Eps 9 Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo
Baca online Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo
Cersil Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo.
Ah, Kakangmas, betapa kejam hatimu !"
Ayu Candra menangis mengguguk ketika melihat wajah Endang Patibroto yang pucat itu.
Sesungguhnya, di dalam hati Ki Patih Tejolaksono terdapat cinta kasih yang amat besar terhadap Endang Patibroto.
Kalau tadi ia bersikap keras adalah karena hatinya sedang kusut, pikirannya sedang ruwet memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya.
Kini melihat wanita yang dicintanya itu roboh pingsan, ia menjadi amat kasihan.
Tanpa banyak kata lagi ia lalu meraih tubuh Endang Patibroto dari rangkulan Ayu Candra.
Tubuh Endang Patibroto amat kuat.
Hanya sebentar saja ia tak sadarkan diri.
Ketika ia siuman, ia telah rebah di sebuah pembaringan yang bersih dan indah.
Ia belum membuka matanya, akan tetapi telinganya telah dapat mendengar kata-kata Ayu Candra.
Ia tahu bahwa ia berada dalam kamar, dijaga oleh Ayu Candra dan Tejolaksono.
"Kakangmas sendiri dahulu mengerti bahwa kepergiannya adalah karena ucapanku yang timbul dari kedukaanku kehilangan Bagus Seta. Memang kita telah banyak menderita, akan tetapi apakah Paduka tidak ingat bahwa dia pun telah mengalami banyak penderitaan? Ketika Setyaningsih datang, aku sudah minta kepadamu untuk menyusul dan memboyong dia dan puterinya ke sini, akan tetapi Paduka mengatakan bahwa kalau dia menghendaki, dia akan datang sendiri. Kini dia telah datang, akan tetapi Paduka sambut dengan kata-kata yang pedas dan menyakitkan hati. Padahal aku yakin betapa besar cinta kasih Paduka kepadanya! Betapa selama bertahun-tahun ini Paduka mengenangnya dengan hati berdarah. Kita semua sudah sama-sama menderita, setelah berkumpul kembali semestinya saling menghibur untuk menghilangkan semua kenangan duka."
Terdengar oleh Endang Patibroto betapa Tejolaksono menghela napas panjang.
"Aku dikuasai kemarahan karena dia telah membuat aku banyak berduka selama ini,' Diajeng. Dan aku pun hanya ingin menguji apakah benar-benar sekali ini dia ingin hidup bersama kita."
Tiba-tiba Tejolaksono menghentikan kata-katanya karena dia tahu bahwa Endang Patibroto sudah mulai menggerak-gerakkan pelupuk matanya, tanda bahwa dia mulai sadar.
Ayu Candra juga melihat ini, maka wanita ini bangkit lalu berkata.
"Karena dia datang dalam keadaan, begini, tanpa membawa bekal, aku akan menyediakan semua keperluannya, Kakangmas. Juga aku akan memberi kabar kepada Setyaningsih agar datang berkunjung."
Tanpa menanti jawaban, wanita yang bijaksana ini lalu meninggalkan kamar itu.
Tejolaksono duduk di tepi pembaringan, memandang wajah Endang Patibroto.
Setelah kini kemarahannya hilang, ia memandang wajah itu dengan penuh keinduan dan cinta kasih.
Hatinya terharu, dan terpesona memandang bulu mata yang panjang melengkung itu mulai bergerak-gerak, kemudian kelopak mata itu perlahan-lahan terbuka.
Dua pasang mata beradu dan saling melekat sampai lama.
Tak perlu lagi kiranya mulut mengeluarkan kata-kata kalau dari dua pasang mata itu keluar begitu banyak pernyataan yang hanya dapat ditangkap oleh rasa.
Mulut dapat mengeluarkan seribu satu macam kata-kata bohong, namun sinar mata mencerminkan isi perasaan hati dan keduanya yakin betapa dalam cinta kasih di antara mereka melalui pandang mata mereka.
Melihat betapa perlahan-lahan sepasang mata yang amat tajam dan selalu dikaguminya itu mengalirkan air mata, Tejolaksono berkata halus.
"Kau........... kau maafkan kekasaranku tadi........... Diajeng "
Endang Patibroto tersedak oleh isaknya sendiri, lalu ia pun bangkit duduk.
"Sudah sepatutnya kalau Paduka marah kepadaku, Kakangmas........... kuharap kini Kakangmas dapat mengampunkan aku "
"Aku maafkan semua perbuatanmu yang telah lalu, Endang Patibroto "
Tejolaksono memegang kedua tangan kekasihnya ini dan jari-jari tangan mereka mengeluarkan getaran cinta kasih yang amat besar.
"Terima kasih, Kakangmas Tejolaksono "
"Duhai Adinda, betapa rindu kepadamu........... betapa kering melayu hatiku selama kautinggalkan........... Diajeng Endang Patibroto........... betapa besar cinta kasihku kepadamu !"
Ki Patih Tejolaksono merangkul leher wanita itu dengan kasih mesra.
Akan tetapi tiba-tiba Endang Patibroto tersedu dan melepaskan diri dari pelukan, lalu meloncat turun ke bawah pembaringan dan berlutut di sifu, menangis terisak-isak dan berkata dengan suara terputus-putus.
"............ aduh Kakangmas pujaan hamba........... aahh, harap jangan sentuh aku, Kakangmas........... jangan membelai Endang Patibroto yang hina ini........... aku........... aku. telah ternoda, tidak bersih lagi........... aku manusia hina yang sudah cemar........... Kakangmas, kau bunuh saja aku. !!"
Wajah Ki Patih Tejolaksono menjadi pucat sekali. Ia cepat mengangkat bangun Endang Patibroto, ditariknya wanita itu duduk di tepi pembaringan menghadapinya dengan pandang mata tajam ia berkata.
"Diajeng Endang Patibroto. Apa artinya semua ini? Ceritakanlah apa yang telah terjadi sehingga Adinda bersikap seperti ini! Kita telah menjadi suami isteri, tidak boleh ada rahasia lagi di antara kita, Diajeng."
"Kakangmas........... malapetaka hebat telah menimpa diriku. membuat aku terhina, tercemar dan ternoda. !! "Ceritakanlah, ceritakanlah "
Tejolaksono mendesak tidak sabar lagi.
"Terjadinya di waktu aku mengadakan sayembara tanding untuk mencarikan jodoh Setyaningsih "
Endang Patibroto lalu bercerita tentang pertemuannya dengan orang yang mengaku bernama Warutama, kemudian betapa dalam keadaan pingsan dia diperkosa oleh Warutama.
Semua dia ceritakan tanpa tedeng aling-aling dengan persiapan menghadapi segala akibatnya.
Wanita perkasa ini maklum bahwa kalau hal itu tidak ceritakan kepada Tejolaksono, selalu akan ada jurang pemisah yang lebar terasa olehnya antara dia dan kekasihnya.
"Demikianlah, Kakangmas. setelah dia pergi barulah teringat olehku bahwa orang yang wajahnya sudah berubah itu sebetulnya adalah si keparat Sindupati."
Ki Patih Tejolaksono bangkit berdiri, mukanya menjadi merah sekali, matanya terbelalak, kedua tangannya terkepal dan la berkerot-kerot saking marahnya, mulutnya membisikkan kutukan hebat.
"Bedebah !!!"
Jantung Endang Patibroto serasa dirobek-robek dan wanita ini menjatuhkan diri berlutut di depan pria itu.
"Duh Kakangmas........... aku rela kauhina, bahkan aku siap kaubunuh sekali pun........... memang aku wanita hina........... duh Ibunda........... mengapa malapetaka yang menimpa Ibu dahulu kini menimpa anakmu pula. ?"
Tejolaksono membungkuk dan mengangkat bangun Endang Patibroto dengan memondongnya dan dengan penuh kasih sayang mendudukkan wanita itu kembali ke atas pembaringan, merangkul dan menciuminya.
"Tidak, kekasihku. Engkau sama sekali tidak hina! Aku tidak akan mengulang apa yang dahulu salah dilakukan oleh mendiang ayahmu. Dahulu pun, seperti engkau telah tahu, ibumu diperkosa orang........... ayahmu menyesal dan menyalahkannya, sehingga terjadilah ekor atau akibat yang amat hebat. Kini peristiwa seperti itu menimpa dirimu, Diajeng. Aku sama sekali tidak menyalahkan engkau, Diajeng yang bernasib malang bukan kehendakmu terjadi hal seperti itu. Namun kita harus membalas kekejian Sindupati........... eh, kau bilang dia bernama Warutama sekarang? Si keparat! Dan dia menjadi Patih Jenggala! Celaka !"
Endang Patibroto seolah-olah Gunung Semeru yang tadinya menindih perasaan hatinya kini telah lenyap, dadanya lapang hatinya merasa bahagia sekali.
Dia tidak perduli apakah Warutama sekarang menjadi Patih Jenggala atau menjadi setan.
Kegirangan hatinya mendapat kenyataan bahwa pria yang dicintanya ini tidak marah dan tidak menyalahkannya dalam peristiwa pemerkosaan itu membuat ia lupa segala.
Dipeluknya Tejolaksono dan dengan sedu-sedan ia berbisik di dada suami itu.
"Aduh, terima kasih, Kakangmas........... terima kasih........... terima kasih !"
Tejolaksono dapat memahami keharuan hati Endang Patibroto.
Dia maklum betapa besar artinya sikapnya dalam peristiwa itu bagi seorang wanita, apalagi seorang wanita seperti Endang Patibroto.
Diam-diam dia merasa kagum akan sikap Endang Patibroto yang tidak ragu-ragu menceritakan hal itu kepadanya dalam kesempatan pertama.
Hanya seorang wanita yang berhati murni saja yang akan mengaku secara terus terang seperti ini.
Hanya wanita yang menghendaki agar di antara cinta kasih mereka tidak terdapat penghalang dalam bentuk apa pun juga, yang menghendaki cinta kasih yang murni, yang akan berani menceritakan pemerkosaan terhadap dirinya dengan resiko patahnya rantai kasih itu sendiri.
Ia membiarkan Endang Patibroto melampiaskan kelegaan hatinya dalam tangis, dan dengan belaian kasih mesra ia mengusap-usap rambut yang kusut itu.
Peristiwa pemerkosaan itu sama sekali tidak mempengaruhi cintanya, bahkan memperdalam cintanya yang kini dilengkapi dengan perasaan kasihan yang mendalam.
Dan Tejolaksono tidak sadar bahwa kalau di dunia ini jarang terdapat wanita yang begitu murni cintanya seperti Endang Patibroto, lebih jarang lagi terdapat pria yang dapat menerima peristiwa pemerkosaan dengan dada begitu lapang, dengan pengertian begitu mendalam seperti perasaan hatinya terhadap Endang Patibroto!
"Diajeng, sudahlah jangan menangis.
Percayalah, aku sudah lupa lagi akan peristiwa yang menimpa dirimu sungguh pun aku takkan dapat melupakan Warutama yang jahat itu.
Tenangkan hatimu karena peristiwa keji itu takkan diketahui orang lain, tidak akan diketahui oleh Ayu Candra, oleh siapa pun juga, bahkan tidak akan diketahui oleh anak kita.
eh, di mana Retna Wilis, anak kita itu?
Diajeng, aku sudah banyak mendengar tentang dia dari Adinda Setyaningsih, kenapa kau tidak membawa dia ke sini?"
Wajah Endang Patibroto yang tadinya merah berseri karena bahagia mendengar ucapan penerimaan Tejolaksono mengenai malapetaka yang menimpa dirinya, kini menjadi muram dan ia menghela napas panjang, lalu mengangkat mukanya dari dada suaminya.
' "Kakangmas, memang nasibku selalu malang, dirundung malapetaka.
Anak kitatu, Retna Wilis, sudah baik-baik mendapatkan seorang guru yang sakti mandraguna, yaitu Ki Datujiwa, akan tetapi tiba-tiba muncul nenek iblis Nini Bumigraba yang membunuh Ki Datujiwa dan menculik Retna Wilis."
"Duh para Dewata........... , mengapa begini. ?"
Tejolaksono mengeluh dengan hati pedih.
Puteranya, Bagus Seta, sampai kini belum juga pulang.
Kemudian, puterinya yang belum pernah dilihatnya, Retna Wilis, diculik orang pula!
"Diajeng, bagaimana bisa terjadi hal itu?
Mengapa Diajeng tidak melindunginya dan melawan mati-matian?"
Tejolaksono memang belum pernah mendengar nama Nini Bumigarba sehingga ia merasa terheran-heran mengapa isterinya ini yang amat sakti, ditambah lagi dengan Ki Datujiwa yang menurut keterangan Setyaningsih amat sakti sehingga dalam sayembara dapat menandingi dan mengalahkan Endang Patibroto, tidak mampu melindungi Retna Wilis.
Endang Patibroto lalu menceritakan dengan suara duka namun dengan sejelasnya tentang kedatangan Nini Bumigarba yang menyeramkan.
Sebagai penutup ceritanya ia berkata.
"Nenek iblis itu luar biasa sekali, Kakangmas. Jangankan hanya aku, sedangkan Ki Datujiwa yang sakti itu pun sama sekali bukan tandingannya. Nenek itu bukan seperti manusia, mukanya pun tidak dapat tampak nyata, tertutup semacam halimun kehitaman. Ahh, Kakangmas bagaimana kita harus mencari dan menolong anak kita itu ?"
Endang Patibroto berduka sekali sehingga suaminya segera merangkulnya untuk menghibur.
"Betapapun sakti mandraguna nenek itu, namun kalau dia hanya menghendak Retna Wilis menjadi muridnya, puter kita akan selamat. Hanya aku khawatir. nenek itu begitu kejam dan seperti Iblis, bagaimana puteri kita dapat menjadi muridnya? Kita harus berusaha mencarinya, dan mencegahnya menjadi murid nenek itu. Akan tetapi........... ah, aku teringat. kau bilang nenek itu mukanya tidak tampak karena tertutup halimun hitam? Aneh sekali."
"Apa maksudmu, Kakangmas? Apakah Paduka pernah bertemu dengan dia?"
"Bukan dengan dia, bahkan mendengar namanya pun belum pernah. Akan tetapi aku pernah berjumpa dengan seorang maha sakti yang juga wajahnya selalu tertutup semacam halimun, akan tetapi halimun putih dan kakek sakti mandraguna itu adalah seorang suci yang membawa putera kita Bagus Seta menjadi muridnya."
Tejolaksono lalu menuturkan semua pengalamannya semenjak mereka berpisah.
Banyak suka-dukanya dalam pertemuan antara dua orang yang saling mencinta ini, banyak hal-hal yang mengharukan dan menimbulkan gelisah, akan tetapi kebahagiaan karena mereka dapat berkumpul kembali merupakan hiburan yang amat besar.
Setelah berkumpul kembali, mereka menjadi besar hati dan akan sanggup memikul semua beban dan derita hidup bersama-sama.
Ayu Candra yang bijaksana membiarkan mereka itu saling menuturkan semua pengalaman, tidak mengganggu mereka dan hanya mengirimkan pengganti pakaian yang baru dan bersih untuk Endang Patibroto, menyuruh abdi-abdi wanita untuk mengirim hidangan, dan baru pada keesokan harinya Ayu Candra menghadap suaminya dan bertemu dengan madunya bersama-sama Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit.
Pertemuan yang mengharukan, apalagi ketika Setyaningsih mendengar bahwa Retna Wilis diculik orang.
Mukanya yang berkulit kuning bersih dan cantik jelita itu mengeras, alisnya berkerut dan matanya memancarkan api kemarahan.
Ia menoleh kepada suaminya dan berkata.
"Bagaimana pendapat Kakanda akan hal itu? Bukankah semua itu termasuk rencana persekutuan iblis yang sedang berusaha mencengkeram kedua kerajaan keturunan Mataram? Saya merasa yakin bahwa nenek iblis yang bernama Nini Bumigarba itu tentu mempunyai hubungan dengan tokoh-tokoh jahat seperti yang telah diceritakan rakanda patih kepada kita, tokoh-tokoh dari Sriwijaya dan Cola."
Pangeran Panji Sigit mengangguk-angguk.
"Uwa Prabu telah mengirimkan banyak penyelidik ke Jenggala, mempelajari keadaan di sana. Dan sebaiknya kalau kita sendiri tidak tinggal diam, menyelidiki ke mana Retna Wilis adik kita itu dibawa pergi. Rakanda Patih, biarlah saya sendiri bersama Setyaningsih pergi melakukan penyelidikan, mencari jejak nenek yang jahat itu."
Tejolaksono termenung.
"Menurut penuturan ayundamu Endang Patibroto, nenek itu amatlah saktinya, bukan merupakan lawan kita. Memang seharusnya kita melakukan penyelidikan dan kami percaya penuh akan kemampuan Adinda Pangeran dan Setyaningsih, akan tetapi harap jangan sembrono dan jangan sekali-kali mencoba untuk melawan nenek itu. Cukup kalau bisa mendapatkan jejaknya dan bisa mengetahui di mana adanya anakku Retna Wilis, kemudian melaporkan kepada kami."
"Jangan khawatir, Rakanda Patih. Kami akan bersikap hati-hati sekali dan tidak hanya kami berdua yang menyelidik, melainkan kami akan berusaha menyebar barisan penyelidik."
Ucapan Pangeran Panji Sigit ini terhenti karena pengawal memberi tahu akan kedatangan Pangeran Darmokusumo bersama isterinya.
Mereka ini datang berkunjung setelah mendengar bahwa Endang Patibroto telah "pulang"
Ke rumah suaminya yang baru, yaitu Patih Tejolaksono.
Seperti telah diketahui, baik Pangeran Darmokusumo maupun isterinya keduanya adalah sahabat-sahabat baik Endang Patibroto.
Di waktu mudanya, isteri pangeran ini yang bernama Puteri Mayagaluh adalah sahabat baik Endang Patibroto (baca Badai Laut Selatan), bahkan puteri ini adalah adik kandung mendiang Pangeran Panjirawit.
Adapun Pangeran Darmokusumo sendiri, seorang pangeran terkemuka dari Panjalu, pernah bekerja sama dengan Endang Patibroto ketika mereka berdua memimpin pasukan menyerbu Blambangan beberapa tahun yang lalu.
Pertemuan ini pun mengharukan, juga amat menggembirakan.
Percakapan mengenai pengalaman mereka masing-masing membawa ke persoalan negara, yaitu Kerajaan Jenggala yang sedang diliputi mendung gelap.
Terutama sekali Puteri Mayagaluh dan adik tirinya, Pangeran Panji Sigit, keduanya menundukkan muka dan merasa prihatin sekali kalau memikirkan keadaan ayah mereka, sang prabu di Jenggala yang sudah sepuh itu, yang kini seolah-olah berada dalam cengkeraman iblis jahat!
Ketika percakapan tiba pada persoalan diculiknya Retna Wilis, Pangeran Darmokusumo yang sudah kurang lebih lima puluh tahun usianya itu berkata sambil mengerutkan alisnya.
"Nini Bumigarba? Wajahnya tertutup halimun kehitaman? pernah aku mendengar dongeng wanita sakti yang mukanya selalu tertutup halimun, namanya Dewi Sarilangking "
"Itulah dia!!"
Endang Patibroto berseru.
"Dewi Sarilangking yang sekarang bernama Nini Bumigarba, kepandaiannya hebat. !"
Pangeran Darmokusumo mengangguk-angguk. Ketika ia mendengar niat Pangeran Panji Sigit untuk bersama isterinya pergi mencari jejak, ia berkata.
"MEMANG seharusnya dilakukan penyelidikan. Kurasa masih ada hubungannya peristiwa ini dengan kekacauan di Jenggala. Biarlah aku akan mengerahkan pasukan-pasukan istimewa bagian penyelldik yang sudah berpengalaman untuk meneliti dan mencari jejak ke mana dibawanya Retna Wilis."
Tiba-tiba Endang Patibroto berkata dengan muka merah.
"Kita semua sudah mendengar dan melihat kenyataan bahwa Jenggala berada dalam cengkeraman iblis-iblis laknat, bahkan fihak mereka telah berhasil menyelundupkan seorang manusia terkutuk seperti Warutama menjadi patih di Jenggala. Mau tunggu kapan lagi? Sebaiknya kita langsung menyerbu Jenggala dan membersihkan oknum-oknum pengacau itu, membinasakan dan membasmi mereka. Biarlah aku sendiri yang akan menghadap sang prabu di Panjalu untuk memimpin pasukan menghancurleburkan mereka itu!!"
Tejolaksono bertukar pandang dengan Pangeran Darmokusumo.
Mereka berdua menahan senyum karena mereka telah mengenal watak wanita ini yang ternyata tidak berubah banyak.
Dan mereka yakin bahwa kalau wanita ini memimpin pasukan menyerang ke Jenggala, pasti akan terjadi geger, sungguhpun sekali ini hasilnya belum dapat dipastikan mengingat betapa musuh menggunakan banyak orang-orang yang sakti.
"Aku sendiri pun telah mengajukan usul seperti itu, akan tetapi tidak diterima oleh gusti sinuwun. Dan memang kalau dipikir secara mendalam, penyerbuan dengan pasukan itu bisa menimbulkan salah duga,disangka Panjalu menyerang Jenggala.Musuh telah mempergunakan siasat halus, dan jalan satu-satunya menghadapi mereka dengan diam-diam pula,"
Kata Tejolaksono.
"Tepat seperti yang dikatakan Adinda Patih Tejolaksono,biarlah saya yang menghadap Ramanda Prabu dan mohon perkenan beliau untuk. membentuk pasukan rahasia yang tugasnya menentang para pengacau di Jenggala dengan secara rahasia dan diam-diam. Dan kita harus mengadakan kontak dengan orang-orang Jenggala sendiri yang masih setia kepada paman prabu dan bibi ratu di Jenggala agar perjuangan pasukan rahasia ini akan dapat berhasil."
Keluarga yang terdiri dari orang-orang sakti mandraguna ini mengadakan perundingan dan akhirnya diambil keputusan mengangkat Pangeran Darmokusumo sebagai pemimpin pasukan rahasia yang akan dibentuk, sedangkan Patih Tejolaksono menjadi komandan pasukannya dibantu oleh Endang Patibroto.
Akhirnya, keluarga Tejolaksono yang cerai-berai tidak karuan itu kini dapat berkumpul kembali, sungguhpun belum lengkap.
Pusporini masih belum ada kabarnya, Bagus Seta masih belum diketahui berada di mana, sedangkan Retna Wilis pun lenyap digondol nenek iblis tanpa diketahui ke mana dibawanya..
Akan tetapi, berkumpulnya kembali Tejolaksono dan Endang Patibroto merupakan hal yang selain menggembirakan semua orang termasuk Ayu Candra, juga mendatangkan semangat dan kelegaan hati.
Semua orang, termasuk Pangeran Darmokusumo sendiri, merasa bahwa kalau kedua orang sakti yang saling mencinta ini bersatu, tidak akan ada kesulitan yang takkan dapat mereka atasi!
Dan buktinya,begitu Endang Patibroto tiba, terus saja terbentuk pasukan rahasia yang tadinya tak pernah disinggung-singgung oleh Tejolaksono yang agaknya kehilangan semangat.
Kini, dengan hati girang Ayu Candra mendapat kenyataan betapa suaminya telah pulih kembali semangatnya, tidak pernah melamun, wajahnya selalu berseri, bahkan kalau menyinggung soal belum kembalinya Pusporini, Bagus Seta, dan Retna Wilis, ia kini penuh harapan seolah-olah kehadiran Endang Patibroto telah mempertebal keyakinan dan kepercayaan akan diri sendiri!
Sebagai langkah pertama dari pasukan rahasia ini,Pangeran Darmokusumo mengutus lima belas orang ahliahli penyelidik pilihan yang gagah perkasa untuk menyelundup ke Kota Raja Jenggala melakukan penyelidikan akan keadaan pengaruh jahat yang mencengkeram Jenggala, sedangkan Pangeran Panji Sigit bersama isterinya, Setyaningsih, menyamar sebagal rakyat biasa, memimpin selosin orang perajurlt pilihan untuk mulai dengan tugas mereka mencari jejak Nini Bumigarba yang membawa lari Retna Wilis.
Pada waktu itu, telah genap lima tahun Pusporini dan Joko Pramono menjadi murid sang sakti Resi Mahesapati.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, dua tahun yang lalu, Wiraman dan Widawati yang menjadi korban racun ular Puspo Wilis sehingga di luar kesadaran mereka telah melakukan hubungan sanggama sehingga terpaksa Widawati semenjak saat itu menyerahkan jiwa raganya menjadi isteri Wiraman, juga diterima oleh Resi Mahesapati sebagai murid-muridnya.
Biarpun hanya menerima gemblengan selama dua tahun, namun Wiraman yang tadinya adalah seorang pengawal yang gagah perkasa itu mendapatkan kemajuan yang luar biasa, sedangkan Widawati cucu Ki Patih Brotomenggala itu pun kini menjadi seorang wanita yang kosen.
Akan, tetapi yang tinggi sekali tingkat ilmu kepandaiannya adalah Pusporini dan Joko Pramono.
Berkat sifat kedua orang muda ini yang selalu bersaing sampai tiga tahun lamanya, mereka memperoleh kemajuan pesat.
Baru setelah terjadi peristiwa penaklukan ular Puspo Wilis dan mereka itu hampir saja menjadi korban pengaruh hawa beracun ular itu, keduanya saling menginsyafi dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya mereka itu saling mencinta.
Bahwa semua persaingan mereka itu sama sekali bukan berdasarkan iri dan benci, melainkan berdasarkan cinta kasih sehingga mereka selalu ingin menonjolkan diri di mata masing-masing orang yang dicintanya dengan dasar niat ingin dikagumi dan ingin dihargai atau lebih tepat lagi ingin dicinta!
Semenjak peristiwa itu, mereka tidak lagi bersaing, bahkan sering mereka itu memperlihatkan sikap mengalah, terutama sekali Joko Pramono, dan biarpun mulut mereka tak pernah menyatakan sesuatu, namun pandang mata mereka sudah terang-terangan menyatakan isi hati yang penuh cinta.
Namun, tiadanya persaingan bukan berarti bahwa ketekunan mereka mengendur.
Sama sekali tidak.
Setelah mendengar penuturan W iraman akan keadaan di Jenggala, kemudian mendengar wejangan Resi Mahesapati, mereka belajar makin rajin dan kini mereka mempunyai cita-cita dalam belajar, yaitu untuk kelak dipergunakan menolong Jenggala, membersihkan kerajaan itu dari manusia-manusia iblis yang berusaha mencengkeramnya.
Pagi hari itu Resi Mahesapati memanggil keempat orang muridnya itu menghadap.
Dengan suara halus ia berkata.
"Tugasku telah selesai memberi bimbingan kepada kalian mengejar ilmu. Joko Pramono dan Pusporini, telah genap lima tahun kalian mempelajari ilmu dan sudah tiba saatnya kalian turun gunung memanfaatkan segala yang kalian telah pelajari. Seperti telah berkali-kali kutekankan adalah menjadi tugas kalian untuk berdarma bakti kepada kebajikan, kebenaran dan keadilan. Dan karena pada saat ini mendung telah meliputi Jenggala dan sebagian dari Panjalu, maka kalian harus turun gunung dan membantu usaha membersihkan mendung yang mengancam keselamatan rakyat kerajaan-kerajaan keturunan Mataram. Ingat bahwa mereka yang mengancam keselamatan itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu yang tinggi, bahkan ada di antara mereka yang lebih sakti daripada tokoh-tokoh kedua kerajaan, bahkan aku sendiri tidak akan mampu melawannya. Akan tetapi, untuk menghadapi mereka yang sakti mandraguna ini akan muncul seorang pendekar muda dan kepadanyalah kalian akan membantu. Apa yang akan kalian lakukan di hari depan, terserah kepada kebijaksanaan kalian, aku orang tua hanya dapat membekali doa restu. Juga engkau Ki W iraman, engkau dan Widawati tidak terlepas pula daripada kewajiban untuk membantu usaha menentang pengaruh buruk itu. Pergilah kalian berempat dan aku dapat memandang kepergian kalian berempat dengan hati lapang karena kurasa, usahaku selama ini tidak akan sia-sia."
"Akan tetapi, Eyang resi. Kemanakah hamba berdua harus menuju?"
Tanya Pusporini yang sebetulnya ingin sekali kembali ke Selopenangkep mencari keluarganya.
"Rundingkanlah nanti bersama Joko Pramono, dan terutama sekali, dengarkan nasehat Ki Wiraman. Dia ini lebih berpengalaman dalam hal perjuangan dibandingkan dengan kalian berdua. Nah, berangkatlah tanpa ragu-ragu, karena setiap cita-cita harus dimulai dengan tekad bulat. Sedikit saja keraguan akan menghambat tercapainya cita-cita."
Setelah berkata demikian, Resi Mahesapati yang duduk bersila itu meramkan mata, tanda bahwa dia mulai bersamadhi dan tidak mau diganggu lagi.
Empat orang itu lalu menyembah dan berpamit dengan hati terharu, teringat akan kebaikan budi kakek ini selama mereka berada di situ.
Kemudian berangkatlah mereka meninggalkan tempat di mana mereka digembleng itu.
Adapun batu mustika ular Puspo Wilis sejak lama telah diberikan kepada Pusporini dan kini menjadi penghias leher Pusporini sebagai sebuah mata kalung yang indah sekali, mengeluarkan sinar kehijauan.
Karena masih terpengaruh oleh rasa duka harus berpisah meninggalkan guru yang mereka cinta itu seorang diri di puncak gunung, empat orang itu menuruni gunung tanpa bicara dan baru setelah mereka tiba di kaki gunung dan untuk penghabisan kali menengadah ke puncak seolah-olah merupakan pandang penuh harapan dan permintaan doa restu, baru mereka berunding.
"Menurut pendapat saya, lebih baik kalau Andika berdua dari sini langsung memasuki Jenggala untuk melakukan penyelidikan tentang keadaan kerajaan itu sekarang. Andika berdua tidak dikenal, tentu saja akan lebih mudah melakukan perjalanan ke daerah yang kacau itu. Sedangkan saya sendiri bersama diajeng W idawati akan langsung menuju ke Panjalu, melaporkan segala keadaan dua tahun yang lalu kepada sang prabu di Panjalu."
Demikian Wiraman menyatakan pendapatnya. Joko Pramono dan Pusporini tak dapat membantah kebenaran pendapat ini dan mereka mengangguk.
"Benar sekali pendapat Paman. Kami akan menyelidiki keadaan Kota Raja Jenggala, kemudian kami akan pergi menyusul Paman ke Panjalu,"
Kata Joko Pramono.
"Kalau Paman tiba di Panjalu, harap Paman kunjungi kediaman Kakangmas Tejolaksono dan ceritakan keadaanku kepada keluargaku. Akan tetapi, betulkah Kakangmas Tejolaksono kini telah menjadi patih muda di Panjalu seperti yang Paman ceritakan dahulu?"
Wiraman mengangguk.
"Saya pun hanya mendengar beritanya saja bahwa setelah berhasil mengamankan kekacauan kekacauan yang timbul di wilayah barat Adipati Tejolaksono diangkat menjadi patih muda. Tentu akan saya selidiki tentang keluarga Andika, dan saya akan menghadap Gusti Patih Tejolaksono."
Dari kaki gunung itu, rombongan mereka dipecah menjadi dua, Wiraman dan Widawati menuju ke Panjalu, sedangkan Joko Pramono dan Pusporini melanjutkan perjalanan mereka ke Jenggala untuk melakukan tugas menyelidiki sebelum mereka menyusul pula ke Panjalu.
Kedua orang muda murid Sang Resi Mahesapati itu melanjutkan perjalanan dengan gembira.
Setelah lima tahun lamanya mereka mengejar ilmu di puncak gunung, kini mereka menghadapi dunia ramai dengan hati penuh ketegangan, apalagi kalau mereka mengingat akan cerita Ki W iraman tentang keadaan Jenggala yang kacau-balau dan akan kekuasaan-kekuasaan jahat yang mencengkeram kerajaan itu.
Namun ketegangan ini hanya timbul karena mereka ingat akan tugas mereka sebagai orang-orang berkepandaian yang melaksanakan tugas menentang kejahatan, bukan sekali-kali karena rasa takut.
Hati mereka besar dan mereka mempunyai penuh kepercayaan kepada diri sendiri.
Selama lima tahun digembleng oleh Sang Resi Mahesapati yang sakti mandraguna, kedua orang muda ini memperoleh kemajuan yang hebat.
Mereka bukan lagi orang-orang muda remaja lima tahun yang lalu.
Biarpun lima tahun yang lalu mereka telah memiliki kepandaian yang cukup tinggi, namun semua aji kesaktian mereka masih mentah, sama sekali berbeda dengan keadaan mereka sekarang yang telah menyempurnakan semua aji itu di bawah bimbingan Sang Resi Mahesapati.
Pusporini telah berusia dua puluh satu tahun, sedangka Joko Pramono telah berusia dua puluh dua tahun, dan mereka berdua telah memiliki kedigdayaan yang matang.
"Mudah-mudahan saja tugas kita akan berjalan lancar sehingga kita dapat segera pergi ke Panjalu untuk mencari rakandamu Gusti Patih Tejolaksono,"
Terdengar Joko Pramono berkata ketika mereka berdua berjalan seenaknya memasuki hutan belantara yang sudah dekat dengan Kota Raja Jenggala.
Mereka telah melakukan perjalanan selama tujuh hari dan tidak pernah mereka menemui halangan.
Di sepanjang perjalanan mereka melalui dusun-dusun dan mendengar akan keadaan di Jenggala yang mengecilkan hati.
Para penduduk dusun menceritakan betapa kini kekacauan dari kota raja itu menular menjalar ke dusun-dusun, di mana para ponggawa yang diangkat oleh petugas kerajaan, diganti secara paksa oleh ponggawa-ponggawa baru yang memerintahkan agar rakyat memuja-muja Sang Bathari Shiwa.
Berita ini hanya dicatat dalam hati oleh kedua orang muda itu untuk kelak mereka laporkan ke Panjalu.
Akan tetapi karena mereka bertugas menyelidik, mereka tidak mau melibatkan diri dengan para ponggawa baru itu dan selalu menjauhkan diri dari pertentangan yang tidak ada artinya dan hanya akan mengganggu tugas penyelidikan mereka.
Tujuan utama mereka adalah kota raja untuk menyelidiki keadaan di sana karena mereka tahu bahwa yang menjadi pusat biang keladi semua kekacauan adalah kota raja.
"Kenapa sih engkau ingin tergesa-gesa pergi ke Panjalu dan menemui Rakanda Patih Tejolaksono?"
Tanya Pusporini, di dalam hatinya mentertawakan pemuda itu karena tentu saja ia sudah dapat menduga sebabnya.
"Kenapa? Tentu saja untuk meminang adiknya yang cantik manis, galak, sakti mandraguna dan.......... merupakan wanita paling mulia di dunia ini bagiku, puteri yang bernama Dyah Pusporini. !"
Pusporini meruncingkan bibirnya, mengejek.
"Aku tidak mau bicara tentang perjodohan sebelum tugas kita selesai, sebelum semua anasir jahat dibasmi habis dari Jenggala dan Panjalu!"
"Wah, bagaimana kalau sampai belasan tahun belum selesai?"
Joko Pramono mencela dan memandang gadis di samping kirinya dengan mata terbelalak lebar. Pusporini mengerling ke kanan dan tersenyum.
"Kalau sampai belasan tahun mengapa? Siapa sih yang tergesa-gesa?"
"Wah, aku akan menjadi jejaka tua dan engkau akan menjadi perawan tua!' kata Joko Pramono setengah berkelakar akan tetapi juga setengah bersungguh. sungguh.
"Kalau bertemu dengan rakandamu itu, aku akan nekat meminangmu hendak kulihat kalau keluargamu menetapkannya dan mendesakmu, engkau akan dapat berkata apa lagi!"
"Engkau memang orang nekat, lebih baik namamu dirubah menjadi Joko Nekat saja!"
Pusporini menggoda sambil tertawa.
Sesungguhnya di dalam hatinya ia pun tidak sabar lagi menanti pinangan pemuda yang dicintanya ini.
Usianya sudah dua puluh satu tahun dan pada jaman itu, seorang wanita berusia dua puluh satu tahun biasanya tentu telah menjadi seorang ibu dari dua tiga orang anak!
"Sstttt..........
di depan ada orang "
Joko Pramono berbisik dan gadis itu sudah dalam keadaan siap, hilang sikapnya berkelakar.
Kedua orang muda itu berjalan terus dengan langkah tenang, namun pandang mata mereka waspada dan penuh perhatian karena mereka maklum bahwa di dalam gerombolan alang-alang dan pohon di sebelah depan terdapat banyak orang bersembunyi.
Ketika mereka tiba di tempat terbuka yang agak luas, dikelilingi pohon-pohon dan alang-alang, tiba-tiba terdengar bentakan keras.
"Kisanak yang lewat, berhenti dulu!!"
Dari balik semak-semak di sekeliling tempat itu berloncatan keluar banyak orang laki-laki yang memakai kain dan celana seragam, bertubuh tinggi besar dan melihat betapa mereka itu lalu serempak membuat gerakan mengurung secara teratur, mudah diduga bahwa mereka itu bukanlah perampok, melainkan sebuah pasukan yang terlatih, akan tetapi sikap mereka tiada bedanya dengan perampok-perampok.
Pandang mata mereka kini menjalari wajah dan tubuh Pusporini dan gadis ini menghitung sembilan belas mulut yang menyeringai penuh nafsu kurang ajar terhadap dirinya.
Hanya sebuah pasukan kecil yang terdiri dari tujuh belas orang yang dikepalai dua orang laki-laki tinggi besar yang dapat dibedakan dari para anak buahnya melihat pakaiannya yang lebih mewah.
Pusporini dan Joko Pramono yang terkurung di tengah-tengah itu berdiri dengan sikap tenang-tenang saja.
Dua orang pimpinan pasukan itu lalu melangkah maju.
Sejenak mereka memanclang pemuda dan pemudi itu penuh selidik, dan seorang di antara mereka berdua, yang hidungnya besar mbengol yang menandakan bahwa dia seorang yang gila wanita, tertawa dan berkata.
"Kakang Maruto, aku tetap tidak percaya kalau perawan denok seperti ini menjadi mata-mata! Huah-ha-ha, kalau mereka mengirim mata-mata sedenok sungguh menyenangkan sekali. Biar dikirim empat losin pun aku masih kurang!"
"Adi Saru, jangan sembrono. Orang-orang Panjalu amat cerdik, tentu mengirim mata-mata yang pandai menyamar. Heh, kisanak!"
Kata orang ke dua itu yang jenggotnya berjuntai panjang sampai dua kilan.
"Kalian berdua siapakah dan dari mana hendak ke mana?"
Joko Pramono yang selalu bersikap hati-hati tetap tidak ingin melibatkan diri dalam pertempuran sebelum mereka tiba di Kota Raja Jenggala menyelidiki keadaan dan dapat mencari Ki Mitra yang menjadi juru taman di rumah guru kesenian seperti yang mereka ketahui dari pesan Ki W iraman, menjawab.
"Kami kakak beradik penghuni di kaki Gunung Kawi, hendak pergi ke kota raja mencari paman kami yang bekerja di sana."
"Hemm, Andika terlalu gagah dan tampan untuk menjadi seorang pemuda dusun biasa!"
Kata si jenggot panjang.
"Dan perawan ini terlalu denok untuk menjadi perawan gunung. Lihat kulitnya putih kuning dan halus, matanya yang masih membayangkan keturunan menak, jeli dan tajam pandangannya, bulu mata yang lentik, ha-ha-ha, perawan denok ini lebih cantik daripada puteri di istana! Kalian baru boleh lewat kalau aku sudah memeriksa dara ini!"
Kata si hidung besar sambil menyeringai kepada Pusporini.
"Memeriksa bagaimana maksudmu?"
Tanya Joko Pramono, suaranya dingin dan sinar matanya mengandung kemarahan yang ditahan-tahan.
Hatinya panas sekali melihat kekasihnya hendak diperlakukan secara kurang ajar, dan kalau menurutkan panasnya hati, ingin ia memukul remuk kepala si hidung besar saat itu juga.
Akan tetapi pemuda ini masih menekan hatinya, ingin mencari penyelesaian secara damai agar tugas mereka tidak terganggu.
"Huah-ha-ha-ha, memeriksa bagaimana? Jangan khawatir, kisanak. Aku tidak akan menyusahkan adikmu, bahkan sebaliknya, dia akan senang sekali setelah kuperiksa nanti. Aku harus menggeledahnya, siapa tahu dia membawa surat-surat rahasia, membawa benda-benda rahasia yang disembunyikan di balik pakaiannya. Mari, manis, mari ikut bersamaku ke balik semak-semak tebal agar jangan ada mata lain melihatmu sehingga engkau akan menjadi malu, denok!"
Si hidung besar mengulurkan tangan hendak memegang lengan Pusporini, akan tetapi gadis itu melangkah mundur sambil tersenyum manis sehingga si hidung besar yang melihat senyum yang mencipta lesung pipit di pipi yang manis sekali terpesona.
"Nanti dulu, kisanak!"
Joko Pramono melangkah maju di depan Pusporini, memandang mereka berdua, tidak memperdulikan anak buah pasukan yang tertawa-tawa melihat lagak seorang di antara pemimpinnya tadi.
"Sebelum Andika berdua mengambil tindakan, ingin kami bertanya, siapakah Andika berdua dan pasukan ini pasukan apa? Mengapa Andika hendak memeriksa kami dan dengan hak apakah?"
Si jenggot panjang tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, melihat wajah dan dandananmu, engkau seperti bukan bocah gunung, akan tetapi pertanyaanmu ini menyatakan bahwa engkau benar seorang dusun yang tidak tahu apa-apa. Dengarlah baik-baik, aku Maruto dan Adi Sarudigdo ini adalah dua orang perwira Jenggala yang sudah kondang kaonang-onang (terkenal), pemimpin pasukan Pasopati yang tidak mengenal takut atau mundur atau kalah. Pasukan kami merupakan pasukan yang paling jagoan di Jenggala, menjadi kembang di antara pasukan pengawal di luar istana. Kini banyak berkeliaran mata-mata yang dikirim oleh Panjalu dan entah sudah berapa banyak mata-mata yang kami bunuh. Karena itu, kami berhak untuk memeriksa setiap orang yang kami curigai dan sudah menjadi hak Adi Sarudigdo yang memang mempunyai kepandaian khusus untuk menggeledah wanita untuk memeriksa adikmu ini. Nah, sudah jelaskah? Kalau kalian melawan, berarti kalian akan mati tanpa diperiksa lagi!"
Joko Pramono sudah menjadi marah sekali.
Jelas olehnya sekarang betapa rendah watak pasukan ini dan dari sikap mereka ini saja ia sudah dapat menilai bahwa mereka ini tentulah bukan perajurit-perajurit sejati dari Jenggala yang dahulu terkenal sebagai perajurit-perajurit dan satria-satria utama.
Kini pasukan ini tiada bedanya dengan segerombolan penjahat yang kasar dan liar dan sudah dapat diduga bahwa mereka ini tentulah menjadi anak buah daripada mereka yang kini menguasai Jenggala.
Kesabarannya lenyap dan hal ini tampak dari sinar matanya yang berkilat.
Melihat keadaan pemuda in!, Pusporini lalu berkata lirih.
"Biarkan aku menghadapi mereka."
Joko Pramono melangkah mundur karena ia tahu bahwa gadis yang dikasihinya itu tentu sudah marah luar biasa melihat sikap dan mendengar ucapan dua orang pemimpin pasukan Pasopati ini dan hendak turun tangan sendiri.
Ia mengalah dan mundur.
Pusporini tersenyum-senyum dan melangkah maju, memandang kepada perwira yang tinggi besar yang berhidung besar, lalu berkata, suaranya merdu dan halus, matanya bersinar-sinar sehingga wajahnya menjadi makin jelita.
"Andika ini seorang perwira gagah perkasa dari Jenggala dan sudah lama aku mendengar bahwa perwira-perwira Jenggala adalah satria-satria perkasa. Apakah Andika ini juga menjadl anak buah Ki Patih Warutama yang kabarnya sakti mandraguna itu?"
Si hidung besar mengangkat dadanya sampai membusung, hidungnya berkembang-kempis mendenguskan hawa kebanggaan dan kesombongan.
"Heh-heh, tidak salah dugaanmu, puteri yang jelita seperti bidadari kahyangan! Aku Sarudigdo, perwira digdaya, sakti mandraguna dan menjadi tangan kanan gusti patih di Jenggala! Dengan kepalan tangan kiri aku sanggup memukul pecah kepala seekor harimau kumbang, dengan tangan kanan aku sanggup memukul pecah kepala seekor harimau gembong, dengan kedua kakiku aku sanggup menjegal roboh seekor gajah. Dengan golokku si dukun peminum darah aku sanggup "
"Menyembelih ayam."
Pusporini melanjutkan.
"Cukuplah, yang penting sekarang engkau tadi mengatakan hendak menggeledah aku. Benarkah engkau ini seorang ahli menggeledah wanita?"
"Ha-ha-ha, Kakang Maruto hanya berkelakar! Akan tetapi yang jelas, setiap orang wanita yang kena kugerayang tubuhnya tentu akan bertekuk lutut, akan gandrung-gandrung kepadaku, karena aku memiliki Aji Asmaragama dan setiap orang dara, termasuk engkau, Manis, kalau sudah ku "
"Cukup sudah! Dengan cara bagaimana engkau hendak menggeledahku?"
Pusporini menahan kemarahannya.
"Heh-heh, tak perlu kukatakan, engkau nanti akan menikmatinya sendiri. Marilah, denok, kita bersembunyi di balik semak-semak yang tebal sana... heh-heh "
"Seorang gagah tidak perlu sembunyi-sembunyi. Di sini pun mengapa?"
Perwira itu membelalakkan matanya sehingga hidungnya yang besar kelihatan makin mbengol.
"Di sini? Dilihat semua orang?"
"Mengapa tidak? Bagaimana sih caranya?"
Pusporini tetap menggoda.
"Wah, sayang dong kalau banyak yang lihat. Pertama-tama kau harus membuka kembenmu (ikat pinggang),.......... bajumu dan kutangmu dan "
"Begini?"
Pusporini mengudar (melepaskan) ujung kembennya sepanjang satu meter.
Kembennya yang dari sutera merah berkembang itu dibuka sedikit dan semua mata, terutama mata si hidung besar sudah membelalak penuh gairah.
Akan tetapi tiba-tiba Pusporini dengan gerakan yang cepat sekali mengebutkan ujung kemben itu ke arah muka si hidung besar.
"Tarr. plakkkk!"
"Waduhhhh.... Aduh biyung !!"
Sarudigdo si hidung besar itu mendekap hidungnya dengan tangan sambil mengaduh-aduh.
Hidungnya yang besar terkena sambaran ujung kemben menjadi remuk dan berubah menjadi segumpal daging yang berdarah.
Pusporini sambil tersenyum menyelipkan lagi ujung kembennya di pinggang.
"Iblisss.......... jahanang.......... kurang ajang !"
Sarudigdo memaki-maki dengan suara bindeng, kemudian ia menubruk dengan kedua lengan dipentang,seperti seekor harimau buas menubruk seekor domba.
Namun Pusporini bukanlah domba betina yang lemah.
Tubrukan itu mudah saja dielakkan dengan miringkan tubuhnya ke kiri, dan pada saat itu kakinya melayang naik sedemikian cepatnya sehingga sukar diikuti oleh pandangan mata.
"Siuuuuttt. ngekkkk!!"Ujung kakinya sudah bersarang ke dalam perut Sarudigdo. Tubuh perwira ini memang kebal dan di antara kawan-kawannya ia terkenal sebagai seorang yang otot kawat balung wesi (urat kawat tulang besi), kulitnya juga tebal sekali. Akan tetapi karena tendangan itu amat kuatnya, biarpun kulitnya tidak apa-apa, akan tetapi isi perutnya terasa melilit-lilit seperti digiling atau ditusuk-tusuk seribu batang jarum karatan. la meringis-ringis mendekap perut dengan kedua tangan, terengah-engah dengan lidah terjulur keluar seperti seekor anjing kehausan, matanya mendelik dan sejenak ia lupa akan hidung besarnya yang remuk karena perutnya terasa lebih nyeri daripada hldungnya. Kini ia tidak dapat memaki-maki dengan suara bindeng seperti tadi, melainkan hanya.......... dapat.......... mengeluarkan suara "nguuukkk.......... nguuukkk."
Seperti lutung ketakutan. Maruto dan para anak buah pasukan yang disebut dengan nama garang "Pasopati"
Itu terbelalak.
Hampir mereka tak dapat percaya bahwa seorang gadis cantik jelita seperti itu dapat merobohkan Sarudigdo dalam dua gebrakan saja.
Padahal kedua orang itu, Sarudigdo dan Maruto, adalah orang-orang pilihan Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama sendiri, dan keduanya adalah bekas pentolan dari gerombolan Gagak Serayu!.
"Perempuan iblis!"
Maruto yang tadinya terbelalak itu membentak marah, golok besarnya terhunus dan cepat seperti angin menyambar ia telah menerjang maju, membacokkan goloknya ke leher Pusporini.
"……… jangang....…… jangang.......... bunuh, tangkap dang untuk....…… untukku."
Sarudigdo masih dapat mengeluarkan kata-kata setelah mulas perutnya agak mereda.
Melihat kesaktian Puspirini, nafsunya makin menggelora dan dia ingin memiliki wanita itu sebelum menyiksanya sekeji mungkin!
Akan tetapi Maruto tidaklah semata keranjang temannya dan dia sudah marah sekali, maka bacokannya itu dilakukan sepenuh tenaga dan tujuannya hanya satu, yaitu membunuh wanita ini.
Joko Pramono hanya tersenyum memandang, siap menyerang apabila anggauta-anggauta pasukan itu maju mengeroyok.
Akan tetapi para perajurit itu tidak berani maju tanpa komando.
Biasanya, kedua orang pemimpin mereka itu tidak pernah terkalahkan, maka sekali ini pun mereka percaya bahwa Maruto tentu akan dapat membunuh gadis itu.
Pusporini tenang-tenang saja.
Melihat golok berkelebat menyambar, ia hanya miringkan tubuhnya sehingga golok menyambar dekat pundak, kemudian ia merendahkan diri secara otomatis dan tangan kirinya yang dibuka jarijarinya menyodok ke depan, menggunakan Ajinya Pethit Nogo!
Terdengar bunyi bercuit saking hebatnya tusukan jari dengan Aji Pethit Nogo yang kini telah mencapail kesempurnaannya berkat gemblengan Sang Resi Mahesapati.
Di dalam latihannya, dengan Aji Pethit Nogo ini, dari jarak satu meter Pusporini sanggup menggunakan angin pukulannya membuat air sungai terpecah dan muncrat-muncrat, dan sentuhan jari tangannya dapat membuat batu-batu gunung remuk menjadi bubuk!
Batang pohon jati tua yang sudah keras seperti besi menjadi bolong-bolong kalau tercium jari-jarinya yang halus kecil dengan bentuk mucuk bung (seperti re-bung) itu.
Pusporini menyerang dengan Aji Pethit Nogo dari jarak satu meter sehingga jari-jari tangannya tidak menyentuh tubuh lawan.
Memang ia tidak sudi menyentuhkan jari-jari tangannya pada tubuh laki-laki macam Maruto dan tadi pun ia menghajar hidung Sarudigdo yang baginya menjijikkan itu dengan tungkak kakinya!
Akan tetapi, pukulan yang mengandung hawa sakti itu telah mengenai dada Maruto dan terdengarlah Maruto memekik keras, goloknya terlepas, tangan kirinya mendekap dada dan ia terjengkang roboh, berkelojotan dengan mata, hidung, mulut dan telinganya mengucurkan darah dan tewas seketika!
Gegerlah para anak buah pasukan itu!
Melihat kematian kawannya, Sarudigdo terkejut sampai lupa akan rasa nyeri di hidung dan perutnya.
"Serbu..........! Bunguh...........! Habiskang mereka. !!"
Teriaknya bindeng dan ia sendiri sudah menerjang dengan goloknya.
Karena sedikit banyak ia merasa gentar dan ngeri terhadap Pusporini, sekarang dia membacokkan goloknya kepada Joko Pramono yang masih berdiri tenang-tenang saja sambil tersenyum.
Melihat datangnya golok ini, Joko Pramono sama sekali tidak mengelak dan setelah golok menyambar dekat, ia mengangkat tangannya memapaki golok dengan telapak tangan kosong!
Sarudigdo girang sekali, mengira bahwa tangan pemuda itu pasti akan terbabat goloknya si dukun sampai putus.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika golok itu dapat dicengkeram tangan Joko Pramono yang dengan enaknya meremas golok Itu menjadi patah-patah dan hancur berkeping-keping seperti orang meremas kerupuk saja!
Muka Sarudigdo yang sudah buruk sekali akibat hidungnya remuk itu, terbelalak dengan mata lebar dan pada saat itu, Joko Pramono menyambitkan remukan golok di tangannya yang seperti hujan menyambar ke arah muka yang buruk itu, amblas dan menancap masuk ke dalam dahi, mata, pipi dan mulut.
Sarudigdo mengeluarkan suara seperti seekor kerbau disembelih, tubuhnya roboh dan kedua tangannya mencakar-cakar mukanya sendiri yang sudah penuh darah, kemudian berkelojotan dan mati dekat mayat Maruto.
"Rini, sudah kepalang tanggung, habiskan saja bedebah-bedebah ini!"
Kata Joko Pramono dan dua orang muda itu kini kembali berlomba.
Mereka berdiri saling membelakangi dan bersicepat merobohkan semua pengeroyok yang bersenjata golok dan tombak.
Sepak terjang mereka seperti sepasang burung garuda menyambar-nyambar dan dari kedua telapak tangan mereka tersebar maut karena setiap kali telapak tangan bergerak menampar atau kaki berkelebat menendang, tentu ada pengeroyok yang roboh dan tewas!
Pasukan itu tadi disombongkan oleh dua orang pemimpinnya sebagai pasukan yang pantang mundur dan tidak mengenal takut, akan tetapi kini melihat betapa kawan-kawan mereka seperti mentimun melawan durian, ada dua orang di antara mereka yang terbirit-birit dan terkencing-kencing melarikan diri.
"Hemm, kalian hendak lari ke mana?"
Pusporini berkata mengejek dan cepat memungut dua batang tombak yang berserakan di tanah, lalu bergerak hendak melontarkan dua batang tombak itu ke arah dua orang yang hendak melarikan diri.
Akan tetapi lengannya dipegang olehJoko Pramono dengan halus dan pemuda ini berkata.
"Jangan, Rini! Mereka tentu lari ke induk pasukan dan lebih baik kita mengikuti mereka. Kita sudah kelepasan tangan melibatkan diri dalam pertempuran dan sudah banyak membunuh anak buah para pengacau, tidak baik bekerja setengah-setengah kepalang tanggung. Mari kita selidiki keadaan induk pasukan mereka!"
Pusporini menoleh dan sejenak mereka berpandangan.
Baru sekali ini selama mereka berkumpul, mereka melakukan pertempuran bersama-sama dan hasil pertandingan ini membuat mereka lebih dekat satu sama lain.
Perlahan-lahan sinar kemerahan yang membayangi wajah cantik itu dan memancar keluar dari sinar matanya, melunak dan akhirnya gadis itu tersenyum, senyum manis yang timbul dari lubuk hatinya, bukan seperti senyumnya kepada perwira Jenggala tadi yang merupakan senyum buatan untuk menyembunyikan kemarahan yang meluapluap.
"Hampir aku lupa akan tugas kita.........."
Kata Pusporini sambil membuang dua batang tombak itu, kemudian memandang ke arah mayat-mayat yang berserakan memenuhi tempat itu.
Tujuh belas orang mati, termasuk si jenggot panjang dan si hidung besar, dan keadaan di situ sunyi sekali, sunyi yang mengerikan.
"Mari kita ikuti mereka!"
Sepasang orang muda yang perkasa ini lalu berkelebat meninggalkan tempat itu, mengikuti bayangan dua orang sisa pasukan Pasopati yang melarikan diri pontang-panting itu.
Dari jauh mereka melihat dua orang itu lari terus, biarpun napas mereka telah kerenggosan hampir putus, dua orang itu tidak berani berhenti dan lari terus.
Menjelang senja, barulah dua orang itu sampai di tempat tujuan dan ternyata mereka itu tidak lari ke induk pasukan seperti yang mereka sangka, melainkan lari memasuki sebuah rumah gedung yang berada di sebuah dusun, letaknya di pinggir.
Melihat adanya empat orang penjaga di pintu gerbang, Joko Pramono dan Pusporini dapat menduga bahwa rumah itu tentulah rumah seorang pembesar yang berkuasa, karena kalau hanya rumah seorang kepala dusun saja tidak mungkin dijaga empat orang pengawal yang pakaiannya indah seperti pengawal istana.
Di pendopo luar tampak pondok sesajen yang seperti juga di dusun-dusun lain, dua orang muda itu melihat bahwa yang dipuja-puja oleh penghuni rumah gedung ini adalah Sang Bathara Shiwa.
Dengan hati-hati mereka melompati pagar tembok yang mengelilingi rumah itu, dan dengan hati-hati mereka menyelinap dan mengintai.
"Apa kau bilang? Pasukan Pasopati binasa semua oleh dua orang laki-laki dan wanita? Sungguh menggelikan!"
Bentak seorang laki-laki tinggi besar dan dengan sikap marah laki-laki ini mengelebatkan pedangnya yang panjang dan "capp!"
Pedang itu amblas setengahnya ke dalam tiang rumah itu.
Laki-laki ke dua, yang juga tinggi besar, berdiri pula dari tempat duduknya, memandang penuh penghinaan kepada dua orang pelarian yang kini berlutut di lantai, lalu membentak.
"Dan kalian tidak tahu nama mereka? Bahkan kalian berani meninggalkan pasukan membiarkan kawan-kawan tewas sedangkan kalian sendiri melarikan diri? Pengecut tak tahu malu! Beginikah perajurit-perajurit pilihan yang menjadi anggauta pasukan Pasopati?"
Joko Pramono dan Pusporini yang mengintai, melihat bahwa dua orang laki-laki setengah tua yang marah-marah itu benar-benar kelihatan amat kuat, tidak saja hal ini terbayang pada tubuh mereka yang tinggi besar, akan tetapi juga gerak-gerik dan sikap mereka jelas menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan ilmu kepandaian.
"Hamba.......... hamba berdua.......... bukan melarikan diri karena takut. hanya ingin melaporkan hal itu kepada paduka."
Kata seorang di antara mereka.
"Pengecut! Sama saja dengan menunjukkan tempat ini kepada musuh!"
Bentak orang yang berpedang dan cepat sekali tangannya sudah mencabut pedang di tiang tadi dan sekali pedang berkelebat, leher kedua orang itu telah terbabat putus!
Gerakan pedang ini amat cepat dan mahir sekali, juga sekali babat membuntungi dua buah kepala menunjukkan tenaga yang amat kuat.
"Adi Kroda, kita harus cepat-cepat mengajak mereka berangkat dari sin!! Lekas kau persiapkan kuda dan memberi tahu Eyang Cekel Wisangkoro agar kita dapat cepat membawa pergi mereka. Karena dua orang itu adalah orang-orang Panjalu yang hendak merampas kedua orang tamu kita!"
"Engkau benar, Kakang Dwipa. Aku pergi!"
Kata kakek tinggi besar ke dua yang melangkah cepat keluar dari dalam ruangan itu.
Kakek pertama juga meninggalkan ruangan setelah memanggil dua orang pengawal dan memberi perintah menyingkirkan dua mayat tadi, dan tanpa diketahui kakek yang ahli bermain pedang ini, yang pergi sambil membawa pedang disarungkan di pinggang, Joko Pramono dan Pusporini mengikuti dengan jalan menyelinap dan berindap-indap melalui taman di luar gedung,dilindungi oleh kegelapan malam yang mulai tiba.
Dua orang kakek tinggi besar itu adalah Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, dua di antara Lima Gagak Serayu, yaitu sisa dari tiga orang saudara mereka yang tewas ketika berperang melawan pasukan Joko Wandiro atau Adipati Tejolaksono yang kini telah menjadi patih muda di Panjalu.
Dua orang Gagak Serayu ini masih mendendam kepada Panjalu dan telah mengumpuikan sisa gerombolan mereka kemudian mengabdikan dirinya kepada Wasi Bagaspati dan akhirnya memperoleh "kedudukan"
Sebagai kepala-kepala pasukan pengawal, menjadi hamba-hamba setia dari Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama di Jenggala!
Seperti telah diketahui, Gagak Dwipa adalah seorang ahli pedang yang kuat sedangkan Gagak Kroda memiliki tubuh yang kebal.
Mereka ini sama sekali tidak tahu bahwa mereka kini sedang dibayangi oleh seorang muda yang sakti mandraguna, yang telah membasmi pasukan Pasopati yang menjadi anak buah mereka.
Gagak Dwipa memasuki ruangan dalam gedung itu dan dua orang muda yang elok bangkit berdiri menyambut kedatangannya.
Gagak Dwipa segera menjura dengan penuh hormat kepada laki-laki muda yang tampan itu, juga kepada wanita cantik yang berdiri di sebelah kirinya lalu berkata.
"Mohon maaf, Gusti Pangeran, kalau hamba datang mengganggu Paduka berdua yang sedang beristirahat. Akan tetapi terpaksa hamba memberitahukan bahwa sekarang juga perjalanan harus dilanjutkan, harap Paduka berdua suka mempersiapkan diri."
Sementara itu, Pusporini yang mengintai di luar bersama Joko Pramono, tiba-tiba memegang lengan temannya itu.
Ketika Joko Pramono merasa betapa jari tangan Pusporini yang memegang lengannya gemetar, ia cepat menengok dan alangkah terkejut hatinya ketika melihat wajah yang cantik itu menjadi pucat.
Biarpun wajah itu hanya menerima penerangan suram-suram yang menyorot dari dalam gedung, namun Joko Pramono sudah mengenal betul wajah wanita ini dan ia segera memandang penuh pertanyaan.
Pusporini mendekatkan mulutnya ke telinga temannya dan berbisik.
"Dia....... Setyaningsih "
"JokoPramono terkejut dan merasa heran sekali. Tentu saja ia sudah banyak mendengar penuturan gadis ini tentang keluarganya, maka nama Setyaningsih sudah dikenalnya baik-baik sebagai saudara tiri gadis ini dan adik kandung Endang Patibroto. Maka ia cepat memandang kembali ke sebelah dalam dan kini ia memandang wanita muda itu penuh perhatian. Ia melihat bahwa wanita itu sebaya dengan Pusporini dan amat cantik jelita, berkulit kuning langsat dan sinar matanya tajam. berpengaruh, membayangkan kekerasan hati. Diam-diam ia menjadi kagum akan tetapi juga terheran-heran seperti Pusporini mendapatkan wanita itu berada di tempat ini dan seakanakan menjadi tokoh penting yang dihormati kakek tinggi besar itu. Bahkan pemuda tampan yang berdiri di sebelah kanannya itu disebut gusti pangeran! Melihat Pusporini seakan-akan tak dapat menahan kerinduan hatinya dan seperti hendak berseru memanggil, Joko Pramono cepat menyentuh lengan gadis itu dan menggelengkan kepala sambil member! isyarat dengan telunjuk di depan mulut, minta gadis itu agar jangan mengeluarkan suara.
"Paman Dwipa, apa pula artinya ini?"
Pemuda tampan yang disebut gusti pangeran itu berkata, alisnya yang hitam berkerut.
"Telah dua hari kita mengadakan perjalanan dan isteriku lelah sekali, ingin beristirahat malam ini. Kita telah berada di wilayah Jenggala, di tempat sendiri, mengapa tergesa-gesa? Bukankah besok kita dapat melanjutkan perjalanan pagi-pagi dan sore hatinya dapat tiba di kota raja?"
"Mohon maaf, Gusti. Sesungguhnyalah apa yang Paduka katakan, akan tetapi telah terjadi hal-hal yang gawat.Hendaknya Paduka ketahui bahwa pada masa ini kita menghadapi banyak musuh yang dikirim oleh Panjalu "
"Ah, betapa mungkin? Uwa Prabu di Panjalu "
"Mungkin bukan oleh gusti sinuwun di Panjalu, akan tetapi semenjak pengkhianatan mendiang Patih Brotomenggala, kaki tangannya masih selalu berusaha mengacaukan Jenggala. Baru saja hamba mendapat keterangan bahwa ada beberapa orang mata-mata musuh yang akan menangkap Paduka berdua."
"Eh? Aneh sekali! Aku dan isteriku berpakaian menyamar sebagai penduduk biasa, siapa mengetahui bahwa aku adalah Pangeran Panji Sigit dari Jenggala dan ini isteriku?"
Ucapan ini kembali mengejutkan hati Pusporini sehingga di luar kesadarannya gadis ini memegang lengan Joko Pramono dan mencubitnya keras-keras!
Untung Joko Pramono dapat menahan diri, kalau tidak tentu ia akan memekik, bukan karena nyeri melainkan karena.
girang.
Cubitan seorang gadis yang dicinta mendatangkan rasa nyeri yang sedap di hati!
"Ah, Paduka tidak tahu betapa pandai mendiang Patih Brotomenggala sehingga banyak kaki tangannya mendapat dukungan tokoh-tokoh di Panjalu.
Maafkan hamba, demi keselamatan Paduka sendirilah terpaksa malam ini juga hamba akan mengiringkan Paduka berdua menuju ke kota raja.
Setelah Paduka tiba di sana menghadap gusti sinuwun, baru akan legalah hati hamba dan akan bebas hamba daripada tanggung jawab yang berat "
Pusporini dan Joko Pramono dapat menangkap isyarat yang terpancar keluar dari pandang mata Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit.
Pangeran itu menarik napas panjang dan akhirnya berkata kepada Gagak Dwipa yang menundukkan muka dengan hormat.
"Baiklah kalau begitu,Paman. Engkau sudah begitu baik untuk mengantar kami, tentu saja kami akan menurut segala langkah yang kauambil demi keselamatan kami."
Pada saat itu, masuklah Gagak Kroda. Setelah memberi hormat kepada pangeran muda bersama isterinya itu, ia lalu berkata kepada Gagak Dwipa.
"Kakang Dwipa, kereta telah siap di luar."
Pangeran muda itu dan isterinya melangkah keluar dari gedung diikuti oleh kedua orang kakek tinggi besar.
Sebuah kereta yang indah telah menanti di luar, dan berangkatlah suami isteri itu, dikawal oleh kedua orang kakek itu sendiri bersama tiga orang pengawal yang kelihatannya memiliki kepandaian yang cukup tinggi.
Joko Pramono dan Pusporini tetap mengikuti dari jauh.
Mereka menggunakan aji kesaktian mereka sehingga lari mereka cepat sekali, tidak tertinggal oleh larinya kuda yang menarik kereta di sebelah depan.
Sambil membayangi kereta itu dari jauh mereka bercakap-cakap.
"Sungguh aneh luar biasa!"
Kata Pusporini kemudian mengomel.
"Mengapa kau melarang aku menjumpai Setyaningsih? Kau tidak tahu betapa rinduku kepadanya! Ingin sekali aku mendengar dari mulutnya sendiri bagaimana dia sampai bisa menjadi isteri seorang Pangeran Jenggala Luar biasa. !"
"Hemm, suaminya memang hebat. Seorang pangeran! Begitu tampan dan gagah! Wah, tentu kau akan dapat belajar dari dia bagaimana untuk dapat memancing hati seorang pangeran. Aku berani bertaruh, tentu akan banyak pangeran yang akan tergila-gila kepadamu!"
Tiba-tiba Pusporini berhenti dan memandang pemuda itu dengan pandang mata bersinar-sinar penuh kemarahan.
"Kau. mendem (mabuk)!! Siapa ingin memancing hati pangeran? Apa maksudmu dengan ucapan gila itu?"
Joko Pramono terkejut dan merasa betapa rasa cemburu membuat ia kelepasan bicara.
"Eh.......... ohh.......... maaf.......... aku. aku hanya bermaksud bahwa amat terhormat menjadi isteri pangeran.......... bahwa.......... bahwa aku seperti batu kerikil kalau dibandingkan dengan seorang pangeran yang seperti batu intan "
"Wah, lebih gila lagi. Kaukira aku perempuan macam apa yang silau oleh ketampanan seorang pangeran? Jadi kau.......... kau cemburu..........? Ceriwis kau! Genit kau! Cih, aku jemu! Sudahlah, aku tidak sudi bertemu dengan Setyaningsih !"
Gadis itu terisak, membalikkan tubuhnya dan lari pergi. Sejenak Joko Pramono melongo, kemudian ia mengerahkan tenaga berlari cepat mengejar Pusporini.
"Pusporini.......... berhentilah.......... ampunkanlah aku.......... berhenti. !"
Akan tetapi gadis itu berlari cepat sekali dan Joko Pramono menjadi bingung karena ia maklum bahwa kalau Pusporini tidak mau memperlambat larinya, tentu akan sukar baginya untuk menyusul dan tentu mereka tidak akan dapat mengikuti suami isteri dalam kereta itu.
"Pusporini...........! Aku tobat minta ampun...........! Tunggulah aku, mari kita mengejar mereka. Setyaningsih dan suaminya dalam bahaya. !!"
Mendengar kalimat terakhir itu, tiba-tiba Pusporini berhenti dan membalikkan tubuhnya.
Pandang matanya berkilat dan pipinya basah air mata.
Joko Pramono terkejut dan merasa menyesal sekali.
Belum pernah ia melihat gadis itu menangis.
Ia lalu melompat dekat dan serta-merta menjatuhkan diri berlutut di depan gadis itu!
"Pusporini..........
aku mengaku salah..........
aku telah gila, ampunkan aku!
Ampunkan mulutku yang lancang, betapa gila aku pernah meragukan perasaanmu yang suci."
Pusporini tadinya marah sekali, akan tetapi melihat laki-laki yang dicintanya itu berlutut di depannya, ia menjadi terharu sekali.
"Joko Pramono, bangkitlah. Tidak layak seorang pria berlutut di depan wanita. Kumaafkan engkau,akan tetapi jangan sekali-kali lagi bicara seperti tadi kau telah menyayat hatiku."
Joko Pramono bangkit berdiri dan mereka berpandangan, penuh maaf dan penuh pengertian sehingga pandang mata mereka berubah mesra. Akhirnya Pusporini yang lebih dahulu menunduk dengan muka kemerahan.
"Apa maksudmu bahwa Setyaningsih terancam bahaya?"
"Aku tidak main-main. Aku mencurigai dua orang kakek itu. Tidak melihatkah engkau tadi Setyaningsih dan suaminya bertukar isyarat pandang mata? Tentu mereka itu tidak menjadi sekutu mereka, entah apa yang telah terjadi.Akan tetapi ada perasaan di hatiku seolah-olah mereka masuk perangkap."
"Ah, kalau begitu, kejar. !"
Pusporini mendahului Joko Pramono dan berlari cepat sekali mengejar ke arah larinya kereta yang kini sudah tak tampak lagi.
Joko Pramono juga mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat.
Di dalam hatinya terasa lega sekali karena ia merasa seolah-olah baru saja terhindar daripada malapetaka terbesar selama hidupnya!
Sebetulnya apa yang terjadi dengan Setyaningsih dan suaminya?
Seperti telah kita ketahui, Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih merupakan dua orang tokoh pasukan rahasia yang dipimpin Pangeran Darmokusumo dari Panjalu.
Mereka ini bersama beberapa orang pengawal yang merupakan ahli-ahli penyelidik, menyelundup memasuki daerah Jenggala dan tugas mereka adalah mencari jejak Nini Bumigarba yang telah menculik Retna Wilis.
Lama mereka itu bersama anak buah mereka melakukan penyelidikan, namun tak seorang pun pernah mendengar nama Nini Bumigarba, apa lagi melihat nenek menyeramkan itu.
Jejak nenek itu lenyap sama sekali dan mereka menjadi bingung karena tidak berhasil sedikit pun juga.
Karena itu, Pangeran Panji Sigit dan isterinya lalu memisahkan diri dari para penyelidik dengan niat untuk memasuki Kota Raja Jenggala.
Pangeran itu bertekad untuk menghadap ramandanya dengan resiko menghadapi musuh-musuh rahasia Kerajaan Jenggala.
Akan tetapi dia merasa yakin bahwa hanya di istana sajalah ia akan dapat mendengar tentang nenek itu.
Dua hari yang lalu, ketika mereka sedang berjalan memasuki sebuah dusun, mereka bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh Gagak Dwipa dan Gagak Kroda.
Di antara anak buah pasukan ini terdapat pula seorang perajurit Jenggala yang tentu saja segera mengenal Pangeran Panji Sigit, sungguhpun pangeran itu menyamar dalam pakaian penduduk biasa.
Ia cepat memberitahukan hal ini kepada kedua orang kakek itu yang cepat mengatur siasat.
Gagak Dwipa dan Gagak Kroda sudah mendengar tugas rahasia dari Pangeran Kukutan bahwa kalau mereka mendengar akan adanya Pangeran Panji Sigit, mereka harus membawanya ke istana!
Kiranya Pangeran Kukutan telah mendengar bahwa adik tirinya itu pernah datang menghadap ratu yang diasingkan, maka timbul rasa khawatir di hatinya.
Ia merundingkan hal ini dengan Suminten yang segera bangkit seleranya, bangun nafsunya mendengar akan kembalinya Pangeran Panji Sigit.
Seorang wanita seperti Suminten ini, yang setiap hari berganti kekasih, akan menjadi bosan dengan pria-pria tampan yang dengan senang hati melayani segala kehendak dan nafsunya.
Sebaliknya, ia akan merasa tersiksa dan menderita penyakit wuyung (rindu asmara) kalau ada pria yang menolak cintanya!
Dan pria yang menolaknya, satu-satunya pria tampan yang menolaknya adalah Pangeran Panji Sigit.
Bukan ini saja.
Orang pertama yang membangkitkan berahinya, yang menjadi cinta pertamanya namun yang tak sudi melayaninya adalah Pangeran Panjirawit, suami Endang Patibroto yang pertama.
Bahkan kasih tak terbalas inilah yang sesungguhnya membuat perubahan besar dalam hidup Suminten, yang membuat dia dari seorang abdi menjadi wanita yang paling berkuasa di seluruh Jenggala.
Cinta kasihnya yang gagal terhadap Pangeran Panjirawit ini pulalah yang menjadikan dia seorang wanita pengabdi nafsu berahi yang keranjingan, seorang wanita yang haus akan cinta kasih yang tak pernah dapat memenuhi hatinya.
Dan Pangeran Panji Sigit mempunyai wajah yang mirip dengan kakak tirinya itu!
Gagak Dwipa dan Gagak Kroda menjadi girang sekali dan cepat-cepat dia bersama pasukannya bersembah sujut memberi hormat kepada Pangeran Panji Sigit.
Tentu saja pangeran muda ini menjadi terkejut sekali.
Dia bersama isterinya sudah menyamar dengan pakaian penduduk biasa, namun ternyata pasukan itu mengenalnya.
Terpaksa, untuk menyembunyikan tugas rahasianya yang berbahaya, ia pun menyatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang ke kota raja untuk menghadap ramandanya sang prabu di Jenggala.
Demikianlah, Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih dikawal oleh Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, naik sebuah kereta dan sampai di dusun itu di mana mereka beristirahat di sebuah gedung besar yang menjadi tempat peristirahatan para petugas Kerajaan Jenggala yang melakukan tugas berjaga dan menyelidili wilayah perbatasan.
Ketika dua orang kakek itu memaksa mereka melanjutkan perjalanan di waktu malam, hati Pangeran Panji Sigit dan isterinya menjadi curiga.
Akan tetapi kalau mereka menolak, tentu kedua orang kakek itu mencurigai mereka, maka mereka menurut dan diam-diam mereka bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Malam itu bulan purnama bersinar di angkasa yang bersih dan cerah sehingga kalau saja tidak digoda oleh kecurigaan yang membuat hati mereka tidak nyaman, tentu perjalanan itu merupakan perjalanan yang amat menyenangkan.
Kanan kiri jalan yang bermandikan cahaya bulan keemasan amatlah sedap dipandang.
Sudah hampir dua jam kereta berjalan cepat dan tiba-tiba, di sebuah jalan perempatan, kereta berhenti.
Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih saling berpandangan kemudian mereka menyingkap tenda sutera penutup jendela kereta dan memandang keluar.
Di bawah sinar bulan yang terang, tampak tiga orang penunggang kuda menghadang di depan kereta yang dihentikan.
Sejenak Pangeran Panji Sigit tertegun dan memandang penuh perhatian.
Benarkah ucapan Gagak Dwipa bahwa ada orang-orang Panjalu yang hendak mengganggunya?
Tidak mungkin!
Kalau toh ada utusan dari Panjalu, tentu utusan itu adalah anggauta pasukan rahasia atau anak buah Pangeran Darmokusumo, atau juga anak buah Patih Tejolaksono.
Akan tetapi dia tidak mengenal mereka itu dan tampak olehnya bahwa tiga orang itu dipimpin oleh seorang kakek yang usianya sudah empat puluh tahun, berjubah kuning seperti pakaian pendeta, kakinya telanjang, rambutnya putih terurai sampai ke pinggang, mukanya kehitaman dengan hidungnya yang panjang berbentuk paruh burung kakatua, tubuhnya kurus tinggi.
"Pangeran Panji Sigit, kami atas nama kerajaan dan atas perintah gusti patih di Jenggala, ditugaskan menangkap Andika bersama wanita yang datang bersama Andika!"
Kakek itu berkata, suaranya nyaring dan serak.
Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih cepat meloncat keluar dari kereta itu, berdiri dengan sikap siap.
Sedikit pun mereka tidak menjadi gentar, apalagi Setyaningsih, dengan muka angkuh memandang kepada kakek itu, sinar matanya memancarkan kemarahan.
"Tidak mungkin! Mengapa pula Patih Jenggala hendak menangkap aku? Paman Dwipa dan Paman Kroda, apa artinya ini?"
Bentak Pangeran Panji Sigit.
Akan tetapi,dengan heran dan marah pangeran itu melihat betapa kedua orang kakek tinggi besar itu pun sudah melompat turun dan bergabung dengan tiga orang itu yang sudah melompat turun dari kuda masing-masing.
Bahkan Gagak Dwipa tertawa mengejek lalu berkata.
"Pangeran Panji Sigit, ketahuilah bahwa paman ini adalah Paman Cekel Wisangkoro, kepercayaan dari Gusti Pangeran Kukutan. Sebaiknya Andika berdua menyerah saja agar dapat ditangkap secara terhormat, daripada harus dipergunakan kekerasan. Kalau gusti patih memerintah agar Andika ditangkap, tentu ada alasannya yang kuat!"
"Hemm, kiranya kalian berdua adalah orang-orang jahat yang sengaja hendak mencelakakan kami!"
Tiba-tiba Setyaningsih berkata, suaranya dingin dan mengandung ancaman mengerikan.
"Kakangmas Pangeran adalah putera gusti sinuwun di Jenggala yang hendak pulang ke istana ramandanya sendiri. Siapa pun tidak berhak menangkapnya!"
"Hemm, galak benar isteri pangeran ini! Kalian hendak melawan kami?"
Bentak Gagak Kroda yang wataknya berangasan.
Adapun lima orang yang tadi mengawal kereta, bersama dua orang perajurit yang bertugas memanggil Cekel Wisangkoro dan kini datang bersama kakek pendeta itu, telah maju mengurung Pangeran Panji Sigit dan isterinya.
"Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, memang tadinya aku sudah curiga terhadap kalian. Semenjak kecil aku berada di Jenggala dan selalu aku melihat perwira-perwira dan pengawal-pengawal yang berjiwa satria, tidak seperti kalian orang-orang kasar melebihi gerombolan perampok. Kiranya kalian adalah pemberontak-pemberontak yang mengatur siasat untuk mencelakakan kami! Tunggu saja sampai aku menghadap ramanda prabu, pasti pengawal-pengawal palsu macam kalian ini akan dijatuhi hukuman mati!"
"Bodoh! Kenapa kalian melayani mereka bicara? Lekas tangkap!"
Cekel Wisangkoro tak sabar lagi.
"Gusti Pangeran Kukutan sudah tak sabar menanti!"
"Hayo tangkap mereka!"
Gagak Dwipa memberi aba-aba kepada tujuh orang perajurit pengawal yang menjadi anak buahnya.
Dia memandang rendah kepada pangeran yang halus sikapnya itu, juga isterinya yang cantik jelita dan lemah lembut, oleh karena itu ia memerintahkan anak buahnya untuk turun tangan menangkap suami isteri itu.
Tujuh orang perajurit itu dengan penuh gairah lalu menubruk maju.
Hanya dua orang yang menerjang Pangeran Panji Sigit, sedangkan yang lima orang lagi, yaitu mereka yang tadi mengawal kereta, seperti anjing-anjing kelaparan berebut tulang, telah berlomba menerkam Setyaningsih.
Mereka adalah orang-orang kasar, bekas anak buah gerombolan Gagak Serayu, orang-orang yang sudah biasa menjadi hamba nafsunya sendiri sehingga sejak melihat Setyaningsih, sudah bergelora nafsu berahi mereka.
Kini, mereka memperoleh kesempatan untuk menangkap, tentu saja mereka tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk sekedar menggerayang dan meremas tubuh yang menggairahkan hati mereka itu.
Akan tetapi sungguh di luar dugaan mereka bahwa wanita muda cantik jelita itu bukanlah makanan empuk seperti yang mereka kira.
Bahkan sebaliknya!
Begitu mereka menubruk, Setyaningsih yang sejak tadi sudah menahan-nahan kemarahannya, sama sekali tidak mengelak, bahkan menyambar mereka dengan tamparan-tamparan sakti.
"Wuut-wuut........... plak-plak-plak. !"
Tiga di antara lima orang itu terpelanting dan memegangi kepala yang serasa akan pecah!
Muka mereka bengkak-bengkak membiru akibat pukulan yang dikerahkan dengan Aji Gelap Musti yang pernah dipelajari dari ayundanya, yaitu Endang Patibroto ketika ia berada di puncak Wilis!
Mereka semua terkejut setengah mati.
Lima orang itu adalah orang-orang yang memiliki kedigdayaan, bertubuh kebal, namun sekali gebrakan saja Setyaningsih telah merobohkan tiga orang yang agaknya takkan dapat bangkit lagi cepat-cepat.
Mereka ini, dua orang perajurit yang lain menjadi gentar, akan tetapi juga marah.
Mereka ini menerjang maju, tidak untuk menggerayang tubuh, melainkan untuk memukul roboh dan menangkap wanita perkasa itu dengan kekerasan.
Pangeran Panji Sigit mungkin tidak seganas isterinya, juga tidak sesakti isterinya.
Akan tetapi, pangeran ini telah pula menerima gemblengan dan petunjuk Ki Datujiwa, maka menghadapi dua orang perajurit pengawal itu tentu saja bukan merupakan lawan berat baginya.
Dengan cekatan sekali pangeran muda ini mengelak dari setiap sergapan, cengkeraman atau pukulan, kemudian ia pun membalas dengan pukulan -pukulannya yang cukup ampuh.
Berbeda dengan Pangeran Panji Sigit yang sifatnya memang pemurah dan betapapun juga tidak ingin membunuh ponggawa kerajaan ramandanya sendiri, Setyaningsih yang sudah marah sekali itu kini mengeluarkan suara bentakan nyaring, tubuhnya berkelebat ke depan dan terjangan kedua orang perajurit itu pun ia sambut dengan pukulan-pukulan Pethit Nogo!
"Werrr..........
plak-plak.
Dua orang perajurit itu roboh terjengkang dan tubuh mereka berkelojotan, tak mampu bangkit kembali.
Sesungguhnya , di antara ilmu-ilmu yang dimiliki Endang Patibroto, ilmu pukulan Gelap Musti amatlah hebat.
Akan tetapi bagi Setyaningsih, Aji Pethit Nogo-nya lebih ampuh karena sejak kecil ia telah dilatih ibunya dengan aji pukulan ini, sedangkan Aji Gelap Musti hanya ia pelajari beberapa tahun saja ketika ia tinggal bersama ayundanya.
Kalau tiga orang yang pertama kali dirobohkan dengan Gelap Musti tadi hanya merasa kepalanya pecah dan sukar dapat bangkit kembali, adalah dua orang korban Aji Pethit Nogo ini tak mungkin dapat hidup lagi karena mengalami gegar otak yang amat hebat!
Pada saat yang hampir bersamaan, Pangeran Panji Sigit juga sudah berhasil memukul roboh seorang pengeroyok dengan tulang pundak remuk, dan membanting seorang pengeroyok lain sehingga kedua orang itu pun tidak mampu bertanding lagi.
"Wah, kiranya kalian juga memiliki sedikit kepandaian?"
Bentak Gagak Kroda, benar-benar terkejut karena tak disangkanya sama sekali bahwa suami isteri itu akan dapat merobohkan tujuh orang anak buahnya, terutama isteri pangeran itu yang telah merobohkan lima orang sedemikian mudahnya.
"Majulah, Gagak Dwipa dan Gagak Kroda! Inilah Setyaningsih dan ketahuilah bahwa aku adalah adik kandung Endang Patibroto! Suami ayundaku, Pangeran Panjirawit tewas oleh para perajurit Jenggala sendiri, dan kini suamiku, juga seorang Pangeran Jenggala, kini hendak ditangkap oleh perajurit-perajurit Jenggala sendiri! Akan tetapi, kalian hanya akan dapat melakukan hal itu melalui mayatku! Benar ucapan Ayunda Endang Patibroto bahwa di Jenggala banyak terdapat iblis-iblis menyamar sebagai ponggawa kerajaan!"
Setyaningsih biasanya pendiam dan tidak banyak cakap, akan tetapi kini kemarahannya memuncak ketika ia melihat suaminya hendak diganggu orang.
Mendengar disebutnya nama Endang Patibroto, kedua orang pentolan Gagak Serayu itu saling pandang dengan mata terbelalak dan muka berubah.
Tentu saja mereka sudah mendengar akan kehebatan sepak terjang wanita sakti yang bernama Endang Patibroto dan kini mereka berhadapan dengan adik kandung wanita sakti itu!
Pantas saja tandangnya begini hebat!
Selama petualangan mereka, dua orang bersaudara ini baru satu kali berhadapan dengan orang yang sakti dan yang telah merobohkan mereka, bahkan telah menghancur-kan kesatuan Lima Gagak Serayu sehingga tiga orang adik mereka roboh tewas, yaitu Tejolaksono.
Dan mereka sudah mendengar bahwa Endang Patlbroto memiliki kedigdayaan yang setingkat dengan Tejolaksono!
Maka begitu mendengar bahwa gadis yang cantik jelita dan berkulit kuning langsat, yang menjadi isteri Pangeran Panji Sigit ini adalah adik kandung Endang Patibroto, tentu saja mereka terkejut dan gentar.
"Gagak Dwipa dan Gagak Kroda, kenapa kalian tidak lekas menangkap dua orang ini? Perlukah aku melaporkan kepada Gusti Pangeran Kukutan bahwa kalian jerih terhadap seorang gadis "
Terdengar Cekel Wisangkoro berkata mengejek.
Mendengar ini, dua orang kakek tinggi besar itu menjadi merah mukanya.
Mereka hanya terkejut mendengar disebutnya Endang Patibroto, akan tetapi tentu saja mereka tidak takut menghadapi pangeran muda itu dan isterinya yang hanya merupakan seorang gadis muda.
Serempak mereka berdua lalu menerjang maju dengan suara gerengan mereka.
Karena maklum bahwa suami isteri muda itu memiliki ilmu kepandaian yang tak boleh dipandang ringan, maka Gagak Dwipa sudah mengerjakan bedok atau pedangnya yang panjang dan kuat itu untuk menerjang Setyaningsih, sedangkan Gagak Kroda sudah menubruk Pangeran Panji Sight untuk menggelut dan menangkapnya.
Perintah yang mereka terima adalah menangkap Pangeran Panji Sigit, maka tentu saja mereka tidak berani membunuh pangeran ini.
Karena ini, maka Gagak Kroda yang kuat dan kebal tubuhnya itulah yang menghadapi Pangeran Panji Sigit dengan tangan kosong, adapun Gagak Dwipa menerjang Setyaningsih dengan senjata tajam untuk merobohkannya, kalau perlu membunuhnya!
Membunuh wanita ini tidak menjadi larang bagi mereka.
Dua orang kakek itu adalah kepala-kepala perampok yang semenjak muda sudah berkecim pung dalam dunia kekerasan.
Mereka dahulunya menjadi pimpinan gerombolan Gagak Serayu dan selain kepandaian mereka cukup tinggi, juga pengalaman mereka dalam bertempur sudah matang.
Apalagi semenjak kesatuan mereka, Lima Gagak Serayu dihancurkan oleh Tejolaksono dan tinggal mereka berdua yang hidup, dua orang ini sudah menggembleng dirinya lebih rajin lagi dan kini mereka merupakan lawan yang tangguh bagi suami isteri muda itu.
Apa-lagi Pangeran Panji Sigit yang biarpun sejak kecil mempelajari olah keperajuritan, namun tidaklah sesakti Setyaningsih yang memang terlahir dalam keluarga sakti.
Pangeran ini yang mempergunakan kerisnya, didesak hebat oleh Gagak Kroda yang tandangnya seperti sang raksasa Kumbokarno, menubruk sambil menggereng, kedua lengannya yang besar panjang berbulu itu menyambar-nyambar dengan cengkeraman-cengkeraman kuat, kalau tubrukannya dielakkan sehingga tubuhnya terdorong ke depan, ia terus menggulingkan tubuhnya dan sambil bergulingan ini ia mengejar terus hendak menangkap kaki pangeran muda itu!
Pangeran Panji Sigit terdesak hebat dan menjadi agak ngeri dan jijik melihat cara berkelahi yang tidak pakai aturan ini.
Beberapa kali ujung kerisnya berhasil mencium kulit lawan, bahkan dua kali ia berhasil menusuk dada kanan dan lam-bung kiri, akan tetapi tusukan kerisnya mental, seolah-olah ia menusuk segumpal karet tebal yang amat ulet dan keras!
Tentu saja pangeran ini terkejut sekali dan maklum bahwa lawannya memiliki kekebalan yang amat kuat, maka ia berlaku hati-hati sekali dan menujukan serangan kerisnya pada bagian-bagian yang berbahaya dan tidak dilindungi kekebalan.
Namun, ia tidak diberi kesempatan karena Gagak Kroda sudah mendesaknya dengan rangsekan bertubi-tubi dan pangeran ini pun maklum bahwa sekali tubuhnya kena dicengkeram jari jari tangan yang sebesar buah pisang ambon itu, tentu sukar baginya untuk dapat meloloskan diri!
Maka ia kini hanya mengandalkan kelincahan gerak tubuhnya untuk menghindar dengan loncatan ke sana ke mari dan karena tubuh Gagak Kroda yang tinggi besar itu tidak dapat bergerak segesit dia, maka untuk sementara waktu Pangeran Panji Sigit masih dapat bertahan.
Pertandingan antara Setyaningsih melawan Gagak Dwipa lebih hebat lagi karena Gagak Dwipa sepak terjangnya dalam penyerangan tidak seoerti Gagak Kroda yang berusaha menangkap hidup-hidup Pangeran Panji Sigit.
Gagak Dwipa yang mempergunakan pedangnya berusaha untuk mengalahkan wanita muda yang sakti mandraguna itu dengan bacokan-bacokan dan tusukan-tusukan mematikan.
Akan tetapi Setyaningsih yang memegang keris melakukan perlawanan gigih dan gerakan-gerakannya amat cepat memusingkan kepala Gagak Dwipa.
Setiap serbuan pedang dapat dielakkan atau ditangkis dengan tenaga yang kuat, dan di samping membalas dengan tusukan kerisnya, juga tangan kiri Setyaningsih kadang-kadang mengirim pukulan-pukulan sakti yang amat ampuh.
Biarpun pukulan tangan kiri belum ada yang mengenai tubuh Gagak Dwipa, akan tetapi angin pukulannya itu saja sudah membuat Gagak Dwipa terdesak dan kadang-kadang terhuyung mundur.
Sayang bahwa perhatian Setyaningsih terpecah kepada pertandingan suaminya.
Ia tahu bahwa suaminya terdesak oleh lawannya, maka kadang-kadang ia meninggalkan Gagak Dwipa yang sedang terhuyung, menggunakan kesempatan itu untuk menerjang ke arah Gagak Kroda yang sudah mendesak suaminya.
Inilah yang menyebabkan Gagak Dwipa belum juga dapat dikalahkannya.
Pangeran Panji Sigit makin terdesak.
Gagak Kroda terlalu kebal dan kuat sehingga tusukan kerisnya tidak melukai kulit raksasa itu.
Dengan penasaran dan juga marah karena isterinya yang terpaksa membantunya itu kadang-kadang bahkan terancam keselamatannya oleh Gagak Dwipa, pangeran ini berseru keras dan membalas serangan lawan dengan menujukan kerisnya ke arah mata.
Kemarahan pangeran ini memperlipatgandakan kekuatannya sehingga sesaat lamanya Gagak Kroda terdesak dan mundur karena matanya selau terancam ujung keris yang runcing.
Juga Setyaningsih menjadi marah karena kegelisahannya melihat suaminya yang terdesak.
Biarpun belum sempurna karena hawa sakti di tubuhnya belum kuat benar, Setyaningsih pernah belajar aji kesaktian yang hebat dari Endang Patibroto, yaitu pekik sakti Sardulo Bairowo.
Mulailah ia mengeluarkan pekik sakti ini dan suaranya membuat Gagak Dwipa menjadi terkejut sekali dan ketika ia terhuyung, tamparan tangan kiri Setyaningsih mampir di pundaknya, membuat tubuh raksasa ini terpelanting.
Kalau saja pada saat itu Pangeran Panji Sigit tidak sedang terdesak dan Setyaningsih mengirim serangan susulan, pasti Gagak Dwipa akan terpukul tewas.
Akan tetapi kembali Setyaningsih meloncat ke arah lawan suaminya, dengan pekik pendek-pendek melengking tinggi ia menerjang Gagak Kroda.
Sebuah tamparan tangan kirinya mengenai dada kanan Gagak Kroda.
Tubuh raksasa ini amat kebal, apalagi dadanya yang setiap hari "sarapan"
Bacokan golok dan tusukan ujung tombak.
Tadi pun tusukan-tusukan keris di tangan Pangeran Panji Sigit tak pernah dapat menggores kulit dadanya.
Akan tetapi kini kena diserempet tamparan Pethit Nogo tangan kiri Setyaningsih, raksasa ini mengaduh dan terhuyung ke belakang sambil memegang dadanya yang serasa panas terbakar.
Akan tetapi pada saat itu, terdengar suara terkekeh dan bagaikan menyambarnya halilintar, tampak sinar hitam seperti ular hidup menyambar ke arah kepala Setyaningsih.
W anita muda ini terkejut sekali karena hawa pukulan yang keluar dari sinar hitam ini amat kuatnya.
Ia menangkis dengan kerisnya, terdengar suara nyaring dan kerisnya terpental dari tangannya!.
Setyaningsih memekik nyaring, pekik Sardulo Bairowo, tubuhnya mencelat ke samping ketika sinar hitam itu terus mengejarnya.
Alangkah kagetnya ketika ia melihat bahwa sinar hitam itu adalah tongkat di tangan kakek yang berpakaian pendeta dan bernama Cekel Wisangkoro!
Kiranya kakek itu seorang yang amat sakti.
Hatinya penuh kekhawatiran, apalagi ketika ia melirik dan melihat betapa suaminya kini telah kena diringkus oleh kedua lengan Gagak Kroda yang amat kuat.
Suaminya meronta-ronta namun tak dapat terlepas.
Tentu suaminya dikalahkan karena pengeroyokan Gagak Kroda dan Gagak Dwipa selagi dia terdesak sinar hitam itu.
Karena kini ia mengerahkan perhatian kepada suaminya, ketika tiba-tiba sinar hitam kembali menyambar, Setyaningsih agak terlambat melompat dan pundaknya kena diserempet tongkat ular, membuat wanita ini terhuyung.
Dan pada saat itu Gagak Dwipa sudah melompat maju dan mengirim tusukan dengan pedangnya ke arah dada Setyaningsih, tusukan yang agaknya sukar untuk dapat ia hindarkan dalam keadaan terhuyung seperti itu.
Pada saat yang amat gawat bagi keselamatan Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih itu, tiba-tiba terdengar pekik melengking tinggi yang hampir sama dengan pekik Setyaningsih akan tetapi jauh lebih kuat dan sebuah lengan yang halus melayang, menampar ke arah kepala Gagak Dwipa.
Angin pukulannya amat kuat sehingga Gagak Dwipa terkejut bukan main.
Namun bekas pimpinan Gagak Serayu ini cepat menarik kembali pedangnya yang tadi menusuk Setyaningsih dan terus ia babatkan ke atas menangkis lengan halus itu.
"Krakkk!"
Pedang itu patah menjadi tiga potong bertemu dengan tangan Pusporini yang mengandung tenaga mujijat Pethit Nogo, bahkan tangan itu masih dapat mendorong pundak Gagak Dwip yang terpental ke belakang.
Setyaningsih hanya sekelebatan saja melihat datangnya seorang wanita cantik yang menolongnya, akan tetapi pada saat itu perhatiannya terpusat kepada suaminya, maka tubuhnya berkelebat ke depan dan tangannya menampar ke arah Gagak Kroda yang masih mendekap tubuh suaminya yang tak mampu bergerak.
Gagak Kroda yang maklum akan keampuhan pukulan Setyaningsih, yang tadi membuat dadanya terasa seperti pecah, cepat melepaskan dekapannya dan menjatuhkan diri ke belakang lalu bergulingan men jauh sehingga ia terbebas daripada pukulan maut.
Dua orang saudara Gagak itu benar-benar amat kuat.
Mereka sudah bangkit lagi dan bersiap-siap.
Akan tetapi pada saat itu, dua orang wanita yang sama muda sama cantik rupawan, akan tetapi sama-sama ganas dan penuh kemarahan telah menerjang mereka dan keduanya mengeluarkan pekik-pekik melengking yang dahsyat.
Gagak Kroda menjadi pucat ketika ia melihat Setyaningsih menerjangnya dengan tamparan-tamparan sakti, dan ia berusaha mengelak dan menangkis sambil terhuyung mundur.
Di lain fihak, Gagak Dwipa juga merasa ngeri ketika melihat wanita muda yang cantik dan berkulit hitam manis itu sambil tersenyum-senyum manis sekali menerjangnya dengan tamparan yang seolah-olah menghembuskan api kawah Gunung Bromo!
Yang membuat kedua orang raksasa ini merasa ngeri adalah pekik-pekik melengking yang keluar dari mulut mereka.
Kedua orang tokoh Serayu ini mundur-mundur dan wajah mereka membayangkan ketakutan hebat.
Cekel Wisangkoro yang melihat para pembantunya terdesak dan terancam, segera berkelebat maju dengan tongkat hitamnya, akan tetapi pada saat itu, berkelebat bayangan orang dan seorang pemuda tampan gagah perkasa yang datang bersama wanita cantik itu telah berdiri menghadapinya sambil tersenyum-senyum.
"Pendeta palsu, dua orang kawanmu itu adalah laki-laki raksasa yang melawan dua orang wanita muda, sesungguhnya mereka itu sudah tak tahu malu sekali. Masa masih akan kaubantu lagi? Engkau ini pendeta dukun lepus sungguh tak tahu malu!"
Cekel Wisangkoro adalah murid Wasi Bagaspati yang amat sakti, tentu saja menjadi marah dan tidak memandang sebelah mata kepada pemuda ini. Ia menyeringai, memperlihatkan mulut ompong dan berkata.
"Hemm, biarlah kubunuh engkau lebih dulu sebelum menundukkan dua orang wanita galak itu!"
Sambil berkata demikian, Cekel Wisangkoro berteriak keras dan tongkatnya menyambar, berubah menjadi sinar hitam yang amat kuat dan cepat gerakannya.
Akan tetapi Joko Pramono, pemuda itu, dengan mudah mengelak sambil mengejek.
"Luput! Engkau ini pendeta manakah?Rambutmu sudah penuh uban akan tetapi kaubiarkan panjang terurai dan mengkilap oleh minyak, tanda bahwa pada lahirnya engkau sudah tua bangka, akan tetapi hatimu masih ingin bersolek! Badanmu kurus kering seperti cecak mati pada usia tua, akan tetapi mukamu menyinarkan nafsu duniawi, jubahmu kuning berhiaskan benang emas akan tetapi kakimu telanjang, tanda bahwa engkau suka akan kemuliaan dan kemewahan akan tetapi tidak tahu akan tata susila seorang pendeta! Bicaramu seperti pribumi akan tetapi hidungmu seperti kakatua, tanda bahwa engkau bukanlah orang tanah Jawa. Eh, dukun lepus, engkau siapa dan orang mana?"
Muka kakek itu memang kemerahan, akan tetapi sekarang menjadi lebih merah karena marah.
"Bocah bermulut lancang! Mampuslah di tangan Cekel Wisangkoro!"
Bentaknya sambil menyerang kembali, menusukkan tongkatnya ke arah tenggorokan Joko Pramono. Namun kembali pemuda ini miringkan tubuh dan dari samping tangannya menangkis.
"Plakk!"
Cekel Wisangkoro terkejut bukan main dan mengeluarkan teriakan nyaring karena tongkatnya itu terpukul miring dan telapak tangannya menjadi perih.
Hal ini hanya menandakan bahwa pemuda itu memiliki hawa sakti yang luar biasa kuatnya.
Sungguh sukar dipercaya bahwa seorang pemuda yang usianya paling banyak dua puluh dua tahun itu dapat menangkis tongkatnya sampai miring!
"Heh keparat, rasakan kesaktiankul"
Katanya dan kini ia memutar tongkatnya sepertI kitiran sehingga tongkat Itu berubah menjadi sinar hitam yang bergulung-gulung dan membentuk lingkaran lebar.
Dari dalam lingkaran ini menyambar keluar hawa pukulan yang mengandung daya ampuh dan berbau amis, tanda bahwa pukulan ini adalah aji kesaktian yang mengandung hawa beracun!
"Dukun keji!!"
Joko Pramono berseru keras sekali dan tubuh pemuda ini agak merendah, setengah berjongkok, kemudian ia mendorongkan kedua tangannya ke depan.
Itulah aji pukulan Cantuko Sakti yang menjadi ilmunya yang khas!
Bukan main dahsyatnya dorongan ini dan Joko Pramono memperguna-kannya karena makIum bahwa lawannya tak boleh dipandang ringan.
"Auuggghhhh!"
Tubuh pendeta itu terlempar ke belakang seperti disambar angin puyuh.
Biarpun ia berusaha untuk memperta-hankan diri dengan tongkat yang ia dorong-dorongkan ke tanah, tetap saja ia terjengkang dan dari mulutnya menyembur darah segar!
Cekel W Isangkoro yang sudah banyak pengalaman-nya itu maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang benar-benar luar biasa, maka cepat ia merogoh sakunya dan melarikan diri secepat kedua kakinya mampu meloncat!.
"Dukun lepus hendak lari ke mana?"
Joko Pramono meloncat pula melakukan pengejaran.
Pangeran Panji Sigit yang menonton sepak terjang Joko Pramono, menjadi kagum bukan main.
Akan tetapi kini pemuda perkasa itu mengejar si pendeta yang melarikan diri, maka kembali ia memperhatikan sepak terjang isterinya dan wanita muda itu yang tadi membuatnya bengong terlongong.
Dua orang wanita itu seperti dua orang kembar, sama-sama tangkas dan dahsyat, sama-sama mengeluarkan pekik, dan pukulan -pukulan mereka adalah Aji Pethit Nogo yang sudah ia kenal gerakannya.
Akan tetapi ia dapat menilai bahwa hawa pukulan Aji Pethit Nogo wanita hitam manis itu jauh lebih kuat daripada isterinya.
Ia melihat betapa dua orang kakek itu kini melakukan perlawanan hanya untuk mempertahankan nyawa.
Beberapa kali mereka terpelanting hanya terkena hawa pukulan Pethit Nogo, bergulingan dan berusaha lari.
Namun selalu lawannya telah menantinya untuk menyambut dengan pukulan lain.
Gagak Kroda sudah tak dapat tahan lagi menghadapi desakan-desakan Setyaningsih.
Ia hendak melarikan diri, namun Setyaningsih yang marah sekali melihat betapa suaminya tadi terancam bahaya di tangan kakek ini, menyambutnya dengan pukulan-pukulan dahsyat.
Ketika untuk kesekian kalinya Gagak Kroda berusa menangkap tangan wanita itu untuk digelutnya, untuk dihancurkan dengan kedua lengannya yang kuat, Setyaningsih sengaja membiarkan pergelangan tangan kirinya ditangkap.
Pangeran Panji Sigit menahan teriakan kaget melihat isterinya dapat ditangkap lengannya, akan tetap pada saat itu terdengar suara "prakk"!' disusul robohnya tubuh Gagak Kroda yang pecah kepalanya terkena tamparan tangan kanan Setyaningsih!
"Prakkk!"
Pada detik berikutnya, Gagak Dwipa juga roboh dengan kepala remuk terkena tamparan tangan Pusporini.
Kiranya tadi Setyaningsih sengaja membiarkan tangan kirinya tertangkap lawan sehingga ia dapat kesempatan untuk melancarkan tamparan Pethit Nogo dari dekat yang akibatnya memecahkan kepala Gagak Kroda.
Adapun Pusporini agaknya hendak menjaga perasaan saudaranya sehingga ia sengaja "menanti"
Dan baru menurunkan tangan maut kepada Gagak Dwipa setelah Setyaningsih berhasil merobohkan lawannya.
"Bagus sekali! Kalian telah berhasil! Sayang dukun lepus itu tak dapat tertangkap. Ia menghilang menggunakan asap hitam, si keparat!"
Ucapan ini keluar dari mulut Joko Pramono yang sudah tiba kembali dengan tangan kosong.
Tadi ia mengejar Cekel Wisangkoro, akan tetapi tiba-tiba kakek pendeta itu membanting beberapa buah benda yang meledak dan menimbulkan asap hitam tebal sehingga Joko Pramono yang khawatir kalau-kalau asap hitam itu beracun, cepat menghindar dan setelah asap membuyar, ia telah kehilangan jejak pendeta itu.
Akan tetapi hanya Pangeran Panji Sigit yang memandang dan memperhatikannya, karena.
Pusporini dan Setyaningsih yang kini berdiri saling pandang dan merasa seperti dalam mimpi, dengan wajah penuh keharuan dan air mata menitik turun melalui pipi mereka yang masih kemerahan karena pertempuran tadi, tidak memperhatikan hal lain di sekeliling mereka.
"Yunda Setyaningsih!"
"Dinda Pusporini. !"
Dua orang wanita muda itu berlari maju dan saling menubruk, berpelukan dan menangis penuh kebahagiaan dan keharuan.
Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono hanya berdiri memandang.
Mereka ini dapat merasakan keharuan yang menguasai kedua orang wanita yang mereka cinta itu, maka mereka hanya menonton saja, bahkan Joko Pramono yang biasanya gembira itu pun tak berani membuka mulut.
Setelah keharuan mereka mereda, dua orang wanita itu lalu melepaskan rangkulan, saling berpandangan dengan mulut tersenyum akan tetapi mata masih berlinang air mata.
Barulah Joko Pramono membuka mulut dengan suara gembira.
"Pusporini, apakah engkau sudah lupa kepadaku? Mengapa aku tidak diperkenalkan?"
Mereka semua tersenyum. Ucapan Joko Pramono yang mengandung kegembiraan itu sekaligus membuyarkan keharuan yang mencekam dan menimbulkan kegembiraan yang timbul dari kebahagiaan perempuan itu.
"Ayunda Setyaningsih, dia ini adalah saudara seperguruanku, namanya Joko Pramono. Sebetulnya bukan orang lain karena dia adalah keponakan mendiang Ki Adibroto ayah Ayunda Ayu Candra."
"Oohh "' Setyaningsih terkejut juga akan tetapi melihat betapa pandang mata pemuda tampan itu periang dan sama sekali tidak membayangkan permusuhan, hatinya menjadi lega. Tentu saja Setyaningsih sudah tahu akan riwayat keluarganya dan tahu bahwa di antara keluarganya dan keluarga Ayu Candra pernah terjadi pertentangan yang hebat (baca Badai Laut Selatan).
"Engkau sudah tahu, dia ini Ayunda Setyaningsih, kakak tiriku, adik kandung Ayunda Endang Patibroto."
Pusporini melanjutkan perkenalannya kepada Joko Pramono yang segera menjura dengan hormat kepada Setyaningsih.
"Dan ini adalah suamiku, Pangeran Panji Sigit dari Jenggala,"
Setyaningsih memperkenalkan suaminya kepada dua orang muda itu, kemudian sambil menoleh kepada suaminya ia berkata.
"Kakangmas, ini adalah adikku Pusporini yang sering kuceritakan, sungguh tak terduga dapat kita jumpai di sini, malah, bersama saudara seperguruannya menjadi penolong kita."
Sebagai orang-orang yang mengerti akan tata susila, Joko Pramono dan Pusporini berlutut dengan hormat dan hendak menghaturkan sembah, akan tetapi Pangeran Panji Sigit cepat-cepat membangunkan mereka dan berkata.
"Ah, harap jangan banyak menggunakan peradatan. Kita adalah orang-orang sendiri, keluarga sendiri. Bahkan kami berdua yang merasa bersyukur dan berteima kasih kepada andika yang telah menyelamatkan nyawa kami daripada ancaman bahaya maut."
Kemudian memandang ke sekelilingnya.
Gagak Kroda dan Gagak Dwipa telah menjadi mayat, dan bukan hanya dua orang itu saja,bahkan tujuh orang perajurit pengawal yang tadi ia robohkan bersama isterinya telah tewas.
Ia menghela napas dan berkata.
"Mari kita mencari tempat yang bersih dan di sana kita bercakap-cakap."
Mereka berempat meninggalkan tempat yang mengerikan karena penuh mayat orang itu, memasuki hutan dan berhenti di bagian hutan yang bersih dan teduh, juga sinar bulan dapat menerangi tempat itu karena pohonpohonnya tidaklah amat rapat.
Mereka berempat duduk di atas akar-akar pohon, kemudian dengan gembira mereka bercakap-cakap menuturkan riwayat masing-masing.
Sebetulnya yang bicara hanya dua orang wanita itu yang menceritakan pengalaman masing-masing semenjak mereka berpisah, sepuluh tahun yang lalu ketika Setyaningsih diajak pergi meninggalkan Selopenangkep oleh Endang Patibroto.
Ketika Setyaningsih menceritakan keadaan keluarga mereka, apalagi ketika menceritakan betapa ibu Pusporini, yaitu Roro Luhito, tewas di tangan musuh yang mengepung Selopenangkep, Pusporini menjerit lirih dan terguling pingsan!.
Tiga orang itu menjadi terharu dan sibuk.
Sambil menangis Setyaningsih memeluk tubuh Pusporini, mengguncang-guncangnya dan memanggil-manggil namanya.
Pangeran Panji Sigit hanya menarik napas panjang dan berdiam diri karena ia maklum bahwa dalam keadaan seperti itu dia tidak dapat berdaya.
Joko Pramono merasa kasihan sekali kepada gadis yang dicintanya, maka ia berjongkok dan berbisik kepada Setyaningsih.
"Perkenankanlah saya menyadarkannya. Setyaningsih maklum akan kesaktian pemuda teman adik tirinya itu, maka ia lalu melepaskan Pusporini lalu mundur. Bersama suaminya ia melihat Joko Pramono menyentuh punggung Pusporini, menekannya dan menempelkan telapa tangan kini ke ubun-ubun gadis itu. Pusporini mengeluarkan rintihan perlahan lalu membuka matanya dan bangkit duduk. Begitu melihat Joko Pramono, lalu tersedu dan merangkul, mulutnya menjerit lirih.
"Ibu........... Ah, Joko Pramono........... ibuku........... ibuku."
Joko Pramono terharu, mengelus rambut kepala gadis yang dicintanya itu.
Dalam keadaan berduka seperti itu, Pusporini tanpa disadarinya jelas memperlihatkan perasaan hatinya kepada Joko Pramono sehingga Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit memaklumi keadaan dua orang muda itu dan mereka hanya saling pandang penuh rasa haru.
Setelah sadar kembali, Pusporini cepat melepaskan pelukannya dan mukanya menjadi merah.
Setyaningsih cepat memegang tangannya dan berkata.
"Adikku yang baik, teguhkanlah hatimu. Ibuku dan ibumu telah gugur dalam perang, gugur sebagai kusuma bangsa, sebagai wanita-wanita berjiwa satria yang gagah perkasa. Kita patut merasa bangga dan kita harus mencontoh mereka. Musuh-musuh yang menewaskan ibu-ibu kita adalah musuh-musuh kita yang sekarang juga."
Pusporini mengangguk. Dengan kekuatan batinnya ia sudah dapat mengatasi kedukaannya dan dengan tenang ia mendengarkan cerita Setyaningsih lebih Ianjut tentang keadaan keluarganya.
"Sekarang Kakangmas Tejolaksono telah menjadi patih muda di Panjalu dan tinggal di kota raja bersama Ayunda Ayu Candra. Mereka hanya berdua saja di sana karena sampai sekarang, Bagus Seta belum juga pulang "
Setyaningsih menarik napas panjang mengingat akan nasib buruk Tejolaksono.
"Untung bahwa belum lama ini Ayunda Endang Patibroto juga datang ke Panjalu dan sekarang telah bersatu dengan Rakanda Patih Tejolaksono."
Pusporini menjadi girang mendengar ini, wajahnya mulai berseri kembali.
"Syukurlah. Hanya sayang bahwa Bagus Seta masih belum juga pulang. Ke mana sajakah perginya bocah itu?"
"Menurut penuturan rakanda patih Bagus Seta diambil murid oleh seorang maha sakti yang berjuluk Bhagawan Ekadenta, entah dibawa pergi ke mana oleh gurunya itu."
Mendengar ini, Pusporini dan Joko Pramono saling pandang sejenak karena mereka teringat akan pesan guru mereka bahwa kelak mereka akan membantu seorang pemuda sakti mandraguna.
Jangan-jangan Bagus Seta anak yang disebut-sebut guru mereka itu!.
"Selanjutnya bagaimana, Yunda?"
Pusporini kembali menghadapi Setyaningsih yang kini mulai menceritakan pengalamannya semenjak ia meninggalkan Selopenangkep.
Ketika mendengar bahwa Endang Patibroto melahirkan seorang anak perempuan, Pusporini girang sekali.
"Wah, sekarang sudah berapa usianya keponakanku itu? Siapa namanya?"
"Namanya Retna Wilis dan sekarang usianya sudah lebih sepuluh tahun. Akan tetapi ah, sungguh menyedihkan kalau diingat nasib Rakanda Patih Tejolaksono. Bagus Seta belum pulang dan tidak diketahui berada di mana, sedangkan puterinya yang belum pernah dilihatnya itu, Retna Wilis keponakan kita."
"Mengapa dia? Mengapa. ?"
Pusporini bertanya penuh kekhawatiran.
"Dia baru-baru ini terculik oleh Nini Bumigarba."
"Apa...........? Terculik? Dari tangan Ayunda Endang Patibroto? Sungguh mengherankan! Siapa berani melakukan hal itu? Siapakah itu Nini Bumigarba?"
Pusporini terkejut, heran, dan marah sekali mendengar ada orang berani menculik puteri ayundanya yang demikian sakti mandraguna!
"Aku pun hanya mendengar penuturan Ayunda Endang Patibroto.
Penculiknya bukan manusia biasa.
Yang bernama Nini Bumigarba itu memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia.
Jangankan Ayunda Endang Patibroto yang sama sekali tidak mampu melawannya, bahkan Eyang Datujiwa yang sakti mandraguna dan sudah menjadi guru Retna Wilis sekali pun tidak mampu melawannya, bahkan tewas di tangan Nini Bumigarba yang menggiriskan itu."
Pusporini dan Joko Pramono terkejut sekali. Mereka itu melongo ketika mendengarkan penuturan Setyaningsih tentang kehebatan Nini Bumigarba, dan diam-diam mereka ikut prihatin dan marah sekali.
"Kami berdua sedang bertugas menyelidiki ke mana dibawanya Retna Wilis oleh Nini Bumigarba, namun semua penyelidikan kami tidak ada hasilnya. Nenek itu seperti lenyap ditelan bumi,"
Kata Pangeran Panji Sigit setelah isterinya menuturkan tentang pasukan rahasia yang dibentuk dan dipimpin oleh Pangeran Darmokusumo sendiri, bersama Patih Tejolaksono.
"Karena itu, tidak ada jalan lain bagiku untuk kembali ke Jenggala, menghadap ramanda prabu dan kurasa di Istana aku akan dapat mendengar tentang Nini Bumigarba yang melarikan Retna Wilis. Dalam perjalanan ke Jenggala, kami bertemu dengan Gagak Dwipa dan Gagak Kroda sehingga hampir saja kami tertimpa malapetaka."
"Akan tetapi hal itu sama saja seperti menyerahkan diri ke tangan musuh!"
Joko Pramono berseru.
"Paduka sudah dikenal oleh semua orang dan agaknya kini para perajurit dan petugas Jenggala telah dikuasai oleh mereka yang mencengkeram Jenggala dan yang memusuhi Paduka. Sebaiknya, kami berdua saja yang pergi menyelidik ke sana karena kami tidak dikenal."
"Benar sekali apa yang dikatakan Joko Pramono.Ayunda Setyaningsih dan Rakanda Pangeran lebih baik jangan memasuki Jenggala karena hal itu akan berbahaya sekali."
Kata pula Pusporini.
Akan tetapi Setyaningsih tidak menjawab, hanya menoleh kepada suaminya dan menanti jawaban dan keputusan dari mulut suaminya.
Pangeran Panji Sigit tersenyum akan tetapi menggelengkan kepalanya, menarik napas panjang dan berkata.
"Sungguh tepat pendapat Adimas Joko Pramono.Akan tetapi, aku ingin bertanya pendapat Adimas Joko Pramono. Bagaimana andaikata Adimas yang menjadi aku,melihat ramanda prabu di Jenggala dicengkeram pengaruh jahat, terancam keselamatan beliau oleh anasir-anasir yang menguasai kerajaan? Apa yang akan Adimas lakukan? Apakah hanya akan memandang dari jauh saja?"
Joko Pramono menghela napas panjang dan mengangguk maklum.
"Maaf bukan sekali-kali saya tadi tidak percaya akan jiwa kepahlawanan Paduka, melainkan tadi saya hanya berpikir tentang bahaya-bahaya yang mengancam Paduka. Tentu saja, kalau saya menjadi Paduka, saya akan mendekati sang prabu dan akan membelanya dengan seluruh jiwa raga saya, sesuai dengan tugas dharma bakti seorang satria terhadap negaranya."
Pangeran muda itu tertawa dan memandang Joko Pramono dengan sinar mata kagum.
"Sudah kuduga, takkan ada bedanya antara orang-orang yang menjunjung tinggi dharma bakti sebagai seorang manusia yang tahu akan kebesaran dan keadilan, yang tahu akan tugas-tugas kewajibannya sebagai seorang manusia, tugas di dalam mengisi hidup yang tak lama ini. Karena persamaan pendapat ini, maka makin yakinlah hatiku bahwa aku bersama isteriku harus kembali ke Jenggala, apa pun yang akan kami hadapi kelak. Tugaskulah untuk membela beliau, tugasku pula untuk mengingatkan beliau akan kelalaian dan kekhilafan beliau. Setyaningsih, isteriku,beranikah engkau mengunjungi istana Jenggala di mana banyak menanti musuh-musuh berilmu tinggi untuk mencelakakan kIta?"
Setyaningsih memandang suaminya dengan pandang mata mesra dan wajah berseri.
"Sudah menjadi tugas mutlak seorang isteri untuk mengabdi suaminya, mengikuti suaminya ke mana pun juga junjungannya itu pergi. Tiada kesenangan dunia yang akan dapat menyelewengkan kesetiaannya, tiada pula kesengsaraan yang akan dapat membuat ia meninggalkan sisi suaminya!"
Pangeran muda itu tertawa terbahak, makin girang dan besar hatinya.
"Tepat sekali. Engkau Setyaningsih (Kesetiaan Kaslh) bukan hanya nama belaka, namun menjadi watak lahir batin!"
Pusporini dan Joko Pramono melihat dan mendengar dengan hati penuh rasa kagum dan terharu. Pusporini memeluk kakak tirinya dan berkata.
"Betapa aku dapat membiarkan Ayunda pergi bersama Rakanda Pangeran menghadapi bahaya hebat di Jenggala? Tidak, Ayunda, aku tidak dapat berdiam diri saja. Aku akan menemanimu dan membantumu mencari jejak Nini Bumigarba yang melarikan Retna Wills!"
"Benar sekali! Aku pun siap membantu dan biarlah hamba menjadi pembantu Paduka, Rakanda Pangeran!"
Kata pula Joko Pramono dengan sikap gagah. Pangeran Panji Sigit girang bukan main dan memegang pundak pemuda perkasa itu.
"Hati kami menjadi lebih mantap, lebih besar dan tabah dengan bantuan kalian berdua yang sakti mandraguna. Sungguh bahagia hatiku dapat menjadi suami seorang seperti Adinda Setyaningsih yang memiliki keluarga gagah perkasa, dan........... aku yakin bahwa engkau pun akan menjadi keluarga kami. Adimas Joko Pramono!"
Wajah pemuda itu menjadi merah akan tetapi lebih merah lagi kedua pipi Pusporini ketika ia bertemu pandang dengan Joko Pramono.
Melihat ini, Pageran Panji Sigit tertawa bergelak dan Setyaningsih ikut tertawa sambil merangkul pundak adik tirinya.
Dengan semangat tinggi dan hati besar, empat orang muda perkasa ini lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Kota Raja Jenggaia, menentang bahaya yang mereka tahu sedang menantinya di kora raja itu, bagaikan mulut lebar seorang raksasa yang siap untuk mencaplok mereka!.
Ketika empat orang muda ini memasuki kota raja, semua mata memandang mereka penuh takjub dan keheranan.
Akan tetapi masih banyak pula rakyat yang mengenal Pangeran Panji Sigit dan tak lama kemudian terdengar teriakan-teriakan girang mereka dan setelah beberapa orang penduduk tua menjatuhkan, diri berlutut di pinggir jalan, semua orang lalu berlutut menyembah dan berderet-deret di sepanjang jalan yang mereka lalui.
"Gusti Pangeran Panji Sigit datang !"
"Gusti Pangeran yang kita cinta telah kembali !"
Teriakan-teriakan ini cepat sekali sampai ke istana mendahului mereka sehingga mengejutkan hati Pangeran Kukutan yang mendengar akan datangnya adik tirinya itu.
Kalau Pangeran Kukutan terkejut dan khawatir, adalah Suminten yang cepat bangkit dari tempat duduknya dengan muka merah padam.
Wanita itu telah menjadi seorang wanita yang masak, berusia kurang lebih dua puluh tujuh tahun, bertubuh padat yang tertutup pakaian yang serba indah dan ketat, wajahnya manis dan terutama sekali sepasang matanya membayangkan kecerdikan dan wibawa,dengan kerling tajam mengiris jantung, dan mulutnya yang membayangkan hamba nafsu berahi, bibir yang dapat bergerak-gerak menantang.
Begitu mendengar disebutnya nama Pangeran Panji Sigit, di dalam pandang matanya timbul api gairah yang menyala-nyala, dadanya yang membusung itu agak herombak dan ia cepat memerintahkan abdinya untuk memanggil Pangeran Kukutan.
Kemudian ia mengundurkan memasuki ruangan belakang, sebuah ruangan rahasia yang khusus ia pergunakan untuk mengadakan pertemuan rahasia dengan sekutu-sekutunya, tempat yang rahasia dan aman daripada gangguan orang luar yang tidak dikehendaki kehadirannya.
Di sinilah ia menanti kedatangan pembantunya yang paling setia, juga kekasihnya yang terdekat di antara sekian banyaknya pria-pria muda yang menjadi kekasihnya, atau lebih tepat menjadi alat-alat permainannya menurutkan hawa nafsu.
Wanita ini duduk termenung, menanti kedatangan Pangeran Kukutan dengan mata setengah dipejamkan, suatu kebiasaan jika wanita itu sedang memutar otaknya mencari siasat.
Tak lama kemudian, daun pintu didorong dari luar dan masuklah Pangeran Kukutan yang langsung menghampiri wanita yang masih duduk menyandarkan punggung dan lehernya ke sandaran kursinya.
Pangeran yang sudah biasa memasuki ruangan ini, yakin bahwa ruangan itu merupakan tempat yang aman, tak perlu menutupkan daun pintu karena takkan ada seorang pun manusia berani mengintai atau mendengarkan, dan di sekeliling tempat itu telah terjaga kuat sekali oleh pengawal-pengawal pilihannya.
Ia langsung menghampiri Suminten yang untuk kesekian kalinya ia terpesona menyaksikan wanita ini duduk dengan kepala menengadah, mukanya yang cantik itu tampak nyata, mata yang berbulu lentik setengah terkatup, mulut yang manis itu setengah terbuka sehingga di antara sepasang bibir yang penuh, merah dan merupakan sumber kehangatan nafsu itu tampaklah ujung deretan gigi hampir menjepit ujung lidah yang kecil merah, tampak sebagian rongga mulut yang merah gelap.
Biarpun Pangeran Kukutan itu bukan seorang laki-laki alim, bahkan sebaliknya dia seorang pria yang selalu mengejar dan mendapatkan wanita-wanita cantik mempergunakan kekuasaan, kedudukan, dan ketampanannya, namun setiap kali bertemu dengan Suminten, selalu gelora darahnya dipanaskan nafsu berahi.
"Duhai, Adinda Suminten........... alangkah cantik jelita engkau. ! Siang hari engkau memanggilku, apakah tidak dapat menahan lagI. ?"
Ia membungkuk dan mencium bibir ternganga itu.
Suminten baru sadar dari lamunannya, dan sejenak ia membiarkan pria yang menjadi pembantunya itu menikmati ciumannya.
Akan tetapi ketika tangan pangeran itu mulai menggerayang, ia cepat memegang tangan itu, merenggutkan dirinya secara halus dan berkata lirih.
"Duduklah, Pangeran. Aku memanggilmu karena urusan penting. Bukan saatnya untuk bermain cinta."
Sesuatu dalam suara wanita yang sudah amat dikenalnya ini membuat Pangeran Kukutan cepat melangkah mundur.
Seluruh gairah nafsunya lenyap seperti asap dihembus, angin.
Ia maklum bahwa dalam keadaan seperti itu, Suminten mempunyai persoalan pelik yang harus ia tanggapi dengan kepala dingin dan dengan penuh kesungguhan.
Akan tetapi dia pun dapat menduga bahwa tentu wanita yang amat cerdik ini yang sesungguhnya telah mengangkat dirinya menjadi pangeran mahkota, calon raja, yang sesungguhnya merupakan pucuk pimpinan dalam persekutuan mereka yang kini telah menjadi kuat sekali, mencengkeram serluruh Jenggala dalam kekuasaan mereka,.
telah mendengar akan munculnya Pangeran Panji Sigit di kota raja.
"Pangeran, apakah engkau sudah mendengar akan munculnya ancaman bagi ketenteraman kita?"
Pangeran Kukutan tersenyum.
"Apakah engkau maksudkan munculnya Panji Sigit dan tiga orang temannya di kota raja?"
Suminten mengangguk dan mengerutkan alisnya yang kecil panjang menghitam.
"Pangeran, mengapa engkau memandang rendah dan menganggap hal ini sepele saja? Bukankah kemarin dulu engkau sendiri yang melaporkan akan kedatangan Paman Cekel Wisangkoro yang menceritakan betapa anak buahnya tewas oleh kesaktian Pangeran Panji Sigit dan terutama tiga orang temannya itu?"
"Harap tenangkan hatimu, Diajeng. Telah kuselidiki dan dengar dari Paman Cekel Wisangkoro bahwa Panji Sigit datang bersama isterinya yang bernama Setyaningsih dan dua orang muda laki-laki dan wanita yang tak dikenal.Memang, menurut penuturan Paman Cekel Wisangkoro,laki-laki dan wanita yang tak dikenal itu memiliki kepandaian yang lumayan sehingga Paman Cekel sendiri terdesak, akan tetapi hal ini tak perlu dikhawatirkan. Kami sudah siap sedia dan Paman Cekel Wisangkoro telah mendatangkan bantuan orang-orang sakti dan aku tanggung bahwa sebelum Panji Sigit dan teman-temannya sempat menghadap ramanda prabu, mereka berempat sudah akan menjadi mayat yang tak dikenal orang lain di mana kuburnya. Ha-ha-hal Aku hanya mengharap agar engkau dapat menahan ramanda prabu supaya tidak berkesempatan mendengar akan munculnya Panji Sigit, apalagi menemuinya."
Tiba-tiba Suminten menepukkan telapak tangannya pada lengan kursinya dan berseru marah.
"Bodoh sekali rencana itu!"
Pangeran Kulkutan berubah air mukanya. Ia maklum betapa bahayanya kalau wanita yang cumbu rayunya dapat membuat ia lupa akan segala itu sedang marah. Cepat ia bertanya.
"Apakah yang salah? Harap suka cepat memberi tahu agar aku dapat mengatur."
"Engkau merencanakan untuk menggunakan kekerasan membunuh mereka sebelum mereka bertemu sang prabu? Dengan demiklan. rakyat yang telah mengetahui kedatangan Pangeran Panji Sigit akan menjadi curiga! Alangkah bodohnya! Tidak! Hal ini, kemunculannya ini tentu merupakan siasat dari tokoh-tokoh Panjalu dan kalau kita menggunakan kekerasan membunuhnya, tentu akan mereka pergunakan untuk mengusik hati sang prabu sehingga timbul kebenciannya kepada kita. Engkau tahu betapa besar kasih sayang sang prabu kepada Pangeran Panji Sigit!"
"Apa salahnya kalau ramanda prabu mengetahuinya? Keadaan ramanda prabu suda.h sedemikian lemahnya, tinggal menggencet sedikit saja tentu mati"
"Ah, engkau temyata masih dikuasai hatimu yang penuh rencana kekerasan. Apakah yang menjadikan kita berhasil sampai begini jauh kalau bukan karena siasat halusku? Dan kini hendak kau rusak dengan siasat yang kasar dan liar seperti siasat orang-orang hutan?"
Pangeran Kukutan menunduk.
"Baiklah, saya akan melakukan segala petunjukmu. Sekarang bagaimana baiknya untuk menghadapi Panji Sigit dan teman-temannya Itu?"
"Siasat lawan yang halus harus kita balas dengan siasat lebih halus lagi. Kalau memang Panji Sigit dan temantemannya itu memiliki kedigdayaan, mengapa kita tidak bersiasat untuk memperalat mereka demi keuntungan kita? Mendekatlah, dan dengarkan baik-baik rencana siasatku, kemudian rundingkan masak masak dengan para sakti yang membantu kita."
Dengan penuh gairah Pangeran Kukutan melangkah maju, lalu berlutut dekat kursi wanita itu agar mulut wanita itu yang berbisik-bisik dapat mendekat, telinganya.
Terdengar bisikan-bisikan lirih dan hawa mulut itu meniup-niup telinganya.
Kalau saja urusan itu tidak amat penting,tentu Pangeran Kukutan sudah lupa diri karena tidak dapat menahan gelora hatinya.
Akan tetapi ia melawan desakan nafsu ini dan mendengarkan penuh perhatian.
Sampai beberapa lama ia di ruangan itu tidak terdengar apa-apa lagi kecuali suara berbisik-bisik yang keluar dari mulut Suminten dan didengar oleh Pangeran Kukutan yang kadang-kadang mengangguk-angguk dengan sinar mata penuh kekaguman.
Sementara itu, dua pasang orang muda yang memasuki kota raja, Pangeran Panji Sigit, Setyaningsih, Joko Pramono dan Pusporini, sibuk menerima sambutan penduduk yang memberi hormat kepada Pangeran Panji Sigit.
Sambil tersenyum-senyum sang pangeran terpaksa memperlambat langkahnya, bahkan kadang-kadang berhenti untuk menyapa seorang dua orang penduduk tua yang telah dikenalnya.
Akhirnya, mereka berempat ini dapat juga sampai di Istana, akan tetapi setibanya di pintu gerbang istana setelah melewati alun-alun yang lebar,mereka terpaksa berhenti di depan ujung tombak para penjaga pintu gerbang luar.
"Tidak ada orang yang boleh melalui pintu gerbang ini tanpa izin! Andika berempat telah mendapat izin siapakah hendak memasuki daerah istana?"
Bentak seorang di antara para penjaga itu. Pangeran Panji Sigit menahan kemarahannya. Dia melangkah maju dan memandang mereka dengan sinar mata tajam, kemudian berkata.
"Benarkah ucapan tadi keluar dari mulut penjaga pintu gerbang luar istana Jenggala? Ataukah kalian ini perajurit penjaga yang palsu? Karena kalau perajurit -perajurit Jenggala pasti akan mengenal Pangeran Panji Sigit!"
Memang, semua penjaga dan pengawal istana kini telah diganti oleh orang-orang kepercayaan Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama.
Semua petugas lama telah dienyahkan dan diganti orang-orang baru.
Karena sebagian besar di antara penjaga dan pengawal baru adalah orang-orang luar, maka tentu saja mereka ini tidak mengenal Pangeran Panji Sigit.
Para penjaga itu terkejut dan saling pandang, ragu-ragu menghadapi pemuda tampan yang memandang mereka penuh wibawa itu.
Pada saat itu, terdengar bentakan.
"Eh, para penjaga tolol! Tidak lekas membuka pintu gerbang untuk junjungan kalian Pangeran Panji Sigit? Kalian benar-benar minta dihukum picis!"
Para penjaga itu menjadi pucat wajahnya karena yang membentak dan menegur mereka itu adalah Pangeran Kukutan sendiri!
Pintu gerbang segera dibuka dan Pangeran Kukutan menyam-but adik tirinya dengan penuh kegembiraan.
"Duhai Adinda Pangeran , betapa besar rasa bahagia di hatiku mende-ngar sorak-sorai rakyat yang mengabarkan akan kemba-limu! Ah, betapa Adinda telah menyusahkan hati seluruh keluarga istana karena kepergian Adinda tanpa sebab dan tanpa pamit!"
Sambil berkata demikian, Pangeran Kukutan merangkul pundak adik tirinya itu dengan wajah berseri-seri.
Pusporini dan Joko Pramono saling bertukar pandang.
Kelirukah cerita yang mereka dengar dari Pangeran Panji Sigit tentang Pangeran Kukutan yang dikatakannya berhati palsu?
Ketika pangeran itu muncul, tadi Panji Sigit telah membisikkan bahwa itulah Pangeran Kukutan yang kini menjadi putera mahkota.
Ataukah cerita Pangeran Panji Sigit hanya merupakan fitnah yang timbul dari hati yang iri?
Buktinya, kini Pangeran Kukutan yang tampan dan kelihatan gagah itu menyambut adiknya dengan sikap begitu riang.
Tampak oleh mereka betapa jauh bedanya wajah kedua orang pangeran putera Raja Jenggala itu.
"Adinda Panji Sigit, mengapa tidak mengabarkan lebih dulu kalau hendak pulang? Tentu akan kami sambut dengan pesta! Ah, sekarang pun belum terlambat. Kepulangan Adinda akan kita rayakan dengan pesta yang meriah!"
"Terima kasih, Kakanda Pangeran, akan keramahan Kakanda. Akan tetapi tidak perlu kiranya diadakan penyambutan dengan pesta. Saya pulang hanya untuk menghadap kanjeng rama, untuk memperkenalkan isteri saya dan untuk mendekati beliau yang sudah sepuh."
"Garwamu (isterimu)? Ah betapa menggembirakan! Yang manakah garwamu, Adinda?"
Pangeran Kukutan berseru girang sambil memandang berganti-ganti kepada Pusporini dan Setyaningsih.
Kalau Joko Pramono menganggap pangeran itu amat ramah dan sikapnya wajar, adalah kedua orang wanita ini yang dapat menangkap pandang mata penuh gairah menyinar dari balik wajah berseri itu.
Pandang mata yang seolah-olah dapat menelanjangi pakaian mereka!
Adapun Pangeran Kukutan yang memandang' dua orang wanita muda itu, diam-diam menelan ludah dan mengilar karena sukar baginya memilih mana yang lebih denok dan jelita di antara kedua orang wanita itu.
Yang seorang ayu kuning dan yang ke dua hitam manis, namun keduannya memiliki daya penarik yang khas!
Dia hanya pura-pura saja tidak tahu karena sesungguhnya, pandang mata yang sudah berpengalaman sebagai seorang pelahap wanita itu sekilas pandang saja sudah mengenal mana gadis yang bersuami dan mana yang belum.
Pangeran Panji Sigit tidak heran menyaksikan penyambutan manis dari Pangeran Kukutan karena dia sudah mngenal kepalsuan kakak tirinya ini.
Akan tetapi, sungguh di luar dugaan bahwa kakak tirinya akan bersikap semanis itu, padahal tadinya ia mengira bahwa tentu dia akan disambut dengan ujung senjata.
Betapapun juga, karena mengenal watak Pangeran Kukutan, ia tetap waspada dan menduga bahwa tentu ada maksud-maksud tersembunyi di balik penyambutan manis ini.
Terpaksa ia pun lalu memperkenalkan Setyaningsih.
"Dia inilah isteriku, Kakanda Pangeran. Namanya Setyaningsih dan dia adalah adik kandung Ayunda Endang Patibroto "
"Apa??"
Sepasang mata yang maniknya agak kebiruan itu membelalak.
Pangeran Kukutan memiliki manik mata yang agak kebiruan dan hal ini bagi sebagian besar wanita yang bertemu dengannya menjadi sebuah daya penarik yang kuat, sebaliknya bagi yang mengerti, warna itu menjadi tanda akan watak seorang pria yang gila wanita.
Diam-diam Pangeran Kukutan terkejut dan gentar karena dia sesungguhnya tidak tahu bahwa isteri Pangeran Panji Sigit adalah adik kandung Endang Patibroto.
Meremang bulu tengkuknya kalau ia teringat akan isteri mendiang Pangeran Panjirawit Itu!
"Adik kandung Ayunda Endang Patibroto isteri mendiang Kakanda Pangeran Panjirawit yang sakti mandraguna?
Ah, betapa menggirangkan hal ini.
Ia cepat-cepat membungkuk untuk membalas penghormatan Setyaningsih, dan pada saat itu hanya dia sendiri yang tahu bahwa hatinya tldaklah segirang ucapan mulutnya.
"Dinda Pusporini ini pun adik tiri Ayunda Endang Patibroto, sedangkan Adimas Joko Pramono ini adalah sahabat baiknya tunggal guru."
Pangeran Panji Sigit memperkenalkan dua orang pemuda itu dan sejenak pandang mata Pangeran Kukutan menatap kedua orang muda itu penuh selidik.
Hemm, pikirnya.
Jadi mereka berdua inikah yang oleh Cekel Wisangkoro dikatakan sebagai dua orang muda yang amat sakti?
Kelihatanny tidak seberapa.
"Marilah, Adinda Pangeran, marilah beristirahat di tempatku. Sudah kusediakan kamar-kamar untuk kalian berempat. Tentu Adinda lelah karena perjalanan jauh dan perlu istirahat."
Mereka berlima lalu memasuki halaman istana yang lebar.
"Kakanda, saya ingin segera pergi menghadap kanjeng rama. Sudah amat rindu hati saya karena lama tidak menghadap "
"Ah, sayang sekali, Dimas. Kanjeng rama kini sudah sepuh dan kesehatan beliau banyak mundur. Kanjeng rama banyak beristirahat dan kalau tidak beliau kehendaki, siapa pun juga dilarang mengganggu. Akan tetapi, tentu saja aku akan segera menyampaikan berita kedatangan Adinda ini melalui ibunda selir. Ketahuilah bahwa kini kanjeng rama tidak suka diganggu oleh siapa juga kecuali Ibunda selir, satu-satunya orang yang diperkenankan memasuki kamar peraduannya tanpa izin. Hanya ibunda selir saja yang kini siang malam melayani dan merawat kanjeng rama."
Diam-diam hati Pangeran Panji Sigit tertusuk karena ia dapat menduga bahwa tentu Suminten itulah yang dimaksudkan ibunda selir.
Dia pun tahu bahwa sebetulnya keadaan ramandanya seperti seorang tawanan sungguhpun hal ini tidak diketahui oleh siapa pun juga, oleh ramandanya pun tidak.
Akan tetapi ia tidak mau memperlihatkan pengetahuannya ini dan bertanya.
"Ah, sampai begitu memelas keadaan rama? Ibunda selir yang manakah yang begitu setia dan baik hati terhadap kanjeng rama?"
"Siapa lagi kalau bukan ibunda selir Suminten, Dimas Pangeran. Kiranya saya tidak berlebihan kalau mengatakan, seperti diketahui oleh semua orang, bahwa kalau tidak mendapat perawatan yang amat baik dari ibunda selir........... ah........... , entah bagaimana jadinya dengan kanjeng rama. ! Sudahlah, mari kita beristirahat di sana dan kita dapat bercengkerama seenaknya."
"Akan tetapi, mendengar keadaa kanjeng rama, saya makin tak kuat bertahan lama-lama untuk segera menghadap.".
"Jangan khawatir, sebentar akan kusampaikan kepada ibunda selir agar dilaporkan kedatangan dan kehendak Adinda itu kepada kanjeng rama prabu."
Demikianlah Pangeran Kukutan mulai menjalankan siasat yang telah direncanakan oleh Suminten.
Empat orang muda itu diterima dengan sambutan ramah, ditempatkan di gedung tempat tinggal Pangeran Kukutan sendiri karena keadaan di istana telah mengalami banyak perombakan sehingga tempat yang dahulu ditinggali Pangeran Panji Sigit telah lenyap pula.
Mereka dijamu dengan hidanganhidangan lezat dan dihibur dengan pertunjukan tari-tarian dan tembang-tembang yang dilakukan para seniwati pilihan di Jenggala.
Sementara itu, Suminten juga tidak tinggal diam, melainkan melaksanakan bagiannya dalam siasat itu.
Suminten mengunjungi sang prabu di dalam kamarnya,seperti biasanya merayu raja tua ini dan untuk kesekian kalinya sang prabu terbuai mabuk dalam pelukan wanita ini yang merupakan tempat ia menikmati hidup terakhir,tempat ia mencurahkan kasih sayangnya dan sumber satu-satunya yang dapat menghibur segala duka nestapa dan kekosongan usia tua..
Berkat rayuan-rayuan Suminten, sang prabu yang tua itu seolah-olah menjadi boneka yang semata-mata hidup untuk mengabdi nafsu berahinya terhadap Suminten, tidak ada kemauan dan semangat sedikit pun juga untuk memikirkan hal-hal lain, siang malam hanya terlena dalam buaian cinta nafsu yang tak kunjung padam, yang sengaja selalu dikobarkan dan dinyalakan oleh Suminten.
Sedemikian hebat pengaruh nafsu ini bagaikan api bernyala-nyala selalu karena mendapat makanan bahan bakar berupa tubuh Suminten dan sikapnya yang merayu mesra, sehingga sudah berbulan-bulan sang prabu tidak lagi mau memperdulikan urusan lain, bahkan jarang keluar dari dalam kamarnya yang seolah-olah disulap berubah menjadi surga dunia oleh Suminten!.
Setelah untuk kesekian kalinya sang prabu terlena mabuk, penuh kepuasan dan kenikmatan, rebah berbantal paha.
selir yang dicintanya itu, seperti seorang pemadatan kekenyangan menghisap madat, dalam keadaan setengah sadar setengah pulas, Suminten membelai rambut penuh ubah yang panjang terurai itu sambil berkata manis.
"Gusti junjungan hamba, Paduka yang menjadi sumber kebahagiaan hamba, ada sebuah berita yang amat menyenangkan dan hamba yakin Paduka tentu akan gembira sekali mendengar berita yang hamba bawa ini."
Kedua lengan raja tua itu merangkul pinggang yang ramping dan dengan mata terpejam mukanya dibenamkan ke perut.
"Tidak ada berita lebih bahagia daripada kehadiranmu di dekatku, Suminten."
Suminten tersenyum.
"Ah, Paduka selalu melimpahkan cinta kasih Paduka kepada hamba dengan perbuatan dan kata-kata, untuk itu hamba berterima kasih dan bersyukur kepada para dewata. Akan tetapi berita ini benar-benar akan menambah kebahagiaan di hati Paduka, yaitu bahwa putera kita Pangeran Panji Sigit telah pulang "
Sepasang mata tua itu dan wajah yang keriputan berseri. Sang prabu bangkit perlahan dari paha selirnya.
"Benarkah? Di mana dia........... Puteraku Panji Sigit, di mana dia? Suruh dia datang menghadap "
"Nah, bukankah Paduka menjadi bahagia sekali?"
"Benar! Terima kasih, Suminten. Memang berita ini amat menggembirakan."
"Akan tetapi, sebelum puteranda pangeran diminta menghadap, hendaknya Paduka mengerti pula akan hal-hal yang tidak menyedapkan hati."
"Apakah maksudmu?"
"Sebelum pulang, dia telah menghadap........... sang ratu."
"Hemmm "
"Bukan itu saja, malah baru saja dia pulang dari Panjalu."
"Hemm , kalau begitu, mengapa? , Apa salahnya dia menghadap rakanda prabu di Panjalu?"
"Bukan itu persoalannya. Akan tetapi agaknya dia telah mendengarkan banyak bisik-bisik fitnah tentang Paduka,tentang hamba........... dan agaknya dia pulang membawa hati yang penasaran dan dendam. Hamba sungguh tidak menghendaki puteranda Pangeran Panji Sigit memusuhi kita, Gusti, karena hamba tahu betapa sayang hati Paduka terhadapnya. Karena itu , sebaiknya kalau Paduka melarang dia bicara tentang masa lampau, bahkan memberi kedudukan kepadanya, memerintahkan dia menjadi pembantu puteranda Pangeran Kukutan untuk menjaga ketenteraman kerajaan Paduka yang memang sudah menjadi kewajibannya."
Raja tua itu mengangguk-angguk.
"Tidak aneh kalau dia yang masih muda itu dapat terpengaruh. Dan ucapanmu memang tepat sekali. Seorang muda harus diberi tugas kewajiban sehingga tertanam jiwa setia dan patuh akan perintah."
"Ada yang menggembirakan lagi akan .etapi juga mengkhawatirkan "
"Apa lagi?"
"Dia pulang dengan isterinya"
"Isterinya? Dia sudah beristeri? Wahh akan tetapi hal ini menggembirakan, mengapa mengkhawatirkan?"
"Karena isterinya adalah adik kandung Endang Patibroto "
"HAA............??"
Sang prabu benar-benar terkejut dan tidak tahu apakah dia harus bergirang ataukah berkhawatir.
"Paduka tentu masih ingat akan kematian Pangeran Panjirawit, tentu dapat menyelami perasaan Endang Patibroto yang teringat akan kematian suaminya di tangan Paduka............. dan isteri Pangeran Panji Sigit adalah adik kandung Endang Patibroto, maka tidak akan terlalu aneh kalau dia pun mempunyal perasaan tidak manis terhadap Jenggala. Karena ini, hamba harap Paduka dapat berhati-hati dan jangan terlalu percaya akan kata-kata mereka sebelum kelak terbukti bahwa mereka ini benar-benar mempunyai niat hati yang bersih terhadap kerajaan Paduka."
Sangprabu mengangguk-angguk dan merasa kagum akan keluasan pandangan selirnya ini yang selalu mendahulukan kepentingan kerajaan dan kepentingan dia sebagal rajanya.
"Jangan khawatir. Suruh dia menghadap"
Sama sekali raja yang tua dan pikun ini tidak tahu betapa sesungguhnya bukan Endang Patibroto yang menaruh dendam atas kematian Pangeran Panjirawit karena wanita perkasa itu sudah melihat kenyataan dart sebab-sebab kematian suaminya adalah akibat fitnah yang dilakukan.oleh kaki tangan Blambangan.
Tidak tahu bahwa sebetulnya Sumintenlah yang menaruh dendam itu!
Pangeran Panjirawit adalah pria pertama yang dirindukan hati Suminten ketika wanita itu masih seorang perawan dahulu, cinta yang mulus.
Karena kematian itu, Suminten menaruh dendam kepada Sang Prabu Jenggala sendiri yang menyebabkan kematian pangeran itu, dan menaruh dendam kepada Endang Patibroto yang memonopoli cinta kasih Pangeran Panjirawit.
Demikianlah, raja yang tua ini pun tidak membantah ketika ia menerima kedatangan putera yang dikasihinya itu dalam ruangan yang dihadiri pula oleh Suminten, Pangeran Kukutan, dan Ki Patih Warutama!
Sang prabu memandang dengan wajah berseri ketika Pangeran Panji Sigit datang menghadap bersama Setyaningsih, Pusporini, dan Joko Pramono.
Pandang matanya melekat pada wajah puteranya, dan kepada tiga orang lain yang berlutut dan menyembah, ia hanya memandang sekilas saja.
"Kanjeng Rama, hamba Panji Sigit menghaturkan sembah sujud "
"Sigit, Puteraku. , kenapa lama benar kau pergi? Ke mana saja engkau pergi?"
Mendengar suara ramandanya yang gemetar, melihat wajah yang tua dan pucat, hati Pangeran Panji Sigit seperti disayat.
"Hamba pergi merantau, mencari pengalaman "
"Puteraku wong bagus, majulah Panji Sigit, mendekatIah ke sini."
Pangeran Panji Sigit bergerak maju sampai di depan ramandanya.
Sang prabu menyentuh rambut puteranya,kemudian rasa girang dan haru menyelimuti hatinya sehingga raja tua itu membungkuk dan merangkul.
Panji Sigit tak dapat menahan keharuannya dan ia memeluk kaki ramandanya, menitikkan air mata dan berkata lirih.
"Kanjeng Rama. apakah yang telah terjadi? Hamba mendengar hal-hal yang amat hebat terjadi di sin!....... dan.......... dan "
"Husssshhh............. jangan menyebut-nyebut tentang itu, Puteraku. Engkau tidak tahu betapa banyaknya orangorang yang kelihatan setia namun sesungguhnya berhati palsu. Masih untung bahwa sampai sekarang ramandamu dapat mengalahkan mereka semua. Engkau tidak boleh mendengarkan bisikan-bisikan fitnah yang bukan-bukan, Puteraku. Percayalah bahwa semua yang terjadi di sini adalah sudah seadil-adilnya dan semestinya. Memang sepintas lalu kelihatan hebat, akan tetapi engkau belum tahu betapa sukar menjenguk isi hati manusia."
Pangeran Panji Sigit mengerling ke arah Suminten yang duduk anteng di sebelah kiri sang prabu.
Wanita itu kelihatan makin cantik jelita, dengan tubuh yang matang menggairahkan.
Timbul rasa muak dan benci di hati Panji Sigit, akan tetapi ia hanya mundur dan berkata.
"Paduka benar, Kanjeng Rama. Sukar sekali menjenguk isi hati manusia. Orang yang kelihatan sebaik-baiknya, yang di luarnya manis budi dan menyenangkan, belum tentu memiliki hati yang beriktikad baik terhadap kita. Karena itu, sebaiknya Kanjeng Rama juga jangan terlalu mudah menjatuhkan kepercayaan kepada seseorang "
"Waduh, Adimas Pangeran! Masa benar demikian? Kurasa harus melihat orangnya! Seperti aku ini terhadapmu, Dimas, apakah Andika juga mempunyai anggapan bahwa mungkin hatiku terhadapmu palsu?"
Tiba-tiba Pangeran Kukutan mencela sambil tersenyum. Panji Sigit mengerling ke arah kakak tirinya itu, pandang matanya tajam menusuk.
"Biarpun saudara, tetap saja kita tidak dapat saling menjenguk isi hati masing-masing , Rakanda Pangeran. Hanya diri sendiri dan Hyang Maha Agung sajalah yang mengetahui akan isi hati sendiri!"
Sang prabu tersenyum.
"Cukup kiranya tentang filsafat dan prasangka yang bukan-bukan. Kita di antara keluarga sendiri. Eh, Panji Sigit, aku mendengar bahwa engkau pulang bersama isterimu. Mana dia? Mana mantuku?"
Setyaningsih menyembah.
"Hamba Setyaningsih menghaturkan sembah bakti kepada Paduka, Gusti……."
"Engkaukah isterinya? Wah, cantik jelita dan gagah perkasa........ aku mendengar bahwa engkau adik kandung mantuku Endang Patibroto. Betulkah?"
"Sesungguhnyalah, Gusti………"
"Setyaningsih, engkau mantuku, jangan menyebut gusti kepadaku. Aku ramandamu juga! Panji Sigit, senang sekali hatiku melihat isterimu. Mulai sekarang, jangan engkau pergi-pergi lagi meninggalkan Jenggala. Engkau sudah dewasa, sudah beristeri, seharusnya tinggal di sini dan melakukan tugasmu sebagai seorang pangeran, membantu kakakmu Pangeran Kukutan demi ketenteraman Jenggala.Aku sudah tua, kalau bukan putera-puteraku seperti Kukutan dan engkau yang mewakili aku memegang kendali pemerintahan, habis siapa lagi?? Bukankah benar begitu, Patih?"
Semua mata memandang kepada Ki Path Warutama yang duduk di sebelah kiri dan yang sejak tadi seperti halnya Suminten, duduk dengan anteng dan penuh hormat sebagai seorang ponggawa yang baik.
Ki Patih Warutama dengan tenang menyembah, sedikit pun tidak memperlihatkan reaksi terhadap pandang mata penuh selidik dari empat orang muda itu, kemudian terdengar suaranya yang tenang dan penuh pengertian.
"Tiada seujung rambut pun selisihnya kebenaran wawasan dan sabda Paduka yang amat bijaksana, Gusti! Seorang pangeran muda sudah seyogyanya memperluas pengalaman dan mengejar ilmu dalam tapa brata, akan tetapi semua itu dilakukan dengan cita-cita agar kelak semua ilmunya dapat dipergunakan untuk berdharma bakti kepada orang tua dan negara! Hamba merasa girang sekali mendengar bahwa Gusti Pangeran Panji Sigit membantu tugas Gusti Pangeran Mahkota, ada pun hamba hanya siap untuk melayani dan membantu."
"Ha-ha-ha-ha, kau lihat sendiri, Panji Sigit. Bukankah patihku ini hebat? Engkau akan senang sekali mendapat bantuan seorang yang setia, cerdik pandai, dan memiliki kesaktlan yang amat hebat seperti Ki Patih Warutama ini."
Pandang mata Panji Sigit bertemu dengan pandang mata Warutama dan pangeran muda ini tertegun.
Alangkah hebatnya orang ini!
alangkah berbahayanya.
Sudah jelas baginya bahwa orang yang menjadi patih ramandanya ini adalah penjahat busuk yang pernah menyelundup ke Wilis dan yang pernah menculik Retna Wilis bersama dua orang kawannya yang mengerikan, yaitu Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro.
Kalau dahulu tidak ada gurunya, Ki Datujiwayang menolong dan merampas kembali Retna Wilis, tentu anak ayundanya itu telah dibawa pergi.
Patih ini adalah seorang jahat, dan tentu saja tahu bahwa dia mengenalnya.
Akan tetapi patih itu masih bersIkap begitu tenang seolah-olah merasa belum pernah bertemu sebelumnya!
Alangkah beraninya!
Namun, apa yang dapat ia lakukan?
Dia berada di sarang harimau, sungguhpun hal ini aneh kalau diingat bahwa dia berada di istana ramandanya sendiri!
Pula, urusan penculikan Retna Wilis adalah urusan pribadi yang tidak ada sangku-pautnya dengan ramandanya, maka tentu saja tidak perlu baginya untuk membeberkan persoalan itu di depan ramandanya.
Sungguhpun ia mempunyai keyakinan bahwa Nini Bumigarba yang kini berhasil menculik Retna Wilis dan membunuh Ki Datujiwa itu tentulah mempunyai hubungan dengan Patih Warutama, namun tentu saja ia tidak dapat menanyakannya begitu saja.
Adanya Ki Patih Warutama di istana itu, di samping Pangeran Kukutan dan Suminten, membuat Pangeran Panji Sigit menjadi lebih hati-hati lagi.
Untuk beberapa detik lamanya, perasaan yang sama mengaduk hati Pangeran Panji Sigit, Joko Pramono, Setyaningsih, dan Pusporini kagum.
Pantas saja kalau Warutama dapat menyelundup dan menjadi patih.
Orang itu amat cerdik dan berbahaya melebihi seekor ular welang!.
Hanya ada dua kemungkinan.
Ki Patih Warutama ini seorang cerdik yang amat berbahaya kalau benar apa yang diceritakan oleh Ki Wiraman, atau sebaliknya, dia seorang yang gagah perkasa dan bijaksana kalau cerita Ki Wiraman itu tidak betul.
Terhadap orang seperti ini, mereka harus berhati-hati sekali.
"Hamba merasa girang sekali bahwa Paduka telah mendapatkan seorang patih yang pandai dan bijaksana,Kanjeng Rama. Semoga dengan adanya Paman Patih ini, kerajaan Paduka akan terbebas daripada orang-orang munafik yang hanya di luarnya saja baik namun di sebelah dalam dadanya mengandung niat yang laknat, seperti ular-ular berkedok domba."
Sambil berkata demikian, dengan pandang mata tajam penuh selidik Pangeran Panji Sigit memandang wajah ki patih itu.
Namun tusukan yang terkandung dalam ucapan ini agaknya sama sekali tidak dirasai oleh Ki Patih Warutama.
Wajah yang sudah matang dan masih tampan menarik itu tetap tenang dan bersih, seperti wajah orang yang tidak mempunyai dosa apa-apa, bahkan mulut itu tersenyum dan pandang matanya tenang lembut.
"Harap Paduka jangan khawatir, Gusti Pangeran. Hamba akan membela Jenggala dengan taruhan jiwa raga hamba sebagai imbalan atas kebijaksanaan dan segala anugerah yang telah dilimpahkan oleh Gusti Sinuwun kepada hamba."
Kalau saja Pangeran Panji Sigit belum pernah mendengar cerita ratu, dan Joko Pramono belum mendengar cerita Ki Wiraman, tentu mereka itu akan dapat terbujuk oleh sikap dan kata-kata patih ini.
Hanya Setyaningsih dan Pusporini dengan perasaan wanitanya dapat menangkap sifat-sifat yang jauh lebih buas dan keji terhadap wanita dalam pribadi patih ini, dibandingkan dengan Pangeran Kukutan.
Ketampanan dan kematangan sifat jantan ki patih ini benar-benar membuat mereka berdebar dan penuh kengerian, juga menimbulkan kemuakan yang mendatangkan benci tanpa sebab.
"Kanjeng Rama, perkenankan hamba memperkenalkan dua orang sahabat yang datang menghadap bersama hamba. Gadis ini bukan orang lain, melainkan adik tiri Diajeng Setyaningsih, bernama Pusporini. Adapun sahabat ini bernama Joko Pramono, saudara seperguruan Adinda Pusporini. Hamba mohon agar mereka ini diperkenankan tinggal di sini dan diberi tugas pekerjaan membantu hamba."
"Ah, gadis yang cantik dan pemuda yang perkasa. Tentu saja boleh, Puteraku, dan biarlah tentang tugas mereka ini kuserahkan kepada Patih Warutama yang akan mengaturnya."
Setelah bercakap-cakap sebentar dan Pangeran Panji Sigit menceritakan pengalamannya semenjak meninggalkan istana tanpa menyinggung-nyinggung persoalan yang didengarnya tentang Jenggala, pertemuan dibubarkan dan selanjutnya, Pangeran Panji Sigit dan isterinya mendapat tempat tinggal di lingkungan istana, adapun Joko Pramono dan Pusporini untuk sementara tinggal di padepokan tamu istana sehingga mereka berempat sewaktu-waktu dapat mengadakan pertemuan karena tempat mereka itu hanya terpisah oleh taman sari yang luas dan indah.
Tanpa mereka sangka sama sekali, semua ini telah direncanakan oleh Suminten yang menghendaki empat orang itu dekat dengannya, tidak saja untuk pelaksanaan siasatnya, akan tetapi juga agar lebih mudah kaki tangannya mengadakan pengawasan.
Dengan hati-hati sekali empat orang muda yang sudah berhasil menyelundup dan diterima di istana Jenggala itu berusaha untuk menyelidiki keadaan Nini Bumigarba.
Namun ternyata sama sekali tidak berhasil.
Bahkan ketika Pangeran Panji Sigit mendapat kesempatan menyinggung nama ini di depan sang prabu, ramandanya juga mengerutkan alisnya dan menyatakan tidak mengenal nama itu.
sama sekali.
Juga Ki Patih Warutama menyatakan tidak mengenal nama itu.
Hanya Pangeran Kukutan ketika ditanya oleh Pangeran Panji Sigit, membelalakkan matanya dan berkata.
"Aku hanya pernah mendengar nama itu, nama seorang nenek yang sakti mandraguna seperti dewi katon, tiada lawannya di dunia ini. Akan tetapi aku belum pernah melihatnya dan tentu saja tidak tahu di mana tempat tinggalnya."
Pangeran Panji Sigit menjadi bingung dan gelisah, karena agaknya tidak ada harapan untuk mencari keterangan tentang Nini Bumigarba yang telah menculik Retna Wilis.
Di samping menyelidiki tentang Nini Bumigarba, tentu saja mereka juga menyelidiki tentang keadaan Kerajaan Jenggala dan apa yang mereka dapatkan membuat Pangeran Panji Sigit menarik napas panjang berkali-kali dengan hati penuh duka dan gelisah.
Ternyata bahwa para ponggawa yang setia dari ramandanya, kalau tidak "hilang"
Tanpa bekas tentu telah berubah seratus prosen dan kini menjadi kaki tangan Pangeran Kukutan.
Para ponggawa yang dahulunya setia kepada ramandanya, kini telah habis.
Yang jiwanya gagah perkasa dan satria sejati, sudah hilang atau tewas secara aneh dalam pertempuran-pertempuran.
Adapun mereka yang kini menjadi kaki tangan Pangeran Kukutan dan menduduki tempat-tempat penting, adalah orang-orang baru dari luar daerah, atau mereka yang dahulunya setia akan tetapi berjiwa plin-plan yang menunjukkan pribadi orang-orang yang rendah budi, yang tidak segan-segan dan malu-malu menjadi penjilat demi untuk kesenangan diri pribadi.
Orang-orang seperti inilah yang paling berbahaya.
Akan tetapi, diam-diam Pangeran Panji Sigit menjadi girang melihat bahwa betapapun juga masih ada di antara mereka yang benar-benar masih setia kepada ramandanya, dan bukan merupakan kaki tangan Pangeran Kukutan, sungguh-pun mereka ini menentang Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama di dalam hati mereka saja karena sama sekali tidak berdaya.
Di antara mereka yang setia ini, Pangeran Panji Sigit mengenal Ki Pawitra, guru seni tari yang sudah tua.
Ketika bertemu dengan Joko Pramono dan Pusporini dan mendengar cerita murid-murid Sang Resi Mahesapati ini tentang Ki Wiraman dan Widawati, betapa dahulu Widawati diselamatkan ketika seluruh keluarga Ki Patih Brotomenggala dibasmi, yaitu dilarikan oleh Ki Mitra yang menjadi juru taman keluarga guru seni tari itu, hati Pangeran Panji Sigit menjadi girang sekali.
"Bagus kalau begitu!"
Kata Pangeran Panji Sigit kepada Joko Pramono, didengarkan pula oleh Setyaningsih dan Pusporini.
"Kita harus dapat menghubungi Ki Mitra dan mungkin dari teman-teman setia Ki Pawitra kita akan dapat mengetahui keadaan sesungguhnya dari Jenggala, bahkan siapa tahu di antara mereka ada yang dapat mengetahui di mana adanya Nini Bunigraba dan tahu pula sebetulnya golongan manakah yang secara rahasia membantu persekutuan Suminten dan Warutamal"
Memang patut dikagumi kegigihan dan kebesaran semangat juang empat orang muda ini yang seakan-akan telah memasuki gua harimau.
Akan tetapi patut dikasihani pula mereka karena mereka tidak tahu bahwa sebenarnya mereka telah terperosok ke dalam lubang jebakan yang diatur oleh Suminten yang cerdik licin.
Mereka berempat sama sekali tidak tahu bahwa tempat mereka berunding,yaitu di ruangan tempat tinggal Pangeran Panji Sigit, telah dipasangi lubang-lubang rahasia di mana dipasang kaki tangan Suminten yang tugasnya hanya bersembunyi dan mendengarkan semua percakapan empat orang itu yang dilakukan di ruangan itu.
Bahkan semua percakapan antara Pangeran Panji Sigit dan isterinya di dalam kamar pun tidak ada yang terlepas dari telinga kaki tangan itu yang selalu bersembunyi dan mendengarkan!
Mereka tidak pernah mimpi bahwa Suminten telah mengetahui semua rahasia, rencana dan langkah-langkah yang akan mereka ambil, dan bahwa pedang malapetaka telah tergantung di atas kepala mereka.
Pada malam hari itu juga, seorang kakek datang menghadap Pangeran Panji Sigit, dilaporkan oleh seorang penjaga.
Ketika tiba di depan pangeran itu, kakek itu cepat menjatuhkan diri berlutut dan menyembah, kemudian menengok kanan kin dan berbisik.
"Gusti Pangeran............. hamba Ki............. Mitra, mohon bicara."
Pangeran Panji Sigit terkejut dan memandang penuh perhatian.
Kakek ini usianya sudah enam puluh tahunan, pakaiannya sederhana seperti pakaian pelayan, sikapnya cerdik.
Cepat pangeran itu memberi isyarat kepada Ki Mitra untuk mengikutinya.
Setyaningsih yang berada di dalam, menjadi heran melihat suaminya menuntun masuk seorang kakek yang tidak ia kenal.
Sebelum ia membuka mulut bertanya, Pangeran Panji Sigit sudah mendahuluinya memperkenalkan.
"Diajeng, dia inilah Ki Mitra yang kita bicarakan kemarin."
"Ahh, kebetulan sekali. Akan tetapi, apakah yang kau kehendaki, paman? Mengapa engkau datang mencari gusti pangeran?"
Pertanyaan ini mencerminkan kecerdikan dan kewaspadaan Setyaningsih.
KI Mitra yang melihat bahwa dia telah berada di sebelah dalam dan tidak akan terlihat orang lain, sudah menjatuhkan diri bersila kembali, kemudian berkata dengan sikap penuh hormat.
"Hamba dahulu melarikan cucu puteri mendiang ,gusti patih yang malang, dan setelah berhasil menyerahkan puteri itu kepada Ki Wiraman, hamba segera pulang ke sini dan tetap bekerja sebagai juru taman di rumah guru seni tari.Hamba yang banyak melihat dan mendengar keadaan di kota raja umumnya dan di istana khususnya, yang bersumpah di dalam hati untuk bersetia kepada gusti sinuwun sampai mati, tentu saja hamba dapat meIasa bahwa Paduka Gusti Pangeran Panji Sigit sependapat dengan hamba dan karena itu hamba memberanikan diri lancang menghadap Paduka. Mamba siap melakukan segala perintah Paduka, Gusti."
"Bagus sekali kalau begitu!? "
Pangeran muda itu berseru girang.
"Mari kau ikut bersamaku ke taman sari, Paman Mitra."
"Mengapa tidak bicara di sini saja, Gusti?"
"Hush, jangan membantah. Kau tidak tahu, di sini pun mungkin tidak aman. Aku mulai curiga karena tadi aku mendapatkan lubang-lubang di dinding kamar itu dan mungkIn telingaku salah dengar, akan tetapi aku seperti mendengar napas orang di balik dinding. Mari kita bicara di taman sari. Di tempat terbuka itu takkan mungkin ada yang mengintai atau mendengarkan pembicaraan kita. Engkau adalah seorang abdi ponggawa istana, dan kenalanku di luar istana amat banyaknya sehingga tidak akan mengherankan hati orang kalau engkau menghadap dan bercakap-cakap denganku di taman sari, apalagi karena engkau adalah seorang ahli juru taman."
"Baiklah, Gusti."
Keluarlah suami isteri muda itu diikuti si juru taman tua dan mereka berjalan ke taman sari seenaknya sambil bercakap-cakap, menuding-nuding ke arah pelbagai tanaman sehingga kelihatan dari jauh seperti bercakapcakap tentang tanaman.
Padahal Pangeran Panji Sigit bertanya tentang keadaan di Jenggala.
"Bagaimana pendapatmu tentang peristiwa yang menimpa keluarga Paman Patih Brotomenggala, Paman?"
Sambil menuding ke arah sekumpulan kembang menur,Pangeran Panji Sigit bertanya dan mereka berhenti di depan kelompok kem-bang menur itu. Ki Mitra menjawab.
"Peristiwa itu patut disesalkan, Gusti. Hamba sendiri masih merasa heran mengapa gusti patih yang semenjak dahulu terkenal setia itu tiba-tiba saja dapat melakukan hal yang amat keji itu, berusaha hendak membunuh gusti sinuwun."
Pangeran Panji Sigit menghela napas.
Kakek juru taman ini tentu saja banyak melihat dan mendengar, akan tetapi tentu saja tidak dapat mengetahui rahasia apa yang mungkin tersembunyi di balik semua peristiwa mengerikan yang terjadi dl Jenggala.
"Bagaimana dengan dibuangnya Ibu Ratu?"
"Wah, tentang itu , Paduka tentu dapat memaklumi perasaan wanita-anita yang bersaing dan bertentangan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa terdapat perang dingin antara gusti ratu dan gusti selir muda sehingga tentu saja keduanya. berusaha saling menjatuhkan.Paduka tentu mengerti pula betapa kejamnya hati yang sudah dipenuhi oleh cemburu dan iri hati sehingga mungkin saja kalau gusti ratu menjadi lupa sehingga menjatuhkan fitnah. Justeru pertentangan antara kedua wanita itulah yang menimbulkan perpecahan sehingga timbul dua fihak."
Setyaningsih mengerutkan keningnya, akan tetapi Pangeran Panji Sigit hanya menarik napas panjang.
Seorang juru taman seperti Ki Mitra ini boleh jadi memiliki kesetiaan besar sehingga untuk membela junjungannya bersedia mengorbankan nyawa, bahkan sudah berjasa menyelundupkan cucu puteri Ki Patih Brotomenggala dari kota raja.
Akan tetapi mana mungkin dapat berpemandangan luas dan dapat mengerti akan persoalan persoalan yang pelik dan penuh rahasia yang menimpa istana?
"Begin!, Ki Mitra.
Yang penting sekarang, engkau ini setia kepada fihak mana?
Kepada siapa?"
"Tentu saja kepada gusti sinuwun dan kepada Paduka Gusti Pangeran. Paduka boleh memerintahkan tugas apa saja dan hamba akan melaksanakannya dengan taruhan nyawa!"
Makin yakin hati Pangeran Panji Sigit bahwa kakek ini hanyalah seorang pelaksana yang setia, akan tetapi hanya terbatas pada tugas-tugas yang kasar dan ringan saja.Betapapun juga, kesetiaan seorang yang bodoh dan jujur seperti ini boleh dipercaya "Baiklah, Ki Mitra.
Engkau tentu mehgenal atau tahu akan ponggawa-ponggawa baru yang telah diangkat oleh paman patih dan rakanda pangeran mahkota, ,yang kabarnya memiliki kesaktian hebat."
"Tentu saja, Gusti. Hamba mendengar berita bahwa gusti patih sendiri memiliki ilmu kesaktian yang tidak lumrah manusia. Ketika gusti sinuwun dahulu diserang perampok, dengan tangan kosong saja gusti patih merobohkan mereka semua. Kemudian, ketika kota raja diserang angin taufan, nyaris bagian kiri istana hancur tertimpa pohon beringin yang roboh tumbang oleh angin, gusti patih pula yang membuktikan kesaktiannya yang luar biasa dengan menahan batang pohon raksasa itu dan mendorongnya sehingga pohon itu roboh di bagian lain, tidak menimpa bangunan istana! Tentu masih banyak ponggawa yang sakti, sungguhpun tidak sehebat gusti patih, seperti misalnya Gusti Tumenggung Wirokeling, Gusti Tumenggung Sosrogali dan masih banyak lagi yang hamba tidak ketahui sampai di mana kedigdayaan mereka. Akan tetapi yang jelas, para ponggawa sekarang ini terdiri dari orang sakti yang dapat dikumpulkan oleh gusti patih dan gusti pangeran mahkota."
"Ki Mitra, pernahkah kau mendengar akan nama Nini Bumigarba?"
Kakek itu kelihatan terkejut.
"Pernah; Gusti dan huhh, masih meremang bulu tengkuk hamba kalau mendengar nama itu. Hamba mendengar berita angin di antara para ponggawa yang dahulu pernah bercakap-cakap sambll menonton latihan seni tari para puteri istana di tempat kediaman majikan hamba. Kabarnya pada suatu malam Jum'at, manusia sakti seperti dewi yang berjuluk Nini Bumigarba, atau juga bewi Sarilangking itu, yang pandai menghilang, muncul dan menemui gusti patih yang kabarnya masih menjadi buyut muridnya."
"Betulkah itu?"
Pangeran Panji Sigit terkejut dan girang.
"Entahlah, Gusti. Hanya kabarnya, kedatangan nenek sakti itu adalah untuk ;mengusir dan melenyapkan hawa siluman yang kabarnya mengotorkan angkasa di atas kota raja."
"Tahukah engkau, di mana tempat tinggal nenek itu?"
Ki Mitra menggeleng kepalanya.
"Hamba rasa tidak ada seorang pun yang tahu. Kabarnya, kalau tidak dikehendaki tak seorang pun dapat melihatnya karena dia pandai menghilang atau terbang ke angkasa."
Pangeran Panji Sigit kecewa.
"Kiranya cukuplah, Paman. Engkau kembalilah ke tempat kerjamu. Sewaktu-waktu kalau aku memerlukanmu, akan kupanggil engkau."
Ki Mitra menyembah.
"Hamba siap melaksanakan segala perintah Paduka. Andaikata Paduka hendak mengirim berita-berita rahasia ke Panjalu atau ke mana saja, hamba sanggup melaksanakannya."
"Baiklah, akan tetapi untuk sekarang belum ada tugas untukmu. Pergilah."
Setelah kakek itu pergi, Pangeran Panji Sigit saling pandang dengan isterinya dan pangeran itu menarik napas panjang, agaknya merasa kecewa akan keterangan-keterangan yang ia dapat dari Ki Mitra.
Isterinya maklum akan isi hati suaminya, maka segera mendekati dan berkata halus.
"Memang tidak mudah menyelidiki keadaan seorang nenek yang sifatnya tidak seperti manusia biasa Kakanda.Akan tetapi hal ini memerlukan kesabaran besar sekali. Kita tahu bahwa dia adalah di fihak musuh, dan saya kira, dia pun sudah tahu akan keadaan kita. Karena dia selalu menyembunyikan diri, maka sebaliknya kita menanti sampai dia dan kaki tangannya turun tangan terhadap kita.Nah, di saat itulah, pasti musuhimusuh kita takkan mampu menyembunyikan diri lagi."
Pangeran muda itu mengangguk-angguk, lalu merangkul pinggang isterinya yang ramping dan mengajaknya masuk ke dalam kamar mereka.
"Engkau benar, dan memang kita harus berani menghadapi bahaya. Mereka itu ternyata amat pandai dan halus, biarpun mereka telah berhasil menguasai kerajaan dan menancapkan kuku-kuku mereka di manamana, mengganti para ponggawa dengan orang-orang mereka, namun pada lahirnya tidak tampak sedikit pun kesalahan mereka, bahkan kelihatannya seolah-olah mereka itu merupakan abdi-abdi yang amat setia dan baik dari kanjeng rama!"
Dan memang tepat sekali pendapat Pangeran Panji Sigit.
Akan tetapi pangeran ini pun hanya tahu satu tidak tahu banyak hal lain, hanya melihat belangnya kulit harimau saja, tidak melihat seluruh tubuh, kepala dan ekornya!
Dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa bahaya hebat bukan disebabkan semata karena pengkhianatan beberapa gelintir manusia yang menginginkan kedudukan.
Sama sekali bukan!
Melainkan diatur dan dikemudikan secara halus dan pandai oleh dua orang tokoh dari Sriwijaya dan Cola, yaitu Sang Biku Janapati utusan Sriwijaya yang halus dan sakti mandraguna, dan Sang Wasi Bagaspati yang kasar dan amat cerdik panda!
lagi sakti.
Mereka berdua inillah, dibantu oleh orang-orang sakti yang menjadi kaki tangan mereka, yang sebetulnya mengemudikan segala macam peristiwa yang terjadi di Jenggala, dengan mempergunakan kesempatan baik selagi di situ terdapat seorang seperti Suminten, dan muncul pula seorang seperti Warutama dan seorang seperti Pangeran Kukutan.
Dan di atas dari semua pembantu-pembantu ini, kedua orang pendeta dari Sriwijaya dan Cola itu masih mempunyai seorang yang mereka andalkan, yang memiliki kesaktian yang amat hebat, jauh melampaui kesaktian mereka sendiri, yaitu Nini Bumigarba.
Mereka maklum bahwa ada orang-orang sakti bermunculan dan berusaha menentang mereka membela Jenggala, dan bahwa di antara lawan-lawan saktI itu terdapat seorang yang amat mereka segani dan takuti, yaitu Sang Bhagawan Ekadenta atau Sang Sakti Jitendrya, juga Sang Bhagawan Sirnasarira.
Maka mereka berdua lalu mohon bantuan Nini Bumigarba untuk mengimbangi fihak lawan.
Pangeran Panji Sigit tidak mengetahuI akan hal ini semua, hanya mengira bahwa semua itu digerakkan oleh Suminten dan Pangeran Kukutan yang menginginkan kedudukan dan kekuasaan, dibantu oleh Warutama yang ia anggap seorang petualang yang haus kedudukan dan kemuliaan.
Adapun orang-orang sakti seperti Nini 'Bumigarba itulah menjadi tokoh-tokoh undangan semua.
Pangeran Panji Sigit, Setyanringsih, Joko Pramono, dan Pusporini sama sekali tidak menduga bahwa semenjak mereka menginjakkan kaki di bumi Jenggala mereka telah memasuki perangkap yang sengaja diatur oleh Suminten secara cerdik sekali.
Suminten yang begitu melihat Pangeran Panji Sigit menghadap, melihat wajah tampan yang serupa benar dengan wajah pria yang pertama kali dipujanya, yaitu mendiang Pangeran PanjIrawit, hatinya seperti diremas dan cinta kasihnya cinta kasih lama yang tadinya hampir terpendam kini tergali kembali dan makin menggelora.
Juga ketlka melihat Joko Pramono yang selain tampan gagah juga membayangkan kejantanan yang kuat, watak gila prianya bangklt dan nafsu berahinya berkobar.
Biarpun empat orang muda itu tinggal di istana, hidup mewah dan serba kecukupan, terhormat dan terjaga, namun mereka ini sesungguhnya merupakan tawanan-tawanan yang setiap saat dapat di jadikan korban keganasan iblis-iblis yang berkuasa di Jenggala pada waktu itu!
Penuturan tentang Nini Bumigarba yang didengar oleh Pangeran Panji Sigit dan isterinya dari mulut Ki Mitra bukan semata-mata bohong.
Memang sesungguhnyalah, biarpun pernah Biku Janapati dan Wasi Bagaspati mohon pertolongan nenek sakti mandraguna ini untuk menghadapi Ki Tunggaljiwa dan hampir saja nenek ini dapat membunuh Ki Tunggaljiwa dan Tejolaksono kalau tidak ditolong oleh Sang Bhagawan Ekadenda, namun Nini Bumigarba tidak mengikatkan dirinya secara langsung dengan kedua orang pendeta itu.
Nini Bumigarba tidak mau terikat, apalagi setelah ia melihat betapa di fihak musuh terdapat kakek sakti Bhagawan Ekadenta!
Karena itu, tak seorang pun di antara para anak buah kedua orang pendeta itu tahu di mana adanya Nini Bumigarba yang bagi manusia biasa seolah-olah merupakan dewa atau iblis!
Hanya Biku Janapati dan Wasi Bagaspati, dua orang manusia yang telah mencapai tingkat tinggi sekali ilmunya, yang mengetahui di mana adanya Nini Bumigarba, akan tetapi mereka pun tidak berani memberitahukan kepada orang lain.
Mereka mendapat janji dari Nini Bumigarba bahwa nenek itu akan muncul dan menandingi Bhagawan Ekadenda jika kakek itu mencampuri urusan kerajaan!
"Kalian tak usah khawatir,"
Demikian pesan nenek itu kepada Biku Janapati dan Wasi Bagaspati.
"semenjak dahulu aku tidak suka kepada Mataram dan keturunannya. Semenjak dahulu Ekadenta membantu Mataram! Akan tetapi sudah ada perjanjian pribadi antara dia dan aku bahwa kami berdua tidak akan mencampuri secara langsung urusan kerajaan. Dia tidak akan membantu Mataram dan aku tidak akan memusuhi Mataram! Kalau dia berani muncul dan langsung membantu Mearam, percayalah, aku akan slap menandinginya. sampai napas terakhir! Kulihat dia mempunyai murid yang baik, tentu muridnya yang akan maju. Karena itu, aku pun harus mencari seorang murid yang baik pula. Dalam segala macam hal, aku tidak mau kalah oleh Ekadenta!"
Biarpun mereka berdua orang-orang sakti mandraguna, Biku Janapati dan Wasi Bagaspati tidak tahu rahasia apa yang tersembunyl di balik kebencian nenek ini terhadap kakek sakti Bhagawan Ekadenta.
Namun mereka menjadi girang karena Bhagawan Ekadenta saja yang mereka takuti.
Karena itu, perbualan Nini Bumigarba di puncak Wilis, yaitu menculik Retna Wilis dan karena perbuatan ini terpaksa bertanding dengan Ki Datujiwa dan membunuh kakek sakti itu, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan kerajaan, tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan pribadi, baik terhadap Endang Patibroto maupun terhadap Tejolaksono.
Nenek sakti ini menculik Retna Wilis karena dia suka kepada anak ini yang dianggapnya merupakan calon murid terbaik yang penah dilihatnya.
Dia sedang mencari murid untuk menandingi murId Bhagawan Ekadenta, maka melihat Retna Wilis dia menjadi girang sekali dan merasa yakin bahwa kalau digembleng anak ini akan menjadi orang yang tiada tandingan di dunia ini, biar murid Bhagawan Ekadenta sekali pun!
Siapakah sebenarnya nenek yang amat luar biasa kesaktiannya ini?
Untuk mengenalnya, kita membuka lembaran riwayatnya secara singkat.
Nini Bumigarba ini sekarang usianya sudah amat banyak, sukar untuk diketahui, mungkin seratus tahun lebih, mungkin juga dua ratus tahun!
Dahulu dia merupakan seorang puteri cantik jelita dan sakti mandraguna dari kerajaan kecil Umbul-tirta yang bergabung dengan Kerajaan Wengker menentang Kerajaan Mataram.
Namanya sebagai puteri cantik adalah Dewi Sari-langking, selain cantik jelita, juga memiliki kesaktian yang tiada tandingnya di waktu itu.
Akan tetapi, karena pasukan kerajaan-kerajaan kecil itu tidak mampu menandingi barisan-barisan besar Mataram, kedua kerajaan itu selalu terpukul mundur.
Kemudian, muncullah seorang ksatria perkasa dan tampan di fihak Mataram, seorang kelana yang memakai nama Joko Ekadenta.
Ksatria inilah yang dapat menentang dan menandingi kesaktian Dewi Sarilangking sehingga puteri ini tidak saja kalah dalam bertanding, juga jatuh hatinya terhadap ksatria yang tampan dan perkasa itu.
Namun, Joko Ekadenta yang dapat meneropong keadaan puteri itu melihat sifat-sifat yang tidak baik sehingga biarpun dia sebagai seorang pria juga amat kagum dan jatuh hati terhadap Dewi Sarilangking, namun dia "mundur"
Dan tidak mau melayani cinta kasih puteri itu.
Hal ini merubah cinta kasih Dewi Sarilangking menjadi kebencian sehingga ia selalu mencari gara-gara untuk dapat bertanding melawan Joko Ekadenta yang selalu pula diakhiri dengan kekalahan di fihaknya.
Satu-satunya bukti bahwa Ekadenta masih mencintanya adalah kenyataan bahwa dalam setiap pertandingan, kalau Dewi Sarilangking menyerang dengan sungguh-sungguh dan dengan serangan maut, namun sebaliknya Ekadenta selalu merobohkannya dengan hati-hati agar tidak melukainya.
Setelah Dewi Sarilangking dapat dikalahkan dan menemui tandingannya, Kerajaan Umbul-tirta yang kecil itu dengan mudah dapat ditaklukkan oleh Mataram.
Dewi Sarilangking mengumpat caci dan mengutuk Joko Ekadenta karena kehancuran kerajaan ayahnya Semua keluarganya terbasmi dalam perang, hanya dia sendiri, berkat kesaktiannya, dapat menyelamatkan diri dan menghilang untuk bertapa dan memperdalam ilmunya.
Joko Ekadenta juga maklum bahwa semenjak itu, dia menanam bibit pertnusuhan yang hebat dan akan selalu terancam oleh Dewi Sarilangking, yang membencinya karena dua hal, pertama karena dia menolak cinta kasihnya atau tidak suka menyambung pertalian cinta yang ada di antara mereka, ke dua karena Joko Ekadenta membantu Mataram kerajaannya.
Karena maklum akan hal ini, Joko Ekadenta tidak mau kalah, juga pergi mengasingkan diri, bertapa dan mengejar ilmu kesaktian sebagai bekal untuk melindungi diri terhadap ancaman Dewi Sarilangking.
Kekhawatirannya terbukti.
Ke mana pun dia bertapa, selalu Dewi Sarilangking dapat mencarinya dan entah berapa puluh kali selama belasan tahun wanita itu selalu berusaha untuk membunuhnya dalam pertandingan-pertandingan yang amat dahsyat.
Akan tetapi selalu Ekadenta dapat mengalahkan puteri itu dan selalu membujuknya agar menyudahi permusuhan mereka.
Namun Sarilangking tetap berkeras kepala dan setiap dikalahkan, bertapa dan menggembleng diri lagI untuk kelak dipakai dalam pertandingan lanjutan!
Melihat ini, Ekadenta mengalah dan pergi ke barat, melintasi lautan dan merantau sampai ke Pegunungan Himalaya di mana ia memperdalam ilmunya dan juga terutama sekali untuk menjauhkan diri dari Sarilangking!
Dewi Sarilangking yang makin sakti mandraguna itu kehilangan musuhnya dan dia lalu menggunakan ilmunya untuk membantu Kerajaan Wengker, bahkan kemudian dia menjadi guru dari Dewi Mayangsari yang menjadi permaisuri di Wengker, permaisuri Sang Prabu Boko, Raja Kerajaan Wengker yang sakti sekali itu!
Demikianlah sedikit riwayat Dewi Sarilangking yang kemudian dikenal dengan julukan Nini Bumigarba, menjadi seorang nenek yang amat hebat, seorang wanita yang tidak pernah menikah, akan tetapi biarpun sudah menjadi nenek tua renta, ia masih mendendam kepada Ekadenta yang kini pun sudah menjadi seorang kakek tua sekali yang amat sakti, yaitu Sang Bhagawan Ekadenta atau juga disebut Sang Sakti Jitendrya atau Sang Bhagawan Sirnasarira.
Sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, ketika Nini Bumigarba yang memenuhi permintaan bantuan Biku Janapati dan Wasi Bagaspati, datang menyerang Ki Tunggaljiwa, nenek sakti ini tidak berhasil membunuh Ki Tunggaljiwa dan Bagus Seta karena muncul secara tiba-tiba kakek sakti yang menjadi musuhnya semenjak muda sehIngga terpaksa nenek ini melarikan diri.
Kemudian Nini Bumigarba pergi mencari murid untuk menandingi murid kakek itu kelak dan di puncak Wilis dia berhasil menculik Retna Wilis setelah membunuh Ki Datujiwa.
Mungkin tanpa disadari oleh Endang Patibroto sendiri, wataknya yang aneh dan keras, suka akan kesaktian, menurun kepada puterinya.
Biarpun menyaksikan dengan mata sendiri betapa Nini Bumigarba telah membunuh gurunya, Ki Datujiwa, namun Retna Wilis malah menjadi kagum dan suka sekali menjadi murid nenek itu!
Hal ini bukan sekali-kali karena Retna Wilis tidak menyayang gurunya itu, melainkan karena dalam anggapan anak ini, pertandingan antara gurunya dan nenek itu adalah pertandingan adu kesaktian yang adil sehingga kalau gurunya kalah dan tewas dalam pertandingan itu, sudahlah sewajarnya.
Bahkan ia merasa gembira sekali, biarpun ia harus meninggalkan ibunya, karena ketika ia dipondong dan dibawa lari nenek itu, ibunya sendiri menyatakan dengan suara yang jelas bahwa ibunya rela dia menjadi murid Nini Bumigarba.
Pula, ketika ia dibawa lari, ia merasa seolah-olah dibawa terbang, demikian cepatnya nenek itu melarikannya.
Nini Bumigarba melakukan perjalanan yang amat cepat sampai tiga hari lamanya dan baru berhenti setelah tiba di tepi Laut Selatan!
Pantai Laut Selatan di daerah ini sunyi tak tampak seorang pun manusia dalam jarak puluhan kilometer.
Pantai itu sendiri merupakan lautan pasir dan memang oleh penduduk di pedalaman, daerah yang merupakan daerah tandus ini disebut merupakan daerah tandus ini disebut Segoro Wedi (Lautan Pasir).
Adapun di pantai, gunung-gunung karang menjulang tinggi, seolah-olah merupakan perisai yang menentang amukan badai Laut Selatan sehingga air tidak sampai meluap dan merendam seluruh Nusa Jawa!
Sunyi dan tidak subur seperti neraka, penuh dengan bahaya dan menyeramkan.
Bahkan binatang-binatang darat tak tampak di daerah yang tandus ini, burung-burung pun tidak tampak, kecuali burung laut yang memang hidup dari ikan-ikan laut.
Mahluk-mahluk hidup yang tampak di daerah ini hanyalah binatang pantai yang kecil seperti undur-undur, kepompong, kepiting, dan yang besar-besar hanyalah kura-kura laut yang kadang-kadang mendarat di pantai penuh pasir untuk bertelur.
Kura-kura laut yang amat besar-besar, sedemikian besarnya sehingga takkan dapat terpikul oleh empat orang dan sedemikian kuatnya sehingga dua tiga orang dewasa saja yang menduduki punggungnya masih akan terangkut olehnya.
Sunyi sekali di situ, sunyi dari suara-suara yang biasa terdengar di darat.
Akan tetapi sedetik pun tak pernah berhenti dari suara bising ombak laut bertanding kekuatan melawan batu-batu karang yang menggunung di pantai, suaranya berdeburan, berkerosakan, seperti air mendidih, kadang-kadang bergelegar seperti halilintar mengamuk.
Ketika Nini Bumigarba menurunkan Retna Wilis dari pondongannya dan gadis cilik ini berdiri meman dang ke arah laut bergelombang, nenek ini melirik dan tersenyum gembira menyaksikan betapa wajah muridnya itu berseri, pandang mata yang tajam itu bersinar-sinar penuh kekaguman memandang air laut yang bergelora.
Nenek itu kagum melihat betapa muridnya itu setelah melakukan perjalanan lama yang amat melelahkan, tidak tampak kehilangan semangatnya dan senang hatinya melihat muridnya tidak kecewa menyaksikan daerah yang akan menjadi tempat tinggalnya.
"Retna Wilis, bagaimana pendapatmu dengan tempat ini? Engkau dan aku akan tinggal di daerah ini dan di sini engkau akan kugembleng dengan kesaktian sehingga kelak engkau akan menjadi seorang muda yang sakti tanpa tanding!"
Tanpa menoleh dari laut yang bergelombang, -anak itu menjawab.
"Aku senang sekali tinggal di sini, Eyang."
Nini Bumigarba tertawa, hatinya senang disebut eyang dan ia makin suka melihat sikap yang polos itu, tidak menjilatjilat, tidak takut, melainkan sikap sewajarnya mencerminkan watak yang keras hati, angkuh, dan tidak mau merendahkan diri.
Inilah calon muridnya yang cocok.
Kalau saja ia dahulu di waktu mudanya memiliki watak seperti ini, angkuh dan tidak mau merendahkan tentu ia akan hidup bahagla.
Akan tetapi dia telah menjatuhkan hatinya kepada Ekadenta yang mengakibatkan hldupnya penuh dengan kekecewaan, merana dan sengsara!
"Muridku bocah manis.
Kenapa engkau suka tinggal di sini?
Mengapa tempat ini yang amat sunyi dan tandus menyenangkan hatimu?"
"Aku senang, Eyang. Aku kagum menyaksikan kedahsyatan laut dan ombaknya yang setinggi gunung! Betapa dahsyatnya, betapa ganasnya, dan betapa kuatnyal Dan aku terpesona menyaksikan batu-batu karang menggunung. Betapa tenang menerima hantaman ombak yang begitu ganas, dan betapa kokoh kuatnya! Sungguh hebat dan besar laut dan gunung karang, dan betapa kecilnya kita ini!"
"Heh-he-he-he-he! Tepat sekali pendapatmu, muridku. Dan engkau akan kugem-bleng agar kelak engkau dapat memiliki kedahsyatan dan keganasan gelombang laut kidul, memiliki keterangan yang dingin dan daya tahan yang kokoh kuat dari gunung-gunung karang! Ha-ha-ha!"
Demikianlah, tanpa diketahui oleh seorang manusia pun, Nini Bumigarba yang telah mendapatkan seorang murid yang mencocoki hatinya, mulai menggembleng Retna Wilis dengan pelbagai ilmu dan aji kesaktian di pantai laut kidul yang sunyi itu.
Ternyata Retna Wilis amat suka tinggal di tempat ini.
Selama hidupnya anak ini belum pernah melihat laut, semenjak lahir selalu berada di puncak Gunung Wilis.
Kini, sekali berhadapan dengan laut dan gunung karang, ia terpesona dan menerima kesan yang menggetarkan jiwanya.
Ia merasa seolah-olah lautan luas itu hidup, seolah-olah dapat melihat dewa-dewa penjaga laut yang perkasa, dapat melihat dewa-dewa penjaga gunung karang yang maha sakti dan ia ingin sekali dapat menjadi seperti mereka.
Karena itu, ia tekun sekali belajar ilmu, mentaati segala perintah gurunya dan tidak ada perintah yang terlampau berat baginya.
Seringkali ia menerlma latihan-latihan bertapa yang amat berat dari gurunya.
Latihan bersamadhi duduk di atas pasir di tepi pantai sampai kalau air laut sedang pasang, ombak yang datang menenggelamkan tubuhnya dan kadang-kadang pasir itu sampai membenamnya sepinggang lebih.
Namun, sedetik pun ia tidak pernah undur, tidak pernah meragu karena selain ia merasa yakin bahwa perintah gurunya itu demi untuk memperkuat dirinya, jasmani dan rohani, juga ia yakin bahwa gurunya tidak akan membiarkan dia mati dalam berlatih!
Kadang-kadang sampai dua hari dua malam ia "dibiarkan"
Saja oleh gurunya dalam keadaan seperti itu sehingga tubuhnya serasa membeku dan seolah-olah telah berubah menjadi batu karang sendiri yang kuat dan kokoh dalam menerima terjangan ombak!
Ada kalanya Ia diharuskan bersamadhi di atas batu karang menerima gempuran gelombang, tak pernah berhenti tertimpa hujan dari air yang pecah berhamburan menghantam karang.
Setiap detik ia terancam bahaya, terhempaskan dari atas karang dan kalau hal ini terjadi, tentu tubuhnya akan diangkat oleh gelombang dan dibanting hancur ke atas batu-batu karang!
Namun, Retna Wilis tetap mentaati semua perintah gurunya dan keyakinan ini memang bukan membuta karena sesungguhnya, setiap saat Nini Bumigarba menjaga murldnya dengan wajah berseri penuh kegembiraan dan kebanggaanl Kalau matahari sedang teriknya, dan pantai pasir itu seolah-olah terbakar mengeluarkan uap dari bawah, Retna Wilis diharuskan bersamadhi di atas pasir yang panas sekali.
Di bawah tubuhnya, pasir panas dan uap dari bawah itu seolah-olah memanggang tubuhnya, adapun dari atas, sinar matahari secara langsung menimpa tubuhnya sehingga kalau habis berlatih seperti ini, kulit tubuhnya menjadi gosong dan menghitam!
"Muridku, Retna Wilts yang tersayang,"
Kata Nini Bumigarba setelah setahun lebih muridnya digembleng menghimpun kekuatan dengan cara bersamadhi yang aneh--aneh dan amat sukar.
"Engkau mulai dapat menerima inti tenaga sakti yang timbul dari gelombang lautan dan ketenangan batu karang yang mengandung hawa dingin. Secara langsung engkau dapat menahan hawa dingin yang timbul dari, latihan melawan ombak laut. Sebaliknya, berlatih di atas pasir panas di bawah terik matahari, engkau dapat menerima inti tenaga sakti dari matahari dan dari uap bumi. Latihan-latihan itu berat, namun manfaatnya besar sekali, muridku. Dengan dasar tenaga sakti yang kau terima intinya dari kekuatan alam ini, kau akan dapat menghadapi aji-aji pukulan lawan yang hanya mempunyai dasar dua itu pula, dan engkau akan dapat kelak menerima latihan-latihan aji pukulan yang hebat-hebat. Tahukah engkau, aji-aji pukulan apa yang dimiliki ibumu dan yang telah diajarkan atau diterangkan kepadamu?"
Retna Wilts mengangkat mukanya.
Bocah ini usianya baru sebelas dua belas tahun, dan baru setahun lebih berada di situ, namun pandang matanya kini sudah jauh bedanya dengan setahun yang lalu.
Pandang matanya penuh kesungguhan, sikapnya penuh ketenangan, tarikan bibirnya penuh keangkuhan dan kepercayaan kepada diri sendiri, sehingga ia telah memiliki himpunan sifat-sifat batu karang, lautan, dan pasir panas di bawah timpaan sinar matahari!
"Biarpun aku belum banyak menerima pelajaran aji pukulan dari ibu, akan tetapi menurut keterangan ibu, dia memiliki aji pukulan ampuh seperti Pethit Nogo, Wisangnolo, dan Gelap Musti, Eyang."
Nenek itu mengangguk-angguk.
"Engkau telah menyaksikan dahulu ketika ibumu mencoba memukulku sampai dua kali dan aku sama sekali tidak roboh, bahkan ibumu yang terpental. Mengapa? Pertama ibumu menggunakan aji pukulan Pethit Nogo yang 'biarpun belum kukenal, akan tetapi dapat kuketahui dasarnya, yaitu dengan dasar hawa sakti yang panas. Tentu saja dengan mudah aku dapat menerimanya karena inti tenaga sakti panas di dalam tubuhku jauh lebih kuat, sehingga pukulannya itu seperti setitik air memasuki jembangan penuh air, amblas tidak terasa. Demikian pula dengan pukulan ke dua. Pukulan ke dua ini kukenal baik, karena itu adalah pukulan Wisangnolo yang didapatkan ibumu dari gurunya, Si Mamangkoro! Heh-he-he! Tentu saja pukulan itu tidak ada artinya bagiku karena aji itu adalah ciptaanku sendiri! Nah, sekarang engkau mengerti betapa pentingnya melatih diri dengan samadhi yang menghimpun hawa-hawa murni untuk menciptakan tenaga sakti. Maka, kau belajar dan berlatihlah terus dengan penuh ketekunan, setelah engkau berhasil, baru aku akan menurunkan aji-aji pukulan yang maha sakti."
Retna Wilis mengangguk.
"Aku mengerti, Eyang. Aku tidak merasa puas sebelum dapat memiliki ketenangan dan kekuatan dan daya tahan seperti gunung karang."
"Heh-he-he-he, jangan khawatir. Engkau akan memiliki kedigdayaan seperti aku! Cuma satu hal yang kupesanka agar engkau ingat-ingat betul, muridku; Semua kesaktian itu akan musnah dan luntur hanya oleh satu hal."
Retna Wilis mengerutkan keningnya.
Alis itu hitam panjang dan kecil, seperti dilukis saja menghias wajahnya yang cantik jelita, yang kini mulai jelas tampak menurun wajah ibunyal "Hemm, harusnya Eyang memberi tahu kepadaku apa pantangan itu, karena hal itu penting sekali agar jangan sampai aku melanggarnya di luar kesadaranku."
"Pantangannya adalah kelemahan batin yang tidak mampu menolak perasaan hati sendiri."
"Mengapa menurutkan perasaan dapat memusnahkan dan melunturkan kesaktianku, Eyang?"
"Perasaan hati yang dituruti amatlah berbahaya, muridku. Di antaranya adalah rasa suka, duka, takut, malu, dan marah. Manusia memang berperasaan dan di dalam hidupnya diombang-ambingkan oleh perasaan ini sehingga menjadi lemah dan menjadi hamba daripada perasaannya.sendiri. Terutama sekali perasaan cinta kasih amatlah berbahaya dan segala kesaktlanmu akan tiada gunanya sekali engkau dicengkeram oleh perasaan cinta ini.Maka, engkau harus memperkuat, harus dapat mengekang dan mengendalikan perasaanmu sendiri, kalau perlu engkau boleh membunuh perasaanmu!"
Retna Wilis masih terlampau kecil untuk mengetahui betapa tak mungkin ajaran ini dilaksanakan, kecuali kalau dia akan merubah diri menjadi iblis yang tidak berperasaan atau menjadi binatang.
Akan tetapi karena dia hanya mempunyai satu keyakinan, yaitu bahwa di dunia ini gurunya inilah orang yang paling sakti mandraguna, paling benar, ia lalu mengangguk dan mencatat semua ajaran itu di dalam hatinya.
"Lihatlah samudera luas, muridku! Betapa dahsyatnya,betapa ganas dan garangnya, tak terlawan! Mengapa dia begitu sakti? Karena dia tidak sudi menjadi hamba perasaan, tidak mempunyai rasa sayang, atau takut, atau kasihan, atau malu mau pun marah. Karena itu hebatnya bukan kepalang. Dan lihatlah gunung karang. Dia pun tidak berperasaan, maka demikian kokoh kuat menghadapi segala macam terjangan, tak pernah mengeluh, tak perduli akan keadaan di sekelilingnya. Karena itu ia tidak suka tidak duka dan kokoh kuat!"
Pelajaran yang keluar dari mulut Nini Bumigarba ini amatlah berbahaya bagi jiwa kanak-kanak yang sedang berkembang.
Memang sesungguhnya mengandung filsafat yang amat tinggi, akan tetapi oleh karena keliru cara mengajarnya dan memang cara nenek ini mengajar pamrih dan juga terpengaruh oleh pengalaman-pengalaman pahit getir di waktu mudanya, maka pelajaran ini tidak akan memberi kebekuan terhadap duniawi dan kelembutan dalam watak, melainkan akan menjadikan orang membeku dan kehilangan perasaan peri kemanusiaan!
Pelajaran semacam ini dijatuhkan ke dalam hati Retna Wilis yang pada dasarnya memang keras hati karena selama ini terpengaruh watak dan sifat ibunya.
Tentu saja amat berbahaya bagi gadis itu sendiri yang tanpa disadarinya telah digembleng oleh gurunya menjadi seorang yang selain maha sakti seperti gurunya, dalam hal perasaan malah leblh mengerikan daripada gurunya!.
Namun Retna Wilis menjadi amat tekun belajar semenjak menerima nasehat gurunya ini.
Seringkali ia bermenung sampai berjam-jam memandang laut yang nengganas dan memandang batu karang yang kokoh kuat, menerima gempuran air yang pecah sendiri menjadi atom.Air laut bergerak terus, sedetik pun tak pernah berhenti.
Matahari dan bulan bergerak terus, kelihatan lambat namun tak pernah berhenti sedetik pun dan karena gerakan yang tiada hentinya ini maka waktu berlalu amat cepatnya, cepat akan tetapi tidak terasa dan kelihatn lambat, seperti gerakan bulan dan natahari.
Seolah-olah baru kemarin dulu Retna Wilis tinggal di pantai Teluk Prigi atau Segoro Wedi.Seolah-olah baru beberapa hari ia datang di tempat itu bersama gurunya.
Padahal, telah lima tahun ia berada di tempat itu dan kini Retna Wilis bukanlah bocah lagi,melainkan telah menjadi seorang gadis remaja yang amat elok wajah dan bentuk tubuhnya.
Wajahnya cantik jelita,ayu dan manis sekali, cemerlang karena bersih dan aseli, kecantikan yang wajar dan liar, seperti kecantikan setangkai bunga mawar hutan bermandi embun di antara duri-duri meruncing, seperti keindahan seekor harimau betina muda yang mengkilap bulunya, seperti keindahan ular yang bermata tajam dan berlidah merah meruncing dengan gerakannya yang lemas namun kuat, seperti Endang Patibroto di waktu muda.
Dia sendiri tidak tahu, karena ibunya tak pernah menceritakannya, bahwa keadaannya bersamaan dengan ibunya di waktu kecil.
Ibunya, Endang Patibroto, di waktu kecilnya pun digembleng menuntut ilmu kesaktian di antara deburan ombak laut kidul dan batu karang yang kokoh kuat.
Hanya bedanya, kalau ibunya digembleng oleh neneknya, dia digembleng oleh Nini Bumigarba yang memiliki kesaktian yang jauh lebih tinggi daripada ibunya dan neneknya, digembleng tidak hanya dengan aji kesaktian, melainkan juga dengan ilmu kebatinan yang aneh, yang membuat dia bagaikan membaja lahir batinnya.
Siapa pun orangnya yang berjumpa dengan Retna Wilis, tentu akan terpesona dan tentu akan tergetar batinnya oleh bermacam perasaan yang mengaduk hati.
Ada rasa kagum tentu, terutama bagi pria, menyaksikan wajah yang demikian cantik jelita, rambut yang hitam halus dan panjang dilepas bebas, digelung sederhana di atas kepala agak ke belakang, sepasang daun telinga yang tersembul antara ombak-ombak rambut menghitam tampak tipis dan indah lekukannya, lubang daun telinga yang kecil setiap hari berganti hiasan, ada kalanya batu karang merah, atau karang mengkilap, bahkan kadang-kadang bunga laut kering atau ujung supit udang atau kepiting!
Namun, apa pun juga yang terselip dibawah daun telinga itu, selalu menambahkan manis wajah yang hebat itu!
Dahinya halus, bagian atasnya terhias sinom (anak rambut) yang halus melingkar-lingkar seperti puteri-puteri pemalu.
Sepasang alisnya menjelirit kecil panjang, kedua ujungnya agak ke atas sehingga membayangkan keangkuhan, kelihatan berlawanan sekali dengan sepasang mata yang lebar memancarkan sinar bagaikan sepasang bintang di langit.
Mata ini yang amat mempesona, bening dan amat tajam sinarnya, namun mengandung wibawa yang aneh, kesungguhan dan penuh pengertian seperti hanya terdapat dalam mata pendeta-pendeta yang sudah awas paningal.
Mata itu menyeramkan sinarnya, mengandung pengaruh yang merupakan ancaman, akan tetapi keseraman yang tersembunyi ini tertutup keindahan hiasan bulu mata yang hitam, panjang melentik dan demikian lebat sehingga sekeliling mata di mana bulu mata itu berakar kelihatan garis hitam seolah-olah pinggir mata itu diberi coretan hitam.
Hidungnya kecil mancung, dan mulutnya merupakan imbangan keindahan matanya.
Mulut itu manis bentuknya, dengan sepasang bibir yang penuh menjendol, ukurannya kecil akan tetapi sedemikian rupa sehingga daging di bawah kulit tipis merah seolah-olah setiap saat dapat pecah.
Bentuknya seperti gendewa terpentang dan amatlah sayang bahwa mulut semanis itu jarang sekali tersenyum, apalagi tertawa, padahal kalau tersenyum tentu akan membuat dunia menjadi lebih cerah!
Karena bibir itu selalu tertutup, maka deretan gigi yang putih bersih dan rapi merupakan mutiara-mutiara terpendam yang jarang dapat terlihat orang.
Wajah yang seperti wajah dewi kahyangan memiliki tubuh yang padat ramping dan semampai, berkulit kuning halus dan karena sikap dan pembawaannya mengandung daya kekuatan dahsyat, maka tubuh yang indah ini menyembunyikan kegagahan di balik keluwesannya.
Sungguh alam telah bermurah hati sekali kepada Retna Wilis yang dikaruniai jasmani sedemikian indahnya!.
Takkan ada seorang manusia pun yang akan dapat mengira bahwa di dalam tubuh yang denok ini tersembunyi kesaktian yang amat dahsyat dan mengerikan!
Selama lima tahun tanpa mengenal lelah, secara tekun sekali menerima gemblengan Nini Bumigarba, kini Retna Wilis merupakan seorang gadis remaja yang, amat digdaya, sakti mandraguna dan di dalam tubuhnya terdapat aji-aji kesaktian yang tidak lumrah manusia.
Dara remaja ini amat suka tinggal di pantai Teluk Prigi, di darat bermain-main dengan kura-kura raksasa atau berlatih aji kesaktian, kadang-kadang ia menanggalkan seluruh pakaiannya, bertelanjang bulat menerjang ombak Laut Selatan, menyelam dan berenang berkejaran dengan ikan-ikan di laut sehingga kalau pada waktu itu ada yang melihat tentu akan mengira bahwa dia adalah seorang peri Segoro Kidul, atau puteri dari Ratu Roro Kidul sendiri!
Tubuhnya sedemikian penuh terisi hawa kesaktian sehingga ikan-ikan hiu yang banyak berkeliaran di bawah ombak, sama sekali tidak dapat mengganggunya, bahkan seringkali diganggu Retna Wilis, dipegang ekornya dan dilontarkan jauh ke atas permukaan air, dicengkeram sisinya dan dipatahkan taringnya!
Kalau menyaksikan muridnya seperti itu, Nini Bumigarba tertawa terkekeh-kekeh dengan penuh kebanggaan dan kekaguman.
Di waktu ia muda dahulu, harus ia akui bahwa dia tidaklah sehebat muridnya ini.
Namun ada kalanya Retna Wilis memandang ke arah utara, ke daratan di balik gunung karang di mana sayup-sayup tampak gerombolan hutan di lereng Pegunungan Seribu.
Pada suatu hari yang cerah, selagi Nini Bumigarba yang kini banyak menghabiskan waktunya untuk bersamadhi dan nenek itu kelihatan kini malas, Retna Wilis tak dapat menahan keinginan hatinya dan seorang diri ia lari ke utara dengan niat hendak melihat hutan di utara itu dan mencari buah-buahan kelapa atau pisang.
Dia menggunakan kedua kakinya seperti orang biasa berlari,namun hasil larinya sama sekali tak dapat dikatakan biasa!
Tubuhnya berkelebat cepat sukar diikuti pandangan mata, dan lajunya melebihi larinya seekor kuda membalap.
Sebentar saja ia sudah tiba di dalam hutan yang tampak dari Segoro Wedi.
Setibanya di tempat yang penuh tumbuhtumbuhan dan pohon-pohon besar itu, Retna Wilis menjadi gembira hatinya seperti seorang yang melihat benda-benda indah yang tak pernah dillhatnya.
IA MELOMPAT ke sini, lari ke sana, melayang ke atas pohon-pohon, menyambit runtuh buah-buah kelapa, nyambar buah-buah nangka dan menangkap seekor kelinci gemuk.
Ketika ia melemparkan semua buah dan kelinci yang sudah ia bunuh itu ke atas tanah kemudian ia melompat naik ke atas pohon sawo yang besar, memilih-milih sawo yang sudah masak, tiba-tiba ia mendengar suara orang bercakap-cakap.
Retna Wilis yang berada di atas pohon itu cepat memandang dan tampaklah olehnya empat orang laki-laki berjalan mendatangi tempat itu.
Mereka adalah empat orang laki-laki yang bersikap gagah, yang tiga orang berusia kurang lebih empat puluh tahun, yang seorang masih muda, paling banyak dua puluh tujuh tahun usianya.
Mereka berjalan sambil bercakap-cakap dan ketika mereka tiba di bawah pohon, Retna Wilis mendengar seorang di antara mereka, yang menggantungkan sebuah penggada besar di pinggangnya, berkata.
"Ki Warok Surobledug boleh dipercaya seratus prosen. Dia seorang satria sejati yang pada waktu ini menjadi ketua sekalian warok di Ponorogo. Dia boleh diajak berkawan dalam membela Jenggala. Kalau tidak sekarang orang-orang gagah bergerak untuk berdarma bhakti kepada Jenggala, menunggu sampai kapan?"
Tiba-tiba orang yang termuda, seorang yang bertubuh jangkung dan berwajah tampan menghentikan langkahnya, memandang ke arah buah-buah dan bangkai kelinci sambil berkata.
"Ssttt ada orang "
Tiga orang kawannya berhenti juga.
Tadi mereka asyik bercakap-cakap sehingga tidak melihat buah-buahan itu.
Kini mereka menghentikan percakapan dan kesemuanya berhenti di bawah pohon sawo, memandang ke kanan kiri.
Pemuda itu tiba-tiba menengadah lalu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha! Kiranya ada seekor monyet betina di atas pohon!"
Tiga orang kawannya memandang ke atas dan mereka pun tertawa.
"Jayus! Jangan bicara sembarangan!"
Bentak laki-laki yang membawa penggada ketika ia melihat bahwa yang dikatakan monyet betina itu adalah seorang gadis remaja yang amat jelita.
Karena melihat seorang dara berada di atas pohon sehingga dari bawah tampak betis memadi bunting dan sebagian paha yang berkulit halus putih di balik kain yang tersingkap, empat orang laki-laki itu tidak dapat mengalihkan pandang matanya.
Retna Wilis adalah seorang dara yang menjadi besar di tempat sunyi.
Biarpun perasaan wanitanya membisikkan rasa tidak suka kepada empat orang laki-laki yang tersenyum-senyum menyeringai dan memandangnya dengan sinar mata panas penuh gairah, namun ia tidak tahu apa yang mereka pikirkan.
la menekan kemarahannya ketika mendengar betapa orang muda itu tadi menyebutnya monyet betina.
Lamurkah mata pemuda itu yang mengira dia monyet?
Biarpun memanjat pohon, jelas bahwa dia berpakaian dan sama sekali bukan monyet!
"Ha-ha-ha, Paman Brojol, memang dia betina tetapi tentu saja bukan monyet, melainkan seorang dara jelita.Tadi kusangka monyet karena mana ada seorang perawan cantik memanjat pohon seperti monyet?
Eh, perawan gunung yang jelita dan berkulit kuning, berbetis padi bunting dan berpaha..........
wah, engkau benar hebat.Turunlah!"
Kata Jayus, orang muda itu. Retna Wilis mengerutkan alisnya. Tentu saja dia tidak sudi turun.
"Kalian mau apakah? Aku tidak ada urusan dengan kalian. Pergilah, jangan sampai aku kehilangan kesabaranku."
Suara Retna Wilis dingin, juga pandang matanya dingin sekali.
Akan tetapi karena sebagian wajahnya terhalang daun-daun sawo, hal ini agaknya tidak tampak oleh Jayus yang tergila-gila melihat betis dan pahanya, sedangkan tiga orang laki-laki yang lebih tua, sungguhpun mereka bukan golongan mata keranjang dan pengganggu wanita, namun mereka maklum akan darah muda Jayus, hanya tersenyum saja, maklum pula bahwa Jayus hanya menggoda dara itu, tidak mempunyai niat yang buruk.
"Waduh-waduh, galaknya.......... Eh, genduk bocah ayu, turunlah dan mari kita bicara baik-baik. Kakangmu ini bernama Jayus, ingin berwawancara dengan-mu, bocah ayu. Kenapa mengusir kami pergi? Kalau engkau kehilangan kesabaran, engkau mau apakah?"
"Tidak mau apa-apa, hanya mau membunuh kalian!"
Jawab Retna Wilis, mulai jengkil, apalagi ia teringat nasehat gurunya bahwa semua pria di dunia ini tidak ada yang baik dan tidak ada yang boleh dipercaya omongannya.
"Ingat, muridku. Pria-pria itu seperti sekawanan kumbang yang berhati palsu. Sebelum berhasil mendapatkan sari bunga, mereka beterbangan di sekeliling bunga, berdendang bernyanyi dengan suara merdu, membujuk rayu sehingga sang kembang akhirnya membuka kelopaknya. Celakalah sang kembang yang dengan mudah tunduk akan rayuan mereka dan membuka kelopaknya, karena kumbang-kumbang buas itu akan memasukinya dan menghisap habis sampai kering madu sari bunga dan setelah bunga itu mengering dan melayu, kumbang-kumbang itu pergi meninggalkannya tanpa pamit dan terima kasih, paling-paling meninggalkan kotorannya di kelopak bunga!"
Demikianlah nasehat Nini Bumigarba sehingga di sudut hati dara jelita ini telah bertumbuh benih kebencian terhadap kaum pria.
Empat orang pria itu terkejut dan memandang terbelalak ke arah dara remaja yang berada di atas pohon sawo.
Gllakah perawan ini?
Mengancam hendak membunuh mereka, jagoan-jagoan terkenal dari Gunung Kelud?
Empat orang ini terutama sekali si pemegang penggada adalah tokoh-tokoh Gunung Kelud, murid-murid Sang Panembahan Ki Ageng Kelud yang terkenal sakti mandraguna dan juga berwatak satria-satria perkasa.
Dan kini mereka diancam hendak dibunuh oleh seorang perawan yang baru berusia belasan tahun?
Tiga orang yang sudah berusia hampir empat puluh tahun itu terbelalak dan terheran-heran, juga menjadi curiga karena sebagai orang-orang yang perpengalaman mereka dapat menduga bahwa perawan itu tentu tidak lancang begitu saja berani mengancam hendak membunuh mereka.
Akan tetapi Jayus, yang masih muda dan darahnya lebih panas, tertawa bergelak dengan hati panas.
"Ha-ha-ha, perawan gunung bermulut besar! Engkau hendak membunuh kami? Wah-wah-wah, seekor kadal sekali pun akan mati karena tertawa mendengar kesombonganmu. Hayo turunlah dan bunuh aku kalau memang mampu. Apa engkau tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan? Inilah Jayus, jangankan engau, biar ada seorang raksasa betina sekali pun, sekali pegang dapat kulontaran sampai terjatuh ke laut kidul. Haa-ha!"
"Engkau minta mati?"
Tiba-tiba Retna Wilis melayang turun bagaikan gerakan seekor burung srikatan melayang dan tahu-tahu telah berada di depan Jayus yang memandang kagum akan tetapi tetap memandang rendah.
"Engkau minta mati dan dilempar jauh? Boleh!"
Setelah berkata demikian, dengan gerakan sembarangan Retna Wilis melangkah maju Jayus cepat menggerakkan kedua tangan hendak menangkap dara yang baru sekarang ia lihat amat jelita seperti puteri kahyangan itu, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika kedua tangannya itu tak dapat ia gerakkan lagi karena ada angin yang menyambar dari perawan itu.
Di lain saat, tangan kiri Retna Wilis menampar ke arah kepalanya.
"Prakkk!"
Darah dan otak muncrat dari kepala yang pecah terkena tamparan dahsyat itu dan tangan kanan Retna Wilis mencengkeram pinggang, membuat gerakan melempar dan mayat Jayus melayang jauh sekali, terbanting ke atas tanah tak mampu bergerak lagi!
Tiga orang kawan Jayus berdiri seperti terkena hikmat, tak mampu bergerak, kemudian Ki Brojol, yaitu laki-laki brewok yang memegang penggada, sekali melompat telah mengejar tubuh Jayus yang dilontarkan.
Ia berlutut sebentar dekat mayat itu, kemudian melompat lagi menghadapi Retna Wilis, mukanya merah, matanya melotot dan napasnya terengah-engah saking marahnya.
"Kau.......... kau.......... perawan iblis.......... kau telah membunuhnya. !!"
Dua orang kawannya juga marah sekali, yang memegang tombak sudah mengangkat tombaknya, yang memegang pedang sudah mencabut pedangnya sedangkan Ki Brojol sendiri sudah melepas penggadanya.
Retna Wilis berdiri dengan tenang menghadapi tiga orang laki-laki tinggi besar yang marah-marah dan siap menerjangnya itu.
"Dia minta mati sendiri, aku hanya memenuhi tantangannya. Kalian ini mau apa? Apakah juga minta mati seperti dia?"
Mendengar ucapan yang demikian tenang seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu, Ki Brojol dan dua orang kawannya bergidik, akan tetapi juga kemarahan mereka berkobar.
Jayus telah tewas, padahal kawan mereka yang muda itu tidak melakukan sesuatu, hanya mengucapkan kata-kata menggoda kepada gadis ini.
"Perawan iblis! Siluman keji! Engkaulah yang harus mampus agar tidak mengotorkan dunia!"
Bentak Ki Brojol yang menjagli marah sekali.
Makiannya ini seolah-olah menjadi aba-aba bagi kedua orang kawannya karena mereka bertiga langsung menyerang Retna Wilis dengan tiga macam senjata mereka.
Biarpun mereka itu adalah satria perkasa yang tentu saja tidak sudi mengeroyok seorang perawan bertangan kosong dengan menggunakan senjata, namun kematian kawan mereka terlalu hebat dan terlalu menyakitkan hati sehingga saking marah, mereka lupa akan sifat-sifat satria.
Gerakan mereka cepat dan kuat sekali, bagaikan kilat-kilat menyambar, tombak yang runcing menusuk ke arah lambung Retna Wilis, pedang menyambar ke lehernya dari belakang dan penggada di tangan Ki Brojol menghantam kepalanya!
Namun Retna Wilis hanya berdiri diam tak bergerak, hanya masih bersikap seperti tadi, lengan kanan terangkat dengan siku ditekuk dan tangan kanan terbuka miring di depan dada, tangan kiri terkepal di pinggang kiri, kedua kaki terpentang ke depan belakang, sedikit pun tidak bergerak atau bergoyang, matanya terbelalak, berkedip pun tidak menghadapi datangnya serangan tiga senjata dahsyat itu.
Biarpun kelihatannya tidak bergoyang, namun sesungguhnya ia telah mengerahkan aji kesaktian Argoselo yang membuat tubuhnya kebal dan kokoh kuat seperti batu hitam di gunung!
"Aahhhh……"
"Hemm "
"Celaka… ! "
Seruan-seruan ini keluar dari mulut tiga orang pria itu.
Mereka adalah satria-satria perkasa, tentu saja terkejut menyaksikan betapa lawan mereka, hanya seorang perawan remaja, sama sekali tidak mengelak atau menangkis serangan mereka.
Mereka merasa tidak enak hati dan berbalik khawatir kalau-kalau serangan mereka akan mencelakakan dara yang tidak melawan ini, akan tetapi untuk menarik kembali senjata sudah terlambat sehingga mereka hanya mampu mengurangi tenaganya saja.
Namun, begitu tiga buah senjata itu secara berbareng menimpa lambung, leher dan kepala, mereka bertiga terkejut bukan main karena senjata mereka membalik keras dan pada saat itu, tubuh Retna Wilis bergerak, tangan kanannya dengan jari terbuka berkelebat menyambar tiga kali menempiling kepada tiga orang lawannya dengan kecepatan yang tak dapat diikuti pandangan mata sehingga tak mungkln dielakkan lagi.
Tamparan-tamparan itu tidak keras, seperti menyentuh saja, namun akibatnya mengerikan karena tiga orang laki-laki tinggi besar itu terpelanting roboh dengan mata mendelik dan napas putus, sedangkan muka mereka berubah menjadi hitam!
"Aduh Dewata pengatur jagat!
Apa yang kau lakukan ini.
Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan muncullah seorang kakek yang agaknya datang tergesa-gesa dan berlari cepat.
Dari jauh, kakek ini sudah menyaksikan pertandingan-pertandingan itu, dan ia mempercepat larinya, namun ia terlambat dan ia masih berkesempatan menyaksikan betapa perawan remaja itu membunuh tiga orang lawannya dengan sekali gerakan saja.
Retna Wilis membalikkan tubuh memandang.
Yang datang adalah seorang kakek tinggi besar bermuka kehitaman, bercambang bauk, matanya besar-besar menyinarkan keheranan, usianya sekitar enam puluh tahun, pakaiannya serba hitam, ikat pinggangnya atau kolornya berwarna merah, di pinggangnya terselip gagang senjata, sikapnya gagah dan berwibawa.
Retna Wilis tetap tenang saja dan ia memang bukan berpura-pura.
Ia menganggap peristiwa itu biasa saja.Empat orang itu ingin mati, menantangnya, maka ia turun tangan membunuh mereka.
Apa anehnya dalam hal ini?
Kini kakek ini datang bertanya dan memandang penuh keheranan, maka ia menjawab.
"Engkau melihat sendiri apa yang kulakukan. Mereka minta mati dan aku memenuhi permintaan mereka. Engkau mau apa?"
"Babo-babo.........! Selama hidupku, aku Ki Warok Surobledug baru sekalI ini menyaksikan kekejaman yang melewati batas! Banyak sudah kumelihat pembunuhan, akan tetapi tidak ada yang sekeji ini! Banyak sudah kumelihat orang aneh dan sakti, akan tetapi baru sekarang aku melihat orang, apalagi seorang perawan remaja, seorang bocah, dengan enak membunuhi orang dan bersikap tenang seperti habis menginjak semut-semut saja. Engkau siapakah, nini? Kulihat gerakanmu luar biasa sekali dan apa salahnya Ki Brojol dan saudara-saudaranya maka engkau membunuh mereka secara keji? Aku bukan seorang berpikiran dangkal, biarpun mereka ini sahabat-sahabat baikku dan kutahu mereka ini satria-satria perkasa, akan tetapi kalau mereka bersalah dan sudah selayaknya dibunuh, aku tidak akan membela mereka."
Retna Wilis mengerutkan alisnya.
Ucapan kakek raksasa ini sukar dimengerti, akan tetapi dia merasa tidak senang mendengar orang ini banyak bicara dan ribut-ribut hanya karena dia membunuh empat orang kasar tadi!
"Aku tidak ada waktu banyak bicara, kau pergilah.
Kecuali kalau engkau seperti empat orang itu minta mati, tentu.
akan kupenuhi permintaanmu!"
Sepasang mata yang lebar itu makin terbelalak.
Ki Warok Surobledug adalah seorang tokoh besar di Ponorogo, sakti mandraguna dan tak pernah merasa gentar menghadapi lawan yang bagaimana pun juga.
Akan tetapi sekali ini, melihat dari jauh betapa dara remaja ini sekali bergerak membunuh sahabat-sahabatnya yang sakti, kemudian melihat dara remaja yang cantik jelita ini bersikap dingin dan tenang, setenang batu karang, bertanya dengan suara dingin apakah dia minta mati, benar-benar membuat bulu tengkuknya meremang.
Bahkan ia diam-diam menduga apakah dara ini bukan manusia melainkan iblis betina sendiri yang suka mengganggu manusia.
"Biar aku sudah tua bangka, akan tetapi tentu saja aku tidak minta mati. nini! Aku hanya ingin mendengar mengapa engkau membunuh sahabat-sahabatku itu dan "
"Engkau ini laki-laki cerewet amat! Aku tidak ada waktu melayanimu !"
Retna Wilis memunguti buah-buah dan bangkai kelinci, kemudian tanpa menoleh lagi meninggalkan Ki Warok Sirobledug yang berdiri melongo.
"Hei! Tunggu !!"
Kakek Itu meloncat dan seperti Sang Harya Werkudara ia melangkah lebar dan cepat sekali telah menyusul Retna Wilis yang berjalan seenaknya,menghadang di depan dara itu.
Retna Wilis makin tak senang hatinya.
Kedua tangannya penuh dengan bawaan dan kini kakek itu menghadang jalan.
Ia melangkah terus, kemudian menggerakkan sikunya mendorong tubuh kakek itu sambil berkata.
"Minggir! Mau apa menghadang jalan?"
Ki Warok Surobledug adalah seorang gagah perkasa yang sudah banyak pengalamannya.
Melihat sepak terjang Retna Wilis tadi, ia sudah maklum bahwa perawan ini memiliki kedigdayaan yang menggiriskan, maka kini mellhat dara itu menyikunya, ia tidak berani memandang ringan dan cepat ia memasang aji kekebatan untuk mengukur tenaga sakti dara yang patut menjadi cucunya itu.
"Dukkk! "
Sikut kecil meruncing halus bertemu dengan perut gendut yang penuh hawa kekebalan dan akibatnya tubuh Ki Warok Surobledug terjengkang dan roboh!
Retna Wilis berjalan terus seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Ki Warok Surobledug yang merasa betapa perutnya seperti diseruduk tanduk banteng, meloncat bangun, agak terengah dan merasa terheran-heran bercampur rasa penasaran.
Hal yang kelihatannya tak mungkin sama sekali telah terjadi.
Kekebalannya yang amat kuat, tubuhnya yang biasanya sanggup menerima hantaman senjata apa pun juga, kini bobol hanya oleh pukulan siku seorang perawan remaja!.
"Eh, tunggu dulu, nini. !"
Dengan hati penasaran ia mengejar lagi. Retna Wilis menjadi kesal hatinya. Ia menoleh dan melihat raksasa itu mengejar. Ia lalu mengerahkan tangan kiri, berseru.
"Engkau menjemukan!"
Ki Warok Surobledug melihat datangnya sinar hitam menyambar.
Ia cepat menggerakkan tangan kiri, membuka tangan itu dan telapak tangannya yang penuh hawa sakti dan kebal, yang biasanya sanggup meremas hancur sebatang golok tajam lawan, mencengkeram benda hitam yang ia sangka tentu senjata rahasia lawan.
Ia bergerak sigap dan berhasil menangkap benda itu, akan tetapi tak terasa mulutnya mengeluarkan teriakan karena telapak tangannya terasa sakit bukan main.
Ketika ia melihat tangannya, ia terkejut dan hatinya berdebar tegang melihat telapak tangannya luka parah, kulit telapak tangannya pecah dan ada tiga buah benda hitam menancap di telapak tangan sedangkan seluruh tangan itu basah oleh darahnya sendiri dan oleh benda kuning yang lembek dan hancur.
Ia mencium bau yang amat dikenalnya, akan tetapi masih ragu-ragu dan mendekatkan tangannya ke depan hidung.
"Ya Dewata Yang Maha Agung !"
Ia berseru, hampir tidak percaya, keheranannya mengatasi rasa nyeri.
Ternyata bahwa yang dipakai dara itu menyerangnya adalah sebutir buah sawo yang sudah masak!
Sawo yang lunak karena sudah masak itu pecah di telapak tangannya dan tiga buah biji sawo melukai telapak tangannya, sedangkan daging dan kulit sawo itu biarpun lunak, ternyata dapat membuat telapak tangannva pecah-pecah!
Ia mengangkat muka memandang dan lebih terheranheran lagi dia ketika melihat bayangan dara itu seperti terbang saja bergerak ke arah selatan.
"Jagad Dewa Bathara.......... adakah dia penjelmaan Kanjeng Ratu Roro Kidul. ?"
Hati Ki Warok Surobledug yang biasanya tak pernah mengenal takut itu kini menjadi gentar.
Ia maklum bahwa kalau gadis itu tadi menyerangnya dengan senjata keras, dengan batu misalnya, tentu dia tak hidup lagi.
Baru sebutir sawo saja sudah membuat tangannya yang kebal pecah-pecah!
Berkali-kali kakek ini menghela napas, kemudian dengan memaksakan diri mengatasi rasa nyeri tangan kirinya, ia menggali lubang dan mengubur jenazah empat orang sahabatnya itu di tempat itu juga.
Kemudian, setelah berkali-kali memandang ke arah selatan, ia lalu pergi dengan cepat menuju ke Gunung Kelud yang berada di utara melaporkan peristiwa mengerikan itu kepada Ki Ageng Kelud.
Bagi Retna Wilis, peristiwa yang terjadi tadi bukan apa-apa,sama sekali tidak ia pikirkan lagi, bahkan setelah ia tiba di pantai dan menyuguhkan buah-buahan kepada Nini Bumigarba, ia telah lupa akan pembunuhan-pembunuhan yang ia lakukan di hutan itu.
"Retna Wilis muridku yang denok, muridku yang tercinta!"
Kata Nini Bumigarba yang sudah duduk bersila dalam guha batu karang ketika nenek ini melihat datangnya muridnya membawa buah-buah sawo dan kelapa.
"Ah, hal ini berarti bahwa tak lama lagi kita akan saling berpisah."
Retna Wilis memandang nenek itu, hatinya merasa tak enak, akan tetapi ia menekan batinnya yang sudah amat kuat sehingga rasa tak enak ini segera lenyap di bawah kekuatan kemauannya yang membaja.
"Mengapa Eyang berkata demikian? Aku hanya bermain-main di hutan, mengambil buah, membunuh kelinci dan babi hutan!"
Terbayang wajah empat orang laki-laki tinggi kasar yang dibunuhnya. Memang mereka itu tidak lebih hanyalah babi-babi hutan berkaki dua, pikirnya.
"Sudah menjadi kehendak Hyang Suksma, muridku. Sepandai-pandainya manusia, tak mungkin ia dapat menguasai nyawanya sendiri. Aku sudah merasakan getaran firasat dan sudah siap menghadapi segala yang mungkin terjadi."
"Apakah yang Eyang maksudkan?"
"Engkau tak perlu tahu. Dapat mengetahui sebelum terjadi merupakan ilmu yang hanya akan menimbulkan sengsara dalam hati sendiri. Cukup kalau kau ketahui bahwa kita takkan lama lagi tinggal bersama di sini. Karena itu, perhatikanlah pesanku baik-baik. Selama lima tahun ini aku telah menurunkan semua aji-ajiku kepadamu dan biarpun murid Ekadenta sendiri tidak akan mudah menandingimu."
"Siapakah murid Ekadenta, Eyang?"
"Kelak engkau akan mengetahui sendiri. Ingatbaik-baik bahwa engkau kelak harus dapat mengalahkan murid Ekadenta. Dengarkah engkau? Kalahkan dia. Tunjukkan bahwa murid Sarilangking atau Bumigarba tidak kalah oleh murid Ekadenta. Kalau perlu, untuk mengalahkannya, engkau boleh membunuh dia!"
"Apakah dia sakti sekali, Eyang?"
"Tidak ada yang dapat melebihi kesaktianmu, muridku. Memang dia mewarisi ilmu-ilmu kesaktian, akan tetapi sebelum berpisah, aku akan menurunkan hawa Wisalangking ke tubuhmu dan dengan hawa itu, engkau akan dapat mengalahkan lawan yang memiliki kesaktian melebihimu! Akan tetapi, untuk menerima Wisalangking engkau harus berpuasa membersihkan lahir batinmu selama tiga hari tiga malam."
"Baik, Eyang, akan kulakukan mulai sekarang juga."
"Dengarlah dulu pesanku ini. Setelah aku pergi dan engkau sudah memiliki hawa Wisalangking, engkau harus berlatih mempergunakan hawa itu di sini, seorang diri, selama belum ada tanda yang akan tampak olehmu. Engkau ingat akan bintang kehijauan di sebelah timur laut yang tampak tiap malam tanpa bulan?"
"Yang Eyang katakan sebagai bintang yang berkuasa di Jenggala pada saat ini dan tampak tersembul di puncak yang seperti cengger jago itu?"
"Benar. Kau lihat baik-baik. Selama bintang itu masih ada di langit, engkau tidak boleh pergi dari sini. Akan tetapi, begitu kau lihat bahwa bintang itu lenyap dari angkasa, engkau harus cepat pergi meninggalkan tempat ini, kembali ke tempat kelahiranmu."
"Di Wilis?"
"Benar. Kembalilah ke puncak Wilis dan engkau taklukkan semua penduduk di seluruh wilayah Gunung Wilis. Engkau harus menjadi seorang ratu, seorang puteri yang disembah-sembah di Wilis dan tak seorang pun boleh melanggar wilayahmu. Ingat, siapa pun adanya dia,yang berani mencoba untuk mengganggu wilayahmu, boleh kau bunuh. Tidak perduli dia itu mengaku ibumu, atau ayahmu,atau siapa saja. Engkau akan menjadi Ratu Wilis dan mengumpulkan kekuatan, menyusun pasukan sehingga kelak engkau akan menyerang kerajaan keturunan Mataram! Inilah cita-citaku mengapa aku bersusah payah mendidikmu, Retna Wilis. Mengertikah engkau?"
"Aku mengerti, Eyang."
"Dan engkau akan mentaati pesanku? Kalau engkau tidak sanggup, sekarang juga engkau akan kulenyapkan dari muka bumi!"
"Aku taat dan sanggup melaksanakan semua perintahmu."
"Bagus, engkau memang muridku yang amat baik. Dan jangan lupa. Di bawah karang Kukura di barat itu, di bawah air ulekan (air berpusing) terdapat guha di dalam lautan, guha yang bersambung dengan karang Kukura, menjadi dasar karang. Setelah aku pergi dan setelah hawa Wisalangking di tubuhmu kuat benar, kau pergilah ke sana, menyelam dan masuki guha di bawah air laut. Di sana terdapat sebuah peti kecil berisi sebatang pedang pusaka. Pedang itu adalah pedang pusaka Sapudenta, setelah kupakai sampai seratus tahun, kusimpan di sana agar dapat menyedot hawa sakti Segoro Kidul. Pedang itu tadinya kusediakan untuk menundukkan Ekadenta, akan tetapi sekarang terlambat dan engkaulah yang akan menggunakannya untuk menundukkan murid Ekadenta."
"Baiklah, Eyang. Masih ada pesan lagi?"
"Ingat akan dua nama ini. Biku Janapati dan Wasi Bagaspati. Mereka itu adalah dua orang bekas sekutuku, boleh kau jadikan sabahat karena mereka mewakili negara--negara yang kuat dan yang kelak perlu kau dekati agar dapat membantumu menundukkan seluruh bumi Jawa di mana engkau akan menjadi ratunya.Akan tetapi tentu saja engkau tidak perlu tunduk kepada mereka, hanya permintaan-permintaan mereka itu asal pantas dan tidak memberatkan hatimu, boleh kau penuhi,boleh kau bantu agar kelak mereka tidak segan-segan untuk mendatangkan pasukan-pasukan negara mereka dan membantu tercapainya cita-citamu."
Di dalam hatinya Retna Wilis tidak setuju dengan ucapan terakhir ini.
Ia sama sekali tidak bercita-cita untuk menjadi ratu dan cita-cita itu hanyalah merupakan idaman hati gurunya dan kalau kelak ia laksanakan juga semata untuk memenuhi permintaan gurunya.
Pada saat ini, dia sama sekali tidak mempunyai cita-cita untuk menjadi ratu!
"Dan yang terpenting daripada semua pesanku adalah pesanku yang telah berulang kali kukatakan kepadamu, yaitu jangan sampai engkau jatuh cinta kepada seorang pria!
Gurumu ini merana dan menderita lahir batin hanya karena telah berbuat bodoh sekali, yaitu jatuh cinta kepada seorang pria."
"Kepada Ekadenta?"
"Ih, bagaimana kau bisa tahu?"
"Mudah saja, Eyang. Eyang sendiri berkali-kali menasehati agar aku tidak mencinta, tidak pula membenci. Akan tetapi Eyang kelihatannya amat membenci Ekadenta sehingga Eyang menciptakan pedang pusaka, dan mendidik aku untuk kelak mengalahkan muridnya. Eyang amat membenci Ekadenta, tentu karena amat mencintanya."
"Wah-wah, kiranya perasaan wanitamu masih halus dan peka! Aku khawatir sekali, Retna Wilis."
"Tak perlu khawatir, Eyang. Aku tidak akan pernah jatuh cinta kepada siapa pun juga. Laki-laki seperti babi hutan!"
Ia teringat akan Jayus dan tiga orang kawannya yang dibunuhnya di hutan.
Demikianlah, sejak hari tadi sampai tiga hari tiga malam lamanya, Retna Wilis berpuasa dan yang dilakukannya selama tiga hari tiga malam ini hanya duduk bersila memejamkan mata, bersamadhi mengheningkan cipta, ditujukan untuk membersihkan dan membuka lahir batinnya untuk menerima ilmu yang oleh gurunya disebut dengan nama Ajl Wisafangking.
Memang amat mengagumkan dan patut dipuji keteguhan hati dan kekuatan kemauan dara ini.
Selama lima tahun ia selalu berada di pantai dan setiap hari hanya makan tetumbuhan laut dan ikan.
Kini, baru saja ia mendapatkan buah-buahan dan daging kelinci, sebelum menikmati sedikit pun, ia telah berpuasa, namun sama sekali ia tidak terseret oleh selera dan nafsunya!
Buah nangka yang dibawanya pulang, makin masak dan kalau malam mengeluarkan bau yang sêdap menggugah selera.
Namun, perasaan Retna Wilis sedikit pun juga tidak terpengaruh karena dalam keadaan samadhi seperti itu, penciumannya, seperti juga inderanya yang lain,seolah-olah mati untuk sementara, semua panca indria telah "ditarik"
Ke dalam sehingga tidak terpengaruh oleh keadaan di luar tubuh.
Tiga hari kemudian, Nini Bumigarba menyadarkan muridnya dari samadhi.
Begitu Retna Wilis membuka mata dan pandang matanya kembali memasuki dunia, ia lalu diangkat bangun oleh gurunya, digandeng tangannya diajak pergi ke pantai sebelah barat di mana terdapat batu-batu licin dan di pantai ini, air laut amat bersih, tidak bercampur pasir.
Pada waktu itu, hari telah menjelang senja, langit gelap oleh awan mendung yang bunting tua dan bergerak-gerak seperti hidup, merupakan barisan raksasa-raksasa hitam yang tiada kunjung habis, bergerak dari selatan ke utara.
Angkasa yang gelap oleh mendung itu kadang-kadang dibakar kilat berceleret, seperti senjata-senjata pusaka para pemimpin barisan itu.
Baca Juga: Pusaka Pulau Es 7
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 11