Eps 11 Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo
Baca online Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo
Cersil Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo.
Setelah menghentikan ciuman, mereka saling pandang.
Wiraman mengangguk sebagai pertanyaan dan Widawati mengangguk bagai jawaban bahwa ia telah siap.
Wiraman mengambil segenggam kerikil dari atas tanah, kemudian setelah mengukur jarak, ia menyambitkan genggaman itu ke arah kanan.
Empat orang penjaga itu mendengar suara berkerosok di kanan, cepat menengok, bahkan memutar tubuh ke kanan dengan seluruh perhatian dicurahkan untuk melihat apa yang menimbulkan bunyi itu.
Dan pada detik itu, Wiraman dan Widawati meloncat keluar dengan gerakan cepat bagaikan dua ekor harimau menerkam.
Widawati yang sejak tadi sudah memperhatikan penjaga yang tadi di ujung kiri menerjang maju, kerisnya diayun.
Penjaga itu terbelalak kaget, memutar tubuh dan menggerakkan tombak, namun terlambat karena pada saat itu, keris pusaka di tangan Widawati telah menancap tepat di ulu hatinya.
Keris dicabut sambil meloncat ke samping agar tidak terkena muncratnya darah yang menyembur keluar dari dada, disusul robohnya penjaga itu.
Wiraman juga sudah menggerakkan goloknya sehingga tampak sinar putih berkelabat.
Seorang penjaga roboh seketika dengan leher putus, penjaga ke dua roboh dengan perut robek dan isi perutnya keluar, akan tetapi penjaga ke tiga dapat menangkis sambaran golok dengan tombaknya.
Tombak itu patah, akan tetapi ia dapat terhindar dari golok Wiraman.
Namun, pada detik berikutnya, sebelum penjaga ini sempat berteriak, keris di tangan Widawati telah amblas memasuki lambungnya dan robohlah penjaga itu pula.
Tubuh keempat orang penjaga itu hanya berkelojotan sebentar lalu terdiam, tak bernyawa lagi.
Tanpa banyak cakap Wiraman lalu menyeret dan melempar empat batang mayat itu ke dalam semak-semak di bawah pohon, kemudian ia menggandeng tangan Widawati mendekati jendela yang kini tidak terjaga lagi.
Mereka mengintai dari luar jendela melalui ruji-ruji jendela dan betapa kaget hati mereka ketika melihat bahwa di sebelah dalam dapur rumah tahanan itu terdapat belasan orang penjaga lain yang sedang makan minum.
Agaknya mereka adalah penjaga-penjaga yang tiba giliran beristirahat lalu mengenyangkan perut di dalam dapur itu.
Wiraman dan Widawati cepat melompat menjauhi jendela, kembali ke bawah pohon.
"Tidak ada jalan lain, hams memancing semua penjaga keluar dari tempat tahanan, kemudian dalam keributan kita masuk melalui jendela, membebaskan mereka dan melarikan diri melalui terowongan rahasia yang terdapat dalam kakus kamar tahanan,"
Bisiknya.
"Cara bagaimana memancingnya?"
Wiraman menunjuk ke arah lampu yang tergantung di atas jendela.
"Dengan api."
Ketika melihat kekasihnya mengangguk, Wiraman berbisik lagi.
"Kau tunggu di sini, aku akan membakar gudang perlengkapan di sebelah kanan itu. Setelah terjadi kebakaran dan keadaan geger, pergunakan golok ini untuk membabat putus ruji-ruji jendela."
Wiraman menyerahkan golok lalu menyelinap pergi.
Widawati memandang ke arah lenyapnya bayangan suaminya dengan jantung berdebar tegang.
Tak lama kemudian tampaklah api berkobar di sebelah kanan dan terdengar teriakan-teriakan orang.
Widawati melihat betapa banyak penjaga lari berserabutan keluar dari dalam rumah tahanan.
Ia cepat menghampiri jendela dan mengintai.
Girang hatinya melihat dapur itu kosong dan para penjaga yang tadi makan minum tidak nampak lagi, hanya tinggal bekas-bekas makanan dan minuman yang agaknya ditinggalkan dalam keadaan tergesa-gesa.
Widawati lalu menggerakkan goloknya membabat ke arah jendela yang beruji besi.
"Trangggg ". Golok itu terpental dan terlepas dari tangan Widawati karena tertangkis oleh sebatang keris yang digerakkan sebuah lengan tangan yang kuat sekali.
"Ha-ha-ha, sudah kuduga! Menimbulkan kebakaran untuk memancing para penjaga keluar! Kiranya seorang wanita yang cantik manis berani mati hendak menolong para tawanan. Aha, engkau boleh juga, manis, patut menjadi tawananku dalam kamar tidurku. Ha-ha-ha, senangkan hatimu karena menjadi tawanan Patih Warutama adalah hal yang amat nikmat dan menyenangkan!"
Mendengar bahwa orang yang menangkis goloknya itu adalah Patih Warutama, kemarahan dan kebencian Widawati tak dapat ia bendung lagi.
Tangan kanannya mencabut keluar kerisnya, dan telunjuk kirinya menuding.
"Si keparat! Kiranya engkau inilah Warutama manusia iblis yang bersekongkol dengan iblis betina Suminten dan menghancurkan seluruh keluarga kakekku, Eyang Patih Brotomenggala? tahanan laknat, rasakan pembalasan Widawati, cucunya!"
Ucapan ini disusul dengan terjangan Widawati yang marah sekali.
Ia menyerang dengan kerisnya, dan biarpun kepandaiannya sama sekali belum ada artinya kalau dibandingkan dengan kesaktian Ki Patih Warutama, namun dalam keadaan marah dan benci itu ia menjadi nekat dan gerakannya amatlah dahsyat dan ganas.
Ki Patih Warutama juga terkejut nendengar bahwa wanita muda yang antik ini adalah cucu mendiang Ki Patih Brotomenggala.
Tentu saja keturunan Brotomenggala harys dibasmi, akan tetapi sifat mata keranjang Warutama membuat ia merasa sayang kalau wanita cantik ini harus dibunuh begitu saja.
Sebelum dibunuh akan ia tangkap dulu, dan memaksa seorang wanita untuk menuruti nafsunya merupakan hal yang menyenangkan bagi laki-laki yang berwatak bejat ini.
Sambil tertawa ia mengelak, tangan kanannya mencengkeram ke arah pergelangan tangan Widawati dengan gerakan amat cepat sehingga Widawati kaget sekali dan tentu saja ia segera menarik kembali kerisnya agar jangan terampas lawan.
Akan tetapi ternyata bahwa gerakan cengkeraman dengan tangan kanan itu hanya gertak belaka, atau pancingan karena yang sesungguhnya bergerak adalah tangan kirinya yang tahu-tahu telah menyelonong maju, memegang dan membelai dada Widawati dengan remasan!
"Jahanam !"
Widawati menjerit.
"Ha-ha-ha-ha, engkau denok menggairahkan, manis!"
Warutama mengejek sambil tertawa-tawa.
Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan Wiraman telah muncul di situ.
Ketika Wiraman melihat isterinya berhadapan dengan Ki Patih Warutama, ia terkejut bukan main.
Cepat ia menyambar golok yang menggeletak di atas tanah.
"Yayi Widawati, isteriku yang terkasih. Saat bagi kita berdharma bakti telah tiba. Keparat ini adalah Warutama, kita hams menandinginya dan mengadu nyawa!"
"Aku sudah tahu, Kakang Wiraman. Mari kita basmi iblis ini!"
Jawab Widawati.
"Apa? Cucu Brotomenggala ini isterimu? Heh, keparat, siapakah engkau berani membikin kacau di sini?"
"Buka telingamu baik-baik, Warutama. Aku Wiraman bekas pengawal rahasia kepatihan Janggala dan aku pernah melihat ketika engkau melakukan permainan sandiwaramu menolong sang prabu "
"Babo-babo, engkau mencari mampus!"
Warutama menjadi marah sekali karena orang ini merupakan orang yang amat berbahaya, yang mengetahui rahasianya ketika menjalankan siasat untuk menipu Raja Jenggala.
Ia telah menghunus kerisnya sambil loncat menghindar ketika golok Wiraman menyambar, kemudian ia menangkis tusukan keris Widawati dengan kerisnya sendiri.
Widawati mengeluh karena telapak tangannya terasa panas dan hampir saja kerisnya terlepas dari pegangan tangannya.
Akan tetapi ia menerjang tents dengan nekat.
Juga Wiraman yang cukup maklum betapa saktinya patih barn dari Jenggala ini, menggerakkan goloknya dengan nekat dan menghujankan serangan bertubi-tubi yang selalu dapat dielakkan atau ditangkis oleh Patih Warutama.
Ki Patih Warutama menjadi penasaran dan juga heran.
Setelah dua tahun yang lalu, ketika ia menghadapi para pengawal rahasia yang dikirim Patih Brotomenggala untuk melindungi sang prabu, ia menganggap para pengawal itu berkepandaian biasa saja.
Akan tetapi mengapa pengawal ini memiliki kepandaian yang cukup hebat sehingga ia tidak dapat merobohkannya dalam waktu singkat?
Juga cucu Patih Brotomenggala ini, biarpun gerakannya terlatih, akan tetapi memiliki dasar ilmu yang tinggi.
Kalau tidak lekas dibasmi, pengawal ini amat berbahaya dan cucu Brotomenggala itu pun amat berbahaya, pertama sebagai cucu bekas musuh besarnya, ke dua sebagai isteri Wiraman yang tahu akan semua rahasianya dahulu.
Dengan penasaran, Ki Patih Warutama lalu mengeluarkan pekik dahsyat dan tiba-tiba tubuhnya bergulingan di atas tanah seperti seekor trenggiling.
Itulah Aji Trenggiling-wesi yang amat dahsyat dan banyak gerak tipunya.
Sambil bergulingan dia mencari kesempatan untuk meloncat dan mengirim serangan tiba-tiba.
Menghadapi ilmu bertanding yang aneh itu, Wiraman dan Widawati menjadi bingung dan mereka hanya dapat mengikuti gerak lawan yang bergulingan itu untuk dipapaki serangan kalau bangkit berdiri.
"Haaiiiitttt!"
Tiba-tiba tubuh Ki Patih Warutama mencelat ke atas dengan gerakan yang sukar diduga sebelumnya.
Sambil meloncat ini ia mengayun keris pusaka Naga-kikik yang bereluk tujuh itu dan mengeluarkan sinar hijau dingin.
Sinar hijau berkelebat menyentuh dada Wiraman dan Widawati, tampaknya , hanya menyerempet saja, akan tetapi ujung keris Naga-kikik itu menjadi merah oleh darah yang memancur keluar dari ulu Kati Wiraman dan Widawati.
Kedua orang gagah ini merintih, golok dan keris terlepas dari tangan.
Keris Naga-kikik itu mengandung racun yang berhawa dingin sehingga siapa terkena akan menjadi beku darahnya.
Wiraman dan Widawati pun yang tertusuk ulu hatinya hanya mengeluarkan darah sekali mancur lalu membeku, keduanya terhuyung, tangan meraih sambil membuka mata saling pandang berhasil saling peluk, roboh terguling bersama dan menghembuskan napas terakhir pada detik yang sama.
Mereka tewas dalam keadaan saling berdekapan, mati bersama sesuai dengan janji-janji mesra di kala mereka memadu cinta.
Para pengawal berdatangan dan Ki Patih Warutama memberi perintah.
"Seret mayat mereka ini, merekalah yang melakukan pembakaran dengan maksud merampas tawanan. Seret dan ikat di tengah alun-alun, biar besok semua rakyat dapat melihat! "
Pada keesokan harinya,berduyun-duyun penduduk di sekitar kota raja berdatangan untuk melihat dua orang penjahat yang membakar gudang istana.
Akan tetapi betapa kaget dan ngeri hati mereka ketika mengenal mayat laki-laki itu sebagai mayat Wiraman, seorang pengawal kepatihan dahulu yang amat disegani dan dihormati karena gagah perkasa dan baik budi.
Apalagi ketika mereka mengenal mayat Widawati yang seringkali dikagumi tari-tariannya semenjak masih kecil.
Biarpun tidak ada yang berani secara terang-terangan, namun banyaklah penduduk yang diam-diam menangisi kematian demikian menyedihkan dari dua orang itu, terutama sekali kematian Widawati.
Segala yang terjadi dan tampak oleh pandangan mata manusia keadaannya seringkali tidak sesuai dengan pendapat manusia yang menyaksikannya, bahkan kadang-kadang berlawanan.
Orang-orang menjadi terharu, menangisi kematian Wiraman dan Widawati yang mereka anggap amat menyedihkan.
Akan tetapi, bagaimanakah sesungguhnya?
Adakah kematian mereka itu benar-benar menyedihkan, tentu saja terutama sekali bagi dua orang itu sendiri?
Hal ini amat diragukan dan sungguhpun keadaan mati tak dapat dibuktikan oleh manusia hidup, namun mengingat akan janji-janji mereka berdua sebelumnya, kematian bersama itu belum tentu merupakan peristiwa yang menyedihkan bagi Wiraman dan Widawati.
Siapa tahu kalau arwah kedua orang yang saling mencinta ini bergandeng tangan sambil tersenyum-senyum bahagia menyaksikan dunia dengan segala leluconnya yang mereka tinggalkan untuk selamanya.
Patih Warutama menyuruh mempertontonkan kedua sosok mayat itu.
kepada penduduk dengan maksud agar mereka yang masih mempunyai niat memberontak menjadi gentar dan maklum akan kekuatan mereka yang kini menguasai Jenggala.
Akan tetapi, keadaan sesungguhnya bukanlah demikian karena rakyat diam-diam menjadi makin muak dan benci akan kekejaman-kekejaman dan pembunuhan-pembunuhan yang teijadi semenjak Suminten menjadi selir raja terkasih, semenjak Pangeran Kukutan menjadi putera mahkota, dan semenjak Ki Patih Warutama menjadi Patih Jenggala.
Kebencian dan kemuakan yang menjadi rabuk berseminya rasa tak puas dan dingin memberontak dari rakyat!
Adapun tentang kematian Wiraman dan Widawati itu sendiri.
Sia-siakah pengorbanan mereka?
Sia-siakah usaha mereka membebaskan empat orang tawanan?
Sia-siakah mereka mengorban kan nyawa sedang empat orang tawanan itu masih tetap tertawan?
Kiranya tidaklah demikian dan hal ini akan terbukti dalam peristiwa-peristiwa selanjutnya.
Peristiwa yang menyusul karena terjadi pada siang harinya setelah malam keributan di bangunan tempat tahanan itu.
Ketika Suminten mendengar akan usaha Wiraman dan Widawati yang hendak merampas tawanan dengan jalan membakar gudang, ia menjadi marah sekali dan habis kesabarannya.
Ia cepat memberi perintah kepada pengawalnya, kemudian dia sendiri datang ke tempat tahanan untuk menyaksikan pelaksanaan usahanya yang terakhir untuk memaksa Pangeran Panji Sigit dan loko Pramono bertekuk lutut di depannya.
Ia merasa yakin bahwa akalnya yang terakhir ini akan berhasil dan harus berhasil, karena kalau tidak, ia sudah mengambil keputusan untuk membunuh empat orang muda yang keras hati itu.
Keputusannya itu tentu saja mengecewakan hati Ki Patih Warutama dan Pangeran Kukutan yang mempunyai niat lain lagi terhadap dua orang wanita cantik yang menjadi tawanan.
Pangeran Kukutan yang selalu merasa iri hati kepada Pangeran Panji Sigit, begitu melihat Setyaningsih sudah timbul hasrat hatinya untuk merampas isteri adik tirinya itu, atau setidaknya memperkosanya, baru akan puaslah hatinya.
Adapun Ki Patih Warutama tertarik akan kecantikan Pusporini, bahkan malam tadi ia sampai tersesat ke tempat tahanan semata-mata bermaksud untuk melihat Pusporini dan kalau mungkin.
"mendahului"
Suminten menggagahi gadis itu.
Akan tetapi peristiwa pembakaran gudang membuat ia terpaksa membatalkan niatnya dan kini keputusan Suminten itu mengecewakan hatinya.
Namun,baik Pangeran Kukutan maupun Patih Warutama tidak berani membantah lagi ketika Suminten berkata.
"Kalau yang dua jantan suka menyerah kepadaku, yang dua betina akan kuserahkan kepada kalian. Kalau tidak, keempatnya akan kubunuh hari ini juga!"
Di dalam ruangan tahanan berdinding batu tebal dan kokoh kuat itu, telah diatur persiapannya oleh para pengawal.
Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono masih terbelenggu di dinding batu, akan tetapi Setyaningsih dan Pusporini telah dipindahkan.
Kini kedua orang wanita itu diikat pada dua batang balok besar, diikat kaki, tangan dan lehernya pada balok itu sehingga mereka tak mampu bergerak.
Suminten duduk di luar kamar tahanan, menonton dari lubang jendela yang digerakkan dengan alat rahasia sehingga dinding yang berhadapan dengan kedua orang muda itu terbuka tengahnya dan kepala Suminten kelihatan dari dalam kamar tahanan.
Melihat keadaan dua orang wanita itu, dan melihat munculnya kepala Suminten di balik lubang dinding, Pangeran Panji Sigit berseru.
"Suminten, andika seorang manusia dari darah daging, bukan siluman. Muslihat keji apakah yang hendak kaulakukan atas diri isteriku dan Pusporini? Kalau mau membunuh kami; bunuhlah karena kami tidak takut mati. Dan ingat, bahwa apapun juga yang anda lakukan, kami takkan menyerah dan andika akan melakukan hal yang sia--sia belaka."
Suminten tersenyum.
"Pangeran, apa yang akan kulakukan bukanlah hal sia-sia, dan akan terjadi di depan mata kalian berdua. Baru dapat dihentikan dengan penyerahan diri kalian kepadaku tanpa syarat!"
Sehabis berkata demikian Suminten bertepuk tangan tiga kali memberi isyarat kepada kaki tangannya.
Pintu kamar tahanan terbuka dan masuklah dua orang laki-laki yang keadaannya mengerikan hati Pusporini dan Setyaningsih.
Mereka itu adalah dua orang laki-laki bertubuh besar dan bersikap kasar, bermuka liar dengan mata terbelalak lebar penuh nafsu, mulut yang besar dengan gigi yang menguning terkekeh-kekeh meneteskan air liur ketika mereka melangkah maju dan terkekeh-kekeh menghampiri dua batang balok berdiri di mana kedua orang wanita muda itu terikat tak berdaya!
Tanpa bicara sekalipun maklumlah Pusporini dan Setyaningsih, juga Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono, apa yang akan dilakukan oleh dua orang algojo setengah telanjang itu.
Setyaningsih dan Pusporini menjadi pucat wajahnya, memandang kepada dua orang yang tubuhnya hanya ditutupi cawat kasar, tubuh setengah telanjang bulat yang berisi otot-otot melingkar seperti dadung dan begitu mereka masuk telah tercium bau keringat yang kecut dan apek.
"Mundur kalian! Jangan ganggu isteriku dan Pusporini!"
Bentak Pangeran Panji Sigit. Akan tetapi dua orang raksasa itu hanya tertawa ha-hah-he-heh sambil langkah maju terns mendekati dua orang wanita itu.
"Kalau berani menjamah mereka, kuhancurkan lumat--lumat kepala kalian!"
Joko Pramono juga berteriak yang dijawab dengan suara terkekeh-kekeh oleh dua orang itu.
Mereka sama sekali tidak memperdulikan ancaman kedua orang muda itu dan berdiri di depan Pusporini dan Setyaningsih, dekat sekali.
Mereka kini kelihatan makin bernafsu dan air liur mereka menetes-netes menjijikkan.
Keadaan.
mereka itu, ketika kedua orang wanita memandang wajah mereka, mengingatkan Pusporini dan Setyaningsih akan muka dua ekor anjing kelaparan melihat tulang.
Napas mereka yang terengah engah keluar dari mulut menimbulkan bau yang lebih menjijikkan daripada bau keringat mereka, seperti bau sampah membusuk.
Tidak akan mengherankanlah kiranya andaikata ada ulat-ulat berloncatan keluar dari mulut mereka, begitu busuk baunya.
Tadinya empat orang tawanan itu menyangka bahwa dua orang raksasa ini agaknya gagu, akan tetapi temyata tidak demikian karena kini raksasa yang berdiri dekat Pusporini berkata, suaranya serak kasar seperti kaleng diseret.
"Wah-wah, Kakang Suro. Aku menjadi semlengeren (silau) melihat dua orang wanita denok montok dan segar ranum ini sehingga sukar untuk memilih. Kalau boleh keduanya saja untukku, ha-ha-ha!"
"Heessss, Adi Digdo, biar yang putih kuning dan denok montok ini untukku, yang manis legit itu untukmu!"
Jawab algojo yang berdiri di depan Setyaningsih sambil meraba dagunya dengan kepalan tangannya yang besar dan berbulu.
"Buaya darat, monyet kau! Celeng goteng kau! Coba lepaskan ikatanku dan aku akan menginjak-injak hancur kepala kalian berdua babi hutan! Kalau kalian begitu pengecut dan tidak berani melepaskan, bunuh saja kami berdua!"
Teriak Pusporini yang tak dapat menahan kemarahannya lagi.
"Wah-wah, eman-eman (sayang) kalau dibunuh, cah ayu. !"
Kata algojo yang bernama Digdo sambil memandang seolah-olah hendak menelan bulat-bulat tubuh Pusporini.
"Suro dan Digdo, jangan banyak cerewet! Lekas lakukan perintahku, tepat seperti yang kalian ketahui. Awas, kalau tidak tepat seperti perintahku, kusuruh penggal batang leher kalian!"
Tiba-tiba terdengar suara Suminten dari balik lubang dinding. Dua orang algojo itu terkejut, menoleh dan menyembah.
"Renggut baju mereka sampai habis lepas!"
Kembali Suminten berteriak. Dua buah lengan penuh bulu dengan jari-jari tangan sebesar pisang ambon itu bergerak ke depan, mencengkeram baju Pusporini dan Setyaningsih.
"Breeettt..... breeeettt. !!"
Baju yang dipakai kedua orang wanita itu seperti kertas saja di tangan Suro dan Digdo dan dalam sekejap mata, sekali gentak dan renggut baju-baju itu robek semua dan terlepas dari tubuh bagian atas.
Setyaningsih dan Pusporini memejamkan mata dan mereka menjadi telanjang dari pinggang ke atas.
Dua orang algojo itu memandang sambil menelan ludah, kedua tangan mencabik-cabik baju yang tadi menutupi tubuh atas Pusporini dan Setyaningsih.
Diam-diam Suminten kagum dan iri hati menyaksikan keindahan tubuh atas kedua orang wanita itu.
Harus is akui bahwa biarpun tubuh atasnya sendiri pun indah dan terawat baik, namun tidaklah memiliki kesegaran seperti tubuh atas mereka.
Pada waktu itu, bertelanjang tubuh atas bagi wanita bukanlah merupakan hal yang terlalu berat.
Akan tetapi keadaan mereka itu berbeda lagi, mereka tengah ditelanjangi oleh tangan kedua orang algojo itu dan hal ini merupakan penghinaan yang amat hebat.
Joko Pramono dan Pangeran Panji Sigit meronta-ronta namun hanya berhasil membuat rantai-rantai besar yang membelenggu mereka berkerontangan.
"Suminten, perempuan terkutuk! Bunuh saja Setyaningsih!"
Teriak Panji Sigit, hampir ia terisak menyaksikan penghinaan yang dihadapi isterinya tercinta.
"Suminten, engkau dan algojo-algojomu ini sekali waktu akan terjatuh ke tanganku, dan awaslah akan pembalasanku atas perlakuan yang kaujatuhkan pada Pusporini saat ini!"
Kata pula Joko Pramono, suaranya dingin akan tetapi mengandung ancaman yang jelas melebihi suara halilintar menyambar.
Suminten tersenyum penuh kemenangan.
Memang itulah yang ia kehendaki.
Menyiksa batin kedua orang pria itu agar suka tunduk dan berlutut di depan kakinya.
"Hi-hik, kalian merasa kasihan dan ngeri? Mengapa tidak menolong mereka dan membebaskan mereka dari keadaan yang lebih hebat lagi? Mudah saja dan ringan syaratnya, asal suka membantuku. Kalau kalian masih berkeras kepala, dengarkan apa yang akan dilakukan oleh kedua orang algojoku ini. Atas perintahku, mereka nanti akan merenggut lepas seluruh pakaian dua orang wanita itu. Setelah itu, mereka berdua akan membeIai dan meremas bagian-bagian tubuh Setyaningsih dan Pusporini, bagian--bagian yang kalian tak ingin dijamah laki-laki lain. Setelah puas, mereka itu akan kuperintahkan untuk memperkosa Setyaningsih dan Pusporini di depan mata kalian sekuat mereka sampai dua orang wanita pujaan hati kalian ini mati! Ya, akan kuperintahkan agar dua orang wanita ini diperkosa sampai mati di sini, tiada henti-henti sampai mereka berdua ini mati atau kedua orang algojo ini kurang kuat dan mereka yang diperkosa itu belum mati, akan kudatangkan dua orang algojo lain yang masih segar dan kuat untuk menggantikan mereka memperkosa Setyaningsih dan Pusporini, kemudian dua lagi, menjadi enam orang, sepuluh orang, dua puluh, sampai seratus orang, sampai Setyaningsih dan Pusporini kehabisan napas dan mati!"
"Perempuan iblis terkutuk "Joko Pramono memekik, wajahnya pucat kini.
"Tidak , jangan , kau bunuh saja kami, Suminten, bunuh saja kami,. !"
Pangeran Panji Sigit merintih suaranya lemah, air matanya bertitik menuruni pipinya.
Melihat keadaan suaminya seperti itu, Hati Setyaningsih seperti diiris-iris.
Ia lupa akan keadaan dirinya sendiri, lenyap rasa ngerinya karena ia kasihan menyaksikan penderitaan bath yang ditanggung suaminya, maka ia lalu berkata lantang setengah menjerit.
"Kakangmas Pangeran, mengapa berduka? Tubuhku ini bukanlah milik paduka, bukan pula milikku, hanya tanah dan debu. Yang kita miliki adalah rasa cinta kasih yang takkan lenyap dan abadi, dan kita akan dapat berkumpul kembali setelah aku mati dan kemudian paduka menyusul. Biarlah mereka lakukan apa saja atas tubuh bukan milik kita ini, Kakangmas."
Semua orang tertegun bagaikan disiram air dingin mendengar ini. Suminten merasa seperti ditampar mukanya, bahkan dua orang algojo itu sejenak terbelalak.
"Duh Ayunda, engkau bijaksana sekali dan terima kasih..."
Bisik Pusporini di sampingnya dan kini gadis inipun dapat memandang kekasihnya dengan tabah dan wajah berseri-seri, seolah-olah apa yang akan dialami dan yang berangkir dengan kematian merupakan saat-saat dia hendak melangsungkan pernikahan dengan Joko Pramono, pernikahan di akhirat!
"Isteriku Setyaningsih yang tercinta!
Maafkanlah kakanda yang diserang kelemahan tadi.
Kini hatiku lega dan marilah kita hadapi hukuman tubuh yang penuh dosa dengan segala penyerahan kepada Hyang Widi.
Suminten, jangan mengira bahwa kejahatan dapat mengalahkan kebajikan, bahwa iblis dapat mengalahkan dewata, lakukanlah sesuka hatimu, wahai perempuan malang calon intip neraka!"
Kata Pangeran Panji Sigit.
"Ha-ha-ha, engkau mau berkata apa lagi sekarang, Suminten perempuan rendah budi?"
Joko Pramono tertawa bergelak, hatinya juga lapang setelah mendengar ucapan Setyaningsih tadi.
Suminten memandang dengan sinar mata penuh kemarahan dan muka pucat.
Ia masih belum mau menerima kalah.
Ia tidak percaya bahwa dua orang pria muda itu akan kuat bertahan menyaksikan.
kekasih-kekasih mereka diperkosa dan disiksa.
"Suro dan Digdo, renggut kain-kain mereka, telanjangi mereka!"
Perintahnya.
Sikap dan ucapan empat orang muda itu mengandung wibawa yang amat hebat, menggetarkan isi dada dua orang algojo yang kasar seperti binatang buas itu sehingga gairah dan nafsu berahi mereka sudah banyak mendingin.
Akan tetapi perintah Suminten bagaikan cambuk yang memecut punggung mereka, membuat mereka tergesa-gesa mengulur tangan meraih ke depan hendak merenggut kain Setyaningsih dan Pusporini yang sudah memejamkan mata sambil bersamadhi mematikan raga dan rasa, sedangkan dua orang pria muda itu memandang dengan muka pucat akan tetapi dengan penuh keikhlasan dan penyerahan kepada Yang Maha Kuasa.
Pada saat itu terdengar jelas tarikan napas panjang yang entah dari mana datangnya dan tiba-tiba berkelebat dua sinar kecil menyambar tengkuk dua orang algojo itu.
Bagaikan disambar petir dua orang algojo itu yang sudah menyentuh kain Setyaningsih dan Pusporini, mengejang dan berdiri kaku seolah-olah mereka telah berubah menjadi dua buah arca batu!
Kembali datang menyambar sinar-sinar kecil, kini menuju ke arah tambang-tambang kuat yang mengikat leher, lengan, dan kaki kedua orang wanita itu dan seketika semua tambang pengikat tubuh mereka putus seperti dikerat pisau tajam!
Keadaan ini membuat semua orang tertegun, bahkan Setyaningsih dan Pusporini sendiri kini sudah sadar dari samadhi, membelalakkan mata memandang semua tali pengikat yang sudah putus.
Sedemikian besar keheranan dan kekagetan mereka sehingga mereka tidak mampu menggerakkan kaki dan tangan yang sudah bebas itu!
Hanya pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono yang sadar dan kini mereka menoleh ke arah pintu dari mana tadi menyambar sinar-sinar itu, setengah dapat menduga bahwa ada seorang sakti yang telah menolong mereka.
Akan tetapi ketika perlahan-lahan daun pintu yang berat itu terbuka, mereka inipun melongo keheranan karena yang muncul bukanlah seorang kakek sakti mandraguna, juga bukan Resi Mahesapati seperti yang tadinya disangka oleh Joko Pramono, melainkan seorang pemuda remaja berpakaian sederhana berwajah tampan berkulit putih yang melangkah perlahan memasuki tempat itu dengan senyum tenang penuh kesabaran di bibir!
Pemuda remaja ini bukan lain adalah Bagus Seta.
Kedatangannya yang tepat sekali pada waktunya itu merupakan hasil daripada usaha Wiraman dan Widawati semalam.
Malam tadi, Bagus Seta masih berada di luar kota saja, mendapatkan sebuah tempat yang amat nyaman dalam hutan sehingga ia berhenti dan bersamadhi di tempat itu menikmati keindahan tetumbuhan dan kebersihan hawa segar.
Akan tetapi pada malam harinya, Bagus Seta melihat sinar merah tanda kebakaran membubung tinggi.
Hal inilah yang membuat pemuda sakti mandraguna mempercepat kepergiannya ke kota raja dan begitu memasuki kota raja mendengar akan peristiwa ditawannya Pangeran Panji Sigit, Joko Pramono, Setyaningsih dan Pusporini.
Disebutnya nama kedua orang wanita ini membuat Bagus Seta langsung saja mendatangi tempat tahanan, mempergunakan kesaktiannya dan berhasil datang pada saat yang tepat sehingga kedua orang bibinya itu tertolong.
Dengan demikian maka tidak sia-sialah kiranya pengorbanan yang dilakukan oleh Wiraman dan Widawati.
Kalau saja mereka tidak melakukan usaha itu dan tidak terjadi kebakaran tentu kedatangan Bagus Seta akan terlambat.
Tentu saja segala macam liku-liku peristiwa yang kebetulan itu telah ada yang mengatur-Nya dan hanya atas kehendak-Nya sajalah maka dapat terjadi semua kebetulan itu!
Dengan langkah perlahan dan sikap tenang sekali Bagus Seta langsung menghampiri Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono, kemudian menggunakan jari-jari tangannya yang halus itu meraih ke arah rantai baja.
Terdengar bunyi berkerotokan dan dalam sekejap mata saja kedua tangan merekapun bebas, rantai itu patah-patah dan jatuh ke atas lantai.
Bagaikan menerima komando, tubuh Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono meloncat ke depan dan menghantan dengan tangan yang mengandung aji kesaktian ke arah kepala Suro dan Digdo yang masih berdiri seperti arca.
Terdengar suara keras "prakk!"
Dua kali dan tubuh tinggi besar kedua algojo itu roboh dengan kepala pecah dan tewas di saat itu juga.
Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono dengan sikap beringas memutar tubuh hendak mencari Suminten, akan tetapi sudah sejak tadi wanita itu lenyap dari balik lubang dinding, bahkan dinding itu sendiri kini tidak berlubang lagi, tertutup oleh gerakan alat rahasia.
Karena tak dapat melihat Suminten, Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono menjatuhkan diri berlutut di depan Bagus Seta, demikian pula Setyaningsih dan Pusporini yang kini telah sadar dari keadaan terpesona, merekapun cepat berlutut hendak menyembah, lupa akan keadaan tubuh atas mereka yang masih telanjang.
"Harap jangan banyak penghormatan, kini bukan waktunya bicara, yang terpenting harap lekas ikut bersama saya keluar dari kota raja."
Bagus Seta menggunakan kedua tangan menyentuh pundak mereka, akan tetapi sentuhan jari tangan itu mengandung kekuatan mujijat yang tak terlawan sehingga keempat orang itu seperti ditarik tenaga raksasa dan bangkit berdiri.
Ucapan itu pun sekaligus mengingatkan mereka bahwa bahaya belumlah terhindar selama mereka masih berada di tempat itu.
Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono lalu menanggalkan baju masing-masing dan memberikan baju mereka untuk dipakai oleh Setyaningsih dan Pusporini sekedar untuk menutupi ketelanjaan tubuh atas mereka.
Kemudian mereka melangkah keluar mengikuti Bagus Seta yang tenang-tenang saja berjalan keluar dari ruangan tahanan itu.
Mereka disambut oleh belasan orang pengawal yang bergerak kebingungan seperti rombongan semut diganggu.
Melihat ini, empat orang muda itu siap untuk mengamuk, akan tetapi Bagus Seta berkata perlahan.
"Harap tenang dan tidak perlu melayani mereka, lebih baik cepat keluar dari sini."
Dua pasang orang muda itu terheran.
Dihadang rombongan pengawal tidak boleh melawan, habis bagaimana akan dapat meloloskan diri?
Akan tetapi mereka berempat menjadi kagum dan terheran-heran ketika melihat pemuda remaja itu mengembangkan kedua lengan dengan perlahan, akan tetapi akibatnya, rombongan pengawal yang datang dari kanan kiri itu terlempar dan roboh saling tindih seperti tertiup angin badai yang amat kuat.
Kini yakinlah hati kedua pasang orang muda itu akan kesaktian penolong mereka dan mereka berjalan terus mengikuti Bagus Seta dengan cepat keluar dari bangunan.
Setiap bagian yang mengandung alat rahasia menjadi macet tak dapat bergerak karena dari jauh Bagus Seta telah menggunakan hawa sakti yang meluncur tak tampak dari telapak tangannya untuk memukul rusak alat-alat rahasia yang tersembunyi di balik dinding atau di bawah lantai, dan setiap usaha para pengawal yang puluhan orang banyaknya untuk menghalangi pelarian mereka, roboh malang-melintang dan jatuh bangun oleh gerakan kedua lengan pemuda sakti mandraguna ini.
Tak seorang pun di antara para pengawal itu tewas, akan tetapi karena tiupan angin kuat yang keluar dari gerakan kedua lengan pemuda baju putih, membuat mereka menjadi gentar dan jerih.
"Harap pergunakan aji berlari cepat,"
Kata Bagus Seta setelah mereka berhasil keluar dari dinding istana.
Dua pasang orang muda itu cepat berlari mempergunakan ilmu mereka, sedang Bagus Seta berlari di belakang mereka sebagai perisai.
Apabila ada pengawal berani menghadang, pukulan-pukulan dua pasang orang muda itu sambil berlari cukup untuk merobohkan para penghalang.
Ratusan anak panah yang diluncurkan oleh para pengawal yang melakukan pengejaran dari belakang, runtuh semua hanya oleh lambaian tangan Bagus Seta sehingga para pengawal menjadi makin gentar.
Akan tetapi, ketika dua pasang orang muda itu sudah hampir keluar dari dinding kota raja melalui pintu gerbang yang terjaga kuat namun para penjaganya kembali dirobohkan secara mudah oleh Bagus Seta, tiba-tiba mereka tersusul oleh serombongan pengawal yang jumlahnya lima puluh orang menunggang kuda dan dipimpin oleh Cekel Wisangkoro, Ni Dewi Nilamanik, dan Ki Kolohangkoro!
Mereka ini ternyata telah mengejar melalui pintu gerbang lain dan memotong jalan sehingga mereka dapat menyusul, apalagi karena mereka menunggang kuda.
Begitu melihat empat orang tawanan yang lobos bersama penolong mereka yang muda belia dan aneh itu, tiga orang tokoh sakti ini meloncat turun dari kuda diikuti lima puluh orang pengawal anak buah mereka.
'Babo-babo!
Siapakah gerangan bocah lancang yang berani mati membebaskan para tawanan Kerajaan Jenggala!
Mengakulah, anak muda, siapa andika sebelum nenggalaku memenggal batang lehermu!"
Bentak Ki Kolohangkoro menyembunyikan rasa ragu dan gentarnya mendengar berita betapa pemuda berpakaian putih itu memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia biasa!
Akan tetapi, sebelum Bagus Seta menjawab, Joko Pramono yang sudah menjadi marah sekali melihat munculnya musuh-musuh besar itu, membentak.
"Ki Kolohangkoro, sekaranglah tiba saatnya kita boleh mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang!"
Joko Pramono sudah menerjang maju dengan kepalan tangannya, menyerang Ki Kolohangkoro dan saking marahnya, begitu menyerang Joko Pramono sudah menggunakan aji kesaktiannya yang amat ampuh, yaitu Cantuka-sekti yang merupakan pukulan mendorong dari bawah dengan tubuh agak direndahkan hampir berjongkok.
Ki Kolohangkoro menggereng keras dan menggerakkan nenggalanya menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya, akan tetapi seperti ketika untuk pertama kalinya ia bentrok dengan pemuda sakti murid Resi Mahesapati ini, ia kalah tenaga dan tubuhnya terpental ke belakang.
Kekebalannya melindunginya sehingga hawa pukulan Cantuka-sekti itu tidak mampu merobohkannya.
Bentrokan antara Joko Pramono dan Ki Kolohangkoro ini merupakan komando bagi para pengawal sehingga mereka menyerbu ke depan sambil berteriak-teriak.
Ni Dewi Nilamanik dan Cekel Wisangkoro sudah pula menerjang maju, disambut oleh Pusporini yang menghadapi Ni Dewi Nilamanik, sedangkan Setyaningsih bersama Pangeran Panji Sigit menyambut terjangan Cekel Wisangkoro.
Serangan Ni Dewi Nilamanik yang menggunakan kebutan merah amat dahsyatnya.
Ujung kebutan yang kadang-kadang dapat lemas seperti ujung cambuk kadang-kadang dapat mengeras dan runcing seperti ujung pedang itu meluncur cepat ke arah leher Pusporini.
Namun secepat kilat Pusporini menggerakkan tangan kin dari samping diputar dengan jari-jari tangan mencengkeram ujung kebutan sedangkan tangan kirinya dengan jari-jari terbuka mengirim tamparan dengan Aji Pethit Nogo yang ampuhnya menggila!
Ni Dewi Nilamanik mengeluarkan suara menjerit, menarik kembali kebutannya dan menangkis tamparan dengan kebutan yang diputar ke kiri "Prattt!"
Ujung kebutan bertemu dengan jari tangan yang mengandung Pethit Nogo itu menjadi bobol sedikit dan tubuh Ni Dewi Nilamanik agak terhuyung ke belakang.
Akan tetapi Pusporini juga merasa betapa jari tangannya pedas dan panas, tanda bahwa lawannya ini bukanlah lawan yang ringan.
Yang hebat adalah Cekel Wisangkoro, murid terpandai dari Wasi Bagaspati.
Tongkatnya yang hitam berbentuk ular itu berubah menjadi gulungan sinar yang mengurung Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih.
Suami isteri ini bertangan kosong, maka mereka cepat mengelak, kemudian dari kanan kiri membalas dengan pukulan sakti yang mereka perdalam di bawah pimpinan mendiang Ki Datujiwa.
Namun ternyata bahwa tingkat kesaktian suami isteri ini masih kalah oleh tingkat Cekel Wisangkoro yang sudah tinggi sehingga sekali memutar tongkatnya secara tepat, tidak saja cekel tua berhasil menggagalkan serangan mereka, bahkan sebaliknya membalas dengan pukulan dan tusukan tongkatnya bertubi-tubi membuat suami isteri itu sibuk mengelak.
Tiba-tiba gerakan tongkat ular itu terhenti di tengah udara oleh kekuatan yang tak tampak.
Ternyata Bagus Seta sudah turun tangan, menggerakkan tangannya mendorong dengan pukulan jarak jauh, menahan gerakan tongkat sehingga suami isteri itu dapat meloncat mundur.
Ketika Setyaningsih dan suaminya memandang, ternyata para pengawal yang tadi menyerbu dan berada di bagian paling depan, telah roboh terjengkang seperti yang dialami para pengawal yang menghadang di sepanjang jalan tadi.
"Harap andika berempat cepat melarikan diri dan menanti saja di dalam hutan menuju Panjalu!"
Terdengar pemuda remaja itu berkata halus.
Mendengar ini, Pusporini dan Joko Pramono tidak suka membantah, mereka meloncat mundur karena maklum bahwa kalau dilanjutkan melawan, biarpun mereka tidak akan kalah menghadapi lawan itu seorang lawan seorang, namun kalau dikeroyok oleh puluhan orang pengawal akan memakan waktu lama.
Apalagi kalau sampai Patih Warutama datang membawa barisan, akan berbahayalah keadaan mereka.
Mereka berempat maklum akan kesaktian pemuda remaja itu, maka ucapannya merupakan perintah bagi mereka dan cepat mereka meloncat dan melarikan din ke selatan.
"Kejar! Tangkap tawanan yang kabur. Bunuh!"
Teriak Ki Kolohangkoro dan sebagian besar para pengawal sudah berlari dan hendak menunggang kuda melakukan pengejaran.
Mereka semua maklum bahwa kalau mereka gagal menangkap para tawanan, mereka akan mendapat marah besar dari Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama, terutama sekali mereka ngeri kalau mengingat akan kemarahan Suminten.
Sebaliknya kalau mereka berhasil menawan kembali empat orang pelarian itu, tentu mereka akan mendapat hadiah yang banyak.
Karena inilah maka mereka seakan-akan berlumba hendak melakukan pengejaran.
"Berhenti!"
Terdengar suara halus namun amat berpengaruh sehingga semua orang seketika menghentikan gerakan mereka.
Beberapa orang yang sudah meloncat ke atas kuda dan sudah melarikannya, tiba-tiba terguling dari atas punggung kuda ketika Bagus Seta mendorongkan tangan kirinya ke arah mereka.
"Bocah berilmu setan! Siapakah engkau sesungguhnya berani menentang para pengawal Jenggala?"
Cekel Wisangkoro kini bertanya dengan hati tertarik karena selama hidupnya dalam perantauan, dia belum pernah mendengar tokoh muda seperti ini.
"Cekel Wisangkoro, ilmu apa pun juga di dunia ini kalau dipergunakan untuk melakukan kejahatan menjadi ilmu hitam atau ilmu setan. Akan tetapi aim akan selalu menggunakan sedikit pengertian yang kumiliki untuk mengabdi kebenaran dan keadilan."
"Babo-babo! Engkau telah mengenal aim?"
Kini tidak hanya Cekel Wisangkoro yang menghadapi pemuda ini, juga. Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik mendekat dan memandang penuh perhatian, penuh takjub dan menduga-duga.
"Aku mengenal siapa andika, Cekel Wisangkoro. Andika murid utama dari Sang Wasi Bagaspati, seorang pendatang dari Hindu yang memperjuangkan perkembangan Agama Syiwa, bukan? Aku mengenal pula Ni Dewi Nilamanik yang menjadi pemuka dari penyebaran Agama Bathari Durgo di Tanah Jawa, yang menganggap dirinya sebagai penitisan Sang Bathari Durgo sendiri. Aku mengenal pula Ki Kolohangkoro pemuka dari penyebaran Agama Bathara Kolo di Tanah Jawa, yang mengaku dirinya sebagai penitisan Sang Bathara Kolo sendiri. Wahai andika bertiga, mengapa mengabaikan perbedaan antara baik dan buruk, antara salah dan benar dan menjadi hamba nafsu pribadi yang hanya akan menimbulkan kebakaran dan kehangusan diri andika sekalian sendiri? Manusia bebas memeluk agama apa pun juga, memilih sesembahan mereka, bahkan bebas pula menyebarkannya. Akan tetapi, kalau penyebaran agama itu dilakukan dengan tipu muslihat, dengan kekerasan dan bahkan tidak segan-segan dengan kekacauan dan pembunuhan, hal ini sudah menyeleweng daripada kebenaran, merupakan pemerkosaan yang keji. Mengapa andika tidak mau sadar?"
Tiga orang tokoh sakti itu terbelalak keheranan.
Orang-orang seperti mereka itu mans mungkin dapat mudah disadarkan?
Betapa manusia dapat mudah sadar daripada penyelewengan kalau mereka menganggap bahwa penyelewengan itu bukanlah penyelewengan melainkan kebenaran!
Berbahagialah manusia yang dapat mengenal penyelewengan mereka sendiri!
"Wahai bocah muda yang amat luar biasa.
Siapakah sebenarnya andika?"
"Namaku Bagus Seta, dan sekali lagi kuperingatkan andika sekalian bahwa usaha Negeri Sriwijaya dan Negeri Cola untuk menanamkan kuku-kuku beracun mereka di Tanah Jawa akan mengalami kegagalan. Setiap kemenangan dari kejahatan pasti akan tersusul, cepat atau pun lambat, oleh kebenaran yang akan menggulung dan menghancurkannya. Belum terlambat kalau andika insyaf dan mengundurkan difi, menyampaikan kepada Sang Biku Janapati untuk tidak melanjutkan usaha mereka mengembangkan agama dengan tipu muslihat dan kekarasan Terutama sekali, insyafkan mereka bahwa angkara murka yang datang dari negara-negara asing untuk menjajah Tanah Jawa takkan mendatangkan kebahagiaan melainkan hanya mendatangkan kehancuran dan kesengsaraan, terutama bagi fihak penjajah."
"Babo-babo, bocah sombong! Lagakmu seolah-olah engkaulah penitisan Sang Hyang Jagad Nata sendiri! Ataukah engkau bicara mewakili para penyembah Sang Hyang Wishnu dan sengaja hendak menentang kami?"
Bentak Cekel Wisangkoro marah. Bagus Seta menggelengkan kepalanya dan sikapnya masih tenang sekali, namun sepasang matanya mengeluarkan sinar yang membuat silau ketiga orang sakti itu.
"Agaknya andika bertiga lupa akan inti sari dan sumber daripada semua agama yang kalian anut. Apakah perbedaan antara Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Wishnu, dan Sang Hyang Syiwa? Ketiganya adalah sifat daripada Sang Hyang Widhi Wasesa, satu-satunya kekuasaan tertinggi yang menguasai seluruh jagad-raya seisinya. Ketiga sifat Tritunggal, disebut tiga namun satu juga yang membuat jagad raya ini berputar terus. Kesatuan dari tiga sifat inilah yang merupakan lingkaran tak pernah putus. Hyang Brahma Maha Pencipta, yang mencipta seluruh alam mayapada seisinya. Hyang Wishnu Maha Pelindung dan memelihara, yang memelihara segala ciptaan tadi, yang bergerak maupun tidak. Hyang Syiwa Maha Pembinasa, yang menghancurkan dan membinasakan segala ciptaan itu. Ketiganya adalah Trimurti, selalu bersatu, tak pernah dapat terpisahkan karena ketiga sifat ini dengan kerja sama yang wajar dan tak terelakkan membuat alam mayapada seperti yang terjadi dahulu, yang kita lihat sekarang, dan yang akan terjadi kelak. Sebuah raja di antara Tiga Sifat Yang Maha Kuasa ini dipisahkan, segalanya akan terhenti. Sang Pencipta mencipta segala benda dan mahluk sesual dengan kehendak Yang Maha Kuasa, Sang Pemelihara memelihara ciptaan-ciptaan itu agar dapat berlangsung, dan Sang Pembinasa menghancurkan satu demi satu untuk memberi kelangsungan pula kepada ciptaan-ciptaan baru!"
TIGA orang sakti itu mendengarkan dengan melongo. Hampir mereka tidak percaya bahwa yang bicara di depan mereka itu adalah seorang pemuda berusia dua puluhan tahun.
"Andika telah kesiku (terkutuk) kalau memisah--misahkan tiga sifat itu dan hanya menjadi penyembah Sang Bathara Syiwa saja, atau Sang Bathari Durgo yang hanya menjadi pelengkap dan pembantu, maupun juga Sang Bathara Kolo yang membantu tugas Bathara Syiwa. Di dunia ini, tidak mungkin hanya sifat pembinasa saja yang berkuasa, juga akan pincang kalau hanya sifat pencipta saja, atau sifat pemelihara saja. Harus ada ketiganya, maka disebut Trimurti, Tri-tunggal, tiga sifat dari SATU KEKUASAAN MAHA SEMPURNA yang saling bantu, saling mengisi. Demikianlah, wahai andika bertiga orang-orang yang telah mempergunakan sebagian besar umur andika untuk memipelajari ilmu, janganlah sia-siakan hidup kalian dengan penyelewengan daripada wajib hidup."
Tiga orang sakti itu melongo dan tertegun bukan untuk taat, sama sekali tidak, hanya terheran saja.
Kini, setelah pemuda itu selesai bicara, bangkitlah kemarahan di hati mereka, terutama sekali Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro.
Mereka berdua adalah kepala agama, seorang yang ahli dalam agama yang dianutnya, kini mereka dikuliahi seorang bocah tentang agama!
Hal ini mereka terima sebagai penghinaan dan kesombongan si pemuda.
"Bocah sombong, katakan siapa gurumu? Gurumu tentulah musuh besar dari kami, atau musuh besar Sang Wasi Bagaspati!"
Bentak Ni Dewi Nilamanik.
Bagus Seta menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Heran ketiga orang itu melihat sikap yang demikian tenangnya, sama sekali tidak membayangkan kemarahan niaupun permusuhan, lunak dan lembut penuh kesabaran clan pengertian.
"Guru manakah yang lebih besar daripada Yang Maha Kuasa? Kalau Yang Maha Kuasa dapat diumpamakan apinya matahari, di dalam diri setiap orang manusia terdapat setitik bunga api. Kalau dapat diumpamakan air samudera, di dalam diri setiap orang manusia terdapat setetes airnya. Segala pengetahuan telah berada di dalam diri manusia yang tak pernah terpisah dari Gurunya, yang tak pernah ditinggdlkan. Yang Maha Kuasa tidak pernah sedetikpun meninggal kan setiap orang manusia, hanya si manusialah yang terlalu sering meninggalkanNya. Guru yang berujud manusia hanyalah sebagai petunjuk dan penggali sehingga si manusia menemukan kembali pengertian yang terpendam di dalam dirinya, tertutup oleh sampah-sampah nafsu. Guruku yang berujud manusia sama dengan aku, tidak pernah mempunyai musuh dan tidak akan mempunyai musuh karena sudah terbebas daripada nafsu membenci. Benci menimbulkan dendam, dan dendam menimbulkan permusuhan. Tanpa benci berarti tidak akan punya miasuh, namun dia sendiri tidak pernah mempunyai musuh. Kalau andika bertiga menganggap aku ini musuh, itu adalah kerugian bagi andika sendiri, akan tetapi aku tidak menganggap andika bertiga ini musuh karena aku tidak membenci siapa-siapa."
"Babo-babo! Lidahmu lemas seperti lidah ular, engkau pandai bicara, orang muda. Hendak kulihat apakah kesaktianmu juga sehebat bicaramu!"
Sambil membentak keras, tongkat ular di tangan Cekel Wisangkoro sudah meluncur ke depan, menusuk ke dada pemuda itu.
Serangan ini diikuti oleh kebutan di tangan Ni Dewi Nilamanik yang mengeluarkan suara meledak keras, dan dibarengi pula oleh tusukan nenggala di tangan Ki Kolohangkoro.
Hebat bukan main serangan berbareng yang dilakukan tiga orang sakti itu, datangnya dari tiga jurusan dan memiliki keampuhan masing-masing.
Akan tetapi Bagus Seta bersikap tenang saja, kemudian secara tiba-tiba tubuhnya lenyap seolah-olah ditelah bumi sehingga tongkat di tangan Cekel Wisangkoro hampir bertemu dengan nenggala Ki Kolohangkoro sendiri.
Ketiganya terkejut sekall dan dengan hati ngeri menduga bahwa pemuda aneh itu memiliki kesaktian menghilang dari depan mata mereka!
Benarkah Bagus Seta pandai menghilang?
Sesungguhnya tidaklah demikian.
Pemuda sakti itu tidak menghilang, melainkan menggunakan aji kesaktian meringankan tubuh yang amat tinggi tingkatnya sehingga tubuhnya dapat berkelebat mengelak secara demikian cepatnya dan karena gerakannya jauh melampaui ketiga orang lawannya, sehingga mereka bertiga itu tidak dapat mengikuti gerakannya dengan pandang mata.
Tubuh Bagus Seta berkelebat cepat menghindarkan diri dari serangan lawan lalu melesat keluar kepungan dan pergi melarikan diri dari tempat itu menyusul dua pasang orang muda yang telah lebih dulu melarikan diri.
-, , Tlga orang sakti itu akhirnya sadar akan hal ini dan benar saja, ketika memandang, bayangan pemuda itu telah pergi agak jauh dart tempat itu.
"Bocah keparat, hendak lari ke mana kau?"
Bentak Ki Kolohangkoro yang cepat melontarkan nenggalanya ke arah Bagus Seta.
Juga Cekel Wisangkoro mengayun tongkat ularnya dan melontarkari tongkat itu menyusul nenggala ke arah tubuh Bagus Seta.
lontaran nenggala dan tongkat ini tak boleh dipandang rendah karena tenaga lontarannya sedemikian kuatnya membuat kedua macam senjata itu meluncur lebih cepat daripada luncuran anak panah terlepas dari busurnya.
Bagus Seta mendengar angin luncuran dua bush senjata pusaka ampuh itu, dan ia hanya menoleh tanpa menghentikan langkahnya, mengangkat tangan kanannya menyampok kedua senjata itu berturut-turut sehingga nenggala dan tongkat itu runtuh ke atas tanah.
Kemudian pemuda ini berlari terus dan sebentar saja lenyap dari pandangan mata ketiga orang lawannya.
Ki Kolohangkoro dan Cekel Wisangkoro dengan hati penasaran berlari dan mengambil senjata mereka.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka melihat bahwa ujung nenggala dan tongkat ular itu telah hancur!
Terpaksa mereka lalu memimpin para pengawal untuk terus melakukan pengejaran, namun pekerjaan ini dilakukan dengan setengah hati karena mereka bertiga kehilangan kepercayaan kepada kekuatan sendiri setelah bertemu dengan Bagus Seta, pemuda yang memiliki kesaktian yang tidak lumrah itu.
Malah Cekel Wisangkoro tidak ikut melakukan pengejaran yang ia tahu akan sia-sia itu, melainkan ia tergesa-gesa pergi menghadap gurunya, Sang Wasi Bagaspati untuk memberi laporan tentang munculnya Bagus Seta yang memiliki kesaktian luar biasa itu.
Pangeran Panji Sigit, Joko Pramono, Setyaningsih, dan Pusporini cepat maju menyambut kedatangan Bagus Seta yang melangkah perlahan akan tetapi tidak lama telah dapat mengejar dan menyusul dua pasang orang muda itu, dan sertamerta dua pasang orang muda itu menjatuhkan diri berlutut di depan kakinya.
"Tanpa bantuan paduka yang sakti mandraguna,kami berempat tentu tewas.Kami amat bersyukur dan berterima kasih "
Namun ucapan Setyaningsih ini diputus oleh ucapan halus Bagus Seta.
"Harap andika berempat bangun dan kalau perlu bersyukur dan berterima kasih, berterima kasihlah kepada Hyang Widhi Wisesa karena hanya dengan kehendak-Nya sajalah kita semua masih hidup di saat ini. Dan harap jangan menyembah saya, terutama sekali kedua bibi, karena sesungguhnya sayalah yang harus berlutut menyembah ke hadapan bibi berdua."
Setelah tadi mengangkat bangun empat orang itu, kini Bagus Seta yang menjatuhkan diri berlutut dan menyembah dua orang wanita itu.
"Ahhhh, Raden....... bagaimana mungkin kami dapat menerima penghormatanmu yang tak pada tempatnya ini?"
Pusporini cepat berseru saking kagetnya.
Biarpun pria ini masih amat muda, lebih muda daripadanya, akan tetapi betapa mungkin pemuda sakti mandraguna yang telah menyelamat kan nyawa mereka, bahkan lebih daripada itu, telah menyelamatkan mereka daripada ancaman bahaya penghinaan yang lebih hebat mengerikan daripada maut sendiri, kini menyembahnya?
"Bibi Setyaningsih dan Bibi Pusporini, harap suka pandang baik-baik kepada hamba.
Tidakkah Bibi berdua dapat mengenal keponakanmu lagi?"
Setyaningsih dan Pusporini terkejut, memandang wajah tampan yang terangkat itu dengan seksama, kemudian keduanya menjerit.
"Bagus Seta. !!"
Setyaningsih dan Pusporini menubruk dan merangkul Bagus Seta sambil menangis.
"Aduhai....... Bagus Seta. ke mana saja engkau pergi selama ini?"
Setyaningsih terisak-isak dengan muka bersandar pundak Bagus Seta.
"Semenjak engkau pergi,banyak sekali hal telah terjadi "
"Seta, anak nakal. ! Mengapa engkau menghilang sekian lamanya? Ke mana saja engkau pergi? Aihhh, sekarang eyang-eyangmu "
Pusporini sukar melanjutkan kata-katanya karena lehernya tercekik oleh keharuan.
Ia hanya dapat merangkul dan menciumi rambut kepala keponakannya itu.
Kalau kedua wanita itu menangis dan menumpahkan rasa haru, adalah Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono yang berdiri bengong.
Tentu saja mereka sudah seringkali mendengar dari Setyaningsih dan Pusporini tentang Bagus Seta, putera Tejolaksono yang pergi dibawa orang sakti semenjak berusia sepuluh tahun.
Kini ternyata anak itu telah menjadi seorang pemuda yang amat sakti, dan yang kini hanya tersenyum-senyum dengan wajah sama sekali tidak dipengaruhi tangis kedua orang bibinya yang mengguguk mengharukan.
"Syukur engkau datang menolong, Bagus Seta. Kalau tidak, bagaimana akan jadinya dengan nasib kedua bibimu!! Setyaningsih berkata lagi, suaranya terputus-putus.
"Anakku Seta! Engkau telah menjadi seorang sakti, mari bantu kami menghancurkan yang mencengkeram dan menguasai Jenggala!"
Pusporini berseru, mengepal tinju karena bangkit kemarahannya teringat kepada Suminten dan kaki tangannya.
Setelah membiarkan kedua bibinya itu menumpahkan rasa terharu mereke sejenak, akhirnya Bagus Seta yang tersenyum penuh pengertian itu lalu memegang tangan kedua orang bibinya, bangkit berdiri dan berkata.
"Harap Bibi berdua tenangkan hati dan mari kita bicara tentang Jenggala dan pengalaman-pengalaman Bibi sehingga menjadi tawanan di sana. Sebelumnya harap Bibi perkenalkan kedua Paman yang gagah perkasa in!."
"Bagus Seta, dia adalah Pamanmu Pangeran Panji Sigit, suamiku. Dan dia itu Dimas Joko Pramono, kakak seperguruan Bibimu Pusporini."
Setyaningsih memperkenalkan. Bagus Seta maju memberi hormat.
"Girang sekali hati saya dapat berjumpa dengan Paman Pangeran Panji Sigit dan paman Joko Pramono. Saya Bagus Seta menghaturkan sembah dan hormat."
Sejenak kedua orang pria perkasa Itu tertegun menyaksikan sikap penuh hormat dari pemuda remaja itu.
Hati mereka menjadl makin kagum akan kerendahan hati Bagus Seta dan kehalusan tutur sapa dan sikapnya, sama sekali tidak tampak kebanggaan dan kesombongannya akan kesaktian luar biasa yang dimilikinya.
Tersipu-sipu mereka lalu menjawab.
"Ah, sudah lama aku mendengar akan dirimu dari bibimu Setyaningsih, Bagus. Dan amatlah bahagia hatiku kini bertemu dan melihat bahwa keponakan isteriku adalah seorang yang memiliki kesaktian."
Adapun Joko Pramono yang sejak tadi memandang Bagus Seta seperti termenung kini berkata.
"Andika Bagus Seta......seorang pemuda sakti yang akan muncul......ah, Pusporini! Kini mengertilah aku! Yang dimaksudkan oleh Eyang Guru Resi Mahesapati bukan lain orang adalah Bagus Seta sendiri!"
"Ah, benar! Tidak salah lagi! Girang sekali hatiku kalau yang akan kubantu adalah keponakan sendiri."
Dari kedua orang bibinya itu Bagus Seta mendengar akan segala peristiwa yang menimpa keluarga di Selopenangkep, mendengar bahwa ayah bundanya kini telah berada di Kota Raja Panjalu, ayahnya menjabat pangkat patih muda.
Kemudian ia mendengar penuturan kedua pasang orang muda itu tentang keadaan di Jenggala dan tentang usaha Pangeran Darmokusumo dan Ki Patih Tejolaksono yang mulai mengadakan penyelidikan ke Jenggala.
Setelah semua peristiwa didengarnya secara singkat namun jelas, Bagus Seta menghela napas panjang lalu berkata.
"Aku merasa girang sekali bahwa kedua Bibi dan Paman telah berusaha untuk menolong Jenggala. Terutama sekali bagi Paman Pangeran, memang sudahlah menjadi kewajiban setiap orang kawula untuk membela negaranya. Akan tetapi, urusan di Jenggala ternyata bukanlah urusan kecil dan menyangkut pencampuran tangan Negeri-negeri Sriwijaya dan Cola. Oleh karena itu, seyogyanya kalau kita lebih dahulu menghadap ke Panjalu memberi laporan dan sudah tiba saatnya pula aku harus menghadap Kanjeng Rama lbu."
Demikianlah, lima orang muda itu lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Panjalu untuk melaporkan segala peristiwa yang mereka alami di Jenggala.
Akan tetapi, ketika mereka tiba di tapal batas kedua kerajaan itu, tiba--tiba perjalanan mereka terhadang oleh seorang laki-laki setengah tua yang menggeletak melintang di tengah jalan, masih bergerak-gerak di samping belasan buah mayat orang yang berserakan di tempat itu.
"Kalau tak salah, perajurit-perajurit Panjalu......! "
Seru Setyaningsih dan mereka segera menghampiri perajurit setengah tua yang belum tewas itu.
Karena mereka semua maklum akan kesaktian Bagus Seta yang luar biasa, maka otomatIs empat orang muda itu menganggap pemuda remaja itu sebagai pemimpin mereka, maka kini Bagus Seta pula yang berlutut memeriksa tubuh perajurit yang terluka itu.
Lukanya parah sekali, tak mungkin dapat ditolong dan patut dikagumi daya tahan perajurit itu sehingga masih dapat mempertahankan hidupnya.
Kiranya perajurit itu memang mempergunakan seluruh kekuatan berdasarkan kesetiaannya untuk menunda kematiannya agar dapat menyampaikan berita kepada orang yang lewat.
Dapat dibayangkan betapa girang hatinya melihat bahwa yang lewat adalah lima orang muda yang di antaranya terdapat Pangeran Panji Sigit dan isterinya yang sudah ia kenal ketika pangeran itu datang ke Panjalu.
"....... tolong...... lekas...... , Gusti Patih Tejolaksono......dan kedua isteri beliau. tertawan dibawa ke gunung itu."
Habislah kekuatan perajurit itu dan tubuhnya lemas, nyawanya terbang meninggalkan raganya.
Setyaningsih, Pusporini, Pangeran Panji Sigit, dan Joko Pramono terkejut bukan main mendengar ucapan terakhir perajurit itu.
Betapa mungkin hal ltu terjadi?
Ki Patih Tejolaksono adalah seorang yang sakti mandraguna, apalagi di situ terdapat dua orang isterinya yang berarti bahwa Endang Patibroto juga hadir, sedangkan Ayu Candra bukanlah seorang lemah pula.
Bagaimana dapat ditawan orang dan siapakah penawannya?
Memang sungguh mengherankan dan meragukan pesan dalam ucapan terakhir perajurit Panjalu itu.
Kalau memang benar yang memimpin para perajurit yang kini rebah malang-melintang dalam keadaan tak bernyawa lagi adalah Ki Patih Tejolaksono, Endang Patibroto, dan Ayu Candra, bagaimana mereka itu dapat dikalahkan dan ditawan orang?
Untuk mengetahui hal yang tak dapat terjawab oleh dua pasang orang muda itu, baiklah kita mengikuti sebentar apa yang telah terjadi di tempat itu pada pagi hari tadi.
Sebelum Ki Wiraman dan Widawati dengan nekat menyerbu ke penjara istana Jenggala untuk menolong dua pasang orang muda yang tertawan, Ki Wiraman telah mengirim pembantunya ke Panjalu untuk memberi kabar tentang penangkapan empat orang muda itu kepada Ki Patih Tejolaksono karena dia maklum bahwa kalau dia dan Widawati gagal, satu-satunya orang yang boleh diharapkan akan dapat menyelamatkan empat orang muda itu adalah ki patih muda di Panjalu yang sakti itu.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Ki Patih Tejolaksono ketika mendengar berita itu.
Setyaningsih dan Pusporini ditangkap dan dipenjara di Jenggala!
Juga Pangeran Panji Sigit dan Joko Pramono!
Segera Tejolaksono menghadap Pangeran Darmokusumo untuk melaporkan hal itu, kemudian Tejolaksono mohon perkenan dari sang prabu dan dari Pangeran Darmokusumo untuk pergi sendiri turun tangan ke Jenggala, selain untuk menolong mereka yang tertawan, juga sekalian menanggulangi kekacauan di sana.
Permohonannya diperkenankan, maka berangkatlah Tejolaksono disertai Endang Patibroto dan Ayu Candra.
Kedua orang isterinya ini tidak mau ditinggal, apalagi Endang Patibroto yang sudah marah-marah mendengar betapa Setyaningsih adik kandungnya itu ditangkap.
"Sedikit banyak sang prabu di Jenggala pernah menerima bantuan-bantuanku, dan juga bantuanmu, apalagi kalau diingat bahwa Suminten itu ternyata adalah bekas abdi dalemku. Kalau aku yang datang meminta, kiranya mereka itu akan segera dibebaskan,"
Demikian kata Endang Patibroto.
"Kalau tidak. hem mm, Jenggala akan kuratakan dengan bumi!"
Tejolaksono tersenyum dan memandang wajah Endang Patibroto dengan sinar mata berseri dan kagum.
isterinya ke dua ini tak pernah menjadi tua, masih selalu penuh semangat seperti di waktu masih menjadi perawan yang ganas dan liar.
"Aku kira tidak perlu kita menggunakan kekerasan. Apapun yang telah kudengar beritanya, aku tak percaya bahwa gusti sinuwun di Jenggala sampai demikian tidak berdaya dan tidak mempunyai kekuasaan lagi di sana. Sebaiknya kita buktikan sendiri."
Ayu Candra menggerakkan alisnya.
"Betapapun juga, kita harus selalu waspada dan hati-hati. Peristiwa yang melanda Jenggala bukanlah hal yang wajar, melainkan ada rahasia di balik semua itu. Lupakah Kakanda akan perjumpaan kita dengan dua orang kakek amat sakti di puncak gunung ketika kita mencari Bagus Seta?"
Tejolaksono mengangguk dan diam-diam ia harus membenarkan pendapat isterinya ini.
Wasi Bagaspati dan Biku Janapati adalah dua orang pendeta yang amat sakti, dan kalau betul seperti yang pernah disindirkan oleh Ki Tunggaljiwa, dan kedua orang pendeta itu mencampuri urusan kekacauan di Jenggala, maka dia bersama dua orang isterinya harus berhati-hati sekali.
"Engkau benar, Adinda Ayu Candra. Kita harus berhati-hati sekali. Aku akan membawa lima belas orang pengawal pilihan untuk melayani keperluan kita dalam perjalanan. Di sana aku akan menghadap secara resmi kepada sang prabu dan langsung mengajukan permohonan untuk kebebasan mereka." ' Rombongan Tejolaksono melakukan perjalanan cepat sekali siang malam tanpa berhenti, bertukar kuda di dalam perjalanan. Pada keesokan harinya ketika rombongan ini memasuki tapal batas Jenggala, tiba-tiba dalam sebuah hutan mereka dihadang oleh puluhan orang laki dan perempuan yang kesemuanya memegang senjata, dan para penghadang itu dipimpin oleh seorang wanita cantik yang memegang pedang. Ketika Tejolaksono melihat wanita ini dan mengenalnya sebagai Sariwuni si penyembah Bathari Durgo, anak buah juga kekasih Wasi Bagaspati, tahulah dia bahwa fihak musuh sudah mulai turun tangan. Maka ia berbisik di dekat telingan kedua isterinya.
"Dia Sariwuni yang telah kuceritakan kepada kalian. Kita basmi saja mereka karena mereka pun merupakan sebagian daripada akar-akar pohon kekacauan di Jenggala."
Setelah berbisik demikian, Tejolaksono memberi aba-aba kepada lima belas orang pengawal untuk menerjang maju.
Para pengawal maklum bahwa kalau ki patih serentak memberi perintah menyerang tanpa bertanya, tentu ki patih mempunyai alasan kuat dan mereka yakin bahwa rombongan orang-orang laki perempuan bercampur aduk merupakan barisan liar ini pastilah golongan musuh.
Merekapun lalu menerjang maju, melarikan kudanya menyerbu di antara puluhan orang lawan yang juga sudah berteriak-teriak dan menyerang dalam sambutan mereka terhadap terjangan perajurit-perajurit Panjalu.
"Sariwuni perempuan jahat, kebetulan sekali andika muncul menyerahkan nyawa!"
Bentak Tejolaksono sambil menudingkan telunjuknya ke arah wanita itu yang tersenyum mengejek dengan gerakan mulut genit sekali.
"Heh-heh, Tejolaksono, engkau masih hidupkan? Aku memang sengaja menantimu di sini untuk menangkapmu!"
"Setan alas, mampuslah kamu "
Tiba-tiba Endang Patibroto melayang dari atas kudanya dan langsung tubuhnya meluncur dan menyambar ke arah Sariwuni bagaikan seekor burung elang menyambar anak ayam.
Sariwuni terkejut sekali dan cepat menggerakkan pedangnya membacok tubuh lawan yang menyambar seperti burung itu.
"Krekk...... Aaliihhhhh!"
Sariwuni terpental ke belakang sampai tiga meter dan pedangnya sudah patah-patah ketika bertemu dengan jari tangan Endang Patibroto! Sariwuni memandang terbelalak dan berkata tertegun.
"Inikah......Endang Patibroto ?"
Sudah lama dia mendengar akan kehebatan seorang wanita bernama Endang Patibroto dan karena akhir-akhir ini dia mendengar berita bahwa Endang Patibroto telah menjadi isteri Tejolaksono, kini menyaksikan terjangan yang ganas dan dahsyat itu, mudah saja dia menduga.
"Benar dugaanmu. Akulah Endang Patibroto yang datang untuk menghancurkan kepalamu yang hanya terisi hawa busuk itu. Nah, rasakan pukulan ini!"
Endang Patibroto tidak mau memberi kesempatan lagi kepada lawan yang kini sudah bertangan kosong, lalu menerjang maju dengan gerakan Bayu Tantra yang membuat tubuhnya menjadi gesit dan ringan, sambil memukul dengan aji pukulan Wisangnolo!
Sariwuni menjadi gentar, akan tetapi ia pun tidak mau menyerah mentah-mentah begitu saja.
Begitu ia menggerakkan tangan dan memekik, berubahlah warna tangannya menjadi hitam sampai ke kukunya dan kedua lengannya mengeluarkan bunyi berkerotokan.
Itulah pengerahan ajinya yang sangat keji dan kotor, yaitu Aji Wisekenaka yang ia pelajari dari Wasi Bagaspati sebagai hadiah atas jasa-jasanya, terutama sekali dalam melayani nafsu sang wasi.
"Bressss!"
Kembali tangan Endang Patibroto tertangkis oleh lengan yang mengandung hawa beracun, bahkan kuku-kuku tangan Sariwuni dalam tangkisan itu telah mencengkeram lengan Endang Patibroto yang berkulit halus putih.
Akan tetapi akibatnya, tubuh Sariwuni terbanting ke kiri dan perempuan ini bergulingan sambil mengeluarkan rintihan karena lengannya seperti terbakar api neraka ketika bertemu dengan lengan Endang Patibroto yang mengandung hawa Wisangnolo!
Sementara itu, Tejolaksono dan Ayu Candra juga tidak tinggal diam melihat lima belas orang pengawal mereka bertempur dikeroyok oleh tiga puluh orang lebih gerombolan musuh.
Ki patih dan isterinya sudah membedal kuda mereka maju memasuki gelanggang pertempuran dan sebentar saja, beberapa orang pengeroyok sudah roboh oleh tendangan-tendangan kaki Tejolaksono dan ayunan pedang Ayu Candra setelah dia merampas pedang dari tangan seorang pengeroyok.
Dengan majunya suami isteri perkasa ini, biarpun fihak lawan dua kali lebih besar jumlahnya,tetap saja mereka menjadi kocar-kacir dan panik.
Sepak terjang suami isteri itu, terutama sang patih, terlalu hebat dan kuat bagi mereka seperti terjangan angin badai.
Endang Patibroto yang melihat betapa Sariwuni sudah terluka, mengambil keputusan untuk menghabisi saja nyawa lawan itu, maka tubuhnya kembali mencelat ke depan dan kakinya bergerak menendang ke arah kepala Sariwuni untuk memberi pukulan maut terakhir.
"Desss. !"
Kini tubuh Endang Patibrpto yang terpental ke belakang dan kakinya terasa nyeri hampir lumpuh.
Kiranya tendangan tadi telah ditangkis oleh sebuah lengan tangan berbulu yang kulitnya kemerahan.
Endang Patibroto cepat berdiri tegak memandang penuh perhatian.
Orang yang menolong Sariwuni itu adalah seorang kakek tinggi kurus bermuka merah sekali, rambutnya panjang putih terurai dan pakaiannya terbuat dari kain berwarna merah darah!
"Hoah-hah-ha-ha!
Inikah puteri yang bernama Endang Patibroto, murid dari Dibyo Mamangkoro?......buruk.!"
Kakek itu lalu memegang lengan tangan Sariwuni yang terluka dan sekali menggosoknya dengan telapak tangan kiri, sembuhlah dan lenyaplah rasa panas.
"Wuni cah-ayu, lenganmu tidak apa-apa, sekarang lebih baik kau membantu anak buahmu itu yang terdesak,"
Kata kakek itu lalu menggunakan tangannya meraba pinggul Sariwuni, membelai dan mendorongnya. Sariwuni terkekeh genit lalu berlari untuk membantu anak buahnya yang kocar-kacir.
"Kakanda, lihat siapa itu."
Tiba-tiba Ayu Candra berbisik dengan suara menggetar.
Tejolaksono cepat menoleh dan terkejutlah ia ketika melihat pendeta berjubah merah itu yang bukan lain adalah Wasi Bagaspati!
"Ah, Endang Patibroto terancam bahaya.
Mari kita bantu.
Ia lalu meloncat turun dari kudanya, diikuti Ayu Candra, merobohkan dua orang pengeroyok lalu berlari menghampiri Endang Patibroto yang masih berdiri tegak di depan Wasi Bagaspati.
Tejolaksono kini berdiri di sebelah kanan Endang Patibroto sedangkan Ayu Candra berdiri di sebelah kanannya.
"Wasi Bagaspati! Kiranya andika yang menghadang perjalanan kami ke Jenggala,"
Kata Tejolaksono.
"Ada maksud apakah menghadang perjalanan kami?"
"Ha-ha-ha, andika Tejolaksono, dahulu Adipati Selopenangkep dan sekarang kabarnya menjadi patih muda di Panjalu, bukan? Sebagai patih di Panjalu, mau apa gentayangan dan berkeliaran di daerah Jenggala? Andika melanggar tapal batas, harus ditangkap. Ha-ha-ha!"
"Wasi Bagaspati! Sejak kapan andika menjadi penjaga tapal batas?"
Tejolaksono berseru keras.
"Kakangmas, perlu apa banyak bicara dengan raksasa tua bangka ini? Hantam saja!"
Endang Patibroto sudah menerjang maju lagi, kini gerakannya hati-hati sekali karena ia makium bahwa yang ia hadapi adalah lawan yang benar-benar amat sakti.
Ia menerjang sambil mengerahkan Aji Bayu Tantra agar tubuhnya menjadi ringan dan gerakannya menjadi cepat, dan ia mengerahkan ajinya Pethit Nogo untuk menampar ke arah dada Sang Wasi Bagaspati.
Keras sekali tamparan tangan itu, namun kakek bermuka merah itu hanya tertawa-tawa, sama sekali tidak mengelak dan menerima tamparan Aji Pethit Nogo dengan dadanya yang bidang.
"Plakkkk!!"
Endang Patibroto merasa betapa jari -jari tangannya bertemu dengan getaran hawa yang kuat, yang melumpuhkan ajinya Pethit Nogo dan pada detik berikutnya ia berseru keras sambil melesat pergi karena hampir saja pundaknya kena dicengkeram oleh tangan Wasi Bagaspati yang sengaja menerlma pukulan sambil berusaha menangkap Endang Patibroto.
Tejolaksono juga kaget menyaksikan betapa pukulan Endang Patibroto sedemikian ampuhnya sehingga jarang sekali ada tokoh yang akan mampu menerima pukulan Pethit Nogo kini ternyata tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap Wasi Bagaspati, cepat melambung tinggi dan menerjang dari atas.
Ia mengerahkan aji keringanan tubuh Bayu Sakti dan dari atas ia menukik turun ke bawah dengan pukulan Bojro Dahono, mengarah ubun-ubun kepala Wati Bagaspati!
Pada saat yang hampir berbareng dengan serangan Tejolaksono, kedua orang isterinya pun sudah menerjang maju.
Ayu Candra kini mencabut keris pusakanya dan menyerang dengan tusukan ke arah Wasi Bagaspati, sedangkan Endang Patibroto menggunakan aji pukulan Wisangnolo, kini yang dipukul adalah tenggorokan lawan untuk mematahkan batang lehernya!
Menghadapi tiga serangan yang mematikan ini, yang amat berbahaya kalau dilawan dengan kekebalan karena yang diserang adalah bagian-bagian paling lemah, Wasi Bagaspati menjadi terkejut juga.
Tadinya ia hendak menyambar lengan Tejolaksono dan sekaligus menangkapnya, akan tetapi keris yang menuju matanya dan pukulan panas yang mengarah tenggorokannya bukanlah hal yang boleh dipandang rendah begitu saja.
Terpaksa ia menangkis saja pukulan Tejolaksono, menggeser kaki belakang dan miringkan tubuh menghindarkan serangan dua orang wanita sakti itu.
Akan tetapi begitu ia terhindar dari serangan pertama, ketiga orang pengeroyoknya sudah menerjang lagi dengan serangan yang lebih hebat dan berbahaya.
Tejolaksono yang pernah bertanding dengan kakek sakti ini di lereng Merapi di depan Ki Tunggaljiwa dan hampir saja tewas, teringat akan nasehat Ki Tunggaljiwa kemudian bahwa biarpun dalam hal ilmu kedigdayaan kakek ini tidaklah terlalu banyak selisihnya dengan tingkatnya sendiri, akan tetapi dalam hal kekuatan batin ia kalah jauh dan ia harus mempergunakan aji kesaktian!
Triwikromo untuk menentang pengaruh mujijat yang keluar dart batin Sang Wasi Bagaspati.
Kini Tejolaksono mengeluarkan suara menggereng keras yang menggetarkan seisi hutan dan ia sudah mengerahkan aji kesaktian Triwikromo.
Aji kesaktian ini dahulu dipelajari oleh Tejolaksono dari mendiang Sang Prabu Airlangga yang telah mengundurkah diri menjadi pertapa dengan sebutan Sang Resi Jentayu ayau Sang Bhagawan Jatinendra.
Aji ini mendatangkan wibawa yang amat hebat dan sekiranya lawan yang menghadapinya bukan.
Wasi Bagaspati tentu telah luluh dan lemah segala natsu perlawanannya.
Tejolaksono kini menerjang maju dany menyerang bawah pusar lawan dengan gerakan silat Kukilo Sakti.
Adapun Endang Patibroto yang maklum pula akan kehebatan lawan, berturut-turut tecepat kilat melepaskan tujuh batang panah tangah beracun yang diluncurkah ke arah tujuh bagian lemah dari tubuh Wasi Bagaspati, kemudian ia mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo dan menghantam dari belakang mengarah tengkuk.
Ayu Candra bukan seorang lemah dan dia telah mewarisi segala ilmu dan aji kesaktian dari ayahnya, Ki Adibroto, seorang tokoh warok Ponorogo aliran putih, dan di samping itu, telah banyak pula ia mendapat bimbingan suaminya.
Namun dalam menghadapi Wasi Bagaspati ini, Ayu Candra maklum bahwa ilmu kepandaiannya masih terlalu rendah.
Begitu ia melihat suaminya menyerahkan Aji Triwikromo dan mendengar Endang Patibroto mengeluarkan pekik Sardulo Bairowo yang membuat kedua kakinya sendiri sampai menggigil, Ayu Candra lalu mundur dan menyaksikan pertandingan dahsyat itu dari pinggir gelanggang pertandingan.
Ketika ia menengok ke kiri, ke arah pertempuran antara para pengawal dan anak buah Sariwuni, ia terkejut sekali karena semua pengawal telah menggeletak tewas, pertempuran telah terhenti, Sariwuni dan sisa pasukannya juga sedang menonton pertandingan dahsyat antara Wasi Bagaspati yang dikeroyok dua oleh Tejolaksono dan Endang Patibroto.
Wasi Bagaspati juga terkejut bukan main ketika ia melihat pengaruh wibawa yang tiba-tiba mencuat keluar dan tubuh Tejolaksono!
Wibawa yang begitu kuatnya sehingga ketika ia memandangnya, jantungnya tergetar hebat dan isi dadanya terguncang.
Cepat kakek sakti Itu menggereng dan setelah ia dapat mengatasi wibawa Aji Triwikromo, lenyaplah guncangan hebat dalam dadanya.
Cepat ia menggerakkan tangan menagkis pukulan Tejolaksono yang mengarah bawah pusar, dan sekali ini keduanya terdorong mundur.
Pada saat itu terdengar bunyi berciutan nyaring sekali, yaitu saat meluncurnya tujuh batang panah tangan yang dilepas oleh Endang Patibroto.
Panah tangan yang merupakan anak panah kecil dan cara mempergunakannya adalah disambitkan dan disentil dengan jari tangan dengan dorongan tenaga sakti itu ujungnya sudah direndam racun.
Kini dilepas dari jarak dekat oleh Endang Patibroto, menuju ke arah tujuh bagian tubuh yang berbahaya.
"Cet-cet-cet-cet-cet-cet-cet !!!"
Anak panah itu datangnya beruntun susul-menyusul.
Yang dua pertama meluncur ke arah sepasang lutut kaki Wasi Bagaspati dan dapat ditendang runtuh oleh kakek sakti itu.
Panah ke tiga dan ke empat yang menyerang pusat dan ulu hati ia terima begitu saja dan dua batang anak panah itu runtuh, tak dapat membikin lecet sedikitpun tubuhnya yang dilindungi kekebalan.
Anak panah ke lima meluncur ke tenggorokan, sedangkan yang ke enam dan ke tujuh terbang meluncur ke arah sepasang matanya.
Wasi Bagaspati menggereng marah, merendahkan kepala sehingga anak panah yang menusuk tenggorokannya kini menusuk mulutnya.
ia membuka mulut dan "menangkap"
Anak panah itu dengan bibirnya, sedangkan kedua tangannya menyambar dua batang anak panah yang tadi menyerang sepasang matanya.
Pada saat itu, pukulan ke arah tengkuk yang dilakukan Endang Patibroto yang memekikkan Aji Sardulo Bairowo sudah tiba.
Wasi Bagaspati secara tiba-tiba membanting tubuhnya kekanan dan terus bergulingan di atas tanah.
Gerakan ini membuat terjangan Endang Patibroto gagal dan tiba-tiba tampak tiga sinar menyambar ke arah Endang Patibroto, Tejolaksono dan Ayu Candra yang sedang berdiri menonton.
Itulah tiga buah anak panah yang tadi terampas oleh Wasi Bagaspati.
Tejolaksono dan Endang Patibroto cepat menggunakan Aji Pethit Nogo, memukul runtuh anak panah itu, sedangkan Ayu Candra yang sama sekali tidak mengira akan diserang dengan anak panah, menjadi kaget dan hampir saja menjadi korban kalau ia tidak cepat-cepat meloncat ke belakang sampai terhuyung-huyung.
Masih untung baginya bahwa anak panah yang dipakai menyerangnya adalah anak panah yang tadi digigit Wasi Bagaspati dan dipergunakan menyerangnya dengan cara ditiupkan sehingga tenaga luncurannya tidaklah sehebat dua batang yang disambitkan kakek itu.
"Huah-ha-ha, kalian belum menyerah? Mau melihat kesaktian Wasi Bagaspati? Hemmm masih belum terlambat untuk menyerah menjadi tawananku, Patih Tejolaksono!"
Biarpun di mulut kakek ini mentertawakan, namun di dalam hatinya ia mendongkol dan penasaran sekali mengapa dia, seorang tokoh besar yang selamanya tak pernah terkalahkan, yang telah mengorbankan waktu dan ketekunan selama puluhan tahun untuk mengejar ilmu, yang kini menganggap bahwa aji kesaktiannya akan dapat mengalahkan dewa, sekarang melawan dua orang yang baginya merupakan tokoh-tokoh muda ini, dia selalu didesak dan belum dapat balas menyerang!
Harus ia akui bahwa Tejolaksono dan Endang Patibroto merupakan sepasang lawan yang hebat sekali, karena mereka itu dapat bekerja sama dalam penyerangan-penyerangan yang dahsyat.
Ingin ia mengeluarkan jimat pusakanya, yaitu senjata Cakra.
Akan tetapi ia merasa sungkan kalau harus mempergunakan pusakanya itu hanya untuk menghadapl dua orang lawan muda.
Maka ia mengeluarkan gertakan karena kalau mereka ini suka menyerah, tidak perlu ia mengeluarkan aji-aji yang selama ini menjadi ilmu simpanan untuk dipergunakan melawan musuh yang seimbang.
"Sang Wasi Bagaspati! Andika mewakili negara asing yang hendak menjajah, yang berarti mewakili angkara murka, sedangkan kami berjuang untuk membela nusa bangsa yang berarti mewakili kebenaran. Mungkinkah kebenaran harus menyerah dan tunduk terhadap angkara murka? Tidak, Sang Wasi. Kami akan melawan terus karena yakin bahwa akhirnya kebenaranlah yang akan menang!"
"Babo-babo, tidak mendengar kata-kata halus andika, Tejolaksono. Nah, majulah, dan rasakan kesaktian Wasi Bagaspati!"
"Pendeta palsu dukun lepus, siapa sudi mendengar obrolanmu?"
Endang Patibroto membentak sambil menghunus keris pusakanya.
Tejolaksono juga sudah mengeluarkan keris Megantoro dan kedua suami isteri ini lalu menerjang maju dari depan, arah kanan kiri.
Tiba-tiba Wasi Bagaspati ' mengeluarkan pekik melengking dan kedua kakinya menggedrug (menjejak) tanah.
Tanah seolah-olah tergetar hebat di bawah kaki Endang Patibroto dan Tejolaksono, membuat mereka seperti lumpuh seketika dan tubuh mereka terguling!
Wasi Bagaspati menubruk dengan kedua tangan mengirim pukulan ke arah kepala dua 0i orang lawannya yang sudah roboh terguling.
"Dess!. Desss!!"
Debu mengebul ketika tanah dihantam kedua tangan Wasi Bagaspati, sedangkan Endang Patibroto dan Tejolaksono sudah melesat pergi mengelak karena begitu tubuh mereka terbanting, mereka mempergunakan tangan menekan tanah dan meloncat.
Tejolaksono dan Endang Patibroto terkejut.
Mereka maklum bahwa ilmu yang dikeluarkan oleh Wasi Bagaspati itu adalah sejenis dengan aji-aji mereka Sardulo Bairowo dan Dirodo Meta, akan tetapi yang jauh lebih kuat karena memang kakek itu memiliki kekuatan batin yang luar biasa.
Selagi mereka berpikir bagaimana harus menghadapi ilmu yang dahsyat itu, Wasi Bagaspati yang merasa penasaran karena serangannya gagal, kembali melompat dekat dan menjejak bumi sambil melengking seperti tadi.
Tejolaksono dan Endang Patibroto yang sudah siap itu mengerahkan tenaga sakti untuk melindungi tubuh, namun percuma karena kaki mereka tergetar hebat dan seketika mereka terguling lagi seperi tadi!
Segumpal sinar hitam seperti asap menyambar ke arah tubuh Tejolaksono dan Endang Patibroto.
Keduanya terkejut dan hendak mengelak, namun mereka roboh kembali karena gerakan mereka terhalang oleh sebuah jala hitam yang amat tipis namun yang mempunyai kekuatan melebihi benang-benang baja!
Mereka meronta-ronta, namun dengan gerakan tangannya Wasi Bagaspati yang tertawa-tawa itu membuat jala makin menyempit sehingga akhirnya Tejolaksono dan Endang Patibroto meringkuk dan terjepit menjadi satu tak mampu bergerak lagi.
"Pendeta keparat lepaskan mereka!"
Ayu Candra melompat ke depan dan menggunakan keris menyerang, akan tetapi dengan tangan kanan memegang ujung jala Wasi Bagaspati mengangkat tangan kirinya, menyampok tangan Ayu Candra yang memegang keris sehingga senjata itu ter pental jauh dan sekali kakek itu mengibaskan tangan kirinya menyentuh pangkal telinga Ayu Candra, isteri Patih Tejolaksono ini terbanting dalam keadaan pingsan.
"Huah-ha-ha, orang-orang muda kalau tidak dibunuh, kelak akan merepotkan saja!"
Kakek itu sudah mengangkat tangan kirinya ke atas dengan jari -jari terbuka dan membentuk cakar harimau, siap digerakan turun mencengkeram kepala dua orang tangkapannya yang sudah tak dapat membela diri itu.
"Kakanda Wasi jangan bunuh mereka!"
Tiba-tiba Sariwuni 'meloncat maju dan berteriak mencegah. Memang lucu dan janggal kedengarannya kalau Sariwuni yang masih kelihatan cantik dan muda itu menyebut "kakanda"
Kepada Wasi Bagaspati yang sudah tua renta, lebih seratus tahun usianya itu.
Memang, Wasi Bagaspati ini selain sakti mandraguna, juga mempunyai watak romantis sehingga setiap orang wanita yang menjadi pelayan nafsunya selalu diharuskan menyebutnya kakanda!
"Heh, mengapa kau berani mencegahku, Sariwuni?"
Wasi Bagaspati mengerutkan keningnya dan suaranya tergetar tak senang.
"Malam ini bulan purnama, dan mereka bertiga itu bukan orang-orang sembarangan sehingga akan menjadi korban yang amat berharga untuk Sang Dewi Bathari."
Sariwuni tersenyum manis dan kerlingnya menyambar ke arah Tejolaksono dalam jala itu. Sejenak Wasi Bagaspati meragu, kemudian tertawa.
"Ha-ha-ha-ha! Engkau ini makin mata keranjang saja, Sariwuni! Engkau ingin menikmati pria tampan ini sebelum dia dibunuh? Baiklah, membunuh mereka besok pagi juga belum terlambat!"
"Hamba hanya mendapatkan seorang, akan tetapi bukankah Kakanda Wasi mendapatkan dua orang?"
Jawab Sariwuni sambil melirik ke arah Endang Patibroto yang meringkuk seperti ikan di dalam jala dan tubuh Ayu Candra yang masih rebah pingsan di atas rumput.
Ucapan ini disambut tertawa bergelak oleh Wasi Bagaspati.
Sariwuni lalu mengatur anak buahnya untuk membawa teman-teman yang terluka dan yang tewas, kemudian mereka meninggalkan lima belas buah mayat para pengawal Panjalu, tidak tahu bahwa seorang di antara mereka masih belum tewas sehingga dapat memberi tahu tentang tertawannya Tejolaksono dan dua orang isterinya yang dibawa ke puncak gunung yang tampak dari hutan itu.
Pangeran Panji Sigit, Joko Pramono, Setyaningsih, dan Pusporini menjadi gelisah sekali setelah mendengar pesan perajurit itu.
Hanya Bagus Seta, yang tetap tenang,kemudian tanpa banyak bicara pemuda remaja ini Ialu menggali lubang dan mengubur kelima belas sosok mayat para pengawal Panjalu itu.
Melihat ini, tentu saja Joko Pramono, bahkan Pangeran Panji Sigit sendiri bergegas membantu, juga kedua orang bibi muda itu.
Mereka terpaksa menekan perasaan gelisah mereka melihat sikap Bagus Seta yang tenang itu, dan mereka percaya penuh bahwa pemuda remaja itu akan dapat menanggulangi segala lawan dan mengatasi segala kesulitan.
Malam itu tenang bulan dan kebetulan sekali angkasa bersih dan cerah, tidak tampak sedikitpun awan sehingga bulan tersenyum-senyum bebas menyinarkan cahayanya yang keemasan.
Di puncak gunung kecil di luar hutan itu terjadilah pesta yang luar biasa.
Puncak gunung ini merupakan tempat peristirahatan sementara dari Wasi Bagaspati yang ditemani oleh Sariwuni dan sejumlah anak buahnya sebanyak kurang lebih lima puluh orang.
Atas permintaan Sariwuni, tiga orang tawanan itu, Tejolaksono, Endang Patibroto dan Ayu Candra, tidak dibunuh oleh Sang Wasi Bagaspati.
Dengan ilmu kepandaiannya, mudah saja bagi Wasi Bagaspati untuk membuat Tejolaksono dan Endang Patibroto yang sudah tak dapat bergerak di dalam jala itu roboh pingsan, kemudian bersama Ayu Candra yang juga sudah pingsan, mereka bertiga dibawa naik ke puncak pegunungan itu dan dalam keadaan pingsan itu mereka bertiga diberi minum secara paksa oleh Sariwuni.
Minuman itu adalah minuman yang mengandung racun perampas ingatan dan mengandung daya rangsang yang amat luar biasa.
Kemudian tiga orang yang masih pingsan itu direbahkan di atas panggung yang terbuat daripada kayu dan bambu.
Biasanya, pesta pemujaan Bathari Durgo ini dipimpin oleh Ni Dewi Nilamanik sebagai ketuanya, akan tetapi oleh karena Ni Dewi Nilamanik sedang berada di Kota Raja Jenggala memenuhi panggilan Ki Patih Warutama, maka pesta ini diwakili oleh Sariwuni.
Minuman beracun yang dipergunakan Sariwuni itupun adalah milik Ni Dewi Nilamanik.
Selain Sariwuni, di situ terdapat tujuh orang wanita cantik yang kesemuanya adalah murid-murid Ni Dewi Nilamanik dan yang berada di situ untuk bertugas membantu Sariwuni dalam melayani Wasi Bagaspati.
Adapun yang lainnya, terdiri dari laki-laki dan wanita, hanyalah anak buah yang melakukan segala macam pekerjaan kasar melayani segenap kebutuhan dan keperluan sehari-hari, termasuk penjagaan dan kalau perlu bertempur menghadapi musuh.
Setelah bulan mulai bersinar, pesta pemujaan Bathari Durgo pun dimulailah.
Sebuah arca Bathari Durgo diletakkan di atas panggung dan di sebelah kanannya duduklah Sang Wasi Bagaspati di atas sebuah kursi.
Sariwuni dan tujuh orang wanita yang kesemuanya berpakaian tipis serba putih itu duduk bersimpuh di depan Wasi Bagaspati dan arca Bathari Durgo.
Karena tempat itu bukan menjadi pusat perkumpulan Agama Bathari Durgo, bukan sebuah Durgoloka (Taman Bathari Durgo), maka upacara pemujaan Bathari Durgo di waktu bulan purnama itu pun diadakan sederhana sekali,tidak teperti kalau Ni Dewi Nilamanik yang memimpinnya, lengkap dengan gamelan segala macam.
Tidak ada gamelan di situ dan semua anak buah di situ setelah mempersiapkan pesta makanan sederhana untuk Wasi Bagaspati, Sariwuni dan tujuh orang murid Ni Dewi Nilamanik yang muda-muda dan cantik-cantik itu, lalu berdiri mengelilingi panggung menonton.
Semenjak tali, pandang mata Wasi Bagaspati tertuju kepada tubuh Ayu Candra dan Endang Patibroto yang rebah terlentang di atas panggung, di ujung kiri sedangkan di sudut kanan rebah tubuh Tejolaksono.
Mereka bertiga masih dalam keadaan pingsan, seperti tidur nyenyak.
Kemudian kakek itu mengangkat tangan kiri ke atas, tanda bahwa pesta boleh dimulai.
Melihat ini, Sariwuni memimpin tujuh orang wanita muda itu menyembah di depan kaki Wasi Bagaspati, kemudian' menghampiri arca Bathari Durgo dan menyembah, lalu bertelungkup hampir tiarap di depan arca itu sambil menyebar kembang setaman yang sudah disediakan di situ.
Sariwuni lalu membakar dupa harum yang mengepulkan asap putih yang baunya semerbak memenuhi udara di sekeliling panggung.
Setelah upacara penyembahan arca itu selesai, tujuh orang wanita itu dipimpin oleh Sariwuni lalu bangkit berdiri, dan mulailah mereka itu menari dengan iringan tepuk tangan mereka dan berkerincingnya gelang-gelang yang dipasang pada kaki mereka.
Tari-tarian itu biarpun hanya diiringi gamelan tepuk tangan dan berkerincingnya gelang-gelang kaki, namun teratur dan amat indah, sungguhpun gerakannya mengandung sifat-sifat yang merangsang berahi dengan gerakan-gerakan pundak dan perut.
Mereka menari berputaran di sekeliling panggung dan Sariwuni merupakan penari yang terpandai dan yang paling indah gerakannya.
Makin lama bunyi tepuk tangan dan berkerincingnya gelang-gelang kaki makin cepat pula dan makin liar.
Sariwuni sendiri menari mendekati tubuh Tejolaksono yang masih menggeletak terlentang dalam keadaan pingsan atau mungkin juga tertidur nyenyak.
Sariwuni mengitari tubuh Tejolaksono itu, menari-nari dan makin lama makin merendah tubuhnya sampai akhirnya ia menari sambil berjongkok mengelilingi Tejolaksono, jarijari tangannya yang bergerak-gerak seperti ular-ular kecil itu merayap-rayap dan menyentuh-nyentuh tubuh Tejolaksono, sepasang matanya makin lama makin bersinar penuh gairah.
Sementara itu, tujuh orang wanita masih bertepuk-tepuk tangan dan menghentak-hentakkan kakinya untuk mencipta bunyi yang berirama untuk mengiringi tari-tarian Sariwuni.
Mereka bertujuh hanya berdiri dan melenggang-lenggok tidak pindah dari tempatnya, berjajar menghadapi Wasi Bagaspati.
Wasi Bagaspati tersenyum-senyum, menggerak-gerakkan kepalanya menurutkan irama tepukan tangan, sambil makan dan minum sajian yang dihidangkan di dekatnya.
Kemudian ia memandang ke arah Sariwuni yang menyentuh-nyentuh dada dan leher Tejolaksono, kadang-kadang menundukkan muka didekatkan dengan muka Tejolaksono seperti orang menimang-nimang.
Perlahan-lahan Tejolaksono menggerakkan bulu mata, lalu membuka matanya seperti orang dalam mimpi.
Ia bangkit perlahan, diikuti Sariwuni yang masih menari, dan ketika wanita itu menarik tangannya, Tejolaksono bangkit berdiri dan mulai menari!
Wasi Bagaspati tertawa dan bangkit lalu menghampiri tubuh Endang Patibroto dan Ayu Candra.
Beberapa kali ia meraba dan memijit tengkuk dua orang wanita itu yang kemudian siuman dari pingsannya, bangkit berdiri dan perlahan-lahan mereka berdua inipun mulai menari-nari menurutkan irama tepukan tangan dan berdencingnya gelang-gelang kaki.
Sambil tertawa gembira Wasi Bagaspati ikut pula bertepuk tangan dan kembali duduk di atas kursinya.
"Aduhh untuk kedua kalinya Pusporini menyaksikan hal yang mengerikan ini,"
Bisik Joko Pramono.
Mereka berlima bersembunyi di tempat gelap dan hanya oleh cegahan Bagus Seta saja empat orang itu tidak meloncat naik dan mengamuk di tempat itu.
Joko Pramono yang pernah diceritakan oleh Pusporini tentang pengalamannya ketika ia ditawan oleh Ni Dewi Nilamanik, kini menyaksikan dengan mata sendiri keadaan yang amat aneh dan yang pernah dialami oleh Pusporini.
Dia merasa amat heran, demikian pula Pusporini, Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih melihat betapa orang-orang sakti seperti Tejolaksono, Endang Patibroto dan Ayu Candra dapat terpengaruh seperti itu, seperti manusia-manusia yang kehilangan pikiran!
Pusporini memandang dengan air mata bercucuran.
Melihat rakandanya dan kedua ayundanya berhal seperti itu, melihat mereka yang telah bertahun-tahun tak dijumpainya, hatinya terharu bukan main.
Kalau menurutkan hatinya, ingin ia meloncat dan menyerbu, membebaskan tiga orang yang dihormati itu dari keadaan mereka yang menyedihkan.
Akan tetapi Bagus Seta tadi memberi isyarat agar mereka jangan bergerak dan ketika ia melihat Wasi Bagaspati, mau tidak mau tengkuknya meremang.
ia melihat jelas pengaruh yang hebat keluar dari sinar mata kakek itu, dari gerak-geriknya.
Dengan bukti tertawannya orang-orang sakti seperti ayundanya Endang Patibroto dan rakandanya Tejolaksono, dapat dibayangkan betapa saktinya kakek itu yang dapat ia duga tentulah Sang Wasi Bagaspati.
Maka ia menahan sabar dan menyerahkan keputusan dan pimpinan dalam tangan Bagus Seta yang ia percaya akan dapat menanggulangi Wasi Bagaspati yang mengerikan itu.
"Tanggalkan pakaian mereka!"
Tiba-tiba terdengar perintah keluar dari mulut Wasi Bagaspati.
Sariwuni sudah sibuk hendak membuka pakaian Tejolaksono yang masih menari-nari seperti boneka hidup, sedangkan tujuh orang wanita lainnya telah menyerbu Endang Patibroto dan Ayu Candra untuk menanggalkan pakaian mereka.
Pekerjaan ini mereka lakukan sambil tertawa terkekeh-kekeh dengan genit.
Tiba-tiba terdengar bentakan halus.
"Wanita-wanita sesat, mundur kalian! "
Dan Bagus Seta sudah meloncat ke atas panggung diikuti oleh empat orang pengikutnya.
Dengan tenang Bagus Seta mendorongkan tangannya dan Sariwuni berikut tujuh orang itu terhuyung ke belakang dan akhirnya roboh ke bawah panggung.
Terdengar teriak-teriak panik dari anak buah Sarlwuni yang menonton, dan keadaan seketika menjadi geger.
Bagus Seta mendekati Tejolaksono, Ayu Candra dan Endang Patibroto.
Ia menyembah lebih dulu sebelum mengusap wajah mereka bertiga itu satu kali dengan telapak tangan kanannya dan seketika tiga orang itu menjadi sadar, memandang terbelalak kepada Bagus Seta, Pangeran Panji Sigit, Joko Pramono, Setyaningsih, dan Pusporini.
"Bagus Seta........! Engkau...... engkau Bagus Seta. !"
Tiba-tiba Ayu Candra menjerit dan wanita itu roboh pingsan dalam pelukan Pusporini yang cepat menerima tubuh ayundanya yang pingsan saking kaget dan girang itu.
Tejolaksono merangkul puteranya yang berlutut dan menyembahnya, akan tetapi karena maklum akan keadaan yang gawat itu, Tejolaksono mengeraskan hatinya dan berbisik.
"Hati-hatilah, Nak. Dia sakti sekali !! Bagus Seta mengangguk tenang.
"Kita gempur dia! Bagus Seta, aku Ibumu Endang Patibroto, mari kubantu engkau membasmi dukun lepus ini!"
Bentak Endang Patibroto.
"Harap Ibunda serahkan saja kepada hamba,"
Kata Bagus Seta sambil tersenyum, kemudian ia bangkit berdiri dan membalikkan tubuh melangkah maju menghadapi Wasi Bagaspati yang memandang semua kejadian itu dengan mata merah saking marahnya, juga saking herannya menyaksikan betapa seorang pemuda remaja dapat menyadarkan tiga orang itu dari pengaruh racun perampas pikiran dan perangsang.
Padahal kepandaian seperti itu hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah memiliki tenaga batin yang amat kuat, seperti dia sendiri misalnya.
Dan cara pemuda itu mendorong para wanita turun dari panggung tanpa melukai mereka, benar-benar mengagumkan, menyatakan bahwa pemuda itu memiliki tenaga sakti yang amat kuat pula.
"Heh, bocah yang berani mati. Siapa kah andika?"
"Sang Wasi Bagaspati, namaku adalah Bagus Seta. Sang Patih Muda Panjalu Tejolaksono adalah Ramandaku."
"Hemm, kulihat engkau seorang muda yang telah memiliki sedikit kesaktian, agaknya engkau murid seorang yang sakti. Ehhh sekarang aku ingat......! Bukankah engkau bocah yang dahulu bersama Bhagawan Ekadenta. ?"
"Bapa guru, dia telah melarikan empat orang tawanan Jenggala! Itu mereka, mohon Bapa guru menangkap mereka kembali!"
Tiba-tiba terdengar suara lan-tang dan muncullah Cekel Wisangkoro yang langsung melompat ke atas panggung.
Kembali Wasi Bagaspati tertegun.
ia sudah mendengar kemajuan-kemajuan yang dicapai para murid dan anak buahnya dalam penyelundupan ke Jenggala dan penanaman pengaruh ke istana.
Kini boleh dikata bahwa Jenggala telah berada di dalam telapak tangannya, tinggal menggenggam saja.
Jenggala kini telah menjadi sekutu yang sewaktu-waktu dapat dipergurtakan oleh negaranya untuk diajak menyerang kerajaan-kerajaan lain seperti Panjalu dan lain-lain.
Kalau usaha itu berhasil dan kelak seluruh Jawa-dwipa telah dapat ditundukkan, tidak akan sukarlah untuk menentang raja yang duduk di singgasana Jenggala dan Jawadwipa yang lohjinawi itu akan menjadi milik Kerajaan Cola!
Seringkali ia diam-diam menertawakan rekannya dari Sriwijaya, Biku Janapati yang tidak tampak mendapatkan kemajuan apa-apa.
Akhir-akhir ini dengan girang ia mendengar akan ditawankan Pangeran Panji Sigit dan tiga orang muda yang termasuk orang-orang bahaya bagi Jenggala.
Maka kini mendengar ucapan muridnya bahwa pemuda remaja yang luar biasa inipun sudah membebaskan tawanan yang kini hadir pula di atas panggung, ia menjadi marah bukan main.
Melihat munculnya Cekel Wisangkoro, Tejolaksono yang maklum bahwa keadaan makin gawat, segera berkata kepada Setyaningsih, Pusporini, Pangeran Panji Sigit, dan Joko Pramono.
"Kalian berempat lakukanlah tugasmu, hadapi Cekel Wisangkoro, Sariwuni dan kaki tangannya. Aku dan kedua ayundamu akan membantu Bagus Seta!"
Biarpun keadaan gawat dan menegangkan, akan tetapi jiwa kepemimpinan Tejolaksono tidak pernah tenggelam dan dalam keadaan seperti itu ia dapat mengatur tugas dan membagi-baginya dengan perhitungan masak.
Ayu Candra yang sudah siuman kinipun sudah siap sedia membantu puteranya, dan keharuan serta kebahagiaan yang datangnya demikian tiba-tiba kini tak dapat ditumpahkan, hanya ditelan dan disimpan dalam rongga dada, kini berdiri di dekat suaminya dan Endang Patibroto.
"Ha-ha-ha-ha! Tejolaksono, jangan kau bergirang lebih dulu dengan adanya bantuan-bantuan yang tiba. Makin banyak keluarga dan sekutumu berkumpul makin baiklah bagiku agar sekaligus aku dapat membasmi penghalang-penghalang bagi tugasku!"
Setelah berkata demikian, Wasi Bagaspati lalu mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau kelaparan dan ia menggerakkan kedua lengannya mendorong ke depan.
Serangkum tenaga dahsyat menyambar ke depan.
Pada saat itu juga, Pusporini yang mendahului yang lain-lain setelah menerima perintah Tejolaksono, sudah menerjang Cekel Wisangkoro dengan pukulan Pethit Nogo yang ampuh.
Demikian hebat terjangan dara perkasa ini sehingga tidak ada lain jalan bagi Cekel Wisangkoro untuk menyelamatkan diri kecuali melompat turun dari atas panggung.
Pusporini mengejar dan melompat turun pula, diikuti oleh Joko Pramono, Pangeran Panji Sigit, dan Setyaningsih.
Mereka ini disambut oleh Cekel Wisangkoro, Sariwuni dan tujuh orang murid-murid Ni Dewi Nilamanik, dibantu pula oleh anak buah yang datang menyerbu dengan senjata tombak dan golok.
Terjadilah pertandingan campuh yang hebat di bawah panggung, di mana Pangeran Panji Sigit dan tiga orang muda yang lain mengamuk.
Pukulan jarak jauh yang dilakukan Wasi Bagaspati dengan jalan mendorongkan kedua lengannya amatlah hebatnya.
Berbeda ketika kakek ini menghadapi Tejolaksono bertiga isteri-isterinya, sekali ini Wasi Bagaspati mengerahkan seluruh kekuatannya dan tenaga sakti yang terkandung dalam pukulan mendorong ini diperkuat oleh tenaga batinnya sehingga pukulan itu luar biasa dahsyatnya.
Seketika Tejolaksono dan kedua orang isterinya, terutama sekali Ayu Candra, terhuyung ke belakang, merasa seolah-olah ada gunung api menyerang mereka.
Bagus Seta melompat ke depan ayah dan kedua orang ibundanya, melindungi mereka dengan tubuhnya ~ dan mendorongkan pula lengannya ke depan sambil berkata dengan suara halus.
"Yang menggunakan kekerasan akan menerima kekerasan pula, Sang Wasi!"
"Dessss!!"
Terasa sekali oleh Tejolaksono dan dua orang isterinya akan pertemuan dua tenaga raksasa yang ampuh dan mujijat di tengah udara, di antara Wasi Bagaspati dan Bagus Seta, seolah-olah dua gunung api bertemu dan saling membakar, saling menindih.
Bagus Seta masih berdiri tegak dan tenang, dan Wasi Bagaspati memandang terbelalak, agak menggigil seperti orang kedinginan, atau seperti orang yang merasa gentar akan sesuatu sehingga meremang bulu tengkuknya.
Tentu saja Wasi Bagaspati sama sekali tidak pernah merasa gentar, karena perasaan ini sudah lama terhapus dari hatinya bersamaan dengan timbulnya perasaan percaya kepada diri sendiri bahwa kesaktiannya sudah terlalu tinggi untuk dapat dikalahkan lawan yang manapun juga.
Kalau ia kelihatan seperti menggigil adalah karena ia merasa terlalu heran dan terlalu penasaran melihat kenyataan betapa pukulannya yang ampuh dan mujijat tadi dapat ditahan dan didorong kembali oleh seorang yang masih begini muda!
Kemarahannya memuncak karena dorongan rasa penasaran ini dan sambil memekik dahsyat tubuhnya yang tinggi itu kini menerjang maju dan kedua lengannya yang panjang itu bergerak menyambar dari kanan kiri dengan jari -jari tangan terbuka, berusaha menangkap dan mencengkeram hancur tubuh Bagus Seta dengan tangannya yang kuat melebihi cengkeraman baja.
Bagus Seta tetap bersikap tenang menghadapi terkaman kedua lengan yang mengamuk seperti badai ini.
Kelihatannya pemuda itu hanya menggerakkan tubuhnya lambat-lambat saja akan tetapi aneh sekali, kedua tangan yang menyambar-nyambar itu selalu menangkap angin, tak pernah dapat menyentuh tubuhnya.
TUBUH Bagus Seta menjadi demikian ringan sehingga setiap terkaman membuat tubuhnya bergerak menjauh terdorong oleh angin yang mendahului gerakan tangan lawan.
Dilihat dari jauh, tampaknya Wasi Bagaspati seperti seorang anak-anak yang berusaha menangkap seekor kupu-kupu, atau seorang gila yang berusaha menangkap asap!
Melihat kehebatan putera mereka, Tejolaksono dan 'Endang Patibroto serta Ayu Candra terbelalak kagum, akan tetapi Tejolaksono yang bijaksana dan dapat mengenal kesaktian luar biasa yang dimiliki puteranya, cepat berkata.
"Mari kita membantu mereka di bawah!"
Tubuhnya melompat turun panggung diikuti Endang Patibroto dan Ayu Candra.
Di bawah panggung terjadi pertandingan yang lebih ramai, seru dan dahsyat sekali.
Empat orang muda mengamuk seperti banteng-banteng terluka.
Terutama sekali sepak terjang Pusporini dan Joko Pramono yang seakan-akan berlomba dan bersicepat merobohkan Cekel Wisangkoro membuat cekel itu kewalahan.
Melawan seorang saja di antara dua orang murid Resi Mahesapati ini masih diragukan apakah dia akan sanggup mengalahkannya, apalagi kini dua orang murid itu maju bersama mengeroyoknya.
Cekel Wisangkoro memutar tongkat ularnya dengan nekat dan mengerahkan seluruh kedigdayaannya, mengeluarkan segala ilmunya, namun sia-sia.
Segala macam mantera telah ia ucapkan, mantera--mantera, yang mengandung kekuatan ilmu hitam yang biasanya akan dapat melumpuhkan kekuatan lawan, akan tetapi terhadap dua orang muda ini tidak mempan sama sekali.
Gerakan tongkat ularnya yang cepat itu tidak dapat mengatasi gerak cepat kaki tangan Pusporini dan Joko( Pramono sehingga ia terus didesak mundur.
Ketika untuk kesekian kalinya tongkatnya tidak menemui sasaran setelah ia sabetkan melingkar ke depan menghantam dua orang lawannya yang mengelak cepat, Joko Pramono mengirim pukulan yang ampuhnya menggila, yaitu pukulan dengan Aji Cantuka Sekti, ke arah dada lawan.
Cekel Wisangkoro tergesa-gesa membuang diri ke kiri menghindarkan pukulan maut itu.
Akan tetapi dari kiri menyambar tangan Pusporini yang menyerang dengan pukulan Pethit Nogo.
Cekel Wisangkoro kaget sekali, cepat mengangkat tongkat ularnya, disabetkan ke arah pergelangan gadis itu.
Akan tetapi Pusporini sudah memutar pergelangan tangannya dan merubah tamparan menjadi cengkeraman yang berhasil menangkap tongkat ular!
Cekel Wisangkoro terkejut, mengerahkan seluruh tenaga dan menggereng sambil membetot untuk merampas kembali tongkatnya, akan tetapi tongkat itu tidak dapat terlepas dari cengkeraman Pusporini.
Pada saat itu Joko Pramono yang tidak mau kalah sudah memukul lagi dengan Aji Cantuka Sekti ke arah perut lawan.
Melihat, datangnya pukulan, Cekel Wisangkoro dapat mengenal bahaya maut, terpaksa ia melepaskan tongkatnya dan menggunakan lengan kanan untuk menangkis pukulan itu.
Akan tetapi karena gerakannya ini agak terlambat dan tenaganya pun tidak cukup dipersiapkan dalam menghadapi pukulan sakti itu, ketika kedua lengan bertemu, tubuhnya terpental ke belakang, lengan kanannya seperti lumpuh dan ia jatuh terguling-guling.
"Toloooonggg tolong, Bapak guru, tolong!!"
Saking panik dan takutnya, kini Cekel Wisangkoro berteriak-teriak minta tolong.
Akan tetapi Wasi Bagaspati yang sibuk dan bernafsu sekali merobohkan Bagus Seta itu tidak memperdulikan teriakan muridnya ini.
Belasan orang anak buah yang tadinya tak dapat membantu karena jalannya pertempuran amat cepat sehingga sukar bagi mereka untuk turun tangan mencampuri dan membantu, kini menerjang maju dengan tombak dan golok mereka yang datang bagaikan hujan menyerang Pusporini dan Joko Pramono.
Akan tetapi terjangan itu sama dengan terjangan sekumpulan laron terhadap api.
Terdengar tombak patah golok terbang dan pekik-pekik kesakitan ketika sepuluh orang di antara mereka terpental kocar-kacir tercium tendangan-tendangan kaki Pusporini dan Joko Pramono.
Akan tetapi hambatan ini menyelamatkan Cekel Wisangkoro yang telah lari entah ke mana karena ketika Pusporini dan Joko Pramono memandang dan mencari, bayangan cekel pengecut itu telah lenyap.
Dengan marah kedua orang muda perkasa ini lalu menoleh ke arah pertandingan di bagian lain di mana tadi Setyaningsih dan suaminya mengamuk.
Seperti halnya Joko Pramono dan Pusporini yang segera turun tangan menyerang orang-orang yang menjadi tokoh penting dari fihak lawan, Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih juga langsung menerjang Sariwuni ketika mereka berdua meloncat turun dari atas panggung.
Biarpun Sariwuni tidak sehebat Cekel Wisangkoro kesaktiannya, dia adalah kekasih Wasi Bagaspati dan tentu saja sudah banyak menerima petunjuk Sang Wasi.
Bahkan Sariwuni menerima sebuah ilmu yang dahsyat dan mujijat, yaitu Aji Wisakenaka yang membuat sepuluh buah kuku jarinya merupakan sepuluh buah keris-keris kecil yang mengandung racun ampuh!
Begitu melihat turunnya Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit dari atas panggung, Sariwuni lalu menyambut mereka dengan cakaran-cakaran kukunya yang beracun.
Akan tetapi dengan mudahnya suami isteri ini mengelak dan balas menyerang dengan pukulan-pukulan maut.
Terutama sekali Setyaningsih yang telah menerima gemblengan ayundanya, Endang Patibroto, wanita muda ini segera mencecar Sariwuni dengan tamparan Pethit Nogo.
Dalam kemarahan mereka terhadap Sariwuni yang tadi menari-nari dan jelas mengandung niat kotor terhadap Tejolaksono, suami isteri muda ini mengambil keputusan tetap untuk membunuh wanita cabul ini.
Tujuh orang wanita murid-murid Ni Dewi Nilamanik cepat maju dan membantu Sariwuni.
Mereka adalah murid--murid Ni Dewi Nilamanik, tentu saja telah memiliki kepandaian yang boleh diandalkan dalam pertempuran, tidak seperti para anak buah di situ yang hanya dapat bertempur berdasarkan ketaatan mereka terhadap perintah pimpinan.
Tujuh orang wanita yang masih berpakalan putlh tipis sehingga tubuh mereka membayang seperti orang bertelanjang bulat itu kini bergerakgerak mengepung Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih.
Dari tubuh mereka tercium wangi-wangian yang sengaja mereka pakai dalam pesta tadi.
Bau wangi dan ketelanjangan mereka ini memuakkan hati Setyahingsih yang mengamuk makin hebat.
Dua orang penari itu telah roboh dengan kepala pecah terkena sambaran aji pukulan Pethit Nogo, sedangkan Pangeran Panji Sigit yang merasa enggan untuk menyentuhkan tangannya kepada tubuh para pengeroyok yang seperti telanjang itu, telah merobohkan seorang penari dengan tendangan yang bersarang di lambung.
Sariwuni menjadi marah sekali melihat betapa dalam waktu singkat tiga orang pembantunya telah roboh binasa.
Ia mengeluarkan suara melengking nyaring dan menerjang ke arah Setyaningsih dengan sebatang pedang yang ia cabut dari punggungnya.
Setyaningsih sengaja menanti datangnya tusukan pedang.
Melihat kelambatnya isterinya, Pangeran Panji Sigit berseru.
"Isteriku, awas. !"
Akan tetapi pedang di tangan Sariwuni sudah datang menusuk sedangkan Pangeran Panji Sigit sendiri sedang dikeroyok dua orang wanita yang memegang golok.
Ketika pedang itu hampir menyentuh Setyaningsih, wanita perkasa ini secara tiba-tiba miringkan tubuh dan secepat kilat ia menangkap pergelangan tangan Sariwuni, mengerahkan tenaga menambah tenaga serangan lawan terus mendorongkan tubuh Sariwuni ke depan, ke arah seorang di antara dua orang penari lain yang hendak menyerangnya dari belakang.
"Blessss. ! "
Pedang di tangan Sariwuni tanpa dapat dicegah lagi memasuki perut seorang penari sampai tembus ke punggungnya saking kerasnya luncuran pedang yang ditambah oleh tenaga dorong Setyaningsih tadi.
Terdengar jerit mengerikan ketika penari itu roboh membawa pedang Sariwuni yang melepaskan senjatanya dan berdiri memandang dengan mata terbelalak.
Kemudian ia menjadi demikian marah sehingga diterjangnya Setyaningsih dengan nekat, menggunakan kedua cakar tangannya yang berkuku hitam panjang beracun.
Sebenarnya, kalau Sariwuni menggunakan kedua tangan yang memiliki sepuluh buah kuku beracun ini, dia malah lebih berbahaya daripada kalau bersenjatakan pedang.
Kini ia menyerang dengan nekat saking marahnya, maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya terjangan kedua cakarnya ke arah tubuh Setyaningsih.
Setyaningsih maklum akan bahayanya serangan ini.
Wanita yang pendiam ini memiliki keberanian luar biasa dan dalam detik penuh bahaya itu dia sudah dapat menemukan akal yang jarang berani dilakukan orang lain.
Ia meloncat mundur mendekati seorang penari yang membawa golok kemudian kakinya tergelincir dan tubuhnya roboh!
Melihat ini, Sariwuni menjadi girang dan menubruk.
Juga penari itu mengangkat goloknya membacok.
"Setyaningsih !"
Pangeran Panji Sigit yang khawatir sekali cepat merobohkan dua orang penari yang mengeroyoknya dengan pukulan kedua tangannya.
Menghadapi isterinya terancam bahaya, pangeran ini tidak segan-segan lagi untuk menghantam dua tubuh berpakaian tipis semrawang itu sehingga mereka roboh dan tewas seketika karena yang seorang patah tulang tengkuknya sedangkan yang ke dua retak kepalanya terkena pukulan Pangeran Panji Sigit.
Dia lalu membalikkan tubuh siap membantu isterinya, akan tetapi pangeran ini terbelalak kagum menyaksikan sepak terjang isterinya.
Ternyata Setyaningsih yang memang jatuhnya adalah buatan atau pancingan, melihat datangnya serangan Sariwuni dan penari itu, cepat menggulingkan tubuh mendekati penari, menangkap pergelangan tangannya, tubuhnya sendiri meloncat bangun secara tiba-tiba dan tubuh penari itu dipergunakan untuk menyerang Sariwuni yang sedang menerkamnya.
Sariwuni terkejut dan terpaksa menangkis dengan cengkeraman sehingga lima buah kuku hitam runcing mepancap di pipi penari itu yang menjerit ngeri dan ketika tubuhnya dilepaskan, ia merintih-rintih, mencakari mukanya yang berubah menjadi hitam, berkelojotan menjerit -jerit sebentar kemudian selagi Sariwuni memandang korban ke dua ini dengan mata terbelalak, kesempatan ini dipergunakan oleh Setyaningsih untuk menubruk dan mengirim pukulan ke arah ulu hatinya.
Sariwuni berteriak marah dan menangkis dengan tangan kanannya bahkan balas mencengkeram dengan tangan yang menangkis itu, namun ia kalah cepat dan Setyaningsih sudah merubah pukulan Pethit Nogo itu dengan menangkap pergelangan tangan lawan.
Pada saat itu, Pangeran Panji Sigit sudah meloncat datang dan tangan kiri Sariwuni yang mencakar ke arah Setyaningsih itu tiba-tiba ditangkap oleh Pangeran Panji Sigit.
Tanpa berunding lagi suami isteri ini dengan gerakan serentak lalu memutar lengan yang mereka tangkap dari kanan kiri sambil mengerahkan tenaga.
"Krekkl Krekkk!"
Sambungan sepasang lengan itu putus di tiga tempat, yaitu di pundak, siku, dan pergelangan.
Tentu saja kedua lengan Sariwuni menjadi lumpuh seketika.
Dan pada saat itu, sebelum Setyaningsih dan suaminya melepaskan lengan yang sudah lumpuh, terdengar bentakan Endang Patibroto.
"Ningsih! Pangeran! Minggir!!"
Tubuh Endang Patibroto yang baru saja meloncat turun dari panggung bersama Tejolaksono dan Ayu Candra, menyambar bagaikan seekor burung dan sebuah pukulan dahsyat menghantam kepala Sariwuni sehingga remuk dan isi kepalanya muncrat berhamburan.
Untung Pangeran Panji Sigit dan isterinya sudah meloncat mundur ketika mendengar seruan ayunda mereka, kalau tidak tentu akan terkena percikan darah dan otak.
Semua orang anak buah Sariwuni yang berada di situ memandang dengan muka pucat dan hati penuh ketakutan.
Memang Endang Patibroto kalau sedang marah amatlah menakutkan sepak-terjangnya.
Dan dia amat marah kepada Sariwuni yang ia tahu hendak mempermainkan suaminya.
Rasa marah karena cemburu.
Setelah Cekel WiSangkoro melarikan diri dan Sariwuni tewas, tujuh orang perkasa itu tentu saja bukan lawan para anak buah di situ, apalagi karena tenaga yang agak boleh diandalkan, yaitu tujuh orang penari yang membantu Sariwuni juga sudah tewas.
Terjadilah panik dan anak buah itu melawan dengan nekat dan ada yang mulai lari berserabutan saling tabrak.
Sementara itu, pertandingan antara Wasi Bagaspati dan Bagus Seta juga berlangsung dengan seru.
Mula-mula tidak tepat disebut pertandingan karena yang menyerang hanyalah sefihak, yaitu Wasi Bagaspati yang masih mempergunakan kecepatan dan tenaga dalam usahanya menagkap tubuh Bagus Seta yang ringan seperti asap itu.
Makin penasaran karena ia telah mengerahkan seluruh tenaga dan kecepatannya, bahkan membantu dengan pengerahan kekuatan batin untuk menundukkan dan mempengaruhi hati dan pikiran Bagus Seta.
Namun semua itu sia-sia belaka, pemuda itu tetap bersikap tenang sekali, sedikit pun tidak goyah oleh tarikan tenaga mujijat dari kekuatan batin Sang Wasi, dan tubuhnya masih selalu berkelebat tak pernah dapat disentuh kedua tangan Wasi Bagaspati.
N.-I "Bocah keparat Bagus Seta!
Apakah gurumu mengajar engkau menjadi pengecut yang hanya panda!
mengelak dan menghindari semua pukulan lawan?"
Bentak Wasi Bagaspati yang kehabisan akal untuk dapat menangkapnya dan kini berdiri dengan mata melotot. Bagus Seta pun menghentikan gerakan tubuhnya, berdiri tenang dan balas bertanya.
"Apakah yang kau kehendaki dariku, Sang Wasi?"
"Kalau andika memang sakti mandraguna, hayo hadapi aji pukulan dengan aji pukulan pula. Keluarkan kesaktianmu, keparat!"
"Sang Wasi Bagaspati, kekasaran takkan dapat mengatasi kehalusan, kekarasan takkan dapat menanggulangi kelunakan seperti juga kesalahan takkan dapat memenangkan kebenaran. Suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti, Sang Wasi. Mengapa andika hendak memaksakan keadaan yang sebaliknya? Andika menghendaki aku menggunakan kekerasan menghadapi kekerasanmu? Andika yang menghendaki, bukan aku. Nah, silakan!"
Setelah berkata demikian, Bagus Seta membuka kedua kakinya ke kanan kiri, tubuhnya agak merendah, pandang matanya tajam ke depan dan kedua tangan diangkat sedikit di kanan kiri lambung dengan jari-jari tangan terbuka.
Melihat ini, Wasi Bagaspati maklum bahwa itulah sikap dan kuda-kuda orang yang mengandalkan tenaga sakti untuk menghadapi lawan tangguh, maka ia bersikap hati-hati, diam-diam mengerahkan tenaga pada kedua lengannya dan tiba-tiba dari dalam dadanya keluar suara menggetar yang tak terdengar telinga saking rendahnya, namun yang wibawanya menggetarkan lawan sehingga tanpa memukul pun getaran itu akan dapat mengguncang jantung lawan dan menewaskannya.
Kemudian ia melompat ke depan dan memukul dengan kedua telapak tangannya didorongkan ke arah dada Bagus Seta.
Hebat luar biasa kekuatan pukulan kedua lengan ini, dan sekiranya yang didorong ini sebarisan orang yang puluhan banyaknya, agaknya akan dapat didorong roboh oleh kedasyatan tenaga sakti yang keluar dari sepasang tapak tangan merah Sang Wasi Bagaspati.
Bagus Seta sudah waspada akan kedahsyatan lawan, nemun dengan sikap tenang ia pun menggerakkan kedua lengannya didorongkan ke depan menerima dua telapak tangan lawan itu.
"Dessss !! "
Dua pasang telapak tangan yang penuh hawa mujijat bertemu dan menimbulkan getaran hebat sehingga panggung itu hampir roboh karena terguncang.
Tubuh Wasi Bagaspati terdorong mundur sampai lima langkah sedangkan tubuh Bagus Seta tergoyang-goyang seperti pohon waringin tertiup badai.
Wajah Wasi Bagaspati yang biasanya merah sekali itu kini menjadi agak pucat dan maklumlah ia bahwa pemuda remaja itu benar-benar memiliki kesaktian yang amat mengejutkan.
Diam-diam ia merasa mendongkol sekali kepada Bhagawan Ekadenta yang agaknya sengaja menciptakan pemuda sakti ini untuk menentang usahanya.
Pikiran ini membuat hatinya bergelora penuh penasaran dan kemarahan, membuat ia lupa diri dan mulutnya berkemak-kemik, kemudian ia membentak.
"Bagus Seta, engkau lebih sombong daripada gurumu! Kaukira berhasilkan mengalahkan Wasi Bagaspati, murid terkasih Sang Hyang Bathara Shiwa? Lihatlah senjata ini yang akan menghancurlumatkan tubuhmu, keparat!"
Kakek itu menggerakkan tangan kanannya yang tiba-tiba saja sudah memegang senjatanya yang amat ampuh, senjata Cakra yang mengeluarkan cahaya menyilaukan mata.
Melihat senjata itu, Bagus Seta mengerutkan alisnya.
"Sang Wasi Bagaspati, ingatlah akan kesucian pusaka itu. Hendakkah andika jangan mencemarkannya dengan mempergunakan nafsu angkara murka?"
"Senjata ini adalah milikku, perduli apa engkau akan penggunaannya? Keparat, kalau engkau takut menghadapinya, hayo berlutut dan menyerah!"
Suara ini amat berpengaruh karena terdorong oleh kekuatan mujijat maha dahsyat yang keluar dari cahaya senjata Cakra itu.
Maklum bahwa menghadapi senjata itu berarti menghadapi perjuangan mati hidup seperti yang dipesan gurunya, Bagus Seta lalu memejamkan mata sejenak, kemudian mengangkat tangan kanannya yang sudah memegang setangkai bunga Cempaka Putih di atas kepala.
Dengan mata menatap wajah Wasi Bagaspati dan setangkai bunga Cempaka Putih diangkat tinggi, bunga yang segar seakan-akan memang tumbuh di atas telapak tangan pemuda itu dan mengeluarkan cahaya gemilang, ia berkata.
"Sang Wasi Bagaspati, kalau andika menghendaki penentuan terakhir dalam hidup kita di dunia ini, aku sudah siap menghadapimu!"
Ketika Wasi Bagaspati melihat setangkai bunga Cempaka Putih di tangan Bagus Seta, seketika kedua kakinya menggigil dan jantungnya berdebar keras.
Terbayanglah peristiwa puluhan tahun yang lalu ketika ia bertapa di bawah pohon Cempaka untuk mengisi kekuatan mujijat pada senjata Cakra yang terletak di depan dia duduk bersila.
Dia sedang bersamadhi dengan tekun dan hening, kekuatan mujijat memancar melalui dirinya dan meluncur turun memasuki senjata Cakra itu.
Tiba-tiba telinganya mendengar suara perlahan dan matanya yang terpejam seperti melihat cahaya putih berkelebat dan seketika perhatiannya terpecah dan kekuatan mujijat itu berhenti mengalir seperti air dibendung.
Ketika ia membuka matanya, ternyata di atas senjata Cakra itu terdapat setangkai bunga Cempaka Putih yang agaknya rontok dari pohon dan jatuh menimpa senjata Cakra sehingga mengganggu keheningan samadhinya dan terhentilah pengisian tenaga sakti ke dalam senjata itu.
Hal ini dianggapnya sebagai peringatan dari dewata bahwa pengapesan yang merupakan pantangan bagi senjata pusaka itu adalah setangkai bunga Cempaka Putih.
Dan sekarang, Bagus Seta memegang setangkai bunga Cempaka Putih yang mengeluarkan sinar gemilang!
Tangan Wasi Bagaspati yang memegang senjata Cakra menggigil ketika ia merasa betapa senjata pusakanya menggetar dan seperti seekor kelinci ketakutan yang berusaha untuk lari menyembunyikan dirinya.
Dia bukan seorang bodoh dan tanda-tanda seperti itu tak berani ia menerjangnya.
Cepat ia menyimpan kembali senjatanya dan meloncat ke atas sambil membentak marah.
"Auuunggghh! Bagus Seta manusia keparat!"
Kemarahannya ini adalah ketika ia melihat tewasnya Sariwuni dan tujuh orang penari serta banyak anak buah di situ.
"Awaslah engkau, akan tiba saatnya engkau menyesali sikapmu memusuhi aku!"
"Aku tidak memusuhimu, Wasi Bagaspati,"
Jawab Bagus Seta akan tetapi tubuh Wasi Bagaspati sudah mencelat jauh, dalam sekejap mata saja sudah tak tampak lagi seolah-olah ditelan bumi.
Bagus Seta menghela napas panjang, menyimpan bunga Cempaka Putih dan menengok.
Ketika ia melihat betapa ayah dan kedua bundanya, juga dua pasang bibi dan pamannya mulai mengamuk di antara para anak buah lawan yang lari berserabutan dengan panik, ia lalu meloncat turun dan berkata halus.
"Kangjeng Rama, Ibu, Bibi, dan Paman! Harap menaruh kasihan kepada mereka."
Tujuh orang sakti itu tertegun mendengar suara halus Bagus Seta dan serentak mereka menghentikan amukan dan menghampiri Bagus Seta. Akan tetapi Endang Patibroto membantah.
"Puteraku sang sakti Bagus Seta. Mereka adalah anak buah musuh yang mengacaukan negara, sudah sepatutnya kalau dibunuh. Bukankah kita sedang berjuang?"
Bagus Seta tersenyum dan baru senyum ini saja sudah mengusir sebagian besar kemarahan dan kebencian dari hati Endang Patibroto terhadap musuhnya.
"Ibunda benar, perang membela nusa bangsa adalah perjuangan yang menjadi kewajiban setiap orang satria. Akan tetapi, perang menghadapi pihak yang melawan barulah namanya perjuangan, adapun membunuhi pihak yang tidak mampu melawan dan tidak mau melawan lagi namanya penyembelihan yang lahir dari nafsu kebencian. Membunuh dalam perjuangan sama sekali bebas daripada benci, sebaliknya membunuh dengan hati membenci bukanlah perjuangan namanya. Bedanya amat besar, Kanjeng Ibu."
Endang Patibroto melongo dan menghela napas panjang.
"Duhai puteraku, engkau membuka mata dan hatiku."
Ayu Candra sudah merangkul puteranya dan mengelus--elus rambut kepala puteranya penuh kasih sayang.
Tidak ada kata-kata keluar dari mulut ibu akan tetapi getaran yang keluar dari sentuhan jari -jari tangan, pancaran pandang mata yang keluar dari sepasang mata yang basah itu, merupakan pengganti kata-kata yang lebih menyentuh perasaan dan mengharukan hati Bagus Seta yang betapapun juga adalah seorang manusia biasa.
"Kanjeng Ibu "
Hanya demikian ia dapat berbisik sambil menciumi ujung jari Ibunya. Dengan sudah payah Ayu Candra dapat juga berbisik.
"Puteraku. Bagus Seta, tahukah engkau betapa berat penderitaanku selama kautinggalkan dan betapa bahagia hati ini setelah kau kembali?"
Bagus Seta tersenyum dan menahan hatinya jangan sampai meruntuhkan air mata.
"Tentu saja, Kanjeng Ibu. Puteranda maklum "
Terdengar isak tertahan dan ternyata Endang Patibroto, Pusporini, dan Setyaningsih sudah menangis, tidak tahan menyaksikan pertemuan antara ibu dan anak yang tidak dihias banyak kata-kata namun yang menyentuh perasaan menggugah keharuan itu.
Terutama sekali Endang Patibroto yang teringat akan puterinya, Retno Wilis, hatinya nelangsa.
Tejolaksono waspada akan semua ini dan untuk membuyarkan suasana keharuan yang mencekam dan menular itu cepat berkata.
"Bagus Seta, bagaimana kesudahan pertandinganmu melawan Wasi Bagaspati? Ke manakah dia?"
Disebutnya nama ini benar saja membuat semua orang sadar dan perhatian mereka tertarik.
Bahkan Ayu Candra sudah melepaskan rangkulannya untuk dapat lebih jelas memandang wajah ' puteranya dan mendengarkan jawabannya.
"Dia telah pergi "
Jawab Bagus Seta.
Mereka lalu meninggalkan tempat itu untuk memberi kesempatan kepada sisa anak buah Sariwuni untuk mengubur para korban yang tewas dalam pertempuran itu.
Dalam pertemuan yang menggembirakan itu ramailah mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing, terutama sekali Bagus Seta dan Pusporini yang telah lama meninggalkan keluarga mereka.
Mereka bercakap-cakap di luar sebuah hutan di kaki gunung itu sambil menanti datangnya pagi karena malam telah mulai gelap setelah bulan purnama menyelam di barat.
telah cukup mereka melepas rindu dan menceritakan pengalaman masing-masing, Tejolaksono lalu berkata.
"Mendengar penuturan kalian dan mengingat akan perkembangan di Jenggala pada saat ini yang amat buruk, tidak perlu lagi kita pergi ke Jenggala karena kita tentu akan menempuh tentangan dari pengaruh-pengaruh jahat yang kini mencengkeram Jenggala. Sebaliknya kita kembali ke Panjalu dan melaporkan segala keadaan Jenggala itu kepada sang prabu. Bagaimana pendapatmu, Bagus Seta?"
Tejolaksono yang maklum sepenuhnya bahwa kini tibalah saatnya apa yang dahulu diramalkan Ki Tunggaljiwa, sengaja menanyakan pendapat Bagus Seta karena puteraya inilah yang akan dapat diandalkan untuk menghadapi orang-orang sakti seperti Wasi Bagaspati yang berdiri di fihak pengacau.
"Pendapat Kanjeng Rama tepat sekali. Memang urusan yang terjadi di Jenggala sudah menjadi urusan besar yang menyangkut kerajaan dan kiranya hanyalah sang prabu di Panjalu saja yang berhak memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap kekuasaan yang secara halus mencengkeram Jenggala."
Demikianlah, setelah sinar matahari pagi mulai menggantikan malam mengusir embun, delapan orang anggauta keluarga sakti mandraguna itu melakukan perjalanan menuju ke Kota Raja Panjalu.
Rombongan keluarga yang amat hebat dan baru sekaranglah keluarga itu hampir lengkap, hanya sayang masih berkurang seorang, yaitu puteri Tejolaksono dari Endang Patibroto, Retna Wilis!
Adapun Joko Pramono sungguhpun belum menjadi suami Pusporini, namun sudah dianggap sebagai keluarga karena selain dia adalah kekasih dan tunangan Pusporini, juga kakak seperguruannya.
Apalagi ketika pemuda ini malam tadi menceritakan riwayatnya, memperkenalkan diri sebagai keponakan Ki Adibroto yang menjadi ayah Ayu Candra, maka pemuda ini sesungguhnya masih adik keponakan Ayu Candra sendiri, jadi masih keluarga pula.
Sang prabu di Panjalu menjadi terkejut sekali ketika mendengar pelaporan Tejolaksono tentang keadaan di Jenggala, mendengar betapa parah keadaan kerajaan adiknya itu.
Lebih terkejut dan marah lagi ketika mendengar akan kenyataan bahwa mereka yang berkuasa di Jenggala sekarang adalah sekutu-sekutu dari utusan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Cola, terutama sekali Kerajaan Cola.
Sang prabu yang arif bijaksana maklum akan gawatnya persoalan, maklum bahwa hal ini selain menyangkut jatuh-bangunnya Kerajaan Jenggala, juga menyangkut keamanan Kerajaan Panjalu sendiri.
Juga sang prabu menyatakan kegirangannya akan berkumpulnya keluarga Ki Patih Tejolaksono, lebih-lebih melihat Bagus Seta sang prabu menjadi kagum dan seketika kepercayaannya tercurah kepada pemuda remaja ini.
"Kita harus turun tangan menyelamatkan Jenggala!"
Ujar sang prabu.
"Akan tetapi karena kekuasaan jahat itu menggunakan jalan halus, amatlah tidak baik kalau kita menggunakan jalan kekasaran.Sebaiknya aku akan menulis sepucuk surat pribadi untuk yayi prabu di Jenggala, mengangkat Bagus Seta menjadi utusan pembawa surat. Karena surat ini bersifat pribadi, kita mendapat alasan untuk menyampaikan surat itu ke tangan yayi prabu sendiri. Syukur kalau para pengacau itu memperbolehkan Bagus Seta menghadap yayi prabu sehingga selain menyerahkan surat, dapat pula membebaskan yayi prabu daripada hawa jahat yang mempengaruhinya agar sadar. Andaikata fihak pengacau menggunakan kekerasan mencegah, maka kita mendapat alasan pula untuk turun tangan menggunakan kekerasan. Untuk keperluan Patih Tejolaksono dan keluarganya yang sakti mandraguna kuperintahkan untuk mengawal Bagus seta, dan kepada Pangeran Darmokusumo dan Kakang Patih Suroyudo, kuperintahkan untuk mempersiapkan barisan pilihan untuk membayangi dari belakang sehingga apabila terjadi kekerasan, barisan kita akan dapat cepat menyerbu ke Jenggala. Kuperintahkan andika sekalian berusaha untuk membersihkan Jenggala dari semua oknum jahat, menagkapi atau membasmi para pengacau dan mengangkat kekuasaan yayi prabu di Jenggala. Puteraku Pangeran Panji Sigit, menjadi kewajiban utama bagimu untuk menyelamatkan kangjeng ramamu dari tangan Suminten yang jahat karena untuk mengingatkan penyelewengan seorang ayah menjadi kewajiban seorang anak."
Setelah persidangan di hadapan sang prabu di Panjalu bubar, para satria perkasa segera mempersiapkan tugas masing-masing sambil menanti surat sang prabu dan kelanjutan perintah untuk menentukan hari keberangkatan.
Akan tetapi sebelum perintah penentuan ini tiba, datanglah penyelidik yang melaporkan hal yang amat mengejutkan hati sang prabu di Panjalu, yaitu bahwa sang prabu di Jenggala berada dalam keadaan sakit dan sebulan lagi di Jenggala akan diadakan upacara pengangkatan Pangeran Kukutan sebagai Raja Jenggala oleh sang prabu yang sedang sakit!
"Hemm, ini tentu siasat mereka.
Sekali pengangkatan itu sudah dilakukan secara resmi, kita tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi kecuali menyatakan perang.
Namun sungguh akan menyedihkan hati!
sekali kalau menyatakan perang dengan kerajaan saudara sendiri!
Kalau begitu, hari ini juga kalian harus berangkat dan suratnya kuubah berisi permintaan agar yayi prabu menunda pengangkatan raja baru sebelum bertemu dengan aku!"
Pesan sang prabu di Panjalu ini segera dilaksanakan oleh Bagus Seta yang menerima surat untuk raja di Jenggala, kemudian berangkatlah pemuda remaja yang sakti mandraguna ini bersama seluruh keluarganya, yaitu Tejolaksono, Ayu Candra, Endang Patibroto, Pangeran Panji Sigit, Setyaningsih, Joko Pramono, dan Pusporini.
Rombongan keluarga sakti itu sepenuhnya berangkat untuk berjuang membebaskan Jenggala daripada cengkeraman kekuasaan jahat yang dikemudikan oleh Sang Wasi Bagaspati sendiri.
Pangeran Darmokusumo dan Ki Patih Suroyudo mengatur sebuah barisan yang pilihan dan cukup besar, sejumlah sepuluh ribu orang mengiringkan rombongan keluarga sakti ini dari jauh.
Ancaman perang agaknya takkan dapat dielakkan lagi!
Barisan Panjalu yang menuju ke Jenggala itu telah didahului oleh berita yang dibawa orang dari mulut ke mulut dan cukup menggegerkan.
Rakyat Jenggala yang sudah muak menyaksikan peristiwa-peristiwa pembunuhan dan kekacauan, kenaikan pajak dan penindasan-penindasan terhadap para penyembah Bathara Wishnu yang setia, diam-diam menjadi gembira dan penuh harapan, bahkan di antara para orang mudanya banyak sudah bersiap-siap untuk membantu fihak Panjalu apabila pecah perang.
Terutama sekali para panglima dan perajurit Jenggala yang terpaksa menghambakan diri kepada kekuasaan baru di Jenggala dengan pengorbanan perasaan, diam-diam juga bersiap untuk memberontak dan membantu barisan Panjalu apabila saat dan kesempatannya tiba.
Rombongan keluarga sakti yang berangkat lebih dahulu dengan kuda-kuda pilihan, terpaksa berhenti di perbatasan kota raja karena ditahan oleh rombongan penjaga yang ratusan orang perajurit banyaknya.
Tejolaksono sebagai kepala rombongan segera maju menghampiri komandan pasukan, seorang perwira yang sudah setengah tua dan yang menyambut mereka dengan muka agak pucat karena perwira ini dengan kaget mengenal orang-orang sakti ini, terutama sekali ia gentar melihat bahwa Endang Patibroto berada di antara rombongan ini.
"Hai, perwira Jenggala. Mengapa andika menahan rombongan kami yang hendak lewat?"
Perwira itu memaksa diri membusungkan dada dan bersikap gagah karena akan amat memalukan kalau di hadapan seratus lebih anak buahnya ia memperlihatkan sikap lunak dan takut, maka jawabnya.
"Kami menjunjung perintah gusti patih untuk menjaga di sini dan tidak memperbolehkan orang luar memasuki tapal batas kota raja sebelum lewat hari penobatan gusti pangeran pati menjadi raja."
Seorang perwira rendahan yang masih muda, yang merupakan ponggawa baru dan termasuk kaki tangan Patih Warutama, melangkah maju menyeret tombaknya yang panjang dan berat.
Perwira muda ini bertubuh tinggi besar, kelihatan kuat dan bersikap kasar ketika bertanya.
"Kalian ini rombongan dari mana? Apakah kalian kawula (rakyat) Jenggala?"
Pusporini tak dapat menahan kemarahannya lagi melihat lagak perwira muda ini. Ia meloncat maju mendekati perwira muda itu dan menudingkan telunjuknya ke hidung orang itu sambil membentak.
"Apakah matamu buta? Tidakkah engkau melihat bahwa beliau ini adalah Gustimu Pangeran Panji Sigit, pangeran dari Jenggala?"
Perwira muda itu menodongkan tombaknya ke dada Pusporini dan menjawab kasar.
"Aku mengenal dia sebagai seorang pemberontak dan pelarian. Juga engkau adalah seorang pelarian yang harus kami tangkap!"
Pusporini mengeluarkan seruan marah dan kaki tangannya bergerak. Cepat sekali gerakannya dan tahu-tahu ia telah merampas tombak itu, dua kali mengayun tombak terdengar suara "krek, krekl"
Dan robohlah perwira muda itu dengan tulang kaki patah-patah. Kemudian Pusporini mematah-matahkan tombak seperti orang mematahkan biting raja sambil membentak.
"Siapa lagi yang ingin dipatahkan kakinya?"
Semua perajurit Jenggala menjadi pucat wajahnya, akan tetapi mereka pun mulai bergerak hendak mengeroyok.
"Rini, jangan menggunakan kekerasan. Mundurlah!"
Tejolaksono membentak adik iparnya.
Pusporini mundur sambil cemberut.
Endang Patibroto di dalam hati menyetujui perbuatan Pusporini itu.
Memang ada persamaan antara wataknya dan watak Pusporini atau lebih tepat lagi, wataknya sendiri lebih keras daripada watak Pusporini.
Ia melangkah maju dan berkata kepada perwira komandan pasukan itu.
"Heh perwira lancang! Kalau kalian tidak mengakui Gustimu Pangeran Panji Sigit, apakah engkau begitu buta tidak mengenal suamiku Tejolaksono, Gusti Patih Panjalu? Apakah kalian ini seratus orang lebih sudah bosan hidup dan minta kubunuh semua? Apakah engkau tidak mengenal siapa aku?"
Gentarlah hati perwira itu.
Memang ia tadi sudah amat takut melihat Endang Patibroto yang pernah menggegerkan Jenggala, apalagi kini menyaksikan gadis muda Pusporini dan mendengar ancaman Endang Patibroto.
"Saya. eh, hamba mengenal Gusti Patih Tejolaksono dan mengenal pula paduka Gusti Puteri Endang Patibroto, akan tetapi........ hamba hanyalah seorang petugas yang menjunjung perintah atasan yang tentu akan menerima hukuman apabila hamba melanggar perintah atasan harap paduka memaklumi keadaan hamba dan para perajurit."
Tejolaksono melangkah maju dan berkata.
"Perwira Jenggala, kami maklumi keadaan andika dan pembantumu itu menerima hukuman atas sikapnya yang kasar. Ketahuilah, kami pun tidak ingin menggunakan kekerasan asal saja andika tidak menentang. Kami bukanlah pelanggar-pelanggar yang hendak mengacau, melainkan utusan-utusan pribadi dart gusti sinuwun di Panjalu, kami membawa surat gusti sinuwun untuk dipersembahkan kepada gusti sinuwun di Jenggala. Karena kedudukan kami adalah rombongan utusan, maka tidak ada lagi sebutan pelarian dan setiap rombongan utusan, apalagi utusan dari kerajaan yang masih berkeluarga dengan Jenggala, andika tidak boleh mengganggu kami dan bahkan harus mengantarkan kami sampai ke kota raja."
Ucapan Tejolaksono yang mempunyai dasar kuat itu tak dapat dibantah lagi oleh perwira itu, maka ia lalu mengeluarkan perintah agar pasukannya memberi jalan, bahkan kemudian dia sendiri bersama dua losin perajurit mengiringkan rombongan ini menuju ke kota raja.
Karena pengawalan pasukan ini maka rombongan keluarga sakti dapat sampai di luar pintu gerbang dinding Kota Raja Jenggala.
Akan tetapi di pintu gerbang ini, mereka disambut oleh pasukan pengawal bersenjata lengkap terdiri dari lima puluh orang lebih dan melihat sikap mereka jelas dapat diduga bahwa mereka ini dari pengawal--pengawal pilihan yang muda-muda dan kuat-kuat yang dipimpin oleh Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik!
"Heh, perwira tolol!
Apa yang kaulakukan ini?
Mengapa kau mengawal rombongan musuh ini sampai ke sini?"
Bentak Ni Dewi Nilamanik dengan suara marah sambil memandang dengan mata terbelalak kepada perwira tadi. Perwira ini dengan tubuh menggigil lalu melangkah maju dan berkata dengan suara gemetar.
"Hamba. hamba terpaksa mengantar mereka karena mereka ini adalah utusan pribadi gusti sinuwun di Panjalu yang dipimpin oleh gusti patih muda dari Panjalu !"
"Keparat bodoh!"
Ki Kolohangkoro membentak, tangannya menyambar dan pecahlah kepada perwira itu yang tewas seketika.
Rombongan keluarga sakti marah sekali, akan tetapi karena hal yang terjadi adalah urusan dalam dan tidak menyangkut diri mereka, terpaksa mereka menahan sabar dan tidak mau mencampuri.
"Tejolaksono, andika muncul di sini bersama para pelarian yang telah memberontak terhadap Kerajaan Jenggala dan menjadi buronan kami, apakah kehendakmu?"
Ni Dewi Nilamanik bertanya dengan sikap angkuh. Tejolaksono tersenyum menjawab.
"Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro! Hadirku di sini bukanlah hal mengherankan karena aku adalah Patih Muda Panjalu dan kini memimpin rombongan utusan pribadi gusti sinuwum di Panjalu. Akan tetapi melihat andika berdua memimpin pasukan pengawal di Jenggala benar-benar patut diherankanl Pada pertemuan antara kita yang terakhir sepuluh tahun yang lalu, kalian adalah kaki tangan Kerajaan Cola yang mengacau daerah Panjalu dan' Jenggala. Bagaimana sekarang kalian dapat menjadi pimpinan pengawal di keraton Jenggala?"
Ni Dewi Nilamanik tertawa.
"Hi-hik, apakah anehnya hal itu? Pangeran Panji Sigit adalah Pangeran Jenggala yang berdosa, kini tahu-tahu muncul sebagai anggauta rombongan utusan Kerajaan Panjalu. Memang keadaan setiap orang selalu berubah. Sekarang, sebagai kepala pengawal penjaga, aku berhak untuk melarangmu memasuki kota raja sebelum engkau menjelaskan apa kehendakmu."
Hati Tejolaksono mendongkol sekali, akan ia menahan perasaannya.
Ia maklum bahwa kalau sikap Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro seberani.
ini, tentu mereka ini mempunyai andalan.
Ni Dewi Nilamanik bukanlah seorang bodoh dan tentu saja cukup maklum bahwa menghadapi rombongan keluarganya, apalagi dengan hadirnya Bagus Seta yang selalu bersikap tenang dan pendiam itu, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro takkan dapat mengatasinya.
Pula, melihat kenyataan bahwa memang kedua orang itu kini menjadi kepala pengawal, terpaksa ia menjawab sebagaimana mestinya, ,-"Seperti telah dikatakan perwira yang dibunuh itu, kami adalah rombongan utusan gusti sinuwun Panjalu."
"Diutus apa?"
Ni Dew! Nilamanik memotong.
"Kami diutus menghadap gusti sinuwun Jenggala!"
"Ada keperluan apa?"
Api kemarahan terpancar dari sepasang mata Tejolaksono, akan tetapi ia menekan perasaannya dan berkata sambil tersenyum menghina.
"Wahai, pengawal apakah andika ini begini kurang ajar? Sedikitpun tidak menghormati junjunganmu sendiri! Atau kelirukah aku mengatakan bahwa gusti sinuwun di Jenggala adalah junjunganmu?"
"Tejolaksono, tidak perlu banyak rewel. Pendeknya, kalau ingin diperkenankan masuk kota raja, harus member! tahu dengan jelas apa keperluanmu hendak menghadap gusti sinuwun. Aku adalah kepala penjaga di sini dan berhak menjaga keamanan dan setiap orang yang lewat, tahu?"
"Kami diutus mempersembahkan sepucuk surat pribadi dari gusti sinuwun Panjalu untuk gusti sinuwun Jenggala."
"Serahkan saja surat itu kepada kami!"
Kata Ni Dewi Nilamanik.
"Hemm, ucapan apakah ini? Surat junjungan yang dipercayakan kepada kami sama harganya dengan nyawa kami, hanya gusti sinuwun Jenggala yang berhak menerima tangan tangan kami!"
Jawab Tejolaksono.
"Tidak mungkin menghadap gusti sinuwun. Beliau sedang sakit, tidak dapat menerima siapapun juga!"
"Kami telah mendengar akan berita itu. Justeru karena beliau sakit maka gusti sinuwum Panjalu mengutus kami untuk menjenguk dan mempersembahkan surat."
Ni Dewi Nilamanik tersenyum mengejek.
"Andika semenjak dahulu keras kepala, Tejolaksono. Baiklah, kalian diperkenankan menghadap, akan tetapi harus kami kawal agar kalian jangan sampai mendatangkan kekacauan di sini!"
"Sesukamulah. Yang penting bagi kami melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh gusti sinuwun kepada kami sebagai utusan."
Ni Dewi Nilamanik mengeluarkan seruan memerintah dan pasukan pengawal membuka jalan dan pintu gerbang pun dibuka lebar-lebar.
Tejolaksono dapat merasakan sesuatu yang mengancam, akan tetapi ketika ia melirik puteranya, ia melihat wajah Bagus Seta tetap tenang saja, maka ia pun lalu mengangguk dan melangkah masuk diikuti oleh semua rombongannya dengan sikap penuh kewaspadaan.
Baru kurang lebih dua ratus langkah mereka berjalan, tiba-tiba dari luar pintu gerbang masuk barisan yang besar jumlahnya dan pintu gerbang ditutup, kemudian terdengar suara ketawa disusul suara nyaring.
"Huah-ha-ha-ha, pintu gerbang maut. Ada jalan masuk tidak ada jalan keluar! Tejolaksono, serahkan surat rajamu itu kepada kami dan menyerahlah, dengan demikian ada kemungkinan kalian terbebas dari kematian!"
Keluarga sakti itu berdiri tegak dalam keadaan siap waspada dan mereka melihat munculnya Wasi Bagaspati dan Warutama yang memimpin barisan pengawal yang segera bergabung dengan barisan yang baru masuk dari luar pintu gerbang sehingga tempat itu kini terkurung oleh barisan yang jumlahnya tidak kurang dari seribu orang!
"Wasi Bagaspati!
Kami adalah utusan-utusan raja!
Biarpun andika datang dari Kerajaan Cola, akan tetapi kurasa di sana pun terdapat peraturan bahwa utusan tidak boleh diganggu!"
"Utusan atau bukan, engkau harus tunduk akan peraturan di sini. Sang prabu sedang sakit, tak boleh diganggu maka surat itu harus diberikan kepada kami. Kalau menolak, berarti engkau akan mengacaukan menjelang penobatan raja baru di sini!"
Endang Patibroto yang melihat munculnya Warutama, tiba-tiba menjadi merah sekali wajahnya dan sepasang matanya menyinarkan api yang seolah-olah hendak membakar patih itu.
"Sindupati manusia keparat, jahanam berwatak iblis dan keji! Tibalah saatnya engkau mampus di tangan Endang Patibroto!"
Sambil memaki Endang Patibroto sudah melompat seperti terbang saja, tubuhnya melayang dan menyambar ke arah Warutama dengan pukulan sakti Wisangnala selagi tubuhnya masih di udara.
Warutama tidak menjadi terkejut karena memang dia sudah bersiap-siap menghadapi pertemuan dengan musuh besarnya ini yang tentu saja takkan berani ia lakukan kalau saja ia tidak mengandalkan kesaktian Wasi Bagaspati, Ni Dewi Nilamanik, Ki Kolohangkoro dan ribuan orang pengawal.
Kini melihat wanita sakti yang ditakutinya itu menerjang maju dengan dahsyat, ia cepat menggulingkan tubuh ke atas tanah dan menggelinding pergi, lalu meloncat dan menyelinap lenyap ke dalam barisan pengawal.
"Tejolaksono, kalian hendak memberontak? Pengawal, tangkap mereka! "
Bentak Wasi Bagaspati sambil tertawa--tawa saking girangnya karena ia merasa yakin bahwa kalau keluarga sakti ini dapat dibasmi, tentu penghalang yang amat besar bagi cita-citanya akan lenyap.
Yang paling kuat di antara rombongan itu adalah pemuda remaja aneh putera Tejolaksono, akan tetapi di situ ada dia yang akan dapat melawannya, dan dibantu oleh ribuan pengawal, tak mungkin fihaknya akan kalah.
Tejolaksono dan keluarganya diserbu oleh orang-orang tinggi besar, yaitu murid-murid Sang Wasi Bagaspati, juga Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik sudah menerjang maju.
Tejolaksono dan keluarganya cepat bergerak membela diri, sedangkan Endang Patibroto segera melepas panah api yang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk memberi tanda kepada barisan Panjalu yang menanti-nanti di luar kota raja untuk melihat munculnya tanda ini.
Wasi Bagaspati yang ingin cepat-cepat membasmi keluarga sakti yang merupakan penghalang besar bagi pelaksanaan tugasnya, bahkan merupakan ancaman bagi kemajuan yang telah dicapai, mengeluarkan pekik menyeramkan, kedua lengannya diangkat ke atas agak melengkung dan tiba-tiba dari sepuluh jari tangannya meluncur sinar merah seperti kilat membubung ke atas kemudian menukik turun menyerang kepala Tejolaksono sekeluarga yang delapan orang jumlahnya itu.
Karena Tejolaksono sekeluarga sedang dikeroyok banyak lawan, tentu saja serangan yang datangnya dari atas ini sukar untuk mereka hindarkan, akan tetapi pada saat itu, Bagus Seta yang masih belum turun tangan berseru.
"Wasi Bagaspati, tidak malukah andika bermain curang?"
Pemuda remaja itu mengangkat tangan kanannya ke atas dan dari telapak tangannya itu menyambar sinar putih yang melengkung panjang dan membentuk lingkaran besar sekali melindungi di atas kepala Tejolaksono sekeluarga.
Ketika sinar-sinar merah itu menukik turun dan bertemu dengan lingkaran putih, sinar-sinar merah itu terpental jauh kemudian lenyap disusul pekik Wasi Bagaspati yang menjadi marah sekali.
"Heh si keparat Bagus Seta! Sekali ini aku akan membasmi dan membunuh seluruh keluargamu, kemudian menghancurkan Panjalu!"
Bagus Seta tetap tenang ketika menjawab.
"Wasi Bagaspati, andika siapakah berani bicara tentang membunuh? Seolah-olah andika berkuasa akan mati hidupnya manusia?"
"Kematian kalian telah berada di telapak tanganku, dan engkau masih berani bicara sombong? Huah-ha-ha-ha! Dikepung ribuan orang perajurit, masih ada lagi laksaan perajurit sebagai cadangan, kalian hendak terbang ke mana? Andaikan bersayap sekalipun, kalian takkan dapat lobos dari kematian!"
"Wasi Bagaspati, mati hidup berada di tangan Sang Hyang Widhi, bagaimana andika berani mengeluarkan ucapan seperti itu? Apabila Hyang Widhi tidak menghendaki seseorang mati, biar dia dikeroyok anak panah sejuta pun tidak akan mengenainya. Sebaliknya apabila kematian orang itu sudah dikehendaki Hyang Widhi, tidak ada kekuasaan di dunia ini dapat mencegahnya! Karena itu, kami menyandarkan dan menyerahkan diri ke dalam tangan Hyang Widhi dan jika kematian kami belum dikehendaki-Nya, segala usahamu untuk membunuh kami takkan berhasil, Wasi Bagaspati!"
"Babo-babo, si keparat! Sang Hyang-Shiwa berhak mencabut dan membinasakan setiap orang! Lihatlah ini!"
Wasi Bagaspati kembali mengangkat tangannya, kini hanya tangan kirinya yang mengeluarkan asap menghitam yang melayang ke arah kepala keluarga sakti itu.
Asap tebal hitam dan seperti hidup gerakannya, bahkan mengeluarkan suara mendesis seperti ular mengamuk.
"Kanjeng Rama sekalian, harap menahan napas sejenak!"
Bagus Seta berkata dengan suara lirih akan tetapi hebatnya, suara ini seolah-olah merupakan bisikan di dekat telinga tujuh orang ayah bunda dan paman bibinya yang sedang dikeroyok banyak musuh.
Untung mereka diberitahu oleh bisikan Bagus Seta karena asap hitam yang hanya menyerang mereka itu sebelum datang menyambar, dari jauh sudah lebih dulu menyerang dengan baunya yang mengandung hawa beracun.
Bagus Seta mengangkat pula tangan kirinya dan keluarlah asap putih yang bergerak cepat naik menyusul asap hitam.
Terjadi pergumulan antara dua asap hitam putih di udara, akan tetapi jelas tampak betapa asap hitam itu digulung dan dihimpit dan akhirnya asap hitam seperti seekor anjing kalah bergumul, melayang kembali ke telapak tangan Wasi Bagaspati.
"Auuunggghhh. !"
Wasi Bagaspati memekik-mekik dan mukanya menjadi merah sekali dan mencorong seolah-olah telah menjadi bara api, kedua matanya berkilat-kilat,giginya berkerot-kerot, menyeramkan sekali.
Menurutkan kemarahannya ingin ia mengeluarkan senjata Cakranya yang sebetulnya tidak boleh dikeluarkan secara sembarangan saja, akan tetapi ia teringat akan bunga Cempaka Putih yang dimiliki pemuda itu, maka ia menahan kemarahannya ini dan cepat menubruk maju dan menyerang Bagus Seta mempergunakan kedua tangannya.
Kini ia hendak membunuh pemuda ini menggunakan tenaga kasar, karena dalam hal pertandingan menggunakan batin ia tidak berhasil.
Bagus Seta cepat menggerakkan tubuhnya menyambut dan mulailah kedua orang yang memiliki kesaktian tidak lumrah manusia ini bertanding dengan seru, tubuh mereka berkelebatan dan lenyap dari pandangan mata orang biasa, yang tampak hanyalah dua gulungan sinar merah dan putih dari pakaian mereka.
Sementara itu, anggauta keluarga lain sedang mengalami pengeroyokan yang amat berat.
Joko Pramono dan Pusporini yang ingin menebus kekalahan mereka dari Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik lima enam tahun yang lalu, sudah menerjang dua orang musuh ini dan mereka telah terlibat dalam pertandingan yang amat seru.
Joko Pramono menghadapi Ki Kolohangkoro dan Pusporini yang sudah marah sekali itu berhadapan dengan Ni Dewi Nilamanik.
Untung bagi kedua orang muda ini yang menghadapi lawan berat karena gerakan mereka dalam pertandingan ini amat cepat sehingga fihak pengawal tidak ada yang berani ikut mengeroyok.
Mereka tidak mampu mengikuti kecepatan empat orang yang bertanding ini sehingga kalau mengeroyok, besar bahayanya akan mengganggu pergerakan Ki Kolohangkoro dan Ni Dewi Nilamanik sendiri.
Dan karena kini tingkat kepandaian dua orang murid Resi Mahesapati itu amat tinggi, maka mereka berdua dapat mendesak lawan yang makin lama merasa betapa kuat dan beratnya dua orang lawan muda itu.
Keadaan anggauta keluarga sakti lainnya lebih payah lagi.
Tejolaksono dan Endang Patibroto yang sudah lebih banyak pengalamannya dalam perang dan pertandingan-pertandingan keroyokan, mengamuk dengan hebat dan sepak terjang suami isteri ini amat menggiriskan.
Pasukan pengawal yang kena diterjang mereka seperti mentimun-mentimum bertemu durian, mawut dan kocar-kacir, banyak yang tewas.
Makin banyak datangnya pengeroyokan, makin gembira dan bersemangat dua orang perkasa ini mengamuk.
Ayu Candra juga mengamuk, akan tetapi seperti halnya Setyaningsih dan Pangeran Panji Sigit, kepalanya menjadi pening melihat banyaknya pengeroyokan yang makin banyak itu.
Ia menjadi jijik dan ngeri seperti orang dikeroyok ribuan semut dan kalau pengeroyokan itu dilanjutkan terus, agaknya tiga orang inilah yang takkan kuat bertahan.
Siapa yang tidak menjadi jijik dan ngeri kalau melihat para pengawal itu seperti kemasukan setan, roboh satu maju dua, roboh dua maju empat dan selalu berlipat ganda sehingga mayat telah bertumpuk malang melintang?
Karena ngeri dan gentar, sebuah mata tombak berhasil melukai ujung pundak Ayu Candra.
Biarpun hanya kulit dan sedikit daging saja yang terluka, namun Ayu Candra terhuyung-huyung bukan karena luka itu melainkan karena pening kepalanya menyaksikan para pengeroyok yang amat besar jumlahnya, seperti ombak samudera hendak menelan dirinya.
Dalam keadaan terhuyung ini, lima tombak meluncur ke arah tubuhnya, sedangkan dalam detik itu Ayu Candra memejamkan mata untuk mengusir kepeningan kepalanya.
"Dinda........ awas. !"
Tejolaksono berseru dan suara suaminya ini menyadarkan Ayu Candra.
Ketika memejamkan matanya tadi, ia merasa betapa nikmatnya kehilangan semua pengeroyok yang tak tampak lagi, betapa nikmatnya menjauhkan diri dari pengeroyokan yang menjijikkan itu' sehingga ia terlena dan lengah.
Cepat ia membuka matanya dan kaget melihat lima ujung tombak sudah meluncur dekat.
Ia segera melempar diri ke belakang dan bergulingan.
Tejolaksono sudah memaksa diri meninggalkan para pengeroyoknya dengan sebuah loncatan tinggi, kemudian tubuhnya menukik ke bawah dan menggunakan kakinya menerjang lima orang yang menyerang Ayu Candra itu.
Lima orang itu menjerit dan tubuh mereka terpelanting ke kanan kiri seperti disambar halilintar.
Dua orang di antara mereka pecah kepalanya dan yang tiga orang patah tulang lengannya.
"Kenapa, isteriku. ?"
Tejolaksono memeluk Ayu Candra. Ayu Candra tersenyum.
"Tidak apa-apa, Kakangmas, hanya........tadi agak pening melihat banyaknya setan-setan ini!"
Mereka tak sempat banyak bicara karena kembali mereka telah dikurung dan dikeroyok.
Kini Tejolaksono bertanding dekat isterinya yang tidaklah begitu sakti seperti Endang Patibroto sehingga ia akan dapat melindunginya.
Endang Patibroto memang amat menggiriskan sepak-terjangnya.
Ke manapun ia berkelebat, di sana tentu tampak para pengawal bergelimpangan dan Cara Endang Patribroto mengamuk juga membikin kacau barisan lawan.
Wanita sakti ini tidak hanya mengamuk di suatu tempat tertentu, melainkan berpindah-pindah, meloncat ke sana ke mari seperti tingkah seekor burung elang menyambari sekumpulan anak ayam.
Hal ini ada sebabnya.
Endang Patibroto amat membenci Sindupati yang kini telah menjadi Patih Warutama.
jahat yang pernah memperkosanya di puncak Wilis itu harus dibunuhnya karena kalau dia tidak dapat membalas dendam ini, selamanya ia akan hidup menderita penasaran dan sakit hati.
Tadi ia tidak berhasil menyerang Warutama yang menyelinap di antara para pengawal, maka kini Endang Patibroto menerjang ke sana ke mari untuk mencari musuh besarnya itu.
Pangeran Panji Sigit dan Setyaningsih bertempur bahu-membahu' dan tidak pernah berpisah jauh.
Suami isteri ini maklum bahwa mereka berada dalam bahaya dan sungguhpun mereka sama sekali tidak merasa gentar karena penuh kepercayaan akan kemampuan keluarga mereka, akan tetapi mereka ingin selalu berdekatan sehingga apa pun yang akan terjadi, mereka takkan berpisah lagi dan dapat saling bantu dan saling melindungi.
Baiknya di antara para pengawal dan perajurit, masih banyak terdapat orang0-orang lama yang merasa segan dan suka kepada Pangeran Panji Sigit sehingga mereka mengeroyok secara terpaksa dan setengah hati.
Betapapun juga, karena jumlah pengeroyok bukan main banyaknya, pangeran dan isterinya ini pun terdesak hebat.
Pertandingan antara Joko Pramono dan Ki Kolohangkoro berlangsung dengan hebat dan seru sekali.
Mereka ini sama kuat dan sama digdaya, dan sungguhpun sepak-terjang Ki Kolohangkoro seperti seorang raksasa mabuk, kasar dan liar menggiriskan, namun Joko Pramono tetap tenang dan menyambut kekerasan dengan kekerasan pula.
Perlahan akan tetapi tentu, Joko Pramono mulai dapat menindih dan mendesak Ki Kolohangkoro dengan pukulan-pukulannya yang ampuh, mengandalkan kecepatan gerakan tubuhnya yang mengatasi kecepatan Ki Kolohangkoro.
Pusporini menemui tanding yang lebih kuat daripada Ki Kolohangkoro.
Ni Dewi Nilamanik memang lebih sakti kalau dibandingkan dengan Ki Kolohangkoro yang kasar.
Wanita penyembah Durgo ini memiliki gerakan yang amat cepat dan tubuh yang ringan di samping permainan kebutan merahnya yang amat menggiriskan.
Biarpun kalau dibuat perbandingan , Pusporini masih menang setingkat mengingat gemblengan Resi Mahesapati telah membuat dara perkasa ini memiliki aji kesaktian dan hawa sakti yang bersih dan kuat, namun ia kalah pengalaman oleh Ni Dewi Nilamanik.
Cara wanita penyembah Durgo itu mainkan kebutannya benar-benar membuat Pusporini bingung dan terdesak sampai belasan jurus lamanya.
Tiba--tiba ujung kebutan itu terpecah menjadi lima bagian menyerang Pusporini di bagian tubuh yang berbahaya.
Ketika Pusporini menggunakan kedua tangannya sibuk menangkis dengan kibasan jari tangan yang mengandung hawa sakti Pethit Nogo, tiba-tiba bagian ke lima dari kebutan itu telah menyambar dan melibat pinggang Pusporini yang ramping!
Ni Dewi Nilamanik mengeluarkan suara ketawa mengejek, dengan pengerahan tenaga sakti ia menyendal untuk menarik roboh Pusporini, akan tetapi suara ketawanya terhenti dan bahkan terganti suara ah-ah-uh-uh orang yang menghimpun seluruh tenaganya.
ia menarik-narik dan menyendal-nyendal, namun sia-sia belaka seperti seekor monyet hendak mencabut pohon cemara.
Tubuh Pusporini tidak bergeming.
Hebat memang aji kesaktian Argoselo yang dipergunakan oleh Pusporini.
Jangankan hanya Ni Dewi Nilamanik seorang, biar ditambah tiga orang lagi belum tentu akan dapat menarik roboh tubuh Pusporini yang ramping itu.
"Plakkk!"
Sebagai balasan, Pusporini mempergunakan kesempatan selagi Ni Dewi Nilamanik berkutetan hendak menariknya roboh, Pusporini menempiling dengan Aji Pethit Nogo ke arah pelipis Ni Dewi Nilamanik, dari atas ke bawah.
Betapapun saktinya Ni Dewi Nilamanik, kalau tempilingan aji pukulan Pethit Nogo ini menyentuh pelipisnya, tentu bagian kepala ini akan retak dan nyawanya akan melayang.
Akan tetapi Ni Dewi Nilamanik biarpun sedang dalam keadaan penasaran, masih sempat mengelak dengan menarik kepala ke belakang sehingga yang kena ditampar hanya pundaknya saja.
Namun hal ini cukup membuat tubuh Ni Dewi Nilamanik terpelanting dan libatan ujung kebutan di pinggang Pusporini terlepas.
Ni Dewi Nilamanik cepat meloncat dan wajahnya menjadi merah sekali.
Kalau saja ia tadi tidak cepat-cepat mengerahkan aji kekebalannya ke pundak, tentu tulang pundaknya sudah hancur.
Kinipun rasa nyeri, panas dan menusuk-nusuk membuat ia menyeringai.
Kemarahannya memuncak dan ia memekik keras, tubuhnya menerjang maju, kebutannya mengeluarkan suara meledak-ledak ketika menyambar-nyambar di atas kepala Pusporini.
Namun dara perkasa ini menyambutnya dengan gerakan yang tak kalah cepatnya dan membalas dengan pukulan yang tak kalah dahsyatnya.
BETAPAPUN juga, Joko Pramono dan Pusporini yang "menang angin"
Ini andaikata dapat merobohkan masing-masing lawannya, masih dinanti oleh lawan yang lebih berat lagi, yaitu pengeroyokan beratus-ratus orang pengawal!
Keadaan keluarga sakti itu benar terhimpit.
Mereka berada di tengah-tengah kepungan ribuan orang pengawal, dan di situ selain Wasi Bagaspati, Ki Kolohangkoro yang melawan secara terang-terangan dibantu orang-orang yang bergerak seperti arca hidup tak kenal lelah dan tak kenal takut, juga masih terdapat orang-orang seperti Warutama yang mengatur barisan secara sembunyi.
Memang benar ucapan Wasi Bagaspati tadi bahwa pintu gerbang itu merupakan pintu gerbang maut bagi kedelapan anggauta keluarga sakti, karena mereka dapat masuk akan tetapi akan sukar sekali untuk dapat keluar.
"Huah-ha-ha-ha, Bagus Seta, sampai berapa lama keluargamu akan dapat bertahan? Dapat membunuh semua pengawal yang ribuan orang banyaknya? Dan di luar masih ada lebih banyak lagi, ha-ha-ha!"
Wasi Bagaspati tertawa--tawa dan pertandingan antara dia dan Bagus Seta masih terjadi dengan serunya.
Karena gerakan mereka berdua ini didorong oleh kekuatan gaib dari ilmu batin, maka pertandingan ini merupakan pertandingan yang amat aneh.
Kadang-kadang mereka berdua berkelebat lenyap berubah menjadi sinar merah dan putih pakaian mereka, kadang-kadang hanya berdiri tegak dan Baling pandang mengadu kekuatan sihir yang keluar dari pandang mata, atau hanya melalcukan gerakan-gerakan mendorong dari jarak jauh untuk mengadu tenaga sakti mereka.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dan pintu gerbang depan ambrol disusul masuknya barisan Panjalu bersama rakyat yang sama besar jumlahnya, rakyat Jenggala yang sepanjang jalan makin lama makin bertambah banyak menggabung pada barisan Panjalu yang hendak membebas kan mereka daripada belenggu penindasan mereka yang berkuasa di Jenggala pada waktu itu.
Masuknya barisan ini disertai sorak-sorai gegap-gempita seolah-olah menjawab ucapan yang keluar dari mulut Wasi Bagaspati tadi.
Ternyata barisan yang dipimpin sendiri oleh Pangeran Darmokusumo itu telah melihat tanda panah api yang dilepas Endang Patibroto ketika keluarga sakti itu terancam bahaya.
Wasi Bagaspati terkejut sekali dan tak terasa ia mundur--mundur dengan mata terbelalak.
Tiba-tiba terdengar raung yang mengejutkan, sepertl suitan harimau marah, dan mendengar ini, Wasi Bagaspati terkejut dan cepat menengok.
Wajahnya yang merah itu kini agak berubah ketika ia melihat pembantunya yang amat diandalkan, yaitu Ki Kolohangkoto, sedang berkutetan dengan maut yang hendak merenggut nyawanya melalui senjata nenggala yang menancap di perut Ki Kolohangkoro sendiri, menancap sampai tampak sedikit ujungnya di belakang perut!
Ternyata bahwa akhirnya kesaktian Joko Pramono terlalu berat bagi Ki Kolohangkoro.
Kakek penyembah Bathoro Kolo ini selalu terdesak dan lebih banyak mengelak dan menangkis daripada menyerang.
Bahkan beberapa kali pukulan ampuh dari tangan Joko Pramono telah mengenal tubuhnya dan hanya kekebalannya yang luar biasa kuatnya sajalah yang menjaga sehingga Ki Kolohangkoro tidak roboh.
Ketika mendengar ambruknya pintu gerbang dan sorak-sorainya tentara Panjalu yang menyerbu ke dalam, Ki Kolohangkoro terkejut sekali.
ia menengok dan wajahnya berubah pucat.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Joko Pramono untuk menerjang dengan pukulan Cantuka-sakti yang amat hebat dan mengenai dada Ki Kolohangkoro.
Dada yang bidang itu tidak pecah akan tetapi tubuh si kakek raksasa terjengkang ke belakang.
Joko Pramono menubruk maju, akan tetapi disambut dari bawah oleh tusukan senjata nenggala di tangan Ki Kolohangkoro.
Joko Pramono cukup waspada, mengerakkan tubuhnya miring sehingga nenggala itu lewat di dekat pinggangnya.
Secepat kilat ia menangkap pergelangan tangan lawan dan dengan gerakan tiba-tiba membalikkan senjata nenggala dan mendorongnya ke perut Ki Kolohangkoro!
Joko Pramono meloncat ke belakang dan Ki Kolohangkoro mengeluarkan suara meraung keras, berusaha mencabut nenggalanya, bangkit terhuyung--huyung, menggunakan kedua tangannya memegang nenggala, mencabut sambil mengerahkan tenaga.
Nenggala dapat tercabut, darah muncrat keluar didahului ususnya, matanya terbelalak, kedua tangannya yang berlumuran darah mengangkat nenggala tinggi-tinggi di atas kepala lalu ia menubruk maju menyerang Joko Pramono dengan dahsyatnya!
Joko Pramono mengelak dengan lompatan ke kiri dan tubuh kakek raksasa itu terjungkal ke depan dan roboh, berkelojotan sebentar lalu terdiam.
Melihat tewasnya Ki Kolohangkoro, sedangkan Ni Dewi Nilamanik juga terdesak sedangkan para perajurit Panjalu sudah mengamuk, Wasi Bagaspati meloncat ke atas dan melayang ke arah Ni Dewi Nilamanik sambil berseru.
"Dewi, kita pergi !"
Ni Dewi Nilamanik menggerakkan lengan kirinya dan asap hitam mengebul, menyambar ke arah Pusporini.
Gadis perkasa ini cepat melompat ke belakang dan kesempatan ini dipergunakan Ni Dewi untuk meloncat jauh, mengikuti Wasi Bagaspati yang hendak melarikan diri.
"Kejar. !!"
Tejolaksono berseru keras dan berlombalah keluarga sakti itu melakukan pengejaran.
Bagus Seta hendak berseru mencegah, namun terlambat karena semua keluarganya sudah mengejar, maka ia pun lalu menggerakkan kaki meluncur ke depan ikut melakukan pengejaran pula.
Tangan kiri Wasi Bagaspati menggandeng tangan Ni Dewi Nilamanik ketika berlari ia menengok dan tertawa ketika melihat keluarga sakti mengejarnya.
Tangan kanannya bergerak dan jari-jari tangannya terbuka.
"Awas senjata rahasia. !"
Bagus Seta berseru dari belakang.
Keluarga sakti terkejut dan benar saja, dari tangan Wasi Bagaspati itu menyambar sinar berwarna hijau dan bagaikan hujan datangnya benda-benda kecil menyerang mereka dengan kecepatan yang luar biasa sekali.
Tejolaksono dan keluarganya cepat menggerakkan tangan mengibas sambil berlompatan menghindar, bahkan dari jauh Bagus Seta sudah mendorongkan tangannya sehingga sebagian besar sinar hijau itu runtuh ke pinggir, akan tetapi karena cepat dan kuatnya benda-benda kecil hijau itu menyambari maka beberapa orang di antara mereka terkena senjata rahasia bersinar hijau itu.
Pangeran Panji Sigit terkena pipinya, Ayu Candra terkena pada bahunyat Pusporini terkena pundaknya, dan Setyaningsih juga terkena senjata rahasla pada lengannya.
Akan tetapi mereka menjadi lega ketika melihat bahwa senjata-senjata rahasia bersinar hijau itu hanyalah duri-duri berwarna hijau seperti duri kembang mawar, dan hanya menancap setengahnya sehingga ketika dicabut, hanya menimbulkan luka kecil yang mengeluarkan setetes darah saja dan tidak terasa apa--apa "Untung tidak berbahaya.
Kita harus lekas menyerbu ke dalam istanal"
Kata Tejolaksono.
"Harus kutangkap Sindupati manusia jahanam!"
Kata Endang Patibroto.
"Aku akan membekuk batang leher Suminten siluman betina itu!"
Kata Pusporini.
"Saya harap Kakangmas Patih suka lebih dulu menyelamatkan kanjeng rama."
Pangeran Panji Sigit berkata. Mendengar ini, semua orang baru sadar dan ingat bahwa mereka melupakan hal yang terpenting.
"Ah, benar sekali. Kita harus menyelamatkan gusti sinuwun,"
Kata Tejolaksono.
"Bagus Seta dan aku sendiri akan menemani Pangeran Panji Sigit menyelamatkan gusti sinuwun. Yang lain membantu rakanda Pangeran Darmokusumo melakukan pembersihan! Ingat, kurangi pembunuhan terhadap perajurit Jenggala. Musuh kita hanyalah kaki tangan penjahat-penjahat itu!"
"Marilah Rakanda Patih.......!"
Kata Pangeran Panji Sigit yang merasa gelisah mengingat akan keselamatan ramandanya yang dikabarkan sakit keras itu.
Tejolaksono dan Bagus Seta lalu bergerak mengikuti Panji Sigit dan berlari menuju ke istana.
Perang telah terjadi merata di seluruh kota raja.
Hal ini tadi sesuai dengan siasat Pangeran Darmokusumo yang lebih dahulu telah menyelundupkan beberapa orang ke dalam kota raja, menguasai pintu gerbang dan membagi tentaranya menjadi beberapa kelompok sehingga mereka dapat menyerbu ke dalam kota raja melalui beberapa pintu gerbang.
Tentara Panjalu yang dibantu oleh rakyat Jenggala sendiri telah menyusup ke dalam sehingga di depan istana itu sendiri telah terjadi pertempuran.
Namun Pangeran Panji Sigit tidak emperdulikan pertempuran itu, terus saja berlari memasuki istana.
Beberapa pengawal yang masih setia kepada Suminten dan Pangeran Kukutan menyambut mereka dengan tombak di tangan, namun dengan mudah Tejolaksono merobohlon mereka.
Pangeran Panji Sigit yang sudah hafal akan keadaan di istana ini, bergagas lari menuju kamar tidur ramandanya.
Pintu berukiran indah dari kamar tidur itu tertutup.
Pintu yang tebal dan indah, berukuran besar.
Pangeran Panji Sigit mengetuk daun pintu.
Tidak ada jawaban dan tidak ada suara dari dalam, sunyi sekali.
Amat mengherankan karena selamanya kamar Ini pasti dijaga pengawal dan di sebelah dalam ada abdi dalem yang melayani segala keperluan yang dibutuhkan sri baginda.
Pangeran Panji Sigit mendorong daun pintu, akan tetapi tak dapat dibuka.
"Dikunci dari dalam "
Katanya cemas.
"Dalam keadaan seperti ini, tidak ada pilihan lain. Kita paksa saja pintu ini terbuka. Bagaimana pendapatmu, Bagus?"
"Harap Ramanda membiarkan saya membuka pintu ini. Mungkin sekali di sebelah dalam ada sesuatu yang berbahaya dan tidak tersangka-sangka."
Ki Patih Tejolaksono mengangguk dan melangkah mundur, bersama Pangeran Panji Sigit berdiri di belakang Bagus Seta.
Tejolaksono sudah maklum bahwa puteranya amat sakti, akan tetapi sekali ini ia ingin melihat dengan aji pukulan apa puteranya hendak memaksa daun pintu terbuka.
Ia melihat tangan kiri Bagus Seta, sebuah tangan yang berkulit halus dan lembut, seperti tangan Ayu Candra, bergerak mendorong perlahan, seperti tidak bertenaga.
Akan tetapi terdengar suara keras di sebelah dalam kamar di balik pintu itu, seolah-olah palang pintu patah-patah dan daun pintu bergerak terbuka dengan cepat sekali.
"Celaka!!"
Tejolaksono dan Pangeran Panji Sigit berteriak dengan hati penuh kengerian.
Kiranya daun pintu itu adanya terbuka sedemikian cepatnya karena dipasangi tambang yang mengikat daun pintu, terus ke atas balok melintang di bawah atap dan ujung tambang itu mengikat sebuah batu sebesar kerbau yang tadinya tergantung di atas pembaringan di mana sang prabu yang sudah tua itu tampak berbaring dan tidur pulas.
Tentu saja jika pintu itu dibuka dengan paksa dari luar, palangnya patah, daun pintu itu terbuka dan karena tarikan batu yang tidak ada penahannya dan meluncur ke bawah, daun pintu terbuka cepat sekali, sama cepatnya dengan batu sebesar kerbau yang kini jatuh menimpa sang prabu, hanya tinggal beberapa jengkal lagi sehingga seorang sakti seperti Tejolaksono sekali pun hanya dapat berteriak dan tak berdaya menolong.
Akan tetapi Bagus Seta sudah menggerakkan lengan kanannya didorongkan ke depan dan batu sebesar kerbau itu terhenti di udara, hanya dua jengkal di atas tubuh sang prabu!
Melihat ini, cepat Tejolaksono melompat maju dan mendorong batu besar itu dengan kedua tangannya sehingga batu itu kemudian jatuh menimpa meja yang menjadi hancur berkeping-keping!
"Kanjeng Rama.........!"
Pangeran Panji Sigit lalu menubruk ramandanya, sedangkan Bagus Seta melangkah maju, menyembah lalu mengusap wajah sri baginda yang tua keriputan dan pucat itu.
Terdengar sri baginda raja mengeluh dan membuka matanya.
Ketika melihat Panji Sigit, wajah raja tua itu berseri, lalu bangkit dan memeluk kepala puteranya yang sesungguhnya amat disayangnya itu.
"Duh para Dewata yang Maha Murah......... terima kasih bahwa engkau masih hidup dalam keadaan sehat, puteraku, Sigit. !"
"Kanjeng Rama, hamba mendengar berita bahwa paduka......... gering "
"Ahhh, sakit parah sekali, Puteraku. Sakit jiwa......... bukan raga yang sudah tua ini. eh, siapakah satria ini? Seperti pernah aku melihatnya........."
Sri baginda memandang kepada Tejolaksono yang berlutut.
"Hamba Tejolaksono, gusti."
"Wah benar! Tejolaksono yang gagah perkasa! Sekarang patih dalam di Panjalu, bukan? Dan......... pemuda ini......... pemuda luar biasa......... begitu lembut pandang matanya, siapakah andika, wahai bocah bagus?"
"Hamba Bagus Seta, putera kanjeng rama Tejolaksono."
"Ah, kalian semua datang terlambat. Aku pun sadar setelah terlambat......... aduh, Puteraku, betapa besar dosa-dosaku, betapa ringkih batinku. Ahhh, kini terlambat sudah, segalanya, kerajaan ini telah berada dalam cengkeraman mereka."
"Hamba sudah mengetahui semua itu, Kanjeng Rama. Hamba sudah tahu akan persekutuan jahat antara Suminten, Pangeran Kukutan dan Patih Warutama."
"Bukan itu saja, Puteraku. Melainkan orang-orang sakti dari Cola.... ahhh, betapa kejinya bersekutu dengan musuh negara.... dan aku. aku tak berdaya lagi, setelah aku dipisahkan dengan semua orang yang setia kepadaku."
"Hamba juga sudah tahu akan hal itu, Kanjeng Rama. Dan berkat pertolongan satria-satria perkasa seperti rakanda patih dan puteranya inilah maka kerajaan Paduka Kanjeng Rama tertolong "
"Apa? Bagaimana kalian dapat masuk ke sini dan.... dan.... batu itu ah, aku tahu mereka memasang batu itu di atasku sehingga kalau ada yang memaksa membuka pintu, aku.... aku "
"Harap Paduka suka menenangkan hati, Sinuwun. Kini bahaya sudah lewat bagi keselamatan Paduka,"
Bagus Seta berkata, suaranya halus dan ramah, mengandung pengaruh menenangkan hati yang mujijat.
"Andika benar, Bagus Seta, dan terima kasih atas bantuan kalian. Akan tetapi, bagaimana. ? Mereka telah mencengkeram kerajaan ini, tidak hanya di istana, juga di luar istana, di seluruh kerajaan, ponggawa-ponggawa diganti, pengawal-pengawal diganti."
Tiba-tiba terdengar sorak-sorai di luar dan sang prabu bangkit berdiri.
"Apakah itu? Jangan-jangan mereka datang menyerbu. Puteraku, lekas kau bersembunyi, lekas keluar dari kamar ini. Aku tidak ingin melihat karena kelalimanku engkaupun menjadi korban. Tejolaksono, tolonglah selamatkan puteraku keluar dari sini !"
Pangeran Pinji Sigit bangkit berdiri dan menggandeng tangan ramandanya sambil berkata.
"Harap paduka jangan khawatir, Kanjeng Rama. Suara itu adalah suara kemenangan dari barisan Panjalu yang membantu kita, yang menghalau dan membasmi oknum-oknum jahat yang mencengkeram Jenggala. Marilah, mari kita sama menyaksikannya, Kanjeng Rama."
Pangeran itu menuntun ramandanya keluar dari kamar, dan terns keluar menuju ke ruangan depan istana.
"Barisan Panjalu? Sampai menyerang untuk menolongku? Aduh, kasihan rakyatku.........perang selalu berarti penderitaan bagi rakyat jelata. !!"
"Akan tetapi perang sekali ini bahkan akan membebaskan mereka daripada penderitaan, Kanjeng Rama. Selama ini mereka tertindas dan diperas oleh para pengacau yang kini sedang kita basmi."
Sang prabu yang sudah tua itu melihat pertempuran besar, hatinya penuh keprihatinan dan ia minta kepada Pangeran Panji Sigit untuk membawanya ke panggung depan istana di mana ia dapat melihat pertempuran yang terjadi di alun-alun "Berhenti.
Semua kawulaku yang masih setia kepadaku.
Berhenti dan jangan melawan pasukan-pasukan Panjalu !!"
Sang prabu berteriak-teriak, tetapi teriakannya hilang ditelan suara perang yang amat gaduh.
"Gusti Sinuwun, bolehkan hamba mewakili Paduka menghentikan mereka?"
Bagus Seta bertanya halus.
Sri baginda mengangguk penuh harapan karena hatinya terasa perih sekali menyaksikan betapa kawulanya sendiri, rakyat Jenggala, membantu barisan Panjalu dan membunuhi perajurit-perajurit Jenggala sendiri!
Bagus Seta lalu berdiri di dekat raja dan terdengar suaranya, biasa saja seperti orang bicara, tidak berteriak--teriak, dan jelas terdengar mengandung wibawa.
"Saudara sekalian yang sedang bertempur, hentikanlah pertempuran dan lihatlah ke sini, gusti sinuwun telah berkenan keluar dan hendak bicara kepada Andika sekalian. Barisan Panjalu diminta menghentikan pertempuran pula!"
Sri baginda sendiri bersangsi apakah suara pemuda ini akan dapat terdengar oleh mereka yang sedang bertempur.
Suaranya sendiri yang ia teriakkan keras-keras tadi hilang ditelan kegaduhan, apalagi suara pemuda ini yang hanya perlahan saja.
Mana mungkin terdengar oleh semua orang yang sedang bertempur?
Akan tetapi, sang prabu melihat keanehan terjadi.
Semua orang yang sedang bertanding itu berhenti secara tiba-tiba dan menengok ke arah panggung.
Kemudian terdengarlah suara-suara mereka.
"Gusti sinuwun !"
"Sesungguhnya gusti sinuwun yang hadir!"
"Setelah sekian lamanya! Betapa kurus beliau !"
Dan berlututlah para rakyat dan perajurit Jenggala menghadap raja mereka yang sudah amat lama tidak pernah keluar dari dalam kamar itu.
Kini kelompok manusia di bawah itu terbagi dua.
Yang berlutut tentulah rakyat Jenggala, adapun yang tetap berdiri namun tidak lagi menggerakkan senjata adalah perajurit-perajurit Panjalu.
Keadaan menjadi sunyi senyap dan melihat sekian banyaknya orang yang tadi bertempur mati-matian itu kini tidak ada yang bergerak, benar-benar mempesonakan.
Tiba--tiba tampak ada beberapa orang bergerak, bahkan berlarian menuju panggung.
Mereka itu adalah Pangeran Darmokusumo yang diikuti oleh Endang Patibroto, Ayu Candra, Pusporini, Setyaningsih, dan Joko Pramono.
Mereka ini bergegas menaiki panggung dan berlutut menyembah di depan sang prabu yang menerima mereka dengan senyum terharu.
"Ah, puteraku mantu Darmokusumo, untung ada engkau yang membantu. Dan andika, Endang Patibroto ah,betapa bertumpuk-tumpuk budi yang telah Andika lakukan untuk Jenggala."
"Mohon beribu ampun, Kanjeng Rama."
Pangeran Darmokusumo sebenarnya adalah keponakan Raja Jenggala, akan tetapi karena ia menikah dengan puteri Jenggala yang bernama Maya Galuh, maka pamannya ini menjadi ayah mertuanya dan ia menyebutnya kanjeng rama.
"Terpaksa hamba mengerahkan perajurit Panjalu untuk membantu Paduka menghadapi kekuasaan jahat yang mencengkeram Jenggala. Perkenankanlah hamba kini memerintahkan barisan Panjalu untuk menghentikan pertempuran dan keluar dari kota raja agar jangan sampai terjadi kesalahfahaman antara perajurit-perajurit Panjalu dan perajurit-perajurit Jenggala."
"Baik sekali usulmu, Puteraku. Lakukanlah."
Pangeran Darmokusumo menyembah lalu bangkit berdiri dan mengeluarkan perintah dengan suara keras agar semua pasukan Panjalu mengundurkan diri di luar dinding kota raja, menanti perintah lebih lanjut, dan agar membawa teman-temannya yang terluka atau tewas.
Mendengar ini, barisan Panjalu bergerak bagaikan semut, lalu keluar kota raja dengan aman, sementara itu, para perajurit dan rakyat Jenggala tetap berlutut di alun-alun menanti amanat raja mereka yang telah sekian lamanya seolah-olah lenyap itu.
Setelah semua pasukan Panjalu mundur dan keadaan sunyi kembali, sri baginda lalu berkata dengan suara lantang.
"Wahai semua kawulaku, dengarlah baik-baik. Selama ini aku, raja kalian yang tua ini, telah tenggelam ke dalam kelalaian, menderita sakit jiwa sehingga mengabaikan urusan pemerintahan dan mengabaikan rakyatku. Kuminta maaf kepada seluruh rakyatku dan syukur kepada Dewata bahwa hari ini aku terbebas daripada keadaan itu. Kerajaan kita untuk beberapa lama dicengkeram kekuasaan jahat sehingga banyak ponggawa setia terhukum mati dan digantikan oleh ponggawa-ponggawa yang sesungguhnya adalah musuh-musuh negara. Karena itu, kuminta kepada mereka yang tadinya terseret atau terpaksa mengabdi kepada kekuasaan jahat itu untuk sadar kembali dan menyatakan kesetiaan kepada kerajaan dengan jalan menghalau atau membasmi mereka yang menjadi kaki tangan kekuasaan jahat yang kelak akan diganti dengan ponggawa-ponggawa setia di antara kalian. Pengangkatan raja baru, mengingat akan usiaku yang telah lanjut, tetap akan diadakan, akan tetapi yang akan menggantikan aku bukanlah si Kukutan yang palsu itu, melainkan puteraku, Pangeran Panji Sigit!"
Sorak-sorai menyambut ucapan sri baginda ini dan terjadilah kegaduhan ketika para perajurit bergerak menangkapi perwira-perwira mereka sendiri yang tadinya diangkat oleh Pangeran Kukutan dan Suminten.
Tanpa dikomando lagi mereka itu bergerak dan mengadakan "pembersihan"
Di kalangan mereka sendiri.
Sang prabu menghela napas, tidak sampai hati menyaksikan akibat daripada kelemahannya sendiri dan mengajak semua orang yang berada di panggung untuk memasuki istana dan di saat itu juga sang prabu membuka persidangan.
Tak lama kemudian bermunculanlah ponggawa--ponggawa lama yang tadinya terpaksa atau terpikat menjadi kaki tangan kekuasaan barn.
Mendengar anjuran sang prabu tadi untuk sadar dan kembali, mereka ini memberanikan berturut-turut maju dengan tubuh gemetar dan kedua tangan dirangkapkan seperti serombongan anjing melipat ekornya karena takut digebuk!
Bagus Seta dan Tejolaksono mengajukan permohonan untuk mencari dan menangkap biang keladi semua kekacauan, yaitu Suminten, Pangeran Kukutan, dan Ki Patih Warutama.
Akan tetapi setelah memperkenankan dan baru saja mereka berdiri, tiba-tiba Pangeran Panji Sigit roboh terguling, disusul robohnya Ayu Candra dan Setyaningsih!
Tiga orang itu roboh dan merintih-rintih di atas lantai, Pangeran Panji Sigit menggaruk-garuk pipinya, Ayu Candra menggaruk-garuk bahunya, dan Setyaningsih menggaruk-garuk lengannya.
Keadaan mereka amat aneh karena sambil menggaruk-garuk muka mereka menjadi merah sekali dan mulut mereka yang tadinya merintih-rintih itu kini berbisik-bisik!
"Setyaningsih, kekasihku, isteriku "
Bisik Pangeran Panji Sigit.
"Rakanda Pangeran, pujaanku, junjunganku...."
Setyaningsih juga merintih-rintih dan berbisik mesra, kemudian kedua orang itu merangkak saling menghampiri dan berpelukan, berciuman! "Kakangmas Tejolaksono.... ah, Kakangmas.... yang tercinta. !"
Ayu Candra juga menubruk dan merangkul leher Tejolaksono yang terbelalak keheranan.
Sri baginda memandang semua ini dengan muka merah dan mata melotot.
Beginikah tingkah laku puteranya yang barn saja ia umumkan akan dijadikan penggantinya?
Akan tetapi Bagus Seta cepat melangkah maju dan tiga kali menepuk ia membuat tiga orang itu mengeluh dan pingsan.
Mereka dibaringkan di lantai dan Bagus Seta lalu berkata, setelah memeriksa sejenak.
"Mereka ini terkena racun yang terbawa duri-duri yang dipergunakan Wasi Bagaspati tadi. Racun ini jahat sekali,mula-mula merangsang akan tetapi karena racunnya sudah memasuki jalan darah, kalau tidak cepat tertolong dapat membawa maut. Agaknya hamba harus cepat pergi mencari obatnya untuk memunahkan racun Ular Wilis ini "
Bagus Seta sudah bangkit, akan tetapi tiba-tiba Pusporini dan Joko Pramono berseru hampir berbareng.
"Ular Wilis. ??"
Semua orang memandang mereka, dan Pusporini cepat berkata.
"Ah, sekarang hamba mengerti mengapa kalau mereka bertiga terpengaruh racun, hamba sendiri yang juga terkena duri itu di pundak hamba, tidak apa-apa! Karena racun Ular Wilis dan karena hamba memakai mustika Ular Wilis, maka selamat!"
Bagus Seta menoleh kepadanya.
"Sungguh Dewata adil dan penuh kasih kepada yang benar! Bibi Pusporini mempunyai mustika Ular Wilis?"
Pusporini sudah mengeluarkan mustika ular yang bercahaya hijau itu.
Memang semenjak Resi Mahesapati memberikan mustika itu kepadanya, ia mengalungkannya dan tak pernah mustika itu terpisah dari tubuhnya.
Bagus Seta menerima mustika itu dan berkata lirih.
"Kehendak Hyang Wisesa selalu terjadilah! Betapa akan kecelik rasa hati Wasi Bagaspati kalau dia mengetahui bahwa di antara kita ada yang mempunyai batu mustika Ular Wilis!"
Pemuda sakti ini lalu menggunakan batu mustika ditempelkan sebentar di bagian tubuh ketiga orang yang menjadi korban senjata rahasia itu.
Setelah mereka disadarkan kembali, ketiga orang itu menjadi terheran-heran dan bertanya.
"Mengapa......... mengapa aku rebah di sini. ?"
Tejolaksono lalu menceritakan bahwa mereka menjadi korban racun senjata rahasia Wasi Bagaspati, dan tertolong oleh mustika Ular Wilis.
Hati mereka menjadi lega, dan sri baginda yang tadinya marah dan kecewa, setelah tahu duduknya perkara, juga tersenyum kembali dan mengutuk kejahatan Wasi Bagaspati.
Ketika Tejolaksono dan Bagus Seta melakukan penggeledahan dan pemeriksaan, diantar oleh Pangeran Panji Sigit yang mengenal semua tempat di istana, tentu saja mereka tidak menemukan jejak Suminten, Pangeran Kukutan dan Ki Patih Warutama.
Ke manakah perginya tiga orang yang merupakan persekutuan yang menjadi biang keladi semua kekacauan itu?
Begitu mendengar akan penyerbuan barisan Panjalu, mendengar betapa Ki Kolohangkoro tewas, Ni Dewi Nilamanik dan Wasi Bagaspati melarikan diri, para perwira kaki tangan mereka tewas dan barisan mereka terdesak kocar-kacir, tiga orang itu tentu saja tidak tinggal diam.
Tergesa-gesa mereka itu berunding untuk melarikan diri bersama melalui jalan rahasia dari belakang istana.
Warutama bergegas pulang ke kepatihan untuk meninggalkan pesan kepada kedua isterinya.
Akan tetapi apakah yang ia dapatkan?
Kedua isterinya itu, Wulandari dan Dyah Handini, ibu dan anak, sedang bertengkar ramai!
Ucapan terakhir yang didengarnya ketika ia masuk adalah ucapan isterinya yang tua, Wulandari.
"Tahukah engkau siapa dia itu? Dia adalah ayahmu sendirl, ayah kandungmu! Nah, sekarang engkau ketahui manusia macam apa adanya suamimu, suami kita. Dia manusia terkutuk yang telah memperisteri anaknya sendiri! Betapa maluku nanti menghadapi dimas Panji Sigit dan para pangeran lainnya, betapa aku telah terperosok ke lembah kehinaan dengan menjadi barang permainan manusia macam Sindupati! Ya, menjadi benda permainanlah kita berdua ini, Anakku. Ingat saja apa yang biasa ia lakukan kepada kita berdua selama ini. Tak tahu malu! Ahhh, lebih baik aku mati saja. !"
"Ibu !"
Dyah Handini menjerit.
"Kalau dia ayahku, mengapa ibu tidak memberi tahu dahulu? Ahh, kalau aku tahu hemm, akan kubunuh dia!"
Tiba-tiba daun pintu terbuka dan Warutama atau Sindupati muncul di depan ibu dan anak yang menjadi pucat wajahnya itu.
Tak lama kemudian terdengar jerit-jerit mengerikan di dalam kamar itu dan ketika Sindupati keluar dari istana kepatihan membawa benda-benda emas dan intan yang berharga, ia melirik untuk terakhir kalinya kepada dua batang tubuh wanita yang menggeletak tak bernyawa lagi di dalam kamar itu dan ia menyeringai ke arah mayat Wulandari dan Dyah Handini!
Kalau saja ia tidak mendengar percakapan mereka, tidak perlu ia membunuh mereka, demikian ia menghibur diri sendiri ketika ia bergegas pergi ke taman sari milik pribadi Suminten untuk berkumpul dengan dua orang rekannya di sana kemudian bersama-sama melarikan diri.
Suminten dan Pangeran Kukutan muncul dengan tergesa-gesa pula.
Pangeran Kukutan membawa sebuah buntalan besar dan berat, agaknya penuh dengan benda-benda berharga dan melihat kedua orang itu, Sindupati tertawa.
Dia tidaklah seperti Suminten dan Pangeran Kukutan yang kelihatan ketakutan.
Dalam keadaan seperti itu, kehilangan kemuliaan dan kemewahan sebagai patih, Sindupati masih mampu tertawa, mentertawakan Suminten dan Pangeran Kukutan yang berpakaian seperti petani--petani biasa!
"Lebih aman memakai pakaian rakyat biasa dalam pelarian,"
Kata Pangeran Kukutan menangkis tertawaan Sindupati ketika mereka mulai berjalan memasuki lorong rahasia yang menembus keluar kota raja tanpa melalui pintu gerbang, melainkan keluar melalui terowongan yang dibuat menembus di bawah pintu gerbang itu.
"Memang kalian amat pantas berpakaian seperti itu,"
Kata Sindupati.
Suminten melerok marah, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, ia diam saja hanya mengerutkan alisnya penuh keprihatinan.
Diam-diam ia mengutuk Wasi Bagaspati dan kaki tangannya yang ternyata tidak mampu mempertahankan Jenggala, dan diam-diam ia mengutuk Pangeran Kukutan yang begitu tidak sabar untuk cepat--cepat menjadi raja sehingga mereka harus memaksa sang prabu untuk menobatkan Pangeran Kukutan menjadi raja.
Kalau saja tidak terlalu tergesa-gesa dan membiarkan keadaan berjalan seperti biasa, tentu tidak akan memancing datangnya serbuan dari Panjalu.
Kalau saja.........
kalau.........
kalau.........ah, tidak perlu segala penyesalan itu.Yang penting sekarang melarikan diri agar jangan sampai tertangkap.
ia ngeri memikirkan kalau sampai dia ditawan oleh Kerajaan Jenggala.
Masa depannya tidak terlalu gelap.
Pangeran Kukutan adalah seorang pemuda yang gagah dan tampan dan mencintanya.
Dan mereka membawa bekal yang cukup banyak untuk kebutuhan mereka.
Kini mereka telah tiba di luar kota raja.
Sunyi di sini karena pertempuran beralih ke dalam kota raja yang masih terdengar dari situ.
Hanya mayat-mayat bergelimpangan dan rintihan mereka yang terluka saja yang terdapat di luar dinding kota raja.
Suminten bergidik dan mereka melanjutkan perjalanan ke barat.
Setelah agak jauh dari kota raja, dan tiba di pinggir persawahan yang juga sunyi karena para penduduknya pergi mengungsi begitu terjadi perang, hati Suminten agak lapang.
Tiba-tiba Sindupati berkata.
"Berikan buntalan itu kepadaku!"
Ucapan ini terdengar oleh Suminten dan Pangeran Kukutan seperti suara halilintar di tengah hari!
Mereka memandang kepada Sindupati atau Warutama dengan wajah pucat dan mata terbelalak.
Pangeran Kukutan bertanya kasar dan marah.
"Apakah maksudmu dengan ucapan itu?"
"Apa maksudku? Maksudku jelas! Tidak patut seorang petani miskin seperti Andika ini membawa-bawa sebuntal barang-barang berharga milik istana pula. Kesinikan, berikan kepadaku!"
"Jangan main-main, Paman patih "
"Aku bukan patih lagi dan Andika bukan pula pangeran, melainkan orang-orang pelarian, ha-ha-ha! Ayo berikan, ataukah harus kupaksa?"
"Tidak! Tidak boleh! Mililcku sekarang hanya tinggal ini tidak boleh!"
Suminten tak dapat berkata apa-apa, hanya memandang kepada Sindupati penuh kebencian.
"Berani engkau membantah Sindupati? Ha-ha-ha!"
Sindupati meraih untuk merampas buntalan, akan tetapi Pangeran Kukutan mengelak, bahkan lalu memukul ke arah lambung Sindupati dengan nekat.
Sindupati cepat menangkis dan balas memukul.
Maka berkelahilah kedua orang bekas sekutu itu memperebutkan sebuntal barang--barang berharga!
Akan tetapi, Pangeran Kukutan tentu saja bukanlah lawan seimbang dari Sindupati yang telah memiliki kesaktian, maka dalam beberapa belas gebrakan saja,buntalan dapat dirampas dan tubuh Pangeran Kukutan menggeletak di galengan sawah dengan kepala pecah.
Pangeran yang tadinya sudah menjadi putera mahkota, yang nyaris menjadi raja di Jenggala dalam waktu beberapa pekan lagi, kini menggeletak mati sebagai seorang petani di pinggir sawah!
Suminten menghampiri Sindupati dan merangkul pinggang pria itu, menggeser-geserkan tubuh depannya dan berbisik.
"Tepat sekali apa yang kau lakukan ini, Warutama......... eh, ataukah Kakang Sindupati? Kakang Sindupati lebih gagah terdengarnya. Tadi memang aku sudah ada pikiran untuk minta kepada Andika melenyapkan saja pangeran menyebalkan ini. Mari kita lekas pergi dari sini, kekasih pujaan hatiku !!"
Sindupati menunduk dan memandang rambut yang halus dan harum itu dengan mata terbelalak.
Ia bergidik dan muak.
Alangkah berbahayanya perempuan ini, melebihi seekor ular welang!
Akan tetapi ia tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha, engkau boleh ikut bersamaku, Suminten. Engkau masih banyak gunanya bagiku, bukankah begitu, manis?"
Ia menunduk dan mencium pipi wanita itu, akan tetapi Suminten merangkulnya dan membalas dengan mencium bibirnya amat mesra dan penuh nafsu berahi.
"Tentu saja, Kakang Sindupati, kita dapat saling bekerja sama dengan mesra dan cocok untuk waktu yang lama sekali."
Kedua orang itu melangkah lagi ke barat tanpa menengok satu kali pun kepada mayat Pangeran Kukutan yang mengelatak di pinggir sawah dengan hidung, mulut, dan telinga mengalirkan darah itu.
Dan tak jauh dari situ, di sebelah barat, kini mulailah mereka bertemu dengan rombongan-rombongan tentara yang melarikan diri!
Tentara Jenggala yang lari kacau-balau karena kehilangan pimpinan.
Kalau pasukan sudah tidak ada yang memimpin, tidak ada yang ditakuti lagi, tidak ada disiplin dan hukum, tentu saja terjadi perbuatan-perbuatan pelanggaran yang akibatnya mendatangkan derita bagi rakyat.
Demikian pula sisa-sisa pasukan Jenggalla yang melarikan diri ini, di sepanjang jalan tentu saja mengganggu dusun-dusun, mengambil makanan dengan paksa, mengangkut benda-benda berharga, menculik dan memperkosa gadis-gadis remaja.
Pendeknya, tidak ada perbuatan kekarasan yang menjadi pantangan bagi mereka.
"Eh. Gusti Patih, nih! Hendak pergi ke manakah, Gusti Patih?"
Seorang di antara mereka yang agaknya mabuk tuak yang dirampasnya dari penduduk dusun, bertanya secara kurang ajar kepada Sindupati yang segera dikurung oleh dua puluh orang perajurit yang menyeringai dan memandang dengan penuh nafsu dan kekaguman kepada Suminten.
"Wah, Gusti Patih pandai sekali mendapatkan seorang yang begini denok!"
Seorang lain berkata.
"Dan bekalnya banyak benar, sebuntal besar. Bagi-bagi dong, Gusti Patih!"
Sindupati tertawa. Ia mengenal baik orang-orang kasar seperti ini sehingga tidak perlu ia tersinggung. Ia malah tertawa dan berkata.
"Kita sudah kalah, tidak perlu main patih-patihan lagi. Ha-ha-ha!"
"Ha-ha-ha-ha!"
Mereka semua tertawa bergelak, mulut mereka terbuka lebar-lebar sehingga Suminten dapat melihat rongga mulut yang lebar-lebar dan merah di balik gigi yang kuning-kuning.
"Buntalan ini tak dapat kubagi, kalian boleh mencari sendiri di jalan. Adapun ini kalau kalian suka, boleh kalian miliki. Aku sudah bosan dengan dial"
Sindupati mendorong tubuh Suminten sehingga terhuyung-huyung dan belasan pasang lengan menerimanya dengan penuh gairah.
"Tidak......... tidak.........jangan......... Sindupati......... ah, jangan "
Sindupati menengok dan tertawa, lalu pergi tanpa menoleh lagi biarpun ia mendengar jerit Suminten, malah berlari makin cepat sehingga akhirnya ia tidak mendengar apa-apa lagi, baru ia melanjutkan perjalanan dengan berjalan biasa, memutar otak ke mana ia akan menujukan kakinya mencari petualangan baru tanpa menyesali kegagalannya di Jenggala setelah ia hampir tiba di puncak tertinggi.
Ia tidak perlu menyesal, tidak perlu kecewa, hanya sebuah hal yang selalu menjadi ganjalan hatinya, yaitu dendam Endang Patibroto terhadap dirinya.
Hal inilah yang membuat ia selalu gelisah dan tidak dapat memkmati hidup.
Ia merasa menyesal sekali dan menyumpahi kekeliruannya ketika ia tidak dapat menahan nafsu dan berani memperkosa wanita sakti yang baru mengingatnya saja sudah membuat bulu tengkuknya meremang itu.
"Jangan Mundur semua kalian, manusia-manusia biadab! Tidak tahukah kalian siapa aku? Butakah mata kalian tidak mengenal junjungan kalian? Bedebah kamu semua, kurang ajar, lepaskan tanganku!"
Suminten menjerit dan memaki.
Dua puluh orang laki-laki kasar itu terbelalak, lalu tertawa bergelak dan menganggap lucu sikap wanita dusun yang amat cantik jelita ini.
Biarpun kulitnya tetap agak hitam seperti kulit wanita petani, namun halus bukan main.
"Duhai puteri jelita, mohon beribu ampun kalau hamba sekalian ,tidak mengenal siapa gerangan paduka puteri ini.Sudilah kiranya paduka puteri berkenan memperkenalkan diri agar hamba sekalian dapat memberi hormat sebagaimana layaknya,"
Demikian berkata seorang di antar mereka dengan suara dan sikap dibuat-buat sehingga semua temannya tertawa geli dan juga berpura-pura dengan sembah hormat sambil cekikikan seperti sekumpulan anak-anak nakal.
"Oohhh, kalian ini bukankah para perajurit Jenggala? Apakah benar kalian tidak mengenal aku ataukah sudah buta matamu? Aku adalah junjunganmu, selir kinasih (tersayang) sang prabu, Suminten."
Kembali dua puluh orang itu tertawa bergelak.
Suminten?
Baru pakaiannya saja pakaian sederhana, pakaian.
wanita dusun, wanita petani, mengaku sebagai Suminten?
"Wah, jadi paduka ini Gusti Puteri Suminten?
Kalau begitu kebetulan sekali, karena Gusti Puteri terkenal paling doyan pria-pria muda dan kuat.
Kebetulan kami dua puluh orang adalah pria-pria yang kuat, ha-ha-ha!"
Kembali mereka berebut maju, berlomba dulu untuk memeluk dan menggerayang tubuh yang padat itu.
Suminten menjerit-jerit, kemaki-maki, meronta-ronta, akan tetapi apakah dayanya menghadapi dua puluh orang laki--laki yang kasar?
Akhirnya ia menjerit-jerit dan menangis, namun apapun yang dilakukan malah seakan-akan menambah gairah dua puluh orang pria yang memperkosanya berganti-ganti itu.
Sampai malam tiba barulah mereka melepaskan Suminten yang menggeletak pingsan di pinggir hutan, meninggalkan perempuan ini sambil tertawa-tawa puas dan memuji-muji.
Kemudian mereka melanjutkan perjalanan untuk mengacau kampung-kampung, mencari rampasan-rampasan baru, mencari calon korban mereka, wanita-wanita baru.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Suminten merangkak sambil merintih-rintih, pakaiannya robek-robek, pakaian yang direnggutkan secara kasar oleh banyak tangan, yang terpaksa dipakainya untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bulat, untuk menahan serangan hawa dingin pagi itu.
Kemudian, setelah merangkak seperti seekor anjing sakit untuk beberapa lamanya, kadang-kadang jatuh dan menangis, akhirnya ia dapat bangkit berdiri, berjalan terhuyung-huyung.
Tiba-tiba ia berhenti, menengadah dan tertawa kecicikan, kemudian menangis lagi, tertawa lagi.
Menjelang tengah hari ia bertemu dengan dua orang pemburu di dalam hutan, dua orang pemburu yang lebih pantas disebut orang hutan daripada manusia, liar dan kasar karena lebih sering berada di hutan memburu binatang dari pada hidup di masyarakat ramai.
"Hi-hik, ke sinilah, wong bagus! Ke sinilah kalian berdua! Lihat, apakah tubuhku tidak denok dan montok? Apakah rambutku tidak hitam panjang dan halus? Wajahku cantik dan tubuhnya hangat! Ke sinilah kalian !"
Sejenak dua orang pria itu saling pandang, akan tetapi kemudian mereka terbelalak memandang ketika Suminten menanggalkan pakaiannya yang compang-camping, memperlihatkan tubuh yang benar-benar mempesonakan dua orang pemburu itu.
Sungguh, selama hidup mereka, belum pernah mereka menyaksikan bentuk tubuh seindah ini!
Dan wajah itu, biarpun agak kotor dan rambutnya kusut, namun harus mereka akui cantik manis dan rambutnya benar-benar hitam panjang dan berombak.
Setankah wanita itu?
Siluman yang menggoda mereka?
Peri?
Andaikata mereka tidak berdua, tentu seorang din saja mereka akan lari saking ngeri.
Akan tetapi karena mereka berdua, mereka kini malah menghampiri dan begitu tangan mereka menyentuh lengan Suminten dan mendapat kenyataan bahwa si cantik itu benar-benar seorang manusia, keduanya lalu berebut untuk mendapatkan wanita menggairahkan ini lebih dulu!
Suminten menyambut mereka dengan pelukan mesra dan tertawa terkekeh-kekeh.
Beberapa hari kemudian, setiap orang pria yang berjumpa dengan Suminten tentu lari dan dikejar-kejarnya sambil tertawa-tawa dan mengeluarkan kata-kata merayu, menawarkan tubuhnya.
Akan tetapi setiap orang laki-laki yang melihatnya menjadi amat jijik dan melarikan diri.
Siapa orangnya sudi berdekatan dengan seorang wanita yang kurus kotor, bermuka pucat dan jelas miring otaknya?
Akhirnya, tidak sampai sebulan kemudian, orang mendapatkan tubuh Suminten yang telanjang bulat dan kurus kering menggetak mati di dekat sungai, agaknya kelaparan atau kedinginan.
Suminten, bekas selir terkasih, bahkan bekas orang yang paling berkuasa di Jenggala, mati sebagai seorang pengemis gila yang tak dikenal orang, dan dikuburkan orang hanya karena orang lain tidak mau terganggu mayat membusuk, tidak ada yang berkabung untuknya, tidak ada yang menangisi kematiannya, bahkan tidak ada yang mengenal siapakah wanita terlantar yang mati itu.
Sungguh akhir hidup yang menyedihkan.
Menyedihkankah?
Tentu saja menyedihkan diukur pendapat manusia umumnya.
Benarkah pendapat ini?
Belum tentu benar, akan tetapi juga belum tentu benar pendapat umum bahwa ketika menjadi orang yang paling berkuasa di Jenggala, Suminten menikmati kehidupan yang bahagia!
Suka atau duka, menyenangkan atau menyedihkan, hanyalah merupakan hasil pendapat dari pandangan orang lain!
Bulan ini menjadi orang yang paling berkuasa di Jenggala, bulan berikutnya mati seperti seekor anjing kelaparan di pinggir sungai.
Inilah keadaan Suminten.
Demikian pula dengan keadaan hidup manusia ini.
Hari ini tertawa, esok menangis atau sebaliknya.
Hari ini berhasil dan menang, esok bisa saja gagal dan kalah.
Memang isi daripada hidup hanya satu di antara dua yang selalu berselingan, yang sudah semestinya begitu, seperti kemestian bahwa yang hidup menghadapi mati.
Tak dapat diubah lagi.
Karena itu, manusia yang sadar selalu ingat akan dua kata-kata yang berbunyi.
"Ojo dumeh"
Yang artinya manusia tidak boleh tekebur, tidak boleh sombong, tidak boleh mengandalkan kekayaan, kedudukan dan kekuasaan karena semua itu hanyalah sekedar "barang pinjaman"
Belaka.
Kesemuanya itu, kalau Tuhan menghendaki, dapat lenyap meninggalkan manusia atau ditinggalkan manusia.
Orang yang sadar akan menganggap kesemuanya itu hanya sebagai suatu anugerah yang patut dinikmati namun yang sama sekali bukan merupakan tujuan hidupnya, dan sekali-kali tidak boleh menguasai dan memperhamba batinnya.
Orang yang mabuk akan kemenangan, akan menjadi amat sengsara hatinya kalau sekali waktu dikalahkan.
Orang yang terlalu menyayang akan keduniawian yang didapatnya, akan sengsara hatinya kalau kehilangan semua itu.
Sebaliknya, orang yang mendendam kekalahan akan menjadi mata gelap dan tersiksa oleh dendamnya sendiri.
Berbahagialah dia yang dapat tersenyum di kala kehilangan, dan bersahaja di kala mendapatkan hasil baik, tidak iri hati kepada yang di atas selagi dia berada di bawah, juga tidak menghina kepada yang di bawah selagi dia berada di atas.
Suminten adalah orang yang selalu mengejar kesenangan, oleh karena itu, mengherankankah kalau dia bertemu dengan kesusahan?
Kesenangan dan kesusahan tak terpisahkan, ada senang tentu ada susah, mencari senang berarti mencari susah.
Orang yang diperhamba oleh nafsu akan kesenangan takkan dapat menikmati kesenangan, karena dia selalu haus dan takkan dapat terpuaskan sehingga akhirnya ia akan tersiksa oleh kehausan akan kesenangan, dan menjadi mata gelap, tidak segan-segan melakukan perbuatan kejam terhadap manusia lain yang bagaimanapun demi untuk mengejar dan mendapatkan cita-cita yang dianggapnya menjadi sumber kesenangan hidupnya.
Sama sekali tidak tahu atau sadar bahwa yang dikejar-kejar itu kosong melompong, bagaikan mengejar bayangan sendiri, makin dikejar makin menjauh, dikata jauh tak pernah terpisah dari tubuh sendiri!
Betapa patut dikasihani manusia seperti Suminten ini!
Retna Wills berseru girang sekali ketika ia melihat bintang yang setiap malam dipandangnya itu melayang jatuh menjadi sinar yang panjang.
Itulah tanda bagi dia untuk diperbolehkan meninggalkan pantai yang sunyi ini seperti yang dipesankan gurunya, Nini Bumigarba yang telah lenyap bersama Bhagawan Ekadenta di Laut Selatan.
Setelah merasa yakin bahwa bintang yang dimaksudkan gurunya itu betul-betul telah runtuh dan tidak tampak lagi di angkasa, Retna Wills lalu melangkah perlahan menuju tepi laut.
Sampai lama ia memandang ke arah laut, seolah-olah ia hendak minta doa restu gurunya.
Ia termenung seperti telah berubah menjadi arca dewi menjaga pantai dan barn sadar ketika ada Benda berat menindih kakinya.
Ia menunduk dan melihat seekor kura-kura besar di depan kakinya.
Kiranya kura-kura yang pernah membantunya mengambil pedang pusaka Sapudenta itulah yang tadi mendekam di kakinya.
"Eh, Kukura yang baik, malam ini adalah malam terakhir aku berada di sini. Bawalah aku berjalan di sepanjang pantai, Kukura."
Retna Wilis lalu duduk di atas punggung kura-kura raksasa itu dan dengan mendorong-dorong leher binatang itu, ia dapat mengendarai binatang Itu berjalan-jalan bersama Kukura menikmati angin laut dan pemandangan indah ombak-ombak laut ditimpa sinar bulan yang keemasan.
Ketika matahari muncul kemerahan di permukaan laut sebelah timur, barulah Retna Wilis menyuruh pergi yang kembali ke laut, kemudian ia pun mandi sampai puas dan berganti pakaiannya yang serba hijau.
Rambutnya yang hitam panjang ia gelung sebagian di atas kepala dan membiarkan sisa rambut itu terurai ke belakang.
Pakaiannya ringkas dan ketat, pedangnya ia ikat di belakang punggung, wajahnya berseri dan segar ketika akhirnya gadis remaja ini meninggalkan pantai dan berjalan ke utara.
Ia hanya ingat bahwa letak Gunung Wilis adalah di barat, dan bahwa untuk menuju ke Gunung Wilis ia hams meninggalkan pantai itu menuju ke utara, kemudian ia akan membelok ke barat.
Apakah ibunya masih berada di puncak Wilis?
Apakah Padepokan Wilis masih berdiri dan ibunya masih menjadi pernimpin Padepokan Wilis?
Dia teringat akan nasehat gurunya.
"Kelak engkau harus menjadi puteri yang menguasai seluruh jagad. Dengan demikian, tidak percuma engkau berpayah-payah belajar di sini dan tidak percuma menjadi murid Nini Bumigarba. Engkau pergilah ke Wilis, himpun kekuatan barisanmu dari Wilis dan kemudian taklukkan semua kerajaan sampai bertekuk di depan kakimu. Ajaklah ibumu, akan tetapi kalau Endang Patibroto menghalangi cita-citamu, tantanglah dia! Biar ibu sendiri kalau menghalangi cita-citamu, tak perlu ditaati, karena engkau adalah seorang puteri yang paling sakti di dunia ini, bukan seorang kanak-kanak yang harus menurut apa Baja yang dikatakan ibumu!"
Di dalam sudut hatinya, Retna Wilis tidak setuju kalau dia harus menentang ibunya, namun sanjungan-sanjungan gurunya menghidupkan sebuah tekad di hatinya, yaitu bahwa dia harus menguasai jagad sebagai seorang Ratu yang tiada bandingnya!
Kalau ibunya menentang, hemm....
bagaimana nanti sajalah.
la sudah mendengar dari ibunya betapa ayahnya adalah Adipati Tejolaksono dan betapa ibunya terpaksa meninggalkan ayahnya itu karena ibunya hanyalah seorang selir!
Ibunya hidup merana, mengasingkan diri di Wilis.
Karena itu, ia akan mengangkat derajat ibunya, akan membuka mata ayahnya yang bernama Adipati Tejolaksono itu bahwa ibunya bukan seorang wanita sembarangan, melainkan seorang wanita yang menjadi ibu Ratu Dunia!
Ayahnya dan isteri ayahnya itu kelak akan ia taklukkan dan ia paksa untuk bertekuk lutut di depan ibunya, untuk minta ampun!
Dengan semangat menyala-nyala dan wajah berseri penuh keyakinan bahwa semua cita-citanya pasti akan berhasil, Retna Wilis melakukan perjalanan cepat ke utara.
Akan tetapi sebagai seorang yang bertahun-tahun hidup di pantai, kini di sepanjang memasuki hutan-hutan dan melihat buah-buahan, Retna Wilis yang sesungguhnya hanyalah seorang gadis remaja itu seringkali berhenti memetik buah-buah dan kembang-kembang!
Ketika Retna Wilis sedang duduk di bawah pohon dan dengan nikmatnya makan buah semangka yang dipetiknya di jalan tadi, tiba-tiba ia mengerutkan keningnya dan menghentikan sebentar gerakannya makan semangka.
Akan tetapi ia segera melanjutkan menggerogoti semangka yang merah dan manis itu, tidak peduli akan bayangan banyak orang yang sedang memasuki hutan itu dan menuju ke tempat ia duduk.
Rombongan orang itu terdiri dari tiga puluh orang lebih laki-laki yang kasar dan memegang bermacam senjata tajam.
Mereka berjalan sambil berkelakar dengan suara kasar dan yang mereka bicarakan adalah pengalaman-pengalaman mereka di sepanjang perjalanan melarikan din dari Jenggala, pengalaman membakar rumah penduduk, merampok dan terutama sekali tentang wanita-wanita yang mereka perkosa.
"Ha-ha-ha, lebih senang begini, kawan-kawan!"
Terdengar suara yang parau dan paling kasar di antara yang lainnya.
"Dahulu yang manis-manis dihabiskan oleh para pangeran sendiri, dan para perwira. Kini kita bebas dan setiap menginginkan wanita tinggal ambil saja, ha-ha-ha!"
"Benar! Selama menjadi perajurit di Jenggala aim tidak pernah mendapat kesempatan menikmati wanita seperti malam tadi, ha-ha-ha!"
Mendengar ini, bangkit perhatian Retna Wilis.
Hemm, jadi mereka ini perajurit-perajurit Jenggala yang melarikan diri!
Dia membutuhkan anak buah dan mereka ini baik sekali dijadikan anak buah ibunya di Wilis.
Akan tetapi ia melanjutkan menghabiskan semangka di tangannya.
"Wahhhh... peri kahyangan..!!"
Seketika suara ribut-ribut tadi berhenti dan tiga puluh orang laki-laki itu mengurung Retna Wilis dengan mata terbelalak kagum dan mulut mengilar seperti macan-macan kelaparan melihat seekor domba gemuk.
Retna Wilis hanya melirik sebentar, terus menghabiskan semangkanya.
Kemudian sambil memegang kulit semangka ia berdiri dan kembali terdengar seruan "wah-wah-wah!"
Saking kagum mereka. Setelah gadis itu berdiri, bukan hanya wajah cantik itu yang mereka kagumi, melainkan juga bentuk tubuh yang ramping padat dan denok.
"Kalian ini perajurit-perajurit pelarian dari Jenggala? Apakah mereka yang berkuasa di Jenggala benar sudah hancur dan kalian kehilangan pekerjaan? Kalau kalian mau, mulai saat ini boleh kalian menghambakan diri kepadaku dan kelak kalian akan dapat menjadi perajurit-perajurit dari kerajaan terbesar di seluruh dunia!"
Sejenak tiga puluh orang laki-laki kasar itu tercengang, kemudian saling pandang dan meledaklah suara ketawa mereka.
Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar, usianya kurang lebih tiga puluh tahun, wajahnya tampan juga dan dia terkenal paling jagoan di antara teman-temannya, juga paling ganas menghadapi wanita di sepanjang jalan pelarian mereka yang mereka ganggu, melangkah maju dan memandang Retna Wilis penuh perhatian, dengan sepasang mata berkilat penuh nafsu dan mulut menyeringai.
"Eh-eh, engkau ini perawan dari mana bicara begini besar?"
Retna Wilis tidak marah, bahkan tersenyum.
"Aku adalah Perawan Lembah Wilis, atau calon ratu yang akan menundukkan seluruh kerajaan di Nusa Jawa, termasuk Jenggala dan Panjalu!"
Kembali mereka tertegun dan kembali meledaklah suara ketawa mereka. Jagoan yang bertanya tadi lalu berkata.
"Waduh, denok. Apakah otakmu miring? Sayang kalau miring, engkau begini cantik manis dan denok. Mari kuobati penyakitmu, ditanggung engkau akan sembuh dari penyakit gilamu. Marilah manis!"
Setelah berkata demikian, laki-laki itu mengulur tangan kirinya ke arah dada Retna Wilis sedangkan tangan kanannya hendak merangkul leher.
Akan tetapi Retna Wilis melangkah mundur, memandang dengan muka merah dan alisnya mulai berkerut.
"Hemm, apakah kalian ini sudah bosan hidup? Lekas berlutut minta ampun dan menyatakan takluk, atau hemm, kubunuh kalian semua!"
"Aduh-aduh, hebat sekali kesombonganmu, cah manis! Biarlah, aku memilih mati, mati dalam pelukanmu, ha-ha-ha!"
Jagoan itu mengejek lagi dan semua kawannya tertawa-tawa.
"Kardi, lekas bereskan dia, setelah engkau baru aku! Ah, sudah gemas aku ingin menggigit bibirnya yang kenes itu!"
Teriak seorang laki-laki yang berkumis tebal, sekepal sebelah sambil mengelus kumisnya dan lidahnya menjilat-jilat bibir seperti orang yang kehausan melihat semangka.
Jagoan yang bernama Kardi itu tertawa, kini meloncat ke depan menubruk Retna Wilis.
Gadis ini marah sekali, marah yang timbul dari kekecewaan mengapa orang-orang ini tidak mau mentaati perintahnya.
Tangan kirinya yang memegang kulit semangka itu menyambar ke depan.
"Pratttt!!!"
Kardi menjerit dan roboh bergulingan, mengaduh-aduh berusaha melepas kulit semangka yang melekat di pipinya.
Akan tetapi begitu ditarik, darahnya menyemprot keluar dan ia menjerit-jerit kesakitan.
Ternyata kulit semangka itu telah menghancurkan kulit dan menempel pada tulang rahangnya menggantikan kulitnya sehingga kalau dibeset sama halnya dengan mengupas kulit mukanya.
Saking nyerinya, Kardi roboh dan mengerang kesakitan.
Sejenak kawannya laki-laki kasar itu terkejut dan tercengang.
Akan tetapi kemarahan mereka bangkit dan dua orang, satu di antaranya adalah si jenggot tebal tadi, sudah menubruk maju dengan kedua tangan terpentang untuk menangkap perawan yang mereka anggap selain cantik manis denok juga sombong dan galak itu.
Ingin mereka merobek-robek pakaian garis itu dan beramai-ramai melahapnya seperti sekumpulan serigala kelaparan melahap dan merobek-robek daging seekor domba muda.
"Plak-plak!!"
Kembali tangan kin Retna Wilis bergerak tanpa ia menggerakkan kedua kakinya yang masih terpentang dengan tubuh tegak.
Karena sekali ini yang menyambut dada dan kepala kedua orang itu bukan kulit semangka melainkan jari tangannya, si kumis tebal roboh dengan tulang dada patah-patah sedangkan kawannya roboh dengan kepala pecah dan otaknya muncrat bersama darah.
Keduanya tewas seketika dengan mata mendelik dan dalam keadaan yang mengerikan sekali.
"Hayoh, siapa lagi yang bosan hidup?"
Retna Wills membentak,sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi, kedua tangannya bertolak pinggang dan ia berdiri tegak, sikapnya gagah dan garang sekali.
Akan tetapi sekumpulan perajurit Jenggala itu adalah orang-orang kasar yang tidak dapat mengenal orang sakti.
Melihat tiga orang kawan mereka roboh, mereka menjadi marah sekali.
Kesempatan itu dipergunakan oleh empat orang anggauta gerombolan yang berdiri terdekat di belakang Retna Wills untuk menggerakkan golok mereka menyerbu dari belakang, membacokkan senjata mereka ke arah tubuh belakang dan kepala Retna Wilis.
"Syuuuutttt...plak-plak-plak-plakk!!"
Tubuh Retna Wilis diputar membalik, kedua tangannya dengan jari terbuka menyambar empat kali.
Empat batang golok lawan terbang disusul robohnya tubuh mereka yang tak mungkin dapat bangun kembali karena sekali tampar saja cukup bagi Retna Wilis untuk membuat kepala mereka retak dan dada mereka pecah!
Robohnya empat orang ini seolah-olah merupakan tanda bagi semua laki-laki di situ untuk menerjang maju.
Retna Wilis mengeluarkan seruan marah dan kecewa, akan tetapi ia tidak pernah menggeser kedua kakinya, hanya tubuh atasnya saja berputar ke sana ke mari dan kedua tangannya membagi-bagi tamparan maut.
Tidak ada yang harus dipukul dua kali karena sekali tampar saja nyawa mereka dipaksa meninggalkan raga.
Bagaikan sekumpulan laron menerjang api, Para bekas perajurit Jenggala itu menyerbu untuk mati.
Setelah lebih dari setengah jumlah mereka roboh binasa, barulah sisanya seperti terbuka mata mereka, dan serta merta mereka menjatuhkan din berlutut, melempar golok dan menyembah minta ampun.
Retna Wilis berdiri di tengah-tengah tumpukan mayat yang berserakan, wajahnya berseri, mulutnya tersenyum puas, kedua tangan di pinggang.
ia mengugguk-angguk.
"Bagus, baru kalian mengenal kesaktian Perawan Lembah Wilis, ya? Mulai sekarang, kalian menjadi anak buahku, calon anak buah Kerajaan Wilis dan kalian hams menyebut aku Gusti Puteri Retna Wilis. Sekarang kalian ikuti aku ke Gunung Wilis, tidak melakukan sesuatu tanpa ijinku. Siapa membantah?"
Tidak ada yang berani membantah, hanya ada seorang di antara mereka yang agak tua memandang mayat-mayat itu dan bertanya dengan suara gemetar.
"Maaf, Gusti Puteri. Bagaimana dengan mayat-mayat ini.! "
"Bagaimana lagi? Tinggalkan saja. Mereka menjadi bagian binatang-binatang hutan. Hayo berangkat!"
Lima belas orang bekas perajurit Jenggala itu bangkit berdiri dan memanang junjungan barn itu dengan penuh kagum dan rasa takut.
Tahulah mereka, bahwa wanita muda, gadis remaja ini dalah seorang yang selain sakti mandrauna, juga memiliki kekerasan hati yang menggiriskan.
Baca Juga: Suling Emas 7
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 26