Ceritasilat Novel Online

Perawan Lembah Wilis 2

Eps 2 Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo

Baca online Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo

Cersil Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo.

"Maafkan saya, eyang. Betapapun juga, saya tidak dapat melepaskan puteraku ini sebelum mendapat persetujuan daripada ibunya."

Kakek ini menghela napas lalu mengelus-elus kepala harimau putih.

"Putih, kau terimalah, memang tidak ada mahluk di dunia ini yang hanya mementingkan diri pribadi seperti manusia."

Kemudlan kepada sang adipati ia berkata.

"Kalau begitu, sang adipati, biarlah saya serahkan kepada takdir. Betapapun juga, sewaktu-waktu si Putih dapat mengantar puteramu kepadaku. Nah, selamat berpisah."

Kakek itu lalu bangkit berdiri dan pergi dari situ dengan langkah perlahan-lahan, diikuti harimau putih dari belakang.

"Eh, paman macan putih..!! "

Tiba-tiba Bagus Seta berseru memanggil dan lari menghampiri harimau itu yang menghentikan langkah membalikkan tubuh.

Anak itu merangkul lehernya dan si harimau merendahkan tubuh, menjilat-jilat pipinya.

"Engkau ikut saja bersamaku ke kadipaten "

Harimau itu mengeluarkan suara gerengan perlahan, kemudian membalikkan tubuhnya dan lari mengejar Ki Tunggaljiwa. Bagus Seta tampak kecewa sekali, kembali kepada ayahnya.

"Ayah, macan itu indah dan baik sekali, tidak galak. ingin aku bermain-main dengannya, menunggang di punggungnya."

Adipati Tejolaksono menghela napas, hatinya merasa tidak enak. ia seperti dapat merasakan getaran aneh yang mengubungkan puteranya dengan kakek serta macan putih itu.

"Malam hampir tiba, hayo kita pulang. ibumu tentu akan khawatir sekali,"

Katanya. Bagus Seta bertepuk tangan gembira.

"Aah, betapa kanjeng ibu akan terheran-heran mendengar cerita hamba tentang macan putih.! "

Soraknya.

Adipati Tejolaksono menggendong puteranya lalu mengerahkan kesaktlannya, berlari turun dari lereng.

Hari sudah malam ketika ia tiba di hutan dan bertemu dengan para pengawal yang mencari-cari mereka dengan gelisah.

Para pengawal menjadi girang sekali dan pulanglah rombongan itu naik kuda yang telah dapat dikumpuikan oleh para pengawal.

Adipati Tejolaksono memberi perinta h agar semua hasil buruan itu dibagi-bagi di antara petani di luar kadipaten yang jarang sekali dapat merasai nikmatnya daging kijang.

Para pengawal hanya saling dan melongo, namun tak seorangpun berani membantah.

Ketika tiba di kadipaten, sang adipati dan puteranya disambut dengan penuh kelegaan hati oleh keluarganya.

Kemudian sang adipati bersama puteranya bercerita di depan isteri dan kedua bibinya.

Mendengar cerita suaminya bahwa kakek sakti bernama Tunggaljiwa ini hendak mengambil Bagus Seta menjadl murid, wajah Ayu Candra berubah pucat.

Akan tetapi di depan kedua bibinya, is tidak berkata sesuatu kepada suaminya.

Kartikosari mengerutkan keningnya.

"Serasa pernah aku mendengar nama Ki Tunggaljiwa ini. Dahulu ketika aku masih bersama ayah di Bayuwisma dekat pantai, pernah ayah menyebut nama ini sebagai satu-satunya tokoh sakti yang tak pernah mau mencampuri urusan dunia, hanya hidup sebagai petani biasa di puncak Merapi. Siapa kira, hari ini kalian berjumpa dengannya, bahkan beliau hendak mengambil Bagus sebagai murid. Hemmm..."

Kartikosari memandang kepada Ayu Candra dan tidak melanjutkan kata-katanya, akan tetapi sang adipati maklum dari pandang mata bibinya itu bahwa bibinya menganggap hal itu amat baik dan menguntungkan.

"Orang yang dapat memelihara seekor harimau putih yang besar, tentu seorang yang memiliki kesaktian luar biasa. Tapi aku sendiri belum pernah mendengar nama Ki Tunggaljiwa,"

Kata pula Roro Luhito.

Malam hari itu, ketika berada di dalam kamarnya berdua dengan isterinya, Ayu Candra menangis.

Setelah tidak ada orang lain, barulah din berani menumpahkan segala kekhawatirarmya.

Adipati Tejolaksono memeluk isterinya.

"Eh-eh, kenapa kau menangis, nimas?"

Ayu Candra merebahkan kepala di dada suaminya, tempat yang aman di seluruh duniaini baginya, dan makin sesenggukan.

"Kakangmas aku aku khawatir sekali, kakangmas."

Adipati Tejolaksono merangkul dan membelai rambut isterinya.

"Apa yang kau khawatirkan, nimas? Tentang anak kita si Bagus Seta?"

Isterinya mengangguk.

"Tentang kata-kata Ki Tunggaljiwa itu bahwa akan tiba hukuman kalau anak kita tidak d ibawanya. ah, aku ngeri,kakang mas."

Adipati Tejolaksono yang amat mencinta isterinya, segera menghibur dan menciumi untuk mengusir kekhawatirarmya.

"Apa yang ditakutkan? Ada aku di sini, nimas. Kalau aku berada di sini, siapakah yang akan dapat mengganggu Bagus atau kita? Di samping aku, engkaupun bukan seorang ibu yang boleh dipandang rendahi Belum lagi bicara tentang bibi Roro Luhito yang galak, dan bibi Kartikosari yang sakti mandraguna. Siapa berani main-main hendak mengganggu anak kita?"

"Tapi tapi "

Suara Ayu Candra sudah tidak begitu takut lagi dan bahkan gemetar bukan oleh takut, melainkan oleh rasa mabuk yang selalu datang apabila suaminya sudah menciumi tengkuk dan lehernya seperti itu "

Kalau benar kakangmas pergi seperti dikatakan kakek itu.."

"Ah, pergi ke mana? Agaknya, Ki Tunggaljiwa melihat bakat baik dan kebersihan diri anak kita, saking inginnya mengambil murid lalu menakut-nakuti aku."

Akan tetapi, di sudut hatinya, kekhawatiran besar yang timbul sejak pertemuannya dengan Ki Tunggaljiwa tak dapat juga diusirnya.

Karena itu, ia mencari perlindungan kepada isterinya, kepada orang yang paling dicintanya di seluruh dunia ini, tenggelam ke dalam pelukannya, membiarkan diri terseret oleh arus nikmat cinta kasih.

Mereka tak bercakap-cakap lagi, tidak ada yang perlu dipercakapkan pada saat itu.

Malam menjadi sunyi, sunyi yang mengamankan hati dan semua kekhawatiran di dalam hati, lenyap tak terpikirkan lagi.

Bahkan dunia ini seakan-akan hanya berisi mereka berdua.

Alangkah kecil dan lemah manusia ini kalau dibanding-kan dengan kebesaran dan kekuasaan alam yang begini hebat dan kuat.

Manusia yang banyak akal dan sudah merasa amat maju dengan pelbagal ilmu kepandaian, merasa bahwa dia telah menguasai dan mempermainkan segala apa di alam dunia.

Alangkah piciknya pendapat demikian itu.

Menguasai alam.

Menundukkan alam.

Sungguh mentertawakan, menggelikani Banyak orang dalam kepicikannya tidak sadar bahwa manusla hidup di dunia bagaikan hidup di atas panggung sandiwara.

Dunia bagaikan panggung di mana manusia bermain dalam peran masing-masing yang tanpa dapat dikuasainya telah diserahkan dan diatur, diharuskan oleh Sang Sutradara yang tidak nampak namun yang kekuasaan-Nya amat mutlaki Manusia berebut untuk merampas peran yang paling tinggi kedudukannya, yang paling mulia dan paling penting menurut anggapan manusia.

Sungguh banyak orang lupa din, mengira bahwa peranannya, yang paling penting.

Padahal bukanlah kedudukan peranan yang diperhatikan penonton, yakni manusia-manusia lainnya di dunia,melainkan cara ia mernainkan peranan itulahi Jauh lebih baik menjadi seorang pemegang peran abdi dengan permainan yang ba ik daripada menjadi pemegang peran raja namun dengan permainan yang amat buruk Dengan kata-kata yang lebih jelas lagi .

Jauh lebih baik hidup sebagai manusia miskin yang kaya akan kebajikan daripada seorang kaya yang miskin akan kebajikan, sebagai manusia miskin yang merasa cukup daripada sebagai manusia kaya yang tak pernah merasa cukup.

Jauh lebih baik hidup sebagai manusia berkedudukan rendah namun berkepribadian dan berbudi tinggi daripada sebagai manusia berkedudukan tinggi dengan kepribadian yang rendah Adipati Tejolaksono adalah seorang manusia gemblengan lahir batin.

Bukan hanya ia sakti mandraguna,murid terkasih dari Rakyana Patih Kanuruhan Sang Narotama, bahkan telah menerima pula aji-aji linuwih dari mendiang Sang Prabu Airlangga sendiri, akan tetapi juga adipati yang masih muda ini memiliki pribudi yang tinggi dan mengabdi kebesaran, keadilan dan kebajikan.

Betapapun juga sang adipati yang bijaksana dan sakti itu tiada lain pun juga seorang manusia biasa.

Manusia biasa yang harus tunduk kepada kehendak Sang Sutradara,seorang manusia yang hanya merupakan mahluk lemah,yang kedua kakinya terikat oleh belenggu yang amat kuat,yaitu belenggu cinta kasih kepada isteri dan puteranya.

Didalam pelukan isterinya yang mencintanya sepenuh jiwa raga, Adipati Tejolaksono tenggelam ke dalam madu cinta, menyeret pula isterinya sehingga Ayu Candra akhirnya lupa pula akan segala kekhawatirannya.

Mereka berdua untuk kesekian kalinya mabuk oleh cinta mesra masing-masing yang tak pernah mengecil apalagi padam dan akhirnya tertidur pulas dalam pelukan masing-masing,lupa kekhawatirannya dan tidur tanpa mimpi.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dengan wajah berseri-seri dan segar, suami isteri ini sedang duduk menghadapi sarapan pagi ketika tiba-tiba pengawal datang menghadap dan mengabarkan bahwa sepagi itu telah datang utusan dari Kerajaan Panjalu.

Berdebar jantung Adipati Tejolaksono.

ia menyuruh pengawalnya keluar dan agar mempersi lahkan utusan itu menanti di pendopo.

ia lalu bertukar pandang dengan isterinya.

Perasaan hati mereka meraba sesuatu, sehubungan dengan perasaan khawatir yang mereka bicarakan kemarin.

Namun, tanpa mengeluarkan kata-kata, Ayu Candra mempersiap kan pakaian untuk suaminya, karena menerima utusan raja harus mengenakan pakaian kebesaran.

Dalam hal pakaian dan makan, adipati muda ini tidak pernah mau dilayani orang lain kecuali isterinya, sebaliknya, Ayu Candra juga tidak membiarkan suaminya dilayani orang lain.

Setelah selesai berpakaian, Adipati Tejolaksono pergi keluar menemui utusan.

Makin berdebar rasa jantung adipati itu ketika mendapat kenyataan bahwa pengunjungnya, utusan Kerajaan Panjalu itu bukanlah sembarang utusan, melainkan Ki Patih Suroyudo sendiri, patih dalam sang prabu di Panjalui Tergopoh Adipati Tejolaksono menyambut patih yang sudah putih rambutnya, mempersilahkannya duduk.

Kalau sang prabu sampai mengutusnya, seorang patih kerajaan, untuk datang sendiri ke kadipaten, tak dapat diragukan lagi tentu ada urusan yang amat gawat Setelah berlangsung salam-menyalam seperti telah menjadi tradisi kebudayaan nenek moyang yang tak pernah meninggalkan tata susila dalam hidup bangsa kita, barulah Ki Patih Suroyudo menyampaikan tugas yang dibebankan ke pundaknya oleh sang prabu junjungannya.

Mula-mula Ki Patih Suroyudo menceritakan kepada Adipati Tejolaksono tentang segala petistiwa yang terjadi, yaitu tentang kematian-kematian ajaib yang menimpa beberapa orang perwira dan senopati pilihan di Panjalu.

"Menurut pemeriksaan para ahli pengobatan di kota raja, kematian para ponggawa tinggi itu bukanlah karena serangan semacam penyakit,"

Demlkian Ki Patih Suroyudo melanjutkan ceritanya.

"Para empu dan ahli mengatakan bahwa mereka itu tewas akibat ilmu hitam yang amat jahat, namun tak seorangpun di antara mereka dapat menangkap penyerang pengecut itu. Kematian para ponggawa semua terjadi dalam waktu cepat, tak tersangka-sangka sehingga kami tidak tahu siapa-siapa yang akan menjadi korban berikutnya."

Sang Adipati Tejolaksono mengerutkan keningnya yang hitam tebal. Sepasang matanya yang tajam itu memancarkan sinar aneh. Kemudian terdengar ia bertanya.

"Menurut penuturan paman patih tadi, gejala-gejala yang tampak pada jenazah-jenazah para ponggawa adalah pendarahan yang keluar begitu saja dari kaki tangan dan dada tanpa ada luka di bagian-bagian tubuh itu?"

"Benar, anakmas. Tidak ada luka sedikitpun, namun darah bercucuran dari kaki, tangan dan terutama sekali dari ulu hati seakan-akan bagian-bagian itu ditusuk dengan keris. Mereka itu, rekan-rekan kita yang malang, tewas tanpa dapat melakukan perlawanan, juga tidak tahu siapa musuh yang melakukannya. Karena inilah, maka sang prabu mengutus saya untuk datang ke Selopenangkep dan mengundang anakmas datang ke Panjalu menghadap sang prabu setelah anak mas berhasil menangkap penjahat dan pembunuh itu."

"Setelah saya berhasil menangkap nya?"

Adipati Tejolaksono menegas.

"Benar, anakmas. Sang prabu berpendapat bahwa hanya anakmas yang akan dapat membikin terang perkara gelap ini karena menurut pendapat umum, menurut pula desas-desus yang menyelinap masuk sampai ke istana, pelaku daripada semua pembunuhan yang terjadi di Panjalu, juga di Jenggala, adalah.......... hem m.......... puteri mantu sang prabu di Jenggala "

Terbelalak mata yang tajam itu ketika memandang kepada tamunya.

"Paman paman maksudkan. isteri Gusti Pangeran Panjirawit, diajeng Endang Patibroto???"

Ki Patih Suroyudo yang tua itu menganggukanggukkan kepalanya perlahan.

"Demikianlah bunyl desas-desus, anakmas adipati. Menurut penuturan para ahli kami di Panjalu yang sudah tua-tua, di jaman dahulu yang pandai akan ilmu hitam seperti itu hanyalah tokoh dari Kerajaan Wengker,kerajaan siluman itu. Dan mengingat bahwa....... beliau adalah murid Ki Dibyo Mamangkoro.......hemm.......dan kesaktiannya sudah tersohor di kedua kerajaan, maka bukan hanya semua orang, bahkan sang prabu sendiri berkenan menyatakan kekhawatiran dan dugaan beliau bahwa agaknya memang benarlah isi desas-desus itu. Kemudian sang prabu menyatakan bahwa hanya anakmas adipati seoranglah yang akan dapat mengatasl urusan ini, maka paman diutus untuk menyampaikan semua ini kepada anakmas."

Adipati Tejolaksono mengangguk-angguk.

Hatinya merasa tidak enak sekali.

Mengapa nasib selalu hendak mempertemukannya dengan Endang Patibroto?

Terbayanglah semua pengalamannya dahulu dengan wanita sakti itu, dan terbayang pula pertandingannya melawan Endang Patibroto yang mati-matian (baca cerita Badai Laut Selatan).

Harus ia akui bahwa selama hidupnya,belum pernah ia bertemu tanding sehebat dan sesakti Endang Patibroto.

Boleh dikatakan bahwa tingkat ilmu kesaktian mereka seimbang, tidak berbeda jauh.

Dan kini, setelah bertahun-tahun ia hidup dalam keadaan aman tenteram, tiba-tiba saja ia dihadapkan perkara yang akan mengharuskan ia lagi-lagi berhadapan dengan Endang Patibroto.

"Baiklah, paman Patih Suroyudo. Hamba menerima tugas ini dengan ketaatan. Harap paman sudi menyampaikan penghaturan sembah bakti saya kepada gusti sesembahan kita di Panjalu dan akan hamba usahakan sekuat tenaga untuk menyelidiki perkara ini kemudian menangkap pelakunya."

Setelah beramah-tamah dan menikmati hidangan, Ki Patih Suroyudo minta diri dan berangkat kembali ke Panjalu diiringkan pasukan pengawalnya.

Adipati Tejolaksono termenung sejenak ketika tamunya sudah lama pergi dan barulah sadar daripada lamunannya ketika sebuah tangan yang halus menyentuh pundaknya.

ia menoleh dan melihat bahwa Ayu Candra sudah berdiri di situ.

Lengannya lalu meraih pinggang yang langsing itu, menariknya duduk di atas kursi di depannya.

Karena mereka duduk di pendopo yang terbuka, maka sang adipati menahan hasrat hatinya membelai isterinya.

ia hanya tersenyum dan memandang wajah isterinya yang kelihatan khawatir itu.

"Nimas, kau pergilah menemui kedua bibi dan minta mereka suka datang bercakap-cakap di ruangan dalam. Ada urusan penting yang ingin kusampaikan kepada mereka, bahkan hendak kumintai pertimbangan mereka."

"Ada apakah, kakanda? Ki Patih tadi membawa kabar apakah?"

Tanya Ayu Candra dengan alis berkerut. Adipati Tejolaksono menangkap tangan isterinya dan meremas-remas jari tangannya.

"Jangan kau khawatir, isteriku sayang. Dan sebaiknya kalau adinda suka memanggil kedua bibi agar bersama dapat membicarakan urusan yang dibawa ki patih tadi."

Biarpun hatinya diliputi kekhawatiran, namun melihat wajah suaminya yang tenang, Ayu Candra tidak mendesak lagi.

Memang, betapapun juga besar cinta kasih dan kemanjaannya, ia tetap taat akan segala yang diminta dan dikatakan suaminya.

ia mengangguk, lalu pergilah ia masuk ke dalam.

Dan dari belakangnya, Adipati Tejolaksono memandang tubuh belakang isterinya dengan hati gembira.

Biarpun sudah menjadi ibu dan usianya sudah bertambah, tiada perbedaan terjadi pada tubuh Ayu Candra.

Dan ia tersenyum karena maklum bahwa pendapat ini menambah tebal cinta kasihnya.

Sang adipati lalu masuk ke ruangan dalam.

Ketika isterinya kembali bersama dua orang bibi,yaitu Roro Luhito dan Kartikosari yang memandangnya dengan sinar mata penuh pertanyaan dan dugaan, barulah Adipati Tejolaksono teringat akan perintah sang prabu dan sikapnya menjadi sungguh-sungguh.

ia mempersilahkan kedua orang wanita setengah tua itu duduk, kemudian mulailah ia bercerita yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Ayu Candra, Kartikosari, dan RoroLuhito.

Ketika ia menceritakan tentang pembunuhan-pembunuhan mengerikan dan aneh yang terjadi atas diri banyak ponggawa-ponggawa Panjalu dan Jenggala, tiga orang wanita itu saling pandang dengan perasaan ngeri.

Mereka bertiga bukanlah orang-orang lemah, terutama sekali Kartikosari.

Akan tetapi, peristiwa pembunuhan seaneh dan sengeri itu baru sekarang ia pernah mendengarnya.

"Demikianlah, bibi. Karena kejadian aneh itu menimpa para ponggawa dan tidak dapat diduga semula siapa-siapa yang akan menjadi korban berikutnya, keadaan di Panjalu menjadi geger dan dicekam suasana ngeri dan takut. Sang prabu mengutus paman Patih Suroyudo untuk memerintahkan saya pergi menanggulangi perkara itu, menyelidiki dan kemudian menangkap si jahat yang melakukan pembunuhan-pembunuhan secara pengecut dan keji."

Menggigil tubuh Ayu Candra. Adipati Tejolaksono tahu benar akan hal ini melihat dari pandang mata serta gerak leher isterinya.

"Aahhh bagaimana seorang manusia dapat melawan iblis? Kurasa hanya iblis sendiri yang dapat melakukan pembunuhan-pembunuhan keji seperti itu."

Kata Ayu Candra.

Adipati Tejolaksono tersenyum.

ingin sekali hatinya menceritakan tentang desas-desus yang tertiup angin di Kerajaan Panjalu tentang dugaan umum siapa pelaku pembunuhan-pembunuhan itu, akan tetapi Adipati Tejolaksono adalah seorang yang bijaksana.

Endang Patibroto adalah anak kandung bibi Kartikosari.

Bagaimana ia dapat menyebut nama Endang Patibroto di depan bibinya ini?

Tidak, ia tidak akan menceritakan hal itu, apalagi nama Endang terbawa dalam peristiwa itu hanya sebagai desas-desus yang belum ada buktinya.

Kecuali kalau memang kemudian ternyata bahwa Endang Patibroto yang melakukan hal itu, dan ini sama sekali tidak dipercayainya, tentu saja ia tidak akan menutupinya.

"Bukan iblis bukan siluman, yayi, melainkan seorang tukang tenung, seorang dukun lepus ahli ilmu hitam Dan kalau dapat kuselidiki dan kutemui orangnya, tentu akan kuhajar dia Seorang yang melakukan perbuatan seperti itu bahkan lebih kejam daripada iblis sendiri."

"Tapi tapi dia tentu memiliki kesaktian yang amat hebat."

Kembali Ayu Candra berkata penuh kekhawatiran sambil memandang suaminya, wajahnya agak pucat.

"Ayu, mengapa engkau kini menjadi begini penakut? Mana kegagahanmu yang dahulu, cah-ayu? Ahhhh, benar-benar cinta kasih bisa membuat orang menjadi penakut,"

Tegur Roro Luhito kepada Ayu Candra. Memang Roro Luhito kalau bicara jujur tanpa tedeng aling-aling lagi.

"Kau tahu bahwa suamimu memiliki kesaktian yang dapat mengatasi musuh-musuhnya, apalagi hanya seorang dukun lepus. Jangan kau khawatir, seperti bukan wanita gemblengan sajai"

"Betul ucapan bibimu Luhito, anakku. Tidak perlu khawatir jika kali ini suamimu melaksanakan tugas dan perintah junjungan. Memang ini sudah menjadi kewajibannya. Apalagi, aku yakin benar bahwa pelaku pembunuhan-pembunuhan itu bukanlah seorang yang benar-benar sakti mandraguna. Bukanlah seorang sakti yang suka melakukan perbuatan pengecut seperti itu, melainkan seorang lemah dan penakut. Yang tidak berani menghadapi aldbat perbuatannya. Jangan kau khawatir, anakku, suamimu tidak akan menemui bahaya."

Mendengar hiburan kedua orang tua itu, agak legalah hati Ayu Candra.

Alangkah bangga dan besar hati Adipati Tejolaksono.

Untung ada kedua orang bibi ini yang seratus prosen boleh diandalkan.

Kalau tidak ada mereka, agaknya iapun akan ragu-ragu dan khawatir meninggalkan isteri tercinta sendirian di rumah bersama puteranya.

Kalau tidak ada kedua orang bibinya yang boleh dipercaya ini, agaknya ia akan "mengantongi"

Isteri dan anaknya itu dan membawanya serta ke manapun ia pergi.

"Saya mohon perhatian dan bantuan bibi berdua, bukan untuk menghadapi urusan pembunuhan di Panjalu melainkan.... hemm.... Bagus Seta."

KARTIKOSARI mengangguk.

"Ki Tunggaljiwa?"

Wanita ini sudah dapat menduga apa yang dipikirkan sang adipati.Tejolaksono mengangguk.

"Saya tidak. menyangka bahwa orang tua itu mempunyai niat buruk. Akan tetapi, hemm , keadaannya juga amat aneh. Oleh karena Itulah sepeninggal saya ke Panjalu, saya harap bibi berdua sudi membantu Ayu untuk mengamat-amati Bagus Seta. Tentu saja hal Ini sudah dan akan bibi lakukan tanpa saya minta, akan tetapi.. , hati saya akan lega dalam perjalanan kalau saya sudah membicarakan hal ini secara berdepan begini dengan bibi yang saya percaya dan hormati setingginya."

Kartikosari tersenyum.

Biarpun Roro Luhito lebih pandai bicara daripadanya, akan tetapi menghadapi segala urusan, selalu dia yang menjadi dan penentunya.

Roro Luhito hanya akan mengikuti semua jejaknya.

"Anakku adipati, kami mengerti perasaanmu setelah pengalamanmu bersama Bagus Seta di dalam hutan. Dan bukan hal yang kebetulan saja ucapan Ki Tunggaljiwa kepadamu yang meramalkan bahwa dalam waktu singkat anaknda akan pergi dari Selopenangkep. Oleh karena itu, harap engkau waspada dan hati-hati dalam perjalanan menunaikan tugas yang dibebankan oleh sang prabu kepadamu. Adapun tentang keadaan di Selopenangkep sepeninggalmu, harap legakan hati dan jangan khawatir. Isterimu, Ayu Candra bukan seorang anak-anak melainkan seorang ibu yang tentu akan dapat menjaga putera dan rumah tangga sebaiknya. Adapun kami, kedua bibimu ini, tentu saja akan mengamat-amati kesemuanya dan akan membela Selopenangkep seisinya dengan taruhan nyawa."

Ucapan Kartikosari yang tenang dan mantap ini membuat hati Adipati Tejolaksono menjadi lega.

Lapang rasa dadanya dan ia dapat pergi dengan tenang.

Ayu Candra juga sadar bahwa ketidakrelaannya yang diperlihatkan atas kepergian suaminya, amatlah tidak baik.

Suaminya adalah seorang yang sakti mandraguna.

Kalau hanya menghadapi seorang penjahat pengecut saja, memang tidak perlu dikhawatirkan sama sekali.

Demikianlah, pada pagi hari itu juga, Adipati Tejolaksono meninggalkan Selopenangkep, menunggang seekor kuda berbulu dawuk yang besar dan kuat, membawa perbekalan dan tidak lupa membawa senjata pusakanya, yaitu keris Megantoro, sebatang keris berlekuk tujuh yang mengeluarkan sinar keputihan seperti awan.

Hatinya tenang karena kepergiannya diantar senyum penuh kepercayaan oleh isteri dan kedua biblnya, dan dibekali peluk cium puteranya, Bagus Seta.

Akan tetapi ketenangan hati Adipati Tejolaksono lenyap seperti awan ditiup angin ketika perjalanannya membawa ia makin mendekati Kerajaan Panjalu.

Ia melakukan perjalanan ini seorang diri, tidak berpengawal karena apakah artinya pengawal bagi seorang sakti seperti adipati muda ini?

Apalagi, perjalanannya kali ini adalah perjalanan untuk melakukan penyelidikan dan mencari seorang penjahat sakti sehingga perlu ia lakukan dengan diam-diam.

Hatinya makin gelisah setelah ia dekat dengan Kerajaan Panjalu karena santer terdengar olehnya akan desas-desus tentang pembunuhan-pembunuhan itu.

Apalagi setelah pada suatu pagi ia tiba di luar kota raja, kagetnya bukan main mendengar berita bahwa di Kota Raja Panjalu terjadi geger yang hebat sekall.

Yaitu tentang penyerbuan Endang Patibroto ke istana Pangeran Darmokusumo yang gagal.

Berita ini membuat ia terkejut dan termenung di atas kudanya yang ia hentikan di tepi jalan agar mendapat kesempatan makan rumput hijau.

Endang Patibroto menyerbu dan berniat membunuh Pangeran Darmokusumo?

Inilah hebat!

Untung, menurut berita itu, bahwa penyerbuan itu dapat digagalkan oleh pasukan--pasukan Panjalu yang memang sudah berjaga-jaga.

Nyaris Endang Patibroto tertangkap, demikian berita itu.

Penasaran memenuhi hati Adlipati Tejolaksono.

Mengapa Endang Patibroto melakukan hal itu?

Bukankah wanita ini telah menjadi seorang isteri berbahagia dari Pangeran Panjirawit dan hidup mulia di Kerajaan Jenggala?

Bukankah Pangeran Darmokusumo itu masih saudara iparnya sendiri karena isteri Pangeran ini adalah adik kandung Pangeran Panjirawit?

Ah, hampir tak dapat ia mempercayai berita aneh itu.

Akan tetapi, bukan hanya dari satu dua orang ia mendengar berita ini!

Ia harus segera ke Jenggala, sekarang juga!

Ia harus bertemu sendiri dengan Endang Patibroto dan bercakap-cakap dengan adik angkatnya itu.

Sebelum melihat bukti dan mendengar keterangan dari mulut Endang sendiri, ia tidak akan mengambil tindakan tergesa-gesa dan harus amat berhati--hati karena ia sudah cukup mengenal watak Endang Patibroto yang boleh dikatakan sejak kecil selalu menjadi musuhnya (baca cerita Badai Laut Selatan).

Tanpa memasuki Kota Raja Panjalu, Tejolaksono lalu membedal lagi kudanya berangkat menuju ke Jenggala.

Melalui jalan-jalan yang amat dikenalnya ini terkenang lagilah sang adipati akan masa mudanya, terkenang akan segala peristiwa yang terjadl pada dirinya belasan tahun yang lalu dan terkenanglah ia kepada Endang Patibroto,gadis sakti mandraguna yang amat galak terhadapnya dahulu itu.

Endang Patibroto, yang sejak kecil selalu benci kepadanya, yang merupakan lawan terberat baginya, bahkan yang telah membunuh ibu kandungnya!

Wanita yang amat dikasihaninya, dikaguminya akan tetapi juga pernah dibencinya karena telah membunuh ibunya.

Namun karena ibu kandungnya menjadi pembunuh ayah kandung wanita ini, maka kesadaran hatinya telah menyudahi rasa bencinya, dan berbalik ia menjadi kasihan kepada Endang Patibroto, apalagi setelah ia hidup berkecimpung di dalam kebahagiaan cinta kasih dengan isterinya, Ayu Candra.

Dan hatinya ikut girang dan bahagia ketika ia mendengar berita bahwa Endang Patibroto juga hidup bahagia di samping seorang suami yang amat mencintanya, yaitu Pangeran Panjirawit.

Akan tetapi sekarang muncul peristiwa yang amat aneh ini.

Mula-mula terjadi pembunuhan-pembunuhan gelap, kemudian timbul desas-desus bahwa Endang Patibrotolah orangnya yang melakukan perbuatan pengecut dan keji ini.

Dan sekarang, yang amat mengejutkan adalah berita tentang penyerbuan Endang Patibroto seorang diri di malam gelap untuk membunuh Pangeran Darmokusumo.

Mana ia bisa percaya?.

Hari telah menjadi malam ketika Adipati Tejolaksono memasuki Kota Raja Jenggala yang dahulu amat dikenalnya itu.

begitu ia menuntun kudanya memasuki pintu gerbang, lima orang penjaga menghadang dan memandangnya penuh kecurigaan.

Akan tetapi sebelum mereka sempat menegurnya, seorang di antara para penjaga yang sudah tua usianya memandang Tejolaksono penuh perhatian, kemudian ia menudingkan telunjuknya ke arah adipati ini dan berkata gagap.

"Bukankah.. andika ini.. Raden Bagus Joko Wandiro?!! "

Tejolaksono tersenyum.

Sebetulnya ia, tidak ingin memperkenalkan diri, karena ia ingin diam-diam mengunjungi Pangeran Panjirawit dan menemui Endang Patibroto, tidak mau memberitakan tentang kedatangannya ke Jenggala kepada orang lain.

Akan tetapi karena penjaga tua ini mengenalnya, ia tidak dapat menyangkal lagi dan mengangguk.

"Benar, paman. Aku ingin pergi mengunjungi Gusti Pangeran Panjirawit "

Tejolaksono menghentikan ucapannya ketika melihat perubahan muka kelima orang penjaga itu yang tampak nyata di bawah sinar lampu di pintu gerbang.

Mereka itu terbelalak, jelas kaget sekali mendengar disebutnya nama pangeran itu.

Ia menyangka pasti ada hal yang hebal terjadi, maka cepat ia bertanya.

"Ada terjadi apakah, paman?"

Penjaga tua itu bertanya.

"Benarkah paduka ini Raden Bagus Joko Wandiro yang kini sudah menjadi gustl adipati di Selopenangkep?"

Kembali Tejolaksono mengangguk tak sabar.

la tidak mempersoalkan dirinya, melainkan ingin mendengar tentang Endang Patibroto.

Melihat orang muda ini mengangguk, lima orang penjaga itu lalu memberi hormat.

Yang empat adalah penjaga-penjaga muda yang belum pernah melihat Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono, akan tetapi sudah mendengar nama besar ksatria yang sakti mandraguna ini.

"Maafkan hamba berlima tadi berlaku kurang hormat, gusti adipati."

"Ah, bangkitlah, paman dan harap suka menceritakan apa yang telah terjadi."

Dan Tejolaksono melongo keheranan ketika mendengar penjaga tua itu bercerita.

Makin banyak ia mendengar, wajahnya makin keruh.

Keheranan bercampur dengan kegelisahan dan tidak percaya.

Bagaimana ia bisa percaya mendengar betapa Endang Patibroto benar-benar telah membunuh-bunuhi para ponggawa Jenggala dan Panjalu dengan ilmu hitam, kemudian betapa wanita sakti yang oleh para penjaga disebut "iblis betina"

Itu telah menyerbu istana Pangeran Darmokusumo, kemudian betapa Pangeran Panjirawit yang membela nama isterinya itu ditangkap sendiri oleh ayahnya, sang prabu di Jenggala lalu dipenjarakan.

Betapa kemudian, iblis betina itu secara hebat dan seorang diri telah menyerbu penjara yang terjaga amat kuatnya, menyamar sebagai pria, sebagai penjaga kemudian berhasil melarikan suaminya itu dari penjara.

"Iblis itu hebat bukan main, gusti adipati. jelas bahwa dia bukan manusia biasa, melainkan iblis. Kalau manusia biasa, bagaimana bisa berhasil merampas gusti pangeran yang terjaga oleh ratusan orang prajurit dan pengawal? Bahkan dikerocok (dihujani) anak panah, masih berhasil melesat pergi seperti terbang saja dan keluar dari kota raja, entah ke mana, hanya setan yang tahu"

Adipati Tejolaksono hanya bisa mengeluarkan suara "ahh!"

Berkali-kali, kemudian ia mengucapkan terima kasih dan pergi dari situ, meninggalkan para penjaga sambil menuntun kudanya, berjalan perlahan seperti orang mimpi melalui jalan yang amat gelap itu.

la memang merasa seperti mimpi mendengar semua itu.

Ia tersenyum kalau teringat akan keheranan para penjaga yang menceritakan tentang perbuatan Endang Patibroto membebaskan suaminya Ia tidak heran mendengar itu.

Seorang sakti seperti Endang Endang Patibroto tentu saja mampu melakukan hal itu, bahkan yang lebih daripada itu sekalipun!

Ia tersenyum kalau membayangkan betapa Endang Patibroto mempermainkan ratusan orang prajurit itu, membakari sebagian istana dan menyamar sebagai perajurit, kemudian melarikan diri, dikeroyok puluhan orang pengawal dan menangkis semua anak panah yang datang bagaikan hujan.

Ia sudah tahu akan kesaktian wanita itu.

Iblis betina?

Ah, ia cukup tahu akan watak Endang Patibroto.

Kalau sedang marah memang melebihi iblis, akan tetapi sebetulnya mempunyai dasar watak satria puteri utama!

Akan tetapi, tidak habis keheranannya mendengar semua peristiwa itu.

Endang Patibroto membunuhi para ponggawa dengan ilmu hitam yang mujijat?

Memang hal inipun tidak aneh dan bisa saja Endang Patibroto melakukannya, mengingat bahwa dia adalah murid Dibyo Mamangkoro yang jahat dan sakti seperti iblis sendiri.

Akan tetapi, ia yakin bahwa tanpa alasan yang amat kuat, tak mungkin Endang Patibroto mau melakukannya, apalagi sebagai isteri Pangeran Panjirawit yang terkenal berbudi bawa-laksana!

Kalau begitu, apa sebabnya?

Mengapa terjadi semua itu?

Mengapa?

Dan ke mana ia harus mencari Endang Patibroto?

Ia tidak akan menjatuhkan sesuatu pendapat atau penilaian atas peristiwa semua itu sebelum ia mendengar sendiri dari orang yang bersangkutan, dalam hal ini Endang Patibroto dan suaminya.

Ia harus mencari Endang Patibroto dan Pangeran Panjirawit.

Ia menyesal mengapa tidak datang lebih pagi.

Peristiwa penyerbuan penjara oleh Endang Patibroto itu baru terjadi dua hari yang lalu!

Adipati Tejolaksono memeras otaknya.

Di dalam gelap, ia berhenti berjalan, lalu duduk bersila, merenung dan mengerjakan otaknya.

Peristiwa ini terlalu aneh, tidak mungkin terjadi tanpa dasar yang amat kuat.

Ia merasa yakin bahwa tentu ada sesuatu yang menggerakkan semua itu, sesuatu yang memaksa Endang Patibroto melakukan perbuatan-perbuatan hebat itu, yakni menyerbu istana Pangeran Darmokusumo dan kemudian menyerbu penjara membebaskan suaminya, melawan perajurit-perajurit mertuanya sendiri, Sang Prabu Jenggala!

Dan, satu-satunya hal yang mungkin terjadi adalah bahwa tentu penggerak itu merupakan musuh besar Kerajaan Jenggala dan Panjalu.

Siapa?

Kadipaten Nusabarung merupakan musuh besar terakhir dari Jenggala, akan tetapi kadipaten itu telah dihancurkan.Siapa lagi yang dapat memusuhi Jenggala dan Panjalu?

Memang banyak kerajaan-kerajaan kecil yang tidak tunduk kepada kedua kerajaan ini, akan tetapi mereka itu tak mungkin dapat melakukan hal yang amat hebat ini.

Kemudian ia teringat.

Bukankah kerajaan Adipati Nusabarung mempunyai sekutu yang amat besar dan kuat?

Adipati di Blambangan!

Ya, kiranya Kadipaten Blambangan inilah merupakan satu-satunya musuh besar yang termasuk kuat dan berbahaya.

Akan tetapi bagaimana Blambangan dapat mempengaruhi Endang Patibroto?

Inipun kiranya tak masuk di akal karena setahunya, hubungan Endang Patibroto dengan pengaruh-pengaruh luar hanya dengan Dibyo Mamangkoro yang telah meninggal dunia, pula, Kerajaan Wengker di mana dahulu Dibyo Mamangkoro menjadi senopati besarnya, kini telah tiada pula.

Adipati Tejolaksono bangkit berdiri, menuntun kudanya, kemudian melompat naik ke punggung kudanya.

"Dawuk, satu-satunya peganganku hanya Blambangan. Semoga tidak salah perhitunganku. Kita ke Blambangan!"

Ia menarik kendali kudanya dan mulailah ia melakukan perjalanan, menuju ke timur.

Ke Blambangan!.

Pada malam ke dua tibalah ia di lembah Sungai Menjangan setelah melewati Gunung Semeru.

Tiba-tiba kudanya Si Dawuk mengeluarkan ringkik perlahan.

Tejolaksono menjadi waspada, cepat meloncat turun dan membiarkan kudanya terlepas di dekat sungai di mana terdapat banyak daun dan rumput hijau gemuk.

Kemudian ia berjalan ke sebelah kira ke mana tadi kudanya menoleh ketika mengeluarkan ringkikan.

Ia percaya akan ketajaman, ke enam yang amat tajam dari binatang tunggangannya.

Kalau Si Dawuk meringkik seperti itu, tentu ada apa-apa yang tidak wajar di sebelah kiri itu.

Berindap-indap Adipati Tejolaksono berjalan dan matanya tajam meneliti keadaan sekelilingnya, siap menghadapi segala kemungkinan.

Malam itu bulan purnama menerangi jagat raya dan biarpun keadaan remang-remang namun Tejolaksono dapat melihat dengan terang.

Tiba-tiba ia merighentikan langkahnya.

Ada suara mengerang perlahan, agak jauh dari tempat ia berdiri.

Agaknya suara itulah yang tadi mengejutkan kudanya.

Suara itu terdengar memang aneh, bukan seperti suara manusia, akan tetapi juga tak pernah ia mendengar ada binatang yang suaranya seperti itu.

Cepat ia melangkah maju ke arah suara.

Kiranya suara itu terdengar dari sebuah jurang atau sumur tua yang dalamnya kurang lebih tiga meter.

Dan di atas sumur itu, ia melihat sesuatu bergerak--gerak.

Cahaya bulan tidak mencapai dasar sumur sehingga keadaan amat gelap.

"Kisanak, siapakah andika yang berada di dasar jurang?"

Tanya Tejolaksono sambil berjongkok di pinggir jurang.

Lama ia menanti jawabannya.

Namun tidak ada jawaban.

Kemudian terdengar suara merintih lagi, kini jelas suara manusia mengaduh.

Ada manusia yang membutuhkan pertolongan!

Adipati Tejolaksono yang berjiwa satria, tentu saja tidak membuang waktu untuk meragu di mana tenaganya dibutuhkan orang lain.

Ia segera lari ke arah serurnpun bambu yang tumbuh tak jauh dari situ.

Dengan pengerahan tenaga saktinya, tangan kanannya membabat ke bagian bawah sebatang pohon bambu dan "krakkkl"

Pohon itu jebol dan tumbang.

Dia lalu menyeret pohon yang amat panjang itu, diturunkan perlahan ke dalam sumur.

Ternyata pohon barbu itu cukup tinggi sehingga dapat mencapai dasar sumur.

Merayaplah Adipati Tejolaksono turun ke dalam sumur melalui batang pohon bambu.

Keadaan di dasar sumur gelap, remang-remang namun setelah matanya biasa dengan kegelapan itu, Tejolaksono dapat melihat sosok tubuh seorang laki-laki tinggi besar rebah miring sambil mengerang kesakitan.

Ia meraba, lalu mengangkat tubuh itu dan memanggulnya.

Perlahan ia memanjat batang bambu ke atas, kemudian mengerahkan tenaganya meloncat keluar lubang sumur.

"Aduh... aduhh...!! "

Laki-laki tinggi besar itu ternyata tubuhnya berlumur darah.

Ketika memeriksanya di bawah sinar bulan, tampak oleh Tejolaksono gagang sebatang keris tersembul keluar dari dadanya.

Keris itu menancap di dada sampai ke hulu kerisnya.

"Paman, siapakah andika dan mengapa berada dalam sumur dalam keadaan begini?"

Tejolaksono bertanya setelah melihat bahwa laki-laki tinggi besar itu adalah seorang kakek yang bertampang gagah dan bertubuh kuat sekali.

Ia sudah terheran-heran mengapa kakek ini belum tewas oleh luka di dadanya yang hebat itu.

Tahulah ia bahwa orang ini bukan orang sembarangan, karena kalau tidak berkepandaian tinggi tentu tak dapat bertahan.

Lelaki Itu membelalakkan matanya, mengerang lagi perlahan lalu berkata.

"Terima kasih terima kasih aduhhh kasihan kau, gusti puteri Endang Patibroto aduhh , Gusti Dlbyo Mamangkoro.. maafkan hamba , Maafkan hamba tidak dapat melindungi murid paduka auugggghhh !!! "

Adipati Tejolaksono terkejut sekali.

Cepat ia menyentuh punggung orang itu, mengerahkan aji kesaktian sehingga hawa panas keluar dari pusarnya melalui tangan dan menembus kulit punggung.

Orang itu mengeluarkan seruan perlahan, agaknya terheran, kemudian napasnya yang terengah-engah itu mulai tenang.

"Kau kau siapa. ?"

Agaknya kakek ini heran menyaksikan betapa orang yang mengangkatnya keluar dari sumur ini memiliki ilmu yang demikian hebat. Tadinya ia mengira bahwa yang menolongnya hanyalah seorang petani biasa.

"Paman, aku adalah saudara Endang Patibroto! Ke mana dia? Dan apakah yang telah terjadi dengannya? Katakanlah, paman! "

"Uuhh siapa kau ?! "

Adipati Tejolaksono berpikir sebentar.

orang ini menyebut-nyebut nama Dibyo Mamangkoro, tentu anak buah guru Endang Patibroto itu.

Kalau ia menyebut namanya yang sekarang, tentu tidak mengenalnya.

Maka ia lalu berkata.

"Paman, namaku adalah Koko Wandiro "

Tiba-tiba orang Itu berseru dan tangannya yang besar itu melayang, menghantam ke arah muka Adipati Tejolaksono Tentu saja dengan mudah Tejolaksono mengelak dan orang itu kembali mengerang kesakitan.

"Aduh, keparat.! Kau. kau pembunuh gusti senopati Dibyo Mamangkoro."

Memang Adipati Tejolaksono dahulu telah membunuh manusia iblis itu (baca cerita Badan Laut Selatan).

"Paman, betapapun juga, aku adalah saudara Endang Patibroto. Kalau engkau gagal menolongnya, barangkali aku yang akan dapat menolongnya!"

"Benar uuhh, benar nah, dengarlah orang muda."

Kakek itu bukan lain adalah Ki Brejeng, bekas anak buah Dibyo Mamangkoro.

Seperti telah kita ketahui di bagian depan cerita ini, Ki Brejeng telah menjadi anak buah Raden Sindupati pemimpin pasukan Blambangan dan telah ikut menjalankan siasat membujuk dan mempengaruhi Endang Patibroto sehingga wanita yang bernasib malang itu terbujuk ikut dengan rombongan itu ke Blambangan.

Ketika rombongan tiba di lembah Sugai Menjangan, malam telah tiba dan mereka membuat pesanggrahan darurat di situ.

Malam harinya, Raden Sindupati yang tak dapat menahan lagi nafsu hatinya yang sudah tergila-gila akan kecantikan Endang Patibroto, diam-diam dibantu oleh beberapa orang anak buahnya hendak menyergap wanita itu dengan menggunakan racun memabukkan dalam makanan yang dihidangkan kepada wanita itu.

Akan tetapi, Ki Brejeng yang merasa sayang kepada murid bekas junjungannya, tahu akan hal ini dan segera mencegahnya.

Dia diam-diam masih amat setia kepada Dibyo Mamangkoro dan karena itu setia pula kepada Endang Patlbroto.

Biarpun ia mau diajak menipu Endang Patibroto, namun diam-diam ia selalu memasang mata dan bersiap melindungi puteri yang dikasihinya ini.

"Demikianlah, raden aku mengganti makanan yang disuguhkan gusti puteri sehingga usaha keji Raden Sindupati itu tak berhasil. Akan tetapi mereka mengetahui perbuatanku ini maka ketika malam itu aku tidur, mereka menyergap. Sia-sia aku melawan. Mereka sakti dan akhirnya aku roboh tertikam kerisku sendiri yang terampas oleh Raden Sindupati,. Setelah sadar, aku mendapatkan diriku di dalam sumur sampai tiga hari tiga malam. Kebetulan kau dapat menolongku keluar ". Adipati Tejolaksono terkejut dan diam-diam ia makin kagum. Kakek ini hebat sekali. Terluka begitu parah masih dapat bertahan untuk hidup selama tiga hari tiga malam di dasar sumur!.

"Akan tetapi, paman. Mengapakah paman Brejeng berada dalam rombongan Sindupati dan mengapa pula Endang Patibroto ikut bersama kalian?". Dengan napas terengah-engah Ki Brejeng menceritakan riwayatnya, kemudian ia mulai menceritakan semua peristiwa yang terjadi, semua siasat Blambangan yang mempergunakan Wiku Kalawisesa untuk menyebar maut di antara para ponggawa kedua kerajaan dan betapa siasat itu selanjutnya menimpakan kesalahan di pundak Endang Patibroto, menyebar desas-desus kemudian betapa Enbang Patibroto tertipu oleh penuturan Wiku Kalawisesa untuk mengadu domba dia dengan Pangeran Darmokusumo. Adipati Tejolaksono terheran-heran dan bukan main marahnya mendengar semua siasat jahat Blambangan itu.

"Demikianlah dia dia terbujuk ikut ke Blambangan dan dan ah, nasibnya tentu tertimpa bencana hebat di sana.. aku... aku tak berhasil aaaahhhhh!"

Tubuh tinggi besar itu mengejang lalu lemas dan habislah riwayat Ki Brejeng karena nyawanya telah meninggalkan badannya.

Adipati Tejolaksono bangkit berdiri, mengepal tinju.

Tak salah dugaannya.

Blambangan yang berdiri di belakang semua peristiwa di Jenggala dan Panjalu itu, dan Endang Patibroto yang menjadi korban.

Ia menyesal sekali mengapa Ki Brejeng keburu tewas sehingga ia tidak dapat bertanya lebih jelas.

Ia tidak tahu bagaimana jadinya dengan Pangeran Panjirawit, Endang Patibroto.

Dalam erita yang singkat dan terputus-putus tadi, Ki Brejeng tidak menyebut--nyebut.nama Pangeran Panjirawit dan dia sendiri yang pikirannya penuh dengan Endang Patibroto tidak ingat pula untuk menanyakannya.

Kalau Endang Patibroto terkena bujukan orang-orang Blambangan, ia masih dapat menerimanya karena ia tahu bahwa Endang Patibroto yang tentu marah sekali karena dituduh melakukan pembunuhan-pembunuhan itu kemudian diadu domba dengan fihak Panjalu, tentu marah kepada kedua kerajaan itu dan mudah dihasut oleh orang Blambangan.

Akan tetapi, mengapa Pangeran Panjirawit tidak mencegahnya?

Tentu pangeran itu tidak sudi melakukan pengkhianatan, tidak sudi bersekutu dengan Blambangan.

Apakah pangeran itu tidak bersama Endang?

Kalau begitu, ke mana gerangan perginya setelah berhasil diselamatkan Endang Patibroto dari dalam penjara?

"Tidak perlu bingung, paling perlu mengejar dan menyusul ke Blambangan!"

Pikirnya.

"Endang Patibroto harus ditolong, kemudian bersama wanita itu datang menghadap kedua kerajaan untuk memberi laporan tentang keadaan sebenarnya yang telah terjadi."

Setelah berpikir Adipati Tejolaksono menggali sebuah lubang dan mengubur mayat Ki Brejeng.

Ia melakukan hal ini karena mengingat akan jasa dan budi Ki Brejeng terhadap Endang Patibroto.

Setelah selesai, menjelang pagi ia melanjutkan perjalanan.

Ke Blambangan.

Endang Patibroto merasa menyesal dan kecewa sekali mendengar penuturan Raden Sindupati bahwa Ki Brejeng semalam telah melarikan diri.

"Memang selama di Blambangan, dia selalu gelisah dan agaknya tidak kerasan. Dia yang sejak dahulu suka hidup bertualang dan bebas, agaknya tidak tahan hidup bermalas--malasan di Blambangan. Hanya karena ia merasa berhutang budi kepada Gusti Adipati Blambangan sajalah agaknya yang membuat kakek itu segan meninggalkan pekerjaannya. Akan tetapi, semenjak ia ikut bersama rombongan kami, makin tampak sifatnya yang suka akan alam bebas. Semalam, betapapun kami berusaha mencegahnya, ia tetap tidak mau mendengar dan melarikan diri. Kami tidak dapat menahannya dengan paksa. Kasihan orang tua itu, kalau memang dia ingin hidup bebas, biarlah,"

Demikian antara lain keterangan Raden Sindupati kepadanya.

Endang Patibroto dapat menerima keterangan ini karena iapun mengenal watak seorang bekas anak buah gurunya seperti Ki Brejeng itu.

Akan tetapi, sedikit banyak kepergian Ki Brejeng mempengaruhi hatinya, membuat ia kurang senang.

Namun, karena ia harus membalas dendam hatinya kepada Kerajaan Jenggala dan Panjalu, ia harus mencari sekutu dan untuk menghadapi kekuatan barisan kedua kerajaan itu, maka Kadipaten Blambangan merupakan sekutu yang baik.

Selama dalam perjalanan, Raden Sindupati memperlihatkan sikap yang amat baik, sopan dan menghormat kepadanya sehingga senang juga hati Endang Patibroto.

Ia mengambil keputusan bahwa kalau Adipati Blambangan kurang baik sikapnya, masih belum terlambat baginya untuk pergi dari Blambangan dan menuntut balas seorang diri saja.

Akan tetapi, ternyata bahwa Adipati Blambangan menyambut kedatangannya dengan sikap yang amat baik.

Adipati itu seorang tinggi besar, mukanya penuh cambang bauk, kedua lengannya yang kuat dan besar itupun penuh rambut yang panjang seperti lengan monyet besar.

Matanya lebar-lebar dan suaranya parau kasar, suka tertawa akan tetapi sikapnya yang kasar itu malah menyenangkan hati Endang Patibroto, mengingatkannya kepada mendiang gurunya, Dibyo Mamangkoro.

Adipati Blambangan itu bernama Adipati Menak Linggo, dahulunya seorang adipati-yang diangkat oleh raja di Bali, akan tetapi yang kemudian memberontak dan berdiri sendiri tidak mengakui kedaulatan Raja Bali maupun Kerajaan Jenggala dan Panjalu.

Berkali-kali Kerajaan Bali mengirim pasukan untuk menyerang, namun selalu dipukul mundur oleh barisan Kadipaten Blambangan yang kini menjadi kuat dan memiliki banyak panglima--panglima yang sakti.

Adipati Menak Linggo yang tinggi besar dan tubuhnya penuh bulu itu memiliki kekuatan yang dahsyat.

Kabarnya, ketika gajah putih Dwipangga Seta yang didapatnya sebagai hadiah dari barat pada suatu hari mengamuk, kepalan tangan kanan Adipati Menak Linggo inilah yang menundukkannya, dengan sekali pukulan membikin pecah kepala gajah yang mengamuk itu sehingga tewas seketika!

Di samping tenaganya yang dahsyat, adipati ini wataknya keras dan dengan tangannya sendiri, ponggawanya yang bersalah akan dipukulnya mati sekali pukul!

Akan tetapi, di samping kekerasan terhadap yang salah, adipati ini terkenal royal dan pandai mengambil hati ponggawa-ponggawa yang pandai dan berjasa sehingga para ponggawa yang pandai suka mengabdi kepadanya.

Sebagai contoh akan keroyalannya, karena melihat kesetiaan dan kepandaian Raden Sindupati, ia tidak saja membiarkan Raden Sindupati bermain gila dengan selir-selirnya yang cantik--cantik dan banyak jumlahnya, bahkan ia menyerahkan seorang di antara puteri-puteri selirnya yang baru berusia lima belas tahun untuk diselir oleh Raden Sindupati yang tak pernah mempunyai isteri.

Banyak sekali senopatl-senopati yang sakti mandraguna dan pandai memimpin tentara bekerja di Blambangan.

Selain Raden Sindupatl yang selain sakti juga amat pandai bersiasat dan dua bersaudara Klabangkoro dan Klabangmuko yang kuat dan setia, masih terdapat banyak senopati-senopati yang sakti, di antaranya yang paling menyolok adalah Ki Patih Kalanarmodo, Patih Blambangan yang masih tunggal guru dengan Adipati Menak Linggo.

Kalau sang adipati berusia lima puluh tahun dan bertubuh tinggi besar, ki patih ini usianya lebih tua lima tahun, tubuhnya tinggi kurus dan kelihatan seperti orang berpenyakitan.

Akan tetapi kalau orang , sudah menyaksikan tandangnya (sepak terjangnya), dia akan terkejut sekali.

Ki patih ini adalah seorang yang amat ahli dalam air.

Ia pandai berenang seperti seekor ikan hiu, kuat sampai lama sekali menyelam dalam air dan pandai mengatur barisan yang bergerak di atas perahu-perahu.

Berkat kepandaian ki patih inilah maka beberapa kali barisan Bali yang menyerang melalui laut, selalu mengalami kegagalan.

Selain ahli dalam hal itu, juga ki patih ini memililki tubuh yang licin seperti belut.

Kabarnya, dia tidak dapat dibelenggu, tidak dapat dirantai.

Betapapun kuat orang merantai dan mengikatnya, tubuhnya yang licin seperti belut itu pasti akan dapat terlepas dalam waktu singkat Orang ke dua yang terkenal sekali dalam barisan senopati Blambangan adalah Mayangkurdo Senopati Blambangan ini adalah seorang peranakan Bali, tubuhnya besar sekali akan tetapi pendek sehingga kelihatan persegi empat!

Kekuatannya amat mengagumkan dan selain kuat, iapun kebal tidak termakan senjata tajam dan runcing.

"Huah-hah-ha-ha-ha! Bagus, bagus! Aaahh, wong denok ayu yang gagah perkasa! Endang Patibroto yang. sakti -manraguna! Aha, sudah lama sekali aku mendengar tentang dirimu yang amat mengagumkan! Bagus, andika suka datang bersama Sindupati senopatiku yang setia. Bagus sekali! Sudah kudengar pelaporan juru berita tentang malapetaka yang menimpa dirimu. Waaahhh! Memang Raja Jenggala itu seorang manusia tak berjantung! Tega membunuh putera sendiri dan menjatuhkan fitnah keji kepada seorang puteri mantu yang begini denok, begini perkasa! Keparat! Dan apa pula itu Raja Panjalu! Halus mulus seperti wanita! Tidak patut! Tidak patut! Harus dihancurkan Jenggala dan Panjalu, dibuminhanguskan disamaratakan dengan bumi. Eh, sang puteri, Endang Patibroto. Katakanlah, apa kehendakmu sekarang setelah andika menghadap di depanku, heh?"

Ucapan sang adipati ini kasar sekali, akan tetapi Endang Patibroto sudah biasa dengan sikap dan ucapan kasar.

Gurunya dahulu, Dibyo Mamangkoro, lebih kasar daripada adipati ini.

Dahulu, dalam pergaulannya dengan gurunya dan anak buah gurunya, semua laki-laki itu kasar dan tidak sopan, akan tetapi di dalam kekasaran mereka itu ia melihat suatu keindahan, yaitu keindahan daripada sikap jantan yang terus terang dan jujur polos!

Karena itulah maka kini ia menilai sang adipati dengan kesan yang baik pula, menganggap bahwa Adipati Menak Linggo inipun tentu seorang kasar yang jujur!

Endang Patibroto sama sekali tidak tahu bahwa kekasaran sikap seorang laki-laki tidak dapat dijadikan ukuran bahwa ia jujur dan setia!

Ia sama sekali tidak tahu, bahkan mendugapun tidak bahwa di balik kekasaran watak Sang Adipati Blambangan ini tersembunyi kecerdikan dan kepalsuan yang mengerikan!

Teringat akan persamaan watak adipati ini dengan gurunya, Endang Patibroto tersenyum.

Disebut wong denok ayu oleh seorang bersikap seperti ini tidaklah menyakitkan hati, bahkan menyenangkan karena ia tahu bahwa di balik sebutan yang amat bebas dan berani ini tidak tersembunyi maksud buruk.

Andaikata orang lain yang menyebutnya demikian, dengan sikap mencumbu atau berkurang ajar, tentu tanpa banyak cakap lagi ia akan turun tangan menghajarnya, mungkin membunuhnya!

"Adipati Menak Linggo, hatikupun lega melihat dan bertemu denganmu.

Kau bertanya tentang kehendakku datang ke Blambangan dan bertemu denganmu?

Sudah jelas dan agaknya Raden Sindupati sudah menyampaikan pelaporan kepadamu bahwa aku ingin sekali membalas dendam atas kematian suamiku dan atas pencemaran nama baikku.

Karena itu, mendengar bahwa engkau berhasrat hendak menyerang Jenggala, maka aku ingin bekerja sama denganmu.

Aku ingin menjadi senopati jika bala tentaramu menyerang Jenggala."

"Huah-ha-ha-ha-ha! Hebat engkau! Hebat sekali! Siapa menyangka bahwa dalam tubuh yang denok ayu, di balik wajah yang cantik jelita, seperti Dewi Sri, bersembunyi semangat yang membara! Bagus, bagus! Mulai saat ini, anggaplah dirimu sendiri sebagai senopatiku! Ha-ha-ha-ha! Di mana di dunia ini ada seorang adipati yang mempunyai seorang senopati begini hebat, begini bahenol (denok)? Eh, senopatiku yang denok, tahukah engkau syarat menjadi senopati?"

"Adipati, di waktu aku baru berusia belasan tahun, aku sudah pernah menjadi senopati Kerajaan Jenggala! Tentu saja syarat seorang senopati harus pandai mengatur barisan, harus memiliki kesaktian dan keberanian, dan harus setia."

Tentu saja Sang Adipati Menak Linggo tahu akan kesemuanya itu.

Ia tahu betul siapa wanita di depannya ini.

Tahu bahwa wanita sakti inilah yang menggegerkan Kerajaan Jenggala dan Panjalu.

Wanita inilah yang membunuhi orang orang perkasa, dan yang amat menyakitkan hatinya adalah terbunuhnya pamannya, yaitu Bhagawan Kundilomuko di tangan wanita ini!

Akan tetapi semua ini hanya terkandung di dalam hati Sang Adipati Menak Linggo, sedangkan pada wajahnya yang penuh cambang bauk itu tidak tampak sesuatu kecuali ketawa riang gembira.

"Heh-heh, bagus-bagus! Memang ltulah syaratnya, akan tetapi bagaimana aku tahu bahwa kesaktianmu yang tersohor luar biasa itu benar-benar dapat mengatasi semua senopatiku? Ha-ha-ha, ketahuilah, Endang Patibroto senopatiku, di Blambangan ini aku mempunyai banyak sekali senopati yang sakti mandraguna! Dan perang terhadap Jenggala dan Panjalu adalah perang besar yang tidak ringan. Aku sendiri harus maju dan tentu saja yang menjadi senopati beryuda (berperang) harus yang terbaik di antara semua senopatiku!"

Merah kedua pipi yang halus seperti lilin itu.

Endang Patibroto yang masih berdiri di depan Adipati Menak Linggo yang duduk, kini menyapu ruangan paseban itu dengan pandang matanya.

Ia memandang setiap orang yang hadir, yang duduk bersila di atas lantai.

Mereka yang bertemu pandang dengan mata Endang Patibroto, melihat sinar mata yang tajarn seperti ujung keris pusaka, yang mengandung cahaya panas berahi, yang amat berwibawa dan yang jelas membayangkan keberanian yang mengerikan.

Banyak di antara para ponggawa yang hadir, tak dapat lama-lama menentang pandang mata seperti itu, ada yang menunduk, dan ada pula yang memaksa bertahan untuk akhirnya berkedip-kedip!

"Adipati Menak Linggo!

Untuk membuktikan kesanggupanku, aku bersedia melayani semua senopatimu untuk bertanding kedigdayaan!"

"Huah-hah-hah-hah!"

Adipati Menak Linggo menoleh ke kanan kiri, memandangi para senopatinya. sambil terkekeh-kekeh.

"Para senopatiku ditantang! Ditantang bertanding kedigdayaan oleh seorang wanita cantik jelita! Hah-ha-ha-ha, apakah ini tidak menggelikan? Hayo, siapa yang berani??"

Seorang di antara para senopati Blambangan itu adalah seorang yang usianya kurang lebih tiga puluh lima tahun, wajahnya tampan, tubuhnya sedang akan tetapi wajahnya agak pucat dan matanya kemerahan penuh nafsu berahi.

Pemuda ini seorang senopati yang terkenal pandai bermain panah, namanya Haryo Baruno.

Di samping ahli bermain panah, juga dia seorang ahli bermain asmara!

Semacam Raden Sindupati akan tetapi lebih parah lagi.

Kalau Raden Sindupati mencari korban nafsunya di antara para puteri, adalah Haryo Baruno ini begitu mata keranjangnya sehingga siapa saja, asal dia wanita masih muda dan tidak cacad, tentu tidak terlepas daripada incaran dan godaannya.

Semenjak tadi ia melihat tubuh belakang Endang Patibroto dan jantungnya sudah jungkir-balik tidak karuan.

Berkali-kali kalamenjingnya bergerak turun naik ketika ia menelan ludah saking besarnya dorongan hasrat dan gairah nafsu berahinya.

Baru melihat bentuk pinggul itu saja, ia sudah tergila-gila, apalagi ketika Endang Patibroto memutar tubuh dan tampak wajahnya.

Haryo Baruno melongo dan pandang matanya seakan hendak menelan Endang Patibroto bulat-bulat!

Ia baru sekali ini melihat dan mendengar nama Endang Patibroto maka tentu saja akan kesaktian yang dipuji-puji setinggi langit oleh Adipati Menak Linggo, ia sama sekali tidak memandang sebelah mata.

Kini, begitu melihat kesempatan untuk mempermainkan Endang Patibroto seperti yang biasa ia lakukan terhadap setiap wanita, berkatalah ia cepat-cepat sebelum lain orang ada yang mendahuluinya.

"Gusti adipati, hamba rasa amatlah sayang kalau kulit yang begitu halus menjadi lecet dalam bermain yuda! Hamba berani menantangnya mengadu kelincahan. Kalau dia dapat mengelak semua usaha hamba untuk memeluk dan menciumnya, hamba akan mengaku kalah dan tidak berkeberatan dia menjadi senopati perang, yaitu setelah lima kali hamba menubruknya. Akan tetapi, kalau sampai dapat terpeluk dan tercium oleh hamba sang dewi yang jelita ini harus menemani hamba, tidur selama.. aaauuuuggghhh...!!! "

Tahu-tahu tubuh Haryo Baruno terlempar sampai menabrak dinding ruangan itu dan ketika tubuhnya terbanting ke atas lantai, darah mengalir dari telinga, mulut, hidung dan mata.

Kepalanya telah pecah dan tewas seketika!

Semua orang melongo, terbelalak dan kaget sekali.

Mereka tadi hanya melihat tubuh Endang Patibroto bergerak ke arah Haryo Baruno dan tangan kanan wanita itu bergerak menghantam.

Tahu-tahu senopati muda itu telah terlempar dan tewas dalam keadaan begitu mengerikan.

Bahkan Adipati Menak Linggo sendirl merasa kaget dan ngeri.

Bukan main hebatnya wanita ini.

Pantas saja pamannya yang sakti, Bhagawan Kundilomuko, tewas di tangan wanita ini.

Juga sekutu utusannya, Sang Wiku Kalawisesa juga tewas di tangannya!

"Eh hoh-hoh kenapa..

Kenapa kau membunuh seorang senopatiku begitu saja di hadapanku, Endang Patlbroto?"

Baru sekali ini sejak tadi sang adipati tidak tertawa, mukanya yang penuh cambang bauk itu kemerahan, matanya melotot lebih lebar lagi dan air ludahnya muncrat-muncrat ketika ia menegur.

Endang Patibroto yang tadi menghajar mampus Haryo Baruno dengan gerak Bayu Tantra dilanjutkan pukulan Pethit Nogo kemudian secepat kilat melayang kembali ke tempatnya yang tadi, perlahan-lahan memutar tumit kakinya menghadapi sang adipati.

Bibir yang manis itu tersenyum dan orang yang sudah mengenal watak Endang Patibroto sebelum menjadi isteri Pangeran Panjirawit, senyum ini amat mengerikan.

Makin manis senyum Endang Patibroto seperti itu, makin berbahayalah dia karena senyum ini menyembunyikan gelora hati yang marah!.

"Adipati Menak Linggo, maafkan kalau aku telah mengotori ruangan persidanganmu, akan tetapi aku tidak bisa membiarkan seorang macam dia menghinaku. Siapapun orangnya, kalau berani mengucapkan kata-kata kotor menghina seperti itu kepadaku, tentu akan kubunuh, di manapun ia berada dan bilamanapun!"

Adipati Menak Linggo termenung sebentar, mengerutkan alisnya yang tebal sekali, kemudian bertanya.

"Kalau ada senopati hendak mengujimu, apakah kaupun akan turun tangan membunuhnya?"

Endang Patibroto menggeleng kepala.

"Tentu saja tidak. Bertanding mengadu kedigdayaan bukanlah pertandingan mengadu nyawa. Penghinaan berbeda lagi, harus dibalas dengan kematian. Sampai di mana harga diri seorang wanita kalau membiarkan dirinya diperhina laki-laki seperti yang dikeluarkan dari mulut laki-laki keparat itu tadi?". Adipati Menak Linggo mengangguk-angguk, kemudian sudah menyeringai tertawa lagi, menggerakkan tangan kepada para pengawal.

"Sudah, lekas bawa keluar mayat itu!"

Para senopati yang hadir di situ diam-diam menjadi marah sekali terhadap Endang Patibroto.

Kemarahan yang tadinya timbul oleh rasa iri hati menyaksikan betapa junjungan mereka memuji-muji dan menghormat Endang Patibroto secara berlebihan.

Semua senopati menghadap sambil duduk di lantai, akan tetapi wanita ini berdiri saja dan sama sekali tidak menghormat Adipati Menak Linggo.

Kemarahan mereka makin menjadi oleh pembunuhan yang dilakukan Endang Patibroto terhadap Haryo Baruno.

Akan tetapi, melihat kesaktian yang mengerikan itu, sebagian besar para senopati sudah kuncup hatinya, hilang keberaniannya untuk menentang wanita sakti itu.

"Huah-ha-ha-hal Kehebatanmu membuat hati laki-laki menjadi kecil, Endang Patibroto. Eh, Mayangkurdo, apakah engkau juga tidak berani menguji kedigdayaan Endang Patibroto?"

Mayangkurdo mengangkat mukanya, memandang kepada Endang Patibroto.

Senopati Blambangan berusia empat puluh tahun ini tidak pernah mengenal takut.

Di dalam perang ia terkenal sebagai penyerbu terdepan dan jika pasukan terpaksa mengundurkan diri, selalu berada paling -belakang.

Dia adalah tokoh nomor dua di antara para senopati yang dikepalai oleh Ki Patih Kalanarmodo sendiri sebagai tokoh nomor satu.

Kematian Haryo Baruno tadi tidak menimbulkan perasaan sesuatu dalam hatinya karena Mayangkurdo menganggap Haryo Baruno sebagai seorang bawahan yang tiada artinya.

Dan di antara para senopati, yang tahu bahwa Endang Patibroto ini sebetulnya musuh besar sang adipati yang harus dibunuh, mengerti pula bahwa sang adipati menggunakan siasat halus, hanyalah Ki Patih Kalanarmodo, Mayangkurdo, dan Raden Sindupati bersama tangan kanannya, yaitu kakak beradik Klabangkoro dan Klabangmuko.

Oleh karena itulah maka ia tidak merasa iri hati menyaksikan betapa Adipati Menak Linggo memuji-muji Endang Patibroto.

"Hamba bersedia untuk menguji kesaktian wanita perkasa Endang Patibroto!"

Katanya, maklum bahwa sang adipati selain hendak menyuruhnya menguji kesaktian, juga kalau mungkin membunuh wanita ini "Ha-ha-ha, bagus sekali, Mayangkurdo.

Memang engkaulah yang pantas menandingi Endang Patibroto!"

Kata sang ,adipati girang.

Ruangan persidangan itu cukup luas untuk bertanding ilmu dan para senopati sudah mundur untuk memberi tempat yang luas bagi kedua orang yang hendak mengadu ilmu.

Endang Patibroto tersenyum, memandang calon lawannya dengan sinar mata penuh selidik.

Melihat bentuk tubuh orang itu, ia dapat menduga bahwa Mayangkurdo memilild tenaga yang amat besar, dan sikap orang ini yang tenang, pandang matanya yang tajam juga membayangkan kekuatan dalam yang tak boleh dipandang ringan.

Namun tentu saja ia tidak takut dam sambil tersenyum ia berkata kepada calon lawannya.

"Majulah, Mayangkurdol"

"Baiklah, Endang Patibroto, kau hati-hatilah akan seranganku!"

Kata pula Mayangkurdo yang sudah menyembah sang adipati kemudian sekali tubuhnya bergerak, ia sudah meloncat dan berhadapan dengan Endang Patibroto.

Mayangkurdo sudah memasang kuda-kuda.

Kedua kakinya bersilang, lutut ditekuk sedikit sehingga tubuhnya yang pendek menjadi makin rendah, tangan diangkat melengkung melindungi kepala, tangan kanan dengan jari dikepal ditaruh di depan dada kiri, sebagian mukanya terhalang oleh lengan kiri dan sepasang matanya mengintai lawan dari bawah lengan kiri itu.

Kuda-kudanya ini amat kuat dan kedudukan kedua lengannya merupakan perisai yang setiap saat dapat bergerak menangkis, akan tetapi juga mudah dirubah untuk menjadi gerak serangan dari atas dan bawah.

Karena tubuhnya pendek, maka kuda-kuda inipun merupakan kuda-kuda segi empat yang kokoh kuat.

Lawan akan sukar mencari lowongan atau sasaran yang mudah "dimasuki".

Melihat kuda-kuda lawan ini, Endang Patibroto diam-diam memuji.

Orang ini bertenaga kuat dan agaknya sudah menduga akan kesaktiannya maka memasang kuda-kuda yang menitikberatkan kepada pertahanan itu.

Karena tidak mau gagal Endang Patibroto tidak tergesa-gesa.

Pertandingan kali ini adalah pertandingan untuk menguji kedigdayaan, bukan perkelahian merebut kemenangan dengan taruhan nyawa.

Kalau dalam perkelahian, ia tidak akan berlaku terlalu sungkan atau mengalah, tentu sudah digempurnya dengan gerak cepatnya, seperti yang telah ia lakukan pada diri Haryo Baruno tadi.

Kemenangan sekali ini harus ia dapatkan tanpa membunuh lawan, paling-paling hanya merobohkan dan melukainya tanpa membahayakan keselamatan nyawa.

Maka iapun lalu memasang kuda-kuda yang amat indah dipandang.

Indah dan gagah.

Ia berdiri miring dengan lawan di sebelah kanannya.

Kaki kanan diangkat dengan paha lurus kedepan, lutut ditekuk, kaki lurus ke bawah.

Kaki kiri tegak dan teguh.

Lengan kanan diangkat, tangan kanan dengan jari-jari terbuka dan dikembangkan menghadap musuh, telapak tangan di atas dengan ibu jari ditekuk ke dalam.

Tangan kiri dikepal, menempel di siku kanan.

Matanya melirik ke kanan ke arah lawan.

Tubuhnya tak bergerak sama sekali, teguh dan kokoh kuat, namun indah seperti sebuah patung batu pualam, bibirnya yang merah membasah tersenyum mengejek.

Para senopati memandang tegang.

Adipati Menak Linggo juga memandang penuh perhatian, mulutnya menyeringai matanya melotot, tubuhnya agak condong ke depan karena ia tidak ingin melewatkan sedikitpun gerakan pertandingan ini.

Ruangan menjadi sunyi sekali, seakan tiada manusianya.

Tiba-tiba Mayangkurdo bergerak, mula-mula yang tampak hanya getaran pundak dan betis, lalu terdengar ia berseru keras dan tubuhnya sudah menerjang maju bagaikan angin badai.

"Haaaaahhhhh!!"

Tubuhnya yang segi empat itu seperti sebuah peluru menyambar ke depan, tangan kiri mencengkeram pundak lawan, tangan kanan menyusul dengan pukulan keras sekali ke arah perut.

"Hyaaaaattt.!! "

Seruan nyaring ini keluar dari mulut Endang Patibroto dan tubuhnya itu sudah melejit seperti seekor burung walet, menghindar ke kiri Dengan membanting kaki kanan ke depan dan membalikkan tubuh, kini kaki kiri yang berbalik di depan.

Ketika membalikkan tubuh tadi, cengkeraman lawan terelakkan, akan tetapi, pukulan lawan ditangkis dengan kepretan jari-jari tangan kiri yang menyambar dari atas ke bawah, menampar lengan kanan yang memukul perut itu dari atas ke bawah.

"Plakkk...!!!! "

"Aiiihhh!"

Tubuh Mayangkurdo seperti diseret dan hampir saja ia terbanting kalau tidak cepat-cepat ia meloncat dan mematahkan tenaga yang mendorongnya.

Kepretan jari-jari tangan yang lentik halus itu bukan sembarangan kiranya!

Bukan sembarang tamparan, melainkan tamparan dengan jari-jari kecil halus yang penuh berisi "setrum"

Aji Pethit Nogo!

Mayangkurdo menjadi merah mukanya.

Lengan kanan di bagian pergelangan yang tercium jari-jari tangan wanita itu terasa pedas dan panas.

Ia sudah memasang kuda-kuda lagi, kini tubuhnya makin merendah sehingga kepalanya kira-kira setinggi dada Endang Patibroto.

Di lain fihak, Endang Patibroto juga tertegun.

Kepretan jari tangannya tadi hebat sekali dan jarang ada lawan dapat menahannya.

Ia tadinya menaksir bahwa dengan pengerahan tenaga sakti Pethit Nogo, ia akan berhasil mematahkan lawan, atau setidaknya membuat lengan lawan keselio.

Akan tetapi ternyata lawan ini hanya berseru kesakitan saja.

Ketika ia memandang, pergelangan lawan itu jangankan patah, lecet atau bengkak pun tidak!

Tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan lawan yang memiliki aji kekebalan yang lumayan kuatnya.

Kembali ia memasang kuda-kuda, menanti lawan menerjang.

Hanya dengan cara inilah ia mengharapkan dapat merobohkan lawan tanpa membunuhnya.

Kalau dia yang mendahului menerjang, ia tidak percaya kepada dirinya sendiri, tahu bahwa aji-ajinya terlampau hebat untuk dibuat main-main.

Ia khawatir kalau ia yang menyerang, lawannya ini akan terpukul mati dan hal ini sama sekali tidak ia kehendaki karena ia benar-benar ingin bersekutu dengan Blambangan agar maksud hatinya membalas dendam tercapai.

Mayangkurdo seorang senopati yang tidak mengenal takut.

Akan tetapi, gebrakan pertama membuat ia berhati--hati sekali, dan tidak mau gegabah menerjang lagi seperti tadi.

Ia hanya memasang kuda-kuda, kemudian melihat lawan tak bergerak sedikitpun, ia merubah kuda-kuda sambil melangkah maju setindak mendekat.

Endang Patibroto tersenyum.Ia maklum bahwa perubahan kuda--kuda lawan ini menempatkan ia dalam posisi terbuka dan lemah.

Namun ia sengaja tidak merubah kuda-kudanya yang amat sederhana, yaitu kedua kaki lurus, tangan kiri miring di depan dada dengan jari terbuka, tangan kanan menempel di pusar, juga dengan jari terbuka.

Kuda-kuda ini seperti kedudukan tangan orang yang sedang bersamadhi berlatih pembinaan tenaga dalam.

Karena kini Mayangkurdo sudah merubah kuda-kuda dan menggeser ke sebelah kirinya, maka tentu saja kedudukan Endang Patibroto menjadi lemah.

Kuda-kuda wanita sakti ini hanya menutup bagian depan tubuh, kalau lawan berada di kirinya, tentu saja lambung, dan leher sebelah kirinya menjadi terbuka dan tidak terjaga.

Namun ia sengaja diam saja untuk memberi kesempatan kepada lawan agar suka menyerang karena iapun dapat menduga bahwa lawan menjadi hati-hati dan tidak mau menyerang secara sembrono seperti tadi.

Saat yang dinanti-nantinya datang.

Lawan menerjang dengan dahsyat sekali dan amat cepatnya sehingga dalam gebrakan ini, Mayangkurdo sudah menyerangnya dengan tiga serangan hampir sekaligus, yaitu dengan kedua tangan menyerang lambung dan leher, disusul sabetan kaki kanan menyerimpung kakinya!

"Haaaittttt!!"

Mayangkurdo berkelebat cepat sekali ketika menyerang sehingga bagi yang tidak dapat mengikuti gerakannya, melihat seolah-olah kedua lengannya lenyap menjadi bayangan menyambar.

"Iiiiihhhh "

Endang Patibroto berseru perlahan dan bagi Mayangkurdo, tubuh lawannya itu tiba-tiba saja lenyap sehingga tiga serangannya mengenai angin kosong!

Barulah ia tahu ketika ada angin menyambar dari atas, cepat ia menangkis, namun kalah cepat karena pundaknya tiba-tiba disambar sesuatu yang lunak namun beratnya seperti Gunung Semeru menindih pundak.

Ia merasa pundaknya seperti ambleg dan kedua kakinya menggigil dan tak dapat ia pertahankan lagi sehingga ia mendeprok berlutut!

Kepalanya terasa pening, pandang matanya berkunang-kunang akan tetapi senopati yang tangguh ini belum juga roboh!

Bagi orang lain yang menonton, mereka melongo ketika tadi melihat betapa tiba-tiba tubuh Endang Patibroto yang diserang dahsyat itu melambung tinggi melewati atas kepala Mayangkurdo dan dari atas, Endang Patibroto menggunakan tangan kirinya menghantam pundak lawan.

Biarpun kelihatannya hanya menepuk perlahan, namun sesungguhnya telapak tangan kiri wanita sakti ini menggunakan Aji Gelap Musti yang ampuhnya menggila dan hebatnya seperti kilat menyambar.

Sengaja Endang Patibroto tidak menggunakan Aji Pethit Nogo karena khawatir kalau-kalau ia akan meremukkan tulang pundak dan hal ini terlalu berat bagi lawan.

Memang ada perbedaan antara semua aji yang dimilild Endang Patibroto.

Aji Pethit Nogo (Ekor Naga) keistimewaannya adalah hawa sakti yang memenuhi ujung-ujung jari tangan.

Aji ini didapatnya dari kakeknya, Resi Bhargowo.

Karena terdapat di ujung-ujung jari, maka digunakan sebagai tamparan atau kepretan dan jari-jari yang berubah menjadi sekuat ekor naga ini dapat meremukkan tulang-tulang yang tertampar.

Adapun aji pukulan Gelap Musti (Tinju Petir) ini dapat dipergunakan dengan tangan terkepal atau hanya dengan telapak tangan yang penuh dengan getaran tenaga yang timbul dari hawa sakti.

Pukulan ini selain terasa berat seperti tindihan gunung, juga mengandung hawa panas yang melumpuhkan lawan, akan tetapi sifatnya tidak "tajam"

Sehingga tidak membahayakan tulang seperti halnya Aji Pethit Nogo.

Ada lagi ilmu pukulan hebat luar biasa yang dimiliki Endang Patibroto, yaitu yang disebut Aji Pukulan Wisangnala (Hati Beracun).

Pukulan ini hanya dapat digunakan jika ia berada dalam keadaan marah dan sakit hati, jika ia bermaksud untuk membunuh lawan karena kemarahan yang hebatlah yang menjadi pendorong pukulan ini hingga menjadi pukulan beracun yang dapat menghanguskan isi rongga dada "manusia"

Llmu-ilmu yang hebat ini ia dapatkan dari gurunya si manusia iblis Dibyo Mamangkoro!.

Kembali Endang Patibroto tertegun.

Pukulan yang ke dua itu, Gelap Musti, amat kuat dan ia tadinya mengharapkan memukul pingsan lawan.

Akan tetapi siapa kira, lawannya hanya jatuh terduduk dan pening sejenak, terbukti dari kedua matanya yang dipejamkan.

Kemudian tubuh pendek besar itu sudah meloncat bangun lagi seakan--akan tidak pernah terpukul aji yang ampuh!.

"Hebat "..!! "

Katanya di dalam hati.

Kiranya Blambangan memiliki senopati-senopati yang begini kuat.

Ia tahu bahwa dalam hal kekebalan, Mayangkurdo ini tentu jauh lebih menang daripada Raden Sindupati, sungguhpun dalam hal ilmu silat, si pendek besar ini masih kalah setingkat.

Pada saat itu, Mayangkurdo yang sudah menjadi marah sekali, telah menerjangnya secara bertubi-tubi dan hebat.

Kali ini, dari kerongkongan Mayangkurdo terdengar suara menggereng-gereng seperti seekor harimau terluka.

Namun serangan yang cepat ini malah menggirangkan hati Endang Patibroto.

Makin cepat lawan menyerang, makin baik baginya karena jangankan hanya dengan gerak cepat yang dimiliki Mayangkurdo seperti itu, andaikata Mayangkurdo memlliki yang berlipat ganda, takkan dapat menandingi gerak cepatnya dengan aji Bayu Tantra ditambah gerakan-gerakan burung walet dan camar yang ia pelajari dahulu di waktu kecilnya dan ibunya, Kartikosari!

Makin cepat Mayangkurdo menyerang, makin cepat pula tubuh Endang Patibroto bergerak mengelak sehingga lenyaplah bentuk tubuhnya, berubah menjadi bayangan yang kerkelebat ke sana ke mari!

Mayangkurdo menjadi pening kepalanya, pandang matanya berkunang-kunang karena ia merasa seakan-akan bertanding melawan bayangannya sendiri.

Para senopati, termasuk juga Adipati Menak Linggo, memandang dengan mata terbelalak dan mulut temganga.

Gentarlah rasa hati mereka.

Kecuali Raden Sindupati yang menonton dengan pandang mata penuh kekaguman dan dengan hati makin berdebar penuh rasa cinta berahi.

Ia harus mendapatkan wanita ini!

Harus!

Belum pernah selama hidupnya ia mendapatkan seorang kekasih seperti Endang Patibroto ini, dalam mimpipun tidak pernah.

Ia harus menggunakan akal, la harus berhasil memiliki tubuh denok ayu yang penuh dengan hawa sakti itu!

Harus!.

Pertandingan berjalan makin seru dan gerakan Endang Patibroto makin cepat sehingga akhirnya Mayangkurdo menyerang secara ngawur.

Ke manapun ia melihat bayangan berkelebat, ke sanalah ia mengirim tinjunya..

Akan tetapi karena bayangan itu makin lama makin banyak dan berkelebat di sekeliling tubuhnya, iapun ikut berputaran sambil menghantam sana sini sampai akhirnya ia roboh ter-guling pingsan dalam keadaan mata ter-belalak dan napas hampir putus, tubuhnya-kejang-kejangl Endang Patibroto berhenti bergerak, dan melihat keadaan lawannya, ia kaget sekali.

Ia tahu bahwa biarpun ia tadi tidak memukul, namun keadaan Mayangkurdo kini lebih berbahaya lagi.

Lawannya ini telah mengalami akibat daripada tenaga sendiri yang membalik, ditambah pening dan kemarahan meluap-luap sehingga kalau dibiarkan dalam keadaan seperti ini, ada bahaya akan putus napasnya.

Cepat ia menepuk pundak lawan yang segera lenyap kejangnya, tubuhnya lemas dan pingsan, akan tetapi napasnyapun tidak magap-megap seperti.

tadi.

Dan ketika menotok pundak orang itu, diam-diam Endang Patibroto terkejut dan kagum karena baru ia tahu sekarang bahwa orang ini memiliki ilmu kekebalan yang setingkat dengan ilmu kekebalan gurunya, Dibyo Mamangkoro.

Pantas saja kuat menahan pukulan-pukulan ampuh.

Kini berisiklah ruangan persidangan itu.

Para senopati saling berbisik dan rata-rata mereka itu memuji kehebatan ilmu kesaktian Endang Patibroto.

Bahkan Adipati Menak Linggo sampai lama tertegun, kemudian setelah melihat Mayangkurdo bergerak dan bangkit duduk sambil mengeluh, barulah ia tertawa terbahak.

"Ha-ha-ha-ha! Engkau benar hebat, Endang Patibroto!"

Endang Patibroto menghadapi Adipati Menak Linggo, hatinya merasa puas.

"Memang sejak kecil aku digembleng. untuk menjadi senopati, adipati! Kalau engkau masih belum yakin, boleh mengajukan penguji lagi."

Ia menoleh ke sekelilingnya dan kali ini semua yang bertemu pandang dengannya, cepat-cepat menundukkan muka.

"Masih ada lagikah senopati gemblengan yang hendak main-main sebentar dengan aku?"

Kembali sunyi senyap di situ.

Ketegangan timbul karena tantangan Endang Patibroto ini.

Adipati Menak Linggo sendiri menjadi malu karena senopatinya seperti serombongan kelinci melihat munculnya seekor harimau buas.

Bagaimanakah para jagoannya yang biasanya galak-galak itu kini menjadi seperti orong-orong terpijak, tidak ada suaranya sama sekali?

Terdengar orang batuk-batuk, batuk buatan yang dimaksudkan mengusir keheningan yang mencekam.

"Gusti adipati, kalau paduka menghendaki, biarlah hamba sendiri yang menguji kesaktian Sang Puteri Endang Patibroto."

Inilah suara Ki Patih Kalanarmodo yang tadi batuk-batuk.

Semua mata memandang kepada patih yang tua ini.

Semua senopati maklum bahwa setelah Mayangkurdo kalah, memang tidak ada lain orang lagi yang patut menandingi Endang Patibroto.

Ki patih ini adalah saudara seperguruan sang adipati sendiri, sungguhpun tingkat kepandaiannya masih kalah sedikit kalau dibandingkan dengan Adipati Menak Linggo, namun is sakti sekali dan ada kemenangannya terhadap sang adipati, yaitu ilmu di dalam air.

"Kau, kakang patih? Ahhh, tidak usah, tidak perlu lagi.. Aku sudah percaya akan kesaktiannya. Endang Patibroto, engkau kuterima menjadi senopati perang. Memang kau tepat untuk memimpin bala tentaraku menyerbu Jenggala dan Panjalu. Akan tetapi, penyerbuan itu tidak perlu dilakukan secara tergesa-gesa, karena sekali bergerak, kita harus jangan sampai gagal. Kau boleh melatih dulu pasukan-pasukan istimewa yang akan menjadi penggempur terdepan. Sementara itu, kau tinggallah di sini, dan senangkan dirimu. Jangan khawatir, takkan lama lagi Jenggala dan Panjalu kita gempur, kita bikin karang abang (lautan api) dan kau boleh memuaskan hatimu membalas kematian suamimu, ha-ha-ha-ha!"

Demikianlah, sejak saat itu, Endang Patibroto menjadi senopati di Blambangan.

Ia diberi tempat tinggal mewah, di sebuah bangunan mungil indah di sebelah kiri istana, lebih indah dan lebih mewah daripada istana mendiang suaminya.

Segala keperluannya disediakan oleh Adipati Menak Linggo dan tampaknya saja Endang Patibroto hidup senang, mewah dan mulia.

Akan tetapi, di samping kesibukannya menggembleng pasukan penyerbu yang istimewa dan segala kemewahan yang menyelimuti hidupnya, di waktu malam seorang diri di dalam kamarnya Endang Patibroto menangis tersedu-sedu, menangisi suaminya dengan hati penuh kedukaan.

DARI Adipati Menak Linggo sampai semua hulubalang, terutama sekali Raden Sindupati, semua amat menghormat dan ramah tamah kepadanya sehingga Endang Patibroto sama sekali tidak menyangka bahwa di belakang punggungnya, sang adipati seringkali berkasak-kusuk membuat rencana-rencana jahat dengan para pembantunya dan terutama sekali Raden Sindupati yang diserahi tugas untuk "membereskan"

Endang Patibroto.

"Menurut pendapat hamba, kita harus dapat menarik keuntungan sebanyaknya dari wanita iblis itu,"

Demikian antara lain Sindupati mengemukakan siasatnya kepada sang adipati.

"pertama-tama kita harus membiarkan dia menggembleng dan melatih pasukan Blambangan, kemudian setelah waktunya tiba, barulah diusahakan pembunuhan atas diri iblis betina itu untuk membalas dendam paduka. Hamba sanggup melakukan hal itu, malah malah menurut pendapat hamba, ada cara untuk membalas dendam yang lebih memuaskan hati, yang lebih hebat daripada membunuhnya begitu saja."

"Heh-heh, cara bagaimana itu, senopatiku yang baik?"

Wajah tampan Sindupati tersenyum, matanya mengerling penuh arti.

"Paduka tentu dapat mengira sendiri apa yang lebih hebat bagi seorang wanita!"

Sejenak adipati itu merenung, mengangkat alis, kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Huah-ha-ha-ha-ha, dasar kau tak boleh melewatkan batuk kelimis (wanita cantik) begitu saja. Aku mengerti ha-ha-ha-ha, aku mengerti , memang dia hebat, denok ayu seperti puteri Bali. Ha-ha-ha!"

Beberapa pekan kemudian, Blambangan kedatangan seorang yang wajahnya tampan namun membayangkan kebodohan seorang dusun.

Laki-laki ini usianya tiga puluhan tahun, pakaiannya sederhana sekali, pakaian petani yang miskin.

Wajahnya biarpun tampan tampak bodoh, terutama sinar matanya yang seperti orang bingung.

Laki-laki ini memasuki kota raja dan menawarkan tenaga kepada siapa saja yang suka memberinya makan.

Akhirnya, pada suatu hari ia diterima menjadi tukang pemelihara kuda karena ia rajin dan pandai mencari rumput-rumput gemuk.

Seorang perwira menerimanya dan menempatkannya di kandang kuda di mana dipelihara empat puluh ekor kuda tunggangan para perwira Kerajaan Blambangan.

Laki-laki ini pandai sekali memelihara kuda dan semua kuda yang bagaimana binal sekalipun selalu menurut kalau dituntun dan dibersihkan tubuhnya oleh Sutejo, laki-laki ini.

Dari pagi sampai petang Sutejo bekerja giat dan rajin, mencari rumput, memberi makan kuda, membersihkan mereka, dan membersihkan pula kandang.

Para perwira suka kepada pelayan baru ini yang mengaku berasal dari dusun Cempa di kaki Gunung Tengger.

Akan tetapi kalau malam tiba, lewat tengah malam pada saat semua orang sudah tidur, tampak bayangan hitam berkelebat ke atas atap kandang dan kemudian lenyap ditelan kegelapan malam untuk kemudian berkelebatan pula di atas atap istana!

Dialah Sutejo si tukang kuda yang bukan lain adalah Joko Wandiro atau lebih tepatnya sekarang bernama Tejolaksono, adipati di Selopenangkep!.

Seperti telah kita ketahui, Tejolaksono melakukan perjalanan ke Blambangan dan di tengah jalan la bertemu dengan Ki Brejeng yang membuka rahasia segala peristiwa yang terjadi di Jenggala dan Panjalu.

Ia melakukan perjalanan untuk mengejar dan mencari Endang Patibroto yang menurut Ki Brejeng, telah ikut bersama rombongan pasukan Blambangan menuju ke Blambangan di mana tersedia perangkap untuk mencelakakan Endang Patibroto.

Setibanya di daerah Blambangan, Tejolaksono lalu menitipkan kudanya pada seorang penduduk gunung, kemudian ia berjalan kaki memasuki kerajaan atau Kadipaten Blambangan dengan menyamar sebagai seorang petani bodoh yang mencari pekerjaan ke kota raja.

Dapat dibayangkan alangkah heran dan cemas hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa Endang Patibroto kini telah menjadi seorang senopati besar dari Blambangan!

Ah, Endang Endang pikirnya di hati, mengapa sampai sekarang engkau masih seperti dulu juga?

Mengapa sudi menjadi Senopati Blambangan dan membiarkan dirimu tertipu?

Ia makin cemas karena tidak mendengar akan diri Pangeran Panjirawit!

Menurut penyelidikannya, Endang Patibroto datang ke Blambangan.bersama dengan pasukan dan tanpa Pangeran Panjirawit suaminya yang telah dibebaskannya dari penjara Jenggala.

Apa artinya ini?

Ia mendengar pula penuturan beberapa orang perwira tentang sepak terjang senopati wanita itu yang telah mengalahkan para senopati gemblengan dari Blambangan dan kini diperbolehkan tinggal di dalam istana Sang Adipati Menak Linggo sendiri!.

Sudah beberapa malam ia melakukan penyelidikan ke istana, namum belum juga ia mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Endang Patibroto.

Dalam penyamarannya sebagai tukang kuda seperti sekarang ini, tentu saja tidak mungkin baginya untuk berjumpa secara berterang dengan Endang Patibroto, bahkan di waktu senopati wanita itu melatih pasukan di alun-alun, iapun hanya dapat menonton dari jauh saja.

Hatinya terharu kalau melihat wanita itu dari jauh.

Tidak banyak perubahan dalam bentuk tubuh wanita itu, pikirnya.

Masih langsing dan cantik jelita, tangkas seperti dahulu!

Makin, trenyuh hatinya kalau mengenangkan nasib wanita itu dan makin besar keinginan hatinya untuk segera dapat berbicara dengan Endang Patibroto.

Akan tetapi jangan sampai diketahui orang lain di Blambangan karena hal itu akan menjadi berbahaya sekali.

Malam itu ia sudah mengambil keputusan bulat untuk memasuki kamar Endang Patibroto.

Sebagaimana lajimnya tempat tinggal seorang senopati, rumah di samping istana itu terjaga oleh para pengawal.

Ia harus menemui Endang dan kalau perlu, ia akan menggunakan aji penyirepan atau kalau terpaksa akan merobohkan para.

pengawal.

Dengan aji keringanan tubuh Aji Bayu Sakti, bagaikan seekor burung garuda saja Tejolaksono berloncatan di atas atap istana yang amat tinggi.

Andaikata secara kebetulan ada penjaga yang melihatnya, tentu penjaga itu akan mengira bahwa yang dilihatnya adalah bayangan burung malam atau kalong, demikian cepatnya bayangan itu berkelebat.

Tak lama kemudian Tejolaksono sudah berada di atas sebuah bangunan mungil yang menjadi tempat tinggal Endang Patibroto.

Ia mengintai dari atas dan melihat dua orang pengawal peronda.

Tanpa melalui dua orang pengawal ini, tak mungkin ia dapat turun mencari kamar Endang Patibroto, pikirnya.

Maka cepat ia menyambar dari atas, kedua tangannya bergerak dan dua orang pengawal itu roboh pingsan tanpa mereka tahu mengapa mereka begitu!

Cepat sekali pukulan Tejolaksono tadi menampar di belakang telinga dua orang pengawal.

Kemudian Tejolaksono berindap-indap menyelinap ke pinggir bangunan dan tiba-tiba ia mendengar isak tertahan.

Cepat ia menyelinap dekat dan mengintai dari celah-celah daun jendela.

Dilihatnya Endang Patibroto menelungkup di atas pembaringan sambil menangis!

Yang tampak hanyalah belakang tubuh wanita itu, pinggulnya yang menyendul dan pundaknya yang bergerak-gerak ketika terisak-isak memeluk bantal.

Tejolaksono terpaku seperti berubah menjadi arca.

Endang Patibroto menangis!

Selama hidupnya belum pernah ia melihat Endang Patibroto menangis.

Gadis yang dahulu menantang maut dengan keberanian yang tiada taranya, gadis yang keras hati keras kepala, yang berhati baja, kini menangis terisak-isak memeluk bantal seperti kebiasaan wanita-wanita cengeng.

Apa artinya ini?

Namun, biarpun agaknya Endang Patibroto telah kehilangan kekerasan hatinya, jelas bahwa kewaspadaannya tidak berkurang.

Hal ini diketahui terlambat oleh Tejolaksono ketika tiba-tiba dari dalam kamar itu, dari arah pembaringan Endang Patibroto, menyambar sinar terang menuju ke arah jendela, menerobos celah jendela dan tentu akan tepat mengenai muka Tejolaksono yang mengintai tadi kalau saja dia.

tidak cepat miringkan muka dan mengulur tangan menyambar benda bersinar itu yang ternyata adalah sebatang anak panah.

Panah tangan beracun senjata rahasia Endang Patibroto yang dahulu amat ditakuti lawan!

Senjata rahasia ini pulalah yang dahulu pernah melukai Ayu Candra, isterinya (baca Badai Laut Selatan)!

Tejolaksono terkejut dan hendak melompat ke dalam memperkenalkan diri, akan tetapi dari dalam kamar itu sudah terdengar bentakan suara Endang Patibroto.

"Pengawal! Tangkap penjahat!!"

Adipati Tejolaksono hendak melompat ke atas atap, akan tetapi tiba-tiba menyerbulah tiga orang pengawal.

Dia cepat melompat ke tempat gelap dan seketika tiga orang pengawal itu menyerbu dengan senjata di tangan, ia mendorong dengan kedua tangan ke depan, melakukan pukulan jarak jauh.

Tiga orang itu terpelanting roboh.

Tejolaksono cepat menghampiri seorang di antara mereka dan dengancepat ia menampar dada orang itu dengan Pethit Nogo, dengan tenaga sedemikian rupa sehingga pukulan ini tidak mematikan orang, melainkan hanya meninggalkan bekas tapak lima buah jari tangan yang menghanguskan baju dan menembus kulit sehingga pada dada orang itu kini terdapat tanda tapak tangannya!

Dia sengaja melakukan hal ini untuk memperkenalkan diri kepada.

Endang.

Patibroto.

Ramailah suara para pengawal, akan tetapi ketika mereka menyerbu ke situ, Adipati Tejolaksono telah tiada.

Tak seorangpun sampai melihat wajahnya, bahkan Endang Patibroto sendiripun tidak sampai melihatnya.

Untung Endang Patibroto yang tidak ingin terlihat orang lain bahwa ia habis menangis itu, terlambat keluar karena harus mencuci muka lebih dulu.

Endang Patibroto tadinya terheran-heran mendapat kenyataan bahwa ada seorang maling yang dapat menghindarkan diri daripada anak panah tangan, senjata rahasianya yang ampuh itu.

Bukan hanya dapat mengelak, bahkan dapat menangkap dan merampas anak panah tangan itu karena buktinya anak panahnya lenyap tak berbekas.

Akan tetapi keheranannya berubah menjadi kemarahan ketika ia melihat tapak lima jari tangan di atas dada seorang pengawalnya.

Aji Pethit Nogo!

Dan sekaligus ia dapat menduga siapa orangnya yang mengintai kamarnya tadi, Joko Wandiro!

Siapa lagi kalau bukan pria yang sakti mandraguna, musuh besarnya semenjak ia kecil itu?

Apa maunya Joko Wandiro datang ke Blambangan dan mencarinya?.

Di dalam kamarnya, Endang Patibroto termenung.

Ia tahu bahwa Joko Wandiro kini telah diangkat menjadi Adipati Tejolaksono, adipati di Selopenangkep yang termasuk wilayah Panjalu.

Hemmm, tak salah lagi, tentulah ini kehendak sang prabu di Panjalu, atau mungkin si keparat Pangeran Darmokusumo yang memerintahkan Adipati Tejolaksono untuk mengejar dan mencarinya.

"Setan kau Joko Wandiro,"

Gumamnya gemas di dalam hatinya.

"Kau datang hendak menangkap aku? ,Hemm, kaukira aku takut kepadamu, keparat!"

Ia teringat bahwa 'Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono itu hidup bahagia, demikian berita yang pernah ia dengar dari suaminya, hidup di samping isterinya yang tercinta, Ayu Candra!

Masih teringat ia akan Ayu Candra, masih ada rasa tidak suka mernbara di hatinya kalau ia teringat akan Ayu Candra.

Tidak suka yang timbul karena sebab yang ia sendiri.

tidak tahu mengapa.

Mungkin karena iri hati?

Pernah ia dahulu mengira, atau mengharapkah?

Mengira bahwa Joko Wandiro mencinta dirinya.

Joko Wandiro yang oleh mendiang ayahnya telah dijodohkan dengannya.

Kemudian Joko Wandiro malah mencinta Ayu Candra dan menjadi suami Ayu Candra.

Hal ini sebetulnya sama sekali terlupa olehnya ketika ia masih berdampingan dengan suaminya.

Tidak perduli itu semua selama suaminya masih berada di sampingnya.

Akan tetapi,sekarang suaminya telah tiada!

Dan Joko Wandiro masih berdua dengan Ayu Candra!.Endang Patibroto tidak dapat menahan air matanya yang pangs membasahi pipinya.

Keparat Ayu Candra!

Keparat Joko Wandiro!

Sekarang datang hendak menangkapnya?

Boleh coba!

"Keparat, jangan lari kau!!"

Tiba-tiba Endang Patibroto yang marah sekali tak dapat lagi menahan kemarahannya.

Tubuhnya melesat keluar dari jendela dan tak lama kemudian tampaklah bayangannya, berkelebat di atas atap--atap rumah di sekitar Kerajaan Blambangan.

Dia mencari-cari sampai hampir pagi tanpa hasil sehingga ia menjadi makin mendongkol dan gemas.

Tiba-tiba ada bayangan lain berkelebat dari bawah dan tahu-tahu di depannya telah berdiri seorang laki-laki yang tampan.

Endang Patibroto sudah siap menerjangnya, akan tetapi ia menjadi lemas lagi ketika melihat bahwa yang datang bukanlah Adipati Tejolaksono melainkan Sindupati yang sudah membawa sebatang keris telanjang di tangannya.

"Aku aku mendengar tentang penyerbuan orang jahat di tempatmu , aku khawatir kalau-kalau andika akan mengalami celaka maka cepat-cepat mencari ketika tak dapat mendapatkan andika di istana. Adinda Dewi , tidak apa-apakah andika..?!"

Raden Sindupati cepat melangkah maju dan menangkap tubuh Endang Patibroto yang terhuyung-huyung dan memegang dahi dengan tangan kirinya.

Wanita ini menjadi pening karena terlalu berduka bercampur marah dan kecewa menjadi satu, ditambah lagi tidak tidur sernalam suntuk dan lelah.

Kedukaan hampir membuat Endang Patibroto hampir pingsan dan pada saat seperti itu, setiap kata-kata halus yang menghiburnya membua hatinya trenyuh.

Sejenak ia membiarka dirinya dirangkul pundaknya dan ia menyandarkan kepalanya di atas pundak Raden Sindupati.

la membutuhkan hiburan dan kawan pada saat seperti itu dan karena selama ini sikap Sindupati amat baik terhadap dirinya, halus dan ramah penuh kesopanan, ia menganggap orang ini sebagai seorang sahabat.

Ia terisak perlahan dan baru ia sadar ketika merasa betapa tangan Sindupati dengan halus dan mesra membelai rambut kepalanya.

Begitu sadar..

ia merenggut lepas dari pelukan, akan tetapi tidak terlalu kasar karena ia tidak ingin menyinggung orang yang sudah begitu baik terhadap dirinya.

Ia cukup maklum melihat sikap Sindupati selama ini bahwa senopati ini diam-diam mencinta dirinya.

"Ahhh , maafkan aku aku sejenak kehllangan akal "

Katanya menahan isak.

"Kasihan engkau, diajeng. Engkau telah banyak menderita. Kalau saja aku bisa mendapat kehormatan untuk menghibur ah, aku bersedia mengorbankan nyawaku untuk mengusir kedukaanmu. Diajeng Endang Patib roto, apakah yang telah terjadi? Aku tadi mendengar dari para pengawal bahwa ada orang jahat menyerbu tempat tinggalmu dan kemudian melarikan diri. Melihat engkau tidak berada di sana, aku tahu bahwa engkau menge)ar penjahat itu lalu menyusul dan mencari. Apakah diajeng tidak dapat menangkapnya?"

Merah kedua pipi Endang Patibroto mendengar senopati ini menyebutnya diajeng.

Akan tetapi ia tidak marah dan hanya menghela napas panjang.

Diam-diam ia merasa kasihan kepada orang ini yang mencintanya dengan sia-sia.

Sia-sia belaka karena ia tahu bahwa tidak mungkin ia membalas perasaan itu.

"Aku tidak dapat menangkapnya, akan tetapi aku tahu atau dapat menduga siapa orangnya."

"Ah begitukah? Siapakah dia gerangan?"

La tertarik sekali karena merasa terheran-heran.

Di seluruh Kerajaan Blambangan, kiranya hanya sang adipati saja yang menganggap wanita sakti dan jelita ini sebagai musuh besar yang harus dibunuh.

Dan yang tahu akan hal ini hanyalah dia, Ki Patih Kalanarmodo, Mayangkurdo dan kedua kakak beradik Klabangkoro dan Klabangmuko.

Siapa lagi yang mempunyai niat buruk bahkan berani menyerbu tempat kediaman ini?

"Hanya dugaanku saja, akan tetapi aku sendiri masih ragu-ragu.."

"Engkau agaknya kurang sehat. Tidak baik berdiam di sini. Marilah kita kembali dan bicara yang enak di gedungmu, diajeng. Percayalah, siapapun adanya si keparat itu, aku Sindupati akan menyediakan segenap jiwa ragaku untuk membelamu dan menangkap orang itu sampai dapat."

Diam-diam Endang Patibroto tertawa di dalam hatinya.

Kalau betul dugaannya bahwa orang itu adalah Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono, jangankan baru Sindupati seorang, biarpun dikerahkan semua senopati di Blambangan, tak mungkin akan dapat menangkapnya!

Akan tetapi ia tidak berkata sesuatu dan menurut saja diajak pulang.

Mereka melompat turun dari atas atap lalu berjalan berdampingan menuju ke istana.

Ketika tiba kembali di gedung tempat tinggal Endang Patibroto, para pengawal yang dirobohkan pingsan -tanpa mereka tahu apa yang terjadi bersama tiga orang pengawal yang bertanding melawan "penjahat"

Itu dipanggil menghadap.

Setelah mendengar cerita mereka yang aneh, yaitu bahwa penjahat itu amat sakt, sehingga mereka keburu roboh tanpa diberi kesempatan melihat wajahnya.

Endang Patibroto lalu menyuruh pengawalnya yang terpukul itu membuka baju sehingga dadanya yang terdapat tanda tapak lima jari tangan itu tampak nyata seperti dibakar besi panas!

Kemudian Endang Patibroto menyuruh para pengawal itu mundur dan dia berkata kepada Raden Sindupati.

"Kau melihat sendiri, raden. Tanda tapak lima jari tangan di dada pengawal tadi adalah tanda bekas pukulan Pethit Nogo. Seperti ini!"

Endang Patibroto mengayun telapak tangan kirinya menghantam lantai, perlahan sekali dan tampaklah jelas tapak jari tangannya di lantai batu itu!

"Aihhh!

Kalau begitu sama dengan aji pukulan yang dimiliki diajeng!"

Endang Patibroto mengangguk.

"Benar begitu, dan karena itulah maka aku dapat menduga siapa adanya orang itu "

"Siapa, diajeng Endang Patibroto?"

"Di dalam dunia ini, yang mempunyai ilmu pukulan itu hanya dua orang, aku sendiri dan adipati di Selopenangkep, Adipati Tejolaksono."

Biarpun belum pernah bertemu dengan Adipati Tejolaksono, namun Raden Sindupati sudah mendengar tentang Adipati Selopenangkep yang sakti mandraguna itu, maka berubahlah air mukanya ketika berseru.

"Yang dahulu bernama Joko Wandiro.!! "

"Betul, dialah orangnya, dan aku merasa yakin akan hal ini."

"Tapi tapi mengapa?! "

Sindupati terheran.

"Apakah dia musuhmu, diajeng?"

"Dahulu memang musuh besarku, akan tetapi selama sepuluh tahun di antara kami tidak ada permusuhan, tidak ada hubungan apa-apa lagi."

Ia diam sebentar, termenung.

Memang tidak ada permusuhan di antara mereka.

Bagaimana bisa bermusuh?

Ibunya sendiri, ibu kandungnya, tinggal bersarna Adipati Tejolaksono!

"Agaknya aku tahu bahwa dia tentulah menjadi utusan Kerajaan Panjalu untuk mencariku, menangkapku atau membunuhku..."

Raden Sindupati meloncat bangun dari kursinya, wajahnya yang tampan menjadi merah padam, matanya bersinar-sinar penuh kemarahan.

"Babo-babo ' Si keparat Tejolaksono! Berani dia datang Seorang diri di Blambangan dengan niat yang begitu keji? Membunuhmu? Huh, harus dapat menyempal bahuku kanan harus melangkahi mayat Sindupati dahulu baru dapat menyentuh ujung rambut Endang Patibroto!"

Endang Patibroto tersenyum pahit.

Ia terharu menyaksikan tingkah pria ini, tingkah seorang yang menjadi korban asmara, akan tetapi alangkah lucunya kalau pria ini hendak menantang kesaktian Joko Wandiro!

Dia sendiri sudah beberapa kali harus mengakui keunggulan Adipati Selopenangkep itu.

"Raden Sindupati, dia itu amat sakti mandraguna, tidak mudah dikalahkan."

"Aku tidak takut! Diajeng Endang Patibroto, lihatlah sinar mataku, lihatlah wajahku. Masih tidak percayakah adinda bahwa aku akan membelamu dengan mempertaruhkan seluruh jiwa ragaku? Akan kukerahkan seluruh pasukan Blambangan! Biar Tejolaksono bersekutu dengan dewa sekalipun, tak mungkin dia dapat menandingi pasukan Blambangan seorang diri saja!"

Endang Patibroto menghela napas panjang.

Sukar berdebat dengan orang yang sudah mabuk cinta.

Ia tidak tega untuk membuyarkan harapan, merusak hati laki-laki Masih banyak waktu untuk membuka mata Sindupati kelak bahwa dia tidak mungkin dapat membalas cintanya.

Tidak mungkin!

Wajah suaminya tak pernah meninggalkan hatinya, biar sedetik sekalipun.

Di siang hari terbayang di depan pelupuk mata, di malam hari menjadi kembang mimpi "Cobalah kau usahakan, raden.

Kurasa Adipati Tejolaksono bersembunyi di sekitar kota raja.

Aku cukup mengenalnya dan tahu bahwa orang seperti dia tidak akan mundur sebelum tercapai cita-citanya, sebelum terpenuhi tugasnya.

Kadipaten Selopenangkep termasuk wllayah Panjalu.

Tentu dia menjadi jago sang prabu di Panjalu untuk menangkap saya.

Amat lelah tubuhku, aku ingin tidur."

"Aduh kasihan diajeng yang bernasib malang. Kau beristirahatlah dan jangan khawatir, akan kukerahkan pasukan sekarang juga untuk mencari di seluruh kota raja. Dan tentang keselamatanmu, aku yang menjamin dan aku sendiri yang akan memimpin para pengawal menjaga tempat tinggalmu ini!"

Setelah berkata demikian, dengan sikap mengasih dan gagah Raden Sindupati memberi hormat lalu pergi meninggalkan Endang Patibroto yang duduk termenung.

Laki,laki yang baik, pikimya.

Sayang aku terpaksa akan .menghancurkan hatinya dengan penolakan cinta kasihnya.

Dan Adipati Tejolaksono!

Joko Wandiro!

Ah, mengapa ia terbayang akan semua pengalamarmya di masa dahulu, sepuluh tahun yang lalu?

Teringat akan masa dahulu, terbayang pula pangalarnan yang tak dapat dilupakan,--pengalaman yang amat pahit, yang amat menusuk perasaannya , yang membuatnya membenci Joko Wandiro dan membenci pula Ayu Candra!

Terbayang ia betapapada waktu dipeluk dari belakang oleh Joko Wandiro, dibelai dan dicium tengkuknya, penuh kasih sayang, penuh kemesraan.

Pada waktu itu, ia belum ada hati sedikitpun juga terhadap Pangeran Panjirawit dan ketika itu dengan sepenuh jiwa raganya ia menyerahkan diri, hangat hatinya menyambut cinta kasih Joko Wandiro, orang yang oleh ayahnya telah dijodohkan kepadanya!.

Akan tetapi, 'bagaikan halilintar menyambar kepalanya, mulut Joko Wandiro membisikkan nama Ayu Candra.

Kiranya Joko Wandiro bukan memeluk dan membelainya, melainkan mengira bahwa dia adalah Ayu Candra.

Bukan dia yang dicinta Joko Wandiro, melainkan Ayu Candra (baca Badai Laut Selatan)!

Maka timbullah bencinya yang hebat terhadap dua orang itu, benci yang tanpa ia sadari sendiri didasari oleh cinta kasih yang dikecewakan, oleh cemburu dan iri hati!

Sampai akhirnya datang obat penawar yang sangat manjur, yaitu limpahan cinta kasih Pangeran Panjirawit yang akhirnya dapat menyembuhkan sakit hatinya Kini suami tercinta telah meninggal dunia.

Dan tanpa disangka-sangkanya, muncul pula Joko Wandiro dalam hidupnya, muncul sebagai Adipati Tejolaksono, sebagai utusan musuh besarnya, Pangeran Darmokusumo yang datang dengan niat jahat, menangkap atau membunuhnya!

Ia mengerutkan kening, jantungnya seperti ditusuk oleh duka, kecewa dan dendam, lalu terhuyung memasuki kamarnya di mana ia membanting diri di atas kasur, menangis sampai ia tertidur pulas dengan bantal basah air mata.

Biarpun sepekan lamanya Raden Sindupati mengerahkan semua pasukan untuk mencari Adipati Tejdaksono, namun hasilnya sia-sia belaka.

Orang yang dicari-carinya itu masih enak-enak bekerja sebagai tukang kuda yang rajin dan menyenangkan para perwira.

Namun Endang Patibroto tidak memperdulikan hal itu.

Ia tidak perduli apakah penyerbu itu tertangkap atau tidak, tidak perduli siapa penyerbu itu, benar Joko Wandiro seperti yang disangkanya ataukah bukan.

Ia sudah dapat mengatasi kedukaan hatinya yang amat hebat di malam munculnya penyerbu itu, dan kini ia melakukan tugasnya kembali seperti biasa, melatih pasukan karena cita-citanya hanyalah untuk dapat menyerbu Jenggala, membalas dendam kematian suaminya.

Raden Sindupati setiap hari sedikitnya satu kali tentu datang menjenguknya untuk memberi laporan tentang usaha mencari penjahat itu, dan dalam kesempatan ini selalu senopati muda itu memperlihatkan sikap manis, ramah tamah, menghiburnya dan tak lupa membawa apa saja untuk menyenangkan hatinya.

Buah-buahan yang sukar didapat di Blambangan, sutera-sutera tenun yang indah, perhiasan emas permata.

Pendeknya, makin jelas tampak sikap Raden Sindupati yang mencintanya, sungguhpun belum pernah menyatakan perasaan -hatinya melalui mulut.

Endang Patibroto tak dapat mengelak, tak dapat menolak semua pemberian tanda cinta itu, karena ia tidak mau menyakitkan hati satu-satunya orang yang pada saat itu dianggapnya sebagai seorang sahabat baik.

tetapi ia sudah mengambil keputusan untuk dengan halus menolak apabila Sindupati menyatakan cinta kasihnya dengan kata--kata.

Dan agaknya, saatnya tentu akan tiba sewaktu-waktu, melihat sikap yang makin mendesak itu.

Pada pagi hari itu, seperti biasa setelah bangun pagi-­pagi"

Endang Patibroto mandi lalu berganti pakaian, merias diri secara sederhana dan sudah siap untuk melakukan tugasnya setiap hari.

Pada hari itu ia akan mulai dengan melatih barisan anak panah kepada pasukan istimewa yang digemblengnya.

Dan sebelum berangkat ke alun-alun, lebih dulu ia duduk menghadapi meja di ruangan depan untuk sekedar mengisi perut dengan sarapan pagi yang disediakan oleh seorang pelayan.

Endang Patibroto yang tidak mencurigai sesuatu, tidak tahu bahwa sejak sebelum ia bangun dari tidur tadi, sepasang.

mata telah mengawasi setiap gerak-geriknya.

Sepasang mata Raden Sindupati.

Kini, pada saat ia menghadapl meja untuk minum kopi dan makan ketan kelapa yang disediakan.

Raden Sindupati juga sudah menyelinap ke depan dan bersembunyi.

Endang Patibroto hendak mulai sarapan pagi dengan menghirup kopi panes.

Akan tetapi barn saja cangkirnya menempel bibir, tiba-tiba terdengar suara nyaring.

"Diajeng, jangan diminum itu..!! "

Endang Patibroto menoleh dan melihat Sindupati sudah ada di belakangnya.

Wajah yang tampan dan biasanya tersenyum-senyum kepadanya itu kini tampak gelisah dan bersungguh-sungguh, bahkan wajahnya agak pucat.

Endang Patibroto meletakkan kembali cangkir kopinya yang belum ia minum isinya, ke atas meja.

"Ada apakah, kakang Sindupati?"

Sudah beberapa hari ini, atas permintaan Sindupati yang berkali-kali, ia menyebut kakang kepada senopati ini.

"Engkau belum makan ketan itu dan belum minum kopi itu, bukan?"

Endang Patibroto menggeleng kepala.

"Belum. Mengapakah?"

"Coba diajeng panggil pelayan yang menyediakan makan minum ini dan diajeng akan menyakslkan sendiri,"

Jawab Raden Sindupati, mukanya masih pucat.

Endang Patibroto bertepuk tangan.

Seorang pelayan muncul dan pelayan ini disuruh memanggil pelayan yang menyediakan sarapan pagi.

Tak lama kemudian muncullah seorang pelayan, wanita yang setengah tua.

"Kaukah yang menyediakan sarapan pagi untuk diajeng Endang Patibroto?"

Sindupati bertanya, suaranya keren.

"Betul seperti apa yang paduka katakan, raden. Memang tugas hamba untuk menyediakan semua makanan dan minuman gusti puteri "

"Bibi, kalau begitu, coba kau makan ketan itu dan minum kopinya!"

Kata pula Sindupati sambil menudingkan telunjuknya ke atas meja di mana terdapat sepiring kecil ketan kelapa dan secangkir kopi hitam.

"Tapi.... tapi..."

Wanita pelayan itu terbelalak memandang.

Tentu saja la terheran dan tidak berani melakukan hal ini.

Sarapan itu adalah persediaan untuk sang puteri, bagaimana ia berani minum dan memakannya?

Juga beberapa orang pelayan yang tertarik oleh ribut-ribut dan berada di situ, terbelalak memandang heran.

"Tidak ada tapi! Hayo lekas makan dan minum ketan dan kopi itu atau kujejalkan nanti ke mulutmu!"

Bentak Raden Sindupati sehingga Endang Patibroto sendiri memandang heran.

Tidak biasanya senopati muda ini bersikap demikian galak dan kasar.

Akan tetapi karena ia menyangka tentu ada terjadi sesuatu, ia lalu berkata kepada pelayannya.

"Bibi, kalau memang engkau tidak mempunyai kesalahan dalam menghidangkan makanan dan minuman ini, mengapa kau tidak mau makan dan minum? Kau cobalah dan jangan takut, aku tidak akan marah."

Karena sang puteri yang dilayaninya sudah memberi ijin, terpaksa, dengan muka pucat, pelayan wanita itu tidak membantah lagi.

Jari-jari tangannya gemeter ketika ia mengambil piring ketan dan memakan isinya sampai setengahnya.

Kemudian iapun minum kopi itu sampai setengah cangkir.

Tidak terjadi apa-apa!.

"Kakang Sindupati "

Endang Patibroto hendak menegur senopati itu akan tetapi menghentikan kata-katanya karena pada saat itu, si wanita pelayan menjerit dan roboh terguling mencengkeram perutnya sendiri, merintih-rintih kemudian berkelojotan dan tewas Endang Patibroto cepat menyambar piring ketan, mengambil ketan sedikit dan memasukkan ke mulut.

Begitu lidahnya merasai ketan Itu, cepat dibuang dan diludahkannya kembali.

Dermikian pula ia mencicipi kopi yang cepat ia ludahkan keluar.

Sikapnya tenang-tenang saja dan ia tidak tahu betapa Sindupati memandangnya dengan kagum dan khawatir.

Kemudian ia membalikkan tubuhnya memandang senopati itu.

"Kakang Sindupati, ketan dan kopi mengandung racun. Bagaimana kau bisa tahu?"

Di dalam hatinya, Sindupati tersenyum girang.

Untung ia berlaku cerdik, pikirnya.

Tadinya, Sang Adipati Menak Linggo yang mengusulkan rencana untuk membunuh Endang Patibroto dengan jalan meracunnya, mencampurkan racun dalam makanan dan minumannya.

"Wanita itu terlalu sakti, terlalu berbahaya,"

Demikian antara lain sang adipati berkata.

"biarpun sekarang kelihatan bersekutu dengan kita, akan tetapi sekali rahasia kita terbongkar, ia merupakan ancaman bahaya yang tak boleh dipandang ringan. Aku menghendaki agar dia mati, biar dengan cara apapun juga. Dan kaulah orangnya yang kuserahi tugas untuk membunuhnya, Sindupati "

Untung bahwa Sindupati memiliki kecerdikan yang luar biasa dan ia membeberkan rencananya kepada sang adipati.

"Hamba yakin bahwa seorang sakti seperti Endang Patibroto, tidaklah mudah diracun begitu saja, gusti adipati. Mencampurkan racun ke dalam makanan dan minumannya adalah amat berbahaya karena selain belum tentu ia akan dapat diracuni karena memiliki daya tahan dan daya penolak untuk itu, kalau ketahuan bukankah akan menggagalkan semua rencana? Hamba mempunyai siasat yang lebih halus lagi."

La lalu menuturkan siasatnya dan sang adipati menyetujuinya.

Dan apa yang terjadi pada pagi hari ini adalah hasil daripada siasatnya yang amat licik.

Ia diam-diam, tanpa setahu si pelayan, menaruh racun ke dalam ketan dan kopi, kemudian dia pula yang datang memberi peringatan kepada Endang Patibroto, bahkan secara kejam sekali ia memaksa si pelayan yang sebetulnya tidak tahu apa-apa itu untuk makan dan minum sarapan pagi yang sudah ia campuri racun sampai tewas!

Ketika melihat Endang Patibroto dapat mengenal racun hanya dengan mencicipi sedikit ketan dan kopi itu, terbuktilah kebenaran dugaannya.

Andaikata tidak ia peringatkan sekalipun, Endang Patibroto akan tahu tentang racun dan tidak akan menjadi korban, bahkan akan menjadi curiga!

Kini, dengan mengorbankan nyawa si pelayan, ia dapat menangkan kepercayaan Endang Patibroto bahkan tampaklah ia sebagai seorang yang baik dan setia kawan, membuat ia makin menonjol dalam pandangan wanita sakti ini!.

Ketika ditanya oleh Endang Patibroto bagaimana ia bisa tahu bahwa sarapan itu ada racunnya, ia sudah menyediakan jawabannya seperti yang ia rencanakan.

"Ah.. syukur bahwa para dewata masih melindungimu,diajeng,"

Demikian jawabnya setelah ia memerintahkan para pengawal. untuk membawa pergi mayat si pelayan dan di situ tidak terdapat orang lain lagi.

"Alangkah ngerinya! Kalau sampai diajeng menjadi korban racun aaahhhn........ betapa mungkin aku dapat hidup lebih lama lagi..! "

Wajahnya pucat, suaranya menggetar dan ia melangkah maju, seperti hendak meraih dan memeluk karena hatinya terharu dan tegang. Akan tetapi Endang Patibroto melangkah mundur dan berkata.

"Bahaya telah lewat, kakang Sindupati. Sungguh untung bahwa kakang telah tahu dan dapat memperingatkan aku, sungguhpun belum tentu aku akan dapat diracun begitu saja. Duduklah dan ceritakan, bagaimana engkau bisa mengetahui akan perbuatan keji itu!"

Melihat wanita itu tidak melayani hasratnya, Sindupati tidak memaksa dan segera mengambil tempat duduk.

Berkali-kali ia menarik napas panjang dan kedua tangannya yang ditaruh di atas meja masih gemetar.

Sesungguhnya bukan gemetar karena kekhawatirannya terhadap Endang Patibroto, melainkan gemetar karena girang melihat berhasilnya siasatnya dan karena nafsu berahi yang menggelora!.

"Diajeng Endang Patibroto, jantungku masih berdebar seakan-akan hendak pecah kalau kuingat betapa keselamatan adinda terancam maut yang mengerikan tadi! -Ketahuilah, bahwa biarpun kami tidak berhasil menangkap si penjahat Tejolaksono atau siapapun dia yang menyerbu kamar adinda, akan tetapi aku diam-diam selalu menaruh penyelidik dan mata-mata di sekitar istana untuk mengawasi gerak-gerik yang mencuri gakan. Semalam, demikian menurut penyelidikku, terlihat pelayan laknat itu mengadakan pertemuan dengan seorang yang tak di-kenal di taman. Ketika para penyelidik hendak menyergapn; orang itu berkelebat lenyap cepat sekali. Para penyelidik segera melapor kepadaku dan aku menjadi curiga kepada pelayan itu. Semalam aku tidak tidur memikirkan segala kemungklnan dan akhirnya aku teringat bahwa pelayan yang bertugas melayani makan minurnmu itu tentu hendak melaku kan sesuatu atas perintah musuh keparat itu. Aku menghubungkan segala sesuatu dan mengambil kesimpulan bahwa mungkin si jahat itu hendak meracunimu. Cepat-cepat aku lalu berlari ke sini dan syukur bahwa kau belum makan atau minum sarapanmu!"

Kembali ia menggigil.

Endang Patibroto tersenyum.

Terharu juga hatinya.

Senopati muda ini benar-benar amat memikirkan keselamatannya sehingga menyiksa diri sendiri sedemikian rupa.

Karena terharu dan berterima kasih, ia mengulurkan tangan dan menyentuh tangan senopati itu di atas meja.

"Terima kasih, kakang Sindupati. Engkau memang baik sekali terhadap diriku."

Sindupati cepat memegang tangan yang halus itu dan meremas jari-jari tangan Endang Patibroto.

"Diajeng aku aku menyediakan nyawaku untukmu dan "

Endang Patibroto menarik tangannya terlepas dari genggaman Sindupati.

"Kakang Sindupati,"

Katanya cepat--cepat memotong kalimat yang diucapkan senopati itu.

"sungguh amat disayangkan bahwa kakang terburu nafsu tadi. Kalau saja pelayan itu tidak dibunuh dan kini masih hidup, tentu kita dapat memaksanya mengaku siapa orangnya yang menyuruh dia menaruh racun dalam sarapanku."

Wajah yang tampan itu kelihatan marah sekali, matanya bersinar-sinar.

"Siapa dapat menahan kemarahan, diajeng? "

Endang Patibroto maklum bahwa senopati di depannya ini, di samping kesaktiannya, juga memilild kecerdikan luar biasa, maka ia segera memandang penuh perhatian dan bertanya.

"Bagaimana siasatmu, kakang Sindupati?"

"Beginilah seharusnya diatur. Sudah jelas bahwa siapapun, adanya orang yang malam itu menda tangimu , dan mungkin sekali Adipati Tejolaksono melihat dari kesaktiannya dan aji pukulan Pethit Nogo seperti yang adinda katakan, kini berada dalam persembunyiannya dan masih berada dalam kota raja. Dan jelas pula bahwa dia tentu menanti saat yang baik untuk bertemu dengan engkau, karena kalau menghadapi pengeroyokan semua senopati dan pengawal, tentu dia tidak berani, betapapun juga hebat kepandaiannya. Oleh karena itu, tiada jalan lain kecuall memancingnya keluar dari tempat persembunyiannya dan satu-satunya orang yang dapat memancingnya keluar, adalah diajeng sendiri."

Endang Patibroto mengangguk-angguk akan tetapi keningnya yang kecil panjang dan hitam seperti dilukis itu berkerut.

Sebagai seorang yang mengutamakan kegagahan ia tidak suka akan segala macam siasat.

Akan tetapi, iapun tahu bahwa ucapan ini mengandung kebenaran.

Kalau tidak keliru dugaannya, tentu Joko Wandiro sedang menanti kesernpatan untuk turun tangan terhadap dirinya, dan karena maldum bahwa dia merupakan lawan setanding dan berat, tentu saja Joko Wandiro berlaku hati-hati dan tidak sembrono Memang benar kalau sampai di keroyok betapapun saktlnya Joko Wandiro, tidak mungkin dapat menang.

Kebenciannya terhadap Joko Wandiro sudah bertambah-tambah ketika terdapat bukti bahwa ia hendak diracun tadi, sungguhpun ia masih meragu apakah Joko Wandiro sudi melaksanakan hal semacam itu, hal yang amat pengecut dan rendah sedangkan ia tahu betul bahwa Joko Wandiro bukan seorang pengecut, apalagi berjiwa rendah!.

"Bagaimana rencanamu untuk memancingnya, kakang Sindupati?"

"Malam ini juga sebaiknya diajeng keluar dari istana dan berada seorang didri di tempat yang sunyi. Untuk itu, menurut rencanaku, taman istana merupakan tempat yang amat baik. Kalau diajeng muncul pada malam hari di ternpat sunyi seorang diri, aku merasa yakin bahwa penjahat itu tentu akan muncul. Aku akan mengepung tempat itu dan kalau dia muncul, kita maju menangkapnya. Orang ini harus ditangkap untuk diperiksa dan diketahui apa maksud kedatangan nya di Blambangan. Gustl adipati ingin sekali mengetahui, karena selain hendak mencelakai diajeng, siapa tahu dia adalah seorang mata-mata Jenggala atau Panjalu yang berbahaya."

Di dalam hatinya, Endang Patibroto kurang setuju.

Akan tetapi ia tidak melihat cara lain untuk menghadapi Joko Wandiro.

Ia sendiripun ingin melihat orang itu tertangkap, ingin melihat Joko Wandiro dikalahkan untuk memuaskan hatlnya yang diracuni kebencian.

Kalau Joko Wandiro memusuhinya dan menjadi utusan Pangeran Darmokusumo untuk membunuhnya, mengapa ia harus ragu-ragu untuk membantu Sindupati menangkap Joko Wandiro?

"Baiklah, malam nanti aku akan berada di dalam taman."

"Sebailcnya menjelang tengah malam jika semua penghuni istana sudah tidur, agar jangan meragukan hati penjahat itu diajeng."

Endang Patibroto setuju dan berundinglah mereka berdua untuk menghadapi dan menangkap Joko Wandiro atau Adlpati Tejolaksono seperti yang diduga penuh keyakinan oleh wanita sakti ini.

Dengan hati girang Raden Sindupati lalu meninggalkan tempat itu untuk melakukan persiapan.

Ia menghubungi para senopati yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga Ki Patih Kalanarmodo dan Mayangkurdo, kemudian mempersiapkan pula seratus orang perajurit pilihan termasuk dua losin barisan anak panah yang mengepung taman sari dengan busur dan anak panah siap di tangan masing-masing.

Malam hari itu, Adipati Tejolaksono atau yang kini berganti nama menjadi Sutejo tukang kuda, rebah di atas setumpukan jerami kering di dalam kamar di dekat kandang kuda.

Hatinya gelisah sekali dan berkali-kali ia menghela napas panjang.

Sudah beberapa pekan ia bekerja di situ sebagai tukang kuda, namun belum juga ia berhasil bertemu empat mata dengan Endang Patibroto.

Ia tidak berani lagi secara sembrono mendatangi tempat Endang Patibroto setelah malam itu hampir saja ia tertangkap.

Kalau sampai ia dikenal orang, tentu keadaan wanita itu akan menjadi terancam keselamatannya.

Ah, dia sudah meninggalkan tanda tapak jari Aji Pethit Nogo, tidak mungkin Endang Patibroto tidak mengenalnya!

Mengapa Endang Patibroto tidak mencarinya, bahkan para senopati dan pengawal yang berkeliaran mencari?

Penjagaan makin diperketat sehingga ia tidak berani sembrono memperlihatkan diri, lebih tekun bekerja menyembunyikan diri di balik penyamarannya sebagai tukang kuda.

Ia sudah mendengar percakapan para perwira yang seringkali datang jika membutuhkan kuda tunggangan mereka tentang keadaan Endang Patibroto, malah ia mendengar pula bahwa Raden Sindupati, senopati yang menjadi tokoh penting dan dipercaya sang adipati, agaknya jatuh cinta kepada Endang Patibroto!

Ia mendengar pula percakapan para perwira tentang watak Raden Sindupati yang tak pernah mau melewatkan begitu saja wanita denok!.

Semua ini tidak menggelisahkan hati Tejolaksono.

Yang membuat ia terkejut sekali adalah ketika siang hari tadi ia mendengar bahwa Endang Patibroto nyaris menjadi korban peracunan dalam santapan paginya.

Ia harus cepat-cepat -menemui Endang Patibroto yang terancam keselamatannya, malam hari ini juga, sebelum ia terlambat!.

Demikianlah, menjelang tengah malam, tukang kuda Sutejo ini melompat keluar dari kamarnya dan sebentar saja ia sudah berlompatan di atas atap dengan kecepatan luar biasa.

Malam itu masih terang bulan dan kebetulan tidak ada mendung sehingga sinar bulan menerangi permukaan bumi.

Dengan pandang matanya yang tajam dan waspada, ketika melewatl atap istana, Tejolaksono dapat melihat berkelebatnya bayangan yang amat cepat menuju ke taman sari, yaitu taman bunga yang amat luas dan indah dari istana Kadipaten Blambangan.

Hati-nya berdebar keras.

Bayangan seorang wanita yang bertubuh langsing.

Tidak salah dugaannya ketika ia melihat wajah bayangan itu.

Siapa lagi wanita yang dapat bergerak secepat itu kalau bukan Endang Patibroto!

Dengan girang sekali Tejolaksono lalu melompat turun dan mengikuti dari jauh.

Hatinya makin berdebar ketika ia melihat Endang Patibroto memasuki taman sari lalu duduk di atas bangku di tengah taman sari itu, lalu termenung menghadapi kolam Hon emas yang penuh dengan teratai putih.

Sejenak Tejolaksono memandang tubuh yang duduk termenung itu dengan hati terharu.

Inilah Endang Patibroto, wanita yang sejak kecil ia kenal, yang pernah menjadi musuhnya berkali-kali, lawan terberat yang pernah ia jumpai.

Endang Patibroto, puteri kandung bibi Kartikosarl dan ayah angkatnya, Pujo.

Masih tunggal guru dengannya, ketika keduanya di waktu kecil digembleng oleh Resi Bhargowo di Pulau Sempu (baca Badai Laut Salatan).

Telah sepuluh tahun ia tidak pernah bertemu muka dengan Endang Patibroto yang semenjak menjadi isteri Pangeran Panjirawit tak pernah meninggalkan istana suaminya.

Kini, secara aneh terlibat oleh peristiwa-peristiwayang tak tersangka-sangka, mereka kembali bertemu dl Blambangan.

Sungguh tidak dapat disangka lika-liku hidup ini.

Ia melangkah maju menghampiri dan memanggil lirih.

"Endang.!!! "

Tubuh yang duduk diam seperti arca itu tiba-tiba bergerak melompat sambil memutar tubuh menghadapi Tejolaksono, sepasang mata yang seperti bintang bercahaya dan suaranya penuh teguran.

"Joko Wandiro, ternyata benar engkau..!!!"

Tejolaksono terpesona memandang Endang Patibroto masih tetap seperti dahulu, seakan-akan tidak bertambah sepuluh tahun usianya.

Masih tetap cantik jelita dan masih penuh semangat, panas dan galak seperti dahulu.

Mendengar suaranya ketika menyebut nama kecilnya dengan nada marah, Tejolaksono mau tak mau tersenyum.

"Benar aku, Endang Patibroto. Akan tetapi namaku sekarang Tejolaksono "

"Tidak perduli Joko Wandiro atau Tejolaksono, engkau tetap selalu memusuhiku! Engkau pengecut rendah. Memang sudah kunanti-nanti kau."

Sambil berkata demikian, Endang Patibroto sudah menerjang maju dengan cepat dan tangkas, mengirim tamparan ke arah kepala Tejolaksono.

Tangannya ketika berkelebat itu mengeluarkan angin panas menyambar.

"Plakk.!!! "

Endang Patibroto menjadi miring kedudukan tubuhnya ketika Iengannya bertemu dengan tapak tangan Tejolaksono yang menangkisnya.

Akan tetapi secepat kilat Endang Patibroto sudah memukul lagi ke dada lawan.

Tejolaksono melompat mundur sambil beseru.

"Nanti dulu, Endang engkau salah sangka "

"Weerrrr plakk!"

Kembali Tejolaksono terpaksa menangkis karena tamparan yang menyusul hantaman ke tiga tak dapat ia elakkan lagi, demikian cepat sekali datangnya. Kembali keduanya terdorong ke belakang.

"Endang, dengarlah keteranganku kau.kau.. tertipu masuk perangkap.!!"

Adipati Tejolaksono kembali melejit ke kanan agak jauh untuk menghindari tendangan kilat yang disusul hantaman Aji Wisangnala yang ampuhnya menggiriskan.

"Engkau utusan Panjalu, hayo menyangkallah kau manusia palsu! "

"Betul, memang sang prabu di Panjalu yang mengutusku menyusul dan mencarimu, tapi semua pembunuhan keji itu "

"Tak usah banyak cakap. Aku sudah tahu semua! Aku tahu siasat Darmokusumo yang jahat. Aku tahu... Aku tahu Semua kesalahan ditimpakan pada diriku. Dan kau datang untuk menangkapku, menyeretku ke depan kaki Raja Panjalu dan Raja Jenggala yang jahat!"

"Endang..!!!! "

"Cukup! Tak usah banyak cerewet lagi. Kau sudah mencoba menangkapku malam itu, kemudian kemudian mencoba meracuniku........ aku tidak takut. Hayo majulah, kalau..tidak engkau yang menggeletak tewas di sini, tentu aku!"

Kembali Endang Patibroto sudah menerjangnya dengan dahsyat sekali.

Wanita ini teringat akan semua peristiwa yang menimpa dirinya, teringat akan kematian suaminya dan kini melihat Joko Wandiro yang hidupnya selalu lebih bahagia daripadanya, membuat is menumpahkan semua kebencian dan kemarahannya kepada musuh lama ini.

"Endang, dengar dulu kau tertipu..!! "

Akan tetapi pada saat itu tampak banyak sekali bayangan manusia berkelebat dan ternyata tempat itu sudah terkurung oleh belasan orang senopati dan perwira yang dipimpin sendiri oleh Ki Patih Kalanarmodo dan Sindupati.

"Tangkap mata-mata..! "

Terdengar teriakan-teriakan di sekeliling tempat itu.

Tejolaksono terkejut sekali, tidak menyangka bahwa ia akan menghadapi kepungan seperti ini.

Ketika dua orang senopati menerjang dari kiri ia menggerakkan kaki tangan dan dua orang lawan itu roboh terjengkang!

"Wuuuttt II"

Tejolaksono cepat membuang diri ke kiri karena pukulan Endang Patibroto dari kanan itu dahsyat sekali datangnya.

"Endang, larilah. Mari kau ikut aku lari , Endang sebelum terlarnbat. Marilah, nanti aku beri penjelasan."

Namun Endang Patibroto tidak memperdulikannya dan pada saat itu, Raden Sindupati, Mayangkurdo, Ki Patih Kalanarmodo, Klabangkoro, Klabangmuko dan beberapa orang senopati yang lain yang pilihan telah menerjang maju.

Cepat Tejolaksono menggerakkan tubuhnya, kaki tangannya menyambar dan sambil menangkis semua hantaman lawan, la telah berhasil merobohkan Klabangmuko dan Klabangkoro dengan tendangan berantai.

Akan tetapi, karena ia dihujani serangan, seperti juga senopati-senopati yang ia robohkan tadi, Klabangkoro dan Klabangmuko tidak terluka parah dan dapat bangkit kembali sambil meringis kesakitan.

"Ehh dia ini si Sutejo tukang kuda."

Terdengar seorang perwira berseru kaget dan semua orang tercengang.

Siapa kira bahwa penjahat yang dianggap maling haguna (maling sakti) dan selama ini dicari-cari itu ternyata adalah si tukang kuda yang baru!

Orang dusun yang kelihatan bodoh, jujur, dan rajin bekerja!

Kinipun pakaiannya masih sederhana, namun setelah bergerak, bukan main hebatnya!.

Melihat banyaknya orang-orang yang mengeroyoknya, bukan orang-orang sembarangan pula, dan melihat betapa taman itu terkepung oleh seratus orang lebih perajurit sehingga merupakan pagar manusia yang tebal, Tejolaksono mulai khawatir.

Ia masih sibuk berkelebat ke sana ke marl menghadapi pengeroyokan para senopati yang kini sudah menggunakan senjata, dan untuk yang penghabisan ia berseru.

"Endang dengarlah kepadaku. Mari kita lari bersama masih ada waktu. Kalau kita berdua menyerang, tikus-tikus busuk ini tak mungkin dapat menahan kita "

Akan tetapi sebagai jawaban dari ajakan ini, Endang Patibroto kini malah mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo dan menghantam dengan Aji Wisangnala yang dilakukan dengan pengerahan tenaga dahsyat sekali ke arah lambung Tejolaksono.

Itulah pukulan maut yang tak mungkin dapat ditahan, biar oleh seorang manusia sakti seperti Adipati Tejolaksono sekali pun!

Beberapa orang senopati yang terdekat sudah roboh mendengar pekik tadi dan Tejolaksono terkejut bukan main.

Dia sedang menghadapi serbuan senjata yang banyak sekali, dan kini dari samping kanan Endang Patibroto memukulnya ke arah lambung dengan pengerahan aji yang sedemikian dahsyatnya!

Tidak ada pilihan lain baginya, mengelak tidak keburu lagi menangkis tentu kurang kuat dan tentu ia akan menjadi korban.

Maka cepat ia membalikkan tubuh ke kanan dan menerima pukulan Wisangnala yang ampuhnya menggila itu dengan dorongan kedua telapak tangannya pula ke depan sambil mengerahkan Aji Brojo Dahono (Kilat Berapi) yang dahulu ia terima dari gurunya, Ki Patih Narotama.

"Desssss!!!"

Dua pasang tangan bertemu permukaannya dan tubuh Endang Patibroto terlempar ke belakang sampai tiga meter lebih dalam keadaan pingsanl Akan tetapi, Tejolaksono juga terhuyunghuyung ke belakang, kepalanya pening pandang matanya berkunang.

Kalau ia tadi mengerahkan seluruh tenaganya, tentu Endang Patibroto akan terpukul tewas dan dia sendiri tidak akan terluka parah.

Akan tetapi bagaimana ia tega untuk membunuh Endang Patibroto?

Maka ia tadi hanya mengerahkan sebagian besar tenaganya, tidak sepenuhnya sehingga akibatnya sungguhpun ia dapat membuat Endang Patibroto pingsan, namun dia sendiri juga mendapat hantaman di sebelah dalam tubuhnya yang cukup hebat.

Sebelum Tejolaksono sempat memulihkan tenaga, banyak pukulan-pukulan keras dan penggada menghujani tubuhnya sehingga ia roboh pingsan.

Segera para senopati menubruknya dan melibat-libat tubuhnya dengan ikatan-ikatan rantai yang amat kuat seperti seekor kerbau hendak disembelih saja.

Kemudian, beramai-ramai mereka menggotong tubuh Tejolaksono sambil bersorak kegirangan.

Adapun Endang Patibroto yang pingsan itu sudah lebih dulu dipondong oleh Raden Sindupati dan dibawa pergi menuju ke rumah senopati itu sendiri.

Ketika Sindupati yang memondong tubuh Endang Patibroto tiba di rumah gedungnya, ia disambut oleh seorang wanita yang maslh amat muda dan berwajah cantik jelita akan tetapi pucat pasi mukanya.

"Kakangmas! "

Wanita itu menegur dan matanya terbelalak lebar. Akan tetapi dengan kasar Sindupati membentak.

"Minggir kau!"

Lalu terus membawa tubuh Endang Patibroto memasuki kamarnya. Wanita muda itu adalah selirnya, yaitu puteri Adipati Menak Linggo dari selir yang "dihadiahkan"

Kepada Sindupatl.

Dibentak seperti itu, wanita ini minggir dan terisak menangis, akan tetapi ia tidak berani berbuat sesuatu, hanya pergi memasuki sebuah kamar lain dan membanting tubuh di atas pembaringan sambil menangis tersedu-sedu.

Semuda itu, sudah terlampau banyak ia menderita tekanan batin semenjak setahun yang lalu ia diberikan kepada Sindupati, dijadikan benda permainan senopati itu yang sama sekali tidak memperdulikan hati wanita muda ini.

Endang Patibroto masih merasa pusing sekali dan napasnya agak terengah ketika ia mendengar suara yang halus.

"Minumlah, diajeng minumlah madu tentu akan sembuh dan enak badan-mu!"

Segera ia merasa ada benda menempel bibirnya.

Ia berada dalam keadaan setengah sadar akan tetapi dapat mengenal suara Sindupati, maka tanpa membuka mata ia segera membuka mulut dan minum madu manis dan harum dari cangkir itu dengan penuh kepercayaan.

Memang enak rasanya, dan mendatangkan rasa hangat di dadanya.

Madu yang manis dan harum bercampur jamu.,Ia masih meramkan matanya, mengingat-ingat.Kemudian teringatlah ia akan pertandingan tadi.

Tadikah?

Ia tidak tahu bahwa ia telah rebah pingsan selama setengah malam Joko Wandiro, alangkah berat lawan itu.

Teringat ia betapa pukulan Wisangnala membentur gunung karang dan tenaga aji itu membalik, membuat dadanya sesak dan tubuhnya terlempar ke belakang.

Bukan main hebatnya Joko Wandiro Tangan yang lembut membelai rambutnya dahinya lalu turun ke pipinya, terus ke lehernya.

Bisikan-bisikan yang tadinya hampir tak terdengar, kini mulai terdengar, lirih--lirih dekat telinga.

"Diajeng Endang Patibroto alangkah cantik jelita engkau, alangkah gagah perkasa ah, adinda aku cinta padamu, diajeng "

Jari tangan itu turun ke atas dada dan bibir yang panas menempel mulutnya!.

Endang Patibroto hampir saja tenggelam karena terbayang ia kepada kemesraan bercinta dengan suaminya, membayangkan bahwa yang berbisik-bisik, membelai dan menciumnya itu adalah suaminya.

Akan tetapi ia segera teringat dan tersentak kaget.

Bukan suaminya yang sudah mati, melainkan Raden Sindupati!

Segera ia mendorong sambil melompat bangun dari atas pangkuan karena tadinya ia rebah telentang dengan kepala di atas pangkuan Sindupati yang duduk di atas pembaringan.

Tubuh Sindupati terlempar keluar dari pembaringan dan seperti seekor burung kepinis, Endang Patibroto sudah melompat turun dan berdiri menatap Sindupati yang terbanting roboh di atas lantai.

"Diajeng.."

Sindupati merintih.

Merah wajah Endang Patibroto.

Kamar ini terang dan kiranya sinar matahari telah bersinar masuk melalui celah-celah daun jendela kamar itu.

Sebuah kamar yang indah.

Dan ia tadi berada di atas pembaringan, bersama Sindupati, sejak malam tadi, ia memandang senopati itu, bingung karena merasa malu, menyesal bercampur marah.

"Maaf, kakang Sindupati. Akan tetapi... aku. aku tidak dapat menerima cinta kasihmu' Betapapun baik engkau sudah terhadap diriku, namun hemm jangan sekali-kali berani meraba diriku lagi karena lain kali aku akan membunuhmu!"

Setelah berkata demikian, Endang Patibroto lalu melompat keluar dari kamar itu dan terus melarikan diri.

"Diajeng Endang Patibroto..!!! "

Namun seruan Sindupati ini tidak terjawab dan senopati ini lalu merangkak bangun.

Belakang kepalanya yang terbentur lantai menjendol dan terasa nyeri.

la menyeringai, mukanya menjadi merah padam, kedua tangannya dikepal dan ia menggumam dengan marah.

"Hemm Endang Patibroto, engkau tak mau disayang orang! Lihat saja engkau nanti! Tidak bisa mendapatkan dirimu secara halus, aku akan menggunakan kekerasan! Ha-ha-ha, awas engkau jangan kira dapat melepaskan diri begitu saja dari tangan Raden Sindupati!"

Kalau saja Endang Patibroto dapat mendengar ucapan dan sikap Sindupati setelah ia meninggal kan kamar senopati itu, tentu ia akan menjadi kaget sekali.

Akan tetapi, Endang Patibroto sudah berlari jauh dan di dalam hatinya wanita ini malah merasa kasihan kepada Sindupati.

Ia mengang gap senopati itu amat baik dan biarpun tadi telah berani menjamah tubuhnya, bahkan mencium bibirnya, namun ia dapat memaafkan perbuatan yang ia anggap terdorong oleh cinta kasih yang mendalam!

Seorang wanita seperti Endang Patibroto, tentu saja tidak dapat membedakan antara cinta kasih murni seperti cinta kasih mendiang suaminya, dengan cinta berahi seperti cinta seorang pria macam Sindupati yang menjadi hamba daripada nafsu berahi dan menginginkan tubuhnya karena ia cantik jelita belaka, seperti rasa sayang seorang akan setangkai bunga mawar.

Jika masih segar dinikmati keindahannya dan harumnya, jika sudah bosan dan kembang itu melayu lalu dibuang begitu saja!

Ketika Endang Patibroto memasuki tempat tinggalnya, ia mendengar dari para pengawal bahwa Adipati Tejolaksono telah tertangkap dan kini sedang mengalami siksaan di dalam penjara!.

"Menurut keputusan gusti adipati, mata-mata itu yang telah menewaskan tujuh orang pengeroyok semalam, akan dihukum picis di alun-alun sore hari nanti!"

Demikian antara lain para pengawal memberitahukannya.

Berdebar jantung Endang Patibroto.

Dihukum picis!

Hukuman yang mengerikan.

Tubuh orang hukuman akan diikat di alun-alun, dan setiap orang boleh menggunakan sebuah pisau tajam yang tersedia di situ untuk mengerat kulit dan daging, si terhukum, kemudian algojo akan mengoleskan asam dan garam pada goresan pisau!

Si terhukum tidak akan mati seketika, melainkan mati perlahan-lahan, menderita siksaan ngeri yang tiada taranya, kemudian mungkin baru pada keesokan harinya mati kehabisan darah!

Ia membayangkan wajah Joko Wandiro dan Endang Patibroto meramkan mata.

Kepalanya makin pening, pandang matanya berkunang.

Teringat ia akan semua kebaikan Joko Wandiro.

Betapa pria itu kini telah menampung ibu kandungnya, betapa Joko Wandiro tidak mendendam kepadanya biarpun dialah yang membunuh ibu kandung Joko Wandiro!

Betapa dahulu ia amat tertarik kepada Joko Wandiro, betapa ia merindu, haus akan kasIh sayangnya namun pada lahirnya ia selalu bersikap keras dan bermusuh.

Bahkan terbayang pula betapa seringkali, sebelum akhirnya ia jatuh cinta sungguh-sungguh kepada Pangeran Panjirawit, seringkali ia membayangkan wajah Joko Wandiro di kala suaminya itu mencumbunyal.

"Tidak Tidak boleh Demikian teriak hatinya dan dengan kepala masih pening, dengan langkah terhuyung-huyung Endang Patibroto lalu lari menuju ke penjara!. Para penjaga yang menjaga penjara dengan ketat, semua mengenal Endang Patibroto dan tidak seorangpun di antara mereka berani mencegah ketika Endang Patibroto memasuki penjara. Bahkan Mayangkurdo yang bertugas mengepalai barisan penjaga, hanya bertanya.

"Apakah perlunya menemui keparat itu? Gusti adipati sudah memutuskan hukum picis, harap saja paduka jangan membunuhnya!"

ENDANG PATIBROTO hanya menggeleng kepala, tidak berani mengeluarkan suara karena ia tidak percaya kepada suaranya sendiri yang tentu akan tergetar.

Adapun Mayangkurdo tidak melihat keberatan sesuatu atas kunjungan Endang Patibroto.

Biarpun disiksa sejak malam tadi, Tejolaksono tidak pernah mau mengaku sesuatu, hanya tersenyum mengejek dan menerima siksaan sampai berkali-kali jatuh pingsan.

Karena itu Mayangkurdo dan yang lain-lain tidak tahu bahwa rahasia busuk mereka telah diketahui Tejolaksono dari mulut Ki Brejeng!

Mereka hanya menyangka bahwa Tejolaksono datang atas perintah sang prabu di Panjalu untuk menangkap Endang Patibroto yang sampai sekarang tentu dianggap pemberontak oleh Panjalu, dan Jenggala.

Ketika Endang Patibroto memasuki kamar tahanan, ia melihat Tejolaksono rebah dan setengah bersandar pada dinding.

Kaki tangannya dibelenggu dengan rantai besi, juga lehernya.

Pakaiannya hancur dan seluruh tubuhnya berdarah bekas cambukan!

Ksatria sakti ini tidak pingsan, sadar dan sinar matanya masih penuh semangat sungguhpun tampak lemah sekali.

Sedikitpun tidak ada keluhan keluar dari mulutnya.

Mukanya baret-baret bekas cambukan pula, mata kirinya membiru.

Hati Endang Patibroto trenyuh sekali.

Apalagi melihat betapa sinar mata itu memandangnya dengan senyum, seperti mulutnya.

"Pergilah kalian! Tinggalkan aku sendiri dengan keparat ini!"

Bentak Endang Patibroto kepada tiga orang algojo tinggi besar yang agaknya kelelahan karena harus terus menyiksa akan tetapi tak boleh membunuh si tahanan.

Mereka lalu pergi meninggalkan Endang Patibroto yang segera menutupkan daun pintu besi.

Lalu ia berdiri di depan Tejolaksono.

"Hemm, Endang Patibroto. Agaknya engkau puas sekarang. Dapat melampiaskan semuan kebencianmu kepadaku. Ah, betapa bencimu kepadaku, Endang. Sejak sepuluh tahun yang lalu! Belum dapatkah engkau melupakan semua peristiwa yang lalu? Endang demi bibi Kartikosari, demi paman Pujo kaubunuhlah saja aku. Aku tidak takut menghadapi siksaan, akan tetapi ngeri menghadapi penghinaan. Kau pukullah aku sampai mati, aku akan berterima kasih dan dan tolonglah kau amat-amati keluargaku di Selopenangkep."

Ucapan itu keluar dengan ringannya dari mulut Tejolaksono, sedikitpun tidak tampak berduka atau takut.

Alangkah perkasanya pria ini!

Dan tak tertahankan lagi Endang Patibroto terisak, lalu menjatuhkan diri berlutut, lalu tangannya meraih belenggu-belenggu kaki tangan Tejolaksono.

"Tidak usah, Endang. Tiada gunanya. Kalau aku menghendaki, agaknya aku masih akan sanggup mematahkan belenggu-belenggu ini. Akan tetapi apa gunanya? Penjagaan terlampau kuat dan aku terlalu lelah dan lemah. Apalagi ada engkau, betapa mungkin aku dapat lari?"

Makin mengguguk Endang Patibroto menangis.

"Joko Wandiro mengapa Mengapa engkau selalu memusuhi aku? Mengapa engkau yang diutus oleh si keparat Darmokusumo untuk mengejar dan menangkap aku? Aku sudah... sudah tidak lagi menganggap engkau sebagai musuh, tapi..... tapi kau datang ke sini dan.."

"Husssshh..... engkau salah sangka. Inilah yang hendak kuterangkan kepada-mu. Inilah sebabnya mengapa aku selalu hendak menemuimu. Kau tertipu! Kau harus segera lari dari sini. Mereka menipumu. Mereka hendak membunuhmu! Dengarlah baik-baik, Endang Patibroto. Semua peristiwa di Jenggala dan Panjalu diatur oleh si keparat Sindupati!"

"Tidak mungkin! Aku mendengar sendiri dari mulut Wiku Kalawisesa.."

"Kau dibohongi! Aku tahu semua ini dari mulut Ki Brejeng sebelum ia mati."

"Ki Brejeng? Mati? Apa artinya ini. ?"

"Aku memang mengejarmu, dan di tengah jalan aku bertemu Ki Brejeng. Kau masuk perangkap! Wiku Kalawisesa adalah anak buah Sindupati. Sengaja membunuhi paraponggawa untuk melemahkan kedua kerajaan yang akan diserbu. Dan mereka memasang jerat. Menyebar desas-desus memburukkan namamu, hendak mengadu domba. Kau terkena hasutan sehingga kau menyerbu Pangeran Darmokusumo yang tidak berdosa! Kau........ eh, kenapa, Endang.."

Akan tetapi Endang sudah tidak mendengarnya lagi.

Wanita ini menjadi pucat wajahnya, lalu berusaha bangkit berdiri, terhuyung-huyung, kedua tangannya memegang kepala sendiri, matanya dimeramkan, mulutnya mengeluh lirih.

"Ahhh kepalaku begini pening panas."

Tejolaksono terkejut sekali.

Sekali pandang melihat wajah yang agak pucat itu kedua pipinya mangar-mangar merah, bibirnya yang terbuka itupun merah seperti habis makan cabe, matanya setengah dipejamkan, napasnya tersendat-sendat, tubuhnya gemetar, tahulah ia bahwa Endang Patibroto yang seperti orang mabok arak ini telah keracunan!.

"Endang........... kau keracunan........... Lekas, bersila mengatur napas, menggunakan tenaga sakti mengusir hawa racun dari dada dan kepalamu... , pergunakan Widodo Mantra.."

Namun terlambat sudah. Endang Patibroto agaknya sudah tidak dapat menguasai diri dan pikirannya lagi, mulutnya berbisik-bisik, pangeran kekasihku pangeran.

"Ha-ha-ha-ha! Jangan harap dapat lari dariku, diajeng!!"

Daun pintu kamar tahanan terbuka dari luar dan Sindupati melompat masuk.

Melihat Endang Patibroto yang terhuyung-huyung seperti orang mabuk, ia terkekeh girang lalu menubruk maju, memeluk dan memondong tubuh Endang Patibroto.

"Diajeng Endang Patibroto! Aku cinta padamu ha-ha-ha mengapa lari dari kakanda.

" ,, ............. pangeran... pangeran.."

Dengan mata dipejamkan Endang Pathbroto berbisik-bisik dan ia sama sekali tidak marah lagi seperti tadi ketika tubuhnya didekap dan dipondong, bahkan kedua lengannya lalu merayap dan merangkul leher Sindupati, mukanya disembunyikan pada dada senopati itu!.

"Ha-ha-ha-ha!"

Sindupati tertawa bergelak, lalu sambil memondong tubuh wanita yang mabuk oleh racun pembangkit nafsu berahi yang tadi ia campurkan ke dalam madu, ia mengayun kaki menendang Tejolaksono yang memandang semua itu dengan mata melotot.

Dalam keadaan terbelenggu seperti itu, terpaksa Tejolaksono menerima tendangan yang mengenai pinggangnya sehingga tubuhnya terbentur dinding.

Kembali Sindupati tertawa sambil membawa tubuh Endang Patibroto keluar dari dalam kamar tahanan.

Blambangan adalah gudangnya ilmu hitam, gudangnya jamu-jamu yang amat mujijat, dan di kadipaten ini terdapat banyak sekali ahli-ahli pembuat racun.

Ketika Sindupati malam kemarin memberi minum madu kepada Endang Patibroto, ia mencampurkan bubukan jamur belang yang mengandung racun pembangkit nafsu berahi amat hebat.

Orang yang terkena racun ini, terutama sekali wanita, akan mabuk dan tidak dapat menguasai dirinya lagi, tidak sadar apa yang dilakukannya, dan seluruh tubuhnya dikuasai oleh nafsu berahi yang menyala-nyala.

Demikian pula, biarpun ia seorang wanita yang sakti mandraguna, namun darahnya yang sudah keracunan membuat Endang Patibroto mabuk juga sehingga terbayang olehnya Pangeran Panjirawit yang tercinta dan ketika ia dipondong Sindupati, ia menganggap bahwa suaminyalah yang memondongnya!.

Dengan kegirangan hati yang meluap-luap Sindupati memondong tubuh Endang Patibroto ke dalam rumahnya, masuk ke dalam kamarnya yang tadi ditinggalkan Endang Patibroto.

Kini tercapailah keinginan hatinya.

Ia ingin memiliki tubuh Endang Patibroto, baik secara suka rela ataupun paksa, dan setelah itu baru ia akan membunuh wanita ini untuk memenuhi perintah Adipati Blambangan!

Kini, setelah Endang Patibroto mabuk oleh racun jamur belang, pasti akan terpenuhi keinginan dan nafsunya!

Dengan wajah berseri-seri ia melemparkan tubuh Endang Patibroto ke atas pembaringan.

Endang Patibroto hanya mengeluh lirih dan bergulingan gelisah di atas pembaringan itu, matanya dipejamkan.

"Ha-ha-ha-ha, Endang Patibroto. Akhirnya engkau terlempar juga dalam pelukanku, cah ayu denok Dengan nafsu berkobar Raden Sindupati menghampiri pembaringan, matanya jalang memerah, napasnya agak terengah-engah panas, hidungnya kembang kempis, wajahnya yang tampan kini tampak buas. Lama ia berdiri di pinggir pembaringan, melahap tubuh Endang Patibroto dengan pandang matanya, kemudian ia membungkuk, terkekeh dan kedua tangannya menjangkau "Kakangmas senopati.."

Raden Sindupati yang sudah menyentuh pundak Endang Patibroto dan sudah menaikkan sebelah lututnya ke atas pembaringan, tersentak kaget dan turun membalikkan tubuh dan menghardik.

"Umi! Mau apa engkau masuk ke sini? Hayo pergi, kalau tidak ingin kutempiling kau!!"

Wanita muda bermuka pucat itu memandang dengan mata terbelalak ke arah tubuh Endang Patibroto yang bergerak-gerak gelisah di atas pembaringan.

Hatinya menjadl semakin panas sekali, panas oleh cemburu.

Biarpun la mengalami banyak derita batin semenjak oleh ayahnya, sang adipati, dihadiahkan kepada senopati Sindupati, namun la telah jatuh cinta kepada laki-laki ini sepenuh hatinya.

Tidak ingin ia melihat suaminya bermain dengan wanita lain, dan hatinya selalu sakit dan hancur kalau ia melihat Sindupati membawa pulang wanita-wanita cantik.

Akan tetapi kali ini ia tidak dapat menahan kemarahannya melihat betapa suaminya Itu hendak memiliki seorang wanita dengan cara yang amat tidak patut, yaitu dengan paksa dan dengan bantuan jamu racun perangsang!

"Kakangmas.., jangan jangan lakukan itu.!!"

Marah sekali Sindupati. Ia melangkah maju mendekati selirnya ini, mukanya merah.

"Apa? Sejak kapan engkau berani menghalangi kesenanganku??"

Dewi Umirah, wanita muda itu menggelengkan kepalanya dengan "Tidak, kakangmas, saya tidak menghalangl kesenanganmu.

Sebagai seorang selir, saya tidak berhak melakukan hal itu.

Akan tetapi, saya berkewajiban untuk mengingatkan suami daripada perbuatan jahat dan keji!

Memperkosa seorang wanita di luar kehendaknya adalah perbuatan jahat dan keji, kakangmas.

Ingatlah, dan harap kakangmas sadar, jangan lakukan itu Wanita ini tidak sadar dia mabuk racun tidak baik memperkosa.!"

"Tutup mulutmu! Ha, engkau iri hati! Engkau cemburu, setan "

Dengan marah sekali Sindupati mendorong pundak selirnya sehingga tubuh Dewi Umirah terlempar ke belakang, menabrak dinding dan terguling. Namun wanita Itu bangun lagi, berlutut dan berkata.

"Saya tidak iri hati, tidak cemburu, kakangmas. Sudah kukubur perasaan itu! Akan tetapi... melihat kau hendak melakukan perkosaan keji... ah, bagaimana saya dapat melihat suami saya melakukan kekejian ini dan mendiamkannya saja? Ingat kakangmas, perbuatan ini akan dikutuk para dewata.!"

"Apa? Keparat engkau! Berani mengumpat Pergi minggat!!"

Sindupati menggerakkan kakinya menendang dan tubuh Dewi Umirah terlempar ke luar melalui pintu!

Sindupati sambil memaki-maki lalu membanting daun pintu kamar dan menguncinya dari dalam!.

Napasnya terengah-engah saking marahnya dan kemarahan ini telah mengusir gelora nafsu berahinya.

Ia jengkel sekali, lalu menyambar sebuah botol berisi arak dari atas meja, menuangkan isinya ke dalam perut.

Perut dan dadanya terasa panas kini dan perlahan-lahan nafsunya menggelora lagi.

Dilemparkannya botol kosong ke sudut kamar dan ia melangkahmaju menghampiri pembaringan di mana Endang Patibroto masih menggeliat-geliat sambil mengeluh lirih.

Sindupati terkekeh, tangannya meraih, merenggut, terdengar suara "breettt!!"

Pakaian robek, disusul ketawa terbahak.

Ketika Tejolaksono melihat betapa tubuh Endang Patibroto yang ia tahu dalam keadaan setengah sadar karena pengaruh racun itu dipondong oleh Sindupati dan dilarikan keluar tahanan, hatinya penuh kegelisahan dan kemarahan.

Tadinya ia sudah hampir berputus asa karena kalau ia memberontak dan dapat membebaskan diri, tidak mungkin ia dapat membebaskan diri, karena di sana, terdapat banyak senopati tangguh d terutama sekali ada Endang Patibroto!

Kini, menyaksikan keadaan Endang Patibroto yang terancam bahaya lebih mengerikan daripada maut, timbul semangatnya.

Ia segera meramkan mata, mengheningkan cipta, mengumpulkan seluruh daya dan hawa saktl di tubuhnya, mengetrapkan aji-ajinya lalu tiba-tiba terlengkinglah pekik yang dahsyat dari mulutnya, pekik Aji Dirodo Meta (Gajah Mengamuk) dan pada saat itu juga, ia meronta dan terdengar suara keras ketika semua rantai besi yang membelenggu kaki tangan dan lehernya hancur berkeping-keping!!

Tejolaksono melompat bangun dan pada saat itu, para pengawal yang mendengan suara pekikan dahsyat tadi sudah menyerbu ke dalam.

Akan tetapi lima orang pengawal termasuk tiga orang algojo yang terdahulu masuk, disambut oleh hantaman yang membuat mereka semua roboh terjengkang kembali keluar pintu!

Tubuh Tejolaksono menerjang keluar dan ia telah mengerahkan Aji Triwikrama, sebuah aji kesaktian agung yang didapatnya dari ajaran mendiangang Prabu Airlangga.

Begitu tubuhnya muncul keluar, para pengawal dan penjaga bediri terpaku di tempat masing-masing dengan mata terbelalak dan muka pucat.

Aji kesaktian agung Triwikrama bukanlah sembarang aji dan hanya Tejolaksono seoranglah yang dapat mewarisinya dari Sang Prabu Airlangga.

Di jaman Purwacarita, jamannya Mahabharata, yang memiliki aji kesaktian agung ini hanyalah Sang Prabu Dwarawati atau Sri Bathara Kresna.

Aji kesaktian ini baru dapat dikeluarkan apabila hati dalam keadaan marah dan sakit hati dan begitu aji ditrapkan, akibatnya hebat luar biasa.

Para lawan akan terpesona, akan ngeri ketakutan karena dari tubuh yang beraji Triwikrama ini seakan-akan keluar hawa mujijat yang menakutkan, mengeluarkan perbawa yang menggiriskan, seakan-akan berubah menjadi seorang raksasa sebesar Gunung Semeru yang akan menghancurkan segala yang menentangnya!

Pihak lawan akan dicekam ketakutan sehingga mereka sampai lupa untuk bergerak menentang musuh.

Ketika para pengawal itu berdiri terhenyak pucat ketakutan, Tejolaksono segera melesat keluar dan dengan kecepatan kilat ia sudah melampaui kepala mereka untuk pergi mengejar Sindupati.

Selama beberapa pekan menjadi tukang kuda di Blambangan, waktunya tidak dibuang sia-sia sehingga ia sudah hafal akan keadaan di Blambangan, tahu pula di mana adanya istana senopati Sindupati.

Baru setelah Tejolaksono lari jauh, para pengawal sadar akan keadaan mereka.

Sambil berteriak-teriak mereka mengejar.

Beberapa orang pengawal yang berada di depan sempat menghadang dan beiasan orang sudah menyeruduk maju dengan tornbak dan golok di tangan.

Namun dengan ketangkasan yang luar biasa, terdorong oleh rasa khawatir dan marsh mengingat akan nasib Endang Patibroto, Tejolaksono menggerakkan kaki tangannya.

Dua orang roboh mencelat, seorang dapat ia tangkap tengkuknya, ia angkat tubuhnya dan ia putar-putar sedemikian rupa sehingga para pengeroyok cepat mundur dan menahan senjata, takut mengenai tubuh kawan sendiri.

Tejolaksono lalu melempar tubuh orang yang dijadikan perisai tadi ke arah para pengeroyok, kemudian menggunakan kepanikan mereka ia meloncat lagi terus melanjutkan pengejaran nya.

Makin banyak kini perajurit-perajurit mengejarnya dari belakang, namun tak seorang pun dapat menandingi kecepatan gerak tubuh Tejolaksono yang melesat ke depan seperti burung terbang cepatnya.

Empat orang pengawal menyambutnya di depan pintu rumah Raden Sindupati, akan tetapi dalam dua gebrakan saja Tejolaksono sudah merobohkan mereka dengan pukulan-pukulan jari tangannya yang mengandung Aji Pethit Nogo.

Ia terus menyerbu ke dalam.

Dewi Umirah terbelalak dan dengan muka pucat wanita ini lari keluar dari rumahnya, terus melarikan diri ke istana ayahnya untuk melaporkan segala peristiwa yang amat menghancurkan hatinya.

Tejolaksono tidak mengenal dan tidak memperdulikan Dewi Umirah, batik tidak mengganggu para pelayan yang mendeprok dan menggigil di atas lantai terus lari ke dalam.

Ia tahu di mana adanya kamar senopati Raden Sindupa karena ia pernah menyelidiki rumah in di waktu malam.

Daun pintu kamar itu tertutup dan la mendengar suara ketawa bergelak di sebelah dalam.

Tejolaksono mengerahkan tenaga sakti di dalam tubuhnya lalu menggempur daur pintu dengan bahunya.

"Braaaakkkk!!"

Daun pintu jebol dan pecah,tubuhnya menerjang ke dalam kamar.

Mata Tejolaksono menjadi merah saking marahnya ketika ia melihat Sindupati duduk di pinggir pembaringan, dengkan tubuh Endang Patibroto rebah atas pembaringan.

Pakaian Endang Patibroto terobek dari atas ke bawah, sedangkan senopati itu sambil tertawa-tawa sedang membuka bajunya.

Ketika Sindupati mendengar suara keras pecahnya daun pintu, ia menoleh dan matanya terbelalak melihat bahwa yang muncul adalah Tejolaksono yang baru saja tadi ia tendang ketika ia melarikan Endang Patibroto.

la kaget bukan main, juga terheran-heran, akan tetapi secepat kilat ia meloncat, menyambar tombaknya di sudut kamar kemudian langsung menerjang Tejolaksono dengan tusukan tombak pusakanya.

"Sindupati keparat engkau. !! "

Tejolaksono memaki, miringkan tubuh sehingga tombak itu menyeleweng dekat lambungnya.

Tangan kiri meyambar menangkap tombak, ditarik dengan gentakan keras sehingga tubuh lawan ikut mendekat, tangan kiri dengan jari-jari terbuka menampar dengan Aji Pethit Nogo "Bresssss.!!"

Tubuh Sindupati terlempar dibarengi jeritnya dan terus menubruk jeruji jendela yang menjadi patah-patah, tidak tahan menerima hantaman tubuh yang sakti itu, dan tubuh Sindupati terus terlempar keluar kamar, dan terbanting jatuh bergulingan.

Pingsan!

Pukulan tadi amat kerasnya, dilakukan dalam keadaan amarah meluap-luap oleh Tejolaksono.

Kalau orang lain tentu akan tancur remuk tulang-tulang iganya.

Akan tetapi karena Sindupati bukan orang biasa, kekebalannya menyelamatkan nyawa dan ia hanya terlempar dan terbanting pingsan seperti orang diseruduk gajah!.

"Endang !! "

Tejolaksono melompat mendekati pembaringan.

Hatinya lega melihat dan mendapat kenyataan bahwa kedatangannya belum terlambat.

Untung sekalil Beberapa menit lagi saja terlambat tentu ah, ngeri ia membayangkan.

Endang Patibroto menoleh, akan tetapi matanya setengah terpejam, bibirnya terbuka dan agak terengah sambil tersenyum, berbisik-bisik tak menentu.

Ketika Tejolaksono meraba dahi, terasa amat panas.

Cepat ia menyambar tubuh Endang Patibroto yang panas dan lemas itu setelah merapikan kembali pakaian yang hampir telanjang, memanggulnya menelungkup di atas pundak kiri, merangkul kedua pahanya dengan lengan kiri kemudian ia cepat membalikkan tubuh karena mendengar gerakan orang-orang di pintu.

"Joko Wandiro! Lebih baik kau menyerah, percuma saja kau melawan. Tempat ini telah terkepung ribuan orang perajurit! Kalau melawan, akan hancur tubuh kalian di bawah senjata kami!"

Kata Ki Patih Kalanarmodo yang mengepalai sendiri pengejaran terhadap tawanan yang lolos ini.

Di sampingnya tampak Mayangkurdo, Klabangkoro dan Klabangmuko serta senopati lainnya, senjata di tangan!

"Hai!

, orang-orang Blambangan!

Dengarlah!

Inilah aku Adipati Tejolaksono, seorang ponggawa Kerajaan Panjalu yang pantang menyerah!

Jangan harap akan dapat menangkap kami berdua sebelum pecah dadaku.

Minggir!"

Tiba-tiba Tejolaksono menerjang maju, tangan kanannya menyambar ke depan karena ksatria sakti ini telah mempergunakan Aji Bojro Dahono untuk membuka jalan.

Ki Patih Kalanardomo dan Mayangkurdo adalah dua orang tokoh sakti di Blambangan, dan mereka sudah mengerahkan kekebalan untuk menahan pukulan jarak jauh ini, namun tetap saja mereka terdorong roboh ke belakang, terjengkang dan menabrak Klabangkoro dan Klabangmuko!

Ributlah keadaan di pintu itu dan Tejolaksono mempergunakan kesempatan ini untuk melesat keluar melalui lubang jendela di mana tadi tubuh Sindupati terlempar.

Di luar jendela, tampak Sindupati yang hanya mengenakan sebuah celana hitam sampai ke lutut, berdiri dan mencak-mencak sambil berteriak-teriak.

"Tangkap. Tangkap!"

Akan tetapi dia sendiri lari mundur saking gentar menghadapi Tejolaksono.

Ksatria ini tidak memperdulikannya, terus saja melesat ke depan lari keluar dari pintu samping.

Namun di sini ia tertahan pula oleh barisan pengawal yang sudah menghujankan tombak dan gobok ke arah tubuhnya Tejolaksono menangkis dan merampas sebatang golok.

Diputarnya gobok ini dan terdengarlah angin bersiutan, goloknya berdering aneh dan yang tampak hanya segulung sinar putih yang menyelimuti tubuhnya dan tubuh Endang Patibroto.

"Trang-trang-cring !!! "

Beberapa batang tombak dan golok lawan patah-patah.

Mereka mundur dan Tejolaksono maju terus sambil memutar golok, mainkan ilmu goloknya yang dahulu ia pelajari dari Ki Tejoranu, pertapa perantau ahli golok.

Itulah Ilmu Golok Lebah Putih yang mengeluarkan suara mengaung seperti suara serombongan lemah mengamuk keluar dari sarang mereka yang terganggu.

Senjata-senjata lawan beterbangan, terdengar jerit kesakitan dan darah muncrat dari lengan yang tertabas putus atau dari pundak yang terluka.

Sebentar saja ujung golok di tangan kanan Tejolaksono telah menjadi merah oleh darah musuh.

Ia mengamuk terus sambil bergerak maju sampai akhirnya ia tiba di pekarangan depan di mana musuh lebih banyak lagi mengurungnya.

Kini ia dihadapi oleh para senopati yang dipimpin oleh Ki Putih Kalanarmodo.

Terpaksa Tejolaksono tidak dapat melarikan diri dan hanya rnemutar golok untuk melindungi tubuhnya dan tubuh Endang Patibroto.

Ah, kalau saja Endang tidak menjadi korban racun, mereka berdua tentu akan dapat membuka jalan darah dan menerobos keluar, pikir Tejolaksono dengan menyesal.

Dengan adanya Endang Patibroto di sampingnya, mereka akan dapat mengamuk dan mengatasi pengeroyokan sekian banyaknya lawan.

"Joko Wandiro! "

Bisikan lemah di dekat telinganya membuat ia berdebar. Endang Patibroto telah sadar! Biarpun masih lemas dan lemah, namun jelas sudah ingat dan buktinya dapat mengenalnya!.

"Jangan khawatir, Endang, aku melindungimu!"

Bisiknya kembali dan "trangg!"

Ia membuat dua golok di tangan Klabangkoro dan Klabangmuko patah sekaligus!

Dua orang kakak beradik raksasa ini menyumpah-nyumpah karena telapak tangan mereka lecet-lecet.

Cepat mereka telah menyambar lain golok dari tangan anak buah mereka.

Sementara itu, lain-lain senopati sudah menyerbu dari sekeliling Tejolaksono yang kembali hams memutar golok dengan cepat dan kuat.

Ia kini mengambil sikap bertahan sambil memasang mata mencari bagian yang paling lemah untuk dapat menerobos keluar.

Ia pikir bahwa dalam keadaan terkurung ini, sementara ia masih dapat bertahan, karena kalau tidak terkurung, musuh dapat menghujankan anak panah dan ini berbahaya.

Akan tetapi kalau terus mempertahankan diri terhadap kepungan yang demiklan ketatnya, sampai berapa lama ia dapat bertahan?

Andaikata pengeroyokan itu terjadi di malam hari, ia masih mempunyai banyak kesempatan meloloskan diri.

Akan tetapi pada siang hari!.

"Joko Wandiro , keteranganmu tadi , bagaimana itu Aku tidak mengerti "

Kembali terdengar bisikan suara Endang Patibroto yang kini mulai mengangkat muka dan lengannya tidak lemas lagi melainkan kini dapat merangkul leher menekan pundaknya.

Sebelum menjawab, Tejolaksono mainkan Ilmu Golok Lebah Putih dengan cepat dan mainkan jurus-jurus pertahanan sehingga kini sinar golok putih bergulung-gulung membungkus tubuh mereka berdua.

Jangankan hanya hujan senjata lawan, andaikata ada hujan air yang deras sekalipun tubuh mereka takkan menjadi basah!

Setelah yakin bahwa pertahanannya cukup kuat dan untuk sementara ia tidak akan dapat terancam, Adipati Tejolaksono lalu membagi perhatiannya kepada Endang Patibroto, lalu berbislk menjawab.

"Aku datang ke Blambangan bukan untuk menangkaprnu, Endang. Engkau, juga Panjalu dan Jenggala, semua telah tertipu oleh Sindupati. Wiku Kalawisesa adalah kaki tangan mereka dan kau sengaja diadu domba. Darmokusurno tidak berdosa, maka penyerbuan ke sana tentu saja menimbulkan salah faham. Semua adalah hasil siasat Sindupati yang menjadi utusan pemerintah Blambangan. Sadarlah kau hampir saja menjadi korban !"

"Ah.. aku.. aku mengapa tadi... Sindupati.. ah, apa yang terjadi 7"

Suara ini bercampur isak.

"Si keparat itu harnpir saja mencemarkanmu, hampir memperkosamu, Endang! Kau telah diracun sehingga mabuk dan tidak wajar, tidak sadar Sindupati adalah kaki tangan Blambangan yang mengatur semua siasat. Dialah musuh besar kita! "

Endang Patibroto mengeluh.

"Aahhhh. madu itu. ahhh.. kakang Sindupati. dia. dia!"

Kembali Endang Patibroto terisak, agaknya pikirannya yang mulai sadar teringat akan segala peristiwa yang terbayang dan saling muncul dalam benaknya.

"Tenanglah, Endang. Kau tidak apa-apa. Belum terlambat. Nyaris.. ah, Dewata. masih melindungimu.!"

"Trang-trang-cring."

Oleh percakapan itu, perhatian Tejolaksono terpecah dan hampir saja ia menjadi korban ketika senjata di tangan Ki Patih Kalanarmodo,Mayangkurdo dan Klabangkoro berhasil menerobos memasuki garis pertahanan gulungan sinar goloknya.

"Joko Wandiro... kau lepaskan aku... kau lepaskan, akan kuhancurkan kepalas mereka ". Berdebar jantung Adipati Tejolaksono. Suara Endang Patibroto itu! Itukah suara Endang Patibroto yang dahulu! Penuh semangat, penuh keberanian, seperti suara seekor harimau betina. Endang Patibroto sudah sadar sepenuhnya! Dan ini merupakan cahaya yang membuka harapan baru untuk kebebasan.

"Tapi, kau masih lemah.! ' "Tidak! Tidak, lebih baik kita berdua mati dalam perlawanan daripada aku mati memberatkan engkau seorang diri menghadapi mereka. Turunkan aku, Joko Wandiro!"

Lengan kiri Tejolaksono yang memeluk kedua paha wanita sakti itu dapat merasa betapa di balik kain yang membungkus paha, di balik kulit paha yang halus itu kini terasa bergerak-gerak penuh tenaga sakti, ia girang sekali karena ini merupakan tanda bahwa Endang Patibroto tidak lagi selemah tadi.

Ia segera menurunkan tubuh itu, melepaskan pelukannya, akan tetapi masih menjaga dan waspada dengan permainan goloknya agar dapat melindungi tubuh Endang Patibroto.

Kedua kaki Endang Patibroto masih menggigil, kepalanya masih agak pening, tubuhnya masih panas terpengaruh racun perangsang nafsu.

Akan tetapi begitu telapak kakinya menginjak tanah, tubuhnya membalik dan kedua tangannya bergerak menyambar.

"Desss! Prakkkk!! "

Dua orang pengeroyok yang berada di belakang Tejolaksono roboh dengan dada remuk dan kepala pecah terkena sambaran jari tangan Endang Patibroto yang memukul dengan Aji Pethit Nogo!

"Bagus, Endang!

Mari kita hajar mereka ini!"

Seru Tejolaksono gembira sekali dan ia tidak mau kalah, sekali bergerak, tangan kirinya menghantam roboh seorang lawan dan goloknya membabat ke depan mengenai paha kiri Klabangmuko yang memekik dan roboh dengan paha robek.

Ia cepat ditolong anak buahnya dan dibawa mundur.

"Mari, Joko Wandiro. Mari kita basmi orang-orang Blambangan!"

Kata pula Endang Patibroto yang sudah berhasil merobohkan seorang lawan sambil merampas sebatang pedang, lalu mengamuk.

Tubuhya masih lemah, kepalanya masih pening, namun para pengeroyok itu bukanlah tandingan wanita sakti ini.

Demikian girangnya hati Tejolaksono sehingga ia kembali mengeluarkan pekik dahsyat Dirodo Meto lalu bersumbar.

"Hayoh orang-orang Blambangan! Babo babo! Inilah Endang Patibroto dan Joko Wandiro, keturunan orang-orang Mataram! Keroyoklah, kerahkan seluruh perajurit Blambangan!!"

Hebat sekali amukan Tejolaksono dan Endang Patibroto.

Bertumpuk-tumpuk mayat para pengeroyok, bergelimpangan dan kini kedua orang yang perkasa itu telah keluar dari pekarangan, sampai di jalan-jalan akan tetapi selalu dikeroyok seperti dua ekor jengkerik dikeroyok ribuan semut!

Bukan hanya puluhan, ada ratusan orang pengeroyok roboh tewas atau terluka parah.

Sudah lima kali Tejolaksono berganti golok yang sudah rompal, demikian dengan Endang Patibroto.

Namun, Endang Patibroto masih belum sehat benar.

Pengaruh racun masih amat mengganggunya, membuat darahnya panas bergolak, kepalanya pening, matanya mengantuk!

Dan pengeroyokpun amatlah banyaknya, ada ribuan orang banyaknya!

Mulailah kedua orang gagah ini terdesak.

Tejolaksono boleh jadi gagah perkasa, sakti mandraguna, namun iapun hanya seorang manusia dari darah dan daging.

Ia mulai lelah.

"Joko Wandiro.. mari kita melarikan diri.. aku.. aku.. ah, panas sekali tubuhku.. pening kepalaku "

Biarpun berkata demikian, namun seorang pengeroyok yang terlalu dekat terbelah dadanya oleh pedang di tangan wanita sakti ini!

"Kurungan terlalu rapat..

tak mungin lari..

, mari kita menyerbu ke istana saja, Endang.."

Tejolaksono menubruk maju merobohkan dua orang pengeroyok.

"Ke.. istana. ?? "

"Ya, kita serbu istana dan tawan adipati, baru ada harapan kita selamat. Hayolah..!!"

Endang Patibroto mengerti apa yang dimaksudkan Tejolaksono.

Memang melihat banyaknya pengeroyok, kiranya tak akan mudah meloloskan diri, apalagi karena dia sendiri masih lemah dan mabuk.

Dan kalau mereka berhasil menawan Adipati Menak Linggo, mereka dapat memaksa adipati itu membebaskan mereka!

Endang Patibroto lalu mengerahkan tenaga, menahan kepeningan kepalanya lalu mengamuk di samping Tejolaksono.

Amukan dua orang sakti ini membuat para pengeroyok terdesak mundur.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Tejolaksono untuk menyambar tangan Endang Patibroto, diajaknya meloncat tinggi melampaui kepala para pengeroyok naik ke atas atap.

"Kejar..!!! "

"Siap barisan panah..!!!"

Tejolaksono dan Endang Patibroto memutar cepat pedang dan golok rampasan mereka ketika mendengar bersiutnya banyak anak panah menyambar mereka.

Anak-anak panah itu runtuh semua ke bawah atap.

Akan tetapi para pengeroyok itu sudah mengejar, dan ke mana pun juga dua orang saki itu melompat dan lari, mereka selalu dikurung dari bawah dan dihujani anak panah.

Tejolaksono dan Endang Patibroto lari terus sampai tiba di atas atap istana.

Hari telah mulai menjadi senja.

Setengah hari mereka tadi bertanding menghadapi keroyokan ratusan orang perajurit itu.

"Mari kita turun!"

Kata Tejolaksono.

Mereka meloncat turun dan kembali para pengawal mengeroyok mereka sambil berteriak-teriak.

Dua orang ini mengamuk lagi, sambil mencari rt.4 kesempatan untuk menyerbu ke dalam istana.

Tiba-tiba terdengar sambaran anak panak yang banyak sekali.

Anak-anak panah ini berbeda dengan yang tadi, menyambarnya dengan kecepatan yang luar biasa tanda bahwa yang melepaskan adalah seorang ahli.

Dan banyaknya tentulah banyak orang pula yang melepaskan anak-anak panah itu.

Endang Patibroto dan Tejolaksono cepat memutar senjata menangkis, dan terdengar jerit-jerit mengerikan ketika belasan melihat orang perajurit pengeroyok menjadi korban anak-anak panah ini.

Akan tetapi anak-anak panah itu meluncur terus sebagai hujan.

Endang Patibroto menjerit lirih.

Pahanya terkena anak panah.

Karena ia pening dan lelah, dan karena anak-anak panah yang menyambar itu amat kuat dan cepat, akhirnya ia termakan oleh anak panah pada paha kirinya, jauh di atas dekat pangkal pahanya.

Ia terhuyung-huyung dan Tejolaksono cepat meloncat dekat dan memutar golok melindungi tubuh Endang Patibroto.

"Kuatkan tubuhmu hayo kita lari ke dalam!!"

Tejolaksono membiarkan Endang Patibroto lari lebih dulu, sedangkan ia melindungi dari belakang dengan putaran golok.

Kiranya pihak lawan telah menggunakan ahli panah yang luar biasa dan bahkan mereka tidak segan-segan mengorbankan belasan orang perajurit menjadi korban anak panah mereka sendiri.

Endang Patibroto berhasil memasuki gerbang pendopo dan pada saat Tejolaksono hendak menyelinap masuk, punggungnya terasa nyeri sekali.

Kiranya sebatang anak panah telah menancap di punggungnya!

la mengerahkan hawa sakti di tubuh menahan sakit dan alangkah kagetnya ketika ia merasa betapa bagian yang terkena anak panah itu panas dan gatal-gatal tanda bahwa anak panah itu ujungnya diberi racun!.

"Cepat! Kita masuk ke dalam, harus tangkap adipati sekarang juga!!"

Katanya tergesa-gesa.

Maklumlah ia bahwa setelah kini dia dan Endang Patibroto terluka, dan anak panah itu mengandung racun pula, kalau mereka tidak lekas-lekas dapat menawan sang adipati, tentu akan celaka!

Beberapa orang pengawal istana yang menghadang mereka, dapat dengan mudah mereka robohkan.

Kemudian mereka terus lari memasuki istana, mencari sang adipati di dalam kamarnya.

Endang Patibroto yang terpincang-pincang menjadi petunjuk jalan.

Tejolaksono melindungi dari belakang.

Setelah masuk ke dalam istana mereka aman dari serangan anak panah.

Akan tetapi sunyi sekali di dalam istana itu.

Bahkan seorangpun abdi dalem tiada tampak.

Yang tampak hanya beberapa orang pengawal istana yang kadang-kadang menyambut mereka namun dengan mudah mereka robohkan.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa terbahak-bahak.

Suara ketawa Sang Adipati Menak Linggo!

Girang sekali hati Endang Patibroto dan Tejolaksono.

Suara itu keluar dari sebuah kamar yang tertutup pintunya.

Setahu Endang Patibroto, kamar ini bukan kamar tidur, bukan pula kamar sidang, melainkan kamar belakang.

Tejolaksono lalu menghampiri pintu kamar dan menendang daun pintunya yang seketika pecah berantakan.

Tampaklah kini di sudut kamar itu, sebelah dalam, Adipati Menak Linggo duduk di kursi gading, memangku seorang selir yang muda dan cantik, dan di belakangnya berdiri pula Raden Sindupati, Ki Patih Kalanarmodo, dan senopati Mayangkurdo yang kesemuanya memegang senjata tajam di tangan!.

Keadaan dua orang sakti ini sesungguhnya sudah payah.

Keringat membasahi seluruh tubuh dan mereka Telah Lebih-lebih Endang Patibroto yang masih berada dalam pengaruh racun perangsang nafsu.

Kini anak panah beracun pula menancap di paha, belum dicabutnya.

juga anak panah yang menancap di punggung Tejolaksono belum tercabut.

Namun dua orang sakti ini tidak menjadi gentar, bahkan kini timbul harapan baru ketika mereka melihat Adipati Menak Linggo.

Akan tetapi, Endang Patibroto yang melihat Raden Sindupati di situ, sama sekali tidak perduli lagi akan sang adipati.

Seluruh perhatiannya tertuju kepada Sindupati.

Ia memandang dengan kebencian dan kemarahan yang meluap-luap, seolah-olah hendak ditelannya hidup-hidup senopati muda itu yang telah mempermainkannya, betapa ia telah berbaik dengan senopati itu, betapa ia telah menganggapnya sebagai seorang sahabat baik, betapa ia hampir saja ternoda, diperkosa oleh Sindupati!

Saking marahnya, Endang Patibroto sampai menggigil tubuhnya dan tidak dapat mengeluarkan kata-kata.

"Huah-ha-ha-ha! Joko Wandiro dan Endang Patibroto. Dua orang yang amat hebat!"

Adipati Menak Linggo tertawa bergelak.

"Akan tetapi akan menemui ajal di Blambangan kecuali kalau kalian suka menakluk!"

Endang Patibroto mengeluarkan lengking mengerikan disusul bentakannya.

"Sindupati ,jahanam keji!!"

Tubuhnya sudah menerjang.masuk ke dalam kamar itu.

"Endang, hati-hati! "

Tejolaksono terpaksa menerjang masuk pula untuk melindungi temannya.

Tadinya ia menaruh curiga, akan tetapi melihat Endang Patibroto sudah melompat masuk, ia tentu saja tidak mau membiarkan temannya itu terancam bahaya.

Begitu kaki kedua orang sakti yang melompat ini menyentuh lantai "kraaaaakkkk!!"

Lantai itu terbuka ke bawah dan tanpa dapat dicegah lagi tubuh kedua orang ini terjun ke dalam lubang.

Suara ketawa Sang Adipati Menak Linggo menggema mengikuti jatuhnya dua orang itu!.

Tejolaksono cepat meraih tangan Endang Patibroto dan dengan menggunakan Aji Bayu Sakti, ia dapat menahan luncuran tubuh sehingga ketika kaki mereka tiba di dasar sumur, tidaklah terbanting keras.

"Ah.. keparat.. kita tertipu, Joko Wandiro.!! "

Endang Patibroto mengeluh.

"Kau duduklah istirahat, Endang. Pahamu terluka dan kalau aku tidak keliru sangka, tentu anak panah itu beracun, seperti yang menancap di punggungku. Paling perlu kita harus mencegah menjalarnya racun. Bagaimana rasanya?"

"Memang beracun. Panas dan gatal-gatal,"

Jawab Endang Patibroto sambil menjatuhkan diri duduk di lantai sumur itu dan bersandar pada dinding.

Ternyata sumur ini adalah sumur buatan manusia, dindingnya dari batu yang amat keras, lantainyapun dilapis besi sehingga tidak mungkin menggali terowongan.

Tempatnya cukup luas, segi empat dan tidak kurang dari lima meter panjangnya.

Keadaan di situ remang-remang, mendapat sinar dari atas karena setelah mereka termasuk perangkap, lubang sumur di atas itu dibuka terus dan dijaga kuat.

"Endang Patibroto dalam keadaan seperti ini,kau maafkan aku, ya? Tiada jalan lain untuk mengatasi racun anak panah kecuali menghisap racunnya keluar. Dapatkah kau mengisap luka anak panah yang menancap di pahamu?"

Endang Patibroto tidak menjawab, lalu mengerahkan tenaga mencabut keluar anak panah yang menancap di pahanya.

Darah yang menghitam akan tetapi hanya sedikit sekali, mengalir keluar.

Karena memang pakaiannya tadi terobek oleh Sindupati, maka dengan mudah ia menyingkap bagian paha yang terluka itu, lalu ia menundukkan muka ke arah paha sambil mengangkat kakinya.

Namun, betapapun ia membungkuk, tak mungkin mulutnya mencapai paha yang terluka.

Mulutnya hanya dapat mencapai paha di atas lutut saja, sedangkan yang terluka adalah dekat pangkal paha!

Adipati Tejolaksono dalam keadaan remang-remang itu hanya melihat saja dan merasa kasihan.

Ia sudah memeriksa keadaan ruangan ini, mendapat kenyataan bahwa tidak ada jalan keluar bagi mereka, kecuali melalui lubang yang berada di atas itu, yang tingginya tidak kurang dari lima belas meter!

Ruangan di bawah tanah yang menjadi penjara mereka ini dilapis besi semua!

Kini ia mendekati Endang Patibroto dan berkata.

"Endang Patibroto, kalau tidak dikeluarkan racun itu akan berbahaya. Bolehkah aku membantumu?"

Ia ragu-ragu karena tempat yang terkena adalah paha, tempat yang tentu saja merupakan bagian terlarang untuk disentuh orang apa lagi laki-laki!.

Kesuraman tempat itu menyembunyikan wama merah yang menjalar di seluruh muka Endang Patibroto, sampai telinga dan lehernya.

Ia menunduk dan tidak menjawab.

Kepalanya masih pening, dadanya panas sekali dan ia diam tak bergerak seperti arca, tidak kuasa menjawab.

Tejolaksono dapat memahami perasaan Endang Patibroto, maka dengan hati-hati ia mendekati, duduk dan berkata perlahan.

"Sekali lagi maafkan aku, Endang. Dalam keadaan seperti ini, segala perasaan sungkan harus ditindas. Yang terpenting adalah menyelamatkan diri dari bahaya racun yang mengancam kita, baru kita mencari jalan untuk berusaha keluar dari sini. Bolehkan aku membantu mengeluarkan racun itu?"

Endang Patibroto masih menunduk dan hanya dapat mengangguk.

Tejolaksono lalu membungkuk dan tanpa ragu-ragu menempelkan mulutnya pada paha yang berkulit halus, putih, dan panas itu.

Pendekar sakti ini menggunakan seluruh kekuatan batinnya untuk menutup semua panca indra, terutama sekali menutup perasaannya sehingga yang terasa olehnya hanyalah luka yang harus ia hisap dan keluarkan darahnya yang telah keracunan.

la menahan napas dan menggunakan tenaganya menghisap sampai mulutnya penuh dengan darah yang memancar keluar dari lubang luka, untuk kemudian diludahkan dan dihisap lagi.

Endang Patibroto yang tadinya menundukkan muka, kini mengangkat mukanya tengadah, keningnya berkerut-kerut, bibirnya digigit.

Hampir ia tidak kuat menahan, bukan karena nyeri, melainkan karena ia merasa tersiksa bukan main.

Rangsangan racun pada tubuhnya masih mengamuk hebat, membuat seluruh tubuhnya panas, membuat perasaannya haus akan kemesraan, membuat ia ingin sekali menerima belaian cinta kasih pria!

Dan kini merasa betapa mulut Joko Wandiro menempel di paha, tempat yang amat perasa, betapa mulut yang basah dan panas itu menghisap, hampir saja ia tidak kuat bertahan.

Napasnya makin terengah-engah dan ia harus menggenggam dan mencengkeram jari-jari tangannya sendiri agar jangan mencengkeram dan merangkul Joko Wandiro!

Hebat bukan main siksaan bath ini dan kedua pipi Endang Patibroto sampai penuh dengan air mata yang bercucuran dari kedua matanya.

la membayangkan wajah suaminya, terus berpegang kepada suaminya, kepada kesetiaannya terhadap suaminya almarhum agar dari situ ia mendapat tambahan tenaga untuk melawan rangsangan nafsu berahi yang memuncak!

Akhirnya selesailah siksaan yang dirasakannya amat lama itu.

Terdengar suara Joko Wandiro seakan-akan terdengar dari jauh, seperti dalam mimpi.

"Beres sudah, Endang. Semua racun telah keluar dan kau boleh sekarang menghimpun tenaga sakti untuk memulihkan tenagamu."

Endang Patibroto membuka mata, menggunakan punggung tangan kiri menghapus air matanya.

"Terima kasih, Joko Wandiro. Sekarang kau membaliklah, biar aku membersihkan racun di punggungmu."

Tejolaksono mengangguk, lalu membalikkan tubuh, duduk bersila membelakangi Endang Patibroto.

Wanita perkasa ini lalu menggunakan tangan mencabut anak panah yang menancap di punggung, membuka baju Tejolaksono dan seperti yang dilakukan oleh adipati ini tadi, iapun lalu menempelkan mulutnya pada luka bekas anak panah dan menyedot.

Tejolaksono haruss mengerahkan tenaga batin untuk melawan perasaan aneh yang menyerang hatinya ketika ia merasa betapa bibir yang lembut dan panas itu menempel punggungnya.

Iaptin menderita, akan tetapi tidaklah sehebat penderitaan Endang Patibroto yang hams pula menahan serangan racun perangsang yang masih menguasai dirinya.

Akhirnya selesailah cara pengobatan yang sederhana itu.

Racun telah keluar semua dari punggung Tejolaksono dan mereka kini duduk bersila, bersamadhi dan mengatur pernapasan untuk memulihkan tenaga.

Bahaya maut yang mengancam mereka melalui racun anak panah sudah terlewat.

Akan tetapi bahaya yang lebih besar lagi terbentang di depan mata!

Mereka terkurung dan tidak mungkin dapat keluar dari dalam sumur.

Seakan-akan mereka berdua telah terkubur hidup-hidup!.

"Hujani anak panah saja!"

"Kubur saja mereka dan tutup lubang ini dengan batu-batu besar!"

"Alirkan saja air sungai ke dalam lubang agar mereka mail tenggelam seperti dua ekor films!"

Suara-suara ini mereka dengar dari atas sumur dan tampak bayangan-bayangan di atas itu.

Mereka berdua hanya dapat menekan batin melawan kengerian, akan tetapi mereka maklum sedalamnya bahwa semua ancaman itu kalau dilaksanakan, akan mengakibatkan mereka tewas di dalam sumur.

Tiada bedanya.

Apapun yang mereka akan lakukan, akhirnya mereka akan mati!

"Huah-ha-ha-ha, enak benar kalau mereka dibikin mati begitu saja!

Tidak, si wanita iblis Endang tidak boleh mati terlalu enak begitu!

Biarkan mereka kelaparan sampai mampus di dalam lubang.

Ha-ha-ha!"

Ucapan ini, yang biarpun suaranya berubah terdengar dari dalam lubang itu, dapat mereka duga adalah suara Adipati Menak Linggo.

Dengan adanya ucapan itu agak legalah hati Endang Patibroto dan Tejolaksono.

Ucapan sang adipati merupakan keputusan dan hal ini berarti mereka tidak akan mati seketika, masih akan dapat bertahan sampai beberapa hari.

Dan selama nyawa masih berada di dalam tubuh, mereka tidak akan putus asa!.

Setelah bersamadhi agak lama, pulih kembali tenaga mereka.

Juga Endang Patibroto tidaklah terlalu tersiksa seperti tadi, sungguhpun pengaruh jamu perangsang itu masih belum meninggalkan tubuhnya.

Memang hebat sekali daya rangsang racun jamur belang.

Sekali memasuki tubuh lewat makanan atau minuman, racun jamur belang ini akan memasuki darah dan tidak akan punah sebelum si korban terlampiaskan dan terpuaskan nafsunya!.

Setelah pulih kembali tenaga mereka, mulailah dua orang sakti ini memeriksa keadaan dasar sumur atau ruangan bawah tanah itu.

Mereka memeriksa dan meraba-raba akan tetapi ternyata bahwa benar-benar tidak ada jalan keluar melalui bawah.

Dinding sebelah kin adalah batu gunung yang menghitam dan kuat sekali, demikian pula dua dinding yang lain.

Adapun dinding di kanan malah dilapis besi, sedikitpun tak dapat digeakkan.

Mereka sudah mencoba untuk menghantam dengan telapak tangan mereka sambil mengerahkan aji kesaktian, namun dinding-dinding itu hanya tergetar saja dan sedikit batu remuk, namun dinding tetap tertutup rapat!

Mereka sudah pula berusaha meloncat ke atas mengerahkan Aji Bayu Sakti, namun sia-sia.

Tak mungkin meloncat keluar dari tempat sedalam itu, apalagi meloncat secara tegak lurus begitu.

Habis sudah akal mereka pergunakan, semua tenaga mereka kerahkan, namun sia-sia.

Andaikata mereka dapat mencapai atas sumur, tetap saja mereka akan berhadapan dengan penjagaan yang amat ketat, dan sebelum dapat keluar tentu akan dihujani anak panah sehingga terpaksa hams turun kembali!.

Tejolaksono menindas perasaannya, bersikap tenang.

Ia mengajak Endang Patibroto duduk bersila di lantai, berhadapan.

"Tidak ada jalan untuk lolos, Endang Patibroto, akan tetapi aku tetap yakin bahwa selama Hyang Widhi belum menghendaki kita mati, tentu kita akan dapat lolos juga akhimya."

Endang Patibroto menghela papas.

panjang.

Sudah semalam suntuk mereka berusaha mencari jalan keluar dengan sia-sia.

Kini agaknya hari telah siang kembali, melihat sinar terang yang turun dari lubang di atas.

Kadang--kadang tampak bayangan kepala orang di atas lubang, akan tetapi biarpun ada orang menjenguk dari atas, dasar lubang terlampau dalam sehingga takkan tampak.

Apalagi, dasar lubang itu merupakan ruangan tiga kali lebih luas daripada mulut lubang sehingga mereka berdua dapat duduk agak terlindung ke pinggir, tidak tepat di bawah lubang sumur.

Endang Patibroto juga tidak merasa takut atau susah hatinya Entah bagaimana, ia malah merasa senang menghadapi kematian di dalam kuburan ini!

Ia sendiri tidak mengerti mengapa hatinya merasa begini.

Yang ia tahu bahwa ia tidak sedih karena di situ ada Joko Wandiro.

"Joko Wandiro, akupun tidak takut menghadapi kematian. Apakah artinya kematian bagi seorang yang sengsara seperti aku? Ahhh, daripada mengenang kesengsaraanku, lebih baik kau ceritakan kembali, kini yang jelas, tentang segala pengalamanmu. Aku masih merasa seolah-olah dalam mimpi mendengar keteranganmu kemarin yang amat mengejutkan hatiku."

"Memang siasat Adipati Blambangan amat busuk, Endang. Demikian rapi dan pandai siasat itu dijalankan sehingga aku tidak bisa menyalahkan engkau. Baiklah kuceritakan sejelasnya agar kau dapat mengerti. Mula-mula aku diperintah oleh sang prabu di Panjalu untuk menyelidiki pembunuhan-pembunuhan aneh yang terjadi di Panjalu dan Jenggala, yang memakan korban nyawa banyak ponggawa penting. Berangkatlah aku segera ke Panjalu dan di sana aku mendengar tentang penyerbuanmu ke istana Pangeran Darmokusumo. Dapat kau bayangkan betapa terkejut dan heran hatiku. Pangeran Darmokusumo adalah suami adik suamimu sendiri, dan di antara kau dan dia ada permusuhan. Kalau kau sudah menyerbu seperti itu, sudah pasti ada alasan-alasan yang sangat kuat. Selain itu, aku mendengar desas-desus bahwa engkaulah orangnya yang melakukan pembunuhan-pembunuhan aneh itu. Hal inipun aku tidak percaya, sama sekali karena aku yakin bahwa kau bukanlah seorang yang sudi melakukan pembunuhan secara demikian pengecut dan keji. Tanpa berlaku pengecut dan sembunyi-sembunyi, apa sukarnya kalau kau memang mau membunuh mereka? Mereka itu sama sekali bukan lawanmu. Maka berangkatlah aku ke Jenggala dengan maksud menemuimu sendiri dan bertanya kepadamu secara berterang tentang penyerbuanmu ke Panjalu itu. Dan di Jenggala aku mendengar bahwa kau telah membebaskan suamimu yang dipenjara oleh Sang Prabu Jenggala!"

Tejolaksono berhenti sebentar, memandang wajah yang termenung dan kini alis yang indah bentuknya itu mengerut, sinar mata itu jelas membayangkan kedukaan besar.

"Aku terkejut sekali dan makin terheran-heran. Tentu telah terjadi sesuatu yang amat aneh. Entah kejadian apa dan baru setelah aku bertemu denganmu akan dapat terbuka semua rahasia itu. Maka aku lalu mulai mencarimu. Aku sudah mempunyai dugaan bahwa dalam hal ini tentu terselip rahasia yang besar, dan bahwa orang yang mempunyai keinginan merusak Jenggala dan Panjalu, tentulah musuh besar kedua kerajaan itu. Dan siapa musuh besar yang pada saat ini paling kuat kecuali Blambangan? Dengan dasar inilah maka aku segera berangkat ke Blambangan untuk mengusut rahasia itu."

Endang Patibroto menghela napas panjang.

"Engkau selalu jauh lebih cerdik daripada aku, Joko Wandiro. Aku sudah tertipu dan terbujuk "

"Tidak, Endang. Bukan karena aku lebih cerdik, melainkan mungkin lebih teliti dan hati-hati. Dan kebetulan sekali di tengah jalan aku bertemu dengan Ki Brejeng yang menceritakan segala macam rahasia itu. Ki Brejeng menjadi ponggawa Blambangan dan dipercaya untuk ikut dalam pasukan Sindupati."

"Si keparat jahanam Sindupati' Ahh aku akan mati penasaran sebelum dapat menghancurkan kepala jahanam keji itu"

"Dia memang amat jahat dan cerdik bukan main. Aku telah memukulnya dengan Aji Pethit Nogo, akan tetapi ternyata ia belum mati. Selain cerdik ia juga sakti. Karena kecerdikannya itulah maka dia diserahi pimpinan pasukan untuk mengacau Jenggala dan Panjalu. Dan Sindupati menjalankan siasatnya dengan amat baiknya. Kau tentu ingat akan mendiang Bhagawan Kundilomuko penyembah Bathari Durgo itu, bukan? Nah, Bhagawan Kundilomuko adalah paman dari Adipati Menak Linggo, maka Adipati Blambangan mendendam kepadamu dan berpesan kepada Sindupati agar mencelakaimu atau sedapat mungkin membunuhmu."

"Mengapa Ki Brejeng tidak menceritakan semua itu kepadaku?"

"Biar pun tidak bercerita kepadamu karena takut kepada Sindupati, namun diam-diam Ki Brejeng setia kepadamu, Endang. Nanti akan kuceritakan tentang itu. Menurut penuturan Ki Brejeng, Sindupati mempergunakan dukun lepus Sang Wiku Kalawisesa untuk membunuh-bunuhi para ponggawa penting kedua kerajaan untuk melemahkan kedua kerajaan itu. Di samping itu, Sindupati menyebar desas-desus untuk menjatuhkan nama baikmu. Setelah kau berhasil memaksa Wiku Kalawisesa mengaku, sang wiku yang jahat itu makin menjerumus kan engkau dengan mengaku bahwa Darmokusumo yang menyuruhnya. Demikianlah, tentu saja pihak Panjalu makin menyangka buruk kepadamu ketika kau menyerbu ke sana. Dan Sang Prabu Jenggala setelah melihat bukti penyerbuanmu itu, tentu saja menjadi marah dan menahan suamimu. Engkau menyerbu penjara, memaksa suamimu bebas, kemudian melarikan diri. Nah, tentu saja kalau aku tidak bertemu dan mendengar cerita Ki Brejeng, akupun akan menyesalkan semua yang kau lakukan itu. Ki Brejenglah yang membuka semua rahasia itu."

"Kenapa dia mati? Menurut Sindupati si laknat, Ki Brejeng melarikan diri karena ingin hidup bebas."

"Ha, memang Sindupati pandai berdusta. Ki Brejeng melihat betapa engkau hendak dibunuh dengan racun, maka ia yang masih setia kepadamu mencegah perbuatan itu dengan mengganti makananmu yang, teracun. Akibatnya, ia disiksa dan dilempar ke dalam jurang dan disangka sudah mati. Siapa kira, Ki Brejeng memilikl daya tahan luar biasa, sampai tiga malam masih belum mati sehingga ketika aku lewat, dia dapat bertemu dan bicara denganku."

Sepasang mata Endang Patibroto bersinar-sinar penuh kemarahan dan kebencian.

"Hemm si keparat Sindupati! Dan kalau teringat betapa aku selalu menganggapnya orang baik-baik, seorang sahabat sejati ahh, aku malu kepada did sendiri.Alangkah bodohku."

"Bukan kau yang bodoh, Endang ,"

Kata Tejolaksono menghibur.

"melainkan Sindupati yang terlalu licik dan cerdik. Akan tetapi, ada sebuah hal yang amat menggelisahkan hatiku. Mengapa engkau di Blambangan seorang diri saja, Endang Patibroto? Di manakah kau sembunyikan Pangeran Panjirawit, suamimu.?? "

Endang Patibroto menarik napas dari mulut keras-keras seperti tersedak.

Ia memandang kepada Tejolaksono dengan sepasang mata terbelalak dan muka pucat.

Melihat Tejolaksono mengira bahwa wanita yang keras hati ini kembali kurang percaya kepadanya karena kekurangpercayaan itu memancar dari pandang matanya, maka ia cepat menyambung.

"Kurasa kalau ada sang pangeran, beliau tentu tidak akan begitu mudah terbujuk, bersekutu dengan Blambangan."

"Endang! Endang! Kau kenapa..??"

Tejolaksono terkejut dan heran sekali karena wanita itu tiba-tiba menangis sesenggukan. Jantungnya berdebar keras penuh kekhawatiran dan prasangka buruk.

"Aduh , Joko kau kau benar-benarkah tidak tahu? Apakah kau tidak mendengar dari Ki Brejeng?"

Tejolaksono menggeleng kepala.

"Dia tidak menyebut-nyebut tentang suamimu.!!"

Tangis Endang Patibroto makin mengguguk dan dengan suara tersendat-sendat ia berbisik.

"Dia.... dia... suamiku... dia telah tewas.!! "

"Duh Jagad Dewa Bathara.!! "

Tejolaksono berseru kaget sekali dan saking terharu hatinya, la menerima tubuh Endang Patibroto yang menelungkup, memeluk pundak wanita itu yang menangis sesenggukan sepertl anak kecil sehIngga muka itu membasahi dadanya.

Sampai lama Endang Patibroto menangis.

Baru sekali ini ia dapat menumpahkan seluruh kedukaan yang terkumpul di hati dan tangisnya kali ini seperti air bah yang jebol tanggulnya.

Ia merintih-rintih dan memanggil nama suaminya, memeluk pinggang Tejolaksono, membenamkan mukanya di dada yang bidang Itu.

Tejolaksono mengelus-elus kepala Endang Patibroto.

Hatinya penuh keharuan.

Betapa buruknya nasib wanita Ini, pikirnya.

Terbayanglah ia semenjak Endang Patibroto masih kecil.

Demikian banyaknya percobaan hidup, demikian banyaknya kenyataan pahit harus ditelan oleh Endang Patibroto.

Kemudian, setelah mengalami masa bahagia bersama suaminya hanya untuk beberapa tahun saja, kini sudah lagi harus menderita sengsara yang amat hebat.

Akan tetapi, sebagai jawaban, Endang Patibroto menangis makin mengguguk sehingga Tejolaksono menjadi bingung dan hanya dapat mendekap erat-erat sambil mengelus-elus rambut yang halus itu.

Setelah mereda tangis yang menggelora, Endang Patibroto menarik napas panjang, terisak dan tanpa mengangkat mukanya dari dada Tejolaksono ia berbisik.

"Ia terbunuh ketika aku melarikannya, terkena anak panah yang datang bagaikan hujan."

"Aduh, kasihan kau Endang Patibroto.."

Joko Wandiro atau Tejolaksono kini dapat merasakan betapa hebat penderitaan batin yang menimpa wanita ini.

Dengan mata basah ia lalu mendekap kepala Endang Patibroto dengan maksud hati menghiburnya.

Sementara Itu, Endang Patibroto menangis lagi sampai tubuhnya tergoyang-goyang dalam pelukan Tejolaksono.

Sampai lama mereka berpelukan di dasar sumur itu, dan akhirnya tangis Endang Patibroto terhenti.

Namun ia tidak bangkit dari atas dada Tejolaksono dan berkata lemah.

"Joko Wandiro... sejak dahulu alangkah baiknya engkau terhadap diriku. Aku dahulu seperti orang buta. Engkau. engkau selalu baik kepadaku, Joko Wandiro "

Berdebar jantung Tejolaksono.

"Endang, kau lupa, aku sekarang adalah Adipati Tejolaksono "

Katanya sambil menekan perasaannya.

"Bagiku kau tetap Joko Wandiro yang baik hati, yang selalu mengalah kepadaku "

"Hemm, dan kau dahulu membenci aku, membenciku setengah mati dan memusuhiku "

Tejolaksono tersenyum, teringat akan watak wanita ini dahulu yang amat keras.

Maka amatlah mengherankan melihat wanita ini sekarang menangis begitu sedihnya, dan memeluknya seperti ini.

Hampir tak dapai dipercaya!.

Tiba-tiba Endang Patibroto merenggut tubuhnya terlepas dari pelukan Tejolaksono.

IA DUDUK bersimpuh di depan pria itu, matanya memandang dengan tajam, wajahnya yang masih basah itu pucat, rambutnya kusut, namun menambah kecantikannya yang aseli, cantik jelita sehingga mengharukan hati Tejolaksono yang memandangnya.

"Tidak.........! Tidak, Joko Wandiro! Aku tidak pernah membencimu! Tidak belum pernah aku membencimu!"

Mata itu memandang dengan pancaran sinar yang membikin Tejolaksono terkejut dan bingung.

Begitu tajam, begitu mesra, begitu penuh perasaan dan mengandung cinta kasih seperti kalau mata Ayu Candra memandangnya!

Ia cepat menekan hatinya.

"Ah, Endang Patibroto, engkau dahulu selalu memusuhiku, bukan? Semenjak kita kecil.."

"Tentu saja, karena aku tidak mau kalah olehmu Aku ingin menang darimu, ingin kau kagumi. Aku tidak pernah mau kalah oleh siapa juga, teristimewa oleh engkau Joko Wandiro. Akan tetapi, akhirnya aku harus mengakui keunggulanmu dan... dan hal itu tidak membuatku benci.."

"Tetapi setelah kita dewasapun, kau selalu memusuhiku. Kau membenciku!"

"Tidak! Memang kita selalu bertentangan, keadaan keluarga kita yang melibat kita sehingga terjadi pertentangan. Akan tetapi. , aku tak pernah membencimu, Joko Wandiro. Di sudut hatiku, tak pernah lenyap aku aku ah, perlu apa aku berpura-pura lagi? Kita sekarang menghadapi maut di depan mata. Kita takkan dapat lolos dart sini, hal ini aku yakin benar. Kita pasti akan mati di sini; entah berapa hari lagi. Karena itu, karena kita berdua akan mati bersama di sini, tak perlu lagi akuberpura-pura, tak perlu lagi malu-malu. Andaikata kita tidak menghadapi kematian yang tak mungkin dapat dihindarkan lagi, sampai matipun aku tentu tidak sudi membuka mulut mengadakan pengakuan ini. Joko Wandiro, engkau keliru besar kalau mengira bahwa dahulu aku membencimu. Tidak sama sekali! Ingatkah engkau di dalam hutan itu, ketika engkau dari belakang memelukku? Dari belakang engkau mendekap dan menciumku? Kalau aku membencimu, tentu sudah kupukul mati kau di saat itu selagi engkau tidak siap! Akan tetapi tidak! Aku tidak menyerangmu, aku menggigil karena bahagia! Akupun merasa bahagia sekali ketika sebelum meninggal ayah berpesan agar aku berjodoh denganmu. Tidak, Joko Wandiro. Aku tidak membencimu ketika itu. Aku aku cinta kepadamu! Nah, dengar engkau sekarang? Menghadapi kematian aku tidak malu-malu lagi mengaku. Aku cinta kepada-mu."

"Endang!!"

Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono berseru kaget, matanya terbelalak memandang, hampir tidak percaya akan pendengaran telinganya ketika mendengar pengakuan yang tak pernah disangka-sangkanya ini.

Kemudian dengan suara gemetar ia mencoba untuk membantah.

"Tapi kau hendak membunuhku............ , ingatkah pertandingan di badai itu? Berebutan keris pusaka Brojol Luwuk?"

"Tentu saja, Joko Wandiro."

Endang Patibroto menghela napas panjang.

"Tentu saja. Hati siapa yang tidak sakit karena ditolak cintanya? Engkau menolak dijodohkan denganku. Engkau memilih Ayu Candra!"

Melihat kini wanita itu menunduk dan mengalirkan air mata, Tejolaksono menghela napas panjang"

Menekan perasaannya yang menggelora, lalu berkata lirih.

"Endang Patibroto, perlu apakah hal-hal yang sudah lalu kauceritakan? Perlu apakah hal itu disebut-sebut lagi? Hanya untuk menghancurkan perasaan kita berdua."

Sampai lama Endang Patibroto tidak menjawab, terisak-isak. Kemudian ia berkata lagi.

"Orang selalu keliru menyangka tentang diriku, keliru menafsirkan isi hatiku. Mungkin karena aku liar dan ganas, karena aku murid Dibyo Mamangkoro............ Biarlah sekarang aku mengaku semua. pada saat terakhir hidup kita ini. Engkau tahu, Joko Wandiro, setelah aku kalah olehmu, setelah aku putus harapan, kehilangan engkau yang mencintai Ayu Candra, kehilangan Brojol Luwuk yang telah kaurampas, kehllangan kasih lbu kandung kehilangan semuanya, bahkan kehilangan hati karena cintaku padamu tak terbalas............ ketika itu............ aku hendak membunuh diri di dalam badal............"

"Endang "

Tejolaksono berseru lagi penuh keharuan.

"Biarlah kuceritakan semua........... kita toh akan mati............ biarlah kauanggap aku wanita tak bermalu............ semua ini kenyataan hatiku. Joko Wandiro, ketika aku hendak membunuh diri, muncul Pangeran Panjirawit yang mencintaku. Dialah yang merenggutku dari maut, kemudian menghiburku............ melimpahkan kebaikan budi kepadaku............ ah, kasihan Pangeran Panjirawit suamiku............"

Ia terisak lagi dan tak dapat melanjutkan kata-katanya.

Tejolaksono hanya duduk bersila dan memandang, seperti arca.

Pengakuan wanita ini benar-benar merupakan serangan dahsyat pada hatinya, membuat ia lupa sama sekali bahwa mereka berdua pada saat itu menghadapi ancaman maut yang tak terhindarkan lagi.

Setelah menyusut air matanya, Endang Patibroto melanjutkan kata-katanya,...........

dengan penuh pengertian, penuh kesabaran dia membimbingku, mengisi hidupku, seolah-olah menghidupkan lagi aku yang bangkit dari kematian............

melimpahkan cinta kasihnya sampai aku berhasil membalas cintanya............

tapi............

tapi akhirnya ia tewas dalam membela diriku............

ah, hampir aku gila dibuatnya.

Hanya satu cita-cita hidupku.

Membalas kematiannya, mendendam kepada Jenggala dan Panjalu, sehingga nekat bersekutu dengan Blambangan.

Akan tetapi kau muncul !

Ternyata aku keliru sangka, bukan Jenggala dan Panjalu yang menjadi sebab kematian suamiku, melainkan Blambangan!

Dan kini............

aku diperternukan lagi dengan engkau.

kini di tepi kematian.

Ahhh, Joko Wandiro.

Endang Patibroto menubruk dan menangis di atas pangkuan Tejolaksono yang masih terbenam dalam keharuan, diam seperti arca.

Endang Patibroto kembali bangkit dan duduk.

Agaknya ia bisa menguasai hatinya yang remuk redam, tidak menangis lagi, bahkan ia mulai membenarkan rambutnya yang kusut, disanggulnya, akan tetapi kedua tangannya menggigil sehingga sanggul itu tidak benar, bahkan terlepas dan terurai lagi, sepasang matanya memandang wajah pria yang bersila di depannya.

Cahaya matahari menyinar dari lubang di atas sehingga cahaya remang-remang di ruangan bawah tanah itu tidak begitu gelap benar.

Mereka bertemu pandang dan sukar dilukiskan apa yang tersinar keluar dari pandang mata masing-masing.

"Joko Wandiro."

Seperti mimpi Tejolaksono mendengar panggilan ini, panggilan yang dikeluarkan dari bibir yang gemetar. Ia memandang, tak mampu menjawab, hanya menggumam lirih.

"Hemmmm ?"

"............ aku............ , kita."

Endang Patibroto tak dapat melanjutkan kata-atanya, lalu menunduk dan menarik napas panjang. Agaknya sukar ia menyatakan isi hatinya.

"Bicaralah, Endang Patibroto. Aku mendengar."

"Joko Wandiro............ , aku telah berdosa kepada ayah dan sekarang kita berdua menghadapi kematian. Tak lama lagi kita akan bertemu dengan ayah............ , aku telah mengecewakan hati ayah............ tidak dapat memenuhi pesannya yang terakhir, yang keluar dari mulutnya sebelum ia meninggal dunia. Joko Wandiro."

Kembali ia terdiam dan kepalanya makin menunduk.

Sampai lama -Tejolaksono menanti, namun tidak juga keluar ucapan lanjutan wanita itu dan ia sama sekali tidak dapat menduga apa yang akan dikatakan wanita luar biasa ini.

"Bagaimana, Endang Patibroto? Apa yang hendak kaukatakan?"

"............ Joko Wandiro............ ahh............ bagaimana aku harus mengatakan kepadamu Akan tetapi............ biarlah, biar semua orang menganggapku seorang wanita hina............ biar kau sendiri menganggapku rendah............ aku tidak perduli Joko Wandiro, kalau ada sedikit saja rasa cinta dan kasihan di hatimu terhadap diriku............ aku."

Melihat betapa sukarnya Endang Patibroto menyampaikan perasaan hatinya, Tejolaksono segera berkata menghibur.

"Terus terang saja, dahulu aku pernah amat kagum dan cinta kepadamu, Endang, sebelum aku bertemu dengan Ayu Candra........... dan tentang kasihan, kau tahu bahwa aku selalu mengasihanimu "

Endang Patibroto mengangkat mukanya dengan wajah berseri sedikit. Ia menggigit bibir bawah, agaknya menahan perasaan jengah dan malu, kemudian la berkata.

"Kalau begitu Joko Wandiro, kau terimalah aku sebagai isterimu "

"Haaaahhhh............???"

Tejolaksono memandang dengan terbelalak.

Sungguh mati ia tidak pernah menyangka bahwa Endang Patibroto akan berkata demikian.

Pantas saja begitu sukar keluar dari mulut!

"Joko Wandiro, aku tahu bahwa engkau tentu akan memandang rendah dan hina kepadaku dengan permintaanku ini.

Akan tetapi............

aku ingin mati sebagai isterimu!

Aku ingin menghadap ayah setelah memenuhi pesannya.

Aku............

aku............

ahhh............"

Kembali ia menubruk dan terisak perlahan ketika melihat sinar mata Tejolaksono seperti itu.

"Tapi............ tapi............ Endang............ ingatlah kepada Pangeran Panjirawit, mendiang suamimul!"

Tejolaksono yang wajahnya menjadi pucat itu berkata gagap.

Ia harus mengatakan sesuatu untuk memulihkan ketenangannya, untuk menangkis serangan Endang Patibroto yang langsung menusuk jantung menembus hati menyentuh perasaan.

"Pangeran Panjirawit? Kasihan suamiku, semoga rohnya diterima Sang Hyang Widhi.l Tidak, dia tidak apa-apa, karena dia sudah tahu, Joko Wandiro! Aku telah membuka rahasia hatiku ketika ia meminangku, terus terang kuceritakan kepadanya bahwa aku adalah jodohmu yang ditentukan ayah, bahwa aku............ aku mencintaimu! Akan tetapi, dia dapat mengerti, dan dapat mengasuh, begitu sabar dan penuh pengertian sehingga beberapa tahun kemudian dia berhasil menjatuhkan hatiku. Ia tahu bahwa pada bulan-bulan pertama, di waktu dia mencumbu rayu, aku menganggap bahwa dia bukanlah Pangeran Panjirawit, melainkan........... Joko Wandiro. Nah, aku telah membuka rahasia, terserah kepadamu, aku rela kauanggap apa saja............ , wanita tak bermalu, wanita hina dina dan rendah............ tidak setia............ apa saja, Joko Wandiro. Kita akan mati bersama. dan aku ingin mati sebagai............ isterimu !"

Sampai lama Tejolaksono yang masih duduk bersila itu menatap wajah yang menunduk, rambut yang kusut terurai, dada yang turun naik diseling tangis, pakaian yang robek-robek, tubuh yang membayangkan kelemahan dan kelelahan, kesengsaraan dan duka nestapa menimbulkan haru dan iba.

Alangkah mudahnya bagi seorang pria untuk menyayang seorang wanita sehebat Endang Patibroto!

Alangkah mudahnya untuk jatuh cinta!

Akan tetapi ia teringat akan isterinya, terbayang wajah Ayu Candra yang mencintanya dengan sifatnya yang halus dan setia.

Hampir semua ponggawa di masa itu, apalagi yang pangkatnya adipati, tentu mempunyai selir, pada umumnya sampai belasan orang selir, sedikitnya tiga orang.

Akan tetapi selama sepuluh tahun ini Adipati Tejolaksono tidak mau mengambil selir, bukan karena Ayu Candra melarangnya, sama sekali bukan.

Ayu Candra dapat memaklumi kedudukan wanita dan "hak"

Kaum pria pada masa itu.

Akan tetapi Adipati Tejolaksono tidak mau mengambil selir karena cinta kasihnya kepada isterinya amat mendalam, ia tidak mau membagi cinta kasihnya itu dengan wanita lain!

"Endang Patibroto............, aku............kasihan kepada Ayu Candra."

Endang Patibroto menutupi mukanya dengan telapak tangannya.

"Aduh............ sungguh aku seorang wanita yang tidak tahu malu, Joko Wandiro. , kalau saja tidak menghadapi kematian yang tak terelakkan lagi, sampai mati sekalipun tak mungkin aku dapat membuka semua rahasia hati dan hidupku padamu! Memang sesungguhnya engkau seorang laki-laki yang patut dicinta, engkau setia dan memang semestinya engkau mengasihi Ayu Candra isterimu akan tetapi...... aku mendengar bahwa dia mempunyai putera. Ayu Candra ada puteranya dan di sana ada............ ibu Kartikosari dan bibi Roro Luhito...... sedangkan aku. aku tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini............ karena itu............ aku ingin sekali mempunyai engkau di alam baka, Joko Wandiro............! Tidak kasihankah engkau kepadaku? Sedikitpun tidak. ?"

Endang Patibroto menangis sambil menutupi mukanya.

Air matanya mengalir turun melalui celah-celah jari tangannya.

Wanita ini telah membongkar semua rahasia hatinya yang tak diketahui oleh orang lain kecuali mendiang suaminya yang pernah ia ceritakan, itupun tidak semua, tidak seperti pengakuannya kepada Joko Wandiro sekarang ini.

Ia telah membuka semua isi hatinya, maklum bahwa ia menghadapi resiko yang amat berat, dapat membuat ia dipandang rendah dan hina.

Namun, karena yakin bahwa mereka berdua akan mati, ia tidak perduli lagi.

Ia ingin menjadi isteri Joko Wandiro pada saat-saat terakhir hidupnya, untuk memenuhi pes an ayah kandungnya, untuk memenuhi hasrat yang menjadi kandungan hatinya semenjak dahulu, semenjak pertemuannya dengan Joko Wandiro setelah ia menjadi dewasa, semenjak diam-diam ia jatuh cinta kepada pria ini namun keadaan tidak memberi kesempatan kepada dua hati ini untuk bersatu padu, bahkan membuat mereka menjadi saling bertentangan!

"Endang kasihan kau, Endang!"

Ketika jari-jari tangan Tejolaksono dengan gerakan halus mesra menyentuh kedua pundaknya, Endang Patibroto merasa seakan-akan ubun-ubun kepalanya disiram air embun dari surga loka!

Menyusup masuk memenuhi hati dan perasaan, meluap keluar melalui kedua matanya dan ia mengeluarkan suara setengah menjerit setengah merintih ketika memeluk pinggang Adipati Tejolaksono dan membenamkan mukanya di dada pria yang selalu dicintanya dalam hati akan tetapi dimusuhinya pada lahirnya itu.

"Terima kasih............ terima kasih, Joko........... kalau engkau ada sedikit kasihan dan sudi membagi cintamu kepada diriku yang hina ini."

Ia tersedu.

"Hushhhh mengapa kau bilang begitu, Endang?"

Joko Wandiro atau Tejolaksono memegang ujung dagu Endang Patibroto dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri, lalu mengangkat muka wanita itu sehingga rnenengadah.

Mereka bertemu pandang, muka mereka saling mendekat sehingga napas hangat mereka terasa ke muka masing-masing.

"Endang Patibroto, engkau sama sekali tidak hina, tidak rendah engkau mulia dalam pandanganku karena pengakuanmu menghapus lenyap semua salah pengertian dahulu............ tidak, bukan engkau yang minta menjadi isteriku, melainkan akulah kini yang meminangmu. Endang Patibroto, maukah engkau menjadi isteriku, menjadi selirku yang pertama dan terakhir?"

Wajah cantik yang tengadah itu, pucat dan rambutnya kusut, matanya dipejamkan akan tetapi air matanya terus berlinang keluar melalui sepasang pipi, bibirnya gemetar, menggigil setengah menangis setengah tersenyum, hanya dapat tergerak perlahan mengangguk-angguk.

Kedua tangan Joko Wandiro mendekap muka itu, pada leher di bawah telinga, memandang seperti orang memandang sebuah mustika yang amat berharga, kemudian seperti tanpa mereka sadari, bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang mesra, yang didorong oleh getaran dua buah hati yang saling berjumpa, setelah lama dan jauh berpisah.

Ciuman ini membuat Joko Wandiro seakan-akan mendapatkan kembali sebuah keindahan yang sudah lama terhilang sehingga keharuan memenuhi hatinya, menaikkan sedu sedan dari dalam dada ke lehernya, menjadi satu dengan sedu sedan yang naik dari dalam dada Endang Patlbroto!

Adipati Tejolaksono atau Joko Wandiro adalah seorang manusia juga.

Seorang manusia dari darah dan daging.

Betapapun saktinya, ia masih tak dapat membebaskan diri daripada perasaan dan hawa nafsu.

Apalagi terjun dalam lautan asmara bersama seorang wanita seperti Endang Patibroto!

Mereka berdua bergandeng tangan menghadapi maut, telah berada di ambang pintu kematian.

Menghadapi ancaman kematian.

bersama., hanya mereka berdua, kepadanya amat besar, akan tetapi tenang dan halus.

Kini ia terseret oleh cinta kasih Endang Patibroto yang bagaikan badai Laut Selatan, menggelora dan menyeretnya sampai ke dasar yang paling dalam.

Sesuai dengan watak Endang Patibroto, apalagi ditambah oleh racun yang telah terminum oleh wanita itu.

Juga Endang Patibroto seperti mabuk.

Dahulu ia selalu terbuai oleh gelora cinta kasih suaminya, Pangeran Panjirawit yang amat besar.

Akan tetapi sekarang ia mabuk oleh cinta kasihnya sendiri yang meluap-luap.

Semua perasaannya terhadap Joko Wandiro yang dahulu ia tindas dan pendam, kini meletus dan meluap, tak terbendung lagi.

Kedua orang insan ini seperti dalam sekarat menghadapi maut.

Memang mereka menghadapi maut, dan karena Inilah maka mereka seperti dalam sekarat.

Tak pernah sedetikpun mereka terpisah lagi semenjak saat mereka berciuman itu.

Mereka lupa akan segala, lupa waktu, bahkan ancaman kematian, hanya tahu bahwa mereka hidup bersama dan akan mati bersama, dan pengetahuan inilah yang menambah kemesraan di antara mereka.

Kini mereka tidak perduli apa-apa lagi, bahkan menanti datangnya maut dengan bibir tersenyum.

Tiga hari tiga malam mereka berada di ruangan bawah tanah itu.

Tubuh mereka sudah lemah.

Kekosongan perut membuat mereka lemas.

Namun mereka tak pernah mengeluh, juga tak pernah saling melepaskan.

Seakan-akan mereka hendak menebus semua kehilangan belasan tahun itu dalam beberapa hari ini selagi nyawa masih belum meninggalkan badan yang makln lemah.

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 6

Baca Juga: Jodoh Rajawali 23

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert