Eps 12 Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo
Baca online Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo
Cersil Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo.
Retna Wilis dahulu seringkali mendapat nasehat-nasehat gurunya tentang memimpin anak buah.
Maka lcini pun, biar dia sendiri dapat menahan tidak makan minum sampai berhari-hari, dia memperhatikan keperluan anak buahnya dan membolehkan mereka itu mengambil hasil-hasil sawah di luar dusun-dusun untuk dimakan.
AKAN tetapi ia sama sekali melarang mereka mengganggu pedusunan.
"Semua rakyat adalah calon rakyatku, mulai sekarang mereka harus diberi pengertian bahwa di Wilis terdapat Kerajaan Wilis yang jaya dan yang membutuhkan bantuan-bantuan rakyat sebagai pasukan--pasukan Wilis."
Dua hari kemudian, setelah mereka tiba di kaki Gunung Wilis, rombongan lima belas orang yang dipimpin Retna Wilis ini bertemu dengan perajurit pelarian lain dari Jenggala yang berjumlah lima puluhan orang, dikepalai oleh seorang bekas perwira yang ikut melarikan diri.
Perwira ini bertubuh tinggi besar, dan sepasang matanya amat menakutkan, lebar dan agalcnya tak pernah berkedip, melotot terns seperti mata orang yang selalu marah.
"Heh, kalian juga berkeliaran sampai di sini?"
Laki-laki bermata lebar itu menegur bekas anak buahnya.
"Dan kalian mendapatkan seorang dara begin hebat? Berikan kepadaku dan kalian lebih baik menggabung dengan pasukanku, kami hendak menyerbu Wilis dan menduduki puncak itu untuk menjadi markas kita."
Mata yang melotot itu memandang Retna Wilis penuh gairah.
"Eh........ ahh....... Kakang Barun....... jangan bicara begitu. beliau ini adalah junjungan dan pemimpin kami....... Gusti Puteri Retna Wilis. Lebih baik Andika semua menyerah dan menjadi anak buah Wilis, menyembah pemimpin kami yang sakti mandraguna ini."
"Huah-ha-ha-ha! Apakah kalian sudah gila semua? Aku menyembah dara ini? Heh-heh, minggirlah biar kutangkap dia dan menjadi kekasihku!"
Barun sudah melangkah maju akan tetapi Retna Wilis membentak.
"Berhenti!!"
Bentakan dara ini mengandung wibawa mujijat sehingga Barun tersentak kaget, tidak dapat melangkah maju lagi.
Akan tetapi dasar dia seorang yang telah menganggap diri sendiri amat digdaya, hanya sebentar is terkejut dan tertawa lagi.
"Ha-ha, engkau sungguh denok akan tetapi galak. Aku senang akan dara yang penuh semangat sepertimu, manis. Namamu Retna Wilis? Aduh, terhadap aku jangan galak, bocah ayu."
"Barun dan semua anak buahmu, lekas kalian berlutut menyembah aku. Akulah calon ratu di Wilis dan calon ratu kerajaan besar yang menaklukkan seluruh kerajaan! Menyembahlah sebelum terlambat, karena sekali aku bergerak, engkau dan teman-temanmu yang melawanku akan mampus!"
Sambil berkata demikian, ibu jari kaki Retna Wills mencokel tanah dan segumpal tanah campur pasir melayang ke atas, disambarnya dengan tangan kanan.
Akan tetapi Barun menoleh ke belakang, memandang kawan-kawannya dan tertawalah lelaki ini bergelak-gelak.
Teman-temannya juga karena selama hidup mereka sekali ini melihat dan mendengar seorang gadis remaja mengeluarkan ancaman seperti itu.
"Huah-ha-ha-heh-heh, engkau sungguh lucu sekali! Hayo, kawan-kawan, kita maju dan melihat apa yang akan dilakukan dara jelita ini!"
Sesungguhnya, biarpun hatinya tidak percaya dan tidak takut akan ancaman Retna Wilis, namun bertemu pandang dengan dara itu mendatangkan sesuatu yang menyeramkan hatinya, maka Barun mengajak teman-temannya maju bersama.
Ada tujuh orang yang dengan penuh gairah meloncat maju mendampingi Barun, siap untuk menangkap dara yang cantik itu.
Delapan orang itu lalu menghampiri Retna Wilis dengan muka menyeringai.
"Heh-heh-heh, hayo engkau akan dapat berbuat apa, bocah kewek?"
Barun mengejek, hatinya besar karena ada tujuh orang yang pembantunya mendampinginya.
Jarak antara delapan orang itu dengan Retna Wilis masih ada empat meter, dan Retna Wills yang ingin mendapatkan anak buah sebanyaknya itu membentak lagi.
"Berlututlah sebelum terlambat!"
Namun, tentu saja delapan orang laiki-laki tinggi besar itu tidak suka mentaati perintah ini dan mereka tetap melangkah maju.
"Mampuslah kalau begitu!"
Retna Wilis mengayun tangannya dan sinar hitam ke arah delapan orang itu.
Itulah tanah pasir yang dicongkel ibu jari kakinya tadi dan biarpun hanya pasir dan tanah biasa, namun berada di tangan Retna Wilis berubahlah menjadi senjata yang amat dahsyat mengerikan karena dia mempergunakan Aji Pasir Sakti!
Begitu sinar-sinar hitam itu menyambar, delapan orang itu menjerit-jerit dan roboh bergulingan,berkelojotan seperti cacing-cacing terkena abu papas karena muka mereka telah ditembusi pasir-pasir halus itu sampai masuk ke dalam otak!
Sisa anak buah Barun terbelalak dan pucat sekali.
Barulah mereka kini percaya bahwa gadis remaja ini amatlah sakti.
Seketika kecut dan takutlah hati mereka dan cepa t-cepat mereka menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah minta ampun.
Retna Wilis tersenyum, senyum dingin yang menyeramkan, kemudian berkata.
"Akulah Gusti Puteri Retna Wilis, Perawan Lembah Wilis yang tidak suka dibantah. Siapa lagi yang sudah bosan hidup?"
Kini semua orang, termasuk lima belas orang pengikutnya tadi, berlutut semua dan tidak berani berkutik.
Baru sekali ini selama hidup mereka, orang-orang kasar ini benar-benar kagum, tunduk dan takut, juga merasa bangga bahwa mereka dapat menghambakan diri kepada seorang yang sesakti ini.
Dengan seorang pemimpin seperti dara ini, mereka percaya akan dapat menaklukkan seluruh kerajaan.
Beramai-ramai mereka menyembah.
"Hamba sekalian taat akan segala perintah Gusti Puteri!"
Demikian mereka berkata.
Dari tempat ,yang agak jauh, ada seorang laki-laki yang bersembunyi di atas pohon dan menyaksikan semua peristiwa ia memandang dengan rata terbelalak, dan melihat sepak teijang Retna Wills ketika membunuh delapan orang itu, ia bergidik dan menggumam.
"Hebat....... hebat......., selama hidupku barn sekali ini menyaksikan seorang dara remaja sehebat itu....... Ah,kiranya Endang Patibroto sendiri tidaklah sehebat itu kepandaiannya. Barun memiliki kesaktian lumayan, akan tetapi dengan tujuh orang kawannya terbunuh hanya oleh sambitan tanah pasir!"
Laki-laki ini diam-diam menjadi kagum sekali dan juga jerih, padahal dia bukanlah seorang laki-laki biasa.
Sama sekali bukan.
Dia adalah seorang yang memiliki kedigdayaan, bahkan dapat disebut seorang yang sakti mandraguna karena dia ini bukan lain adalah bekas patih Jenggala, Ki Patih Warutama yang dahulu bernama Raden Sindupati!
"Ah, tidak salah.
Tentu dia ini yang dahulu diambil murid Nini Bumigarba!
Dan dia adalah puteri Endang Patibroto!"
Sindupati, sebaiknya kini kita menyebutnya Sindupati karena nama Warutama dahulu pun hanya nama samarannya saja, menarik napas panjang.
Dia tidak berani memperlihatkan diri karena biarpun gadis itu murid Nini Bumigarba, akan tetapi karena puteri Endang Ptibroto, dia tidak tahu bagaimana sikap gadis itu kalau melihatnya.
Akan tetapi, apakah gadis itu tahu kalau dia musuh Endang Patibroto?
Ia memperkosa Endang Patibroto dan ia tidak percaya bahwa Endang Patibroto mau menceritakan aib yang dideritanya itu kepada orang lain, kepada puterinya sekalipun!
Betapapun juga, dia harus berhati-hati dan tidak berani memperlihatkan diri.
Setelah Retna Wills mengajak anak buahnya pergi mendaki Gunung Wilis, Sindupati hanya mengikuti mereka dari jarak yang jauh dan cukup aman.
Pria yang cerdik ini segera mencari akal dan karena Retna Wilis yang membawa pasukan itu melakukan perjalanan lambat, ia mengerahkan kesaktiannya dan lari mendahului rombongan itu untuk mendaki puncak Wills.
Mudah saja bagi Sindupati untuk mencari keterangan dan betapa girang hatinya bahwa Endang Patibroto kini tidak berada lagi di Wilis.
Tadinya ketika ia melihat munculnya Endang Patibroto di Kota Raja Jenggala, ia mengira wanita itu masih memimpin Pondok Wilis.
Akan tetapi setelah menyelidiki di puncak Wilis, ia mendapatkan berita yang amat menggirangkan hatinya, yaitu bahwa Wilis telah lama ditinggalkan wanita yang ditakutinya itu dan kini bahkan telah dipimpin oleh seorang "raja"
Baru, yang telah menaklukkan ketiga orang tokoh Wilis yang dulu menjadi pembatu-pembantu utama Endang Patibroto, yaitu Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis. Kepala atau "raja"
Barn ini adalah seorang manusia bertubuh raksasa yang bernama Ki Walangkoro, yang kabarnya amat digdaya dan ditakuti semua anak buah Wilis.
Kalau dulu di bawah pimpinan Endang Patibroto di situ berdiri Padepokan Wilis dan para anak buahnya disebut satria-satria Wilis, kini keadaan mereka berubah sama sekali dan kembali mereka menjadi Gerombolan Wilis yang ditakuti penduduk di sekitar Gunung Wilis.
Mendengar berita ini, Sindupati cepat membuat per siapan-persiapan.
Demikianlah, ketika Retna Wilis dan lima puluh orang lebih anak buahnya mendaki sampai di lereng Wilis, tiba--tiba perjalanan mereka dihadang oleh seorang pria yang tampan dan gagah dan biarpun usianya sudah lima puluh tahun, namun masih tampan ganteng dan menarik.
Baik bentuk rambutnya, tarikan mukanya, dan pakaiannya, semua tidak ada bekas-bekasnya bahwa pria ini adalah bekas patih di Jenggala!
Kini Sindupati telah berubah menjadi seorang yang sikapnya seperti seorang pertapa, halus gerak-geriknya, tenang pandang matanya.
Bahkan lima puluhan orang pengikut Retna Wilis itu tidak ada yang mengenahiya, ketika pria itu berdiri menghadang dengan sikap tenang.
Melihat keadaan dan sikap pria ini, Retna Wilis yang dapat mengenal orang pandai, melarang anak buahnya turun tangan dan dia sendiri yang melangkah, maju paling depan, memandang pria itu penuh perhatian lalu berkata.
"Siapakah Andika dan ada keperluan apakah Andika menghadang perjalanan kami?"
Sindupati mengambil sikap seperti orang tercengang dan keheranan, lalu berkata, suaranya halus.
"Duhai puteri remaja yang mempunyai wibawa dan sinar kesaktian, adakah andika yang memimpin rombongan orang-orang gagah ini?"
Senang hati Retno Wilis mendengar ucapan yang halus dan penuh hormat ini. ia memandang dengan penuh perhatian, kemudian menjawab.
"Sungguh tepat ucapan Paman yang awas paningal. Saya Puteri Retna Wilis yang memimpin pasukan ini, hendak menghadap Ibunda Endang Patibroto yang menjadi ketua Padepokan Wilis. Siapakah andika, Paman?"
Mendengar ini Sindupati cepat membungkuk dan menyembah dengan hormat.
"Duh Sang Puteri, kiranya paduka adalah puteri ketua Padepokan Wilis! Pantas saja menyinarkan cahaya cemerlang, cahaya kesaktian yang menakjubkan. Saya bernama Adiwijaya, seorang pertapa biasa yang bertapa di Pagunungan Seribu. Telah beberapa pekan saya datang ke Wilis dengan maksud mengunjungi Padepokan Wills yang amat terkenal, untuk menghaturkan sembah hormat kepada ketua Wilis yang saki mandraguna dan bijaksana, serta menawarkan bantuan tenaga saya yang tidak seberapa ini untuk perikemanusiaan. Siapa kira, sampai di sini saya merasa kecewa sekali karena tidak dapat berjumpa dengan ibunda yang mulia, bahkan menyaksikan kenyataan yang amat tidak menyenangkan hati."
Retna Wilis mengerutkan alisnya.
"Ah Paman Adiwijaya, apakah yang teijadi? Ke manakah perginya ibuku dan Siapa kini yang berada di puncak?"
"Saya mendengar bahwa telah lama sekali ibunda meninggalkan Wilis dan semenjak itu, kekuasaan Padepokan Wills berada di tangan ketiga orang gagah Limanwilis dan dua orang adiknya."
"Ah, ketiga paman Wilis masih berada di puncak? Syukurlah!"
"Akan tetapi, Sang Puteri, ternyata keadaan tidaklah begitu menyenangkan seperti yang paduka kira. Kini puncak telah dikuasai oleh seorang ketua baru, dan Padepokan Wilis telah berubah menjadi Gerombolan Wilis!"
"Apa? Siapa yang berkuasa di sana?"
"Ketiga orang gagah Wilis telah ditundukkan oleh seorang tokoh jahat yang bernama Ki Walangkoro, seorang tokoh hitam yang kabarnya datang dari Madura."
"Apa? Si keparat!"
Retna Wilis menoleh ke belakang dan berkata kepada anak buahnya.
"Bersiaplah kalian membuktikan kesetiaan kalian kepadaku! Kita serbu puncak Wilis!"
"Hamba siap, Gusti Puteri!"
Teriakan-teriakan ini terdengar dari mulut para bekas perajurit Jenggala sehingga hati Sindupati yang kini berganti nama Adiwijaya menjadi makin kagum.
Puteri remaja ini benar-benar hebat, pikirnya.
Tidak saja memiliki kesaktian yang mengerikan, juga amat berwibawa.
"Saya pun siap membantu paduka, Gusti Puteri,"
Katanya hormat. Berseri wajah Retna Wilis.
"Bagus, Paman Adiwijaya. Aku girang sekali menerima bantuanmu, dan percayalah, engkau tidak akan rugi menghambakan diri kepadaku. Kelak aku akan menaklukkan seluruh kerajaan dan kalau andika memang benar setia dan berjasa, aku tidak akan melupakan bantuan-bantuanmu."
"Hamba dapat melihat seorang yang sakti dan pandai, Gusti Puteri, dan hamba akan mempertaruhkan jiwa raga hamba untuk membela Paduka."
"Bagus! Hayo kita mendaki terus!"
Sebagai jawaban ucapan Retna Wilis yang penuh semangat ini terdengarlah sorak sorai lima puluh orang anak buahnya itu dan tiba-tiba terdengar sorakan jawaban yang bergemuruh dari atas.
Retna Wilis mengangkat tangan mencegah anak buahnya bergerak maju dan sambil bertolak pinggang dara perkasa ini memandang ke depan.
Adiwijaya cepat menghampiri Retna Wilis dan berdiri di sebelah kanannya, juga memandang ke depan.
Pasukan yang turun dari atas puncak itu jumlahnya seratus orang lebih, dipimpin oleh seorang kakek tinggi besar seperti raksasa.
Sangat besar dan tinggi tubuh kakek ini sehingga tiga orang tokoh Wilis, yaitu Limanwilis dan dua orang adiknya yang termasuk orang-orang tinggi besar kelihatan kecil, hanya setinggi pundak kakek itu!
Rombongan ini bersorak gembira ketika melihat ada rombongan lain yang mereka anggap sebagai calon-calon korban yang tentu akan dapat dipreteli pakaian dan senjatanya, apalagi melihat ada seorang gadis remaja cantik sekali berada di antara mereka.
Akan tetapi tiba-tiba mereka itu berhenti ketika terdengar gadis remaja itu mengeluarkan suara yang amat nyaring dan membuat jantung mereka bergetar.
"Hai para satria Wilis! Beginikah kalian menyambut gusti puteri kalian? Paman Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis, apakah mata kalian sudah lamur sehingga tidak mengenal aku?"
Limanwilis dan kedua adiknya, juga para bekas anak buah Endang Patibroto, memandang dengan mata terbelalak.
Anak tetapi anak buah-anak buah baru yang tadinya merupakan anak buah Ki Walangkoro yang kini digabungkan dengan anak buah Wilis, tertawa bergelak.
"Waduh, perawan remaja yang genit dan galak!"
Adapun Ki Walangkoro yang juga memiliki kesaktian dan bermata awas, dapat mengenal sinar kesaktian memancar keluar dari wajah dara perkasa itu, menudingkan telunjuknya dan berkata, suaranya seperti geluduk di musim hujan.
"Heh, babo-babo, siapakah andika bocah kemarin sore yang bermulut benar?"
"Hemm, engkau tentu si Walangkoro yang mengacau di Wilis! Mau tahu siapa aku? Akulah Perawan Lembah Wilis, akulah Puteri Retna Wilis. Setelah ibuku Endang Patibroto meninggalkan Wilis, andika lancang berani mengacau di sini, ya? Agaknya engkau sudah bosan hidup, Walangkoro!"
Kini terdengar seruan-seruan kaget dan heran dari mulut Limanwilis dan kedua orang adiknya, juga dari anak buah Wilis.
Mereka teringat dan memandang gadis itu dengan mata terbelalak.
Anak perempuan yang dulu lenyap diculik nenek mengerikan itu kini telah pulang dan menjadi seorang dara remaja yang serupa benar dengan Endang Patibroto, sama cantik jelita dan sama gagah, bahkan jauh lebih galak dan berwibawa!
Akan tetapi karena mereka itu sudah merasa menyeleweng dan menghamba kepada pemimpin baru, dan karena kehidupan sebagai gerombolan lebih menyenangkan bagi mereka daripada hidup sebagai anggauta-anggauta padepokan yang berdisiplin dan tidak memungkinkan mereka mengumbar nafsu angkara murka, mereka diam saja dan hendak melihat dulu bagaimana sikap pemimpin mereka yang barn dan yang sudah mereka ketahui kesaktiannya itu.
"Babo-babo, si keparat!"
Ki Walangkoro memaki.
"Dahulu aku mencari Endang Patibroto untuk kutundukkan dan kuangkat menjadi permaisuriku, akan tetapi dia telah minggat. Kini muncul puterinya yang lebih jelita, lebih denok dan lebih muda. Retna Wilis, eman-eman engkau bocah ayu kalau berani menentang Ki Walangkoro! Lebih baik engkau menyerah, menjadi kekasihku, menjadi permaisuriku, sehingga engkau tetap akan disembah-sembah seluruh anak buah di Wilis. Menyerahlah, wong ayu!"
Ki Walangkoro bukanlah seorang pria yang mata keranjang, akan tetapi menyaksikan seorang dara yang begini denok dan jelita, gairahnya timbul dan ia hampir tidak kuat menahan gelora nafsunya, ingin terus memondong dara itu dan dibawa lari ke dalam kamarnya.
"Jahanam bermulut kotor!"
Tiba-tiba Adiwijaya meloncat maju, gerakannya trengginas dan sikapnya masih tenang, namun matanya menyorotkan kemarahan.
Sekali ini Adiwijaya benar-benar marah, bukan pura-pura atau hendak mencari muka kepada Retna Wilis.
Entah bagaimana, begitu bertemu dengan dara ini, hatinya benar--benar tunduk dan timbul rasa kagum, menyayang dan hormat, sehingga ia tidak suka mendengar orang lain memaki dan menghina gadis itu.
Ia lalu menoleh kepada Retna Wilis dan berkata dengan halus.
"Gusti Puteri, perkenankanlah hamba menghajar buto (raksasa) yang bermulut lancang dan kotor ini!"
Berseri wajah Retna Wilis.
"Paman Adiwijaya, dia memilild sedikit kepandaian, apakah andika mampu melawannya?"
"Gusti Puteri, untuk memukul seekor anjing korengan mengapa harus menggunakan tongkat besar? Sayang tangan Paduka yang akan menjadi kotor kalau menyentuh tubuhnya yang menjijikkan. Hamba akan mencobanya dan hamba rela mati membela Paduka."
Retna Wilis tersenyum. Sikap orang tua ini benar-benar menyenangkan hatinya.
"Jangan khawatir, Paman. Aku tidak akan membiarkan kadal buduk ini mencelakakan seorang pembantu sebaik Paman. Maju dan lawanlah!"
Adiwijaya lalu membalikkan tubuhnya lagi menghadapi Ki Walangkoro, dan dengan sikap tenang ia mencawatkan sarungnya ke belakang dan mengikatkan ujungnya kuat--kuat di pinggang.
Kemudian ia berkata lantang.
"Ki Walangkoro! Wilis adalah milik Gusti Endang Patibroto yang menjadi ketua Padepokan Wilis, akan tetapi engkau telah lancang merampasnya selagi ketuanya tidak ada. Kini Gusti Puteri Retna Wilis telah pulang dan kalau memang engkau tahu diri, sebaiknya engkau bertekuk lutut dan menakluk, bersama semua pengikutmu menghambakan diri kepada Gusti Puteri. Kalau engkau merasa kuat, cobalah engkau melawan aku. Adiwijaya siap menghadapimu membela kedaulatan Gusti Puteri Retna Wilis!"
Ki Walangkoro memandang Adiwijaya dengan tertawa mengejek dan memandang rendah.
"Namamu Adiwijaya, heh? Omonganmu sungguh menjemukan! Dilihat jumlahnya pengikut, pasukanku dua kali lebih banyak daripada pengikut Retna Wilis! Dilihat pemimpinnya, aku jauh lebih patut dan lebih gagah daripada engkau yang mengaku menjadi pembantunya. Adiwijaya, kulihat engkau lumayan juga, memiliki kesaktian. Apakah tidak lebih baik engkau menjadi pembantuku saja dan Retna Wilis menjadi isteriku? Dengan demikian, keadaan kita menjadi lebih kuat!"
"Si bedebah!"
Teriakan ini keluar dari mulut Retna Wills dan gadis ini saking marahnya sudah mengipatkan lengan lengannya ke arah Ki Walangkoro, dan anehnya tubuh raksasa yang tinggi besar itu terpelanting seolah-olah ditumbuk palu godam atau diseruduk banteng.
Padahal jarak antara dia dan gadis itu ada tiga meter dan dia terpelanting roboh hanya oleh angin kipatan tangan dara perkasa itu!
Kembali Adiwijaya kagum dan ngeri.
Dara itu benar-benar sakti mandraguna dan ia bergidik memikirkan betapa ngerinya kalau harus bertanding melawan gadis yang memiliki kesaktian tidak lumrah manusia ini!
Akan tetapi Ki Walangkoro adalah orang kasar.
Dia hanya terbelalak dan merasa heran mengapa dadanya seperti didorong angin badai yang dahsyat tadi.
Dia tidak mau mengerti bahkan menjadi marah karena malu.
Dengan suara menggereng seperti harimau terluka ia menubruk maju, maksudnya hendak mencengkeram Retna Wills akan tetapi ia disambut oleh pukulan tangan Adiwijaya ke arah dadanya.
"Desss!!"
Ki Walangkoro menangkis dan kedua lengan yang amat kuat bertemu, akibatnya tubuh Adiwijaya terlempar ke belakang sedangkan Ki Walangkoro terhuyung saja.
"Huah-ha-ha-ha! Adiwijaya, sedemikian saja kekuatanmu dan engkau berani menantang Ki Walangkoro?"
Raksasa itu terbahak dan anak buahnya juga tertawa-tawa girang karena dalam gerakan pertama ini jelas tampak bahwa pemimpin mereka lebih besar tenaganya.
Namun Retna Wills memandang tenang dan diam-diam ia merasa kagum dan senang terhadap pembantunya ini.
Dalam pertemuan tenaga tadi, ia pun maklum bahwa dalam hal tenaga kasar, Ki Walangkoro memang kuat, akan tetapi biarpun tubuh pembantunya mencelat ke belakang,bukan sekali-kali karena terpental, melainkan karena sengaja pembantunya itu menggunakan tenaga lawan untuk meloncat ke belakang sehingga mematahkan daya pukulan lawan.
Sebaliknya, Ki Walangkoro yang menerima pukulan itu dengan tangkisan yang didasari tenaga kasar, biarpun kelihatannya hanya terhuyung bahkan mengeluarkan ucapan mengejek, sebetulnya di dalam dada raksasa ini terasa sesak dan perutnya mual.
"Tertawalah, Ki Walangkoro. Akan tetapi aku belum kalah!"
Adiwijaya menjawab dan tubuhnya sudah berkelebat ke depan amat cepatnya, kemudian begitu kaki tangannya bergerak, dia sudah mengirim pukulan bertubi-tubi dengan kedua tangan disusul tendangan kakinya mengarah lambung.
"Eh-eh.......!"
Ki Walangkoro mendengus, agak bingung menyaksikan lawannya bergerak begitu cepat sehingga tubuh lawannya seolah-olah menjadi empat.
Dia menggerakkan kedua lengannya yang panjang dan kekar itu untuk menangkis, juga untuk balas menyerang dengan cengkeraman dan pukulan.
Akan tetapi ia kalah cepat dan ketika ia terlambat menangkis, perutnya terkena tendangan Adiwijaya sehingga terdengar suara "bukkk!"
Yang keras.
Amat mengherankan ketika terlihat oleh para penonton akibat tendangan ini karena tubuh Adiwijaya sendiri yang terlempar ke belakang!
Perut itu amat keras dan kuat, dan memang tubuh Ki Walangkoro memiliki kekebalan yang mengagumkan.
"Ha-ha-ha! Mampuslah kau, Adiwijaya!"
Ki Walangkoro kini menubruk maju seperti seekor gajah menggulingkan din.
Baru terhimpit tubuh raksasa itu saja sudah akan cukup membuat tubuh Adiwijaya gepeng.
Akan tetapi dengan cekatan sekali tubuh Adiwijaya bergulingan dan Ki Walangkoro menubruk tanah sehingga debu mengebul tebal.
"Desss!"
Sebelum Ki Walangkoro sempat mengelak ketika ia menerkam tanah tadi, Adiwijaya yang bergulingan sudah cepat menghantam ke arah tubuh raksasa itu sambil bergulingan.
Gerakan ini tidak tersangka-sangka, bahkan Retna Wilis sendiri memandang kagum.
Baru sekali ini ia melihat gaya yang sedemikian anehnya dalam pertempuran, mengelak sambil bergulingan akan tetapi dalam bergulung--gulung ini dapat menyerang lawan.
Ternyata cara bergulingan itu bukan sembarang mengelak, melainkan bergulingan dengan teratur, seperti langkah-langkah yang diperhitungkan.
Retna Wills tidak tahu bahwa itulah Aji Trenggilingwesi yang memang menjadi keahlian Adiwijaya atau Raden Sindupati.
Seperti pernah diceritakan dahulu, Adiwijaya ini dahulunya seorang perwira Jenggala yang sebetulnya sudah mendapat kepercayaan sang prabu dan menjadi pengawal istana.
Ketika ia berani mengganggu seorang puteri, maka ia melarikan diri ke Balidwipa dan di sana dalam perantauannya, dia mempelajari bermacam ilmu kepandaian sehingga ia menjadi seorang sakti.
Setelah memiliki kepandaian, dia menghambakan diri kepada Adipati Blambangan yang kemudian hancur oleh serbuan bala tentara gabungan dari Jenggala dan Panalu, yang dipimpin oleh Endang Patibroto dan Pangeran Darmokusumo.
Kembali Raden Sindupati menjadi seorang kelana dan setelah berganti nama menjadi Warutama ia berhasil menduduki pangkat patih di Jenggala, menjadi sekutu Suminten dan Pangeran Kukutan.
Kini, kembali dia berganti nama Adiwijaya, mukanya telah berubah, jenggotnya yang rapi dan gemuk menutupi luka di dagu, kumisnya pendek, sikapnya berubah sama sekali dan memang Raden Sindupati memiliki kepandaian menyamar.
Kalau perlu, dia dapat menyamar sebagai seorang wanita!
Kepandaian seperti ini pada waktu itu disebut aji mencala-putera-mencala-puteri.
Pukulan Adiwijaya yang mengenai tengkuk Ki Walangkoro amat hebatnya.
Biarpun raksasa ini terkenal kebal dan kuat, namun pukulan yang datangnya tak tersangka-sangka dan disertai tenaga sakti yang kuat, juga mengenai tengkuknya, membuat ia terjungkal dan beberapa lamanya dunia ini seperti diombang-ambingkan ombak besar baginya dan di slang hari itu turun hujan bintang!
Ki Walangkoro bangkit dan menggoyang-goyang kepalanya yang besar, seperti seekor harimau menggoyang badannya yang basah, kemudian matanya menjadi merah saking marahnya ketika ia memandang Adiwijaya yang berdiri tenang di depannya sambil bertolak pinggang.
Ia menggereng, kemudian menerjang maju seperti badai mengamuk.
Kedua lengannya yang panjang menyambar dan sebelum Adiwijaya sempat mengelak, ia sudah kena ditangkap pinggangnya, diangkat dan dibanting.
"Brukkkk !!"
Tubuh Adiwijaya dibanting, debu mengebul dan Adiwijaya hanya gelayaran (terhuyung) saja karena ketika dibanting dia telah dapat menggunakan kegesitannya sehingga dapat meloncat lagi ke atas.
"Engkau kuat sekali, Walangkoro!"
Kata Adiwijaya dan pada saat Walangkoro menubruk lagi, dia sudah melesat ke samping, menyambar lengan raksasa itu dari kanan dan memutar lengan, terus mengangkat dan membanting.
"Bresss...!!"
Debu mengebul lebih tebal dan tubuh raksasa yang terbanting itu sejenak tak dapat bergerak.
Kepala Ki Walangkoro pening dan setengah merangkak, barn ia dapat bangun kembali.
Keheranan mulai terbayang di sepasang matanya yang lebar.
Tanpa menjawab ia lalu maju memukul Adiwijaya yang hendak memperlihatkan kedigdayaannya kepada Retna Wills, sengaja mengerahkan tenaga dalam dan menerima pukulan lawan.
Dadanya terpukul, tubuhnya bergoyang dan kakinya mundur dua langkah, akan tetapi mulutnya tetap tersenyum.
Kemudian ia balas memukul dan sekali ini agaknya Ki Walangkoro juga ingin memamerkan kekebalannya.
Ketika kepalan tangan Adiwijaya mengenai dadanya, tubuhnya hanya bergoyang, ia tidak melangkah mundur, akan tetapi napasnya menjadi sesak dan tanpa dapat ditahannya lagi ia menggunakan kedua tangan menekan-nekan dadanya!
Para anak buah kedua pihak bersorak-sorak menyaksikan pertandingan hebat ini.
Dan bagaikan dua ekor ayam jantan, dua orang perkasa ini lalu saling menerjang lagi, lebih dahsyat daripada tadi.
Mereka saling pukul, saling tendang, bergumul, piting-memiting, banting-membanting sehingga debu mengebul tinggi.
Diam-diam Retna Wills yang memperhatikan jalannya pertandingan, menjadi girang dan kagum.
Dia maklum bahwa keduanya dapat menjadi pembantu -pembantunya yang cakap, maka dia tidak ingin melihat seorang di antara mereka tewas.
Ketika melihat betapa makin lama Ki Walangkoro makin terdesak, makin sering menerima pukulan dan sudah terhuyung, ia mengerti bahwa kalau dilanjutkan, raksasa yang amat berani dan pantang mundur itu tentu akan tewas.
"Cukuplah Paman Adiwijaya!"
Ia berseru.
Mendengar ini, Adiwijaya yang sudah hampir menang itu cepat meloncat ke belakang.
Ia pun seorang cerdik, maklum bahwa junjungannya yang baru ini ingin menarik raksasa itu sebagai pembantu.
Ia pun maklum bahwa dalam menyusun kekuatan, makin banyak pembantu yang digdaya makin baik, maka ia mundur sambil tersenyum dan berkata kepada Ki Walangkoro.
"Walangkoro, andika mengagumkan sekali! Andika seorang yang digdaya!"
Ki Walangkoro berdiri dengan napas terengah-engah dan tubuhnya yang besar dan kokoh seperti batang pohon beringin itu penuh keringat.
Ia pun memandang kagum kepada Adiwijaya.
Biarpun dia seorang yang kasar, namun dia tidak bodoh dan dia mengenal orang pandai, harus mengaku bahwa kalau pertandingan dilanjutkan, dia tidak akan kuat bertahan lagi.
Adiwijaya terlampau kuat baginya.
Pukulan Adiwijaya tidak terlalu keras, akan tetapi mengandung tenaga mujijat yang seakan-akan menggetarkan isi dadanya.
Selain itu, juga Adiwijaya memiliki kecepatan gerakan yang sukar ia lawan sehingga dalam pertandingan itu, dia lebih banyak menerima pukulan daripada memukul.
"Heemmm....... harus kuakui bahwa andika amat digdaya. Kalau andika yang hendak merampas kedudukan di Wilis, aku suka mengalah dan suka menjadi pembantu andika karena jelas bahwa aku akan kalah kalau pertandingan dilanjutkan. Akan tetapi kalau dia ini. hemmm, bagaimana seorang laki-laki perkasa macam kita ini harus menghambakan diri kepada seorang wanita yang masih bocah?"
"Ha-ha, Walangkoro, sungguh percuma saja menganggap dirimu digdaya dan berpengalaman kalau matamu masih begitu buta tidak dapat melihat seorang sakti mandraguna,"
Kata Adiwijaya sambil tertawa. Melihat kepala gerombolan Wilis itu agaknya belum mau tunduk kepadanya, Retna Wilis lalu melangkah maju dan berkata.
"Paman Walangkoro, kalau dalam segebrakan saja aku dapat merobohkan engkau, apakah engkau masih belum percaya akan kesaktianku?"
"Apa? Andika akan merobohkan aku dalam segebrakan saja? Wahai, puteri muda belia yang suaranya nyaring melebihi halilintar, yang bicaranya tinggi mengatasi puncak Wilis! Kalau betul demikian, aku Ki Walangkoro akan menyembah telapak kaki andika!"
Kata Ki Walangkoro sambil menyeringai, tidak percaya akan ada orang yang sanggup merobohkannya dalam segebrakan saja, apalagi seorang wanita setengah dewasa seperti Retna Wilis.
Retna Wilis tersenyum, akan tetapi senyumnya hanya sedetik, cemerlang seperti menyambarnya kilat di angkasa.
"Kalau begitu, mari kita coba, Paman Walangkoro. Seranglah aku!"
Walangkoro dapat mengerti bahwa kalau tidak memiliki kesaktian yang hebat, tidak nanti dara remaja ini berani menantang seperti itu.
Dia tahu bahwa dara ini tentu digdaya sekali dan agaknya dia tidak akan dapat menang, buktinya Adiwijaya yang demikian sakti pun menjadi hambanya.
Akan tetapi, kini dia tidak mengharapkan menang, melainkan hendak mempertahankan diri agar tidak sampai roboh dalam segebrakan.
Betapapun juga, dia tetap penasaran tidak dapat percaya bahwa dara ini betapapun saktinya, akan mampu merobohkannya dalam segebrakan.
Maka ia lalu mengerahkan seluruh tenaganya, memusatkan perhatiannya dan bersiap menjaga diri sekokoh mungkin dengan memasang aji kekebalannya di seluruh tubuh sambil menjaga bagian tubuh yang tak dapat ia tembusi dengan aji kekebalan.
"Jaga serangan!!"
Ia berseru keras untuk mengguncang ketenangan lawan, tubuhnya yang tinggi besar menerjang ke depan seperti serudukan seeker banteng.
Terjangan ini kuat dan cepat, lengan kanan yang panjang dipergunakan untuk mendorong atau memukul ke arah perut Retna Wilis, sedang lengan kiri tetap menjaga depan tubuh sendiri, kedua kaki kokoh kuat menjaga segala kemungkinan.
Pendeknya, dalam penyerangan ini, Walangkoro hanya mempergunakan setengah bagian -tenaga dan perhatiannya untuk menyerang karena yang setengahnya lagi ia pergunakan untuk menjaga diri agar jangan sampai kena dirobohkan lawan dalam segebrakan.
Retna Wills memandang lagak lawan dan mulutnya mengembangkan senyum tipis.
ia tetap tenang menghadapi terjangan lawannya sambil mengukur jarak.
Setelah tubuh lawan yang menerjangnya cukup dekat, hanya satu meter lagi di depannya, dara perkasa ini menggerakkan tangan kirinya seperti orang menampar dari kiri.
Akan tetapi gerakan ini bukanlah tamparan biasa saja karena dara ini telah mengerahkan hawa sakti dari tubuhnya, menyalurkan tenaga mujijat ke dalam tangan yang menampar dcngan Aji Pancaroba.
Kekuatan yang terkandung dalam aji ini seperti taufan mengamuk dan memang daya pukulan jarak jauh ini seperti hembusan angin taufan yang dahsyat sekali.
Ketika kena disambar angin pukulan Pancaroba, seketika tubuh raksasa itu terpelanting, tak kuasa lagi kedua kakinya menahan tubuhnya dan ia roboh bergulingan!
Terdengar Adiwijaya tertawa bergelak dan diam-diam ia memuji diri sendiri yang berpemandangan awas, sudah percaya dan yakin akan kesaktian luar biasa dari dara ini, tidak seperti Walangkoro yang hendak mengujinya.
Diam--diam Adiwijaya selain merasa kagum juga ngeri menyaksikan betapa seorang dara semuda itu telah memiliki kesaktian sehebat itu!
Akan tetapi Walangkoro adalah seorang yang bodoh dan kasar.
Dia merasa terlalu aneh dapat dirobohkan benar-benar oleh gadis itu dalam segebrakan saja dan hal ini membuatnya penasaran sekali.
ia meloncat bangun dengan mata merah saking marah dan penasaran.
"Wahai puteri yang sakti mandraguna! Andika menggunakan aji setan!"
"Hemm, bagaimanakah kehendakmu, Paman Walangkoro?"
"Coba andika merobohkan aku dengan tenaga, dengan tebalnya kulit dan kerasnya tulang!"
"Andika keras kepala! Majulah!"
Retna Wilis menantang.
Walangkoro mendengus dan meloncat ke depan, kini ia menggunakan kedua lengannya yang sebesar kaki manusia biasa itu untuk memukul sambil mengerahkan tenaganya.
Retna Wilis menyambut dengan tenang, mengangkat kedua tangannya dengan jari-jari terbuka menangkis kedua pukulan tangan lawan itu, tangannya yang miring menebas ke arah kedua lengan lawan yang besar dan kuat.
"Wuut-wuut krek-krekkk!"
Walangkoro menggereng kesakitan dan terhuyung ke belakang, kedua lengannya tergantung di kanan kiri dengan tulang patah ia terbelalak, tidak merintih, memandang kepada Retna Wilis dengan mata terbelalak penuh keheranan, kekagetan, dan kekaguman yang mendalam.
Kemudian, kedua kakinya bertekuk lutut dan ia menggerakkan kedua lengannya yang sudah patah tulangnya, berusaha menyembah kaku karena lengannya seperti lumpuh, mulutnya berkata.
"Hamba Walangkoro menghaturkan sembah kepada Gusti Puteri Retna Wilis yang mulai, saat ini menjadi junjungan dan sesembahan hamba."
Retna Wilis tersenyum girang melihat Walangkoro yang berlutut menyembahnya, di belakang raksasa ini semua anak buah gerombolan Wilis juga berlutut dan menyembah dengan muka membayangkan rasa takut.
"Baiklah, Paman Walangkoro. Aku menerima engkau dan semua anak buahmu menjadi pasukanku. Engkau membantu Paman Adiwijaya, adapun para Paman Wilis ketiganya menjadi pembantu-pembantumu. Sekarang mari kita naik ke puncak."
Berangkatlah mereka semua mendaki puncak Wilis setelah Walangkoro dibantu oleh Adiwijaya membalut kedua lengannya yang patah tulangnya dan oleh Adiwijaya diberi obat daun-daun yang mempunyai khasiat mempercepat penyambungan tulang patah.
Mulai hari itu, Retna Wilis menjadi pemimpin pasukan yang jumlahnya hampir dua ratus orang terdiri dari bekas--bekas anak buah pasukan Jenggala dan anak buah Padepokan Wilis yang ditambah anak buah gerombolan Wilis.
Akan tetapi Retna Wills tidak mempergunakan nama padepokan, apalagi gerombolan, dia kini mendirikan sebuah "kerajaan"
Kecil, yang disebut Kerajaan Wilis.
Adapun Retna Wilis sendiri menjadi ratunya yang oleh para anak buahnya disebut Gusti Puteri Retna Wilis.
Mulailah dara remaja yang amat luar biasa ini menghimpun kekuatan dan mulailah ia memimpin sendiri anak buahnya untuk menaklukkan seluruh daerah yang termasuk wilayah.
Banyak sekali gerombolan perampok ia taklukkan dan dijadikan anak buahnya, bahkan dusun-dusun di kaki Wilis mulai ia serbu, yang menentang dibunuh, yang takluk dijadikan anak buahnya sehingga dalam waktu beberapa bulan saja.
"kerajaan"
Wilis memiliki pasukan yang besar jumlahnya, ribuan orang, dan di lereng-lereng Wilis kini dibangun dusun-dusun baru yang dijadikan tempat tinggal para anak buahnya beserta keluarga mereka.
Retna Wilis sendiri hanya memiliki kesaktian yang luar biasa.
Tentu saja dalam hal memimpin orang sedemikian banyaknya sebagai seorang ratu, ia tidak mempunyai pengalaman sama sekali.
Tidaklah mudah memimpin orang-orang yang terdiri dari pelbagai macam golongan itu, bahkan amat sukar menundukkan orang-orang yang tadinya adalah gerombolan perampok yang ganas.
Akan tetapi, dengan bantuan Adiwijaya yang berpengalaman sebagai Patih Jenggala, dan Walangkoro yang sudah biasa memimpin gerombolan perampok, Kerajaan Wilis ini dapat berjalan dengan maju pesat.
Bukan saja dapat mempergunakan tenaga para rakyatnya, juga dapat mendatangkan kesejahteraan.
Sudah terlalu lama rakyat tertindas oleh pembesar-pembesar lalim, apalagi ketika Jenggala mengalami kesuraman, dan banyak terjadi perang selama beberapa tahun ini.
Kini mereka menyaksikan kemajuan Kerajaan Wilis, timbul harapan mereka untuk dapat hidup baik dan makin banyaklah rakyat dari daerah--daerah yang agak jauh berdatangan untuk mencari perlindungan di bawah pimpinan gusti puteri yang dikabarkan sebagai penjelmaan seorang Dewi yang turun dari kahyangan dan, yang bertugas mendatangkan kebahagian, bagi kehidupan mereka yang tertindas!
Dalam waktu beberapa bulan saja nama Kerajaan Wilis yang dipimpin oleh puteri sakti mandraguna itu menjadl terkenal sampai jauh dari Wilis.
Daerah yang jauh di sekeliling Wilis menjadi geger dan gempar karena munculnya puteri jelita dengan pasukannya yang tidak berapa besar itu memang hebat sekali, setiap kali keluar pasti menaklukkan musuh yang jauh lebih besar jumlahnya dari kabar tentang kesaktian yang luar biasa dari Puteri Retna Wilis ditambahi bumbu-bumbu yang berlebihan mengagetkan semua orang yang mendengarnya.
Di antara daerah yang agak jauh, hanya daerah Ponorogo yang masih belum takluk kepada Kerajaan Wilis.
Daerah-daerah lain, yang lebih jauh sekali pun dari Ponorogo, banyak yang takluk tanpa diperangi.
Akan tetapi Ponorogo lain lagi.
Daerah ini memang merupakan daerah yang kuat dan yang sejak dahulu juga tidak tunduk kepada Kerajaan Mataram lama.
Hal ini adalah karena Ponorogo mempunyai banyak orang sakti dan kerajaan-kerajaan besar menganggap lebih aman untuk menarik Ponorogo sebagai kerajaan sahabat daripada sebagal musuh atau taklukan.
Andaikata ditaklukkan sekali pun, sifat tokoh-tokohnya yang selalu tidak mau ditundukkan akan mengadakan pemberontakan setiap ada kesempatan.
Warok-warok Ponorogo memiliki kesaktlan yang menggiriskan dan Bala tentaranya amat kuat.
Pada waktu itu, yang menjadi adipati di Ponorogo adalah Adipati Diroprakosa, seorang yang berusia empat puluh tahun lebih, selain sakti mandraguna, juga pandai mengatur pemerintahan.
Sang adipati ini berhubungan baik sekali dengan Kerajaan Panjalu dan karena maklum akan kejayaan Panjalu, maka sungguhpuri tidak secara resmi,namun Adipati Diroprakosa menganggap Panjalu sebagai kerajaan induk, atau sebagai kerajaan yang menjadi atasannya.
Apalagi setelah ia menikah dengan puteri Ki Patih Suroyudo, hubungan antara Kadipaten Ponorogo dengan Panjalu menjadi makin baik.
Seperti keadaan Ponorogo semenjak dahulu, pada waktu itu Ponorogo juga mempunyai banyak sekali jagoan-jagoan yang membantu kadipaten, bahkan mereka itu, warok--warok yang digdaya, menjadi tulang punggung yang menegakkan ketenaran nama Kadipaten Ponorogo.
Yang mengepalai para warok yang menjadi tokoh yang berpengaruh adalah Ki Warok Surobledug.
Bukan karena dia yang paling sakti di antara para warok, sama sekali tidak karena masih ada yang lebih sakti daripada Ki Surobledug, akan tetapi karena Ki Surobledug adalah paman sang adipati, maka tentu saja dia berpengaruh dan berkuasa.
Di samping ini, Surobledug seorang yang bijaksana dan pandai bersiasat di samping banyak sekali sahabat-sahabatnya di antara para orang sakti.
Pada waktu itu, Adipati Ponorogo dan para warok sudah mendengar akan nama kerajaan baru di puncak Wilis, dan mengikuti perkembangan kerajaan itu dengan penuh perhatian.
Ki Surobledug sudah berkali-kali berunding dengan sang adipati dan para tokoh lain dan mulailah Kadipaten Ponorogo mempersiapkan din untuk menanggulangi Kerajaan Wilis yang makin lama makin meluas wilayahnya itu.
Penjagaan diperkuat, pasukan--pasukan dipersiapkan di perbatasan yang menjadi wilayah Ponorogo, setiap pasukan diperkuat oleh beberapa orang warok yang memiliki ilmu kedigdayaan.
"Dahulu Wilis dipimpin oleh Sang Puteri Endang Patibroto dan pada saat Padepokan Wilis masih berdiri, kita tidak pernah bentrok dengan Padepokan Wilis. Bahkan kita mengalami bantuan-bantuan para ksatria Wilis yang membersihkan perampok-perampok yang mengacau di perbatasan,"
Demikian Adipati Diroprakosa berkata.
"Kemudian terdengar berita bahwa Sang Puteri Endang Patibroto yang namanya sudah terkenal di kolong langit meninggalkan Wilis, kemudian Wilis dikuasai oleh gerombolan liar yang dipimpin oleh seorang yang bernama Ki Walangkoro. Kita sudah mendengar akan keganasan mereka, akan tetapi karena mereka itu yang menamakan diri Gerombolan Wilis tidak pernah berani mengganggu wilayah kita, maka kita pun mendiamkan saja. Sekarang, terjadi perubahan besar di sana dan telah didirikan kerajaan yang menaklukkan banyak daerah. Agaknya mereka itu tentu akan menyerang kita, hanya menanti saatnya saja."
"Benarlah demikian, Puteranda Adipati,"
Kata Ki Warok Surobledug.
"Kabarnya yang memimpin Kerajaan Wilis juga seorang puteri, malah kabarnya masih remaja akan tetapi memiliki kesaktian yang dahsyat. Sungguh mengherankan dan saya ingin sekali menyaksikan sampai di mana kebenaran kabar-kabar yang kita dengar."
"Kakang Suro, aku mendengar bahwa puteri itu memiliki kepandaian yang tidak lumrah manusia, seperti siluman, bisa menghilang dan kalau membunuh lawan tidak usah menyentuh tubuh lawan itu!"
Kata Ki Warok Dwipasakti, seorang warok yang bertubuh kecil kurus akan tetapi sesungguhnya warok ini amat sakti karena dia adalah murid pertama dari Ki Ageng Kelud, seorang panembahan yang sakti mandraguna.
Biarpun usianya masih muda, akan tetapi warok kurus ini sesungguhnya memiliki kedigdayaan yang melebihi Ki Surobledug sendiri.
"Hemm, berita-berita seperti itu sukar dipercaya, suka dilebih-lebihkan. Betapapun pandainya seorang manusia kalau dia melakukan hal-hal yang tidak benar, akhirnya tentu dia akan jatuh. Kita tidak perlu takut,"
Kata Ki Surobledug penasaran.
"Wawasan Paman Suro benar dan tepat sekali,"
Kata Adipati Diroprakosa.
"Memang kita tidak usah gentar menghadapi kekuasaan yang sewenang-wenang. Apalagi Kerajaan Panjalu tentu tidak akan tinggal diam kalau kekuasaan itu makin merajalela. Betapapun juga, kita tidak boleh lengah dan sebaiknya kalau kita mengadakan penyelidikan ke sana."
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya para tokoh Ponorogo itu ketika penyelidikan dilakukan, mereka mendengar bahwa sang puteri yang kini menguasai Wilis, yang menjadi ratu di sana dan bernama Puteri Retna Wilis, adalah puteri dari Endang Patibroto!
"Ajaib!"
Seru Ki Surobledug ketika sang adipati mengadakan persidangan lagi.
"Puteri Endang Patibroto adalah seorang puteri sakti mandraguna dan bijaksana, yang mendirikan Padepokan Wilis dan anak buahnya adalah satria Wilis, akan tetapi mengapa kini puterinya menjadi ratu yang menaklukkan seluruh daerah sekitarnya dan kabarnya amat ganas membunuh orang-orang yang tidak mau tunduk kepadanya?"
"Mengherankan,"
Kata sang adipati.
"Akan tetapi kita harus berhati-hati dan tidak boleh sembrono. Sebaiknya kalau saya mengirim utusan ke sana, selain untuk memperkenalkan diri juga untuk mengajukan penawaran persahabatan. Kalau memang benar Kerajaan Wills adalah puteri Endang Patibroto, sekali-kali kita tidak boleh memusuhinya. Apalagi mengingat bahwa puteri Endang Patibroto yang kita hormati itu adalah seorang tokoh Jenggala dan Panjalu."
"Benar,"
Ki Surobledug mengangguk mempenarkan.
"Malah kabarnya dalam perang yang dilakukan oleh Panjalu untuk menundukkan kekuasaan jahat di Jenggala, Puteri Endang Patibroto juga ikut berjasa."
"Sekarang begini, Paman Surobledug. Paman sendiri memimpin pasukan kecil pergi mendaki puncak Wilis, menghadap sang ratu untuk menyelidiki sendiri, membawa salam perkenalan dan hormat dari saya disertai beberapa barang hadiah sebagai tanda persahabatan."
Demikianlah, sebuah pasukan terdiri dari dua losin orang dibentuk dan pada keesokan harinya, berangkatlah Ki Warok Surobledug sendiri memimpin pasukannya pergi ke Wilis.
Baru saja tiba di perbatasan, mereka telah dihadang oleh pasukan Wilis yang pakaiannya serba hijau, terdiri dari orang-orang kasar yang kelihatannya kuat.
Melihat pasukan yang terdiri dari lima puluh orang yang berpakaian serba hijau itu, Ki Surobledug lalu memberi tanda kepada pasukannya yang berpakaian serba hitam untuk berhenti, kemudian ia melangkah maju dan memberi hormat kepada komandan pasukan Wilis.
"Hei, pasukan dari manakah ini berani melanggar wilayah kami? Apakah tidak tahu bahwa wilayah ini adalah perbatasan yang dikuasai Kerajaan Wilis dan tidak boleh ada orang asing memasukinya tanpa izin?"
Berkata komandan pasukan yang masih muda dan berkumis tebal.
Biarpun komandan pasukan yang berkumis tebal itu termasuk seorang laki-laki gagah yang tinggi besar bentuk tubuhnya, namun dibandingkan dengan Ki Warok Surobledug, ia masih kelihatan kecil!
Ki Surobledug menjawab dengan suara halus akan tetapi dengan sikap gagah.
"Kami adalah pasukan utusan sang adipati di Ponorogo, bermaksud naik ke puncak Wilis untuk menghadap Sang Ratu Wilis."
Pasukan berpakaian hijau itu mengeluarkan suara berisik ketika mendengar bahwa pasukan pakaian hitam ini adalah pasukan Pcnorogo yang terkenal. Kemudian perwira berkumis itu berkata.
"Hemm, ada keperluan apakah pasukan Ponorogo hendak menghadap ratu junjungan kami?"
Ki Surobledug mengerutkan alisnya yang tebal.
"Eh, kisanak. Aku adalah seorang utusan adipati. Sebagai utusan, hanya kepada sang ratu di Wilis sajalah aku dapat menyampaikan apa yang ditugaskan oleh sesembahan kami. Hendaknya andika mengerti akan peraturan itu dan suka membawa kami menghadap sang ratu di Wilis."
Perwira itu berpikir sejenak.
Dia tidak berani bertindak sembarangan, apalagi ratunya amat bengis terhadap anak buah yang salah tindak, sungguhpun di lain kesempatan ratunya itu amat ramah dan murah tangan terhadap anak buahnya.
Ia tahu pula bahwa biarpun ada desas-desus bahwa ratu mereka merencanakan untuk menyerbu Ponorogo, namun kalau belum ada perintah, tidak berani ia berlancang tangan memusuhi pasukan Ponorogo yang berpakaian hitam dan rata-rata anak buahnya bertubuh tinggi besar dan bersikap angker ini.
"Hamm, baiklah, akan tetapi bersumpahlah bahwa kalian menghadap gusti puteri kami dengan itikad baik!"
Ki Warok Surobledug tertawa bergelak.
"Andika ini lucu sekali, kisanak! Tanpa bersumpah sekali pun mudah dilihat bahwa kami membawa maksud baik dari junjungan kami. Kalau dengan niat buruk, masa kami hanya datang dengan dua losin perajurit yang membawa tiga buah peti besar berisi barang-barang berharga untuk dipersembahkan kepada ratu kalian?"
Perwira muda itu mengangguk-angguk dan matanya ditujukan kepada tiga buah peti berukir yang digotong oleh perajurit-perajurit berpakaian hitam itu.
"Baiklah, mari kalian ikut bersama kami."
Di sepanjang perjalanan menuju ke gunung Wilis, rombongan perajurit berpakaian hitam itu menjadi tontonan orang dan mereka ini lebih tertarik lagi ketika mendengar bahwa mereka adalah pasukan Ponorogo yang terkenal digdaya.
Namun berkat kawalan pasukan Wilis yang menjaga perbatasan, perjalanan mereka mendaki gunung Wilis berjalan dengan lancar tanpa gangguan.
Diam-diam Ki Surobledug memperhatikan keadaan di sepanjang perjalanan, dan melihat dusun-dusun baru yang dibangun sepanjang jalan dari kaki sampai ke lereng Wilis, diam-diam ia kagum dan memuji kebijaksanaan ratu kerajaan baru ini.
Ketika Retna Wilis mendengar dari pelaporan para penjaga bahwa serombongan utusan Kadipaten Ponorogo mohon menghadap, dia cepat mempersiapkan penyambutan di pendopo istananya yang baru dibangun, bahkan yang belum selesai dibangun dan diperbaiki.
Selain dia sendiri, juga Ki Adiwijaya yang ia angkat menjadi patih, dan Ki Walangkoro yang menjadi patih muda, ikut pula hadir menyambut rombongan dua losin perajurit yang dikepalai seorang warok tua yang bertubuh tinggi besar.
Sebagai seorang yang tahu akan tata susila, Ki Warok Surobledug menghadap Ratu Wilis dengan sembah sujut dan penuh hormat tanpa berani mengangkat muka memandang wajah sang ratu.
Ia akan mencari kesempatan nanti untuk memandang dan mengenal wajah junjungan baru di Wilis yang dikabarkan saki mandraguna seperti siluman itu.
Di lain pihak, dialah yang menjadi pusat perhatian dan begitu Retna Wilis memandang wajah warok itu, dia mengerutkan kening.
Dia merasa kenal kakek tinggi besar ini, akan tetapi dia telah lupa lagi entah di mana dia pernah berjumpa dengannya.
Adapun Adiwijaya dan Walangkoro memandang warok itu dan diam-diam harus mengakui bahwa kakek ini akan merupakan lawan yang berat.
Kalau banyak tokoh Ponorogo seperti kakek ini, benarlah berita bahwa Ponorogo memiliki banyak tokoh sakti.
"Paman, andika siapakah dan apa maksudmu membawa pasukan menghadap padaku?"
Retna Wilis bertanya dan diam-diam Ki Surobledug tercengang mendengar suara yang halus, merdu dan sama sekali tidak seperti suara orang-orang sakti mandraguna itu. Namun ia menyembah dan menjawab.
"Hamba pemimpin pasukan ini sebagai utusan gusti hamba adipati di Ponorogo dengan membawa salam persahabatan dan barang-barang persembahan untuk dihaturkan paduka, Gusti. Hamba Ki Surobledug menghaturkan sembah."
Sambil berkata demikian, Ki Surobledug menyembah dan menggunakan kesempatan itu untuk menengadah dan memandang wajah sang ratu yang demikian menggegerkan daerah Wilis.
Retna Wilis dan Ki Surobledug mengalami guncangan hati pada saat yang sama.
Ketika mendengar nama Ki Surobledug, teringatlah Retna Wilis kepada kakek ini.
Di lain pihak, begitu menyaksikan wajah sang ratu, Ki Surobledug menjadi pucat wajahnya karena dia segera mengenal wajah dara perkasa yang dahulu membunuh empat orang anak murid Panembahan Ki Ageng Kelud, dan pernah merobohkannya, bahkan yang hampir saja membunuh dia dan Ki Ageng Kelud!
Kiranya murid Nini Bumigarba yang menjadi ratu di Wilis!
Kenyataan ini membuat ia termangu penuh kegentaran hati.
Pantas saja dianggap sebagai seorang dara yang memiliki ilmu kepandaian seperti siluman, kiranya dara siluman itu sendiri yang menjadi ratu di sini!
Akan tetapi, sebagai utusan kadipaten ia tidak berani mencampurkan urusan pribadinya dan ia pura-pura tidak mengenal ratu itu.
Retna Wilis tersenyum dan suaranya mengandung hawa dingin ketika ia berkata.
"Hemm, Ki Surobledug. Kiranya andika yang menjadi utusan Ponorogo. Hemm, aku menerima baik uluran tangan Adipati Ponorogo untuk bersahabat. Akan tetapi persembahan hanya dapat kuterima sebagai persembahan Kadipaten Ponorogo yang tunduk dan mengakui Kerajaan Wilis sebagai kerajaan terbesar, mengakui kedaulatanku sebagai Ratu Wilis. Jika Kadipaten Ponorogo suka mentaati semua permintaanku, aku akan menganggapnya sebagai kadipaten yang membantu dan sepatutnya dijadikan sahabat. Pertama-tama aku akan mengajak barisan Kadipaten Ponorogo untuk membantuku menaklukkan semua kerajaan kecil dan kadipaten di sebelah timur sampai di Kerajaan Panjalu."
"Wah, ini tidak mungkin!"
Ki Surobledug berseru kaget.
"Hemm, apanya yang tidak mungkin, Ki Surobledug? Lanjutkan ucapanmu."
Kini Ki Surobledug yang kaget sekali mendengarkan ucapan ratu itu, tidak ragu-ragu lagi memandang wajah cantik jelita dan masih remaja itu, dan sinar mata mereka saling menentang.
Ki Surobledug merasa betapa tengkuknya menjadi dingin ketika bertemu pandang, akan tetapi dengan penuh semangat ia berkata.
"Ampunkan hamba, Gusti Puteri. Hamba tahu betul bahwa tidaklah mungkin bagi Kadipaten Ponorogo untuk menyerang kadipaten-kadipaten dan kerajaan-kerajaan kecil di sebelah timur, untuk membantu kerajaan paduka. Oleh karena daerah itu adalah termasuk dalam kekuasaan Kerajaan Panjalu. Tidak mungkin bagi Kadipaten Ponorogo untuk menyerang daerah Panjalu, karena Kerajaan Panjalu merupakan Kerajaan yang dijunjung tinggi oleh Ponorogo. Tidak mungkin Gusti."
Tiba-tiba terdengar suara Ki Walangkoro yang besar dan nyaring.
"Apa yang tidak mungkin bagi gusti puteri kami? Tidak ada hal yang tidak mungkin! Engkau lancang mulut, heh, utusan gemblung!"
Ki Surobledug menoleh dan sejenak kedua orang tinggi besar itu bertemu pandang. Kemudian terdengar suara Ki Patih Adiwijaya yang tegas dan mantap.
"Heh, utusan Ponorogo! Andika hanya seorang utusan. Tahukah andika kewajiban seorang utusan? Hanya menyampaikan pesan junjunganmu dan menerima balasan dari kerajaan yang kau kunjungi. Mengapa kini andika lancang sekali berani mengemukakan pandapat pribadi andika?"
Merah wajah Ki Surobledug ketika ia menatap wajah Adiwijaya.
Merah karena malu.
Tentu saja ia maklum bahwa memang sikapnya tidak dapat dikatakan benar, bahkan melanggar peraturan yang lajim.
Menurut aturan, seorang utusan tidak boleh diganggu sama sekali, akan tetapi juga sebagai utusan sama dengan benda mati, hanya menyampaikan pesan dan menerima balasan.
Kini diserang oleh ucapan Adiwijaya yang tepat, ia menjadi bingung, tidak tahu hams menjawab bagaimana.
Tadi ia kelepasan bicara saking kaget dan marahnya mendengar Ratu Wilis menganggap Ponorogo sebagai kerajaan yang lebih rendah dan mengajak, atau memerintahkan dengan halus, untuk mengkhianati Panjalu!
"Ki Surobledug, apa jawabmu?"
Tiba-tiba Retna Wilis bertanya, suaranya tetap halus namun mengandung desakan yang tak mungkin dapat ditangkis lagi.
Ki Surobledug menahan napas panjang.
Tidak ada jalan lain baginya untuk mengelak dan menarik kembali kata-katanya dan karena ia merasa benar, ia tidak menjadi takut lalu berkata.
"Mohon ampun, Gusti Puteri. Sesungguhnya hamba pun mengerti akan tugas dan kewajiban hamba sebagai utusan, mengerti bahwa sebagai utusan hamba tidak boleh bicara mengemukakan pendapat pribadi hamba. Akan tetapi, hamba yakin bahwa pendapat hamba ini juga menjadi pendapat gusti adipati di Ponorogo. Kadipaten Ponorogo mengulurkan tangan kepada Kerajaan Wilis, apalagi mengingat bahwa kabarnya paduka adalah puteri dari Sang Puteri Endang Patibroto yang kami hormati, dan tentu saja Kadipaten Ponorogo mengakui kedaulatan paduka sebagai ratu di Wilis. Akan tetapi, kalau Kadipaten Ponorogo diajak untuk diajak menyerang daerah Kadipaten Panjalu, hal ini sama sekali tidak mungkin dapat dilakukan oleh Kadipaten Ponorogo."
Hening sejenak setelah ki warok itu bicara dengan suara lantang.
Semua orang menjadi ngeri.
Belum pernah ada orang berani menentang keputusan atau perintah sang ratu, karena menentang sedikit saja berarti mati dalam keadaan mengerikan.
Semua orang menanti, dan mereka tidak akan heran kalau pada saat itu sang ratu menggerakkan tangan, sekali bergerak saja membunuh utusan itu dengan hawa pukulan tangannya.
Akan tetapi, hanya terdengar Retna Wilis menarik napas panjang dan berkata.
"Ki Surobledug, apakah andika tidak mengenalku?"
Ki Surobledug mengangguk.
"Hamba mengenal paduka, Gusti Puteri yang sakti mandraguna."
"Engkau tahu betul bahwa sekali ada niat di hatiku, membunuhmu sama mudahnya dengan membalikkan telapak tanganku?"
Kembali Surobledug mengangguk.
"Hamba mengerti, Gusti."
Suara Retna Wilis meninggi, penuh wibawa.
"Kalau begitu, andika tentunya tidak buta untuk melihat bahwa Kadipaten Ponorogo tidak mungkin dapat menolak perintahku, tidak mungkin dapat menentangku? Menentangku berarti hancur lebur, Ki Surobledug!"
"Hamba mengerti, Gusti. Akan tetapi, negara yang besar harus memiliki pendirian sebagai seorang satria yang juga menjadi pendirian Sang Adipati Ponorogo. Kami adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kesetiaan. Biarpun hancur lebur, kalau Ponorogo tetap setia Panjalu, berarti hancur sebagai sebuah kerajaan besar. Apakah artinya hidup kalau menjadi pengkhianat? Ponorogo takkan pernah menjadi pengkhianat, Gusti."
"Eh, Ki Surobledug. Apakah pangkatmu di Ponorogo?"
"Hamba hanya seorang penasehat saja yang mengepalai warok-warok di Ponorogo."
"Bagaimana andika begitu yakin bahwa pendirian Adipati Ponorogo sama dengan pendirianmu?"
"Sang adipati adalah keponakan hamba dan pendiriannya dalam hal ini tidak ada bedanya dengan pendirian hamba."
"Wah-wah-wah, si keparat Surobledug! Gusti Puteri, perkenankan hamba menghancurkan kepala warok sombong ini!"
Tiba-tiba Ki Walangkoro berkata dengan mata melotot. Retna Wilis mengangkat tangan menyuruh patih muda itu diam, kemudian ia berkata kepada Surobledug.
"Alangkah mudahnya bagiku untuk membunuh andika dan anak buah andika, Surobledug. Dan alangkah mudahnya bagiku untuk menyerbu dan menghancurkan Ponorogo. Akan tetapi aku tidak akan membunuhmu dan aku masih memberi kesempatan kepada Ponorogo untuk mempertimbangkan perintahku. Aku kagum akan keberanianmu, akan tetapi juga geli hatiku menyaksikan kebodohanmu."
"NAH, sekarang pulanglah, andika, dan sampaikan kepada junjunganmu, juga keponakanmu, sang adipati di Ponorogo bahwa aku memberi waktu kepadanya selama satu bulan, dia sendiri harus datang menghadap padaku dan menyatakan ketaatannya akan perintahku, mempersiapkan bala tentara yang harus membantuku menaklukkan kadipaten-kadipaten lain di sebelah timur. Kalau dalam waktu sebulan dia tidak menghadap, berarti dia menentang dan jangan tanya tentang dosa kalau aku akan membikin Ponorogo menjadi karang abang (lautan api). Nah, pergilah engkau, bawa kembali barang-barangmu karena aku tidak membutuhkan persembahan orang yang tidak mau tunduk kepadaku!"
Surobledug maklum bahwa bicara lagi tidak akan ada gunanya, bahkan sama dengan bunuh diri, maka ia menyembah lalu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengangkat kembali barang-barang persembahan sebanyak tiga peti itu dan keluar dari halaman istana dan kembali menuruni lereng Wilis, kembali ke Ponorogo.
Setibanya di Ponorogo, Ki Surobledug langsung menghadap kadipaten dan betapa kagetnya sang adipati dan para tokoh Ponorogo ketika mendengar laporan Ki Surobledug yang berkata dengan suara cemas.
"Waduh, celaka, Puteranda Adipati! Kiranya siluman betina itu benar-benar siluman murid Nini Bumigarba! Sungguh mengherankan bagaimana puteri dari Sang Puteri Endang Patibroto menjadi siluman betina seperti itu!"
Dia lalu menuturkan semua pengalamannya ketika menghadap Ratu Wilis dan menutup penuturannya dengan kata-kata.
"Kita pasti akan digempur dan agaknya amatlah sukar mencari orang yang akan sanggup menandingi kesaktian Retna Wilis!"
Sang Adipati Diroprakosa mengerutkan alisnya dan menarik napas panjang.
"Kita harus berusaha. Sikapmu benar sekali, Paman. Memang bagiku sendiri, lebih baik mati bersama kadipaten ini yang dihancurkan daripada hidup menjadi pengkhianat yang menyerang daerah Panjalu. Tidak ada lain jalan lagi, kita harus mempersiapkan barisan, menjaga kuat-kuat Kadipaten Ponorogo dan kita harus mencari bala bantuan orang-orang sakti."
Demikianlah, Ponorogo lalu sibuk mengatur persiapan untuk menanggulangi ancaman bahaya hebat yang datangnya dari Kerajaan Wilis yang baru itu.
Utusan--utusan dikirim ke pelbagai tempat untuk minta bantuan orang-orang sakti, di antaranya Panembahan Ki Ageng Kelud, para pertapa-pertapa dan orang-orang sakti lainnya.
Juga ada utusan yang dikirim ke Kerajaan Panjalu untuk mencari bala bantuan, disertai surat dari Adipati Diroprakosa sendiri yang hams disampaikan secara pribadi kepada Ki Patih Tejolaksono karena menurut pendapat para tokoh Ponorogo, kiranya hanyalah Ki Patih Tejolaksono sajalah orangnya yang akan cukup kuat untuk menandingi Retna Wilis.
Ki Patih Tejolaksono bam saja kembali dari Jenggala bersama kedua orang isterinya dan dengan Bagus Seta.
Setelah kekacauan di Jenggala dapat ditundukkan, Pangeran Panji Sigit diangkat menjadi raja di Jenggala dan pesta perayaan untuk menobatkan raja bam ini dimeriahkan dengan pesta pernikahan antara Joko Pramono dengan Pusporini.
Joko Pramono diangkat menjadi patih di Jenggala!
Setelah pesta selesai, Joko Pramono yang menjadi patih tinggal di Jenggala, di kepatihan.
Permaisuri Jenggala yang tadinya diasingkan, kini kembali ke keraton sebagai ibu suri yang dihormati.
Berbahagialah penghidupan Pangeran Panji Sigit yang kini menjadi Prabu Jenggala bersama Setyaningsih yang menjadi permaisurinya dan Joko Pramono yang menjadi patih di samping Pusporini.
"Nah, sekarang barulah lega hatiku,"
Kata Tejolaksono ketika ia bersama Endang Patibroto, Ayu Candra, dan Bagus Seta duduk di ruangan belakang kepatihan Panjalu. Tejolaksono menghela napas panjang dan kelihatan gembira sekali.
"Setelah urusan di Jenggala beres, lapang dadaku dan kehidupan keluarga kita akan aman dan tenteram. Hanya sayang, anakku Retna Wills belum juga dapat diketahui di mana adanya."
Endang Patibroto mengerutkan keningnya.
"Setelah keadaan beres, aku sendiri akan pergi mencarinya."
Ayu Candra memegang lengan madunya dan berkata membujuk.
"Adinda Endang Patibroto, baru saja kita dapat berkumpul dalam keadaan damai dan tenteram, mengapa engkau hendak pergi lagi? Janganlah, Adinda. Biar nanti kita menyebar orang untuk mencari Retna Wills. Setelah keadaan aman kembali, kiraku tidak akan begitu sukar lagi mencarinya. Hendaknya Adinda dapat memenuhi permintaanku ini agar keluarga kita dapat berkumpul dan kebahagiaan yang baru sekarang dapat kita kenyam ini tidak akan menjadi hambar."
Endang Patibroto memandang madunya, memandang suaminya dan memang hatinya merasa berat kalau dia disuruh berpisah lagi. Melihat keadaan orang-orang tua itu, Bagus Seta berkata.
"Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu berdua. Bagi mereka yang belum dapat membebaskan diri daripada belenggu, dunia ini penuh dengan suka duka. Penuh dengan kedukaan bagi mereka yang mau berduka, dan penuh dengan kesukaan bagi mereka yang mau bersuka. Suka dan duka timbul dari hati pribadi. Suka duka merupakan mata rantai yang sambung-menyambung dan tidak kunjung putus. Kalau kita sudah mau bersuka, kita harus siap untuk menerima duka. Segala peristiwa di dunia ini sudah diatur oleh hukum karma yang menjadi belenggu. Hanya mereka yang sudah sadar dan bebas barulah dapat melenyapkan pengaruh hukum karma atas dirinya. Saya harap Rama dan Ibu berdua suka selalu waspada, di samping ikhtiar, kita harus selalu menyandar kan segalanya kepada kekuasaan Maha Tinggi yang sudah mengatur semuanya. Tidak ada pertemuan tanpa perpisahan, sebaliknya tidak ada pula perpisahan tanpa pertemuan. Karena ada persatuan maka timbul perpisahan, juga persatuan timbul dari perpisahan. Saya percaya akan datang saatnya kita semua bertemu dengan adinda Retna Wilis. Marilah kita sama berprihatin dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa semoga segala kekeliruan-kekeliruan kita diampuni dan semoga kita selalu diperingatkan agar tidak menyeleweng daripada Darma."
Tejolaksono memegang tangan puteranya dan memandang penuh keharuan.
"Ucapanmu memang benar, Puteraku. Akan tetapi, duh puteraku Bagus Seta, engkau masih begini muda akan tetapi seolah-olah sudah menjauhkan duniawi, Bagus Seta, apakah engkau tidak ingin menikmati kesenangan hidup di dunia ini?"
Ayu Candra juga memandang wajah puteranya dengan penuh iba.
Ia mengerti akan maksud kata-kata suaminya, juga Endang Patibroto mengerti.
Mereka bertiga memandang Bagus Seta yang masih begitu muda akan tetapi yang sudah mencapai taraf hidup seperti pendeta linuwih.
Bagus Seta tersenyum menyaksikan pandang mata penuh keprihatinan dan iba dari ketiga orang tua itu.
"Wahai, Kanjeng Rama dan kedua Ibunda yang tercinta! Tentu saja saya dapat menikmati kebahagiaan hidup. Akan tetapi saya tidak ingin karena keinginan menimbulkan kekecewaan dan siapa mengejar kesenangan akan bertemu dengan kesusahan. Betapapun indahnya api, kalau kita sudah tahu bahwa api itu panas membakar, mengapa kita hendak menjangkau dengan tangan? Saya tidak menjauhkan diri dari duniawi, Kanjeng Rama, karena saya sendiri adalah isi duniawi. Kalau sudah menjadi satu, mengapa dicari lagi? Mengapa mengejar bayangan yang menjadi satu dengan badan?"
Tiga orang itu mendengarkan dengan takjub, tak tahu harus berkata apa karena terpesona oleh ucapan-ucapan yang begitu dalam maknanya, yang sukar dimengerti oleh pikiran namun yang dapat menyentuh RASA.
"Duhai Puteraku Bagus Seta. Jawablah dengan sesungguhnya pertanyaanku ini dan aku akan puas sudah. Adakah engkau berbahagia, Anakku?"
Bagus Seta tersenyum lebar, lalu menjawab.
"Kanjeng Rama, apakah. bahagia itu? Aku tidak butuh akan bahagia itu, Kanjeng Rama."
Mendengar jawaban ini, Tejolaksono seperti diingatkan dan bangkit berdiri dari tempat duduknya, merangkul puteranya dan berkata dengan suara menggetar.
"Aduh, Puteraku.........jawabanmu mengingatkan aku akan jawaban petani sederhana dahulu itu Ah, tentu engkau sudah lupa. Ketika engkau masih kecil, kuajak berburu binatang, di tengah jalan aku bertemu dengan seorang petani di tepi sawah. Ketika kutanya apakah dia berbahagia, dia juga menjawab sepertimu tadi. Tidak membutuhkan bahagia!"
Bagus Seta memimpin tangan ayahnya agar duduk kembali, kemudian is berkata dengan wajah sungguh--sungguh.
"Dan dia itu benar, Kanjeng Rama! Berbahagialah manusia yang tidak membutuhkan bahagia! Berbahagialah manusia yang tidak membutuhkan apa-apa! Mengapa butuh? Mengapa mengharapkan sesuatu? Mengapa menginginkan sesuatu? Barang apa yang diinginkan memang indah, akan tetapi sekali terdapat akan lenyap keindahannya. Yang tidak membutuhkan sesuatu berarti sudah mendapatkan semuanya, Kanjeng Rama! Adakah manusia yang lebih suci dan lebih bahagia daripada seorang bayi? Karena bayi tidak menginginkan sesuatu, tidak membutuhkan sesuatu, dialah manusia paling bahagia. WAJAR itullah BAHAGIA! HIDUP itulah BAHAGIA! Kalau saya ditanya apakah saya senang atau susah, dengan segala kesungguhan hati saya akan menjawab bahwa saya tidak senang juga tidak susah, tidak duka juga tidak suka. Segala peristiwa yang terjadi adalah wajar dan sudah semestinya. Untuk menghadapi setiap peristiwa, kita dianugerahi akal budi dan pikiran yang boleh kita pergunakan sebagai hak kita. Menghadapi urusan yang tidak benar boleh kita benarkan dengan alat dan panca indera kita, dan ini menjadi kewajiban kita. Kalau ada orang yang suka menikmati kesenangan, boleh saja karena kesenangan yang dapat dinikmatinya itu pun merupakan anugerah, hanya dia pun harus siap pula merasakan kesusahan yang menjadi saudara kembar kesenangannya. Ah, kiranya Kanjeng Rama dan Kanjeng lbu berdua sudah cukup maklum akan pengertian ini, karena saya sendiri pun hanya mengulang saja."
Tejolaksono dan kedua orang isterinya adalah orang--orang yang selain sakti mandraguna, juga sudah banyak mempelajari soal-soal kebatinan, maka tentu saja mereka dapat mengerti ucapan putera mereka itu dan dapat menyelami isinya.
Mereka menjadi kagum sekali dan sedikitpun tidak dapat menyalahkan pendirian putera mereka.
Dan ternyata kemudian bahwa ucapan putera mereka itu selain mengandung filsafat yang mempunyai makna amat dalam, juga mengandung ramalan atau peringatan yang tepat.
Hal ini ternyata ketika tiba utusan dari Ponorogo yang minta bantuan Panjalu karena kadipaten itu terancam oleh Kerajaan Wilis.
"Kerajaan Wilis?"
Endang Patibroto berseru kaget ketika mendengar berita itu.
"Apa artinya ini? Wills adalah wilayah Padepokan Wilis, tidak ada kerajaan di sana!"
"Sudah terlalu lama Adinda meninggalkan Wilis, siapa tahu akan perubahan yang terjadi di sana? Akan tetapi kurasa surat dari Adipati Diroprakosa yang ditujukan secara pribadi kepadaku ini akan membuka rahasia itu."
Tejolaksono membaca surat itu, dipandang oleh Bagus seta yang bersikap tenang sekali dan oleh kedua orang isterinya yang memandang dengan rasa ingin tahu benar.
Kedua orang wanita itu kaget sekali ketika melihat betapa wajah suami mereka berubah, sebentar pucat dan sebentar merah.
Setelah selesai membaca surat itu, terdengar ki patih mengerang perlahan dan kemudian seolah-olah menekan hatinya ia menarik napas panjang dan memandang kedua orang isterinya dengan mata seperti orang bingung.
"Apakah yang terjadi?"
Endang Patibroto bertanya.
"Apakah isi surat itu?"
Ayu Candra juga bertanya.
"Kalian bacalah sendiri, hanya kuminta agar engkau bersikap tenang dan kuatkan hatimu, Adinda Endang Patibroto "
Endang Patibroto adalah seorang yang berwatak keras dan penuh semangat yang menyala-nyala.
Mendengar ucapan suaminya itu, secepat kilat ia menerima surat itu dan membacanya bersama Ayu Candra.
Ketika ia membaca penuturan Adipati Diroprakosa yang minta bantuan Tejolaksono karena Ponorogo terancam bahaya hebat dari Wilis yang kini merupakan kerajaan yang dikepalai oleh Ratu Wilis yang bernama Puteri Retna Wilis, wajah Endang Patibroto menjadi merah sekali, sedangkan Ayu Candra membaca dengan wajah pucat, kemudian memandang suaminya dengan mata terbelalak.
"Bedebah nenek siluman itu!"
Endang Patibroto mengepal tangannya dengan wajah mangar-mangar (kemerahan).
"Dia telah merusak anakku, menyeratnya ke dalam kesesatan!"
"Hemm, harap jangan marah dulu, Diajeng. Kita belum menyaksikannya dengan mata sendiri. Andaikata benar terjadi seperti laporan itu, yaitu bahwa Retna Wilis membentuk kerajaan di Wilis dan hendak menaklukkan seluruh kadipaten dan kerajaan yang ada, tentu ada sebab--sebabnya. Sebaiknya mari kita semua berangkat ke Wilis dan menemuinya. Kurasa setelah bertemu dengan engkau dan aku, setelah mendengar nasehat-nasehat kita, dia akan mengubah kemauannya yang aneh itu."
"Tidak, Kakanda. Biarlah sekarang juga saya berangkat sendiri ke Wilis. Wilis adalah tempatku, dan anak buah di sana semua tunduk kepadaku. Biar kudatangi Retna Wilis dan kubawa dia ke sini!"
Tejolaksono yang belum pernah melihat puterinya, mengangguk-angguk karena dia belum tahu akan watak puterinya itu, akan tetapi melihat watak ibunya, agaknya watak Retna Wilis tidak akan jauh bedanya, tentu keras hati dan keras kepala.
Kalau mereka semua datang, mungkin akan menimbulkan rasa malu sehingga bangkit wataknya yang keras dan nekat!
Watak Endang Patibroto dahulu juga begitu, kalau dilarang dengan kekerasan, siapapun akan ditantang!
"Bagaimana pendapatmu, puteraku Bagus Seta?"
Biarpun pemuda itu puteranya, namun Tejolaksono maklum bahwa di antara mereka semua, Bagus Seta inilah merupakan orang yang paling boleh diandalkan pendapatnya.
"Ibunda Endang Patibroto benar sekali kalau Ibunda saja yang pergi membujuk adinda Retna Wilis. Ada akibat tentu ada sebabnya, dan perbuatan adinda Retna Wilis membangun kerajaan dan membangkitkan perang tentu ada sebab-sebabnya pula."
Dengan hati tidak karuan rasanya, kemarahan yang ditahan-tahan dan juga kegirangan tersembunyi karena akan bertemu dengan puterinya yang hilang, Endang Patibroto berangkat ke Wills.
Dia melakukan perjalanan cepat dengan menunggang seekor kuda yang besar dan baik.
Tidak ada seorang pun pengikut dibawanya karena dalam keadaan seperti itu, Endang Patibroto kembali menjadi seorang pendekar wanita yang perkasa.
Biarpun usianya sudah makin tua, sudah empat puluh lima tahun, namun ketika wanita ini menunggang kuda dan membalapkan kudanya ini, wajahnya masih halus tanpa keriput dan kemerah-merahan, rambutnya berkibar panjang dan masih hitam mulus, dari jauh ia tampak seperti seorang wanita muda yang selain cantik jelita, juga gagah perkasa!
Saking hebatnya gelora dalam hatinya mendengar bahwa puterinya yang hilang, yang selama ini membuat hidupnya merana, kini telah kembali ke Wilis dan menjadi ratu yang hendak menaklukkan semua kerajaan, Endang Patibroto tidak lagi mau berhenti untuk mencari berita.
Terus saja ia membalapkan kudanya menuju ke gunung Wilis.
Hatinya penuh dengan rasa rindu, kegirangan yang bercampur dengan kemarahan sehingga ia lupa pula bahwa kudanya, betapapun baiknya, tidak memiliki daya tahan seperti tubuhnya yang terlatih.
Setelah kudanya itu roboh terguling barulah Endang Patibroto teringat bahwa ia telah membalapkan kudanya selama sehari semalam tanpa henti.
ia meloncat ketika kudanya terguling dan melihat bahwa kuda itu tak dapat tertolong lagi.
Akan tetapi gairah hatinya membuat ia enggan menghentikan peijalanannya karena kuda ini.
Ia menyambar buntalan bekal pakaiannya lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan aji kesaktian herlari secepat kijang.
Dua hari kemudian tibalah Endang Patibroto di kaki gunung Wilis.
Hari masih pagi sekali dan dia merasa tubuhnya amat lelah, akan tetapi karena keinginan hatinya untuk segera berhadapan dengan puterinya, ia tidak berhenti dan terus mendaki gunung itu.
Ketika ia berlari sampai ke lereng bukit, ia bertemu dengan sepasukan perajurit Wilis.
Sungguh sial bagi nasib pasukan yang jumlahnya sepuluh orang ini karena mereka adalah perajurit-perajurit barn yang tidak mengenal Endang Patibroto.
Ketika mereka melihat seorang wanita cantik berjalan cepat mendaki lereng, mereka lalu menghadang dan seorang di antara mereka berseru.
"Heh, engkau ini wanita dari mana dan siapa berani mendaki lereng Wills?"
Endang Patibroto memandang penuh perhatian.
ia melihat sepuluh orang laki-laki tinggi besar berpakaian serba hijau yang gagah, akan tetapi sikap mereka jauh sekali bedanya dengan anak buahnya dahulu.
Dahulu ia menanamkan watak satria, melarang keras anak buahnya dengan ancaman hukuman mati bagi anak buahnya yang berani mengganggu wanita.
Akan tetapi sepuluh orang ini memandangnya dengan sinar mata penuh nafsu dan gairah.
Bahkan yang memimpin pasukan itu menyeringai kepadanya.
"Aku hendak bertemu dengan Ratu Wilis. Kalian ini siapakah?"
Endang Patibroto balas tanya tanpa menyebutkan namanya, sikapnya angkuh dan galak.
Mendengar ada orang wanita yang begitu saja hendak bertemu dengan ratu mereka, tanpa menyebut gusti dan sama sekali tidak memperlihatkan sikap menghormat,sepuluh orang itu menjadi marah dan pemimpin mereka tertawa bergelak.
"Wah-wah, dari mana datangnya wanita yang miring otaknya ini? Eman-eman (sayang) sekali, begini cantik jelita kok miring otaknya. Marilah manis, mari kuobati penyakitmu, mari sini, engkau akan terobati dalam pelukanku. Apakah sudah terlalu lama engkau menjanda sehingga kekeringan dan kesepian membuatmu menjadi gila?"
Laki-laki itu mengulurkan tangannya hendak meraih tubuh Endang Patibroto.
Endang Patibroto hanya mengeluarkan suara mendengus "hemmm !!", kakinya bergerak seperti kilat menyambar dan terdengar suara "krekkk!"
Disusul menjeritnya laki-laki itu karena tulang lengannya patah-patah dan remuk di bagian yang dicium kaki Endang Patibroto! "Aduh tanganku. lenganku!"
Laki-Iaki itu mengeluh dan memegangi lengan kanannya dengan tangan kiri.
"Keparat, mampuslah!"
Endang Patibroto membentak dan kembali tubuhnya bergerak, kini jari tangannya yang menyambar dengan tempilingan keras ke arah kepala orang itu.
"Prokk!"
Kepala itu remuk dan otaknya muncrat bersama darah, tubuhnya terkulai tak bernyawa lagi! Melihat ini, Sembilan orang anak buah pasukan itu menjadi marah bukan main. Mereka membentak.
"Perempuan gila!"
Dan mereka telah menerjang maju dengan senjata golok mereka.
Endang Patibroto menjadi makin marah.
Sebenarnya wanita ini sudah banyak berubah semenjak ia berdekatan dengan suaminya, Ki Patih Tejolaksono.
Wataknya yang keras sudah agak jinak, dan kalau saja ia tidak berada dalam keadaan begitu marah terhadap puterinya, kiranya ia akan dapat mengampuni orang-orang ini.
Akan tetapi ia sedang marah dan kecewa mendengar tentang puterinya, apalagi ketika melihat kenyataan betapa anak buah puterinya begin buruk wataknya, kemarahannya terhadap puterinya memuncak dan ia timpakan semua kepada orang-orang sial itu.
Melihat mereka maju dengan golok terhunus, ia mengeluarkan pekik nyaring, tubuhnya berkelebat menyambar-nyambar dan terdengarlah pekik-pekik mengerikan ketika tubuh sembilan orang itu berturut-turut roboh dengan kepala pecah semua dan tewas di saat itu juga.
Betapa mereka dapat bertahan menghadapi tamparan-tamparan yang mengandung Aji Pethit Nogo yang ampuhnya menggila itu?
Tubuh orang itu mati dalam keadaan utuh, akan tetapi kepalanya hancur semua sehingga sukar untuk mengenal mereka lagi.
Darah dan otak mengotori rumput-rumput hijau dan keadaan di situ sungguh amat mengerikan.
Munculnya pasukan lain yang lebih besar, ada tiga puluh orang jumlahnya, membuat Endang Patibroto menjadi lebih beringas lagi.
Kalau perlu, akan dibasminya semua orang-orang yang mencemarkan nama Wilis ini!
Dia sudah meloncat ke depan dan berseru.
"Manusia-manusia biadab, majulah kalian semua! Saat ini adalah saat kematian kalian semua!"
Tiba-tiba seorang di antara mereka berseru.
"Gusti Puteri Endang Patibroto !!"
Orang itu segera menjatuhkan diri berlutut, diturut oleh teman-temannya yang segera mengenal wanita sakti itu.
Mereka yang tidak pernah melihat Endang Patibroto karena mereka adalah orang-orang baru, begitu mendengar disebutnya nama ini dan melihat teman-temannya berlutut, segera membuang golok dan berlutut pula.
Mereka sudah mendengar bahwa Endang Patibroto adalah pendiri Padepokan Wilis, dan bahkan menjadi ibu dari ratu, mereka!
Dengan napas terengah-engah saking marahnya, Endang Patibroto memandang beberapa wajah yang dikenalnya dan ia membentak.
"Bedebah kalian semua! Di mana Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis? Hayo suruh mereka cepat menghadap aku di sini!"
Sementara itu dari jarak yang jauh, ada orang yang menonton peristiwa ini dengan wajah pucat dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Kemudian orang ini diam-diam menyelinap di antara gerombolan pohon dan melarikan diri dari tempat itu.
Orang ini bukan lain adalah Ki Patih Adiwijaya atau Warutama atau Sindupati!
Dari jauh ia mendengar suara ribut-ribut dan dia sudah lari menghampiri.
Akan tetapi begitu melihat Endang Patibroto, ia merasa seolah-olah jantungnya menjadi beku dan hampir ia terkencing-kencing saking takutnya.
Kebetulan sekali ketiga orang tokoh Wilis yang dulu menjadi pembantu Endang Patibroto, yaitu Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis, berada tidak jauh dari lereng itu.
Mendengar suara ribut-ribut mereka cepat berlari menghampiri dan ketika melihat Endang Patibroto berdiri tegak dan didekatnya ada mayat sepuluh orang perajurit Wilis yang kepalanya remuk semua, mereka menjadi pucat dan cepat lari menghampiri dan menjatuhkan din berlutut di depan Endang Patibroto.
"Gusti Puteri. !!"
Melihat ketiga orang bekas pembantunya yang ia pasrahi Padepokan Wilis Endang Ptibroto menggeget giginya menahan marah.
"Hemm, apakah yang kalian bertiga telah lakukan? Apakah yang merubah keadaan Wills? Beginikah kalian menjalankan kewajiban kalian membawa para satria Wilis, menjadi gerombolan-gerombolan manusia biadab?"
Sambil berkata demikian, kaki Endang Patibroto bergerak dan cepat sekali kaki itu sudah menendangi tubuh ketiga orang tokoh Wilis itu sehingga mereka bertiga jatuh bergulingan.
Tentu saja Endang Patibroto tidak mempergunakan seluruh tenaga, karena kalau hal ini ia lakukan, tentu ketiga orang itu telah tewas dengan sekali tendang saja.
Namun tendangan yang bagi Endang Patibroto perlahan saja itu, bagi ketiga orang saudara Wilis ini merupakan sambaran halilintar yang membuat mereka mengaduh-aduh sambil memegangi kepala mereka.
"Aduh, Gusti Puteri. ! "
Mereka bersambat.
"Plak-plak-plak!"
Kembali Endang Patibroto menendang disusul makian-makiannya.
"Kalian semestinya dibunuh! Kalian tidak patut dibiarkan hidup. Keparat kalian, Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis!"
"Aduh tobat. !"
Limanwilis mengeluh dan roboh terlentang.
"Ampun, Gusti....... , ampunkan hamba. !"
Lembuwilis juga roboh terlentang dan menutupi mukanya seperti orang menangis.
"Aduhhh....... Gusti Puteri. aduh, bunuh saja hamba ""
Nogowilis meraung-raung karena hampir tidak kuat menahan rasa nyeri terkena tendangan kedua kalinya ini.
"Memang aku akan bunuh kalian! Aku akan bunuh kalian dengan tendangan ke tiga kalau kalian tidak lekas menceritakan apa yang telah kalian perbuat di sini!"
Tiga orang itu masih mengaduh-aduh karena belum mampu bercerita ketika pada saat itu terdengar bentakan nyaring.
"Eh-eh, iblis dari mana berani datang mengacau di sini?"
Endang Patibroto memandang dengan mata beringas.
Yang muncul ini adalah ki patih muda dari Wilis, yaitu Ki Walangkoro sendiri.
Ketika laki-laki tinggi besar ini melihat seorang wanita menghajar ketiga orang pembantunya dan melihat sepuluh orang anak buahnya menggeletak dengan kepala pecah, melihat puluhan orang perajur itu Wilis lairmya berlutut dengan mata terbelalak dan muka pucat ketakutan, ia menjadi marah sekali.
"Setan alas! Engkaulah yang menjadi biang keladi di sini? Engkau kepala di sini, keparat jahanam?"
Endang Patibroto memaki dengan suara mendesis-desis saking marahnya.
"Eh-eh, babo-babo si wanita keparat! Berani engkau menghina Ki Walangkoro, patih muda Kerajaan Wilis?"
Ki Walangkoro marah sekali dan menerjang maju.
Akan tetapi Endang Patibroto tidak menanti dia diserang, karena dia pun sudah menerjang maju memapaki dengan pukulan tangannya, sedangkan tangan yang kiri menangkis lengan lawan.
"Plak-desss. !!"
"Aduhhhh. !"
Ki Walangkoro terjengkang dan menggeliat-geliat seperti cacing terkena abu panas.
Memang panas rasa dadanya yang terkena pukulan tangan Endang Patibroto karena wanita sakti ini menggunakan Aji Wisangnolo yang panasnya melebihi kawah Candradimuka!
Kalau saja Ki Walangkoro tidak memandang rendah, tentu dia lebih berhati-hati menghadapi wanita sakti itu.
Betapapun hebatnya, terkena pukulan Wisangnolo ia seperti cacing terkena abu panas, menggeliat-geliat dan mengaduh-aduh, sukar untuk bangun kembali sungguhpun kekebalannya telah melindunginya.
Kalau ia tidak kebal sekali, tentu telah gosong dadanya dan melayang nyawanya terkena pukulan ampuh itu.
"Aduh, Gusti Puteri, ampunkan hamba....... sesungguhnya, hamba bertiga hanyalah terpaksa. Mula-mula, setelah paduka pergi, kami melakukan tugas seperti yang paduka perintahkan "
Lembuwilis mulai bercerita setelah ia berhasil bangkit dan duduk bersila sambil menyembah-nyembah.
"Akan tetapi kemudian muncul Ki Walangkoro ini, kami tidak sanggup melawannya. Kami dikalahkan dan kedudukan di Wilis dia rampas. Padepokan Wilis diganti menjadi Gerombolan Wilis. Kami tidak berdaya."
Melihat betapa raksasa tinggi besar ini tidak tewas oleh pukulannya. Endang Patibroto percaya bahwa ketiga orang Wilis ini tidak akan mampu menandingi si tinggi besar itu.
"Kemudian bagaimana. ?"
Bentaknya.
"Lalu, aduhhh....... dada hamba......."
Limanwilis tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Melihat ini Lembuwilis yang sudah bangkit lalu melanjutkan.
"Hamba bertiga dipaksa menjadi anak buahnya. Kemudian, beberapa bulan yang lalu muncullah Gusti Puteri Retna Wilis....... ya....... puteri paduka yang lenyap dulu "
"Lanjutkan!"
Bentak Endang Patibroto seolah-olah mendengar pernyataan bahwa Retna Wilis adalah puterinya membuat hatinya tertusuk.
"Beliau telah menjadi seorang yang amat sakti, Gusti. Dengan mudah Ki Walangkoro ditaklukkan, kemudian malah dijadikan patih muda dan sekarang gusti Retna Wilis membangun sebuah kerajaan Wilis."
"Hemmm , keparat ini pun bertanggung jawab!"
Endang Patibroto berseru marah, sekali meloncat ia telah berada dekat tubuh Ki Walangkoro yang kini sudah merangkak bangun.
Akan tetapi sebelum Ki Walangkoro sempat berdiri, Endang Patibroto mengayun tangannya.
Sebuah pukulan dengan Aji Pethit Nogo menyambar kepala bekas pemimpin Gerombolan Wilis.
"Dukkk!"
Berkat aji kekabalan yang amat kuat, kepala itu tidak remuk, akan tetapi tubuh itu terpelanting dalam keadaan tidak bernyawa karena pukulan sakti itu menggocang otaknya yang menjadi awut-awutan di dalam kepala.
Pada saat itu terdengar seruan-seruan.
"Gusti Puteri datang !"
Endang Patibroto mengangkat mukanya, memandang sesosok tubuh ramping yang datang bagaikan terbang cepatnya.
Seorang gadis yang amat cantik, berpakaian serba hijau, gilang-gemilang perhiasan yang terpasang di telinga dan ikat pinggangnya, seorang dara remaja yang luar biasa cantiknya, membuat Endang Patibroto ternganga.
Sejenak hatinya penuh kebanggaan, namun segera terganti kepahitan dan kekecewaan.
Yang datang adalah Retna Wilis.
ia mendapat laporan seorang anak buahnya bahwa ada orang mengamuk membunuhi perajuritnya.
Dengan kemarahan meluap dara ini meninggalkan istana dan berlari cepat menuju ke lereng itu.
"Siapa berani."
Tiba-tiba kata-katanya terhenti dan bagaikan kena pesona ia memandang Endang Patibroto yang berdiri tegak di depannya, kemudian kakinya melangkah maju menghampiri Endang Patibroto.
"Ibu.......! Ibu ??"
Panggilan pertama amat mesra, penuh kerinduan, panggilan ke dua bernada ragu-ragu dan agak dingin.
"Retna Wilis. !!!"
Bentakan Endang Patibroto amat janggal didengar.
Mengandung pencetusan rasa rindu, dicampur kemarahan, teguran, dan kedukaan.
Retna Wilis memandang ibunya, kemudian pandang matanya bergerak, memandang ke arah tubuh sepuluh orang perajurit yang kepalanya hancur, memandang mayat Ki Walangkoro yang tidak terluka, kemudian melihat kepada tiga orang kakak beradik Wilis yang mukanya bengkak-bengkak dan masih merintih-rintih, kepada para perajurit yang berlutut di depan ibunya, akhirnya ia kembali memandang ibunya.
"Ah, kiranya Kanjeng Ibu yang datang mengamuk. Hemmm, orang-orang sial itu memang patut dibunuh, berani menentang Ibu "
"Retna Wilis! Apa yang telah kaulakukan di sini??"
Retna Wilis yang sudah menghampiri ibunya untuk memeluk, menghentikan langkahnya dan dengan sikap dingin menggerakkan pundaknya.
Ibunya datang-datang marah kepadanya dan tidak ada sikap mesra, maka kerinduannya pun menipis dan kegirangannya lenyap.
"Apa yang kulakukan, Ibu? Tidak ada hal yang menyusahkan hatimu telah kulakukan. Bahkan sebaliknya.Anakmu datang sebagai seorang ratu besar yang berhasil menghimpun tenaga dan berhasil menundukkan banyak kadipaten "
"Retna Wilis! Mengapa engkau menyeleweng seperti ini?"
"Eh, Ibu Menyeleweng bagaimanakah yang Ibu maksudkan? Aku membentuk kerajaan dan akan kutaklukkan seluruh kerajaan, termasuk Panjalu dan Jenggala! Kelak akulah yang akan menjadi ratu dari seluruh Jawa-dwipa! Dan ibu akan menjadi ibu suri yang disembah--sembah manusia sejagat!"
"Gila! Apakah engkau sudah gila, Retna Wilis? Tidak boleh engkau melakukan hal ini! Ibumu adalah kawula Panjalu dan ayahmu adalah Patih Panjalu. Bagaimana engkau berani memberontak terhadap Panjalu? Engkau tidak boleh melakukan hal ini!"
"Hemm! Siapa yang hendak melarangku, Ibu? Tidak ada orang yang dapat melarangku!"
"Aku yang melarangmu!!"
"Ibu, engkau sungguh tidak adil. Ingatlah semenjak kecil aku Ibu bawa lari dalam kandungan sampai besar di Wilis ini, jauh dari ayah yang tidak memperdulikan nasib kita. Ibu terlunta-lunta, dan bukan itu saja. Aku mendengar riwayat Ibu sebagai mantu Jenggala yang disia-siakan, dimusuhi oleh Kerajaan Jenggala dan Panjalu, difitnah, bahkan pangeran yang menjadi suami ibu dibunuh! Ibu telah dihina dan dibikin sengsara hidup Ibu , dan Ibu masih mau menjadi kawula Panjalu? Apakah kita ini kalah oleh keluarga Kerajaan Panjalu dan Jenggala? Apakah kita harus merangkak-rangkak di depan ayah yang telah menyia--nyiakan Ibu? Tidak, seribu kali tidak! Aku berhasil mendapatkan ilmu, dan ilmu ini akan kupergunakan untuk membalas dendam penderitaan Ibu. Akan kutaklukkan Panjalu dan Jenggala. Akan kupaksa ayah bertekuk lutut di depan ibu. Akan kuangkat Ibu menjadi ibu suri yang dimuliakan orang sejagat! Akan."
"Cukup omongan gila itu! Retna Wilis, anak siapakah engkau?"
"Anak Ibu , tentu saja kalau Ibu mau mengakuinya."
"Hemm, kalau engkau masih ingat bahwa engkau adalah anakku, engkau harus mentaati perintahku! Mulai hari ini juga, bubarkan Gerombolan Wilis ini, bubarkan kerajaanmu dan engkau ikutlah bersamaku ke Panjalu, bertemu dengan ayahmu, berkumpul dengan semua keluarga. Tahukah engkau bahwa bibimu Setyaningsih kini telah menjadi ratu di Jenggala? Dia telah menjadi permaisuri raja di Jenggala! Dan kita semua sekeluarga akan menjadi satu, betapa bahagianya, Nak."
Leher Endang Patibroto serasa tercekik oleh keharuan ketika ia mengeluarkan ucapan ini. Akan tetapi Retna Wilis tersenyum pahit dan menggeleng kepalanya.
"Tidak, Ibu. Aku tidak sudi mengemis-ngemis anugerah orang lain. Aku tidak sudi membonceng kemuliaan orang lain. Sebaiknya kalau Ibu merestui cita-citaku dan ikut membantuku. Ingat, Ibu. Dahulu Endang Patibroto merupakan tokoh wanita tanpa tanding. Kalau kini Endang Patibroto bergerak di samping puterinya, Retna Wilis, kutanggung dunia ini akan berada di telapak tangan kita!"
"Dan engkau hendak melawan dan menentang ayahmu yang menjadi patih di Panjalu? Menentang bibimu yang menjadi permaisuri di Jenggala?"
"Kalau perlu, apa boleh buat. Aku akan terpaksa melawan dan menundukkan siapa saja yang menentangku, yang menghalangi cita-citaku."
"Anak durhaka, kalau begitu, apakah engkaupun hendak menentang aku?"
Endang Patibroto sudah mulai marah lagi.
"Ibu, aku tidak akan menentang siapa saja, apalagi Ibu. Aku hanya melawan siapa pun juga yang menentangku."
"Bagus! Kalau aku melarangmu melanjutkan cita-cita gila ini? Kalau aku, ibumu sendiri, menentangmu? Apakah engkau juga hendak melawan aku?"
Retna Wilis tersenyum dingin sehingga Endang Patibroto sendiri yang biasanya amat digentari orang, kini merasa mengkirik.
Senyum puterinya itu amat manis, akan tetapi seperti senyum iblis yang mengandung ancaman maut!
"Tidak ada seorang pun di dunia ini, juga lbu sendiri tidak, yang akan dapat menghalangi cita-citaku, yang akan menghentikkan usahaku menundukkan dunia, kecuali kematian."
"Anak durhaka, kalau begitu aku lebih suka melihat anakku mati daripada melihatnya hidup tersesat!"
"Dm hendak membunuhku? Tidak akan bisa, Ibu Ibu takkan dapat menangkan aku. Lebih baik Ibu hidup mulia dan bahagia di sini, kusembah-sembah menjadi junjunganku. Atau kalau Ibu lebih suka menjauhiku, kembalilah saja Ibu kepada suami Ibu, dan harap jangan mencampuri urusanku."
"Bocah iblis! Aku sudah melahirkan engkau, aku pula yang membunuh engkau!"
Endang Patibroto membentak dan meloncat maju mengirim serangan maut.
Wanita perkasa ini dengan hati hancur melihat kenyataan betapa anaknya benar-benar telah terpengaruh watak yang aneh dan seperti iblis, dan kalau dibiarkan, tentu akan menimbulkan malapetaka dan terutama sekali akan merusak dan mencemarkan nama baik orang tuanya.
Dia mengenal puterinya dan tahu bahwa bujukan-bujukan takkan berhasil lagi kalau Retna Wilis sudah mengambil keputusan seperti itu.
Daripada melihat puterinya yang tercinta menyeleweng, menjadi pemberontak, mengacaukan kerajaan-kerajaan, menimbulkan malapetaka dan pembunuhan-pembunuhan akibat perang yang ditimbulkan, mendatangkan kedukaan kepada semua keluarga, lebih baik ia melihat puterinya itu mati di depan kakinya sendiri.
Karena ia dapat menduga bahwa sebagai murid Nini Bumigarba, puterinya ini tentu memiliki kesaktian yang luar biasa, maka sekali menyerang Endang Patibroto sudah meloncat dengan gerakan Bayutantra dan tangan kanannya yang terbuka telah menampar muka Retna Wilis dengan Aji Gelap Musti.
"Plakkk!"
Pipi kiri Retna Wilis yang berkulit halus itu kena ditampar karena memang dara perkasa ini sama sekali tidak mengelak, hanya mengerahkan kekuatan saktinya melindungi kepalanya.
Akan tetapi ia tidak roboh, hanya bergoyang sedikit.
ia telah menerima tamparan sakti ibunya itu dengan mata terbuka, berkedip pun tidak.
Bibirnya sedikit pecah ujungnya sehingga meneteslah darah dari ujung mulut.
"Retna Wilis....... Anakku. !"
Endang Patibroto menjerit dan menubruk puterinya, merangkul, menciumi muka anaknya, mencium beberapa tetes darah yang menitik di pipi itu.
"Retna Wilis.......ah, betapa engkau menyiksa hati ibumu! Anakku, mengapa engkau tidak mentaati permintaan ibumu? Marilah, Angger,anakku bocah ayu, marilah engkau ikut bersama ibumu !"
Dua titik air mata menetes dari sepasang mata Retna Wilis. Akan tetapi mulutnya tersenyum dingin dan biarpun ia dipeluk dan dibelai, diciumi ibunya, ia tetap tenang, hanya mengelus pundak ibunya.
"Ibu, mengapa pula ibuku sendiri yang hendak menghalangi cita-citaku? Mengapa Ibu hendak merusak kebahagiaanku?"
"Engkau keliru, Retna. Cita-cita itu tidak akan membawamu kepada kebahagiaan, melainkan kesengsaraan karena pelaksanaannya akan menimbulkan bencana hebat. Kebahagiaanmu adalah bersama ibumu, bersama ayah dan keluargamu. Marilah Retna, percayalah bahwa ibu menentang kehendakmu ini demi cintanya kepadamu. Marilah, Anakku, sebelum terlambat."
"Tidak Ibu Terserah penilaian Ibu , akan tetapi aku tetap akan melanjutkan cita-citaku ini."
Perlahan-lahan Endang Patibroto melepaskan pelukannya dan melangkah mundur. ia terisak menahan tangis, memandang tajam lalu berkata lirih.
"Kalau begitu, sebelum engkau menyebar kematian di antara manusia-manusia yang tidak berdosa, lebih dulu kaubunuhlah ibumu ini!"
Endang Patibroto kini sudah marah kembali, kemarahan yang bercampur dengan putus asa.
Hatinya sakit sekali, seperti ditusuk-tusuk keris.
Anaknya yang begini cantik jelita, begini gagah perkasa, begini sakti sehingga tamparan Gelap Musti diterimanya tanpa berkedip dan hanya membuat ujung bibirnya berdarah sedikit.
Betapa akan bangga hatinya, betapa akan bahagia hatinya kalau dapat menuntun anaknya ini dan memperkenalkannya kepada ayah anak ini, Ki Patih Tejolaksono.
Akan tetapi kenyataannya adalah sebaliknya, amat pahit dan menyakitkan hatinya.
"Ibu , lebih baik Ibu pulang kembali saja ke Panjalu."
Retna Wilis berkata dan sikapnya dingin sekali.
"Engkau atau aku harus mati di sini!"
Endang Patibroto membentak dan kini ia maju menyerang sambil mengeluarkan pekik dahsyat.
Wanita ini telah mengeluarkan Aji Sardulo Bairowo dan pekiknya melengking tinggi menggetarkan permukaan lembah gunung Wilis.
Semua anak buah Wilis yang berdatangan di tempat itu, terkejut mendengar pekik ini, jantung mereka tergetar dan mereka yang tidak kuat sudah jatuh berlutut dengan tubuh menggigil, yang agak kuat masih berdiri dengan muka pucat dan mata terbelakak memandang ibu dan puterinya yang hebat itu.
Pekik Sakti Sardulo Bairowo sama sekali tidak mempengaruhi Retna Wilis, dan melihat pukulan ibunya yang amat hebat dan ampuh menghantam kepalanya, Retna Wilis menggerakkan lengan menangkis.
Dua lengan yang sama halusnya bertemu dahsyat dan akibatnya tubuh Endang Patibroto terpelanting!
Wanita perkasa itu mendengus marah dan penasaran, meloncat bangun dan menerjang kembali.
Retna Wilis yang maklum akan kesaktian ibunya, sudah mengerahkan aji kesaktiannya ke dalam kedua lengannya, lalu menangkis kembali.
Dan sekali lagi tubuh ibunya terpelanting.
Namun Endang Patibroto sudah bangkit dan menyerang lagi.
Wanita yang hancur hatinya ini sudah mengambil keputusan nekat untuk mengadu nyawa dengan anaknya.
Ia menyerang secara bertubi-tubi.
Retna Wilis hanya mengelak dan setiap kali ia menangkis ibunya tentu terguling, akan tetapi tidak pernah ia balas memukul ibunya.
Pertandingan ini berjalan seru dan lama sekali, akan tetapi setiap kali bertemu lengan, selalu Endang Patibroto yang terguling roboh.
Makin lama Endang Patibroto menjadi makin penasaran dan marah, akhirnya ia menjadi mata gelap.
Sambil menyerang, ia melepaskan banyak panah tangan yang menyambar seperti kilat cepatnya menuiu tubuh anaknya.
Retna Wilis mengeluarkan suara pekik melengking dan semua anak panah yang mengenai tubuhnya runtuh, tidak sebatang pun dapat melukai kalitnya!
"Ibu takkan menang melawanku, lebih baik ibu pergi."
"Anak durhaka!"
Endang Patibroto menyerang lagi, kini pukulan Wisangnolo yang ia pergunakan amat dahsyatnya karena ia telah mengerahkan seluruh tenaganya.
Retna Wilis mendorongkan tangannya memapaki telapak, tangan ibunya.
"Desss!!"
Dua tenaga mujijat bertemu dan terdengar Endang Patibroto mengeluarkan rintihan lirih dan tubuhnya yang terguling lagi tak dapat bangun kembali karena ia telah roboh pingsan, tergetar oleh hawa pukulannya sendiri yang membalik ketika terbentur hawa sakti dari tangan Retna Wilis.
Sejenak Retna Wilis berdiri termangu memandang tubuh ibunya.
Ia menggunakan ujung baju menghapus keringat di dahinya.
Ibunya adalah seorang lawan yang tangguh dan andaikata dia tidak memiliki tenaga sakti yang hebat, tentu dia sendiri sudah terluka parah di sebelah dalam tubuhnya.
Perlahan-lahan dihampirinya tubuh ibunya, dipondong dan diangkatnya, dipeluk dan diciumnya dahi ibunya dengan kemesraan seorang anak kepada ibunya.
Akan tetapi ia segera menekan perasaan dan pandang matanya berubah dingin kembali ketika ia berkata memerintah.
"Keluarkan kereta, dan antarkan ibu ini turun gunung. Tinggalkan kereta di bawah kaki gunung."
Perintah ini ia tujukan kepada Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis.
Biarpun tiga orang ini masih sakit-sakit tubuhnya akibat tendangan-tendangan Endang Patibroto tadi, mendengar perintah itu cepat mereka bertiga mengambil kereta.
Retna Wilis memondong tubuh ibunya, membawanya ke dalam kereta, membaringkan tubuh ibtunya di dalam kereta, sekali lagi mencium dahi ibunya dan berbisik lirih.
"Ibu!"
Kemudian ia turun dari kereta memberi isyarat kepada ketiga orang tokoh Wilis itu untuk berangkat.
Lembuwilis dan Nogowilis duduk mengendarai kuda penarik kereta, sedangkan Limanwilis yang ter tua duduk menjaga Endang Patibroto di dalam kereta, kemudian kereta pun berangkat menuruni gunung Wills.
Retna Wills berdiri tegak memandang, dua titik air mata menetes turun.
Akan tetapi setelah menghela napas ia lalu menghapus air matanya, memutar tubuhnya memandang anak buahnya yang berlutut dan berkata.
"Mulai hari ini, siapkan semua pasukan. Hei!, di mana Paman Patih??"
Tak seorang pun di antara para anak buah Wilis tahu ke mana perginya Patih Adiwijaya.
"Mungkin gusti patih sedang melakukan pemeriksaan di perbatasan, Gusti Puteri!"
Akhirnya terdengar jawaban seorang perwira.
"Biarlah, kalau sudah datang suruh ia menghadap. Beritahukan kepada semua pasukan agar berkumpul, juga kerahkan seluruh rakyat yang sudah takluk untuk siap membantu gerakan kita. Secepatnya kita akan menyerbu Ponorogo!"
Para anak buah Wilis bersorak gembira.
Penyerbuan ke suatu tempat berarti perang, dan perang berarti pula kemungkinan-kemungkinan dan kesempatan-kesempatan bagi mereka untuk menikmati kesenangan, selain membunuh musuh di bawah pimpinan orang-orang sakti, juga kesempatan itu dapat mereka pergunakan untuk memperoleh barang-barang berharga dan wanita-wanita cantik.
Di bawah sorak-sorai anak buahnya, Retna Wilis lalu lari naik ke puncak, memasuki taman sari yang baru saja.
dibangun, kemudian menjatuhkan diri ke atas bangku di tengah-tengah taman sari.
Air matanya deras mengucur.
Setelah berada seorang diri , tak dapat ia menahan kekecewaan dan kedukaan hatinya mengenangkan sikap ibunya.
Ia menangis dan akhirnya karena tekanan batin dan kelelahan, ia tertidur pulas di atas bangku taman sari, kedua pipinya masih basah air mata.
Sehari semalam Retna Wilis tertidur di taman itu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia terbangun dengan isak tertahan.
Ia melihat Patih Adiwijaya duduk bersila tak jauh dari bangku sambil menundukkan muka..
Wajah orang tua ini kelihatan berduka.
Retna Wilis bangkit duduk dan barn tahu ia bahwa tubuhnya telah diselimuti jubah luar patihnya.
"Paman Adiwijaya, ah, aku tertidur di sini "
Suaranya masih mengandung isak.
"berapa lama aku tertidur?"
Ia menyerahkan kembali jubah luar patihnya.
"Duh Gusti Puteri yang malang. Paduka tertidur semenjak kemarin siang."
"Kenapa engkau tidak membangunkan aku, Paman?"
Patih itu memandang wajah Retna Wills dengan pandang mata penuh iba hati dan prihatin.
"Hamba baru pulang siang kemarin dari memeriksa keadaan penjagaan di tapal batas timur, untuk mendengarkan gerak-gerik Ponorogo. Baru hamba mendengar akan kunjungan Ibunda Paduka dan....... ah, sungguh kasihan sekali Paduka, Gusti. Hamba. ikut berduka dengan peristiwa yang menyedihkan itu "
Retna Wilis tersenyum, memandang pembantunya itu dengan sinar mata berterima kaksih.
"Dan semenjak kemarin siang, engkau menungguku di sini?"
"Hamba tak berani membangunkan Paduka yang tidur pulas sambil kadang-kadang terisak. Ampunkan hamba yang berani menyelimuti Paduka dan hamba menjaga di sini, menanti Paduka terbangun."
Retna Wilis mengulurkan tangan dan menyentuh pundak patihnya.
"Paman, engkau baik sekali. Agaknya engkaulah orang yang paling baik terhadap diriku. Adapun ibuku. ah, benar-benar aku bingung, Paman."
"Mengapa Paduka bingung? Hendalcnya Paduka tenang karena setelah hamba mendengar akan semua peristiwa, hamba merasa yakin akan kebenaran paduka. Setiap manusia di dunia ini berhak untuk mencari kemuliaan, apalagi seorang sakti mandraguna seperti paduka. Hanya si manusia sendiri yang akan dapat menetukan nasib hidupnya. Paduka benar, dan hamba bersumpah untuk bersetia, untuk membela dan membantu paduka dengan taruhan nyawa hamba."
Ucapan ini keluar dari hati nurani Adiwijaya karena entah bagaimana, baru sekali ini selama hidupnya ia mencinta seseorang, mencinta yang sungguh--sungguh murni, bukan cinta nafsu, melainkan cinta seorang ayah terhadap puterinya.
ia merasa kagum akan kesaktian dara ini, merasa kagum akan kecantikannya, dan timbullah rasa sayang dan setia yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya.
"Terma kasih, Paman. Aku tidak akan melupakan kebaikan hatimu."
"Aduh Gusti Puteri Retna Wills yang bijaksana dan sakti mandraguna. Hamba hanyalah seorang yang rendah, hamba seorang yang penuh dosa, hamba seorang yang banyak dimusuhi orang lain, seorang yang jahat dalam pandangan orang lain."
"Bagiku, engkau seorang yang baik, dan itu bagiku sudah cukup. Aku tidak perduli pendapat orang lain."
"Mungkin ibunda paduka pun menganggap hamba seorang jahat, Gusti."
"Hemm, mengapa, Paman?"
"Mungkin....... hamba disangka sebagai orang yang membujuk-bujuk paduka."
"Ah, biarlah. Biar andaikata ibuku sendiri membencimu dan menganggapmu orang jahat, aku tetap menganggapmu seorang baik. Sekarang, Paman. Siapkan bala tentara kita. Kita serbu Ponorogo, terus ke timur."
"Terus menyerbu Jenggala, Gusti?"
Tanya Adiwijaya penuh gairah..
"Benar, Paman. Ke Jenggala! Kita tundukkan Jenggala secara baik-baik, mengingat bahwa yang menjadi raja di sana adalah Paman Pangeran Panji Sigit, dan permaisurinya adalah Bibi Setyaningsih, adik ibu sendiri. Kalau mereka menghadapi kita dengan kekerasan, terpaksa akan kutundukkan Jenggala dengan kekerasan pula. Setelah itu, baru kita menengok ke Panjalu!"
"Balk sekali, Gusti. Hamba siap dan sekarang juga hamba akan mengumpulkan seluruh barisan Wilis!"
Kata Adiwijaya penuh kegembiraan.
Sementara itu, jauh dari puncak Wilis, di sebelah timur kaki gunung Wilis, sebuah kereta berhenti di dalam sebuah hutan.
Limanwilis, Lembuwilis, dan NogoWilis duduk di atas tanah bersila dan tak bergerak seperti arca.
Tadi mereka menghentikan kereta, melepaskan kuda yang mereka biarkan makan rumput, kemudian mereka duduk menanti di bawah kereta.
Retna Wilis, dan juga Ki Walangkoro sendiri, ternyata hanya dapat mempengaruhi Lembuwilis, Limanwilis dan Nogowilis untuk sementara saja.
Mereka bertiga ini tunduk karena terpaksa dan tidak berani melawan.
Akan tetapi begitu melihat Endang Patibroto, hati ketiga orang ini tergetar dan watak baik mereka yang sudah lama dipupuk oleh Endang Patibroto selama wanita itu memimpin Padepokan Wilis, bangkit kembali.
Mereka merasa terharu sekali, apalagi menyaksikan nasib bekas junjungan mereka yang amat menyedihkan.
Memang harus diakui bahwa sebelum menjadi anak buah Endang Patibroto, tiga orang ini adalah tokoh-tokoh Wilis yang bekerja sebagai perampok.
Namun, kekejaman hati mereka sudah menipis oleh gemblengan-gemblengan Endang Patibroto dan kini menyaksikan kekejaman hati Retna Wilis yang tega melawan ibunya sendiri, mereka menjadi penasaran dan di dalam hati, mereka berpihak kepada Endang Patibroto.
Begitu siuman dari pingsannya, Endang Patibroto teringat akan puterinyaj dan ia mengerang, lalu menangis tersedu-sedu.
Sampai lama ia menangis, kemudian barn ia mendapatkan dirinya berada di dalam sebuah kereta yang berhenti.
Cepat ia meloncat keluar dari dalam kereta dan melihat Limanwilis dan kedua orang adiknya duduk bersila dengan kepala tunduk.
"Eh, kalian bertiga mengapa berada di sini?"
Limanwilis menyembah dan berkata.
"Hamba bertiga diutus oleh Gusti Puteri Retna Wilis untuk mengantar Paduka dengan kereta sampai di kaki Wilis, kemudian hamba bertiga disuruh meninggalkan kereta. Akan tetapi, hamba tidak tega meninggalkan Paduka di sini, Gusti. Dan, jika kiranya Paduka sudi mengampuni hamba bertiga kakak-beradik, hamba ingin bersuwita (menghamba) kepada Paduka, ingin mengiringkan Paduka kembali ke Panjalu. Hamba tidak sanggup lagi menjadi kawula Wilis yang ternyata menyeleweng daripada kebenaran, Gusti."
Endang Patibroto menarik napas panjang dan menghapus air matanya.
"Kehendak Hyang Widdhi Wisesa tak dapat diubah dan dibantah. Retna Wilis telah menyeleweng jauh sekali setelah dia menjadi murid Nini Bumigarba dan memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia. Kalian bertiga telah mengalami dan melihat perkembangan semenjak dia lahir di puncak Wilis sampai dia diculik Nini Bumigarba. Aduh, Kakang Limanwilis....... apakah yang harus kulakukan. ?"
Endang Patibroto menangis lagi, menutupi muka dengan kedua tangannya.
Tiga orang tokoh Wilis itu memandang bekas junjungan, mereka dengan muka keruh, penuh keharuan.
Belum pernah selama mereka menghamba kepada wanita sakti ini yang terkenal keras hati, mereka melihat wanita ini menangis seperti itu.
"Duh, Gusti Puteri Endang Patibroto. Memang sesungguhnyalah Sang Hyang Widdhi tak dapat diubah dan dibantah, karena itu manusia hanya dapat menyerahkan kepada kekuasaanNya. Akan tetapi, manusia berwenang untuk berusaha dan berikhtiar. Kalau Paduka suka menurut anjuran hamba, lebih baik Paduka hamba antar kembali ke Panjalu dan melaporkan hal ini kepada Kerajaan Panjalu."
Endang Patibroto mengangguk, lalu memasuki kereta kembali.
Tiga orang kakek itu pun naik ke atas kereta seperti tadi dan kuda-kuda yang telah dipasang di depan kereta sebelum mereka naik, dijalankan melaju ke timur.
"Andika bertiga belum tahu, Kakang Wilis. Suamiku, ayah Retna Wilis adalah Ki Patih Tejolaksono di Panjalu."
"Ahhh !!"
Tiga orang itu mengangguk-angguk.
Tentu saja mereka sudah mendengar akan nama Tejolaksono, seorang tokoh yang memiliki kesaktian lebih tinggi daripada Endang Patibroto sendiri.
Ibunya seorang wanita yang tiada bandingnya, ayahnya seorang tokoh sakti di kedua Kerajaan Panjalu dan Jenggala, gurunya seorang nenek sesakti iblis sendiri, pantas saja Retna Wilis menjadi seorang dara yang hebatnya sampai mengerikan hati para jagoan Wilis ini!
Dengan sikap yang amat gagah, Retna Wilis berdiri di tempat yang menonjol tinggi.
Di bagian bawah, memenuhi lereng sekitar puncak, berkumpullah ribuan orang perajurit Wilis yang sudah bergabung dengan sebagian rakyat dari daerah-daerah yang sudah ditaklukkan.
"Para perajuritku yang setia!"
Suara dara itu melengking tinggi dan dapat terdengar sampai jauh sehingga perajurit yang berdiri paling belakang dapat mendengar dengan jelas.
"Karena Ponorogo menentang kekuasaan kerajaan kita, kini tiba saatnya bagi kita untuk menggempur Ponorogo! Kita hams dapat membuktikan bahwa Kerajaan Wilis adalah kerajaan terbesar di seluruh jagat!"
Sorak-sorai gegap-gempita, menyambut ucapan Retna Wilis ini.
Setelah semua persiapan dilakukan, berangkatlah barisan besar ini turun dari lereng Wilis, dipimpin oleh Retna Wilis yang didampingi oleh Patih Adiwijaya.
Biarpun kehilangan pembantu-pembantu yang pandai, yaitu Ki Walangkoro yang tewas di tangan Endang Patibroto, juga Lembuwilis dan kedua orang adiknya yang tidak kembali ke Wilis ketika mengantar Endang Patibroto turun dari puncak, namun sedikit pun Retna Wilis tidak menjadi gentar.
Melihat sikap dara ini, Adiwijaya yang tadinya merasa ragu-ragu apakah mereka akan dapat menundukkan Ponorogo yang terkenal memiliki barisan kuat dan banyak orang sakti, menjadi besar hati dan yakin bahwa di bawah pimpinan seorang seperti Retna Wilis, mereka akan dapat mengalahkan Ponorogo.
Mula-mula Retna Wilis tidak mau menunggang kuda.
Semenjak kecil is belum pernah naik kuda dan ketika menjadi murid Nini Bumigarba di pantai Taut, yang biasa dijadikan binatang tunggangan hanyalah seekor kura-kura raksasa!
Akan tetapi Adiwijaya menasehatinya.
"Paduka pada saat seperti ini merupakan panglima besar barisan Wilis. Bagaimanakah seorang panglima memimpin bala tentaranya dengan berjalan kaki. Hal ini akan merendahkan nama Paduka, Gusti."
Karena nasehat ini, terpaksalah Retna Wilis menunggang seekor kuda putih dan biarpun ia tampak makin gagah mengagumkan, namun sesungguhnya ia merasa kurang leluasa harus menunggang kuda.
Akan tetapi setelah menunggang sehari lamanya, ia mulai terbiasa dan merasa lebih enak, sungguhpun ia akan seribu kali memilih jalan kaki dalam menghadapi lawan daripada di punggung seekor kuda.
Sementara itu, Kadipaten Ponorogo yang tentu saja tidak sudi tunduk terhadap perintah Retna Wilis yang amat hina, sudah pula melakukan persiapan untuk berperang.
Barisan--barisan telah disiapkan, bala bantuan sudah datang, hanya bantuan dari Panjalu yang belum datang karena Ki Patih Tejolaksono menahan pengiriman bantuan spasukan ke Ponorogo, menanti kembalinya Endang Patibroto yang hendak mencegah puterinya melakukan penyerbuan--penyerbuan yang merupakan pemberontakan itu.
Di Ponorogo telah berkumpul orang-orang sakti untuk membantu perjuangan kadipaten ini menghadapi ancaman Kerajaan Wilis yang baru sekali itu mereka dengar.
Akan tetapi para orang sakti ini tidak lagi berani memandang rendah dara remaja yang kabarnya menjadi ratu di Wilis ketika mereka mendengar sendiri dari mulut Panembahan Ki Ageng Kelud betapa saktinya dara itu di waktu masih kecil dahulu.
Apalagi ketika mendengar bahwa dara itu adalah murid Nini Bumigarba, tengkuk mereka meremang dan tahulah mereka bahwa bukan hanya Ponorogo yang terancam, juga nyawa mereka sendiri.
Akan tetapi, sebagai orang-orang berilmu yang membela kebenaran, mereka tidak merasa gentar dan siap menghadapi lawan.
Bentrokan pertama antara kedua pasukan Ponorogo dan Wilis teijadi di tapal batas.
Ternyata oleh barisan Wilis bahwa ketenaran nama barisan Ponorogo memang tidak kosong belaka.
Semenjak bentrokan pertama, pasukan-pasukan Ponorogo mengadakan perlawanan sengit dan mereka itu selain memiliki anak buah yang kuat-kuat dan pantang mundur, juga dipimpin oleh perwira-perwira yang berpengalaman dan pandai mengatur barisan.
Untung bagi bala tentara Wilis bahwa di pihak mereka ada Ki Patih Adiwijaya.
Seperti telah diketahui, patih ini adalah seorang perajurit kawakan yang sudah mempunyai banyak pengalaman dalam perang.
Pernah menjadi perwira Jenggala, menjadi panglima Blambangan, kemudian menjadi patih di Jenggala pula.
Maka Patih Adiwijaya dapat mengimbangi siasat perang pihak lawan.
Adapun untuk pertandingan perang campuh itu sendiri, semua perajurit Wilis menjadi besar hatinya menyaksikan sepak terjang ratu mereka, Retna Wilis.
Dara ini benar-benar mengerikan sekali sepak terjangnya.
Ke mana saja ia mengajukan kudanya, pasti barisan lawan cerai-berai dan korban jatuh bertumpang-tindih dan bertumpuk-tumpuk!
HAL ini banyak sekali pengaruhnya, terhadap lawan dan anak buah sendiri.
Fihak lawan menjadi gentar sekali dan fihak anak buah menjadi besar hati.
Karena sepak terjang Retna Wills yang selain mempergunakan kesaktian kedua tangannya juga menggunakan ilmu hitam semacam sihir, maka buyarlah fihak musuh.
Setiap siasat dan pasangan barisan diimbangi dengan pasangan lain oleh Patih Adiwijaya dan selalu pasangan barisan lawan buyar oleh amukan Retna Wilis dan para pasukannya.
Pertempuran itu hanya berlangsung setengah hari.
Pihak pasukan Ponorogo terdesak mundur dan biarpun semangat tempur para perajurit masih tinggi, namun para perwira yang menyaksikan betapa pasukan mereka hancur seperti rumput dibabat di bawah amukan Retna Wilis dan anak buahnya, segera memberi aba-aba kepada pasukan-pasukannya untuk mundur.
Retna Wilis berteriak nyaring, meneriakkan aba-aba kepada para barisannya untuk mengejar dan menyerbu terus.
Di sepanjang perjalanan menuju ke Kadipaten Ponorogo, mereka bertemu dengan pasukan-pasukan barn, namun mereka maju terus sehingga tubuh semua perajurit berlumuran darah lawan.
Mereka bergerak seperti kemasukan iblis, tertawa-tawa dan bersorak-sorak, apalagi karena sepak-terjang Retna Wilis makin buas dan ganas.
Segenggam pasir di tangan Retna Wilis, sekali disambitkan dapat merobohkan puluhan orang lawan!
ltulah Aji Pasir-sekti.
Masih baik bagi para perajurit Ponorogo bahwa gerakan-gerakan dara perkasa itu dihalangi oleh kedudukannya di atas kuda.
Andaikata dia mengamuk tanpa menunggang kuda, tentu akan lebih mengerikan lagi akibatnya.
Retna Wilis yang menyetujui nasehat patihnya, tidak pernah turun dari punggung kudanya.
Makin dekat serbuan para perajurit Wilis ke kadipaten, makin kuatlah perlawanan perajurit-perajurit Ponorogo, bahkan kini orang-orang sakti di fihak barisan Ponorogo sudah mulai membantu pula.
Begitu orang-orang sakti yang dipimpin oleh Panembahan Ki Ageng Kelud dan para warok yang jumlahnya ada lima puluh orang itu menyerbu, barisan Wilis menjadi kacau-balau.
Tidak kuat mereka menandingi serbuan orang-orang sakti ini yang mengamuk seperti api menjalar, makin lama makin ganas dan merobohkan banyak korban.
Melihat ini, Patih Adiwijaya memberi aba-aba kepada pasukan yang menghadapi rombongan orang sakti itu untuk mundur dan ia mendekati junjungannya memberi laporan karena maklum bahwa dia sendiri tidak akan kuat menanggulangi amukan orang-orang sakti itu.
Satu-satunya orang yang akan dapat menghancurkan mereka hanyalah Sang Ratu Wilis sendiri.
Mendengar laporan patihnya, Retna Wilis mengeluarkan teriakan garang lalu membedal kudanya ke depan, membuka jalan berdarah merobohkan setiap lawan yang menghadangnya sampai ia tiba berdepan dengan rombongan warok yang dipimpin oleh Panembahan Ki Ageng Kelud dan Ki Warok Surobledug!
"Ha, kita bertemu lagi untuk yang terakhir kalinya, Surobledug dan engkau Ki Ageng Kelud.
Terakhir kali kataku karena sekali ini kalian semua takkan terlepas dari maut di tanganku!"
Kata Retna Wilis sambil menudingkan cambuk di tangan kirinya. Semenjak mengamuk tadi, Retna Wilis hanya menggunakan cambuk kuda, kedua tangan dan kakinya saja, tidak pernah menyentuh gagang pedangnya.
"Retna Wilis, engkau perempuan berwatak iblis! Kematian hanya berada di tangan Sang Hyang Widdhi, sekali-kali bukan di tangan iblis seperti engkau!"
Ki Warok Surobledug membentak.
"Retna Wilis, kejahatanmu melampaui takaran, terpaksa kami turun tangan!"
Panembahan Ki Ageng Kelud juga berkata sambil menudingkan tongkatnya.
Retna Wilis tertawa, suara ketawanya dingin mengejek, membuat mereka yang mendengar menjadi mengkirik.
Akan tetapi diam-diam Surobledug telah memberi isyarat dan tiba-tiba terdengar suara bersautan dan ratusan anak panah menyambar ke arah tubuh Retna Wilis!
Melihat ini, Retna Wilis cepat memutar cambuknya sehingga anak-anak panah yang menyambar ke arah tubuhnya runtuh semua.
Akan tetapi tiba-tiba kuda yang ditungganginya meringkik keras dan roboh terguling.
Retna Wilis kaget dan marah.
Kudanya telah menjadi korban anak panah musuh.
ia meloncat dari punggung kuda.
Akan tetapi karena ia kurang pandai menunggang kuda dan tidak biasa, ia lupa bahwa kakinya masih terkait dan ketika ia meloncat tentu saja tubuhnya terpelanting dan ia terbawa roboh bersama kuda, sebelah kakinya terhimpit tubuh kudanya yang berkelojotan.
Pada saat itu, Patih Adiwijaya meloncat dari atas kudanya langsung menolong sang puteri, menarik tubuh kuda dan membantu Retna Wilis yang hendak disambarnya dari tempat berbahaya itu karena kini banyak anak panah melayang lagi diikuti para warok yang dipimpin Ki Warok Surobledug meneijang dengan senjata mereka.
Adiwijaya berhasil menyambar tubuh Retna Wilis, akan tetapi ia merupakan perisai dan biarpun Retna Wills yang melihat datangnya anak panah itu cepat menggerakkan tangan memukul anak-anak panah itu dengan hawa sakti,tetap saja ada sebatang anak panah menancap di pundak Adiwijaya!
"Ah, Paman, mengapa engkau menoIongku?
Engkau terluka sendiri ".
Retna Wilis berkata penuh sesal.
Kalau hanya jatuh tertindih tubuh kuda begitu saja, bukan apa-apa baginya dan tidak ditolong sekali pun dia mampu menolong diri sendiri.
Adiwijaya terhuyung dan menggigit bibir ketika Retna Wilis mencabut anak panah itu yang ternyata mengandung racun!
"Cepat mundurlah dan obati lukamu!"
Kemudian sekali tangannya bergerak ke belakang, ia telah mencabut pedang dan tampaklah sinar berkilat menyilaukan mata.
Pedang Sapudenda telah berada di tangannya, dan sekali memekik nyaring tubuh dara perkasa ini sudah mencelat ke depan, disambut oleh rombongan warok.
Kini dara itu tidak lagi menunggang kuda, maka gerakannya makin dahsyat mengerikan.
Tampak sinar pedangnya seperti kilat menyambar-nyambar di musim hujan dan terdengarlah jerit-jerit kematian dari tujuh orang warok termasuk Ki Surobledug sendiri yang putus batang lehernya disambar pedang Sapudenta!
Selain hantaman tongkat di tangan Ki Ageng Kelud ini, masih ada sambaran senjata-senjata pusaka yang berupa kolor ajimat, digerakkan oleh tangan Ki Warok Dwipasekti dan tiga orang warok sakti lainnya.
Retna Wilis kini sudah marah sekali, wajahnya yang cantik jelita berubah beringas, matanya bersinar-sinar seperti memancarkan api, hidungnya berkembang kempis, mulutnya tersenyun dingin penuh ejekan.
Melihat datangnya serangan lima orang sakti itu, ia hanya menyambut tongkat Ki Ageng Kelud.
Tangan kirinya bergerak menangkap tongkat, tangan kanan yang memegang pedang menusuk dan darah muncrat dari dada kakek itu yang ditembusi pedang Sapudenta sampai ke punggung.
Biarpun sudah tua dan kini pedang pusaka yang luar biasa ampuhnya menembus dadanya, namun Ki Ageng Kelud adalah seorang yang gentur tapa, seorang sakti mandraguna yang sudah dapat mengatasi perasaan nyeri.
Ia seperti tidak merasakan nyeri sama sekali, malah tertawa dan kedua tangannya mencengkeram ke arah kepala dan leher Retna Wilis!
Dara perkasa ini berseru kagum, tidak memperdulikan empat buah senjata kolor yang menghantam tubuhnya, bahkan terns membelit kaki dan pinggangnya, namun ia menyambut cengkeraman Ki Ageng Kelud dengan pukulan tangan kiri, menggunakan Aji Wisalangking.
Pukulannya cepat sekali, membuat kedua tangan kakek itu terpental, terus menghantam kepala dan sekali ini Ki Ageng Kelud tidak kuat bertahan, tubuhnya terpental, pedang tercabut dan robohlah tubuh kakek itu dalam keadaan hangus bagian mukanya!
Retna Wilis tadi sengaja menghadapi Ki Ageng Kelud yang ia tahu amat sakti, tidak memperduli kan hantaman empat buah kolor jimat di tangan empat orang warok sakti.
Biarpun hanya kolor, akan tetapi bukan kolor sembarangan karena dengan senjata kolor ini, warok-warok sakti itu sanggup untuk sekali pukul menghancurkan batu karang dan menumbangkan pohon jati sebesar orang!
Akan tetapi betapa kaget hati mereka ketika kolor mereka mengenai tubuh Retna Wilis, dara itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, dan kolor-kolor itu mengenai tubuhnya sama sekali tidak dirasakannya, seolah-olah hanya empat ekor lalat yang hinggap di tubuh.
Melihat dara itu menusuk dada Ki Ageng Kelud dengan pedang, kemudian memukul hangus kepala kakek itu, empat orang warok itu menjadi marah dan penasaran.
Kolor mereka yang tadi memukul tanpa hasil, terus melibat.
Dua buah melibat pinggang, dan yang dua buah lagi membelit kedua kaki gadis itu, kemudian-mereka mengerahkan seluruh tenaga dan bersama-sama mereka membetot untuk membikin tubuh dara itu terguling.
Tenaga Ki Warok Dwipasekti dan tiga orang kawannya itu amat besar.
Tarikan mereka tidak akan kalah oleh tenaga tarikan empat ekor kerbau jantan.
Akan tetapi Retna Wilis tetap berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar, tangan kanan memegang pedang melintang di depan dada, tangan kiri diangkat ke atas dan tubuhnya sedikit pun tidak bergeming!
Jangankan baru empat warok sakti, biar ditambah sepuluh kali lipat, belum tentu akan kuat menggeser gadis itu yang mengerahkan Aji Argoselo.
Kalau sudah mengerahkan aji seperti itu, tubuh dara itu seolah-olah berubah menjadi gunung batu, kedua kakinya seperti telah berakar di bumi!
Empat orang warok itu mendengus-dengus mengerahkan tenaga dan ketika Retna Wilis menggerakkan pedang Sapudenta, pedang itu berubah menjadi sinar berkelebat dan empat buah kepala warok itu mencelat terlepas dari tubuh mereka yang masih menarik-narik kolor!
Retna Wilis meloncat mundur menghindarkan darah yang muncrat-muncrat dan robohlah empat batang tubuh yang sudah tidak berkepala lagi itu.
Para warok menjadi marah bukan main, akan tetapi kini Retna Wilis sudah mengamuk dengan pedangnya.
Senjata berupa apapun juga dari para pengeroyoknya pasti terbabat putus oleh pedang Sapudenta, dan disusul muncratnya darah dari bagian tubuh yang ikut terbabat dan menjadi buntung.
Sebentar saja tempat itu sudah penuh dengan mayat para tokoh sakti yang membantu Ponorogo.
Sementara itu, setelah mengobati lukanya di pundak, Adiwijaya terus memimpin tentaranya menghajar pasukan--pasukan musuh.
Karena pihak Ponorogo melihat betapa para warok dan orang-orang sakti terbasmi oleh Retna Wilis, hati mereka menjadi gentar sekali.
Akhirnya, ketika pasukan Wilis menyerbu kadipaten, sisa pasukan Ponorogo bersama Adipati Diroprakosa melarikan diri menuju ke Panjalu.
Ketika Retna Wilis dan pasukannya memasuki kadipaten, di depan istana kadipaten, Adiwijaya roboh pingsan.
Luka di pundaknya memang tidak hebat, akan tetapi karena luka itu terkena racun yang terkandung di ujung anak panah, dan dia tidak beristirahat melainkan memimpin terus barisannya, kini racun mulai bekerja dan dia roboh pingsan.
Retna Wilis cepat memerintahkan beberapa orang perwira untuk menggotong tubuh patihnya itu memasuki kadipaten dan dia sendiri yang merawat luka patihnya yang setia itu.
Ketika siuman dan mendapatkan dirinya dirawat sendiri oleh Retna Wilis, Adiwijaya menjadi terharu.
Baru pertama kali ini selama hidupnya ia merasa terharu, perawatan Retna Wilis menyentuh hatinya, seolah-olah ia menjadi seorang ayah yang dirawat seorang puterinya.
"Ah, harap Paduka jangan melelahkan diri. Sudah sepatutnya hamba terluka, memang hamba sendiri yang salah dan lancang. Hamba lupa bahwa biarpun jatuh, Paduka tidak akan mungkin dapat celaka di tangan musuh. Hamba kaget dan panik sehingga lancang menolong sehingga hamba sendiri yang terluka. Sudah sepatutnya, memang hamba bodoh sekali..."
Katanya, hatinya merasa sungkan juga melihat betapa dara perkasa yang dipuja dan dikaguminya itu mencuci sendiri luka di pundaknya, memberi obat dan membalutnya.
"Eh, Paman Adiwijaya, mengapa sungkan-sungkan? Biarlah kubalut baik-baik lukamu. Engkau terkena racun. Engkau telah menolongku, dan hal itu kuanggap bahwa Paman telah menolong nyawaku, telah melepas budi besar."
"Paduka terlampau sakti, tak mungkin akan dapat dicelakai lawan. Luar biasa sekali. Selama hidupku, belum pernah hamba menyaksikan sepak terjang seorang panglima perang seperti Paduka"
Setelah pasukan Ponorogo melarikan diri, pasukan--pasukan Wilis berpesta-pora dalam melakukan pengejaran.
Pengejaran itu hanya sebagai alasan belaka, sesungguhnya mereka itu berpesta-pora melakukan perampokan--perampokan, bukan hanya harta benda yang direnggut, juga kehormatan-kehormatan wanita cantik.
Demikianlah keadaan perang.
Yang menang mabuk kemenangan dan memperlakukan yang kalah sesukanya sendiri.
Merampok barang, memperkosa wanita, membunuh, menyiksa!
Di antara sorak-sorai gembira, sorak kemenangan itu tertutuplah isak tangis dan lengking kematian dari rakyat yang tinggal di sekitar Ponorogo.
"Aduh, Kakangmas....... , apa yang harus kulakukan....... Aduh dewata, lebih baik dicabut saja nyawa Endang Patibroto daripada menderita batin seperti ini ". Endang Patibroto mengeluh dan menangis di dalam kereta sehingga Limanwilis yang duduk pula di situ hanya melongo dan menghela napas panjang dengan hati penuh iba. Dia tidak dapat menghibur, maklum betapa hancur hati junjungannya itu. Ketika akhirnya kereta itu memasuki halaman Kepatihan Panjalu, Endang Patibroto meloncat turun dan lari memasuki kepatihan dengan agak terhuyung. Patih Tejolaksono bersama Ayu Candra dengan kaget sekali menyambut kedatangan Endang Patibroto yang masuk sambil menangis. Lebih-lebih lagi rasa kaget dan cemas hati Patih Tejolaksono ketika Endang Patibroto menubnik kakinya dan menangis.
"Aduh, Kakangmas bagaimana dengan anak kita itu ,apakah yang hams kulakukan, Kakangmas?!!"
Ayu Candra cepat merangkul pundak madunya.
"Dinda Endang ada apakah? Apa yang terjadi? Bagaimana Retna Wills! "
Ayu Candra sudah pula menangis melihat madunya tersedu-sedu seperti itu.
Patih Tejolaksono menghela napas dan menekan batinnya, lalu ia mengangkat bangun tubuh Endang Patibroto sehingga wanita itu bangkit berdiri, lalu kedua tangannya memegang pipi ldri kanan, memaksa wajah yang basah air mata itu bertemu pandang dengannya.
Tejolaksono tcrsenyum, senyum penuh ketenangan dan ia berkata.
"Adinda Endang Patibroto, ke manakah ketenanganmu? Pandanglah aku, apakah dunia sudah begitu sempit sehingga engkau kehilangan akal? Tenanglah dan mari kita duduk di dalam untuk membicarakan persoalan yang menyusahkan hatimu."
Tejolaksono merangkul pundak isterinya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar.
Ayu Candra memegang tangan Endang Ptibroto yang masih terisak dan memandang wajah madunya yang pucat itu dengan hati cemas.
Endang Patibroto merasa makin seperti diremas-remas hatinya setelah ia bertemu dengan suami dan madunya.
ia menjatuhkan diri di atas pembaringan, menyembunyikan mukanya pada bantal dan menangis lagi.
Ayu Candra juga menangis dan hendak menubruknya, akan tetapi Tejolaksono memegang pundaknya dan memberi isyarat dengan gelengan kepala agar Ayu Candra membiarkan Endang Patibroto menangis dulu.
Hal ini akan melepaskan kerisauan hatinya.
Ia mengerutkan kening memandang tubuh Endang Patibroto yang bergoyang-goyang dalam tangisnya.
Bukan watak Endang Patibroto untuk menangis seperti itu.
Tentu telah terjadi hal yang amat hebat dengan Retna Wilis.
Benar saja, setelah dibiarkan menangis sejenak, Endang Patibroto akhirnya dapat meredakan gelora hatinya dan ia bangkit duduk menghapus air matanya.
"Maafkan aku, Kakangmas, maafkan Ayunda."
"Dinda Endang Patibroto, sekarang ceritakanlah apa yang telah terjadi?"
Tanya Tejolaksono sambil memegang tangan kiri isterinya.
Ayu Candra memegang tangan kanan madunya.
Pegangan suami dan madunya itu memberi kekuatan kepada Endang Patibroto, mengertilah ia bahwa betapapun keadaannya, kedua orang itu tidak akan membiarkan dia sengsara seorang diri.
Maka diceritakanlah semua pengalamannya, bercerita diseling isak tertahan.
Mendengar cerita Endang Patibroto, Ayu Candra memandang dengan mata terbelalak dan wajah pucat.
Juga Tejolaksono terkejut sekali, merasa dadanya seperti ditusuk dan is menghela napas panjang sambil menggelengkan kepalanya.
"Duh Jagat Dewa Bathara....! Mengapa dia bisa menjadi begitu? Anakku....……!"
Dengan wajah pucat Tejolaksono mengeluh.
"Urusan ini hebat sekali, harus kita laporkan kepada sang prabu dan kita rundingkan dengan kakangmas Pangeran Darmokusumo. Dan untuk membujuk Retna Wills, agaknya aku sendiri yang harus menemuinya."
Endang Patibroto menggeleng kepala dengan sedih.
"Agaknya akan sia-sia, Kakangmas. Dia tidak dapat dibujuk, wataknya keras melebihi baja."
Mendengar ini, Tejolaksono dan Ayu Candra saling pandang. Anak Endang Patibroto, bagaimana tidak sakti mandraguna dan keras hati, demikian bisik hati mereka.
"Dan mempergunakan kekerasan juga percuma. Kesaktiannya mengerikan. Segala aji kesaktian kukeluarkan dan pada waktu itu saya sudah bertekad untuk membunuhnya saja. Akan tetapi tidak ada pukulanku yang dapat merobohkannya, sama sekali aku tidak berdaya melawannya! Dia memiliki kesaktian seperti Nini Bumigarba mengerikan!"
Tiba-tiba Endang Patibroto mengangkat muka memandang Ayu Candra dan berkata.
"Ah, Bagus Seta! Dialah yang akan dapat menundukkannya! Mengapa aku melupakan anak kita itu? Bagus Seta , di mana dia? Dialah satu-satunya orang yang boleh diharapkan untuk menundukkan Retna Wilis, anak durhaka seperti iblis itu!"
"Husshhhh Adinda jangan berkata begitu."
Tejolaksono merangkul isterinya.
"Betapapun juga, dia anak kita, anak yang kita sayang kita hams berusaha menginsyafkannya. Memang Bagus Seta yang agalcnya memiliki kesaktian untuk menundukkannya, seperti juga Sang Sakti Bhagawan Ekadenta tentu akan dapat menundukkan Nini Bumigarba."
"Di mana Bagus Seta? Harap panggil dia agar kita dapat merundingkan dan minta nasehat serta pendapatnya,"
Kata Endang Patibroto. Terdengar suara Ayu Candra, sayu dan sedih karena memang ibu ini pun berduka melihat puteranya lebih pantas menjadi pendeta daripada seorang satria.
"Berhari-hari dia hanya mengeram diri dalam sanggar pamujan, bersamadhi.."
"Sekali ini perlu kita panggil dia,"
Kata Tejolaksono.
"Biar aku sendiri yang akan memanggilnya."
Patih yang diam-diam merasa prihatin sekali itu lalu melangkah keluar kamar meninggalkan kedua isterinya, menuju ke sanggar pamujan di ujung taman untuk memanggil puteranya yang berhari-hari bersamadhi di tempat itu.
Endang Patibroto teringat akan Limanwilis dan dua orang adiknya, maka bersama Ayu Candra ia segera keluar dan menemui mereka bertiga yang masih menunggu di pendopo, kemudian memerintahkan para abdi untuk memberi tempat istirahat bagi tiga orang tokoh Wilis itu.
Setelah tiba di tempat pemujaan atau tempat samadhi, Tejolaksono melihat pintu pondok tertutup dan dari celah--celah jendela pondok ia melihat puteranya tekun bersamadhi, duduk bersila dan berada dalam keadaan yang hening.
Hatinya menjadi tidak tega untuk mengganggu puteranya secara kasar.
Dia sendiri sebagai seorang yang ahli dalam samadhi, mengerti betapa tidak enaknya orang yang sedang bersamadhi dibangunkan secara kasar.
Maka ia lalu bersila di luar pondok, mengheningkan cipta dan mengarahkan seluruh kehendaknya untuk menghubungi puteranya melalui getaran perasaannya.
Tak lama kemudian, terdengarlah suara puteranya.
"Saya datang, Kanjeng Rama!"
Tejolaksono bangkit berdiri dan puteranya keluar pula dari tempat samadhi itu, kemudian Tejolaksono menggandeng tangan puteranya sambil berkata.
"Bagus Seta, ibumu Endang Patibroto sudah pulang dan ada urusan penting sekali yang ingin dibicarakan dan minta pertimbanganmu."
Bagus Seta mengangguk dan dengan tenang sekali keduanya memasuki istana kepatihan.
Ayu Candra dan Endang Patibroto sudah menanti di ruangan dalam di mana mereka mereka berempat dapat bicara tanpa gangguan para abdi yang dilarang memasuki ruangan itu.
Endang Patibroto sudah agak tenang dan tidak menangis lagi, sungguhpun jelas tampak kerisauan hatinya membayang di wajahnya yang masih pucat dan matanya yang masih merah kebanyakan menangis.
Juga Ayu Candra masih mengerutkan alis dan ada berbekas di wajahnya bahwa dia habis menangis.
"Selamat datang, Kanjeng Ibu!"
Bagus Seta menghaturkan sembah kepada ibu tirinya yang diterima oleh Endang Patibroto dengan rangkulan.
"Anakku Bagus Seta, ibumu amat mengharapkan pertolonganmu untuk menyelamatkan adikmu si Retna Wilis."
Patih Tejolaksono dan kedua orang isterinya lalu menceritakan secara bergantian tentang keadaan Retna Wilis yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Bagus Seta.
Setelah ia mendengar seluruhnya, pemuda yang amat tenang sikapnya ini mengangguk-angguk dan berkata.
"Patut dikasihani keadaan adikku Retna Wilis yang dicengkeram oleh pengaruh sesat. Akan tetapi, kalau watak adinda Retna Wilis sedemikian keras seperti yang diceritakan Ibunda, agaknya amat tidak baik kalau dipergunakan kekerasan untuk membujuk atau mempengaruhinya. Sedangkan Kanjeng Ibu Endang Patibroto sendiri tidak diturut bujukannya, apalagi orang lain.' 'Adapun digunakannya pasukan Panjalu untuk memukul Kerajaan Wilis, sungguhpun hal ini kelak agaknya tak dapat dihindarkan lagi, namun tentu akan mendatangkan korban amat banyak.' 'Betapapun juga, karena urusan Wilis ini bukan hanya urusan pribadi keluarga kita, melainkan urusan kerajaan, akan terlalu sembrono bagi kita kalau kita menanggulanginya sendiri.' 'Sudah menjadi kewajiban Kanjeng Rama untuk melaporkan hal ini kepada sang prabu untuk dirundingkan bagaimana sebaiknya menghadapi ancaman Kerajaan Wilis. Adapun tentang diri adinda Retna Wilis sendiri, biarlah saya akan berusaha untuk membantunya mendapatkan kesadaran. Sekarang saya mohon diri dari Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu berdua, hari ini juga saya akan pergi menemui adinda Retna Wilis."
"Aduh, terima kasih, anakku angger Bagus Seta. Lapang rasa dadaku setelah engkau sanggup untuk menemui Retna Wilis. Kalau engkau yang turun tangan, aku yakin pasti akan berhasil, Anakku!"
Kata Endang Patibroto dan wajahnya yang tadinya suram itu kini berseri gembira. Bagus Seta menundukkan mukanya.
"Segala keputusan berada sepenuhnya di tangan Sang Hyang Widdhi, Kanjeng Thu. Manusia hanya wajib berikhtiar, menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Hamba mohon doa restu Paduka bertiga."
"Berangkatlah, Bagus. Aku membekali pangestu!"
Kata Tejolaksono dengan Pandang mata kagum kepada puteranya.
"Hati-hati di jalan, Anakku!"
Kata Ayu Candra, agak terharu.
"Bagus Seta, kau tolonglah adikmu Retna Wilis."
Berkata Endang Patibroto dengan suara memohon.
Setelah Bagus Seta berangkat, hanya berjalan kaki dan tidak membawa bekal apa-apa, dengan pakaian tetap putih sederhana sungguhpun kini ia dibuatkan pakaian putih dari kain sutera halus oleh ibunya, Tejolaksono lalu menemui Liman-Wilis bertiga, kemudian bersama kedua isterinya ia langsung menghadap sang prabu yang segera membuka persidangan untuk membicarakan Kerajaan Wilis yang mengancam keselamatan daerah Panjalu.
Baru saja persidangan dibuka, datang punggawa yang membawa pelaporan bahwa Ponorogo telah diserbu dan telah jatuh ke tangan Kerajaan Wilis!
Tak lama kemudian datanglah menghadap Sang Adipati Diroprakosa sendiri yang bercerita dengan air mata bercucuran akan hancurnya Ponorogo dan tewasnya para tokoh Ponorogo dan para pembantu-pembantu sakti di tangan Ratu Wilis yang memiliki kesaktian yang luar biasa.
Mendengar ini, terdengar isak tangis dan Endang Patibroto cepat menyembah sang prabu dan mohon diizinkan mengundurkan diri Sang prabu yang arif bijaksana maklum akan isi hati Endang Patibroto.
Tentu saja wanita ini merasa sungkan dan tidak enak hatinya mendengar betapa puterinya, Ratu Wilis, akan menjadi bahan percakapan, maka sang prabu memberi izin.
Endang Patibroto mohon maaf kepada suaminya dan kepada para hadirin lainnya, kemudian meninggalkan persidangan dengan hati remuk.
Ia langsung memasuki kepatihan,masuk ke dalam kamarnya dan membanting tubuhnya ke atas pembaringan, merintih-rintih di dalam hatinya, bersambat kepada mendiang ibunya.
Tiba-tiba ia bangkit duduk dan memandang dinding dengan mata terbelalak dan muka pucat.
"Aduh, Ibunda ampunkan hamba ampunkan anakmu yang berdosa!"
Dan ia menutupi muka dengan kedua tangan lalu menangis sedih.
Terbayang di depan matanya yang dipejamkan akan semua pengalamannya di waktu dia muda dahulu.
Betapa ia pun sudah banyak mendatangkan sakit hati kepada ibunya sendiri (baca Badai Laut Selatan).
Bukankah sekarang ini dia hanya memetik buah yang dahulu ditanamnya sendiri?
Bukankah dahulu ibunya sendiri, yang mengandungnya dan melahirkannya, juga mengalami derita batin karena dia, seperti yang ia alami sekarang?
Sementara itu, di dalam persidangan sang prabu dengan bijaksana minta pendapat Tejolaksono tentang Kerajaan Wilis yang jelas hendak melanggar kedaulatan Jenggala dan Panjalu, bahkan telah menyerbu dan merampas Ponorogo yang menjadi daerah Panjalu atau setidaknya menjadi kadipaten yang tunduk kepada Panjalu.
Sang prabu yang maklum bahwa Retna Wilis adalah puteri Tejolaksono dan Endang Patibroto, mengharapkan pendapat dari patih mudanya yang menjadi senopati pula, dan yang menjadi ayah dari Retna Wilis yang menggegerkan itu.
"Duh, Gusti Sinuwun sesembahan hamba,"
Tejolaksono berkata dengan suara tegas tanpa ragu-ragu.
"Sungguhpun Ratu Wilis adalah puteri hamba, akan tetapi urusan ini adalan urusan kerajaan, dan biarpun puteri hamba sendiri, kalau mendatangkan kekacauan dan kalau hamba akan diperintah oleh Paduka, hamba akan berangkat dan menggempur Wilis!"
Sang prabu mengangguk-angguk.
"Aku percaya akan kesetiaanmu, wahai patihku yang perkasa. Akan tetapi Kerajaan Wilis hanya kerajaan baru yang kecil, dan karena ratunya adalah puterimu, maka sebaiknya dicari jalan lain untuk menghindarkan perang yang akan menimbulkan malapetaka dan kesengsaraan belaka bagi rakyat. Baru saja rakyat menderita oleh kekacauan Jenggala, maka sebaiknya kalau kita mencoba untuk menghindarkan perang baru. Puteraku, Pangeran Darmokusumo, bagaimana pendapatmu?"
"Kanjeng Rama, perkenankanlah hamba berwawancara dengan yayi Patih Tejolaksono."
Putera mahkota itu menyembah. Sang prabu mengangguk dan Pangeran Darmokusumo lalu menghadapi Tejolaksono.
"Yayi Patih Tejolaksono. Usaha apakah yang telah kaulakukan menghadapi urusan Wilis ini?"
"Rakanda Pangeran, isteri hamba Endang Patibroto sudah mengunjungi Retna Wilis dan membujuknya, bahkan ketika puteri kami itu tidak menurut, telah pula menyerangnya, akan tetapi anak itu yang telah menerima pendidikan Nini Bumigarba, amat sakti sehingga Endang Patibroto sendiri tidak mampu mengalahkannya. Kini hamba mengutus Bagus Seta untuk mencoba untuk membujuknya."
Jawab Tejolaksono.
"Hemm, kalau begitu sebaiknya kita bersabar, menanti hasil yang dicapai Bagus Seta. Sementara itu, penjagaan di tapal batas harus diperkuat, dan hubungan para kadipaten di sebelah barat harus dipererat sehingga setiap perubahan dan setiap gerakan Wilis akan dapat segera kita ketahui."
Kata sang prabu.
Setelah para tokoh Kerajaan Panjalu diminta pendapatnya, dan ternyata pendapat mereka juga cocok, persidangan dibubarkan dan Tejolaksono bersama Ayu Candra cepat kembali ke kepatihan untuk menghibur hati Endang Patibroto.
Adapun Limanwilis dan dua orang adiknya yang lebih mengenal keadaan di Wilis, ditugaskan untuk pergi menyelidik untuk mengikuti perkembangan dan gerakan-gerakan Kerajaan Wilis.
Kita tinggalkan dulu keadaan di Panjalu yang tetap tenang berkat kebijaksanaan sang prabu yang amat sayang kepada keluarga Tejolaksono, dan mari kita menengok keadaan di Kerajaan Wilis.
Biarpun Kerajaan Wilis sudah berhasil mengalahkan Ponorogo, akan tetapi dalam peperangan itu Wilis kehilangan pula banyak perajurit.
Ada seperempatnya yang tewas atau terluka parah dalam perang dan untuk menghimpun tenaga barn, Wilis membutuhkan waktu.
Ketika Ratu Wilis menyampaikan niatnya untuk menyerbu terns ke Jenggala, hal ini disetujui oleh Adiwijaya.
"Harap Paduka suka bersabar, Gusti Puteri. Selain perajurit kita banyak yang gugur sehingga kekuatan kita berkurang, juga Kerajaan Jenggala tidaklah selemah Ponorogo. Di sana memiliki bala tentara besar, apalagi tentu Kerajaan Panjalu membantunya, juga banyak terdapat orang-orang sakti mandraguna."
Adiwijaya cukup cerdik untuk tidak menyebut nama Tejolaksono dan Endang Patibroto untuk tidak melukai hati orang yang disayangnya.
"Selain itu, juga Ponorogo hanya menyerah karena terpaksa. Amat sukar mengharapkan bantuan dari rakyat Ponorogo, maka kita harus menghimpun dan memperbesar jumlah perajurit dari daerah-daerah lain yang sudah kita taklukkan. Perajurit-perajurit baru perlu dilatih. Pendeknya, untuk menggempur Jenggala membutuhkan persiapan yang lebih matang, Gusti."
Retna Wills yang ingin sekali melihat cita-citanya cepat terkabul, mengerutkan alisnya.
"Kalau aku menuruti rencanamu, bukankah hal itu akan makan waktu bertahun-tahun? Terlalu lama, Paman. Kalau perlu, aku sanggup dengan seorang diri menaklukkan kerajaan-kerajaan itu!"
Adiwijaya memandang junjungannya itu penuh kagum.
Sepasang matanya bersinar-sinar dan ia membayangkan betapa kalau dara perkasa ini melakukan serbuan seorang diri saja ke Jenggala!
Dia tahu bahwa hal itu tidak mungkin karena mana bisa seorang diri saja, betapapun saktinya, menghadapi bala tentara yang laksaan jumlahnya?
Pula, banyak sekali orang sakti di sana!
Ia cepat menyembah dan berkata.
"Maafkan hamba, Hamba percaya akan kesaktian dan kesanggupan Paduka, akan tetapi menyerbu seorang diri bukanlah menjadi kebiasaan seorang ratu yang besar. Harap Paduka bersabar, dan kalau Paduka menganggap bahwa menghimpun dan melatih pasukan kuat akan memakan waktu terlalu lama, hamba masih mempunyai jalan lain yang kiranya lebih singkat dan akan lebih menghasilkan."
"Bagus sekali, Paman. Aku percaya akan daya upaya dan kecerdikanmu. Jalan apakah yang kau maksudkan itu? Lekas beritahukan,"
Kata Retna Wilis dengan wajah gembira.
"Paduka tentu maklum bahwa keadaan Jenggala sekarang jauh lebih kuat daripada sebelum sang prabu yang sepuh diganti oleh Pangeran Panji Sigit yang kini telah menjadi raja. Bahkan gusti permaisuri Jenggala adalah bibi Paduka sendiri yang sakti mandraguna. Belum lagi diingat bahwa patihnya yang menjadi benteng Jenggala sekarang adalah Joko Pramono dan isterinya yang perkasa."
Kembali alis yang kecil hitam itu berkerut.
"Paman, tidak perlu Paman menyebut nama-nama mereka. Mereka itu benar para paman dan bibiku, akan tetapi kalau mereka tidak suka tunduk kepadaku, aku akan menghadapi mereka sebagai lawan!"
Adiwijaya mengangguk-angguk.
"Hamba juga percaya bahwa Paduka akan sanggup mengalahkan lawan yang mana pun juga. Akan tetapi, bukankah kalau terjadi hal itu, akan amat tidak enak, Gusti? Sebaiknya kalau kita mengadakan persekutuan dengan pihak Sriwijaya dan Cola. Kedua kerajaan itu mempunyai wakil-wakil yang sakti dan yang sudah menyusun barisan yang cukup kuat pula. Kita ajak mereka bersekutu untuk menggempur Jenggala dan kalau hal itu terjadi, tidak perlu Paduka sendiri yang hams menghadapi para paman dan bibi Paduka di Jenggala."
"Ihh, Paman Adiwijaya, omongan apa yang kau keluarkan ini?"
Retna Wilis membentak marah dan mengangkat kedua alisnya, matanya terbelalak memandang tajam kepada patihnya.
"Aku tidak takut menghadapi kerajaan mana pun juga, mengapa mesti bersekutu? Aku tidak sudi bersekutu apalagi dengan kerajaan-kerajaan asing itu. Bersekutu hanya menunjukkan bahwa kita lemah, dan kemenangan yang dicapai seolah-olah mengandalkan bantuan sekutu-sekutu itu!"
"Maksud hamba tidak demikian, Gusti. Pertama, penyerangan terhadap Jenggala dan Panjalu di mana terdapat keluarga Paduka yang menjadi senopati, amat tidak enak bagi Paduka sendiri, maka sebaiknya meminjam tenaga orang-orang Sakti dari kerajaan asing itu. Ke dua, dan hal ini penting sekali, orang-orang dari Sriwijaya dan Cola itu merupakan ancaman kelak bagi Paduka. Mereka adalah musuh-musuh rakyat dan mereka itu menyusun tenaga secara nyiluman (seperti siluman, bersembunyi dan rahasia) sehingga amat sukar untuk membasmi mereka."
"Kalau mereka diajak bersekutu, tentu mereka akan tampak dan kelak kalau kita sudah mempergunakan tenaga mereka sehingga berhasil, mudah saja bagi kita untuk membasmi mereka dari permukaan bumi!"
Retna Wilis termenung sampai lama.
ia mempertimbangkan usul pembantunya yang setia ini.
Memang ada benarnya.
Biarpun ia tidak perduli kalau terpaksa harus melawan para bibi dan pamannya, akan tetapi kalau ia teringat akan bibinya Setyaningsih, ia ragu-ragu juga apakah akan tega menurunkan tangan kepada bibinya itu.
Apalagi kalau ia ingat akan ayah bundanya yang berada di Panjalu.
Kalau mereka itu maju, dan hal ini tak dapat disangsikan lagi mengingat bahwa ayah bundanya adalah hamba-hamba setia dari Panjalu, biarpun dia tidak takut dan pasti akan menentang mereka kalau ayah bundanya berusaha menghalangi cita-citanya, namun tetap saja ada sedikit perasaan tidak enak di hatinya.
Dan para wakil kedua kerajaan asing itu, tentu kelak hanya akan menjadi gangguan yang memusingkan.
Usul patihnya amat baik, sekali tepuk mendapatkan dua ekor lalat.
Menggunakan mereka untuk menggempur dan menaklukkan Jenggala dan Panjalu, kemudian setelah berhasil, membasmi mereka sebelum mereka sadar akan muslihat ini.
"Usulmu menarik sekali, Paman. Akan tetapi, benar-benarkah Sriwijaya dan Cola mempunyai tokoh-tokoh yang sakti, yang boleh dipercaya akan dapat kita pergunakan untuk menggempur dan menaklukkan Jenggala dan Panjalu?"
"Banyak sekali tokoh mereka, Gusti. Dan terutama sekali pucuk pimpinan yang sengaja dikirim dari Kerajaan Sriwijaya dan Cola. Hamba mengenal pemimpin utusan Kerajaan Cola yang bernama Sang Wasi Bagaspati. Kakek ini memiliki kesaktian yang amat hebat, Gusti, yang sukar dicari bandingnya pada saat ini "
"Hemm, aku pernah mendengar dari guruku nama itu. Manusia sombong yang mengaku sebagai penitisan Sang Hyang Shiwa! Lalu, siapa lagi, Paman?"
"Masih banyak tokoh Kerajaan Cola yang menjadi pembantu Sang Wasi Bagaspati, dan yang memiliki aji kesaktian luar biasa. Adapun pemimpin utusan Kerajaan Sriwijaya belum pernah hamba jumpai, akan tetapi kabarnya juga memiliki kesaktian yang tidak kalah oleh kesaktian Sang Wasi Bagaspati sendiri, namanya Sang Biku Janapati."
Retna Wilis mengangguk-angguk. Nama-nama ini pernah ia dengar dari Nini Bumigarba.
"Paman, apakah Paman dapat menghubungi mereka?"
"Hamba kira akan dapat mencari tokoh-tokoh Kerajaan Cola, Gusti. Dan melalui mereka kiranya hamba akan dapat menghubungi pula tokoh-tokoh Sriwijaya. Apakah Paduka dapat menyetujui kalau kita bersekutu dengan mereka?"
"Kalau Paman merasa sebaiknya demikian, aku pun dapat menerima. Sekarang Paman pergilah menghubungi mereka dan panggil Sang Wasi Bagaspati dan Sang Biku Janapati datang menghadap aku!"
Adiwijaya membelalakkan mata dan wajahnya berubah.
Akan tetapi mulutnya tidak berani membantah.
Ia hanya merasa khawatir apakah kedua orang tokoh sakti itu akan sudi datang kalau disuruh menghadap seorang ratu muda belia seolah-olah mereka itu adalah orang-orang taklukan atau orang-orang yang tingkatnya lebih rendah.
ia menyanggupi, kemudian menyembah dan berpamit untuk segera melaksanakan perintah puteri sakti itu, mencari dan menghubungi Wasi Bagaspati dan Biku Janapati.
Adiwijaya maklum atau dapat menduga bahwa tentu tokoh-tokoh besar yang dicarinya itu masih belum meninggalkan daerah Jenggala.
Biarpun mereka itu telah gagal dalam usaha mereka menguasai Jenggala dengan jalan halus, namun mereka itu tentu tidak mau sudah begitu saja.
Tentu Wasi Bagaspati diam-diam sedang menyusun tenaga untuk melanjutkan usahanya menguasai Jenggala dan agaknya bersembunyi di dalam hutan-hutan, di gunung-gunung yang sunyi.
Mulailah Adiwijaya merantau, seorang diri karena untuk melakukan tugas rahasia ini ia tidak menghendaki rombongan pembantu atau pengawal yang selain dapat mudah membocorkan rahasia, juga akan membuat ia kurang leluasa saja.
Ia tahu dari siapa ia harus mencari berita tentang tempat persembunyian tokoh-tokoh dari kerajaan Cola itu.
Maka ia lalu masuk keluar hutan dan akhirnya ia bertemu dengan serombongan perampok yang ia kenal sebagai bekas anak buah pasukan Jenggala yang melarikan diri.
Ketika ia memasuki sebuah hutan yang lebat pada suatu pagi, tiba-tiba dari balik pohon-pohon dan semak-semak berloncatan belasan orang yang dikepalai seorang tinggi besar yang berkumis tebal melintang sekepal sebelah.
Adiwijaya mengenal pemimpin perampok itu dan beberapa orang anggauta perampok sebagai bekas anak pasukan yang dahulu menjadi pengawal Pangeran Kukutan, akan tetapi mereka tidak mengenalnya karena memang kini bekas Patih Warutama sudah banyak berubah.
"Heh, kisanak, berhenti dulu! Tanggalkan semua pakaian dan tinggalkan semua bawaanmu sebagai pengganti nyawamu!"
Si kumis melintang membentak garang. Adiwijaya tersenyum, berdiri tegak dan berkata.
"Kakang Jodi, apakah engkau tidak lagi mengenal aku? Aku adalah bekas Ki Patih Warutama, orang sendiri, bukan lawan."
Beberapa orang bekas anak buah Jenggala, juga Ki Jodi, memandang dengan mata terbelalak diikuti oleh anak buahnya.
"Ha-ha-ha, engkau pandai membadut, Kisanak! Akan tetapi kami tidak mempunyai waktu untuk mendengar ocehanmu. Lekas tanggalkan pakaian atau terpaksa aku akan membunuhmu lebih dulu, baru melucuti pakaianmu!"
Kepala perampok itu membentak dengan sikap mengancam.
"Hemm, memang wajahku sudah berubah. Akan tetapi apakah engkau tidak lagi mengenal suara dan bentuk tubuhku? Baiklah, sebelum diberi bukti kalian tentu tidak percaya. Nah, Kakang Jodi, majulah!"
Ki Jodi menjadi marah.
Orang ini yang mengaku bekas Patih Jenggala adalah seorang yang tubuhnya tidak membayangkan kekuatan, agaknya sekali pukul saja ia akan mampu membikin remuk kepala itu.
Maka ia lalu berteriak keras dan menerjang maju, tangan kirinya mencengkeram ke arah leher dan kepalan tangan kanannya menjotos kepala.
Tentu saja serangan yang hanya berdasarkan tenaga kasar ini dipandang rendah oleh Adiwijaya yang sakti.
Tubuhnya hanya miring sedikit, kemudian kedua tangannya bergerak, menyambar pinggang yang besar itu, diangkatnya tubuh Ki Jodi ke atas lalu dibanting ke atas tanah.
"Brukkk. ngekkk!"
"Aduhhhh... tohobaattt !"
Ki Jodi terengah-engah dan merintih, tulang punggungnya serasa patah dan is tidak dapat bangkit.
Kawan-kawannya menjadi marah, akan tetapi sebelum mereka bergerak maju, Ki Jodi sambil terengah-engah berkata.
"Mundur kalian semua! Apakah kalian buta? Beliau adalah Gusti Patih Warutama!"
Semua anak buah perampok mundur dan memandang dengan jerih.
Adiwijaya menghampiri Ki Jodi, menepuk punggungnya dan menariknya bangun.
Ki Jodi menyeringai dan bangkit dengan tubuh bongkok, kedua tangannya menekan pinggang dan pantat yang rasanya nyeri sekali.
"Ampun, Gusti Patih !"
"Tidak mengapa, Kakang Jodi. Aku pun tidak berniat mengganggu kalian, hanya kebetulan saja pertemuan ini karena memang aku sedang mencari teman-teman bekas perajurit Jenggala. Aku ingin bertanya ke mana kiranya aku dapat menemui tokoh-tokoh Cola, Wasi Bagaspati dan para pembantunya."
"Hamba... hamba tidak tahu, Gusti. Semenjak melarikan diri dari Jenggala, hamba bersama kawan-kawan bersembunyi di hutan ini. Hanya ada hamba mendengar berita bahwa pasukan wanita penyembah Sang Bhatari Durgo bermarkas di lereng gunung Arjuna. Kiranya dari mereka itu Paduka akan dapat mendengar lebih jelas tentang para tokoh yang Paduka cari."
Adiwijaya mengangguk-angguk.
"Baik. Aku akan mencari ke sana. Kakang Jodi, engkau kumpulkan kawan-kawan bekas perajurit Jenggala dan bawa mereka sebanyak mungkin pergi ke lereng Wilis. Di sana kalian boleh menghambakan diri menjadi perajurit Wilis."
Ki Jodi membelalakkan matanya.
"Kerajaan Wilis? Ahhh, hamba sudah mendengar akan kerajaan baru itu. Hamba... takut, Gusti , Jangan Jangan begitu sampai di sana, hamba segerombolan akan dibasmi oleh pasukan Wilis yang terkenal kuat."
Adiwijaya tersenyum bangga.
"Jangan khawatir. Katakan bahwa Gusti Patih Adiwijaya yang menyuruh kalian datang. Kalian pasti akan cliterima sebagai anggauta pasukan. Aku sekarang adalah Ki Patih Adiwijaya, patih dari Kerajaan Wilis yang jaya. Ingat, Ki Patih Adiwijaya, bukan lagi Patih Warutama. Mengerti?"
"Baik, Gusti Patih."
Ki Jodi menjawab dan dengan girang ia menerima beberapa potong emas dari Adiwijaya.
Adiwijaya melanjutkan perjalanannya dan beberapa hari kemudian tibalah ia di lereng gunung Arjuna.
Karena hari telah menjelang senja dan ia merasa lelah dan lapar sekali, Adiwijaya berhenti mengaso di bawah sebatang pohon cemara, membuka bungkusan daun jati dan makan nasi bekalnya yang tadi ia beli di dalam dusun di kaki gunung.
Baru saja ia habis makan dan minum air yang memancur keluar dari celahan batu sambil mencuci tangan, tiba-tiba ia melihat berkelebatnya bayangan orang.
ia maklum bahwa ada orang sakti datang, akan tetapi ia pura-pura tidak tahu dan melanjutkan mencuci tangan, akan tetapi diam-diam ia bersikap waspada.
"Wirrrr....... Adiwijaya miringkan kepala, tangan kirinya meraih dan sebatang tusuk konde cepat ia tangkap dari samping dengan jari tangannya. Ia menoleh ke arah datangnya senjata rahasia tusuk konde itu sambil berkata.
"Saya Adiwijaya bukanlah musuh, harap Andika sudi keluar dan bicara."
"Ihhhh "
Terdengar seruan tertahan seorang wanita disusul jerit melengking yang agaknya menjadi tanda bahaya, kemudian dari balik semak-semak muncul keluar seorang wanita cantik manis dengan sinar mata genit dan pakaian tipis membayangkan tubuh yang ramping padat, berusia kurang lebih tiga puluh tahun.
Sekali pandang Adiwijaya dapat menduga bahwa wanita ini tentulah anak buah Ni Dewi Nilamanik, seorang penyembah Bathari Durgo.
Cepat ia menjura dengan sikap hormat dan berkata.
"Saya bernama Adiwijaya dan datang dengan niat baik, harap Andika jangan lagi main-main dengan senjata yang bahaya ini. Kurasa tusuk konde ini lebih pantas untuk menghias rambut Andika yang hitam halus itu."
Sambil berkata demikian, Adiwijaya menggerakkan tusuk konde di tangannya yang melesat cepat dan menancap di konde (sanggul) rambut wanita itu yang menjadi terkejut sekali.
"Apa niatmu datang ke tempat kami? Apakah Andika sudah bosan hidup?"
Wanita itu menatap wajah dan tubuh Adiwijaya dengan penuh selidik, juga merasa sayang kalau pria ini terbunuh.
Biarpun sudah setengah tua, pria ini amat menarik, dan membayangkan kejantanan, di samping kedigdayaan yang sudah diperlihatkan tadi ketika menangkap senjata rahasianya dan mengembalikannya dengan cara mengagumkan.
"Saya datang untuk minta menghadap Sang Wasi Bagaspati, atau Ni Dewi Nilamanik. Bukankah Andika ini anak buah Ni Dewi Nilamanik?"
Kembali wanita itu kelihatan kaget dan tercengang.
Baik Wasi Bagaspati maupun Ni Dewi Nilamanik berada di tempat itu secara sembunyi dan tempat ini dirahasiakan.
Bagaimana orang ini dapat mengetahuinya?
Akan tetapi sebelum is men jawab, terdengar suara halus seorang wanita.
"Ki Warutama, mau apa Andika datang ke sini?"
Adiwijaya membalikkan tubuh dan melihat Ni Dewi Nilamanik telah berdiri di situ dengan sikap angkuh.
Wanita ini masih cantik menarik penuh daya pikat dan biarpun dahulu sudah beberapa kali wanita ini melayaninya sebagai seorang kekasih, namun kini bersikap angkuh dan dingin.
Di tangannya tampak pengebut lalat dari serat merah buntut kuda, kebutan yang mungkin lebih banyak mengebut melayang nyawa manusia daripada nyawa lalat.
Kagumlah Adiwijaya.
Benar-benar wanita ini selain sakti juga amat awas sehingga begitu bertemu telah mengenalnya.
"Ni Dewi Nilamanik, selamat berjumpa. Sungguh pertemuan ini amat membahagiakan hati saya karena membuktikan betapa perjalanan saya tidak sia-sia dan harapan saya untuk dapat menghadap Sang Wasi Bagaspati terpenuhi."
"Hemm, tidak begitu mudah, Ki Warutama. Kecuali anggauta kami, siapa pun juga yang sudah lancang naik ke sini tidak akan dapat turun lagi. Dan Andika bukanlah anggauta kami. Apa kehendakmu?"
"Ahh, Ni Dewi. Tentu Andika mengerti bahwa kalau membawa niat buruk, saya tidak akan begitu lancang berani naik ke sini. Saya sekarang telah menjadi Ki Patih Adiwijaya dari Kerajaan Wilis, dan kedatangan saya ini sebagai utusan Kerajaan Wilis untuk menghadap Sang Wasi Bagaspati."
Ni Dewi Nilamanik memandang tajam, menggerak-gerakkan kedua alisnya.
Diam-diam ia merasa kaget dan juga kagum.
Benar-benar laki-laki ini amat cerdik.
Baru saja terguling dari kedudukannya sebagai Patih Jenggala, kini telah muncul lagi sebagai patih Kerajaan Wilis dan mempunyai nama baru lagi, Ki Patih Adiwijaya!
Benar-benar seorang laki-laki yang hebat!
"Ikutlah aku, akan tetapi aku tidak mau kau salahkan kalau nanti rakanda Wasi marah-marah dan membunuhmu!"
Tanpa menanti jawaban Ni Dewi Nilamanik mengebutkan kebutannya dan membalikkan tubuh, kemudian melesat ke depan, lari cepat mendaki puncak, Adiwijaya tersenyum dan mengerahkan aji kesaktianya mengejar.
Ia melihat betapa di balik semak--semak dan pohon-pohon kini telah berkumpul puluhan orang wanita cantik yang bersenjata lengkap.
Tentu anak buah Ni Dewi Nilamanik yang berdatangan karena jerit melengking kawan mereka tadi.
Ah, memang hebat anak buah Kerajaan Cola di bawah pimpinan Sang Wasi Bagaspati ini, pikirnya.
Kalau Retna Wilis dapat bersekutu dengan mereka, tentu bukanlah hal yang sukar lagi untuk menggempur dan menaklulckan Jenggala, bahkan Panjalu sekali pun.
Hanya seorang tokoh yang amat dikhawatirkan, yaitu Bagus Seta, putera Ki Patih Tejolaksono yang memiliki kesaktian luar biasa itu sehingga Sang Wasi Bagaspati sendiri kabarnya kalah oleh pemuda itu.
Diam--diam ia seringkali membandingkan Bagus Seta dan Retna Wilis dan bergidik.
Retna Wilis puteri Ki Patih Tejolaksono!
Entah bagaimana jadinya kelak kalau kakak beradik satu ayah lain ibu itu bertemu sebagai lawan!
Jalan mendaki puncak itu melalui tempat-tempat rahasia yang sukar dilalui, dan di dekat puncak menuruni sebuah jurang yang amat curam sehingga kalau orang luar takkan mungkin dapat mengira bahwa jurang seperti ini dijadikan markas sementara bagi Wasi Bagaspati dan anak buahnya.
Kiranya di dekat dasar jurang itu terdapat terowongan dan setelah melalui terowongan, mereka berada di dasar jurang lain yang tidak tampak dari atas, dasar yang rata dan amat luas.
Di tempat inilah Sang Wasi Bagaspati tinggal bersama Ni Dewi Nilamanik dan anak buahnya yang berjumlah hampir seratus orang wanita.
Di situ telah dibangun pondok-pondok bambu yang sederhana namun cukup besar dan biarpun tempatnya sederhana, karena dikelilingi puluhan orang wanita muda dan cantik, bagi seorang laki-laki yang menjadi hamba nafsu berahi merupakan surga dunia.
Pasukan yang menjaga pondok terbesar juga merupakan perajurit-perajurit wanita yang bersenjata lengkap, memegang tombak dan menyarungkan pedang.
Mereka nampak cantik dan gagah, akan tetapi mereka semua memiliki pandang mata yang bersinar penuh kegenitan seperti yang terdapat pada pandang mata Ni Dewi Nilamanik.
Adiwijaya memasuki pondok itu di belakang Ni Dewi Nilamanik dan begitu ia berhadapan dengan Sang Wasi Bagaspati yang duduk bersama seorang kakek lain yang memandangnya penuh perhatian, dia merasa bulu tengkuknya meremang.
Selalu ia merasa ngeri kalau bertemu pandang dengan kakek yang berpakaian merah darah, bertubuh tinggi kurus dan mukanya merah mengingatkan dia akan tokoh Raja Alengkapura, yaitu Maharaja Dasamuka dalam cerita Ramayana.
"Heh, Warutama, manusia yang berhati penuh khianat! Inginkah engkau mendapat kehormatan tewas di tanganku maka engkau berani datang ke sini?"
Wasi Bagaspati membentak dan Adiwijaya yang berdiri menunduk penuh hormat itu gemetar kedua kakinya. ia lalu memberi hormat dan duduk bersila di depan kakek itu.
"Duhai Sang Wasi yang arif bijaksana dan sakti mandraguna. Mohon ampun akan kebodohan saya, akan tetapi saya tidak merasa telah melakukan khianat,"
Bantah Adiwijaya, menekan hatinya agar suaranya tidak gemetar.
Ia mengingat akan junjungannya, Retna Wills, dan seketika rasa gentarnya lenyap.
Puteri junjungan nya itu tidak akan meninggalkannya, tidak akan membiarkannya diganggu, biar oleh seorang sakti seperti kakek ini sekalipun.
Dan dalam hal kesaktian, ia merasa yakin bahwa ratunya itu tidak akan kalah oleh kakek ini.
Keyakinan ini menimbulkan ketabahan di hatinya, mengusir rasa takut sehingga ia dapat mempergunakan akal budi dan kecerdikannya.
"Heh, Warutama. Andika telah membunuh Suminten dan Pangeran Kukutan, masih mengatakan Andika tidak berkhianat? Andika melarikan diri meninggalkan sekutu, bukankah hal itu membuktikan hatimu yang khianat?"
Adiwijaya sudah menduga akan datangnya tuduhan itu, maka ia sudah siap dengan jawabannya yang keluar dengan suara tenang.
"Duh Sang Wasi yang mulia. Saya tidak berkhianat ketika membunuh Pangeran Kukutan dan menyerahkan Suminten kepada para perajurit yang melarikan diri. Mereka berdualah yang berkhianat, karena bukankah kegagalan di Jenggala terjadi karena kebodohan dan kelancangan mereka berdua? Setelah gagal karena kecerobohan mereka, kedua orang manusia palsu itu melarikan diri. Saya muak melihat mereka maka saya membunuh Pangeran Kukutan dan menyerahkan Suminten kepada para perajurit yang melarikan diri. Kalau tidak karena kebodohan mereka, tentu saya masih menjadi patih di Jenggala dan usaha Sang Wasi yang dihimpun dan dipupuk secara susah payah tidak akan sirna begitu saja."
Wasi Bagaspati mengelus rambutnya yang putih dan terurai ke pundak. Matanya tidak beringas lagi dan suaranya ketika bicara menunjukkan bahwa kemarahannya reda mendengar alasan Adiwijaya yang kuat.
"Engkau pandai bicara dan mungkin engkau benar. Kami pun tidak lagi membutuhkan mereka. Akan tetapi kami pun sama sekali tidak membutuhkan engkau, Warutama. Apa kehendakmu datang menghadap aku?"
Adiwijaya tersenyum tenang dan sabar.
"Tentu saja Sang Wasi tidak membutuhkan saya, dan kedatangan saya ini pun karena teringat akan budi Sang Wasi dan teringat bahwa kita dahulu pernah bekerja sama. Saya menyesal akan kegagalan kita yang disebabkan oleh kebodohan Pangeran Kukutan dan Suminten. Maka sekarang saya hendak memberi jalan kepada Sang Wasi untuk menebus kekalahan yang lalu, bersama menggempur dan menaklukkan Jenggala dan Panjalu."
Terdengar suara menggereng seperti harimau dan tempat itu menjadi tergetar hebat.
Adiwijaya terkejut sekali dan memandang kakek ke dua yang duduk di sebelah kiri Sang Wasi Bagaspati, yang mengeluarkan suara menggereng hebat, mengandung daya kekuatan dan wibawa ampuh itu.
"Hhrrrrrggg Manusia yang begini mudah menggerakkan lidah mana dapat dipercaya? Kakang Wasi, biar kuganyang jantungnya!' Melihat wajah Adiwijaya berubah pucat, Wasi Bagaspati mengangkat tangan mencegah kakek itu sambil berkata.
"Biarkan dia bicara lebih dulu."
Kemudian ia menoleh kepada Adiwijaya.
"Warutama, kau bicaralah yang benar, kalau tidak, aku akan membiarkan adikku Wasi Bagaskolo mengganyang jantungmu. Apa yang kau maksudkan dengan ucapanmu tadi? Adikku ini benar kalau mengatakan bahwa engkau terlalu mudah menggoyang Iidah hendak menaklukkan Jenggala dan Panjalu."
Hati yang kaget dan gentar dari Adiwijaya berubah girang ketika mendengar bahwa kakek yang hebat dan jelas memiliki kesaktian tinggi itu adalah adik Wasi Bagaspati. Cepat ia berkata.
"Saya tidak berani membohong atau menipu, Sang Wasi. Sekali ini kita pasti akan berhasil menghancurkan Jenggala. Hendaknya Sang Wasi mengetahui lebih dulu bahwa saya sekarang telah menjadi Ki Patih Adiwijaya dari Kerajaan Wills."
"Hemmm !"
Sungguhpun Wasi Bagaspati hanya mengeluarkan suara menggeram, akan tetapi seperti juga Ni Dewi Nilamanik, ia menjadi kagum akan kecerdikan laki-laki ini "Aku sudah mendengar akan Kerajaan Wilis yang baru berdiri dan sudah banyak menaklukkan kadipaten.
Lalu bagaimana?"
"Saya sengaja datang menghadap sebagai utusan junjungan saya, Sang Ratu Wilis, untuk mengajak Sang Wasi bersama-sama menyerbu Jenggala dan Panjalu."
"Ha-ha-ha-ha! Andika benar-benar seorang yang amat cerdik, Warutama. eh, siapa nama barumu tadi? Ki Patih Adiwijaya? Akan tetapi kecerdikanmu tidak cukup besar untuk mudah saja membujuk kami, Ki Patih Adiwijaya! Apa artinya sebuah kerajaan kecil seperti Wilis yang baru saja muncul?"
"Harap Sang Wasi tidak memandang rendah Kerajaan Wilis. Kadipaten Ponorogo dalam waktu singkat dan dengan mudah saja dapat kami taklukkan dan kini Kerajaan Wilis telah mempunyai pasukan yang tidak kurang dari dua laksa orang besarnya, semua merupakan pasukan pilihan. Selain itu, junjungan saya, Sang Ratu Wlilis memiliki aji kesaktian yang amat hebat!"
"Hemm, masih belum meyakinkan akan dapat menghadapi Jenggala,"
Kata Wasi Bagaspati yang termenung kalau teringat akan kesaktian Bagus Seta.
Dia sengaja mendatangkan adik seperguruannya, Wasi Bagaskolo, dari Kerajaan Cola untuk membantunya karena dari pihak Biku Janapati tidak ada bantuan.
Namun dia masih ragu-ragu apakah kedudukannya cukup kuat untuk menyerbu Jenggala.
"Siapa nama ratumu dan berapa usianya?"
Dengan bangga lahir batin Adiwijaya menjawab.
"Ratu kami bernama Retna Wilis, masih dara remaja, usianya tidak akan lebih dari delapan belas tahun."
"Weh! Bedes monyet keparat!"
Wasi Bagaskolo meloncat dari tempat duduknya dan membanting kaki kanannya di atas tanah. Tubuh Adiwijaya sampai hampir mencelat ke atas karena tanah itu tergetar hebat.
"Bocah perempuan cilik, perawan berusia delapan belas tahun kau pamerkan di sini? Kau hendak menghina kami, ya?"
Adiwijaya mengangkat kedua tangan, digerak-gerakkan sebagai tanda bahwa dia tidak menghina, di dalam hatinya memaki-maki kakek yang amat galak ini.
"Sama sekali tidak, Sang Wasi. Hendaknya diingat bahwa Bagus Seta yang amat sakti mandraguna itu pun masih muda remaja. Dan Gusti Ratu Retna Wills adalah adik seayah Bagus Seta."
"Apa.......?? Benarkah itu ?"
Wasi Bagaspati bertanya kaget.
"Benar Sang Wasi. Gusti Ratu Wilis adalah puteri Ki Patih Tejolaksono dan Puteri Endang Patibroto, bahkan beliau adalah murid tunggal Nini Bumigarba"
"Ooommmm....... Sang Hyang Bathara Shiwa penguasa jagad raya. !!"
Wasi Bagaskolo berseru, mukanya berubah dan kini dia tidak berani lagi memandang rendah "perawan remaja"
Itu setelah ia mendengar bahwa Ratu Wilis yang masih muda remaja itu adalah murid Nini Bumigarba. Wasi Bagaspati membelalakkan mata dan hatinya tertarik sekali.
"Hemm, jadi diakah? Akan tetapi dia adalah puteri Tejolaksono dan Endang Patibroto. Bagaimana mungkin bekerja sama dengan kami?"
"Biarpun puteri mereka, namun pendirian orang tua dan puteri tidaklah sama."
Adiwijaya lalu menceritakan hal-ihwal Retna Wilis, betapa ratu muda itu telah menentang ibunya sendiri dan bertekad untuk menaklukkan Jenggala dan Panjalu.
KEMUDIAN ia menambahkan untuk membujuk hati kakek itu.
"Justeru karena ayah bunda beliau berada di Panjalu dan akan berpihak kepada musuh maka gusti ratu ingin bekerja sama dengan Sang Wasi."
Gust puteri sanggup menghadapi dan mengalahkan siapapun juga, termasuk Bagus Seta kakaknya sendiri.
Akan tetapi untuk menghadapi rama ibunya, tentu saja merasa tidak enak dan menyerahkan hal itu kepada Sang Wasi.
Dengan kerja sama antara Sang Wasi berdua berikut semua pembantu Sang Wasi yang sakti mandraguna dengan gusti ratu yang memiliki kesaktian tidak lumrah manusia, saya yakin bahwa Jenggala dan Panjalu akan mudah ditaklukkan."
"Kalau sudah berhasil, bagaimana?"
Wasi Bagaspati memandang tajam, akan tetapi dalam hal kecerdikan menggunakan akal dan tipu muslihat, kiranya Adiwijaya tidak akan kalah terhadap kakek sakti Itu.
"Kalau sudah berhasil? Tentu saja berarti Kerajaan Cola akan menjadi kerajaan sahabat dan gusti puteri tentu akan memberi kebebasan kepada Sang Wasi untuk menyebarkan agama dan kepada Kerajaan Cola untuk menikmati hasil bumi Nusa Jawa."
"Uuhhh ! Kerajaan kami yang besar bersahabat dengan kerajaan yang diperintah oleh seorang ratu perawan belasan tahun? Betapa memalukan!"
Kata Sang Wasi Bagaspati sambil memandang tajam. Adiwijaya maklum akan isi hati kakek itu yang mencobanya, maka is pun balas memandang dan berkata.
"Kalau Sang Wasi berpendirian seperti itu dan andaikata akan lebih suka kalau kerajaan di sini dipimpin oleh seorang pria yang mempunyai minat yang sama,umpamanya seorang pria seperti.... eh, saya sendiri, hemmm apa sukarnya mengenyahkan seorang dara yang belum berpengalaman? Serahkan saja kepada saya, karena saya sendiri pun tidak begitu bangga menjadi patih dari seorang ratu wanita yang amat muda. Merendahkan sekali namanya! Dan beliau amat percaya kepada saya, maka hal itu kelak akan dapat kita bicarakan lagi, Sang Wasi."
"Ha-ha-ha-ha! Andika memang seorang yang amat cerdik dan aku suka sekali bersekutu dengan Andika, wahai Ki Patih Adiwijaya! Kapankah ratumu itu akan mengunjungi kami di sini?"
"Maaf, Sang Wasi. Gusti ratu minta dengan hormat agar Sang Wasi yang datang mengunjunginya di Wilis."
Adiwijaya bersikap cerdik tidak menggunakan kata-kata minta kakek itu datang menghadap ratunya. Akan tetapi "undangan"
Yang sudah diperlunaknya ini masih membuat wajah yang sudah merah itu menjadi lebih merah lagi.
"Apa? Kerajaan kecil Wilis itu minta aku yang datang berkunjung? Aku utusan Kerajaan Cola yang besar? Dan ratu bocah itu? Tuanya masih tua aku, saktinya masih sakti aku, tingginya kedudukan masih tinggi aku!"
"Ratu perawan cilik itu sombong amat!"
Kata pula Wasi Bagaskolo geram. Hemm, kalian ini dua orang kakek yang sombong tak tahu diri, di dalam hatinya Adiwijaya memaki, akan tetapi wajahnya tersenyum dan suaranya halus ketika berkata.
"Harap Sang Wasi berdua yang mulia sudi bersabar dan memikirkan secara mendalam. Ratu Wilis adalah seorang wanita yang masih muda, tentu saja bersikap manja, apalagi memang sakti mandraguna. Kita saling membutuhkan, Kerajaan Wilis membutuhkan bantuan Sang Wasi, sebaliknya Sang Wasi juga membutuhkan bantuan Wilis, kalau yang tua dan yang bijaksana tidak sudi mengalah, bagaimana jadinya? Mengalah bukan berarti kalah dan kalau kelak sudah tercapai cita-cita, masih banyak kesempatan untuk membalas kesombongan itu, bukan?"
Sang Wasi Bagaspati mengangguk-angguk, kembali kepanasan hatinya menjadi dingin dan kemarahannya mereda oleh ucapan Adiwijaya ini.
"Baiklah, memang akal kadang-kadang lebih penting dipergunakan daripada okol (kekerasan). Andika pulanglah, Patih Adiwijaya dan sampaikan kepada ratumu bahwa sebulan lagi kami akan datang berkunjung ke Wilis."
Girang bukan main hati Adiwijaya.
Tugasnya berhasil baik dan demi tercapainya cita-cita yang terkandung dalam hati ratu gustinya, betapapun sulitnya cita-cita itu, ia siap sedia untuk melakukan apa juga.
Dan dengan bantuan dua orang kakek itu dan ditambah pembantu-pembantu mereka yang sakti seperti Ni Dewi Nilamanik, ia merasa yakin bahwa cita-cita ratu gustinya pasti akan tercapai.
Adapun untuk dia sendiri, sungguh aneh sekali dan ia merasa heran sendiri.
Dia tidak mencita-citakan sesuatu, tidak seperti dulu lagi, tidak menginginkan wanita cantik, tidak menghendaki kedudukan tinggi, maupun harta benda dan kemuliaan.
Baginya, kalau ia dapat melihat Retna Wilis berbahagia, dapat mengabdi kepada dara itu, dapat selalu memandang wajahnya, melihat dara itu tersenyum bahagia, ia sudah merasa cukup bahagia hidupnya!
Dengan dada lapang dan hati gembira Adiwijaya lalu kembali ke WilIs dan setelah menghadap Ratu Wills, ia lalu menceritakan pertemuannya dengan Wasi Bagaspati dan menutup penuturannya dengan kata-kata menasehati.
"Harap Paduka berhati-hati menghadapi Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo. Selain mereka itu memiliki kesaktian yang luar biasa, ahli ilmu hitam, juga Wasi Bagaspati amat cerdik dan palsu sedangkan hamba lihat Wasi Bagaskolo amat keras hati dan kejam. Tentu saja hamba yakin bahwa Paduka lebih sakti daripada mereka, akan tetapi di samping Paduka semestinya menahan harga din sebagai Ratu Kerajaan Wilis yang jaya dan tidaklah sangat mengharapkan bantuan mereka, namun hendaknya Paduka tidak menyinggung mereka.... sehingga..... mereka mengundurkan diri kembali. Betapapun juga, bantuan mereka selain amat perlu untuk menghadapi anggauta keluarga yang mendatangkan rasa hati tidak nyaman apabila paduka sendiri yang maju, juga agar mereka itu tidak menaruh curiga dan kelak lebih mudah bagi Paduka untuk mengenyahkan mereka setelah kita tidak memerlukan lagi tenaga mereka."
Retna Wilis yang mendengarkan penuh perhatian, mengangguk-angguk.
"Baik Paman. Akan kuingat dan kulaksanakan pesanmu, dan aku girang sekali bahwa Paman telah berhasil menghubungi mereka."
"Kalau mereka datang menghadap nanti, sebaiknya Paduka menerima mereka di ruangan besar seorang diri agar percakapan di antara Paduka dan mereka tidak sampai bocor keluar. Hamba sendiri dengan diam-diam akan mengerahkan tenaga-tenaga pilihan untuk memasang barisan pendem sehingga kalau terlihat gejala tidak baik, dengan mudah dan cepat hamba akan dapat mengerahkan pasukan menyergap mereka."
"Ah, mengapa demildan, Paman? Aku sendiri tidak takut menghadapi mereka dan tidak memerlukan bantuan barisan pendam."
"Paduka adalah seorang ratu, tidak semestinya turun tangan sendiri kalau masih ada pasukan pengawal. Biarpun hamba yakin Paduka tidak memerlukan bantuan, namun kalau ada marabahaya lalu pasukan pengawal muncul, hal ini akan menambah wibawa dan keangkeran Kerajaan Wilis sebagai kerajaan yang besar."
Kembali Retna Wilis mengangguk-angguk dan ia merasa bersyukur dan girang sekali bahwa dia mendapatkan seorang patih yang begini pandai dan yang agaknya mengerti akan seluk-beluk kerajaan.
Seorang pembantu yang tidak saja pandai, akan tetapi juga setia dan boleh dipercaya.
Sebulan kemudian, sepasukan kecil terdiri dari tujuh orang wanita cantik anak buah Ni Dewi Nilamanik mendaki puncak Wilis dan menyampaikan berita bahwa Sang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo datang berkunjung dan minta berjumpa dengan Ratu Wilis.
Mendengar berita ini, Adiwijaya lalu mempersiapkan pasukan yang menyambut tujuh orang wanita cantik itu, menerima mereka di paseban luar dan menjamu mereka, sedangkan Retna Wilis sudah siap duduk di atas kursi gading berukir yang berada di ruangan besar sebelah dalam.
Ratu muda belia ini duduk sendiri tanpa pengawal dan tanpa abdi, sengaja menanti kedatangan dua orang tamu agung itu.
Di luar, pasukan penghormatan sudah siap menyambut kedatangan dua orang kakek itu.
Akan tetapi sampai lama, yang ditunggu-tunggu belum juga muncul.
Ketika Adiwijaya bertanya kepada pasukan wanita itu, mereka hanya tersenyum penuh rahasia dan menjawab bahwa mereka hanya bertugas menyampaikan berita akan kedatangan dua orang kakek itu, adapun cara mereka datang bagaimana, pasukan wanita itu menyatakan tidak tahu.
Mendengar ini, Adiwijaya menjadi waspada dan cepat is memberi tanda rahasia kepada pasukan pendam agar siap dan waspada, dan dia sendiri pun lalu bersembunyi tak jauh dari ruangan besar sebelah dalam, siap membela junjungannya yang duduk sendirian kalau-kalau terancam marabahaya.
Para pasukan pengawal yang menjadi barisan rahasia itu tidak ada yang dapat melihat ruangan itu, mereka hanya bersembunyi dan menanti isyarat dari Ki Patih Adiwijaya.
Yang dapat mengintai ke ruangan itu dan mendengarkan semua yang akan dipercakapkan hanyalah Adiwijaya sendiri.
Tiba-tiba mata Adiwijaya terbelalak penuh keheranan ketika ia mendengar suara Wasi Bagaspati yang terdengar dekat sekali, terdengar dari dalam ruangan, padahal orangnya tidak tampak!
"Ha-ha-ha!
Sang Ratu yang muda belia, cantik jelita dan sakti mandraguna.
Kami telah datang berkunjung, apakah Paduka belum mengetahui?"
Ki Patih Adiwijaya membelalakkan mata, jelilatan memandang ke sana ke mari, dan bulu tengkuknya bangun satu-satu karena ia sungguh tidak melihat di mana adanya kakek yang suaranya amat dikenalnya itu.
ia lalu memandang kepada ratunya penuh harapan, dan melihat betapa Retna Wills duduk dengan sikap angkuh dan tenang, kemudian ratu muda belia itu tanpa menggerakkan tubuh, tanpa menoleh, menjawab, suaranya lantang dan halus, namun penuh wibawa seorang ratu besar.
"Sang Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo! Permainan kanak-kanak yang kalian perlihatkan ini tidak ada artinya bagiku. Sudah sejak tadi kalian berdiri di dekat tiang di sebelah kanan itu, siapakah yang tidak melihatnya? Sang Wasi Bagaspati, Andika mengangkat tinggi-tinggi tongkat Andika sehingga gelang emas tangan kanan Andika turun sampai ke siku, mau apakah? Dan mengapa Andika meraba-raba jenggot Andika yang sudah putih? Wasi Bagaskolo, mengapa Andika menggunakan tusuk konde untuk menghias kepala? Tusuk konde Andika itu dari emas, apakah Andika masih suka bersolek? Biarpun pesolek kalau pikun sehingga tidak merasa betapa baju Andika di pundak kiri robek sedikit tidak dijahit, apa artinya?"
Ucapan Retna Wilis itu tentu saja mengejutkan dan mengherankan hati Adiwijaya yang kini mengejap--ngejapkan mata dan terbelalak memandang ke arah tiang yang disebut oleh ratu gustinya, akan tetapi tidak melihat apa-apa!
Yang lebih kaget lagi adalah dua orang kakek yang mengerahkan aji kesaktian.
Ternyata ratu yang begitu muda itu hebat, dapat melihat mereka dengan jelas tanpa menengok sehingga dapat mengikuti gerak-gerik mereka dan melihat keadaan mereka dengan sejelasnya!
Sambil menarik napas panjang penuh kagum mereka lalu melepaskan aji panglimuman sehingga kini Adiwijaya dapat pula melihat mereka.
Berdiri bulu tengkuk ki patih ini dan ia pun menghela napas.
Semua kesaktian yang pernah ia pelajari, kalau dibandingkan dengan kedua orang kakek ini sungguh tidak ada artinya!
Namun, dengan hati bangga ia memandang ratunya yang biarpun masih begitu muda belia, ternyata tidak kalah saktinya oleh kedua kakek itu sehingga biarpun kedua orang kakek itu seperti siluman dapat "menghilang", Retna Wilis dapat melihat mereka!.
"Heh-heh, benar-benar awas sekali pandanganmu, Sang Ratu yang muda belia!"
Kata Wasi Bagaspati yang kini sudah tampak dan di belakang kakek ini Wasi Bagaskolo memandang kepada Retna Wilis dengan mata terbelalak penuh keheranan.
"Sebelum kita berkenalan dan bicara lebih lanjut, ingin aku menguji sampai di mana kesaktianmu, Sang Ratu,"
Kata pula Wasi Bagaspati.
"Terserah kepadamu, Sang Wasi Bagaspati. Aku adalah pemilik rumah dan lebih muda, sedangkan Andika adalah tamu dan lebih tua. Aku siap melayani segala kehendakmu,"
Jawab Retna Wilis tanpa menoleh, masih duduk dengan tegak di atas kursinya. Akan tetapi sebelum Wasi Bagaspati bergerak, lengan kirinya disentuh Wasi Bagaskolo.
"Biarkan aku mengujinya, Kakang Wasi,"
Bisiknya.
Kemudian, setelah kakak seperguruannya mengangguk, ia melangkah maju dan memutar, menghadapi ratu yang muda belia itu.
Sejenak mereka bertemu pandang dan jantung Wasi Bagaskolo berdebar ketika sinar mata Retna Wilis seolah--olah menembus dadanya dan menjenguk hatinya, apalagi kalau ia teringat bahwa dara perkasa ini adalah murid tunggal Nini Bumigarba yang amat ditakutinya.
"Sang Ratu, sebagai tamu, perkenankantah aku menghadiahkan tusuk konde yang kau sebut tadi kepadamu, harap Paduka suka menerimanya!"
Sambil berkata demikian, Wasi Bagaskolo mencabut tusuk kondenya sehingga rambutnya yang hanya sedikit dan digelung di atas kepala menjadl gelung kecil itu terurai.
Sejenak ia memandang tusuk konde kecil itu, kemudian membuka kepalan tangannya dengan telapak tangan di atas.
Tusuk konde yang terletak di atas telapak tangannya itu tiba-tiba saja bergerak dan terbang ke atas!
Melihat ini, dari tempat persembunyiannya, Ki Patih Adiwijaya memandang terbelalak penuh keheranan.
Pandang matanya mengikuti gerakan tusuk konde itu yang mengeluarkan sinar cemerlang dan yang kini terbang ke atas berputar-putaran, makin lama makin cepat dan berputaran di seluruh ruangan itu, mengeluarkan bunyi mengaung seolah-olah seekor burung beterbangan.
Dengan bibir tersenyum akan tetapi matanya tetap dingin, Retna Wilis melirik ke atas, kemudian menggapai dengan tangan kirinya ke arah benda kecil yang beterbangan itu.
"Cringggg ! "
Tusuk konde yang tadinya beterbangan itu tiba-tiba saja runtuh di atas lantai, mengeluarkan bunyi berkerincing, jatuh ke depan kaki Wasi Bagaskolo yang memandang dengan muka merah.
"Wasi Bagaskolo, biarpun Andika jauh lebih tua daripada aku, patutkah kalau seorang tamu menghaturkan persembahan dengan menaruh benda itu di atas lantai?"
Wajah Wasi Bagaskolo menjadi makin merah.
Ucapan itu halus, akan tetapi selain mengandung suara dingin sekali, juga jelas merendahkannya, menyebut bahwa dia "menghaturkan persembahan"!
Ia telah memperlihatkan kesaktiannya yang berdasarkan tenaga batin, namun ternyata ratu muda belia itu dapat mengatasinya, maka kini ia ingin menguji kedigdayaan atau ketangkasannya.
"Maaf, Sang Ratu, kalau tadi saya bersikap kurang hormat,"
Katanya sambil membungkuk dan karena tusuk konde itu berada di lantai depan kaki Retna Wilis, maka ketika membungkuk untuk mengambil benda itu seolah--olah ia menghaturkan sembah kepada ratu muda itu.
Retna Wilis menggerakkan lengan kanan dengan sikap seorang ratu menerima dan membalas.
penghormatan itu.
"Sang Ratu Wilis, terimalah persembahanku Tiba-tiba Wasi Bagaskolo menggerakkan jari telunjuk kanannya yang menyepit tusuk konde dan tusuk konde itu meluncur ke depan, ke arah tenggorakan Retna Wills secepat melesatnya anak panah dari busurnya. Jarak antara mereka hanya lima meter kurang lebih, maka dapat dibayangkan betapa berbahayanya serangan ini! Patih Adiwijaya yang menyaksikan serangan ini hampir saja mengeluarkan seruan kaget kalau saja ia tidak cepat menahan hatinya dengan penuh kepercayaan akan kesaktian Ratu Wilis. Akan tetapi betapa kecut dan gelisah rasa hatinya ketika ia melihat betapa Retna Wills sama sekali tidak menggerakkan tangan untuk menangkis atau menggerakkan tubuh untuk mengelak. Tusuk konde yang berubah menjadi sinar cemerlang itu seolah-olah tak dapat dihindarkan lagi akan menancap di kerongkongannya! Setelah sinar itu datang dekat sekali, hanya satu jengkal lagi jauhnya, bibir yang merah dan berbentuk indah itu tiba-tiba diruncingkan dan ditiupkan. Sinar menyilaukan dari tusuk konde itu tiba-tiba membalik dan kini menyambar ke arah pemiliknya, ke arah tenggorokan Wasi Bagaskolo sendiri! "Hebat."
Wasi Bagaskolo berseru kaget dan cepat ia menggunakan jari tangannya untuk menyentil tusuk konde yang akan menjadi senjata makan tuan.
Terpaksa ia harus mengirim kembali tusuk konde itu karena kalau ia menerimanya, sama artinya dengan tidak rela "mempersembahkan"
Benda itu kepada sang Ratu! "Tringgg ! "
Hebat sekali sentilan jari tangan kakek ini karena tusuk konde itu melesat kembali ke arah Retna Wilis.
"Andika memaksa menghaturkan persembahan, sungguh sungkan sekali, Wasi Bagaskolo. Biarlah aku menerimanya!"
Kata Retna Wilis, tangan kirinya diangkat dan tusuk konde itu menancap ke tangannya sampai tembus di punggung tangan!
Adiwijaya hampir berteriak kaget, akan tetapi hatinya lega ketika melihat bahwa benda kecil runcing itu bukan menancap di telapak tangan, melainkan terselip dan terjepit di antara dua bush jari tangan yang kecil mungil!
Diam-diam ia menjulurkan lidah.
Kakek itu hebat, akan tetapi ratunya lebih hebat lagi.
Siapa orangnya berani menerima serangan tusuk konde seperti itu?
Meleset sedikit saja tentu tangan yang berkulit putih halus itu akan terluka!
Retna Wilis sudah menancapkan tusuk konde di lengan kursinya dan ia sudah duduk tegak dengan sikap angkuh dan berwibawa, menghadapi Wasi Bagaspati yang kini berdiri di hadapannya, menggantikan Wasi Bagaskolo yang agaknya sudah puas menguji kesaktian murid tunggal Nini Bumigarba itu.
"Ternyata Paduka tidak mengecewakan sebagai murid Nini Bumigarba, Sang Ratu. Akan tetapi hati saya tidak akan puas kalau tidak menguji sendiri. Sekutu tidak hanya harus mengenal kekuatan lawan, akan tetapi juga perlu sekali mengenal kekuatan kawan sehingga dapat sama-sama mengatur sepak terjang dan siasat dalam menghadapi lawan."
"Silahkan, Sang Wasi,"
Jawab Retna Wilis dengan suara tenang, akan tetapi kini ratu muda ini turun dari kursinya dan berdiri tegak menghadapi Wasi Bagaspati.
Agaknya Retna Wilis maklum bahwa ilmu kesaktian kakek ini tentu jauh lebih hebat daripada kesaktian Wasi Bagaskolo, maka dia pun tidak berani memandang rendah dan siap untuk menghadapi musuh asing yang hendak ditarik menjadi sekutu sementara ini.
Seperti juga ketika berhadapan dengan Wasi Bagaskolo tadi, kini Retna Wills beradu pandang mata dengan Wasi Bagaspati.
Kakek itu mengerahkan tenaga yang timbul dari dasar batin, dari kemauan dan ciptanya, sehingga sepasang matanya seolah-olah memancarkan cahaya berapi-api yang panas membakar, juga mengandung daya yang menggetarkan.
Baru pandang mata ini saja tentu akan dapat melumpuhkan lawan dan memang kakek ini hendak menguji ratu muda belia itu, karena musuh yang hendak mereka hadapi adalah musuh berat di mana terdapat banyak sekali manusia-manusia sakti.
Akan tetapi, dara remaja yang sakti mandraguna ini menghadapi pandang mata kakek itu dengan tenang dan dingin, seperti air telaga yang amat dalam, sedikit pun tidak terpengaruh, bahkan kekuatan mujijat yang terpancar keluar dari sepasang mata kakek itu seolah-olah tenggelam dalam sinar mata dara ini!
"Sang Ratu, bagaimana Paduka akan menghadapi tongkat ularku ini?"
Wasi Bagaspati melepaskan tongkatnya ke atas lantai dan tongkat itu berubah menjadi seekor ular cobra yang berkulit hitam, yang "berdiri"
Di atas perutnya dan mendesis-desis mengembangkan leher amat menyeramkan.
Adiwijaya terbelalak penuh kekhawatiran menyaksikan peristiwa ini.
Biarpun ia maklum bahwa bantuannya tidak akan ada artinya, namun ia sudah siap-siap untuk mengerahkan barisan pasukan pengawal, dan kalau perlu seluruh bala tentara Wilis untuk melindungi junjungannya.
Retna Wilis menunduk, memandang tongkat yang telah berubah menjadi seekor ular itu dengan tenang dan bibir tersenyum, kemudian ia berkata.
"Sang Wasi, permainanmu ini baik sekali. Kalau dia ini benar seekor ular, seharusnya kuinjak hancur kepalanya dengan tumit kakiku, akan tetapi ular ini berasal dari tongkat maka kembahlah menjadi tongkat!"
Ucapan ini dibarengi dengan gerakan kaki kirinya menyambar ke arah ular itu.
Ular Cobra yang kelihatan buas dan galak itu menyambut kaki Retna Wilis dengan gigitan, akan tetapi gerakan ular kalah cepat dan kaki itu sudah mengelak lalu menginjak kepala ular dari atas.
Begitu kepala ular itu kena diinjak, seketika berubah lagi menjadi sebatang tongkat!
Menyaksikan pertandingan ilmu yang seperti sihir atau sulap ini, hampir saja Adiwijaya bersorak girang.
Mampus kau, kakek yang sombong, makinya di dalam hati sambil mengintai dan memandang wajah Wasi Bagaspati yang mengerutkan kening dan matanya menjadi merah.
Ketika patih ini mengalihkan pandangnya kepada wajah Retna Wilis, pandang matanya berubah penuh kagum dan takut, seolah-olah ia melihat seorang Dewi dari Kahyangan.
"Terimalah kembali tongkat Andika, Sang Wasi Bagaspati!"
Retna Wilis berkata dan jari kakinya yang menginjak tongkat bergerak menyentil tongkat itu yang meluncur ke arah pemiliknya.
Akan tetapi Wasi Bagaspati sudah mendorongkan tangan kanannya dengan telapak tangan ke depan.
Angin pukulan yang dahsyat sekali menyambar ke depan ke arah tongkatnya yang terhenti luncurannya, bahkan membalik dan meluncur ke arah Retna Wilis.
"Paduka telah menundukkan ularku, harap tangkis tongkatku, Sang Ratu!"
Kakek itu berkata nyaring.
Retna Wilis tiba-tiba mendorongkan tangan kanannya pula ke depan seperti yang dilakukan Wasi Bagaspati dan serangkum tenaga yang halus meniup ke depan, ke arah tongkat.
Seketika tongkat itu berhenti di tengah udara, di antara kedua orang sakti yang mendorongkan lengan ke depan itu.
Tongkat itu tidak bergerak seperti terjepit oleh tenaga yang tak tampak, terhimpit di tengah-tengah dan kalau diperhatikan betul, baru tampak betapa tongkat itu kadang-kadang menggeser ke kanan kadang-kadang ke kiri dan barulah diketahui bahwa sesungguhnya memang ada dua tenaga sakti yang saling mendorong sehingga tongkat yang berada di tengah itu terhimpit!
Dalam pertandingan mengadu kekuatan tenaga sakti ini, kedua pihak diam-diam menjadi kagum dan tahu bahwa lawan memiliki kesaktian yang hebat dan merupakan lawan yang kuat akan tetapi merupakan kawan yang boleh diandalkan.
Betapapun juga, keduanya memiliki kekerasan hati dan tidak mau mengalah, merasa penasaran, maka mereka mengerahkan tenaga sehebatnya pada saat yang berbareng.
"Krekk! Krekk!"
Tongkat itu hancur berkeping-keping dan keduanya lalu menurunkan lengan tangan masing-masing.
Satu-satunya tanda bahwa mereka tadi telah mengerahkan tenaga hanya tampak pada kulit muka Retna Wilis yang menjadi kemerahan dan beberapa titik keringat yang membasahi dahi Wasi Bagaspati.
"Maaf, Sang Wasi. Aku telah membikin rusak tongkatmu,"
Retna Wilis berkata, teringat bahwa ia harus bersikap baik terhadap dua orang kakek yang akan dijadikan sekutu itu.
Wasi Bagaspati menyeringai dan memandang tongkatnya yang sudah hancur dan berserakan di atas lantai.
"Bukan kesalahan Paduka, Sang Ratu. Pula, mudah saja membuat tongkat pengganti yang rusak dan senjata saya bukanlah tongkat itu, melainkan ini!"
Sambil berkata demikian, Wasi Bagaspati meraba di balik jubahnya dan tiba-tiba tampak sinar menyilaukan ketika tangannya sudah memegang sebuah senjata yang bentuknya seperti Cakra.
Mata Adiwijaya menjadi silau dan kedua kakinya gemetar.
Demikian hebat pengaruh mujijat yang keluar dari senjata di tangan kanan kakek itu!
"Senjatamu ampuh sekali, Sang Wasi.
Akan tetapi aku pun mempunyai sebuah pusaka yang patut kuperlihatkan kepada orang-orang sakti seperti Andika berdua.
Inilah pusakaku Pedang Sapudenta!"
Adiwijaya tak dapat mengikuti gerak tangan Retna Wilis karena tangan kanan ratu itu demikian cepatnya bergerak sehingga tahu-tahu tangannya telah memegang sebatang pedang yang mengeluarkan cahaya berkilauan.
Adiwijaya sampai memejamkan mata karena sinar yang amat terang seperti menusuk matanya.
Ketika ia membuka matanya kembali, kakinya menggigil.
Pedang pusaka di tangan ratunya itu benar-benar amat ampuh dan mengeluarkan hawa mujijat.
Kini ruangan itu penuh dengan hawa mujijat yang keluar dari kedua buah senjata pusaka ampuh itu.
Biarpun kedua kakinya menggigil dan wajahnya pucat terkena perbawa (pengaruh) kedua senjata mujijat itu, Ki Patih Adiwijaya memaksa diri dan memberanikan hatinya untuk keluar dari tempat sembunyi, memasuki ruangan itu dan langsung menjatuhkan diri berlutut dan bersila di depan ratunya sambil berkata.
"Mohon ampun atas kelancangan hamba. Akan tetapi kini bukan saatnya senjata pusaka ampuh dilolos keluar dari warangka (sarung). Dengan sepasang pusaka yang amat ampuh ini hamba yakin kelak semua musuh dapat ditundukkan!"
"Ha-ha-ha-ha! Andika terlalu curiga, Ki Patih Adiwijaya!"
Wasi Bagaspati berkata.
"Kesaktian dan senjata ratu gustimu benar-benar hebat, hatiku puas sekali!"
Tiba--tiba hawa panas dingin yang menyeramkan lenyap dari ruangan itu dan sukar dikatakan siapa yang lebih cepat menyimpan kembali kedua pusaka itu karena tiba-tiba saja kedua pusaka itu lenyap dari tangan masing-masing.
"Sang Wasi berdua, silahkan duduk!"
Kata Retna Wilis, menunjuk ke arah kedua buah kursi yang memang sudah disediakan di ruangan itu.
Dua orang kakek itu lalu duduk di atas kursi berhadapan dengan Ratu Wills, sedangkan Ki Patih Adiwijaya tetap duduk bersila penuh hormat.
Dimulailah perundingan antara Retna Wilis dan Wasi Bagaspati dan dengan terus terang Retna Wilis menceritakan cita-citanya untuk menaklukkan seluruh kerajaan dengan janji bahwa jika Wasi Bagaspati sebagai utusan Negeri Cola suka membantunya sehingga cita-citanya berhasil, kelak ia akan menganggap Kerajaan Cola sebagai negara sahabat dan memberi kebebasan kepada Wasi Bagaspati untuk menyebarkan agamanya.
Sebaliknya Wasi Bagaspati juga menyatakan bahwa sesungguhnya tugasnya hanya memperkembangkan agama, akan tetapi karena selalu menghadapi tentangan, terpaksa ia mempergunakan kekerasan, dan betapa sampai kini ia selalu mengalami kegagalan.
"Mengapa utusan Sriwijaya tidak ikut datang berkunjung?"
Patih Adiwijaya bertanya.
"Bukankah Sriwijaya juga mempunyai utusan yang dipimpin oleh Sang Biku Janapati? Kalau kekuatan kita semua digabung, tentu akan lebih mudah menundukkan Jenggala dan Panjalu yang terkenal kuat."
"Hemm, pendeta gundul itu sungguh menjemukan!"
Wasi Bagaspati mengepal tinju dan giginya berkerot.
"Dari seberang lautan kami datang sebagai sekutu, akan tetapi setelah tiba di sini, dia menyeleweng. Sesungguhnya semua kegagalan kami adalah karena si gundul itu! Kalau dia membantu, tentu sudah berhasil usaha kami."
"Sriwijaya adalah negara yang besar dan kuat, sejak lama menaruh dendam permusuhan dengan Mataram dan hanya berhenti sebentar karena mendiang Gusti Sinuwun Airlangga menikah dengan Puteri Sriwijaya. Akan tetapi dendam lama masih ada, mengapa sekarang utusan Sriwijaya tidak membantu Sang Wasi dalam menghadapi Jenggala dan Panjalu yang menjadi pecahan dari Kerajaan Mataram lama?"
Tanya Ki Patih Adiwijaya yang dalam perundingan ini mewakili gustinya karena dialah yang lebih tahu akan persoalan kerajaan.
"Si kakek gundul menjemukan itu memang tidak tahu diri. Mereka mengira bahwa Sriwijaya amat besar dan kuat,lupa betapa dahulu Raja Sriwijaya, Sinuwun Tunggawarman pernah dikalahkan dan ditawan oleh raja kami, Sinuwun Rajendracola. Setelah tiba di sini, pendeta gundul itu hanya bergerak memperkembangkan agamanya secara diam-diam, bahkan kini merantau ke ujung Nusa Jawa, ke pantai timur dan menyeberang ke Balidwipa. Menjemukan sekali!"
Retna Wilis tersenyum, memandang rendah menyaksikan betapa kakek sakti ini masih mudah dikuasai nafsu amarah.
"Sang Wasi, mengapa mengharapkan bantuan orang yang tidak suka bersekutu? Kurasa, dengan kesaktian yang dimiliki oleh Andika berdua, sudah cukup untuk menundukkan musuh yang bagaimanapun juga."
Kesempatan ini ditunggu-tunggu oleh Sang Wasi Bagaspati, maka ia segera mempergunakannya untuk "membakar"
Hati Retna Wilis. ia menarik napas panjang dan berkata.
"Ahh, kalau menghadapi orang-orang sakti yang manapun juga di seluruh Panjalu dan Jenggala, saya sanggup mengalahkannya. Akan tetapi. ah, usaha kita akan gagal kalau tidak ada yang dapat melawan Bagus Seta!"
Retna Wilis mengerutkan kening.
"Bagus Seta?"
Ia teringat akan cerita ibunya bahwa ramandanya masih mempunyai seorang putera yang bernama Bagus Seta.
"Tentu Paduka mengenal nama itu karena dia adalah rakanda Paduka sendiri. Terus terang saja, kesaktian Bagus Seta amat hebat, tidak ada manusia yang akan mampu menandinginya."
"Apakah Andika sudah kalah olehnya, Sang Wasi?"
Merah wajah Wasi Bagaspati, akan tetapi karena ia cerdik, ia menunduk dan menjawab.
"Pernah kami bertanding dan saya tidak mampu mengatasinya. Saya mendatangkan adik seperguruan saya, Wasi Bagaskolo ini, akan tetapi masih saya ragukan apakah tenaga kami berdua akan mampu menandinginya. Bahkan Paduka yang memiliki kesaktian tinggi, kiranya belum tentu akan dapat menang "
"Apa? Sang Wasi, seorang yang memiliki kesaktian seperti Andika, mengapa berhati begin kecil? Aku akan menandingi Bagus Seta!"
Wasi Bagaspati mengangguk-angguk, menekan hatinya yang merasa girang akan hasil pembakarannya, dan ia berkata lesu.
"Saya percaya akan kesaktian Paduka, akan tetapi masih saya ragukan apakah paduka akan dapat menangkan murid Bhagawan Ekadenta itu!"
Tiba-tiba Retna Wilis tertawa, suara ketawanya merdu akan tetapi menyeramkan sehingga Adiwijaya berdongak memandang dengan bulu tengkuk meremang.
"Hi-hi-hik! Murid Ekadenta? Sang Wasi, tahukan Andika bahwa pusakaku Sapudenta ini khusus untuk menandingi Bhagawan Ekadenta? Kalau dia tidak ada dan yang muncul adalah muridnya, aku yang akan menandingi dan menyapunya dari permukaan bumi!"
Adiwijaya bergidik dan diam-diam merasa prihatin sekali mendengar betapa orang yang dijunjungnya, yang dikasihinya, kini mengancam kepada kakaknya sendiri, kakak seayah!
"Bagus!
Kalau begitu, ada sedikit harapan di hati saya.
Dengan majunya kita bertiga, biarpun Ekadenta sendiri muncul, akan dapat kita hancurkan!
Jangan khawatir, Sang Ratu.
Biarpun sekarang pasukanku hanya tinggal seribu orang yang sudah digembleng oleh muridku, Cekel Wisangkoro, akan tetapi tanpa adanya Bagus Seta, Kita akan dapat dengan mudah menaklukkan Jenggala dan Panjalu sekalipun!
Senopati-senopati sakti mereka, serahkan saja kepada kami berdua, akan kami binasakan semua!"
Perundingan ditanjutkan dan rencana penyerbuan ke Jenggala dibicarakan.
Penyerbuan akan dilakukan dalam waktu singkat setelah persiapan-persiapan dibuat dan Wasi Bagaspati menyanggupi untuk menggabungkan pasukannya ke Wilis dalam waktu dekat.
Kemudian, setelah kedua orang kakek itu menikmati hidangan yang disajikan, mereka kembali ke gunung Arjuna diiringkan tujuh orang perajurit wanita.
Malam itu bulan purnama siddhi menerangi permukaan bumi di pegunungan Wilis, menciptakan pemandangan yang amat indah dan menyejukkan.
Namun, keindahan saat itu tidak tampak oleh Retna Wilis yang sedang duduk termenung seorang diri di dalam taman bunga di belakang istananya dengan hati yang sama sekali tidak sejuk.
Ratu muda belia yang gagah perkasa ini sedang duduk dan gelisah memikirkan keadaan keluarganya.
Betapapun ia telah mewarisi watak gurunya, akan tetapi dia tetap manusia dan kalau ia mengenangkan ibunya, hatinya tergerak dan menggetar juga.
Dan kini dia sedang mempersiapkan pasukan untuk menggempur Jenggala, untuk berhadapan sebagai musuh ayah bundanya, para bibinya, dan bahkan ia telah mengambil keputusan untuk menandingi Bagus Seta, kakaknya!
Semua ini tidak menggelisahkan hatinya, akan tetapi kalau ia teringat akan ibunya, hatinya trenyuh juga sungguhpun tidak begitu mendalam karena tertutup oleh sifatnya yang dingin seperti dasar taut kidul.
Ia tidak perduli kalau harus bermusuh dengan ayahnya.
Dia tidak suka kepada Ki Patih Tejolaksono, ayah kandungnya yang belum pernah dilihatnya karena dia menganggap bahwa Tejolaksono telah menyia-nyiakan ibunya sehingga ibunya terlunta-lunta sampai ke Wilis.
Ia tidak perduli akan Bagus Seta karena pemuda itu adalah putera Tejolaksono dari lain ibu.
Bahkan ia harus memperlihatkan bahwa sebagai putera Endang Patibroto, dia tidak akan kalah oleh putera Ayu Candra!
Apalagi kalau ia ingat bahwa Bagus Seta adalah murid Bhagawan Ekadenta, hal ini justeru mendorongnya untuk mengalahkan pemuda itu.
Ia tidak memperdulikan pula bermusuh dengan para bibinya Setyaningsih dan Pusporini karena kalau mereka itu menentangnya, menghalangi cita-citanya, berarti mereka pun musuh.
Akan tetapi, bagaimana ia akan dapat memusuhi ibu kandungnya?
Dengan pikiran melayang-layang dalam renungan, Retna Wilis memandang bulan yang tampaknya bergerak perlahan, berenang di antara ombak-ombak mega putih di lautan langit biro.
Kadang-kadang bulan yang bundar cemerlang itu bersembunyi di balik awan hitam tipis sehingga tampak seperti wajah puteri jelita bersembunyi di balik tirai sutera hitam, kemudian tirai itu terbuka lagi dan tampaklah senyum yang cerah.
Namun Retna Wilis tidak melihat bulan, melainkan melihat wajah ibunya menggantikan Sang Dewi Candra.
Kemudian sejalan dengan pikirannya yang mengenangkan wajah-wajah keluarganya, bulan itu berubah menjadi wajah ibunya, Setyaningsih yang tersenyum-senyum dan membelainya di waktu ia masih kecil.
Ia cepat mengusir kenangan ini dan membayangkan wajah keluarganya yang belum pernah ia lihat, bibi Pusporini dan terutama wajah ramandanya.
Seperti apakah wajah ayahnya, Ki Patih Tejolaksono yang terkenal seorang pria yang tampan dan gagah perkasa itu?
Sukar baginya untuk membayangkan wajah ayahnya.
Tiba-tiba bulan yang ia bayangkan sebagai wajah seorang pria yang direka-rekanya patut menjadi wajah ayahnya itu berubah menjadi wajah seorang pria muda yang tampan, yang tersenyum bibirnya akan tetapi yang memandang dengan sinar mata tajam menembus jantung.
ia terkejut sekali ketika wajah itu dapat bergerak, mata itu hidup.
"Ahhhh...."
Retna Wilis sadar dari lamunannya dan ketika ia meloncat bangun dari bangku yang didudukinya dan berdiri memandang, kiranya di depannya telah berdiri seorang pemuda tampan yang sikapnya tenang dan sabar sekali, berpakaian serba putih yang amat sederhana.
Pemuda yang memandangnya dengan sinar mata lemah lembut namun amat tajam menjenguk isi hatinya!
Kiranya wajah yang dilihatnya menggantikan bulan itu adalah wajah pemuda inilah!
Dalam kagetnya, Retna Wilis merasa marah dan penasaran sekali, rasa penasaran yang timbul dari rasa malu betapa dia, seorang yang memiliki aji kesaktian tinggi dan yang memiliki penglihatan dan pendengaran lebih tajam daripada manusia biasa, sampai tidak tahu, tidak melihat maupun mendengar akan kedatangan seorang pemuda di depannya!
"Si keparat kurang ajar berani engkau datang tanpa dipanggil dan bersikap begin tak tahu aturan dan lancang?"
Ia mengira bahwa pemuda ini tentu seorang di antara kawula Wilis, akan tetapi siapa pun juga, termasuk patihnya sendiri, kalau datang menghadap tentu berlutut dan menyembah, tidak seperti pemuda ini yang berdiri seperti arca, sama sekali tidak ada tampak sikapnya menghormat!
"Aku bernama Bagus Seta dan kalau aku tidak salah menduga, Andika tentulah adikku Retna Wilis, puteri kanjeng rama dan kanjeng ibu Endang Patibroto.
Benarkah dugaanku?"
Retna Wilis terkejut sekali dan beberapa detik pandang matanya menjelajahi wajah dan tubuh pemuda itu penuh selidik. Jantungnya berdebar, akan tetapi suaranya terdengar dingin ketika ia menjawab.
"Benar, aku Retna Wilis, Ratu Kerajaan Wilis! Jadi engkau inilah yang bernama Bagus Seta, putera Tejolaksono dan Ayu Candra? Hemmm "
Bagus Seta mengerutkan keningnya, akan tetapi sikapnya masih tenang dan ia berkata halus.
"Adinda Retna Wilis, aku rakandamu, kita saudara seayah "
"Aku tidak perduli akan hal itu! Bagus Seta, engkau datang seperti siluman mau apakah?"
"Adikku sayang Retna Wilis. Aku sengaja datang mejumpaimu dengan maksud ingin mengingatkanmu akan kesalahan langkah hidup yang kau tempuh. Engkau telah salah melangkah, Adikku, dan kini masih belum terlambat. Sadarlah bahwa apa yang sedang kau rencanakan bersama Wasi Bagaspati bukanlah hal yang benar, Adikku."
"Huh! Ke manapun juga aku melangkahkan kaki, apa pun juga yang akan kuperbuat, ada sangkut-pautnya apakah dengan engkau? Segala langkah dan perbuatanku ditentukan oleh aku sendiri dan segala akibatnya pun akan kutanggungkan sendiri. Aku tidak membutuhkan peringatanmu!"
"Benar sekali, Retna Wills. Memang seharusnya demikianlah, setiap perbuatan ditentukan oleh diri pribadi dan ditanggungkan akibatnya oleh diri sendiri pula. Aku pun tidak ingin mempengaruhi, apalagi memaksamu. Akan tetapi manusia telah dianugerahi akal budi dan pertimbangan yang menciptakan kewaspadaan dan kebijaksanaan, maka sudah sepatutnya pula kalau manusia berpikir dan mempertimbangkan lebih dulu sebelum melangkah sehingga setiap perbuatannya tidak terdorong oleh nafsu semata."
Segala kata-kata yang keras dan kasar dan sudah berkumpul di ujung lidah Retna Wills tertahan saking herannya melihat keadaan kakaknya ini.
Dia mendengar bahwa kakaknya yang bernama Bagus Seta ini adalah seorang yang memiliki kesaktian luar biasa, maka tadinya ia menggambarkan bahwa kakaknya tentu seorang pria yang gagah dan tampak gagah dan kuat.
Akan tetapi kini ia berhadapan dengan seorang pemuda lemah lembut sikapnya, halus tutur sapanya, bahkan yang mengeluarkan ucapan mengandung penuh kesabaran dan ketenangan, sikap yang sepantasnya hanya dimiliki oleh kaum pendeta atau pertapa yang sudah tua rena dan pikun!
Saking herannya, ia hanya dapat memandang dan mendengarkan pemuda itu bicara terus tanpa dapat mencela atau menjawab.
"Retna Wilis, Adikku sayang. Apakah sesungguhnya yang kaucari? Apakah yang kau cita-cita dan idamkan? Apa yang tersembunyi di dalam usahamu menghimpun tentara,menaklukkan seluruh kadipaten dan kerajaan ini? Apakah engkau mengejar kedudukan sebagai seorang ratu besar yang oleh manusia dianggap kemuliaan? Itukah kemuliaan? Ah, engkau akan kecewa, Adikku, apa pun hasilnya daripada kekerasan yang hendak kaulakukan. Bukan di sanalah letak kebahagiaan, Adikku. Selama engkau menuruti hasrat dorongan nafsu untuk mengejar kesenangan, engkau takkan pernah merasakan kepuasan. Nafsu mengejar kesenangan untuk dinikmati merupakan kehausan manusia, dan hal ini adalah manusiawi dan menjadi hak manusia pula untuk memuaskan dahaga mereka. Akan tetapi, dahaga tidak akan lenyap dan puss apabila diminumi air yang terlalu manis, bahkan makin banyak diberi yang manis-manis akan menjadi makin haus. Demikian pula dengan nafsu. Makin dituruti tanpa dikendalikan sampai berlebihan, akan menjadi makin besar membakar seperti api diberi umpan kayu kering. Adikku, insyaflah dan jangan menurutkan kata hati yang dikuasai nafsu."
Retna Wilis sudah dapat mengatasi keheranannya dan ia marah sekali.
"Bagus Seta! Kiranya engkau yang disohorkan orang memiliki kesaktian yang hebat ternyata hanya memiliki lidah yang pandai bergoyang! Aku tahu mengapa engkau berpidato sepanjang itu. Engkau tentu diutus Panjalu yang gentar menghadapi ancaman penyerbuanku, untuk membujuk aku karena kalian menganggap aku ini adikmu yang sepatutnya tunduk dan taat kepada engkau yang merasa sebagai kakakku! Engkau kecelik, Bagus Seta. Tentu saja engkau berpihak kepada Jenggala dan Panjalu karena seluruh keluargamu menghamba di sana, bahkan ayahmu menjadi Patih Panjalu, dan mereka yang duduk di kursi pimpinan Jenggala juga keluargamu. Akan tetapi, aku tidak akan tunduk oleh obrolanmu yang kosong! Nah, engkau mau apa sekarang? Mau menggunakan kesaktian yang kata orang kau miliki itu? Keluarkanlah semua kesaktianmu, aku tidak takut!"
Bagus Seta tetap tenang sungguhpun senyumnya mengandung keprihatinan.
"Adikku, keliru pendapatmu bahwa aku datang sebagai pembela keluarga maupun Kerajaan Panjalu dan Jenggala, sungguhpun tidak kusangkal bahwa aku memang membujukmu agar engkau sadar. Ini menjadi kewajibanku. Ketahuilah bahwa aku hanya membela kebenaran, Adikku. Biar keluarga sendiri, biar Panjalu maupun Jenggala, kalau tindakannya menyeleweng daripada kebenaran, adalah menjadi kewajibanku untuk menentang, karena aku bukanlah seorang punggawa kerajaan mana pun. Berbeda dengan kanjeng rama, kanjeng ibu atau para kanjeng paman dan bibi, mereka terikat oleh tugas kewajiban sebagai punggawa, sebagai perajurit sehingga yang dikenal hanyalah melaksanakan tugas tanpa pamrih berdasarkan kesetiaan terhadap kerajaan sebagai sifat setap satria. Engkau telah bersekutu dengan Wasi Bagaspati, Adikku, dalam hal ini saja sudah tidak benar. Wasi Bagaspati adalah seorang manusia yang menyeleweng daripada kebenaran, bahkan menentang kebenaran demi nafsu-nafsunya. Sekarang engkau bersekutu dengan dia untuk menaklukkan jenggala dan Panjalu, hal ini merupakan penyelewengan hidup yang amat besar, apalagi kalau diingat engkau adalah puteri Patih Panjalu, sedangkan kanjeng ibu Endang Patibroto seorang tokoh yang amat dihormati dan disegani di Panjalu dan Jenggala. Sadar dan insyaflah sebelum terlambat, Retna Wilis adikku."
"Heh si keparat Bagus Seta! Tak perlu banyak cakap lagi karena aku tidak sudi mendengarnya! Ketahuilah bahwa aku adalah murid tunggal Nini Bumigarba dan engkau adalah murid Bhagawan Ekadenta! Aku telah berjanji kepada guruku untuk mengalahkan Bhagawan Ekadenta dan Sekarang biarlah engkau menjadi wakilnya. Hayo kerahkan semua aji kesaktianmu dan lawanlah aku, Retna Wilis yang juga menjadi Ratu Wilis, aku hanya Perawan Lembah Wilis bocah gunung, tidak seperti engkau putera Patih Jenggala, seorang priyayi, seorang bangsawan agung. Hayo kita mengadu aji kesaktian!"
Melihat Retna Wilis bertolak pinggang dan menggerak-gerakkan lengan kanan menantangnya, wajah tampan Bagus Seta menyuram, akan tetapi sikapnya masih sabar.
"Tugasku bukan menentang Nini Bumigarba atau Retna Wilis melainkan menentang kejahatan yang menimbulkan kesengsaraan kepada manusia, Adikku. Aku tidak berniat untuk bertanding melawanmu."
"Eh, Bagus Seta, kiranya engkau hanya seorang pengecut! Engkau takut melawanku, engkau takut kepadaku! Katakanlah bahwa engkau takut kepadaku dan aku akan mengampunimu!"
Bagus Seta tersenyum penuh kesabaran, dan memandang adiknya seperti Pandang mata seorang dewasa melihat seorang anak kecil yang nakal.
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 10
Baca Juga: Suling Emas 36