Ceritasilat Novel Online

Sepasang Garuda Putih 1

Eps 1 Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo

Baca online Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo

Cersil Sepasang Garuda Putih - Kho Ping Hoo.

Sepasang Garuda Putih (seri ke 05 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01 Suara ombak mendesis, mendidih dan menggelegar di sepanjang Pantai Laut Kidul.

Tiada henti-hentinya, siang malam, Bagaikan tetabuhan yang mengiringi kiprah alam seisinya.

Ombak menepis di pantai pasir mendesis-desis, tampak ombak memanjang berkepala putih berlenggang-lenggok seperti seekor naga disusul naga lain, kemudian memecah di pantai yang berpasir mendesis-desis.

Di sana sini terdengar ombak menggelegar menghantam batu karang, mengguncangkan batu karang itu dan air muncrat menjadi atom, kalau tersinar matahari menciptakan pelangi.

Alangkah perkasanya alam, alangkah indah, juga alangkah buasnya ulah ombak di pantai, menggulung pasir yang dimuntahkan di pantai.

Pemuda ini memiliki tubuh yang sedang namun tegap, berdirinya tegak dan lenggangnya seperti langkah harimau lapar.

Wajahnya amat tampan dan manis, dengan dahi lebar dan sepasang matanya mencorong namun mengandung kelembutan, hidungnya mancung dan mulutnya selalu terhias senyum yang menarik dan menyejukkan hati yang memandang.

Dagunya yang sedikit berlekuk menunjukkan kejantanan dan kegagahan.

Kulitnya kuning bersih, seorang pemuda yang ganteng seperti Arjuna.

Wanita yang berjalan di sampingnya juga tidak kalah menariknya, ia seorang dara yang usianya paling banyak dua puluh tahun.

Rambutnya panjang sampai ke pinggang, namun digelung di belakang kepala dengan rapi.

Pakaiannya juga dari kain putih bersih.

Dara ini memiliki tubuh yang ramping padat dengan lekuk lengkung tubuh yang sempurna, bagaikan seorang dewi dari kahyangan.

Dahinya tertutup sinom melingkar-lingkar, alisnya kecil melengkung dan hitam seperti dilukis, matanya seperti sepasang bintang kejora dengan kerling tajam menghunjam, hidungnya mancung dan mulutnya amat manis dengan bibir yang merah membasah, dihias lesung pipit di pipi kiri, dagunya runcing dan lehernya agak panjang berkulit putih mulus.

Orang yang bersua dengan mereka di tempat hening itu tentu akan mengira bahwa mereka penjelmaan Bathara Komajaya dan Bathari Komaratih, yaitu Dewa dan Dewi Asmara.

Akan tetapi kalau orang memperhatikan sinar mencorong dari mata mereka, apalagi melihat adanya sebatang pedang di punggung dara itu, maka pandangan orang itu akan menjadi kagum dan juga jerih.

Siapakah gerangan jaka bagus dan perawan ayu ini?

Mereka adalah kakak beradik tiri, satu ayah berlainan ibu.

Ksatria gagah dan tampan itu bernama Bagus Seto, putera dari Adipati Tejolaksono dan Ayu Candra.

Sejak kecil Bagus Seto telah digembleng oleh orang-orang yang maha sakti.

Mula-mula dijadikan murid oleh Ki Tunggaljiwo selama sepuluh tahun, kemudian dijadikan murid seorang pertapa yang maha sakti dengan julukan Bhagawan Ekadenta, juga disebut Ki Jitendryo dan Bhagawan Sirnasariro.

Setelah menerima gemblengan Bhagawan Ekadenta, Bagus Seto menjadi seorang pemuda yang maha sakti, memiliki kekuatan lahir batin yang dahsyat.

Takkan ada seorangpun dapat mengira bahwa dalam diri seorang pemuda tampan halus seperti Bagus Seto itu terdapat kekuatan yang amat dahsyat.

Dara jelita yang kelihatan gagah itu bernama Retno Wilis.

Ia juga puteri Adipati Tejolaksono akan tetapi ibunya adalah Endang Patibroto.

Walaupun kedua ayah ibunya merupakan orang-orang sakti, akan tetapi sejak kecil ia digembleng oleh seorang nenek maha sakti yang berjuluk Nini Bumigarbo.

Sejak kecil ia berpakaian serba hijau, sesuai dengan namanya Retno Wilis (Dara Hijau), akan tetapi setelah ia merantau dengan kakaknya, Bagus Seto menganjurkan agar adiknya memakai pakaian serba putih seperti yang dipakainya.

Dari Nenek sakti Nini Bumigarbo, Retno Wilis menerima gemblengan banyak ilmu, di antaranya yang hebat adalah Aji Wisolangking, semacam ilmu pukulan mangandung hawa beracun panas, Aji Argoselo yang membuat ia dapat membikin tubuhnya menjadi berat sekali, lalu Aji Pancaroba ilmu silat yang mengandalkan kecepatan gerak.

Iapun menerima dua macam senjata yang ampuh, pertama Pedang Sapudento yang ampuh sekali dan senjata rahasia Pasir Sekti, semacam pasir yang juga mengandung racun yang mematikan.

Demikianlah, kedua kakak beradik yang tampak demikian tampan dan cantik, demikian lemah lembut, sesungguhnya merupakan sepasang orang muda yang sakti, dan kedatangan mereka dari barat menuju ke timur itu dapat diumpamakan Sepasang Garuda Putih yang melayang-layang datang sebagai sepasang pendekar yang tujuan perjalanan hidupnya hanya untuk berdharma-bakti kepada rakyat jelata, menegakkan kebenaran dan keadilan membela yang lemah tertindas, dan menentang yang kuat menindas, memihakyang baik dan menentang yang jahat.

Selama melakukan perantauan dengan kakaknya, Retno Wilis banyak mendapat petunjuk kakaknya itu tentang keadaan hidup dan cara-cara menegakkan Kebenaran dan keadilan.

"Kakang Bagus,"

Ia pernah bertanya.

"engkau selalu mengatakan bahwa aku harus memihak yang baik dan benar menentang yang salah dan jahat. Akan tetapi, kakang, bukankah baik dan jahat itu hanya merupakan pendapat dari pada si penilai belaka? Dan engkau pernah mengatakan bahwa penilaian adalah palsu karena penilaian itu berdasarkan rasa suka tidak suka yang timbul dari diri merasa diuntungkan atau dirugikan. Bagaimana kalau penilaianku keliru? Kalau yang kuanggap benar itu sebetulnya salah?"

"Bagus, pertanyaanmu ini bagus dan menunjukkan bahwa engkau sudah mulai dewasa dalam menelaah tentang kehidupan, adikku yang ayu,"

Jawab Bagus Seto sambil tersenyum.

"Memang tidak salah, penilaian itu palsu sepanjang penilaian itu diberlakukan untuk diri sendiri. Setiap orang akan selalu menilai orang lain yang menguntungkannya dan menyenangkannya sebagai orang baik, dan akan selalu menilai orang lain yang merugikan atau menyusahkan sebagai orang jahat. Akan tetapi kita menilai bukan demi kepentingan diri pribadi, melainkan demi kepentingan mereka yang tertindas. Dengan demikian, menilai seseorang itu tidaklah sukar. Kalau dia adigang-adigung-adiguna, mengandalkan kekuatan dan kekuasaannya untuk menyengsarakan orang lain, menyusahkan orang lain, menindas orang lain dengan keangkara murkaannya, nah orang demikian itulah yang kita anggap jahat dan perlu kita menentangnya. Namun orang-orang lemah tak berdaya, tanpa kesalahan mengalami penekanan dari orang-orang jahat itu, merekalah yang harus kita lindungi dan bela. Adapun orang baik adalah mereka yang bijaksana dan yang selalu berusaha untuk menolong orang lain, menyenangkan orang lain, akan tetapi yang tidak menyadari bahwa dia berbuat kebaikan, yang tidak menganggap perbuatannya itu sebagai suatu kebaikan."

"Wah, di sini aku agak bingung, kakang. Orang berbuat kebaikan tanpa menyadari bahwa dia berbuat kebaikan dan tidak menganggap bahwa perbuatannya itu suatu kebaikan. Bagaimana ini?"

"Kebaikan adalah perbuatan yang wajar, tidak dibuat-buat dan timbul dari sanubari yang penuh welas asih. Kalau aku sengaja melakukan kebaikan, dengan sadar bahwa aku telah berbuat baik, maka kesengajaan itu pasti berpamrih, Retno. Itu bukan kebaikan lagi namanya, karena dia mengharapkan imbalan, setidaknya imbalan senang hati atau puas diri karena telah berbuat baik."

"Lalu bagaimana orang harus melakukan kebaikan tanpa menyadari bahwa yang dilakukan itu kebaikan?"

"Dengan mawas diri, adikku. Dengan menganggap bahwa segala yang kita lakukan adalah suatu kewajiban dalam kehidupan. Menolong sesama hidup adalah suatu kewajiban, bukan kebaikan. Menentang kejahatan adalah suatu kewajiban, bukan kebencian. Mengertikah engkau adikku?"

Retno Wilis mengangguk-angguk.

"Mengerti, akan tetapi aku tidak yakin apakah aku dapat melaksanakan itu. Bagaimana mungkin aku dapat terhindar dari perasaan khawatir, susah, marah, senang dan benci?"

"Ikuti saja apabila engkau sedang dikuasai perasaan-perasaan itu, Retno, dan engkau akhirnya akan mengenal mereka dan yakin bahwa mereka itu BUKAN ENGKAU, melainkan nafsu daya-daya rendah yang berlomba untuk menguasai jiwamu."

Kalau kakaknya sudah bicara setinggi itu, Retno Wilis hanya mengangguk saja dan diam se ribu bahasa.

"Aku tahu bahwa engkau masih bimbang dan belum mengerti benar, adikku. Memang engkau benar, seorang manusia tidak akan dapat berpisah dari nafsu daya rendah yang menjadi pesertanya dalam kehidupan ini. Tanpa adanya nafsu-nafsu itu kita tidak akan dapat hidup seperti sekarang ini, adikku. Berkat dorongan nafsu-nafsu itulah maka kita manusia dapat membuat segala macam barang untuk keenakan hidup kita. Akan tetapi, yang harus dijaga adalah agar daya-daya rendah itu tetap menjadi peserta dan membantu kita, jangan sampai mereka itu menjadi najikan yang memperhamba kita, karena kalau demikian halnya kita akan menjadi permainan nafsu kita sendiri dan akan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kebijakan."

"Kalau begitu, kita berada dalam keadaan yang serba sulit, kakang. Kita tidak dapat hidup tanpa nafsu, akan tetapi kita dapat celaka oleh nafsu itu sendiri. Lalu apa yang dapat kita lakukan? Mengedalikan nafsu kita sendiri agar tidak menjadi majikan yang memperhamba diri kita?"

"Mengedalikan nafsu merupakan pekerjaan yang hanya mudah diucapkan, namun amat sukar dilakukan. Nafsu itu seperti api. Kalau terkendali, amatlah berguna bagi kehidupan kita manusia, akan tetapi kalau dibiarkan bebas, ia akan mengamuk dan membakar segala apapun sampai ludes. Akan tetapi hampir tidak munkin bagi kita untuk mengendalikan peserta kita yang satu ini, karena nafsu telah menguasai diri kita sampai ke tulang sumsum. Satu-satunya jalan adalah iman dan penyerahan diri kepada kekuasaan Hyang Widi, karena hanya kekuasaan Hyang Widi yang akan mampu menundukkan nafsu dan mengendalikan nafsu dalam kedudukan yang sebenarnya, yaitu menjadi peserta dan pembantu bagi manusia. Menyerah dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan kepada Hyang Widi dan Hyang Widi akan mengulurkan tanganNya untuk membimbing kita sehingga kita akan mampu menguasai nafsu kita sendiri."

Retno Wilis mengangguk-angguk, sudah sering kakangnya itu menasehatkan kepadanya agar ia selalu ingat kepada Hyang Widi, selalu menyerah pasrah kepadaNya, dan iapun maklum betapa sukarnya pekerjaan pasrah yang kelihatannya hanya sepele itu.

Nafsu selalu mengamuk dan berbisik agar ia tidak mudah pasrah begitu saja, nafsu selalu berusaha agar ia menjauhkan diri dari Hyang Widi.

Mereka kini tiba di sebuah pantai yang indah, penuh dengan hutan dan tebing karang yang merupakan dinding yang membendung air laut yang setiap saat bergelora.

Ada pula bagian yang mengandung pasir putih yang bersih dan lembut.

"Matahari mulai terik, di sana ada pohon-pohon dan kulihat terdapat pula pohon kelapa. Mari kita mengaso di tempat yang teduh sambil mencari dawegan (kelapa muda), Retno."

Mereka lalu duduk di bawah sebatang pohon yang besar yang lebat daunnya, kemudian Retno Wilis menggunakan dua potong batu sebesar kepalan tangannya, menyambit ke arah buah-buah kelapa muda yang bergantungan di pohon.

Sambitannya tepat mengenai gagang buah dan runtuhlah dua butir buah kelapa muda.

Retno Wilis lalu menggunakan jari-jari tangannya yang mungil dan halus itu, dengan mudahnya ia mengupas kulitnya seperti orang mengupas kulit pisang saja, kemudian dengan telunjuknya ia melubang buah-buah itu dan memberikan sebutir kepada kakaknya.

Bagus Seta tersenyum melihat ulah adiknya dan keduanya lalu minum buah kelapa muda itu dengan nikmat sekali.

Mereka berdua tidak tahu bahwa di seberang hutan itu terdapat sebuah dusun nelayan dan di dusun itu terjadi peristiwa yang menggegerkan penduduk.

Pagi itu, entah dari mana datangnya, muncul lima orang laki-laki yang berwajah bengis, bertubuh kokoh kekar di dusun itu.

Mereka lalu menghampiri rumah Ki Wirodemung, sesepuh dusun itu yang oleh penduduk sudah dianggap pemimpin mereka.

Lima orang itu dengan sikap kasar memasuki rumah dan menanyakan di mana adanya tuan rumah.

Beberapa orang pemuda yang kebetulan berada di situ menegur para tamu yang tidak sopan itu, akan tetapi seorang di antara mereka sudah meloncat ke depan dan menghajar empat orang pemuda itu dengan kaki tangannya.

Empat orang pemuda itu mencoba melawan, namun sia-sia karena orang itu ternyata kuat dan tangkas sekali.

Pada waktu itu, dusun sedang sepi karena kau m prianya sebagian besar sudah berangkat bekerja di ladang, sebagian lagi pergi mencari ikan di laut.

Ki Wirodemung yang sudah berusia lima puluh tahun itu tergopoh-gopoh keluar mendengar ke ributan di depan rumahnya.

Dia melihat empat orang pemuda babak belur dihajar seorang bertubuh tinggi besar dan berotot kekar.

Dia menghampiri lima orang itu dan bertanya.

"Eh, Kisanak, andika sekalian siapa dan dari manakah? Perlu apa mencari saya dan mengapa pula memukuli orang-orang ini?"

Seorang di antara mereka, yang berkumis melintang, melangkah maju dan tertawa bergelak sambil bertolak pinggang.

"Ha -ha-ha, andika yang bernama Ki Wirodemung? Kami mendengar bahwa andika orang yang terkaya di dusun ini, dan lebih dari itu, andika mempunyai seorang anak perawan ayu. Nah, untuk itulah kami datang. Serahkan harta dan anak perawanmu kepada kami dengan baik-baik agar kami tidak perlu menggunakan kekerasan!"

Empat orang kawannya tersenyum menyeringai dengan sikap menakutkan.

Mendengar ucapan ini dan melihat sikap mereka, Ki Wirodemung mengerutkan alisnya dan cepat dia berlari ke sudut ruangan depan lalu dengan gencar memukul kentongan bambu yang tergantung di s itu.

Lima orang itu saling pandang sambil tertawa-tawa.

Sebentar saja banyak orang datang berlarian dan kurang lebih dua puluh orang laki-laki penduduk dusun itu yang kebetulan belum pergi meninggalkan rumah, sudah datang berkumpul.

Melihat penduduk sudah berdatangan, Ki Wirodemung menuding ke arah lima orang itu dan membentak.

"Orang-orang kurang ajar, lekas kalian minggat dari sini kalau tidak ingin kami hajar!"

Melihat dua puluh orang penduduk itu berkumpul dan kini mengepung mereka, si kumis melintang tertawa lagi bergelak.

"Ha-ha-ha, kalian penduduk dusun bodoh hendak melawan kami, Lima Macan Hutan Suro? Apa kalian ingin mampus?"

Ki Wirodemung sudah menyambar sebatang tombak dari ruangan depan dan menudingkan telunjuknya kepada si kumis melintang dan berteriak.

"Saudara-saudara, mereka berlima adalah perampok-perampok jahat, mari kita basmi mereka!"

Orang-orang dusun itu memang sudah membawa alat apa saja untuk dapat dijadikan senjata ketika mereka mendengar kentongan dipukul tanda bahaya tadi.

Kini mereka mengacungkan arit, pecok, linggis atau pacul dan menyerbu ke arah lima orang itu.

Akan tetapi, lima orang itu menyambut mereka dengan pukulan dan tendangan sambil tertawa-tawa dan ternyata mereka itu kuat bukan main.

Senjata para penduduk dusun terlepas dari pegangan dan beterbangan disusul tubuh mereka yang terlempar berpelantingan terkena pukulan dan tendangan lima orang yang menyebut diri sebagai Lima Macan hutan Suro itu.

Dalam waktu singkat saja, dua puluh orang itu sudah roboh semua termasuk Ki Wirodemung yang tombaknya patah dan mukanya bengkak membiru terkena pukulan tangan si kumis melintang.

Setelah rnerobohkan dua puluh lebih orang itu, lima orang perampok itu lalu memasuki rumah sambil tertawa-tawa.

Mereka memilih barang-barang yang berharga dari rumah itu dan tak lama kemudian mereka sudah keluar lagi membawa barang-barang rampasan mereka.

Akan tetapi si kumis melintang tidak membawa barang melainkan memanggul tubuh seorang gadis remaja yang meronta-ronta dan menjerit-jerit.

Agaknya bagi telinga si kumis melintang, jerit tangis itu terdengar seperti suara nyanyian merdu.

Makin hebat gadis itu meronta dan menangis, makin senang pula hatinya.

Sambil tertawa-tawa lima orang itu lalu keluar dari dusun dan memasuki hutan di dekat dusun itu.

Orang-orang dusun yang sudah terpukul roboh itu tidak berani mengejar dan Ki Wirodemung bersama isterinya hanya dapat menangisi puteri mereka yang dibawa pergi para perampok.

Sementara itu, Bagus Seto dan Retno Wilis masih duduk sambil makan daging dawegan yang manis dan gurih.

Tiba-tiba mereka mendengar jerit tangis yang datangnya dari dalam hutan.

Retno Wilis segera melepaskan dawegannya dan bangkit berdiri.

"Ada yang perlu ditolong, kakang,"

Katanya sambil melompat ke dalam hutan. Bagus Seto juga bangkit dengan tenang dan mengejar adiknya sambil berkata.

"Tenanglah, Retno dan ingat, jangan membunuh orang!"

Kakak beradik ini berlompatan dan lari mempergunakan ilmu mereka sehingga gerakan lari mereka seperti terbang cepatnya.

Retno Wilis berada di depan dan ketika ia tiba di tengah hutan, matanya mencorong dan alisnya berkerut melihat seorang laki-laki berkumis melintang bertubuh tinggi besar sedang duduk di bawah pohon memangku seorang gadis remaja yang meronta-ronta dan menjerit-jerit.

"Jahanam busuk!"

Retno Wilis memaki dengan suara melengking tajam.

"Hayo lepaskan gadis itu!"

Si Kumis melintang terkejut dan mengangkat mukanya. Ketika melihat Retno Wilis yang demikian cantik jelita, matanya terbelalak dan mulutnya mengeluarkan suara tertawa bergelak.

"Waduh, cantiknya! Engkau malah lebih cantik dari pada gadis ini! Baik, aku lepaskan gadis dusun ini akan tetapi engkau sebagai gantinya harus duduk di atas pangkuanku ini!"

Retno Wilis yang mendengar ucapan kurang ajar itu sudah melompat dekat dan tangan kirinya menampar ke arah kepala si kumis melintang.

Orang itu menangkis dengan tangan kanan sambil siap mencengkeram tangan Retno Wilis.

"Dess...!"

Ketika lengannya menangkis dan bertemu dengan lengan Retno Wilis tubuhnya terguncang dan diapun terpelanting.

Gadis dusun itu terlepas dari pangkuannya dan ikut terpelanting.

Gadis itu lalu bangkit berdiri dan mundur menjauhi si kumis melintang.

"Babo-babo keparat!"

Teriak si kumis melintang-sambil bangkit berdiri dan menghadapi Retno Wilis.

"Berani andika memukulku?"

Mendengar teriakannya, empat orang kawannya yang duduk tidak jauh dari situ sudah berlarian datang dan mereka mengepung Retno Wilis.

"Wah, ia cantik sekali, cantik manis!"

"Seperti dewi dari kahyangan!"

"Tangkap ia hidup-hidup!"

Bentak si kumis melintang dengan penasaran dan marah.

Ia sendiri lalu menubruk maju sambil membentangkan kedua lengannya untuk merangkul gadis berpakaian putih itu.

Empat orang kawannya juga menubruk maju.

Retno Wilis tidak sudi membiarkan dirinya tersentuh tangan-tangan kasar itu, ia membuat gerakan tendangan melingkar dengan kecepatan luar biasa.

"Duk-duk-duk-duk-duk!"

Lima orang itu terpelanting, masing-masing terkena sebuah tendangan. Mereka merangkak bangun dengan penasaran dan tidak percaya bahwa gadis itu mampu merobohkan mereka hanya dalam segebrakan saja.

"Tangkap dia!"

Si kumis melintang kembali berteriak.

Ingin sekali ia menguasai gadis cantik jelita yang pandai berkelahi ini.

Kembali dia bersama empat orang kawannya menerjang maju, akan tetapi sekali ini Retno Wilis menyambut mereka dengan tamparan, menggunakan kedua tangannya.

Terdengar teriakan beruntun lima kali dan lima orang perampok itu roboh dengan tubuh terputar.

Mereka merasakan bumi bergoyang dan sekali ini mereka tidak segera dapat bangun.

Mereka merangkak dan setelah dapat bangun si kumis melintang sudah mencabut goloknya, diikuti oleh empat orang kawannya.

"Bunuh perempuan ini!"

Komandonya dan mereka berlima sudah menerjang ke depan, golok mereka menyambar-nyambar dari segala jurusan.

Akan tetapi golok mereka hanya menyambar tempat kosong karena gadis berpakaian putih itu telah lenyap dari kepungan mereka!

Ketika mereka membalikkan tubuh ternyata gadis itu telah berdiri di sana dan sebelum mereka sempat gerak, Retno Wilis kembali sudah menggerakkan kedua tangannya membagi-bagi tamparan.

"Des-des-des-des-des!"

Lima kali beruntun mereka terkena tamparan, sekali ini lebih kuat dari tadi, membuat mereka melepaskan golok dan tubuh mereka berputar-putar lalu roboh, mengaduh-aduh dan sukar untuk bangkit kembali.

Si kumis melintang mencoba untuk bangkit dengan cepat, namun begitu dia bangkit, dia terjatuh lagi karena sekelilingnya berputar.

"Kalian masih belum menyerah? Bangkitlah, aku tunggu!"

Tantang Retno Wilis.

Si kumis melintang dan empat orang kawannya kini sadar betul bahwa mereka berhadapan dengan seorang gadis yang sakti, maka mereka menjadi gentar dan setelah mampu bangkit, mereka merangkak dan berlutut menghadap Retno Wilis.

"Ampun, kami tidak berani melawan lagi, kanjeng dewi..."

Kata si kumis melintang, menduga bahwa ia berhadapan dengan seorang dewi dari kahyangan yang sakti.

"Apakah kalian sudah sadar akan kejahatan kalian dan kini bertaubat?"

"Kami sadar dan kami menyesal, kami bertaubat, kanjeng dewi..."

"Bagus, kalau kalian bertaubat, katakan apa saja yang kalian lakukan tadi dan darimana gadis ini kalian bawa?"

"Kami baru saja merampok di rumah Ki Wirodemung di dusun sebelah utara hutan ini dan gadis itu adalah puterinya... ampunkan kami!"

"Sekarang, antarkan kembali gadis itu dan kembalikan barang rampokan. Mintalah maaf kepada orang-orang dusun itu. Hayo jalan!"

Retno Wilis lalu menggiring para perampok itu sambil menghibur gadis yang masih ketakutan kembali ke rumah orang tuanya.

Di depan orang-orang dusun, Lima Macan Suro itu minta maaf kepada Ki Wirodemung dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatan mereka.

Bagus Seto kini juga mendampingi Retno Wilis dan pemuda itu menjadi gembira melihat sepak terjang adiknya.

Dulu, tidak mungkin Retno Wilis mau mengampuni mereka dan lima orang itu tentu sudah dibunuhnya!

Ki Wirodemung dan para penduduk dusun menghaturkan terima kasih kepada Retno Wilis dan Bagus Seto.

Akan tetapi kedua orang kakak beradik ini tidak lama berada di dusun itu.

Mereka lalu mengajak Lima Macan Suro itu ke dalam hutan lagi dan di sini Retno Wilis mengancam kepada mereka.

"Mulai sekarang kalian harus mengubah jalan hidup kalian, jangan lagi merampok, jangan mengganggu penduduk dusun yang sudah hidup serba kekurangan itu."

"Kami sudah bertaubat,"

Kata si kumis melintang..."Kalau kalian masih melakukan perbuatan jahat lagi, lain waktu aku akan datang ke sini dan tidak akan memberi ampun lagi kepada kalian.

Sudah, pergilah dan pergunakan kekuatan tubuh kalian untuk bekerja!"

Lima orang perampok itu memberi hormat kepada Retno Wilis, kemudian mereka pergi dengan kepala menunduk.

Mereka merasa ngeri mendengar ancaman gadis yang sakti itu.

Setelah lima orang perampok itu pergi, Retno Wilis bertanya kepada kakaknya.

"Kakang Bagus Seto, Bagaimana pendapatmu dengan tindakanku tadi? Sudah benarkah?"

Bagus Seto mengangguk-angguk dan tersenyum.

"Baik sekali, Retno. Memang demikianlah yang harus kau lakukan, mengalahkan yang jahat dan berusaha membujuk mereka agar mengubah jalan hidup mereka yang sesat. Walaupun sedikit sekali kemungkinan para penjahat itu benar-benar menjadi sadar kembali dan berubah menjadi orang baik, namun engkau telah melaksanakan kewajibanmu dengan baik dan itu sudah cukup."

Kakak beradik ini melanjutkan perjalanan mereka, menyusuri sepanjang pantai Laut Selatan.

Memang mengherankan sekali keadaan kakak beradik ini.

Mereka adalah putera dan puteri Ki Patih Tejolaksono, patih Panjalu yang amat terkenal, sakti mandraguna dan berkedudukan tinggi di Kerajaan Panjalu.

Kenapa mereka tidak berdiam bersama ayah mereka dan hidup mulia di Kepatihan Panjalu?

Banyak sebab yang membuat kedua orang muda kakak beradik ini sekarang lelana-brata, meluaskan pengalaman dan pengetahuan dengan jalan merantau (baca kisah Perawan Lembah Wilis dan Badai Laut Selatan).

Bagus Seto adalah seorang pemuda yang sejak kecil digembleng oleh orang-orang maha sakti dan dia menjadi seorang pemuda yang seolah-olah telah menjauhkan diri dari keramaian dan kesenangan dunia sehingga dia tidak tertarik kemuliaan dan kemewahan duniawi.

Adapun adiknya, Retno Wilis, yang digembleng oleh seorang sakti yang tersesat, pernah menjadi seorang gadis perkasa yang berwatak keras sebagai besi dan tidak pernah mengenal ampun kepada musuhnya, dapat bertindak kejam, seperti golongan sesat.

Bukan saja pelajaran kesaktian yang diwarisinya dari Nini Bumigarbo, melainkan juga wataknya yang kejam dan ganas.

Setelah bertemu dengan kakak tirinya, Bagus Seto, maka dara ini menjadi sadar dan selanjutnya ia tidak mau tinggal di Kepatihan, melainkan hendak ikut kakaknya mengembara untuk digembleng menjadi orang yang baik.

Watak Retno Wilis ini sebagian diwarisinya dari ibunya, Endang Patibroto yang juga terkenal sebagai seorang wanita perkasa yang keras hati.

(Baca Badai Laut Selatan).

Demikianlah, Bagus Seto dan Retno Wilis melanjutkan perjalanan mereka menuju ke timur menyusuri sepanjang pantai Laut Kidul.

Kerajaan Jenggala baru saja pulih dari kekacauan ketika rajanya dipengaruhi orang-orang jahat.

Raja baru diangkat, yaitu Pangeran Sigit dengan permaisuri Setyaningsih.

Setelah menjadi Raja Jenggala Pangeran Sigit menggunakan nama julukan yang panjang, yaitu .

Sri Samarotsaha Karnakeshana Dharmawangsa Kirtisinga Jayantaka-tunggadewa!

Raja baru ini berusaha keras untuk memulihkan kejayaan Jenggala, namun luka oleh perang saudara itu terlalu parah sehingga keadaan Jenggala menjadi lemah.

Bahkan banyak para adipati di daerah-daerah, terutama daerah selatan, melepaskan diri dari pengaruh Jenggala dan tidak mengakui kekuasaan Jenggala lagi.

Karena maklum bahwa kekuatan Jenggala sudah mulai surut, Sang Prabu lalu mohon bantuan dari Kerajaan Panjalu, di mana yang menjadi rajanya adalah Sri Dayawarsha Digjaya Sastraprabu.

Yang menjadi patih dari Kerajaan Panjalu adalah Ki Patih Tejolaksana.

Panjalu mengirim bantuan dan dengan bantuan Panjalu yang memiliki banyak senopati yang sakti, barulah Jenggala dapat memulihkan kembali kedaulatannya atas kadipaten-kadipaten itu.

Namun sejak itu, Jenggala tergantung kepada Panjalu yang menjadi semakin besar, kuat dan makmur.

Akan tetapi perang saudara itu membuat Panjalu juga kehilangan banyak daerah yang dipimpin oleh adipati-adipati.

Memang banyak yang telah dikuasai kembali, akan tetapi di bagian timur, seperti Nusabarung, Blambangan dan lain-lain telah memisahkan diri dan tidak mengakui kekuasaan Panjalu dan Jenggala.

Mereka menyusun kekuatan dan siap sedia untuk perang melawan dua kerajaan bersaudara itu.

Blambangan sendiri menjadi kuat karena memperoleh dukungan dari Bali-dwipa.

Pada suatu sore, Patih Tejolaksono sedang berbincang-bincang dengan kedua isterinya, yaitu Ayu Chandra dan Endang Patibroto.

Mereka duduk di dalam taman bunga di belakang gedung tempat tinggal mereka di Kepatihan Anom karena Tejolaksono diangkat menjadi Patih Anom yang membantu pekerjaan Patih Sepuh yang bernama Suryoyudo.

"Aku mendengar di timur terjadi pergolakan, kakangmas. Kenapa kakangmas tidak diutus Sang Prabu untuk memadamkan api pemberontakan di sana?"

Tanya Endang Patibroto kepada suaminya, Patih Tejolaksono.

"Sang Prabu belum memberi perintah, diajeng. Dan menurut keterangan kakang Patih Suryoyudo, Sang Prabu memang hendak melihat dulu perkembangan di daerah Blambangan dan kadipaten-kadipaten di ujung timur itu. Kalau mereka tidak mengadakan serangan melanggar perbatasan, maka kitapun tidak bergerak, akan tetapi kalau mereka mengadakan pengacauan di daerah perbatasan, barulah kita akan memukulnya. Sang Prabu berpendapat bahwa perang baru saja selesai dan perlu memberi istirahat kepada pasukan."

"Akan tetapi kalau dibiarkan saja Blambangan, Nusa Barung dan yang lain-lain itu bergolak dan tidak mengakui kekuasaan Panjalu dan Jenggala, berarti Panjalu akan kehilangan kedaulatannya. Kalau menurut aku, sebaiknya digempur saja mereka itu. Sebaiknya memadamkan api sebelum menjalar dan menjadi besar. Bukankah begitu, mbak-ayu Ayu Chandra?"

"Aku sendiri tidak tahu, diajeng Endang Patibroto. Kita kau m wanita bagaimana dapat mencampuri urusan pemerintahan."

"Ah, mana bisa begitu! Biarpun kita ini wanita, namun kita dapat berperan besar dalam pemerintahan. Kalau untuk menghadapi para pengacau, aku sendiripun sanggup untuk menanggulangi,"

Kata Endang Patibroto.

Wanita yang berusia kurang dari lima puluh tahun ini masih tampak cantik jelita dan gagah, berbeda dengan Ayu Chandra yang tampak anggun dan lembut.

Patih Tejolaksono yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, tersenyum.

Wajahnya yang tampan gagah itu tampak jauh lebih muda ketika dia tersenyum lebar.

Matanya bersinar tajam dan sikapnya lembut, namun dagunya yang berlekuk itu membayangkan kekuatan yang pantang mundur.

"Diajeng Endang Patibroto. Agaknya kehidupan yang makmur dan tenteram ini tidak dapat kau nikmati. Apakah andika lebih senang kalau terjadi pertempuran di mana andika dapat berkiprah melawan musuh?"

Endang Patibroto memandang suaminya dengan sinar mata tajam. Suaminya dapat menyelami jiwanya. Ia memang seorang wanita ksatria yang keras hati dan suka akan pertempuran.

"Sesungguhnyalah, kakangmas. Kehidupan penuh damai ini membuat hatiku gelisah. Aku teringat akan anak kita. Kemana perginya Retno Wilis dan bagaimana keadaannya sekarang? Aku khawatir sekali."

"Mengapa engkau khawatir, diajeng? Retno Wilis pergi bersama kakaknya, Bagus Seto dan aku yakin Bagus Seto akan mampu menjaga dan melindunginya."

"Hemm, tanpa perlindunganpun Retno Wilis mampu untuk menjaga diri sendiri. Aku tidak khawatir kalau terjadi sesuatu dengannya. Hanya aku khawatir kalau-kalau ia tidak mau kembali kepada kita. Aku sudah rindu kepadanya dan aku ingin sekali pergi merantau dan mencarinya. Sungguh tidak enak sekali rasa hati ini kalau diam menanti saja tanpa mengetahui kapan ia akan pulang."

Patih Tejolaksono menghela napas panjang. Dia mengenal betul isterinya yang satu ini. Ia seorang petualang dan hanya kalau hidupnya menghadapi penuh tantangan ia dapat merasa senang.

"Akan tetapi ke mana engkau akan mencari kedua orang anak kita itu, diajeng? Engkau tidak tahu ke mana mereka pergi, ke selatan atau utara, timur atau barat. Lalu engkau hendak menyusul ke mana?"

"Akan kucari jejak mereka dan aku yakin akhirnya aku akan dapat menemukan mereka."

"Aku juga akan merasa bahagia sekali kalau puteraku Bagus Seto mau pulang ke sini, diajeng. Akan tetapi bagaimana kalau kedua orang anak itu menolak kau ajak pulang?"

"Kalau mereka menolak, aku akan menemani mereka merantau. Aku memang suka merantau dan mengalami hal-hal yang hebat!"

Kata Endang Patibroto sambil tersenyum.

"Bagaimana, kakangmas? Engkau tidak keberatan kalau aku pergi mencari mereka, bukan?"

"Kalau memang itu yang kau kehendaki, diajeng, tentu saja aku tidak berkeberatan. Akan tetapi tentukanlah waktunya, sampai berapa lama engkau mencari mereka agar hatiku tidak gelisah memikirkan kalian bertiga."

"Aku akan mencari mereka, berilah waktu setahun, kakangmas. Dalam waktu setahun, bertemu dengan mereka atau tidak, aku tentu akan pulang."

"Sayang aku tidak dapat menyertaimu mencari mereka, diajeng. Di sini aku terikat oleh kedudukan dan pekerjaanku."

"Akupun pergi bukan percuma, kakangmas. Sambil mencari dua orang putera kita, aku juga akan menyelidiki daerah-daerah yang sedang bergolak. Siapa tahu jejak anak-anak kita itu menuju ke timur, sehingga aku dapat menyelidiki dan mencari mereka di daerah timur, sekalian menyelidiki keadaan di Nusabarung dan Blambangan."

"Sebaiknya engkau mencari mereka di daerah Jenggala dulu, diajeng. Siapa tahu mereka berada di sana, dan engkau sekalian menengok adikmu Setyaningsih yang kini menjadi permaisuri di Jenggala."

"Tentu aku akan singgah di sana kakangmas."

Demikianlah, setelah mendapat perkenan suaminya, dengan girang Endang Pati Broto lalu berkemas dan tiga hari kemudian berangkatlah wanita perkasa ini meninggalkan kota Raja Panjalu.

Ia berpakaian ringkas dan tidak membawa senjata.

Wanita ini memiliki banyak ilmu kedigdayaan yang cukup untuk melindungi dirinya, maka ia tidak membawa senjata apapun.

Sebuah buntalan digendongnya di punggung, buntalan berisi pakaian dan bekal uang untuk biaya perjalanannya.

Endang Patibroto ini di waktu mudanya banyak merantau dan banyak sekali pengalamannya bertanding.

Di antara ilmu-ilmunya yang terampuh adalah pukulan-pukulan Aji Gelap Musti, Aji Pethit Nogo dan Wisangmolo.

Selain itu ia mempunyai pula Aji Bayutantra yang membuat ia dapat bergerak cepat sekali dan berlari cepat seperti angin.

Ajinya Pekik Sardulo Bairowo juga amat dahsyat karena pekik ini dapat melumpuhkan lawan, menggetarkan jantung.

Terakhir kalinya Endang patibroto bertemu dengan puterinya adalah ketika ia dan suaminya menyerang pasukan yang dipimpin oleh mendiang Bagaspati pemuja Bathara Siwa dan utusan Negeri Cola.

Setelah mengalahkan musuh-musuh mereka, Retno Wilis meninggalkannya, pergi bersama Bagus Seto, berjalan menyusuri Laut Kidul menuju ke timur.

Akan tetapi ia tidak pergi ke pantai Laut Kidul, melainkan pergi ke Jenggala lebih dahulu untuk mengunjungi adiknya, Setyaningsih yang kini menjadi permaisuri di Jenggala.

Ia diterima dengan gembira oleh adiknya.

Bahkan Raja Jenggala juga menyambutnya dengan gembira.

Endang Patibroto hanya dua hari tinggal di istana Jenggala dan setelah mendapat keterangan bahwa adiknya dan Sang Prabu juga tidak pernah mendengar berita tentang puterinya, iapun pergi dan kini mengunjungi pantai Laut Kidul dan mulailah ia pergi ke timur untuk mencari puterinya dan Bagus Seto.

Kakek itu berusia kurang lebih enam puluh tahun, rambutnya yang sudah berwarna dua itu dibiarkan terjurai sampai ke punggung.

Pakaiannya amat sederhana, dari kain berwarna hitam yang seperti kain melilit tubuhnya saja.

Kumis dan jenggotnya panjang, juga berwarna dua.

Biarpun amat sederhana, namun kakek itu tampak bersih, dari rambutnya sampai pakaiannya.

Dia duduk bersila di atas sebuah dipan bambu, dan seorang pemuda bersila di atas lantai, menghadapnya.

"Jarot, hari belum sore benar engkau telah berada di rumah. Apakah pekerjaanmu di ladang telah selesai? Apakah sepetak tegalan milik kita itu telah kau paculi semua,siap untuk menanam kentang?"

"Sudah selesai semua, Bapa Bhagawan,"

Jawab pemuda itu.

Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh tahun, berwajah lembut dan tampan, berkulit hitam manis, tubuhnya padat dan tegap membayangkan kekuatan.

Siapakah pemuda dan kakek itu?

Kakek itu adalah seorang pendeta yang mengasingkan diri di lereng Gunung Semeru, bernama Bhagawan Dewondaru, seorang kakek yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, sakti mandraguna, dan hidup sebagai seorang petani biasa yang selalu mengenakan pakaian serba hitam.

Usianya sudah enam puluh tahun, akan tetapi tubuhnya masih tegak dan kokoh kuat, masih kuat untuk mencangkul sehari penuh selama berhari-hari.

Pemuda itu bernama Jarot, sudah kurang lebih tujuh tahun Jarot menjadi murid Bhagawan Dewondaru, mempelajari segala ilmu kesaktian sambil bekerja sebagai petani.

Tujuh tahun yang lalu, Bhagawan Dewondaru menemukan Jarot dalam keadaan hampir mati hanyut di Kali Rejali yang bermata air di Lereng Semeru.

Bagaimana Jarot yang ketika itu baru berusia lima belas tahun hanyut di Kali Rejali dalam keadaan hampir mati?

Jarot sebetulnya adalah putera Adipati yang berkuasa di Pasisiran, yaitu daerah di pantai Laut Kidul sebelah barat pulau Nusa Barung.

Jarot adalah putera yang lahir dari seorang selir, akan tetapi sejak kecil pemuda ini amat disayang oleh ayahnya.

Dia seorang anak yang selain tampan dan lembut, juga amat berbakti dan patuh kepada Sang Adipati Pasisiran sehingga ayahnya ini amat menyayangnya lebih dari pada putera-putera lainnya.

Hal ini membuat putera permaisuri yang bernama Lembu Alun menjadi iri hati dan diam-diam dia membenci adik tirinya itu.

Karena khawatir bahwa kelak kedudukan adipati akan diserahkan kepada Jarot setelah ayah mereka mengundurkan diri, maka Lembu Alun segera mengatur jalan sesat untuk mengenyahkan adik tirinya.

Pada suatu hari, Lembu Alun mengajak adik tirinya untuk pergi berburu binatang hutan.

Jarot merasa heran sekali karena biasanya, kakaknya ini menjauhinya, bahkan bicarapun jarang kepadanya.

Dari gerak gerik dan pandang matanya, dia tahu bahwa kakak tirinya itu tidak senang atau membencinya.

Oleh karena itu, ajakan itu sungguh membesarkan hatinya.

"Aku girang sekali, kakangmas. Dengan siapa saja kita berburu?"

Tanya Jarot sambil memandang kepada Lembu Alun dengan wajah berseri.

"Ah, kita pergi berdua saja, adimas. Membawa banyak orang hanya akan mengganggu kita berburu saja. Kita pergi berdua menunggang kuda dan membawa gendewa dan anak panahmu. Aku dengar di hutan sepanjang kali Rejali di lereng Semeru terdapat banyak kijang. Aku ingin sekali makan daging kijang yang gemuk. Kita pergi berdua saja, kalau sudah mendapat satu atau dua ekor kita segera pulang. Kalau kita berangkat pagi-pagi benar, sorenya kita sudah dapat pulang."

"Baik, kakangmas,"

Kata Jarot dan kedua orang muda itu dengan tangkasnya lalu berlompatan ke atas punggung kuda mereka dan membalapkan kuda mereka ke luar dari kadipaten menuju ke utara, menyusuri sepanjang kali Rejali.

Dua orang muda itu melakukan perjalanan penuh kegembiraan, terutama sekali Jarot karena baru sekali ini dia diajak oleh kakaknya itu pergi berburu.

Dia mulai merasa betapa keliru anggapannya bahwa kakaknya itu tidak senang kepadanya.

Sekarang baru ternyata bahwa kakaknya itu baik sekali kepadanya.

Setelah mereka memasuki hutan di lereng Gunung Semeru, Lembu Alun lalu melompat turun dari kudanya.

"Di sinilah tempatnya, adimas. Sebaiknya kita berjalan kaki saja karena kijang-kijang itu tentu akan melarikan diri kalau mendengar derap kaki kuda kita."

Jarot juga turun dari kudanya.

Kedua ekor kuda itu ditambatkan di sebatang pohon dan kedua orang muda itu lalu mencari kijang dengan jalan kaki.

Mereka menyusuri Kali Rejali dalam hutan itu.

Akhirnya mereka menemukan jejak kaki banyak kijang di tepi sungai.

"Adimas, sebaiknya kita berpencar. Engkau mengambil jalan sepanjang sungai ini, dan aku akan mencari ke sebelah sana. Dengan cara berpencar, lebih banyak kemungkinan kita menemukan kijang."

"Baik, kakangmas. Aku akan mengambil jalan di sepanjang sungai ini."

"Mari kita berlumba, adimas. Siapa diantara kita yang dulu memperoleh kijang!"

Jarot tersenyum dan ikut bergembira seperti kakaknya.

"Baik, kakangmas. Akan tetapi aku tentu kalah. Siapa yang tidak tahu bahwa kakangmas adalah seorang jago panah yang terkenal di kadipaten kita? Akan tetapi siapa tahu, aku akan lebih dulu bertemu dengan kijang."

Mereka lalu berpencar.

Lembu Alun menyusup-nyusup di antara alang-alang dan menghilang ke tengah hutan.

Jarot juga berindap-indap mengintai kalau-kalau ada kijang di sebelah depannya.

Akan tetapi sudah sejam dia bergerak maju berindap-indap, belum juga tampak bayangan seekorpun kijang.

Dia mulai merasa khawatir.

Mungkin kakaknya kini telah merobohkan seekor kijang dengan anak panahnya!

Jarot merasa gerah.

Melihat air Kali Rejali yang jernih itu, dia tertarik lalu menuruni tebing sungai.

Dia lalu mencuci mukanya.

Terasa segar dan sejuk sekali ketika air membasahi muka, leher dan lengannya.

Pada saat itulah, tiba-tiba dia merasa punggungnya nyeri sekali.

Sebatang anak panah menancap di punggungnya.

Jarot mengeluh lalu roboh terpelanting ke dalam sungai.

Dia pingsan dan perlahan-lahan tubuhnya hanyut oleh air sungai itu.

Dalam keadaan seperti itulah Bhagawan Dewondaru menemukannya, hanyut pingsan di Kali Rejali.

Orang tua itu segera menolongnya dan membawanya pulang ke pondoknya di lereng yang lebih tinggi.

Dengan penuh kasih dia mengobati dan merawat Jarot sampai pemuda itu sembuh dan sehat kembali.

Setelah kesehatannya pulih kembali, Bhagawan Dewondaru lalu bertanya mengapa dia sampai hanyut di sungai dengan sebatang anak panah menancap di punggungnya.

Jarot lalu bercerita.

"Saya sedang berburu kijang bersama kakak saya, Bapa. Karena merasa gerah, saya turun ke sungai dan membasahi muka dan leher saya. Pada saat itulah saya merasa nyeri sekali di punggung saya dan selanjutnya saya tidak ingat apa-apa lagi. Setelah saya sadar, ternyata saya telah berada di sini, mendapat pengobatan dan perawatan dari Bapa. Atas budi pertolongan Bapa, saya menghaturkan banyak te rima kasih. Kalau tidak ada Bapa yang menolong saya, tentu saya telah tewas."

"Jangan berterima kasih kepadaku angger. Akan tetapi berterima kasihlah kepada Hyang Widhi, karena Hyang Widhi yang menolongmu melalui aku yang kebetulan melihat engkau hanyut di Kali Rejali. Akan tetapi, siapakah namamu dan di mana tempat tinggalmu, angger?"

"Saya bernama Jarot dan saya tinggal di kadipaten Pasisiran. Saya adalah putera Adipati Pasisiran, Bapa."

"Jagad Dewa Bathara...! Kiranya andika adalah putera Sang Adipati di Pasisiran. Maafkan kalau saya bersikap kurang hormat, Raden."

"Harap jangan sungkan, Bapa. Dan jangan menyebut saya raden, sebut saja nama saya. Dan siapakah Bapa yang tinggal di tempat sunyi ini?"

"Saya bernama Bhagawan Dewondaru, angger. Agaknya ketika andika membasahi muka itu, andika diserang secara menggelap oleh seseorang. Apakah andika mempunyai musuh?"

Jarot menggeleng kepalanya.

"Setahu saya tidak, Bapa Bhagawan. Saya tidak pernah bermusuhan dan agaknya di dunia ini tidak ada yang memusuhi saya."

Kakek itu mengeluarkan sebatang anak panah dan memperlihatkannya kepada Jarot.

"Apakah andika mengenal anak panah ini?"

Jarot menerima anak panah itu dan menggeleng kepalanya.

"Saya tidak mengenalnya, Bapa. Kakak saya selalu memakai anak panah dengan bulu merah, dan anak panah ini bulunya hitam. Saya tidak mengenalnya."

"Hemm, akan tetapi kenyataannya, andika diserang dan dipanah orang dari belakang. Apakah kakak andika itu sayang kepada andika?"

Ditanya begini, Jarot mengerutkan alisnya.

"Biarpun tidak sayang, akan tetapi tidak mungkin dia yang melakukannya, Bapa. Hal ini terbukti dari anak panah ini yang sama sekali bukan miliknya."

"Angger, saya tidak menyangka siapa-siapa, akan tetapi melihat keadaanmu, engkau terancam bahaya besar. Sebaiknya andika tinggal di sini untuk sementara. Kalau andika kembali ke kadipaten, saya khawatir orang yang hendak membunuh andika itu akan mengulangi lagi perbuatannya."

Jarot membenarkan pendapat kakek itu.

Kalau diingat, sekarang diapun merasa bahwa banyak orang yang membenci atau tidak senang kepadanya.

Kakaknya, Lembu Alun biasanya juga tidak suka kepadanya, dan ada saudara-saudara tiri yang lain.

Agaknya karena ayahnya menyayangnya, maka dia dibenci orang banyak.

Para ibu tirinya juga tidak suka kepadanya.

Seolah hanya ayahnya dan ibunya saja yang suka kepadanya.

Akan tetapi benarkah kebencian mereka demikian besarnya sehingga mereka tega mencoba membunuhnya?

"Baiklah, Bapa.

Kalau Bapa tidak berkeberatan, untuk sementara saya tinggal mondok di sini.

Saya akan membantu pekerjaan Bapa bertani."

"Bagus sekali, angger. Sebagai gantinya, saya akan mengajarkan ilmu-ilmu yang kiranya berguna bagimu."

Demikianlah, mulai hari itu, Jarot tinggal di pondok Bhagawan Dewondaru.

Bukan untuk sementara, bahkan berlarut-larut sampai tujuh tahun!

Hal ini adalah karena dengan terkejut dan juga girang sekali Jarot mendapat kenyataan bahwa kakek itu adalah seorang yang sakti mandraguna!

Maka, tentu saja dia tidak mau melepaskan kesempatan baik itu dan diapun bekerja dengan rajinnya di samping mempelajari ilmu-ilmu kesaktian sampai tujuh tahun lamanya!

Pada sore hari itu, dia menghadap gurunya yang bertanya kepadanya tentang pekerjaannya di ladang, yang dijawabnya bahwa tegalan mereka telah dia paculi sampai selesai.

"Bagus sekali, angger Jarot. Mulai besok pagi, andika tidak perlu bekerja di ladang lagi. Menurut pendapatku, waktumu tinggal bekerja dan belajar di sini telah habis. Besok andika harus meninggalkan tempat ini dan kembalilah ke Kadipaten Pasisiran."

Jarot terkejut sekali dan mengangkat muka memandang wajah gurunya, lalu menyembah.

"Akan tetapi, Bapa. Saya belum ingin pergi, masih ingin melanjutkan bekerja dan belajar di sini."

"Tidak, angger. Semua ilmuku sudah kuberikan kepada andika. Pula, ada pertemuan tentu ada perpisahan dan besok sudah tiba waktunya kita berpisah."

"Setidaknya, ijinkanlah saya tinggal di sini sampai selesai menanam kentang, Bapa. Saya tidak ingin melihat Bapa bersusah payah bekerja sendiri."

Bhagawan Dewondaru tersenyum.

"Sebelum andika datang, pekerjaanku adalah bertani. Setelah andika berada di sini, aku menjadi seorang tua yang menganggur dan bermalasan. Tidak, angger. Engkau harus pergi dari sini besok karena akupun akan meninggalkan tempat ini besok."

"Kemanakah Bapa hendak pergi?"

"Aku sendiri belum tahu ke mana aku hendak merantau dan entah kapan aku kembali ke sini. Mungkin juga tidak akan kembali sama sekali karena telah mendapatkan tempat tinggal lain. Andika harus pulang ke Kadipaten pesisiran, bertemu dan berkumpul dengan orang tuamu. Sekarang andika tidak perlu khawatir lagi akan usaha jahat yang hendak membunuhmu. Andika cukup kuat untuk menjaga diri."

Jarot tidak berani membantah lagi.

Dia menemukan kehidupan yang hening dan tenang di situ, menemukan kebahagiaan hidup bersama gurunya, digembleng ilmu dan juga pengetahuan tentang kehidupan.

Kalau teringat betapa saudara-saudara dan para ibu tirinya seolah berebutan kekuasaan dan saling berlumba menyenangkan hati ayahnya agar kelak dijadikan pengganti adipati di Pasisiran, rasanya segan dia untuk pulang.

Akan tetapi dia kalau teringat kepada ayah ibunya, hatinya sudah merasa rindu sekali kepada mereka yang telah ditinggalkan selama tujuh tahun.

Ingin sekali dia mengetahui, apa yang diceritakan oleh kakaknya Lembu Alun tentang kehilangan dirinya kepada ayah ibunya.

Lembu Alun tentu kehilangan dirinya dan pulang seorang diri dari perburuan itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi benar dia mandi biarpun semalam hampir tidak tidur, dan setelah kembali ke pondok, gurunya telah bangun, bahkan telah siap untuk pergi membawa tongkatnya dan menggendong buntalan pakaiannya.

"Sepagi ini, Bapa hendak ke manakah?"

"Seperti telah kuberitahukan kemarin, hari ini aku juga akan pergi merantau. Aku berangkat dulu, angger. Kalau andika turun gunung, jangan lupa singgah di dusun Kemanggisan di selatan itu dan beritahu kepada Ki Janur bahwa pondok dan tegalan ini kuserahkan kepadanya untuk digarap. Pondok dan tegal ini menjadi miliknya sampai aku kembali ke sini, entah kapan."

"Baik, Bapa. Akan tetapi, saya mohonBapa memberitahu kepada saya, ke mana saya harus pergi kalau saya ingin berjumpa dengan Bapa."

Kakek itu tersenyum dan menggeleng kepala.

"Aku pergi menurutkan kata hati dan langkah kaki, bagaimana aku dapat tahu ke mana aku hendak pergi? Sudahlah, angger, kalau memang berjodoh, sekali waktu kita tentu akan dapat saling bertemu lagi. Selamat tinggal."

Jarot memberi hormat dengan sembah.

"Selamat jalan, Bapa, harap jaga diri Bapa baik-baik,"

Katanya terharu.

Tujuh tahun hidup bersama kakek itu, dia sudah menganggapnya sebagai ayahnya sendiri.

Setelah Bhagawan Dewondaru pergi, barulah Jarot berkemas.

Dia juga membungkus pakaiannya dengan sarung dan menggendong juntaian itu diatas punggungnya, kemudian setelah beberapa lamanya dia memandang pondok dan sekitarnya yang telah amat dikenalnya itu, diapun membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar menuju ke dusun Kemanggisan.

Dusun ini merupakan satu-satunya dusun di mana dia bertemu dengan manusia-manusia lain, yaitu kalau berbelanja segala keperluan mereka.

Ki Janur adalah seorang penduduk dusun yang kadang diminta bantuannya menggarap tegal, seorang laki-laki yang tulus dan jujur, dan yang hidup menduda tanpa anak.

Setelah tiba di dusun Kemanggisan, Jarot menemui Ki Janur dan menyampaikan pesan gurunya.

Ki Janur menerimanya dengan senang karena tegalan milik Bhagawan Dewondaru merupakan tegalan yang subur sekali.

"Terima kasih, denmas, akan saya urus baik-baik tegal dan pondok itu,"

Katanya.

Setelah menyampaikan pesan gurunya, Jarot lalu menuruni lereng Semeru menuju ke selatan, menyusuri sepanjang Kali Rejali yang mengalir ke selatan.

Muara air Kali Rejali itu berada di pinggir Kadipaten Pasisiran.

Malam itu gelap gulita.

Angin malam berhembus lesu sehingga awan gelap yang menutupi bintang-bintang di langit tetap menyelubungi Kadipaten Pasisiran dalam kegelapan yang pekat.

Orang-orang enggan ke luar rumah karena gelap dan dinginnya.

Apalagi malam itu adalah malam Jumat Kliwon yang dianggap malam yang khas bagi roh-roh jahat gentayangan mencari korban.

Akan tetapi dua orang pemuda agaknya tidak memperdulikan malam yang menyeramkan itu.

Mereka bahkan keluar dari batas kota Kadipaten Pasisiran dan menuju keselatan, ke pantai Laut Kidul.

Di pantai yang curam terdapat guha-guha yang besar dan jalan menuju ke guha-guha itupun merupakan jalan yang berbahaya.

Namun, dua orang itu kini memegang obor dan menuruni tebing yang curam itu.

Akhirnya mereka tiba di tempat yang dituju.

Mereka berhenti di depan sebuah guha besar dan menancapkan obor mereka di kanan kiri depan guha sehingga menerangi dalam guha itu.

Di dalam guha, di atas sehelai tikar, duduk seorang kakek yang menyeramkan.

Rambutnya panjang dan gimbal, matanya bundar dan besar, hidungnya pesek dan mulutnya yang lebar itu menyeringai seperti mulut seekor srigala yang kelaparan.

Mata yang besar itu mencorong seperti mata harimau ketika terkena cahaya dua batang obor itu.

Pakaiannya seperti baju pendeta yang longgar dan panjang, berwarna kuning.

Ketika melihat dua orang laki-laki muda itu maju, berlutut dan menyembah kepadanya, kakek ini tertawa bergelak.

"Hoa ha-ha, mengapa kalian datang malam-malam begini, Lembu Alun dan Lumbu Tirta. Bukankah sudah cukup aku memberi pelajaran ilmu-ilmu itu kepada kalian? Dan kapan kalian akan mengajak aku ke kadipaten menduduki pangkat sebagai Penasihat Kadipaten?"

"Ampunkan kami kalau mengganggu, Bapa Guru. Kedatangan kami ini ada hubungannya dengan pertanyaan terakhir itu. Sampai sekarang, ayah kami belum juga menentukan pilihannya untuk mengangkat seorang di antara kami para puteranya menjadi calon Adipati. Agaknya ayah kami masih terus memikirkan adimas Jarot yang lenyap tujuh tahun yang lalu. Karena itu, kami mohon keterangan dari Bapa Guru, apakah Dimas Jarot itu masih hidup?"

"Tunggu sebentar, akan kubuat perhitungan. Namanya Jarot? Akan kuminta Perewangan untuk memberi petunjuk."

Setelah berkata demikian, kakek yang duduk bersila itu lalu menyilangkan lengan depan dada, mulutnya berkemak-kemik membaca mantram.

Tak lama kemudian tiba-tiba saja tubuhnya menjadi kaku, kedua tangannya mencakar-cakar udara, berkelojotan seperti orang sekarat dan mulutnya yang berbuih itu mengeluarkan suara melengking seperti suara seorang nenek-nenek.

"Kau tanyakan tentang Si Jarot? Hi-hi-hi-hik, dia masih hidup, bahkan dia menjadi ancaman besar bagi kalian. Hi-hihi aduh panas... kalian jaga baik-baik, dia panas...!"

Kakek itu berhenti berkelojotan dan mengusap buih dari mulutnya.

"Kalian mendengar sendiri dari Perawangan tadi? Jarot masih hidup, bahkan menjadi ancaman besar bagi kalian. Dan agaknya dia itu tidak boleh dipandang ringan, kalau dia panas itu berarti pemuda itu memiliki kesaktian yang patut diperhitungkan."

"Kalau begitu, kita harus bekerja secepatnya, Bapa Guru. Sebelum Jarot muncul, ayah kami harus disingkirkan dulu. Kalau ayah meninggal, aku sebagai putera permaisuri pasti akan diangkat menjadi penggantinya. Dan kalau aku sudah menjadi adipati, tentu Bapa Guru akan kami boyong ke Kadipaten Pasisiran. Kalau Jarot muncul setelah aku menjadi Adipati, dia tidak dapat berbuat apa-apa lagi."

"Hemm, itu mudah. Akan tetapi engkau harus menyediakan syaratnya. Sehelai bajunya yang bekas dipakai dan belum dicuci, beberapa helai, sedikitnya tujuh helai rambutnya, lalu hari dan pasaran apa dia dilahirkan. Karena hanya pada hari tertentu itu maka seranganku akan dapat berhasil. Dan kalau dia sudah jatuh sakit, engkau harus berusaha agar dia mau minum air yang sudah kuisi dengan kekuatan mantram. Nah, sediakan semua syarat itu secepatnya, dan pergilah dari sini, tinggalkan aku yang sedang menikmati malam Jumat Kliwon yang angker ini."

Dua orang muda itu adalah putera-putera Adipati di Pasisiran yang bernama Lembu Alun dan Lembu Tirta, putera dari permaisuri.

Seperti kita ketahui, Lembu Alun adalah kakak tiri Jarot yang dulu mengajak Jarot pergi berburu kijang.

Sekarang dia telah berusia dua puluh lima tahun dan Lembu Tirta berusia dua puluh tiga tahun.

Ketika dulu Lembu Alun pulang seorang diri sambil menuntun kuda tunggangan Jarot, pemuda ini sambil menangis memberitahu kepada ayah bundanya bahwa Jarot telah lenyap.

"Kami berpencar untuk memburu kijang, akan tetapi setelah saya cari-cari, adimas Jarot telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Sudah saya panggil-panggil dan cari-cari namun dia tidak muncul. Terpaksa karena hari sudah sore saya pulang sendirian."

Tentu saja ibu Jarot dan juga Adipati Pasisiran menjadi terkejut dan khawatir sekali mendengar keterangan Lembu Alun yang diceritakan sambil menangis itu.

Sang Adipati lalu mengerahkan pasukan untuk mencari Jarot.

Seluruh hutan itu telah-dijelajahi dan malam itu juga mereka mencari-cari namun sia-sia.

Setelah tiga hari tiga malam mencari tanpa hasil, akhirnya mereka pulang ke kadipaten dengan lesu dan sedih.

"Tidak, tidak mungkin Jarot mati!"

Teriak Sang Adipati dengan penuh duka dan khawatir.

"Kalau dia mati tentu dapat ditemukan jenazahnya."

Sampai tujuh tahun lamanya, Sang Adipati walaupun terendam dalam duka, agaknya masih belum melepaskan harapannya bahwa Jarot masih hidup dan sewaktu-waktu akan muncul di depannya.

Sikap ayahnya ini membuat hati Lembu Alun khawatir sekali.

Diapun sangsi apakah Jarot telah tewas.

Kenapa mayatnya tidak ditemukan?

Andaikata mayat itu hanyut di Kali Rejuli pun tentu akan dapat ditemukan oleh para pencari itu.

Dia sendiri menjadi ragu-ragu.

Dan sikap ayahnya yang masih mengharap-harapkan kembalinya Jarot itu, makin menggelisahkan karena dia tahu bahwa kalau Jarot muncul, tentu pemuda itu yang akan ditunjuk sebagai pengganti ayahnya.

Lima tahun yang lalu, dia dan adiknya, Lembu Tirta secara tidak sengaja bertemu dengan Wasi Surengpati, kakek yang menyeramkan di dalam guha itu.

Setelah mengetahui bahwa Wasi Surengpati adalah seorang pertapa yang sakti, kedua orang muda ini lalu minta untuk diterima sebagai murid.

Wasi Surengpati mau menerima mereka menjadi murid asalkan mereka berjanji kelak mengangkatnya menjadi sesepuh atau penasihat di Kadipaten Pasisiran.

Setelah kedua orang pemuda itu menyanggupi dan memberi hadiah apa saja yang diinginkan kakek itu merekapun diterima menjadi murid dan menerima beberapa macam ilmu kanuragan yang membuat mereka menjadi semakin sombong.

Dan pada malam hari itu, mereka merencanakan agar cepat-cepat Lembu Alun diangkat menjadi adipati dengan cara melenyapkan atau membunuh ayah mereka sendiri melalui ilmu hitam yang akan dilaksanakan oleh guru mereka!

Betapa kejinya!

Di antara segala daya tarik yang amat kuat dan membuat manusia saling berebutan, bahkan tidak segan-segan melakukan segala daya yang licik dan kotor untuk memperoleh adalah KEKUASAAN.

Semua orang berpendapat bahwa hanya kekuasaan yang dapat membahagiakan mereka.

Kalau ada kekuasaan, maka segala kehendaknya pasti tercapai!

Kekuasaan dapat membuat mereka dipuja dan disembah orang lain, dan dapat membuat mereka hidup kaya raya, mewah dan mulia!

Kekuasaan dapat membuat orang mabok dan bertindak sewenang-wenang, karena kekuasaan selalu menjadi milik yang menang, dan kalau sudah berkuasa, maka apapun yang dilakukannya adalah baik dan benar!

Maka tidak heran kalau Lembu Alun yang haus akan kekuasaan itu, demi mendapatkan kedudukan Adipati, tidak segan-segan mencoba membunuh adik tirinya dan kini bahkan tidak segan-segan membunuh ayah kandungnya sendiri.

Orang-orang yang berpendirian demi kian, yang sudah menjadi hamba nafsunya sendiri mengejar kekuasaan dengan segala cara, orang demikian itu sama sekali lupa bahwa di atas segala macam kekuasaan ada KEKUASAAN MUTLAK yaitu kekuasaan Tuhan!

Betapapun tinggi kekuasaan seorang manusia, dia tidaklah kebal terhadap kesengsaraan, terhadap duka, kecewa, putus asa, penyakit dan kematian!

Terutama sekali menghadapi penyakit dan kematian, kekuasaan sedikitpun tidak dapat menolongnya.

Dia akan tetap merintih-rintih kesakitan dikala sakit dan menghembuskan napas terakhir apabila ajal tiba.

Dia tidak tahu bahwa makin besar kekuasaannya, makin lemahlah dia terhadap segala uji dan coba.

Hanya orang bijaksana saja yang tidak haus kekuasaan secara wajar, diapun tidak mabok karenanya, bahkan dia menggunakan kekuasaannya untuk kebaikan nusa dan bangsa, manusia dan dunia.

Sebelum kedua orang bersaudara ini sempat menyerahkan syarat-syarat yang diminta oleh Wasi Surengpati, pada keesokan harinya, menjelang senja, Lembu Alun danLembu Tirta sedang berjalan-jalan di luar pintu gerbang kota sebelah utara.

Tiba-tiba di luar pintu gerbang mereka melihat seorang pemuda yang melangkah lebar kearah pintu gerbang.

Keduanya terbelalak dan Lembu Alun cepat memberi isyarat kepada adiknya dan keduanya segera melangkah lebar menyambut pendatang itu.

Setelah mereka berhadapan, pemuda itu memandang mereka dengan wajah berseri dan segera menegur mereka.

"Kakangmas Lembu Alun dan kakangmas Lembu Tirta!"

Pemuda yang bukan lain adalah Jarot itu segera menghampiri semakin dekat. (Lanjut ke

Jilid 02) Sepasang Garuda Putih (seri ke 05 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02 Akan tetapi kedua orang muda itu memandangnya dengan alis berkerut dan sinar mata marah.

"Siapa andika, berani menegur kami begitu saja?"

Tanya Lembu Alun dengan suara ketus.

"Kakangmas Lembu Alun. Sudah lupakah kepadaku? Aku Jarot, adikmu!"

"Jarot? Tidak mungkin! Jarot sudah mati dan lenyap tujuh tahun yang lalu! Andika hanya mengaku-ngaku saja, andika orang palsu!"

"Kakangmas Lembu Alun! Ini aku, Jarot. Aku masih hidup dan baru hari ini aku pulang."

"Aahh, Jarot sudah mati tidak mungkin hidup kembali. Andika orang jahat yang berpura-pura menjadi adik kami!"

Kata Lembu Tirta.

"Kakangmas Lembu Alun, kita hajar saja orang palsu ini!"

Dua orang itu lalu menerjang maju dan memukul Jarot.

Jarot terkejut sekali, bukan saja melihat betapa dua orang kakaknya tidak mengenalnya dan menyerangnya, terutama sekali melihat cara mereka menyerang menggunakan aji kekuatan yang cukup dahsyat!

Dari mana kedua kakaknya memiliki kekuatan dahsyat seperti itu.

"Wuuuuuuttt...! Wuuuuuuuut...!!"

Jarot cepat mengelak dengan lincahnya sehingga pukulan kedua orang itu luput.

Kini kedua orang itu yang menjadi kaget dan heran.

Mereka telah menyerang dengan Aji Samber Nyawa, yang sekali pukul dapat membunuh lawan.

Akan tetapi dengan mudah saja Jarot dapat mengelak dari dua pukulan mereka!

Padahal dahulu Jarot hanya pernah mempelajari ilmu kanuragan yang biasa saja, sama dengan mereka sebelum menjadi murid Bhagawan Dewondaru.

Akan tetapi keheranan ini tidak menghentikan kemarahan mereka.

Mereka lalu menerjang dan menyerang lagi dengan lebih dahsyat.

Melihat ini, terpaksa Jarot menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.

"Dukk...! Dukk...!"

Dua orang kakak beradik itu terpental ke belakang dan terhuyung! Mereka menjadi semakin kaget dan penasaran sekali.

"Kakangmas Lembu Alun dan kakangmas Lembu Tirta. Ingatlah, ini aku Jarot, bukan musuh kalian. Aku telah kembali dan mari kita menghadap Kanjeng Romo dan kanjeng ibu."

Akan tetapi Lembu Alun sudah mencabut kerisnya dan membentak kepada adiknya.

"Lembu Tirta, kita bunuh manusia palsu ini!"

Dia lalu menyerang lagi menggunakan kerisnya dan perbuatannya ini segera diturut oleh Lembu Tirta yang juga menyerang dengan kerisnya.

Jarot cepat mengelak dari tusukan kedua batang keris itu.

Keris-keris itu menyambar lagi dan sampai lima enam kali Jarot mengelak.

"Kakangrnas berdua, hentikan serangan kalian. Aku Jarot tulen, bukan palsu. Aku adik kalian!"

Berulang kali Jarot membujuk mereka, akan tetapi kedua orang itu menyerang semakin ganas, keris mereka berkelebatan menyambar-nyambar.

Jarot maklum bahwa tidak mungkin dia mengelak terus, maka ketika melihat betapa mereka itu benar-benar tidak mau mendengarkan bujukannya, dia lalu menggerakkan kedua tangannya menangkis dengan pengerahan tenaga sakti.

Tangkisannya mengena pergelangan tangan kanan mereka dengan kuat sekali.

"Dukk... dukkk...!!"

Dan kedua orang bersaudara itu tidak dapat mempertahankan keris mereka yang terlepas dari tangan mereka yang terasa lumpuh!

Mereka terbelalak, maklum bahwa mereka tidak mampu menandingi Jarot yang kini demikian digdayanya.

Mereka lalu memungut keris mereka dan lari memasuki kota, terus menuju ke pintu gerbang kota sebelah selatan dan terus berlari menuju ke pantai Laut Kidul.

Jarot tidak mengejar mereka, hanya merasa heran sekali mengapa kedua orang kakaknya begitu keras hendak membunuhnya.

Benarkah mereka itu tidak mengenalnya lagi?

Begitu besarkah perubahan pada dirinya sehingga mereka tidak mengenalnya?

Jarot tidak memperdulikan mereka lagi dan langsung saja dia melangkah menuju ke Kadipaten.

Hatinya merasa terharu juga ketika dia berdiri di halaman kadipaten yang telah dikenalnya sejak dia kecil itu.

Bahkan dia tahu bahwa pada saat senja seperti itu, para ibunya dan para putera-puteri berkumpul di ruangan dalam berbincang-bincang.

Dia mengira-ira apakah namanya disebut dalam percakapan mereka itu.

Mungkin tidak lagi.

Sudah terlalu lama dia meninggalkan mereka.

Mungkin mereka sekarang sudah lupa, seperti dua orang kakaknya tadi.

Perasaan kecewa mengalir masuk ke dalam hatinya.

Akan tetapi segera diusirnya perasaan ini dengan kesadaran bahwa yang bersalah adalah dia sendiri.

Dia meninggalkan mereka selama tujuh tahun tanpa pamit.

Seorang tukang kebun menghampirinya, sapu lidi panjang di tangan kanan.

Biarpun cuaca sudah agak remang, Jarot masih mengenal baik tukang kebun ini.

Ki Sambung, tukang kebun yang kini berusia empat puluh tahun itu.

Akan tetapi dia diam saja, pura-pura tidak mengenalnya untuk menguji apakah tukang kebun ini juga lupa kepadanya.

Padahal dahulu, di waktu dia masih kecil, sering sekali dia mengajak tukang kebun itu bermain-main.

Ketika tukang kebun sudah tiba dekat di depan Jarot, tiba-tiba dia terbelalak, mulutnya ternganga dan gagang sapu yang dipegangnya terlepas dari tangannya, lalu dia mengamati wajah Jarot dan akhirnya dia berseru dengan suara terputus-putus.

"Den mas Jarot...? Tapi... tapi... benarkah andika denmas Jarot yang sudah hilang demikian lamanya?"

Bukan main senang dan lega rasa hati Jarot mendengar seruan ini. Ki Sambung tidak lupa kepadanya, berarti bahwa tidak banyak perubahan terjadi atas dirinya! Jarot tertawa.

"Ha-ha, paman Sambung, kiranya andika tidak lupa kepadaku? Aku memang Jarot, tulen dan bukan setannya!"

"Denmas Jarot...! Ah, sekian lamanya ini, andika pergi ke mana sajakah, denmas? Semua orang mengharapkan kedatangan denmas!"

Dan seperti seorang anak kecil, tukang kebun itu lalu berlari ke dalam gedung sambil berteriak-teriak.

"Denrnas Jarot datang...! Denmas Jarot telah pulang...!!"

Mendengar teriakannya berulang-ulang itu, para pelayan yang berada di serambi depan sudah berlari-lari keluar ke pekarangan dan mereka semua menyambut Jarot dengan wajah ceria dan senyum gembira.

Tak lama kemudian, Sang Adipati sendiri keluar diikuti oleh para isteri, putera dan puterinya.

"Jarot, anakku...!"

Ibu Jarot berlari ke depan dan menubruk puteranya. Mereka saling rangkul dan wanita itu menangis tersedu-sedu saking gembiranya.

"Kanjeng ibu, ampunkan anakmu yang berdosa, meninggalkan kanjeng ibu tanpa pamit..."

Jarot menelan keharuannya.

"Jarot, benarkah kami tidak mimpi dan engkau yang datang ini?"

Sang Adipati bertanya. Jarot melepaskan pelukan pada ibunya dan dia lalu berlutut menyembah depan kaki ayahnya.

"Kanjeng Rama, ampunkan saya, kanjeng Rama, saya telah pergi tanpa pamit selama tujuh tahun."

Sang Adipati memegang pundak pemuda itu dan berkata.

"Mari kita semua masuk dan bicara di dalam."

Keluarga itu lalu memasuki gedung dan berkumpul kembali di ruangan dalam.

Setelah pelayan menyuguhkan minuman dan Jarot diminta agar minum lebih dulu, Sang Adipati Kertajaya lalu bertanya kepada Jarot.

"Jarot, sekarang tiba saatnya bagimu untuk bercerita. Tujuh tahun yang lalu itu, engkau pergi berburu dengan kangmasmu Lembu Alun... ah, ya. Di mana Lembu Alun dan Lembu Tirta? Kenapa mereka tidak berkumpul di sini?"

"Mereka sejak sore tadi pergi dan belum kembali,"

Jawab seorang di antara para ibu selir.

"Anakku Jarot, kau lanjutkan pertanyaanku. Ketika itu engkau pergi berburu kijang dengan kangmasmu Lembu Alun, kenapa engkau lalu menghilang di dalam hutan itu sehingga kangmasmu pulang seorang diri? Kami sudah mengerahkan pasukan untuk mencarimu di daerah itu sampai tiga hari tiga malam, namun usaha kami sia-sia belaka. Apakah yang terjadi denganmu dan ke mana saja engkau menghilang?"

Dengan terus terang tanpa menuduh siapa-siapa Jarot lalu menceritakan pengalamannya tujuh tahun yang lalu.

"Ketika itu, saya dan kakangrnas Lembu Alun berpencar untuk mencari dan memburu kijang. Ketika itu saya tidak melihat seekorpun kijang dan hawanya gerah sekali maka saya lalu turun ke sungai untuk membasuh muka dan leher saya. Tiba-tiba saja saya merasa sakit sekali pada punggung saya dan selanjutnya saya tidak ingat apa-apa lagi."

Jarot berhenti sebentar dan para pendengarnya penuh perhatian dan mereka ingin sekali tahu apa selanjutnya yang terjadi dengan pemuda itu.

Jarot kini berhati lega karena ternyata seluruh keluarganya mengenalnya.

Dia pergi ketika berusia limabelas tahun dan pulang setelah berusia dua puluh dua tahun, namun ayahnya, ibunya dan para ibu tiri, juga saudara-saudaranya semua mengenalnya.

Mengapa Lembu Alun dan Lembu Tirta tidak mengenalnya?

Hal ini membuat dia teringat dan melamun.

"Selanjutnya bagaimana, angger Jarot?"

Tanya ibunya yang sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui pengalaman Jarot.

"Ketika saya sadar dari pingsan, ternyata saya telah berada di dalam sebuah pondok. Kiranya ada orang yang menolong saya dan orang itu kemudian menjadi guru saya. Namanya adalah Bhagawan Dewondaru, seorang maha sakti yang bertapa di lereng Semeru. Karena ternyata kami saling cocok, saya terus berguru kepada Bapa Guru sampai tujuh tahun lamanya. Kanjeng Rama, dan kanjeng ibu, ampunkan saya yang tidak pulang selama tujuh tahun. Selama itu saya pergi menuntut ilmu dan baru sekarang saya dapat pulang."

"Tidak mengapa, engkau kini pulang sudah membahagiakan hati kami semua. Hanya lain kali, kalau hendak meninggalkan kadipaten lama-lama, harus memberitahu lebih dulu, Jarot. Engkau membuat hati kami gelisah dan putus harapan selama bertahun-tahun."

Keluarga itu lalu makan malam, dan semalam itu mereka bercakap-cakap melepas rindu sampai larut malam, barulah mereka mengaso dan tidur.

Jarot mendapatkan kamarnya yang dahulu, yang masih dirawat dengan baik-baik oleh ibunya yang tidak pernah putus asa dan selalu percaya bahwa sekali waktu puteranya akan pulang.

Malam itu, kembali Lembu Alun dan Lembu Tirta menghadap guru mereka, Wasi Surengpati, di dalam guha di tebing Laut Kidul itu.

"Anak mas berdua, mengapa kelihatan gugup dan lesu malam ini. Apakah yang mengganggu perasaan kalian berdua?"

Tanya Wasi Surengpati setelah kedua orang muridnya itu menghadap di depannya. Sinar dua batang obor yang apinya bergerak-gerak tertiup angin itu menimbulkan pemandangan yang menyeramkan di guha itu.

"Ah, celaka, Bapa Guru. Secara tiba-tiba Jarot telah muncul kembali. Benar seperti petunjuk Bapa Guru, Jarot masih hidup dan ternyata dia memiliki kepandaian tinggi sehingga kami berdua tidak mampu menandinginya."

Lembu Alun dan adiknya menceritakan pertemuan mereka dengan Jarot di luar pintu gerbang utara sore tadi. Wasi Surengpati mendengarkan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Hemmm, kalau sudah begini, lalu apa yang andika berdua hendak lakukan? Bantuan apa yang dapat kuberikan kepada kalian?"

"Dengan munculnya Jarot, maka usaha melenyapkan kanjeng Rama tidak ada gunanya lagi. Sebelum meninggal, kanjeng Rama tentu akan mengangkat jahanam itu menjadi penggantinya. Sekarang sasaran harus ditujukan kepada Jarot, Bapa Guru. Kalau dia mati, berarti penghalangnya tidak ada lagi. Kami mohon agar Bapa Guru membunuh Jarot."

"Hemm..."

Wasi Surengpati mengelus jenggotnya yang tebal.

"Kalau pemuda itu memiliki kadigdayaan, mampu mengalahkan kalian berdua, maka tidak akan demikian mudah membunuh dengan guna-guna. Akan tetapi aku dapat memancingnya untuk datang ke tempat ini dan di sini kita bertiga dapat mengeroyok dan membunuhnya. Tempat ini sunyi dan baik, tidak akan ada orang yang melihat dan mengetahuinya... juga kalau mayatnya kita buang ke bawah, dia akan ditelan ombak dan lenyap."

Dua orang kakak beradik ini menjadi girang bukan main.

"Apakah untuk itu ada juga syaratnya, Bapa Guru?"

"Tentu saja, akan tetapi untuk mengguna-gunai agar dia datang ke sini syaratnya hanya mudah. Sepotong baju yang telah dipakai dan belum dicuci akan cukup untuk memaksa dia datang ke sini."

"Baik, Bapa Guru. Kalau hanya itu saja akan kami usahakan dan bawa ke sini secepatnya. Akan tetapi sekarang kami harus menghadapi hal yang amat tidak enak. Kalau Jarot sudah pulang ke Kadipaten, terpaksa kami berdua akan bertemu dengannya. Sungguh amat tidak enak bagi kami berdua."

"Akan tetapi, kakangmas Lembu Alun. Kenapa bingung? Kita pura-pura baru tahu bahwa dia benar-benar adik kita Jarot dan kita minta maaf kepadanya bahwa sore tadi kita tidak mengenalnya dan menyangkanya orang lain yang menyamar sebagai Jarot. Dengan demikian kita dapat menutup rasa malu kita dan menghilangkan kecurigaannya terhadap kita,"

Kata Lembu Tirta kepada kakaknya. Demikianlah, pada keesokan harinya, ketika Jarot baru saja bangun dari tidurnya dan mandi, dua orang kakaknya itu menemuinya di kamarnya.

"Adimas Jarot, kiranya benar-benar engkaukah yang datang?"

Kata Lembu Alun dengan wajah berseri dan dia melangkah maju memegang tangan Jarot.

"Sungguh mati, hal ini sukar dipercaya."

"Aku juga tadinya tidak percaya sama sekali bahwa engkau benar-benar masih hidup dan pulang, adimas Jarot. Sungguh kami menyesal sekali bahwa kemarin kami tidak percaya dan menyangka engkau orang lain yang hendak mengacau,"

Kata pula Lembu Tirta dengan wajah sungguh-sungguh.

"Benar, adimas Jarot. Aku merasa menyesal dan malu sekali kepadamu bahwa kemarin aku tidak mengenalmu, bahkan menyerangmu sebagai seorang jahat. Aku khawatir kanjeng Rama akan marah sekali kepada kami berdua."

Jarot tersenyum.

"Tidak mengapalah, kakangmas. Aku tidak menyalahkan kalian, kalau kalian kemarin tidak mengenalku dan tidak percaya bahwa aku masih hidup dan pulang. Dan tentang kanjeng Rama, harap kalian jangan khawatir karena mengenai peristiwa kita kemarin, aku tidak menceritakan kepada siapapun juga. Kanjeng Rama tidak tahu akan peristiwa itu."

Tentu saja kedua orang pemuda itu merasa girang dan lega mendengar ucapan Jarot ini.

Mereka berdua kini bersikap ramah dan baik sekali kepada Jarot, bahkan seolah memperlihatkan rasa sukur dan kangennya.

"Dahulu itu aku kebingungan sekali karena engkau tidak muncul kembali dan aku telah berteriak-teriak memanggilmu, mencari-cari sampai hari menjadi sore. Terpaksa aku pulang sendiri sambil menangis karena khawatir sekali. Apakah yang telah terjadi denganmu, adimas Jarot? Ke mana engkau pergi?"

"Ada orang memanah punggungku, kakangmas Lembu Alun. Orang memanahku dari belakang dan anak panahnya mengenai punggungku sehingga aku roboh dan hanyut di Kali Rejali,"

Kata Jarot sambil menatap tajam wajah Lembu Alun. Akan tetapi wajah kakaknya itu tidak menunjukkan sesuatu, hanya tampak heran mendengar jawabannya itu.

"Ada orang memanahmu dari belakang? Akan tetapi, siapakah orangnya yang bertindak sedemikian kepadamu, adikku?"

"Aku tidak tahu, kakangmas. Begitu terkena anak panah, aku lalu jatuh dan tidak ingat apa-apa lagi."

"Ah, aku tahu! Pemanahnya tentulah anggauta perampok yang suka bersembunyi di dalam hutan. Karena khawatir ketahuan oleh adimas Jarot, maka dia memanahnya agar tempat persembunyiannya tidak diketahui orang,"

Kata Lembu Tirta.

"Hemm, boleh jadi benar kata-katamu itu, dimas Lembu Tirta. Lalu bagaimana, adimas Jarot? Engkau pingsan dan hanyut di Kali Rejali, bagaimana engkau dapat tertolong dan siapa yang menyelamatkanmu?"

"Tentu ada orang yang menolongmu, bukan? Kalau tidak tentu adimas Jarot akan tewas di kali itu."

"Ehh, nanti dulu. Apakah engkau menyimpan anak panah itu, adimas Jarot? Barangkali dari anak panahnya kita dapat mengenal dan menemukan pemanahnya."

Jarot menggeleng kepalanya.

"Anak panah itu biasa saja, berbulu hitam. Banyak orang memakai anak panah seperti itu, kakangmas, bagaimana kita dapat mengenal orangnya?"

"Ah, sayang. Lalu, siapa yang menolongmu, dimas?"

"Ketika aku sadar dari pingsan, aku telah berada dalam sebuah pondok dan ternyata ada orang yang menolongku dari Kali Rejali dan membawaku ke pondok itu. Dia yang mengobati dan merawatku sampai aku sembuh kembali."

"Siapa dia, adimas?"

"Dia adalah Bhagawan Dewondaru yang kemudian menjadi guruku selama tujuh tahun ini. Dari dialah aku mempelajari sedikit ilmu kanuragan."

Wajah Lembu Alun berubah merah karena dia teringat akan peristiwa kemarin sore di mana dia dan Lembu Tirta mengeroyok Jarot dengan keris namun mereka berdua tidak mampu menandinginya.

"Ahh, engkau sekarang telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dimas Jarot. Aku ikut merasa gembira."

Dua orang itu bersikap ramah dan akrab sekali sehingga Jarot sudah melupakan apa yang pernah terjadi di antara mereka di luar pintu gerbang itu.

Dan karena dia tidak menaruh curiga sama sekali, mudah saja bagi Lembu Alun untuk mengambil sepotong bajunya yang kotor dan yang sudah diserahkan pembantu untuk dicuci.

Baju itu segera dibawanya ke Guha Iblis di tebing Laut Kidul itu.

Dua hari kemudian, pada suatu pagi Jarot mendadak merasa hatinya gelisah sekali.

Dia tidak betah tinggal di rumah dan untuk melenyapkan hati yang gelisah itu dia lalu keluar untuk berjalan-jalan.

Kadipaten Pasisiran masih sama dengan tujuh tahun yang lalu, hanya sedikit saja perubahannya.

Dia masih mengenal rumah-rumah di kadipaten itu, dan diapun bertemu dengan banyak orang yang pernah dikenalnya ketika dia masih remaja dahulu.

Akan tetapi, setelah berjalan-jalan sampai keliling kota kadipaten, perasaan gelisah dalam hatinya tidak lenyap, bahkan bertambah dengan perasaan yang aneh.

Dia merasa seperti dipanggil orang untuk keluar dari kota Kadipaten Pasisiran melalui pintu gerbang sebelah selatan.

Diapun menurutkan dorongan hati ini dan pergilah dia keluar kota.

Setelah tiba di luar pintu gerbang, masih saja ada sesuatu yang menariknya dengan kuat sekali sehingga dia menjadi semakin heran.

Daya tarik itu mendorongnya untuk berjalan terus ke selatan!

Dia mulai merasa bahwa dorongan hati ini tidaklah wajar, akan tetapi hal itu bahkan membuat dia tertarik sekali.

Apa yang mendorongnya demikian kuatnya menuju ke pantai Laut Selatan?

Dia menjadi ingin tahu dan tidak melawan daya tarik itu, bahkan dia lalu mempergunakan kepandaiannya untuk berlari cepat.

Setelah tiba di daerah pantai, dia melihat seorang wanita cantik sedang berjalan seorang diri.

Sekilas pandang saja Jarot maklum bahwa wanita itu bukan penduduk biasa.

Usianya sudah kurang lebih lima puluh tahun akan tetapi wanita itu masih cantik jelita dan memiliki bentuk tubuh seperti seoang dara saja.

Wanita itupun memandang kepadanya, akan tetapi Jarot tidak memperhatikan atau memperdulikannya.

Daya tarik itu semakin kuat dan dia berlari cepat mendaki bukit di tepi laut karena dari sanalah daya tarik itu datangnya.

Dari atas bukit di tepi laut!

Sementara itu, wanita yang sedang berjalan itu juga memandang penuh perhatian.

Tadinya wanita itu hendak mengeluarkan kata-kata, akan tetapi ditahannya kembali.

Ketika melihat Jarot menggunakan ilmu berlari cepat ia semakin tertarik dan tak lama kemudian wanita itupun menggunakan gerakan yang cepat sekali membayangi Jarot.

Siapakah gerangan wanita setengah tua yang cantik itu?

Wanita itu bukan lain adalah Endang Patibroto!

Sebagaimana kita ketahui, Endang Patibroto melakukan perjalanan menyusuri pantai Laut Kidul menuju ke timur dalam usahanya mencari jejak puterinya.

Ketika tiba di situ bertemu seorang pemuda tampan yang jelas bukan pemuda dusun, tadinya ia ingin menyapa dan bertanya kalau-kalau pemuda itu pernah melihat puterinya atau melihat Bagus Seto.

Akan tetapi ketika pemuda itu berlari kencang sekali, jelas bukan lari biasa melainkan lari yang menggunakan aji kesaktian, Endang Patibroto terkejut dan tertarik, maka iapun cepat menggunakan Aji Bayu Tantra untuk berlari secepat angina membayangi pemuda tampan itu.

Karena seluruh perhatian Jarot ditujukan ke depan, ke arah tenaga mujijat yang menariknya semakin kuat untuk berjalan terus, dia sama sekali tidak tahu bahwa ada orang membayanginya dari belakang.

Dia mendaki bukit yang cukup tinggi itu, bukit berbatu-batu karang yang tajam dan runcing, harus berhati-hati kalau berlari di atas batu-batu karang itu.

Akhirnya dia tiba di ujung jalan yang menuju ke tebing yang amat curam.

Dia menjenguk ke bawah dan bergidik ngeri.

Tebing itu amat curam.

Air laut dan batu-batu karang tampak di bawah, sejauh tiga ratus meter lebih.

Kalau orang terjatuh dari atas tebing, tentu tubuhnya akan hancur lebur disambut karang tajam dan runcing, dan disambut ombak laut yang ganas.

Akan tetapi anehnya, kekuatan yang menariknya itu makin terasa dan kini menarik dari bawah!

Dia menjadi makin terheran-heran, akan tetapi dia melihat sejalur jalan setapak menuruni tebing itu.

Ada bekas kaki orang di jalan setapak, tanda bahwa ada orang menuruni jalan itu.

Kalau orang lain berani menuruni jalan itu, mengapa dia tidak?

Dan lagi, daya tarik itu terus terasa semakin kuat, datangnya dari bawah!

Tanpa ragu lagi Jarot lalu menuruni jalan setapak yang terjal itu.

Berpegang kepada akar-akar kayu-kayuan atau kepada batu-batu karang yang menonjol, dia terus menuruni jalan setapak itu dengan cekatan dan cepat.

Akhirnya tibalah dia di tempat datar dan dari situ dia melihat beberapa buah guha yang besar.

Tenaga yang menariknya itu datang dari sebuah di antara guha-guha itu, yang berada di tengah.

Di depan guha itu terdapat tanah datar yang cukup luas.

Dengan berani Jarot menurutkan daya tarik itu dan melangkah ke depan.

Setelah tiba didepan guha itu, dia mendengar suara orang tertawa.

Tiga orang muncul dari dalam guha itu dan dia terbelalak.

Dua di antara mereka dikenalnya dengan baik karena mereka itu bukan lain adalah Lembu Alun dan Lembu Tirta!

Kedua orang ini mengiringkan seorang kakek yang tertawa-tawa.

Jarot memandang penuh perhatian.

Kakek itu amat menyeramkan.

Rambutnya panjang dan gimbal, matanya bundar dan besar, hidungnya pesek dan mulutnya yang lebar itu menyeringai ganas, namun mata yang besar itu mencorong seperti mata harimau.

Pakaiannya seperti baju pendeta yang longgar dan panjang, berwarna kuning dekil.

Tangan kanan kakek itu memegang sebatang tongkat berbentuk ular, seperti seekor ular yang dikeringkan.

"Hoa-ha-ha-ha, andika telah datang, Jarot?"

Jarot tidak memperdulikan kedua orang kakaknya, melainkan menatap tajam wajah kakek itu. Dia tidak mengenalnya, akan tetapi dia dapat menduga bahwa kakek ini yang memiliki ilmu yang menariknya tadi.

"Jadi andika yang menggunakan ilmu hitam menarikku datang ke sini?"

"Hoa-ha-ha-ha, siapapun akan datang kalau kupanggil. Tak seorangpun dapat melawan ilmu sihirku!"

Wasi Surengpati membanggakan diri.

"Orang tua, apa kehendakmu memanggil aku datang ke sini?"

Tanya Jarot, suaranya tetap tenang dan tabah.

"Hoa-ha-ha! Kalau engkau ingin tahu, tanyakan saja kepada dua orang saudaramu ini!"

Mendengar ini, Jarot memandang kepada kedua orang kakaknya dengan alis berkerut.

"Kakangmas Lembu Alun dan Lembu Tirta, apa artinya semua ini?"

"Artinya, engkau akan mati hari ini, Jarot!"

Kata Lembu Alun.

"Akan kami sempurnakan usahaku tujuh tahun yang lalu!"

Jarot membelalakkan kedua matanya.

"Jadi... jadi engkau yang dulu melepaskan anak panah menyerangku, kakangmas?"

Lembu Alun tidak menjawab, melainkan mencabut kerisnya dan berkata kepada Wasi Surengpati.

"Bapa, cepat habisi dia!"

Sambil tertawa kakek itu lalu menerjang dengan tongkat ularnya.

Terdengar angin berdesir ketika tongkat itu menyambar dan cepat Jarot mengelak karena dari angin sambarannya saja maklumlah dia bahwa kakek itu memiliki tenaga yang amat kuat.

Akan tetapi tongkat ular itu menyambar lagi dan kini Lembu Alun dan Lembu Tirta juga sudah menerjang maju dengan keris mereka.

Jarot dikeroyok tiga!

Tiga orang lawannya semua bersenjata sedangkan dia sendiri hanya bertangan kosong, maka sebentar saja dia terdesak hebat.

Tongkat ular menyambar lagi.

"Wuuutt...!"

Jarot terpaksa menangkis dengan lengan kirinya sambil mengerahkan tenaga.

"Plakkk...!"

Pertemuan lengannya dengan tongkat itu membuat tubuh Jarot tergetar hebat dan dia terhuyung.

Lembu Alun mengejar dan menusukkan kerisnya, akan tetapi dapat dielakkan oleh Jarot.

Ketika Lembu Tirta menyusul dengan tusukan kerisnya, dia menangkis dengan tangan kirinya.

"Plakk!"

Lembu Tirta terhuyung ke samping.

Akan tetapi kini Wasi Surengpati sudah menerjang lagi sambil mengeluarkan teriakan nyaring, teriakan nyaring itu mengandung tenaga yang amat kuat dan Jarot merasa jantungnya tergetar dan diapun terhuyung-huyung ke belakang.

Ternyata kakek itu dapat menyerang dengan suaranya yang mengandung tenaga mengguncang jantung lawan seperti auman seekor singa!

Selagi terhuyung, kembali dua orang kakak beradik itu sudah menyerang dengan keris mereka.

Namun, Jarot dapat menggulingkan tubuhnya dan terluput dari tusukan kedua keris kakaknya.

Ketika dia melompat berdiri dan berniat melarikan diri dari keadaan gawat itu, Wasi Surengpati telah menghadang di depannya.

Kembali kakek ini mengeluarkan gerengannya yang dahsyat dan kembali Jarot terhuyung dan pada saat itu tongkat ular telah menyambar dengan cepat dan kuat sekali ke arah kepalanya.

"Wuuuuuuttt... tukk!"

Tongkat yang sudah menyambar dekat kepala Jarot itu terpental karena ada sepotong batu menangkisnya.

Kakek ini terkejut dan memandang ke kiri darimana sepotong batu tadi melayang dan menangkis tongkatnya.

Dia melihat seorang wanita yang cantik jelita berdiri di sana sambil memandang tajam kepadanya.

Wanita itu adalah Endang Patibroto yang sekali melompat sudah berada didepan Wasi Surengpati.

Endang Patibroto tersenyum mengejek.

Sikapnya tenang dan pandang matanya demikian tajam bersinar sehingga Wasi Surengpati diam-diam terkejut sekali dan menduga-duga siapa adanya wanita yang telah menangkis tongkatnya dengan sambitan batu tadi.

"Hemm, orang tua jelek! Sungguh tidak malu mengeroyok seorang pemuda yang tampaknya tidak bersalah apa-apa! Kalau andika mencari lawan, akulah lawanmu, kakek tua bangka buruk!"

Endang Patibroto berseru. Wasi Surengpati menjadi marah sekali. Biarpun dia dapat menilai bahwa wanita itu memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi dia tidak takut.

"Babo-babo, wanita lancang tangan. Siapakah kamu berani menentang Wasi Surengpati dari Guha Iblis? Apakah nyawamu rangkap maka berani engkau mencampuri urusan kami?"

"Biar ditambah lima orang macam kamu, aku tidak takut. Wasi Surengpati, kamu adalah manusia jahat yang pantas dijadikan hamba iblis. Biarpun aku belum tahu duduk perkaranya, melihat penampilanmu saja aku sudah tahu bahwa pemuda yang kau keroyok itu tentulah berada di pihak yang tidak bersalah!"

"Keparat, lancang mulutmu! Heiiiiii..."

Kembali dia berteriak melengking, suaranya menggetarkan seluruh tempat itu.

Akan tetapi Endang Patibroto tidak menjadi gentar, bahkan wanita inipun lalu mengeluarkan ajinya, menjerit dengan lengkingan panjang.

Itulah Pekik Sardulo Bairowo dan lengkingan ini seolah menelan jeritan Wasi Surengpati tadi!

Wasi Surengpati menjadi semakin marah dan diapun sudah menerjang maju dengan tongkat ularnya.

Endang Patibroto menangkis dengan lengan kirinya.

"Dukkk!"

Endang Patibroto merasa betapa lengannya tergetar, akan tetapi sebaliknya tongkat Wasi Surengpati terpental ke atas!

Dari pertemuan dua tenaga ini saja sudah dapat dinilai bahwa tenaga Wasi Surengpati masih kalah setingkat dibandingkan tenaga wanita sakti itu.

Akan tetapi Wasi Surengpati masih penasaran dan mulailah dia mengamuk dengan tongkat ularnya yang menyambar-nyambar bagaikan ular hidup yang pandai terbang.

Namun, Endang Patibroto selalu dapat mengelakkannya dan ketika ia mendapat kesempatan, ia membalas serangan lawan dengan pukulan Pethit Nogo!

"Plakk!"

Ujung jari tangan Endang Pati broto mengibas ke arah kepala Wasi Surengpati, akan tetapi kakek itu dapat menangkis dengan ujung tongkatnya.

Mereka kini bertanding dengan hebat, saling serang dan kakek itu mendapat kenyataan betapa hebatnya kepandaian lawannya.

Sementara itu, dua orang kakak beradik itu masih tetap mengeroyok Jarot.

Namun mereka bukan tandingan Jarot.

Tusukan-tusukan keris mereka dengan mudah dihindarkan Jarot dengan elakan atau tangkisan dan ketika dia balas menyerang dengan tamparan-tamparan tangannya, dua orang kakak beradik itu menjadi repot berloncatan ke sana sini untuk mengelak.

"Haiiiiitt...! Pergilah!"

Bentak Endang Patibroto kepada lawannya dan kini ia menyerang dengan pukulan jarak jauh Gelap Musti.

Kakek itu mencoba untuk menahan serangan ini dengan pengerahan tenaga saktinya, namun dia tidak kuat dan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sampai lima meter.

Agaknya kakek itu maklum bahwa ia tidak akan menang melawan wanita sakti itu, maka diapun melompat dan melarikan diri melalui tebing yang curam itu, merayap naik seperti seekor monyet.

Endang Patibroto tidak mengejar melainkan menonton pertandingan antara Jarot yang dikeroyok dua oleh Lembu Alun dan Lembu Tirta.

Endang yang menonton pertandingan itu menjadi heran sekali.

Sudah jelas bahwa pemuda tampan bertangan kosong yang dikeroyok dua orang pemuda berkeris itu jauh lebih kuat, akan tetapi dia melihat betapa pemuda tampan itu selalu membatasi diri.

Kalau saja dia kehendaki, tentu dengan mudah dia dapat merobohkan dua orang pengeroyoknya.

Agaknya dia memang tidak mau memukul kedua orang itu.

Sebaliknya, dua orang berkeris itu mati-matian berusaha untuk membunuh si pemuda tampan.

Endang Patibroto menjadi penasaran sekali.

Ia tidak tahu ada urusan apa di antara mereka, Dua orang pemuda pengeroyok itupun tampaknya seperti pemuda baik-baik dan berpakaian pantas seperti putera bangsawan.

Akan tetapi yang jelas mereka itu licik, mengeroyok seorang pemuda yang bertangan kosong dengan menggunakan keris.

Apalagi kalau mengingat bahwa kakek iblis tadi membantu dua orang pemuda itu, hatinya condong memihak pemuda yang dikeroyok.

Melihat betapa pemuda bertangan kosong itu masih belum juga mau merobohkan dua orang lawannya, Endang Patibroto lalu menggerakkan tangan kirinya yang mengambil kerikil kecil ke arah perkelahian itu.

Terdengar jerit kesakitan dua kali dan dua orang pengeroyok itupun roboh!

Jarot yang tadi maklum bahwa ada wanita sakti datang membantunya, bahkan wanita itu telah mengusir kakek iblis, maklum bahwa dua orang kakaknya itu roboh oleh wanita sakti itu.

Sekali menggerakkan kaki, wanita itu telah berada dekat Lembu Alun dan Lembu Tirta, membentak dengan suara mengancam.

"Kalian dua orang muda ini tentu juga bukan manusia baik-baik, tiada bedanya dengan kakek iblis tadi!"

Lembu Alun dan Lembu Tirta yang sudah roboh dan kehilangan keris mereka, menjadi jerih.

Mereka takut sekali karena Jarot telah mengetahui rahasia mereka.

Kalau Jarot mengadu kepada ayah mereka, mereka berdua tentu akan mendapat marah besar dan akan dihukum berat.

Maka, keduanya lalu merangkak, bangkit berdiri hendak melarikan diri.

Akan tetapi, dua kali kaki Endang Patibroto menendang dan dua orang pemuda itu roboh lagi, kini menyeringai kesakitan karena tendangan yang mengenai dada mereka itu membuat mereka sukar untuk bernapas.

"Kanjeng Bibi, harap ampunkan mereka dan jangan dibunuh,"

Tiba-tiba Jarot berkata dengan suara memohon kepada Endang Patibroto. Wanita sakti itu menoleh dan memandang kepada Jarot dengan alis berkerut.

"Apa? Mereka berusaha mati-matian untuk membunuhmu, dan sekarang engkau malah mintakan ampun untuk mereka?"

Jarot berkata lembut.

"Kanjeng Bibi, mereka ini adalah kakak-kakakku sendiri."

"Kakakmu sendiri? Akan tetapi mengapa mereka hendak membunuhmu dan mereka dibantu kakek sakti tadi? Hayo ceritakan yang jelas sebelum aku mengambil keputusan, hendak kubunuh atau tidak dua orang muda jahanam ini!"

Jarot menghela napas panjang dan memandang kepada dua orang kakaknya.

"Mereka adalah kakak-kakak saya berlainan ibu, Kanjeng Bibi. Mereka hendak membunuhku mungkin karena mereka menghendaki agar ayah kami mengangkat mereka menjadi calon adipati. Ayah kami adalah Adipati di Pasisiran dan mereka khawatir kalau saya yang kelak diangkat menggantikan ayah. Akan tetapi rupanya Hyang Widhi belum menghendaki saya mati, maka kanjeng bibi muncul dan menolong saya."

"Keparat betul dua orang ini. Memperebutkan kedudukan dan berusaha membunuh adik sendiri? Orang muda, siapa namamu?"

"Nama saya Jarot, Kanjeng Bibi, dan mereka ini adalah kakangmas Lembu Alun dan kakangmas Lembu Tirta."

Mendengar jawaban Jarot, timbul harapan dalam hati kedua orang muda itu.

"Dimas Jarot, ampunkan kesalahanku,"

Kata Lembu Alun.

"Aku minta ampun darimu, dimas Jarot,"

Kata Lembu Tirta.

"Anakmas Jarot, dua orang ini tidak semestinya diberi ampun. Hayo bawa mereka menghadap ramandamu dan ceritakan semua perbuatan mereka terhadap dirimu. Mereka layak mendapat hukuman berat. Kalau engkau tidak mau melaporkan perbuatan mereka kepada orang tua kalian, akulah yang akan menghadap Sang Adipati dan melaporkan semua peristiwa ini. Hayo kau bawa mereka ke Kadipaten."

"Baik, Kanjeng Bibi. Terima kasih atas pertolongan Kanjeng Bibi."

"Tidak usah berterima kasih. Ingat, orang muda, seorang saudara, apa lagi saudara tiri yang sudah memperlihatkan sikap bermusuhan merupakan musuh yang amat berbahaya. Aku menghargai sikapmu yang mengalah, akan tetapi hal ini harus dilaporkan kepada ayahmu. Tentu mereka yang licik ini akan menyangkal di depan ayah kalian, maka biarlah aku menyertaimu menghadap ayahmu sebagai saksi."

Karena Endang Patibroto menyertai mereka, maka kedua orang saudara itu tidak mampu berbuat sesuatu dan mereka mengikuti dengan gentar ketika Jarot membawa mereka pulang ke kadipaten.

Demikian pula Jarot.

Biarpun dia bermaksud untuk memaafkan kedua orang kakaknya, namun desakan Endang Patibroto membuat dia tak berdaya dan terpaksa menuruti permintaan wanita sakti itu.

Kalau dia tidak melapor, dan wanita itu yang melaporkan kepada ayahnya, tentu dia akan dipersalahkan ayahnya pula.

Sang Adipati Kertajaya menyambut kedatangan ketiga puteranya yang diiringkan seorang wanita cantik itu dengan heran.

Apa lagi melihat sikap Lembu Alun dan Lembu Tirta yang tidak wajar, seperti dua orang yang ketakutan.

"Jarot, engkau bersama dua orang kakakmu menghadap aku disertai seorang wanita ini, ada urusan apakah dan siapa wanita ini?"

"Maafkan, Kanjeng Rama, saya datang menghadap tanpa dipanggil. Kami bertiga menghadap Kanjeng Romo untuk menceritakan suatu peristiwa yang perlu Kanjeng Romo ketahui. Dan Kanjeng Bibi ini yang namanya... belum saya ketahui, akan tetapi kanjeng Bibi ini telah menyelamatkan nyawa saya, Kanjeng Romo."

Mendengar pengakuan ini, terkejutlah Adipati Kertajaya.

Dia memandang kepada Endang Patibroto dengan penuh perhatian.

Seorang wanita yang memiliki kepribadian agung dan anggun, cantik dan gagah, mendatangkan sikap hormat dalam hatinya.

"Selamat datang, Nyi Sanak. Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu terhadap putera kami Jarot. Bolehkah kami mengetahui siapa gerangan nama Nyi Sanak dan berasal dari mana?"

Endang Patibroto tersenyum dan merasa senang. Adipati ini bukan seorang yang sombong dan suka mengagungkan kedudukannya. Sikapnya demikian hormat, maka iapun memperkenalkan diri dengan terus terang.

"Sang Adipati, saya bernama Endang Patibroto dan datang dari Panjalu."

Begitu mendengar nama dan tempat tinggal itu, Adipati Kertajaya lalu bangkit berdiri dan matanya terbelalak, kemudian dia membungkuk dengan sikap hormat sekali.

"Jagad Dewa Bathara. Kiranya paduka adalah Gusti Puteri Endang Patibroto! Silakan duduk dan kami menghaturkan selamat datang di Kadipaten Pasisiran."

Semua orang yang melihat sikap Adipati menjadi heran.

Adipati ini tentu saja sudah mendengar akan nama Endang Patibroto yang terkenal di seluruh daerah Panjalu dan Jenggala.

Siapa yang tidak mengenal wanita sakti yang pernah menjadi isteri Pangeran Panjirawit dari Jenggala dan kemudian menjadi isteri Kipatih Tejolaksono di Panjalu?

Wanita sakti ini dahulu pernah membuat geger ketika mengamuk di Nusabarung dan di Blambangan!

Setelah dipersilakan duduk di atas kursi yang sejajar dengan sang adipati Endang Patibroto segera duduk di kursi itu tanpa sungkan lagi.

Sementara itu, Jarot dan dua orang kakaknya itu memandang dengan mata terbelalak kepada Endang Patibroto.

Jarot memandang penuh kagum karena dia juga pernah mendengar nama itu disebut-sebut orang, akan tetapi Lembu Alun dan Lembu Tirta memandang dengan terkejut dan semakin takut.

Habislah sudah riwayat mereka, mereka berpikir.

Sungguh sial sekali.

Setelah usaha mereka sudah hampir berhasil, mendadak muncul wanita sakti itu.

"Sekarang ceritakanlah peristiwa apa yang kau alami?"

Tanya Sang Adipati kepada Jarot.

Jarot beberapa kali membuka mulut akan tetapi tidak dapat mengeluarkan suara.

Sungguh tidak enak sekali rasa hatinya kalau harus membongkar kekejian dua orang kakaknya itu di depan ayahnya.

Dia menoleh kepada Endang Patibroto dan berkata.

"Kanjeng Bibi yang mulia, sudikah kanjeng Bibi yang menceritakan kepada kanjeng Romo tentang peristiwa itu?"

Endang Patibroto tersenyum dan mengangguk. Dia juga kagum kepada pemuda ini. Sungguh seorang pemuda yang berbudi lembut dan bijaksana.

"Baiklah, saya akan bercerita,"

Katanya sambil memandang kepada Adipati Kertajaya.

"Ketika saya sedang melakukan perjalanan di luar kota kadipaten Pasisiran, saya melihat anakmas Jarot ini melakukan perjalanan dengan menggunakan ilmu berlari cepat. Saya menjadi tertarik sekali dan diam-diam saya membayanginya. Ketika dia menuruni tebing curam, sayapun mengikutinya dan akhirnya dia tiba di depan sebuah guha besar. Di situ dia bertemu dengan dua orang kakak tirinya yang ditemani seorang kakek iblis dan mereka bertiga itu segera mengeroyok anakmas Jarot. Mereka bertiga berusaha mati-matian untuk membunuh anakmas Jarot. Melihat ini saya lalu turun tangan menghadapi kakek iblis yang tangguh itu. Akhirnya kakek iblis itu berhasil saya usir dan dua orang muda yang bertindak keji dan curang ini dapat ditangkap dan dibawa menghadap di sini."

Wajah Adipati Kertajaya berubah merah sekali, matanya melotot kepada dua orang puteranya, akan tetapi dia masih bertanya kepada Jarot.

"Jarot benarkah seperti apa yang diceritakan Gusti Kanjeng Endang Patibroto itu?"

"Semua benar, Kanjeng Romo."

"Bedebah! Kalau begitu, yang memanahmu pada tujuh tahun yang lalu tentu si bedebah Lembu Alun ini! Heh, Lembu Alun dan Lembu Tirta. Benarkah kalian melakukan perbuatan keji itu, berusaha membunuh Jarot?"

Dua orang muda itu tidak berani menyangkal lagi, apa lagi yang menjadi saksi adalah Endang Patibroto! Mereka hanya mengangguk dan menundukkan kepala sambil bertiarap menyembah.

"Ampunkan kami, Kanjeng Romo."

"Siapa kakek iblis yang kalian ajak untuk membunuh adikmu Jarot?"

"Dia guru kami, Wasi Surengpati."

"Dan engkau Lembu Alun, beranikah engkau menyangkal lagi bahwa pada tujuh tahun yang lalu, engkau pula yang telah memanah punggung Jarot dari belakang?"

"Ampunkan hamba, Kanjeng Romo! Hamba mengaku salah..."

"Bedebah, kalian hanya mengotori Kadipaten Pasisiran saja! Orang-orang macam engkau yang menjadi hamba setan nafsu haruslah dienyahkan dari muka bumi!"

Sang Adipati sudah menghunus kerisnya dan bangkit berdiri, siap untuk menyerang kedua orang puteranya. Pada saat itu, Jarot meloncat dan menubruk ayahnya.

"Kanjeng Romo, harap sabar dulu. Bagaimanapun juga, kakangmas Lembu Alun dan kakangmas Lembu Tirta adalah putera paduka, dan mereka juga kakak saya. Bagaimana Kanjeng Rorno akan membunuh mereka begitu saja?"

Wajah Adipati itu masih merah dan matanya melotot memandang kepada Jarot yang menghalanginya membunuh kedua orang puteranya yang sesat itu.

"Kau... kau yang hendak dibunuh mereka... kau bahkan membela mereka, Jarot?"

"Mereka memang bertindak salah, Romo. Akan tetapi berilah kesempatan kepada mereka untuk bertaubat dan mengubah jalan pikiran mereka yang keliru. Kalau mereka dibunuh, berarti Kanjeng Romo tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk menebus dosa. Apakah Kanjeng Romo tidak kasihan kepada mereka?"

Mendengar pembelaan adik mereka itu, kedua orang muda itu seperti ditusuk-tusuk rasa jantungnya dan mereka menangis sesenggukan.

"Adimas Jarot... aku telah berdosa kepadamu, biarlah aku dihukum mati ""

"Aku juga berdosa kepadamu, dimas Jarot. Tidak pantas kau bela..."

"Tidak, kakangmas. Andika berdua hanya terdorong nafsu ingin memperebutkan kedudukan adipati kelak. Kalau kalian minta baik-baik, aku akan menyerahkan kedudukan itu. Setelah kini kalian menyadari kesalahan, tentu akan bertaubat dan tidak akan mengulangi perbuatan yang menyeleweng dari kebenaran."

Adipati Kertajaya yang sudah menyarungkan kembali kerisnya karena ditahan oleh Jarot tadi, duduk kembali dan menghela napas panjang.

"Baiklah, mengingat akan permintaan ampun Jarot untuk kalian berdua, aku tidak akan menghukum mati kalian yang sebetulnya patut kalian terima. Sebagai gantinya, kalian kuhukum selama lima tahun menjadi perajurit jogoboyo kadipaten."

Dua orang pemuda itu cepat menyembah dan menghaturkan terima kasih.

Semenjak hari itu, mereka berdua bertugas sebagai perajurit jogoboyo yang menjaga keamanan kadipaten Pasisiran.

Adipati Kertajaya hendak menjamu Endang Patibroto, akan tetapi wanita ini menolak.

"Saya masih mempunyai banyak keperluan dan harus melanjutkan perjalanan sekarang juga. Akan tetapi ada satu hal yang ingin kutanyakan kepada Sang Adipati dan siapa tahu andika dapat membantu dalam urusan ini."

Adipati Kertajaya tersenyum dan menjawab.

"Dengan sepenuh hati kami siap membantu Gusti Puteri. Apakah hal yang ingin andika tanyakan itu?"

"Saya sedang mencari putera puteriku yang melakukan perjalanan merantau. Puteraku itu bernama Bagus Seto dan puteriku bernama Retno Wilis. Apakah mereka itu lewat dan singgah di kadipaten ini?"

Adipati Kertajaya mengerutkan alisnya.

"Saya sendiri tidak pernah mendengar nama-nama itu, akan tetapi akan saya umumkan dan tanyakan kepada semua perajurit kalau-kalau di antara mereka ada yang bertemu dengan kedua orang putera puteri andika itu."

Adipati Kertajaya segera mengutus perwira untuk mengumumkan pertanyaan itu dan sementara menanti jawaban mereka, Endang Patibroto dipersilakan menunggu dan dijamu makan oleh sang adipati bersama seluruh keluarganya.

Hanya Lembu Alun dan Lembu Tirta yang tidak ikut dalam perjamuan itu karena mereka mulai hari itu sudah harus bertugas sebagai perajurit jogoboyo.

Dalam perjamuan itu Endang Patibroto banyak mendapat keterangan dari Adipati Kertajaya tentang pergolakan di timur.

Pasisiran sendiri merupakan daerah kekuasaan Jenggala dan selama ini kadipaten ini selalu patuh kepada Jenggala.

"Mula-mula kadipaten di Nusabarung yang memperlihatkan tanda hendak menentang kekuasaan Kerajaan Jenggala, akan tetapi kemudian kami mendengar bahwa Nusabarung bersekutu dengan Blambangan. Mereka telah memperkuat diri dan mempersiapkan pasukan besar untuk melawan pasukan Jenggala. Kami sendiri khawatir kalau kalau kami terseret karena kami berada ditengah-tengah antara Blambangan dan Jenggala,"

Demikian antara lain Adipati Kertajaya memberi keterangan.

Mendengar ini semakin kuat keinginan hati Endang Patibroto untuk melakukan penyelidikan ke daerah yang bergolak itu.

Kemudian, datang laporan dari para perwira yang mengatakan bahwa tidak ada seorang-pun di antara perajurit yang mendengar tentang Bagus Seto dan Retno Wilis Mendengar laporan itu, Endang Patibroto menjadi kecewa dan iapun segera berpamit dari keluarga Adipati Kertajaya.

Ketika Endang Patibroto berpamit darinya, Jarot kembali mengucapkan banyak terima kasih.

"Bantuan kanjeng bibi sungguh merupakan budi yang besar. Mudah-mudahan saja kelak saya akan dapat membalas budi itu."

Endang Patibroto tersenyum dan memandang pemuda itu dengan senang karena ia tahu bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang baik hati dan bijaksana, di samping memiliki ilmu kanuragan yang cukup tangguh.

"Jangan bicara tentang budi, anakmas Jarot. Saya tidak mengharapkan balasan apapun juga, hanya saya mengharap agar kelak kalau andika sudah menggantikan ramandamu menjadi adipati, bertindaklah yang adil dan bijaksana terhadap rakyatmu."

Endang Patibroto segera melanjutkan perjalanannya menuju ke timur untuk mencari jejak puterinya dan juga untuk menyelidiki daerah yang bergolak itu.

Nusa Barung adalah sebuah pulau di lautan Kidul yang cukup besar.

Di pulau itu terdapat seorang penguasa yang menyebut dirinya Adipati Martimpang yang kekuasaannya bukan hanya di atas pulau Nusa Barung, melainkan sampai ke daratan pantai Laut Kidul.

Adipati Martimpang berhasil menjadi penguasa yang berpengaruh dan ditakuti.

Dia juga menghimpun pasukan yang tidak kurang dari se ribu orang jumlahnya, sebagian dari pasukannya berjaga di daratan pantai pulau Jawa bagian selatan itu.

Dia juga mempunyai lima orang senopati yang terkenal gagah perkasa dan berbadan seperti raksasa.

Adipati Martimpang sendiri adalah seorang laki-laki tinggi besar berkulit hitam dan wajahnya menyeramkan, sama sekali tidak dapat dibilang tampan.

Akan tetapi dia memiliki belasan orang isteri yang cantik-cantik.

Tidak mengherankan kalau dia juga mempunyai seorang anak perempuan yang cantik jelita seperti ibunya dan diberi nama Dyah Candramanik.

Gadis ini sudah berusia tujuh belas tahun dan tidak ada pemuda di Nusabarung yang tidak tergila-gila kepada puteri adipati ini.

Adipati Martimpang sendiri amat membanggakan puterinya.

Akan tetapi siapakah yang berani mencoba untuk menundukkan hati Dyah Candramanik?

Mereka gentar terhadap ayahnya.

Karena itulah maka sampai berusia tujuh belas tahun, belum ada pria yang berani meminangnya.

Tentu saja Adipati Martimpang mempunyai cita-cita besar terhadap puterinya yang dibanggakannya ini.

Dia berkeinginan agar puterinya mendapatkan jodoh seorang Raja yang masih muda dan yang kaya raya serta besar kekuasaannya.

Atau setidaknya seorang ksatria yang sakti mandraguna dari keturunan orang terkenal.

Karena itu jangan harap ada seorang pemuda biasa di Nusabarung mampu mempersunting bunga yang indah harum itu.

Untuk menguji kesaktian orang yang berani meminang, Sang Adipati mengadakan sayembara tanding.

Siapa yang dapat mengalahkan seorang di antara lima orang senopatinya, yang bernama Wisokolo, dialah yang patut menjadi jodoh putrinya.

Akan tetapi sebelum bertandmg melawan Wisokolo yang sakti, orang itu harus dapat menunjukkan bahwa dia putera seorang yang terkenal, pendeknya bukan pemuda keturunan orang biasa.

Karena syaratnya yang begitu berat, menandingi Ki Wisokolo, maka sampai berbulan-bulan setelah sayembara diumumkan, masih belum juga ada yang berani memasuki sayembara.

Syarat itu begitu berat.

Siapa yang berani menandingi Ki Wisokolo yang terkenal digdaya itu?

Salah-salah tulang-tulang bisa patah-patah atau kepala bisa remuk!

Adipati Martimpang menjadi kecewa sekali, lalu menambah hadiah sayembara itu.

Kalau ada orang yang lulus sayembara, bukan saja pemuda itu akan mempersunting Dyah Candramanik, bahkan akan diangkat menjadi calon adipati, menggantikan kedudukan Adipati Martimpang kalau dia sudah mengundurkan diri.

Hal ini adalah sewajarnya karena sang adipati tidak mempunyai putera pria.

Semua anaknya yang berjumlah tujuh orang adalah perempuan.

Dyah Candramanik merupakan anak sulung dan yang paling cantik di antara saudara-saudaranya.

Berita tentang sayembara yang berhadiah besar ini tersebar luar sampai ke daerah-daerah lain.

Maka berdatanganlah orang-orang muda dari segala penjuru untuk memasuki sayembara dan mengadu nasib.

Mereka itu berdatangan dari Blambangan, daerah-daerah pantai utara dan timur, Probolinggo, Besuki, bahkan ada yang datang dari Madura dan Bali-dwipa!

Pada hari yang ditentukan, berkumpullah lima orang pemuda yang tampak gagah perkasa di Nusabarung, kemudian muncul pula dua orang pemuda yang tampak lemah lembut.

Dua orang pemuda ini bukan lain adalah Bagus Seto dan Retno Wilis!

Ketika Retno Wilis mendengar berita tentang diadakannya sayembara tanding di Nusabarung, ia segera berkata kepada kakaknya.

"Kakang Bagus, mari kita ikuti sayembara itu!"

Bagus Seto tersenyum memandang adiknya yang nakal.

"Aku tidak ingin mencari jodoh, diajeng. Untuk apa aku mengikuti sayembara itu?"

"Biar aku yang memasuki sayembara, engkau hanya menjadi penonton saja."

"Heh-heh, engkau ini aneh-aneh saja. Engkau seorang gadis, bagaimana hendak memasuki sayembara tanding yang hadiahnya seorang puteri itu? Apakah engkau ingin menikah dengan sesama wanita?"

"Tentu saja tidak, kakangmas. Akan tetapi ini merupakan kesempatan baik sekali bagi kita untuk memasuki Nusabarung. Dalam keadaan biasa kita masuk ke sana tentu akan menimbulkan kecurigaan sehingga gerakan kita kurang leluasa. Kita sudah mendengar desas-desus bahwa Nusabarung sedang bergolak dan timbul dugaan bahwa mereka hendak memberontak terhadap Jenggala. Kiranya sudah menjadi kewajiban kita untuk menyelidiki keadaan di sana. Dan kesempatan ini amat baik. Kalau kita ikut menjadi peserta sayembara, tentu kita akan dapat menyelidiki dengan mudah tanpa menimbulkan kecurigaan. Bukankah engkau pikir begitu, kakangmas?"

"Akan tetapi engkau seorang perempuan, bagaimana engkau akan ikut dalam sayembara itu, diajeng?"

"Ah, hal itu mudah saja, kakangmas. Apa sih sukarnya menjadi pria sebentar?kan yang membedakan hanya pakaiannya saja. Aku dapat menyamar menjadi pria tentu saja dan tak seorangpun akan mengetahui akan hal itu."

"Menyamar sebagai pria? Ah, engkau nakal, diajeng."

"Bagaimana lagi kalau tidak mengambil cara itu, kakangmas? Sebetulnya, lebih baik kalau engkau yang mengikuti sayembara, akan tetapi kalau engkau tidak mau, terpaksa aku yang maju."

"Jangan main-main, diajeng. Bagaimana kalau engkau nanti mendapat kemenangan keluar sebagai pemenang dan mendapatkan hadiah puteri itu?"

"Kalau begitu, biarlah puteri itu kuhadiahkan kepadamu, kakangmas!"

"Hussh, mana boleh begitu? Aku tidak mempunyai niat sama sekali untuk menikah dan pula, mana mungkin diperbolehkan kalau si pemenang memberikan hadiahnya kepada orang lain? Kita berdua tentu akan mendapat kesulitan."

"Kalau begitu, biar aku mengalah saja, kakangmas. Yang penting kita diperkenankan masuk tanpa dicurigai."

"Engkau dapat masuk sebagai peserta, akan tetapi aku tidak, kalau begitu sebaiknya engkau saja yang masuk untuk mengikuti sayembara, dan aku akan masuk sebagai pelancong biasa dan mengamati engkau dari jauh."

"Begitu juga boleh, kakang. Akan tetapi engkau harus berjanji tidak akan meninggalkan aku seorang diri."

Bagus Seto kembali tersenyum dan memandang wajah adiknya dengan penuh kasih sayang.

"Ah, diajeng Retno. Engkau seperti anak kecil saja. Seorang dara gagah perkasa seperti engkau ini, yang sudah biasa bertualang dan malang melintang di dunia, kenapa sekarang menjadi penakut, takut ditinggal seorang diri?"

"Aku tidak takut akan bahaya yang mengancam diriku, kakang Bagus. Aku takut kepada diriku sendiri. Dahulu aku bisa malang melintang, menurutkan kehendakku sendiri, menghancurkan mereka yang menjadi lawanku. Aku tidak mengenal apa artinya baik dan buruk, bahkan sampai sekarangpun aku masih bingung membedakan antara baik dan buruk. Aku membutuhkan bimbinganmu, kakang, maka aku takut kalau kau tinggal pergi."

"Aku tidak akan meninggalkanmu sebelum tiba saatnya, Retno. Akan tetapi jangan lupa, engkau harus mengalah dalam sayembara, pura-pura kalah. Kalau engkau keluar sebagai pemenang, tentu engkau hanya akan menghadapi kesulitan, harus menikah dengan puteri Adipati Martimpang dari Nusabarung."

"Aku mengerti, kakangmas. Aku akan berpura-pura kalah dan aku akan menyelidiki keadaan Nusabarung dari para peserta sayembara. Kabarnya malah ada jago dari Nusakambangan yang ikut dalam sayembara. Kalau aku dapat mendekatinya, tentu akan banyak mendengar tentang keadaan di Blambangan. Kalau benar Nusabarung bersekutu dengan Blambangan dan lain-lain kadipaten, aku harus menyelidikinya dan kelak melaporakan kepada Sang Prabu di Jenggala, juga kepada Kanjeng Romo. Aku sudah terlalu banyak mengacau dan mengganggu keamanan Panjalu dan Jenggala, maka sekarang aku harus menebus semua dosa itu. Juga aku akan membantu perjuangan kanjeng Romo."

"Bagus kalau engkau berpikiran begitu, diajeng. Nah, sekarang aku pergi, kita berpisah di sini."

"Baik, kakangmas."

Dua orang muda kakak beradik itu lalu berpisah.

Sebelum berpisah Bagus Seto memberikan pakaian pria kepada Retno Wilis, kemudian pemuda itu meninggalkan adiknya.

Retno Wilis lalu mencari tempat tersembunyi di dalam sebuah guha untuk berganti pakaian.

Pakaiannya dan bekal pakaiannya sendiri ia sembunyikan di dalam guha itu.

Setelah keluar dari dalam guha, ia berubah menjadi seorang pemuda.

Akan tetapi karena baju yang dipakainya terlalu besar, ia nampak sebagai seorang perjaka remaja tanggung!

Iapun berangkat menuju Nusabarung, membayar seorang tukang perahu yang mau menyeberangkannya ke pulau itu.

Ia tahu bahwa kakaknya tentu juga akan menyewa perahu untuk melakukan penyeberangan ke Nusabarung.

"Anakmas, apakah andika pergi ke Nusabarung untuk menonton keramaian sayembara?"

Tanya tukang perahu yang setengah tua itu.

"Benar, paman,"

Jawab Retno Wilis, membenarkan saja agar tidak lagi orang banyak bertanya.

"Paman, aku melihat di pantai tadi banyak perajurit melakukan penjagaan, apakah mereka itu perajurit Nusabarung?"

Tukang perahu menghela napas panjang.

"Agaknya anakmas bukan orang sini, ini mudah diduga mendengar cara anakmas bicara dan bertanya tentang perajurit itu. Memang benar, mereka itu perajurit-perajurit dari Nusabrung yang akhir-akhir ini terdapat banyak di pantai, bahkan mereka mempunyai perkemahan di pantai. Biasanya, para petugas itu selalu memeriksa setiap orang yang hendak menyeberang ke Nusabarung, akan tetapi karena adanya sayembara itu, mereka tidak lagi memeriksa dan banyak orang pergi ke Nusabarung dibiarkan saja. Kalau lain waktu andika lewat di sini, tentu tidak lepas dari pemeriksaan mereka."

"Apa saja yang diperiksa, paman? Mengapa pula orang lewat harus diperiksa?"

"Aku sendiri tidak tahu, anakmas. Hanya kabarnya, mereka itu memeriksa untuk mencari mata-mata musuh."

Retno Wilis merasa lega bahwa ia meninggalkan pedang pusakanya di dalam guha tadi. Kalau ia membawa pedang, mungkin saja ia akan mengalami pemeriksaan oleh perajurit-perajurit tadi.

"Apakah Nusabarung mempunyai musuh, paman? Apakah mereka mau berperang?"

Retno Wilis bertanya perlahan, seperti orang yang merasa takut kalau-kalau ucapannya didengar orang lain.

"Aku tidak tahu, anakmas. Akan tetapi di mana-mana kini diadakan gerakan, para pria muda diharuskan masuk menjadi perajurit-perajurit."

"Diharuskan?"

"Ya, yang menolak akan dihukum berat. Bahkan..."

Tukang perahu itu mengecilkan suaranya.

"... banyak wanita muda juga mereka bawa."

"Ke mana?"

"Entahlah, akan tetapi yang mereka bawa pergi itu wanita muda yang berwajah cantik."

Kini tampak banyak perahu menyeberang ke dan dari Pulau Nusabarung dan tukang perahu itu menjadi pendiam, agaknya khawatir kalau ucapannya terdengar orang lain.

Setelah mendarat di Pulau Nusabarung, Retno Wilis ikut dalam rombongan banyak orang yang juga ingin nonton sayembara tanding.

Mereka semua menuju ke alun-alun di depan kadipaten, di mana di dirikan sebuah panggung di mana para pengikut sayembara akan berlaga.

Di alun-alun itu telah berkumpul banyak sekali orang yang hendak menonton sayembara.

Retno Wilis menyelinap di antara orang banyak dan bertanya kepada seorang laki-laki yang berdiri di sebelah kirinya.

"Ki sanak, apa sajakah yang dipertandingkan dalam sayembara ini?"

Ia bertanya sambil lalu seperti seorang penonton yang ingin tahu. Orang itu memandang kepada Retno Wilis.

"Agaknya andika datang dari pesisir maka belum tahu akan hal itu. Pertandingan ada tiga macam. Pertama, calon pengikut harus melalui ujian tenaga, yaitu mengangkat arca raksasa yang berada dipanggung itu."

Retno Wilis melihat sebuah arca yang sebesar manusia dewasa berdiri di atas panggung. Arca itu tentu besar sekali.

"Dan yang kedua?"

"Yang kedua ujian ketangkasan. Setiap peserta harus dapat memanah sasaran di atas itu dengan tepat. Nah, kalau seorang peserta lulus dalam dua ujian itu, barulah dia dihadapkan kepada Ki Wisokolo untuk bertanding dan kalau dia mampu bertahan menandingi Ki Wisokolo sampai hitungan ke se ribu, barulah dia dinyatakan menang."

"Siapa Ki Wisokolo?"

Orang itu tersenyum seperti menertawakan pertanyaan yang dianggapnya tolol itu.

"Andika tidak mengenal Ki Wisokolo? Dia adalah senopati nomor satu di Nusabarung, jagoan yang tak pernah terkalahkan. Karena itu, siapa yang mampu menghadapinya sampai se ribu hitungan, dia benar benar tangguh dan akan keluar sebagai pemenangnya."

"Ah, begitukah? Aku mendengar yang disayembarakan adalah puteri Gusti Adipati, apakah ia seorang gadis yang cantik?"

Kembali orang itu tersenyum lebar.

"Ah-ah, siapa yang tidak tergila-gila kepada Sang Dyah Ayu Candramanik? Ia cantik jelita seperti dewi dari kahyangan, kalau bernyanyi suaranya merdu melebihi burung perkutut yang paling baik dan kalau ia menari, wah, seperti bidadari."

"Siapakah yang telah mendaftarkan diri sebagai pengikut sayembara?"

"Andika lihat di sana itu, di sebelah kanan panggung. Di sanalah orang yang hendak memasuki sayembara didaftar. Nah, itu beberapa orang pria sudah mendaftar."

"Terima kasih, ki sanak,"

Kata Retno Wilis dan iapun lalu melangkah menuju ke tempat itu.

"Hei, engkau hendak ke mana?"

Tanya orang tadi heran.

"Hendak mendaftarkan diri sebagai pengikut sayembara, apa lagi?"

Jawab Retno Wilis sambil tersenyum dan orang itu tertegun.

Pemuda remaja itu memang tampan sekali.

Akan tetapi dengan tubuhnya yang kecil dan tampak lemah itu bagaimana hendak mengikuti sayembara?

Hampir dia tertawa membayangkan pemuda remaja itu mencoba mengangkat arca besar itu, lebih besar dari tubuh pemuda remaja itu sendiri!

(Lanjut ke

Jilid 03) Sepasang Garuda Putih (seri ke 05 -Serial Keris Pusaka Sang Megatantra) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 Dengan langkah tegap Retno Wilis menghampiri meja di mana tiga orang perwira duduk menerima pendaftaran.

Dan mereka yang sudah mendaftarkan diri sebagai pengikut sudah berkumpul di bawah panggung.

Tiga orang perwira itu memandang heran kepada Retno Wilis ketika ia menghampiri meja.

Mereka memandang penuh perhatian dan seorang di antara mereka bertanya.

"Orang muda, engkau mau apakah?"

"Saya hendak mendaftarkan diri sebagai peserta sayembara!"

Jawab Retno Wilis dengan suara tegas. Tiga orang perwira itu saling pandang lalu mereka tertawa.

"Andika? Hendak menjadi peserta sayembara? Eh, orang muda, apakah andika sudah tahu syarat-syaratnya?"

"Sudah, bukankah pertama mengangkat arca batu itu, dan kedua memanah sasaran di ujung bambu itu?"

"Benar, dan sesudah lulus dengan syarat-syarat itu, harus dapat bertahan menandingi Ki Wisokolo sampai se ribu hitungan!"

"Aku sudah tahu."

"Dan andika nekat mau ikut?"

"Benar."

Tiga orang perwira itu agaknya merasa kasihan kepada pemuda remaja yang tampan ini, akan tetapi karena pemuda itu nekat, merekapun hanya menggerakkan pundak mereka.

"Siapa nama andika?"

Tanya seorang dari mereka yang bertugas mencatat nama-nama para peserta.

"Namaku Joko Wilis."

"Berasal dari mana?"

"Dari lereng Gunung Wilis."

"Baiklah, nama andika sudah kami catat. Tunggu di sana seperti para peserta lainnya."

Dengan girang Retno Wilis lalu menuju ke bawah panggung di mana sudah berkumpul lima orang pemuda lain.

Mereka ini semua memiliki perawakan yang gagah, tinggi besar dan nampak kokoh kuat.

Ketika lima orang itu melihat Retno Wilis menghampiri mereka ikut menunggu di situ, mereka memandang dengan terheran-heran.

"Eh, ki sanak, apakah andika juga ikut menjadi peserta sayembara?"

Tanya seorang di antara mereka yang mukanya penuh kumis jenggot cambang bertubuh tinggai besar dan matanya terbelalak lebar."

"Benar, ki sanak,"

Jawab Retno Wilis sambil tersenyum.

"Ha-ha-ha-ha!"

Si brewok itu tertawa sambil berdongak sehingga perutnya turun naik ketika dia tertawa.

"Ah, kenapa andika begini nekat? Sayembara ini berat sekali. Baru mengangkat arca itu saja, mana andika kuat? Jangan-jangan malah arca batu itu akan jatuh menimpa tubuhmu sehingga gepeng, ha-ha-ha!"

Empat orang peserta lainnya ikut tertawa.

"Jangan andika sekalian menertawakan kisanak ini. Siapa tahu di tubuhnya yang kecil tersimpan kedigdayaan yang hebat!"

Tiba-tiba seorang pemuda yang baru saja masuk berkata.

Agaknya diapun seorang peserta baru yang mendaftarkan diri sesudah Retno Wilis.

Mendengar ucapan itu, Retno Wilis memandang dan ia melihat seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, tubuhnya jangkung agak kurus, wajahnya biasa saja akan tetapi sepasang matanya bersinar tajam sekali.

Retno Wilis memandang kepadanya dengan berterima kasih.

Akan tetapi hatinya tetap merasa penasaran karena ia dijadikan bahan ejekan dan dipandang rendah.

Kalau tadinya ia berniat untuk menjadi peserta yang gagal, kini ia mengambil keputusan untuk memperlihatkan kepada mereka semua bahwa ia dapat mengangkat arca batu itu dengan mudah melebihi kekuatan mereka.

Ia juga akan mengikuti ujian memanah sampai berhasil.

Masih belum terlambat baginya untuk mundur setelah berhadapan dengan Ki Wisokolo, berpura-pura kalah.

Dengan demikian ia tidak akan dicurigai dan akan dapat melakukan penyelidikan tentang Nusabarung dengan leluasa.

Setelah matahari naik tinggi, pendaftaran dihentikan dan ternyata jumlah peserta yang mendaftarkan diri ada sepuluh orang.

Setelah pendaftaran ditutup, terdengar bunyi tetabuhan dan muncullah Sang Adipati Martimpang bersama lima orang senopatinya dan di sampingnya berjalan isteri pertamanya dan Dyah Candramanik.

sepuluh orang peserta sayembara itu memandang kepada Dyah Candramanik dengan sinar mata kagum.

Mereka berbisik-bisik memuji dan munculnya dara jelita ini membuat semangat mereka menjadi semakin besar.

Retno Wilis dalam kesempatan waktu menanti itu, secara sambil lalu memperkenalkan diri kepada para peserta.

Ia tahu siapa adanya mereka itu, akan tetapi hanya si brewok tinggi besar yang sombong itu dan pemuda yang tadi membelanya yang menjadi pusat perhatiannya.

Si brewok itu bernama Kalinggo datang dari Blambangan, bahkan dia mengaku sebagai putera seorang senopati di Blambangan.

Adapun pemuda yang jangkung agak kurus bermata tajam itu bernama Ngurah Pranawa, seorang peserta yang datang dari Bali-dwipa.

Bukan orangnya yang menarik hati Retno Wilis untuk mendekatinya, melainkan asal mereka itulah.

Ia hendak menyelidiki hubungan antara Nusabarung, Blambangan dan Bali-dwipa.

Ia dapat memancing pembicaraan dengan Kalinggo tentang keadaan dirinya.

"Tentu aku yang akan menangkan sayembara ini,"

Bual si tinggi besar brewok itu.

"Aku datang dari Blambangan, tentu akan mendapatkan kehormatan dan perhatian. Apalagi ayahku seorang senopati terkenal di Blambangan."

"Akan tetapi apa hubungannya antara ayahmu menjadi senopati di Blambangan dengan sayembara ini?"

Retno Wilis mendesak dengan sikap sambil lalu untuk sekedar mengobrol saja.

"Hubungannya erat sekali!"

Kata Kalinggo.

"Nusabarung membutuhkan bantuan Blambangan, maka Sang Adipati tentu akan mempertimbangkan keadaanku dan akan lebih senang bermantukan seorang putera senopati Blambangan dari pada pemuda lain! Andika lihat saja nanti!"

Retno Wilis sudah merasa puas mendengar semua itu dan tidak bertanya lagi karena ia khawatir kalau-kalau pemuda sombong itu akan menjadi curiga, ia lalu mendekati Ngurah Pranawa yang mengaku sebagai seorang pemuda dari Bali-dwipa.

"Saudara Ngurah Pranawa, andika datang jauh dari Balidwipa. Ah, sudah lama aku mendengar tentang Bali-dwipa yang indah, akan tetapi belum pernah aku berkunjung ke sana. Siapakah yang duduk menjadi Raja di tempat andika?"

"Di Bali-dwipa terdapat banyak Raja yang menjadi sesembahan. Adapun yang berkuasa di tempat tinggal saya adalah Ki Gusti Ngurah Jelantik yang menjadi Raja muda di Telibeng."

"Andika sendiri putera siapakah?"

"Ah, saya hanya putera seorang pendeta yang tinggal di lereng bukit, dan saya memang suka merantau. Dalam perantauan di sini aku mendengar tentang sayembara ini dan mencoba untuk mengikutinya. Siapa tahu para dewata menjodohkan saya dengan puteri Sang Adipati."

"Tentu ada hubungan dekat antara para Raja di Bali-dwipa dengan Nusabarung, bukankah begitu, saudara Ngurah Pranawa?"

"Aku hanya mendengar bahwa Adipati di Nusabarung suka mengirim upeti setiap tahun kepada Dalem Bali (Sribaginda Raja di Bali), tentu ada hubungan antara Bali-dwipa dan Nusabarung. Akan tetapi mengapa andika menanyakan hal itu, saudara Joko Wilis?"

"Ah, hanya ingin tahu saja karena aku merasa heran mengapa andika jauh-jauh dari Bali-dwipa datang ke sini memasuki sayembara."

Karena pemuda dari Bali itu mulai tampak curiga, Retno Wilis tidak bertanya lebih lanjut.

Pada saat itu terdengar bunyi gong dan seorang juru bicara berdiri di atas panggung, lalu berkata dengan suara lantang.

"Dengan ini kami mengumumkan atas nama Kanjeng Gusti Adipati bahwa jumlah peserta sayembara ada sepuluh orang. Dan kini dimulailah syarat pertama dari sayembara ini, yaitu mengangkat arca raksasa ini sampai melewati kepala. Dipersilakan para peserta untuk menguji kekuatan masing-masing satu demi satu. Kami akan memanggil nama peserta satu demi satu dan yang terpanggil namanya dipersilakan naik ke panggung dan memperlihatkan kekuatannya. Pertama kami panggil nama peserta Kalinggo dari Blambangan."

Terdengar tepuk tangan dan sorak sorai menyambut Kalinggo yang melompat keatas panggung dengan gerakan yang ringan dan cekatan.

Setelah tiba di atas panggung, Kalinggo menanggalkan baju bagian atas sehingga tampaklah tubuh atasnya yang kokoh kuat, dengan otot besar melingkar-lingkar.

Dia memandang ke arah tempat duduk Dyah Candramanik seolah-olah hendak memamerkan otot-ototnya kepada dara jelita itu, akan tetapi Dyah Candramanik membuang muka, bahkan jijik melihat tubuh yang berotot dan dada bidang yang berambut itu.

Dengan sikap pongah Kalinggo menghampiri arca batu sebesar tubuhnya itu, memegang dengan kedua tangannya dan mencoba beratnya dengan mengangkatnya sedikit.

Kemudian dia memandang kembali ke arah Dyah Candramanik dan tersenyum.

Setelah itu dia membungkuk, memegang arca itu dan mengerahkan tenaganya mengangkat dan ternyata dia bukan hanya membual belaka.

Arca besar dan berat itu terangkat oleh kedua tangannya, diangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya, lalu dibawanya berkeliling panggung itu, baru dia turunkan kembali ke tempatnya yang tadi.

Tepuk sorak menyambutnya dan tampaknya dada raksasa muda brewok dari Blambangan itu semakin membesar dan membengkak.

Dengan jari-jari tangannya, dia mengusap peluh yang membasahi leher dan dadanya.

"Peserta Kalinggo telah lulus dari ujian kekuatan. Harap turun dari panggung dan kami panggil nama peserta Purwanto dari Pasuruan!"

Dari bawah meloncat seorang pemuda yang juga bertubuh tinggi tegap seperti Raden Gatotkaca, dan para penonton juga menyambutnya dengan tepuk sorak.

Pemuda ini membungkuk-bungkuk tanda menghormati semua orang yang menyambutnya dengan tepuk sorak, kemudian dia menghampiri arca raksasa tanpa membuka bajunya.

Dia memeluk arca itu dan mengerahkan tenaganya.

Arca terangkat, akan tetapi ketika dia hendak mengangkat arca itu ke atas kepalanya, kedua lengannya gemetar dan terpaksa dia melepaskan lagi arca itu ke atas panggung.

Dia mencoba sekali lagi, akan tetapi kembali dia gagal.

Ternyata tenaganya tidak cukup untuk mengangkat arca itu ke atas kepalanya!

Dengan tersipu dia mendengarkan juru bicara mengumumkan bahwa dia gagal, lalu dia turun dari atas panggung.

Penonton menyambutnya dengan tawa mengejek.

Berturut-turut para peserta dipersilakan naik dan akhirnya nama Joko Wilis dipanggil sebagai peserta terakhir.

Kebanyakan dari para peserta gagal mengangkat arca itu dan yang berhasil hanya Kalinggo, Ngurah Pranawa dan dua orang lagi.

Jadi empat orang sudah berhasil mengangkat arca itu di atas kepala.

"Kini peserta terakhir, Joko Wilis dari Gunung Wilis kami persilakan naik panggung!"

Demikian juru bicara mengumumkan.

Para peserta, baik yang berhasil maupun yang tidak, sudah tertawa sebelum Retno Wilis meloncat naik.

Melihat betapa wajah mereka tertawa-tawa memandang kepadanya, makin panaslah hati Retno Wilis.

Apa lagi mendengar Kalinggo berkata sambil menyeringai.

"Hati-hati, kawan. Jangan-jangan arca itu akan menghimpit tubuhmu sampai gepeng!"

Retno Wilis tidak memperdulikan lagi ejekan mereka, dan iapun meloncat ke atas panggung.

Sambutan para penonton tidak jauh bedanya dari sambutan para peserta sayembara tadi.

Banyak di antara penonton yang tertawa melihat pemuda remaja yang kelihatan lemah dengan kedua lengan kecil itu naik ke panggung.

"Heiii, bocah cilik begitu mau ikut-ikutan sayembara?"

Teriak seseorang.

"Bocah yang masih hijau! Lebih baik engkau pulang kepada ibumu!"

Ejek yang lain.

Para penonton banyak yang tertawa mendengar ini dan memandang kepada Retno Wilis dengan senyum menyejek atau senyum kasihan.

Semua orang menduga bahwa pemuda remaja itu tentu tidak akan mampu mengangkat arca yang demikian beratnya.

Lima orang di antara para peserta yang bertubuh kuat, dengan lengan yang besar berotot, tidak kuat mengangkat arca itu, apa lagi pemuda remaja yang kedua lengannya kecil dan tampak lemah itu.

Makin diejek dan ditertawakan, makin panaslah hati Retno Wilis dan ia lupa bahwa ia mengikuti sayembara hanya sebagai sarana agar ia dapat melakukan penyelidikan dengan leluasa saja.

Kini ia mengambil keputusan untuk memberi pelajaran kepada mereka semua yang mencemoohkannya dengan memperlihatkan kepandaiannya yang hebat!

Biarlah, aku mengalahkan mereka semua dalam ujian kekuatan dan kepandaian memanah, baru nanti kalau diharuskan bertanding melawan Ki Wisokolo ia akan mengalah agar ia tidak lulus dalam sayembara itu!

Ia memandang ke sekeliling dan ketika pandang matanya bertemu dengan wajah Dyah Candramanik, ia melihat bahwa dara jelita itu sama sekali tidak ikut menertawakannya, bahkan memandang kepadanya dengan sinar mata tajam dan seolah mengandung harapan agar ia berhasil!

Maka iapun membungkuk dengan hormat kearah puteri itu.

Hal ini menyenangkan hati Sang Adipati dan keluarganya yang mengira bahwa pemuda remaja itu memberi hormat kepada mereka.

"Seorang pemuda yang pandai membawa diri dan tahu sopan santun,"

Pikir mereka.

Retno Wilis lalu menghampiri arca itu.

Dengan kedua tangannya ia mencoba dulu berat arca itu.

Karena hanya mengangkatnya sedikit saja, semua orang melihat bahwa dia seakan-akan tidak kuat mengangkatnya.

Orang-orang sudah mulai tertawa-tawa lagi penuh ejekan.

Akan tetapi, suara ejekan dan semua suara tiba-tiba terhenti sama sekali, semua mata terbelalak memandang ketika Retno Wilis mengangkat arca batu itu dengan sebelah tangan saja ke atas kepalanya!

Mula-mula tangan kanannya yang mengangkat arca itu, lalu dilontarkannya ke atas, diterimanya dengan tangan kiri dan ia membawa arca itu berkeliling panggung, bukan satu kali, melainkan tiga kali!

Setelah suasana hening sejenak dan orang-orang memandang dengan mata terbelalak tidak percaya, baru setelah Retno Wilis meletakkan kembali arca ditempat semula, pecah sorak sorai yang riuh rendah menggetarkan seluruh alun-alun itu.

Bahkan Sang Adipati, isterinya dan Dyah Candramanik juga ikut pula bertepuk tangan.

Wajah Dyah Candramanik berseri-seri dan kedua telapak tangannya sampai terasa panas karena ia bertepuk keras-keras dan lama.

Suara juru bicara hampir tertelan oleh sisa sorak sorai gemuruh itu.

"Peserta ke sepuluh, Joko Wilis, dinyatakan berhasil dengan ujian kekuatan dan ia dipersilakan turun dulu dari panggung. Dengan demikian, yang berhasil lulus tingkat pertama ada lima orang peserta sayembara. Sekarang tiba saatnya diadakan ujian tingkat kedua bagi lima orang yang telah lulus tadi. Dimulai dari peserta pertama, Kalinggo dari Blambangan, untuk memperlihatkan ketangkasannya melepas anak panah agar mengenai sasaran, yaitu buah kelapa yang berada di ujung bambu. Diharapkan para peserta dapat meruntuhkan buah kelapa sehingga jatuh ke bawah, dan sedikitnya anak panah harus mengenai buah kelapa, baru di anggap lulus!"

Dengan sikapnya yang sombong, Kalinggo naik pula ke atas panggung.

Dia memilih busur yang terbesar dan terberat karena busur seperti itu, makin berat semakin baik dan semakin cepat meluncurkan anak panah.

Diapun memilih sebatang anak panah yang lurus, kemudian memasang anak panah pada busurnya dan mulailah dia membidik ke atas, ke arah buah kelapa yang tergantung di ujung bambu.

Ada sepuluh buah kelapa yang tergantung di sepuluh batang pohon bambu.

Dia memilih yang terdekat dan setelah membidik beberapa saat, dia lalu melepaskan tali busurnya.

Anak panah itu melesat dengan cepat sekali dan menancap di buah kelapa itu, persis di tengah-tengahnya!

Sorak sorai menyambut keberhasilan ini dan dengan mengangkat dada Kalinggo menuruni panggung.

Dua orang peserta berturut-turut mencoba dan mereka hanya berhasil mengenai buah kelapa pada sisinya karena buah kelapa itu bergoyang-goyang ketika batang bambu tertiup angin.

Mereka dinyatakan gagal karena sedikitnya harus dapat mengenai buah kelapa tepat di tengah-tengahnya.

Kini tiba giliran Ngurah Pranawa, pemuda dari Bali-dwipa.

Dia memegang busur seperti seorang ahli, bidikannya tetap, tangannya tidak bergoyang sedikitpun dan ketika anak panahnya melesat, anak panah itu pun telah menusuk sebutir kelapa tepat di tengahnya.

Jadi ada dua orang yang sudah berhasil lulus ujian kedua.

Ketika nama Joko Wilis disebut dipersilakan naik, para penonton kini tidak ada yang menertawakannya, bahkan mereka bersorak sorai menyambut karena dalam pandangan mereka, Joko Wilis kini menjadi yang terhebat di antara mereka semua.

Sambutan para penonton ini membanggakan hati dan membesarkan semangat Retno Wilis untuk menang.

Akan ia perlihatkan sekali lagi kehebatannya, pikirnya, agar jangan ada lagi orang berani memandang rendah kepadanya!

Ia memilih gendewa yang kecil saja, lalu memasang dua batang anak panah pada busurnya, membidik cepat dan begitu dua batang anak panah melesat ke atas, semua orang memandang dan menahan napas dan kembali mereka bersorak sorai ketika melihat dua butir buah kelapa jatuh dari puncak batang-batang bambu.

Ternyata sekali melepas dua anak panah, Joko Wilis telah dapat menjatuhkan dua butir buah kelapa, dua batang anak panah itu tepat mengenai tangkai buah kelapa!

Kembali Dyah Candramanik bertepuk tangan sampai terasa panas dan kelelahan.

Juga Sang Adipati mengangguk-angguk dan harus memuji ketangkasan pemuda remaja itu.

Suara juru bicara tidak terdengar sama sekali, lenyap ditelan sorak sorai yang menggegap gempita.

Baru setelah sorak sorai mereda dan Retno Wilis sudah turun kembali dari panggung, juru bicara mengumumkan hasil ujian itu.

"Peserta Joko Wilis telah lulus dengan sempurna sekali. Kini yang telah lulus dari uji kekuatan dan ketangkasan terdapat tiga orang, yaitu Kalinggo dari Blambangan, Ngurah Pranawa dari Bali-dwipa, dan Joko Wilis dari Gunung Wilis. Dan sekarang tiba saatnya bagi mereka untuk menghadapi ujian terakhir, yaitu masing-masing harus mampu bertahan melayani berkelahi dengan Ki Wisokolo selama hitungan sampai se ribu. Dalam uji tanding ini, tidak boleh menggunakan senjata dan apabila terjadi ada yang terluka atau bahkan tewas dalam pertandingan ini, hal itu sudah dianggap wajar dan tidak akan diadakan pengadilan. Kita mulai dari peserta pertama, Kalinggo dari Blambangan!"

Ki Wisokolo sudah menanti di atas panggung.

Seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, tinggi besar seperti Werkudara, kumisnya melintang sekepal sebelah, pundaknya bidang, kedua lengannya kekar, demikian pula kedua kakinya.

Inilah senopati nomor satu di Nusabarung, juga jagoan yang tak pernah terkalahkah!

Sambil bersikap tenang Ki Wisokolo menoleh ke arah para penabuh gamelan dan memberi isyarat agar gamelan dibunyikan.

Segera terdengar bunyi gamelan yang bernada gagah, pengiring perang!

Ki Wisokolo berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua tangan bertolak pinggang dan matanya mencorong memandang kepada Kalinggo ketika jagoan dari blambangan ini naik ke pentas.

Ki Wisokolo mengangguk ramah kepada Kalinggo karena dia mengenal putera senopati Blambangan ini, dan dalam hatinya dia sudah condong memenangkan jagoan muda dari Blambangan ini agar dapat berjodoh dengan Dyah Candramanik.

Akan tetapi bagaimanapun juga, dia harus menguji kepandaian pemuda ini untuk melihat apakah memang patut menjadi mantu Sang Adipati.

Juru bicara memberi aba-aba.

"Satu-dua -tiga , mulai!"

Dan diapun dengan lantang mulai menghitung.

"Satu -dua -tiga -empat -"

Dan seterusnya sementara gamelan dipukul bertalu-talu membuat suasana menjadi semakin bersemangat.

"Mulailah, anak mas Kalinggo!"

Kata Ki Wisokolo dan Kalinggo tidak sungkan-sungkan lagi segera maju menyerang dengan pukulan yang kuat.

Akan tetapi Ki Wisokolo dengan mudah mengelak sambil membalas dengan sapuan kakinya untuk membuat tubuh lawan terpelanting.

Akan tetapi Kalinggo cukup tangkas untuk mengelak pula.

Kemudian Kalinggo menyerang terus bertubi-tubi, ditangkis atau dielakkan oleh Ki Wisokolo, bahkan kadang dia menerima pukulan itu dan dengan tubuhnya yang kebal.

Sementara itu, juru bicara terus menghitung dengan suara lantang.

Retno Wilis ikut nonton pertandingan itu dan ia mengerutkan alisnya.

Di sini terjadi kecurangan, pikirnya.

Dari ketangkasannya ketika mengelak dan menangkis, juga kekebalannya, jelas bahwa tingkat kepandaian Wisokolo jauh lebih tinggi dari pada Kalinggo.

Akan tetapi Ki Wisokolo ini hanya mempertahankan diri saja, jarang sekali menyerang dan kalau menyerangpun tidak dengan sungguh-sungguh.

Jelas tampak olehnya bahwa Ki Wisokolo agaknya hendak memberi kesempatan kepada Kalinggo untuk memenangkan sayembara itu!

Sementara itu, Kalinggo menjadi penasaran sekali dan dia mengamuk makin hebat.

Segala kepandaian dan tenaganya dikerahkan untuk menyerang dan merobohkan lawan, namun semua usahanya sia-sia.

Sampai basah seluruh tubuhnya oleh keringat dan sampai hitungan ke delapan ratus, napasnya sudah terengah-engah.

Namun dia terus menyerang, walaupun tidak lagi sehebat tadi.

Dalam keadaan ini, kalau Ki Wisokolo hendak merobohkan lawannya, tentu saja amat mudah.

Akan tetapi dia tidak ingin merobohkan lawan yang satu ini.

Ketika hitungan sampai ke se ribu, Ki Wisokolo meloncat ke belakang dan tersenyum menyeringai, memandang kepada Kalinggo yang sudah bermandi keringat dan napasnya terengah-engah.

Akan tetapi dia lulus dan penonton menyambutnya dengan sorak sorai memuji.

Baca Juga: Bu Kek Siansu 17

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 16

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert