Eps 10 Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo
Baca online Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo
Cersil Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo.
Keadaan di angkasa yang menyeramkan ini mempengaruhi air laut pula karena air laut tampak makin mengganas, suaranya bergemuruh dan ombak-ombak kecil tiada hentinya bergerak seolah-olah laut sendiri merasa gentar.
menghadapi ancaman serangan barisan raksasa di angkasa itu.
Alam sepenuhnya memperlihatkan kehebatan dan kekuasaannya yang maha besar dan menggiriskan hati manusia.
Dan dalam keadaan seperti inilah, Nini Bumigarba menyuruh muridnya berlutut di atas batu karang yang licin, sedangkan dia sendiri berdiri tegak di depan muridnya, dengan kedua kaki terpentang.Retna Wilis disuruh "membuka"
Tubuh bagian dalam untuk menerima hawa sakti.
Gadis ini berlutut dengan kedua lengan bergantung lepas, tubuh lemas karena selain berpuasa, juga ia melolos semua tenaga melawan agar dapat menerima hawa sakti dari gurunya.
Air laut bergerak datang dan pergi lagi.
Mula-mula hanya menyentuh lutut Retna Wilis dan mata kaki Nini Bumigarba, akan tetapi makin lama makin membesar sehingga ada kalanya air sampai merendam tubuh Retna Wilis sampai ke leher dan Nini Bumigarba sampai ke pinggang!
Namun, dua orang itu tetap tidak bergerak, seolah-olah tidak merasakan ini semua.
Retna Wilis tetap berlutut menundukkan muka, adapun Nini Bumigarba masih berdiri tegak dan menengadahkan muka ke atas, seolah-olah sedang asyik menonton awan mendung berarak atau sedang memohon kepada para dewata yang dianggap bertempat tinggal di atas!
Retna Wilis tetap menanti dengan penuh kesabaran, penuh kepasrahan dan penuh kepercayaan.
Tiba-tiba seluruh tubuh nenek tua itu menggigil, mula-mula seperti orang kedinginan, makin lama makin hebat dan perlahan-lahan nenek ini mengangkat kedua tangannya, terus digerakkan ke atas dengan sikap seolah-olah ia sedang menerima sesuatu dari atas, dari tangan yang tak tampak.
Kemudian, perlahan-lahan ia meletakkan tangan kirinya menyentuh ubun-ubun kepala Retna Wilis,sedangkan tangan kanannya dengan jari-jari terbuka tergetar hebat dan muncul-lah getaran-gataran hawa sakti menuju ke muka dan dada Retna Wilis.
"Muridku, terimalah hawa sakti Wisalangking !"
Suara Nini Bumigarba terdengar seakan-akan dari angkasa menghitam dan dari tangan kanannya yang mengeluarkan hawa mujijat itu tampak sinar menguap hitam, makin lama makin tebal menutup wajah Retna Wilis.
Ada sejam lamanya mereka berdua dalam keadaan seperti itu, tidak bergerak dan Retna Wilis merasa betapa seluruh tubuhnya penuh oleh hawa panas bergetar yang membuat tubuhnya menggigil.
Akan tetapi dengan penuh kepasrahan ia tetap "membuka"
Dirinya untuk nenerima hawa sakti itu sebanyak dan sepenuhnya. Setelah mendengar suara nenek itu mengeluh panjang, barulah Retna Wilis "menutup"
Dirinya dan membuka mata.
Ia melihat nenek itu telah berlutut dengan lemas bahkan hampir terbawa hanyut oleh ombak yang datang.
Cepat ia menyambar tubuh gurunya dan memondongnya, dibawa meloncat ke darat, kemudian dibawa kembali ke dalam guha di mana biasanya nenek itu duduk bersamadhi.
Tubuh nenek itu lemas sekali, akan tetapi ketika Retna Wilis merebahkanr(ya di, atas tanah, ia tersenyum dan,berkata lemah.
"Berhasil baik........... Wisalangking telah kupindahkan ke tubuhmu "
Tiba-tiba Retna Wilis merasa perutnya mual dan ada hawa membumbung dari pusarnya, membawa bau yang amis sekali sehingga ia hampir muntah-muntah.
"Jangan khawatir. kerahkan -hawa sakti di tubuh, tekan pusarmu, jangan membiarkannya keluar. Itulah pengaruh dari wisa (racun) Wisalangking. Biarkan dia terbiasa di tubuhmu, kalau kau sudah dapat menundukkannya, takkan terasa apa-apa."
Mendengar ini, cepat Retna Wilis duduk bersila dan mengerahkan tenaga mengatur napas.
Benar saja, rasa muak dan mual lenyap, bau amis pun hilang.
Setelah keadaan diri sendiri baik kembali, mulailah Retna Wilis merawat gurunya yang kelihatan lemah sekali.
Sampai semalam suntuk dara remaja ini merawat gurunya tanpa banyak cakap, menyuapkan pisang ke dalam mulut gurunya dan ia sendiri pun mulai mengisi perutnya dengan buah-buah yang ia ambil dari hutan tiga hari yang lalu.
Pada keesokan harinya, Retna Wilis melihat betapa wajah gurunya telah banyak berubah.
Kini nenek itu kehilangan seri wajahnya, kehilangan sinar yang membayangkan semangat, tampak layu dan juga kentara sekali ketuaannya.
Akan tetapi kesehatannya agaknya sudah pulih dan nenek itu sudah dapat keluar dari guha dan seperti biasa, bersama muridnya ia duduk berjemur matahari pagi di atas pasir.
"Kau ingat baik-baik pesanku kemarin dulu,"
Nenek itu berkata.
"Terutama sekali jangan pergi dari sini sebelum melihat tanda bintang. Sekarang perhatikan bagaimana engkau harus melatih diri untuk membangkitkan Wisalangking dalam tubuhmu dan mempergunakan hawa sakti itu dalam serangan pukulan."
Nenek itu lalu memberi petunjuk-petunjuk yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Retna Wilis sehingga setelah matahari naik tinggi, dia sudah hafal akan semua teori penggunaan Aji Wisalangking.
Setelah ia mengerti benar bagaimana harus melatih diri, Retna Wilis bertanya.
"Eyang, mengapa Eyang kelihatan tergesa-gesa seperti ini? Eyang masih sehat dan kita tidak akan saling berpisah."
Nenek itu tersenyum, senyum yang menambah tua wajahnya, dan menoleh ke belakang, ke arah utara.
"Tidak lama lagi.......... tidak lama lagi. lihat siapa yang datang itu!"
Retna Wilis dengan tenang menoleh dan ketika Ia melihat bahwa yang datang adalah Ki Warok Surobledug yang tempo hari ia lukai bersama seorang kakek tua berambut putih dan tubuhnya gemuk pendek, ia lalu bangkit berdiri.
"Eyang, dialah babi hutan tua yang pernah kujumpai di hutan dan kulukai. Dia datang lagi bersama seorang kakek tua, entah mau apa dia!"
"Hi-hi-hik, jadi ketika kau bilang telah membunuh empat ekor babi hutan kemarin dulu, kau maksudkan empat orang laki-laki? He-he-heh, sekarang, kau boleh hadapi mereka, hendak kulihat bagaimana sepak terjang muridku!"
Nenek itu memutar tubuh menghadap ke utara, masih duduk bersila dan wajahnya yang tadinya keruh dan kusut itu mendapatkan kembali semangat dan agak berseri...........
Retna Wilis sudah mengebutkan pakaiannya untuk membersihkannya dari pasir dan ia melangkah maju tiga tindak lalu berdiri menanti datangnya dua orang kakek itu.
Dia tidak memandang kepada Ki Warok Surobledug yang dianggapnya ringan, melainkan memandang kakek rambut putih yang datang bersama warok itu.
Kakek ini pendek dan gemuk sekali, wajahnya bersih tanpa kumis dan jenggot,mulutnya tersenyum penuh kesabaran, dan usianya tentu sudah mencapai sedikitnya tujuh puluh tahun.
Jubahnya berwarna kuning, dengan lengan baju lebar sekali sehingga kedua tangannya tertutup.
Langkahnya ringan dan halus, namun dapat mengimbangi kecepatan langkah Ki Warok Surobledug yang lebar-lebar.
Begitu tiba di tempat itu, kakek rambut putih itu lalu membungkuk kepada Nini Bumigarba dan berkata dengan suara halus.
"Duhai Sang Hyang Wishnu pengatur seluruh jagat raya yang maha sakti! Kiranya Paduka berada di sini, Nini Bumigarba? Ah, sekarang tidak heran lagi aku mengapa keempat orang muridku tewas di daerah ini. Akan tetapi, mengapa setelah berusia sepuh sekali Paduka masih membiarkan murid Paduka mengganas dan melakukan pembunuhan secara keji?"
Nlni Bumigarba menyeringai, sepasang matanya kelihatan berseri seperti orang merasa geli dan gembira.
"Wah, andika telah mengenalku, akan tetapi siapakah andika ini, yang berbau pertapa di gunung?"
"Saya yang bodoh adalah Panembahan Ki Ageng Kelud,tentu saja Paduka tidak pernah mendengar nama saya yang kecil dan tidak terkenal, sebaliknya siapakah yang tidak mengenal nama besar Ni Dewi Sarilangking atau Nini Bumigarba?"
Jawab kakek itu, sikapnya penuh hormat.
"Tidak sekali-kali saya berani mengotorkan tempat Paduka dengan kaki saya kalau saja empat orang murid saya tidak terbunuh secara kejam oleh dara ini yang kalau saya tidak salah menduga adalah Murid Paduka."
"Memang benar, dia ini muridku bernama Retna Wilis, Perawan Lembah Wilis dan calon ratu di Wilis!"
"Kalau begitu, saya mohon keadilan Paduka, dan ingin mengetahui mengapa empat orang murid saya terbunuh oleh murid Paduka. Padahal, sepanjang ingatan saya,dengan penuh ketelitian saya mendidik murid-murid saya sehingga berkat bimbingan dan berkah Sang Hyang Wishnu, mereka telah menjadi satria-satria yang menjunjung kebenaran dan keadilan, menjadi pahlawan-pahlawan pembela nusa bangsa."
"Heh-heh-heh, Ki Ageng Kelud. Ucapanmu seperti omongan bocah yang masih ingusan! Seorang pertapa tua seperti andika ini masih bertanya mengapa mereka mati? Heh-heh, tentu saja mereka mati karena sudah semestinya mati! Kalau Sang Hyang Shiwa tidak menghendaki, bagaimana mereka dapat mati? Mengapa seorang seperti andika, yang kuduga telah puluhan tahun bertapa dan mengejar ilmu, masih bertanya tentang mati dan hidup? Apakah andika sudah sedemikian sakti mandraguna sehingga hendak mengingkari dan melawan kehendak Sang Trimurti?"
Kakek berambut putih itu mengangguk dan berkata lagi,suaranya masih penuh dengan kehalusan yang mencerminkan kesabaran yang sudah mendalam.
"Sama sekali tidak, Nini Bumigarba. Akan tetapi manusia terikat oleh kewajiban-kewajiban sebagai manusia, yang dinamai peri kemanusiaan dan saya hanyalah seorang manusia biasa yang tentu saja tak dapat melepaskan diri daripada ikatan kemanusiaan. Hidup dan mati berada di tangan Dewata,hal ini tak dapat disangkal lagi. Segala akibat adalah urusan dan tugas para dewata. Akan tetapi sebab-sebabnya berada di tangan manusia karena kewajiban untuk berikhtiar, untuk berjaga dan mengatur segala perbuatannya akan menjadi sebab timbulnya akibat. Empat orang muridku sudah mati, hal itu tidak saya ributkan karena saya mengerti bahwa kematian mereka sudah dikehendaki oleh Dewata. Akan tetapi, yang saya uruskan adalah sebab kematian mereka, karena sebab ini tentu diperbut oleh manusia! Andaikata empat orang muridku itu tewas dalam perang membela nusa bangsa, saya akan tersenyum puas karena sebab kematiannya adalah sebab yang luhur dan utama.Andaikata mereka tewas dalam membela kebenaran, hal itupun akan memuaskan hati. Akan tetapi, saya mendengar dari Ki Warok Surobledug ini bahwa empat orang murid saya mati secara sia-sia, tanpa sebab yang patut mereka tebus dengan nyawa. Sudah menjadi kewajiban saya sebagai guru mereka dan sebagai manusia untuk mengurus hal ini, Nini Burrugarba."
"Heh-he-he-he! Agaknya puluhan tahun andika bertapa hasilnya mendapatkan ilmu berdebat! Kematian murid-muridmu disebabkan oleh perbuatan muridku. Nah, dia berada di depanmu, kau uruslah dengan dia!"
Ki Ageng Kelud membungkuk kepada nenek itu.
"Terima kasih atas izin yang Paduka berikan, Nini Bumigarba."
Kemudian ia menoleh dan menghadapi Retna Wilis yang masih berdiri dengan sikap tenang dan tak bergerak-gerak.
"Nini, andika seorang dara yang masih remaja, masih bocah, harap andika suka memberi keterangan sejujurnya. Percayalah, aku adalah seorang tua yang tidak menurutkan nafsu hati dan sama sekali tidak ada nafsu amarah yang mendorongku menghadapimu.Katakanlah, mengapa andika membunuh empat orang muridku? Kalau memang mereka itu bersalah, yakinlah bahwa aku akan menerimanya dengan penuh pengertian dan keprihatinan."
Sampai lama Retna Wilis menatap wajah kakek itu dan Ki Ageng Kelud melihat betapa sinar mata dara itu mengandung hawa maut dan hawa dingin yang mendirikan bulu roma sehingga diam-diam kakek ini dapat menduga bahwa kelak tentu dara ini akan merupakan tokoh yang akan menggegerkan dunia, seperti gurunya di waktu muda.
Diam-diam ia memanjatkan doa kepada para dewata untuk keselamatan bocah ini sambil menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir yang berbentuk indah dan kemerahan itu.
"Ki Ageng Kelud, tidak ada apa-apa yang perlu diributkan. Empat ekor babi hutan yang menjadi muridmu itu pun tidak ada kesalahan apa-apa, hanya mereka itu minta mati dan aku meluluskan permintaan mereka. Apa sih anehnya?"
Ki Ageng Kelud terbelalak kaget.
Dara itu masih bocah,akan tetapi jawabannya begitu dingin dan lebih menyeramkan daripada sikap dan kata-kata Nini Bumtgarba sendiri!
Dunia diancam malapetaka hebat yang merupakan diri bocah ini, pikirnya dan dia akan menghabiskan sisa hidup dan tenaganya untuk menentang ancaman bagi ketenteraman dunia ini.
"Nini, ceritakanlah. Bagaimana asal mulanya maka murid-muridku minta mati di tanganmu?"
Retna Wilis tidak sabar lagi, akan tetapi karena ia melihat betapa tadi gurunya melayani kakek ini, ia berpendapai bahwa kakek ini tentulah bukan orang sembarangan dan patut pula ia layani bercakap-cakap.Maka setelah menghela napas panjang ia berkata.
"Aku sedang memetik buah sawo ketika mereka datang.Yang paling muda memaksaku menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan menyuruh aku turun. Aku bilang bahwa mereka sebaliknya pergi saja karena kalau kesabaranku habis, mereka akan kubunuh. Yang paling muda itu nienertawakan aku dan menantang supaya aku membunuhnya. Nah, karena dia sendiri yang minta mati, aku lalu turun dan membunuhnya. Tiga orang kawannya marah-marah dan menyerangku. Kutanya apakah mereka juga ingin mati, dan mereka menjawab dengan serangan senjata mereka. Kuanggap mereka itu hendak berbelapati, maka aku turun tangan membunuhnya. Kemudian muncul kakek ini, akan tetapi karena dia tidak minta mati, aku pun tidak membunuhnya, hanya menyambitnya dengan buah sawo agar dia tidak menggangguku lagi."
Ki Ageng Kelud memandang dan tertegun.
Bukan main!
Dara ini liar dan ganas sekali dan ia dapat membayangkan peristiwa itu.
Murid-muridnya tewas dalam keadaan penasaran.
Dara seperti ini kalau tidak dibasmi, kelak akan merupakan malapetaka bagi manusia-manusia lain.
Ia menghela napas panjang dan berkata.
"Nini Retna Wilis! Kalau aku si tua bangka ini minta mati di tanganmu, apakah engkau juga hendak membunuhku?"
Berkerut alis yang hitam menjelirit itu.
"Sesungguhnya aku bukan algojo tukang membunuh orang, Ki Ageng Kelud. Akan tetapi, kalau engkau menghendaki demikian dan berusaha membalas dendam kematian murid-muridmu, silahkan, aku tidak akan mundur selangkah, sekarang maupun kapan saja."
"Heh-he-heh, pertapa gemblung (pandir)! Andika berani bertanding melawan Retna Wilis muridku yang sakti mandraguna? Heh-heh-heh!"
Ucapan ini jelas merupakan ejekan, karena sesungguhnya amat memalukan kalau seorang tokoh besar seperti Ki Ageng Kelud bertanding melawan seorang dara remaja yang masih bocah!
"Saya bertindak membela kematian murid-muris saya,kalau Paduka hendak membela murid Paduka, dan berkenan menamatkan hidup saya, silahkan, Nini Bumigarba,"
Jawab kakek itu dengan suara halus.
Ia maklum bahwa dia sama sekali bukanlah lawan Nini Bumigarba,akan tetapi kalau perlu, ia akan lawan juga,bukan hanya demi membalas kematian murid-muridnya,melainkan terutama sekali untuk menghalau bahaya yang mengancam ketenteraman dunia.
"Heh-heh, apa kau kira akan dapat mengalahkan muridku? Ki Ageng Kelud, kalau andika bisa mengalahkan Retna Wilis, berarti andika telah mengalahkan aku pula!"
Mendengar ini, Ki Ageng Kelud diam-diam terperanjat sekali.
Ia makium bahwa Nini Bumigarba adalah seorang yang kesaktiannya sukar dicari tandingnya dan bahwa seorang dengan kesaktian seperti nenek itu tidak ada alasan untuk bicara besar, maka ucapannya tadi berarti bahwa semua aji kesaktian nenek itu telah diwariskan kepada muridnya ini!
Dia telah mendengar penuturan Ki Warok Surobledug akan kesaktian dara remaja itu yang amat luar biasa, dan kini ia baru benar-benar yakin bahwa dara ini merupakan lawan yang amat berbahaya dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
"Bagus! Saya menyerahkan nyawa di tangan Dewata kalau saya gagal membasmi pengaruh buruk yang mengotorkan dunia. Nini, bersiaplah engkau!"
"Majulah, Ki Ageng Kelud, aku siap membunuhmu seperti yang kau minta!"
Kata Retna Wilis, sikapnya dingin dan sama sekali tidak kelihatan tegang, seolah-olah dia tidak sedang menghadapi tantangan seorang lawan yang sakti.
Ketenangannya amat mengerikan sehingga Ki Warok Surobledug yang berdiri menonton di situ menjadi tegang dan merinding bulu tengkuknya.
Biarpun dia sudah cukup yakin akan kesanggupan dan kedigdayaan Ki Ageng Kelud, namun kini ia merasa ragu apakah kakek yang dipujanya itu akan sanggup menandingi bocah yang tidak lumrah manusia, melainkan lebih tepat disebut wanita iblis ini.
Ki Ageng Kelud bersedakap dan menundukkan muka,mengheningkan cipta sejenak untuk berdoa kepada Dewata bahwa kini ia menghadapi sebuah pertandingan mati-matian tanpa pamrih untuk diri pribadi, tanpa dikendalikan nafsu, baik nafsu amarah maupun dendam, melainkan semata karena sadar dan yakin bahwa jika dara berwatak iblis ini tidak dibasmi, kelak akan mendatangkan malapetaka bagi manusia.
Setelah ia mengangkat muka lagi, sepasang matanya mengeluarkan sinar bersemangat,kemudian ia melangkah maju menghampiri Retna Wilis.
Dara sakti itu memandang tak acuh,kemudian tubuhnya berkelebat maju dan tangan kirinya menampar secara sembarangan.
Biarpun gerakannya sembarangan saja, namun di dalam kesederhanaan ini terkandung kekuatan dahsyat, seperti dahsyatnya pukulan ombak samudera menghamtam karang yang kelihatannya juga sembarangan saja namun dapat menggetarkan gunung karang!
Ki Ageng Kelud dapat merasa datangnya angin pukulan hawa sakti yang terbawa oleh tamparan itu.
Ia menjadi kaget dan kagum sekali.
Dalam detik itu maklumlah ia mengapa empat orang muridnya bukan lawan dara ini yang sesungguhnya memiliki tangan yang ampuhnya menggila.
Namun, sebagai seorang tokoh tua, ia merasa tidak semestinya mengelak seperti orang takut menghadapi tamparan pertama lawannya yang masih bocah, maka dengan niat mencoba dan mengukur tenaga, Ia mengangkat lengan kanannya menangkis.
"PlakkI"
Dua tenaga sakti bertemu melalui kedua lengan itu dan akibatnya, Retna Wilis dipaksa melang-kah mundur tiga tindak, akan tetapi di, lain fihak, kakek itu terhuyung ke belakang sampai tubuhnya mendoyong miring.
Makin kagetlah Ki Ageng Kelud.
Kini ia yakin bahwa tenaga sakti dara itu benar-benar hebat dan dia tidak perlu menaruh sungkan lagi karena biarpun masih bocah, namun dara ini merupakan lawan paling tangguh yang pernah ia hadapi.
Cepat ia mengatur keseimbangan tubuhnya dan sekali menggerakkan kaki, tubuhnya sudah melayang ke atas dan bagaikan seekor burung garuda, ia telah menubruk dengan kedua lengan dipentang dan kedua tangan seperti sepasang cakar garuda mencengkeram ke arah pundak dan ke-pala Retna Wilis.
Hebat bukan main serangan balasan kakek ini.
Ki Ageng Kelud memiliki sebuah ilmu yang amat dahsyat, ciptaannya sendiri selama dia bertapa di Gunung Kelud sampai puluhan tahun lamanya, ilmu yang belum pernah ia ajarkan kepada murid-muridnya karena selain terlalu dahsyat, juga ilmu ini amat sukar dipelajari, membutuhan tenaga sakti yang sudah mencapai puncak tinggi.
Ilmu ini disebut Garuda Manang yang ia ciptakan dari gerakan seekor burung garuda yang sedang marah karena sarangnya yang berada di puncak randu alas digerumut seekor ular.
Menyaksikan gerakan garuda menyambar-nyambar dan akhirnya membunuh ular besar itu menimbulkan ilham bagi kakek sakti ini sehingga ia berhasil mencipta sebuah, gerak silat yang selain dahsyat, juga amat sukar dipelajari, yaitu Aji Garuda Manang.
Kini, menghadapi seorang lawan yang ia tahu amat tangguh, tanpa meragu lagi kakek ini menggunakan ilmu yang sudah dilatih masak-masak namun belum pernah ia pergunakan dalam pertandingan itu.
Retna Wilis adalah seorang dara gemblengan yang luar biasa, digembleng oleh seorang manusia yang memiliki kesaktian tidak lumrah, akan tetapi dia masih-belum berpengalaman, amat percaya kepada diri sendiri dan tidak mengenal takut, juga tidak memandang sebelah mata kepada lawan yang mana pun juga.
Kini, menghadapi terjangan Ki Ageng Kelud yang tubuhnya melayang di udara itu, Retna Wilis tidak bergerak, tidak menangkis tidak mengelak, melainkan diam menanti datangnya serangan sambil mengerahkan A ji Argoselo yang membuat tubuhnya kokoh kuat dan kebal seperti batu gunung atau batu karang yang sanggup menerima hantaman ombak samudera.
"Desss. !!"
Betapapun sudah teguh dan bulat tekat di hati Ki Ageng Kelud untuk menewaskan gadis yang dianggapnya merupakan ancaman bagi ketenteraman dunia itu, namun hati kakek ini sudah penuh dengan welas asih yang dipupuknya selama puluhan tahun.
Oleh karena itu, melihat Retna Wilis tidak mengelak maupun menangkis terjangan yang dahsyat, ia terkejut sendiri dan otomatis, timbul dari sifat welas asihnya, ia merubah cengkeramannya, tidak menyerang kepala melainkan mencengkeram kedua pundak dara itu.
Akan tetapi, terjangannya yang dahsyat itu tertumbuk dengan tubuh yang keras dan kebal melebihi baja dan yang mengeluarkan tenaga dahsyat pula menggempur tenaganya sendiri.
Tubuh Retna Wilis hanya bergetar dan berguncang seperti batu karang diterjang ombak, sebaliknya, seperti air laut pula tubuh Ki Ageng Kelud terpelanting dan roboh terguling-guling!
Retna Wilis yang merasa betapa tubuhnya tergetar hebat sehingga ia harus mengerahkan seluruh hawa sakti di tubuhnya agar jangan roboh, menjadi terkejut juga dan timbullah kemarahannya yang ditahan-tahan.
Baru sekali ini ia merasakan serangan yang demikian dahsyatnya, dan hal ini membuat hatinya penasaran.
Ketika melihat tubuh lawan bergulingan dan wajah kakek itu menjadi, pucat, ia mengeluarkan pekik melengking, dan menerjang maju, menggunakan tumit kaki kanannya untuk menginjak hancur kepala kakek itu!
Ki Ageng Kelud maklum akan datangnya ancaman maut, cepat ia yang masih pening menggulingkan diri mengelak dan kaki Retna Wilis amblas memasukl tanah sampai sebetis dalamnya!
Dapat dibayangkan betapa mengerikan kalau kaki yang mengandung kekuatan itu tadi mengenai kepala Ki Ageng Kelud, tentu akan remuk dan pecah berantakan.
Ki Ageng Kelud cepat melompat bangun, menggoyang kepalanya mengusir kepeningan sambil siap-siap menghadapi lawannya yang amat tangguh itu.
"Hi-hi-hik, sebentar lagi engkau mampus, pertapa tua!"
Terdengar Nini Bumigarba tertawa mengejek, hatinya girang menyaksikan kehebatan sepak terjang muridnya. Mendengar suara gurunya ini, Retna Wilis "mendapat hati"
Dan segera ia memekik lagi sambil menerjang dengan gerakan cepat sekali.
Bagi mata biasa, tubuhnya lenyap berubah menjadi bayangan berputaran yang membawa debu beterbangan, sedangkan bagi pandang mata Ki Ageng Kelud, ia melihat betapa gerakan tubuh dara itu amat cepatnya, berputaran dengan kedua lengan dikembangkan dan dari putaran tubuhnya itu melancarkanlah pukulan-pukulan yang dahyat dan mendatangkan angin berpusingan.
Inilah Aji Pancaroba yang hebatnya seperti amukan angin taufan!
Maklum akan hebatnya serangan ini, Ki Ageng Kelud bersikap tenang dan mencurahkan segenap tenaga dan kepandaiannya untuk bertahan dan membela serta melindungi dirinya.
Untung bahwa ia seorang tokoh yang berpengalaman dan gerakannya mantap dan tenang, kalau tidak tentu dia tidak akan dapat bertahan lama menghadapi Aji Pancaroba yang hebatnya bukan main ini.
Betapapun juga, dia segera terdesak dan terus mundur-mundur dan berputaran, sama sekali tidak lagi mampu membalas.
Dia sudah tua, tenaganya sudah banyak berkurang dan napasnya tidak sepanjang puluhan tahun yang lalu, daya tahannya berkurang.
Sebaliknya, Retna Wilis makin lama makin hebat dan cepat gerakannya.
Kalau kakek ini berhasil menyusupkan satu dua pukulan, tubuh Retna Wilis menahannya dan sama sekali tidak merasai pukulan itu, seolah-olah dipijat tangan lunak saja.
Sebaliknya, setiap kaki tangan dara itu menyerempet pundak atau bahu, tubuh kakek itu tergetar dan terhuyung-huyung.
Ki Ageng Kelud terdesak hebat, setiap saat tentu roboh dan terdengarlah Nini Bumigarba terkekeh-kekeh mentertawakan kakek itu.
Ki Warok Surobledug berdiri dengan muka pucat, maklum bahwa sebentar lagi tentu ia akan menyaksikan pertapa yang dijunjungnya tinggi-tinggi itu rebah tak bernyawa.
Dia menjadi gelisah dan bingung, hendak membantu maklum bahwa tenaganya tidak ada artinya bahkan merupakan bunuh diri, tidak membantu, hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya.
Kekhawatiran Ki Warok Surobledug segera terjadi.
Ketika tubuh Ki Ageng-Kelud untuk ke sekian kalinya terhuyung oleh dorongan angin pukulan dahsyat, Retna Wilis memekik dan mengirim pukulan dengan jari tangan ke arah muka kakek itu.
Ki Ageng Kelud berusaha mengelak dengan miringkan tubuh dan menarik kepala ke belakang akan tetapi jari-jari tangan yang lunak halus dan kecil menyambar cepat dan menimpa pundak kirinya.
"Krekkk. !"
Remuklah tulang pundak Ki Ageng Kelud dan tubuh kakek itu terguling.
Retna Wilis menubruk maju mengirim pukulan maut ke arah kepala kakek itu yang sudah meramkan matanya menanti datangnya maut sambil tersenyum tenang.
Juga Ki Warok Surobledug meramkan mata, tidak tahan menyaksikan kematian kakek itu.
"Ganas. !"
Suara ini perlahan dan halus, dibarengi bayangan putih seperti asap datang bertiup dan tahu-tahu tubuh Retna Wilis terdorong ke belakang seperti ditiup angin yang tak tertahankan saking kuatnya.
Seluruh tubuh dara ini menggigil ketika ia merasa betapa pukulannya tadi bertemu dengan telapak tangan halus yang membuat hawa saktinya seolah-olah tenggelam ke dalam lautan yang dingin melebihi ampak-ampak!
Ketika ia dapat menguasai dirinya dan memandang, ternyata di situ telah berdiri seorang kakek yang amat tua, berpakaian serba putih, berambut dan berkumis jenggot panjang putih pula, wajahnya tertutup uap bersinar putih dan kakek ini berdiri tak bergerak seperti sebuah arca.
Akan tetapi dia bukan arca karena pada saat itu, kakek itu berkata kepada Ki Ageng Kelud.
"Ki Ageng dan Ki Warok, sebaiknya andika berdua kembali ke tempat andika."
Ki Ageng Kelud biarpun sudah remuk tulang pundaknya, namun dengan kekuatan batinnya dapat mengatasi rasa nyeri.
Sejenak ia memandang ke arah wajah yang terselimut uap putih, kemudian berkata lirih penuh hormat.
"Omm......sadhu-sadhu-sadhu "
Ia berdiri menyembah lalu membalikkan tubuhnya, mengangguk kepada Ki Warok Surobledug yang tadi terpesona dan terbelalak, sambil menahan nafas lalu mengikuti Ki Ageng Kelud.
Setelah mereka pergi jauh sehingga tak tampak lagi dari tempat itu, sambil terengah-engah Ki Warok Surobledug bertanya.
"Paman panembahan...dia.... dia itu siapakah? Dewatakah… ?"
Ki Ageng Kelud menghela napas panjang dan menggeleng kepala.
"Dia manusia biasa, manusia yang terlalu biasa, manusia wajar.......... manusia sejati."
Ki Ageng Kelud tidak bicara lagi, di dalam hatinya ia dapat menduga siapa gerangan kakek yang luar biasa tadi, namun mulutnya tidak kuasa menyebut namanya karena hatinya yang penuh dengan keharuan membuat lehernya tercekik, mulutnya terkancing.
Sementara itu, Retna Wilis yang telah berhasil menguasai dirinya, memandang kakek itu dengan alis berkerut.
Hatinya panas dan penuh penasaran, juga tidak puas.
Siapakah orang ini yang berani menentangnya, berani menggagalkan pukulan mautnya?
Bahkan berani seenaknya saja menyuruh pergi dua orang kakek tadi?
Seluruh urat syarat di tubuhnya menegang, dan ia sudah siap untuk menerjang kakek yang lancang ini.
Tadinya ia tidak dapat melihat muka yang tertutup halimun putih, akan tetapi setelah ia mengerahkan hawa sakti dari pusarnya, disalurkan kepada pandang matanya, ia dapat menembus halimun atau uap putih itu dan tampaklah dengan jelas wajah seorang pria yang tampan.
Wajah yang membayangkan kesabaran tiada batasnya, dengan sepasang mata yang seperti mata bayi baru dapat melek, begitu indah dan.
tanpa pencerminan perasaan sedikitpun, wajar dan tulus.
Tiba-tiba Nini Bumigarba meloncat maju, wajah nenek itu tidak seperti biasanya, tampak beringas penuh kemarahan, sepasang matanya menyorotkan kekejaman seolah-olah ia hendak menelan hidup-hidup kakek di depannya itu.
Kemudian ia menudingkan telunjuknya kepada kakek itu dan berkata dengan suara serak dan kasar.
"Ekadenta! Engkau benar-benar seorang yang keterlaluan sekali! Telah puluhan tahun aku mencuci tangan, tak pernah mengganggumu, akan tetapi engkau selalu menjadi batu penghalang bagiku! Setelah aku mengasingkan diri di tempat sunyi ini, engkau masih saja menggangguku!"
Kakek itu diam saja, hanya memandang dengan sinar matanya yang lembut penuh welas asih dan penuh pengertian.
Ketika Retna Wilis mendengar suara gurunya, ia terkejut bukan main.
Jadi dia inikah yang bernama Ekadenta?
Inikah musuh besar gurunya dan murid orang inikah yang kelak harus ia kalahkan?
Mengapa harus menanti sampai bertemu muridnya?
Gurunya pun dia tidak gentar untuk menandinginya.
Kini musuh ini telah membikin marah gurunya pula, maka dengan suara pekik melengking dahsyat, Retna Wilis sudah meloncat maju dan tangannya telah menyambar segenggam pasir, kemudian ia mengerahkan aji kesaktiannya, menggenggam pasir sampai pasir itu menjadi hitam kebiruan lalu menyambitkan pasir itu ke arah muka si kakek disusul terjangannya dengan Aji Pancaroba!
Itulah Aji Pasir Sekti yang amat mengerikan karena pasir yang digenggamnya tadi telah berubah menjadi pasir berbisa.
Jangankan sampai melukai daging, baru mengenai kulit saja dapat menimbulkan keracunan yang merenggut nyawa.
AJI Pasir Sekti yang sedemikian ampuhnya masih ia susul dengan serangan Aji Pancaroba dan pukulan-pukulan maut, sungguh sekali ini Retna Wilis mengerahkan seluruh kepandaiannya karena ia bermaksud untuk sekali terjang merobohkan kakek itu di depan kaki gurunya!
Akan tetapi suara pekik nyaring mulutnya berubah teriakan kaget dan kesakitan.
Pasir-pasir hitam itu telah runtuh sebelum mengenai tubuh si kakek, bahkan terjangannya sendiri bertemu dengan tenaga tak tampak yang melindungi kakek itu dalam jarak tiga kaki!
Tubuh Retna Wilis terbanting sehingga kulit sikunya babak serta daging pinggulnya terasa panas sesenutan.
Ia tak dapat lagi menguasai hatlnya yang marah.
Begitu bangkit, dara remaja ini menerjang lagi, menghantam dengan kedua tangan bertubi-tubi.
Akan tetapi kembali ia terpelanting karena tubuhnya bertemu dengan tenaga tak tampak.
Berkali-kali ia bangkit lagi dan mengirim serangan seperti menggila, namun selalu ia terpelanting dan terbanting jatuh ke atas tanah, padahal kakek itu sedikitpun tidak bergerak, hanya memandang kepadanya dengan senyum dan sinar mata penuh ibat Retna Wilis hampir menjerit-jerit saking marahnya dan ia terus bangkit dan menerjang lagi.
Tiada bedanya dengan seekor ayam menyerang ayam lain yang berada dalam kurungan.
Setiap kali menerjang dari luar, sebelum menyentuh ayam di dalam, telah bertumbukan dengan kurungan dan terpelanting jatuh.
"Retna Wilis, mundurlah!"
Tiba-tiba Nini Bumigarba berseru.
Retna Wilis masih penasaran, akan tetapi dia pun maklum bahwa dia tidak dapat berbuat apa-apa terhadap musuh gurunya yang benar-benar luar biasa ini, maka ia lalu mundur dengan muka merah.
Ia masih tidak mau menerima kalah dan andaikata tidak ada gurunya yang menyuruhnya mundur, tentu ia akan menyerang terus sampai lawannya roboh atau sampai dia sendiri yang roboh kehabisan tenaga dan napas!
"Ekadenta, tidak malukah engkau tua bangka menghina orang muda?"
Nini Bumigarba menghardik dengan sikap seperti seekor ayam biang membela anaknya. Kakek itu menoleh dan membalikkan tubuhnya kepada Nini Bumigarba, lalu terdengar suaranya.
"Sarilangking, tidak ada yang menghina atau terhina. Aku hanya mencegah kesesatan yang lebih parah. Mengapa engkau menjadikan dia seperti itu? Apa gunanya bagi dunia dan manusia?"
"Wah-wah, sombongnya si kepala batul Aku menggembleng muridku sendiri, apa sangkut -pautnya denganmu? Engkau sendiri juga telah menggembleng seorang murid! Aku hanya menandingimu karena dialah yang kelak akan menandingi muridmu. Suruh dia ke sini, kita adu mereka. Hayoh, kita sama lihat siapa di antara murid kita yang lebih digdaya!"
Kakek itu menggeleng kepalanya.
"Sari, sungguh sayang sampai kini engkau masih belum mau berusaha untuk berpaling ke arah kebenaran. Aku mendidik seorang murid untuk mewakili aku, menyumbangkan tenaga demi untuk kebahagiaan manusia, demi untuk ketenteraman hidup, demi untuk menentang kejahatan."
"Benar! Aku yang jahat dan harus ditentang, ya? Aku tidak menyangkal! Aku malah sebaliknya darimu. Muridku akan mewakill aku, merusak kebahagiaan manusia sombong macam engkau, mendatangkan kekacauan untuk meramaikan dunia, dan menentang manusia-manusia yang menganggap diri suci dan baik!"
"Muridku akan berusaha membawa penerangan bagi manusia "
"Dan muridku akan membawa kegelapan!"
"Muridku akan mewakili kebajikan "Dan muridku akan menjadi ratu kejahatan!"
"Sari, mengapa engkau tidak mau sadar juga? Lupakah engkau bahwa kita ini hanyalah manusia-manusia biasa, manusia yang tidak dapat menguasai mati hidupnya sendiri? Sari, ingatlah, betapa ketika kita dilahirkan, kita tanya bisa menangis, itu pun terjadi di luar kehendak kita? Kita lahir kecil dan lemah, tanpa pikiran, tanpa kehendak, tanpa pendapat, hanya menyerahkan diri di luar kesadaran, hanya bergerak sesuai dengan kehendak Hyang Widi Wisesa. Kita dikurniai segala perlengkapan, sampai pengertian dan akal budi, akan tetapi mengapa semua itu membuat kita lupa akan asal mula diri kita? Sari, kaulihatlah baik-baik. Kau pandanglah aku dan kau..... sadarlah Sari!"
Nenek itu tidak menjawab, hanya memandang bagaikan kena pesona.
Sampai lama mereka berpandangan, maka nenek itu makin lama makin terbelalak lebar, penuh takjub, penuh kagum, penuh takluk dan takut, kemudian nenek ini menjatuhkan diri berlutut, menyembah dan menangis!.
"Ekadenta......... aku......... aku......... terlampau jauh tersesat......... aku hanyut......... tolonglah aku, Ekadenta."
Kakek itu melangkah perlahan-lahan, seakan-akan tidak memperdulikan nenek itu, mulutnya mengeluarkan suara seperti orang bertembang, halus dan merdu, seperti bisikan angin lalu.
"Yang pahit dan getir itu banyak manfaatnya, yang manis dan lezat itu banyak bahayanya. Namun manusia membenci yang pahit getir, tergila-gila kepada yang lezat manis. Akibatnya, banyak derita duka nestapa. Tak baik terpengaruh oleh keindahan lahir, kupaslah kulit dan periksa isi karena kulit yang buruk menyembunyikan isi yang berguna, sebaliknya kulit yang indah seringkali menyembunyikan isi yang tak berguna."
Perlahan-lahan Nini Bumigarba bangkit dan melangkah pula mengikuti Bhagawan Ekadenta.
Kakek itu berjalan di depan sambil bertembang nenek itu melangkah di belakangnya, mata memandang jauh ke depan seperti orang dalam mimpi.
Mereka berdua berjalan terus menuju ke laut!
"Eyang Retna Wilis berseru perlahan, akan tetapi gurunya sama sekali tidak menjawab, menoleh pun tidak.
Mereka berdua kini telah tiba di pantai yang disentuh ombak, akan tetapi keduanya berjalan terus, seolah-olah tidak meiihat gelombang yang datang dari depan.
"Eyang !!"
Kini Retna Wilis menjerit keras dan meloncat maju mengejar gurunya.
Akan tetapi ia berdiri terbelalak di pinggir laut, membiarkan air laut bermain di kakinya sampai setinggi lutut.
Ia tidak merasa ini semua karena sedang terpesona memandang ke selatan, memandang tubuh kakek dan nenek itu yang terus melangkah dengan tenangnya, melangkah di atas gelombang laut kidul yang datang bergulung-gulung!
Retna Wilis berdiri tanpa berkedip memandang dua orang itu yang terus melangkah seakan-akan mereka itu sedang berjalan -jalan di dalam taman saja.
Kadang-kadang ombak menggunung menutup mereka, dan kadang-kadang mereka muncul lagi.
Mereka terus bergerak ke selatan sampai akhirnya bayangan mereka lenyap di antara gelom bang lautan yang makin bergelora.
Retna Wilis menahan isak saking kagum, terharu dan juga terheran-heran.
Kemudian baru ia merasa betapa air telah membasahi kainnya sampai ke paha, maka cepat ia menjauhi air dan duduk di atas pasir, termenung memandang ke arah selatan, mengharapkan sewaktu-waktu gurunya akan muncul dari selatan.
Ia ingin sekali mengetahui apa yang tampak oleh gurunya ketika memandang kakek itu, dan mengapa gurunya lalu berlutut dan takluk, kemudian ia ingin tahu ke mana dua orang sakti itu pergi.
Namun, selamanya hal ini takkan pernah dapat dijawabnya, takkan pernah dapat dijawab oleh siapa pun juga kecuali oleh manusia-manusia yang telah terbuka mata batinnya akan hakekat hidup.
Retna Wilis termenung sampai lama di.
tepi laut, kemudian sadar bahwa gurunya takkan kembali lagi, sadar bahwa dia kini berada seorang diri di atas permukaan dunia ini.
Hatinya mengeras, keberaniannya timbul dan ia lalu mengingat-ingat apa yang dipesankan gurunya.
Hawa Wisalangking telah berada di tubuhnya dan menurut pesan gurunya, ia harus melatih diri, melatih aji kesaktian Wisalangking, cara mempergunakannya seperti yang telah diterangkan gurunya.
Dan ia harus pula mengambil pedang Sapudenta dari dalam guha di bawah permukaan air laut.
Kemudian, setelah ada tanda lenyapnya bintang di atas puncak Gunung Cengger Jago, ia harus meninggalkan pantai ini dan pergi ke Wilis.
Retna Wilis membulatkan tekadnya dan mulailah ia berlatih Aji Wisalangking yang amat dahsyat.
Aji kesaktian ini adalah aji yang paling dahsyat di antara semua ilmu yang dipelajarinya dari Nini Bumigarba.
Setahun kemudian, ia telah dapat melatih ilmu itu dengan baik, sungguhpun belum sempurna benar, namun ia sudah dapat menguasai hawa Wisalangking di tubuhnya.
Menurut petunjuk gurunya, sesuai dengan cita-cita gurunya dahulu untuk mengalahkan Ekadenta dengan Aji Wisalangking ditambah penggunaan pedang Sapudenta, Retna Wilis lalu mendatangi pantai di sebelah barat.
Ia sudah tahu di mana adanya air ulekan di bawah karang Kukura, yaitu batu karang di mana agaknya menjadi sarang binatang kura-kura raksasa karena kura-kura raksasa yang mendarat untuk bertelur selalu muncul dari air ulekan ini.
Setelah ia tiba di pantai itu, ia berdiri memandang air yang berpusing itu dengan hati penuh gairah.
Retna Wilis maklum bahwa sekuat-kuatnya tenaga manusia, tak mungkin akan dapat melawan air berpusing seperti itu.
Bagian ini merupakan teluk kecil yang bentuknya bundar, sehingga ombak yang bergelombang datang memasuki teluk kecil ini, airnya berputar dan membentuk pusingan air yang hebat dan kuat.
Dan dia diharuskan terjun menyelam karena guha di mana tersimpan pedang pusaka Sapudenta terdapat di bawah batu karang Kukura yang ia injak sekarang, berada di dinding karang yang tertutup air yang kadang-kadang tenang apabila ombak berhenti menderu.
Retna Wilis tidak merasa ngeri menyaksikan air berpusing itu.
Semenjak berada di situ, ia seringkali bermain-main dengan air dan ombak, menggoda ikan-ikan hiu yang ganas dan dia merupakan seorang ahli renang yang kuat, kuat menahan napas dan dapat membuka mata di dalam air sehingga dapat melihat ikan-ikan di bawah permukaan air.
Memang belum pernah ia mandi di bawah karang Kukuran ini karena tempat itu memang berbahaya, akan tetapi sedikit pun tidak ada rasa takut di hatinya ketika Retna Wilis berdiri di atas batu karang, siap untuk terjun.
Dia sudah meraba-raba bajunya seperti biasa kalau hendak mandi di laut, hendak membuka pakaiannya.
Akan tetapi ketika teringat akan sesuatu, ia menghela napas dan tidak melanjutkan gerakan jari tangannya.
Semenjak ia melatih Wisalangking, bahkan semenjak ia menerima pemindahan hawa Wisalangking dari gurunya, ia menjadi malu kepada diri sendiri untuk bertelanjang bulat seperti biasa.
Dahulu, sebelum ia memiliki aji lesaktian itu, tubuhnya berkulit putih kuning dan mulus tanpa cacad.
Akan tetapi semenjak ia memiliki hawa Wisalangking, la melihat betapa kulit di sekeliling pusarnya diliputi lingkaran warna menghitam!
Ia merasa malu dan tak senang dengan cacad ini, akan tetapi betapapun ia berusaha, lingkaran warna menghitam di sekeliling pusarnya itu tak dapat lenyap.
Karena itu pula dia sekarang tidak jadi membuka pakaiannya dan setelah menarik napas, menghimpun hawa segar ke dalam rongga dadanya, dara perkasa ini membelitkan sarungnya ke belakang, mengikatnya kemudian meloncat terjun ke dalam air!
Begitu tubuh dara itu menyentuh air, langsung ia dicengkeram oleh pusaran air dan Retna Wilis cepat menjungkirkan tubuhnya, menyelam mempergunakan gerakan kaki tangannya dengan sekuatnya.
Namun, kembali ia dikuasai oleh air berpusing dan betapapun ia melawan, tetap saja tubuhnya dihanyutkan oleh tenaga sakti yang tak mungkin dapat ia lawan.
Betapapun saktinya, Retna Wilis adalah seorang manusia dan manusia ditakdirkan hidup di darat sehingga dalam melawan pusaran air, dara yang sakti mandraguna itu akan kalah jauh dibandingkan dengan seekor ikan kecil.
Sampai pening rasa kepala Retna Wilis karena tubuhnya hanyut dan dibawa berputar terus, makIn diseret ke bawah di mana pusingan air itu menjadi makin kuat.
Dia maklum bahwa kalau tidak segera dapat melepaskan diri dari pusingan air, ia akan terancam bahaya maut, yaitu dapat terbanting pada batu karang dengan kekuatan yang amat dahsyat.
Maka ia cepat mengerahkan seluruh tenaga, menahan kekuatan dahsyat itu dart matanya terbelalak memandang melalui air yang sudah mulai gelap karena pusingan air membawanya sampai dalam.
Tiba-tiba ia melihat bayangan seekor kura-kura raksasa lewat.
Kura-kura ini hanya sedikit saja terpengaruh oleh pusingan air karena tentu saja dalam hal bermain di air, dia seratus kali lebih pandai daripada Retna Wilis!
Kura-kura adalah seekor binatang yang tidak buas, tidak suka menyerang manusia apabila tidak diganggu, dan tidak suka pula makan daging manusia.
Dia mendekati Retna Wilis hanya karena tertarik melihat benda aneh yang bergerak-gerak melawan pusingan air.
Akan tetapi, begitu binatang ini lewat dekat, kedua lengan Retna Wilis menyambar ke depan dan ia berhasil merangkap dua kaki belakang kura-kura itu yang menjadi terkejut sekali dan meronta sekuatnya.
Sia-sia saja usahanya ini karena kedua tangan Retna Wilis sudah mencengkeramnya dengan kekuatan yang luar biasa, bahkan gadis itu dapat terus merayap dan menerkam binatang itu di atas punggungnya, bertelungkup dan merangkul leher binatang itu dengan kedua lengan!
Kura-kura itu menyelam dan menjungkir-balikkan tubuhnya dalam air, namun Retna Wilis tetap berada di punggungnya, bahkan kini dara perkara itu mencekik leher kura-kura sehingga binatang itu akhirnya tidak meronta lagi, maklum bahwa makluk yang berada di punggungnya itu amat kuat.
Ia hanya berenang menjauhi pusaran air karena dalam keadaan tidak berdaya dalam cengkeraman mahluk kuat di punggungnya itu, pusaran air menjadi berbahaya baginya.
Retna Wilis yang masih menelungkup di punggung kura-kura raksasa menjadi lega setelah kura-kura itu menjadi jinak, maka ia lalu menggunakan tangannya menekuk leher kura-kura ke arah kiri.
Kura-kura itu kesakitan dan otomatis membelok ke kiri untuk menyelamatkan lehernya.
Dengan demikian, dara itu kini dapat "menyetir"
Binatang raksasa itu menuju ke bawah karang Kukura.
Dengan kekuatan pandang mata dan dengan rabaan tangan kiri, akhirnya Retna Wilis berhasil menemukan guha dan ketika kura-kura itu membawanya memasuki guha, ternyata bahwa guha itu penuh dengan kura-kura besar!
Terbuktilah dugaannya bahwa tempat itu memang menjadi sarang kura-kura.
Ada beberapa ekor kura-kura yang dengan gerakan ganas datang menyerang, akan tetapi dengan dorongan tangan kirinya Retna Wilis membuat beberapa ekor kura-kura ini terjengkang sehingga akhirnya mereka menjadi ketakutan dan berenang menjauhkan diri, keluar dari dalam guha.
Retna Wilis turun dari punggung kura-kura dan binatang ini yang ternyata merupakan kura-kura terbesar di situ, mendekam di sudut, agaknya dia mulai jinak dan maklum bahwa manusia yang sakti itu tidak berniat jahat, buktinya tidak membunuhnya.
Retna Wilis cepat mencari dan dengan mudah menemukan peti kecil panjang yang terjepit di sela-sela batu karang dalam guha.
Ia menarik peti kecil itu, membuka dan matanya silau menyaksikan sebatang pedang yang indah di dalam peti, pedang yang tertarik sedikit gagangnya sehingga tampak sedikit mata pedang yang putih mengkilap.
Tanpa membuang waktu, ia mengambil pedang yang sudah lengkap dengan sarung pedang dan talinya itu, mengalungkan talinya di pundak sehingga pedang itu berada di punggungnya.
Kemudian ia menghampiri kura-kura raksasa dan naik lagi ke punggungnya.
Dengan menepuk-nepuk kepala kura-kura, binatang ini berenang keluar dan seperti tadi, Retna Wilis mengemudikan binatang ini sampai dapat melalui pusaran air dan timbul di permukaan air dengan selamat.
Retna Wilis cepat menghirup napas, menyedot hawa segar dan duduk bersila di atas punggung kura-kura.
"Kukura, bawa aku mendarat!"
Teriaknya riang dan kura-kura itu cepat meluncur ke pantai.
Dengan wajah berseri Retna Wilis membiarkan dirinya dibawa kura-kura raksasa itu ke pantai, duduk bersila dengan tenangnya, dengan pedang di punggung, gagah perkasa dan cantik jelita seperti dewi laut.
Kalau ada orang melihat dara ini duduk bersila di atas punggung kura-kura raksasa, muncul dari dalam laut, tentu orang itu takkan ragu-ragu mengatakan bahwa dia telah melihat dewi atau peri penjaga Segoro Kidul!
Setelah Retna Wilis meloncat turun, kura-kura itu dengan gerakan lamban berjalan atau merangkak kembali ke air, menoleh satu kali memandang ke arah Retna Wilis, kemudian menyelam ditelan ombak mendatang.
Retna Wilis melambaikan tangan sambil tertawa.
"Terima kasih, Kukura!"
Mulai hari itu, Retna Wilis lalu makin tekun melatih diri, kini ia menggerakkan dan mainkan pedang pusaka Sapudenta yang memiliki sinar putih seperti perak dalam latihan-latihannya sesuai dengan pelajaran yang ia terima dari Nini Bumigarba.
Kalau ada orang melihat dari jauh ketika dara ini sedang berlatih pedang, tentu akan mengira bahwa di pantai itu ada kilat menyambar-nyambar karena pedang itu ketika dimainkan dengan dorongan tenaga sakti Wisalangking, berkelebatan seperti kilat menyambar, mengeluarkan sinar putih menyilaukan mata.
Setiap malam Retna Wilis tak pernah lupa untuk memandang ke angkasa, ke atas gunung yang berbentuk cengger jago, dan setiap kali melihat bintang Icehijauan masih bersinar-sinar di angkasa, ia menghela napas dan merasa menyesal bahwa waktunya belum tiba untuk meninggalkan tempat itu.
Setelah gurunya tiada, dara ini merasa kesepian dan bosan tinggal seorang diri di situ.
Akan tetapi ia selalu taat akan pesan gurunya dan ia tiada akan meninggalkan pantai itu sebelum ada tanda yang dipesankan gurunya, yaitu lenyapnya bintang kehijauan yang menjadi lambang kejayaan kekuasaan yang mencengkeram Jenggala di waktu itu.
Kita tinggalkan dulu dara perkasa Retna Wilis yang setiap malam menanti datangnya tanda seperti yang dipesankan gurunya dan mari kita menjenguk keadaan di Jenggala sendiri.
Telah dituturkan di bagian depan bahwa Pangeran Panji Sigit bersama isterinya Setyaningsih, telah tinggal di Jenggala, di lingkungan istana.
Juga Pusporini dan Joko Pramono tinggal di istana Jenggala.
Mereka, empat orang muda perkasa ini, gagal dalam penyelidikan mereka tentang diri Nini Bumigarba yang melarikan Retna Wilis.
Kemudian mereka lebih menujukan perhatian mereka terhadap keadaan di Jenggala dan bertekad untuk membantu perjuangan dari Panjalu yang dipimpin oleh Pangeran Darmokusumo dan Ki Patih Tejolaksono, yaitu untuk membebaskan sang prabu dan Kerajaan Jenggala dari cengkeraman persekutuan jahat yang telah mereka ketahui siapa orang-orangnya itu.
Makin jelaslah kini bagi Pangeran Panji Sigit dan isterinya, juga Pusporini dan Joko Pramono, akan keadaan di kerajaan ini.
Sang prabu yang sudah tua itu benar-benar telah terlalu dalam tenggelam dan semua kekuasaan telah dicengkeram oleh Suminten, Pangeran Kukutan, dan Ki Patih Warutama.
Empat orang muda ini maklum bahwa persekutuan ini amat licin dan cerdik, tidak memperlihatkan kekuasaan namun sudah mutlak mengoper kekuasaan Jenggala di tangan mereka sehingga kalau sewaktu-waktu sang prabu yang sudah tua itu meninggal, otomatis Pangeran Kukutan yang menggantikan menjadi Raja Jenggala, Ki Patih Warutama tetap menjadi patih, dan Suminten menjadi ibusuri!
Pangeran Panji Sigit maklum bahwa untuk menyelamatkan kerajaan harus dilakukan sekarang juga selagi ramandanya masih hidup.
Mulailah pangeran ini mulai mendekati ramandanya, mulailah mencari kesempatan untuk memberi ingat kepada ramandanya akan bahaya yang mengancam bagi Kerajaan Jenggala.
Menurut penyelidikan Joko Pramono dan Pusporini, tidak hanya para ponggawa yang diganti oleh orang-orang baru, juga para emban dan pendeta Agama Wishnu telah didesak dan kini telah dibangun candi-candi besar untuk keperluan beberapa orang pendeta penyembah Shiwa yang agaknya mendapat tempat istimewa dan dianakemaskan oleh Ki Patih Warutama dan Pangeran Kukutan.
Dalam pertemuan rahasia mereka, Pangeran Panji Sigit memutuskan untuk mengirim Joko Pramono dan Pusporini ke Panjalu dan memberi kabar kepada Ki Patih Tejolaksono dan Pangeran Darmokusumo tentang hasil penyelidikan mereka, dan tentang gagalnya penyelidikan mereka mengenai diri Nini Bumigarba.
Empat orang muda ini tidak tahu bahwa rencana mereka telah diketahui Suminten, bahwa Suminten telah mengatur siasat yang telah lama direncanakan dan yang kini dipercepat pelaksanaannya untuk mendahului rencana Pangeran Panji Sigit yang hendak mengutus dua orang muda itu membuat laporan ke Panjalu.
Malam itu terang bulan dan langit cerah sekali.
Langit yang membiru dihias beberapa buah bintang, terang oleh sinar bulan yang sejuk.
Ketika Pangeran Panji Sigit sedang bercakap-cakap dengan isterinya di luar kamar sambil memandang bulan purnama yang indah, tiba-tiba seorang pelayan wanita datang menghadap dan menyampaikan permintaan gusti selir yang minta kepada Setyaningsih untuk menemaninya di dalam taman keputren.
Gusti selir hendak menikmati cahaya bulan di taman dan minta agar Setyaningsih suka menemaninya bercakap-cakap.
Tentu saja hal yang wajar ini sukar ditolak oleh Setyaningsih, bahkan Pangeran Panji Sigit yang tidak ingin menimbulkan kecurigaan di hati Suminten musuh utama yang paling berbahaya itu, membujuk isterinya untuk berdandan dan segera berangkat bersama pelayan itu untuk memenuhi panggilan ibunda selir.
Biarpun di dalam hatinya Setyaningsih merasa segan dan tidak senang karena sesungguhnya ia muak melihat Suminten, namun ia tidak berani menolak dan setelah cepat berdandan, berangkatlah ia bersama pelayan wanita yang diutus memanggilnya itu memasuki keputren dan langsung menuju ke taman yang indah, milik pribadi Suminten.
Sementara itu, Joko Pramono yang sedang duduk bersamadhi di dalam kamarnya, mendapat kunjungan Ki Mitra.
Kakek ini berindap-indap mengetuk daun jendela kamar Joko Pramono.
"Raden.........! Raden......... , keluarlah "
La berbisik. Joko Pramono turun dari pembaringannya dan membuka daun jendela.
"Paman Mitra, bagaimana engkau bisa masuk. ?"
Pemuda ini merasa heran karena orang tua ini menjadi juru taman di luar istana dan untuk memasuki daerah istana bukanlah hal yang mudah.
"Ssttt. hamba mengenal seorang pengawal setia.Dia yang memanggil hamba karena terjadi urusan yang gawat sekali!"
Joko Pramono menarik kakek itu memasuki kamarnya.
"Apakah yang terjadi?"
"Lekas paduka bertindak, Raden, kalau tidak.........bisa terlambat.........! Hamba mendengar dari pengawal setia bahwa Gusti Puteri Setyaningsih malam ini diundang ke taman bunga di taman sari oleh Gusti Selir Suminten "
Joko Pramono memandang tajam.
"Hemm, urusan begitu saja, apa salahnya?"
"Ah, paduka terlalu memandang rendah Gusti Selir Suminten! Menurut laporan-laporan yang hamba dengar, malam ini Gusti Puteri Setyaningsih sengaja dipancing untuk diajak makan minum dan......... akan diracun!"
"Apa. ???"
Joko Pramono terkejut sekali.
"Lekaslah paduka menolongnya sebelum terlambat!"
"Di manakah Kakangmas Pangeran Panji Sigit? Dia harus diberi tahu, dan Pusporini "
"Ah, Raden, mengapa menyia-nyiakan waktu? Gusti selir banyak memasang mata-mata, dan kalau kita ribut--ribut. dapat terlambat dan celaka! Lebih baik sekarang juga paduka cepat memasuki taman sari dan menolong Gusti Puteri Setyaningsih sebelum terlambat terkena racun. Hamba yang akan memberi tahu kepada Gusti Pangeran Panji Sigit dan Raden-ayu Pusporini. Karena mengkhawatirkan keadaan Setyaningsih, Joko Pramono mengangguk setuju, kemudian ia meloncat keluar dari jendela kamarnya, menghilang ke dalam gelap untuk cepat-cepat menolong Setyaningsih yang terancam bahaya maut di tangan Suminten yang jahat. Ki Mitra juga berindap-indap menuju ke pondok keputren di mana terdapat kamar Pusporini. Pada saat itu, Pangeran Panji Sigit yang masih duduk di serambi depan pondoknya, merasa tidak enak mengapa isterinya belum juga pulang. Andaikata bukan Suminten yang mengajak isterinya bersenang-senang di taman, andaikata selir lain dari ramandanya yang sekarang sudah terasing, tentu ia tidak gelisah seperti itu.
"Pangeran "
Pangeran Panji Sigit tersentak kaget ketika mendengar suara ini dan melihat orangnya yang muncul dari pintu tembusan ke belakang.
Ternyata orang yang dikhawatirkan akan mencelakakan isterinya, Suminten, berada di situ!
Cantik jelita dan seluruh pembawaannya mengandung tantangan yang merangsang dan genit.
Wanita ini memang cantik manis sekali, hal ini tak dapat disangkal oleh Pangeran Panji Sigit, dan terutama sekali mulut dan mata itu mengundang cinta kasih pria dan tentu akan mudah menjatuhkan hati pria yang bagaimana keras pun.
Akan tetapi Pangeran Panji Sigit yang sudah mengenaI watak dan isi dada inilah membusung itu, isi yang amat keji dan kotor, menjadi terkejut dan cepat-cepat ia bangkit berdiri sambil menghormat.
"Ibunda selir......... mengapa berada di sini Di mana isteriku, Setyaningsih?"
"Aduh Pangeran......... , karena dialah aku bersusah payah datang mencarimu Marilah kau ikut bersamaku melihat dia. Lihat apa yang dilakukan isterimu dan sahabat baikmu, si keparat Joko Pramono."
"Apa......... apa yang terjadi Tipu muslihat apalagi yang kaulakukan?"
Pangeran Panji Sigit serta-merta menuduh ibu tirinya ini dan memandang dengan kening berkerut dan jantung berdebar penuh kegelisahan akan keselamatan isterinya dan sahabat baiknya.
Bibir yang merah semringah itu menahan senyum mengejek, bibir bawah yang penuh bergerak-gerak, dagunya berguncang-guncang karena di dalam rongga mulut lidahnya bergerak-gerak.
Dalam keadaan begini, Suminten tampak amat menarik hati dan menggemaskan hati pria, apalagi disertai pandang mata yang redup sayu seperti mata orang yang mengantuk, benar-benar memikat.
Sang Arjuna sendiri biarpun sedang bertapa, kalau digoda seorang wanita seperti Suminten, agaknya belum tentu akan kuat bertahan!
Kalau dalam ceritera Arjuna Mintaraga, Sang Arjuna yang bertapa digoda oleh tujuh orang bidadari dapat bertahan, bukanlah aneh karena bidadari-bidadari yang suci mana mungkin bisa membangkitkan nafsu berahi seorang satria!
"Aduh, Pangeran, paduka juga puteraku dan saya adalah ibumu.........ah begitu keras dan kejamkah hatimu sehingga kesalahan kecil yang pernah saya lakukan dahulu itu masih saja tak terlupakan?
Saya tidak melakukan fitnah tadinya isterimu bersamaku di taman.
Karena sesuatu urusan, saya terpaksa meninggalkannya sebentar di taman dan.........
ah, kau lihat sendiri sajalah.
Saya sudah mempersiapkan pengawal mengepung taman, akan tetapi saya tidak membolehkan mereka turun tangan sebelum paduka menyaksikan dengan mata sendiri agar kelak jangan menuduh saya menjatuhkan fitnah terhadap isteri dan sahabatmu.
Marilah, Pangeran "
Pangeran Panji Sigit menjadi pucat wajahnya dan jantungnya berdebar keras sekali.
Bagaimana dia dapat menolak?
lsterinya belum kembali dan dia amat khawatir.
Tidak, sama sekali bukan khawatir bahwa berita yang dibawa Suminten in!
mengandung kebenaran.
Isterinya dan Joko Pramono?
Wah, biar dunia kiamat dia tidak akan dapat percaya akan hal ini isterinya memang cantik jelita dan dapat meruntuhkan hati setiap orang pria, akan tetapi Joko Pramono adalah seorang satria sejati, seorang gagah perkasa dan seorang pria yang mencinta Pusporini.
Sebaliknya, biarpun Joko Pramono adalah seorang pemuda yang tampan dan.
gagah perkasa dan pasti akan mudah menjatuhkan hati setiap orang wanita, akan tetapi isterinya, Setyaningsih, tentu saja amat setia dalam cinta kasihnya dan sampai mati pun ia tidak akan meragukan kesetiaan isterinya sedikit pun juga isterinya dituduh tidak setia oleh wanita hina yang gila laki-laki ini?
Ah, betapa ingin ia menampar atau mencekik wanita ini di saat itu juga!
"Ibunda selir.........saya akan melihat dan.........
kalau ini hanya fitnah.........
demi para dewata, saya takkan mendiamkan saja penghinaan ini !"
Desisnya dengan gigi terkancing.
Suminten tersenyum, bibirnya merekah sehingga mututnya terbuka seperti sebuah luka yang tampak dagingnya memerah, dan sebelum Pangeran Panji Sigit dapat menolaknya, wanita itu telah menyambar lengannya dan ditariknya lengan pemuda bangsawan itu keluar dari situ melalui pintu belakang.
"Marilah, Pangeran.Saksikan saja sendiri dan buktikan kebenaran omongan........Suminten !"
Ketika menyebutkan namanya sendiri ini, terdengar seperti bisikan mesra sekali.
Wanita ini sudah menyebutkan nama sendiri, tidak lagi bersikap sebagai seorang ibu tiri, dan andaikata hati Pangeran Panji Sigit tidak sedang diliputi kegelisahan hebat, tentu ia akan merasakan ketidak wajaran dan sikap yang jelas menantang asmara ini.
Bergegas Suminten yang menarik tangan pangeran itu menyelinap melalui taman-taman istana menuju ke taman sari miliknya sendiri.
Beberapa sosok bayangan menyambut mereka di tempat gelap, di belakang semak-semak.
Mereka itu ternyata adalah pengawal-pengawal yang telah mengadakan pengurungan di taman itu.
"Di mana mereka. ?"
Suminten berbisik.
Seorang pengawal menyembah dan dengan ibu jarinya menunjuk ke depan.
Jantung Pangeran Panji Sigit makin berdebar dan ia menurut saja ketika Suminten kembali menggandengnya, menyusup di belakang pohon-pohon dan akhirnya mereka dapat melihat bayangan dua orang di dekat pondok merah di taman.
Pangeran Panji Sigit berdiri dengan muka pucat, mata terbelalak dan mulut ternganga, tidak percaya kepada pandang mata sendiri ketika ia melihat bahwa bayangan itu adalah Joko Pramono dan Setyaningsih.
Seolah-olah berhenti denyut jantungnya, lehernya seperti tercekik, mulutnya menjadi kering dan napasnya terengah-engah.
Tanpa berkedip ia melihat betapa Joko Pramono memondong tubuh isterinya, melihat jelas betapa otot-otot lengan Joko Pramono melingkar-lingkar kuat menyangga kedua paha Setyaningsih, lengan sebelah lagi merangkul punggung.
Hal ini masih tidak berarti karena memang sudah semestinya demikian kalau sedang memondong orang.
Akan tetapi mengapa Joko Pramono memondong Setyaningsih?
Kalau saja ia melihat isterinya itu pingsan atau menderita seperti orang sakit atau terluka, ia tentu akan cepat berlari menghampiri mereka dan tidak melihat sesuatu yang aneh kalau Joko Pramono memondong isterinya.
Akan tetapi justeru keadaan Setyaningsih di saat itu tidak seperti orang sakit, apalagi pingsan!
Memang Setyaningsih seperti orang gelisah, akan tetapi gelisah diamuk nafsu berahi!
Kedua lengan yang lunak halus hangat dari isterinya itu, kedua lengan yang biasanya merangkulnya, yang biasa diciuminya sehingga ia hampir mengenal di luar kepala segala bentuk lekuk --leng kung kedua lengan itu, hafal betapa di sebelah dalam pangkal lengan kiri isterinya, di antara bulu-bulu halus mengeriting, terdapat sebuah tahi lalat.
Hafal pula betapa di dekat siku kanan yang meruncing itu terdapat segores bekas luka.
Kedua lengan itu kini dengan kemesraan yang sama seperti kalau memeluknya, bahkan agaknya lebih mesra lagi, sedang melingkari leher Joko Pramono!
Dan jari -jari tangan isterinya yang kecil panjang dan halus itu!
Jari -jari tangan itu menjambak -jambak rambut kepala Joko Pramono, menjambak mesra yang sesungguhnya merupakan belaian khas dari Setyaningsih karena seringkali isterinya itu membelai seperti itu, menjambak -jambak halus rambut kepalanya di waktu mereka berdua berada dalam keadaan semesra-mesranya.
Kini kedua tangan itu, sepuluh jari -jari meruncing itu terbenam ke dalam rambut kepala Joko Pramono dan wajah isterinya diangkat-angkat mendekati wajah Joko Pramono, seperti hendak menciumnya!
"Percayakah paduka, Pangeran?"
Bisik Suminten di dekat telinganya. Pangeran Panji Sigit kehilangan suaranya, hampir kehilangan napasnya, kehilangan pula semangat dan kemauannya. Ia diam saja.
"Akan kuperintahkan pengawal menangkap bedebah yang mengkhianatimu itu, bagaimana?"
Kembali bibir yang diharumkan sari bunga mawar itu berhembus membisikkan kata-kata dekat telinganya.
Pangeran Panji Sigit hampir pingsan saking marah dan sakit hatinya.
Ia tidak buta!
Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Isterinya!
Setyaningsih!
Begitu bergelora dalam nafsu berahi!
Jelas sekali olehnya karena ia telah mengenal betul keadaan isterinya dan biarpun dia djauh, ia melihat jelas betapa saat itu Setyaningsih seperti terbakar nafsu berahi dalam pondongan dan pelukan Joko Pramono.
Biarpun saat itu wajah Joko Pramono tidak membayangkan gairah yang sama, akan tetapi jelas pemuda itu memondong isterinya, dan ia yakin bahwa Setyaningsih belum begitu gila untuk bersikap seperti itu kalau tidak ada uluran cinta kasih dari fihak Joko Pramono!
Keji!
Hina!
Dan Pangeran Panji Sigit yang mendengar pertanyaan Suminten itu hanya menganggukkan mukanya tanpa mengalihkan pandangnya yang sejak tadi tak pernah berkedip.
Suminten mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan dari segala jurusan berloncatan keluarlah pasukan pengawal dengan senjata tombak, golok, atau pedang.
Jumlah mereka itu tidak kurang dari tiga puluh orang dan mereka semua segera membuat gerakan mengurung Joko Pramono yang kelihatan kaget dan marah.
Pangeran Panji Sigit dapat melihat jelas betapa dengan setengah memaksa Joko Pramono melepaskan pondongannya dan betapa Setyaningsih meronta-ronta seolah-olah tidak mau dilepaskan.
Akhirnya, karena para pengawal sudah menubruk maju, Joko Pramono membuat gerakan melempar sehingga tubuh Setyaningsih terguling di atas tanah, kemudian pemuda itu menerjang maju dan robohlah dua orang pengawal terdepan terkena hantaman kedua tangannya.
Akan tetapi, dua orang roboh yang maju ada belasan orang, menubruknya dari kanan kiri, depan dan belakang.
Joko Pramono mengeluarkan suara bentakan keras, tubuhnya berkelebat mengelak dan menangkis, bahkan senjata yang berhasil mengenai tubuhnya hanya merobek pakaiannya saja karena kulitnya kebal oleh pengerahan hawa sakti tubuhnya, kemudian ia merobohkan lagi empat orang pengeroyok.
Pada saat itu menyambar sesosok bayangan yang amat lincah.
Sekali terjang, bayangan ini sudah merobohkan dua orang pengawal yang mendekati Setyaningsih yang masih duduk setengah rebah di atas tanah dan kelihatan bingung.
Bayangan itu ternyata adalah Pusporini yang cepat menyambar tubuh Setyaningsih, dikempit dengan lengan kiri sedangkan tangan kanan dara perkasa ini menghajar roboh berturut--turut dua orang pengawal lain.
Joko Pramono yang dikeroyok banyak pengawal, melihat munculnya Pusporini segera berseru.
"Bagus, Rini. Kau bantu aku membasmi jahanam-jahanam ini!"
"Cih, laki-laki ceriwis, cabul dan mata keranjang!"
Pusporini memaki dan tubuhnya berkelebat pergi membawa Setyaningsih yang hanya mengeluarkan suara keluhan panjang.
Joko Pramono kaget sekali, cepat ia mengerjakan tangannya dengan cepat sekali dan kembali enam orang pengawal roboh terpelanting.
Melihat ini, Pangeran Kukutan yang sejak tadi pun telah bersembunyi di situ berteriak.
"Hayo maju semua, bunuh keparat itu!"
Makin banyak lagi pengawal berdatangan dan melihat gelagat buruk ini, Joko Pramono mengeluarkan suara pekik keras tubuhnya agak merendah, kedua tangannya didorong ke depan dan hawa pukulan seperti angin lesus menyambar ke depan, membuat belasan orang pengawal yang berada terdepan, terjengkang dan terpelanting.
Ketika para pengawal memandang ke depan, pemuda perkasa itu ternyata telah lenyap dari tempat itu.
Joko Pramono telah mempergunakan Aji Cantuka Sekti untuk memukul roboh para pengeroyoknya, kemudian ia meloncat dan pergi secepatnya menyusul Pusporini yang telah lebih dulu membawa Jari Setyaningsih.
Pangeran Kukutan menjadi penasaran sekali ketika melihat Joko Pramono dapat meloloskan diri, terutama sekali Setyaningsih dan Pusporini.
Dia sudah mendapat janji dari Suminten bahwa kalau siasat mereka berhasil dan empat orang muda itu terjatuh ke tangan mereka, dia boleh memiliki dua orang wanita muda jelita itu!
Setyaningsih dan Pusporini!
Betapa dia sudah tergila-gila, kalau malam sering bermimpi memangku dua orang wanita itu, dan kalau dikenang membuat ia mengilar.
Kini, dikepung oleh puluhan orang pengawal pilihan, dua orang wanita itu dan Joko Pramono masih dapat lobos!
Ah, dia dan Suminten terlalu memandang rendah mereka.
Terlalu memandang rendah Joko Pramono dan Pusporini yang ternyata benar-benar amat sakti.
Kalau mereka tahu betapa hebat kesaktian dua orang muda itu, tentu Pangeran Kukutan sudah minta bantuan Ki Patih Warutama sehingga malam itu dapat diundang beberapa orang sakti dari luar untuk membantu.
Karena penasaran, Pangeran Kukutan lalu mengerahkan barisan pengawal, sedikitnya ada lima losin jumlahnya, melakukan pengejaran di malam terang bulan itu.
Akan tetapi, ilmu berlari cepat kedua orang murid Sang Resi Mahesapati ini jauh lebih tinggi daripada Pangeran Kukutan dan para pengawalnya sehingga para pengejar itu tertinggal jauh sekali.
Dua orang muda perkasa itu maklum bahwa fihak istana pasti takkan membiarkan mereka pergi seenaknya, maka mereka pun tak pernah berhenti berlari dan semalam suntuk itu Pusporini yang berlari di depan sambil memondong tubuh Setyaningsih, telah jauh meninggalkan kota raja, memasuki hutan besar dan baru menjelang pagi, ia menghentikan larinya dan melepaskan tubuh Setyaningsih ke atas tanah yang bertilam rumput.
"Pusporini......... aduhh......... kepalaku."
Setyaningsih mengeluh akan tetapi ia segera terguling lemas dan tertidur pulas! "Hemm kau lemah dan keji terhadap suamimu,Setyaningsih!"
Kata Pusporini, nada suaranya marah dan tiba-tiba gadis yang keras hati, yang gagah perkasa dan yang tak pernah mengenal takut itu menangis tersedu-sedu sambil berjongkok di dekat Setyaningsih yang tidur nyenyak.
"Rini......... engkau mengapakah? Mengapa menangis? Dan mengapa pula kau tadi marah-marah dan memaki-maki aku tidak karuan?"
Pertanyaan Joko Pramono ini diajukan dengan suara halus karena dia melihat gadis itu menangis, akan tetapi mengandung rasa mendongkol dan penasaran karena ia merasa betapa dia dimaki-maki tidak karuan tanpa salah.
Mengapa Pusporini secara tiba-tiba memaki dia ceriwis, cabul, dan mata keranjang?
Maki-makian keji yang dilontarkan di depan orang banyak pula.
Bahkan gadis ini tidak mau membantunya yang dikeroyok banyak pengawal.
Apakah sebabnya?
Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba Pusporini mencelat bangun dan serta-merta menerjangnya dengan pukulan maut tanpa mengeluarkan suara ba atau bu lagi!
Pukulan dengan tangan kanan yang ditujukan ke arah dada Joko Pramono dengan penuh tenaga terdorong kemarahan dan kebencian!
"Eiiiitttt sembrono kau, Rini!"
Joko Pramono terkejut sekali dan cepat melempar tubuh ke belakang dan bergulingan sampai jauh.
Hanya dengan cara itulah ia dapat menyelamatkan diri dari hantaman maut yang amat dahsyat itu.
Pusporini yang memang berwatak keras dan tidak pernah mau kalah, menjadi penasaran dan terus menerjang lagi dengan dahsyatnya, tanpa memberi kesempatan kepada Joko Pramono untuk bicara atau balas menyerang, bahkan ia tidak hendak memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk bernapas!
Dia ingin membunuh pemuda ini yang telah menyakitkan hatinya malam tadi!
Mengapa Pusporini secara tiba-tiba marah kepada Joko Pramono?
Memang tidak mengherankan kalau diketahui apa yang diucapkan Ki Mitra malam tadi ketika kakek ini menghadap dara perkasa ini.
"Paduka harus cepat-cepat menolong, Raden Ayu kalau tidak, akan celakalah semua "
Kata kakek itu dengan muka pucat dan berkeringat.
"Ki Mitra. ada apakah?"
Pusporini bertanya kaget Kakek itu menghela napas panjang, menghapus peluhnya, kemudian menggeleng-geleng kepala dan berkata.
"Ah, kalau orang muda......... kaduk wani kurang dugo (menonjolkan keberanian tanpa perhitungan), semua ini gara-gara Raden Joko mengadakan pertemuan rahasia dengan Gusti Puteri Setyaningsih "
"Apa......... Apa kau bilang ? Jaga baik-baik mulutmu, Ki Mitra!"
Pusporini marah sekali dan tangannya sudah gatal-gatal hendak menampar kakek itu kalau saja ia tidak ingat bahwa kakek ini adalah orang yang setia dan tentu ada sebabnya mengapa mengeluarkan kata-kata seperti itu.
"Hamba tidak menyalahkan paduka. Memang, biasanya yang terdekat malah tidak mengetahui. Sudah beberapa kali mereka berdua mengadakan pertemuan rahasia, ahh hamba tidak heran, yang puteri cantik jelita yang putera tampan perkasa. Akan tetapi sekali ini mereka terkena jebakan, mengadakan pertemuan di pondok dalam taman sari milik gusti selir dan mereka ketahuan, tertangkap basah! Mereka kini telah dikurung pasukan pengawal."
Demikianlah, mendengar ucapan ini, tanpa menanti sampai habis penuturan Ki Mitra, tubuh Pusporini sudah berkelebat dan ia berlari cepat memasuki taman sari itu.
Dan apa yang dilihatnya?
Sama dengan yang dilihat Pangeran Panji Sigit!
Ia melihat betapa pria yang dicintanya itu sedang memondong tubuh Setyaningsih dan wanita itu, kakak tirinya yang amat dikasihinya, yang ia kagumi dan yang ia anggap sebagai seorang wanita sejati, seorang wanita yang patut dijadikan tauladan, dengan mesra membelai rambut kepala Joko Pramono, bersikap mesra penuh gelora nafsu berahi yang amat memalukan dan memuakkan perutnya!
Ketika para pengawal keluar menyerbu, Pusporini membatalkan niatnya menyerang Joko Pramono, sebaliknya ia lalu menyambar tubuh Setyaningsih dan membawanya pergi karena betapapun juga, dia tidak mungkin dapat membiarkan kakak tirinya itu tertimpa aib dan malu, tertangkap basah melakukan perjinahan dengan Joko Pramono.
Tentu saja, dalam kedukaan dan kecewanya, dalam penderitaan akibat hancurnya kebahagiaan cinta kasihnya dengan Joko Pramono yang sekaligus dihancurkan oleh penglihatan di taman sari tadi, begitu melihat Joko Pramono, dara perkasa ini tak dapat menahan kebencian dan kemarahan nya lagi dan langsung menerjang dan menyerang pemuda itu dengan pukulan-pukulan maut secara bertubi-tubi!.
"Wah......... heiiitt......... berhenti dulu! Aihhhh !"
Joko Pramono yang hanya menangkis dan mengelak itu akhirnya kena diserempet pundaknya sehingga ia roboh terpelanting.
Baiknya ia memiliki tubuh yang terlatih dan kebal sehingga sebelum kaki Pusporini yang melayang datang itu sempat menghajar dan meremukkan kepalanya, Joko Pramono sudah menekankan kedua tangan ke atas tanah, mendorong dan tubuhnya mencelat jauh sehingga terhindar dari tendangan maut.
"Rini, jangan......... , berhenti dulu dan mari kita bicara. !"
"Keparat, manusia tak berbudi, tidak perlu bicara lagi. Engkau atau aku yang harus mati!"
Bentak Pusporini yang terus menyerang sehingga kembali Joko Pramono yang terheran-heran itu dan yang selalu mengalah, terdesak hebat dan tamparan Pusporini menyerempet pipinya sehingga pinggir bibir pemuda itu pecah berdarah.
Melihat darah, Pusporini seperti menjadi semakin buas dan serangannya makin ganas.
"Pusporini.........! Eh, Joko Pramono.........! Mengapa kalian berkelahi? Berhenti......... berhentilah , apakah yang terjadi. ??"
Setyaningsih yang telah sadar dari tidurnya, tadi sejenak terbelalak menyaksikan betapa Pusporini menyerang dan mendesak Joko Pramono.
Kemudian ia melompat bangun dan cepat melerai mereka, menghadang di depan Pusporini yang sudah seperti seekor hari-mau betina direbut anaknya itu.
Pusporini dengan alis berdiri memandang Setyaningsih, napasnya terengah dan dua titik air mata membasahi pipinya.
"Engkau......... engkau hendak membela kekasihmu ini ??"
Ucapan ini bagi Setyaningsih dan Joko Pramono merupakan tuduhan yang amat mengejutkan, bagaikan halilintar menyambar di atas kepala mereka.
"Rini.........! Apa yang kau katakan ini. ??"
Teriak Joko Pramono. Wajah Setyaningsih menjadi pucat sekali dan matanya terbelalak memandang adik tirinya.
"Pusporini adikku......... ,! mengapa kau mengeluarkan ucapan sekeji itu? Apakah yang telah terjadi.........? Mengapa aku berada di sini......... dan.. dan mengapa kalian bertempur. ?"
Muka Pusporini menjadi makin merah, dadanya menjadi makin bergelombang karena rongga dadanya dibakar api kemarahan.
"Hemmm, sungguh tak tahu malu dan pengecut! Sudah berani berbuat tidak berani mengaku! Kedua mataku sendiri telah melihat betapa engkau dalam pondongannya mengerang-erang manja dan penuh nafsu. Mataku belum buta! Semalam kumelihat sendiri dan sekarang kalian berdua masih berpura-pura lagi? Aduh,sungguh kasihan Kakangmas Pangeran Panji Sigit........ , dikhianati isteri dan sahabat palsu !!"
Pusporini lalu menangis terisak. Setyaningsih memandang kepada Pusporini, lalu kepada Joko Pramono berganti-ganti dengan muka pucat, kemudian ia berkata setengah menjerit.
"Di mana suamiku? Mengapa aku berada di sini? Apa yang terjadi? Lekas ceritakan, kalian berdua. Lekas ceritakan......... ah, aku bisa menjadi gila karena gelisah !!"
Pusporini menghentikan tangisnya dan ia memandang wajah kakak tirinya itu dengan pandang mata tajam penuh selidik. Ia mulai meragu akan kebenaran dugaannya. Pada saat itu, Joko Pramono berkata.
"Ah, tidak salah lagi. Tentu telah terjadi sesuatu yang hebat, dan kita semua telah masuk perangkap keji. Pusporini, harap kau bersabar dan lebih baik kita secara terang-terangan saling menceritakan pengalaman malam tadi. Kalau kemudian terbukti bahwa aku telah melakukan hal keji terhadap Ayunda Setyaningsih seperti yang kau tuduhkan, biarlah aku memberikan leherku untuk kau penggal!"
Pusporini memandang kepada pria yang dicintanya akan tetapi sekarang dibencinya itu dengan mata penuh amarah, alisnya tetap berkerut, dan ia tidak menjawab.
Hatinya masih terlalu sakit dan rongga dadanya masih terlalu panas penuh hawa amarah.
"Adinda Joko, ceritakanlah apa yang telah terjadi."
Setyaningsih berkata dengan suara penuh permohonan sambil merangkul pundak Pusporini untuk mencegah adiknya yang galak ini menyerang lagi pemuda itu.
Joko Pramono menghela napas panjang, kemudian memandang lagi kepada Pusporini lalu bercerita.
"Malam tadi, selagi saya duduk sendiri dalam kamar bersamadhi, datanglah Ki Mitra yang menceritakan dengan muka penuh kekhawatiran bahwa Ayunda Setyaningsih sedang diajak makan minum oleh selir Suminten dan bahwa Ayunda akan diracun. Ki Mitra minta kepada saya agar cepat menolong Ayunda, yang katanya setiap saat terancam dan bahwa Ayunda bersama selir Suminten berada di taman sari. Dia mencegah saya memberitahukan kepada Pusporini atau Rakanda Pangeran karena dia khawatir tidak akan keburu dan berjanji bahwa dialah yang akan memberitahu kepada Pusporini dan Rakanda Pangeran. Karena saya percaya kepadanya, saya lalu bersicepat memasuki taman sari. Di dalam taman sari itu amat sunyi dan saya melihat Ayunda seorang diri di dalam pondok merah. Saya terkejut melihat keadaan Ayunda karena Ayunda terhuyung-huyung dan hampir roboh.. Saya mengira bahwa tentu Ayunda telah keracunan, maka cepat saya menyambar dan memondong tubuh Ayunda untuk saya bawa pergi kembali ke tempat Rakanda Pangeran agar dapat dlusahakan pertolongan. Akan tetapi pada saat itu, saya diserbu puluhan orang pengawal. Terpaksa saya menurunkan tubuh Ayunda dan pada saat itu Pusporini muncul akan tetapi hanya menyelamatkan Ayunda dan tidak membantu saya, bahkan memaki saya! Tentu saja saya menjadi penasaran dan mengejar terus. Siapa kira, begitu tiba di sini, dia bersungguh-sungguh hendak membunuh saya. !"
Joko Pramono menghapus darah yang masih keluar dari ujung bibirnya yang kini menjendol.
Wajah Pusporini yang tadinya merah kini perlahan-lahan berubah menjadi pucat.
Kemarahan yang membayang di matanya mulai terganti keraguan kemudian kegelisahan, dan tatapan matanya pada Joko Pramono menjadi gugup dan bingung.
Ia memegang pundak Setyaningsih dan mendesak.
"Ayunda......... , ceritakanlah......... apa yang telah terjadi dengan Ayunda di taman itu. !"
Pusporini membayangkan betapa Setyaningsih ketika dalam pondongan Joko Pramono, kelihatan begitu penuh nafsu berahi, jari -jari tangannya membelai muka dan rambut pemuda itu, mukanya diangkat-angkat hendak mencium!
Setyaningsih yang rambutnya kusut dan wajahnya masih pucat itu memijit-mijit pelipisnya.
"Aku sendiri, tidak mengingat sesuatu. kepalaku masih pening sekali. Hanya sedikit yang kuingat. Malam tadi aku duduk berdua dengan suamiku, lalu datang seorang pelayan ibunda selir yang mengundangku untuk menemaninya makan minum sambil menikmati terang bulan di taman sari. Aku dan suamiku merasa sungkan untuk menolak, terpaksa pergi juga bersama pelayan itu. Di dalam taman sari, di pondok merah itu, aku menemani ibunda selir makan minum. Kemudian ibunda selir menyuguhkan secangkir anggur. Aku menolak, akan tetapi katanya anggur itu amat baik untuk seorang isteri muda yang belum mempunyai anak. Aku didesak, lalu dikatakan apakah aku takut diracun sehingga terpaksa untuk menghilangkan kecurigaan aku minum anggur itu yang rasanya manis dan berbau harum sekali. Setelah itu......... aku seperti dalam mimpi yang kacau. seperti hanya berdua dengan Kakangmas Pangeran ah, aku tidak tahu lagi apa yang telah terjadi. Tahu-tahu aku sadar dan telah berada di sini, berbaring di atas tanah dan melihat kalian berdua berkelahi seperti kemasukan setan!"
"Aha! Sudah mulai kelihatan belangnya sekarang!"
Tiba--tiba Joko Pramono berkata sambil menepuk pahanya sendiri. 'Pusporini, ceritakanlah pengalamanmu agar kita dapat membandingkan!"
Dengan suara trenyuh karena ia pun mulai dapat menduga akan jalannya tipu muslihat musuh dan hatinya penuh keharuan karena sikapnya tadi terhadap Joko Pramono, Pusporini lalu bercerita.
"Ki Mitra datang kepadaku malam tadi dan mengatakan bahwa Ayunda dan......... Joko......... mengadakan......... eh, pertemuan rahasia......... di taman sari, bahkan Ayunda dan Joko sudah lama mengadakan hubungan percintaan dan malam tadi bertemu di taman sari akan tetapi tertangkap basah dan akan ditangkap para pengawal yang dikerahkan oleh......... perempuan iblis itu ! Aku datang ke sana dan melihat Ayunda......... dalam pondongan......... ahhh, sudahlah......... , aku memang bersalah......... mataku seperti buta. !"
Pusporini menangis, kini tangisnya sukar dikatakan, apakah tangis itu karena menyesali perbuatannya ataukah tangis girang bahwa Joko Pramono tidak jadi direbut orang, ataukah kedua-duanya!
"Wah, jelas sudah sekarang!
Ini tentu tipu daya keji Suminten yang jahanam itu!
Sengaja diatur, mungkin sudah lama diaturnya dan dicari kesempatan ini.
Siasat untuk memecah-belah di antara kita dan sekaligus menghancurkan kita dengan dalih pelanggaran susila dan melawan para pengawal!
Dan hampir saja siasatnya berhasil."
Kembali pemuda ini meraba bibirnya yang menyendol dan pecah pinggirnya.
"Kalau tidak cepat-cepat aku menghindar, tentu kepalaku telah pecah sekarang dan andika berdua hanya akan menangisi sebuah mayat tiada gunanya lagi!"
"Joko !!"
Pusporini menubruk pemuda itu dan menangis sesenggukan di atas dadanya.
Joko Pramono mengejap-ngejapkan matanya menahan dua butir air matanya yang akan menitik turun saking terharu dan girangnya hati.
Pusporini yang penuh penyesalan, seperti lupa diri, lupa bahwa di situ terdapat Setyaningsih yang memandang dengan mata basah air mata.
Dia mengangkat mukanya dan dengan terisak-isak ia meraba pinggir bibir yang pecah itu, meraba dan membelainya, kemudian mengecup luka di bibir dengan halus.
"Joko, maafkan aku, Joko.........maafkan aku dan kau pukullah aku sebagai hukuman !"
Joko Pramono tersenyum lebar dan mendekap muka itu ke dadanya, erat-erat seolah-olah ia hendak menyimpan kepala dan wajah yang amat dicintanya itu ke dalam dadanya, dan takkan diperbolehkan keluar lagi.
Kemudian ia mencium dahi Pusporini dan memegang dagu gadis itu, diangkatnya muka yang basah itu menghadap mukanya, lalu ia berkata.
"Engkau? Dihukum pukulan? Wah, eman-eman (sayang). ! Kalau aku tadi tahu upahnya akan sebesar ini, mau rasanya aku menerima sebuah pukulanmu lagi."
"Kau memang ceriwis!"
Pusporini berkata, akan tetapi dengan sikap manja dan tangannya menampar lirih ke arah pipi Joko Pramono.
Pemuda itu tertawa dan menunduk, dengan mesra dan sepenuh cinta kasih hatinya ia mengambung pipi kiri Pusporini dengan hidungnya.
Sejenak Pusporini terlena dalam belaian mesra ini, akan tetapi tiba-tiba ia melepaskan diri dan mencela.
"Ihhh , tak tahu malu. Ada ayunda melihat kita!"
Joko Pramono yang sadar dari buaian asmara yang memabukkan, seakan-akan baru timbul dari keadaan tenggelam ke dalam perasaan bahagia yang tadi membuatnya lupa akan segala.
Cepat ia menghadapi Setyaningsih dan berkata.
"Maafkan kami, Ayunda, karena terharu kami sampai lupa diri, lupa akan kegawatan keadaan. Kita semua telah menjadi korban siasat buruk Suminten, dan sungguh mengkhawatirkan kalau mengingat akan keadaan Kakangmas Pangeran yang masih tertinggal di sana."
"Aku akan kembali ke sana dan membantu Kakangmas Pangeran lolos keluar istana!"
Pusporini yang agaknya ingin menebus kesalahan, kini mengajukan diri dengan suara tetap dan tabah.
"Biarkan aku saja yang pergi, Rini, engkau perlu menjaga dan menemani Ayunda di sini."
Kata Joko Pramono yang sebetulnya tentu saja merasa khawatir kalau Pusporini dibiarkan pergi sendirian memasuki tempat yang penuh dengan musuh-musuh itu dan yang ia tahu amat berbahaya.
Sebaliknya, Pusporini juga mengkhawatirkan keselamatan pria yang dicintanya karena tadi malam pun para pengawal hendak membunuh Joko Pramono.
Kalau pemuda itu kembali ke istana, bukanlah sama halnya dengan menyerahkan nyawanya?
"Tidak, Joko.
Mereka semalam memusuhimu, belum tentu akan memusuhi aku!"
Melihat betapa kedua orang muda itu berebut, Setyaningsih menghela napas, merangkul leher Pusporini sambil berkata.
"Kalian berdua tidak boleh kembali ke sana lagi setelah berhasil lolos. Karena suamiku berada di sana, maka akulah yang akan kembali ke sana. Aku harus berada di samping Kakangmas Pangeran, dalam keadaan bagaimanapun juga. Kalian berdua sebaiknya lekas pergi ke Panjalu dan memberi laporan kepada Rakanda Patih Tejolaksono dan Pangeran Dar mokusumo."
"Ah, berbahaya sekali, Ayunda!"
Joko Pramono berseru keras.
"Setelah iblis betina itu melakukan siasat fitnah keji, tentu dia tidak akan segan-segan melakukan hal yang lebih jahat lagi. Siapa tahu, Kakangmas Pangeran juga terjeblos ke dalam perangkap seperti kita, dan celakanya kalau Kakangmas Pangeran juga tertipu seperti halnya Diajeng Pusporini tadi. Jangan -jangan dia akan akan menganggap Ayunda tidak setia "
Setyaningsih menggeleng kepala dan tersenyum penuh keyakinan.
"Suamiku tidak akan meragukan kesetiaanku seujung rambut pun. Kakangmas Pangeran percaya penuh akan cinta kasih yang kami pupuk bersama."
"Yunda, aku akan ikut kembali ke sana karena aku tidak terima, aku akan menghancurkan kepala perempuan iblis Suminten!"
Kata Pusporini penuh amarah dan dendam terhadap selir raja yang amat cerdik dan keji itu.
"Benar, Ayunda. Biarkan kami ikut, selalu menemani dan mengawal Ayunda, juga kita bersama akan dapat lebih kuat melindungi dan membela Kakangmas Pangeran di sana. Selain itu, aku harus pula menangkap Ki Mitra yang entah mengapa telah menjadi palsu laporannya itu!"
Baru Pusporini teringat akan hal ini.
"Ki Mitra! Ah, dia tentu menjadi kaki tangan iblis betina itu, dan telah berkhianat! Aku pun ingin membagi sebuah tamparan di kepalanya!"
"Dia bukan Ki Mitra."
Suara ini terdengar tiba-tiba dari batik semak-semak, kemudian muncullah dua orang dari balik semak-semak itu.
Mereka adalah seorang pria setengah tua yang gagah perkasa dan seorang wanita muda yang berwajah manis.
Setyaningsih tidak mengenal mereka ini, akan tetapi Joko Pramono dan Pusporini berseru kaget dan girang.
"Paman Wiraman dan Widawati. !!"
Ki Wiraman lalu melangkah maju bersama Widawati dan bekas pengawal pilihan dari Jenggala ini cepat memberi hormat.
"Harap maafkan kami berdua. Sebetulnya telah lama kami berdua berada di balik semak-semak itu, memimpin belasan orang anak buah penyelidik. Akan tetapi melihat betapa andika berdua tadi bertanding hebat, kami tidak berani melerai dan baru setelah mendengar percakapan, hati kami lega dan berani keluar."
"Ah, tidak mengapa, Paman. Paman Wiraman, apa artinya ucapanmu tadi bahwa dia bukan Ki Mitra?"
Juga Pusporini memandang penuh pertanyaan, sedangkan Setyaningsih juga memandang penuh per hatian.
Ki Wiraman sebagai seorang pejuang yang banyak pengalaman tidak segera menjawab, melainkan memandang kepada Setyaningsih dengan sinar mata meragu dan penuh kecurigaan.
Dia tidak mengenal puteri cantik ini dan dia harus berhati-hati untuk menceritakan rahasia yang diketahuinya.
"Jangan khawatir, Paman. Ini adalah Ayundaku, Setyaningsih, isteri dari Rakanda Pangeran Panji Sigit yang kini masih tertinggal di istana Jenggala."
"Ah, maafkan keraguan hamba,"
Kata Ki Wiraman sambil menyembah dengan hormat, diturut pula oleh Widawati.
SEBAGAI cucu puteri mendiang Ki Patih Brotomenggala, tentu saja Widawati segera menghormat ketika mendengar bahwa puteri cantik ini adalah isteri Pangeran Panji seorang mantu sang prabu!
"Ayunda, dia ini adalah Paman Wiraman yang telah kuceritakan padamu."
Pusporini memperkenalkan bekas, pengawal itu kepada Setyaningsih. Setyaningsih memandang ke arah Widawati yang menundukkan mukanya sambil berkata.
"Dan dia ini tentulah Widawati, cucu kepatihan Jenggala yang bernasib malang itu?"
Widawati mengangkat mukanya dan dengan pandang mata sayu is menyembah dan menjawab.
"Tepat seperti dugaan paduka, hamba adalah Widawati."
Wiraman menarik napas panjang dan berkata.
"Sungguh berbahaya sekali keadaan paduka bertiga, dan masih untung dapat meloloskan did. Ketika saya mendengar paduka menyebut-nyebut nama Ki Mitra, maka yakinlah saya bahwa paduka telah ditipu karena Ki Mitra telah tewas beberapa bulan yang lalu. Hanya para penyelidik saya yang mengetahui bahwa Ki Mitra telah dibunuh oleh kaki tangan Pangeran Kukutan dan mayatnya dikubur dalam hutan. Mereka mengira bahwa tidak ada orang yang mengetahui rahasia itu!"
"Ahh !!"
Hampir berbareng Setyaningsih, Pusporini dan Joko Pramono berseru kaget.
Kalau mereka ingat betapa mereka mengajak Ki Mitra bicara tentang rahasia perjuangan mereka!
Kiranya Ki Mitra itu adalah Ki Mitra palsu!
Kaki tangan Pangeran Kukutan dan Suminten!
Terbukalah mata mereka kini bahwa sesungguhnya, semenjak menginjakkan kaki di Kerajaan Jenggala, mereka telah berada dalam cengkeraman Suminten dan sekutunya!
Mengerti bahwa semua yang terjadi telah direncanakan oleh Suminten yang licin bagai belut dan cerdik bagai setan itu!
"Wah, kalau begitu, Kakangmas Pangeran terancam bahaya."
Suara Setyaningsih mengandung isak tertahan karena gelisahnya memikirkan keselamatan suaminya.
"Kita harus kembali ke sana sekarang juga untuk menolong Rakanda Pangeran!"
Kata Pusporini.
"Tidak ada lain jalan! Kita mengamuk di istana Jenggala!"
Kata pula Joko Pramono.
"Hendaknya paduka bertiga bersabar,"
Kata Ki Wiraman dengan suara tenang dan penuh pengertian.
"Memang hanya orang-orang sakti seperti paduka bertiga yang agaknya akan dapat memasuki kota raja dan istana Jenggala, akan tetapi hendaknya bersabar dan jangan menggunakan kekerasan. Di sana selain banyak pengawal, juga hamba tahu banyak terdapat pembantu-pembatu rahasia yang sakti mandraguna. Kalau. menggunakan kekerasan, selain paduka akan menghadapi perlawanan yang kuat dan berbahaya, juga hal ini akan membahayakan keadaan Gusti Pangeran Panji Sigit. Sebaiknya dilakukan secara diam-diam dan di waktu malam."
"Apakah tidak akan terlambat, Paman? Kami hams menyelamatkan Rakanda Pangeran dan tangan mereka,"
Bantah Joko Pramono.
"Hamba kira tidak begitu. Gusti Sinuwun amat cinta kepada Gusti Pangeran Panji Sigit Sehingga mereka tidak akan begitu sembrono untuk mencelakai Gusti Pahgeran. Selain itu........ hemmm harap maafkan hamba, hamba sudah tahu bahwa Suminten menaruh hati kepada Gusti Pangeran. Sebaiknya malam nanti saja paduka bertiga menyelundup ke dalam kota raja dan diam-diam mengusahakan agar Gusti Pangeran Panji Sigit dapat lolos dari sana. Adapun hamba akan berjaga di luar kota raja dan mengirim laporan mengenai paduka sekalian ke Panjalu."
Mereka mengadakan perundingan dan tiga orang muda yang perkasa namun dalam hal pengalaman dan siasat tentu saja tidak dapat menang dari Ki Wiraman itu selalu mendengarkan nasehat dan pendapat Ki Wiraman.
Bahkan mereka banyak mendengar tentang keadaan Jenggala dari bekas pengawal ini dan terkejutlah hati mereka ketika mendengar bahwa sesungguhnya bukan hanya Pangeran Kukutan, Suminten dan Ki Patih Warutama yang menguasai Jenggala, melainkan kekuasaan-kekuasaan dari Sriwijaya dan Cola.
Ketika mereka bertanya kepada Ki Wiraman tentang Nini Bumigarba, Ki Wiraman menarik napas panjang dan berkata.
"Sungguh kasihan kalau hamba mengingat akan nasib Gusti Patih Tejolaksono dan keluarganya. Dua orang puteranya, Bagus Seta dan Retna Wilis, pergi dibawa orang maha sakti, entah berada di mana dan sampai kini tiada berita. Banyak orang pernah mendengar nama Nini Bumigarba, dan hamba sendiri pernah mendengar nama yang dihubungkan dengan nama Ni Dewi Sarilangking, seorang wanita iblis yang sudah terkenal semenjak jaman Mataram dahulu. Akan tetapi siapakah orang yang pernah melihatnya? Agaknya hamba kira tak mungkin nenek sakti itu ada hubungannya dengan mereka yang mencengkeram Jenggala, bahkan hamba masih ragu-ragu apakah wanita yang sudah terkenal di jaman Mataram itu benar-benar sekarang masih hidup! Tentu dia sudah berusia tidak kurang dari dua ratus tahun!"
Hari itu jugs, Ki Wiraman mengutus beberapa orang anak buahnya untuk pergi ke Panjalu dan membawa laporan-laporannya mengenai peristiwa yang terjadi di Jenggala yang dialami oleh empat orang muda perkasa itu.
Malamnya, sebelum bulan muncul dan keadaan masih gelap, Setyaningsih, Pusporini, dan Joko Pramono menyelundup masuk ke kota raja melalui dinding tembok, mempergunakan kesaktian mereka melompati dinding tembok yang tinggi.
Adapun Ki Wiraman dan Widawati memimpin sisa anak buah mereka mengadakan penjagaan di luar kota raja sambil terns menghubungi anak buah mereka yang mereka selundupkan sebagai mata-mata di dalam kota raja untuk mendengar apa yang terjadi dengan tiga orang muda yang berusaha menolong Pangeran Panji Sigit itu.
Dengan tubuh lemas dan semangat terbang, Pangeran Panji Sigit di malam hari itu melihat betapa Setyaningsih yang dipondong Pusporini dapat lolos, demikian pula Joko Pramono dan melihat betapa Pusporini, Joko Pramono bersama isterinya itu dapat keluar dari istana, dikejar-kejar oleh para pasukan pengawal yang dipimpin oleh Pangeran Kukutan sendiri.
Ia terlalu marah untuk dapat mengeluarkan suara, terlalu heran dan kaget menyaksikan adegan antara isterinya dan Joko Pramono sehingga is seolah-olah sejak melihatnya telah berubah menjadi sebuah arca, tak dapat bergerak sama sekali, tubuhnya lemas kakinya menggigil.
Sampai keadaan di dalam taman sunyi kembali karena suara pengawal yang melakukan pengejaran sudah terlalu jauh untuk dapat didengar dari situ, Pangeran Panji Sigit masih saja berdiri termenung dengan hati dan tubuh lemas.
Tiba-tiba sebuah tangan yang halus dan lemas, menyentuh pundaknya dengan mesra, dan bisikan suara Suminten menyusup ke dalam telinga kirinya.
"Pangeran, jangan khawatir, orang-orang jahat yang menyakiti hatimu itu pasti akan dapat tertangkap dan diseret di depan kakimu, Pangeran "
Suara bisikan yang lembut basah ini memasuki telinganya, mula-mula seperti air sewindu yang amat dingin, kemudian seperti ujung pisau runcing menusuk jantungnya, membuat Pangeran Panji Sigit tersentak kaget dari lamunannya dan ia cepat menoleh lalu membentak.
"Tidak........! Aku tidak percaya........ Ini semua tentu siasatmu........! tentu perbuatanmu. ! Aku tidak percaya isteriku akan berbuat keji dan hina. ! Bibir merah semringah itu tersenyum di belakang punggung Pangeran Panji Sigit yang sudah membuang muka membelakangi wanita itu. Karena senyum itu tidak sewajarnya timbul dari kegembiraan hati, maka bukan tersenyum lagi, melainkan menyeringai dan andaikata pangeran itu dapat melihatnya tentu akan makin curiga hatinya. Akan tetapi hanya sebentar, karena Suminten sudah berkata lagi, kini tidak berbisik karena dia ingin memaksa kata-katanya agar dapat sejelas mungkin menusuk kedua telinga pangeran yang tampan dan yang setiap kali ia temui membuat api dalam tubuhnya menggelora dan nafsunya menyengat-nyengat.
"Pangeran, mengapa andika tidak mau melihat kenyataan? Wanita adalah makluk lemah yang mudah tergoda. Lihatlah aku! Aku mencinta sang prabu, akan tetapi begitu melihat andika yang lebih gagah, aku tergila--gila dan bertekuk lutut terhadap gelora nafsu cintaku! Apalagi Setyaningsih yang masih muda belia! Dan Joko Pramono adalah seorang jantan muda yang memiliki daya tarik luar biasa sekali. Mungkin dalam hal ketampanan, dia tidak dapat mengatasimu, Pangeran. Akan tetapi, dia lebih gagah, tubuhnya lebih kuat seperti seekor banteng muda! Dan Setyaningsih adalah seorang wanita muda yang sejak kecil hidup bersama Endang Patribroto! Andika mangenal siapa Endang Patibroto! Isteri rakandamu Pangeran Panji Rawit dan belum lama ditinggal mati suaminya sudah menjadi kekasih Tejolaksono! Mana mungkin kesetiaannya dapat dipercaya? Andika baru melihat dia membelai Joko Pramono dan merangkul mesra, sayang keburu datang para pengawal dan Pusporini perempuan setan itu. Kalau tidak, tentu andika akan dapat menyaksikan adegan yang lebih mesra lagi antara Setyaningsih dan Joko Pramono........ ahhh, kalau saja andika dapat melihat apa yang kusaksikan sendiri mereka berkasih-kasihan di luar taman, di atas rumput seperti dua ekor menjangan muda, bergelut mesra bercumbu-cumbuan "
"Diam........!! Diammmmm.........!! Diammmm !!!"
Pangeran Panji Sigit berteriak-teriak seperti orang gila, menubruk ke depan dan menggunakan kepalan tangan kanannya menghantam batang pohon tanjung yang tumbuh di taman sari itu sehingga pohon itu berguncang dan daun-daun kuning rontok.
Akan tetapi karena ia memukul batang pohon karena kemarahan dan sakit hati, tanpa mengerahkan aji kesaktiannya, maka kulit tangannya pecah-pecah berdarah dan tangannya membengkak.
Kemudian pangeran ini terisak-isak dan menyandarkan dahinya pada batang pohon, mulutnya berteriak-teriak lemah seperti berbisik-bisik.
"Tidak......... , tidak........ tidak. !!!"
Akhirnya pangeran itu terkulai lamas dan roboh pingsan.
Pukulan batin itu terlalu hebat baginya.
Betapa pun ia menggunakan kekuatan batinnya untuk menolak dan tidak percaya bahwa isterinya akan berbuat serong, berjina dengan Joko Pramono, namun kedua matanya menyaksikan sendiri isterinya membelai-belai Joko Pramono, dan andaikata ada keraguan, maka keraguan ini disapu hilang oleh teriakan Pusporini yang memaki Joko Pramono ceriwis, cabal, dan mata keranjang!
Pangeran Panji Sigit tidak tahu betapa dalam keadaan pingsan itu, bibir dan seluruh mukanya diciumi oleh bibir Suminten yang sudah tak dapat menahan nafsunya, kemudian wanita ini dengan muka mangar-mangar kemerahan bertepuk tangan.
Muncullah empat orang pelayan wanita kepercayaannya dan ia lalu memerintahkan mereka menggotong tubuh pria yang membuatnya tergila--gila ini ke dalam kamarnya.
Malam telah lama lewat dan hari telah menjelang siang ketika Pangeran Panji Sigit siuman dari pingsannya dan ia mendapatkan dirinya telah rebah di atas sebuah pembaringan yang lunak harum di dalam kamar yang indah dan........
sebuah lengan yang lunak.
halus melintang di atas dadanya, pernapasan yang halus terdengar di sebelah kanannya.
Ketika ia menoleh ke arah si pemilik lengan dan si pembuat napas, kiranya Suminten yang memeluknya dalam keadaan pulas!
Suminten dengan wajahnya yang manis, rambut terurai lepas merupakan satu-satunya alat penutup tubuh, sama dengan keadaan dirinya sendiri yang hanya berselimut kain merah.
Raden Panji Sigit mengerutkan kening, teringat akan semua peristiwa semalam, tahu bahwa dia telah di bawa ke dalam kamar Suminten, dan tidur sepembaringan dengan ibu tirinya itu, pembaringam yang biasanya ditiduri ramandanya!
Ia menjadi muak dan cepat menurunkan lengan yang melintang di atas dadanya, kemudian melompat turun,menyambar pakaiannya dan mengenakan pakaian tergesa--gesa.
Suminten menggeliat, mengeluarkan suara seperti seekor anak kucing manja dan mau tidak mau Pangeran Panji Sigit hams memandang tubuh yang amat indah dan memiliki daya tarik menggairahkan dan merangsang nafsu berahi itu.
Namun ia menekan semua gelora batinnya yang mulai bangkit ini dengan kesadaran betapa jahat, keji, dan berbahayanya selir ramandanya ini.
Suminten membuka mata, dimulai dengan berkejapnya bulu mata yang lentik itu, kemudian matanya terbuka dan seperti seorang kaget wanita ini bangkit duduk, membiarkan rambutnya yang panjang menjadi tirai jarang di depan dadanya yang telanjang sehingga mencipta penglihatan yang dapat meruntuhkan hati setiap orang pria.
"Ouhhhh........Pangeran, andika sudah siuman? Syukurlah.......aduhh, andika amat mencemaskan hatiku........ semalam suntuk kujaga di sini belum juga siuman, sampai akhirnya aku tertidur di sampingmu. Marilah ke sini, Pangeran "
Pangeran Panji Sigit mengerutkan keningnya dan menggeleng.
"Terima kasih, saya akan pergi "
"Ehhh, jangan pergi, Pangeran. Andika masih perlu istirahat. Ke sinilah, mari rebah di sini, lupakan segala kesedihan. Suminten akan menghiburmu, Pangeran, Suminten mencintamu dengan seluruh jiwa raganya, dengan seluruh hatinya, setiap helai bulu di tubuhnya mencintamu, Pangeran "
Pangeran Panji Sigit bergidik.
Bukan main wanita ini.
Siapa yang terjerat oleh wanita seperti ini, yang memiliki wajah cantik manis, memiliki tubuh yang menggairahkan, memiliki suara yang merangsang nafsu, kiranya takkan mudah dapat melepaskan diri lagi.
Suminten sudah turun dari pembaringan sehingga kini tidak ada bagian tubuhnya yang tertutup selimut.
Ia lari menghampiri dan memeluk pinggang pangeran itu dengan kemanjaan yang memikat hati.
"Pangeran, tak tahukah engkau betapa siang malam Suminten selalu merindukanmu? Marilah........ bersikaplah manis kepadaku, Pangeran, dan Suminten akan mencipta surga untukmu."
Ia meraih ke atas, berdiri jinjit untuk mencapai bibir Pangeran Panji Sigit dengan mulutnya.
Pangeran itu membuang muka dan mendorong pundak Suminten sehingga wanita ini terjengkang dan jatuh terlentang di atas pembaringan.
"Tak perlu andika merayuku! -Aku sudah tahu siapa dan orang macam apa andika ini! Aku akan pergi dari istana terkutuk ini, sekarang juga!"
Sambil berkata demikian, tanpa menoleh lagi Pangeran Panji Sigit sudah melangkah menuju pintu untuk keluar.
"Engkau kasar sekali, Pangeran! Tak tahu dicinta orang! Hi-hik, apa kaukira aku tidak tahu akan segala tugas rahasiamu? Engkau mata--mata Panjalu, mengkhianati kerajaan ramamu sendiri! Hihi-hik, kaukira akan mudah saja keluar dari sini? Ratusan orang pengawal sudah mengurung dan siap menanti tanda dariku untuk menyambutmu dengan seratus batang anak panah, seratus buah golok dan seratus batang tombak!"
Pangeran Panji Sigit telah tiba di pintu dan dibukanya daun pintu kamar itu.
Ia melihat betapa tak jauh dari situ,di luar gedung telah berdiri barisan pengawal yang mengurung gedung itu dengan senjata lengkap di tangan!
Wanita ini tidak membohong.
Tak mungkin dia dapat lobos dari tempat ini dan agaknya untuk menerobos penjagaan demikian ketat merupakan hal yang berbahaya sekali.
Ia menoleh dan melihat betapa Suminten sudah mengenakan pakaiannya, kini sedang memasang hiasan daun telinga sambil miringkan muka yang manis itu, yang memandangnya dengan kerling tajam dan senyum mengejek.
Betapa ayu dan luwesnya wanita ini!
Kalau bukan selir ramandanya dan bukan seorang wanita yang berwatak iblis!
Tiba-tiba Pangeran Panji Sigit tersenyum dan sinar matanya berkilat.
Sekali melompat dia telah berada di dekat wanita itu yang memandangnya dengan mata terbelalak.
Agaknya Suminten dapat melihat sinar mata itu dan terkejut.
"Engkau........ mau apa ?"
Tanyanya dengan mata terbelalak.
"Tidak apa-apa, hanya akan keluar dengan aman dari istana ini, bahkan dari Kerajaan Jenggala, dan engkau yang akan menjadi pengawalku sampai aku terbebas dari ancaman orang-orangmu!"
"Apa. ?"
Akan tetapi seruan Suminten terpaksa berhenti karena Pangeran Panji Sigit telah menjabak rambutnya , rambut yang halus hitam dan panjang, yang amat lemas mengkilap karena setiap hari dikeramasi air bunga dan diminyald yang harum dan selalu dikagumi setiap orang pria yang pernah merasai kenikmatan menemani wanita ini di kamarnya.
Kini rambut itu dijambak dengan kasar dan hampir Suminten tak dapat percaya akan kenyataan ini.
Seluruh tubuhnya telah ia sediakan, dengan rela hendak ia serahkan kepada pemuda tampan ini, tubuhnya yang dapat meruntuhkan kerajaan yang ia yakin akan diperebutkan oleh laksaan orang pria.
Akan tetapi sekali ini sama sekali tidak ada pengaruhnya terhadap pangeran yang mengingatkannya akan Pangeran Panji Rawit ini, yang sekaligus merampas hatinya, merampas cinta kasihnya yang selamanya belum pernah ia jatuhkan kepada seorang pria kecuali kepada mendiang Pangeran Panji Rawit.
Baru sekali ini, semenjak Pangeran Panji Rawit, ada pria yang menolak tubuhnya, namun yang sekaligus malah membangkitkan gairahnya karena penolakan itu.
"Tidak perlu ribut-ribut. Mungkin kalau engkau berteriak, para anjing pengawalmu itu akan mengeroyokku sampai tewas, akan tetapi sebelum mereka sempat melakukan hal itu, lebih dulu aku akan memukul pecah kepalamu! Engkau menurut saja, kawal aku sampai lolos dari kerajaan dan aku tidak akan membunuhmu, biarpun engkau sudah sepatutnya dibunuh!"
Sambil berkata demikian, Pangeran Panji Sigit lalu menggandeng tangan Suminten keluar dari kamar itu.
Suminten yang maklum bahwa kalau ia melawan, tentu pangeran ini tidak akan segan-segan untuk membunuhnya, menjadi pucat mukanya, menggigit bibirnya dan mendesis.
"Engkau kejam, engkau tak tahu dicinta orang. Ada jalan ke surga, mengapa memilih neraka?"
"Tak usah banyak rewel. Surgamu merupakan jalan menuju neraka bagiku!"
Jawab Pangeran Panji Sigit sambil menarik tangan ibu tirinya itu keluar dari gedung.
"Pangeran Panji Sigit, engkau dikhianati isterimu dan sahabatmu, mau apa engkau pergi dari sini? Apakah engkau hanya ingin dijadikan bahan tertawaan dan ejekan orang? Tinggal saja di sini sebagai seorang pangeran terhormat dan kalau engkau ingin menjadi pangeran pati."
"Cukup, tak usah banyak cakap lagi dan jangan mencoba untuk melawan. Aku tidak main-main dan engkaulah orangnya yang akan tewas lebih dahulu, kalau ada yang menghalangi aku."
Suminten mengeluarkan isak tertahan dan tidak bersuara lagi.
Para pengawal yang melihat Suminten keluar bergandeng tangan dengan Pangeran Panji Sigit, tidak menjadi heran karena memang selir muda ini sudah biasa menggandeng para pangeran muda yang tampan.
Akan tetapi keadaan dua orang muda itu yang mengherankan para pengawal.
Pakaian mereka kusut, rambut juga belum disisir, bahkan agaknya baru bangun tidur.
Wajah dua orang itu sama sekali tidak membayangkan kemesraan, bahkan kelihatan kaku dan keruh.
Namun para pimpinan pengawal tidak berani bertanya, hanya memimpin anak buahnya untuk memberi hormat kepada selir muda yang sesungguhnya menjadi junjungan pertama mereka itu.
"Jaga di sini baik-baik, aku hendak pergi berjalan-jalan sebentar dengan puteranda pangeran,"
Kata Suminten, suaranya tenang dan biasa sungguh pun mukanya keruh.
Pangeran Panji Sigit menarik napas lega.
Ia tadi sudah siap untuk memukul pecah kepala wanita ini lebih dulu sebelum mengha dapi pengeroyokan.
Akan tetapi, ucapan Suminten itu membuka jalan ke arah kebebasan baginya dan ia terus menggandeng tangan wanita itu yang mulai terasa dingin, keluar dari lingkungan istana.
Akan tetapi Pangeran Panji Sigit terlalu memandang rendah Suminten dan anak buahnya.
Biarpun tadi Suminten mengeluarkan kata-kata yang membuka jalan kebebasan baginya, namun tanpa ia ketahui, Suminten telah membuat gerakan dengan jari tangannya yang dilihat oleh pimpinan pengawal.
Gerakan jari tangan yang merupakan isyarat bahwa ada sesuatu yang tidak beres sehingga begitu Suminten dan pangeran muda itu lewat, pemimpin pengawal segera lari menemui Pangeran Kukutan dan melaporkan hal itu.
"Hamba khawatir sekali, gusti. Kepergian beliau agaknya bukan sewajarnya, melihat dari wajah beliau yang keruh,"
Demikian pengawal itu menutup pelaporannya.
Pangeran Kukutan mengerutkan keningnya.
Hatinya sebetulnya sudah merasa tidak senang sekali melihat betapa Suminten mengeram Pangeran Panji Sigit dalam kamarnya.
Dia bukan seorang pecemburu.
Tidak, terhadap Suminten dia tidak bisa merasa cemburu lagi.
Mereka sudah saling mengenal dan saling bersepakat untuk mendapat kebebasan sepenuhnya dalam memilih kekasih.
Setiap malam wanita itu boleh saja berganti pria yang menemaninya.
Akan tetapi Pangeran Panji Sigit ini lain lagi.
Bukankah pangeran muda itu satu-satunya pangeran yang amat disayang ramandanya?
Bukankah sebelum ia diangkat menjadi pangeran pati, sebetulnya ramandanya lebih condong untuk memilih Pangeran Panji Sigit menjadi pangeran pati atau, pangeran mahkota?
Kini Suminten merayu pangeran yang menjadi musuh utama atau menjadi saingan terberat baginya itu.
Setelah berhasil memecah-belah empat orang itu, mengapa tidak turun tangan menangkap Pangeran Panji Sigit?
Saatnya tepat, kesempatan terbuka untuk menjatuhkan tuduhan bahwa pangeran itu mempunyai niat memberontak dan berkhianat kepada kerajaan, dengan bukti terbunuhnya banyak pengawal di tangan Pusporini dan Joko Pramono!
Juga banyak saksi-saksi, di antaranya yang terpenting adalah pembantunya yang menyamar sebagai Ki Mitra, yang telah mendengar akan siasat mereka sebagai pembantu-pembantu Darmokusumo dan Tejolaksono dari Panjalu, menjadi mata-mata menyelidiki keadaan kerajaan ramandanya sendiri!
"Biar kukejar dan tangkap keparat itu"
Pangeran Kukutan berkata lalu cepat pergi, tentu saja bukan untuk menangkap dengan kedua tangan sendiri karena dia merasa jerih terhadap Pangeran Panji Sigit yang kini telah menjadi seorang pria yang amat sakti itu.
Dia pergi menemul Cekel Wisangkoro yang kebetulan sekali malam tadi datang berkunjung secara diam-diam dan kini berada di dalam kamar yang disediakan untuk tamu-tamu rahasia yang dihormati.
Dengan mudah Pangeran Panji Sigit dapat lobos keluar dari istana, akan tetapi barn saja ia menggandeng Suminten keluar dari pintu gerbang lapis ke tiga, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan kuning dan dari atas pintu gerbang itu menerjangnya dengan sebatang tongkat yang berbentuk ular hitam.
Serangan ini cepat sekali datangnya, tongkat berubah menjadi sinar hitam yang mengeluarkan suara mengaung sebagai tanda betapa cepat dan kuatnya tongkat digerakkan menghantam ke arah kepala Pangeran Panji Sigit!
"Pengecut!"
Pangeran muda itu mengelak dan menjatuhkan diri ke belakang terus berjungkir balik dan meloncat agak jauh untuk menghindarkan diri dari ancaman maut itu.
Ketika ia berdiri tegak memandang, ia melihat Pangeran Kukutan sudah menggandeng tangan Suminten, dan di depannya menghadangi seorang kakek tinggi kurus bermuka halus kemerahan, akan tetapi hidungnya seperti paruh kakaktua, rambutnya yang penuh uban terurai panjang sampai di pinggangi jubahnya kuning baru dan bersih akan tetapi kakinya telanjang dan tongkat hitam yang berbentuk ular itu memang sesungguhnya seekor ular besar yang sudah dikeringkan!
Di sebelah kanan kakek mi berdiri Ki Patih Warutama yang tersenyum mengejek sehingga Pangeran Panji Sigit menjadi marah sekali.
"Ah, kiranya persekutuannya telah lengkap sekarang!"
Kata Pangeran Panji Sigit.
"Aku ingin sekali mendengar apa yang akan dikatakan ramanda sinuwun. kalau dapat menyaksikan selirnya, patihnya, dan puteranya untuk menjatuhkan aku, dibantu oleh seorang pendeta palsu!"
"Pangeran Panji Sigit, memang akan menarik sekali kalau andika mendengar perintah sang prabu yang baru saja dijatuhkan kepada saya, yaitu bahwa saya diberi wewenang untuk membasmi dan membunuh andika dan tiga orang sekutu andika yang telah berkhianat dan menjadi mata-mata yang menyelidiki Kerajaan Jenggala!"
"Omongan keji dan bohong! Andaikata kanjeng rama mengeluarkan perintah seperti itu pun hanya karena fitnah yang kalian jatuhkan! Kalian adalah persekutuan busuk yang hendak merampas Kerajaan Jenggala dengan cara keji dan halus, membunuhi para ponggawa setia, menjauhkan kanjeng rama dari hamba-hamba setia agar dapat kalian kuasai! Aku tahu! Ya, aku tahu akan semua kepalsuan kalian!"
"Keparat bermulut lancang kau!"
Pangeran Kukutan memaki.
"Paman patih dan Paman Cekel, harap lekas turun tangan membunuh pengkhianat ini!"
Cekel Wisangkoro, kakek itu, terkekeh dan kembali ia menerjang maju dengan tongkat ularnya.
Pangeran Panji Sigit yang sudah menjadi marah dan nekad sekali melakukan perlawanan, mengelak ke kiri sambil balas memukul dengan sebuah tamparan ke arah kepala kakek itu.
Namun, Cekel Wisangkoro adalah murid yang sakti dari Wasi Bagaspati, sambil terkekeh ia menangkis pukulan itu dengan tangan kirinya sehingga kedua lengan itu beradu,membuat sang pangeran terjengkang ke belakang sambil terhuyung, sedangkan kakek itu hanya mundur dua langkah.
"Heh-heh, Pangeran Muda, lebih baik menyerah dan siap menerima hukuman!"
Kata kakek itu dengan nada memandang rendah.
"Paman Cekel, bunuh saja!"
Bentak Ki Patih Warutama yang telah berunding dengan Pangeran Kukutan dan mendapatkan kata sepakat untuk membunuh Pangeran muda yang berbahaya ini.
Dia sendiri sudah menerjang maju, gerakannya seperti kilat menyambar, bahkan ki patih ini sekali maju telah mencabut kerisnya yang mengeluarkan sinar kehijauan, yaitu keris pusaka Naga-kikik yang berluk tujuh.
Melihat sambaran sinar hijau ini, Pangeran Panji Sigit terkejut dan kembali ia terpaksa membuang diri ke belakang dan melakukan loncatan berjungkir-balik.
Namun ban' saja ia berdiri tegak, sinar hitam tongkat Cekel Wisangkoro sudah menyambar dari arah samping.
Biarpun pangeran ini cepat mengelak, namun ujung tongkat itu masih menciumnya, membuatnya jatuh terguling.
Betapa pun juga, pangeran muda ini bukan seorang lemah dan memiliki keberanian yang didorong kenekadan luar biasa.
Ia mengerti bahwa lawan-lawannya akan mengirim serangan maut, maka begitu tubuhnya terjatuh, ia menggunakan kedua tangan menekan tanah dan sambil mengeluarkan teriakan keras, ia mencelat ke atas mengirim tendangan ke arah lawan terdekat, yaitu Ki Patih Warutama!
Serangan ini tidak terduga-duga datangnya sehingga biar pun ki patih yang sakti itu cepat miringkan tubuh, pahanya masih saja kena didupak sehingga ia pun terpelanting jatuh berbareng dengan terpelantingnya tubuh Pangeran Panji Sigit yang kembali kena dihantam pundaknya dengan tongkat ular di tangan Cekel Wisangkoro!
Dengan gemas Pangeran Kukutan meloncat maju dengan pedang di tangan, siap ditabaskan ke batang leher adik tirinya, akan tetapi tiba-tiba terdengar jerit Suminten.
"Jangan bunuh! Tangkap saja dia! "
Suara selir raja ini amat berpengaruh sehingga pada saat itu, tiga orang yang sudah siap dengan senjata di tangan itu, menarik kembali senjata mereka dan Ki Warutama menubruk ke depan, menelikung kedua lengan Pangeran Panji Sigit yang masih merasa lumpuh tangannya karena pukulan tongkat pada pundaknya.
Ia dibelenggu dan digiring kembali di dalam istana, kemudian atas perintah Suminten, pemuda bangsawan itu dijebloskan ke dalam kamar tahanan bawah tanah yang tersedia di dalam lingkungan istana.
Atas perintah yang sangat dari Suminten, pangeran muda itu biarpun menjadi seorang tawanan namun is ditempatkan di dalam sebuah kamar di bawah tanah yang cukup indah dan menyenangkan, sama sekali bukan sebagai kamar tahanan, melainkan sebuah kamar tidur yang lengkap dengan pembaringan indah dan sutera-sutera berkembang menghias kamar.
Akan tetapi, untuk mencegah pangeran muda yang berani dan nekat ini memberontak dan melarikan din, kaki dan tangannya dibelenggu dengan belenggu baja, bahkan lehernya juga dibelenggu sehingga biarpun Pangeran Panji Sigit dapat bergerak bebas dalam kamar, namun sukarlah baginya kalau hendak mencoba melarikan diri.
Pangeran Panji Sigit termenung di dalam kamar tahanan itu.
Hidangan dan minuman lezat yang disuguhkannya tidak disentuhnya.
Ia duduk termenung di atas pembaringannya dengan wajah pucat dan Pandang mata yang suram, kening berkerut.
Ia tidak merasa susah karena menjadi tawanan, bahkan menghadapi kematian pun ia tidak akan gentar.
Ia merasa bahwa lebih baik mati daripada hidup menanggung siksa bath yang hebat.
Isterinya, Setyaningsih yang amat dicintanya, telah berjina dengan Joko Pramono!
Ia terlalu mencinta isterinya dan setelah kini ia renungkan, ia rela mengalah, ia rela tersiksa asal isterinya berbahagia.
Kalau isterinya menemukan kebahagiaan dengan Joko Pramono, biarlah ia yang mundur dan jalan terbaik untuk mundur mengalah adalah mati!
Kalau ia mati, berarti tidak akan ada kesukaran dan halangan lagi bagi Setyaningsih untuk melanjutkan hasrat hatinya berlangen-asmoro (bermain cinta) dengan Joko Pramono dan dia pun tidak akan menderita batin lagi karena kematian akan membebaskannya dari segala derita.
Akan tetapi, sebagai seorang satria, tentu saja la tidak boleh mati begitu saja.
Masih banyak sekali tugas menanti, terutama sekali menyelamatkan ramandanya dan Kerajaan Jenggala dari cengkeraman oknum-oknum jahat.
"Duhai Adinda Setyaningsih, betapa tega hatimu "
Ia mengeluh panjang dan pada saat itu masuklah sesosok bayangan melalui pintu yang dikunci dari luar.
Di dalam kamar itu mulai gelap karena Pangeran Panji Sigit tidak menyalakan lampu, sedangkan senja telah mendatang.
Maka ia menjadi kaget ketika kamar itu tiba-tiba menjadi terang oleh lampu yang dibawa masuk orang.
Ia cepat menengok dan kembali ia membuang muka ketika melihat bahwa yang datang adalah Suminten!.
Malam itu Suminten berusaha benar-benar untuk mengambil hati Pangeran Panji Sigit.
Ia bersolek dengan teliti dan pada saat itu ia tampak amat cantik.
Kulitnya yang halus hitam manis itu kelihatan seperti keemasan, halus lembut dan seolah-olah kehangatan terpancar keluar dari balik kulit itu.
Ketika ia melangkah masuk, kamar itu serta merta penuh dengan keharuman yang amat sedap dan seolah-olah segala macam bunga yang harum dikumpulkan dan sarinya berada di tubuh wanita ini.
Rambutnya yang hitam panjang dan halus mengkilap itu disisir rapi, sebagian disanggul dan dihias pengikat rambut dari emas bertabur batu permata, ujung rambut masih terurai panjang sampai ke pinggulnya.
Sepasang telinganya hinggap di belakang rambut pelipis bagaikan sepasang kupu-kupu menghisap madu bunga, menjadi lebih manis lagi karena dihias anting-anting panjang terbuat dari mutiara yang diuntai seperti embun berantai tergantung di ujung daun.
Alisnya amat hitam, menjerit bukan dibuat, memang sudah sewajarnya rambut alis itu tumbuh amat rapi melindungi sepasang matanya yang seolah-olah selalu mengeluarkan api gairah asmara yang membakar.
Sepasang mata dengan bulu mata lentik panjang, yang selalu agak meredup, apalagi di saat itu, di waktu hatinya bergelora oleh asmara, mata itu kelihatan seperti mata yang mengantuk dan justeru keredupan matanya inilah yang menambah daya tariknya yang luar biasa.
Hidung kecil mancung itu amat bagus bentuknya, akan tetapi bukan apa-apa kalau dibandingkan dengan mulut di bawahnya.
Memang keistimewaan Suminten, di samping seluruh bagian tubuhnya yang menarik, terutama sekali terletak pada mata dan mulutnya.
Mata dan mulutnya itu merupakan sumber-sumber yang penuh api membara, api yang dapat membakar nafsu berahi setiap orang pria.
Mata dan mulut yang indah bentuknya dan membayangkan ketelanjangan yang menantang!
Suminten menghampiri Pangeran Panji Sigit yang membuang muka.
Ketika melangkah maju, pinggulnya yang ramping seperti patah-patah dan pinggulnya yang menonjol keras mengimbangi dadanya itu bergerak-gerak.
"Duh Pangeran "
Suminten merapatkan tubuhnya,sengaja menekankan dadanya yang membusung itu ke pangkal lengan Pangeran Panji Sigit suaranya menggetar ketika memanggil napasnya agak terengah karena begitu menyentuh pangeran itu, darahnya telah mendidih, nafasnya menggelora menuntut pelepasan.
Tangan kirinya merangkul pundak, tangan kanannya menggerayang dada pangeran muda itu.
"Duh Pangeran, mengapa begin jadinya. ??"
Suminten mengeluh lagi dan sekali ini dia tidak berpura--pura, bukannya merayu sembarang merayu, melainkan secara sungguh-sungguh karena dia benar-benar jatuh cinta kepada pemuda ini.
Dua titik air mata yang mengalir di atas pipinya bukanlah air mata palsu, melainkan timbul dari hatinya yang merasa nelangsa mengapa pemuda ini tidak mau menyambut cinta kasihnya, bahkan rela menjadi tawanan dan rela pula menghadapi maut.
Tanpa menoleh, Pangeran Panji Sigit berkata kasar.
"Mau apa engkau, wanita iblis? Pergilah, aku sudah tertawan, mau bunuh atau mau siksa, terserah. Aku tidak takut mati!"
"Pangeran Panji Sigit, butakah engkau, wahai pria pujaan hamba? tidak tahukah atau memang pura-pura tidak tahu betapa Suminten mencintamu dengan seluruh jiwa raganya? Aduh Pangeran, sungguh, aku akan mempertaruhkan nyawaku untukmu! Tunjukkanlah bahwa engkau seorang pria yang suka kepadaku, akan membalas cinta kasihku, dan, percayalah, aku dapat membuat engkau menjadi Putera Mahkota Kerajaan Jenggala! Kelak, kalau engkau sudah menjadi Raja Jenggala, aku Suminten akan cukup puas kalau engkau tidak melepaskanku, akan selalu mendampingiku, menguburku dengan timbunan cinta kasihmu, sayang "
Pangeran Panji Sigit adalah seorang manusia biasa, seorang pria yang masih muda.
Menghadapi cumbu rayu seorang wanita muda cantik jelita seperti Suminten ini benar-benar terasa amat berat baginya untuk mempertahankan hatinya.
Ia merasa betapa daging lembut mendekap di bahunya, merasa betapa jantung di balik dada itu berdenyar-denyar penuh hembusan nafsu berahi, mendengar getaran penuh kemesraan dalam suara yang berbisik-bisik itu, merasa hembusan napas yang hangat dari mulut yang merah menantang, merasa betapa jari-jari tangan yang membelai dada dan lehernya mengeluarkan getaran-getaran yang membuat dia merinding.
Dapatkah kita menyalahkan Pangeran Panji Sigit kalau jantungnya sendiri mulai berdebar?
Apalagi mendengar bujukan yang amat muluk itu.
Dia akan dijadikan putera mahkota, calon pengganti ramandanya!
Akan tetapi, ia mengingat akan kekejian wanita ini dan tanpa menoleh ia membentak.
"Tak perlu membujukku, pergilah kau wanita berhati palsu!"
"Aduh, Pangeran Panji Sigit. Tak dapatkah engkau membedakah antara cinta sejati dan cinta palsu? Pangeran, kalau memang cintaku palsu, tentu aku tidak berani datang mengunjungimu di saat ini. Engkau dan aku tahu bahwa kalau engkau kehendaki, dengan mudah engkau akan dapat membunuhku di saat ini tanpa ada yang dapat menolongnya. Akan tetapi aku tidak perduli.. Bunuhlah kalau kau mau membunuhku; karena kalau engkau menolak cintaku, berarti engkau sudah setengah membunuhku! Duh Pangeran, dari debar jantungmu, aku tahu bahwa engkau bukan, seorang pria berdarah dingin. Aku tahu bahwa di sudut hatimu, engkau juga mencinta Suminten "
"Tidak pergilah !!"
Akan tetapi Suminten telah merasa betapa di balik kulit dada bidang yang dibelai ujung jari tangannya itu berdebar, betapa rongga dada itu bergelora, kulitnya menjadi panas, urat-urat di leher pangeran itu menjadi berdenyut-denyut, mukanya kemerahan dan pandang matanya merenung, nafasnya memburu.
Semua ini menjadi tanda akan bangkitnya nafsu berahi yang menjalar dari tubuhnya kepada pangeran itu.
Melihat tanda-tanda yang amat dikenalnya ini, Suminten tersenyum dan cepat ia menarik leher pangeran itu dengan kedua lengannya yang bulat panjang, seperti dua ekor ular lengannya.
membelit leher, bergantung sehingga muka pangeran itu menunduk dan dengan sepenuh cinta kasih dan kemesraannya, Suminten mencium bibir Pangeran Panji Sigit dengan mulutnya.
Begitu mesra belaian dan ciuman wanita ini sehingga pangeran muda itu kehilangan akal dan kesadaran, himpir secara otomatis Pangeran Panji Sigit membalas ciuman itu dengan napas terengah karena dorongan nafsu berahi yang dibangkitkan oleh Suminten yang amat pandai merayu.
Pada saat mulut mereka berciuman, Suminten tak dapat menahan hatinya, sehingga naiklah gelak tawa dari dalam dadanya yang tertahan di mulut yang sedang berciuman.
Suara ini, suara gelak...tertahan ini, memasuki telinga Pangeran Panji seperti suara ketawa iblis sendiri..yang mengejek dan menyorakinya.
Jiwa satria dalam diri Pangeran Panji Sigit meronta mendengar ini, kesadarannya kembali dan ia cepat merenggut mukanya dari pagutan wanita itu, dari ciuman yang seperti gigitan seekor lintah.
Kemudian, terbawa oleh rasa sesal mengapa ia tadi melayani belaian dan cumbuan Suminten, Pangeran Panji Sigit menggerakkan tangan kanannya menampar pipi yang halus, harum dan hangat itu.
"Plakkk. !!"
Tamparan itu keras sekali dan tubuh Suminten terpelanting lalu roboh terguling di atas lantai.
Wanita itu menjerit kecil, kini bangkit dengan muka merah dan pipi sebelah kirinya membiru.
Ia mengelus pipi kirinya dengan tangan kiri, menengadah memandang pangeran itu dan tersenyum!
"Pangeran, tamparan keras itu tidak dapat menghapus kebahagiaan hatiku telah merasai belaianmu tadi.
Pangeran, marilah....
marilah ke sini.
kita saling mencinta, tak perlu disangkal lagi mari bersama Suminten, Pangeran Kemudian, engkau akan membunuhku, atau akan lebih suka menjadi calon raja, terserah kepadamu aku siap menyerahkan jiwa dan ragaku kepadamu, Pangeran ......"
Pangeran Panji Sigit terbelalak memandang wanita yang, setengah rebah di atas lantai itu.
Ketika terguling tadi, rambut Suminten terlepas sanggulnya dan terurai kacau, kembennya.
merosot dan kainnya tersingkap sampai ke paha.
Tubuh yang ramping padat itu meliuk-liuk, seperti seekor ular kepanasan, penuh daya memikat sehingga ada dorongan hasrat di hati Pangeran Panji Sigit untuk melompat, menerkam wanita itu dan melahap hidangan yang disediakan untuknya dengan kerelaan yang menggila, bahkan hampir mengharukan!
Wanita ini, betapa pun jahat dan kejinya, benar-benar mencintanya, bukan hanya cinta nafsu, melainkan cinta tulus ikhlas yang aneh, cinta yang didasari kesiapan untuk berkorban apa juga.
Akan tetapi saat itu Pangeran Panji Sigit sudah sadar betul sehingga semua dorongan nafsu berahi telah dapat ia tolak dan lenyapkan.
Ia memandang dan sinar matanya menjadi dingin sekali.
Wanita ini telah mencelakakan ramandanya, telah mencelakakan kerajaan, telah melakukan banyak kekejaman, menyebabkan terbasminya keluarga Ki Patih Brotomenggala, menyebabkan sengsaranya permaisuri dan banyak orang tak berdosa menerima hukuman bahkan banyak pula yang ditewaskan.
Biarpun dari luar kelihatan seperti seorang wanita yang amat cantik dan gerak-geriknya selalu membetot semangat dan cinta kasih pria, namun sesunggahnya iblis sendiri yang bersembunyi di balik segala keindahan tubuh wanita ini.
"Suminten, tidak ada gunanya lagi membujuk. Aku tidak akan terpikat olehmu karena aku merasa yakin bahwa engkau sesungguhnya adalah seekor ular beracun, seorang wanita yang menjadi alat Iblis untuk menggoda dan menyeret manusia ke lembah kehinaan. Aku tidak mau membunuhmu karena engkau adalah selir kanjeng rama, akan tetapi aku pun tidak akan sudi lagi menjamahmu apalagi mencintamu karena setiap sentuhan akan mendatangkan dosa dan noda bagiku. Jiwamu rendah sehingga tubuhmu menjadi kotor menjijikkan, lebih baik seribu kali mati daripada menuruti cinta kasihmu yang hina dan rendah!"
Wajah Suminten menjadi pucat.
Setelah kini yakin bahwa cinta kasihnya tidak akan terbalas pemuda yang dipujanya dan dicintanya ini, hatinya seperti disayat-sayat pisau dan terasa perih sekali.
Sakit hati menimbulkan kebencian dan dendam.
Bagi seorang seperti Suminten, mudah saja merubah cinta kasih berkobar menjadi benci yang mendalam.
Ia bangkit, membenarkan sanggulnya, merapikan pakaiannya, sikapnya juga dingin sekali.
Sejenak is berdiri tegak memandang wajah pangeran itu, menahan isak dengan napas dihela panjang, kemudian berbalik yang terdengar seperti desis seekor ular.
"Aku bisa mencinta bisa pula membenci, bisa mendatangkan nikmat bisa pula mendatangkan derita! Kaukira dapat menentang kehendakku? Kita sama lihat saja, akan datang saatnya engkau bertekuk lutut di depanku, meratap mohon kasihan kepadaku!"
Setelah berkata demikian, Suminten keluar dari kamar tahanan itu.
Pangeran Panji Sigit sejenak termenung, kemudian menghela napas dan duduk di atas pembaringan.
Ia mendengar suara Suminten di luar kamar, agaknya bercakap-cakap dengan penjaga.
Namun dia tidak perduli.
"Akan tetapi, dua orang muda itu, Pusporini dan Joko Pramono, memiliki kesaktian yang luar biasa!"
Kata Ki Patih Warutama sambil mengerutkan keningnya yang tebal.
Mereka sedang berunding.
Ki Patih Warutama, Suminten yang duduk di kursi paling tinggi dengan sikap seperti seorang ratu, Pangeran Kukutan dan di situ menghadap,pula Cekel Wisangkoro dan dua orang tokoh sakti lainnya yang sudah kita kenal yaitu Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro.
Biarpun tidak atau belum berani berkunjung ke Jenggala secara berterang, namun kini tokoh-tokoh anak buah Wasi Bagaspati dan Biku Janapati sudah seringkali secara diam-diam, berkunjung ke Jenggala, bahkan telah diterima, sebagai sekutu oleh Suminten, Pangeran Kukutan, dan Ki Patih Warutama yang merupakan tiga serangkai yang pada saat itu memegang kendali Kerajaan Jenggala.
"Ha-ha-ha, hanya dua orang bocah, mengapa begitu dikhawatirkan? Serahkan saja kepada Ki Kolohangkoro, akan kutangkap mereka berdua dengan sebelah tanganku!"
Kata Ki Kolohangkoro yang sudah biasa menyombongkan diri dan bersikap kasar kepada slapa pun juga.
"Boleh jadi Ki Kolohangkoro agak sombong, akan tetapi kurasa, kalau hanya dua orang pemuda itu saja, tentu dia dapat mengalahkannya. Andaikata masih terlalu berat baginya, di sini ada aku dan ada pula Kakang Cekel Wisangkoro. Selain itu di sini banyak terdapat pengawal-pengawal yang cukup kuat, mengapa khawatir?"
Kata Ni Dewi Nilamanik sambil mengerling tajam ke arah Ki Patih Warutama yang tampan dan gagah itu.
Ki patih yang gagah itu sekali ini tidak melayani lirikan wanita cantik yang mengandung tantangan bagi kejantanannya.
Dia mengerutkan alisnya dan berkata.
"Saya sama sekali tidak hendak merendahkan kesaktian andika bertiga yang sudah saya ketahui dengan baik. Akan tetapi, saya telah menyaksikan pula malam tadi ketika Pusporini dan Joko Pramono dikeroyok oleh barisan pengawal pilihan. Sepak terjang mereka hebat bukan main dan........dan agaknya. saya sendiri belum tentu dapat menandingi mereka. Memang kalau andika bertiga yang maju, saya tidak perlu khawatir lagi, hanya........ ah, andaikata kami bisa mendapat kunjungan Paman Wasi Bagaspati sendiri atau Paman Biku Janapati, barulah hati saya akan menjadi lega karena yakin bahwa hanya beliau-beliau itulah yang akan dapat menundukkan mereka berdua tanpa ragu lagi."
Ni Dewi Nilamanik juga mengerutkan alisnya yang menjelirit hitam akan tetapi bukan sewajamya melainkan buatan, kemudian is berkata penuh penasaran.
"Mengapa Ki Patih demikian berkecil hati? Sesungguhnya, kalau saya tidak salah ingat, saya dan Ki Kolohangkoro pernah menghadapi dua orang muda yang bernama Joko Pramono dan Pusporini itu, dan kami pernah menawan mereka dengan amat mudah!"
Ki Patih Warutama mengangkat mukanya memandang dan tercengang.
"Benarkah itu?. Ah, kalau memang sudah terbukti andika dapat mengalahkannya, itulah baik sekali!"
Ki Kolohangkoro yang ingatannya tidak setajam ingatan Ni Dewi Nilamanik, dengan wajah bodoh bertanya.
"Bunda Dewi, yang manakah mereka itu?"
"Ihh, apakah andika tidak ingat lag?"
Ni Dewi Nilamanik mencela.
Biarpun usia Ki Kolohangkoro lebih tua dari Ni Dewi Nilamanik, akan tetapi ia selalu menyebut wanita cantik genit itu "Ibunda Dewi", hal ini adalah karena pertama, Ni Dewi Nilamanik adalah kekasih Wasi Bagaspati, dan kedua karena Ki Kolohangkoro menganggap diri sendiri sebagai penitisan Sang Bathara Kala sedangkan Ni Dewi Nilamanik dianggap sebagai penitisan Sang Bathari Durgo, maka ia menyebutnya Ibunda Dewi.
Raksasa yang menyeramkan itu menggeleng kepalanya sehingga rambutnya yang panjang dan gimbal bergoyang-goyang.
"Sudah terlalu banyak orang muda kita tangkap, mana bisa saya Mengingat mereka satu-satu?"
"Hemm, ingatkah engkau akan pertemuan kita dengan paman guruku, Paman Resi Mahesapati di dalam hutan itu?"
Raksasa itu membelalakkan matanya yang sudah lebar, lalu menyambar cawan berisi minuman tuwak yang disediakan untuknya, menggelogok isinya sampai kosong, kemudian berkata.
"Ibunda maksudkan kakek jambel yang membawa batok kelapa dan sapu lidi itu? Ihhh, tentu saja aku masih ingat!"
Raksasa itu menggerakkan pundaknya seperti orang kedinginan karena ia merasa serem kalau teringat akan kakek itu.
"Nah, waktu itulah kita menawan Joko Pramono dan Pusporini yang terpaksa kita tinggalkan karena pertemuan kita dengan paman guru itu."
"Oh-oh, ha-ha-ha! Mereka itu? Ah, mereka hanyalah bocah-bocah yang rupawan saja, biarlah kalau mereka datang, akan kutangkap mereka!"
Ki Patih Warutama memandang Ni Dewi Nilamanik dengan pandang mata penuh selidik.
"Jadi ketika itu mereka ditolong oleh paman guru andika yang bernama Resi Mahesapati? Apakah paman guru andika itu sakti mandraguna?"
"Paman guru Mahesapati? Ihh, mengerikan sekali! Kesaktiannya seperti dewa! Kiranya setingkat dengan kesaktian Sang Wasi Bagaspati sendiri!"
Jawab wanita itu.
Ki Patih Warutama mengangguk-angguk.
Dia sudah menyaksikan kehebatan sepak terjang dua orang muda itu dan dalam urusan ini dia tidak mau bersikap sembrono seperti Ki Kolohangkoro yang memandang rendah semua urusan.
"Kalau begitu, siapa tahu kalau mereka lalu menjadi murid kakek sakti itu,"
"Aihhh........ Kalau begitu. memang mengkhawatirkan!"
Ni Dewi Nilamanik berkata dan ketika mendengar kemungkinan dua orang muda itu menjadi murid Resi Mahesapati yang amat ditakutinya, Ki Kolohangkoro juga diam saja, tidak lagi berani membual.
Suminten yang tidak mengerti tentang kesaktian dan yang sejak tadi diam saja mendengarkan para pembantunya berunding, tiba-tiba membuka mulut berkata.
"Mengadu kesaktian saja memang meragukan, akan tetapi jika menggunakan siasat kurasa tidak akan sukar menjatuhkan mereka, betapapun sakti mereka itu."
Semua mata memandang dan dalam pandang mata Ni Dewi Nilamanik terbayang kekaguman.
Wanita ini sudah cukup berpengalaman, sudah banyak bertemu dengan pria atau wanita yang bagaimana pun.
Akan tetapi barn sekali ini ia kagum melihat seorang wanita muda yang lemah tiada kesaktian namun dapat mengangkat dirinya secara sedemikian hebatnya, dari seorang abdi sampai menjadi orang yang paling berkuasa di Kerajaan Jenggala!
Kini, wanita muda ini sengaja mengumpulkan mereka untuk berunding menghadapi dua orang muda yang sakti degan sikap sedemikian dingin, penuh perhitungan, dan matang!
Dibandingkan dengan kematangan wanita muda ini, akal dan pikiran seorang kakek seperti Ki Kolohangkoro tiada bedanya dengan seorang bocah saja!
Suminten sengaja memanggil para pembantunya, langsung setelah ia keluar dari kamar tahanan, setelah gagal ia merayu Pangeran Panji Sigit.
Kini, mendengar betapa orang-orang sakti ini seperti kehilangan akal mendengar kemungkinan bahwa dua orang muda lawan mereka itu benar-benar amat sakti dan murid Resi Mahesapati, dia menjadi hilang sabar.
"Kalau mereka datang, dan hal ini aku yakin pasti akan terjadi, mereka itu tentu bermaksud untuk membebaskan Pangeran Panji Sigit. Karena itu, kita bahkan sebaiknya menggunakan pangeran itu sebagal umpan. Di dalam penjara istana terdapat banyak alat-alat rahasia. Kalau kita tempatkan pangeran itu di dalam kamar yang sudah dipasangi perangkap, dan mereka datang, tentu akan mudah kita menangkap mereka tanpa mengerahkan banyak tenaga dan kerepotan lagi. Ada aku mendengar tentang kamar tahanan yang lantainya dapat menjebloskan penginjaknya ke dalam lubang di bawah tanah yang terbuat dari-pada baja, tanpa pintu dan jendela. Kalau kita menggunakan kamar itu."
"Sayang hal itu tak mungkin dapat dilakukan karena adinda. eh, si bedebah Panji Sigit itu pun tahu akan rahasia kamar tahanan itu sehingga kalau para temannya datang, dia tentu akan dapat dia tentu akan memperingatkan mereka,"
Pangeran Kukutan mencela.
Suminten tersenyum mentertawakan pendapat Pangeran Kukutan ini.
Ketika ia tersenyum dan giginya yang putih mengkilat terkena cahaya lampu, semua yang hadir di situ memandang kagum.
Dalam senyum ini terkandung segala yang mengagumkan dari diri atau pribadi Suminten karena senyum ini membayangkan kecerdikan yang mengerikan di samping kekejaman, keberanian dan ketenangan yang tersembunyi di balik kecantikan dan kemanisan yang mempesonakan.
"Ah, Pangeran, mengapa kekurangan akal? Apa sukarnya membuat Pangeran Panji Sigit pingsan? Dalam keadaan pingsan dia dibaringkan dalam kamar itu bukankah itu merupakan umpan yang amat baik? Setelah mereka terjeblos ke dalam lubang jebakan, terkutung dalam ruangan di bawah tanah itu, tinggal terserah kepada kita tentang nasib mereka."
"Akan kuhujani anak panah! Eh, tidak, akan kusuruh kumpulkan seratus ekor ular berbisa dan kumasukkan ular-ular itu ke dalam ruangan di bawah itu!"
Pangeran Kukutan berkata dengan geram. Suminten menarik napas panjang.
"Hemm, amat tidak baik menurutkan hati panas. Hati boleh saja panas membara, akan tetapi kepala harus tetap dingin agar kita dapat menggunakan kepala untuk menciptakan buah pikiran yang tepat. Mereka itu adalah orang-orang muda yang amat berguna karena memiliki kesaktian, di samping itu, Pangeran Panji Sigit adalah seorang putera terkasih sang prabu, Setyaningsih dan Pusporini adalah adik-adik Endang Patibroto yang menjadi isteri Ki Patih Tejolaksono di Panjalu. Tidak baik kalau membunuh mereka begitu saja karena mereka itu adalah orangorang yang berharga, orang-orang yang penting dan masih banyak kegunaannya bagi kita. Membunuh mereka begitu saja berarti menyia-nyiakan kegunaan mereka. Kita laksanakan lebih dulu pancingan sampai berhasil, setelah mereka berhasil terjebak barn dicari jalan yang tepat."
"Saya amat kagum dan setuju dengan siasat itu. Harap paduka jangan khawatir, kalau mereka telah terjebak, saya mempunyai asap beracun untuk membuat mereka tak berdaya sehingga mudah ditawan,"
Kata Ni Dewi Nilamanik.
Demikianlah, dengan rencana yang dikemukakan Suminten sebagai dasar, mereka dapat mempersiapkan segala sesuatu untuk melaksanakan siasat itu.
Mudah saja bagi Ni Dewi Nilamanik untuk membikin pingsan Pangeran Panji Sigit yang selain kalah jauh kedigdayaannya, juga sudah tertawan dan dibelenggu sehingga tidak dapat melawan ketika asap beracun memabukkan disemprotkan ke mukanya.
Pangeran ini roboh pingsan seperti orang tertidur dan sama sekali tidak tahu bahwa dia digotong ke dalam sebuah kamar tahanan, dibaringkan di atas sebuah pembaringan batu.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, malam hari itu juga, setelah berunding dan mendapat petunjuk-petunjuk dari Ki Wiraman, tiga orang muda perkasa, Setyaningsih, Pusporini, dan Joko Pramono, menyelundup memasuki kota raja dengan niat menyerbu istana dan menolong Pangeran Panji Sigit yang masih tertinggal di istana.
Malam itu gelap karena udara tertutup mendung.
Tiga bayangan berkelebat gesit sekali, berhasil meloncati pagar tembok istana dan bagaikan tiga ekor burung saja, Joko Pramono, Pusporini, dan Setyaningsih sudah melayang turun ke dalam taman istana yang paling ujung.
Mereka itu sama sekali tidak pernah menduga bahwa kedatagan mereka memang sudah diduga, bahkan telah direncanakan secara matang untuk menyambut mereka!
Joko Pramono selalu bergerak di sebelah depan sebagai pelopor.
Setyaningsih di tengah karena kalau dibuat perbandingan, di antara mereka bertiga, Setyaningsih yang paling lemah.
Pusporini berada di belakang menjaga bahaya tiba-tiba.
Mereka berindap-indap bergerak maju, menuju ke gedung tamu di mana Pangeran Panji Sigit selama ini tinggal bersama isterinya.
Joko Pramono yang dapat bergerak seperti angin saja tanpa mengeluarkan suara telah mengintai jendela pondok tempat tinggal Pangeran Panji Sigit, lalu menoleh dan memberi isyarat kepada Setyaningsih dan Pusporini agar jangan berisik.
Mereka bertiga lalu berindap mengintai sinar jendela.Ternyata pondok yang tadinya menjadi tempat tinggal Pangeran Panji Sigit dan isterinya itu kini ditempati oleh Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro, dan Cekel Wisangkoro!
Tiga orang sakti itu sedang duduk mengelilingi meja dan bercakap-cakap dengan asyiknya.
Agaknya mereka itu sudah setengah mabuk karena di atas meja tersedia banyak minuman keras dan percakapan mereka sudah tidak karuan, tidak sopan sehingga Setyaningsih dan Pusporihiyang mendengarnya menjadi tersipu-sipu, merah mukanya dan gemas.
"Ha-ha-ha, lbunda Dewi. Kalau ingin mencari kepuasan malam ini, marilah kulayani! Jarang sekali Ibunda mengajak aku, dan aku tanggung Ibunda. Dewi akan puas sekali!"
Kata Ki Kolohangkoro.
"Heh-heh, jangan percaya dia, Ni Dewi! Biarpun tubuhnya tinggi besar, akan tetapi hal ini bukan kesenangannya, mana bisa dia memberi kepuasan? Kesenangannya hanya makan bocah. Mari kulayani engkau, Ni Dewi. Aku peranakan Hindu aseli, dalam hal itu tidak kalah oleh guruku, Bapa Wasi sendiri, heh-heh!"
Kata Cekel Wisangkoro.
"Hushh, kalian jangan ribut-ribut. Bukan waktunya bersenang-senang. Bukankah kita ditugaskan menjaga datangnya musuh-musuh yang akan menolong Pangeran. Panji Sigit?"
Tiga orang muda di luar jendela yang tadinya merasa muak dan hendak pergi, kini mendengarkan dengan jantung berdebar.
"Aha! Panji Sigit sudah dikurung dalam kamar tahanan batu di ujung barat; selain terjaga kuat juga sudah kita pasangi alat-alat sehingga setiap usaha untuk menolongnya berarti malah membunuhnya. Perlu apa khawatir?"
Kata Ki Kolohangkoro dengan suara keras.
"Andaikata dapat membebaskannya, tak mungkin akan dapat lobos dari pengejaran kita. Hayolah, Ni Dewi, kaulayani aku........ sudah tiga tahun aku tidak berdekatan dengan wanita "
Kata pula Cekel Wisangkoro.
Tiga orang muda perkasa itu tidak mau mendengarkan lagi bahkan Joko Pramono sudah bergerak pergi meninggaikan pondok itu dibayangi oleh Setyaningsih dan Pusporini.
Untung mereka mendengar percakapan itu sehingga mereka tidak perlu lagi mencari-cari.
Pangeran Panji Sigit ditahan dalam kamar tahanan batu di ujung barat!
Selama mereka berada di istana, mereka sudah melakukan penyelidikan, akan tetapi mereka hanya tahu akan letak perumahan yang disediakan untuk tahanan rahasia di lingkungari istana.
Mereka tidak mungkin menyelidiki keadaan kamar-kamar tahanan itu satu demi satu, akan tetapi mereka tahu di mana letaknya kamar tahanan batu di ujung barat.
Malam sudah larut sekali, keadaan, sudah sunyi tanda bahwa semua penghuni istana sudah tidur.
Hanya sekali dua terdengar suara penjaga malam yang meronda.
Joko Pramono dan Pusporini, dibantu pula oleh Setyaningsih, bersedakep di luar bangunan tahanan di ujung barat, mengheningkan cipta dan mengerahkan aji penyirepan.
Dalam waktu yang tidak lama, keadaan di situ menjadi makin sunyi karena belasan orang penjaga yang bertugas menjaga di luar bangunan itu telah jatuh pulas semua, terpengaruh oleh aji panyirepan yang amat kuat.
Tiga orang muda perkasa itu sama sekali tidak pernah menyangka bahwa aji panyirepan mereka tidak dapat mempengaruhi beberapa orang yang memang sudah bersiap-siap sebelumnya, tiga orang saki yang bukan lain adalah mereka yang tadi bercakap-cakap di dalam pondok tempat tinggal Pangeran Panji Sigit!
Mereka ini, Cekel Wisangkoro, Ni Dewi Nilamanik, dan Ki Kolohangkoro, telah lebih dulu memasang aji penolak sirep dan merekalah yang menjaga kamar tahanan siap untuk menggerakkan alat rahasia yang terpasang di lantai kamar!
SETELAH keadaan menjadi sunyi dan merasa yakin bahwa semua penjaga telah pulas, Joko Pramono berbisik kepada Pusporini dan Setyaningsih.
"Andika berdua menjaga di luar sini, biarkan saya sendiri menyelidiki ke dalam."
Pusporini mengangguk, Memang sebaiknya demikian.
Merurut apa yang mereka dengarkan dalam percakapan antara tiga orang tokoh sakti tadi, tempat tahanan ini dipasangi alat-alat rahasia yang amat berbahaya.
Jika mereka semua masuk, sekali terjebak, mereka semua akan celaka.
Kalau hanya seorang; andaikata terjadi sesuatu, yang berada di luar dapat saja sewaktu-waktu menolong.
Sebaliknya, jika ada bahaya yang datangnya dari luar, dia dapat menyambutnya untuk melindungi Joko Pramono yang bertugas di dalam.
Akan tetapi Setyaningsih membantah.
"Saya akan ikut masuk mencari Kakangmas Pangeran "
"Harap Ayunda suka menjaga saja di luar bersama Pusporini,"
Kata Joko Pramono.
"Bergerak seorang did di dalam akan lebih leluasa, pula kita belum tahu bahaya apa yang mengancam di dalam."
"Betul, Ayunda. Tugasnya sudah amat berat, dan dia hams dapat menemukan dan membebas kan Rakanda Pangeran. Kita sudah mendengar tadi akan percakapan mereka. Di dalam banyak terdapat alat-alat rahasia yang berbahaya. Pula, keadaan. di luar sini tidak kurang pantingnya. Kalau ada musuh-musuh sakti menyerbu, Ayunda dapat membantuku menghadapi mereka."
Setyaningsih terdesak dan terpaksa menyerah sungguhpun hatinya sudah ingin sekali bertemu dengan suaminya yang tercinta.
Setyaningsih tidak membantah lagi, mulailah Joko Pramono memasuki bangunan besar yang dijadikan tempat tahanan itu.
Dengan tenaga saktinya, mudah saja Joko Pramono mendorong pintu gerbang terbuka dan ia merasa lega ketika melihat empat orang penjaga menggeletak di balik pintu gerbang dalam keadaan pulas.
Untuk mencegah kalau-kalau ada musuh datang dari luar dan melihat pintu gerbang terbuka, ia menutupkan lagi daun pintu gerbang sehingga kini Setyaningsih dan Pusporini yang berada dl luar tidak dapat melihatnya, lagi.
Joko Pramono melangkah maju terns dengan hati-hati sekali, matanya memandang ke depan dan kanan-kiri.
Untung baginya bahwa bangunan itu cukup terang mendapat cahaya lampu -lampu gantung yang cukup banyak di tempat itu, Pintu ke dua merupakan pintu dari baja, akan tetapi ketika ia mendorongnya, ternyata pintu itu tidak terpalang hanya ditutupkan saja, maka mudah terbuka.
Ketika ia melihat para penjaga malang-melintang tidur pulas di bawah pengaruh aji penyirepan nya tadi.
Banyak sekali penjaga di sebelah dalam ini, ada belasan orang.
Di antara mereka terdapat seorang kakek tinggi besar yang bersandar dinding, suara dengkurnya keras seperti macan menggereng.
Joko Pramono maklum bahwa penjaga yang seorang ini bukanlah sembarang penjaga, tentu setidak-tidaknya kepala penjaga.
Tubuh penjaga ini kuat sekali tampaknya, bahkan menyeramkan.
Akan tetapi karena panjaga ini pun pulas, la tidak memperhatikannya lagi dan melangkah maju terus.
Di depan terdapat ruangan yang luas, lantainya dari papan tebal.
Ia berlaku hati-hati, tidak segera meloncat maju, melainkan mencoba lantai papan itu dengan cara menekan-nekannya dengan sebelah kakinya.
Ia khawatir kalau-kalau lantai, itu dapat bergerak.
Akan tetapi lantai itu kokoh kuat dan Joko Pramono melangkah terus, matanya mencari-cari bagian mana kiranya yang akan dimasukinya untuk mencari Pangeran Panji Sigit.
la telah tiba di tengahtengah ruangan itu.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa di sebelah belakangnya dan ketika secepat kilat ia membalik kan tubuh, kiranya penjaga yang tinggi besar seperti raksasa itu telah berdiri di depannya!
Kini tampak jelas betapa penjaga yang tua ini tubuhnya benar mengejutkan, seperti raksasa.
Telinganya dihias anting-anting dan tangan kanannya memegang sebuah senjata nenggala, tombak kecil yang nincing kedua ujungnya, dipegang di tengah-tengah.
Melihat keadaan kakek ini, terkejutlah hati Joko Pramono karena ia segera mengenalnya.
Inilah Ki Kolohangkoro!
Pernah ia bersama Pusporini menghadapi kakek ini dan Ni Dewi Nilamanik, bahkan akhirnya dia ditawan Ni Dewi Nilamanik sedangkan Pusporini ditawan kakek ini.
Untung dia dan Pusporini tertolong oleh guru mereka, Resi Mahesapati!
"Ah, kiranya andika menjadi seorang di antara tikus-tikus yang menggerogoti Kerajaan Jenggala, Ki Kolohangkoro!"
Joko Pramono berkata tenang dan ia bersiap-siap dengan penuh kewaspadaan karena maklum bahwa lawan ini bukanlah seorang yang lemah.
"Ha-ha-ha-ha! Engkau Joko Pramono? Apakah yang engkau andalkan maka berani memasuki sarang harimau? Hendak membebaskan Pangeran Panji Sigit? Ha-ha-ha, jangan mimpi, orang muda. Lebih baik menyerah sebelum nenggalaku yang sudah lama tidak mencium darah ini menggelogok darahmu!"
"Manusia raksasa seperti engkau berhati iblis! Jangan mengira akan mudah mengalahkan Joko Pramono seperti lima tahun yang lalu. Sambutlah ini!"
Joko Pramono cepat menerjang maju dengan pulkulan kepalan kanannya.
Dahsyat sekali gerakannya akan tetapi sambil tertawa Ki Kolohangkoro menggerakkan nenggalanya menyambut terjangan pemuda itu dengan terjangan balasan, yaitu ia menusukkan nenggalanya ke arah dada Joko Pramono.
"Plakk!"
Dengan gerakan indah, Joko Pramono sudah membuka kepalannya tadi, merubah pukulan menjadi gerakan tangan terbuka melingkar dari kin ke kanan, diputar sedemikian rupa sehingga ia berhasil menangkap pergelangan tangan lawan yang memegang nenggala itu dari samping.
Sedetik dua tenaga raksasa bertemu, saling betot, dan tiba-tiba Joko Pramono berseru keras dan menyendal tangan lawan itu dengan gentakan kuat sekali sehingga tanpa dapat dicegah lagi, tubuh raksasa itu kehilangan keseimbangan, kuda-kudanya tergempur dan tubuhnya terbanting ke kanan.
Hal ini amat mengejutkan hati Ki Kolohangkoro.
Hampir ia tidak percaya bahwa pemuda yang lima tahun lalu masih amat lemah dan hanya memiliki kepandaian yang tidak ada artinya, kini dapat memiliki tenaga sakti yang sedemikian lcuatnya sehingga hampir-hampir ia tidak kuat menahan nenggalanya.
Untung ia masih dapat mempertahan kan senjatanya itu sehingga tidak terampas biarpun tubuhnya hampir terbanting roboh.
"Babo-babo, kiranya engkau telah memperoleh kemajuan yang lumayan. Makanlah senjataku!"
Raksasa itu menerjang lagi, kini lebih hebat dengan memutar pergelangan tangannya sehingga nenggala itu berputar seperti kitiran, mendatangkan angin dan mengeluarkan suara berdesing.
Hebat memang Ki Kolohangkoro yang memiliki tenaga gajah, sedangkan senjata nenggala di tangannya itu pun merupakan sebuah nenggala yang amat ampuh.
Akan tetapi Joko Pramono sekarang sama sekali berbeda dengan Joko Pramono lima tahun yang lalu.
Setelah mendapatkan gemblengan dari Resi Mahesapati yang sakti mandraguna, kedigdayaannya menjadi berlipat ganda dan kini menghadapi tendangan Ki Kolohangkoro itu, ia dapat melihat dengan jelas gerakan lawan sehingga dapat dengan mudah pula mengelak ke ldri, secepat kilat kakinya menyambar dari samping ke arah lambung lawan.
Andaikata tadi Ki Kolohangkoro belum merasakan betapa kuatnya pemuda ini tentu dengan memandang rendah ia berani menerima tendangannya itu karena ia dapat mengandalkan kekebalannya yang akan melindtmgi lambungnya.
Akan tetapi ia tahu bahwa tendangan pemuda sekuat itu tenaga saktinya, apalagi yang ditujukan ke arah lambung, amatlah berbahaya.
Maka ia lalu memutar pergelangan tangan, membuat nenggala yang luput sasaran tadi membalik ke kanan untuk memapaki kaki lawannya dengan senjatanya yang ampuh Mi.
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika melihat perkembangan selanjutnya.
Ternyata kaki itu tidak dilanjutkan menendang lambung, melainkan meluncur ke bawah dan menendang ke arah lututnya!
Ki Kolohangkoro berusaha untuk meloncat agar terhindar dari tendangan yang dapat membuat sambungan lututnya terlepas itu, akan tetapi masih kurang cepat sehingga kakinya masih tercium tendangan lawan, mengenai betisnya sehingga kuda-kudanya tergempur dan ia roboh terguling!
Biarpun merasa amat kaget, namun Ki Kolohangkoro adalah seorang yang sudah banyak pengalamannya dalam pertempuran, maka ia cepat menggerakkan tubuhnya bergulingan sehingga Joko Pramono yang sudah datang menerjang dengan tendangan susulan itu tidak berhasil.
Cepat sekali Ki Kolohangkoro bergulingan lalu meloncat dan menghilang melalui sebuah pintu ruangan itu.
Joko Pramono yang ingin mencari di mana adanya kamar tahanan Pangeran Panji Sigit, cepat meloncat pula mengejar.
Dia berada di ruangan lain yang dindingnya berwarna hijau, akan tetapi tidak melihat bayangan Ki Kolohangkoro yang telah lenyap entah lari ke mana.
Dengan hati-hati ia melangkahkan kakinya maju ke ruangan hijau yang kosong itu, siap menjaga kalau-kalau ada serangan lawan atau kalau-kalau ada jebakan rahasia.
Ruangan itu kosong dan sunyi.
Hanya terdapat sebuah pintu kecil di sebelah kanan ruangan.
Karena itu, tentu dari pintu itulah larinya Ki Kolohangkoro.
Joko Pramono menghampiri pintu, tidak sembrono melainkan dengan hati-hati sekali ia mendorong daun pintu sambil menyelinap untuk menjaga kalau-kalau ada senjata rahasia menyambutnya.
Akan tetapi tidak teijadi sesuatu dan kini daun pintu terbuka lebar, selebar mata Joko Pramono yang memandang terbelalak ke dalam ruangan ke tiga ini.
Ruangan di balik pintu itu berwarna merah muda dan di ujungnya terdapat sebuah pembaringan di mana tampak Pangeran Panji Sigit rebah terlentang tak bergerak, entah tidur ataukah pingsan.
Dan di pinggir pembaringan, membelakanginya, duduk bersimpuh seorang wanita yang mengelus-elus rambut kepala pangeran itu dengan jari-jari tangan mesra.
Dan belakang tampak bahwa wanita itu adalah Suminten.
Melihat ini, bangkit kemarahan Joko Pramono.
Wanita iblis itulah yang menjadi biang keladi semua peristiwa yang terjadi.
Wanita itulah yang mengatur siasat mengadu domba sehingga hampir saja Pusporini membunuhnya.
Kebetulan sekali ia mendapatkan wanita itu di situ.
Ia dapat membebaskan Pangeran Panji Sigit dan sekalian menangkap wanita itu.
Ia dapat menangkap Suminten.
Kalau wanita ini ditangkap dan diseret ke Panjalu, tentu akan hancur persekutuan jahat yang mencengkeram Jenggala.
"Perempuan iblis!"
Bentaknya dan tubuhnya sudah meloncat ke dalam ruangan itu, siap untuk menangkap Suminten.
Ia maklum bahwa yang terpenting menawan wanita ini karena hal itu akan dapat dipergunakan untuk perisai dan untuk memaksa kaki tangan Suminten memberi kebebasan kepada Pangeran Panji Sigit.
"Wirrrr........ tar-tar. hi-hihik!"
Joko Pramono mengeluarkan suara tertahan dan cepat sekali membalikkan tubuh berjungkir balik menghindar diri dari sambaran pengebut lalat berwarna merah yang digerakkan oleh wanita itu yang kini telah membalikkan tubuh.
Ia terluput dari serangan maut dan kini berdiri di tengah ruangan, memandang wanita yang disangkanya Suminten itu, akan tetapi yang ternyata adalah Ni Dewi Nilamanik yang dahulu pernah menawannya!
Yang disangkanya Suminten adalah wanita iblis itu yang agaknya sengaja menyamar sebagai Suminten dan karena wanita yang usianya sudah empat puluh tahun lebih ini memang masih cantik dan bertubuh ramping, maka dari belakang tidak jauh bedanya dengan Suminten.
"Ah, kiranya andika juga berada di sini? Kalau begitu lengkaplah sudah. Jenggala, tepat di dalam istananya, dijadikan sarang sekumpulan iblis bertubuh manusia!"
Joko Pramono berseru marah.
"Hi-hi-hik, bocah bagus, engkau terlalu sombong!"
"Ha-ha-ha, kematian sudah di depan mata!"
Terdengar suara Ki Kolohangkoro dari belakangnya.
Joko Pramono cepat membalik dan ternyata raksasa itu kini sudah berdiri di ambang pintu, di belakangnya.
Joko Pramono tidak menjadi gentar menghadapi dua orang musuh lama ini.
Ia hanya cemas melihat keadaan Pangeran Panji Sigit yang rebah tak bergerak, agaknya pingsan karena pangeran itu sama sekali tidak terganggu oleh keributan di situ.
Seluruh urat syaraf di tubuhnya sudah menegang dan siap untuk mengadu kesaktian melawan dua orang manusia iblisitu.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara berderit keras di atas kepalanya.
Karena mengira bahwa tentu ada alat rahasia yang akan menyambarnya dari atas, Joko Pramono memandang ke atas dan sebagian besar perhatiannya tertuju ke langit-langit ruangan itu.
Dan memang inilah yang dikehendaki oleh ahli pembuat alat rahasia di tempat tahanan istana Jenggala itu.
Begitu orang mengarahkan perhatiannya ke atas, tentu saja perhatiannya ke bawah berkurang dan tiba-tiba lantai yang diinjak Joko Pramono terkuat ke bawah!
Pemuda itu terkejut sekali, namun terlambat.
Tubuhnya sudah meluncur ke bawah dan lantai yang tadi terkuak ke bawah, itu telah menutup kembali diiringi suara tertawa Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik.
Joko Pramono maklum bahwa la telah terjebak.
Akan tetapi sebagai seorang satria perkasa, is pantang menyerah terhadap keadaan.
Ia mengerahkan hawa saktinya sehingga biarpun tubuhnya meluncur ke bawah, namun ia masih menguasai dirinya dan tidak akan terbanting ke dasar sumur itu.
Begitu kakinya menyentuh lantai, tubuhnya sudah bergerak seperti per sehingga daya luncuran tertahan dan sekali meloncat ia telah mematahkan daya luncuran tadi.
Ia berdiri di tengah ruangan di bawah tanah itu dan memaksa matanya untuk menembus kegelapan di situ.
Akan tetapi keadaan gelap pekat, tidak tampak sesuatu sehingga akhirnya Joko Pramono terpaksa hams menggunakan kaki tangannya untuk meraba-raba.
Kiranya ia telah terkurung oleh dinding yang kuat dan yang bentuknya bundar.
Tidak ada pintu maupun jendelanya, sedangkan ketika ia menengadah, lantai jebakan yang kini menjadi langit-langit itu tidak tampak, hanya gelap dan hitam saja yang membayang di matanya.
Betapapun juga, Joko Pramono tidak menjadi putus asa menghadapi kenyataan bahwa dirinya benar-benar terancam bahaya maut ini.
Ia melakukan hal yang terpenting, yaitu duduk bersila di tengah-tengah ruangan gelap itu untuk mengumpulkan tenaga sakti dan menenangkan pikirannya.
Ia maklum bahwa segala sesuatu yang menimpa dirinya hams diterima dalam keadaan tenang dan wajar, karena hanya ketenangan jiwanya sajalah yang akan mampu membuat ia kuat menghadapi segala kepahitan dan kemudian mengatasinya dengan langkah-langkah yang tepat.
Teringatlah pemuda ini kepada sebuah di antara wejangan-wejangan Resi Mahesapati yang pada saat itu terngiang di telinganya.
"Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, yang menimpa dirimu, adalah sesuai dengan hula yang ditentukan oleh Tuhan. Oleh karena itu, kita hams dapat menerimanya sebagai suatu kewajaran dan bersandarkan kesabaran dan ketenangan, kita harus berani memandang ke depan. Segala macam peristiwa yang menimpa diri kita, apabila sudah dikehendaki demikian oleh Sang Jagad Nata (Pengatur Dunia) takkan dapat dihindarkan oleh manusia, betapapun saktinya manusia itu. Maka, jalan satu-satunya bagi manusia mahluk lemah ini hanyalah bersandar kepada Hyang Widi Wisesa dengan penuh ketulusan hati, dengan penuh pasrah namun tidak melepaskan segala ikhtiar yang menjadi kewajiban manusia yang telah diberi perlengkapan sempurna untuk kewajiban itu."
Joko Pramono tekun mengheningkan cipta dan ia menanti datangnya kesempatan baik untuk menolong dirinya sendiri.
Dia tidak takut, tidak gentar karena dia telah menyandarkan dirinya kepada kekuasaan Dewa, sehingga andaikata kematian akan menjemputnya sekalipun, ia tidak merasa gentar karena maklum bahwa semua itu sudah dikehendaki oleh Yang Maha Kuasa.
Tiba-tiba terdengar bunyi seperti desis ular.
Joko Pramono bangkit berdiri, bersikap tenang waspada, bersiap-siap menghadapi hal yang seburuknya, tenaga sakti telah menjalar ke arah kedua lengannya.
Akan tetapi tiba-tiba ia terbatuk karena mencium bau yang amat harum namun menyengat hidung, dan tahulah ia bahwa fihak lawan telah menyerangnya dengan asap yang entah masuk di ruangan itu dari mana.
la menahan napas, lalu menggerak-gerakkan kedua lengannya untuk mengusir asap harum menyengat hidung itu.
Asap yang masuk berwarna putih dan menjadi buyar terkena sambaran angin pukulan Joko Pramono.
Akan tetapi asap masuk makin banyak dan makin tebal, sedangkan Joko Pramono, biarpun telah menjadi pemuda sakti, namun tak mungkin dapat menahan napas selamanya.
Akhirnya ia tersedak, terengah dan cepat ia duduk bersila,menghentikan perlawanan dan mengosongkan pikiran, siap untuk menerima datangnya maut yang tak dapat ia hindarkan lagi.
Sungguh patut dikagumi Joko Pramono ini, biarpun masih amat muda akan tetapi sudah dapat menghadapi bahaya maut dengan sikap yang tenang, bahkan dapat mengatur diri sehingga andaikata ia mati, pikiran dan hatinya kosong, sikap yang amat sempurna.
Sementara itu, Pusporini dan Setyaningsih yang menjaga di luar bangunan tempat tahanan itu menjadi gelisah.
Menanti adalah pekerjaan yang amat sukar dan berat.
Apalagi menanti seperti mereka lakukan itu, menanti Joko Pramono yang memasuki tempat tahanan, yang mereka tahu amat berbahaya.
Sukar ditentukan siapa yang lebih gelisah antara kedua orang wanita muda cantik itu, karena Setyaningsih cemas memikirkan suaminya, sedangkan Pusporini tentu saja gelisah memikirkan keselamatan kekasihnya yang memasuki "guha iblis"
Seorang diri. Setelah lewat satu jam lebih belum juga Joko Pramono kembali, dan keadaan tetap sunyi senyap, Setyaningsih tak dapat lagi menahan kegelisahan hatinya.
"Pusporini, mari kita masuk menyusul Dimas Joko Pramono, mencari Kakangmas Pangeran,"
Kata Setyaningsih dengan suara perlahan. Pusporini mengerutkan alisnya dan menggeleng kepalanya.
"Tidak baik kalau kita pun pergi menyusulnya, Ayunda. Bukankah tadi Joko Pramono sudah meninggalkan pesan agar kita berdua menanti dan menjaga di sini?"
"Ah, sudah begin lama dia pergi dan masih juga belum ada tanda-tanda dia kembali. Sampai kapan kita menanti di sini, adikku? Tepatkah kalau kita membiarkan dia menempuh bahaya untuk menolong Kakangmas Pangeran seorang diri? Bagaimana kalau Adimas Joko Pramono tertangkap pula? Kita harus menyusul, Rini, dan kalau kau tidak mau, biarlah aku pergi sendiri menyusul Joko Pramono dan menolong suamiku."
Pusporini menghela napas panjang.
Memang sesungguhnya kekhawatiran hatinya tidak kalah besar, dan jawabnya tadipun hanya untuk menutupi kekhawatirannya, atau untuk menghibur dirinya sendiri saja.
Maka is berkata.
"Baiklah, Ayunda. Memang aku pun merasa heran mengapa dia belum juga kembali. Marilah, akan tetapi biar saya jalan di depan dan Ayunda di belakang. Kita hams berhati-hati sekali, Ayunda. Musuh kita terlampau keji dan curang."
"Jangan khawatir, Pusporini. Untuk menolong suamiku, aku siap menghadapi apapun juga."
Kedua orang wanita ini melangkah masuk melalui pintu gerbang yang tadi sudah dibuka Joko Pramono.
Mereka berjalan dengan hati-hati, melihat pula para penjaga yang masih tertidur pulas di bawah pengaruh aji penyirepan mereka tadi, dan terus memasuki ruangan depan.
Seperti halnya Joko Pramono tadi, mereka pun tiba di dalam ruangan yang berwarna hijau.
Hanya bedanya, kalau tadi di sebelah belakang itu terdapat sebuah pintu kecil, kini pintu itu lenyap menjadi dinding rata, dan di sebelah kiri muncul sebuah pintu lain.
Pusporini yang berjalan di depan dalam keadaan siap itu memberi tanda kepada ayundanya dan mereka mendorong pintu sebelah ldri itu sehingga terbuka.
"Kakangmas Pangeran !"
Setyaningsih menjerit lirih dan berlari memasuki kamar itu ketika melihat suaminya duduk bersila di atas sebuah pembaringan di sudut kamar.
"Ayunda, jangan ! "
Pusporini berseru.
"Isteriku........, jangan masuk........! "
Pangeran Panji Sigit juga berseru ketika melihat isterinya dan Pusporini muncul di pintu.
Akan tetapi Setyaningsih tidak perduli dan sudah berlari masuk, lalu menubruk suaminya dan mereka berpelukan.
Pada saat itu terdengar suara ketawa di belakang Pusporini yang cepat menengok, akan tetapi Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik telah menyerangnya darl belakang menggunakan senjata mereka.
Pusporini cepat meloncat ke belakang, ke dalam kamar itu karena tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan din dari serangan senjata nenggala dan kebutan yang ampuh itu.
Akan tetapi begitu kedua kakinya menginjak lantai, pintu itu tertutup sendiri dan hanya terdengar suara ketawa Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro di luar pintu.
"Ah, kalian terjebak. !"
Pangeran Panji Sigit berseru cemas.
Pusporini menjadi marah sekali.
Ia mengerahkan aji kesaktiannya, menyalurkan tenaga sakti ke dalam lengannya, kemudian sambil memekik ia meloncat ke depan menghantam pintu itu.
"Desss!!"
Hebat bukan main hantaman dara perkasa ini sehingga seluruh dinding kamar itu tergetar, akan tetapi daun pintu hijau itu ternyata terbuat daripada baja yang kuat sekali dan tertutup oleh gerakan alat rahasia sehingga hanya tergetar saja dan tidak terpecahkan.
Kembali Pusporini menghantam, sampai tiga kali tanpa hasil.
Ia menjadi makin marah, bertolak pinggang menghadapi daun pintu lalu membentak.
"Iblis-iblis laknat! Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro, kalau memang kalian orang-orang sakti,bukalah pintu dan mari bertanding melawan Pusporini yang akan menghancurkan kepala kalian dan memecahkan dada kalian!!"
Namun, yang menjawab tantangannya hanyalah asap putih yang masuk melalui dua bush lubang kecil di lantai.
Asap itu masuk mengeluarkan suara mendesis seperti ular menyambar dan sebentar saja kamar itu penuh oleh asap yang berbau harum bercampur bau amis yang menyengat hidung.
"Awas asap beracun! Rakanda, Ayunda, bertiarap!"
Seru Pusporini.
Pangeran Panji Sigit yang merangkul isterinya itu menarik tubuh Setyaningsih dan mereka segera bertiarap di atas lantai, menelungkup.
Adapun Pusporini, seperti juga yang dilakukan Joko Pramono tadi, menahan napas dan mengerahkan hawa sakti untuk mengayun-ayun lengannya, mendorong dengan maksud mengusir asap itu keluar dari kamar.
Sambaran angin pukulannya membuat asap itu buyar dan bergerak-gerak.
Akan tetapi karena kamar itu agaknya memang tidak diberi lubang, asap yang buyar dan membubung ke atas itu menurun kembali, bersatu dengan asap barn yang keluar terus dari lantai sehingga menjadi tebal memenuhi kamar.
Setelah melihat usahanya gagal, Pusporini melirik ke arah Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih, melihat mereka itu telah roboh pingsan sambil berpelukan.
Dia menarik napas panjang lalu.
duduk bersila dalam keadaan samadhi, seperti yang dilakukan Joko Pramono tadi sehingga tak lama kemudian dia pun menjadi pingsan dalam keadaan duduk bersila!
"Tak-tak, herrr.
Hayolah, kerbau goblok, kerbau malas!
Plak-plak!
Tarr!"
Kerbau yang menarik luku di sawah itu tetap mogok dan mendekam di atas lumpur yang begitu sejuk dan nikmat rasanya di bawah terik sinar matahari di siang hari.
"Kerbau tolol, kubunuh engkau!"
Bentak petani setengah tua itu yang sudah lelah memaki-maki kerbaunya dan kini mulai mencambukinya sekuat tenaga.
Seorang pria muda yang berpakaian serba putih sederhana menghentikan langkahnya menyaksikan peristiwa ini.
Ia lalu memutar tubuh menghampiri pinggir sawah dan matanya sayu memandang ke arah kerbau yang digebuki.
Pria ini masih muda sekali, usianya paling banyak dua puluh satu tahun, akan tetapi is memiliki sepasang mata yang selain tajam berpengaruh, juga demikian penuh pengertian seperti yang hanya dimiliki oleh kakek-kakek pendeta yang sudah memiliki ilmu batin yang hat!
Pakaiannya sederhana sekali, akan tetapi tidak mengurangi ketampanan wajahnya yang berkulit putih halus seperti kulit tubuh wanita.
Alisnya yang tebal hitam dan kelihatan garang itu tidak dapat menandingi kelembutan pandang matanya, sedangkan bibirnya seperti yang selalu tersenyum maklum, seperti senyum seorang ayah melihat tingkah laku anaknya yang nakal dan masih kecil.
"Sudah, Paman. Tiada gunanya menyiksa pembantumu dan tiada baiknya menurut hati yang digelapkan nafsu amarah."
Suara pemuda aneh ini demikian penuh ketenangan dan kesabaran, begitu halus dan lemah lembut sehingga laki-lald yang marah dan menggebuki kerbaunya itu menghentikan perbuatan nya dan menoleh dengan heran, siap untuk menimpakan kemarahan dan kemendongkolan hatinya kepada orang yang berani mencegah dia menggebuki kerbaunya sendiri.
Akan tetapi begitu bertemu pandang dengan mata pemuda itu, seolah-olah ada tetesan embun dingin yang memadamkan semua api kemarahannya, bahkan membuat dia menjadi malu dan merah mukanya.
Akan tetapi, ia hendak membela diri dan mengusir rasa malunya dengan bantahan, sungguhpun kata bantahannya tidak terdorong kemarahan lagi.
"Orang muda, mudah saja maido (mencela). Kerbau ini malas dan bodoh, dia tidak mau menarik luku, habis kalau tidak digebuki apakah harus kutimang-timang?"
Pemuda itu memperlebar senyumnya yang sudah selalu siap di bibir, kemudian ia duduk di atas galengan sawah.
"Maaf, Paman. Aku tidak mencela atau maido, hanya ingin mengingatkan Paman bahwa kerbau itu adalah pembantu Paman. Dia mogok bekerja karena lelah dan kurasa bukan hanya hari ini dia membantu Paman meluku sawah. Manusia telah dikurniai akal budi sedangkan kerbau dikurniai tenaga, sehingga dengan akalnya, manusia dapat mempergunakan tenaga kerbau untuk membantunya meluku sawah. Padahal, meluku sawah atau bekerja untuk mencari pengisi perm adalah menjadi kewajiban si manusia sendiri. Setelah dapat mempergunakan akal sehingga kerbau dapat membantu, manusia seharusnya berterima kasih, tidak hanya kepada Sang Hyang Wisesa yang berkahnya begitu melimpah-limpah kepada manusia, juga kepada kerbau yang membantu nya. Kerbau mogok bekerja tentu ada sebabnya, mungkin dia lelah, mungkin dia sakit, karena kerbau termasuk binatang, mahluk yang selalu bergerak berdasar kewajaran, tidak seperti manusia yang lebih condong kepalsuan dan tidak wajar. Seperti tidak wajarnya perbuatan Paman menggebuki kerbau yang selalu menjadi pembantu Paman."
Petani itu melongo dan hanya bisa menangkap sedikit saja dari ucapan yang mengandung arti dalam dan sukar itu.
"Akan tetapi dia tidak mau menarik luku, berarti membuat pekerjaan terbengkalai, padahal tanah ini perlu dibuka cepat-cepat agar jangan terlambat kalau hujan turun!"
"Sifat manusia memang tidak mengenal budi, berdasar watak ingin senang sendiri, Paman. Kurasa sudah ribuan kali kerbau ini membantu Paman meluku sawah, akan tetapi satu kali saja dia mogok, yang ribuan kali itu tak teringat lagi oleh Paman sehingga Paman tega untuk menyiksanya."
Petani itu kini melepaskan gagang lukunya dan membalikkan tubuh, menghadapi langsung pemuda itu,tidak seperti tadi yang hanya sambil menoleh saja.
"Eh, Kisanak, engkau masih muda akan tetapi bicaramu seperti seorang pendeta saja! Bicara sih mudah, hanya menggoyang lidak menggerakkan bibir, akan tetapi yang menjalankan ini yang sukar. Kalau kerbaunya tidak mau membantu, habis aku hams berbuat bagaimana?"
"Paman keliru. Bicara tidaklah mudah, kalau kita tahu bagaimana harus bicara. Apa yang masuk ke dalam mulut haruslah yang baik dan bersih agar kesehatan kita selalu terjamin. Sebaliknya apa yang keluar dalam mulut pun hams selalu yang baik dan bermanfaat bagi orang lain. Kalau kerbau Paman mogok bekerja karena lelah atau sakit, sebaiknya dia dibiarkan beristirahat dan makan, sedangkan soal pekerjaan dapat Paman lanjutkan dengan cangkul."
Petani itu melototkan matanya.
"Orang muda, engkau merasa pintar, ya? Kalau cuma begitu, tak perlu kau nasehati. Tidak urung aku yang disuruh bekerja, sedangkan untuk menyelesaikan sawah ini hanya dengan sebuah pacul, tentu tidak selesai dalam tiga hari!"
"Paman butuh bantuan? Biarlah aku membantumu, Paman."
Pemuda itu menyingsingkan lengan baju dan celananya, kemudian turun ke sawah.
"Hemm, andika seorang pemuda yang aneh. Apa maksudmu mencampuri urusan orang lain, mencela dan membantu? Apakah pamrihmu hendak membantuku, orang muda?"
"Pamrih? Perbuatan yang berpamrih bergelimang kepalsuan, Paman. Membantu orang lain didasari pamrih, bukanlah bantuan namanya, melainkan usaha tercapainya pamrih itu sendiri. Bagiku, membantumu bekerja adalah wajar, Paman. Andika membutuhkan bantuan karena kerbaumu mogok, dan aku datang membantu, itu sudah wajar, sudah tepat, seperti tepatnya orang lapar makan dan orang haus minum. Ada pamrih apa lagi?"
Pemuda itu lalu menuntun kerbau yang mogok tadi dan anehnya kerbau itu menurut saja dituntun minggir, tidak seperti tadi, digebuki masih tetap mendekam.
Setelah kerbau dan lukunya dibawa ke pinggir, pemuda itu lalu mengambil cangkul dan tanpa banyak cakap lagi mulailah mencangkuli tanah yang belum terluku.
Petani itu memandang dengan mata lebar, lalu menggeleng-geleng kepala tidak mengerti akan sikap pemuda ini, akan tetapi diam-diam girang juga hatinya mendapat seorang pembantu suka rela yang melihat caranya mengayun cangkul boleh diharapkan akan dapat mengejar ketinggalan pekerjaannya karena kerbau mogok tadi.
Ia pun lalu menyambar cangkul sebuah lagi dan bekerja tekun seperti lajimnya para petani bekerja di sawah.
Kelihatannya biasa saja pemuda itu bekerja, akan tetapi betapa girang dan herannya petani itu ketika melihat bahwa hasil cangkulnya pemuda itu empat lima kali lebih cepat dan banyak daripada hasil pekerjaannya sendiri.
Dengan demikian maka dibantu pemuda ini tidaklah lebih lambat daripada kalau dibantu kerbaunya menarik luku!
Lewat tengah hari, seorang gadis ke sawah itu, membawa sebuah bakul berisi nasi bersama sambel wijen dan ikan lele bakar.
Bakul itu disunggi di atas kepala, dipegangi tangan kiri sedangkan tangan kanannya mencangking sebuah kendi berisi air.
"Pak, berhenti dulu. Mengaso dan makan!"
Serunya dengan suara yang renyah melengking.
"Wah, kau sudah datang, Mil Siapkan dua pincuk (pining daun pisang), kami sudah lapar sekali!"
Gadis yang usianya paling banyak tujuh belas tahun, bertubuh ramping padat berkulit hitam manis dengan wajah yang manis sekali itu mengangkat muka memandang ke arah pemuda berkulit putih yang membantu ayahnya.
Kebetulan pada saat itu si pemuda juga menengok ke arahnya dan si gadis tersenyum malu-malu, kemudian menjawab.
"Baik, Pak!"
"Hayo mengaso dan makan dulu, Nak."
Pemuda itu mengangguk, melepas cangkulnya dan menghapus peluh di dahi dengan lengannya.
Kemudian mereka berdua mencuci tangan dengan air kendi lalu duduk di atas galengan sawah.
Pemuda itu mendapat kenyataan betapa gadis petani ini benar-benar manis dan cantik sekali, kecantikan aseli tanpa bantuan bedak dan mangir sehingga ia memandang kagum.
"Paman, anak daramu cantik dan manis sekali!"
Kata pemuda itu.
Kembali petani itu terbelalak melihat sikap dan ucapan yang blak-blakan dan tulus ini, akan tetapi sebagai seorang pria yang sudah banyak pengalaman ia tidak melihat adanya pandang mata kurang ajar sehingga kembali ia tertegun.
Pemuda ini benar-benar seorang manusia aneh dan tidak lumrah!
Akan tetapi pujian yang membuat gadis itu tiba-tiba melengos dan menyembunyikan mukanya yang menjadi merah itu membikin hati kakek petani ini gembira, akan tetapi berbareng juga mengingatkan kakek itu akan kesulitan yang dihadapinya.
"Itulah yang membikin aku tadi menggebuki kerbauku, Nak."
"Pak. ! Si Wage kaugebuki? Kenapa?"
Tiba-tiba gadis itu bertanya sambil memandang bapaknya.
"Dia mogok, mungkin sakit. !"
"Ah, kasihan Si Wage. !"
Gadis itu lalu bangkit berdiri dan berlari menghampiri kerbau yang kini makan rumput di pinggir sawah. Ketika berlari, tubuh ramping padat itu mendatangkan pemandangan yang amat mempesonakan.
"Paman, apakah artinya ucapanmu tadi?"
Tanya si pemuda sambil mengepal nasi dicocol sambel dan ditemani secuwil daging ikan lele panggang, lalu memasukkannya ke mulut.
Petani itu mengunyah nasi yang memenuhi mulutnya dan menelan dengan anggukan kepala, kelihatan nikmat sekali.
Memang sesungguhnyalah bahwa kenikmatan makan seorang petani yang telah bekerja keras dan lelah di bawah terik panas matahari biarpun hanya nasi dengan sambal, mengatasi kenikmatan makan seorang raja yang menghadapi hidangan puluhan macam banyaknya!
"Memang demikian, Nak.
Sutarmi anakku itu amat cantik, kembangnya dusun ini, dan kecantikan nya itulah yang memaksa aku tadi naik darah menggebuki kerbauku.
Soalnya Kepala dusun menjatuhkan pajak yang amat besar berupa hasil sawahku, lebih setengahnya diharuskan untuk disetorkan kepadanya.
Karena tahun-tahun yang lalu hasil sawahku kurang baik dan mendiang isteriku pada waktu itu sakit-sakit saja sehingga mengeluarkan banyak biaya, maka aku jadi berhutang banyak pajak.
Akhir-akhir ini, melihat kecantikan anakku, ketua dusun menyatakan bahwa kalau panen depan ini aku tidak dapat melunasi hutang, jalan satu-satunya agar gusti patih, yaitu yang menguasai daerah pertanian di sini, tidak marah, aku hams menyerahkan Sutarmi kepada kepala dusun untuk dipersembahkan kepada gusti patih.
Katanya untuk dijadikan abdi dalem, akan tetapi aku sudah tua dan sudah banyak mendengar bahwa "
Petani itu menunda kata-katanya dan celingukan ke kanan kiri.
"Bahwa bagaimana, Paman?"
"Bahwa gusti patih paling gemar akan gadis-gadis muda yang cantik, untuk diselir tentunya,"
Kakek itu berbisik.
"Demikianlah, aku harus bekerja keras agar panen depan dapat melunasi hutang atau akan menjadi korbanlah anakku karena kecantikannya. Ketika Si Wage mogok, aku menjadi marah tadi !"
Pemuda itu mengangguk-angguk.
"Ahh, tepatlah pendapat orang-orang pandai di jaman dahulu bahwa setiap hal yang mendatangkan kesenangan, pasti dapat pula mendatangkan kesusahan, seperti halnya engkau mempunyai seorang anak gadis cantik, Paman. Di samping mendatangkan kesenangan dan kebanggaan, sekarang ternyata mendatangkan kesusahan dan kesulitan. Akan tetapi, tidak ada hal yang tak dapat diatasi dengan akal bud!, Paman."
"Akal budi bagaimana? Satu-satunya jalan harus membayar hutang. Kakek itu menghela napas dan melanjutkan makannya. Gadis hitam manis itu, Sutarmi, kini kembali ke situ setelah tadi mengelus-elus leher dan kepala Si Wage.
"Pak, lain kali jangan menggebugi Si Wage, kasihan!"
Katanya merengut.
"Memang, Mi seharusnya engkaulah yang kugebuki karena kecantikanmu. Kalau saja engkau tidak secantik ini tentu tidak akan terpilih sebagai abdi dalem gusti patih,"
Ayahnya mengomel.
"Ah, Bapak kembali membingungkan hal itu. Sudah kukatakan bahwa panen depan ini kita pasti akan dapat melunasi pajak. Kalau tidak pun, alai akan bekerja keras di kepatihan, tidak akan mengecewakan Bapak. Pula, apa sih jeleknya menjadi abdi dalem kepatihan, Pak?"
Ayahnya menggeleng-geleng kepala.
"Aahhh, engkau tidak tahu engkau tidak tahu dan kalau sudah tahu akan terlambat. Lebih baik engkau bermuka buruk akan tetapi terhindar daripada malapetaka "
"Paman, kurasa kalau Paman hanya menghendaki adik ini menjadi buruk mukanya, mudah sekali."
"Apa kau bilang? Apa maksudmu?"
Tanya petani itu menghentikan cucuran air kendi yang tengah digelogoknya.
"Aku mempunyai semacam obat yang akan membuat muka adik Sutarmi menjadi belang-belang dan hitam-hitam sehingga ketua dusun akan jijik melihatnya. !"
"Aku tidak mau! Aku tidak mau mukaku menjadi menjijikkan!"
Sutarmi berkata dan memandang wajah pemuda tampan itu dengan marah. Pemuda itu tersenyum.
"Bukan menjadi buruk seterusnya, Dik. Melainkan buruk dan belang-belang menghitam karena obatku dan untuk menghindarkan Adik daripada incaran ketua dusun. Kalau bahaya telah lewat, dengan obat lain wajah Adik akan menjadi bersih dan halus kembali."
"Ehh ? Betulkah? "
Ayah dan anak itu memandang pemuda itu penuh keheranan, juga penuh harapan.
"Paman dan Adik Sutarmi membutuhkan jalan keluar untuk menghindarkan hal yang tidak kalian sukai, dan aku dapat memberi jalan itu, tentu saja aku tidak berbohong. Aku akan membuat muka Adik Sutarmi menjadi buruk sekali dan Paman dapat mengatakan bahwa dia terkena penyakit. Kutanggung tidak akan ada dukun yang mampu mengobatinya. Kemudian, kalau bahaya sudah lewat, atau sebaiknya kalau Paman dan Adik pindah saja ke daerah lain, dengan obat lain, muka yang menggitam itu akan dapat bersih kembali."
Petani itu berseri wajahnya.
"Ah, akal ini bagus sekali! Anak muda yang aneh dan budiman. Lekas kauberikan obat pemunah muka cantik menjadi muka buruk itu!"
"Obatnya ada pada telapak tanganku, Paman. Adapun obat penawarnya, cukup dipupuri tanah sawah. Bolehkah kucoba sekarang?"
"Cobalah........ cobalah !"
Petani itu mendesak. Pemuda itu menghampiri Sutarmi yang duduk bersimpuh.
"Tengadahkan mukamu dan pejamkan matamu, Dik. Aku akan mengubah kulit mukamu menjadi buruk."
Sejenak mata gadis itu menatap wajah si pemuda, akan tetapi ketika pandang mereka bertemu, gadis itu mendapat perasaan yang aneh, yang membuat ia menaruh kepercayaan besar dan perasaan pasrah.
Ia mengangguk, kemudian mengangkat muka dan memejamkan matanya.
Akan tetapi hanya sebentar karena ia membuka matanya kembali dan bertanya.
"Sakitkah?"
Pemuda itu tersenyum lebar dan menggeleng kepala.
Setelah Sutarmi memejamkan matanya kembali, pemuda itu lalu menggunakan tangan kiri untuk memegang dagu kecil meruncing manis itu, dan mengusapkan telapak tangan kanannya di seluruh muka Sutarmi.
Terdengar napas tersentak ketika si petani melihat betapa muka anaknya secara mendadak telah berubah hitam!
Kalau hanya hitam saja dan merata, tidak apa.
Akan tetapi hitamnya tidak rata, totol-totol sehingga membuat muka itu menjadi buruk sekali.
Pemuda itu melangkah mundur dan duduk lagi sambil berkata.
"Sudah selesai, Dik."
Sutarmi membuka matanya, memandang pemuda itu yang tersenyum-senyum dan mengira bahwa tentu pemuda itu membohonginya karena ia sama sekall tidak merasakan apa-apa.
Akan tetapi ketika ia memandang wajah ayahnya yang melotot matanya dan melongo mulutnya, gadis ini cepat lari mendekati kali kecil di pinggir sawah untuk melihat bayangannya sendiri di air.
Ia menjenguk dan........
tiba-tiba ia menangis.
"Aku tidak mau begini........ hii hiii........ aku tidak mau !"
Kembali ia menjenguk dan memandang ke air dengan air mata bercucuran dan kembali menjerit-jerit dan menangis.
Kemudian Sutarmi lalu menggunakan air kali untuk mencuci mukanya, menggosok-gosoknya dengan tangan dan ujung kemben.
Ketika ia bercermin lagi di air dan melihat mukanya masih tetap belang-belang hitam, ia lalu mengambil batu dan menggosok-gosok mukanya dengan batu dan mencucinya kembali.
Akan tetapi hasilnya tidak ada, mukanya tetap totol-totol hitam dan buruk sekali.
"Aku tidak mau.....! Ah, engkau manusia kejam..... mengapa membikin mukaku menjadi begini. ?"
Dalam kesedihan dan kemarahannya, Sutarmi lalu berlari menghampiri pemuda itu dan menggunakan kedua tangannya hendak memukul dan mencakar.
"Tarmi, jangan!"
Teriak ayahnya yang maju dan memegangi kedua tangan anaknya. Sutarmi menangis mengguguk.
"Pak, lebih baik aku mati saja........ hii-hiii........ mukaku menjadi begini buruk menjijikkan !"
"Jangan khawatir, Dik Tarmi. Sudah kukatakan tadi bahwa segala macam obat atau air tidak akan mampu menghilangkan warna hitam itu, dan segala dukun takkan mampu mengobati. Akan tetapi kalau engkau menghendaki kulit mukamu pulih kembali, kau pupuri dengan tanah sawah, jika Sang Hyang Widhi menghendaki, pasti akan pulih kembali."
Mendengar ini, Sutarmi merenggutkan tangannya terlepas dari ayahnya, lari ke tengah sawah, mengambil lumpur dan memupuri mukanya dengan lumpur sampai rata.
Saking tergesa-gesa, matanya kemasukan lumpur dan ia tersandung-sandung ketika lari ke air untuk mencuci mukanya yang penuh lumpur.
Sekali saja ia menyiramkan air ke mukanya, warna hitam itu lenyap sama sekali.
Tarmi bercermin dan melihat mukanya sudah pulih kembali, ia.
menangis lagi saking girangnya!
"Wah-wah, Tarmi.
Apakah engkau sudah menjadi gemblung (gila)?
Mukamu menjadi hitam menangis, sekarang sudah pulih menangis juga!"
"Berduka mengeluarkan air mata, bersuka juga mengeluarkan air mata. Duka maupun suka bagi air mata memang sama saja, Paman, hanya merupakan permainan hati manusia."
Kemudian pemuda itu berkata kepada Tarmi yang sudah berhenti menangis.
"Bagaimana, Dik. Sudah percayakah engkau? Apakah sekarang engkau suka membiarkan mukamu kubikin hitam lagi untuk menghindarkan dirimu daripada bahaya dan menghindarkan ayahmu dari kesusahan?"
"Harus kau lakukan, Anakku. Sampai urusan ini Beres dan bahaya lewat, kelak mudah saja mengobati mukamu, di mana-mana di dunia ini terdapat tanah sawah!"
Sutarmi memandang pemuda itu, mengangguk sambil tersenyum.
Kini ia mengangkat mukanya dengan muka berseri dan memejamkan matanya ketika pemuda itu mengusap mukanya dengan telapak tangan kanan sehingga muka gadis itu kembali menjadi belang-belang menghitam, buruk dan menjijikkan dalam pandangan pria yang matanya bernapsu.
Seperti tadi, Sutarmi bercermin di air dan kini ia tertawa geli.
"Paman, dan Dik Tarmi, sekarang perkenankan aku pergi."
Tanpa menanti jawaban pemuda itu menghampiri kerbau dan menepuk-nepuk pundaknya.
"Kerbau, bantulah majikanmu. Memang sudah menjadi nasibmu hams membantu manusia, berbahagialah dalam menunaikan kewajibanmu."
Ia lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari pinggir sawah, diikuti pandang mata Tarmi dan pandang mata petani itu yang terbelalak keheranan melihat kini kerbaunya bangkit berdiri dan tampak segar bersemangat.
"Nanti dulu, Nak! Perkenalkanlah namamu !"
Pemuda itu menghentikan langkah, menoleh dan berkata sambil tersenyum.
"Namaku Bagus Seta, Paman!"
Ia lalu membalikkan tubuh dan berjalan pergi lagi dengan langkah ringan.
Bagus Seta kini telah menjadi seorang pemuda yang berpakaian sederhana dan mempunyai wibawa yang aneh.
Gerak-geriknya halus, sikapnya bersahaya, sama sekali tidak membayangkan kekuatan, akan tetapi sepasang matanya yang jernih itu mengandung pengaruh halus yang akan melemahkan hati orang yang keras, dan akan mendatangkan rasa segan karena seolah-olah pandang mata itu dapat menjenguk di dasar yang paling dalam dari hati orang.
Ia baru beberapa pekan turun dari puncak Gunung Bromo, puncak terakhir di mana is dibawa gurunya, Sang Sakti Bhagawan Ekadenta, setelah selama lima tahun gurunya membawanya ke puncak-puncak gunung hampir di seluruh tanah Jawa.
Masih bergema di telinganya pesan gurunya ketika menyuruhnya meninggalkan puncak.
"Kulup Bagus Seta, kini telah tiba saatnya engkau harus turun gunung dan tiba saatnya kita harus saling berpisah.Kiranya tidak perlu lagi kuulangi semua wejangan dan pelajaran yang telah kuberikan kepadamu selama ini. Dan aku pun tidak akan memaksamu melakukan sesuatu karena segala sesuatu yang akan kaulakukan adalah bebas dan terserah atas keputusanmu sendiri, Kulup. Hanya satu hal saja yang kuingin ingatkan kepadamu agar kau camkan di dalam hati sanubarimu."
"Hamba siap mendengarkan petunjuk Eyang dan siap pula melaksanakan segala perintah Eyang,"
Kata Bagus Seta ketika kakek itu berhenti sebentar untuk menghirup udara sejuk bersih puncak Gunung Bromo.
"Ingatlah selalu bahwa tidaklah sia-sia manusia dihidupkan di dunia ini. Hidup adalah perjuangan yang tak kunjung henti, perjuangan manuju ke titik terakhir yang menjadl puncak kesempurnaan. Hidup barulah tidak sia-sia dan berhasil apabila engkau selalu radar bahwa perjuangan itu adalah pelaksanaan kewajiban. Tanamkan dalam sanubarimu bahwa setiap gerak hidup hams didasari pelaksanaan kewajiban itulah. Apakah kewajiban manusia hidup? Tengoklah di sekelilingmu, Kulup. Pandanglah Sang Surya dan kenalilah sifat-sifatnya, pandanglah bulan dan bintang, awan dan angin, segala macam tetumbuhan dan segala mahluk. Adakah mahluk yang tiada manfaat atau kegunaannya dalam dunia, yaitu kegunaan atau kemanfaatannya bagi benda atau mahluk lath? Kalau toh ada kautemukan benda atau mahluk yang tidak berguna bagi yang lain, hal itu hanya karena engkau belum mengerti akan kegunaannya, masih belum terbuka rahasia alam yang ada pada benda atau mahluk yang kauanggap tidak berguna itu. Semua Benda dan mahluk di dunia ini bermanfaat bagi makhluk dan Benda lain. Dan itulah kewajiban diciptakannya semua alam mayapada dan isinya. BERGUNA BAGI BENDA DAN MAHLUK LAIN. Lebih mudah lagi, bagi manusia kewajibannya adalah berguna bagi manusia lain! Dengan demikian, maka engkau berarti telah hidup sesuai dengan kehendak alam, berarti sudah wajar dan dapat menuju ke titik kesempurnaan itu. Nah, selamat berjuang, Kulup Bagus Seta."
Wejangan-wejangan gurunya masih teringat semua oleh Bagus Seta.
Semuda itu ia telah digembleng oleh gurunya dalam hal ilmu-ilmu kesalctian dan wejangan-wejangan kebatinan yang dalam.
Semuda itu ia sudah dapat menangkap inti sari wejangan gurunya.
Bahwa ia hams memanfaatkan hidupnya bagi kepentingan orang lain, karena inilah kewajibannyaa, inilah tugas hidup dia sebagai manusia.
Adapun apa dan bagaimana pilihannya dalam sepak terjangnya, oleh gurunya diserahkan kepada dirinya sendiri, berarti diserahkan kepadanya untuk menilai dan memilih.
Bagus Seta adalah putera seorang satria.
Adipati Tejolaksono, seorang sakti yang berjiwa patriot, yang rela berkorban untuk nusa dan bangsanya.
Sifat ini, sifat ayahnya, ibunya, bahkan sifat nenek-neneknya yang juga semua berjiwa patriot, membekas di dalam sanubarinya.
Karena itu, ada juga niatnya untuk menghambakan diri kepada nusa dan bangsanya, menentang kekuasaan-kekuasaan yang hendak menyengsarakan nusa bangsanya.
Pertemuannya dengan petani yang menyinggung soal watak Ki Patih Jenggala, yang sewenang-wenang dan suka sekali mempermainkan anak gadis orang, membangkitkan pula semangat patriotiknya ini.
Dia harus meninjau ke Jenggala sebelum ia mencari ayah bundanya.
Harus meninjau Jenggala karena keadaan paman tadi mencerminkan kelaliman yang berkuasa di kerajaan itu.
Dan Jenggala termasuk kerajaan yang hams pula dibelanya, karena Jenggala adalah kerajaan keturunan Mataram.
Pertemuannya dengan petani ayah Sutarmi itulah yang menggerakkan hati Bagus Seta sehingga menggerakkan pula kakinya untuk membelok menuju Kerajaan Jenggala.
Di sepanjang perjalanan, makin dekat dengan Kota Raja Jenggala, makin banyaklah mendengar keluh-kesah rakyat akan kelalilam para pamong praja Jenggala.
Bukan ini saja yang menarik hatinya, melainkan kenyataan bahwa kini rakyat setengah dipaksa oleh para pamong praja untuk mengganti Agama Wishnu menjadi Agama Syiwa dan Agama Buddha.
Bahkan ada didengarnya berita bahwa para pendeta Wishnu banyak yang lenyap secara aneh, dan bahwa sebagian kecil sisa pendeta-pendeta Wishnu kini terpaksa melarikan diri dan bersembunyi ke gunung-gunung yang sunyi.
Kita tinggalkan dulu Bagus Seta untuk menjenguk keadaan di dalam tempat tahanan di istana Jenggala.
Di dalam sebuah ruangan tahanan yang berbentuk persegi dan terbuat daripada dinding batu-batu tebal tampak empat orang muda terbelenggu dengan rantai-rantai baja yang amat tebal dan kuat.
Kedua lengan mereka, pada pergelangan tangan, terbelenggu dan karena rantai itu dikaitkan pada besi pengait yang dipasang di dinding di atas kepala mereka, maka mereka berempat terpaksa mengangkat kedua lengan mereka di kanan kin dan dalam keadaan seperti itu sukar sekali bagi mereka untuk mencoba melarikan diri atau mempergunakan kekerasan.
Mereka dibelenggu pada dinding itu berjajar.
Paling kanan adalah Pusporini, di sebelah kirinya Joko Pramono,.
kemudian Setyaningsih dan paling ldri adalah Pangeran Panji Sigit.
Ketika mereka berempat itu siuman dari pingsan, mereka mendapatkan diri mereka telah berada didalam kamar tahanan ini.
Pangeran Panji Sigit menoleh ke kanan, terkejut melihat Joko Pramono juga terbelenggu di sebelah kanan isterinya bersama Pusporini, mereka berpandangan mata dan pangeran itu berkata dengan suara dingin dan tajam melebihi pedang habis diasah.
"Joko Pramono, setelah engkau berhasil memikat burung, mengapa tidak memelihara dan menjaga burung itu baik-baik akan tetapi membiarkannya celaka dan terancam maut?"
Tentu saja Joko Pramono tahu apa makna ucapan ini, akan tetapi ia sudah maklum betapa pangeran ini, seperti halnya Pusporini, juga menjadi korban tipu muslihat keji dan curang dari Suminten, maka dengan sikap sabar dan bibir tersenyum ia menjawab.
"Kakangmas Pangeran, burung itu suci, tidak terpikat dan juga tidak pernah kupikat, melainkan sedang gelisah mencari pasangannya yang terkurung dan aku bersama Pusporini hanya membantunya untuk berusaha menolong pasangannya."
"Joko Pramono! Sungguhpun rayuanmu berhasil menjatuhkan hati isteri orang, jangan harap akan dapat menjatuhkan hatiku, setelah mataku sendiri menyaksikan semua yang teijadi. Aku tidak mendendam, aku rela menyerahkannya kepadamu, rela mengalah kalau memang dia cinta kepadamu, aku....... aku."
"Kakangmas Pangeran!"
Terdengar Setyaningsih menjerit lirih di sampingnya, sedangkan Pusporini berbisik kepada Joko Pramono.
"Kau maafkanlah dia seperti engkau memaafkan aku, Joko."
Joko Pramono tersenyum dan memandang ke depan.
"Tidak ada yang dimaafkan, Rini, karena memang seperti engkau juga, dia tidak bersalah. Melainkan si iblis betina itulah yang bersalah."
"Rakanda Pangeran, jangan menuduh yang bukan-bukan terhadap Joko Pramono. Dia telah mengerahkan seluruh daya dan tenaganya untuk menolong kita, bahkan rela mempertaruhkan nyawa untuk kita. Dia bersama Pusporini sekarang ikut pula tertawan, untuk siapa lagi kalau bukan untuk membela kita? Paduka telah khilaf, terjebak menjadi korban tipu muslihat keji yang juga mengorbankan Pusporini. Tahukah paduka, bahwa karena kesalah fahaman yang sama seperti paduka, Pusporini hampir saja membunuh Joko Pramono yang tidak berdosa?"
Dengan singkat namun jelas Setyaningsih lalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi di dalam taman, kemudian tentang pertemuan mereka dengan Ki Wiraman dan Widawati, tentang Ki Mitra yang mereka percaya itu sesungguhnya Ki Mitra palsu, mata-mata yang sengaja dipergunakan oleh Suminten untuk memalsu Ki Mitra yang telah dibunuh.
Pangeran Panji Sigit mendengarkan dengan mata terbelalak, mukanya menjadi berubah-ubah, sebentar merah sebentar pucat.
Apalagi ketika ia mendengar penjelasan dari Pusporini kemudian dari Joko Pramono, tak tertahankan olehnya lagl dua titik air mata membasahi pelupuk matanya ketika ia memandang kepada Joko Pramono.
"Dimas........Dimas Joko Pramono........ maukah andika mengampuni aku yang seperti buta mata ini?"
Katanya dengan suara menggetar saking terharu. Joko Pramono tersenyum lebar.
"Kakangmas Pangeran, paduka tidak bersalah apa-apa, bahkan saya merasa terharu sekali mendengar ucapan dan menyaksikan sikap paduka tadi. Sungguh sikap yang bijaksana dan saya sendiri tak mungkin dapat bersikap sebijaksana paduka andaikata saya yang tertipu seperti paduka. Sekarang tidak perlu kiranya persoalan itu dibicarakan karena sudah jelas bahwa kita semua menjadi korban tipu muslihat keji wanita iblis itu dan bahwa semenjak kita berempat menjejakkan kaki di kota raja ini, kita telah berada dalam cengkeraman mereka, sudah diawasi seluruh gerak-gerik kita. Sekarang kita tertawan, jalan satu-satunya hanya dapat menyerahkan diri dalam tangan Dewata sambil bersikap waspada akan gerak-gerik mereka selanjutnya."
"Andika hebat dan mengagumkan sekali, Dimas. Apa pun yang terjadi, aku tidak menyerah terhadap bujukan Suminten yang berusaha menarik kita menjadi sekutunya. Daripada mengkhianati Kanjeng Rama, lebih baik aku tewas di tangan iblis betina itu."
"Tepat sekali, Kakanda. Saya pun rela tewas di samping Kakanda sebagai dharma bakti kita terhadap Kanjeng Rama Prabu dan terhadap kerajaan paduka, Jenggala,"
Kata Setyaningsih.
"Kita lihat saja apa yang akan dilalakukan selanjutnya oleh wanita iblis itu terhadap kita,"
Kata Joko Pramono.
Dan apa yang dilakukan selanjutnya oleh Suminten segera dihadapi oleh empat orang muda itu.
Suminten adalah seorang wanita yang kukuh dalam mengejar hasrat hatinya.
Ia masih tergila-gila kepada Pangeran Panji Sigit, dan takkan puaslah hatinya kalau hasrat itu belum terpenuhi.
Daya upaya dengan muslihat yang betapa rendah dan keji sekali pun akan ditempuhnya untuk mencapai cita-cita hatinya.
Tidak sampai lama setelah mereka berempat sadar, pintu kamar tawanan yang kokoh kuat itu terbuka dan tampaklah Suminten yang dikawal oleh enam orang pengawal bersenjata tombak.
"Kalian menanti dan menjaga di luar!"
Kata Suminten dengan suaranya yang serak basah mengandung penuh getaran nafsu berahi.
Enam orang pengawal yang muda-muda dan kelihatan gagah dan kuat itu membungkuk dengan hormat dan menjaga di luar pintu, sedang Suminten lalu melangkah masuk dan menutupkan daun pintunya.
Ia melangkah maju dan berdiri dalam jarak yang cukup aman, sejauh dua meter sehingga andaikata empat orang tawanan itu yang hanya dapat menggunakan kaki menyerangnya takkan dapat mencapai tubuhnya.
Ia tersenyum manis sekali, lalu menggeleng kepalanya dan berkata.
"Sungguh sayang sekali bahwa empat orang muda belia yang gagah perkasa, wanitanya cantik-cantik dan prianya tampan-tampan akhirnya hams mengakhiri hidup dalam keadaan begini menyedihkan. Aku sendiri ikut terharu dan bersedih, akan tetapi apakah yang dapat kulakukan setelah kalian berempat menjadi pemberontak-pemberontak yang membahayakan Kerajaan Jenggala?"
"Suminten, wanita iblis yang kelak menjadi intip neraka jahanam!"
Pangeran Panji Sigit memaki penuh kemarahan karena ia teringat betapa wanita itu telah mengatur tipu muslihat keji sehingga ia sampai kehilangan kepercayaan akan kesetiaan isterinya, bahkan telah menjatuhkan tuduhan rendah terhadap Joko Pramono.
"Tak perlu memutar lidahmu yang seperti lidah ular bercabang! Kami tidak akan mendengarkan dan kalau kau hendak membunuh kami, lakukanlah, kami adalah orang-orang berjiwa satria yang tidak gentar menghadapi kematian!"
"Duh Pangeran yang bagus seperti Harjuna, yang gagah perkasa seperti Gatutkaca, betapa gagah beraninya engkau. Suminten takkan pernah meragukan kegagahanmu, Pangeran. Akan tetapi kaulihatlah baik-baik keadaan isterimu, keadaan Joko Pramono dan Pusporini. Tidakkah engkau merasa kasihan kepada mereka bertiga ini, Pangeran? Mengapa engkau begin kukuh mempertahankan kegagahan dan kekesatriaan sendiri tanpa mengingat akan kehidupan mereka bertiga ini? Engkau menyerahlah dan menjadi pengeran terhormat di sini, menghentikan permusuhanmu denganku, dan aku berjanji akan membebaskan mereka bertiga ini. Tidakkah ini amat murah hati dariku? Tiga orang yang kauhormati dan kaukasihi ini kubebaskan dan sebagai tebusannya, engkau bersekutu dengan aku, meraih kebahagiaan bergelimang kesenangan di sini sebagai seorang pangeran ah, tidak, sebagai pangeran mahkota di sini!"
Hebat dan muluk bukan main bujuk rayu ini sehingga hati Setyaningsih menjadi amat khawatir, akan tetapi karena ia percaya penuh kepada suaminya, ia tidak berkata sesuatu, hanya memandang Suminten dengan sinar mata penuh kebencian.
Memang sejenak Pangeran Panji Sigit termenung dan memikirkan penawaran ini.
Ia tidak berpikir demi, keselamatan dan kepentingan dirinya sendiri.
Sama sekali tidak!
Jauh daripada itu.
Yang dipikirkan sekarang adalah kemungkinan membebaskan tiga orang muda itu, terutama sekali isterinya, Setyaningsih!
Kalau ia berpura-pura menurut dan menyerah, kemudian isterinya, Joko Pramono dan Pusporini sudah dibebaskan, bukankah dia dapat memberontak sampai terbunuh mati?
DARIPADA menolak dan mereka semua terbunuh, bukankah lebih menguntungkan kalau dia seorang saja yang tewas sedangkan mereka bertiga itu bebas?
Suminten hanya menghendaki dirinya, maka jalan satusatunya untuk menyelamatkan isterinya, Pusporini dan Joko Pramono adalah berpura-pura menyerah.
Mereka masih muda-muda, berhak untuk hidup puluhan tahun lagi.
Tiba-tiba terdengar suara Pusporini melengking nyaring, tertawa.
Kemudian gadis yang agaknya menyelami pikiran Pangeran Panji Sigit itu berkata.
"Heh, Suminten perempuan tak bermalu! Kalau penawaran itu kauajukan kepada orang lain, mungkin mereka itu akan menganggap amat baik mengorbankan diri sendiri demi kebebasan tiga orang yang dikasihinya. Akan tetapi andaikata aku yang kautawari hal rendah itu aku akan mengatakan bahwa aku akan bangga menyaksikan tiga orang yang kukasihi tewas sebagai satria-satria sejati, berkorban demi negara dan demi kebenaran!"
Ucapan gadis perkasa ini seolah-olah percikan air sewindu yang dingin sejuk, menyadarkan Pangeran Panji Sigit dari lamunannya.
Ia kini sadar bahwa yang terpenting bukanlah nyawa dan hidupnya tiga orang yang dikasihinya itu, melainkan kehormatan mereka sebagai pembela0-pembela kebenaran.
Kalau ia menyerah lalu tewas dan mereka bertiga itu terbebas, mereka bertiga akan hidup merana dan merasa terhina selamanya.
Apalagi Setyaningsih, tentu akan tersiksa hidupnya dan menganggap suaminya seorang pengecut yang mudah tunduk terhadap rayuan seorang wanita iblis macam Suminten.
"Duh Yayi Pusporini, terima kasih! Suminten, kau sudah mendengar sendiri, dan begitulah jawabanku untuk penawaran dan rayuanmu yang keji dan palsu itu!"
Suminten merasa seperti ditampar mukanya, akan tetapi ia masih belum putus asa.
Pendirian Pangeran Panji Sigit dan Pusporini seperti itu, akan tetapi belum tentu demikian pendirian Joko Pramono, pemuda yang bertubuh tegap dan kejantanannya menarik hatinya dan membangkitkan berahinya itu.
Ia memandang kepada Joko Pramono dan berkata.
"Bagaimana dengan engkau, Joko Pramono? Bagaimana pendapatmu kalau kau kuangkat menjadi komandan pengawal dalam istana, hidup di sini dengan aman dan makmur seorang diri atau berdua dengan Pusporini yang kaucinta?"
"Aku tidak sudi! Kalau engkau ingin menjilati telapak kaki iblis betina ini, Joko, silahkan akan tetapi aku lebih baik mati!"
Bentak Pusporini dengan galak. Joko Pramono tersenyum.
"Jangan khawatir, Rini dewi pujaan hati yang terkasih. Wanita ini kuanggap sebagai ular beracun, mana aku sudi mendengarkan bujukannya? Seribu kali lebih baik mati daripada menyerah kepada wanita ini!"
Suminten tidak merasa sakit hati mendengar jawaban ini, malah kini is memandang kepada Setyaningsih yang sejak tadi memandangnya penuh kebencian, lalu berkata.
"Setyaningsih, aku tabu betapa engkau mencinta suamimu. Mengapa engkau tega benar melihat suamimu terancam bahaya maut? Apakah kau akan tega kalau melihat suamimu disiksa sampai mati, sekerat demi sekerat, di depan kakimu? Kau bujuklah suamimu agar suka menyerah dan menuruti permintaanku dan engkau akan hidup bahagia di sini bersama suamimu yang akan menjadi pangeran mahkota dan kelak mungkin menjadi raja di Jenggala dan engkau menjadi permaisurinya!"
Setyaningsih memandangnya dengan sinar mata makin marah, lalu menjawab.
"Suminten, aku mendengar bahwa engkau adalah bekas pelayan, bekas abdi dalem Ayunda Endang Patibroto. Biarpun sekarang dengan kelicikanmu engkau telah menduduki tempat tinggi, namun watakmu lebih rendah daripada watak seorang abdi dalem yang paling rendah. Lebih rendah daripada watak seorang Sudra yang paling hina! Aku adalah adalah seorang wanita berdarah satria, apa yang diucapkan suamiku, apa yang menjadi pendirian suamiku adalah pendirianku pula sampai mati!"
Suminten merasa mendongkol sekali hatinya, akan tetapi patut dipuji wanita ini yang pandai menyembunyikan perasaan tidak senang ini di balik senyum manis.
Senyumnya manis memikat, kerling matanya seperti kerling mata orang yang ramah, akan tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya sebelum meninggalkan empat orang tawanan itu mengandung ancaman yang mengerikan.
"Baiklah, saat ini kalian boleh merasa bangga akan kekerasan hati dan menganggap kalian gagah dan menang, boleh menertawakan aku dan menganggap aku kalah. Akan tetapi kalian belum mengenal Suminten! Akan tiba saatnya kalian menyembah dan meratap minta diampuni."
Setelah berkata demikian, wanita ini membalikkan tubuhnya dan pergi dari tempat itu, meninggalkan empat orang muda yang saling pandang dan sama sekali tidak bernapsu untuk mentertawakan Suminten.
"Kita harus menolong mereka! Kalau tidak segera ditolong, keadaan mereka akan terancam bahaya besar."
Wiraman berkata sambil mengepalkan tinju.
Baru saja menerima laporan mata-matanya yang beroperasi di Kota Raja Jenggala, bahwa Pangeran Panji Sigit, Joko Pramono, Pusparini dan Setyaningsih telah menjadi tawanan di dalem kamar tahanan istana, dan bahwa keselamatan nyawa mereka terancam karena didesas-desuskan keluar istana bahwa keempat orang muda itu telah memberontak.
Widawati memandang suaminya, dan berkata.
"Memang tidak ada jalan lain. Kita berdua hams menyelundup ke kota raja dan menolong mereka. Hanya kita yang dapat menolong mereka, karena kita yang lebih mengenal akan keadaan di istana."
Widawati memandang suaminya, dan berkata.
"Memang tidak ada jalan lain. Kita berdua harus menyelundup ke kota raja dan menolong mereka. Hanya kita yang dapat menolong mereka, karena kita yang lebih mengenal akan keadaan istana."
Wiraman memegang tangan Widawati dengan penuh kasih sayang.
Wanita muda ini telah menjadi selirnya dan di antara mereka, biarpun terdapat perbedaan usia yang cukup banyak, telah terjalin cinta kasih dan pengertian yang kokoh kuat.
"Adinda Widawati isteriku yang tercinta. Tugas menolong mereka itu akan kulakukan sendiri dan engkau tak perlu ikut, Adinda. Tugas ini amat berbahaya dan akulah yang mengetahui dengan jelas akan seluk-beluk rumah tahanan di istana dengan semua alat rahasianya. Ingat, aku pernah bertugas sebagai kepala penjaga di sana."
"Tidak, Kakang Wiraman. Aku haruss ikut karena ini juga menjadi tugasku. Dengan menentang Suminten berarti aku telah melaksanakan dharma baktiku terhadap keluargaku yang terbasmi gara-gara kekejaman Suminten. Di samping itu, susah terlalu lama kita berkumpul dan sekarang aku tidak akan dapat berpisah lagi dari sampingmu. Ingatkah janjimu, Kakang? Kita hidup bersama mati berdua, senang sama dinikmati dan susah sama diderita?"
Wiraman menggeser duduknya, mendekat dan merangkul wanita muda dan cantik yang menjadi selirnya yang tercinta itu.
Selatna hidupnya, biarpun is dahulu menjadi seorang pengawal pilihan yang berkedudukan tinggi di kepatihan Jenggala, belum pernah Wiraman mempunyai selir.
Sekarang, setelah mereka berdua menjadi korban racun ular wills sehingga melakukan hubungan sanggama dan terpaksa mereka saling terikat sebagai suami isteri, Wiraman merasa betapa kasih sayangnya terhadap wanita ini makin lama makin mendalam.
"Duhal Yayi Widawati, isteriku yang budiman. Alangkah akan bahagia rasa hatiku kalau dapat hidup aman-dan tenteram dalam sebuah rumah tangga di sampingmu dan isteri tua serta putera-puteriku. Adinda akan merupakan cahaya matahari dalam rumah tanggaku. Isteriku akan bangga mempunyai madu seperti Adinda, dan putera-puteriku akan menganggap Adinda sebagai contoh dan guru yang pandai!"
Widawati tersenyum sehingga lesung pipit di samping bibirnya nampak makin jelas.
"Semoga Dewata akan mengabulkan harapan Kakanda. Setelah tugas kita berhasil baik dan selesai, tentu akan tercapai idaman hati kita."
"Semoga begitulah, atau kalau gagal..."
"Kita mati bersama,"
Sambung Widawati, dan mereka berangkulan dengan hati penuh keharuan.
Tidak ada kata--kata yang dapat dikeluarkan akan dapat lebih jelas menunjukkan perasaan hati mereka yang penuh cinta kasih dan penuh keprihatinan menghadapi tugas berat itu.
Namun mereka berdua manusia yang saling mencinta ini memiliki pegangan yang amat kuat, yaitu cinta mereka dan keyakinan bahwa hidup atau mati, mereka takkan saling berpisah.
Cinta yang demikian besar amatlah kuatnya, mengatasi segala keraguan dan kekhawatiran, bahkan dengan modal cinta seperti itu, mereka akan menghadapi maut dengan mulut tersenyum.
Demikianlah,pada keesokan harinya,menjelang senja,Wiraman dan Widawati berhasil menyelun dup memasuki kota raja.
Tentu saja tidaklah begitu sukar bagi Wiraman untuk menyelundup masuk dalam kota raja yang dahulu menjadi daerah dia bertugas.
Tidak ada lorong atau jalan rahasia yang tak dikenalnya dan pada malam harinya Wiraman dan Widawati sudah berhasil pula menyelundup masuk ke dalam kompleks bangunan tahanan di istana.
Tentu saja mereka tidak menempuh jalan depan seperti yang dilakukan Joko Pramono, Pusporini dan Setyaningsih dua hari yang lalu, melainkan mengambil jalan rahasia yang hanya diketahui oleh "orang-orang dalam"
Saja.
Mereka berdua muncul dari lorong rahasia itu dan tiba di bagian belakang bangunan tahanan, menyelinap di bawah pohon dan bersembunyi di bayangan yang gelap.
Untuk keperluan tugas penting menyelamatkan empat orang tawanan, Wiraman dan Widawati sudah bersiap-siap.
Widawati mengenakan pakaian ringkas, bahkan bajunya ringkas tak berlengan, sebatang keris pusaka terselip di pinggang, rambutnya yang hitam panjang diikat ke atas agar tidak mengganggu gerakannya.
Adapun Wiraman sendiri bertelanjang baju sehingga tampak dadanya yang bidang dan kuat, sarung di luar celananya diikatkan ke pinggang dan tangannya memegang sebatang golok tajam, wajahnya serius dan penuh kewaspadaan.
Setelah digembleng selama dua tahun oleh Resi Mahesapati, kepandaian Wiraman meningkat dan kini is menjadi seorang yang digdaya, sedangkan Widawati yang dahulunya seorang gadis yang lemah kini menjadi seorang gadis yang boleh diandalkan dalam pertandingan melawan musuh berat.
"Kita membobol jendela itu yang menuju ke dapur tahanan sang pangeran,"
Bisik Wiraman.
Widawati memandang ke depan.
Dan bawah pohon itu, sejauh lima puluh meter, tampaklah jendela itu, sebuah jendela besar yang atasnya, pada dinding batu diukir muka seorang raksasa sehingga jendela dengan niji-rujinya dari besi itu merupakan mulut raksasa.
Akan tetapi di depan jendela itu terdapat empat orang penjaga yang berdiri tegak memegang tombak.
Agaknya penjagaan di tempat tahanan itu amat kuat, sehingga jendela dapur saja dijaga oleh empat orang!
"Dijaga kuat!"
Bisik Widawati di dekat telinga Wiraman.
"Jendela itu jalan masuk yang paling mudah, dan penjaganya hanya empat orang. Melalui jalan lain tak mungkin pintu-pintu dijaga oleh lebih banyak penjaga. Kita hams robohkan mereka. Wati engkau robohkan penjaga yang berdiri paling kifi, dialah yang paling lemah di antara mereka. Sanggupkah?"
Widawati mengangguk dan memandang calon lawan itu dengan mata bersinar sambil meraba gagang keris yang terselip di pinggangnya.
Melihat Widawati sudah siap, Wiraman menyentuh lengan yang berkulit hams itu, berbisik.
"Tunggu sampai mereka menoleh ke arah sambitan batu dari tanganku, baru turun tangan secepatnya, jangan memberi kesempatan mereka memekik. Mari kita mendekat, ke bawah pohon depan jendela itu."
Kembali Widawati mengangguk dan mereka berdua lalu menyelinap menyelinap melalui tempat gelap sehingga akhirnya mereka bersembunyi di balik batang pohon dekat jendela dan tempat para penjaga berdiri hanya beberapa meter saja dari mereka.
Jantung kedua orang ini berdebar.
Wiraman menyentuh lengan Widawati, kini tidak lagi mereka berani saling berbisik.
Widawati menoleh, mereka berpandangan dalam cuaca remang-remang, hanya diterangi lampu yang tergantung di sudut atas, dekat jendela.
Biarpun mulut mereka tidak berbicara, namun sepasang mata mereka berbicara banyak mencurahkan isi hati, sama-sama maklum bahwa saatnya telah tiba di mana mereka akan mempertaruhkan nyawa.
Kalau berhasil, mereka akan dapat menyelamatkan empat orang tokoh penting yang mereka junjung tinggi, kalau gagal berarti mereka akan tewas dan tidak ada kesempatan lagi bagi mereka untuk saling mengucapkan selamat berpisah di dunia ini.
Sedetik mereka terharu dan seperti ada yang menggerakkan, keduanya saling mendekatkan muka dan berciuman sebagai pengganti kata-kata.
Ciuman yang amat mesra, ciuman yang mendatangkan semangat dan menambah keberanian karena dalam ciuman itu mereka dapat merasakan cita kasih masing-masing yang amat mendalam sehingga mereka yakin bahwa hidup atau mati, mereka takkan berpisah lagi.
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 11
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 18