Ceritasilat Novel Online

Perawan Lembah Wilis 7

Eps 7 Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo

Baca online Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo

Cersil Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo.

Ah, betapa sayangnya kalau dibunuh begitu saja, pikirnya.

Ia mulai memutar otak mencari akal agar supaya bisa mendapatkan tubuh yang mebuatnya gandrung ini.

Akan tetapi ia tidak kehilangan kewaspadaan, kerisnya masih menodong lambung.

Dia harus dibuat tidak berdaya, pikirnya, sehingga aku dapat menggagahinya.

Setelah itu, harus membunuhnya.

Raden Warutama memang cerdik.

Kalau ia hanya menggunakan tali atau kain untuk mengikat kaki tangan Endang Patibroto, tentu ia akan gagal karena sebelum berhasil membelenggu, wanita sakti itu tentu sudah sadar dan celaka-lah dia.

Kini Warutama mengangkat tangan kiri dengan jari tangan terbuka, mengukur jarak dan tenaga, mengerahkan aji kesaktiannya, kemudian tangan itu dengan cepat sekali menyambar ke bawah, tepat menghantam tengkuk Endang Patibroto di belakang telinga kanan.

"Ngekk........... I Aauhhhhhh "

Kedua mata Endang Patibroto terbelalak sekejap ketika pukulan itu mengenai tengkuknya, mulutnya merintih lirih dan matanya lalu terpejam, tubuhnya lemas dan ia pingsan.

Iblis dan setan tertawa ria menyaksikan hasil kemenangan kejahatan, puas gembira menyaksikan perbuatan terkutuk yang dilakukan Raden Wautama di malam jahanam itu.

Perbuatan-perbuatan jahanam yang terkutuk seperti yang dilakukan Raden Warutama masih akan terus merajalela menguasai hati manusia.

Setan-setan dan iblis masih akan terus menguasai manusia yang berbatin lemah, yang tidak kuasa mengendalikan nafsu-nafsunya dan yang hanya ingin melampiaskan nafsu yang menjerumuskan mereka ke jalan sesat.

Makin sunyi keadaan di pondok pusat Padepokan Wilis itu karena semua penjaganya, anak buah Padepokan Wilis masih nyenyak dl bawah pengaruh aji penyirepan, tidak tahu sama sekali bahwa di padepokan telah terjadi malapetaka hebat menimpa diri ketua mereka.

Sunyi sepi, bahkan kerik jengkerik dan nyanyi kutu-kutu walang atogo terhenti seolah-olah ikut merasa ngeri dan prihatin atas terjadlnya perbuatan terkutuk itu.

Hanya kadang-kadang saja terdengar suara menyeramkan burung hantu yang seperti kekeh iblis sendiri beriang gembira menyaksikan tingkah manusia pengabdi nafsu, seolah-olah binatang yang tidak mempunyai peradaban lagi.

Dan selain kekeh burung hantu itu, dari dalam pondok terdengar kekeh penuh kepuasan dari mulut Raden Warutama ketika ia melihat korbannya tergeletak tak berdaya di hadapannya.

Kemudian hanya sunyi, sunyi yang menyayat hati.

Endang Patibroto merintih lirih, menggerakkan kaki tangannya namun tidak dapat.

Kepalanya nanar sekali dan ia merasa heran mengapa kaki tangannya tak dapat ia gerakkan.

la membuka mata, cepat memejamkan kembali karena begitu matanya dibuka, kepalanya makin pening.

Ia mengejap-ngejapkan matanya, kemudian membukanya perlahan-lahan.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kaki tangannya terpentang dan terikat dengan kainnya sendiri pada kaki pembaringan!

Dan Raden Warutama tampak berdiri di kamar, sedang mengenakan pakaian!

Melihat keadaan dirinya yang tak berpakaian lagi, melihat Raden Warutama, wanita sakti ini seketika maklum apa yang telah menimpa dirinya.

Ia hampir pingsan lagi namun dikuat-kuatkan dirinya.

"Heh-heh, engkau sudah sadar, manis?"

Raden Warutama yang baru selesai berpakaian itu, membalikkan tubuh, keris bersinar hijau di tangan kanannya, lalu melangkah maju.

"Sudah tercapai hasratku memilikimu, Endang Patibroto, dan sekarang bersiaplah untuk mati!"

Sambil berkata demikian, Raden Warutama mengangkat kerisnya, siap menusuk. Pada saat itu, pada detik yang mengerikan itulah Endang Patibroto teringat akan wajah pria yang menyeringai di depannya.

"Sindupati. !!"

Keris yang sudah siap menusuk itu terhenti. Wajah Raden Warutama pucat. Akan tetapi ia lalu tertawa.

"Ha-ha-ha, engkau mengenalku, Endang Patibroto? Lebih baik lagi, agar engkau tidak mati penasaran "

Kembali tangan itu menegang.

Tiba-tiba terdengar pekik melengking keluar dari mulut Endang Patibroto.

Itulah Aji Sardulo Bairowo yang hebat luar biasa.

Pekik ini seolah-olah gerengan seribu ekor harimau marah, menggetarkan seluruh puncak Wilis, membuat pondok seolah-olah hendak roboh.

Dalam kemarahannya dan sakit hati yang meluap-luap, Endang Patibroto memekik, merenggutkan kaki tangannya dan dalam beberapa detik saja ikatan kaki tangannya hancur semua.

Raden Warutama atau yang dahulu bernama Raden Sindupati makin pucat, tubuhnya menggigil dan cepat sekali ia sudah meloncat keluar pintu kamar itu dan melarikan diri, berlindung pada kegelapan akhir malam.

Endang Patibroto hendak meloncat keluar, namun ia teringat akan keadaan-nya yang telanjang bulat.

Cepat ia menyambar ke arah tempat pakaian, mengambil kain dan baju, dikenakannya dengan cepat sekali, namun betapapun juga, sudah memberi banyak waktu kepada Raden Warutama.

Ketlka wanita saktl itu melompat keluar, datanglah berbondong anak buah Padepokan Wilis.

Klranya pekik sakti Sardulo Bairowo tadi telah membuyarkan aji penyirepan dan mengagetkan serta membangunkan semua anak buah yang melakukan penjagaan.

Mereka berlarian dan berada dalam keadaan panik karena memang belum pernah mereka mendengar pekik saktil ketua mereka yang sedemIkian hebatnya.

"Kejar...........! Cari dia...........! Tangkap atau bunuh Warutama. !"

"Slapa...........? Dl mana. ?"

Anak buah Padepokan Wilis bingung sendiri.

"Tamu yang semalam berada di sini! Endang Patibroto membentak.

"Cepat ke............ jar, dia lari. !"

Ketika para anak buahnya berserabutan lari mencari, Endang Patibroto sendiri cepat-cepat lari menuju ke taman karena ia teringat akan puterinya.

Dengan beberapa lompatan saja ia sudah tiba di bawah pohon dan ia berdiri terpaku di situ ketika melihat pohon itu sudah kosong, Retna Wilis tidak ada lagi tergantung di cabang pohon.

"Anakku. !!"

Endang Patibroto menjerit.

Jerit tertahan dan ia benar-benar terkejut, gelisah, bingung dan berduka di samping kemarahannya yang makin berkobar.

la maklum bahwa dirinya telah tertimpa malapetaka hebat, penghinaan luar biasa yang tiada taranya, ia telah dibuat pingsan oleh Raden Warutama atau Raden Sindupati musuh besar-nya itu, dan tahu pula bahwa ia telah diperkosa dalam keadaan pingsan.

Malapetaka ini hebat bukan main, akan tetapi lenyapnya Retna Wilis lebih hebat dan lebih berat lagi rasanya.

Bagaikan seorang gila, Endang Patibroto lalu berlari-lari cepat sekali mencari-cari di seluruh puncak, lalu turun ke lereng-lereng, ke lembah-lembah.

Anak buahnya hanya melihat ketua mereka itu berkelebatan amat cepatnya, juga di antara para tamu calon pengikut sayembara di kaki dan lereng bukit, ada yang melihat wanita sakti ini berkelebatan sampai siang keesokan harinya.

"Anakku...........! Retna Wilis. !"

Endang Patibroto memanggil-manggil, mencari-cari, diseling caci makinya.

"Si keparat Sindupati! Kau tunggu saja, akan kulumatkan kepalamu, kurobek dadamu, kukeluarkan isi perutmu!"

Dan akhirnya, beberapa anak buah Padepokan Wilis yang ikut mencari-cari tanpa aturan, menemukan ketua mereka itu menggeletak pingsan di pinggir jurang.

Mereka terkejut sekali dan cepat-cepat mereka lalu mengangkat tubuh ketua mereka itu, membawa pulang ke puncak dan merawatnya di dalam pondok.

"Lepaskan aku........... Lepaskan…….!"

Di sepanjang jalan Retna Wilis meronta-ronta terus, memaki-maki, setiap kali mendapat kesempatan tentu memukul, mencakar, menjambak, menggi-git.

Akan tetapi semua itu sia-sia belaka.

Ia berada dalam pondongan dua lengan Ki Kolohangkoro yang kuat dan tubuh raksasa itu memang kebal.

Biarpun sejak kecil sudah digembleng hebat, tenaga seorang kanak-kanak berusia lima enam tahun saja tentu tidak berarti bagi Ki Kolohangkoro yang dapat menerima bacokan senjata tajam sambil tertawa enak.

Ki Kolohangkoro sambil tertawa-tawa memperlakukan Ratna Wilis sebagai sebutir buah delima yang membuatnya mengilar.

Dibelainya, diciumnya kepala dan tengkuk anak itu, dijilati dan kalau tidak berkali-kali dilarang oleh Ni Devil Nilamanik, tentu sudah digigitnya leher Ratna Wilis, disedotnya darah anak itu sampai habis, diganyangnya daging yang lunak manis, dihisapnya sumsum dalam tulang muda yang segar!

Mereka berdua sudah berhasil menuruni Gunung Wilis, menjauhi kaki Wilis, bahkan pagi hari itu Raden Warutama sudah pula menyusul mereka, bertemu di tempat yang memang sudah mereka rundingkan sebelumnya.

"Ha-ha-ha, bagaimana, Raden? Berhasikah membunuh Endang Patibroto?"

Bertanya Ki Kolohangkoro begitu Raden Warutama muncul di dalam hutan di mana keduanya tadi duduk menanti.

Retna Wilis yang mendengar pertanyaan ini menjadi pucat mukanya dan matanya yang bening terbelalak memandang laki-laki gagah yang baru muncul.

Raden Warutama menggeleng-geleng kepala dan alisnya berkerut.

Ia sungguh merasa tidak puas kepada dirinya sendiri.

Mengapa tldak langsung dibunuhnya saja Endang Patibroto selagi pingsan?

Kalau ia melakukan hal itu, tentu sekarang Endang Patibroto sudah mati dan tidak akan khawatir dan pusing-pusing lagi.

Akan tetapi ia begitu bodoh untuk memuaskan nafsunya dan setelah hal itu terlaksana, akhirnya ia tidak merasa puas juga, bahkan kecewa.

Endang Patibroto berada dalam keadaan pingsan seperti orang mati, dan sekarang, karena ia menurutkan nafsu, ia gagal membunuh Endang Patibroto, bahkan menanamkan dendam dan kebencian luar biasa.

Wanita itu telah mengenalnya pula.

Mengingat ini, Raden Warutama bergidik dan diam-diam ia menggigil penuh kengerian.

Akan tetapi, di depan kedua orang itu ia tidak mau memperlihatkan kelemahan hatinya dan hanya berkata.

"Dia terlampau sakti untuk dapat dibunuh dengan mudah. Aku gagal, akan tetapi syukur, kalian berhasil. Kita harus menjadikan puterinya ini sebagai tanggungan agar dia tidak mencelakai kita."

"Tadi dia ini sudah menjadi milikku, Raden! Darah dan dagingnya akan menyempurnakan Kolokroda yang kulatih."

"Dan engkau akan mati tersayat-sayat oleh Endang Patibroto! Jangan bodoh, Ki Kolohangkoro. Dia amat sakti, sukar dilawan "

Ni Dewi Nilamanik menyela.

"Tidak perlu diributkan hal ini. Kaupun harus bersabar dulu, Kolohangkoro. Yang terpenting adalah terlaksananya rencana kita terhadap Jenggala. Adapun bocah ini, biar kita minta pertimbangan sang wasi bagaimana baiknya karena hanya sang wasi yang akan mampu menandingi Endang Patibroto."

Mereka melanjutkan perjalanan dan kini Retna Wilis yang sudah yakin bahwa tiga orang ini adalah musuh-musuh ibunya, menjadi makin keras berusaha untuk melepaskan diri.

"Lepaskan aku! Kalian orang-orang biadab! Kalian orang-orang tak tahu malu, pengecut laknat yang patut mampus seribu kali! Muka kalian begini tebal, beraninya hanya sama anak kecil! Kalau memang berani, hayo kembalikan aku kepada ibu dan hendak kulihat berapa jurus kalian bertiga ini sanggup bertahan sebelum mampus di tangan ibuku!"

"Hem m, bocah ini tajam lidahnya!"

Raden Warutama mencela marah.

"Nyalinya besar, dia tidak mengenal takut,"

Kata Ni Dewi Nilamanik.

"Dan darahnya tentu mempunyai kekuatan mujijat, tulangnya bersih........ hah-ha-ha!"

Dengus Ki Kolohangkoro yang merasa kecewa mengapa ia belum diperkenankan melahap darah daging anak.

"Kalian orang-orang biadab! Lepaskan akul Lepaskan!"

Jerit Retna Wilis sambil meronta-ronta sehingga terpaksa Ki Kolohangkoro membungkam mulut yang kecil itu dengan telapak tangannya yang lebar.

Akan tetapi terlambat.

Jerit Retna Wilis tadi sudah terdengar orang.

Buktinya, terdengar orang berlari ke arah mereka dan muncullah seorang pemuda yang tampan sekali.

Pemuda ini pakaiannya amat indah akan tetapi sudah agak kotor, wajahnya berkulit kuning bersih, matanya menyorotkan ketajaman luar biasa, dan ia amatlah tampannya sehing ga Ni Dewi Nilamanik yang memandangnya sampai terpesona.

"Hemm, mengapa anak itu menjerit jerit? Kalian apakan dia?"

Pemuda itu menegur sambil memandang kepada Retna Wilis yang dibungkam mulutnya.

"Waaahh, bedes! Mau apa banyak tanya-tanya? Dia ini anakku, hayo lekas kau minggatl"

Bentak Ki Kolohangkoro sambil memelototkan matanya agar pemuda remaja itu menjadi takut.

"Bukan........... dia bohong........... aku bukan anaknya.........."

Retna Wilis sempat menjerit sebelum Ki Kolohangkoro mendekap mulutnya. Pemuda itu segera melompat ke tengah jalan menghadang, sikapnya keren dan suaranya nyaring ketika ia berkata.

"Kisanak, aku tidak mengenal andika bertiga dan aku sama sekali tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi jelas bahwa anak ini kalian bawa di luar kehendaknya, maka kuharap andika bertiga suka menaruh kasihan kepada-nya dan membebaskannya. !!"

"Ehhh, kunyuk kecil benar cerewet engkau!"

Ki Kolohangkoro dengan marah lalu melangkah maju dan menampar dengan tangan kanannya, sedangkan lengan kiri tetap memondong Retno Wilis.

Akan tetapi alangkah heran dan kagetnya Ketika pemuda yang dipandang rendah itu dengan gerakan indah sekali dapat mengelak dan tamparannya, bahkan dari samping, tangan pemuda itu menjangkau cepat sekali hendak merampas tubuh Retna Wilis!

"Aehhh, kau berani melawan?"

Ki Kolohangkoro sudah meloncat mundur, kemudian dengan beringas ia menerjang maju lagi, menggunakan lengan kanan dan kaki untuk menyerang bertubi-tubi.

Gerakan tangan dan kaki raksasa ini menimbulkan angin saking kerasnya.

Pemuda itu berseru kaget dan cepat-cepat mengelak karena ia tahu bahwa raksasa yang menculik anak itu benar-benar amat tangguh.

"Dewi, kaubunuh dia yang sudah mengetahui tentang penculikan,"

Kata Raden Warutama kepada Ni Dewi Nilamanik.

Wanita ini mengangguk, maklum bahwa memang pemuda tampan itu merupakan bahaya bagi mereka.

Tubuhnya melayang ke depan dan tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan pemuda itu.

Melihat majunya Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkorolalu mundur dan menyeringai lebar.

"Bocah bagus, sayang sekali ketampananmu, engkau harus melepaskah nyawa sekarang juga."

Kata wanita itu dengan suara merdu dan ramah, akan tetapi secepat kilat, tangan kirinya yang kecil dengan jari tangan terbuka sudah meluncur ke depan menempiling kepala pemuda Itu.

Biarpun tangan kecil itu berkulit halus, namun kepala yang kena dItempiling tentu akan retak atau setidaknya akan berantakan isinya.

Pemuda itu kini melihat munculnya wanita cantik yang gerakannya aneh, tidak berani memandang ringan, lalu mengangkat tangan kanan menangkis.

Lengannya bertemu dengan lengan kecil yang lunak, akan tetapi aklbatnya, tubuhnya terpental ke belakang.

Pemuda itu terbelalak kaget, merasa betapa lengan kanannya nyeri seperti ditusuk-tusuk jarum, dan rasa ngilu sampai menusuk di bahu kanan.

Adapun Ni Dewi Nilamanik sambil tersenyum manis namun senyum yang membayangkan maut, sudah melangkah maju, kebutan merah menggetar di tangannya!

"Matilah dengan tenang, bocah bagus...........!"

Kata Ni Dewi Nilamanik, kebutannya bergerak ke atas mengeluarkan bunyi ledakan nyaring. Tiba-tiba terdengar Ki Kolohangkoro berteriak kaget dan marah.

"Heiii...........!! Kembalikan anak itu !!"

Pada detik berikutnya terdengar jerit Ni Dewi Nilamanik karena kebutannya yang ia hantam kan ke arah pemuda itu tiba-tiba terlepas dari pegangannya dan sudah berpindah ke tangan seorang -kakek tua yang ternyata telah memondong Retna Wilis yang sudah dirampasnya tadi dari tangan Ki Kolohangkoro!

Raden Warutama tadi menyaksikan betapa bayangan hitam menyambar-nyambar disusul teriakan Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik, kemudian melihat betapa secara aneh sekali puteri Endang Patibroto telah dirampasnya, bahkan sekaligus kakek itu menyelamatkan si pemuda dan merampas kebutan merah dari tangan Ni Dewi Nilamanik.

Bukan main hebatnya gerakan itu sampai ia melongo keheranan melihat kakek itu.

Juga Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro terbelalak memandang.

Kakek itu sama sekali tidak kelihatan aneh, bahkan biasa saja, terlalu biasa tidak menimbulkan kesan.

Seorang kakek sederhana yang tubuhnya kecil kate, rambutnya masih hitam tidak terawat baik, pakaiannya serba hitam.

Pantasnya dia seorang petani miskin.

Namun pandang matanya lembut dan mengandung sesuatu yang jarang terdapat pada orang lain.

"Kembalikan anak itu!"

Ki Kolohangkoro dengan marah menubruk maju.

Kakek itu tidak bergerak dari tempatnya, hanya memandang tajam dan mendorongkan tangan kirinya ke depan, sedangkan lengan kanan memondong tubuh Retna Wilis.

Tiba-tiba saja tubuh Ki Kolohangkoro terhenti di tengah jalan lalu terpelanting roboh.

Ia menggereng, bangkit dan menubruk lagi, akan tetapi kembali terbanting sebelum dapat menyentuh kakek itu.

Makin keras ia menubruk, makin keras pula ia terbanting sehingga akhirnya ia duduk terlongong dengan kepala pening dan mata juling!

"Eh, si keparat.

Siapakah andika seorang tua yang lancang tangan mencampuri urusan orang lain?"

Bentak NI Dewi Nilamanik sambil melangkah maju, namun ia masih ragu-ragu untuk menyerang, melihat betapa pukulan jarak jauh kakek itu tadi amat kuatnya.

"Wah, mulutmu memang tajam, Nilamanik!"

Tiba-tiba Retna Wilis yang berada dalam pondongan kakek Itu berkata.

Bocah ini tadi ketika berada dalam tawanan saja sudah memperlihatkan sikap berani menentang, apalagi sekarang setelah mendapat pertolongan seorang kakek sakti.

"Sudah jelas kalian bertiga yang menculik aku dan Eyang guru ini menolongku, berani bilang beliau lancang tangan? Tidak tahukah kau bahwa beliau ini calon guruku? Eyang guru, harap sikat saja mereka ini. Mereka ini orang-orang jahat! Siluman betina inl namanya Ni Dewi Nilamanik, itu yang seperti Buto Terung itu namanya Ki Kolohangkoro, dan yang satunya lagi, tampan tetapi palsu adalah Warutama."

Retno Wilis mengerti akan nama-nama mereka ketika mendengarkan percakapan mereka di sepanjang jalan.

"Kalau ada ibuku, tentu mereka ini sudah dibunuh semua. Dasar pengecut, beraninya hanya kepada anak kecil, kalau menghadapi ibuku, ketua Padepokan Wilis, belum apa-apa tentu sudah menggigil!"

"Puja-puji untuk para dewata!!"

Kakek itu berkata lirih, suaranya halus dan tenang.

"Jadi engkau ini puteri Endang Patibroto ketua Padepokan Wilis?"

"Benar, Eyang Guru. Namaku adalah Retna Wilis. Harap kau suka mengajarku ilmu pukulan seperti tadi agar aku dapat merobohkan siluman-siluman tengik ini."

Kakek ini mengangguk-angguk.

"Sebagai pengikut-pengikut Wasi Bagaspati, tentu saja mereka suka menggunakan siasat kotor. Engkau ingin mengalahkan mereka? Kalau engkau kusuruh, maukah melawan mereka?"

Retno Wilis melorot dari pondongan kakek itu.

"Eyang telah menjadi Guruku, segala perintah Eyang tentu akan ku-taati. Haruskah aku menyerang mereka?"

Kembali kakek itu mengangguk-angguk.

"Perbuatan sesat memang perlu dihukum, itu baru adil namanya. Mereka telah menculikmu, membikin engkau seorang anak kecil mengalami kesengsaraan. Hukumlah mereka, perguna kan cambuk ini."

Kakek itu menyerahkan cambuk merah, atau kebutan, yang dirampasnya dari tangan Ni Dewi Nilamanik tadi.

Retna Wilis dengan sikap gagah dan tabah melangkah maju, kebutan merah dipegang gagangnya dengan erat di tangan kanan.

Ia menghampiri Ki Kolohangkoro dengan pandang penuh kebencian dan kemarahan.

Raksasa itu memandang terbelalak, akan tetapi juga girang karena kini ia mendapat kesempatan untuk menangkap lagi bocah ini.

Ia akan menyambarnya dan membawanya lari sebelum kakek sakti yang aneh itu dapat merampasnya kembali.

"Retna Wilis, seranglah dia, hajar dia!"

Terdengar kakek itu berseru.

Retna Wilis dengan hati tabah lalu menerjang maju, menghantamkan kebutanitu ke arah paha Ki Kolohangkoro.

Si Raksasa tertawa bergelak, tidak memperdulikan pukulan kebutan, bahkan la lalu menubruk maju hendak mencengkeram dan menyambar tubuh Retna Wilis.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget-nya ketika tiba-tiba tangan dan kakinya tidak dapat ia gerakkan lagi, atau tertahan oleh sesuatu sehingga terhenti di tengah jalan.

"Tar-tar!"

Cambuk itu menghajar pahanya, biarpun tidak begitu sakit akan tetapi karena tenaga Retna Wilis memang sudah terlatih, celananya robek di bagian paha, Retna Wilis terus mencambuki, dan tiap kali Ki Kolohangkoro hendak bergerak memukul atau menangkis maupun mengelak, gerakannya selalu terhalang sehingga tidak ada cambuk Retna Wilis yang tidak mengenai sasaran!

Menyaksikan hasil baik ini, Retna Wilis gembira sekali.

la tertawa-tawa dan mengamuk makin hebat, kini ia menerjang Ni Dewi Nilamanik.

Wanita sakti inipun berusaha menangkis, bahkan berusaha memukul mati anak itu, namun seperti juga halnya Ki Kolohangkoro, semua gerakannya tertahan dan tahulah ia bahwa ini adalah perbuatan kakek aneh itu.

Terpaksa ia mandah dicambuki sehingga.

bajunya robek-robek pula, kulitnya matang biru oleh cambuknya sendiri.

Retna Wilis tidak berhenti sampai di situ saja.

Ia kini menyerang Raden Warutama yang mengalami nasib sial seperti kedua orang kawannya.

Seperti seorang anak kecil yang mendapat mainan baru, Retna Wilis meloncat-loncat dan mencambuki tiga orang itu berganti-ganti sampai pakaian mereka compang-camping semua.

Akan tetapi karena tiga orang itu adalah orang-orang sakti yang memiliki kekebalan, akhirnya tangan anak itu sendiri yang menjadi lelah sehingga tanpa disuruh Retna Wilis berhenti sendiri dengan tubuh berkeringat!

"Cukup, Retna Wilis.

Kembalikan, kebutan itu kepada pemiliknya!"

Kata kakek sakti itu.

Retna Wilis melemparkan kebutan ke arah Ni Dewi Nilamanik yang menerimanya dengan muka merah sekali.

Ki Kolohangkoro menggereng-gereng saking marahnya namun iapun tidak berani sembarangan bergerak.

Hanya Raden Warutama yang diam saja, mukanya agak pucat; kemudian ia menjura ke arah kakek itu sambil bertanya.

"Kami bertiga yang bodoh telah menerima petunjuk Paman. Setelah Paman tahu akan nama dan keadaan kami, sudah sepatutnya kalau Paman memberitahukan pula nama Paman kepada kami."

"Orang memanggil aku Ki Datujiwa,"

Jawab kakek kecil Itu sederhana.

"Dan aku Sigit,"

Kata pangeran muda Panji Sigit dengan sederhana pula karena Ia tidak ingin dikenal orang sebagai Pangeran Jenggala.

Tiga orang itu tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi lalu meninggalkan tempat itu dengan pakaian compang-camping, kepala tunduk dan hati tidak karuan rasanya.

Mereka kehilangan tawanan, kehilangan muka dan terancam bahaya pembalasan dendam Endang Patibroto.

Di dalam hati mereka, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro merasa heran mengapa seringkali bertemu orang-orang pandai.

Berbeda dengan mereka, Raden Warutama menganggap pengalaman pahit ini sebagai pelajaran yang membuatnya semakin hati-hati dan waspada.

Memang, Raden Warutama bukan orang sembarangan.

Seperti telah dikenal oleh Endang Patibroto, dia adalah Raden Sindupati, bekas kawula Jenggala yang melarikan diri ke Blambangan dan menjadi perwira Blambangan.

Kemudian, seperti telah diceritakan di bagian depan cerita ini, Raden Sindupati meninggalkan Blambangan yang dihancurkan oleh pasukan-pasukan Panjalu dan Jenggala di bawah pimpinan Pangeran Darmokusumo dan Endang Patibroto.

Raden Sindupati melarikan diri ke Bali-dwipa, di mana ia merantau dan selama lima tahun berguru kepada beberapa orang sakti sehingga memperoleh kepandaian tinggi.

Kemudian ia kembali ke Jawa-dwipa, merubah bentuk kumis jenggotnya, juga melukai sendiri bawah dagunya sehingga wajahnya berubah dan tidak mudah dikenal sebagai Raden Sindupati.

Untuk penyamaran ini ia menggunakan nama Raden Warutama.

Setelah tiga orang yang dipermainkan Ki Datujiwa itu tak tampak lagi bayangannya, Pangeran Panji Sigit tertawa.

Ia berjongkok dan merangkul Retna Wilis, mengusap rambut anak itu dan berkata.

"Duhai, betapa bangga hatiku mempunyal seorang keponakan seperti engkau, Retna Wilis! Engkau pemberani seperti ibumu. Sungguh pantas menjadi puterl ayunda Endang Patibroto."

Retna Wilis memandang pangeran itu penuh perhatian.

Dia tidak mengenalnya, karena ketika Pangeran Panji Sigit menjadi tawanan ibunya, ia tidak sempat melihatnya.

Hatinya senang melihat pemuda yang tampan dan gagah ini, apalagi yang tadi telah menolongnya.

"Namamu tadi Sigit? Engkau telah mengenal ibuku?"

"Tentu saja aku mengenal ibumu, anak manis. Ibumu adalah kakak iparku sendiri. Aku Pangeran Panji Sigit."

"Aihhh........... I Yang dikabarkan tertawan oleh Bibi Setyaningsih? Pangeran Jenggala yang hampir dibunuh itu dan dibela Bibi Setyaningsih? Wah, mengapa ibu hendak membunuhmu? Engkau tampan dan gagah, baik hati pula. Engkau tentu akan memasuki sayembara, bukan? Paman Pangeran, aku akan gembira sekali kalau kau menjadi suami Bibi Setyaningsih!"

"Tidak akan semudah itu, Retna Wilis."

Kata Ki Datujiwa sambil tersenyum.

"Mengalahkan ibumu dalam pertandingan tidak mudah."

"Aku akan membantu! Aku akan membujuk Bibi Setyaningsih agar mengalah terhadap Paman Pangeran Panji Sigit, dan membujuk ibu agar mengalah terhadap Eyang. Akan tetapi ada syaratnyal"

"Apa syaratnya, Cah-ayu?"

"Kelak Paman harus menemani aku puncak Wilis bersama Bibi Setyaningsih, sampai lima tahun, dan Eyang harus mengajar ilmu pukulan yang hebat tadi kepadaku!"

Pangeran Panji Sigit berpikir-plkir, Memang ia tidak mempunyai keinginan untuk tergesa-gesa pulang ke Jenggala, karena hal ini hanya akan menimbulkan hal-hal tidak enak baginya.

Selama ramandanya berada di bawah kekuasaan Suminten, ia tidak mau pulang dan lebih baik tinggal di puncak Wilis!

Maka tanpa ragu-ragu lagi ia mengangguk.

"Baik, aku berjanji memenuhi permintaanmu, Retna."

Juga Ki Datujiwa mengangguk-angguk.

"Apa yang kumiliki belum cukup untuk mengisi dirimu yang memiliki bakat jauh lebih besar, Angger. Akan tetapi sebagai dasar, bolehlah."

Retna Wilis berseru girang lalu berlari-lari naik gunung sambil berteriak.

"Aku akan cepat menemui ibu dan bibi"

Ki Datujiwa dan pangeran muda itu saling pandang sambil tersenyum, kemudian mereka mengikuti larinya Retna Wilis, melindunginya dari jauh karena Ki Datujiwa menasehati sang pangeran.

"Lebih baik kita jangan menonjolkan tentang pertolongan atas diri Retna Wilis karena kalau sampai hal itu membuat Endang Patibroto terpaksa mengalah, hal itu akan menyinggung dan mencemarkan nama besarnya sebagai seorang pimpinan Padepokan Wilis. Kalau dia mengalah, biarlah hal itu terjadi atas kehendaknya sendiri, bukan karena kehadiran kita sebagal penolong puterinya."

Pangeran Panji Siglt biarpun masih muda, namun ia memiliki pandangan luas sehingga ia dapat menangkap maksud nasehat Ki Datujiwa yang sesungguhnya hanya ingin menjaga muka terang Endang Patibroto.

Karena itu, mereka berdua hanya mengikuti Retna Wilis dari jauh sampai anak itu bertemu dengan para anak buah Padepokan Wilis dan beramai-ramai puteri yang hilang itu diiringkan naik ke puncak di mana Endang Patibroto dan Setyaningsih menyambutnya dengan penuh kebahagiaan dan kelegaan hati.

Dengan penuh semangat Retna Wilis lalu bercerita kepada ibunya dan bibinya' tentang pengalamannya diculik tiga orang musuh itu, kemudian ia menceritakan pula betapa dirinya ditolong oleh Pangeran Panji Sigit dam seorang kakek yang bernama Ki Datujiwa.

"Ki Datujiwa...........?"

Endang Patibroto mengerutkan kening dan mengingat-ingat akan tetapi merasa tidak pernah mendengar nama ini.

"Dia hebat, Ibu! Dan aku sudah diangkat menjadi muridnya!"

"Apa. ??"

"Benar! Bahkan dengan pertolongannya, aku telah berhasil merangket mereka, hi-hi-hik! Warutama, Nilamanik, dan Kolohangkoro kuhajar dengan kebutan milik Nilamanik sampai tubuh mereka matang biru dan pakaian mereka compang-camping!"

Anak itu dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri menceritakan "pertempurannya"

Melawan tiga orang sakti itu.

Endang Patibroto mendengarkan dengan kening berkerut.

Menurut cerita anaknya, jelas bahwa kakek yang bernama Ki Datujiwa itu seorang yang sakti mandraguna.

Akan tetapi hatinya tidak puas.

Mengapa kakek itu begitu lancang mengangkat murid puterinya?

Tanpa minta persetujuannya, hal itu sama dengan memandang rendah kepadanya!

Diganggu pikiran ini, ia tidak mendengarkan lagi cerita anaknya dan baru sadar ketika anaknya berkata sambil menarik-narlk tangannya.

"Karena itu, dalam pertandingan sayembara nanti, lbu harus mengalah kepada Eyang Guru! Dan bibi Setyaningsih harus mengalah terhadap paman pangeran. Dia tampan, ganteng sekaIi seperti Sang Harjuna dan gagah perkasa, Bibi!"

Wajah Setyaningsih tiba-tiba menjadi merah sekali sampai ke lehernya, kepalanya menunduk dan ia tidak berani menentang pandang mata ayundanya.

Ada-pun Endang Patibroto diam saja, hanya hatinya tidak puas.

Sungguh keras dan aneh watak Endang Patibroto.

Tadinya ia bersyukur dan berterima kasih, akan tetapi begitu puterinya menyatakan bahwa Ki Datujiwa mengangkat Retna Wilis sebagai murid, timbul amarah dan ketidaksenangan hatinya.

-oo0dw0oo-Pagi-pagi sekali para calon pengikut sayembara sudah berbondong-bondong mendaki puncak Wilis, didahulul oleh serombongan anak buah Padepokan Wilis yang dipimpin sendiri oleh LimanWilis sebagai penyambut para tamu.

Lebih dari dua puluh orang calon pengikut sayembara diiringkan wali masing-masing yang terdiri darI guru, ayah sendirl, atau jagoan undangan mereka.

Mereka mendaki puncak dengan wajah serius dan hati berdebar-debar karena sedikit banyak nama Padepokan Wilis, terutama sekali nama Endang Patibroto sudah membuat hati mereka gentar.

Di antara banyak pengikut ini tampak Pangeran Panji Sigit dan Ki Datujiwa yang berjalan paling belakang.

Di tengah lapangan di atas puncak, tempat para anak buah Padepokan Wilis biasanya berlatih ulah yuda, telah dibangun sebuah panggung yang luasnya ada lima meter persegi, terbuat daripada balok-balok dan papan tebal.

Panggung inilah yang akan menjadi arena pertandingan dengan ketentuan bahwa slapa yang dipaksa turun panggung, berarti kalah.

Hal ini sengaja diadakan untuk mencegah atau mengurangi kekalahan yang mendatangkan maut, karena yang sudah terguling, tidak akan diserang lagi dan sudah dianggap kalah.

Endang Patibroto, Setyaningslh, dan Retna Wilis sudah duduk di kursi dekat panggung.

Semua mata tentu saja ditujukan ke arah mereka.

Orang-orang muda yang menjadi calon pengikut, memandang ke arah Setyaningsih dan banyak di antara mereka yang menahan napas menelan ludah sendiri.

Dara remaja itu demikian cantik jelita, sehingga bangkitlah semangat mereka untuk mencoba-coba, siapa tahu akan "kejatuhan bulan"!

Andaikata kalah atau terluka berat sampai mati sekallpun, mereka tidak akan penasaran memperebutkan seorang dara seperti dewi kahyangan Itu.

Setyaningsih hanya menyapu mereka dengan pandang mata kosong, akan tetapi pipi dara inl mendadak menjadi merah dan matanya berserl ' gembira bercampur malu-malu dan segera mehundukkan muka ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Pangeran Panji Sigit!

Adapun para wall yang datang hendak membela murid, putera, atau pengundang mereka ini, memandang ke arah Endang Patibroto dengan pandang mata kagum bercampur sangsi dan khawatir.

Baru melihat saja orang sudah dapat menduga bahwa Endang Patibroto adalah seorang wanita yang saktl mandraguna, pandang matanya tajam dan dingin mengerikan, seluruh pembawaannya membayangkan tenaga mujijat yang menyeramkan.

Seorang lawan yang amat berat, demikian rata-rata di pikiran para wali yang terdiri daripada orang-orang tua yang digdaya Itu.

Tentu saja para orang muda yang hadlr juga memandang ke arah Endang Patibroto dengan jerih dan kagum.

Kagum menyaksikan betapa wanita saktl yang amat terkenal itu ternyata masih cantik jelita, bagaikan buah sudah masak di samping Setyaningsih yang bagaikan sebutir buah yang ranum matang ati.

Dan jerih karena sesungguhnya dalam sayembara tanding ini, Endang Patibroto-lah yang menentukan kesudahannya.

Biarpun di antara mereka ada yang sanggup mengalahkan Setyaningsih, namun kalau walinya tidak dapat mengalahkan Endang Patibroto, berarti gagal juga.

Setelah hening sejenak, Limanwilis melompat naik ke atas panggung.

Lompatannya ringan, karena tiga orang kakak beradik Wilis itu telah digembleng aji meringankan tubuh Bayu Tantra oleh Endang Patibroto.

Melihat gaya lompatan pembantu ketua Padepokan Wilis ini saja, banyak sudah yang memuji dan menjadi gentar.

Lompatan orang tinggi besar itu sedemikian ringannya seolah-olah lompatan seekor kucing, dan ketika kedua telapak kakinya menginjak papan panggung, sedikitpun tidak mengeluarkan suara, juga tidak menggetarkan panggung.

Limanwilis mewakili ketuanya menyampaikan selamat datang kepada semua peserta, kemudian menjelaskan peraturan sayembara, dinyatakan bahwa maksud sayembara ialah memilih seorang calon jodoh untuk Setyaningsih, adik kandung ketua Padepokan Wilis dan bahwa di dalam sayembara ini tidak ada tentang permusuhan, baik pribadi maupun golongan sehingga pertandingan diatur dengan panggung agar mengurangi kemungkinan tewas.

Hal ini diharapkan pengertian para peserta sehIngga sifat sayembara hanya "menguji kepandaian"

Dan bukanlah pertempuran untuk membunuh atau melukai lawan. Kemudian ia menutup sambutannya dengan peraturan terakhir.

"Siapa saja yang berniat memasuki sayembara, dipersilahkan naik ke panggung secara bergilir. Adapun ketua kami yang akan menentukan apakah peserta yang boleh bertanding lebih dahulu ataukah walinya."

Kemudian Limanwilis kembali mempersilahkan peserta pertama naik ke panggung.

Lalu iapun melompat turun dan kembali ke tempatnya, yaitu rombongan anak buah Padepokan Wilis yang berbaris rapi dan angker.

Karena sebagian besar para peserta mengambil sikap "sip", mereka itu hanya menanti dan "melihat-lihat gelagat"

Maka sampai lama tidak ada juga yang naik ke panggung! Keadaan sunyi hening dan menggelisahkan. Akhirnya terdengar suara kecil nyaring.

"Apakah yang datang para pingecut? Kalau tidak berani bertanding, untuk apa mengikuti sayembara dan mau apa datang ke sini?"

Semua orang menengok dan memandang ke arah Retna Wilis yang mengeluarkan ucapan itu.

Merahlah muka semua orang, termasuk Endang Patibroto yang tidak keburu mencegah puterinya.

Di dalam hatinya ia merasa cemas.

Puterinya ini benar-benar amat tajam mulutnya, dan mempunyai pandangan seperti seorang dewasa saja.

Tiba-tiba tampak bayangan melompat ke atas panggung.

Dia seorang pemuda tampan dan setelah menghadap ke arah Endang Patibroto, ia berkata.

"Saya Pranolo dari Ponorogo mengambil kehormatan untuk menjadi peserta pertama!"

Tepuk sorak gemuruh menyambut naiknya pemuda ini.

Orang bukan kagum akan gerakannya melompat yang tak dapat dikatakan gesit, masih kalah oleh Limanwilis tadi, melainkan memuji ketabahannya naik sebagai orang pertama.

Sekilas pandang Endang Patibroto merasa suka kepada pemuda ini yang cukup tampan.

Dia teringat bahwa daerah Ponorogo memiliki banyak orang sakti.

Akan tetapi melihat gerakan pemuda ini ketika melompat tadi, jelas bahwa ilmunya meringankan tubuh kurang tinggi.

Betapapun juga, masih timbul harapan di hatinya.

Siapa tahu kalau-kalau hanya ilmu meringankan tubuhnya saja yang lemah sedangkan ilmu lainnya kuat.

Maka ia memberi isyarat dengan pandang matanya kepada Setyaningsih yang bangkit dengan tenang, melangkah maju dan sekali mengayun tubuh, tubuhnya yang langsing dan berkulit kuning itu melayang seperti seekor burung terbang, hinggap di atas panggung di depan Pranolo.

Tepuk tangan makin riuh dan semua orang kini benar-benar kagum, baik atas gaya loncatan indah itu maupun untuk kejelitaan yang kini nampak nyata setelah dara itu berada di atas panggung.

Setyaningsih mengikat rambutnya ke belakang, ujung rambut terurai seperti ekor kuda, di atas terhias cunduk emas permata.

Bajunya berlengan pendek, berkembang dan berwarna merah.

Kembennya berwarna kuning kehijauan, sedangkan kainnya berwarna biru, tepinya agak tinggi sehingga tampaklah betis memadi bunting dan mata kaki yang merit, tungkak yang berwarna jambon.

Kulit lengan dan betis itu bersih halus, kuning kemerahan amat menggairahkan hati para peserta sayembara.

Dengan sikap tenang Setyaningsih berdiri di depan Pranolo.

Pranolo sejenak seperti terpesona, tak tahu harus berbuat atau berkata apa melainkan memandang dara yang berada di depannya.

Tercium olehnya keharuman yang tipis dan pemuda ini menelan ludah.

Kebimbangan dan kebingungan Pranolo, sampai cara ia menelan ludah jelas tampak oleh semua orang sehingga mulailah terdengar kekeh tawa yang membuat pemuda itu makin gagap-gugup lagi.

Dari bawah panggung terdengar seorang kakek berkata.

"Pranolo, lawan telah slap, engkau tnenanti apa lagi?"

"Ohh........... baiklah, Eyang, baik. !"

Pranolo menjawab gagap lalu melangkah maju mendekati Setyaningsih dan berkata.

"Maafkan........... maafkan keberanianku."

Setyaningsih hanya mengangguk, diam-diam merasa kasihan juga kepada pemuda yang canggung ini.

Pranolo lalu menerjang maju, serangannyapun bukan serangan pukulan atau tendangan, melainkan serangan untuk menangkap lengan dara itu, agaknya ia pikir kalau dapat menangkap lengan Setaningsih dan mendorongnya turun panggung, ia tentu akan menang.

Gerakannya cukup sebat dan mantap, namun dalam hal kepandaian ia jauh kalah oleh Setyaningsih.

Gadis ini-pun tidak suka mempermainkan orang.

Begitu ia mengelak beberapa kali daripada sambaran tangan lawan yang hendak menangkap lengannya, cepat dari samping ia menendang ke arah belakang lutut kanan Pranolo.

Pemuda itu berseru kaget karena kakinya tiba-tiba melengkung dan ia hampir roboh.

Tiba-tiba pergelangan tangannya disambar oleh Setyaningsih dan sekali dara ini mengayun, tubuh Pranolo melayang terlempar turun panggung Akan tetapi pemuda itu tidak terbanting keras, melainkan melayang turun dengan kaki di bawah sehingga ketika ia mendarat, ia hanya terhuyung saja dan mengalami kaget.

Tepuk tangan gemuruh menyambut kemenangan pertama ini.

Mereka yang ilmunya tinggi, termasuk Endang Patibroto, tentu saja mengerti bahwa Setyaningsih menaruh kasihan kepada lawannya, kalau tidak tentu lemparan ke bawah panggung itu setidaknya akan membuat kulit lecet kepala benjut.

Endang Patibroto kecewa.

Kalau macam itu saja pemuda-pemuda yang hadir, tidak ada harapan bagi Setyaningsih untuk mendapatkan jodoh yang patut.

la teringat akan Pangeran Panji Sigit dan mengerling ke arah pemuda itu.

Ia melihat seorang kakek berpakaian sederhana, bertubuh kecil berdiri di dekat Panji Sigit dan menduga bahwa tentu itulah yang bernama Ki Datujiwa.

Sinar mata orang itu hebat, pikir Endang Patibroto, akan tetapi hatinya panas kembali kalau terIngat betapa orang itu langsung mengangkat Retna Wilis sebagai murid.

Pula, sungguhpun harus ia akui bahwa Pangeran Panji Sigit mempunyai banyak persamaan dengan mendiang suaminya, Pangeran Panjirawit, wajahnya mirip dan sikapnya juga sama halusnya, akan tetapi di sudut hati Endang Patibroto sudah menaruh rasa tidak suka kepada Jenggala sehingga kalau mungkin, lebih senang kalau ia melihat adik kandungnya mendapatkan jodoh lain orang.

Kekalahan Pranolo itu diam-diam telah mengundurkan enam orang peserta lainnya, yaitu mereka yang merasa masih belum dapat menandingi Pranolo, apalagi harus melawan Setyaningsih.

Betapapun hati mereka gandrung wuyung, tergila-gila menyaksikan dara remaja yang jelita dan tangkas itu, namun merekapun merasa segan untuk mendapat malu seperti Pranolo, baru bertanding dalam beberapa jurus saja sudah keok!

Berturut-turut maju lagi dua orang pemuda yang masih muda dan cukup tampan.

Melihat sikap mereka itupun sopan seperti Pranolo, Setyaningsih maju melawan mereka dan mengalahkan mereka dalam waktu singkat saja, melemparkan mereka turun dari panggung!

Kembali kekalahan dua orang pemuda yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi dari Pranolo itu membuat banyak pemuda lainnya diam-diam membatalkan niatnya mencoba-coba.

Kiranya Setyaningslh benar-benar hebat sekali dan mereka menjadi ngeri sendilri memikirkan betapa mereka akan dilempar atau dibanting oleh tangan halus itu.

Maka setelah Setyaningsih melompat turun dan duduk kembali dekat Endang Patibroto sehabis mengalahkan orang ke tiga, dan ketika Limanwilis mempersilahkan peserta berikutnya naik panggung, tidak ada seorang-pun pemuda berani naik dan mereka itu hanya saling pandang dan saling menanti saja.

Memang masih banyak di antara mereka yang memiliki ilmu kepandaIan tinggi, akan tetapi mereka yang menyaksikan ketangkasan Setyaningsih menjadi ragu-ragu apakah mereka akan dapat menandingi dara perkasa itu.

Setelah keadaan mulai menegang karena tidak ada yang menyambut desakan Limanwilis, tiba-tiba terdengar suara terbahak dan sesosok bayangan tiInggi besar meloncat naik ke atas panggung.

Terdengar suara berdebukan ketika kedua kaki laki-laki tinggi besar ini tiba di papan panggung, dan panggung itu sendiri tergetar!

Diam-diam Endang Patibroto tertarik dan kaget.

Pria itu tentu, lebih dari tiga puluh tahun usianya, tubuhnya tinggi tegap dan kokoh kuat seperti kebanyakan anak buah Padepokan Wilis.

Mukanya cukup gagah, dengan kumis melintang dan dagu tertutup jenggot tipis.

Ikat kepalanya berkembang merah, sabuknya putih dan mengkilap, agaknya dari perak, kainnya berdasar merah dan celananya putih.

Begitu tiba di atas panggung, pria itu menghormat ke arah Endang Patibroto dan berkata, suaranya keras sekali.

"Namaku Joko Bono, di pesisir selatan orang menyebutku si Lengan Baja. Terus terang saja, aku kagum menyaksikan kedigdayaan sang dyah ayu sehingga ragu-ragu untuk menandingi nya. Apalagi mendengar nama ketua Padepokan Wilis, sungguh sampai mati saya tIdak akan berani lancang melawannya. Akan tetapi, aku hidup seorang diri di dunia ini, tidak ada wali. Karena ingin menguji ilmu, aku memaksa diri naik, walinyapun aku sendiri. Terserah apakah Padepokan Wilis sudi memperkenankan aku ikut atau tidak."

Semua orang memandang penuh perhatian dan hati mereka merasa tertarik.

Biarpun sebagian besar di antara mereka baru sekali ini bertemu dengan pria tinggi besar itu, namun nama Si Lengan Baja Joko Bono telah terkenal sekali sebagai seorang jagoan di pesisir selatan.

Terkenal karena lengan dan tangannya yang kuat sekali, dan wataknya yang jujur, terbuka dan penuh keberanian.

Dari ucapannya di atas panggung tadipun terbayanglah sifatnya yang terbuka sehingga Endang Patibroto merasa suka.

Setelah bertukar pandang dengan Setyaningsih, ia berbisik lirih.

"Lawanlah, akan tetapi hati-hati, kedua lengannya amat kuat dan jangan mengadu tenaga dengan dia. Pergunakanlah kecepatan, tundukkan dengan Pethit Nogo sebelum mendorong dia ke bawah."

Setyaningsih mengangguk lalu bangkit dan melompat ke atas panggung.

Semua orang berdebar tegang.

Tadinya, karena ucapan Bono, mereka mengira bahwa sekali ini tentulah Endang Patibroto sendiri yang naik panggung karena bukankah Joko Bono itu tidak mempunyai wali?

Endang Patibroto berhak untuk menghadapinya.

Akan tetapi, siapa menduga, ternyata Setyaningsih sendiri yang maju!

Tentu saja mereka menjadi berkhawatir sekali dan berdesakanlah mereka, maju mendekati panggung agar dapat menonton lebih jelas.

"Ha-ha-ha! Sungguh Padepokan Wilis menaruh kasihan kepadaku, membiarkan sang dyah ayu melawanku. Marilah, Nimas Ayu, biar terbuka mata Bono menyaksikan aji-aji kesaktian Padepokan Wilis!"

Setyaningsih sudah mengenal watak calon lawannya yang terbuka dan jujur, maka iapun tersenyum dan menjawab.

"Aku sudah siap. Majulah, Joko Bono."

"Bagus! Awas seranganku........... hyeew eeetttt. !!"

Dengan gerakan cepat laksana seekor harimau menubruk anak kambing, Bono menerjang maju, lengan kanan yang besar itu menyerang dengan kepalan memukul ke arah pundak Setyaningsih.

Cepat dan keras sekali, mendatangkan angin yang sudah terasa oleh dara itu sebelum kepalannya tiba.

Namun Setyaningsih dengan kecekatan mengagumkan sudah miringkan tubuh dan jari-jari tangannya yang terbuka dan diisi dengan Aji Pethit Nogo menyambar dari samping, mengantam lambung.

"Wuuut........... plakk !"

Bono dapat menangkis tamparan itu dengan lengan kirinya yang seperti juga lengan kanannya, terlindung lingkaran besi kuningan.

Setyaningsih memang tadi sengaja membiarkan tamparannya tertangkis karena biarpun ia sudah diberi peringatan oleh ayundanya, ia masih belum puas kalau tidak mencoba sendiri.

Ternyata tamparan Pethit Nogo itu dapat ditangkis dan.

telapak tangannya terasa panas, tanda bahwa lengan lawan memang benar amat kuat, sesuai dengan julukannya Si Lengan Baja!

Sebaliknya, Joko Bono juga merasa betapa kulit lengannya pedas ketika bertemu dengan tamparan jari-jari tangan lunak kecil itu.

Diam-diam ia kaget dan kagum.

Tahulah raksasa muda ini betapa sang ayu benar-benar tak boleh dipandang ringan.

Maka la kembali berseru keras dan tubuhnya bergerak-gerak maju, kadang-kadang berputar seperti sebuah kitiran angin, kedua lengannya diputar sedemikian rupa merupakan baling-baling yang dengan gencar bergantian menyambar ke arah tubuh Setyaningslh dengan pukulan, dorongan, tamparan atau cengkeraman.

Dahsyat sekali serangannya ini dan para penonton menahan napas.

Bahkan Endang Patibroto sendiri bersama Retna Wilis tak terasa lagi maju mendekati panggung saking tegang dan tertariknya.

Pertandingan sekali ini baru ada harganya untuk ditonton.

Setyanirgsih kelihatannya didesak terus.

Namun sesungguhnya dara remaja itu menguasai keadaan karena betapapun cepat gerakan Joko Bono, dara ini memiliki gerakan yang jauh lebih cepat lagi sehingga setiap pukulan kepalan tangan besar itu dapat ia lihat dengan nyata dan dapat ia elakkan.

Tubuhnya berkelebat ke kanan kadang-kadang meloncat ke atas, kadang-kadang menyelinap ke bawah, kadang-kadang dengan jari-jari tangan terbuka ia menyampok lengan lawan dari samping.

Pethit Nogo adalah aji pukulan yang mengandalkan jari-jari terbuka, dengan meminjam tenaga lawan dapat menyampok ke samping dan apabila dipergunakan untuk menyerang, maka jari-jari tangan itu mengandung tenaga mujljat yang amat ampuhnya.

Penonton mulai bersorak-sorak.

Sungguh menarik pertandingan ini.

Setelah kini Setyaningsih mempergunakan Aji Bayu Tantra untuk bergerak mengelak dan menyelinap, baru jelas tampak oleh mereka betapa gerakan kedua orang itu amat jauh bedanya.

Tubuh Joko, Bono yang tadi bergerak cepat, kini di samping gerakan dara itu kelihatan seperti gerakan seekor badak yang kuat namun lamban sekali, sebaliknya dara itu bergerak cepat dan ringan seperti seekor kijang.

Semua pukulan Joko Bono jauh meleset daripada sasarannya.

Ada seperempat jam Joko Bono mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk mendesak lawan.

Kadang-kadang ia memang dapat mendesak Setyaningsih ke sudut panggung dan dengan penuh nafsu ia hendak mendesak terus agar dara itu terpaksa melompat turun dan dengan demikian ia akan dinyatakan menang.

Namun setiap kali, dara yang lincah itu dapat menyelinap melalui bawah kedua lengannya atau melalui atas pundaknya dengan melompat tinggi dan tahu-tahu telah berada di tengah panggung lagi sehingga ia harus membalikkan tubuh dan mulai dengan serangan baru lagi.

Beberapa kali sambil mengelak, Setyaningsih membalas dengan tamparan Aji Pethit Nogo secara tiba-tiba dan tak terduga.

Memang ada beberapa kali Joko Bonokena diserempet tamparan, akan tetapi karena tidak tepat dan pukulannya dilakukan sambil mengelak, sedangkan tubuh Joko Bono memiliki kekebalan yang amat kuat, maka semua tamparan jari tangannya membalik, tidak berhasil merobohkan orang kuat itu Joko Bono mulai pening kepalanya, pandang matanya berkunang ketika tiba-tiba Setyaningsih mempercepat gerakan tubuhnya, meloncat ke sana ke mari sambil mengerahkan Aji Bayu Tantra.

Ia merasa penasaran dan sambil berseru keras ia lalu maju menubruk, mengerahkan seluruh tenaganya, kedua tangan dikepal dan tangan kirinya menghantam ke arah kepala Setyaningsih.

Dara itu cepat menggunakan jari-jari tangan kanannya menyampok dari samping kanan.

Akan tetapi ternyata sekali ini Joko Bono berlaku cerdik.

Pukulan tangan kiri itu hanya merupakan gertak belaka karena tiba-tiba saja tangan kanannya meluncur ke depan dan ia berhasil menangkap lengan kiri Setyaningsih!

Semua penonton mengeluarkan seruan tertahan dan mengira bahwa dara itu akhirnya akan kalah oleh Joko Bono, sungguhpun hal ini tidak berartI bahwa pria tinggi besar Itu telah lulus dalam sayembara karena ia harus mengalahkan Endang Patibroto.

ENDANG Patibroto bersikap tenang-tenang saja.

Dia dapat melihat jelas dan mengerti akan siasat Setyaningsih.

Dara itupun merasa bingung karena lawannya terlampau kuat sehingga sukar dirobohkan, maka biarpun tidak kentara oleh siapapun, juga oleh lawannya, ia sengaja memperlambat gerak tangan kirinya sehingga dapat tertangkap lawan.

Pada saat Joko Bono merasa kegirângan, tiba-tiba tubuh Setyaningsih mencelat ke atas dan berjungkir balik sambil memutar lengan kirinya yang terpegang.

Gerakan ini tentu saja membawa pula tangan kanan Joko Bono sehingga terpuntir.

Joko Bono kesakitan namun tetap mempertahankan cengkeramannya dan dari atas, Sambil meloncat ini, Setyaningslh memukul tengkuk Joko Bono dengan jari-jari tangan kanannya, dengan Aji Pethit Nogo sepenuhnya.

"Dess.........! Aduhhh !"

Joko Bono terhuyung, cengkeramannya lepas, akan tetapi ia benar-benar kuat karena pukulan dahsyat itu belum merobohkannya.

Namun Setyaningsih sudah meloncat turun ke belakang tubuhnya, kedua kakinya bergantian menendang belakang lutut, membuat kaki Joko Bono melengkung dan berlutut.

Saat itulah dipergunakan oleh Setyaningslh untuk mendorongkan kedua tangannya ke punggung lawan dengan sekuat tenaga.

Joko Bono yang sudah berlutut itu tentu saja tidak mampu mempertahankan diri lagi dan tubuhnya bergulingan terus terjatuh dari atas panggung!

"Hebat, aku mengaku kalah "

Teriaknya sambil bangkit berdiri dan pergi meninggalkan tempat itu dengan terhuyung-huyung.

Tepuk tangan riuh gemuruh menyambut kemenangan itu.

Dara itu menyusut peluhnya dan melompat turun terus bersama Endang Patibroto dan Retna Wills kembali ke tempat duduk mereka.

Makin gentarlah hatl para muda yang hendak ikut sayembara.

jelas sudah bahwa amat sukar menandingi kedigdayaan perawan Lembah Wills itu.

Joko Bono yang demikian perkasapun tidak mampu menandinginya.

Hanya ada beberapa orang pemuda, termasuk Pangeran Panji Sigit, yang masih menantl kesempatan mereka.

Melihat betapa agaknya tidak ada pengikut lagi yang berani nalk ke panggung, Pangeran Panjl Sigit memandang Ki Datujiwa yang menganggukkan kepalanya perlahan-lahan.

Pangeran itu lalu bangkit, akan tetapi selagi ia hendak melangkah maju mendekatl panggung, tiba-tiba tampak sesosok bayangan tubuh seorang pria kurus kering melompat ke panggung mendahululnya.

Terpaksa pangeran itu duduk kembali dan semua mata kini memandang ke arah pria kurus kering yang berada di atas panggung.

Cara orang itu melompat amat mengagumkan, karena tubuhnya mencelat ke atas, tinggi sekali, kemudian dari atas ia turun dengan cara berjungkir, kepalanya di bawah.

Semua orang terkejut, bahkan ada yang menahan pekik, mengira bahwa kepala itu akan remuk terbanting pada papan panggung.

Akan tetapi anehnya, kepala itu mendarat dengan lunaknya di atas papan dan laki-laki itu berdiri di atas kepalanya.

Kemudian sekali ia bersuara seperti orang terbatuk, tubuhnya sudah berjumpalitan dan kini ia berdiri di tengah panggung sambil tersenyum menyeringai.

Semua orang tercengang.

Laki-laki itu usianya tentu sudah mendekati lima puluh tahun, mukanya kurus seperti tengkorak hidup, matanya berlubang dalam sekali dan kepalanya gundul.

Pakaiannya serba merah berkembang dan tubuhnya juga kurus kering, kaki kirinya memegang tongkat bambu yang baru saja dicabutnya dari ikat pinggang.

Kakinya yang telanjang itulah yang menambah keanehannya, karena kalau tubuhnya kurus kering, adalah kakinya itu besar dengan jari-jari kaki mekar seperti cakar bebek.

Wajah yang buruk menjijikkan, akan tetapi setiap orang dapat menduga bahwa laki-laki ini tentu memiliki kesaktian luar biasa.

"Hemmm, si Hantu Kelabang Purwoko berani mencari bencana........!"

Terdengar oleh Pangeran Panji Sigit suara Ki Datujiwa berbisik lirih. la segera mendekati kakek penolongnya itu dan bertanya dalam bisikan.

"Orang apakah Purwoko ini, Eyang?"

"Tokoh hitam di pesisir utara, pertapa di Bukit Muria. Kalau ia mengenalku di sini, tentu dia tak akah berani main gila,"

Jawab kakek itu sambil mangerutkan kening.

Munculnya orang-orang macam Si Hantu Kelabang ini menandakan bahwa negara mulai lemah dan tidak aman sehingga kaum sesat dan golongan hitam mulai keluar dari sarang mencari kesempatan baik untuk mengacau dan merampas kedudukan serta keuntungan.

Sementara itu, laki-laki buruk rupa ltu sudah melambaikan tanganhya yang hanya tinggal tulang terbungkus kulit ke arah Setyaningsih dan terdengarlah suaranya nyaring tinggi seperti suara wanita.

"Bocah denok ayu Setyaningsih! Ke sinilah, manis! Mari kita main-main sebentar. Engkau layanilah aku sang sakti Purwoko dan kutanggung engkau akan merasa puas, heh-heh-heh!"

Kaum tua yang berada di situ terkejut mendengar nama ini dan terdengarlah suara berisik membisikkan sebutan "Si Hantu Kelabang".

Suara berisik initerdengar oleh Purwoko yang segera menyeringai ke arah para tamu sambil berkata.

"Kalian sudah mendengar dan mangenal nama julukanku? Heh-heh, benar aku Si Hantu Kelabang!"

Setyaningsih menjadi marah sekali.

Mukanya yang jelita itu sebentar pucat sebentar merah mendengar ucapan yang tIdak senonoh dari pria gundul kurus kering itu.

Ia sudah bangkit berdiri, tangan kiri mengepal tinju, tangan kanan meraba gagang keris.

Akan tetapi lengannya dlsentuh Endang Patibroto yang memberinya isyarat supaya duduk kembali.

Kemudlan Endang Patibroto bangkit berdiri dan suaranya terdengar lantang mengatasi semua suara hiruk-pikuk.

"Heh, engkau orang yang bernama Purwoko! Suruh walimu naik dan bertanding melawan aku! Kalau walimu menang, barulah engkau berhak menandingi adikku. Pada saat ini adikku enggan bertanding dengan orang macam engkau!"

Suara berisik terhenti seketika dan semua mata memandang bahwa pasti akan terjadi hal-hal hebat setelah kini ketua Padepokan Wilis memperlihatkan kemarahannya.

Akan tetapi Purwoko terkekeh sambil memandang ke arah Endang Patibroto dan menudingkan telunjuknya yang kecil panjang.

"Heh-heh-heh, engkau tentu Endang Patibroto, bukan? Denok ayu! Hebat bukan main, tidak kalah oleh adiknya. Ketahuilah, ayah bundaku telah mati semua, guruku banyak sekali dan sudah mati. Aku tidak punya wali. Bagiku sama saja, engkau juga denok, boleh maju main-main ke sini. Hadiahnya engkau atau adikmu sama juga! Memang aku datang untuk berkenalan dengan engkau, Endang Patibroto, dan kebetulan ada sayembara ini, heh-heh!"

Endang Patibroto tersenyum.

Senyum yang manis sekali akan tetapi siapa yang sudah mengenal wanita ini di waktu mudanya akan maklum bahwa senyum itu adalah senyum yang menyembunyikan kemarahan hebat dan bahwa senyum ini dapat menjadi senyum maut yang akan merenggut nyawa lawan.

Terdengar ia bersuara.

"Hemmml"

Dan tahu-tahu tubuhnya sudah meloncat ke atas panggung.

Cara meloncat ini dalam keadaan tegak berdiri, seolah-olah dari tempat ia berdiri tadi tubuhnya dibawa angin mujijat dan ia sudah berhadapan dengan Purwoko di atas panggung.

Itulah aji Meringankan tubuh Bayu Tantra yang sudah mencapai puncaknya!

Biarpun apa yang diperlihatkan Endang Patibroto ini hebat, akan -tetapi tidak ada yang bertepuk tangan.

Suasana terlalu menegangkan sehingga semua orang memandang dan menahan napas, lupa untuk bersorak memuji.

"Purwoko, alangkah sombongnya engkau! Kita tidak saling mengenal dan aku tidak tahu orang macam apa engkau ini, akan tetapi melihat lagakmu dan mendengar ucapanmu, mudah saja menilai bahwa engkau ini seorang yang masih kosong melompong!"

"Gentong kosong suaranya nyaring!"

Tiba-tiba terdengar suara Retna Wills menyela kata-kata ibunya. Semua orang mau tak mau tertawa geli karena ucapan bocah itu membuyarkan keadaan yang tegang.

"Gasak saja, Ibu, habiskan giginya yang tinggal dua!"

Endang Patibroto tidak memperdulikan kenakalan puterinya, lalu berkata lag'.

"Purwoko, kalau saja engkau tidak muncul di atas panggung sayembara, tentu aku tidak akan dapat mengampunimu. Akan tetapi karena kau muncul di sini, marilah kita buktikan apakah kepandaianmu juga sehebat suaramu."

"Heh-heh-heh! Engkaupun seorang wanita sombong, Endang Patibroto. Aku sudah banyak mendengar tentang sepak terjangmu. Nah, kau bersiaplah!"

Belum juga habis gema suaranya, kakek gundul itu sudah menerjang maju dengan tongkatnya, menusuk perut Endang Patibroto dengan tongkat di tangan kanan sedangkan tangan kirinya mencengkeram dengan kuku tangan kiri yang tiba-tiba saja sudah berubah merah seperti dicat!

Endang Patibroto cepat melangkah mundur dan menyentil ujung tongkat dengan telunjuk kirinya.

Ia mengerti bahwa tangan kirI lawan yang berubah merah Itu amat berbahaya, tentu mengandung racun yang hebat.

Inilah agak-nya mengapa orang ini mendapat julukan Si Hantu Kelabang.

Agaknya tangan kiri itu telah dilatih dengan sari racun kelabang sehingga sekali gores dengan kuku, atau sekali sentuh dengan tangan itu saja sudah cukup untuk mengirim nyawa lawan meninggalkan raganya.

SI gundul itu berseru kaget ketika tongkatnya tiba-tiba membalik seperti didorong tenaga raksasa begitu kena disentil telunjuk tangan wanita itu.

Diam-diam ia kagum dan tahu bahwa tangan wanita itu mengandung hawa sakti yang kuatnya menggila.

Tidak berani lagi ia memandang ringan dan mulailah kakek ini melakukan serangan dengan hati-hati sekali.

Ia tadi sudah melihat kelincahan Setyaningsih, maka ia pun dapat menduga bahwa Endang Patibroto tentu memiliki ilmu meringankan tubuh yang luar biasa pula.

Dia sendiri biarpun tidak dapat mengimbangi ilmu meringankan diri yang dibuktikan dengan cara meloncat Endang Patibroto tadi, namun ia mengandalkan ajinya tangan beracun dan kekuatan hawa sakti yang timbul dari cara bertempur berjungkir -balik seperti yang ia demonstrasikan ketika meloncat tadi.

Namun sesungguhnya sudah terlambat bagi Purwoko untuk menyadari bahwa dia tadi terlalu memandang rendah Endang Patibroto.

Kini wanita sakti itu sudah terlampau marah dan tubuh yang masih langsing itu tiba-tiba lenyap dan berkelebatan di sekeliling dirinya, menyerangnya dengan pukulan bertubi-tubi.

Purwoko memutar tongkatnya melindungi tubuh, dan gerakan yang cepat ini membuat tongkatnya menimbulkan gulungan sinar yang menyelimuti dirinya.

Pertandingan berlangsung cepat, sukar diikuti pandang mata biasa.

Hanya tampak gulungan sinar dan bayang-bayang tubuh berkelebatan, dan terdengar suara bersiutan.

"Plakkk......... krakkk. !!"

Tubuh Purwoko terhuyung ke belakang dan tongkatnya telah patah-patah dan remuk!

Kiranya tadi tongkatnya kena dicengkeram tangan Endang Patibroto dan direnggutkan sehingga patah-patah dan remuk, Purwoko yang berusaha merampas tongkat, kini hanya memegang sepotong kecil saja dan terbawa oleh tenaga betotannya sendir.

la terhuyung ke belakang.

Marahlah si gundul.

la mengeluarkan suara mendesis dari mulutnya dan berseru.

"Aku belum kalah, belum turun dari panggung. Endang Patibroto, kau tidak mau disayang, rasakan kedigdayaan Si Hantu Kelabang!"

Tiba-tiba saja kedua tangan yang tadi sudah kemerahan kini berubah hitam dan tercium bau yang wengur seperti bau binatang kelabang atau ular-ular berbisa.

Tubuh yang kurus kering itu melompat berjungkir balik dan.........

ia menyerang Endang Patibroto dengan kepala di bawah kaki di atas!

Hebat bukan main serangan ini.

Hebat dan juga aneh.

Karena keanehan inilah maka amat berbahaya, sukar diduga dan setiap serangan mengandung hawa beracun yang dapat merenggut nyawa.

Kepala gundul yang berubah kegunaannya menjadi kaki itu berloncatan dengan suara "dak-duk-dak-duk!"

Di atas panggung, kedua kaki di atas dan bergerak-gerak seperti dua batang tongkat, juga kedua lengannya bergerak-gerak mencari sasaran, bukan hanya untuk memukul atau mencengkeram, bahkan kini kedua tangan itu bergantian menyambitkan jarum-jarum beracun ke arah Endang Patibroto!

"Serr-serr-serrr "

Jarum-jarum berwarna merah menyambar dari bawah ke arah tubuh Endang Patibroto.

Ketua Padepokan Wilis ini maklum betapa bahayanya jarum-jarum beracun ini, maka ia menggunakan kegesitannya untuk melayang ke atas dan menyampok runtuh jarum-jarum itu dengan angin pukulan tangannya.

"Manusia keji tak dapat diberi hati!"

Kata Endang Patibroto dan ketika tubuh-nya melayang, tangannya bergerak dan "cuat-cuat......... I"

Dua batang panah anak panah telah menyambar ke arah kedua kaki Purwoko.

Namun kedua kaki si gundul itu ternyata hebat juga, karena secara cepat menendang runtuh dua batang anak panah itu dari samping.

Mendadak Purwoko berseru keras dan kedua tangannya menangkis ke belakang karena tahu-tahu Endang Patibroto sudah berada di belakangnya dan menendang ke arah kepalanya.

Kiranya panah tangan yang dilepas Endang Patibroto tadi hanya sebagai jawaban terhadap kiriman jarum-jarum beracun, sekalian dipergunakan untuk gertak sehingga ia dapat meloncat ke belakang lawan dan mengirim tendangan-tendangan kilat.

Si Hantu Kelabang Purwoko ternyata dapat menangkis tendangan-tendangan itu dan kepalanya di atas papan itu berputar sehingga tubuhnya membaiik ke belakang.

Melihat ini, Endang Patibroto menggeser kakinya, cepat sekali dan ia menyerang dari arah belakang tubuh si kurus kering, melancarkan pukulan-pukulan Pethit Nogo ke arah punggung dan tendangan-tendangan ke arah tengkuk.

Diserang dari belakang, Purwoko kembali berputar akan tetapi bayangan Endang Patibroto sudah lenyap karena wanita itu sudah menggeser kaki pula dan berada di belakangnya.

Demikianlah, bagaikan seekor kucing mempermainkan tikus, tubuh Endang Patibroto berkelebatan dengan geseran-geseran kaki indah teratur serta cepat sekali, sedangkan Purwoko yang maklum akan bahayanya diserang dari belakang, kini berpuat-putar seperti gasing di atas kepalanya.

Hebat sekali pertandingan itu, Setyaningsih memandang dengan wajah tegang.

Diam-diam ia bersyukur bahwa ayundanya mencegah ia turun tangan, karena kini jelas tampak olehnya bahwa akan sukar sekali bagi dia untuk mengalahkan si gundul yang luar biasa itu.

Adapun Retna Wills yang menonton penuh perhatian, menjadi kagum dan diam-diam memperhatikan.

Gadis cilik ini dapat menduga bahwa ada persamaannya antara cara si gundul berjungkir balik dengan cara berlatih samadhi seperti diajarkan ibunya, yaitu dengan menggantung jungkir balik di cabang pohon.

Para penontong juga memandang ke atas panggung dengan mata terbelalak.

Sebagian besar di antara mereka tidak dapat mengikuti jalan-nya pertandingan karena terlampau cepat.

Mereka ini hanya melihat tubuh si gundul berputaran seperti gasing dan tubuh Endang Patibroto berkelebatan seperti seekor burung srikatan menyambar nyamuk-nyamuk di udara.

Memang tak dapat disangsikan lagi bahwa Si Hantu Kelabang Purwoko akan menjadi lawan yang terlampau berat bagi SetyaNingsih.

Akan tetapi menghadapi Endang Patibroto ia masih kalah jauh.

Andaikata Endang Patibroto bertanding dengan pamrih membunuh, agaknya pertempuran itu tidak akan berlangsung sedemikian lamanya dan tentu sekarang juga Purwoko sudah menggeletak tewas sebagai korban pukulan Gelap Musti atau Aji Wisangnala.

Akan tetapi Endang Patibroto dalam kedudukannya sebagai ketua Padepokan Wilis, tentu saja memegang teguh peraturan yang ia keluarkan sendiri, maka ia berusaha untuk mengalahkan Purwoko tanpa membunuhnya, dan hal inilah yang membuat ia membutuhkan waktu yang agak lama karena Purwoko merupakan seorang lawan yang tidak ringan.

"Robohlah !"

Tiba-tiba terdengar suara bentakan Endang Patibroto ketika dengan keras ia sengaja menangkls serangan kedua kaki Purwoko dengan tamparan jari-jari tangan yang penuh dengan getaran Aji Pethit Nogo.

Hebat tangkisan itu sehingga tubuh Purwoko mendoyong miring.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Endang Patibroto untuk membentak dan mendorongkan kedua lengannya ke depan, dengan Aji Wisangnala.

Aji ini kalau dipergunakan untuk memukul, mungkin tidak akan kuat ditahan oleh seorang sakti seperti Purwoko sekalipun, akan tetapi sekali ini hanya dipergunakan oleh Endang Patibroto sebagai pukulan jarak jauh sehingga hanya hawa pukulan-nya saja yang mendorong tubuh lawan.

"Aduhhh !!"

Tubuh Purwoko terguling karena ia tidak dapat menahan hawa dorongan yang mengandung rasa panas luar biasa itu.

Akan tetapi, begitu tubuhnya rebah di atas papan panggung, tubuh itu lalu menerjang maju cepat sekali dengan jalan merayap seperti seekor kelabang.

Tentu saja hal ini sama sekali tidak pernah disangka oleh Endang Patibroto.

Belum pernah ia menyaksikan hal sepertI itu, juga ketika masih berguru kepada Dibyo Mamangkoro ia belum pernah mendengar gurunya bercerita tentang ilmu aneh seperti itu sungguhpun sudah banyak ia ketahul tentang pelbagai aji kesaktian golongan hitam dan kaum sesat.

Karena kaget ia tidak dapat mencegah lagi ketika tangan kiri Purwoko mencengkeram ujung kainnya!

"Aihhhh !"

Dalam keadaan terancam mengalami penghinaan yang memalukan itu, Endang Patibroto tidak kehilangan akal.

Cepat tubuhnya membungkuk dan jari-jari tangan kanannya menyambar tengkuk Purwoko, mengirim tamparan Pethit Nogo dengan sebagian tenaga saja.

"Brettt..........! Kekkk…….!!"

Ujung kain Endang Patibroto robek sedikit akan tetapi Purwoko roboh pingsan!

Dengan menahan gemas Endang Patibroto menggunakan kakinya, mencokel tubuh itu sehingga terlempar ke bawah panggung dalam keadaan tubuh masih pingsan.

Penonton yang tadi menahan napas menyaksikan pertandingan hebat itu, kini berisik saling membicarakan pertandingan itu dan kini makin gentarlah hati mereka.

Tidak hanya Setyaningsih sudah memperlihatkan kedigdayaan yang mengagumkan, juga kini Endang Patibroto membuktikan bahwa dia memang seorang wanita sakti sukar dicari bandingnya.

Setelah Endang Patibroto meloncat turun dan kembali duduk ke tempatnya, suasana kembali menjadi hening.

"Ayunda benar, dia berbahaya sekali."

Kata Setyaningsih.

"Ibu, ilmu apakah itu, berjungkir balik seperti yang dilakukan si gundul?"

Tanya Retna Wilis. Endang Patibroto menarik napas panjang dan memeriksa ujung kainnya yang robek.

"Dia tidak sangat sakti, hanya memiliki siasat-siasat berbahaya. Seperti seekor kelabang yang curang. Ilmunya berjungkir-balik sungguhpun cukup kuat, namun dilatih dengan sesat sehingga hanya tampaknya saja menyeramkan, sebetulnya tidak ada apa-apanya. Lebih baik lanjutkan latihan samadhi sambil menggantung di pohon, Retna."

Pada saat itu, keheningan suasana telah pecah oleh berisiknya para penonton karena kini di atas panggung telah berdiri seorang pemuda tampan sekali.

Pemuda itu bukan lain adalah Pangeran Panji Sigit.

Ia memberi hormat ke arah Endang Patibroto dan berkata halus.

"Mohon banyak maaf kepada Ayunda. Dorongan kasih membuat saya nekat memasuki sayembara dan membawa seorang wali, yaitu Eyang Datujiwa. Mudah-mudahan saja para dewata melindungi hamba dan akan tercapai apa yang hamba idam-idamkan. Marilah, Adinda Setyaningsih, kita menguji kedigdayaan. Hanya sedikit harapan saya hendaknya Adinda menaruh kasihan kepada saya."

Wajah Setyaningsih sudah menjadi merah sekali ketika melihat pemuda yang selama ini membuatnya tak enak tidur tak sedap makan itu telah berdiri menanti di atas panggung.

Saat inilah yang dinanti-nantinya.

Dia sudah bertekat bulat untuk melawan siapa saja secara mati-matian, kalau perlu mengadu nyawa di atas panggung sayembara karena ia tidak rela berjodoh dengan laki-laki lain kecuali pemuda yang kini berada di atas panggung ini!

Namun setelah saatnya tiba, ia merasa kedua kakinya menggigil dan mukanya panas.

Betapapun juga, tanpa disadarinya seperti orang terkena hikmat gaib, dara jelita itu bangkit berdiri dan tanpa menoleh sedikitpun kepada ayundanya seperti tadi, langsung ia menghampiri panggung lalu melompat naik diiringi sorak-sorai para penonton yang timbul kembali kegembiraan mereka.

Dara jelita itu kini kembali akan bertanding dan lawannya begitu tampan seperti Sang Harjuna!

Melihat perawakan kedua muda-mudi ini, melihat wajah mereka, sungguh mereka itu merupakan pasangan yang amat setimpal, seperti Dewa Komajaya dan Dewi Komaratih, seperti Sang Harjuna dan Dewi Sembadra.

Sama-sama muda remaja, sama-sama tampan rupawan, sama-sama agung berwibawa dan sakti mandraguna!

Sejenak mereka berdua berdiri saling berhadapan.

Pangeran Panji Sigit memandang dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar, membayangkan kasih sayang dan kemesraan yang tidak dibuat-buat, yang langsung memancar dari lubuk hatinya, namun yang membuatnya terpesona sehingga sukar untuk mengeluarkan kata-kata.

Hatinya terharu sekali.

Kalau mungkin, ia ingin sekali memeluk dan mencumbu rayu dara ini, bukan sekali-kali menghadapinya sebagai lawan bertanding!

Betapa mungkin ia bertanding sebagai lawan dan menyerang dara yang dikasihinya ini?

Kalau perlu ia bahkan rela mati di bawah kakinya, rela mengorbankan apa saja demi cinta kasihnya yang mendalam!

Namun, untuk dapat tercapai cita-cita dan idaman hatinya, ia harus dapat mengalahkan dara ini dalam adu kesaktian!

Tiada jalan lain karena ia cukup mengenal watak Endang Patibroto yang keras dan kemauannya yang sukar ditundukkan oleh apapun juga.

Adapun Setyaningsih, berbeda sekali dengan tadi ketika menghadapi calon-calon lain, agung berwibawa, tenang dan memandang dengan mata tajam, kini menundukkan mukanya, berdiri dengan pundak meringkus (menyempit), memandang ke arah ujung ibu jari kakinya yang utak-utik bergerak-gerak menggores-gores papan panggung!

Sampai lama kedua remaja ini berhadapan tanpa mengeluarkan suara, bahkan tanpa bergerak, lebih gugup dan bingung lagi karena beberapa orang penonton yang agaknya dapat menangkap arti gerak-gerik mereka ada yang mulai terkekeh mentertawakan.

"Bibi. Jangan melupakan pesanku, lho! Awas, kalau melanggar, Bibi akan ku-jothak (kumusuhi)!"

Tiba-tiba terdengar teriakan Retna WilIs dan semua orang tertawa sambil bertanya-tanya dalam hati apa gerangan pesan puteri ketua Padepokan Wilis itu.

Hanya Endang Patibroto dan Setyaningsih yang mengetahuinya, juga Pangeran Panji Sigit dapat menduganya maka hatinya menjadi lega, maka sambil melempar senyum ke arah bocah itu ia berkata.

"Terima kasih, keponakanku yang manis!"

Setyaningsih menjadi makin jengah dan malu, mukanya makin menunduk. Seperti dalam mimpi ia mendengar suara yang halus penuh getaran asmara itu.

"Diajeng, marilah kita mulai, tidak enak dijadikan tontonan orang."

Barulah ia berani mengangkat muka. Sejenak pandang mata mereka bertemu, bertaut dan melekat mesra. Kemudian dara itu berbisik.

"Marilah......... silahkan… "

Berbareng keduanya bergerak dan terjadilah pertandingan yang amat menarik hati.

Keduanya sama-sama memiliki gerakan yang trengginas dan cepat, dengan gerak silat yang indah seperti tarian lemah gemulai.

Tampaknya kedua orang muda ini bukan seperti tengah bertanding yuda, melainkan sedang berlagak dengan tarian indah di atas panggung.

Namun, bagi para penonton yang kesemuanya memiliki kepandaian, jelas bahwa kedua orang muda itu benar-benar saling serang dengan cepat dan kuat.

Pertandingan yang amat seru.

Sesungguhnya hal ini hanya kelihatannya saja, karena bagi Endang Patibroto, juga bagi Ki Datujiwa, dan beberapa orang yang hadir di situ dan memiliki ilmu kepandaian tinggi, kedua orang remaja itu tidak bertanding sungguh-sungguh.

Memang tampaknya melakukan pukulan dan tendangan sungguh-sungguh, dengan gerak silat yang sempurna dan daya serang yang dahsyat, namun tenaga dalam penyerangan ini selalu dikendalikan sehingga andaikata lawan akan terkena, dapat ditarik mundur atau dihilangkan tenaganya sehingga tidak akan melukai lawan!

Mereka itu seolah-olah sedang berlatih saja!

Namun gerakan mereka yang gesit menyuguhkan tontonan yang indah menarik dan menegangkan bagi mereka yang tidak tahu sehingga mereka bersorak-sorak setiap kali seorang di antara mereka tampak terdesak sampai ke pinggir panggung.

Hanya sebentar saja desakan ini karena segera yang terdesak dapat menguasai keadaan dan balas mendesak.

Tentu saja Setyaningsih tidak menghendaki pemuda idaman hatinya ini kalah dan terpelanting ke bawah panggung.

Karena hal itu akan berarti bahwa pemuda ini tidak mungkin menjadi jodohnya!

Bukan hanya karena pesan Retna Wilis saja maka ia mengalah dan tidak sungguh-sungguh penyerangannya, melainkan juga karena dia sendiri di dalam hatinya sudah memilih Pangeran Panji Sigit sebagai calon suaminya.

Akan tetapi, Setyaningsih adalah seorang dara yang pendiam, serius, berpemandangan luas, berwatak adil dan keras hati, tak mengenal takut asal bersandarkan kebenaran.

Watak ini mendatangkan sifat angkuh dan tidak mau kalah, serta ingin dihargai.

Apalagi oleh orang yang dicintanya.

Ia ingin memperlihatkan kepada pangeran muda ini bahwa dia bukan seorang lemah, bahwa dia mampu menandingi pangeran itu kalau dikehendakinya, maka dalam pertempuran inipun, sungguhpun ia tidak ingin mengalahkan si pangeran yang menjadi pilihan hatinya, akan tetapi ia ingin membuktikan bahwa dia sebetulnya tidak kalah!

Ketika ia mendapat kesempatan setelah pukulannya ditangkis pemuda itu, tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas dengan Aji Bayu Tantra, demikian cepatnya ia meloncat sehingga bagaikan terbang saja dan sambil meloncat, ketika melewati dekat kepala Pangeran Panji Sigit, tangan kirinya menjangkau dan cepat ia menyambar ikat kepala pangeran itu, direnggutnya terlepas dari kepala pangeran Itu.

Pangeran Panji Sigit maklum akan isi hati dara yang dicintanya.

Kalau ia mau, tentu saja ia dapat mempertahankan ikat kepalanya, atau dapat ia mengirim pukulan maut ke perut dara yang sedang melambung di atasnya itu andaikata dara itu seorang musuh.

Akan tetapi tentu saja ia tidak mau melakukan hal ini, sebaliknya ia membiarkan ikat kepalanya dirampas dan cepat sekali lengannya menyambar dan memeluk pinggang yang ramping dari Setyaningsih dan langsung membawa dara itu meloncat turun panggung!

Setyaningsih terkejut, namun tidak dapat meronta karena pelukan lengan pada pinggangnya itu membuat ia menjadi lemas dan seperti lumpuh!

Ketika turun ke atas tanah, Pangeran Panji Sigit lebih dulu menurunkan dara itu, baru ia turun belakangan.

Dengan demikian, berarti bahwa Setyaningsih yang lebih dulu turun dari panggung dan ia berada di fihak menang.

Akan tetapi untuk tidak menyinggung perasaan orang yang dicintanya, ia membungkuk dan berkata sambil tersenyum dan memegangi rambutnya.

"Engkau hebat, Diajeng, telah berhasil merampas ikat kepalaku. Aku mengaku kalah "

Setyaningsih memandang dengan mata bersinar-sinar dan muka merah karena girang dan juga jengah, mulutnya berkata gagap.

"Ohhh......... tidak......... , kau…….., tidak kalah....…… aku yang lebih dulu turun "

Setelah berkata demikian dara ini lari menuju ke tempat duduK Endang Patibroto dan lupa bahwa tangannya masih membawa ikat kepala pangeran muda itu.

Pangeran Panji Sigit mengejarnya da bersama Setyaningsih ia lalu menjatuhka diri bertekuk lutut di depan Endang Pa tibroto sambil berkata.

"Mohon Ayunda sudi memaafkan dan tentang hasil pertandingan tadi, saya hanya taat aka keputusan Ayunda."

"Sudah terang Bibi Setyaningsih yang kalah!"

Retna Wilis berteriak.

"Semua, orang juga melihatnya. Bibi Setyaningsih yang lebih dulu menginjak tanah, berarti dia yang lebih dulu dipaksa turun!"

Semua orang yang menonton tertawa Mereka inipun merasa suka akan pemuda yang tampan, tangkas serta lemah lembut dan sopan itu. Seperti mendapat aba-aba, sebagian besar di antara mere berseru.

"Pemuda itu menang !!"

Diam-diam Endang Patibroto meras terharu sekali, namun sedikit juga tidak tampak pada wajahnya.

Ia cukup yakin sekarang bahwa adik kandungnya benar-benar telah jatuh cinta kepada Pangeran Panji Sigit.

Terkenanglah ia kepada Joko Wandiro atau Tejolaksono, satu-satunya pria yang dicintanya dengan tulus ikhlas dan seluruh jiwa raganya.

Betapa merana dan sengsara hidup ini dipisahkan dari orang yang dicinta.

Tentu saja ia tidak tega untuk membuat adik kandungnya sendiri merana dan menderita sengsara.

Pangeran Panji Sigit memang cukup berharga untuk menjadi suami Setyaningsih.

Akan tetapi sebagai seorang wanita yang memegang teguh aturan dan amat keras hati, apalagi karena marah teringat betapa Ki Datujiwa mengambil puterinya sebagai murid tanpa minta perkenannya, ia lalu berkata.

"Anggap saja dalam babak pertama ini engkau menang. Akan tetapi masih da babak ke dua sebagai babak yang akan menentukan. Suruh walimu naik ke panggung!"

Wajah Pangeran Panji Sigit menjadi pucat.

Dari suara ayundanya ini ia dapat menarik kesimpulan bahwa Endang Patibroto tidak cocok menerimanya sebagai talon jodoh Setyaningsih.

Biarpun ia maklum bahwa Ki Datujiwa amat sakti, namun ia masiti meragu apakah kakek itu akan dapat menandingi Endang Patibroto yang demikian tinggi ilmunya.

Ia menoleh ke arah Setyaningsih, bertukar pandang dengan sayu, kemudian bangkit berdiri dan berjalan menghampiri Ki Datujiwa, menjatuhkan diri berlutut sambil berkata.

"Duh, Eyang , nasib saya berada di tangan Eyang."

Ki Datujiwa tertawa dan mengangkat bangun pemuda itu.

"Tenanglah, Angger. Memang mencapai segala cita-cita yang baik selalu tidak mudah, namun kita tidak boleh putus asa."

Setelah berkata demikian, kakek itu lalu menghampiri panggung dan melompat naik dengan gerakan sederhana.

Semua penonton tercengang.

Pemuda yang tampan dan gagah perkasa tadi mengapa membawa wali seorang kakek petani yang begini sederhana dan sama sekali tidak kelihatan sakti?

Seorang kakek pendek kecil yang rambutnya tak terpelihara, pakaiannya sederhana dan sikapnya tidak agung.

Mana mungkin dapat menandingi Endang Patibroto?

"Ibu, jangan lupa, harap mengalah.

Dia itu guruku,"

Bisik Retna Wills yang tidak tahu bahwa bisikan itu menambah rasa penasaran di hati Endang Patibroto.

"Dia sudah menolongku, dia baik sekaIi."

"Kau anak kecil tahu apa tentang baik dan jahatl"

Bentak Endang Patibroto yang sekali berkelebat sudah meloncat naik ke atas panggung, berhadapan dengan Ki Datujiwa.

Sejenak keduanya saling pandang, seperti dua ekor ayam hendak mengadu kekuatan lebih dahulu memperhatikan calon lawan dengan pandang mata menilai.

"Jadi andika inikah yang menjadi wali Panji Sigit?"

"Benar, Sang Dewi. Aku kasihan melihatnya dan bersedia membantu tercapainya cita-cita murni seorang pemuda, demi bersatunya dua hati yang saling mencinta."

"Hemmm, andika telah menolong puteriku, sebetulnya sudah selayaknya kalau aku mengalah. Akan tetapi andika telah lancang mengangkat puteriku sebagai murid, ini merupakan penghinaan yang hanya dapat ditebus dengan nyawa. Mengingat akan pertolongan andika terhadap Retna Wilis, akupun melupakan penghinaan itu. Tidak ada budi apa-apa lagi dan karena itu kita harus bertanding sesua peraturan."

Semua orang yang hadir terheran-heran karena kedua orang di panggung itu hanya berdiri berhadapan tanpa mengeluarkan suara, hanya melihat betapa bibir kedua orang itu agak bergerak-gerak.

Memang ketika mengeluarkan kata-kata ini, Endang Patibroto yang tidak ingin orang lain mendengarnya, telah mengerahkan aji kesaktiannya, bicara dari dalam perut hanya dengan menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara keras sehingga hanya terdengar oleh orang yang diajak bicara.

Ki Datujiwa tersenyum, maklum bahwa perbuatan itu mempunyai dua maksud.

Pertama agar tidak terdengar orang lain.

Kedua untuk mendemonstrasikan kesaktian, karena memang hanya mereka yang sudah memiliki hawa sakti amat kuat saja yang dapat bicara dalam perut.

Maka iapun menjawab dengan cara yang sama.

"Angger, Sang Dewi Endang Patibroto. Tidak ada yang menolong, tidak ada pula yang lancang. Semua terjadi karena memang semestinya demikian. Andika mengajak aku yang tua bertanding, boleh saja. Akan tetapi karena dasarnya pengangkatan murid, kalau dibolehkan dewata dan aku menang, aku akan mengajar ilmu kepada puterimu selama sepuluh tahun. Bagaimana?"

Endang Patibroto mengerutkan kening dan berpikir.

Betapa mungkin ia berpisah darI puterinya?

Akan tetapi permintaan itupun sudah patut.

Kalau kakek ini dapat memenangkannya, tentu berharga menjadi guru Retna Wilts.

Agar puterinya jangan terbawa pergi, ia harus bisa menangl Akan tetapi kalau ia menang, berarti akan membuat hidup adiknya merana!

"Baiklah, Ki Datujiwa.

Akan tetapi mengajarnya harus di sini, andika harus tinggal di puncak Wilis."

Kembali kakek itu tersenyum sabar dan memandang ke sekeliling, ke arah tamasya alam yang amat indah.

"Memang aku berjodoh dengan Wilis. Boleh, aku menerima syarat itu."

Kini Endang Patibroto berkata dengan mulutnya, suaranya nyaring.

"Bersiaplah andika!"

Dan tubuhnya bergerak maju dengan serangan kilat.

Ia mengerahkan Aji Bayu Tantra dan menggunakan pukulan Pethit Nogo yang amat dahsyat.

Namun yang dipukulnya hanya angin kosong karena tahu-tahu kakek itu telah lenyap dari depannya dan telah berada di sebelah kiri sambil berkata.

"Biarlah andika yang menahan serangan-seranganku!"

Sambil berkata demikian, Ki Datujiwa sudah melancarkan pukulan dengan tangan kanan dikepal.

Sambil memukul, kakek itu meloncat ke depan dan sementara tubuhnya berada di atas ia memukul.

Endang Patibroto menggunakan lengannya menangkis sambil mengipatkan jari tangan yang mengandung Aji Pethit Nogo.

"Dess. !"

Tubuh Endang Patibroto terdorong ke belakang sungguhpun ia mampu menangkis pukulan itu.

Ia terkejut dan kagum.

Pukulan dengan tubuh melambung tidaklah sekuat kalau kedua kaki memasang kuda-kuda , akan tetapi tenaga pukulan kakek itu bukan main kuatnya, mengandung hawa sakti yang tak terlawan olehnya.

Sebelum ia sempat membalas, kakek itu sudah meloncat dan memukul lagi.

Endang Patibroto bertubi-tubi menangkis datangnya pukulan yang seperti hujan dan berkali-kali ia tertolak ke belakang sehingga akhirnya ia mundur-mundur dan berputeran.

Belum juga ia mampu membalas karena kakek itu setiap kali ditangkis sudah melambung lagi dan memukul seolah-olah tubuh kakek itu melambung karena tangkisan dan otomatis menyerang kembali.

Makin lama pukulan itu makin kuat sehingga Endang Patibroto cepat-cepat menahan napas, mengerahkan tenaga tangkisan yang didahului hawa panas.

Hawa pukulan kedua fihak kini bertemu di udara dan sebelum kulit lengan mereka bersentuhan, tubuh Endang Patibroto sudah terpental.

Wanita sakti itu makin kaget.

Para penonton yang mengharapkan pertandingan seru, menjadi kecewa dan terheran-heran.

Kalau tadinya mereka berdua itu saling tangkis, kini mereka berdiri dalam jarak hampir dua meter dan memukul dari jauh, ditangkis dari jauh pula, sama sekali lengan mereka tidak pernah bersentuhan lagi.

Namun setiap kali, tubuh Endang Patibroto terdorong ke belakang.

Kiranya dua orang sakti ini telah mempergunakan pukulan jarak jauh dan hanya mengandalkan hawa sakti masing-masing.

Baik ketika menangkis, maupun ketika ia memukul dan ditangkis, Endang Patibroto selalu terdorong tubuh atasnya, terbawa oleh lengannya.

Ia maklum bahwa' ia kalah kuat, maka dalam penasarannya ia lalu mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo yang dahsyat.

Beberapa orang penontong seketika merasa lumpuh kedua kakinya karena jantung mereka tergetar hebat.

"Sadhu-sadhu-sadhu "

Ki Datujiwa berkata lembut namun tidak terpengaruh, hanya memandang tubuh lawan yang kini berkelebat seperti seekor burung kepinis, sambil melancarkan pukulan-pukulan sakti yang luar biasa dahsyatnya.

Mula-mula Endang Patibroto menerjang tubuh kakek yang berdiri tegak itu sambil memukul dengan Aji Pethit Nogo sepenuhnya.

Namun pukulan dan tubuhnya terhenti di tengah jalan, terhalang dan dihalau oleh tangkisan yang keluar dari dorongan tangan Ki Datujiwa.

la menerjang lagi, berselang-seling mempergunakan aji pukulan Pethit Nogo, Wisangnala, dan Gelap Musti.

Namun kesemuanya tidak berhasil, selalu kandas di tengah jalan, buyar oleh hawa pukulan yang menangkis.

Di samping rasa penasaran, juga Endang Patibroto hendak menguji benar-benar kakek ini.

Seorang yang menjadi guru puterinya harus mempunyai kesaktian yang jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri.

Maka ia lalu memperhebat serangannya.

Betapa heran dan kagum hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa makin hebat diserang, kakek Itu makin tenang, berdiri tegak, hanya menyambut setiap serangan dengan dorongan tangan kanan atau kiri berganti-ganti.

Namun, dorongan-dorongan itu saja sudah cukup membuat semua serangan Endang Patibroto gagal!

Bahkan lebih laripada itu.

Makin keras pukulannya, nakin keras pula ia terpental!

Aji Argoselo untuk memperberat tubuhnya sama sekali tidak ada hasilnya, bahkan kalau pukulannya keras sekali, ia terpental dan terhuyung sampai ke tepi papan panggung.

Benarkah Ki Datujiwa memiliki tenaga sakti seampuh itu?

Ia merasa penasaran lalu mengerahkan seluruh tenaganya, mendorong dengan kedua tangannya melancarkan pukulan dengan Aji Gelap Musti!

Hebat bukan main pukulannya ini.

Baru hawanya saja sudah cukup merobohkan seorang lawan sakti.

Akan tetapi lebih hebat lagi kesudahannya karena kakek itupun mendorongkan kedua tangan dan.........

tak dapat ditahannya lagi tubuh Endang Patibroto mencelat ke belakang sampai melewati tepi panggung!

Semua orang berteriak karena betapapun saktinya seseorang, kalau sudah terlempar melewati tepi papan panggung, tentu akan jatuh ke bawah dan berarti kalah.

Akan tetapi Endang Patibroto, ketua Padepokan Wills, bukanlah seorang sakti yang biasa.

Dia semenjak kecil telah di gembleng berbagai ilmu, bahkan menjadi murid terkasih Sang Dibyo Mamangkoro kemudian selama lima tahun lebih di puncak Wills telah mematangkan Ilmu-ilmunya dengan tekun sehingga kini merupakan seorang tokoh yang sukar dicari bandingnya.

Biarpun tubuhnya sudah terlempar melewati tepi papan panggung, namun di udara tubuhnya itu dapat berjungkir balik dan melayang kembali ke arah panggung.

Itulah Aji Bayu Tantra yang sudah mencapai tingkat tertingt sehingga dalam melompat dia dapat ber-jungkir balik dan mengubah arah, membalik ke arah berlawanan mengandalkan tenaga luncuran tadi!

"Bagus sekali I"

Seru Ki Datujiwa di antara tepuk sorak penonton yang merasa kagum bukan main.

Gerakan Endang Patibroto itu seolah-olah gerakan seekor burung garuda yang terbang membalik.

Akan tetapi Ki Datujiwa maklum bahwa kalau wanita sakti yang ganas ini tidak segera ditundukkan, pertandingan akan berlarut-larut.

Sekali ini Endang Patibroto bertemu tanding yang jauh lebih tinggi ilmunya.

Ki Datujiwa adalah adik angkat dan adik seperguruan Ki Tunggaljiwa dan dibandingkan dengan Endang Patibroto, ia masih menang jauh.

Bahkan kakek ini masih lebih sakti daripada mendiang Dlbya Mamangkoro!

Dengan berdiri tegak, kakek Itu kembali mendorong dan.........

tubuh Endang Patibroto yang sudah meluncur kembali ke arah panggung itu kini terdorong lagi keluar panggung.

Endang Patibroto mengeluarkan pekik dan tubuhnya kembali membalik di udara, namun sekali lagi di-dorong keluar oleh lawannya!

Bagaikan seekor burung garuda yang berusaha melawan terjangan angin membadai, Endang Patibroto berkali-kali terdorong keluar dan akhirnya wanita sakti ini terpaksa mengakui keunggulan lawan.

Ia membiarkan dirinya terdorong lalu menukik ke bawah, langsung ia menyerang papan panggung dengan kedua tangannya.

Pukulan Gelap Musti mengenai papan panggung dan terdengarlah suara hiruk-pikuk karena papan di mana Ki Datujiwa berdiri menjadi ambrol, papan-papannya terlempar tinggal balok-baloknya sajal Endang Patibroto sendiri terpaksa turun ke atas tanah dan peluhnya membasahi muka dan leher, mukanya pucat dan napasnya agak terengah.

Ketika ia memandang, ternyata serangan terakhir inipun gagal karena kakek itu tidak terlempar turun seperti yang dikehendakinya, melainkan masih berdiri dl tempat tadi, hanya kini bukan berdiri di atas papan melainkan berdiri di atas sebuah di antara balok-balok penunjang papan.

Separoh dari panggung itu telah ambrol papannya!

Endang Patibroto menghela napas panjang, lalu iapun melompat ke atas sebuah balok di samping Ki Datujiwa sambil berkata.

"Kepandaian Eyang terlampau hebat, saya mengaku takluk."

Kemudian ia memandang ke arah para tamu dan berkata.

"Hendaknya semua saudara yang hadir maklum bahwa pemenang sayembara adalah Pangeran Panji Sigit yang berhak menjadi jodoh adikku Setyaningsih. Dengan ini sayembara ditutup dan dibubarkan!"

Orang-orang menjadi terkejut dan kagum.

"Ah, dia Pangeran Panji Sigit?"

"Pangeran Jenggala!"

"Pantas gagah dan tampan, walinyapun hebat!"

Endang Patibroto telah melompat turun, diikuti oleh Ki Datujiwa yang tersenyum-senyum, di samping oleh Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit yang berseri-seri wajahnya.

Setyaningsih merangkul ayundanya dan menangis saking terharu dan bahagia.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ketawa mengejek dan ketika mereka semua menengok, kiranya si gundul Purwoko telah berdiri di atas panggung yang tinggal separoh.

Kakek gundul ini telah siuman dan pulih kesehatannya.

Kini ia berdiri di atas panggung sambil tertawa lalu berkata dengan suaranya yang melengking tinggi.

"Wah, Padepokan Wills bermain curang! Endang Patibroto sungguh memalukan sebagai ketua Padepokan Wilis. Kiranya yang menang adalah seorang Pangeran Jenggala. Tentu saja menang karena memang dimenangkan! Siapa tidak mengetahui adanya sayembara menggelikan ini? Kalau memang suka mendapat ipar seorang pangeran, mengapa mengadakan sayembara palsu ini? Pantas saja, pangeran itu tadi dilayani oleh Setyaningsih sambil main-main belaka, dan kakek petani itupun seperti badut karena Endang Patibroto sengaja mengalah! Kalau memang bertanding betul-betul, tak mungkin kalah.Saudara-saudara sekalian kalau tidak percaya, boleh suruh pangeran itu atau walinya maju melawan aku! Aku sudah kalah terhadap Endang Patibroto, akan tetapi kakek petani itu akan kubikin jungkir balik!"

Ucapan Si Hantu Kelabang ini bukan ucapan seorang tolol.

Memang tadi ia melihat pertandingan antara Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih, maka iapun tahu bahwa pertandingan itu tidak sungguh-sungguh.

Adapun tentang Ki Datujiwa, ia hanya melihatnya sebagai seorang petani tua sederhana, tidak mengenal namanya karena sejak tadi tidak disebut, dan tingkat kakek ini sudah sedemikian tingginya sehingga memang tadi tidak kelihatan menggunakan kesaktian.

Sebaliknya, Endang Patibrotolah yang kelihatan memperlihatkan ketangkasan luar biasa.

Kakek itu hanya berdiri dan mendorong-dorongkan kedua tangannya.

Siapa mau percaya?

Hanya satu kali kakek itu memperlihatkan kepandaiannya, yaitu ketika papan panggung tergempur la meloncat ke atas kemudian turun lagi hinggap di atas balok.

Namun, kepandaian ini bagi Si Hantu Kelabang Purwoko tidaklah mengherankan.

Inilah sebabnya mengapa ia menjadi iri hati dan menuduh yang bukan-bukan.

"Eh, tua bangka seperti cecak kering! Kau melantur tidak karuan, ya?"

Tiba-tiba Retna Wilis sudah melompat ke atas panggung dan berdiri berhadapan dengan Purwoko di atas panggung yang tinggal separoh, lalu bertolak pinggang dan menudingkan telunjuk kirinya.

"Kau berani menantang paman pangeran? Berani menantang eyang guruku? Huh, tidak memandang tengkuk sendiri! Tak usah mereka turun tangan, kaulawanlah aku saja! Belum tentu kau menang, tahu?"

Semua orang yang tadinya sudah mau bubaran, kini tertarik kembali dan menonton sambil tertawa-tawa.

Modar!

Ketanggor kau sekarang, ketemu batunya!

Demikian bisik mereka yang merasa tidak senang menyaksikan lagak Si Hantu Kelabang.

Endang Patibroto sudah bergerak hendak menegur dan menyuruh puterinya turun, akan tetapi Ki Datujiwa berbisik.

"Biarlah, memang Purwoko perlu dihajar agar mundur dan tidak berani sewenang-wenang."

Tanpa menanti jawaban, Ki Datujiwa lalu menghampiri panggung dan meloncat ke atas, berdiri di sudut sambil berkata.

"Retna Wills, beranikah engkau mewakili gurumu dan ibumu memberi hajaran kepada setan gundul yang tidak sopan ini?"

Melihat gurunya sudah berada di situ, nyali Retna Wills makin bertambah. Dengan menjebikan mulutnya ke arah Purwoko, ia menjawab.

"Mengapa tidak berani, Eyang Guru? Biar ditambah lima lagi macam dia, aku tidak takut!"

Si Hantu Kelabang yang tadinya hendak mengejek dan mengumpat caci orang, kini benar-benar kalah desak dan bertemu batunya menghadapi Retna Wills.

Mau turun tangan, masa dia seorang tokoh besar harus melayanI seorang anak kecil yang baru enam tahun umurnya?

Tidak dilayani, dia dimaki-maka di depan orang banyak!

Kini melihat kakek petani yang ia pandang rendah itu sudah maju, cepat ia berkata.

"Eh, kebetulan sekali kau muncul, petani busuk! Hayo mengakulah bahwa engkau dan Endang Patibroto memang hanya bermain dagelan, pertandingan tadi tidak sungguh-sungguh. Kalau memang kau ada kepandaian, coba kaukalahkan aku!"

Dengan suara tenang Ki Datujiwa menjawab.

"Muridku sudah bicara. Aku wakilkan kepada muridku ini, Retna Wilis. , Kalau kau mampu mengalahkan Retna Wilis, anggap saja aku sudah kalah oleh-mu. Biarlah semua yang hadir menjadi saksi."

"Heh. ??"

Si Hantu Kelabang khawatir kalau-kalau ia dipermainkan dan ditipu dengan ucapan itu.

Bocah masih begini kecil?

Sedangkan ibu bocah inipun yang berilmu tinggi, tadi menghadapi dia tidak dapat mengalahkannya dengan mudah.

"Sesungguhnyakah omonganmu itu, petani tua bangka?"

"Heeiii, engkau si hantu coro busuk bau! Mengapa kau memaki-maki orang? Omongan kami semua adalah sungguh-sungguh, tidak seperti omonganmu yang merupakan angin bau busuk belaka! Hayo lawan aku!"

Retna Wilis kembali memaki. Purwoko melototkan matanya karena dimaki hantu coro sehingga banyak orang menertawakannya Ingin ia sekali gebrak menelan bocah itu bulat-bulat.

"Kalau memang betul, biarlah semua orang menjadi saksi. Hayo perlihatkan kepandaianmu , bocah edan!"

"Seranglah dia, muridku."

Suara Ki Datujiwa ini menambah semangat Retna Wills yang memang sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada gurunya.

Bukankah ketika menghadapi tiga orang jahat Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, dan Raden Warutama kemarin dulu itupun dia telah mendapat kemenangan hanya karena kepercayaannya kepada gurunya?

"Baik, Eyang,"

Jawabnya dan tubuh yang kecil itu lalu menerjang maju, mengirim pukulan ke perut Purwoko.

Si Hantu Kelabang itu hanya menyeringai dan tidak mengelak maupun menangkis.

Perlu apa menangkis pukulan bocah cilik ini?

Akan tetapl mukanya yang menyeringai itu mendadak berubah masam ketika kepalan kecil itu tepat mengenai perutnya.

"Bukkk!"

Memang tidak amat sakit, akan tetapi yang membuat ia kaget sekali adalah karena pada saat la hendak mengerahkan tenaga dalam ke perut, tenaganya itu molos dan tidak dapat dikerahkan!

Retna Wills yang berhasil menghantam perut itu menjadi girang.

Ia melompat ke atas dengan gerakan ringan karena memang terlatih baik oleh ibunya semenjak kecil sehingga ia dapat mencapai muka Si Hantu Kelabang, lalu menghantamkan kepalan kanannya ke arah hidung si gundul.

"Punggg !!"

Kembali Purwoko meringis.

Kulit perutnya masih tebal sehingga biarpun ia tidak dapat mengerahkan kekebalan ke arah perut, pukulan bocah itu tidak terasa nyeri.

Akan tetapi hidungnya yang dipukul terasa nyeri juga, apalagi yang terkena adalah tulang muda hidung di ujung.

Seperti akan patah rasanyal Tadi kaki tangannya sama sekali tidak dapat digerakkan ketika bocah itu memukul, dan baru sekarang dapat ia gerakkan ketika ia menggosok-gosok hidungnya dengan mata merah dan mulut pringisan.

"Wah, badanmu baul Tanganku jadi kotorl"

Kata Retna Wilis sambil mengipat-ngipatkan tangan, lalu bocah ini menyambar sepotong kayu pecahan papan dan kembali ia menerjang, kini menggunakan kayu itu, dipukulkan sekenanya bertubi-tubi.

"Plak-plek-prok. !!"

Kasihan sekali Si Hantu Kelabang.

Ia mulai bergidik ketakutan.

Ngeri dia karena setiap kali bocah ini menyerang, tubuhnya tak dapat digerakkan dan hawa sakti di tubuh tak dapat ia kerahkan sehingga ia harus mandah saja dijadikan bulan-bulan gebukan.

Biarpun tidak terlalu sakit, akan tetapi amat memalukan karena para penonton kini bersorak-sorak melihat dia berjingkrakan tidak karuan dihujani gebukan bocah setan itu.

MulaiIah otaknya yang kental mengerti bahwa semua ini adalah perbuatan si kakek petani dan ia bergidik ngeri.

Orang dengan kesaktian seperti itu tadi ia olok-olok dan ia tantang!

Mengerti pula dia bahwa kekalahan Endang Patibroto adalah kekalahan wajar.

"Masih tidak mengaku kalah? Plenggg! Dessss. !"

Retna Wilis meloncat tinggi dan muka Purwoko menjadi korban hantaman dan kini si gundul ini benar-benar merasa tobat.

Muka dan kepalanya mulai mengeluarkan darah karena kulitnya ada yang pecah dihantam potongan papan yang runcing.

"Sudah......... sudah......... tobatt......... aku kalah. '"

Katanya dan baru setelah Purwoko menyatakan tobat, Retna. Wilis menghentikan serangannya dan mundur, berdiri gagah di dekat Ki Datujiwa. Purwoko berdiri terbungkuk di depan kakek sakti itu.

"Siapa......... siapakah gerangan andika."

Ki Datujiwa berkata perlahan.

"Purwoko, kau pandang baik-baik. Lupakah engkau kepadaku? Setelah aku memberi ampun kepadamu di hutan Muria, ternyata engkau kini berani lagi menambah kekacauan dunia. !!"

"Oohhhh......... celaka awakku......... sial dangkalan......... Ki Datujiwa kira-nya......... Walah tobat. !"

Si Hantu Kelabang lalu melompat turun dan lari pergi tanpa pamit.

Kiranya belasan tahun yang lalu, Purwoko ini pernah roboh di tangan Ki Datujiwa ketika melakukan kejahatan dan diampuni kakek sakti ini.

Dalam kesombongannya, tadi ia pangling maka berani ia memandang rendah yang mengakibatkan ia mendapat malu di depan orang banyak.

Larinya Si Hantu Kelabang diikuti oleh perginya para pengikut sayembara dan para penonton karena sesungguhnya sebagian besar di antara mereka tidak jadi memasuki sayembara dan hanya menjadi penonton.

Mereka diantar oleh rombongan anak buah Padepokan Wilis yang dipimpin oleh Limanwilis dan dua orang adiknya.

Di sepanjang perjalanan tiada hentinya mereka .mempercakapkan peristiwa hebat dalam sayembara tanding itu.

Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih lalu dinikahkan beberapa hati kemudian di puncak Wilis.

Upacara pernikahan yang sederhana kalau diingat bahwa yang menikah adalah seorang Pangeran Jenggala, akan tetapi cukup meriah selain dihadiri oleh seluruh anggauta Padepokan Wills, juga dihadiri pula oleh para penduduk di sekitar Wills.

Pula, apakah yang lebih membahagiakan hati sepasang mempelai kecuali pertalian cinta kasih di antara mereka?

Malam itu, setelah mereka hanya berada berdua saja di dalam kamar mempelai, merupakan malam terindah daripada hidup mereka.

Malam pencurahan kasih sayang yang semesra-mesranya, penuh kemurnian, di mana dua hati terlekat menjadi satu, diikat sumpah saling setia sampai mati, senasib sependeritaan suka sama dinikmati, duka sama diderita.

Di malam pengantin ketika sepasang pengantin sedang bermesra-mesraan memadu kasih, dan Retna Wilis sudah tidur nyenyak saking kelelahan setelah sehari berpesta, dan Ki Datujiwa duduk bersamadhi dengan heningnya di dalam kamar yang disediakan untuknya, Endang Patibroto seorang diri menangis di kamarnya.

Ia membenamkan muka di bantal untuk menahan isak tangisnya, dan hanya bantal itu yang menjadi basah kuyup.

Endang Patibroto tidak hanya teringat dan merasa rindu kepada Tejolaksono, juga ia teringat kepada Raden Sindupati.

Teringat akan aib dan penghinaan yang ia derita dari Sindupati baru-baru ini, membuat hatinya hancur dan kini di samping derita merana dan rindu kepada Tejolaksono yang dicintanya, juga dendam dan sakit hati terhadap Sindupati merupakan duri yang menusuk di hatinya.

Ingin ia mencari Sindupati sampai dapat, untuk melaksanakan sumpahnya merobek dada mencabut jantung musuh besarnya.

Akan tetapi setelah Setyaningsih menikah, tentu adik kandungnya itu akan pergi bersama suaminya.

Bagaimana la tega untuk meninggalkan Retna Wills, hanya ditemani Ki Datujiwa?

Ia harus bersabar sampai beberapa tahun lagi, sampai Retna Wills sudah agak dewasa sehingga ia tega untuk meninggalkannya.

"Aduh Kakangmas Tejolaksono "

Berulang-ulang ia mengeluh.

"Si keparat engkau Sindupati......... kau tunggu saja pembalasanku. !"

Ia memaki dan menjadi beringas.

Akan tetapi segera ia menangis kembali, teringat akan nasib ibunya yang malang, teringat akan nasib sendiri, kemudian, melihat kepada Retna Wilis, ia menangis sambil memeluk anaknya itu sampai ia tertidur di samping Retna Wilis.

Pada hari-hari berikutnya, kesedihan hati Endang Patibroto yang disembunyi-sembunyikan agak terhibur melihat betapa adik kandungnya, Setyaningsih, hidup amat mesra dengan Pangeran Panji Sigit.

Mereka berdua itu bagaikan sepasang merpati, tak pernah berpisah, begitu rukun dan amat damai, setiap pandang mata, senyum, kata-kata dan gerak tubuh sepenuhnya diselimuti cinta kasih yang mendalam.

Sampai satu bulan lamanya pengantin baru itu tinggal di puncak Wilis.

Kemudian mereka menghadap Endang Patibroto, menyatakan bahwa mereka hendak pergi ke Jenggala.

Endang Patibroto yang sedang duduk bercengkerama dengan Ki Datujiwa, dihadiri pula oleh Retna Wilis, berdebar jantungnya dan ia berkata.

"Bukankah lebih baik kalian tinggal di sini saja? Aku mendengar bahwa keadaan Jenggala sedang kacau. Pula, menurut penuturanmu sendiri, Adi Pangeran, di sana ramandamu berada dalam cengkeraman selir jahat dan ponggawa-ponggawa tidak jujur. Mengingat pengalaman-mu yang tidak baik dengan selir ramandamu itu, apakah pulangmu ke sana tidak akan mendatangkan hal-hal yang tidak enak?"

"Sesungguhnyalah apa yang dikatakan Ayunda itu, dan memang tepat dan benar sekali,"

Jawab Pangeran Panji Sigit.

"Akan tetapi, setelah saya pikir secara mendalam, bahkan keadaan seburuk itulah yang mengharuskan saya berada di dekat kanjeng rama. Kanjeng rama tentu akan berbahagia sekali kalau melihat bahwa saya telah berjodoh dengan Setyaningsih, adik kandung Ayunda sendiri. Dan saya bersama Adinda Setyaningsih akari berusaha menyadarkan kanjeng rama, dan kalau perlu membela beliau apabila terancam bahaya."

Endang Patibroto menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang.

"Sejak dahulu, keadaan Jenggala sungguh tak dapat dikatakan baik. Alangkah jauh bedanya dengan Panjalu. Adi Pangeran, sang prabu di Panjalu juga masih uwamu sendiri. Apakah tidak lebih baik Adi bersuwita di sana?"

Pangeran Panji Sigit menggeleng kepala.

"Kalau hal-hal itu saya lakukan, berarti seolah-olah saya melarikan diri daripada kesulitan, Ayunda."

Kembali Endang Patibroto menghela napas panjang.

"Aku hanya khawatir. , ah, Eyang Datujiwa, bagaimana baiknya? Mohon petunjuk Eyang."

Endang Patibroto kini telah mengenal siapa adanya Ki Datujiwa dan makin segan serta hormatlah ia terhadap kakek sakti mandraguna ini.

Bahkan ia merasa berbahagia sekali puterinya mendapatkan seorang guru seperti kakek ini yang berarti bahwa kelak puterinya akan menjadi orang yang lebih sakti daripada dia sendiri.

Ki Datujiwa yang selalu diam saja kalau tidak diajak bicara itu lalu berkata dengan suaranya yang tenang dan mendatangkan rasa tenteram di hati.

"Menurut pendapat saya, wawasan Angger Pangeran tadi memang banyak kebenarannya. Angger adalah seorang Pangeran Jenggala, berdarah satria utama, keturunan Sang Sakti Prabu Airlangga. Sudah menjadi kewajiban seorang satria untuk melakukan tridharma bakti, tiga kebaktian utama. Pertama, berbakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa, ke dua berbakti kepada rama ibu, dan ke tiga berbakti kepada negara dan bangsa. Kalau keadaan negara sedang makmur ikut menikmati, akan tetapi kalau negara sedang kacau lalu menjauhkan diri mencari kesenangan dan keselamatan pribadi, itu bukanlah watak seorang satria utama, Angger. Memang, dalam keadaan Kerajaan Jenggala seperti sekarang ini, bukan tidak ada bahayanya kalau Angger berdua pergi ke Jenggala. Akan tetapi, bahaya itu terdapat di mana-mana dan bahaya yang terbesar terdapat dalam pribadi sendiri. Adapun selamat, sakit sampai pun mati sepenuhnya mutlak menjadi wewenang Sang Hyang Widhi. Karena itu Angger, dengan dasar dan iktikad baik, seorang satria tidak akan gentar menghadapi apa pun juga karena biar hidup maupun mati, ia menjadi pengemban kebenaran dan keadilan. Seribu lebih baik tewas sebagai seorang satria daripada hidup sebagai seorang durjana."

ENDANG Patibroto makin tunduk dan yakin bahwa kakek ini bukanlah orang sembarangan, maka ia pun terpaksa merelakan kepergian adik kandungnya, Setyaningsih bersama suaminya.

Segera para anggauta Padepokan Wills mempersiapkan segala perbekalan pengantin baru In!, segala perbekalan untuk dipakai dalam perjalanan.

Dua ekor kuda pilihan yang besar disediakan.

"Paman Pangeran dan Bibi yang baik, Kelak kalau aku sudah tamat belajar kepada Eyang Guru dan sudah dewasa, aku akan menyusul Paman dan Bibi. Aku ingin sekali melihat kerajaanl"

Kata Retna Wills. Setyaningsih memeluk dan menciumi muka keponakannya yang diasuhnya semenjak lahir itu. Ia menitikkan air mata, hal yang jarang sekali terjadi pada diri Setyaningsih.

"Iihhh, kenapa Bibi menangis? Apakah tidak girang pergi bersama Paman Pangeran?"

Pertanyaan ini memancing keluar leblh banyak air mata lagi. Melihat ini, Endang Patibroto yang tidak suka kalau puterinya kelak juga menjadi seorang yang cengeng cepat berkata.

"Bibimu menangis karena girang, Retna. Sudahlah, Ningsih, ada waktunya berkumpul tentu ada waktu untuk berpisah. Ada saat berpisah tentu disusul pula saat pertemuan kembali. Berangkatlah dengan hati lapang, adlkku sayang, karena engkau pergi mengikuti suamimu. Itulah kewajiban pertama bagi seorang isteri."

Demikian Endang Patibroto berkata menghibur.

Akan tetapi Setyaningsih yang sudah menganggap ayundanya ini seperti lbunya sendiri, yang dicintanya sepenuh hati, menjadi makin terharu dan menubruk ayundanya, berlutut merangkul kaki dan menangis.

"Ayunda Endang......... selamat tinggal......... semoga kita dapat cepat berkumpul kembali, Ayunda."

Melihat keadaan isterinya ini, dengan penuh kasih sayang Pangeran Panji Sigit lalu merangkulnya, mengangkatnya bangun lalu menuntunnya ke tempat di mana dua ekor kuda mereka sudah menunggu.

Kemudian mereka lalu melompat ke atas punggung kuda dan berangkatlah suami isteri ini, diikuti pandang mata sayu dari Endang Patibroto, sinar mata bersinar-sinar dari Retna Wills, dan pandang mata melamun dari Ki Datujiwa.

Beberapa kali Setyaningsih menengok dan melambaikan tangan, dibalas oleh tiga orang ini yang terus berdiri memandang sampai bayangan kedua suami isteri itu lenyap di sebuah tikungan.

-oo0dw0oo-Sudah terlalu lama kita meninggalkan Bagus Seta yang kelak akan menjadi tokoh terpenting di samping Retna Wills dalam cerita ini.

Seperti telah kita ketahui, ketika berusia sepuluh tahun, Bagus Seta dibawa oleh Ki Tunggaljiwa, atau lebih tepat, anak itu yang datang naik di punggung Sardulo pethak, menemui Ki Tunggaljiwa dan diangkat sebagai muridnya.

Telah dicerltakan pula betapa ramandanya, Adipati Tejolaksono dan isterinya, Ayu Candra, menyusul ke Gunung Merapi di mana Bagus Seta yang berusia sepuluh tahun itu digembleng oleh KI Tunggaljiwa.

Akan tetapi akhirnya Tejolaksono dan isterinya merelakan puteranya menjadi murid sang pertapa sakti untuk digembleng selama lima tahun!

Waktu berjalan dengan amat cepatnya dan Bagus Seta yang berdarah satria perkasa itu berlatih dengan penuh ketekunan.

Memang hebat latihan yang diberikan oleh Ki Tunggaljiwa.

Tidak hanya berendam air dingin dan kadang-kadang air panas sampai semalam suntuk, juga anak ini dilatih bersamadhi dan berpuasa sampai berhari-hari lamanya.

Kadang-kadang disuruh mainkan jurus-jurus gerak sIlat yang telah ia pelajarl dari ayahnya.

Ternyata Ki Tunggaljiwa mengenal belaka semua jurus ilmu itu dan mulaIlah memberi petunjuk-petunjuk sehingga cepat sekali ilmu silat Bagus Seta meningkat.

Tubuh anak ini menjadi kuat sekali, dan gerakannya cepat ringan mengagumkan.

Temannya berlatih adalah harlmau putih yang sesungguhnya jauh berbeda dengan harimau-harimau biasa.

Harimau ini terlatih melalui aji kesaktian Ki Tunggaljiwa sehingga memiliki kecerdikan luar biasa seperti manusia.

Sungguhpun akal budinya seperti manusia tidak ada, namun Sardulo pethak mempunyai kelebihan daripada manusia, yaitu nalurinya yang amat kuat.

Sampai tiga empat tahun kemudian, biarpun dalam latihan akhirnya Bagus Seta dapat menangkan harimau itu, namun ia harus mengerahkan tenaga dan kepandaiannya, dan setelah berkali-kali memukul mendorong dan membanting ia baru dapat menundukkannya.

Akan tetapi ia sendiripun lecet-lecet dan napasnya terengah-engah, peluhnya membasahi seluruh tubuh.

Baru setelah genap lima tahun, ia benar-benar dapat menundukkan Sardulopethak tanpa banyak sukar lagi.

Kini Bagus Seta telah berusia lima belas tahun, telah menjadi seorang pemuda tanggung yang bertubuh tegap, bahunya bidang, dadanya menonjol membayangkan tenaga dahsyat, wajahnya tampan dan pandang matanya seperti dapat menembus dada orang.

Namun sikapnya lemah lembut, bahkan gerak-geriknya kelihatan lamban, tidak tampak ketangkasannya di waktu biasa.

Namun, kalau orang menyaksikan dia berlaga dalam latihan menghadapi Sardulo-pethak, orang akan kagum dibuatnya.

Pagi hati itu, terdengar suara Sardulo-pethak mengaum-aum, menggetarkan puncak Merapi.

Beginilah kalau harimau itu sedang bersemangat dan bergembira dan biasanya hal itu terjadi kalau dia sedang bergurau atau berlatih dengan Bagus Seta.

Pagi hari itupun Bagus Seta mengajaknya bertanding dalam latihan.

Pemuda remaja dan harimau itu sudah berdiri berhadapan di lapangan rumput di bawah puncak.

"Paman Sardulo, kemarin dulu aku mengalahkanmu dalam sepuluh jurus. Kini aku telah menemukan akal yang baik sekali dan kurasa aku akan dapat membuatmu tidak berdaya kurang dari sepuluh jurus!"

Harimau Itu sudah biasa dlajak bercakap-cakap oleh Bagus Seta.

Entah dia mengerti atau tidak, hal ini tak pernah dapat dibuktikan.

Akan tetapi begItu mendengar ucapan Bagus Seta, ia lalu mengaum berkali-kali seperti menantang atau mentertawakan ucapan Bagus Seta yang hendak menundukkannya kurang dari sepuluh jurus!

Bagus Seta yang sudah lima tahun setiap hati bergaul dengan harimau ini dapat membedakan auman marah, senang, atau bahkan mengejek mentertawakan.

Maka ia lalu memasang kuda-kuda, kedua kakinya terpentang lebar, tubuhnya agak merendah dengan kedua lutut ditekuk, kedua lengannya dikembangkan dengan jari-jari tangan terbuka, lalu ia berkata.

"Kau mentertawakan dan tidak percaya, Paman Sardulo? Hayo kita mulai! Awas jurus pertama!"

Setelah berkata demikian, tubuh Bagus Seta menubruk ke depan.

Sardulopethak itu adalah seekor harimau yang lain daripada harimau biasa, memiliki kecerdikan dan mendekati kecerdikan manusia.

Setelah lima tahun menjadi kawan berlatih Bagus Seta, apalagi setelah akhir-akhir ini ia selalu dikalahkan, harimau putih inl maklum bahwa kalau dia yang menubruk dan menyerang, dia akan dapat dirobohkan dengan mudah.

Tentu saja ia tidak tahu dan tidak mengerti mengapa bisa demikian.

Dia tidak tahu bahwa dalam setiap penyerangan, berarti membuka kelemahan pertahanan sendiri.

Dia hanya tahu karena pengalaman kalah berkali-kali dan kekalahan ini selalu terjadi karena dia terlalu bernafsu menyerang.

Maka akhir-akhir ini ia tidak lagi mau menyerang, hanya menanti serangan dan memusatkan perhatian pada pertahanan.

Bagus Seta tentu saja tahu akan siasat harimau itu, maka ia pun tidak mau ragu-ragu lagi untuk menerjang.

Terjangannya dahsyat sekali.

Melihat perawakannya, Bagus Seta yang berusia lima betas tahun itu tidaklah dapat disebut tinggi besar.

Perawakannya sedang saja, bahkan kulit lengannya halus, kelihatannya lemah lembut.

Namun di bawah kulit itu tersembunyi hawa sakti yang dapat menciptakan tenaga dahsyat dan mujijat akibat gemblengan Ki Tunggaljiwa yang sakti mandraguna.

Kulit yang halus itu memiliki kekebalan luar biasa, tidak dapat tergores kuku cakar harimau.

Daging di bawah kulit dapat mengeras seperti baja, tidak mempan gigitan taring harimau.

Biasanya, kalau menyerang Sardulo-pethak, Bagus Seta mempergunakan aji pukulan dan tendangan, namun tubuh harimau itu pun sudah kebal dan kuat sekali sehingga dalam latihan biasa, setelah sepuluh jurus baru ia membuat harimau putih itu roboh dan kalah.

Ketika Bagus Seta menerjang maju, Sardulo-pethak menggereng dan berdiri di atas kedua kaki belakang.

Cakarnya dengan kuku-kuku meruncing itu segera bergerak ke depan, tidak hanya untuk menangkis pukulan Bagus Seta, melainkan terutama sekali untuk mencengkeram ke arah dada.

Kalau saja ia berhasil mencakar robek baju lawan, hal ini sudah merupakan sebagian kemenangan baginya.

Mulutnya sudah dibuka lebar dan siap menggigit pundak atau leher.

Kalau hal ini dapat dilakukan, ia dapat menekan tubuh lawan itu ke bawah, menindih dengan berat tubuhnya, mencengkeram dan menggigit sehingga Bagus Seta takkan dapat bangun kembali!

Terdengar Sardulo-pethak mengaum penuh kegirangan.

Tidak seperti biasanya, menggunakan kecepatan gerak tubuh pemuda itu menghindar, kali ini malah Bagus Seta menerima tangkisan dan cakaran lawan, kemudian kakinya terpeleset dan tubuhnya roboh terlentang di depan Sardulo-pethak.

Harimau itu mengaum gembira dan cepat menubruk untuk menindih tubuh kawan yang menjadi lawan berlatih.

Kalau saja ia dapat bicara, tentu ia bersorak karena kemenangan yang sudah membayang di depan mata ini.

Akan tetapi, biarpun tubuhnya sedang rebah terlentang, gerakan Bagus Seta lebih cepat lagi.

Tiba-tiba si harimau kehilangan lawannya yang bagaikan seekor belut telah melesat melalui bawah perutnya.

Ketika Sardulo Pethak yang kebingungan itu membalikkan tubuh, ia sudah terlambat.

Bagus Seta kini sudah menubruk dari belakang, memiting leher-nya dengan kedua lengan dengan erat sekali, melekat seperti seekor lintah menempel di punggung kerbau.

Sardulo Pethak mengeluarkan gerengan yang menggetarkan lembah gunung.

Gerengan ini hebat bukan main, sampai semua binatang di hutan-hutan daerah Merapi lari ketakutan, harimau-harimau menyembunyikan diri tak berani berkutik, burung-burung yang sedang berteduh di pohon-pohon terbang kacau-balau dan ketakutan.

Harimau putih ini berusaha menghempaskan tubuh yang menempel di punggungnya itu, menggerak-gerakkan kepala ke kanan kiri dalam usahanyamenggigit muka lawan.

Akan tetapi Bagus Seta memiting kuat-kuat dan kepalanya sendiri menempel di belakang telinga Sardulo Pethak Kedua kakinya tergantung di kanan kiri perut harimau.

Betapapun harimau itu berusaha untuk melepaskan diri dari pitingan, Bagus Seta tak pernah mengendurkan kempitannya, bahkan memperhebat pitingan, memperkuat tenaga sampai harimau itu terengah-engah karena lehernya terjepit.

Akhirnya, setelah Bagus Seta mengerahkan aji kekuatannya, harimau itu tidak kuat bertahan lagi dan roboh miring, terus ditunggangi Bagus Seta, dipiting dan tidak dapat berkutik lagi.

"Nah, apa kataku, Paman Sardulo? Aku dapat menjatuhkanmu dalam satu dua jurus. Tidak percayakah Paman sekarang?"

Tanya Bagus Seta sambil melepaskan pitingan dan meloncat bangun dengan wajah berseri.

Harimau putih itu bangkit dan menengadahkan kepalanya, mengaum dengan suara panjang.

Bagus Seta yang sudah dapat membedakan suara harimau itu lalu merangkulnya dan menempelkan pipinya di dekat telinga harimau yang disayangnya.

"Ah, Paman Sardulo, kau merasa sudah tua? Tidak, Paman. Aku dapat mengalahkanmu berkat latihan yang berkali-kali bersamamu, berkat bantuanmu! Kalau melawan lawan lain, ahhh, tidak banyak lawan akan dapat mengalahkan-mu, Paman Sardulo."

Harimau itu menggereng dan Bagus Seta menjadi kaget. Inilah gerengan tanda marah! la mempererat rangkulannya dan berkata penuh sesal.

"Ah, engkau marah kepadaku karena kekalahan dalam dua jurus, Paman? Benarkah Paman bisa marah kepadaku. ?"

Akan tetapi ketika ia memandang, ternyata harimau itu telah berdiri dan pandang mata ,harimau itu sama sekali tidak ditujukan kepadanya, melainkan ke arah kiri.

Ia menoleh dan bulu tengkuknya berdiri karena ngeri.

Di situ,hanya tiga empat meter jauhnya, tahu-tahu telah berdiri tiga orang.

Kedatangan mereka itu begitu tiba-tiba seperti setan saja sehingga telinganya yang terlatih sama sekali tidak dapat menangkap kedatangan mereka.

Apalagi ketika ia mengenal dua orang di antara mereka bertiga itu adalah Sang Biku Janapati dan Sang Wasi Bagaspati, ia menjadi khawatir sekali.

Dua orang ini bukanlah sahabat, melainkan orang-orang yang pernah datang dan menantang gurunya, Ki Tunggaljiwa.

Akan tetapi melihat yang ke tiga, ia makin ngeri.

Orang ini adalah seorang nenek yang hanya bentuk tubuhnya saja dapat dikenal sebagai seorang manusia, atau lebih tepat sebagai seorang wanita tua bertubuh tinggi kurus, masih tegak, pakaiannya serba hitam dan lengannya memakai gelang emas.

Kulitnya yang sudah keriputan itu masih berwarna putih bersih, pakaiannya bersih dan rapi.

Akan tetapi mukanya sukar dikenal karena muka ini terlindung oleh sinar atau uap hitam, sehingga kepala dan muka itu hanya kelihatan bayangan saja, bayangan seorang wanita tua yang usianya sudah seratus tahun lebih, namun masih jelas tampak raut wajah yang cantik!

Dari pribadi wanita tua ini keluar getaran wibawa yang amat luar biasa, yang membuat harimau putih menggereng-gereng marah dan gentar, dan yang membuat bulu tengkuk Bagus Seta berdiri!

Tiba-tiba Sardulo Pethak mengeluarkan guman seperti orang menjerit dan tubuh yang besar dan kuat itu melompat maju menubruk ke arah nenek yang mengerikan itu.

"Paman Sardulo..........! Jangan !"

Bagus Seta berseru akan tetapi terlambat sudah.

Terdengar suara terkekeh nyaring disusul gerengan Sardulo Pethak yang tiba-tiba saja terbanting dari tengah udara sebelum mampu menyentuh nenek itu.

Bagus Seta hanya melihat nenek itu menudingkan telunjuk kiri ke arah Sardulo Pethak dan harimau putih itu terbanting dari tengah udara, roboh di atas tanah dan tak dapat bangkit kembali!

"Paman Sardulo.!"

Ia menubruk harimau itu dan alangkah kagetnya mendapat kenyataan bahwa harimau putih itu sudah tidak bernapas lagi, dari mulut, hidung, telinga dan matanya mengalir darah menghitam!

Harimau itu telah tewas secara aneh.

Dengan hati penuh kedukaan dan kemarahan, Bagus Seta bangkit berdiri perlahan-lahan, memandang ke arah nenek itu.

Ia cukup terlatih dan dapat menekan perasaannya, namun mengingat akan kematian harimau yang dianggapnya sebagai keluarga sendiri, hatinya terasa sakit sekali.

"Andika......... kejam sekali. Apakah dosanya Paman Sardulo maka andika tega menurunkan tangan maut dan merenggut nyawanya?"

Akan tetapi nenek itu hanya memperdengarkan suara tertawa perlahan dan berdiri diam tak bergerak seperti patung.

Bagus Seta berusaha mengerahkan tenaga batinnya untuk menembus uap hitam yang menutupi wajah nenek itu, namun tak berhasil, bahkan jantungnya berdebar seperti terkena pengaruh mujijat yang amat berwibawa.

Betapapun juga, pemuda remaja ini adalah keturunan satria utama dan murid seorang sakti mandraguna, maka pengaruh mujijat itu tidak membuatnya menjadi gentar.

Sebaliknya, ia menduga bahwa nenek ini tentulah seorang tokoh yang jahat seperti iblis, lebih jahat daripada dua orang kakek yang pernah memusuhi gurunya dan yang kini berdiri sambil tersenyum lebar.

Maka ia lalu melangkah maju dan berkata dengan suara nyaring.

"Boleh jadi andika seorang tokoh yang ternama dan memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa, namun perbuatan andika membunuh paman Sardulo yang tidak berdosa memaksa saya memberanikan diri untuk membalas. Jagalah seranganku!"

Setelah berkata demikian, Bagus Seta mengerahkan semua aji kekuatan tubuhnya, lalu mengayun tubuh ke depan dengan Aji Bayu Tantra.

Selama belajar kepada Ki Tunggaljiwa, dia hanya melatih semua ilmu yang ia pelajari dari ayahnya, dan gurunya ini hanya menyempurnakan latihan-latihannya di samping "mengisi"

Tubuhnya dengan gemblengan untuk mendapatkan hawa sakti yang kuat.

Karena itu, loncatannya ke depan amat cepatnya bagaikan gerakan seekor burung garuda, dan ketika kedua tangannya bergerak menampar dengan Aji Pethit Nogo, terdengar bersiutnya angin pukulan yang amat dahsyat.

Namun nenek itu sama sekali tidak bergerak, bahkan menangkispun tidak.

Masih untung bagi Bagus Seta, karena kalau nenek itu menggerakkan tangannya sedikit saja, seperti halnya ketika menghadapi Sardulo-pethak tadi, tentu tubuh Bagus Seta akan roboh tak bernyawa pula!

Klni nenek itu tidak menangkis, tidak mengelak dan terjangan Bagus Seta agaknya akan mengenai sasaran.

Melihat lawan tidak membela diri, sifat satria timbul dan pemuda remaja itu cepat-cepat merubah sasaran pukulannya.

Kalau tadinya jari tangan kiri menampar pelipis dan jari tangan kanan menusuk leher, kini kedua tangannya hanya menampar ke arah kedua pundak lawan yang sama sekali tidak membela diri itu.

Sifat satria inilah yang sesungguhnya menolong nyawa Bagus Seta.

Kalau ia teruskan serangan mautnya, tentu lawannya yang aneh itu akan membalas.

Akan tetapi melihat pemuda remaja itu merubah sasaran, nenek itu mengeluarkan suara mendengus aneh dan tiba-tiba Bagus Seta mengeluh, tubuhnya seperti membentur dinding baja, kedua tangan yang menampar tadi bertemu dengan uap hitam, membalik dan membuatnya terpelanting roboh di samping mayat harimau putih!

Kepala terasa pening dan matanya berkunang.

Bagus Seta menggoyang-goyang kepalanya dan hatinya girang ketika akhirnya peningnya hilang dan ia melihat Ki Tunggaljiwa telah berdiri di situ dengan sikapnya yang tenang!

Ia bangkit berdiri dan mundur, tidak berani sembarangan mengeluarkan kata-kata karena maklum bahwa gurunya menghadapi orang-orang yang berilmu tinggi dan yang menurut firasat hatinya datang bukan dengan maksud yang bersih.

Sejenak Ki Tunggaljiwa memandang ke arah muridnya dengan penuh perhatian, kemudian menunduk dan memandang mayat Sardulo Pethak, lalu menarik napas panjang dan berkata sambil memandang Biku Janapati dan Wasi Bagaspati,-"Andika berdua, terutama Sang Wasi Bagaspati, telah menyebar malapetaka di antara rakyat jelata.

Masih tidak puaskah nafsu itu?

Kini andika datang ke tempat yang tenteram ini, menyebar maut kepada seekor harimau.

Apakah sesungguhnya yang tersembunyi di balik perbuatan keji ini?"

"Ha-ha-ha-ha! Ki Tunggaljiwa, sampai sekarang engkau masih bersikap sombong! Kalau mau tahu tentang kematian harimau ini, kau tanyalah saja sendiri kepada dia yang melakukannya, kalau saja matamu masih saja buta untuk tidak mengenal siapa adanya tokoh yang kini berkenan hadir di hadapanmu!"

Wasi Bagaspati menuding dengan ibu jarinya ke arah nenek yang berselimutkan uap hitam di depan mukanya itu.

Uap atau sinar hitam itu seolah-olah selalu keluar dari bagian atas tubuhnya dan hawa di sekitarnya menjadi panas, padahal hawa udara di puncak itu amatlah dinginnya.

Ki Tunggaljiwa bukan seorang yang sempit pandangan.

Bahkan ia sudah dapat menduga siapa adanya tokoh ini, namun dia sekali-kali bukan seorang sombong seperti yang dikatakan Wasi Bagaspati.

Bahkan sebaliknya.

Kalau dia tidak menyatakan kenal, hal ini sudah membuktikan kerendahan hatinya yang tidak hendak menonjolkan kewaspadaannya yang membuat ia seolah-olah dapat melihat segala peristiwa di dunia ini.

Kini setelah Wasi Bagaspati mengalihkan perhatiannya kepada nenek itu, ia lalu mengangkat kedua tangan, dirangkap seperti sembah depan dada, sambil membungkuk ia berkata.

"Sadhu-sadhu-sadhu, mohon maaf kiranya apabila saya yang lebih muda tidak menyambut andika seorang yang lebih tua sebagaimana mestinya. Sebutan saya Ki Tunggaljiwa dan sudah seringkali saya mendengar nama besar Nini Bumigarba yang dulu terkenal sebagai Sang Dewi Sarilangking. Namun karena belum pernah mendapatkan kehormatan bertemu muka, maafkan kalau saya keliru menduga. Benarkah andika yang bernama Nini Bumigarba?"

Tubuh nenek itu bergerak sedikit dan terdengar suaranya, halus melengking dan aneh.

Bagus Seta yang menonton dengan mata terbelalak mendengar suara nenek Itu seolah-olah datang dari atas, dari mendung hitam di angkasa "Tunggaljiwa, andika bukan anak kecil, dan kita sama-sama tahu akan rahasia perputaran segala peristiwa di dunia, yang lampau maupun yang akan datang.

Akan tetapi berkali-kali andika menentang kehendak alam, mengandalkan sedikit kesaktian yang andika miliki.

Apakah andika merasa lebih kuasa dan sakti daripada alam?"

"Sadhu Semua dewata menjadi saksi! Saya yang picik dan kecil ini, bagaimana berani menentang kehendak alam? Nini Bumigarba, harap andika jelaskan, bilamana, di mana, dan bagaimana saya menentang kehendak alam?"

Terdengar kekeh tawa nyaring dan merdu seperti suara ketawa wanita muda remaja, disambung kata-kata yang dingin suaranya namun panas isinya.

"Tunggaljiwa, andika berhadapan dengan aku yang tahu akan segala hal. Menyangkal dan berpura-pura tiada gunanya. Di jaman Mataram dan Kahuripan dahulu, engkau sudah berfihak, membela orang-orang Mataram. Kini, kau pun tidak buta dan tentu sudah dapat melihat masa depan bahwa keutuhan Kerajaan Panjalu dan Jenggala tidak dapat dipertahankan lagi. Biku Janapati dan Wasi Bagaspati hanya membantu pelaksanaan kehendak alam, mempercepat runtuhnya kerajaan-kerajaan itu, terutama Jenggala, akan tetapi kembali andika turun tangan menentang dan membela keturunan Mataram, padahal sudah tahu bahwa alam menghendaki runtuhnya kerajaan itu. Bukankah itu berarti menentang kehendak alam yang menjadi kehendak para dewara pula?"

Ki Tunggaljiwa tersenyum dan mengelus jenggotnya.

"Sadhu-sadhu-sadhu "

"Maaf, Nini Bumigarba, kalau saya berani mengatakan bahwa andikalah orangnya yang menentang kehendak Sang Hyang Widhi! Kewaspadaan mata batin adalah anugerah Sang Hyang Widhi, dan sekalikali bukan dipergunakan untuk mendahului kehendak alam! Betapapun pandainya manusia, takkan dapat merubah kehendak alam! Betapapun pandainya manusia, dia tidak berhak untuk mencampuri rahasia Sang Hyang Widhi. Manusia mempunyai tugas kewajibannya sendiri, yaitu bertindak sesuai dengan kebajikan, menjauhkan kejahatan dan kemaksiatan. Adapun yang menjadi kehendak Hyang Widhi, baik maupun buruk bagi yang menerimanya, haruslah diterima dengan penuh kesadaran bahwa segala kehendak Hyang Widhi akan terjadi! Saya selalu bertindak menurutkan hukum-hukum peri-kemanusiaan, tidak mencampuri kehendak alam, tidak menentang tidak membantu. Orang-orang dari Sriwijaya dan Cola, bukan sekali-kali membantu pelaksanaan kehendak alam seperti yang andika katakan, melainkan bertindak untuk menurutkan dorongan nafsu duniawi, nafsu aluamah angkara murka, mengejar kesenangan pribadi. Namun semua itu termasuk kehendak Sang Hyang Widhi pula, juga kematian-kematian yang disebar orang-orang itu telah dikehendaki Hyang Widhi. Kalau Sang Hyang Widhi tidak menghendaki, jangankan membunuh orang lain, menyedot napas sendiripun tidak mungkin dapat dilakukan Sang Biku Janapati maupun Sang Wasi Bagaspati."

"Ihhhh I Manusia sombong engkau, Ki Tunggaljiwa! Manusia adalah pembantu utama dari para dewata! Kalau aku menghendaki, bocah bagus ini tadi sudah kubikin mampus! Sebaliknya kalau aku tidak menghendaki, bagaimana harimau putih itu bisa mati?"

"Nini Bumigarba, sayang sekali bahwa terpaksa saya berlancang mulut. Yang sombong bukanlah saya. Andika hanya menjadi lantaran kematian Sardulo Pethak, akan tetapi, kalau Sang Hyang Widhi tidak menghendaki, jangankan membunuh Sardulo Pethak, menggerakka jari tanganmu saja andika tidak mampu. Kalau muridku Bagus Seta ini tadi tidak tewas di tanganmu, itupun atas kehenda Hyang Widhi!"

"Babo-babo! Apakah engkau hendak mengatakan bahwa aku tidak akan dapat membunuhmu, Ki Tunggaljiwa?"

Bentak Wanita tua yang luar biasa itu Ki Tunggaljiwa tetap tersenyum tenang dan menggeleng-geleng kepalanya.

Bagus Seta makin sayang dan kagum menyaksikan sikap gurunya dan mendengar ucapan-ucapannya yang ia anggap jauh lebih bijaksana daripada ucapan Nini Bumigarba yang sombong itu.

Sepasang mata Ki Tunggaljiwa mengeluarkan sinar terang ketika ia memandang wajah Nini Bumigarba yang tertutup uap hitam, kemudian suaranya terdengar tegas.

"Saya sudah mendengar akan kesaktian andika yang sudah mencapai tingkat yang sukar diukur kepandaian manusia, dan saya mengerti bahwa saya bukanlah tandingan andika. Akan tetapi, jangan mengira bahwa saya takut akan ancaman andika, karena saya merasa yakin bahwa apabila Sang Hyang Widhi tidak menghendaki, andika pasti tidak akan dapat membunuhku, Nini Bumigarba. Andaikata saya terbunuh olehmu, hal ini hanya terjadi atas kehendak Sang Hyang Widhi!"

"Hi-hi-hik! Hendak kulihat sampal di mana kepandaianmu!"

Kata Nini Bumigarba dan tiba-tiba wanita tua itu menggerakkan tangan kanannya, dengan jari-jari terbuka menampar ke bawah, ke arah tanah di depannya.

"Pyaarrr. I"

Terdengar suara nyaring dan.........

tanah di depannya itu seperti kayu terbakar, mengeluarkan asap menghitam.

Sambil berdiri, Nini Bumigarba miringkan tangan di depan dada, melakukan gerakan mendorong.

Asap hitam dari tanah itu seperti tertiup angin, bergerak ke arah Ki Tunggaljiwa!

"Sadhu-sadhu-sadhu !"

Ki Tunggaljiwa maklum akan kehebatan dan kedahsyatan ilmu nenek tua ini, maka cepat la menjatuhkan diri bersila di atas tanah, lalu mengerahkan seluruh tenaga batin dan hawa saktinya, melakukan gerakan mendorong ke depan dengan kedua tangan terbuka.

Asap hItam yang tadinya bergerak ke arahnya itu kini tertahan dan berputaran.

Terjadilah adu tenaga sakti yang amat hebat, ditonton oleh Bagus Seta yang berusaha bersikap tenang sambil menekan guncangan perasaan hatinya karena ia maklum bahwa gurunya berjuang mati-matIan sekali ini.

Sang Biku Janapati dan Sang Wasi Bagaspati juga menonton dengan kening berkerut, diam-diam mereka mengharapkan kematIan Ki Tunggaljiwa yang merupakan penghalang bagi cita-cita mereka.

Akan tetapi betapapun Ki Tunggaljiwa mengerahkan tenaga, kedahsyatan nenek itu sungguh jauh melampaui kekuatannya.

Nenek itu bukanlah manusia biasa, dan pada dewasa itu, kiranya sudah mencapai tingkat tertinggi dalam ilmu aji kepandaian.

Biasanya, nenek ini tidak pernah menampakkan diri di dunia ramai, dan munculnya nenek ini merupakan pertanda bahwa memang akan terjadi kegemparan.

Asap hitam itu masih berputar-putar, di tengah-tengah antara kedua orang sakti itu, namun lambat laun, perlahan akan tetapi pasti, asap itu mulai bergerak mendorong ke arah Ki Tunggaljiwa.

Bagus Seta memandang dengan mata terbelalak.

Sungguhpun tingkat ilmu yang dipelajarinya belum sedemikian tingginya, namun dia yang tergembleng aji kesaktian sejak kecil, maklum atau dapat menduga apa artinya mendoyongnya asap hitam ke arah gurunya.

Tak terasa lagi kaklnya melangkah tIga kali, mendekat di belakang gurunya dan memandang dengan mata terbelalak, wajahnya pucat.

Kini asap itu sudah makin dekat dengan Ki Tunggaljiwa yang masih duduk bersila, kedua tangannya terjulur ke depan dengan jari tangan terbuka, matanya tajam memandang lawan, sedikitpun tidak tampak gentar, bibir yang tersembunyi di balik kumis dan jenggot masih tersenyum, seolah-olah kakek ini melihat datangnya cengkeraman maut sebagai satu hal yang wajar dan tidak aneh.

"Aiihhh…!"

Terdengar Nini Bumigarba berseru, tangan kanannya bergerak dan menggetar keras.

Kini asap itu makin cepat bergerak, seperti mendung tertiup angin menghampiri Ki Tunggaljiwa.

Mula-mula asap hitam itu menyentuh ujung jari tangan Ki Tunggaljiwa dan seketika ujung jari-jari tangan kakek itu menjadi hitam!

Makin dekat asap itu menghampiri Ki Tunggaljiwa, makin banyak pula bagian lengannya menjadi hitam.

Ki Tunggaljlwa tetap tenang, menanti datangnya maut.

Kedua lengannya kini sudah menjadl hitam semua, dijalari hawa beracun yang hebat.

Kini dada dan mukanya tersentuh, juga lututnya yang kesemuanya menjadi hitam, dan akhirnya, tak lama kemudian, tubuh Ki Tunggaljiwa telah menjadi hitam semua.

Namun kakek itu masih duduk bersila, seperti telah berubah menjadi sebuah arca yang terpahat dari batu hitam!

"Nenek jahat!

Perbuatanmu sungguh keji di luar batas perikemanusiaan!"

Bentak Bagus Seta yang sudah melompat maju di samping gurunya dan mengerahkan tenaga, menerjang dengan lompatan Bayu Tantra hendak menggunakan pukulan dengan Ali Pethit Nogo yang ampuh.

Akan tetapi begitu ia menerjang asap hitam, tubuhnya seperti terbakar rasanya dan ia roboh terguling.

Asap hitam itu menggulung-gulungnya diiringi suara gelak tawa Sang Wasi Bagaspati dan sebentar saja tubuh Bagus Seta juga menjadi hitam semua.

Pemuda remaja ini seperti cacing terkena abu, seluruh tubuhnya panas dan kepalanya pening.

Hanya dengan tekat luar biasa saja ia berhasil bangkit duduk bersila, kemudian tubuhnya menjadi kaku dan panasnya makIn tak tertahankan.

"Hi-hik, Ki Tunggaljiwa. Katakan sekarang apakah Sang Hyang Widhi tidak menghendaki andika mati ditanganku."

Pada saat itu,terdengar suara melengking halus, dibarengi datangnya angin bertiup dari arah kanan Ki Tunggaljiwa.

Angin yang membawa datang hawa dingin, lalu tampak ampak-ampak (halimun) putih berarak.

Ketika halImun ini nyentuh tubuh Ki Tunggaljiwa dari kanan, bagian tubuh yang tersentuh lalu berubah menjadI bersih kembali.

Halimun putIh itu terus bergerak dan perlahan-lahan tubuh Ki Tunggaljiwa dan Bagus Seta yang tersentuh uap putih itu menjadI bersih daripada warna hitam!

Nini Bumigarba dan kedua orang kawannya memandang dengan mata terbelalak.

Ki Tunggaljiwa yang masih duduk bersila itu lalu tersenyum dan berkata.

"Kehendak Sang Hyang Widhi takkan dapat diubah oleh siapapun juga, Nini Bumigarba. Apalagi andika, para dewata sekalipun tidak kuasa mengubahnya. Buktinya, Sang Hyang Wldhi belummenghendaki saya dan Bagus Seta mati, maka pada saat terakhir kami berdua terbebas daripada bencana maut dengan hadirnya seorang manusia yang maha sakti!"

Setelah berkata demikian, Ki Tunggaljiwa memutar tubuh ke kanan lalu menyembah.

Bagus Seta mencontoh perbuatan gurunya, menyembah ke arah kanan.

Adapun Nini Bumigarba, Biku Janapati dan Wasi Bagaspati juga telah memandang ke jurusan itu.

Akan tetapi tidak ada seorangpun manusia tampak.

Betapa-pun juga, tiba-tiba Nini Bumigarba mengeluarkan seruan tertahan ketika hawa yang dingin mengusap wajahnya, mendesak dan medorong hawa panas yang keluar dari tubuhnya sebagai akibat pengerahan aji kesaktiannya tadi.

Kalau saja orang dapat menembus kabut uap hitan, yang menyelimuti nenek ini, tentu akan melihat betapa nenek ini membelalakkan mata dan wajahnya berubah pucat, bibirnya yang sudah keriputan namun masIh membayangkan bentuk yang cantik itu kin!

menggigil seperti orang menahan tangis, dan terdengar bisikannya penuh kekecewaan.

"Engkau......... engkau masih tidak suka mengalah kepadaku. ?"

Bisikan ini bercampur dengan isak dan tubuh nenek itu membalik, kemudian pergi dari situ dengan langkah gontai.

Melihat ini, Biku Janapatl dan Wasi Bagaspati menjadi gentar.

Mereka tidak melihat siapa-siapa, tidak tahu siapa yang telah menolong Ki Tunggaljiwa, akan tetapi jelas bahwa Nini Bumigarba sendiri agaknya gentar menghadapi lawan ini.

Mereka menarik napas panjang, lalu pergi pula mengejar Nini Bumigarba.

Setelah tiga orang itu pergi, dari dalam halimun putih itu muncul keluar seorang kakek, atau lebih tepat lagi, halimun putih itu menipis seperti tirai diangkat dan tampaklah ujud seorang kakek tua renta berdiri di situ.

Ketika Bagus Seta mengangkat muka memandang, ternyata kakek inipun terselimuti wajahnya seperti halnya Nini Bumigarba tadi, hanya bedanya kalau muka nenek itu terselimut uap hitam, kakek ini wajahnya terbungkus uap putIh.

"Duh Eyang Bhagawan. sungguh besar kebahagiaan yang dilimpahkan para dewata kepada hamba sehingga saat ini hamba dapat bertemu dengan Eyang Bhagawan!"

Terdengar Ki Tunggaljiwa berkata sambil menyembah.

Mendengar ini, Bagus seta tercengang.

Gurunya adalah seorang kakek yang sudah amat tua, sukar ditaksir berapa usianya.

Akan tetapi gurunya masih menyebut kakek luar blasa yang datang ini sebagai Eyang Bhagawan!

"Baik sekali, Tunggaljiwa.

Andika telah memperoIeh kemajuan dan tidak menyeleweng daripada garis yang lurus.

Aku datang karena berjodoh dengan muridmu ini yang kelak akan menggantikan dan mewakili kita memberslhkan anasir-anasir sesat dari Nusantara."

"Aahhhhh !"

Sukar ditaksir apa arti seruan yang keluar dari dada Ki TunggaljIwa ini.

MungkIn saking kaget dan herannya, atau saking girangnya, namun yang sudah pasti kakek ini cepat-cepat memegang lengan muridnya dan berbisik.

"Kulup, lekas menghaturkan terima kasih kepada Eyang Guru!"

Namun Bagus Seta yang sudah tergembleng sejak kecil tetap berpegang kepada kewaspadaannya. Ia membalas dengan bisikan pertanyaan.

"Siapakah gerangan Eyang ini?"

"Beliau adalah Sang Bhagawan Ekadenta, juga Sang Bhagawan Jitendrya dan boleh juga disebut Sang Bhagawan Sirnasarira!"

Tiga nama yang memiliki arti dalam ini agaknya cukup bagi Bagus Seta yang cepat menghadap dan menyembah di depan kakek tua luar biasa itu sambil berkata.

"Hamba menghaturkan terima kasih kepada Eyang yang berkenan hendak memberi bimbingan kepada hamba. Akan tetapi, lima tahun yang lalu Eyang Guru Tunggaljiwa berjanji kepada ramanda bahwa hamba hanya akan belajar selama Ilma tahun dan kini telah tiba saatnya hamba kembali kepada orang tua hamba. Kalau hamba tldak pulang, bukankah hal ini berarti menyalahi janji dan amat tidak baik bagi Eyang Guru Tunggaljiwa?"

Sang Bhagawan Ekadenta tersenyum di balik tabir uap putih, dan sepasang mata yang bersinar-sinar itu mengeluarkan cahaya lembut.

"Ah, dasar keturunan satria! Jangan khawatir, Angger, memegang teguh janji bukan hanya menjadi kewajiban para satria, melainkan kewajiban setiap orang manusia, termasuk para pertapa seperti kami. Kalau andika suka menjadi muridku, sekarang juga aku akan membawa andika menemui ayahanda sebagai pelaksanaan daripada janji Ki Tunggaljiwa."

Bagus Seta menoleh ke arah gurunya dengan pandang mata penuh pertanyaan.

Betapapun juga, selama lima tahun ia digembleng oleh kakek ini dan ia merasa terharu kalau harus meninggalkan guru-nya yang dikasihinya.

Namun gurunya tersenyum kepadanya dan berkata.

"Berangkatlah, Angger, dan doa restuku selalu mendampingimu."

Bagus Seta lalu menyembah ke arah Bhagawan Ekadenta.

"Baiklah, ,Eyang. Hamba siap untuk pergi bersama Eyang."

"Bagus! Kau ikutlah aku, Angger. Ki Tunggaljiwa, sampai jumpa pula!"

Tubuh kakek itu bergerak, diselubungi halimun putih dan Bagus Seta cepat-cepat menyembah ke arah Ki Tunggaljiwa..-sebagai tanda pamit, lalu bergegas mengikuti halimun putih itu yang meninggalkan puncak bukit.

Ki Tunggaljiwa bangkit berdiri, memandang kepergian muridnya dengan mulut tersenyum.

Hatinya lega dan puas karena ia telah melaksanakan tugasnya selama lima tahun dan diam-diam ia berdoa semoga sinar terang selalu akan mengatasi kegelapan yang mengancam dunia, semoga kebenaran akhirnya akan unggul sehingga dunia menjadi tempat tinggal manusia yang penuh damai dan ketenteraman.

Clta-cita inilah yang menjadi kandungan hati setiap orang pertapa, sungguhpun Ki Tunggaljiwa sendiri maklum bahwa segala peristiwa telah diatur oleh Sang Hyang Widhi, dan bahwa manusia, betapapun pandainya, tidak kuasa mengubahnya.

Dia maklum pula bahwa sudah menjadi kehendak alam bahwa dua sifat yang saling bertentangan, baik dan buruk, akan desak-mendesak, ganti-mengganti, berkuasa di dalam kehidupan manusia.

Bahwa selama masih ada yang disebut kebaikan, maka di sampingnya akan selalu ada pula keburukan.

Bahwa selama manusia mengenal kebajikan, manusia takkan bebas daripada kejahatan, karena, sesungguhnya baik dan jahat, seperti halnya dua unsur berlawanan di dunia ini, adalah saudara kembar yang tak terpisahkan.

Betapapun juga, manusia berkewajiban untuk berikhtiar, manusia berakal budi dan sadar akan perbedaan antara kedua unsur berlawanan itu.

Dan ia mengerti pula bahwa kalau Sang Bhagawan Ekadenta sampai "turun"

Ke dunia ramai, hal ini hanyalah merupakan kewajibannya sebagai manusia maha sakti, untuk meng imbangi "turunnya"

Seorang tokoh sepert Nini Bumigarba! Ki Tunggaljiwa menggeleng-geleng kepalanya dan mengheia napas panjang.

"Panjalu dan terutama Jenggala akan geger. dan bocah itu telah terpilih menjadi orang yang akan menanggulangi dan mengimbangi kekuatan-kekuatan sesat. Alangkah berat tugasnya. !"

Kakek inipun menggerakkan kaki, perlahan-lahan menghampiri mayat Sardulo Pethak dan dikuburnya mayat binatang yang derajatnya sudah mendekati manusia itu dengan penuh kasih sayang.

Tanpa berkata-kata, kakek yang tubuhnya diselubungi halimun putih itu berjalan terus, dlikuti oleh Bagus Seta.

Setelah mereka turun dari bukit, kakek itu menoleh, memegang tangan Bagus Seta, digandengnya dan Bagus Seta tertegun.

Kini ia berada di dalam halimun putih dan tubuhnya terasa ringan sekali.

Tampaknya saja mereka berjalan lambat-lambat, akan tetapi ia maklum bahwa sesungguhnya mereka melakukan perjalanan dengan kecepatan yang tak dapat ia bayangkan, karena mereka bukan berjalan biasa, melainkan bergerak maju didorong hawa sakti yang amat mujijat.

Seperti telah diceritakan dalam

Jilid terdahulu dari cerita ini, pada waktu itu Sang Adipati Tejolaksono sedang memimpin barisan Panjalu mengadakan pembersihan terhadap anak buah Sang Wasi Bagaspati.

Telah diceritakan pula betapa Adipati Tejolaksono menyerbu ke Gunung Merak dan di gunung inilah dia terjebak, roboh oleh Sang Wasi Bagaspati dan tentu akan tewas di ujung senjata nenggala mIlik KI Kolohangkoro kalau saja tidak muncul Sang Bhagawan Ekadenta yang datang bersania Bagus Seta.

Nyawa TejoIaksono tertolong dan baru pertama kali itu Sang Bhagawan Ekadenta menampakkan diri sehingga kelihatan oleh Wasi BagaspatI dan Biku Janapati, bahkan oleh para anak buah mereka.

Pihak lawan ter usir dan Tejolaksono dapat bertemu d ngan puteranya yang telah pergi selama lima tahun lebih.

Telah diceritakan pula betapa dalam pertemuan ini Bagus Seta memberikan setangkai bunga cempaka putih dengan pesan agar diberikannya bunga itu kepada ibundanya, kemudian Bagus Seta mengikuti gurunya meninggalkan ramandanya yang memandang penuh kagum dan haru.

Oleh kakek yang maha sakti itu, Bagus Seta dibawa ke puncak Gunung Mahameru, gunung yang tertinggi di seluruh Nusantara.

Puncak gunung ini tertutup awan putih dan samar-samar tampak asap yang tak pernah berhenti mengepul dari kawah di puncak.

Dapat dibayangkan betapa dinginnya puncak yang selalu diselimuti halimun tebal itu, akan tetapi juga dapat diduga betapa panasnya kawah yang selalu mengepulkan asap.

Namun, di antara pertemuan kedua hawa yang bertentangan ini, Bagus Seta dituntun Sang Bhagawan Ekadenta memasuki kawah di puncak Gunung Mahameru untuk memulai dengan gemblengan yang akan dIterima-nya sebagai murid sang sakti!

Mulai saat Itu, terbebaslah Bagus Seta daripada dunia ramai, hidup menggembleng diri seperti hidup di alam khayal, seolah-olah ia telah menjadi sebagian daripada puncak Mahameru, menjadi sebagian daripada alam.

-oo0dw0oo-Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, baik maupun buruk, manis maupun pahit bagi manusia, sesungguhnya bukan lain adalah akibat-akibat daripada sebab-sebab yang dibuat oleh manusia itu sendiri.

Nafsu merajalela dalam diri manusia, menanggulangi kelemahan manusia sehingga manusia menjadi boneka-boneka atau hamba-hamba nafsu yang hidup semata-mata untuk melampiaskan dorongan nafsu.

Nafsu membuat manusia menjadi makhluk yang paling mementingkan pribadi (egois) dan yang selama hidupnya bersandar kepada sifat ini sehingga tanpa disadarinya setiap pikiran, setiap perbuatan, setiap ucapan selalu merupakan penonjolan daripada sifat egoistik ini.

Mari kita renungkan dan bersiap-siap mengenal kelemahan kita sendiri.

Pandangan baik dan buruk, adil dan tidak, semua dipengaruhi watak kita yang egoistik.

Biarpun orang sekampung menganggap seorang itu jahat, kalau si orang itu selalu baik terhadap anda, dapatkah anda menganggap orang itu jahat?

Sebaiknya, andaikata orang se kampung menganggap seseorang itu baik, kalau si orang Itu menjadi musuh anda, dapatkah anda menganggapnya seorang baik?

Demikian pula tentang anggapan tentang adil atau tidak.

Kalau adil untuk kita, maka kita anggap adil-lah!

Atau lebih tepat, kalau MENGUNTUNGKAN kIta, maka kita anggap adil.

Kalau MERUGIKAN, maka itu tidak adil namanya!

Memang kita (manusia) adalah makhluk-makhluk yang amat lemah, badut-badut yang selalu menimbulkan lelucon yang hambar.

Hari hujan, Bibi penjual makanan mengeluh, Paman tani bersorak.

Yang seorang menganggapnya buruk dan tidak adil, yang lain menganggapnya baik dan adil, sesuai dengan sifat-sifat egoisme masing-masing.

Baik atau tidakkah hari hujan?

Adil atau tidakkah?

Tidak baik tidak buruk.

Hujan ya hujan!

Wajar dan sudah semestinya begitu.

Berbahagialah dia yang dapat menerima segala sesuatu yang terjadi atas dirinya SEBAGAI SUATU KEWAJARAN!

Kerajaan Jenggala diliputi mega mendung yang gelap.

Suasana menjadi keruh oleh pengumbaran nafsu yang melanda istana.

Semua keadaan berbalik karena merajalelanya nafsu.

Yang putih nampak hItam, yang hitam diputihkan.

Akibat daripada olah manusia penghamba nafsu yang dipelopori oleh sang prabu di Jenggala, yang menjadi gelap mata batinnya tanpa disadarinya, tenggelam ke dalam belaian nafsu yang digelorakan rayuan Suminten.

Kalau kepalanya menyeleweng, tentu ekornya juga terbawa menyeleweng.

Kalau pimpinannya tersesat, pembantu-pembantupya tentu ikut-ikutan tersesat, karena jalan menuju kemaksiatan amatlah menyenangkan!

Sang prabu mabuk oleh belaian nikmat, tenggelam dalam pelukan Suminten, tidak memperdulikan keadaan pemerintahan, bahkan menyerahkan segala urusan kepada selir yang terkasih ini.

Pangeran Kukutan diangkat menjadi putera mahkota, orang-orang macam Tumenggung Wirokeling dan Tumenggung Sosrogali dijadikan ponggawa tinggi.

Bahkan satu demi satu para ponggawa tinggi digeser dan diganti oleh orang-orang kepercayaan Pangeran Kukutan sehingga akhirnya hanya tinggal Ki Patih Brotomenggala yang masih mempertahankan kedudukannya.

asih berat hati sang prabu untuk mengganti patihnya yang sudah mengabdi semenjak pemuda.

Namun ki patih.

sendiri maklum betapa ia telah dikurung oleh musuh-musuh yang berbahaya.

Menghadapi musuh yang terang-terangan menentangnya dengan senjata di tangan, ki patih yang perkasa ini tidak akan undur selangkah-pun.

Namun kini musuh-musuhnya bergerak secara halus, dan inilah yang amat berbahaya.

Hanya karena kesetiaannya kepada sang prabu saja yang membuat ki patih masih memaksa diri mengabdi di Jenggala, untuk melindungi dan membela junjungannya.

Makin besar pengaruh Suminten terhadap sang prabu, makin berani pula wanita ini mendesak dan memperbesar kedudukan dan kekuasaannya.

Dan ternyata bahwa Suminten bukan hanya seorang wanita yang gila akan kedudukan tinggi dan kekuasaan, juga gila akan pria-pria yang tampan.

Untuk menutup ketidak puasannya bersuamikan seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih seperti Sang Prabu Jenggala, Suminten tidak saja menarik Pangeran Kukutan yang muda dan tampan sebagai kekasihnya, juga pangeran-pangeran lain yang menjadi sekutu mereka banyak yang ia pikat untuk melayani nafsu berahinya yang tak kunjung padam!

Pengeran Kukutan tentu saja tahu akan hal ini akan tetapi dia yang telah jatuh ke dalam kekuasaan Suminten, tidak berani cemburu.

Apalagi kalau diingat bahwa kegilaan pria yang menjadi watak Suminten ini merupakan semacam senjata yang ampuh pula untuk menundukkan dan menarik para pangeran itu menjadi sekutu sehingga kedudukan mereka menjadi makin kuat!

Suminten dan Pangeran Kukutan, sebagai pucuk pimpinan komplotan yang bercita-cita menguasai Kerajaan Jenggala ini, maklum bahwa kekuasaan mereka sudah cukup besar.

Sebagian besar para ponggawa tinggi adalah kaki tangan mereka sehingga sebagian besar perajurit barisan Jenggala otomatis berada di bawah kekuasaan mereka.

Kalau mereka bergerak dan terjadi bentrokan, mereka akan menang.

Akan tetapi Suminten yang cerdik tidak mau mempergunakan kekerasan.

"Jangan terburu nafsu, Pangeranku yang gagah!"

Katanya mencela sambil membelai rambut Pangeran Kukutan yang merebahkan kepala di atas pangkuan sepasang paha yang bulat lunak Itu.

"Betapapun kuat kedudukan kita, masih ada rintangan yang amat besar, yaitu Ki Patih Brotomenggolo dan antek-anteknya. Mereka ini masih memiliki pasukan pilihan yang masih bersetia kepada raja."

"Kita tidak perlu takut, Dewiku yang jelita,"

Kata Pangeran Kukutan -sambil melingkari pinggang ramping yang sudah amat dikenalnya itu dengan lengannya.

"Kalau sampai terjadI perang, pasukan kita lebih banyak dan kawan-kawan kita bergerak dari dalam, mudah saja menguasai istana dalam waktu singkat. Adapun Si tua bangka itu, aku sendirI sanggup untuk mencekiknya sampai mampus."

"Hiss. !"

Suminten menunduk dan menggunakan sepasang bibirnya yang merah dan manis itu untuk menutup mulut kekasihnya. Sejenak mereka berciuman. Kemudian Suminten mengangkat mukanya dan berblsik.

"Jangan bodoh, Pangeran. KIta tidak boleh terlalu mengandalkan kekerasan. Mungkin kita bisa menang menghadapi pasukan Jenggala yang masih setia kepada sang prabu. Akan tetapi kita harus waspada dan ingat kepada Panjalu. Apakah engkau kira Panjalu akan diam saja kalau Jenggala direbut dengan kekerasan? Dan kita tahu. betapa kuatnya Panjalu, apalagi setelah Adipati Tejolaksono menjadi patih muda di sana. KIta tentu akan dipukulnya dan akan hancur sebelum sempat menikmati kemenangan kita."

Wajah Pangeran Kukutan menjadi pucat dan ia bangkit duduk.

"Ah, kau benar juga, Dewiku........."

Pangeran hanya gagah kalau menghadapi lawan yang lemah, sebetulnya dia seorang pengecut yang belum apa-apa sudah mundur ketakutan menghadapi lawan yang kuat.

"Habis, bagaimana baiknya?"

"Tenanglah, Pangeran Pati! Engkau kan sudah menjadi putera mahkota, perlu apa tergesa-gesa? Kalau kekuasaan itu berpindah ke tangan kita, hal itu harus berlangsung secara wajar dan tanpa ada kekerasan sehIngga Panjalu akan menerimanya pula dengan baik. Sekarang kita harus bersabar dan memperbesar dukungan. Hanya ki patih dan antek-anteknya yang masih menjadi duri dalam daging......... dan......... sang permaisuri!"

"Memang ki patih dan ibunda permaisuri agaknya memusuhi kita. Akan tetapi mereka itu terlalu kuat kedudukan mereka dan ramanda prabu terlalu sayang kepada mereka. Betapa mungkin menghalau mereka keluar Istana?"

"Eh, wong bagus, mengapa bingung? Serahkan saja mereka Itu kepadaku, dan kelak akan tiba masanya mereka jatuh ke tangan Suminten! Hanya Panjalu yang kukhawatirkan."

Suminten menghentikan kata-katanya karena pangeran itu kembali telah memeluknya dan membelainya, yang membuatnya sesak napas.

Napasnya selalu menjadi sesak oleh dorongan nafsu apabila tubuhnya dibelai tangan-tangan pria muda yang sekaligus menghapus kekecewaan dan kemuakannya dalam melayani sang prabu yang sudah tua.

Kedua orang yang sudah dimabuk nafsu ini mengadakan pertemuan di dalam kamar Suminten.

Kini mereka lebih berani, tidak lagi mengadakan pertemuan rahasia di taman sari, karena selain mereka yakin bahwa malam Itu sang prabu yang makin lemah tubuhnya tidak akan datang ke kamar Suminten, juga andaikata sang prabu datang, tentu lebih dulu mereka akan diperingatkan oleh para emban dan pengawal yang menjaga ketat.

Pendeknya, mereka itu terjaga dan aman oleh para abdi yang sudah mereka percaya penuh.

Setiap mengadakan pertemuan, mereka bermain cinta semalam suntuk dengan hati tenteram di dalam kamar yang indah dan mewah itu.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati kedua orang khianat ini ketika tiba-tiba terdengar suara ketawa di luar jendela kamar yang tadi sengaja mereka buka karena hawa udara malam hari itu agak panas.

Mereka yakin bahwa tidak akan ada seorangpun abdi yang akan berani mendekatI jendela karena hal itu berarti mempertaruhkan nyawa.

Akan tetapi sekarang tiba-tiba ada orang tertawa di luar jendela, disusul suara seorang laki-laki yang halus penuh ejekan.

"Dua orang muda yang masih hijau hanya mengandalkan kenekatan dan keberanian, tanpa menggunakan kecerdikani Jika tidak kubantu, mana mungkin tercapai cita-cita dan dapat menanggulangi Panjalu? Ha-ha-ha!"

Pangeran Kukutan terkejut dan cepat melepaskan pelukannya, menyambar sebatang tombak di sudut kamar lalu meloncat keluar jendela itu sambil membentak.

"Keparat! Siapa berani kurang ajar?"

Akan tetapi terdengar suara gedobrakan dan tubuh Pangeran Kukutan terpelanting kembali ke dalam kamar karena ada tangan yang amat kuat mendorongnya dari luar jendela, kemudian disusul melayangnya sesosok tubuh seorang pria yang tampan dan gagah.

Pangeran Kukutan yang terbanting ke atas lantai, cepat meloncat berdiri, dan bersama Suminten dia memandang orang itu dengan mata terbelalak.

Orang itu adalah seorang laki-laki berusia antara empat puluh tahun, tampan dan gagah, sikapnya tenang sekali, wajahnya berseri, senyumnya memikat dengan kumisnya yang tipis menghias di atas bibir.

Sungguh seorang pria yang tampan dan gagah, dan pandang matanya yang ditujukan kepada Suminten membuat wanita ini berdebar karena pandang mata itu demikian penuh pengertian dan penuh daya tarik.

Seorang pria yang jantan dan matang!

Akan tetapi Pangeran Kukutan yang amat marah itu berseru keras, tombak-nya bergerak menusuk dada yang telanjang itu.

Pria itu hanya tersenyum memandang, sama sekali tidak mengelak.

"Desss! Krakkk "

Tombak yang menusuk dada yang bidang itu meleset kemudian gagangnya patah!

Terbelalak Pangeran Kukutan memandang gagang tombak yang berada di tangannya, wajahnya pucat sekali dan Suminten menahan jerit menutupi mulut dengan tangan.

Laki-laki itu tersenyum lebar dan berkata.

"Kalau sekarang kutangkap kalian berdua, lalu kuadukan kepada sang prabu, nasib apakah yang akan menanti kalian? Dibakar hidup-hidup? Atau dipenggal leher?"

Makin pucat wajah Pangeran Kukutan, teringat ia akan pengawalnya, maka ia lalu membuka mulut berseru memanggil para pengawal.

Akan tetapi malam tetap sunyi, tidak ada jawaban para pengawal.

Pria itu tersenyum dan menggeleng-geleng kepala, melangkah ke pintu kamar dan sekali dorong pintu kamar terbuka.

"Lihatlah. Seluruh pengawal dan abdimu telah pulas. Percuma andika berteriak Pangeran. Dan hentikan terlak-teriakanmu. Bagaimana kalau yang datang itu pengawal istana dan melihat kalian di dalam kamar ini? Apalagi kalau ki patih yang banyak memasang mata -mata sampai mengetahui pertemuan rahasia ini. Hemm akan ramai!"

Pangeran Kukutan makin ketakutan dan hendak nekat melarikan diri, akan tetapi Suminten sudah menyentuh lengannya, kemudian wanita ini melangkah maju menghampiri pria itu yang sudah menutupkan kembali daun pintu di depan mana para pengawal telah tidur pulas dalam keadaan tidak wajar, ada yang duduk dan ada yang berdiri bersandar dinding!

"Siapakah andika?

Dan apa maksud kedatangan andika seperti ini?"

Sebelum menjawab laki-laki itu memandang ke arah Suminten.

Kamar itu diiterangi oleh sebuah lampu yang dibungkus sutera merah sehingga sinarnya kemerahan.

Dengan pakaiannya yang kusut, Suminten kelihatan cantik jelita di dalam cahaya kemerahan.

Laki-laki Itu memandang dengan pandang mata tajam penuh selidik.

Suminten membalas pandang mata itu dan merasa betapa bulu-bulu di tubuhnya bergerak merinding.

Pandang mata laki-laki itu menjelajahi seluruh tubuhnya, seolah-olah jari-jari tangan yang membelai dan menyentuh mesra.

Belum pernah ia bertemu dengan pria yang dapat membelainya hanya dengan pandang matanya, dan dapat membuat jantungnya berdebar, kulit tubuhnya merinding hanya dengan ulasan pandang mata!

"Cantik jelita!

Hati siapa takkan tergila-gila?

Pantas.

, memang patut, dilabuhi pati (dibela sampai mati) setiap orang pria!

Andika yang bernama Suminten, bukan?

Dan dia ini adalah Pangeran Kukutan, yang kini menjadi putera mahkota?

Ketahuilah, saya bernama Raden Warutama dari Bali-dwipa."

"Maksud kedatanganmu seperti ini?"

Kata Suminten, sikapnya tenang sekali.

Wanita ini memang hebat.

Dalam keadaan seperti itu, sebentar saja ia telah dapat menguasai dirinya dan dapat bersikap tenang, berbeda dengan Pangeran Kukutan yang menjadi gelisah sekali.

Diam-diam Raden Warutama menjadi kagum sekali dan mengertilah ia mengapa wanita ini dapat menguasai keadaan di dalam istana Jenggala, kiranya memang bukan wanita sembarangan.

"Maksud kedatanganku? Tidak lain hendak membantu cita-citamu! Kalian tadi mengatakan jerih menghadapi Panjalu, jerih menghadapi Tejolaksono. Tanpa bantuanku, cita-cita kalian takkan terlaksana. Akulah orangnya yang akan dapat membuat Pangeran Kukutan kelak menjadi raja, andika menjadi permaisurinya, dan aku......... ha-ha, aku menjadi patihnya. Bukan hanya Raja Jenggala, melainkan Raja Jenggala dan Panjalu menjadi satu!"

Suminten mengerutkan alisnya yang menjelirit (kecil panjang hitam), memandang tajam dan berkata.

"Raden Warutama, ucapanmu yang muluk-muluk hanya membayangkan kesombongan yang tak berisi. Mungkin andika memiliki sedikit kedigdayaan sehingga sanggup mengalahkan Pangeran Kukutan, akan tetapi andika terlalu memandang remeh Panjalu. Apakah dengan sedikit kedigdayaanmu dan sikap menarikmu itu Panjalu akan dapat ditundukkan dengan mudah? Hendaknya andika jangan menjual lagak di sini, karena aku bukanlah seorang wanita yang mudah roboh oleh bujuk rayu!"

Makin kagum Raden Warutama. Wanita hebat seperti ini jarang dapat ditemukan dan akan menjadi sekutu yang amat berguna.

"Bagus sekali, memang tepat apa yang paduka katakan, wahai Sang Dyah Ayu. Dan paduka sang pangeran, harap maafkan kelancangan saya tadi. Kini, mari kita bicara dengan sungguh-sungguh, karena kedatanganku membawa amanat penting sekali yang akan menguntungkan kita bersama."

Pangeran Kukutan masih ragu-ragu, akan tetapi Suminten yang maklum bahwa mempergunakan kekerasan terhadap orang ini tidak akan ada gunanya, apa-lagi karena semua abdl dan pengawal telah terkena sirep yang amat ampuh, lalu tersenyum ramah dan berniat untuk menghadapinya dengan jalan halus.

"Silahkan, Raden. Mari kita bicara dengan sungguh-sungguh. Duduklah."

Mereka bertiga kini sudah duduk berhadapan.

Raden Warutama dan Pangeran Kukutan di atas bangku-bangku terbungkus sutera halus, adapun Suminten sendiri duduk di atas pembaringan yang lunak dan halus bertilam sutera merah jambon.

"Sebelum bicara tentang persekutuan, hendaknya paduka berdua mengetahui bahwa sesungguhnya saya adalah seorang anak kemenakan mendiang Sang Patih Narotama."

"Ahhh I"

Seruan ini keluar dari mulut Pangeran Kukutan yang dalam hal menekan perasaan masih kalah jauh oleh Suminten yang tetap tenang.

Seruan ini adalah seruan kaget, karena Pangeran Kukutan yang sesungguhnya bukan keturunan Sang Prabu Jenggala, mengira bahwa keponakan Narotama yang setia kepada raja itu tentu saja akan membela sang prabu.

la lupa dalam kegugupannya bahwa Warutama tentu sajatidak tahu bahwa dia bukanlah keturunan sang prabu.

Bagi Warutama sendiri, seruan disangkanya seruan kaget dan girang maka ia tersenyum dan berkata kepada Pangeran Kukutan.

"NAH, paduka kini mengerti bahwa di antara paduka dan saya terdapat pertalian yang dekat, Pangeran. Paman Narotama adalah seorang ponggawa yang amat setia kepada mendiang Sang Prabu Airlangga, bukankah sudah tepat sekali kalau kelak Paduka, sebagai cucu Sang Prabu Airlangga, mempunyai seorang patih seperti hamba? Dan karena saya keturunan Narotama itulah yang membuat saya datang jauh-jauh dari Bali-dwipa untuk menghambakan diri kepada bekas Kerajaan Mataram. Namun, setelah tiba di Jenggala, saya menyaksikan kenyataan yang amat mengecewakan. Bekas Mataram telah terpecah dua, dan dlrajai oleh keturunan Sang Prabu Airlangga yang ternyata tidak dapat mengurus kerajaan sehingga selalu terjadi kekacauan-kekacauan. Setelah saya mendengar akan cita-cita mulia paduka 'berdua, saya melihat cahaya terang. Pangeran Kukutan, sebagal calon raja, paduka adalah keturunan Sang Prabu Airlangga, dan kelak padukalah, dengan bantuan saya, yang akan mengembalikan keutuhan Kahuripan, kembali seperti di masa jaman Mataram."

Lega hati Pangeran Kukutan, Akan tetapi Suminten cepat bertanya.

"Raden, andika belum menerangkan betapa caranya untuk menundukkan kedua kerajaan. Jenggala sudah jelas akan dirajai oleh Pangeran Kukutan, akan tetapi Panjalu ?"

"Ha-ha-ha, Sang Dyah Ayu Suminten jangan khawatir. Saya telah mempunyai rencana yang amat bagus dan sudah pasti akan berhasil. Kita harus dapat memperkuat kedudukan dan pengaruh di Jenggala leblh dahulu sehingga segala sesuatu berIangsung dengan wajar, tidak menimbulkan kecurigaan Panjalu. Kelak, kalau Sang Prabu Jenggala......... , maaf, yaitu suami dan junjungan paduka sang puterl, telah meninggal dunia dan paduka pangeran telah menjadi raja di sini, barulah kita gempur Panjalu. Untuk itu, kalau saya yang menjadi patihnya, sungguh gampangnya seperti membalik telapak tangan sendiri saja. Ketahuilah bahwa bala tentara Sriwijaya dan Cola sudah siap, dan para pemimpinnya yang maha sakti adalah sahabat-sahabat baik saya "

"Sriwijaya dan Cola.........? Musuh-musuh besar itu.........?"

Kata Pangeran Kukutan, wajahnya berubah pucat.

"Ha-ha-ha! Itulah namanya siasat, Pangeran! Menjadikan musuh sebagai kawan dalam menghadapi musuh baru, itulah siasat yang amat baik dan sukar. Pendeknya, paduka serahkan saja kepada hamba, baik sekarang dalam perkembangannya maupun kelak kalau sudah tercapai cita-cita pertama paduka. Tidak percuma hamba menjadi keponakan sang bijaksana Narotama, Pangeran!"

"Hemmm, kami baru saja berjumpa dengan andika malam ini. Betapa kami dapat menjenguk isi hatimu, dapat membuktikan kesetiaanmu dan iktikad baikmu?"

Kata pula Pangeran Kukutan. Raden Warutama tersenyum sambil melIrik ke arah Suminten yang masih diam saja, kemudian menjawab.

"Hamba sudah membuktikan iktikad baik hamba dengan mengajak paduka bersekutu, andaikata hamba berniat buruk, apa sukarnya bagi hamba untuk membunuh paduka dan menculik sang puteri? Ha-ha-ha, hendaknya paduka dapat mempertimbangkan hal ini dengan kecerdikan."

Pangeran Kukutan membungkam.

Memang ada benarnya ucapan ini.

Sudah jelas bahwa orang ini amat digdaya dan kalau mempunyai niat buruk, sukar baginya meloloskan diri.

Kini Suminten yang berkata, suaranya penuh kesungguhan dan sekalIgus merupakan tuntutan.

"Iktikad baik sudah terbukti, namun kesetiaan dan kejujuran masih harus dibuktikan. Bagaimanakah rencana andika untuk dapat kami percaya?"

"Sudah ada rencana saya yang amat baik. Untuk membuktikannya, saya akan menjalankan siasat agar Ki Patih Brotomenggala yang tua itu dapat disingkirkan dari Jenggala, bahkan dihukum mati oleh sang prabu sendiri, dan sang prabu akan dengan suka hati menerima saya sebagai seorang ponggawa yang dipercayai".

"Bagaimana caranya?"

Raden Warutama tersenyum, kemudian mendekat dan berbisik-bisik didahului kata-kata yang ia tujukan terhadap Suminten.

"Dalam hal ini, hanya dengan bantuan paduka akan berhasil."

Kemudian dia membisikkan rencana siasatnya yang didengarkan oleh kedua orang itu dengan wajah berseri.

Diam-diam Suminten memuji orang ini sebagaI seorang pembantu yang amat berharga, apalagi yang memiliki daya tarik hebat sebagai seorang pria yang sudah matang segala-galanya.

Pangeran Kukutan juga kagum, akan tetapi diam-diam pangeran ini mengambil keputusan di dalam hatinya untuk kelak mengenyahkan orang yang baginya amat berbahaya.

Maka berundinglah tiga orang ini dan menjelang pagi barulah Raden Warutama keluar dari dalam kamar itu.

Di luar pintu ia menengok kepada Suminten dan berbisik.

"Bilakah saya dapat mengharapkan anugerah dari paduka pribadi atas jasa saya?"

"Tidak ada anugerah jasa diberikan sebelum jasa itu sendiri dilaksanakan."

"Paduka tidak akan mengingkari janji?"

"Bagaimana diingkari kalau janji itu sendiri merupakan bayangan yang amat menyenangkan?"

"Terima kasih."

Setelah bertukar senyum, Warutama berkelebat lenyap di dalam gelap.

"Dia......... dia sakti dan berbahaya."

Kata Pangeran Kukutan. Suminten menoleh kepadanya, kemudian menggandeng lengannya, diajak memasuki kamarnya.

"Makin banyak orang sakti membantu, makin baiklah bagi kita. Tentang bahaya......... apakah engkau cemburu, wahai kekasihku?"

"Tidak.........! Tidak, Wong Ayu. Tidak cemburu , karena aku tahu bahwa betapapun juga, kau tetap butuhkan aku seperti aku membutuhkanmu!"

"Ucapan bijaksana, patut diberi ganjaran. Jangan pulang dulu, malam masih panjang, dan pagi ini dingin sekali "

Mereka berpelukan sambil memasuki kamar.

Pintu kamar ditutup dan sunyilah yang menyusul.

-oo0dw0oo-Rombongan yang megah itu di sepanjang jalan mendapat sambutan rakyat.

Timbullah pula harapan rakyat yang tadinya merasa gellsah dan putus asa karena selama sang prabu di Jenggala tidak mengacuhkan pemerintahannya, mereka ini hidup tertindas dan tertekan oleh para penguasa setempat.

Sudah terlalu lama sang prabu hanya tinggal di dalam istana, tidak pernah keluar dan tidak pernah mengurus soal-soal yang menyangkut pemerintahan dan tidak pula memperdulikan nasib rakyatnya.

Kini, melihat rombongan sang prabu yang hendak melakukan perburuan ke hutan, hati rakyat menjadi lega dan mengira bahwa tentu kini sang prabu sudah tidak "mengasingkan diri"

Lagi.

Selama ini, para petugas dan penjabat selalu mendesas-desuskan bahwa karena usianya sudah tua, sang prabu mulai tekun bertapa maka tidak lagi mengurus pemerintahan.

Berduyun-duyun rakyat keluar menyambut dan hati mereka terharu menyaksikan tubuh tua kurus dan muka pucat tak bersemangat itu.

Juga mereka kagum menyaksikan kemudaan dan kesegaran yang terpancar dari wajah Suminten, selir terkasih yang amat terkenal dan yang kini menjadi orang paling berkuasa di dalam istana.

Atas bujukan dan desakan Suminten, akhirnya sang prabu yang sudah tua itu berkenan memerintahkan para pengawal membuat persiapan karena sang prabu hendak berpeslar bersama selirnya dan pergi berburu binatang di hutan.

Tadinya Ki Patih Brotomenggala sendlri hendak mengantarkan dan mengawal junjungannya, akan tetapi dia dicegah oleh Pangeran Kukutan yang berkata dengan suara tegas.

"Tak usah Paman Patih mengawal, karena Paman sendiri sudah sepuh (tua). Biarlah saya sendiri mengawal ramanda prabu! Tidak ada bahaya mengancam ramanda prabu, yang lebih penting menjaga keamanan istana. Harap Paman Patih menjaga di istana, sedangkan saya yang mengepalai para pengawal."

Di dalam hatinya, Ki Patih Brotomenggala merasa khawatir sekali.

Kiranya di antara semua ponggawa, hanya dia seoranglah bersama sang permaisuri yang dapat mengenal kepalsuan Pangeran Kukutan dan Suminten.

Akan tetapi sang prabu telah menyambut ucapan Pangeran Kukutan dan memerintahkan agar pengawalan dilakukan oleh sang pangeran, dia tidak berani membantah.

Betapapun juga, Ki Patih Brotomenggala bukan seorang bodoh.

Diam-diam dia telah memerintahkan pasukan pilihannya yang terdiri dari dua belas orang pilihan dan dlgdaya untuk membayangi kepergian sang prabu, secara sembunyi melindungi keselamatan junjungannya.

Hati ki patih agak lega ketika barisan pengawal yang berjumlah tiga puluh orang itu adalah pengawal-pengawal istana yang ia percaya merupakan orang-orang yang masih setia kepada sri baginda dan belum "terbeli"

Oleh Suminten dan Pangeran Kukutan.

Maka patih yang setia dan sudah berusia tua ini mengantar keperglan sang prabu dengan penuh harapan mudah-mudahan kalau sang prabu menyaksikan rakyatnya dari dekat, hal in!

Akan menggugahnya.

Tak dapat disangkal lagi, sang prabu menjadi amat terharu menyaksikan keadaan rakyat yang dilanda kemiskinan, melihat tubuh rakyatnya kurus-kurus dan melihat wajah yang kurus pucat dengan sinar mata mengandung penuh harapan ditujukan kepadanya.

Suminten yang cerdik pandai itu sengaja membawa bekal uang receh (kecil) beberapa kantung dan dibagi-bagikan uang itu kepada rakyat di sepanjangn jalan.

Melihat ini, sang prabu menjadi girang dan memuji kemurahan hati selirnya yang terkasih.

Juga Pangeran Kukutan membagi-bagi uang kepada rakyat sehingga rakyat bersorak gembira dan segera menjadi buah tutur mereka betapa murah hati adanya selir sang prabu dan Pangeran Pati Kukutan.

Iring-iringan itu memang megah dan indah.

Karena sang prabu sudah tua dan sudah tidak setangkas dahulu sehingga mengkhawatirkan kalau menunggang kuda dan memburu binatang, dan terutama sekali sang prabu membawa selirnya yang tak boleh dipisahkan dari sisi sang prabu, maka dalam perjalanan ini sang prabu dan selirnya menggunakan kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda.

Sang prabu mengenakan pakaian berburu dan di punggungnya tampak busur dan anak panah, di pinggangnya tergantung sebatang pedang dan tombak bersandar di dalam kereta.

Adapun Suminten yang mendapat kesempatan keluar istana, tidak menyianyiakan kesempatan bersolek sebagus-bagusnya sehingga rakyat memandangnya dengan mata terbelalak kagum.

Pangeran Kukutan yang tampan dan gagah menunggang seekor kuda putih yang tinggi besar, juga berpakaian pemburu dengan senjata lengkap di tubuh.

Tiga puluh orang pengawal itu rata-rata bertubuh tinggi tegap, merupakan pasukan pengawal yang kuat dan terpercaya.

Pada masa itu, hutan tempat berburu sang prabu merupakan daerah terlarang.

Tidak ada seorang pun berani melakukan perburuan di hutan ini.

Karena sudah bertahun-tahun sang prabu tidak pernah berburu, maka hutan itu penuh dengan binatang-binatang yang berkembang biak dan begitu rombongan memasuki hutan, mereka ini menjadi amat gembira menyaksikan banyaknya binatang di hutan itu.

Rombongan kijang yang gemuk-gemuk lari cerai-berai, kancil, kelinci, harimau, dan babi hutan merupakan sasaran yang lunak.

Juga banyak sekali burung-burung besar yang menantang bukti kemahiran para pemanah.

Pangeran Kukutan segera menghujankan anak panahnya dengan amat gembira.

Juga sang prabu timbul kegembiraannya, teringat masa mudanya dan raja yang sudah tua ini berkali-kali melepas anak panah dari dalam kereta, dipuji-puji oleh Suminten setiap kali anak panah ada yang mengenai sasaran, merobohkan seekor kijang atau kelinci.

Ketika ada seekor harimau gembong terjebak masuk ke dalam kurungan para pengawal yang berbaris mengelilingInya dengan tombak di tangan, sang prabu menjadi amat gembira sehingga dia turun dari kereta, membawa tombaknya dan ikut mengeroyok harimau itu yang akhirnya roboh tewas dengan tubuh penuh luka-luka karena ke manapun ia lari, mata tombak yang runcing menghunjam ke tubuhnya.

Sorak-sorai para pengawal membuat burung-burung hutan terbang ketakutan.

Tiba-tiba terdengar jerit-jerit kesakitan, disusul teriakan-teriakan marah dan keadaan menjadi kacau-balau.

Dalam sekejap mata, para pengawal sudah berperang tanding melawan serbuan banyak sekali orang-orang yang berkepala gundul!

Melihat ini, Pangeran Kukutan cepat melompat turun dari kudanya, membawa sang prabu kembali ke dalam kereta, di mana sang prabu memandang dengan wajah pucat, berdekapan dengan Suminten yang menggigil ketakutan.

"Jangan khawatir, Ramanda Prabu. Hamba menjaga di sini!"

Kata Pangeran Kukutan dengan sikap gagah, berdiri melindungi kereta sambil melintangkan tombaknya setelah cepat-cepat ia melepaskan empat ekor kuda yang menarik kereta karena takut kalau-kalau empat ekor kuda itu menjadi ketakutan dan membalapkan kereta.

"Tenanglah, Manis. Tenanglah........, jangan takut. Para pengawal kita akan membasmi pengacau-pengacau itu!"

Sang prabu menghibur sambil merangkul leher kekasihnya.

"Entah siapakah mereka yang begini kurang ajar berani menggangguku!"

Karena bersembunyi di dalam kereta, sang prabu tidak dapat menyaksikan pertandingan yang mati-matian antara pasukan pengawal dan orang-orang berkepala gundul yang jumlahnya lebIh dari tiga puluh orang itu.

Tidak melihat betapa pasukan pengawal yang setia itu membelanya mati-matian, namun kalah kuat oleh para penyerbu yang rata-rata memiliki tubuh kebal dan keberanian yang luar biasa.

Kalau hanya terpukul dan tertusuk tombak menimbulkan lecet kulit dan pecah daging saja tidak membuat mereka undur, dan mereka yang tertusuk sampai keluar ususnya atau tertembus tubuhnya, roboh berkelojotan dan mati, barulah menghentikan amukannya.

Menghadapi serbuan orang-orang nekat seperti ini, para pengawal terdesak hebat.

Tiba-tiba muncul dua belas orang gagah perkasa yang berpakaian serba hitam.

Mereka ini bukan lain adalah pasukan pilihan yang diutus ki patih untuk diam-diam melindungi sang prabu.

Munculnya dua belas orang pilihan ini merubah keadaan.

Mereka ini mainkan golok mereka dengan tangkas dan para penyerbu yang berkepala gundul itu segera terdesak, banyak di antara mereka roboh termakan golok.

Akan tetapi, segera terdengar bentakan-bentakan buas dan muncultiga orang yang amat hebat sepak-terjangnya, bahkan dengan tangan kosong tiga orang ini menyambut dua belas orang pengawal baju hitam.

Yang seorang adalah seorang laki-laki yang tampan dan gagah, yang ke dua seorang licki-laki bertubuh raksasa dan yang ke tiga seorang wanita cantik.

Cepat dan ampuh sekali pukulan mereka ini sehingga dalam waktu singkat, sebelas orang pengawal baju hitam roboh tewas dan hanya seorang di antara mereka yang tempat melarikan diri menggondol luka pukulan tangan Ni Dewi Nilamanik yang membuat separuh dadanya menjadi gosong menghitam.

Ya, tiga orang itu bukan lain adalah Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, dan Raden Warutama sendiri!

Setelah kedua belas orang pengawal baju hitam itu terbasmi habis, mereka bertiga pun cepat menyelinap bersembunyi, membiarkan barisan gundul itu berperang tanding melawan para pengawal kerajaan.

Perang tanding yang amat hebat, yang seru dan liar buas.

Para pengawal bertanding mati-matian, melawan musuh yang lebih banyak dan lebih kuat.

Koran-korban kedua fihak berjatuhan.

Sejam mereka berperang tanding dan akhirnya, orang penghabisan fihak pengawal menjerit dengan perut robek.

Tiga puluh orang pengawal itu tewas semua dan di fihak penyerbu, hanya bersisa sepuluh orang gundul yang seluruh tubuhnya berlepotan darah, sedikit darah mereka sendiri yang keluar dari luka-luka di tubuh, sebagian besar darah lawan yang mereka robohkan dan tewaskan.

Kini sepuluh orang itu dengan roman buas dan golok di tangan menghampiri kereta!

Pangeran Kukutan dengan sikap gagah menerjang maju ketika sepuluh orang itu mengurung kereta.

Ia disambut oleh empat orang gundul dan terjadilah pertempuran hebat ketika pangeran itu dikeroyok.

Sedangkan enam orang gundul yang lain menghampiri sang prabu dan Suminten.

Raja yang tua itu bangkit semangatnya melihat bahaya mengancam.

Ia sudah melolos pedangnya, lengan kiri memeluk pinggang Suminten, tangan kanan memegang pedang siap melakukan perlawanan.

Tiba-tiba Suminten merenggut dirinya terlepas dan berdiri menghadang di depan sang prabu.

"Jangan bunuh..........! Kami menyerah.........!"

Teriaknya, kemudian ia memegang lengan kanan sang prabu dan berbisik.

"Harap paduka melepas pedang, tiada gunanya melawan. Lebih baik menyerah."

Sang prabu mengerling ke arah Pangeran Kukutan dan ternyata pangeran itu telah kehilangan tombaknya dan kini sudah ditangkap oleh para pengeroyoknya.

Sang prabu menarik napas panjang dan melempar pedang, akan tetapi berdiri dengan sikap agung dan angkuh.

Orang-orang gundul itu menangkap sang prabu dan Suminten dan mereka bertiga telah dlikat kedua tangan mereka di belakang tubuh, lalu digiring keluar dari tempat itu.

Dengan sikap kasar sepuluh orang gundul itu lalu mengikat tubuh mereka pada batang pohon, masing-masing terpisah dua meter.

"Kalian siapakah? Mengapa menyerbu dan menangkap kami?"

Sang prabu bertanya, suaranya keras dan sama sekali tidak kelihatan takut.

Seorang di antara orang-orang gundul itu menghampiri sang prabu dan tertawa menyeringai.

Kemudian, dengan suara yang parau ia menjawab.

"Kami anak buah Brotomenggala!"

"Tidak mungkin !!!"

Sang prabu membentak dan membelalakkan mata penuh kekagetan dan keheranan.

"Ha-ha-ha, Brotomenggala yang memerintahkan kami menangkap Paduka. Paduka dan Pangeran Mahkota akan kami sembelih dan wanita ini dihadiahkan kepada kami. Ha-ha!"

"Bohong! Kalian ini perampok-perampok laknat yang bohong!"

Sang prabu membentak penuh kemarahan.

"Bohong? Paduka saksikanlah!"

Si gundul yang tinggl besar ini lalu menghampiri Suminten, tangan kirinya meraih dan menarik keras-keras.

"Brettt. !"

Bagian depan pakaian atas yang dipakai Suminten robek sehingga tampak sebagian dadanya. Suminten menjerit dan merintih perlahan, menangis.

"Tahan !"

Sang prabu membentak dan berusaha meronta-ronta. Juga Pangeran Kukutan meronta-ronta. Dua orang gundul menghampiri mereka dan menodongkan ujung golok ke dada mereka penuh ancaman.

"Jangan bergerak!"

Dua orang ini membentak.

"Tahan......... jangan lakukan itu........! Aku berjanji, demi kedudukanku sebagai Raja Jenggala. Kalau kalian membebaskan kami, aku akan memberi hadiah apa saja yang kalian minta!"

"Ha-ha-ha!"

Si gundul yang menjadi pemImpin mereka bergelak.

"Ki Patih Brotomenggala sudah menjanjikan hadiah terbesar bagi kami. Lebih baik kami sembelih kalian ayah dan putera terlebih dahulu agar jangan mengganggu kesenangan kami!"

Si gundul kini mengangkat golok menghampiri sang prabu. Betapapun tabahnya, kini sang prabu menjadi pucat.

"Tunggu sebentar.........!"

Katanya perlahan.

"Aku tidak takut mati, akan tetapi sebelumnya katakan mengapa Kakang Patih Brotomenggala melakukan penghianatan ini!"

"Paduka masih bertanya lagi? Ha-ha-ha! Sudah bertahun-tahun paduka menyakitkan hati Ki Patih Brotomenggala. Paduka membunuh putera mantunya, dan paduka memilih putera mahkota yang tidak dikehendakinya! Apakah paduka kira ki patih tidak mempunyai cita-cita? Ha-ha-ha. !"

"Brotomenggala penghianat. !"

Pangeran Kukutan memaki marah.

"Sudah hamba katakan berkali-kali, akan tetapi paduka tak percaya."

Kata pula Suminten di antara isaknya. Sang prabu menghela napas panjang.

"Aahhh, siapa mengira..........! Kakang Patih Brotomenggala ! Ah, Kisanak. Lakukanlah tugasmu. Kamu hanya petugas. Nah, aku siap menerima kematian akibat penghianatan seorang manusia durhaka!"

Si gundul itu tertawa lagi lalu mengangkat goloknya tinggi-tinggi.

Sang prabu membelalakkan mata, bersikap seperti seorang di saat terakhir.

Akan tetapi sebelum golok itu menyambar turun, tiba-tiba si gundul menjerit aneh dan tubuhnya roboh terjengkang, sebatang anak panah menancap di tenggorokannya Pada saat berikutnya, sesosok bayangan berkelebat seperti seekor garuda menyambar dan begitu bayangan ini menggerakkan kaki tangannya, dua orang gundul kembali roboh, yaitu mereka yang menjaga Pangeran Kukutan dan Suminten.

Orang ini bukan lain adalah Raden Warutama!

Sang prabu memandang dengan heran dan kagum kepada pria perkasa yang kini mengamuk, dikeroyok tujuh orang gundul yang bersenjata golok.

Bagaikan seekor burung srikatan saja tubuhnya cepat berkelebatan, sedikitpun tidak memberi kesempatan kepada para pengeroyoknya.

Tiba-tiba sinar hijau berkelebat dan ternyata itu adalah sebatang keris luk tujuh yang bersinar hijau dan dipegang oleh pria itu.

Begitu sinar itu berkelebat, secara berturut-turut robohlah lima orang gundul.

Pria itu masih mengamuk, akan tetapi tiba-tiba Pangeran Kukutan berseru.

"Ksatria yang perkasa, harap tawan hidup-hidup dua orang itu!"

Pria itu menoleh, tersenyum, lalu kakinya bergerak menendang.

Dua orang gundul terguling roboh, golok mereka mencelat dan setelah menyimpan kerisnya, pria itu lalu menelikung lengan mereka ke belakang, mengikat tangan mereka mempergunakan robekan pakaian mereka sendiri.

Kemudian dengan sikap penuh hormat ia melepaskan belenggu sang prabu, Suminten, dan Pangeran Kukutan.

"Mohon ampun bahwa hamba agak terlambat sehingga paduka mengalami banyak kaget, Gusti."

Kata pria itu sambil bersimpuh dan menyembah penuh kehormatan. Setelah mengelus-elus pergelangan tangan yang terasa sakit, sang prabu memandang pria itu, kemudian berkata.

"Andika telah menyelamatkan kami, sungguh merupakan budi yang amat besar. Kalau tidak salah pandanganku, agaknya aku pernah melihatmu, ksatria yang perkasa. Siapakah gerangan andika?"

Raden Warutama menyembah dan menekan debar jantungnya.

"Ampunkan, Gusti. Sesungguhnya, baru pertama kali ini hamba mendapat kehormatan menghadap paduka. Hamba bernama Warutama dan datang dari Bali-dwipa. Akan tetapi, tidaklah terlalu keliru perkiraan paduka kalau diingat bahwa paman hamba Narotama dahulu adalah abdi setia dari Sang Prabu Airlangga."

"Ahhh, kiranya Andika ini anak kemenakan Paman Patih Narotama? Sungguh besar kekuasaan Dewata! Kami bersyukur bahwa yang menolong kami adalah keturunan Paman Patih Narotama."

Hemm, sungguh awas pandang mata kakek yang sudah tua ini, pikir Warutama setelah hatinya lega kembali. Ia cepat bangkit dan berkata.

"Seyogianya paduka cepat-cepat kembali ke istana, Gusti. Siapa tahu kalau-kalau penjahat-penjahat ini masih banyak kawannya , Biarlah hamba mencarikan kuda yang telah lari itu."

Ia lalu melesat cepat dan tak lama kemudian sudah kembali menuntun empat ekor kuda. Dua ekor ia pasangkan di depan kereta sri baginda yang ia persilahkan memasuki kereta bersama Suminten.

"Biarlah hamba mengawal paduka sampai ke istana."

Dua orang gundul yang menjadi tawanan itu lalu diikat di belakang kereta.

Kemudian berangkatlah kereta itu dikawal oleh Warutama dan Pangeran Kukutan, kembali ke istana meninggalkan hutan yang mtngerikan itu, di mana berserakan puluhan mayat manusia.

Di dalam kereta yang kudanya dituntun dari depan oleh Warutama yang juga menunggang kuda sedangkan Pangeran Kukutan mengawal di belakang kereta, Suminten Menangis sambil memeluk sang Prabu..

"Aduh, junjungan hamba......... betapa ngerirasa hati hamba kalau teringat akan peristiwa tadi ! Yang hamba khawatirkan adalah paduka, Gusti."

Sang prabu menjadi terharu dan mencium tengkuk wanita yang menelungkupkan muka di atas pangkuannya itu.

"Dewata masih melindungi kita, Suminten kekasihku."

"Untung muncul Raden Warutama itu, kalau tidak."

"Dia amat berjasa. Harus kita beri anugerah yang sepadan dengan jasanya yang besar."

"Dia keponakan mendiang Ki Paitih Narotama yang amat setia. Kalau paduka mempunyai seorang patih seperti dia, setia dan sakti mandraguna, barulah akan aman tenteram rasa hati hamba."

"Mengangkat dia menjadi patih?"

Sang prabu meragu.

"Jasanya besar, kesetiaannya sudah terbukti."

"Akan tetapi. patih adalah warangka raja!"

"Dia jauh lebih setia dan lebih baik daripada penghianat Brotomenggala."

"Aahhh.........!"

Sang prabu menghela napas ketika nama ini disebut.

"Tak tahu aku mengapa Kakang Brotomenggal. menjadi begitu kejam dan curang. Dia sampai tega mengarah kematianku."

"DIa harus dihukum berat, seberat beratnya agar menjadI contoh bagi para ponggawa lain!"

Kata Suminten penuh semangat.

Sang prabu hanya dapat mengangguk angguk dengan lemas dan berduka.

Sesungguhnya hatinya merasa berat sekali harus menghukum patihnya yang begitu setia sejak muda, akan tetapi dosanya sudah terbukti dan dosa ini melampaui batas.

"Betapa hatiku tak akan remuk? Di begitu setia."

"Paduka jangan terlalu lemah! Perasaan pribadi harus dikalahkan dan kepentingan kerajaan harus dikemukakan. Kalau orang berdosa seperti dia, yang sudah berkhianat, mengarah kematian junjungannya tidak dibasmi sampai ke akar-akarnya tentu akan timbul lain penghianatan yang lebih kejam lagi!"

Sang prabu mengelus lengan yang berkulit halus lembut itu.

"Engkau selalu benar, Suminten. Sudah berkali-kali engkau memperingatkan aku akan kepalsuan patihku, namun ah, siapa mengira? Aku menyerahkan pelaksanaan hukuman kepadamu."

"Biarlah, Paduka jangan ikut-ikut. Biar hamba yang akan membalas kejahatannya! Kalau dia hanya membenci hamba dan mengusahakan kematian bagi hamba, hal ini tidak hamba perduli dan hamba menganggap hal yang tidak penting. Akan tetapi......... dia berani hendak menyuruh bunuh Paduka! Paduka raja besar junjungan rakyat seluruh Jenggala! Penghlanat macam dia harus dibasmi sampai seluruh keluarganya. Ijinkanlah hamba menyuruh pengawal menangkap penghianat itu bersama seluruh keluarga dan semua abdinya, dan menjatuhkan hukuman gantung di alun-alun agar semua ponggawa menjadi takut melakukan penghianatan."

Gegerlah seluruh isi istana ketika rombongan sang prabu yang berangkat dengan megah itu kini pulang dalam keadaan yang mengejutkan.

Apalagi Ki Patih Brotomenggala sendiri yang sedang bersiap-siap untuk menyambut pulangnya junjungannya, tiba-tiba kedatangan serombongan pasukan pengawal yang sertamerta menangkap dia dan seluruh keluarganya.

Sebagai seorang patih yang berwibawa dan berkuasa, tentu saja Ki Patih Brotomenggala menjadi marah dan membentak.

"Kalian ini mau apa? Sudah berbalikkah dunia ini sehingga barisan pengawal hendak menentang atasannya?"

Komandan pasukan itu hanya menjawab singkat.

"Kami mengemban tugas gusti sinuwun yang memerintahkan untuk menangkap dan membawa Paduka sekeluarga menghadap gusti sinuwun!"

Hujan tangis terjadi di dalam kepatihan.

Namun, sekali ini Pangeran Kukutan tidak mau sembrono dan karena perintah penangkapan itu sebetulnya datang dari Suminten, tentu saja pengawal yang diutus untuk menangkap keluarga kepatihan adalah pasukan pengawal kepercayaannya.

Biarpun keluarga kepatihan meratap dan menangis, pasukan pengawal ini sedikit pun tidak menaruh kasihan dan memaksa seluruh keluarga, berikut beberapa orang anak-anak yang menjadi cucu dan buyut Ki Patih Brotomenggala, juga semua pelayan, dipaksa untuk ikut menjadi tahanan.

Jumlah semuanya ada tiga puluh enam orang!

Hanya ada seorang anggauta keluarga kepatihan yang secara kebetulan saja lobos dari penangkapan ini.

Dia itu adalah seorang cucu luar ki patih, seorang gadis berusia Sembilan belas tahun yang bernama Widawati.

Pada saat penangkapan terjadi, gadis ini sedang keluar dari kepatihan untuk berlatih tari-tarian di rumah seorang sahabatnya yang menjadi puteri pelatih tarian.

Begitu mendengar akan malapetaka yang menimpa keluarganya, Widawati dibujuk dan dinasehati kawankawannya untuk melarikan lolos dari dalam istana dengan bantuan para ponggawa yang setia dan yang menaruh kasihan kepada sang puteri.

Ketika para tahanan dihadapkan kepada raja, mereka itu berlutut dan tidak kedengaran lagi isak tangis.

Keluarga kepatihan yang sudah terlatih ini menahan semua perasaan dan berlutut sembah dengan penuh kekhidmatan kepada sang prabu yang menjadi junjungan mereka.

Bahkan yang kecil-kecil pun tahu akan sopan-santun istana ini.

Di dalam hatinya, sang prabu merasa seperti ditusuk pisau berkarat menyaksikan wajah patihnya yang setia itu, yang kini berlutut dengan wajah tua keriputan di depan kakinya, dengan pandang kosong terheran-heran.

"Brotomenggala!"

Bentak sang prabu, melenyapkan sebutan "kakang patih".

"Di depanku, disaksikan oleh semua ponggawaku yang kini hadir, ceritakanlah penghianatanmu dan usaha kejimu yang gagal agar semua mendengar betapa seorang penghianat keji sepertimu patut dijatuhi hukuman!"

Patih yang tua itu mengangkat kepala memandang junjungannya dengan sepasang mata yang penuh kejujuran dan kesetiaan, kemudian menyembah dan berkata, suaranya lantang.

"Sesungguhnya, Gusti junjungan hamba, tidak ada seujung rambut pun usahakeji penghianatan di dalam hati dan pikiran hamba, baik di masa lampau, sekarang maupun di masa datang. Bahkan hamba masih belum tahu mengapa hamba sekeluarga ditangkap. Mohon kebijaksanaan dan keadilan paduka, Gusti."

"Brotomenggala, lidahmu bercabang seperti lidah ular! Semua penghianat selalu bersuara merdu! Bukti sudah nyata, saksi pun banyak, masih hendak menyangkal?"

Suminten berseru marah.

"Aku sendiri menjadi saksi, aku yang hampir terbunuh bersama pangeran. pati dan terutama sekali gusti sinuwun. Tentu penghianatanmu akan berhasil membunuh kami bertiga kalau saja tidak datang pertolongan dari satria ini!"

Terbelalak mata Ki Patih Brotomenggala dan keluarganya.

"Apa......... apa yang telah terjadi. ?"

Tanya patih tua itu tergagap.

"Brotomenggala, kalau kamu bersandiwara, sungguh kamu merupakan pemain yang amat pandai,"

Kata sang prabu yang kemudian berkata kepada Pangeran Kukutan.

"Puteraku, ceritakanlah semuanya agar didengar oleh para ponggawa dan oleh si penghianat ini sendiri."

Pangeran Kukutan yang memang sudah bersiap-siap untuk bertindak sebagai jaksa penuntut, sengaja belum berganti pakaian sehingga kini ia maju dengan pakaiannya berburu yang masih koyak-koyak dan dengan beberapa luka kecil babak dan lecet pada lengan dan pahanya.

Ia bangklt dari lantai, kini berdiri 'dan menentang pandang mata para ponggawa yang hadir.

Ia maklum bahwa para ponggawa itu sebagian besar adalah kaki tangannya, akan tetapi di antara mereka masih terdapat orang-orang yang pro ki patih, maka kepada mereka inilah ia menujukan pandang matanya.

Kemudian ia berpaling kepada Ki Patih Brotomenggala, mulutnya tersenyum mengejek secara terang-terangan kepada musuhnya ini, lalu mulai bercerita.

"Ketika Ramanda Prabu dan para pengikut sedang berburu dengan gembira di dalam hutan, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan, dan beberapa orang pengawal roboh. Tahu-tahu, entah darimana datangnya, kami telah terkurung oleh puluhan orang tinggi besar berkepala gundul yang ganas dan liar, bersenjata golok!"

Sang pangeran berhenti dan kembali menoleh ke arah Ki Patih Brotomenggala yang mendengarkan dengan sikap tenang dan pandang mata penasaran.

Para ponggawa menahan napas karena mereka pun belum tahu apa sesungguhnya yang telah terjadi sehingga sang prabu pulang dari perburuan tanpa dikawal pasukan pengawal.

"Para pengawal kami mengadakan perlawanan dengan gagah berani, sedangkan aku sendiri cepat melindungi Ramanda Prabu dan Ibunda Selir yang berlindung di dalam kereta. Perang tanding seru terjadi, akan tetapi sungguhpun para pengawal yang gagah berhasil menewaskan musuh, jumlah musuh terlalu besar dan akhirnya para pengawal kami yang tiga puluh orang itu roboh tewas semua."

Kembali pangeran Kukutan berhenti sebentar dan para pendengarnya menahan napas, bahkan ada yang mengeluarkan ;eruan tertahan.

"Gerombolan penjahat gundul itulah menyerbu kereta. Kami melakukan perlawanan sekuatnya, akan tetapi karena dikeroyok banyak orang yang liar, akhirnya Ramanda Prabu, ibunda Selir, dan saya sendiri tertawan dan diikat pada pohon. Nyaris kamI bertiga terbunuh apalagi Ramanda Prabu yang sudah ter ancam dengan golok musuh siap membacok. Pada detik terakhir, muncullah satria perkasa ini, Seorang satria dari Bali dwlpa bernama Raden Warutama yang sebetulnya bukanlah orang lain karena Raden Warutama ini anak keponakan mendiang Sang Patih Narotama yang sakti mandraguna dan setia! Dengan kesaktiannya, para penjahat itu dapat dibunuh semua, kecuali dua orang yang sengaja ditawan hidup-hidup untuk menjadi saksi."

Para ponggawa kini memandang ke arah Warutama yang masih duduk bersila dengan tenang itu, memandang penuh kagum.

Siapa tidak akan kagum kala mendengar bahwa pria yang tampan d perkasa itu adalah keponakan Sang Narotama yang perkasa?

Apalagi pria ini telah membebaskan sang prabu daripada ancaman maut.

"Ramanda Prabu sendiri yang bertanya kepada para penjahat itu ketika beliau ditangkap, menanyakan kehendak mereka dan siapa yang menyuruh mereka. Dan apa jawab mereka? Secara terang-terangan mereka mengatakan bahwa mereka adalah anak buah Brotomenggala!"

"Bohong !". Ki Patih Brotomenggala berseru keras. Namun Pangeran Kukutan tidak memperdulikannya dan melanjutkan kata-katanya dengan suara lantang.

"Tadinya pun kami bertiga tidak percaya akan pengakuan mereka. Akan tetapi berkali-kali mereka mengaku bahwa mereka itu hanya melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh Brotomenggala yang menurut pengakuan mereka menaruh dendam kepada Ramanda Prabu atas kematian mantunya beberapa tahun yang lalu."

"Bohong! Fitnah belaka! Gusti Sinuwun, percayakah Paduka akan fitnah keji seperti itu? Hamba sama sekali tidak tahu-menahu, bahkan mengenal mereka pun tidak! Hendaknya Paduka menyelldikl dengan seksama sebelum menjatuhkan keputusan. Bukan sekali-kali karena hamba mementingkan keselamatan sendiri, hanya hamba mengkhawatirkan langkah yang Paduka ambil sebelum mengadakan pemeriksaan secara teliti. Hamba hanya berani mengatakan dengan sumpah bahwa sesungguhnya hamba tidak tahu-menahu dengan terjadinya peristiwa keji di dalam hutan itu."

Wajah sang prabu menjadi merah.

"Brotomenggala! Telingaku sendiri mendengar pengakuan setan-setan gundul itu! Mataku sendiri melihat betapa mereka membunuhi semua pengawalku, hendak. menghina selirku. Dan Andika masih menyangkal? Seret dua orang gudul itu masuk!"

Dua prang pengawal menyeret dua orang tinggi besar yang gundul itu masuki ruangan.

Biarpun tubuh mereka penuh luka, namun kedua orang itu sama sekali tidak memperlihatkan kelemahan dan ketakutan.

Mata mereka masih terbelalak memandang ke depan, dan mereka itu sama sekali tidak kelihatan menderita, seolah-olah semua ini tidak terasa oleh mereka.

Kedua tangan mereka dibelenggu dan setelah kedua orang pengawal itu menekan dan memaksanya, barulah mereka itu roboh dan berlutut di depan sang prabu.

Karena bangkit kemarahannya ketika melihat dua orang ini, sang prabu memberi isyarat kepada Pangeran Kukutan untuk mewakilinya memeriksa tawanan.

"Hei, kalian dua orang yang sudah melakukan dosa! Katakan sebenarnya, siapa yang menyuruh kalian dan gerombolan kalian untuk menyerang rombongan gusti sinuwun!"

Kata Pangeran Kukutan dengan suara lantang. Seorang di antara mereka yang pipinya terluka mengangkat muka dan menjawab, suaranya dingin penuh ejekan.

"Pasukan kami diperintah oleh Ki Patih Brotomenggala untuk menghadang rombongan Gusti Sinuwun dalam hutan, untuk membunuh Gusti Sinuwun dan Gusti Pangeran Pati, serta menculik Selir Gusti Sinuwun."

Sunyi senyap keadaan ruangan itu setelah terdengar pengakuan ini, dan muka para ponggawa yang menjadi sahabat ki patih menjadi pucat, mata mereka memandang ke arah patih tua itu dengan keheranan dan pertanyaan.

Terdengar isak tertahan di antara keluarga yang berlutut di belakang Ki Patih Brotomenggala "Penghianatan keji yang tiada taranya!

Sudah sepatutnya kalau si penghianat keji sekeluarganya dihukum gantung sampai mati di alun-alun!"

Tiba-tiba terdengar suara Suminten, lantang memecah kesunyian dan ketegangan, menimbulkan ketegangan baru.

Melihat wajah dan keadaan ki patih sekeluarga, semua hati para ponggawa terharu dan kasihan, namun mengingat akan dosanya yang amat hebat, tak seorang pun berani membantah tuntutan yang keluar dari mulut terkasih sang prabu yang dalam peristiwa itu mengalami pula ancaman dan penghinaan.

Tiba-tiba Ki Patih Brotomenggala dari tempat ia bersila meloncat ke depan dan di lain saat kedua tangannya sudah men-cengkeram leher dua orang tawanan gundul itu, mukanya merah dan matanya melotot, mulutnya mendesiskan kata-kata penuh kemarahan.

"Jahanam! Hayo katakan siapa yang menyuruh kalian menjatuhkan fitnah atas diri sayal"

Dengan sikap tenang saja dua orang gundul itu berkata.

"Kami diperintah oleh Ki Patih Brotomenggala !"

"Krakkki"

Ki Patih Brotomenggala menggerakkan kedua lengannya, dua kepala yang gundul itu beradu keras dan pecah berantakanl Semua orang terkejut, Pangeran Kukutan meraba gagang keris, para pengawal sudah siap dengan tombak mereka untuk mengeroyok ki patih yang agaknya hendak memberontak.

"Brotomenggala! Berani engkau melakukan hal ini di hadapanku?"

Bentakan ini keluar dari mulut sang prabu yang sudah bangkit berdiri dari tempat duduk.

nya.

Ki Patih Brotomenggala yang tadinya tak dapat mengendalikan kemarahannya, ketika mendengarkan bentakan ini menjadI lemas seluruh sendi tulangnya, dan Ia menjatuhkan diri berlutut di depan junjungannya.

"Ampunkan hamba......... hamba tidak berani......... akan tetapi semua ini adalah fitnah......... fitnah......... , fitnah !"

Patih yang sudah tua itu menutupi mukanya dengan kedua tangan, tubuhnya menggigil karena menahan rasa penasaran dan kemarahan besar.

"Tidak ada fitnahi Aku sendiri yang menjadi saksi, bagaimana bisa dikatakan fitnah? Pengawal, tangkap penghianat dan pemberontak ini, laksanakan hukuman gantung di alun-alun bersama seluruh keluarganyal"

Sang prabu yang sudah diamuk kemarahan itu mengeluarkan perintah yang disambut isak tangis seluruh keluarga kepatihan.

Namun para pengawal yang sudah mendapat aba-aba dari Pangeran Kukutan, sudah menangkap mereka semua, membelenggu dan menggiring mereka keluar dari ruangan itu, menuju ke alun-alun.

Para ponggawa tidak ada yang berani campur tangan karena mereka pun yakin akan keadaan ki patih, sungguhpun hal ini membuat mereka terheran-heran dan tidak mengerti.

Kini alun-alun telah dibanjiri penduduk yang hendak menyakslkan pelaksanaan hukum massal yang mengerikan ini.

Tiang-tiang gantung dibangun serentak, tiga puluh enam buah banyaknya.

Mengerikan!

Hanya mereka yang menjadi kaki tangan Suminten dan Pangeran Kukutan saja yang diam-diam tersenyum puas karena musuh besar mereka yang berbahaya itu kini akan dibasmi habis.

Rakyat biasa menonton dengan wajah pucat dan banyak pula yang menangis sembunyi-sembunyi.

Sang prabu sendiri duduk di panggung dengan wajah pucat dan mata sayu.

Suminten duduk di dekatnya dengan wajah berseri, dan Pangeran Kukutan berdirl tegak, gagah dan masih berpakaian pemburu.

Di dekatnya berdirl Raden Warutama yang menjadi buah bibir para ponggawa, karena dialah pada saat Itu menjadi pahlawan penolong raja.

Para hukuman sudah digiring berkelompok di dekat tiang-tiang gantungan.

Amat mengharukan keadaan mereka.

Ki patih yang sudah tua dengan kedua tangan dibelenggu, berdiri dengan kedua kaki terpentang, mukanya yang keriputan menengadah ke langit, seolah-olah mohon kekuatan dari para dewata.

Bergantlan keluarganya menghampirinya, memeluk kedua kaklnya dan menangis, namun kakek perkasa itu tidak mau memandang ke bawah karena ia maklum bahwa sekali semangatnya runtuh, ia akan menjadi pilu dan hatinya akan menderita.

Ia tidak ingin mati dalam keadaan seorang pengecut.

Karena ia tidak bersalah, mati pun harus seperti seorang satria perkasa.

Perang tanding terjadi dalam hati dan pikirannya.

Betapapun gagah sikapnya, kalau dia dan keluarganya akan mati di tiang gantungan, berarti mereka itu mati sebagai keluarga penghianat!

Kalau dia mengamuk pada saat terakhir itu, akhirnya ia akan mati dikeroyok berikut keluarganya dan mati sebagai keluarga pemberontak!, Tiba-tiba ki patih mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau terluka dan ia sudah memballkkan tubuh, menghadap ke arah sang prabu yang duduk di atas panggung.

Kemudian, sambil memandang junjungannya dengan sepasang mata berkilat-kilat, ia berkata, suaranya nyaring sehingga terdengar oleh semua orang, memecah kesunyian yang menegangkan di saat itu.

"Gusti Sinuwun! Hamba bukan seorang penghianat, karena itu hamba tidak ingin mati sebagai seorang penghianat terhukum! Keluarga hamba adalah abdi-abdi yang setia, bukan pula pemberontak! Maka hamba sekeluarga rela mengorbankan nyawa demi dharma bakti hamba kepada Paduka Gusti. Namun sekali lagi, bukan mati sebagai orang hukuman karena hamba tidak berdosa, melainkan mati membunuh diri karena penyesalan dan kedukaan menyaksikan Paduka Gusti Sinuwun junjungan hamba telah terkena bujukan iblis, telah dilemahkan oleh manusia-manusia berhati iblis seperti Suminten dan Pangeran Kukutan! Hamba sekeluarga rela berkorban, namun semoga paduka menjadi sadar. !"

Semua orang tertegun dan secepat kilat ki patih yang memang memiliki kedigdayaan ini telah mematahkan belenggu tangannya dengan sekali renggut kemudian tangannya meraih seorang pengawal di dekatnya, merampas sebatang pedang dan dengan pedang ini ki patih lalu menyerbu keluarganya sendiri!

Hebat bukan main perlstiwa ini.

Gerakan ki patih amat tangkas dan cepat, tusukan-tusukannya tepat mengenai dada menembus jantung sehingga setiap keluarga yang terkena tusukannya, roboh tak sempat menjerit lagi.

Isteri-isterinya, putera-puterinya, para abdi, seorang demi seorang dia robohkan, dia renggut nyawanya dengan perantaraan ujung pedang.

Mereka yang roboh tak bergerak lagi, mereka yang belum terbunuh berlutut dan membuka dada sambil memandang ki patih dengan air mata bercucuran.

Semua siap menerima kematian di tangan ki patih!

Tinggal lima orang kanak-kanak, yaitu cucu buyut ki patih yang belum roboh tewas.

Ki patih meloncat dengan mengayun pedang.

Dari mulut seorang anak laki-laki cucu buyutnya, berusia paling banyak lima tahun, terdengar rintihan.

"Eyang......... Eyang Buyut. !"

Ki patih yang matanya terbelalak, pedang dan seluruh pakaian serta kedua lengannya merah oleh darah keluarganya itu seperti disambar halilintar, berdiri memandang wajah anak kecil yang menangis itu, menggigil, pedangnya terlepas dan ia menjatuhkan diri berlutut, mendekap lima anak kecil yang kini kesemuanya menangis.

"Srrrt......... srrrtt. !"

Hujan anak panah yang dilepas oleh para pengawal atas perintah Pangeran Kukutan menyambar ke arah kakek dan lima orang cucunya.

Ratusan batang anak panah menancap di tubuh kakek itu yang dengan tenaga terangkir merangkul lima orang cucunya, tak bergerak-gerak, dan hanya darah yang bercucuran dari sekelompok manusia ini membuktikan bahwa mereka berenam telah menjadi sasaran anak panah.

Ketika para pengawal menyerbu dan mendekat, baru diketahui bahwa kakek itu memeluk lima orang cucunya dengan pengerahan tenaga sehingga mereka berlima telah tewas karena remuk tulang-tulangnya dalam dekapan kakek mereka sebelum anak-anak panah itu menembus tubuh mereka bersama tubuh kakek mereka.

KI Patih Brotomenggala tewas dalam keadaan memeluk lima orang cucu buyutnya, dengan mata masih melotot penuh penasaran akan tetapi mulut membayangkan kasih sayang mesra kepada keluarganya yang terpaksa ia bunuh sendiri karena menghindarkan mereka daripada kematian sebagai keluarga penghianat atau pemberontak!

Penglihatan yang amat hebat itu membuat semua penonton menggigil, banyak yang bercucuran air mata, bahkan ada yang pingsan di tempat ia berdiri atau berjongkok.

Sang prabu sendiri ternyata pingsan di tempat duduknya dan dengan pimpinan Suminten dan Pangeran Kukutan, sang prabu diusung masuk kemball ke dalam istana.

Para pengawal membubarkan semua penonton dan melenyapkan mayat-mayat keluarga ki patih, tidak lupa mencabuti tiang-tiang gantungan yang masih bersih karena belum digunakan itu.

Peristiwa mengerikan itu kembali mengguncangkan Kerajaan Jenggala, membuat gentar mereka yang tadinya berfihak kepada Ki Patlh Brotomenggala.

Para ponggawa yang tebal rasa sayang kepada diri sendiri, yang berwatak pengecut, melihat betapa besar kekuasaan pangeran mahkota dan selir terkasih sang prabu, maka tanpa malu-malu mereka ini cepat memalingkan muka dan dengan suka rela menggabung kepada Pangeran Kukutan.

Mereka yang leblh kokoh batinnya, yang menjunjung kesatriaan di atas kepentingan pribadi, diam-diam lolos dari kerajaan, membawa keluarga mereka melarikan diri dan bersembunyi di gunung-gunung dan sebagian besar lari memasuki daerah Panjalu.

Sang prabu menjadi berpenyakitan semenjak terjadinya peristiwa mengerikan itu.

Atas bujukan Suminten dan Pangeran Kukutan, juga karena menganggap bahwa orang yang telah menolong nyawanya itu patut diberi anugerah besar, apalagi mengingat bahwa Raden Warutama memiliki kesaktian hebat, maka diangkatlah Raden Warutama menjadi patih, menggantikan Ki Patih Brotomenggala.

Dengan demikian, secara tidak resmi, Suminten mewakili raja mengatur rencana.

Resminya, Pangeran Mahkota Kukutan yang mewakili raja mengatur pemerintahan, dan pelaksanaannya adalah Ki Patih Warutama!

Beberapa malam kemudian setelah terjadinya peristiwa mengerikan di alun-alun Kerajaan Jenggala, Suminten berkenan menerima "kunjungan"

Ki Patih Warutama di dalam kamarnya!

Karena dia berkedudukan sebagai patih, tentu saja akan amat menyolokiah kalau Warutama datang secara berterang, maka Warutama mempergunakan aji kesaktiannya, memasuki keputren ini seperti seorang pencuri.

Di dalam kamar yang indah dan harum itu, Suminten dan Pangeran Kukutan menyambutnya dan berpesta-poralah ketiga orang yang mabuk kemenangan ini, dengan hidangan-hidangan yang lezat, dilayani oleh emban-emban yang muda-muda dan cantik-cantik.

Tentu saja para emban dan abdi yang menjadi pelayan di situ, termasuk beberapa orang pengawal kepercayaan, adalah orang-orang yang sudah amat dipercaya.

"Sungguh beruntung siasat yang Andika jalankan itu berjalan dengan amat lancar dan berhasil baik, Paman Patih,"

Kata Pangeran Kukutan setelah mereka terhenyak kekenyangan dan kepuasan menghadapi meja yang telah dibersihkan dari sisa-sisa makanan.

"Dan baru sekarang kita dapat berkumpul sehingga akan dapat terjawablah pertanyaan-pertanyaan yang sungguh mengganggu perasaanku."

"Hal apakah yang hendak Paduka tanyakan?"

"Tentang pasukan gundul itu. Siapakah mereka?"

Patih Warutama tersenyum lebar dan membusungkan dada.

"Mereka "adalah anak buah sahabat kita dari Negeri Cola."

"Permainan yang amat berbahaya sekali!"

Kata Suminten sambil memandang dengan sepasang matanya yang jeli dan bersinar jalang, yang dapat meneliti tubuh seorang pria penuh penilaian seperti ketika ia memandang patih baru itu pada saat Itu.

Baca Juga: Jodoh Rajawali 11

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 22

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert