Eps 4 Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo
Baca online Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo
Cersil Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo.
Selain terbelenggu, juga muka wanita tua ini matang biru bekas pukulan dan cambukan, mulutnya tersumbat kain sehingga ia tidak mampu bergerak atau bersuara, hanya sepasang matanya saja yang sayu penuh kedukaan memandang terbelalak ketika Tejolaksono mendekatinya.
Cepat Tejolaksono berjongkok dan membuka ikatan tangan lalu membuang kain penyumbat mulut.
Ia membantu wanita tua itu bangun duduk.
Nyi Sentana mengeluh dan memijit-mijit kedua pilingan kepalanya, lalu mengurut-urut kedua pergelangan tangannya.
"Bibi........... , apakah yang terjadi, Bibi? Di mana Paman Sentana. ?"
"Aduh, Kanjeng Adipati!!"
Wanita itu menubruk kaki Tejolaksono dan menangis sesenggukan.
Beberapa kali ia membuka mulut hendak bicara, akan tetapi yang keluar hanyalah isak dan sedu sedan.
Tejolaksono membimbing wanita tua itu bangkit berdiri dan menuntunnya duduk di atas balai-balai di dalam dapur.
Diambilnya sebuah kendi air di dalam dapur itu dan diberinya minum.
Wanita itu dengan gemetar minum air kendi dan berulang kali menghela napas panjang.
"Tenanglah, Bibi, dan ceritakan kepadaku apa yang telah terjadi di dusun ini, apa yang terjadi dengan keluargamu."
Wanita itu terisak-isak, akan tetapi sekarang sudah dapat mengatasi gelora hatinya yang penuh kedukaan dan kegelisahan.
"Aduh, Gusti Adipati. , malapetaka besar menimpa keluarga hamba, juga dusun ini !"
"Di manakah adanya Paman Sentana, Bibi?"
"Entah ke mana dia pergi, Gusti....…… tadipun masih berada di sini. ah, dia telah menjadi seperti gila semenjak........... mereka datang "
"Mereka? Siapakah? Siapa pula wanita yang bernama Sariwuni itu? Apakah benar dia keponakanmu?"
Wanita itu menggeleng-geleng kepala.
"Semenjak........... iblis betina itu datang dan kawan-kawannya........... ah, dusun ini berubah sama sekali, rumah ini menjadi neraka bagi saya, ahhh "
Kembali ia menangis.
"Bibi, tenanglah dan ceritakan yang jelas dari permulaan."
Wanita itu menghentikan tangisnya, mengusap air mata, menarik napas panjang beberapa kali lalu memandang celingukan ke kanan kiri seperti orang ketakutan.
Kemudian ia memegang tangan Tejolaksono dan berkata.
"Dua tiga bulan sudah saya menahan kesengsaraan hati, tak berani membuka mulut karena diancam. Sekarang, karena paduka sudah datang, baru hamba berani bercerita"
Malapetaka besar menimpa keluarga hamba. Mula-mula datang perempuan'itu yang diambil selir oleh Ki Sentana dan teman-teman perempuan itu seringkali datang bertemu. Mereka seperti iblis semua."
"AKAN TETAPI. Ki Sentana sudah gila agaknya, tunduk di bawah kekuasaan wanita cantik seperti iblis."
"Sariwuni?"
"Benar, Gusti. Kedua putera hamba menentang ayah mereka, akan tetapi mereka itu lenyap, entah ke mana tak seorangpun mengetahuinya. Ki Sentana masih menjadi kepala dusun seperti semula, akan tetapi semua kekuasaan berada di tangan iblis betina itu. Ki Sentana hanya melakukan semua perintahnya. Dan hamba. hamba tidak dibunuh agaknya untuk mengelabui mata rakyat. Hamba menjadi. satu-satunya pelayan di rumah ini, yang lain-lain telah dIkeluarkan. Ki Sentana seperti gila rakyat dianjurkan untuk menyembah Sang Hyang Shiwa dan Bathari Durga........... yang menjadi pujaan wanita iblis Itu. Hamba takut disiksa dan disumbat agar jangan membuka suara, kemudian bahkan dilkat dan disumbat mulut hamba, karena mereka tahu bahwa paduka akan datang........... dan "
Tiba-tiba Sang Adipati Tejolaksono mendorong tubuh Nyi Sentana sampai terguling dan ia sendiri melompat ke samping, menggerakkan tangannya memukul sehingga angin pukulannya menderu dan memukul runtuh belasan batang anak panah.
Akan tetapi ia mendengar jerit lemah dan ketika ia memandang, ternyata leher Nyi Sentana telah tertembus anak panah dan wanita tua itu berkelojotan sebentar kemudian tak bergerak lagi.
Tejolaksono maklum bahwa wanita Itu telah tewas dan ia tak dapat menolongnya lagi.
Kemarahan memenuhi dadanya dan pada saat itu terdengar suara ketawa terkekeh-kekeh Suara ketawa Sariwunil "Keparat jahanam!"
Tejolaksono membentak marah sekali dan tubuhnya sudah mencelat ke atas.
Demikian hebatnya ia mengerahkan tenaga dan menggunakan Aji Bayu Sakti sehingga terdengar suara keras ketika tubuhnya yang mencelat ke atas dan jebollah atap rumah berikut gentengnya!
Kini tubuhnya sudah berada di atas genteng dan ia berdiri tegak memandang ke bawah, ke arah luar rumah Ki Sentana.
Ternyata di depan rumah itu telah penuh dengan orang-orang yang menjadi anak buah Sariwuni dan teman-temannya, maka ia memandang penuh perhatian.
Inikah pasukan asing yang kabarnya tidak pernah mengganggu dusun-dusun?
Akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat bahwa orang-orang yang jumlahnya lima puluh lebih Itu ternyata adalah penduduk dusun Sumber!
Dan di barisan depan, berdiri Ki Sentana sendiri dengan sebatang tombak di tanganl Di kanannya berdiri Sariwuni, kini sudah berpakaian lengkap dan ringkas, kelihatan cantik dan gagah, sebatang pedang di tangan kanan sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.
Ada pula beberapa orang laki-laki tinggl besar yang ia tidak tahu siapa, entah pendududuk dusun entah orang lain.
"Tangkap penjahat!"
"Tangkap pembunuh !!"
Penduduk dusun itu berterlak-terlak dan mengacung-acungkan senjata dan obor ketika mereka melihat munculnya Tejolaksono di atas genteng.
Mereka tadinya mengepung rumah itu dan menanti munculnya penjahat ini dari pintu, siapa kira tahu-tahu telah berada di atas genteng.
Tejolaksono lalu melompat ke wuwungan paling depan, sehingga ia berada di atas sekumpulan penduduk dusun di bawah dan mereka semua dapat melihatnya dengan penerangan obor yang amat banyak itu.
"Heeeeeh, rakyat Sumber semua dengarlah baik-baik! Aku bukan penjahat bukan pula pembunuh. Aku adalah junjungan kalian, aku Adipati Tejolaksono, adipati di Selopenangkep! Kalian telah tertipu! Kepala dusun kalian, Ki Sentana, telah jatuh di bawah pengaruh orang-orang jahat. Sariwuni adalah seorang wanita iblis yang amat jahat! Insyaflah, hei rakyat dusun Sumber!"
Suara Tejolaksono amat nyaring dan mengatasi semua suara hiruk-pikuk karena ia mengerahkan hawa sakti untuk mendorong suaranya.
Mendengar suara ini, serentak suara para penduduk terhenti.
Nama besar Adipati Tejolaksono amat mereka kenal dan masih amat besar pengaruhnya.
Mereka menjadi bimbang dan ragu-ragu.
Tadi Ki Sentana, kepala dusun mereka yang akhir-akhir ini amat royal dalam membagi-bagi hadiah kepada rakyatnya, mengumpulkan rakyat yang katanya harus menangkap dan mengeroyok seorang penjahat sakti yang membunuh isteri Ki Sentana.
Akan tetapi mengapa penjahat itu adalah sang adipatu di Selopenangkep sendIri yang terkenal sakti mandraguna dan adil bijaksana?
"Tejolaksono!
Engkau tidak patut menjadi junjungan kami lagi!
Tidak patut menjadi Adipati Selopenangkep.
Lihat saja, sebentar lagi engkau tentu akan dihentikan menjadi adipati.
Engkau seorang penjahat besar!
Siapa yang tidak mendengar nama busuk wanita iblis Endang Patibroto yang telah banyak membunuh banyak ponggawa Panjalu?
Dan engkau malah menjadi suaminya!
Ha-ha-ha, tak perlu kau membohongi rakyatmu.
Hai, kawan-kawan, man kepung dan tangkap si laknat in Isteniku telah dibunuhnyal"
"Bohong !"
Tejolaksono hanya mampu mengeluankan ucapan mi karena ia terlalu terheran-heran.
Jelas bahwa yang bicara itu adalah Ki Sentana, orang bawahannya yang dikenalnya baik, yang menjadi sahabatnya, bekas perajurit Panjalu kawakan yang setia.
Benar-benarkah itu Ki Sentana?
Onangnya memang itu, juga suananya.
Akan tetapi terdapat perubahan yang amat jauh berbeda.
Apakah karena pengaruh Saniwuni?
Akan tetapi penduduk kini sebagian sudah ada yang menerobos masuk dan tak lama kemudian mereka keluar sambil berteriak-teriak.
"Benar, dia pembunuh jahat! Nyi Sentana telah dibunuhnyal Hayo tangkap! Kepung!"
Tejolaksono maklum bahwa dalam keributan seperti itu, percuma saja berdebat dengan kata-kata.
Paling perlu menawan Ki Sentana untuk mengorek rahasia para pennjahat itu dan juga menawan atau membunuh Sariwuni yang jelas merupakan biang keladi semua peristiwa ini.
Ia lalu menggerakkan tubuhnya melayang turun bagaikan seekor burung garuda melayang.
Para penduduk dusun Sumber ternganga dan kesima menyaksikan ini.
Baru sekarang mereka menyaksikan seorang manusia dapat melayang turun dari tempat setinggi itu seperti seekor burung saja!
Mereka menjadi gentar dan lupa untuk menyerang!
Akan tetapi ada beberapa orang yang menerjang maju, didahului oleh dua orang laki-laki tinggi besar yang tadi berdiri di dekat Ki Sentana.
Dua orang itu bersenjata pedang pula seperti Sariwuni dan bersama lima orang penduduk lain, mereka menyambut turunnya tubuh Tejolaksono.
Sang adipati menggerakkan kaki tangannya dan lima orang penduduk itu terpental mundur dan tombak mereka terlepas dari pegangan kena gempuran hawa sakti yang keluar dari kaki tangan sang adipati.
Akan tetapi alangkah heran dan kagetnya hati Tejolaksono ketika melihat bahwa dua orang laki-laki tinggi besar itu tidak terpengaruh dorongannya dan terus menerjang dengan babatan pedang mereka yang mengeluarkan angin saking kuat dan cepatnya.
"Hemm !"
Ia mendengus dan tubuhnya cepat menyelinap ke kanan, kemudian begitu dua batang pedang itu lewat, ia mendorong maju dan tubuhnya doyong pula ke depan.
Cepat sekali kedua tangannya ini bergerak, tahu-tahu telah tiba di depan dada dua orang lawannya.
Hal ini tidak aneh karena sang adipati yang perkasa telah menggunakan aji pukulan Kukilo Sakti sehingga gerakan kedua tangannya seperti dua buah kepala burung yang mematuk amat cepatnya!
"Singgg...........
siuuuuttt.
!!"
Adipati Tejolaksono terpaksa harus menarik kembali kedua tangannya sehingga pukulan Kukilo Sakti itu hanyalah mengenai dada kedua orang lawan dengan seperempat tenaganya saja karena dari belakangnya menyambar sebatang pedang yang hebat gerakannya dan tusukan sebatang tombak.
Namun ia tahu bahwa pukulannya itu sudah cukup kuat untuk merobohkan lawan yang sakti.
Maka, amatlah kagetnya ketika dua orang tinggi besar itu hanya terhuyung mundur empat langkah saja dan terus maju lagi!
Ah, kiranya di sini banyak orang sakti, pikirnya.
Tentu dua orang mi merupakan kawan-kawan Sariwuni!
Betapapun juga, ia terpaksa membalikkah tubuh menghadapi serangan dari belakang tadi.
Pedang yang menyambar dapat dielakkan dan kuku hitam yang mencengkeram dapat pula ia tangkis.
Tubuh Sariwuni untuk kedua kalinya terhuyung ke belakang.
Tombak di tangan Ki Sentana yang menyambar ia biarkan lewat di dekat perutnya dengan miringkan tubuh, kemudian secara mendadak ia menubruk maju dan di lain saat ia telah mengempit tubuh Ki Sentana yang tua itu sehingga tak dapat berkutik lagi!
Dengan lengan kiri mengempit tubuh Ki Sentana, Tejolaksono membalikkan tubuh, tangan kanannya siap untuk memukul atau menawan Sariwuni, akan tetapi ternyata wanita itu telah lenyap.
DemIkian pula dua orang laki-laktinggi besar tadi , dan kini para penduduk sumber mengeroyoknya seperti rombongan semut mengeroyok seekor jengkerik.
"Aaahhh, kalian orang-orang bodoh!"
Bentak Tejolaksono dengan gemas, akan tetapi tentu saja ia tidak mau memusuhi rakyatnya sendiri, maka sekali mengenjot kedua kakinya dengan Ayi Bayu Sakti la meloncat tinggi melampaui kepala para pengurungnya, melesat jauh.
Tiba-tiba dari rombongan penduduk dusun itu menyambar tubuh Sariwuni menyerangnya dengan pedang yang menusuk ke arah leher.
Pada saat itu, tubuh Tejolaksono maslh meloncat, maka cepat-cepat ia menggunakan tangannya yang kanan menyampok dengan jari-jari tangannya yang tepat mengenai pergeIangan tangan wanita itu.
Sariwuni menjerit, pedangnya terpental entah ke mana dan pergelangan tangannya menjadi lumpuh.
Tak kuat ia menahan benturan jari tangan Tejolaksono yang mengandung aji pukulan Bojro Dahono yang panas laksana halllintar.
Akan tetapi berbareng dengan jerit Sariwuni yang terhuyung ke belakang, juga Ki Sentana memekik.
Kagetlah Tejolaksono ketika memandang dan melihat betapa pipi Ki Sentana terdapat guratan menghitam.
Kiranya wanita iblis Itu tadi menyerangnya dengan pedang dan berbareng menyerang Ki Sentana dengan kuku tangan kiri!
Karena ingin mendengar penjelasan Ki Sentana, apalagi melihat betapa para penduduk Sumber terus mengepungnya, ia tidak mau melayani lagi.
Musuhnya hanyalah Sariwuni dan dua orang laki-laki tinggi besar itu, dan kini wanita itupun sudah lenyap lagi, agaknya bersembunyi di antara penduduk yang demikian banyak.
Ia mengerahkan tenaga melompat terus berlari menghilang dl dalam kegelapan malam sambil mengempit tubuh Ki Sentana.
Setelah larl jauh meninggalkan dusun Sumber dan mendapat kenyataan bahwa tidak ada orang mengejar lagi, barulah Tejolaksono, berhenti dan menurunkan tubuh Ki Sentana.
Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika melihat bahwa Ki Sentana telah menjadi mayat!
Di bawah sinar bulan yang cukup terang, ia melihat betapa muka Ki Sentana kini telah berubah hitam yang menjalar sampai ke leher dan kulit muka dan leher itu telah mulal rusak dan membusuk!.
Tejolaksono bergidik.
Alangkah jahatnya kuku iblis betina itu.
Inilah agaknya ilmu hitam yang disebut aji pukulan Wisakenaka (Kuku Beracun).
Hawa beracun disalurkan melalui lengan sampai ke kuku tangan dan sekali kuku itu menggurat, racun akan memasuki kulit, menjalar sampai ke dalam jalan darah seperti gigitan ular yang paling berbisa!
Tejolaksono termenung.
la merasa kasihan kepada Ki Sentana ini.
Ia dapat menduga kini apa yang telah terjadi.
Tentu Ki Sentana ini telah dipengaruhi oleh segerombolan penjahat yang amat sakti.
Mula-mula kepala dusun yang sudah tua ini dipikat dengan kecantikan Sariwuni dan ia tidak menyalahkan Ki Sentana kalau sampai jatuh hatinya.
Memang wanita itu hebat dan cantik sekali.
Kemudian,melihat keadaan yang tidak wajar, tentu Ki Sentana ini jatuh di bawah pengaruh ilmu hitam sehingga keadaannya seperti orang yang kehilangan kesadaran atau pikiran.
Dua orang puteranya tentu diculik dan tewas, isterinyapun tewas dan kini dia sendiri karena tertawan dan mereka tidak menghendaki ia membuka rahasia, ditewaskan pula.
Seluruh keluarga Ki Sentana terbasmi habis!
Dan semua itu dilakukan dengan amat halus dan cerdiknya sehingga rakyat bahkan membela mereka!
Benar-benar amat luar biasa kali ini musuh-musuh Panjalu melakukan penyerbuan ke daerah Panjalu.
Bukan dengan kekerasan merampoki dusun-dusun seperti yang dilakuka gerombolan Gagak Serayu, melainkan dengan halus, yaitu mempengaruhi,menundukkan bahkan menculik para tokoh terkemuka di setiap dusun, yang mau tunduk menjadi kaki tangan, yang tidak tunduk diculik dan lenyap, diganti orang-orang yang mau bersekutu, kemudian melalui tokoh-tokoh yang menjadi kaki tangan ini, rakyat dipengaruhi dan dibelokkan kepercayaan mereka sehingga Agama Wishnu terdesak oleh agama baru yang memuja Shiwa, atau Bathari Durga, tentulah perbuatan kaki tangan Kerajaan Cola dan Sriwijaya!
Terbuktilah kini ancaman yang dikeluarkan pendeta-pendeta Agama Buddha dan Shiwa dahulu itu dan cocok pula dengan apa yang ia dengar dalam pertemuan antara Ki Tunggaljiwa dengan Biku Janapati dan Wasi Bagaspati!
Mengembangkan agama tidak dengan kekerasan, menaklukkan negara tidak dengan perang, akan tetapi membersihkan tokoh-tokoh yang menentang.
Dan mengingat betapa baru kaki tangan mereka saja, seperti Sariwuni dan dua orang laki-laki tinggi besar yang sanggup menahan pukulan-pukulannya, Tejolaksono bergidik.
Bahaya besar mengancam Kerajaan Panjalu, bahaya yang datangnya dari barat dan utara, yang datang bagaikan air banjir seperti yang ia lihat dalam samadhinya malam itu di Kadipaten Selopenangkep.
Teringat akan kadipaten yang ditinggalkannya, Tejolaksono tersentak kaget.
Musuh amat banyak, juga amat pandai dan sakti.
Perjalanannya meninggalkan kadipaten sudah diketahui musuh.
Buktinya Sariwuni dapat tahu siapa dia.
Hal ini amatlah berbahaya.
Bagaimana kalau kadipaten diserbu selagi ia tidak ada?
Seperti yang dilakukan Lima Gagak Serayu dahulu?
Tejolaksono cepat menggali lubang dan mengubur jenazah Ki Sentana.
Kemudian malam itu juga ia melanjutkan perjalanan dengan cepat, kini menuju ke Selopenangkep.
Ketika tiba di Selopenangkep, kota kadipaten tampak sunyi, akan tetapi hatinya lega dan kagum menyaksikan penjagaan yang rapi dan kuat.
Benar-benar bibi Roro Luhito boleh diandalkan, pikirnya, karena ia tahu bahwa bibinya itulah yang mengepalai penjagaan ini.
Heran, apakah bibinya sudah tahu akan ancaman bahaya besar sehingga Kadipaten Selopenangkep siap sedia dalam keadaan perang.
Ataukah Mundingyudo sudah kembali dari penyelidikannya?
Malam hari itu ia memasuki Kadipaten Selopenangkep dan kembali la girang dan kagum sekali ketika ia baru saja meloncati tembok pintu gerbang dengan kecepatan Aji Bayu Sakti, dari sebelah dalam muncul belasan orang penjaga yang tadinya bersembunyi dan barisan tombak menghadangnya, dilkutl bentakan keras.
"Berhentil"
Akan tetapi para perajurit Itu terkejut dan girang mendapat kenyataan bahwa yang bayangannya berkelebat mencurigakan itu ternyata adalah sang adipati sendiri. Mereka lalu memberi hormat.
"Bagus! Teruskanlah penjagaan kalian dengan waspada."
Sang adipatl memuji lalu melanjutkan perjalanan menuju ke gedung kadipaten.
Kalau para penjaga itu dapat melihat kedatangannya, berartl bahwa kadipaten tidak akan mudah kebobolan.
Memang baris pendam penting sekali untuk menghadapi penyerbuan diam-diam dari orang-orang sakti yang memiliki kepandaian tinggi.
Biarpun waktu itu sudah malam, namun Roro Luhito,Ayu Candra, dan Pusporini menyambutnya dengan pakaian ringkas dan dalam keadaan siap siaga, senjata tidak terlepas dari tangan.
Jelas nampak terbayang pada wajah tiga orang wanita ini, terutama wajah Ayu Candra, betapa girang dan lega hati mereka melihat kembalinya Adipati Tejolaksono.
Dengan singkat Adipati Tejolaksono menceritakan pengalamannya dan tiga orang wanita itu mendengarkan dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Mereka maklum akan besarnya bahaya yang mengancam.
"Aku sudah menaruh curiga ketika mendengar laporan Mundingyudo,"
Kata Roro Luhito.
"Biarpun pasukanpasukan asing Itu tidak melakukan penyerbuan, akan tetapi mereka amat banyak dan melakukan gerakan mengurung Selopenangkep, karena Itu aku segera mengatur penjagaan sekuat-kuatnya."
"Memang keadaannya gawat sekali, Kanjeng Bibi,"
Kata Tejolaksono yang segera menyuruh panggil Mundingyudo menghadap. Kepala pengawal Selopenangkep ini segera datang dan menuturkan hasil penyelidikannya.
"Hamba melihat banyak sekall pasukan campuran yang datang dari barat dan utara,"
Demikian antara lain laporan Mundingyudo.
"Biarpun mereka itu tidak pernah menyerbu sebuah dusun, namun mereka amat mencurigakan. Bahkan menurut penyelidikan anak buah hamba, terdapat pula orang-orang bekas gerombolan Gagak Serayu, para penjahat dari Lembah Serayu, di antara pasukan. Pimpinan mereka, yang dari utara adalah pedanda-pedanda (pendeta Buddha) dan yang dan barat adalah pendeta-pendeta Agama Shiwa. Pasukan-pasukan kita tidak menemui tentangan, akan tetapi mereka itu makin mendekati Selopenangkep dari pelbagai jurusan, agaknya hendak mengurung. Hamba mohon keputusan paduka."
Tejolaksono mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu mengkhawatirkan keadaan Selopenangkep, yang lebih ia khawatirkan adalah keselamatan Kerajaan Panjalu.
"Kakang Mundingyudo, malam ini juga engkau berangkatlah ke Kerajaan Panjalu, menghadap sang prabu di Panjalu menghaturkan surat laporanku. Agar engkau tahu akan maksud tugasmu ini, ketahuilah bahwa pasukanpasukan asing itu menurut perkiraanku dan hal ini tidak meleset kiranya, adalah pasukan-pasukan kaki tangan Sriwijaya dan Kerajaan Cola yang selain akan memperkembangkan agama, juga bermaksud memperluas wilayah jajahan mereka di Jawa-dwipa. Maka itu, biarpun mereka tidak melakukan gerakan menyerang, namun perlu mereka itu disapu dari wilayah Panjalu karena mereka telah melanggar perbatasan. Agar jangan sampai terlambat, sekarang juga seyogianya Kerajaan Panjalu mengerahkan barisan dan melakukan pembersihan. Demikian isi laporanku, Kakang."
Setelah menulis surat laporan dan menyerahkannya kepada pembantunya itu, berangkatlah Mundingyudo malam itu juga menuju ke Panjalu.
Kemudian Adipati Tejolaksono memasuki kamarnya untuk beristirahat, diikuti oleh isterinya.
-oo0dw0oo-"Kejar.
"Tangkap mata-mata… !"
"Bunuh !!"
"Aduhh........... ahhh........... aduhh........... trang-trang-trang !!"
Suara ini memecahkan kesunyian di pagi hari depan gedung Kadipaten Selopenangkep.
Para perajurit pengawal sibuk mengurung empat orang sambil berteriak-teriak dan beberapa orang pengawal roboh tumpang tindih.
Seorang di antara mereka yang dikeroyok pengawal ini diam saja, hanya melangkah maju memasuki pekarangan kadipaten sambil tersenyum.
Sikapnya tenang namun ia congkak sekali, mengangkat muka dan membusungkan dada yang tipis.
Ia seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun, tubuhnya kurus tinggi, rambutnya penuh uban panjang terurai di kedua pundak sampai ke pinggang, pakaiannya jubah pendeta berwarna kuning, telanjang dan memegang sebatang tongkat hitam yang bentuknya seperti ular kering.
Wajah laki-laki tua Ini merah seakan-akan bagian tubuhnya itu penuh dengan darah di dalamnya, bahkan kedua matanya juga kemerahan.
Hidungnya panjang melengkung seperti paruh betet, mulutnya lebar dan karena selalu tersenyum, tampak deretan gigi yang ompong dan menguning.
Kalau rambutnya panjang, adalah mukanya yang merah itu sama sekali tidak berambut, tidak ada sehelaipun kumis atau jenggot, agaknya habis dicabuti.
Adapun tiga orang yang mengikutinya adalah dua orang laki-laki tinggi besar berusia empat puluhan tahun dan seorang wanita cantik jerusia dua puluh lima tahun.
Lakilaki tua berjubah pendeta itu berjalan tanpa memperduli kan pengeroyokan dan pengejaran, akan tetapi, tiga orang inilah yang melindunginya dan setiap ada perajurit yang maju menyerang tentu perajurit itu terlempar berikut senjata mereka.
Tiga orang ini hebat bukan main, dengan tangan kosong mampu melempar-lemparkan para perajurit yang berani mendekat dan menyerang.
Empat orang ini pagi tadi dengan enak dan tenangnya memasuki pintu gerbang yang baru terbuka, tidak perduli akan larangan dan teguran para penjaga.
Mereka berjalan terus memasuki kota, menuju ke kadipaten, terus berjalan maju dan tiga orang itu membabati semua penghalang, namun agaknya mereka menjaga agar mereka tidak sampai membunuh para perajurit sehingga mereka yang dilempar-lemparkan atau dirobohkan hanya mengalami babak-belur dan patah tulang saja.
Seorang di antara para pengawal sudah masuk ke gedung kadipaten untuk melaporkan datangnya empat orang aneh itu.
Adipati Tejolaksono segera keluar diikuti Ayu Candra, Roro Luhito, dan Pusporini, kesemuanya sudah siap siaga dengan keris di pinggang.
Begitu keluar dari gedung dan melihat empat orang itu menghadapi kepungan para pengawal dengan tenang, melihat pula betapa tiga orang itu dengan mudahnya melemparlemparkan para perajurit yang berani menyerang, Tejolaksono segera berseru.
"Para pengawal, tahan dan mundur semual"
Perajurit-perajurit pengawal berbesar hati melihat munculnya Adipati Tejolaksono.
Mereka maklum bahwa empat orang yang datang ini adalah orang-orang sakti dan untuk menghadapi mereka ini, hanyalah sang adipati dan keluarganya yang akan mampu menanggulangi.
Mereka lalu mengundurkan diri namun masih mengurung dari jarak jauh, siap menanti perintah sang adipati.
Tejolaksono diikuti tiga orang wanita itu melangkah maju perlahan-lahan memasuki halaman kadipaten yang amat luas, merupakan sebuah alun-alun kecil.
Diam-diam Tejolaksono marah sekali ketika mengenal tiga orang itu.
Wanita cantik itu bukan lain adalah Sariwuni yang pernah dijumpainya, bahkan yang pernah menggodanya dengan sikap yang tak tahu malu.
Kini wanita itu berdiri dan memandangnya dengan mata bersinar-sinar dan bibir yang manis itu tersenyum-senyum.
Sungguh seorang wanita yang tidak tahu malu dan mengingatkan ia akan dua orang tokoh wanita ketika ia masih kecil, yaitu Ni Nogogini dan Ni Durgogini (baca cerita Badai Laut Selatan).
Melihat Sariwuni, otomatis Tejolaksono melirik ke arah kedua tangannya, tangan dengan kuku beracun yang telah menggurat tewas Ki Sentana.
Akan tetapi kedua tangan itu indah bentuknya, jari-jarinya runcing halus dan kuku-kuku jarinya yang diruncingkan itu putih halus kemerahan!
Adapun dua orang laki-laki tinggi besar di sebelah wanita itupun dikenalnya sebagai dua orang laki-laki tangguh yang pernah ia lihat di dusun Sumber.
Akan tetapi laki-laki tua berpakaian pendeta itu baru kali ini ia lihat dan ia sama sekali tidak mengenalnya.
Betapapun juga, melihat sikapnya, ia dapat menduga bahwa pendeta itu tentulah seorang yang sakti, karena buktinya tiga orang itu bertindak sebagai pelindungnya.
Maka ia bersikap waspada dan hatihati, terus melangkah sampai berhadapan dengan empat orang tamu aneh itu.
Kini mereka berdiri berhadapan, saling memandang penuh perhatian.
Kemudian Adipati Tejolaksono berkata.
"Kalau saya tidak salah mengira, tiga orang yang melindungi andika ini pernah saya jumpai di dusun Sumber."
Sariwuni memperlebar senyumnya dan memandang Tejolaksono dari atas ke bawah dengan kekaguman yang tidak disembunyi-sembunyikan.
"Aduh, Adipati Tejolaksono. Setelah kini melihatmu berpakalan adipati,tidak menyamar sebagai seorang petani kotor, engkau menjadi jauh lebih tampan dan gagah. Sungguh !!"
Senyumnya berubah senyum mengejek ketika wanita ini melihat pandang mata berapi penuh kemarahan dari Ayu Candra yang berdiri di sebelah kiri suaminya.
Ingin Ayu Candra memaki dan menerjang wanita itu setelah kini ia dapat menduga bahwa tentu inilah Sariwuni yang diceritakan suaminya, akan tetapi ia menahan kemarahannya dan menyerahkan sikap menyambut empat orang aneh ini kepada suaminya Tejolaksono tidak memperdulikan wanita cantik itu,melainkan berkata lagi kepada si pendeta.
"Menurut pelaporan para penjaga, andika bermaksud menemui saya dan menggunakan kekerasan memasuki kadipaten. Melihat pakaian andika, tak akan keliru kiranya kalau saya mengatakan bahwa andika seorang pendeta yang sudah pandai menguasai nafsu diri, akan tetapi melihat sepak terjang andika dan kawan-kawan andika, sungguh belum pernah saya mendengar ada tamu yang datang secara paksa dan menggunakan kekerasan, kecuali sebangsa perampok dan penjahat!". Halus kata-kata Tejolaksono, namun langsung menusuk perasaan dan merupakan teguran keras. Namun empat orang tamu itu sama sekali tidak kelihatan marah dan hanya tersenyum-senyum, yaitu Sariwuni dan si pendeta karena dua orang laki-laki tinggi besar itu tidak pernah tersenyum, juga tidak tampak marah. Wajah keduanya seperti wajah arca dari batu saja, sama sekali tidak membayangkan perasaan apa-apa. Melihat ini semua,Tejolaksono dapat menduga bahwa mereka ini benar-benar telah memiliki kekuatan dalam yang hebat dan tidak lagi mudah dikuasai perasaan. Maka iapun tidak mau lagi banyak menyerang dengan kata-kata, lalu langsung saja bertanya.
"Kisanak, pendeta atau perampok adanya andika, setelah berhadapan muka dengan aku, katakanlah siapa andika dan apa kehendak andika mendatangi Kadipaten Selopenangkep!"
"Heh-heh-heh, Adipati Tejolaksono. Andika ingin mengenalku? Aku adalah Cekel Wisang koro , abdi dan murid, juga utusan Sang Wicaksono Wasi Bagaspati! Adapun maksud kedatangan kami adalah dengan hati terbuka, maksud baik dan membawa uluran tangan sang wasi."
Tidak heran hati Tejolaksono mendengar ini.
Memang ia sudah menduga bahwa semua peristiwa yang terjadi adalah kelanjutan daripada munculnya Biku Janapati dan Wasi Bagaspati di puncak Merapi empat tahun yang lalu.
Dengan hati panas Tejolaksono tersenyum pahit.
"Adakah hati terbuka dan maksud baik diawali dengan pertempuran melawan para penjaga Selopenangkep?"
Kembali Cekel Wisangkoro tertawa.
"Adipati Tejolaksono, periksalah baik-baik semua perajuritmu. Adakah seorang saja yang tewas di tangan kami? Kami memasuki Selopenangkep dengan hati terbuka dan maksud baik, akan tetapl para perajuritmu menyerang kami.. Sungguhpun demikian, kami masih menaruh kasihan dan tidak membunuh seorangpun, hanya merobohkan karena kami harus membela diri, bukan? Hal itu saja sudah Membukti kan bahwa kami datang dengan maksud baik!"
Di dalam hatinya, Tejolaksono tak dapat membantah kebenaran ucapan itu.
Memang, empat orang ini belum melakukan sesuatu yang jahat di Kadipaten Selopenangkep dan semua perajurit yang roboh tidak terbunuh, hanya babak-belur dan patah tulang saja.
"Hemmm, katakanlah terus terang, Cekel Wisangkoro,sebagai utusan, apakah kehendakmu dan apakah yang akan kausampaikan kepadaku?"
"Kami datang mengulurkan tangan kepadamu, Adipati Tejolaksono, untuk bekerja sama dan menjadi sahabat. Kita semua tahu betapa lemahnya Kerajaan Panjalu dan Jenggala, kerajaan yang dahulunya besar kini terpecahbelah, dikuasai oleh raja-raja lalim! Tidak hanya rajanya yang lalim, juga para ponggawanya tidak becus dan kepentingan rakyat tidak ada yang menghiraukan. Kami datang untuk membebaskan rakyat daripada kesengsaraan. Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Cola siap untuk mengangkat kehidupan rakyat Jawa-dwipa ke tingkat yang lebih tinggi, mengajar rakyat ilmu-ilmu yang tinggi untuk mencapai kesempurnaan. Karena kami tahu bahwa andika adalah seorang adipati yang baik, maka Sang Wasi Bagaspati berpesan kepada kami untuk menghubungimu dan mengulurkan tangan kepadamu agar kita bersekutu. !!"
"Menjadi kaki tangan Kerajaan Cola atau dibunuh seperti halnya Ki Sentana, lurah dusun Sumber?"
Adipati Tejolaksono' memotong dengan suara marah.
"Heh, Cekel Wisangkoro! Kau pergilah dan sampaikan kepada Wasi Bagaspati bahwa angkara murka Kerajaan Cola ini takkan berhasil! Penyerbuan rahasia dan secara halus mengelabui rakyat ini akan menghadapi tantangan rakyat dan seluruh perajurit Panjalu dan Jenggala! Niat keji kalian takkan tercapai! Lebih baik kalian membawa pergi semua pasukan berandal itu sebelum diganyang hancur oleh rakyat Panjalu!"
"Hi-hi-hik, Tejolaksono.Ucapanmu itu menggelikan sekali! Justeru kami kuat karena rakyat berada di belakang kami. Kami datang untuk mengangkat rakyat, bagaimana kau bilang rakyat akan menentang kami? Hihik, sang adipati yang tampan dan gagah. Pikirlah baik-baik, bukankah jauh lebih baik kalau engkau dan aku menjadi sahabat daripada menjadi musuh? Aku percaya bahwa kalau engkau dan aku menjadi sahabat........... ehemm kita dapat menciptakan surga di atas bumi ini karena engkau dan aku cocok sekali! Hi-hi-hik!"
Tiba-tiba Pusporini, dara remaja berusia lima belas tahun yang cantik manis dan bertubuh ramping padat dan seperti bunga mulai mekar itu, melangkah maju dan suaranya nyaring sekali ketika la menudingkan telunjuk tangan kirinya ke arah muka Sariwuni yang masih terkekeh genit.
"Ihhh, bukankah kamu ini yang bernama Sariwuni? Rakanda adipati sudah bercerita tentang kamu dan tahukah kamu apa yang dikatakan oleh abdi pelayanku? Bahwa Sariwuni adalah seorang perempuan rendah dan hina, tak tahu malu, cabul dan kotor, tak mengenaI susila."
"Pusporini........... , diam. !"
Roro Luhito membentak puterinya.
Akan tetapi Sariwuni yang tadi dapat menahan perasaan dan hanya tersenyum-senyum, kini telah menjadi merah mukanya seperti udang direbus.
Tak dapat ia menahan kemarahannya karena dimaki-maki seperti itu di depan orang banyak............"Bocah...........
, kau sudah bosan hidup !"
Tanpa disangka-sangka, dengan gerak cepat yang dahsyat sekali, tubuhnya sudah menerjang dengan pukulan tangan kanan yang menggunakan kuku mencakar ke arah muka Pusporini.
"Rini........... Pethit Nogo !!"
Tejolaksono berseru karena untuk bergerak menolong sudah tak keburu lagi.
Pukulan yang dilakukan oleh Sariwuni dengan kuku mencakar itu ia tahu amat berbahaya karena kuku itu mengandung racun yang ampuh dan hanya Aji Pethit Nogo saja yang akan dapat menyelamatkan adiknya, juga muridnya itu karena Aji Pethit Nogo yang mengandalkan kepretan jari yang penuh hawa sakti dapat melawan kuku-kuku beracun.
Biarpun Pusporini masih muda dan lincah gembira,namun ia gesit sekali dan sudah digembleng oleh Adipati Tejolaksono.
Mulutnya masih tersenyum akan tetapi tangannya sudah bergerak, dengan jari-jari terbuka dan lurus ia menggerakkan Aji Pethit Nogo sehingga jari-jari tangan yang kecil mungil itu tersalur hawa sakti dan tergetar ketika ia pergunakan untuk menangkis.
"Plakk "
Cakaran tangan Sariwuni terpental, akan tetapi tubuh Pusporini terdorong ke belakang.
Dara remaja ini tentu akan roboh terguling oleh hawa pukulan lawan yang jauh lebih kuat kalau saja ia tidak meloncat dan berjungkir balik dengan gerakan manis sekali sehingga dorongan hawa pukulan lawan itu terpatahkan.
Ia meloncat turun dan tersenyum.
"Wah, cakaran itu mengingatkan aku akan Si Belang,kucingku yang karena makan bangkai tikus yang sudah busuk tiba-tiba menjadi gila dan mencakar kalang-kabut seperti itu. Kamu tidak ada bedanya seujung rambutpun dengan kucing yang gila itu. Agaknya engkaupun terkena racun bangkai yang kau makan!"
Sariwuni makin marah, akan tetapi tiba-tiba Cekel Wisangkoro berkata halus kepadanya.
"Sudahlah, Wuni,untuk apa melayani seorang anak kecil?"
"Cekel Wisangkorb, andika sebagai utusan bicaralah, jangan membiarkan sembarang orang mengacau dengan kata-kata kosong memancing keributan."
Tejolaksono menegur.
"Heh-heh-heh, maafkan, Adipati Tejolaksono. Akan tetapi Sariwuni bukanlah orang sembarangan atau orang lain, dia adalah adik seperguruanku pula. Dan apa yang diucapkannya tadi benar belaka. Percuma saja kalau andika hendak menolak, lebih baik andika mencari jalan 'yang lebih menyenangkan kedua pihak dan menerima uluran tangan kami. Andika tetap menjadi adipati yang dipertuan di Selopenangkep dan membiarkan kami bergeak ke timur."
"Kalau aku menolak?"
"Kalau engkau menolak berarti engkau dan keluargamu akan terbasmi, Selopenangkep akan mempunyai seorang adipati baru dan kami tetap saja akan dapat bergerak ke timur. Jangan bodoh, Tejolaksono, bukalah matamu dan lihat baik-baik. Kadipaten ini telah terkurung oleh barisan yang sedikitnya sepuluh kali lebih besar daripada pasukan Selopenangkep dan ribuan orang rakyat sebagai sukarelawan datang pula dan siap membantu kami, mengapa kau menolak?"
"Kami tidak takut! Eh, pendeta bau apek, jangan kau banyak tingkah!"
Pusporini sudah tak dapat dapat menahan kemarahannya lalu membentak dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Cekel Wisangkoro.
"Biar barisanmu seratus kali lebih banyak, akan kami lawan!"
Kata pula Ayti Candra yang juga sudah marah.
"Anaknda adipati. Menghadapl tikus-tikus macam ini saja biar serahkan kepada kanjeng bibi! Biar sudah tua, aku sanggup memimpin pasukan membasmi tikus-tikus ini!"
Kata Roro Luhito sambil melangkah maju dan meraba gagang kerisnya. Adipati Tejolaksono tertawa dan menghadapi Cekel Wisangkoro.
"Engkau telah menyaksikan dan mendengar sendiri, Cekel Wisangkoro. Sedangkan bibiku, isteriku, dan adikku saja tidak takut menghadapi ancamanmu, apalagi aku! Pasukan-pasukanmu yang menyerbu akan kami hadapi dan anggap sebagai musuh negara, adapun rakyat dusun yang terbujuk olehmu dan ikut menyerbu akan kami anggap sebagai pemberontak! Tidak perlu kau mengancam dan banyak cakap lagi karena aku tahu bahwa kalian adalah kaki tangan Kerajaan Cola yang mengilar melihat negara kami dan ingin menjajah. Pendeknya, hanya ada dua pilihan bagi kalian, yaitu pergi membawa kembali pasukanmu ke tempat asalmu atau maju dan hancur lebur menghadapi perlawanan rakyat Panjalu!"
Kini senyum di mulut Cekel Wisangkoro lenyap, terganti kemarahan yang membayang di mukanya yang halus dan merah itu. Sinar matanya berkilat-kilat, dan dadanya dibusungkan.
"Babo-babo Tejolaksono! Engkau tak dapat diajak berbaik! Engkau telah menentukan kehancuran keluargamu sendiri, seperti pohon itu!"
Cekel Wisangkoro meloncat ke kiri, mendekati pohon sawo yang tumbuh di halaman kadipaten itu, tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka menyambar ke arah batang pohon yang besar itu dan menampar.
"Blukkk. I"
Pohon itu bergoyang-goyang akan tetapi tidak roboh.
Semua perajurit Selopenangkep yang melihat betapa pohon itu tak dapat dipukul roboh, tertawa-tawa mengejek , akan tetapi suara ketawa itu segera sirep dan suasana menjadi sunyi, mata mereka terbelalak dan mulut mereka.
ternganga ketika melihat betapa daun-daun pohon sawo itu menjadi layu dan rontok seperti hujan,diikuti buah-buah sawo yang tadinya masih mentah kini menjadi busuk dan berjatuhan!
Keadaan yang hening itu segera berubah menjadi berisik ketika para perajurit menjadi marah dan mereka kini mengurung maju dengan sikap mengancam!
Juga Roro Luhito sudah marah sekali.
Wanita tua perkasa ini mencabut kerisnya dan melangkah maju sambil menudingkan kerisnya ke arah empat orang lawan itu.
"Pendeta bajul! Apa kaukira dengan sihirmu ini kami menjadi takut?!"
Dua orang laki-laki tinggi besar yang berada di sebelah kiri Cekel Wisangkoro meloncat maju sambil mencabut pedang, agaknya hendak menerjang Roro Luhito.
Akan tetapi pada saat itu berkelebat bayangan Tejolaksono menyambut mereka sambil membentak.
"Keparat, kalian mau apa?"
Dua orang tinggi besar itu menggerakkan pedang membacok, gerakan mereka cepat sekali dan amat kuat sehingga pedang mereka mengeluarkan angin dan menimbulkan suara berdesing.
Pedang itu menyambar dari kanan kiri ke arah leher dan lambung Sang Adipati Tejolaksono.
Demikian cepatnya pedang menyambar sehingga para perajurit Selopenangkep menahan napas.
Agaknya takkan dapat dihindarkan lagi bahwa tubuh sang adipati tentu akan terbabat putus menjadi tiga potong!
Hanya keluarga sang adipati itu saja yang memandang dengan tenang dengan sikap penuh kewaspadaan karena mereka cukup mengenaI akan kesaktian Tejolaksono dan percaya sepenuhnya bahwa sang adipati akan dapat menjaga dan menyelamatkan dirinya.
Harapan mereka ini tidak sia-sia.
Dengan gerakan amat tenang, Tejolaksono tidak mengelak, bahkan tidak menggerakkan tubuh sama sekali, hanya kedua tangannya saja menyambut.
Dua orang tinggi besar itu berseru kaget dan kesakitan karena entah bagaimana, tahu-tahu pergelangan tangan mereka kena dicengkeram oleh Tejolaksono dan terdengar bunyi "krek-krek!"
Ketika sang adipati mengerahkan tenaga, tanda bahwa tutang lengan kanan mereka patah!.
Adipati Tejolaksono menarik kedua tangannya dan pedang lawan telah terampas olehnya, kin!
kedua kakinya bergerak cepat sekali bergantian dan mencelatlah tubuh dua orang tinggi besar itu sampai empat meter ke belakang di mana mereka terbanting dan meringis kesakitan sambil memegangi tangan kanan yang sudah patah tulangnya.
Hebatnya, mereka sedikitpun tidak mengeluarkan suara keluhan sungguhpun rasa sakit pada lengan mereka menusuk sampal ke ulu hati.
Dengan dua batang pedang di tangan, Tejolaksono menghadapi Cekel Wisangkoro dan berkata.
"Cekel Wisangkoro, aku yakin bahwa kalau aku menghendaki, kalian berempat akan mati di tempat ini sekarang juga. Akan tetapi, aku mengenal tata susila dan mengingat bahwa kalian adalah raka (utusan) dan adalah menjadi hak mutlak caraka untuk datang dan pergi lagi tanpa terganggu, maka aku membiar kan kalian pergi dalam keadaan hidup. Kalau dua orang temanmu ini terluka, hal itu hanya karena kesala han mereka sendiri sebagai hukuman dariku atas kelancangan mereka. Nah, kau pergilah dan boleh bawa sebatang pedang yang tiada gunanya ini!"
Sang Adipati Tejolaksono mengerahkan kedua tangannya dan "krak-krak!!"
Dua batang pedang itu patah-patah lalu dilemparkannya ke kaki Cekel Wisangkoro!
Para perajurit bersorak memuji menyaksikan kesaktian junjungan mereka ini.
Cekel Wisangkoro menoleh ke arah kedua orang temannya itu dan memaki.
"Sungguh bodoh kalian!"
Akan tetapi ketika ia membalikkan tubuh menghadapi Tejolaksono lagi, ia sudah tertawa, sikapnya tenang-tenang saja sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut.
"Engkau sombong, Tejolaksono! Tahukah engkau bahwa jika sekarang aku melontarkan tongkatku ini ke angkasa, dari empat penjuru akan menyerbu pasukan-pasukanku dan dalam waktu singkat Kadipaten Selopenangkep akan menjadi karang-abang (lautan api)? Akan tetapi karena engkau menggunakan tata susila tidak mau nyerang caraka, akupun hendak mengimbangimu, tidak akan menyerang sebelum me nyodorkan kesempatan terakhir. Nah, kami memberi kesempatan kepadamu sampai sehari ini. Kalau sampai senja kala nanti engkau tidak datang kepada kami di dalam hutan sebelah barat Selopenangkep untuk menerima uluran tangan kami, jangan sesalkan kami kalau kami terpaksa menggunakan kekerasan!"
"Sudah cukup banyak kau mengoceh, Cekel Wisangkoro! Pergilah sebelum para perajuritku kehabisan sabar!"
Dengan lagak angkuh Cekel Wisangkoro lalu pergi dari halaman gedung kadipaten, diikuti Sariwuni dan dua orang laki-laki tinggi besar yang masih memegangi pergelangan tangan kanan mereka yang patah tulangnya.
Para perajurit pengawal mengiringkan mereka dengan ejekan dan tertawaan.
Akan tetapi setelah empat orang tamu itu pergi jauh, Adipati Tejolaksono segera memanggil semua pembantunya dan membagi-bagi tugas mengatur penjagaan di sekeliling kadipaten.
Kadipaten Selopenangkep tidak mempunyai pasukan yang besar.
Seluruh pasukan hanya terdiri dan dua ratus empat puluh orang perajurit.
Akan tetapi biasanya, pasukan yang tergembleng ini di bawah pimpinan Tejolaksono merupakan barisan yang amat kuat dan boleh diandalkan untuk menjaga keselamatan kadipaten.
Kini pasukan yang kecil itu dipecah-pecah untuk menjaga kadipaten secara bergiliran.
Sang adipati sendiri, bersama isterinya, Pusporini dan Roro Luhito, tidak tinggal diam.
Mereka berempat ini maklum akan ancaman bahaya dari plhak lawan, maka merekapun sibuk melakukan perondaan dalam keadaan siap siaga.
Namun tepat seperti ancaman Cekel Wisangkoro, sehari itu sama sekali tidak terjadi penyerbuan musuh, bahkan di luar sekeliling kadipaten tidak tampak bayangan seorangpun musuh.
Malam hari itupun tidak ada penyerbuan musuh secara terbuka.
Akan tetapi banyak hal menggiris kan hati para perajurit telah terjadi.
Rombongan penjaga di sebelah utara dan timur, terdiri masing-masing dari tiga puluh orang perajurit, menjadi ketakutan setengah mati setelah peristiwa yang hebat dan menyeramkan menimpa diri mereka.
Malam itu, menjelang tengah malam, mereka sedang meronda dan memeriksa bagian tirmur dan utara.
Malam sunyi dan gelap, tak tampak bayangan seorangpun musuh, juga tidak terdengar sesuatu.
Bulan bersinar terang, didampingi banyak bintang.
Udara cerah dan pemandangan indah yang terbentang di angkasa itu sedikit banyak mengurangi ketegangan hati mereka.
Mula-mula mereka tidak menaruh curiga ketika ada segumpal awan hitam menutupi sinar bulan.
Barulah mereka mulai panik ketika "awan"
Ini dapat melayang turun dan merupakan asap hitam yang menyerang mereka!
Keadaan makin menjadi gelap sehingga akhirnya mereka tak dapat melihat tangan sendiri!
Dan di dalam kepanikan yang makin meningkat ini, mereka barn tahu bahwa hal yang tidak wajar telah terjadi.
Apalagi ketika di dalam kegelapan yang hebat itu mereka mendengar suara-suara aneh, bukan suara manusia, gerengan-gerengan dan ketawa-ketawa seakan-akan semua jin dan setan keluar dari neraka dan berkumpul di tempat itu.
Dan mulailah mereka melihat muka-muka yang mengerikan, muka yang besar seperti kepala raksasa, akan tetapi tanpa tubuh.
Paniklah para perajurit.
Ada pula yang pemberani lalu menerjang ke arah bayangan-bayangan itu hanya uptuk menghantam kawan-kawan sendiri karena di dalam kegelapan itu mereka tidak dapat membedakan mana kawan mana lawan!
Setelah terjadi pukul-memukul dan serang-menyerang antara kawan sendiri yang dalam kepanikan disangka musuh sampai beberapa jam lamanya, akhirnya "awan"
Hitam itu lenyap dan keadaan menjadi terang kembali.
Dapat dibayangkan betapa heran, kaget dan gelisah hati para kepala pasukan ketika menyaksikan akibat peristiwa itu.
Enam orang perajurit luka-luka oleh pukulan kawan sendiri, dan sepuluh orang perajurit lenyap tak meninggalkan jejak, entah melarikan diri entah bagaimana!
Para penjaga di sebelah selatan dan barat juga mengalami hal yang amat luar biasa.
Juga jumlah mereka In!
adalah dua pasukan terdiri dari tiga puluh orang perajurit tiap pasukan.
Pengalaman mereka tidaklah mengerikan seperti apa yang dialami para penjaga di timur dan utara, akan tetapi akibatnya malah lebih mencelakakan lagi.
Selagi mereka menjaga malam itu dekat tengah malam, juga dalam sinar bulan yang cemerlang dan indah romantis, dari dalam kesunyilan muncul tujuh belas orang wanita cantik jelita yang hanya mengenakan pakaian tipis dan rambut mereka terurai.
Wanita-wanita ini dengan sikap amat menarik hati menggoda mereka dengan bujuk rayu dan pikatan.
Kepala kedua pasukan yang tetap waspada membentak pasukan masing-masing dan memerintahkan pasukannya menangkapi tujuh belas orang wanita cantik yang mencurigakan itu.
Akan tetapi, mendadak tercium ganda yang harum semerbak dan semua perajurit seperti mabuk karenanya, bahkan dua orang kepala pasukan itu tidaklah sebengis tadi dan hanya tertawa-tawa ketika melihat betapa anak-anak buah mereka bersendau-gurau dan bermesraan dengan tujuh belah orang wanita itu.
Barulah keadaan menjadi kacau-balau ketika menjelang fajar, mereka mendapatkan diri mereka tertidur dan ketika dicacahkan, ternyata dua puluh orang perajurit telah lenyap bersama tujuh belas orang wanita cantik tadi!.
Tidak hanya di tempat-tempat penjagaan terjadi hal aneh.
Bahkan hal-hal aneh menimpa dan terjadi di dalam kadipaten sendiri!
Malam itu setelah melakukan perondaan sendiri sekeliling kadipaten, Adipati Tejolaksono kembali ke gedungnya.
Suasana sekeliling kadipaten seperti malam-malam biasa, sunyi senyap, tidak ada pergerakan musuh.
Akan tetapi hal ini amat mencurigakan hatinya dan sang adipati yang melihat betapa bibinya Roro Luhito, Pusporini, dan Ayu Candra sendiri masing-masing melakukan penjagaan di dalam gedung, lalu memasuki sanggar pamujan untuk bersamadhi, mempertinggi kewaspadaan dan memohon perlindungan dari para dewata.
Belum lama sang adipati bermuja samadhi, tiba-tiba ia merasa betapa kedua matanya diserang kantuk yang amat hebat hampir tak tertahankan lagi.
Karena tadinya ia menyangka bahwa kantuk ini datang karena lelah dan tegang, maka hampir solo Tejolaksono tunduk dan menyerah, akan tidur barang sebentar.
Akan tetapi ketika cuping hidungnya bergerak mengendus ganda kembang menyan, seketika kewaspadaannya timbul kembali.
Aji penyirepan!
Tak salah lagi, ini tentulah akibat penyirepan yang amat kuat!
Sang adipati yang Sakti mandraguna ini lalu cepat mengerahkan seluruh tenaga batinnya sehingga hawa sakti menggetar keluar dari tubuhnya membentuk gelombang getaran di angkasa dan menolak getaran aji penyirepan itu.
Dari perasaan tertekan dan tertindih di dadanya, sang adipati maldum bahwa yang melepas aji penyirepan adalah seorang yang memiliki hawa sakti yang amat kuat.
Terjadilah "perang tanding"
Yang aneh dan tidak tampak oleh mata manusia, pertandingan antara dua getaran hawa sakti, tolak-menolak, dorong-mendorong dan tindih menindih.
Kalau ada orang secara kebetulan melihat ke atas atap gedung kadipaten, tentu mereka akan merasa terheran-heran melihat adanya segumpal asap putih yang seperti bermain-main di angkasa, kadang-kadang terdorong ke depan kadang-kadang mundur pula ke belakang dan akhirnya setelah lama maju mundur, asap putih yang berbau harum kembang menyan ini hancur dan buyar lalu lenyap!
Hal ini menandakan bahwa aji penyirepan yang tadinya menguasai sekeliling gedung kadipaten telah dikalahkan oleh getaran hawa sakti yang membubung keluar dari sanggar pamujan.
Pusporini dara remaja yang cantik manis dan perkasa itu tadinya juga menjaga gedung kadipaten bersama ibunya dan ayundanya.
Dara ini telah siap siaga, pakaiannya serba ringkas, bajunya berwarna biru muda berlengan pendek sampai di siku.
Baju lengan pendek ini amat baik dipakai dalam menghadapi pertandingan sehingga kedua lengannya akan dapat bergerak leluasa.
Kainnya dikenakan secara longgar dan agak tinggi, dengan ujung dikumpulkan lalu dikaitkan ke belakang sehingga kainnya di bawah naik sampai ke lutut dan tampaklah celana hitam sampai ke bawah lutut.
Betisnya yang masih kecil akan tetapi sudah berbentuk padi bunting dan kulit halus itu tampak.
Pakaian kain seperti ini membuat ia akan leluasa bergerak kalau bertempur, tidak menghalangi gerak langkah atau tendangannya.
Di pinggangnya tampak sebatang keris luk tiga menyelempit di balik sabuk sutera.
Rambutnya yang hitam gemuk halus dan panjang sampai ke pinggul itu kini ditekuk dan diikat menjadi satu dengan kuat sehingga ujungnya yang berjuntai hanya sampai ke pundak, tidak disanggul seperti biasa karena kalau dipakai bertempur dikhawatirkan sanggul terlepas dan rambut terurai membuat gerakan tidak leluasa lagi.
Tangan kanannya memegang sebatang golok, karena ia telah mempelajari permainan golok indah dari sang adipati, yaitu permainan Golok Lebah Putth.
Golok yang kecil bentuknya, lebih kecil daripada golok biasa, gagangnya kayu terukir dan memakai ronce-ronce sutera merah.
Seperti umumnya watak orang muda Pusporini juga haus akan petualangan hebat.
Suasana kadipaten yang mencekam perasaan dan amat menegangkan itu merupakan pengalaman menggembirakan bagi dara remaja ini.
Kini tibalah saatnya ia akan dapat membuktikan segala aji yang selama ini ia pelajari, pikirnya.
Dan seorang muda seperti dia sama sekali tidak mengenal takut, belum begitu yakin akan tingginya langit dalamnya lautan!
Ia menanti-nanti datangnya musuh untuk dibabat dengan goloknya seperti membabat rumput, dipukul remuk dengan ajinya Pethit Nogo di tangan kini seperti menghancurkan buah-buah mentimun.
Akan tetapi setelah menanti sampai jauh malam tidak juga muncul seorangpun musuh, hatinya menjadi kesal dan bosan.
Maka ditinggalkannya ibu dan ayundanya untuk "mencari angin sejuk"
Di belakang kadipaten, di dalam taman bunga.
Angin dingin sejuk memang ia dapatkan, dan hampir saja ia celaka oleh angin dingin sejuk ini.
Tadinya ia bermaksud menjaga di taman dan mengharapkan munculnya musuh di dalam taman.
Akan tetapi begitu ia melangkahkan kaki memasuki taman sari, angin sejuk menyambutnya dan saking kesal hatinya, dara remaja ini duduk di atas bangku dalam taman.
Angin sejuk semilir menggerayangi muka dan lehernya, menimbulkan rasa nyaman.
Ganda harum semerbak yang datang terbawa angin tidak membangkitkan kewaspadaannya, tidak menimbulkan kecurigaannya karena ia menganggap itu adalah ganda bunga-bunga yang tumbuh di taman.
Malah cuping hidungnya yang tipis berkembang-kempis menyedot ganda harum sedap itu.
Maka dengan mudah saja getaran hawa sakti aji penyirepan menguasainya, membuat dara ini tiga empat kali menguap saking mengantuknya, tiap kali menutup mulut dengan punggung tangan kirinya.
Tak lama kemudian Pusporini pun tertidurlah dengan pulas sambil duduk di atas bangku.
Tak lama kemudian muncullah sesosok bayangan seorang laki-laki tinggi besar yang meloncat keluar dari balik pohon di taman itu.
Dengan ,beberapa loncatan saja orang ini telah mendekati Pusporini yang masih tidur dengan napas panjang teratur.
Ketika melihat dara remaja itu tidak bergerak dan tidur, laki-laki itu menyergap ke depan dan di lain saat tubuh dara remaja itu telah disambar dan dipondongnya.
Golok yang dipegang Pusporini terlepas dan jatuh!
Pusporini masih pulas dan hanya mengeluarkan suara rintihan perlahan seperti orang ngelindur ketika tubuhnya dipondong dan dibawa lari.
Sementara itu, Roro Luhito dan Ayu Candra yang masih duduk menjaga di ruangan dalam, bercakap-cakap.
Dua orang wanita ini maklum akan bahaya yang mengancam kadipaten, namun mereka itu biar tegang di hati, sikap mereka masih tenang saja dan memang ketegangan hati mereka bukanlah tanda hati khawatir.
Mereka tidak khawatir, juga tidak takut karena mereka percaya penuh akan kesaktian Adipati Tejolaksono, juga percaya akan kemampuan diri sendiri untuk menghadapi musuh.
Kedua orang wanita ini, seperti juga Pusporini, berpakaian ringkas dan di sabuk mereka terselip senjata pusaka mereka.
Sebatang tombak berada di samping mereka selalu.
Dua orang wanita ini sudah dua kali menguap dan Ayu Candra tidak dapat menahan kantuknya lagi, mulai melenggut.
Tiba-tiba Roro Luhito memegang pundaknya, mengguncangnya dan berbisik.
"Ayu........... Bangun Awas, musuh menggunakan aji penyirep!"
Biarpun terpengaruh aji penyirepan, karena memang Ayu Candra bukan wanita sembarangan dan sudah memiliki kekuatan batin yang tangguh, guncangan ini cukup menyadarkan dan bersama Roro Luhito ia cepat duduk bersila dan mengerahkan segala kekuatan batin untuk melawan pengaruh aji penyirepan ini.
Bau kembang menyan mengambar-nyambar semerbak memenuhi ruangan.
itu membuat kepala mereka terasa pening.
Akhirnya mereka dapat menguasai diri mereka dan Roro Luhito berbisik.
"Cepat........... kita cari Pusporini. !"
Mereka meloncat bangun dan menggu nakan Aji Widodo Mantera untuk memperkuat batin.
Setelah menyambar tombak masing-masing, mereka lalu meloncat dan lari ke arah belakang.
Angin sejuk menyambut mereka ketika mereka keluar' dari pintu butulan di belakang, memasuki taman sari.
"Ah, Bibi........... lihat...........!!"
Ayu Candra berseru kaget dan menudingkan telunjuknya ke arah kiri. Sesosok bayangan laki-laki tinggi besar lari memondong tubuh Pusporini! "Keparat...........! Kejar. !!"
Teriak Roro Luhito sambil meloncat ke depan, diikuti Ayu Candra.
Akan tetapi mendadak muncul empat orang laki-laki tinggi besar.
Seperti juga laki-laki yang menculik Pusporini tadi, empat orang laki-laki inipun selain tinggi besar, juga kepalanya gundul, ditutup ikat kepala berwarna biru tua dan muka mereka seperti muka arca atau muka mayat.
Mereka muncul begitu saja, tidak mengeluarkan suara dan secara tiba-tiba langsung menubruk dan menyerang Roro Luhito dan Ayu Candra.
Jari-jari tangan mereka yang sebesar pisang itu terbuka dan lengan tangan mereka yang penuh bulu amat besar dan kuat menyeramkan.
Roro Luhito dan Ayu Candra terkejut, cepat mengelak sambil memutar tombak, menghadapi masing-masing dua orang lawan yang bertubuh kuat dan bersenjata golok besar.
Terjadilah pertempuran hebat di dalam taman, dan terdengar suara senjata berdencingan ketika bertemu berkali-kali.
Dua orang wanita perkasa itu mendapat kenyataan bahwa empat orang lawan mereka memiliki tenaga yang amat kuat sehingga tiap kali beradu senjata, mereka merasa telapak tangan mereka panas dan sakit.
Roro Luhito marah sekali, mengeluarkan pekik seperti seekor kera dan gerakannya menjadi cepat laksana halilintar menyambar-nyambar.
Dalam amarahnya karena teringat akan puterinya yang terculik, wanita ini telah mengeluarkan ajinya Sosro Satwo yang dahulu ia pelajari dari gurunya, yaitu Resi Telomoyo.
Seketika tombaknya berubah menjadi banyak ujungnya dan dalam gebrakan selanjutnya kedua lawan yang menjadi berkunang-kunang pandang matanya itu dapat ia tusuk dengan ujung tombak, tepat mengenai paha dan perut.
Akan tetapi betapa terkejutnya ketika kedua tusukannya itu membalik dan ternyata ujung tombaknya hanya merobek pakaian dan kulit sedikit saja, tidak mampu menembus daging.
Kiranya dua orang lawannya ini selain amat kuat juga memiliki tubuh yang kebal!
Ia makin marah dan kini menujukan ujung-ujung tombaknya kepada bagian-bagian yang lemah, terutama ke arah mata kedua orang lawan.
Ayu Candra mengalami hal yang sama.
Ia menggunakan Aji Bayu Sakti yang ia dapat dari suaminya sehingga kini ia dapat mengatasi kedua lawannya karena gerakannya jauh lebih cepat.
Beberapa kali tombaknya dapat menusuk leher dan lambung, namun kesemuanya meleset seakan-akan menusuk karet yang licin sekali.
Seperti juga bibinya, kini ia bergerak lebih, cepat dan mengarahkan ujung tombak ke bagian-bagian berbahaya dari kedua orang lawan yang terus mengamuk membabi buta tanpa mengeluarkan sepatahpun kata.
Adipati Tejolaksono setelah berhasil membuyarkan getaran aji penyirepan, lalu bangun dari samadhinya, keluar dari sanggar pamujan dan bergerak cepat keluar.
Sanggar pamujan ini letaknya di bagian samping gedung, dan kini setelah keluar ia mendengar suara senjata beradu di sebelah belakang, di taman sari.
Cepat ia berkelebat memasuki taman sari dan terkejut hatinya melihat isterinya dan bibinya dikeroyok empat orang laki-laki tinggi besar yang agaknya kebal karena dari jauh ia melihat betapa tombak isterinya dan bibinya itu berkali-kali meleset jika mengenai tubuh lawan.
Ia menjadi marah sekali, bagaikan seekor garuda melayang tubuhnya mencelat dan menyambar ke depan.
"Siuuuuttt. dess! dessss!"
Dua kali tangannya menghantam dengan pukulan Bojro Dahono yang ampuhnya menggila itu.
Kalau lawan lain terkena hantaman ini tentu tubuhnya akan roboh dan hangus, atau setidaknya tentu akan patah-patah tulang iganya.
Akan tetapi dua orang pengeroyok Ayu Candra itu terkena pukulan ini hanya mencelat roboh tergiling-guling tanpa mengeluh, kemudian merangkak dan bangkit kembali!
Terbelalak mata Tejolaksono memandang saking herannya.
Dua orang ini sama halnya dengan dua orang tinggi besar anak buah Cekel Wisangkoro yang ia patahkan pergelangan tangannya, sama pula dengan Sariwuni,memiliki kekebalan luar biasa sehingga dapat menahan keampuhan pukulan tangannya.
Ia menjadi penasaran sekali.
Ditiupnya kedua tangannya kemudian ketika dua orang laki-laki gundul itu menerjang maju, ia memapak dengan loncatan dan hantaman kedua tangan ke arah kepala mereka.
TERDENGAR suara seperti buah kelapa dipukul pecah dan dua orang Itu terbanting roboh tak bergerak lagi kini karena kepala mereka pecah oleh hantaman kedua tangan sang adipati!
Ayu Candra sudah membantu Roro Luhito menghadapi dua orang laki-laki tinggi besar yang lain.
Karena kini satu lawan satu, dua orang laki-laki tinggi besar itu terdesak hebat, golok mereka telah dapat dipukul runtuh dan tombak Roro Luhito sudah berhasil menusuk mata kiri lawannya sampai masuk ke kepala dan orang itu roboh berkelojotan sebentar lalu diam dan tewas.
Ayu Candra yang terus mencecer bagian mata, hampir berhasil pula, akan tetapi tiba-tlba Tejolaksono berseru.
"Jangan bunuh, aku hendak menangkapnya!"
Ayu Candra mundur dan Tejolaksono menerjang, menghantam roboh orang itu dengan memukul dadanya.
Orang iu terbanting roboh, merangkak hendak bangun akan tetapi kena dipiting oleh Tejolaksono sehingga tak mampu berkutik lagi.
Pada saat itu, beberapa orang pengawal yang mendengar ribut-ribut di taman, sudah datang dan atas perintah Tejolaksono mereka segera menelikung orang tinggi besar itu sampai tak mampu berkutik.
"Pusporini............. dia dilarikan penjahat. !"
"Lekas kau kejar, Kakangmas. !! "
Mendengar ucapan Roro Luhito dan Ayu Candra ini, bukan main kagetnya hati Tejolaksono.
Tubuhnya berkelebat cepat mengejar ke arah yang ditunjuk oleh dua wanita itu.
Roro Luhito dan Ayu Candra segera menyusul dan berpencar untuk mencari Pusporini yang diculik.
Akan tetapi mereka bertiga tidak dapat menemukan jejak Pusporini, sebaliknya mendapatkan keadaan para penjaga yang kacau-balau!
Para penjaga di utara dan timur kehilangan sepuluh orang perajurit sedangkan enam orang luka-luka dalam perang tanding sendiri akibat kekacauan keadaan yang gelap-gulita dan penuh godaan iblis.
Sedangkan para penjaga di sebelah selatan dan barat lebih celaka lagi keadaannya.
Mereka semua tertidur dalam keadaan tidak karuan, ada yang bertelanjang bulat, ada yang tertawa-tawa seperti orang mabuk, bersikap seperti orang kegilaan wanita, dan dua puluh orang di antara mereka lenyap.
Adipati Tejolaksono terpaksa kembali ke gedung kadipaten dan memanggil semua pembantu nya mendengar pelaporan mereka yang aneh.
Malam itu Kadipaten Selopenangkep geger dan mengalami kerugian besar.
Enam orang luka-luka dan tiga puluh orang perajurit lenyap, Pusporini terculik dan sebagai gantinya hanya dapat membunuh tiga orang laki-lakl gundul dan menawan seorang.
Roro Luhito pucat mukanya, dan hanya dengan kekerasan hati saja wanita tua perkasa ini dapat menahan tangisnya.
"Aduh, Anaknda Adipati, bagaimana dengan nasib Pusporini. ?"
Ia mengeluh. Tejolaksono dan Ayu Candra juga gelisah memikirkan Pusporini. Tejolaksono menghibur.
"Kita harus tenang, Kanjeng Bibi. Saya rasa Cekel Wisangkoro tidak akan begitu bodoh untuk mengganggu Pusporini, karena kalau ia melakukan hal itu, kalau terganggu seujung rambutpun dari Pusporini, ia tahu bahwa Tejolaksono akan mencarinya sampai dapat dan akan menghancurkan kepalanya!"
Berkata demikian sang adipati tampak marah sekali, kemudian ia menghela napas panjang untuk menekan perasaannya.
"Agaknya dia menangkap Pusporini dengan maksud untuk memaksa kita menyerah, Akan tetapi, saya akan berusaha merampas Pusporini kembali. Karena itu, kebetulan sekali kita dapat menawan hidup-hidup seorang di antara empat iblis gundul itu. Heh, pengawal, seret tawanan itu ke sini!"
Tawanan laki-laki tinggi besar gundul yang sudah ditelikung seperti ayam itu diseret ke depan Tejolaksono.
Adipati ini terhetan-heran melihat betapa tawanan ini sama sekali tidak mengeluh, juga sama sekali tidak membayangkan perasaan apa-apa pada wajahnya yang seperti wajah mayat.
Ia berusaha mengorek rahasia dari tawanan ini dengan janji-janji manis dan ancaman-ancaman mengerikan, namun tawanan itu hanya memandang dengan mata melotot dan bodoh, tidak menjawab, mengangguk tidak menggelengpun tidak!.
"Hemm, engkau jangan berpura-pura bodoh!"
Bentak sang adipati.
"Melihat kepandaian, kekebalan dan sepak terjangmu, engkau bukan orang bodoh! Hayo mengakulah, ke mana Pusporini adikku dibawa pergi. Kalau engkau mengaku, dan mau membawaku ke sana, aku tidak akan membunuhmu. Akan tetapi kalau tidak, hemm engkau akan kusuruh hukum picis!"
Hukum picis adalah hukuman yang amat mengerikan pada waktu itu.
Tubuh seorang tawanan akan diikat dan di situ disediakan sebatang pisau tajam, air asam garam.
Setiap orang perajurit akan mengerat tubuh si tawanan dan menyiramkan air asam garam pada luka guratan itu.
Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan yang akan dialami orang yang dihukum picis sebelum ia mati kehabisan darah.
Namun tawanan itu hanya melototkan mata makin lebar saja, tak menyatakan sesuatu, baik dengan suara maupun gerakan.
Ia hanya mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri dari ikatan.
Melihat ini, sang adipati menjadi curiga, lalu menggunakan jari tangan untuk menusuk beberapa bagian jalan darah di tubuh tawanan itu.
Ia tidak menyaksikan gerakan tubuh yang mengerahkan kekebalan atau hawa sakti, akan tetapi jarinya yang menusuk perlahan itu meleset!
Ia mengangguk-angguk, lalu memegang kepala orang itu dan membuka pelupuk matanya memeriksa biji mata yang selalu dipelototkan.
"Ahhhhh............. sungguh kasihan orang ini "
Ia berkata kemudian sambil memberi isyarat kepada pengawal untuk membawa pergi si tawanan. Kemudian ia duduk termenung.
"Apakah artinya semua itu, kakangmas?"
Tanya Ayu Candra. Juga Roro Luhito tidak mengerti.
"Si keparat Cekel Wisangkoro atau siapa saja yang melakukan perbuatan-perbuatan keji itu. Orang-orang itu bergerak bukan atas kehendak sendiri. Mereka seperti mayat-mayat yang telah dikuasai oleh iblis-iblis itu, tubuh mereka kebal dan mereka amat kuat dan pandai berkelahi hanya karena berada dalam pengaruh sihir yang amat kuat!. Tentu saja dia tidak dapat menjawab karena dalam keadaan seperti itu, mereka tidak tahu apa-apa, tidak dapat bicara,hanya dapat bergerak untuk menghancurkan segala yang merintangi mereka, sesuai dengan perintah rahasia yang diberikan oleh iblis berupa manusia melalui getaran dalam otak mereka. Dia itu telah mati, mati dalam hidup. Hanya jasmaninya saja yang hidup akan tetapi perasaan dan semangatnya telah berada dalam genggaman orang yang menguasai mereka."
"Si bedebah! Kalau begitu, anakku............."
Roro Luhito menahan kata-katanya dan mengerutkan keningnya.
"Aduh, Kakangmas, bagaimana dengan Pusporini?"
"Harap Kanjeng Bibi dan engkau Yayi, tenang pada saat seperti ini. Sudah menjadi kenyataan bahwa Pusporini ditawan musuh. Akan tetapi itu hanya merupakan satu di antara akibat perang yang kita hadapi. Perang yang aneh melawan orang-orang yang seperti iblis. Kita belum kalah dan kita harus mempertahankan diri di Selopenangkep. Pada waktu ini, yang terpenting adalah menjaga agar musuh tidak sampai dapat menguasai Selopenangkep. Kalau aku membawa pasukan mencari Pusporini, atau pergi mengejar, berarti keadaan Selopenangkep akan kosong dan lemah. Agaknya memang siasat ini dipergunakan musuh untuk memancing aku keluar dari kadipaten. Biarlah kita bersabar, menjaga kadipaten sambil menanti datangnya Kakang Mundingyudo yang tentu akan membawa bala bantuan dari Panjalu. Kita akan menghancurkan musuh dan percayalah, Sang Hyang Widhi tentu akan melindungi Pusporini. Orang yang benar pasti akan mendapat kemenangan terakhir."
Biarpun perasaan hati mereka hancur dan penuh kegelisahan, namun kedua orang wanita itu harus membenarkan pendapat sang adipati ini, maka mereka tak dapat berbuat lain kecuali berprihatin sambil memperkuat penjagaan dan mempertebal kewaspadaan.
-oo0dw0oo-Laki-laki tinggi besar berkepala -gundul yang menculik Pusporini, terus lari meninggal kan kota Kadipaten Selopenangkep.
Dia keluar dari kadipaten melalui pintu gerbang selatan di mana para penjaganya tertidur semua setelah tergoda oleh tujuh belas orang wanita cantik.
Tentu saja dengan mudah ia dapat keluar dari pintu gerbang itu tanpa terhalang.
Larinya cepat sekali, dengan langkah lebar dan selama itu, laki-laki ini tidak pernah mengeluarkan kata-kata, juga mukanya yang tersinar bulan tidak menyatakan atau membayangkan sesuatu.
Keadaan laki-laki ini tiada bedanya dengan empat orang gundul yang menyerbu Kadipaten Selopenangkep dan yang dirobohkan oleh Adipati Tejolaksono.
Laki-laki ini hanya bergerak menurutkan yang memerintahnya dan kini iapun lari menuju ke arah datangnya getaran yang menguasainya, menuju ke sebuah bukit kecil di sebelah barat.
Pusporini yang tadi tertidur pulas akibat aji penyirepan, kini setelah agak lama dibawa lari dan mukanya tertiup angin malam yang dingin, mulai sadar.
Mula-mula ia membuka matanya dan dapat dibayangkan betapakagetnya ketika ia mendapatkan dirinya dipondong oleh seorang laki-laki tinggi besar dan dibawa lari di malam gelap!
Karena marah dan kaget, tubuhnya bergerak dan biarpun laki-laki itu seperti boneka hidup, namun pengaruh yang menguasainya membuatnya cerdik sekali dalam menghadapi lawan.
Ketika merasa betapa gadis dalam pondongannya bergerak, cepat laki-laki itu menangkap pergelangan tangan Pusporini, digenggam dalam jari-jari tangan kirinya yang panjang dan kuat seperti jepitan besi, sedangkan lengan kanannya merangkul kedua kaki dara remaja itu sehingga Pusporini tak dapat berkutik lagi!.
"Lepaskan aku..............! Bedebah............. lepaskan aku !!"
Ia berteriak-teriak sambil meronta-ronta.
Namun sia-sia belaka.
Laki-laki itu sama sekali tidak menjawab, dan ia hanya dapat menggerakkan pinggangnya meronta-ronta sedangkan kaki tangannya sama sekali tidak dapat terlepas dari pergelangan laki-laki tinggi besar Itu.
Tentu saja, dalam hal tenaga kasar, Pusporini sama sekali bukan tandingan laki-laki ini.
Akhirnya dara remaja yang cerdik ini sadar bahwa mengandalkan tenaga kasar, ia takkan mungkin dapat terbebas.
Ia tidak meronta lagi, juga tidak mengeluarkan suara lagi, bahkan mengendurkan tubuhnya bersandar pada pundak laki-laki itu, meramkan mata mencari akal.
Teringat ia akan dongeng yang pernah diceritakan ibunya tentang Dewi Shinta yang diculik dan dilarikan Sang Prabu Dhasamuka.
Keadaannya sekarang ini persis dengan dongeng yang diceritakan ibunya itu.
Ia dipondong dalam keadaan tidak berdaya dan dibawa lari.
Laki-laki ini tinggi besar dan mengerikan, patut pula menjadi Prabu Dhasamuka.
Dan teringat akan hal ia ingat pula bahwa ibunya menceritakan betapa Dewi Shinta dapat dirampas dari tangan Dhasamuka oleh burung sakti Jentayu, akan tetapi Dewi Shinta yang merasa ngeri karena jatuh ke cengkeraman burung raksasa, lalu mempergunakan aji kesaktian memberatkan tubuh sehingga terlepas dari cengkeraman burung yang tidak kuat membawanya.
Aji memberatkan tubuh itu telah ia tanyakan kepada rakandanya sang adipati yang juga menjadi gurunya.
Dan sang adipati yang sakti mandraguna telah mengajarkan aji seperti itu!
Teringat akan ini, Pusporini lalu meramkan mata seperti orang samadhi, mengheningkan cipta menenteramkan batinnya, kemudian ia berkemak-kemik membaca mantera sambil menekan dan menyalurkan hawa sakti dari dalam pusarnya.
Aji kesaktian ini oleh Tejolaksono diberi nama Aji Argoselo dan kini tubuh Pusporini terasa berat seperti sebongkah batu gunung.
Orang tinggi besar itu tiba-tiba mengeluarkan suara "uh-uhh.............!"
Dan langkahnya terhuyung-huyung.
Hampir ia tidak kuat dan karena ini tangan kirinya melepaskan kedua lengan Pusporini untuk membantu memeluk kedua kaki dara ini agar tidak terlepas.
Kesempatan inilah yang dinanti-nanti Pusporini.
Ia menahan napas, membelalakkan kedua matanya dan menyalurkan hawa sakti menjadi tenaga dahsyat kepada kedua tangannya yang sudah ia isi dengan Aji Pethit Nogo.
Kini kedua tangannya bergerak, dari kanan kiri menghimpit kepala orang yang memondongnya itu dalam hantaman yang tiba-tiba, cepat dan kuat.
Orang itu terhuyung, ikat kepalanya terlepas dan tampaklah kepalanya yang gundul, kedua tangannya yang memeluk kaki Pusporini dilepaskan untuk memegang kepalanya yang serasa akan pecah.
Kesempatan ini dipergunakan Pusporini untuk meloncat turun dari atas pondongan lawan, memandang terbelalak heran melihat kepala orang itu tidak pecah oleh pukulan Petit Nogo yang dilakukannya amat kuat tadi.
Tidak, sama sekali orang laki-laki tinggi besar berkepala gundul itu tidak mati, bahkan robohpun tidak.
Setelah terhuyung-huyung, laki-laki itu dapat pulih kembali dan kini menerjang dengan kedua lengan terpentang, hendak menubruk dan menangkap kembali tawanannya yang terlepas!
Namun tubrukannya hanya mengenai angin belaka karena tahu-tahu tubuh dara remaja itu sudah melejit lenyap dan berpindah tempat di sebelah kanannya, langsung mengirim tamparan lagi dengan Aji Pethit Nogo yang mengenai lehernya.
"Plakkkk!!"
Kembali orang itu terpelanting, namun segera bangkit lagi dan menghadapi Pusporini dengan mata melotot.
Bulu tengkuk dara ini meremang.
Dua kali pukulannya tadi amat hebat, dan dengan pukulan-pukulan itu kiranya batu gunungpun akan terpukul pecah.
Akan tetapi kenapa orang ini mengeluhpun tidak?
Ia telah mempelajari banyak macam aji-aji yang ampuh dari Adipati Tejolaksono, akan tetapi pukulannya yang terampuh adalah Aji Pethit Nogo.
Ketika melihat orang itu menyerangnya lagi hendak menangkap, dengan mudahnya Pusporini mengelak.
Dengan aji keringanan tubuh Bayu Sakti, tentu saja dengan mudah ia dapat menghindarkan setiap serangan laki-laki tinggi besar yang baginya terlalu lamban ini, akan tetapi ia masih penasaran kalau belum dapat memukul roboh orang yang telah menculiknya ini.
Berkali-kali ia memukul dan mengeluarkan semua aji pukulannya, namun orang itu hanya terhuyung, paling-paling terjungkal untuk bangkit kembali dan menerjangnya makin hebat!
"Eh-eh, engkau ini manusia ataukah iblis?
Disuruh mampus saja kok tidak mau, keparat!"
Pusporini memaki,akan tetapi sebetulnya di dalam hatinya, ia merasa ngeri dan serem.
Sekali lagi ia mengelak sambil mengirim pukulan keras yang membuat tubuh laki-laki tinggi besar itu terguling-guling, dan ketika laki-laki itu seperti tadi bangkit berdiri lagi, Pusporini telah hilang dari tempat itu karena dara remaja ini dengan penuh kengerian telah melarikan diri.
Siapa orangnya tidak akan merasa ngeri kalau bertanding melawan orang nekat macam itu?
Sampai lelah kedua tangannya memukul dan orang itu berkali-kali jatuh lalu bangun lagi!
Karena Pusporini mempergunakan Aji Bayu Sakti yang membuat larinya seperti seekor kijang muda, maka laki-laki tinggi.
besar itu tertinggal jauh, bahkan laki-laki itu mengejar ke arah yang berlainan!
Akan tetapi, biarpun semenjak kecil digembleng olah keperajuritan dan tata kelahi, Pusporini tidak pernah keluar dari Kadipaten Selopenangkep.
Apalagi setelah Sang Adipati Tejolaksono menghapuskan kebiasaan berburu, dara remaja ini tidak mengenal daerah di luar Selopenangkep.
Tadi ketika diculik, ia berada dalam keadaan pulas sehingga tidak tahu dibawa ke mana.
Sekarang, barulah ia menjadi bingung karena tidak tahu ke mana jalan pulang ke Selopenangkep.
Tanpa ia sadari, la bukannya menuju kembali ke Selopenangkep, melainkan menyusup makin dalam ke hutan yang lebat.
Juga tidak tahu bahwa gerak-geriknya semenjak bertanding melawan orang tinggi besar tadi telah diperhatikan oleh banyak orang!.
Tengah malam telah lewat dan bulan sepotong yang keluarnya hampir tengah malam itu kini sudah naik tinggi, menyinarkan cahaya yang redup namun cukup terang, menimbulkan suasana yang amat indah menyeramkan di dalam hutan!
Pusporini mulai merasa bingung ketika hutan yang dilaluinya makin lama makin liar dan gelap.
Agak lega hatinya ketika di tengah-tengah hutan liar itu ia mendapatkan sebuah lapangan yang luasnya ada seratus meter, berbentuk bundar dan lapangan terbuka ini tidak ditumbuhi pohon sehingga sinar bulan terang memenuhi lapangan itu.
Rumput hijau tebal menutupi lapangan seperti permadani hijau dibentangkan, amat indah dan bersihnya.
Pusporini mengambil keputusan untuk beristirahat dan melewatkan malam itu di tempat ini.
Besok kalau matahari sudah menerangi bumi, ia akan dapat keluar dari hutan ini dan pulang, pikirnya.
Tempat ini amat enak, juga ia dapat memandang ke sekelilingnya tanpa terhalang pohon sehingga kalau ada musuh mendatang, jauh-jauh sudah akan melihatnya.
Sambil menghela napas lega dara remaja ini duduk dan melenggut saking mengantuk dan lelahnya.
Kadang-kadang ia membuka mata dan memandang ke sekelilingnya yang sunyi untuk melihat kalau-kalau si gundul mengerikan tadi datang mengejarnya.
Sebenarnya hal ini tidak perlu ia lakukan karena kalau ada orang datang berlari menghampirinya, tentu pendengarannya yang tajam akan dapat menangkap langkah kakinya.
Akan tetapi, bagaimana pendengarannya akan dapat menangkap kalau bendabenda bergerak itu menghampirinya tanpa melangkahkan kaki, melainkan merayap seperti segerombolan ular?
Dan bagaimana ia dapat melihat mereka itu kalau mereka menyusup-nyusup di antara rumput-rumput yang tebal dan tinggi?
Tidak, Pusporini sama sekali tidak tahu, menyangkapun tidak bahwa pada saat itu, ada belasan orang mengurungnya dari semua penjuru, menghampirinya sambil merayap di antara rumput tanpa mengeluarkan suara!
Mereka itu adalah orang-orang wanita, masih muda-muda.
Ketika mereka ini merayap, dengan pinggang ramping bergerak-gerak, pinggul ke kanan kiri, pakaian setengah telanjang, mereka merupakan binatang-binatang yang amat aneh!
Pusporini sedang melenggut ketika tiba-tiba tubuhnya ditubruk oleh empat orang wanita yang menggelut dan memitingnya dengan gerakan seperti ular-ular membelit leher, lengan dan kaki.
Dara remaja ini menjerit saking kaget dan ngerinya.
Akan tetapi ketika melihat bahwa yang mengeroyok dan menggelutnya adalah empat orang wanita, kemarahannya bangkit.
Apalagi ketika ia melihat betapa kini tampak belasan orang wanita lain telah mengurungnya.
Ia meronta, mengerahkan tenaga dan menggerakkan kaki tangan.
"Plak-plak-buk-desss!! ". Kini empat orang wanita itu yang menjerit dan tubuh mereka terlempar oleh pukulan dan tendangan si dara perkasa. Akan tetapi empat orang dirobohkan, belasan orang menyerbu dan kembali tubuh Pusporini sudah digelut. Pusporini marah sekali dan selagi ia hendak mengamuk, tiba-tiba mukanya disiram bubukan putih yang mengenai mata dan hidungnya. Seketika Pusporini gelagapan, kedua tangannya menutupi mata dan ia terbangkis-bangkis. Kiranya orang telah menyerang mukanya dengan bubukan merica! Bukan main pedih matanya, sampai bercucuran air mata dan betapapun ia menahan, tetap saja ia terbangkis-bangkis sampai terbungkuk-bungkuk. Ia sampai tidak merasa bahwa kedua kaki tangannya sudah ditelikung seperti seekor domba hendak disembelih dan ketika tubuhnya dipanggul oleh para wanita itu, ia masih saja bercucuran air mata dan terbangkis-bangkis, ditertawai oleh mereka yang menawannya.
"Setan! hidungku terus mengucurkan darah, mimisen!"
"Gigiku patah dua, yang depan lagi. Sialan!"
"Perutku masih mulas terus terkena tendangannya!"
"Lihat garesku, matang biru dan aku akan terpincang sampai beberapa hari."
Empat orang wanita yang terkena hantaman dan tendangan Pusporini tadi memaki-maki dan mengancam hendak membunuh Pusporini.
Terdengar suara seorang di antara mereka, yang tercantik dan melihat lagaknya tentu ia pimpinan rombongan wanita itu.
"Sudahlah, Ni Dewi menghendaki kita menangkapnya hidup-hidup, tidak boleh diganggu, masa kalian berani hendak membunuhnya? Kalau tidak ada pesan Ni Dewi,apa kaukira aku suka malam-malam susah-payah menangkapnya hidup-hidup? Dia ini adik adipati di Selopenangkep, amat dibutuhkan oleh sang wasi "
Terdengar suara di sana-sini dalam rombongan wanita yang kini berjalan pergi sambil memanggul tubuh Pusporini, diseling ketawa cekikikan.
"Wah, agaknya dia ini terpilih oleh sang wasi……!"
Kata suara yang kecil tinggi penuh iri hati.
"Tentu saja! Sang wasi cukup waspada dalam memilih.Bocah ini seorang dara remaja yang cantik jelita. Lihat saja kulitnya begini halus, tertimpa sinar bulan seperti kencana saja. Dan mata yang kini tertutup mempunyai bulu mata begitu panjang melengkung, bukan main. Kau ingat matanya tadi ketika terbelalak? Begitu lebar, indah dan bening. Dia masih dara remaja, bagaikan bunga seperti kuncup baru mekar sedang harum-harumnya, bagaikan buah seperti buah ranum mentah tidak matang tidak sedang lezat-lezatnya. Tidak seperti engkau!"
"Kalau aku mengapa? Jangan lancang mulut kau!"
"Hi-hik! Kalau dia itu bagaikan bunga mulai melayu dan buah mulai membusuk!!"
Sambung suara lain.
"Mana pantas untuk sang wasi? Paling-paling menjadi mangsa Ki Kalohangkoro, hi-hik!"
Kata suara lain lagi.
"Apa? Kalian ini benar-benar bermulut busuk, penuh bau kotor! Kucakar muka kalian baru tahu !"
"Ssttt. ! Diamlah kalian. Ribut saja! Ni Dewi ingin agar kita cepat membawa Pusporini menghadap untuk melengkapi upacara sesaji di malam Respati. Kalau kalian ribut mulut saja, bagaimana perjalanan dapat dilakukan cepat-cepat?"
Tegur sang pemimpin dan rombongan wanita itu tidak berani saling maki lagi, hanya mengutarakan kemarahan dengan pandang mata saling melotot.
Siapakah rombongan wanita ini?
Mereka itu rata-rata masih muda, bahkan ada beberapa orang di antara mereka, terutama pemimpinnya berwajah cantik dan bertubuh langsing menggairahkan.
Gerakan mereka gesit-gesit, tanda bahwa mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Mereka ini sesungguhnya masih sekawan dengan tujuh belas orang wanita cantik yang menggoda para penjaga Kadipaten Selopenangkep dan kemudian menculik dua puluh orang penjaga.
Mereka adalah anak buah dari pesanggrahan Durgaloka, sebuah pesanggrahan atau perkumpulan yang terdiri dari wanita semua, wanita-wanita muda yang kesemuanya dilatih dalam pelbagai ilmu kesaktian, dipimpin oleh seorang wanita cantik bernama Ni Dewi Nilamanik.
Perkumpulan ini adalah wanita-wanita penyembah Sang Hyang Bathari Durga dan pada waktu itu mempunyai markas di puncak Gunung Mentasari.
Semenjak Sang Bhagawan Kundilomuko pemimpin para penyembah Sang Bhatari Durga di hutan Gumuk-mas dihancurkan oleh Endang Patibroto (baca Badai Laut Selatan), maka perkumpulan-perkumpulan penyembah Dewi Kejahatan itu tidak berani muncul lagi dan kalaupun ada rombongan-rombongan kecil pemuja Sang Bhatari Durga, maka rombongan ini tidaklah begitu menonjol dan tidak mempengaruhi atau meluaskan pengaruhnya kepada penduduk dusun.
Akan tetapi secara tiba-tiba di puncak Gunung Mentasari muncul perkumpulan ini yang mempu nyai anggauta sembilan puluh sembilan orang!
Dan secara terang-terangan perkumpulan ini mulai mengembangkan pengaruhnya di sekitar Gunung Mentasari, bahkan mulai memasuki daerah Selopenangkep.
Hal ini tidaklah aneh kalau diketahui bahwa perkumpulan ini masih erat hubungannya dengan Kerajaan Cola.
Seperti temyata dalam pertemuan antara Ki Tunggaljiwa dengan dua orang pendeta, Wasi Bagaspati adalah seorang pendeta pemuja Sang Bathara Shiwa yang menjadi kaki tangan Kerajaan Cola.
Dan Ni Dewi Nilamanik, pemimpin Agama Durga itu, adalah tangan kanan, bahkan bekas kekasih Wasi Bagaspati!
Kalau Wasi Bagaspati kadang-kadang menamakan dirinya Shiwamurti dan mengaku sebagai titisan Sang Hyang Shiwa, adalah Ni Dewi Nilamanik ini mengaku sebagai titisan Sang Bathari Durga!
Di samping Ni Dewi Nilamanik, bersama rombongan Wasi Bagaspati terdapat pula seorang pembantu yang amat diandalkan, yaitu Ki Kolohangkoro yang mengepalai para pemuja Sang Bathara Kala!
Malah keadaan anak buah Ki Kolohangkoro ini lebih kuat daripada anak buah Ni Dewi Nilamanik, terdiri dari orang--orang tinggi besar yang berilmu tinggi, sebanyak seratus orang lebih!.
Pada malam Respati, di puncak Gunung Mentasari diadakan upacara pemujaan Sang Hyang Bathari Durga.
Di atas sebuah lapangan rumput yang terbuka dan mendapat cahaya bulan yang kehiiauan, berdiri tiga macam arca yang hesar, arca Sang Bathari Durga.
Sebelah kiri berdiri arca Sang Bathari Durga sebagai Dewi Maut, dalam bentuk yang amat mengerikan sekali.
Bertubuh seorang raksasa wanita, rambutnya gimbal sampai ke tanah, kedua kakinya menginjak tengkorak manusia, payudaranya (buah dadanya) panjang tergantung sampai ke perut, lidahnya lebih panjang lagi, seperti seekor ular, sihungnya panjang meruncing dan kuku jari tangannya panjang-panjang pula.
Yang berdiri di sebelah kanan Sang Bathari Durga Bucari, tubuhnya mengeluarkan api menyala-nyala, tubuhnya ramping menggairahkan, dada terbuka, akan tetapi mukanya juga muka raksasa betina, wajahnya membayangkan kebengisan dan kekejaman.
Arca ke tiga yang berdiri di tengah, menggambarkan Sang Hyang Bathari Durga dalam bentuk seorang wanita yang cantik jelita, wajahnya yang cantik itu tersenyum memikat penuh nafsu berahi, tubuhnya yang langsing setengah telanjang memperlihatkan bagian-bagian tubuh yang menggairahkan.
Di depan tiga buah arca ini penuh dengan kembang--kembang dan barang-barang sesaji terdiri dari makanan--makanan dan daging-daging mentah, dan asap kemenyan dan dupa mengepul tinggi.
Di sebelah kiri lapangan itu belasan orang wanita menabuh gamelan yang iramanya riang gembira menyelimuti suara orang-orang yang bercakap-cakap dan bersendau-gurau.
Ni Dewi Nilamanik duduk di atas sebuah kursi yang terukir indah, melayani beberapa orang tamu bercakap-cakap dan bersendau-gurau, tamu-tamu yang baru saja tiba dan dipersilahkan duduk di kursi-kursi kehorma tan yang berkelompok tak jauh dari tiga buah arca itu.
Ni Dewi Nilamanik adalah seorang wanita yang usinya sudah empat puluh tahun lebih, akan tetapi masih tampak cantik menarik dengan gerak-gerik yang luwes.
Dia termasuk di antara wanita-wanita yang biarpun usianya sudah lanjut namun masih belum ditinggalkan daya tarik yang khas.
Bahkan tampak kematangan lahir batin yang membuat gerak geriknya terkendali dan tenang, wajahnya dapat membayangkan hati dingin seperti embun pagi hari di puncak Mahameru,di waktu panas membayangkan kegairahan yang membakar.
Pakaiannya indah sekali, dengan warna menyolok.
Baju merah tipis sekali membayangkan kulit pundak dan lengan serta punggung yang putih kuning, belum kisut masih padat berisi, juga membayangkan kemben pembungkus pinggang yang ramping dan singset.
Kainnya berkembang dengan dasar warna hijau yang membungkus ketat tubuh dari perut sampai ke mata kaki.
Sepasang kakinya tampak kecil dan bersih halus, kaki yang terpelihara baik-baik sehingga tumitnya halus kemerahan dan kuku jari kaki mengkilap.
Dia seorang wanita cantik yang masak, hanya sayang bibirnya yang merah basah itu kadang-kadang membayangkan senyum yang penuh kekejaman dan dingin menusuk jantung, sepasang matanya kadang-kadang mengerling tajam penuh kegairahan, mata seorang wanita pengabdi nafsu berahi.
Inilah Ni Dewi Nilamanik, yang selain cantik jelita, juga memiliki ilmu kesaktian yang hebat.
Dia seorang wanita berasal dart pesisir Banten yang sudah amat terkenal di daerah Banten akan tetapi baru sekarang ini terbawa oleh gerakan Kerajaan Cola bertualang ke timur.
Ni Dewi Nilamanik yang mengaku sebagai titisan Sang Bathari Durga sendiri.
Ketika bercakap-cakap dengan para tamu, kadang-kadang bibirnya yang merah itu terbuka dan tampaklah deretan gigi putih berkilau.
Yang mendapat kehormatan duduk di atas kursi-kursi kehormatan mengitari sebuah meja besar bersama Ni Dewi Nilamanik hanya beberapa orang saja.
Pertama-tama, yang mendapat kursi pertama di sebelah kanannya, adalah seorang kakek tinggi kurus bermuka merah yang tertawa--tawa dan suaranya keras nyaring.
Dia ini bukan lain adalah Sang Wasi Bagaspati sendiri!
Hanya terhadap Wasi Bagaspati inilah Ni Dewi Nilamanik bersikap menghormat, agak berlebihan, bahkan tadi ketika Wasi Bagaspati dan rombongannya tiba, Ni Dewi Nilamanik menyambutnya dengan sembah dan mencium ujung kakinya!
Tidaklah mengherankan karena Wasi Bagaspati ketua Agama Shiwa ini adalah junjungannya, kekasihnya, juga sebagian daripada ilmu-ilmunya yang hebat ia pelajari dari kakek inilah!
Seperti ketika ia mengunjungi puncak Merapi dahulu, sekarangpun kakek ini memakai jubah pendeta yang berwarna merah darah sehingga rambutnya yang panjang putih itu tampak seperti perak!
Hanya bedanya, kalau dahulu pakaiannya itu sederhana, kini terbuat daripada sutera halus berkilauan dan kedua kakinya juga memakai alas kaki jepitan.
Rambut yang putih itu kini ia gelung ke atas dan diikat dengan sehelai kain sutera merah pula.
Anak buah Wasi Bagaspati amatlah banyaknya, merupakan sebagian daripada pasukan Kerajaan Cola yang bergerak memasuki wilayah Panjalu.
Akan tetapi yang pada saat itu mengiringkannya untuk menghadiri upacara pemujaan Sang Bathari Durga pada malam Respati itu hanya beberapa orang muridnya terkasih, yaitu pertama--tama adalah Sariwuni yang selain menjadi murid Wasi Bagaspati,juga tentu saja menjadi kekasihnya pula.
Di samping ini, juga Sariwuni adalah seorang penyembah Durga, maka tentu saja ia hadir dalam pesta itu untuk membantu Ni Dewi Nilamanik.
Sariwuni yang sudah kita kenal, yang cantik molek inipun kini berpakaian indah, dan sikapnya terhadap Wasi Bagaspati jelas amat menjilat!
Cekel Wisangkoro juga hadir sebagai abdi (cekel) sang wasi, juga sebagai murid yang sudah tinggi tingkat ilmunya.
Rambut Cekel Wisangkoro yang panjang penuh uban dibiarkan terurai sampai ke pinggang.
Jubahnya berwarna kuning dengan hiasan merah di pinggimya.
Tubuhnya juga tinggi kurus seperti gurunya, akan tetapi melihat, hidungnya yang seperti paruh burung betet, is lebih kentara keturunan Hindu daripada gurunya.
Karena keyakinan ilmu hawa sakti yang sama dengan gurunya, wajah sang cekel inipun halus kemerahan.
Tongkat hitam berbentuk ular tak pernah terlepas dari tangan kanannya.
Cekel Wisangkoro yang kini hadir di antara "orang-orang tinggi", tampak sungkan--sungkan dan tidak banyak bicara.
Masih ada dua losin pengikut Sang Wasi Bagaspati, laki-laki yang rata-rata bertubuh kuat dan berkepala gundul, yang wajahnya seperti arca.
Mereka ini sesungguhnya anak buah Cekel Wisangkoro, orang-orang yang semangat dan pikirannya telah dikuasai oleh Cekel Wisangkoro dengan cengkeraman ilmu hitam.
Akan tetapi dua puluh empat orang mayat hidup ini hanya duduk di atas tikar-tikar pandan yang dihamparkan di atas tanah, mereka duduk berjajar seperti arca.
Di sebelah Cekel Wisangkoro duduk seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun dan keadaan jasmani laki-laki ini sungguh amat menyeramkan.
Dia paling tinggi besar di antara semua yang hadir, seorang raksasa yang tubuhnya membayangkan tenaga kasar yang dahsyat.
Duduknya tegak, sikapnya agung dan matanya melotot galak, tidak banyak cakap akan tetapi kalau sekali-kali bicara menjawab pertanyaan Ni Dewi Nilamanik, suaranya nyaring parau seperti suara geluduk dan sepasang anting-anting atau gelang emas di kedua telinganya bergoyang--goyang.
Inilah Ki Kolohangkoro yang mengepalai para pemuja Bathara Kala.
Dia bersama anak buahnya yang tidak kurang dari seratus orang merupakan bala bantuan yang amat kuat bagi pergerakan yang dipimpin oleh Wasi Bagaspati.
Kolohangkoro ini adalah adik seperguruan Wiku Kalawisesa, akan tetapi ia sakti mandraguna melebihi kakak seperguruannya yang dulu tewas di tangan Endang Patibroto itu.
Bahkan ia menganggap dirinya sebagai penjelmaan Sang Bathara Kala sendiri, maka di dunia ini hanya dua orang yang ia hormati, yaitu pertama adalah Wasi Bagaspati yang dianggap titisan Sang Hyang Shiwa sendiri, dan kedua Ni Dewi Nilamanik yang dianggap titisan Bathari Durga.
Bukankah Bathara Kala adalah putera sepasang tokoh dewa yang hebat itu?
Di antara seratus orang anak buahnya, hanya tiga puluh orang yang ia ajak ikut menghadiri pesta perayaan untuk memuja Bathari Durga ini.
Anak buahnya ini rata-rata juga tinggi besar dan kasar.
Mereka duduk berkelompok di dekat para penabuh gamelan, bersendau-gurau, bercakap-cakap dan menggoda wanita-wanita penabuh gamelan dengan sikap terbuka tanpa.
malu-malu lagi.
Di bagian tamu kehormatan masih terdapat beberapa orang tamu laki-laki yang kesemuanya adalah tokoh-tokoh kaum sesat di sebelah barat yang sudah terbujuk oleh Wasi Bagaspati dan menjadi sekutunya untuk menghadapi Panjalu dan Jenggala.
Mereka ini adalah kepala-kepala rampok dan kepala-kepala bajak, yang merajai hutan-hutan, gunung, dan sungai-sungai.
Mereka datang menghadapi pesta bersama beberapa orang pembantu mereka yang pilihan.
Di antara para tokoh ini tampak Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, yaitu dua orang di antara Lima Gagak Serayu yang masih hidup.
Tiga orang Gagak lainnya telah tewas di tangan Adipati Tejolaksono.
Anak buah mereka inipun masih banyak, akan tetapi yang mereka bawa pada malam hari itu hanya belasan orang saja.
Dengan adanya para tamu yang jumlahnya amat banyak ini, maka ramailah lapangan di puncak Gunung Mentasari pada malam Respati itu.
Suara gamelan mengungkung, alunan getaran paduan suara gamelan melayang sampai jauh ke lereng-lereng Gunung Mentasari.
Suara ini mengiringi nyanyian waranggana yang merdu merayu dan menghidangkan bermacam-macam tembang.
"Ha-ha-ha-ha, suasana dalam pesta yang sudah-sudah tidaklah segembira malam hari ini. Entah mengapa, hatiku senang sekali!"
Demikian kata Wasi Bagaspati sambil memandang ke arah wajah Ni Dewi Nilamanik.
"Kebahagiaan hati Rakanda Wasi ini menandakan bahwa malam ini diberkahi oleh Sang Hyang Bathara Shiwa, dan saya merasa yakin bahwa Rakanda akan menjadi makin berbahagia kalau melihat apa yang akan saya perlihatkan sebentar di dalam upacara pemujaan!"
Kata Ni Dewi Nilamanik sambil tersenyum gembira. Sepasang alis putih tebal Sang Wasi Bagaspati terangkat dan matanya bersinar, wajahnya berseri.
"Heh, Ni Dewi. sudah berhasilkah engkau menangkap isteri Adipati Tejolaksono?"
Ni Dewi Nilamanik memperlebar senyumnya, matanya mengerling genit dan kepalanya digeleng-gelengkan.
"Ayu Candra memang ayu, akan tetapi dia isteri orang lain, saya rasa kurang patut dihidangkan kepada Sang Hyang Bathara Shiwa."
"Eh, Ni Dewi, jangan kau beranggapan begitu. Siapapun dia yang telah menarik minat hati, tidak perduli dia itu tua atau muda, perawan atau janda, dia patut sudah. Pula, mendapatkan dia berarti memukul hancur sang adipati yang pengung (bodoh) dan keras kepala itu!"
"Semua yang paduka katakan memang tepat, Rakanda Wasi. Akan tetapi sayang sekali, bukan Ayu Candra yang tertawan oleh anak buahku, melainkan seorang yang menurut perasaan saya, lebih baik lagi. Dia masih perawan, usianya baru lima belas tahun, bertulang kuat berdarah bersih, cantik manis dan mudabelia, juga dia adalah adik misan, bahkan murid terkasih Adipati Tejolaksono."
"Waah-ha-ha-ha! Bagus sekali kalau begitu!"
Sang Wasi Bagaspati tertawa-tawa gembira dan mengelus dagunya, matanya bersinar-sinar. Ki Kolohangkoro yang duduk dekat Ni Dewi Nilamanik,menoleh kepada wanita itu dan berkata perlahan.
"Bunda Dewi. , apakah dalam kesempatan baik ini Bunda Dewi lupa kepada saya?"
Memang mengherankan bagi orang lain kalau mendengar betapa kakek berusia lima puluh tahunan yang bertubuh raksasa ini memanggil "bunda"
Kepada Ni Dewi Nilamanik yang barn berusia empat puluh tahunan!
Hal ini adalah karena Ki Kolohangkoro yang menganggap diri sebagai titisan Bathara Kala menganggap Ni Dewi Nilamanik titisan Bathari Durga, karena itu seperti ibunya!
Dan terhadap Sang Wasi Bagaspatipun is menyebut "ramanda wasi"!
Ni Dewi Nilamanik menoleh kepada raksasa ini dan tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang putih berkilau.
"Jangan khawatir, Kolohangkoro. Aku tidak lupa akan pesananmu dan ingat bahwa saatnya tepat untuk memberi persembahan kepada Sang Hyang Bathara Kala!""
"Terima kasih............. , terima kasih, Ibunda Dewi. !"
Kata Ki Kolohangkoro dengan girang Sekali.
Dengan mengangkat lengannya ke atas, Ni Dewi Nilamanik memberi isyarat dan berubahlah kini suara gamelan yang ditabuh oleh wanita-wanita muda itu.
Waranggana berhenti menyanyi dan suara gamelan kini iramanya cepat dan nyaring, makin lama makin tinggi, seperti suara orang merintih mengerang, seperti napas terengah-engah, seperti suara ketawa ditahan-tahan.
Bukan main hebatnya suara gamelan kini, dibarengi dengan pembakaran dupa yang amat harum.
Asap dupa yang kebiruan bergerak perlahan, makin lama makin tebal dan dari balik asap ini sekarang bermunculan serombongan wanita penari yang berlari-lagi sambil menari-nari, kemudian setelah tiga puluh sembilan orang penari ini tiba di depan arca-arca dan tamu-tamu terhormat, mereka membentuk baris seperti bunga teratai lalu menyembah ke arah arca Bathari Durga.
Mereka menyembah sambil merebahkan tubuh atau menelungkup ke atas tanah, kedua kaki ditekuk di bawah paha.
Sampai lama mereka rebah seperti ini, tidak bergerak seolah-olah mati.
Gamelan yang tadinya ramai dan penuh semangat, kini menurun iramanya sehingga terdengar perlahan dan tenang.
Suasana menjadi hening dan sunyi, angker menyeramkan.
Upacara pemujaan dan penghaturan sesaji telah dimulai.
Tiga puluh sembilan penari masih menelungkup dan tidak bergerak.
Ni Dewi Nilamanik lalu mengeluarkan sebuah bungkusan merah dan menaburkan isinya pada pedupaan.
Seperti tadi, asap mengebul tebal dan tinggi, akan tetapi kalau tadi berwarna kebiruan, kini berwarna kemerahan, amat indah tersinar cahaya bulan dan cahaya obor yang dipasang di sekitar lapangan itu.
Pembakaran dupa yang berasap merah dan menghamburkan ganda harum yang aneh ini merupakan isyarat bagi serombongan penari lain yang telah siap.
Dari balik tabir asap kemerahan ini muncul tiga belas orang penari.
Berbeda dengan tiga puluh sembilan orang rombongan pertama tadi yang berpakaian sutera beraneka warna, tiga belas penari ini semua berpakaian putih, sutera tipis sekali sehingga sinar obor menembus pakaian tipis itu membuat bentuk tubuh mereka tampak nyata.
Juga tiga belas orang penari ini masih muda remaja dan semua cantik jelita.
Tarian mereka juga berbeda, gerakan mereka halus dan lemah gemulai.
Tangan kiri mereka menyangga sebuah bokor emas di atas pundak, lengan kanan menari-nari dan kaki mereka seperti melayang saja ketika bergerak di atas rumput lapangan, seolah-olah mereka terbang.
Ketika mereka tiba di depan tiga buah arca Bathari Durga, mereka bersimpuh, kemudian berjalan jongkok menghampiri arca.
Dengan gerakan berirama sesuai dengan irama gamelan, setibanya di kaki arca, mereka kembali menyembah dan meletakkan bokor emas masing-masing di depan tubuh mereka.
Pada saat itu, tiga puluh sembilan orang yang tadi menelungkup, kini menggerakkan tubuh tegak sambil menembang.
Paduan suara tembang mereka mengalun dalam sebuah lagu pujaan yang aneh dan menimbulkan serem karena suara mereka seperti orang merintih, kadang-kadang seperti menangis dan tiba-tiba berubah menjadi suara orang bergembira tertawa!
Tiga belas orang wanita berpakaiari putih kini menyebarkan bunga rampai dari dalam bokor kencana ke arah tiga buah arca sehingga tubuh arca-arca itu penuh kembang.
Bau yang amat wangi memenuhi seluruh lapangan, bau kembang rampai bercampur harum dedes dan dupa.
Setelah semua kembang dalam bokor habis, tiga belas orang wanita berpakaian putih itu yang masih duduk bersimpuh, menggerak-gerakkan tubuh atas mereka, bergoyang-goyang seperti ombak ke kanan kiri, ke depan belakang dengan berbareng dan dari mulut mereka terdengar suara mereka membaca mantera yang mengagung-agungkan nama Sang Bathari Durga.
Ni Dewi Nilamanik kini sudah bangkit berdiri dan menghampiri arca Bathari Durga yang berada di tengah, lalu berlutut dan membaca mantera pula, seirama dengan tiga belas orang muridnya.
Pada saat itu, suasana di lapangan itu benar-benar amat menyeramkan.
Asap kemerahan yang mengebul dari depan arca, membuat tiga buah arca itu seolah-olah bergerak-gerak dan bernapas Dua buah arca Bathari Durga yang mengerikan di kanan kiri itu seolah-olah melotot dan menyeringai, dan hawa busuk keluar dari tubuh dua buah arca itu.
Adapun arca yang di tengah, yang cantik dan molek, seperti ikut pula menari dan bibirnya tersenyum-senyum.
Suara nyanyian bersama itu makin membubung tinggi, kadang-kadang menjadi rendah sekali dan dari dalam nyanyian ini seperti terdengar suara-suara aneh, pekik-pekik dahsyat, gerengan-gerengan, pendeknya seolah-olah semua setan iblis brekasakan bangkit dari neraka jahanam, memenuhi pangilan yang tersalur lewat kekuasaan Sang Bathari Durga yang menjadi ratu sekalian jin setan dan iblis!
Setelah pembacaan mantera habis, ketiga belas orang dara berpakaian putih itu bangkit, menari dan dengan langkah-langkah teratur pergi meninggalkan lapangan itu, kemudian tak lama datang lagi membawa sesajen yang disunggi di atas kepala.
Bermacam-macam sesajen itu, dari buah-buahan, sayur-sayuran sampai daging segala macam hewan sembelihan, yang matang dan yang mentah.
Tidak ketinggalan kembang dan arak!
Semua sesajen ini dijajarkan, di depan ketiga buah arca.
Setelah upacara ini yang dikepalai oleh Ni Dewi Nilamanik yang mengatur persembahan sesajen itu, maka upacara selesai dan ,kini tinggal perayaan pestanya.
Ni Devi Nilamanik lalu berkata kepada Sang Wasi Bagaspati sambil mendekatinya.
"Rakanda wasi, bersiaplah menerima persembahan hamba."
Kemudian wanita cantik itu memberi isyarat dengan tangan.
Tiga betas orang wanita berpakaian putih menyembah lalu bangkit lagi menari sambil meninggalkan lapangan.
Gamelan ditabuh gencar dan kini tiga puluh sembilan penari mengikuti irama yang gencar dan cepat.
Mereka itu bergerak cepat, berputaran melenggang-lenggok, memainkan kedua lengan yang lemas, menggerak-gerakkan pinggang yang ramping dan leher yang indah bentuknya, melirik-lirik dan tersenyum-senyum memikat.
Akan tetapi, bertepatan dengan perubahan bunyi gamelan, mereka berhenti menari, lalu terpecah menjadi dua barisan dan membuat lingkaran lalu duduk bersimpuh dan kembali tubuh atas mereka menelungkup mencium tanah dengan kedua lengan dilonjorkan di depan, menelungkup pula di atas tanah.
Gamelan kini berirama tenang dan amat indah, tidak lagi aneh atau liar seperti tadi, namun teratur dan halus.
Inilah gamelan yang biasa dimainkan untuk mengiringi tari-tarian bidadari yang seringkali ditarikan di gedung-gedung para bangsawan.
Semua mata memandang ke arah tabir asap dan tampaklah tiga belas orang wanita yang berpakaian putih tadi muncul lagi, berjalan sambil menari perlahan-lahan dengan gerakan lemah gemulai.
Namun mereka itu tampak kasar ketika semua mata memandang seorang dara yang mereka iringkan.
Seorang dara remaja yang cantik manis, dan gerakan lengan kakinya ketika menari amatlah lemas dan indah!
Diiringkan tiga belas orang wanita cantik berpakaian sutera putih itu, dara remaja ini tampak seperti setangkai kuncup bunga yang sedang mekar dengan segarnya di antara tiga belas tangkai bunga yang sudah terlalu banyak kehilangan madu karena setiap hari dihisap kumbang.
Dara remaja ini bukan lain adalah Pusporini!
Baru pagi tadi rombongan anak buah Ni Dewi Nilamanik yang menawannya tiba di puncak Mentasari.
Pusporini disambut dengan bangga dan girang oleh Ni Dewi Nilamanik yang segera membuatnya pingsan dengan ilmunya, kemudian memberi minum secara paksa ramuan obat yang membuat dara itu tidak sadar akan keadaan dirinya lagi!.
Inilah sebabnya mengapa pada malam hari itu, ketika Pusporini disambut oleh tiga belas orang wanita berpakaian putih dan diperintahkan menari, seperti sebuah boneka berjiwa Pusporini lalu keluar dari tempat tahanan, dan begitu mendengar suara gamelan dan melihat tiga belas orang itu menari, iapun lalu melangkah maju dan menari!
Tentu saja tarian Pusporini amat indah karena dara remaja ini memang seorang ahli tari di Selopenangkep!
Ia menari dengan kedua mata setengah terpejam, bibirnya otomatis tersenyum manis karena guru tarinya selalu memesan bahwa dalam membawakan tarian, wajah hams berseri dan bibir tersenyum manis, senyum sopan untuk mempercantik wajah.
Semenjak ia masih kecil, Pusporini sudah belajar menari dan setiap kali di Kadipaten Selopenangkep diadakan tari--tarian, tentu dia menjadi bintang panggungnya.
Kini, dalam keadaan tidak sadar akibat pengaruh jamu yang dicekokkan kepadanya ketika ia pingsan, Pusporini menari dengan perasaan bahwa dia harus menari seperti yang ia lakukan di Selopenangkep.
Menari seindah-indahnya.
"Bagaimana, Rakanda Wasi? Apakah cukup memuaskan hati Rakanda?"
Bisik Ni Dewi Nilamanik sambil mendekati Wasi Bagaspati yang duduk terhenyak dan kesima memandang ke arah Pusporini.
Teguran ini membuat ia sadar dan ia cepat memegang tangan Ni Dewi Nilamanik, ditariknya wanita itu mendekat dan dengan mata masih memandang ke arah Pusporini, ia mengambung pipi kanan wanita cantik itu di depan semua orang yang memandang hal ini tanpa heran sedikitpun.
"Wah, Yayi Dewi, benar hebat.............! Tiada ubahnya dengan Dewi Sang Hyang Saraswati sendiri.............! Dan dara ini adik misan Tejolaksono? Bagus! Hukuman baik bagi adipati yang keras kepala itu. Biarkan dia menghibur dengan tari-tarian sampai pestamu selesai Yayi. Sesudah itu, bawa dia ke kamarku, akan tetapi aku menghendaki dia seaseli-aselinya, tanpa pengaruh jamu-jamu……"
Ni Dewi Nilamanik tersenyum dan maklum akan kehendak Sang Wasi Bagaspati.
Ia mengangguk lalu duduk kembali ke atas kursinya sambil memberi isyarat dengan tangan untuk meningkatkan acara perayaan.
Tiga belas orang wanita berpakaian putih itu lalu menari sambil mengurung Pusporini dan mengiring dara remaja ini naik ke sebuah panggung yang paling tinggi di samping barisan tiga buah arca.
Panggung ini hanya dua meter luasnya, agak tinggi dan bentuknya bundar.
Tiga buah obor besar menyala di belakang panggung sehingga ketika Pusporini menari-nari di atas panggung sendirian saja, tampak seperti seorang bidadari menari.
Permainan cahaya dan bayangan yang menyelimuti tubuh dan wajahnya benar-benar amat indah.
Setelah Pusporini "disingkirkan"
Di atas panggung menyendiri dan menari dijadikan tontonan dan dikagumi semua orang, Ni Dewi Nilamanik kembali memberi isyarat dengan tangan.
Tiga belas orang wanita berpakaian putih itu lalu mengundurkan diri dan tak lama kemudian mereka datang berlari-lari sambil menari dan masing-masing membawa sebuah bokor pula, kini bokor perak yang berisi benda cair berwarna merah.
Begitu mereka memasuki lapangan, bau yang harum bercampur amis berhamburan dan semua orang yang hadir, baik laki-laki maupun perempuan tertawa-tawa gembira dan pandang mata mereka penuh kehausan melihat ke arah bokor-bokor itu.
Semua bokor perak, tiga belas buah jumlahnya, kini ditaruh di depan kaki tiga buah arca.
Ni Dewi Nilamanik lalu bangkit dan menghampiri, mencelupkan sebatang daun ke dalam bokor-bokor itu dan memercik-mercikkan cairan merah ke arah tiga arca hingga tubuh arca-arca itu berwarna merah, bertotol-totol seperti darah.
Kemudian Ni Dewi Nilamanik mengambil dua buah cawan, mengisinya dengan cairan merah itu dan ia menghampiri Wasi Bagaspati.
Dengan sikap hormat sambil bersimpuh di depan sang wasi, ia menyodorkan sebuah cawan yang diterima sambil tertawa oleh Wasi Bagaspati.
Kemudian kedua orang ini minum cairan merah itu dari dalam cawan, terus ditenggak sampai habis.
Semua anak buah laki-laki perempuan yang hadir di situ bersorak gembira, dan mulailah mereka berteriak-teriak minta bagian cairan merah yang mereka sebut "Anggur Darah"
Di Dewi Nilamanik memberi isyarat dengan tangan.
Di bawah hujan sorak-sorai gemuruh, tiga belas orang wanita berpakaian putih, kini dibantu oleh tiga puluh sembilan wanita berpakaian aneka warna mulai membagi-bagikan anggur darah dari tiga belas bokor perak itu kepada semua orang.
Mula-mula tentu raja para tamu yang duduk di kursi kehormatan yang menerima secawan yang mereka minum dengan lahap.
Kemudian semua orang mendapat bagian, sampai para penabuh gamelan dan semua anggauta, baik anggauta penyembah Durga maupun penyembah Shiwa dan Kala.
Setelah semua orang minum, makin riuhlah suasana, makin gembira seakan-akan mereka semua itu mabuk oleh secawan anggur darah itu.
Gamelan dibunyikan dengan keras dan iramanya panas merangsang, lima puluh dua penari itu kini menari-nari secara liar, makin lama makin cepat gerakan mereka, makin cepat dan makin liar.
Aneh dan hebat bukan main Setelah minum anggur darah yang berwarna merah itu, wanita-wanita itu tidak hanya seperti mabuk, bahkan seperti orang-orang yang telah kemasukan roh jahat.
Juga suasana makin menjadi berubah sama sekali.
Seluruh lapangan itu seakan-akan terselimut hawa yang dingin menyeramkan, namun yang mengandung rangsangan hawa panas yang membuat darah mendidih, yang membangkitkan gairah nafsu berahi, dan jelas terasa getaran-getaran aneh yang tidak sewajarnya.
Malam di puncak Gunung Mentasari ini menjadi malam penuh hawa kotor, dikuasai iblis.
Tiga puluh sembilan orang wanita yang berpakaian sutera tipis beraneka warna itu makin hebat tariannya.
Tidak lagi mengikuti bunyi gamelan yang iramanya makin panas merangsang, melainkan menari secara liar, menggerak-gerakkan ginggul ke kanan kiri ke depan belakang, membusungkan dada dan menggerak-gerakkan pundak, pinggang mereka bergoyang-goyang, tubuh mereka seolah-olah menjadi tubuh ular yang meliuk-liuk, melekuk, melengkung dan menggeliat-geliat.
Wajah mereka yang rata-rata cantik dan muda itu kini agak pucat, keringat membasahi dahi dan leher, muka diangkat ditengadahkan membayangkan gairah nafsu berahi, mata setengah terpejam, cuping hidung berkembang kempis mendengus-dengus, bibir terbuka memperlihatkan kilauan gigi putih di antara rongga mulut yang merah seperti dasar mereka, ujung lidah merah meruncing menjilat-jilat bibir seperti lidah ular, membasahi bibir yang merah basah, dada yang membusung itu turun naik terengah-engah seperti ombak samudra dilanda badai.
Nafsu berahi makin memuncak dalam suasana yang tidak wajar itu.
Keadaan seperti ini makin lama menjalar sehingga tiga belas orang wanita remaja berpakaian putih itupun terkena pengaruhnya dan merekapun mulai meniru gerak-gerik tiga puluh sembilan orang rekannya yang tingkatnya lebih rendah itu.
Gamelan ditabuh makin menggila.
Tari-tarian itupun makin menggila.
Para anggauta wanita penyembah Bathari Durga itu kini mulai pula menggerak-gerakkan tubuh mengikuti irama gamelan.
Merekapun terpengaruh setelah tadi minum secawan anggur darah.
Juga para tamu, anak buah Wasi Bagaspati dan Ki Kolohangkoro, mulai berteriak-teriak seperti gila, menjadi histeris dan dengan pandang mata seperti hendak melahap dan menelan bulat-bulat para penari itu.
Yang tidak terpengaruh oleh anggur darah, biarpun ikut minum, hanya para pimpinan saja.
Sang Wasi Bagaspati, biarpun wajahnya menjadi makin merah, namun tetap tenang dan memandang kesemuanya itu sambil tersenyum gembira.
Ni Dewi Nilamanik, juga merah sepasang pipinya, membuatnya tampak makin cantik dan kini pimpinan penyembah Bathari Durga melempar kerling mata penuh nafsu ke arah Sang Wasi Bagaspati, namun ia tetap duduk tenang.
Di samping kedua orang sakti ini, Ki Kolohangkoro juga tidak terpengaruh.
Matanya terbelalak lebar dan ia minum arak terus-menerus, kadang-kadang tertawa bergelak seperti orang gila.
Yang lainnya, termasuk Cekel Wisangkoro, Sariwuni, kedua orang Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, terseret pula oleh gelombang getaran hawa nafsu berahi, bahkan Sariwuni dan kedua orang Gagak Dwipa dan Gagak Kroda sudah saling mendekat dan saling pegang dalam belaian-belaian penuh nafsu.
Yang mengherankan adalah dua puluh empat orang tinggi besar gundul, anak buah Cekel Wisangkoro.
Mereka ini tadipun mendapat bagian anggur darah, akan tetapi mereka kini tetap saja duduk di bawah tanpa bergerak dengan mata memandang kosong ke depan!
Tak lama kemudian, setelah gamefan kini berbunyi kacau-balau karena para penabuhnya sudah mabuk semua, beterbanganlah sutera-sutera halus yang tadi membungkus tubuh lima puluh dua orang penari itu.
Sorak-sorai terdengar dan para wanita penyembah Bathari Durga semua lalu ikut menari sambil menanggalkan pakaian, melempar-lemparkan pakaian mereka dan mempermainkan nya seperti selendang, sementara tubuh mereka terus melanjutkan tari-tarian penuh gairah.
Sorak--sorai dari mulut para pria yang hadir makin gemuruh dan mereka-pun bangkit tanpa aturan lagi, ikut menari-nari dan mendapatkan pasangan masing-masing.
Bahkan Cekel Wisangkoro sudah pula meloncat dart tempat duduknya dan terjun ke dalam medan tari-tarian menggila itu.
Suara ketawa bercampur cekikikan dan semua bercumbuan mengotorkan udara.
"Hua-ha-ha-ha, Bunda Dewi! Manakah hidanganku yang Bunda janjikan tadi?"
Terdengar suara Ki Kolohangkoro menggema dan mengatasi semua suara hiruk-pikuk dari mereka yang berpesta-pora dalam nafsu binatang itu.
"Jangan......... khawatir,........ Kolohangkoro,"
Jawab Ni Dewi Nilamanik sambil tersenyum, lalu ia memanggil Sariwuni.
"Sariwuni, kau ambillah si bagus ke sini, berikan kepada Kolohangkoro!"
Sariwuni terpaksa melepaskan diri dari pelukan Gagak Dwipa, lalu tubuhnya yang kini sudah setengah telanjang itu melesat pergi.
Hanya sebentar ia menghilang karena sepuluh menit kemudian wanita sakti ini telah datang kembali, memondong seorang anak laki-laki yang bertubuh montok dan berwajah tampan.
Anak laki-laki itu berusia kurang lebih enam tahun, matanya lebar terbelalak memandang ketakutan dan di kedua pipinya yang segar kemerahan dan montok itu tampak titik-titik air mata.
Ki Kolohangkoro memekik keriangan ketika ia menyambar tubuh anak ini dari tangan Sariwuni yang terkekeh genit dan meloncat lagi ke dalam pelukan Gagak Dwipa sambil mendorong pergi seorang wanita penari yang tadi menggantikan tempatnya.
"Kolohangkoro, kaubawa pergi korbanmu itu dari depan mataku,"
Kata Sang Wasi Bagaspati sambil menyeringai.
Ki Kolohangkoro yang memeluk anak itu tertawa, membungkuk lalu meloncat pergi, akan tetapi saking tak dapat menahan nafsunya, ia berlari sambil menundukkan mukanya ke arah leher anak Itu yang berkulit putih halus.
Rahangnya bergerak, tampak giginya yang meruncing dan terdengarlah jerit anak itu yang tenggelam ke dalam suara ketawa di tenggorokan Ki Kolohangkoro yang mulai menghisap darah segar!
Pusporini yang tadinya menari-nari di atas panggung bundar, kini masih menari-nari seperti kehilangan semangat.
Karena gamelan kini tidak berbunyi lagi dan para penabuhnya sudah pula terjun ke dalam kancah nafsu jalang yang dipuja-puja, Pusporini kini berdiri termangu--mangu seperti orang bingung.
Sepasang matanya kini terbelalak, penuh kengerian akan tetapi juga seperti orang dalam mimpi.
Pengaruh jamu yang membiusnya masih belum lenyap semua, akan tetapi penglihatan yang terbentang di depan matanya terlalu hebat sehingga mengguncangkan perasaannya, membuatnya terbelalak penuh kengerian, ketakutan, dan kebingungan.
Apa yang terjadi di lapangan puncak Gunung Mentasari itu memang tidak lumrah.
Seorang manusia normal tentu akan terguncang perasaannya menyaksikan semua itu.
Agaknya semua orang yang berada di situ telah terseret ke dalam tingkat yang amat hina dan rendah, jauh lebih rendah daripada binatang-binatang yang tidak berakal budi.
Mengerikan dan memuakkan!
Sang Wasi Bagaspati dan Ni Dewi Nilamanik masih duduk tenang, sungguhpun kini mereka duduk berdekatan dan tangan Wasi Bagaspati membelai-belai rambut, kadang--kadang mencium muka Ni Dewi Nilamanik.
Mereka berdua yang sakti mandraguna, yang dengan pengaruh ilmu hitam mereka telah menimbulkan suasana seperti ini, tentu saja dapat menguasai diri dan keadaan.
Ketika Pandang mata Wasi Bagaspati beralih ke arah Pusporini yang berdiri bingung di atas panggung, is segera bangkit perlahan, menudingkan telunjuknya ke arah Pusporini dan berkata perlahan.
"Ni Dewi, aku ingin mengaso dan antarkan dia itu kepadaku."
Ni Dewi Nilamanik juga bangkit berdiri dan tersenyum lebar.
"Baiklah, Rakanda Wasi. Saya sendiri yang akan menjemput dan mengantarnya kepadamu."
Akan tetapi pada saat itu, secara tiba-tiba sekali jatuhlah air hujan dari angkasa!
Kedua orang itu kaget dan menengadah.
Langit yang tadinya bersih kini tertutup mendung menghitam.
Sinar bulan tertutup mendung dan datang pula angin bertiup sehingga banyak obor secara tiba-tiba menjadi padam.
Suasana menjadi gelap, angin bertiup, dan air hujan turun makin deras.
Akan tetapi, pasangan-pasangan yang sudah dimabuk nafsu itu masih berdekapan dan bergulingan di atas tanah berumput, sama sekali tidak perduli akan turunnya air hujan.
Suara ketawa dan cekikikan masih terdengar, bahkan agaknya makin gembira dengan turunnya air hujan!
"Ah, hujan.............!"
Seru Ni Dewi Nilamanik dengan kaget dan heran.
"Biar saya menyuruh Sariwuni menjemputnya!"
Karena Sariwuni yang dipanggil dua kali tidak mendengar, asyik mengumbar nafsu binatang bersama Gagak Dwipa, sekali bergerak Ni Dewi Nilamanik sudah mendekati lalu menarik bangun wanita itu.
"Sariwuni! Kau bawa dara remaja itu ke dalam!"
SETELAH berkata demikian, Ni Dewi Nilamanik lalu menghampiri Wasi Bagaspati, menggandeng tangannya dan berkata.
"Marilah, Rakanda Wasi, kita berteduh di dalam dan menantinya."
Dua orang pimpinan kaum sesat itu sudah berjalan cepat-cepat meninggalkan lapangan menuju ke bangunan pondok--pondok yang berada di puncak.
Adapun Sariwuni sambil bersungut-sungut ter-paksa meninggalkan Gagak Dwipa lagi, lari ke arah panggung di mana tadi Pus-porini berdiri bingung!.
Akan tetapi alang-kah kagetnya ketika ia tidak melihat dara remaja itu di sana!
Cepat ia me-loncat ke tempat yang tinggi itu dan memandang, lalu terkekeh genit dan keji ketika melihat bayangan Pusporini berlarl-lari pergi dari tempat itu!
Beberapa obor yang masih bisa bertahan terhadap serangan angin dan hujan, menerangi tempat itu sehingga ia dapat melihat ke mana Iarinya Pusporini.
Keadaan Pusporini tadi masih setengah sadar setengah mabuk jamu yang membiusnya.
Pemandangan yang mengerikan Itu mengguncang perasaannya dan membaritunya untuk cepat sadar ketika air hujan tnenlmpa kepalanya, Pusporini merasa seakan-akan ia disiram air embun suci dari surgaloka.
Seketika ia menjadi sadar dan dara remaja ini cepat menutup mulut menahan jerit yang akan keluar dari mulutnya.
Pemandangan yang terbentang di depannya terlalu hebat.
Ia meramkan matanya,kemudian meloncat turun dari panggung dan Ian' ketakutan dan penuh kengerian.
Ia harus lari dari tempat itu.
Harus cepat pergi menjauhi mereka ini!
Kini teringatlah ia.
Tadinya ia berada di taman sari Kadipaten Selopenangkep.Lapat-lapat ia teringat betapa ia berada di dalam kekuasaan wanita-wanita genit yang menyeramkan.
Kemudian teringat bahwa ia dibawa ke dalam sebuah pondok di puncak bukit itu, melihat wajah seorang wanita cantik yang pandang matanya mengerikan, lalu ia tidak ingat apa-apa lagi.
Bagaimana ia tahu-tahu bisa berada di panggung itu?
Dan pemandangan yang ia lihat di atas rumput, lhhh, mengerikan sekali!
Perutnya menjadi muak dan mual,membuat ia hampir muntah.
Akan tetapi karena ia maklum bahwa tempat itu penuh dengan orang-orang jahat yang amat sakti, ia tidak mau berhenti, terus berlari sambil mengerahkan Aji Bayu Sakti.
Namun tubuhnya terasa lemas dan lelah.
Kepalanya masih pening berdenyut-denyut.
Pandang matanya berkunang dan malam amat gelap.
Hujan turun makin deras sehingga jalan liar yang dilaluinya menjadi licin sekali.
"Heeeeiii. , Pusporini! Berhenti kau! Hendak lari ke mana?"
Mendengar suara dari sebelah belakang ini, Pusporini terkejut sekali.
Ia menoleh dan di antara sinar obor yang bergoyang-goyang hampir mati ia melihat bayangan seorang wanita yang mengejarnya dengan gerakan tangkas dan larinya cepat bukan main.
Pusporini bukanlah seorang penakut, akan tetapi apa yang disaksikan di sana tadi benar-benar telah melenyapkan semua keberaniannya.
Terlalu ngeri dan terlalu menakutkan baginya sehingga kini seluruh hati dan pikirannya dicekam rasa takut yang hebat.
Maka ia mengeluh pendek dan terus berlari makin cepat lagi.
Beberapa kali ia jatuh tersandung, akan tetapi ia bangkit lagi.
Bahkan ia jatuh tersungkur dan terguling-guling, namun setelah mendapat kesempatan meloncat bangun, ia terus berlari lagi tidak memperdulikan betapa kakinya babak-belur dan kainnya robek di sana-sini.
Sanggul rambutnya terlepas sehingga rambutnya yang hitam panjang terurai.
Untung bagi Pusporini bahwa sinar bulan lenyap tertutup mendung dan malam gelap pekat sehingga agak sukarlah bagi Sariwuni untuk mengejarnya.
Biarpun Pusporini tidak dapat melakukan perjalanan cepat menuruni bukit di dalam gelap itu, namun sama pula halnya dengan Sariwuni yang juga harus berhati-hati sekali karena selain jalan amat licin, juga amat gelap dan banyak jurang di situ.
Akhirnya Sariwuni berteriak keras memanggil nama Gagak Dwipa dan Gagak Kroda untuk membantu nya mengejar Pusporini.
Kedua orang Gagak ini tentu saja cepat bangkit berdiri dan berlari ke arah datangnya suara Sariwuni.
Mereka ingin menyenangkan hati wanita cantik yang membuat mereka tergila-gila ini.
Seperti kita ketahui, Gagak Dwipa dan Gagak Kroda adalah kedua orang di antara Lima Gagak Serayu.
Semenjak gerombolan mereka gagal menyerang Selopenangkep bahkan dihancurkan oleh pasukan yang dipimpin Adipati Tejolaksono sendiri, mereka menyembunyikan diri di dalam hutan-hutan dengan hati penuh dendam.
Kemudian tibalah saat bagi mereka untuk membalas dendam ketika melihat pasukan-pasukan asing yang dipimpin oleh orang-orang Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Cola.
Mereka lalu membawa pasukan yang masih ada untuk menggabungkan diri dan bahkan menghambakan diri kepada pasukan asing yang dipimpin banyak orang pandai itu.
Setelah Gagak Dwipa dan Gagak Kroda.
mendekat, Sariwuni dan kedua orang laki-laki tinggi besar ini melanjutkan pengejaran mereka terhadap Pusporini.
Dara remaja itu terus berlari ke depan, menuruni bukit, meraba-raba dan merangkak-rangkak dalam gelap, sebentarpun tidak berani berhenti.
Apalagi ia mendengar suara tiga orang pengejarnya di belakang!
Tiga orang itu biarpun tidak tampak olehnya, namun selalu berada di belakang, suara mereka kadang-kadang jauh, akan tetapi kadang-kaclang amat dekat.
Malam telah berganti pagi, cuaca gelap menjadi remang-remang ketika akhirnya Pusporini tiba di kaki gunung.
karena kini cuaca tidak segelap tadi sehingga jalan di depan tampak remang-remang, Pusporini menjadi girang hatinya.
"Heee, itu dia !"
Tiba-tiba terdengar teriakan dari belakang, suara seorang laki-laki yang parau..
"Pusporini, hendak lari ke mana engkau?"
"Kejar. !!"
Mendengar suara-suara ini, Pusporini tanpa menoleh lagi lalu mengerahkan seluruh kepandaiannya, lari secepatnya ke depan memasuki sebuah hutan di kaki gunung itu.
Karena khawatir, ia lupa akan kelelahannya, lupa bahwa tubuhnya sudah lelah sekali, kedua kakinya lemas dan pandang matanya berkunang.
Ia berlari terus, secepatnya masuk hutan.
Teriakan-teriakan itu masih terdengar di belakang, akan tetapi makin perlahan yang berarti bahwa jarak di antara mereka makin jauh.
Sambil berlari cepat, Pusporini memutar otaknya yang tadi digelapkan oleh rasa ngeri dan takut.
Ah, mengapa ia lari-lari seperti orang dikejar setan?
Pengejarnya hanya tiga orang!
Takut apa?
Kalau mereka dapat menyusulku, akan kulawan saja.
Belum tentu aku kalah, demikian dara remaja yang tadihya ketakutan karena pengalaman hebat di puncak Gunung Mentasari itu kini mulai mendapatkan kembali ketabahannya.
Pada hakekatnya, Pusporini adalah seorang dara yang pemberani.
Dia keturunan orang sakti.
Ayahnya yang tak pernah dilihatnya karena telah meninggal dunia di waktu ia masih dalam kandungan ibunya, Pujo, adalah seorang ksatria perkasa.
Juga ibunya, Roro Luhito bukanlah wanita sembarangan, melainkan murid Sang Resi Telomoyo pertama yang memuja Hanoman.
Selain menuruni watak ksatria ayah bundanya, juga sejak kecil Pusporini telah digembleng oleh kakak misannya, Adipati Tejolaksono yang menjadi gurunya.
Tidak, Pusporini bukanlah seorang dara penakut.
Dia seorang dara perkasa yang' biarpun belum matang ilmunya, namun telah mempelajari pelbagai aji kesaktian yang hebat-hebat.
Kalau semalam ia melarikan diri penuh kengerian dan ketakutan adalah karena ia mengalami goncangan batin yang hebat menyaksikan peristiwa mengerikan di puncak Gunung Mentasari.
Kini, berbareng dengan munculnya sinar matahari.
pagi, batinnya mulai tenang kembali dan keberaniannya mulai timbul.
Tiba-tiba dara ini menahan jeritnya dan tubuhnya roboh terguling ke atas.
sepasang paha manusia.
Ketika ia memandang, hampir ia menjerit kaget dan marah karena mendapat kenyataan bahwa ia jatuh terduduk di atas pangkuan seorang laki-laki muda yang tampan!
Ketika lari tadi, cuaca masih remang-remang dan kakinya tersandung sehingga tubuhnya terguling.
Ternyata yang menyandung kakinya bukanlah akar pohon melainkan dua buah kaki pemuda itu yang dilonjorkan, sedangkan tubuh pemuda itu bersandar pada pohon cemara.
Pemuda itu tadinya tertidur melenggut dan kini berseru kaget sambil membuka matanya.
Sejenak ia tertegun, memandang muka yang amat cantik, yang amat dekat dan kini sepasang mata indah itu terbelalak.
Kemudian pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya dan mencubit telinganya sendiri sambil berkata.
"Segala puji bagi Sang Hyang Widhi.............! Masih mimpikah aku.......? Mimpi bulan jatuh di pangkuanku, akan tetapi.... ah, Andika tentulah seorang bidadari dari bulan !"
Saking kagetnya, Pusporini sampai kesima dan sampai lama ia terduduk di atas pangkuan pemuda itu.
Mereka saling pandang dengan muka berdekatan, wajah pemuda itu penuh kekaguman dan heran, wajah Pusporini penuh kekagetan dan kemarahan.
Setelah dapat menguasal rasa kagetnya, kemarahan memuncak di dalam hati Pusporini.
Ia merasa malu dan marah bukan main.
Sungguh seorang pemuda yang kurang ajar, berani mati memangkunya!
"Plak-plak.
!!"
Dua kali tamparan tangannya yang dilakukan keras sekali membuat pemuda itu mencelat dan bergulingan beberapa kali.
Tamparan bukan sembarang tamparan, melainkan pukulan telapak tangan dengan Aji Pethit Nogo yang tepat mengenai pipi dan leher.
Akan tetapi, sungguhpun pemuda itu terlempar dan bergulingan,namun ia segera bangkit duduk kembali, mengelus-elus pipinya yang menjadi merah dan matanya memandang terbelalak, mulutnya mengomel.
"Aduh-aduh........., ada bidadari kok begini keji dan tangannya seperti besi panas. !"
Melihat betapa pemuda kurangajar itu tidak mati,bahkan lukapun tidak oleh pukulannya, Pusporini menjadi makin penasaran dan marah.
Ia sudah berdirl dan menudingkan telunjuknya ke arah hidung pemuda itu sambil membentak.
"Heh, engkau manusia keparat, tak tahu susila , kurangajar!"
Pemuda yang masih duduk itu terbelalak, menoleh ke belakangnya akan tetapi karena tidak melihat lain orang, baru ia mau mengerti bahwa dirinyalah yang dimaki.
Karena telunjuk dara itu menuding tepat ke arah hidungnya, iapun lalu menunjuk hidungnya sendiri dan berkata.
"Siapa kurangajar? Aku? Kurangajar.............? Mengapa. ?"
"Siapa lagi kalau bukan engkau? Ihh, manusia tak tahu malu, mengapa engkau berani mati memangku aku?"
Pemuda itu mengerutkan alisnya yang hitam tebal, lalu meloncat bangun dan bertolak pinggang.
Baru sekarang Pusporini melihat bahwa pemuda itu masih remaja, sepantar dengannya, tubuhnya, tegap jangkung dan wajahnya tampan, matanya bersinar seperti mata harimau.
Pemuda itu tersenyum mengejek dan makin panaslah hati Pusporini.
"Eh-eh, nanti dulu Enak benar kau bicara, gadis! Aku memangkumu? Hemm, aku sedang tidur dan tahu-tahu kau menjatuhi pangkuanku sampai kedua pahaku seperti akan remuk, dan kau bilang aku kurangajar memangkumu? Ini namanya maling teriak maling!"
Kemarahan Pusporini makin menjadi. Mukanya menjadi merah, sepasang matanya berkilat dan ia mengepal kedua tinjunya.
"Siapa maling? Engkau maling! Engkau kecu (perampok), engkau copet! Engkau menjegal kakiku ketika aku sampai aku terjatuh! Hemm, bedebah, apa kau masih mau menyangkal? Berani berbuat tidak berani mengaku, apa ini laki-laki namanya?"
Pemuda itu menggosok-gosok hidungnya, makin terheran dan makin marah.
"Aku menjegalmu? Walah walah, engkau ini perawan galak seperti sarak gadungan! Aku sedang tidur dan kakiku terlonjor, kau yang jalan tidak melihat-lihat, nabrak saja masih hendak menyalahkan aku?"
Baru kali ini Pusporini bertemu dengan seorang laki-laki yang dianggapnya cerewet dan selalu membantahnya. Kemarahannya membuat ia hampir menangis. Ia membanting kaki kanan dan membentak.
"Laki-laki bosan hidup! Kenapa menaruh kaki sembarangan saja?"
Pemuda itupun marah dan membalas gerakan Pusporini dengan membanting kaki kanannya juga, selain untuk meniru mengejek juga karena tidak mau kalah, lalu berkata.
"Dan engkau ini perempuan yang agaknya semalam kesurupan setan dan sekarang masih marah-marah tidak karuan. Pagi-pagi buta sudah menabrak seperti maling kesiangan, sudah begitu masih memaki-maki orang tidak karuan. Benar-benar perempuan tidak genap kau ini!"
"Jahanam busuk! Berani kau, ya. ?"
"Mengapa tidak berani?"
Dua orang muda remaja itu sudah saling berhadapan, memasang kuda-kuda dan slap untuk saling serang.
Keduanya sudah marah sekali, mereka sebelum bertanding tangan sudah bertanding pandang mata, sekan-akan hendak saling bakar dengan pandang mata masing-masing.
Biarpun sedang marah, kini Pusporini teringat bahwa pemuda ini tidak roboh oleh pukulan Pethit Nogo dan hal ini membuktikan bahwa pemuda kurang-ajar ini memiliki ilmu kepandaian yang tak boleh dipandang ringan.
Di lain fihak,setelah mencicipi aji Pethit Nogo tadi, si pemudapun maklum bahwa gadis betapapun galak dan kasarnya, adalah seorang dara yang sakti.
Maka keduanya bersikap hati-hati dan sedapat mungkin menahan nafsu amarah.
Inilah pula sebabnya mengapa mereka tidak segera turun tangan menyerang, bahkan saling menanti lawan turun tangan lebih dulu.
"Pusporinl, hendak lari ke mana engkau?"
Suara inl mengejutkan Pusporini yang cepat membalikkan tubuh.
Kiranya tiga orang pengejarnya sudah berada di situ, di hadapannya!
Akan tetapi Sariwuni yang sudah melompat ke depan Pusporini, tiba-tiba melihat pemuda itu dan la berdiri seperti orang kesima.
Tanpa mengalihkan pandang mata dari pemuda itu, Sariwuni berkata kepada dua orang temannya.
"Kakang Gagak berdua, harap bantu aku menangkap dara itu!"
Dua orang laki-laki tinggi besar yang tadinya merasa kecewa dan menyesal bahwa mereka terganggu kesenangan mereka di puncak Mentasari tadi, dan pengaruh anggur darah masih membuat darah mereka bergolak panas, kini menjadi girang mendapat tugas menangkap dara remaja yang jelita itu.
Dengan mata berkilat-kilat dan mulut menyeringai, kedua tangan dikembangkan mereka kini mengurung dan mendekati Pusporini, sikap mereka seperti dua orang anak nakal hendak menangkap seekor anak itik!
Pusporini tidak takut, hanya agak jijik menghadapi wajah dua orang yang beringas menyeramkan itu, sepasang mata mereka merah terbelalak, mulut menyeringai penuh nafsu.
Ia mundur-mundur dan memasang sikap, siap untuk bertanding mati-matian.
Adapun Sariwuni kini melangkah maju mendekati pemuda itu dengan pandang mata penuh gairah dan ujung lidahnya yang merah dan kecil menjilat-jilat bibir.
Sikapnya seperti seekor ular kelaparan melihat seekor katak hijau yang montok gemuk, seolah-olah hendak ditelannya pemuda itu bulat-bulat!
Pada saat itu, seperti juga kedua orang temannya, wanita yang pada dasarnya memang berwatak cabul ini masih berada di bawah pengaruh anggur darah.
Kini melihat seorang pemuda remaja yang demikian tampan dan ganteng, jauh bedanya dengan semua pria yang dilihatnya malam tadi di puncak Gunung Mentasari, tentu saja ia menjadi tertarik sekali.
"Duhai, bocah bagus. Andika siapakah? Dan ada hubungan apakah dengan gadis ini?"
Pemuda ini tidak menjawab, melainkan menoleh ke arah Pusporini yang menghadapi ancaman dua orang laki-laki tinggi besar yang liar itu.
Gagak Dwipa mengembangkan kedua lengannya yang besar dan berbulu, menyeringai lebar dan berkata.
"Marilah, manis, kau menyerah saja,kupondong kembali ke puncak. ha-ha-ha!"
"Eh, bocah ayu, engkaupun boleh memilih aku.Kuemban............. kupundak............. ataukah kau ingin gendong-pekeh? Ha-ha-ha, Gagak Kroda siap, cah denok!"
Pusporini tidak takut, akan tetapi menyaksikan sikap mereka dan mendengar kata-kata mereka, ia mengkirik,kedua kakinya menggigil saking jijik dan ngeri.
Pada saat itu, Gagak Dwipa menubruk hendak memeluk pinggang yang ramping itu dan pada saat berikutnya, Gagak Kroda juga menyambar lengannya.
Namun dengan gerakan amat manis dan indah, tubuh yang kecil ramping itu sudah menyelinap dan kedua orang raksasa itu menubruk angin belaka.
Jangankan tubuh dara jelita, ujung kainnyapun tak dapat mereka sentuh!
Pemuda itu tertawa dengan dada lapang.
Ia tidak khawatir lagi.
Melihat gerakan Pusporini, tahulah ia bahwa tidak akan mudah bagi dua orang raksasa itu untuk dapat menangkap dara remaja yang amat lincah itu.
Ia tertawa sambil menghadapi Sariwuni lagi.
"Andika ingin tahu namaku? Aku Joko Pramono, bocah gunung kabur kanginan (tertiup angin) yang tidak menentu tempat tinggalku. Hubunganku dengan dia itu? Ah, bukan apa-apa. Bukan sanak bukan kadang akan tetapi kalau mati ikut kehilangan. Engkau dan dua orang raksasa itu mau apakah? Mengapa mengganggu orang?"
Sariwuni tertawa sehingga tampak deretan giginya yang rata dan putih menghias rongga mulut yang merah.
"Hihihik, bocah bagus, engkau lucu juga. Tidak perlu engkau mencampuri urusan kami. Lebih baik kau mendekat sini,kita omong-omong yang enak. Engkau mau bukan? Engkau tentu suka bercakap-cakap dengan Sariwuni, ya? Aduh, bocah bagus, bocah ganteng, sinilah mendekat!"
Sariwuni yang sudah tergila-gila akan ketampanan wajah pemuda itu melangkah maju, tangannya meraih, jari-jarinya hendak mencubit dagu.
Pemuda itu melangkah mundur sehingga cubitan Sariwuni tidak mengenai sasaran.
Kini pemuda itu memandang penuh perhatian, melihat betapa wanita cantik di depannya itu pakaiannya tidak karuan, hampir telanjang sehingga tampak sebagian besar dada dan pahanya.
Pemuda itu mengerutkan keningnya, menggeleng-geleng kepala lalu berkata.
"Aduh-aduh, sialan benar hari ini aku! Mimpi kejatuhan bulan kiranya dalam kenyataan bertemu dengan bidadari galak lalu disambung bertemu dengan iblis-iblis laknat yang menyeramkan. Engkau ini siapakah dan mau apa. ?"
Sariwuni yang sudah mabuk itu melangkah maju lagi, membusungkan dada dan langkahnya lenggang-lenggok penuh daya tarik, matanya melirik tajam seakan-akan membetot-betot sukma, semyumnya makin panas.
"Cah bagus, jangan menjual mahal, ya? Aku Sariwuni dan aku. ah, aku amat cinta kepadamu. Kau tampan seperti Harjuna! Aihh............. jangan mundur menjauhkan diri, ke sinilah kau. !"
Kembali Sariwuni meraih dan kali ini dengan kedua tangannya, hendak memeluk dan merangkul. Akan tetapi dengan gerakan yang tenang namun cepat pemuda itu sudah melangkah mundur dan mengelak.
"Wah-wah, celaka tiga belas, aku bertemu dengan siluman seperti ini! Engkau ini manusia apa kok begini nekat? Pergilah dan ajak pergi pula dua orang kawanmu yang menjemukan itu. Lekas, kalau tidak, jangan salahkan kalau aku Joko Pramono terpaksa harus turun tangan dan memaksa kalian bertiga menggelinding pergi dari sini!"
Kini pemuda itu berdiri tegak dan bertolak pinggang, sikapnya menantang.
Sariwuni memandang makin kagum.
Pemuda ini tidak hanya tampan akan tetapi juga gagah berani.
Tentu saja ia merasa geli menyaksikan betapa pemuda remaja ini dengan sikap amat gagah menantang nya!
Alangkah lucunya dan ia sama sekali tidak memandang mata kepada seorang pemuda seperti ini.
Kembali ia melangkah maju dan tertawa.
"Joko Pramono, bocah bagus. Marilah kau turuti hasratku, aaahhh, kau bocah menggemaskan sekali!"
Sariwuni menubruk maju hendak memeluk, akan tetapi kembali ia menubruk tempat kosong.
Heranlah hati wanita ini.
Tubrukannya cepat sekali dan ia sudah memperhitungkan bahwa pemuda itu tak mungkin dapat mengelak, akan tetapi nyatanya tubrukannya itu luput!
"Aehhh, jangan mengelak, cah bagus.
Kembali ia menerjang maju, kini lengan kiri hendak memeluk pinggang dan tangan kanan meraih hendak merenggut leher.
"Perempuan tak tahu malu!"
Joko Pramono tidak lagi mengelak, melainkan miringkan tubuh membebaskan diri daripada renggutan dan menangkis lengan kiri Sarlwuni yang hendak memeluk pinggang.
"Dukk. !"
Sariwuni memekik lirih dan meloncat ke belakang dengan mata terbelalak.
Ia kaget bukan main ketika benturan lengan pemuda pada lengannya itu mendatangkan hawa panas yang menusuk tulang lengannya.
Tak pernah disangkanya bahwa pemuda ini dapat menangkis seperti itu dan mengertilah ia kini bahwa pemuda ini, sungguhpun masih remaja, namun telah memiliki ilmu kesaktian yang tinggi.
Berubahlah pandangannya, makin kagum hatinya,dan timbul kemauan hatinya hendak menaklukkan dan menguasai pria muda yang hebat ini.
"Bagus! Engkau mempunyai sedikit kepandaian, ya? Baik, mari kita main-main sebentar untuk membangkitkan kegembiraan dan memanaskan darah, hihik! "
Sariwuni lalu menyerbu ke depan, kini dengan langkah-langkah dan gerak-gerak silat yang cepat bagaikan badai menyerbu.
Sambil membuat gerakan memutar seperti angin lesus,Sariwuni menerjang maju, tangan kiranya mencengkeram ke arah pusar bawah, tangan kanannya dengan dua jari menusuk ke arah mata.
Inilah serangan yang amat keji, ganas dan hebat sekali!
"Hemmm , keji seperti orangnya!"
Joko Pramono menghadapi serangan yang dahsyat ini dengan sikap tenang sekali.
Pemuda ini jenaka dan sikapnya gembira, juga berwatak nakal suka menggoda akan tetapi berbeda dengan watak dan sikapnya, gerakannya dalam menghadapi lawan bertempur amatlah tenangnya.
Tubuhnya membuat gerakan ke samping, menggeser kaki mengganti kuda-kuda, kedua lengannya bergerak ke atas dan ke bawah menyambut kedua serangan lawan.
Tusukan ke arah mata ia biarkan saja, akan tetapi jari-jari tangannya sudah menghadang di depan mata, mengancam pergelangan tangan lawan yang hendak menusuk,sedangkan cengkeraman lawan ke arah pusarnya itu ia tangkis dengan kipatan lengannya data atas ke bawah.
"Aihhh, kau boleh juga!"
Sariwuni terpaksa menarik kembali kedua serangannya, kalau dilanjutkan ia akan menderita rugi.
Akan tetapi ia menarik kembali untuk mengirim serangan ke dua yang dahsyat sekali, kakinya menendang dari samping menuju lambung, disusul tubuhnya yang mendoyong ke depan mengirim pukulan dengan kepalan tangan kanan menuju ke ulu hati.
Joko Pramono ternyata bukanlah seorang pemuda sembarangan.
Serangan yang dilakukan Sariwuni dengan amat cepatnya ini tentu akan merobohkan seorang jagoan, atau setidaknya akan membuat lawan terdesak dan bingung.
Akan tetapi, pemuda itu dengan tenang saja menanti datangnya sambaran kaki, kemudian secara tiba-tiba menggerakkan tangan kiri dari bawah ke atas dan tangan kanannya dari atas ke bawah menangkis pukulan.
Sariwuni terkejut karena kakinya kini tertangkap pergelangannya.
Ia memekik dan kaki kirinya menyusul dengan tendangan berantai, akan tetapi tiba-tiba tubuhnya terlontar ke belakang tanpa dapat ia cegah lagi, karena Joko Pramono telah menyentak kaki kanannya itu ke atas lalu mendorong.
Hanya dengan gerak loncat jungkir-balik di udara sampai tiga kali saja yang mencegah tubuh Sariwuni terbanting.
Hampir saja ia menderita malu dan kini wajahnya yang tadi berseri menjadi merah, matanya berkilat-kilat, tanda bahwa kekaguman dan cinta kasihnya tertutup oleh hawa amarah yang mendidih.
"Bocah keparat! Kau tidak mengenal cinta kasih orang,kau tidak ingin senang dan sudah bosan hidup? Baik, kau mampuslah!"
Setelah berkata demikian, Sariwuni menerjang maju lagi dengan kecepatan kilat sambil mengerahkan seluruh tenaganya.
Hebat bukan main ilmu kepandaian wanita ini.
Sebelum menjadi anak buah Wasi Bagaspati, Sariwuni sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Apalagi setelah ia menjadi murid Wasi Bagaspati, murid tersayang dan juga kadang-kadang menjadi kekasih sang wasi, ia menerima pelbagai aji kesaktian yang dahsyat, di antaranya adalah Aji Wisakenaka yang tidak mudah dipelajari sembarang orang.
Terhadap pemuda itu, ia maslh menaruh rasa sayang dan hanya ingin merobohkan tanpa membunuhnya karena ia masih menaruh harapan untuk menaklukkan dan menguasai pemuda yang menimbulkan selera nya dan membuatnya mengilar itu.
Maka biarpun ia kini menerjang dengan dahsyat, ia masih belum mengeluarkan ajinya yang hebat itu, juga masih belum menyentuh gagang pedangnya yang terselip di pinggang.
Akan tetapi sekali ini ia benar-benar kecelik.Serangannya yang dahsyat itu disambut dengan sikap tenang saja oleh Joko Pramono, bahkan kini pemuda itu yang tahu akan kesaktian lawan, membalas dengan pukulan-pukulan yang juga cepat dan antepnya tidak kalah oleh lawan!
Terjadilah pertempuran yang amat seru di antara mereka sehingga debu mengebul di pagi hari itu dan tubuh mereka lenyap berubah menjadi bayangan yang berkelebatan cepat sekali.
Pusporini sekarang telah menemukan kembali kepribadiannya, menemukan kembali ketangkasan dan ketabahannya, setelah mengalami guncangan batin yang hebat di puncak Gunung Mentasari.
Menghadapi pengeroyokan dua orang Gagak, makin lama makin timbul kembali kegembiraannya bertanding, bangkit kembali semangatnya.
Mula-mula, kedua orang Gagak itu seakan berlomba untuk menangkapnya, untuk memeluk mendekapnya dan memondongnya kembali ke puncak agar mereka selain dapat mendekap tubuh yang muda menggairahkan itu, juga akan mendapat pujian dari Sang Wasi Bagaspati.
Akan tetapi ternyata gadis itu lebih licin daripada belut, lebih tangkas daripada monyet dan tubuh yang langsing itu dapat berkelebatan laksana seekor burung srikatan!
Berkali-kali mereka menubruk, namun selalu menangkap angin dan ketika Pusporini sudah bangkit benar-benar semangatnya, dara remaja ini bahkan mengelak sambil menampar!
"Plak!
Plenggg "
Tubuh dua orang raksasa itu terpelanting.
Gagak Dwipa jatuh terduduk, megap-megap seperti ikan terlempar di darat karena dadanya terkena dorongan telapak tangan yang halus, yang kecil, akan tetapi mengandung tenaga mujijat itu.
Serasa terhenti jalan napasnya dan ia terengah-engah sambil meman dang dengan mata melotot, penuh keheranan, kekagetan, dan juga kemarahan.
Adapun Gagak Kroda yang kena ditempiling pelipisnya, terpelanting dan bergulingan di atas tanah, lalu bangkit duduk dengan mata juling.
Bumi dan pohon-pohon di sekelilingnya serasa berputaran, tanah yang didudukinya bergelombang.
Setelah ia menggoyang-goyang kepalanya dengan keras, barulah agak reda kepeningan kepalanya.
Pusporini berdiri tegak menanti, bibirnya yang manis tersenyum mengejek.
Dia kurang pengalaman sehingga ia tidak tahu bahwa dua orang yang terkena pukulan Aji Pethit Nogo hanya terpelanting dan tidak tewas atau terluka itu sesungguhnya merupakan hal yang aneh, menjadi bukti bahwa kedua orang lawannya itu memiliki kekebalan yang luar biasa.
Maka ia cukup girang melihat betapa tamparan tangan nya membuat kedua lawan itu roboh.
"Demi iblis.............! Tangan kecil halus itu. , kuat benar pukulannya!"
Gagak Dwipa berseru sambil melompat bangun.
"Huh-huh, kita telah bersikap ceroboh tadi, Kakang Dwipa. Kita lupa bahwa gadis ini adalah adik Tejolaksono, tentu saja bukan sembarangan bocah."
Diapun sudah melompat bangun dengan gerakan yang sigap. Gagak Dwipa melangkah maju menghampiri Pusporini, sikapnya penuh ancaman, wajahnya bengis ketika ia berkata.
"Hamm, bocah, jangan kau tertawa-tawa dulu dan mengira akan dapat mengalahkan kami! Kau bocah kemarin sore masih bau pupuk dringo, lebih baik kau menyerah baik-baik agar kami bawa kembali ke puncak menghadap sang wasi karena kalau kau tetap berkeras menolak dan terpaksa kami mempergu nakan paksaan, tidak urung kau akan mengalami sakit-sakit dan kalau hal ini terjadi, sungguh sayang kalau kulitmu yang halus sampai lecet-lecet, dagingmu yang muda ranum akan terluka."
Pusporini yang sudah "mendapat hati"
Melihat betapa tadi ia dapat merobohkan kedua orang lawannya, kini tersenyum mengejek.
"Dua ekor lutung korengen yang menjemukan! Kalian masih banyak cakap lagi! Sungguh tak tahu diri. Lebih baik kalian cepat-cepat minggat dari depanku sebelum kupatahkan batang leher kalian! Aku Pusporini sama sekali tidak gentar menghadapi gertak sambelmu!"
Gagak Dwipa melebarkan matanya dan menoleh kepada saudaranya.
"Wah..wah, bocah ini memang tidak boleh diberi hati. Hayo, kita beri hajaran biar dia kapok, adi Kroda!"
Dua orang Gagak itu kini menyerbu maju, masih seperti tadi hendak mencengkeram dan menangkap, akan tetapi kalau tadi melakukan hal ini secara sembrono, kini mereka berhati-hati.
Pusporini seorang dara remaja yang cerdik sekali.
Biarpun belum banyak pengalamannya dalam pertandingan, namun ia dapat menduga bahwa dua orang ini tentu bertenaga besar sekali dan kalau ia harus mengadu tenaga, la akan menderlta rugi.
Oleh karena Itu, la segera mengerahkan ilmunya meringankan tubuh dan biarpun Aji Bayu Sakti yang ia pelajari belum sempurna benar, namun sudahlah cukup untuk membuat tubuhnya berkelebatan cepat sekali sehingga dengan mudah ia dapat mengelak dari tubrukan-tubrukan kedua orang itu.
Gagak Dwipa melengak heran ketika ia menubruk tempat kosong dan tahu-tahu lawannya sudah hilang.
Akan tetapi Gagak Kroda cepat menyusul gerakan saudaranya dan menyambar pinggang Pusporini dari belakang.
Kembali gadis itu menyelinap dan hanya hawa pukulan Gagak Kroda saja yang mampu menyentuh pinggangnya.
Sambil mengelak,Pusporini sudah menotolkan ujung kakinya ke tanah,sehingga tubuhnya melayang naik, dan cepat ia turun di belakang Gagak Dwipa, tangan kirinya menampar ke arah punggung.
Gagak Dwipa juga bukan seorang lemah.
Dia adalah orang pertama dari Lima Gagak Serayu, ilmu kepandaiannya tinggi dan tentu saja ia maklum akan datangnya tamparan dari belakang ini.
Kalau tadi dia dan adiknya sampai menjadi korban tamparan tangan Pusporini adalah karena mereka berdua memandang rendah dan mengira bahwa tamparan tangan dara yang halus itu akan menimpa tubuh mereka yang kebal seperti pijatan mesra.
Kini ia cepat miringkan tubuhnya, menekuk siku tangannya dan menangkis tamparan itu.
Pusporini tidak menarik kembali tangannya melainkan mengerahkan tenaga dan sengaja mengadu lengannya untuk mengukur tenaga lawan.
"Dukk I"
Lengan yang kecil berkulit halus itu beradu dengan lengan yang besar kasar berbulu, dan akibatnya tubuh Pusporini terpental ke belakang!
Akan tetapi hal ini hanya berarti bahwa dara itu kalah dalam hal tenaga kasar,sebaliknya, ia menang dalam tenaga dalam, buktinya raksasa itu kini meringis dan menggosok-gosok lengannya yang beradu dengan lengan dara itu, yang kini terasa panas seperti bertemu besi merah bernyala dan seperti ditusuk-tusuk jarum!.
"Rebahlah!"
Bentak Gagak Kroda yang marah sekali dan penasaran.
Ia menubruk dari belakang, tangannya menghantam ke arah pundak dara itu.
Pusporini hanya memutar tumit menggeser kaki.
Lengan yang panjang besar lewat di samping pundaknya, dara ini cepat menusuk dengan jari tangan ke lambung lawan.
"Ngekkk. !"
Gagak Kroda sudah mengeraskan lambung bahkan disusul gerakan tangan menangkis, namun karena lambungnya sudah "dimasuki"
Jari tangan yang menotok dengan tenaga mujijat itu, seketika tubuhnya berputaran dan ia memegangi lambungnya sambil meringis-ringis.
Perutnya mendadak terasa mulas sekali, seperti diremas-remas dari dalam, seperti orang terlalu banyak makan lombok sehingga kalau saja ia tidak memiliki hawa sakti untuk menahannya, tentu pada saat itu juga ia sudah kecirit-cirit terberak-berak di dalam celana saking nyerinya!
Kemarahan dua orang Gagak itu membuat mereka menjadi gelap mata, tidak ingat lagi bahwa dara ini harus ditangkap hidup-hidup dan dibawa kembali kepada Wasi Bagaspati.
Mata mereka menjadi merah, menyinarkan nafsu membunuh, tidak ingat apa-apa lagi.
Dengan teriakan seperti lolong srigala, Gagak Dwipa dan Gagak Kroda mencabut senjata mereka, yaitu sebuah golok yang melengkung dan tajam sekall sampai berkilau tertimpa matahari pagi.
"Perempuan setan,kuminum darahmu!"
Bentak Gagak Dwipa.
"Kuganyang dagingmu!"
Terlak pula Gagak Kroda.
Mereka berdua sudah menerjang maju, membacok dengan golok.
Senjata mereka itu menyambar dengan cepat dan kuat sehingga mengeluarkan suara berdesing.
Pusporini maklum akan bahaya serangan mereka itu, maka iapun cepat mengerahkan Aji Bayu Sakti dan mengandalkan kelincahan tubuhnya untuk menyelamatkan diri,berkelebat ke sana ke mari menghindar kan sambaran dua batang golok.
Pertandingan ini kini berjalan cepat sekali karena dua buah golok yang diputar-putar itu berubah menjadi gulungan dua sinar yang menggulung-gulung tubuh dua orang Gagak itu dan menyambar-nyambar ke arah Pusporini.
Namun gadis inipun hebat, tubuhnya berkelebatan dan yang tampak hanya bayangannya saja yang menyelinap di antara sambaran sinar golok.
Untung bagi Pusporini bahwa kedua orang lawannya mempergunakan senjata golok karena justeru dia adalah seorang ahli permainan senjata golok seperti yang diajarkan rakandanya, yaitu Ilmu Golok Lebah Putih.
Biarpun kini ia bertangan kosong, namun ia yang sudah mengenal sifat senjata golok dengan amat baiknya, kini tidaklah begitu terancam dan biarpun tampaknya terdesak, namun selalu dapat menghindar dan menanti kesempatan baik untuk merobohkan dua orang lawannya yang kuat.
Sementara itu, pertempuran antara Sariwuni yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi daripada Gagak Dwipa atau Gagak Kroda, melawan Joko Pramono pemuda remaja yang jenaka dan aneh itu, makin lama menjadi makin seru dan hebat sekali.
Tadinya Sariwuni yang tergila-gila kepada pemuda ganteng ini tidak mengirim serangan maut, karena ia merasa sayang kalau membunuhnya, hanya ingin menaklukkan dan menguasainya.
Akan tetapi makin lama wanita ini menjadi makin penasaran karena semua terjangannya dapat dielakkan atau ditangkis pemuda itu dan setiap lengan mereka bertemu, Sariwuni merasa betapa lengannya tergetar.
Ketika dengan rasa penasaran Sariwuni untuk ke sekian kalinya meloncat tinggi dan dari atas tubuhnya menyambar turun, menubruk dan hendak memeluk pemuda itu agar dapat ia ringkus dan dibuat tidak berdaya, Joko Pramono tertawa mengejek, akan tetapi membiarkan diri terjengkang ke belakang dan terjatuh.
Ia seolah-olah sudah tidak berdaya lagi dan Sariwuni girang bukan main.
Melihat pemuda itu terjengkang dan kedua lengannya terbuka seolah-olah menanti dia menubruk untuk dipeluk, Sariwuni tertawa dan berkata.
"Aduh, bocah bagus, akhirnya kau menyerah "
La menubruk dengan kedua lengan terpentang.
"Aiilhhhh........................... dessss !!"' Tubuh Sariwuni terlempar ke belakang sampai empat meter jauhnya dan ia terbanting ke atas tanah lalu bangkit berdiri sambil meringis kesakitan. Kiranya ketika ia menubruk tadi, Joko Pramono yang kelihatan tidak berdaya itu mengirim sebuah tendangan yang tiba-tiba dan tidak tersangka-sangka sama sekali sehingga tepat mengenai perut lawan! Wajah yang cantik dan tadinya tersenyum-senyum genit itu seketika berubah. Kini pandang matanya penuh kemarahan, sepasang mata yang indah bentuknya itu kini menjadi melotot merah, hidungnya kembang-kempis dan mulutnya cemberut, wajahnya diliputi kemarahan. Sariwuni menjadi marah bukan main. Perlahan-lahan tangannya bergerak-gerak, jari tangannya bergerak seperti kuku harimau dan terdengar suara berkerotokan ketika kedua tangannya itu perlahan-lahan berubah warnanya, mula-mula kemerahan, lalu merah tua kehitaman, akhirnya berubah menjadi hitam sama sekali, dari pergelangan tangan sampai ke ujung kuku jari tangannya! Kini sinar maut membayang di wajahnya, memancar keluar dari matanya ketika ia melangkah maju menghampiri Joko Pramono, mulutnya menyeringai dan membuat wajahnya yang cantik menjadi mengerikan.
"Keparat, tak tahu disayang kau memang patut mampus!"
Mulutnya mengeluarkan ucapan ini lirih dan lambat, namun secara tiba-tiba ia sudah menerjang maju,kedua tangannya seperti cakar harimau, gerakannya cepat dan kuku serta tangan itu menjadi bayangan hitam yang mengeluarkan bau busuk memuakkan, amis dan keras seperti bau bangkai!.
Joko Pramono cepat menghindarkan diri dengan loncatan tinggi ke kiri.
Pemuda ini tidak mau senyum-senyum lagi, tidak berani main-main lagi karena ia maklum betapa hebat dan jahatnya kedua tangan wanita itu.
Biarpun ia tidak tahu jelas aji sesat apakah yang digunakan wanita itu, namun ia dapat menduga bahwa tentu kuku-kuku tangan wanita itu mengandung racun yang ampuhnya menggila.
Oleh karena dugaan ini, maka ia tidak berani sembarangan menangkis beradu lengan, malah berdekatan pun ia tidak berani melainkan mengelak dan mengandalkan kecepatan dan kelincahannya urituk menghindar ke sana ke marl.
Tanpa disengaja atau diatur terlebih dahulu, keadaan pemuda ini sama benar dengan keadaan Pusporini.
Juga dara remaja ini berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri daripada pengeroyokan dua buah golok lawan yang menyambar-nyambar laksana sepasang tangan maut.
Dan karena pertandingan yang tadinya menjadi dua rombongan ini sifatnya sama, yaitu dua orang muda itu berloncatan ke sana-sini dan lawan-lawannya melakukan pengejaran dan desakan, maka lambat-laun pertandingan itu saling berdekatan, bahkan kini bayangan Pusporini dan Joko Pramono kadang-kadang bertukar tempat dan bersilang!.
Tanpa disengaja oleh dua orang remaja itu, hal ini amat menguntungkan.
Di dalam kemarahan para lawan, baik edua orang Gagak yang mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada Pusporini, maupun Sariwuni yang mencurahkan perhatian kepada Joko Pramono tanpa memperdulikan hal-hal lain, dua orang remaja ini mendapat kesempatan untuk balas memukul bukan kepada lawan sendiri, melainkan kepada lawan lain yang tidak menyerang mereka!.
Demikianlah, ketika Pusporini meloncat jauh ke belakang, mengelak daripada sambaran dua batang golok para pengeroyoknya, secara kebetulan sekali ia tiba di dekat Sariwuni yang mendesak Joko Pramono.
Pemuda inipun meloncat jauh dan Sariwuni membalikkan tubuh untuk mengejar.
Saat ini pundaknya menyentuh pundak Pusporini dan dara remaja itu dengan kemarahan meluap-luap karena belum juga dapat membalas dua orang lawannya, lalu memutar lengan mengirlm hantaman sambil mengerahkan Aji Bojro Dahono!
Aji pukulan yang ampuhnya menggiriskan ini baru ia latih setengah bagian, belum matang, namun akibatnya hebat sekali.
Sariwuni yang sama sekali tidak pernah menyangka akan mendapat hantaman dari Pusporini karena seluruh perhatiannya ditujukan kepada Joko Pramono, menjerit lirih dan tubuhnya terputar-putar, kedua tangannya memegangi kepala yang tadi kena hantaman.
Seluruh kepalanya terasa panas seperti dibakar, membuat air matanya bercucuran tak dapat ia cegah lagi dan akhirnya Sariwuni jatuh terduduk di atas tanah sambil meramkan mata.
Wanita ini maklum bahwa ia menderita luka pukulan sakti, maka ia cepat mengerahkan hawa sakti di tubuhnya untuk memulihkan keadaan dirinya.
Pusporini yang tanpa sengaja sudah merobohkan Sariwuni, kini menengok dan alangkah mendongkol hatinya ketika ia melihat betapa pemuda kurang ajar itu kini menggantikan dia menandingi kedua orang Gagak.
Ia mendengus dan menerjang maju, saking marahnya maka terjangannya pun hebat bukan main.
Gagak Dwipa dan Gagak Kroda kini sedang mengeroyok Joko Pramono,melihat robohnya Sariwuni hati mereka menjadi girls, juga marah terhadap Pusporini.
Tadi mereka terpaksa melayani pemuda ini karena si pemuda menerjang mereka kalang-kabut seperti orang gila, akan tetapi sekarang melihat Pusporini, mereka cepat memalingkan perhatian mereka dan segera mendesak dara itu dengan kelebatan golok mereka yang makin cepat dan makin kuat saja.
Pusporini terpaksa kembali mengandalkan kelincahan tubuhnya,berkelebat mengelak.
"Eh, Bajul, tidurlah!"
Tiba-tiba Joko Pramono berteriak.
"Takkk!! Aduhhh "
Gagak Kroda tiba-tiba membuang goloknya dan berjingkrak-jingkrak memegangi kaki kanannya dengan kedua tangan, berloncatan di atas kaki kirinya, berputar-putar dan mengaduh-aduh, meringis dan menangis karena rasa nyeri yang datang dari kakinya itu menembus ke tulang sumsum.
Orang yang pernah mengalami betapa nyerinya gares kaki (tulang kering) digajul, tentu akan memaklumi penderitaan Gagak Kroda ini.
Kiranya Joko Pramono yang tadi turun tangan membantu Pusporini, dari belakang ia menyapu kaki dan menggajul gares raksasa itu.
Pusporini makin marah, bukan terhadap lawan melainkan terhadap pemuda kurang ajar itu yang telah berlancang tangan merobohkan musuhnya.
Ia mengerahkan tenaga, menyalurkan Aji Pethit Nogo menampar lengan Gagak Dwipa yang datang menyerang dengan golok.
Sambil melejit ke samping, ia menyambut serangan itu dengan tamparan yang menangkis, kemudian terus disusul dengan tusukan jari tangan ke dada lawan dengan Aji Pethit Nogo.
"Trangg huuukkk!"
Gagak Dwipa yang tadinya terkejut menyaksikan , adiknya berjingkrakan, menjadi terpecah perhatiannya.
Ketika lengannya berciuman dengan jari-jari tangan yang penuh berisi hawa sakti Aji Pethit Nogo, lengan itu sendiri menjadi lumpuh sehingga goloknya terlepas, kemudian totokan jari tangan pada dadanya membuat napasnya seketika terhenti.
Gagak Dwipa menekuk tubuhnya ke depan, terbatuk-batuk dan terengah-engah.
Kemudian iapun lari tunggang-langgang karena melihat betapa Sariwuni dan Gagak Kroda juga sudah lari mendaki bukit.
Gagak Kroda masih mengaduh-aduh dan terpincang-pincang, Sariwuni lari sambil memegangi kepala seolah-olah wanita itu khawatir kalau-kalau kepalanya copot, sedangkan Gagak Dwipa lari dengan membungkuk-bungkuk dan terengah-engah.
Joko Pramono berdiri menolak pinggang dan tertawa bergelak memandang ke arah tiga orang yang sedang berlomba melarikan diri itu.
Akan tetapi tiba-tiba ia melempar tubuhnya ke kiri, menjatuhkan diri dan bergulingan, mengelak dari serangan Pusporini yang , memukulnya bertubi-tubi dan gencar.
"Eh-eh............. wah Apa-apaan ini?"
Joko Pramono sudah melompat berdiri dan kini berdiri menghadapi Pusporini yang memandangnya dengan sepasang mata marah.
"Tidak ada hujan tidak ada angin, kau menyerang seperti kilat menyambar-nyambar! Apa............. kau............. begini. ?"
Joko Pramono meraba dahi dengan telunjuk dimiringkan. Terbelalak mata Pusporini saking marahnya. Cuping hidungnya kembang-kempis, mendengus-dengus, dadanya turun naik bergelombang.
"Apa? Kau anggap aku gila? Kau yang miring otakmu, tidak jejeg! Engkau yang gila,gendeng, edan, goblok,,tolol!"
"Heeitit, heeittt, cukup! Kalau kau tidak miring, kenapa engkau marah-marah dan menyerangku seperti seekor kucing terpijak ekornya?"
Mata yang jernih bersinar-sinar itu makin lebar.
"Apa? Kau maki aku kucing? Berani benar kau, keparat jahanam! Engkau monyet munyuk, lutung kethek! Engkau celenggotheng,bajul barat, engkau tikus kadal coro "
"Walah-walah , cukup! Katakan saja aku ini segala macam binatang di hutan, kan lebih lengkap dan tidak perlu menghambur-hamburkan kata-kata? Eh, engkau bocah perempuan yang galak seperti kucing beranak,kenapa engkau marah-marah dan membenci aku begini rupa? Kita saling kenalpun tidak, kenapa engkau memusuhiku?"
Pusporini menudingkan telunjuknya ke arah hidung Joko Pramono dan kemball pemuda ini merasa tidak enak kalau tidak meraba-raba hidungnya yang ditunjuk.
"Engkau pemuda keparat. Engkau bocah yang masih hijau berani bertingkah di depanku! Engkau telah melakukan dosa dua kali dan masih pura-pura bertanya lagi! Hemm, aku tidak akan sudah kalau belum memenggal batang lehermu!"
Joko Pramono kini meraba lehernya dan bergidik. Galak benar wanita ini, akan tetapi juga amat lucu.
"Hemm, memang aku masih hijau, akan tetapi setidaknya hijau tua seperti daun, sedangkan kau masih hijau pupus! Kau bilang aku mempunyai dua macam dosa? Wahai, ampunilah kiranya hambamu, Sang Hyang Dewi dari kahyangan! Kalau hamba berdosa sampai dua kali, dosa apakah gerangan?"
Pemuda itu sengaja mengejek karena ia merasa penasaran sekali.
"Dasar laki-laki bajul yang lidahnya bercabang!"
Mendengar ini, otomatis Joko Pramono menjulurkan lidahnya keluar dari mulut dan matanya sampai menjadi juling, kedua manik mata mendekati hidung ketika ia berusaha sedapat mungkin melihat ujung lidahnya, untuk melihat apakah lidahnya benar-benar bercabang seperti lidah ular.
Gerakan ini tidak dibuat-buat dan amatlah lucunya sehingga hampir saja Pusporini tertawa.
Gadis inipun berwatak lincah periang, akan tetapi karena ia ingat bahwa pada saat itu ia sedang marah, maka tentu saja ia tidak sudi tertawa, bahkan segera menyambung katakatanya.
"Manusia tak tahu diri! Pertama, engkau tadi secara kurang ajar dan tidak sopan telah melanggar susila, berani mampus engkau memangku aku setelah menjegal kakiku ketika aku lari. Dosa ini saja sudah cukup menjadi sebab mengapa aku memusuhimu, kemudian kau susul dengan dosa ke dua, yaitu kau berani sekali membantu aku merobohkan seorang di antara pengeroyokku! Ini namanya penghinaan dan kau memandang rendah kepadaku. Apa kaukira aku butuh akan bantuanmu? Apa kaukira engkau ini yang paling gagah, yang paling pandai; yang paling perkasa di dalam dunia maka kauanggap perlu sekali membantuku?"
Joko Pramono menjadi penasaran sekali. Ia membusungkan dadanya yang bidang, dagunya berkerut sehingga lekuk di tengahnya tampak nyata, giginya berkerot dan matanya yang tajam itu bersinar-sinar.
"Eh-eh-eh, nanti dulu. Enak saja engkau menjatuhkan fitnah. Memfitnah lebih keji daripada membunuh, kau tahu? Pertama-tama kau fitnah aku menjegal kakimu dan memangkumu. Padahal sesungguhnya, seperti kukatakan tadi, aku sedang tidur dan kakiku kulonjorkan, siapa menjegal orang? Apakah engkau sendiri yang tidak dapat menggunakan mata dengan baik, tidak melihat kakiku, kau tendang dan sandung saja sampai kau terjatuh ke atas kedua pahaku. Bukan aku menjegal dan memangku, malah engkau sendiri yang menyandung dan menjatuhi pangkuanku! Sekarang hal ke dua yang kaukatakan dosaku itu. Kau bilang aku membantumu? Sama sekali tidak! Malah engkau sendirilah yang mula-mula membantuku dan memukul iblis betina tadi sampai ia roboh. Karena dua orang laki-laki raksasa tadi adalah kawan-kawan si iblis betina, tentu saja aku lalu menyerang mereka dan berhasil merobohkan seorang di antara mereka. Aku sama sekali tidak membantumu, justeru engkaulah yang pertama kali membantuku dengan merobohkan iblis betina itu!"
"Wah, memang kau pintar bicara seperti Patih Sangkuni,atau Pendeta Durna! Kalau aku tersandung kakimu dan terjatuh, itu tidak kusengaja, keparat! Dan kalau aku menyerang si perempuan rendah Sariwuni atau membunuhnya sekalipun, sama sekali bukan membantumu. Kau ini apaku maka aku membantu-bantu? Huh! Bukan membantumu, memang dia musuh besar keluarga kami, musuh besar rakanda Adipati Tejolaksono!"
Dalam ucapan ini, selain menyangkal dan membantah, juga dara remaja ini setengah sengaja menyebut nama rakandanya yang ia tahu amat terkenal untuk menaikkan "gengsinya"
Di mata pemuda itu. Hati dara ini girang bukan main karena ternyata dugaannya tepat. Pemuda itu kelihatan terkejut sekali dan wajahnya berubah, tidak tersenum-senyum seperti tadi, bahkan lalu berkata.
"Apa? Engkau keluarga Sang Adipati Tejolaksono di Selopenangkep?"
Pusporini mengangkat dadanya yang membusung, matanya bercahaya, wajahnya berseri penuh kebanggaan ketika ia berkata.
"Aku Raden Ajeng Pusporini, adik misan gustimu Adipati Tejolaksono!"
Ia percaya bahwa pemuda ini sekarang tentu akan lenyap watak dan sikapnya yang sombong, tentu akan cepat menjatuhkan diri berlutut dan menyembah kepadanya, menggigil ketakutan karena telah berani bersikap kurang ajar terhadap sang puteri bangsawan sehingga ia akan dapat dengan sepuas hati menegur dan menghukumnya.
Akan tetapi tiba-tiba pemuda itu tertawa mengejek, lalu berkata.
"Ah, pantas saja engkau begini galak dan sombong! Kiranya engkau adalah anggota keluarga kadipaten yang terkenal sombong itu! Hemm !"
Pusporini kaget dan marah sekali.
Sungguh di luar perkiraannya bahwa pemuda ini sama sekali tidak menaruh hormat bahkan mengejek dan menyatakan bahwa keluarga Kadipaten Selopenangkep sombong.
Ia membanting kaki dan menudingkarf telunjuknya, mukanya merah dibakar kemarahan.
"Heh, si keparat bocah gunung nangnung yang kurang ajar! Berani kau menghina Kadipaten Selopenangkep? Sebelum aku turun tangan membunuhmu, mengakulah siapa gerangan engkau ini agar kelak aku dapat menerangkan kepada rakanda adipati. Kalau sudah terlanjur aku turun tangan, tentu mayatmu tidak akan dapat memberi keterangan lagi!"
Pemuda itu tertawa lagi, tertawa mengejek.
Wajahnya yang tampan itu membuat Pusporini makin marah karena ketampanan dan senyum itu mengejeknya!
"Sombongnya bukan main!
Eh, perawan bangsawan, kau dengarlah.
Aku bernama Joko Pramono.
Rumahku adalah jagat ini, asalku dari atas angin.
Hidupku di alam bebas, beratap langit berlantai tanah bertilam rumput, berdinding batu dan pohon, siang hari berdian surya, malam hari berdian bulan dan bintang "
"Stop Aku hanya ingin mengetahui namamu.Tidak perduli kau datang dari dasar neraka, hari ini adalah saat ajalmu !"
"Wah, sumbarmu seperti kicau burung nuri! Boleh coba-coba kalau kau mampu membunuhku, kalau tidak mampu, aku akan menawanmu, bocah sombong !"
"Setan mampuslah!"
Pusporini berseru keras dan tubuhnya sudah menerjang maju, mengirim pukulan dengan Aji Pethit Nogo mengarah pelipis kiri lawan.
Joko Pramono bukanlah seorang pemuda yang sembrono.
Biarpun wataknya periang dan jenaka, bahkan agak ugal-ugalan, akan tetapi ia cukup mengerti bahwa dara remaja yang galaknya kepati-pati (amat luar biasa) ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan dan bahwa pukulan yang dilancarkan ini adalah aji yang amat ampuh.
Maka ia tidak berani menerimanya, apalagi pelipis merupakan bagian kepala yang ringkih (lemah).
Tanpa merubah kedudukan tubuh karena ingin menguji keampuhan tangan lawan, Joko Pramono mengangkat tangan kiri ke atas, sengaja menerima dan menangkis telapak tangan dara itu dengan telapak tangannya yang dikipatkan.
"Plakkk. I I"
Dua tangan bertemu dan akibatnya Joko Pramono terpelanting ke belakang dan hampir saja ia roboh kalau ia tidak cepat melompat ke atas dan berjungkir-balik.
Matanya terbelalak memandang dara itu, penuh kekaguman dan kekagetan.
la sudah menyangka bahwa Pusporini seorang dara sakti, akan tetapi sama sekali tidak mengira bahwa pukulannya ampuhnya bukan buatan!
"Ihh, takutkah engkau?
Laki-laki macam apa, baru sekali gebrakan saja mukanya sudah berubah hijau!"
Pusporini mengejek dan menerjang maju lagi.
"Aehh, sombongnya. Siapa takut pada-mu!"
Joko Pramono panas juga perutnya oleh ejekan ini, ketika Pusporini menghantamnya lagi dengan Aji Pethit Nogo, ia cepat miringkan tubuh mengelak dan secara tiba-tiba tubuhnya merendah, hampir berjongkok dan dari bawah ia mendorong dengan kedua tangannya ke arah tubuh lawan.
Pusporini terkejut ketika merasa betapa dari kedua tangan pemuda itu menyambar keluar hawa pukulan yang amat kuat dan panas.
Cepat ia mengerahkan tenaga dan menangkis dengan tangan kanannya.
"Wesss. !"
Sebelum tangannya yang menangkis itu bertemu dengan kedua tangan lawan, tubuhnya sudah terdorong ke belakang tanpa dapat dicegahnya lagi, kakinya terhuyung-huyung ke belakang dan hampir ia roboh.
Untungnya tangan kirinya dapat menyambar ranting sebatang pohon sehingga ia dapat meloncat dan mengatur keseimbangan tubuhnya.
Kini ia memandang dengan penuh kemarahan.
Kedua pipinya merah dan matanya menyinarkan cahaya berapi.
"Heh-heh-heh, kau kenapa? Jerih sekarang, ya? Belum lecet belum benjol sudah jerih. Wanita gagah macam apa ini?"
Joko Pramono balas mengejek.
"Ooohhh, kau............. kau. rasakan pembalasanku, bocah dusun!"
Dengan kemarahan yang meluap-luap kini Pusporini menerjang maju, mengerahkan kegesitan dengan Aji Bayu Sakti sambil menggerakgerakkan kedua lengan mengirim pukulan-pukulan ampuh.
Saking jengkel dan marahnya menghadapi pemuda yang pandal mengejek dan tidak kalah sombongnya ini, ia menyerang seperti seekor banteng terluka, menyeruduk saja tanpa perhitungan lagi, penuh nafsu dan keinginannya hanya satu, yakni merobohkan pemuda sombong kurang ajar ini!
Justeru kemarahan meluap-luap inilah kesalahan Pusporini.
Dara remaja ini sesungguhnya telah memiliki ilmu kesaktian yang hebat dan jarang ada tandingnya, dan sungguhpun pemuda itupun ternyata sakti mandraguna, namun tingkat kepandaiannya tidaklah jauh lebih unggul daripada Pusporini.
Tingkat mereka seimbang dan biarpun Pusporini agaknya kalah sedikit dalam hal tenaga, namun dara ini menang sedikit dalam kecepatan sehingga kalau mereka bertanding dalam keadaan sama tenangnya, tentu tidak akan ada yang dapat dikalahkan dalam waktu singkat.
Akan tetapi, Pusporini seperti terbakar saking gemas dan marahnya, sebaliknya pemuda itu tenang-tenang saja bahkan kadang-kadang tertawa mengejek dan tersenyumsenyum.
Di sinilah letak kekalahan Pusporini yang makin lama menjadi makin marah karena terdorong oleh hati yang penasaran.
Sampai sejam lebih ia menerjang dan mengeluarkan pelbagai aji pukulan yang ampuh-ampuh, namun selalu dapat dihindarkan pemuda itu dengan mengelak atau menangkis.
Belum pernah satu kali juga ia berhasil mengenai tubuh pemuda itu maka ia menjadi makin ganas dan nekat.
"Sudahlah, sampai habis seluruh kepandaianmu, sampai putus napasmu, tidak mungkin kau dapat mengalahkan aku, heh-heh!"
Joko Pramono mengejek.
"Ssssetan I"
Pusporini mendesis marah dan menghantam dengan aji pukulan Bojro Dahono yang ampuhnya menggi riskan itu.
Biarpun belum sepenuhnya ia menguasai aji pukulan ini, namun kalau mengenai kepala lawan, kepala itu akan hancur berikut isi kepalanya, kalau mengenai dada tentu akan ambrol dengan tulang iga patah-patah.
"Heeeiiiittt!"
Dengan gerakan indah dan lagak mengejek memanaskan hati Joko Pramono merendahkan tubuhnya sehingga dua pukulan tangan dara itu lewat di atas kepalanya.
Dari bawah, dengan cepat sekali kini Joko Pramono mengirim pukulan dorongan seperti tadi, pukulan dorongan yang berhawa panas dan kuat sekali, ke arah lambung Pusporini.
Dara itu cepat mencelat ke atas sambil menangkis, akan tetapi tiba-tiba ia menjerit dan tubuhnya terguling.
Kiranya pemuda itu tadi memukul hanya sebagai gertakan atau pancingan saja karena begitu dara itu mengelak, kakinya menjegal dan tepat mengenai kedua kaki Pusporini, mengait betis sehingga tanpa dapat dicegah lagi tubuh Pusporini terguling.
Sebelum dara itu sempat memperbaiki posisinya, Joko Pramono sudah menubruk, menangkap kedua lengan Pusporini, memutar dan menelikungnya ke belakang.
"Kau curang.............! Lepaskan aku....! Lepaskan. !"
Pusporini meronta-ronta dan berteriak-teriak marah. Ia marah sekali sampai hidungnya mendengus-dengus dan mulutnya terengah-engah.
"Enak saja dilepaskan. Susah-susah aku merobohkanmu "
"Kau curang ! Kau menjegal! Mana ada aturannya bertanding pakai jegal-jegalan?"
Pusporini memprotes. Akan tetapi pemuda itu tidak memperdulikannya, bahkan kini dara itu merasa betapa kedua pergelangan tangannya dibelenggu dengan ikat kepala pemuda itu!.
"Keparat! Bedebah! Setan kurang ajar kau! Lepaskan aku kalau tidak. !!"
"Kalau tidak............. mau apa. ? Enak saja Joko Pramono bertanya, suaranya penuh ejekan.
"Kubunuh kau............. Kucekik kau............. Ku. !"
"Cobalah kalau mampu!"
Pusporini marah sampai hampir menangis.
Ia membalikkan tubuhnya.
Kedua tangannya tak dapat digerakkan, akan tetapi kakinya masih bebas dan tiba-tiba ia mengirim tendangan berantai dengan kedua kakinya.
Kedua kaki itu bagaikan kitiran angin saja bergerak menendang bergantian mengarah lutut, pusar sampai ke dada.
"Heh-heh, kau benar-benar seperti seekor kuda betina! Hanya kuda yang menendang-nendang kalau marah!"
Makin jengkel Pusporini dan tendangannya yang terakhir terlalu keras sampai tubuhnya terbawa dan karena kedua tangannya dibelenggu ke belakang, maka ia kehilangan keseimbangan dan............."bukkk!"
Pinggulnya terbanting ke atas tanah sampai terasa pegal dan linu.
Sebelum ia sempat bangun, Joko Pramono sudah menyambar tubuhnya dan memondongnya.
Lengan kiri pemuda itu merangkul kedua kaki, perut Pusporini menumpang di pundak dan dara itu meronta-ronta makin keras.
"Setan kurang ajar kau! Berani kausentuh aku! Berani kau memanggulku! Hayo lepaskan.............. lepaskan. I"
Dengan kedua tangan yang terbelenggu, Pusporini memukul-mukul pundak dan punggung Joko Pramono, akan tetapi pemuda itu hanya terkekeh dan lari cepat membawa pergi tubuh dara itu menuju ke utara.
PUNGGUNG dan pundak itu kuat sekali, dan tak mungkin Pusporini dapat menggunakan ajinya dalam keadaan terbelenggu seperti itu.
Karena tahu bahwa sia-sia saja ia meronta-ronta, akhirnya dara itu diam dan hatinya mulai diliputi kekhawatiran dan ketakutan.
Ke mana ia hendak dibawa?
Siapakah sesungguhnya, pemuda ini dan mengapa agaknya tidak suka kepada keluarga kadipaten?
"Kau.............
mau bawa aku ke mana.
Akhirnya Pusporini tak kuat menahan kegelisahan hatinya,bertanya tanpa meronta lagi di atas pundak pemuda itu.
"Hemm............. , ke mana lagi kalau tidak ke dasar neraka? Kau tadi sendiri bilang aku dari dasar neraka.Wanita galak macam engkau ini patutnya dijadikan umpan setan neraka!"
Jawaban ini tidak menimbulkan takut, malah menambah kemarahan hati Pusporini.
Ia meronta-ronta lagi kemudian kakinya menendang-nendang, namun hal ini malah membuat lengan pemuda itu memeluk kedua kakinya lebih erat sehingga perutnya tertekan pada pundak dan mebuatnya sukar bernapas.
Terpaksa ia diam lagi tidak meronta dan Joko Pramono melanjutkan larinya yang cepat sekali.
"Awas kau kalau terjatuh ke tanganku kelak."
Mengancam, suaranya penuh kegemasan dan sakit hati.
"Sekarang juga akupun sudah awas!"
Jawab pemuda itu menggoda terus. Karena tubuhnya "disampirkan"
Di pundak pemuda itu sehingga kepalanya tergantung ke bawah, lama-kelamaan Pusporini menjadi lelah dan pening.
Sedikit demi sedikit ia melorot turun dan agaknya pemuda itupun maklum akan keadaannya maka membiarkan saja, bahkan melonggarkan pelukan lengannya sehingga kini bukan kaki yang dirangkulnya, melainkan paha dan pinggul sehingga kepala Pusporini sekarang mendekati pundak dan leher.
Karena keadaannya tidak begitu melelahkan lagi, agak lega hati Pusporini.
Ia memandang leher yang dekat sekali itu, melihat betapa otot-otot yang kuat tampak merentang di bawah kulit yang bersih halus, betapa anak rambut yang hitam gemuk tumbuh melingkar di, tengkuk yang kuat itu.
Heran sekali dia mengapa pemandangan yang selama hidupnya tak pernah ia perhatikan ini, tengkuk seorang laki-laki, sekarang tampak begini indah!
Tapi hal ini sama sekali tidak mengurangi kemarahan dan kebenciannya kepada laki-laki yang menggemaskan hatinya ini.
"Engkau kenapa membenci keluarga rakanda adipati?"
Ia bertanya, perlahan karena toh mulutnya sudah dekat telinga. Biarpun lirih suaranya, namun Joko Pramono masih dapat menangkap nada penuh kemarahan dalam suara itu.
"Huh, keluarga sombong! Busuk hati! Karena keluarga Selopenangkep itulah pamanku Adibroto sampai mengorbankan nyawa secara sia-sia! Padahal mendiang Paman Adiproto, menurut mendiang ibuku, adalah seorang yang paling baik di dunia ini."
"Hemm, kaumaksudkan Ki Adibroto warok Ponorogo aliran putih?"
Pusporini yang sudah pernah mendengar cerita dari ibunya bertanya, diam-diam ia kaget dan menduga-duga.
"Betul dia. Ah, engkau mengenal pula namanya. Apa yang kau tahu tentang mendiang pamanku?"
"Aku hanya mendengar bahwa Ki Adibroto adalah ayah kandung ayunda Ayu Candra, isteri rakanda Adipati Tejolaksono! Jadi engkau ini masih adik misan ayunda Ayu Candra! Mengapa memusuhi Kadipaten Selopenangkep?"
Mendengar ini, pemuda itu berhenti dan dengan sikap kasar ia menurunkan tubuh Pusporini ke atas tanah.
Gadis ini tergelimpang lalu bangkit duduk dengan sukar karena kedua tangan terbelenggu ke belakang.
Ia masih marah sekali dan diam-diam ia terheran-heran mengapa tadi ia dapat bercakap-cakap dengan penawannya seperti dua orang sahabat lama saja.
Ia kini cemberut dan membuang muka, tidak mau memandang muka orang yang duduk di depannya menghapus peluh dari dada dan leher.
Mereka berhenti di dalam hutan, dan enak sekali berteduh di bawah pohon besar itu.
Joko Pramono memandang wajah dara yang membuang muka itu, lalu sambil mengebut-ngebut lehernya dengan kain, ia bercerita tentang dirinya.
Di dalam cerita "Badai Laut Selatan"
Diceritakan betapa ibu Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono yang bernama Listyakumolo, setelah berpisah dengan suaminya, Raden Wisangjiwo, telah menikah lagi dengan seorang warok gagah perkasa bernama Ki Adibroto yang juga telah mempunyai seorang anak perempuan, yaitu Ayu Candra.
Dengan demikian, Adipati Tejolaksono dengan isterinya itu adalah dua orang saudara tiri yang sama sekali tidak ada hubungan darah.
Adapun ibu kandung Ayu Candra yang lebih dulu telah meninggal dunia bernama Ni Rasmi.
Ni Rasmi mempunyai seorang adik perempuan bernama Ni Wirani.
Semenjak Ni Rasmi meninggal dunia dan Ki Adibroto membawa Ayu Candra pergi merantau dalam kesedihan, putuslah hubungan antara Ni Wirani dengan kakak iparnya itu.
Ni Wirani menikah dengan seorang petani dan mempunyai putera yang diberi nama Joko Pramono.
Akan tetapi malapetaka menimpa Ni Wirani dan suaminya ketika Joko Pramono baru berusia sepuluh tahun, yaitu ketika suami isteri dan anak mereka ini menyeberang sungai yang banjir, perahu mereka terguling dan mereka hanyut.
Suami isteri itu tewas, dan Joko Pramono yang baru berusia sepuluh tahun tertolong oleh seorang sakti, yaitu Resi Adiluhung pendeta perantauyang kemudian mengambilnya sebagai murid dan membawanya ke pertapaan di puncak Gunung Sindoro.
Seperti telah diceritakan dalam cerita Badai Laut Selatan, Ki Adibroto tewas bersama Listyakumolo di tangan Endang Patibroto karena permusuhan yang balas-membalas dengan Pujo, ayah Endang Patibroto, suami Kartikosari dan Roro Luhito, atau juga ayah Pusporini dan Setyaningsih.
"Di waktu masih kecil, ibuku telah menceritakan tentang paman. Adibroto,"
Demikian antara lain dengan muka keruh Joko Pramono bercerita di depan Pusporini yang mendengarkan dengan jantung berdebar karena ia sudah tahu semua akan peristiwa yang terjadi sebelum ia terlahir itu, mendengar dari penuturan ibunya.
"Paman Adibroto yang berbudi mulia dan bijaksana itu mati karena Ratan perjodohannya dengan puteri mantu Selopenangkep. Mati di tangan anak perempuan dari Pujo yang bernama Endang Patibroto, mati penasaran! Kalau pamanku itu tidak berhubungan dengan orang-orang Selopenangkep, tentu tidak akan terbunuh sia-sia."
Pusporini memandang wajah pemuda itu, matanya bersinar dan mukanya merah. Ia marah dan penasaran.
"Akan tetapi, hal itu adalah urusan orang-orang tua dahulu. Bahkan ayunda Ayu Candra kini menjadi isteri Adipatl Selopenangkep. Bukankah ayunda Ayu Canda itu puteri kandung Ki Adibroto dan sama sekali tidak menaruh dendam apa-apa? Kenapa engkau ini yang hanya keponakan Ki Adibroto, kini menaruh dendam dan marah--marah seperti orang sinting?"
"Memang ayunda Ayu Candra sudah menjadi orang Selopenangkep. Hal ini membuktikan kelemahan hatinya. Kasihan sekali paman Adibroto, mempunyai seorang keturunan saja mengkhianatinya. Akan tetapi aku tidak! Akulah yang akan membalaskan sakit hatinya. Aku yang akan kelak mencari Endang Patibroto dan menghadapi semua keluarga Selopenangkep yang sombong, termasuk engkau!"
"Cih! Kepalamu besar sekali, sebesar kelenting (tempat air), sebentar lagi tentu pecah berantakan! Orang macam engkau ini mana mungkin melawan kakakku Endang Patibroto? Idih, sombongnya. Belajarlah kau seratus tahun lagi, masih juga belum dapat mengalahkan tangan kiri kakakku Endang Patibroto!"
Joko Pramono meloncat bangun, wajahnya merah matanya terbelalak marah.
"Dia kakakmu? Jadi engkau inl puteri Pujo pula? Anak Kartikosari atau anak Roro Luhlto?"
Kalau saja kedua tangannya tidak dibelenggu, tentu Pusporini sudah menerjang dan menyerang dengan nekad saking marahnya mendengar betapa pemuda ini menyebut nama kedua orang ibunya begitu saja.
Alangkah kurang ajarnya.
"Benar sekali! Pujo adalah mendiang ramandaku! Rara Luhito adalah ibu kandungku. Kau mau apa? Mau bunuh aku? Bunuhlah, kaukira aku takut mati? Huh, manusia macam engkau ini beraninya hanya membuka mulut besar terhadap lawan yang terbelenggu. Lepaskan aku, dan kepalamu tentu akan lumat!"
Sejenak kedua tangan pemuda itu tergetar, seakan-akan is hendak memukul hancur tubuh dara yang menjadi tawanannya.
Akan tetapi pandang matanya bersinar aneh ketika bertemu pandang dengan Pusporini yang melotot dan sedikitpun tidak takut itu.
Kemudian Joko Pramono tertawa lebar.
"Ha-ha-ha-ha, enak benar! Kau sudah tertawan, itu buktinya kau kalah olehku. Dan jangan kira begitu enak saja kau mati. Tidak! Aku akan menyeretmu ke dasar neraka! Ha-ha, engkau akan kujadikan tawanan dan pancingan agar orang-orang Selopenangkep datang. Akan kubalas sakit hati pamanku Adibroto. Kalau Endang Patibroto mau datang dan berhasil kubunuh, barulah kau akan kubebaskan. Aku tidak bermusuhan dengan engkau, sungguhpun engkaupun seorang anggauta keluarga Selopenangkep yang sombong, berkepala batu dan galak!"
"Engkau yang sombong! Engkau yang besar kepala! Lepaskan aku!"
Akan tetapi pemuda itu hanya tertawa, lalu menyeret tubuh Pusporini ke dekat pohon, menggunakan ujung ikat kepala yang membelenggu kedua tangan dara itu, diikatkan pada batang pohon.
Setelah itu, sambil tersenyum ia lalu meloncat pergi dari tempat itu.
Pusporini berusaha melepaskan diri, namun sia-sia.
Ikatan itu kuat sekali dan tubuhnya mulai lemah.
Lemah, karena lelah dan lapar dan marah.
Ia ditinggalkan di dalam hutan, dalam keadaan terbelenggu.
Kalau datang seekor harimau, tentu ia akan diterkam dan tak dapat melawan.
Atau ular.
Ular??
Ia bergidik dan hampir menjerit ngeri.
Teringat akan binatang ini, Pusporini yang biasanya tabah dan tidak takut mati itu menjadi ngeri ketakutan.
Ingin ia menjerit minta tolong, siapa tahu terdengar orang di dekat tempat itu.
Akan tetapi ia teringat akan pemuda tadi yang mungkin sekali bersembunyi dan mentertawakan ketakutannya, maka tiba-tiba saja kemarahan mengusir rasa takutnya.
Ia diam saja, bahkan tidak merasa ngeri lagi.
Jangan harap aku akan minta tolong dan minta-minta kepadamu, kau monyet kurang ajar, pikimya gemas.
Tak lama kemudian tampak bayangan berkelebat dan Joko Pramono telah berada di depan Pusporini, tangan kiri membawa sesisir pisang ambon yang sudah matang dan tangan kanan membawa sebutir buah semangka yang besar.
Anehnya, pada saat itu, wajah pemuda ini sama sekali tidak mengejek, juga tidak.
marah, malah senyumnya wajar dan ramah.
Ketika bicara, sinar matanya berseri gembira.
"Tidak ada dusun dekat. Untung sekali aku bisa mendapatkan pisang dan semangka Lumayan untuk mengusir lapar. Kau makanlah!"
"Tidak sudi!"
Agaknya Joko Pramono baru teringat bahwa mereka bukanlah dua orang sahabat yang sedang pesiar! Dan wajahnya yang tampan itu kini berubah seperti tadi lagi, keruh, marah, dan mengejek.
"Heh-heh, kau tidak mau makan, tidak mau minum biar mati kelaparan, ya? Kok enak benar. Apa kaukira aku tidak bisa mendublak (menjejalkan makanan ke mulut) secara paksa? Mau tidak mau, perutmu harus dimasuki pisang ini, sedikitnya dua buah, dan air semangka ini!"
Joko Pramono mengambil sebuah pisang, mengupas kulitnya perlahan-lahan sehingga tampak daging pisang yang putih kuning, baunya harum sedap menimbulkan selera.
Pusporini tadinya membuang muka, akan tetapi karena merasa khawatir kalau-kalau pemuda itu benar--benar melaksanakan ancamannya dan menjejalkan makanan ke mulutnya dengan paksa, ia kini memandang dengan mata lebar, lalu berkata.
"Lepaskan dulu tanganku, dengan tangan terbelenggu, bagaimana aku bisa makan?"
"Melepaskan kau dan membiarkan kau memukul pecah kepalaku dengan jari-jari tanganmu yang ampuh itu? Enaknya! Nih, kau makanlah, jangan membikin aku jengkel dan memaksamu."
Pemuda itu mendapatkan ujung pisang kupasan ke mulut Pusporini.
Dara ini marah sekali, merasa dihina, akan tetapi iapun takut kalau-kalau ia akan dijejal dengan paksa.
Ia tahu bahwa pemuda kurang ajar ini agaknya sampai hati melakukan ancamannya, maka dengan muka merah dan mata berapi-api, ia membuka mulutnya, menerima pisang itu memasuki mulut lalu menggigit sepotong.
"Nah, begitu baru anak baik!"
Kata Joko Pramono, wajahnya berseri lagi memandang Pusporini yang mengunyah pisang dengan terpaksa dan marah, kemudian pemuda itu jugs menggigit sepotong pisang dari bekas gigitan Pusporini itu.
Dara ini makin merah kedua pipinya melihat betapa musuh yang dibencinya ini makan pisang bekas gigitannya.
Kembali Joko Pramono menyodorkan sisa pisang itu ke depan mulutnya yang sudah kosong.
"Tidak sudi! Bekas gigitanmu!"
Bentak Pusporini. Joko Pramono membelalakkan mata mengangkat alis, lalu berkata dengan nada kesal.
"Wah, dasar sombong! Tadipun aku tidak menolak bekas gigitanmu. Kalau bekas gigitanku kenapa sih? Gigiku tidak beracun seperti gigi ular."
"Lebih baik makan bekas gigitan ular daripada bekas gigitanmu. Pendeknya, kalau bekasmu itu, aku tidak sudi, biar kau mau jejal, terserah!"
Joko Pramono menarik napas panjang, seperti orang yang menyabarkan dirinya, lalu mengupas pisang lain dan menyuapkan pisang itu ke mulut Pusporini.
Kini mereka makan pisang dan semangka tanpa bicara sampai kenyang.
Biarpun ia makan dengan hati marah dan secara terpaksa, akan tetapi setelah perutnya terisi dua buah pisang ambon yang besar-besar dan setengah butir semangka jingga yang manis dan banyak airnya, Pusporini merasa tubuhnya segar kembali dan pulih kekuatannya.
Melihat betapa sekitar mulut dan dagu dara itu basah oleh air semangka, Joko Pramono menggunakan ujung bajunya dan menghapus dengan gerakan cepat dan kasar.
Pusporini berusaha mengelak dengan menggeleng-gelengkan kepala ke kanan kin sambil berseru marah.
"Lepaskan! Tak sudi aku!! "
Akan tetapi Joko Pramono memaksanya sampai bersih air semangka dari sekeliling mulut dan dagu.
"Huh, kau jangan mengira aku melakukan ini karena memanjakanmu, ya? Aku hanya tidak ingin nanti pundakku kotor dan basah jika aku memondongmu. Hayo, kita berangkat!"
Ia melepaskan ikatan pada batang pohon lalu memondong tubuh Pusporini lagi di atas pundaknya seperti tadi, kemudian berlari cepat meninggalkan hutan itu, terus ke arah utara.
Pusporini yang kini menjadi marah bercampur dengan rasa gelisah, hanya dapat memandang ke arah belakang pundak Joko Pramono dengan mata terbelalak.
Ia harus dapat membebas kan diri dan membalas semua penghinaan yang telah dialaminya ini, pikirnya.
Tak mungkin ia begini tak berdaya dan diam saja dilarikan seorang yang begini kurang ajar.
Akan tetapi apa yang dapat ia lakukan?
Tangannya terbelenggu.
Akan tetapi mulutnya tidak!
Kalau tangannya terbelenggu dan kedua kakinya dipeluk kuat sehingga tak dapat meronta, ia dapat mempergunakan giginya!
Begitu pikiran ini memasuki benaknya, Pusporini lalu menundukkan mukanya dan menggigit daging pundak pemuda itu sekuatnya.
"Aduhh-duh-duh-duh aduhhhh!"
Joko Pramono berteriak-teriak kesakitan, lalu menggunakan tangan kanannya untuk menampar pinggul di depannya itu beberapa kali.
"Plak-plak-plak-plak. !"
Pusporini terbelalak kaget, malu, dan kesakitan. Pinggulnya menjadi panas dan ngilu, akan tetapi ia sudah nekat dan tidak mau melepaskan gigitannya, bahkan memperkuatnya.
"Lepaskan.......................... aduhhh-duh-duh............. lepaskan............. kau kucing, monyet !"
Joko Pramono tak dapat menahan rasa nyeri di pundaknya dan terpaksa ia lalu melemparkan tubuh tawanannya.
Tubuh Pusporini terlempar, gigitannya terlepas dan kini kembali pinggulnya terbanting ke atas tanah sampai ia mengeluarkan suara "hekkk!"
Dan sekarang tak dapat ditahannya lagi Pusporini menangis!
Menghadapi serangan dan maki-makian Pusporini, Joko Pramono sama sekali tidak gentar, akan tetapi sekarang menghadapi dara remaja yang menangis itu, yang mempergunakan "senjata terampuh"
Seorang wanita, pemuda itu melongo! Ia meraba-raba pundaknya yang menjadi matang biru bekas gigitan Pusporini, akan tetapi matanya menatap wajah yang kini basah air mata itu dengan perasaan kasihan.
"Kenapa kau menangis?"
Ia mengomel untuk menutupi perasaan iba hatinya.
"Aku tidak akan menggang gumu ,hanya menawanmu agar keluargamu mencari dan menyusulmu. Aku ingin membalas dendam pamanku kepada Endang Patibroto dan keluarga Selopenangkep yang sombong."
Pusporini terisak-isak kemudian berkata di antara tangisnya.
"Kau manusia kejam, laki-laki kurang ajar .............. Kenapa tidak kaubunuh saja aku?"
"Habis engkau menggigit, sih! Apa kaukira tidak sakit digigit pundaknya? Lihat, bajuku sampai robek dan kalau tidak kuat kulitku tentu robek pula. Lihat, sampai matang biru!"
Pemuda ini membuka bajunya memperlihatkan kulit pundak yang membiru.
Melihat ini, tiba-tiba ada perasaan geli di dalam hati Pusporini, geli dan puas.
Sedikitnya iatelah dapat membalas, biarpun hanya merupakan gigitan di pundak sampai kulit pundak itu matang biru.
"Kalau kau tidak menggigit, aku tentu tidak akan menampar dan membantingmu,"
Kata pula Joko Pramono.
"Kalau kau diam saja menurut kubawa sebagai tawanan dan umpan keluargamu agar menyusulmu, aku bersumpah tidak akan mengganggu seujung rambutmu. Aku bukan seorang laki-laki yang suka mengganggu seorang gadis cilik macam engkau."
Setelah berkata demikian, Joko Pramono kembali memondong tubuh Pusporini dan berlari cepat sekali.
Entah mengapa Pusporini sendiri tidak mengerti.
Ucapan pemuda itu yang menyebutnya seorang gadis cilik,membuat ia mendongkol dan tidak senang.
Dia dianggap seperti anak kecil!
Awas kau, demikian bisik hatinya dan tiba-tiba ia menjadi girang sekali.
Ikatan pada kedua pergelangan tangannya mengendur!
Mungkin karena banyak pergerakan, atau mungkin karena tadi ia diikat pada batang pohon, kemudian terbanting tadi, ikatan itu mengendur di luar tahu Joko Pramono yang tak pernah memeriksanya.
Mulailah dara ini menggerak-gerakkan kedua tangan di belakang, berusaha membebaskan belenggu yang mulai mengendur itu.
Jantungnya berdebar-debar karena tegang dan khawatir.
Ia harus dapat membebaskan kedua tangannya sebelum pemuda ini tahu bahwa ikatan telah mengendur.
"Heh-heh-heh, hi-hik!"
Pusporini terkejut.
Celaka, pikirnya, pemuda ini tentu mentertawakan usahanya untuk membebaskan ikatan!
Berarti pemuda ini sudah tahu akan keadaan belenggunya yang hampir terlepas.
Akan tetapi karena Joko Pramono berlari terus, ia memberanikan diri bertanya.
"Kenapa kau cekikikan seperti orang gila?"
"Heh-heh, detik jantungmu begitu keras, sampai keri (geli) rasanya di pundakku!"
Jawab Joko Pramono yang berlari terus.
Seketika wajah Pusporini menjadi merah.
Sungguhpun maksudnya lain sekali, namun pemuda ini mengingatkannya betapa dadanya terhimpit di atas pundak pemuda itu dalam usahanya meloloskan diri dari ikatan.
Akhirnya terlepaslah belenggu yang mengikat kedua pergelangan tangan Pus-porini!
Dengan hati-hati sekali dara remaja ini menggerak-gerakkan jari tangannya, membuka dan menutup untuk melancarkan jalan darahnya yang agak kaku.
Kemudian, dengan gerakan hati-hati sekali ia mengangkat tangan kanan, meluruskan jari-jarinya,mengerahkan tenaga dan bagaikan ular mematuk,tangannya bergerak turun menyambar ke arah tengkuk Joko Pramono, di belakang telinga.
"Kukkkk!!"
Sebuah pukulan dengan Aji Pethit Nogo dengan cepat menghantam bagian kepala itu.
Mulut Joko Pramono mengeluh lirih, tubuhnya seketika menjadi lemas, kedua kakinya tertekuk dan robohlah pemuda itu tanpa dapat bensambat lagi, roboh terguling miring dalam keadaan pingsan!.
"Uuugghhh "
Joko Pramono menggerakgerakkan kepalanya ke kanan kiri.
Seluruh tubuhnya juga bergerak-gerak, otot-otot di tubuh itu menegang, akan tetapi ia tidak mampu menggerakkan kaki dan tangannya.
Ia membuka mata, memandang ke kanan kiri dan meIihat Pusporini berdiri sambil bertolak pinggang, teringatlah ia dan mulutnya menyumpah.
"Bodoh aku! Mudah saja dicurangi seorang bocah! Sudah sepatutnya celaka."
Dengan gerakan sukar ia bangun duduk, kembali menggoyang kepalanya yang terasa pening oleh pukulan tiba-tiba tadi.
Setelah bumi di sekelilingnya tidak berputaran lagi, ia menentang pandang dara itu, tersenyum mengejek, senyum yang amat dibenci Pusporini lalu berkata.
"Perempuan gagah macam apa kau ini? Kalau memang kau gagah perkasa, hayo lepaskan ikatan kaki tanganku dan kita bertanding sampai tujuh hari tujuh malam!"
Kini Pusporini yang tersenyum, senyum yang membuat wajahnya yang amat manis itu menjadi makin manis melebihi madu.
Akan tetapi senyum yang luar biasa manisnya ini menusuk hati Joko Pramono karena senyum itu mengandung ejekan dan penghinaan kepadanya.
"Hi-hik, alangkah enaknya kau minta dibebaskan! Uhh, tak tahu malu benar,muka tebal! Engkau kini sudah tertawan olehku, ini merupakan bukti kuat bahwa engkau sudah kalah olehku. Hi-hik, mau apa lagi?"
Sambil tersenyum-senyum mengejek, Pusporini berdiri di depan pemuda itu sambil bertolak pinggang.
Rambutnya yang panjang hitam dan terlepas sanggulnya itu sebagian terurai ke depan menutupi matanya.
Pusporini menggerakkan kepalanya sehingga rambutnya tersingkap ke belakang, sebuah gerakan wanita yang amat indah menarik.
Joko Pramono menghela napas panjang, hatinya terserang bermacam-macam perasaan yang teraduk-aduk menjadi satu.
Ia marah kepada diri sendiri yang bodoh sehingga kurang waspada dan lengah, ia gemas kepada dara remaja ini yang benar-benar memanaskan hatinya, akan tetapi iapun kagum.
Makin lama, makin tertarik hatinya oleh segala polah-tingkah dan gerak-gerik dara.
Biarpun sedang marah, mengejek, ketakutan, atau menangis, semua gerak--geriknya memikat hati dan amat manis!
Ada sesuatu terpancar keluar dari kepribadian dara ini yang mencengkeram perasaan hatinya, yang membuatnya merasa suka dan gemas, bukan gemas untuk memukul atau membunuh, melainkan gemas untuk mencubitnya dan mendekapnya kuat-kuat, seperti perasaan gemas-gemas sayang seseorang terhadap seorang bayi yang montok menyenangkan.
Bahkan saat itupun, di waktu nyawanya terancam bahaya maut di tangan Pusporini, ia tidak dapat membenci dara ini.
"Pusporini, tak usah banyak lagak. Memang aku telah kau curangi, telah kau akali sehingga aku tertawan. Nah, kau mau apakan aku sekarang?"
"Mau diapakan? Kau sudah menyerah? Minta diapakan kau, manusia kurang ajar?"
Joko Pramono tetap tersenyum. Ia sudah menyadari sepenuhnya bahwa ia kini berada di tangan Pusporini yang tentu akan membalas dendam.
"Mau kau apakan terserahlah. Mau bunuh juga, silahkan. Kau kira akupun takut mati? Huh!"
"Bunuh? Nanti dulu! Kau tidak akan mati begitu enaknya, sebelum engkau menerima balasan penghinaan--penghinaan yang telah kau lakukan kepadaku tadi! Kau sekarang menjadi tawananku, hendak kuseret ke depan rakanda adipati agar beliau dapat memutuskan hukuman apa yang harus dijatuhkan atas dirimu. Hayoh !"
Pusporini membungkuk, menyambak rambut pemuda itu yang hitam lalu menyeretnya.
Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, seorang pemuda sakti mandraguna, kalau baru dijambat dan diseret seperti ini saja tentu Joko Pramono tidak terlalu menderita.
Ia malah tertawa dan berkata mengejek.
"Pusporini, kau bilang hendak membalas semua penghinaanku tadi? Tadi kau menjadi tawananku, sekarang aku menjadi tawananmu, ini sudah adil. Tadi aku membawamu pergi dan memondong mu , sekarang hayo kau lekas pondong aku dan bawa lari, baru adil namanya!"
Pusporini bersungut-sungut. Ia kini yang menang, akan tetapi tetap saja pemuda itu yang mengejek-ejeknya.
"Tidak sudi!"
Bentaknya dan menyeret terus, seperti seorang pemburu menyeret seekor bangkai kijang yang menjadi hasil buruannya.
Tubuh Joko Pramono terlentang dan pemuda ini merem melek, kelihatan enak benar diseret seperti itu.
"Wah, angler.............! Cepatan lagi, Pusporini,enak benar ini............. haha. !"
Dan untuk membuktikan omongannya,tak lama kemudian Joko Pramono yang diseret-seret itu tidur mendengkur.
Pusporini makin marah dan mendongkol.
Tangannya sudah lelah menyeret.
Karena yang dijambaknya rambut, benda lemas ini lama-lama menyakiti jari-jari tangannya.
Rambut itu terlalu lemas dan tubuh pemuda itu terlalu berat.
Apalagi melalui jalan tanjakan, benar-benar membuat lengannya kesemutan dan lelah sekali.
Kini dia yang kecapaian dan pemuda itu keenakan tidur.
Ia menyumpah-nyumpah, hatinya panas.
Sambil mengerahkan tenaga, ia menjambak lebih keras, lalu lari dan sengaja mengambil jalan berbatu-batu.
Tangannya makin lelah dan sakit, akan tetapi Joko Pramono tidak mungkin tidur keenakan lagi karena tubuhnya terbentur-bentur pada batu, berguncang dan terbanting-banting.
Benar saja, pemuda itu mengeluh.
"Wah-wah-wah, kau gilakah? Kalau mau bunuh, bunuhlah, mengapa mesti menyiksa seperti ini?"
"Rasakan!"
Akan tetapi pemuda itu maklum bahwa Pusporini bukan ingin menyiksanya, melainkan ingin membalas kemarahannya, ingin memancingnya dengan siksaan atau apapun juga agar dia ketakutan atau sakit hati, maka ia lalu diam saja dan diam-diam mengerahkan tenaganya untuk membuat tubuhnya kebal dan tidak terlalu tersiksa oleh bantingan-bantingan di jalan itu.
Benar saja dugaannya, setelah ia diam saja tidak mengeluh, Pusporini merasa kecewa dan marah-marah.
Pemuda ini tetap tidak merasa sakit, tidak merasa lelah, sedangkan ia telah mandi peluh, tangannya pedas lengannya kesemutan.
Keparat!
Kini mereka tiba di dalam hutan, di mana tadi ketika Joko Pramono menawan Pusporini, mereka berhenti dan makan pisang.
"Pusporini. mukamu buruk seperti setan kalau begini. Rambutmu awut-awutan, mukamu kotor karena peluh dan debu, lihat kakimu juga kotor berlumpur. Ihhhh, puteri kadipaten kok begini."
Joko Pramono mengejek untuk menambah kemarahan dara itu.
"Brukkk!"
Dengan gerakan kasar Pusporini melepaskan jambakannya sehingga kepala Joko Pramono terbanting ke atas tanah.
Sejenak dara itu memandang marah, akan tetapi pemuda itu hanya tersenyum kepadanya.
Tiba-tiba Pusporini membalikkan tubuh dan berkelebat pergi dari tempat itu.
Akan tetapi tidak lama ia pergi.
Sebentar lagi ia sudah kembali ke tempat itu dan kaki tangan dan muka serta lehernya telah bersih sekali, bekas dibersihkan dengan air sungai bening yang mengalir di dalam hutan itu.
Juga rambutnya, biarpun tidak disisir rapi, namun tidaklah awut-awutan lagi seperti tadi.
Dalam pandangan Joko Pramono, dia sama sekali tidak tampak lebih cantik karena memang sejak tadi dara itu sudah cantik jelita dan manis dalam pandangannya!
Melihat betapa dara itu mencuci muka dan kaki tangan, dia diam Joko Pramono menjadi geli hatinya.
"Nah, begini barulah kau tampak cantik jelita seperti seorang puteri aseli, Pusporini!"
Ia amat senang melihat betapa kedua pipi dara itu menjadi merah maka ia terus menggodanya.
"Dan mana bawaanmu, Pusporini?"
Dara itu tak dapat mempertahankan kemarahannya, tak dapat terus memuramkan mukanya menghadapi pujian ini.Pertanyaan itu menerjangnya tiba-tiba sehingga tanpa ia sadari, ia menjawab.
"Bawaan apa? Apa maksudmu?"
"Ha-ha-ha-ha! Masa engkau pelupa benar, Pusporini? Bukankah kau bilang bahwa kau akan membalas semua penghinaanku? Lupakah kau bahwa di tempat ini benar aku telah mendulangmu (menyuapimu) dengan pisang dan semangka? Lihat tuh kulit pisang dan kulit semangka masih d situ. Sekarang tentu akan kaubalas peng hinaanku tadi.Lekas kaucari buah-buahan yang segar dan lezat, dan kausuapi aku, perutku sudah lapar sekali!"
"Kau. lancang mulut! Kau kurang ajar!!"
Pusporini marah lagi dan membentak gemas. Akan tetapi Joko Pramono malah tertawa memanaskan hati.
"Elhooo! Bukankah aku bicara sebenarnya? Untuk membalas seadilnya, sekarang kau harus menyuapkan makanan ke mulutku, kemudian kaupondong aku lagi dan............. dan............. kauberikan pundakmu untuk kugigit. !"
"Cihh! Laki-laki ceriwis! Kuhancurkan mulutmu!"
Dengan kemarahan meluap, Pusporini melangkah maju, tangannya diangkat untuk menghantam muka pemuda itu.
Joko Pramono tetap tersenyum dan memandang dengan sepasang mata yang sama sekali tidak kelihatan takut, wajahnya berseri.
Entah mengapa Pusporini sendiri tidak mengerti.
Tangan yang sudah diangkatnya itu mendadak menjadi lemas, tidak kuasa ia menurunkan tangannya menghantam muka yang tersenyum seperti itu, dengan sepasang mata yang bersinar-sinar tajam seperti sepasang bintang.
"Kau. memang kurang ajar!"
Hanya demikian ia berkata.
"Pukullah, mengapa tidak jadi? Pukullah agar sempurna ketidakadilanmu terhadap aku. Aku merobohkanmu dengan pertandingan, sebaliknya kau merobohkan aku dengan akal curang. Aku menawanmu dan rrembawa pergi dengan memondongmu, sebaliknya engkau menawan dan membawaku pergi dengan menyeret-nyeretku. Aku memberimu makan buah agar kau tidak kelaparan, sebaliknya engkau memberi makan aku dengan maki-makian! Engkau menggigit pundakku sampai matang biru dan aku."
"Cukup! Cerewet amat engkau ini!"
Pusporini kembali menyambar rambut Joko Pramono dan menyeretnya pergi melanjutkan perjalanan ingin ia lekas-lekas sampai di Selopenangkep menyerahkan orang yang memusuhi Kadipaten Selopenangkep ini kepada rakandanya, agar la bebas dari orang yang selalu menimbulkan gemas di hatinya ini.
Akan tetapi belum jauh ia pergi, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu, seperti setan saja agaknya, di depan Pusporini telah berdiri dua orang.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati dara ini ketika mengenal bahwa mereka itu bukan lain adalah Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro!
Wanita cantik jelita yang berwajah angker dan bersinar mata kejam itu berdiri tegak memandang Pusporini, kemudian melirik ke arah Joko Pramono yang rebah telentang dalam keadaan terbelenggu pula.
Wanita ini kelihatan marah, alisnya yang tipis dan ditebalkan dengan penghitam, berkerut, tangan kini bertolak pinggang, tangan kanan memegang sebatang pengebut yang terbuat daripada ekor kuda berwarna kemerahan.
Adapun Ki Kolohangkoro yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa itu, berdiri seperti sebuah tugu, kokoh kuat menyeramkan.
Matanya yang lebar memandang Pusporini, mulutnya menyeringai dan sikapnya memandang rendah.
Kepada Joko Pramono, ia menengokpun tidak.
Joko Pramono yang tadinya terseret meramkan matanya, kini la membuka mata dan ia memandang dua orang itu penuh perhatlan.
Sebagal murld seorang sakti, ia dapat menduga bahwa dua orang itu bukanlah orang baik-baik dan tentu memlliki kesaktlan tinggl.
Akan tetapi karena tidak mengenal Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro, sesuai dengan wataknya, ia tidak gentar dan bahkan memandang rendah.
Maka iapun tersenyum, dan mengejek ketika melihat betapa Pusporini tampak khawatir.
"Eh, Pusporini, sekarang kau baru tahu rasa, bertemu dengan dua orang siluman penjaga hutan!"
Pusporini tidak memperdulikan pemuda itu, hanya siap dengan waspada, ingin melakukan perlawanan mati-matian sungguhpun ia tahu bahwa Ni Dewi Nilamanik yang ia tahu menjadi pemimpin para penyembah Durga di puncak Gunung Mentasari tentulah memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa, bahkan jauh lebih sakti daripada Sariwuni!
Ni Dewl Nilamanik membuka mulut, terdengar suaranya yang lemah lembut, akan tetapi mengandung getaran penuh nafsu dan kekejaman.
"Pusporini, hayo lekas kau maju berlutut dan minta ampun, baru aku dapat mengampunimu dan membawamu menghadap sang wasi yang menantimu di puncak."
Pusporini teringat akan pengalamannya di puncak Mentasari, la bergidik dan timbul kenekatannya.
Lebih baik mati dalam perlawanan daripada menyerah dan mengalami penghinaan yang hebat di tempat neraka itu.
Ia mengeluarkan pekik nyaring dan tubuhnya mencelat maju menerjang, mengirim pukulan Bojro Dahono yang belum sempurna itu ke arah dada Ni Dewi Nilamanik.
Sungguh seperti seekor capung menyerang gapura batu!
Jangankan Aji Bojro Dahono itu belum terlatih sempurna, andaikata sudah sempurna latihannya sekalipun, belum tentu Pusporini dapat merobohkan Nilamanik dengan sekali pukul.
Wanita penyembah Durga itu mengikik tertawa, tubuhnya lama sekali tidak bergerak dari tempat nya, hanya kebutan di tangannya bergerak dan tahu-tahu ujung bulu kebutan itu menerima pukulan Pusporini, membelit pergelangan tangannya dan sekali sendal, tubuh Pusporini terlempar ke belakang dan jatuh tunggang-langgang!
"Huah-ha-ha-ha!
Bocah ini seperti seekor singa betina!"
Ki Kolohangkoro tertawa bergelak ketika melihat betapa Pusporini yang terbanting jatuh itu telah meloncat bangun dengan sigapnya dan sama sekali tidak tampak ketakutan membayang di wajah yang manis itu, bahkan wajah itu membayangkan kebencian dan kemarahan besar ketika dara ini melangkah maju dan siap menerjang lagi.
"Kolohangkoro, engkau jangan tertawa-tawa saja. Hayo kau wakili aku tangkap bocah ini!"
Ni Dewi Nilamanik berkata kepada temannya itu dengan suara memerintah.
"Baiklah, Ibunda Dewi! Eh, bocah perawan galak! Kenapa kau tidak lekas-lekas tunduk akan perintah Ibunda Dewi? Hayo berlutut kau!"
Sambil berseru demikian, Ki Kolohangkoro menubruk kedepan, ke arah Pusporini.
Dara yang sudah siap siaga ini dengan kemarahan memuncak menyambut tubrukan Ki Kolohangkoro dengan pukulannya, kini ia menggunakan kedua tangannya, mengerahkan Aji Pethit Nogo, tangan kiri menampar ke arah leher dan tangan kanan menghantam ke arah dada.
"Plak-plak."
Dua pukulan Pethit Nogo itu tepat mengenai leher dan dada Ki Kolohangkoro.
Akan tetapi raksasa itu hanya terkekeh tertawa dan dua pukulan itu membalik, bahkan Pusporini merasa betapa kedua telapak tangannya menjadi sakit-sakit dan panas, seakan-akan memukul baja yang amat kuatnya.
Sebelum ia sempat mengelak, kedua pundaknya sudah dipegang oleh tangan-tangan yang besar itu dan ia dipaksa berlutut dengan tekanan seperti gunung beratnya.
Tak dapat lagi Pusporini menahan tubuhnya dan kedua lututnya sudah tertekuk, ia berlutut di atas tanah.
"Keparat, lepaskan dial"
Tiba-tiba tubuh Koko Pramono menerjang maju.
Pemuda ini sebetulnya tadi hanya berpura-pura saja ketika ditawan Pusporini.
Kalau ia mau, dengan tenaga saktinya ia mampu membebaskan diri daripada ikatan kaki tangannya.
Kini, melihat betapa dua orang yang dipandang rendah itu ternyata sakti bukan main, ia terkejut dan cepat-cepat ia meronta dan membebaskan diri.
Melihat betapa Pusporini tidak berdaya menghadapi Ni Dewi Nilamanik dan kini bahkan ditekan dan dipaksa berlutut oleh Ki Kolohangkoro, ia sudah menerjang maju dan mengirim serangan pukulan ke arah punggung Ki Kolohangkoro.
Kakek raksasa yang sakti mandraguna inipun memandang rendah.
Ia tahu bahwa ada orang memukulnya dari belakang, akan tetapi karena ia tadi sudah melihat bahwa orang yang terbelenggu dan kini terlepas dan menyerangnya itu hanyalah seorang pemuda, maka ia sengaja diam saja, mengerahkan tenaga ke arah punggung untuk menyambut pukulan.
"Desss."
Joko Pramono berseru kaget dan memegangi tangan kanannya yang serasa remuk tulang-tulangnya, akan tetapi Ki Kolohangkoro juga berseru kaget karena tubuhnya terhuyung ke depan dan pegangannya pada pundak Pusporini terlepas.
Tak disangkanya bahwa pukulan pemuda itu sedemikian kuatnya!.
Melihat ini, Ni Dewi Nilamanik menjadi kagum dan tertarik.
"Aihhh, boleh juga bocah ini!"
Kedua kakinya tidak tampak bergerak, akan tetapi tubuhnya sudah melayang ke arah Joko Pramono.
Pemuda ini maklum bahwa wanita ini amat sakti, bahkan agaknya lebih sakti daripada si raksasa tua, maka iapun cepat menahan rasa nyeri pada tangannya dan menyambut datangnya Ni Dewi Nilamanik dengan sebuah pukulan tangan kiri.
Tubuhnya agak merendah, hampir berjongkok dan tangan kirinya dengan tenaga penuh menonjok ke arah perut lawan.
"Ceppp.."
Pukulan Joko Pramono itu bukanlah pukulan sembarangan.
Itulah aji pukulan yang amat tua dan ampuh, yang sudah jarang dikenal orang.
Baca Juga: Bu Kek Siansu 20
Baca Juga: Suling Emas 2