Ceritasilat Novel Online

Perawan Lembah Wilis 3

Eps 3 Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo

Baca online Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo

Cersil Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo.

Beberapa kali Endang Patibroto sudah pingsan di atas pangkuan Adipati Tejolaksono, pingsan dalam pelukannya.

Akan tetapi begitu ia siuman, la selalu merangkul leher pria itu, berbisik-bisik mesra, selalu haus akan cinta kasih Joko Wandiro, ldni suaaminya!

Kehausan yang tak pernah terpuaskan.

Bagi orang-orang yang memiliki kesaktian seperti Endang Patibroto dan Adipati Tejolaksono, agaknya berpuasa sampai sebulan pun kiranya tidak akan membuat mereka mad.

Akan tetapi, sekali ini mereka bukan berpuasa, bukan bertapa, melainkan terpaksa tidak makan tidak minum.

Dltambah lagi dengan luka-luka mereka bekas pertempuran hebat, kemudian tenggelam dalam bercinta kasih yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang sudah tiada harapan untuk hidup lagi!

Pada hari ke empat, Endang Patibroto rebah terlentang di atas pangkuan Adipati Tejolaksono, tubuhnya lemas, wajahnya pucat sekali, dan sinar matanya layu, akan tetapi bibirnya tersenyum penuh bahagia ketika ia menengadah dan memandang wajah Tejolaksono.

Ia baru saja siuman kembali dari pingsan yang ke sekian kalinya.

Akan tetapi ia merasa seperti orang baru bangun dari tidur yang amat nyenyak dan nyaman., Ia menggerakkan lengan dengan lemah, lalu menangkap tangan Tejolaksono yang mengelus-elus rambutnya.

Jari-jari tangan mereka saling cengkeram dan dad jari-jari tangan mereka itu saja sudah terpancar getaran-getaran penuh cinta kasih!

Jelas terasa oleh jari-jari tangan masing-masing.

Endang Patibroto tersenyum bahagia, mempererat cengkeraman jari tangannya.

"Joko Wandiro............ belum mati jugakah kita. ?"

Tejolaksono tersenyum, menaikkan pahanya, merangkul dan mencium dahi yang pucat itu, di mana rambut-rambut sinom melingkar layu.

"Ingin benarkah engkau mati, nimas?"

Jari-jari tangan Endang Patibroto yang sudah lemas itu seketika menjadi kuat kembali terdorong oleh cinta kasihnya yang selalu membara.

Ia sudah menjambak rambut kepala Tejolaksono, menarik kepala itu sehingga turun dan bukan lagi dahinya yang tercium, melainkan mulutnya.

Kemudian ia melepaskan tangannya dan terkulai lemas ke atas dada Tejolaksono, napasnya terengah ketika menjawab lirih.

"Mati bersamamu adalah nikmat bagiku, Joko Wandiro.."

Mendengar betapa Endang Patibroto selalu menyebut nama kecilnya, Tejolaksono tersenyum.

Selama tiga hari tiga malam itu, di waktu Endang Patibroto tidur entah pingsan di atas pangkuannya, tak pernah bosan ia memandang wajahnya, penuh cinta kasih, kekaguman dan keheranan.

Tak pernah disangka-sangkanya dahulu bahwa di dalam din Endang Patibroto ini terdapat api cinta kasih yang berkobar-kobar terhadap dirinya, api yang begitu panas membakar, bagaikan kawah Gunung Bromo.

Ia merasa seakan-akan terbakar oleh api cinta kasih ini, membuatnya panas dan nanar akan tetapi juga bahagia!.

"Nimas, engkau sudah tahu bahwa aku sekarang adalah Adipati Tejolaksono mengapa kau tak pernah menyebutku kakanda? Kau nakal sekali, manis............ masa memanggilku dengan menyebut nama kecilku."

Endang Patibroto tersenyum, lalu menghela papas panjang, tertawa kecil dan berkata, suaranya penuh kesungguhan.

"Akan tetapi aku masih menganggapmu Joko Wandiro, karena engkau adalah Joko Wandiro bagiku, dan selamanya akan menjadi Joko Wandiro-ku! Joko Wandiro yang bertahun-tahun kurindukan, yang telah sering kumusuhi, biarlah sekarang kumelepaskan rinduku dan menebus kesalahan-kesalahanku kepada Joko Wandiro."

Tejolaksono mencium dua butir air mata di atas pipi Endang Patibroto.

"Engkau memang wanita aneh dan hebat sejak dahulu."

"Joko Wandiro, adakah sedikit cinta kasih di hatimu kepadaku sekarang?"

Tejolaksono membelai rambut yang kusut masai di atas pangkuannya.

"Adindaku, perlu lagikah kau bertanya? Perlukah aku menyatakan dengan mulut? Nimas, bagi cinta kasih di antara kita, pengakuan bibir adalah jauh terlalu hambar dan bahkan mengecilkan arti dan kebesarannya. Mungkinkah kata-kata dapat mewakili getaran yang terasa oleh kita? Pancaran sinar dari pandang matamu yang bagaikan cahaya sinar matahari pagi menembus dan menimbulkan embun sejuk di bunga dalam hatiku? Nyanyian dan gamelan dari Lokananta yang terkandung dalam getaran suara kita? Dapatkah kata-kata menggambarkan perasaan yang aneh dan ajaib ini? Menggantikan perasaan yang tercurah sehingga terasa benar cinta kasih di antara kita sampai ke bulu-bulu di tubuh yang meremang7 Sampai ke denyut-denyut darah yang mengencang tak menentu? Sampai, ke ujung-ujung hidung kita yang mencium ganda harum semerbak seluruh kembang di Indraloka? Endang Patibroto kekasihku, masih perlu lagikah aku mengaku cinta?"

Endang Patibroto rebah terlentang di atas pangkuan Tejolaksono, kedua matanya dipejamkan, bulu matanya yang hitam panjang melengkung itu membentuk bayang-bayang manis di pipinya dan bagaikan mutiara-mutiara keluarlah air matanya bertitik-titik.

Bibirnya bergerak dan is berbisik lirih.

"Terima kasih , terima kasih Joko Wandiro,kekasihku, suamiku sekarang aku siap untuk menerima datangnya Sang Yamadipati, marilah Joko Wandiro, mari kita bersama menghadap ramanda Pujo kita bersama menemui Pangeran Panjirawit, kau bimbinglah tanganku, Joko Wandiro."

Pada saat itu terdengar suara percik air dari atas lubang sumur dan bagaikan hujan turun, beljatuhan air ke atas kepala dan tubuh mereka berdual Air yang segar dingin ini seketika membuat tubuh mereka berdua yang sudah lunglai itu menjadi segar dan meloncatlah mereka bangun, berdiri lalu menengadah, memandang ke atas.

Kiranya dari atas sumur itu kini dipasangi bambu besar berlubang dan dari bambu itulah air dipancurkan ke dalam sumur!

Dan tampak bayangan beberapa orang, bahkan terdengar, suara yang tertawa bergelak, suara Raden Sindupati.

"Ha-ha-ha, kalau mereka belum mampus, biarlah sekarang mereka menjadi tikus-tikus tenggelam! Joko Wandiro dan Endang Patibroto, selamat minum dan mandi sepuasnya!"

Kini dari bawah tampak bentuk kepala Sindupati yang sebentar kemudian lenyap lagi.

Dan kata-kata Sindupati itu benar-benar dilakukan oleh Endang Patibroto dan Tejolaksono!

Setelah empat hari tidak pernah mendapat air, kini pancuran air itu membuat mereka berdua tiba-tiba menjadi haus.

Mereka menerima air dengan kedua tangan dan minum sepuasnya, membiarkan air menyiram tubuh sehingga merekapun mandi sepuasnya.

Sejenak mereka lupa bahwa air tadi dipancurkan dari atas sama sekali bukan karena kebaikan hati Adipati Blambangan, sama sekali bukan memberi kesempatan mereka dapat minum dan mandi!

Mereka tertawa-tawa dan menikmati air sambil berpelukan dan barulah mereka sadar akan ancaman kematian mengerikan setelah air menggenang di dalam ruangan itu sampai ke lutut mereka!.

"Endang, air mulai naik "

Kata Adipati Tejolaksono.

Biarpun dia tahu kematian berada di depan mata, namun suaranya masih tenang saja, sedikitpun tidak membayangkan rasa takut atau ngeri.

Endang Patibroto malah tertawa!

"Joko Wandiro, pegang tubuhku erat-erat agar kita tidak berpisah lagi.

Mari kita hadapi kematian yang indah ini..."

"Endang, kurasa tidak seharusnya kita membiarkan diri mati konyol. Kalau begitu, akan sia-sia saja dahulu Eyang Resi Bhargowo menggembleng kita, kemudian orang tuamu, dan guru-gum kita. Tidak, kekasih, selama nyawa kita belum direnggut Sang Yamadipati, kita berkewajiban untuk mempertahankannya!"

"Engkau selalu benar, Joko Wandiro. Akan tetapi betapa mungkin? Air akan naik terus memenuhi tempat ini, dan tenaga dalam tubuh kita tidak ada setengahnya lagi. Betapa kita akan dapat melawan cengkeraman maut? Akan tetapi kita tidak akan mati seperti tikus yang dikatakan si jahanam keparat Sindupati tadi. Kita akan mati dengan tenang dan tak kenal takut, bukan, Joko Wandiro?"

"Hemmm, kalau air naik sampai memenuhi sumur, kita dapat berenang ke atas dan berusaha lobos dengan perlawanan. Setidaknya kita hams dapat membunuh si keparat Sindupati!"

Kata TejolakSono.

Akan tetapi, pada saat itu seakan-akan sebagal jawaban pernyataarmya, dari atas menyambar turun banyak sekall anak panah!

Terpaksa Tejolaksono dan Endang Patibroto mundur sampai terlindung, tidak tepat di bawah lubang sumur yang lebih sempit.

"Tiada gunanya, Joko Wandiro. Lebih baik kita mati tenggelam daripada dikeroyok anak panah dari atas. Marilah pegang erat-erat dan kita berpegang batu karang di sini sampai mati!"

Endang Patibroto memeluk pinggang Tejolaksono dan mendekapkan muka di dada pria yang dikasihinya ini.

Mereka berdekapan, sementara air makin naik sampai di atas lutut.

Dari atas lubang terdengar gema suara ketawa dan anak panah kadang-kadang menyambar turun seperti hujan.

Agaknya Sindupati dan kawan-kawannya sudah menjaga kalau-kalau dua orang korban di bawah itu hendak naik melalui air.

Bencana kematian sudah membayang di depan mata, agaknya mereka berdua tidak akan dapat lolos lagi!

Dengan mulut tersenyum Endang Patibroto membenamkan muka di dada Tejolaksono dan ia menutup seluruh panca indranya, dicurahkan kepada detak jantung di dada kekasihnya.

Ia hendak mati dengan detak jantung ini memenuhi semua perasaan dan pikirannya, tidak mau memikirkan hal lain lagi, tidak merasa betapa air kini tidak lagi naik, malah turun sampai ke bawah lutut!

"Eh............

airnya menurun............!!"

Tejolaksono berseru girang dan juga heran.

Air dari atas masih terus memancur, akan tetapi mengapa air di kaki kini tidak menaik malah menurun?

Karena merasa betapa Tejolaksono melepaskan pelukannya karena pria ini sekarang memandang ke sekeliling penuh selidik, Endang Patibroto sadar dan membuka mata.

Kebetulan sekali ia menghadap pada dinding yang berlapis besi dan dengan mata terbelalak ia melihat din-ding itu bergerak-gerak!

"Dinding itu bergerak.

!!"

Iapun berteriak kaget dan heran.

Tejolaksono cepat memutar tubuh menengok dan benar saja, perlahan akan tetapi pasti dinding besi itu bergerak dan membuka lubang yang kini sudah kurang lebih setengah meter lebarnya!

Dan air menerobos cepat sekali melalui lubang itu!

"Endang, lekas, melalui lubang itu.

Tejolaksono menarik tangan Endang Patibroto dan mereka cepat menyelinap memasuki celah dinding yang terbuka itu.

Mereka harus mengerahkan seluruh sisa tenaga mereka karena arus air yang menyerbu keluar amat kuatnya sehingga mereka yang sudah lemah itu menjadi terhuyung-huyung ke depan.

Namun dengan bergandeng tangan, mereka dapat menahan arus air.

Karena air yang membobol keluar mendapat jalan lebih cepat dan lebih besar daripada air yang memancur dari atas, maka sebentar saja air mengecil dan dua orang itu lalu meraba-raba dan terhuyung maju melalui terowongan tanah yang amat gelap.

"Ke mana kita. ? "

Endang Patibroto bertanya,suaranya gemetar penuh ketegangan.

Hal ini amat tidak disangka-sangkanya sehingga menimbulkan ketegangan hati.

Bahkan Adipati Tejolaksono yang biasanya tenang itupun kini tampak tegang dan gugup.

Diapun tadinya sudah yakin akan tewas di tempat itu dan hal ini benar amat ajaib baginya.

"Entahlah, setidaknya tentu ada jalan keluar dan kita tidak mati di dasar sumur!"

"Tapi.. tapi. siapa yang membuka dinding itu?"

"Siapa tahu, nimas? Tentu Dewata yang menolong kita."

"Jangan-jangan jebakan mereka untuk menyiksa kita lebih hebat lagi..."

"Tidak perduli, setidaknya setiap kesempatan harus kita pergunakan. Lebih baik mati dalam perlawanan daripada mati konyol di dalam sumur. Mari, nimas, jangan lepaskan tanganku, begini gelap……."

"Aihhh, apa ini. ??"

Tejolaksono yang berjalan di depan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Kakinya tadi menyentuh benda lunak hangat. Mereka berdua siap sedia menghadapi segala kemungkinan.

"Aduhhh....................... Rintihan di bawah mereka itu lemah dan jelas adalah suara seorang wanita. Mendengar ini, Endang Patibroto cepat berjongkok dan tangannya meraba ke depan. Memang seorang wanita yang rebah di situ, merintih-rintih kini, suaranya lirih dan napasnya terengah-engah. Ketika Endang Patibroto meraba terus, ia mendapat kenyataan bahwa wanita itu menderita luka parah di bagian kepalanya, seperti bekas dipukul atau terbanting pada benda keras. Ia merangkul pundak wanita itu yang ia dudukkan, lalu bertanya.

"Engkau siapakah?"

"Endang Patibroto............ aku............ aku isteri Sindupati… "

Teringatlah Endang Patibroto akan seorang wanita yang masIh amat muda, baru lima belas tahun usianya, puteri selir Sang Adipati Menak Linggo yang dihadiahkan sebagai selir Sindupati.

Pernah ia beberapa kali bertemu dengan wanita ini di dalam gedung Sindupati.

"Ahh............ kau....... Dew! Umirah "

"Betul, Endang Patibroto, aku.... aku............ aduhh "

"Mengapa kau berada di sini? Kaukah yang membuka dinding besi?"

"Memang aku yang membuka....... tempat ini merupakan tempat rahasia...... peninggalan jaman dahulu............ hanya RĂ¡manda Adipati dan para puteranya yang tahu akan rahasianya............ aku............ aku............ ah, tidak sangka air itu amat deras, arusnya menyeret aku. terbanting pada batu-batu............ aduuuhhh "

Terharu hati Tejolaksono. Kiranya Hyang Widhi telah mengirim pertolongan melalui puteri Sang Adipati Blambangan sendiri. Hal yang amat luar biasa sekali. Juga Endang Patibroto menjadi terheran-heran.

"Dewi Umirah, kenapa engkau menolong kami?"

Napas wanita muda itu makin terengah-engah dan susah payah sekali ia memaksa diri bicara.

"............ Sindupati...... dia terlalu menyakitkan hatiku............ , Endang Patibroto, berjanjilah............ kau balas pertolonganku dan............ kau............ bunuhlah Sindupati untukku!"

Suaranya tersendat-sendat dan hanya di kerongkongan.

Payah sekali agaknya keadaan wanita muda ini, kepalanya yang terluka parah mengeluarkan banyak darah.

Endang Patibroto menggigit bibir karena gemas.

Sindupati memang jahanam besar dan tidak mengherankan kalau wanita muda yang dihadiahkan menjadi selirnya ini mendendam sakit hati.

"Legakan hatimu, Dewi Umirah. Aku bersumpah untuk membunuh si jahanam keparat Sindupatil"

Katanya geram-.

"........... terima kasih............ tidak sia-sia aku mengorbankan diri............ menolongmu Rama, maafkan hamba."

Napasnya makin sesak.

"Katakanlah di mana jalan untuk keluar. !"

Tejolaksono berkata di dekat telinga wanita yang sudah sekarat itu.

"Terus saja............ melalui terowongan yang amat jauh............ , jangan belok............ akan tiba di hutan........... lubang tertutup batu............ di guha."

Terhenti kata-kata Dewi Umirah bersamaan dengan terhentinya napas dan darahnya.

"Dia mati............"

Kata Endang Padbroto.

"Kasihan dia telah menolong kita."

"Hyang Widhi yang menggerakkan dia. Mari, Endang!"

Tejolaksono bangkit dan menarik tangan Endang Patibroto.

Mereka terpaksa meninggalkan jenazah penolong mereka itu dan terus berjalan sambil meraba-raba melalui terowongan yang gelap dan panjang, terowongan yang makln lama makin sempit sehingga tak dapat bagi mereka berjalan berdampingan lagi.

Endang Patibroto berjalan di belakang Tejolaksono, namun tangan mereka masih saling berpegangan, tak pernah tangan mereka terpisah semenjak berada di dalam sumur.

Lebih dari satu jam mereka berjalan dan akhirnya, setelah jalan terowongan itu melalui banyak jalan simpangan yang menanjak, mereka tiba di dalam sebuah guha yang tertutup batu besar.

Agaknya jalan-jalan simpangan tadi adalah jalan yang menjadi jalan rahasia yang menembus istana dan tempat-tempat rahasia di kota raja Blambangan.

Setelah mengintai dari celah-celah batu penutup guha, Endang Patibroto dan Tejolaksono lalu mendorong batu penutup ke pinggir, kemudian mereka melompat keluar.

Kiranya mereka telah berada di dalam sebuah hutan yang lebat dan liar!

Tak tampak seorangpun manusia di situ.

"Mari kita lari, Endang. Ke barat!"

Kata Tejolaksono. Matahari telah naik tinggi dan mulai condong ke barat. Agaknya waktu itu sudah lewat tengah hari. Akan tetapi Endang Patibroto menahan tangannya yang ditarik.

"Tidak, aku mau kembali ke Blambangan!"

Katanya, suaranya keras dan tegas.

"Eh, mau apa?"

"Membunuh si keparat Sindupati dan sebanyak mungkin orang Blambangan, apa lagi?"

Melihat wajah itu membayangkan kemarahan, Tejolaksono lalu merangkul pundaknya.

"Aihh, Endang, belum waktunya sekarang! Keadaan kita amat lemah"

Dan mereka itu amat banyak.

Betapa mungkin kita melawan orang senegara?

Kita hams menyelamatkan diri, ini yang terpenting.

Kelak kita akan membawa pasukan Jenggala dan Panjalu, menggempur Blambangan dan itulah saatnya kita membunuh si jahat itu!"

Endang Patibroto tetap saja kelihatan ragu-ragu dan kini is memandang wajah Tejolaksono dengan sinar mata penuh selidik.

"Joko Wandiro!"

Dan tiba-tiba saja Endang Patibroto menangis sesenggukan!

"Eh-eh mengapa pula ini?

Endang Patibroto, kekasihku, jiwa hatiku, kenapa kau menangis?

Bukankah semestinya kita hams bergirang dan berbahagia bahwa Hyang Widhi masih melindungi kita dan menyelamatkan kita daripada ancaman bahaya maut?"

Endang Patibroto terisak-isak.

"Joko Wandiro,............ aku ingin mati bersamamu !"

Tejolaksono tersenyum, lalu dipegangnya muka Endang Patibroto dengan kedua telapak tangannya, dipaksanya muka itu tengadah dan menentang mukanya agar mereka dapat berpandangan.

"Bocah bodoh kau Tidak senangkah engkau menjadi isteriku? Tidak cintakah kau kepadaku?"

Endang Patibroto yang mukanya dihimpit kedua tangan itu hanya bergerak mengangguk. Tejolaksono lalu menciumi muka yang penuh air mata itu, menghapus air mata dengan kecupan bibirnya.

"Nah, kalau begitu, hentikan tangismu. Bukahkah anugerah yang membahagiakan sekali kalau kita masih hidup, masih mendapat kesempatan untuk lebih lagi menikmati hidup dan cinta kasih kita? Bocah bodoh, pujaan hati, kalau aku girang dan bahagia, mengapa kau menangis?"

"Aku aku tadinya mengira kita akan mati , kalau tahu akan dapat lobos ah, betapa aku dapat membuka rahasia hatiku Betapa memalukan betapa hina aku "

"Ehhh, memang kau wanita aneh. Wanita aneh dan hebat, tiada keduanya di dunia ini. Ha-ha-ha!"

Tejolaksono mencium bibir yang hendak banyak membantah lagi itu kemudian memondongnya dan membawanya lari cepat ke barat.

Tubuhnya amat lelah, tenaganya hampir habis, akan tetapi kebahagiaannya karena dapat lobos dari kematian itu seakan-akan mendatangkan tenaga baru kepadanya.

Ia berlari terus keluar hutan masuk hutan sampai matahari tenggelam, cuaca menjadi gelap dan ia kehabisan tenaga lalu roboh terguling di dalam hutan.

Pingsan!

Kini Endang Patibroto yang menjadi bingung dan gelisah setengah mati melihat Tejolaksono rebah tak berkutik.

Dipeluk dan dipanggil-panggil namanya, ditangisi!

Akan tetapi, barulah ia sadar akan kelakuannya yang seperti gila itu ketika ia mendapat kenyataan bahwa Tejolaksono hanya pingsan karena lelah.

Ia menjadi geli dan tertawa sendiri.

Endang Patibroto, menangis dan bingung melihat Joko Wandiro yang hanya pingsan biasa.

Takut kalau-kalau mati!

Padahal tadinya mengajak mati bersama!

Ah, benar-benar cinta kasih yang menggelora membuat orang menjadi bodoh dan lucu.

Di mana lagi perginya kegagahperkasaannya?

Dia seorang wanita sakti mandraguna.

Namun tadi bersikap sebagai seorang wanita lemah yang menangis takut ditinggal mati suaminya Ketika Tejolaksono sadar dari pingsannya, ia telah rebah telentang di dekat api unggun yang hangat.

Kepalanya berbantal paha Endang Patibroto yang membelai rambutnya dengan jari-jari tangan penuh kasih sayang.

Begitu ia membuka mata, Endang Patibroto mencium matanya dan berbisik.

"Kakanda............ , makanlah pisang ini, kupetik tadi dari dalam hutan di sana."

Tejolaksono membelalakkan mata, lalu bangkit dan duduk.

"Kakanda. ?"

Ia bertanya, mengulang sebutan itu.

Endang Patibroto menundukkan mukanya dan aneh bukan main bagi Tejolaksono melihat betapa wajah wanita sakti ini menjadi kemalu-maluan seperti seorang dara diajak kawin!

Di bawah sinar api yang kemerahan, wajah itu tampak amat jelita menggairahkan.

Rambut itu tidak kusut lagi, agaknya tadi Endang Patibroto sudah sempat membereskan rambutnya, pakaian mereka tidak basah lagi karena terpanggang dekat api unggun.

"Kita............ kini akan hidup terus........ lain lagi halnya dengan ketika di dalam sumur maut. , kini kita akan hidup di dunia ramai. tentu saja tidak pantas bagi seorang isteri menyebut suaminya dengan nama kecilnya saja. !!"

Adipati Tejolaksono tertawa bergelak, lalu merangkul.

Luar biasa sekall wanita ini.

Wataknya amat aneh akan tetapi segalanya menyenangkan hatinyal Endang Patibroto menggunakan kedua tangan mendorong dadanya dengan gerakan halus.

"Hiss kau makanlah dulu agar jangan mati kelaparan!"

Katanya tersenyum. Koko Wandiro kembali tertawa, lalu mengambil pisang yang besar-besar dan matang kemudian dikupas kulitnya.

"Nih, kau makanlah."

Ia menawarkan, karena tanpa bertanya ia tahu bahwa Endang Patibroto juga belum makan.

Pisang itu masih dua sisir.

Endang Patibroto menerima pisang dan makanlah mereka.

Perut yang sudah empat hari tidak diisi itu menerima pisang yang lembut dan terasa agak tidak enak pada permulaannya.

Akan tetapi lama-lama mendatangkan rasa lega dan memulihkan tenaga sehingga tubuh mereka tidak lemas lagi.

"Endang, kenapa kau tadi tidak makan dulu pisang ini?"

"Bagaimanakah aku boleh makan dulu, Kakangmas Tejolaksono? Seorang isteri hams selalu melayani suami lebih dulu."

"Aduh, isteriku yang tersayang!"

Tejolaksono menarik lengan Endang Patibroto, mendudukkannya di atas pangkuannya dan bagtikan. sepasang pengantin barn, mereka saling menyuapi pisang sambil bercumbuan! "Kakanda,"

Kata Endang Patibroto kemudian jauh lewat tengah malam ketika tubuh mereka yang kelelahan itu beristirahat, rebah di atas rumput yang lunak dan dekat api unggun yang hangat, kepala Endang Patibroto berbantal dada suaminya.

"bagaimanakah nanti kalau isterimu yang di Selopenangkep marah mengetahui bahwa aku telah menjadi isterimu?"

"Ayu Candra? Ah, tidak, nimas. Dia tidaklah demikian sempit pendapat. Apa-lagi kalau sudah kujelaskan akan semua pengalaman kita. Dia akan menyambutmu sebagai saudara madu yang baik dan aku percaya kalian akan dapat hidup rukun seperti ibumu, bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhita."

Endang Patibroto menarik napas panjang.

"Aku khawatir............ kalau-kalau ibu akan marah kepadaku............ ah, kalau aku ingat betapa dahulu aku menyakitkan hati ibu, dan Ayu Candra............ betapa aku dahulu ingin membunuhnya."

"Hushhh urusan yang lalu tak perlu dipikirkan lagi. Aku yang akan mengatur segalanya, tak perlu kau khawatir, nimas."

"Aku tidak mengkhawatirkan apa-apa lagi kalau teringat bahwa engkau berada di sampingku, Kakangmas Adipati. Asal engkau mencintaku, aku. aku sanggup menghadapi kesengsaraan yang bagaima--napun juga."

Akhirnya kedua orang yang amat lelah itu tertidur pulas dan pada keesokan harinya setelah matahari naik tinggi, baru mereka bangun, kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Jenggala.

Perjalanan mereka merupakan perjalanan penuh kegembiraan dan kebahagiaan, penuh dengan cinta kasih mesra.

-oOdwOo-Munculnya Endang Patibroto di Jenggala tentu akan menimbulkan geger hebat kalau saja tidak bersama Adipati Tejolaksono.

Melihat wanita sakti yang dianggap memberontak ini muncul disamping Adipati Tejolaksono, para perwira dan ponggawa Jenggala menjadi terheran-heran.

Lebih besar lagi keheranan dan kebingungan mereka ketika Adipati Tejolaksono membawa Endang Patibroto menghadap sang prabu.

Barulah mereka tercengang ketika mendengar pelaporan Adipati Tejolaksono tentang semua penistiwa yang telah terjadi, tentang siasat adu domba yang dilakukan oleh pihak Blambangan.

Bukan main besarnya penyesalan mereka ketika mendapat kenyataan bahwa Endang Patibroto sama sekali bukanlah seorang pemberontak, bahkan wanita sakti inilah yang telah menumpas Wiku Kalawisesa yang melakukan semua pembunuhan gelap dan keji itu!

Endang Patibroto bukan seorang yang berdosa terhadap Jenggala dan Panjalu, bahkan sebaliknya menjadi seorang yang amat berjasa!

Dan untuk semua jasanya itu, Pangeran Panjirawit, suaminya, ditangkap bahkan mengorbankan nyawanya terkena anak panah ketika dikeroyok!.

Yang paling menyesal dan berduka adalah Sang Prabu Jenggala sendiri.

Raja yang sudah mulai tua itu sampai berlinang air mata mendengar semua itu.

Panjirawit adalah puteranya dan dia sendiri yang membunuh puteranya melalui tangan para perajuritnya ketika mereka ini mengeroyok Endang Patibroto!

Karena menyesal dan berduka, sang prabu menjadi marah sekali kepada Blambangan dan setelah menerima pelaporan Adipati Tejolaksono dan Endang Patibroto, seketika itu juga Sang Prabu di Jenggala mengumumkan perang terhadap Blambangan, memerintahkan barisan besar untuk menggempur Blambangan dan menyerahkan pimpinan pasukan kepada Endang Patibroto sendiri!

Adapun Adipati Tejolaksono, sebagai seorang ponggawa Panjalu, lalu berpisah dari Endang Patibroto yang terpaksa hams mempersiapkan pasukan-pasukan Jenggala, untuk menghadap sang prabu di Panjalu menyampaikan laporan.

"Adinda, untuk sementara kita hams berpisah. Engkau laksanakanlah perintah Sang Prabu dan persiapkan pasukan yang kuat. Aku akan melaporkan ke Panjalu, dan tidak lama aku tentu akan memimpin pasukan Panjalu untuk menggabung dan kita berdua akan kembali ke Blambangan membawa pasukan kuat dan mengancurkan Blambangan."

Endang Patibroto mengangguk.

Betapapun besarnya cinta kasihnya kepada Adipati Tejolaksono dan betapapun inginnya tidak berpisah lagi dari suaminya ini, namun sebagai seorang perkasa ia mengenal kewajiban.

Sudah pulih kembali kegagahannya, sudah bangkit lagi jiwa ksatrianya.

"Baiklah, kakanda. Akan tetapi jangan terlalu lama Kakanda ke Panjalu. Saya menanti dan kita bersama akan pergi menggempur Blambangan."

Adipati Tejolaksono lalu meninggalkan Jenggala sedangkan Endang Patibroto mulai mempersiap kan dan melatih pasukan sambil membuat rencana dengan para senopati yang akan ikut menggempur Blambangan.

Para senopati yang kini sudah tahu akan duduknya perkara, dan sudah mengenal kesaktian wanita ini, semua tunduk dan taat akan perintahnya.

Juga sang priibu di Panjalu bersama para senopati tercengang mendengar laporan yang disampai kan Adipati Tejolaksono.

Sungguh tidak mereka duga bahwa Blambanganlah yang menjadi biang keladi semua peristiwa itu.

Pangeran Darmokusumo tidak menyesal mendengar betapa Endang Patibroto menyerbunya karena dihasut oleh Wiku Kalawisesa, bahkan ia menjadi marah sekali kepada Blambangan.

Seketika itu juga Pangeran Darmokusumo mohon kepada sang prabu untuk memimpin barisan Panjalu menggempur Blambangan!.

"Biarlah hamba menggabungkan barisan Panjalu dengan barisan Jenggala yang dipimpin yayi Endang Patibroto, Kanjeng Rama. Hamba harus membalas kematian Adimas Pangeran Panjirawit! Juga kematian para ponggawa haruss dibalas!"

"Hamba juga siap untuk membantu dalam perang melawan Blambangan!"

Kata pula Adipati Tejolaksono penuh semangat.

"Seyogianya memang andika yang paling tepat memimpin barisan menjadi senopati perang, Kakang Adipati,"

Kata Pangeran Darmokusumo.

"Akan tetapi Pangeran ini menghentikan kata-katanya dan memandang kepada ramandanya. Adipati Tejolaksono dapat menangkap pandang mata ini. Hatinya merasa tidak enak sekali dan is cepat bertanya.

"Ada apakah, Gusti Pangeran? Apakah yang terjadi?"

Sang prabu mendehem beberapa kali, lalu menarik napas panjang.

"Adipatiku yang baik! Kami khawatir bahwa engkau tak mungkin ikut menggempur Blambangan dan hams cepat kembali ke Selopenangkep. Ketahullah bahwa sepergimu dari sana, Selopenangkep telah diserbu oleh pasukan-pasukan dari barat yang kabarnya adalah gabungan dari para pemberontak Bagelen dan kerajaan-kerajaan kecil di Lembah Serayu yang dipimpin oleh Gagak Dwipa. Kami telah mengirim pasukan bantuan ke Selopenangkep dan perang di daerah itu masih belum dapat dipadamkan. Karena itu,. engkau hams cepat pergi ke sana untuk menanggulangi musuh dari barat itu!"

Di dalam hatinya, sang adipati kaget bukan main, namun wajahnya yang tampan tidak menampakkan perasaan hatinya ini.

Teringat ia akan ucapan kakek tua renta yang memperingatkannya di dalam hutan.

Kakek pemelihara macan putlh itu telah Memperingatkan bahwa ia akan segera meninggalkan Selopenangkep, dan telah membayangkan bahwa akan datang malapetaka sebagai hukumannya atas kedosaannya membunuh anak harimau yang tak bersalah apa-apa.

"Hamba menerima titah paduka, Gusti. Hamba akan segera kembali ke Selopenangkep. Hanya karena hamba tadinya telah berjanji dengan yayi Endang Patibroto untuk bersama-sama menggempur Biambangan, maka hamba mohon kepada Gusti Pangeran Darmokusumo untuk menyampaikan halangan ini kepada Yayi Dewi Endang Patibroto."

"Baiklah, Kakang Adipati Tejolaksono,"

Jawab Pangeran Darmokusumo.

Setelah bermohon diri, berangkatlah Adipati Tejolaksono menuju pulang ke Selopenangkep.

Ia menunggang sebuah kuda besar yang kuat karena kuda tunggangannya sendiri yang dibawanya ketika melakukan pengejaran ke Blambangan, masih ia titipkan pada seorang dusun dan ketika ia melarikan diri bersama Endang Patibroto melalui terowongan, tak dapat ia mengambilnya kembali.

Kuda tunggangannya inipun bukan kuda sembarangan karena kuda ini pemberian Sang Prabu Panjalu sendiri.

Tejolaksono melakukan perjalanan siang malam dengan cepat.

Hatinya mulai gelisah sekali.

Ia memang percaya penuh kepada isterinya yang bukan orang lemah, apalagi di sana terdapat kedua orang bibinya, Kartikosari dan Roro Luhito yang sukar dicari tandingannya, di samping para pengawalnya yang pilihan dan terlatih pula.

Ia tidak akan merasa gelisah kalau Selopenangkep hanya menghadapi serangan gerombolan-gerombolan liar.

Akan tetapi kali ini yang menyerang adalah pasukan-pasukan besar yang dipimpin oleh Gagak Dwipa!

Dan ia sudah cukup mendengar tentang kekuatan pasukan-pasukan Bagelen dan Lembah Serayu!

Tahu pula akan kesaktian dan kekejaman Lima Gagak Serayu!

Ia sudah mendengar betapa Lima Gagak Serayu ini sudah bertahun-tahun merajalela di sepanjang Lembah Serayu.

Akan tetapi oleh karena mereka itu tidak pernah mengganggu wilayah Selopenangkep, ia membiarkannya saja.

Kini mendengar mereka itu menyerbu Selopenangkep dengan pasukan besar yang digabungkan dengan pasukan Bagelen, inilah hebat dan berbahaya!

Lebih tidak enak lagi hatinya ketika ia sudah tiba di wilayah Selopenangkep sebelah timur, la melihat banyak penduduk dusun yang pergi mengungsi ke timur.

Mereka ini tidak mengenal adipati mereka yang ketika ditanya mereka mengatakan bahwa pasukan-pasukan Bagelen dan Lembah Serayu membakari dusun-dusun di sebelah barat, membunuh dan merampok, memperkosa wanita-wanita muda dan bahwa Selopenangkep setiap hari sudah diserbu oleh para pengacau!.

"Selopenangkep tidak akan dapat bertahan lama!"

Demikian penuturan seorang di antara mereka.

"Dan lebih baik kamu mengungsi lebih dulu sebelum para perampok itu datang menyerbu ke dusun kami."

Sakit hati Adipati Tejolaksono mendengar ini.

"Si keparat Lima Gagak Serayu! Berani engkau mengganggu rakyatku selama aku tidak berada di Selopenangkep!"

Geram hatinya dan ia melanjutkan perjalanannya dengan cepat.

Kurang lebih sepuluh pal lagi jauhnya dan kota kadipaten, dari jauh ia mendengar ribut-ribut di dalam dusun di depan, bahkan tampak asap mengepul tinggi.

Mereka telah berani merampoki dusun-dusun di sekeliling Selopenangkep yang hanya sepuluh pal jauhnya!

Tejolaksono membalapkan kudanya yang sudah lelah itu masuk ke dusun dan amarahnya berkobar-kobar ketika ia melihat banyak sekali perampok tinggi besar sedang mengamuk di dusun.

Para penduduk lari cerai berai dan mayat berserakan.

Empat buah rumah sudah terbakar.

Jerit lengking wanita terdengar di sana-sini.

Dan di tengah-tengah dusun terjadi perang tanding mati-matian antara tiga puluh orang lebih perajurit Panjalu melawan perampok.

Akan tetapi tidak seimbang perang itu.

Pihak perampok ada seratus orang lebih dan pihak perajurit sudah terdesak hebat!

"Bedebah!"

Seru Tejolaksono dan pada saat itu terdengar jerit mengerikan keluar dari sebuah rumah terdekat.

Tejolaksono melompat turun dan atas kudanya.

Jerit itu adalah jerit wanita, maka ia hams mendahulukan untuk menolongnya.

Sekali tendang, daun pintu ambrol dan tubuhnya melesat ke dalam dengan penuh kemarahan.

Tangannya menyambar dan terangkatlah tubuh tinggi besar itu seperti seekor anak ayam disambar elang.

Di lain saat tubuh Tejolaksono sudah berada di luar rumah dan sekali ia membanting, tubuh orang tinggi besar -itu sudah ia banting.

Orang itu menjerit satu kali dan tak bergerak lagi karena kepalanya pecah dan tulang-tulang iganya berantakan!

Wanita di dalam jatuh pingsan dengan pakaian robek-robek!

Adipati Tejolaksono yang sudah menjadi marah laksana seekor harimau kelaparan mencium darah, kini berlari ke depan.

Ia menyelinap ke kanan ketika mendengar pekik wanita yang meronta-ronta dan dipanggul di atas pundak seorang perampok yang tertawa-tawa.

Wanita ini masih muda, rambutnya awut-awutan, pakaiannya robek-robek hampir telanjang.

Ia meronta dan menjerit minta dilepaskan.

Tiba-tiba tubuh wanita itu terlepas karena sekali pundak perampok itu tercium jari tangan Tejolaksono, seketika tangannya lumpuh.

Wanita itu terjatuh lalu melarikan diri Si perampok memandang ganas kepada Tejolaksono, akan tetapi sebelum ia sempat bergerak, kaki Tejolaksono menyambar ke depan, mengenai pusatnya dan perampok itu terlempar sampai lima meter dan roboh dengan mata mendelik dan napas putus karena isi perutnya sudah hancur lebur di balik kulit perut yang menjadi biru menghitam!

Kini mengamuklah Adipati Tejolaksono.

Biarpun ia menggunakan tangan kosong, namun ketika ia menyerbu ke dalam pertempuran, mawutlah pihak perampok.

Siapa saja pihak perampok yang kena digerayang tangannya yang penuh dengan Aji Pethit Nogo, tentu terpelanting dengan kepala pecah, tidak usah dipukul sampai dua kali!

Para perajurit Panjalu menjadi besar hati melihat ini, apalagi ketika mereka mengenal siapa jagoan Sakti yang membantu mereka Ini.

"Sang Adipati telah tiba. !"

"Gusti Adipati Tejolaksono telah pulang……!"

"Hidup Gusti Adipati. !! "

Adipati Tejolaksono yang sudah marah sekali berkelebat maju dan sekali bergerak, tiga orang perampok terpelanting tak bernyawa lagi terkena pukulan kedua tangan dan disusul sebuah tendangannya!

Kini Tejolaksono melihat pemimpin perampok yang bermuka hitam bermata besar.

Pemimpin ini memegang sebatang golok besar yang sudah berlepotan darah.

Pemimpin perampok inilah yang sudah menjatuhkan banyak korban di antara para perajurit dan penduduk dusun karena memang ia kuat sekali.

Meluap kemarahan Adipati Tejolaksono.

la melompat jauh dan tahu-tahu ia sudah berhadapan dengan si kepala rampok.

"Setan keparat!!"

Tejolaksono memaki. Perampok bermuka hitam itu tadl sedang enak membabati musuh maka tidak melihat sepak terjang Tejolaksono yang menggiriskan hati. Kini ia tertawa.

"Ha-ha-hal Babo-babo, siapa lagi ini yang ingin mampus?"

Goloknya membabat dari kanan ke kiri, mengarah leher Adipati Tejolaksono.

Ia sudah tertawa-tawa membayangkan betapa leher itu akan putus dan muka yang tampan itu akan menggelinding bersama kepalanya seperti korban-korbanya yang lain karena goloknya menyambar amat cepatnya dan kelihatannya takkan dapat dihindarkan lawan.

"Singgg "

Ia terbelalak karena tahu-tahu goloknya mengenai angin ketika orang yang diserangnya itu menunduk.

Goloknya lewat tidak ada sejengkal dari kepala orang itu dan tahu-tahu entah bagaimana ia tidak tahu, orang itu sudah menyentuh siku kanannya dan goloknya terlepas dari pegangan karena tiba-tiba lengannya lumpuh.

Golok itu sebelum tiba di tanah, telah disambar oleh Tejolaksono sehingga kini golok berpindah tangan!

Kepala rampok itu marsh sekali, menggunakan tangan kirinya memukul, pukulan dengan kepalan tangan sebesar buah kelapa!

Tejolaksono mengangkat tangan kiri menangkis "Krakkkk!!"

Orang itu berteriak kesakitan karena tulang lengannya patah! la terbelalak, kini bare merasa jerih! "Siapa siapa engkau?"

Tanyanya gagap.

"Adipati Tejolaksono namaku.! "

"Aahhhhh............!"

Kepala rampok bermuka hitam itu berteriak kaget akan tetapi pada saat itu juga, kepalanya sudah mencelat ketika lehernya terbabat putus oleh goloknya sendiri!

Para perajurit Panjalu bersorak gembira, sebaliknya para perampok menjadi panik dan ketakutan.

Karena mereka ini sudah kacau-balau, enak saja Adlpati Tejolaksono dan para perajurit memba bati mereka sehingga banyak sekall anak buah perampok roboh binasa.

Yang lain-lain segera lari pontang-panting menyelamatkan diri.

Adipati Tejolaksono mematah-matahkan golok rampasannya dengan kedua tangan menjadi tujuh potong.

Kemudian kedua tangannya itu digerakkan ke depan dan "cet-cet-cet-cet-cet-cet-cet!!"

Tujuh sinar meluncur ke depan dan robohlah tujuh orang perampok yang betusaha lari karena punggung mereka telah dimasuki potongan-potongan golok itu.

Bahkan yang menyisip tulang sampai tembus keluar dari dada.

Para perajurit bersorak-sorak dan mengejar para perampok yang makin ketakutan.

Hanya belasan orang perampok saja yang berhasil melarikan diri dan dusun itu kini penuh dengan tumpukan mayat para perampok!

Setelah memberi pesan kepada para sisa perajurit agar melakukan penjagaan di daerah itu, Adipati Tejolaksono lalu melompat ke atas punggung kudanya dan membalapkan kuda itu terus ke barat, menuju Kadipaten Selopenangkep yang sudah tak jauh lagi letaknya.

Hatinya makin gelisah karena dari para perajurititu ia mendengar bahwa kadipaten sudah beberapa kali diserbu pasukan perampok yang amat kuat.

Hari telah menjadi senja ketika ia memasuki kota kadipaten yang kelihatan sunyi, namun penuh dengan para pengawal yang melakukan penjagaan.

Para perwira pengawal menyambut kedatangannya dengan wajah gembira, namun dengan pandang mata duka.

Adipati Tejolaksono tidak mau membuang banyak waktu lagi, terus membalapkan kuda memasuki kota, menuju ke gedung kadipaten.

Ia merasa betapa semua pandang mata para pengawal kepadanya mengandung iba dan duka, maka hatinya berdebar tidak enak ketika ia melompat turun dari kuda, menyerahkan kuda kepada seorang pengawal, kemudian ia meloncat dan lari memasuki gedungnya.

"Gusti Adipati tiba. !!"

"Gusti Adipati pulang............ , kita tertolong I!"

Teriakan-teriakan ini menggema di seluruh kadipaten, bahkan masuk ke dalam gedung kadipaten sebelum Adipati Tejolaksono sampai ke ruangan dalam.

Maka barn saja ia melewati pendopo, ia disambut Ayu Candra yang menjatuhkan diri berlutut, merangkul kakinya dan menangis!

Di belakang Ayu Candra yang berpakaian perang, ringkas dan dalam keadaan siap, menyambut pula Setyaningsih dan Pusporini, dua orang gadis cilik yang juga menangis.....

BAHKAN dua orang gadis cilik inipun berpakaian ringkas, pakaian untuk bertanding dan di pinggang mereka yang kecil tampak gagang keris!

Dapat dibayangkan betapa gelisah dan kaget hati Tejolaksono menyaksikan penyambutan isterinya ini.

Cepat ia membungkuk, memegang kedua pundak isterinya dan menariknya bangun sambil berkata.

"Tenangkanlah hatimu, yayi, dan ceritakan apa yang terjadi di sini."

Ayu Candra masih terisak-isak ketika ia dituntun suaminya memasuki ruangan dalam dan diajak duduk di situ. Setyaningsih dan Pusporini tidak berani --ikuf masuk dan segera mengundurkan diri.

"Aduh, Kakangmas.......... malapetaka telah menimpa keluarga kita selama Kanda pergi.........."

Ayu Candra kembali menangis.

".......... Bagus Seta.......... bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito "

Adipatl Tejolaksono merasa seakan-akan jantungnya berhenti berdetik. Punggung dan tengkuknya terasa dingin sekali. Kemball ia meraih isterinya dan bertanya, suaranya gemetar.

"Ada apa dengan mereka? Mana Bagus Seto ?"

".......... serangan pertama.......... sebulan yang lalu.......... di malam hari terjadi tlba-tiba. Keadaan menjadi kacau dan......dan anak kIta itu hilang "

"Apa. ? Tertawan oleh Lima Gagak Serayu??"

Pertanyaan ini mengandung kemarahan besar terhadap pimpinan para penyerbu itu.

"Mudah-mudahan tidak begitu, Kakangmas AdIpati. Mereka itu amat keji dan kejam! Ada di antara para pengawal kita yang melihat bahwa pada malam terjadinya penyerbuan itu ada seekor harimau putih yang besar sekali larikeluar dari taman sari dan.......... dan Bagus Seta menunggang di punggungnya."

"Aahhhh.......... harimau putih..........? Ki Tunggaljiwa. ?"

"Mudah-mudahan begitulah seperti yang diperkirakan pula oleh mendiang..... bibi Kartikosari "

"Haaaa. ???"

Kini Adipati Tejolaksono benar-benar terkejut, sampai pucat mukanya.

"Mendiang ?"

Ayu Candra terisak-isak dan berkata tersendat-sendat.

"Tiga hari berikutnya…...... dalam perlawanan terhadap para musuh yang dipimpin sendiri oleh bibi Kartikosari dan bibi Roro Luhito bibi Kartikosari tewas di tangan musuh "

"Dan bibi Roro Luhito ?"

"Terluka parah.......... kini beristirahat di kamarnya."

"Duh Jagad Dewa Bathara. !!"

Adipati Tejolaksono duduk termenung seperti arca.

Wajahnya pucat, matanya sayu dan bibirnya menggigil.

Isterinya hanya rnenangis terisak-isak.

Adipati Tejolaksono ingin sekali memukul kepala sendiri.

Mala petaka hebat terjadi di rumahnya.

Puteranya lenyap, bibinya tewas dan yang seorang terluka, rakyatnya banyak yang dirampok, dibakar rumahnya, diperkosa dan dibunuh, para perajuritnya banyak pula yang tewas.

Dan dia.

, dia bersenang-senang memadu kasih bersama Endang Patibroto!

Akan tetapi, haruskah ia menyalahkan diri sendiri?

Ah, tidak bisa!

Mereka berdua bukan sengaja hendak bersenang-senang!

Mereka berdua bukan sengaja hendak memadu kasih karena terdorong nafsu belaka!

Tidak!

Mereka berduapun terancam bahaya hebat yang nyaris merenggut nyawa mereka.

Dan keberangkatannya ke Blambangan adalah karena tugas yang dibebankan sang prabu ke atas pundaknya, seperti juga pada saat ini Endang Patibroto dibebani tugas menyerbu Blambangan.

Nyawa manusia di tangan Hyang Widhi.

Nyawa manusia setiap saat terancam maut.

Kalau Hyang Widhi menghendaki, tiada kekuasaan apapun di dunia ini yang dapat merubah jalan hidup seseorang.

Yang dapat merubah saat datangnya kematian!

"Bagaimanakah Bibi Kartikosari dan Bibi Roro Luhito yang sakti mandraguna sampai terkalahkan oleh musuh?"

"Kedua orang bibi Itu tidak dapat menahan kemarahan ketika mendengar akan sepak terjang dan kekejaman para perampok yang merusak dusun-dusun di sekitar Selopenang kep. Mereka membawa pasukan dan mengejar jauh keluar kadipaten, ke dusun-dusun. Akan tetapi pasukan mereka terkepung dan karena jumlah lawan jauh lebih banyak, mereka terje bak dan dikeroyok oleh Lima Gagak Serayu dengan anak buah mereka.Bibi Kartikosari terlu ka parah dan biarpun dapat dilarikan pleh Bibi Roro Luhito yang juga luka-luka sampal ke kadipaten, namun Bibi Kartikosari meninggal karena terlalu banyak kehilangan darah. Bebera pa kali kadipaten diserbu musuh, namun kami dan para pengawal yang setia dapat memper tahankan kadipaten."

"Sudahlah, keringkan air matamu, nimas. Setelah aku berada di sini, aku akan membalaskan kematlan Bibi Kartikosari, kemudlan setelah musuh dapat terbasmi, aku akan menyusul Bagus Seta ke Merapi."

Adipati Tejolaksono tidak membuang waktu lagi. Ia menengok Roro Luhito yang biarpun terluka parah namun tidak membahayakan nyawanya.

"Sayang kau datang terlambat.......... sebetulnya aku dan Bibimu Kartikosari tidak akan kalah melawah Lima Gagak Serayu.......... akan tetapi. musuh terlalu banyak.......... dan Bibimu Kartikosari mengamuk, memisahkan diri.......... ah, maafkan, anakku. Kami tidak dapat menjaga.......... puteramu Bagus Seta.........."Sudahlah, Kanjeng Bibi. Yang sudah terjadi tidak perlu disesalkan lagi. Semua sudah dikehendaki Hyang Widhi. Pembelaan sudah cukup dan saya amat berterima kasih. Saya sendiri akan menghajar Lima Gagak Serayu!"

Kata Adipati Tejolaksono.

Adipati ini segera mengumpulkan semua pengawal dan barisan bantuan dari Panjalu, menyusun barisan dan rnembagi-bagi tugas.

Sebagian daripada pasukan bertugas menjaga kadipaten, dipimpin sendiri oleh Ayu Candra.

Kemudian Adipati Tejolaksono memimpin pasukan pilihan, keluar dari kadipaten dan mulailah pasukan istimewa ini melakukan pengejaran dan pembersihan ke dusun-dusun di sekitar Selopenangkep.

Karena dipimpin sendiri oleh Adipati Tejolaksono yang sakti mandraguna,maka semangat pasukan ini hebat sekali.

Setiap gerombolan perampok yang mengganas dan bertemu dengan pasukan ini dihancurkan, jarang ada yang dapat melarikan diri.

Mawutlah gerombolan-gerombolan perampok Bagelen dan Lembah Serayu.

Mereka mundur terus bahkan lalu menggabung dengan induk pasukan di sebelah barat, dan terus dikejar oleh Adipati Tejolaksono.

Pasukan sang adipati makin lama makin besar karena ke manapun pasukan itu tiba, selalu disambut oleh rakyat yang menjadi girang sekali dan di situlah pasukan bertambah besar dengan adanya rakyat yang menggabungkan diri untuk membalas dendam kepada perampok yang mengganas selama ini.

Bala bantuan dari Panjalu yang diminta oleh Adipati Tejolaksono yang mengirim utusan ke sana, tiba tak lama kemudian, maka makin kuatlah barisan Kadipaten Selopenangkep.

Akhirnya, setelah mengejar dan menghancurkan banyak gerombolan sebulan kemudian pasukan Adipati Tejolaksono yang kini menjadi besar jumlahnya bertemu dengan induk pasukan Lima Gagak Serayu.

Terjadilah perang tanding yang amat hebat!

Perang tanding yang terjadi di lembah Serayu ini amat hebat dan ia jadi cerita perajurit yang lobos dari maut untuk diceritakan kepada anak cucu mereka kelak.

Perang ini terkenal dengan sebutan Perang Serayu yang amat dahsyat.

Ribuan orang, sebagian besar di pihak gerombolan Bagelen dan gerombolan Lembah Serayu, tewas dalam perang ini.

Biarpun pihak pasukan Adipati Tejolaksono kalah banyak, namun mereka ini menang semangat dan memang pasukan pengawal Kadipaten Selopenangkep dan pasukan bantuan dari Panjalu adalah pasukan istimewa yang rata-rata terdiri dari perajurit-perajurit gemblengan dan pilihan.

Apalagi karena mereka ini semua dipenuhi dendam kemarahan terhadap para gerombolan yang sudah mengacau daerah mereka, sudah membinasakan dan merusak dusun-dusun.

Sepak terjang barisan di bawah pimpinan Adipati Tejolaksono seperti banteng ketaton (terluka).

Menurut cerita, sampai tiga hari tiga malam perang tanding ini berlangsung, dan mereka yang berhenti untuk makan atau tidur digantikan oleh rombongan lain.

Adipati Tejolaksono sendiri menjadi buah bibir semua orang yang ikut beryuda, baik dari pihak lawan maupun pihak kawan.

Barisan Selopenangkep menjadi makin besar semangatnya menyaksikan sepak terjang Adipati Tejolaksono sedangkan pihak lawan menjadi giris hatinya.

Menurut cerita para perajurit kemudian, jika lapar, sang adipati ini mengepal nasi.

dan makan dengan tangan kanan sedangkan tangan kiri yang memegang keris terus mengamuk.

Setiap kepal nasi yang memasuki mulut diantar dengan nyawa seorang musuh yang roboh oleh kerisnya!

Bahkan ada yang bilang bahwa sang adipati ini tidur sambil berperang!

Jasmaninya tertidur, akan tetapi dalam tidur itu sang adipati bermimpi mengamuk dan berperang merobohkan banyak sekali perajurit lawan!

Pada hari ke tiga, terjadilah perang tanding yang amat dahsyat antara Adipati Tejolaksono yang dihadapi oleh Lima Gagak Serayu sendiri!

Di sinilah letak pertandingan yang akan memutuskan keadaan perang itu.

Lima Gagak Serayu adalah lima orang kakak beradik yang tinggi besar dan memiliki kesaktian yang luar biasa, juga masing-masing mempunyai keistimewaan sendiri, akan tetapi rata-rata bertubuh kebal.

Banyak perajurit Selopenangkep yang roboh dan tewas di tangan mereka ini.

Golok dan tombak tak dapat melukai tubuh mereka dan sekali mereka menggunakan bedog (golok) mereka yang lebar dan berat, tentu tubuh lawan terpotong menjadi dua.

Karena inilah maka Adipati Tejolaksono sengaja mencari mereka dan kini, di waktu siang dan panas sedang membakar medan perang, sang adipati bertemu dengan lima orang pimpinan barisan musuh itu.

Orang pertama dari mereka adalah Gagak Dwipa, yang paling sakti di antara mereka.

Sama tinggi besar dengan adik-adiknya, hanya karena ia paling kurus maka kelihatan paling tinggi.

Permainan bedog di tangannya amat cepat dan kuat dan memang dialah yang terpandai di antara kelima orang Gagak Serayu itu.

Orang ke dua adalah Gagak Kroda yang memiliki tubuh paling besar dengan otot-otot melingkar-lingkar di seluruh tubuh, terutama di kedua lengannya yang sebesar kaki manusia lumrah.

Demikian kuat dan kebal si Gagak Kroda ini sehingga ia bersombong bahwa setiap pagi ia "sarapan"

Golok dan tombak yang harus ditusuk-tusukkan dan dibacok-bacokkan pada tubuhnya untuk menghilangkan gatal-gatal dan kekakuan tubuhnya!

Orang ke tiga adalah Gagak Tirta yang di samping kesaktiannya, juga memiliki keistimewaan bermain di dalam air.

Kabarnya dia ini sanggup menyelam ke dalam air sampai setengah hari lamanya!

Senjatanya juga bedog, akan tetapi dia memiliki sebuah senjata rahasia yang aneh, yaitu sehelai jaring yang kuat sekali.

Orang ke empat dan ke lima adalah Gagak Maruta dan Gagak Legawa.

Sejenak Adipati Tejolaksono yang berdiri berhadapan dengan lima orang lawannya itu memandang dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan.

Ia memandang dengan penuh perhatian lima orang yang telah membikin kacau daerahnya ini, dan sinar matanya menyapu mereka seperti lecutan cambuk sakti.

Lima orang itu tak tahan menentang pandang mata Adipati Tejolaksono dan untuk menyembunyikan kegentaran hati mereka tertawa-tawa mengejek.

"Heh, si keparat Gagak Serayu berlima! Sudah lama aku mendengar kejahatan kalian di sepanjang Lembah Serayu, akan tetapi selama itu aku berdiam diri saja karena jalan hidup kita memang tak pernah saling bersilang. Akan tetapi mengapa kalian berani mengganggu Selopenangkep secara pengecut, selagi aku tidak berada di sana?"

"Babo-babo, Adipati Tejolaksono! Sudah lama kami menanti saat ini untuk berhadapan dengan senjata di tangan denganmu! Ingatkah engkau ketika engkau dahulu masih menjadi seorang bocah gunung yang hina? Ingatkah engkau bahwa sejak dahulu engkau memusuhi orang-orang dari Bagelen dan Lembah Serayu?"

"Hemmm, aku tidak ingat lagi karena terlampau banyak orang jahat yang terpaksa menjadi lawanku. Aku tidak memusuhi siapa-siapa kecuali orang jahat, dari manapun datang dan asalnyal"

"Ha-ha-ha-ha! Demi setan jin brekasakan! Kau hendak memungkiri? Lupakah engkau kepada Ki Krendoyakso dari Bagelen? Dia adalah kakak segemblengan kami! Dan lupa pula engkau kepada Sang Dibyo Mamangkoro? Dia adalah bekas junjungan kami!"

Adipati Tejolaksono mengangguk-angguk.

Mengertilah ia kini mengapa mereka ini memusuhinya, adapun Dibyo Mamangkoro adalah dia sendiri yang membunuhnya (baca Badai Laut Selatan)!

"Ah, kiranya kalian ini segolongan mereka?

Tentu saja aku masih ingat kepada tokoh-tokoh jahat itu.

Nah, inilah dadaku, Gagak Serayu!

Inilah aku Adipati Tejolaksono yang takkan undur setapakpun menghadapi keganasan kalian.

Majulah, tandingilah Tejolaksono!"

"Ha-ha-ha-ha!"

Kembali Gagak Dwipa tertawa bergelak.

"Sumbarmu seperti hendak mengeringkan air Kali Serayu! Ketahuilah bahwa saat kematianmu sudah berada di depan mata, Tejolaksono. Rasakan ini.......... haaiiiiittttt. .. -"

Gagak Dwipa menerjang maju menggerakkan bedognya secepat kilat.

Adipati Tejolaksono hanya merendahkan tubuh sedikit untuk mengelak, akan tetapi pada saat itu, empat orang Gagak yang lain sudah menyambar dari kiri kanan dan bedog mereka menyambar-nyambar sampai mengeluarkan suara berdesing.

Adipati Tejolaksono mengerahkan Aji Bayu Sakti sehingga tubuhnya menjadi seringan kapas tertiup angin, melayang ke sana ke marl menghindarkan diri daripada hujan sinar kilat senjata kelima, orang pengeroyoknya.

Iapun cepat mencabut keris Megantoro dari pinggangnya dan terjadilah pertandingan yang luar biasa hebatnya.

Lima orang itu selain bertenaga besar dan dapat bergerak cepat, juga memiliki kerja sama yang amat rapi sehingga gerakan mereka seolah-olah teratur sekali, dapat saling menjaga dan saling bantu.

Mereka ini memang sedang mainkan ilmu silat barisan yang mereka sendiri namakan Gagak Yuda.

Gerakan mereka teratur seperti seekor burung gagak bertanding dan kelima orang itu merupakan kedua cakar, kedua sayap, dan sebuah paruh yang dapat bekerja sama dengan baik, kadang-kadang sekaligus menerjang maju, kadang-kadang yang satu menyerang yang lain melindungi.

Di lain pihak, Adipati Tejolaksono memiliki kelincahan yang sedemikian cepatnya sehingga lima pasang mata lawan sampai-sampai menjadi silau dan kabur.

Pertandingan itu seakan-akan lima ekor burung gagak mengepung seekor garuda!

Selain amat seru menyeramkan, juga amat indah ditonton sehingga para anak buah kedua belah pihak yang kebetulan bertempur di dekat tempat itu, otomatis tanpa diperintah menunda pertandingan mereka sendiri dan berdiri melingkari medan pertempuran itu, menonton dan menjagoi pimpinan masing-masing!

Hanya mereka yang jauh saja yang masih melanjutkan perang tanding.

Pertandingan antara Tejolaksono dan lima orang Gagak Serayu itu makin seru dan hebat.

Tejolaksono memang sakti, lebih lincah dan lebih kuat, namun ia menghadapi kerja sama yang amat rapi sehingga tidak banyak mendapat kesempatan untuk balas menyerang.

Ksatria yang sakti itu maklum bahwa kalau ia melanjutkan cara bertanding seperti ini, yaitu hanya mempertahankan dan membela diri, ia akan celaka karena setiap serangan kelima orang itu tidak boleh dipandang ringan, penuh dengan tenaga yang didasari hawa sakti.

Apalagi, ia telah berperang tanpa mengenal istirahat sehingga tubuhnya mulai lelah.

Ia harus cepat-cepat mengakhiri pertandingan ini dengan pengerahan tenaga yang dahsyat.

Sayang bahwa perasaannya tidaklah se-marah dan sakit hati seperti sebelum lima orang Gagak Serayu ini memperkenalkan diri sebagai adik seperguruan Ki Krendoyakso tokoh Bagelen itu.

Tadinya ia memang marah dan sakit hati atas kematian Bibi Kartikosari, akan tetapi setelah ia mendengar bahwa mereka ini saudara Ki Krendroyakso, ia dapat memaklumi sikap mereka memusuhinya dan lenyaplah sakit hatinya.

Mereka ini memang musuh dan mereka memusuhi nya adalah hal yang sewajarnya.

Dan karena ia tidak marah dan tidak lagi merasa sakit hati, akan percuma sajalah kalau ia menggunakan Aji Triwikrama, sebuah aji yang hanya dapat dilakukan dalam keadaan marah dan sakit hati.

Ia lalu mengumpulkan tenaga batinnya dan meledaklah pekiknya yang dahsyat, yaitu pekik Dirodo Meta yang keluar dari dadanya.

Lima orang lawannya tergetar dan terkejut.

Saat itu dipergunakan oleh Tejolaksono untuk, menubruk dada Gagak Dwipa yang merupakan lawan paling tangguh.

Akan tetapi sungguh di luar dugaannya.

Lima orang itu benar-benar sudah merupakan lima orang dengan satu perasaan agaknya.

Tanpa dikomando lagi, lima batang golok itu sudah menangkis kerisnya dengan kekuatan yang amat hebat!

"Tranggggg…..!!!"

Pengerahan tenaga yang amat hebat dari Adipati Tejolaksono tersalur di dalam keris Megantoro dan akibat dari pertemuan senjata ini hebat sekali karena berbareng dengan suara yang amat nyaring ini tampak api berpijar menyilaukan mata dan lima batang golok itu patah semua!

Akan tetapi, karena sebuah di antara golok yang patah itu meleset dan menyambar turun menggores lengan sang adipati, maka keris itu pun terlepas dari tangan Tejolaksono!

Melihat bahwa lawan yang dikeroyok inipun kehilangan senjatanya, Lima Gagak Serayu menjadi girang dan sambil berteriak ganas mereka menubruk dan mengirim serangan serentak.

Namun Tejolaksono juga sudah siap.

Begitu lima orang lawan bergerak menyerang nya penuh nafsu, la melihat kesempatan baik sekali.

Tubuhnya mengelak ke kiri, melewatkan tiga pukulan lawan dan sengaja menerima hantaman dua orang gagak yang ia terima dengan dada dan pundaknya sambil mengerahkan tenaga, namun berbareng jari-jari tangan kanannya menusuk dengan Aji Pethit Nogo ke arah dada Gagak Legawa dan tangan kirinya menangkis pukulan susulan dari Gagak Dwipa.

"Dessss.......... krakkk. !!"

Tubuh Tejolaksono yang menerima pukulan Gagak Maruta di dada kiri dan hantaman Gagak Legawa di pundak itu hanya tergoncang seperti sebatang pohon beringin diserang angin lalu, akan tetapi jari-jari tangan kanannya amblas masuk ke dalam dada Gagak Legawa, mematahkan tulang-tulang iganya!

Gagak Legawa berteriak ngeri dan roboh berkelojotan.

Seorang di antara lima Gagak Serayu, menjadi korban dan tewas.

Para perajurit Selopenangkep yang menonton pertandingan dahsyat itu bersorak gembira, sebaliknya pihak pasukan Lembah Serayu marah dan gelisah.

"Siuuuuuttttt !!"

Benda yang berubah menjadi bayang-bayang hitam yang amat lebar itu adalah senjata rahasia Gagak Tirta, yakni sehelai jaring yang amat lebar dan ujungnya dikelilingi mata kaitan terbuat daripada baja.

Jaring itu sendiri terbuat daripada kawat-kawat halus yang amat kuat.

Dengan jaring pusakanya yang ampuh ini, Gagak Tirta sanggup menangkap hidup-hidup seekor harimau!

Karena secara otomatis, tiga orang Gagak yang lain dengan kemarahan meluap-luap melihat kematian Gagak Legawa juga menerjang maju dengan pukulan tangan kosong dari kanan kiri sehingga tertutuplah jalan keluar bagi Tejolaksono, maka adipati inipun memutar tubuh menangkis pukulan-pukulan itu dan sengaja membiarkan dirinya disambar jaring.

Ia tidak takut menghadapi jaring itu, bahkan adipati yang sakti dan cerdik ini hendak menggunakan kesempatan ini untuk mencapai kemenangannya.

Empat orang Gagak Serayu berseru girang dan anak buah mereka bersorak ketika melihat betapa tubuh Adipati Tejolaksono terselimut dan tertangkap oleh jaring itu, Tejolaksono meronta dan mendapat kenyataan bahwa jaring ini benar-benar amat kuat, dan pada saat itu, Gagak Tirta menyendal tali jaringnya sehingga tanpa dapat dicegah lagi tubuh Tejolak sono terguling roboh!

Makin riuh sorak sorai anak buah Gagak Serayu dan makin kecil hati para perajurit Selopenangkep melihat jagoan mereka tertangkap!

Akan tetapi pada saat yang memang dinanti-nanti oleh Tejolaksono itu, tiba-tiba tubuh sang adipati yang terguling tadi terus bergerak bergulingan dengan kecepatan yang tak tersangka-sangka.

Tahu-tahu tubuh yang berada dalam libatan jaring ini telah menggelundung ke arah lawan.

Empat orang Gagak Serayu kaget dan meloncat, namun kurang cepat bagi Gagak Tirta yang memegang ujung tali jaring.

Kakinya tertangkap tangan Tejolaksono yang menyambar dari dalam jaring sehingga Gagak Tirta dapat ditarik roboh!

Gagak Maruta yang berada paling dekat, cepat menubruk maju untuk menolong adiknya, hendak merampas adiknya yang kakinya terpegang lawan.

"Maruta................... mundur. !"

Gagak Dwipa memperingatkan adiknya, namun terlambat karena pada saat Tejolaksono yang menggunakan aji kekuatan sakti, sudah melompat bangun dengan kaki Gagak Tirta rnasih dipegangnya dan tubuh lawan ini ia ayun sedemikian rupa merupakan senjata yang luar biasa.

Gagak Maruta hendak menghindar, namun terlambat.

"Prakkk ii"

Suara keras beradunya kepala Gagak Maruta dengan kepala Gagak Tirta ini disusul pekik yang mengerikan, pekik kematian dua orang kakak beradik itu yang pecah kepalanya!

Darah dan otak keluar muncrat-muncrat dan Adipati Tejolaksono cepat membebaskan diri dari libatan jaring untuk menghadapi lawannya yang kini hanya tinggal duaorang lagi, yaitu Gagak Dwipa dan Gagak Kroda.

Akin tetapi, pada saat itu para anak buah pasukan Lembah Serayu sudah menerjangnya dan disambut pula oleh perajurit-perajurit Selopenangkep yang mendapat hati.

Ketika Tejolaksono keluar dari jaring dan melihat, ternyata dua orang pimpinan musuh itu sudah lenyap, lari sambil membawa pergi mayat tiga orang adik mereka!

Tejolaksono tidak mengejar, melainkan memimpin anak buahnya menghajar musuh.

Perang itu selesai pada sore hari itu juga.

Karena kehilangan pimpinan, para pasukan Lembah Serayu yang terdiri dari perampok-perampok dan bajak menjadi kacau, apalagi karena mereka sudah jerih dan ketakutan ketika mendengar berita bahwa Lima Gagak Serayu yang mereka agul-agulkan itu kalah oleh Adipati Tejolaksono.

Bubarlah mereka, melarikan diri ke seberang barat Sungai Serayu.

Ada pula yang melarikan diri ke utara untuk bersembunyi di dalam hutan-hutan di kaki dan lereng Gunung Slamet, Gunung Beser, atau Gunung Ragajembangan.

Adipati Tejolaksono dan pasukannya membuat pembersihan, mendapat kemenangan besar dan disambut oleh rakyat dari Lembah Serayu sampai ke Selopenangkep dengan penuh kegirangan dan terima kasih.

Akan tetapi sang adipati sendiri tetap tidak bergembira, bahkan wajahnya muram dan keningnya selalu berkerut.

Ia tetap gelisah teringat akan putera tunggalnya, Bagus Seta.

##### Apakah yang telah terjadi atas diri Bagus Seta?

Anak yang baru berusia sepuluh tahun ini telah, mewarisi sifat-sifat ayah bundanya.

Ia tidak pernah mengenal takut, bersikap tenang dan biarpun masih kanak-kanak, namun sudah nnempunyai pandangan yang jauh dan cerdik, tidak kekanak-kanakan.

Selain memiliki sifat-sifat ksatria ini, Bagus Seta juga semenjak kecil digembleng oleh ayahnya sendiri dengan ilmu sehingga biarpun ia belum memiliki kedigdayaan yang hanya dicapai oleh seseorang dengan latihan-latihan yang matang, namun ia sudah memiliki tubuh yang kuat, hati yang tabah dan pikiran yang cerdas.

Nama yang diberikan ayah bundanya kepadanya, yaitu Bagus Seta, selain untuk mengingat nama Joko Seta bekas tunangan ibunya yang gugur di dalam perang membela Kerajaan Panjalu, juga amat cocok dengan kulit tubuh anak ini yang putih kuning dan wajahnya yang amat tampan.

Yang amat menyolok pada diri Bagus Seta adalah sepasang matanya yang bersinar-sinar dan amat tajam itu dan mulutnya yang membayangkan hati yang tabah, kemauan yang keras, dan watak yang berbudi dan welas asih.

Ketika Kadipaten Selopenangkep diserbu oleh gerombolan perampok Lembah Serayu, Bagus Seta sedikitpun tidak menjadi takut.

Seperti halnya dua orang bibinya yang masih kecil, yaitu Setyaningsih dan Pusporini, Bagus Seta juga siap untuk ikut berperang!

Sebatang keris kecil terselip di pinggang, bahkan goloknya yang kecil, yang biasa ia pakai berlatih jika diajar oleh ayahnya, kini tergantung di pinggangnya.

"Ibu, kalau ada perampok jahat berani masuk ke rumah kita, kita gempur mereka sampai habis!"

Demikian kata-kata yang keluar dari mulut anak ini.

"Betul, aku juga tidak takut!"

Kata Setyaningsih dengan suara nyaring.

"Aku juga!"

Kata Pusporini dengan mata bercahaya.

"Husssshhh i Anak-anak, kalian tidak boleh keluar,"

Pesan Kartikosari dan Roro Luhito yang sudah siap menerjang musuh.

"Sembunyi saja dalam kamar dan baru boleh melawan kalau sampai ada musuh yang menyerbu masuk ke kamar kalian."

Setyaningsih dan Pusporini tidak berani membantah ibu mereka, juga di depan ibunya yang memerintah kan agar dia berdiam di dalam kamar, Bagus Seta tidak berani membantah.

Akan tetapi begitu ia mendengar malam itu suara hiruk-pikuk di luar kamarnya dan mendengar dari para pelayan yang ketakutan bahwa para gerombolan perampok sudah menyerbu istana kadipaten, hati Bagus Seta berdebar penuh kemarahan dan ketegangan.

Ia marah sekali karena menganggap para perampok itu pengecut, melakukan penyerbuan pada saat ayahnya tidak berada di rumah.

Coba kalau ayahnya berada di rumah, sudah lama para perampok itu dibasmi habis.

Ia merasa penasaran sekali akan perintah dan larangan ibunya.

Kenapa ia harus bersembunyi di dalam kamar?

Ia tidak takut sama sekali terhadap para perampok!

Memalukan benar!

Putera Adipati Tejolaksono yang terkenal sakti mandraguna harus bersembunyi karena serbuan perampok!

Tidak!

Ia tidak mau bersembunyi lagi dan membiarkan ibunya dan kedua eyang puterinya menghadapi para perampok sendiri.

Apalagi ketika malam itu suara pertempuran makin hebat, Bagus Seta tak dapat menahan dirinya lagi.

Terdengar olehnya suara pertempuran itu makin mendekat dan kini bahkan terdengar suara beradunya senjata tajam dan teriakan-teriakan orang bertanding di luar kamarnya, di dalam taman!

Cepat Bagus Seta membuka daun jendelanya dan memandang keluar.

Lampu-lampu penerangan yang tergantung di sudut-sudut taman menambah cahaya bulan dan di dalam taman yang remang-remang itu tampaklah banyak orang berkelebat dan saling bertanding.

la mengenal belasan orang pengawal istana ayahnya yang dengan gagah berani melawan serbuan para perampok yang berjumlah besar, dua kali lebih besar daripada jumlah para pengawal.

Melihat daun jendela terbuka dan seorang anak laki-laki tampak di jendela, dua orang perampok yang bertubuh tinggi besar segera melompat maju dan lari menghampiri Bagus Seta.

Anak ini tidak takut, bahkan ia segera melompat keluar dari jendela dengan golok terhunus di tangan kanan dan keris di tangan kiri Melihat ini, dua orang perampok itu tertawa terbahak-bahak.

"Ha-ha-ha, anak kecil berani bukan main!"

"Wah, pakaiannya indah. Tentu bukan anak sembarangan. Di dalam kamarnya tentu banyak terdapat barang berharga!"

Kata perampok ke dua.

"Keparat jahanam, kalian perampok-perampok jahat! Jangan memasuki kamarku!"

Bentak Bagus Seta sambil meloncat ke depan jendela menghadang ketika ia melihat betapa dua orang perampok itu hendak memasuki kamarnya.

Dua orang perampok itu saling pandang lalu tertawa bergelak.

Biarpun mereka ini orang-orang kasar dan perampok liar, namun tadinya mereka tidak berniat memusuhi seorang kanak-kanak.

Akan tetapi melihat sikap Bagus Seta, mereka menjadi marah juga dan sambil tertawa mereka menerjang maju, perampok pertama mengayun goloknya dengan kuat, hendak memenggal leher anak itu sekali mengayun golok.

Ayunan goloknya ini cepat dan kuat sekali dan dua orang perampok itu sudah memastikan bahwa si I anak kecil tentu akan roboh binasa.

Mereka sudah mengilar ketika mengerling ke arah dalam kamar dari jendela.

Memang kamar yang indah dan mereka ingin sekali menjadi orang-orang pertama , memasukinya dan memilih isinya yang berharga.

"Aihhh!!"

Perampok yang mengayun golok berseru kaget karena goloknya membacok angin kosong ketika Bagus Seta dengan cepat dan tangkas mengelak ke kiri, dan lebih besar lagi rasa kaget perampok itu ketika tiba-tiba pahanya sakit sekali dan robek berdarah, kena hantam golok kecil di tangan Bagus Seta!

Untung baginya bahwa anak berusia sepuluh tahun itu tenaganya belum matang, kalau lebih kuat sedikit saja bacokan itu, tentu pahanya sudah menjadi buntung!

Perampok yang terluka pahanya itu menjadi marah sekali, akan tetapi pahanya terasa amat perih dan nyeri sehingga ia tidak dapat menerjang maju.

Hanya temannya yang kini dapat menduga bahwa anak kecil itu bukan bocah sembarangan, sudah meloncat maju dan ayun goloknya melakukan serangan bertubi-tubi.

Namun, makin besar keheranan dua orang perampok itu karena betapa-pun cepatnya si perampok membacok, selalu bacokannya mengenai tempat kosong.

Anak itu gesitnya melebihi seekor kera!

Pada saat itu, dari tempat pertempuran datang pula dua orang perampok.

Memang jumlah perampok lebih banyak sehingga para pengawal terdesak dan karena para perampok itu sudah Ingin sekali menyerbu istana untuk merampok harta benda dan memperkosa puteri-puteri kini dua orang perampok itu yang melihat dua orang teman mereka mengeroyok seorang anak kecil di dekat jendela terbuka, cepat menghampiri.

Mereka terheran-heran dan kagum melihat betapa seorang anak kecil dengan golok di tangan kanan dan keris di tangan kiri dapat melayani terjangan seorang kawan mereka begitu gesitnya!

"Aaahh, anak Ini tentu putera adipati!

Puteranya hanya seorang, siapa lagi kalau bukan anak setan ini?"

Demikian. kata seorang di antara mereka. Bagus Seta yang mendengar ucapan ini lalu meloncat mundur sambil menghardik.

"Sudah tahu aku putera Adipati Tejolaksono yang sakti mandraguna, kalian masih berani datang?"

Sejenak empat orang perampok itu tercengang akan tetapi mereka lalu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha! Bagus sekali! Dia ini lebih berharga daripada segala benda rampasan. Gagak Lembah Serayu tentu akan memberi hadiah besar kepada kita kalau kita menyerahkan anak ini sebagai tawanan!"

Mendengar ucapan ini, tiga orang perampok yang tidak terluka itu lalu menubruk maju seakan berlumba hendak berdulu-duluan menangkap Bagus Seta.

Anak ini cepat melompat ke kanan menghindarkan diri sambil menyabet dengan goloknya.

"Tranggggg !!"

Dua buah golok perampok menangkisnya dengan pengerahan tenaga keras.

Tentu saja tenaga Bagus Seta tidak dapat melawan tenaga dua orang perampok kasar itu.

Golok kecil di tangannya terlempar jauh!

Perampok-perampok itu tertawa dan menubruk lagi.

Akan tetapi biarpun goloknya sudah hilang, Bagus Seta tidak menjadi gugup atau takut.

Melihat dirinya ditubruk tiga orang, ia cepat menggerakkan keris kecilnya, menyambut tangan-tangan mereka dengan tusukan keris ke depan!

"Eh-eh, bocah ini seperti anak harimau saja!"

Kata seorang perampok sambil menarik kembali tangannya yang nyaris tertusuk keris.

Akan tetapi kakinya melayang dari kiri dan tepat mengenai pinggang Bagus Seta yang jatuh terguling-guling dan kerisnya terlepas dari pegangan.

Namun, anak itu meloncat bangun lagi, sudah slap menghadapi para perampok dengan kedua tangan kosong!

Melihat sikap ini, mau, tak mau empat orang perampok itu memandang kagum dan terheran-heran.

Belum pernah selama hidup mereka yang penuh kekejaman itu mereka bertemu dengan seorang anak kecil yang memiliki keberanian seperti ini!

Seekor harimau sekalipun agaknya tentu akan tunggang-langgang kalau sudah dihajar dan mendapat kenyataan bahwa pihak lawan jauh lebih kuat.

Anak ini sudah kehilangan golok dan keris, sudah pula terjengkang roboh, akan tetapi masih bangkit lagi dan sedikitpun tidak membayangkan rasa takut, apalagi menyerah!

Rasa penasaran membuat tiga orang perampok yang tak terluka itu menjadi marah.

Masa tiga orang gagah seperti mereka tidak mampu merobohkan seorang anak kecil?

Alangkah akan malu hati mereka kalau hal itu diketahui kawan-kawan mereka.

Tentu mereka akan menjadi bahan ejekan.

Karena marah, berubahlah keinginan hati mereka yang tadi hendak menawan Bagus Seta, menjadi nafsu untuk membunuhnya!

Dengan golok di tangan terangkat tinggi-tinggi, tiga orang itu kini melangkah maju, slap untuk menghancurkan tubuh yang kecil itu dengan golok mereka yang tajam.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara auman yang menggetarkan taman.

Bumi yang terpijak serasa bergoyang.

Tiga orang perampok itu tiba-tiba terbelalak dan berdiri seperti berubah menjadi arca.

Entah dari mana datangnya, tak jauh dari situ berdiri seekor harimau yang besarnya seperti lembu!

Seekor harimau berbulu putih yang besar dan menyeramkan sekali!

Akan tetapi kalau para perampok dan juga sebagian pengawal yang bertanding di dekat tempat itu terkejut dan gentar, sebaliknya Bagus Seta menjadi girang sekali.

Ia menoleh dan melihat harimau putih itu, segera mengenalnya sebagai harimau yang pernah ia jumpai di dalam hutan bersama ayahnya, harimau yang telah menggondolnya.

Karena anak inipun maklum bahwa ia tidak akan menang menghadapi pengeroyokan para perampok, maka ia lalu lari menghampiri binatang itu dan memeluk lehernya.

Harimau itu merendahkan tubuhnya sambil menggereng dan di lain saat Bagus Seta telah menunggang di atas punggungnya!

"Paman sardulo, amuk para perampok itu!

Basmi mereka, usir mereka..........

Bagus Seta menepuk-nepuk punggung harimau itu sambil berbisik di dekat telinganya.

Anak ini memang pandai menunggang kuda, akan tetapi menunggang kuda jauh sekali bedanya dengan menunggang harimau yang tanpa kendali tanpa sela itu.

Maka ia duduk sambil menelungkup dan merangkul leher menengkeram bulu yang panjang putih pada leher harimau.

Harimau itu kembali mengaum dan tubuhnya menerjang maju.

Tiga orang perampok yang tadi hendak membunuh Bagus Seta, berbareng mengangkat golok untuk menyerang dalam pembelaan diri mereka, akan tetapi hanya satu kali sang harimau putih mengangkat kaki depan sebelah kanan, menampar atau mencakar dan tiga batang golok mereka terlepas dan pegangan, bahkan lengan seorang di antara mereka kena cakar sampai robek-robek dagingnya!

Yang dua orang membalikkan tubuh dan lari, diikuti dua orang temannya yang sudah terluka, yaitu yang tadi terluka golok pahanya dan yang terluka lengannya.

Harimau itu dengan Bagus Seta di punggungnya, lalu berlari perlahan memasuki taman.

Gegerlah mereka yang sedang berperang di dalam taman.

Para perampok menjadi ketakutan dan otomatis bubar meninggalkan lawan.

Beberapa orang perampok yang mencoba untuk melawan harimau putih, roboh oleh tamparan kaki depan harimau itu yang berbeda dengan harimau-harimau biasa, bergerak seperti seorang manusia, bukan menubruk atau menggiglt seperti harimau lain.

Akan tetapi gerakan kaki depannya amat kuat sehingga senjata-senjata tajam selalu terlempar kalau bertemu kaklnya.

Sebentar saja, para perampok yang menyerbu kadipaten menjadi geger dan bubar meninggalkan kadipaten.

Bermacam-macam cerlta mereka.

Bahkan yang tidak sempat bertemu dengan harimau putih itu dapat bercerita bahwa "penjaga kadipaten"

Harimau yang sebesar gajah telah mengamuk!

Ada yang bilang bahwa Itu adalah sang adipati sendiri yang berubah menjadi harimau putlh.

Bahkan para pengawal yang sempat melihat harimau di dalam taman, menjadi panik.

Akan tetapi ada pula di antara mereka yang berusaha merampas kembali Bagus Seta.

Akan tetapi mereka inipun roboh oleh tamparan sang harimau yang kemudian melarikan Bagus Seta dari dalam taman sambil berlompatan cepat sekali!

Bagus Seta merasa ngeri juga dan terpaksa ia meramkan mata sambil memeluk leher harimau lebih kuat lagi.

Angin berdesir di pinggir telinganya dan tubuhnya kadang-kadang terkena lecutan rumput alang-alang di kanan kiri "Paman sardulo..........

ke mana kau membawaku pergi?

Kembalilah, kita harus membantu ibuku..........

harus membasmi dan mengusir para perampok jahat.........!"

Bekali-kali Bagus Seta berbisik di dekat telinga si harimau, akan tetapi harimau putih itu tidak memperdulikannya lagi dan berlari terus keluar masuk hutan dan naik turun gunung.

Malam telah berganti pagi ketika harimau putih tiba di lereng sebuah gunung, lalu mengaum dan berhenti.

Bagus Seta yang merasa lelah sekali lalu melorot turun dari atas punggung harimau, memandang kepada kakek tua yenta berpakaian putih yang tahu-tahu telah berdiri di depan harimau.

Kakek itu berdiri sambil memegang tongkat bambu gading, tangan kiri mengelus jenggot panjang yang putih itu dan mulutnya tersenyum.

"Terpujilah Sang Hyang Wishnu....……! Kakek tua renta itu berkata halus.

"Suratan takdir tak dapat dihapus oleh siapapun juga di dunia ini! Kulup, Bagus Seta, kedatanganmu ini meyakinkan hatiku bahwa engkau memang berjodoh dengan aku. Engkaulah yang kelak akan mempertahankan kebesaran Sang Hyang Wishnu, angger. !!! Bagus Seta memang seorang anak kecil yang baru berusia sepuluh tahun. Namun ia telah banyak mempelajari tata susila dan tahu menghormat dan menghargai seorang tua yang suci dan bijaksana. Biarpun masih kecil, ia maklum bahwa kakek di hadapannya ini bukanlah seorang manusia biasa dan bahkan menjadi majikan dari sang harimau putih yang hebat. Maka tanpa ragu-ragu lagi ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.

"Jadi Eyangkah yang menyusuh paman sardula putih datang menolong saya daripada pengeroyokan perampok? Saya mengucap syukur dan menghaturkan banyak terima kasih, Eyang."

Kakek itu tertawa, suara ketawanya halus dan sepasang matanya yang bersinar amat tajam itu berseri-seri gembira.

"Sardulo pethak, kau dengar, alangkah pandainya sang adipati di Selopenangkep mendidik puteranya! Heh-heh-heh, angger Bagus Seta. Tidak ada yang menolong atau ditolong. Sardulo pethak kusuruh datang ke Selopenangkep hanya untuk mempersiapkan diri kalau-kalau memang engkau berjodoh denganku, Angger. Kalau bukan karena kehendakmu sendiri engkau ikut dengannya, dia tidak akan memaksamu. Bukankah engkau sendiri yang ikut bersamanya,' kulup?"

"Tidak salah, Eyang. Memang saya menunggangi punggungnya. Akan tetapi saya tidak mengerti mengapa dia membawa saya ke sini menghadap Eyang."

"Kekuasaan berada di tangan Sang Hyang Widhi, Angger. Bahkan semua dewata dan manusia hanya mempunyai tugas kewajiban, namun keputusan terakhir sepenuhnya berada di tangan Yang Maha Kuasa. Akupun hanya berusaha, angger, dan agaknya usahaku mendapat berkah Sang Hyang Wishnu yang memelihara dan menjaga semua kebaikan. Engkau berjodoh untuk menjadi muridku, kulup, dan kepadamulah aku harus menurunkan semua pengertian yang kumiliki."

"Banyak terima kasih saya haturkan kepada Eyang. Menurut wejangan Ayah saya, amatlah bahagia menjadi murid seorang yang maha sakti seperti Eyang. Akan tetapi, saya harus kembali ke Selopenangkep, Eyang. Selopenangkep diserbu penjahat, Kanjeng Ibu tentu terancam bahaya. Bagaimana saya dapat mendiamkannya saja dan berada di sini dalam aman tenteram sedangkan Kanjeng Ibu terancam bahaya?"

"Ha-ha-ha, bagus sekali, sekecil engkau sudah mengenal dharma bakti kepada orang tua! Akan tetapi engkau lupa, Bagus Seta, bahwa kehadiranmu di sana sama sekali tidak akan membantu ibumu,melainkan menambah beban ibumu karena harus melindungimu. Jangan khawatir, Angger. Engkau ikutlah bersamaku dan kelak pasti engkau akan bertemu kembali dengan orang tuamu."

"Memang saya tidak dapat membantu ibu, Eyang. Akan tetapi.......... apapun yang terjadi di Selopenangkep, saya harus menyaksikannya. Kata Kanjeng Rama, bukanlah watak seorang ksatria kalau melarikan diri daripada bahaya meninggalkan orang lain yang terancam malapetaka. Mencari keselamatan sendiri tanpa memperdulikan orang lain, apalagi Kangjeng ibu sendiri, adalah perbuatan pengecut yang hina!"

Kakek itu merangkul pundak sambil membungkuk, lalu membelai kepala Bagus Seta.

"Wahai muridku yang bagus dan baik! Engkau benar-benar calon seorang ksatria budiman yang selalu mengingat wejangan baik di dalam hati. Semoga pengetahuanmu tentang itu akan mendarah daging pada dirimu, tidak hanya akan menjadi hafalan-hafalan kosong belaka melainkan kau nyatakan di dalam semua sepak terjangmu dalam hidup! Tidak salah seujung rambutpun wejangan Ramandamu, Angger. Akan tetapi, sekali ini keadaannya berbeda. Engkau bukan melarikan diri, melainkan dituntun oleh tangan gaib Sang Hyang Wishnu sendiri sehingga engkau datang kepadaku. Sekali lagi kukatakan, janganlah kau khawatir dan marilah kau ikut aku. Sudah tentu saja aku tidak hendak memaksakan kehendakku, karena aku selalu bertindak sesuai dengan -kehendak Sang Hyang Widhi. Sukakah engkau menjadi muridku, Bagus Seta?"

Anak itu menyembah lagi.

"Demi semua Dewata di Suralaya, Eyang. Saya suka sekali menjadi murid Eyang."

"Nah, kalau begitu, mulai saat ini juga engkau kuangkat menjadi muridku. Aku dikenal sebagai Ki Tunggaljiwa dan ketahuilah, muridku, bahwa sesungguhnya Ramandamu itu masih cucu muridku sendiri! Bagus Seta, biarpun engkau masih seorang kanak-kanak, tentu Ramandamu pernah bercerita kepadamu. Tahukah engkau guru ramandamu?"

Jantung anak itu sudah berdebar tegang saking kagetnya mendengar bahwa kakek ini masih eyang guru ayahnya!

Tentu saja ia sudah banyak mendengar dari ayahnya tentang guru-guru ayahnya maka tanpa ragu-ragu ia menjawab.

"Menurut penuturan Kanjeng Rama, pertama-tama yang menjadi guru Kangjeng Rama adalah Kanjeng Eyang Pujo sendiri, ayah angkat Kanjeng Rama. Kemudian Kanjeng Rama digembleng oleh Eyang Buyut Resi Bhargowo, dan yang terakhir, guru Kanjeng Rama adalah sang bijaksana yang sakti mandraguna Rakyana Patih Narotama."

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Benar sekali apa yang kaudengar dari Ramandamu itu, Angger. Yang membuat Ramandamu menjadi seorang ksatria sakti mandraguna seperti sekarang ini adalah karena beliau menjadi murid mendiang Ki Patih Narotama. Ketahuilah, bahwa bersama mendiang Sang Prabu Airlangga, Ki Patih Narotama adalah murid-murid terkasih dari Sang Bhagawan Satyadharma yang bertapa di puncak Gunung Agung di Ball. Nah, adapun Bhagawan Satyadharma itu adalah kakak seperguruanku sendiri, Angger."

Terkejutlah hati Bagus Seta. Ia menyembah lagi dan berkata penuh takjub.

"Kalau begitu.......... Eyang adalah Eyang guru dari Kanjeng Rama dan saya......... adalah cucu buyut Eyang.........."Ha-ha-ha, tidak perlu terlibat dalam urutan yang tiada artinya, muridku. Engkau adalah terpilih menjadi muridku, karena itu engkau adalah muridku dan kau boleh saja menyebutku Bapa Guru. Nah, setelah kau menjadi muridku, kau tentu tahu, apakah kewajiban pertama dari seorang murid kepada gurunya?"

"Kalau saya tidak keliru, kewajiban pertama adalah mentaati semua perintah dan petunjuk sang guru."

"Tepat sekali, Angger. Nah, sekarang perintahku yang pertama kali, engkau harus ikut bersamaku ke puncak dan lenyapkan, semua kegelisahan hatimu tentang Selopenangkep."

Bagus Seta masih seorang kanak-kanak.

Berat sekali rasanya mentaati perintah ini, apalagi harus melupakan Selopenangkep.

Mana mungkin?

Akan tetapi sebagai seorang anak gemblengan yang tahu akan arti kata kegagahan dan memegang teguh kata-kata yang sudah keluar dari mulut, ia tidak berani membantah, lalu bangkit berdiri dan mengikuti gurunya yang mulai mendaki Gunung Merapi.

Sardulo pethak,-si macan putih, tampak gembira sekali melihat Bagus Seta ikut naik ke puncak.

Seperti seekor anak kambing yang nakal, ia melonjak-lonjak dan kadang-kadang lari mendahului mendaki lereng, dan di lain saat ia sudah berlari lagi turun, mengitari Bagus Seta, dan mendorong-dorong punggung anak itu dari belakang, seperti rnengajak berlumba lari.

Karena diapun masih seorang kanak-kanak, Bagus Seta timbul kegembiraannya dan tak lama kernudian iapun sudah lupa akan kegelisahannya dan bermain-main di sepanjang jalan pendakian itu bersama sardulo pethak.

Kakek tua renta itu memang benar adik seperguruan Sang Bhagawan Satyadharma di Gunung Agung yang terkenal maha sakti itu.

Berbeda dengan Sang Bhagawan Satyadharma yang terkenal menjadi seorang pendeta, adik seperguruan yang jauh lebih muda ini semenjak dahulu suka melakukan perantauan.

Akan tetapi kakek ini yang memakai nama sederhana, yaitu Ki Tunggaljiwa, tidak suka menonjolkan diri di dunia ramai dan ke manapun juga ia pergi, ia selalu mengunjungi puncak-puncak gunung yang sunyi, jarang bertemu dengan manusia dan hidup bertani di tempat sunyi.

Karena itulah maka jarang ada orang mengenalnya.

Andaikata ada yang melihatnya sekalipun tentu akan mengira bahwa dia seorang petani tua biasa saja.

Pada-hal sesungguhnya kakek ini adalah orang yang memiliki ilmu amat tinggi!

Mengapa kini Ki Tunggaljiwa yang biasanya hidup menyendiri itu secara tiba-tiba mengambil murid?

Bukan sedikit anak-anak yang ia lihat bertulang baik dan berjiwa bersih yang cukup berharga untuk diambil murid selama ia melakukan perantauannya, akan tetapi tadinya ia memang tidak ingin mencampuri urusan dunia, maka hatinyapun menjadi dingin dan hambar, tidak ingin mempunyai murid, bahkan ingin membawa semua ilmunya yang dianggap tiada gunanya itu ke alam baka.

Akan tetapi, sungguh di luar perkiraannya, terjadilah hal-hal yang membuat ia terkejut dan prihatin sekali.

Ia melihat ada usaha-usaha untuk mendesak agama yang dianut oleh rakyat terbanyak di daerah Daha (Panjalu), Jenggala dan terus timur sampai ke Bali, yaitu agama yang memuja Sang Hyang Wishnu!

Kalau yang mengancam ini hanyalah penyembah-penyembah Bathara Kala atau Bathari Durgo yang tidak banyak pengikutnya, ia tidak merasa khawatir.

Akan tetapi musuh-musuh yang akan muncul ini merupakan bahaya-bahaya besar karena selain didukung oleh kerajaan-kerajaan besar, juga dikendalikan atau dijagoi oleh orang-orang yang memiliki kesaktian tinggi sekali.

Melihat ancaman yang tidak terlihat oleh kebanyakan orang ini, hati Ki Tunggaljiwa merasa risau dan ia tahu bahwa kini tibalah saat baginya untuk berdharma bakti kepada dunia, kepada manusia dengan perbuatan-perbuatan yang nyata.

Ia sudah amat tua, dan betapapun saktinya, la bukan sebangsa ular yang yang ditakdirkan dapat berganti kulit.

Dia seorang manusia yang tidak akan luput daripada kematian.

Maka ia pikir bahwa jalan terbaik baginya adalah menurunkan atau mewariskan seluruh ilmunya kepada seorang murid yang terbaik.

Memang apa yang dikhawatirkan Ki Tunggaljiwa itu tidaklah berlebihan kalau dilihat dari perkembangan keadaan negara di waktu itu.

Semenjak Kerajaan Kahuripan yang tadinya menjadi amat besar dan kuat sebagai lanjutan Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Sang Prabu Airlangga dipecah menjadi dua seperti keadaan waktu itu, yaitu menjadi Kerajaan Panjalu yang kemudian terkenal dengan sebutan Kerajaan Daha dan Kerajaan Jenggala, maka keadaan menjadi lemah.

Hal ini mungkin karena pemecahan kerajaan menjadi dua mendatangkan pandangan dan kesan yang amat tidak menguntungkan kerajaan-kerajaan keturunan Sang Prabu Airlangga.

Raja-raja yang tadinya takluk, menganggap pemecahan itu sebagai kelemahan dan banyaklah di antara mereka yang memberontak dan berdiri sendiri, tidak mengakui kedaulatan kedua kerajaan itu.

Hal ini menjadi lebih memburuk dan berbahaya ketika pada masa itu ancaman membesar dari Kerajaan Sriwijaya yang memasukkan pengaruhnya lewat Pulau Jawa di sebelah barat.

Tadinya, ketika Sriwijaya masih menghadapi musuh utamanya yaitu Kerajaan Cola (India selatan) yang terus menerus menyerang Sriwijaya dan setiap kali mengalahkan pasukan-pasukan Sriwijaya, maka Sriwijaya tidak ada kesempatan untuk mendesak Daha (Panjalu) dan Jenggala.

Akan tetapi pada waktu itu, terjadilah perdamaian antara Sriwijaya dan Cola, juga dengan kerajaan dari India utara dari mana Sriwijaya mendapat banyak pelajaran tentang ilmu dan agama, yaitu Agama Buddha (Mahayana).

Setelah terdapat perdamaian ini, Sriwijaya merasa dirinya kuat kembali dan mulailah melakukan desakan ke selatan, yaitu kepada musuh lamanya, Mataram yang kini menjadi Panjalu atau Daha dan Jenggala itu.

Seperti telah menjadi catatan sejarah, semenjak dahulu Sriwijaya dan Mataram selalu bertentangan.

Hanya pada masa jayanya Sang Prabu Airlangga, terjadilah hubungan baik, yaitu ketika Sang Prabu Airlangga menikah dengan puteri dari Sriwijaya yang kemudian menjadi ibu dari sang prabu di Jenggala.

Akan tetapi, setelah terjadi pertikaian antar saudara antara kedua orang pangeran putera Sang Prabu Airlangga, hal ini kembali merenggangkan perhubungan dengan Sriwijaya.

Apalagi setelah Sang Prabu Airlangga dan puteri dari Sriwijaya telah meninggal dunia, hubungan dengan Sriwijaya boleh dibllang terputus sama sekali.

Namun tentu saja hal ini tidak memutuskan cita-cita Sriwijaya untuk menanam pengaruhnya di Jawadwipa dan terutama sekali untuk keperluan Agama Buddha yang dianutnya.

Selain itu, juga Kerajaan Cola yang kini sudah berbaik dengan Sriwijaya tidak mau ketinggalan, ikut membonceng dan mencari kesempatan menanam pengaruh dan mencari keuntungan di pulau yang indah dan lohjinawi (subur makmur) itu.

Golongan ini mempergunakan para penganut Sang Hyang Syiwa untuk mencari kedudukan.

Dahulu, memang pernah Agama Buddha yang memegang kekuasaan, yaitu ketika Pulau Jawa berada di bawah pimpinan Raja-raja Syailendra.

Akan tetapi, pada jaman Mataram di bawah raja yang berjuluk Rakai Pikatan, agama yang memuja Sang Bathara Syiwa menjadi berkembang karena raja ini beragama Syiwa.

Dan pada masa itu dua agama itu, yaitu Agama Buddha dan Agama Syiwa yang merupakan pecahan daripada Agama Hindu lama, mengalami masa kebesarannya.

Akhirnya, setelah Kerajaan Mataram berpindah ke timur di bawah pimpinan Sang Prabu Airlangga, kedua agama ini mulai terdesak dan karena sang raja memuja Sang Bathara Wishnu, maka rakyatpun banyak yang mengikuti jejak raja.

Dan sekarang, menurut wawasan Ki Tunggaljiwa yang menjadi seorang penyembah Sang Hyang Wishnu, mulailah tampak ancaman dari Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Cola.

Kakek ini sama sekali tidak prihatin akan pertentangan antara kerajaan, akan tetapi ia merasa prihatin sekali melihat betapa Agama Wishnu terancam kebesarannya oleh agama-agama lain.

Ki Tunggaljiwa tahu akan hal itu karena beberapa bulan yang lalu, ketika ia melakukan perjalanan merantau ke barat, dan hendak bertapa dan bersunyi diri di Gunung Sanggabuwana, bertemulah ia di sana dengan seorang tokoh Agama Syiwa dan seorang pendeta Buddha.

Sebagai manusia-manusia biasa, biarpun tiga orang tokoh besar ini sudah memiliki kepandaian tinggi, terjadilah perdebatan yang berlarut-larut sehingga memanaskan suasana dan kedua orang tokoh Agama Syiwa dan Agama Buddha itu dalam keadaan hati panas menyatakan bahwa agama mereka sudah siap untuk mengembalikan kekuasaannya di Daha (Panjalu) dan Jenggala!

"Kami akan menghalau setiap rintangan!"

Demikian tokoh Agama Syiwa yang marah itu berkata.

"Dan terutama sekali andika, sebagai tokoh pemuja Sang Bathara Wishnu, kalau merintangi akan kami lenyapkan lebih dahulu!"

Hanya karena kesadaran dan kesabaran hati Ki Tunggaljiwa saja maka pertemuan dan perdebatan itu tidak berubah menjadi pertempuran.

Setelah terjadi hal itu, dengan hati penuh prihatin kembalilah sang pertapa ke timur dan menetap di puncak Merapi.

Biarpun ia sudah mengambil keputusan untuk mencari murid, namun tetap saja sang pertapa menyerahkan pemilihannya kepada Sang Hyang Wishnu sendiri, dan setiap hari hanya berdoa agar ,memberi petunjuk dan agar bisa mendapatkan seorang murid yang baik.

Maka terjadilah pertemuannya dengan Bagus Seta dengan perantaraan sardulo pethak, binatang ajaib yang jarang ada ini dan yang menjadi kelangenannya atau binatang peliharaan yang amat dikasihinya.

Pertemuan inilah yang dijadikan tanda oleh Ki Tunggaljiwa bahwa Sang Hyang Wishnu telah memberi petunjuk.

Apalagi setelah diketahuinya bahwa anak itu adalah putera Adipati Tejolaksono yang ia tahu adalah murid Ki Patih Narotama, hatinya menjadi girang sekali.

Inilah murid yang selama ini ia tunggu-tunggu!

Di puncak Merapi, tak jauh dari kawah yang selalu mengeluarkan asap, uap dan api panas, terdapat sebuah pondok yang dijadikan tempat bertapa Ki Tunggaljiwa.

Pondok tempat tinggalnya berada di sebelah bawah puncak, di tempat yang subur, di mana tumbuh banyak pohon dan buah-buahan dan di situ terdapat pula mata air yang mengeluarkan dua macam air dari dua sumber yang berdampingan, yaitu sebuah sumber air panas mengandung belerang, dan yang sebuah pula sumber air dingin yang amat dingin dan jernih.

Begitu tiba di situ, pada hari-hari pertama Bagus Seta digembleng oleh gurunya dengan ilmu bersamadhi yang amat berat.

Biarpun baru berusia sepuluh tahun, Bagus Seta tidaklah asing akan ilmu samadhi, karena sudah diajari ayahnya.

Akan tetapi, latihan samadhi yang diajarkan gurunya ini amatlah sukar dan menyiksa diri karena ia disuruh bersamadhi di siang hari sambil merendam tubuh sampai ke leher dalam air dari sumber air panas yang berbau belerang dan panasnya bukan main itu.

Pada hari pertama, tubuhnya terasa terbakar dan hampir saja ia tidak kuat bertahan kalau saja di situ tidak ada Ki Tunggaljiwa yang setiap kali menyentuh kepalanya rasa panas membakar itu menjadi berkurang dan dapat ia tahan!

Latihan di malam hari tidak kurang menyiksanya karena ia diharuskan bersamadhi sambil merendam diri di dalam air dari sumber air dingin.

Bukan main dinginnya.

Tubuhnya serasa membeku dan giginya sampai berbunyi karena saling beradu, tubuh menggigil dan ia tentu pingsan kalau saja tidak disentuh gurunya pada tengkuknya.

Sentuhan bukan sembarang sentuhan karena dari jari tangan gurunya ifu, keluar hawa panas yang dapat melaw,an rasa dingin membeku itu!

Setelah genap tiga pekan berlatih samadhi seperti ini, mulailah Bagus Seta terbiasa dan tidak perlu dibantu gurunya pula.

Tubuhnya dapat menahan, akan tetapi masih belum mudahlah baglnya untuk merigheningkan cipta.

Semua pancaindranya ia kerahkan untuk melawan rasa panas jika berendam di air panas dan rasa dingin pada malam harinya jika berendam di air dingin, sehingga ;tidak ada sisa kekuatan lagi untuk mengendalikan pancaindra dan mematikan raga.

Akan tetapi sudah mulai mendapat kemajuan, sedikit demi sedikit dibimbing gurunya.

Adanya sardulo pethak di siitu banyak membantu Bagus Seta karena harimau ini ternyatapun kuat bertahan berendam di dalam air dingini Bagus Seta adalah seorang anak yang menjunjung tinggi kegagahan, juga telah memiliki harga diri yang tinggi, maka tentu saja la merasa malu kalau sampai kalah, oleh seekor harimau!

Hal ini banyak menolongnya dan banyak membantunya memperoleh kemajuan pesat.

Kemajuan yang mulai tampak itu menggembirakan hati Bagus Seta sehingga anak ini menjadi makin rajin.

Memang dalam waktu kurang lebih satu bulan itu, seringkali termenung kalau memikirkan orang tuanya dan Selopenangkep, akan tetapi justeru hal inipun merupakan latihan batin yang amat baik baginya.

Mula-mula seringkali ia duduk menangis seorang diri teringat akan,ibunya, akan tetapi akhirnya ia dapat melawannya, bahkan kalau perasaan rindu kepada ibunya Itu datang menyerangnya, ia menceburkan diri ke dalam air panas di waktu siang hari dan air dingin di waktu malam, kemudian, menghilangkan semua rasa rindu itu dengan bersamadhi!

Biarpun di luarnya tidak menyatakan sesuatu, namun sesungguhnya, setiap saat Ki Tungaljiwa memperhatikan gerak-gerik muridnya dan ia gembira bukan main menyaksikan betapa muridnya yang masih kecil itu ternyata sudah lulus dari ujian pertama yang amat berat.

Ia kini yakin bahwa memang Sang Hyang Wishnu sendirilah yang telah memilihkan murid baginya dan ia merasa berterima kasih sekali Kurang lebih delapan pekan telah lewat semenjak Bagus Seta berada di puncak Gunung Merapi bersama Ki Tunggaljiwa.

Pagi hari itu, seperti biasa, setelah sarapan pagi yang amat sederhana, yaitu ubi bakar dan minum air panas dari sumber yang berbau belerang untuk mengusir hawa dingin pagi hari itu, Ki Tunggaljiwa bersama Bagus Seta duduk di depan pondok.

Setiap pagi, Ki Tunggaljiwa tentu mengajak muridnya untuk menyambut munculnya matahari sambil duduk bersila di atas tanah.

"Sebelum dewangkara (matahari) naik sampai ke atas kepala kita, cahayanya mengandung berkah yang berlimpah-limpah, sarinya, mengandung dasar kekuatan yang tak ternilai harganya. Karena itu, kita harus dapat menikmati berkahnya dan sedapat mungkin kau harus dapat menampung inti sari kekuatan mujijat yang terdapat di dalam sinar kencana itu, muridku."

Demikian Ki Tunggaljiwa memberitahu muridnya sehingga setiap pagi mereka duduk bersila takberbaju.

Hal ini dilakukan oleh guru dan murid dengan sikap yang amat menghormat, karena menurut pendapat Ki Tunggaljiwa, yang menguasai sang dewangkara adalah Sang Hyang Bathara Surya sendiri, oleh karena itu berkah dan kekuatan itu harus diterima dengan penuh hormat.

Guru yang amat tua dan murid yang masih kanak-kanak itu duduk bersila di pagi hari itu di depan pondok.

Tak lama kemudian, keduanya sudah duduk diam dan berlatih samadhi sambil menikmati cahaya sinar matahari pagi yang memandikan tubuh mereka.

Demikian tekun dan hening mereka dalam samadhi sehingga, tidak tahu bahwa ada dua orang yang memiliki gerakan ringan dan gesit telah mendaki puncak dan tiba di dekat pondok mereka.

Dua prang itu bukan lain adalah Adipati Tejolaksono sendiri bersama isterinya, Ayu Candra.

Wanita ini berkeras tidak mau ditinggalkan suaminya, hendak ikut dan turun tangan sendiri mencari puteranya yang hilang.

ADIPATI TEJOLAKSONO tidak dapat, melarang isterinya maka berangkatlah suami isteri ini menunggang kuda menuju ke kaki Gunung Merapi di mana dahulu sang adipati pernah bertemu dengan Ki Tunggaljiwa ketika sedang memburu binatang hutan.

Setelah perjalanan mendaki gunung sampai di lereng dan amat sukar, terpaksa suami isteri perkasa ini meninggalkan kuda mereka dan melanjutkan pendakian ke puncak dengan jalan kaki.

Hati mereka berdebar keras penuh ketegangan dan harapan ketika dari jauh mereka melihat pondok kecil di dekat puncak itu.

Akan tetapi tiba-tiba Adipati Tejolaksono memegang lengan isterinya dan menarik isterinya itu menyelinap ke belakang gerombolan pohon.

Cepat ia menutup mulut isterinya dengan tangan ketika melihat Ayu Candra hendak membuka mulut bertanya.

Mereka mengintai keluar rumpun dan tampaklah oleh Ayu Candra dua sosok bayangan orang melesat naik ke puncak.

Mata wanita itu terbelalak dan bulu tengkuknya berdiri.

Setan-setankah yang dilihatnya itu?

Kalau manusia mengapa dapat melakukan gerakan sehebat itu, seolah-olah terbang saja mendaki puncak?

Dan melihat bahwa mereka berdua itu agaknya sudah amat tua, sungguh luar biasa sekali.

Di dalam hatinya, Adipati Tejolaksono juga terkejut dan maklum bahwa dua orang kakek yang lewat dengan kecepatan laksana terbang itu adalah orang-orang sakti yang amat luar biasa.

Maka ia lalu bersikap hati-hati, mengajak isterinya melanjutkan perjalanan mendekati pondok.

Ketika mereka berdua tiba di depan pondok dan melihat Ki Tunggaljiwa yang duduk di depan pondok di atas tanah bersama Bagus Seta, keduanya tercengang dan terharu sekali.

Putera mereka sehat dan selamat.

Dan baru sekarang mereka melihat betapa putera mereka itu amat sehat dan tampan, duduk bersila bertelanjang dada seperti sebuah arca Sang Hyang Wishnu sendiri di waktu masih kanalk-kanak, tubuhnya yang tertimpa sinar matahari itu bercahaya seperti kencana, dari kepala tampak uap putih membumbung atas membenttik lingkaran pelangi tipis.

Hebat!

Dan anak mereka itu sedang tekun bersamadhi.

Belum pernah mereka melihat putera mereka bersamadhi seperti itu, demikian tenang, demikian hening, penuh kedamaian yang terpancar keluar dari wajahnya yang tersenyum.

Sampai terisak Ayu Candra saking girang dan terharu hatinya melihat puteranya ini.

Ingin ia berteriak memanggil dan lari memeluk puteranya, akan tetapi tangannya dipegang dan ditahan oleh Tejolaksono yang tidak berani berlaku sembrono di depan kakek yang ia tahu memiliki kesaktian yang amat tinggi itu.

Tiba-tiba dari belakang pondok itu muncul seekor harimau putih yang langsung melompat ke depan Tejolaksono dan isterinya, lalu mengeluarkan suara gerengan keras dan memperlihatkan taring-taringnya yang runcing.

Ayu Candra kaget sekali dan memegang lengan suaminya, siap menghadapi binatang buas yang amat besar dan menyeramkan itu.

Akan tetapi Tejolaksono bersikap tenang, bahkan ia lalu maju ke depan harimau itu dan berkata nyaring.

"Harimau putih, apakah andika masih menaruh dendam atas kematian anakmu? Tak dapatkah engkau memaafkan aku?"

Ki Tunggaljiwa membuka matanya dan menarik napas panjang, lalu tertawa halus.

"Ahh, kiranya Sang Adipati telah datang! Ketahuilah, Angger. Harimau dan semua binatang tidaklah semua pendendam seperti manusia. Kematian anaknya pun dianggapnya sesuatu peristiwa yang wajar dan tak terelakkan, maka tak pernah menaruh dendam, baik kepada manusia maupun dewata, karena segala perbuatan akan menimpa si pembuat sendiri, tidak perlu dibalas oleh orang lain! Tidak, sardulo pethak tidak mendendam kepadamu, tidak pula memaafkan dan tidak sakit hati. Dia hanya merasa khawatir kalau-kalau kalian datang untuk membawa pergi Bagus Seta dari sini "

Dengan perlahan sang pertapa bangkit berdiri, bersandar pada tongkatnya sambil berkata lirih.

"Kulup, Bagus Seta muridku yang baik, bangunlah. Ini ayah bundamu telah datang, Angger."

Bagus Seta yang tadinya rnaslh dalam keheningan sarnadhinya tidak mendengar sesuatu, karena sudah biasa gurunya mernbangunkannya darl samadhi, kini menjadi sadar dan membuka matanya.

Sepasang mata yang tajam bersinar-sinar akan tetapi kini bertambah dengan kehalusan yang tenang, memandang kepada ayah bundanya.

Anak itu lalu melompat bangun dan berseru gembira.

"Kanjeng Rama............! Kanjeng Ibu !"

"Bagus Seta anakku............!!"

Ayu Candra lari menghampiri, berlutut di depan puteranya sambil memeluk dan menciuminya.

Air mata ibu ini bercucuran saking girang hatinya.

Akan tetapi puteranya bersikap tenang, bahkan sambil merangkul leher ibunya la berkata.

"Ibu, kenapa menangis? Saya tidak apa-apa, senang di sini bersama Bapa Guru dan sardulo pethak."

Aneh sekali tetapi nyata terasa oleh Ayu Candra.

Ucapan puteranya ini biarpun dlucapkan dengan suara yang sama sebulan yang lalu, yaitu suara puteranya yang nyaring dan halus, namun ada sesuatu yang jauh berbeda.

Di dalam suara ini terkandung sesuatu yang amat berpengaruh, sesuatu yang membuat jantungnya berdetak aneh dan yang sekaligus membuat ia malu akan diri sendiri, malu bahwa ia tadi telah memperlihatkan perasaan yang rnembayangkan kelemahan hati.

Puteranya ini sekarang seolah-olah bicara seperti seorang dewata yang memiliki wibawa besar, seperti ayahnya!

Diam-diarn Tejolaksono yang menyaksikan sikap dan mendengar suara puteranya, juga menjadi heran dan kagum sekali, apalagi ketika ia tadi mendengar kakek itu menyebut murid kepada Bagus Seta dan puteranya itu menyebut bapa guru kepada kakek itu!

Karena maklum bahwa kakek itu bukan seorang manusia sembarangan, maka Tejolaksono menarik tangan Ayu Candra dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

Dia seorang adipati dan sebetulnya tidaklah semestinya kalau ia sebagaI seorang pembesar dan bangsawan harus menyembah seorang kakek biasa yang tidak memiliki kedudukan.

Akan tetapi Tejolaksono bukan seorang adipatl biasa yang terlalu mementingkan dan membanggakan kedudukannya.

Di sudut hatinya, dia adalah seorang ksatria yang selalu tahu menghormat dan menjunjung tinggi seorang tua yang sakti, maka kini ia berlutut menyembah tanpa ragu-ragu lagi.

Juga Ayu Candra adalah puteri seorang pertapa sakti, tentu saja wanita inipun bukan seorang penyombong seperti puteri-puteri bangsawan biasa, kini dengan segala kerendahan hati la berlutut menyembah kakek yang ia tahu telah menolong puteranya itu.

"Eyang panembahan, hamba suami isteri menghaturkan banyak terima kasih kepada Eyang panembahan yang sudah menyuruh harimau putih untuk menolong putera kami dari ancaman para perampok yang menyerang Kadipaten Selopenangkep,"

Tejolaksono berkata dengan sikap menghormat.

Ki Tunggaljiwa tersenyum, mengelus jenggotnya dan mengangguk-angguk.

Ia kagum juga menyaksikan sikap adipati dan isterinya ini yang begitu rendah hati, sikap yang jarang ditemukan di antara pembesar atau bangsawan.

"Harap Andika suka bangkit dan marilah kita duduk dan bicara yang enak dan Angger adipati harap jangan keliru menduga. Saya bukanlah seorang panembahan melainkan seorang petani biasa saja, seorang tua yang lemah dan tidak semestinya Andika sembah. Bangkitlah, Angger dan marl kita duduk di atas rumput yang empuk ini."

Tejolaksono dan isterinya tidak membantah dan mereka lalu duduk bersila di depan Ki Tunggaljiwa, sedangkan Bagus Seta duduk di samping ibunya yang bersimpuh.

"Angger adipati, ketahuilah bahwa puteramu berjodoh dengan saya. Harap jangan mengira bahwa saya yang memaksanya datang ke sini, melainkan dia sendiri yang dengan suka rela ikut bersama sardulo pethak datang ke sini kemudian secara suka rela pula menjadi muridku. Inilah yang dinamakan jodoh, dan selama lima tahun saya harap Andika berdua rela melepaskan putera Andika itu untuk tinggal bersamaku mempelajari ilmu."

"Aahhhh !"

Ayu Candra berseru kaget lalu memeluk puteranya seolah-olah tidak merelakan puteranya berpisah dari sampingnya.

"Eyang, seperti telah Eyang saksikan sendiri betapa beratnya seorang ibu berpisah dari puteranya yang hanya satu-satunya. Bagus Seta masih terlalu kecil dan biarpun saya seorang bodoh yang tiada kepandaian, namun saya masih sanggup untuk memberi pendidikan kepada putera saya. Kelak, kalau dia sudah besar dan menghendaki memperdalam ilmunya kepada Eyang, tentu kami tidak keberatan. Akan tetapi sekarang harap Eyang suka memaafkan kalau hamba berdua tidak dapat menyetujuinya,"

Kata Adipati Tejolaksono dengan suara tenang.

"Kanjeng Rama, saya senang sekali menjadi murid Bapa guru, harap Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu tidak melarang hamba."

Kata Bagus Seta tiba-tiba sambil memandang ayah bundanya.

"Hushhh............ Bagus Seta, bagaimana Ibumu dapat berpisah darimu, Nak? Apalagi sampai lima tahun!"

Kata Ayu Candra.

"Bagus Seta, tidak boleh kau membikin susah hati Ibumu!"

Kata Tejolaksono. Ki Tunggaljiwa tertawa.

"Angger adipati berdua harap maklum bahwa kehendak Hyang Widhi tidak dapat diubah oleh perbuatan manusia. Ketahuilah bahwa bukan semata-mata kehendak saya untuk mengambil murid Bagus Seta, melainkan agaknya Sang Hyang Wishnu sendiri yang memilih anak ini untuk kelak menyelamatkan nama besarNya."

"Akan tetapi, Eyang !!!"

Suara bantahan Adipati Tejolaksono terhenti karena pada saat itu terdengar suara ketawa bergelak dan muncullah dua orang kakek yang entah dari mana tahu-tahu telah berada di tempat itu, berdiri sambil tertawa menghadapi Ki Tunggaljiwa.

Kakek ini memandang, menghela napas lalu bangkit berdiri.

Melihat sikap ,dua orang yang baru tiba, Adipati Tejolaksono juga bangkit berdiri, diikuti Ayu Candra yang masih memeluk puteranya.

Tejolaksono yang memandang penuh perhatian, diam-diam menjadi terkejut.

Dari cahaya muka dan sinar mata mereka, ia maklum bahwa dua kakek ini adalah orang-orang yang berilmu tinggi.

Kedua orang kakek itu sudah amat tua, sukar diduga berapa usianya, akan tetapi agaknya tidak kalah tua oleh Ki Tunggaljiwa yang juga sukar ditaksir berapa usianya.

Yang seorang bertubuh pendek gendut, berkepala gundul licin, dengan jubah kuning yang besar.

Wajah kakek ini amat tenang, mulutnya tersenyum dan pandang matanya tajam penuh pengertian seakan-akan tidak ada rahasia lagi baginya akan apa yang terjadi di kolong langit ini.

Tangan kirinya memegang seuntai tasbih dari batu putih halus mengkilap, sedangkan tangan kanannya memegang sebatang tongkat kayu cendana yang kepalanya berbentuk ukiran kepala naga.

Seluruh sikap kakek gundul ini, dari kaki sampai ke kepala, pada senyum mulutnya dan sinar matanya, semua membayangkan ketenangan dan kesabaran, kepala yang gundul dan jubah kuningnya menunjukkan bahwa dia adalah seorang pendeta beragama Buddha dan melihat betapa sinar kasih terpancar keluar dari matanya, mudah diduga bahwa pendeta ini adalah seorang pendeta suci yang sudah matang betul ilmunya.

Orang ke dua adalah seorang kakek tinggi kurus dan kakek inilah yang tadi tertawa-tawa.

Kakek ini rambutnya panjang seperti rambut Ki Tunggaljiwa, juga sudah putih semua, akan tetapi mukanya berkulit merah sehat seperti muka seorang anak kecil yang banyak bermain di bawah sinar matahari.

Matanya amat tajam dan penuh semangat hidup, penuh gairah dan panas.

Anehnya, pakaian kakek ini yang juga merupakan jubah seorang pendeta Hindu, berwarna merah menyolok.

Kedua tangannya kosong tidak memegang sesuatu, akan tetapi di pinggangnya tampak terselip gagang sebuah senjata yang tersembunyi di ba;ik jubahnya.

Ki Tunggaljiwa menghela napas panjang dan mengucapkan puja-puji kepada dewata sambil berkata.

"Puji syukur kepada Sang Hyang Widhi Wisesa yang telah menurunkan anugerah kebahagiaan pada saat ini! Pantas saja angin bersilir sejuk, burung prenjak meng-ganter (berkicau riang), bajing lompat-lompat berkejaran gembira, hari cerah dan jauh lebih indah daripada biasanya. Kiranya puncak Merapi mendapat kehormatan besar menerima sentuhan kaki dua orang suci yang mendatangkan kebajikan kepada sesama umat manusia! Sang Biku Janapati. dan Sang Wasi Bagaspati, selamat datang di puncak Merapi!"

"Sadhu............ sadhu............ sadhu semoga Sang Tri Ratna melindungi kita semua!"

Biku Janapati yang gendut dan berkepala gundul itu berdoa sambil merangkapkan kedua telapak tangan ke depan dada.

"Wahai sang sakti Ki Tunggaljiwa, alangkah pandainya Andika memilih tempat yang begini indah. Sahabatku yang baik Ki Tunggaljiwa, seperti telah dikatakan oleh sabda suci Sang Buddha bahwa yang meninggalkan kejahatan dinamakan Brahmana, yang hidup tenang dan tenteram disebut Samana (orang suci), dan yang mengenyahkan kekotoran dirinya dlnamakan Pabbayita (berslh dari noda). Semoga Andika sudah mencapal tingkat itu, oh, sahabat dan saudaraku Ki Tunggaljiwal"

Ki Tunggaljiwa tersenyum ramah, sepasang matanya yang bening dan bersinar terang itu ikut pula tersenyum.

"Saudaraku yang bijaksana, Sang Biku Janapati. Sabda sucl Buddha-darma dalam kitab Dhammapada itu menerangkan tentang sifat-sifat seorang Brahmana dan Andika pergunakan untuk memuji seorang seperti aku. Ha-ha-ha-ha! Terlalu tinggi, sang biku. Masa mungkin seorang petani bodoh macam Ki Tunggaljiwa ini disebut seorang Brahmana? Tidak berani aku menerimanya, Saudaraku. Andika inilah yang patut disebut seorang Bhikku yang telah matang jiwanya, seperti telah disabdakan dalam Dhamma-pada bahwa seorang Bhikku hendaknya tidak melebih-lebihkan apa yang diterima olehnya, tidak iri hati terhadap orang lain, karena seorang Bhlkku yang mengiri terhadap orang lain. takkan memperoleh ketenangan batin!"

"Ucapan Andika amat menyenangkan dan baik, Ki Tunggaljiwa. Sadhu !"

"Ha-ha-ha-ha-ha! Semenjak puluhan tahun yang lalu Ki Tunggaljiwa memang seorang yang pandai dan bijaksana. Pandai lahir batin dan pandai pula mengelus hati dan perasaan. Sampai-sampai Biku Janapati dapat kau nina-bobokkan dengan sabda-sabda suci Buddha-dharma (pelajaran Agama Buddha). Akan tetapi, Ki Tunggaljiwa, suara dari mulut itu bukanlah pernyataan pikiran dan senyum bukanlah cermin hati. Karena kita bertiga bukanlah anak-anak kecil lagi, kuminta, Ki Tunggaljiwa, janganlah menggunakan basa-basi dan tak perlu menanam madu di bibir. Lebih baik kita mengeluarkan isi hati dan pikiran sebagaimana adanya. Nah, aku telah berkata demi nama Sang Hyang Syiwa yang berkuasa! Omm, shanti-shanti-shanti. !!"

Ki Tunggaljiwa mengangguk-angguk, masih tersenyum ramah dan sepasang matanya makin tajam bersinar-sinar.

Lengan kanannya memeluk dada, lengan kirinya bertopang siku pada lengan kanan dan tangannya mengelus-elus jenggotnya yang putih seperti benang-benang sutera perak yang halus.

"Duhai, Jagad Dewa Bhatara. ! Sang Wasi Bagaspati semenjak puluhan tahun yang lalu masih saja penuh api dan semangat, seperti tidak pernah menjadi tua. Sungguh mengagumkan sekali! Sesungguhnyalah, aku sama sekali tidak. berkedok basa-basi yang kosong, Sahabat. Memang aku menanam madu di bibir, akan tetapi, ini merupakan tata susila dan kepribadian bangsa kita. Bukankah amat indah tata susila dan kepribadian bangsa kita, Sang Wasi? Tata susila pencerminan peradaban dan tanpa peradaban, apa bedanya antara manusia dan binatang? Betapa janggalnya kalau Andika berdua datang bertemu dengan aku lalu kita saling memandang dengan mata melotot dan mulut cemberut penuh ancaman seperti sekumpulan binatang bertemu lawan."

Mendengar sikap Ki Tunggaljiwa dan mendengar ucapan kakek ini, Adipati Tejolaksono benar-benar amat kagum dan tertarik hatinya.

Juga ia tadi kaget dan kagum mendengar bahwa kakek yang diangkat guru puteranya ini benar-benar adalah Ki Tunggaljiwa seperti yang pernah disangka oleh mendiang bibinya Kartikosari.

Saking kagum hatinya, tak terasa lagi ia mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju dengan bantahan itu.

"Ha-ha-ha! Dia yang tidak mengerti apa-apa, hanya pandai mengangguk-angguk menelan semua kata-kata manis seperti seekor kerbau mendapat makanan rumput kering dari si petani!"

Kata pula Wasi Bagaspati yang berwatak brangasan itu sambil memandang.

Tejolaksono tentu saja merasa dirinya disindir.

Ia mengangkat muka memandang pendeta pemuja Sang Hyang Syiwa itu dan begitu pandang matanya bertemu dengan pandang mata kakek itu, ia terkejut bukan main.

Dari sepasang mata kakek itu seperti keluar api berkilat yang panas sekali sehingga menyilaukan matanyal Akan tetapi Adipati Tejolaksono bukan orang sembarangan.

Dia pernah digembleng oleh Ki Patih Narotama, bahkan pernah pula diwejang oleh Sang Prabu Airlangga, maka diapun memiliki kekuatan batin amat hebat.

Cepat ia mengerahkan tenaga batinnya menentang pandang mata ini, namun biar dia kuat menentangnya, tidak urung jantungnya berdebar dan uap panas mengepul dari ubun-ubun kepalanya!

"Ha-ha-ha!

Kiranya temanmu yang muda ini seorang muda yang berisi juga, Ki Tunggaljiwa!

Muridmukah dia ini?

Lebih baik kau menyuruh mereka bertiga ini menyingkir lebih dulu agar percakapan kita yang maha penting tidak terganggu."

Tejolaksono bergidik ketika kakek itu mengalihkan pandang mata kepada Ki Tunggaljiwa.

Ia maklum bahwa sebentar lagi, kalau adu pandang itu dilanjutkan, a takkan kuat bertahan.

Alangkah hebatnya kakek pemuja Sang Hyang Syiwa itu!

"Heh-heh, dia bukan orang lain, juga bukan muridku, Sang Wasi.

Dia adalah Adipati Tejolaksono, Adipati Selopenangkep."

"Aaahhh! Kiranya dia ponggawa Panjalu, bukan? Bagus sekali! Biarlah dia menjadi saksi dan pendengar untuk menyampaikan kepada sang prabu di Panjalu. Kami tidak takut!"

"Sudahlah, Sabahatku Wasi Bagaspati. Tidak ada yang menentangmu, maka memang tidak ada persoalan berani atau takut. Lebih baik kalau Andika berdua Sang Biku Banapati menjelaskan maksud kedatangan Andika berdua."

"Ha-ha, seperti anak kecil engkau, Ki Tunggaljiwa. Perlu lagikah dijelaskan kepada seorang sakti mandraguna seperti engkau yang kabarnya memiliki mata batin yang tajam dan awas sehingga dapat melihat keadaan masa mendatang?"

Ki Tunggaljiwa menggeleng-geleng kepala.

"Andika maklum, bukan hak manusia untuk mendahului kehendak Hyang Widhi Wisesa. Kalau engkau enggan mengaku, aku mohon Sang Biku Janapati menjelaskan maksud kedatangannya."

Biku Janapati yang sejak tadi hanya berdiri diam tak bergerak, kini mendehem tiga kali, lalu merangkapkan kedua tangannya lagi.

"Ah, saudaraku Ki Tunggaljiwa. Semoga Sang Buddha menjauhkan hatiku daripada kehendak buruk! Kedatanganku ini tidak lain hanya mohon petunjuk dan penjelasan mengenai perjumpaanmu setengah tahun yang lalu di puncak Sanggabuwana dengan seorang di antara murid-muridku. Engkau dan muridku berdebat, juga dengan murid Saudara Wasi Bagaspati, dan mendengar bahwa Andika menentang berkembangnya Agama Buddha dan Agama Shiwa. Aku hanya ingin mendengar dari mulut Andika sendiri, benarkah Andika menentang Agama Buddha?"

"Biku Janapati, perlu apa bertanya lagi? Andaikata benar demikian, tentu Ki Tunggaljiwa yang plintat-plintut ini tidak akan mengaku. Kita semua tahu bahwa dia penyembah Sang Hyang Wishnu dan kita sama tahu pula betapa para penyembah Wishnu selalu menyelamatkan diri di balik ketajaman lidahnya!"

Ki Tunggaljiwa tidak menjadi marah, hanya mengangguk-angguk dan tersenyum lalu mengelus-elus jenggotnya.

"Memang benar seperti yang diucapkan Wasi Bagaspati. Perlu apa lagi aku bicara kalau orang datang dengan etikat buruk? Orang yang telah diracuni kebencian tidak akan dapat melihat kebenaran, tidak akan dapat mempertimbangkan keadilan! Kalau aku bicara dan membela kebenaran, tentu akan kalian anggap keliru pula, bahkan jangan-jangan aku disangka tumbak-cucukan (penceloteh). Tidak, kedua saudaraku yang bijaksana. Aku tidak akan membela diri dan membenarkan diri sendiri. Hanya pendirianku begini, hendaknya kalian berdua dengarkan secara teliti, dengan kepala dingin. Tidak aku sangkal lagi bahwa aku, bersama sebagian besar rakyat Panjalu dan Jenggala, memuja Sang Bathara Wishnu yang penuh kasih dan yang bijaksana yang hendak menuntun manusia ke jalan kebenaran, tidak melawan kehendak Sang Hyang Widhi Wisesa! Akan tetapi, sungguh menyimpang daripada ajaran Sang Hyang Wishnu kalau kami para pemujanya membenci dan menghalangi perkembangan agama lain, karena kami tahu bahwasanya semua agama itu bagaikan jalan-jalan yang berlainan namun kesemuanya mempunyai titik tujuan yang sama! Sinar agung Sang Hyang Wisesa merupakan mercu suar dan ke arah mercu suar itulah semua jalan menuju. Sahabat berdua, sekali lagi kutekankan bahwa kami anak murid Sri Wishnu tidak akan menentang agama lain, akan tetapi tentu saja kami juga tidak mau ditekan."

"Sungguh baik dan benar wawasan Ki Tunggaljiwa dan semoga Sang Buddha memberkahi kita sekalian yang berkemauan baik,"

Kata Biku Janapati dengan wajah berseri. Akan tetapi Wasi Bagaspati lalu tertawa bergelak penuh ejekan, kemudian berkata, suaranya nyaring.

"Ha-ha-ha, pemutaran kata-kata yang manis beracun! Heh, Ki Tunggaljiwa! Kakek-kakek seperti kita ini, perlu apa memutar-rnutar omongan? Lebih baik engkau katakan bahwa engkau tidak rela melihat agama kami berkembang ke Panjalu dan Jenggala!,. Aku Wasi Bagaspati semenjak muda terkenal sebagai orang yang paling suka akan sikap jantan yang blak-blakan, membenci sifat plintat-plintut!"

Keras dan memanaskan hati ucapan yang keluar dari tokoh pemuja Agama Shiwa ini, akan tetapi Ki Tunggaljiwa masih tersenyum, bukan senyum sabar melainkan senyum penuh makium, seperti senyum seorang tua melihat kenakalan kanak-kanak.

"Wasi Bagaspati, aku tidak menyembunyikan sesuatu yang aku sudah tahu pula akan latar belakang kemarahan Andika berdua. Misalnya, aku tahu bahwa Andika dan murid Andika adalah utusan-utusan atau wakil Kerajaan Cola yang ingin menancapkan kekuasaan di Jawa-dwipa, seperti juga sahabat Biku Janapati ini adalah utusan Sriwijaya yang semenjak dahulu memang ingin mendesak Mataram! Kedua kerajaan ini memperalat kalian, entah kalian sadari ataukah tidak. Akan tetapi aku tidak mencampuri urusan kerajaan. Bagiku, kujelaskan lagi, asal kalian tidak menekan kami para anak murid Sri Wishnu, kami tidak akan menentang siapa-siapa."

"Ha-ha-ha! Tanpa tedeng aling-aling memang kuakui bahwa aku utusan Kerajaan Cola! Dan Biku Janapati memang utusan Sriwijaya! Akan tetapi kau tidak perlu berpura-pura lagi, Ki Tunggaljiwa. siapakah tidak tahu kepada engkau dan kakak seperguruanmu Bhagawan Satyadarma di Gunung Agung? Siapakah tidak tahu betapa dahulu, semenjak di Balidwipa, kalian mengusahakan agar dapat menguasai Jawa? Buktinya, anak Balidwipa, murid Bhagawan Satyadarma, menjadi Raja Kahuripan! Dan kini putera-puteranya merajai Jenggala dan Panjalu. Tentu saja engkau melindungi mereka! Pendeknya, Kerajaan Cola dan Sriwijaya akan maju terus, dan kamipun akan maju terus!"

Ki Tunggaljiwa menggeleng kepalanya.

"Kalau begitu Sriwijaya dan Cola takkan berhasil, dan Andika berdua juga akan menghadapi banyak tantangan!"

"Ahh , begitukah? Dan siapa yang akan menentang kami? Engkaukah, Ki Tunggaljiwa!"

"Mungkin kalau perlu,"

Jawab Ki Tunggaljiwa dengan sikap tenang. Wasi Bagaspati mengedikkan kepala, membusungkan dada dan matanya mengeluarkan sinar berkilat.

"Babo-babo Ki Tunggaljiwa, kami anak murid Sang Hyang Shiwa memang bertugas membasmi yang jahat!"

"Aku tidak akan menyangkal, Wasi Bagaspati. Sang Hyang Shiwa memang berwenang membasmi akan tetapi pengertianmu tentang yang baik dan yang jahat kacau-balau dan hanya menurutkan nafsu dan mencari kemenangan pribadi belaka. Dengan demikian, kalau engkau menentang yang benar, berarti engkau bahkan mengkhianati tugas suci Sang Hyang Shiwa."

"Bagus! Jadi menurut pendapatmu, siapa yang benar? Orang-orang macam engkau inikah? Atau adipati antek Panjaiu ini? Huh, kalau saja dahulu aku diberi kesempatan, sudah kubasmi Airlangga dan Narotama, biang keladi utama sehingga agama-agama lain menjadi muhdur dan hanya menonjolkan penyembahan Sang Hyang Wishnu! Hayo, Ki Tunggaljiwa, majulah, biar kumusnahkan sekarang juga agar kelak tidak mendatangkan banyak korban. Engkaulah biang keladi utama sekarang!"

"Wasi Bagaspati, Andika sudah berjanji kepadaku tidak akan menggunakan kekerasan!"

Tiba-tiba Biku Janapati berkata dengan suaranya yang tenang dan mantap. Mendengar ini, Sang Wasi Bagaspati tertawa dan kepalanya menengadah ke atas.

"Ha-ha-ha, jangan khawatir, Biku Janapati. Aku tidak akan menggunakan kekerasan, akan tetapi kalau tua bangka ini maju, hemmm, dia akan menemui kebinasaanl Orang Mataram semenjak dahulu adalah orang-orang sombong dan pengecutI"

Kalau Ki Tunggaljiwa tersenyum tenang saja mendengar semua kata-kata yang kasar dan menghina itu, adalah Adipati Tejolaksono yang tidak dapat menahan sabar.

Tadinya hanya kedua telinganya saja yang merah.

Akan tetapi makin lama, warna merah menjalar ke leher dan seluruh mukanya.

Apalagi ketika mendengar bahwa Ki Tunggaljiwa adalah saudara seperguruan Sang Bhagawan Satyadharma, ia menjadi terkejut karena Bhagawan Satyadharma adalah eyang gurunya, dan kini melihat Ki Tunggaljiwa yang masih terhitung eyang gurunya pula itu diperhina orang, mendengar pula Mataram dan orang-orang Mataram disebut sombong dan pengecut, malah tadi nama Airlangga dan Narotama disebut-sebut, adipati yang jauh lebih muda ini segera melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke arah Wasi Bagaspati samba berkata tandas.

"Heh, nanti dulu, Sang Wasi Bagaspati! Andika mudah saja memaki-maki orang Mataram! Saya mendengar tadi bahwa Andika adalah utusan Kerajaan Cola! Padahal melihat warna mata, rambut dan kulit, Andika adalah bangsa saya juga! Akan tetapi Andika sudah merendahkan diri menjadi antek kerajaan asing! Andika bertugas demi kepentingan Bangsa Cola di seberang lautan! Sebaliknya, kami keturunan orang Mataram mengabdi kepada tanah air dan bangsa! Dan Andika masih berani menyebut orang-orang Mataram sombong dan pengecut?"

"Uaaahhh, babo-babo, si keparat! Engkau bocah masih bau pupuk berani kurangajar terhadap seorang kakek seperti aku? Majulah kalau kau ingin musnah hari ini!"

"Eyang guru Ki Tunggaljiwa tentu sependapat dengan saya bahwa sebagai anak murid Sang Hyang Wishnu yang taat, saya tidak akan menyerang orang lain tanpa sebab dan hanya akan melayaninya apabila diserang!"

Ki Tunggaljiwa mengangguk-angguk girang, akan tetapi Wasi Bagaspati menjadi makin marah sehingga matanya melotot mukanya merah.

"Eyang guru? Jadi Ki Tunggaljiwa ini eyang gurumu? Murid siapa engkau, bocah?"

"Mendiang Sang Prabu Airlangga dan Ki Patih Narotama pernah membimbing hamba."

"Hua-ha-ha-ha-ha! Hanya murid si Airlangga dan Narotama sudah berani menentang aku, Wasi Bagaspati?"

"Saya sama sekali tidak menentang seorang tua bernama Wasi Bagaspati, yang saya tentang adalah kelaliman "

"Huuuuushhh, keparat! Kau bilang aku lalim? Heh, Adipati Tejolaksono, tahukah engkau bahwa dengan mata meram aku sanggup membinasakanmu? Berani kau menerima dua kali pukulanku?"

"Saya tidak menantang, hanya akan membela diri kalau diserang."

"Bagus! Kalau begitu aku akan menyerangmu dengan dua kali pukulan. Nah, kau terimalah pukulan tangan kananku, bocah!"

Wasi Bagaspati tidak melangkah maju, tetap berdiri di tempatnya semula, sejauh dua meter dari Tejolaksono, tangan kanannya dldorongkan ke depan, kelihatannya perlahan saja, namun datanglah angin pukulan yang amat dahsyat menyambar ke arah dada Tejolaksono!

Tejolaksono adalah seorang sakti.

la rnaklum bahwa pukulan jarak jauh yang ampuhnya menggila dan tidak mungkin dielakkan karena jarak lingkungannya tak dapat diduga berapa luasnya.

Terpaksa ia lalu mengerahkan seluruh tenaga disalurkan kepada kedua lengannya, sampai ke ujung-ujung jari kemudian kedua tangannya itu dikipatkan ke depan untuk menghalau pukulan lawan.

Ia menggunakan aji pukulan Pethit Nogo yang sudah berkali-kali ternyata keampuhannya dalam menghadapi lawan tangguh.

Sudah banyak sekali lawan sakti roboh olehnya dengan aji pukulan Pethit Nogo ini.

Adipati Tejolaksono sudah mahir sekali menggunakan aji pukulan ini sehingga terkenal menjadi buah bibir orang bahwa dengan Aji Pethit Nogo, sang adipati sanggup memukul permukaan sungai sehingga dalam beberapa detik lamanya air itu terpecah atau terpisah sampai tampak dasar sungai!

Kini ia menggunakan aji pukulan Pethit Nogo dengan pengerahan seluruh tenaganya, dapat dibayangkan hebatnya dan agaknya si penyerang yang tertangkis tentu akan patah-patah tulang lengannya.

"Syuuuuutttt............!"

Dari tangan kanan Wasi Bagaspati dan dari kedua tangan Adipati Tejolaksono meluncur angin yang saling menghantam di tengah udara, di antara tangan mereka yang hanya berpisah satu meter.

"Dessss !!"

Sang adipati merasa betapa kedua telapak tangannya panas seperti dibakar dalam pertemuan tenaga yang tak tampak itu, dan menurut perasaannya, betapapun hebat tenaga Sang Wasi Bagaspati, namun tidak banyak selisihnya dengan tenaga saktinya sendiri.

Akan tetapi, alangkah kaget dan herannya ketika tanpa dapat ia cegah lagi, tubuhnya terlempar ke belakang seperti ditolakkan tenaga yang luar biasa dahsyatnya.

Untung ia tidak kehilangan akal dan cepat berjungkir balik di udara menggunakan Aji Bayu Sakti sehingga ia dapat melayang turun ke bawah dan tidak sampai terbanting ke atas tanah.

"Hemmm kau dapat bertahan? Coba yang kedua kali dan terakhir ini, terimalah!"

Kata pula Wasi Bagaspati dan tiba-tiba tubuhnya meluncur ke depan.

Lebih tepat disebut meluncur karena kedua kakinya tidak tampak bergerak akan tetapi tahu-tahu tubuhnya sudah meluncur maju.

Kini tangan kirinya yang mendorong dengan telapak tangan terbuka dan jari-jari tangannya merenggang.

Sang adipati berlaku hati-hati sekali.

Jelas bahwa tadi tangkisan aji pukulan Pethit Nogo tidak kuat menahan pukulan sang wasi, maka kini ia kembali mengerahkan seluruh tenaganya dan menggunakan aji pukulan Bojro Dahono yang ia pelajari dari Ki Patih Narotama.

Pukulan Bojro Dahono ini setingkat lebih dahsyat daripada Aji Pethit Nogo dan memiliki hawa panas seperti api dari dalam kawah Gunung Merapil Kalau tidak yakin betul bahwa lawannya seorang yang saki mandraguna, kiranya Adipati Tejolaksono tidak akan menggunakan aji ini karena ia tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan kakek itu.

"Wessssssssss............!!"

Telapak tangan mereka bertumbuk di udara, belum saling menempel, dalam jarak setengah meter, akan tetapi dari kedua telapak tangan mereka mengebul asap dan uapl Hawa dil sekitar tempat itu menjadi panas dan kiranya kedua orang itu menggunakan aji pukulan yang berhawa panas!

Kembali seperti halnya tadi, Tejolaksono merasa bahwa tenaga lawan tidaklah banyak lebih kuat daripada tenaganya sendiri.

Ia hanya kalah seusap.

Akan tetapi aneh sekali, kini tangannya itu terbetot oleh tenaga dahsyat yang tak tampak dan betapapun ia mempertahankan diri, tetap saja ia terbetot dan tangannya makin maju mendekati tangan lawanI Ia mengerahkan tenaga menarik, namun percuma, kini bahkan kakinya terseret dan di lain saat, bagaikan besi tertarik besi sembrani, telapak tangannya yang penuh dengan Aji Bojro Dahono itu menempel pada telapak tangan Wasi Bagaspati!

Begitu telapak tangannya menempel pada telapak tangan lawan, Adipati Tejolaksono terkejut bukan main.

Ia merasa betapa hawa saktinya tersedot tanpa dapat dicegah lagi, memasuki telapak tangan lawan dan kulit tangannya sendirI terasa seperti dibakar api Kawah Condrodimuko!

la mengerahkan tenaga membetot untuk melepaskan tangan, namun sia-sia karena tenaganya "amblas"

Ke dalam telapak tangan lawan.

"Huah-ha-ha-ha! Hayo kerahkan seluruh tenagamu, keluarkan semua aji kesaktianmu, coba lepaskan tanganmu kalau engkau mampu, bocah!"

Wasi Bagaspati tertawa-tawa dan kelihatan enak-enak saja sedangkan Tejolaksono mulai bermandi peluh dan mukanya berubah pucat, napasnya terengah-engah menahan nyeri dan panas.

Kalau dilanjutkan ia tentu akan kehabisan tenaga yang disedot oleh lawan, dan seperti orang kehabisan darah, akhirnya ia akan roboh lemas!

"Lepaskan suamiku !!"

Ayu Candra sudah meloncat maju dan mengirim pukulan ke arah lambung Wasi Bagaspati.

Ayu Candra adalah puteri mendiang Ki Adibroto, seorang warok Ponorogo aliran putih yang sakti, tentu saja pukulannya tidak boleh dipandang ringan.

Apalagi semenjak menjadi isteri Tejolaksono, ia telah memperoleh banyak kemajuan berkat bimbingan suaminya.

Akan tetapi, pukulannya tidak pernah menyentuh kulit lambung Wasi Bagaspati.

Kira-kira dalam jarak sejengkal jauhnya dari lambung, pukulan itu bertemu dengan tenaga yang berhawa panas sehingga Ayu Candra yang memukul bahkan terdorong ke belakang dan terhuyung-huyung.

Wanita itu tentu roboh kalau saja tidak cepat dipeluk dari belakang oleh puteranya, Bagus Seta.

"Ah, Angger adipati, harap Andika mundur karena Wasi Bagaspati bukanlah lawan Andika!"

Mendengar ucapan Ki Tunggaljiwa ini, Wasi Bagaspati tertawa dan Tejolaksono bingung.

Tangannya sudah melekat dan tenaga saktinya disedot terus oleh kakek lawannya yang luar biasa itu.

Bagaimana ia dapat mundur?

Melepaskan tangannya saja tidak mampu!

Akan tetapi pada saat itu, Ki Tunggaljiwa memegang pundaknya dan dari tangan kakek itu menjalar hawa yang amat dingin yang menembus punggung berkumpul di pusar, mendatangkan tenaga yang amat hebat.

Tejolaksono, seorang yang sakti mandraguna, tahu akan bantuan ini dan cepat menyalurkan hawa itu ke arah lengannya dan terdengar suara seperti api disiram air dingin.

Dari telapak tangan yang saling menempel itu keluar asap dan sekali tarik, Tejolaksono berhasil melepaskan tangannya.

Ia tidak membuang waktu lagi dan cepat melompat mundur.

Akan tetapi karena ia lelah sekali, ia jatuh terduduk lalu bersila dan mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaga.

"Ha-ha-ha, bagus sekali, Tunggaljiwa! Memang bocah ini bukan lawanku. Hayo engkau majulah. Engkau lawanku. Kita tua sama tua!"

Wasi Bagaspati menantang sambil membusungkan dadanya yang tipis.

Ketika Tejolaksono dan Ayu Candra memandang wajah kakek penyembah Bajhara Shiwa ini, mereka bergidik dan menjadi gentar.

Kini mengertilah Tejolaksono mengapa ia tadi tidak berdaya sama sekali menghadapi kakek itu.

Ia jauh kalah kuat perbawanya.

Sekarang pun memandang wajah kakek itu, ia seakan-akan melihat wajah itu mengeluarkan cahaya mencorong yang membuat hatinya gentar.

Hebat bukan main Wasi Bagaspati ini.

Akan tetapi menghadapi Wasi Bagaspati yang brangasan dan tinggi hati ini, Ki Tunggaljiwa tetap tenang dan penuh kesabaran.

Ia agaknya tidak memandang mata kepada Wasi Bagaspati yang menantangnya, sebaliknya ia lalu menjura ke arah Biku Janapati dengan sikap menghormat.

Pendeta Buddha ini sejak tadi hanya menjadi penonton saja dan sedikitpun tidak ada perubahan pada wajahnya yang amat tenang seperti air telaga yang dalam.

"Aku tidak akan berdebat dengan orang yang telah dikuasai amarah. Saudaraku Biku Janapati, bagaimana pendapat Andika? Apakah aku harus melayani tantangan Wasi Bagaspati?"

Pendeta Buddha yang tak berambut itu menarik napas panjang.

"Sadhu, sadhu! Harus diakui bahwa dalam hal pengendalian perasaan, Andika lebih menang setingkat daripada Saudara Wasi Bagaspati, Ki Tunggaljiwa! Memang tidak selayaknya orang-orang tua seperti kita berkelahi seperti orang-orang muda! Bertempur bukanlah permainan para pertapa dan pendeta, melainkan tugas para ksatria. Saudara Wasi Bagaspati, simpanlah kembali aji-aji kesaktianmu. Biarlah kalau kelak terjadi keharusan pertempuran, murid-murid kita yang akan mewakili kita."

"Ha-ha-ha, engkau untung sekali, Ki Tunggaljiwa! Usiamu yang tinggal sedikit diperpanjang beberapa tahun lagi. Kalau Biku Janapati tidak membujukku, betapa-pun kau mengeluarkan seluruh keampuhanmu, pasti hari ini engkau kukirim kembali ke alam asalmu!"

Ki Tunggaljiwa tersenyum dan membungkuk.

"Akupun amat berterima kasih kepada Biku Janapati atas pengertiannya yang mendalam dan kepadamu yang telah bersikap murah kepadaku, Wasi Bagaspati. Aku setuju dengan pendapat Biku Janapati, biarlah kelak murid-murid kita yang akan mewakili kita dan tentu saja biarlah kelak Sang Hyang Widhi Wisesa yang akan menentukan. Becik ketitik ala ketara (yang baik tampak yang buruk kelihatan)!"

"Berat............ , berat............! Ki Tunggaljiwa seorang bijaksana dan sakti mandraguna, sungguh merupakan lawan berat. Marilah, Wasi Bagaspati, kita pergi. Selamat tinggal, Ki Tunggaljiwa. Semoga Sang Tri Ratna memberi penerangan kepada Andika!"

"Doa restuku mengiringi perjalananmu, Biku Janapati dan Wasi Bagaspati!"

Dua orang kakek itu berkelebat dan dalam sekejap mata saja lenyap dari tempat itu.

Adipati Tejolaksono dan isterinya mengikuti bayangan mereka dengan hati kagum dan gentar.

Tejolaksono menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sungguh amat berbahaya I"

Ia bergidik kalau teringat pengalamannya tadi.

Semenjak muda ia sudah seringkali menghadapi lawan tangguh, akan tetapi sekali ini benar-benar tidak berdaya menghadapi Wasi Bagaspati yang dalam dua kali gebrakan saja hampir menewaskannya dalam keadaan mengerikan, menyedot semua hawa sakti dari dalam tubuhnya "Wasi Bagaspati belum seberapa, Angger adipati.

Aku yang tua masih sanggup menanggulanginya.

Akan tetapi baiknya Biku Janapati berpemandangan luas dan hatinya bersih.

Kalau dia yang dimabuk nafsu amarah seperti Wasi Bagaspati, tidak dapat aku membayangkan apa jadinya.

Ilmu kesaktian pendeta Buddha itu sedikitnya dua tingkat lebih tinggi dari-pada tingkat Wasi Bagaspati!"

Adipati Tejolaksono melongo, kaget dan khawatir sekali.

Kalau Panjalu dan Jenggala diancam bahaya serangan orang-orang sesakti itu, benar-benar amat mengkhawatirkan!

Kemudian ia teringat bahwa kakek ini masih eyang gurunya, maka ia segera memegang tangan isteri dan puteranya, diajak menjatuhkan diri berlutut dan menyembah orang tua itu.

"Mohon Eyang mengampunkan hamba yang tidak tahu bahwa Eyang adalah Paman guru Sang Prabu Airlangga dan Rakyana Patih Narotama. Ternyata Eyang adalah Eyang guru hamba sendiri!"

Kakek itu tersenyum dan mengelus jenggotnya, kemudian iapun duduk bersila seperti tadi.

"Kalian duduklah baik-baik dan dengarkan aku bicara,"

Katanya. Sikapnya tak pernah berubah, tetap tenang dan kini matahari yang telah naik tinggi menyoroti rambutnya yang putih seperti perak sehingga berkilauan menambah keagungannya.

"Kiranya Hyang Widhi telah membuka rahasia dengan kunjungan dua orang pendeta tadi. Angger adipati, setelah Andika menyaksikan dan mendengarkan semua, apakah Andika berdua isteri masih ragu-ragu untuk menyerahkan pendidikan puteramu kepadaku? Ketahuilah bahwa menurut penglihatanku, hanya puteramu ini yang kelak akan sanggup menyelamatkan Panjalu, dan terutama sekali menyelamatkan kewibawaan dan kebesaran Sang Hyang Wishnu. Kalian tadi telah menyaksikan sendiri betapa saktinya pihak lawan."

Suami isteri itu saling berpandangan dengan pucat.

Betapapun berat rasa hati mereka harus berpisah dari Bagus Seta, namun mereka dapat melihat kebenaran kata-kata kakek itu.

Musuh yang mengancam negara amat sakti dan kalau tidak ada yang menanggulanginya, akan berbahaya sekali.

Mereka amat mencinta putera tunggal mereka, akan tetapi mereka bukanlah orang-orang yang berpemandangan picik dan hanya mementingkan diri sendiri saja.

Dari sepasang mata Ayu Candra bertitik dua air mata, akan tetapi Tejolaksono makium dari pandang mata isterinya bahwa isterinya sudah merelakan puteranya.

Maka ia lalu berkata.

"Setelah melihat keadaan dan menginsyafi dasar pengangkatan anak kami sebagai murid Eyang guru, hamba hanya pasrah kepada kebijaksanaan Eyang. Semoga saja Bagus Seta kelak tidak akan mengecewakan mengemban tugas yang maha berat itu."

Ki Tunggaljiwa tertawa.

"Bagus sekali kalau kalian berdua sudah rela, Angger. Aku hanya mempunyai kesempatan selama lima tahun dan semoga dalam waktu itu, Sang Hyang Wishnu akan memberi bimbingan kepada puteramu sehingga berhasil dalam mengejar ilmu. Ketahuilah, dua orang pendeta tadi memiliki kesaktian yang amat tinggi. Dalam hal ilmu, kiranya engkau sendiri tidak akan kalah banyak oleh mereka, akan tetapi dalam hal kekuatan batin, ah, mereka itu sukar dilawan dan dikalahkan. Mereka sudah matang dalam gemblengan tapa dan mantra. Andaikata tadi engkau menggunakan Aji Triwikrama, agaknya tidaklah begitu terpengaruh oleh perbawanya yang amat kuat, namun betapapun juga, tidak akan mudah mengalahkan Wasi Bagaspati, apalagi Biku Janapati. Nah, sekarang harap Andika berdua pulang ke Kadipaten Selopenangkep. Masih ada hal yang harus kauhadapi Angger, namun betapapun berat, harus banyak hal yang harus kauhadapi, Angger adipati. Namun, betapapun berat, harus dapat kauhadapi dengan tabah karena segala macam hal yang menimpa diri manusia telah ditentukan oleh Hyang Widhi, sesuai dengan karma dan sesuai pula dengan perbuatan-perbuatan manusia sendiri, sehingga segala hal itu amatlah adil dan wajar. Segala hal yang terjadi pada diri manusia adalah akibat, dan mencari sebab dari luar adalah perbuatan bodoh, Angger, karena sebab-sebabnya adalah perbuatan dan pakarti kita sent diri."

Berdebar jantung Tejolaksono.

Teringatlah ia akan semua perbuatannya selama ini.

Diawali dengan perburuan di hutan dan pembunuhan anak harimau, pertemuannya dengan Ki Tunggaljiwa.

Kemudian teringat ia akan pengalamannya dengan Endang Patibroto yang belum sempat ia ceritakan kepada Ayu Candra.

Teringat akan ini semua, ia menundukkan mukanya, menduga-duga apa gerangan yang akan menjadi akibat daripada semua perbuatannya itu.

Dan adipati yang arif bijaksana dan sakti mandraguna ini mengkirik, ngeri ia melihat kenyataan semua perbuatannya itu.

Ah, betapa lemahnya manusia.

Betapa manusia diombang-ambingkan oleh nafsunya sendiri sehingga terbentuklah sebab-sebab yang akan menelurkan akibat-akibat yang di kemudian hari tidak akan diakui sebagai akibat perbuatannya sendiri, lalu menimbulkan sengsara!

Tiba-tiba sang adipati merasa nelangsa batinnya dan ia lalu bersembah sungkem di depan Ki Tunggaljiwa dan berkata, suaranya menggetar penuh perasaan haru.

"Duhai, Eyang hamba mohon petunjuk untuk menggayuh (menjangkau) kesempurnaan, Eyang."

Kakek itu tertawa, suara ketawanya ramah dan lunak.

"Ha-ha-ha-ha, Angger Adipati Tejolaksono. Kata-katamu amatlah lucu. Kesempurnaan apakah yang dapat dijangkau, Angger? Dan mengapa mencari kesempurnaan? Lihatlah dirimu sendiri, telitilah sedalam-dalamnya, lihatlah baik-baik segala warna-warni dan bentuk-bentuk, dengarlah segala suara, ciumlah segala ganda (bau), adakah sesuatu di dunia ini yang kurang atau belum sempurna? Segala sesuatu ciptaan Hyang Widhi Wisesa adalah sempurna, Angger, termasuk jasmani dan rohani kita manusia adalah sempurna. Sempurna, bersih dan suci. Yang menjadi persoalan hanyalah betapa cara menjaga kebersihan itu, mempertahankan kesucian itu. Jadi persoalannya hanyalah usaha, ikhtiar yang berupa laku-lampah dan karya kita. Segala perbuatan dan ucapan kita haruslah sesuai dengan isi hati dan pikiran sehingga tidak ada perbedaan antara lahir dan batin, atau jelasnya, perbuatan kita adalah pencerminan daripada isi hati kita. Perbuatan yang sesuai lahir batin inilah, Angger, yang akan menentukan akibat-akibat di belakang hari dalam kehidupan kita."

"Perbuatan yang bagaimanakah, Eyang? Mohon petunjuk."

"Tengoklah sekeliling kita, Angger. Adakah sebuah bendapun yang tiada guianya bagi. kita? Semua berguna, semua demi kenikmatan hidup kita. Demikianlah sifat Hyang Widhi Wisesa, sekalian isi alam diberikan kepada manusia. Memberi, memberi, dan member!, tanpa pamrih! Tidak pernah meminta, tidak pernah menuntut, berkah dan anugerah berlimpah-limpah dalam pemberian yang ikhlas tanpa pamrih. Tidak pilih kasih! Lihat cahaya matahari. Siapapun adanya dia, bodoh atau pintar, kaya atau miskin, boleh menikmatinya. Pendeknya, seluruh ciptaan Hyang Widhi Wisesa diberikan kepada siapa saja yang mau dan dapat menikmatinya! Lalu, apakah balas jasa manusia terhadap semua berkah yang tak kunjung habis itu? Apakah yang telah diberikan oleh manusia? Janganlah hanya pandai meminta, meminta, dan meminta lagi! Kita harus meniru sifat yang amat indah itu, ialah memberi, memberi, dan memberi tanpa pamrih! Melakukan kewajiban sebagai manusia tanpa pamrih, berarti membantu kelancaran perputaran roda kesempurnaan yang diciptakan Hyang Widhi Wisesa."

"Kewajiban dan perbuatan yang bagaimanakah kiranya, Eyang? Maafkan, Eyang, sungguhpun sudah banyak hamba dengar dari para guru, namun petunjuk Eyang akan menjadi penambah sinar terang dalam jalan hidup hamba."

Ki Tunggaljiwa tersenyum.

"Memang, manusia harus senantiasa belajar, dan biarlah semua wawasanku ini tidak akan sia-sia. Terutama sekali kutujukan kepada muridku, Bagus Seta karena wawasan inipun merupakan pelajaran baginya."

Bagus Seta yang tadi berada dalam pelukan ibunya, kini duduk bersila dan mendengarkan penuh perhatian.

"Semua sikap dalam hidup sudah digambarkan secara jelas dalam Bhagawad Gita ketika Sang Hyang Wishnu dalam diri Sang Bhatara Kresna memberi wejangan kepada Sang Harjuna. Akan tetapi sebagai dasar permulaan, aku mempunyai dua macam pelajaran yang amat mudah dan sederhana, mudah dimengerti sungguhpun belum tentu mudah dijalankan. Pertama . JANGAN MENYUSAHKAN HATI ORANG LAIN! Pelajaran pertama ini amat luasnya, Angger dan jangan mengira akan mudah saja dilaksanakan. Karena, jika pelajaran pertama ini sudah mendarah daging pada diri kita, maka kita tidak melakukan segala macam perbuatan jahat yang merugikan atau menyinggung perasaan, pendeknya merugikan lain orang. Nah, kalau pelajaran pertama ini sudah benar-benar menjadi watak, mulailah kita meningkat kepada pelajaran ke dua, yaitu . SENANGKANLAH HATI ORANG LAIN! Senangkanlah hati orang lain sesering dan sebanyak mungkin karena sifat ini sesuai dengan semua ciptaan Sang Hyang Widhi yang serba sempurna. Hidup adalah suatu berkah dan nikmat, maka harus dinikmati bersama dengan landasan kasih sayang antar manusia yang sesungguhnya adalah senasib di dalam dunia ini."

Tejolaksono mendengarkan penuh perhatian.

Filsafat yang keluar dari mulut kakek itu amatlah sederhana, namun apabila benar-benar dijalankan manusia, kiranya tidak ada perlunya lagi manusia mengejar-ngejar kesempurnaan seperti banyak dilakukan orang sehingga sesat ke mana-mana.

Cara hidup baik yang sesungguhnya amat sederhana dan mudah itu menjadi sulit dan membingungkan karena dituangkan dalam wejangan-wejangan dan pelajaran-pelajaran yang rumit-rumit dan sukar dimengerti.

Setelah menerima banyak wejangan tentang sifat-sifat ksatria dan tentang pembelaan keadilan dan kebenaran, Adipati Tejolaksono dan Ayu Candra berpamit kembali ke Selopenangkep.

Ayu Candra dapat menekan keharuan hatinya, hanya memeluk dan mencium pipi puteranya sambil berbisik.

"Yang baik-baik dan rajin engkau belajar di sini, Anakku!"

"Jangan khawatir, Kanjeng Ibu. Saya tidak akan mengecewakan hati Kanjeng Rama Ibu dan Bapa guru,"

Jawab Bagus Seta dengan tabah.

Ada keharuan membayang di pandang mata anak itu, akan tetapi wajahnya tetap berseri dan hal ini menjadi tanda bahwa anak ini sudah mulai pandai menguasai perasaannya.

Melihat ini, kembali Tejolaksono menjadi kagum.

Dalam waktu dua bulan lewat saja sudah tampak perubahan besar pada diri puteranya, kemajuan yang kiranya belum tentu dapat dicapai puteranya itu selama setahun dalam gemblengannya.

Ia maklum bahwa mengenai kekuatan batin, Ki Tunggaljiwa sudah mencapai tingkat amat tinggi sehingga ia percaya bahwa puteranya tentu akan memperoleh ilmu kesaktian yang takkan pernah dapat ia ajarkan kepada puteranya itu.

Hatinya menjadi lega dan gembira, dan sedikitpun pada wajahnya tidak tampak kedukaan seperti terdapat pada wajah isterinya ketika mereka berdua menuruni lereng Gunung Merapi.

##### Setelah suami isteri itu turun dart puncak Gunung Merapi, barulah Adipati Tejolaksono mendapat waktu dan kesempatan untuk menceritakan pengalamannya yang hebat di Blambangan.

Ia menceritakan segala yang dialami Endang Patibroto, tentang tipu muslihat Blambangan dan tentang pengalamannya bersama Endang Patibroto yang terjeblos ke dalam perangkap, dalam sumur yang hampir saja menewaskan mereka berdua.

Akhirnya ia menceritakan pula apa yang terjadi di dalam ruangan di bawah tanah itu, betapa dalam menghadapi kematian yang agaknya tak dapat dielakkan lagi, dia dan Endang Patibroto telah terangkap menjadi suami isteri.

Mula-mula mendengar cerita suaminya, Ayu Candra menjadi terharu sekali dan merasa amat kasihan kepada Endang Patibroto yang bernasib malang.

lapun menjadi ikut gelisah dan tegang ketika mendengar cerita betapa suaminya bersama Endang Patibroto menghadapi lawan yang amat banyak, kemudian terjeblos ke dalam lubang jebakan menderita ancaman maut yang mengerikan.

Ketika mendengar penuturan suaminya dengan suara tersendat-sendat tentang hubungan suaminya dengan Endang Patibroto sebagai suami isteri, wajah Ayu Candra menjadi pucat sekali dan sejenak suasana menjadi sunyi.

Hanya langkah-langkah kaki mereka saja yang terdengar dan kini langkah Ayu Candra agak lemas.

Tejolaksono memegang tangan isterinya dan berdiri berhadapan di sebuah lereng.

"Nimas, aku harap Adlnda tidak akan menjadi marah. Percayalah, Nimas, bahwa hal ini terjadi di waktu kami menghadapi maut yang kami anggap tak dapat dihindarkan lagi sehingga pikiran kami menjadi gelap. Andaikata tidak dalam keadaan seperti itu, aku yakin hal itu tidak akan terjadi. Adinda tentu tahu bahwa kalaupun aku berhasrat mengambil selir, tentu dengan persetujuanmu lebih dahulu. Maka, harap Adinda tidak marah dan kalau hal ini menyinggung perasaanmu harap kau suka memaafkan kami."

Kini Ayu Candra tersenyum, wajahnya berserl dan ia membenamkan mukanya di dada suaminya.

"Maaf, Kakangmas. Sebentar tadi aku digoda cemburu. Tidak. ! Aku tidak cemburu. Apalagi Endang Patibroto yang menjadi selirmu. Aku bahkan bangga mempunyai madu seorang wanita yang sakti mandraguna! Memang dia patut dikasihani, Kakangmas. Apalagi setelah kanjeng bibi Kartikosari tidak ada. Biarlah, dia akan kusambut sebagai saudaraku, sebagai adikku, karena memang dia maduku, dia isterimu. Aku tidak cemburu, Kakangmas."

Alangkah girang dan besar hati Tejolaksono.

Ia maklum akan kehalusan budi Ayu Candra.

Ia lalu memegang wajah isterinya di antara kedua tangan, diangkatnya muka yang cantik jelita itu sehingga muka mereka berhadapan, mata mereka saling tatap.

Tejolaksono melihat betapa pandang mata isterinya benar-benar tutus ikhlas, tidak ada sedikitpun bayangan amarah atau cemburu.

Ia amat bersyukur dan berterima kasih maka diciumnya mata yang indah itu.

Ayu Candra meramkan matanya dan merangkul leher suaminya yang amat dikasihinya.

Ketika suami isteri ini tiba kembali di Kadipaten Selopenangkep, mereka disambut oleh Roro Luhito dan puterinya, Pusporini, kemudian puteri Kartikosari yang bernama Setyaningsih, dan seorang lagi yang amat mengejutkan dan menggirangkan hati suami isteri itu, yakni Endang Patibroto!

Melihat Endang Patibroto, Ayu Candra lalu maju dan merangkulnya.

"Adikku wong ayu, Endang Patibroto............ , aku sudah mendengar semua tentang dirimu. Ahhh, betapa banyak kesengsaraan kau derita, Adikku. Biarlah mulai sekarang kita bersama menikmati kebahagiaan, dan aku sungguh girang dapat memelukku seperti seorang kakak, Adikku."

Endang Patibroto sekilas mengerling kepada Tejolaksono yang tersenyum kepadanya, maka mengertilah wanita ini bahwa Tejolaksono telah membuka rahasia mereka kepada Ayu Candra.

Hal ini amat menggelisahkan hatinya tadi, menjadi ganjalan karena ia merasa malu kepada Ayu Candra dan selalu mengkhawatirkan pertemuan ini.

Apalagi ketika ia tiba di Selopenangkep dan mendengar tentang tewasnya ibu kandungnya, hatinya makin trenyuh dan gelisah.

Akan tetapi setelah kini bertemu, sikap Ayu Candra benar-benar tak pernah ia sangka-sangka dan hatinya menjadi lega dan terharu sekali.

Wanita ini telah ia bunuh ayah ibunya (baca Badai Laut Selatan), dan kini bahkan seakan-akan ia "curi"

Suaminya, akan tetapi menerimanya seramah ini.

Ia balas merangkul dan per-kata lirih,...........

terima kasih............

, engkau baik sekali............

sudi menerima orang yang buruk watak dan buruk nasib seperti aku biarlah mulai saat ini aku mengaku ayunda kepadamu............

dan aku akan mentaatimu seperti mentaati kakak sendiri "

Melihat betapa dua orang wanita itu berpelukan terharu, Roro Luhito mengerutkan keningnya.

Wanita inI tahu benar akan watak Endang Patibroto, dan sudah mengenal pula watak Ayu Candra.

Sifat dan watak kedua orang wanita ini bagaikan bumi dan langit.

Endang Patibroto liar dan keras, berdarah panas dan tidak punya rasa rendah hati sama sekali, sukar ditundukkan.

Adapun Ayu Candra lemah lembut dan manja atau ingin dimanjakan suaminya.

Betapa mungkin dua orang wanita ini menjadi madu?

Dia tadi kaget bukan main mendengar percakapan dua orang wanita ini karena semenjak datang ke Selopenangkep pagi tad!, Endang Patibroto tidak pernah bercerita tentang itu.

"Anaknda adipati, harap ceritakan bagaimana dengan hasil usaha kalian mencari Bagus Seta. Mana dia? Mengapa tidak ikut pulang?"

Pertanyaan ini ia ajukan dengan suara keras untuk menutupi ketidaksenangan hatinya melihat Endang Patibroto dan Ayu Candra berpelukan sebagai madu.

Roro Luhito sama sekali bukan tidak setuju kalau Adipati Tejolaksono mernpunyai selir.

Dia sendiri adalah isteri ke dua, isteri selir.

Akan tetapi karena persatuan antara Endang Patibroto dan Ayu Candra, menurut pemandangannya, dapat menimbulkan hal-hal yang tidak baik dan ada bahaya meruntuhkan kebahagiaan rumah tangga Tejolaksono, maka ia merasa tidak setuju di dalam hatinya.

Tentu saja bagi Roro Luhito, yang terpenting adalah kebahagiaan Tejolaksono karena adipati ini adalah keponakannya, putera dari kakaknya, Ketika Tejolaksono dan Ayu Candra menceritakan tentang keadaan Bagus Seta yang dalam keadaan selamat dan menjadi murid kakek sakti Ki Tunggaljiwa, Roro Luhito menjadi lega hatinya.

Sebagai orang tua, ia maklum bahwa pada saat itu merupakan pertemuan segi tiga yang mesra antara Tejolaksono dan kedua orang isterinya, maka ia lalu menggandeng tangan Pusporini dan Setyaningsih sambil berkata.

"Anaknda adipati tentu lelah dan ingin beristirahat. Marilah, kedua anakku, kita ke belakang."

Setyaningsih yang digandeng Roro Luhito, beberapa kali menengok ke arah Endang Patibroto.

Semenjak Endang Patibroto datang pagi tadi, anak ini selaIu memandang kakaknya itu dengan pandang mata kagum dan penuh kasih.

Sudah banyak ia mendengar dari mendiang ibunya tentang kakaknya ini yang menurut ibunya amat sakti mandraguna.

Kini setelah ibunya meninggal dunia, munculnya kakaknya ini seakan-akan menjadi pengganti ibunya.

Sebaliknya, Endang Patibroto juga amat mencinta adik kandungnya ini.

Adipati Tejolaksono yang bercakap-cakap dengan kedua isterinya, agaknya penuh dengan kebahagiaan dan suasana tenteram damai penuh kasih menyelimutl mereka bertiga.

Agaknya kekhawatiran Roro Luhito adalah kekhawatiran kosong belaka.

Ayu Candra telah rela dan ikhlas terhadap Endang Patibroto, demi cinta kasihnya yang murni terhadap suaminya.

Bahkan malam hari itu, sebagai isteri pertama yang bijaksana, Ayu Candra membujuk suaminya agar menemani Endang Patibroto di dalam kamarnya.

Sukar dilukiskan betapa besar kebahagiaan hati Tejolaksono dan Endang Patibroto yang melihat bahwa hubungan mereka dapat perlangsung dengan amat baiknya, tiada halangan sesuatu.

Dan dalam pertemuan yang mesra itu Endang Patibroto menceritakan tentang perang yang dilakukan Jenggala dan Panjalu terhadap Kadipaten Blambangan.

Kedua kerajaan ini mengirim pasukan besar.

Bahkan Panjalu mengirim pasukan istimewa yang dipimpin sendiri oleh Pangeran Darmokusumo dan setelah kedua pasukan ini menggabung, penyerbuan Blambangan dimulai.

Blambangan dilanda serbuan besar-besaran dan biarpun Blambangan melakukan perlawanan mati-matian, namun kadipaten ini bukanlah lawan pasukan kedua kerajaan yang dipimpin orang-orang pandai.

Apalagi ada Endang Patibroto di dalam pasukan itu yang mengamuk hebat dan banyak senopati Blambangan roboh di dalam tangan wanita sakti ini.

Dalam waktu beberapa hari saja pertahanan Blambangan dapat dipatahkan, kadipaten diserbu, dan Adipati Menak Linggo tewas pula di tangan Endang Patibroto.

Juga Ki Patih Kalanarmodo dan Senonatl Mayangkurdo, Klabangkoro dan Klabangmuko semua tewas dalam perang yang pendek namun dahsyat.

Hanya Sindupati yang dapat melarikan diri, berhasil menyelamatkan diri dengan sebuah perahu menyebrang selat dan bersembunyi di Bali-dwipa, dimana ia mencari orang-orang pandai untuk memperdalam ilmunya sambil bersembunyi dari pengejaran musuh.

"SETELAH Blambangan terbasmi, aku meninggalkan pasukan dan berpamit dari Pangeran Darmokusumo untuk pergi lebih dulu karena kuanggap tugasku sudah selesai. Hanya sayang sekali, si keparat Sindupati dapat meloloskan diri, agaknya ia melarikan diri ke Bali-dwipa, akan tetapi aku tidak sempat mengejarnya, Kakangmas. Karena............ karena............ aku ingin sekali segera menyusulmu ke Selopenangkep."

Adipati Tejolaksono tertawa dan mencium isterinya ini yang bercerita sambil rebah dalam pelukannya.

"Mati hidup berada di tangan Hyang Widhi, adinda Endang Patibroto. Agaknya memang belum tiba saatnya Sindupati menerima hukumannya. Memang tepat sekali adinda cepat-cepat datang ke Selopenangkep karena........... hemm............ aku telah rindu sekall."

Sejenak sunyi di antara mereka karena Endang Patibroto terbuai dalam belaian suaminya yang mesra dan penuh kasih sayang. Kemudian terdengar ia berkata.

"……….. Kakangmas, sesungguhnya............ baru berpisah hampir dua bulan bagiku........... pun amat berat. Akan tetapi............ ah, terus terang saja, Kakangmas. Sebelum bertemu dengan engkau dan ayunda Ayu Candra, hatiku amat gelisah dan khawatir. Aku telah banyak melakukan kisalahap dahulu terhadap ayunda Ayu Candra, dan tadinya aku takut untuk bertemu muka, takut untuk mengakui hubungan antara kita, takut dan malu. Tadinya aku bahkan hendak diam-diam pergi minggat saja, biar aku hidup sebagai pertapa, biar selamanya tidak bertemu dengan ayunda Ayu Candra, betapa pun akan beratnya penanggulangan hatiku yang penuh dendam rindu kepadamu, tapi."

Adipati Tejolaksono menghentikan kata-kata isterinya dengan ciuman. Kemudian ia tertawa.

"Cukuplah, Yayi, tidak perlu dilanjutkan persangkaan yang bukan-bukan itu, karena buktinya sekarang tidak seperti yang kau khawatirkan, bukan?"

Endang Patibroto menarik napas panjang dengan hati lapang.

"Memang, dan aku bersyukur kepada Dewata, berterima kasih kepada ayunda Ayu Candra yang bijaksana dan berbudi luhur. Sesungguhnya, akan kelirulah kalau aku menuruti kata hati lalu minggat meninggalkanmu untuk selamanya seperti yang tadinya terniat di hatiku. Aduhh............ betapa akan sengsaranya hatiku kalau begitu. Untung , untung sekali ada sesuatu yang memaksa aku harus bertemu dengan engkau, Kakangmas. Yang memaksakan datang ke Selopenangkep dan yang mencegah aku pergi minggat mengasingkan diri."

Adipati Tejolaksono menunda belaian kasih sayangnya dan menatap wajah dalam rangkulannya, memandang penuh pertanyaan.

"Apakah sesuatu itu, Yayi?"

Tiba-tiba ia melihat air mata berlinangan di mata yang indah itu.

Endang Patibroto menangis!

Akan tetapi bukan tangis karena duka, buktinya bibir yang merah membasah itu tersenyum!

Segera Tejolaksono mengecup sepasang mata itu untuk menghapus beberapa titik air mata bening yang turun ke pipi.

Kedua lengan Endang Patibroto merangkul lehernya dengan ketat dan mulutnya berbisik dekat telinga Tejolaksono.

"Kakangmas............ Joko Wandiro………"

Suaranya menggetar penuh perasaan dan jantung Tejolaksono berdebar pula mendengar disebutnya nama kecilnya.

"............ aku............ aku telah mengandung............ , semenjak kita berpisah dari Blambangan."

Dan kini air mata makin deras berlinang dari sepasang mata itu.

Air mata kebahagiaan!

Selama sepuluh tahun menjadi isteri Pangeran Panjirawit, Endang Patibroto tidak mempunyai anak dan kini ia telah mengandung keturunan Joko Wandiro, pria yang dahulu untuk pertama kalinya telah merebut kasih hatinya namun bertentangan karena keadaan.

"Heeeiiii............???"

Saking kaget dan girangnya, Adipati Tejolaksono melompat turun dari pembaringan, memandang kepada Endang Patibroto dengan mata terbelalak.

"Ti............. tidak girangkah............ hatimu........... mendengar hal itu…...., Kakanda… ?"

"Girang?? Ha-ha-ha-ha! Hampir gila aku karena girang! Aduh, adinda pujaan hati, kekasih hatiku, engkau masih bertanya apakah aku girang ? Ha-ha-ha!"

Adipati Tejolaksono merangkul dan mengangkat tubuh isterinya, dipondong dan dibawa berjingkrakan dan berputaran di dalam kamar mereka!

Malam penuh madu asmara, penuh kebahagiaan bagi kedua orang ini.

Malam yang indah di mana seluruh perasaan cinta kasih ditumpahkan dan saling dilimpahkan satu kepada yang lain.

Malam bahagia yang agaknya menyangkal kekhawatiran hati Roro Luhito.

Dan agaknya memang demikianlah kalau ditengok keadaan Ayu Candra yang rebah sendirian di dalam kamarnya, kadang-kadang tersenyum puas karena selain puteranya selamat dan menjadi murid seorang sakti, suaminya telah berkumpul kembali dengan kekasih lama.

Sebagai seorang wanita, ia berperasaan halus dan sejak dahulupun ia sudah menduga bahwa ada jalinan kasih yang terpendam di antara suaminya dan Endang Patibroto.

Kini agaknya Endang Patibroto sudah insyaf, sudah merubah wataknya yang liar dan ia merasa puas.

Malam itu, biarpun tidur sendirian di dalam kamarnya, Ayu Candra tidur pulas tanpa mimpi.

Akan tetapi, jalan hidup manusia sudah ada garisnya yang ditentukan oleh Tuhan.

Garis ini wajar dan sudah semestlnya terjadi demikian, sudah adil dan baik, sesuai dengan karma manusia masing-masing.

Berat atau ringan, duka atau suka dalam menerima garis ini tergantung kepada manusia sendiri.

Manusia tak mampu merubahnya.

Manusia hanya wajib mengisi hidupnya dengan kebaikan karena hanya dengan cara ini sajalah, dengan menumpuk kebaikan dan menjauhi kejahatan, manusia akan dapat "meluruskan"

Garis hidupnya di kemudian hari karena Tuhan itu Maha Adil.

Dosa-dosa yang lalu hanya dapat ditebus dengan rasa tobat yang setulusnya disertai pemupukan perbuatan-perbuatan yang baik dan penerimaan hukuman dengan ikhlas dan sadar.

Perbuatan-perbuatan baik barulah benar kalau dilakukan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan anugerah atau hadiah!

Kekhawatiran Roro Luhito bukanlah kekhawatiran dungu, bukan ditimbulkan karena hati iri atau dengki, bukan pula oleh benci atau marah.

Roro Luhito seorang wanita yang sudah tua, sudah banyak makan garam dunia, sudah berpengalaman dan wawasannya juga tajam berdasarkan pandangan luas.

Pada malam berikutnya, terbuktilah apa yang dikhawatirkan oleh Roro Luhito.

Adipati Tejolaksono, sebagai seorang suami bijaksana, sungguhpun dendam rindunya terhadap Endang Patibroto masih menggelora, pada malam ke dua itu berdlam di dalam kamar Ayu Candra.

Seperti biasa, suami isteri yang saling mencinta ini berkasih-kasihan, berbisik-bisik di atas pembaringan dan dalam kesempatan ini, Tejolaksono menceritakan isterinya tentang Endang Patibroto yang telah mengandung!

"Kiranya Hyang Widhi Wisesa juga memberkahi perjodohanku dengan Endang Patibroto, nimas Ayu.

Buktinya, ikatan jodoh yang kami laksanakan di dalam ruangan bawah tanah dalam menghadapi maut itu ternyata dianugerahi dewata dan dia kini telah mengandung dua bulanl"

Untuk menjaga perasaan isterinya pertama ini, sang adipati menekan kegirangan hatinya, namun dalam suaranya masih jelas terdengar kegirangan yang meluap-luap.

Ayu Candra mula-mula tersenyum dan ikut merasa bahagia.

Akan tetapi, ketika suaminya hampir pulas, Ia tak dapat menahan lagi kesedihan hatinya dan menangislah Ayu Candra!

Sebagai seorang sakti mandraguna yang memiliki tubuh selalu dalam keadaan siap siaga, sedikit saja keadaan tidak wajar telah membuat Adipati Tejolaksono lenyap kantuknya dan ia bangklt duduk.

Dlpandangnya isterinya dan la bertanya Iirih dan halus.

"Yayi dewi. mengapa kau menangis? Apakah yang menyusahkan hatimu?"

Pertanyaan ini membuat Ayu Candra makin sedih dan menangis sampai mengguguk, menyembunyikan mukanya di atas bantal.

Setelah dua tiga kali suaminya bertanya, barulah ia menjawab dengan suara tersendat-sendat.

"Aku............ aku teringat akan Bagus Seta. !.

"Aaah, mengapa, Yayi? Bukankah putera kita itu sudah aman tenteram di bawah bimbingan Eyang Guru Ki Tunggaljiwa? Bayangkan betapa kelak ia akan pulang sebagai seorang ksatria yang gagah perkasa dan !!"

"Kakangmas............ aku....…… besok akan pergi menyusulnya di puncak Merapi. !"

"Ehhhh............??"

Tejolaksono terkejut dan memegang kedua pundak isterinya, dibangunkannya isterinya itu duduk di depannya. Rambut yang terurai itu menutupi sebagian muka Ayu Candra.

"Kenapa begitu, Nimas?"

"Aku............ aku tidak dapat berpisah darinya. aku akan menjaga dan menemaninya di sana sampai ia lulus dari perguruan di sana............ aku............ aku… "

Ayu Candra terisak-isak. Tejolaksono menarik napas panjang, bingung dan tidak mengerti.

"Nimas Ayu, engkau tentu maklum bahwa aku sendiri-pun merasa berat berpisah dari Bagus Seta, akan tetapi kita sudah melihat peristiwa yang terjadi di sana dan sudah mendengar semua penuturan Eyang Guru Ki Tunggaljiwa. Betapapun berat rasa hatiku berpisah dari putera kita, terpaksa kutahankan karena."

"Karena engkau sebentar lagi akan mempunyai putera lain, Kakangmas! Engkau dan diajeng Endang Patibroto akan mempunyai seorang putera yang selalu dekat dengan kalian, akan tetapi aku. aku tidak punya siapa-siapa."

Diam-diam Tejolaksono tersentak kaget.

Jantungnya berdebar dan ia maklum bahwa inilah sebuah di antara akibat daripada perbuatannya!

"Aduh, nimas Ayu.

mengapa engkau berpendapat begitu?

Ingatlah, Nimas...........

anak Endang Patibroto adalah anakku, dan anakku berarti anakmu pula, bukan?Ahhh, apakah akan jadinya kalau engkau pergi menyusul Bagus Seta?

Hal ini tidak mungkin, tidak boleh kaulakukan, Nimas.

Engkau tahu bahwa kalau hal itu kaulakukan, berarti engkau akan menghancurkan hatiku............

betapa engkau tega melakukan hal seperti itu "

Ayu Candra mengangkat mukanya memandang wajah suaminya.

Melihat betapa sepasang alis suaminya berkerut, sepasang mata itu sayu dan sedih, ia lalu menubruk, merangkul dan membenamkan muka di dada suaminya.

"Duh............ Kakangmas........... ampunkan hamba. ampunkan hamba yang picik dan lemah........... Kakangmas, legakan hatimu, aku......... aku takkan melakukan hal itu............ betapapun berat rasa hatiku, akan kukuat-kuatkan "

Rasa hati Tejolaksono seperti disiram air embun di puncak Semeru.

Batu seberat gunung yang menindih hati serasa diangkat.

Lapang bukan main rasa dadanya.

Diciumnya ubun-ubun kepala Isterinya dengan sepenuh kasih sayangnya dan ia berbisik.

"Aku tahu............ aku tidak pernah meragukanmu, Yayi............ aku tahu bahwa engkau adalah isteriku yang tercinta, seorang isteri yang setia dan bijaksana."

Agaknya urusan itu akan menjadi beres kembali dan hanya sampai sekian saja karena Ayu Candra sudah kelihatan tenang kembali dan hati Tejolaksono sudah menjadi lega dan girang.

Akan tetapi sang adipati ini tidak melihat dan tidak tahu apa yang terjadi di luar kamarnya.

Kalau saja ia tahu, tentu ia tidak akan dapat begitu bahagia memadu kasih dengan Ayu Candra.

Dengan gerakan yang amat ringan, Endang Patibroto meninggalkan jendela kamar Ayu Candra.

Ia menahan suara isak tangisnya dengan kedua tangan yang didekapkan rapat-rapat ke depan mulut dan hidung, kemudian setelah agak jauh, ia lari memasuki taman yang gelap dan sunyi.

Ia tidak berani kembali ke kamarnya, karena khawatir kalau-kalau suara tangisnya terdengar oleh bibi Roro Luhito.

Kini ia berada di taman sari yang sunyi dan gelap dan di sinilah, di atas sebuah bangku di bawah pohon kenanga, Endang Patibroto menangis mengguguk.

Dengan kekerasan hatinya ditahannya tangis Itu, dan kini ia hanya terisak-isak dan duduk melamun.

Percakapan antara Tejolaksono dan Ayu Candra masih terngiang-ngiang di telinganya dan jantungnya serasa ditusuk-tusuk.

Apa yang selama ini ia khawatirkan terjadi!

Ayu Candra tidak rela ia menjadi isteri Tejolaksono, tidak rela ia berada di situ!

Memang tidak terang-terangan menyatakan ketidakrelaannya, akan tetapi sama saja artinya.

Masih terngiang dalam telinganya ucapan Ayu Candra sambil menangis tadi.

"Karena engkau sebentar lagi akan mempunyai putera lain! Engkau dan diajeng Endang Patibroto akan mempunyai seorang putera yang selalu dekat dengan kalian, akan tetapi aku. aku tidak punya siapa-siapa."

Ayu Candra bahkan rela hendak meninggalkan kadipaten!

Ah, betapa mungkin ia mendesak kedudukan Ayu Candra seperti ini?

Dahulu ia sudah melakukan banyak hal yang menyakitkan hati Ayu Candra.

Membunuh ayah kandung dan ibu tirinya, bahkan hendak membunuh Ayu Candra.

Dan sekarang, ia merampas suaminya dan hendak merebut pula kedudukannya?

Tidak!

Sampai matipun tidak sudi ia melakukan hal tak tahu malu ini!

Dialah yang harus pergi dari situ!

Memang sejak semula ia sudah ingin pergi, akan tetapi...........

cinta kasihnya terhadap Joko Wandiro demikian besar.....

ingin ia selalu berdampingan, dan karena kandungannya, ia tak ingin berpisah lagi dari suaminya itu, ayah dari anak dalam kandungannya.

Akan tetapi sekarang jelas baginya bahwa tidak mungkin terlaksana keinginan hatinya itu.

Ayu Candra hanya di lahirnya saja mau menerimanya dengan rela, akan tetapi batinnya menolak dan membencinya!

Dan Adipati Tejolaksono amat mencinta Ayu Candra!

Dia tidak sudi kalau harus memperebutkan cinta!

Dia tidak sudi kalau harus tunduk, memperlihatkan kelemahan hatinya.

Tidak, hidup seperti itu akan membuatnya sengsara dan sewaktu-waktu ia tentu takkan dapat mengendalikan hatinya lagi dan mungkin timbul keributan kalau ia sampai bertentangan dengan madunya.

Ia tidak ingin menimbulkan ribut dan dosa lagi.

Ia akan pergi mengasingkan diri, mencari tempat sunyi.

Biarpun hatinya mengambil keputusan demikian, namun Endang Patibroto merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk yang membuatnya menangis tersedu-sedu lagi.

Teringat ia akan Tejolaksono, terbayang ia akan segala kemesraan yang dinikmatinya malam tadi.

Ia tahu bahwa sesungguhnya pria inilah yang ia idam-idamkan semenjak dahulu.

Dan sekarang, setelah menjadi miliknya, harus ia lepaskan lagi!.

Sebuah tangan yang halus menyentuh pundaknya diikuti suara yang halus pula, menggetar penuh keharuan.

"Ayunda............ mengapa ayunda menangis. ?"

Mendengar suara adik kandungnya ini, makin sedih hati Endang Patibroto.

Ia meraih Setyaningsih, merangkul dan mendekapnya sambil menangis makin sesenggukan.

Setyaningsih biarpun baru berusia sebelas tahun, akan tetapi anak ini mewarisi watak ayahnya, yaitu mendiang Pujo, satria yang sakti mandraguna, bijaksana, berpandangan luas dan bersikap tenang.

Setyaningsih biarpun saudara sekandung Endang Patibroto, namun wataknya jauh berbeda.

Tidak mudah terseret perasaan sehingga biarpun kini air matanya juga turun bercucuran, namun ia dapat menahan diri, tidak sampai mengguguk seperti tangis Endang Patibroto.

Wanita perkasa ini dahulu juga memiliki watak yang kuat, akan tetapi kekuatannya berdasarkan kekerasan, bukan seperti Setyaningsih yang berdasarkan ketenangan.

"Ayunda, apakah ayunda teringat ke. pada ibunda? Ah, ayunda. Kanjeng Ibu sudah seda (tewas) sebagai seorang wanita utama, sebagai seorang perajurit perkasa. Selayaknyakah kalau puteri-puterinya menangisinya terus? Ayunda, harap ayunda jangan menangis."

Setyaningsih membelai-belai rambut kakaknya dengan penuh kasih sayang.

"Aduh, adikku Setyaningsih "

Endang Patibroto mencium pipi adiknya dan sambil memegangi kedua pundak anak itu, mereka berpandangan.

"Engkau benar, Setyaningsih, tidak perlu banyak menangis karena menangis adalah tanda kelemahan. Dan kita berdua bukanlah orang-orang lemah, kita berdua adalah keturunan suami isteri yang sakti mandraguna! Kini ayah bunda kita telah meninggal dunia, adikku dan aku hanya mempunyai engkau, engkaupun hanya mempunyai aku! Karena itu kita harus pergi data sini, Setyaningsih, sekarang juga."

Setyaningsih memandang ayundanya dengan sepasang mata terbelalak kaget dan heran.

Ucapan ayundanya ini sama sekali tak pernah disangkanya.

Biarpun ia baru berusia sebelas tahun, namun dia bersama Pusporini sudah mengerti bahwa ayundanya ini menjadi garwa selir Adipati Tejolaksono.

"Akan tetapl........... Ayunda. bukankah ayunda telah menjadi isteri rakanda adipati?"

Endang Patibroto menghela napas panjang.

"Benar, adikku. Akan tetapi rumah ini adalah mink ayunda Ayu Candra. Setelah ibu kita sekarang meninggal dunia, kita berdua tidak berhak lagi tinggal di sini."

"Mengapa begitu, ayunda? Kalau ayunda menjadi isteri rakanda adipati, ayunda mempunyai hak sepenuhnya tinggal di sini. Siapakah yang akan melarang Ayunda? Saya kira tidak ada seorangpun yang akan, merasa keberatan dan "

"Sudahlah, Setyaningsih. Engkau masih terlalu kecil untuk dapat mengerti urusanku. Pendeknya, malam in! juga aku akan pergi dari sini. Kalau engkau kasihan dan mencinta kepada ayundamu ini, marilah engkau ikut bersamaku."

Sambil berkata demikian, Endang Patibroto bangkit berdiri. Setyaningsih bangkit pula dan memegang tangan ayundanya erat-erat.

"Ayunda menjadi penggantl kanjeng ibu. Aku ikut."

"Anak baik, seharusnya begitulah. Mari kita pergi!"

Endang Patibroto memondong tubuh Setyaningsih dan dibawanya meloncat cepat meninggalkan taman sari, menghilang di dalam kegelapan malam.

Beberapa kali Setyaningsih menoleh dan memandang lampu-lampu yang menerangi gedung kadipaten sampaI akhirnya bayangan gedung itu lenyap.

Dua matanya menjadi basah dan di dalam hati anak ini timbul kesangsian apakah ia akan dapat melihat kembali gedung Kadipaten Selopenangkep ini.

Pada keesokan harinya, keluarga kadipaten menjadi gempar ketika melihat lenyapnya Endang Patibroto dan Setyaningsih.

Lenyap begitu saja tanpa meninggalkan pesan, bahkan pakaian Setyaningsih di dalam kamarnyapun masih lengkap yang berarti bahwa anak itu lenyap hanya membawa pakaian yang dipakainya malam itu!

Roro Luhito menghela napas dan memeluk puterinya yang menangis karena hilangnya Setyaningsih, saudara tirinya yang amat dikasihinya.

"Ahhh, kukira tentu Endang Patibroto yang membawa Setyaningsih pergi. Agaknya masih juga belum berubah watak yang keras dan aneh luar biasa dari Endang Patibroto. Aku sudah merasa tidak enak hati dan menduga tentu akan terjadi sesuatu yang tidak baik ketika ia datang. Ah, angger, anakku adipati, kuatkanlah hatimu menghadapi ujian Hyang Widhi yang amat berat ini."

Kembali Roro Luhito menghela.

napas lalu menggandeng tangan Pusporini diajak masuk ke belakang.

Tak tahan ia menyaksikan pandang mata sayu Adipati Tejolaksono.

Hanya suami isteri itulah yang mengerti apa sebabnya Endang Patibroto melarikan diri.

Mereka dapat menduganya.

Tentu Endang Patibroto telah mendengar percakapan antara mereka semalam!

Melihat sinar mata suaminya yang begitu sayu, wajah yang pucat dan muram, tarikan mulut yang membayangkan kedukaan yang hebat, Ayu Candra lalu membalikkan tubuhnya, terisak dan lari memasuki kamarnya.

Adipati Tejolaksono melangkah dengan lemas mengikuti isterinya, memasuki kamar.

Ketika Ayu Candra melihat suaminya masuk kamar, ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kedua kaki suaminya, menangis dan berkata.

"Aduh, Kakangmas Adipati. Semua adalah kesalahanku...........! Karena kelemahan dan kepicikanku........... , tentu diajeng Endang Patibroto mendengarnya dan merasa tersinggung hatinya........... padahal sungguh mati aku sudah menghapus perasaan itu, Kakangmas. Pergilah menyusulnya, Kakangmas. Bujuklah agar suka kembali ke sini dan aku akan mohon ampun kepadanya. !"

Sejenak Adipati Tejolaksono termenung.

Terbayanglah di depan matanya segala peristiwa dahulu di waktu dia masih muda.

Watak Endang Patibroto amatlah keras liar dan aneh.

Biarpun akhir-akhir ini Endang Patibroto bersikap amat mesra, lembut, dan merupakan seorang wanita yang mencintanya dengan seluruh jiwa raga, yang sepenuhnya wanita, namun agaknya, tepat seperti wawasan Roro Luhito, Endang Patibroto masih belum berubah wataknya yang keras dan aneh luar biasa.

Dan mengingat akan watak ini, agaknya akan sia-sia belaka kalau Ia menyusul.

Selain amatlah sukar mencari seorang wanita sesakti Endang Patibroto yang melarikan diri, juga andaikata bertemu kiranya tidak mudah membujuknya untuk pulang ke Selopenangkep.

la tahu bahwa Endang Patibroto mencintanya, namun kekerasan hati wanita itu akan mengalahkan cinta kasihnya karena wanita itu berwatak baja, tidak mau tunduk terhadap siapapun juga.

Ia menghela napas panjang, lalu mengangkat bangun Ayu Candra.."Tidak akan ada gunanya, Nimas.

Seorang yang berhati baja seperti diajeng Endang Patibroto, tidak akan mudah dibujuk.

Dia tidak akan menyerah sampai mati, kalau tidak karena kehendak sendiri.

Dia sudah pergi, dan satu-satunya yang dapat kita lakukan hanyalah menanti sampai dia suka pulang sendiri.

Apa boleh buat........

seorang manusla hanya dapat menerima apa yang telah ditentukan oleh Hyang Widhi."

Semenjak terjadi peristiwa ini, terjadi perubahan yang amat besar di dalam Kadipaten Selopenangkep.

Perubahan yang amat terasa oleh seluruh penghuni kadipaten.

Ayu Candra seringkali termenung dan berduka, tidak hanya karena rindunya kepada Bagus Seta, juga karena rasa penyesalan di dalam hati karena wanita yang halus budi ini tak pernah berhenti menyesali diri sendiri dan menganggap dialah yang menyebabkan larinya Endang Patibroto sehingga akibatnya, dia pula yang menyebabkan suaminya selalu berduka.

Tubuh Adipati Tejolaksono menjadi kurus dan adipati yang sakti ini kehilangan cahaya kegairahan sinar matanya.

Sikapnya menjadi makin tenang dan pendiam sungguhpun terhadap Ayu Candra tidak pernah berubah kemesraan cinta kasihnya.

Kadipaten yang bertahun-tahun selalu gembira dan suasana riang dengan adanya tiga orang yaitu Setyaningsih, Pusporini dan Bagus Seta, kini kelihatan sunyi karena dua dari tiga orang anak itu telah pergi dan kini tinggal Pusporini seorang.

Karena di situ hanya tinggal Puspotini seoranglah maka sang adipati dan isterinya melimpahkan rasa sayangnya kepada anak ini.

Seakan-akan anak ini yang merupakan penghibur bagi mereka.

Memang Pusporini seorang anak yang dapat mendatangkan kegembiraan.Dia amat lincah dan gembira, cerdik dan pandai bicara.

Melihat kecerdikan Pusporini, Adipati Tejolaksono lalu mulai mendidik anak ini dengan ilmu silat den kedigdayaan.

Roro Luhito amat girang melihat hal ini.

Terutama sekali girang karena anak keponakannya itu dan isterinya mendapat hiburan dengan adanya Pusporini, maka iapun melepas tangan dan membiarkan puterinya menerima gemblengan sang adipati yang memiliki ilmu kesaktian jauh lebih tinggi daripada dia sendiri.

Maka mulai tenteram pulalah keadaan hati Adipati Tejolaksono dan isterinya.

Memang mereka selalu masih merindukan Bagus Seta dan menyesalkan kepergian Endang Patibroto, akan tetapi hati mereka terobat oleh kelincahan dan keriangan Pusporini.

Hanya di waktu malam yang sunyi, kadang-kadang apabila teringat akan puteranya dan akan Endang Patibroto, Ayu Candra suka menangis dan suaminya selalu siap untuk menghiburnya.

Suami isteri ini seolah-olah mengikuti hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun mengharapkan lewatnya lima tahun untuk menyambut kembalinya putera mereka, Bagus Seta.

Pusporini seorang anak perempuan yang cerdik sekali di samping wajahnya yang cantik manis.

Kulit tubuhnya hitam manis seperti ibunya, perawakannya singsat padat dan langsing, rambutnya hitam agak berikal.

Anak ini maklum akan kehebatan ilmu kesaktian rakandanya, maka ia belajar dengan amat tekun dan berIatih amat rajin sehingga amat mengagumkan hati Tejolaksono.

Adipati ini maklum bahwa puteranya mendapatkan guru yang jauh lebih saktl daripadanya, dan karena tidak ada anak lain yang akan ia warisi ilmunya, maka satu-satunya anak yang telah menjadi muridnya adalah adik misannya ini, puteri bibinya yang ternyata merupakan murid yang patut dibanggakan.

Yang terutama sekali mengagumkan pada diri Pusporini adalah bakatnya dalam ilmu meringankan tubuh dan gerakan yang amat gesit lincah, sesuai dengan wataknya yang periang.

Bakatnya dalam hal ini jauh lebih menonjol daripada yang lain-lain sehingga dalam beberapa tahun saja ia sudah pandai berloncatan dan berkelebat cepat sekali melampaui kecepatan ibu kandungnya sendiri, bahkan menyusul pula tingkat Ayu Candra!

Aji kecepatan Bayu Tantra dapat ia pelajari dengan mudah dan tidak menghabiskan waktu terlalu lama, bahkan empat tahun kemudian ia sudah mulai mempelajari aji kecepatan Bayu Sakti!

Dalam hal ilmu silat, memang terdapat bakat menari pada diri Pusporini.

Ia dapat bergerak dengan lemas dan lemah gemulai sehingga di waktu ia dilatih ilmu silat oleh Adipati Tejolaksono, gerakan-gerakannya begitu indahnya seperti orang menari-nari saja.

Rakandanya yang menjadi gurunya ini sampai menjadi terheran-heran dan juga amat kagum, tak pernah menyangka bahwa ilmu silatnya dan aji-aji seperti Pethit Nogo yang dahsyat dan terkenal keampuhannya itu dapat dimailnkan sedemikian indahnya sehingga merupakan tari-tarian luar biasa oleh Pusporini!

Bakat-bakat yang baik dalam diri Pusporini menambah kegembiraan Adipati Tejolaksono dalam memberi pelajaran, dan kemajuan-kemajuan anak ini menambah rasa sayang pada hati ketiga orang tua itu, Roro Luhito, Tejolaksono, dan Ayu Candra.

Bahkan bukan hanya tiga orang ini saja yang menaruh rasa sayang kepada Pusporini, juga semua abdi dalem Kadipaten Selopenangkep dan akhirnya rasa sayang ini menjalar sampai keluar kadipaten, di antara para ponggawa dan penduduk sekitar kadipaten.

Hal ini adalah karena Pusporini yang lincah gembira itu selalu bersikap baik dan ramah kepada siapapun juga, selalu rendah hati dan tidak sombong seperti biasanya puteri-puteri bangsawan yang memandang rendah rakyat kecil.

Tidak, Pusporini tidak seperti itu.

Puteri ini bahkan seringkali membantu para petani dalam pekerjaan di sawah ladang milik sang adipati.

Membantu dalam hal bercocok tanam, ramai-ramai ikut menanam dan memotong padi dengan paman-paman dan bibi-bibi tani.

Juga ia amat terkenal dan disayang di antara para pengawal dan perajurit karena selain memiliki ilmu kepandaian yang mengagum kan, juga Pusporini ikut pula berlatih perang-perangan, berlatih menunggang kuda sehingga semua perajurit yang menyaksikan ketangkasan gadis cilik ini menjadi kagum dan sayang.

Jangan disangka bahwa Puspirini hanya suka akan olah keperajuritan, sama sekali bukan demikian.

Iapun terkenal di dalam kadipaten, di antara para abdi dalem, di antara para seniman dan seniwati kadipaten karena anak ini semenjak kecil ikut pula belajar seni tari di mana bakatnya amat menonjol dan belajar pula seni suara dengan suaranya yang nyaring sekali.

Demikianlah, dengan adanya Pusporini, sedikitnya mendung yang menyelimuti Kadipaten Selopenangkep dapat terusir.

Atau setidaknya, pada lahirnya Pusporini dapat menciptakan sinar kegembiraan di dalam kadipaten sehingga sang adipati dan isterinya dapat terhibur dan agaknya keadaanpun menjadi aman dan tenteram.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan-bulan ditelan tahun.

Sang Waktu bergerak terus, tiada kekuasaan di bumi ini yang dapat menahannya, merayap amat perlahan jika diperhatikan, membalap cepat melebih kilat apabila tidak diingat.

Betapapun juga, segala yang tampak dan tidak tampak di dunia ini, besar maupun kecil, keras maupun lunak, apa saja tidak pandang bulu, kesemuanya ditelan habis oleh Sang Waktu yang memegang rahasia akhir kemenangan.

Segala sesuatu yang diperoleh manusia di dunia ini tidak ada yang kekal.

Pertemuan akan berakhir perpisahan.

Yang mendapatkan atau mempunyai akan kehilangan.

Karena sesungguhnya, segala di dunia ini bukanlah milik manusia.

Manusia hanya berhak menikmati, namun sama sekali tidak berhak memiliki.

Harta benda dan kedudukan, semua itu hanya benda titipan, sewaktu-waktu kita akan dipaksa berpisah dari mereka, mau atau tidak, suka atau tidak.

Harta benda atau kedudukan akan pergi meninggalkan kita, atau kita yang akan pergi meninggalkan mereka.

Bahkan keluarga yang kita cinta, anak-anak, isteri dan semua keluarga, sesungguhnya bukanlah milik kita!

Manusia hanya mendapat titipan yang dilengkapi dengan kewajiban-kewajiban sebagai manusia beradab, dan tidak lebih daripada itu.

Jika sudah tiba saatnya Yang Maha Kuasa yang menjadi Pemilik Sejati mengambilnya kembali dari tangan kita, tidak ada kekuasaan lain di dunia ini yang akan menahan atau mencegahnya.

Harta benda dan kedudukan bisa musnah sewaktu-waktu.

Anggauta keluarga tersayang bisa mati sewaktu-waktu.

Atau dengan lain cara, jika Yang Maha Kuasa menghendaki, kita sendiri bisa mati sewaktu-waktu meninggalkan dan berpisah dari kesemuanya itu!

Ditinggalkan oleh atau meninggalkan segala sesuatu yang hanya "dititipkan"

Kepada kita.

Karena itu, makin besar cinta kasih kita kepada semua itu, makin sengsaralah apablia dipisah dari kita.

Seperti dua buah benda, makin kuat melekat, makin parah kalau dipaksa berpisah, makin parah luka yang terobek oleh perpisahan paksaan itu.

Sesungguhnyalah bahwa manusia tidak mempunyai kekuasaan atas segala benda, yang terkecil maupun terendah sekalipun, bahkan,, tidak mempunyai kekuasaan atas dirinya sendiri, tidak kuasa mengatur denyut jantung, aliran darah, tumbuhnya kuku dan rambut di tubuh kita.

Tidak kuasa atas nyawa sendiri.

Karena hanya Yang Maha Kuasa sajalah yang berkuasa atas segala benda, yang tampak maupun tidak!

Manusia tidak punya kuasa, hanya mempunyai hak menikmati anugerah dan kewajiban memelihara segala sesuatu yang dititipkan atau dianugerahkan kepadanya.

Kalau tidak melaksanakan kewajiban, tidak benar pemeliharaannya, akan rusaklah kesemuanya itu dan akibatnya menimpa diri sendiri.

Segala peristiwa yang terjadi di atas bumi ini telah dikehendaki oleh Yang Maha Adil, dan betapapun peristiwa itu, adalah sudah tepat, wajar dan adil!

Bukanlah hal yang aneh kalau sesuatu peristiwa mendapat tanggapan yang berlawanan.

Ada yang menganggapnya adil ada pula yang tidak, karena manusia amat dipengaruhi oleh nafsu ego masing-masing yang selalu mementingkan diri pribadi.

Peristiwa yang menguntungkan dirinya pribadi akan dianggap adil, dan sebaliknya yang merugikan atau tidak menyenangkan dirinya pribadi akan dianggap tidak adil!

Akan tetapi sesungguhnya, setiap peristiwa itu adalah wajar dan adil, sesuai dengan sifat Yang Maha Adil!

Manusia yang tidak dapat melihat keadilan dalam setiap peristiwa, hanya disebabkan karena tidak mengertinya.

Tentu saja orang tidak akan dapat melihat keadilan kalau dia tidak mengerti akan duduknya perkara, tidak tahu akan sebab akibat.

Peristiwa yang menimpa diri Adipati Tejolaksono berturut-turut kalau dipandang dan dinilai mata manusia biasa tampaknya juga tidak adil karena satria perkasa ini seakan-akan selalu ditimpa kemalangan.

Empat tahun telah lewat semenjak Endang Patibroto minggat pada malam hari itu, tak diketahui ke mana perginya, membawa Setyaningsih bersamanya.

Empat tahun telah lalu semenjak Bagus Seta tidak berada di Kadipaten Selopenangkep.

Sementara itu, bahaya besar datang mengurung, seperti mendung-mendung hitam yang ditiup datang oleh angin angkasa yang keras sehingga tanpa disangka-sangka tahu-tahu telah memenuhi udara di atas kepala.

Tadinya Adipati Tejolaksono hanya mendengar berita bahwa ada pergerakan pasukan-pasukan asing di barat dan utara, akan tetapi karena tidak terjadi perampokan dan penyerbuan terhadap dusun-dusun, maka tidak ada laporan apa-apa yang sampai ke telinganya.

Kalau terjadi perampokanperampokan seperti yang dilakukan pasukan gerombolan Lembah Serayu seperti yang terjadi empat tahun yang lalu, tentu siang-siang sudah banyak rakyat yang datang melapor ke kadipaten.

Akan tetapi malam hari itu hati Sang Adipati Tejolaksono merasa gelisah tanpa sebab.

Seringkali jantungnya berdebar aneh.

Sebagai seorang sakti, sang adipati segera memasuki kamar dan duduk bersila di atas pembaringan, bermuja samadhi.

Isterinya, Ayu Candra, juga merasa tidak enak hati, maka iapun duduk di dekat suaminya, siap melayani kebutuhan suaminya yang sedang bersamadhi itu.

Di dalam keheningan samadhinya, telinga sang adipati menangkap suara berisik, seolah-olah ia mendengar ombak laut selatan mengamuk, atau seolah-olah mendengar kawah Gunung Mahameru mendidih, ataukah Sungai Progo membanjir?

Bulu tengkuknya meremang dan ia sadar dari samadhinya, menoleh kepada isterinya sambil menarik napas panjang.

"Nimas, apakah engkau merasa juga apa yang kurasakan?"

Ayu Candra mengangguk.

"Semenjak sore tadi hatiku merasa tidak enak "

"Biarlah kita serahkan segalanya kepada kehendak Hyang Widhi, Nimas. Sekarang kau perintahkan pengawal untuk memanggil kepala pengawal menghadap, sekarang juga."

Biarpun agak heran mendengar suaminya menyuruh kepala pengawal menghadap di malam hari, hampir tengah malam, namun Ayu Candra tidak membantah, tidak pula bertanya, melainkan bergegas dari kamar dan memanggil pengawal yang menjaga di depan kadipaten Seorang di antara para pengawal itu cepat melakukan perintah ini, pergi memanggil kepala pengawal yang tinggal di ksatrian.

Tentu saja kepala pengawal segera menghadap dengan gelisah.

Kala pada waktu seperti itu sang adipati memanggilnya menghadap, sudah pasti terjadi hal yang amat penting.

Alangkah herannya ketika menghadap, sang adipati memerintahkan dia membawa pasukan dan berangkat malam itu juga keluar dari kadipaten, membagi pasukan dan melrkukan penyelidikan ke barat da utara.

"Bawa separuh pasukan keluar dan bagi menjadi dua, selidiki keluar kadipaten bagian barat dan utara. Separuh pasukan tinggalkan menjaga kadipaten, perkuat penjagaan dan perketat kewaspadaan. Kau sendiri pimpinlah pasukan yang bertugas keluar, kakang Mundingyudo, dan selidikilah desas-desus tentang gerakan pasukan asing di barat dan di utara itu. Kalau bertemu dengan pasukan-pasukan itu, jangan sekali-kali turun tangan menggempur mereka sebelum mengetahui apa kehendak mereka. Kemudian kirim laporan kepadaku tentang penyelidikanmu."

Maka ributlah para perajurit Kadipaten Selopenangkep karena pada tengah malam itu mereka semua diperintah untuk bangun dan bersiap-siap.

Kepala pasukan Raden Mundingyudo segera membagi-bagi tugas dengan para bawahnnya dan setelah berunding secara singkat, berangkatlah pasukan-pasukan Selopenangkep ini keluar dari kota kadipaten dan seperti rombongan semut pindah tempat mereka terpecah menjadi dua bagian, sebagian ke barat dan sebagian lagi ke utara.

Pasukan-pasukan yang tertinggal di kadipaten memperkuat penjagaan dan kewaspadaan sesuai dengan perintah sang adipati melalui Raden Mundingyudo.

Semua persiapan bahkan sampai pemberangkatan pasukan keluar kadipaten, dilangsungkan dengan rapi.

dan tidak sampai diketahul para penduduk sehingga tidak menimbulkan kepanikan.

Adipati Tejolaksono sendiri lalu mengajak isterinya pergi menghadap Roro Luhito di bagian belakang kadipaten kemudian sang adipati menceritakan tentang perasaannya yang tidak enak.

"Pergerakan pasukan-pasukan asing itu amat mencurigakan, Bibi. Karena itu malam ini juga saya sendiri akan pergi melakukan penyelidikan. Harap Kanjeng Bibi dan Ayu Candra bersikap waspada memlmpin pasukan yang melakukan penjagaan di kadipaten."

"Jangan khawatir, Ananda Adipati. Memang seyogianya dilakukan penyelidikan sendiri. Setelah apa yang Ananda saksikan ketika terjadi pertemuan di puncak Merapi, desas-desus tentang pasukan-pasukan asing itu harus dicurigai. Tentang kadipaten, cukup berada di tanganku dan isterimu Ayu Candra. Juga Pusporini sekarang bukan kanak-kanak lagi, tenaganya dapat kita pergunakan untuk memperkuat penjagaan kadipaten;"

Demikian kata Roro Luhito yang biarpun usianya sudah lima puluh tahun lebih, hampir lima puluh dua tahun, namun semangatnya masih besar dan ketangkasannya tidak banyak berkurang.

Setelah meninggalkan pesan kepada isterinya agar berhati-hati menjaga kadipaten, dan mengatakan bahwa penyelidikannya tidak akan lebih daripada sepekan lamanya, Tejolaksono malam itu juga menyusul keberangkatan pasukan-pasukan yang dipimpin oleh Raden Mundingyudo dan teman-temannya.

Karena Ia ingin agar penyelidikannya dapat dilakukan dengan leluasa, maka Adipati Tejolakspno mengganti pakaiannya dengan pakaian petani biasa dan ia berangkat dengan jalan kaki saja.

Namun, kiranya jika ia berkuda, tidak akan secepat perjalanannya sekarang karena ia mempergunakan Aji Bayu Sakti sehingga tubuhnya berkelebat cepat sekali bagaikan burung terbang sehingga dalam waktu singkat ia telah melampaui pasukannya yang menuju ke barat.

Kalau Mundingyudo ia perintahkan menyelidiki keadaan dan gerak-gerik pasukan asing yang kabarnya bergerak di daerah barat dan utara, adalah dia sendiri ingin menyelidiki keadaan rakyat di dusun-dusun, ingin melihat apakah terjadi sesuatu di dalam tata kehidupan rakyat pedesaan, terutama sekali tentang kehidupan budaya dan kepercayaan agama, karena sang adipati khawatir kalau-kalau rakyat akan dipaksa dalam hal ini oleh kekuatan-kekuatan asing.

Dalam penyamarannya sebagai seorang petani sederhana, dengan mudah Tejolaksono dapat masuk keluar dusun-dusun tanpa ada yang mengenalnya.

Dan apa yang disaksikan membuat ia terkejut bukan main.

Memang, pada lahirnya, tidak terjadi sesuatu yang menghebohkan di dalam dusun-dusun itu dan keadaan rakyatnya tampak senang dan tata tenteram kerta raharja.

Akan tetapi sesungguhnya telah terjadi perubahan yang hebat.

Di dalam beberapa buah dusun ia melihat telah didirikan wihara-wihara dan candi dan sebagian besar penduduk dusun sudah menukar pujaan mereka.

Di sebuah dusun, penduduknya mulai menukar pujaan menjadi pemeluk Agama Buddha, dan di lain dusun memuja Sang Hyang Shiwa.

Akan tetapi karena ia tidak melihat kekerasan atau paksaan dalam hal pengembangan kedua agama itu, ia tidak dapat berbuat sesuatu.

Hanya ia melihat gejala-gejala aneh dalam penukaran pujaan ini, yaitu lenyapnya para pendeta pemuja Sang Hyang Wishnu dan digantinya kepala-kepala dusun oleh pemuja Sang Hyang Shiwa atau yang beragama Buddha!

Di samping itu, rakyat tertarik berganti pujaan karena kegaiban-kegaiban yang didemonstrasikan oleh pendeta-pendeta pembawa agama baru itu.

Adipati Tejolaksono lalu mendatangi Dusun Sumber karena ia mengenal baik kepala dusun di situ.

Bahkan dia sendiri yang mengangkat Ki Sentana menjadi kepala dusun Sumber.

Ia tahu benar bahwa Ki Sentana adalah seorang pemeluk atau pemuja Sang Hyang Wishnu yang patuh, seorang bekas perajurit Panjalu yang setia.

Ia mengharapkan keterangan yang jelas dari bawahannya itu tentang segala rahasia yang kini mencengkeram dusun-dusun di sebelah barat Selopenangkep.

Ia memasuki dusun Sumber di waktu senja dan langsung mendatangi rumah kepala dusun.

Rumah itu sunyi dan gelap, bahkan di ruangan depan tidak ada meja kursinya, juga pekarangan depannya kotor sekali, tidak terpelihara.

Tejolaksono memasuki halaman yang penuh dengan daun kering, terus maju memasuki ruangan depan, memandang ke arah pintu yang terbuka separuh sambil berseru, • "Kulonuwun !"

Tidak ada jawaban, akan tetapi telinganya yang tajam mendengar suara langkah kaki dari dalam rumah itu.

Langkah kaki wanita, pikirnya, karena langkah itu halus perlahan, ia menanti dengan hati berdebar.

Ada sesuatu yang tidak wajar dalam rumah Ki Sentana ini, pikirnya.

Mengapa begini sunyi dan gelap?

Mengapa rumah kepala dusun begini kotor tidak terawat?

Sinar terang tampak dari dalam dan tak lama kemudian muncullah wanita.

yang langkah kakinya terdengar oleh Tejolaksono.

Wanita yang masih muda, kurang lebih dua puluh lima tahun usianya.

Wanita yang cantik dengan sepasang mata yang bersinar tajam dan kerling serta tarikan mulutnya genit sekali.

Wanita ini melangkah keluar dengan lenggang menarik, membawa sebuah lampu kecil.

Begitu muncul dari pintu dan berhadapan dengan Tejolaksono, ia memandang penuh selidik dan pandang mata itu menjadi manis sekali, diikuti senyumnya memikat dan malu-malu.

Biarpun wanita itu tidak berkata sesuatu, namun pandang matanya penuh pertanyaan dan Tejolaksono cepat memperkenalkan diri tanpa menyebut namanya.

"Maafkan kalau saya menganggu. Saya mohon berjumpa dengan Paman Sentana lurah dusun ini."

"Oohhh, sungguh tidak kebetulan sekali. Paman Sentana sedang tidak berada di rumah."

Suara wanita itu halus dan merdu seperti suara seorang waranggana, dan di waktu bicara, bibirnya bergerak memikat dan tampak giginya yang putih rata menggigit-gigit bibir bawah menyeling kata-katanya.

Bibir yang penuh basah dan bergerak seperti itu, gigitan bibir, dagu yang kadang-kadang menggeser ke kanan kiri, kerling yang tajam menyambar, semua itu membayangkan kegenitan yang memikat sehingga Tejolaksono terheran-heran dan menduga-duga siapa gerangan wanita ini.

Ia tahu bahwa Ki Sentana yang sudah tua tidak mempunyai puteri, hanya ada dua orang puteranya yang lima tahun lalu masih perjaka.

Apakah wanita ini seorang di antara menantunya?

"Kalau bibi...........

adakah ?"

Tanyanya agak gugup, karena memang merasa canggung sekali dan tidak terduga-duga bahwa kedatangannya akan disambut seorang wanita muda yang selain cantik jelita juga jelas memperlihatkan sikap genit memikat!

Wanita itu menahan senyum, bibir bawah agak berjebi dan menggeleng kepala.

"Sayang sekali, bibi juga pergi bersama Paman Sentana."

Makin tidak enak rasa hati Tejolaksono melihat bibir yang berjebi sehingga tampak penuh dan merah itu serta mata yang makin menantang.

"Kalau begitu, biarlah lain kali saya datang lagi."

Ia sudah hendak memutar tubuh ketika wanita itu berkata.

"Aehh, nanti dulu harap jangan tergesa-gesa pergi. Saya bukanlah orang lain, melainkan keponakan Paman Sentana, namaku Sariwuni. Lebih baik andika menanti di sini sebentar, karena malam ini paman dan bibi akan pulang. Paman dan bibi tentu marah sekali kepada saya kalau mendengar bahwa ada tamu datang tidak saya persilahkan menunggu. Silahkan masuk, Raden............. kamar tamu di sebelah kiri ini kosong. Harap suka menanti sebentar, tidak lama lagi paman dan bibi tentu akan pulang."

Lenyap keraguan hati Tejolaksono.

Hemm, kiranya anak keponakan Ki Sentana.

Heran dia bahwa Ki Sentana mempunyai seorang anak keponakan yang secantik dan segenit ini!

Tidak apalah ia menanti sebentar, karena ia ingin sekali bicara dengan Ki Sentana.

Pula, kalau ia tidak mau menanti, ke manakah ia akan mencari keterangan?

Tanpa berkata sesuatu ia lalu menganggukkan kepala dan memasuki rumah itu, terus memasuki sebuah kamar yang cukup bersih namun sederhana di sebelah kiri ruangan depan.

Wanita yang bernama Sariwuni itu meninggalkan pelitanya dalam kamar, lalu berkata manis.

"Silahkan Raden beristirahat sambil menanti."

Berdebar hati Tejolaksono.

Baru sekarang ia melihat kejanggalan itu.

Sudah dua kali Sariwuni menyebutnya "raden"!

Tentu saja hal ini janggal dan aneh sekali!

Biarpun ia seorang adipati, akan tetapi pada saat itu ia menyamar sebagai seorang petani sederhana dan wanita ini tidak mengenal siapa dia.

Mengapa menyebut raden?

Hatinya tidak enak, akan tetapi wanita.

itu sudah melangkah keluar dari pintu kamarnya.

Jelas tampak sepasang buah pinggul wanita itu bergoyang turun naik karena langkahnya yang sengaja dibuat-buat melenggang-lenggok.

Ah, kalau tidak sudah terlanjur memasuki kamar tamu, dan kalau tidak amat penting baginya menemui Ki Sentana, tentu ia tidak suka berada di sini.

Ada sesuatu yang aneh pada diri wanita itu, seperti anehnya keadaan di rumah Ki Sentana ini yang sunyi dan tidak seperti dahulu.

Tejolaksono duduk di atas pembaringan di dalam kamar itu, pembaringan terbuat dari kayu jati.

la termenung dan mengharapkan kedatangan Ki Sentana dengan cepat.

Akan tetapi ketika terdengar langkah kaki, ia tahu bahwa yang mendatangi kamarnya kembali adalah wanita cantik itu.

la tetap duduk dan mengangkat muka memandang ke arah pintu.

Benar saja, Sariwuni yang muncul di pintu kamar, kini kedua tangannya membawa sebuah penampan (baki) berisi nasi panas, lauk-pauk dan kendi air.

Sambil tersenyum dan dengan wajah berseri-seri mata bersinar-sinar, Sariwuni menurunkan penampan dan mengatur hidangan itu di atas meja dalam kamar, dan berkata, suaranya halus.

"Raden, silahkan dahar seadanya."

Sambil berkata demikian, Sariwuni dengan gerakan luwes menuangkan air ke dalam kobokan (tempat mencuci sebelum makan ) kemudian memandang wajah Tejolaksono, tersenyummatanya menunduk seperti malu-malu dan mengundurkan diri "Nanti dulu !"

Tejolaksono berkata dan Sariwuni berhenti melangkah lalu membalikkan tubuhnya yang ramping, memandang dengan alis terangkat. Manis sekali sikap dan wajahnya.

"Nanti dulu !"

Tejolaksono berkata dan Sariwuni berhenti melangkah lalu membalikkan tubuhnya yang ramping, memandang dengan alis terangkat. Manis sekali sikap dan wajahnya.

"Apakah yang dapat saya lakukan untukmu, Raden?"

"Tahukah engkau ke mana perginya paman dan bibi? Hari telah menjadi malam dan mereka belum juga pulang."

Dengan gerakan kenes wanita itu mengangkat kedua pundaknya dan kembali giginya tampak berkilau terkena sinar api pelita ketika ia membuka bibir.

"Saya tidak tahu ke mana, Raden. Akan tetapi paman tadi berkata bahwa tidak akan lama pergi dan malam ini pasti pulang."

Tejolaksono mengangguk-anggul< dan ketika wanita itu hendak membalikkan tubuh lagi ia berkata.

"Eh, Sariwuni, mengapa engkau menyebut aku raden? Aku hanya seorang petani kenalan Paman Sentana."

Sariwuni tertwa dan menutupi mulut dengan tangan kirinya.

Kembali gerakan ini amat manis dan kenes, gerakan wanita yang tahu akan kebiasaan puteri-puteri bangsawan dan tidak seperti biasanya seorang perawan dusun yang polos dan jujur.

"Hi-hik. seorang petani tidak bicara sehalus bicaramu, Raden. Juga kaki tangannya tidak sehalus kaki tanganmu, kulltnya tidak seputih dan sebersih kulitmu. Selain itu, wajah seorang petani. eh, tidak setampan..........."

Wanita itu tidak melanjutkan kata-katanya, lalu membalikkan tubuh dan setengah berlari keluar kamar meninggalkan suara ketawa ditahan.

Tejolaksono termangu, mengerutkan keningnya kemudIan karena memang perutnya sudah lapar dan mulutnya haus, ia minum air dari kendi, mencuci tangan dan makan nasi putih yang pulen ditemani lauk-pauk yang cukup sedap.

Selesai makan, ia mencuci tangan, membersihkan kakinya lalu naik ke pembaringan, duduk bersila menanti kedatangan Ki Lurah Sentana.

Akan tetapi sampai lama dan jauh ma'am, belum juga tuan rumah yang dinanti-nantinya itu datang.

Tejolaksono menjadi hilang sabar.

Akan tetapi ketika ia hendak turun dari pembaringan untuk menyelidiki hal ini, tiba-tiba pintu kamarnya itu terbuka dari luar.

la terkejut karena kali ini ia tidak mendengar langkah kaki.

Tahu-tahu pintu kamar itu terbuka dan muncul pula Sariwuni.

Tejolaksono yang masih duduk bersila di atas pembaringan, memandang dengan mata terbelalak.

Wanita itu kini telah berubah jauh sekali.

Kalau tadi hanya bersikap manis, kini sikapnya benar-benar keterlaluan.

Menantangl Senyumnya masih manis memikat seperti tadi, rnatanya bersinar-sinar penuh daya tarik, rambutnya terurai lepas dan pakaian yang menutupi tubuhnya hanyalah sehelai tapih pinjung yang membungkus tubuh sampai ke dada kemudian bagian atasnya disuwelkan begitu saja di antara lekuk-lekuk dadanya.

Begitu ia masuk, bau yang harum menyerbu kamar.

Bau mawar yang segar, seakan-akan Wanita itu baru mandi keramas air mawar?

Kulit pundak dan lengan yang kuning langsat itu seperti lilin diraut, halus dan tipis sehingga membayangkan urat-urat yang halus berwarna kemerahan.

Dengan lenggang lemah gemuiai, disertai pandang mata dan senyum malu-malu yang makin memperkuat daya pikat, Sariwuni bergerak memasuki kamar dan mendekati Tejolaksono.

Bau harum bunga mawar makin memabukkan.

Bau bunga mawar ini memang amat sedap dan kiranya tidak ada orang di dunia ini, terutama kalau ia laki-laki, yang tidak menyukainya.

"Raden,........... tentu engkau merasa kesal menanti kembalinya paman dan bibi. , agaknya mereka besok pagi kernbali........... biarlah saya menemani Raden malam ini di sini."

Suaranya tersendat-sendat, dada itu bergelombang turun naik dan suwelan tapih itu lama-lama tentu akan terlepas oleh gerakan dada.

Tejolaksono adalah seorang laki-laki.

Pemandangan yang dihadapinya itu tentu saja amat menarik dan menggairahkan karena diapun seorang pria yang sehat dan normal.

Akan tetapi Adipati Tejolaksono adalah seorang ksatria sejati.

Keteguhan batinnya tidak mudah tergoncang oleh pikatan dan bujuk rayu karena didasari keyakinan bahwa hal ini adalah tidak benar!

Dia memiliki harga diri yang tinggi, tidak sudi ia melakukan pelanggaran susila yang akan menyeretnya turun ke lembah kehinaan.

Wanita ini adalah keponakan Ki Sentana dan ia sebagai seorang tamu, bagaimana ia akan sudi mencemarkan kehormatan keluarga tuan rumah?

Pula, ia dapat melihat bahwa watak yang rendah sajalah yang dapat mendorong seorang wanita muda seperti Sariwuni untuk bersikap tidak tahu malu seperti ini.

"Eh, perempuan! Di mana kesusilaanmu? Mundurlah!"

Bentaknya dengan muka menjadi merah.

Akan tetapi Sariwuni tidak menjadi takut, apalagi mundur.

la berjebi sehingga bibir bawahnya melebar, memperlihatkan bagian bibir yang sebelah dalam dan amat merah.

"Duhai Raden, mengapa menolak cinta kasih mesra yang kusodorkan kepadamu? Jangan khawatir, paman dan bibi tidak ada, dan di rumah ini hanya ada kita berdua!"

Tiba-tiba Sariwuni sudah melangkah dekat dan kedua lengannya bergerak merangkul, suwelan tapihnya tiba-tiba terlepas dan ia hendak mencium muka sang adipati.

"Perempuan tak tahu malu! Pergilah!"

Tejolaksono menggerakkan tangan kirinya mendorong pundak Sariwuni.

Tubuh wanita itu terdorong dan terlempar ke belakang.

Akan tetapi alangkah kaget hati Tejolaksono ketika melihat wanita itu membuat gerakan jungkir balik ke belakang sehingga tidak sampai roboh dan kini sudah berdiri dengan mata terbelalak marah!

Kedua tangan itu kini mengikatkan lagi ujung tapih yang terlepas, mengikatnya erat-erat pada dadanya.

Lenyaplah kini sikapnya yang memikat, berganti pandang marah dan mulutnya cemberut.

Lenyaplah wajah bidadari terganti wajah iblis betina yang siap nenerkam korbannya!

Setelah ikatan kainnya erat betul-betul, wanita itu menggerakkan kedua lengannya dengan gerakan aneh, membentuk lingkaran dan terdengar suara berkerotokan seolah-olah kedua lengannya menjadi patah-patahl Dan perlahan-lahan kedua tangan itu, dari ujung kuku sampai ke pergelangan tangan, berubah menjadi hitam.

Pandang matanya menjadi buas ketika ia memekik.

"Si keparat Tejolaksono! Kau tidak suka mati dalam kenikmatan, biarlah kau mampus dalam penderitaan!"

Mendadak sekali wanita cantik itu menubruk maju, kedua tangannya' yang berkuku hitam itu mencengkeram ke arah muka dan perut.

Serangannya ini ganas dan cepat bukan main!

Tejolaksono masih duduk bersila di atas pembaringan.

Dia tadi terlampau kaget dan heran menyaksikan perubahan ini, apalagi mendengar namanya disebut.

Akan tetapi ia maklum bahwa wanita ini bukan orang sembarangan.

Terjangannya amat kuat dan cepat, sepasang tangan yang berkuku hitam itu dahsyat sekali.

lapun tahu bahwa aji pukulan ini mengandung racun yang amat jahat.

Bau harum kembang mawar kini lenyap tertutup bau wengur seperti bau ular berbisa.

Karena maklum bahwa sepuluh buah kuku hitam itu tidak boleh menggurat kulitnya, ia lalu mengerahkan Ayi Pethit Nogo menyampok dari samping.

"Plakkk. !!"

Sariwuni merintih perlahan dan terdorong mundur terhuyung-huyung.

Akan tetapi ia tidak roboh dan hal ini saja membuktikan bahwa dia memang kuat dan berilmu tinggi.

Tidak sembarang orang dapat bertahan terhadap sampokan Pethit Nogo.

Maka Tejolaksono berlaku hati-hati dan sekali ia bergerak, tubuhnya sudah melompat turun, berdiri dan hersiap sedia menanti serangan lawan, sikapnya tenang.

Ia memandang tajam dan bertanya dengan suara tegas.

"Perempuan, siapakah gerangan engkau sesungguhnya? Tidak mungkin keponakan Paman Sentana!"

Tiba-tiba waita itu terkekeh ketawa. Suara ketawanya berbeda dengan tadi. Kalau tadi halus merdu dan penuh rayuan, kini seperti suara ketawa seekor kuntilanak.

"Hi-hi-hi-hi-hik…!"

"Wuni, keluarlah engkau. !"

Tiba-tiba dari luar rumah itu terdengar suara laki-laki yang besar dan parau.

Mendengar ini, kembali Sariwuni terkekeh lalu tubuhnya berkelebat, ia sudah lenyap menerobos keluar dari dalam kamar melalui pintu.

Suara ketawanya masih terdengar sebentar, kemudian suasana menjadi sunyi kembali.

Adipati Tejolaksono tidak mengejar.

Ia seorang yang waspada.

la maklum bahwa munculnya wanita itu memang sudah diatur terlebih dahulu.

Fihak musuh, entah siapa mereka, telah mengenalnya, telah tahu akan kedatangannya dan sengaja menyuruh wanita iblis itu menjaga di pintu.

Agaknya tadinya mereka hendak menggunakan wanita cantik itu menjebaknya, menggunakan kecantikannya.

Ia bergidik kalau teringat.

Andaikata batinnya tidak teguh dan ia roboh oleh, rayuan dan kecantikan wajah dan tubuh wanita itu, tentu ia benar-benar akan mati dalam kenikmatan seperti yang dikatakan Sariwuni tadi!

Andaikata ia meladeni rayuan Sariwuni, tentu ia akan dibunuhnya pula.

Dan alangkah mudahnya ia akan terbunuh kalau ia melayaninya berkasih asmara!

Sungguh berbahaya!

Dan karena semua sudah diatur, maka ia yakin bahwa musuh-musuhnya telah mengatur jebakan pula di luar rumah itu.

Ia heran ke mana perginya Ki Sentana?

Apakah yang terjadi dengan kepala dusun itu dan keluarganya?

Ia merasa khawatir sekali karena di dusun-dusun lain banyak pula terjadi hal aneh, yaitu lenyapnya kepala-kepala dusun tanpa meninggalkan bekas!

Ada pula yang kepala dusunnye masih ada, akan tetapi para pendeta dan pemimpin agama yang lenyap tak meninggalkan bekas.

Apakah Ki Sentana juga telah lenyap pula?

Dengan hati khawatir Tejolaksono lalu melompat keluar dari kamar itu dengan sikap waspada dan seluruh urat syaraf di tubuhnya berada dalam keadaan siap siaga menghadapi segala bahaya.

Ia menyambar sebuah lampu di ruangan tengah yang sunyi, terus ia berjalan memeriksa sampai ke belakang.

Dan di ruangan belakang, dekat dapur, ia melihat Nyi Sentana meringkuk di sudut dalam keadaan terbelenggu!

Baca Juga: Jodoh Rajawali 25

Baca Juga: Bu Kek Siansu 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert