dan anak........... harus. !"
Ayu Candra terisak menangis.
Pangeran Panji Sigit bertukar pandang, dengan isterinya.
Pangeran muda ini telah mendengar dari isterinya bahwa Retna Wilis adalah puteri Tejolaksono, bahkan Endang Patibroto, kakak iparnya yang telah menjadi janda itu telah menjadi isteri Ki Patih Tejolaksono.
Ia hanya menunduk dan mendengarkan dengan terharu, merasa kasihan kepada Endang Patibroto dan puterinya, dan merasa kagum akan kehalusan budi Ayu Candra.
"Diajeng Ayu Candra, apakah engkau sudah lupa akan watak Endang Patibroto? Kalau dia sudah mengambil keputusan, siapakah yang akan mampu merubahnya? Kalau dia menghendaki untuk hidup bersama kita, tentu dia akan datang sendiri, sebaliknya kalau dia tidak menghendaki, disusul pun apa gunanya? Kita harus mengucap syukur bahwa dia masih dalam keadaan selamat, demikian puteri kita........... Retna Wilis."
Ketika menyebut nama ini, suara Ki Patih Tejolaksono agak menggigil karena ia merasa terharu sekali.
Dia mempunyai seorang putera, namun Bagus Seta itu semenjak kecil dibawa pergi orang-orang sakti dan belum juga kembali.
Dia mempunyai seorang puteri pula, namun selama hidupnya belum pernah ia melihat puterinya yang sudah berusia enam tahun itu!
Setelah menarik napas panjang menenangkan penderitaan batinnya, Tejolaksono lalu berkata kepada Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit.
"Sebaiknya Adinda berdua kini menceritakan pengalaman Andika."
Tiba-tiba wajah Pangeran Panji Sigit yang tampan itu menjadi muram dan ia berkata.
"Ah, Rakanda Patih, kedatangan kami berdua membawa berita yang amat buruk dari Jenggala."
Ki Tejolaksono mengangguk-angguk "Kami di Panjalu telah mendengar berita terbawa angin lalu bahwa di Jenggala terjadi kekacauan-kekacauan, bahkan kabarnya Paman Patih Brotomenggala yang setia itu melakukan pengkhianatan sehingga seluruh keluarga dihukum mati.
Sampai di manakah kebenaran berita ini Adinda Pangeran?"
"Duh Rakanda Patih, memang seperti mimpi buruk apa yang terjadi di Jenggala. Bukan itu saja, bahkan. Ibunda Ratu sendiri kini telah diasingkan di pembuangan yang terletak di kaki Gunung Anjasmoro "
"Aduh para dewata yang agung! Sampai sedemikian jauhnya? Mengapa. ? "Fitnah, Rakanda! Fitnah merajalela di Jenggala dan Ramanda Prabu telah dicengkeram persekutuan yang lebih jahat dan keji daripada iblis-iblis sendiri!"
Dengan penuh semangat namun dengan suara penuh duka Pangeran Panji Sigit lalu menceritakan keadaan di Jenggala seperti yang ia dengar dari mulut sang ratu sendiri.
Ki Patih Tejolaksono dan Ayu Candra mendengarkan dengan wajah berubah pucat dan mata terbelalak.
Setelah Pangeran Panji Sigit selesai bercerita, Ki Patih Tejolaksono memukul pahanya sendiri sampai mengeluarkan bunyi nyaring.
"Hebat....……! Sang Prabu di Panjalu selalu merasa sungkan untuk mencampuri urusan dalam istana Jenggala. Akan tetapi kalau keadaan sudah sedemikian rusaknya, hal ini sebaiknya harus dilaporkan kepada sang prabu!"
"Memang kedatangan saya di Panjalu ini selain mengunjungi Rakanda Patih, juga menurut nasehat dari Ibunda ratu untuk minta bantuan Uwa Prabu di Panjalu agar Kerajaan Jenggala dapat diselamatkan dan dibersihkan daripada pengaruh anasir-anasir jahat itu, Rakanda."
"Bagus! Kalau begitu, marilah sekaang juga kuantarkan Adinda Pangeran menghadap sang prabu.' Sang prabu di Panjalu menerima kunjungan keponakannya dengan penuh keramahan, akan tetapi ketika Sang Pangeran Panji Sigit menceritakan tentang keadaan di Jenggala, sang prabu menjadi kaget dan keningnya berkerut-kerut.
"Duh Jagad Dewa Bathara! Mengapa yayi prabu sampai terperosok begitu dalam?"
"Gusti sesembahan hamba,"
Ki Patih Tejolaksono berkata.
"hamba teringat akan wejangan Sang Sakti Bhagawan Ekadenta akan awan gelap yang mengancam keselamatan kerajaan keturunan Mataram. Hal ini cocok benar dengan. lenyapnya huru-hara yang tadinya ditimbulkan oleh orang-orang Sriwijaya dan Cola. Bukan tidak mungkin kalau mereka itu yang berhasil menyelundup ke Jenggala dan merusak Jenggala dari dalam Gusti. Mohon beribu ampun, bukan sekali-kali hamba hendak bersikap lancang akan tetapi sebaiknya hal ini tidak didiamkan saja dan sudah sepatutnya kalau hamba menerima perintah Paduka untuk membawa pasukan pilihan dan membersihkan Jenggala daripada pengaruh-pengaruh jahat itu, Gusti."
Sang prabu tersenyum tenang.
"Memang sudah sepatutnya kalau engkau sebagai patih muda bersiap-siap untuk membela Jenggala karena Kerajaan Jenggala merupakan kerajaan keluarga kami. Akan tetapi wawasanmu itu kurang tepat dan agaknya tidak akan bijaksana kalau dilaksanakan, Patih 'Tejolaksono."
"Bolehkah hamba mengetahui mengapa tidak bijaksana kalau dilaksanakan, Gusti? Padahal Jenggala sungguh amat membutuhkan bantuan."
"Engkau harus ingat bahwa keadaan di Jenggala itu bukan terjadi karena pengaruh dari luar yang dipaksakan, melainkan semua terjadi atas kehendak yayi prabu sendiri. Kalau kita mencampurinya, hal itu amatlah tidak baik dan pula tidak semestinya, patihku yang setia. Jangan-jangan malah akan menimbulkan salah faham dari pihak yayi prabu sendiri. Tentu saja akan menjadi lain persoalannya kalau yayi prabu sendiri yang mengajukan permintaan bantuan secara resmi, tentu akan kukerahkan bala tentara Panjalu untuk menyelamatkan Jenggala, tetapi, keadaannya lain sama sekali. Belum tiba saatnya bagi kita untuk turun tangan."
Mau tidak mau Tejolaksono harus mengakui kebenaran pendapat junjungannya ini dan dia tidak berani membantah pula.
Pangeran Panji Sigit sebagai keponakan sang prabu, diminta untuk membawa isterinya dan berada di istana.
Sejak hari itulah, pikiran Ki Patih Tejolaksono terganggu.
Hatinya selalu memikirkan keadaan Jenggala dan ia amat tidak puas dengan keputusan sang prabu.
Dan pada sore hari itu, Ki Patih Tejolaksono termenung seorang diri di dalam taman bunga.
Hatinya merasa yakin bahwa dugaannya pasti tidak meleset jauh, bahwa ada tangan-tangan kotor dari Sriwijaya dan Cola yang menyebabkan kekeruhan di Jenggala.
Kalau ia teringat kepada orang-orang sakti seperti Sang Biku Janapati, apalagi Sang Wasi Bagaspati, dengan anak buah mereka yang sakti mandraguna seperti Cekel Wisangkoro, Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, dan Sariwuni, ia bergidik dan merasa ngeri.
Kalau orang-orang yang amat sakti dan jahat seperti mereka itu, menandingi iblis sendiri, yang sedang mengacau Jenggala, akan hebat dan mengerikan akibatnya.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, ketika senja hari itu Endang Patibroto mengguna kan kepandaiannya menyelundup ke Kota Raja Panjalu kemudian secara rahasia ia melompatl dinding kepatihan dan memasuki taman bunga, pada saat itu kebetulan Ki Patih Tejolaksono sedang termenung seorang diri di alam taman itu.
"Kakangmas."
Lirih sekali nanggilan yang keluar dari mulut Endang Patibroto yang berdiri dengan muka pucat dan air mata bercucuran ketika ia memandang pria yang amat dicintanya itu.
Hatinya diliputi keharuan.
Kekasihnya itu kini sudah agak tua, rambutnya di atas telinga telah mulai bercampur uban, wajahnya yang masih tampan dan gagah itu penuh garis-garis derita batin.
Apalagi dalam keadaan termenung itu, wajah Tejolaksono kelihatan susah dan murung.
Ki Patih Tejolaksono sedang tenggelam dalam lamunannya, memikirkan keadaan Jenggala, memikirkan Endang Patibroto dan puterinya yang belum pernah dilihatnya itu, memikirkan Bagus Seta yang belum juga kembali, sehingga ia agaknya tidak mendengar panggilan halus lirih itu.
"Kakangmas Tejolaksono "
Ki Patih Tejolaksono tersentak kaget lalu bangkit dari duduknya sambil membalikkan tubuh.
Matanya terbelalak, wajahnya pucat, sejenak ia mengejap-ngejapkan matanya, bahkan menggunakan tangan menggosok kedua matanya karena ia khawatir kalau-kalau renungannya membuat ia seperti mimpi.
Benarkah wanita yang berdiri dengan air mata bercucuran ini Endang Patibroto, wanita yang tak pernah dia lupakan selama ini, yang selalu ia rindukan, yang membuat ia merana dan duka?
Tidak salah lagi.
Tak ada wanita ke dua di dunia ini seperti Endang Patibroto.
Memang agak tua, dan wajah yang cantik itu lesu dan membayangkan kedukaan hebat, rambut yang hitam panjang itu kusut, pakaiannya pun lusuh.
Akan tetapi dia tetap Endang Patibroto!
Sejenak mereka berpandangan, muka Ki Patih Tejolaksono pucat, air mata makin deras mengucur dari kedua mata Endang Patibroto.
Bibir kedua orang itu menggigil, bergerak-gerak namun tidak ada suara yang keluar.
Akhirnya Ki Patih Tejolaksono mengeluarkan suara lirih dan serak.
"Engkau. ??"
Dalam suara bisikan ini terkandung segala kerinduan, segala harapan, dan segala teguran, membuat Endang Patibroto terisak lalu wanita itu lari menghampiri, langsung menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Tejolaksono dan merangkul kedua kaki pria itu.
Tejolaksono berdiri seperti arca, menunduk dan memandang kepala yang rambutnya kusut, memandang sepasang pundak yang terguncang-guncang karena tangis.
Setelah kini wanita itu merangkul kakinya, setelah ia merasa betapa betisnya basah kejatuhan air mata, yakinlah hati Tejolaksono bahwa benar Endang Patibroto yang kini berlutut di depan kakinya.
Hatinya menjeritkan kerinduan, hasratnya mendorong-dorongnya untuk memeluk dan menciumi wanita yang amat dicintanya ini.
Akan tetapi melihat Endang Patibroto, teringatlah ia akan semua penderitaan yang dialami keluarga semenjak Endang Patibroto lolos dari Selopenangkep tanpa pamit.
Teringatlah ia betapa ia hidup nelangsa dan terbenam kerinduan dan kedukaan ditinggal, pergi Endang Patibroto.
Teringatlah betapa kejam hati Endang Patibroto meninggalkannya, memutuskan cinta kasih mereka yang sedang hangat-hangatnya dan timbullah kemarahan di hati Tejolaksono.
"Endang Patibroto, engkau yang sudah minggat mening-galkan kami tanpa memper-dulikan kami, sekarang datang ada keperluan apakah?"
Endang Patibroto mene-ngadahkan muka yang basah air mata, memandang ke wajah pria yang dicintanya itu.
Akan tetapi ketika ia mendengar suara itu, suara yang dingin sekali, melihat wajah yang tak bersemangat, melihat yang menatapnya penuh penyesalan dan sikap yang acuh tak acuh, jantungnya seperti ditusuk-tusuk jarum dan wanita itu tersedu-sedu.
"Kakangmas Tejolaksono "
Rintihan suara Endang Patibroto ini tersendat-sendat dan sukarlah baginya untuk melanjutkan kata-katanya karena tangisnya membuat tenggorokannya seperti tersumbat Tejolaksono memejamkan mata untuk menahan perasaan harunya mendengar suara wanita yang dicintanya ini menyebut namanya dengan getaran penuh duka dan penuh cinta kasih terpendam.
Namun kemarahan hatinya yang sakit masih tidak mengijinkan dia menyambut ulur hati merindu, dan Tejolaksono kini bersidakap, sikapnya tak acuh.
"Kakangmas........... , ampunkan semua kesalahanku."
Sejenak Tejolaksono tertegun dan hatinya yang penuh cinta itu diliputi rasa heran dan kasihan.
Inikah Endang Patibroto yang dahulu?
Wanita perkasa yang pantang mundur menghadapi segala bahaya dan kesukaran?
Wanita yang tak kenal takut dan tak pernah meruntuhkan air mata?
"Sesungguhnyakah engkau merasa bersalah, Endang Patibroto?
Tidakkah yang kau lakukan itu malah benar karena kalau engkau tidak meninggalkan kami engkau pun akan mengalami segala kesengsaraan dan derita seperti yang kami alami?"
Ucapan ini halus dan tidak kedengaran seperti orang marah, namun mengandung sindiran yang lebih tajam dan menyakitkan hati daripada kata-kata keras.
"Aduh Kakangmas.
". Endang Patibroto tidak dapat melanjutkan kata-katanya dan tangisnya makin mengguguk. Teringat ia betapa dahulu meninggalkan Selopenangkep karena terpaksa, pergi dengan hati hancur karena tidak mau menyusahkan hati Tejolaksono dan terutama sekali Ayu Candra. Teringat ia betapa ia hidup terlunta-lunta, melakukan perjalanan yang amat sengsara dalam keadaan mengandung bersama Setyaningsi betapa kemudian la rela menjadi kepala dari gerombolan Wilis, hidup mengasingkan diri dari dunia ramai. Kemudian, terutama sekali ia teringat betapa tertimpa malapetaka yang hebat, diperkosa yang berarti dihina oleh Sindupati. Dan kini, setelah ia kehilangan puterinya yang dilarikan Nini Bumigarba sehingga ia terpaksa harus mencari ayah puterinya untuk dimintai bantuan, ia diserang dengan ucapan-ucapan penyesalan, ditusuk-tusuk perasaan hatinya yang sudah luka-luka membutuhkan obat dan hiburan itu. Pada saat itu, Ayu Candra yang memasuki taman menyusul suaminya yang ia tahu seperti biasanya duduk bersunyi diri di dalam taman, melihat suaminya berdiri-dengan muka marah dan seorang wanita menangis di depan kakinya. Ayu Candra heran dan terkejut sekali, akan tetapi ketika ia meneliti dari jauh dan melihat bahwa wanita itu bukan lain adalah Endang Patibroto, ia menjerit sambil lari menghampiri.
"Endang Patibroto !!!"
Serta-merta ia menubruk dan memeluk wanita yang sedang menangis itu dengan hati penuh keharuan dan kegirangan.
Menghadapi penyambutan yang sama sekali di luar dugaannya ini, hati Endang Patibroto seperti diremas dan ia hanya dapat sesenggukan sambil mambalas rangkulan wanita yang menjadi madunya.
Sungguh dia tidak menyangka penyambutan ini, karena sesungguhnya sebelum tiba di sana, Ayu Candralah yang ia khawatirkan akan menyambutnya dengan sikap bermusuh.
"............ Ayunda........... aku datang untuk........... untuk minta maaf............ Kakanda Tejolaksono tidak sudi mengampunkan aku........... kuharap........... Ayunda memaafkan segala kesalahanku."
Ndang Patibroto terisak-isak dalam rangkulan Ayu Candra.
Dengan mata terbelalak Ayu Candra memandang ke atas, ke arah wajah suaminya yang masih bersedakap dengan muka muram dan keras.
Ia lalu berkata dengan lengan masih merangkul leher madunya "Apa............?
Bukan engkau yang harus minta maaf, Adikku.
sebaliknya akulah yang harus minta maaf kepadamu!
Karena akulah, karena kebodohanku, karena kehancuran hatiku kehilangan puteraku...........
aku telah mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatimu...........
tidak, Endang Patibroto, bukan kau yang salah, melainkan aku.
Ayu Candra juga menangis.
"Alangkah mulia hatimu, Ayunda........... dan kemuliaanmu membuat aku merasa makin berdosa........... sehingga patutlah kalau Kakanda Tejolaksono tidak sudi memaafkan aku........... , biarlah aku pergi saja."
"Jangan........... Tidak boleh kau pergi, Endang Patibroto "
Ayu Candra yang kini menangis sampai merangkul erat-erat. Kemudian Ayu Candra menarik Endang Patibroto bangun berdiri, menghadapi suaminya dan berkatalah wanita ini dengan muka basah air mata.
"Kakangmas, mengapa Paduka begini kejam terhadap Adinda Endang Patibroto?"
Suara ini penuh tuntutan dan penuh teguran karena wanita ini maklum dengan penuh keyakinan betapa suaminya banyak berduka karena rindu kepada Endang Patibroto, betapa sesungguhnya suaminya amat mencinta Endang Patibroto.
Mengapa kini suaminya seolah-olah marah dan menolak Endang Patibroto?
"Siapakah yang kejam, Diajeng?"
Kini Ki Patih Tejolaksono mendapat kesempatan untuk mengeluarkan isi hatinya yang penuh kemarahan dan penyesalan.
"Siapakah yang pergi meninggalkan kita tanpa pamit, bahkan membawa pergi adinda Setyaningsih, menimbulkan banyak kedukaan pada keluarga kita? Andaikata dia tidak minggat, belum tentu Bibi Roro Luhito tewas dan belum tentu Adinda Pusporini lenyap. Andaikata dia berada di Selopenangkep, belum tentu kadipaten itu mudah dihancurkan musuh. Andaikata dia tidak pergi minggat, tentu seorang anak tidak akan dipisahkan dari ayahnya, bahkan kelahirannya pun di luar tahu ayahnya! Andaikata dia tidak pergi, belum tentu begitu banyak malapetaka terjadi dan begitu banyak kedukaan batin diderita."
"Aduh, Kakangmas. !"
Kalimat demi kalimat merupakan ujung keris yang menusuk-nusuk hati Endang Patibroto sehingga wanita itu mengeluh panjang dan pingsan dalam rangkulan Ayu Candra!
"Endang Patibroto............!
Adikku cah-ayu...........
, ingatlah...........
sadarlah...........!
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 23
Baca Juga: Istana Pulau Es 9