Eps 13 Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo
Baca online Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo
Cersil Perawan Lembah Wilis - Kho Ping Hoo.
"Aku tidak takut kepadamu, Adikku, juga tidak takut terhadap diri sendiri dan segala tindakanku. Rasa takut adalah tidak wajar dan dibuat sendiri, dan setiap perbuatan yang dilakukan karena takut adalah perbuatan yang tidak wajar, karenanya tidak benar. Manusia yang sadar akan kekuasaan Yang Maha Kuasa, yang maklum dengan penuh keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah wajar,,, dan yang dengan segala kewajaran hatinya mengerti akan benarnya setiap perbuatan yang dilakukannya, akan terbebas daripada rasa takut."
"Sombong! Bagus Seta, hanya ada dua pilihan bagimu. Melawan aku atau engkau menyatakan bahwa. engkau takut kepadaku, baru aku akan membiarkanmu pergi tanda mengganggumu."
"Kalau keduanya tidak kulakukan?"
"Aku akan membunuhmu!"
Bagus Seta menarik napas panjang.
"Ah, berkali-kali terbukti olehku betapa kekuasaan Sang Hyang Widhi tidak dapat dilawan oleh siapa pun, bahwa keputusan Sang Hyang Widhi tidak dapat diubah oleh manusia. Aku telah berusaha secukupnya, namun keputusannya terserah kepada Sang Hyang Widhi Wisesa!"
Pada saat itu, Retna Wilis sudah menerjang maju dan mengirim pukulan dengan kedua tangannya berturut-turut sampai tujuh kali.
Cepat sekali gerakannya ini karena dia mempergunakan gerakan Ilmu Pukulan Pancaroba, seperti sambaran kilat kedua tangannya dengan jari terbuka menghantam ke arah bagian-bagian tubuh Bagus Seta.
Pemuda ini dengan sikap tenang sekali, tanpa mengubah kedudukan sepasang kaki yang terpentang, memutar kedua lengan di depan tubuhnya dan berturut-turut dapat menangkis tujuh kali pukulan ampuh itu.
Dua tenaga yang dahsyat bertemu, dan akibatnya Bagus Seta terpaksa melangkah mundur tiga tindak saking hebatnya tenaga serangan Retna akan tetapi dara sakti ini terdorong oleh tenaga tangkisan lawan dan ditambah dorongan tenaga serangan sendiri yang membalik, terhuyung ke belakang dan hampir terpelanting!
"Aiiihhhh!!"
Retna Wiles menjerit, meloncat ke atas mematahkan tenaga dorongan dan tubuhnya dari atas menukik ke arah Bagus Seta sambil memukul dengan aji pukulan Wisalangking.
Bagus Seta miringkan tubuh mengelak sehingga angin pukulan menyambar rumput-rumput yang segera menjadi layu dan membusuk!
"Kasihan engkau, Adikku!"
Bagus Seta berkata, manaruh kasihan melihat betapa adiknya dikuasai nafsu amarah sehingga menjadi mata gelap.
Akan tetapi Retna Wilis yang sudah diperhamba kemarahan itu, menerima ucapan ini sebagai ejekan, maka ia lalu memekik dan mencabut pedang pusaka Sapudenta!
Tampak sinar berkilat di bawah sinar bulan itu ketika pedangnya berkelebat menyambar tubuh Bagus Seta.
Pemuda ini maklum akan kesaktian adiknya, maklum pula akan ampuhnya pusaka itu, maka ia menggunakan kepandaiannya melesat jauh dan terus pergi melarikan diri dari tempat itu.
"Bagus Seta keparat! Jahanam pengecut! Jangan lari t"
Retna Wilis mengejar cepat.
Namun ia telah kehilangan jejak pemuda itu yang lenyap di antara bayang--bayang hitam di malam terang bulan itu dan setelah mengejar cukup jauh, Retna Wilis berhenti, dadanya berombak, napasnya terengah saking marahnya.
Matanya beringas memandang ke kanan kiri, kemudiati mulutnya memekik, tubuhnya bergerak dan pedang pusaka di tangannya digerak-gerakkan menjadi gulungan sinar menyilaukan yang menyambar-nyambar dan membentuk lingkaran-lingkaran menerjang di antara pohon-pohon.
Terdengar suara hiruk-pikuk ketika banyak batang pohon tumbang oleh sinar pedangnya.
Setelah menumbangkan pohon-pohon di sekelilingnya, barn agak mereka kemarahan yang menyesak di dada.
Retna Wilis herdiri di tengah-tengah tumpukan batang, cabang, dan daun pohon yang berserakan di sekelilingnya, seperti arca, pedang pusaka masih di tangan kanan, mukanya menunduk.
"Gusti Puteri....... ahhh, apakah yang teijadi....... Hati hamba tercekap rasa khawatir. mengapa Paduka marah dan seperti orang berduka. ?"
Patih Adiwijaya muncul dari balik daun-daun pohon yang bertumpuk, sedangkan dari jauh, para pengawal hanya memandang bingung, tidak berani mendekat.
Bagaikan baru sadar dari sebuah mimpi buruk, Retna Wilis membalikkan tubuhnya, memandang beringas dan dengan pedang di tangan.
Akan tetapi ketika ia mengenal patihnya, ia menghela napas dan perlahan-lahan menyarungkan pedang pusakanya di punggung, kemudian memejamkan mata sebentar, membukanya lagi dan menggerakkan pundak.
"Aku hanya berlatih, Paman. Paman, kirimlah utusan kepada Sang Wasi Bagaspati, minta agar pengiriman pasukan dipercepat karena aku ingin secepat mungkin menyerbu Jenggala!"
Retna Wilis meninggalkan patihnya yang melongo di tempat itu sambil memandangi pohon-pohon yang tumbang.
Dalam pandang mata patih ini, di bawah sinar bulan purnama yang berselimut awan hitam, cabang-cabang pohon yang berserakan itu seperti tubuh-tubuh manusia yang tidak utuh lagi, mayat-mayat bergelimpangan akibat amukan Retna Wills dengan pedang pusaka Sapudenta.
Adiwijaya bergidik.
Banyak sudah ia menyaksikan perang, banyak menyaksikan manusia-manusian saling menyembelih dalam perang, akan tetapi belum pernah menyaksikan keganasan yang luar biasa seperti yang pasti akan dapat ia saksikan jika Retna Wilis mengamuk di medan perang dengan pedangnya!
Peristiwa di malam terang bulan ini pertemuan antara kakak dan adiknya yang teijadi amat aneh tanpa disaksikan manusia lain, ternyata merupakan dorongan yang mempercepat penyerbuan bala tentara Wills ke Jenggala.
Tentu saja peristiwa penyerbuan ke Jenggala ini menimbulkan geger dan seperti telah lajim terjadi semenjak manusia mengenalnya sampai kini, perang selalu mendatangkan malapetaka dan sengsara bagi rakyat jelata.
Penduduk dusun-dusun yang dilanda barisan Wilis lari pontang-panting pergi mengungsi, menyelamatkan nyawa meninggalkan segala benda miliknya yang didapatnya dengan cucuran peluh setiap hari.
Para iblis dan siluman mengamuk, menggunakan kesempatan itu untuk mempengaruhi batin manusia yang tidak kuat sehingga di mana-mana terjadi pelangggaran perikemanusiaan dan hukum rimba merajalela.
Pihak Jenggala segera mendengar berita akan datangnya bala tentara Wilis yang hendak menyerbu, maka persiapan--persiapan lalu dibuat, pasukan-pasukan penjaga diatur ketat, bahkan Tejolaksono dan Endang Patibroto telah mohon perkenan dari sang prabu di Panjalu untuk membantu Jenggala karena suami isteri ini berprihatin sekali, merasa bertanggung jawab atas penyerbuan tentara Wilis yang dipimpin oleh putera mereka.
Untuk mencegah terjadinya hal yang tidak baik, Ayu Candra tidak diperkenan ikut.
Demikianlah, ketika pasukan-pasukan Wilis sudah tiba di perbatasan kota raja Jenggala, Tejolaksono dan Endang Patibroto sudah slap pula memperkuat barisan Jenggala, bahkan mereka berdua memimpin pasukan inti di samping Joko Pramono yang menjadi patih dan merangkap senopati Jenggala di samping isterinya yang sakti Pusporini.
Pasukan terdepan dari Wilis adalah pasukan bantuan dari Sang Wasi Bagaspati, pasukan yang dipimpin oleh Cekel Wisangkoro dan pasukan yang dipimpin oleh seorang senopati pembantu Ki Patih Adiwijaya.
Penyerbuan pasukan terdepan dari Wilis ini menghadapi sambutan yang panas dan keras dari pasukan yang dipimpin sendiri oleh Joko Pramono dan Pusporini.
Hebat bukan main perang campuh ini, tanpa upacara dan tanpa banyak cakap lagi.
Perang campuh yang terjadi selama setengah hari, dari tengah hari sampai menjelang senja ini mendatangkan korban amat banyak, baik di pihak Jenggala maupun di pihak pasukan Wilis.
Akan tetapi, amukan Joko Pramono dan Pusporini yang amat dahsyat itu membangkitkan semangat para perajurit Jenggala sehingga pihak Wilis kocar-kacir dan didesak mundur.
Bahkan mendekati petang hari, ketika pasukan Wilis terdesak dan Cekel Wisangkoro yang menjadi penasaran dan marah itu mengamuk, merobohkan banyak perajurit lawan dengan tongkat ular hitamnya sehingga semangat pasukannya bangkit kembali, perang menjadi makin menghebat.
Ceker Wisangkoro tentu saja merasa takut kepada Wasi Bagaspati dan merasa malu kepada Ratu Wilis kalau sampai pasukannya kalah dalam perang campuh pertama ini, maka ia lalu berteriak-teriak membangkitkan semangat pasukannya dan dia sendiri maju sampai ke tengah medan pertempuran, menggunakan segala aji kesaktiannya untuk membunuh pihak musuh sebanyak mungkin.
Menghadapi amukan Cekel Wisangkoro yang mengeluarkan semua ilmu hitamnya ini, pihak pasukan Jenggala mawut.
Empat orang perwira Jenggala yang terkenal gagah perkasa roboh tewas di tangan Cekel Wisangkoro.
Ketika Ki Patih Joko Pramono mendengar akan hal ini, ia menjadi marah sekali dan cepat ia menerjang ke tengah medan pertempuran sehingga setelah membuka jalan berdarah, merobohkan banyak perajurit musuh, akhirnya ia dapat menemukan Cekel Wisangkoro yang mengamuk itu.
Memang hebat sepak teijang murid Wasi Bagasati ini.
Tubuhnya diselimuti asap menghitam sehingga sukar bagi pihak lawan untuk menerjangnya,sebaliknya dari dalam asap hitam itu, tongkat kakek itu menyambar-nyambar merupakan cakar maut yang setiap kali menyambar tentu merenggut nyawa seorang lawan.
"Cekel Wisangkoro, akulah lawanmu!"
Joko Pramono membentak yang menggunakan kedua tangannya mendorong sambil melompat ke depan.
Terkena dorongan kedua tangan itu, asap hitam membuyar dan tampaklah kakek itu mengobat-abitkan tongkatnya yang berbentuk ular hitam.
Kini dua orang sakti itu berhadapan, saling pandang dengan mata beringas.
Cekel Wisangkoro segera mengenal orang muda itu yang pernah bertanding dengannya ketika Joko Pramono, Pusporini, dan Bagus Seta dahulu menolong Tejolaksono dan kedua orang isterinya yang tertawan oleh Wasi Bagaspati.
Dahulu Cekel Wisangkoro terpaksa melarikan diri karena tidak kuat menghadapi Joko Pramono dan Pusporini, akan tetapi sekarang, menghadapi Joko Pramono seorang diri saja, apalagi dalam sebuah perang campuh, ia tidak menjadi gentar dan ia menudingkan tongkatnya sambil membentak.
"Babo-babo, Joko Pramono! Engkau telah menjadi patih Jenggala, ya? Bersiaplah engkau untuk mampus bersama Jenggala yang sekali ini pasti akan kami hancurkan!"
"Ha-ha-ha, Cekel Wisangkoro dukun lepus! Berkali-kali engkau dan kawan-kawanmu menurutkan angkara murka, tidak tahu malu dan lupa bahwa engkau dahulu telah menjadi pecundang, lari terbirit-birit ketika melawanku. Sekarang engkau datang menyerahkan nyawa, bagus, majulah!"
"Lihat ular saktiku menelanmu!"
Tiba-tiba Cekel Wisangkoro melemparkan tongkatnya yang berubah menjadi seekor ular besar sekali, dengan mulut yang lebar penuh gigi dan siung beracun, menyemburkan uap hitam hendak menerjang Joko Pramono.
Ki patih tersenyum, merendahkan tubuhnya dengan kedua lutut agak ditekuk, kemudian ia membentak.
"Permainan ini menjemukan. Heiiittt!"
Kedua tangannya mendorong ke depan, ke arah ular dengan pengerahan aji pukulan Cantuka-sekti. Serangkum hawa pukulan sakti menyambar ke depan dan "ular"
Itu terpelanting, terlempar ke depan Cekel Wisangkoro, berubah menjadi tongkat hitam lagi.
"Keparat!"
Cekel Wisangkoro menyambar tongkatnya dan bagaikan gila ia menerjang ke depan dengan tongkatnya.
Namun sambil tersenyum Joko Pramono berhasil mengelak dan balas memukul.
Seperti biasa, murid Sang Resi Mahesapati ini tidak mempergunakan senjata dalam menghadapi lawan, hanya mengandalkan kegesitan tubuhnya dan keampuhan pukulan dan tendangannya.
Dalam waktu tak lama, ia telah berhasil mendesak Cekel Wisangkoro yang menjadi kempas-kempis napasnya.
Kakek ini berusaha untuk mainkan tongkatnya sehebat mungkin, namun selalu tusukan dan hantamannya mengenai tempat kosong dan beberapa kali ia terhuyung karena pukulan Cantuka-sekti yang biarpun tidak mengenainya dengan tepat, namun hawa pukulan yang dahsyat itu membuat ia hampir tidak dapat menahannya.
Pertandingan hebat antara dua orang sakti yang memimpin pasukan pertama ini dijadikan tontonan oleh para perajurit kedua pihak sehingga mereka yang tadinya bertanding di dekat tempat itu, otomatis menghentikan pertandingan mereka dan menjadi penonton sambil berteriak-teriak dan bersorak-sorak menjagoi pimpinan masing-masing.
Mereka yang berada jauh dari medan pertandingan ini masih terns berperang penuh semangat,karena kini pihak Wilis telah bangkit kembali semangatnya oleh sepak-terjang Cekel Wisangkoro tadi.
Di lain tempat, di ujung kin, Pusporini juga mengamuk, bahkan lebih hebat daripada suaminya.
Berbeda dengan Joko Pramono yang mendapatkan tandingan kuat, wanita perkasa ini hanya dikeroyok oleh lawan-lawan yang baginya terlalu lunak sehingga pihak musuh roboh berserakan seperti sekumpulan laron menyerbu api.
Kembali pihak Wilis menjadi mawut dan cerai-berai setiap kali Pusporini menerjang maju.
Para perwira Wilis sudah roboh semua dan tiba-tiba majunya Ni Dewi Nilamanik merupakan pendorong bagi perajurit Wilis untuk tidak lari.
Ni Dewi Nilamanik maju dan menyambut amukan Pusporini sehingga kembali perang tanding berlangsung makin seru.
Seperti juga suaminya, Pusporini menghadapi Ni Dewi Nilamanik yang mengamuk dengan senjata kebutannya itu dengan tangan kosong saja.
Kalau dibuat perbandingan, tingkat kesaktian Ni Dewi Nilamanik masih lebih tinggi daripada kepandaian Cekel Wisangkoro.
Apalagi setelah wanita cabul ini menerima banyak petunjuk dari Wasi Bagaspati, ia merupakan lawan yang berat bagi Pusporini.
Maka pertandingan antara kedua orang wanita sakti ini lebih dahsyat dan biarpun aji kesaktian Pusporini "murni", namun ia kalah pengalaman, juga kebutan di tangan wanita itu benar-benar ampuh.
Agaknya, biarpun tidak terancam dan tidak terdesak oleh lawannya, Pusporini hams mengerahkan seluruh kepandaiannya dan makan banyak waktu untuk dapat merobohkan wanita yang mengaku sebagai penitisan Bathari Durgo ini!
JOKO PRAMONO yang mulai mendesak Cekel Wisangkoro, dapat melihat dari jauh betapa isterinya mendapatkan lawan yang amat tangguh, maka ia lalu mengeluarkan pekik sakti yang dahsyat sekali, menubruk maju memapaki sambaran tongkat Cekel Wisangkoro.
Tongkat yang menyambar ke arah kepalanya itu ditangkis oleh Joko Pramono dengan lengan tangan terus dicengkeram dan ditekuk ke bawah lengan, dikempit sehingga tongkat itu tidak dapat ditarik kembali oleh pemiliknya.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Cekel Wisangkoro untuk menggerakkan tangan kirinya yang terbuka jarinya, menampar ke arah pelipis Joko Pramono.
Pemuda sakti yang menjadi Patih Jenggala ini maklum bahwa kalau ia tidak cepat dapat merobohkan lawan tangguh ini maka pertempuran akan berlarut-larut dan ia mengkhawatirkan keselamatan isterinya yang menghadapi Ni Dewi Nilamanik yang sakti.
Maka ketika pukulan atau tamparan tangan kiri Cekel Wisangkoro menyambar pelipisnya dari atas, ia tidak mengelak atau menangkis melainkan miringkan kepala dan menyambut tamparan itu dengan pundaknya, akan tetapi pada detik itu juga, tangan kanannya sendiri menghantam dengan telapak tangan dengan pengerahan Aji Cantuka-sekti, ke arah perut lawan.
"Dessss Ngekkk!!"
Tubuh Cekel Wisangkoro terpental dan kakek ini roboh dan tewas seketika dengan darah mengucur dari semua lubang di tubuhnya, isi perutnya hancur oleh pukulan Joko Pramoiio.
Patih muda ini sendiri terhuyung ke belakang akan tetapi tidak terluka dan.
beberapa, menit kemudian ia telah meloncat dan membantu isterinya menghadapi Ni Dewi Nilamanik.
Melihat majunya Joko Pramono, Ni Dewi Nilamanik menjadi gugup.
Kebutannya diputar, akan tetapi karena perhatiannya ia tujukan kepada Joko Pramono, ia menjadi kurang waspada terhadap serangan Pusporini yang menampar dengan Aji Pethit Nogo.
Biarpun Ni Dewi Nilamanik berhasil mengelak, namun ia terhuyung dan scat itu dipergunakan oleh Joko Pramono untuk mencengkeram ke butannya dan menyendalnya tiba-tiba.
Ni Dewi Nilamanik mempertahankan.
"Brettttl"
Kebutan itu putus di tengah-tengah dan tubuh Ni Dewi Nilamanik terjengkang. Pusporini dan Joko Pramono menerjang maju untuk "menghabiskan"
Wanita itu, akan tetapi tiba-tiba ada angin besar menyambar dari depan, membuat mereka terhuyung ke belakangl Kiranya di situ telah berdiri scorang dara muda jelita yang matanya seperti berapi dan kcningnya dikerutkan, sikapnya angkuh dan garang.
"Kau kau Retna Wilis!"
Pusporini berkata,menduga-duga, Sedangkan Joko Pramono juga memandang dengan kagum akan tetapi juga penasaran karena hatinya tidak senang mendengar betapa puteri Endang Patibroto ini menentang semua keluarga termasuk ibunya sendiri.
"Kalian tentu Bibi Pusporini dan Paman Joko Pramono, lebih baik Andika berdua mundur."
Dara jelita yang bukan lain adalah Retna Wills sendiri ini menoleh kepada Ni Dewi Nilamanik dan berkata.
"Andika mundurlah"
Ni Dewi Nilamanik menjadi merah mukanya.
ia amat tidak suka menyaksikan sikap Ratu Wilis yang tidak pernah menghormat siapa pun juga ini, akan tetapi karena ia tadi telah ditolong, diselamatkan dan bahaya maut, ia tidak membantah dan mundur, menyelinap di antara para perajurit.
Pusporini yang memiliki hati keras dan galak, segera menudingkan telunjuknya kepada Retna Wilis dan membentak;
"Bocah kurang ajar! Beginikah sikapmu terhadap bibi dan pamanmu? Kami adalah perajurit-perajurit sejati, lebih baik mati di medan laga daripada mundur!"
Retna Wilis tersenyum mengejek.
"Kalau aku yang maju, Andika berdua mau apa? Melawanku? Tiada gunanya!"
"Bocah murtad! Durhaka!"
Pusporini sudah menerjang maju dan menghantam dengan Pethit Nogo mengarah kepala Retna Wilis.
Akan tetapi dengan tenang Retna Wilis menggerakkan tangan, menangkap pergelangan Pusporini sehingga wanita ini tak dapat bergerak, kemudian sekali ia mendorong, tubuh Pusporini terlempar sampai lima meter lebih, menimpa dua orang perajurit yang roboh terpelanting.
"Keparat!"
Pusporini maju lagi, akan tetapi suaminya mencegahnya.
Terdengar sorak-sorai riuh dan kini perang makin menghebat.
Majunya Retna Wilis dibarengi majunya Wasi Bagaspati dan pasukan ini dari depan, sedangkan dari kanan maju pasukan yang dipimpin Wasi Bagaskolo, dan dari kiri maju pasukan yang dipimpin Patih Adiwijaya.
Bala tentara Jenggala mawut tidak karuan, banyak yang tewas dan sisanya lari mundur!
Tiba-tiba di antara hiruk-pikuk pasukan kedua pihak yang berperang campuh, terdengar melengking suara Retna Wilis.
"Pasukan Wilis, dengar ratumu bicara! Tarik mundur semua perajurit dan jangan bergerak sebelum kuberi komando!"
Hebat memang suara Retna Wilis ini.
Terdengar sampai jauh dan hebat pula ketaatan para pasukan Wilis yang serentak menghentikan pengejaran bahkan mundur dan tidak mengeluarkan suara berisik.
Retna Wilis mengeluarkan pekik ini karena ia melihat munculnya beberapa orang menghadapinya, di antarnya adalah ibu kandungnya, Endang Patibroto!
Ia memandang tajam, meneliti seorang demi seorang.
Akan tetapi yang maju mendekatinya hanya empat orang dan karena ia sudah mengenal ibunya, Joko Pramono, dan Pusporini, maka dengan mudah ia dapat menduga bahwa pria gagah perkasa setengah tua yang berpemandangan tajam sekali dan berdiri di samping ibunya itu tentulah orang yang disebutkan sebagai ayah kandungnya, yaitu Ki Patih Tejolaksono, Patih Muda Panjalu!
"Retna!
Engkau lanjutkan perbuatanmu yang laknat ini?"
Endang Patibroto sudah tidak dapat menahan lagi kemarahannya, mukanya merah matanya menyinarkan api dan kedua tangannya mengepal tinju.
"Ibu, sudah kukatakan bahwa apa pun juga tidak akan dapat menghentikan aku mengejar dan mencapai cita-citaku,"
Jawab Retna Wilis dengan sikap tenang, sedangkan di samping dan belakangnya berdiri Wasi Bagaspati, Wasi Bagaskolo, dan Ni Dewi Nilamanik.
Mereka bertiga ini, terutama sekali Wasi Bagaspati, merasa kecewa dan tidak senang hatiriya mengapa Retna Wills menahan pasukannya yang sudah hampir berhasil menaklukkan Jenggala.
"Engkau bersekutu dengan orang jahat, dan demi mengejar cita-citamu yang gila untuk menjadi ratu terbesar, engkau sampai hati untuk mengorbankan nyawa laksaan orang bahkan sampai hati menentang aku, ibumu sendiri dan Ki Patih Tejolaksono, ayah kandungmu ini?"
Retna Wills memandang ayahnya itu dengan sinar mata memandang rendah, kemudian berkata.
"Kalau Ibu tidak menghendaki jatuh banyak korban yang sudah menjadi hal wajar dalam perang, Ibu usahakan agar Jenggala dan Panjalu menakluk kepadaku tanpa perang. Kalau mereka itu mau mengakui Ratu Wilis sebagai ratu terbesar dan menjadi kerajaan-kerajaan bawahanku, aku tidak akan menyerang. Adapun mengenai ayahku, aku merasa tidak mempunyai seorang ramanda yang sejak kecil bahkan sejak lahir tidak pernah menjengukku, seorang yang telah menyia-nyiakan Ibu. Orang seperti itu sepatutnya menjadi musuhku, bukan ayahku!"
Ucapan ini mengandung kepahitan yang membuat wajah Tejolaksono menjadi pucat. Endang Patibroto marah bukan main.
"Retna Wilis! Biarlah engkau atau aku yang mati di sini!"
Ia sudah akan bergerak menyerang, akan tetapi lengannya dipegang oleh Ki Patih Tejolaksono.
"Bersabarlah, Diajeng."
Kemudian dengan tenang Tejolaksono menghadapi Retna Wilis dan berkata.
"Retna Wilis, tidak perlu kiranya kami membela diri , karena memang setiap orang manusia itu tentu mempunyai sifat-sifat buruk yang dilakukan di walctu ia lupa di samping sifat-sifat baiknya. Kalau engkau menentang ayah bunda dan keluargamu, hal itu hanya merupakan penyelewengan pribadi saja. Akan tetapi apa yang kaulakukan ini, hendak menaklulckan Jenggala dan Panjalu, keturunan Mataram, dan bersekutu dengan orang-orang dari kerajaan asing Cola, benar-benar merupakan pengkhianatan terhadap bangsa dan tanah air. Apakah gurumu tidak pernah memberi ajaran tentang ini?"
"Ha-ha-ha! Tejolaksono sejak dahulu sombong dan keminter (tinggi hati)! Sang Ratu, ayahmu yang tidak patut menjadi ayah ini malah berani menghina gurumu, Nini Bumigarba yang mulia!"
Kata Wasi Bagaspati sambil tertawa-tawa. Muka Retna Wilis menjadi merah sekali.
"Kehadiranku di sini membawa bala tentara Wilis yang jaya bukan untuk mengobrol tentang keluarga, melainkan sebagai Ratu Wilis yang mengadakan perang terhadap Jenggala!Pendeknya, harap kalian sampaikan pesanku kepada kedua Raja Jenggala dan Panjalu, bahwa kalau dalam waktu tiga bulan sejak hari ini kedua raja itu tidak datang menghadap padaku di Wilis menyatakan takluk, aku akan memimpin barisan dan menggempur Jenggala dan Panjalu yang akan kujadikan karang abang (lautan api)!"
Saking marah dan duka hatinya, tiba-tiba Endang Patibroto mengeluh dan roboh pingsan dalam pelukan suaminya yang cepat merangkulnya.
"Retna Wilis, beginikah engkau membalas budi orang yang menjadi ibu kandungmu? Engkau menghancurkan hati ibumu."
Tejolaksono berkata sambil memandang penuh penyesalan.
"Bukan aku yang menyuruh dia seperti itu. Mengapa ibu sendiri tidak membantu aku agar cita-cita anaknya tercapai?"
Retna Wilis mendengus, sedikit pun tidak kelihatan kasihan atau terharu menyaksikan keadaan ibunya.
Wasi Bagaspati tertawa bergelak, sungguhpun hatinya amat tidak setuju akan sikap yang diambil Retna Wilis mengenai Jenggala dan Panjalu.
Jenggala sudah hampir takluk, kalau penyerbuan dilanjutkan, besok pagi tentu Jenggala sudah terjatuh ke tangan mereka, tinggal meneruskan penyerbuan ke Panjalu.
Akan tetapi daging yang sudah berada di depan mulut dilepas lagi oleh Retna Wilis, bahkan diberi waktu tiga bulan.
Tentu saja waktu itu dapat dipergunakan oleh Jenggala dan Panjalu untuk memperkuat penjagaan!
Pusporini melangkah maju, dan menudingkan telunjuknya, kemarahan besar membuat dadanya yang membusung itu naik turun, matanya seperti mengeluarkan sinar berapi.
"Retna! Tidak ada kejahatan manusia yang melebihi kejahatan seorang anak mendurhaka terhadap orang tua, terutama terhadap ibu kandungnya! Perbuatanmu ini akan dikutuk para Dewata!"
"Dinda Pusporini! Jangan berkata demikian!"
Tejolaksono membentak dan Joko Pramono juga menarik tangan isterinya, disuruh mundur.
Joko Pramono maklum betapa sakit dan hancur hati Tejolaksono dan Endang Patibroto.
Betapa ia pun juga, Retna Wilis adalah anak mereka!
Retna Wilis hanya tersenyum dingin mendengar kutukan bibinya itu, ia lalu mundur dan memerintahkan semua pasukannya untuk kembali ke Wilis.
Biarpun hatinya merasa kecewa sekali, apalagi kalau diingat bahwa dalam perang yang singkat itu ia telah kehilangan muridnya, Cekel Wisangkoro, Wasi Bagaspati terpaksa membawa pula sisa pasukannya kembali ke Wilis.
Betapapun juga tiga bulan bukanlah waktu yang lama dan kalau sampai kelak Cola berhasil menguasai Jawadwipa dengan jalan ini, tentu dia akan menjadi seorang yang amat besar jasanya bagi negaranya.
Di sepanjang jalan mundur ke Wilis, Pasukan yang merasa sebagai bala tentara yang menang perang, berpesta pora dengan perampokan harta benda dan perkosaan wanita di sepanjang jalan keluar masuk dusun.
Sebaliknya, Jenggala berkabung karena kematian banyak perajurit dan senopatinya, juga berduka dan cepat mengingat akan ancaman Retna Wilis yang akan menjadikan Jenggala dan Panjalu karang abang kalau dalam waktu tiga bulan raja kedua kerajaan itu tidak datang menghadap ke Wilis menyatakan takluk!
Yang paling prihatin menghadapi ancaman adalah Tejolaksono dan Endang Patibroto.
Tiga hari kemudian, datanglah Bagus Seta menghadap ramandanya di Jenggala dan kedatangannya disambut girang oleh Endang Patibroto yang menyandarkan harapannya kepada pemuda ini, akan tetapi Tejolaksono menyambut puteranya dengan penyesalan.
"Bagus Seta! Bagaimana barn sekarang engkau datang? Bagaimana hasilmu membujuk adikmu Retna Wilis? Dia datang menyerbu dan mendatangkan banyak korban dalam perang setengah hari lamanya! Ke mana saja engkau pergi?"
Dengan sabar dan tenang Bagus Seta lalu menceritakan usaha pembujukannya yang gagal, kemudian berkata.
"Kanjeng Rama, segala peristiwa yang terjadi memang telah digariskan dan dikehendaki oleh Hyang Widdhi. Malapetaka takkan menimpa manusia kalau tidak dikehendaki oleh Hyang Widdhi, sungguhpun sebab-sebabnya timbul dari perbuatan manusia sendiri. Sekarang, lebih penting kita membiarkan hal yang akan datang dengan ikhtiar kita sebagai manusia, sekuatnya untuk mencegah teijadinya hal-hal yang merupakan malapetaka besar."
"Dia mengancam hendak membikin Jenggala dan Panjalu menjadi karang abang kalau dalam waktu tiga bulan raja-raja kedua negara ini tidak datang menghadapnya di Wilis dan menyatakan takluk. Betapa kurang ajarnya bocah itu!"
Kata Endang Patibroto.
"Ah, puteraku angger Bagus Seta, hanya engkaulah harapan kami. Apa yang hams kami lakukan? Dia amat sakti mandraguna, ditambah, bantuan Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo yang sukar ditandingi."
"Menurut pendapat hamba, Retna Wilis telah melakukan penyelewengan besar dan dia bersama sekutunya merupakan ancaman bagi Jenggala dan Panjalu. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban Kanjeng Rama dan Thu untuk menyelamatkan negara. Jalan terbaik adalah mempersiapkan pasukan gabungan dari Jenggala dan Panjalu, kemudian mendahului mereka menyerbu ke Wilis sebagai barisan kerajaan yang hendak menumpas daerah yang memberontak. Dengan demikian, lebih mudah menghancurkan mereka dalam sarang mereka sendiri. Kalau hamba tidak salah menafsir, yang menjadi biang keladi daripada kesemuanya adalah utusan-utusan Cola dan di samping adinda Retna Wilis tentu ada orang yang mengatur kesemuanya ini. Hamba akan menyertai barisan penumpas pemberontak ini."
Tejolaksono setuju sekali, lalu Patih Panjalu ini menghadap adik iparnya, raja di Jenggala untuk berunding.
Raja Jenggala yang muda tentu saja menurut akan siasat penumpasan pemberontak Wilis ini, dan ketika Tejolaksono menghadap Raja Panjalu, kerajaan ini pun setuju.
Maka dalam waktu sebulan saja terbentuklah barisan gabungan yang terdiri dari pasukan-pasukan pilihan dari Panjalu dan Jenggala, dipimpin oleh Tejolaksono dan Endang Patibroto sebagai senopati Panjalu, dan Joko Pramono berdua isterinya Pusporini sebagai senopati Jenggala.
Jumlah bala tentara gabungan ini tidak kurang dari tiga laksa orang.
Berbeda dengan penyerbuan tentara Wilis ke Jenggala yang cepat terdengar oleh pihak Jenggala, kini gerakan pasukan gabungan yang menyerbu ke Wills ini terjadi dengan diam--diam dan tidak sampai diketahui pihak Wilis.
Hal ini adalah karena rakyat di sepanjang perjalanan barisan itu semua mendukung bala tentara Jenggala dan Panjalu yang bersikap tertib dan tidak pernah mengganggu rakyat sehingga rakyat malah membantu dan menumpas setiap mata-mata yang menyelidik.
Karena itu, dapat dibayangkan betapa kagetnya Retna Wilis, Wasi Bagaspati dan sekutunya ketika tiba-tiba mendengar pelaporan penjaga di kaki gunung yang bermuka pucat bahwa gunung Wilis telah dikurung oleh barisan yang amat besar jumlahnya dari Jenggala dan Panjalu!
Wasi Bagaspati membanting kaki dengan penuh kegemasan ketika mendengar laporan ini.
"Aahhh!"
Bentaknya mencela Retna Wilis.
"Inilah akibatnya! Paduka telah bersikap terlalu lunak terhadap mereka dan ini gara-garanya karena Paduka masih memandang muka ayah bunda Paduka. Kalau dahulu kita terus menyerbu Jenggala, tentu tidak akan terjadi hal seperti yang terjadi sekarang!"
Retna Wilis memandang tajam dan berkata dingin.
"Sang Wasi Bagaspati! Akulah pemimpin tertinggi di Wilis dan Andika hanya membantuku. Segala keputusan datang dariku, dan aku yang bertanggung jawab. Kalau kita sekarang dikurung oleh barisan Jenggala dan Panjalu, apa Andika kira bahwa kita pasti kalah? Biar aku menemui pimpinan mereka. Paman Adiwijaya, persiapkan pasukan pengawal dan perintahkan agar seluruh pasukan siap untuk menggempur begitu ada perintah dariku!"
"Siap melaksanakan perintah Paduka!"
Jawab Patih Adiwijaya yang cepat pergi untuk mentaati perintah junjungannya.
Wasi Bagaspati menjadi merah, akan tetapi ia hanya memberi isyarat mata kepada Wasi Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik untuk menemani Retna Wilis turun dari puncak menghadapi para pimpinan barisan musuh sambil mempersiapkan sisa pasukan mereka yang selama sebulan ini telah digembleng oleh Wasi Bagaspati sendiri sehingga pasukan yang hanya terdiri dari lima ratus orang itu merupakan pasukan siluman yang menggiriskan.
Ketika rombongan Ratu Wilis bersama pasukan pengawalnya ini menuruni puncak, tiba-tiba terdengar suara halus yang terdengar jelas oleh mereka, datang seperti dibawa angin lalu.
"Retna Wilis, sebelum kami memerintahkan barisan yang mengurung menyerbu, engkau diberi kesempatan terakhir untuk berunding dengan Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu. Turunlah!"
Suara yang halus lirih namun amat jelas itu membuktikan bahwa pemiliknya adalah orang yang sakti mandraguna. Rombongan Retna Wilis mengenal suara ini dan wajah Wasi Bagaspati berubah.
"Itulah suara Bagus Seta,"
Suaranya agak gemetar. Dia tidak tahu bahwa Retna Wilis pernah berjumpa dengan kakaknya itu.
"Sang Ratu, dia memiliki kesaktian yang luar biasa dan kiranya hanya Padukalah yang akan sanggup menandinginya, dibantu oleh adikku Wasi Bagaskolo. Adapun mengenai tokoh-tokoh yang lain, serahkan saja kepada saya. Kalau kita serentak turun tangan apabila berhadapan dan berhasil membunuh para pimpinan, dengan sendirinya barisan yang besar itu takkan ada gunanya lagi dan akan dapat kita hancurkan dengan mudah."
Retna Wilis cemberut.
"Sang Wasi, aku akan menemui mereka dan bagaimana nanti keputusanku, Andika tunggu dan dengarlah saja."
Wasi Bagaspati tidak membantah lagi, akan tetapi ia berjalan mendekati Ni Dewi Nilamanik dan Wasi Bagaskolo, berbisik-bisik merundingkan sesuatu tanpa diperdulikan oleh Retna Wilis.
Sungguhpun ia setuju dengan siasat kakek itu, akan tetapi hatinya yang angkuh dan keras tidak menginginkan orang lain mendahuluinya seolah-olah dia yang harus taat dan dipimpin.
Tak lama kemudian mereka telah saling berhadapan, para pimpinan Wilis yang turun dari puncak dengan para pimpinan barisan penyerbu yang menanti di lereng bawah.
Retna Wilis berdiri tegak, rambutnya berkibar tertiup angin, sikapnya dingin sekali namun sepasang matanya bersinar-sinar seperti mengeluarkan kilat.
Di sampingnya berdiri Wasi Bagaspati, Wasi Bagaskolo, dan Ni Dewi Nilamanik.
Adiwijaya tidak nampak karena patih yang takut sekali bertemu dengan Endang Patibroto itu sudah menyelinap di belakang rombongan dan hanya melihat dan mendengarkan dari tempat aman dan tidak tampak.
Adapun yang berdiri di bawah adalah Ki Patih Tejolaksono bersama isterinya, Endang Patibroto.
Di sebelah kanan berdiri Bagus Seta dan sebelah kiri berdiri Joko Pramono dan Pusporini.
Barisan kedua pihak sudah slap siaga dan setiap saat mereka tentu akan saling gempur begitu ada aba-aba dari atasan mereka.
Keadaan amat gawat dan tegang sehingga tidak ada suara berisik terdengar.
"Retna Wilis!"
Terdengar suara Ki Patih Tejolaksono penuh wibawa.
"Wilis telah terkurung rapat oleh barisan Panjalu dan Jenggala yang jumlahnya jauh lebih besar daripada seluruh pasukanmu. Akan tetapi, mengingat bahwa engkau masih muda dan perlu disadarkan, kami tidak langsung menyerbu, melainkan ingin mengingatkan bahwa usahamu memberontak ini adalah jalan sesat. lnsyaflah dan menakaluklah. Kami akan menanggungmu agar engkau mendapat hukuman ringan dari gusti sinuwun."
"Ki Tejolaksono! Akulah Perawan Lembah Wilis, yang kini menjadi Ratu Kerajaan Wilis yang jaya! Jangan mengira aku takut akan kepungan barisanmu. Hanya kematian yang akan dapat menghentikan aku mencapai cita-citaku!"
"Bocah keparat, tak tahu disayang orang tua! Biar lah aku akan melihat kematianmu sebagai melihat pecahnya sebutir telur!"
Endang Patibroto berseru, mengangkat tangan kanannya ke atas dan memekik dengan suara melengking dahsyat.
"Serbu...! "
Retna Wilis juga mengangkat tangan kanan ke atas, kemudian terdengar suara lengkingnya yang jauh lebih nyaring dan tinggi daripada pekik ibunya.
"Serbu...! "
Bagaikan rombongan-rombongan semut pindah yang ditiup, barisan kedua pihak bergerak, pasukan-pasukan Wilis menyerbu dari atas sedangkan pasukan gabungan Panjalu dan Jenggala menyerbu dari bawah.
Pecahlah perang campuh yang amat hebat, suaranya menggegap-gempita, seolah-olah menimbulkan gempa bumi di seluruh permukaan pegunungan Wilis.
Dengan didahului Endang Patibroto, Joko Pramono dan Pusporini menerjang maju menyerang Retna Wilis.
Sejenak Tejolaksono ragu-ragu dan mengeluh sambil menengadah.
"Ya Dewa Yang Maha Agung! Anakku... mengapa begini? Dewa... ampuni dosa-dosa hamba...!!"
Kemudian, teringat akan kewajibannya, ia pun mengeraskan hati dan ikut menerjang maju.
Retna Wilis menyambut terjangan empat orang keluarganya itu dengan kelincahan tubuhnya yang mengelak ke kanan kiri.
Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo, sesuai dengan rencana mereka, cepat maju untuk menandingi Tejolaksono dan keluarganya, akan tetapi tiba-tiba menyambar bayangan putih dan terdengar suara halus.
"Orang luar tidak boleh mencampuri pertikaian antara keluarga. Akulah lawan kalian, Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo!"
Melihat Bagus Seta menghadang di depannya, kedua orang kakek ini menjadi marah.
Wasi Bagaspati maklum akan kesaktian pemuda ini yang pernah mengalahkannya, akan tetapi karena sekarang di sampingnya ada adik seperguruannya, dia tidak takut.
Apalagi melihat bahwa di situ terdapat pula Retna Wilis yang tentu akan membantunya menghadapi lawan tangguh ini.
Maka ia berteriak keras dan bersama adik seperguruannya ia menerjang maju, disambut dengan tenang oleh Bagus Seta.
Adapun Ni Dewi Nilamanik yang maklum pula bahwa dia bukanlah tandingan Bagus Seta, segera maju menyerbu dan membantu Retna Wilis menghadapi empat orang keluarganya sendiri.
Joko Pramono yang merasa agak segan untuk ikut mengeroyok Retna Wilis karena ia merasa bahwa dia hanyalah paman luar dari dara itu, cepat menyambut Ni Dewi Nilamanik sehingga terjadi pertandingan seru di antara mereka, sedangkan Retna Wilis dikeroyok oleh ayah bunda dan bibinya.
Adiwijaya yang tidak berani memperlihatkan diri di depan Endang Patibroto, merasa gelisah sekali, akan tetapi ia sibuk mengatur barisan untuk menyambut serbuan pasukan musuh yang datang bergelombang seperti angin taufan mengamuk.
Namun, ia tidak pernah terlalu jauh meninggalkan Retna Wilis dan selalu memperhatikan keadaan junjungannya yang dipuja dan dikasihinya itu.
Namun segera ternyata bahwa barisan Wilis kewalahan menghadapi serbuan barisan yang jauh lebih besar jumlahnya itu.
Apalagi karena di antara barisan Panjalu terdapat tiga orang tokoh Wilis, yaitu Limanwilis, Lembuwilis dan Nogowilis yang telah memberi gambaran dan penjelasan kepada pasukannya tentang keadaan di pegunungan ini sehingga barisan yang mereka pimpin dapat maju dengan mudah karena telah mengenal keadaan pegunungan itu.
Mulailah terjadi banjir darah dan mayat bertumpuk-tumpuk, ada yang terguling ke dalam jurang.
Pekik dan sorak bercampur aduk membubung tinggi ke angkasa.
Ni Dewi Nilamanik terdesak hebat oleh terjangan-terjangan Joko Pramono.
Wanita sakti ini telah menggunakan sebuah kebutan barn dan ia berusaha membendung serangan Joko Pramono yang membanjir, namun tetap saja ia terdesak hebat dan tidak mampu membalas sedikit pun juga terhadap patih muda dari Jenggala ini.
Bahkan dua kali ia telah kena diserempet pukulan pada pundaknya sehingga ia terhuyung dan hampir roboh.
"Retna Wills, bantulah aku...! "
Berkali-kali ia berteriak minta bantuan Ratu Wilis yang bertempur tak jauh dari situ.
Akan tetapi Retna Wilis seolah-olah tidak mendengamya, atau tidak memperdulikannya.
Retna Wilis sendiri bertanding seperti orang mimpi, seperti orang bingung.
Melihat pukulan-pukulan ampuh yang dipergunakan ayah bunda dan bibinya terhadap dirinya, ia hanya mengelak dan kadang-kadang kalau terpaksa karena tidak sempat mengelak, ia mengangkat tangan menangkis.
Setiap kali menangkis, Tejolaksono atau Endang Patibroto, bahkan Pusporini sendiri yang memiliki kesaktian hebat, tentu terpelanting dan merasa lengan yang tertangkis seperti lumpuh.
Kalau Retna Wilis menghandaki, tentu dengan mudah ia akan dapat merobohkan dan menewaskan tiga orang pengeroyoknya.
Apalagi kalau ia mau mencabut pedang pusaka Sapudenta.
Akan tetapi, dara perkasa ini tidak mau melakukannya, bahkan ia menjadi bingung dan segan.
Berkali-kali ia berkata lirih.
"Aku tidak suka menyakiti kalian... tidak mau... membunuh kalian...! "
Ucapannya berkali-kali yang keluar dari lubuk hatinya ini tidak diperdulikan oleh Tejolaksono, Endang Patibroto, dan Pusporini yang sudah marah sekali.
Dara ini, biarpun merupakan anak dan keponakan yang dekat, yang mereka sayang, hams dibinasakan karena telah menimbulkan bencana perang yang hebat.
Kini mereka bertiga berjuang untuk mengalahkan seorang musuh yang jahat dan berbahaya, bukan lagi merasa berhadapan dengan seorang anak dan keponakan.
Karena pihak Retna Wills hanya mengelak dan kadang-kadang menagkis tanpa balas menyerang, maka pertandingan itu berlangsung lama dan aneh.
Yang tiga orang terns menerjang dan mengirim serangan maut, yang dikeroyok hanya meloncat ke sana-sini dan menagkis, seolah-olah mempermainkan tiga orang pengeroyoknya.
Pertandingan antara Bagus Seta yang dikeroyok dua oleh Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo, juga terjadi amat seru dan hebatnya, bahkan lebih hebat daripada perang campuh itu sendiri karena masing-masing selain mengeluarkan kedigdayaan, juga mengerahkan aji kesaktian yang mujijat.
Wasi Bagaspati mendorongkan kedua telapak tangannya ke depan dan asap hitam bergumpal-gumpal menyambar ke arah Bagus Seta.
Namun pemuda ini dengan tenang juga mendorongkan telapak tangan kirinya dan asap hitam itu membuyar lenyap, bahkan menyambar kembali ke arah Wasi Bagaspati sendiri.
Wasi Bagaskolo memekik dan dari mulutnya menyambar uap panas, namun Bagus Seta menghalau uap panas dengan tiupan mulutnya.
Ketika Wasi Bagaspati memekik dan mengeluarkan api menyala-nyala dari mulut dan kedua tangannya, lidah api menjilat-jilat ke arah Bagus Seta, panasnya melebihi kawah, Bagus Seto meloncat ke atas dan kedua telapak tangannya mengeluarkan hawa dingin yang serentak memadamkan api itu.
Karena selalu dapat dipunahkan segala ilmu yang dikeluarkan, bahkan mereka itu beberapa kali terdorong mundur oleh hawa pukulan yang panas dan ampuh, yang menyambar keluar dari telapak kedua tangan Bagus Seta, berkali-kali, seperti halnya Ni Dewi Nilamanik, Wasi Bagaspati berteriak-teriak.
"Retna Wilis, lekas bantu kami...! "
Namun teriak-teriakannya tidak didengar atau tidak diperdulikan oleh Retna Wilis yang masih selalu mengelak dan menangkis hujan serangan ayah bunda dan bibinya.
Melihat ini.
Wasi Bagaspati berseru marah.
"Retna Wilis, engkau berpihak kepada siapakah? Robohkan mereka dan bantu kami menewaskan bocah ini, baru cita-citamu berhasil!"
"Hemm, belum lecet kulitmu, belum patah tulangmu. Beginikah sikap seorang perajurit?"
Bagus Seta mencela.
"Babo-babo, Bagus Seta! Jangan sombong, lihat senjataku!"
Tangan Wasi Bagaspati bergerak dan senjata calda yang mencorong cahayanya telah dipegangnya.
Juga Wasi Bagaskolo telah mencabut keluar sebuah senjata keris berwarna hitam yang ber-eluk tiga dan gagangnya diukir gambar kepala Bathara Kala.
Keris hitam ini tidak mencorong cahayanya, akan tetapi begitu tercabut, tercium bau yang amis seperti darah dan busuk seperti bangkai.
"Sungguh sayang senjata yang ampuh disalahgunakan!"
Kata Bagus Seta dan ketika kedua tangannya bergerak, tangan kirinya telah memegang setangkai bunga cempaka putih dan tangan kanannya telah melolos tali sutera pengikat rambutnya.
Kini rambut yang tadinya digelung ke atas itu terlepas dan terurai di kanan kin kepalanya, menutupi pundak, sebagian ke depan dan sebagian ke belakang.
Wajah yang tampan itu kelihatan agung dan berwibawa, namun penuh ketenangan dan kehalusan.
Sang Wasi Bagaspati menerjang maju dengan senjata cakra di tangan, menghantam dada, sedangkan dari sebelah kanan, Wasi Bagaskolo menusukkan kerisnya ke lambung kanan pemuda itu.
Bagus Seta tidak bergerak dari tempatnya, hanya mengembangkan kedua tangan, kembang cempaka putih menangkis cakra, sutera pengikat rambut melecut dan menangkis keris.
Empat buah senjata aneh itu tidak sampai bersentuhan, akan tetapi seolah-olah ada hawa yang amat kuat keluar dari benda-benda keramat itu dan bertumbukan sehingga terdengar suara meledak-ledak.
Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terdorong mundur, memandang dengan mata terbelalak, hampir tidak kuat menentang lama-lama sinar yang memancar dari sepasang mata Bagus Seta, mereka menggerakkan kaki mundur-mundur perlahan.
Pada saat itu terdengar teriakan nyaring yang keluar dari mulut Ni Dewi Nilamanik.
"Retna Wilis tolong...!!! "
Ni Dewi Nilamanik telah jatuh teijengkang disambar tendangan Joko Pramono, kebuatannya mencelat dan kini Joko Pramono sudah meloncat maju untuk mengirim pukulan maut yang terakhir ketika Ni Dewi Nilamanik menjerit minta tolong kepada Retna Wilis saking takutnya menyaksikan jangkauan tangan maut yang hendak mencabut nyawanya.
Jerit melengking itu seolah-olah menyadarkan Retna Wills dari keadaannya yang seperti dalam mimpi.
ia terkejut, sekaligus menangkis pukulan tiga orang pengeroyoknya sehingga Tejolaksono, Endang Patibroto dan Pusporini terlempar ke belakang, kemudian tubuh Retna Wilis melesat ke dekat Ni Dewi Nilamanik dan sekali tangannya mendorong ke depan, tidak saja pukulan maut Joko Pramono tertangkis, bahkan tubuh Patih Muda Jenggala ini pun terlempar dan terbanting ke atas tanah dalam keadaan nanar dan matanya berkunang!
Endang Patibroto memekik marah, lalu bersama-sama Tejolaksono dan Pusporini, ia menerjang maju menghantam Retna Wills dengan aji pukulannya yang paling ampuh, yaitu Wisangnolo, sedangkan Tejolaksono memukul dengan pukulan Bojrodahono, dan Pusporini menampar dengan aji pukulan Pethit Nogo.
Kini dalam keadaan marah sekali, tiga orang gagah ini sekaligus menyerang dengan sepenuh tenaga.
"Buk, plak, plak!"
Tiga pukulan itu diterima oleh Retna Wilis yang mengerahkan kesaktiannya, dan kedua tangannya mendorong.
Tubuhnya terkena hantaman tiga pukulan sakti itu dan tergetar, akan tetapi tiga orang lawannya terlempar seperti daun kering tertiup angin dan terbanting roboh keras sekali dalam keadaan pingsan!
"Terlalu!"
Bagus Seta berkelebat datang, namun terlambat karena tiga orang sakti itu telah terlempar.
Melihat kedatangan Bagus Seta, Retna Wilis kembali mendorongkan kedua tangannya.
Bagus Seta menerima dengan telapak tangan pula.
"Dessss!"
Kini tubuh Retna Wilis yang terpental ke belakang dan roboh terguling.
Pada saat itu terdengar pekik nyaring sekali yang keluar dari mulut Wasi Bagaspati dan tiba-tiba tempat itu menjadi gelap oleh uap hitam seperti mendung tebal.
Para perajurit Jenggala dan Panjalu menjadi panik, apalagi ketika dari gumpalan uap hitam itu menyambar-nyambar kilat yang merobohkan.
banyak orang, dan terdengar desis menyeramkan dari ratusan ekor ular yang merayap-rayap dan menyerang perajurit-perajurit itu!
Mereka menjadi ketakutan, menjerit-jerit dan ada pula yang lari.
Bagus Seta cepat memejamkan mata mengerahkan kekuatan batinnya, kemudian bertepuk tangan tiga kali.
Tepukan tangan ini menimbulkan bunyi seperti guntur menggelepar dan seketika lenyaplah uap hitam yang ditimbulkan oleh ilmu hitam Wasi Bagaspati, dan ular-ular yang diciptakan Wasi Bagaskolo kini ternyata hanya segenggam daun kamboja kering!
Para perajurit tidak panik lagi dan dengan penuh semangat mereka menyerbu ke atas.
Bagus Seta memandang dan ternyata Retna Wilis, Wasi Bagaspati, Wasi Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik telah lenyap dari situ.
Akan tetapi dia tidak ingin mengejar karena is harus cepat menolong Tejolaksono, Endang Patibroto, dan Pusporini yang masih pingsan.
Joko Pramono juga cepat menghampiri isterinya.
Setelah memeriksa sebentar, Bagus Seta menarik napas panjang.
"Hebat sekali tenaga saktinya, akan tetapi syukur kepada Dewata bahwa dia tidak sampai membunuh ayah bundanya sendiri. Paman, harap jangan khawatir. Mereka hanya pingsan oleh getaran hawa sakti, sebentar lagi tentu siuman kembali."
Benar solo, tak lama kemudian tiga orang sakti itu siuman dan tidak mengalami luka.
Mereka lalu memimpin pasukan menyerbu terns ke puncak Wilis.
Bala tentara Wilis yang kehilangan pimpinan, bahkan Patih Adiwijaya juga lenyap tanpa pamit, segera membuang senjata dan berlutut, menakluk.
Tejolaksono lalu memerintahkan Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis untuk mengatur keadaan Wilis dan memulihkan keamanan, karena ketiga orang tokoh itu lebih mengenal keadaan.
Kemudian ia membicarakan tentang lenyapnya Retna Wilis.
"Apakah yang terjadi, Puteraku?"
Tanyanya kepada Bagus Seta.
"Bagaimana Retna Wilis dapat lenyap?"
Bagus Seta menceritakan keadaan tadi dan dia sendiri tidak tahu ke mana perginya Retna Wilis, kedua orang Wasi, dan Ni Dewi Nilamanik.
Seorang di antara Para perajurit taklukan yang ditanya segera mengaku bahwa tadi ia melihat Retna Wilis dalam keadaan pingsan dipondong pergi oleh Wasi Bagaspati yang melarikan did bersama Wasi Bagaskolo, Ni Dewi Nilamanik dan Ki Patih Adiwijaya, memimpin pasukan siluman yang terdiri dari beberapa ratus orang, menuju ke selatan.
"Kita harus mengejarnya! Aku amat mengkhawatirkan keadaan Retna Wilis,"
Kata Tejolaksono mengerutkan kening.
"Hemm, bocah durhaka macam itu perlu apa ditolong? Biarkan dia bersama sekutunya yang jahat!"
Dengus Endang Patibroto dengan hati sakit. Tejolaksono memegang kedua pundak isterinya dan memaksa isterinya bertemu pandang dengan dia.
"Diajeng, betapa mungkin hati orang tua menegakan anaknya? Aku tahu bahwa engkau pun hanya terdorong oleh kemarahan, akan tetapi di dasar hatimu, engkau amat mencinta puteri kita itu "
Endang Patibroto tersedu dan menyembunyikan muka di dada suaminya, menangis terisak-isak. Joko Pramono dan Pusporini memandang penuh keharuan. Bagus Seta menghela napas panjang.
"Memang tepat apa yang diucapkan Kanjeng Rama. Kita hams menolongnya, bukan semata-mata karena dia keluarga kita, melainkan tenitama sekali untuk menghalangi perbuatan keji manusia sesat seperti Wasi Bagaspati dan kawan-kawannya. Marilah kita mengejar ke selatan sebelum terlambat."
Serentak keluarga yang sakti itu berangkat mengejar, menuju ke selatan, tidak ingat lagi akan tubuh mereka yang lelah sehabis mengalami pertandingan yang dahsyat itu.
Apakah yang telah terjadi dengan Retna Wilis?
Ke mana perginya?
Seorang yang memiliki watak keras, angkuh, dan aneh sekali seperti dara perkasa itu memang tidak mungkin kalau melarikan din menghadapi kekalahan dalam pertandingan.
Endang Patibroto maklum akan hal ini karena dia sendiri pun dahulu merupakan seorang wanita keras hati yang tidak pernah mau kalah atau menyerah, apalagi melarikan diri!
Padahal watak puterinya lebih keras lagi, dan jauh lebih aneh.
Memang Retna Wilis sama sekali tidaklah melarikan diri, melainkan dilarikan oleh Wasi Bagaspati.
Kakek ini sejak pertama kali dikecewakan Retna Wilis, yaitu ketika mereka menyerbu ke Jenggala dan Retna Wilis tidak mau terns menduduki Kota Raja Jenggala, telah menaruh curiga kepada Retna Wilis.
Diam-diam ia menyatakan ketidakpuasan hatinya itu kepada Wasi Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik, menyatakan bahwa sungguhpun Retna Wilis memiliki kesaktian yang boleh diandalkan, namun dara itu bukan merupakan sekutu yang baik dan masih mempunyai hati sungkan dan sayang kepada keluarganya, maka ia memesan agar pembantu-pembantunya berhati--hati.
Ketika barisan Jenggala dan Panjalu datang menyerbu, diam-diam ia sudah mengatur siasat dengan para pembantunya, menyatakan bahwa apabila keadaan tidak menguntungkan, agar melarikan diri dan ia akan berusaha menculik Retna Wilis.
Maka ketika ia melihat bahwa tepat seperti dugaannya, Retna Wilis yang menghadapi ayah buda dan bibinya itu tidak bertanding sungguh-sungguh, tidak mau membunuh mereka, bahkan tidak mau membantu kedua orang kakek melawan Bagus Seta, apalagi ketika ternyata betapa barisan Wilis tidak mampu membendung penyerbuan barisan musuh yang jauh lebih kuat, Wasi Bagaspati lalu mempergunakan siasat.
Dia harus mengakui bahwa menculik seorang yang sakti mandraguna seperti Retna Wilis bukanlah hal yang mudah.
Akan tetapi ia melihat kesempatan yang baik ketika Retna Wilis terlempar dalam benturan tenaga sakti melawan Bagus Seta.
Maka ia menggunakan ilmu hitamnya, membuat tempat itu menjadi gelap oleh awan hitam, kemudian secepat kilat ia mendekati Retna Wills yang roboh terguling dan masih pening itu dan menggunakan kesaktiannya untuk mengetok tengkuk Retna Wilis dengan jari tangannya sehingga dara perkasa yang sudah nanar dan tidak menyangka-nyangka karena mengira bahwa kakek itu hendak menolongnya, menjadi pingsan.
Dengan mudah Wasi Bagaspati lalu memondong tubuh Retna Wilis, kemudian pergi melarikan din bersama Wasi Bagaskolo, Ni Dewi Nilamanik, dan Adiwijaya yang telah berhasil menarik kepercayaan Wasi Bagaspati.
Karena kakek ini menganggap bahwa Adiwijaya seorang yang cerdik dan pandai mengatur siasat, pula yang telah ia ketahui "sepak terjangnya"
Semenjak menjadi Patih Warutama di Jenggala, maka ia tidak ragu-ragu lagi bahwa Adiwijaya bukanlah orang setia kepada Retna Wilis.
Dalam hal ini, Wasi Bagaspati telah salah duga dan kembali membuktikan pandainya Adiwijaya bermain sandiwara sehingga seorang seperti Wasi Bagaspati yang sudah kawakan dan berpengalaman pun dapat ia kelabui.
Sebelah utara pantai laut selatan terdapat barisan gunung-gunung, yang memanjang dari barat sampai ke utara dan lajim disebut pegunungan Seribu.
Memang amat banyak gunung-gunung dalam barisan ini, sukar dihitung jumlahnya dan mungkin lebih dari seribu gunung kecil-kecil yang sebagian besar adalah gunung batu gamping.
Kekuasaan alam memang hebat dan aneh.
Barisan gunung Seribu ini seolah-olah merupakan tanggul yang menjaga daratan Pulau Jawa agar jangan sampai diamuk ombak laut kidul yang dahsyat!
Sisa pasukan yang melarikan diri bersama Wasi Bagaspati bersembunyi di sebuah di antara pegunungan ini, di daerah yang tidak begitu tandus sehingga mereka dapat tinggal di sutu tanpa dapat dilihat orang dari jauh.
Retna Wilis yang dilarikan Wasi Bagaspati juga dibawa ke gunung kecil ini.
Dalam perjalanan melarikan diri, Retna Wilis telah diberi minum jamu buatan Ni Dewi Nilamanik yang disebut "madu perampas semangat", sehingga ketika Retna Wilis siuman dari pingsannya, ia seperti orang yang tidak mempunyai semangat dan kemauan lagi.
Ia lupa segala dan hanya menurut apa yang dikatakan Ni Dewi Nilamanik atau Wasi Bagaspati.
Adiwijaya yang menyaksikan keadaan junjungannya itu, menjadi gelisah dan prihatin sekali.
Akan tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa dan ia setiap saat memutar otak untuk mencari akal agar dapat membebaskan Retna Wilis.
Kalau saja tidak untuk membela gadis itu, tentu dia tidak sudi ikut melarikan diri bersama Wasi Bagaspati, dan sudah pergi sendiri merantau ke tempat jauh.
Namun, tak mungkin ia dapat meninggalkan Retna Wilis dan kalau perlu ia berani mempertaruhkn nyawa untuk menyelamatkan dara itu.
Tentu saja ia tidak mau berbuat sembrono mempergunakan kekerasan, karena kalau hal ini ia lakukan, ia tidak akan berhasil menyelamatkan Retna Wilis, juga berarti ia hanya akan mengorbankan nyawa dengan sia-sia belaka.
Ia hams menggunakan akal, dan memang amatlah sukar untuk melawan orang-orang yang sakti dan cerdik seperti Wasi Bagaspati dan kawan-kawannya.
ia harus menanti kesempatan baik untuk itu.
Retna Wilis bersandar di batang pohon dalam keadaan terikat.
Ia menundukkan mukanya yang agak pucat, tubuhnya lemas dan pandangan matanya tidak hidup, seperti mata orang mimpi atau termenung dalam sekali.
Ia berada dalam pengaruh jamu yang setiap hari diminumkan kepadanya secara paksa oleh Ni Dewi Nilamanik.
Biarpun dara perkasa ini sudah tidak berdaya karena semangatnya tertutup atau seperti dirampas ramuan jamu mujijat itu, namun Ni Dewi Nilamanik yang gentar menghadapi kesaktian Retna Wilis masih merasa perlu untuk membelenggunya.
Pada saat itu, Ni Dewi Nilamanik duduk di atas batang pohon yang telah ditebang, bersama Wasi Bagaspati, di depan Retna Wilis yang terikat di pohon.
Wasi Bagaspati kelihatan muram wajahnya dan ia mendengarkan keterangan yang diberikan oleh Ni Dewi Nilamanik.
"Dia ini memang hebat sekali, Kakangmas Wasi! Semangat dan kemauannya dapat kupengaruhi, akan tetapi nafsunya tak dapat kubangkitkan. Sudah banyak jamu kuminumkan, bahkan madu asmara sudah banyak ia minum, akan tetapi keadaannya sama saja. Ia tidak terangsang. Lalu bagaimana baiknya?"
Dengan wajah murung Wasi Bagaspati mengelus jenggotnyaa.
"Sudah tiga hari kita berada di sini. Kalau sampai mereka datang menyusul, kita bisa celaka. Aku hams dapat menguasai bocah ini, karena dengan bantuan kesaktiannya, bam aku akan dapat menghadapi si keparat Bagus Seta, bersama adi Bagaskolo. Akan tetapi kalau dia ini tidak dapat dikuasai, tentu celaka. Hemm , siapa tahu keadaan hati bocah ini. Kalau ia membalik, mengkhianati dan melawan kita, bisa konyol kita! Daripada demikian, lebih baik kubunuh saja dia sekarang!"
Ni Dewi Nilamanik mengerlingkan matanya yang indah dan bibirnya yang merah merekah.
"Kakangmas Wasi, dari dulu juga aku tidak suka kepadanya dan menaruh curiga. Memang kurasa lebih baik dibunuh saja bocah ini, karena kelak hanya akan menimbulkan kesusahan saja bagi kita."
Tiba-tiba Wasi Bagaspati menoleh ke arah pohon-pohon di belakangnya dan membentak.
"Siapa di sana??"
Pendengaran kakek ini memang tajam sekali sehingga ia dapat mendengar suara napas Adiwijaya yang tersentak kaget mendengar betapa Retna Wilis akan dibunuh.
Adiwijaya cepat muncul keluar dan menghadap mereka, duduk di atas tanah.
"Saya sengaja mencari Paduka, karena merasa cemas mengapa sampai sekarang masih belum diambil keputusan mengenai bocah liar ini."
Ia menuding ke arah Retna Wilis yang masih menunduk seolah-olah tidak mendengar apa yang dibicarakan di depannya.
"Kalau tidak segera diambil keputusan mengenai dirinya, tentu akan berbahaya sekali. Saya berani bertaruh bahwa saat ini pihak Panjalu dan Jenggala tentu sedang berusaha keras untuk mencari kita dan menolongnya."
Wasi Bagaspati termenung dan mengomel.
"Memang aku dan Ni Dewi sedang membicarakan tentang dia. Aku mengambil keputusan untuk membunuh saja bocah ini!"
Sambil berkata demikian, kakek itu menatap wajah Adiwijaya dengan penuh perhatian, amat tajam dah seolah-olah hendak menjenguk isi Kati Adiwijaya.
Laki-laki ini menekan keras batinnya yang terguncang dan dia menggeleng-geleng kepala.
"Kalau saja ia tidak berguna, memang lebih baik dibunuh. Akan tetapi kalau dia dibunuh, rencana kita akan macet semua, Sang Wasi. Kita sudah kehilangan banyak tenaga pembantu yang cakap, bahkan Cekel Wisangkoro pun sudah gugur. Bocah ini merupakan tenaga yang amat cakap, memiliki kesakitan yang kiranya akan dapat menandingi Bagus Seta. Kalau dibunuh, berarti kita merugikan diri sendiri."
"Hemm, kalau begitu, menurut pendapatmu bagaimana baiknya?"
Sejenak Adiwijaya bingung.
Dia pun tidak tahu bagaimana baiknya dan tadi ia mengeluarkan kata-kata itu hanya untuk mencegah gadis ini dibunuh.
Otaknya bekerja cepat.
Pokoknya asal gadis ini terhindar daripada bahaya maut lebih dulu, pikirnya.
"Bukankah saya telah menganjurkan agar Paduka menundukkan dia dengan pengaruh kesaktian Paduka, agar dia menjadi isteri Paduka sehingga dengan demikian dia akan membantu segala usaha Paduka dengan penuh kesetiaan?"
"Aahhh, usaha itu telah kami lakukan,"
Kata Ni Dewi Nilamanik sambil memandang wajah Adiwijaya yang masih tampan dan gagah itu.
"Sudah banyak obat guna-guna kumasukkan, akan tetapi agalcnya dasar hati bocah ini masih terlalu kosong dan bersih sehingga tidak mempan. Jamu-jamu perangsang pun tidak ada gunanya, agaknya dia tidak mempunyai nafsu berahi!"
Adiwijaya memandang Ni Dewi Nilamanik dengan hati ngeri dan bulu tengkuk meremang.
Betapa cantiknya wanita ini dan dia sendiri sudah beberapa, kali merasakan kelembutan dan kenikmatan bersama wanita cantik ini berenang dalam cinta, bersama-sama mereguk madu asmara yang memabukkan.
Betapa indah sepasang mata itu, betapa menggairahkan dan menantang mulut yang merah itu, betapa halus kuning kulitnya.
Akan tetapi betapa keji hatinya.
Teringat Adiwijaya akan buah mangga yang melihat kehalusan dan warna kulitnya menimbulkan gairah, akan tetapi yang kemudian ternyata betapa di balik kulit yang halus kemerahan dan sedap maunya itu tersembunyi daging busuk yang masam dan banyak ulatnya!
Betapapun benci hatinya mendengar perlakuan wanita ini terhadap Retna Wilis, is memaksa diri tersenyum dan berkata.
"Ni Dewi, dan Sang Wasi. Betapapun juga, hams diusahakan agar bocah liar ini dapat tunduk dan menurut kepada Paduka. Dengan kekerasan kita gagal, namun kalau dia ini dapat dikuasai, kemudian secara halus Paduka, dibantu oleh Sang Wasi Bagaskolo, dan Retna Wilis ini mendatangi Panjalu dan Jenggala, membunuh para tokoh yang berkuasa di sana, saya kira tidak akan sukar lagi kalau kemudian kita mengerahkan barisan untuk menaklukkan dua kerajaan itu. Saya sendiri sanggup untuk menghimpun pasukan yang cukup besar."
"Akan tetapi bagaimana? Dia tidak mudah dipengaruhi guna-guna "
Kata kakek itu kehilangan akal karena belum pernah ia menghadapi seorang korban yang begin ulet seperti Retna Wilis.
"Mengapa tidak dapat, Sang Wasi? Saya pernah menyaksikan pengaruh gaib yang datang mempengaruhi jiwa para wanita di waktu diadakan upacara pemujaan Sang Bathari Durgo. Mengapa tidak mengandalkan kekuasaan dan bantuan Sang Bathari? Andaikata pengaruh gaib itu masih tidak mempan, Paduka dapat melakukan kekerasan dan saya rasa, sekali dia ini telah Paduka renggut kehormatan tubuhnya, kemudian saya sendiri akan mempengaruhinya dengan nasehat-nasehat, percayalah, dia boleh dibebaskan dari pengaruh jamu perampas semangat dan dalam keadaan sadar itu dia tentu akan tunduk. Kalau dia, biarpun terjadi di luar kehendaknya, telah menjadi isteri Paduka, dan mendengarkan nasehat-nasehat saya, kiranya dia akan melihat kenyataan bahwa tidak ada jalan lain baginya kecuali melanjutkan cita-citanya dengan bantuan Paduka Sang Wasi."
Wasi Bagaspati mengangguk-angguk dan lenyaplah sedikit kecurigaannya terhadap Adiwijaya yang muncul secara tiba-tiba itu.
"Kurasa benar apa yang ia katakan itu, Ni Dewi. Buatlah persiapan, malam nanti kita adakan upacara pemujaan Sang Bathari dan kita lihat hasilnya!"
"Akan tetapi, malam hari ini bulan belum purnama, Kakangmas Wasi, dan pengaruh hikmat itu tidaklah amat kuat! "
"Tidak apa. Kalau terlalu lama ditunda, khawatir terlambat. Siapa tahu Bagus Seta sudah mencari sampai dekat tempat ini. Andaikata tidak berhasil, masih belum terlambat untuk membunuhnya!"
Demikianlah, pada malam hari itu, di sebuah lapangan terbuka di puncak gunung kecil, dikelilingi pohon-pohon jarang yang tumbuhnya tidak subur di daerah kapur itu, diadakan tari-tarian seperti biasa dilakukan pada upacara pemujaan Sang Bathari Durgo.
Sebuah arca Bathari Durgo berdiri di sudut, di samping ldri kursi tempat duduk Sang Wasi Bagaspati.
Karena mereka tidak ingin menarik perhatian, maka dalam upacara tari-tarian ini tidak diitingi suara gamelan, melainkan diiringi suara wanita-wanita cantik bertembang dengan tepuk tangan dan berkerincingnya gelang kaki.
Upacara tari-tarian ini amat sederhana, akan tetapi karena sekali ini yang menari-nari, di samping tiga orang gadis cantik, juga diikuti oleh Ni Dewi Nilamanik sendiri yang ternyata amat pandai menari dengan pakaian setengah telanjang sehingga tampak lekuk-lengkung tubuhnya yang menggairahkan dan amat mengherankan karena usianya yang sudah tua itu ternyata tidak menghilangkan keindahan tubuhnya, maka tari-tarian itu amat menggairahkan.
Selain Ni Dewi Nilamanik dan tiga orang pembantunya, juga tampak seorang gadis yang amat cantik jelita, kecantikannya cemerlang dan menyuramkan kecantikan wanita lain, bahkan Ni Dewi Nilamanik kelihatan tidak menarik.
Akan tetapi sungguh sayang, kalau Ni Dewi Nilamanik dan tiga orang pembantunya menari-nari dengan gerakan lemah-gemulai dan menimbulkan rangsangan berahi dengan gerakan-gerakan leher, pundak, perut, dan pinggul, adalah dara cantik ini menari-nari dengan gerakan lucu dan kaku.
Dia bukan menari, melainkan bersilat!
Kalau empat orang penari lain melakukan gerakan dengan lengan lemas seperti orang melambai dan mengajak disertai senyum memikat, dara ini menggerakkan tangan ke depan dengan kaku, jari-jarinya terbuka dan bukan melambai, melainkan lebih tepat memukul atau menampar musuh!
Kalau penari yang membuang sampur ke sisi dengan gerakan lincah dan mata mengerling mulut tersenyum, dara ini membuang lengan ke sisi dengan gerakan cepat seperti orang menangkis pukulan atau tendangan lawan!
Dara cantik jelita yang memiliki tubuh indah menggairahkan seperti bunga sedang mekar atau buah sedang ranum ini bukan lain adalah Retna Wilis.
Ni Dewi Nilamanik menari-nari di depan Retna Wilis, membujuk-bujuk dan memberi contoh gerakan tari yang dikuti dengan patuh oleh Retna Wilis dengan gerakannya yang kaku.
Dari tempat duduknya, Wasi Bagaspati yang mengenakan pakaian merah serba baru itu memandang penuh perhatian dan ia tersenyum gembira.
Biarpun tarian dara perkasa itu tidak indah, namun gerakan-gerakan tubuhnya membayangkan kelemasan dan kelembutan yang tersembunyi tenaga mujijat.
Melihat betapa mulut yang segar dan manis itu mulai tersenyum-senyum, dengan hati girang Wasi Bagaspati mengerti bahwa biarpun tidak sepenuhnya, namun dara itu mulai terkena pengaruh hikmat gairah nafsu berahi yang amat merangsang di saat itu, terbawa oleh asap dupa dan dibangkitkan oleh tari-tarian yang membayangkan dorongan nafsu berahi.
Ia akan berhasil, pikirnya.
Kalau Retna Wilis menyerahkan kehormatannya tanpa paksaan, tentu dara ini setelah sadar akan tunduk dan mudah ia kuasai.
Tari-tarian mencapai puncaluiya menjelang tengah malam.
Ni Dewi Nilamanik yang mengerahkan aji mantera guna-guna sambil menari-nari menyentuh, mengelus dan membelai bagian tubuh Retna Wilis yang mudah terangsang, untuk membangkitkan berahi gadis itu.
Suasana di situ penuh dengan pengaruh mujijat sehingga Adiwijaya sendiri yang duduk menonton, tak dapat menahan getaran yang merangsang dan membangkitkan nafsu.
Ia memandangi penari-penari itu dengan mata lapar dan liar seolah-olah hendak dilahapnya tubuh-tubuh yang montok setengah telanjang itu.
Akan tetapi kalau ia melihat Retna Wilis, seketika nafsu berahinya lenyap terganti rasa gelisah.
Ia menanti saat sebaiknya untuk bertindak.
Sampai malam ini, ia telah berhasil menyelamatkan nyawa gadis pujaannya itu, sehingga tidak sampai dibunuh.
Akan tetapi ia tahu bahwa nasib yang lebih mengerikan menanti diri Retna Wilis dan ia harus merenggut dara itu dari tangan Wasi Bagaspati, kalau perlu ia akan berkorban nyawa.
Retna Wilis yang menjadi murid Nini Bumigarba dan sudah digembleng dengan segala macam ilmu, yang keras hati dan berperasaan dingin, betapapun juga hanya seorang manusia dari darah daging.
Kini ia berada di bawah kekuasaan yang tidak wajar, di bawah pengaruh jamu perampas semangat sehingga ia seperti orang kehilangan ingatan dan kemauan.
Kemudian, di bawah hikmat malam pemujaan Sang Bathari Durgo yang seperti ayunan ombak laut memabukkan, perlahan-lahan ia hanyut dan terbawa, apalagi ditambah belain-belaian tangan Ni Dewi Nilamanik, mendengarkan bisikan-bisikan tentang cinta nafsu, tentang kenikmatan badani, ia makin hanyut dan sepasang matanya mulai bersinar-sinar dan seperti mata orang mengantuk, tanda bahwa ia mulai terangsang.
Sambil menari, Ni Dewi Nilamanik memberi isyarat kepada Wasi Bagaspati yang tertawa lebar, bangkit berdiri dan menghampiri tempat tarian, mendekati Retna Wilis dan memegang tangan gadis itu yang memandangnya dengan mata sayu.
"Marilah, Retna Wilis, marilah isteriku yang tercinta. Mari kuberikan cintaku untuk memuaskan dahaga hatimu "
Ia berkata lalu menuntun Retna Wilis turun dari tempat tarian menuju ke sebuah pondok yang dibangun di tempat itu.
Retna Wilis hanya menurut saja, kedua lengannya masih bergerak-gerak seperti orang menari, tidak membantah sedikit pun juga seperti seekor domba yang dituntun ke tempat penyembelihan!
Perbuatan Wasi Bagaspati ini seolah-olah merupakan pertanda bagi para penari dan yang hadir di situ untuk mulai dengan pesta gila-gilaan.
Tiga puluh orang wanita anggauta pasukan Ni Dewi Nilamanik menyerbu ke tempat tari-tarian diikuti anggauta pasukan pria dan mereka mulai menari sambil berpelukan, berdekapan dan berciuman.
Ni Devil Nilamanik sendiri yang sudah terangsang hebat, mencari-cari dengan pandang matanya.
Akan tetapi Adiwijaya yang dicarinya tidak tampak di situ, maka ketika Wasi Bagaskolo sambil tertawa memeluk pinggangnya, ia pun balas memeluk leher kakek itu sambil mengeluarkan suara merintih seperti seekor kucing dielus-elus punggungnya!
"Sang Wasi Bagaspati....!
Celaka...!!"
Pintu pondok itu didorong terbuka dari luar oleh Adiwijaya.
Wasi Bagaspati yang sudah membuka jubahnya itu cepat membalikkan tubuh dengan sikap marah karena terganggu.
ia mengikatkan lagi ikat pinggangnya di luar jubah dan membentak.
"Keparat, Adiwijaya! Apa kehendakmu?"
Adiwijaya melirik ke arah Retna Wilis yang tergolek terlentang di atas pembaringan dan diam-diam mengucap syukur bahwa ia tidak terlambat, hanya selendang yang tadi menutupi dada Retna Wilis yang sudah terbuka.
Gadis ini memejamkan mata dan bibirnya tersenyum lebar!.
"Celaka, Sang Wasi....... ada serbuan........ dipimpin oleh Bagus Seta...... Mereka. mereka datang dari lereng di timur........ cepat. biar saya berusaha menyadarkan Retna Wilis dan membujuknya agar ia dapat membantu ldta!"
"Sialan !"
Wasi Bagaspati mendengus, lalu melompat ke pintu, akan tetapi ia teringat, mengeluarkan sebungkus obat dari saku jubahnya kepada Adiwijaya.
"Nih, kausadarkan dia dan bujuk sampai dia dapat membantu!"
Lalu tubuhnya berkelebat keluar dari pondok Adiwijaya cepat menghampiri Retna Wilis, dengan jari-jari tangan gemetar ia memasangkan kembali selendang menutupi dada yang terbuka itu, kemudian membuka bungkusan obat dan setengah memaksa membuka mulut Retna Wilis, menuangkan isi bungkusan yang berwarna bubuk putih ke mulut dara itu.
Retna Wilis tidak membantah, dan sambil tersenyum menelan obat itu dan lengannya yang halus itu merangkul leher AdiwiJaya .
"Aduh.... Gusti Puteri sadarlah ahhh, lekas sadar dan mari lari bersama hamba!"
Dengan halus ia melepaskan rangkulan lengan itu dari lehernya, menarik tangan Retna Wills bangkit dan turun dari pembaringan, kemudian terns menyeretnya keluar.
Ketika Retna Wilis terhuyung seperti orang lemas, bahkan kini matanya dipejamkan dan napasnya menjadi panjang teratur seperti orang tidur, ia cepat memondong tubuh Retna Wilis dan membawanya lari keluar, menghilang di tempat gelap Wasi Bagaspati dengan marah menendangi para pengikut yang sedang bermain asmara secara tidak tahu malu di sembarang tempat, bahkan menyeret bangun Wasi Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik dari bawah pohon di mana kedua orang itu tenggelam dalam lautan cinta berahi.
"Bedebah semua! Keparat sembrono, tidak tahu ada musuh menyerbu! Cepat, siapkan semua orang. Bagus Seta dan pasukannya menyerbu dari lereng di timur. Cepat!"
Bentakan Wasi Bagaspati ini mengagetkan semua orang.
Disebutnya nama Bagus Seta sekaligus mengusir semua rangsangan berahi yang mempengaruhi mereka dan kini mereka sudah meloncat bangun dan siap bertempur.
KEADAAN menjadi panik dan lucu.
Mereka lari saling tabrak, ada yang telanjang bulat, ada yang setengah telanjang dan sambil lari mereka berusaha membetulkan pakaian mereka, bahkan ada yang terbelit kaki mereka oleh pakaian sendiri sehingga jatuh tunggang-langgang dan berteriak-teriak karena mengira bahwa mereka sudah diserbu musuh dan dirobohkan lawan!
Sang Wasi Bagaspati, diikuti oleh Wasi Bagaskolo dan Ni Dewi Nilamanik lari ke timur dan karena bulan yang hanya sepotong itu tertutup awan, maka mereka berhati-hati melalui lereng yang belum mereka kenal baik itu.
Sampai jauh mereka menuruni lereng, akan tetapi keadaan di situ sunyi saja.
Mereka berhenti dan memandang penuh perhatian ke bawah, meneliti kalau-kalau dapat melihat obor atau pergerakan.
Namun sunyi saja dan suara monyet cecowetan diseling suara burung malam menandakan bahwa di bawah sana pun tidak ada manusianya!
"Wah, jangan-jangan kita tertipu !"
Kata Ni Dewi Nilamanik, tidak berani mengatakan bahwa Sang Wasi Bagaspati yang sebenarnya tertipu.
"Si keparat Adiwijaya, kalau betul berani menipu, kuhancurkan kepalanya!"
Wasi Bagaspati berseru dan berkelebat kembali mendaki puncak, diikuti oleh adik seperguruannya yang diam-diam mendongkol karena is telah diganggu, dan Ni Dewi Nilamanik.
"Mana musuhnya?"
"Mana pasukan Jenggala?"
Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar dari mulut para anak buahnya itu membuat Wasi Bagaspati makin marah dan kakinya menendang ke kanan kiri sehingga para anak buahnya yang sudah panik menjadi makin bingung dan mawut.
Wasi Bagaspati menendang pintu pondok sehingga daun pintu terlempar, kemudian ia menerjang masuk sambil memaki.
"Adiwijaya pengkhianat laknat!"
Akan tetapi, ketika ia memasuki pondok, tentu saja ia tidak lagi dapat menemukan Adiwijaya dan Retna Wilis.
"Ah, mereka telah melarikan diri. !"
Ni Dewi Nilamanik berseru.
"Retna Wilis tak mungkin lari, akan tetapi dilankan oleh bedebah itu. Kita harus kejar, can sampai dapat!"
Ia lalu melompat keluar lagi diikuti oleh adik seperguruannya, sedangkan Ni Dewi Nilamanik keluar dart pondok untuk memimpin anak buah mereka mencari Adiwijaya yang melarikan Retna Wilis.
Setelah malam berganti pagi, barulah Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo dapat menyusul dan menemukan Adiwijaya yang melarikan Retna Wilis sampai di pantai laut selatan sebelah barat.
Adiwijaya yang cerdik sengaja lari ke barat setelah menipu Wasi Bagaspati dengan mengatakan bahwa musuh datang dart timur.
Akan tetapi, betapapun cepatnya ia lari, tentu saja ia tidak dapat menangkan kecepatan larinya kedua orang kakek yang amat sakti itu.
"Adiwijaya, manusia khianat yang ingin mampus!"
Wasi Bagaspati membentak dan biarpun ia masih jauh di belakang, suaranya sudah terdengar dekat sekali sehingga Adiwijaya menjadi terkejut dan menghentikan larinya, memutar tubuh dan memandang kedua kakek yang berlari makin dekat itu dengan wajah pucat.
Retna Wilis barn setengah sadar, maka ia terhuyung-huyung lalu jatuh terduduk di atas pasir, menaandang bengong dan seperti orang terheran-heran.
"Ampun............ Sang Wasi. !"
Adiwijaya berkata ketika kedua orang kakek itu sudah datang dekat.
"Saya............ saya tidak bermaksud buruk. !! "
"Jahanam! Pengkhianat! Engkau sengaja menipuku dan hendak melarikan Retna Wilis?"
"Ampun............ Retna Wilis tidak lari, hanya hamba............ hamba terangsang sekali semalam, ingin............ memilikinya............ hamba yang bersalah dia tidak tahu apa-apa "
Dalam keadaan yang amat gawat ini Adiwijaya masih ingat untuk membela Retna Wilis dan menimpakan semua kesalahan di pundaknya. Biarlah ia mati asalkan Retna Wilis selamat, pikirnya.
"Ha-ha-ha, pandai sekali memutar lidah. Memang engkau seorang yang amat pandai menipu dan cerdik sekali, akan tetapi sekarang aku tidak lagi mau ditipu dua kali, dan engkau harus mampus!"
Sambil berkata demikian, Wasi Bagaspati memukul dari jarak jauh dengan pukulan sakti.
Angin pukulan yang keras meniup ke arah Adiwijaya.
Akan tetapi dengan cekatan sekali Adiwijaya melompat ke kiri, mengelak sehingga pukulan itu hanya mengenai pasir yang membuat pasir berhamburan.
"Hemmm, kiranya engkau juga berani melawanku?"
"Wasi Bagaspati, di saat terakhir ini biarlah aku membuat pengakuan. Dengarlah baik-baik. Aku adalah hamba dari Gusti Puteri Retna Wilis, lahir batin. Aku selamanya, sejak dahulu sampai mati sekalipun, akan tetap setia kepadanya. Aku yang mengusulkan agar dia suka bersekutu denganmu untuk mencapai cita-citanya. Akan tetapi ternyata engkau mengkhiianatinya, juga berniat buruk terhadap dirinya. Aku harus menyelamatkannya, membebaskannya dari tanganmu yang keji! Dan biarpun aku maklum bahwa aku bukan lawanmu, namun aku bersumpah untuk membela gustiku Retna Wills dan melawanmu sampai detik terakhir!".
"Ha-ha-ha, manusia macam engkau masih bicara tentang kesetiaan! Lupakah engkau akan perbuatan-perbuatanmu dahulu di Jenggala?"
"Wasi Bagaspati, sekali-kali akan tiba saatnya bagi setiap orang manusia untuk menyesali perbuatan-perbuatannya yang lalu. Setelah berjumpa dengan gustiku Retna Wilis, aku sadar dan aku siap menerima segala hukuman atas dosa-dosaku. Akan tetapi kesetiaanku terhadap gustiku ini adalah tulus ikhlas, dan boleh engkau mentertawakan aku sekarang, karena kelak akan tiba saatnya pula bagimu untuk menyesali perbuatanmu atau ka!au tidak, engkau akan terlambat!"
"Keparat, terimalah kematianmu!"
Kini tubuh Wasi Bagaspati menerjang ke depan.
Ia tahu bahwa laki-laki itu memiliki ketangkasan yang cukup sehingga kalau diserang dari jarak jauh akan memakan waktu lama dan membuang tenaga sia-sia belaka..
"Wuuuuuttttt. !"
Pukulan tangan kiri yang menampar dari samping itu hebat bukan main.
Terasa oleh Adiwijaya angin berhembus kuat dan seolah-olah lengan kakek itu seperti pohon besar tumbang menimpanya.
Ia cepat meloncat dan mengelak, akan tetapi angin pukulannya masih mendorongnya sehingga ia roboh.
Biarpun demikian, dengan ajinya Trenggiling Wesi, begitu tubuhnya menyentuh tanah, ia bergulingan dan dapat meloncat bangun tanpa terluka.
"Wah, lumayan juga ilmumu itu!"
Wasi Bagaspati mengejek dan kembali ia melangkah maju dan mengirim pukulan dengan kedua yang berganti-ganti menampar dari kanan kiri.
Memang tingkat kesaktian Adiwijaya jauh berada di bawah tingkat Wasi Bagaspati maka serangan ini membuat Adiwijaya menjadi repot sekali.
Mengelak ke kanan dipapaki tangan kanan, meloncat ke kanan, dihantam oleh tangan kiri.
ia memiliki kecepatan, akan tetapi kini pukulan -pukulan dari kedua tangan Wasi Bagaspati mengandung hawa pukulan yang lebih cepat daripada gerakan tubuhnya, maka berkali-kali Adiwijaya terbanting keras dan hanya oleh ajinya Trenggiling Wesi saja ia mampu meloncat bangun setelah bergulingan.
Makin lama makin pening kepalanya, dan setiap kali meloncat bangun, ia terhuyung-huyung.
Akan tetapi, seperti yang diucapkannya tadi, ia nekat dan mengambil keputusan untuk melawan sampai detik terakhir.
Wasi Bagaspati menjadi penasaran.
Ketika sekali lagi Adiwijaya meloncat bangun, ia menerjang maju seperti harimau menerkam.
Adiwijaya cepat menjatuhkan diri ke kiri untuk mengelak, namun jari-jari tangan kanan Wasi Bagaspati masih berhasil menampar pundak kanannya.
Biarpun hanya kena diserempet, namun Adiwijaya merasa pundaknya seperti terbakar dan ia terguling roboh.
Wasi Bagaspati tertawa bergelak, menghampiri dan mengangkat kakinya yang besar untuk mengijak hancur kepala Adiwijaya.
Kakek ini hendak memenuhi janjinya, yaitu akan menghancurkan kepala Adiwijaya.
"Jangan bunuh dial"
Tiba-tiba terdengar suara Retna Wilis nyaring dan dara ini sudah menerjang Wasi Bagaspati dengan pukulan keras dari samping.
"Siuuuuuttttt !"
Tenaga Retna Wilis belum pulih semua, dan kepalanya masih pening, akan tetapi begitu melihat Adiwijaya hendak dibunuh, serentak ia membentak dan menyerang.
Wasi Bagaspati kaget dan membalikkan tubuh sambil menangkis.
"Deesssss. !"
Tubuh Retna Wilis terpelanting jauh dan giranglah hati Wasi Bagaspati yang maklum bahwa biarpun sudah sadar, gadis itu masih belum pulih tenaganya.
Maka ia cepat menengok untuk membunuh Adiwijaya kemudian menawan kembali Retna Wilis.
Akan tetapi alangkah kaget hatinya ketika ia menoleh, ia melihat di depannya telah berdiri Bagus Seta dengan kedua lengan dipalangkan di depan dada!.
"Wasi Bagaspati, sungguh sayang engkau tak pernah mau bertobat,"
Kata Bagus Seta.
"Bagus Seta! Engkau selalu menghalangi niatku, engkau musuhku terbesar dan hari ini aku harus mencabut nyawamu!"
Sambil berkata demikian, Wasi Bagaspati telah mencabut senjata cakra, dan kini Wasi Bagaskolo yang melihat munculnya pemuda sakti itu telah siap-siap pula dengan keris hitamnya.
Tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan muncullah Ni Dewi Nilamanik dengan pasukannya, yang berjumlah dua ratus orang lebih.
Pasukan di bawah pimpinan Ni Dewi Nilamanik ini segera mengurung tempat itu.
Melihat ini, hati Wasi Bagaspati menjadi besar.
Biarpun ia tidak dibantu Retna Wilis menghadapi Bagus Seta, akan tetapi di situ ada Wasi Bagaskolo, Ni Dewi Nilamanik, dan dua ratus orang lebih pasukan yang telah digemblengnya.
Menghadapi seorang lawan saja, biarpun sakti seperti Bagus Seta, dan juga Adiwijaya serta Retna Wills yang masih belum sehat benar, masa tidak mampu mengalahkannya?
"Ha-ha-ha, Bagus Seta.
Apakah engkau mampu menyelamatkan diri sekarang?"
Ia membentak sambil tertawa lalu menerjang pemuda itu diikuti adik seperguruannya.
Bagus Seta bergerak cepat melompat dan tubuhnya berkelebat, tahu-tahu telah berada di luar pengurungan para anak buah pasukan.
Melihat ini, Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terkejut, cepat mengejar dan menyerang.
Bagus Seta mengelak dan balas menyerang dengan kedua senjatanya yang kecil dan aneh, yaitu setangkai kembang cempaka putih dan pengikat rambutnya dari sutera.
Gerakan tiga orang sakti ini amat cepat dan dahsyat sehingga tubuh mereka lenyap, bergulung-gulung menjadi bayangan yang sukar dilihat oleh mata manusia biasa.
"Gusti Puteri....... mari kita lari....... kita bisa membuka. jalan berdarah, lebih baik kita menggunakan kesempatan ini untuk menyelamatkan diri "
Kata Adiwijaya yang merasa serba salah kalau gustinya ikut bertanding.
Sepihak adalah Bagus Seta dan mungkin di belakangnya ada pasukan Jenggala, berarti musuh gustinya.
Pihak lain adalah rombongan Wasi Bagaspati, yang sekarang juga telah menjadi musuh, lebih baik cepat-cepat menyelamatkan diri Akan tetapi pada saat itu Retna Wilis telah sadar benar--benar dan tenaganya telah pulih kembali.
Benturan tenaga dengan Wasi Bagaspati yang membuat ia terlempar dan roboh tadi sama sekali tidak melukainya, bahkan telah menyadarkan dan memulihkan keadaannya.
Kini ia telah berdiri tegak dengan muka merah dan mata mengeluarkan api kemarahan.
Teringatlah ia kini apa yang dianggapnya seperti mimpi itu ternyata adalah kenyataan!
Tadinya ia hanya mengira bahwa ia dalam mimpi dan kini samar-samar teringatlah olehnya akan segala yang telah dialaminya, betapa ia ikut menari-nari seperti orang gila, kemudian betapa ia diminumi jamu berkali-kali oleh Ni Dewi Nilamanik, ketika menari dibelai dan terbangkit gairah yang belum pernah dirasai selama hidupnya, betapa ia menurut saja ketika dibawa ke pondok oleh Wasi Bagaspati, dan.......
ah, mengingat akan semua itu, hampir Retna Wills berteriak saking malu dan marahnya.
Kini Adiwijaya mengajak dia melarikan diri!
"Tidak!
Harus kubunuh mereka semua!"
Bentaknya, bahkan saking marahnya ia lalu mengibaskan tangan Adiwijaya yang hendak mengajaknya lari, kemudian tubuhnya melesat ke arah Ni Dewi Nilamanik sambil berseru nyaring.
"Perempuan rendah menjijikkan, engkau harus mati di tanganku!"
Melihat datangnya serangan yang demikian dahsyatnya, Ni Dewi Nilamanik menjadi pucat wajahnya dan cepat ia meloncat ke belakang, berlindung di belakang anak buahnya.
"Breesssss. !! "
Terjangan Retna Wilis disambut oleh banyak orang anggauta pasukan anak buah Wasi Bagaspati dan terjungkallah empat orang dalam keadaan tidak bernyawa dengan tubuh hangus terkena pukulan dan tendangan dara perkasa yang sudah marah sekali ini.
Kemudian Retna Wills mengamuk, bagaikan api menyala-nyala membakar apa saja yang berada di dekatnya.
Maju dua orang roboh dua orang, maju empat orang roboh empat orang.
Ia terus mengamuk sambil mengejar Ni Dewi Nilamanik yang berusaha melarikan diri ke sana-sini di antara anak buahnya yang menyerbu Retna Wilis seperti sekumpulan laron menyerbu api.
Melihat ini, Adiwijaya tidak mau tinggal diam dan ia pun lalu menerjang pasukan yang mengeroyok Retna Wilis itu.
Karena Retna Wilis bergerak cepat sekali dan selalu mengejar ke mana pun Ni Dewi Nilamanik lari, maka sebentar saja Adiwijaya yang kini dikeroyok pula, terpisah jauh dari dara itu.
Amukan Retna Wilis membuat pasukan siluman anak buah Wasi Bagaspati itu kocar-kacir dan mawut.
Juga Adiwijaya merupakan seorang lawan yang kuat sekali biarpun tidak sedahsyat Retna Wilis, namun sukar bagi pasukan itu untuk merobohkannya.
Tiba-tiba terdengar teriakan kaget dan keadaan pasukan menjadi makin mawut ketika di situ terjun dua orang yang amat perkasa dan yang langsung menerjang dan merobohkan pasukan-pasukan itu dengan amukan kaki tangan mereka yang tangkas.
Pasukan siluman menjadi lebih panik ketika mengenal bahwa yang datang mengamuk ini bukan lain adalah Ki Patih Tejolaksono dan isterinya, Endang Patibroto!
Akhirnya Retna Wilis dapat berhadapan dengan Ni Dewi Nilamanik yang tidak dapat melarikan diri lagi karena pasukannya terpecah-pecah, sebagian mengeroyok Adiwijaya, sebagian besar menahan amukan Tejolaksono dan Endang Patibroto, dan terpaksa dia hams menyambut sendiri Retna Wilis yang memandangnya penuh kebencian.
"Ni Dewi Nilamanik, biar engkau lari ke neraka sekalipun, tetap akan kukejar sampai alai berhasil membunuhmu!"
Betapapun juga, Ni Dewi Nilamanik bukanlah seorang lemah.
Dia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan sesungguhnya kalau dicari di antara orang-orang biasa, jarang ditemukan orang yang dapat menandinginya.
Biarpun ia maklum akan kesaktian Retna Wilis yang membuat hatinya gentar, namun menghadapi jalan buntu ini ia menjadi nekat dan berkata.
"Retna Wilis, tidak begitu mudah engkau hendak membunuhku. Engkau hendak mengenal kedigdayaan Ni Dewi Nilamanik, penitisan Sang Hyang Bathari Durgo? Majulah!"
Retna Wilis berteriak marah dan menerjang dengan pukulan Wisalangking yang kalau mengenai tubuh lawan akan membuat tubuh itu menjadi hitam terkena hawa beracun.
Akan tetapi Ni Dewi Nilamanik yang sudah nekat cepat meloncat ke kiri menghindarkan pukulan ini, kemudian pengebut merahnya menyabet dari kiri mengarah leher Retna Wilis.
Dara perkasa ini mengubah pukulan yang luput menjadi cengkeraman ke arah ujung pengebut dengan maksud merampak senjata itu namun Ni Dewi Nilamanik sudah mengerti akan niat lawan, maka ia menggerakkan pergelangan tangan sehingga ujung pengebutnya membalik, kemudian dengan gerakan melingkar ujung cambuknya yang berubah menjadi kaku menusuk ke arah ulu hati Retna Wilis.
Dara sakti ini menurunkan lengan yang tadi hendak mencengkeram, menangkis sambil mengerahkan tenaga sakti.
"Pyarrr!"
Ujung cambuk atau kebutan yang tadi mengeras itu ambyar dan menjadi lemas kembali terkena tamparan tangan Retna Wilis yang ampuh.
Retna Wilis tidak berhenti sampai di situ, cepat tangan kirinya menyodok dengan jari tangan terbuka ke arah leher Ni Dewi Nilamanik.
Wanita ini terkejut sekali, cepat ia menarik tubuh atas ke belakang sehingga terhindar daripada tusukan jari tangan yang ampuh itu.
Akan tetapi tubuh Retna berkelebat cepat dan kaki tangannya bergerak-gerak seperti angin puyuh mengamuk.
Demikian cepatnya gerakan dara ini yang telah memainkan Ilmu Sllat Pancaroba yang amat cepat, ganas dan dahsyat.
Ni Dewi Nilamanik kewalahan dan menjadi bingung.
Dalam pandang matanya, seolah-olah tubuh Retna Wilis berubah menjadi tiga sehingga tiga pasang tangan berikut tiga pasang kaki menyerangnya dari setiap penjuru!
Ia berlaku nekat, memutar cambuknya sekuat tenaga.
Retna Wilis tidak mau membuang banyak waktu, dan ia membiarkan ujung cambuk atau kebutan itu mengenai pundaknya sambil mengerahkan tenaga sakti melindungi pundak, kemudian , kemudian ia menubruk maju mencengkeram tangan yang memegang kebutan merah.
"Aihhhhh.......!"
Ni Dewi Nilamanik menjerit kesakitan ketika tangannya terasa seperti dibakar api menyala, terpaksa melepaskan kebutan yang kini telah terampas oleh Retna Wilis.
Ni Dewi Nilamanik memandang dengan mata terbelalak kepada dara yang kini melangkah maju perlahan-lahan dengan bibir tersenyum dingin dan mata bersinar-sinar seperti mengeluarkan kilat.
Ia mundur-mundur ketakutan, wajahnya pucat, semua semangat perlawanannya lumpuh.
Tiba-tiba Retna Wilis menggerakkan kebutan itu.
Sinar merah menyambar dan sebelum Ni Dewi Nilamanik tahu apa yang terjadi kebutan itu telah melibat lehernya.
Ia cepat menggunakan kedua tangan untuk melepaskan ujung kebutan yang membelit lehernya, mengerahkan tenaga, namun bulu-bulu yang kuat dan terbuat dari ekor kuda itu mencekik makin erat, diiringi suara ketawa Retna Wilis.
"Auggghhh....... am....... ampunn !! "
Ni Dewi Nilamanik menjerit, akan tetapi yang keluar dari lehernya hanya suara orang tercekik.
Ia tak dapat bernapas lagi dan perlahan-lahan Retna Wilis yang sudah memegang ujung kebutan dengan tangan kiri dan gagang kebut an dengan tangan kanan, menggunakan kedua tangannya menarik sehingga kebutan itu makin lama makin erat mencekik leher Ni Dewi Nilamanik.
Muka Ni Dewi Nilamanik makin pucat, matanya terbelalak lebar, lidahnya yang merah dan yang biasanya dapat menimbulkan gairah dan rangsang pada hati setiap pria kini terjulur keluar, makin lama makin panjang, tubuhnya yang tadinya meronta-ronta kuat kini hanya berkelonjotan dan tubuh itu tentu sudah rebah terjengkang kalau tidak tertahan oleh kebutan yang mencekik lehernya.
Makin lama kebutan itu makin kuat mencekik leher dan tak lama kemudian terdengar suara aneh yang tidak menyerupai suara manusia keluar dari mulut Ni Dewi Nilamanik, disusul robohnya tubuhnya terjengkang ke belakang dan menggelindinglah kepala karena leher itu telah putus seperti disayat pisau!
Retna Wilis membuang kebutan merah yang kini menjadi lebih merah lagi oleh darah ke dekat mayat Ni Dewi Nilamanik, memandang jijik, juga terkejut karena melihat betapa tubuh Ni Dewi Nilamanik, yang tadinya montok padat dan berkulit halus itu kini telah menjadi tubuh peyot keriputan, tubuh seorang nenek, adapun kepala yang menggelinding dengan muka di atas itu memperlihatkan mata melotot dan lidah terjulur, akan tetapi yang membuat Retna Wilis terheran adalah melihat betapa muka itu kini menjadi muka seorang nenek--nenek.
Mengertilah ia bahwa Ni Dewi Nilamanik yang usianya sudah hampir enam puluh tahua itu tadinya kelihatan cantik oleh pengaruh ilmu hitam dan ramuan jamu, dan kini pengaruh itu lenyap bersama nyawanya, seperti muka seorang nenek berusia seratus tahun!
Baru setelah banyak sekali anak buah Ni Dewi Nilamanik datang menyerbunya dari empat jurusan menggunakan senjata-senjata tajam, Retna Wilis sadar dan cepat menggerakkan tubuh, diputar dengan kedua tangan terpentang menampar ke kanan ldri.
Senjata-senjata para pengeroyok beterbangan disusul robohnya empat orang sekaligus dan mulailah Retna Wilis mengamuk seperti seekor harimau betina membela anaknya.
"Retna. ! "
"Retna Wilis. !! "
Dara sakti itu menengok dan alisnya berkerut ketika ia melihat bahwa tidak jauh dari situ, ia melihat Ki Patih Tejolaksono dan Endang Patibroto juga mengamuk, merobohkan para anak buah Wasi Bagaspati dengan tangkas dan gagah perkasa.
"Mari kita basmi bedebah-bedebah ini, anakku!"
Endang Patibroto berteriak, suaranya penuh keharuan.
Akan tetapi Retna Wilis tidak menjawab, hanya mengamuk lebih hebat lagi, seolah-olah ia hendak menandingi kegagahan ayah dan bundanya.
Melihat sepak terjang Retna Wilis, Tejolaksono dan Endang Patibroto sendiri merasa ngeri.
Mereka melihat betapa sekali pukul dara itu membuat kepala seorang pengeroyok pecah berhamburan, darah dan otak muncrat, betapa dara itu menangkap lengan seorang pengeroyok, diputarnya sehingga tubuh itu terangkat ke atas lalu dibanting sampai remuk.
Amukan Retna Wilis benar-benar menggiriskan dan sepak terjangnya bukan seperti manusia lagi!
Pertandingan antara Bagus Seta yang dikeroyok dua oleh Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terjadi amat hebat pula.
Gerakan mereka amat cepat dan mereka tidak bertanding seperti manusia biasa sehingga mereka itu berpindah-pindah, makin lama makin menjauhi pantai dan naik ke gunung-gunung batu karang , bahwa kedua orang lawannya yang bertanding sambil kadang-kadang lari itu memancingnya ke sebuah tempat di mana telah bersembunyi pasukan siluman yang menjadi inti pasukan gemblengan Wasi Bagaspati, sejumlah dua puluh orang!
Maka setelah mereka tiba di lereng sebuah gunung anakan, tiba-tiba dari tempat-tempat bersembunyi muncul pasukan itu yang berpakaian serba merah, yang langsung melepaskan anak panah ke arah tubuh Bagus Seta!
Pemuda ini terkejut sedetik, namun ia segera menggunakan pengikat rambutnya diputar sedemikian rupa sehingga menimbulkan angin dan semua anak panah dapat digulung dengan angin berpusing ini dan diruntuhkan sebelum mencapai sasaran.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Wasi Bagaspati yang menghantamkan senjata cakra di tangannya ke arah kepala Bagus Seta dari belakang, sedangkan dari kanan Wasi Bagaskolo menusukkan kerisnya ke arah lambung.
"Sessss. singggg!!!"
Bagus Seta tanpa menoleh mengangkat setangkai kembang cempaka di atas kepala menangkis senjata cakra sehingga senjata itu terpental, sedangkan pengikat rambutnya berubah menjadi kaku menangkis keris yang menusuk lambungnya sehingga keris itu mengeluarkan bunyi keras dan tergetar hebat, hampir terlepas dari pegangan tangan Wasi Bagaskolo.
Kedua kakek itu mencelat mundur dan kembali dua puluh orang pasukan siluman sudah mengurung Bagus Seta, terbagi menjadi dua rombongan.
Rombongan pertama mengitari Bagus Seta sambil berlari dari ldri ke kanan, adapun rombongan ke dua juga lari mengelilingi pemuda itu dari kanan ke kin.
Sambil berlari mereka itu mengeluarkan suara seperti orang menembang dan anehnya, suara tembang mereka itu menimbulkan suara yang menyeramkan dan pengaruh yang menakutkan.
Bagus Seta maklum bahwa pasukan ini bukan pasukan biasa, melainkan pasukan yang digembleng dengan ilmu hitam.
Kalau ia tertarik oleh gerakan mereka yang berlari mengelilinginya, tentu ia akan menjadi pening dan kabur pandangan matanya, juga kalau ia memperhatikan suara tembang mereka, tentu ia akan hanyut dan mungkin kalau lawan yang kurang kuat batinnya, tidak lama kemudian tentu akan ikut berlari-lari dan bertembang!
Ia mencoba dan mendorongkan tangan kirinya yang memegang kembang cempaka ke arah kiri.
Dengan dorongan yang mengandung tenaga mujijat ini ia dapat merobohkan lawan tanpa lawan itu dapat bangun kembali, sedikitnya tentu pingsan.
Hawa sakti yahg merupakan angin kuat menyambar dan tiga orang anggauta pasukan sebelah dalam itu terpelanting, akan tetapi tepat seperti dugaan Bagus Seta, mereka itu bangkit kembali.
Kiranya mereka itu telah "dimasuki"
Kekuatan mentera hitam bleh Wasi Bagaspati dan kekuatan mereka tergabung sehingga masing-masing anggauta memilild tenaga dua puluh orang!
Tiba-tiba mereka itu memekik.
dan tampak ujung-ujung tombak yang mereka pegang menyambar ke dalam kurungan.
Bagus Seta menggerakkan tangan, menangkis semua ujung tombak dengan angin pukulan tangannya.
Terdengar suara mengaung dan dari atas meluncur turun senjata cakra dan senjata keris hitam, seolah-olah kedua senjata itu hidup dan menyerang Bagus Seta.
Pemuda yang sedang sibuk menghadapi hujan tombak dari pasukan yang masih berlari mengelilinginya, melihat datangnya dua buah senjata ampuh ini cepat meloncat dan mengelak.
Dua buah senjata itu seperti benda hidup, ketika luput menyerang, menukik dan membalik untuk melakukan serangan ke dua!
"Hemm, penggunaan ilmu hitam tiada gunanya, Wasi Bagaspati!"
Bagus Seta berkata dan tiba-tiba tubuhnya meloncat tinggi ke atas sehingga semua tusukan tombak luput dan sambil meloncat ini ia telah menangkis dua buah senjata ampuh itu dengan senjata-senjatanya.
Cakra dan keris hitam itu terlempar, melayang-layang kacau dan kembali ke tangan pemiliknya masing-masing.
Sedang Bagus Seta sudah melayang keluar dari kepungan.
Sejenak dua puluh orang anggauta pasukan siluman menjadi kacau, akan tetapi mereka sudah dapat mengejar dan mengepung kembali.
Bagus Seta menjadi bingung juga.
Dia tidak mau membunuh, apalagi membunuh dua puluh orang anggauta pasukan ini yang dianggap hanya sebagai alat, akan tetapi kalau mereka ini tidak dienyahkan lebih dulu, sukar baginya untuk menyerang dua orang pendeta sesat yang selalu di luar barisan.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Puteraku Bagus Seta! Kau lawanlah dua ekor monyet tua itu dan serahkan pasukan kadal ini kepada kami!"
Itulah suara Pusporini dan benar saja , begitu Pusporini dan Joko Pramono datang menyerbu, pasukan siluman menjadi kacau-balau dan kurungan atas diri Bagus Seta menjadi buyar.
Tadinya memang mereka datang bersama dalam usaha mereka mencari Retna Wilis.
Akan tetapi karena Bagus Seta mempergunakan ilmunya yang tidak lumrah dimiliki manusia biasa, Tejolaksono, Endang Patibroto, Joko Pramono dan Pusporini, tertinggal jauh dan mereka baru tiba di tempat itu setelah terjadi pertempuran hebat di situ.
Tejolaksono dan Endang Patibroto yang melihat Retna Wilis dikeroyok banyak orang lalu serta-merta terjun ke dalam medan pertempuran membantu puteri mereka itu.
Adapun Pusporini dan Joko Pramono yang melihat pertandingan hebat antara Bagus Seta dikeroyok dua oleh Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo bersama banyak orang anggauta pasukan berpakaian merah, segera lari ke tempat pertandingan yang jauh itu dan membantu Bagus Seta menerjang pasukan berpakaian merah.
Setelah mendapat bantuan Pusporini dan ia tahu cukup sakti untuk menanggulangi pasukan siluman itu, Bagus Seta lalu menggunakan kesaktiannya untuk, mendesak Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo.
Dua orang pendeta dari tanah barat ini terdesak hebat dan kewalahan.
Mereka telah mengeluarkan segala aji-aji dan mantra, segala ilmu hitam mereka, namun kesemuanya itu dapat dipunahkan dengan mudah oleh Bagus Seta.
"Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo! Jangan salahkan aku kalau terpaksa sekali aku melakukan kewajibanku membunuh kalian berdua!"
Seru Bagus Seta dan tubuhnya berkelebat ke depan, kembang cempaka putih diangkat menyerang Wasi Bagaspati dengan pukulan ke arah kepala, sedangkan pengikat rambutnya dikibaskan ke arah dada Wasi Bagaskolo.
Hebat bukan main penyerangan yang dilakukan berbareng ini, mengandung tenaga mujijat yang amat ampuh.
Dua orang pendeta sesat itu terkejut dan cepat menangkis dengan senjata masing-masing.
'Gress!
Bresss!!"
Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo terpelanting, lalu bergulingan menjauhkan diri dengan kepala pening dan mata berkunang-kunang.
Tangkisan mereka berhasil menyelamatkan mereka, akan tetapi tidak cukup kuat untuk menahan getaran tenaga sakti sehingga mereka terpelanting.
Mereka tidak kuat menghadapi Bagus Seta, kedua orang kakek itu tanpa bersepakat lebih dulu, keduanya lalu meloncat jauh dan melarikan diri.
"Ke mana Andika berdua akan melarikan diri?"
Bagus Seta berseru halus dan melompat untuk mengejar.
Kedua orang kakek itu mengerahkan seluruh ilmu kesaktian mereka untuk lari secepatnya.
Mereka maklum bahwa menghadapi seorang sakti seperti Bagus Seta, akan percuma saja andaikata mereka menggunakan ilmu hitam untuk menghilang maka mereka kini mengandalkan kedua kaki mereka dan dorongan tenaga sakti mereka untuk berlari congklang seperti dua ekor kuda dikejar harimau.
Napas mereka sampai menjadi senin-kemis, akan tetapi hati mereka lega karena mereka tidak mendengar lagi suara kaki Bagus Seta mengejar.
Mereka telah tiba di puncak sebuah di antara Pegunungan Seribu dan karena mereka merasa betapa napas mereka hampir putus, mereka berhenti.
"Kalian baru tiba?"
Kalau halilintar menyambar di siang hari itu, agaknya kedua orang kakek itu tidak akan sekaget itu.
Mereka menoleh ke kiri dan kiranya Bagus Seta telah berdiri di dekat mereka sambil memandang dengan mata tajam dan bibir tersenyum.
"Keparat. setan iblis bukan manusia!!"
Wasi Bagaspati menyumpah-yumpah dan kemarahannya memuncak.
ia menggosok-gosok senjata cakra di kedua tangannya dan tiba-tiba cuaca menjadi gelap dan dari dalam kegelapan itu menyambar api menyala-nyala ke arah Bagus Seta.
Sekarang Wasi Bagaspati telah menjadi nekat dan hendak menguras segala ilmu hitamnya untuk mengalahkan lawan yang masih amat muda, patut menjadi cucunya akan tetapi' memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa itu.
Wasi Bagaskolo juga membaca mantera, menggosok-gosok keris hitamnya lalu melontarkan keris itu ke udara yang cegera berubah menjadi ratusan batang banyaknya, semua menyambar ke arah tubuh Bagus Seta yang sudah diselimuti kegelapan yang diciptakan Wasi Bagaspati!
Dengan tenang Bagus Seta menghadapi serangan yang luar biasa ini.
ia pun maklum bahwa sekali ini kedua orang pendeta itu akan menggunakan segala daya upaya untuk melawannya dengan nekat.
"Oouumm....... sadhu-sadhu-sadhu kalian benar--benar telah tersesat jauh sekali!"
Serunya lirih sambil memejamkan mata sebentar, memegang kembang cempaka putih di atas kepala, mengheningkan cipta kemudian mengerahkan semua tenaga batin melalui kembang cempaka putih.
Terdengar ledakan-ledakan keras dan kilat menyambar dari kembang putih itu.
Seketika kegelapan terusir dan ratusan batas keris hitam lenyap berubah menjadi sebatang keris yang melayang ke arah Bagus Seta, adapun api yang menyala-nyala itu lenyap berubah menjadi senjata cakra yang juga menyambar ke arah pemuda itu.
Bagus Seta menyimpan kembali kedua senjatanya, kemudian mengulur kedua tangan menyambut cakra dan keris hitam yang menyambarnya, dengan gerakan indah namun cepat sekali ia berhasil menangkap dua buah senjata ampuh itu dan berkata, suaranya halus namun penuh wibawa.
"Segala sesuatu berasal dari tanah dan kembali ke tanah!"
Sambil berkata demikian, ia membanting kedua senjata itu ke bawah.
Tampak dua sinar berkelebat ketika dua buah senjata itu meluncur ke bawah dan lenyap, amblas ke dalam tanah entah ke mana!
"Heh si keparat Bagus Seta!
Senjata hanya alat, tidak bersalah, mengapa engkau melenyapkan mereka?"
Wasi Bagaspati berteriak sambil menudingkan telunjuknya ke arah Bagus Seta. Pemuda itu tersenyum.
"Benar ucapanmu. Senjata tetap senjata, benda mati yang tidak benar tidak salah. Akan tetapi kalau dipergunakan untuk kejahatan, dia menjadi alat kejahatan. Sungguh kasihan, daripada dijadikan alat kejahatan lebih baik kembali ke asalnya. Demikian pun dengan Andika berdua, daripada menjadi abdi nafsu angkara murka, lebih baik kembali ke asal!"
"'Bedebah, sombong amat wawasanmu! Akulah wakil Sang Hyang Shiwa, Maha Pembasmi dan bukan aku yang akan kaubunuh, melainkan engkau yang akan kukembalikan ke asalmu, Bagus Seta!"
Seru Wasi Bagaspati dan kini wajahnya seperti bukan wajah manusia lagi, selain merah juga terselimuti hawa kemarahan bagaikan api bernyala, kemudian ia mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau terluka dan menubruk maju dan menghantamkan kedua tangannya ke dada Bagus Seta.
Pemuda ini tetap berdiri tidak bergerak, berkedip pun tidak menerima hantarran pada dadanya ini.
"Dessss!!"
Pukulan itu datangnya seperti serudukan seekor gajah yang akan dapat menumbangkan pohon besar dan menghancurkan batu karang, akan tetapi ketika mengenai dada pemuda itu, bukan Bagus Seta yang roboh, melainkan Wasi Bagaspati sendiri yang terbanting ke belakang dan ia mengeluh dengan napas terengah-engah karena tenaga pukulan yang didorong kemarahan hebat tadi membalik dan melukai isi dadanya sendiri.
"Jahanam!"
Wasi Bagaskolo marah sekali melihat kakak seperguruan roboh.
Ia menerjang maju hendak mencekik leher Bagus Seta sambil mengerahkan aji kesaktiannya.
Namun tingkat kesaktiannya masih kalah oleh Wasi Bagaspati sehingga baru raja tangannya menyentuh kulit leher Bagus Seta yang berdiri tak bergerak, ia kalah wibawa, menggigil dan tubuhnya seperti lumpuh, kemudian ia pun roboh terjengkang di samping Wasi Bagaspati.
Bagus Seta mengeluarkan kembang Cempaka putih, mengangkatnya tinggi-tinggi dan berbisik.
"Duh Sang Hyang Bathara Shiwa, perkenankanlah hamba mewakili Paduka mengembalikan mereka ini ke asal mereka!"
Akan tetapi sebelum ia menurunkan tangannya memberi pukulan terakhir, tiba-tiba terdengar seruan.
"Sadhu-sadhu-sadhu....... Bagus Seta, demi kasih sayang di antara semua mahluk dan Benda, harap jangan membunuh mereka!"
Bagus Seta seperti sadar dari keadaan biasa, mengangkat muka dan memandang.
Kiranya di situ telah berdiri seorang kakek gundul yang bertubuh gemuk pendek, tangan ldri membawa seuntai tasbih dan tangan kanan memegang sebatang tongkat cendana yang panjang, wajahnya alim dan penuh kesabaran, mulutnya seperti tersenyum ramah selalu.
"Siapakah gerangan Andika, wahai sang Biku yang bersih lahirnya?"
Pertanyaan Bagus Seta yang dikeluarkan dengan suara halus ini merupakan siridiran tajam yang membuat muka pendeta itu menjadi merah.
Dia dikatakan "bersih lahirnya", adakah pemuda ini melihat bahwa dia tidak bersih lahir batinnya?
Akan tetapi ia tetap bersabar dan menjawab sambil tersenyum.
"Nama saya Biku Janapati, saya sedang bertugas melakukan dharma bakti terhadap perikemanusiaan, memberi penerangan dan petunjuk kepada manusia di pantai timur untuk menyadarkan mereka dan menghilangkan kesengsaraan. Ketika mendengar akan sepak terjang sahabat saya Wasi Bagaspati di daerah ini, saya bergegas datang dan mendengar pula akan nama Andika, orang muda yang sakti mandraguna. Untung bahwa kedatangan saya tidak terlambat."
"Ah, kiranya Andika adalah Sang Biku Janapati utusan Kerajaan Sriwijaya? Membawa pelajaran agama dengan pamrih memberi penerangan kepada manusia adalah sebuah usaha yang amat mulia, Sang Biku. Akan tetapi kalau dipaksakan dengan kekerasan, selain tidak akan ada manfaatnya, juga hanya akan mendatangkan permusuhan belaka, seperti yang dilakukan Wasi Bagaspati dan kawan-kawannya. Aku pun hendak membasminya demi membersihkan tanah air daripada pengaruh buruk, mengapa Andika menghadang? Apakah Andika yang katanya membawa pelajaran tentang kasih sayang antara segala mahluk dan Benda, menyetujui cara-cara yang dilakukan oleh Wasi Bagaspati maka merasa perlu melindungi nya?"
Biku Janapati tersenyum lebar dan menjawab.
"Bukan demikian, orang muda. Hanya perlu Andika ketahui, seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha bahwa tidaklah mungkin memadamkan permusuhan dengan permusuhan pula. Permusuhan hanya dapat dipadamkan dengan sikap tidak bermusuh. Ini merupakan hukum abadi."
Bagus Seta mengangguk-angguk.
"Benar sekali pelajaran itu. Akan tetapi hendaknya engkau mengerti pula, Sang Biku, bahwa aku tidak memusuhi Sang Wasi Bagaspati dan Wasi bagaskolo. Aku tidak menganggapnya sebagai musuh dan aku tidak ingin membasminya sebagai musuh pribadi, melainkan hendak membasminya sebagai orang membasmi penyakit yang akan membahayakan keselamatan manusia umumnya. Aku tidak dipengaruhi oleh nafsu pribadi, tidak memiliki dasar pamrih untuk diri pribadi, melainkan hanya melaksanakan tugas sebagai manusia. Bukankah manusia dikurniai hak dan diberi kewajiban? Manusia merupakan titik api, sebagian kecil sekali daripada nyala api kekuasaan yang merupakan Trimurti, Sang Maha Pencipta, Sang Maha Pemelihara, dan Sang Maha Pembasmi yang bersifat Maha Kasih dan Maha Kuasa. Biarpun hanya setitik api, namun merupakan bagian dari api itu sendiri dan karenanya manusia berkewajiban untuk memanfaatkan dirinya membantu dalam mencipta, memelihara, dan kalau perlu membasmi asal tidak didasari pamrih untuk diri pribadi."
Mendengar ini, Biku Janapati merangkapkan kedua tangan di depan dada dan berkata.
"Namo Tasa Bhagawato Arahato Samma Sambudhasa (Terpujilah Dia yang telah mencapai Perangai Sejati dan Kebijaksanaan Sempurna)! Andika adalah murid Sang Maha Bhagawan Ekadenta, bukan? Sungguh saya harus tunduk dan kagum. Memang tak dapat saya sangkal bahwa sahabat Wasi Bagaspati telah menyeleweng daripada jalan benar. Demikian pula dengan Wasi Bagaskolo. Akan tetapi, oleh mereka sendirilah kejahatan dilakukan dan biarlah mereka sendiri yang akan memetik buahnya. Bagi saya, tidak boleh saja melalaikan tugas kewajiban demi kepentingan orang lain, dalam hal ini demi kepentingan Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo sendiri. Melihat mereka terancam bahaya maut, betapa mungkin saya harus mendiamkan mereka begitu saja? Duhai Bagus Seta, kalau Andika percaya akan kekuasaan tak terbatas dan tak terlawan oleh Yang Maha Kuasa, anggap sajalah bahwa kedatanganku mencegah engkau membunuh mereka ini merupakan kehendak Dia yang belum menghendaki mereka mati "
Bagus Seta menghela napas panjang dan diam-diam ia harus mengakui kebenaran ucapan ini.
"Akan tetapi, Sang Biku yang bijaksana. Tahukah Andika bahwa pencegahan Andika ini merupakan tanggung jawab Andika pula terhadap kebenaran dan keadilan? Bahwa kalau mereka dibebaskan dan kelak melakukan kejahatan, maka kejahatan itu sebagian adalah akibat daripada perbuatan Andika saat ini?"
"Sebenarnyalah apa yang Andika katakan, wahai Bagus Seta. Dan saya pun bertanggung jawab sepenuhnya terhadap mereka ini kalau kelak mereka menimbulkan kekacauan dengan perbuatan sesat lagi. Saya sendiri yang kelak akan menghadapi mereka sebagai pertanggungan jawab saya. Sekali ini, demi Tuhan Yang Maha Kasih, Yang Maha Pengampun, yang memberi berkah kepada segala makluk dan tanpa pilih kasih dan tanpa Pandang bulu, yang memberi sinar kehidupan kepada seluruh alam mayapada dan isinya, saya mohon sudilah kiranya Andika membebaskan Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo."
Didesak seperti ini, Bagus Seta merasa tidak baik untuk bersikeras. Ia menarik napas panjang dan menyerahkan segala akibat kepada Hyang Widhi Wisesa, maka ia mengangguk dan berkata.
"Biarlah terjadi seperti yang Andika minta, Sang Biku yang mulia. Kuserahkan mereka berdua kepadamu."
Ia membungkuk dengan hormat dan meninggalkan tempat itu, menghampiri Pusporini dan Joko Pramono yang telah menyelesaikan pertempuran sejak tadi,merobohkan dua puluh orang anggauta pasukan siluman dan sejak tadi menonton dari jauh pertandingan hebat antara Bagus Seta melawan dua orang wasi sampal munculnya Biku Janapati.
"Mari kita turun dan menemui kanjeng rama,"
Kata Bagus Seta perlahan kepada bibi dan pamannya. Mereka berdua mengangguk, tidak berani mencampuri urusan antara Bagus Seta dan pendeta-pendeta sakti itu.
"Terima kasih, sahabatku Biku Janapati"
Kata Wasi Bagaspati sambil bangkit berdiri, diturut oleh Bagaskolo yang masih meraba-raba dadanya yang terasa sesak. Biku Janapti mengerutkan keningnya.
"Sahabatku Wasi Bagaspati, berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa Andika masih diperkenan kan hidup untuk menebus segala dosa dan sadar atas kesesatanmu. Dia yang tadinya lengah dan tidak sadar melakukan kesesatan, kemudian menjadi sadar dan merendahkan hati, dia akan menerangi dunia laksana bulan yang terbebas daripada gumpalan awan hitam. Maka, insyaf dan sadarlah, sahabatku, bahwa perbuatan jahat menuruti hawa nafsu angkara murka tidak akan membawamu ke alam kebahagiaan lahir batin."
Wasi Bagaspati mendongkol sekali, akan tetapi karena ia telah ditolong, ia lalu menghela napas dan berkata.
"Salahnya aku kurang tekun mempelajari ilmu, akan tetapi, sudahlah....... biar kucoba untuk mencari jalan kebenaran. Sampai jumpa kembali, Sang Biku Janapati!"
Setelah berkata demikian, Wasi Bagaspati dan adik seperguruannya lalu melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Biku Janapati memandang dengan mata termenung dan menarik napas panjang, maklum bahwa ia memikul tanggung jawab berat sekali, kemudian ia pun melangkah pergi dengan tongkatnya, menuju ke arah larinya dua orang kakek itu.
Tejolaksono dan Endang Patibroto mengamuk di samping Retna Wilis, mereka bertiga seakan-akan berlomba membunuhi anak buah pasukan musuh sehingga pasukan menjadi gentar dan me larikan din cerai-berai Setelah jumlah lawan menipis, barulah Tejotaksono dan Endang Patibroto melihat bahwa selain mereka bertiga, maslh ada seorang pria lagi yang juga mengamuk hebat.
Kini mereka berdekatan, tiba-tiba Endang Patibroto berseru.
"Sindupati. ! "
Adiwijaya menengok terkejut sekali dan hendak melarikan diri bersembunyi namun terlambat karena Endang Patibroto yang telah mengenalinya itu tiba-tiba lari menghampiri dan tanpa banyak cakap lagi telah menerjangnya dengan pukulan maut Gelapmusti.
Karena wanita sakti ini meloncat dengan Aji Bayu Tantra, maka gerakannya tangkas dan cepat laksana kilat menyambar, sukar untuk dihindari lagi.
Terpaksa Adiwijaya menangkis, akan tetapi karena hatinya gentar dan ia merasa bersalah, ia tidak mampu mengerahkan seluruh tenaganya dan begitu lengannya bertemu dengan lengan Endang Patibroto, ia terjengkang dan roboh bergulingan.
Untung ia cepat mempergunakan aji kesaktiannya yang amat ia andalkan, yaitu Trenggiling-wesi sehingga begitu tubuhnya menyentuh tanah, ia sehat kembali dan sudah menjauhkan diri.
Kalau tidak tentu kepalanya sudah remuk kena diinjak Endang Patibroto.
Wanita ini makin marah dan terus mengejar tubuh yang bergulingan itu dengan loncatan-loncatan cepat.
"Sindupati, manusia terkutuk! Saat ini engkau pasti akan mampus di tanganku!"
Dengan sebuah lompatan cepat, kembali Endang Patibroto menerjang dan Adiwijaya sudah gugup sekali, bahkan sudah bangkit dan seolah-olah tidak mau melawan lagi, menyerahkan mati hidupnya kepada Endang Patibroto.
"Plakkk!"
Tubuh Endang Patibroto terhuyung ke belakang ketika hantamannya itu tertangkis oleh lengan Retna Wilis.
"Jangan bunuh dia !"
Teriaknya dan ia segera membangunkan Adiwijaya. Endang Patibroto terbelalak memandang.
"Retna....... dia....... dia ini manusia jahat! Manusia terkutuk! Dia....... dia musuh besar ibumu !"
Retna Wilis menggeleng kepalanya dan berkata lirih.
"Agaknya jalan kita selalu harus bersimpang. Boleh jadi dia kauanggap jahat dan menjadi musuhmu. Akan tetapi bagiku dia seorang manusia baik dan menjadi satu-satunya sahabatku. Mari Paman, kita pergi."
Retna Wilis menggandeng tangan Adiwijaya dan mengajaknya pergi cepat dari tempat itu. Endang Patibroto mengepal tinju dan hendak mengejar, akan tetapi lengannya....... dipegang oleh Tejolaksono.
"Diajeng, jangan memaksa dia. !"
Suaranya penuh keharuan.
Endang Patibroto membalik, hendak meronta, akan tetapi ketika melihat pandang mata suaminya penuh keharuan dan kasihan, ia menangis dan Tejolaksono hanya dapat mengelus rambut isterinya itu sambil menghela napas dan matanya pun menjadi basah.
Demikianlah, ketika Bagus Seto, Joko Pramono dan Pusporini datang ke pantai tempat pertempuran itu, mereka bertiga ini mendapatkan Tejolaksono dan Endang Patibroto sedang bertangisan di antara tumpukan mayat anak buah Wasi Bagaspati yang berserakan dan malang melintang!
Pusporini segera merangkul Endang Patibroto dan Tejolaksono dengan wajah muram dan berulang kali menghela napas menceritakan keadaan Retna Wills yang meninggalkan ayah bundanya.
Tentu saja dia tidak menceritakan tentang Adiwijaya yang sesungguhnya adalah bekas Patih Warutama atau dahulu bernama Sindupati, karena menyebut nama orang ini tentu akan terpaksa menceritakan bahwa Endang Patibroto pernah diperkosa oleh manusia laknat itu!
Bagus Seta menghela napas dan berkata.
"Harap Kanjeng Rama dan Kanjeng Ibu suka bersabar dan menyerahkan segala sesuatunya dengan penuh kepercayaan kepada Tuhan. Kalau kita menerima segala sesuatu yang menimpa kita, baik hal itu menguntungkan atau merugikan kita, dengan penuh kesabaran dan penyerahan, Sang Hyang Widdhi (Tuhan) pasti akan memberkahi karena Dia adalah Maha Adil, Maha Kasih, dan Maha Kuasa. Peristiwa menguntungkan kita terima sebagai anugerah Tuhan dan karenanya patut kita terima dengan rasa syukur dan hormat tanpa menjadi mabuk kesenangan dan melupa kan bahwa keuntungan itu hanya teijadi karena Tuhan menghendaki. Sebaliknya peristiwa merugikan kita terima sebagai hukuman atas penyelewengan kita dan sebagai ujian, karenanya kita patut meneliti diri pribadi dan bertobat atas segala kesalahan kita, mohon ampun kepada Dia Yang Maha Adil."
"Ahhh....... Puteraku....... betapa aku akan dapat menahan batin yang berat ini."
Endang Patibroto terisak.
"Mengapa tidak dapat, Kanjeng Ibu? Manusia yang menyerahkan segala sesuatu, mati hidupnya, dengan penuh kerelaan dan penuh kepercayaan kepada Sang Hyang Widdhi akan sanggup menanggung derita yang bagaimana pun juga, karena penyerahan mendatangkan kekuatan gaib yang akan mengubah derita menjadi sesuatu yang wajar, bukan derita lagi."
"Bijaksana sekali ucapanmu, puteraku Bagus Seta. Sekarang, menurut pendapatmu, bagaimana sebaiknya?"
Tejolaksono berkata sambil memandang puteranya penuh kagum, juga dengan hati kosong melompong karena ia tidak tahu siapakah sesungguhnya yang jauh meninggalkan ayah bundanya.
Retna Wilis ataukah Bagus Seta!
Retna Wilis hanya terpisah lahirnya dan dara itu selama masih hidup dan berada di atas bumi, sekali waktu pasti dapat bertemu dan mungkin sekali dapat berkumpul kembali sebagai puteri dan orang tuanya.
Akan tetapi Bagus Seta ini sungguhpun kini berada di depannya, bercakap-cakap seperti seorang putera, namun sesungguhnya pemuda ini seperti melayang di angkasa, sukar sekali dijamah karena keadaan Bagus Seta seolah-olah tidak lagi terikat oleh dunia apalagi oleh hubungan keluarga!
"Karena musuh telah dihalau dan adinda Retna Wilis telah dapat diselamatkan, sebaiknya Paduka berdua Kanjeng Ibu kembali ke Panjalu memimpin pasukan untuk memberi pelaporan kepada gusti sinuwun di Panjalu.
Demikian pula dengan Paman Patih dan Kanjeng Bibi sebaiknya memimpin pasukan kembali ke Jenggala."
"Dan engkau sendiri?"
Tejolaksono bertanya, suaranya kosong, sekosong hatinya yang makin merasakan betapa "jauhnya"
Puteranya yang kini berdiri di depannya itu.
"Hamba akan pergi merantau, melanjutkan perjalanan melakukan dharma bakti hamba seperti yang telah diajarkan oleh eyang guru "
"Dan ibumu? Tentu akan kehilangan engkau....... betapa akan berduka hatinya. !"
Bagus Seta tersenyum dan mengeluarkan setangkai bunga Cempaka Putih, menyerahkannya kepada Tejolaksono.
"Harap Kanjeng Rama sudi menyerahkan bunga ini kepada Kanjeng Ibu, dan dengan kekuasaan Sang Hyang Widdhi, hati ibunda akan terhibur."
Tejolaksono menerima kembang itu teringat akan masa dahulu di waktu puteranya memberi setangkai kembang pula untuk diserahkan kepada Ayu Candra. Setelah menyimpan kembang itu ia berkata.
"Puteraku Bagus Seta, mendekatlah, Anakku."
Bagus Seta menghampiri ramandanya dan Tejolaksono memeluknya, memeluk erat-erat dan mendekap pemuda itu, seolah-olah hendak menanam pemuda itu dalam dadanya agar jangan dapat pergi lagi.
Akan tetapi ada hawa yang hangat keluar dari dada Bagus Seta yang menjalar ke seluruh tubuh Tejolaksono dan yang mengingatkan patih sakti ini akan sinar Sang Surya, sinar matahari yang tidak hanya bertugas menghidupkan dia seorang.
Sadarlah dia bahwa memang menjadi tugas puteranya untuk berjuang sebagai seorang sakti, sebagai seorang satria, demi kebenaran dan keadilan, demi menegakkan perikemanusiaan, berguna bagi manusia khususnya dan dunia umumnya.
Tidak hanya bertugas menyenangkan hati kedua orang tuanya belaka ia melepaskan pelukannya dan dengan mata basah akan tetapi wajah berseri dan mulut tersenyum ia berkata.
"Pergilah, Anakku. Pergilah dengan hati lapang dengan doa restu yang rela dariku."
Setelah memberi hornet kepada Endang Patibroto yang memeluknya dan kepada Joko Pramono dan Pusporini, pemuda itu lalu berjalan pergi menyusuri pantai laut selatan, diikuti pandang mata empat orang itu sampai bayangannya lenyap ditelan kesuraman cuaca hari yang mulai sore.
Kemudian mereka berempat pun meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Wilis di mana pasukan-pasukan mereka masih berkumpul membersihkan sisa perang di bawah pimpinan Limanwilis, Lembuwilis, dan Nogowilis.
Retna Wilis duduk di atas sebuah batu besar di dalam hutan yang lebat.
ia duduk bersila di atas batu bawah pohon tanjung yang besar dan lebat sekali, dengan muka tunduk dan kedua mata dipejamkan, dalam keadaan hening karena dara perkasa ini bersamadhi.
Kalau tidak dipandang dengan penuh perhatian, orang akan mengira bahwa ia tidak bernyawa lagi, demikian halus pernapasannya sehingga hampir tidak tampak dadanya bergerak.
Hanya bedanya dengan biasanya, kalau sedang bersamadhi itu biasanya Retna Wilis hening dan tenang, wajahnya menjadi seperti kosong tidak mengandung perasaan apa-apa.
Akan tetapi pada saat itu, wajahnya diselimuti kesuraman seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal hatinya.
Bahkan ada bekas-bekas air mata yang sudah hampir mengering di atas sepasang pipinya, di bawah pelupuk mata.
Juga sepasang alisnya yang kecil hitam itu agak berkerut, tanda bahwa dia biarpun sedang bersamadhi, namun tidak dapat mengheningkan cipta, dan tidak dapat..
membebaskan diri dari panca indrianya.
Tidak jauh dari tempat dara itu duduk bersamadhi di atas batu, tampak Adiwijaya duduk pula bersila di atas tanah, di depan gadis itu.
Akan tetapi Adiwijaya tidak bersamadhi, semenjak tadi ia memandang wajah dara itu dengan penuh keprihatinan dan penuh perhatian.
Entah sudah berapa puluh kali Adiwijaya menghela napas panjang dan pikirannya melayang-layang mengenangkan semua peristiwa yang terjadi, dan makin dipikir makin trenyuh hatinya, merasa amat kasihan dan terharu terhadap dara perkasa itu.
Adiwijaya maklum bahwa Retna Wilis menderita tekanan batin yang hebat, bahwa dara itu berduka sekali.
Tadi dara itu bersila semenjak pagi sekali di atas batu, dan kalau Retna Wilis bersamadhi seperti biasanya, kiranya Adiwijaya tidak akan gelisah dan tersiksa seperti itu batinnya.
Akan tetapi gadis itu bersila memejamkan mata, biarpun tidak pernah bergerak dan pernapasannya seperti orang tertidur atau bersamadhi, namun Adiwijaya yang juga biasa bersamadhi itu maklum bahwa dara ini memaksa diri untuk menyembunyikan perasaannya yang tertekan dan tersiksa.
Bahkan dara itu tidak sadar bahwa beberapa tetes air mata keluar melalui bulu matanya menitik turun ke atas pipi sampai mengering kembali, tidak sadar bahwa keningnya selalu berkerut dan wajahnya diselimuti kemuraman yang mengharukan.
"Aku berdosa......."
Pikirnya dengan trenyuh.
"Aku berdosa kepada ibunya, kepadanya. , kalau tidak karena aku, mungkin dia sudah dapat berkumpul kembali dengan ayah bundanya, hidup berbahagia sebagai puteri Patih Panjalu, sebagai puteri suami isteri yang menjadi tokoh terkenal, sakti mandraguna dan gagah perkasa. Akan tetapi dia membelaku, rela pergi bersamaku!"
Ingin Adiwijaya memukul kepalanya sendiri penuh penyesalan terhadap diri sendiri, terhadap semua perbuatannya dan kesesatannya yang lalu.
Patutkah seorang manusia jahat, manusia terkutuk seperti dia, mendapatkan pembelaan dari seorang seperti Retna Wilis?
Menjelang tengah hari Retna Wilis bergerak perlahan dan membuka matanya.
Mata yang suram, sayu dan membayangkan hati yang kosong dan perasaan yang tertindih penyesalan dan kedukaan.
Melihat Adiwijaya duduk bersila di atas tanah, memandangnya dengan muka sedih, Retna Wilis bertanya.
"Paman, sudah lamakah aku bersamadhi?"
Suara itu!
Begitu memelas, tergetar dan lirih.
Begitu mengharukan dan menusuk perasaan Adiwijaya dan tak tertahankan lagi Adiwijaya menangis!
Laki-laki yang dahulu menghadapi perbuatan keji sekeji-kejinya sambil tertawa itu kini menangis seperti anak kecil!
"Aduh Gusti Ayu Puteri Retna Wilis.
, mengapa Paduka membela hamba dan rela menentang rama ibu Paduka.?"
Katanya di antara isaknya. Retna Wilis memandang terbelalak sambil menurunkan kedua kakinya dari atas batu.
"Paman Adiwijaya! Andika....... menangis? Betapa anehnya. ! Mengapa aku membelamu? Tentu saja! Tidak boleh orang membunuhmu, biar ayah bundaku sendiri pun tidak boleh. Engkau satu--satunya orang yang baik kepadaku, satu-satunya sahabatku, bahkan kuanggap sebagai pengganti orang tuaku!"
"Aduh Dewa.......betapa kejinya Sindupati.......ah,tidak layak aku hidup di dunia ini."
Adiwijaya atau Sindupati makin tertusuk hatinya. Setiap ucapan yang keluar dari mulut Retna Wilis, kata demi kata merupakan keris berkarat yang menikam jantungnya.
"Sindupati? Apa maksudmu, Paman Adiwijaya?"
"Aduhai, Gusti Puteri yang mulia. Paduka bunuhlah hamba ini, untuk melepaskan hamba daripada siksaan batin karena dosa-dosa hamba yang setinggi langit. Bunuhlah hamba, Sang Puteri!"
Melihat pria setengah tua itu menangis mengguguk, Retna Wilis membuka matanya lebar-lebar.
"Paman, makin aneh saja kata-katamu. Biarpun orang sedunia mengatakan engkau jahat dan berdosa, bagiku engkau adalah orang yang paling baik."
"Tidak! Tidak! Paduka tidak tahu. Hamba sesungguhnya dahulu bernama Sindupati, dua puluh tahun lebih yang lalu hamba adalah seorang perwira Kerajaan Jenggala yang dikasihi gusti sinuwun sepuh di Jenggala. Akan tetapi hamba berani mempersunting bunga dalam taman terlarang, melakukan hubungan asmara dengan puteri sinuwun, sehingga hamba menjadi seorang pelarian yang terkutuk."
"Hemm, kesalahanmu tidak berapa hebat, Paman."
"Itu hanya permulaan saja. Hamba lalu menjadi perwira Blambangan, dan hamba bersama pasukan Blambangan melakukan fitnah kepada ibunda Paduka, melakukan fitnah kepada Puteri Endang Patibroto yang dahulu menjadi puteri mantu gusti sinuwun, isteri dari Pangeran Panji Rawit. Hamba melakukan fitnah dengan maksud-maksud melemahkan Jenggala yang menjadi musuh Blambangan karena tokoh Jenggala yang ditakuti adalah ibu Paduka."
Sindupati lalu menceritakan semua peristiwa ketika Endang Patibroto terfitnah sehingga mengakibatkan tewasnya Pangeran Panji Rawit. Retna Wilis mendengarkan dengan penuh perhatian.
"DEMIKIANLAH, Gusti Puteri. Hambalah orangnya yang telah mencelakakan secara tidak langsung kehidupan rumah tangga ibunda. Bukankah hamba seorang manusia terkutuk yang patut mad? Harap Paduka lekas turun tangan membunuh hamba, karena kebaikan Paduka merupakan slksaan hebat yang tak tertahankan oleh batin hamba."
Retna Wilis menggeleng kepis.
"Dosamu masih belum hebat, Paman. Engkau hanya melakukan tugas sebagal perajurit Blambangan dan apa yang kaulakukan terhadap kanjeng ibu, selain dalam pelaksanaan tugas, juga malah berjasa."
"Berjasa. ??"
Sindupati memandang heran. Retna Wilis tersenyum pahit.
"Engkau berjasa karena kalau kanjeng ibu tidak kehilangan Pangeran Panji Rawit tentu tidak akan bertemu dengan kanjeng rama, dan....... aku. tentu tidak akan ada!"
"Ah itu masih belum semua, Gusti Puteri. Dengarlah baik-baik! lbunda, paduka menjadi marah dan pasukan Jenggala dan Panjalu, juga bersama kanjeng rama paduka, menyerbu menghancur kan Blambangan. Hamba lalu lari lagi dan kemudian hamba bersekutu dengan utusan-utusan Cola dan Sriwijaya, terutama dengan Wasi Bagaspati dan dengan Suminten dan Pangeran Kukutan sehingga hamba berhasil menjadi patih Jenggala dengan nama Patih Warutama. Hamba telah mengorbankan nyawa banyak orang, tidak ada kejahatan dan kekejian yang tidak hamba lakukan, hamba peristeri kekasih hamba dan....... dan hamba peristeri pula anaknya, puterinya yang terlahir karena dahulu berhubungan dengan hamba, beristeri puteri hamba sendiri. Nah, adakah dosa yang lebih besar daripada itu?"
Retna Wilis menggeleng kepala, takjub.
"Tak dapat terbayangkan olehku betapa engkau pernah melakukan kesesatan sehebat itu, Paman. Akan tetapi itu bukan urusanku, dan kalau sekarang Paman menyesali perbuatan itu, baik sekali."
Adiwijaya makin penasaran.
"Akan tetapi, hamba. hamba malah membunuh mereka ibu dan anak, hamba pada waktu melarikan diri karena sekutu hamba dihancurkan, telah membunuh Pangeran Kukutan dan mencelakakan Suminten. Hamba. berganti nama menjadi Adiwijaya dan mengelabuhi paduka....... dosa hamba tak terampunkan."
Retna Wilis tetap ntenggeleng kepala.
"Akan tetapi setelah menjadi pembantuku, engkau selalu baik kepadaku, Paman."
"Hamba akui bahwa semenjak bertemu dengan Paduka, hamba kehilangan semua watak kotor dan keji, hamba telah mendapatkan pegangan dan telah bersumpah untuk bersetia kepada Paduka. Hamba menganggap Paduka seperti sesembahan hamba, seperti...... anak hamba yang hamba sayang , akan tetapi, hamba sungguh tidak patut, hamba seorang manusia terkutuk. Hamba mohon, bunuhlah hamba agar hamba terbebas daripada siksaan batin, Gusti."
"Tidak, Paman. Aku tidak akan membunuhmu. Engkau boleh jadi pernah menyeleweng dan jahat, akan tetapi aku pun bukan seorang baik-baik, dan segala kejahatan itu tidak dapat menandingi kedurhakaanku terhadap kanjeng rama dan kanjeng ibu. Tidak, Paman. Kita sama-sama jahat, karenanya kita dapat menyesali perbuatan kita berdua yang sesat, dapat sama-sama menderita siksaan batin dari penyesalan hati."
Tiba-tiba Adiwijaya atau Sindupati meloncat berdiri,peluhnya mengalir seperti air matanya.
"Retna Wilis, masih belum tergugah hatimu untuk membunuh aku? Sindupati seorang manusia berhati iblis! Dengarlah, Retna Wilis. Aku...... aku telah melakukan hal yang terkutuk. , Ketika engkau masih kecil di Wilis, aku pernah berkunjung kepada ibumu, Aku memancing ibumu sehingga engkau yang sedang berlatih di pohon ditinggalkan kemudian diculikoleh sekutuku, yaitu Ni Dewi Nilamanik dan Ki Kolohangkoro. Kemudian aku. dengar baik-baik, ketika ibumu sedang tidur, aku memukulnya pingsan dan aku aku memperkosanya!"
Retna Wilis mengeluarkan jerit lirih dan is pun meloncat bangun, berdiri berhadapan dengan Sindupati yang berwajah pucat sekali.
Mereka bertemu pandang, sejenak tak berkata-kata dan tidak bergerak, kemudian Sindupati berkata perlahan.
"Nah, cukuplah sekarang. Kau bunuhlah aku, Retna Wilis."
Akan tetapi, tiba-tiba sekali Retna Wills tersedu menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis.
"Tidak...... , aku tidak akan membunuhmu, aku. aku tetap lebih jahat daripada engkau, Paman. Aku lebih menyakitkan hati kanjeng ibu daripada perbuatanmu terhadapnya "
"Retna Wilis. !!"
Sindupati berseru setengah memekik, heran, menyesal, terharu dan berduka bercampur aduk menjadi satu dalam suaranya. Retna Wilis menurunkan kedua tangannya dan memandang Sindupati.
"Paman, kita sama-sama jahat, dan sama-sama menyesal, sama-sama tidak mempunyai masa depan yang terang, tidak tahu harus bagaimana melanjutkan hidup ini. Karena itu...... jangan jangan kau tinggalkan aku, Paman. Engkaulah satu-satunya sahabatku yang dapat kupercaya, engkau pengganti orang tuaku."
"Aduh, Gusti Puteri. !"
Sindupati menubruk kaki Retna Wilis, menyembah dan mencium ujung ibu jari kaki gadis itu, jantungnya seperti ditusuk-tusuk rasanya.
Retna Wilis berjongkok dan mengangkat bangun laki-laki setengah tua itu, memegang kedua pundak dan berkata.
"Jangan begitu, Paman. Mulai saat ini, Paman kuanggap sebagai paman kandung sendiri, mewakili kedua orang tuaku. Bimbinglah aku, Paman, berilah petunjuk bagaimana aku harus melanjutkan hidup ini."
Dengan suara serak saking terharu hatinya Sindupati berkata.
"Baiklah, Retna Wilis. Engkau kuanggap sebagai keponakanku, bahkan sebagai anakku yang akan kubela dengan seluruh jiwa ragaku. Jangan khawatir, Anakku. Aku akan menggunakan seluruh sisa hidupku demi membahagiakanmu dan akan menuntunmu untuk merubah jalan hidupmu melalui jalan kebenaran. Biarpun aku seorang bekas manusia sejahat-jahatnya aku masih belum lupa bagaimana caranya menjadi manusia baik. Bahkan semua pengalamanku dapat kujadikan contoh keburukan. Marilah, Anakku, masa depanmu tidak segelap yang kau khawatirkan. Pertama-tama lenyapkan rasa bencimu terhadap ayah bundamu. Sanggupkah?"
Retna Wilis mengangguk.
"Aku sebetulnya tidak membenci mereka, Paman. Hanya, aku. aku segan ditundukkan."
"Nah, kalau engkau benar menganggapku sebagai pamanmu, sebagai pengganti orang tuamu, engkau harus taat kepadaku. Tanamkan rasa sayang kepada ayah bundamu, dan buang jauh-jauh cita-citamu untuk menjadi ratu dunia!"
Retna Wilis mengangkat mukanya memandang, kemudian mengangguk pula.
"Akan tetapi, ayah bundaku, semua keluargaku, tentu akan memandang rendah kepadaku, seorang anak durhaka. !"
"Tidak, Anakku. Engkau akan menjadi seorang semulia--mulianya di dunia ini, akan menjadi tokoh penegak kebenaran dan orang tuamu, seluruh keluarga, kelak akan menjunjung tinggi padamu."
"Akan tetapi, bagaimana aku dapat melawan rangsangan hatiku sendiri, Paman? Ada sesuatu yang mendorongku, yang tertanam di lubuk hatiku semenjak aku menjadi murid Nini Bumigarba."
"Harus kaulawan dengan kekuatan batinmu, dan "
"Ha-ha-ha-ha, burung gagak berbulu hitam, bagaimana bisa mengubah bulu menjadi putih?"
Sindupati dan Retna Wilis terkejut dan membalikkan tubuh.
Kiranya di situ telah berdiri Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo!
"Ha-ha-ha-ha, Retna Wilis.
Mengapa engkau begin bodoh mau mendengarkan ocehan seorang pengkhianat kotor seperti dia ini?
Kedua tangannya, seluruh tubuhnya sendiri sudah penuh kotoran, mana mungkin dia dapat membersihkan engkau?
Lebih baik engkau bersekutu denganku, dan kalau kita bertiga membasmi tokoh-tokoh Jenggala dan Panjalu, engkau kelak akan dapat menjadi ratu terbesar di seluruh Jawa-dwipa!"
Melihat perubahan pada wajah Retna Wilis yang kembali bersikap dingin dan beringas, Sindupati maklum bahwa ucapan Wasi Bagaspati itu mendatangkan kesan di hati Retna Wilis.
Ia khawatir sekali kalau-kalau gadis itu terpengaruh oleh wataknya yang lama kembali, maka kemarahannya timbul dan dengan nekat is meloncat, menerkam dan menyerang Wasi Bagaspati!
Wasi Bagaspati menggerakkan tangannya, menyambut terjangan Sindupati dengan pukulan tangan miring.
"Krakkk!"
Tubuh Sindupati terlempar ke dekat kaki Retna Wilis dan sebagian besar tulang-tulang iganya patah-patah!
Melihat Sindupati menggeletak megap-megap di dekat kakinya, seketika lenyaplah pengaruh liar di hati Ratna Wilis.
Ia menubruk, berlutut di dekat tubuh yang sudah berkelojotan itu "Paman.......
Paman Sindupati.
Sindupati terengah-engah dan mengeluarkan bisikan yang lirih sekali.
"Anakku....... sadarlah....... lawanlah pengaruh buruk....... selamat tinggal....... selamat berjuang ke jalan kebenaran.......aku layak mati....... penuh dosa."
Tiba-tiba tubuhnya mengejang lalu lemas.
Sindupati, alias Warutama, alias Adiwijaya menghembuskan napas terakhir.
Retna Wilis bangkit perlahan-lahan, pandang matanya membuat Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo mengkirik.
"Eh, Retna Wilis, perlu apa mendengarkan ocehan orang sekarat? Lebih baik bersama kami mengejar kemuliaan hidup. Hidup di dunia hanya satu kali dan berapa lamanya orang hidup? Kalau tidak mengejar kemuliaan sekarang, kelak terlambat dan menyesal pun tiada gunanya lagi,"
Kata Wasi Bagaskolo.
"Manusia-manusia iblis!"
Tiba-tiba Retna Wilis meloncat cepat sekali menerjang Wasi Bagaskolo yang berdiri paling dekat. Kakek ini terkejut dan cepat menangkis.
"Dukkkk!"
Girang hati Wasi Bagaskolo ketika ia menangkis itu ia mendapat kenyataan bahwa tenaga Retna Wilis tidaklah sehebat pada pertandingan yang lalu.
Dia hanya terhuyung.
Hal ini menandakan bahwa kesaktian dara itu belum pulih kembali.
Hal ini memanglah benar.
Selain Retna Wilis masih menderita karena pertandingan yang lalu, juga dia menderita tekanan batin yang amat berat sehingga hal ini pun banyak mengurangi dan melemahkan tenaga sakti di tubuhnya.
Retna Wilis yang marah sekali melihat Sindupati tewas, juga maklum bahwa tenaganya masih belum pulih sebagai akibat ketika ia ditawan dan kemudian bertanding dengan kedua orang kakek itu, maka ia cepat mencabut pedang pusaka Sapudenta dari punggungnya.
Namun Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo yang sudah waspada dan maklum bahwa selain tenaga saktinya masih belum pulih, juga dara ini sedang menderita tekanan bath sehingga tidaklah sekuat biasa, tidak menjadi gentar biar mereka telah kehilangan senjata pusaka mereka.
"Retna Wilis, lebih baik engkau menyerah secara baik--baik, menjadi pengganti Dewi Nilamanik, menjadi seorang dewi penitisan Sang Bathari, hidup mulia dan penuh kesenangan. Menyerahlah daripada aku menggunakan kekerasan "
Retna Wilis tidak menjawab, melainkan mengeluarkan seruan keras dan tubuhnya sudah meluncur ke depan, tangannya memutar pedang pusaka Sapudenta dan berubah menjadi gulungan sinar panjang membabat ke arah tubuh ke dua orang kakek itu.
Namun Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo sudah mengelak dengan loncatan mundur, kemudian membalas dengan pukulan-pukulan sakti dari kanan Retna Wilis terus meloncat ke depan menghindarkan diri dan membalikkan tubuh, pedang di tangan, siap bertanding mati-matian.
Namun, tertindih oleh derita batin bertubi-tubi, dara ini menjadi agak pening dan diamuk oleh kemarahan sehingga ketenangannya goyah.
Hal ini menyebabkan serangan-serangannya seperti gerakan orang nekat tanpa perhitungan lagi, mengamuk dengan dorongan amarah yang bagaikan api menyala-nyala.
Betapapun juga, Wasi Bagaspati dan Wasi Bagaskolo yang mempunyai niat menawan dara ini hidup-hidup dan menaklukkannya untuk dapat menggunakan tenaganya, tidaklah dapat melaksanakan niat ini dengan mudah karena biarpun Retna Wills berkurang banyak kekuatannya, namun is masih merupakan lawan yang dahsyat.
Setelah lewat ratusan jurus, tiba-tiba Wasi Bagaskolo mengeluarkan aji-aji ilmu hitamnya, berteriak keras dan cuaca menjadi gelap karena timbul awan hitam menutup sinar matahari, bergumpal-gumpal di atas kepala mereka.
Kemudian, atas isyaratnya, Wasi Bagaskolo berseru keras dan menerjang Retna Wilis menjatuhkan diri ke atas tanah dan bergulingan menyerang ke arah kedua kaki dara perkasa itu.
Diserang secara buas ini, Retna Wilis agak terkejut dan cepat ia menggerakkan pedang ke bawah untuk melindungi kedua kakinya, bahkan lalu menusukkan pedangnya ke arah tubuh Bagaskolo yang menggelinding dekat ke arah tubuh Bagaskolo yang menggelinding dekat-dekat kakinya dengan kedua tangan bergerak mencengkeram.
Saat itu, Wasi Bagaspati yang sudah siap sedia dan meloncat ke atas lenyap ke dalam uap atau awan hitam, meluncur ke bawah dan menerkam Retna Wilis.
Dara itu sedang menusuk ke bawah ketika mendengar berkesiurnya angin dari atas, maklum bahwa Wasi Bagaspati menerjangnya secara hebat, maka ia lalu meloncat dan menarik kakinya untuk menghindarkan cengkeraman Wasi Bagaskolo, dari bawah dan memutar pergelangan tangan sehingga pedangnya membalik dan membacok ke atas memapaki tubuh Wasi Bagaspati.
Wasi Bagaspati yang memang hanya mengacaukan lawan agar perhatiannya terpecah, sudah dapat menghindar dan meloncat ke belakang tubuh Retna Wills dan tiba-tiba dara ini merasa betapa kedua kakinya sudah direnggut dan dipeluk oleh kedua lengan Wasi Bagaskolo yang kuat!
Ia mengeluarkan seruan lirih dan hendak menggerakkan pedang menusuk punggung Wasi Bagaskolo, akan tetapi perhatiannya yang dicurahkan ke bawah itu, biarpun hanya beberapa detik, cukup bagi Wasi Bagaspati untuk bergerak, tangan kin membabat pergelangan tangan Retna Wilis yang memegang pedang dan tangan kanan mencengkeram pedang pusaka Sapudenta!
"Eiihhhhh!!
Retna Wills memekik, mengerahkan tenaga mempertahankan pedang dan dua tenaga sakti raksasa yang memperebutkan pedang itu membuat pedang terlepas dari pegangan Retna Wilis, bukan terampas lawan melainkan mencelat jauh dan lenyap ke dalam jurang!
Retna Wilis marah sekali, tiba-tiba tubuhnya meronta, bergoyang semua dengan getaran hebat sehingga Wasi Bagaspati terpaksa meloncat ke belakang, sedangkan Wasi Bagaskolo yang memeluk kedua kaki itu dapat dilontarkan pula sampai lima meter jauhnya di mana kakek ini jatuh dan bergulingan lalu meloncat bangun.
Mereka berdua kini tertawa menyeringai, girang bahwa mereka berhasil melucuti dara itu dan dalam keadaan tak bersenjata tentu akan lebih mudah ditangkap.
Perasan inilah yang mencelakakan Wasi Bagaskolo.
Orang yang mabuk kesenangan akan berkurang kewaspadaannya, memandang rendah lawan dan karenanya menjadi lengah.
Mereka tidak tahu bahwa dalam gebrakan terakhir tadi, Retna Wilis yang kehilangan senjata telah menyambar tanah pasir ke dalam genggaman tangan kanannya, diam-diam ia mengerahkan aji kesaktiannya sehingga tanah pasir yang digenggamnya itu menjadi senjata yang luar biasa ampuhnya, yaitu Pasir -sakti, pasir yang berubah seperti bubuk baja yang mengandung bisa!
Wasi Bagaskolo yang kini merasa bahwa dia sanggup menandingi dan mengalahkan dara yang sudah lemah itu, mengeluarkan seruan girang dan menerjang maju, menggunakan kedua tangan hendak mencengkeram, akan tetapi dia didahului oleh Wasi Bagaspati yang melihat gerakan adik seperguruannya dan hendak membantu.
Wasi Bagaspati lebih hati-hati dan maklum bahwa kalau dara itu tidak ia desak lebih dulu, masih sukar untuk dapat ditangkap adik seperguruannya.
Maka ia menerjang maju dengan cepat dari sebelah ldri Retna Wills, mengirim pukulan tangan kiri dengan tenaga sakti, beberapa detik lebih dulu dari gerakan Wasi Bagaskolo yang hendak menerkam dari depan.
"Plakkk. !!"
Tangan kin Retna Wilis menangkis pukulan ini tanpa menoleh karena perhatiannya tetap ditujukan kepada Wasi Bagaskolo di depannya.
Biarpun pukulan sakti Wasi Bagaspati yang ditangkisnya itu membuat tangan kirinya terasa nyeri dan lengannya seperti lumpuh, hal ini tidak mengurangi perhatiannya ke depan.
Pada saat itu Wasi Bagaskolo menubruk dan Retna Wilis menyambitkan pasir yang berada di dalam genggaman tangan kanannya.
Sinar hitam menyambar ke arah muka dan dada Wasi Bagaskolo dari jarak dekat sekali.
"Augggghhhrrr"
Pekik mengerikan keluar dari kerongkongan Wasi Bagaskolo yang tiba-tiba terjengkang ke belakang, roboh terbanting dan kedua tangannya yang tadi membentuk cakar hendak mencengkeram tubuh Retna Wills, kini mencakari muka dan dadanya sendiri sampai kulit dan dagingnya robek-robek!
"Dessss !!"
Tubuh Retna Wills terbanting keras dan terguling-guling.
Hebat sekali pukulan yang dilakukan Wasi Bagaspati yang marah menyaksikan tewasnya Wasi Bagaskolo sehingga dia mengirim pukulan yang mengenai punggung Retna Wills.
Dara itu bergulingan dan darah mengucur dari bibirnya, akan tetapi ia masih dapat bangkit dengan tubuh lemah namun semangat menyala-nyala, pantang mundur pantang menyerah, siap untuk melawan sampai mati.
Pandang matanya berkunang, kepalanya pening, tubuhnya bergoyang-goyang, namun sedikit pun tidak ada keluhan keluar dari mulutnya yang berlepotan darahnya sendiri.
"Engkau....... engkau membunuh adikku ?"
Wasi Bagaspati kembali menerjang dengan pukulan sakti.
Retna Wills mengangkat tangan menangkis dan kembali ia roboh terguling-guling, akan tetapi biarpun dengan susah payah, ia masih dapat bangkit kembali.
Ketika Wasi Bagaspati yang sudah marah sekali itu lari menghampiri, tiba-tiba terdengar suara halus.
"Sahabatku, mengapa Andika melanggar janji?"
Dan di depannya telah berdiri dengan sabar dan kening dikerutkan sambil menggeleng-geleng kepala.
Sejenak Wasi Bagaspati memandang penuh kemarahan, kemudian ia mendengus dan mengham piri mayat Wasi Bagaskolo, mengambilnya dan memanggulnya, kemudian tanpa berkata apa-apa lagi ia hendak pergi meninggalkan tempat itu.
Akan tetapi dengan gerakan cepat sekali, amat mengherankan bagi tubuhnya yang gendut pendek, Biku Janapati telah menyusulnya ketika Wasi Bagaspati hendak menuruni sebuah jurang.
"Berhenti dulu, Wasi Bagaspati,"
Kata Biku Janapati. Wasi Bagaspati yang memanggul mayat Wasi Bagaskolo membalikkan tubuh dan sikapnya beringas.
"Andika mau apa, Biku Janapati?"
"Aku hendak menagih janji, dan aku hendak mempertanggungjawabkan perbuatanku ketika menanggungmu, sahabatku Wasi Bagaspati. Andika seorang yang sudah banyak mempelajari ilmu, tentu saja tadinya kuanggap bahwa Andika benar-benar telah dapat insyaf dan sadar, karena itu aku berani menanggungmu. Siapa tahu, kiranya Andika telah menjadi hamba nafsu yang paling rendah sehingga Andika membutakan mata hati dan tidak melihat lagi antara baik dan buruk. Aku telah menanggungmu dengan segala akibatnya dan melihat betapa engkau masih saja menuruti nafsu angkara murka, terpaksa aku sendiri yang turun tangan membasmimu."
Wasi Bagaspati marah sekali dan melemparkan mayat Wasi Bagaskolo ke atas tanah.
Karena dia berdiri di pinggir jurang, maka tanpa ia sengaja mayat itu terlempar ke tepi dan terus menggelundung memasuki jurang!
A kan tetapi, saking marahnya kepada Biku Janapati, Wasi Bagaspati tidak memperdulikan hal itu dan ia menudingkan telunjuknya ke arah muka kakek gundul itu.
"Keparat engkau Janapati! Engkau yang menjadi sahabatku semenjak dari tanah barat, kini hendak memusuhiku dan membela orang keturunan Mataram?"
"Andika yang telah lupa akan segala awal dan akhir, Wasi Bagaspati. Lupakah Andika bahwa sesungguhnya Andika hanya ikut dan membonceng kepada kami utusan....... Sriwijaya. ketika memasuki Jawadwipa? Lupakah bahwa kalau tidak bersama utusan Sriwijaya yang masih ada hubungan keluarga dengan Mataram, Andika dan para pengikut Andika tidak mungkin dapat tiba di sini? Dahulu Andika berjanji untuk memperkembangkan Agama Shiwa, akan tetapi setelah tiba di sini Andika mengumbar angkara murka. Berkali-kali saya peringatkan, dan yang terakhir malah saya menebus nyawa Andika dari tangan Bagus Seta dengan tanggung jawab sepenuhnya. Sekarang, tiada lain jalan bagiku, terpaksa hams melenyapkan Andika yang selalu menjadi pengacau ketenteraman."
"Pendeta gundul yang sombong! Kaukira aku takut kepadamu?"
Wasi Bagaspati berteriak dan menerjang Biku Janapati.
"Sadhu-sadhu-sadhu....... siapa mengira bahwa setua ini hamba terpaksa melakukan dosa lagi."
Kata Biku Janapati yang cepat menangkis dan balas menyerang.
Dua orang kakek sakti itu segera bertanding di pinggir jurang dengan seru.
Retna Wilis yang sudah terluka itu ketika terbanting tadi dapat bangkit kembali dengan susah payah dan siap menghadapi pukulan lawan terakhir.
Akan tetapi ia melihat munculnya Biku Janapati dan betapa pendeta ini membelanya.
ia menjadi lemas dan limbung, tubuhnya terhuyung hampir terguling, kepalanya pening.
Sebuah lengan dengan halus dan lemah-lembut merangkul pundaknya dan mencegahnya roboh terguling.
Retna Wilis merasa bahwa hanya lengan Adiwijaya sajalah yang akan menyentuhnya dengan kasih sayang seperti itu, maka ia memejamkan matanya.
Akan tetapi ia teringat bahwa pamannya itu telah tewas, maka cepat ia membuka mata dan menoleh.
Jantungnya berdebar kencang ketika ia melihat bahwa yang merangkul pundaknya itu bukan lain adalah Bagus Seta, yang memandangnya dengan tersenyum dan tangan kanan pemuda itu telah memegang pedang Sapudenta yang tadi hilang terjatuh ke dalam jurang.
"Eng....... engkau....... Bagus Seta. ?"
Retna Wilis bertanya gagap dan melepaskan rangkulan pemuda itu, membalikkan tubuh menghadapinya.
"Benar, adikku Retna Wills. Aku rakandamu Bagus Seta yang selalu membayangimu."
"Berikan pedangku itu!"
Retna Wilis berkata, memaksa diri bersikap gagah biarpun seluruh tubuhnya lemas.
"Hendak kau pakai untuk apakah? Untuk membunuhku sebagai murid Eyang Bhagawan Ekadenta?"
"Ohh, tidak, tidak. ! Akan kupakai membunuh Wasi Bagaspati!"
Bagus Seta tersenyum, memegang tangan adiknya, menariknya dan menyarungkan pedang Sapudenta di sarung pedang yang menempel di punggung Retna Wilis.
"Jangan mencampuri urusan mereka, Adikku. Lihat, mereka berdua datang ke tanah air kita tanpa ada yang mengundang, keduanya menimbulkan kekeruhan dengan cara mereka sendiri dan sekarang biarkanlah keduanya menyelesaikan segala persoalan yang timbul sebagai akibat dari perbuatan mereka sendiri. Mulai sekarang, berhati--hatilah dalam melangkahkan sesuatu, Adikku, karena setiap langkah, setiap perbuatan kita menjadi sebab timbulnya akibat di kemudian hari."
Kita akan memetik setiap buah yang tumbuh dari pohon yang kita tanam sendiri, oleh karena itu, kita harus dapat memilih pohon perbuatan yang baik agar buahnya pun kelak buah yang baik.
Semua hal yang menimpa din kita adalah hasil daripada perbuatan kita sendiri, Adikku sayang, karena itu kita harus menjaga perbuatan dengan jalan membersihkan hati dan pikiran sebab perbuatan timbul daripada hati dan pikiran."
Kalau hati dan pikiran kita bersih, perbuatan kita pun tentu bersih, sebaliknya hati dan pikiran kotor tak mungkin menimbulkan perbuatan yang bersih."
Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras disusul pekik yang menyeramkan keluar dari dalam jurang di depan.
Kedua orang kakek yang bertanding tidak tampak lagi dan perlahan-lahan Bagus Seta menarik tubuh Retna Wilis yang dirangkul pundaknya itu mendekati tepi jurang lalu menjenguk ke bawah.
Jauh di dasar jurang, di antara batu--batu dan air sungai kecil, tampak menggelatak tiga mayat orang dalam keadaan remuk, yaitu mayat dari Wasi Bagaspati, Biku Janapati, dan Wasi Bagaskolo.
Melihat mayat-mayat itu, Retna Wilis teringat akan mayat Sindupati.
ia menengok, memandang mayat itu, melepaskan rangkulan Bagus Seta dan lari menghampiri, berlutut dan menangisi mayat Sindupati.
Bagus Seta berjalan mendekati, dan di antara isak tangis Retna Wilis, terdengar suaranya.
"Berbahagialah dia ini yang telah sadar dan bertobat daripada dosa-dosanya sehingga mati dalam keadaan sadar. Riwayat hidup Sindupati ini dapat dijadikan tauladan dan peringatan bagi kita, Retna Wilis, bahwa tiada perbuatan yang menyeleweng daripada kebenaran akan mendatangkan kebahagiaan. Sikapnya yang baik sekali terhadapmu, sedikitnya telah menebus sebagian daripada dosa-dosanya yang lalu, dan nyatanya, dalam saat terakhir ia telah sadar akan dosa-dosanya dan bertobat. Sadar akan dosa sendiri dan bertobat merupakan kebahagiaan besar, Adikku."
Biarpun menangisi mayat Sindupati, namun setiap kata--kata yang keluar dari mulut Bagus Seta terdengar jelas oleh Retna Wilis. ia lalu mengangkat mukanya yang pucat dan basah air mata.
"Adakah....... harapan bagiku....... yang murtad yang penuh noda dan dosa ini. untuk kembali ke jalan benar?"
Bagus Seta tersenyum, merangkul adiknya dan diajak berdiri.
"Tidak ada dosa yang takkan terhapus asal dengan tebusan penyesalan dan bertobat lahir batin tanpa paksaan, melainkan dengan kesadaran. Engkau terluka Retna Wilis. Mari kita menyempurna kan jenazah Sindupati, kemudian ikutlah dengan aku, kakakmu yang akan membimbingmu ke arah jalan benar dan kebahagiaan."
Mereka lalu membuat api besar dan membakar jenazah Sindupati.
Abunya mereka tanam di hutan itu dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali di pantai laut selatan tampak Bagus Seta dan Retna Wilis bergandengan tangan, berjalan perlahan menuju ke timur di mana sinar matahari yang cerah telah membakar angkasa.
Kedua orang kakak beradik ini tidak merasa betapa lidah air laut menjilat-jilat kaki mereka karena mereka seperti terpesona atau tertarik oleh sinar matahari kemerahan yang makin lama makin terang itu.
Keduanya mendapatkan keyakinan, terutama sekali Retna Wilis, bahwa seperti halnya sinar matahari pagi, masa depannya dengan bimbingan kakaknya akan makin gemilang.
Bayang-bayang hitam kedua orang muda itu makin tampak nyata mengikuti di belakang mereka.
Bayangan kedua kakak beradik sakti mandraguna yang menuju ke arah munculnya Sang Surya itu makin lama makin mengecil, merupakan dua titik hitam yang lambat laun lenyap, meninggalkan ombak-ombak memerah di pantai yang mereka lalul tadi, meninggalkan jejak kaki di pasir yang terhapus oleh air laut.
Laut dan pasir tidak kehilangan sesuatu, tidak pernah merasa kehilangan karena mereka pun tidak merasa mendapatkan sesuatu.
Akan tetapi kita sebagai manusia, merasa kehilangan dengan lenyapnya kedua orang kakak beradik, Bagus Seta dan Retna Wilis itu.
Kita merasa kehilangan di samping menemukan hal-hal yang amat berguna, yaitu kenang-kenangan akan segala peristiwa yang terjadi dalam cerita "Perawan Lembah Wilis"
Yang bersama menghilangnya kedua kakak beradik itu pun akan berakhir sampai di sini.
Selalu menjadi harapan pengarang setiap mengakhiri karangannya, semoga karangan ini sedikit banyak mengandung manfaat bagi para pembaca, bukan hanya mendatangkan keyakinan yang menebalkan iman akan kekuasaan Tuhan Yang Maha Kasih dan Maha Adil.
Karena sesungguhnya manusia yang dapat menyerahkan segala sesuatu ke tangan Tuhan tanpa meninggalkan kewajiban ikhtiar, yang penuh kepercayaan akan Keputusan Tuhan, yang dapat menerima segala yang menimpanya dengan kesadaran bahwa Kehendak Tuhan tak dapat ditentang sehingga tiada rasa penasaran dan kesombongan dalam gagal dan hasil, manusia inilah yang dalam hidupnya akan dapat menikmati ketenangan, ketenteraman dan kebahagiaan.
Sampai jumpa kembali di dalam karangan mendatang!
TAMAT jisokam,
http.//indozone.net
/literatures/literature/937 3 November 2010 jam 5.00pm .. Perawan Lembah Wilis (Seri ke 04 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) .. CerSil KhoPingHoo .
https.//www.facebook.com/groups/KhoPingHoo
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 7
Baca Juga: Suling Naga 11