Ceritasilat Novel Online

Bukit Pemakan Manusia 8

Eps 8 Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung

Baca online Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung

Cersil Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung.

Sementara itu Bau-ji dan Hou-ji sudah berkumpul menjadi satu dengan Sun Tiong-lo tapi setelah menyaksikan kelihayan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu, tak urung hatinya merasa terkesiap juga dibuatnya.

Namun Sun Tiong-lo sendiri sama sekali tidak menunjukkan perasaan kaget, bahkan se baliknya dia malah tertawa hambar.

Senyuman mana dengan cepat menggusarkan pihak lawan, mendadak orang itu menegur.

"Lohu sudah turun !"

Yang dimaksudkan sudah turun, mungkin ia hendak menegur kepada Sun Tiong lo, setelah aku turun, mau apa kau?

Sun Tiong lo tidak menjawab dulu pertanyaan tersebut, dia menghimpun tenaganya dalam nya dulu dan mengawasi pihak lawan dengan seksama.

Ternyata manusia aneh yang baru saja meluncur turun dari atas loteng genta dan meluncur datang dari jarak dua puluh kaki itu tak berkain kerudung muka, dia mempunyai seraut wajah yang hitam pekat, sedemikian hitamnya mirip pantat kuali yang sudah lama tidak dipergunakan lagi.

Alis matanya pendek lagi kasar, ada sebagian yang telah beruban, agaknya ia sudah berusia lanjut.

Selembar mulutnya yang tipis tapi datar memperlihatkan kalau dia suka bicara.

Sepasang matanya yang cekung kedalam sedang mengawasi wajah Sun Tiong lo tanpa berkedip.

Ia memakai pakaian ringkas tani bukan terbuat dari bahan kain, melainkan terbuat dari bahan kulit kelas satu, diatas sepasang bahunya terlihat dua batang gelang baja besar yang dijahit disitu secara aneh, entah apa kegunaannya.

Senjata yang dipakai orang itu lebih aneh lagi, dilihat sepintas lalu mirip sekali dengan dua batang pena baja yang di gulung menjadi satu.

Berhubung Sun Tiong-lo cuma membungkam tanpa bergerak dan hanya mengawasinya tanpa berkedip, tanpa terasa iapun menegur lagi.

"Bagaimana? Sudah puas kalau melihat ?"

"Ya, sudah puas."

Jawab Sun Tionglo "Lantas mau apa kau sekarang ?"

"Heeeh, heeeh, heeeh, aku tak mau apa-apa."

Setelah berhenti sejenak, dengan nada berubah dia balik bertanya lagi kepada orang itu.

"Dan kau. apa yang kau inginkan ?"

Orang itu mendengus dingin berulang kali "Lohu ingin bertanya kepada kalian, ditengah malam buta begini, ada urusan apa kalian berkunjung kemari ?"

"Aneh, kau sendiri ? Mau apa kau berada di kuil ini ?"

Sun Tiong lo balik bertanya dengan mata melotot. Orang itu makin naik darah, teriaknya.

"Lohu sedang menegurmu, maka kau harus menjawab lebih dahulu!"

Bau-ji tidak sabaran, mendadak tegurnya.

"Siapa yang harus menjawab pertanyaanmu itu ? Hmmm !"

"Bagus sekali, kalau begitu kalian tak usah pergi dari sini lagi"

"Oooh . .. masa kau mampu ?"

Jengek Hou ji.

"baru pertama kali ini kudengar ancaman macam begitu, sayang selama hidup kami tidak percaya dengan tahayul, bila kau memang merasa berkemampuan untuk menahan kami di sini, ayolah, coba tahan kami di sini!"

Dengan sorot mata yang gusar tapi memandang hina, orang itu mengawasi Sun Tiong lo sekejap, lalu katanya lagi.

"Sesungguhnya siapa sih diantara kalian yang menjadi pemimpinnya ?"

Tampaknya Hou-ji memang ada maksud untuk membuat lawannya gusar, cepat dia menjawab.

"Siapa pun berhak menjadi pemimpin, dan siapapun berhak mengambil keputusan kalau ingin berbicara, ayo katakan saja terus terang!"

Orang itu mengalihkan kembali sorot mata nya ke wajah Sun Tiong-lo. kemudian ujarnya.

"Lohu rasa, kemungkinan besar kau lebih tahu diri daripada mereka, kini..."

"Belum tentu"

Tukas Sun Tiong lo sambil tertawa dingin.

"Mungkin aku jauh lebih sukar untuk diajak berbicara."

Orang itu menggigit bibirnya kencang-kencang dan tidak berbicara lagi, pelan-pelan dia mengembangkan pena bajanya.

Pelan-pelan orang itu menggerakkan sepasang pena bajanya kekiri dan kekanan.

Hingga sekarang baru terlihat jelas letak keanehan dari sepasang senjatanya itu, ternyata benda tersebut bukan pena, melainkan sepasang Thi pit-ki (panji pena baja).

Pena baja itu panjangnya tiga depa, sedang panji yang terbentang berbentuk segi tiga.

Anehnya, panji tersebut memancarkan cahaya hitam yang aneh dan gemerlapan, sudah jelas bukan terbuat dari kain.

Setelah orang itu mengembangkan panji pena bajanya, meski gusar, namun ia masih tak ingin turun tangan dengan segera, maka sesudah tertawa seram berulang kali, dia menuding ke arah Sun Tiong lo dengan panji pena baja ditangan kanannya seraya berkata.

"Sudah banyak tahun lohu tak bertempur melawan orang, tapi bila lohu di paksa untuk turun tangan juga, lohu akan bersikap seperti dulu, tak akan kubiarkan seorang korbanpun berada dalam keadaan hidup."

Sebelum Sun Tiong lo menjawab, Hou ji te lah menyala.

"Kalau begitu kita justru amat berlawanan setiap hari aku selalu bertarung melawan orang setiap hari pula kudengar orang lain hendak membunuhku tapi aku masih terus hidup hingga sekarang !"

Orang itu mendengus dingin.

"Hmm, tapi orang orang itu kan bukan lohu!"

Hou ji balas mendengus.

"Hmm, tetapi nyatanya kau toh tidak lebih hebat dari pada mereka!"

Ejeknya.

"Baik!"

Seru orang itu kemudian dengan kening berkerut.

"kalian sendiri yang mencari penyakit, jangan salahkan lohu lagi, sebelum bertarung, ayo sebutkan dulu siapa namamu?"

Sambil berkata, dia mengalihkan panji pena bajanya ke arah Hou ji dan meneruskan.

"Mulai dari kau, siapa namamu dan murid nya siapa?"

Hou ji segera terkekeh.

"Yang datang tanpa permisi tentu tak bermaksud baik, lobih baik kau saja yang menyebutkan namanya lebih dulu, siapa namamu?"

Saking gusarnya, orang itu sampai menggertak giginya keraskeras, jelas kemarahannya sudah mencapai pada puncaknya. Sun Tiong lo segera menimbrung sambil tertawa.

"Aku she Sun, dia adalah saudaraku dan yang ini adalah suhengku, orang menyebutnya Hou-ji, sedang nona ini adalah sahabat kami sementara soal perguruan kami..."

Berbicara sampai disitu, kembali Sun Tiong lo berhenti sampai ditengah jalan.

"Kau murid siapa?"

Tanpa terasa orang itu mendesak lebih jauh. Sun Tiong lo menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya sambil tersenyum.

"Kalau dibicarakan mungkin saja kau tak percaya, Mengapa tidak bertarung saja agar kau bisa melihat sendiri kami adalah murid siapa?"

"Kau anggap lohu tak mampu membedakan nya ?"

Bentak oraag itu semakin naik darah. Sun Tiong lo masih tetap tersenyum.

"Padahal soal bisa mengetahui asal perguruan kami atau tidak bukanlah suatu masalah besar. apalagi kita memang pada dasarnya tidak saling mengenal, kita pun tak punya dendam sakit hati apa-apa. buat apa musti saling bergebrak?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata orang itu, dia lantas berseru lantang.

"Sudah lohu katakan telah banyak tahun aku tak pernah bertarung melawan orang lain, sekarang asal kalian bersedia menerangkan maksud kedatangan kamu semua, kalian boleh segera pergi meninggalkan tempat ini?"

Kembali Sun Tiong lo menggeleng, ucapnya dengan wajah serius.

"Maksud kedatangan kami sih boleh saja diberitahukan kepadamn, tapi kalau suruh kami pergi. Ehm. nanti dulu."

Agak tertegun orang itu oleh ucapan tersebut serunya kemudian.

"Ooh...jadi kalian enggan pergi? Hmm.. hmm aku lihat kalian harus pergi dari sini."

Kembali Sun Tiong lo tertawa hambar.

"Kalau kutinjau dari semua perkataan yang barusan kau ucapkan. dapat kutarik kesimpulan bahwa kau agak takut ada orang tetap tinggal di sini. bukankah begitu?"

Mendadak dia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, sambil menuding ke arah orang itu bentaknya lagi.

"Sebetulnya kau mempunyai rahasia apa yang takut diketahui orang lain...?"

Orang itu berpekik aneh dan tidak menjawab, mendadak tubuhnya bergerak ke muka menghampiri Sun Tiong lo, panji pena baja di tangan kirinya segera dikembangkan kemudian dengan jurus Ciu-bong sau lok (angin musim menggugurkan daun) menghantam dada Iawan.

Sun Tiong lo tertawa dingin, tampak tubuh nya berputar kencang dan tahu-tahu sudah menyelinap ke belakang punggung orang itu, selain cepat, keanehannya pun sukar diduga.

Gagal dengan serangannya dan kehilangan jejak musuh secara tiba-tiba, paras muka orang itu berubah hebat.

Dalam pada itu Sun Tiong lo telah berkata kepada Bau ji sekalian.

"Toako, suheng dan adik Kim, harap mundur agak jauh, biar siaute yang mencoba lebib dulu beberapa jurus serangan dari sahabat ini, bila siaute sudah tak sanggup nanti, toako baru turun tangan menggantikan aku bersedia bukan?"

Apa maksud yang sebenarnya dari ucapan Sun Tiong lo itu, tentu saja Hou-ji.

Bau-ji dan nona Kim tahu dengan pasti, hal mana memperingatkan kepada mereka bahwa mereka bukan tandingan dari orang ini, paling baik jika mengundurkan diri lebih dulu mencari tempat yang aman.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** HOU JI segera saling berpandangan sekejap dengan Bau ji dan nona Kim, kemudian bersama-sama mengundurkan diri sejauh dua kaki lebih.

Tampaknya orang itu kurang memahami arti yang sesungguhnya dari ucapan Sun Tiong lo itu, dia menganggap apa yang dikatakan itu merupakan kenyataan.

Teorinya memang amat sederhana, Bauji adalah kakaknya sedang Hou ji adalah suheng nya.

tentunya seorang kakak lebih tangguh daripada si adik, seorang sute tak akan memadahi kepandaian suheng.

itulah sebabnya orang itu menjadi amat terperanjat.

Sejak dari kegagalannya melancarkan serangan dan tiba-tiba kehilangan jejak lawan tadi, dia sudah tahu kalau Sun Tiong lo memiliki kepandaian silat yang amat lihay apalagi disitu masih hadir kakak dan kakak seperguruannya, bukankah menang kalah sudah jelas tertera didepan mata..?

Cuma saja orang ini bandel sifatnya semenjak terjun kedalam dunia persilatan dulu, walaupun ia sudah menduga kalau beberapa orang pemuda itu sukar dihadapi, akan tetapi ia tak menunjukan perasaan takut barang sedikit pun jua.

Sementara itu, orang tadi sudah mengalihkan sorot matanya ke wajah Sun Tiong lo dan menatapnya lekat-lekat.

Sun Tiong lo belum meloloskan pedangnya, dia malah berkata sambil tersenyum.

"Sobat, apakah kita harus menyelesaikan persoalan dengan menggunakan kekerasan?"

Orang itu mendengus dingin.

Hmm...

masih terlampau pagi kau ucapkan kata kata seperti itu, boleh saja kalau enggan bertarung, tapi kalian harus menerangkan kepadaku apa maksud dan tujuannya kedatangan kalian!"

"Padahal sekalipun dibicarakan pun tak mengapa, kami datang hendak mencari seseorang"

Kata Sun Tiong lo dengan kening berkerut.

"Oooh, mencari siapa?"

"Mencari seseorang yang bergelarkan Hehe Koancu..."

Tidak sampai Sun Tiong lo menyelesaikan perkataannya, mendadak dia menggulung kembali panji pena bajanya dan memandang sekejap ke arah Sun Tiong lo sekalian, kemudian membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu.

Sikap maupun tindak tanduk orang itu kontan saja membuat Sun Tiong lo tertegun serunya cepat.

"Sahabat, tunggu dulu, aku masih ada persoalan yang hendak dibicarakan denganmu!"

Orang itu tidak berhenti, dia hanya berpaling seraya menjawab.

"Tiada persoalan lagi buat kita untuk dibicarakan, mari, ikutlah aku."

"Mari, Mau kemana ?"

Sambung Hou-ji dari samping. Kini orang itu tidak berpaling lagi, sambil melanjutkan perjalanannya kedepan, sahutnya.

"Kalau ingin mencari He-he, ikutilah diriku."

Hou-ji tertegun, ia memandang ke wajah Sun Tiong lo seperti menanyakan pendapatnya. Mendadak orang itu berpaling lagi seraya berseru.

"Bila nyali kalian kurang besar, tidak usah turut aku !"

Selesai berbicara kali ini, dia mempercepat langkahnya berlalu dari situ. Sementara itu Sun Tiong-lo sudah mengambil keputusan cepat dalam detik itu, diam-diam bisiknya kepada Hou-ji.

"Kau harus berhati hati terhadap kemungkin siasat busuk lawan, suheng dan toako boleh tetap menemani adik Kim, biar diriku saja akan pergi dengan seorang diri, akan tetapi ingat. kalian jangan sampai saling berpisah satu sama lainnya mengerti ?"

Hou-ji seperti hendak mengucapkan sesuatu, Nona Kim juga ingin berbicara, tapi Sun Tiong lo telah berkelebat lewat dan meluncur ke depan, lalu bersama-sama orang itu berlalu dari situ.

Bau-ji hanya berkerut kening menyaksikan kejadian mana, sesudah termenung sejenak men dadak dia ikut berlalu.

"Eeh. mengapa kau?"

Hou-ji segera menegur "Aku akan menyusul ji-te !"

Jawab Bou-ji Hou ji memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian bisiknya lirih.

"Toa te, kau harus tahu maksud siau liong suruh kita tetap berada di-sini, sudah jelas dia mengetahui kalau kita bukan tandingan dari orang itu, maka dia sengaja mengatur demikian demi keselamatan kita, sebelum berlalu tadi, diapun telah berpesan agar kita jangan saIing berpisah, hal ini menunjukkan kalau dia sangat kuatir bila ada kemungkinan orang akan menyerang kita menggunakan kesempatan tersebut, bila toate bersikeras hendak menyusulnya, bukankah hal ini hanya ada ruginya tiada untungnya ?"

Bau ji mendengus dingin.

"Hm, mungkin ucapan itu benar, tapi bukankah kita bisa pergi bersama ke sana ?"

Hou ji tak bisa berbicara lagi, dia segera terbungkam dalam seribu bahasa.

Nona Kim sendiri memang amat menguatirkan keselamatan Sun Tiong lo, sesungguhnya dia memang segan tinggal terus disana, melihat Hou ji tidak menjawab, dia lantas berlalu lebih dulu Begitu si nona berangkat, Bau ji menyusul dibelakangnya, dalam keadaan seperti ini Hou ji harus mengikutinya pula dari belakang.

Tempat pertempuran mereka dengan pihak lawan berlangsung bekas ruang tengah, kini mereka berjalan menuju kearah depan dimana Sun Tiong lo tadi berlalu, tak selang berapa saat kemudian sampailah mereka di depan loteng genta.

Loteng genta itu tingginya mencapai tiga kaki lebih, namun suasananya sunyi senyap tak kelihatan seorang manusiapun.

Hou-ji tak ingin Bau ji dan nona Kim menjumpai mara bahaya, cepat cepat dia berseru.

"Harap kalian tunggu sebentar, biar aku yang naik untuk melihat keadaan disitu!"

Baru selesai berkata Bau ji dan Nona Kim telah bersama-sama mengenjotkan tubuhnya menerjang keatas loteng genta tersebut.

Bau ji berhasil mencapai ketinggian empat kaki dan mencapai sisi jendela loteng tingkat ke tiga.

Nona Kim lebih rendah kepandaiannya, dia hanya berhasil mencapai tepi jendela loteng tingkat dua.

Hou ji tidak ikut naik, dia tetap berdiri tertegun ditempat semuIa,sebenarnya dia memang berhasrat untuk naik keatas.

tapi kuatir ada orang menyergap Bau ji atau Nona Kim secara tiba-tiba, terpaksa dia mengurungkan niatnya tersebut dan hanya mengangkat kepalanya memandang ke arah Bau jin dan nona Kim dengan kesiap siagaan penuh.

Bau ji yang pertama-tama mencapai loteng genteng lebih dulu disusul oleh nona Kim.

Diatas loteng genta, kecuali genta tembaga yang amat besar penuh karatan itu, tak nampak sesosok bayangan manusiapun, kayu besar pemukul gentanya pun telan dilapisi debu yang tebal.

Tali besar dibawah kayu pemukul genta masih nampak utuh, namun ketika ditarik Bau ji ternyata tali tersebut hancur berantakan menjadi debu, rupanya sudah lama hancur.

Hou ji yang ada dibawah nampak sangat gelisah, tiba-tiba dia berteriak keras.

"Toate, apa yang berhasil kau jumpai disana."

"Setanpun tak nampak!"

Jawab Bau ji cepat, selesai berkata, dia segera lompat turun ke bawah. Baru saja dia melayang turun, nona Kim telah menemukan sesuatu, tiba-tiba teriaknya ke bawah.

"Engkoh Lo sedang bertarung dengan orang didalam hutan bambu sebelah diri !"

Sambil berseru dia meluncur turun dari loteng genta dan langsung melompati dinding pekarangan yang sudah runtuh.

Hou ji kan Bau ji tak berani berayal, dengan cepat mereka menyusul dari belakang.

Benar juga, diluar hutan bambu nampak ada tiga orang sedang mengerubuti Sun Tiong lo.

Anehnya orang yang mereka jumpai semula ini malah tak nampak batang hidungnya lagi.

Nona Kim sampai disitu lebih duluan, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia meloloskan pedangnya sambil maju menyerang.

Bau ji dan Hou ji turut menyusul ke situ, serentak merekapun turun tangan membantu.

Siapa tahu Sun Tiong lo berseru dengan gelisah.

"Adik Kim, jangan urusi aku, cepat ke dalam hutan bambu dan menolong sahabat yang kita jumpai tadi !"

Nona Kim tertegun. Hou-ji dan Bau-ji turut termangu sehabis mendengar seruan mana. Terdengar Sun Tiooglo berkata lebih jauh dengan perasaan gelisah.

"Apakah Hou-ko tak bisa melihat bahwa aku sedang menahan ketiga orang ini, sementara sahabat yang membawa jalan itu sedang menyerempet bahaya sekarang ? Dalam hutan bambu sana terdapat musuh tangguh, cepat kalian bantu dia !"

Hou ji termenung sambil berpikir sejenak, kemudian ujarnya kepada Bau ji dan nona Kim.

"Mari kita seorang lawan itu, suruh Siau liong saja yang menolong sahabat tersebut, bagaimana menurut kalian ?"

Belum habis perkataan itu diutarakan Bau ji dan nona Kim sudah melompat kedepan dan masing masing memapaki seorang musuh.

Maka sambil tertawa terbahak-bahak Hou ji juga terjun kearena dan menghadapi seorang yang lain.

Sambil tertawa Sun Tiong lo berseru kepada Houji.

"Engkoh Hou, jangan kau lukai mereka, cukup asal mereka kena terhadang hingga memberi kesempatan kepada orang-orang itu melakukan pengajaran aku akan menuju ke hutan bambu memberi bantuan, sebentar akan balik kemari!"

Selesai berkata, dia lantas melompat ke depan dan menerobos masuk ke dalam hutan bambu.

Hou ji, Bau ji dan nona Kim masing-masing menghadapi seorang lawan, yang aneh ternyata pihak lawan malah menarik kembali serangannya sambil menghentikan gerakan.

Setelah gerak serangan mereka berhenti, ke dua belah pihak dapat melihat jelas raut wajah masing-masing pihak.

Ternyata ketiga orang itu adalah tosu-tosu perempuan yang berbaju abu-abu.

Di masa lalu, kuil Tong thian koan merupakan kuil kaum rahib, kini duapuluh tahun sudah lewat, ternyata dari balik puing-puing yang berserakan muncul kembali sekian banyak rahib perempuan dapat disimpulkan kalau kejadian dibalik kesemuanya itu luar biasa sekali.

Hou-ji berpengalaman sangat luas, melihat musuh berhenti menyerang, dia lantas menduga bakal terjadinya perubahan lain, Maka setelah melihat jelas wajah lawannya, dengan cepat ujarnya kepada Bau ji dan nona Kim.

"Jangan lupa dengan pesan Siau-liong, turun tangan dan hadang jalan pergi lawan !"

Sementara pembicaraan berlangsung, berhubung Hou ji telah mempersiapkan senjata Jit sat ciang mo pangnya semenjak tadi, diapun segan berganti dengan senjata lain, sambil mengayunkan senjatanya dia maju melancarkan serangan.

Nona Kim tak mau ketinggalan, dia pun mengayunkan pedangnya membacok salah seorang tokoh tersebut.

Bau ji berkerut kening, menurut sifatnya, dia paling segan bertarung melawan para kaum wanita.

Tapi situasi yang terbentang didepan mata dewasa ini memaksanya harus menghadang gerak maju musuhnya, maka dengan suara dingin diapun menegur.

"Lebih baik berdiri saja disitu dengan tenang, bilamana kau membangkang, terpaksa aku harus turun tangan !"

Tokoh yang berdiri saling berhadapan dengan Bau-ji adalah Tokoh yang berusia paling besar diantara mereka bertiga, kira-kira berusia dua puluh tujuh delapan tarunan, dialah pemimpin dari ketiga orang tersebut.

Sudah cukup lama dia berkelana dalam dunia persilatan, pengalamannya amat luas, begitu mendengar ucapan Bauji, ia lantas mendapatkan sebuah akal bagus.

Maka sambil tersenyum ujarnya kepada Bau ji.

"Ooh, baiklah... aku tidak bergerak, kaupun tak usah bergerak !"

Bauji hanya membungkam diri dalam seribu bahasa, sepatah katapun tidak menjawab.

"Mengapa sih kau bersikap demikian ?"

Kembali tokoh itu bertanya sambil tersenyum. Dengan tak sabar Bau ji mendengus.

"Aku paliag segan bertarung melawan kaum wanita !"

Tokoh itu seakan-akan baru memahami ucapan mana, sorot matanya segera dialihkan sekejap ke sekeliling tempat itu, kemudian katanya.

"Aku mengira kau takut dengan kaum wanita."

Sesudah berhenti sejenak, sambungnya lagi lebih jauh.

"Tapi beginipun ada baiknya juga, cuma kalau toh kita tak usah bertarung, rasanya tak usah pula berdiri termangu terus disini, duduk diatas batu disebelah situ boleh bukan ?"

Diluar hutan bambu merupakan sisi dinding pekarangan bekas kuil, banyak puing berserakan disitu, diantaranya terdapat pula beberapa bongkahan batu besar yang berada berapa kaki saja di hadapannya, batu itulah yang ditunjuk tokoh tersebut.

Tanpa memandang sekejap matapun Bau ji menggeleng.

"Tidak boleh !"

Disinilah letak keanehan Bau-ji, mungkin disini pula letak daya tarik orang ini.

Tokoh tersebut telah salah menduga, dia mengira Bau ji kalau bukan seorang keparat yang sombong dan tekebur tentulah manusia yang lemas badannya bila bertemu kaum wanita, di anggapnya hal mana gampang sekali untuk dihadapi.

Siapa sangka Bau ji sama sekali tiada perasaan sayang dengan kaum wanita, lunak tak bisa dikeraspun tak dapat.

Gagal dengan siasat pertama, muncul siasat lain dalam benak tokoh tersebut, kembali ujarnya.

"Pinni bergelar Lok soat, siapa namamu saudara cilik ?"

Kini ia berusia dua puluh tujuh tahun, mengambil gelar sebagai Lok-soat (menjelang senja), boleh dibilang suatu sebutan yang tepat sekali.

Sewaktu mengajukan pertanyaan tarsebut kepada Ban-ji, alis matanya melentik sementara matanya mengerling genit.

Seandainya berganti orang lain, mungkin akan timbul pelbagai pikiran yang bukan-bukan.

Tapi Bau ji tetap tangguh dan kokoh bagaikan batu karang.

Dengan suara dingin dia berseru.

"Masih ada sebuah persoalan lagi hendak ku beritahukan kepadamu yaitu lebih baik jangan banyak bincang dihadapanku !"

Dengan demikian siasat yang di susun Lok-soat tokoh kembali menemui kegagalan total, lantas mukanya kontan berubah berulang kali.

Setelah termenung berapa saat, akhirnya di putuskan untuk mengambil tindakan yang menyerempet bahaya.

Dia bermaksud hendak turun tangan melancarkan sergapan di saat Bau-ji sedang tak siap nanti, lalu menjadikannya sebagai sandera.

Tentu saja ia tak bermaksud membunuh Bau ji, dia hanya ingin menawan pemuda itu dan menjadikannya sebagai sandera, bila rencana tersebut berhasil, bukan saja dapat memaksa pihak lawan untuk menghentikan serangannya, bahkan diapun dapat melanjutkan rencananya semula.

Oleh sebab itu dia berlagak seakan-akan apa boleh buat dan menghela napas panjang, Bau-ji tidak perdulikan lagi, sementara sorot matanya dialihkan ke wajah ke empat orang yang sedang bertarung, lagaknya seperti tertarik sekali oleh pertarungan yang sedang berlangsung.

Tentu saja Bau ji mengalihkan juga sorot matanya ke arah Hou ji dan nona Kim, terutama memperhatikan jurus serangan yang di gunakan ke dua belah pihak.

Hou ji dengan tongkat jit sat pangnya menghadapi tokoh yang jauh tidak berimbang kekuatannya, sedangkan Nona Kim dengan mengandalkan pedangnya mengeluarkan jurus-jurus paling tangguh untuk meneter lawannya habis-habisan, oleh karena itu pertarungan berjalan se-imbang, untuk menang memang susah tapi untuk kalah pun tak mungkin.

Dari sini, Bau ji segera memahami apa sebab nya Sun Tiong-lo merasa murung tadi.

Kalau dibicarakan dari kepandaian silat yang dimiliki kedua orang tokoh tersebut untuk menarik kesimpulan atas kepandaian silat yang dimiliki Lok soat, tokoh yang tak bertarung itu.

meski selisih berapa jauh, namun bisa di simpulkan kepandaian mereka tidak lihay.

Padahal ilmu silat yang dimiliki Sun Tiong lo tadi lihay, sekali pun semestinya kendatipun dia bertarung satu lawan tiga, untuk meraih kemenangan bukan suatu yang menyulitkan baginya.

Tapi kenyataannya tadi mereka hanya bertarung seimbang, hal ini berarti pemuda itu mempunyai alasan yang tertentu.

Sekarang Bau-ji sudah mengerti, alasannya tak akan terlepas dari dua hal.

Pertama, tiga orang tokoh ini tahu kalau Sun Tiong lo tidak ingin membunuh mereka, maka mereka menyerang Sun Tiong lo habishabisan dengan waktu agar pemuda itu terkurung dan rekannya yang berada dalam hutan bambu akan menarik hasil.

Alasan yang lain adalah S'm Tiong lo tak dapat membiarkan ketiga orang tokoh itu pergi, namun diapun segan membunuh mereka, terpaksa ia harus bertarung terus sambil menunggu kesempatan.

Terlepas dari alasan manakah yang menjadi dasar pertimbangannya, persoalan pokoknya hanya satu yakni ia tak dapat membunuh mereka.

Sedang mengenai alasan kenapa mereka tak boleh dibunuh, Bau ji tidak habis mengerti.

Sorot mata Bau ji tiada hentinya dialihkan ketengah arena menyaksikan ke empat orang itu bertarung, banyak persoalan muncul dan berkecamuk dalam benaknya waktu itu, keadaan tersebut tentu saja tak terlepas dari pengamatan Lok soat yang memang sudah mengamatinya semenjak tadi, diam diam tokoh tersebut girang sekali.

Dengan cepat dia mengambil keputusan di dalam hati, dia harus menunggu kesempatan baik untuk segera bertindak.

Kini kesempatan yang dinantikan telah tiba, dia hendak mencari saat yang paling menguntungkan untuk turun tangan.

Pertama-tama dia memperhitungkan lebih dahulu, jaraknya dengan Bau ji.

Jaraknya hanya lima depa, berarti bila dia bisa maju selangkah lagi maka sasarannya akan tercapai.

Dalam selisih jarak.

posisinya lebih menguntungkan bagi pihaknya, dan diapun percaya dengan kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya, kendatipun pihak lawan sudah melakukan persiapan pun belum tentu bisa lolos dari ancamannya, Kalau toh selisih jaraknya sudah beres, sekarang persoalannya tinggal menunggu tibanya kesempatan yang terbaik.

Secara diam-diam ia melirik sekejap lagi ke arah Bauji, tampaknya Bau ji masih memusatkan segenap perhatiannya memperhatikan jalannya pertarungan antara keempat orang itu dan sikapnya tiada persiapan sama sekali, dia jadi amat lega, karena kesempatan semacam itu menguntungkan sekali baginya.

Sekarang, Lok Soat tinggal mempertimbangkan dengan cara apakah dia harus turun tangan.

Kalau serangannya kelewat enteng, dia khawatir akan menjumpai kegagalan, tetapi jika berat, dia pun kuatir terjadi hal-hal yang sama sekali tidak di inginkan...

Kejadian ini memang sangatlah aneh, pada umumnya dua belah pihak yang saling berhadapan selalu berusaha untuk turun tangan seberat mungkin dan setepat mungkin, tapi sekarang, mengapa Lok soat justru terlalu banyak mempertimbangkan diri sebelum turun?

Akhirnya dia mengambil keputusan untuk menotok jalan darah lemas ditubuh Bau ji, totokan tersebut harus dilepaskan kuat-kuat, karena meski kuat-kuat, serangan tersebut tak akan menimbulkan ancaman bahaya apapun.

Tapi, letak jalan darah lemas dalam posisi berdiri Bau ji sekarang, rasanya jauh iebih sulit dicapai daripada menotok jalan darah Tay yang hiatnya yang sama sekali tak terlindung itu.

Namun, jalan darah Tay yang hiat merupakan salah satu diantara jalan darah kematian lainnya, bila tertotoknya kelewat keras bisa jadi akan berakibat kematian, dia tak ingin berbuat demikian, maka otaknya lantas berputar mencari akal untuk mencapai sasaran jalan darah lemas lawan secara jitu.

Maka ia sengaja membungkukkan badan sambil memijit pahanya, pertama kalau kakinya sudah kaku karena kelewat lama berdiri.

Semua gerak-gerik to-koh tersebut dapat terlihat semua oleh Bau ji dengan nyata, dia segera melengos.

Tokoh itu mendengus marah kemudian membalikkan badannya, sikap seperti itu mengartikan kalau dia mendongkol sekali pada Bauji.

Tapi Bau ji memang benar-benar tidak mengerti kasihan kepada kaum wanita, dia tetap berpaling kearah lain tanpa menggubris keluhan tersebut.

Keadaan mana justru amat cocok dengan apa yang diharapkan Lok soat, waktu itu dia telah bersiap sedia melancarkan serangan kilat untuk merobohkan musuhnya.

Baru saja Bau ji berpaling, tahu-tahu ia telah menerjang ke muka.

Tangannya bergerak cepat menyambar ke-depan, secara telak dia hajar jalan darah lemas ditubuh Bau ji.

Agaknya Bau ji sama sekali tidak mempersiapkan diri sendiri baik-baik, begitu tertotok, tubuhnya segera roboh.

Tampaknya Lok soat telah mempersiapkan diri lebih jauh, meski dia berhasil menotok jalan darah Bauji, namun di saat tubuh anak muda tersebut bergoncang keras dan hampir roboh ke tanah, secepat kilat dia menyambar tubuh Bau ji dan memeluknya erat-erat.

Kepada Hou ji dan nona Kim, bentaknya.

"Berhenti kalian, kalau tidak akan kubunuh rekanmu ini !"

Sambii berkata, Lok-hoat mengayunkan telapak tangan kanannya siap dihajarkan keatas batok kepala Bau ji.

Ketika mendengar teriakan tadi, dua orang tokoh tersebut yang mula-mula melompat ke luar lebih dulu dari arena pertarungan Hou-ji dan nona Kim terpaksa harus menarik pula serangan masing-masing dengan perasaan apa boleh buat.

Sambil tertawa Lok soat berkata kepada dua orang tokoh tersebut.

"Hei, mengapa kalian tidak segera pergi ?"

Mendengar itu, kedua tokoh tersebut mengiakan dan siap berlalu, tapi pada saat itulah kejadian aneh telah berlangsung didepan mata.

Mendadak terdengar Lok soat menjerit kesakitan, menyusul kemudian keadaanpun berubah.

Kalau semula yang membopong tubuh Bau ji maka sekarang Bau ji lah yang sedang mencengkeram pergelangan tangan Lok soat sambil tertawa dingin tiada hentinya, dan sementara jalan darah lemas di tubuh Lok soat kena tertotok, saking sakitnya dia hanya bisa berdiri terbelalak dengan mulut melongo, tubuhnya sama sekali tak bisa bergerak.

Hou ji hanya melirik sekejap keadaan di sekelilingnya, kemudian secepat kilat menerjang kemuka, tokoh yang sedang bertarung melawan dirinya tadi masih berdiri tertegun oleh perubahan yang sama sekali tak terduga itu, akibatnya secara mudah iapun berhasil di tawannya hidup-hidup.

Dengan cepat Hou ji menotok jalan darah tokoh ini, kemudian bersama nona Kim dia menggencet tokoh yang ketiga dan mengurungnya dari muka dan dari belakang juga.

Tokoh itu menarik napas panjang, dia tahu keadaan tak menguntungkan sekalipun melawan toh akhirnya bakal keok juga.

Lok soat yang jalan darahnya tertotok masih dapat melihat dan mendengar semua kejadian dihadapannya, menyaksikan akhir dari perubahan situasi tersebut, saking gemasnya dia hanya bisa menggigit bibir kencang-kencang, yaaa, apa lagi yang bisa dia lakukan sekarang?

Sementara itu Bau ji sedang berkata kepada Lok soat sambil mendengus dingin.

"Inilah pelajaran yang paling cocok bagimu, lain kali jangan mencoba untuk mencelakai orang lain secara menggelap lagi!"

Hou ji tertawa.

"Toa-te!"

Katanya pula.

"aku mengira kau masih juga seperti dahulu, ternyata..."

"Sejak kecil aku sudah terbiasa menyaksikan kejadian-kejadian memalukan seperti ini, aku tak bakal termakan oleh tipu muslihat semacam itu lagi."

Tukas Bau ji cepat. Kembali Hou ji tertawa, kepada nona Kim katanya.

"Nona. totoklah jalan darah lawanmu, kemudian kita harus masuk kedalam hutan bambu itu!"

Nona Kim mengangguk berulang kali, dengan cepat dia menotok jalan darah Iawannya.

Mereka bertiga menyeret ketiga orang tokoh tersebut kedalam hutan bambu dan membaringkan ditanah, kemudian secara diam-diam menyusup masuk kedalam hutan bambu itu guna melakukan pemeriksaan yang seksama.

Makin masuk, mereka menelusuri hutan bambu itu semakin ke dalam...

Hutan bambu itu mana luas lebat lagi, namun sama sekali tak terdengar suara bentrokan senjata ataupun suara teriakan apapun.

Ketika menelusuri lebih kedalam, mendadak pemandangan di hadapannya lebih terbuka lebar.

Mereka belum berjalan keluar dari hutan bambu tersebut, tapi seperti telah sampai di-suatu tempat lain.

Tiga kaki dihadapan mereka sebuah pekarangan yang berpagar bambu.

Bambu itu bukan tumbuh secara alam, melainkan diatur oleh tangan manusia sehingga selain tumbuh rapat dan lebar, terciptalah suatu penyekat alam yang tingginya mencapai lima kaki.

Bambu tersebut berlapis lima, sitiap batang berselisih lima inci, sehingga sewaktu bammi itu makin tinggi, daun dan rantingnya harus dibuat bersih hingga bentuknya jadi lurus ke atas.

Menghadapi lapisan pagar bambu yang tingginya lima kaki dengan tebal berapa kaki tersebut, Hou ji bertiga berdiri tertegun dengan mata terbelalak lebar.

Bau ji tampak berpikir sebentar, kemudian ujarnya.

"Mari kita menelusuri pagar bambu ini, coba kita cari dimanakah letak pintu masuknya!"

Dengan mempercepat langkah masing-masing ke tiga orang itu berjalan menelusuri ikutan bambu.

Setelah satu keliling mereka lalui, nyatanya sebuah pintu masuk pun tidak di temukan.

Tapi mereka sudah tahu sekarang bahwa pagar bambu itu mencapai setengah hektar lebih, mana besar lebarnya bukan kepalang.

Bambu yang mencapai lima lapis dengan ketinggian lima kaki itu membuat pemandangan dibalik situ tertutup sama sekali, kendatipun kau berilmu tinggi jangan harap bisa melihat jelas keadaan disana, bahkan semut pun kecuali menerobos lewat tanah, jangan harap bisa mencapai ke sana.

Kalau semut bisa lewat tanah, orangpun harus melewati tempat atas.

Dengan kening berkerut Bau ji berkata.

"Tiada cara lain, terpaksa kita harus melompat lewat atas."

Houji manggutkan kepaIa.

"Ucapanmu memang benar, cuma kita mesti memikirkan lebih jauh !"

Dengan tak sabar Bau ji berkata pula "Apalagi yang harus dipikirkan ?"

Matanya nona Kim melirik sekejap ke arah Bau ji, kemudian ikut menimbrung.

"Hei. bila sudah bertemu kesuIitan, mengapa sih terhadap siapa pun kau tak punya kesabaran barang sedikitpun juga ?"

Tanyanya pula. Bauji mendengus dingin.

"Hmm, memang beginilah diriku !"

Sahutnya.

"Hai, tapi aku justeru merasa tidak Ieluasa menyaksikan tampang semacam dirimu."

Bau ji tertawa dingin dan kemudian katanya.

"Gampang sekali, bila kurang leluasa untuk memandang, tak usah memandang lagi !"

Dengan hati yang sangat mendongkol bercampur marah nona Kim melengos kearah lain, kemudian tidak menggubris Bau ji lagi. Hou ji ying menyaksikan kejadian itu segera berkerut kening, katanya.

"Toa te, aku tahu kalau kau terburu nafsu, tapi jangan lupa, demikian pula dengan kami."

Bau ji tetap membungkam, baginya hal ini menunjukkan kalau dia mengakui telah salah berbicara. Maka Hou ji berkata lagi.

"Toa te, menurut pendapatmu, apa yang terdapat dibalik pagar bambu tersebut?"

"Aku rasa pastilah sebuah halaman dengan gedung yang megah"

"Mungkinkah Siau liong dan teman yang membawanya kemari sudah berada disana?"

"Pasti berada disitu!"

Jawab Bau ji tanpa berpikir lagi.

"Darimana kau bisa tahu?"

Tanya nona Kim.

"Jangankan dia"

Kata Bau ji ketus.

"sekali pun aku, bila sampai di sini dan menyaksikan keadaan disekitar tempat ini, sudah pasti aku akan masuk kedalam untuk melihat keadaan."

"Baiklah"

Tukas Hou-ji mendadak.

"anggap saja Siau-liong dan penunjuk jalan itu sudah berada didalam sekarang, dan anggap pula mereka masuk kedalam dengan melompati pagar bambu yang tinggi itu."

"Tentu saja, disekitar pagar bamhu ini tiada pintu, kalau bukan lewar atas mesti lewat mana ?"

"Kelewat cepat mengambil keputusan"

Nona Kim mendengus.

"aku tak percaya kalau disini tak ada pintunya."

Bau ji melirik sekejap keirah nona Kim, kemudian berkata lagi.

"Jika disini ada pintu masuknya, hal tersebut lebih baik lagi, bagaimana jika kau saja yang membawa jalan ?"

"Tampaknya kau selalu memusuhi diriku!"

Bentak nona Kim dengan amat gusarnya.

"Aku tidak memusuhimu, aku hanya berbicara sejujurnya, karena kau tidak percaya bahwa disini tak ada pintunya."

"Aku ingin bertanya padamu dibalik pagar bambu situ entah ada gedungnya atau lainnya, sudah pasti ada manusianya bukan?"

Kali ini Bau ji mengangguk "Aku rasa hal ini tak bakal salah."

"Kalau kubilang orang yang ada didalam sana pasti sekomplotan dengan ketiga orang tokoh yeng berhasil kita bekuk itu, percayakah kau akan kebenaran ini?"

Bau ji berpikir sejenak, lalu sahutnya .

"Kemungkinan selalu ada, bahkan kemungkinan sekali!"

Nona Kim segera tertawa dingin.

"Aku berani memastikan, ketiga orang tokoh tersebut pasti seringkali masuk keluar dari balik pagar bambu ini!"

"Seandainya mereka ada sangkut pautnya, tentu ssja hal ini mungkin saja terjadi."

Jawab Bau ji sesudah berpikir sejenak. Mendadak nona Kim merubah pokok pembicaraannya, sambil menuding pagar bambu itu katanya lagi.

"Pagar bambu ini tingginya lima kaki, berbicara menurut kepandaian silat di dirimu apalagi setelah menyaksikan betapa lebarnya tempat yang tertutup pagar bambu ini, dapatkah kau melompat pagar tersebut dalam sekali lompatan ?"

Bau ji angkat kepalanya memandang ke tempat ketinggian lalu jawabnya.

"Aku percaya dapat, tentu saja harus mengerahkan segenap tenaga yang kumiliki !"

"Benar, bila berbicara soa ketinggian lima kaki, seharusnya tak usah menggunakan tenaga yang kelewat besar pun bisa melaluinya, tapi berhubung keadaan posisinya tidak menguntungkan, maka orang harus mengerahkan segenap tenaga untuk bisa melampaui pagar bambu itu !"

"Sesungguhnya teori ini amat sederhana dan mudah diterima dengan akal, buat apa sih kau berbicara melulu tiada hentinya ?"

Kembali Bauji menukas dengan habis sabar. Nona Kim tidak ambil perduli, kembali katanya.

"Berbicara dengan tenaga dalam yang kau miliki, bagaimana kalau dibandingkan dengan ke tiga orang tokoh tersebut ?"

"Apa maksudmu mengajukan pertanyaan semacam itu?"

Bau ji bertanya deagan perasaan tak habis dimengerti.

"Tentu saja ada alasannya, jawab saja semua pertanyaan yang kuajukan kepadamu!"

"Bila kau menanyakan tinggi rendahnya kepandaian masing-masing pihak, bukankah pertanyaanmu ini amat berlebihan?"

Nona Kim mendengus.

"Bila kau mengakui bahwa tenaga dirimu jauh lebih hebat dari pada mereka, berarti harus kau akui pula bahwa dibalik pagar bambu tersebut sudah pasti ada pintunya!"

Bau ji segera memahami apa yang dimaksudkan, dia manggutmanggut.

"Perkataanmu ini memang bisa masuk diakal tapi bila rahasia pintu tersebut tidak berhasil ditemukan, apa boleh buat?"

Agak mereda juga hawa amarah nona Kim setelah mendengar perkataan dari Bau ji, katanya, kemudian.

"Nah, begitu baru benar, bila ada pintunya berarti tak sulit buat kita untuk menemukannya!"

Menyaksikau keributan diantara kedua orang itu, Bau-ji segera tertawa, katanya kemudian.

"Sudah cukup, mari kita rundingkan secara baik-baik sekarang, bagaimana cara yang terbaik untuk melampaui perintang tersebut ?"

"Tentu saja harus melalui atas sana."

Bau-ji tetap menuding ke tempat atas situ.

"Aku rasa jalan atas bukan suatu jalan yang gampang untuk dilalui."

Ketika Houji menyaksikan Bau ji menunjukkan kembali sikap tak sabarnya, dengan cepat dia menimbrung.

"Betul, aku rasa diatas sana sudah pasti telah disiapkan alat jebakan untuk menahan kita"

"Sekalipun demikian, kita tetap harus mencobanya lebih dulu !"

Bau-ji tetap bersikeras.

"Dicoba sih tentu saja dicoba, tapi kita harus bertindak dengan ditunjang oleh suatu rencana yang matang, aku rasa kita mesti menyediakan bambu panjang lebih dulu, harus kita coba bagaimana reaksinya bila pagar bambu mana dilalui."

"Benar, cara ini memang sangat bagus!"

Nona Kim manggut-manggut.

Baru saja dia selesai berkata, Bau ji telah mengayunkan pedang mustikanya membabat sebatang bambu yang ada, cahaya pedang berkelebatan lewat, tahu-tahu sebatang bambu sudah terjatuh ketanah, dia mengambil bambu tadi dan dilemparkan kearah pagar bambu yang ada.

Bambu itu terjatuh dan bersandar diatas pagar bambu itu, setelah terhenti sejenak lalu terjatuh kembali ketanah.

Dari ujung pagar bambu itu sama sekali tak kedengaran sedikit suarapun, juga tak nampak ada sesuatu benda yang meluncur datang.

Bau ji segera berkata.

"Nah, sekarang sudah dicoba, agaknya sama sekali tiada alat jebakan apapun!"

Seraya berkata dia mencabut kembali pedangnya dari atas tanah.

Kali ini dia mengayunkan pedangnya dengan menghimpun tiga bagian hawa murninya cahaya tajam berkilauan tahu-tahu dia sudah menyambar keatas lapisan bambu yang berada dipaling depan.

Kalau tadi, bambu tersebut segera patah begitu tersentuh mata pedang, maka bambu yang dibacok sekarang ternyata terbuat dari baja murni, yang kena terbabat kini tak lebih cuma selapis kulitnya belaka.

Nona Kim yang pertama-tama menjeri kaget lebih dulu, dia segera melakukan pemeriksaan, lalu serunya.

"Oooh rupanya begitu."

Sekarang Hou-ji dan Bau ji sudah dapat melihat jelas keadaan yang sebenarnya rupanya kelima lapis bambu yang dijajarkan sebagai pagar bukan semuanya terdiri dari bambu asli melainkan terbuat dari besi yang dicat persis seperti warna bambu.

Dengan ditemukannya hal tersebut, suasana yang meliputi sekeliling tempat itupun bertambah misterius.

Bau ji tidak bersikeras hendak melompat melalui atas lagi, dia segera mengurungkan niatnya itu kendatipun dia tahu belum tentu diatas tiang besi tersebut terdapat alat jebakan.

Kalau dibilang mencari pintu?

Kelewat sulit, apalagi terlalu banyak membuang waktu.

Nona Kim mulai berpikir, mendadak ia mendapatkan suatu ide bagus, dengan cepai ide mana dirundingkan dengan Hou ji dan Bau ji yang ternyata disetujui pula.

Secara beruntun mereka membabat enam batang bambu, lalu disusun menjadi sebuah tangga bambu yang kuat sekali, tingginya mencapai enam kaki dan disadarkan diatas tiang besi tersebut.

Setibanya diatas, mereka baru dapat menyaksikan betapa liehaynya alat jebakan yang terpasang disitu.

Rupanya diatas pagar besi tadi dipasang serenteng jaring tembaga berkait yang amat kuat tak heran kalau tidak terjadi sesuatu gejala apa pun ketika dicoba dengan bambu tadi, sebab bambu bertubuh licin hingga tak mungkin bisa terkait.

Diantara jaring berkail tersebut dipasang serentetan kelening emas, bila ada orang terkail maka keleningan tersebut akan segera berbunyi keras, tentu saja hal ini akan menyebabkan pihak tuan rumah menyadari akan datangnya tamu tak diundang dan melakukan penyergapan.

Jika hanya jaring kail belaka, hal tersebut masih mendingan, justru tepat diseberang jaring berkail tersebut telah dipasang busurbusur berpegas tinggi yang siap menghamburkan puluhan batang anak panah.

Bila seseorang menyentuh jaring maka dia akan ditawan oleh kail tersebut, untuk melepaskan kail mana, tubuh orang itu akan bergoncang yang menyebabkan keleningan ber bunyi, dan kaitan yang di potong lepas akan menyebabkan anak panah tersebut telah dipersiapkan sedemikian juga, bila orang masuk jaring, sebelum dia sempat meloloskan diri dari semua kaitan, dia tentu akan terhajar oleh anak panah dan mati lebih dulu disiiu, Apa lagi jika dilihat posisinya, mustahil orang bisa meloloskan diri.

Untung saja mereka bertindak cukup hati-hati, untung saja nona Kim mempunyai ide untuk membuat anak tangga, coba kalau mereka menerjang pagar besi itu secara gagah, niscaya tubuh mereka sudah dilubangi oleh anak panah.

Setelah menyaksikan jelas semua keadaan, Hou-ji segera berbisik.

"Hati-hati keadaan dibawah sana !"

Di bawah sana merupakan sebuah tanah lapang berumput rendah, rumput itu berminyak dan nampak sangat indah.

Dibelakang tanah berumput itu merupakan sebuah bangunan loteng yang terbuat dan batu tidak kelewat besar tapi mungil dan sangat menawan hati.

Ditmjau dari bangunannya yang indah, bisa diketahui kalau bangunan tersebut dirancang oleh arsitek kenamaan.

Bagian dasar bangunan berloteng itu membentuk tonjolan ke atas, lotengnya sendiri cuma separuh, atap dan bangunan berbentuk kerucut, bangunan seperti ini selain model baru indah, lagi kuat.

Dengan wajah termangu-mangu Hou-ji berkata.

"Tampaknya pada rumput itu tidak nampak sesuatu yang mencurigakan, tapi bangunan batu itu justeru sangat aneh."

"Turun saja, tapi mesti berhati-hati !"

Kata Bau ji. Mereka bertiga manggut-manggut, lalu dipimpin oleh Bau ji, dia melejit lebih dulu kebawah, kemudian serunya.

"Aku akan turun lebih dulu, kalian harus perhatikan baik-baik tempat berpijakku nanti"

Dengan selamat dia berhasil mencapai tanah, ternyata disitu memang tiada jebakan.

Maka Hou ji dan nona Kim segera menyusul pula melompat turun kebawah sana.

Kini, pandangan nona Kim terhadap Bau ji telah berubah, semula dia menganggap dia kaku, dingin dan kejam, tapi sekarang dia baru tahu kalau pandangan tersebut keliru besar.

Oleh karena itu ketika Bau ji hendak mendekati bangunan berloteng itu, ia segera berseru.

"Tunggu sebentar, biar aku yang berjalan lebih dulu!"

"Mengapa ?"

Tanya Bau ji dengan kening berkerut. Sambil menuding kearah bangunan loteng itu, nona itu menjawab.

"Aku cukup mengenali bangunan loteng semacam ini !"

Sementara Bau ji masih tertegun, Hou ji yang pintar telah menimbrung dari samping.

"Apakah didalam bukit pemakan manusia juga terdapat bangunan semacam ini ?"

"Betul"

Sahut si nona sambil tertawa "hanya sayang kalian belum pernah berkunjung ke tempat itu !"

Sambil tertawa Hou ji lantas berkata kepa da Bau ji.

"Baiklah, kalau begitu kami tak akan mengurus lagi, mulai sekarang kami berdua hanya akan mengikuti dirimu."

Nona Kim tidak banyak berbicara lagi, ia segera beranjak melanjutkan perjalanannya ke depan.

Sewaktu tiba di depan bangunan berloteng itu, terutama bagian yang menonjol keluar, Nona Kim segera berhenti.

Kemudian sambil menuding bagian tersebut, katanya.

"Aku berani bertaruh, bangunan berloteng ini tidak mempunyai pintu maupun jendela."

Betul juga, sewaktu Bau ji dan Hou-ji mencoba untuk memeriksa sekeliling tempat itu, mereka memang tidak menemukan pintu atau daun jendela barang sebuah pun.

Namun disitu memang ada persediaan untuk pintu dan jendela, seperti kosen untuk pintu dan kosen untuk jendela.

Hanya saja dibalik kosen dan pintu tadi tertutup batu besar, kalau bangunan loteng itu berwarna hitam maka pintu batu itu berwarna putih begitu pula dengan jendelanya, oleh karena itu kalau dipandang dari kejauhan nampaknya saja ada pintu dan jendela, tapi setelah dekat tidak demikian keadaannya.

Setelah melihat jelas keadaan tersebut, Hou ji berkata sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Lagi lagi alat jebakan, kalau begitu pintu dan jendela tersebut tentu digerakkan secara otomatis !"

Dengan cepat Bau-ji menggelengkan kepalanya pula seraya berkata.

"Aku paling benci dengan permainan semacam ini, licik, pengecut, dan tidak nampak gagah !"

Nona Kim segera tertawa cekikikan sesudah mendengar ucapan tersebut, katanya kemudian.

"Sejak dulu sampai sekarang, entah dalam dunia persilatan entah dalam masyarakat biasa. selain kekuatan orangpun mengadu kecerdasan dan seringkali kecerdasan jauh lebih unggul daripada kekerasan, kita harus mengakui akan hal ini !"

Bau-ji tidak puas, serunya sambil mendengus.

"Tapi permainan ini mencerminkan kelicikan, keburukan dan kemunafikan seseorang, sebagai seorang Kuncu, tidak pantas bila kita melakukan perbuatan seperti itu !"

"Tapi orang kuno Thio Liang adalah seorang Kuncu juga, toh dia lebih mengandalkan kecerdasan otaknya dari pada menggunakan kekerasan? Buktinya seluruh negeri bisa dikuasainya dengan aman ?"

Sekali lagi Bau ji mendengus.

"Pokoknya aku paling segan menyaksikan perbuatan semacam ini !"

Hou ji ikut menghela napas panjang, katanya kemudian.

"Toa-te, dunia persilatan adalah suatu tempat yang sangat berbahaya, dan pelbagai akal muslihat, pelbagai kelicikan dan kemunafikan manusia akan kau jumpai disitu, kau harus mempelajari kepandaian semacam ini, bukan berarti kita harus memperaktekkan setelah mempelajarinya, dengan kita pelajari hal itu berarti kita akan tahu, setelah tahu kita akan mengerti caranya! kalau sudah bisa maka tiada bahaya maut yang tak bisa kita hadapi."

"Yaa, betul, ucapan ini memang amat tepat."

Seru nona Kim cepat. Setelah melirik sekejap kearah Bau ji kata nya lagi.

"Sekarang kita akan segera masuk kedalam, harap kalian suka lebih berhati-hati lagi!"

Sementara pembicaraan berlangsung, nona Kim berjalan menuju kearah tempat yang seharusnya merupakan pintu, tapi sekarang hanya berupa suatu tanah berbatu yang berwarna putih saja.

Setelah mendekati dengan seksama dan teliti sekali, gadis itu mulai memeriksa keadaan di sekelilingnya.

Terhadap alat-alat jebakan semacam itu, boleh dibilang Hou ji dan Bau jie merasa awam, sedikit pun tidak mengerti, terpaksa mereka hanya berdiri saja dibelakang si nona sambil memperhatikannya bertindak.

Dalam waktu yang amat singkat itu, rupanya nona Kim berhasil mendapatkan sesuatu, dia lantas berpaling ke arah Hou ji dan Bau ji lalu ujarnya.

"Harap kalian menyingkir dulu ke samping, seringkaii bila pintu terbuka maka ada senjata rahasia yang akan memancar keluar..!"

Mendengar perkataan itu, Hou ji dan Bau ji segera mengundurkan diri dari situ, sementara nona Kim segera menutul undakan batu kedua yang menonjol keluar itu dengan ujung kaki.

Batu hijau yang kena ditendang oleh nona Kim dengan ujung kakinya tersebut segera mengeluarkan bunyi pelan, tapi berbareng dengan bergemanya suara tadi, batu cadas berwarna putih itupun bergerak naik ke atas dengan menimbulkan suara gemuruh keras.

Hou ji dan Bau ji saling berpandangan sekejap, kemudian katanya sambil tertawa.

"Tampaknya sederhana, padahal kalau tidak mengerti kunci kunci rahasianya, kita hanya bisa menunggu diluar dengan perasaan gelisah sama sekali tak mampu berbuat apa-apa lagi"

Andaikata orang itu tanpa sengaja menginjak undak-undakan batu itu ?"

Tanya Bau ji dengan kening berkerut. Pertanyaan ini seakan-akan ditujukan kepada Hou ji, padahal yang benar ia sedang bertanya kepada nona Kim. Maka nona Kim segera menjawab.

"Misalkan saja alat rahasia yang mengendalikan buka tutupnya pintu disini terletak di atas undak-undakan batu itu, maka besar kemungkinan akan terjadi pula hal-hal yang tak diduga, cuma hal ini bukan berarti bisa meloloskan diri dari kurungan."

"Ooooh. bagaimanakah penjelasanmu tentang perkataan ini ?"

Nona Kim tertawa, sambil menuding kearah pintu yang telah terbuka lebar itu katanya.

"Penjelasannya sederhana sekali, itu lihat, sekarang apakah kita akan masuk ke dalam atau tidak ?"

"Tentu saja akan masuk !"

Sahut Bau ji tidak mengerti. Kembali nona Kim tertawa.

"Seandainya pintu itu dibuka tanpa sengaja karena kau telah menginjak batu undakan itu?"

Tanpa berpikir panjang lagi Bau ji menjawab.

"Aku pun tetap akan masuk !"

Katanya. Nona Kim manggut-manggut.

"Nah itulah dia, bila kita sudah berada di dalam dan tampaklah pintu itu menutup kembali secara otomatis, bukankah kita akan terancam bakal terkurung didalam sana?"

Bau-ji segera terbungkam oleh perkataan itu, sepatah katapun tak mampu diutarakan. Sedang Hou-ji berkata pula sambil tertawa.

"Kalau begitu, dibalik terbukanya pintu tersebut masih tersimpan rencana buruk lainnya?"

Nona Kim segera manggut-manggut.

"Tepat sekali ucapanmu itu"

Setelah berhenti sejenak, ujarnya lagi.

"Siapa yang membawa korek api atau obor?"

Bau ji menggeleng, selamanya dia tak pernah mempersiapkan benda-benda semacam itu.

"Nona, hanya aku yang mempunyai benda-benda semacam itu"

Sahut Hou ji cepat.

"Bisa bertahan berapa lama ?"

Tanya si nona sambil tertawa. Bau ji berpikir sebentar, kemudian sahutnya.

"Semuanya aku hanya memiliki dua batang, boleh dibilang dua macam, pokoknya cukup untuk dipakai."

"Ooooohh, apakah kau membawa botol api suci milik perkumpulan pengemis..?"

Hou ji tertegun.

"Nona, darimana kau bisa mengetahui tentang api suci tersebut ?"

Nona Kim tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya berkata lagi!

"Harap kalian berdua suka lebih waspada lagi, menurut dugaanku, setelah dia masuk kedalam maka pintu itu akan menutup dengan sendirinya, berarti suasana dalam lotengpun akan berubah menjadi gelap gulita, disaat seperti inilah biasanya alat perangkap akan mulai bekerja."

"Oleh sebab itu sebelum masuk kedalam pintu, kita harus memasang api lebih dulu, dan kalian harus berkumpul agak dekat, namun juga masih memperhatikan selisih jarak untuk maju dan mundur, daripada bingung setelah menghadapi keadaan yang tak diinginkan."

Bau ji dan Hou ji mengangguk sedang Hou ji segera mengambil sesuatu benda dari dalam sakunya. -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***

Jilid 31 BENDA itu berupa botol porselen yang berwarna tembaga, tingginya dua setengah inci, persis seperti sebuah buli-buli kecil, sedang bagian dasarnya gendut dan lebar nya kurang lebih tiga inci.

Menyusul kemudian Hou ji memegang tongkat jit sat pangnya dan memutar pelan, ternyata tongkat itu segera terpotong menjadi dua bagian, dari dari dalam tongkatnya itu dia menjemput keluar seikat rumput kering sebesar ibu jari.

Bau-ji tidak tahu apa kegunaan dari botol porselen itu, dia segera bertanya.

"Apa sih kegunaan dari permainan ini?"

Sementara itu Hou-ji telah membuka penutup botol itu dan memasukkan rumput kering tadi kedalam botol, kemudian sahutnya.

"lnilah botol api suci yang dimaksudkan nona Kim tadi, mustika dari perkumpulan pengemis!"

"Oooh... lantas apa isi botol kecil itu ?"

"Minyak hitam ?"

Gumam Houji sambil tertawa.

"Minyak hitam ?"

Gumam Bau-ji semakin kebingungan. Kembali Hou ji tertawa.

"Minyak hitam hanya dihasilkan di Say pak, tidak gampang untuk mendapatkannya, berhubung warnanya hitam gelap maka minyak itu dinamakan minyak hitam, minyak itu tidak banyak jumlahnya tapi mahal sekali harganya. Dengan perasaan ingin tahu Bauji bertanya.

"Dengan minyak hitam sebotol kecil ini, berapa lama daya tahannya...?"

"Jangan kau lihat minyak hitam ini hanya sebotol kecil, kalau dipergunakan maka dia memberi penerangan selama enam jam lebih!"

Bau-ji seperti sudah melupakan maksud kedatangannya kesana, ia segera berseru.

"Dapatkah kau mengambilnya sedikit untuk kulihat ?"

"Mengapa tidak?"

Sahut Hou ji tertawa.

Maka Houji menarik keluar sumbu lampunya dari dalam botol dan menuang keluar sedikit minyak hitam ketangannya.

Tergerak juga hati nona Kim setelah menyaksikan kejadian itu, diam-diam ia berpikir.

"Heran, selamanya Bau ji jarang tertawa se karang, mengapa dia tertawa bahkan nampak berseri setelah mengendus minyak hitam tersebut.

"Mengapa bisa demikian? Mengapa ?"

Sebenarnya nona Kim ingin bertanya sampai jelas, tapi setelah bergaul selama beberapa waktu dengannya, gadis itu cukup mengetahui watak dari Bau ji itu, akhirnya dia menahan diri dan urung mengajukan pertanyaan tersebut.

Hou ji pun merasakan sikap yang aneh dari Bau ji, tak tahan dia lantas bertanya.

"Hal apa yang membuatmu kegirangan ?"

Bau ji mempunyai banyak persamaan dengan watak Sun Tiong lo, apa yang tak ingin dia ucapkan, jangan harap orang lain bisa mengetahuinya, maka dia menggelengkan kepalanya dan tidak menjawab pertanyaan tersebut.

Hou ji pun tidak bertanya lagi, dia memasukkan kembali sumbu lampu itu kedalam botol kecil.

Nona Kim segera berbisik lirih.

"Pasanglah lentera itu, kita akan segera masuk ke dalam."

Hou ji mengangguk, dia mengeluarkan api dan memasang lentera tersebut, cahaya api segera memancar dari atas lentera kecil yang berisikan minyak hitam tersebut.

Jangan dilihat botolnya kecil, setelah disulut ternyata kobaran apinya mencapai beberapa inci, segulung asap hitam yang tebal dan agak berbau membumbung ke udara.

Sementara itu Nona Kim telah berkata lagi.

"Hati hati kalau berjalan, harap kalian mengikuti di belakangku !"

Seraya berkata dia lantas berjalan lebih dahulu memasuki loteng berbatu tersebut.

Bau-ji dan Hou ji jalan beriring mengikuti dibelakang nona Kim.

Ternyata apa yang diduga nona Kim memang sangat tepat, begitu mereka masuk kedalam, pintu batu itupun menutup kembali secara otomatis.

Begitu pintu tertutup rapat, masih untung mereka telah menyiapkan lentera sehingga tak usah gelagapan dibuatnya, walaupun cahaya lentera tersebut tidak terlalu besar, akan tetapi mereka dapat melihat keadaan disekeliling tempat itu dengan amat jelas.

Tempat itu merupakan sebuah ruangan tengah, dekorasinya amat indah dan megah.

Disamping ruangan terdapat anak tangga terbuat dari batu yang berhubungan dengan loteng tingkat atas.

Dibagian tengah terdapat empat buah pilar raksasa yang berfungsi untuk menunjang bangunan bagian atas.

Kecuali anak tangga menuju keatas loteng, dalam ruangan itu tidak nampak jendela mau pun pintu.

Sambil menuding ke arah anak tangga, Bau ji segera berkata.

"Tampaknya kita harus naik ke atas sana !"

Hou ji mengiakan. dia siap melangkah maju ke depan. Tapi nona Kim segera mengulapkan tangannya sambil berseru.

"Tunggu sejenak, naik ke loteng sih harus naik, tunggu sejenak lagi toh tak ada salahnya. Belum habis dia berkata, Bau ji telah menukas kembali.

"Kalau toh harus naik ke atas sedang dalam ruangan ini kita tak akan menemukan apa-apa mengapa tidak sekarang juga naik ke atas ?"

"Apakah kau tidak merasakan beberapa persoalan aneh ditempat ini?"

Kata si nona dingin.

"Persoalan aneh apa?"

Seru,Bau ji sambil berkerut kening.

"Pertama, dalam ruang tengah bangunan ini tidak terdapat pibtu lain, ke dua disini pun tidak terdengar suara dari engkoh Lo serta sahabat yang membawa jalan..."

"Betul"

Tukas Hou ji cepat.

"disini memang tak ada pintu lain, tapi mungkin saja bangunannya memang begitu, sebaliknya Siau-liongsudah lama sekali masuk kemari, kalau dibilang tiada suara apapun darinya, aku rasa hal ini sedikit tak beres !"

"Mungkin saja dia sedang berada dalam salah satu ruangan diatas loteng dan bertarung dengan orang itu, karena pintu tertutup rapat maka tiada suara apapun yang kedengaran dari sini."

Kata Bau ji sambil berkerut kening. Nona Kim memandang sekejap ke arah Bau ji, kemudian ujarnya.

"Kemungkinan tersebut memang ada, cuma sebelum kita membuktikan kalau dugaan kita itu benar, paling baik bila kita bersikap lebih berhati-hati, daripada terjebak oleh siasat busuk orang dan terperangkap kedalam alat jebakan mereka."

"Hm, aku tak percaya kalau mereka mempunyai kepandaian sehebat ini."

Ujar Bau ji.

"Kau tak percaya ? Hmramm, sekarang saja kau sudah terkurung di tempat ini."

"Omong kosong, manusiapun tak kujumpai."

"Bila kau tak percaya, mengapa tak kau perhatikan disekeliling tempatmu berdiri sekarang, bila orang lain tidak munculkan diri, sanggupkah kau menemukan orang itu atau ke luar dari loteng ini dalam keadaan selamat?"

Mendengar ucapan tersebar tanpa terasa Bau ji berpaling dan memandang pintu batu di belakangnya.

"Tentu saja dapat"

Dia berseru.

"kita toh bisa melalui pintu.."

Sambil menggeleng Bau ji segera menukas.

"Toa-te, tak mungkin, pintu ra".saia ini beratnya mencapai puluhan laksa kati, sedang kitapun tidak memiliki senjata mestika yang bisa memotong batu, bagaimana mungkin kita dapat keluar dari sini dengan mudah..."

"Tapi nona kan mengerti bagaimana caranya untuk membuka pintu rahasia tersebut?"

Seru Bau ji sambil menuding kearah si nona. Nona Kim segera tertawa.

"Betul, seandainya tiada aku?"

Bau ji segera terbungkam, saking mendongkolnya dia tak membuka suara lagi. Kembali nona Kim tertawa, kepada Houji ujarnya.

"Sebelum menang kita harus mencegah jangan sampai kalah, mari kita mencari jalan mundurnya lebih dulu!"

"Baik, aku akan menuruti perkataanmu saja."

Kata Hou ji sambil tertawa cekikikan.

"bagaimana pun juga, sesampainya ditempat ini aku dan Toa te sama halnya dengan memasuki barisan yang membingungkan, mana pintu, mana jendela, kami sama sekali tak mengerti, kalau tak menuruti perkataanmu apa lagi yang bisa kami lakukan?"

Nona Kim tidak menjawab, dia mulai memeriksa semua dinding dan dekorasi yang ada didalam ruangan tersebut Akhirnya, sorot matanya berhenti pada menyandar tangan ditepi anak tangga batu itu.

Setelah memperhatikannya sejenak, dengan suara rendah dia berbisik.

"Harap kalian mundur dulu beberapa langkah!"

Hou ji segera menarik tangan Bau ji dan bersama-sama mundur sejauh tiga langkah.

Nona Kim berjalan mendekati anak tangga batu itu, sekali lagi dia perhatikan penyandar tangan tadi.

Kedua tiang itu berbentuk segi empat, ujungnya diukir sedemikian rupa hingga berbentuk bulat.

Setelah diperhatikan sekian lama, akhirnya nona Kim tertawa, mendadak dia menekan bulatan kayu itu kesebelah kiri.

Apa yang diduga memang benar, ketika bulatan sebelah kiri itu tertekan, benda itu segera bergerak turun kebawah.

Tapi setelah bergerak turun, ternyata disana tidak nampak terjadinya suatu perubahan.

Nona Kim seperti amat berpengalaman dengan keadaan semacam itu, kali ini tangannya berputar ke sebelah kiri.

Dengan digerakkannya bulatan kayu itu ke-kiri, kali ini bergema lah suara gemerincingan yang sangat keras.

Ketika memandang lagi kearah pintu batu yang tertutup rapat tadi, diiringi suara gemuruh yang amat keras, pintu tadi pelan-pelan bergeser naik keatas.

Tidak menunggu sampai pintu itu benar-benar terbuka, nona Kim telah memutar bilik tombol tadi ketempat asalnya.

Sambil tertawa cekikikan Hou ji berkata.

"Bagus sekali, sekarang kita tak usah kuatir tersekap didalam bangunan loteng ini lagi."

Bau ji tidak mengucapkan sepatah kata pun, tapi dia merasa kagum sekali dengan kecerdasan gadis tersebut.

"Benar, tentu saja tempat ini adalah sebuah loteng batu"

Sambung nona Kim.

"tapi seandainya kita sampai tersekap disini, tanpa makanan tanpa air minum, loteng ini pada hakekatnya akan berubah menjadi sebuah peti mati raksasa."

Hou-ji tertawa, dia segera mengalihkan pembicaraan kesoal lain, katanya.

"Apakah sekarang kita boleh naik keloteng?"

Nona Kim tidak menjawab.

tapi dia sudah beranjak menaiki anak tangga tersebut.

Gadis itu bertindak sangat berhati-hati, setiap naik satu undakan, dia selalu mencoka untuk menutulnya beberapa kali dengan ujung kaki, setelah yakin kalau tiada serangan apapun dia baru berani melangkah keatas.

Hou ji dan Bau ji tetap berjalan dibelakang gadis itu dan maju keatas selangkah demi selangkah.

Trap batu itu semuanya berjumlah dua puluh empat buah, ternyata mereka dapat mencapai kertas dengan selamat.

Pada bagian yang terakhir dari undak-undakan batu itu merupakan sebuah pintu, nona Kim kembali berhenti.

MuIa mula dia memeriksa dulu sekeliling pintu dengan seksama, berapa waktu kemudian baru ujarnya sambil tersenyum.

"Coba kalian perhatikan, pintu inipun terbuat dari baja asli !"

Hou ji mendongakkan kepalanya sambil turut memperhatikan, betul juga disini melintang selapis baja yang tebalnya tiga inci, lapisan baja tersebut tertanam dibalik dinding hingga hanya terlihat sebuah garis tapi yang sangat sempit, warna dinding dengan warna baja hampir sama satu sama lainnya.

Hanya orang yang teliti saja akan menemukan perbedaan tersebut.

Sementara itu nona Kim telah berkata lagi.

"Coba kau perhatikan lapisan dinding sebelah kanan, bukankah disitupun terdapat dinding tempat obor? Aku tebak disitulah letak kunci yang mengendalikan buka tutupnya pintu baja tersebut!"

Seraya berkata dia lantas berjalan kearah pintu tadi diikuti oleh Hou ji dan Bau ji.

Nona Kim bertindak sangat hati-hati, ia merasa harus mencoba dulu sebelum segalanya dilanjutkan maka ia berhenti dibawah dinding baja tersebut kemudian mulai memutar tempat obor tersebut.

Apa yang diduga memang benar, ketika tempat obor diputar, tiba-tiba saja pintu baja itu bergeser kebawah dengan menimbulkan suara gemuruh yang amat keras.

Menyaksikan kesemuanya ini, Bau ji merasa semakin kagum lagi, tanpa terasa serunya.

"Sungguh tak kusangka, sungguh tak kusangka, seandainya tiada nona.."

Belum habis ucapan tersebut diutarakan, entah dari mana datangnya suara, mendadak bergema suara gelak tawa yang amat merdu, menyusul berhentinya gelak tertawa tadi, terdengar pula seseorang berseru dengan suara lantang.

"Betul, tanpa nona ini kalian tak akan sampai diatas lotengku ini. tapi seandainya tak ada dia, kalianpun tak akan terkurung ditempat ini."

Selesai berkata, kembali suara tertawa nyaring bergema memecahkan keheningan.

Ketika mendengar ucapan tadi, nona Kim yang kebetulan masih menggenggam tempat obor tadi buru buru memutar kembali tempat tersebut kearah semula.

Tempat obor itu memang sudah balik keasalnya semula, tapi pintu besi yang sudah terlanjur turun kebawah itu tak pernah membuka kembali.

Suara gelak tertawa telah berhenti, lalu suara orang itupun bergema lagi diudara.

"Percuma, sekalipun kau memutar tempat obor itu sampai rusak juga tak mungkin bisa membuka pintu baja itu lagi, teorinya gampang sekali, tempat obor tersebut hanya merupakan alat rahasia untuk menutup pintu baja belaka.

"Sedang mengenai dimanakah letak tombol rahasia untuk membuka pintu baja tersebut, bila kau merasa mengerti, silahkan saja untuk mencoba mencarinya, bagaimanapun juga sekarang kau toh tak dapat turun ke bawah, waktu yang tersedia untukmu masih banyak sekali !"

Setelah ucapan itu berhenti, tak pernah terdengar suara lainnya lagi.

Selembar wajah nona Kim segera berubah menjadi merah padam, ia merasa malu juga menyesal.

Kali ini, Bau-ji yang menghiburnya, dia berkata begini.

"Nona asal kita dapat sampai di loteng ini dengan selamat, hal tersebut sudah lebih dari cukup, sebelum jite berhasil kutemukan, soal pintu pintu bisa terbuka atau tidak bukan menjadi masalah, oleh sebab itu kau pun tak usah merasa cemas !"

"Benar nona."

Sambung Hou-ji pula.

"kini soal pintu baja itu bisa terbuka atau tidak, tiada keuntungan atau kerugian apapun untuk kita semua. Nona Kim segera menarik kembali tangannya dan menundukkan kepalanya rendah-rendah. Terdengar Hou-ji berkata lagi.

"Semua ucapanku adalah kata-kata yang sejujurnya, barusan yang dikatakan Toa-te juga betul, kita sekarang sedang mencari Siau-liong, cuma Toa te seperti sudah melupakan akan satu hal."

"Soal apa?"

Hou ji tertawa.

"Ketika kita berhasil menemukan Siau liong nanti, paling tidak budak ingusan yang tekebur dan mentertawakan kitabarusan juga berkesempatan untuk melarikan diri.

"Tapi sekarang dia membelenggu diri sendiri, selama pintu baja belum terbuka, aku percaya diapun tak akan bisa kabur dari bangunan ini, bila ia sampai membuka pintu baja tersebut, maka kita akan segera turut keluar juga dari sini. Nona Kim segera tertawa geli setelah mendengar perkataan Hou ji tersebut, serunya kemudian.

"Sudahlah, bagaimanapun juga hal ini gara-gara keteledoranku sehingga mengurung kita semua disini, apa yang dikatakan orang memang betul, dan tombol yang mengendalikan buka tutupnya pintu juga akan kucari terus, aku percaya tombol itu pasti dapat kutemukan!"

Baru selesai dia berkata, suara gelak tertawa tadi telah berkumandang lagi.

"Hahahahahaha... kau sedang mimpi, tomboI untuk membuka dan menutup pintu tersebut berada disisiku, kau jangan harap bisa menemukannya kembali !"

Tampaknya nona Kim sudah dibuat mendongkol oleh perkataan itu, dia segera berteriak keras.

"Beranikah kau bertaruh denganku, aku pasti dapat menemukan tombol rahasia tersebut?"

"Baik, mau bertaruh apa ? Katakan saja ?"

Tanpa berpikir panjang nona Kim menyahut.

"Kita bertaruh tentang mati hidupmu !"

Orang dalam kegelapan itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Hahahahaha.... padahal kematianmu sudah berada didepan mata, tapi untuk adilnya, aku akan mengabulkan permintaanmu itu !"

"Hmm, tak usah tekebur dulu, dalam sepuluh bagian, ada sembilan bagian kematian ada dipihak mu !"

"Berbicara tanpa bukti apa gunanya, kau cari saja lebih dulu !"

"Jangan lupa, aku masih mempunyai tiga orang sandera yang bisa digunakan untuk mengancammu !"

Setelah perkataan tersebut diutarakan, suasana untuk sesaat menjadi hening, tak kedengaran suara jawaban. Lama kemudian, orang yang berada dibalik kegelapan itu baru berkata lagi.

"Kau sudah apakan mereka ?"

Nona Kim tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya ujarnya |lagi.

"Mana orang yang hendak kami cari?"

Tiba-tiba orang yang berada dalam kegelapan itu tertawa terbahak-bahak, kemudian ujarnya.

"Haaahh... haaaahh... haaahhh... hampir saja aku tertipu oleh akal melihatmu sekarang keadaan kita menjadi berimbang, aku pun tidak mempunyai cukup waktu lagi untuk bertanya jawab denganmu, bila kau memang punya kepandaian ayolah cari dulu tombol rahasia tersebut...!"

"Tampaknya jite benar-benar sudah terperangkap!"

Kata Bau ji kemudian dengan kening berkerut.

"Hhmmm, tak bakal salah lagi. kalau tidak, siapakah yang mampu menandingi kehebatan Siau-liong ?"

Sementara itu nona Kim telah mengulapkan tangannya sambil meloloskan pedang, kemudian dengan ujung pedangnya dia menggurat-gurat permukaan tanah.

Ketika Hou-ji dan Bau-ji memperhatikan lagi dengan seksama.

ternyata nona Kim sedang menulis beberapa tulisan diatas tanah.

ia sedang menulis begini.

"Aku sengaja mengajaknya bertanya jawab, tujuanku adalah untuk mencari tahu tempat persembunyian mereka. ia bisa masuk berarti pasti ada pintunya, pintu itu dapat dibuka dan ditutup semuanya sendiri, berarti tombol rahasia itu pasti berada didalam sana.

"Sekarang kita harus menemukan letak tombol rahasia tersebut lebih dahulu, asal sudah di temukan, kemudian dengan suatu serangan secara mendadak kita serang orang itu. Asal orang tersebut dapat dibekuk. maka segala sesuatunya akan berubah menjadi aman kembali"

Hou ji dan Bau ji segera manggut-manggut. Maka nona Kim menulis lagi.

"Sekarang kita tak usah bicara dulu, jangan memberi kesempatan kepadanya untuk mempersiapkan diri!"

Untuk kedua kalinya Bau ji dan Hou ji mengangguk. Dengan cepat nona Kim menghapus tulisan itu, kemudian baru berkata.

"Sekarang kita maju terus saja ke dalam, bagaimanapun juga kita kan tak bisa keluar dari sini !"

"Benar"

Sahut Hou ji.

"siapa tahu dengan cara demikian kita akan berhasil menemukan Siau liong."

Nona Kim mengiakan, mendadak pedangnya berkelebat lewat tempat obor yang terbuat dari besi itu sudah dibacoknya sampai kutung menjadi dua bagian.

Ketika tempat obor itu terjatuh ke tanah, Hou-ji dan Bau-ji bersama-sama mengacungkan ibu jarinya sambil memuji.

Tempat obor itu bukan alat rahasia untuk membuka pintu besi, dengan di rusaknya benda itu maka hanya keuntungannya saja dari pada kerugiannya.

Sebenarnya tindakan nona Kim memapas tempat obor itu hanya suatu tindakan emosi, siapa tahu justru karena perbuatannya itu, hal mana telah mendatangkan kegunaan yang luar biasa dalam perubahan dikemudian hari yang sama sekali tak terduga itu.

BegituIah setelah membacok tempat obor tersebut, pelan-pelan dia melanjutkan langkahnya ke depan.

Disudut sebelah kanan dari lorong rahasia itu kembali ditemukan sebuah pintu, pintu tersebut berada dalam keadaan tertutup.

Nona Kim hanya tertawa saja, sama sakali tak memandang sebelah matapun ke arah pintu tersebut.

Hou ji menuding ke arah pintu itu.

sementara sorot matanya menatap wajah nona Kim lekat-lekat.

Maksudnya ia lagi bertanya, apakah disini?

Nona Kim rnenggeleng, ia menuding kearah dinding sebelah kiri.

Hou-ji jadi tertegun, disebelah kanan lorong semuanya terdapat dua buah pintu sedang di sebelah kiri hanya berupa dinding, pada hakekatnya tidak ditemukan bayangan pintu disitu.

Lantas apa yang dituding nona Kim ?

Sementara ia masih keheranan kembali nona Kim menuding keatas langit langit dinding batu itu.

Bau ji dan Hou ji segera mendongakkan ke palanya, dengan cepat mereka menjadi mengerti.

Diatas langit-langit itu terdapat puluhan lubang kecil, tampaknya memang disiapkan sebagai tempat penyalur suara.

Rupanya asal suara tadi itu.

Kini di sebelah kanan ada pintu, berarti orang yang mereka cari ada didalam sana, tapi seandainya memang begitu, bukankah hal ini berarti sedang memberitahukan kepada lawan nya?

Antara dinding kiri dinding kanan boleh di bilang masing-masing menempati separuh bagian, lorong itu terletak dibagian tengah, bangunan macam apapun tak mungkin kalau hanya membangun ruangan disebelah kanan sementara sebelah kiri hanya berupa dinding belaka.

Dari sini dapat diduga kalau disebelah kiri inilah ruang rahasia terletak sebenarnya.

Tapi disitu tiada pintu, bagaimana caranya untuk masuk kedalam sana?

Nona Kim mengawasi lagi dinding kiri itu dengan seksama dan akhirnya tertawa.

Hou ji dan Bau ji yang melihat keadaan tersebut segera mengerti kalau nona Kim telah berhasil menemukan sesuatu.

Benar juga, Nona Kim segera menuding ke-depan dan menyuruh kedua orang itu memperhatikan, kiranya disana terdapat sebuah batu tonjolan berbentuk bintang sebesar mata uang, seandainya tidak di perhatikan dengan seksama atau ada orang yang memperingatkan.

sukar untuk menemukan tempat itu.

Nona Kim segera menghimpun tenaga dalamnya dan melejit ketengah udara, diantara kilatan cahaya tajam yang menyilaukan mata pedang tersebut telah menutul diatas tonjolan batu karang itu.

Begitu tersentuh, batu yang menonjol keluar tadi segera melesat ke dalam, sementara dinding disebelah kiri pun membelah dua bagian.

Begitu pintu rahasia terbuka, nona Kim dan Hou ji dan juga Bau ji segera menyelinap masuk kedalam.

Tetapi baru saja mereka masuk, mendadak terdengar suara Sun Tiong lo berteriak dari daiam ruangan itu.

"Cepat mundur, cepat..."

Sekalipun teriakan itu diutarakan cepat, sayang toh tetap terlambat, mendadak pintu rahasia ini sudah menutup kembali dan mengurung mereka didalamnya Seketika itu juga, suara tertawa merdu tadi telah berkumandang lagi memecahkan keheningan, menyusul kemudian perempuan itu berseru.

"Sekarang kalian baru terjebak, aku sudah menduga kalau kau adalah seorang dayang yang cerdik dan berakal panjang, nah sekarang kalian boleh berkumpul menjadi satu, sepanjang hidup jangan harap bisa keluar lagi dari sini."

Dengan meminjam cahaya lentera yang ber ada ditangan Hou-ji, segala sesuatunya dapat terlihat jelas, tempat itu merupakan sebuah ruangan batu yang sempit dan memanjang, di dalam ruangan itu tidak terlihat benda apapun kosong melompong.

Ruang yang sempit memanjang ini tinggi satu kaki enam depa, cukup tinggi untuk ukuran sebuah ruangan.

Dari sekeliling ruangan tersebut, disana hanya terdapat sebuah daun jendela yang berbentuk aneh, jendela tersebut berada diatas dinding sebelah barat, letaknya tinggi sekali.

Daun jendela mempunyai lebar dua depa dan panjang lima inci, hingga berbentuk memanjang.

Tapi dibagian yang lain hanya terdapat sebuah lubang kecil sebesar dua inci saja.

Dilihat dari ukuran tebal jendela ini, paling tidak dindingnya mencapai tiga depa lebih.

Waktu itu, Sun Tiong-lo baru saja bangun berdiri dari sudut ruangan itu, sekulum senyuman getir menghiasi ujung bibirnya.

"Kau tidak apa-apa bukan ?"

Nona Kim segera memburu kemuka. Tidak apa-apa."

Merupakan kata yang sukar dicernakan, namun Sus Tiong-lo mengerti, nona Kim sedang bertanya kepadanya apakah menderita sesuatu luka akibat musibah yang menimpanya.

Sun Tiong-Io sesera menggeleng, digenggam nya tangan nona Kim lalu bisiknya.

"Tidak apa-apa, aku hanya tertipu !"

Houji dan Bau-jl tidak bersuara, tapi mereka nampak gembira sekali atas pertemuan tersebut. Sun Tiong lo memandang sekejap api lentera ditangan Hou-ji, kemudian ujarnya.

"Engkoh Hou, padamkan saja lenteramu itu, kita mesti menghemat, bila mana diperlukan saja kita baru mempergunakannya lagi !"

Hou-ji mengiakan, dia segera memadamkan lentera tersebut. Dalam keheningan ditengah kegelapan, mendadak dari atas dinding itu berkumandang lagi suara teguran yang amat dingin.

"Lebih baik dipasang saja, toh lebih baik kalian saling berpandangan lebih lama lagi sebelum berpisah untuk selamanya". Sun Tiong lo tertawa, kearah jendela itu dia berseru.

"Kau jangan keburu bangga, sudah kukatakan tadi aku pasti dapat keluar dari sini!"

Orang dibalik dinding itu segera tertawa.

"Heeehhh.. heeehh... heehhh... kalau kau dapat berbuat demikian, hal ini lebih baik lagi, sampai waktunya pasti akan kusiapkan meja perjamuan untuk menghilangkan rasa kaget kalian !"

Seusai mengucapkan perkataan itu kembali ia tertawa terkekehkekeh, kemudian tak kedengaran suara apa-apa lagi.

Sementara itu lampu sudah padam suasana dalam ruang sempit berubah menjadi gelap gulita, sukar melihat kelima jari tangan sendiri nona Kim masih tetap bersandar dalam pelukan Sun Tiong-lo dia seperti sudah melupakan keadaan disekelilingnya.

Begitu orang yang berada diruang sebelah berhenti berbicara, suasana pun kembali menjadi hening.

Sesaat kemudian, Sun Tiong lo baru berkata.

"Didalam ruang sempit ini tak ada kursi, silahkan kalian duduk dibawah lantai saja !"

Maka sambil meraba dalam kegelapan, mereka duduk bersandar diatas dinding. Setelah duduk, Hou-ji segera bertanya.

"Siau liong, mana sahabat yang membawa jalan bagimu tadi?"

Sun Tiong lo tidak menjawab, tapi dari dinding sebelah kedengaran seseorang menjawab.

"Lobu berada disini, ada sesuatu persoalan?"

Hou ji berseru tertahan lalu duduk bodoh, tetapi sebentar kemudian menyadari apakah gerangan yang terjadi. Menyusul kemudian Hau ji berkata kepada Sun Tiong lo.

"Jadi kau sudah di tipu oleh si-tua bangka keparat itu?"

"Buat apa dibicarakan lagi!"

Sahut Sun Tiong-lo sambil tertawa getir. Sementar itu orang yang berada diruang sebelah telah mendehem berulang kali dan kemudian katanya lebih jauh.

"Tak ada salahnya toh untuk di ceritakan, bila tak menderita kerugian bagaimana mungkin bisa lebih berpengalaman. Lain kali kau pasti akan lebih tahu diri!"

Sun Tiong lo tertawa terbahak-bahak, terhadap jendela itu teriaknya lantang.

"Haahh, haah, haaah, kau jangan keburu merasa bangga dulu, aku sudah bilang, suatu ketika aku pasti dapat keluar dari sini !"

"Hmm, tentu saja kalian bisa keluar dari sini, setelah kalian mampus karena kelaparan dan kehausan, tentu saja lohu tak akan membiarkan tubuh kalian membusuk disitu, akhirnya kamu semua pasti akan digotong keluar !"

"Baiklah, toh waktunya bakal sampai juga, tunggu saja sampai tanggal mainnya !"

"Betul, kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti !"

Sun Tiong-lo masih ingin berbicara lagi, tapi Hou-ji sudah menarik ujung bajunya sambil berbisik.

"Tak usah didebat lagi Siau-liong, tak ada gunanya sebagai seorang manusia, kita memang seharusnya berbicara menurut keadaan yang sedang kita hadapi, kenyataannya kita sekarang memang tak dapat keluar dari tempat ini."

Belum selesai dia berkata, orang yang berada di ruangan sebelah telah menimbrung.

"Nah, begitu baru betul, sebagai manusia kita harus pasrah pada nasib."

Sejak kecil Sun Tiong lo dan Hou-ji sudah hidup bersama, dia cukup mengetahui watak dari saudaranya itu, dengan cepat dia memahami Hou-ji bisa berkata demikian pasti ada tujuannya, maka diapun tidak banyak bicara lagi.

Nona Kim tidak mengetahui akan hal itu, dia berseru lagi.

"Darimana dia bisa tahu kalau kami tak mungkin bisa keluar dari tempat ini ?"

Bau-jipun tidak sependapat, sambungnya cepat.

"Hou-ji katakatamu itu membuat aku benar-benar merasa tak sabar."

Dengan ilmu menyampaikan suara Sun Tiong lo segera berbisik kepada nona Klm dan Bau-ji.

"Engkoh Hou mempunyai suatu maksud tertentu, lebih baik kalian mendengarkan saja tanpa komentar. Nona Kim yang bersandar ditubuh Sun Tiong lo segera manggutmanggu! dan tak bicara lagi. Bau-ji pun tidak banyak bicara lagi. Sementara itu Hou ji telah bergumam lagi seorang diri.

"Apa yang ku ucapkan adalah kata-kata yang sejujurnya, bayangkan saja dinding ruangan ini mencapai tiga depa lebih, kuat, tebal dan tiada berpiatu, jangankan melarikan diri, mau keluar dari sini saja sulit, kalau dibilang masih ada harapan untuk meloloskan diri, bukankah hal ini sama artinya dengan membohongi diri sendiri?"

Orang yang berada diruang sebelah segera bertepuk tangan sambil bersorak gembira.

"Tepat sekali! Kau memang lagi berbicara sejujurnya!"

Menggunakan kesempatan itu, Hou ji segera berkata kepada orang yang berada diruang samping itu.

"Sobat yang berada dikamar sebelah, bagaimana kalau kita berbincang-bincang sebentar?"

Orang itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeeh... heeeh... heeeh... bagus sekali, akupun sedang merasa menganggur, berbincang-bincang memang tak ada salahnya."

"Aku percaya kau mempunyai pandangan yang sama dengan aku..."

Ucap Hou ji lagi.

"Aaah, belum tentu"

Tukas orang yang berada diruang sebelah cepat.

"soal itu mah tergantung pada masalah apa yang sedang dihadapi."

"Yang kumaksudkan adalah persoalan tak mungkinnya bagi kami untuk meloloskan diri dari sini!"

"BetuI, dalam hal ini aku memang mengagumi sekali atas kesadaranmu menghadapi kenyataan."

Hou ji segera menghela napas panjang.

"Aaai... terus terangnya saja, siapa pun ingin dapat kabur dari sini, pasti akan kuusahakan suatu akal untuk membinasakan dirimu, percayakah kau?"

Sekali lagi orang yang bcrcda diruang sebe lah tertawa seram.

"Heeh... heeh... heeh... aku percaya kalau semua perkataanmu itu adalah kenyataan dan sejujurnya."

Sesudah tertawa getir, kembali Hou-ji menghela napas panjang, katanya lebih jauh.

"Tapi akupun cukup tahu diri, untuk melarikan diri jelas sudah tak ada harapan lagi, oleh sebab itu aku bersedia untuk membicarakan hal ini denganmu. siapa tahu diantara kita dapat lebih saling memahami..."

"Oooh... jadi menurut anggapanmu, lohu masih membutuhkan peringatan darimu ?"

"Sepantasnya kalau dibilang kaulah yang harus lebih memahami keadaan kami"

Orang diruang sebelah tertawa, tertawa amat sombong.

"Haah... haah... haah... kalau di bilang begitu baru betul, sayang sekali aku tak bisa lebih memahami kalian."

"Tentu saja, dan lagi hal inipun tak bisa menyalahkan kau. cuma ada sementara persoalan kalau dibicarakan dari sudut pandanganmu sekarang, sudah sepantasnya kalau kau suruh kami lebih mengerti."

"Oooo ... apa yang kau maksudkan?"

"Kami sudah pasrah pada nasib dan tak akan menyusun rencana untuk melarikan diri lagi, kau sudah bilang kalau mati keputusan, kami bakal mati kelaparan, tapi sebelum mati, aku ingin mengetahui lebih dulu sebenarnya apa alasannya sehingga kami harus menerima kematian dalam keadaan seperti ini ?"

Tampaknya orang yang berada diruang sebelah itu tertegun, lama kemudian ia baru berkata.

"Jadi kau sedang bertanya, mengapa lohu berusaha untuk mengurung kalian disini ?"

"Tentu saja, aku harus memahami kesemuanya itu lebih dulu sebelum mati !"

"Baik. lohu akan menerangkan hal ini kepada kalian."

Tapi secara tiba-tiba ia tidak melanjutkan kembali kata-katanya, sebab dari ruang samping berkumandang suara pembicaraan seseorang yang amat merdu, sekalipun suaranya lembut dan manja, tapi nadanya sangat gelisah.

Hou ji sekalian dengan cepat dapat mendengar pembicaraan tadi dengan amat jelas...

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** APA yang mereka dengar ?

Pada saat ituIah, terdengar perempuan itu sedang berseru dengan nada gelisah.

"Aduh celaka, kitapun tak dapat meninggal kan loteng ini !"

Dengan perasaan terkejut orang yang berada di ruang sebelah menegur.

"Bagaimana mungkin ? sebenarnya apa yang telah terjadi ?"

"Tempat obor didepan pintu besi telah dikutungi orang sehingga rantai yang mengendalikan pintu gerbang mengendor lalu terlepas, roda bergiginya jadi tak bisa digerakkan lagi, bagaimanapun aku berdaya upaya, namun pintu tersebut tak pernah dapat kubuka lagi"

Setelah mendengar perkataan itu, orang yang berada di ruang sebelah baru ikut gelisah, ia segera membentak gusar.

"Bagaimana mungkin tempat obor itu bisa kutung ? Siapa yang melakukan perbuatan ini?"

Baru saja nona Kim akan berseru, suara perempuan di kamar sebelah telah berseru keras.

"Sudah pasti budak ingusan itu, dia mengerti tentang ilmu alat jebakan..."

Dengan marah orang dikamar sebelah mendengus, kemudian katanya.

"Bunyikan keleningan emas dan perintahkan orang untuk membuka pintu besi ini dari luar!"

"Tak mungkin, mereka semua telah ditawan, lencana keleningan emas tak ada gunanya lagi."

Lelaki dikamar sebelah menjadi tertegun, kemudian sambil mendepak-depakkan kakinya berulang kali ke tanah, makinya.

"Kau toh berjaga dibagian luar, seharusnya persoalan semacam ini kau perhatikan baik baik, goblok !"

"Bagaimana kau menyalahkan aku ? Seandai nya bukan idee mu, bagaimana mungkin mereka bisa masuk kemari, coba kalau kita gunakan keleningan emas untuk memerintahkan mereka menghadapi orang-orang itu, sudah pasti urusan telah beres, hmmm !"

Baru selesai perkataan itu diutarakan, mendadak berkumandang suara tamparan nyaring.

"Plaaak...!"

Menyusul kemudian terdengar jeritan mengaduh dari perempuan itu, tampaknya dia kena di tampar.

Betul juga, setelah suara tamparan dan suara mengaduh tersebut, suara perempuan yang semula lembut dan merdu itu berubah menjadi dingin dan menyeramkan.

"Kau berani menghantam aku ? Hmm... soh bun ki (panji pencabut nyawa), bagus sekali perbuatanmu tapi kau ingat, selamanya jangan melupakan peristiwa hari ini !"

Hou-ji yang mendengar ucapan itu, segera berbisik kepada Sun Tiong lo dengan suara terkejut.

"Siau-liong, ternyata tua bangka yang menunjukkan jalan kepadamu itu adalah Soh hun ki..."

Belum habis dia berkata, Sun Tionglo sudah menukas sambil berbisik pula.

"Aku sudah tahu sejak tadi, bila ada persoalan kita bicarakan nanti saja"

Sementara itu suasana di kamar sebelah telah terjadi perubahan yang besar.

Mungkin si Panji pencabut nyawa juga menyadari kalau tamparannya barusan telah menanamkan bibit bencana, mungkin dia masih mempunyai tujuan lain, maka dengan suara yang lebih lembut katanya lagi.

"He-he, jangan marah, aku hanya khilaf dan mata gelap tadi.."

Ternyata dia memanggil perempuan itu sebagai He he, kontan saja Sun Tiong-lo sekalian merasakan hatinya tergerak, ternyata di alamat lama kuil Tong thian koan benar-benar terdapat seseorang yang bernama He-he.

Baru saja si Panji pencabut nyawa menyelesaikan kata-katanya, He-he sudah menukas.

"Karena khilaf karena mata gelap... apa lantaran begitu kau boleh menampar wajahku? Jika tiap kali khilaf tiap kali aku ditampar, bisa mampus aku akhirnya, jangan kau anggap aku bocah kecil yang mudah ditipu!"

"Aku bersumpah, lain kali tak akan mengulangi lagi kejadian ini !"

Panji pencabut nyawa berjanji. He he mendengus dingin.

"Hmm... sumpahmu tak akan lebih berharga daripada janji-janji gombal dari kaum lonte"

"Sudah, sudahlah, cukup sampai disini saja."

Kembali Panji pencabut nyawa menghibur.

"dewasa ini kita harus mencari akal untuk membuka pintu gerbang baja itu..."

Tampaknya He-he mengalah juga, dia menyahut.

"Baiklah, kau boleh berusaha mencari akal. Loteng ini adalah bangunanmu sendiri, segala peralatan dan alat jebakan merupakan ciptaanmu, mungkin kau mempunyai cara untuk memecahkan hal ini!"

Dengan perasaan apa boleh buat si Panji pencabut nyawa mengiakan, katanya.

"Aaai... tak ada cara lain yang bisa dipikikirkan lagi.

"tapi baiklah, aku akan pergi memeriksanya..."

Kemudian terdengar suara langkah kaki manusia yang sedang menekan tombol dan terbukanya pintu batu, setelah itu suasana amat hening.

Selang beberapa saat, baru kedengaran serentetan suara bergeraknya alat-alat rahasia.

Sesudah bergemanya suara alat rahasia untuk kedua kalinya, sampai Iama sekali suasana hening.

"Hou ji peristiwa ini nampaknya aneh sekaIi."

Bisik Sun Tiong lo tiba-tiba. Nona Kim segera tertawa cekikikan tukasnya.

"Sedikitpun tidak aneh, akulah yang memapas kutung tempat obor tersebut."

Dengan tangan kirinya Sun Tiong lo memeluk tubuh nona Kim, kemudian sambil berpaling ia berbisik.

"Kau kira, bukan soal tempat obor yang kumaksudkan."

Sebenarnya nona Kim bersandar pada bahu Sun Tiong lo dengan kepala tertunduk, setelah mendengar perkataan jadi tanpa terasa dia mendongakkan kepalanya sambil buka suara.

Tapi belum sempat sepatah katapun diucapkan, suasana kembali menjadi hening, bahkan bening sekali.

Ternyata telah terjadi suatu "kontak"

Yang terjadi tanpa sengaja, ketika nona Kim mendongakkan kepalanya dan Sun Tiong-lo menunduk, kedua bibir mereka segera saling membentur satu sama lainnya, bayangkan saja bagaimana mungkin gadis itu dapat melanjutkan perkataannya ?

Bjkan cuma gadis itu saja yang tak dapat berbicara Sun Tiong-lo sendiripun merasakan kepalanya seperti dihantam dengan sebuah martil yang sangat berat, kecuali seluruh badannya terasa panas telinganya mendengung nyaring, dia tidak teringat apa-apa lagi...

Oleh sebab itu pertanyaan yang kemudian di ajukan Hou ji secara beruntun tak satupun yang memperoleh jawaban.

Lama kelamaan Hou ji menjadi keheranan dia segera menyikut Sun Tiong lo kemudian menegur.

"Hei Siau liong sebenarnya apa yang terjadi dengan dirimu ?"

Sikut mana segera menyadarkan kembali Sun Tiong lo dari suasana yang syahdu.

Seandainya ruangan sempit itu tidak kebetulan berada dalam keadaan gelap guIita, mungkin mereka semua dapat menyaksikan paras mukanya yang telah berubah menjadi merah padam.

Diam-diam Sun Tiong lo menghembuskan napas panjang, setelah berhasil menenangkan hatinya dia berkata.

"Aku sedang memikirkan suatu persoalan!"

Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya.

"Barusan, apa yang kau katakan?"

Agaknya pada waktu itu Hou ji sudah memahami rahasia dibalik keheningan tadi, ia segera tertawa.

"Bukan aku yang telah mengucapkan sesuatu, sedang akupun telah membalas pertanyaannya."

"Ooh... aku tidak mendengar apa yang telah dia katakan?"

Sementara itu He he koancu di ruang sebelah telah berkata lagi sambil tertawa aneh.

"Aku sedang bertanya kepadamu, bersediakah kalian untuk meloloskan diri dari ruangan yang sempit itu?"

"Oooh, aku rasa tak akan segampang itu bukan?"

Ucap Sun Tiong lo dengan cepat. He-he koancu tertawa.

"Kalau berbicara bagiku, soal ini mah cuma soal menggerakkan sebelah tangan saja."

Sun Tiong lo berkerut kening tanpa menjawab, tentu saja orang lain tak dapat menyaksikan kerutan dahinya itu. Berhubung Sun Tiong lo tidak bersuara, maka He-he koancu menyambung lebih jauh.

"Bagaimana? Masa sesukar itukah bagimu untuk menjawab pertanyaan yang kuajykan?"

"Aku telah menjawabnya!"

Sahut Sun Tiong lo dingin. He he koancu masih tefap berkata sambil tertawa.

"Aku pun sudah bilang, bagiku soal itu mah cuma soal menggerakan tangan sebelah!"

"Kalau memang masalahnya cuma menggerakan tangan sebelah, untuk apa kau bertanya lagi kepadaku?"

"Walaupun masalahnya cuma soal menggerakkan tangan, hal itupun tergantung soal bersediakah tanganku ini untuk bergerak"

"Toh tiada orang yang memaksamu?"

Jengek Sun Tiong lo sambil tertawa dingin. Mendadak He he koancu mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain ujarnya.

"Dari Soh ki, kudengar kalian datang kemari untuk mencariku benarkah demikian?"

"Ehmm, benar..."

"Oooh, sungguh mengherankan kitakan tidak saling mengenal, ada urusan apa kalian datang mencariku?"

Sun Tiong lo tak dapat menjawab pertanyaan itu, sebab dalam catatan kitab kecil tersebut hanya dicantumkan bahwa mereka harus datang ke kuil Tong thian koan dikota Gak-yang untuk mencari He-he koancu, sedang soal setelah bertemu lantas harus berbuat apa dalam kitab itu tak pernah disinggung, bagaimana mungkin dia dapat menjawab pertanyaan orang ?"

Hou ji dan Sun Tiong lo sama pahamnya akan keadaan seperti ini tapi dia lebih pandai menghadapi persoalan seperti ini daripada Sun Ti-ong-Io maka segera timbrungnya.

"Maaf, hal ini hanya bisa dibicarakan setelah bertemu sendiri dengan He he koancu pribadi !"

Tergerak juga hati He-he koancu, katanya kemudian.

"AkuIah He he..."

"Siapa tahu kau adalah Sang-sang?"

Timbrung Hou ji cepat. He he koancu segera tertawa, tertawa terkekeh-kekeh dengan jalangnya.

"Haah... haah... haah... kalian beberapa orang kongcu kecil memang sangat menarik."

Bau ji yang tak pernah berbicara selama ini segera membentak dengan mendongkol.

"Tutup mulutmu, tiada orang yang suka mendengar ucapan semacam itu..."

Ternyata He-he koancu tidak menjadi gusar oleh dampratan tersebut malah sebaliknya sambil tertawa jalang serunya.

"Jangan kau anggap saat ini aku tidak dapat melihatmu, tapi dalam hatiku sudah ada perhitungan yang matang, aku tak bisa menduga kau pastilah seorang bocah muda yang tak pernah memandang sebelah matapun terhadap orang lain, bukan begitu ?"

Bau-ji mendengus dingin namun ia tidak banyak berbicara. Tiba-tiba He-he koancu menghela nafas panjang, kemudian ujarnya lagi.

"Bocah muda, janganlah bersikap kaku dan bermuram durja terus menerus, kau harus tahu, Mi lek Hud bun mendapat simpatik orang banyak karena dia selalu tersenyum terhadap siapapun !"

Dalam kegelapan, Bau ji hanya menundukkan kepalanya rendahrendah.

Dia tak dapat menjawab, sebab orang yang tak di kenal dengan ucapan yang tak terduga itu mendatangkan suatu perasaan aneh dalam hati kecilnya.

Benar, orang yang mengucapkan perkataan ini mungkin manusia rendah, mungkin cabul dan jalang, mungkin juga karena mempunyai suatu maksud tertentu, tapi apa yang diucapkan barusan merupakan suatu perkataan yang amat betul dan masuk diakal.

Orang yang sering tersenyum, orang yang tersenyum ramah dalam keadaan apapun seakan akan kesulitan selamanya menjauhi dia, apa yang dilakukan dan dikerjakan pun kebanyakan seperti mengalami keberhasilan.

Menangis sedih, mengaduh merengek belum tentu akan melumerkan hati orang yang keras seperti baja.

Tapi berbeda dengan senyuman, bila orang bertanya sambil tersenyum jarang ada orang menampik.

Menurut watak Bauji yang keras, jangan lagi ucapan mana berasal dari mulut seorang perempuan yang dianggapnya rendah dan tak ada harganya, sekalipun orang yang dihormati pun belum tentu ucapan mana akan diterima dengan begitu saja.

Tapi keadaan pada hari ini berbeda, ini dikarenakan suasana yang gelap gulita.

Kadangkala kegelapan dapat mendatangkan kejahatan dan kesesatan, tapi kadangkala juga dapat membuat orang tidak kehilangan rasa harga dirinya.

Oleh sebab itu bukan saja Bau-ji tidak mendamprat He-he koancu, malah sebaliknya justru meningkatkan kewaspadaannya terhadap diri sendiri...

Sementara Bau-ji sedang menyadari akan kesalahannya itu, He he koancu telah berkata lagi kepada Sun Tiong lo.

"Si Panji pencabut nyawa telah berkata kepadaku, diantara kalian yang hadir disini sekarang agaknya kepandaian silatmu yang terhitung paling tinggi, oleh sebab itu sekarang aku hanya ingin berbicara dengan kau seorang."

"Kau maksudkan siapa ?"

Tukas Hou-ji. He-he koancu tertawa.

"Yang pasti bukan kau, lebih baik kurangi saja niatmu untuk berbicara !"

Sun Tiong lo segera mendengus, katanya.

"Andaikata aku yang kau maksudkan, maka kau berarti telah salah melihat dan salah mendengar !"

He he koancu tertawa cekikikan "Tak usah kuatir, aku tak bakal salah."

"Darimana kan bisa tahu ?"

Dengan nada serius He-he koancu menjawab "Dengan kepandaian silat yang dimiliki si Panji pencabut nyawa, selamanya dia tak pernah takut kepada siapapun tapi kali ini dia lebih suka memancingmu masuk perangkap daripada menghadapimu dengan kekerasan, ini lah suatu tanda bukti yang paling baik."

"Itulah disebabkan dia melihat langit dari dalam sumur, pengetahuannya kelewat cetek"

Dengus Sun Tiong-Io.

"Ooooh... dia sudah termasyhur selama empat puluh tahun lebih didalam dunia persilatan, sepanjang hidupnya sudah banyak musuh tangguh yang pernah di jumpai, bila dia adalah katak dalam sumur, lantas manusia macam apa pula dirimu ini ?"

Sun Tiong lo terbungkam oleh ucapan iiu, lambat laun dia merasa agak ngeri bercampur kagum juga terhadap perempuan ini, diam-diam ia mengakui akan kebenaran ucapannya.

Dalam soal pengetahuan dan pengalaman Hou ji masih jauh melebihi kemampuan Sun-Tiong lo dan Bau ji, dari perkataan He he-koancu barusan dia sudah menangkap suatu titik kelemahan maka sambil mendengus dingin ujarnya.

"Lebih baik kau tak usah menggunakan cara yang demikian rendah untuk menjebak kita, akulah pemimpin dari rombongan ini."

Sekali lagi He he koancu tertawa cekikikan "Kau tidak merasa malu dengan perkataan demikian rendah itu?"

"He he, menggunakan cara dan pembicaraan semacam ini untuk menjebak kami, caramu itu sungguh membuat aku merasa amat geli!"

Kembali He he koancu tertawa-tawa.

"Buat aku sih apa yang kukatakan, apa yang kupunyai aku katakan apa yang kupunyai aku katakan aku lebih suka blak blakan!"

"Setan alas tahu, terus terang kuberitahukan kepadamu, sewaktu kami menghadapi si Panji pencabut nyawa tadi, suteku menganggap membunuh ayam tak perlu memakai golok penjagal sapi, maka dialah yang maju untuk menghadapinya."

"Tapi pertarungan itu tak jadi dilangsungkan, karena itu kami suheng te sekalian tidak pernah memperlihatkan jurus serangan apapun, atas dasar apa kau mengatakan kepandaian silat suteku yang paling tinggi?"

"Hmm, aku mengerti akan maksud hatimu, tentunya kau sudah tahu bukan kalau suteku ini paling jujur dan mudah tertipu, maka kaupun beralasan demikian dengan maksud menjebaknya, terus terang kukatakan, kami tidak akan termakan oleh siasatmu itu!"

Untuk beberapa saat lamanya He he koancu terbungkam dalam seribu bahasa, tentu saja dia tidak sanggup berkata apa apa lagi.

Hou ji tidak melepaskan kesempatan itu, setelah tertawa dingin kembali ujarnya.

"Katakan sekarang, sebenarnya apa yang kau inginkan?"

Ternyata He he koancu cukup lihay juga, setelah berpikir, dia segera mendapat siasat lain, katanya lagi.

"Aku masih tetap mengulangi ucapanku lagi, inginkah kalian meninggalkan ruang sempit ini"

"Kalau ingin meninggalkan tempat ini bagaimana ? Kalau tak ingin meninggalkan tempat ini lantas kenapa ?"

Bila tak ingin meninggalkan tempat ini, tentu saja kita tak usah membicarakan persoalan ini lagi"

Kata He he koancu.

"sebaliknya jika ingin meninggalkan tempat ini, asal kau bersedia menjawab tiga pertanyaanku dan menyanggupi satu keinginanku maka aku..."

Hou ji lebih pintar sambil tertawa dia segera menyela.

"Coba kau terangkan dulu syarat tersebut, kemudian baru kau ajukan ketiga buah pertanyaanmu, setelah kupertimbangkan masakmasak barulah akan kami beritahukan kepadamu apakah kami ingin meninggalkan ruang sempit ini atau tidak ?"

"Kau memang pintar sekali"

He he koancu segera tertawa cekikikan dengan merdunya, sesudah berhenti sejenak, kembali dia menyambung. Cuma soal inipun tak mengapa, bicara lebih dulu yaa bicara lebih dulu."

"Kalau begitu katakanlah!"

Desak Hou ji. Tampaknya He he koancu sudah mempunyai suatu persiapan matang, segera ia berkata.

"Pertanyaanku yang pertama, aku ingin tahu apa maksud kedatangan kalian kemari?"

"Baik, pertanyaan yang ke dua?"

Sambung Hou ji cepat. He he koancu termenung sambil berpikir sejenak, kemudian dia baru berkata.

"Siapakah di antara kalian yang merupakan jagoan dengam ilmu silat yang paling tinggi?"

Hou ji segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaa....haaa... haaa... pertanyaan yang kau ajukan itu makin lama semakin menarik, apa pertanyaanmu yang ketiga?"

"Sekarang, ke tiga orang anggota perguruanku itu berada dimana ?"

"Nah, sekarang kau boleh mengajukan syarat yang kau inginkan itu...!"

Seru Hou-ji dingin.

"Syaratku amat sederhana, kalian harus berjanji kepadaku, mulai sekarang tak boleh datang lagi ke kuil Tong-ibian koan, tentu saja termasuk juga loteng batu ini, bahkan..."

"Cukup, cukup, syaratmu yang terakhir serta apa yang kau tanyakan pada hakekatnya cuma perkataan yang sama sekali tak berguna."

Tukas Hou ji cepat.

"Bagaimana tak bergunanya ?"

Tanya He-he koancu dengan suara dalam.

"MeninggaIkan ruang sempit ini bukan berarti dapat meninggalkan bangunan loteng batu ini, tidak dapat meninggalkan bangunan loteng ini berarti tetap terkurung disini dan tidak mungkin bisa keIuar..."

"Benar"

Sela He he koancu.

"tapi aku percaya, kalian pasti dapat mencarikan akal untuk meloloskan diri dari kurungan ini !"

Mendadak Hou ji mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya.

"Kau sudah berbicara setengah harian lamanya, pertanyaan dan syaratpun telah diajukan, tapi aku justru merasa heran apakah kau berani membuka pintu batu dari ruang sempit ini tanpa minta persetujuan lebih dulu dari Soh-bun ki?"

He be koancu segera mendengus dingin.

"Hmmm, tentu saja berani, dia itu manusia macam apa?"

Hou ji segera tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya lagi.

"Heeh.. heeeh.....hreeh... kalau begitu, kau sudah bertekad hendak menghianatinya?"

Sekali lagi He he koancu mendengus dingin.

"Hmm, tak bisa di bilang siapa menghianati siapa, antara aku dengan dia bisa bekerja sama karena masing-masing telah memenuhi syarat yang diminta!"

"Ooooh... jadi kerja sama kalian sekarang sudah pecah?"

"Benar, tapi dia sendiri yang memaksakan hal ini, bukan aku yang sengaja berniat mengingkari janji."

"Apakah dikarenakan ia berubah pikiran secara tiba-tiba..."

"Persoalan itu toh tiada sangkut pautnya dengan kalian ? Lebih baik tak usah banyak bertanya !"

Tukas He-he koancu cepat. Hou ji segera tertawa.

"Bagaimana juga aku harus tahu."

Serunya.

"sekarang, bila dia datang kembali, bukankah kau.!"

"Hmm, dia tak bakal balik lagi !"

Dengus He-he koancu cepat. Hou ji meski sudah tahu kalau dugaannya benar, tapi ia toh mencoba untuk menyelidik kembali.

"Kau ini sebetulnya ingin membohongi siapa ?"

"Aku tak perlu membohongi dirimu!"

Jawab He-he koancu dengan suara dingin.

"sekarang dia sudah berada didalam lorong menuju ke anak tangga ruang bawah, tadi aku telah menggerakkan alat rahasianya dan mengurung dia didalam lorong rahasia tersebut!"

Kembali Hou-ji mengalihkan pokok pembicaraannya ke soal lain, ujarnya kembali.

"Dalam hal ini aku sudah tahu, kalau tidak, bagaimana mungkin kau begitu bernyali untuk mengajak kami membicarakan pertukaran syarat!"

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba nada pembicaraannya berubah menjadi sangat berat dan dalam, kembali ujarnya.

"Sekarang sudah sepantasnya kalau kita membuka pintu dan jendela selebar lebarnya untuk berbicara secara terus terang, koancu aku tak percaya kalau sekarang dirimu masih mempunyai pilihan lain !"

Tampaknya He-he koancu seperti dibikin agak kebingungan oleh perkataan tersebut, se telah berpikir sebentar dia baru menjawab.

"Aku tidak mengerti apa maksud dari pertanyaanmu ini !"

Houji segera tertawa.

"Pertama-tama aku hendak bertanya kepada..."

He he koancu segera tertawa cekikikan, tukasnya mendadak.

"Eeeh, tunggu, tunggu dulu, aku toh bukan seorang anak kecil!"

"Disini kan tiada orang menganggap kau sebagai seorang anak kecil ?"

Houji mendehem.

"Tapi apa yang kutanyakan belum lagi kalian jawab, kalian sudah bertanya kepadaku bukankah hal ini sama halnya dengan menganggap diriku seperti kanak-kanak, sok ditipu orang tua belaka?"

"Oooh... kau keliru, apa yang hendak kutanyakan kepadamu sama sekali tak ada hubungannya dengan apa yang kau tanyakan!"

"Apa iya? sungguh membuat orang sukar untuk mempercayainya!"

Houji tidak menanggapi perkataan tersebut, kembali dia berkata.

"Yang ingin kutanyakan adalah sampai kapan kau baru akan melepaskan orang yang kau sekap dalam lorong rahasia tersebut?"

"Jangan lupa, diantara kalian berdua masih terikat syarat untuk bekerja sama."

"Aku tidak melupakan hal tersebut, cuma semuanya itu sudah berlalu."

"Tetapi siapa yang akan memberi jaminan untukmu. Orang itu berhati keras, berjiwa sempit, cepat mendendam dan berhati keji, sebodoh-bodohnya aku, tak nanti akan sedemikian bodohnya sehingga melepaskan dia masuk kemari dan membuat perhitungan dengan diriku!"

"Ooh, kalau begitu kau sudah menyimpulkan bahwa sekalipun kau melepaskannya masuk dia tak bakal akan mempercayai dirimu lagi dan pasti akan membuat perhitungan dengan kau?"

"Ini merupakan kenyataan, cuma bila kalian tak mau percaya, akupun tak dapat berbuat apa2."

"Kau berharap kami percaya?"

Dengan tak sabar He-he koancu berseru.

"Bila kau masih ingin membicarakan perkataan yang sama sekali tiada gunanya ini, toh lebih baik kita sama-sama membungkam diri saja..."

Hou ji tertawa tergelak.

"Haaahh... haaahh... haaahh...betul, akupun beranggapan kita tak usah membicarakan persoalan tersebut lebih jauh, tapi aku harus memberitahukan kepadamu, apa yang kita bicarakan tadi sesungguhnya bukan tiada gunanya sama sekali!"

He he mendengus, kali ini dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Kembali Hou ji berkata sambil tertawa.

"Sejak awal tadi sudah kukatakan kalau kau tak punya pilihan lain, sekarang tentunya kau sudah mengerti bukan ?"

Sekali lagi He he koancu mendengus, namun dia masih tetap membungkam dalam seribu bahasa. Sambil tertawa kembali Hou ji berkata.

"Koancu, kau sendiri sudah mengakui Soh bun ki adalah seorang yang berhati keras, berjiwa sempit dan lagi amat kejam dan tidak mengenal ampun, dengan sebab itu kini kaupun sudah tidak memiliki jalan lagi untuk meninggalkan tempat itu."

"Untuk berlalu dari sini tak mungkin, mau berbaikan lagi dengannya juga mustahil, sekarang kecuali bekerja sama dengan kami, aku tak tahu apakah kau masih memiliki pilihan lain lagi ?"

Setelah terjadi tanya jawab secara keseluruhan, melalui suatu perputaran situasi yang yang drastis, kini antara kepala dan ekornya telah saling berjumpa dan terwujudlah suatu lingkaran setan yang sulit untuk ditembusi.

Kini He-he koancu mulai mengerti, tapi dia benar-benar sudah didesak oleh keadaan sehingga berada dalam keadaan apa boleh buat.

Sebagai seorang yang menganggap posisinya lebih menguntungkan sudah tentu dia tak mau di dikte lawan, sebab itu dia mulai memutar otak mencari jalan keluar.

Sebaliknya Hou-ji masih saja mendesaknya selangkah demi selangkah menghampiri ke hadapannya.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***

Jilid 32 SEMENTARA itu kembali dia telah berkata.

"Tapi kau jangan salah paham, kami tidak mempunyai rencana apapun, lebih-Iebih tak ingin menunggangi kesulitan orang untuk menuruti kemauan kami oleh sebab itu bila kita berniat kerja sama, kau harus membicarakannya secara blak-blakan tanpa diembeli dengan segala macam syarat."

Pernyataan terakhir yang diutarakan itu segera membuat He he koancu menjadi lebih tenang. Dari gusar diapun menjadi gembira, ujarnya kemudian sambil tertawa merdu.

"Anggap saja perkataanmu itu memang masuk diakal, cuma aku tetap harus tahu sebenarnya apa maksud kalian datang kemari? Dan bagaimana ceritanya sehingga bisa sampai disini?"

"Demi suksesnya kerja sama kita, aku memang perlu memberitahukan persoalan ini kepadamu, cuma setelah kuutarakan nanti, aku yakin bukan saja kau tak parcaya, bahkan bisa jadi akan menegur kami dengan nada gusar !"

"Aku rasa hal tersebut hanya aku sendiri yang bisa memutuskan!"

Hou ji menarik napas panjang, ia tidak berseru kearah jendela kecil itu melainkan berkata kepada Sun Tiong lo.

"Siau liong, lebih baik kau saja yang menerangkan persoalan ini kepada koancu."

Selama ini Sun Tiong lo membungkam terus dalam seribu bahata, dalam keadaan demikian terpaksa dia berkata.

"Koancu,apa yang diucapkan hou suhengku memang benar..."

"Bagaimana kalau biar kau sendiri saja yang memutuskan?"

Tukas He he koancu.

"Baik, kalau begitu apa yang aku ketahui akan kuberitahukan semua kepadamu, percaya atau tidak terserah kepada dirimu sendiri!"

Sampai disitu kembali dia berhenti bicara, lalu menghela napas panjang. Cepat He he koancu mendesak lebih jauh.

"Ayo katakanlah karena apa kalian kemari? Siapa yang memberi petunjuk pada kalian?"

"Beberapa bulan berselang, kami suheng-te meninggalkan guru kami, sewaktu hendak berpisah suhu kami telah menyerahkan se

Jilid kitab kecil yang di dalamnya tercantumkan tempat-tempat yang harus kami kunjungi.

"Tempat-tempat tersebut ada yang di sebut tempatnya saja, ada pula yang disebutkan nama berikut nama orangnya tapi yang tidak dicantumkan dalam kitab itu adalah apa yang harus kami lakukan setelah sampai disitu."

"Maka kami suheng te berdua pun mengikuti catatan yang ada dalam kitab kecil itu, satu persatu mengunjungi tempat-tempat tersebut, kini kamipun sampai di Gak yang dan mencari ketempat ini!"

"Jadi kalau begitu kalian sendiripun tidak mengetahui mau apa datang kemari ?"

"Yaa. hal ini merupakan kenyataan !"

Sampai lama sekali He-he koancu membungkam dalam seribu bahasa, dia sedang memeras otak untuk menelaah kebenaran dari ucapan tersebut.

Selang berapa saat kemudian, He he koancu baru berkata lagi sesudah menghela nafas panjang.

"Baik, aku percaya ucapan kalian itu !"

Diam-diam Hou ji merasa keheranan, sebab seandainya dia yang mendengar perkataan semacam itu dari orang lain, Hou ji percaya, dia tak akan mempercayainya dengan begitu saja.

Tapi sekarang, He he koancu justru mempercayainya, bukankah hal ini merupakan suatu kejadian sangat aneh.

Seharusnya setelah He he koancu menaruh rasa percaya, Hou ji dapat berlega hati, dan tak usah membicarakan persoalan itu lagi, siapa tahu dalam keadaan keheranan justru Hou ji malah bertanya.

"Koancu, kau percaya ?"

"Benar, aku percaya,"

Kata Hehe koancu cepat. Diam-diam Hou ji berkerut kening, balasannya kemudian.

"Terhadap siapa saja ucapan tersebut diutarakan, orang tak akan mempercayainya dengan begitu saja, tapi kau ternyata percaya seratus persen, kenyataan ini membuatku merasa amat keheranan, oleh sebab itu aku ingin bertanya kepadamu dimanakah letak alasannya?"

"Ada tiga alasan yang membuatku percaya kalau ucapan tersebut merupakan kenyataan !"

"Aaaan, malah ada tiga alasan ? Aneh!"

Hou ji benar benar dibikin berdiri bodoh. He he koancu segera tertawa.

"Alasan pertama adalah Sun siaute ini berbicara jujur, bersikap terbuka dan ucapannya tidak mencerminkan keraguan, sehingga bagi kedengaranku ucapan mana benar-benar muncul dari suara hatinya."

"Oooh, seandainya aku yang berbicara ?"

Kembali He he koancu tertawa.

"Kalau kau berbeda, kalau didengar dari nada pembicaraanmu itu jelas kedengaran kalau kau berpengalaman dan merupakan seorang jagoan kawakan, biasanya orang yang sudah berpengalaman akan berbicara sangat dipIomatis dan ucapan yang diplomatis tak bisa dipercaya dengan begitu saja...!"

Hou ji tertawa tergelak gelak.

"Waaah. .. perkataanmu itu tak ubahnya merupakan makian yang sama sekali tidak meninggalkan bekas !"

Hehe koancu tertawa terkekeh kekeh.

"Heeh... heeh... heehh... kedua ucapan semacam itu jangankan orang dewasa, anak-anakpun tak bisa dibohongi. tentu saja tak bisa dipercaya pula."

"Tapi hal ini merupakan kenyataan, apakah bisa dijadikan alasan pula..."

"Jangan terburu nafsu, dengarkan dahulu alasanku yang ke tiga dan kau pasti akan mengerti sendiri !"

"Baik, baik, akan kudengar alasanmu yang ke tiga itu"

"Ketiga bila dia ingin membohongi aku, bisa saja mengemukakan beribu-ribu macam alasan, toh aku tak bisa membuktikan kebohongannya itu, mengapa cerita yang di pilih justru berita yang tak akan dipercaya oleh siapapun ?"

Hou-ji menjadi paham, dia bertepuk tangan sambil bersorak keras keras.

"Betu", koancu, aku amat mengagumi dirimu"

Tapi He-he koancu segera menghela napas panjang lagi,"walaupun ucapanku berkata demikian, namun dalam kenyataan justru telah ada perubahannya !"

Pada saat itu Sun Tiong lo berkata lagi.

"Harap koancu jangan banyak berpikir, aku berani menjamin sejak kini tiada orang dari perguruan kami yang akan datang kemari lagi. apalagi guruku, dia tak akan datang kemari."

"Soal ini aku mengerti"

Tukas He he koancu, tapi bila berita ini sampai bocor di tempat luaran, sejak kini sudah pasti orang lain akan berbondong-bondong datang kemari."

Sun Tionglo berpikir sebentar, lalu ujarnya.

"Koancu, bila apa yang kau kehendaki bukan suatu perbuatan yang tak halal, kami semua bersedia untuk membantu dirimu."

He he koancu tertawa getir.

"Dalam peristiwa ini sukar untuk dirumus-kan apakah soal tersebut halal atau tidak halal !"

"Dapatkah diutarakan ?"

Tanya Sun Tiong lo. He he koancu kembali termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia berkata.

"Lebih baik kita jangan bertanya jawab dengan dinding itu sebagai dinding penyakit, silahkan masuk kemari saja !"

Selesai berkata, terdengar suara gemerincingan pelan, lalu dinding yang lebarnya tiga depa itu segera merekah dan muncullah sebuah pintu rahasia.

Maka mereka pun berkumpul menjadi satu didalam ruangan batu yang ditempati He he koancu.

Sementara itu, He he koancu telah mengambil korek api dan menyulut sebuah lentera.

Begitu cahaya memancar ke empat penjuru, maka kedua belah pihakpun bisa saling berpandangan dengan jelas.

Hehe koancu mengenakan sebuah jubah berwarna hijau, berusia tiga puluh lima enam tahunan dan berwajah cantik, walaupun sebagai seorang tokoh yang tak pernah memakai bedak maupun gincu, namun tidak menutupi raut wajahnya yang cantik dan menawan hati itu.

Nona Kim memperhatikan tokoh itu paling seksama, demikian juga dengan He he koancu, dia memperhatikan nona Kim paling teliti.

Menyusul kemndian, sorot mata nona Kim mulai menyapu sekejap sekeliling ruangan, dengan cepat dia menemukan kalau dalam ruangan itulah terletak seluruh pusat peralatan alat rahasia dalam loteng batu ini, tanpa terasa dia berjalan masuk dan mulai memperhatikan setiap bagian ruangan dengan seksama.

Tampaknya He he koancu sudah bertekad untuk bekerja sama dengan mereka, maka dia mengikuti dibelakangnya sambil memberi petunjuk kesana kemari menjelaskan letak alat-alat rahasia tersebut.

Dalam ruangan batu itu selain tersedia tempat duduk yang berjumlah cukup banyak.

bahkan terdapat pula selembar pembaringan.

Ketlka sorot mata Hou ji memandang sekejap ke arah pembaringan gading itu, paras mu ka He he koancu segera berubah menjadi merah lantaran jengah.

Setelah mengambil tempat duduk, Sun Tiong lo segera berkata.

"Koancu, dapatkah kau menjelaskan alasan mu sehingga harus berjaga ditempat ini?"

He he koncu menghela napas panjang.

"Aaai... boleh saja, cuma persoalan ini harus dikisahkan mulai sejak awal."

Sun Tiong lo tersenyum.

"Tidak menjadi soal, toh bagaimanapun juga tak mungkin kita bisa keluar dari sini dalam waktu singkat."

Di dalam peristiwa ini, aku minta maaf kepada saudara saudara sekalian!"

Kata Hehe koancu dengan kepala tertunduk. Dengan cepat Sun Tiong lo menggeleng.

"tindak tanduk seseorang dikala sedang bermusuhan tak bisa dijadikan patokan untuk suatu sifat manusia, apa lagi orang lebih mementingkan diri sendiri, kau tak bisa disalahkan."

He he koancu mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap kearah Sun Tiong lo lalu ujarnya.

"Bila kau telah berkata demikian, akupun merasa lebih baik..."

"Koancu, kalau persoalan harus dikisahkan sejak awal, lebih baik persoalan yang tak berguna tak usah di bicarakan lagi."

Tukas nona Kim dengan cepat.

"karena bila selesai berkisah kita harus segera mengambil keputusan dan cepat-cepat melepaskan diri dari tempat ini."

"Ceritera ini harus dimulai sejak dua puluh tahun berselang, ketika kuil Tong thian koan masih jaya-jayanya..."

"Koancu"

Tukas Sun Tiong lo "persoalan yang menyangkut tindak tanduknya Sang sang koan-cu, sudah kami ketahui semua dengan jelas"

"Oooh, kalau begitu kita bisa menghemat waktu, Sang-sang adalah kakak seperguruanku, diapun merupakan murid murtad dari perguruan kami, setelah menghianati perguruan, dia lantas melakukan kejahatan dikuil Tong thian koan."

"Perguruanmu adalah..."

Sekali lagi Sun Tiong lo menukas dengan cepat. Hehe koancu menundukan kepalanya rendah-rendah, kemudian menyahut dengan suara lirih.

"Kami berasal dari kuil Hian biao koan di San say. Hun hoo!"

Sun Tiong io sama sekali tidak menunjukkan rasa kaget atau tercengang katanya kemudian.

"Kalau begitu gurumu adalah Im Cing cing, ketua dari Hian biau koan..?"

He-he koancu mengangguk.

"Benar, aku tidak mengira kalau kau bisa mengetahui gelar dari guru kami."

Sun Tiong Io tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya berkata lebih jauh.

"Sang-sang bukan cuma menghianati perguruan saja, mungkin diapun telah mencuri dan melarikan kitab Hua kue keng milik guru mu bukan?"

Paras muka He he koancu berubah hebat, dengan perasaan terperanjat serunya.

"Darimana kau bisa tahu?"

Sun Tiong lo masih belum menjawab pertanyaannya, dia hanya berkata lebih jauh.

"Sejak suhengmu dilenyapkan dari muka b mi, berita tentangkitab itupun turut lenyap tak berbekas sedang koancu beranggapan kitab ini masih tersimpan disalah satu tempat disekitar tempat ini, maka kau sengaja membangun loteng batu ini guna mempermudah pencarian bukankah demikian?"

Sekali lagi He he koancu menghela napas panjang.

"Aaai, benar, memang demikian keadaannya, cuma loteng batu ini bukan aku yang mendirikan."

"Kalau begiiu, loteng ini didirikan oleh Soh hun ki?"

Tanya Hou ji dengan cepat.

"Benar, namun menurut apa yang kuketahui diapun mendapat perintah dari seseorang!"

"Oooh..."

Hou ji segera memandang sekejap ke arah Sun Tiong lo, kemudian melanjutkan.

"Siau liong, kalau begitu memang beralasan sekali ke kemari !"

Ucapan semacam itu memang cuma dipahami oleh Sun Tiong lo dan Hou ji berdua saja. He he koancu segera menangkap sesuatu yang tak beres, cepat cepat dia bertanya.

"ToIong tanya, kalian telah berhasil menemukan teori apakah yang dirasakan benar?"

"Soal ini tiada sangkut pautnya dengan koancu, itu urusan pribadi dari kami sendiri!"

Kata Sun Tiong lo cepat.

"Oooooh..."

Karena urusan menyangkut tentang masalah pribadi orang.

sudah barang tentu He ho koancu tak perlu banyak bertanya lagi.

Setelah termenung beberapa saat lamanya, Hou ji bertanya kembali kepada He he koancu.

"Koancu, tahukah kau Soh bun ki mendengarkan perintah siapa ?"

He he koancu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kami kurang tahu, sebab Soh hun ki memegang rahasia ini rapat-rapat..!"

Mendengar perkataan tersebut, sekali lagi Hou ji dan Sun Tiong lo saling berpandangan sekejap dengan penuh pengertian.

Nona Kim ingin mengetahui apa sebabnya, tapi perasaan tersebut hanya disimpan didalam hati saja, berhadapan muka dengan He he koancu, sudah pasti Sun Tiong lo dan Hou ji tak akan sudi berbicara, sedang diapun tak usah banyak bertanya lagi.

Sementara itu, Sun Tiong lo telah berkata kepada He he koancu.

"Tolong tanya Koancu, apakah kau telah memperoleh suatu penemuan tentang kitab pusaka tersebut ?"

He he koaneu mengangguk "Ya, ada aku sudah mengetahui tempat penyimpanannya dan sedang berusaha untuk mendapatkannya !"

Dengan kening berkerut Sun Tiong-lo berkata kembali.

"Ditinjau dari bangunan loteng batu ini, tentunya sudah dibangun banyak tahun bukan ?"

"Yaa, sudah mencapai delapan tahun !"

"Oooh sudah berapa tahun koancu kemari?"

"Sudah sepuluh tahun lamanya !"

"Sepuluh tahun lamanya pencarian dilakukan namun tidak berhasil menemukan apa-apa, baru belakangan ini diketahui tempat penyimpanan kitab pusaka tersebut, benar-benar suatu kejadian yang sangat aneh sekali!"

"Apakah hal inipun merupakan suatu kejadian yang aneh?"

Tanya He-he koancu sambil menatap wajah Sun Tiong lo. Sun Tiong-lo tertawa.

"Tolong tanya, semenjak kapankah tempat penyimpanan kitab itu baru kau ketahui ? Ehmmm, maksudku aku ingin tahu waktu yang bisa dipercaya serta orang yang memberi petunjuk kepadamu ?"

"Lima hari berselang, Soh bun-ki yang mengatakan hal itu kepadaku..!"

Sekali lagi Sun liong lo dan Houji saling berpandangan muka kali ini nona Kim juga memahami sebab musababnya. Begitu Hou ji mendapat persetujuan dari Sun Tiong-lo, dia lantas berkata.

"Koancu, mungkinkah untuk mengisahkan kembali peristiwa yang terjadi pada waktu itu?"

He-he koaucu berpikir sejenak, kemudian menjawab.

"Peristiwa ini terjadi pada suatu senja lima hari berselang, tibatiba saja Soh bun-ki muncuI di kuil dan mengatakan baru saja bertemu dengan seorang temannya dan membicarakan tentang kitab pusaka tersebut."

"Waktu itu aku malah sempat menegurnya, mengapa dia melanggar persetujuan yang di buat oleh kedua belah pihak dengan membicarakan masalah yang begitu penting kepada pihak ketiga tanpa memperoleh persetujuan lebih dahulu dariku ?"

"Dia menjawab, sahabatnya ini berarti sama pula dengan dia pribadi, konon dia bisa menemukan diriku pun hal tersebut atas usaha dari sahabatnya itu."

"Apakah atas dasar hal ini maka koancu lantas menaruh curiga kalau dia sebetulnya sedang mendapat perintah dari seseorang?"

Sela Sun Tiong lo kemudian. He-he koancu mengangguk. -oo0dw0oo"

EHMM, lantas menurut Soh bun-ki, kitab pusaka tersebut disimpan dimana?"

Tanya Sun Tiong lo kemudian. He-he kongcu menjadi ragu untuk menjawab, untuk sesaat lamanya dia menjadi terbungkam dalam seribu bahasa. Hou ji yang menyaksikan kejadian itu segera menimbrung .

"Tak usah kuatir koancu, kami tak bakal akan berebut kitab pusaka denganmu !"

He-he koancu segera tertawa jengah.

"Didalam ruangan bawah tanah kuil Tong thian koan, bekas kamar tidur dari suheng kami."

Sun Tiong-lo segera tertawa.

"Ada suatu persoalan aku perlu memperingatkan kepada koancu, tempat penyimpanan kitab tersebut belum tentu bisa dipercaya dengan begitu saja."

"Aku mengerti"

He-he koancu tersenyum.

"tapi aku mempercayainya seratus persen !"

"Aku jadi bingung rasanya..."

Sekali lagi He-he koancu tertawa.

"Menurut keadaan pada umumnya, karena ruang bawah tanah sudah terbakar dan rata dengan tanah, kuil Tong-thian koan juga ber ubah menjadi puing-puing yang berserakan, maka disimpannya kitab pusaka itu dalam ruang bawah tanah merupakan suatu pemberitahuan yang tak bisa dipercayai dengan begitu saja."

"Apakah kau tidak menganggapnya hal ini merupakan suatu dugaan saja ?"

He he koancu menggeleng.

"Tidak, aku yakin dia telah menunjukkan tempat yang benar I"

"Tapi aku tetap tidak mempercayainya dengan begitu saja"

Seru Sun Tiong-lo sambil menggeleng.

"Dengarkan dulu penjelasanku semasa guruku masih hidup dulu, kitab pusaka itu selalu di simpan dalam sebuah kotak kecil yang di sebut kotak Hong mo keng-tong, kotak kecil semacam itu hanya ada sebuah saja didunia ini.

"Pada senja hari lima hari berselang, Soh hun ki datang dan mengatakan kalau sahabat-nya merupakan juga sahabat karib mendiang suhengku dulu, ia pernah menyaksikan kotak kecil itu disimpan dikamar tidurnya dibawah tanah..."

"Apakab persoalan yang menyangkut tentang kotak kecil itu tak pernah diketahui lagi oleh orang lain?"

Sela Sun Tiong-lo lagi.

"Kecuali mendiang guruku, mendiang suheng ku dan aku, orang lain tiada yang tahu bahkan aku berani memastikan mendiang suhengku juga tak mungkin akan memberitahukan persoalan tersebut kepada orang lain, sedang aku sendiripun tak pernah membocorkan rahasia ini kepada siapa saja.."

Dengan cepat Hou ji dapat menangkap penyakit dari perkataan ini, selanya cepat.

"Kalau memang demikian, dari mana pula sahabat Soh bun ki itu bisa mengetahui tentang persoalan kotak kecil itu?"

"Benar"

Sambung nona Kim pula "darimana orang itu bisa dapat tahu?"

"Soh bun ki telah menerangkan dengan jelas sekali, dia bilang sahabatnya itu selalu berada bersama mendiang suhengku bila suhengku sedang berwujud sebagai seorang perempuan selama setengah bulan lamanya."

"Suatu hari, mendiang suhengku mengambil obat-obatan dari dalam kotak kecil itu dan secara kebetulan terlihat olehnya, dia pernah bertanya kepadanya apa isi kotak tersebut, tapi mendiang suhengkku tak pernah mengatakan kepadanya."

"Ketika sahabat suhengku mengatakan kepada Soh bun ki tempo hari, dia pun hanya mengatakan kalau di pikirkan kembali sekarang sudah pasti kitab pusaka itu berada di dalam kotak tersebut, oleh karenanya setelah kupikirkan kembali persoalan ini, aku berkesimpulan kalau ucapan itu benar adanya."

Sun Tiong lo segera memahami maksud pembicaraan orang, dia lantas berkata.

"Oooh, ruang bawah tanah itu sudah rata dengan tanah, aku rasa banyak waktu yang di butuhkan untuk melakukan kesemuanya itu"

He he koancu berkerut kening.

"Betul, paling tidak membutuhkan waktu selama setengah bulan untuk melakukan kesemua nya itu"

"Bukan cuma setengah bulan saja, paling tidak pun membutuhkan limapuluh orang pekerja untuk melaksanakannya !"

Sambung Hou ji dengan cepat.

"Soal jumlah pekerja mah bukan persoalan persoalannya sekarang adalah bagaimanakah caranya !"

"Betul"

Kata Sun Tiong lo sambil tertawa.

"pekerjaan semacam ini memang tak mungkin bisa dilakukan tanpa suatu persiapan serta perencanaan yang baik !"

He he koancu menghela nafas panjang.

"Aaai, siapa bilang tidak, Tong thian koan adalah tempat terlarang, bagaimana mungkin kita bisa membawa begitu banyak pekerja untuk menggali reruntuhan kuil Tong thian koan? Tindakan itu bisa akan menyulitkan orang."

"Soh hun ki pasti mempunyai cara, bukan?"

Tanya Sun Tiong lo tiba-tiba. He he koancu segera menggeleng palanya.

"Dia mengatakan kepadaku, kalau pekerjaan itu tidak mungkin bisa dilakukan orang lain, mesti diri sendiri yang melakukan, dengan demikian aku pikir bisa sampai dua bulan lama nya untuk membuat jalan tembus sampai ke-ruangan bawah tanah sana!"

Sun Tiong lo manggut-manggut.

"Yaa, apa lagi sekarang, bisa semakin sukar"

"Tentu."

He he koancu tertawa getir. Setelah berhenti sejenak, menyusul kemudian dia menghela nafas panjang. Tiba tiba Hou ji bertanya .

"Koncu, pengetahnanku sangat minim, bolehkah aku bertanya kitab macam apa sih yang sedang kau cari itu ?"

Merah jengah selembar wajah He he koan cu, dia segera menundukkan kepalanya rendah rendah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Walaupun nona Kim juga tidak mengetahui kitab pusaka macam apakah Hua-kut-keng ter-sebut, akan tetapi setelah menyaksikan sikap He-he koancu yang menundukkan kepala dengan wajah memerah, dia segala dapat menduga sampai tujuh delapan bagian.

Pada saat itulah, Sun Tiong lo bertanya dengan wajah serius.

"Koancu setelah kitab pusaka tersebut berhasil kau dapatkan, apa yang hendak kau lakukan dengan kitab tersebut ?"

"Kaliau toh sudah mengetahui kitab pusaka macam apakah-itu"

Kata Hehe koancu sambil mengangkat kepalanya dan berkata serius.

"buat apa sih menggoda aku ?"

"Koancu, aku harap kau suka menjawab dahulu pertanyaanku itu !"

"Aku hanya bisa memberitahukan kepada kalian, aku tak akan pergunakan hasil kepandaian dari kitab pusaka tersebut untuk melakukan kejahatan, seperti juga mendiang guru-ku, aku hanya mempelajari, mendalami tapi tidak akan mempergunakannya!"

"Sungguh?"

Tanya Sun Tiong lo serius. He he koancu menjawab dengan serius pula.

"Buat apa kubohongi kalian!"

"Kalau memang begitu, aku rasa paling baik kalau koancu segera kembali ke kuil Hian biau koan di Hun hoo begitu meninggalkan loteng ini, tidak usah mencari kitab pusaka itu lagi. He-he koancu agak tertegun, kemudian katanya.

"Hal ini tak mungkin bisa kulakukan, aku harus menemukan kitab pusaka tersebut sampai dapat!"

Kembali Sun Tiong lo menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku kuatir selama hidupmu kini tak nanti bisa menemukan kembali kitab pusaka tersebut."

"Hmm, jadi kalian ingin menghalangi niatku ini?"

He he koancu mendengus dingin.

"Andaikata kitab pusaka itu berada didalam ruang bawah tanah, tentu saja kami akan berusaha keras untuk mencegah niat koancu tersebut, namun sekarang aku rasa sudah tiada kepentingan untuk berbuat demikian...!"

"Aku tidak mengerti apa maksud dari perkataanmu itu?"

Sekali lagi He he koancu mengerutkan dahinya rapat-rapat. Sun Tiong lo segera tersenyum.

"Berbicara terus terangnya saja, kitab itu sudah tak berada dalam ruang bawah tanah lagi."

He-he koancu ikut tertawa.

"Percuma, bagaimanapun juga kau hendak berbicara, aku tak akan meneteskan air mata sebelum melihat peti mati !"

"Ehmmm, kalau begitu terpaksa aku hanya bisa memberitahukan suatu kenyataan kepadamu, sedang tentang kau mau percaya atau tidak, soal tersebut tiada sangkut pautnya dengan diriku, seandainya kau ingin berusaha keras untuk menggali tanah hingga tembus ke ruang bawah tanah tersebut, juga tiada orang yang akan menentang usahamu itu!"

"Sampai waktunya apakah kalian tak akan menghalangi niatku itu?"

Sun Tiong-lo menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak akan menghalangi, terserah kemauan koancu apakah mau menggali seluruh reruntuhan tersebut atau tidak !"

Dengan demikian, mau tak mau He-he koancu merasa agak percaya juga dibuatnya. Setelah melalui suatu pemikiran yang amat mendalami akhirnya dia bertanya lagi.

"Atas dasar apakah kau berani memastikan kalau kitab pusaka tersebut sudah tidak berada disitu lagi ?"

Sun Tiong-lo tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah bertanya kembali.

"Apakah kau sudah mengetahui jelas kisah tentang terbunuhnya suhengmu itu ?"

"Tentu saja jelas, apakah peristiwa itu ada sangkut pautnya dengan kitab pusaka ini ?"

Sun Tiong-lo tertawa, ia tidak menjawab pertanyaan tersebut sebaliknya dia bertanya.

"Apakah kau masih ingat dengan orang-orang tersebut ?"

Mendengar ucapan mana, tiba-tiba saja paras muka He he koancu berubah jadi aneh sekali. Lewat beberapa lama kemudian, dia baru manggut-manggut.

"Aku masih ingat, dia adalah sahabat karib guruku !"

Apakah kau juga tahu, kalau dialah yang telah memberi petunjuk kepada Gan tayjin untuk menangkap suhengmu?"

Sekali lagi He he koancu mengangguk "Yaa, tahu, mendiang guruku sudah pernah berkata, bila mendiang suhengku masih saja melakukan perbuatan jahat, cepat atau lambat, pada suatu ketika pasti akan membangkitkan amarah orang tua itu dan menghukum mati dia"

"Ehmm, setelah orang asing itu memberi petunjuk kepada Gan tayjin guna membekuk suhengmu, toh sebenarrya dia bisa secara langsung membongkar rahasia "manusia siluman"

Dari suhengmu, tapi apa sebabnya dia sengaja mengundurkan kejadian itu menjadi satu bulan lamanya ? tahukan kau apa sebabnya demikian ?"

Mendengar pertanyaan tersebut, He-he koancu segera menjadi paham kembali apa yang dimaksudkan, segera serunya.

"Apakah disebabkan oleh karena kitab pusaka tersebut ?"

Sun Tiong lo segera tertawa.

"Kecuali disebabkan persoalan itu, aku tak bisa menduga alasan apakah yang membuatnya berbuat demikian !"

Tampaknya He he koancu mengenai sangat siapakah "manusia asing"

Itu, sehabis mendengarkan perkataan dari Sun Tiong lo, dia lantas termenung beberapa saat lamanya untuk mengambil suatu keputusan. Akhirnya dia menghela napas panjang.

"Aaaaai, tampaknya kau berhasil menebak jitu semua persoalan tersebut."

Sun Tiong lo tersenyum.

"Seandainya kita berhasil meloloskan diri dari kurungan tempat ini, dan kau masih bersedia membuang tenaga dan waktu untuk menggali tanah pada reruntuhan kuil Toug-thian-koan tersebut dengan tujuan mencari kitab pusaka, aku dan sahabatku pasti tak akan menghalangi niatmu itu ."

"Aku telah mempercayai perkataanmu ini, kaupun tak usah membuang waktu lagi untuk menyindir aku."

Seru He he koancu dengan kening berkerut. Sun Tionglo memandang sekejap ke arah He be koancu, lalu katanya lebih jauh.

"Segala sesuatunya ini terserah pada koancu sendiri, cuma ada satu hal aku bersedia menerangkannya lebih lanjut, soal terdapatnya kitab pusaka dibawah ruangan rahasia dalam kuil Tong thian koan ini sudah bukan merupakan rahasia lagi."

"Oleh sebab itu aku yakin, dikemudian hari masih terdapat banyak sekali orang-orang yang tidak mengetahui latar belakang yang sebenarnya dari persoalan ini untuk mencari kitab pusaka disitu, dan besar kemungkinannya koancu yang akan merasakan akibat dari kejadian ini."

"Mengapa ?"

Tanya He-he koancu tertegun.

"Gampang sekali, sebenarnya kitab pusaka itu merupakan benda mestika dari partai kalian, sedang koancu pun sudah sepuluh tahun lamanya berdiam ditempat ini, bila koancu mengatakan kepada mereka bahwa kau tidak berhasil mendapatkannya, dapatkah mereka mempercayai perkataanmu itu?"

Paras muka He-he koancu berubah hebat, setelah berpikir sebentar dia lantas berkata.

"Tapi hanya satu orang yang mengetahui kalau aku berada ditempat ini, dan orang itu adalah Soh-bun-ki !"

"Mungkin koancu sudah lupa, masih ada majikan dari Soh-bun-ki..."

Sambung Hou-ji.

"Tapi mereka toh mengetahui bahwa aku tidak berhasil mendapatkan apa-apa?"

Sun Tionglo tertawa.

"Jadi Koancu beranggapan mereka dapat berbicara dengan sejujurnya kepada orang lain?"

"Tapi, mereka kan tidak mempunyai alasan untuk berbicara bohong...?"

"Untuk membunuh saja mereka tidak membutuhkan alasan, apa Iagi kalau cuma persoalan itu saja!"

"Lantas... lantas bagaimanakah baiknya?"

Sementara itu nona Kim yang membungkam terus telah menyambung dengan suara dingin.

"Lebih baik tak usah kau risaukan oleh persoalan yang bakal terjadi dikemudian hari, sekarang dapatkah kita keluar dari sini masih merupakan suatu persoalan besar!"

Hehe koancu memandang sekejap kearah nona Kim, kemudian ujarnya cepat.

"Nona, tampaknya kau memahami sekali persoalan tentang alat alat rahasia, silahkan kau periksa..."

"Apakah kau sendiri tidak memahami?"

Jengek nona Kim sambil tertawa dingin! He he koancu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Terus terang saja kukatakan kepadamu nona, orang yang membangun loteng ini adalah Soh hun-ki, orang yang memasang alat rahasia serta alat jebakan lainnya juga dia, dia hanya memberi sedikit petunjuk saja kepadaku".

"Selamra delapan tahun lamanya, apakah kau belum berhasil meraba alat alat tersebut hingga jelas ?"

He he koancu mengangguk.

"Benar, tapi aku tidak mengerti permainan semacam ini, aku hanya mengetahui letak alat-alat rahasia untuk membuka dan menutup semua alat jebakan disini dan sekarang aku malah dibikin kebingungan setengah mati oleh benda-benda tersebut."

"Baik, kalau begitu biar kuteliti dengan seksama!"

Sela nona Kim dengan cepat.

Maka nona Kim berjalan menuju kedepan pusat alat rahasia tersebut, tempat itu merupakan sebuah dinding batu yang penuh dengan alat tombol, sedang disudut sana terdapat pula banyak roda bergerigi.

Setelah mengamatinya berapa waktu, nona Kim menggelengkan kepalanya sambil tertawa getir.

"Aku tak mampu memikirkannya !"

Hou ji segera berjalan menghampirinya, lalu bertanya.

"Apakah kesemuanya ini ada hubungannya dengan putusnya tempat obor didinding sebelah depan sana ?"

Nona Kim mengangguk.

"Ehmm, cuma kalau berbicara menurut cara pemasangan alat alat rahasia disini, setelah tempat obor itu patah, tidak semestinya semua peralatan disini menjadi macet akibatnya"

Sun Tiong-lo yang berdiri disini sebelah kanan nona Kim segera bertanya.

"Lantas apa yang menyebabkan terjadinya semua kemacetan ini?"

Nona Kim segera menarik keluar sepotong rantai tipis, kemudian sahutnya.

"Penyakit itu timbul dari akibat rantai ini!"

Semua orang tidak memahami permainan semacam itu. maka siapa pun tak dapat mengetahui dimanakah letak penyakit tersebut. Sementara itu nona Kim telah berkata lebih jauh.

"Mungkin ketika membangun bangunan loteng ini, Soh hun ki bersikap kelewat keras dan kasar terhadap para pekerja, maka oleh si pekerja tersebut bahan yang digunakan untuk membangun bangunan ini pun dilakukan permainan kotor."

"Seharusnya rantai baja yang kecil dan lembut tapi kuat dan keras, akan tetapi rantai yang berada ditanganku sekarang justru dari kwalitet rendah, sedangkan dalam soal panjangnyapun lebih pendek satu inci lebih.."

Dengan perasaan tidak habis mengerti He he koancu segera bertanya.

"Apa sangkut pautnya antara seinci lebih pendek dengan macetnya alat rahasia ini ?"

Nona Kim mendengus.

"Sesungguhnya bagian yang masuk ke dalam dinding pada bagian tempat obor tersebut merupakan sebuah lubang yang bisa bergerak, di atas lubang hidup itu terdapat sebuah gelang kecil, gelang tersebut kegunaannya adalah untuk mengikat rantai baja ini, seandainya rantai ini sampai patah, seharusnya rantai yang berada dibagian dalam dinding tidak seharusnya turut patah juga.

"Oleh sebab itu seharusnya bila rantai tersebut putus maka kecuali pintu besi tersebut hanya bisa ditarik untuk dibuka dan tak mungkin bisa ditutup kembali, sama sekali tidak mempengaruhi bagian lainnya, sebab segala sesuatunya sama sekali tidak mengalami perubahan apa-apa. Akan tetapi para pekerja yang membangun loteng ini sudah bermain gila, Dengan diam-diam memasang rantai berkwalitet jelek yang sengaja di potong satu inci lebih pendek untuk mengendalikan tempat tersebut, bahkan sewaktu dipasang sengaja ditarik kuat-kuat lebih dahulu untuk menahan gelang dalam lubang hidup secara paksa.

"Di tambah lagi rantainya bermutu jelek, di tegangkan kelewat batas lagi, tak heran kalau rantai dalam dinding itu jadi patah tengah setelah tempat obor dibagian muka kupotong jadi dua, dengan putusnya rantai tersebut di bagian tengah, maka rantai yang seharusnya di tahan pada gelang hidup otomatis menjadi kendor sama sekali"

"Oooh, jadi lantaran rantai tersebut putus sehingga roda bergigi menjadi terletak maka pintu baja itu menjadi sukar untuk dibuka kembali?"

K-ata Sun Tiong lo mengerti.

"Yaa memang demikianlah keadaan yang sudah terjadi. Dengan kepala tertunduk Sun Tiong lo berjalan menuju kesamping, dia seperti lagi memikirkan akan satu hal. Sedangkan He he koancu dengan sinar mata penuh pengharapan memandang wajah nona Kim, kemudian tanyanya.

"Apakah ada sesuatu cara yang bisa dipikir kan?"

Nona Kim segera menggeleng.

"Rantai yang putus itu justru mengendalikan roda bergigi yang tertanam di balik batu ini, padahal bergeraknya roda bergigi itu karena terkendali oleh gerak gesekan rantai, kini rantainya sudah putus."

"Adik Kim. apakah kedua buah roda bergigi ini berputar dalam bentuk saling bergesekan?"

Tiba tiba Sun Tiong lo bertanya.

"Tentu saja bentuknya saling bergesekan karena putaran roda kedua turut berputar!"

"Seandainya kita dapat menggeserkan roda yang pertama..."

Nona kim memandang kearah Sun Tiong lo kemudian tertawa cekikikan.

Setelah ucapan tersebut diutarakan Sun Tiong lo baru merasa kalau telah salah bicara, apa lagi ditertawakan nona Kim, dia segera memahami sebab musababnya, tanpa terasa pemuda itu turut tertawa dengan wajah tersipu-sipu.

Keadaan ini sudah barang tentu membingungkan orang-orang lainnya, kecuali Bau-ji yang selama ini membungkam terus dalam seribu bahasa, Hou ji yang pertama-tama tidak tahan, sambil menggelengkan kepalanya dia segera menegur.

"Siau liong, sebenarnya apa yang telah terjadi ?"

Sun Tiong lo tidak tahu bagaimana harus menjawab, untuk berapa saat dia hanya ber diri tertegun. Nona Kim yang ada disampingnya segera membantu pemuda itu untuk melepaskan diri dari kesulitan katanya.

"Persoalan ini hanya persoalan yang dipahami olehku dan engkoh Lo, apakah kau ingin mengetahuinya?"

Ucapan tersebut benar-benar sangat lihay, kontan paras muka Hou ji merah padam. Agaknya Sun Tiong lo ada niat untuk menyingkirkan pemikiran semua orang ke masalah lain, dia lantas berkata.

"Adik Kim, tampaknya kita baru akan berhasil bila rantai tersebut dapat kita sambung kembali?"

Nona Kim segera menggeleng.

"Sekali pun mempunyai rantai yang cukup panjang, tak mungkin hal ini bisa dilakukan."

"Mengapa?"

Tanya He he koancu mulai merasa gelisah sekali.

"Kesempatan bukannya tak ada, cuma terlalu kecil, kita hanya akan berhasil jika rantai tersebut bisa kita lewatkan pada lubang diantara dua roda bergigi, padahal siapa yang mampu melakukan hal seperti ini?"

"Ehmm, apalagi kita memang tak menyiapkan rantai besi yang diperlukan untuk itu."

Mendadak He he koancu menunjuk kearah rantai yang telah putus itu. lalu bertanya.

"Apakah rantai tersebut tak bisa digunakan lagi?"

Nona Kim mendengus dingin.

"Hmm, rantai tersebut kurang panjang."

"Mungkinkah disambung dengan benda lain, seperti misalkan saja..."

Sebelum ucapan tersebut selesai di utarakan nona Kim telah menyodorkan rantai tersebut kepadanya sambil berkata.

"Kalau begitu silahkan kau saja yang mencoba untuk mengerjakannya..."

P a r a s ma k a He h e k o a n c u s ema k i n meme r a h r a n t a i t e r s e b u t s u d a h p u t u s s ama s e k a l i , t i a d a t emp a t u n t u k b e r p e g a n g a n l a g i , s i a p a k a h y a o g mamp u u n t u k me n y amb u n g r a n t a i s ema c am i n i ?

Ap a l a g i h a r u s me l ewa t k a n r a n t a i t e r s e b u t d i a n t a r a d u a b u a h r o d a bMeelrihgaitg kia?la u tiada cara lain yang bisa digunakan He he koancu segera menghela napas.

"Aaaai, kalau begitu kita hanya bisa duduk di sini sambil menunggu datangnya saat kematian !"

Bau ji yang selama ini membungkam terus, mendadak menimbrung.

"Sebenarnya memang sudah tiada harapan lagi, apa gunanya mesti membuang tenaga dengan percuma?"

Semua orang memandang sekejap ke arah Bau ji, kemudian menundukkan kepalanya dan tidak berbicara lagi.

Selang sesaat kemudian, mendadak nona Kim seperti teringat akan sesuatu, kepada He-he koancu segera ujarnya.

"Kau mengatakan bahwa tempat ini merupakan pusat segala alat rahasia...? He he koancu mengiakan dan tidak menjawab, Kembali Nona Kim berkata.

"Tanukah kau dimanakah letak peta pembangunan loteng batu ini ?"

He he koancu segera berjalan menuju ke meja di sebelah kiri, dari dalam laci dia mengeluarkan sebuah peta.

Nona Kim segera membentangkan peta tersebut dan diperiksa dengan lebih seksama.

Sun Tiong-lo mendekati nona Kim, kemudian tegurnya.

"Adik Kim, apakah kau berhasil menemukan sesuatu?"

Nona Kim menggoyang-goyangkan tangannya pertanda agar dia jangan mengusik dirinya lebih dulu.

Sun Tiong-lo segera tertawa, dia lantas berdiri disamping nona itu dan tidak berbicara lagi.

Kembali beberapa saat lewat, tampaknya nona Kim telah berhasil mendapatkan sesuatu, dia lantas manggut-manggut.

"Bagaimana sekarang ?"

Bisik Sun Tiong-lo kemudian. Nona Kim tertawa, tanpa terasa dia menggenggam tangan kiri Sun Tiong-lo dengan mesra kemudian berpaling dan tertawa manis, katanya kemudian.

"Jangan kau salahkan sikapku tadi..."

Sun Tiong-lo pun tersenyum sahutnya.

"Masa aku bakal menyalahkan dirimu ?"

Sesudah berhenti sejenak, katanya lagi.

"Bagaimana ? Apakah sudah mendapatkan sesuatu hasil ?"

Sambil menuding kearah dinding bangunan yang tertera dalam peta tersebut, nona Kim berkata.

"Engkoh Lo, coba kau perhatikan dinding ini."

Sun Tiong lo memperhatikan lama sekali, kemudian baru berkata.

"Kalau menurut peta tersebut, tampaknya dinding yang dimaksud adalah dinding luar dari ruangan ini ?"

"Betul, memang dinding luar dari ruang ini"

Dalam pada itu, He he koancu dan Hou ji telah berjalan mendekati pula... Terdengar Sun Tiong-lo sedang bertanya.

"Adik Kim, bagaimana dengan dinding itu?"

"Berbubung dibalik dinding ini merupakan pusat segala peralatan alat rahasia disini, maka dindingnya dibuat dengan tebal yang luar biasa, coba kau perhatikan ditempat yang lain tebal dinding hanya tiga depa, sedangkan tebal dinding disebelah sini justru mencapai lima depa Iebih !"

Sun Tiong-lo mengiakan, namun dia masih belum mengerti apa yang dimaksudkan oleh dadis itu dan apa kemauan dari nona tersebut. Kembali nona Kim berkata.

"Oleh sebab itulah, dinding yang paling mudah dijebolkan..."

Sebelum dia menyelesaikan perkataannya, He he koancu sudah menimbrung lebih dulu.

"Nona, masa dinding setebal lima depa lebih gampang dljebolkan daripada dinding setebal tiga depa?"

"Yaa, benar, memang lebih gampang sekali"

He he koancu segera menggelengkan kepala nya berulang kali, ditatapnya nona Kim dengan sorot mata yang aneh, kemudian ujarnya.

"Nona aku tidak memahami teorimu itu."

Tampaknya nona Kim memang ada maksud untuk menggoda He he koancu, katanya lagi.

"Darimana kau bisa mengatakan kalau didunia ini tiada teori semacam ini?"

He he koancu tertawa getir.

"Nona, dalam situasi dan keadaan seperti ini, maaf kalau aku tak punya gairah untuk berdebat dengan kau!"

Nona Kim segera tertawa cekikikan, sambil menuding dinding sebelah luar dia berkata.

"Koancu, aku hanya menggodamu saja.."

"Dalam keadaan seperti ini, kau masih bisa menggoda orang nona benar benar berjiwa eksentrik!"

Sekali lagi He he koancu tertawa getir. Belum sempat nona Kim menjawab, Sun Tiong lo telah buka suara lebih dulu, katanya.

"Koancu, aku percaya nona Kim pasti mempunyai cara untuk meloloskan diri dari kurungan ini, kalau tidak, jangankan koancu, dia sendiripun tak akan bergairah untuk bergurau!"

Dengan senyum tak senyum nona Kim segera mengerling sekejap ke arah Sun Tiong lo, kemudian serunya.

"Tampaknya maksud hatiku dapat kau tebak semua?"

"Hanya terbatas dalam soal ini saja."

Jawab Sun Tiong lo sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

Mendengar ucapan tersebut, kembali nona Kim merasakan hatinya menjadi hangat, kerlingan pun berubah menjadi pandangan yang penuh kemesraan.

Menyusul kemudian dia berkata lagi kepada He-he koancu.

"Koancu, meenrut apa yarg tertera didalam peta ini, dibagian dalam dari dinding ini merupakan tempat dari seluruh roda bergigi yang mengendalikan alat rahasia dalam gedung ini, apakah dugaanku ini tiada yang salah ?"

He-he koancu segera menggeleng.

"Tiada kesalahan lagi, Soh-bun-ki sendiripun berkata demikian kepadaku !"

Nona Kim kembali tertawa.

"Dalam peta ini sudah tertera jelas sekali, roda gigi yang besar maupun yang kecil semuanya berjumlah dua puluh lima buah !"

He-he koancu memandang sekejap ke arah peta itu, lalu berkata.

"Jikalau dalam peta tersebut sudah dicantum kan demikian, aku rasa tidak bakal salah lagi"

"Yang paling besar roda bergigi itu persis mempunyai garis tengah selebar satu depa, sedangkan yang kecil tiga inci, rantainya terdiri dari dua puluh dua helai dan itulah posisi yang selengkapnya dan seluruh peralatan rahasia tersebut!"

"Aku sudah bilang, hal ini tak bakal salah lagi, tapi apa sangkut pautnya dengan usaha kita meloloskan diri dari kurungan ini?"

"Kalau ditinjau dari apa yang dilukiskan dalam peta tentang alat rahasia yang tersedia tampaknya antara gigi roda bagian atas dan gigi roda bagian bawah harus saling menggesek sebelum alat rahasia yang dikehendaki bisa digerakkan, itulah sebabnya pula meski ada salah satu rantai yang putus, tak akan mengakibatkan yang lain terpengaruh."

"Sudah barang tentu, jika alat rahasia yang satu berpengaruh dengan alat rahasia yang lain bukankah segala alat rahasia tersebut sudah macet total sedari tadi?"

"Benar, selain daripada itu rantaipun tak boleh saling bergesek, kalau tidak maka rantai tersebut lama kelamaan bakal aus dan gampang putus dibagian tengah, bila rantai sampai patah tentu saja alat rahasianya bakal macet semua."

He he koancu melirik sekejap kearah nona Kim, lalu ujarnya.

"ltulah teori yang paling gampang, buat apa kau terangkan kembali kepadaku?"

Tiba-tiba nona Kim tertawa.

"ltulah sebabnya mengapa dinding ruangan disebelah sini harus lima depa tebalnya."

"Betul, jika tidak tebal berarti tak mungkin bisa memuat peralatan seperti itu."

"Tepat sekali"

Nona Kim tertawa lagi, menurut catatan dalam peta, seandainya tiada lubang kosong selebar tiga depa, maka semua peralatan rahasia tersebut tak mungkin bisa termuat!"

"Kenyataannya memang demikian!"

Paras muka nona Kim segera berubah menjadi sangat serius, sambil menuding kearah dinding dinding lainnya, dia berkata lebih jauh.

"Dinding bagian lain dalam ruangan ini terbuat dari dinding setebal tiga depa, bila tiada golok mestika atau senjata mestika serta kepandaian silat yang luar biasa, mustahil dinding setebal itu bisa dijebolkan dengan begitu saja, sebaliknya dinding yang setebal lima depa itu, oleh sebab sudah diambil tiga depa untuk isi peralatan rahasia, berarti dindingnya cuma tinggal sisa dua depa untuk kedua belah sisi, itu berarti dinding itu..."

Belum selesai dia berkata, He he koancu telah menukas dengan cepat.

"Benar, kau benar benar sekali"

Nona Kim tertawa.

"Kini kau tidak menuduh aku sedang menggoda dirimu lagi bukan ?"

Tegurnya. Paras muka He he koancu berubah semakia memerah.

"Aaiih, mana aku berani menyalahkan nona."

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Cuma walaupun dinding tersebut hanya setebal satu depa saja, toh sulit juga untuk menghancurkannya ?"

"Kedengarannya ucapanmu memang betul cuma kalau bertemu dengan seseorang yang berilmu silat tinggi, dinding setebal sedepa bukan sesuatu yang menyulitkan bukankah demikia?"

"Belum tentu!"

Tukas He-he koancu sambil menggeleng.

"Oooh, bagaimana tidak tentunya ?"

"Nona tidak tahu, seluruh bangunan disini terbuat dari batu cadas bukan dipakai batu yang biasa..."

Sebelum ucapan mana selesai, nona Kim kembali telah menukas.

"Aku tahu, batu yang digunakan adalah batu aneh yang disebut Kim seng-hek si (batu hitam bintang emas) kerasnya seperti baja dan tak mungkin bisa dihancurkan dengan mengandalkan tenaga pukulan biasa !"

He-he koancu mengangguk.

"Benar, oleh sebab itu walaupun tebalnya hanya satu depa saja, sulit rasanya..."

Pada saat itulah, mendadak nona Kim menuding ke arah Sun Tionglo seraya berkata.

"Engkoh Lo, sanggupkah kau menjebolkan dinding batu itu ?"

Sun Tiong lo berpikir sejenak, lalu sahutnya.

"Mungkin saja bisa, namun aku sendiripun tidak mempunyai keyakinan yang benar."

Nona Kim berkerut kening, lalu tersenyum.

"Seharusnya kau merasa yakin!"

Sun Tiong-lo menjadi tertegun setelah mendengar ucapan tersebut, katanya cepat.

"Adik Kim, apa maksudmu berkata demikian? Nona Kim segera tertawa cekikikan.

"Aku yakin kau pasti bisa, mengerti ?"

Sun Tiong lo kembali berkerut kening, kemudian memandang kearah nona Kim dengan sorot mata yang sangat aneh.

Tiba-tiba nona Kim menunjukkan suatu gerakan tangan yang sangat aneh, Sun Tiong-lo segera memahami apa yang dimaksudkan dengan cepat dia mendekati dinding tersebut dan mengayunkan tangan kanannya, semua kapur yang berada diatas dinding mana segera tersapu rontok hingga bersih.

Begitu kapur itu beterbangan seluruh ruangan menjadi kabur pemandangannya.

Tapi dinding itu justru muncul kembali cahaya pada wujud aslinya yang berwarna hitam.

Diatas dinding berwarna hitam, muncul cahaya bintang yang berkerlipan seperti cahaya emas.

Antara satu dengan satu kelihatan sekali celah-celahnya yang tidak begitu rapat.

Setelah menyaksikan kesemuanya itu, sambil tertawa Sun Tiong-lo segera berkata kepada semua orang.

"Harap kalian semua mundur sedikit kebelakang, akan kucoba sampai dimanakah kekuatan dari dinding ini !"

Setelah semua orang mengundurkan diri dari situ, Sun Tiong-lo menghimpun tenaga dalamnya kedalam telapak tangan kanan, setelah itu sambil membentak keras dia melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke depan...

Serangan itu nampaknya seperti pukulan dengan raksasa, padahal disaat telapak tangannya hampir menempel dengan dinding pukulan segera dirubah menjadi sebuah dorongan.

Ooo0dw0ooO Sekalipun hanya sebuah dorongan yang amat pelan, namun kekuatannya sama sekali tidak menjadi kurang.

Pada saat Sun Tiong lo mulai menarik kembali telapak tangannya, dinding tersebut mulai bergoncang keras.

Menyusul kemudian seluruh ruangan ikut bergoncang keras dan akhirnya....

"blamm!"

Dinding itu roboh dan tampaklah alat rahasia yang berada didalamnya.

Hou ji sekalian sudah mengetahui tentang tenaga dalam dari Sun Tiong lo maka paras muka mereka sama sekali tidak berubah, tapi tidak demikian halnya dengan He he koancu, paras mukanya segera berubah hebat, di lapisi oleh rasa terkejut yang hebat.

Ambruknya dinding ruangan itu dengan cepat memendam pula sebagian dari peralatan rahasia tersebut.

Pada saat itulah Sun Tiong lo berpaling ke arah He he koancu sambil bertanya.

"Koancu, berapa jaraknya dari tempat ini dengan permukaan tanah ?" ?"

"Kurang lebih tiga kaki !"

"Apakah bagian bawah dari loteng ini merupakan tanah kosong Sekali Iagi He-he koancu mengangguk.

"Benar, sekeliling bangunan loteng ini merupakan tanah kosong"

Sun Tiong-lo segera tersenyum.

"Baik, silahkan saudara sekalian mundur ke belakang, akan kugempur lapisan dinding batu ini sekali lagi!"

Sementara pembicaraan berlangsung Sun Tiong lo telah mengayun kembali telapak tangan kanannya, segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat segera menggulung ke depan.

Dinding tersebut segera tergempur sehingga hancur berantakan, suara gemuruh yang ditimbulkan membuat seluruh bangunan loteng itu bergoncang keras.

He-he koancu segera menjulurkan lidahnya sambil berseru memuji.

"Kongcu, dahsyat amat tenaga dalam yang kau miliki !"

Sun Tiong-lo cuma tertawa tidak menjawab.

Hou ji tidak ambil diam, dengan cepat dia bertanya kepada He-he koancu.

Koancu, dengan kecerdasan Soh bun ki, aku percaya dia sudah mendengar suara gemuruh tersebut sekarang apalagi setelah merasakan pula goncangan dari bangunan loteng ini, aku rasa dia tak mungkin tidak tahu akan sebabnya bukan ?"

"Hmmm, sekalipun dia tak akan memahami apa sebabnya untuk sementara waktu, tak lama kemudian dia toh akan msngerti juga"

Setelah berpikir sejenak, kembali Hou-ji berkata.

"Setelah terkurung dalam lorong rahasia tersebut, mungkinkah ada jalan lain baginya untuk meloloskan diri dari situ ?"

"Ada, tapi memerlukan bantuan dari luar, yakni membuka pintu baja yang berada dibawah loteng ?"

Hou ji manggut-manggut. dia lantas berpaling ke arah Sun Tiong-lo sambil berkata. Siau liong, orang toh tak akan terkurung terlalu lama disini, bagaimana kalau dilepaskan saja?"

"Sementara Sun Tiong lo masih termenung dan belum menjawab, He he koancu telah menukas.

"Bukannya aku berhati kejam dan tak berperikemanusiaan, orang itu amat jahat dan berbahaya, tak boleh dilepaskan dengan begitu saja."

"Oooh, mengapa demikian?"

Seandainya dia terlepas dari kurungan, maka kuil kami jangan harap bisa melewati kehidupan yang aman dan tenteram"

Sun Tiong lo segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya dengan cepat.

"Koancu, sekalipun kita tidak menolongnya, diapun tak bakal terkurung kelewat Iama!"

"Kalau tak ada yang menolongnya dari luar, siapa yang akan menyelamatkan jiwanya?"

Sun Tionglo tertawa, tiba-tiba dia bertanya.

"Coba kau jawab, siapakah yang memberi petunjuk kepadanya untuk membangun loteng ini? Siapa pula yang memberitahukan kepadanya kalau kitab pusaka itu tersimpan dalam ruangan bawah tanah diri kuil Teng thian koan?"

Dengan cepat He he koancu menjadi sadar kembali, dengan cepat dia berseru.

"Kongcu maksudkan, siorang asing itu bakaI kemari?"

Sun Tiong lo memandang ke arah Hou ji, dan Hou ji melirik sekejap kearah nona Kim, kemudian baru sahutnya.

"Benar, dia sudah pasti akan datang!"

Dengan perasaan keheranan He he koancu bertanya lagi.

"Di loteng ini tiada air tiada makanan, bila manusia sampai terkurung selama beberapa hari ini, mustahil dia bisa tetap berada dalam keadaan hidup, kecuali kalau siorang asing itu berada disekitar sini, kalau tidak..."

"Koancu, perkataanmu itu sangat tepat, dia memang berada disekitar tempat ini."

Tukas Hou ji cepat. He he koan cu semakin tak percaya lagi, katanya.

"Kalau memang begitu, seharusnya dia kan sudah menolong Soh bun-ki sedari tadi ?"

Dengan cepat Hou ji tertawa.

"Dia bukan dewa, bagaimana mungkin dia bisa menduga kalau Soh hun ki yang sudah memperlihatkan watak aslinya telah bentrok dengan koancu ? Bagaimana mungkin dia bisa tahu kalau pintu baja digerbang utama sudah tak dapat dibuka lagi dari dalam? "Apalagi kami semua masih berada disini, sebelum semua latar belakang yang sebenarnya terungkap keluar, terpaksa dia hanya bisa menyembunyikan diri belaka disekitar tempat ini, buat apa dia harus menampakkan diri di depan umum ?"

Setelah He-he koancu berhasil memahami beberapa persoalan itu, diapun lantas berkata.

"Jika kudengar dari pembicaraan kongcu barusan, tampaknya kongcu sekalian kenal dengan si orang asing tersebut ?"

"Emm, kemungkinan besar memang kenal."

He he koancu segera berkerut kening, katanya kemudian.

"Aaai, persoalan ini benar-benar menjemukan, asal Soh hun ki lolos dari kurungan, sudah pasti dia akan datang mencari diriku..."

"Benar !"

Sambung Sun Tiong lo.

"Itulah sebabnya kita harus menolongnya sekarang juga serta menyelesaikan masalah ini hingga tuntas."

He-he koarcu segera menunjuk ke arah se buah gelang penarik disudut ruangan itu, lalu berkata.

"Bila gelang itu kau tarik, pintu ruangan ini akan segera terbuka, dia berada diluar sana !"

"Bagaimana caranya untuk menutup kembali pintu ini?"

Nona Kim yang selama ini membungkam segera menuding gelang yang lain seraya berkata.

"Asal kau menarik gelang yang satunya, pintu akan segera menutup !"

Sambil tertawa He-he koancu segera manggut-manggut.

"Betul, perkataan nona memang benar !"

Sun Tiong lo segera berpaling ke arah Hou ji, kemudian.

"Engkoh Hou, tolong kau yang mengurusi ke dua gelang ini, hatihati terhadap segala kemungkinan yang tak diinginkan !"

Hou ji menyahut dan berjalan mendekati gelang besi itu, tanyanya kemudian.

"Apakah harus di buka?"

Sun Tiong-lo mengangguk "Yaa, sekarang boleh dibuka, bila aku sudah keluar nanti, cepat kau tutup lagi pintu ini !"

Ketika Hou-ji menarik gelang besi tersebut pintu ruangan segera bergerak naik ke atas, dengan suatu gerakan cepat Sun Tiong-lo menyelinap keluar ruangan.

Baru saja ia keluar dari pintu, pintu baja itu telah bergerak turun kembali dan menutup ruangan tersebut rapat-rapat.

Suara gemerincingnya pintu dengan cepat mengejutkan Soh-bun-ki yang terkurung diluar.

Waktu itu, Soh-hun-ki yang terkurung dalam lorong sedang merasa amat gusar, tapi dia benar-benar dibikin tak berdaya.

Maka sewaktu pintu terbuka, dia segera membalikkan badannya, sepasang matanya dengan cepat saling bertemu dengan sorot mata Sun Tionglo yang tajam.

Sekulum senyuman sempat menghias ujung bibir Sun Tiong Io.

sebaliknya Son-hun-ki berdiri dengan wajah penuh kegusaran.

Sejak terkurung dalam lorong rahasia tersebut, sudah barang tentu Soh hun ki tidak mengetahui atas semua perubahan yang terjadi didalam ruangan rahasia tersebut, tak heran kalau dia menjadi amat terperanjat setelah menyaksikan Sun Tiong Io berjalan keluar dari ruangan rahasia itu...

Tapi sebagai seorang yang cerdas, setelah berpikir sebentar saja ia telah memahami apa gerangan yang telah terjadi.

Maka ditatapnya Sun Tiong Io dengan wajah penuh amarah dan perasaan benci yang meluap-luap, teriaknya.

"Perempuan busuk itukah yang telah membuka pintu rahasia yang sempit untuk kalian?"

Sun Tiong lo sama sekali tidak menjawab, malah sekulum senyuman tetap menghiasi di ujung bibirnya.

Soh hun ki segera memutar biji matanya, dengan cepat ia teringat lagi akan satu hal.

Tadi, sewaktu dia terkurung dan sedang merasa kesal, tiba-tiba terdengar olehnya suara benturan keras yang bergema sekali demi sekali, bahkan suara getaran yang terakhir mengakibatkan seluruh bangunan loteng itu bergoncang keras, apa gerangan yang telah terjadi ?

Teringat akan hal tersebut, dengan sok pintar dia berkata sambil tertawa.

"Bagaimana ? Tentunya kau merasa gagal bukan untuk menggempur dinding dan melarikan diri dari kurungan..."

Sun Tiong lo segera menggelengkan kepalanya berulang kali, tukasnya cepat. -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***

Jilid 33

"APA yang telah terjadi justru merupakan kebalikan daripada apa yang kau duga, aku telah berhasil menggempur dinding batu itu sehingga ambruk dan tembus dengan dunia luar!"

Mendengar perkataan itu, paras muka Soh-hun ki berubah hebat, tapi dengan cepatnya dia telah terbahak-bahak kembali. Sun Tiong lo ikut tersenyum, tanyanya.

"Kenapa? Tidak percaya?"

"Huuh, terus terang saja kukatakan."

Ucap Soh hun ki dingin.

"walaupun lohu merasa kepandaian silatku sudah menjagoi seluruh kolong langitpun aku yakin masih belum sanggup menggempur dinding batu sampai hancur maka aku baru tersekap di sini dengan perasaan apa boleh buat."

"Kalau toh kau memang sudah menggempur hancur dinding batu itu, setiap saat kau bisa pergi meninggalkan tempat ini? Lohu ingin bertanya kepadamu sekarang, bukannya pergi meninggalkan bangunan ini, mau apa kau malah datang mencariku?"

"Kalau toh kau memang amat cerdik, mengapa tidak mencoba untuk menebaknya sendiri?"

Kata Sun Tiong lo masih tetap tertawa.

"Tak usah ditebak lagi, sesungguhnya persoalan ini terlampau sederhana!"

"Oooh kalau begitu apa salahnya bila kau utarakan secara berterus terang ?"

Soh hun ki mendengus dingin.

"Kau gagal untuk menggempur batu itu, keadaan kalian sama seperti lohu, tetap tersekap ditempat ini!"

Sun Tiong lo segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku tak perlu membohongimu, dua gempuran keras yang memekikkan telinga tadi telah membuktikan segala sesuatunya!"

Soh hun ki mengalihkan soiot matanya ke arah Sun Tiong lo.

kemudian termenung dan membungkam dalam seribu bahasa.

Dia sedang meneliti kembali suara gempuran keras yang pernah didengar olehnya tadi, kalau dari hancurnya batu yang terbesar, agaknya ucapan lawan memang benar, dinding batu itu memang berhasil digempur lawan hingga hancur, akan tetapi..."

Berpikir sampai disitu, dia segera bertanya.

"Kalau memang demikian, mau apa kau datang kemari ?"

Katanya sambil menatapnya. Dengan wajah sungguh sungguh Sun Tiong lo berkata.

"Percayakah kau ? Aku datang untuk menyelamatkan kau dari sekapan ditempat ini"

"Aah, masa kau mempunyai hati sebaik ini ?"

Kata Soh hun ki agak sedikit tercengang. Sun Tiong lo mengalihkan sorot matanya dan menatap Soh hun ki Iekat-lekat, katanya.

"Belum tentu aku datang atas dasar hati yg bajik, semestinya kaupun mengerti ?"

Soh hun ki semakin tertegun.

"Sayang sekali lohu tak mengerti."

Katanya.

"Aku tak nanti akan menolongmu tanpa sebab musabab, akupun mempunyai syarat !"

"Syarat?"

Soh hun-ki segera tertawa tergelak "Hmm, mungkin kau anggap dirimu sudah luar biasa..."

Sun Tiong lo mengangkat bahu, tukasnya.

"Aku tidak mempunyai waktu untuk berbincang-bincang terus denganmu, sekarang aku hanya ingin bertanya sepatah kata saja kepadamu, inginkah kau meloloskan diri dari loteng ini? Cepat jawab pertanyaanku ini..!"

"Heeh... heeh... heeh... lohu justru tak mau menjawab, mau apa kau ?"

"Hmmm, kau jangan bermimpi disiang hari bolong, Lok hun pay tak akan menyelamatkanmu dari sini!"

Paras muka Soh hun ki berubah hebat.

"Apa? Kau... kau tahu... siapakah Lok hun pay itu...?"

Serunya gemetar. Gertak sambal Sun Tiong lo ternyata mendatangkan reaksi yang cukup positif, dengan suara dalam ia segera berkata lagi.

"Sekarang, kendatipun kau ingin berpura-pura terus juga tak ada gunanya, cuma kau tak usah kuatir, aku tak ingin menanyakan persoalanmu yang menyangkut soal lencana Lok-hun-pay."

Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya.

"Tapi aku hendak memberitahukan kepada-mu, setelah kami berhasil meninggalkan loteng ini dengan selamat, maka akan kuledakkan obat peledak yang tertanam disekitar Ioteng ini, agar seluruh bangunan lonteng ini porak poranda dan hancur berkepingkeping."

Setelah mendengar perkataan tersebut, Soh hun ki baru tak dapat menahan diri lagi, dengan suara keras lantas dia membentak.

"Kalian berani ?"

"Haaahh... haaah... haaaahhh... tak ada salahnya untuk kau nantikan, buktikan sendiri aku berani untuk melakukan ancaman itu atau tidak."

Selesai berkata, si anak muda itu segera membalikkan badan dan berjalan menuju ke pintu ruangan batu.

Mendadak Soh hun ki menubruk ke muka, melancarkan serangan secara tiba2 dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Sayang tekali bukan saja Sun Tionglo telah mempersiapkan diri secara baik-baik, bahkan ia sudah menduga kalau Soh hun ki bakal berbuat demikian, secepat kilat dia membalikkan badannya kemudian mengayunkan telapak tangan kanannya untuk menyambut datangnya serangan dari Soh hun ki dengan keras lawan keras.

Soh hun ki segera terpental jauh kebelakang akibat dari benturan kekerasan tersebut.

"Blam !"

Tubuhnya yang mencelat kebelakang itu segera menumbuk dinding dari terjatuh lagi beberapa kaki dari posisi semula, Bukan begitu saja, bahkan telapak tangan kanannya itu tak sanggup diangkat kembali, sepasang matanya segera memancarkan sinar ketakutan dan rasa nyeri yang sangat tebal, dia memandang Sun Tiong lo dengan mata melotot, dadanya naik turun tak menentu, napasnya tersengkal-sengkal seperti kerbau.

Wajahnya yang tanpa perasaan, kini berubah menyeringai seram, agaknya dia sedang berusaha keras untuk menahan rasa sakit.

Sun Tiong lo mendengus, katanya kemudian.

"Sekarang mungkin kaudw sudah mengerti apa sebabnya Lok-hun pay tak akan datang untuk menolongmu lagi, bila ia mempunyai nyali sebesar ini, akupun tak usah repot-repot untuk mencarinya lagi !"

Kekuatan serangan yang maha dahsyat itu, seketika itu juga menggetarkan hati si gembong iblis tua yang sudah banyak tahun menggetarkan dunia persilatan ini.

Lewat berapa saat kemudian, Soh hun-kie baru berkata.

"Sebenarnya siapakah kau? siapakah kau ?"

"Kau tak usah menggubris siapakah aku, lebih baik lagi kalau mengurangi pertanyaan yang tak berguna, sekarang jawab, kau kepingin keluar tidak dari sini ?"

Soh-hun-ki ragu berapa saat lamanya kemudian baru menjawab.

"Kalau bisa keluar tentu saja lebih baik, cuma... cuma... hehehehe, cuma syaratmu itu tolong tanya apa syaratmu itu ?"

"Mulai sekarang kau tak boleh mencari gara gara lagi dengan Hehe koancu!"

"ltu soal gampang, kita tentukan dengan sepatah kata ini saja!"

Segera Soh-hun-ki menyahut. Tapi Sun Tiong lo kembali menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya.

"Tidak bisa, tidak bisa dipastikan dengan janjiku saja !"

"Lantas apa yang kau inginkan sebelum bisa mempercayai aku?"

Tanya Soh-hun-ki sambil mengerdipkan matanya berulang kali.

"Hmm. selama puluhan tahun ini kau sudah banyak melakukan kejahatan, aku rasa sudah waktunya bagimu untuk menarik kembali semua kejahatanmu itu."

Soh hun-ki segera berkerut kening, kemudian dengan pandangan curiga ia berkata lagi.

"Aku rasa sekalipun aku berjanji hendak menarik kembali semua kejahatanku pun, kau tak akan percaya ?"

Dengan sorot mata yang amat dingin bagaikan es, Sun Tiong lo memanjang sekejap wajah Soh hun ki, kemudian berkata.

"Yaa, apa boleh buat lagi, aku toh tak mungkin saban hari saban waktu mengawasi dirimu terus menerus, oleh sebab itu percuma saja kau berjanji akan berbuat ini itu, karena aku tak bisa mempercayai janjimu itu dengan begitu saja, mengerti kau ?"

Soh hun-ki segera menghembuskan napas panjang, setelah termenung sejenak katanya kemudian.

"Baiklah, kalau begitu kau beleh berterus terang, apa yang kau kehendaki ?"

"Aku hanya menginginkan tenaga dalammu itu!"

Paras muka Soh hun ki segera berubah hebat kebetulan rasa sakit pada telapak tangan kanannya sudah jauh berkurang, mendadak dia melompat bangun, kemudian sambil mencorongkan sinar buas dari balik matanya, ujarnya kepada Sun Tiong lo sambil menyeringai seram.

"Lohu akui telah memandang rendah dirimu, akupun mengakui bahwa tenaga dalammu jauh lebih tinggi daripada lohu, tapi kau menginginkan lohu terima kematian tanpa melawan hmm! pada hakekatnya kau sedang bermimpi disiang hari bolong !"

"Toh tiada orang yang ingin membunuhmu"

Kata Sun Tiong-lo dingin.

"tapi aku pun tak bisa membiarkan tenaga dalammu itu tetap kau miliki sehingga bisa dipergunakan untuk melakukan kejahatan, Nah. sekarang waktunya telah sampai, katakanlah terus terang !"

"Boleh, Lohu tetap tak akan menyerah dengan begitu saja"

Soh hun ki tertawa seram. Sun Tiong lo menjadi naik pitam, segera bentaknya lagi.

"Ucapanmu memang sangat gagah dan pantas dikagumi, hanya sayangnya kau tidak pantas untuk mengucapkan kata-kata seperti itu!"

Sembari berkata, selangkah demi selangkah Sun Tiong lo berjalan maju kemuka dan mendekati Soh hun ki.

Menghadapi ancaman yang membahayakan keselamatan jiwanya ini terpaksa Soh hun ki harus mencabut keluar panji percabut nyawa nya yang tak pernah berpisah dari badan dan kini terselip dibelakang pinggangya itu dengan tangan gemetar.

Sun Tiong lo tersenyum, tanpa berhenti barang selangkahpun, sambil maju kedepan ia meloloskan pedang mestikanya.

Lorong rahasia tersebut hanya selebar satu kaki dengan panjang lima kaki, sesungguhnya bukan tempat yang ideal untuk melangsungkan suatu pertarungan.

Dengan pedang dilintangkan didepan dada, Sun Tiong lo berkata lagi dengan suara dingin.

"Aku berharap kau suka mempertimbangkan diri dengan sebaik-baiknya, bila kupunahkan tenaga dalammu itu dengan menggunakan ilmu jariku. maka kau tidak akan terluka, sebaliknya bila terpaksa harus menggunakan pedang ini, maka besar kemungkinannya kau bakal menderita banyak luka bacokan !"

Agaknya Soh hun-ki telah bertekad untuk beradu jiwa, dengan suara keras segera bentaknya.

"Omong kosong, siapa menang siapa kalah belum lagi ketahuan, buat apa kau mengucapkan kata-kata yang sesumbar ?"

Sun Tiong lo tidak banyak bicara lagi, dengan langkah lebar dia maju ke depan.

Dengan cepat Sohhun ki melirik sekejap ke arah belakang, jaraknya dengan arah dinding masih ada beberapa kaki, andaikata sepasang panjinya digunakan bersama, berarti masih ada sisa ruang kosong yang cukup untuk bergerak lebih jauh.

Maka sorot matanya segera ditujukan kearah pedang yang berada ditangan Sun Tiong lo, bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Walaupun tempat itu merupakan sebuah lorong rahasia, tapi berhubung terpisah oleh dinding yang telah memagari ke empat penjuru maka pada hakekatnya tempst itu merupakan sebuah tempat yang buntu, bila pertarungan sampai terjadi, maka pihak yang kalah jangan harap bisa lolos dari situ dalam keadaan selamat.

Soh hun ki cukup mengetahui akan hal ini, maka disaat ia bertekad untuk bertarung maka diapun mengambil keputusan untuk mengesampingkan soal keselamatan jiwanya.

Kalau pepatah pernah bilang "ditempat yang buntu pun masih ada harapan untuk hidup"

Berarti meski berada disuatu tempat yang "mati"

Jalan kehidupan masih selalu tersedia.

Maka keadaan sekarang jauh berbeda, tempat tersebut betuI-betul buntu dan tiada harapan untuk hidup.

apalagi buat Soh hun ki, pada hakekatnya tempat tersebut merupakan suatu tempat yang mematikan baginya, sebab walaupun dia berhasil menang pun jangan harap bisa lolos dari lorong tersebut dengan selamat, seandainya dia dapat berpikir lebih seksama dan mau mempertimbangkan kembali hasil adu kekuatannya dengan Sun Tiong lo tadi mungkin dia akan sedikit merasa mengerti akan kehidupan selanjutnya Tapi dalam saat begini, dia sama sekali tak berpikir lebih jauh, dia hanya tahu mencari kemenangan untuk melanjutkan hidupnya, dia harus melangsungkan duel dengan Sun Tiong lo.

Sementara itu, Sun Tiong lo telah berada tujuh depa dari hadapan Soh hun ki, dalam jarak sedekat, ini asal dia maju selangkah lagi sambil melancarkan serangan, maka pedangnya akan segera mencapai depan dada Soh hun ki.

Sebaliknya Soh hun ki hanya berdiri menanti dengan sikap yang amat tegang, walaupun sudah berada dalam keadaan seperti ini, namun dia belum juga bergeser dari posisinya semula.

Dalam hal ini, Sun Tiong lo mau tak mau harus mengangguk memuji...

Maka anak muda itu segera berhenti, kemudian katanya pelan.

"Mengingat tak mudah untuk mencari nama bila kau tidak melawan maka aku hanya akan memunahkan tenaga dalammu saja dengan tetap meninggalkan ilmu silatmu seutuhnya, bagaimana pendapatmu?"

Soh hun-ki yang mendengar ucapan mana, segera salah mengartikan perkataan itu, sambil tertawa seram ia lantas berseru.

"Tak usah bermimpi di siang hari bolong, kau anggap lohu sudah pasti akan kalah ?"

Sun Tiong-lo menghela napas panjang.

"Yaaa, kalau toh kau enggan menuruti nasehatku, aku pun tak ingin banyak berbicara lagi"

Ujung pedangnya segera digetarkan ke depan dan menusuk ke atas dada Soh-hun ki.

Agaknya Soh hun ki tahu bahwa selisih jarak mereka masih ada tujuh depa, sedang gerakan menusuk yang tidak dibarengi dengan gerakan tubuh yang maju ke depan itu hanya bermaksud untuk memancing lawannya masuk perangkap maka dia tetap tak bergerak sama sekali dari posisinya semula.

Itulah sebabnya sambil tertawa dingin, dia hanya mengawasi pedang yang berada ditangan kanan Sun Tiong lo tanpa berkedip.

Siapa tahu disaat dia menganggap serangan musuh hanya merupakan suatu tipu muslihat belaka, tahu-tahu ancaman mana berubah menjadi suatu serangan sungguhan, segulung desingan angin tajam menyambar kemuka dan menusuk ke tan-tian dipusatnya.

Menghadapi ancaman tersebut ia menjadi kaget dan merasakan sukmanya serasa melayang meninggalkan raganya, dengan gugup tubuhnya bergeser kekanan, lalu panji besi ditangan kirinya didayung kemuka menggulung ketubuh pedang Sun Tiong lo.

Sayang, kembali Soh hun ki salah menduga.

Tubuhnya yang bergeser ke kanan memang merupakan suatu tindakan yang tepat, tapi panji besinya yang menggulung kearah kiri justru mengenai sasaran yang kosong.

Tatkala ia merasakan ayunan senjata panji besi ditangan kirinya mengenai sasaran yang kosong, dia segera sadar kalau gelagat tidak menguntungkan, buru-buru dia ingin merubah gerakan guna menyelamatkan diri.

Sayang sekali tenaga pukulan yang amat kuat telah keburu menekan keatas tubuhnya, diiringi suara aneh, panji tersebut sudah patah menjadi dua bagian.

Kini tangannya hanya sempat menggenggam sepotong besi sepanjang tujuh inci saja, Sedangkan panji itu sendiri sudah terurai berai diatas tanah dalam keadaan hancur berantakan.

Kini paras muka Soh-hun ki telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, sekarang dia baru sadar, Sun Tiong-lo masih tetap berada sejauh tujuh depa didepannya, tusukan pedang itu pun tidak menebusi pusarnya.

Oleh sebab itu, bisa disimpulkan kalau panji saktinya sama sekali tidak saling membentur dengan senjata tajam lawan, atau dengan perkataan lain, dalam selisih jarak seperti ini, tak mungkin senjata mereka dapat saling membentur satu sama lainnya.

Tapi kenyataan sekarang, walaupun senjata mereka tidak saling membentur namun kenyataannya panji bajanya telah hancur berkeping keping diatas tanah, apa gerangan yang telah terjadi ?

Kini, Soh hun-ki sudah mengerti apa gerangan yang telah terjadi, itulah sebabnya paras mukanya kontan berubah menjadi pucat seperti mayat, ditatapnya Sui Tiong lo dengan perasaan bergidik dan mata melotot besar.

Hawa pedang !

Tak bakal salah lagi, memang hawa pedang !

Semenjak terjun ke dalam dunia persilatan Soh hun-ki sudah sering mendengar orang membicarakannya tapi sampai dia malang melintang dalam dunia persilatan dan namanya menjadi termasyur, belum penuh ia menjumpai seseorang yang benar-benar memiliki kepandaian selihay itu.

Sekarang, usia sudah menanjak tua, sungguh tak disangka hal tersebut benar-benar terjadi, bahkan hawa pedang yang amat dahsyat itu muncul ditangan seorang anak muda, dari sini bisa dibayangkan sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki orang itu.

Kenyataan baru saja terbentang di depan mata, jelas hal tersebut tak dapat diragukan lagi, tapi...

tapiiii....

jurus serangan tersebut terlampau cepat.

Sedemikian cepatnya sampai Soh hun ki sendiripun hampir tak percaya, tapi dia pun tak bisa tidak harus mempercayainya...

Itulah sebabnya setelah rasa kaget dan takut nya hilang, dengan cepat ia menunjukkan sikap siap untuk melangsungkan suatu pertarungan mati hidup.

"Oooh kau ingin melangsungkan suatu pertarungan habis-habisan?"

Tegur Sun Tiong lo dengan kening berkerut. Soh hun ki merasakan hatinya terkesiap, tapi diluarannya tetap bersikap angkuh.

"Tentu saja"

Sahutnya.

"Lohu tak bakal mengucurkan airmata sebelum melihat peti mati."

Sun Tiong lo mendengus dingin, dia mendesak maju lebih kedepan sehingga selisih jarak antara kedua belah pihak tinggal lima depa saja...

Dengan gugup Soh hun-ki melompat mundur sejauh hampir satu kaki.

Sambil tertawa dingin Sun Tiong lo segera berkata.

"Jalan tembus kini sudah terbuka, setiap saat kau boleh mengundurkan diri dari sini. aku tak akan memperebutkan waktu denganmu, kini kau boleh maju beberapa langkah, gunakanlah jurus serangan yang paling kau banggakan untuk melancarkan serangan!"

"Kau boleh menyerang lebih dulu !"

Tukas Soh hun-ki sambil menggeleng dan berlagak tidak gentar. Sun Tiong-lo semakin mengerutkan dahinya.

"Sekarang, coba kau berpaling dulu, lihatlah apakah kau mempunyai jalan untuk mundur lagi ?"

Soh-hun ki kuatir Sun Tiong lo manfaatkan kesempatan tersebut untuk melancarkan serangan, ia sama sekali tak berpaling melainkan menggunakan panji besi ditangan kanannya untuk mengukur jarak, ternyata sisa jarak dibelakang tubuhnya tinggal dua depa.

Maka dengan berhati-hati sekali dan kewaspadaan tinggi, dia maju tiga langkah lagi ke depan.

Tiga langkah tak sampai lima depa, dia sudah dapat melancarkan serangan dengan meng gunakan panji besinya.

Dengan wajah bersungguh-sungguh Sun Tiong lo menatap wajah Soh hun ki lekat-lekat, kemudian tegurnya.

"Menurut pendapatmu berapa juruskah serangan panjimu yang paling diandalkan?"

"Heeehhh... heeehhhh... hedwehhh... aku bukan anak kecil, aku tak bakal termakan olen tipu musIihatmu itu!"

Seru Soh hun ki sambil tertawa. Sun Tiong lo ikut tertawa.

"Terserah bagaimanakah jalan pikiranmu itu, sekarang aku hanya ingin memberi kesempatan sebanyak lima jurus untukmu didalam lima jurus ini kau tak usah kuatir untuk melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, tapi selewatnya lima jurus, kau haruslah ber-hati2!"

Mendengar perkataan itu, Soh hun ki menjadi sangat gembira, serunya dengan cepat.

"Sungguh? sungguhkah perkataanmu itu?"

"Hmm.. aku toh tidak perlu membohongi di rimu"

Jengek Sun Tiong lo dengan suara dingin. Tapi Soh hun kie belum juga merasa lega, kembali ujarnya.

"Dalam lima jurus ini, apakah kau tak akan melancarkan serangan balasan ?"

"Yaa, sudah pasti tak akan melancarkan serangan balasan!"

Sun Tiong lo mengangguk. Soh hun ki berpikir lagi beberapa saat lamanya, tampaknya dia berminat untuk melakukan percobaan, kembali dia berseru.

"Apakah kau hendak menggunakan Kiam-khi (hawa pedang) lagi untuk melakukan pertahanan?"

Sun Tiong lo memandang sekejap kearah Soh Luti-ki, lalu berkata dengan sungguh-sungguh.

"Oooh... aku mengira hingga kini aku masih belum mengetahui tenaga dalam apakah yang telah menghancurkan panji besi yang beiada ditangan kirimu, rupanya meski kau sudah tahu-namun masih belum mau mempercayainya ?"

Merah padam selembar wajah Soh-hun-ki karena jengah, cepat-cepat dia berkata.

"Walaupun lohu keras kepala, namun aku masih cukup tahu diri, bila aku harus melawan ilmu Kiam Khi mu yang maha dahsyat tersebut dengan menggunakan tenaga dalam sendiri, jelas hal ini merupakan suatu tindakan tak tahu diri."

"Sebab mengenai ilmu Kiam-khi tersebut hidup sampai sekarang. lohu hanya pernah mendengar tapi belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, aku benar-benar tidak mempercayainya dengan begitu saja, dalam hal ini kau harus mengerti?"

"Yaa, aku mengerti."

Sun Tiong-lo manggut-manggut.

"itulah sebabnya aku memberi kesempatan kepadamu untuk melancarkan lima jurus serangan !"

"Aaaaai, kau memiliki hawa Kiam-khi yang hebat, aku lihat lebih baik tak usah dicoba lagi."

Seru Soh-hun-ki dengan tertawa getir. Dengan cepat Sun Tiong-lo menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Dalam lima jurus yang pertama, kau tak usah menguatirkan tentang hal ini lagi !"

"Baiklah."

Kata Soh-hun-ki kemudian sambil membusungkan dada.

"padahal lohu juga mengerti, sekalipun kai bertarung menggunakan tenaga dalam dan ilmu silat yang biasapun lohu bukan tandinganmu, tapi kesempatan yang sangat baik ini tak akan kusia-siakan dengan begitu saja, sebab kesempatan sebaik ini belum tentu akan kujumpai lagi dimasa mendatang !"

Berbicara sampai disitu, mendadak Soh hun ki meluruskan matanya ke muka dan menatap wajah Sun Tiong lo lekat lekat.

Tergerak hati Sun Tiong lo, sebab saat ini lah dia menemukan bahwa gembong iblis tua yang termashur karena kejahatannya itu, sekarang sudah tidak nampak lagi wajah keganasan, kebuasan serta kekejian hatinya lagi.

Sementara dia masih keheranan, Soh hun kiz telah buka suara memanggil.

"Anak muda..."

"Aku she Sun bernama Tiong lo."

Tukas sang pemuda cepat. Soh hun ki menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Maafkan kekerasan kepala lohu, entah bagaimana juga, kau dan lohu berhadapan sebagai musuh bukan teman, lohu cukup memanggilmu sebagai anak muda saja."

Sun Tiong lo menatap Soh hun ki lekat-lekat, kemudian katanya lebih lanjut.

"Baik, terserah mau sebut apa saja kepadaku!"

"Kini, meski kita berhadapan sebagai musuh bolehkah lohu merepotkan kau sianak muda akan suatu hal?"

"Boleh. asal pekerjaan itu bisa kulakukan."

"Aaah, cuma urusan rumah tangga lohu!"

"Bolehkah aku mengetahuinya?"

Tanya Sun Tiong lo dengan kening berkerut. Soh hun ki tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya berkata kembali.

"Orang persilatan sedikit sekali yang mengetahui kalau lohu mempunyai istri mempunyai anak, alasannya karena istriku sudah lama mati, sedang anak menantuku juga sudah tak ada lagi."

Bagaimanakah ceritanya sampai mereka mati, kejadian tersebut sudah berlalu sangat lama, rasanya kitapun tak usah membicarakan lagi, yang hendak kubicarakan kini adalah seorang cucu perempuan lohu!"

Ketika berbicara sampai disitu, dia berhenti sebentar, kemudian lanjutnya.

"Anak muda, tahukah kau berapa usia lohu sekarang?"

"Dengan cepat Sun Tiong lo menggeleng.

"Entahlah, tapi tampaknya seperti lima puluh tahun atau lebih sedikit!"

Soh hun ki segera tertawa.

"Berbicara sejujurnya, kini lohu sudah berusia tujuh puluh dua tahun, berhubung semasa kawin dulu masih amat muda, maka pada usia tujuh belas tahun sudah berputra, usia empat puluh tahun sudah punya cucu, oleh sebab itu tahun ini cucu perempuanku telah berusia tiga puluh dua tahun."

"Oooh, kini cucu perempuanmu berada dimana?"

"lnilah persoalan yang hendak lohu titipkan kepadamu untuk menyelidikinya..."

Sun Tiong-Io tertegun.

"Apakah kau menyuruh aku mengarungi samudra, menjelajahi ujung langit untuk menemukan jejak cucu perempuan itu?"

"Benar, kau harus menemukan dia bahkan harus menyelamatkan pula jiwanya."

Sekali lagi SuoTiong-!o menjadi tertegun sesudah mendengar perkataan itu.

"MenoIong dia?-ia menegaskan "apakah dia sedang terancam oleh sesuatu mara bahaya? Dengan cepat Soh hun-ki mengangguk "Betul. keadaannya sekarang teramat berbahaya, mungkin saja saat ini dia sudah mendapat ancaman yang membahayakan jiwanya karena dia sudah melewati batas waktu janjinya untuk bertemu denganku cukup Iama..."

Mendengar sampai disitu, tanpa terasa Sun Tiong lo menukas dengan cepat.

"Tunggu sebentar, aku sudah mendengar sedikit duduknya perkara, tentunya semula kau mengetahui tentang berita cucu perempuanmu itu, bahkan mengadakan hubungan surat menyurat, tapi kali ini..."

Soh hun-ki segera mengangguk, kembali selanya.

"Benar, anak muda, dengarkan ceritaku lebih lanjut, walaupun lohu tak becus namun terhadap Lok hun pay tidak benar-benar takluk tapi aku dipaksa untuk menuruti perkataannya adalah cucu perempuanku itu, maka dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa aku harus menuruti perintahnya hingga kini."

"Tapi lohu mengadakan perjanjian dengannya, yakni setiap tiga buIan satu kali. kami kakek dan cucu diperbolehkan saling menulis surat untuk menyatakan keselamatan masing-masing dan ia menyetujui serta melaksanakannya, selama belasan tahun hal ini berlangsung terus tiada putusnya.

"Kali ini, suratnya memang datang tetapi jangan harap dia bisa mengelabuhi lohu, gaya di dalam tulisannya mau pun nama suaranya memang betul merupakan tulisan tangan cucu perempuanku sendiri, iapi lohu dapat melihat kalau surat itu adalah sepucuk surat palsu !"

"Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi ?"

Tanya Sun Tiong-lo tanpa terasa. Soh-bun-ki segera tertawa dingin.

"Heeeh... heeehh... heeehkzh... bagaimana mungkin ? Sudah belasan tahun lohu mengadakan hubungan surat menyurat dengan cucu perempuanku, aku percaya setiap suratku pasti diperiksa olehnya dengan seksama, maka kalau dia ingin memalsukan gaya tulisannya, hal ini sebetulnya bukan sesuatu yang sukar!"

"Aku rasa, bagaimanapun miripnya dia menirukan gaya tulisannya, dengan demikian perbedaannya pasti ada dan perbedaan itu bisa ditemukan dalam sekilas pandangan saja"

"Justru kebalikannya yang terjadi."

Soh bun ki menggeleng.

"begitu miripnya gaya tulisan itu, mungkin cucu perempuanku yang melihat pun akan merasa terkejut dan mengira dia yang benar-benar menulis sepucuk surat itu sendiri, sebab tulisannya terlalu mirip."

"Oooh... kalau begitu, dalam setiap surat menyurat diantara kalian berdua, selalu membuat kode rahasia sebagai tanda keasliannya?"

Soh hun ki melirik sekejap kearah Sun Tiong lo, kemudian serunya memuji.

"Anak muda, kecerdikannya sungguh menakutkan. betul sekali, memang dalam surat-surat kami selalu diberi suatu kode rahasia untuk menunjukkan keasliannya, dan aku yakin kode rahasia tersebut jangan harap bisa diketahui orang lain.

"Aku tahu, Lok hun pay memang amat liehay, selama belasan tahun mungkin saja dia selalu meneliti dan memperhatikan surat kami, tapi kenyataannya kode rahasia tersebut tak berhasil ia temukan, oleh karena itulah aku baru tahu kalau surat terakhir yang kuterima bukanlah surat yang ditulis oleh cucu perempuanku sendiri."

"Anak muda, sekarang lohu harus menitipkan persoalan ini kepadamu untuk kau lakukan, apalagi kau adalah musuh besar Lok-hun-pay, maka dari itu untuk melancarkan jalannya usahamu nanti, aku harus memberitahukan kode rahasia ini kepadamu..."

"Tidak usah, aku percaya dengan semua perkataaanmu !"

Tukas Sun Tiong lo sambil mengulapkan tangannya. Tapi Soh hun-ki kembali menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya dengan cepat.

"Tidak, aku harus memberitahukan kepadamu kode rahasia tersebut tidak berada pada kertas kosongnya, melainkan dalam deretan hurufnya, yakni dengan mengurangi garis dari setiap huruf tertentu !"

"Mengurangi garis dari setiap huruf tertentu ?"

Tanya Sun Tiong lo keheranan.

"Yaa, bukan begitu saja, bahkan setiap surat harus menuruti urutannya secara beraturan, misalnya pada surat yang pertama dengan pembuka kata.

"Dipersembahkan kepada ayah tercinta,"

Maka pada permulaan awal kata dipersembuhkan tersebut dia akan mengurangi coretannya pada huruf D.

Bukan menghilangkannya sama sekali melainkan mengurangi coretan bagian bawahnya sehingga bentuknya berupa tulisan "()"

"Sedang pada surat yang kedua, dia akan mengurangi coretannya pada huruf "kepada"

Dan kemudian dengan mengurangi sebagian huruf "K"

Tersebut, begitu pula pada surat ketiga, ia akan mengurangi coretan pada tulisan "A"

Dari kata ayah, demikianlah selanjutnya.

"Bila sampai pada huruf kalimat yang terakhir, maka akan diulangi kembali pada huruf kalimat permulaan, Aku yakin bagaimana pun cerdiknya Lok hun pay, tak mungkin dia bisa menemukan rahasia dibalik kode rahasia kami ini!"

Sun Tiong lo menghela napas panjang, pujinya.

"Yaaa, memang luar biasa, orang lain memang jangan harap bisa menemukan tanda rahasia tersebut!"

Dengan bangga Soh hun ki berkata lebih jauh.

"Persoalan ini merupakan salah satu persoalan yang paling kubanggakan selama ini. Beberapa waktu berselang akupun menerima surat dari cucu perempuanku, tapi semuanya berubah, dalam surat itu aku tak berhasil menemukan lagi kode rahasia tersebut.

"ltulah sebabnya aku menyadari kalau cucu perempuanku sedang menjumpai kesulitan, tapi kemampuanku sangat terbatas, bila kulawan sudah pasti aku akan mati, ditambah pula aku pun tidak mengetahui mati hidup dari bocah itu."

"Maaf kalau aku menukas"

Sela Sun Tiong lo tiba-tiba.

"tolong tanya apakah kaupun tidak tahu dimana Lok hun pay bercokol?" -oo0dw0oo-SOH HUN KI mengelengkan kepalanya.

"Setan tua ini amat licik, bagaimana mungkin aku bisa mengetahui tempat persembunyiannya?"

"Apakah kau pun pernah menyaksikan raut wajah dari tua bangka tersebut ?"

Kembali Sun Tiong lo bertanya dengan kening berkerut, Soh-hun-ki tertawa getir.

"Setan tua itu mengenakan topeng !"

"Wah, kalau begitu sulit,"

Kata Sun Tiong lo sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Sebenarnya, lohu sudah mempunyai rencana bagus untuk membalas dendam, aku ingin memancing dia memasuki loteng ini. kemudian mengurungnya disini dengan alat rahasia, setelah itu memaksanya untuk menyebutkan di manakah cucu perempuanku sekarang berada.

"Siapa tahu pada saat inilah, anak muda, kalian telah sampai lebih dulu disini, membuat usahaku selama ini berantakan, sekarangpun lohu sudah tak mampu mempertahankan diri lebih jauh, maka..."

"Dari mana munculnya kata sudah tak mampu mempertahankan diri lagi itu?"

Tiba-tiba Sun Tiong-lo menukas, Soh hun ki mendengus.

"Hmm, anak muda, bukankah kau sengaja bertanya setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya ?"

"Atas dasar apakah berkata demikian?"

"Tadi kau sudah bilang hendak melangsungkan pertarungan dalam lima gebrakan, lohu tahu kalau aku tak bakal menangkan dirimu, dengan akibatnya tenaga dalamku akan punah, bila lohu sudah kehilangan tenaga dalamku, apakah aku masih mampu untuk mempertahankan diri?"

Seru Soh hun ki dengan gusar. Sun Tiong-Io berkerut kening.

"Persoalan ini lebih baik kita bicarakan nanti saja, aku ingin bertanya dulu kepadamu seandainya pada suatu ketika aku dapat berjumpa dengan cucu perempuanmu, dengan benda apa aku harus memperkenalkan diri agar dia memahami duduk persoalan yang sebenarnya ?"

Soh bun ki memperlihatkan panji besi di tangan kanannya seraya berkata.

"Kau boleh mempergunakan gelang besi sebesar dua inci diujung panji ini sebagai tanda pengenal !"

"Baik kalau begitu berikan kepada sekarang!"

Ujar Sun Tiong lo sambil menyodorkan tangannya kemuka. Tapi dengan cepat Soh hun ki menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Bila gelang besi itu kulepas maka panji ini akan segera terbelah menjadi dua dan tak bisa dijadikan senjata lagi, padahal lohu masih harus melawan seranganmu, maka sebelum pertarungan lima gebrakan dilangsungkan tak nanti akan kulepaskan gelang tersebut untuk di serahkan kepadamu..."

Dengan wajah serius, anak muda kembali berkata.

"Kau harus mendengarkan secara baik-baik, aku telah berubah pikiran sekarang dan tak akan memunahkan tenaga dalamu lagi, cuma kau harus mengangkat sumpah dan tidak melakukan kejahatan lagi dalam dunia persilatan sejak kini."

"Kemudian berikan gelang tersebut kepadaku dan segera tinggalkan loteng ini, gantilah wajahmu dengan raut wajah lain, dengan cara demikian secara diam-diam kaupun bisa mencari tahu jejak cucu perempuanmu didalam dunia persilatan aku berharap kalian cucu dan kakek bisa berjumpa lagi, carilah suatu tempat yang terpencil dan berpemandangan indah, dan hiduplah disitu hingga akhir jaman !"

Beberapa patah kata itu segera membuat Soh hun-ki menjadi tertegun ditempatnya. Dengan suara dalam, Sun Tiong lo kembali berkata.

"Aku mempunyai dendam kesumat sedalam lautan dengan Lokz-hun-pay, dan aku telah bersumpah untuk menuntut belas kepadanya, bahkan sekarang aku sudah mulai mencurigai seseorang sebagai Lok-hun pay, dia adalah sahabat karib ayahku almarhum."

"Oooh, siapakah namanya?"

Sambung Soh-hun ki cepat.

"Dia bernama Mao Tin-hong!"

Ucapan Sun Tiong lo ini diutarakan dengan sepatah demi sepatah kata. Soh hun ki segera menjerit kaget.

"Aaah. aku pernah berjumpa dengan orang ini dimasa lalu, seharusnya dia terhitung seorang enghiong yang berjiwa Iurus ?"

Sun Tiong-Io tertawa hambar.

"Aku toh sudah bilang tadi, dia seorang yang mencurigakan saja !"

"Hooh.."

Soh hun ki berseru tertahan, tiba-tiba tanyanya lagi.

"anak muda, secara tiba-tiba saja kau berbuat kebaikan, apakah ada suatu perintah yang hendak kau bebankan kepadaku ?"

Sun Tiong lo menggeleng.

"Tidak ada, setelah perpisahan kita nanti terserah kau boleh pergi kemanapun kau ingin pergi !"

Soh hun ki, berpikir sebentar kemudian katanya lagi.

"Anak muda, terus terang saja kuberitahukan kepadamu, bila tenaga dalamku masih utuh, aku akan tinggal sekian waktu lagi disini untuk menunggu kedatangan Lok hun pay tersebut, aku tak akan segera pergi meninggalkan tempat ini."

"Cuma aku boleh memberitahukan kepadamu, dalam sepuluh hari mendatang, bila Lok hun-pay belum juga datang, maka aku akan berusaha keras untuk mencari Empek angkatmu itu serta menyelidiki gerak-geriknya secara diam-diam !"

Diam-diam Sun Tiong-Io tertawa geli sesudah mendengar perkataan itu, tapi diluaran katanya dengan cepat.

"Aku akan berterima kasih sekali kepadamu, cuma lebih baik kau bersikap lebih hati-hati, paling baik kalau kau menyaru orang lain."

Soh-hun-ki manggut-manggut.

"Kau tak usah kuatir, aku sudah tahu bagaimana aku harus bertindak untuk menghadapi hal hal seperti itu."

Sun Tiong lo pun mengangguk.

"Kalau begitu, kau boleh serahkan gelang besi panji besimu itu kepadaku sekarang."

Sambil tertawa getir Soh hun ki menyerahkan gelang berikut panji baja tersebut kepadanya.

"Mulai sekarang, Soh hun ki sudah mati dalam dunia persilatan, panji inipun tak akan dipergunakan lagi, lebih baik ambillah berikut panjinya sehingga bila perlu gelang tersebut bisa kau ambil untuk keperluanmu . , , ."

Dengan suatu pandangan berarti Sunz Tiong lo memandang sekejap wajah Soh hun ki, kemudian sambil tertawa dia menggulung panji tersebut dan diselipkan dipinggangnya, lalu dengan wajah bersungguh-sungguh katanya.

"SeteIah berpisah nanti, kau harus bersikap sangat hati hati, sepeninggal kami nanti, pintu utama dari bangunan ini akan terbuka, dinding sebelah luar sana sudah ambrol dan kau boleh turun dari loteng ini melewati tempat tersebut. Seusai berkata, Sun Tiong lo kembali menuju ke pintu ruangan dan menggetarkan pintu tersebut membikin kode, pintu segera terbuka dan dia pun menerobos masuk. Ternyata pintu itu tidak ditutup kembali, melainkan tetap terbuka agar Soh hun ki bisa kabur dari bangunan berloteng itu... Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, Soh hun ki baru mulai beranjak keluar dari ruangan batu itu, ketika menyaksikan dinding batu yang berhasil digugurkan Sun Tiong-lo, sepasang alis matanya segera berkenyit kencang. Ketika menyaksikan alat alat rahasia dengan roda bergigi yang kini terbentang lebar tanpa perlindungan, helaan napas sedih segera bergema, agaknya dia merasa amat sayang dengan benda yang telah dikerjakan dengan susah payah selama banyak tahun ini. Dia tidak segera menerobos keluar dari loteng itu, malahan segera melongok sekejap ke sekeliling tempat luar. Waktu itu suasana amat hening dan tak kedengaran sedikit suara pun, ketika yakin kalau Sun Tiong-lo sekalian telah berlalu dengan melewati pagar besi, maka dia mulai tertawa terbahak-bahak dengan amat senangnya. Dibalik gelak tertawanya itu, kembali timbul wajah keji, buas dan menyeringai seram yang menggidikkan hati. Menyusul kemudian, iapun bergumam seorang diri.

"Berbahaya, sungguh berbahaya, aku tak boleh mengampuni perempuan cabul itu!"

Siapakah "perempuan cabul"

Yang dimaksud kan?

Suatu teka teki yang sangat aneh.

Kakinya di depak-depakkan berulang kali di lantai, tampaknya ia seperti merasa amat gusar, tapi sebentar kemudian telah tertawa terbahak-bahak lagi.

Ditengah gelak tertawa itu, kembali dia bergumam seorang diri.

"Aku harus segera mencari akal, berusaha keras untuk mencari sebuah akal yang bagus, meski kali ini aku bisa lolos secara mujur, lain kali belum tentu akan semujur ini nasibku, sepasang panji besi itu..."

Bergumam sampai disitu, mendadak ia berhenti barbicara sambil manggut-manggut, ke mudian melanjutkan.

"Lebih baik loteng ini kupunahkan saja, kemudian pergi lebih dulu meninggalkan tempat ini."

Maka dia menerobos keluar dari lubang diatas dinding dan melayang keluar alam bebas, lalu dari pintu gerbang dibawah loteng sekali lagi dia masuk kedalam loteng batu itu dan secara mudah menemukan sumbu obat peledaknya, setelah menyulut sumbu tadi, diapun cepat-cepat berlalu meninggalkan tempat tersebut.

Tatkala suatu ledakan dahsyat menggelagar memecahkan keheningan dia, Soh hun ki telah berada setengah li jauhnya dari bangunan loteng tersebut, dia tak berhenti karena ledakan mana, melainkan melanjutkan terus perjalanan nya kedepan.

Tujuannya sekarang adalah reruntuhan ruang tengah kuil Tong thian koan.

Tatkala dia melangkah masuk ke balik reruntuhan bangunan itu, mendadak tergerak hatinya dan segera berhenti, kemudian dengan suatu gerakan cepat dia menyembunyikan diri dibalik reruntuhan tersebut.

Tak lama kemudian, He he koancu diikuti tiga orang tokoh muda anak muridnya telah muncul dari belakang bangunan tersebut keempat orang itu berjalan dengan sikap yang sangat berhati hati dan wajah amat serius, seringkali mereka berpaling memandang ke sekeliling tempat itu.

Sekulum senyuman menyeringai yang licik dan menyeramkan segera menghiasi wajah Soh hun ki, setelah berpikir sejenak, secara diam-diam ia lantas melakukan penguntilan.

Tempo hari ia sudah pernah tertipu, maka kali ini dia bertindak dengan lebih berhati-hati lagi.

Walaupun dia tahu kalau Sun Tiong-lo sekalian telah melakukan perjalanan secara terpisah dengan He he koancu, tapi untuk berhati-hatinya, dia lebih suka melakukan penguntilan secara diamdiam, daripada turun tangan secara gegabah.

Tapi sementara dia melakukan penguntilan terhadap He-he koancu sekalian berempat, dengan ilmu Kim kong ci yang lihay secara diam-diam dia pun telah meninggalkan kode rahasia diatas dinding kuil yang menyolok di pandang, entah apa kegunaan kode rahasia tersebut.

Waktu itu, He he koancu berempat sedang berada dalam perjalanan untuk kembali ke kuil Hian bian koan di kota Hun ho propinsi San Say, sedangkan Soh hun ki menguntit terus dari kejauhan sambil menunggu saat yang terbaik untuk turun tangan.

Pada malam hari kedua, Hehe koancu berempat menginap disebuah rumah penginapan, mereka mengambil di ruangan sebelah barat, Hehe koancu tinggal di kamar kelas utama, sedangkan ketiga orang muridnya beristirahat dalam kamar depan.

Kini Soh hun ki yakin kalau Sun Tiong lo sekalian sudah menempuh arah perjalanan yang berlawanan dengan perjalanan yang ditempuh oleh He he koancu, bahkan bisa jadi mereka terpisah sejauh puluhan atau ratusan li, tentu saja mereka tak akan munculkan diri secara tiba-tiba disitu.

Tapi, dia masih tetap bersikap sangat berhati-hati sekali, dicarinya kamar dirumah penginapan lain untuk beristirahat cuma setelah dia masuk kerumah penginapan tersebut dan mendapatkan kamar, kembali dia keluar rumah dan berputar-putar kian kemari.

Padahal pada saat inilah secara diam-diam dia sedang meninggalkan kode rahasia dengan ilmu Kimde kong ci di depan pintu gerbang rumah penginapan serta tempat-tempat strategis lainnya persis seperti apa yang ditinggalkan di atas reruntuhan dinding dari kuil Tong thian koan.

Kentongan kedua sudah menjelang tiba, api lentera dikota itu sudah dipadamkan, semua orang pun telah berangkat menuju ke alam impian.

Tapi diluar halaman kamar dimana Soh hun ki berdiam, kini sudah mulai kelihatan ada satu gerakan.

Secara beruntun muncul tiga sosok bayangan manusia yang serba putih meluncur turun ditengah halaman tersebut.

Mereka semua mengenakan kain cadar warna putih untuk menutupi wajahnya, salah seorang diantara mereka sedang maju mendekati pintu kamar pada waktu itu dan mengetuk pelan.

Menyusul kemudian pintu itu terbuka dan ia memberi tanda kepada dua orang manusia berbaju putih lainnya untuk ikut masuk pula ke dalam ruangan tersebut.

Waktu itu, Soh hun-ki yang berada dalam ruangan telah berganti wajah maupun dandanannya.

Tiga orang manusia berbaju putih itu segera membungkukkan badan dan memberi hormat kepada Soh hun-ki, kemudian pemimpin mereka berkata dengan lirih.

"Hamba telah mengikuti kode rahasia dari majikan untuk menyusul kemari tepat pada waktunya.

"Majikan??"

Rupanya Soh-hun-ki tak lain adalah Lok hun pay sendiri ...

Peristiwa ini benar-benar sangat aneh dan sama sekali diluar dugaan siapapun jua.

Seandainya Sun Tiong lo dan Hou-ji serta Bau-ji sekalian tahu bahwa Soh hun ki tidak lain adalah Lok hun pay, tak mungkin mereka akan melepaskan bajingan tersebut dari dalam lorong rahasia tersebut dengan begitu saja.

Seringkali kejadian yang berlangsung dalam dunia memang begitu kebetulan sehingga sukar bagi orang lain untuk menduga sebelumnya.

Sekarang, Soh hun ki sudah pulih kembali menjadi Lok hun pay.

terhadap ketiga orang manusia berbaju putih itu dia mengulapkan tangannya, lalu katanya lagi dengan suara dalam dan menyeramkan.

"Secara diam-diam kalian semua sudah pernah bertemu dengan He-he koancu, aku percaya kalian tak bakal salah melihat orang lagi, sekarang mereka guru dan murid berempat sedang berada dirumah penginapan Thian tiang kek can. Tapi kalian harus perhatikan baik-baik, jangan turun tangan didalam rumah penginapan tersebut, kalau bisa bekuk mereka kemudian diseret keluar kota dan habisi mereka disitu, setelah selesai mengerjakan tugasnya ini, kalian dipersilahkan boleh segera berangkat ke Gakz yang dan menjumpai aku di perahu loteng ditengah telaga !"

Tiga orang manusia berbaju putih itu mengiakan dengan hormat. Lok-hun-pay segera menuding kearah ruang samping kiri dibalik kegelapan sana, lalu kata nya lagi kepada pemimpin tersebut.

"Pakaian dari Son-hun-ki tersebut berada didalam sana, kau tahu bukan apa yang harus dikerjakan, Semoga kalian berhasil dengan sukses. jangan lupa, kita jumpa lagi di perahu loteng !"

Manusia berbaju putih yang menjadi pemimpin itu mengiakan dengan hormat.

Lok-hun pay segera mengulapkan tangannya dan berjalan keluar dari ruangan, sebaliknya manusia berbaju putih itu masuk kedalam ruangan tersebut, tak Iama kemudian dia sudah muncul kembali dengan Soh-hun-ki.

oooOdwOooo Cahaya lentera didalam kamar rumah penginapan Thian tiang telah dipadamkan sedari tadi.

Tiga buah kamar diruang depan ditempati ketiga orang murid He he koancu, mungkin pada saat itu mereka sudah terlelap dalam impian, siapapun tak menduga kalau bencana besar telah berada didepan mata.

He he koancu yang menempati kamar utama tampaknya belum tertidur karena pikirannya masih dibebani banyak persoalan meski sementara telah dipadamkan namun seorang diri ia masih duduk termenung disitu, entah apa saja yang dipikirkan.

Dia duduk disudut ruangan, suatu tempat yang sebetulnya sangat aneh tidak lazim orang duduk ditempat seperti ini.

Pembaringannya terletak didekat jendela belakang, sementara didekat jendela sebelah muka terdapat sebuah meja kecil.

Ia telah memindahkan kursi didepan meja itu ke sudut dinding diujung pembaringan dekat dinding ruangan, tempat itu merupakan tempat yang tergelap dari ruangan tersebut.

Tanpa cahaya lentera, kecuali pendatang tersebut sudah tahu sebelumnya dimanakah ia sedang duduk, bagaimana pun telitinya dia,tidak mungkin orang akan menyangka kalau ia bakal memilih tempat seperti itu untuk tempat duduknya.

Yang lebih aneh lagi ialah selimut diatas pembaringan ditata sedemikian rupa sehingga seolah-olah ada orang sedang tidur disana, dilihat dari semua persiapannya itu, bisa diduga kalau He he koancu telah menyadari akan datangnya ancaman bahaya maut yang setiap saat akan mengancam keselamatan jiwanya.

Seandainya memang begitu, bukankah lebih baik dia mengajak ketiga orang muridnya melarikan diri ditengah kegelapan begini, dari pada harus menanti maut dalam penginapan Thian-tiang ?

Oleh karena itu persiapan dari He he koan cu sekarang membuat orang selain heran dan tak habis mengerti.

Tak selang berapa saat kemudian, mendadak He-he koancu mengerutkan dahinya kencang-kencang.

Baca Juga: Darah Pendekar 1

Baca Juga: Pedang Penakluk Iblis 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert