Ceritasilat Novel Online

Perawan Lembah Wilis 6

Eps 6 Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo

Baca online Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo

Cersil Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo.

Betapapun tenang wataknya, gadis cilik ini terkejut juga ketika memandang ke sekeliling dan melihat puluhan laki-laki tinggi besar kasar, rata-rata brewok, berpakaian serba hijau semua, di pinggang mereka tergantung bermacam-macam senjata tajam, dipimpin oleh tiga orang laki-laki tinggi besar, telah mengurung tempat itu.

Anak perempuan ini melirik ayundanya dan melihat ayundanya masih duduk bersamadhi dengan tenang sekali,kedua mata dipejamkan.

Ia menjadi tenang kembali menyaksikan sikap ayundanya, dan tahu bahwa ayundanya menghendaki dia melayani orang-orang yang datang mengganggu mereka ini.

Tenang-tenang saja Setyaningsih bangkit berdiri, mengebut-ngebut kainnya dari tanah debu, kemudian baru ia mengangkat muka menghadapi tiga orang laki-laki tinggi besar yang ia dapat diduga tentulah pimpinan mereka karena tiga orang laki-laki ini biar hijau, namun pakaian mereka lebih mewah dan sikap mereka juga membayangkan kepemimpinan.

Pula, mereka bertiga itulah yang berdiri, paling dekat, sedangkan puluhan orang yang lain hanya berjajar dalam barisan mengurung sambil menyeringai dan bersikap menanti perintah.

Setyaningsih melangkah maju tiga tindak sampai ia berdiri berhadapan dengan tiga orang pimpinan Gerombolan Wilis itu.

Setelah memandang penuh selldik dengan sepasang matanya yang tajam bersinar, berkatalah Setyaningsih, suara-nya lantang, sikapnya angkuh, jangankan kelihatan gentar, bahkan seperti orang memandang rendah.

"Siapakah andika bertiga ini? Dan apa sebabnya andika memimpin anak buah andika mengurung tempat ini dan mengganggu aku dan ayundaku yang sedang beristirahat?"

Sejenak tiga orang kepala rampok itu melongo.

Sungguh tak pernah mereka sangka akan mendengar teguran yang keluar demikian tenangnya dari mulut bocah ini.

Kemudian mereka bertiga saling pandang dan tak dapat menahan ketawa mereka.

"Huah-ha-ha-ha! Toblis-toblisl Luar biasa sekali bocah ini! Begini muda, masih kanak-kanak sudah membayangkan kecantikan seperti bidadari kahyangan, dan keberaniannya seperti seekor singa betina! Anak baik, bocah denok ayu, calon puteri pilihan yang patut menjadi garwaku (isteriku), siapakah namamu cah ayu (anak cantik)?"

Kata Limanwilis sambil tersenyum-senyum ramah dan wajah yang penuh brewok itu berseri-seri, kemudian ia menuding ke arah Endang Patribroto dan melanjutkan pertanyaannya.

"Dan siapakah wanita cantik jelita seperti Sang Hyang Komaratih itu? Siapa namanya, mau pergi ke mana, dan apa keperluannya datang ke Gunung Wilis?"

Setyaningsih mengerutkan alisnya yang kecil hitam, matanya menyinarkan kemarahan, kepalanya dikedikkan, tubuhnya ditegakkan, tangan kiri bertolak pinggang dan telunjuk tangan kanan menuding ke arah muka Limanwilis.

"Eh, paman tual Mengapa engkau begini tidak tahu tata susila? Kalianlah yang lebih dahulu mengganggu kami yang tidak mempunyai sangkut-paut dengan kalian, maka sudah semestinya kalau kalian mengaku siapa kalian ini dan mengapa mengganggu kami berdua. Jawab-lah pertanyaanku, kalau kalian tidak mau menjawab, lebih baik lekas pergi dan jangan ganggu kami sebelum terlambat!"

"Heh-heh-heh, bocah yang berhati singa! Sebelum terlambat katamu? Apa maksudmu?"

Tanya Lembuwilis yang juga kagum menyaksikan ketabahan Setyaningsih, sambil mendekat.

"Karena kalau ayundaku sampai marah dan bangkit, kalian takkan dapat mencari tempat untuk menyembunyikan nyawa kalianl"

"Babo-babo, bocah sombong sekali!"

Nogowilis membentak. Di antara tiga orang bersaudara ini, Nogowilis yang termuda dan yang paling berangasan (pemarah).

"Kau mundur dan suruhlah ayundamu maju. Aku enggan melawan anak-anak!"

"Hush, adi Nogo, sabarlah. Anak ini menarik sekali, dan aku yakin dia ini bukan bocah sembarangan,"

Kata Limanwills menyabarkan adiknya lalu menghadapi Setyaningsih lagi, sikapnya masih ramah dan sabar.

"Eh, perawan cilik yang berani mati, biarlah engkau mengenal kami. Aku adalah Limanwilis, dia adikku Lembuwilis dan yang itu adik bungsu Nogowilis. Kami bertiga kakakberadik yang menjadi pimpinan dari Gerombolan Wilis yang sudah kondang-kaonang-onang (terkenal sekali), disegani kawan ditakuti lawan! Gunung Wilis dan wilayahnya adalah tempat kekuasaan kami, siapapun tidak boleh lewat sebelum mendapat ijin dari kami! Pagi hari ini kalian berdua lewat daerah kami, tentu saja merupakan pelanggaran. Akan tetapi, karena engkau begini tabah dan ayundamu begitu cantik jelita, biarlah kami ampunkan kalian asalkan kalian suka tinggal bersama kami, menjadi keluarga kami. Ha-ha-ha!"

"Hem m, wawasanmu lancang sekali, Limanwilis! Engkau kira kami ini orang macam apa untuk kau jadikan anggauta keluargamu? Sudahlah, lebih baik menyingkir dari sini dan biarkan kami melanjutkan perjalanan."

"Waduh-waduh, sombongnya!"

Nogowilis membentak lagi.

"Kakang Liman, kok sabar-sabarnya itu, lho! Biar kupondong dan ciumi mulutnya biar dia kapok dan tidak membuka mulut lebar lagi!"

"Huah-ha-ha-ha! Sabar......... sabar. adi Nogo.Masa kita harus bertengkar dan bertanding melawan perawan cilik? Alangkah memalukan! Eh, perawan cilik,kau panggil saja ayundamu biar dia yang bicara dengan kami."

Setyaningsih menoleh ke arah Endang Patibroto yang masih samadhi, lalu ia menggoyang kepala keras-keras.

"Tidak, ayunda sedang samadhi, tidak boleh diganggu!"

"Biar aku yang membangunkannya!"

Kata Lembuwilis yang sudah melangkah maju.

"Tahan !"

Sekali meloncat, tubuh Setyaningsih berkelebat dan sudah berada di depan Lembuwilis,menghadang dengan keris di tangan kanan! "Siapapun tidak boleh mengganggu ayunda, kecuali melalui mayatku!"

Lembuwilis mundur sampai tiga langkah dengan mata terbelalak. Demikian heran dan kagum hatinya sampai ia melongo, tak dapat bicara. Limanwilis juga kagum sekali, lalu menarik tangan Lembuwilis mundur.

"Biarlah kita coba dia, adi Lembu. Heh, Dayun, kau majulah dan coba kaulayani perawan cilik ini bertanding!"

Seorang laki-laki tinggi besar akan tetapi masih muda, rambutnya panjang riap-riapan meloncat maju dari dalam barisan perampok.

Dia ini anak buah perampok, akan tetapi merupakan seorang yang kuat dan menjadi pembantu utama tiga orang pimpinan itu.

Dayun melangkah maju, tersenyum menyeringai lebar.

"Waahhh, kakangmas Limanwilis, betapa memalukan melawan seorang bocah, apalagi kalau dia perempuan dan begini halus. ! Heh-heh!"

"Huah, tak usah banyak cerewet. Kau ujilah dia, ingin aku melihat apakah dia setangkas mulutnya. Akan tetapi cukup kalau kau merobohkan dia, jangan sampai melukai dia. Sayang kalau terluka, begitu denok!"

"Baiklah!"

Dayun melangkah maju menghadapi Setyaningsih yang memandangnya dengan marah.

"Marilah bocah ayu, mari kita main-main sebentar. Kau tusukkanlah kerismu yang sebesar daun padi itu ke dadaku ini. Nah, kubuka dadaku, tusuklah, sayang. Heh-heh-heh!"

Dayun memasang lagak, membusungkan dadanya yang berbulu dan membusung kuat sekali. Setyaningsih tidak menjawab, melainkan menyarungkan kerisnya kembali.

"Eh-eh......... kau. kau menyimpan kembali kerismu? Hahaha, jadi engkau takut dan mengaku kalah, manis? Bagus, lebih baik begitu dan auuugghh!!"

Tubuh Dayun yang tadinya bicara sambil tertawa itu terpelanting dibarengi teriakannya ketiga Setyaningsih setelah menyimpan kerisnya tadi lalu menampar dadanya dengan pukulan tangan yang disertai Aji Pethit Nogo!

Biarpun baru berusia sebelas tahun, namun Setyaningsih telah menerima gemblengan ibunya semenjak kecil, dan kalau diingat ibunya adalah wanita sakti Kartikosari, maka tidaklah mengherankan kalau tamparan-nya tadi membuat Dayun terpelanting dengan dada serasa remuk!

"Manusia sombong!

Baru ditampar saja sudah roboh, apalagi kalau ditusuk keris!

Bangkitlah!"

Kata Setyaningsih yang berdiri tegak dengan sikap gagah.

Semua mata melongo, terutama sekali mata ketiga orang kepala rampok itu.

Mereka tahu bahwa biarpun dalam hal kesaktian Dayun belum seberapa, namun Dayun termasuk seorang yang kuat sehingga kalau hanya pukulan seorang laki-laki dewasa saja mengenai dadanya, tentu akan dapat ditahannya.

Akan tetapi bagaimana sekarang tamparan tangan anak kecil perempuan itu dapat merobohkannya?

Dayun meringis dan menggosok-gosok dadanya, napasnya menjadi sesak seperti orang kumat penyakit menginya, kemudian ia bangkit berdiri dengan muka sebentar pucat sebentar merah.

"Kakang Limanwilis,perkenankan aku menghajar bocah setan ini!"

Dengusnya.

Limanwilis yang kini yakin benar bahwa anak perempuan ini memiliki kesaktian tinggi, mengangguk dengan pandang mata tak pernah pindah dari Setyaningsih.

Setelah mendapat perkenan dari Limanwilis, Dayun menggereng seperti seekor harimau marah, kemudian ia mengembangkan kedua lengannya yang besar panjang dan berbulu, dengan jari-jari tangan yang sebesar pisang raja itu ia menubruk, maksudnya hendak mencengkeram dan memeluk tubuh anak perempuan itu.

"Iiihhhhh.."

Dayun terhuyung karena ia telah menubruk angin kosong, sedangkan Setyaningsih tadi telah melesat sambil berseru nyaring, menggunakan Aji Bayu Tantra seperti ajaran mendiang ibundanya.

Aji Bayu Tantra adalah aji keringanan tubuh yang membuat gerakannya menjadi gesit sekali, cepat dan seperti terbang saja ketika ia mengelak dan meloncat menghindarkan cengkeraman lawan.

Akan tetapi,karena tadi merasa ngeri juga menyaksikan sikap lawan yang hendak memeluknya, Setyaningsih meloncat terlalu jauh sehingga kini kembali ia berdiri tegak menghadapi Dayun yang sudah membalikkan tubuh, mengembangkan kedua lengan, melangkah perlahan-lahan seperti seekor monyet besar menari.

"Heeengggg ke mana kau hendak lari?"

Kembali Dayun menubruk, lebih cepat daripada tadi.

Setyaningsih yang cerdik kini masih tetap mengerahkan Aji Bayu Tantra, akan tetapi bukan untuk meloncat jauh menghindarkan diri, melainkan ia menggunakan keringanan tubuhnya untuk menyelinap melalui bawah lengan kiri lawan yang menyambar sehingga kembali Dayun menubruk angin.

Sebelum Dayun sempat membalikkan tubuh, Setyaningsih sudah mendahuluinya,melompat ke atas mengayun tangan dan........."plakk!"

Tengkuk Dayun sudah dipukulnya dengan jari-jari tangan yang mengandung Aji Pethit Nogo! "Aduhhh......... tobaaaattt. !I"

Dayun terjungkal dan bergulingan, mengeluarkan suara seperti orang menangis sambil meraba-raba tengkuknya yang serasa patah-patah.

Kembali semua anak buah gerombolan memandang dengan mata terbelalak.

Mereka terlalu heran dan kagum sehingga melongo, dan ada yang mengeluarkan seruan-seruan kaget.

Akan tetapi Dayun mempunyai tubuh yang kuat, di samping itu, memang tenaga Setyaningsih yang baru berusia sebelas tahun itu belum cukup kuat untuk merobohkan seorang laki-laki tinggi besar seperti Dayun.

Maka sebentar saja Dayun sudah bangkit berdiri lagi dan sekali tangan kanannya bergerak, ia telah mencabut goloknya, sebuah golok yang besar, tebal dan amat kuat, lagi mengkilap saking tajamnya.

Dia mang-amangkan golok ini dengan sikap menakutkan sekali sambil melangkah maju menghampiri lawannya, mukanya beringas dan penuh kemarahan.

Kali ini ia tidak minta perkenan lagi dari pemimpinnya, dan sebaliknya tiga orang pimpinan Gerombolan Wills itupun tidak mencegahnya.

Melihat lawannya datang lagi membawa golok, Setyaningsih tidak menjadi gentar.

Bahkan ia marah sekali dan tangan kanannya sudah mencabut kerisnya, tangan kiri yang sudah diisi Aji Pethit Nogo siap dikembangkan.

Matanya yang jeli dan bagus itu menatap lawan dan mengikuti gerak-geriknya tanpa berkedip.

Pada saat itu, telinga Setyaningsih mendengar suara bisikan yang jelas sekali, dan ia mengenal suara ayundanya, Endang Patibroto, yang berkata lirih.

"Ningsih, jangan bunuh dia "

Setyaningsih tidak heran menyaksikan kesaktian luar blasa ayundanya ini.

Biarpun tidak sekuat ayundanya, mendiang ibunya juga dapat mengirim suara dari jauh seperti itu, yang dapat dilakukan hanya dengan dasar tenaga sakti yang sudah amat kuat.

Pada saat itu, Dayun menggereng keras, goloknya terayun, tampak sinar golok berkilau, disusul suara angin menyambar.

Setyaningsih hanya menggeser kaki dan menundukkan kepala, namun gerakan ini sudah cukup membuat sambaran golok ke arah lehernya tidak mengenai sasaran.

Dayun penasaran sekali, juga makin kaget.

Goloknya yang membabat angin kosong itu la putar membalik dan kini sudah menyambar lagi, bukan merupakan bacokan melainkan menyerang dengan tusukan ke arah dada Setyaningsih dengan kecepatan seperti anak panah menyambar dan kekuatan serudukan tanduk seekor banteng!

Semua orang menatan napas, karena biarpun gadis cilik itu adalah lawan dari teman mereka Dayun, namun mereka semua tentu saja tidak menganggapnya sebagai musuh.

"Wuuuuutttt......... cusss......... plakkk.........! Aduuhhhh !!"

Cepat sekali terjadinya gebrakan itu.

Ketika golok menyambar ke arah dada, Setyaningsih tidak merubah kedudukan kakinya, melainkan cepat ia berjongkok sehingga golok lawan meluncur lewat di atas kepalanya.

Pada saat itu, kerisnya cepat menusuk pangkal lengan kanan Dayun, sedangkan tangan kirinya yang sudah siap itu menampar lutut.

Tak dapat dicegah lagi, golok terlepas dari tangan Dayun dan tubuh yang tinggi besar itu terguling roboh, tak dapat bangun berdiri lagi karena selain pangkal lengan kanannya terluka tusukan keris, juga sambungan lutut kanannya terlepas!

Ia hanya dapat mengerang kesakitan, tangan kanan memegang lutut, tangan kiri meraba luka di pangkal lengan.

Rasa heran dan kagum dari para anak buah Gerombolan Wilis berubah menjadi kemarahan ketika mereka menyaksikan robohnya Dayun dalam keadaan terluka.

Segera mereka maju mengepung Setyaningsih tanpa menanti komando lagi, masing-masing mencabut senjata, hendak mengeroyok anak perempuan yang luar biasa itu.

Akan tetapi pada saat itu terdengar seruan nyaring.

"Tikus-tikus tak tahu diri!"

Maka tampaklah bayangan berkelebat, amat cepat sehingga sukar diikuti pandangan mata, apalagi oleh mereka yang mengurung terdekat karena tiba-tiba saja mata mereka menjadi gelap, tampak seribu bintang di kala kepala mereka seperti meledak dan nanar seketika.

Dalam waktu sekejap mata dua puluh orang lebih, yaitu mereka yang mengurung paling dekat dengan Setyaningsih, telah roboh, senjata mereka beterbangan ke sana-sini dan mereka mengaduh-aduh, memegangi kepala dan dada.

Ketika tiga pimpinan Gerombolan Wilis memandang terbelalak, kiranya wanita cantik jelita yang tadi duduk bersamadhi, kini telah berdiri di dekat bocah itu, berdiri tegak dan memandang ke sekeliling dengan senyum manis mengejek, mata bersinar-sinar dan suaranya nyaring penuh wibawa ketika berkata.

"Hayoh, siapa lagi yang berani boleh maju! Kalian ini tikus-tikus tak tahu diri! Kalau adikku menghendaki, dia ini sudah menggeletak mampus dengan perut robek, dan kalau aku menghendaki, likuran (dua puluh lebih) orang ini sudah menggeletak mampus dengan kepala remuk dan dada pecah!"

"Babo-babo!! Wanita yang sepak terjangnya seperti halilintar menyambar-nyambar, sumbarmu seakan-akan dapat menjebol puncak Gunung Wins! Apakah yang andika kehendaki maka andika mengacau di wilayah kami?"

Tanya Limanwilis dengan suara menggeledek, sedangkan anak buahnya dengan hati gentar hanya dari lingkaran yang makin menjauh, giris hati mereka menyaksikan tandang Endang Patibroto yang luar biasa tadi.

Endang Patibroto menoleh dan menghadapi Limanwilis.

"Bukan kami kakak beradik yang mengacau, melainkan kalian yang tidak tahu diri. Dengar balk-baik,-kalian Gerombolan Wilis, aku dan adikku suka sekali dengan keadaan di sini dan hendak menetap, tinggal di puncak Gunung Wills. Kalian harus bersedia melayani kami sebagai pimpinan kalian kalau hendak tinggal di daerah Wills, kalau tidak, lebih baik kalian sekarang juga mlnggat semua dari sini, karena sekali lagi berani mengganggu kami, sudah pasti kalian akan kubunuh dan kulempar-lemparkan ke dalam jurang menjadi makanan srigala dan burung gagak!"

"Waduh-waduh Bukan main sumbarmu, wanita perkasa! Ketahuilah, kami bertiga kakak beradik Wilis. Kalau kau dapat mengalahkan kami bertiga, barulah akan kami bertimbangkan ucapan-mu tadi!"

Kata pula Limanwilis menantang.

Kepala gerombolan ini tadi sudah menyaksikan sepak terjang Endang Patibroto dan ia sudah cukup maklum bahwa wanita cantik yang berdiri tegak di depannya ini adalah seorang yang sakti mandraguna.

Namun tentu saja dia dan adik-adiknya tidak akan mengalah begitu saja.

"Bagus! Majulah kalian bertiga, atau boleh ditambah seluruh gerombolanmu, aku tidak akan undur selangkah!"

Jawab Endang Patibroto sambil berdiri tegak, siap menanti pengeroyokan dengan kedua tangan kosong.

Setyaningsih sudah melangkah mundur, tidak mau mengganggu ayundanya, berdiri di pinggiran dengan keris siap di tangan.

"Heh, wanita perkasa, jangan bersombong! Betapapun juga, kami Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis bukanlah laki-laki pengecut! Kau kalahkan dulu kami kakak beradik bertiga, baru kita bicara lagi"

Bentak Limanwilis yang marah juga mendengar tantangan Endang Patibroto. Dia sudah mencabut goloknya, demikian pula kedua adiknya, lalu membentak lagi.

"Keluarkan senjatamu, wanita perkasa!"

Endang Patibroto tersenyum, di dalam hatinya girang melihat bahwa tiga orang kepala gerombolan ini biarpun orang-orang kasar, namun memiliki sifat gagah sehingga tidak sia-sialah dia dan Setyaningsih mengampuni dan tidak membunuh anak buah mereka.

"Untuk menghadapi tiga batang golok-mu, tidak perlu aku bersenjata, Liman-wilis. Kalian majulah!"

Ucapan ini menambah kemarahan tiga orang kepala gerombolan itu.

Sambil mengeluarkan bentakan hebat, Limanwilis sudah menerjang maju, diikuti oleh kedua orang adiknya dalam detik-detik berikutnya.

Serangan mereka luar biasa cepatnya, dan suara berdesing yang keluar dari tiga batang golok itu membuktikan bahwa ketiganya memiliki tenaga yang amat besar.

Setyaningsih yang sudah mempelajari ilmu silat, dapat mengerti akan kedigdayaan mereka dan diam-diam ia menjadi khawatir sekali, memandang dengan mata terbelalak sambil menggigit bibir, siap untuk nekat menerjang kalau sampai ayundanya terdesak.

Maklumlah, anak ini biarpun sudah mendengar dari mendiang ibunya akan kesaktian ayundanya, namun belum pernah ia menyaksikannya dengan mata-sendiri.

Tadi sekelebatan la menyaksikan amukan ayundanya yang dalam sekejap mata saja merobohkan likuran orang, dan karena gerakan Endang Patibroto terlampau cepat, ia hanya mendapat bukti bahwa ayundanya telah menguasai ilmu bergerak cepat, yaitu Aji Bayu Tantra sampai mendekati kesempurnaan.

Hanya rakandanya Tejolaksono saja yang agaknya mampu menandingi gerak cepat seperti itu tadi...........

Memang hebat bukan main sepak terjang Endang Patibroto ketika ia dikeroyok tiga orang kepala rampok itu.

Wanita muda ini sedang mengandung dan Ia bertangan kosong saja, akan tetapi tiga orang kepala rampok yang bertenaga besar itu sama sekall tidak berdaya menghadapi kecepatan gerak Endang Patibroto yang seolah-olah merupakan seekor burung garuda betina yang marah dan menyambar-nyambar dahsyat!

Limanwilis, orang pertama dari ketiga kepala rampok itu, merasa yakin benar bahwa mereka berhadapan dengan seorang wanita yang memiliki kesaktian luar biasa, maka ia berlaku hati-hati dan tidak berani berlaku lengah atau menyerang secara sembrono.

Tidak demikian dengan Nogowilis dan Lembuwilis.

Kedua orang laki-laki tinggi besar ini menjadi penasaran betul.

Mereka bertiga terkenal sebagai tokoh-tokoh gagah perkasa yang jarang menemui tanding, ditakuti semua orang.

Kini mereka mengeroyok seorang wanita yang halus gerak-geriknya, bertangan kosong.

Masa mereka akan kalah?

Rasa penasaran membuat gerakan mereka menjadi beringas dan liar, seperti singa-singa kelaparan.

Nogowilis dan Lembuwilis menggerakkan golok, menyerbu dari kanan kiri dengan suara menggereng menyeramkan.

Golok mereka sampai mengeluarkan suara berdesing dari kanan kiri.

Adapun Limanwilis yang melihat kenekatan kedua orang adiknya,bersiap dengan goloknya untuk mencari kesempatan baik merobohkan lawan tangguh ini.

Endang Patibroto merasa kesal hatinya.

Kalau ia menghendaki, dengan hantaman-hantaman maut tentu sejak tadi ia telah mampu merobohkan ketiga orang lawannya.

Akan tetapi ia tidak menghendaki kematian mereka.

Orang-orang kasar Ini harus ditundukkan karena mereka akan dapat menjadi pembantu-pembantu yang baik.

Inilah sebabnya mengapa Endang Patibroto tidak segera merobohkan mereka dan sekarang, melihat betapa dua orang kepala rampok dengan nekat menerjangnya dari kanan kiri, Ia mendapat kesempatan baik.

la sengaja berlaku lambat, seolah-olah membiarkan dua batang golok dari kanan kiri itu menggunting tubuhnya.

Akan tetapi pada detik terakhIr, tiba-tiba tubuhnya menyelinap secepat kilat ke belakang, sehingga tak dapat dicegah lagi dua batang golok dari kanan kiri saling bertemu di udara.

"Cringgggg !!"

Keras sekali pertemuan kedua batang golok itu sehingga muncratlah bunga api dan dua batang golok itu terlepas dari pegangan tangan kedua orang kepala rampok.

Kakak beradik ini memiliki tenaga yang seimbang dan karena tadi mereka mengeluarkan seluruh tenaga, maka begitu kedua batang golok bertemu, mereka merasa betapa lengan kanan mereka lumpuh dan tidak kuat memegang golok masingmasing.

Pada saat mereka menjadi kaget dan menyesal mengapa golok mereka beradu dengan golok saudara sendiri, tiba-tiba Nogowilis dan Lembuwilis berteriak keras, merasa kepala mereka disambar petir yang membuat kepala terasa panas dan pening, mata berkunang dan bumi yang diinjak serasa berputaran.

Mereka terhuyung, mempertahankan diri, namun tidak kuat dan akhirnya kedua orang kepala rampok yang kuat ini roboh terguling, memegangi kepala yang kena tampar Aji Pethit Nogo tadi sambil mengerang kesakitan.

Limanwilis cepat menyerbu, membacokkan goloknya ke arah kepala Endang Patibroto.

Wanita sakti ini tidak bergerak dari tempatnya, berdiri tegak dan begitu golok meluncur datang, ia hanya miringkan tubuh dan dari arah samping, tangan kirinya dengan jari-jari penuh Aji Pethit Nogo menyambar ke arah golok "Krakkk!!"

Golok di tangan Limanwilis itu tinggal sepotong, patah terkena tangkisan Aji Pethit Nogo.

Limanwilis terbelalak kaget, heran dan kagum.

Ia membuang sisa goloknya, menoleh ke arah kedua orang adiknya yang sudah bangun dan duduk melongo menyaksikan kekalahan kakak mereka, kemudlan membungkuk-bungkuk memberi hormat kepada Endang Patibroto sambil berkata.

"Kepandaian andika memang hebat, kami mengaku kalah. Wanita perkasa, kalau boleh kami mengetahui, siapakah gerangan andika?"

"Namaku Endang Patibroto dan ini adikku Setyaningsih."

Mendengar disebutnya nama ini, tiga orang kepala rampok, dan juga anak buah mereka, mengeluarkan seruan kaget dan memandang dengan mata terbelalak.

"Endang Patibroto......... senopati puteri dan juga puteri mantu Jenggala yang sakti mandraguna dan telah menggegerkan jagat (dunia) itu......... Endang Patibroto tersenyum masam, lalu mengangguk.

"Bekas senopati dan bekas puteri mantu Jenggala, sekarang tidak lagi. Sekarang aku menjadi pemilik Gunung Wills dan kalian menjadi anak buahku. Ataukah. kalian tidak mau dan lebih baik minggat pergi dari sini?"

Limanwilis dan kedua orang adiknya sudah menjatuhkan diri berlutut dan menyembah Endang Patibroto.

Demikian pula semua anak buah perampok sudah menjatuhkan diri berlutut.

Limanwilis mewakili semua temannya berkata.

"Harap paduka suka memberi ampun kepada kami semua. Sungguh kami tidak menyangka bahwa paduka adalah Gusti Puteri Endang Patibroto yang sudah terkenal sejak dahulu. Kalau memang paduka berkenan hendak berdiam di Wilis, tentu saja kami siap untuk mentaati segala perintah paduka dan kami menyerahkan jiwa raga kami ke dalam kekuasaan paduka. Percayalah gusti, kami Gerombolan Wills bukanlah sembarangan perampok dan tahu akan arti setia."

Endang Patibroto tersenyum girang, dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Bagus sekali, kakang Limanwilis dan hatiku amat girang mendengar kesanggupan kalian.Ketahuilah kalian semua! Aku bersama adik kandungku ini sekarang tiada keluarga lagi dan seperti kukatakan tadi, aku senang sekali melihat keadaan Gunung Wilis, maka kami berdua mengambil keputusan untuk menetap di tempat ini. Kalau kalian suka menjadi anak buahku, baiklah. Aku akan tinggal di puncak, buatkan pondok untuk kami. Tempat ini akan kunamakan Padepokan Wilis yang wilayahnya meliputi seluruh daerah Gunung Wilis. Kalian semua adalah anak buah Padepokan Wills, bukan Gerombolan Wilis lagi yang mulai saat ini kububarkan! Kalian bukan perampok-perampok dan aku bukan kepala rampok! Kalian mulai saat ini adalah satria-satria Wilis yang tidak boleh merampok. Daerah Wilis ini amat luas dan amat subur, kita dapat hidup bertani dan berburu binatang hutan. Penduduk pegunungan ini tidak boleh diganggu karena mereka adalah rakyat kita! Kita harus mengangkat Padepokan Wilis sehingga dunia akan tahu bahwa di sini adalah tempat tinggal orang-orang gagah perkasa. Kalian semua selain menjadi anak buah Padepokan Wilis, juga akan menerima gemblengan yang akan kuturunkan melalui ketiga kakang Wilis. Mengerti?"

Semua orang bekas perampok yang jumlahnya hampir seratus orang itu bersorak gembira.. Siapa orangnya tidak akan berbesar hati kalau sekaligus derajat mereka diangkat dari "perampok"

Menjadi "satria"?

Beramai-ramai para bekas perampok ini lalu membangun padepokan untuk Endang Patibroto dan Setyaningsih, juga membuat pondok-pondok untuk mereka di lereng bawah puncak.

Kemudian mereka membuka hutan, mengerjakan sawah, mencangkul dan bercocok tanam.

Mulai saat itu, lahirlah Padepokan Wilis di mana Endang Patibroto hidup dengan tenang dan tenteram bersama adik kandungnya, memimpin seratus orang laki-laki yang amat setia.

Beberapa bulan kemudian, terlahir pula anak yang dikandung Endang Patibroto, seorang anak perempuan yang sehat dan mungil, yang tangisnya mengejutkan para laki-laki gagah anak buah Padepokan Wilis karena amat nyaring, yang rambutnya hitam panjang dan subur, dengan sepasang mata yang mengeluarkan sinar tajam sebagai tanda bahwa anak ini bukan-lah anak biasa.

Para anak buah Padepokan Wilis menyambut kelahiran anak ini dengan penuh kegembiraan, dengan pesta reog dan tari-tarian.

Keluarga bekas perampok yang kini otomatis juga tinggal di lereng dan menjadi anggauta-anggauta Padepokan Wilis, menyelenggarakan pesta itu sehingga cukup meriah, dikunjungi pula oleh penduduk sekitar Wilis yang tidak berapa banyak jumlahnya.

Maka terlahirlah Retno Wilis, demikian nama anak itu.

Retno Wilis, anak Gunung Wilis, yang sejak kecil oleh ibunya telah diberi pakaian serba hijau warnanya, sesuai dengan namanya dan tempat tinggalnya karena Wilis berarti Hijau.

-oo0dw0oo-Suminten menghadapi cermin, berhias sambil rengeng-rengeng (bersenandung).

Hatinya merasa puas sekali dengan kemajuan-kemajuan yang dicapainya.

Ia telah berhasil baik dengan bantuan Pangeran Kukutan yang menjadi pembantu amat setia.

Ia maklum bahwa Ki Patih Brotomenggala dengan kawan-kawannya merupakan ancaman dan musuh berbahaya baginya.

Namun, dengan bantuan Kukutan, ia telah mulai dapat menanam kecurigaan dan ketidakpercayaan sang prabu terhadap para pembesar ini.

Beberapa hari yang lalu, rencananya bersama Kukutan telah berhasil baik sekali.

Dua orang di antara pembantu ki patih yang merupakan orang-orang kuat dan berbahaya, yaitu Adipati Wirabayu mantu Ki Patih Brotomenggala dan Empu Adisastra, telah ditangkap dan dijebloskan dalam tahanan!.

Suminten menatap bayangan wajahnya yang manis di dalam cermin.

Digosok-gosoknya pipinya yang terhias tahi lalat hitam kecil di sebelah kiri, di atas mulut, sampai kedua pipiyang halus itu menjadi kemerahan seperti jambu matang.

Digerak-gerakkan bibirnya sehingga dapat membentuk mulut yang menggairahkan, bibir yang menantang dan yang ia tahu akan menundukkan hati sang prabu.

Diaturnya sinom (anak rambut) di dahi dan depan telinga.

Rambutnya yang hitam panjang itu disanggul lepas-lepas di belakang tengkuk, seperti lingkaran ular yang malas, dan dihias bunga melati setelah ia gosok dengan sari kembang melati sehingga berbau harum wangi.

Bunga air mawar yang tadi ia pakai untuk mandi dan mencuci tubuh, membuat tubuhnya berbau sedap dan segar seperti setangkai mawar yang semerbak harum.

Suminten tersenyum, mengagumi wajahnya sendiri di dalam cermin, lalu melirik ke arah tubuhnya dengan pandang mata bangga.

Memang tubuhnya patut dibanggakan, tubuhnya yang muda, belum dua puluh tahun, padat dan amat dikagumi sang prabu.

Ia tersenyum lagi penuh kebanggaan dan kepuasan, lalu menarik kain penutup buah dada agak ke bawah agar lebih banyak lagi bagian buah dada yang sebelah atas tampak.

Kali ini ia harus benar-benar mempergunakan seluruh keindahan wajah dan tubuhnya untuk mengalahkan sang prabu, untuk mencapai tujuannya.

Ia harus dapat membuat sang prabu mabuk, lebih mabuk daripada yang sudah-sudah agar segala yang dimintanya akan dikabulkan.

Suminten bangkit berdiri.

Kini tampak betapa tubuhnya benar-benar amat menggairahkan.

Tinggi semampai dengan lekuk-lengkung sempurna, padat berisi, semua bagian tampak halus lunak namun mengkal berisi seperti buah mangga muda matang ati.

Sekali lagi ia meneliti keadaan dirinya, memandangan bayangan tubuhnya dari segala jurusan, berputaran di depan cermin, lalu ia tersenyum puas dan bertepuk tangan memberi isyarat kepada pada abdinya bahwa mereka kini boleh memasuki kamarnya.

Tiga orang emban yang muda-muda dan cantik-cantik akan tetapi kelihatan sederhana kalau dibandingkan dengan Suminten yang gemilang, memasuki kamar itu dengan langkah gemulai dengan tersenyum-senyum genit.

Mereka itu tanpa diperintah lalu sibuk mengelilingi junjungan mereka, ada yang membetulkan letak kain, ada yang hendak memperbaiki letak rambut dan mulut mereka memuji-muji dengan sikap menjilat.

"Hish, jangan lancang! Rambut dan riasanku sudah baik semua, jangan diganggu! Kalian ini merusak saja, selera kalian mana cocok dengan seleraku?"

Suminten adalah bekas seorang emban, abdi dalem mendiang Pangeran Panjirawit dan isterinya.

Karena inilah agaknya maka setelah kini menduduki tempat tinggi di samping sang prabu, ia masih belum dapat melenyapkan sifatnya yang suka bersendau-gurau dengan para abdinya seperti terhadap kawan-kawan sendiri.

Hal ini amat menyenangkan hati para abdinya yang membuat mereka makin cinta dan setia.

Memang pandai sekali Suminten mengambil hati para pembantunya.

Para emban yang ditegur itu tersenyum-senyum dan melontarkan kata-kata pujian yang bukan penjilatan semata karena memang pada saat itu Suminten tampak amat cantik manis menarik hati.

Jumlah para emban yang mengabdi kepada Suminten ada tujuh orang dan mereka ini kesemuanya telah bersumpah setia kepada Suminten.

Mereka ini pula yang tempo hati telah membuat kesaksian palsu untuk menjatuhkan Puteri Sekarmadu.

Mereka yakin bahwa hidup mati mereka, suka-duka mereka, bahagia sengsara mereka terletak di tangan Suminten, oleh karena itu mereka amat setia dan ingin sehidup semati dengan junjungan ini yang mereka percaya penuh keyakinan pasti akan menanjak kedudukannya dan menjadi seorang yang paling berkuasa di Jenggala kelak.

Dengan demikian, nasib mereka pun sudah boleh dipastikan akan menjadi makin baik.

Siapa tahu kelak mereka itupun akan diangkat menjadi puteri-puteri yang terhormat seperti halnya Suminten yang dahulupun hanya seorang emban seperti mereka.

"Sudahlah, simpan segala puji-pujian itu untuk lain kali,emban. Lebih baik lekas kalian pergi menemui pengawal pribadi yang menjaga' kamar peraduan sang prabu, katakan bahwa aku hendak menghadap sang prabu sekarang juga."

Tiga orang emban yang cantik itu tersenyum-senyum.

Mereka selalu merasa girang kalau disuruh menemui para pengawal yang gagah-gagah dan ganteng-ganteng itu, dan kesempatan-kesempatan seperti itu tentu akan mereka pergunakan sebaik-baiknya untuk bersendau-gurau dengan para pengawal.

Berlari-larilah mereka seperti anak-anak nakal keluar dari kamar Suminten untuk menyampaikan perintah junjungan mereka.

Memang amat besar kekuasaan Suminten.

Belum pernah sebelumnya seorang isteri selir dapat menghadap sang prabu begitu saja tanpa dipanggil, setiap saat yang dikehendakinya!

Bahkan sang permaisuri sekalipun tidak pernah atau jarang sekali mempergunakan kekuasaan seperti ini.

Hebatnya, bukan hanya sang prabu sendiri yang selalu menurut dan menerima kunjungan selirnya ini dengan kedua tangan terbuka dan hati gembira, dalam keadaan bagaimanapun, juga para pengawal sang prabu tidak seorang pun berani membantah.

Hal ini adalah berkat kecerdikan Suminten yang merengek-rengek dan membujuk-bujuk sang prabu dengan alasan bahwa sejak peristiwa Sekarmadu, istana harus dijaga oleh pengawal-pengawal yang benar-benar dapat dipercaya dan untuk memilIh para pengawal ini, ditunjuk Pangeran Kukutan "yang setia"

Oleh Suminten.

Dan seperti yang sudah-sudah, karena mabuk dalam pelukan dan belaian Suminten, sang prabu meluluskan atau menyetujuinya.

Kini para pengawal pribadi sang prabu adalah orang-orang pilihan Pangeran Kukutan dan sebagai anak buah pangeran itu, tentu saja dengan sendirinya mereka itu tunduk dan taat kepada Suminten Demikianlah, malam hari itu, biarpun bukan waktunya sang prabu memanggilnya, Suminten memasuki kamar peraduan sang prabu dengan langkah perlahan.

Para pengawal yang menjaga di luar, menelan ludah ketika melihat sang puteri ini lewat.

Para pelayan yang tadi melayani sang prabu, telah diperintahkan ke-luar dari kamar oleh raja yang tua ini.

Setiap kali selirnya yang tercinta ini datang, mendadak saja sang prabu yang tua itu seolah-olah kembali menjadi muda, dikuasai nafsu berahi.

Tadi sebelum mendengar akan permintaan Suminten untuk menghadap, sang prabu benar-benar menikmati masa tuanya, seperti orang-orang tua yang lain dia suka duduk bermalasan di kursi yang lunak, dilayani para emban, dipijiti lengan dan kakinya, sambil makan hidangan yang serba lezat dan empuk tidak melelahkan mulut yang sudah ompong, mendengarkan.

emban bersenandung dengan suaranya yang merdu, kadang-kadang minum minuman yang hangat dicampuri jahe membuat tubuh terasa hangat dan enak, meram melek seperti seekor lembu menjerum (mendekap dalam lumpur).

Akan tetapi begitu mendengar bahwa Suminten akan datang, tiba-tiba saja si lembu berubah menjadi singa!

Sinar mata yang tadinya tenang tenteram merem melek, kini terbuka lebar, bersinar-sinar dan wajah yang tua Itu berseri penuh nafsu.

Dengan tak sabar sang prabu lalu menggunakan kata-kata dan isyarat, mengusir semua emban dan membersihkan semua bekas hidangan.

Ia sendiri lalu duduk di kamar kosong, duduk di atas kursi empuk, memandang dengan penuh kegembiraan ke arah pintu, semua urat syaraf di tubuh menegang seperti biasanya kalau ia akan didekati Suminten!

PANDANG mata sang prabu makin bersinar dan kini mata itu terbelalak penuh kagum ketika selirnya tercinta memasuki kamar dari pintu yang terbuka dari luar.

Daun pintu tertutup kembali dan Suminten menjatuhkan diri berlutut dan menyembah dengan gerakan lemah gemulai sehingga mempertontonkan keindahan tubuhnya dengan jelas oleh gerakan-gerakan terlatih.

"Bangunlah........ bangunlah......... dan berjalanlah perlahan-lahan ke sini, juitaku. Aku ingin melihat engkau melenggang "

Sang prabu menggerak-gerakkan kedua lengannya seperti hendak mengangkat Suminten bangun.

Suminten menengadah sehingga wajahnya tampak sepenuhnya oleh sang prabu.

Mulut yang semringah merah segar itu agak terbuka,mengaah senyum, mata mengerling penuh hasrat, hidung kecil mungil itu agak bergerak cupingnya kemudian Suminten menyembah dan bangkit berdiri.

Tidak sembarangan saja ia bangun ini, melainkan diaturnya, seperti bangkitnya seorang penari, memakai irama, memakai aturan sehingga setiap gerak, setiap perubahan tubuh tampak menarik menggairahkan.

Kemudian wanita cantik manis yang amat cerdik ini melangkah maju, dengan langkah-langkah kecil, setiap melangkah kaki menyilang ke depan, tumit diangkat, maka tampaklah penglihatan yang mempesonakan.

Tubuh dari pinggang ke atas tegak dan kelihatan agung, akan tetapi dari pinggang ke bawah, seluruhnya merupakan pergerakan yang seratus prosen menonjolkan sifat kewanitaan yang halus lunak, lemas dan memikat.

Karena tumit diangkat melangkah, maka buah pinggul meninggi, dan karena kaki menyilang ke depan setiap langkah, pinggul itu melenggang-lenggok seperti pinggul harimau, inggang yang ramping itu mematah ke anan kiri seolah-olah tidak bertulang, seperti tubuh ular, ayunan lengan, tapak semua mengandung keindahan seni menggairahkan, ditambah suara ujung kain perlahan-lahan setiap melangkah, seperti daun-daun bambu bersendau-gurau membislkkan janji-janji yang muluk membakar nafsu berahi.

Sebetulnya sang prabu yang sudah tua itu merasa tubuhnya lelah dan matanya mengantuk.

Akan tetapi melihat Suminten, lenyap rasa kantuknya seperti mencuci muka dengan air wayu, timbul seleranya seperti orang mengandung melihat rujak jeruk yang masam manis dan pedas!

Diam-diam sang prabu merasa amat heran mengapa setelah menyelir wanita ini sampai bertahun-tahun, setiap kali melihat Suminten selalu timbul hasratnya, tak pernah merasa bosan, bahkan makin lama makin terpikat dan melekat, seperti orang ketagihan candu.

"Duhai Suminten, wong ayu denok montok, kedatanganmu seperti munculnya matahari di musim hujan, seperti jatuhnya hujan di musim kering! Ke sinilah, manis, mendekatlah agar terobat rasa rindu hatiku!"

Suminten mencibirkan bibir bawahnya yang penuh merah dengan sikap manja dan centil, mengerling dan kemudian tersenyum.

"Duh, sinuhun pujaan hamba! Baru dua malam yang lalu hamba menemani paduka, akan tetapi entah mengapa, dua malam berpisahan dengan paduka hamba tidak dapat tidur barang sekejap mata, tersiksa hati rindu rendam."

Suminten lalu menjatuhkan diri di dekat kaki sang prabu, menyembah.

Raja tua itu mendekap kepala itu, menariknya ke atas pangkuannya, lalu menggunakan kedua telapak tangan memegang pipi yang kemerahan, menengadahkan muka yang manis itu, terpesona oleh keindahan yang dilihatnya, kemudian sang prabu menunduk, membungkuk dan mencium kening yang menjelirit indah, penuh kemesraan dan kasih sayang.

"Wahai, manisku yang tercinta, kalau sudah mendengar ucapanmu, meraba kulitmu, menciummu, aku lupa bahwa aku sudah tua dan agaknya aku tidak akan mau mati sampai seribu tahun lagi!". Suminten memeluk pinggang junjungannya dan membenamkan mukanya di atas pangkuan. la muak, seperti pada malam pertama ia diperisteri raja tua ini. Muak ia kalau dicium dan merasa betapa jenggot dan kumis panjang, kasar dan beruban itu mengusap-usap kulit mukanya yang halus lunak. Di dalam pangkuan, ia berjebi, dan kali ini bukan berjebi manja, melainkan berjebi sungguh-sungguh karena hatinya mengkal dan mencemoohkan. Hatinya berbisik gemas.

"Huh, tua bangka, siapa sih yang ingin melihat engkau tidak segera mampus? Akan tetapi jangan kau mampus dulu karena hanya melalui kebodohanmu saja-lah cita-citaku akan tercapai. Kalau sudah tercapai, tidak ingin mampus pun akan kuusahakan supaya kau segera mampus, kau tua bangka menjemukan!"

Akan tetapi, ia segera dapat menindas perasaan hatinya ini dan dengan muka penuh keharuan dan penuh cinta kaslh ia menengadah, memandang wajah sang prabu, dua titik air mata yang jernlh tergantung pada bulu mata yang lentik panjang.

"Aduhai, gusti junjungan hamba! Mengapa paduka bicara tentang mati? Hambalah orang pertama yang siang malam berdoa dan memohon kepada para dewata semoga paduka dianugerahi panjang usia dan takkan berpisah dari sisi hamba selama hamba masih hIdup."

"Wah. , adindaku, jantung hatiku yang tiada keduanya di dunia ini! Betapa besar rasa syukur dan terima kasihku kepada para dewata yang menganugerahi aku di hati tuaku dengan seorang den ayu seperti engkau!"

Sang prabu yang masih kuat itu menarik tubuh Suminten, didudukkannya wanita itu di atas pangkuannya dan mulailah mereka bercumbu dan berkasih mesra.

Pandang mata sang prabu berpesta menjelajahi tubuh yang denok montok itu, yang memang sengaja ditonjol-tonjolkan bagian-bagian yang menarik oleh Suminten dl kala ia berdandan tadi.

Suminten yang semuda itu sudah amat ahli dalam merayu, membuat sri baginda mabuk dengan belaian-belaian sepuluh jari tangannya yang halus dan hidup merayap-rayap, membelai dan mengusap penuh kasih, dengan pelukan-pelukan ketat, dengan ciuman-ciuman manja dan panas bernafsu sampai raja tua itu terengah-engah dibakar nafsunya sendiri kemudian memondong tubuh selirnya dibawa ke peraduan yang dibuat daripada emas bertilam sutera dan berbau harum.

Suminten pandai menyimpan rahasianya, juga pandai menekan perasaan.

Ia melayani sang prabu seperti seorang selir yang benar-benar mencinta.

Ia menanti saat dan kesempatan baik, dan sampai jauh malam setelah sang prabu merem melek menikmati pijatan jari-jari tangan halus itu pada kedua kaki tuanya yang lelah, Suminten masih belum menyampaikan hasrat yang terkandung di hatinya, sesuai dengan rencana yang dibuatnya sejak siang tadi ia melakukan perundingan rahasia dengan Pangeran Kukutan.

Rencananya dilakukan semenjak tadi ia berdandan mempersolek diri, merupakan sebagIan siasatnya untuk menjatuhkan hati sang prabu.

Melihat betapa tekunnya wanita cantik manis itu memijati betis dan pahanya, sang prabu menghela napas penuh kepuasan, lalu berbisik.

"Suminten, betapa aku mencintamu ‘ Saat yang amat baik telah tiba dan Suminten menahan isak, kemudian kedua tangannya berhenti memijati kaki dan digunakan untuk menutupi mukanya. Ia terisak dan air mata mengalir dari celah-celah jari tangannya. Sang prabu terkejut dan cepat bangun, merangkul leher kekasihnya.

"Eh, eh, ada apakah, Suminten? Mengapa engkau meruntuhkan waspa (air mata), kekasihku?"

Suminten makin sesenggukan, menyembunyikan mukanya di dada sang prabu.

"Hati hamba amat terharu........ dan justeru karena kekalnya cinta kasih antara kita. menimbulkan hal-hal yang tidak enak........ karena mereka menjadi iri hati…."

"Eh, siapakah? Siapa iri hati kepadamu?"

"Paduka tentu maklum. Sudah terbuktl desas-desus yang dikeluarkan oleh mulut kurang ajar Adipati Wirabayu dan Empu Adisastra."

"Hemm, tenangkan hatimu. Bukankah mereka telah kutangkap dan dijebloskarr dalam penjara?"

"Benar, gusti hamba yang tercinta. Akan tetapi apa gunanya? Mereka itu malah makin mendendam........ hamba orang yang hina-dina dan celaka........ dibenci oleh banyak orang karena iri hati… "

"Eh, siapa pula berani? Aku sendiri akan melindungimu,kekasih manis. Siapa-pun dia yang membencimu akan berhadapan dengan aku sendiril"

Seru sang prabu dengan nada menantang dan marah.

"Ah, gusti sesembahan hamba yang hamba cinta dengan seluruh jiwa raga hamba........ , tidak sedetikpun hamba meragukan kasih sayang paduka........ akan tetapi, mereka itu orang-orang terpenting, termasuk Ki Patih Brotomenggala yang menjadi orang pertama dengan antekanteknya, para tumenggung dan adipati........ dan bahkan beberapa orang pangeran juga membenci hamba. di bawah lindungan gusti ayu ratu sendiri "

"Hemmm, hanya dugaanmu saja, Suminten. Mereka tidak membencimu!"

"Hamba seorang wanita. Perasaan hamba dapat mengetahui, biarpun mereka tidak secara berterang menyatakan benci karena takut kepada paduka. Akan tetapi cara mereka memandang hamba, dan desas-desus di luaran, para abdi sudah mengetahui semua. ah, betapa akan lega hati hamba kalau hamba dapat membalas mereka semua!"

Sang prabu benar-benar terkejut. Dipegangnya pundak kekasihnya dan dipaksanya wanita itu memandangnya.

"Suminten! -.Apa yang kaukatakan ini? Mereka........ mereka adalah keluargaku, isteriku dan putera-puteraku, dan ponggawa-ponggawa tinggi yang setia. !’ Suminten menangis makin mengguguk, kemudian ia melepaskan rangkulan sang prabu, melorot turun sambil menangis lalu berlutut di depan pembaringan sambil menyembah-nyembah.

"Ampunkan hamba, gusti. Sungguh hamba tidak tahu diri! Mereka adalah orang-orang berjasa dan setia dan pandai, sedangkan hamba? Ah, hamba hanya orang sudera, rendahan hina, bodoh dan canggung. Hamba tidak punya apa-apa, hanya punya cinta kasih, hamba merelakan badan dan nyawa ini........ paduka bunuh saja hamba sekarang juga, agar paduka tidak menjadi pusing karena urusan mereka membenci hamba."

Suminten terisak-isak.

"Hushhh........ hushhhh........ kau kekasihku, omongan apa ini? Ke sinilah dan hentikan tangismu "

Sang prabu menarik tubuh kekasihnya, merangkul dan memangkunya. Diusapnya air mata yang membasahi pipi yang montok, diciumnya mulut yang terisak, lalu sang prabu tersenyum, bertanya.

"Suminten, habis apa yang kau ingin kulakukan? Menangkapi mereka semua? Kakang patih, permaisuri, para adipati dan tumenggung, bahkan para pangeran?"

Suminten menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata dengan nada sedih.

"Hamba bukan seorang yang tidak tahu diri, gusti. Tidak, hamba tidak menghendaki sejauh itu.Hanya tentu saja hamba merasa sengsara hidup ini kalau dijadikan bahan percakapan mereka yang membenci, padahal di dalam hati hamba, tiada rasa benci kecuali keinginan hendak melayani paduka sepenuh cinta kasih, membahagiakan paduka dengan setia."

Sang prabu mengecup bibir yang mengeluarkan ucapan semanis itu.

"Habis, apa kehendakmu sekarang, Suminten?"

"Dua orang bedebah itu, gusti Si Wirabayu dan Adisatra........ , mereka membuat desas-desus bahwa hamba telah menjatuhkan guna-guna atas diri paduka, bahwa hamba meracuni hidup paduka, melemah kan Kerajaan Jenggala. Untung ada putera paduka yang amat setia dan berbakti,anak Pangeran Kuku tan yang dapat membongkar kejahatan mereka. Kalau tidak, dan sampai rakyat mempercaya desas-desus itu, bukankah mencelakakan hamba dan merendahkan nama paduka?"

"Mereka sudah ditangkap, manis "

"Tidak, mereka harus dihukum mati, gusti. Mereka telah menghina paduka dan kalau mereka tidak dihukum mati di alun-alun, yang lain-lain tidak akan menjadi takut! Kewibawaan paduka akan terancam dan untuk memulihkan kewibawaan paduka, jalan satu-satunya hanya menghukum mati mereka yang telah menghina paduka."

Berubah wajah sang prabu.

"Tapi........ tapi........ Wirabayu adalah anak mantu kakang Patih Brotomenggala........ dan dan kakang Empu Adisastra banyak jasanya dalam kesenian "

Kembali Suminten menangis.

"Sudahlah, hendaknya paduka bunuh saja hambamu ini, gusti. sudah hamba katakan tadi, hamba tiada jasa, hamba tiada guna. , silahkan paduka tusuk saja dada ini dengan pusaka paduka .........’ Suminten menarik penutup dadanya, menantang. Akan tetapi perbuatan ini bahkan membuat sang prabu terpesona. Tiada bosannya sang prabu mengagumi tubuh yang muda dan indah itu. Ia memeluk mesra.

"Baiklah, kekasihku........ baiklah memang kau benar, mereka harus dijadikan contoh untuk mengembalikan kewibawaanku, agar tidak ada orang berani Iagi menghinamu !!"

"Menghina paduka, bukan hamba....."

Kata Suminten manja sambil memeluk dan kembali dengan pandainya wanita ini mencumbu sehingga sang prabu menjadi makin mabuk.

Jin setan dan iblis brekasakan yang meliar di malam hari itu berpesta pora, bersorak gembira melihat hasil kemenangan nafsu kejahatan ini.

-oo0dw0oo-Alun-alum penuh rakyat, berjejal-jejal.

hendak menyaksikan hukuman mati atas diri Adipati Wirabayu dan Empu Adisastra.

Bagian pengawal menjaga di sekeliling alun-alun, mencegah rakyat mendekati tempat pelaksanaan hukuman.

Tak jauh dari tempat pelaksanaan hukuman ini terdapat sebuah panggung dan di situ duduk sang prabu bersama Suminten.

Keruh wajah sang prabu karena sesungguhnya pelaksanaan hukuman inl tidak berkenan di hatinya, terpaksa diperintahkan untuk tidak mengecewakan hati Suminten!

Wajah tua itu tampak makin berkerut-merut, makin tua, pandang matanya sayu.

Berbeda dengan raja tua ini, Suminten tampak gilang-gemilang dalam cahaya mudanya, cantik jelita dan sikapnya tenang, agung dan angkuh dalam kemenangannya.

Biarpun alun-alun itu penuh dengan manusia berjajaran,namun suasananya sunyi.

Semua orang merasa prihatin dan gelisah.

Memang ada banyak pula yang tersenyum-senyum puas, mereka ini adalah orang-orang yang memang mempunyai rasa permusuhan terhadap dua orang yang akan dijatuhi hukuman mati, dan terutama mereka yang telah menjadi kaki tangan Pangeran Kukutan.

Keluarga kedua orang hukuman yang diharuskan hadir, termasuk Ki Patih Brotomenggala, berkumpul di sudut dan di antara mereka, terutama kaum puterinya, menangis terisak-isak.

Suasana makin mengharukan ketika dua orang hukuman itu digiring memasuki alun-alun.

Mereka tidak muda lagi, lima puluhan tahun uslanya.

Terutama Empu Adisastra sudah kelihatan tua dengan jenggotnya yang panjang.

Mereka sudah mendengar akan keputusan raja dan menerima keputusan ini dengan tenang.

Mereka memasuki lapangan digiring oleh para algojo dengan kedua tangan terikat di belakang punggung, dan berjalan dengan langkah tenang dan dada terangkat.

Dalam menghadapi kematian, kedua orang ini sama sekali tidak merasa takut.

Dan mereka tahu bahwa mereka mati untuk kebenaran.

Mereka telah menyebarkan kritik dan cela terhadap sang prabu dan Suminten,bukan sekali-kali karena dendam pribadi, melainkan karena dasar kebaktian terhadap kerajaan dan bangsa.

Mereka melihat betapa Kerajaan Jenggala terancam kehancuran karena sang prabu tergila-gila kepada seorang wanita yang tidak baik.

Mereka ditangkap karena fitnah yang dijatuhkan Pangeran Kukutan ketika pangeran ini mendengar di suatu pesta tentang kritik dan cela mereka, difitnah sebagai penyebar desas-desus yangmenghina raja!

Dua orang ini dihadapkan kepada sang prabu.

Mereka memandang ke arah Suminten dengan mata melotot penuh kebencian, kemudian berlutut ke arah sang prabu.

Sang prabu meramkan mata, lalu mengangkat tangan ke atas memberi isyarat algojo menarik kedua orang itu, dibawa ke dekat lubang yang telah digali untuk menampung darah mereka, kemudian disuruh berlutut.

Pada saat itu, terdengar jerit tangis.

Mereka mengangkat muka memandang dan ketika melihat keluarga mereka menangis menjerit-jerit, panggilan isteri dan anak-anak mereka, tak dapat lagi mereka menahan air mata.

Bukan air mata karena takut, melalnkan air mata karena sedih bahwa mereka harus meninggalkan keluarga yang tentu akan menjadi berduka dan berkabung.

"Algojo, lakukan tugasmu!"

Kata Adipati Wirabayu.Sang algolo lalu mengangkat goloknya ke atas mengertak gigi dan tampak sinar berkelebat dua kali berturut-turut.

Putuslah leher kedua orang terhukum itu.

Darah menyemprot ke atas dan beberapa orang anggauta keluarga roboh pingsan.

Di antara para penonton terdengar isak tertahan.

Sang prabu lalu bangkit, wajahnya agak pucat dan Suminten cepat bangkit pula, menggandeng lengan raja dan dituntunnya raja itu turun dari panggung, memasuki tandu dan cepat-cepat pergi meninggalkan tempat mengerikan itu, memasuki istana.

Hanya karena pandainya Suminten menghibur saja maka dalam waktu singkat sang prabu telah melupakan peristiwa menyedihkan di alun-alun itu.

Semenjak hari Itu, sang prabu makin tenggelam ke dalam pelukan dan bujuk rayu Suminten sehingga raja yang tua itu mengabaikan tugasnya, tidak memperdulikan lagi bermalam di dalam kamar para selir lainnya, juga tidak lagi bermalam di kamar permaisuri.

Amat pandainya Suminten mengambil hati dan amat pandai pula ia mencari-cari perkara sehingga tampak jelas olehnya siapa mereka yang membencinya dan memusuhinya agar dengan mudah ia dapat menjatuhkan fitnah kepada mereka dan turun tangan terlebih dahulu menghalau orang-orang yang sekiranya akan dapat menjadi penghalang bagi cita-citanya.

"Mengapa paduka kelihatan murung, gusti? Bukankah kematian kedua orang laknat itu berarti melenyapkan dua orang pemberontak yang tidak setia?"

Sang prabu menghela napas panjang, namun dalam kekecewaannya ia masih tidak dapat terlepas daripada daya tarik yang keluar dari gerak-gerik dan tubuh Suminten.

Ditariknya selir terkasih itu, dipangku dan dielus rambut yang halus panjang itu.

"Engkau tidak tahu, Suminten. Mereka berdua itu adalah orang-orang yang pandai. Aku telah kehilangan dua pembantu, yang cakap."

"Ahhh, sinuwun, apakah artinya pembantu yang cakap dan pandai kalau dia tidak setla? Mencari orang pandai tidaklah sukar, akan tetapi, mencari orang setia adalah paling sukar. Dengan para pembantu macam ki patih dan antek-anteknya, paduka dikelilingi oleh musuh-musuh rahasia dan kedudukan paduka amatlah berbahaya. Akan tetapi, hendaknya paduka tenang dan percayalah bahwa selama hamba berada di sini, dibantu oleh puteranda Pangeran Kukutan yang berbakti dan setla, hamba berdua akan dapat menghalau semua bahaya yang mengancam paduka."

Sang prabu menggunakan kedua tangan untuk memegang kepala yang terasa pening. Ia menggeleng-geleng kepalanya dan berkata.

"Ah, aku bingung........ aku bingung......... Minten. Betapa mungkin patihku yang setla memusuhiku........ Kakang PatIh Brotomenggala adalah patihku sejak dahulu........ dia........ dia… "

"Betapa dapat mengukur isi hati manusia, gustl? Dalamnya bengawan dapat diselami, tingginya gunung dapat didaki, akan tetapi dalamnya hati manusia dan tingginya cita-cita manusia sukar diukur. Mungkin dahulu dia setia, akan tetapi sekarang........ hemm, dia berani membujuk-bujuk sang permaisuri. dan menurut penyelidikan hamba dan Pangeran Kukutan, ki patih kini secara rahasia telah mengadakan kontak dengan para adipati dan bupati, agaknya siap-siap untuk memberontak apabila saatnya tiba."

Wajah sang prabu menjadi pucat. Terbelalak ia memandang Suminten dan berkata.

"Benarkah itu........? Adakah bukti-buktinya. ?! "

Suminten tersenyum manis.

"Belum ada, gusti. Kalau sudah ada tentu hambakan turun tangan. Akan tetapi bukti itu sewaktu-waktu tentu dapat kita cari asalkan paduka sudah mengetahuinya terlebih dahulu. Hamba mendengar bahw ki patih dan teman-temannya sudah pula memilih-milih calon putera mahkota di antara para pangeran, tentu saja pangeran yang bersekutu dengan mereka memusuhi paduka."

"Aahhhh bagaimana baiknya Minten?"

"Harap paduka tenang dan serahkanlah kepada hamba. Suminten akan melindungi dan membela paduka sampai titik darah terakhir! Menurut pendapat hamba , sebaiknya sekarang menggantikan kedudukan kedua orang pemberontak yang sudah di hukum mati. Menurut petunjuk anaknda Pangeran Kukutan, sebaiknya mengangkat Tumenggung Wirokeling dan Tumenggun Sosrogali menggantikan kedua orang itu."

Sang prabu mengangguk-angguk.

Dua orang tumenggung itu adalah orang-orang kasar yang bodoh dan hanya tahu peran saja, akan tetapi bukankah tadi Suminten mengatakan bahwa yang penting mencari orang-orang setia?

"Baiklah, aku setuju.

Biar besok kuperintahkan kepada.ki patih."

Suminten girang sekali.

Memang ia sudah merencanakan semua ini dengan Pangeran Kukutan beberapa hari yang lalu ketika mereka mengadakan pertemuan kasih mesra,bermain cinta di taman.

Kedua orang tumenggung itu adalah kaki tangan Pangeran Kukutan yang boleh dipercaya.

Saking girangnya, ia lalu merangkul dan menciumi jenggot putih sang prabu.

"Duhai, gusti sesembahan hamba. Amat besar hati hamba melihat betapa paduka menaruh kepercayaan kepada hamba."

Sang prabu memeluk tubuh padat itu, kepercayaannya makin mendalam.

"Suminten, hanyalah engkau satu-satunya orang di dunia ini yang masih dapat kupercaya,berdasarkan cinta kasihmu yang telah kaubuktikan selama ini."

Setelah beberapa lama mencumbu rayu junjungannya yang sudah tua dan yang sesungguhnya memuakkan hatinya, Suminten lalu berkata halus.

"Gusti sinuwun, hamba rasa untuk melawan usaha mereka memilih seorang putera mahkota untuk menggantikan paduka kelak kalau-kalau mereka berhasil menggulingkan paduka, sebaiknya kalau sekarang juga paduka mengumumkan pengangkatan seorang putera mahkota, seorang pangeran pati yang paduka tentukan sebagai calon pengganti raja kelak."

Sang prabu mengangguk-angguk.

Memang sudah lama ia mempunyai keinginan seperti ini.

Sayang bahwa permaisuri tidak mempunyai anak laki-laki dan biarpun banyak ia mempunyai putera, namun para pangeran itu adalah anak-anak dari selir.

"Aku menanti sampai Panji Sigit cukup dewasa dan matang."

Suminten diam-diam mengerutkan keningnya.

Ia tahu bahwa di antara para pangeran putera selir, Pangeran Panji Sigit adalah seorang yang paling dicinta sang prabu.

Bahkan semua selir dan ponggawa istana suka belaka kepada pemuda itu.

Siapa pula orangnya yang tidak mencinta.

Pemuda itu tampan sekali seperti Arjuna, sikapnya halus dan selalu ramah, tidak sombong, tidak mencari muka,pendeknya seorang pemuda yang benar-benar menyenangkan hati.

Dia sendiri, sudah beberapa kali menelan ludah kalau bertemu pemuda remaja yang hebat ini dan sekarang nama ini disebut sang prabu sebagai calon putera mahkota!

Pangeran Panji Sigit akan jauh lebih menyenangkan hatinya daripada Pangeran Kukutan yang biarpun tampan dan gagah juga akan tetapi tidak setampan dan sehalus Pangeran Panji Sigit, bahkan agak kasar dalam bermain cinta.

Akan tetapi, pangeran remaja yang halus dan jujur bersih itu mana mungkin dapat ia ajak bersekutu?

Pangeran Kukutan jauh lebih memenuhi syarat dengan sifat-sifatnya yang cerdik dan pandai bersandiwara.

Namun, kalau dia bisa menarik Pangeran Panji Sigit menjadi pembantunya, wah hatinya akan puas sekali!

"Memang benar sekali wawasan paduka, gusti.

Anaknda Pangeran Panji Sigit memang amat tepat, akan tetapi pada dewasa ini, hamba juga mengira dia masih terlampau muda.

Padahal para pengkhianat itu selalu menanti kesempatan dan kiranya Pangeran Panji Sigit akan mudah terjebak ke dalam perangkap mereka."

Sang prabu mengangguk-angguk.

"Habis, menurut pendapatmu bagaimana, Suminten?"

"Mohon beribu ampun kalau pendapat hamba keliru,gusti. Paduka mempunyai banyak putera, akan tetapi hamha lihat bahwa para putera pangeran itu hanya mengejar foya-foya dan kesenangan belaka, tidak ada yang memperhatikan urusan pemerintahan, kecuali yang sudah terbukti, hanya anaknda Pangeran Kukutan. Maka, biarpun hamba setuju apabila paduka mengangkat Pangeran Panji Sigit, akan tetapi sementara ini, untuk menghadapi usaha busuk para pengkhianat, alangkah baiknya kalau paduka mengangkat Pangeran Kukutan sehagai putera mahkota. Hanya Pangeran Kukutan seorang yang tahu akan sifat-sifat para pengkhianat dan dapat menghadapi mereka, sehingga dia tali yang akan dapat menyelamatkan kerajaan paduka daripada pemberontakan."

Sejenak sang prabu termenung.

Terhadap Pangeran Kukutan, tidak ada getaran kasih sayang yang kuat dari hatinya, sungguhpun selama ini Pangeran Kukutan tidak pernah memperlihatkan watak tidak baik, bahkan telah membuktikan kesetiaannya.

Dia tidak menghendaki Pangeran Kukutan yang kelak menjadi raja menggantikannya.

Akan tetap, kalau betul seperti wawasan Suminten bahwa ada usaha gelap para musuh rahasia untuk menggulingkannya, memang perlu sekali adanya seorang pangeran mahkota.

Betapapun juga, pengangkatan seorang pangeran pati atau putera mahkota bukanlah hal sembarangan, maka ia lalu menunda urusan ini sampai beberapa hari untuk memikirkannya masak-masak.

Sementara itu Suminten yang merasa gelisah kalau-kalau sang prabu akan menjatuhkan pilihannya atas diri Pangeran Panji Sigit, siang hari telah bersiap-siap.

Sore hati itu ia hersolek keras, menaburi tubuhnya yang padat menarik itu dengan sari bunga.

Selesai bersolek, ia lalu menyuruh emban kepercayaannya untuk mencegat Pangeran Panji Sigit dan mohon kepada pangeran itu untuk memenuhi panggilan selir termuda sang prabu ini.

Pangeran Panji Sigit adalah seorang putera selir, akan tetapi selir raja itu telah meninggal dunia ketika Pangeran Panji Sigit masih kecil.

Karena tidak beribu lagi, maka Pangeran Panji Sigit diasuh oleh seorang inang pengasuh yang setia dan karena dialah satu-satunya pangeran yang tidak dimanja oleh seorang ibu yang memperebutkan kedudukan, maka sifat-sifatnya menjadi amat baik.

Inang pengasuh yang setia itu mentaati pesan terakhir ibu pangeran ini dan mendidiknya dengan hati-hati dan baik.

Pangeran Panji Sigit dilatih belajar kesusasteraan dan juga ilmu olah keperajuritan sehingga dia menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa, lemah lembut dan rendah hati, tidak memandang rendah para kawula, juga tidak menjilat atasan, tidak menginginkan kedudukan dan tidak memperebutkan kekuasaan.

Hal inilah yang membuat Pangeran Panji Sigit disuka oleh semua orang, bahkan sang prabu sendiri yang kagum melihat ketampanan dan kehalusan budi puteranya ini, amat mengasihinya.

Karena tidak menghiraukan kekuasaan dan kedudukan inilah yang membuat Pangeran Panji Sigit sama sekali tidak mencampuri urusan pemerintahan dan tidak tahu-menahu tentang politik dalam istana.

Ia hanya tahu dan mendengar betapa ayahandanya tergila-gila kepada selir termuda yang baru, dan hal ini hanya membuat dia tersenyum saja.

Dia sudah membaca dari kitab-kitab lama betapa seorang pria tidak akan dapat melepaskan diri daripada nafsu kejantanan yang akan mengejar dan menguasainya sampai nyawa meninggalkan badan, dan hanya dengan kekuatan batin dan kemauan sajalah seorang pria dapat menguasai nafsunya sendiri.

Ramandanya lemah, akan tetapi apa salahnya kalau seorang raja menikmati kesenangan duniawi yang sudah menjadi haknya?

Pangeran Panji Sigit biarpun telah berusia delapan belas tahun, tidak suka mengganggu wanita, tidak suka menurutkan nafsu bermain cinta seperti yang dilakukan saudara-saudaranya, para pangeran lainnya yang telah mengumbar nafsu semenjak berusia empat lima belas tahun!

Pangeran Panji Sigit lebih suka pergi mencari guru-guru ilmu silat yang pandai-pandai di antara para panglima dan pendeta, kemudian pergi berburu ke hutan-hutan seorang diri saja sehingga tubuhnya yang kelihatan halus gerakgeriknya itu menjadi amat kuat.

Senja hari itu karena cuaca amat baik, Pangeran Panji Sigit yang baru saja selesai mandi sehabis berlatih pencak silat dan berjalan-jalan di dalam taman istana yang luas dan indah menghirup hawa sejuk, tiba-tiba melihat seorang emban berlari-lari menghampirinya dan berjongkok sembah di depannya sambil berkata.

"Ampunkan hamba yang berani mengganggu, gusti pangeran. Akan tetapi hamba hanya melaksanakan perintah ibunda selir paduka yang minta agar paduka sudi datang menghadap."

Pangeran Panji Sigit termenung sejenak.

Ia tidak pernah mendekati selir-selir ramandanya yang ia tahu masih muda-muda, apalagi selir termuda Suminten yang terkenal cantik jelita dan yang menghebohkan seluruh istana.

Akan tetapi pemuda ini dapat mengekang perasaannya karena ia merasa tidak sopan kalau menolak, maka ia bertanya dengan halus.

"Emban, ibunda yang manakah yang memerintahkan aku datang menghadap?"

Emban itu masih muda, belum tiga puluh tahun usianya, cantik berkulit halus dan bermata jeli.

Ketika ditanya, ia kelihatan terkejut dan sadar daripada lamunannya.

Tadi ia menengadah dan memandangi wajah pemuda itu sambil menahan napas dan menelan ludah, kagum akan ketampanan wajah Sang Pangeran Panji Sigit.

"Eh........ ohh........ maaf, gusti........ ibunda paduka yang termuda."

Jantung pemuda itu berdenyut keras akan tetapi cepat ditekannya.

Hatinya-merasa tidak enak, akan tetapi betapapun ia tidak berani menolak karena setiap orang selir ramandanya adalah ibundanya pula.

Ibu kandungnya yang telah tiadapun seorang selir, sehingga biarpun ia seorang pangeran, namun derajatnya tidaklah lebih tinggi daripada selir ramandanya karena iapun putera selir.

"Baiklah, emban. Tentu ada hal yang amat penting maka ibunda memanggilku."

Maka pergilah Pangeran Panji Sigit diantar oleh emban itu, langsung menuju ke bangunan mungil dekat taman sari yang khusus ditinggali Suminten.

Begitu memasuki bangunan yang tak pernah ia kunjungi ini, diam-diam Pangeran Panji Sigit tertegun dan kagum.

Amat indahnya perabot-perabot di bangunan ini, jauh lebih indah daripada tempat-tempat tinggal para selir yang lain.

Jelas bahwa berita yang ia dengar benar adanya yaitu bahwa selir termuda ini amat dikasihi ramandanya.

Sunyi di bangunan mungil itu.

Sambil tersenyum emban tadi menunjuk ke arah sebuah kamar dari mana terpancar cahaya lampu kemerahan, kemudian tanpa berkata sesuatu emban itu pergi meninggalkan ruangan itu.

Selagi Pangeran Panji Sigit berdiri termangu, tiba-tiba terdengar suara halus dari dalam kamar itu.

"Anaknda pangeran, mari masuklah saja. Ibu berada di sini, masuklah jangan ragu-ragu, pangeran."

Makin berdebar jantung Pangeran Panji Sigit.

Ia harus taat akan perintah selir ramandanya, namun kesopanan yang telah mendarah daging di hatinya, membuat kakinya terasa berat untuk melangkah memasuki kamar.

Baru beberapa langkah dan baru sampai di depan pintu yang tertutup, ia berhenti dan berkata.

"Maafkan saya, ibunda. Biarlah saya menanti di sini saja sampai ibunda selesai untuk kemudian mendengarkan perintah ibunda yang akan disampaikan kepada saya."

Sunyi sejenak dari dalam kamar, kemudian terdengar lagi suara yang halus merdu.

"Iihhh, puteranda Panji Sigit Apakah engkau merasa sungkan dan malu? Hii-hik, masa seorang putera meragu dipanggil masuk kamar oleh ibundanya? Kalau begitu, engkau mengandung pikiran yang kotor."

"Sama sekali tidak, ibunda!"

"Kalau tidak masuklah, jangan seperti kanak-kanak. Aku mau bicara urusan penting denganmu, berdua saja, kalau di luar khawatir terdengar orang. Marilah, pangeran."

Ditegur seperti itu, Pangeran Panji Sigit bingung kemudian menggigit bibir dan memberanikan hatinya mendorong daun pintu.

Bau yang harum menyambutnya dan ia melihat selir ramandanya yang muda dan cantik itu duduk di atas pembaringan membelakanginya, menghadap cermin dan agaknya sedang membereskan rambutnya.

Ia makin berdebar dan hatinya tidak enak.

Biarpun disebut ibunya, wanita ini masih amat muda, sebaya atau sedikit saja lebih tua daripadanya "Maaf, ada keperluan apakah, ibunda?"

Suminten menengok dengan gerakan indah, matanya yang menjadi hiasan paling indah di samping mulutnya, mangerling tajam, mulutnya tersenyum lalu merekah merah, apalagi disinari lampu yang dibungkus kertas merah, lebih indah lagi.

"Mendekatlah sini, pangeran. Engkau terhitung anakku,bukan? Aku ibumu, mengapa mesti malu-malu? Ke sinilah dan tolonglah engkau pasangkan hiasan rambut ini. Jengkel sekali hatiku, memasang sejak tadi tidak mau sempurna juga."

Betapapun tidak enak hati Pangeran Panji Sigit, namun ia terdesak oleh kata-kata itu dan terpaksa ia melangkah maju dan berhenti di belakang punggung yang tampak bagian atas setengahnya itu.

Halus seperti batu pualam.

"Mana mungkin saya bisa memasangnya, ibunda."

"Ihh, anak bodoh. Masa tidak bisa. Lihat, rambutku masih terurai, kaupasangkan hiasan ini, seperti sisir, sisipkan saja di atas kepalaku, di tengah........ hi-hik canggung benar kau. , nanti dulu, memang tidak akan tepat kalau dari belakang, biar dari depan "

Sambil tertawa-tawa Suminten lalu membalikkan tubuhnya dan duduk menghadapi Pangeran Panji Sigit.

Pangeran itu terkesiap dan menahan napas.

Ingin ia melompat pergi dan lari dari situ.

Kiranya baju Suminten tidak beres!

Kemben yang menutup tubuh atas bagian depan itu amat longgar sehingga tampaklah membayang gumpalan daging yang merangsang.

Jari-jari tangan Suminten menangkap kedua tangan pangeran itu dan suaranya agak serak penuh getaran nafsu dan cumbu rayu.

"Kenapa, pangeran? Tidak senangkah engkau melihat aku? Tidak cantikkah aku dalam pandanganmu, wong bagus?"

Pangeran Panji Sigit merasa seolah-olah ada halilintar menyambar kepalanya.

Ia bukanlah kanak-kanak lagi, sudah dewasa dan tahu apa artinya ini semua.

Ia maklum bahwa kini keadaannya benar-benar dalam bahaya, tidak hanya dugaan belaka atau kekhawatiran seperti tadi.

Ia merasa seperti seekor kijang terjeblos dalam perangkap yang ia tidak tahu pergunakan untuk apa.

Cepat ia menjatuhkan diri berlutut di depan wanita itu dan berkata.

"Ampunkan saya, ibunda. Harap ibunda sudi melepaskan saya dan membiarkan saya pergi dari sini "

Akan tetapi sebagai jawaban, tiba-tiba Suminten mendekap kepala itu dan menariknya sehingga muka si pangeran terbenam ke dadanya!.

Pangeran Panji Sigit terkejut bukan main ketika merasa betapa mukanya terbenam kedalam kelembutan yang harum.

Kalau ia tidak terlatih batinnya, tentu ada dua kemungkinan buruk, yaitu pertama, ia akan roboh dalam buaian kenikmatan nafsu berahi, dan ke dua ia akan lupa dan memberontak lalu menghantam wanita ini sampai tewas di saat itu juga.

Untung ia waspada dan dapat menguasai dirinya.

Dengan halus namun kuat sekali ia menarik mukanya, sekali tangannya bergerak terlepaslah ia daripada dekapan dan begitu tubuhnya berkelebat, pemuda ini telah melompat dan lenyap dari dalam kamar.

Suminten bengong, menatap api lampu yang bergoyang-goyang oleh angin ketika pemuda itu meloncat, hatinya penuh kekecewaan dan juga penasaran.

Betapa mungkin seorang pemuda dapat menolak cinta kasihnya?

Dapat menolak tubuhnya?

Ia masih tidak mau percaya dan menganggapnya seperti sebuah mimpi buruk.

Disangkanya bahwa semua pria di dunia ini pasti akan bertekuk lutut di depannya untuk mendapatkan cintanya, seperti halnya sang prabu yang sudah tua dan Pangeran Kukutan yang masih muda dan tampan.

Sekali ini ia kecelik dan setengah sadar bahwa yang dialaminya bukan mimpi buruk, wanita ini bangkit berdiri, mengepal tinju dan berjalan mondar-mandir di depan kamarnya, mencari akal untuk mengenyahkan Pangeran Panji Sigit!

Tadinya ia menggunakan siasat bujuk rayu ini untuk menundukkan pangeran ini sehingga kalau kelak pangeran ini benar-benar dijadikan putera mahkota, ia dapat mempengaruhinya.

Siapa sangka, ia ditolak mentahmentah Hal ini berarti bahwa pangeran ganteng ini tidak bisa ajak kerja sama, dan berarti pula bahwa pangeran ini adalah musuhnya yang harus dienyahkan!

Malam itu Suminten tidak dapat tidur dan ia mengatur siasat namun belum juga ia mendapatkan siasat yang cukup baik untuk menjatuhkan pangeran muda yang ganteng itu.

Alangkah sukarnya menjatuhkan seorang yang begitu baik dan ramah terhadap siapapun juga itu.

Amat sukar mencari kesalahan untuk Pangeran Panji Sigit dan ia harus berhati-hati sekali karena sang prabu amat sayang kepada puteranya ini.

Apa yang harus ia lakukan?

Suminten belum juga dapat menemukan jalan yang baik dan menjelang pagi baru ia dapat pulas dengan sebuah keputusan yang keji,yaitu bahwa jalan satu-satunya untuk melenyapkan "musuh"

Ini hanya........

membunuhnyal Untuk ini akan ia rundingkan dengan Pangeran Kukutan.

Tentu pangeran ini akan melaksanakannya dengan baik, apalagi kalau ia takut-takuti bahwa ada kemungkinan Panji Sigit terpilih sebagai putera mahkota.

Akan tetapi ternyata pada keesokan harinya dia tidak usah melanjutkan rencananya yang kejam ini karena segera ia mendengar bahwa Pangeran Panji Sigit pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali telah meninggalkan istana!

Hal ini ia dengar sendiri dari sang prabu yang sepagi itu telah datang kepadanya untuk mencari hiburan.

Sang prabu yang sudah tua itu benar-benar sekali ini membutuhkan hiburan Suminten.

Wajahnya muram, alisnya berkerut dan berkalikali ia menghela napas.

"Ahhh, sungguh menyedihkan. puteraku yang paling kuharapkan, tak dapat kutahan. Ia berpamit dan dengan paksa ia menyatakan hendak pergi merantau........ ah, Panji Sigit. benar-benar mengecewakan hatiku."

Suminten yang sudah cepat-cepat memeluk dan mencumbit sang prabu, menghibur dengan kata-kata dan perbuatan, mengajak sang prabu agar beristirahat dan rebah-rebahan di atas pembaringan yang lunak bersih dan harum, cepat-cepat menyuguhi minuman dan memijit-mijit kaki tangan sang prabu dengan kedua tangannya sendiri dengan sikap mesra dan gerakan halus, lalu bertanya.

"Apakah sebabnya puteranda pangeran pergi merantau secara mendadak, sinuwun? Apakah alasannya?"

Raja tua itu menggeleng kepala.

"Entahlah, dia tidak menyatakan sebab-sebabnya, hanya berpamit dan menyatakan bahwa ia hendak mencari guru yang pandai dan memperdalam ilmu-ilmu kesaktian. Sudah kukatakan bahwa aku ingin mengangkatnya menjadi putera mahkota, akan tetapi ia tetap hendak pergi dengan alasan bahwa untuk menjadi putera mahkota ia harus memiliki ilmu kepandaian yang cukup. Ahhh, Suminten, betapa kecewa hatiku."

"Duh gusti sesembahan hamba! Mengapa harus berduka?"

Suminten menghibur dan hatinya lega karena ternyata pangeran muda itu tidak menyinggung-nyinggung tentang dia.

"Hamba dapat mengerti dan membenarkan pendapat puteranda Pangeran Panji Sigit yang amat baik dan tepat itu. Harap paduka tenangkan hati dan biarlah sang pangeran memperluas pengalaman dan memperdalam ilmu karena memang seorang calon raja yang bijaksana harus memiliki bekal yang cukup. Bukankah puteranda pangeran itu adalah cucu mendiang Gusti Prabu Airlangga yang sakti mandraguna dan ahli tapa pula?"

Senang hati sang prabu yang tua ini mendengar kata-kata Suminten yang sedap didengar ini. Ia mulai terhibur, memeluk dan memperlihatkan cinta kasihnya dengan belaian dan rabaan jari-jari tangannya.

"Engkau selalu benar, Suminten. Memang, agaknya puteraku Panji Sigit itu mewarisi watak eyangnya yang suka bertapa dan memupuk ilmu dan aji kesaktian."

"Nah, karena itu harap paduka tenang saja. Adapun untuk menghadapi perbuatan khianat, menurut usul hamba tempo hari, sebaiknya paduka mengangkat puteranda Pangeran Kukutan sebagai putera mahkota."

Sang prabu terlihat mengangguk-angguk.

"Memang sudah kupikirkan hal ini. Akan tetapi aku sendiri masih kuat menghadapi segala macam pemberontakan atau pengkhianatan, apalagi dengan adanya engkau di dekatku, sayang. Aku merasa menjadi muda kembali dan siap menghadapi apa-pun jugal"

Sang prabu memeluk dan mencium.

Suminten menyembunyikan muka di dada sang prabu untuk menyembunyikan rasa tidak puas dan tidak senang hatinya.

Tua bangka tak tahu diri, pikirnya.

Namun ia bukan seorang wanita yang bodoh dan hanya menurutkan perasaan saja.

Tidak, Suminten adalah seorang wanita yang cerdik sekali, yang pandai menggunakan pikiran, yang pandai menguasai perasaan hatinya dan segala geralc-geriknya telah ia perhitungkan masak-masak.

Ia tahu bahwa ia tidak boleh terburu nafsu, harus hati-hati dan sedikit demi sedikit menyeret sang prabu agar tunduk dan menuruti segala kehendaknya.

Biarpun Pangeran Kukutan belum diangkat menjadi putera mahkota, namun kekuasaan Pangeran Kukutan makin lama makin besar karena selalu mewaklli sang prabu dalam urusan pemerintahan.

Adapun di sebelah dalam istana untuk semua urusan dalam, seluruhnya telah berada dalam kekuasaan Suminten!

Kepergian Pangeran Panji Sigit melegakan hati Suminten.

Pertama, karena jelas bahwa pangeran itu tidak menceritakan kepada sang prabu tentang peristiwa penolakan cinta kasih di malam Itu.

Ke dua, karena kepergian ini memang diharapkan oleh Suminten yang ingin menghalau pangeran itu keluar darI istana.

Suminten dan juga Pangeran Kukutan yang kehilangan seorang saingan, merasa lega dan gembira.

Akan tetapi tidaklah demikian dengan mereka yang menjadi musuh-musuh Suminten.

Ki Patih Brotomenggala yang sudah tua dan beberapa orang hulubalang yang setia kepada Kerajaan Jenggala, menjadi gelisah.

Apalagi ketika secara diam-diam Ki Patih Brotomenggala dipanggil menghadap oleh sang permaisuri dan mendengarkan sendiri laporan emban tua yang menjadi inang pengasuh Pangeran Panji Sigit sejak kecil, mereka makin marah.

Kiranya dalam duka dan bingungnya setelah berhasil lari dari cengkeraman Suminten, Pangeran Panji Sigit yang sudah tiada beribu lagi dan menganggap emban tua itu sebagai pengganti ibunya,telah menceritakan apa yang telah ia alami di kamar selir termuda ayahandanya itu dan adalah emban tua ini pula yang melihat bahaya mengancam dan menganjurkan agar sang pangeran yang dikasihinya seperti putera kandungnya sendiri untuk pergi merantau menjauhkan diri dari bahaya yang mengancam.

Karena maklum bahwa sang permaisuri juga menderita karena Suminten, maka emban ini lalu menghadap dan melaporkan peristiwa itu kepada permaisuri.

"Hemmm, sungguh keji dan tak tahu malu perempuan itu!"

Ki Patih Brotomenggala menyumpah ketika mendengar pelaporan emban tua.

Ia tak pernah berhenti menyesali diri sendiri tentang Suminten karena dialah sendiri yang dahulu menghadapkan Suminten kepada sang prabu.

Semenjak dahulu itu, Suminten telah menimbulkan malapetaka.

Bukankah pelaporannya tentang Endang Patibroto telah membuat sang prabu makin curiga terhadap mantunya itu?

Bukankah Suminten telah berusaha untuk mencelakakan Pangeran Panji Rawit dan Endang Patibroto dengan laporannya itu?

Siapa kira bahwa pelayan kecil itu kini dapat menguasai sang prabu sedemikian rupa!

"Kakang patih, aku hanya mengkhawatirkan keadaan sang prabu.

Ada perasaan tidak baik di dalam hatiku seolah-olah ada sasmita gaib yang membisikkan bahwa kalau wanita itu tidak dienyahkan dari sini, Kerajaan Jenggala akan mengalami kehancuran.

Ah, kakang, bagaimana baiknya.

Sang permaisuri menahan-nahan perasaan akan tetapi tak dapat ia menahan runtuhnya beberapa tetes air mata. Ki Patih Brotomenggala menggigit bibirnya, menahan kemarahan hatinya.

"Gusti, hal ini memang tidaklah mudah untuk diatasinya. Kalau saja Jenggala diserbu musuh, dada Patih Bratomenggala inilah yang akan menjadi perisai, dan hamba rela untuk membela kerajaah sampai titIk darah terakhir! Akan tetapi, persoalannya kini lain lagi. Gusti sinuwunlah yang tergoda dan apa yang dapat hamba lakukan? Apalagi........ apalagi menurut para penyelidik hamba, yang menguasal sang prabu bukan hanya wanita itu, melainkan dengan kerja sama antara wanita itu dan Pangeran Kukutan."

"Aku tahu, kakang patih. Karena itu, carilah jalan.Pasanglah mata-mata di antara para embah. Kita mengetahui kelemahan wanita itu, bahkan dia main gila dengan Pangeran Kukutan, bahkan mungkin dengan pangeran-pangeran lain kalau diingat bahwa dia berani menggoda Pangeran Panji Sigit. Akan tetapi kita harus dapat memiliki buktinya, harus dapat menangkap basah. Usahakanlah agar dapat menyadarkan sang prabu. Kurasa, jika sang prabu melihat sendiri bukti akan penyelewengan dan perjinahan selirnya yang terkutuk itu, tentu beliau akan sadar. Kalau sang prabu sudah sadar dan tahu betapa cabul,kotor dan jahat adanya iblis betina itu, tentu dia akan dibasmi dan Jenggala akan selamat."

Ki Patih Brotomenggala mengangguk-angguk.

"Baiklah,gusti. Akan hamba usahakan dan mudah-mudahan Sang Hyang Wisesa membantu hamba menandingi perempuan yang palsu dan curang itu."

Ah, betapa kedua orang bangsawan ini memandang rendah kepada Suminten si bekas emban!

Boleh jadi Ki Patih Brotomenggala memiliki kedigdayaan dahsyat dan pandai mengatur siasat perang dan tata negara.

Boleh jadi sang permaisuri merupakan seorang wanita yang boleh dicontoh dalam hal keluwesan, kehalusan, kesenian, kesusilaan dan kebudayaan.

Namun, dalam hal kecerdikan bersiasat, mereka itu jauh tertinggal oleh Suminten.

Mereka tidak tahu bahwa demikian hebat pengaruh dan kecerdikan Suminten sehIngga pintu dan jendela saja bertelinga dan siap membantunya!

Di antara semua emban yang melayani semua selir raja dan terutama sang permaisuri, pasti terdapat mata-mata yang men jadi kaki tangan Suminten.

Mereka tidak tahu betapa percakapan mereka tadi tertangkap oleh sepasang telinga milik seorang emban muda yang bersembunyi di balik daun pintu dan betapa emban itu kemudian secara rahasia menghadap dan melapor kepada Suminten, menceritakan semua percakapan antara sang permaisuri dan Ki Patih Brotomenggala!.

"Hi-hi-hik, he-he-heh, tibalah saatnya kalian harus lenyap, sang permaisuri dan patih dungu!"

Suminten tertawa terkekeh-kekeh setelah memberi hadiah kepada emban itu dan menyuruhnya pergi.

Kini rencana musuhmusuhnya itu telah berada di tangannya dan hal ini saja sudah merupakan sebuah kemenangan baginya.

Ia harus cepat-cepat mengatur siasat dengan Pangeran Kukutan dan malam hari itu juga, seperti biasa dengan dalih "berhalangan"

Ia berhasil menjauhkan diri dari sang prabu yang menyangka dia tidur sendiri di kamarnya, padahal Suminten tidur dalam pelukan Pangeran Kukutan sambil berbisik-bisik mengatur siasat di seling permainan cinta mereka yang tak kunjung dingin.

-oo0dw0oo-Semenjak Endang Patibroto berdiam di puncak Gunung Wilis, memimpin kurang lebih seratus orang yang tadinya terkenal sebagai Gerombolan Wilis yang kemudian mendirikan Padepokan Wilis, maka daerah Gunung Wilis ini menjadi daerah yang "angker"

Dan terkenal sekali sampai jauh.

Mulailah daerah ini dikenal oleh para orang gagah, disegani dan Padepokan Wilis dianggap sebagai sarang orang gagah, sebuah perguruan di mana terdapat murid-murid Wilis yang berilmu tinggi!

Tentu saja berita yang disampaikan orang selalu berlebihan, akan tetapi yang jelas sekali, berita-berita itu amat terkenal dan membuat orang segan untuk melewati daerah Wilis.

Tidak seorang pun perampok berani memperlihatkan hidungnya di daerah Wilis ini, bahkan di seluruh daerah pegunungan ini tidak pernah ada terjadi kejahatan, tidak ada maling, tidak ada perampok, dan juga tidak ada orang melakukan maksiat mengandalkan kekuatannya.

Hal ini adalah karena setiap kali terjadi hal-hal maksiat, tentu penjahatnya tertangkap dan dibunuh oleh para "satria"

Wilis, demlkianlah sebutan untuk bekas anak buah gerombolan Wilis!

Siapa pun juga orangnya yang melakukan perjalanan dan terpaksa melalui daerah Wilis, harus tunduk akan peraturan para penjaga dan harus rela membayar "tanda hormat"

Kepada para satria Wilis.

Namun mereka rela membayar, karena selain pembayaran itu disesuaikan dengan keadaan mereka, juga mereka akan terjamln keselamatan mereka,takkan ada yang berani mengganggu selama mereka berada di wilayah Wilis.

Endang Patibroto memimpin bekas gerombolan Wilis dengan tangan besi.

Dia tahu bahwa orang-orang yang dipimpinnya adalah bekas perampok-perampok yang kasar dan setengah liar, maka ia harus menundukkan mereka dengan kekerasan pula.

Kemudian setelah mereka itu benar-benar tunduk terhadap kesaktlannya dan menjadi pengikut-pengikut setia yang membuta akan semua perintahnya, barulah Endang Patibroto melatih mereka, yaitu melalui tiga orang pembantu-pembantunya Limanwilis,Lembuwilis, dan NogowiIlis.

Dia menurunkan beberapa ilmu kesaktian kepada tiga orang gagah ini yang kemudian melatih anak buah mereka sehingga makin kuatlah barisan satria Wilis.

Selain itu, keadaan keluarga mereka lebih teratur setelah Endang Patibroto memimpin mereka.

Pondok-pondok dibuat, tanaman dan pertanian diperbanyak dan dibagi-bagllah tugas di antara mereka.

Ada yang bertani, berburu hewan, menjala ikan, ada pula yang bertugas sebagai tukang kayu, sebagai pandai besi, dan lain pekerjaan yang dapat memenuhi mereka.

Endang Patibroto bahkan tidak melupakan hiburan bagi mereka, maka diadakan pulalah bagian kesenian, gamelan dan lain sebagainya.

DI samping semua kesibukannya sebagai pemimpin Padepokan Wilis, Endang Patibroto selalu meluangkan waktu untuk memberi gemblengan kepada adiknya yaitu Setyaningslh yang berlatih dengan tekun, giat, dan sungguhsungguh.

Juga semenjak lahir, Retno Wilis menerima gemblengan ibunya, di "dadah"

Oleh jari-jari tangan sakti ibu kandungnya!

Karena gemblengan-gemblengan hebat ini yang diberikan secara rapi selama lima tahun, kini Setyaningsih yeng sudah berusla enam belas tahun atau tujuh belas tahun telah menjadi seorang dara remaja yang cantik jelita namun juga gagah perkasa, sakti mandraguna.

Juga Retno Wilis, dalam usia lima tahun ini merupakan seorang anak luar biasa yang jarang dapat ditemukan keduanya.

Di antara keluarga para anggauta Padepokan Wilis,terdapat banyak pula gadis-gadis yang sebaya dengan Setyaningsih dan dara perkasa ini tidak bersikap pelit,melainkan dengan senang hati pula melatih ilmu pencak silat kepada teman-temannya sehingga sebagian besar para gadis di situ adalah gadis-gadis perkasa belaka, cantik-cantik dan gagah perkasa, demikian pula pemuda-pemudanya.

Namun terutama sekali gadis-gadisnya karena tentu saja Setyaningsih lebih suka melatih ilmu kepada teman-temannya.

Maka terkenallah Padepokan Wilis sebagai tempat perawan-perawan jelita yang perkasa, dan orang-orang gagah di seluruh daerah itu mulai membicarakan tentang Perawan Lembah Wilis dengan kagum di hati.

Pada pagi hari itu cuaca amatlah cerah.

Pemandangan di lembah Gunung Wilis amat -entakjubkan, indah cemerlang disinari matahari pagi.

Dilihat dari atas, tamasya alam di bawah seperti diselaput emas.

Sinar matahari keemasan menyinari daun-daun pohon yang ujungnya digantungi butir-butiran embun berkilauan seperti butiran-butiran intan.

Burung-burung berlompatan di antara pohon-pohon, beterbangan bersenda-gurau dan bercumbuan sambil berkicau riang gembira.

Binatang-binatang hutan menyambut matahari pagi dengan penuh keriangan pula,ada yang berjemur sinar matahari, ada yang makan rumput-rumput hijau segar, ada pula yang berkeliaran di sepanjang sungai gunung yang mengalirkan air jernih sambil berkericik seperti suara gelak tawa dara-dara remaja bersenda-gurauan.

Kalau didengar dengan teliti, bukan hanya kericik air sungai yang menimbulkan suara itu, melainkan suara gelak tawa yang merdu dari beberapa orang dara remaja yang sedang mandi di sungai.

Ada sebelas orang dara-dara jelita berada di sungai itu, berendam di air jernih dengan bertapih pinjung (sehelai kain menutup sebatas dada), mencuci pakaian, mandi keramas, sambil bersendau-gurau tertawatawa.

Mereka ini bukan lain adalah Setyaningsih dan sepuluh orang temannya, yaitu dara keluarga Padepokan Wilis.

Setiap pagi mereka mandi di sungai jernih ini sambil mencuci pakaian.

Kecantikan Setyaningsih amatlah menonjol di antara mereka itu.

Setyaningsih berkulit halus dan putih kekuningan, rambutnya tebal hitam berikal mayang, dilepas dan terurai sampai ke lutut.

Biarpun sepuluh orang temantemannya juga merupakan gadis remaja yang seperti kembang sedang mekar, cantik-cantik menarik, namun dibandingkan dengan mereka Setyaningsih tampak seperti seekor merak di antara ayam-ayam hutan.

Juga dara ini amat pendiam, hanya tersenyum-senyum kecil mendengar sendau-gurau teman-temannya.

Biarpun dia itu adik kandung Endang Patibroto yang menjadi "ketua"

Atau pemimpin Padepokan Wilis, bahkan boleh dikatakan ia menjadi "guru"

Para gadis temannya itu, namun Setyaningsih tidaklah bersikap sombong atau tinggi hati.

Dia mandi bersama, bahkan mencuci pakaiannya sendiri sehingga selain disegani dan dihormati, juga ia amat dicinta oleh gadis-gadis lainnya di situ.

Dara-dara jelita itu bekerja sambil mandi dan bergembira.

Ada yang bertembang saling sahut, saling goda saling menjodohkan dengan pemuda-pemuda sebaya di padepokan, ada yang saling siram air jernih, tertawa-tawa.

Dalam kegembiraan mereka, bahkan Setyaningsih sendiri sampai lengah, tidak tahu bahwa ada seorang laki-laki mengintai dari balik semak-semak, memandang ke arah mereka dengan mata terbelalak dan mulut ternganga,terpesona dan seolah-olah tidak percaya akan pandang mata sendiri Laki-laki ini masih muda belia, paling banyak sembilan belas tahun usianya, tubuhnya sedang, berkulit bersih dan tampak ciri-ciri kebangsawanan pada pakaian dan gerak-geriknya, wajahnya tampan sekali seperti Sang Harjuna.

Pandang mata laki-laki muda ini tadi menyapu semua gadis yang berada di sungai, kemudian berhenti pada diri Setyaningsih, melekat di situ dan makin dipandang, makin tertegunlah dia, seperti lupa diri, lupa bergerak, bahkan lupa bahwa perbuatannya ini merupakan sebuah pelanggaran susila.

Tentu saja ia lupa segala, bahkan bernapaspun hampir lupa, demikian terpesona pemuda ini melihat Setyaningsih.

Banyak sudah ia melihat wanita, bahkan bertemu dengan puteri-puteri istana yang cantik-cantik jelita, namun selama hidupnya, ia merasa belum pernah melihat seorang dara seperti Setyaningsih yang sekaligus telah menerobos masuk melalui matanya, langsung ke dalam dada dan merampas hati dan semangatnya.

Setelah pemuda itu mulai sadar daripada keadaan pesona yang membuatnya seperti lupa akan dirinya, mulailah ia menarik napas panjang berkali-kali.

Sungguhpun hanya elahan napas, namun hal ini cukuplah bagi Setyaningsih yang berpendengaran tajam dan terlatih.

Dara perkasa ini mengangkat tangan memberi isyarat kepada temantemannya sambil meruncingkan bibirnya yang merah mungil.

"Ssttt."

Kemudian ia menoleh ke arah semak-semak.

Pandang matanya yang tajam segera dapat melihat gerakan di belakang semak-semak, bukan gerakan yang diakibatkan oleh burung atau binatang hutan.

Mulutnya segera membentak, halus namun nyaring dan penuh wibawa.

"Siapakah engkau yang berani menonton kami mandi sambil bersembunyi? Hayo keluarlahl!"

Bagi para gadis itu, tidak mengapa andaikata ada pemuda-pemuda atau orang-orang Padepokan Wilis kebetulan lewat di dekat situ dan melihat mereka mandi.

Ditonton orang lain selagi mandi di sungai bukanlah hal yang tidak boleh dilakukan, apalagi kalau yang melihat itu orang-orang Padepokan Wilis sendiri yang tentu saja menganggap pemandangan ini biasa.

Akan tetapi ditonton orang, biarpun dia seorang anggauta padepokan sendiri, yang bersembunyi, hal ini merupakan pantangan, karena bersembunyi berarti tidak wajar dan mengandung niat buruk!

Semak-semak itu bergoyang dan muncullah seorang pemuda dari balik semak semak, berdiri dengan wajahnya yang tampan masih terpesona, bahkan kemudian pemuda itu menggunakan punggung tangan kanan untuk menggosok-gosol kedua matanya karena melihat Setyaningsih berdiri di dalam air sebatas ping-gang, dengan kain yang membungkus, dada yang padat itu basah kuyup sehingga seolah-olah menjadi kulit ke dua ia makin kagum dan tidak percaya bahwa di dunia ini ada seorang manusia sehebat dara yang menegurnya itu.

"Duhai........ mimpikah aku "

Pemuda itu berkata, suaranya halus dan kini matanya yang bersinar tajam itu memandang para gadis yang juga memandangnya.

"Segala puja-puji kepada para dewata yang agung. Kalau andika sekalian ini bidadari-bidadari kahyangan yang sedang mandi, mana gerangan pelangi yang menjadi anda (anak tangga) untuk andika sekalian turun ke bumi? Andaikata andika sekalian ini sebangsa peri, mengapa di balik kulit andika terbayang darah daging dan urat halus? Betapapun juga........ kalau benar andika bidadari, tunjukkan di mana andika menyimpan kemben antakusuma andika agar dapat hamba curi. !"

Terdengar kekeh tawa para gadis itu.

Tadinya mereka ini tertegun dan marah melihat seorang pemuda yang sama sekali tidak mereka kenal, akan tetapi ketika mendapat kenyataan betapa pemuda itu amat tampan dan ganteng melebihi semua pria yang pernah mereka jumpai, mereka terpesona KINI mendengar ucapan yang keluar dari mulut pemuda ganteng itu, mereka merasa lucu sekali, bahkan merasa mendapat pujian yang amat berbeda dengan pujIan yang biasa mereka dengar.

"......... tampan sekall dia."

"......... sikapnya tidak kurang ajar."

"......... pakaiannya indah sepertI putera bangsawan."

"......... tapi pecengas-pecengis seperti monyet "

"......... jangan-jangan miring dia, sayang kalau begitu."

"........ hi-hi-hik."

"......... heh-he-heh."

Demlklanlah, para gadIs itu berbisik-bisik, tersenyum-senyum dan terkekeh geli.

Hanya Setyaningsih yang tidak tertawa tidak mengeluarkan suara, matanya memandang tajam penuh selidik, mulutnya yang berbentuk indah itu membayangkan kemarahan.

Setyaningsih adalah seorang dara yang pendiam, selalu serius dan berpemandangan luas.

Wataknya adil dan keras hati biarpun sikapnya selalu ramah den halus.

la tidak mengenal takut dan oleh ayundanya selalu ditanamkan watak berani karena benar.

Wajahnya membayangkan keagungan, bahkan kadang-kadang membayangkan wajah seorang puteri yang berwibawa dan tinggi hati sungguhpun ia sama sekali tidak memiliki watak sombong.

Kini, melihat pemuda itu, ia menjadi marah dan ia sendirI tidak mengerti mengapa kemarahannya itu berdasarkan kecewa.

Ia kecewa melihat betapa seorang pemuda seperti itu, dengan wajah dan bentuk tubuh yang hebat dan menarik, ternyata hanya seorang yang memiliki watak rendah, suka mengintai wanita-wanita sambil bersembunyi!

Baru sekali ini ia marah dengan dasar kecewa.

Akan tetapi sebelum Setyaningsih dapat mengeluarkan kata-kata, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan keras.

"Tangkap penjahat. !"

"Tangkap si keparat yang masuk tanpa ijin!"

Lima orang anak buah Padepokan Wilis yang tinggi besar dan kuat telah mengurung lalu menubruk maju hendak menangkap pemuda itu.

"Wuuuutt........ dess.......aiihhh !!"

Semua orang terkejut.

Sungguh tak disangka oleh lima orang satria Wilis itu maupun oleh para gadis yang sedang mandi.

Lima orang tinggi besar itu menubruk dan hendak menangkap, akan tetapi mereka itu kelima-limanya terbanting ke belakang pada saat pemuda itu dengan wajah berseri menggerakkan kaki tangannya!

Marahlah lima orang tinggi besar itu dan mereka meloncat berdiri dengan muka merah, lalu maju mengurung pemuda yang masih berdiri sambil tersenyum.

Para gadis yang sedang mandi kini sudah keluar dari dalam air dan berserabutan pergi karena mereka itu dalam keadaan setengah telanjang atau dengan kain basah yang mencetak tubuh.

Mereka adalah gadis-gadis perkasa, tentu saja tidak takut akan musuh, akan tetapl karena keadaan pakaian mereka dan karena lima orang yang menghadapi pemuda itu adalah tokoh-tokoh tua yang berilmu tinggi, maka mereka tidak ada yang berani untuk mencampuri pertempuran.

Sebagian ada yang pergi untuk melapor, ada pula yang pergi untuk berganti pakaian.

Setyaningsih sendirI lalu pergi menyelinap ke dalam gerombolan pohon dan cepat ia sudah bertukar tapih pinjung yang basah kuyup itu dengan pakaian kering.

Setelah selesai berpakaian dan menyanggul rambutnya yang panjang, Setyaningsih lalu meloncat keluar dan lari mendekati tempat pertempuran.

Kiranya pemuda itu benar-benar hebat gerakan-gerakannya.

Lima orang satria Wilis yang mengeroyoknya dengan serbuan dahsyat, dengan pukulan dan cengkeraman, selalu dapat dlelakkan dengan sigapnya.

Agaknya pemuda tampan yang halus gerak-geriknya itu memiliki aji keringanan tubuh yang sudah mahir sekali sehingga ia dapat berkelebat lincah dan gesit bagaikan seekor burung yang sukar ditangkap.

Sementara itu, mulut pemuda itu tiada hentinya mencela.

"Kalian ini orang-orang apakah? Tiada hujan tiada angin mengganggu orang yang tidak berdosa. Salahkah aku menonton bidadari-bidadari yang sedang mandi? Aku tidak sengaja, hanya kebetulan lewat........ aih, galak amat. !"

Kembali pemuda itu menghindarkan diri dari terjangan tiga orang sekaligus, meloncat tinggi dan berjungkir balik ke belakang dengan gerakan indah sampai tiga kali sehingga ketika ia turun, ia berada di jarak empat tombak lebih dari para pengeroyoknya.

Melihat betapa lima orang tinggi besar itu kini mencabut golok masing-masing, pemuda itu merubah sikapnya yang tertawa-tawa dan kini dengan wajah sungguh-sungguh dan berwibawa ia berkata.

"Kallan masih nekat dan bahkan tega untuk berniat membunuh seorang yang tidak bersalah?"

Seorang di antara pengeroyok itu membentak.

"Manusia sombong! Engkau masih berpura-pura tidak mengaku salah? Di manakah kau berada sekarang? Di lembah Gunung Wilis dan kau datang ke tempat ini tanpa setahu dan seijin kami! Tidak ada seorangpun manusia boleh melanggar perbatasan Wilis tanpa ijin, keparat!"

"Hemmm, apakah Gunung Wilis ini kallan yang membuat dahulu? Apakah anak sungai itu kalian yang menggalinya? Batu-batu inipun kalian yang membuatnya dan pohon-pohon dalam hutan serta rumput-rumput ini kalian yang menanam?"

"Cerewet! Orang sombong seperti engkau harus mampus!"

Teriak lima orang itu dan mereka menyerbu dahsyat dengan golok di tangan.

"Kalian orang-orang kasar perlu dihajar!"

Pemuda itu membentak dan tubuhnya berkelebat ke depan menyambut terjangan lima orang lawannya.

Gesit sekali, kaki tangannya menyambar jauh lebih cepat daripada lawan-lawannya.

Terdengar teriakan-teriakan kaget dan disusul bunyi golok-golok terlempar dan jatuh berkerontangan menimpa batu.

Lima orang tinggi besar itu terhuyung mundur, meringis kesakitan sambil meraba-raba bagian tubuh yang kena gempur pemuda itu.

"Paman sekalian mundurlah!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tubuh Setyaningsih berkelebat maju, tahu-tahu gadis remaja ini telah berhadapan dengan pemuda yang perkasa itu.

Si pemuda terkesiap, melongo keheranan dan penuh kekaguman.

Gerakan itu saja sudah menjadi bukti cukup baginya bahwa dara remaja yang telah merebut hatinya itu ternyata selain cantik jelita seperti bidadari kahyangan, juga memiliki kesaktian hebat "Heh keparat yang tak tahu susila!

Siapakah andika, berani bermain gila di Wilis?

Apakah menganggap andika seorang yang memiliki kegagahan di dunia ini?"

Melihat dara itu menudingkan telunjuk kiri ke arah mukanya, berdiri dengan sikap gagah, wajah yang marah itu kemerahan dan pandang matanya agung, mendengar suaranya yang merdu halus penuh kemarahan itu, si pemuda makin tertegun.

Kalau tadi ia merasa penasaran dan marah terhadap lima orang tinggi besar yang kasar, kini kemarahannya sirna seperti uap tipis tertiup angin.

Ia hanya berdiri bengong, memandang ke arah mulut yang baru saja menegurnya, seolah-olah pandang matanya lekat pada bibir itu, tak dapat dilepas kembali.

"Tulikah andika? Ataukah gagu?"

Setyaningsih membentak, mukanya terasa panas dan warna merah naik ke pipi dan lehernya karena pandang mata pemuda itu terasa benar pada bibirnya, seperti mengandung getaran yang menggelikan.

Pemuda itu terkejut, lalu tersenyum.

"Duhai Bathara yang maha sakti! Mengapa hamba menjadi begini?"

Ucapan ini halus dan seperti berbisik, kemudian ia menatap wajah dara itu dan berkata.

"Wahai, sang dyah ayu, harap andika sudi memaafkan aku. Sesungguhnya bukan sekali-kali aku ingin berkurang ajar dan tidak tahu akan susila menerjang wilayahkediaman orang lain. Akan tetapi secara tidak sengaja aku memasuki daerah ini dalam pengembaraanku, tiada maksud buruk, tiada pamrih mengacau. Tadi karena heran dan kagum melihat andika dan teman-teman andika bergembira di sungai, aku yang bermaksud mandi tidak berani memperlihatkan diri. Kemudian tiada hujan tiada angin orang-orang ini menyerangku. Mereka itu agaknya perampok-perampok liar. Kalau boleh saya bertanya, mengapa seorang seperti andika ini berada di antara para perampok?"

Diam-diam Setyaningsih dapat menerima alasan pemuda ini, akan tetapi karena nada bicara itu menegur dan menyalahkan, ia menjadi makin marah dan membentak.

"Hati-hatilah kalau bicara! Para paman ini adalah satria-satria Padepokan Wilis, bagaimana kau berani menyebut mereka perampok? Ketahuilah, daerah ini berada dalam kekuasaan kami, orang-orang Padepokan Wilis. Siapapun juga tidak boleh lewat tanpa perkenan kami! Agaknya andika mengandalkan kepandaian untuk melanggarnya! Hemm, apakah kau kira aku takut menghadapi-mu?"

Pemuda itu makin kagum.

Dara ini benar-benar gagah perkasa dan pemberani.

Ingin benar ia mencoba kepandaiannya.

Dan hatinya merasa geli mendengar bahwa lima orang tinggi besar yang kasar itu adalah "satria-satria Wilis"!

"Mereka ini satria-satria?

Ha-ha-hal Sungguh hebat!

Dan engkau agaknya pemimpin mereka?"

Ia bertanya dengan suara tidak percaya.

"Ayundakulah yang menjadi pemimpin. Tak perlu banyak cerewet lagi, kau sudah berani merobohkan lima orang -pamanku, sekarang rasakanlah hajaranku!"

Setelah berkata demikian, Setyaningsih menerjang maju, mengirim pukulan dengan jari tangan terbuka, menggunakan Aji Pethit Nogo.

"Wuuuttt. wuuuuttt."

Dua kali Setyaningsih menampar.

"Plakk........ plakk !!"

Dua kali pemuda itu mengangkat kedua lengannya menangkis.

"Wahhhh II"

Pemuda itu terhuyung-huyung ke belakang seperti ditiup angin badai. Ia tidak roboh karena cepat meloncat ke atas dengan gerakan ringan sekali dan ia berdiri dengan mata terbelalak penuh kekaguman.

"Bukan main.........! Adakah andika ini benar-benar seorang dara yang tinggal di hutan? Aku tidak percaya! Tentu andika ini seorang bidadari, atau dewi kahyangan, ataukah Srikandi yang menitis dalam diri andika? Mana ada wanita cantik jelita memiliki tangan yang ampuhnya menggila? Aduhai, bocah ayu, aku........ aku mengaku kalah........ andika hebat sekali, kasihanilah diriku "

Pemuda itu benar-benar terpesona dan hatinya makin jatuh, tidak ingin ia bertanding dan menjadi musuh dara yang hebat ini.

Akan tetapi Setyaningsih menjadi makin marah dan penasaran karena pukulan Aji Pethit Nogo yang ampuh itu dapat ditangkis dan pemuda itu tidak roboh karenanya.

lapun maklum bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan, maka iapun tidak mau berlaku ceroboh.

"Heh keparat yang bermulut manis! Mengakulah siapa nama andika dan apa kehendakmu datang mengacau di sini sebelum mati tanpa nama!"

"Wahai dewi jelita, sungguh mati, demi para dewata, aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya kebetulan saja lewat dan karena fihak andika yang lebih dulu menyerangku, sudah sepatutnya kalau andika lebih dulu memperkenalkan diri."

"Hemm, benar manusia sombong. Baiklah, agar engkau tidak mati penasaran namaku Setyaningsih. Engkau siapa?"

Pemuda itu tertegun.

"Setyaningsih........? Setyaningsih........? Alangkah indahnya namamu dan tepat sekali, amat merdu terdengarnya! Setyaningsih berarti kesetiaan cinta kasih; aduh, memang seorang dewi seperti andika ini tentu amat setia dalam kasih sayang........ duhai dewata, hamba takkan penasaran hidup di dunia ini kalau bisa mendapatkan kesetiaan cinta kasihnya. !"

"Ngaco belo seperti burung jalak makan cabe! Hayo mengaku siapa namamu!"

Bentak Setyaningsih yang merasa heran terhadap dirinya sendiri mengapa hatinya menjadi senang mendengar ucapan-ucapan gila ini! "Namaku adalah Panji Sigit "

"Ah, engkau seorang pangeran.....??"

Tanya Setyaningsih dan para gadis yang masih berada di situ menonton menjadi berisik mendengar bahwa jejaka bagus itu adalah seorang pangeran! Pemuda itu membelalakkan matanya yang jernih dan tajam.

"Bagaimana andika bisa tahu?"

"Engkau pangeran dari Jenggala?"

Kembali pemuda itu tertegun.

Memang dia adalah Pangeran Panji Sigit dari Jenggala.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Pangeran Panji Sigit lolos dari istana setelah memaksa minta diri dari ramandanya karena hatinya geIisah dan marah oleh peristiwa semalam itu di kamar ibu tirinya, selir termuda ramandanya, Suminten.

Semenjak kecil pangeran muda ini memang telah menggembleng diri dengan ilmu kesaktian.

Banyak orang gagah di Kerajaan Jenggala dan karena para senopati yang perkasa itu semua suka belaka kepada pangeran ini, maka dengan rela mereka menurunkan ilmu mereka sehingga Pangeran Panji Sigit memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Terutama sekali ia mahir akan aji meringankan tubuh yang ia pelajari dari Empu Handoko, seorang empu pembuat keris yang terkenal di Jenggala.

"Eh, eh........ bagaimana andika bisa........ tahu semua."

Akan tetapi Setyaningsih kini menjadi marah sekali. Dicabutnya kerisnya dari ikat pinggang dan ia melangkah maju.

"Bagus! Pantas saja engkau sombong dan kurang ajar, kiranya engkau seorang pangeran Jenggala! Semua orang Jenggala jahat dan keji belaka!"

Gadis ini memang mempunyai rasa benci terhadap Jenggala karena ia anggap bahwa ayundanya, Endang Patibroti menerima perlakuan tidak selayaknya dari kerajaan itu.

Tadi begitu mendengar nama Panji Sigit, maka ia segera menduganya bahwa pemuda ini seorang pangeran dari Jenggala.

Setelah mendapat kenyataan bahwa dugaannya benar, ia menjadi marah, mencabut kerisnya dan langsung menerjang maju!

"Aduhai, adinda dewi yang cantik jelita dan sakti mandraguna, Setyaningsih!

Mengapa andika memusuhiku?

Aku tidak pernah bersalah kepadamu dan aku datang bukan membawa niat jahat.

Kalau andika tidak percaya, ini dadaku.

Hendak membunuh aku?

Silahkan!

Aku bukan seorang pengecut yang takut mati.

Biarlah........

aku rela mati di tangan halus seorang seperti adinda dewi........

tusuklah "

Pangeran Panji Sigit yang sudah tergila-gila itu malah maju dan membuka bajunya bagian depan, memperlihatkan dadanya yang bidang dan berkulit bersih halus, wajahnya berseri, mulutnya tersenyum, matanya memandang dengan pancaran kasih sayang.

Tangan yang memegang keris itu gemetar, kemudian lunglai dan keris itu menurun ke bawah.

Seperti naik sedusedan ke atas kerongkongan Setya-ningsih dan ia lalu membuang muka, berkata kepada lima orang laki-laki tinggi besar.

"Tangkap dia, bawa menghadap ayunda!"

Tangan-tangan yang kasar menangkap kedua tangan Pangeran Panji Sigit dan digiringlah pangeran ini mema-suki hutan, diiringkan oleh Setyaningsih dan beberapa orang gadis temannya.

Setelah para satria Wilis tahu bahwa pemuda ini adalah seorang Pangeran Jenggala, mereka tidak berani berbuat sembrono.

Mereka maklum bahwa pimpinan mereka, Endang Patibroto, adalah bekas mantu Jenggala.

Mereka menangkap dan meng-giring pemuda ini hanya karena perintah Setyaningsih yang tentu saja mereka taati.

Belum juga tiba di pusat Padepokan Wilis yang berada di puncak, di mana terdapat pondok utama tempat tinggal pimpinan Padepokan Wilis, di bawah puncak rombongan yang menawan Pangeran Panji Sigit ini bertemu dengan Endang Patibroto yang dilkuti oleh beberapa orang gadis yang tadi mandi bersama Setyaningsih dan melapor.

Endang Patibroto menjadi marah ketika mendengar bahwa ada seorang pemuda asing datang dan menimbulkan kekacauan, mengintai Setyaningsih dan teman-temannya yang sedang mandi.

Ketika ia mendengar betapa pemuda itu dengan mudahnya mengalahkan lima orang anak buahnya, ia terheran dan makin penasaran, maka ia lalu meninggalkan pondoknya, menyuruh Retna Wilis melanjutkan latihan samadhi seorang diri dan turun dari puncak.

Dari jauh Pangeran Panji Sigit sudah melihat datangnya rombongan wanita turun dari atas itu.

Tertegun ia melihat wanita yang berjalan paling depan, wanita berusia tiga puluh tahun lebih, cantik dan agung, langkah dan geraknya mengandung wibawa dan kegagahan luar biasa dan beberapa orang gadis yang -mengiringkan wanita itu tampak penuh hormat.

Ia merasa kenal dengan wanita yang turun dari atas Setelah kedua rombongan bertemu dan lima orang laki-laki tinggi besar beserta semua gadis menjatuhkan diri berlutut di depan wanitaitu, kecuali Setyaningsih yang tetap berdiri, muncul pula banyak sekali laki-laki yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan bersikap kasar.

Mereka ini semua pun menjatuhkan diri berlutut lalu bersila atau berjongkok di atas tanah, tak seorangpun mengeluarkan kata-kata.

Kini yang berdiri hanya tiga orang.

Wanita itu yang bukan lain adalah Endang Patibroto, Setyaningsih, dan Pangeran Panji Sigit.

Kini jelas tampak oleh pangeran muda itu bahwa dugaannya tadi tidak keliru.

Wanita ini, yang berdiri dengan sikap angkuh dan tenang, yang dihormati oleh semua anak buahnya seperti seorang ratu, bukan lain adalah kakak iparnya, Endang Patibroto isteri mendiang kakak tirinya Pangeran Panjirawit!

Enam tujuh tahun telah lewat namun kakak iparnya ini masih tidak berubah, masih tetap cantik dan tidak kelihatan tua, hanya bedanya, kalau dahulu manis dan ramah, kini kelihatan angker dan galak!

"Puji syukur kepada para Dewata........

Kiranya Ayunda yang berada di sini.

Pangeran Panji Sigit melangkah maju dan berseru. Akan tetapi sinar tajam yang menyambar keluar dari pandang mata Endang Patibroto membuatnya terhenti dan memandang ragu.

"Apa yang telah dilakukan oleh keparat ini?"

Suara Endang Patibroto seperti biasa amat halus dan merdu, namun di dalamnya terkandung hawa dingin yang menyeramkan.

Pertanyaan itu ditujukan kepada adiknya, Setyaningsih, akan tetapi karena ia tetap menatap wajah pangeran itu, maka seolah-olah ia bertanya kepada si pangeran sendiri atau kepada diri sendiri.

"Ayunda........ bukankah paduka ini......... Ayunda Endang Patibroto........? Duhai Ayunda. sudah lupakah kepadaku……?"

Memang Endang Patibroto sudah lupa kepada pangeran muda ini.

Tujuh tahun yang lalu, pangeran ini masih merupakan seorang pemuda cilik yang belum dewasa, baru tiga belas tahun usianya, sedangka kini telah menjadi seorang pemuda de wasa yang tampan dan gagah.

"Ningsih! Siapakah dia ini?"

Kini Endang Patibroto menoleh kepada adiknya.

"Menurut pengakuannya, dia bernama Panji Sigit, pangeran dari Jenggala,"

Jawab Setyaningsih sambil melirik ke arah pemuda itu.

Tidak berani ia memandang secara langsung karena pandang mata pemuda itu demikian terus terang memancarkan cinta kasih kalau memandangnya.

Bahkan menyebutkan nama Panji Sigit saja jantungnya berdebar dan suaranya gemetar.

Endang Patibroto kembali menghadapi pangeran itu, wajahnya tidak berubah, masih tenang angker dan pandang matanya dingin.

"Hemm........? Mau apa engkau datang ke sini. ?"

Pangeran Panji Sigit terkejut dan diam-diam merasa serem.

Ia tidak tahu betapa Endang Patibroto sekarang sudah jauh berubah kalau dibandingkan dengan dahulu ketika masih menjadi isteri Pangeran Panjirawit.

Pukulan batin yang menimpanya secara bertubi-tubi semenjak suaminya tewas, telah membuat hati wanita yang keras ini menjadi makin keras.

Keras dan pahit.

"Ayunda........ Secara tidak sengaja aku tersesat sampai ke Wilis dalam perantauanku meninggalkan istana. Aku tidak betah lagi tinggal di istana yang makin lama makin panas dan makin kacau. Tanpa kusengaja aku memasuki daerah Wilis dan siapa menduga bahwa daerah ini dikuasai oleh Padepokan Wilis yang ternyata Ayunda sendiri yang pimpin. Ah, betapa bahagia hatiku "

"Cukuplah, Panji Sigit. Engkau datang tanpa kausengaja, itu masih amat baik. Sekarang kau pergilah cepat-cepat meninggalkan Wilis!"

Terbelalak sepasang mata Panji Sigit.

"Ahhhh........ bagaimana ini, Ayunda? Aku........ aku tidak berniat buruk....…..dan........ di sini aku berjumpa dengan....…….. Setyaningsih ini........ adakah dia adik kandung Ayunda? Terus terang saja,....…….Ayunda, aku. aku jatuh cinta kepada Setyaningsih dan aku hendak meminangnya menjadi isteriku."

"Wuuuuutttt........ , plakkk !!"

"Aduhhh..!"

Tubuh Pangeran Panji Sigh terbanting ke atas tanah ketika pundaknya ,kena tampar tangan Endang Patibroto yang memiliki keampuhan menggirlskan.

Pangeran inl merasa seluruh tubuhnya lumpuh dan kepalanya pening, bumi terasa bergelombang dan ia hanya dapat memandang ke arah Endang Patibroto dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.

Endang Patibroto agaknya marah sekalli.

mendengar pernyataan sejujurnya dari pangeran itu.

Setelah menampar, tubuhnya berkelebat ke arah seorang anggauta Padepokan Wilis yang duduk terdekat dan tahu-tahu ia telah mencabut golok orang itu, kemudian sekali melompat ia telah berada di dekat tubuh Pangeran Panji Sigit yang masih rebah di atas tanah.

"Terimalah kematianmu, ,kau "

Golok Itu diangkat ke atas dan siap di-ayunkan memenggal leher Pangeran Panji Sigit yang tak dapat berbuat apa-apa lagi karena tubuhnya masih belum pulih dari tamparan tadi.

"Ayunda Endang........ Jangan !!"

Endang Patibroto tertegun ketika merasa betapa dua buah tangan Setyaningsth merangkulnya dan memegang kedua lengannya dari belakang.

Ia menoleh dan makin heranlah hatinya ketika melihat wajah adiknya itu pucat pasi., matanya basah oleh air mata, tubuhnya menggigil dan bibirnya bergerak-gerak seperti mau menangis.

"Ehh, Setyaningsih, mengapa kau..?"

"Ayunda, jangan bunuh dia........ , jangan........! Dia........ dia tidak bersalah apa-apa "

"Tapi dia........ dia berani mengucapkan kata-kata kurang ajar. !"

"Ayunda, salahkah kalau ada orang mencintaiku? Salahkah kalau ada orang meminangku? Tidak! Kalau Ayunda membunuhnya, berarti dia mati karena aku. Lebih baik Ayunda membunuh aku saja yang menjadi gara-gara "

Endang Patibroto terbeleilak. Ia maklum akan kesungguhan hati adiknya ini "Hemm........ hemmm !"

Sejenak tubuhnya menegang seolah-olah ia masih ragu, kemudian ia menghela napas, melepaskan rangkulan adiknya, lalu dengan jari-jari tangannya ia mematah-matahkan golok yang tadinya hendak dipergunakan memenggal leher Pangeran Panji Sigit.

"Kau sudah tidak berkeberatan dipinang orang? Baiklah, Setyaningsih, aku akan mengadakan sayembara!"

Tanpa menanti jawaban adiknya, juga tanpa memperdulikan Pangeran Panji Sigit yang kini sudah bangkit dan duduk, masih tegang menghadapi ancaman maut yang baru saja lolos, Endang Patibroto lalu meloncat ke atas sebuah batu yang tinggi, kemudian dengan lantang ia berkata.

"Di mana adanya ketiga Kakang Wilis?"

Dari rombongan mereka yang kini makin banyak memenuhi tempat itu dan menonton tanpa mengeluarkan kata-kata, berdirilah tiga orang laki-laki raksasa.

Mereka ini bukan lain adalah Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis.

"Hamba berada di sini!"

"Kakang Wilis bertiga, dengar baik-baik pengumumanku ini! Kalian umumkan ke seluruh penjuru agar diketahui oleh seluruh orang gagah, para satria, pangeran dan bangsawan, juga rakyat dan siapa saja yang menaruh minat, bahwa mulai sekarang Padepokan Wilis mengadakan sebuah sayembara. Sayembara tanding! Adikku Setyaningsih hendak, memilih jodoh dengan syarat sayembara tanding, yaitu siapa yang dapat menangkan adikku dalam pertandingan, dan walinya menangkan aku dalam pertandingan, dialah yang dianggap menang dalam sayembara dan berhak meminang adikku Setyaningsih! Umumkan sekarang juga, Kakang, dan sayembara akan diadakan tepat sebulan sesudah hati ini, pada hati Respati dimulai pagi-pagi!"

"Baiklah, Gusti puteri, akan hamba umumkan!"

Jawab Limanwilis.

Endang Patibroto tidak memperdulikan adiknya yang kini berdiri menjauh sambil menundukkan muka.

Ia memandang kepada Pangeran Panji Sigit yang sudah berdiri dengan muka pucat, lalu berkata .

"Nah, Panji Sigit, engkau sudah mendengar sendiri! Adikku adalah seorang wanita terhormat, seorang puteri sejati, tidaklah dapat diperoleh secara mudah. Kalau engkau memang ingin meminangnya, engkau harus menang dalam sayembara tanding, harus dapat mengalahkan dia dan walimu harus dapat mengalahkan aku. Nah, sekarang pergilah, aku tidak suka melihat engkau mengacau lebih lama lagi di sini!"

Pangeran Panji Sigit merasa terpukul hatinya dan berduka sekali.

Ia adalah seorang yang biasanya gembira dan jenaka, tidak mudah murung, akan tetapi sekali ini ia benar-benar merasa prihatin.

Ia menoleh ke arah Setyaningsih, akan tetapi dara itu hanya menundukkan muka, tidak bergerak.

Ia menghela napas dan kemudian menjura ke arah Endang Patibroto, berkata.

"Baiklah, Ayunda. Tentu saja aku akan memasuki sayembara, dan sekiranya aku yang tidak mempunyai wall ini kelak mati di tangan adinda Setyaningsih atau di tangan Ayunda, aku rela."

Endang Patibroto hanya mendengus tanpa menjawab, maka pangeran itu setelah melempar pandang yang sayu sekali lagi ke arah Setyaningslh, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

Hatinya terasa berat sekali, kedua kakinya seperti lumpuh, namun ia memaksa diri pergi menuruni lereng Gunung Wilis, terhuyung-huyung dan terbungkuk-bungkuk.

Pangeran Panji Sigit menekan batin untuk mengurangi rasa duka yang menindih hatinya.

Ia berkali-kali mencela diri sendiri mengapa sekali ini begini lemah.

Semenjak kecil ia hidup mewah dan senang di istana ramandanya, bertemu dengan banyak puteri-puteri cantik jelita, bahkan ia tahu betapa banyaknya dara-dara ayu dan puteri-puteri jelita gandrung (tergila-gila) kepadanya, mengharapkan cinta kasihnya, namun ia tidak pernah tertarik, bahkan ketika Suminten selir ramandanya yang masih muda dan cantik menarik itu merayunya, la sama sekali tidak tertarik malah menjadi jijik dan takut sehingga ia meninggalkan istana!

Mengapa sekarang, sekali bertemu dengan Setyaningsih ia menjadi gandrung wuyung, tergila-gila dan hatinya penuh oleh cinta kasih yang amat mendalam?

Mengapa begitu melihat wajah perawan Wilis itu, begitu bertemu pandang, ia jatuh cinta sedemikian rupa sehingga la rela untuk mengorbankan nyawa?

Mengapa jiwa mudanya bergelora seperti laut selatan mengamuk begitu ia bertukar '' pandang dengan Setyaningsih?

Adakah Ini menjadi akibat daripada rayuan Suminten yang seolah-olah membangkitkan gelora darah mudanya?

"Ahhh , Panji Sigit, mengapa engkau begini lemah?"

Ia mengeluh kepada diri sendiri. Ketika bayang-bayang wajah Setyaningsih tampak tersenyum di depan matanya, ia mengeluh lagi.

"Adindaku Setyaningsih sudahkah dikehendaki Hyang Widdhi bahwa engkau adalah jodohku? Kalau begitu, betapa mungkin? Sayembara tanding itu amat berat. Melawanmu mungkin aku masih ada harapan karena mungkin sekali, melihat pembelaanmu tadi ketika aku akan dibunuh, engkau akan suka mengalah terhadap aku. Akan tetapi, kekasihku, juwitaku........ betapa mungkin aku dapat melawan ayunda Endang Patibroto? Ahh, kalau dia kehendaki, sekali pukul saja aku akan tewas di dalam tangannya. Setyaningslh........ mana ada harapan bagiku untuk dapat bertanding denganmu, sayang........"

Demikianlah, seperti orang gila karena merasa tergoda asmara, Pangeran Panji Sigit berjalan terus, terhuyung-huyung dan tanpa tujuan, kadang-kadang ia bicara seorang diri, kadang-kadang tersenyum-senyum mesra, kadang-kadang seperti orang hendak menangis.

Betapa besarnya kekuasaan asmara, hanya dapat diakui oleh mereka yang telah merasakannya.

Betapapun sengsara hatinya oleh siksaan asmara yang mengamuk di hatinya, namun Pangeran Panji Sigit adalah seorang keturunan mendiang Sang Prabu Airlangga yang sakti mandraguna dan bijaksana.

Sedikitnya, darah satria utama mengalir di dalam tubuhnya, tekad seorang jantan telah menjadi wataknya.

Setelah seharl semalam menuruni puncak dan lereng Wilis, akhirnya Panji Sigit masuk ke dalam sebuah hutan kecil yang amat liar.

Hutan itu kelihatan menyeramkan sekali, penuh pohon-pohon raksasa dan penuh dengan alang-alang dan duri sehingga sukar dilalui manusia.

Keadaannya yang gelap dan rungkut amat mengerikan dan menyeramkan, karena hutan seperti ini amat angker, jarang atau tak pernah dimasuki karena banyak bahaya mengancam, bukan hanya bahaya yang datangnya dari ancaman binatang-binatang hutan yang buas, melainkan terutama sekali gangguan jin setan iblis dan siluman yang sepatutnya menjadi penghuni sebuah hutan seperti itu.

Akan tetapi Pangeran Panji Sigit sudah tidak perduli lagi akan keselamatan dirinya.

Hatinya yang perih membuat ia nekat, bahkan timbul tekadnya untuk bertapa di dalam hutan ini sambil menanti datangnya hari sayembara tandang.

Ia bertekad untuk bertapa di dalam hutan yang angker ini selama sebulan!

Setelah memasuki bagian yang paling dalam, paling gelap dan paling rungkut, sang pangeran lalu menjatuhkan diri duduk di bawah sebatang.

pohon besar; pohon asem yang entah sudah berapa abad usianya.

Ia duduk bersila, mematikan raga, mengheningkan cipta dan menyatukan pancaindra, didasari keprihatlnannya memohon petunjuk dan pertolongan Sang Hyang Widdhi, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Segera ia tenggelam ke dalam samadhinya, seolah-olah telah berubah menjadi arca batu, tidak terasa lagi olehnya betapa ada seekor semut angkrang (semut merah besar) merayap-rayap di sepanjang lengannya.

-oo0dw0oo-Begitu sayembara tanding itu diumumkan gegerlah dunia orang gagah.

Nama Padepokan Wilis sudah amat terkenal dan semua orang sudah tahu belaka, sedikit-nya mendengar berita betapa Padepokan Wilis adalah sarang atau tempat berkumpulnya wanita-wanita yang cantik-cantik seperti bidadari dan berilmu tinggi.

Juga telah banyak disinggung orang tentang "Perawan Lembah Wilis", yaitu dara cantik jelita namun yang berilmu tinggi sehingga sukar dilihat sukar dikenal.

Tidak ada yang tahu siapa sesungguhnya yang mereka sebut-sebut sebagai Perawan Lembah Wilis itu, karena terlalu banyak dara remaja yang jelita di situ dan setiap kali ada seorang dara Padepokan Wilis yang kebetulan bertemu dengan orang luar, tentu orang luar ini menganggapnya sebagai orang yang disebut Perawan Lembah Wilis.

Kini ada pengumuman bahwa di puncak Wilis diadakan sayembara tanding untuk mempersunting perawan lembah Wilis yang bernama Setyaningsih dan di dalam pengumuman disebut sebagai adik kandung pemimpin Padepokan Wilis sendiri.

Betapa tidak akan gempar orang-orang muda yang mendengar pengumuman ini.

Jauh sebelum diadakannya sayembara tanding tiba, sudah berbondong-bondong orang datang mengunjungi Gunung Wilis dan memondok di dusun-dusun sekitar kaki Gunung Wilis, karena sebelum hari Respati yang ditentukan tiba, tidak ada yang diperbolehkan naik ke lereng Gunung Wilis.

Bermacam-macam orang dari segala golongan berdatangan, dan mereka ini pada umumnya adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, karena Padepokan Wilis sudah terkenal sebagai kedung (pusat) orang-orang pandai maka tentu saja pemimpinnya juga seorang yang sakti mandraguna.

Hal ini membuat mereka yang kurang tinggi ilmunya, tidak berani main-main betapapun inginnya hati mereka mempersunting kembang Wilis yang disohorkan amat cantik jelita melebihi puteri kerajaan itu.

Satria-satria yang perkasa dan tampan berdatangan, bersama dengan wali mereka yang terdiri dari guru-guru mereka, para pertapa, pendeta, dan empu empu gemblengan yang selain datang untuk membela murid-murid mereka, juga ingin melihat siapa gerangan pimpinan Padepokan Wilis yang terkenal sakti mandraguna akan tetapi tak pernah dapat ditemui orang luar itu.

Sementara itu, di Padepokan Wilis, Setyaningsih melewatkan hari-hari dengan hati gelisah.

Tentu saja ia tidak berani membantah ayundanya yang mengadakan sayembara tanding, bahkan ia merasa bangga karena dengan adanya sayembara ini, derajatnya menaik tinggi, tidak kalah dengan derajat seorang puteri istana!

Sayembara tanding itu telah mengangkat kehormatan dan harga dirinya tinggi sekali, apalagi ditambah syarat bahwa si peminang harus mempunyai wali yang dapat menandingi kesaktian ayundanya!

Dengan sayembara ini, maka ia tidak akan salah pilih lagi, pemenangnya tentu seorang yang sakti mandraguna dari murid atau putera seorang yang lebih sakti daripada ayundanya.

Benarkah tidak akan salah pilih?

Apakah kebaikan seorang suami dapat diukur dari kedigdayaannya?

Bagaimana kalau yang muncul sebagai pemenang seorang kaum sesat yang berilmu tinggi?

Mengingat akan hal ini, Setyaningsih bergidik ngeri.

Akan tetapi hatinya terhibur oleh kepercayaan dan kesaktian ayundanya.

Tentu ayundanya pandai memilih dan kalau yang muncul seorang dari golongan sesat, ia sendiri akan bertanding mati-matian mempertaruhkan nyawa, sedangkan ia percaya ayundanya tentu juga akan berbuat demikian.

Akan tetapi, tetap saja hati Setyaningsih risau kalau ia teringat akan Pangeran Panji Sigit.

Ia tidak dapat menyangkal dan menipu hatinya sendiri.

Semenjak pertama kali beradu pandang mata, hatinya sudah tertarik dan biarpun selama hidupnya ia belum pernah mengalami, namun perasaan wanitanya dapat menduga bahwa ia jatuh cinta kepada pangeran muda itu.

Kalau pemuda itu maju menandinginya, tidak mungkin ia tega hati untuk mengalahkannya sungguhpun belum tentu pula dapat menang dalam pertandingan wajar.

Hal ini mudah saja diatasi, akan tetapi kalau ia teringat bahwa pangeran itu harus membawa seorang wali yang dapat mengalahkan ayundanya, hatinya menjadi risau dan bingung.

Ia hanya berdoa kepada dewata semoga pemuda idamannya itu mempunyai wali yang sakti mandraguna sehingga dapat menandingi kesaktian ayundanya.

Makin risau dan bingunglah hati Setyaningsih ketika darI para penjaga dan penyelidik bahwa di antara sekian banyak orang-orang yang berkumpul dl kaki gunung, tidak tampak si pangeran muda!

Padahal, sayembara akan diadakan tiga hati lagi!

Benar-benarkah pangeran itu tidak akan muncul?

Begitu penakutkah melihat beratnya syarat yang diajukan?

Sesungguhnya, apa yang dirisaukan hati Setyaningsih tidaklah benar sama sekali.

Pangeran Panji Sigit bukanlah seorang penakut, bukan lagi seorang yang mudah putus asa.

Sebaliknya daripada itu, Pangeran Panji Sigit mewarisi watak kakeknya, mendiang Sang Prabu Airlangga yang bijaksana dan sakti, mewarisi watak satria yang pantang undur dalam melaksanakan kewajiban dan dalam mengejar tercapainya cita-cita.

Rawe-rawe rantas, malang-malang putung, demikianlah pendiriannya.

Apapun yang menjadi penghalang, betapa beratpun, akan ia terjang dan hadapi Pangeran Panji Sigit amat tekun dalam samadhinya, dalam bertapa mohon petunjuk dewata, menyerah kan jiwa raga ke dalam kekuasaan Hyang Wadhi.

Pemuda remaja yang tampan ini seolah-olah telah berubah menjadi arca batu di bawah pohon asem raksasa itu, sama sekali tidak bergerak.

Hanya naik turunnya dada yang amat jarang dan halus itu saja yang menjadi tanda bahwa "arca"

Ini bukanlah terbuat daripada darah daging, bukan benda mati melainkan seorang manusia hidup.

Hutan itu memang amat angker dan liar, pantasnya menjadi tempat tinggal raja setan dengan kawulanya yang terdiri daripada iblis brekasakan.

Dan memang blasanya, orang yang bertapa selalu digoda oleh mahluk-mahiuk halus ini yang sesungguhnya hanyalah penciptaan nafsu-nafsu badani yang berada di tubuh manusia itu sendiri.

Godaan mahluk-mahluk halus ini amatlah beratnya bagi seorang pertapa, dan banyaklah orang yang gagal dalam tapanya, jauh lebih banyak daripada mereka yang berhasil.

Sama banyaknya dengan kegagalan orang-orang yang mengejar cita-cita, namun tidak dapat mengatasi rintangan di tengah jalan.

Setiap pelaksanaan dalam mengejar cita-clta selalu pasti akan menimbulkan rintangan-rintangan, halangan dan godaan yang akan menyelewengkan orang itu daripada titik tujuan sehingga cita-cita itu gagal tercapai.

Hanya orang-orang yang berjiwa satria saja yang akan mampu mengatasi segala macam rintangan ini, betapapun berat dan pahitnya, dan hanya mereka ini yang akan dapat mencapai apa yang dicita-citakan.

Demiklan pula dengan orang bertapa, hanya dia yang dapat menghadapi godaan bayangan setan sehingga imannya tidak terguncang, daya ciptanya tetap membubung ke atas menuju Yang Satu tak pernah goyah, dialah yang akan memetik buah hasil tercapainya cita-cita.

Amat berat memang keadaan bayangan ini.

Ketika Pangeran Panji Sigit bertapa dan duduk bersila sampai pada malam ke tiga, bayangan wajah Setyaningsih selalu menggodanya sehingga ia hampir-hampir tidak kuat bertahan.

Setelah ia dapat mengatasi bayangan wanita yang dikasihinya itu, muncul bayangan lain yang agaknya timbul daripada nafsu berahinya sebagai seorang pria muda.

Muncullah bayangan wanita-wanita cantik yang menanggalkan pakaian mereka satu per satu di depannya, kemudian dengan tubuh telanjang menggairahkan dan dengan gaya memikat, mencumburayunya.

Semalam suntuk ia digoda oleh wanita-wanita cantik yang melakukan segala usahanya untuk merayu dan mencumbunya, untuk menyelewengkan perhatiannya.

Namun, sang pertapa muda ini tetap tidak bergeming imannya, tidak goyah batinnya, keadaannya seperti sikap dalam samadhi yang pernah ia pelajari sebagai wejangan seorang di antara guru-gurunya Pancadriya wus gineleng tunggil mung sajuga kang sinidhikara.

kinarya nut pangesthine, Catur warna binesut pinarwasa ajwa ngribedi mring lenging tyas sopana, jwa keron pandulu marang luguning parasdya kang kaesthi muhung dumununging Gusti panuksmane Hyang Suman.

(Dandanggendis) Bagi seorang pria, apalagi kalau ia masih muda remaja seperti Pangeran Panji Sigit, amatlah beratnya godaan yang merupakan bayangan wanita-wanita cantik ini yang timbul daripada nafsu-nafsunya sendiri yang kadang-kadang dapat menggoda setiap orang pria dengan lamunan-lamunan.

Namun sang pangeran lulus daripada ujian dan cahaya di wajahnya makin gemilang ketika pada keesokan harinya bayang-bayang para wanita itu lenyap tanpa bekas.

Bagi pandangan seorang yang sidik paningal (awas mata batinnya) akan tampaklah teja (cahaya) bersinar dari kepala sang pangeran tanda bahwa samadhinya amat mendalam dan tekadnya bulat, sudah bersatu jiwa dan raga, dikatakan mati tapi hidup karena jantungnya masih berdenyut, dibilang hidup keadaannya seperti orang mati, tak bergerak tak merasa tak berpikir.

Tiga hari menjelang hari sayembara tanding, samadhinya pangeran muda ini mencapai puncaknya dan mulailah terujud semua nafsu-nafsu badani berbentuk setan iblis brekasaan yang mengerikan.

Kepala tanpa badan bergulingan di sekitar lututnya sambil tertawa bergelak, banaspati yang berambut dan bernapas api menggodanya dengan ancaman hendak membakar, gendruwo yang mengerik dan bertanduk, memedi pocongan seperti mayat terbungkus kain yang hidup kembali, tengkorak-tengkorak hidup yang mengejek dan mentertawakannya, wewe gombel, kuntianak, tuyul dan thethekan, semua bentuk iblis yahg pernah digambarkan orang bermunculan dan menggo-anya Tiga hari menjelang hari sayembara tanding, samadhinya pangeran muda ini mencapai puncaknya dan mulailah terujud semua nafsu-nafsu badani berbentuk setan iblis brekasaan yang mengerikan.

Kepala tanpa badan bergulingan di sekitar lututnya sambil tertawa bergelak,banaspati yang berambut dan bernapas api menggodanya dengan ancaman hendak membakar, gendruwo yang mengerik dan bertanduk, memedi pocongan seperti mayat terbungkus kain yang hidup kembali, tengkorak-tengkorak hidup yang mengejek dan mentertawakannya, wewe gombel, kuntianak, tuyul dan thethekan, semua bentuk iblis yang pernah digambarkan orang bermunculan dan menggodanya.

Namun wajah sang pange-ran yang sudah mencorong (bercahaya) itu nampak tenang dan tenteram saja, penuh damai dan keheningan, wajah yang tampan itu makin tampan, bibirnya mengarah senyum penuh kesabaran dan peng-ampunan, kakinya bersila, kedua lengannya bersedakap, napas-nya satu-satu dan panjang-panjang hampir tidak nampak gerak dadanya.

Tidak seekorpun nyamuk atau semut berani mengganggu kulit sang pangeran, seolah-olah ada hawa dan getaran gaib yang melindunginya.

Bahkan bayangan para setan dan iblis itu akhirnya mundur-mundur keta-kutan dan kepanasan.

Tubuh sang pangeran agak kurus, wajahnya agak pucat, namun cahaya yang menyelubungi tubuhnya di pagi hari esoknya amatlah terangnya dan wajah yang pucat karena terlalu lama berpuasa itu makin berseri, samadhinya makin hening karena kini tiada..

lagi bayangan-bayangan mengganggunya.

Pada pagi hari itu tampak seorang kakek tua berjalan terbungkuk-bungkuk memasuki hutan di mana Sang Pangeran Panji Sigit bertapa.

Kakek ini tidak kelihatan luar biasa, pakaiannya serba hitam seperti pakaian petani miskin, kotor berlepotan tanah dan lumpur, kakinya telanjang juga berlepotan lumpur.

Tubuhnya kecil dan kate, mukanya penuh keriput menandakan usia tua, akan tetapi rambutnya masih hitam, gemuk dan kaku, bercerongatan ke sana-sini, sedangkan sepasang matanya sama sekali tidak kelihatan tua atau lamur bahkan seperti sepasang mata seekor harimau!

Tiba-tiba kakek itu seperti orang tersentak kaget, menoleh ke kanan-kirI kemudian pandang matanya lekat ke arah kiri mulutnya mengeluarkan suara.

"Hemmmm "

Dan kakinya lalu membelok ke kiri, langsung menuju ke arah kiri di mana Pangeran Panji Sigit duduk bertapa tidak jauh dari situ.

Tak lama kemudian kakek ini sudah tiba di depan Pangeran Panji Sigit.

Ia memandang sejenak, lalu mengangguk-angguk dan kemudian menggeleng-geleng, menarik napas panjang dan menggumam lirih.

"Pantas........ pantas. jantungku berdebar, kakiku tersandung, kiranya ada seorang yang begini tekun bertapa, tejanya sampai bercahaya kebiruan. Hemmm, orang muda, sayang akan jasmanimu kalau dilanjutkan "

Setelah menggumam demikian, kakek itu lalu berdiri tegak, kedua lengan bersedakap, mukanya menunduk, matanya dipejamkan dan ia melakukan aji kesaktian "merogoh sukma"

Untuk menyadarkan pemuda yang sedang tenggelam dalam lautankeheningan itu.

Hanya dengan cara Itu saja agaknya pemuda yang tekun bertapa ini akan dapat disadarkan.

Kakek itu bergerak kembali, mengangkat muka memandang ke arah Pangeran Panji Sigit yang juga mulai bergerak-gerak, pelupuk matanya yang mulai gemetar, kemudian terdengar pemuda itu menghela napas, urat-urat syaraf di tubuhnya mulai bergerak, kulitnya berdenyut-denyut.

"Duhai, Angger, Kulup yang sedang prihatin, sadar dan bangkitlah, hentikan keprihatinanmu dan mari kubantu andika mengupas persoalanmu."

Bagaikan tangun dari mimpi, Pangeran Panji Sigit membuka kedua matanya dan memandang ke arah kakek itu.

Mulutnya bergerak dan ia menggigit bibir ketika terasa betapa seluruh tubuhnya lemas, perutnya perih dan uratnya kaku-kaku sehingga kalau tidak kuat-kuat ia bertahan tentu ia akan roboh pingsan.

Teringatlah ia akan segala hal-ihwalnya, teringat akan keprihatinannya dan ia dapat menduga bahwa tentu kakek sederhana dengan sinar mata seperti bintang ini yang telah menggugahnya dari samadhi.

Naik sedu-sedan dari dadanya dan ia lalu memaksa diri yang lemas itu bangun dan menghadap kakek itu dengan sikap menghormat.

"Aduhhh, Eyang , mengapa Eyang menyadarkan saya? Saya telah menyerahkan jiwa raga kepada para dewata dan kalau para dewata tidak menolong saya, biarlah saya tidak akan sadar lagi dari-pada samadhi."

Ucapan ini seolah-olah ia katakan kepada diri sendiri, setengah berbisik setengah mengeluh, namun kakek itu agaknya dapat mendengarnya dan ia tersenyum.

"Wahai, Angger bocah bagus! Memang seorang satria utama harus tahan tapa, berani menghadapi kurang makan kurang tidur, akan tetapi bukanlah watak satria untuk berkecil hati dan berputus asa! Hidup adalah perjuangan dan sudah sewajarnya dan lumrah kalau dalam berjuang manusia menghadapi kegagalan atau-pun hasil baik, mengalami jatuh bangun. Kalau jatuh, bangkitlah kembali dan pergunakan kejatuhan sebagai pelajaran untuk mengatur langkah selanjutnya. Kalau sedang bangun janganlah menyombongkan diri dan berhati-hatilah agar jangan jatuh. Kalau sedang berhasil baik dan menang janganlah menjadi mabuk namun selalu waspadalah bahwa di balik kemenangan, kekalahan selalu mengintai. Sebalik nya, kalau sedang kalah dan gagal, jangan berkecil hati, jangan hilang semangat, landasan prihatin harus dipimpin oleh ikhtiar yang tak kunjung henti, oleh semangat yang tak kunjung padam. Ketahuilah, Kulup bahwa tidak ada peristiwa, betapapun pahit dan sukarnya, yang takkan dapat diatasi oleh manusia, asalkan dia bermodal iktikad baik."

"Aduh Eyang yang bijaksana, mohon jangan kepalang memberi penerangan kepada saya. Apakah yang dimaksudkan dengan iktikad baik?"

"Kulup, iktikad baik ditujukan keluar, terhadap orang lain, berdasarkan kejujuran, keadilan dan keberanian. Kalau hanya baik bagi diri pribadi namun tidak baik untuk orang lain, hal ini bukanlah iktikad baik namanya. Pamrih yang bermaksud merusak terhadap orang lain, mendatangkan sengsara terhadap orang lain, pasti pada akhirnya akan gagal dan akan mencelakakan diri pribadi. Sebaliknya, kalau cita-cita itu tidak bersifat merusak orang lain maupun diri pribadi, sudah lurus melalui jalan kebenaran, harus terus dipegang oleh seorang satria, kegagalan hanya merupakan tempaan dan gemblengan untuk memperkuat semangat demi tercapainya cita-cita itu. Segala rintangan dan kegagalan pasti akan dapat diatasi. Batu yang dilontarkan ke atas sudah pasti akan jatuh kemball ke bawah, demikian pula, semua pamrih akan membawa akibat dan akibat pasti akan menimpa diri pribadi. Kalau pamrihnya baik, akibatnya sudah pasti baik, sebaliknya pamrih buruk juga akan berakibat buruk. Inilah keadilan namanya, Kulup."

Pangeran Panji Sigit mengangkat muka memandang wajah kakek itu, jantungnya berdebar girang dan pandang matanya terang.

Ia mengerti bahwa ia berhadapan dengan seorang yang bijaksana dan sakti mandraguna.

Tanpa ragu-ragu ia menyembah dan berkata.

"Mohon petunjuk selanjutnya, Eyang. Bagaimana saya dapat mengatasi kekecewaan dan keraguan, apalagi kegagalan. Saya hanya seorang manusia biasa, Eyang, manusia yang lemah dan tak berdaya menghadapi kesengsaraan karena kegagalan."

"Heh-heh-heh, anak baik. Pengakuan-mu ini saja sudah membuktikan bahwa engkau berjalan di atas jalan yang benar. Orang yang setulus-tulusnya mengaku bahwa dia bodoh dan lemah, gudang kesalahan, dia adalah orang yang sadar dan dapat diharapkan menjadi manusia yang baik. Ketahuilah bahwa di dalam hidup ini segala sesuatu ada kebaikannya, segala sesuatu mempunyai dwi muka (dua muka) yang berlawanan. Susah dan senang adalah saudara kembar yang tak terpisahkan. Siapa menikmati kesenangan, dia takkan kebal terhadap kesusahan. Siapa menderita kesusahan, sekali waktu akan merasakan kesenangan. Karena itu, jangan kita tertipu, Kulup. Kita harus waspada dan harus dapat mengatasi saudara kembar ini. Baik kesenangan mau-pun kesusahan, jika sudah mencengkeram dan memperbu dak kita, akan membuat kita lupa diri. Yang mabuk kesenangan akan lupa sehingga sekali kesusahan tiba, ia amat menderita. Yang mabuk kesusahan akan lupa sehingga sekali kesenangan tiba, ia akan menjadi adigang-adigung-adiguna. Akan tetapi apabila kita dapat mengatasi sepasang saudara kembar ini, menghadapi mereka dengan hati lapang, dengan kesadaran penuh. Setiap peristiwa, baik menyusahkan maupun menyenangkan, akan dihadapi sebagai suatu kenyataan yang sudah semestinya. Segala peristiwa terjadi sebagai akibat dari sebab, maka kesemuanya wajar belaka. Susah atau senang tergantung kepada kita sendiri, bagaimana kita menerimanya. Diterima susah, maka susahlah kita. Diterima senang, akan senanglah kita."

"Duh Eyang........ betapa sukarnya manusia menghadapi kedua perasaan itu. Selama masih hidup di dunia ramai, terlibat terikat segala urusan duniawi, betapa mungkin kita dapat membebaskan diri daripada kedua perasaan itu, Eyang?"

"Benar, Angger. Belum tiba saatnya bagi seorang muda seperti andika untuk membebaskan diri daripada ikatan-ikatan itu. Yang kumaksud hanyalah agar supaya andika sadar dan berdiri di atas perasaan-perasaan itu. Hadapilah segala peristiwa yang menimpa dirimu, senang mau-pun susah, sebagai suatu kewajaran dan dengan hati yang tenang dan. waspada. Kenyataan yang pahit harus diterima sebagai sesuatu yang pahit, wajar bagi seorang yang belum bebas daripada ikatan duniawi, dan boleh saja engkau prihatin, namun di dalam keprihatinan ini, jangan sekali-kali andika putus asa, berikhtiarlah sekuat mungkin karena ini merupakan wajib, jangan menjadi keruh budi sehingga melakukan hal-hal yang nekat dan menyeleweng daripada kebenaran. Sebaliknya, kenyataan manis boleh saja diterima dengan gembira dan senang, akan tetapi di dalam kesenangan ini, jangan sekali-kali lupa diri dan mabuk kesenangan sehingga mengurangi atau menghilangkan kewaspadaan yang dapat menjerumuskan kita ke dalam kesombongan. Bersikaplah seperti air telaga yang dalam. Boleh saja ada angin bertiup menimbulkan keriput-keriput pada permukaannya, namun keriput itu tidak mendalam sampai ke dasarnya. Mengertikah, Kulup?"

"Duhai Eyang, serasa terangkat puncak Gunung Wilis yang menindih hati saya! Serasa tersiram air sewindu kekeringan hati saya karena duka! Terima kasih, Eyang, dan mohon ampun akan ketidaksopanan saya sehingga saya sampai terlupa untuk menanyakan nama Eyang yang mulia."

Kakek itu tersenyum. Girang hatinya melihat betapa pemuda ini dapat menerima wejangannya , menerima sampai mendalam, terbukti dari wajah yang berseri dan lega itu.

"Angger, sebutanku adalah Ki Datujiwa. Sebaliknya, siapakah andika dan kalau boleh seorang tua seperti aku mengetahui, mengapa gerangan andika menyiksa raga di dalam hutan ini?"

"Eyang, nama saya adalah Panji Sigit"

"Hemmm........ , melihat bentuk wajah, sikap, dan pakaianmu, aku dapat menduga bahwa andika tentulah seorang putera bangsawan. Benarkah, Angger?"

"Tidak salah dugaan Eyang, sungguh pun dalam keadaan menderita batin seperti sekarang ini, apakah bedanya antara bangsawan dan orang biasa? Eyang sesungguhnya ramandaku adalah sang prabu di Jenggala "

"Aahhh........ , pantas! Kiranya paduka adalah Pangeran Jenggala, keturunan mendiang Sang Prabu Airlangga yang bijaksana! Apakah yang membuat paduka sampai terlunta-lunta di tempat ini?"

Dengan penuh keprihatinan, Pangeran Panji Sigit lalu menceritakan persoalannya dengan Setyaningsih, betapa pinangannya ditolak dan dia dihadapkan pada keputusan sayembara tanding yang akan diadakan di puncak Wilis.

"Eyang, betapa saya dapat menangkan sayembara itu? Menghadapi adinda Setyaningsih saja, belum tentu saya dapat menang, apalagi harus mempunyai seorang wali yang akan mampu mengalahkan ayunda Endang Patibroto! Betapa hati saya yang sudah terlanjur jatuh cinta kepada adinda Setyaningslh ini akan dapat terobati? Itulah sebabnya, Eyang, dalam keadaan bingung karena tiada harapan, saya lalu bertapa di hutan ini, mohon bantuan dewata."

Ki Datujiwa mengangguk-angguk dan tersenyum.

"Memang, Endang Patibroto seorang wanita hebat! Semenjak dahulu ketlka mudanya sampai kini, selalu memutuskan sesuatu dengan ukuran kesaktian. Angger, pangeran muda, harap jangan berduka. Bukan kebetulan saja agak-nya kita dapat saling berjumpa di sini. Dewata telah menghendaki agaknya. Bangkitlah, Angger dan marilah kuantar paduka ke puncak Wilis. Biarlah aku yang sudah tua ini menjadi walimu, siapa tahu kalau memang paduka berjodoh dengan nini Setyaningsih, tentu Endang Patibroto akan suka mengalah terhadap seorang tua macam aku."

Bukan main girangnya hati Pangeran Panji Sigit.

Ia belum melihat bukti kesaktian kakek ini, namun hatinya telah merasa yakin.

Kakek ini bukan orang sembarangan, dan kalau sudah mengenal ayundanya tentu sudah mengenal pula kesaktian ayundanya itu.

Kalau sudah berani menjadi walinya, tentu kakek ini mempunyai kesaktian yang boleh diandalkan.

Serta-merta ia menyembah dan menghaturkan terima kasihnya.

"Aduh, Eyang, betapa besar rasa syukur dan terima kasih saya. Budi kebaikan Eyang berlimpah-limpah jatuh kepada saya seperti air di musim hujan! Bukan hanya wejangan-wejangan yang dapat meringankan batin, juga bahkan Eyang sudi menjadi wali saya, menambah budi dengan perbuatan nyata. Betapa saya akan dapat membalas budi Eyang yang demikian besarnya?"

"Ha-ha-ha, jangan bicara tentang budi, angger pangeran. Segala macam sifat kebaikan terhadap orang lain yang dilakukan seseorang tiada lain hanyalah kewajiban hidup semata. Pula, belum tentu orang tua macam aku ini akan dapat menandingi kesaktian seorang puteri sakti mandraguna seperti ayundamu Endang Patibroto itu, ha-ha-ha!"

Karena waktu diadakannya sayembara tanding sudah mendekat, maka setelah memulihkan kelemahan tubuhnya dengan makan buah-buahan dan minum, Pangeran Panji Sigit lalu pergi bersama Ki Datujiwa menuju ke puncak Wilis.

-oo0dw0oo-Pada waktu itulah, seperti yang telah dicerltakan terdahulu, di Selopenangkep terjadi perang yang akhirnya memaksa Adipati Tejolaksono dan isterinya melarikan diri ke Panjalu.

Oleh karena perang kemudian dilanjutkan dengan bantuan barisan Panjalu, maka sayembara tanding ini tidak terdengar oleh para satria dan pangeran di Kerajaan Panjalu maupun Jenggala yang saat itu sedang lemah dan tenggelam akibat permainan Suminten yang membuat rajanya tidak memperdulikan urusan pemerintahan.

Di dalam hutan di lereng Gunung Wilis sebelah timur, berkelebat bayangan dua orang.

Bayangan ini berkelebat cepat sekali sehingga mencurigakan dan menyeramkan bagi pemandangan orang biasa.

Seperti bayangan setan-setan saja.

Apalagi kalau dapat melihat orangnya, tentu akan lebih menyeramkan.

Yang seorang adalah laki-laki tinggi besar seperti raksasa, telinganya terhias anting-anting emas, matanya terbelalak lebar, usianya kurang lebih lima puluh tahun.

Adapun orang kedua adalah seorang wanita yang cantik, gerak-geriknya mengandung kegairahan, genit dan sepasang matanya jalang, jelas terbayang nafsu berahi bersembunyi di balik pandang mata yang memikat, senyum dan cuping hidungnya yang bergerak-gerak.

Namun di balik kegenitannya ini, bersembunyi kekejaman yang mengerikan.

Mereka ini bukan lain adalah Ki Kolohangkoro, pimpinan kaum penyembah Bathara Kala, dan Ni Dewi Nilamanik, kepala kaum penyembah Bathari Durga!

Usianya sudah empat puluh tahunan namun ia masih kelihatan muda dan menarik sekali.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, dua orang tokoh yang menjadi anak buah Sang Wasi Bagaspati ini telah mengalami kegagalan dalam perang menghadapi barisan Panjalu.

Mereka kehilangan anak buah mereka yang terbasmi oleh perajurit-perajurit Panjalu yang dipimpin oleh Tejolaksono.

Kemudian, setelah Sang Wasi Bagaspati dan Sang Biku Janapati ditundukkan oleh kakek sakti mandraguna yang dikenal sebagai Bhagawan Ekadenta, Bhagawan Jitendrya atau juga Sirnasarira, mereka semua mundur dan sekaligus siasat telah diubah sama sekali.

Mereka membubarkan anak buah yang ditarik ke barat dan hanya mempergunakan tenaga-tenaga ahli, yang cerdik pandai dan memiliki kesaktian, untuk melakukan penyelundupan dan menyusup ke dalam kota raja, berusaha untuk menggulingkan kerajaan dari sebelah dalam tanpa kekerasan perang!

Demikianlah, kedua orang anak buah Wasi Bagaspati itu kini tiba di lereng Wilis sebelah timur dalam perjalanan mereka menunaikan tugas baru, yaitu mencari orang-orang pandai untuk diajak bersekutu.

Di sepanjang jalan melalui daerah Wilis mereka telah mendengar akan adanya sayembara tanding yang terjadi di puncak Wilis beberapa hari lagi.

Tentu saja mereka menjadi girang sekali karena memang Ni Dewi Nilamanik berniat pergi ke puncak Wilis menemui Endang Patibroto -yang ia dengar berada di tempat itu menjadi kepala Padepokan Wilis yang mulai terkenal.

Mula-mula Ki Kolohangkoro menentang keras akan niat hati Ni Dewi Nilamanik yang ingin mengajak Endang Patibroto bersekutu ini.

"Bagaimana kita dapat bersekutu dengan wanita iblis itu, Bunda Dewi? Dia adalah musuh besar kita dan aku akan lebih setuju kalau kita pergi mencari dia untuk membunuhnya, membalaskan dendam akan kematian kakang Wiku Kalawisesa! Dan bukankah belasan tahun yang lalu, paman Bhagawan Kundilomuko juga tewas di tangan Endang Patibroto (baca cerita Badai Laut Selatan)? Dia adalah musuh kita, betapa mungkin diajak bersekutu?"

Ni Dewi Nilamanik tersenyum.

"Memang benar, dialah yang telah membunuh kedua orang saudara kita itu. Akan tetapi, engkau harus belajar mempergunakan kecerdikan, mempergunakan akal, Kolohangkoro! Manusia tak dapat hidup dengan berhasil hanya mengandalkan okol (kekuatan) seperti engkau. Kadang-kadang kita lebih membutuhkan akal daripada okol."

"Akal yang bagaimana yang akan kita pergunakan terhadap Endang Patibroto, Bunda Dew!?"

"SERAHKAN saja kepadaku. Endang Patibroto bukanlah seorang lawan yang boleh dipandang ringan. Dalam kedigdayaan, mungkin dia lebih berbahaya daripada Tejolaksono sendiri. Kita harus berhati-hati, karena bukankah sang wasi telah berpesan agar kita menghemat tenaga dan tidak lagi menggunakan kekerasan? Kita tahu bahwa Endang Patibroto berbeda dengan Tejolaksono. Wanita itu ganas dan keras hati, beberapa kali menimbulkan geger di kedua kerajaan, tidak setia seperti Tejolaksono, malah dia adalah murid Sang Dibyo Mamangkoro yang menjadi datuk golongan hitam. Alangkah baik dan menguntungkan kalau kita dapat menempel dan membujuknya. Selain itu, tentu dalam sayembara tanding yang diadakan kita akan bertemu banyak orang pandai. Kesempatan sebaik ini tidak harus dilewatkan saja. Akan besar jasa kita kalau kita berhasil membujuk mereka menjadi sekutu, maka kita harus bersikap halus, tidak menggunakan kekerasan."

"Bagaimana kalau tidak berhasil?"

Tanya Ki Kolohangkoro yang tidak biasa bersikap halus dan selalu haus darah ini.

"Kita lihat saja nanti dan serahkan semua akal kepadaku."

Setelah Kl Kolohangkoro menerima banyak petunjuk dari Ni Dewi Nilamanik, akhirnya kedua orang ini dengan gerak cepat mereka mendaki Gunung Wilis dari lereng sebelah timur.

Pagi itu mereka sudah memasuki hutan dan terus mendaki.

Gerakan mereka amat menyeram kan karena tidak seperti manusia lumrah, seperti setan penghuni hutan saja, seolah-olah kedua kaki mereka tidak menyentuh tanah.

Ketika mereka tiba di lereng yang tinggi, keduanya berhenti karena Ki Kolohangkoro menunjuk ke arah utara.

Mereka memandang sambil berdiri di atas puncak kecil itu, di daerah yang penuh dengan batu-batu gunung yang besar-besar.

"Lihat, Bunda Dewi. Banyak sudah orang berkumpul di sana!"

Si raksasa menudingkan telunjuknya.

"Kau benar. Akan ramai agaknya sayembara ini. Lihat, gerakan merekapun tangkas. Banyak pemuda-pemuda yang tampan........ hemmm "

"Wah, Bunda akan banyak senang, akan tetapi aku. ?"

"Hushhh, siapa ingin bersenang-senang? Apakah kalau aku melihat pemuda tampan harus mendapatkannya? Dan kau boleh menahan nafsu dulu, Kolohangkoro. Kita menghadapi tugas penting sekali. Kalau berhasil akalku menarik Endang Patibroto dan orang-orang sakti sebagai sekutu, hal itu baik sekali. Andaikata tidak berhasil, barulah kita mencari akal untuk membalas dendam kepada Endang Patibroto atas kematian Wiku Kalawisesa dan Bhagawan Kundilomuko!"

"Ha-ha-ha! Bicara itu mudah, namun pelaksanaannya yang sukar!"

Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro terkejut sekali dan bagaikan disambar petir mereka cepat meloncat dan membalikkan tubuh.

Tahu-tahu di belakang mereka telah berdiri seorang laki-laki yang bertolak pinggang dan tersenyum-senyum.

Karena terkejut melihat betapa ada orang mengintai dan mendengarkan percakapan tadi, Ni Dewi Nilamanik tidak membuang waktu lagi, melainkan cepat menubruk maju mengirim pukulan dengan tangan kirinya yang ampuh.

"Desss. !"

Dewi Nilamanik menahan pekik karena sakit dan kaget.

Pukulannya telah ditangkis dan ternyata lengan tangan orang itu ampuh sekali, membuat ia terlempar ke belakang sampai tiga tombak lebih, sedangkan orang itu hanya terhuyung sedikit sambil tertawa.

"Ha-ha-ha, sungguh nama Ni Dewi Nilamanik bukan nama kosong belaka! Selain sakti mandraguna, juga amat cantik jelita seperti bidadari kahyangan, ha-ha-ha!"

Merah wajah NI Dewi Nilamanik.

Ucapan orang ini bukan seperti seorang musuh.

Ia menahan kemarahan dan memandang penuh perhatian.

Laki-laki itu usianya kurang lebih empat puluh tahun, wajahnya tampan dan gagah sekali dengan kumis dan jenggotnya yang pendek terpelihara rapih.

Sepasang matanya tajam dan penuh kecerdikan dengan kerling yang menyambar-nyambar.

Pakaian yang menutupi tubuhnya indah dan mewah, sedangkan tubuh laki-laki itu juga tegap dan kekar namun gerak-geriknya halus seperti seorang bangsawan.

Seorang pria yang sudah "matang", dan sekaligus hati Ni Dewi Nilamanik tertarik.

Laki-laki ini jelas memilik kedigdayaan, tampan dan gagah, kaya dengan pengalaman, pandai merayu.

Benar-benar merupakan seorang calon sahabat baik dan menyenangkan!

Akan tetapi Ki Kolohangkoro tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Jelas bahwa orang ini penyelidik musuh dan sudah berani menghina Ni Dewi Nilamanik.

Sambil mengeluarkan gerengan keras Ki Kolohangkoro sudah menerjang maju dengan pukulan tangannya yang sebesar buah kelapa, menyambar ke arah kepala laki-laki itu.

"Werrrr. !"

Dengan amat mudahnya laki-laki itu mengelak, kemudian dari bawah tangannya dengan jari-jari terbuka menyambar ke arah siku lengan Ki Kolohangkoro yang memukul.

Raksasa ini kaget, maklum bahwa sambungan sikunya terancam bahaya, maka cepat ia menarik kembali lengannya dan melindunginya dengan tangkisan lengan kiri didorong ke depan.

"Dukkk........"

Dua buah tangan yang sama kuatnya bertemu, saling dorong dan akibatnya tubuh Ki Kolohangkoro terjengkang dan hampir roboh kalau saja kakek raksasa yang digdaya ini tidak cepat meloncat ke belakang.

Laki-laki Itu bertolak pinggang dan tertawa.

"Ha-ha-ha, Ki Kolohangkoro, engkau-pun hebat dan kuat!"

Ki Kolohangkoro kaget.

Orang ini sudah mengenal Ni Dewi Nilamanik dan dia.

Juga tenaganya amat kuat.

Musuh yang tangguh ini perlu cepat-cepat ditewaskan sebelum mendatangkan bahaya.

Maka cepat ia sudah mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang nenggala yang menyeramkan, kemudian menubruk maju sambil mengeluarkan suara menggereng.

Melihat ini, Ni Dewl Nilamanik hendak mencegah, akan tetapi ia mengurungkan niatnya karena ia ingin melihat sampai di mana kehebatan laki-laki ini sebelum ia mengambil keputusan untuk menjadikannya teman atau lawan.

Ia hanya berdiri tenang dan diam-diam telah menge-luarkan kebutannya, dipegang di tangan kanan, siap-siap mem-bantu temannya kalau sampai terdesak.

"Bagus! Akupun memang ingin menguji kalian!"

Laki-laki itu berkata lagi, masih tersenyum-senyum dan begitu nenggala itu menerjang dengan sebuah tusukan ke arah dadanya, ia cepat miringkan tubuh sambil mencabut sebatang keris dari pinggangnya.

Gerakan orang itu cepat bukan main, tahu-tahu tubuhnya yang miring sudah meloncat ke atas dan turun ke sebelah kanan Ki Kolohangkoro, kerisnya menusuk lambung dengan cepat dan mendatangkan angin dingin.

Ki Kolohangkoro bukan seorang lemah, ia tahu bahwa ia berhadapan dengan lawan tangguh, maka sambil memutar tubuh ke kanan, nenggalanya bergerak menangkis keris lawan yang meluncur ke arah lambung.

"Tranggg !"

Bunga api berpijar, keris dan nenggala terpental ke belakang, meluncur maju lagi dan bertemu lagi mengakibatkan suara nyaring berkali-kali.

"trang........ trang........ cring !"

Dan bunga api muncrat-muncrat menyilaukan mata.

Ki Kolohangkoro terkejut dan juga penasaran.

Senjatanya adalah senjata wasiat yang ampuh, pula amatlah berat.

Sebaliknya, senjata lawan hanya sebatang keris yang ringan.

Bagaimana setiap kali beradu, tangannya yang memegang nenggala menjadi amat panas telapaknya dan lengannya seolah-olah akan lumpuh?

Ia makin marah dan sambil menggerenggereng la memutar nenggalanya, menerjang lawan dengan gerakan cepat dan kuat.

amun, ternyata lawannya itu memiliki keringanan tubuh yang mentakjubkan.

Tubuh itu berkelebatan seperti burung srikatan terbang saja, tak pernah dapat tersenggol ujung senjata nenggala.

Sebaliknya, setiap kali Ki Kolohangkoro berseru kaget karena tahu-tahu keris lawan sudah dekat sekali dengan tubuhnya dan hanya karena kewaspadaannya saja ia berhasil menghindar.

Dengan kemarahan meluap Ki Kolohangkoro menubruk maju, mengirim serangan dahsyat, nenggalanya meluncur ke arah dada lawan dan tangan kirinya mencengkeram mengikuti gerakan nenggala.

"Bagus. !"

Laki-laki Itu masih dapat tersenyum tenang, tubuhnya miring ke kemudian pada saat kerisnya menangkis nenggala, kakinya terayun keduanya, susul-menyusul, yang kanan menangkis cengkeraman tangan lawan, yang kiri menendang dan tepat mengenaI pergelangan tangan kanan lawan membuat nenggala itu terlepas dan terlempar karena Ki Kolohangkoro merasa tangan kanannya lumpuh!

"Kepandaianmu hebat, Ki Kolohangkoro, andika patut menjadi sahabat dan sekutuku!"

Kata laki-laki itu.

Akan tetapi Ki Kolohangkoro marah sekali.

Wajahnya yang seperti wajah raksasa liar itu menjadi merah, matanya yang lebar melotot dan tiba-tiba tubuhnya merendah, seperti berjongkok, kedua lengannya dikembangkan ke kanan kiri, seluruh tubuh menggigil dan dari dalam perutnya keluar suara aneh, seperti suara tangis anak kecil.

Melihat ini laki-laki itu tercengang dan mundur dua langkah.

Sedangkan Ni Dewi Nilamanik terkejut sekali dan cepat ia maju.

Wanita inl maklum bahwa Ki Kolohangkoro sudah menjadi nekat dan hendak mempergunakan ajinya yang baru, yaitu Aji Kolokrodo yang sedang dilatihnya, hasil dari ajaran Sang Wasi sagaspati.

Untuk menyempurnakan Aji Kolokrodo inilah maka Ki Kolohangkoro suka makan bocah hidup-hidup, diminum darahnya dan diganyang dagingnya!

Ni Dewi Nilamanik makium betapa dahsyatnya ilmu ini, dan karena belum dilatih sempuma, maka kalau gagal, berarti akan menewaskan Ki Kolohangkoro sendiri.

Cepat ia meloncat maju ke depan Ki Kolohangkoro dan berkata halus.

"Kolohangkoro, simpanlah kembali ajimu dan jangan menurutkan nafsu amarah yang hanya akan merugikan dirimu sendiri. Biarlah aku menghadapi orang ini."

Di dalam kehalusan suara Ni Dewi Nilamanik terkandung wibawa yang menggetar dan menyadarkan Ki Kolohangkoro yang dapat menekan perasaannya.

Sambil bersungut-sungut raksasa ini kembali bangkit, memungut nenggalanya dan mundur berdiri di pinggir.

Ni Dewi Nilamanik melangkah maju dan menghadapi laki-laki itu dan berkata, suaranya halus, diiring kerling tajam dan senyum manis.

"Eh, satria perkasa, siapakah nama andika yang sudah mengenal kami dan apa pula kehendakmu menghadang perjaIan kami?"

"Ni Dewi Nilamanik yang cantik manis, namaku adalah Raden Warutama, tempat asalku dari Bali-dwipa. Aku tidak berniat buruk terhadap andika berdua, melainkan tadi mendengar akan percakapan kalian yang cocok sekali dengan hasrat hatiku, maka aku ingin berkenalan dan bersahabat dengan kedua orang sakti mandraguna seperti kalian."

"Hemmm, tidak saja engkau digdaya, Raden Warutama, juga engkau pandai sekali bicara, kata-katamu mengelus hati melalui telinga. Kami tidak tahu sesuatu tentang andika, sebaliknya apakah yang andika ketahui tentang kami?"

Laki-laki yang bernama Raden Warutama itu tertawa dan tampak deretan giginya yang masih utuh, kuat dan putih mengkilat.

"Ni Dewi, biarpun aku seorang bodoh, seorang pengembara yang sedang berkelana, namun sudah banyak aku mendengar akan segala peristiwa di dunia ini. Bukankah andika berdua ini adalah pemimpin-pemimpin dari barisan yang datang dari Cola, dibawah pimpinan Sang Wasi Bagaspati, yang baru-baru ini berperang melawan Kerajaan Panjalu dan dikalahkan? Bukankah andika berdua kalah dalam perang melawan Adipati Tejolaksono? Ahhh, tentu saja kalah karena untuk dapat berhasil seharusnya menggunakan cara yang halus."

Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro terkejut sekali.

Kiranya orang ini benar-benar telah mengenal mereka dan tahu pula akan keadaan mereka.

Ni Dewi Nilamanik maklum akan bahayanya orang ini, maka ia cepat mengerahkan ajinya, memasang aji Guna Sakti untuk menguji dan kalau mungkin mengalahkan orang ini agar tunduk di bawah pengaruhnya.

Dengan kerling mata yang mengelus hati dan senyum yang manis mengalahkan madu, suaranya halus menggetar penuh hawa sakti yang mengandung aji guna-guna, Ni Dewi Nilamanik berkata.

"Duhai sang bagus yang perkasa, andika benar-benar amat mengagumkan hatiku! Sudah dua kali andika mendebar2 kan jantungku dengan menyebut aku orang wanita yang cantik jelita dan manis. Benarkah itu, Raden Warutama? Pandanglah wajahku baik-baik. Benarkah aku cantik jelita? Pandang mataku, lihat baik-baik, tidakkah andika melihat sesuatu dalam sinar mataku? Tidakkah melihat cinta kasih "

Raden Warutama memandang, tersenyum dan mengangguk.

"Andika memang cantik jelita, matamu hebat."

"Aduh, Raden........ adakah andika mencintaku."

Kembali Warutama tersenyum lebar.

"Alangkah mudahnya mencinta seorang wanita seperti andika."

"Engkau mencintaku?"

"Aku mencintamu."

Diam-diam hati Ni Dewi Nilamanik girang bukan main, juga bangga.

Betapa-pun saktinya lawan, kalau dia itu seorang pria, jarang yang akan mampu melawan aji pengasihannya dan jelas bahwa laki-laki inipun sudah tercengkeram oleh ajinya yang ampuh.

"Raden Warutama, kalau benar engkau mencintaku, tentu engkau akan suka melakukan segala permintaanku, bukan? Engkau akan tunduk kepadaku? Melakukan segala perintahku?"

Warutama menunduk dan mengangguk.

"Tentu, kalau saja perintah itu menyenangkan, misalnya. diperintah menciummu!"

Ihh, dasar laki-laki pemogoran, demikian Ni Dewi Nilamanik mengumpat di dalam hatinya.

Sudah terpengaruh juga masih ceriwis!

Akan tetapi ia tetap tersenyum dan memperkuat getaran aji pengasihan Guna Sakti-nya........."Tentu saja boleh!

Orang mencinta tentu boleh mencium.

Dan kau boleh menciumku, Raden Warutama, akan tetapi sesudah mencium engkau harus berlutut menyembah di depan kakiku, mengerti?"

Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk sambil melangkah maju. Ni Dewi Nilamanik menjulurkan mukanya, agak berpaling, memberikan pipi kirinya.

"Nah, kau boleh mengambung pipi kiriku, lalu berlututlah, Raden Warutama! Engkau akan menurut segala perintahku!"

Perintah ini dikeluarkan dengan suara menggetar penuh hawa sakti yang akan menundukkan hati setiap orang pria.

Warutama melangkah makin dekat, lalu memeluk tubuh Ni Dewl Nilamanik yang ramping dan padat, kemudian ia menundukkan mukanya mencium mulut wanita itu dengan mesra dan penuh nafsu!

Kagetlah Ni Dewi Nilamanik.

Gerakan ini sama sekali bukan gerakan orang yang telah tunduk dan terpengaruh aji pengasihan!

Cepat ia menggerakkan kedua tangan hendak mendorong, akan tetapi betapa kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kedua pergelangan tangannya telah dipegang oleh Warutama dan sama sekali tidak dapat ia gerakkan lagi!

Ia hendak meronta dan berseru, akan tetapi mulutnya telah tercium, bibirnya tergigit mulut Raden Warutama sehingga ia hanya dapat menahan nafas dan terpaksa mandah saja membiarkan laki-laki itu menciumnya sepuas hatinya.

Sampai terengah-engah Ni Dewi Nilamanik ketika Warutama melepaskan ciumannya, lalu menatap wajahnya dengan pandang mata yang tajam melebihi ujung pedang dan yang mengandung sinar aneh sekali, langsung menembus jantungnya.

Terdengar oleh Ni Dewi Nilamanik bisikan-bisikan mesra laki-laki itu dan suara-nya halus penuh getaran hawa sakti.

"Ni Dewi Nilamanik, kau telah membuktikan betapa kuatnya aku, betapa nikmatnya ciumanku, engkau jatuh cinta kepadaku dan akan melakukan segala perintahku. Beranikah engkau menyangka!? Engkau mencintaku, bukan?"

Bagaikan telah luluh semua kemauannya, Ni Dewi Nilamanik yang memandang wajah pria itu dari balik bulu matanya yang setengah terpejam, mengangguk. Raden Warutama tertawa dan melepaskan pelukannya.

"Ni Dewi yang manis, kekasihku kau berlutut dan menyembahlah kepadaku!"

Ni Dewi Nilamanik menjatuhkan diri berlutut di depan Raden Warutama yang tertawa bergelak. Ia hendak menyembah, akan tetapi Ki Kolohangkoro sudah meloncat maju dan membentak keras.

"Bunda Dewi! Sadarlah, andika terkena guna asmara!!"

Bentakan Ki Kolohangkoro bukanlah sembarang bentakan, melainkan bentakan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga batin sehingga mengandung getaran amat kuat.

Ni Dewi Nilamanik tersentak kaget, membuka matanya dan ketika ia melihat betapa ia berlutut di depan kaki Raden Warutama yang tertawa bergelak, ia memekik nyaring dan melompat bangun, cepat mencabut bulu merahnya dan hendak menerjang maju.

Akan tetapi Raden Warutama sudah mendahuluinya, cepat menyambar dan memegang ujung kebutan sambil berkata, suaranya berbeda dengan tadi, kini berpengaruh dan sungguh-sungguh.

"Ni Dewi Nilamanik! Hentikan main-main ini terhadap aku! Engkau tahu bahwa aku bukan sembarang orang yang boleh dibuat main-main. Sudah kubuktikan bahwa aku tidak kalah olehmu dalam kesaktian. Juga andika, Ki Kolohangkoro, simpan senjatamu dan mari bicara secara baik-baik. Kalau kalian berkeras, biarpun aku belum tentu akan mudah menang, akan tetapi jangan harap andika berdua akan mudah mengalahkan Raden Warutama! Kesudahannya kita bertiga akan rugi, apalagi kalau ketahuan oleh Endang Patibroto. Mari kita bicara secara sahabat, maukah?"

Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro saling pandang. Warutama lalu memberi isyarat.

"Mari ikut bersamaku, kita bicara di tempat sembunyi agar jangan terlihat dan terdengar orang lain."

Pergilah mereka berdua mengikuti laki-laki perkasa itu memasuki semak-semak dan tak lama kemudian mereka sudah bercakap-cakap di dalam sebuah guha yang terdapat di balik semak-semak itu.

Mereka bicara dengan serius samba berbisik-bisik.

"Ketahuilah kalian, aku bukanlah lawan kalian, melainkan sekutu karena kita mempunyai hasrat yang sama sungguhpun dengan alasan lain. Kalian ingin membujuk Endang Patibroto menjadi sekutu menghancurkan Panjalu dan Jenggala? Akupun ingin mendapatkan Endang Patibroto si janda jelita perkasa itu sebagai kekasih! Kalian ingin membunuhnya kalau gagal? Demikian pula aku yang mendendam kepadanya! Kalian ingin melaksanakan tugas atasan kalian untuk menjatuhkan kerajaan-kerajaan keturunan Mataram? Aku juga! Dan kini tiba saatnya untuk kita bergerak. Akan tetapi, kalian harus selalu menurut dan tunduk atas petunjuk-petunjukku "

Melihat kedua orang itu mengerutkan kening, Raden Warutama cepat menyambung.

"Harap kalian jangan ragu-ragu, Aku lebih mengetahui keadaan Endang Patibroto, aku lebih mengetahui pula keadaan kerajaan-kerajaan itu. Menggunakan kekerasan terhadap Endang, amat berbahaya dan takkan berhasil. Tak usah kau berkecil hati, Ki Kolohanghoro. Ketahuilah, dahulu kakak seperguruan andika, mendiang Wiku Kalawisesa, adalah seorang pembantuku pula."

Mendengar ini, kedua orang ini makin percaya.

Apalagi setelah kini Ni Dewi Nilamanik yakin bahwa pria ini benar-benar menarik, selain pandai dan tampan, juga ahli dalam soal-soal yang disukainya, yaitu bermain cinta.

"Raden Warutama, katakanlah bagaimana rencanamu, kalau memang baik tentu kami tidak akan berkeberatan untuk membantumu."

Warutama bangkit kembali kejenakaan dan kenakalannya terhadap wanita.

"Andika memang cantik manis, Dewi, dan aku percaya, di antara kita berdua pasti akan dapat dibangun kerja sama yang mesra dan erat, yang akan membawa kita berdua ke arah hasil gilang-gemilang di kemudian hari. Percayalah, aku Raden Warutama adalah seorang yang sudah tergembleng bertahun-tahun, sudah mengunjungi semua pendeta-pendeta sakti di Bali-dwipa untuk memperdalam ilmu, dan ketahuilah pula, bahwa aku adalah keturunan dari mendiang Ki Patih Narotama yang sakti mandraguna."

"Ahhh........???"

Kedua orang itu terkejut sekali, akan tetapi Raden Warutama tidak memberi kesempatan mereka mengeluarkan kata-kata.

"Nenekku adalah adik misan Ki Patih Narotama, akan tetapi sudahlah, hal itu tidak ada pentingnya dibicarakan. Yang terpenting sekarang, bagaimana kita dapat menundukkan Endang Patibroto. Jangan lupa, dia itu sakti luar biasa. Aku mengenal segala ilmunya yang dahsyat. Ajl Pethit Nogo dan Wisangnala yang menyeramkan, apalagi pukulan Gelap Musti yang mengerikan. Belum lagi panah tangan yang beracun dan semua itu ditambah gerakan-gerakannya yang amat lincah. Dalam hal kesaktian, dia tidak berada di sebelah bawah tingkat Adipati Tejolaksono. Karena itu, kita harus mempergunakan akal. Syukur-syukur kalau selain dapat membujuknya, juga dapat menarik sebagian orang-orang gagah yang memasuki sayembara agar suka menjadi sekutu kita."

"Bagaimana siasatmu, Raden?"

Tanya Kolohangkoro yang diam-diam bergidik ngeri juga mendengar akan kesaktian Endang Patibroto, pemimpin Padepokan Wilis yang sudah lama ia dengar namaya itu.

Apalagi kalau ia teringat bahwa Endang Patibroto adalah murid Sang Dibyo Mamangkoro, belum apa-apa tengkuknya sudah terasa tebal dan mengkirik.

"Kita harus dapat bersabar dan melihat gelagat. Sebaiknya kalau kita turun tangan sebelum sayembara diadakan tiga hari lagi. Kalian temuilah Endang Patibroto di puncak, dan cobalah kalian membujuknya untuk suka bekerja sama. Bangkitkan hatinya, ingatkan kepadanya akan perlakuan Jenggala terhadap dirinya agar ia timbul rasa marah kepada Jenggala. Ingat, sasaran yang paling lunak adalah Jenggala. Panjalu merupakan negara yang kuat tidak boleh dibuat main-main, apalagi Tejolaksono berada di sana. Sebaiknya kita mencurahkan perhatian kepada Jenggala yang pada dewasa Ini sedang lemah sekali dan aku kelak akan mencari jalan untuk mendapatkan kedudukan dan pengaruh di sana. Nah, kalau dia terpikat dan suka bersekutu, syukurlah dan kita akan menentukan sikap dan siasat selanjutnya."

"Kalau dia menolak?"

Tanya Ni Dewi Nilamanik.

"Kalau dia menolak, kita harus dapat mengambil keuntungan pula dari penolakan ini. Kalian tantang dia bertanding dan aku akan muncul membantunya!"

"Hah !"

Ki Kolohangkoro melompat ke atas, memandang marah. Raden Warutama mengangkat tangannya dan tersenyum.

"Duduklah, Ki Kolohangkoro dan simpan dulu kemarahanmu. Aku membantunya hanya siasat belaka. Tentu saja akan kuusahakan agar kalian berdua lolos dan selanjutnya aku yang akan membujuk-bujuknya. Tentu lebih mudah bagiku setelah aku membantunya melawan kalian. Malamnya, aku datang ke tempat ini dan kalian harap menanti di sini."

Ni Dewi Nilamanik mengangguk-angguk, juga Ki Kolohangkoro mulai mengerti dan diam-diam mereka merasa kagum bukan main orang ini.

Siasatnya demikian harus, akan tetapi seperti sebatang pedang yang tajam pada kedua pinggirnya.

Kalau bujukan berhasil berarti untung, atau dltolakpun dapat untung.

"Kapan kami berdua harus menjumpainya?"

Tanya Ni Dewi Nilamanik, suaranya jelas mengandung kepercayaan sepenuhnya.

"Jangan sekarang. Nanti saja menjeang senja kita mendaki puncak dan berpencar sehingga andaikata gagal dan terpaksa kalian bertanding, akan mudah untuk meloloskan diri di dalam gelap,"

Kata Raden Warutama sambil meraih lengan Ni Dewi Nilamanik yang mandah saja sehingga tubuhnya roboh di pangkuan Raden Warutama yang memeluknya.

"Senja nanti masih terlalu lama. Sekarang masih pagi,"

Ki Kolohangkoro membantah.

"Memang masih banyak waktu. Aku dan Dewi hendak bercakap-cakap mempererat perkenalan. Kalau andika!apar di hutan ini banyak kancil dan kijang, boleh sekalian tangkap dan bakar daging-nya untuk kami,"

Kata Raden Warutama sambil mendekap dan mencium Ni Dewi Nilamanik yang membalas belaiannya dengan senyum gembira.

Laki-lakI ini benar-benar menyenangkan hatinya.

Tampan, gagah perkasa, juga penuh wibawa, pandai pula merayu.

Ki Kolohangkoro bersungut-sungut, akan tetapi tubuhnya yang tinggi besar itu bangkit dan tak lama kemudian ia menyusup semak-semak, meninggalkan kedua orang itu yang sedang bercinta dengan mesra.

Tentu saja seorang yang sakti seperti Ki Kolohangkoro, dengan mudahnya dapat membunuh seekor kijang besar, kemudian merobek tubuh binatang itu dan membakar dagingnya.

Untuk memuaskan nafsunya, Ki Kolohangkoro menjilat-jilat darah kijang dan mengunyah daging mentah yang dipilihnya dari bagian yang paling lunak.

Agak redalah kekesalan hatinya melihat dua orang itu bermesraan tanpa memperdulikan dirinya, dan daging mentah serta darah kijang Itu membangkitkan semangatnya kembali.

-oo0dw0oo-Endang Patibroto berada di taman bunga di puncak Wilis bersama puterinya.

Retno Wilis telah berusia hampir enam tahun, dan anak ini benar-benar amat luar biasa.

Sudah jelas tampak betapa tubuhnya padat dan di balik kulitnya yang kuning halus itu membayang urat-urat membaja.

Terutama sekali keluar-biasaannya tampak pada sinar matanya yang jernih namun tajam bagaikan dapat menembus dada setiap orang yang dipandangnya.

Wajahnya cantik manis dan mungil sekali, namun jelas pula tampak membayang kekerasan hati dalam tarikan bibir dan lekuk dagunya seperti yang dimiliki Endang Patibroto.

Taman itu indah bukan main.

Taman alam yang hanya diatur dengan penambahan tanaman bunga di sana sini oleh Endang Patibroto dan Setyaningsih.

Pada saat itu, Endang Patibroto sedang melatih puterinya.

Latihan yang amat berat dan amat aneh.

Retno Wilis tengah berdiri tegak di depan ibunya, yang juga berdiri menghadapi puterinya itu, di bawah sebatang pohon nangka yang besar.

"Retno, mulai senja hati ini sampai semalam suntuk, kau harus berlatih samadhi seperti seekor kalong. Tahukah engkau apa yang harus kau lakukan?"

Bocah ini mengangguk.

"Seperti yang ibu ajarkan, aku harus menggantungkan kaki di cabang pohon, menggantung dan melemaskan seluruh urat di tubuh, menyatukan semua pikiran dan perasaan, memusatkannya di pusar dan "

"Cukup. Baik kalau kau masih ingat semua. Ketahuilah bahwa bertapa seperti ini merupakan tapa brata yang amat berat, namun mengandung kemujijatan luar biasa dan amatlah gaib. Seorang manusiapun harus bertapa seperti itu dalam kandungan ibu sebelum dapat terlahir sebagai manusia. Ulatpun baru dapat menjadi kupu setelah bertapa secara menggantung. Maka, latihan samadhi dengan menggantung ini hebat sekali hasilnya, Anakku. Tekunlah engkau berlatih agar kelak engkau menjadi pendekar yang tiada bandingnya di seluruh jagat ini! Ingat apapun yang terjadi malam ini, sebelum aku menyadarkanmu, engkau tidak sekali-kali boleh melepaskan samadhimu. Mengerti?"

"Baik, Ibu. Akupun ingin sekalI menjadi wanita paling sakti di dunia ini, seperti ibu!"

"Ahhh, tidak seperti ibu, Retna Wills, melainkan jauh lebih sakti daripada ibumu."

Setelah berkata demikian, Endang Patibroto menyambar lengan puterinya dan sekali berkelebat, tubuhnya sudah meloncat ke atas dan mereka sudah berada di atas cabang pohon nangka itu.

Endang Patibroto dengan penuh perhatian dan kasih sayang lalu memberi petunjuk dan akhirnya, bergantunglah tubuh Retna Wilis dengan kedua kaki mengait cabang pohon!

Setelah melihat betapa mata anaknya tidak bergerak-gerak lagi dan napasnya mulai teratur, Endang Patibroto melayang turun dengan ringan sehingga cabang itu tidak bergoyang sedikitpun.

Latihan anaknya amat berat dan biarpun Endang Patibroto tampaknya keras dalam mengajar anaknya, namun sesungguhnya ia merasa amat sayang dan kasihan kepada Retna Wills.

lapun tidak tega meninggalkan puterinya, melaInkan duduk bersila di bawah pohon, menjaga.

Tiba-tiba Endang Patibroto bangkit berdiri dan menoleh ke kanan, lalu terdengar suaranya, halus namun penuh wibawa.

"Siapa berani lancang memasuki taman mengganggu anakku berlatih?"

Endang Patibroto yang berpendengaran tajam telah mendengar gerakan orang di sebelah kanan di balik semak-semak, dan mengira tentu ada anak buah Padepokan Wills yang datang.

Akan tetapi alis yang kecil panjang dan amat hitam itu berkerut ketika ia melihat bahwa yang muncul dari balik semak-semak adalah dua orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

Seorang wanita cantik dan seorang laki-laki tinggi besar muncul keluar dan sekali pandang saja maklumlah Endang Patibroto bahwa dua orang ini bukanlah orang sembarangan, maka ia lalu bersikap waspada dan memandang tajam.

Setelah tahu bahwa dua orang itu ternyata bukan anak buahnya, ia bersikap angkuh dan diam, hanya memandang dan menanti, sesuai dengan sikap seorang kepala padepokan yang ternama dan berwibawa.

Ni Dewi Nilamanik memandang Endang Patibroto dengan kagum.

Sudah lama ia mendengar nama wanita sakti ini yang pernah menggegerkan Kerajaan Jenggala dan Panjalu, yang kabarnya memiliki kedigdayaan yang menggiriskan dan jarang bertemu tanding dan yang kini menjadi pemimpin Padepokan Wills dan berhasil menggembleng Gerombolan Wilis menjadi satria-satria Wilis yang terkenal.

Ia tidak menyangka bahwa wanita hebat itu ternyata begitu cantik jelita dengan sepasang mata yang luar biasa tajam dan beningnya, sinar mata yang mengandung hawa dingin membuat bulu tengkuk meremang.

Adapun Ki Kolohangkoro yang tidak sewaspada temannya karena memang raksasa ini agak sombong mengandalkan kesaktian sendiri memandang rendah lawan, kini lebih tertarik kepada Retno Wills, anak perempuan yang kini sedang menggantung dengan kepala di bawah seperti seekor kalong di cabang potion itu.

Raksasa yang sedang melatih diri dengan aji kesaktian dahsyat Kolokroda dan yang masih belum sempurna itu, kini melihat seorang anak seperti Retna Wilis, tentu saja mengilar sekali dan tanpa dapat menguasai hatinya lagi mulutnya berseru.

"Eaduh, toblas-toblas! Bukan main bocah ini........ , darah daging dan tulangnya. , waah, hebat, tiada keduanya di dunia ini."

Ni Dewi Nilamanik melirik tajam ke arah Ki Kolohangkoro, khawatir kalau-kalau Endang Patibroto akan menjadi tak senang hati menyaksikan dan mendengar ucapan kasar itu.

Akan tetapi ia tidak tahu bahwa Endang Patibroto, sebagai murid mendiang Sang Dibyo Mamangkoro dan tinggal di Pulau Iblis bertahun-tahun lamanya bersama gurunya, sudah biasa akan sikap kekasaran kaum sesat ini.

Bahkan melihat bentuk tubuh Ki Kolohangkoro yang tinggi besar, melihat sikap kasar dan kata-kata yang kasar pula, timbul rasa senang di hatinya dan girang bahwa puterinya dipuji-puji, biarpun pujiannya amat kasar.

Orang yang sekali pandang dapat melihat keadaan puterinya, tentunya seorang yang memiliki kepandaian.

Maka tersenyumlah Endang Patlbroto dan lenyaplah sikapnya yang angkuh, malah dengan ramah ia mendahului berkata.

"Terima kasih atas pujian andika terhadap puteriku Retna Wilis. Siapakah gerangan andika berdua dan apakah maksud kunjungan andika yang tiba-tiba ini?"

Girang hati Ni Dewi Nilamanik melihat sikap wanita sakti itu yang tadi membuat hatinya tergetar.

Cepat ia memberi hormat, membungkuk dan dengan suara ramah dan sikap hormat ia cepat mendahului Ki Kolohangkoro sebelum si raksasa kasar itu menjawab.

"Kami berdua mohon maaf sebanyaknya kalau kami dapat mengganggu andika yang sedang melatih puteri andika. Karena telah lama mendengar nama besar andika, mengagumi kebesaran Padepokan Wilis, apalagi mendengar akan diadakannya sayembara tanding, kami memberanlkan diri lancang memasuki puncak ini dengan harapan dapat bertemu dan berwawancara dengan andika yang kami kagumi. Kami berdua adalah saudara-saudara seperguruan, nama saya Dewi Nilamanik, sedangkan dia ini adik seperguruanku bernama Kolohangkoro. Harap maafkan sikapnya yang kasar karena memang demikianlah wataknya."

Endang Patibroto diam-diam mengingat-ingat.

Tidak pernah ia mendengar dua nama ini sungguhpun ia merasa yakin bahwa mereka berdua ini bukan orang sembarangan, melainkan orang-orang yang sakti dan yang ia belum tahu apa kehendaknya.

"Andika berdua terlalu memujiku dan terlalu merendahkan diri. Memang aku mengadakan sayembara tanding sebagai syarat adik kandungku mencari jodohnya, akan tetapi sayembara dimulai dua hati lagi. Andika datang terlampau pagi."

Ni Dewi Nilamanik tersenyum dan kilatan giginya yang putih membuka mata Endang Patibroto yang dapat menangkap sebuah gaya yang tidak menyenangkan hatinya pada diri wanita ini.

Genit dan senyum serta pandang matanya membayangkan watak cabul, pikirnya dengan waspada.

"Maaf, kedatangan kami sama sekali bukan untuk sayembara tanding itu. Sama sekali bukan. Adik seperguruanku ini sudah terlalu tua untuk memikirkan soal itu. Kami datang untuk mengajak andika berwawancara, untuk menawarkan persekutuan dalam menghadapi dan menghancurkan musuh kita bersama."

Berdebar jantung Endang Patibroto.

Hem, apa yang dimaksudkan orang-orang ini?

Musuh bersama?

Siapa?

Akan tetapi karena maklum bahwa dua orang ini ingin membicarakan urusan penting, maka ia lalu menggerakkan tangan kanan mempersilahkan mereka duduk di atas tanah sambil berkata.

"Aku sedang menjaga puteriku berlatih. Silahkan andika berdua duduk, kita dapat bercakap-cakap di sini."

Ni Dewi Nilamanik mengerutkan kening dan menengadah, memandang ke arah tubuh kecil yang menggantung pada cabang pohon. Melihat kesangsian wanita itu, Endang Patibroto cepat berkata.

"Harap andika tenangkan hati karena puteriku dalam keadaan hening, tidak akan dapat mendengarkan percakapan kita."

Ki Kolohangkoro yang juga memandang ke atas, kembali berseru.

"Waahh, sekecil itu sudah dapat menutup panca indra dan hening dalam samadhi dengan keadaan seperti itu........ bukan main !!"

Mereka duduk di bawah pohon itu, saling berhadapan. Sejenak Endang Patibroto menyapu wajah kedua orang tamunya penuh selidik, kemudian berkata.

"Nah, silahkan andika berdua keluarkan apa yang menjadi isi hati andika."

Sikap Endang Patibroto amat berwibawa dan angker sehingga diam-diam Ni Dewi Nilamanik merasa betapa jantungnya berdebar.

"Telah lama kami mendengar nama besar andika,"

Ia memulai.

"Bahkan kami telah mendengar akan segala peristiwa yang menimpa andika di Kerajaan Jenggala. Kami telah mendengar pula betapa suami andika yang mulia, Sang Pangeran Panjirawit, tewas karena kejahatan Jenggala, sehingga kini andika yang tadinya hidup mulia sebagai mantu raja, sampai berada di puncak gunung yang sunyi ini sebagai ketua Padepokan Wilis."

"Hemmm, kalau sudah demikian, mengapa? Harap andika lanjutkan."

Di dalam suara Endang Patibroto terkandung pengaruh yang dingin dan menyeramkan, membuat Ni Dewi Nilamanik menelan ludah dan memberanikan hati untuk melanjutkan.

"Karena kami mengetahui keadaan andika inilah maka kami mempunyai harapan untuk dapat menarik andika sebagai seorang kawan seperjuangan. Kerajaan Jenggala amat buruk keadaannya, rajanya tidak bijaksana, tergila-gila oleh selir barunya yang bernama Suminten dan yang ingin merebut kekuasaan."

"Suminten. ?"

Endang Patibrot bertanya kaget, teringat ia akan bekas pelayannya.

"Benar, mengapakah? Apakah andika mengenalnya?"

Endang Patibroto menggeleng kepala. Tak mungkin, pikirnya, tentu hanya namanya saja yang kebetulan sama.

"Tidak apa-apa, harap teruskan."

"Karena itu, terus terang saja kami sebagai anak buah Sang Wasi Bagaspati utusan Kerajaan Cola, melihat kesempatan baik untuk merobohkan Jenggala dari dalam. Dan untuk ini kami membutuhkan bantuan dan kerja sama orang-orang sakti, terutama sekali andika. Bukankah hal ini merupakan kesempatan baik sekali bagi andika untuk membalas dendam kematian suami andika Pangeran Panjirawit? Percayalah, jasa andika akan dihargai dan Sang Wasi Bagaspati adalah seorang yang selain sakti mandraguna, juga amat bijaksana."

Akan tetapi Ni Dewi Nilamanik menghentikan bujukannya karena melihat betapa Endang Patibroto menggeleng kepala dengan gerakan yang tegas, kemudian terdengar suaranya yang dingin.

"Tidak, aku tidak dapat menerima ajakan andika. Aku tidak sudi mengikatkan diri dengan persoalan luar, di luar dari Padepokan Wills. Kedatangan andika berdua sia-sia kalau hanya untuk maksud itu. Soal ini tidak perlu dilanjutkan lagi, tidak perlu dibicarakan dan kuharap andika berdua suka meninggalkan tempat ini."

Ucapan ini sudah jelas, tegas dan singkat yang berarti penolakan penuh untuk bekerja sama!

Baik Ni Dewi Nilamanik maupun Ki Kolohangkoro maklum bahwa membujuk wanita dingin ini tidak akan ada gunanya lagi.

Ki Kolohangkoro meloncat bangun dan berkata sambil tertawa.

"Ha-ha-ha, Bunda Dewi, sudah kukatakan bahwa percuma saja mengajak bicara! Eh, Endang Patibroto, soal kerja sama tidak perlu kita bicarakan lagi, akan tetapi setelah tiba di depanmu, aku Ki Kolohangkoro tidak akan merasa puas kalau belum mencoba sampai di mana kedigdayaanmu sehingga engkau berani bersikap begini sombong dan dingin terhadap kami berdua!"

Endang Patibroto mengerling ke arah Ni Dewi Nilamanik, bibirnya bergerak dan terdengarlah pertanyannya, tenang dan dingin.

"Apakah begini pula pendirianmu?"

Ni Dewi Nilamanik tak dapat menghindari lagi, maka sambil tersenyum mengejek ia mencabut kebutannya dan bangkit berdiri.

"Begitulah, Endang Patibroto. Kami tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Tidak berhasil bekerja sama, setidaknya kami ingin menguji sampai di mana kepandaianmu."

Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan keras dan muncullah tiga orang tinggi besar diikuti oleh belasan orang. Mereka muncul dari dalam gelap, seperti iblis-iblis hutan.

"Tidak perlu paduka yang bergerak, Gusti Puteri. Biarkan hamba menghancurkan kepala dua orang kurang ajar ini!"

Endang Patibroto memandang mereka dengan kening berkerut.

"Kakang Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis. Mundurlah kalian dan bawa saudara-saudara kita pergi dari sini. Biarkan aku sendiri menghadapi dua orang tamuku. Perkuat penjagaan dan aku tidak memerlukan bantuan kalian di sini. Tak seorangpun boleh turun tangan, bahkan tidak boleh masuk taman. Mengerti?"

Tiga orang laki-laki tinggi besar itu memberi hormat dan sekali berkelebat belasan orang itu lenyap di dalam gelap.

Melihat ini, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro diam-diam menjadi lega hatinya.

Akan tetapi mereka tersenyum mengejek lalu berkatalah Ki Kolohangkoro.

"Mengapa mereka disuruh pergi, Endang Patibroto? Biarkan mereka mengeroyok kamI agar enak aku membabat! mereka. Ha-ha-ha!"

"Hemm, kalian menantang aku seorang. Apa kamu kira aku takut, Kolohangkoro? Biar ada sepuluh orang lawan macam kalian, aku tidak akan undur selangkah! Majulah kalian kalau sudah bosan hidup."

"Babo-babo.... sumbarmu seperti dapat memecahkan Gunung Mahameru! Endang Patibroto, biarpun andika telah berhasil menewaskan........ eh, banyak orang sakti, jangan memandang ringan Ki Kolohangkoro!"

Teriak Ki Kolohangkoro yang masih sempat menahan diri dan tidak menyebut-nyebut nama Wiku Kalawisesa dan Bhagawan Kundilomuko yang sudah hampir terluncur keluar dari mulutnya tadi.

"Terserah bagaimana wawasanmu,"

Jawab Endang Patibroto dengan suara dingin dan sikap tenang memandang rendah.

"kalau kalian berani dan menantangku, majulah. Kalau tidak, minggatlah dari sini jangan banyak tingkah lagi!"

"Phuaaahhh, sombongnya!"

Bentak Ki Kolohangkoro, agak tertegun karena belum pernah selama hidupnya ada orang berani memandang rendah kepadanya seperti sikap dan kata-kata wanita tokoh Padepokan Wills ini.

Juga Ni Dewi Nilamanik menjadi merah telinganya.

Ia mendenguskan napas dari hidungnya, menggerak-gerakkan pengebut di depan dada lalu berkata.

"Tajam sekali lidahmu, Endang Patibroto! Ingin aku melihat apakah kepandaianmu juga sehebat mulutmu!"

Baru saja habis kata-kata ini keluar dari mulut Ni Dewi Nilamanik, tokoh pemuja Bathari Durga ini sudah menerjang maju.

Cepat bukan main gerakannya ketika ia meloncat, tahu-tahu sudah berada di depan Endang Patibroto dan kebutannya menyambar ke arah leher, sebuah pukulan maut yang mendatangkan angin pukulan panas!

"Wuuuuutttt........

plakkkk.

!!"

"Aihhh !"

Ni Dewi Nilamanik merintih perlahan dan terhuyung mundur.

Ketika ujung kebutannya tadi menyambar, Endang Patibroto diam saja dengan tenang.

Baru setelah ujung kebutan hampir menyentuh lehernya, secara tiba-tiba ia mengelak dan tangan kirinya dengan jari terbuka mengirim pukulan bawah mengarah perut Ni Dewi Nilamanik!

lnilah gerak tipu yang amat, hebat dan amat curang, sesuai dengan ilmu tata kelahi kaum sesat dan yang sama sekali tidak pernah disangka-sangka oleh Ni Dewi Nilamanik.

Begitu melihat perutnya terancam pukulan maut yang tak mungkin dapat ia tahan, Ni Dewi Nilamanik cepat menggerakkan tangannya pula menerima dorongan telapak tangan lawan yang ampuh itu dengan telapak tangannya sendiri.

Akibatnya, ia terhuyung mundur, wajahnya pucat, isi dadanya seperti ditusuk-tusuk pisau dingin dan ia merintih.

Akan tetapi tentu saja Ni Dewi Nilamanik yangsudah memiliki tingkat kepandaian tinggi itu tidak dapat dirobohkan hanya dengan pertemuan telapak tangan.

Karena merasa kalah dalam segebrakan, Ni Dewi Nilamanik menjadi marah bukan main, tubuhnya sampai menggigil.

Pada saat itu, Ki Kolohangkoro sudah maju pula menubruk, menggerakkan senjata nenggala menghunjam ke arah pelipis kiri Endang Patibroto, disusul dengan kepalan tangan kirinya yang sebesar buah kelapa itu menghantam dada lawan.

"Hemmm i"

Endang Patibroto hanya mendengus pendek, tubuhnya berkelebat ke belakang, sengaja memperlambat gerakannya sehingga kedua serangan itu hampir mengenainya dan membesaran hati Ki Kolohangkoro yang cepat mengejar ke depan.

Inilah yang diharapkan Endang Patibroto.

Tubuhnya tadinya agak terhuyung, akan tetapi begitu melihat gerakan lawan mengejar maju, tiba-tiba sekali kakinya bergerak dengan kecepatan yang tak dapat diduga sebelumnya, tahu-tahu kedua kakinya sudah melakukan tendangan berantai mengarah bawah pusar Ki Kolohangkoro, bagian paling lemah bagi seorang pria!

"Ougghhhh !!"

Ki Kolohangkoro terkejut setengah mati.

Tubuhnya sudah condong ke depan, maka secepat kilat mengenjotkan kakinya meloncat mundur.

la terbebas daripada bahaya maut, akan tetapi tidak cukup cepat untuk ,menghindarkan diri sama sekali dari tendangan berantai.

"Trokkkk!!"

"Aduhhh........ tohobaatt. !"

Ki Kolohangkoro yang meloncat mundur masih kena disambar tulang keringnya oleh tendangan Endang Patibroto.

Biarpun ia bertubuh kebal, akan tetapi tulang keringnya serasa remuk-remuk, sumsum di dalamnya rontok, kiut-miut nyerinya sampai menusuk ulu hati.

Ia berjingkrak-jingkrak mengangkat kaki yang tertendang dan mengelus-elus tulang kering yang tampak membiru.

Setelah rasa nyeri agak mengendur, ia menjadi marah, matanya terbelalak sebesar jengkol, mukanya merah seperti yuyu dipanggang.

Seperti dikomando saja, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro lalu menyerbu ke depan, senjata nenggala berseling dengan kebutan merah, merupakan cakar-cakar maut yang hendak merenggut nyawa Endang Patibroto.

Wanita perkasa ini cukup maklum bahwa ia menghadapi lawan-lawan berat.

Kalau satu lawan satu, dalam waktu pendek ia masih akan sanggup merobohkan lawan.

Akan tetapi setelah mereka maju berdua, ia tidak mau bersikap sembrono dan menghadapi senjata-senjata dengan tangan kosong lagi.

"Cattt........ catttt !!"

Dua sinar menyambar ke arah Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro yang menjadi terkejut dan cepat menggunakan senjata menyampok runtuh dua batang anak panah tangan itu.

Akan tetapi alangkah terkejut hati dua orang ini ketika melihat tubuh Endang Patibroto sudah menyambar ke depan, sebatang keris luk tujuh menusuk ke arah dada Ki Kolohangkoro sedangkan tangan kiri wanita sakti ini menampar ke arah muka Ni Dewi Nilamanik.

Demikian ganas dan dahsyat serangan itu sehingga sukar bagi kedua orang lawannya untuk mengelak lagi.

Ki Kolohangkoro menangkis keris dengan senjata nenggalanya, adapun Ni Dewi Nilamanik menangkis sambil menyabetkan kebutan ke arah tangan kiri yang menghantamnya.

"Tranggg "

Bunga api berpijar ketika kedua senjata itu bertemu.

Ujung kebutan yang menangkis, dapat dicengkeram oleh Endang Patibroto, lalu dihentakkan ke kiri.

Akibatnya, tubuh Ni Dewi Nilamanik terhuyung dan hampir terbanting ke kiri, sedangkan tubuh Ki Kolohangkoro terjengkang ke belakang saking hebatnya tenaga yang tersalur melalui keris.

Keadaan dua orang itu dalam bahaya karena posisi mereka yang terhuyung itu dalam keadaan terbuka.

Kalau saja Endang Patibroto melanjutkan serangan dengan susulan, tentu mereka akan celaka.

Akan tetapi pada saat itu, tampak bayangan berkelebat cepat disusul bentakan.

"Sungguh tak tahu diri berani mengacau puncak Wilis!"

Bayangan itu bukan lain Raden Warutama yang sudah mendahului Endang Patibroto, menerjang ke arah dua orang itu dengan gerakannya yang cepat seperti burung menyambar.

Dua kali kakinya menendang dan tubuh Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik terkena tendangan sampai roboh bergulingan.

Namun kedua orang ini bergulingan sampai jauh dan terus melompat, melarikan diri!

Saking heran dan kagetnya, Endang Patibroto berdiri memandang laki-laki itu, tidak memperdulikan larinya Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro.

Memang ia tidak ingin bermusuhan dengan mereka.

la heran dan kaget melihat betapa laki-laki ini sekali serang saja berhasil menendang roboh kedua orang yang ia tahu bukan orang-orang lemah itu.

Alangkah sigap dan cepatnya.

Tentu bukan sembarang orang, pikirnya sambil menentang wajah yang gagah dan tampan itu.

Jantungnya berdebar dan otaknya diperas untuk mengingat-ingat.

Ia merasa pernah mengenal, pernah melihat orang ini, atau orang yang mirip dengan pria ini.

Hatinya tidak senang seperti telah menjadi wataknya, bahwa ia tadi dibantu dalam perkelahian, akan tetapi setelah kini menjadi seorang pemimpin padepokan, Endang Patibroto cukup dapat menahan perasaannya dan dengan sikap angker ia bertanya.

"Andika ini siapakah dan siapakah pula yang memperkenankan andika datang ke puncak dan mencampuri urusanku, tanpa diminta membantuku? Apakah andika mengira bahwa aku jerih melawan kedua orang itu dan bahwa hanya andika yang memiliki kedigdayaan sehingga perlu mengalahkan mereka?"

Raden Warutama tersenyum, wajahnya yang tampan membayangkan kesabaran dan keramahan, kemudian ia membungkuk penuh hormat sambil berkata.

"Mohon maaf sebesarnya atas kelancangan saya berani melanggar wilayah kekuasaan andika yang saya telah dengar adalah ketua Padepokan Wilis yang sakti mandraguna, dan bukan sekali-kali pula saya merendahkan kesaktian andika. Akan tetapi karena saya menaruh rasa curiga terhadap kedua orang itu yang saya jumpai di lereng, maka diam-diam saya mengikuti mereka ke sini dan melihat kekurangajaran mereka, saya sampai lupa diri dan menyerang mereka. Sekali lagi, mohon maaf dan baiklah saya memperkenalkan diri. Saya adalah Raden Warutama dari Bali-dwipa."

Endang Patibroto mengerutkan keningnya.

Siapapun adanya pria ini, merupakan hal yang tidak menyenangkan hatinya kalau ada orang berani naik ke puncak begitu saja, dengan alasan apapun juga dan mengganggu puterinya yang sedang berlatih keras.

Ia melirik ke atas dan melihat bayangan anaknya masih tergantung di pohon.

Malam mulai tiba dan keadaan mulai gelap.

"Apakah kedatangan andika ke Wilis ada hubungannya dengan sayembara tanding yang kami adakan besok lusa?"

"Memang sebenarnyalah, karena mendengar tentang sayembara tanding itu maka saya datang ke Wills."

"Kalau andika datang untuk itu, mengapa tidak menanti di kaki Wilis seperti orang-orang lain?"

"Maaf, sudah saya ceritakan sebabnya. Pula, kedatangan saya tidak ingin memasuki sayembara tanding."

"Habis, untuk apa?"

Raden Warutama tersenyum lebar.

"Terus terang saja saya katakan bahwa saya harus mengawasi dan melindungi andika sekeluarga. Ketahuilah bahwa saya masih terhitung anak keponakan darI mendiang Sang Sakti Narotama."

Diam-diam Endang Patibroto terkejut.

Memang dia sudah tahu bahwa baik Sang Prabu Alrlangga maupun Ki Patih Narotama adalah orang-orang dari Bali-dwipa.

Hal-hal mengenai rajadan patihnya yang sakti Itu banyak ia dengar dahulu dari suaminya, yaitu mendiang Pangeran Panjirawit yang terhitung cucu Sang Prabu Airlangga.

Jadi pria ini adalah keponakan Ki Patih Narotama yang sakti?

Pantas saja gerakan-gerakannya tadi hebat.

Berkuranglah kemarahannya, akan tetapi ia masih mendesak.

"Apa hubungannya itu dengan kami?"

Warutama kelihatan tertegun, akan tetapi kemudian ia menjawab tenang.

"Mungkin bagi andika tidak ada hubungannya, akan tetapi bagi saya amatlah penting artinya.Hendaknya diketahui bahwa kami keturunan Sang Sakti Narotama adalah orang-orang yang mementingkan arti kata setia terhadap raja. Sayapun mengikuti jejak Sang Naro tama yang amat setia terhadap Sang Prabu Airlangga. Andika adalah cucu mantu Sang Prabu Airlangga.Biarpun sekarang telah menjadi janda, akan tetapi puteri andika itu."

Ia menudingkan telunjuknya ke arah tubuh Retna Wills yang menggantung.

"adalah keturunan Sang Prabu Airlangga. Tentu saja andika dan puteri andika harus saya lindungi sekuat tenaga saya. Demikianlah sebabnya, begitu mendengar bahwa andika membuka sayembara tandang untuk memilihkan jodoh adik kandung andika, saya langsung mengunjungi Wills."

Hati Endang Patibroto tertusuk.

Pria ini belum tahu bahwa Retna Wills bukan-lah puteri Pangeran Panjirawit, melainkan puteri Tejolaksono!

Akan tetapi ia tidak menyalahkannya, karena memang jarang ada yang mengetahuinya dan iapun tidak perduli.

Hanya kIni pandangannya terhadap prla ini berubah dan tidak mungkin lagi Ia bersikap kasar setelah mengetahui latar belakang sikap orang Ini.

"Kalau begitu, ternyata andika bermaksud baik dan biarlah saya menghaturkan terima kasih kepada iktikad baik andika. Andika saya terima sebagai seorang tamu dan sahabat, dan marilah, persilahkan mengaso di pondok kami."

Endang Patibroto mengajak tamunya untuk meninggalkan tempat itu menuju ke pondok. Warutama girang sekali, akan tetapi dengan ragu-ragu ia berkata.

"Akan tetapi puteri andika "

Endang Patibroto tersenyum.

"Biarkan saja. Dia sedang berlatih dan baru akan selesai besok pagi. Sudah biasa dia berlatih begitu. Marilah, Raden Warutama, silahkan."

Raden Warutama menggeleng-geleng kepala penuh kagum.

"Hebat sekali puteri andika, sungguh tidak mengecewakan menjadi cucu buyut mendiang Sang Prabu Airlangga yang sakti mandraguna.' Ibu mana di dunia ini yang tIdak akan menjadi senang hatinya mendengar pujian terhadap anaknya? Endang Patibroto senang sekali dan makin suka ia kepada pria yang gagah perkasa dan ramah serta halus budi bahasanya ini. Di dalam pondok, para pelayan lalu mengeluarkan hidangan dan dijamulah Raden Warutama oleh Endang Patibroto, kemudian dipersllahkan ke ruangan dalam di mana mereka berdua lalu bercakap-cakap dengan asyiknya. Dalam percakapan inilah dengan cerdik sekali Raden Warutama menyinggung-nyinggung soal Kerajaan Jenggala.

"Sungguh sayang sekali,"

Demikian katanya sambil lalu.

"usaha baik Sang Prabu Airlangga dirusak oleh penyelewengan puteranya yang menjadi raja di Jenggala. Saya banyak mendengar tentang kekacauan di Jenggala, gara-gara penyelewengan sang prabu yang hanya memikirkan kesenangan diri pribadi saja. Seyogyanya, orang-orang yang memiliki sedikit kepandaian seperti saya, terutama sekali; seorang sakti mandraguna seperti andika, turun tangan dan ikut menyelamatkan keadaan Kerajaan Jenggala yang terancam keruntuhan. Bagaimana pendapat andika?"

Endang Patibroto menghela napas panjang.

"Dunia ini penuh dengan orang-orang yang saling memperebutkan kedudukan. Memang banyak sekali yang mula-mula didasari iktikad baik, menyelamatkan negara dan rakyat. Akan tetapi sekali mereka sudah mencapai kedudukan tinggi, negara dan rakyat dilupakan, bahkan lebih buruk lagi, negara dan rakyat dipergunakan sebagai modal untuk mencarl kesenangan pribadi! Karena itulah, Raden, aku tidak sudi mencampuri urusan kerajaan. Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro tadipun membujukku untuk membantu mereka memusuhi Jenggala, akan tetapi sudah bulat tekad dan pendirlanku, aku tidak akan sudi mencampuri urusan Jenggala dan tidak perdull siapa pula yang menang atau kalah, siapa pula yang menjadi raja."

Daiam suara wanita sakti ini terdengar jelas oleh Raden Warutama kekerasan yang tak mungkin dapat dibelokkan lagi.

Sia-sia belaka menarik Endang Patibroto untuk bersekutu menghadapi Jenggala.

Takkan berhasil semua bujukan, maka iapun tidak mau membujuk terus, khawatir kalau-kalau Endang Patibroto menjadi curiga kepadanya, kemudian tamu ini dipersilahkan mengaso dalam sebuah kamar yang bersih dan indah.

Endang Patibroto sendiripun lalu beristirahat di kamarnya.

Peristiwa-peristiwa yang dialami tadi membuat ia agak lengah, sejenak melupakannya kepada Retna Wilis yang berlatih seorang diri tanpa penjaga.

-oo0dw0oo-Peristiwa yang terjadi itu membuat Endang Patibroto teringat akan semua pengalaman hidupnya yang lalu.

Apalagi peristiwa mendatang, yaitu sayembara tanding yang akan terjadi dua hari lagi, membuatnya terkenang akan ibunya, kepada Tejolaksono, dan membuatnya merasa kesunyian dan merana.

Benarkah ia sudah begitu hampa perasaan hatinya sehingga ia tidak sudi mencampuri urusan kerajaan maupun urusan orang lain?

Ataukah hal ini hanya timbul karena kekosongan hatinya, karena kesunyian hidupnya dan karena kekecewaannya setelah ia gagal mencapai rumah tangga bahagia bersama Tejolaksono yang dikasihinya?

Pertanyaan-pertanyaan ini ada dalam hatinya, namun ia sendiri tidak dapat menjawab.

Hatinya yang sudah mengeras seperti baja itu mendadak menjadi cair dan tak dapat dikuasainya lagi wanita sakti yang dingin dan keras hati ini menitikkan air mata sehingga membuatnya menjadi lemas dan akhirnya Endang Patibroto tertidur di atas pembaringannya, lupa kepada puterinya.

Memang tepatlah kata-kata para cerdik pandai bahwa manusia harus dapat mengatasi pengaruh perasaan.

Perasaan apapun, terutama sekali marah, senang, dan susah, dapat menguasai manusia dengan pengaruhnya dengan membuat manusia menjadi lengah dan bahkan buta.

Dari perasaan yang meluap tak terkendalikan lagi, muncullah perbuatan-perbuatan yang tidak wajar dan yang akan merugikan diri sendiri.

Perasaan yang tak terkendalikan akan membuat pertimbangan akal budi menjadi miring, keteguhan hati menjadi goyah dan kesadaran menjadi lalai.

Demikian pula dengan keadaan Endang Patibroto.

Ia terpengaruh rasa sedih dan merana sehingga ia menjadi lalai, berkurang kewaspadaannya, tidak sadar bahwa bahaya besar mengancam keluarganya.

TIga bayangan hitam yang amat gesit berkelebat dl antara kegelapan bayang-bayang pohon di dekat pondok.

Waktu itu sudah jauh lewat tengah malam, bahkan hampir pagi.

Hawa udara amatlah dinginnya dan keadaan amat sunyi, kesunyian yang tidak wajar karena semua penjaga di sekitar pondok itupun ikut pula ter-tidur di tempat penjagaan.

Ini hanya menjadi tanda bahwa hal yang tidak wajar telah terjadi, bahwa malam itu penuh dengan hawa mujijat aji penylrepan yang dipasang oleh Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, dan Raden Warutama.

Kini tiga orang sakti itu telah berkelebat di sekitar pondok.

Semua terjadi sesuai dengan rencana dan siasat Raden Warutama.

Setelah ia tadi berhasil menjadi tamu Endang Patibroto, dia menyebar sirep dan berhasil menyelinap keluar dari pondok, diam-diam menemui Dewi Nilamanik dan Kolohangkoro, kemudian setelah berunding sebentar, mereka bertiga kembali ke pondok "MARI masuk bersama dan mengeroyoknya sampai mampus!"

Bisik Ki Kolohangkoro yang sudah amat bernafsu untuk membunuh Endang Patibroto yang sore hari tadi telah mengalahkannya.

"Sttt, jangan sembronol"

Bisik Raden Warutama.

"Turut rencanaku. Anaknya di taman situ, di pohon sore tadi. Kalian tahu harus berbuat apa. Cepat. !"

"Mari, Kolohangkoro, jangan banyak membantah,"

Kata Ni Dewi Nilamanik.

Rencana tadi telah mereka.

rundingkan, yaitu, kedua orang ini akan pergi ke taman untuk menculik Retna Wilis.

Ada-pun Raden Warutama sendiri yang akan memasuki kamar Endang Patibroto, karena andaikata ketahuan oleh wanita sakti itu, akan mudah baginya mencari alasan.

Berbeda sekali tentu kalau dua orang bekas lawan Endang Patibroto itu ikut masuk, tentu akan membuka rahasia kalau ketahuan oleh si wanita sakti.

Dua orang yang berkelebat cepat seperti setan itu sebentar saja sudah tiba di bawah pohon.

Mereka girang sekali, terutama Ki Kolohangkoro, ketika melihat bahwa Retna Wilis masih bergantung di cabang pohon.

Diam-diam mereka menjadi amat kagum.

Bocah itu menggantung dengan kedua kakinya, kelihatan seperti tidak bernyawa saja, dengan tubuh kelihatan enak dan tidak kaku, seolah-olahtidur dalam keadaan seperti itu merupakan sebuah kenikmatan.

"Biar kutangkap dia!"

Kata Ki Kolohangkoro tidak sabar.

Tanpa menanti jawaban Ni Dewi Nilamanik ia sudah meloncat ke atas, kedua tangannya diulurkan menjangkau tubuh Retna Wilis, hendak mencengkeram dan merenggut tubuh kecil itu terlepas dari batang pohon.

"Aaaggghhh I"

Tubuh Ki Kolohangkoro yang tinggi besar itu terlempar kembali ke bawah, jatuh berdebuk seperti buah nangka busuk, lalu dia merintih diseling kutuk caci sambil memegangi lehernya.

Ternyata bahwa ketika tangannya tadi mencengkeram, tiba-tiba tangan kanan Retna Wilis bergerak dan memukul lehernya.

Gerakan yang tiba-tiba dan otomatis.

Sungguhpun anak itu masih amat kecil, namun keadaan samadhi berjungkir-balik itu ternyata mendatangkan tenaga ajaib kepadanya, dan pukulannya tadi dilancarkan secara otomatis karena dia telah terganggu samadhinya.

Pukulan bukan sembarang pukulan karena itu adalah Aji Wisangnala dan mengandung tenaga mujijat hasil samadhi semalam suntuk.

Dan kiranya Ki Kolohanghoro tidak akan mungkin dapat terpukul sedemikian mudahnya kalau ia berhati-hati.

Akan tetapi kakek yang sembrono ini tentu saja tadi memandang rendah calon korbannya, seorang anak perempuan yang baru berusia lima enam tahun!

"Itulah hasilnya kalau kau berlaku sembrono!"

Kata Ni Dewi Nilamanik.

Ki Kolohangkoro sudah bangkit lagi dan pada saat itu, tubuh Retna Wilis sudah melayang turun dengan ringannya, bocah ini sudah berdiri berhadapan dengan mereka.

Sepasang mata kecil yang bening itu memandang, sedikitpun tidak membayangkan rasa takut, malah membayangkan kemarahan.

"Kalian ini siapa? Berani benar mengganggu aku yang sedang latihan. Kalau ibu mengetahui tentu kalian akan dibunuh sekarang juga. Eh, di mana ibu?"

Anak itu memandang ke kanan kiri, kemudian kembali menghadapi dua orang asing itu, penuh kecurigaan.

"Anak balk, marilah kau ikut bersama kami. Ibumu yang menyuruh kami menyemputmu. Marilahl"

Kata Ni Dewl NIlamanik sambil mengulurkan tangan, suaranya manis dan ramah.

"Tidak! Tidak! Kalian bukan orang baik-baik! Aku tidak maul"

Retna Wilis mundur-mundur dan kedua tangannya dikepal menjadi tinju-tinju kecil.

"Huah-ha-ha-ha! Kau anak nakal, darahmu tentu manis sekali. Mari ikut bersamaku, kupondong "

Ki Kolohangkoro menubruk, Retna Wilis mengelak dari kiri dan memukul.

Akan tetapi kali ini tentu saja Ki Kolohangkoro sudah siap.

Sekali ia menyambar, ia sudah menangkap tangan kanan Retna Wilis yang memukulnya dan sekali ia membetot, tubuh bocah itu sudah diangkat dan dipeluknya.

Namun Retna Wilis bukanlah sembarang anak kecil.

Ia tidak merasa takut, malah menggunakan tangan kirinya menusuk dengan jari-jarii kecilnya ke arah mata Ki Kolohangkoro!

"Ha-ha-ha, tiada ubahnya seekor anak macan!"

Ki Kolohangkoro kembali menangkap lengan kecil itu sehingga kini kedua lengan Retna Wilis berada dalam cengkeraman tangan kirinya.

Retna Wilis mehonta-ronta dan berusaha menendangkan kedua kakinya, akan tetapi karena tubuhnya kini sudah dikempit, ia tidak lapat bergerak lagi.

"Lepaskan........... Lepaskan aku, engkau setan tua bangka. !"

Kemudian anak ini menggunakan giginya yang kecil-kecil dan kuat untuk menggigit tangan yang mencengkeram kedua lengannya! "Huah-ha-ha, benar-benar anak setan!"

Ki Kolohangkoro tertawa dan tentu saja lengan dan tangannya yang berbulu dan berkulit tebal kuat dan kebal itu tidak terluka oleh gigitan Retna Wilis.

"Hayo cepat kita pergi "

Kata Ni Dewi Nilamanik yang merasa ngeri dan khawatir kalau-kalau ibu anak ini muncul.

Ia sudah merasa jerih untuk menghadapi Endang Patibroto yang selain sakti mandraguna, juga amat liar dan ganas sehingga kalau tahu puterinya diculik tentu tidak akan mau sudah kalau belum dapat menghancurkan kepala mereka!

Mereka lalu meloncat dan berlari cepat menuruni puncak.

Sementara itu, dengan jantung berdebar keras, Raden Warutama mengintai dari celah-celah pintu kamar Endang PatIbroto.

Ia tidak dapat melihat sesuatu, hanya dapat mendengar tarikan napas yang teratur dan halus, tanda bahwa orang yang berada di dalam kamar tengah tidur nyenyak.

Ia sudah mempersiapkan akal kalau-kalau Endang Patibroto terbangun.

Setelah menguatkan hatinya, ia mendorong daun pintu kamar.

Bau yang harum menyambut hidungnya yang sejuk memasuki kamar melalui lubang-lubang angin yang terdapat di atas jendela dan pintu.

Sebuah lampu kecil bernyala dl atas lemari di sudut kamar.

Namun pandang mata Raden Warutama melekat pada sesosok tubuh yang membujur terlentang di atas dipan yang bertilam merah muda.

la terpesona!

Endang Patibroto tidur nyenyak di atas dipan itu.

Tidak berselimut.

Tubuh yang padat itu hanya melawan hawa dingin dengan pakaian yang dipakainya lepas-lepas sehingga sebagian dadanya dan betisnya tampak.

Kepalanya terletak miring di atas bantal, lengan kiri melintang di atas dahi, lengan kanan di atas perut yang kempis langsing.

Rambutnya terurai kacau, menutupi sebagian muka dan leher, amat hitamnya.

Raden Warutama menahan napas.

Alangkah indahnya penglihatan ini.

Endang Patibroto bukan seorang gadis remaja lagi, bukan pula seorang wanita muda, melainkan seorang wanita yang usianya sudah tiga puluh lima atau tiga puluh enam tahun.

Wanita yang matang!

Namun setelah tertidur seperti itu, benar-benar merupakan seorang wanita cantik jelita menggairahkan, seperti Sang Dewi Komaratih sendiri, penuh dengan daya tarik yang sukar dilawan oleh pria yang manapun.

Warutama tampak melamun, berulang kali menghela napas, kemudian tangannya bergerak dan tercabutlah sebatang keris yang mengeluarkan sinar hijau, kakinya berindap-indap melangkah maju menghampiri pembaringan.

Endang Patibroto benar-benar sedang tidur nyenyak.

Kesedihan membuatnya seperti terbius, padahal semua aji penyirepan tadi sama sekali tidak pernah membiusnya.

Namun kesedihan merupakan pembius yang amat ampuh sehingga ia masih tidak sadar sama sekali betapa nyawanya terancam maut.

Kalau Raden Warutama pada saat itu menerjang dan menusukkan kerisnya, tentu akan tewasIah Endang Patibroto.

Akan tetapi Warutama meragu, setelah dekat pembaringan, makin hebatlah ia terpesona.

Kini tampak makin jelas wajah yang ayu itu, dada yang membusung mengalun halus, mulut yang berbentuk indah itu setengah terbuka dengan bibir yang merah menantang dan di baliknya tampak kilau deretan gigi putih.

Kedua kaki Warutama gemetar.

Baca Juga: Petualang Asmara 5

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert