Ceritasilat Novel Online

Perawan Lembah Wilis 5

Eps 5 Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo

Baca online Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo

Cersil Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo.

Aji ini disebut aji pukulan Cantuka Sekti yang hebat sekali.

Akan tetapi begitu mengenai perut Ni Dewi Nilamanik, tangan kirinya itu amblas ke dalam perut, masuk ke perut sampai ke pergelangan tangan dan tak dapat ditarik kembali!

Joko Pramono terkejut, cepat ia memukul dengan tangan kanannya yang masih sakit, akan tetapi tiba-tiba kebutan ekor kuda di tangan Ni Dewi Nilamanik berkelebat, ujung kebutan mengenai pundak laIu berkelebat lagi mencium punggung dan seketika lemaslah tubuh Joko Pramono!

Tidak hanya kedua lengannya yang tumpuh, juga kedua kakinya kehilangan tenaga dan ia tentu sudah roboh terguling kalau saja tangan kirinya tidak terjepit di perut wanita itu!

Kini sambil tersenyum dan mengeluarkan suara memuji kagum, Ni Dewi Nilamanik mempergunakan tangan kirinya, meraba-raba seluruh tubuh Joko Pramono, dari kepala terus turun, ke lehernya, dadanya, pundaknya, lambungnya, pusarnya, terus turun sampai ke kakinya.

"Bagus.. , bagus.. , sukar mendapatkan bocah sebaik ini..."katanya memuji. Joko Pramono bergidik seluruh tubuhnya, menggigil dan ngeri sekali.

"Kaulepaskan dia, perempuan tak tahu malu!"

Kini Pusporini yang menerjang maju menyerang Ni Dewi Nilamanik.

Memang aneh watak dara ini.

Tadi ia membenci Joko Pramono, gemas dan ingin menyiksanya, ingin menyakitkan hatinya.

Akan tetapi, begitu melihat pemuda itu tadi membelanya dan kini terjatuh ke dalam tangan wanita iblis yang Sakti itu ia melupakan kelemahan sendiri dan menyerang dengan nekat.

Akan tetapi, gerakannya terhenti ketika tiba-tiba pinggangnya disambar orang dari belakang dan ia hanya dapat meronta-ronta dalam kempitan dengan tangan Ki Kolohangkoro yang amat kuat.

"Ha-ha-ha, Ibunda Dewi. Engkau mendapatkan si bagus itu dan ramanda wasi mendapatkan si manis ini, benar-benar pasangan yang cocok, memenuhi selera kalian. Heh, adapun aku ha-ha, aku akan puas kalau Ibunda dapat memberi sepertl kemarin itu satu lagi saja."

Ni Dewi Nilamanik menggerakkan tangan klrinya dan tubuh Joko Pramono juga sudah dikempitnya, lalu menoleh kepada Ki Kolohangkoro.

"Engkau rakus sekali, Kolohangkoro! Marilah, jangan kita membuat rakanda wasi terlalu lama menanti. Kalau kau menghaturkan bocah itu kepadanya, tentu dia akan senang hati dan mungkin suka menurunkan ilmu yang kauidam-idamkan itu."

"Aji Werjit Kencana? Aha, aku akan rela menukar ilmu itu dengan lengan kiriku, Ibunda Dewi. Akan tetapi tidak mungkin ramanda wasi sudi menurunkan aji itu kepadaku, kecuali kalau Ibunda suka membantuku membujuknya."

"Bagaimana nanti sajalah, Kolohangkoro. Hayo kita pergi!"

Dua orang yang sakti mandraguna, keduanya adalah pemimpin dari agama pecahan yang terdiri dari orang--orang penyembah Bhatari Durga dan Bathara Kala, dengan gerakan luar biasa cepatnya telah berkelebat meninggalkan tempat itu sambil mengempit tubuh dua orang muda yang setengah pingsan dan sama sekali tidak mampu berkutik lagi.

Waktu itu, hari telah mulai ditelan senja, keadaan menjadi remang-remang.

Bayangan dua orang sakti itu seperti bayangan iblis sendiri, berkelebat keluar dari dalam hutan.

Tiba-tiba terdengar suara yang halus, suara orang membaca mantera, suara yang mengandung getaran halus yang bergelombang dan seketika tubuh dua orang sakti itu menggigil dan otomatis kaki mereka berhenti melangkah.

Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro seperti terpaku pada tanah, mata mereka memandang seorang kakek yang duduk bersila di depan mereka, di pinggir jalan yang mereka lalui, seorang kakek yang pakaiannya seperti pakaian seorang pertapa akan tetapi robek-robek dan butut seperti pakaian seorang jembel.

Kakek ini duduk bersila dengan tubuh tegak lurus, matanya meram, rambutnya riap--riapan, tangan kiri memegang sebuah batok kelapa dan tangan kanan memegang sebuah sapu, yaitu seikat sapu lidi.

Kakek ini seperti tidak tahu akan kehadiran mereka dan terus membaca mantera dengan suaranya yang halus mengandung getaran mujijat.

"Om, Ksantawya kayika dosah, Ksantawya wacika mama, Ksantawya manasa dosah, Tat pranadam ksama swamam. Shanti shanti shanti" (Ya Tuhan, ampunilah kesalahan kami yang timbul dari tingkah laku, ampunilah kesalahan kami dari kata-kata, ampunilah kesalahan kami yang timbul dart fikiran. Damai damai ) Ki Kolohangkoro mendengus dan membuat gerakan hendak melanjutkan perjalanan, akan tetapi Ni Dewi Nilamanik mengangkat tangan kanan yang memegang kebutan, memberi isyarat kepada raksasa itu untuk berhenti dulu. Kemudian, Ki Kolohangkoro memandang dengan mata terbelalak heran ketika is melihat Ni Dewi Nilamanik melempar tubuh Joko Pramono ke atas tanah, kemudian wanita sakti ini menghampiri kakek yang duduk bersila, menekuk lutut di depan kakek itu dan menyembah! Selagi ia terheran-heran dan bingung, ia mendengar Ni Dewi Nilamanik berkata.

"Paman resi, mohon maaf sebesarnya bahwa hamba berlaku kurang hormat karena tidak mengira akan bertemu dengan Paman di sini. Hamba mohon diperkenankan lewat."

Ki Kolohangkoro membelalakkan kedua matanya.

Inilah suatu keanehan yang tak pernah ia saksikan atau dengar selama hidupnya, Ni Dewi Nilamanik bersikap begini merendah!

Menyembah-nyembah dan mohon diperkenankan lewat!

Apa-apaan ini?

Siapakah jembel tua ini?

Kakek itu membuka kedua pelupuk matanya dan Ki Kolohangkoro makin terkejut.

Mata itu tidak ada maniknya, hanya putih saja.

Kakek jembel tua rents yang buta!

Akan tetapi, suara kakek ini penuh getaran yang berwibawa ketika ia berkata.

"Wahai, Nilamanik. Makin tebal saja uap kotor menyelimuti dirimu Ahhhh betapa sedih hatiku karena ini, Nilamanik. Sesal kemudian tiada guna, mengapa tidak juga mau bertaubat sebelum terlambat?"

Ni Dewi Nilamanik tidak menjawab, hanya mengangkat muka memandang penuh rasa takut.

Hal ini membuat Ki Kolohangkoro marah sekali.

Kakek tua bangka jembel buta begini saja mengapa ditakuti?

Sekali tiup juga akan roboh!

Mengapa mendadak saja Ni Dewi Nilamanik yang ia tahu amat sakti mandraguna, tidak kalah olehnya itu kini menjadi begini penakut?

Karena kemarahannya, Ki Kolohangkoro juga melempar tubuh Pusporini ke atas tanah, lalu menggeleng-geleng kepalanya sehingga anting-anting telinganya bergoyang-goyang dan mengeluarkan suara berdering.

"Ibunda Dewi! Apa-apaan ini? Mengapa ibunda merendahkan diri sedemikian rupa terhadap seorang tua bangka jembel buta yang hina-dina? Seorang jembel lebih hina daripada seorang sudera, biar dia berpakai resi akan tetapi keadaannya melebihi jembel yang paling miskin! Harap ibunda suka mundur, biar kuhancurkan dia sekali pukul, kurobohkan dia sekali tiup dan kulemparkan dia sekali tendang! Mundurlah, Ibunda Dewi!"

"Kolohangkoro Jangan sembrono kau!"

Biarpun mulutnya berkata demikian, akan tetapi Ni Dewi Nilamanik sudah bangkit berdiri dan mengundurkan diri, memandang dan siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Kakek ini mengangkat muka, dihadapkan ke arah Ki Kolohangkoro, lalu tersenyum dan keluarlah suara ketawa halus dari kerongkongannya.

"Bahkan Sang Hyang Bathara Kala sendiri, hanya dapat bergerak untuk memenuhi tugas, tidak akan mampu mengganggu selembar rambut manusia apabila tidak dikehendaki Sang Hyang Widhi Wasesa! Andika ini siapakah, begini berani hendak mendahului dan memperkosa kehendak Sang Hyang Trimurti?"

"Ha-ha-ha-ha! Kakek jembel tua bangka, sikap dan kata-katamu sombong bukan main, seolah-olah hanya engkau seorang di dunia ini yang paling tahu! Agar engkau tidak mati penasaran sehingga nyawamu akan menjadi setan gentayangan, dengarlah bahwa calon pembunuhmu ini adalah Ki Kolohangkoro!"

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Sudah kuduga... sudah kuduga. waaah, Nilamanik, engkau benar-benar jauh tersesat."

Ki Kolohangkoro tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Mukanya menjadi merah, hidungnya mendengus seperti mengeluarkan hawa panas berapi, otot-otot di tubuhnya menggembung.

Diapun bukan seorang yang sembrono dan bodoh.

Ia dapat menduga bahwa sedikit banyak, kakek jembel itu tentu memilild kepandaian, sungguhpun ia tidak memandang sebelah mata.

Maka ia lalu mengerahkan aji kesaktiannya, seluruh tubuhnya mengeluarkan bunyi berkerotokan seolah-olah semua tulangnya saling beradu.

Kemudian ia membentak.

"Terimalah kematianmu!"

Dan tubuh yang tinggi besar itu menerjang maju, menubruk kakek yang masih duduk bersila itu dan kedua tangannya dengan kepalan sebesar buah kelapa menyambar dari kanan kiri ke arah kepala si kakek jembel.

Kakek tua rents itu tidak mengelak, hanya menggerakkan tangan kanan yang memegang sapu lidi lambat-lambat dan perlahan ke atas.

"Heeeitttt.... auuggggghhh ' Tubuh raksas a Ki Kolohangkoro tergetar dan terdorong ke belakang, kedua kakinya menggigil-gigil dan dengan susah payah akhirnya ia berhasil mencegah tubuhnya terdorong roboh. Ia membelalakkan matanya memandang kakek yang masih duduk bersila itu. Tadi ia hanya merasa betapa kedua pukulannya terbentur oleh hawa yang menyambar keluar dari sapu lidi dan tanpa menyentuh sapu lidi itu, apalagi tubuh si kakek, ia telah terdorong oleh hawa sakti yang mujijat sehingga hampir roboh! Tentu saja ia menjadi marah dan penasaran sekali.

"Tua bangka keparat! Berani kau main-main terhadap Ki Kolohangkoro? Jangan mengira bahwa kau sudah menang, terimalah pusakaku ini!"

Berkata demikian, Ki Kolohangkoro sudah mencabut senjatanya yang hebat, yaitu senjata berat berbentuk tombak pendek yang ia sebut senjata Nenggala.

Kemudian dengan gerakan seperti seekor gajah mengamuk, ia menerjang maju, menghantamkan senjatanya ke arah kepala kakek itu.

"Kolohangkoro , jangan.! "

Terdengar jerit Ni Dewi Nilamanik, akan tetapi karena melihat kawannya sudah menerjang maju, iapun lalu meloncat dengan gerakan ringan mendekati kakek itu dari samping, kemudian menggerakkan senjatanya yang aneh dan dahsyat keampuhannya, yaitu kebutan merah buntut kuda, mengarah leher!.

"Plakkk Brettt "

Hebat bukan main serangan Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik tadi, dan kedua serangan itu tiba hampir berbareng.

Dari depan menyambar nenggala Ki Kolohangkoro yang menusuk ubun-ubun, dari samping menyambar kebutan mengarah pusat jalan darah di leher.

Dan menghadapi dua serangan ini, kakek tua renta itu sama sekali tidak mengelak.

Seperti tadi, ia hanya mengangkat kedua tangan, batok kelapa di tangan kiri menangkis senjata nenggala, sedangkan sapu lidi di tangan kanan menyampok kebutan.

Dan akibatnya ujung kebutan putus sedangkan nenggala di tangan Ki Kolohangkoro patah!

Dua orang sakti itu terhuyung-huyung mundur dengan muka pucat, kemudian tanpa dikomando lagi, Ki Kolohangkoro mencontoh Ni Dewi Nilamanik yang melarikan din tanpa pamit!.

Bagaikan dikejar-kejar iblis, kedua orang sakti ini lari sampai jauh dan setelah merasa yakin bahwa kakek tua renta itu tidak mengejar, barulah Ni Dewi Nilamanik berhenti, menyusut keringat dan berkata perlahan.

"Aduhhh berbahaya sekali Si tua itu makin tua makin mengerikan kesaktiannya!"

Muka Ki Kolohangkoro menjadi merah sekali.

Kini barulah ia mengerti mengapa Ni Dewi Nilamanik tadi menyembah-nyembah dan bersikap amat takut dan hormat kepada kakek jembel itu.

Kiranya kakek itu memiliki kesaktian seperti dewa sendiri!

"Ibunda Dewi, siapakah dia tadi..?"

Tanyanya sambil bergidik. Ni Dewi Nilamanik menghela napas panjang.

"Ah, rakanda wasi tentu akan terkejut dan marah bahwa tua bangka itu telah menampakkan diri pula. Kolohangkoro, dia itu adalah paman guruku sendiri, dialah Resi Mahesapati "

Wahhh Barulah Ki Kolohangkoro terkejut seperti disambar petir.

Tentu saja ia pernah mendengar nama besar Resi Mahesapati yang kabarnya dahulu, puluhan tahun yang lalu, setelah menggegerkan Kerajaan Sriwijaya di seberang lautan, telah lenyap dan kabarnya bertapa di pantai laut Banten.

Kiranya orang sakti yang amat luar biasa itu kini telah memperlihatkan diri sebagai seorang kakek yang berpakaian jembel.

"Kesaktiannya memang hebat dan agaknya hanya rakanda wasi saja yang akan mampu menandinginya. Mendiang guruku sendiri dahulu selalu memuji-muji paman Resi Mahesapati, bahkan selalu berpesan agar dalam keadaan apapun juga, aku selalu harus mentaatinya. Biasanya dia itu keras dan galak, masih untung tadi kita terbebas daripada maut."

Ki Kolohangkoro membanting-banting kedua kakinya yang sebesar kaki gajah. Wajahnya keruh dan ia marah, penasaran, juga menyesal.

"Celaka! Kedua orang tawanan itu mengapa kita tinggalkan?"

"Tentu saja! Kausangka mengapa Resi Mahesapati menghadang kita di sana tadi?"

"Mengapa?"

"Apalagi kalau bukan karena dua orang tawanan kita. Sudahlah, kita bukan lawan dia. Biar rakanda Wasi Bagaspati sendiri yang memutuskan. Setelah kakek itu muncul, kita harus lebih berhati-hati lagi."

Dua orang itu melanjutkan perjalanan dengan cepat dan hati kesal.

Joko Pramono yang tadi dilemparkan ke atas tanah oleh Ni Dewi Nilamanik dan menyaksikan semua peristiwa dengan mata terbelalak kagum, kini melihat betapa dua orang iblis jahat itu pergi, cepat ia menghampiri kakek yang duduk bersila tadi sambil menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.

"Duhai eyang resi yang sakti mandraguna dan arif bijaksana. Tak terkatakan betapa besar rasa syukur dan terima kasih hamba akan pertolongan eyang. Dapatkah hamba mengetahui nama eyang resi yang mulia?"

Sebelum kakek itu menjawab, secara tiba-tiba ada suara menyambung di belakang Joko Pramono, suara Pusporini yang juga sudah berlutut menyembah, agak berjauhan dengan pemuda itu.

Suaranya lantang mengatasi suara Joko Pramono.

"Eyang resi yang budiman tentu hanya menolong manusia baik-baik, dan harap eyang ketahui bahwa bocah ini masih disangsikan kebaikannya! Hamba menghaturkan sembah sujud dan terima kasih kepada Eyang dan hamba rasa Eyang tentu telah mengenal rakanda Adipati Tejolaksono, atau mendiang ayah hamba Pujo dan mendiang eyang hamba Resi Bhargowo."

Kakek itu sudah sejak tadi tersenyum, mengelus jenggotnya dan mengejap-ngejapkan matanya yang putih. Kini ia mengangguk-angguk.

"Nini Pusporini bocah kewek, tentu saja aku mengenal eyangmu Resi Bhargowo dan tahu akan rakandamu dan mendiang ayahmu."

Mendengar ini, Pusporini memandang kepada Joko Pramono sambil mencebirkan bibirnya dan berkata.

"Nah, kau dengar tidak? Eyang resi ini mengusir dua orang iblis tadi hanya karena aku, karena eyang resi ini telah mengenal keluargaku, keluarga Selopenangkep! Kau hanya kebetulan saja terbawa-bawa! Kalau tidak ada aku, engkau tentu telah mampus! Masih hendak berlagak lagi?"

Joko Pramono tersenyum.

Ia mulai mengenal watak dara remaja ini.

Biarpun lagaknya galak dan menyakitkan hati, namun itu hanyalah watak lahirnya saja, padahal batinnya tidaklah begitu buruk.

Bukankah dara ini tadi sudah jelas memperlihatkan sikap membelanya kdtika ia tertawan oleh Ni Dewi Nilamanik?

Dara ini tidak membencinya seperti yang hendak diperlihatkannya!

Karena sudah mulai mengenal watak dara ini, maka sikapnya itu tidaklah menyakitkan hatinya lagi.

Ia malah ingin menggodanya terus.

"Wah, engkau ini memang seorang bocah yang sombong dan banyak lagak! Sudahlah, perlu apa melayani orang seperti engkau?"

Joko Pramono menengok lagi ke arah kakek itu dan berkata.

"Eyang resi, mohon Eyang sudi memberitahu nama dan julukan Eyang yang mulia."

"Eyang resi! Jangan ladeni bocah itu! Dia bocah busuk hatinya, berani ia memaki-maki keluarga Selopenangkep!"

Teriak Pusporini yang kini meloncat bangun dan memandang Joko Pramono dengan sinar mata mengancam.

"Eyang resi, hamba yang mohonkan ampun bagi perawan kasar tak kenal susila dan berani bersikap tidak semestinya di depan paduka Eyang resi,"

Kata pula Joko Pramono dan biarpun kata-katanya ini ditujukan kepada kakek itu namun pada hakekatnya seperti memaki-maki Pusporini!

Tentu saja dara ini menjadi makin marah, mukanya merah sekali, matanya berapi-api dan hidungnya kembang-kempis.

"Heh, keparat..! Aku bersikap kasar kepadamu, setan.! Bukan kepada eyang resi yang kuhormati! Jangan kau mencoba untuk membakar hati eyang resi! Bangkitlah dan mari kita bertanding sampai selaksa jurus! Biar eyang resi yang menjadi saksi dan juri!"

"Boleh, memang kau bocah sombong. Apa kaukira aku takut padamu?"

Joko Pramono juga seorang pemuda yang masih remaja, darahnya masih panas, maka kini ditantang di depan kakek sakti itu, ia merasa malu kalau tidak menerimanya.

lapun bangkit berdiri menghadapi Pusporini dan dua orang muda ini sudah siap seperti dua ekor jago aduan saling mengereki untuk segera bertanding.

"Ha-ha-ha-ha-ha-ha. ! "

Tiba-tiba kakek itu tertawa.

Suara ketawanya halus akan tetapi mengandung getaran yang membuat kedua orang muda itu seketika menjadi lemas, lenyap segala kemarahan dan tanpa dapat mereka cegah lagi, keduanya menoleh ke arah kakek itu dan tersenyum lebar!

Tak mungkin dapat menahan ketawa melihat dan mendengar suara ketawa kakek seperti itu.

Andaikata api membara kemarahan mereka tadi, suara ketawa itu seolah-olah merupakan air wayu yang amat dingin dan yang membuat kemarahan seperti api membara itu menjadi padam sama sekali!

"Ha-ha-ha, Joko Pramono!

Apa kau kira gurumu Resi Adiluhung akan suka melihat sikapmu terhadap keluarga Kadipaten Selopenangkep?

Tidak, Kulup, sebaliknya engkau tentu akan ditegur habis-habisan kalau Resi Adiluhung mengetahuinya.

Dan engkau, nini Pusporini, apa kaukira rakandamu Adipati Tejolaksono suka melihat sikapmu terhadap Joko Pramono?

Padamkan kemarahan kalian dan dengarkan kata-kataku."

Joko Pramono terkejut bukan main Kakek aneh ini telah mengetahui namanya, bahkan nama gurunya!

Cepat ia menjatuhkan lagi dirinya di depan kakek itu, berlutut dan menyembah.

Akan tetapi gerakan ini didahului Pusporini sehingga mereka seperti berlomba menghormat kakek itu, bahkan menyembah dengan berbareng saling berdampingan.

Sehabis menyembah, mereka saling lirik dengan mata melotot!.

"Hamba mentaati perintah Eyang resi,"

Kata Pusporini.

"Hamba sendika (sanggup mematuhi) akan dawuh (perintah) paduka Eyang resi, selanjutnya hamba mohon petunjuk,"

Kata pula Joko Pramono dan kata-katanya inipun bercampuran dengan ucapan Pusporini tadi karena dilakukan berbareng.

Kembali kakek itu tersenyum lebar.

Ia yang telah waspada akan segala peristiwa di dunia, yang awas dan tahu akan gerak-gerik manusia, seakan-akan dapat membaca isi hati kedua orang muda itu dan karenanya ia merasa kagum akan kegaiban kekuasaan Hyang Widhi Wasesa, kagum dan ikut bergembira.

"Ha-ha-ha, kalian berdua ini selalu tidak mau saling mengalah, tidak mau kalah dan bersaingan. Bagus sekali! Joko Pramono dan engkau nini Pusporini, sudah ditentukan oleh Hyang Jagad Pratingkah bahwasanya kalian berdua berjodoh untuk menjadi murid-muridku. Ketahuilah bahwa aku adalah Resi Mahesapati dan karena getaran gaib yang berupa perintah belakalah yang memaksaku turun ke dunia ramai dan menjumpai kalian di sini. Akan tetapi sebelum aku melanjutkan keteranganku, aku ingin mendengar lebih dulu kesanggupan kalian. Kalian harus ikut bersamaku, menjauhkan diri daripada dunia ramai, sebentarpun tidak boleh keluar dari tempat pertapaan selama lima tahun dan kemudian setelah lima tahun aku ingin melihat siapa di antara kalian yang lebih menang dan maju. Bagaimana, sanggupkah?"

Memang pintar sekali Sang Resi Mahesapati ini.

Tadinya, mendengar bahwa mereka akan diambil murid dan harus mengasingkan diri selama lima tahun, terasa berat sekali di hati kedua orang muda itu.

Akan tetapi kalimat terakhir itu membuat mereka panas hati dan bangkit semangat.

Kakek ini ingin melihat siapa di antara mereka yang lebih maju setelah lima tahun, berarti mereka berdua disuruh berlomba dan bersaing!

"Hamba setuju!

Biar dia belajar penuh semangat sampai lima tahun juga, tidak nanti dia dapat mengalahkan hamba,"

Kata Joko Pramono.

"HAMBA pun setuju! Dia ini boleh saja belajar mati-matian, kaki dibuat kepala dan kepala dibuat kaki, setelah lima tahun, akhirnya dia tentu akan keok (kalah) melawan hamba!"

Kata Pusporini. Kembali kakek itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha! Ucapan seorang gagah, sekali keluar dari mulut tidak akan diji-lat kembali. Ketahuilah, aku tidak akan menyeret kalian menyeleweng daripada ajaran-ajaran yang telah kalian terima dari guru-guru kalian. Engkau, Joko Pramono, telah mempelajari Ilmu Cantuka Sekti dari gurumu Resi Adiluhung. Aji itu cukup hebat dan selama lima tahun, aku hanya ingin menuntunmu agar ajimu itu dan aji-ajimu yang lain makin matang.Semua aji itu tiada banyak bedanya. Vang dilatih dengan penuh kematangan, tentu akan menjadi ampuh. Dan engkau, Pusporihi, engkau telah banyak menerima aji-aji kesaktian yang hebat dari rakan-damu Adipati Tejolaksono, seperti Pethit Nogo dan Bojro Dahono. Biarlah aku akan membimbingmu agar semua ajimu menjadi matang dan ampuh."

Dua orang muda yang tadinya terge-sa-gesa menyanggupi karena panas hati dan tidak mau saling dikalahkan, kini menjadi kaget dan merasa betapa berat-nya syarat yang diajukan kakek itu.

Lima tahun mengasingkan diri!

Tanpa terasa, mereka saling menoleh, saling pandang dengan pandang mata sayu, akan tetapi begitu pandang mata mereka saling ber-adu, timbul kembali semangat di hati mereka!

"Joko Pramono dan Pusporini, keta-huilah bahwa sesungguhnya seperti ku-katakan tadi, aku muncul di dunia ramai karena mendapat getaran perintah gaib.

Awan gelap dan hawa jahat bergulung datang hendak mengeruhkan suasana,mendatangkan perang dan malapetaka kepada manusia.

Untuk menghalau peru-suh itu, akan muncul seorang satria mu-da yang sakti mandraguna.

Akan tetapi dia seorang diri masih belum kuat untuk mengusir marabahaya, harus disandingi tenaga-tenaga muda lain yang cukup kuat.

Kalian ini berjodoh untuk menjadi murid-muridku, kalianlah yang akan men-jadi dua orang di antara mereka yang bertugas membantu satria muda itu.

Kalianlah yang kelak akan ikut mencerah-kan suasana, mengusir kegelapan, menen-tang kejahatan yang merajalela dan meng-ancam keselamatan rakyat.

Karena itu, di pundak kalian terletak tugas yang suci dan luhur sehingga kelak tidak akan per-cumalah kalian sebagai keturunan orang-orang gagah perkasa."

Dua orang itu termenung. Baru mere-ka mengerti bahwa mereka diambil murid oleh kakek sakti ini bukan hanya kebe-tulan belaka.

"Eyang Resi, bblehkan hamba menge-tahui siapa gerangan satria muda yang harus hamba bantu kelak?"

Kakek itu tersenyum.

"Itu masih merupakan rahasia. Kelak kalian akan mengerti sendiri karena sesungguhnya satria muda itu adalah paman gurumu sendiri. Ketahuilah bahwa saat ini, guruku yang bagi, dunia sudah dianggap meninggal dunia, telah berkenan mengambil satria itu sebagai murid Dialah yang akan bertugas memberantas segala kesesatan dan kalian akan menjadi pembantu-pembantunya. Cukup sekian saja keterangan-ku, murid-muridku, dan sekarang, meram-kanlah matamu dan jangan dibuka sebe-lum kusuruh."

Dalam keadaan masih berlutut, Pusporini dan Joko Pramono meramkan kedua mata mereka.

Tiba-tiba mereka merasa betapa lengan mereka dipegang, kemudian tubuh mereka serasa melayang, padahal mereka masih dalam keadaan duduk bersila!

Mimpikah mereka?

Benar-benar seperti orang dalam mimpi.

Namun, mereka patuh kepada perintah guru mereka dan sama sekali tidak berani membuka mata sebelum guru mereka menyuruh.

Mereka tidak melihat sesuatu, hanya bunyi angin semilir memenuhi kedua telinga.

"Pusporini......! Anakku......! Heh, manusia-manusia biadab, lepaskan puteriku! Hayo, lawanlah Roro Luhito !"

"Bibi, ingat, Bibi. !"

Tejolaksono terpaksa melompat dan menangkap lengan tangan Roro Luhito yang seperti orang kesurupan setan, hendak berlari mengejar puterinya yang telah dilarikan entah ke mana.

Roro Luhito tadinya meronta-ronta, akan tetapi setelah berkali-kali Tejolaksono dan Ayu Candra membujuknya, ia menjadi tenang.

Wajahnya pucat sekali, matanya menyinarkan kemarahan, dan suaranya terdengar dingin ketika ia berkata.

"Anakku Tejolaksono, engkau tahu bahwa aku tidak akan dapat hidup kalau membiarkan Pusporini begitu saja terjatuh ke tangan lawan. Tidak, biar sampai mati aku harus mencarinya sampai dapat. Engkau tentu maklum apa yang akan terjadi pada diri puteriku kalau tidak lekas ditolong. Biarkanlah aku pergi mengejar mereka."

"Berbahaya sekali, Bibi. Biarlah saya yang mengejarnya."

"Kakangmas !"

Ayu Candra berseru dengan suara gemetar.

"Benar isterimu, Tejolaksono anakku. Kadipaten tidak boleh kau tinggalkan, hai itu berbahaya sekali. Biarlah aku yang mencari adikmu sampai dapat atau....... aku takkan kembali sebelum dapat menolongnya. Selamat tinggal!"

"Nanti dulu, Bibi. Tak mungkin Kanjeng Bibi pergi seorang diri saja."

Adipati Tejolaksono lalu memanggil dua losin orang pengawal untuk membantu bibinya yang memaksa diri hendak nekat mencari Pusporini.

Ia maklum akan genting dan sulitnya keadaan.

Ia harus mengakui bahwa memang amatlah berbahaya nasib Pusporini terjatuh ke tangan orang-orang biadab itu, dan memang amat membutuhkan pertolongan dengan segera.

Dan ia tahu bahwa mungkin penangkapan atas diri Pusporini itu disengaja untuk me-mancingnya keluar.

Kalau ia keluar dari kadipaten, tentu kadipaten akan menjadi lemah dan akan diserbu musuh.

Memang satu-satunya jalan untuk menolong Pusporini hanyalah bibinya, Roro Luhito.

Akan tetapi iapun ragu-ragu.

Musuh terlampau banyak dan di antara mereka terdapat banyak orang sakti.

Biarpun bibinya bu-kan wanita sembarangan, namun ia sangsi apakah bibinya akan berhasil menolong Pusporini?

Jangan-jangan malah memba-hayakan dirinya sendiri.

Betapapun juga, tidak mungkin ia dapat mencegah kehen-dak bibinya itu.

Maka terpaksa ia lalu menyuruh dua losin orang pengawal yang cukup tangguh untuk mengawal bibinya.

Rombongan ini lalu berangkat melakukan pengejaran.

Adipati Tejolaksono bersama isterinya lalu mencurahkan perhatiannya kepada penjagaan di Selopenangkep yang sudah terkepung musuh dari segenap jurusan.

Kegelisahan hati mereka tentang kesela-matan Pusporini dan bibi mereka terpak-sa mereka kesampingkan lebih dulu.

"Nimas, keadaan kita amat berbahaya. Engkau tidak boleh berpisah dari samping-ku dan harus selalu waspada."

Ayu Candra hanya mengangguk lesu.

Terlalu banyak peristiwa sedih yang susul-menyusul melemahkan semangat wanita ini.

Mula-mula puteranya secara terpaksa dipisahkan dari sampingnya, ditambah tewasnya bibinya, Kartikosari.

Kemudian disusul dengan munculnya Endang Patibroto yang membawa pergi Setyaningsih entah ke mana.

Kini ditambah terculik-nya Pusporini oleh musuh dan perginya Roro Luhito yang secara nekat melaku-kan pengejaran, padahal musuh amat besar jumlahnya dan memiliki banyak orang sakti.

Sekarang, Kadipaten Selope-nangkep dikepung musuh dan ia tahu bahwa hal yang paling menggelisahkan hati suaminya adalah karena melihat betapa banyaknya penduduk Selopenang-kep yang kini datang bersama musuh, menjadi sekutu dan anak buah musuh!

Malam itu Adipati Tejolaksono me-ngumpulkan dan mencacahkan jumlah seluruh pasukannya.

Tidak lebih hanya tiga ratus orang perajurit, termasuk para pengawal, para abdi dalem dan rakyat penduduk kadipaten yang setia.

Banyak di antara penduduk yang siang-siang sudah diam-diam melarikan diri keluar kadipa-ten.

Tigaratus orang, harus menghadapi kepungan musuh yang entah berapa ba-nyaknya!

Dan pembantunya, Mundingyudo, baru saja berangkat ke kota raja Panjalu.

Ia sangsi apakah bantuan dari Panjalu dapat diharapkan datang sebelum terlam-bat.

Adipati Telolaksono membagi tugas, mengumpulkan para kepala pasukan yang ia bagi menjadi lima.

Ia segera mengatur siasat.

Penjagaan dilakukan sekeliling kadipaten, merupakan lima kelompok yang selalu bergerak, berpindah-pindah saling bertukar tempat.

Kalau sewaktu-waktu pasukan lawan melakukan penyer-buan, pasukan kadipaten harus membentuk barisan Kalajengking Sakti.

Barisan dengan gaya inilah yang paling tepat untuk melakukan penjagaan kadipaten dan menghadapi musuh yang besar jumlahnya.

Barisan bergaya Kalajengking Sakti ini dibagi menjadi lima.

Dua barisan kepala di depan merupakan sepasang sapit kala-jengking yang menghadapi musuh terbe-sar dari depan, dari kanan kiri datang-nya, menyerang ke arah lambung pasukan besar lawan yang datang menyerbu.

Dua barisan lain yang lebih kecil menjaga lambung di kanan kiri merupakan deretan kaki kalajengking, dua pasukan ini men-cegah penyerbuan gelap dari jurusan kanan kiri dan mereka ini terdiri daripa-da barisan panah.

Ke lima adalah barisan terbesar yang berada di belakang, meru-pakan sengat kalajengking.

Barusan inilah sebetulnya yang menjadi barisan inti, barisan penyerang yang dipimpin sendiri oleh Adipati Tejolaksono dan isterinya.

Barisan ini tugasnya melakukan penye-rangan tiba-tiba kepada pasukan penyer-bu, dan cepat mundur lagi jika barisan sepasang sapit sudah kuat kembali, untuk menyusun tenaga dan secara tiba-tiba menyerang lagi.

Karena gerakannya cepat tak terduga dan di dalam pasukan ini terletak inti penyerangan yang amat kuat, maka dapat diharapkan fihak pe-nyerbu akan dapat dihancurkan.

Semua telah siap di kadipaten.

Penja-gaan dilakukan secara bergilir dan tepat, agar semua anggauta pasukan mendapat giliran mengaso dan tidur.

Bagian dapur umum juga sudah sibuk, mempersiapkan ransum bagi para pasukan yang bertugas berat.

3uga bagian perlengkapan senjata selalu sibuk, mempersiapkan senjata-sen-jata cadangan, mengasah dan menambah jumlah anak panah darurat.

Pendeknya, Kadipaten Selopenangkep telah siap sedia dengan semangat tempur yang tinggi.

Akan tetapi, malam itu fihak musuh tidak ada yang melakukan serangan, bah-kan tidak melakukan gerakan sama sekali.

Dari atas menara kadipaten yang juga dipergunakan sebagai pusat penjagaan, Adipati Tejolaksono melakukan penyeli-dikan.

Hanya tampak obor dan barisan musuh yang padat, tidak bergerak namun mengambil posisi mengurung kadipaten.

Hatinya gelisah kalau teringat akan Pus-porini dan Roro Luhito.

Tidak ada kabar-nya sama sekali bibinya dan adik misan-nya itu.

Juga tidak ada seorangpun di antara pasukan pengawal bibinya datang melapor.

Menjelang pagi, ketika ayam jago mulai berkeruyuk, burung-burung mulai berkicau menyambut datangnya fajar, tampaklah pasukan musuh bergerak makin mendekati kadipaten.

Pasukan-pasukan kadipaten siap sedia dan kini di pintu gerbang bagian barat terdapat pasukan yang bersorak-sorak.

Agaknya pasukan di pintu gerbang barat inilah merupakan pasukan inti lawan, karena di situ tam-pak Cekel Wisangkoro, Sariwuni, bahkan kelihatan pula Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro yang mengepalai barisan masing-masing.

Pasukan Ni Dewi Nilama-nik sendiri daripada wanita-wanita cantik dan muda, yang berbaris rapi dengan pakaian indah, dibagi menjadi tiga ke-lompok, kelompok pertama adalah pasu-kan wanita bersenjata gendewa dan anak panah, kelompok ke dua adalah pasukan wanita bertombak, dan ke tiga pasukan wanita berpedang.

Juga barisan yang dipimpin Ki Kolohangkoro amat menye-ramkan, terdiri daripada laki-laki tinggi besar seperti raksasa, ada pasukan tom-bak, ada pasukan penggada dan kesemua-nya kelihatan kuat-kuat menyeramkan.

Yang mengerikan adalah pasukan raksasa gundul yang seperti boneka hidup.

Mere-ka ini dipimpin oleh Cekel Wisangkoro.

Raksasa-raksasa gundul yang seperti bo-neka atau mayat hidup ini tidak bersen-jata, akan tetapi mereka ini kelihatan lebih mengerikan.

Dan bercampur dengan bermacam pasukan ini tampaklah para petani, rakyat wilayah Selopenangkep yang kena terbujuk atau terpikat sehing-ga mereka ini ikut menyerbu kadipaten mereka sendiri!

Mereka ini terdiri dari-pada orang-orang yang memang pada dasarnya tidak memiliki kesetiaan, yang bodoh, yang kena terbujuk karena penga-ruh wanita-wanita penyembah Durga yang genit-genit, yang kena pikat oleh harta benda, atau yang terbujuk melalui pelajaran kebatinan dan Agama Shiwa.

Akan tetapi, para perajurit Selopenangkep tidak memperhatikan keadaan pasukan musuh, bahkan tidak gentar me-lihat mereka.

Yang membuat mereka terbelalak adalah ketika fihak musuh mengeluarkan dua buah gala bambu yang panjang dan di ujung gala bambu ini tampak dua buah kepala.

Yang sebuah adalah kepala Mundingyudo, pemimpin pasukan Selopenangkep!

Adapun yang ke dua adalah kepala Roro Luhito!.

"Aduh, kanjeng bibi. !"

Ayu Can-dra yang memeriksa bersama suaminya dari atas menara, tiba-tiba mengeluh dan terhuyung roboh, akhirnya pingsan di dalam pelukan suaminya.

Adipati Tejolaksono sambil memeluk isterinya yang pingsan, memandang ke bawah, keluar pintu gerbang dan ke arah kepala bibinya dan pembantunya.

Mata-nya menyinarkan api kemarahan, dadanya serasa hendak meledak, giginya berkerot, tangan kanannya mengepal tinju.

Jelas bahwa bibinya terbunuh, gagal merampas kembali Pusporini yang entah berada di mana.

Terbunuhnya bibinya itu berarti terbunuhnya dua losin pengawal yang membantunya.

Dan Mundingyudo juga terbunuh, hal ini berarti bahwa usahanya minta bantuan ke Panjalu gagal pula.

Tidak ada jalan lain, ia harus melawan mati-matian!.

Cepat ia menyadarkan isterinya, lalu menghiburnya.

"Nimas, Kanjeng Bibi te-was sebagai seorang pahlawan. Namanya akan dipuja sepanjang masa sebagai se-orang perajurit yang membela Selope-nangkep sampai mengorbankan nyawa. Tidak perlu kiranya disedihkan lagi, lebih penting kita siap-siap menggempur musuh untuk membalaskan kematian Kanjeng Bibi Roro Luhito dan yayi dewi Puspo-rini!"

Bangkit semangat Ayu Candra men-dengar ucapan suaminya ini. Dengan muka beringas ia melompat bangun, me-raba gagang kerisnya.

"Mari kita hajar mereka, Kakangmas!"

Pagi hari itu dimulailah perang cam-puh yang hebat.

Melihat betapa kadipa-ten dijaga kuat, barisan musuh yang kini dipimpin langsung oleh Ni Dewi Nilamanik menantang dan mengatur barisan di luar kadipaten.

Barisan yang merupakan penggabungan macam-macam pasukan itu, terdiri dari lima ratus orang lebih, ham-pir dua kali jumlah seluruh perajurit Selopenangkep.

Perang tanding ini terjadi amat seru, berlangsung dari pagi sampai petang.

Namun ternyata, siasat barisan Selopenangkep dengan gelar Kalajengking Sakti ini benar-benar ampuh.

Apalagi karena bagian intinya, yaitu bagian se-ngat kalajengking , penyerang utama barisan itu, dipimpin sendiri oleh sang adipati bersama isterinya.

Barisan Selo-penangkep mengamuk dan banjir darah terjadi di medan yuda.

Sang Adipati Tejolaksono dan bersama Ayu Candra mengamuk seperti banteng-banteng terluka, dan hanya setelah para pimpinan pasukan musuh yang terdiri dari Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, Cekel Wi-sangkoro, Sariwuni dan dibantu oleh dua orang Gagak, maju menyambut, barulah Adipati Tejolaksono dan isterinya terde-sak hebat.

Namun gerak barisan Kalajengking Sakti tidak membiarkan barisan "sengat"

Ini terdesak.

Pasukan-pasukan yang merupakan sapit membantu dari kanan kiri dan pasukan inti itu mundur lagi untuk menyusun tenaga baru.

Setelah hari menjadi petang, perang tanding dihentikan, barisan musuh mundur dan pasukan kadipaten juga kembali me-masuki kadipaten.

Kedua fihak, bagaikan dua ekor harimau bertanding dan kini menjilat-jilati luka-luka di tubuh masing-masing, kini menghitung-hitung sisa pasu-kan.

Hebat memang akibat perang sehari itu.

Di fihak Selopenangkep kehilangan lima puluh orang lebih perajurit yang tewas dan terluka berat, belum terhitung yang luka-luka ringan.

Tiga orang kepala pasukan tewas pula.

Akan tetapi di fihak musuh, kerugian yang diderita ternyata lebih besar lagi.

Lebih dari seratus orang perajurit tewas, tidak terhitung yang terluka, dan Ki Kolohangkoro terpaksa harus beristirahat sedikitnya tiga hari karena dalam perang tanding tadi, ketika ia ikut mengeroyok Adipati Tejolaksono dan beradu lengan yang dipenuhi getaran hawa sakti, ia kalah kuat dan hawa sakti yang dilancarkan lewat pukulannya mem-balik dan melukai isi dadanya sendiri sehingga ia harus beristirahat untuk me-mulihkan tenaga.

Sungguhpun melihat jumlah korban, dalam pertandingan itu boleh dikatakan fihak Selopenangkep mendapat kemenang-an, namun kenyataannya tidak demikian.

Jumlah pasukan Selopenangkep lebih ke-cil, dan dengan jatuhnya korban-korban itu, kini keadaan mereka menjadi makin payah dan lemah.

Apalagi, kadipaten sudah dikurung sehingga mereka tidak dapat mengirim permintaan bantuan ke Panjalu.

Kalau mereka terus dikurung, tanpa diperangipun mereka akhirnya akan kalah sendiri karena kehabisan ransum.

Agaknya siasat ini pula dijalankan oleh Cekel Wisangkoro yang menjadi penasehat dalam barisan itu, seorang yang banyak mengerti akan siasat perang karena Cekel Wisangkoro ini dahulunya bekas senopati Kerajaan Cola.

Cekel Wisangkoro tidak hanya melakukan pe-ngurungan yang amat ketat dengan menambah jumlah pasukan, bahkan setiap malam ia menyuruh barisan panah untuk menghujankan anak panah ke arah kadi-paten, anak panah yang disertai api se-hingga setiap malam, Kadipaten Selope-nangkep sibuk memadamkan kebakaran dan hanya dapat membalas dengan anak panah ke arah yang mengawur karena fihak musuh selalu berpindah tempat di tengah malam gelap itu!

Siasat yang dipergunakan musuh itu benar-benar melemahkan keadaan para perajurit Selopenangkep.

Setelah pengu-rungan dilakukan selama sepekan, keada-an mereka benar-benar dalam bahaya karena beras telah habis tinggal sehari lagi!

Menyelundupkan dari luar tidak mungkin karena penjagaan amat ketat dan untuk menyerbu mati-matian keluar, berarti mengosongkan kadipaten.

Malam itu, sebelum musuh melakukan penyerang-an dengan anak panah berapi seperti biasa, Tejolaksono memanggil semua pembantunya, para perwira dan kepala pasukan.

Ketika ditanya pendapat mereka,seorang panglima tua mewakili kawan-kawannya berkata dengan suara penuh kegagahan.

"Gusti adipati, hamba sekalian ber-sedia mempertahankan Selopenangkep sampai titik darah terakhir!"

Para perwira menyambut pernyataan ini dengan suara bulat, tak seorang pun di antara mereka yang gentar mengha-dapi kematian dalam mempertahankan Selopenangkep.

Adipati Tejolaksono ter-haru sekali, akan tetapi suaranya sung-guh-sungguh dan tegas ketika ia berkata.

"Tidak benar pendapat kalian ini, para Paman dan Kakang senopati. Kita harus mencari siasat untuk mengosongkan kadi-paten dan menyelamatkan diri."

"Meninggalkan kadipaten, membiarkan kadipaten jatuh ke tangan musuh? Maaf, Gusti adipati! Akan tetapi sungguh-sung-guh hamba tidak dapat menerima pen-dapat ini. Musuh baru boleh menduduki kadipaten, akan tetapi hanya melalui mayat hamba!"

Bantah panglima tua yang sudah puluhan tahun menjadi hulubalang di Kadipaten Selopenangkep.

Pernyataan yang gagah ini kembali disetujui semua kawannya.

Adipati Tejolaksono yang duduk di dekat isterinya, mengangguk-angguk dan berkata kembali .

"Aku dapat menghargai kesetiaan kalian, dan jangan mengira bahwa aku sendiri kurang mencinta Kadi-paten Selopenangkep. Aku terlahir di tempat ini, dan sudah menjadi kewajiban-ku untuk mempertahankan Selopenangkep. Akan tetapi, hendaknya andika sekalian mengerti bahwa gerakan musuh ini bukan-lah sekedar untuk memusuhi Selopenang-kep. Sama sekali bukan, Selopenangkep hanya merupakan awalan yang kecil saja. Gerakan mereka merupakan ancaman untuk seluruh Nuswantara, dan tujuan mereka adalah menundukkan Panjalu dan Jenggala. Kalau sekali ini kita kalah, bukan berarti kita kalah perang. Sama sekali tidak, Paman dan Kakang senopati. Kekalahan kita sekarang ini dapat kita tebus kelak dalam pertempuran di lain kesempatan, bukan kalah perang melain-kan hanya kalah dalam suatu pertempur-an karena kalah banyak jumlah perajurit kita. Kita harus mencari siasat dan jalan untuk keluar dari sini dalam keadaan se-lamat."

"Maaf, Gusti adipati. Sungguhpun benar apa yang Paduka katakan, akan tetapi hamba tetap berpendapat bahwa amatlah tidak layak bagi seorang perajurit untuk tinggalkan gelanggang perang, melarikan diri seperti orang-orang pena-kut dan pengecut! Hamba tidak takut mati di tangan musuh, Gusti. Hamba tidak akan membiarkan musuh menduduki Selopenangkep sebelum hamba mati!"

Demikian kata panglima tua yang amat setia.

Kawan-kawannya mengangguk mem-benarkan.

Marahlah Adipati Tejolaksono.

Dengan pandang mata tajam ia menatap wajah para pembantunya, seorang demi seorang.

Demikian tajam berpengaruh pandang mata Adipati Tejolaksono se-hingga mereka itu menundukkan muka tidak berani menentang pandang "Andika sekalian terlalu mabuk ke-gagahan sehingga lupa akan tugas teru-tama dan terpenting seorang perajurit.

Apakah tugas pertama seorang perajurit?

Patuh dan taat akan perintah atasan!

Dan sekarang, andika sekalian sudah hendak melanggar tugas pertama ini!

Apakah andika semua sudah tidak meng-akui lagi aku sebagai atas kalian?"

Suara yang marah dan berwibawa ini tidak ada yang membantah.

Semua per-wira hanya menundukkan muka dan biar-pun mereka masih merasa penasaran, namun teguran ini membuat mereka me-rasa malu sekali.

Adipati Tejolaksono menghela napas panjang, lalu berkata.

"Paman dan Kakang senopati semua. Jangan sekali-kali mengira bahwa aku Tejolaksono takut menghadapi maut dalam perang melawan musuh. Sama sekali tidak, seujung rambutpun tidak! Dan jangan mengira aku mengajak andika semua menyelamatkan diri karena takut kepada musuh, sama sekali tidak! Aku mengambil keputusan ini setelah kuwawas dengan matang, setelah kupertimbangkan semasak-masak-nya. Hanyalah orang bodoh yang berlaku nekad dan membunuh diri tanpa ada manfaatnya. Kita terkepung, jumlah musuh jauh terlalu banyak sehingga kalau kita berkeras melawan, kita akan mem-buang nyawa secara sia-sia belaka. Kita tidak boleh buta akan kenyataan, dan dapat mengetrapkan keberanian kita pada saat yang tepat. Kalau kita berkeras mempertahankan Selopenangkep, akhirnya kita akan tewas semua dan apakah andi-ka kira bahwa kalau kita tewas Selope-nangkep tidak akan diduduki musuh? Sia-sia belaka kita nekat tanpa perhitungan. Sebaliknya, kalau kita dapat menyela-matkan diri membebaskan diri daripada kepungan, benar bahwa Selopenangkep akan diduduki musuh. Akan tetapi kita masih hidup dan tentu saja kita tidak akan tinggal diam. Kita akan menyatukan diri dengan pasukan Panjalu dan kembali ke sini. Nah, saat itulah kita boleh mem-pertaruhkan nyawa dalam perang yang seimbang. Selain itu, jangan andika seka-lian mengira akan mudah saja membe-baskan diri daripada kepungan musuh ini. Sama sekali tidak! Kita harus menerobos dan membuka jalan darah, bertanding mati-matian, mungkin sekali banyak diantara kita akan tewas, akan tetapi se-tidaknya, sebagian daripada kita akan selamat dan kelak akan membalaskan kematian kawan-kawan yang gugur. Kalau kita nekat mempertahankan di sini, kita semua mati. Siapa kelak yang akan mem-balaskan kematian kita?"

Ucapan sang adipati yang panjang lebar ini menyadarkan para senopati.

Mereka mengangguk-angguk dan menyata-kan setuju.

Maka diaturlah siasat.

Malam itu, kalau para musuh menyerang dengan anak panah, pasukan diharuskan membiar-kan saja dan tidak terlalu membuang tenaga memadamkan api, bahkan lebih baik menyimpan tenaga dan beristirahat sambil berlindung.

Kemudian, jauh lewat tengah malam, ketika diperkirakan lawan yang lelah itu mengaso, mereka akan menyerbu keluar melalui pintu gerbang sebelah utara.

Seperti pada malam-malam yang lalu, malam itu fihak musuh juga menghujan-kan panah api.

Para perajurit Selope-nangkep, sesuai dengan perintah sang adipati, hanya memadamkan api yang sekiranya berbahaya saja.

Mereka lebih sibuk bersiap untuk menyerbu keluar pagi nanti dan beristirahat mengumpulkan tenaga.

Keluarga para perajurit yang sudah dikumpulkan di kadipaten, berikut anak-anak mereka, telah pula bersiap-siap melarikan diri bersama-sama karena mereka maklum bahwa wanita yang ter-tinggal di situ pasti kelak akan menjadi korban kebiadaban para musuh.

Daripada tinggal dan terancam bahaya mengerikan, mereka ini lebih suka ikut melarikan diri dengan taruhan nyawa di samping suami dan ayah mereka.

Lewat tengah malam, serangan dari luar berhenti dan keadaan menjadi sunyi di luar kadipaten.

Di sana-sini, di dalam kadipaten, masih ada api menyala.

Adi-pati Tejolaksono melakukan persiapan bersama isterinya.

Suami isteri ini sama sekali tidak memperdulikan isi gedun kadipaten.

Hanya keris pusaka yang mereka bawa, di samping benda-benda per hiasan yang kecil-kecil saja.

Sedikitpun mereka tidak merasa berduka meninggalkan barang-barang mereka, hanya berduka karena kini mereka terpaksa harus meninggalkan tempat tinggal mereka berdua saja, sedangkan putera mereka masih belum mereka ketahui keadaannya, juga Pusporini yang diculik musuh.

Mere-ka berduka menyaksikan kematian Roro Luhito yang begitu mengerikan, tanpa mendapat kesempatan untuk mengurus dan menyempurnakan jenazah orang tua itu.

Tejolaksono menanti sampai jauh le-wat tengah malam.

Setelah mendekati fajar dan diperkirakan fihak musuh se-dang enak mengaso dan tidur, Tejolak-sono memberi isyarat kepada para pem-bantunya.

Bergeraklah sisa pasukan Selopenangkep yang berjumlah hanya kurang lebih dua ratus orang itu bersama kelu-arga mereka yang mereka lindungi dan dikumpulkan di tengah-tengah mereka.

Adipati Tejolaksono dan isterinya, Ayu Candra, keduanya mengenakan pakaian ringkas berwarna hitam, keris pusaka terselip di pinggang, berjalan berdamping-an paling depan, merupakan pelopor.

Sikap mereka yang gagah perkasa dan sedikitpun tidak membayangkan takut dan menambah semangat para perajurit dan di dalam hati setiap orang perajurit ber-sumpah untuk sehidup-semati dengan jun-jungan mereka ini.

"Kita menyerbu keluar dengan mati-matian! Ketahuilah kalian semua bahwa kalau kita tetap berlindung di kadipaten, akhirnya kita semua akan mati kelaparan atau mati terbakar. Daripada mati ko-nyol seperti itu, adalah lebih baik kalau kita menyerbu keluar dan berusaha me-larikan diri ke Panjalu untuk mencari bala bantuan. Ingat, yang tewas dalam penyerbuan ini adalah perajurit-perajurit gagah perkasa dan setia karena kematiannya adalah demi menyelamatkan seba-gian kawan-kawan dan mereka yang ber-hasil selamat melarikan diri sampai ke Panjalu adalah perajurit-perajurit perkasa pula yang kelak akan membalaskan ke-matian kawan-kawan yang tewas dalam usaha ini. Karena itu, marilah kita ber-tempur mati-matian, demi untuk kesela-matan kita sendiri, teman-teman dan keluarga kita, juga demi nama dan kehormatan kita sebagai perajurit-perajurit Selopenangkep yang lebih baik mati dari-pada menakluk kepada musuh!"

Demikian pesan terakhir Adipati Selopenangkep itu ketika hendak melakukan penyerbuan keluar.

Fajar yang sunyi dan dingin sekali itu, secara tiba-tiba dipecahkan suara gaduh dan hiruk-pikuk ketika para pe-nyerbu dari dalam ini ketahuan.

Terjadi-lah perang yang amat hebat, perang kacau-balau karena biarpun fihak pengurung kadipaten jumlahnya jauh lebih ba-nyak, akan tetapi mereka tadi tengah tidur nyenyak dan sama sekali tidak pernah menyangka bahwa sisa perajurit-perajurit Selopenangkep yang sudah diku-rung berhari-hari itu masih ada kemam-puan untuk menyerbu dan menerobos keluar.

Sepak terjang Tejolaksono dan Ayu Candra amat menggiriskan hati para perajurit musuh.

Bagaikan sepasang garu-da sakti saja, suami isteri yang menjadi pelopor terdepan ini mengamuk dan ba-rang siapa berani menghadang di depan mereka, tentu akan terjungkal roboh tak bernyawa lagi!

Jauh berbeda perasaan suami isteri ini ketika mereka mengamuk dan membabati musuh seperti dua orang penggembala berlumba membabat rumput saja.

Semangat Tejolaksono meluap-luap karena sang adipati ini ingin sekali me-lihat sebanyak mungkin perajuritnya da-pat berhasil lolos dari kepungan.

Adapun Ayu Candra mengamuk berdasarkan do-rongan rasa hati yang sakit, marah dan dendam karena musuh inilah yang menye-babkan pelbagai malapetaka menimpa keluarganya, bahkan yang memaksanya meninggalkan kadipaten tanpa menanti kembalinya puteranya, Bagus Seta, dan Pusporini yang hilang entah ke mana perginya.

Namun, betapapun jauh bedanya gelora yang bergejolak di hati masing-masing, akibatnya amat celaka bagi lawan yang berani menghadang di depan suami isteri perkasa ini.

Betapapun gagahnya para perajurit Selopenangkep yang mengamuk sambil bersorak menggegap-gempita, namun jumlah lawan terlalu banyak.

Di bawah pimpinan Tejolaksono dan Ayu Candra, akhirnya sebelum matahari terbit dan sebelum fihak musuh dapat menghimpun kekuatan dan pulih daripada kekacauan karena penyerbuan, tiba-tiba itu, sebagian kecil prajurit Selopenangkep dan keluarga-nya berhasil lolos dari kepungan dan melarikan diri ke arah Panjalu.

Dari dua ratus orang perajurit yang dapat lolos hanya lima puluh lebih orang saja, dan keluarga para perajurit hilang tiga per-empatnya!

Kematian di fihak mereka banyak, akan tetapi mereka akan berbesar hati kalau dapat menghitung jumlah korban di fihak musuh yang telah mereka roboh dan tewaskan, karena jumlah ini sedikitnya ada tiga kali lebih besar dari-pada jumlah korban mereka!

Tidak ada seorang pun di antara mereka yang tidak membunuh musuh sedikitnya dua orang, dan mereka yang gugur tentu telah me-robohkan lebih banyak musuh pula!.

Perjalanan melarikan diri ke Panjalu ini amatlah sengsara.

Karena khawatir akan pengejaran musuh yang berjumlah besar, mereka melakukan perjalanan siang malam sehingga dalam perjalanan yang dipaksa ini kembali jatuh beberapa orang korban, yaitu di antara mereka yang terluka dalam penyerbuan keluar itu.

Namun akhirnya, dalam keadaan lelah lahir batin, Adipati Tejolaksono"

Bersama isteri berhasil juga membawa rombongan pelarian ini sampai ke Kota Raja Panjalu di mana sang adipati de-ngan suara pilu melaporkan segala peris-tiwa yang terjadi kepada sang prabu di Panjalu.

Bukan main marahnya sang prabu di Panjalu ketika mendengar pelaporan Adi-pati Tejolaksono.

Sang prabu masih duduk terhenyak di atas singgasana, akan tetapi jari-jari tangan yang memegang lengan kursi itu menegang dan mengepal-ngepal-kan tinju.

Wajah yang tampan dan biasa-nya tenang dan agung itu kini menjadi merah, seolah-olah mengeluarkan cahaya berapi, giginya berkerot dan dadanya bergelombang, sepasang mata yang masih tajam berpengaruh itu memandang penuh kemarahan kepada musuh.

"Babo-babo...... si keparat! Tidak ada habisnya nafsu kemurkaan diumbar oleh Sriwijaya! Begitu buta matanya sehingga tidak melihat bahwa sesungguh-nya agama diciptakan untuk mendatang-kan perdamaian di atas bumi! Akan te-tapi dia malah berani memperalat agama untuk mengumbar nafsu, mempergunakan pendeta-pendeta palsu dan agama-agama sesat untuk mempengaruhi rakyat Panjalu dan untuk menyebar kematian dan keru-sakan! Hei, para senopati dan perwiraku! Jangan kehilangan akal. Kerahkan semua barisan, perhebat gemblengan dan latihan mulai saat ini juga. Aku mengangkat Tejolaksono menjadi senopati perang untuk memimpin barisan Panjalu dengan tugas membasmi sampai habis benalu-benalu yang datang dari Sriwijaya dan Cola!"

Perang......!

Perang 1 Perang Tidak ada seorang pun manusia kalau ditanya menjawab bahwa dia suka akan perang.

Tidak!

Semua orang tidak suka, bahkan membenci perang, karena siapa-kah orangnya yang akan dapat menikmati kesenangan dari perang?

Kematian me-rajalela, harta benda mawut, hidup tak terjamin keamanannya.

Semua orang membenci perang.

Akan tetapi kenyata-annya, semenjak dunia berkembang sam-pai sekarang, dunia penuh dengan perang.

Berhenti di sini, muncul di sana.

Tenang di sana, meletus di sini!

Terus-menerus begitu, | abad demi abad, sehingga manu-sia menjadi terbiasa karenanya, seolah-olah perang merupakan hiasan dunia, merupakan keharusan dalam penghidupan manusia.

Perang untuk memperebutkan kemenangan!

Ciri khas mahluk yang dise-but manusia!

Dan agaknya, selama ciri ini, yaitu ingin menang sendiri, tidak terhapus daripada watak umum manusia, sampai dunia kiamat sekalipun perang takkan pernah dapat terhapus dari pada lembaran sejarah.

Perang!

Bunuh-membunuh!

Perjuangan antara hidup dan mati.

Mengerikan!

Me-ngerikan?

Sesungguhnya tidak, karena bukankah pada hakekatnya hidup ini per-juangan antara hidup dan mati?

Bukankah hanya ada dua di dunia ini, yaitu hidup atau mati?

Yang mati untuk memberi kesempatan kepada yang hidup untuk menggantikan yang mati, apa bedanya?

Menang atau kalah, apa nilainya?

Panggung sandiwara itu tetap terbuka.

Layar itu berulang kali dikerek turun naik.

Berganti-ganti pelakunya, bertukar sri panggungnya, namun dimulai dan di-tutup dengan naik dan turunnya layar.

Yang lama turun yang baru naik.

Layar dikerek naik lagi untuk kemudian ditutup kembali.

Begitu dan begitu seterusnya.

Yang tinggal hanya kenangan!

Inipun juga akan terhapus.

Dunia sebagai panggung!

sandiwara lapuk dengan manusia-manusia-nya sebagai pelaku-pelaku yang selalu; haus akan hal baru.

Dipertontonkanlah bermacam gaya dan permainan, semuanyal palsu.

Drama dan lawak, terutama sekali awak dengan dagelan-dagelan bermacam gaya!

Perang mengamuk di perbatasan se-belah barat Kerajaan Panjalu.

Pasukan-pasukan Kerajaan Panjalu yang amat kuat dan terlatih, mengadakan operasi pembersihan di mana-mana.

Tidaklah ringan tugas ini.

Di mana-mana mereka mendapat sambutan, dan terjadilah pe-rang tanding.

Namun pasukan-pasukan Panjalu memang terlatih dan kuat, apa-lagi jumlahnya besar dan di mana-mana mendapat dukungan rakyat.

Terutama sekali induk barisan yang dipimpin sendiri oleh Tejolaksono.

Menggempur sana me-nerjang sini, dan di mana saja pasukan-pasukan liar musuh tentu dibikin kocar-kacir, kalau tidak dibasmi sama sekali.

Barisan Panjalu terus bergerak ke barat.

Banyak sudah pasukan lawan dapat dihancur kan , namun belum pernah idam-idaman hati Tejolaksono terpenuhi, yaitu menangkap atau membunuh tokoh-tokoh yang menggerakkan pasukan-pasukan asing itu.

Ingin sekali ia dapat berhadap-an dengan anak buah Biku Janapati dan Wasi Bagaspati.

Ingin sekali ia dapat menangkap Cekel Wisangkoro, Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohang koro, Sariwuni dan kawan-kawan mereka itu.

Namun, tak pernah ia berkesempatan bertanding yuda dengan mereka itu yang agaknya bergerak di baiik tabir hitam dan selalu melarikan diri kalau melihat pasukan mmereka terpukul mundur.

Akhirnya, setelah menghalau pengha-lang-penghalang yang berupa pasukan-pasukan liar musuh, barisan yang dipim-pin Tejolaksono berhasil menduduki kem-bali Selopenangkep.

Hati sang adipati remuk redam ketika ia menyaksikan keadaan Selopenangkep.

Rakyatnya mengalami penderitaan hebat.

Banyak wanita diperkosa, laki-laki dibunuh dan mereka semua diharuskan menjadi penyembah-penyembah Durga dan Bathara Kala.

Keadaan istana kadipaten sendiri rusak dan hancur.

Barang-barang berharga sudah lenyap, bahkan sebagian besar bangunannya ambruk dan terbakar.

Tejolaksono makin sakit hatinya.

Ia terus mengadakan pembersihan di sekitar daerah Selopenangkep, setiap hari memimpin pasukan keluar untuk melakukan pengejaran dan pembersihan.

Sesungguhnya tidak ringan tugas yang dipikul oleh Tejolaksono dan perajurit-perajurit Panjalu, karena fihak lawan kadang-kadang mengadakan perlawanan hebat sehingga menimbulkan banyak korban pula di fihak Panjalu.

Ketika pasukan Panjalu mengadakan penyerbuan di Gunung Mentasari yang menjadi markas besar Ni Dewi Nilamanik, pasukan Panjalu menghadapi perlawanan yang luar biasa beratnya dan hampir saja pasukan Panjalu mengalami bencana besar.

Pasukan ini dipimpin sendiri oleh Tejolaksono, berjumlah tiga ratus orang, karena menurut para penyelidik, puncak Mentasari itu hanya dihuni oleh wanita-wanita penyembah Durga yang jumlahnya tidak banyak.

Dan me-mang keterangan para penyelidik ini tidak salah.

Puncak Mentasari dijadikan tempat pusat atau markas besar untuk sementara waktu oleh Ni Dewi Nilamanik dan di sini ia mempunyai anak buah sebanyak sembilah puluh sembilan orang,kesemuanya wanita-wanita yang cantik-cantik dan genit-genit.

Tejolaksono yang selalu bersikap hati-hati dan waspada tidak mau memandang rendah fihak lawan.

Selain ini, juga ia ingin sekali dapat menangkap hidup atau mati pimpinan pasukan penyembah Bathari Durga itu, yakni Ni Dewi Nilamanik.

Maka ia lalu membagi pasukannya menjadi lima , dan mendaki Bukit Mentasari dari lima jurusan.

Dari empat jurusan masing-masing terdiri dari lima puluh orang perajurit sedangkan seratus orang perajurit lagi ia pimpin sendiri, mendaki dari jalan biasa, langsung ke puncak.

Inilah kesalahan Tejolaksono.

Ia terlalu hati-hati dan mengambil jalan mengurung, akan tetapi hal ini malah menjadi berbahaya karena berarti bahwa sebagian daripada perajurit-perajuritny terpisah daripadanya.

Inilah bahayanya Menghadapi perlawanan kasar yang menggunakan kekerasan, tentu saja para perajurit itu sudah terlatih dan tergembleng dan kiranya akan dapat menanggulangi musuh.

Akan tetapi Menghadapi sambutan halus yang didasari kesaktian ilmu hitam, tentu saja hanya Tejolaksono yang akan dapat menghadapinya.

Demikianlah, setelah memecah pasukannya menjadi lima, Tejolaksono sendiri lalu memimpin sisa pasukan mendaki Gunung Mentasari yang tidak berapa tinggi itu.

Ia sudah memperhitungkan bahwa penghuni gunung itu tentu tidak akan dapat meloloskan diri karena pasukanpasukannya mengepung dan memasuki dari lima jurusan.

Maka untuk mencapai puncak, ia sengaja membawa pasukannya lambat-lambat saja menuju sarang musuh.

setelah hampir tiba di puncak, Tejolaksono menyuruh pasukannya bersembunyi dan menanti tanda rahasia pasukan-pasukan lain yang mengepung puncak.

Tanda rahasia itu adalah bunyi emprit gantil yang diulang sampai tiga kali.

Puncak di mana berdiri bangunan-bangunan para penyembah Bathari Durga tampak sunyi-sunyi saja,sungguhpun asap yang mengepul menjadi tanda bahwa penghuninya masih ada dan mungkin asap itu adalah asap dari dapur mereka.

Telah lama Tejoiaksono menanti, namun belum juga ada tanda-tanda dari empat pasukannya yang lain.

Padahal menurutkan perhitungannya, pasti mereka telah tiba di puncak, atau sedikitnya satu di antara empat tentu sudah sampai.

Ia menjadi tidak sabar dan juga gelisah.

Tidak munculnya empat pasukan kecil itu boleh jadi berarti bahwa mereka mendapatkan bencana yang tak terduga-duga.

Oleh karena itu, Tejolaksono lalu memberi tanda dan dia sendiri lebih dulu menyerbu naik ke atas Puncak, menuju bangunan-bangunan yang sudah kelihatan dari tempat mereka bersembunyi tadi.

Pasukannya yang seratus orang banyaknya itupun bersorak dan menyerbu ke puncak.Sudah gatal-gatal tangan mereka dan kesal hari mereka karena sejak tadi bersembunyi dan berdiam diri saja.

Tiba-tiba dari dalam bangunan itu bermunculan banyak sekali wanita cantik dan sorak-sorai para perajurit Panjalu itu seketika terhenti.

Sebagian besar di antara mereka terhenyak di tempatnya seperti berubah menjadi arca dengan mata terbelalak memandang ke depan dan mulut ternganga, tidak tahu apa yang harus dilakukan!

Bermacam-macam perasaan tampak pada wajah para perajurit yang tadinya bersernangat penuh untuk bertanding ini.

Ada yang tersipu-sipu malu, ada yang terbelalak dan terpesona penuh gairah, ada yang mengeluarkan kutuk, dan ada pula yang menjadi pucat pasi mukanya.

Betapa mereka tidak akan tercengang ketika mendapat kenyataan bahwa musuh yang mereka serbu ini ketika muncul merupakan sekumpulan wanita muda cantik dan berpakaian tipis setengah telanjang, yang berlari-lari menyambut mereka dengan rambut panjang terurai lepas, pakaian sutera tipis berkibar setengah terbuka, mata bergerak genit dan mulut tersenyum-senyum memikat penuh daya rangsang.

Akan tetapi tiga perajurit terdepan yang bergerak maju dengan pandang mata penuh gairah terpikat dan hendak merangkul wanita-awanita itu, tiba-tiba roboh terguling oleh kilatan keris-keris yang berada di tangan wanita-wanita itu dan yang disembunyikan di balik pakaian yang berkibar-kibar Menyaksikan keadaan ini, Tejolaksono maklum bahwa fihak lawan mempergunakan pikatan berupa anggautaanggautanya yang muda dan cantik, diperkuat oleh pengaruh ilmu hitam yang melemahkan semangat para perajuritnya.

Maka ia lalu mengerahkan hawa sakti di dadanya dan mengeluarkan pekik Dirodo Meto yang mempu nyai pengaruh dan wibawa besar dan hebat sehingga sejenak buyarlah kekuatan ilmu hitam guna-guna yang dibawa oleh wanita-wanita setengah telanjang itu dan terkejutlah semua perajurit Panjalu seperti mendengar halilintar di dekat telinga.

Karena terkejut, mereka sadar dan sejenak mereka terbebas daripada cengkeraman hawa ilmu hitam yang mempesonakan hati mereka tadi.

"Semua perajurit perkasa maju! Mereka adalah iblis-iblis betina yang harus dihancurkan!"

Teriakan Tejolaksono menggema di seluruh puncak bukit itu dan kini semangat para perajurit terbangun kembali.

Tubuh-tubuh setengah telanjang dan wajah cantik tersenyum-senyum tidak lagi tampak cantik menarik dan lemah gemulai, melainkan tampak seperti wajah Bathari Durga di kala marah,mengerikan dan menjijikkan.

Seketika mereka serentak maju dan menggerakkan senjata dan terjadilah perang tanding karena kini para penyembah Durga, anak buah Ni Dewi Nilamanik itu maklum bahwa pengaruh ilmu guna-gunanyang disebar guru mereka sudah kehilangan kekuatannya dan mereka tidak lagi dapat mengandalkan ilmu itu, melainkan harus mengandalkan senjata dan ketangkasan.

Namun, dalam hal ketangkasan bertanding mempergunakan tenaga dan senjata, para anak buah Ni Dewi Nilamanik ini tidak dapat mengimbangi kegagahan para perajurit Panjalu sehingga mulailah terdengar jerit-jerit kesakitan disusul robohnya wanita-wanita itu.

Adapun Tejolaksono sendiri setelah dengan hati lega menyaksikan kepulihan semangat para perajuritnya , lalu meloncat ke depan dan langsung ia menyerbu Ni Dewi Nilamanik yang baru muncul keluar dari pintu.

Ia tidak mengenal wanita ini, namun melihat pakaiannya yang indah, kecantikannya yang mengagumkan dan mengerikan karena mata batinnya yang waspada dapat melihat betapa kecantikan itu tidak wajar dan di balik kecantikan yang menonjol oleh daya ilmu hitam ini bersembunyi kekejaman yang amat luar biasa, dapatlah ia menduga dengan cepat siapa adanya wanita ini.

Apalagi melihat betapa wanita itu memegang sebuah pengebut lalat yang terbuat daripada benang semacam serat berwarna, merah dan berbentuk seperti buntut kuda.

Tanpa banyak cakap lagi ia lalu menerjang maju, menggunakan sepasang goloknya yang sengaja dibuat oleh adipati ini dan menjadi senjatanya yang ampuh selama ia melakukan tunas pembersihan menghalau musuh dari daerah Panjalu.

Akan tetapi, Ni Dewi Nilamanik pada saat itu menjadi terkejut dan marah ketika memperhatikan anak buahnya.

Tadi ia telah mempergunakan ilmu hitamnya,meniupkan aji guna-guna kepada para muridnya sehingga setiap orang pria yang bertemu tentu akan luluh semangatnya dan tergila-gila.

Bagaimana sekarang muridmuridnya itu dihajar sampai banyak yang roboh tewas oleh para perajurit Panjalu?

Kini melihat berkelebatnya tubuh Tejolaksono yang didahului dengan gulungan dua sinar golok berkilauan, Ni Dewi Nilamanik mengeluarkan teriakan nyaring dan tubuhnya sudah melesat ke samping.

Dalam mengelak ini, Ni Dewi Nilamanik membarengi dengan gerakan pengebutnya.

Sinar merah menyambar dari samping ke arah Tejolaksono, mengeluarkan bunyi "Tarrrr !!"

Keras sekali.

Tejolaksono yang sudah menduga akan kesaktian wanita ini, tidak berani memandang rendah dan cepat pergelangan tangannya bergerak memutar, membuat golok kanannya membentuk lingkaran menangkis sinar merah itu.

Akan tetapi sinar tak kunjung datang dan ketika ia memandang, ternyata wanita itu sudah melesat jauh ke depan dan tangan kiri wanita itu dengan gerakan kuat sekali, melemparlemparkan sesuatu ke atas.

Seketika tempat itu menjadi gelap oleh debu putih yang disebar oleh Ni Dewi Nilamanik itu dan dapat dibayangkan betapa marah dan kaget hati Tejolaksono ketika melihat para perajuritnya yang terdepan menjadi terhuyung-huyung dan terengah-engah sehingga mereka ini dengan mudah dapat dirobohkan oleh anak buah Ni Dewi Nilamanik yang tertawa terkekeh-kekeh karena girang hati menyaksikan anak buahnya membunuhi perajurit-perajurit Panjalu.

"Bedebah, iblis betina!"

Adipati Tejolaksono berseru marah sekali dan tubuhnya mencelat ke atas, menyambar ke arah Ni Dewi Nilamanik.

Sebuah teriakan keras menggema keluar dari mulutnya dan dua gulungan sinar goloknya menyilaukan mata, menyambar dengan gerakan menyilang seperti dua ekor ular naga menukik turun dari angkasa.

"Heeeiiiiittt. !!"

Ni Dewi Nilamanik terkejut sekali sehingga tanpa disadarinya ia mengeluarkan jerit ini dan tubuhnya dilempar ke belakang, terjengkang dan rebah terus bergulingan di atas tanah untuk menyelamatkan diri daripada dua gulungan sinar maut yang keluar dari sepasang golok di tangan Tejolaksono.

Kemudian dari bawah, sinar merah kebutannya meluncur ke arah perut Tejolaksono dengan kecepatan kilat sehingga pendekar sakti ini terpaksa menghentikan serangannya dan menangkis dengan golok disilang, dengan maksud menggunting putus ujung kebutan.

Akan tetapi ternyata jurus-jurus yang dimainkan wanita itu penuh tipu muslihat karena kali ini kembali luncuran senjatanya hanya merupakan gerak tipu belaka dan sudah melejit ke bawah.

Dengan tubuh masih di atas tanah, mendekam, wanita itu kini menyambarkan kebutannya hendak menyerimpung kedua kaki Tejolaksono yang kagum bukan main.

Dari keadaan terdesak, ternyata dalam satu dua jurus saja wanita itu sudah membalikkan keadaan, menjadi balas mendesak.

Terpaksa Tejolaksono meloncat ke atas dan terjadilah perang tanding yang amat seru dan hebat antara Ni Dewi Nilamanik dan Tejolaksono.

Sementara itu karena kini didesak Tejolaksono, Ni Dewi Nilamanik tidak dapat lagi mengacaukan para perajurit dan kembali para perajurit Panjalu menerjang para wanita anak buah Ni Dewi Nilamanik sehingga terdengar pekik susulmenyusul yang keluar dari mulut para wanita yang roboh oleh senjata para perajurit.

Melihat keadaan tidak menguntungkan, tiba-tiba Ni Dewi Nilamanik mengeluarkan teriakan menyayat hati, tangan kanan digerakkan dan...........

tiba-tiba semua bulu kebutan yang berwarna merah itu terlepas dari gagangnya dan bagaikan ratusan ekor ular merah yang kecil menyambar ke depan, sebagian ke arah Tejolaksono dan sebagian lagi ke arah perajurit-perajurit yang berdekatan.

Tejolaksono memutar sepasang goloknya dengan jurus pertahanan dari ilmu Golok Lebah Putih sehingga sepasang goloknya mengeluarkan suara mendengung seperti sekumpulan lebah keluar dari sarang.

Runtuhlah semua bulu kebutan yang tadi menyambar bagaikan anak-anak panah itu, akan tetapi terdengar jerit-jerit mengerikan disusul robohnya tujuh orang perajurit yang tubuhnya tertembus oleh bulu-bulu kebutan yang beracun!.

Tejolaksono yang terkejut memandang anak buahnya,menjadi marah, cepat membalikkan tubuh dan siap menerjang lawan.

Akan tetapi ternyata Ni Dewi Nilamanik telah lenyap.

Wanita itu mempergunakan kesempatan tadi untuk menyelinap di antara anak buahnya yang mulai terdesak.

Tejolaksono mengejar, mengamuk dan merobohkan banyak musuh, namun tidak kelihatan pula bayangan Ni Dewi Nilamanik.

Kacau-balaulah kini pertahanan anak buah Ni Dewi Nilamanik setelah ditinggalkan pemimpinnya.

Amukan para perajurit Panjalu makin menghebat dan akhirnya mereka lari cerai-berai, dikejar oleh perajurit-perajurit Panjalu.

Di antara sembilan puluh sembilan orang perajurit wanita anak buah Ni Dewi Nilamanik, hanya ada sebelas orang saja yang lolos dan entah lari ke mana, mungkin melalui jalan rahasia bersama pemimpin mereka.

Yang lain telah tewas sehingga mayat mereka berserakan memenuhi tempat itu, malang melintang bersama mayat-mayat para perajurit Panjalu yang banyak jumlahnya pula.

Kemudian ternyata oleh Tejolaksono bahwa empat rombongan pasukannya yang mendaki dari lain jurusan untuk mengepung markas musuh itu, ternyata telah berantakan karena disambut oleh pasukan musuh yang mempergunakan ilmu hitam.

Mereka itu terpikat dan mabuk di bawah pengaruh guna-guna yang amat kuat sehingga di antara dua ratus orang dalam empat rombongan itu, hampir semua tewas, hanya ada dua puluh orang lebih saja yang berhasil menyelamatkan diri.

Dengan demikian,ditambah dengan jumlah korban dari pasukannya yangmenyerbu tadi, jumlah korban semua dari perajurit Panjalu ada dua ratus orang.

Mereka berhasil membasmi pasukan penyembah Bathari Durga dan menewaskan hampir semua anggautanya, namun dengan pengorbanan yang jauh lebih besar!.

Pembersihan dilakukan terus-menerus oleh Tejolaksono.

Kadang-kadang pasukannya terancam bahaya besar.

Ketika pasukannya bertemu dengan barisan musuh di Kulon Progo (sebelah barat Sungai Progo), juga terjadi perang yang amat hebat.

Pasukan musuh itu jumlahnya seimbang dengan pasukannya, namun pasukan musuh diperkuat oleh tiga puluh orang raksasa gundul, anak buah Cekel Wisangkoro.

Pasukan raksasa gundul ini-lah yang amat hebat, membuat para perajuritnya kewalahan, karena mereka ini rata-rata memiliki kekebalan dan tenaga yang dahsyat!

Gerakan mereka seperti robot, dan memang keadaan pasukan ini seperti bukan manusia-manusia lagi.

Semangat mereka dikendalikan oleh Cekel Wisangkoro dengan pengaruh ilmu hitam.

Tejolaksono maklum bahwa kalau ia tidak cepat turun tangan, tentu para perajuritnya akan celaka.

Maka ia lalu mainkan sepasang goloknya dan tubuhnya sampai lenyap terbungkus dua gulungan sinar putih yang mengeluarkan suara mbrengengeng seperti ratusan ekor lebah mengamuk.

Gulungan sinar putih ini seperti tangan maut sendiri,mengamuk di antara orang-orang gundul tinggi besar yang dengan nekat dan tidak mengenal takut mengeroyoknya.

Lima orang gundul mengeroyok Tejolaksono.

Begitu pendekar sakti ini merobohkan mereka dengan kepala remuk dan tubuh terpelanting ke dalam Sungai Progo, lima orang lagi maju menggantikan dan demikianlah, terus menerus Tejolaksono mengamuk, sementara itu pasukannya kocar-kacir karena tidak sanggup menghadapi fihak lawan yang dibantu reksasa-raksasa gundul yang amat tangguh itu.

Setelah dengan tubuh lelah sekali Tejolaksono akhirnya berhasil menewaskan tiga puluh orang raksasa gundul itu, barulah perajurit perajuritnya yang sudah banyak kehilangan kawan itu bangkit semangatnya dan terjadi perang yang amat dahsyat yang berakhir dengan kemenangan fihak Panjalu.

Akan tetapi juga dalam perang tanding di pantai Progo ini, Tejolaksono kehilangan banyak perajurit dan dengan kecewa ia tidak dapat menangkap atau menewaskan Cekel Wisangkoro yang berhasil menye lamatkan diri bersama sisa pasukannya.

-oo0dw0oo-Berbulan-bulan lamanya Tejolaksono memimpin pasukan Panjalu menghalau musuh yang ternyata telah menanam kuku di sekitar Selopenangkep, di sebelah barat dan utara.

Berkat ketekunannya dan kegagahan para perajurit Panjalu, musuh dapat dihalau dan banyak pula yang dapat dihancurkan dan dibasmi.

Setelah setahun ia memerangi musuh, pada suatu hari ia mendapat keterangan dari penyelidiknya bahwa di sekitar Gunung Merak terlihat gerakan musuh yang terdiri dari para penyembah Bathara Kala, dipimpin oleh Ki Kolohangkoro.

Tejolaksono mengertak gigi karena di antara para musuhnya, Ki Kolohangkoro ini termasuk tokoh besar yang dicari-carinya.

Ia mendengar bahwa Ki Kolohangkoro ini adalah adik tunggal guru dengan Wiku Kalawisesa yang telah membunuh banyak ponggawa Panjalu dan Jenggala dan yang kemudian terbunuh di tangan Endang Patibroto.

Ia lalu mengumpulkan sejumlah besar pasukan, kemudian memimpin sendiri pasukan Panjalu itu, berangkat ke Gunung Merak untuk membasmi musuh yang ia kira merupakan kekuatan terakhir dari para pengacau.

Tiga hari kemudian, menjelang senja, sampailah pasukan Panjalu ini di kaki Gunung Merak.

Gunung Merak adalah sebuah gunung yang kecil di antara Pegunungan Kidul, dan karena di situ terdapat banyak burung meraknya maka dinamakan Gunung Merak.

Tejolaksono memerintahkan pasukannya untuk beristirahat di kaki gunung, menyusun tenaga untuk penyerbuan yang akan dilakukan esok hari.

Malam itu amat gelap dan pasukannya belum mengenal daerah ini, maka amatlah berbahaya untuk menyerbu malam-malam ke atas, apalagi kalau diingat bahwa pasukan lawan yang sekarang dihadapi adalah pasukan penyembah Bathara Kala yang ia duga tentu lebih kuat daripada yang sudah-sudah.

Dugaan Tejolaksono ini memang benar, akan tetapi ia hanya dapat menduga setengahnya saja.

Kalau saja Tejolaksono tahu akan keadaan seluruhnya di puncak Gunung Merak itu, tentu ia akan membawa mundur pasukannya dan baru akan berani menyerbu kalau disertai orang-orang sakti dan pasukan yang amat kuat.

Dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa pada malam hari itu,puncak Gunung Merak dijadikan tempat bertemuan dan perundingan oleh tokoh-tokoh besar yang menjadi utusan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Cola!

Lengkap hadir semua tokoh besar musuh Panjalu, di antaranya Ni Dewi Nilamanik, Cekel Wisangkoro, Kolohangkoro, Sariwuni dan yang lain.

Bahkan dua orang tokoh puncaknya yang menjadi puncak pimpinan dan wakil kedua kerajaan, hadir pula.

Siapakah kedua orang itu?

Bukan lain adalah dua orang kakek sakti mandraguna, yaitu Sang Biku Janapati yang mewakili Kerajaan Sriwijaya dan Sang Wasi Bagaspati yang mewakili Kerajaan Cola!.

"Sadhu-sadhu-sadhu! Sayang sekali bahwa andika masih belum sadar sepenuhnya bahwa kekerasan itu tiada guna,hancur oleh kelemasan, Wasi Bagaspati! Penggunaan kesaktian akan sia-sia belaka di sini adalah gudangnya orang-yang sakti mandraguna, keturunan orang-orang Mataram yang tak mungkin dapat ditundukkan dengan aji kedigdayaan."

Demikian antara lain Biku Janapati memperingatkan temannya, Sang Wiku Bagaspati.

Dua orang pendeta sakti ini memikul tugas yang sama, hanya bedanya kalau Biku Janapati mewakili Kerajaan Sriwijaya, adalah Wasi Bagaspati mewakili Kerajaan Cola.

Terdapat perbedaan besar dalam sepak terjang mereka menunaikan tugas.

Biku Janapati yang bergerak dari utara, menyebar Agama Buddha dengan cara halus dan sama sekali tidak mempergunakan kekerasan, sesuai pula dengan sifat agama itu sendiri yang mendasarkan kasih sayang dan menghapus kebencian dalam tindakannya.

Sebaliknya,Wasi Bagaspati yang bergerak dari barat, selain dibantu oleh anak buahnya sendiri para penyembah dan pemuja Sang Hyang Shiwa, juga dibantu oleh para penyembah Bathara Kala dan Bathari Durga, seringkali menggunakan kekerasan, bahkan kini secara berterang anak buahnya mengadakan perang terhadap pasukan Panjalu.

Muka Wasi Bagaspati yang sudah merah itu kini menjadi makin merah, kepalanya digerakkan ketika ia tertawa dan rambutnya yang panjang putih itu berkibar-kibar, tampak makin putih seperti benang-benang perak ketika menyentuh pundak bajunya yang berwarna merah darah.

"Heh-heh-heh, Sang Biku Janapati! Kekalahan-kekalahan kecil yang diderita oleh anak buahku menghadapi pasukan Panjalu, bukan apa-apa! Semua adalah gara-gara si adipati cilik Tejolaksono, bocah yang masih ingusan itu! Lihat sajalah, dia dan pasukannya sudah tiba,.. besok aku sendiri akan menghancurkannya, kemudian aku sendiri akan memimpin pasukan menyerbu Panjalu!"

"Wahai........... saudaraku Wasi Bagaspati! "

Kata Biku Janapati, sepasang matanya terbelalak memandang penuh kekagetan.

"Sebelum berangkat dari Sriwijaya, kita sudah bersepakat tidak akan menggunakan kekerasan, setidaknya,andika tidak akan turun tangan sendiri. Apakah andika akan melanggar janji kita itu?"

Sejenak sepasang mata Wasi Bagaspati memandang tajam dan dua orang sakti itu saling bertentang pandang.

Mereka itu dahulu pernah menjadi lawan, yaitu ketika Kerajaan Cola berperang melawan Kerajaan Sriwijaya.

Kini setelah kedua kerajaan itu bersabahat, mereka pun menjadi sahabat, namun watak dan sifat kedua orang ini memang jauh berbeda.

Biku Janapati suka akan kehalusan dan keramahan, sebaliknya Wasi Bagaspati suka akan kekerasan, suka berkelahi, dan berdarah panas.

Namun akhirnya Wasi Bagaspati menghela napas pan jang dan lebIh dahulu menundukkan mukanya.

IA MAKLUM bahwa tiada untungnya untuk berselisih faham dengan sahabatnya ini dalam keadaan menghadapi lawan kuat seperti pasukan-pasukan Panjalu.

"Baiklah,, Biku Janapati. Andika tidak perlu khawatir. Aku tidak akan turun tangan sendiri. Pula, betapa rendahnya kalau aku berlawan dengan seorang bocah macam Tejolaksono. Tidak, aku dan andika tidak akan turun tangan, hanya akan menjadi penonton. Biarlah para pembantuku yang akan menghadapi Tejolaksono."

"Sadhu-sadhu-sadhu begitu barulah lega hatiku! Dan perlu sekali lagi kuperingat kan, saudaraku Wasi Bagaspati bahwa tadi andika telah berjanji bahwa selanjutnya kita akan bekerja sama mempergunakan cara halus demi berhasilnya tugas kita. Dan jangan lupa janji kita dengan Ki Tunggaljiwa, orang-orang tua macam kita tidak perlu turun tangan, biarlah kita serahkan kepada yang muda-muda."

"Ha-ha-ha-ha! Jangan khawatir, sang biku! Murid-muridku sudah banyak, dan manakah murid yang kau ajukan?"

Pendeta Itu menggeleng-gelengkan kepalanya yang gundul.

"Buah yang saya imbu (sekap) masih belum dalu (matang)."

"Ha-ha-ha-ha! Kuharap saja tidak mengecewakan kelak."

"Mudah-mudahan begitu, sang wasi."

Demikianlah antara lain percakapan antara dua orang pendeta sakti mandraguna itu di sebuah pondok di puncak Gunung Merak.

Kemudian Sang Wasi Bagaspati memanggil dan mengumpulkan anak buahnya dan berungdinglah kakek ini dengan Cekel Wisangkoro muridnya, Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, Sariwuni dan beberapa orang pimpinan pasukan yang menjadi anak buahnya.

Setelah mengatur siasat untuk menghadapi pasukan Panjalu, Sang Wasi Bagaspati lalu memasuki kamar untuk beristirahat, ditemani oleh si cantik genit Sariwuni.

Pada keesokan harinya, kokok ayam jantan merupakan pertanda bagi pasukan Panjalu, seperti yang telah direncanakan Tejolaksono, dan mulailah pasukan ini mendaki dituntun sinar matahari yang mulai semburat merah.

Karena mereka melakukan penyerbuan dari sisi timur bukit, maka sepagi itu tempat yang mereka lalui sudah kebagian sinar matahari.

Ketika pasukan-pasukan Panjalu itu sudah tiba di sebuah lereng yang rata dan luas, barulah mereka mendapat sambutan musuh yang turun berbondong-bondong dari puncak.

Mereka ini adalah pasukan penyembah Bathara Kala, rata-rata orangnya tinggi besar dan senjata mereka adalah golok-golok besar dan penggada.

Mereka itu menyerbu turun, menyambut pasukan Panjalu sambil bersorak-sorak, melompat-lompat dan bergulingan, dengan gerak-gerak kasar seperti barisan raksasa.

"Serbuuuu!!!"

Tejolaksono meneriakkan aba-aba ini untuk menambah semangat pasukannya yang begitu kedua fihak bertemu, terjadilah perang tanding yang dahsyat sekali.

Fihak barisan Kala ini adalah anak buah Ki Kolohangkoro, rata-rata memiliki tenaga besar dan ilmu tata kelahi yang ganas dan kuat.

Akan tetapi pasukan yang dipimpin Tejolaksono pada saat itu pun merupakan pasukan pilihan dari Panjalu, maka pertandingan itu merupakan pertandingan yang amat seru dan seimbang.

Tejolaksono sendiri menyerbu paling depan dan seperti biasa, sepak terjang orang sakti ini hebat bukan main.

Sepasang goloknya menderu-deru, mengeluarkan bunyi berdesingan dan "mbrengengeng"

Seperti suara sekumpulan lebah mengamuk.

Celakalah fihak musuh yang berdekatan, karena sepasang goloknya itu tak dapat dihindari lagi, dielak terlalu cepat, ditangkis terlalu kuat sehingga senjata penangkis patah disusul robohnya lawan!

Akan tetapi tiba-tiba Tejolaksono mengeluarkan seruan marah.

Ia melihat banyak anak buahnya roboh secara tidak wajar.

Ada uap hitam melayang-layang dan bergerak-gerak, keluar dari fihak musuh dan uap hitam yang seperti hidup ini setiap kali menyentuh perajuritnya, perajurit itu tentu roboh pingsan dan tentu saja dengan mudah menjadi korban senjata lawan.

Tejolaksono lalu meloncat dan sambil meneriakkan pekik Dirodo Meto ia lalu menyerbu ke arah uap hitam.

Golok kanannya ia pegang dengan tangan kiri, sedangkan kini tangan kanannya ia hantamkan ke arah asap hitam itu dengan aji pukulan.

Bojro Dahono.

Berkali-kali ia memukul dan asap hitam itu terpukul buyar sampai akhirnya lenyap.

Menyaksikan pemimpin mereka yang berhasil melenyapkan asap hitam yang mengerikan, para perajurit Panjalu bersorak dan timbul kembali semangat mereka.

Perang menjadi makin dahsyat dan sengit.

"Tar-tar-tar. !!"

Tejolaksono yang pada saat itu berhasil menancapkan sepasang goloknya memasuki perut gendut dua orang musuh, terkejut dan cepat ia merendahkan diri terus menyelinap melalui bawah tubuh dua orang musuh yang roboh.

Ketika la meloncat bangun, ia melihat betapa hantaman kebutan merah itu yang tadinya menyambar kepalanya, kini mengenai kepala dua orang lawan yang telah ia tusuk.

Dua buah kepala itu pecah berantakan dan dua batang tubuh roboh tanpa kepala lagi.

la bergidik dan memandang kepada Ni Dewi Nilamanik dengan marah.

"Iblis betina! Kiranya engkau berada di sini pula. Bersiaplah engkau untuk memasuki neraka jahanam!"

Bentak Tejolaksono.

Ni Dewi Nilamanik yang tadinya terkejut dan kecewa menyaksikan betapa serangannya yang dahsyat tadi dapat dihindarkan lawan, bahkan mengenai kepala dua orang perajurit anak buah sendiri, kini tersenyum lebar menindas kemarahannya.

Wanita yang berusia empat puluh tahun ini masih amat cantik, apa-lagi kini ia tersenyum, kecantikannya dapat memabukkan hati pria.

Sepasang matanya menyambar penuh kemesraan, seolah-olah ia hendak memikat hati Tejolaksono.

Pakaiannya yang mewah itu tipis membayangkan bentuk tubuhnya yang masih padat dan ramping.

Sesungguhnya, kalau ia teringat akan penyerbuan Tejolaksono belum lama ini di Gunung Mentasari, membunuh hampir semua anak, buahnya dan membasmi sarangnya, hatinya merasa amat mendendam dan sakit hati kepada Tejolaksono.

Akan tetapi pada saat itu, Ni Dewi Nilamanik sama sekali tidak memperlihatkan kebenciannya, malah kini ia berkata dengan suara merdu.

"Tejolaksono, harus kuakui bahwa engkau memang seorang pria yang hebat! Sungguh aku merasa sayang sekali bahwa di antara kita sampai terdapat permusuhan. Tejolaksono, agaknya masih belum terlambat kalau engkau suka menerima uluran tanganku. Untuk apakah mengobarkan permusuhan dan perang, bunuh-membunuh yang tidak ada gunanya? Bukarkkah lebih baik saling mencinta daripada saling membenci? Tejolaksono, kaupandanglah aku. Ni Dewi Nilamanik kalau perlu dapat pula menjadi Dewi Cinta. Masih kurang cantikkah aku? Pandanglah balk-balk."

Kata-kata yang keluar dari mulut Ni Dewi Nilamanik yang berbibir merah itu bukanlah sembarang kata-kata melainkan kata-kata yang diterapkan sebagai bagian daripada ilmu guna-guna sehingga terdengar merayu-rayu dan amat merdu.

Tejolaksono yang memandang wanita itu, merasakan getaran hebat yang menerjangnya, yang menggetarkan jantung dan yang amat kuat seperti hendak menguasai hati dan pikirannya, yang menciptakan pandangan indah sehingga wanita itu tampak cantik melebihi dewi kahyangan sendiri, yang membuat suara itu terdengar merdu, pendeknya getaran itu menciptakan segala yang serba indah, menyenangkan hati, menghilang}can semua rasa benci dan marah, membangkitkan nafsu berahi!

Tentu saja sebagai ksatria gemblengan yang sakti mandraguna, dan yang tahu akan seperti ini, Tejolaksono dapat menguasai hatinya dalam beberapa detik saja.

Akan tetapi diam-diam ia merasa terkejut dan harus ia akui bahwa kekuatan yang terkandung dalam ilmu semacam aji guna asmara yang dikerahkan wanita ini benar-benar amat mujijat dan kuat.

Jarang kiranya ada pria, betapapun gagahnya, yang akan dapat menahan diri daripada pengaruh, guna-guna yang hebat ini.

"Ni Dewi Nilamanik, tidak perlu lagi engkau mengeluarkan aji-ajimu yang kotor dan rendah! Betapapun cantiknya engkau, tetap saja tampak olehku betapa kotor dan hitam hatimu. Kecantikanmu hanyalah bungkus indah yang menyembunyikan sesuatu yang busuk dan kotor!"

Senyum manis di bibir Ni Dewi Nilamanik perlahan-lahan berubah menjadi seringai yang kejam. Mata yang tadi bersinar-sinar mesra dan redup kini menyala-nyala seperti mengeluarkan api.

"Tar-tar!!"

Pengebut merah yang baru karena pengebut yang lama telah rusak ketika ia melawan Tejolaksono di Mentasari, kini bergerak di atas kepala Ni Dewi Nilamanik, mendahului kata-katanya yang terdengar ketus.

"Tejolaksono! Engkau sudah bosan hidup! Apa engkau kira akan dapat lolos dari tanganku?"

"Tidak perlu bersombong, iblis betina. Engkaulah yang kini takkan lolos daripada tanganku untuk menebus dosa-dosamu dengan kematian!"

"Bagus! Hayo kita mencari tempat yang lapang agar dapat menentukan siapa di antara kita yang akan mampusI"

Sambil berkata demikian, Ni Dewi Nilamanik berkelebat dan tubuhnya dengan gerakan yang amat ringan seperti terbang saja sudah berlari atau setengah melayang mendaki bagian yang lebih tinggi dekat puncak, menjauhi tempat yang telah menjadi medan perang itu.

Tejolaksono memang ingin sekali merobohkan musuh ini karena ia maklum bahwa robohnya Ni Dewi, Nilamanik akan mempengaruhi kemenangan pasukannya.

Maka ia tidak menjadi gentar dan cepat ia pun menggunakan Aji Bayu Sakti untuk mengejar lawannya.

Setelah tiba di bawah puncak, tiba-tiba Ni Dewi Nilamanik membalikkan tubuhnya dan tangan kirinya bergerak melepaskan jarum-jarum beracun yang berwarna merah pula.

Inilah senjata rahasia yang halus sekali, terbuat dat'ipada besi yang besarnya hanya serambut panjangnya setengah jari.

Namun justru karena kecilnya inilah maka jarum-jarum, ini amat berbahaya, jika dipakai menyerang, disambitkan dengan dorongan hawa sakti tidak tampak namun apabila mengenai tubuh lawan akan menembus masuk kulit daging sehingga sukar untuk dikeluarkan lagi.

Lebih mengerikan lagi karena jarum-jarum ini sebelumnya telah direndam racun yang dibuat daripada air liur ular bandotan!

Tejolaksono yang sudah waspada dapat menduga akan datangnya serangan ini, apalagi pandang matanya yang tajam dapat melihat berkelebatnya benda-benda halus yang menyambar ke arahnya itu, juga pendengaran telinganya yang terlatih dapat menangkap suara berdesir, halus dari jarum-jarum.

Maka ia cepat memutar goloknya depan tubuh tanpa menghentikan pengejarannya.

Terdengar suara berdencing dan jarum-jarum itu terpukul runtuh ke kanan kiri.

Dengan marah dan penuh semangat Tejolaksono meloncat ke depan, mengejar lawannya yang kini sudah berdiri menantinya dengan senyum mengejek dan kebutan merah di tangan.

Akan tetapi pada saat itu, muncul tiga orang yang memiliki gerakan gesit dan mereka ini segera berdiri di empat penjuru sehingga Tejolaksono terkurung di tengah-tengah.

Ketika adipati yang sakti mandraguna ini memandang , ia segera mengenal mereka dan kemarahannya tersinar dari pandang matanya yang tajam.

Mereka itu bukan lain adalah Cekel Wisangkoro, Ki Kolohangkoro, dan Sariwuni si wanita cantik genit yang sudah menggodanya.

"Hemm, bagus sekali! Memang kalian inilah yang menjadi biang keladi dan sudah lama kucari-cari!"

Kata Tejolaksono sambil mengangkat dada dan siap dengan sepasang goloknya.

Ia tahu bahwa empat orang itu bukanlah lawan lemah, dan maklum pula bahwa ia tentu akan dikeroyok, maka ia bersikap tenang dan tidak berani memandang rendah, hanya menanti empat lawannya bergerak.

"Heh-heh-heh-heh, Tejolaksono, kau sombong benar!"

Kata Cekel Wisangkoro, kakek berusia lima puluh tahun yang rambutnya terurai penuh uban ini.

Karena merasa yakin bahwa kali ini dia dan teman-temannya akan berhasil membunuh Tejolaksono, maka kakek ini tertawa-tawa gembira.

Seperti biasa rambut kakek yang penuh uban ini terurai sampai ke pinggang.

Jubahnya kuning panjang dan kakinya telanjang.

Mukanya yang merah itu berkulit halus seperti muka kanak-kanak, dan tubuhnya yang kurus tinggi masih kelihatan kuat.

Tongkat hitam berbentuk ular di tangannya mengkilat seperti hidup, dilintangkan depan dada.

Dia ini adalah murid yang tekun dari Wasi Bagaspati, maka tentu saja memiliki ilmu yang tinggi.

"Hemm, Cekel Wisangkoro! Biasa saja seorang musuh menganggap lawannya sombong! Persoalannya bukan tentang sikap, melainkan karena sepak terjang kalian yang menerjang dan melanggar batas wilayah Panjalu, yang menyebar kekacauan sehingga kalian ini bagi kami lebih jahat daripada penyakit menular maka harus dibasmi sampai ke akar-akarnya!"

"Babo-babo! Sumbarnya seperti engkau seorang satu-satunya jantan di dunia ini, keparat!"

Bentak Ki Kolohangkoro dengan muka merah saking marahnya.

Raksasa ini adalah adik seperguruan Sang Wiku Kalawisesa si penyembah Bathara Kala yang tewas di tangan Endang Patibroto.

Hanya bedanya, kalau Wiku Kalawisesa lebih memperdalam ilmu gaib dan ilmu hitam, adik seperguruannya yang bertubuh raksasa ini memperdalam ilmu-ilmu pertempuran sehingga dalam hal kedigdayaan, Ki Kolohangkoro ini malah melampaui kakak seperguruannya itu.

Namun hal ini bukan berarti dia tidak tahu akan ilmu hitam.

Sebaliknya, karena akhir-akhir ini malah melatih ilmu gaib yang berdasarkan ilmu hitam dan cara menghimpun tenaga dalam ilmu ini amat mengerikan, yaitu dengan minum darah dan makan daging seorang anak kecil hidup-hidup!

Pakaian raksasa berusia kurang lebih lima puluh tahun inipun mewah sehingga ia tampak gagah dan menakutkan, sepasang anting-anting di telinga terbuat daripada emas, dan senjatanya berbentuk sebuah nenggala dengan gaganq di tengah dihias emas permata.

"Terserah bagaimana wawasan kalian!"

Kata pula Tejolaksono dengan sikap tenang.

"Tejolaksono, engkau pernah menghinaku, kini tiba saatnya engkau merasakan pembalasanku, keparat!"

Teriak Sariwuni yang juga sudah mencabut pedangnya.

"Sariwuni, engkau bukan perempuan baik-baik, dan sekali ini aku berusaha melemparmu ke neraka jahanam agar engkau dapat menebus dosa-dosamu,"

Jawab Tejolaksono.

"Waduh-waduh, sumbarmu seperti hendak memecahkan Gunung Semeru! Kematian sudah berada di ujung hidung, masih banyak berlagak. Kaurasakan ke-ampuhan tongkat ularku."

Cekel Wisangkoro berseru dan tubuhnya bergerak ke depan, cepat sekali gerakan tubuhnya ini, tahu-tahu ia telah menerjang Tejolaksono dengan tongkatnya yang hitam berbentuk ular menusuk ke arah leher.

"Wuuutttt............. , trangggg !!"

Tangkas sekali gerakan Tejolaksono.

Biarpun kelihatannya Cekel Wisangkora yang lebih dahulu menyerangnya dari depan, namun perhatian Tejolaksono tidak terpikat dan masih saja pendekar ini memperhatikan keadaan semua orang lawannya sehingga ia dapat mengetahui bahwa biarpun Cekel Wisangkoro lebih dahulu bergerak, namun senjata nenggala di tangan Ki Kolohangkoro lebih dahulu menyambar lambungnya dari sebelah kanan.

Oleh karena itu, sambaran senjata nenggala inilah yang leblh dulu ia elakkan sehingga senjata itu menyambar dahsyat di pinggir tubuhnya, sementara itu tusukan tongkat Cekel Wisangkoro ia tangkis dengan golok tangan kirinya.

Bunga api muncrat-muncrat menyilaukan mata dan cekel itu meringis ketika merasa betapa telapak tangannya yang memegang tongkat seperti dibakar rasanya.

"Tar-tar-tar!"

Ni Dewi Nilamanik tidak mau ketinggalan.

Kebutan lalat yang berambut merah itu sudah berbunyi nyaring dan menyambar-nyambar seperti halilintar di atas kepala Tejolaksono.

Namun sang adipati yang sakti mandraguna ini sudah menggerakkan golok di tangan kiri, dlputarnya sedemikian rupa, mempergunakan pergelangan tangan sehingga golok ini berubah bentuknya menjadi segulungan sinar yang melingkar-lingkar di atas kepalanya dan saking cepat gerakannya sampai kelihatan seperti sebuah payung yang melindungi tubuh sang adipati dari atas.

Adapun golok yang sebuah lagi, di tangan kanan, bergerak seperti seekor naga sakti mengamuk.

Pedang Sariwuni yang menyambar diterjangnya sampai menyeleweng ke kiri membawa serta tubuh Sariwuni yang terhuyung-huyung, kemudian berputar cepat dan bertubi-tubi menyerang Cekel Wisangkoro dan Ki Kolohangkoro yang menjadi kaget sekali dan cepat menangkis dengan senjata masing-masing.

Memang hebat sekali sepak terjang sang Adipati Tejolaksono.

Dikeroyok em.pat orang lawan yang kesemuanya memiliki ilmu kepandaian tinggi, masih sempat untuk membalas, hal ini benar-benar membuktikan bahwa tingkatnya memang sudah amat tinggi.

Namun sekali ini, empat orang yang mengeroyoknya adalah orang-orang yang memang sakti mandraguna dan memiliki kepandaian tinggi.

Cekel Wisangkoro adalah murid yang paling tangguh dari Sang Wasi Bagaspati, seorang peranakan bangsa Hindu yang pernah lama tinggal di hindu dan sebelum menjadi murid Sang Wasi Bagaspati telah memiliki kesaktian yang hebat.

Cekel Wisangkoro inilah yang berhasil membentuk pasukan terdiri dari orang-orang yang bergerak seperti robot itu, orang-orang yang telah kehilangan semangat dan kemauan karena semangat dan kemauannya telah dirampas oleh Cekel Wisangkoro, diganti dengan pengaruh daripada kemauannya sendiri, membuat pasukan ini melakukan apa saja yang diperintahkan Cekel Wisangkoro, tidak mengenal takut, tidak merasa nyeri, kebal dan tidak kenal bahaya.

Pasukan macam ini tentu saja hebat luar biasa dan banyak perajurit Panjalu yang tewas ketika menghadapi pasukan manusia robot ini.

Selain sakti dan mahir akan ilmu hitam, juga ilmu silat Cekel Wisangkoro aneh dan dahsyat, apalagi.

kalau ia mainkan tongkat hitamnya yang merupakan senjata yang benar-benar ampuh.

Tongkatnya bukan hanya berbentuk ular, melainkan memang sungguh-sungguh terbuat daripada seekor ular kobra hitam yang hanya terdapat di sebuah lereng dari Pegunungan Himalaya.

Ular kobra hitam ini sudah kering dan kerasnya melebihi kayu, seperti baja saja.

Darah dan racun ular yang hebat ini sudah meresap ke seluruh bagian tubuh ketika dikeringkan sehingga tongkat Itu menjadi tongkat beracun, baik bagian ekornya maupun bagian kepalanya!

Ni Dewi Nilamanik, biarpun kelihatannya hanya seorang wanita yang halus gemulai dan cantik jelita, namun dalam hal kekejian dan kedigdayaan, agaknya tidak berada di sebelah bawah Cekel Wisangkoro!

Bahkan ada kelebihannya, yaitu dalam aji meringankan tubuh yang membuat wanita itu dapat bergerak cepat laksana kilat.

Sebagai orang yang mengaku titisan Sang Batharl Durga dan menjadI kekasih utama Sang Wasi Bagaspati, tentu saja wanita ini hebat kepandaiannya, dan menerima pula beberapa macam aji kesaktian dari Sang Wasi Bagaspati.

Dalam hal ilmu hitam, malah lebih keji daripada Cekel Wisangkoro.

Senjata kebutan lalat merah itu kalau sudah dimainkan sebagai senjata, mengerikan sekali.

Rambut-rambutnya yang merah dan berbentuk buntut kuda itu tak boleh dipandang rendah karena setiap bulunya saja dapat menusuk jalan darah menembus kulit daging membawa racun yang mematikan.

Apalagi kalau sampai kena dihantam!

Kepala bisa remuk, dada bisa pecah!

Ki Kolohangkoro mungkin masih kalah seusap oleh Ni Dewi Nilamanik dalam hal ilmu silat, akan tetapi dalam hal kekejaman ia menang banyak!

Kalau Ni Dewi Nilamanik dapat membunuh orang dengan mata meram, Ki Kolohangkoro ini dapat membunuh dengan mata melek dan tertawa-tawa.

Sudah beberapa kali, setiap tahun, ia menggigit leher untuk menghisap darah seorang anak kecil, kemudian mengganyang dagingnya, sambil terkekeh-kekeh melihat anak itu menjerit-jerit ketakutan dan kesakitan!

Senjatanya merupakan senjata yang hanya dipergunakan oleh tokoh pewayangan Sang Prabu Baladewa, yaitu sebuah senjata nenggala atau tombak pendek, yang meruncing kedua ujungnya, dipegang di tengah-tengah.

Nenggala ini bukanlah sembarang senjata, baru beratnya saja tak terangkat oleh empat orang laki-laki dewasa biasa.

Demikian pula seperti ketiga kawannya, Sariwuni juga bukan sembarang orang.

Wanita yang cantik genit dan cabul ini tadinya adalah seorang pembantu Ni Dewi Nilamanik, seorang penyembah Bathari Durga, akan tetapi karena ia pandai merayu dan mengambil hati, maka ia "terpakai"

Oleh Sang Wasi Bagaspati, malah menjadi kekasihnya dan menghiburnya sehingga kepada Sariwuni ini diturunkan banyak aji kesaktian, di antaranya adalah Aji Wisakenaka yang amat keji.

Aji Wisakenaka ini adalah sebuah aji yang didorong oleh hawa sakti di dalam tubuh, yang kalau dikerahkan membuat kuku-kuku tangan wanita cantik ini berubah menjadi kuku-kuku beracun, lebih jahat daripada taring ular bandotan.

Sekali gores saja cukup untuk menyeret nyawa lawan ke jurang maut.

Selain ini, juga permainan pedangnya amat cepat dan kuat.

Sang Adipati Tejolaksono memang harus diakui bahwa pada waktu itu ia merupakan seorang perkasa yang sukar dicari tandingnya.

Sebagai murid Sang Sakti Narotama, bahkan pernah pula menerima petunjuk dan gemblengan Sang Prabu Airlangga, dia memiliki aji-aji kesaktian yang amat kuat.

Namun, kini menghadapi pengeroyokan empat orang itu, ia benar-benar telah bertemu tanding yang mengharuskan ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua aji kesaktiannya.

Pertandingan hebat itu sudah berlangsung hampir dua jam dan keadaan masih seru, bahkan makin lama makin seru dan sengit.

Aji-aji dikeluarkan silih berganti, serang-menyerang, kadang-kadang hanya seujung rambut selisihnya daripada sambaran tangan maut.

Kedua golok di tangan Tejolaksono sudah rompal-rompal, akan tetapi keadaan lawan juga tampak bekas tangan dan kehebatan sang adipati.

Pedang Sariwuni tinggal sepotong, kebutan Ni Dewi Nilamanik terbabat ujungnya, juga nenggala di tangan Ki Kolohangkoro kelihatan rompal-rompal ujungnya.

Hanya tongkat ular Cekel Wisangkjoro yang masih utuh, karena memang tubuh ular kering ini memiliki daya tahan yang hebat sekali.

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai yang hebat.

Tejolaksono memandang ke bawah dan alangkah kagetnya kêtika ia menyaksikan betapa pasukannya terdesak hebat, banyak yang roboh dan kini sisanya sedang digencet dari segala jurusan oleh pasukan lawan yang menggunakan ilmu hitam.

Karena kaget dan cemas inilah maka Tejolaksono kurang kewaspadaannya.

Pada saat itu, senjata-senjata lawannya datang menyambar dan biarpun hanya beberapa detik saja tadi perhatiannya terbagi ke arah pasukannya yang tergencet dan terjepit, namun yang beberapa detik ini dipergunakan baik-baik oleh empat lat wannya.

Tejolaksono maklum akan datangnya bahaya maut yang mengancam dirinya.

Ia cepat mengerahkan hawa sakti dari pusar, mendorongnya keluar melalui kerongkongannya menjadi pekik Dirodo Meto yang dahsyat itu.

Biarpun empat orang lawannya merupakan orang-orang sakti yang tidak akan roboh hanya oleh getaran pekik sakti ini, namun setidaknya membuat mereka tergetar dan telah mengurangi kecepatan dan kekuatan serangan mereka yang serentak dan berbahaya itu.

Sambil mengeluarkan pekik sakti ini, Tejolaksono mainkan goloknya, yang kiri menyambut bacokan pedang Sariwuni ke arah leher, yang kanan menangkis tusukan nenggala Ki Kolohangkoro ke arah lambungnya dari sebelah kanan.

Dengan mengerahkan hawa sakti melalui kedua lengannya ia menggunakan tenaga "melekat"

Sehingga senjata kedua orang ini seakan-akan melekat pada sepasang goloknya, kemudian pada detik berikutnya ia miringkan tubuh, menarik pedang buntung Sariwuni yang melekat goloknya ke bawah menyambut tongkat ular Cekel Wisangkoro yang menusuk perutnya dan berusaha menarik nenggala Ki Kolohangkoro untuk menangkis kebutan Ni Dewi Nilamanik!

Hebat bukan main gerakan Tejolaksono ini, sekaligus menghadapi serangan empat orang lawan yang merupakan cengkeraman-cengkeraman maut.

Terdengar Sariwuni menjerit karena wanita ini tidak kuasa lagi mempertahankan pedangnya yang seolah-olah melekat pada golok lawan dan tidak mau Menurutkan kehendaknya lagi, tanpa dapat ia cegah telah tertarik dan menangkis tongkat ular Cekel Wisangkoro!

Terdengar suara keras dan Sariwuni yang menjerit itu terlempar ke belakang, tangannya menggembung seketika karena terkena ujung tongkat ular yang berbisa!

Pada saat tertangkis oleh pedang buntung itu, Cekel Wisangkoro sudah berusaha menarik tongkatnya kembali namun terlambat sehingga melukai teman sendiri dan iapun terhuyung ke belakang.

Detik berikutnya, tubuh Ki Kolohangkoro mencelat ke belakang.

Kiranya raksasa ini yang tadi juga kaget ketika nenggalanya melekat pada golok lawan, telah menggunakan seluruh tenaga untuk membetot senjatanya.

Terjadi adu tenaga ketika Tejolaksono menarik nenggala itu dengan kekuatan dalam, namun ternyata Ki Kolohangkoro jauh lebih kuat daripada Sariwuni dan Tejolaksono melihat betapa kebutan merah itu menyambar kepalanya.

Karena usahanya menangkis kebutan menggunakan nenggala tidak berhasil, terpaksa ia miringkan kepala dan membiarkan ujung kebutan menghantam pundaknya.

Ia mengerahkan tenaga, menyalurkan tenaga hantaman kebutan itu ke arah tangan kanan, menambah tenaga pada goloknya sehingga ketika mendorong, tubuh Ki Kolohangkoro mencelat ke belakang.

Secepat kilat Tejolak sono memutar tubuh, mengayun kakinya dan kini Ni Dewi Nilamanik yang menjerit dan tubuh wanita ini terlempa sampai lima tombak terkena tendanga Tejolaksono!

Wajah Tejolaksono pucat sekali.

Pundak kirinya terasa panas sekali, membuat lengan kiri seperti lumpuh dan ada rasa gatal-gatal.

Ia tahu bahwa hantaman ujung kebutan Ni Dewi Nilamanik telah membuat ia terluka dan keracunan.

Maka ia menjadi marah sekali.

Ia tahu bahwa kalau empat orang lawannya yang juga hanya terluka itu sempat mengeroyoknya tagi, tentu ia akan celaka.

Dia tidak takut mati.

Seorang perajurit yang berjuang di medan laga, sama sekali tidak gentar akan kematian.

Akan tetapi sebelum mati, id harus dapat menewaskan sebanyak mungkin lawan, dan demi keselamatan Panjalu, perlu sekali empat orang tokoh pimpinan musuh ini dibinasakan.

Sambil mengertak gigi, Tejolaksono menubruk maju dengan sepasang goloknya.

Yang terdekat adalah Ni Dewi Nilamanik, juga karena yang melukainya adalah wanita ini, maka orang pertama yang hendak ditewaskan adalah Ni Dewi Nilamanik inilah.

Ia mengayun golok, menubruk ke depan dan.............

Tejolaksono mengeluarkan seruan kaget karena ia sama sekali tidak dapat menggerakkan tubuhnya!

"Ha-ha-ha, memang benar-benar keras kepala si Tejolaksono!"

Terdengar suara halus penuh ejekan.

Tejolaksono menoleh ke kanan dan melihat bahwa yang mengeluarkan kata-kata ini adalah Wasi Bagaspati.

Akan tetapi ia merasa kaget, heran dan kagum karena kakek itu berada jauh di puncak sebelah kanan, amat jauh dari situ.

Namun suaranya terdengar seolah-olah kakek itu berada di dekatnya, dan ia tahu pula bahwa kakek sakti itulah yang menggunakan aji kesaktian yang gaib karena kakek itu meluruskan tangan kiri ke arahnya dan ia sama sekali tidak dapat bergerak maju!

"Ramanda wasi!

Perkenankanlah saya menewaskan keparat Tejolaksono ini!"

Terdengar Ki Kolohangkoro berkata, suaranya menggeledek.

"Lakukanlah, Kolohangkoro. Sebelum dia disempurnakan, memang akan sukarlah dicapai hasil dalam usaha kami,"

Kata Wasi Bagaspati.

Tejolaksono melihat betapa Ki Kolohangkoro tertawa bergelak dan menghampirinya dengan senjata nenggala tangan.

Ia berusaha untuk bergerak, namun usahanya sia-sia.

Ketika ia mengerahkan seluruh tenaga batin dan hawa sakti di tubuhnya, mencoba meronta, ia malah terjerembab, roboh terguling.

Seluruh tubuhnya seperti telah dikuasai dalam sebuah jaring halus yang tidak tampak, yang membuat ia tidak mampu bergerak.

Kini ia hanya dapat memandang Ki Kolohangkoro dengan mata terbelalak marah, sedikitpun tidak takut, menanti datangnya tusukan maut dengan senjata nenggala itu, sambil menduga-duga apakah hawa sakti yang ia kerahkan akan dapat menahan hantaman nenggala.

Ia maklum bahwa pengaruh kesaktian Wasi Bagaspati yang membuat ia tidak mampu bergerak ini dan tahu pula bahwa sekali ini ia tidak akan dapat lolos daripada bahaya maut yang mengancam dari tangan banyak lawan yang amat sakti, terutama dari tangan Wasi Bagaspati yang ia tahu jauh lebih sakti daripada dirinya sendiri.

Namun merupakan pantangan besar bagi seorang perkasa seperti dia untuk menyerah kalah, maka dalam saat terakhir itupun ia tidak memperlihatkan sedikitpun rasa takut dan menentang datangnya maut dengan sikap tetap gagah perkasa.

Dengan mata tidak berkedip, Tejolaksono yang sudah roboh itu memandang berkelebatnya senjata nenggala yang meluncur turun dad atas mengarah tubuhnya.

"Cuiiittt............. cringgg............. Aduhh !!"

Tejolaksono terbelalak.

Jelas tampak olehnya ada sinar putih menyambar turun dari sebelah kiri atas, sinar yang mengeluarkan suara bercuit nyaring, dan kemudian sinar ini menghantam nenggala yang sedang meluncur turun ke arah tubuhnya, membuat senjata itu terlempar dari tangan Ki Kolohangkoro, terlepas, dan raksasa itu sendiri terjengkang ke belakang, mengaduh-aduh memegangi tangannya.

Dan tampak oleh Tejolaksono betapa betapa di atas puncak sebelah kiri itu, cukup jauh dari situ, berdiri dua orang, seorang kakek tua berpakaian putih panjang, namun wajah kakek ini sama sekali tidak jelas karena mukanya seolah-olah tertutup sinar atau uap seperti embun bermandi cahaya matahari pagi.

Dan di samping kiri kakek ini berdiri seorang pemuda tanggung, berusia kurang lebih lima belas tahun, berpakaian sederhana dan menggigillah seluruh tubuh Tejolaksono ketika ia melihat wajah pemuda itu.

Biarpun sudah berpisah lima tahun, namun mana mungkin ia melupakan wajah yang siang malam selalu terbayang di hatinya ini?

"Bagus Seta.............!!"

Ia berseru penuh keheranan dan mencoba untuk bangkit berdiri, namun tidak berhasil karena pengaruh kesaktian Wasi Bagaspati masih menguasainya.

Melihat keadaan KI Kolohangkoro, teman-temannya menjadi heran dan juga penasaran dan marah.

Musuh besar mereka, Tejolaksono sudah tak berdaya, sudah roboh dan tinggal bunuh saja, bagaimana Ki Kolohangkoro sampai gagal?

Serentak Ni Dewi Nilamanik, -Cekel Wisangkoro, Sariwuni mencelat maju dan hendak membunuh musuh yang sudah tak berdaya, bahkan Ki Kolohangkoro yang merasa marah sudah bangkit lagi dan hendak mengulangi serangannya dengan tangan kosong.

Keempat orang itu maju seperti berlumba, hendak menjadi orang pertama yang menjatuhkan tangan maut.

Akan tetapi tiba-tiba keempatnya terpekik dan berdiri seperti arca, tak dapat bergerak sama sekali, seperti keadaan Tejolaksono sendiri!

Tejolaksono melihat hal ini semua, dapat menduga bahwa ini tentulah perbuatan kakek yang mukanya tertutup kabut di puncak itu, karena kakek itu mengangkat tangan kiri ke atas.

Keadaan sekeliling menjadi hening sekali, seolah-olah dunia berhenti bergerak.

Suara pertempuran yang tadinya amat hiruk-pikuk kini lenyap sama sekali.

Tejolaksono belum dapat bangkit, akan tetapi masih dapat menggerakkan leher menoleh.

Alangkah heran dan kagetnya ketika melihat para perajurit kedua fihak yang tadinya berperang mati-matian di sebelah bawah, di lereng yang rata, kini semua diam tak bergerak, seakan-akan telah berubah menjadi batu atau arca semua!

Peristiwa ini seperti mimpi saja bagi Tejolaksono.

Mimpikah dia?

Benar-benar Bagus Setakah yang berada di puncak itu?

Ataukah hanya dalam mimpi?

Atau barangkali ia benar-benar telah tewas di tangan musuh dan sekarang tidak lagi berada di atas dunia?

Akan tetapi suara-suara yang didengarnya kemudian menyatakan kepadanya bahwa dia bukanlah mimpi, bukan pula berada di alam baka.

"Sadhu-sadhu-sadhu "

Terdengar suara yang mengejutkan Tejolaksono, apalagi ketika tampak olehnya betapa kini di samping Wasi Bagaspati muncul seorang kakek lain, yang berkepala gundul, bertubuh gendut pendek, memegang tasbih dan tongkat, seorang kakek yang sudah pernah dilihatnya, yaitu Sang Biku Janapati yang entah bagaimana tahu-tahu telah muncul di atas puncak sebelah kanan itu!

Suaranya perlahan dan halus namun seolah-olah suara itu berada di dekat telinga Tejolaksono!

"Semoga Sang Triratna selalu melindungi kita, memberkahi yang benar dan menuntun yang sesat ke jalan kebenaran!

Siapakah gerangan andika, wahai saudara yang sakti1 mandraguna?

Adakah andika golongan dewa?

Kalau dewa, mengapa mencampuri urusan manusia?

Kalau manusia mengapa menggunakan kekuasaan seperti dewa?

Ataukah andika hendak mengandalkan aji kesaktian untuk menyombong dan menganggap bahwa di dunia ini tidak ada lagi lain manusia yang dapat menandingi andika?

Mengakulah andika, wahai saudara yang berada di puncak depan!"

Tejolaksono terbelalak memandang.

Jelas tampak wajah puteranya yang kini telah membayangkan kedewasaan, tampan dan gagah akan tetapi tampak keterangan dan keagungan, dengan sinar mata redup namun menyembunyikan sinar tajam, tubuhnya sedang, sedikitpun tidak membayangkan sesuatu perasaan pada wajah yang muda itu.

Di sampingnya, kakek aneh yang tidak tampak mukanya, masih saja diam tak bergerak, juga tidak mengeluarkan suara, seolah-olah tidak mendengar atau memperdulikan teguran dan pertanyaan Biku Janapati yang halus namun penuh teguran itu.

"Hemmm babo-babo! Heh, si tua bangka yang berada di puncak depan!"

Wasi Bagaspati berkata marah, suaranya nyaring sekali, terdengar menggema di seluruh Gunung Merak, tanda bahwa dalam kemarahannya pendeta ini telah mengerahkan tenaga dalam yang dahsyat.

"Biarpun kita sudah sama-sama tua bangka, akan tetapi tidak selayaknya andika menyombongkan kesaktian di depan kami! Apakah matamu buta telingamu tuli sehingga tidak mengenal, kami berdua dan berani berlancang tangan mencampuri urusan kami? Benarkah itu sikap seorang pendeta yang sudah bijaksana untuk membela satu fihak saja dan memilih kasih? Hayo mengaku andika sebelum disempurnakan oleh kedua tangan Wasi Bagaspati!"

Akan tetapi, kakek aneh itu tetap diam saja, sama sekali tidak bergerak, juga sama sekali tidak menjawab.

Tejolaksono kini secara tiba-tiba sekali dapat menggerakkan kaki tangannya, akan tetapi ada getaran sesuatu yang aneh, yang membuat semua api perang yang membakar semangatnya padam.

Ia lalu berjalan perlahan karena khawatir kalau-kalau membikin marah kakek itu, khawatir pula kalau puteranya itu hanya bayangan mimpi dan akan lenyap kalau ia bergerak cepat.

Ia berjalan perlahan mendaki puncak di sebelah kiri di mana puteranya dan kakek aneh itu berdiri seperti arca.

Juga para perajurit kedua fihak kini dapat bergerak kembali, akan tetapi seperti juga Tejolaksono, api perang yang mendorong mereka saling gempur tadi kini telah padam, mereka itu kini bengong memandang dan memperhatikan kakek aneh, hendak mendengar dan melihat sikapnya menghadapi ,dua orang kakek sakti dari Sriwijaya dan Cola itu.

Cekel Wisangkoro dan tiga orang temannya juga bangkit berdiri di belakang Wasi Bagaspati, hati mereka gentar dan dengan mata terbelalak memandang ke puncak depan.

"Inilah akibat daripada kekerasan yang andika lakukan, saudaraku Wasi Bagaspati,"

Sang Biku Janapati menegur temannya setelah menghela napas panjang, seolah-olah dalam suasana yang diam itu ia mendapat jawaban.

Kemudian ia menghadap ke arah puncak dan merangkap kedua tangan yang dibuka jarinya di depan dada sebagai penghormatan sambil berkata.

"Wahai sang pertapa yang sidik paningal dan bijaksana! Kalau saya menyatakan tidak mengenal andika, seolah-olah buta kedua mata ini. Sebaliknya kalau, saya mengatakan tahu, seakan-akan saya hendak mendahului andika. Karena kita sudah saling berjumpa dan jalan kita bersilang, harap andika sudi berwawancara dengan saya, Biku Janapati dari Kerajaan Sriwijaya."

Kakek di puncak kiri itu masih tidak bergerak, wajahnya tidak tampak sama sekali karena ada semacam kabut menyelimuti mukanya, akan tetapi kini terdengar suara halus menembus keluar dari kabut itu.

"Biku Janapati, setengah abad lebih yang lalu pernah kita saling berjumpa. Andika masih tetap bijaksana, sayang belum dapat membebaskan diri daripada belenggu kencana yang melibatkan diri andika dengan Kerajaan Sriwijaya!"

Semua perajurit kedua fihak yang tadi bermusuhan, kini tertegun, tidak ada yang bergerak, semua memandang bergantian ke puncak kanan dan puncak kiri di mana Biku Janapati dan Wasi Bagaspati mengadakan "percakapan"

Dengan seorang kakek yang mukanya terselimut kabut dan yang suaranya begitu halus bergema dan menggetarkan hati semua pendengarnya.

Betapa orang-orang yang berada di kedua puncak yang berhadapan dapat saling bicara, sungguh hal yang amat mengherankan dan mengejutkan.

"Sadhu-sadhu-sadhti,.............. betapa mungkin saya dapat melupakan suara ini? Bukankah andika ini Sang Sakti Jitendrya?"

Berkata Biku Janapati sambil menggoyang tangan kirinya dan terdengarlah suara berdencingan nyaring menyakitkan telinga.

Semua perajurit tercengang keheranan melihat betapa seuntai tasbih digerakkan perlahan dapat mengeluarkan suara seperti itu!

Suara dari dalam kabut terdengar lagi.

"Terserah kepada andika, Biku Janapati, hendak menyebut dengan nama apapun boleh. Memang bukan hanya menjadi kewajibanku seorang, bahkan seluruh manusia di atas bumi ini harus melatih diri dengan jitendrya (menahan nafsu)!"

"Wahai Sang Sakti Jitendrya yang arif bijaksana! Andika menyatakan bahwa saya belum terbebas daripada belenggu kencana yang melibatkan diri saya dengan Kerajaan Sriwijaya! Sebaliknya, semenjak setengah abad yang lalu, andika selalu berfihak kepada keturunan Mataram! Bagaimana pula ini? Adakah seorang sakti mandraguna dan arif bijaksana seperti andika masih juga memiliki sifat menyalahkan orang lain tanpa menengok cacad sendiri?"

Suara di balik kabut itu kini terdengar lagi, angker dan penuh wibawa, seperti suara seorang guru menasehati dan menegur muridnya.

"Sang Biku Janapati, seorang biku tidak hanya hafal akan isi kitab-kitab pelajaran agama, melainkan terutama sekali mentaati dan mengerjakan semua isi pelajaran itu untuk memberi contoh dan menuntun para umatnya. Aku sama sekali tidak memihak atau pilih kasih, tidak membela keturunan Mataram hanya membela yang benar mengingatkan yang keliru. Andika khilaf dalam memilih sahabat sehingga andika telah menyalahi makna pelajaran yang berbunyi demikian . ' Hendaknya orang tidak berteman dengan orang jahat atau tercela, sebaliknya bertemanlah dengan orang yang melakukan kebajikan dan yang berjiwa luhur. Orang bijaksana tenang menghadapi apapun yang menimpa dirinya, tidak merengek-rengek menginginkan kesenangan duniawi, tidak memperlihatkan perubahan, dalam suka atau duka, tidak terikat oleh kebahagiaan ataupun penderitaan. Namun, andika masih menghambakan diri kepada Sriwijaya sehingga tidak mungkin andika bebas daripada duniawi!"

Merah wajah Biku Janapati mendengar ucapan ini. Dia diserang dengan ujar-ujar dari Agama Buddha sendiri! Dengan suara gemetar karena menahan peluapan perasaan tersinggung, pendeta ini berkata.

"Wahai Sang Sakti Jitendrya! Faham kita berselisih karena pandangan kita berbeda, seperti bedanya kedudukanmu sekarang. Andika berada di puncak itu, sebaliknya saya berada di puncak ini. Tentu saja pemandangan menjadi berlainan kalau dipandang dari situ dengan kalau dipandang dari sini. Saya hanya seorang manusia, tidak lepas daripada kewajiban terhadap negara dan bangsa. Saya menghambakan diri di Sriwijaya dan agama, demi untuk kebaikan di dunia ini."

Kakek aneh itu tidak menjawab dan pada saat itu, Tejolaksono sudah tiba di puncak.

Ia melihat cahaya terang menyelimuti wajah kakek itu, membuat matanya menjadi silau dan serta-merta ia menjatuhkan diri berlutut dan bersembah sujut.

Jelas kini bahwa pemuda yang, berdiri di samping kakek itu adalah Bagus Seta yang memandangnya dengan pandang mata penuh keharuan dan cinta kasih yang terpendam dan tertindas, sehingga wajah anak itu mengeluarkan sinar lembut, akan tetapi anak itupun tidak berkata-kata apa-apa.

Sebagai seorang sakti, Tejolaksono maklum bahwa puteranya tidak berani mengganggu kakek sakti yang sedang berwawancara secara aneh itu, menghadapi dua orang kakek yang berdiri di puncak jauh di sebelah depan.

"Hah, Biku Janapati! Perlu apa banyak berbantah dengan dia? Sekarang akupun teringat siapa dia itu!"

Sang Wasi Bagaspati kini berkata, suaranya penuh ejekan dan kemarahan.

"Hei, engkau pertapa sombong yang berada di depan! Bukankah engkau ini yang dahulu disebut Bhagawan Sirnasarira yang pernah menyelamatkan Airlangga di Wonogiri dari tanganku? Engkau memang selalu membela keturunan Mataram akan tetapi lidahmu yang tak bertulang pandai mengelak dan menyangkal, itu bukan perbuatan orang gagah dan kalau kau memang berkepandaian, mari kita mengadu kesaktian! Sang Hyang Bathara Shiwa yang maha kuasa melebur seisi jagad akan menghancurkan pula orang berlagak dewa seperti engkau!"

Ucapan yang kasar penuh tantangan dari Wasi Bagaspati ini dikeluarkan dengan suara yang nyaring sehingga semua orang yang mendengarnya menjadi gentar dan tegang hatinya.

Makin terasalah kesunyian di puncak itu setelah Sang Bagaspati menghentikan kata-katanya.

Sejenak ikakek aneh itu tidak menjawab, sesaat kemudian barulah terdengar lagi suara halus dari balik kabut itu.

"Hemmmm, Wasi Bagaspati, seperti tadi Biku Janapati menyebut aku Jatendrya, engkaupun boleh menyebutku sesuka hatimu, Sirnasarira atau apa saja terserah, tiada bedanya. Kalau dahulu aku menyelamatkan Airlangga, bukan sekali-kali aku menyelamatkan keturunan Mataram atau seorang yang bernama Airlangga, melainkan menyelamatkan seorang manusia yang sedang dilanda kesengsaraan dan mencegah manusia lain yang hendak menggunakan kekuatan dan kelebihan untuk bersikap sewenang-wenang seperti yang kaulakukan, Wasi Bagaspati!"

"Heh, Bhagawan Sirnasasira yang sombong! Engkau memiliki wawasan sendiri, apa kaukira aku tidak mempunyai pendapat sendiri pula? Engkau tahu aku pemuja Sang Hyang Bathara Shiwa, dan aku berhak mengabdi kepadaNya. Memanglah menjadi kekuasaanNya untuk menghancurkan isi jagat. Apakah kau hendak menentang dan berani melawan kekuasaanNya?"

"Wahai, Wasi Bagaspati, sungguh menyeleweng wawasanmu! Memang kita sama tahu bahwasanya ada tiga sifat Yang Maha Kuasa, yaitu mencipta, memelihara, dan menghancurkan. Ketiga sif at yang saling menyusul, saling bersambung dan saling meinghidupkan sehingga terbentuk lingkaran sempurna. Memang betul bahwa Sang Hyang Bathara Shiwa yang menguasai sifat terakhir tadi, berhak dan berkuasa menghancurkan. Akan tetapi betapapun juga, tidak akan melanggar, mendahului atau tertinggal oleh Dharma! Segala macam kehancuran yang dilaksanakan oleh Sang Hyang Shiwa demi pelaksanaan tugas adalah selaras dengan Dharma (kebenaran), tak lebih tak kurang. Adapun Dharma daripada para Dewata merupakan rahasia bagi manusia, Wasi Bagaspati, karena itulah maka seringkali timbul persangkaan daripada manusia betapa tidak adilnya kehancuran yang menimpa dirinya. Padahal, semua itu sudah adil, sudah tepat, sudah semestinya karena berlandaskan Dhar ma. Adapun untuk kita manusia, yang tahu akan baik buruk, akan benar salah menurut pertimbangan dan pendapat serta pengetahuan kita adalah tentu saja menurut pertimbangan ini, yang baik, yang benar, menjunjung kebajikan. Lupakah engkau akan nasehat dalam ajaran agamamu yang berbunyi begini • "Prihen temen dharma dhumaranang sarat. Saraga sang sadhu sireka tutana, Tan artha tan kama pidonya tan yasa, Ya shakti sang sayana dharma raksaka." (Carilah) sungguh-sungguh kebenaran untuk mengatur masyarakat. Bagi orang jujur Itulah yang diturut, Bukan harta bukan kasth bukan pula jasa Kuat sang budiman karena berpegang kepada Dharma.) "Huah-ha-ha-ha-ha! Kau pertapa tua bangka yang sombongi Lagakmu seperti hendak memberi wejangan para dewata di Suralaya! Semenjak muda, puluhan tahun aku memuja Sang Hyang Bathara Shiwa, apa kaukira aku belum dapat mengenal isi daripada pelajarannya?"

"Wasi Bagaspati! Mengenal tanpa pengertian tiada gunanya. Mengerti tanpa pelaksanaan juga kosong melompong. Yang dipuja isinya, bukan kulitnya. Engkau tidak memuja keadilan Sang Hyang Shiwa, melainkan memuja kekuatannya. Kekuatan yang dipergunakan bukan dengan landasan kebenaran, sesungguhnya hanyalah kelemahan yang amat lemah. Mengandalkan kekuatan, kekuasaan, dan kelebihan untuk berlaku sewenang-wenang, hanya menimbun racun yang akhirnya akan meracuni dan merusak diri pribadi. Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti! Lupakah engkau akan hal itu, Sang Wasi Bagaspati?"

"Aaaauuuurrggghhhh !!!"

Pekik yang keluar dari dalam dada Wasi Bagaspati melalui kerongkongannya ini hebat-nya bukan main.

Para perajurit sampai jatuh bertekuk lutut karena tidak dapat bertahan, mereka berlutut dan menggigil.

"Bhagawan Sirnasarira! Mari kita mengadu kesaktian! Lihat kekuasaan Sang Hyang Bathara Shiwa, keparat!"

Wasi Bagaspati menggerakkan tangannya dan tiba-tiba di tangan kanannya sudah memegang sebuah senjata yang mengeluarkan cahaya gemilang menyilaukan mata.

Senjata ini bentuknya seperti sebuah senjata cakra, bergagang tombak akan tetapi ujungnya berbentuk lingkaran yang mempunyai banyak mata tombak.

Tiba-tiba angin besar datang bertiup ketika pendeta ini mengangkat senjata itu ke atas kepalanya.

Ia kelihatan menyeramkan sekali!

Mukanya yang selalu merah itu kini seolah-olah berubah menjadi bara api yang mengeluarkan asap yang menyelubungi mukanya, namun masih ditembusi sinar matanya yang seperti kilat menyambar.

Ketika angin bertiup, rambutnya yang panjang putih itu melambai berkibar-kibar seperti bendera.

Angin makin besar dan tiba-tiba langit tertutup mendung, disusul geledek menyambar-nyambar diiringi kilat.

Para perajurit makin ketakutan dan kini semua orang, termasuk para perwira, bertekuk lutut dan menyembunyikan muka di balik kedua tangan, penuh ketakutan dan kengerian.

Dunia seolah-olah hendak kiamat, bumi bergetar dan pohon-pohon besar seperti akan tumbang.

Kembali Wasi Bagaspati mengeluarkan pekik dahsyat.

Kilat dan geledek makin hebat mengamuk dan turunlah air hujan seperti dituang dari langit, air hujan yang besar-besar dan berjatuhan menimpa kulit menimbulkan rasa nyeri.

Makin ributlah para perajurit kedua fihak.

"Sadhu-sadhu-sadhu , kembali kau tak dapat menguasai nafsu kemarahanmu, saudaraku Wasi Bagaspati.............!"

Terdengar suara Biku Janapati yang halus akan tetapi mengatasi suara ribut dan ledakan-ledakan petir.

Anehnya, tidak ada air hujan yang menimpa tubuh pendeta Buddha ini.

Tubuhnya seakan-akan terlindung sebuah kurungan yang tak tampak sehingga air hujan yang menimpa dari atas menyeleweng semua ke sekeliling tubuhnya!

Hal ini membuktikan pendapat Ki Tunggaljiwa dahulu kepada Tejolaksono bahwa tingkat ilmu kesaktian Sang Biku Janapati masih lebih tinggi daripada Sang Wasi Bagaspati.

Akan tetapi yang lebih aneh lagi adalah kenyataan bahwa puncak di mana kakek aneh bersama Bagus Seta dan Tejolaksono berada, sama sekali tidak terganggu oleh keadaan yang menyeramkan ini.

Jangankan hujan dan kilat, bahkan anginpun yang lewat hanyalah angin gunung sumilir sejuk!

Awan hitam yang tampaknya hendak menyerang daerah ini, membalik lagi, demikian pun angin dan geledek!

"Wasi Bagaspati!"

Terdengar suara kakek di Batik kabut itu dengan suaranya yang halus namun menembus semua kegaduhan dan terdengar oleh semua orang yang berada di situ.

"Kekuasaan dan kesaktian yang didasari oleh sifat tidak benar, tidak adil, dan sewenang-wenang, hanya akan meracuni diri pribadi!"

Tangan kiri kakek itu terangkat ke atas dan semua keadaan yang menakutkan itupun lenyaplah.

Keadaan menjadi terang kembali, tidak ada angin, tidak ada awan, tidak ada hujan maupun kilat.

Akan tetapi bekas-bekas amukannya masih tampak, pakaian para perajurit basah semua, pohon-pohon tumbang.

"Pertapa keparat! Berani engkau menghina murid terkasih Sang Hyang Bathara Shiwa. 7?"

Wasi Bagaspati berteriak-teriak marah dan dilontarkannyalah senjata cakra di tangannya itu ke udara.

Senjata itu mengaung dan meluncur cepat bagaikan bernyawa, menuju ke puncak depan.

Tampak oleh semua perajurit betapa senjata yang kini merupakan cahaya merah itu melayang-layang dan turun hendak menerjang tubuh si kakek aneh di seberang puncak.

Akan tetapi, senjata itu hanya melayang-layang dan mengitari tubuh sang pertapa, seakan-akan tidak kuasa menembus cahaya berembun, kemudian terbang kembali menuju Wasi Bagaspati yang menerima pusakanya sambil membanting-banting kaki.

"Sadhu-sadhu-sadhu............. , dia amat sakti mandraguna, senjata dewatapun tidak akan mempan. Saudaraku, tiada gunanya melawan. Seorang bijaksana dapat menyadari keadaan sebelum terlambat. Lebih baik kita mundur sebelum hancur. Sang Sakti Jitendrya bukanlah lawan kita."

Setelah berkata demikian, Biku Janapati lalu melangkah turun dari puncak itu tanpa menoleh lagi, pergi seterburu-buru.

Melihat betapa temannya yang dapat ia andalkan telah pergi, hati Wasi Bagaspati mulai menjadi gentar.

mengerahkan seluruh batinnya, disalurkan ke dalam sinar matanya dan dengan kekuatan gaib ini ia memandang ke puncak depan dan berhasil menembus kabut yang menyelimuti wajah lawan.

Begitu ia dapat memandang wajah kakek di depan itu, mukanya menjadi pucat dan ia segera membuang muka, lalu melambaikan tangannya memberi isyarat kepada semua anak buahnya dan hanya satu kata-kata yang keluar dari mulutnya, namun cukup jelas dan lan "Mundur.............

Bagaikan rombongan semut ditiup, bergeraklah semua perajurit anak buahnya, dipimpin oleh Cekel Wisangkoro dan kawan-kawannya yang juga pucat wajahnya, tanpa mengeluarkan suara mereka semua pergi dari situ, seolah-olah takut bahwa sedikit suara akan mendatangkan malapetaka bagi mereka.

Tidak sampai terlalu lama, Gunung Merak telah ditinggalkan Wasi Bagaspati dan seluruh pasukan pengikutnya, tinggal para perajurlt Panjalu yang masih berlutut sambil memandang ke arah puncak di mana kakek aneh itu masih berdiri tegak.

Di sampingnya berdiri Bagus Seta dan di depan-nya berlutut Tejolaksono.

Setelah semua lawan pergi, Bagus Seta kini pun menjatuhkan diri berlutut, menghadapi ayahnya dan terdengar suaranya memanggil.

"Kanjeng rama. !!"

"Anakku Bagus Seta."

Mereka saling pandang dan dari pandang mata ini saja tercurah kasih sayang yang amat besar.

Adipati Tejolaksono maklum bahwa puteranya telah menjadi seorang gagah dan sakti, yang tentu saja tidak mau tunduk terhadap perasaan dan nafsu sehingga rasa rindu yang membuatnya ingin sekali memeluk ayahnya telah ditekannya dengan kuat.

Tejolaksono sendiri seorang yang sakti mandraguna, ia tidak mau memperlihatkan kelemahan dan keharuan, maka ia hanya memandang wajah puteranya dengan sepasang mata terasa panas karena menahan keluarnya air mata.

Tiba-tiba dari balik kabut yang menyelimuti wajah kakek itu terdengar suara halus.

"Sang adipati, dharma bakti menuntut pengorbanan. Relakan puteramu untuk lima tahun lagi agar kelak berguna bagi tegaknya kebenaran dan keadilan."

Tejolaksono memandang dan ia melihat seperti apa yang disaksikan Wasi Bagaspati tadi, melihat wajah yang cemerlang, sukar ditentukan bentuknya, hanya tampak sebuah wajah seperti bayangan, wajah yang terlalu lembut,terlalu halus, terlalu cemerlang seperti keadaan langit bermandi cahaya matahari pagi, indah dipandang namun tak kuat mata lama-lama memandang, sehingga ia menundukkan muka dan tidak berani mengeluarkan suara.

Di sudut hatinya, ia mengakui kebenaran kata-kata yang ditujukan kepadanya itu.

Memang tiada dharma bakti dapat terlaksana dengan baik tanpa pengorbanan, tiada kebpjikan dapat dilaksanakan tanpa pengorbanan.

Namun pengorbanan lahir belaka!

Betapapun juga, ia tetap seorang manusia biasa yang ada kelemahannya, seorang ayah yang rindu kepada putera tunggalnya.

Biarpun dengan kebijaksanaan ia yakin akan kebenaran pendapat kakek itu, namun perasaan hatinya menjadi trenyuh dan terharu.

Haruskah ia berpisah selama llma tahun lagi dengan puteranya yang baru sekarang ia jumpai setelah berpisah lima tahun?

Tergetar seluruh tubuh Tejolaksono ketika ia memandang puteranya.

Akan ia serahkan keputusannya kepada puteranya sendiri.

Seorang ayah berkewajiban membimbing puteranya kalau putera itu masih kecil.

Akan tetapi Bagus Seta bukan kanak-kanak lagi, sudah dewasa dan kalau si anak sudah dewasa, si ayah harus menyerahkan kekuasaan kepada si anak sendiri.

Dia kini hanya menjadi pengawas, penasehat, dan pelindung agar langkah-langkah anaknya tidak menyeleweng daripada kebenaran.

Kakek itu menggerakkan kedua kakinya, membalikkan tubuh dan melangkah pergi perlahan-lahan, tanpa sepatah kata-pun kepada Tejolaksono dan puteranya.

Agaknya kakek ini pun tidak menggunakan paksaan kepada ayah dan anak.

Ayah dan anak ini saling pandang; dengan sinar mata seolah-olah hendak menembus dada masing-masing, menjenguk hati masing-masing.

Lalu Bagus Seta tersenyum,menggerakkan tangan mengambil bunga cempaka putih yang tadi terselip di atas telinganya.

"Kanjeng rama, hamba mohon maaf bahwa sampai sekarang hamba belum juga dapat berdharma bakti kepada rama ibu. Hamba harus memperdalam ilmu selama lima tahun lagi, dan mohon paduka sudi menyerahkan bunga ini kepada kanjeng ibu sebagai pengganti jasmani hamba."

Dengan jari-jari tangan tergetar Tejolaksono menerima kembang cempaka putih dari tangan puteranya, hatinya penuh kekaguman dan kecintaan.

Ia dapat meraba dengan perasaan dan kewaspadaannya bahwa puteranya kelak akan menjadi seorang yang luar biasa, bahkan kini sentuhan ujung jari tangan mereka saja sudah mendatangkan getaran hawa yang mendatangkan rasa nyaman, pandang mata yang halus itu begitu penuh wibawa dan pengaruh murni.

"Baik, puteraku............. aku............. aku mengerti."

Hanya demikian Tejolaksono dapat mengeluarkan kata-kata sambil menekan keharuan hatinya.

Bagus Seta meninggalkan senyum yang membuat hati ayahnya makin terharu karena pada senyum itu selain Tejolaksono dapat melihat pengertian yang mendalam, juga senyum itu sama benar dengan senyum Ayu Candra!

Bagus Seta sudah melangkah pergi mengikuti bayangan gurunya dan biarpun guru dan murid itu melangkah perlahan, namun dalam sekejap mata saja mereka telah turun dari puncak!

Setelah bayangan kedua orang.

itu lenyap, Tejolaksono menggoyang-goyang kepalanya seperti orang baru bangun dari mimpi.

Ia menoleh dan melihat betapa para perajuritnya yang kehilangan musuh itu masih berlutut semua seperti orang-orang yang kehilangan semangat, bengong dan tak tahu harus berbuat apa.

Semua yang mereka saksikan tadi adalah terlalu besar, terlalu aneh dan terlalu menyeramkan bagi mereka sehingga mereka hampir tidak dapat mempercayai kedua mata sendiri.

Tejolaksono bangkit, memandang cempaka putih dan mencium bunga yang harum ini.

Keharuman bunga itu meresap terus sampai di hati dan aneh sekali rasanya, keharuman bunga ini seolah-olah menyiram hatinya dan membuat hatinya kuat, mengusir keharuan dan kekecewaan.

Bukan main kagum hati Tejolaksono, kagum dan bangga.

Puteranya begini hebat, pikirnya.

Dengan penuh rasa sayang ia menyimpan bunga itu ke dalam saku dalam, kemudian ia menuruni puncak.

Barulah pasukannya mendapatkan kembali semangat mereka ketika melihat pimpinan mereka berada di antara mereka.

Segera mereka memenuhi perintah Tejolaksono, mengurus yang gugur dan merawat yang luka.

Kemudian Tejolaksono membawa pasukannya kembali ke Selopenangkep.

Dalam perjalan pulang ini saja sudah tampak perubahan besar sekali.

Tidak pernah mereka bertemu lawan dan di sepanjang jalan Tejolaksono mendengar dari para penduduk bahwa pengacau-pengacau yang tadinya mengganggu dusun-dusun di sekitar perbatasan daerah Panjalu kini telah pergi semua!

Makin ke timur, makin baiklah keadaannya, tidak terjadi gangguan-gangguan lagi.

Penduduk yang tidak mengerti apa yang sesungguhnya telah terjadi di puncak Gunung Merak, menganggap bahwa larinya semua musuh ini adalah akibat "pembersihan"

Yang dilakukan oleh Tejolaksono, maka dimana-mana rakyat menyambut pasukan Tejolaksono dengan penuh syukur dan kegembiraan.

Namun, para perajurit dan Tejolakscno sendiri khususnya, mengerti bahwa semua ini adalah jasa kakek sakti luar biasa yang disebut Bhagawan Jitendrya oleh Biku Janapati dan disebut Bhagawan Sirnasarira oleh Wasi Bagaspati.

Pengaruh pertapa luar biasa inilah yang membuat dua orang pucuk pimpinan musuh itu menjadi gentar dan memerintahkan penarikan mundur semua anak buah mereka.

Tejolaksono menanti sampai sebulan di Selopenangkep.

Setelah mendapat kenyataan bahwa semua daerah benar-benar sudah aman, berangkatlah ia membawa sisa pasukannya ke Panjalu, menghadap sang prabu dan membuat laporan selengkapnya, juga ia melaporkan tentang munculnya Biku Janapati dan Wasi Bagaspati sebagai utusan-utusan Kerajaan Sriwijaya dan Cola dan betapa kedua orang ini telah dapat ditundukkan dan ditaklukkan oleh seorang kakek sakti yang oleh kedua orang itu disebut Bhagawan Jitendrya dan juga Bhagawan Sirnasarira "JAGAT Dewa Bathara.

Sang Prabu Panjalu berseru kaget dan juga tercengang keheranan.

"Tidak bisa keliru lagi, Adipati Tejolaksono! Kakek pertapa sakti itu bukan lain tentulah eyang Bhagawan Ekadenta! Biarpun aku sendiri belum pernah berjumpa dengan beliau, namun pernah dahulu aku mendengar penuturan mendiang Rama Prabu Airlangga yang pernah ditolong oleh eyang Bhagawan Ekadenta ketika rama prabu mengungsi ke Wonogiri dan terancam keselamatan nya oleh musuh, yaitu pasukan-pasukan Sriwijaya yang juga dibantu oleh tokoh-tokoh dari Cola. Sungguh luar biasa. Semenjak setengah abad yang lalu, beliau sudah menjadi seorang kakek sakti, dan selama ini tidak pernah terdengar namanya, bahkan ada berita bahwa Eyang Bhagawan Ekadenta telah meninggalkan dunia Ini tanpa jejak; murca berikut raganya. Itulah sebabnya maka dijuluki Sirnasarira (lenyap tubuhnya)."

Juga para senopati kagum mendengar ini dan menyatakan suka cita bahwa Panjalu dibantu oleh seorang yang sakti itu, menjadi pertanda bahwa Kerajaan Panjalu masih dilindungi para dewata.

"Betapapun juga, para senopati dan ponggawaku yang setia. Kita tidak boleh mabuk oleh kemenangan, karena betapa-pun sukarnya merebut kemenangan, menjaganya adalah lebih sukar lagi. Justeru kemenangan yang ajaib ini malah harus menjadi cambuk bagi kita untuk mempertebal kewaspadaan. Oleh karena itu, Tejolaksono, engkau tidak usah kembali ke Selopenangkep, biarlah aku akan mengangkat orang lain untuk mengurus Selopenangkep. Adapun engkau dan isterimu tinggallah di sini, karena engkau kuangkat menjadi patih muda, membantu Kakang Patih Suroyudo dan kuserahi tugas bagian pertahanan. Engkaulah sebagai wakilku sendiri mengatur semua senopati dan seluruh barisan Panjalu!"

Tejolaksono terkejut, girang dan juga bersyukur sekali karena anugerah ini amatlah besar baginya.

Semenjak saat itu ia disebut Patih Tejolaksono dan mendapat sebuah istana di kepatihan Panjalu.

Setelah menghaturkan terima kasih dan mendapat perkenan sang prabu, bergegas Tejolaksono pulang ke pesanggrahan menemui isterinya.

Ayu Candra menyambut suaminya dengan tangis dan tawa saking gembira dan bahagianya.

Tidak saja suaminya berhasil mengusir musuh negara dan membalas dendam atas kehancuran Selopenangkep dan kematian kedua orang bibi mereka, akan tetapi terutama sekali karena suaminya dapat pulang dalam keadaan selamat, mengingat akan beratnya tugas yang diplkulnya dan saktinya lawan-lawan yang dihadapinya.

"Nimas, sungguh terjadi hal yang sama sekali tak pernah kuduga. , di puncak Gunung Merak aku bertemu dengan Bagus seta!"

Terbelalak mata Ayu Candra Memandang suaminya, berseri-seri penuh kebahaglaan dan dua titik air mata bahagia meloncat keluar ke atas pipinya.

"A........... anak........... kita...........? Bagaimana dia? Kenapa tidak ikut pulang ?!! "

Pertanyaan itu penuh harap dan dengan tenang Tejolaksono lalu menceritakan pengalamannya di puncak Pegunungan Merak, di mana hampir saja ia tewas kalau saja tidak ditolong oleh kakek sakti yang bernama Bhagawan Jitendrya, juga Bhagawan Sirnasarisa atau oleh sang prabu disebut Bhagawan Ekadenta.

Ia ceritakan tentang keadaan Bagus Seta yang sehat dan betapa putera mereka Itu telah menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan.

"Aahhh , mengapa dia tidak diajak pulang? Bagaimana dia harus dipisahkan dari aku sampai lima tahun lagi?"

Ibu yang sudah amat rindu kepada puteranya itu mengeluh dan mulailah Ayu Candra menangis.

Tejolaksono mengeluarkan bunga cempaka putih darI saku dalam bajunya.

Ia makin kagum menyaksikan betapa bunga itu tidak layu.

Tahulah ia bahwa puteranya telah memiliki kesaktian yang mujijat, maka.

cepat-cepat ia menyerahkan bunga itu kepada isterinya sambil berkata.

"Nimas, kaulihat ini. Puteramu itu menitipkan bunga ini kepadaku dengan pesan agar diberikan kepada ibunya."

"Aduh, anakku...........!"

Ayu Candra terbelalak memandang dan menerkam, lalu merampas bunga itu dari tangan suaminya dengan penuh gairah, lalu sambil tersedu-sedu ia menciumi bunga Itu, mendekapnya di dada.

"Aduh, Bagus Seta........... angger........... anakku tercinta........... kau masih ingat kepada ibumu "

Tejolaksono menahan perasaannya agar tidak sampai menitikkan air mata karena terharu.

"Nimas, dia sama sekali tidak pernah melupakan ayah bundanya. Akan tetapi Bagus Seta berjiwa ksatria utama, mengesampingkan kesenangan pribadi untuk menggembleng diri agar kelak dapat berdharma bhakti kepada sesama manusIa."

Ayu Candra hanya sebentar diamuk gelombang perasaan rindu dan terharu,kini ia sudah tenang, memegangi bunga cempaka putih dengan bengong seperti orang melamun, kemudian ia mengangguk-angguk perlahan.

"Benar sekali, Kakanda, memang putera kita harus berjiwa ksatria. Biarlah kurelakan dia lima tahun lagi, biarlah kita sebagai orang tuanya berprihatin agar dia menjadi seorang manusia utama, seperti ramandanya."

Tejolaksono makin terharu, memeluk dan mengecup ubun-ubun isterinya yang terkasih.

"Engkau seorang ibu yang bijaksana, seorang isteri yang hebat...........! Dan Bagus Seta. putera kita yang mengagumkan. !"

Memang ia kagum sekali karena bunga cempaka putih itu ternyata mempunyai kekuatan yang luar biasa sekali, yang dalam waktu sebentar telah dapat mengobati kerinduan hati Ayu Candra.

Mulailah Tejolaksono melaksanakan tugasnya yang baru, sebagai patih muda di Kerajaan Panjalu.

Dengan amat tekunnya menggembleng barisan Panjalu melalui para senopati dan semenjak dia menjadi patih muda yang berkuasa di bagian pertahanan negara, maka keadaan menjadi aman tenteram, pengaruh Kerajaan Panjalu makin besar, tidak ada lagi raja-raja muda yang berani menentang dan melakukan penyerangan.

Akan tetapi benar-benarkah SriwIjaya dan Cola menghentikan usaha mereka untuk menanam pengaruh di Panjalu?

Benar-benarkah mereka itu mundur teratur dan tidak berani lagi melakukan kekacauan?

Sesungguhnya tidaklah demikian adanya.

Tepat seperti yang dikatakan oleh sang prabu di Panjalu agar mereka semua mempertebal kewaspadaan, karena sesungguhnya, Kerajaan Panjalu, dan terutama sekali Jenggala yang tidak lagi diganggu kerusuhan-kerusuhan, belum terbebas daripada bahaya yang mengancam.

Secara halus Kerajaan Sriwijaya masih mencoba untuk memperlebar pengaruhnya sampai di kedua kerajaan ini melalui Agama Buddha yang disebarluaskan, dipimpin oleh Biku Janapati yang bijaksana.

Karena sang biku menggunakan cara yang halus, tidak memakai kekerasan, maka usahanya ini lebih berhasil.

Namun yang menjadi ancaman bahaya besar adalah usaha yang dijalankan oleh Wasi Bagaspati.

Sang wasi yang merasa penasaran akan gagalnya usahanya, kini menyebar kaki tangannya, terutama sekali di Jenggala, dengan secara cerdik dan halus ia menyuruh mereka menyelundup ke dalam kerajaan,, menggunakan pengaruh harta benda dan ilmu hitam sehingga banyak di antara anak buahnya yang berhasil menduduki tempat-tempat terpenting dalam pemerintahan.

Bahkan kuku-kuku cengkeraman yang tidak tampak oleh mata ini menyelundup sampai ke dalam istana Kerajaan Jenggala!

Memang hebat sekali usaha Sang Wasi Bagaspati yang mengadakan penyelundupan-penyelundupan rahasia, terutama sekali di istana Kerajaan Jenggala.

Banyak di antara anak buahnya yang sakti, laki-laki dan terutama wanita-wanita cantik, dijadikan senjata untuk usaha ini.

Pada waktu itu memang harus diakui bahwa Kerajaan Jenggala amat lemah kedudukannya.

Kerajaan Jenggala masih dapat berdiri tegak dan tidak ada musuh berani mengganggu hanya karena mereka itu sungkan dan takut kepada Kerajaan Panjalu.

Mereka maklum bahwa memusuhi Jenggala berarti akan berhadapan dengan Panjalu pula, karena sebagai saudara, Panjalu tentu akan membela Jenggala.

Sebetulnya, sebagai putera mendiang Sang Prabu Airlangga yang arif bijaksana, raja di Jenggala bukanlah seorang yang jahat atau lalim.

Sang prabu di Jenggala cukup baik dalam arti kata sebagai raja, cukup mencinta rakyatnya dan bukan seorang raja yang menindas rakyat.

Akan tetapi, sang prabu mempunyai sebuah kelemahan sebagai seorang pria, yaitu bahwa sang prabu mudah tergoda oleh wanita cantik.

Kalau para wanita yang banyak jumlahnya itu menggoda sang prabu hanya dengan pamrih agar menjadi selir dan mendapat kedudukan mulia, hal itu tidak mengapa.

Akan tetapi, akhir-akhir ini sang prabu di Jenggala amat berubah sikapnya setelah dia mendapatkan seorang selir baru.

Celakanya, berbeda dengan selir-selir lainnya yang puluhan orang banyaknya, selir baru ini tidak hanya terbatas pada kemuliaan pamrihnya, melainkan lebih tinggi lagi.

Selir baru ini ingin mendapatkan kekuasaan tertinggi sesudah raja, dan untuk mencapai hal ini, ia mempergunakan segala kecantikan wajahnya, segala kesegaran tubuh mudanya, segala bujuk rayu yang menggairahkan sehingga hati sang prabu di Jenggala yang masih muda biarpun tubuhnya sudah tua itu menjadi jatuh dan tunduk.

Siapakah selir baru yang muda belia, segar menggairahkan ini?

Dia seorang wanita masih muda belia, tujuh belasatau delapan belas tahun usianya, bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar semerbak mengharum, bagaikan buah mangga sedang ranum matang hati, manis segar dan renyah.

Wajahnya manis sekali, terutama kerling matanya yang tajam melebihi mata pedang, kerling yang menyambar-nyambar membetot hati membuat sukma pria melayang-layang karena dalam kerling ini terkandung tantangan dan ajakan kepada pria untuk bertamasya ke dalam surga kenikmatan.

Selain sepasang mata indah yang memiliki kerling "maut"

Ini, juga mulutnya membuat setiap mata laki-laki memandang bagaikan tergantung dan lekat pada sepasang bibir itu!

Bibir itu merah segar, berkulit tipis seperti kulit kentang, seperti buah tomat masak, menggemaskan hati, membuat orang ingin sekali menggigitnya, menantang dan selain dapat mencipta senyum memikat dan memabukkan, juga bibir yang basah dapat bergerak-gerak menggairahkan sehingga selalu tampak memberahikan ketika dicemberutkan, atau dijebikan, atau bergerak-gerak seperti menggigil.

Deretan gigi putih seperti pagar mutiara melindungi rongga mulut yang merah penuh tantangan.

Wajah yang manis sekali, yang bagaikan besi semberani menarik pandang mata setiap orang pria yang berjumpa dengannya.

Rambutnya hitam panjang dan agak berombak, membentuk sinom halus di dahi dan anak rambut melengkung di depan telinga, kalau dibiarkan terurai, panjangnya sampai ke bawah pinggul.

Tubuhnya tingi ramping, padat penuh dengan lekuk-lengkung sempurna dalam pandangan setiap orang pria, dan ia dapat menggerak-gerakkan setiap bagian tubuhnya dengan gerakan yang luwes dan memikat.

Kulitnya yang agak hitam tidak menjadi cacat, bahkan menambah kemanisannya.

Siapakah dia?

Kita sudah mengenalnya.

Namanya Suminten!

Di bagian depan cerita ini telah dituturkan bahwa Suminten adalah abdi dalem (pelayan) mendiang Pangeran Panjirawit dan Endang Patibroto.

Suminten ketika menjadi abdi dalem di istana pangeran itu, seringkali mengintai dan menyaksikan adegan mesra antara Pangeran Panjirawit dan isterinya.

Suami isteri itu selalu berkasih-kasihan dan akhirnya terbangunlah berahi dalam tubuh Suminten dan pelayan ini jatuh cinta kepada sang pangeran!

Cinta berahi yang ditahan-tahandan akhirnya tercetus menjadi cemburu, iri hati, dan kebencian terhadap Endang Patibroto Ia mengharapkan untuk menjadi selir Pangeran Panjirawit yang tampan, akan tetapi semua pengharapandan usahanya sia-sia belaka karena sang pangeran terlalu mencinta isterinya, tidak mau mempunyai selir.

Telah diceritakan betapa kebencian ini membuat Suminten diam-diam lari kepada Ki Patih Brotomenggala, menceritakan perbuatan Endang Patibroto yang melukai ayam dengan ilmu hitam sehingga makin besarlah kecurigaan dan dugaan ki patih bahwa Endang Patibroto agaknya yang melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap para ponggawa dengan ilmu hitam.

Suminten dihadapkan kepada sang prabu di Jenggala, kemudian oleh sang prabu dijadikan abdi dalem istana.

Semenjak saat itulah tampak Suminten yang sesungguhnya, yaitu seorang dara muda belia yang mempunyai pamrih besar sekali, tidak akan puas kalau belum mencapaI kedudukan setinggi-tingginya.

Terhadap Pangeran Panjirawit ia memang menaruh kasih sayang yang sesungguhnya, yang murni dan andaikata terlaksana keinginan hatinya menjadi selir Pangeran Panjirawit, agaknya ia akan merasa puas dan bahagia, tidak akan mencita-citakan hal lain lagi.

Akan tetapi, la mendengar akan keadaan Pangeran Panjirawit, akan kesengsaraan dan akhirnya akan kematiannya.

Hatinya hancur dan ia bertekad untuk menyalurkan semua cinta bercampur duka ini menjadi cita-cita untuk menjadi manusia paling berkuasa di Jenggala agar ia dapat membalas dendam atas kematian Pangeran Panjirawit, pria yang pernah cinta sepenuh hatinya.

Gadis ini selain cantik manis, juga amat cerdik.

Setelah menjadi abdi dalem di Istana Kerajaan Jenggala, cepat sekali ia dapat mempelajari keadaan dan dapat pula mengambil hati para selir, bahkan sampai permaisuri sendiri menaruh kepercayaan kepadanya dan memberinya tugas melayani sang prabu.

Kesempatan ini dipergunakan sebaiknya oleh Suminten.

Dengan daya tariknya yang luar biasa, ditambah kelemahan sang prabu terhadap wanita muda, dalam waktu beberapa hari saja ia berhasil menjatuhkan hati sang prabu yang usianya sudah mendekati enam puluh tahun Itu!

Akhirnya, dengan resmi Suminten diangkat menjadi selir termuda Sang Prabu Jenggala Semenjak ia diangkat menjadi selir, mulailah Suminten menggunakan kecerdikannya memasang jerat, merayu dan mengambil hati para selir lain untuk mencapai cita-cita hatinya.

Makin pandai ia merayu sang prabu, menggoda dan melakukan segala macam akal wanita sehingga sang prabu menjadi makin mabuk dan cinta kepadanya.

Sang prabu menganggap bahwa di antara semua selirnya, Suminten inilah yang paling mencinta dirinya yang sudah tua.

Hanya Suminten inilah yang mempunyai rasa cinta kasih yang "murni"

Terhadap dirinya.

Selain mempermainkan sang prabu seperti pandainya ia mempermainkan rambutnya, Suminten juga mengambil hati dan bermuka-muka kepada permaisuri sehingga sang ratu ini merasa lebih sayang kepadanya daripada kepada para selir lainnya.

Di depan sang ratu, Suminten bersikap amat merendah diri, amat tekun merawat dan melayani segala keperluan sang ratu, pandai menghibur dengan kata-kata manis, memuji-muji dan menjilat-jilat.

Sebentar saja naiklah derajat Suminten, karena ia dikasihi sang prabu dan disayang sang ratu, maka kedudukan atau derajatnya boleh dibilang meningkat tinggi di atas derajat semua selir sri baginda.

Kalau diingat betapa dalam waktu beberapa bulan saja ia telah dapat menanjak dari seorang abdi dalem pangeran menjadi selir terkasih sang prabu, sesungguhnya kenaikan derajat ini sudahhal yang luar biasa sekali, apalagi kalau diingat bahwa Suminten hanyalah seorang yang berasal dari desa.

Namun, bagi Suminten hal ini masih belum memuaskan hatinya, masih jauh daripada memuaskan.

Ia melihat ada hal-hal yang masih menjadi rintangan baginya untuk mencapai anak tangga tertinggi.

Hal pertama adalah sang ratu atau permaisuri sendiri.

Betapapun juga tinggi kedudukannya, ia hanya seorang selir termuda, tentu tidak akan dapat mengalahkan pengaruh sang ratu, maka sang ratu merupakan sebuah perintang baginya.

Akan tetapi, ia tidak begitu memusingkan hal ini karena sang ratu harus dianggap rintangan terakhir.

Yang amat menyakitkan hatinya adalah rintangan di depan mata, yang membuat Suminten gemas sekali.

Rintangan ini berupa seorang selir lain yang sebelum Suminten diangkat menjadi selir, merupakan selir tercinta dari sang prabu.

Selir ini adalah Puteri Sekarmadu yang baru berusia dua puluh lima tahun dan sudah lima tahun menjadi selir sang prabu.

Puteri Sekarmadu memang cantik jelita, pendiam, pandai segala macam kesenian, berwatak halus dan memang dia adalah puteri seorang adipati di Kanigoro yang dipersembahkan kepada sang prabu oleh sang adipati.

Puteri Sekarmadu adalah yang tercantik di antara semua selir, namun setelah di situ ada Suminten, puteri ini biarpun pada dasarnya menang cantik, namun kalah pandai.

dalam keluwesan dan gaya memikat.

Puteri Sekarmadu maklum akan segala polah tingkah Suminten, maklum betapa selir termuda ini, berbeda dengan lain-lain selir, berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan hati, sang prabu, sebagai seorang puteri yang pandai membawa sikap, Sekarmadu tidak membuat reaksi apa-apa.

Betapapun juga, sang prabu tidak pernah dapat melupakan Sekarmadu dan biarpun ia kini seolah-olah menjadi selemas rambut yang dipermainkan oleh jari-jari tangan Suminten yang cekatan, namun sang prabu masih saja mendekati Sekarmadu dan membagi waktunya secara bergilir.

Bagi Suminten, tentu saja ia tidak mencinta sang prabu setulus hatinya.

Mana mungkin dia, seorang dara remaja berusia tujuh belas tahun, dapat mencurahkan kasih sayang yang setulusnya terhadap seorang kakek berusia enam puluh tahun?

Tidak, ia muak terhadap belaian kasih sayang dan pencurahan cinta asmara sang prabu, dan dia sama sekali tidak cemburu atau iri hati terhadap Sekarmadu.

Yang membuat ia gemas.

adalah karena Sekarmadu dianggapnya sebuah rintangan yang harus dienyahkan kalau ia mau cepat-cepat mencapai cita-citanya.

Namun, bagaimana ia dapat menjatuhkan Sekarmadu yang demikian pendiam, halus tutur sapanya, lemah lembut budinya, dan sukar dicari kesalahannya itu?

Namun dengan sabar dan tekun Suminten mengatur semua rencana, mendekati semua selir, berbaik dan mengambil hati mereka, sambil menanti saat dan kesempatan yang baik untuk menghalau rintangan-rintangan itu, satu demi satu!

Kalau ada orang mengira bahwa selir-selir raja di jaman dahulu yang begitu banyaknya itu dapat hidup rukun, dia mengira keliru.

Memang pada lahirnya mereka ini tampak rukun, namun sesungguhnya tidak demikianlah di dalam hati.

Kalau mereka tampak rukun, dan tidak pernah bertengkar, adalah karena mereka ini takut kepada raja dan kebencian mereka satu sama lain hanya diutarakan secara diam-diam dan dengan jalan saling membicarakan keburukan masing-masing di belakang punggung.

Karena maklum akan keadaan para selir sang prabu di Jenggala ini, maka secara cerdik sekali Suminten mendekati mereka semua dengan sikapnya yang mengambil hati dan merendah sehingga mereka semua merasa suka kepadanya dan menganggap selir termuda ini sebagai sahabat baik.

Mulai-lah Suminten mengorek-ngorek rahasia pribadi masing-masing selir itu melalui selir-selir lainnya, membuat mereka saling membicarakan rahasia dan keburukan masing-masing sehingga Suminten dapat mengetahui sebagian besar cacad dan keburukan para selir yang menjadi saingannya.

Pada suatu malam terang bulan yang amat indah.

Hawa malam itu sejuk sekali di dalam taman, berbeda dengan hawa di dalam kamar yang panas.

Suminten duduk sendirian di dalam taman sari yang sunyi.

Malam sudah mendekati tengah malam, semua penghuni keputren di mana para selir tinggal, telah tidur pulas, demikian pula para abdi dalem.

Namun Suminten masih duduk melamun di taman sari.

Hatinya tidak puas.

Malam itu sang prabu menjatuhkan giliran kepada Sekarmadu.

Hatinya panas.

Bukan karena cemburu, karena dia sendiri sesungguhnya tidak pernah merasa senang apalagi cinta kepada sang prabu yang sudah tua.

Hanya ia merasa panas dan tidak senang karena kenyataan bahwa sang prabu masih melekat kepada Sekarmadu itu berarti bahwa cita-citanya untuk naik ke tangga tertinggi menghadapi rintangan berat.

"Gilang-gemilang bulan purnama taman sari bermandi cahaya kencana termenung sendiri dewi jelita seperti Bathari Komaratih Dewl Asmara."

Suminten kaget dan ketika ia menoleh dan melihat siapa orangnya yang berpantun dengan suara merdu dan penuh rayuan itu, bibirnya yang manis berjebi, matanya mengerling tajam.

Lalu dengan gerakan yang genit ia membuang muka.

Laki-laki itu masih muda, tampan dan tubuhnya tinggi besar.

Usianya antara dua puluh lima tahun, pakaiannya indah.

Dia ini adalah Pangeran Kukutan, seorang di antara banyak pangeran putera sang prabu terlahir dari para selir.

Pangeran Kukutan ini adalah putera selir yang kini telah tua dan "tidak terpakai lagi"

Oleh sang prabu, seolah-olah telah di "pensiun".

Namun sebagai selir raja mempunyai seorang putera, tentu hidupnya terjamin, juga Pangeran Kukutan mendapat kedudukan terhormat seperti para pangeran lain.

Berdebar jantung Suminten, biarpun ia pura-pura membuang muka sambil berjebi., Pangeran Kukutan ini sudah lama menaruh hati kepadanya, semenjak ia menjadi abdi dalem dan belum dIselir sang prabu.

Kalau ia mau, ia tidak akan menjadi selir sang prabu, tentu didahului dan diselir pangeran ini.

Akan tetapi, Suminten yang bercita-cita tinggi selalu menolaknya dan lebih suka menjadi selir sang prabu, sungguhpun di dalam hatinya seringkali mengenangkan pangeran yang muda dan tampan ini.

Namun, ia seorang wanita yang amat cerdik dan la tidak mau membiarkan dirinya terseret oleh perasaannya karena hal ini akan membahayakan kedudukannya dan dapat menyeretnya turun kembali ke tingkat paling bawah!

Maka ia selalu menghadapi Pangeran Kukutan seperti seekor burung dara yang sukar ditangkap, jinak-jinak merpati.

Rasa sukanya kepada pangeran muda dan tampan gagah ini membuat ia jika bertemu melempar kerling memperlihatkan senyum, akan tetapi kewaspadaannya untuk mencapai cita-cita membuat ia selalu mengelak dari perangkap-perangkap asmara yang dipasang oleh sang pangeran.

"Aduhai juita........... jelita yang tiada bandingnya di atas permukaan bumi ini........... , agaknya para dewata memang telah menjodohkan kita, siapa mengira bahwa hamba yang tak dapat tidur dan berjalan-jalan di sini akan bertemu dengan dewi pujaan hati. !"

Kata sang pangeran dengan suara merayu dan duduklah pangeran itu di atas bangku, dekat Suminten.

Suminten merasa akan kehadiran tubuh pria itu yang duduk begitu dekat di sampingnya.

Kedua kakinya menggigil, jantungnya berdebar tegang, dan rasa bahagia menyelundup di hati mendengar kata-kata yang amat indah baginya itu.

Selama menjadi selir sang prabu, ia tidak pernah mendengar rayuan seperti itu, melainkan suara sang prabu yang berwibawa dan memerintah, kasih sayang sang prabu yang kaku dan tidak merayu, dengus napas tuanya yang terengah-engah, tubuh tuanya yang lemah dan terlalu sering membutuhkan pijat sehingga melelahkan kedua tangannya.

Kekerasan hatinya mulai mencair seperti lilin kepanasan dan seluruh urat syarafnya tegang dilanda berahi, membuat ia ingin sekali menjatuhkan dirinya dalam dekapan lengan yang kuat, bersandar pada dada yang bidang itu.

Akan tetapi, Suminten menekan perasaannya dan tanpa menoleh ia berkata, suaranya diketus-ketuskan.

"Pangeran, mau apa engkau ke sini? Dan mengapa berani mengeluarkan kata-kata seperti itu, duduk bersanding dengan aku? Lupakah engkau bahwa aku adalah ibumu juga, selir daripada ramandamu?"

"Heh-heh,"

Sang pangeran terkekeh perlahan.

"kalau begitu, aku adalah anak-mu?"

"Tentu saja engkau anakku! Anak tiri, karena engkau putera sang prabu!"

Kata Suminten yang belum berani menoleh karena ia mendengar suara pangeran itu amat dekat di telinga kanannya sehingga kalau ia menoleh, muka mereka akan berhadapan dan berdekatan sekali.

Kembali Pangeran Kukutan terkekeh, suara ketawanya merdu terdengar oleh telinga Suminten, berbeda dengan suara tertawa sang prabu yang serak terbabah diseling batuk!

"Ha-ha-ha.

, kalau begitu, biarlah aku menjadi puteramu, dan engkau ibuku.

Duhai ibunda yang cantik manis seperti dewi kahyangan, terimalah sembah bakti puteranda!"

Pangeran muda itu sambil tersenyum-senyum lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Suminten, menyembah dan mencium ujung kainnya.

Mau tidak mau Suminten kini memandang dan menunduk.

Alangkah bagusnya kepala yang berambut hitam tebal itu, tidak seperti kepala sang prabu yang sudah botak dan rambutnya yang jarang dan memutih.

Pundak yang lebar, dada yang bidang dan menonjol kekar, oto-totot melingkar kuat, perut yang rata dan kuat, semua tampak di balik baju pemuda itu yang terbuka di sebelah depan.

Kulit yang halus padat, sama sekali tidak ada keriput.

Berbeda dengan tubuh sang prabu dengan perutnya yang gendut, dadanya yang kerempeng, pundak yang menunduk, otot-ototnya sudah layu!

Suminten yang cerdik tidak membiarkan dirinya terseret oleh berahi, namun ia mempergunakan perhitungan dalam otaknya, perhitungan untung ruginya, kalau ia menuruti nafsunya menerima bujuk rayu pemuda ganteng ini.

Ah, memang membutuhkan pembantu-pembantu untuk dapat mencapai cita-citanya.

Dan agaknya Pangeran Kukutan ini dapat ditarik menjadi pembantu pertama dan pembantu utama.

Pertama karena dia seorang pangeran yang selalu berada di istana, dekat dengannya.

Ke dua, karena ia telah mengetahui rahasia ibunda pangeran ini, selir ke tiga sang prabu sehingga ia dapat menggenggam pangeran ini dalam kekuasaannya, apalagi kalau ia berhasil menundukkannya dengan keindahan wajah dan tubuhnya.

Banyak sekali keuntungan didapat kalau ia melayani pangeran ini, pikir otaknya yang cerdik sementara jantungnya makin berdebar keras dan mulai terbakar nafsu berahi ketika pangeran itu sesudah menyembah lalu memegang kedua kakinya dan mengelus-elus kedua kaki kecil itu dengan jari-jari tangan yang nakal dan pandai membelai.

Ketika ia merasa betapa jari-jari tangan itu dari kaki makin merayap naik , ia menegur dan mengibaskan tangannya .

"Ihhhh Pangeran, engkau tak tahu susila!"

Pangeran Kukutan yang masih berlutut itu menengadahkan mukanya, memandang wajah Suminten dengan sepasang mata memancarkan sinar kasih sayang yang tenggelam dalam nafsu berahi yang berkobar-kobar kobar,mulutnya tersenyum penuh ajakan dan ia berkata, suaranya tetap halus merdu dan jenaka.

"Elhoo...... Bukankah aku puteramu dan kau ibuku? Aduh, Kanjeng Ibu, aku minta dipangku! "

Dan pangeran itu lalu betul-betul menjatuhkan mukanya dl atas pangkuan Suminten, kedua lengannya memeluk pinggang yang ramping itu.

"Aiihhh........... I"

Suminten menjerit lirlh karena geli,pinggangnya menggeliat. Akan tetapi Pangeran Kukutan yang sudah sepenuhnya dikuasai nafsu berahi itu, makin menggila.

"Ibunda yang cantik jelita, anakmu ini minta cium, minta emik (menyusu), minta kelon (ditemani tidur)!"

Berkata demikian, pangeran itu melanjutkan belaiannya dan menciumi Suminten.

"Iihhhh........... aaahhh "............ ; Pangeran Kukutan, berhenti atau. aku akan menjerit!"

Ancaman ini berhasil. Pangeran Kukutan tentu saja merasa takut karena kalau sampai "ibu tirinya"

Ini benarbenar menjerit sehingga perbuatannya diketahui oleh sang prabu, ia tentu akan celaka.

Akan tetapi pada saat itu, nafsu berahi telah memuncak sampai ke ubun-ubunnya, maka serta-merta ia menjatuhkan diri berlutut dan suaranya menggigil ketika ia berbisik.

"Duhai Adinda Suminten, telah terlampau lama aku menyimpan cinta asmara di dalam hati terhadap Adinda, tak tertahankan lagi.... ah, adinda, kasihanilah kakanda ini."

Suminten juga menggigil seluruh tubuhnya.

Perbuatan nakal pangeran tadi seolah-olah telah membakar tubuhnya, membuat nafsunya sendiri menyala-nyala, matanya setengah terpejam, bibirnya ditarik seperti orang tersiksa nyeri, hidungnya yang kecil mancung kembang-kempis, tarikan napasnya terdengar, tersendat-sendat, kedua tangannya digenggam erat-erat.

Hanya kecerdikan otaknya sajalah yang tadi dapat membuat ia kuasa menahan diri.

Kemudian la menunduk, memandang tubuh pangeran yang berlutut di depannya itu, tersenyum puas dan girang.

Satu hal sudah nyata, ia dapat menggenggam pangeran ini dalam kekuasaannya dengan pengaruh asmara.

Akan tetapi ia masih belum puas.

Pengaruh itu belum meyakinkan karena ia mau agar supaya pangeran muda ini benar-benar bersetia kepadanya, setia sampai mati.

Maka ia lalu berkata perlahan.

"Pangeran Kukutan, sebelum aku membiarkan kau menurutkan keinginan hatimu itu, lebih dulu kaudengarkan, baik-baik kata-kataku. Mataku juga tidak buta dan aku dapat melihat bahwa sudah lama engkau mencintaku. Akan tetapi, pangeran. Cinta kasih seorang pria terhadap wanita adalah cinta kasih sementara saja seperti orang mencinta setangkai bunga yang harum. Kalau sudah kenyang menikmati keharuman bunga sampai bunga itu layu dan tidak harum lagi, akan berhentilah cinta kasihnya dan bunga layu itu akan dibuang begitu saja! Berahi seorang pria seperti orang makan tebu. Setelah kenyang mengunyah, menghisap sampai habis sari manisnya, dia akan mencampakkan sepahnya begitu saja! Aku tidak sudi kelak kauperlakukan seperti setangkai bunga atau sebatang tebu "

"Aduh, kekasih hati pujaan kalbu! Demi Sang Hyang Bathara Kamajaya, dewa segala cinta asmara di jagat ini, aku bersumpah akan bersetia dalam cinta kasihku terhadapmu "

"Bukan hanya kesetiaan yang kukehendaki, pangeran, melainkan juga ketaatan. Terutama sekali ketaatan. Engkau akan melakukan segala permintaanku?"

"Demi para dewata! Perintahkan apa saja, juwitaku,akan kulaksanakan. Engkau menghendaki aku menyeberangi lautan api? Bilamana saja, aku siap!". Suminten tersenyum, sengaja membuat senyuman mengejek tidak percaya.

"Sesungguhnyakah?"

"Demi nyawaku...........!"

Pangeran Kukutan hendak memeluk lagi akan tetapi Suminten menahan dengan kedua tangannya.

"Nanti dulu, pangeran. Aku bersungguh-sungguh dalam hal ini. Andaikata........... ini umpamanya saja untuk mengukur besarnya kesetiaanmu kepadaku, andaikata sekali waktu aku minta engkau........... membunuh sang prabu, bagaimana jawabmu?"

Pangeran Kukutan terbelalak dan meloncat mundur dalam keadaan berjongkok saking kagetnya.

Sejenak ia tidak kuasa menjawab, hanya memandang wanita jelita itu dengan mata terbelalak, kaget dan khawatir.

Bahkan ia sudah menoleh ke kanan-kiri, khawatir kalau-kalau ucapan tadi terdengar lain telinga.

"Apa...........? Apa yang kaukatakan ini.........? Harap kau jangan main-main, adinda Suminten "

Suminten tetap tersenyum, lalu berkata sambil memandang tajam.

"Engkau pun tidak perlu berpura-pura, Pangeran Kukutan. Kita harus berterus terang, saling membuka kartu. Biarpun aku selir termuda dan tersayang,namun tentu saja aku yang muda dan cantik ini tidak mencinta sang prabu yang tua dan lemah, bahkan aku........... aku membenci tua bangka itu! Dan engkau........... , engkau sama juga. Jangan kaukira bahwa aku tidak tahu.Engkau........... bukan putera sang prabu. Aku sudah tahu bahwa dahulu ibumu melakukan hubungan rahasia dengan ki juru taman (penjaga taman) dan engkau adalah keturunan ki juru taman. Nah, sekarang katakan terus terang, bersediakah engkau bersekutu denganku dalam segala hal dan selalu akan tunduk terhadap perintahku?"

Wajah Pangeran Kukutan menjadi pucat sekali.

Sejenak ia ketakutan dan hampir saja timbul kenekatan hatinya untuk membunuh wanita yang tahu akan rahasia ibunya akan hal itu.

Akan tetapi mendengar kalimat-kalimat selanjutnya, hatinya lega.

Memang dia pun selalu menanti kesempatan untuk dapat merampas kekuasaan karena maklum bahwa kelak kedudukan raja tentu tidak akan diturunkan kepadanya.

Hatinya lega, wanita ini cerdik bukan main, dan amat dekat dengan raja, mungkin tidak akan ada ruginya kalau ia bersekutu lengannya.

Apalagi dengan hadiah balasan cinta kasih!.

"Aku bersedia dan bersumpah akan bersetia kepadamu,adinda Suminten yang cerdik pandai. Bahkan aku girang sekali mendapat sekutu seperti adinda, karena dalam segala hal tentu adinda lebih pandai mengaturnya daripada aku."

Suminten girang sekali, ia bangkit berdiri dan tertawa lirih.

"Bagus sekali, pangeran. Aku percaya akan kesetiaanmu, apalagi karena sekali kau berbuat curang, engkau dan ibumu akan celaka. Kau cukup tahu akan kekuasaanku atas diri sang prabu. Nah, kini lega hatiku dan terimalah hadiahku. Mari ! "

Wanita muda jelita itu mengulurkan dan mengembangkan kedua lengannya ke arah Pangeran Kukutan Pemuda itu mengeluarkan sorak perlahan saking girangnya, lalu bangkit dan menubruk Suminten seperti seekor singa kelaparan menubruk seekor domba.

Mereka berdekapan dan berciuman dengan buas, seperti orang-orang kelaparan menghadapi nasi.

"Hushhhh...........gila, pangeran? Jangan di sini! bawa aku ke pondok taman !"

Bisik Suminten di dekat telinga pangeran itu.

Pangeran Kukutan tidak menjawab karena sukar baginya untuk mengeluarkan kata-kata di antara napasnya yang tersendat-sendat dan terengah-engah.

Ia lalu memondong tubuh yang baginya amat ringan itu dan membawanya lari ke dalam gelap, menyelinap antara pohon-pohon dan rumpun bunga, kemudian menghilang ke dalam sebuah pondok kecil mungil yang memang sengaja dibangun di dalam taman itu sebagai tempat istirahat raja dan para selirnya.

Memang tidaklah mengherankan apabila semenjak malam hari penuh gairah nafsu iblis itu, Suminten selalu mengadakan pertemuan dan perhubungan gelap dengan Pangeran Kukutan, setiap malam apabila sang prabu tidak tidur di kamarnya.

Semenjak masih perawan, Suminten diselir sang prabu dan selama itu ia hanya mengenal belaian kasih asmara sang prabu yang sudah berusia enam puluh tahun lebih, yang tentu saja tidak sesuai dengan keadaan jasmaninya sendiri yang masih muda belia.

Namun, wanita muda yang amat cerdik ini biarpun terbuai gelombang asmara, tetap ia masih dapat menguasai keadaan dan bukanlah dia yang dipermainkan oleh sang pangeran, melainkan si pangeran inilah yang makin lama makin mabuk dan jatuh terkulai, tunduk di bawah pengaruh Suminten.

Sedemikian hebat kekuasaan wanita ini atas diri pangeran yang menjadi kekasihnya sehingga sang pangeran akan mentaati segala macam perintahnya secara membuta, biar disuruh mencuci kaki Suminten akan dilakukan dengan penuh kesungguhan Betapapun juga, nafsu berahi yang menguasai hati Suminten membuat wanita ini alpa.

Dia lupa bahwa semua gerak-geriknya tidak terluput daripada pengintaian wanita yang menjadi saingannya, yaitu Sekarmadu.

Selir inipun menggunakan seorang emban (pelayan) untuk mengawasi gerak-gerik Suminten dan pada suatu hari ia mendapat pelaporan mata-matanya bahwa Suminten seringkali mengadakan pertemuan gelap dengan Pangeran Kukutan di dalam pondok taman.

Mendengar ini, Sekarmadu tertawa lebar, kemudian mengepal tangannya menjadi tinju kecil dan berkata.

"Nah, sekarang mampuslah engkau, perempuan rendah!"

Sekarmadu menanti saat baik.

Ketika sang prabu kebetulan bergilir kepada selir lain, suatu hal yang jarang sekali terjadi semenjak Suminten menjadi selirnya, dan emban yang menjadi mata-mata Sekarmadu melaporkan bahwa Pangeran Kukutan dan Suminten sudah berada di pondok taman, selir ini sendiri bersama embannya menyelinap memasuki taman, menghampiri pondok dengan hati-hati.

Sang emban yang merasa takut karena urusan ini menyangkut selir sang prabu yang terkasih dan seorang pangeran muda, berjongkok di luar pondok..

dengan tubuh menggigil karena ia maklum bahwa tentu akan terjadl peristlwa hebat.

Adapun Sekarmadu dengan hati panas penuh kemarahan lalu mendekati jendela, mengintai dan mendengarkan.

Di dalam pondok itu gelap remang-remang, hanya tampak bayangan dua orang yang tidak jelas.

Akan tetapi suara percakapan mereka jelas mudah dikenal, yaitu suara Suminten dan Pangeran Kukutan Dengan jantung berdebar-debar, Sekarmadu mendengarkan percakapan mereka yang dilakukan lirih-lirih.

"Kekasihku wong bagus (orang tampan), betapa kuatnya engkau tidak seperti sang prabu yang loyo"

"............dan engkau wanita tercantik di dunia inii, pujaan hatiku."

Sekarmadu tidak dapat menahan kemarahan hatinya lagi. Dan luar jendela, ia memaki.

"Suminten perempuan rendah, perempuan hinna! Berani engkau bermain gila dengan Pangeran Kukutan dan masih menghina sang prabu lagi. Tunggu saja, habiskan kesenanganmu malam ini karena besok engkau akan mampus!"

Setelah berkata demikian, Sekarmadu dengan muka merah saking marahnya meninggalkan tempat itu, kembali ke kamarnya, diikuti emban yang masih ketakutan.

Betapapun juga, Sekarmadu tidak mau menimbulkan keributan malam hari itu karena sang prabu sedang bermalam di kamar sellr ke tujuh.

Karena hal ini amat memalukan, juga bagi sang prabu sendiri, maka Sekarmadu yang menghormati suaminya menahan gelora kemarahannya malam itu, hendak menanti sampai besok baru ia akan melapor secara diam-diam kepada junjungannya.

Adapun Suminten clan Pangeran Kukutan yang sedang langen asmara (bermain cinta) di dalam pondok taman, seolah-olah berubah menjadi arca saking kagetnya.

Kalau di malam hari yang terang tiada mendung itu tiba-tiba terdengar Halilintar menyambar, agaknya mereka tidak akan sekaget ketika mendengar suara Sekarmadu di luar jendela.

Pangeran Kukutan menjadi pucat dan tak dapat berkata sesuatu.

Sumintenlah yang lebih dulu sadar dan dapat menguasai hatinya.

Wanita mi mendorong tubuh kekasihnya dan melompat turun dari pembaningan, berkemas sambil berkata.

"Hayo cepat, kita harus turun tangan lebih dulu!"

Mendengar suara kekasihnya yang sedikitpun tidak membayangkan rasa takut itu, barulah hati Pangeran Kukutan menjadi tenang.

Mereka lalu berbisik-bisik dan Suminten yang cerdik itu mengatur rencananya.

Cepat sekali Suminten mengatur rencana dan segera mereka melakukan siasat yang diatur Suminten malam itu juga.

Pangeran Kukutan pergi ke pondok kediaman para juru taman, diam-diam memanggil pembantu juru taman yang muda bernama Jagaloka.

Adapun Suminten pergi menemui tujuh orang emban pelayan yang menjadi kaki tangannya.

Mereka berdua bekerja cepat sesuai dengan siasat Suminten dan tak lama kemudian, Suminten sudah bertemu lagi dengan Pangeran Kukutan yang datang bersama.

Jagaloka yang muda dan cukup tampan, akan tetapi pada saat itu Jagaloka kelihatan bingung dan takut.

Sekarmadu masih belum tidur.

Dia sama sekali tidak dapat tidur, bahkan semenjak memasuki kamarnya, puteri ini berjalan hilir-mudik di dalam kamarnya, hatinya penuh ketegangan.

Ingin sekali ia sekarang juga melapor sang prabu, namun kalau ia melakukan hal ini tentu banyak selir dan abdi dalem yang mendengar, juga sang prabu dapat menjadi tidak senang hati karena terganggu.

Hatinya sudah tidak sabar dan ingin ia malam cepat-cepat berganti pagi agar ia dapat segera melapor dan wanita hina itu segera dihukum!

Emban pembantunya yang tadi ketakutan sudah tidur melingkar di atas lantai.

Tiba-tiba ia mendengar suara kaki di luar pintu kamarnya.

Sekarmadu berhenti melangkah, memutar tubuh menoleh ke arah pintu kamar dan bertanya.

"Siapa di luar?"

Sebagai jawaban pertanyaannya, tiba-tiba pintu kamarnya yang terkunci itu didobrak orang dari luar.

Agaknya orang yang mendobraknya itu kuat sekali karena sekali tendang, daun pintu itu terbuka dan muncullah Jagaloka yang wajahnya pucat.

"Ehh........... , si Jagaloka, mau apa engkau. ??"

Sekarmadu membentak, heran dan marah.

"Hamba........... hamba........... bukankah hamba dipanggil ?"

"Keparat! Jangan kurang ajar engkau! Berani membuka pintu kamarku?"

Pada saat itu, berkelebat masuk bayangan Pangeran Kukutan yang membentak.

"Juru taman bedebah, kau harus mati!"

Ucapan Pangeran Kukutan ini disusul terjangannya dengan keris di tangan.

Sekali tusuk saja si juru taman yang tentu saja bukan lawan pangeran yang perkasa itu mengeluh dan terhuyung, darah muncrat-muncrat keluar dari ulu hatinya.

Sekarmadu memandang dengan mata terbelalak, hendak menjerit, akan tetapi dengan gerakan sigap sekali Pangeran Kukutan sudah meloncat ke dekatnya dan sekali menggerakkan tangan, pangeran itu sudah merangkulnya dan membungkam mulutnya.

Sekarmadu meronta-ronta dan berusaha menjerit, namun sia-sia karena pangeran itu kuat sekali merangkulnya dan kuat pula tangan yang menutupi mulut.

Pada saat berikutnya, muncul Suminten yang tersenyum-senyum.

Wanita ini sambil tersenyum genit mendekati Sekarmadu lalu merenggut pakaian yang menempel di tubuh Sekarmadu, satu demi satu sampai Sekarmadu menjadi telanjang bulat!

Setelah itu barulah Pangeran Kukutan melepaskan rangkulannya dan mendorong tubuh wanita yang telanjang itu sampai terlempar dan tertelungkup dalam pembaringannya.

Emban yang terbangun oleh suara gaduh ini, memandang terbelalak, saking kaget dan takutnya sampai tak dapat bersuara.

"Bagus sekali engkau perempuan hina-dina, perempuan rendah, pelacur yang terseret memasuki istana!"

Suara Suminten terdengar lantang karena ia sengaja mengeluarkan suara seperti menjeri-jerit, telunjuknya menuding ke arah tubuh Sekarmadu yang telanjang bulat di atas pembaringan.

"Sungguh menjijikkan! Tak tahu malu! Berjina dengan si juru taman "

"Apa kau bilang? Kau perempuan keji........... kau. kau!"

Akan tetapi wanita yang malang itu tak dapat melanjutkan kata-katanya dan ia menangis dan berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan alas sutera pembaringan karena pada saat itu, para abdi dalem dan beberapa orang selir yang mendengar suara ribut-ribut itu sudah membanjir masuk ke dalam kamar.

Mereka berdiri dengan muka pucat dan mata terbelalak, sejenak memandang ke atas pembaringan di mana puteri Sekarmadu rebah dalam keadaan telanjang bulat terbungkus alas pembaringan, kemudian memandang tubuh Jagaloka yang kini juga sudah telanjang bulat dan menjadi mayat berlepotan darahnya sendiri.

Melihat keadaan ini, melihat Pangeran Kukutan yang berdiri dengan keris di tangan,tanpa diberitahu sekali-pun mereka dapat menduga apa yang telah terjadi!

Tentu Sekarmadu berjina dengan si juru taman, akan tetapi dipergoki Pangeran Kukutan dan Suminten yang berakibat kematian juru taman di tangan sang pangeran.

"Tidak...........! Tidaaaaaaaakkk........... Aku tidak. !"

Sekarmadu menjerit-jerit karena iapun dapat mengerti akan bahaya yang mengancam dirinya.

Gegerlah istana pada malam itu sehingga sang prabu sendiri sampai terkejut, terbangun dan mendengar apa yang terjadi di kamar selirnya yang terkasih, Sekarmadu.

Mendengar ini sang prabu marah sekali.

Setelah berpakaian rapi, sang prabu duduk di ruangan dalam dan memerintahkan menyeret Sekarmadu menghadapi juga memerintahkan agar Suminten dan Pangeran Kukutan menghadap sebagai saksi.

Sekarmadu menangis terisak-isak ketika dua orang pengawal istana menyeretnya, karena ia hampir tidak mampu berdiri, dengan tubuh masih terbungkus sutera merah alas pembaringan, rambutnya terural dan wajahnya pucat.

Di belakangnya, Suminten dan Pangeran Kukutan melangkah tenang, namun berbeda dengan wajah Suminten yang berseri-seri tersenyum, wajah Pangeran Kukutan pucat dan kedua kaki tangannya terasa dingin.

Mereka semua menjatuhkan diri berlutut dan menyembah sang raja.

Suminten yang pandai merayu itu segera berjalan jongkok menghampiri sang prabu,menyembah dan menyentuh kakinya sambil berkata lirih,suaranya serak-serak basah amat mengharukan.

"Hamba mohon beribu ampun bahwa hamba telah menimbulkan keributan, akan tetapi mohon paduka memaklumi betapa panas hati hamba penyaksikan perbuatan tak tahu malu dari perempuan itu yang menghina paduka."

Dengan gerakan halus dan penuh kasih sayang, tangan sang prabu menjamah rambut yang halus berikal mayang itu, kemudian berkata.

"Engkau malah berjasa, Suminten. Mundurlah, biar kuperiksa perkara menjijikkan ini!"

Akan tetapi Suminten tidak mundur jauh, menyembah lagi dan berkata.

"Mohon ampun. Junjungan hamba. Perempuan ini amat keji dan palsu, sebelum ia sempat bercerita bohong, harap paduka sudi mendengar dulu kesaksian hamba dan puteranda Pangeran Kukutan."

Sang prabu mengelus-elus jenggotnya sambil memandang selirnya yang terkasih itu.

"Duhai, gusti pujaan hamba........... sudilah paduka mendengarkan penuturan hamba........... , hamba kena fitnah........... hamba tidak bersalah........... dialah perempuan rendah yang hamba yakin menjadi biang keladi fitnah ini! Dia........... dia dan Pangeran Kukutan !!’ "Diam kau, perempuan terkutukk!! Sang prabu membentak dan pucatlah muka Sekarmadu, maklum bahwa nasibnya sudah ditentukan dengan sikap sri baginda raja itu. Akan tetapi tentu saja ia tidak berani membantah,hanya menunduk dan menangis, meratap di dalam hati mohon pertolongan dewata.

"Berceritalah kau, Suminten."

Dengan suara lantang Suminten bercerita.

"Malam tadi hamba tidak dapat tidur."

Ia mengerling tajam kepada sang prabu yang memandang nya dan sang prabu mengangguk-angguk, mulutnya tersenyum maklum, karena ia tahu bahwa seperti biasanya menurut pengakuan Suminten, tiap kali sang prabu tidur dengan selir lain, selir termuda dan tercinta ini tentu tak dapat tidur!

"............

karena gelisah dan merasa gerah, hamba keluar dari kamar dengan maksud mencari angin sejuk di taman.

Akan tetapi,seperti paduka maklum, jalan menuju ke taman melalui belakang kamar...........

perempuan rendah ini.

Hamba mendengar suara-suara di dalam kamar, suara kekeh tertawa genit dan cumbu rayu pria.

Hamba curiga dan mendengarkan di luar jendela, kemudian hamba yakin bahwa itu adalah suara si perempuan rendah dan si juru taman keparat itu.

Kebetulan sekali, pada saat itu, hamba melihat berkelebatnya bayangan orang di taman, dan ketika hamba mengenal bayangan itu adalah puteranda Pangeran Kukutan, hamba lalu memanggilnya dan menceritakan bahwa di kamar perempuan ini ada seorang duratmoko (maling).

Demikianlah, Gusti, puteranda pangeran lalu turun tangan membunuh si bedebah juru taman."

Sang prabu menjadi merah mukanya, mengepal tinju dan giginya yang sudah banyak ompongnya berkerot.

"Kukutan, ceritakan kesaksianmu!"

Setelah menyembah, Pangeran Kukutan bercerita yang tentu saja memperkuat cerita Suminten, yaitu bahwa karena hawa terasa panas ia pergi ke tamansari, di-panggil "ibunda"

Dan diberi tahu kejadian di kamar Sekaremadu, dan saking marahnya, ia menendang daun pintu kamar, melihat betapa selir yang berjina itu berada di atas pembaringan bersama Jagaloka.

"Si bedebah itu hendak melarikan diri, akan tetapi hamba menerjangnya dan menikam ulu hatinya dengan keris hamba."

Demikian sang pangeran menutup ceritanya. Sang prabu makin marah dan pada saat itu.

"persidangan"

Kecil ini diganggu dengan munculnya Ki Patih Brotomenggala yang tergopoh-gopoh menghadap karena mendengar akan kekacauan di istana.

Ia menyembah dan diberi isyarat tangan sang prabu agar duduk.

Ki patih yang sudah tua ini pun duduk bersila dan mendengarkan dengan hati tegang dan wajah berkerut.

"Perempuan tak tahu malu, perempuan rendah! Apa yang dapat kauceritakan sekarang?"

Bentak sri baginda kepada Sekarmadu yang mendengarkan semua tuduhan itu dengan wajah pucat akan tetapi sepasang matanya menyinarkan kebencian dan kemarahan kepada Suminten dan Pangeran Kukutan.

"Fitnah! Semua itu fitnah belaka, Gusti! Tidak tahukah Paduka betapa jahat dan palsu dua orang manusia terkutuk ini? Hamba tidak bersalah. Hamba sedang berada di kamar,tahu-tahu pintu tertendang dan masuk si juru taman, disusul Pangeran Kukutan yang serta-merta membunuhnya,kemudian manusia keparat ini memeluk hamba, si perempuan tak tahu malu itu menelanjangi hamba dan "

"Eh, Sekarmadu, sungguh mulutmu lancang sekali!"

Suminten memotong. Hanya dialah satu-satunya orang yang berani berlancang mulut di depan sang prabu.

"Sudah berdosa, mengapa tidak mengaku dan memohon ampun kepada sri baginda? Dengan bicara membabi-buta, dosamu bertambah berat. Engkau sudah kubantu, kurahasiakan kata-katamu yang kudengar, akan tetapi engkau malah menyebar fitnah !!"

"Suminten, apa yang dia katakan? Hayo kau mengaku,apa yang ia katakan kepada juru taman keparat itu?"

Sri baginda menjadi tertarik dan ingin sekali mendengar "rahasia"

Itu.

Suminten menggeser duduknya makin dekat depan kaki sang prabu, lalu menunduk, memasang tubuh sedemikian rupa sehingga kelihatan amat menggairahkan dalam pandangan sri baginda yang sudah tua itu.

Kemudian ia berkata, suaranya menggetar.

"Hamba. hamba tidak berani"

"Eh, kenapa tidak berani? Takut kepada siapa? Jangan takut, tidak ada seorang setan pun yang akan berani menganggu seujung rambutmu, Suminten!"

Kata sri baginda penuh kasih sayang sehingga ia diupah sekilas senyum dan kerling tajam kekasihnya.

"Hamba........... hamba takut kalau-kalau akan membuat paduka marah "

"Tidak, Suminten. Kalaupun marah, tentu tidak kepadamu yang bersih daripada dosa."

"Kalau begitu, sebelumnya hamba mohon ampun.Hamba mendengar jelas ucapan yang keluar dari mulut busuk perempuan hina itu begini,........... kekasihku wong bagus, betapa kuatnya engkau........... tidak seperti sang prabu, si tua bangka yang loyo "

Tidak hanya wajah Sekarmadu yang menjadi pucat,bahkan wajah Pangeran Kukutan sendiri menjadi pucat dan matanya terbelalak memandang Suminten yang tersenyum.

Alangkah beraninya wanita itu!

Padahal, ucapan itu adalah persis seperti apa yang diucapkan Suminten sendiri kepadanya ketika mereka berlangen asmara!

Sekarmadu terbelalak, kemarahannya memuncak dan ia bangkit berdiri,menjerit.

"Perempuan iblis............! Engkaulah yang mengatakan itu...........! Engkau........... engkau keji."

Akan tetapi sang prabu yang sudah tak dapat menahan kemarahannya, meloncat turun dari atas kursinya.

Biarpun usianya sudah enam puluh tahun lebih, namun dia masih kuat dan tangkas.

Keris pusaka di tangannya berkilat dan di lain detik, tubuh Sekarmadu roboh mandi darahnya sendiri yang muncrat keluar dari dadanya.

Tangan kiri Sekarmadu mendekap luka di dada, ia berusaha bangkit, berlutut dan tangan kanannya menunjuk ke arah Suminten, matanya terbelalak, mulutnya mengeluarkan kata-kata lemah.

"............ engkau........... Suminten perempuan keji........... dan engkau Pangeran Kukutan laki-laki pengecut........... terkutuklah kalian........... aduhhh........... sang prabu telah khilaf, mudah terbujuk........... semua ini fitnah........... mereka........... merekalah yang berjina, harap tanyakan kepada emban........... auuughhhl"

Robohlah kembali tubuh Sekarmadu, terkulai miring tak bernapas lagi.

Alas pembaringan sutera merah menjadi lebih merah lagi dan kini terlepas, terbuka, sehingga tampaklah tubuh yang berkulit putih berslh itu, sebersih hatinya, namun ternoda warna merah, darahnya sendiri!.

"Aduhhhh, gusti puteri. I"

Emban pelayan pribadi Sekarmadu menubruk mayat itu dan menangis.

"Heh, emban! Apa artinya ucapan terakhir gustimu yang berdosa tadi?"' Sang prabu bertanya kepada emban itu,hatInya agak terharu dan kemarahannya mereda ketika ia melihat betapa tubuh muda yang blasanya amat dikasihaninya itu kini sudah menggeletak tak bernyawa lagi. Emban itu terengah-engah, menyembah-nyembah sampai dahinya terbentur lantai.

"Ampun, kanjeng gusti........... sesungguhnya gusti puteri tidak berdosa........... gusti putri mulus dan murni tanpa cacad........... sesungguhnyalah yang berjina adalah gusti puteri Suminten dan gusti Pangeran Kukutan........... hamba menyaksikan sendiri !!"

"Keparat."

Pangeran Kukutan melompat dan sebelum dapat dicegah, kerisnya telah menembus lambung emban itu yang seketika roboh, berkelojotan dan tewas! Sang prabu mengerutkan kening dan menghardik.

"Kukutan! Apa yang kaulakukan ini?"

Pangeran itu segera menjatuhkan diri menyembah.

"Mohon ampun, Kanjeng Rama! Bagaimana hati hamba kuat mendengar fitnah yang keluar dari mulut si bedebah ini. Tentu saja ia berusaha membalas dendam gustinya dan berusaha menjatukan fitnah. Kedosaan Sekarmadu sudah terbukti, adapun tuduhan tanpa bukti terhadap hamba adalah fitnah belaka. Hamba tidak dapat menahah kemarahan, mohon paduka sudi memberi ampun."

"Memang bujang hina itu tak patut dibiarkan hidup!"

Suminten menyambung sambil mencium kaki sri baginda.

"Betapa dia boleh menghina hamba begitu saja. Seorang emban! Dan tentang hubungan antara Sekarmadu dengan Jagaloka bukan hal yang aneh lagi. Hamba mempunyai banyak saksi. !"

Suminten melambaikan tangannya ke dalam, memanggil para emban keputren.

Mereka ini adalah kaki tangannya yang tadi sudah ia pesan dan beri hadiah, tentu saja tujuh orang pelayan ini segera menerangkan dengan suara seragam bahwa mereka pernah menyaksikan Sekarmadu mengadakan pertemuanpertemuan rahasia dengan Jagaloka, dan yang menjadi perantara adalah si emban yang terbunuh Pangeran Kukutan!

Marahlah sri baginda.

"Sudahlah, lekas enyahkan bangkai terkutuk kedua orang itu!"

Tergopoh-gopoh para pengawal dan pelayan mengangkut dua mayat wanita itu dan membersihkan lantai sehingga tidak ada lagi bekas-bekas darah.

"Kakang Patih Brotomenggala, engkau jaga agar peristiwakotor ini tidak sampai tersiar keluar."

"Hamba akan mentaati perintah paduka, Gusti,"

Jawab ki patih yang wajahnya masih keruh dan alisnya berkerut.

"Eh, Kakang patih, kau kelihatan tidak senang hatimu.Bukankah sudah tepat sekali dua orang manusia jahanam itu dibunuh?"

"Maafkan hamba, gusti. Memang sudah sepatutnya yang salah dihukum. Akan tetapi........... , tidak seyogianya kalau paduka sendiri yang menjatuhkan hukuman. Selain itu, barulah adil namanya kalau si terdakwa diberi kesempatan untuk membela diri dan perkara diselidiki terlebih dahulu kebenarannya sebelum menjatuhkan hukuman. Hukuman pun harus dilaksanakan oleh petugas yang sudah ada."

"Eh, ki patih! Apakah andika tidak percaya akan keterangan hamba dan puteranda Pangeran Kukutan?"

Terdengar Suminten bertanya, suaranya lantang penuh tantangan.

"Bukan begitu, sang puteri. Bukan soal percaya atau tidak percaya, akan tetapi hamba hanya menyatakan hal yang sernestlnya menurut adilnya hukum. Menurut penglihatan hamba, biasanya Sang Puterl Sekarmadu berwatak baik dan berbudi berslh."

"Kakang patih, apakah seorang manusia itu dinilai daripada sikapnya yang baik? Siapa tahu akan isi hati seseorang?"

Sang prabu membantah karena merasa ikut tersinggung bahwa patihnya ini agaknya menyangsikan kesaksian selirnya yang tercinta. Patih Brotomenggala menyembah kepada sang prabu lalu berkata.

"Memang benar sekali sabda paduka, gusti.Akan tetapi, sedikit banyakgerak-gerik seseorang mencerminkan dasar wataknya"

"Hemm, Paman patih, agaknya andika adalah seorang ahli mengenal watak wanita!"

Pangeran Kukutan mengejek.Ki Patih Brotomenggala yang tua itu memandang tajam ke arah wajah pangeran itu dan berkata, suaranya perlahan dan hormat namun mengandung getaran berwibawa.

"Sedikitnya pengetahuan hamba akan watak wanita lebih banyak daripada yang paduka ketahui, gusti pangeran,karena sebelum paduka terlahir, hamba sudah banyak mengenal wanita."

"Sudahlah, Kakang patih,"

Kata sang prabu dengan suara kesal.

"sudah terang akan dosa Sekarmadu, saksinyapun bukan sembarang orang melainkan selirku dan puteraku, juga tujuh orang emban. Tentu saja mereka tidak mau mengaku, si bedebah juru taman dan perempuan laknat itu.Akan tetapi mereka sudah dihukum, dan hal ini sudah adil dan sudah habis, tidak perlu dipercakapkan lagi. Yang perlu dijaga agar hal seperti ini jangan sampai terdengar keluar,karena hanya akan mendatangkan aib belaka."

"Hamba mentaati perintah paduka, gusti,"

Jawab ki patih sambil menyembah.

Sang prabu lalu membubarkan persidangan kecil itu,kemudian kembali ke tempat peraduan, akan tetapi sekali ini bukan kembali ke tempat selir yang digiliri malam tadi,melainkan menggandeng lengan Suminten yang berkulit halus dan padat itu, memasuki kamar Suminten yang indah bersih dan berbau harum.

Dengan sikap manja sambil berjalan perlahan, Suminten menggenggam tangan junjungannya, berjalan mepet dan menggosok-gosokkan tubuhnya agar bersentuhan dengan tubuh sang prabu,senyum manisnya melebar, kerling matanya makin tajam!

Demikianlah, dengan amat cerdik, Suminten dapat membalikkan kenyataan, dari keadaan terancam bahaya karena perjinaannya, menjadi pemenang atas diri saingannya yang terberat, yaitu Sekarmadu, berhasil membunuh wanita tak berdosa itu dan mempertebal kepercayaan dan kecintaan sang prabu kepadanya.

Pada pertemuan berikutnya dengan Pangeran Kukutan, ia menegur pangeran itu.

"Pangeran, engkau benar-benar ceroboh! Kalau tidak ada aku yang bersikap hati-hati, tentu akan celakalah kita di tangan Ki Patih Brotomenggala!"

Pangeran Kukutan merangkul, mendekap dan mencium bibir yang menantang itu sebelum bertanya.

"Ah, datang-datang aku dIsambut makian , Apa salahanku kali ini,dewi jelita? Mengapa kau menyebut aku ceroboh?"

"DASAR bodoh!"

Suminten melepaskan diri daripada pelukan.

"Lupakah engkau betapa engkau menelanjangi juru taman?"

"Eh, mengapa ceroboh? Bukankah perbuatan itu menunjukkan kecerdikanku, sesuai dengan siasatmu yang amat sempurna?"

"Memang benar, akan tetapi baju juru taman itu berlubang dan berdarah bekas tusukanmu!"

Pangeran Kukutan masih tidak mengerti dan memandang kekasihnya dengan mata penuh pertanyaan.

"Habis, mengapa?"

"Mengapa? Benar-benar kau tidak mengerti? Kalau kau bermain cinta dan bertelanjang bulat ketika. kau menusuknya, bagaimana pakaiannya dapat berlubang dan berdarah? Kalau kau menusuknya dalam keadaan berpakaian, mengapa pakaiannya terlepas semua dan ia telanjang? Perbuatanmu itu dapat membuka rahasia kita, seolah-olah pakaian berlubang dan berdarah si juru taman itu dapat bercerita bahwa si juru taman itu kautusuk lebih dulu, baru kemudian ditelanjangi! Kaukira ki patih orang bodoh? Dia telah mencari-cari bekas pakaian si juru taman itu!"

Seketika pucat wajah Pangeran Kukutan. Suaranya gemetar ketika ia bertanya.

"lalu , bagaimana.........? Di mana......... eh, pakaian itu. ?"

Suminten tersenyum, lalu melangkah dan duduk di atas pembaringan, memasukkan kedua kakinya di dalam tempayan berisi air bunga mawar untuk mencuci kakinya.

Kemudian ia mengangkat mukanya memandang pangeran itu dan ber-kata.

"Kalau tidak ada aku, sekarang engkau tentu telah digantung! Untung aku melihat kebodohanmu itu dan sudah kusuruh singkirkan pakaian itu oleh embanku."

Pangeran Kukutan yang sudah me-rangkul pundak itu, melangkah mundur dengan senyum dikulum.

Sudah biasa ia menyanjung dan menjilat untuk menye-nangkan hati kekasihnya ini.

Apalagi sekarang, ia anggap bahwa kekasihnya telah menyelamatkan nyawanya.

Tanpa sangsi lagi ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Suminten.

"Pangeran, benar-benarkah engkau berterima kasih kepadaku bahwa aku telah menolong dan menyelamatkan nya-wamu?"

"Demi Para dewata di Suralaya, adin-da Suminten. Aku bersyukur dan berte-rima kasih' sekali, juga makin mencin-tamu dengan seluruh jiwa ragaku."

"Engkau mau melakukan apa saja yang kuminta?"

"Siap sedia"

"Kalau begitu, aku ingin melihat ke-setiaanmu, Pangeran Kukutan. Kau mi-numlah air mawar bekas kakiku."

Pangeran Kukutan mengangkat muka memandang.

Melihat betapa mulut itu tersenyum manis dan mata itu memandang penuh berahi, ia tertawa, lalu menunduk, mengangkat tempayan berisi air mawar bekas pencuci kaki Suminten, mendekatkan ke mulutnya dan ia minum beberapa teguk air itu.

"Aahhhh segar sekali!"

Pangeran Kukutan menaruh tempayan di atas lantai.

Melihat Suminten tertawa girang, iapun tertawa dan merangkul pinggang, menyembunyikan mukanya di atas pangkuan wanita itu.

Sejenak Suminten diam saja, berdongak meramkan mata, kedua tangan menjambak rambut kepala di atas pangkuannya, kemudian perlahan ia mendorong pangeran itu mundur.

"Cukup, pangeran. Malam ini kita tidak boleh. !!"

"Tapi......... tapi......... , mengapa. !?"

Pangeran Kukutan terkejut. Minum air bekas cucian kaki masih ringan, akan tetapi kalau wanita ini menolak cintanya, benar-benar hal ini amat berat baginya.

"Kita harus hati-hati. Bukan hanya Sekarmadu musuh kita. Masih banyak tugas menanti. Kesenangan dapat kita lakukan segala waktu dan masih panjang bagi kita. Pangeran, mulai sekarang kita atur rencana menyusun kekuatan mengumpulkan sekutu yang boleh dipercaya, melenyapkan musuh-musuh yang yang berada di istana dan di luar istana. Adapun tentang pertemuan kita......... hemm, mulai sekarang, akulah yang akan menentukan waktu dan saatnya. Jangan sekali-kali kau berani datang menemuiku kalau tidak kupanggil. Mengerti?"

Kekecewaan besar yang tadinya membayang di wajah pangeran itu, perlahan-lahan lenyap, terganti oleh kesungguhan dan pengertian. Pangeran itu mengangguk-angguk dan berkata lirih.

"Aku mengerti, Diajeng. Memang seharusnya aku mentaati segala perintah-mu, karena kaulah yang mempunyai kecerdikan luar biasa."

"Nah, kalau begitu, pergilah sekarang juga. Siapa tahu ki patih selalu memasang mata-mata. Aku akan mengganti semua emban menjadi orang-orang yang tunduk kepadaku."

Pangeran Kukutan bangkit berdiri, mendekati hendak merangkul dan mencium seperti yang Ia selalu lakukan di saat mereka hendak berpisah.

Akan tetapi Suminten juga bangkit berdiri dan mendorong dengan kedua tangan.

"Jangan!"

"Hanya cium perpisahan, Diajeng "

"Itupun hams aku yang menentukan!"

Sejenak sang pangeran meragu, lalu menunduk dan mengangguk, membalikkan diri dan melangkah keluar ke arah pintu pondok.

"Pangeran "

Panggilan lirih itu membuat ia berhenti dan membalikkan tubuh. Suminten menggapai dan ia melangkah maju mendekat.

"Nah, berilah cium perpisahan itu,"

Kata Suminten sambil tertawa dan mengangkat mukanya.

Bagaikan kucing kelaparan Pangeran Kukutan meraih, merangkul dan mencium mulut yang masih tertawa itu, penuh cinta kasih dan berahi.

Suminten mendorongnya perlahan dan menjauhkan muka.

"Cukuplah, ingat, masih banyak waktu bagi kita. Nah, pergilah, pangeran."

Pangeran Kukutan memandang sejenak, tersenyum penuh kasih sayang dan terima kasih, lalu pergi keluar dari pondok memasuki taman gelap.

Suminten yang ditinggal seorang diri di atas pembaringan di pondok, meramkan matanya dan tertawa.

Ia mengepal tangan kanan-dmerasa seolah-olah Pangeran Kukutan berada di dalam kepalan tangannya itu.

Ia telah menguasai pangeran itu seluruhnya, dan ia puas.

Bahkan dalam hal cinta sekalipun ia yang berkuasa dan pangeran ini hanya seperti seekor anjing penjaga yang akan datang apabila ia menjentikkan jari tangannya.

Demikianlah, makin lama, secara teratur dan pandai sekali, Suminten makin menaik derajatnya di dalam istana, makin dalam sang prabu tenggelam ke dalam pelukan dan makin mabuk dalam belaiannya.

Tidak hanya memabukkan sang prabu sehingga raja tua itu tunduk kepadanya, juga wanita cerdik ini mulai-lah memperluas pengaruh dan kekuasaannya sehingga seringkali sang prabu merundingkan soal-soal pemerintahan dengan selir terkasih ini dan tidak jarang sang prabu mengambil keputusan berdasarkan nasehat Suminten!

Tahun demi tahun lewat dan kekua-saan Suminten makin terasa oleh semua keluarga istana.

Diam-diam Ki Patih Brotomenggala menjadi cemas sekali.

Bersama beberapa orang ponggawa tinggi lainnya, Ki Patih Brotomengala seringkali mengadakan perundingan dan diam-diam mereka ini menyusun kekuatan ke tiga untuk menandingi pengaruh Suminten yang mereka anggap meracuni Kerajaan Jenggala.

Akan tetapi, ki patih dan para pong-gawa tinggi tidak harus secara terang--terangan menentang Suminten karena mereka semua mengerti betapa besar cinta kasih sang prabu kepada selir ter-muda ini yang makin lama makin mem-pengaruhi junjungan mereka.

Suminten sendiri secara cerdik sekali juga tidak memperlihatkan permusuhan, bahkan di luarnya ia bersikap amat manis dan balk terhadap mereka, namun secara diam-diam Suminten dibantu oleh Pangeran Kukutan memperluas kekuasaannya dan memperbesar persekutuannya dengan para ponggawa muda yang merasa tidak peas dengan kedudukan mereka.

Makin lama makin menjalarlah pengaruh dan kekua-saan Suminten di Kerajaan Jenggala, dan makin tunduklah sang prabu yang sudah tua itu sehingga dalarn waktu lima ta-hun, dapat dikatakan bahwa scgala kcpu-tusan perkara pemerintahan yang keluar dari mulut sang prabu adalah keputusan berdasar kehendak Suminten!

ooooo Kita tinggalkan dulu Suminten, wanita muda cantik jelita yang berasal dari dusun namun berkat kecerdikan dan am-bisinya telah mencapai kedudukan tinggi, Iebih tinggi dari sang permaisuri sendiri itu.

Lebih baik kita menengok dan meng-;• ikuti pengalaman Endang Patibroto yang sudah terlalu lama kita tinggalkan.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, yaitu kurang lebih lima tahun yang lalu, Endang Patibroto mengajak Setyaningsih adik kandungnya, pergi se-cara diam-diam meninggalkan Selope-nangkep.

la pergi membawa hati yang perih, seperti disayat-sayat pisau rasa-nya, betapapun ia menguatkan hati, air rnatanya bercucuran terus kalau ia ter-ingat akan Adipati Tejolaksono, suaminya yang amat dikasihinya.

Tadinya is amat berbahagia, belum pernah selama hidupnya ia merasa sebahagia ketika ia pergi menyusul suaminya itu ke Selope-nangkep.

la dahulu pernah bahagia men-jadi isteri Pangeran Panjirawit, namun tidak seperti ketika menjadi isteri Tejo-laksono, karena hal itu berarti bahwa ia telah menemukan cinta kasihnya kembali, cinta kasih yang ditanamnya semenjak ia masih remaja dahulu.

Mendiang Pangeran Panjirawit hanya merupakan tempat pe-larian, hanya merupakan obat penawar yang menyejukkan hati.

Akan tetapi, bertemu dan menjadi isteri Tejolaksono berarti terpenuhi segala keinginannya sehingga ia dapat menumpahkan semua kasih sayangnya kepada pria idaman ha-tinya itu.

Apalagi ketika ia mendapat kenyataan bahwa ia telah mengandung, cinta kasihnya terhadap Tejolaksono ma-kin kuat berakar di dalam hatinya.

Akan tetapi, dia harus meninggalkan kebahagiaan itu, harus meninggalkan Tejolaksono, tidak ingin menyaksikan pria terkasih itu menderita sengsara.

Dan ia maklum setelah mendengar percakapan antara suaminya dan Ayu Candra, bahwa kalau dia tetap tinggal di Selopenangkep sebagai isteri muda, akan timbul hal-hal yang tidak baik antara dia dan Ayu Candra, dan akhirnya akan menyeret Tejolaksono ke dalam lembah kedukaan.

Selain itu iapun tidak mau lagi mengulang perbuatannya yang dahulu, ia sudah terlalu banyak mendatangkan kesengsa-raan kepada Ayu Candra.

Dan terutama sekali, ia tidak sudi berebut cinta dengan wanita lain.

Betapapun hancur hatinya, ia lebih baik pergi, bahkan lebih baik mati daripada memperebutkan cinta yang dianggapnya merupakan hal yang amat memalukan.

Mereka berdua, Endang Patibroto dan Setyaningsih, terus melakukan perjalanan tanpa tujuan ke timur.

Di sepanjang jalan, Endang Patibroto menangis sedih, dan Setyaningsih selalu berusaha menghi-bur ayundanya dengan ucapan-ucapan halus dan tenang.

Sungguh mengherankan sekali kalau diingat betapa dahulu En-dang Patibroto adalah seorang wanita yang pantang tangis, wanita yang sakti mandraguna, yang keras hati melebihi baja, kini menjadi wanita cengeng yang menangis sepanjang jalan!

Memang, be-tapapun juga, dia tetap wanita dan sekali tersentuh dan terbangkit cinta kasihnya, ia akan menjadi seorang yang perasa sekali.

Lebih aneh lagi kalau dilihat betapa Setyaningsih, gadis cilik yang baru berusia sebelas tahun itu, bersikap te-nang dan seperti seorang dewasa saja, selalu menghibur Endang Patibroto.

Se-ringkali, apabila Endang Patibroto ter-ingat akan pengalamannya berkasih mesra dengan Tejolaksono, ia tidak dapat me-nahan diri dan menangis sesenggukan, menjatuhkan diri di pinggir jalan tak dapat melanjutkan langkah kakinya.

Dan pada saat seperti itu, Setyaningsih yang segera rnemeluknya, merangkul dan men-ciuminya, dan berbisik-bisik menghibur, membesarkan hati, seperti seorang ibu menghibur anaknya yang rewel.

Kalaupun ada kalanya Setyaningsih sebagai seorang anak perempuan tak dapat menahan karena terharu melihat ayundanya menangis seperti itu sehingga air matanya sendiri runtuh, dia cepat-cepat mengusap air matanya dan mene-kan hatinya, berkeras menyembunyikan tangisnya agar ayundanya tidak men jadi makin berduka.

"Sudahlah, ayunda Endang Patibroto, perlu apa ayunda menangisi terus hal yang telah lewat? Bukankah lebih balk kalau kita melihat ke depan, ke masa depan yang lebih gemilang? Kalau ayunda tidak dapat melupakan masa lalu, baik-Iah, marl kita lanjutkan perjalanan sambil bercakap-cakap tentang masa lalu. Aku ingin sekali mendengarkan semua kisah ayunda yang pasti akan menarik sekali."

Kalau sudah dihibur oleh adik kan-dungnya, Endang Patibroto menekan hati dan perasaannya yang hancur, kagum menyaksikan sikap adiknya yang masih kecil namun tenang dan berpemandangan luas seperti orang tua, ini.

lapun agak terhibur dan berceritalah ia kepada adik-nya sambil melanjutkan perjalanan.

Ka-rena sikap Setyaningsih seperti seorang tua, lupalah Endang Patibroto bahwa adiknya ini baru berusia sebelas tahun.

la bercerita seperti kepada orang dewasa saja, dan ia menceritakan semua penga-lamannya tanpa tedeng aling-aling lagi, diceritakan semua kepada Setyaningsih.

Tentang pengalamannya dahulu, tentang pertentangannya dengan Joko Wandiro dan Ayu Candra, kemudian betapa ham-pir ia membunuh diri karena terpencil dibenci semua orang dan dihibur oleh Pangeran Panjirawit yang menjadi suami-nya selama sepuluh tahun.

Kemudian diceritakan semua pengalaman akhir-akhir ini, tentang kematian suaminya dan tentang pertemuannya dengan Adipati Tejo-laksono di Blambangan, pengalaman me-reka di dalam sumur yang membuat mereka menjadi suami isteri dan seterus-nya.

Setyaningsih mendengarkan semua penuturan ayundanya dengan hati penuh keharuan.

Akan tetapi, anak ini memang mempunyai pernbawaan sikap tenang,pendiam, lugs pandangan, hati-hati dan angkuh, tinggi hati namun berdasarkan jiwa satria.

la dapat memaklumi keadaan ayundanya, dapat merasakan kedukaan yang menimpa diri ayundanya, namun juga di dalam hati is merasa heran ter-hadap diri ayundanya ini.

Mengapa ayun-danya ini sikap dan wataknya berubah-ubah seperti keadaan Laut Selatan?

ia menganggap watak ayundanya ini kurang te-nang, sehingga mudah terguncang, mudah dipengaruhi keadaan yang menimpa diri.

Namun, ia merasa amat prihatin dan kasihan kepada ayundanya sehingga mem-pertebal rasa kasihnya terhadap saudara kandungnya ini.

Setelah melakukan perjalanan naik turun gunung dan masuk keluar hutan sampai berhari-hari, pada suatu pagi hari yang cerah kedua orang wanita kakak beradik ini tiba di Gunung Wilis.

Mereka mendaki lereng Wills yang sunyi itu dan keduanya merasa heran mengapa gunung ini begitu sunyi, berbeda dengan gunung-gunung lain yang selalu dijadikan tempat tinggal orang-orang yang bertani di lereng gunung, akan tetapi gunung Wilis ini sunyi tidak ada dusunnya.

Betapapun juga, hal ini malah menyenangkan hati mereka berdua karena terutama sekali Endang Patibroto selalu menghendaki kesunyian dan menghindari pertemuan dengan orang-orang lain.

Apalagi peman-dangan di Gunung Wills amat indahnya, hawanya sejuk dan tanahnya amat sumur, terbukti dengan padatnya tetumbuhan "Kita mengaso di sini dulu, Ningsih."

Setyaningsih mengangguk.

Ketika En-dang Patibroto duduk bersila di bawah pohon jeruk yang teduh, mulai menghe-ningkan cipta untuk bersamadhi seperti yang selalu dilakukan wanita sakti ini tiap kali beristirahat untuk memulihkan tenaga, Setyaningsih pergi mencari air yang banyak terdapat di sekitar lereng, yaitu air yang memancar keluar dari calah-celah batu.

Airnya jernih dan di-ngin sekali, yang ditampungnya dengan dua buah batok kelapa yang sengaja me-reka buat di tengah perjalanan.

Setelah meletakkan sebatok air jernlh di depan ayundanya dan dia sendiri mi-num sedikit air untuk membasahi kerong-kongannya yang kering, Setyaningsih juga meniru ayundanya, duduk bersila mele-paskan lelah.

Sikap duduk mereka itu ada-lah yang disebut Padmasana atau sikap duduk bentuk bunga teratai.

Duduk bersila dengan kedua kaki tertumpang di paha masing-masing, kedua tangan telentang dan terletak di antara kedua tumit, di bawah pusar, tulang punggung dari kepala sampai ke pinggul tegak lures.

Duduk dengan sikap seperti ini lalu mengatur pernapasan sesuai dengan ajaran Prana-yama, sebentar raja dapat menyehatkan tubuh dan memulihkan tenaga kembali.

Kedua orang kakak beradik ini sama sekali tidak tahu bahwa semenjak tadi ketika mereka mulai rnendaki dari kaki gunung, gerak-gerik mereka selalu diikuti oleh puluhan pasang mata yang mengin-tai dari atas.

Dan kini, setelah mereka duduk melepas lelah, hanya Endang Pati-broto yang tahu bahwa ada orang-orang yang berindap-indap menyelinap di antara pohon-pohon mendekati tempat mereka mengaso, akan tetapi Endang Patibroto masih duduk diam melanjutkan samadhi-nya tanpa memperhatikan gerakan orang-orang itu.

Setyaningsih tidak tahu dan masih tekun dalam samadhi, makin lama makin halus keluar masuknya napas dari lubang hidungnya dan makin tenang ba-yangan pada wajahnya yang cantik.

Endang Patibroto biarpun dengan ketajaman pandangan dan pendengarannya dapat mengetahui kedatangan puluhan orang itu, namun ia tidak dapat menduga siapa mereka.

la tidak tahu bahwa Gu-nung Wilis dihuni oleh segerombolan pe-rampok yang sudah bertahun-tahun mera-jai pegunungan ini dan menyebut mereka Gerombolan Wilis.

Gerombolan ini besar juga jumlahnya, kurang lebih seratus orang dan mereka membentuk sebuah perkarnpungan perampok di dekat puncak, di mana para perampok ini hidup dengan keluarga mereka.

Pekerjaan me-reka selain bertani dan memburu bina-tang hutan, juga merampok!

Siapa saja yang lewat di wilayah Wills, tentu men-jadi korban perampok, bahkan kadang-kadang mereka tidak segan-segan untuk menyerbu kampung yang berdekatan se-hingga lama-lama tidak ada lagi orang berani tinggal di sekitar daerah Wilis.

Inilah sebabnya mengapa pegunungan ini begitu sunyi, tidak ada dusunnya.

Gerombolan Wilis ini dipifhpin oleh tiga orang bersaudara yang semenjak merajai Wilis lalu menyebut diri mereka sebagai Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis!

Tiga orang kakak-beradik ini usianya sudah empat puluhan lebih, dan mereka terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi, memiliki kedigdayaan dan kekebalan sehingga beberapa tahun kemudian, nama Gerombolan Wilis amat terkenal dan ditakuti orang.

Ketika mendapat pelaporan para penjaga di kaki gunung bahwa ada dua orang wanita mendaki gunung, tiga orang kepala gerombolan ini terheran-heran dan memberi perintah agar mendiamkan saja dua orang wanita itu mendaki karena mereka bertiga hendak menyaksikan sendiri siapa gerangan dua orang wanita yang amat berani itu.

Sedangkan puluhan orang pria masih akan berpikir-pikir dahulu sebelum mendaki Wilis, bagaimana kini ada dua orang wanita tanpa pengawal berani naik?

Keluarlah tiga orang kepala rampok ini dari pondok mereka dan diam-diam mereka ikut mengintai.

Alangkah kagum hati mereka ketika mendapat kenyataan bahwa yang mendaki gunung mereka itu seorang wanita yang luar biasa cantiknya, seperti Sang Bathari Komaratih sendiri, berusia paling banyak tiga puluh tahun, bersama seorang gadis cilik belasan tahun yang juga cantik jelita sukar dicari keduanya.

Mereka bertiga melongo.

Sebagai orang-orang kasar, belum pernah mereka menyaksikan kecantikan wanita yang bagi mereka tampak agung itu.

Akan tetapi ketika mereka melihat betapa dua orang wanita itu beristirahat dan duduk bersamadhi, mereka makin bengong terlongong.

Sebagai orang-orang yang telah mempelajari ilmu kesaktian, tentu saja mereka mengenal sikap duduk dua orang wanita itu dan dapat menduga bahwa dua orang wanita itu tentu bukan wanita-wanita sembarangan atau wanita-wanita lemah.

Karena inilah maka Limanwilis yang tertua di antara tiga kepala rampok, memberi isyarat agar anak buahnya jangan turun tangan secara kasar.

Kemudian ia memberi isyarat lagi.

Bergeraklah anak buahnya melakukan pengurungan sehingga tempat di mana dua orang wanita itu duduk bersamadhi telah dikelilingi barisan perampok yang jumlahnya hampir seratus orang, terdiri dari laki-laki yang bertubuh kuat-kuat dan sudah biasa berkelahi.

Sekali lagi Limanwilis memberi isyarat dan majulah para perampok Itu, memperkecil lingkaran dan keluar dari tempat, persembunyiannya, juga mereka kini bebas mengeluarkan suara.

Endang Patibroto tentu saja dapat mengetahui semua gerakan ini biarpun kedua matanya masih dipejamkan.

Dengan ketajaman pendengarannya saja, ia sudah dapat mengikuti seluruh gerakan mereka.

Setyaningsih mendengar gerakan dan suara mereka, maka gadis cilik ini membuka kedua matanya.

Baca Juga: Si Bangau Merah 3

Baca Juga: Suling Emas 18

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert