Eps 7 Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung
Baca online Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung
Cersil Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung.
"Ooh, kedua orang teman tamu itu sudah sampai duluan disini, merekapun berdiam dibilik sebelah barat."
Setelah mendengar ucapan tersebut, mau tak mau manusia berbaju putih itu harus mempercayai juga. Ia tak menyangka bakal mengalami nasib sial, ibaratnya "perahu yang karam di pecomberan"
Rasa gemasnya benar-benar telah merasuk sampai ketulang sumsum.
Kalau hanya soal itu saja masih mendingan yang lebih runyam lagi adalah ia begitu yakin dengan kemampuannya, sehingga belum apa-apa dia telah mengirim kabar itu ketangan Lok hun pay melalui burung merpati, sekarang bagaimanakah pertanggungan jawabnya?
Sejelek-jeleknya menantu, akhirnya akan bersua juga dengan sang mertua, bagaimana pun runyamnya keadaan akhirnya harus diatasi juga, masih untung dia mempunyai tulang punggung, sehingga tidak akan sampai terjadi peristiwa yang akan menimbulkan kerugian besar baginya.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** SAMBIL menuding ke arah puncak tebing dikejauhan sana, Sun Tiong lo berkata.
"Mirip tidak adik Kim?"
"Yaa... mirip sekali, sungguh aneh sekali!"
Kata nona Kim sambil menghela napas. Sun Tiong lo tertawa.
"Apakah ingin naik keatas? Konon di atas tebing Kim pian gay terdapat dewanya."
"Seandainya benar benar ada dewanya, dan lagi bersedia membantumu apakah kau ingin naik kesitu?"
Tiba-tiba nona Kim bertanya. Tanpa berpikir panjang lagi Sun Tiong lo menggelengkan kepala.
"Tidak, aku tak ingin pergi!"
"Kenapa tak ingin pergi?"
Nona Kim tertawa manis.
"apakah tak pernah kau dengar, bila seorang bisa belajar ilmu gaib hingga tingkat ke sembilan, maka dia bisa naik ke langit?"
Sun Tiong lo segera tertawa tergelak.
"Haahh, .haaahh....haaahh..."
Ucapan itu hanya merupakan suatu sindiran terhadap orang yang kelewat kemaruk harta sehingga mementingkan diri sendiri, masa kau bisa menganggapnya serius?"
Nona Kim segera mengerling sekejap kearahnya, kemudian ujarnya lebih jauh.
"Aku tidak ambil peduli terhadap persoalan-persoalan semacam itu, aku cuma ingin bertanya kepadamu, mau ikut ke situ atau tidak?"
"Selama dendam sakit hati belum terbalas, apa gunanya bertapa menjadi dewa ?"
Kata Sun Tiong lo kemudian dengan wajah serius.
Nona Kim segera menundukkan kepalanya rendah-rendah, dia terbungkam dalam seribu bahasa.
Mereka yang terlibat akan keblinger, mereka yang menonton akan lebih jelas, tiba tiba Hou ji berkata.
"Nona aku berani menjamin bila Siau Liong berhasil menuntut balas, dan bila nona mengajukan lagi pertanyaan yang sama, maka jawaban yang diberikan olehnya pasti akan sangat mencocoki hati nona !"
Ucapan mana kontan saja membuat Sun Tiong lo menjadi memahami sesuatu, dengan cepat dia menundukkan kepalanya.
Semuanya berjumlah empat orang yang berada di situ, diantara mereka Houji paling jarang berbicara, tapi sekarang ada dua orang yang sedang termenung.
Houji merasa tanggung jawab mereka sangat berat, maka sesudah berhenti sejenak kembali sambungnya lebih jauh.
"Kalau ingin naik ke atas tebing Kimnian gay lebih baik baik besok pagi saja, sekarang hari sudah malam, udara diatas pegunungan amat dingin, berbicara sebenarnya, kita harus mencari tempat pemondokan lebih dulu, seusai bersantap barulah melanjutkan perjalanan lagi"
Walaupun nona Kim berjiwa sempit, tapi dia tahu tadi Sun Tiong lo masih belum memahami pertanyaannya dan tak bisa disalahkan.
Oleh karena itu, untuk memecahkan keheningan yang mencekam tempat itu, katanya kepada Houji sambil tertawa.
"Kalau engkou Hou mah yang diurusi melulu makanan, memangnya kau kuatir tak mendapat makanan ?"
"Omong cosong, kalau harimau berada di bukit terpencil mana dia pernah kuatir kekurangan makanan ?"
Seru Hou ji sambil menirukan gaya seekor harimau.
"Masa kau ingin makan orang ?"
Nona Kim tertawa. Houji segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh... haaahh... haaahh... haaah... sekarang andaikata hadir Lok hun pay di depan mata, masa kau hendak mencegah aku untuk melahapnya?"
Nona Kim segera tertawa cekikikan, Sun-Tiong lo ikut tersenyum, cuma Bau ji seorang yang tidak tertawa maupun bicara. Hou ji memandang sekejap wajah Bau ji lalu katanya.
"Toate, menurut pendapatku kita akan mencari tempat pemondokan dimana?"
Setelah ditanya, mau tak mau Bau ji harus menjawab.
"Lebih baik mencari toan atau kuil..."
"Jangan... jangan, lebih baik kita mencari rumah penduduk biasa saja,"seru Hou jie sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Bau ji berpaling dan memandang sekejap kearah Hou ji, tanyanya.
"Ada alasannya?"
Hou ji mengangguk.
"Tentu saja, kuil pendeta atau tokoan cuma dihuni kaum beragama saja, hidangan yang tersedia pun cuma sawi putih dan tahu, padahal kalau harimau naik gunung, dia enggan makan sayur-sayuran, masa sepanjang hidup aku mesti berpantang makanan berjiwa terus? Hayo berangkat."
Begitu mengatakan berangkat, dia segera berjalan lebih dahulu di paling depan. Bukit Cing shia, bagi Hou ji boleh dibilang merupakan jalanan yang sering kali dilewatinya dan hapal sekali."
Dulu, dia pernah mengikuti Ku Gwat cong berkunjung ke situ, bahkan kunjungan itu berlangsung berulang-ulang.
Di bawah tebing Kim pian gay terdapat beberapa rumah pemburu, diantara mereka hampir sebagian besar merupakan teman karib Ku Gwat cong, tentu saja dengan Hou ji pun boleh dibilang kenalan lama.
Setelah membeloki tikungan bukit, lembah Cui kok telah berada didepan mata, pemandangan alam disitu amat indah dan mempesonakan hati setiap orang yang memandangnya.
Di situ berdiri tiga-lima buah rumah gubuk.
diantaranya tumbuh pepohonan cui pak yang tinggi dan lebat, betul-betul suatu tempat tinggal yang menawan hati.
Ketika tiba didepan sebuah rumah yang berpagar bambu, Hou ji berhenti secara mendadak.
Kemudian kepada rekan-rekannya dia berkata.
"Majikan dari rumah ini she Si, sudah berapa generasi berdiam disini, menurut keterangan dari guruku si pengemis tua, banyak-banyak tahun berselang keluarga Si adalah suatu keluarga persilatan yang amat termasyur."
"Mungkin disuatu saat telah terjadi peristiwa hingga akhirnya mengundurkan diri dari keramaian dunia dan hidup mengasingkan diri diatas bukit ini, Tak usah kuatir, kujamin kalian bakal mendapat hidangan dan arak yang lezat, cuma kalau berbicara haraplah sedikit berhati-hati."
"Apa yang harus diperhatikan ?"
Tanya nona Kim cepat.
"Jangan membicarakan soal budi dan dendam didalam dunia persilatan."
Kata Hou-ji serius Nona Kim segera mengiakan.
sedangkan Sun Tiong lo serta Bau ji tidak mengatakan sepatah katapun.
Selamanya, Bau ji jarang berbicara, sedang Sun Tiong lo cukup mengetahui keadaan, karena itu Hou ji merasa amat berlega hati.
Maka diapun mendekati pagar bambu dan mengetuk pelan, dia seperti kuatir menganggu tuan rumah disitu.
Tak lama kemudian, muncul seorang kakek berambut putih yang muncul dan balik rumah pelan-pelan dia berjalan ke depan dan membukakan pintu pagar.
Houji segera menjura kearah kakek berambut putih itu sembari berkata.
"Aku datang dari rimba bambu merah, dulu pernah mengikuti guruku Ku..."
Belum habis dia berkata, kakek berambut putih itu sudah menuding ke ruangan dalam, kemudian membalikkan badan dan masuk kembali kedalam ruangan.
HOU-JI memandang sekejap ke arah Sun Tiong lo, kemudian.
"Begitu tuan rumahnya, begitu pula pelayannya, masa untuk mendehem saja seperti enggan."
Sun Tiong lo hanya tersenyum belaka, sedang kan Bau-ji sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apa apa.
Hanya nona Kim yang berkerut kening, dalam perjalanan perdananya dalam dunia persilatan, dia menjumpai banyak peristiwa yang dirasakan amat menarik hati, tapi banyak pula yang dianggapnya sebagai suatu peristiwa yang membingungkan hati.
Dalam pada itu Hou-ji telah berjalan masuk ke dalam ruangan rumah gubuk itu.
Sun Tiong lo segera membalikkan badan dan merapatkan kembali pintu pagar bambu.
Kali ini Hou ji tidak mengetuk pintu, dia mendorong pintu depan dan pintu itu segera terbuka.
Walaupun pintunya sudah terbuka, namun didalam ruangan tidak nampak sesosok bayangan manusia pun.
Hou ji berhenti diatas undak-undakan batu, kemudian serunya kearah dalam ruangan.
"Apakah Si loya-cu berada di dalam ?"
Tiada orang yang menyahut.
Hou-ji segera memperkeras suaranya dan berteriak sekali lagi.
Namun, belum juga kedengaran suara jawaban.
Hou-ji berpikir sebentar, kemudian dia pun berjalan masuk ke dalam ruangan.
Baru masuk kedalam ruangan, mendadak ia seperti mengendus suatu bau khas yang sangat aneh, bau tersebut seperti amat tak sedap.
Biasanya kaum wanita memang berdaya pencium lebih tajam, begitu melangkah ke dalam ruangan, nona Kim segera menutupi hidung dan mulutnya dengan sapu tangan, keningnya segera berkerut dan wajahnya menunjukkan perasaan muak.
Bau-ji masih saja berdiri dengan wajah sedingin es, dia membungkam dan tak mengucap kan sepatah katapun.
Sun Tiong lo segera berkerut kening, dia maju ke ruangan sebelah kiri dan menyingkap horden yang menutupi pintu itu.
Begitu horden disingkap, bau busuk yang berhembus keluar kembali serasa menusuk hidung.
Tapi ruangan itu kosong melompong tak nampak sesosok bayangan manusia pun.
Hou ji segera berlarian menuju ke ruangan sebelah kanan, ternyata di dalam ruangan sebelah kanan pun tak nampak sesosok bayangan manusia pun, Hou ji segera mencoba untuk menghirup udara, ternyata bau busuk itu paling ringan dari sebelah kanan.
Dengan cepat Sun Tiong lo berbisik kepada Hou ji.
"Cepat pergi ke belakang untuk melakukan pemeriksaan berhatihatilah..."
Hou ji mengangguk, dia segera berjalan ke luar dari ruangan menuju ke belakang, sambil berjalan diam-diam hawa murninya dihimpun untuk bersiap siaga menjaga segala kemungkinan yang tak di inginkan.
Aneh, ternyata dihalaman belakang pun tak nampak sesosok bayangan manusiapun.
"Aaah, ada yang kurang bores!"
Demikian ia berpikir setelah memandang sekejap suasana dihalaman belakang.
Orang yang lain tak usah dibicarakan, yang pasti kakek berambut putih itu baru saja menuju kehalaman belakang padahal dihalaman belakang sana selain dapur tidak nampak bangunan rumah yang lain, kemana perginya si kakek berambut putih itu?
Sementara itu Sun Tiong lo dan nona Kim serta Bau ji telah menuju kehalaman belakang sana menyaksikan kejadian itu, dia merasa tak habis mengerti sehingga untuk sesaat agak tertegun.
Nona Kim memeriksa sebentar sekitar tempat itu, kemudian sambil menuding bangunan dapur dihalaman belakang katanya.
"Coba kita periksa keadaan didalam sana!"
Hou ji mengangguk dengan langkah lebar ia berjalan menuju kearah dapur.
Sun Tiong lo sekalian segera mengikuti dari belakangnya.
Di dalam dapur pun tidak nampak sesosok bayangan manusia pun, tetapi kukusan di atas tungku mungepulkan hawa panas, sekilas pandangan di ketahui kalau dalam kukusan itu sedang menanak atau memasak suatu makanan.
Sambil menggelengkan kepalanya Hou ji segera berkata kepada Sun Tiong lo.
"Mungkin Si Lo ya cu tidak berada dirumah sedangkan si kakek berambut putih itu hanya kebetulan saja memasuki ruangan, lalu ada urusan dan keluar lewat pintu depan, cuma kita tak sempat melihatnya saja.
"Mustahil"
Kata Sun Tiong lo dengan wajah serius.
"depan pintu sudah aku tutup, tak akan mungkin ada orang yang keluar!"
"Oooh... lantas kakek tua itu..."
"Sewaktu enghou Hou dan suhu datang kemarin pernahkah kau melihat kakek itu?"
Kembali Sun Tiong lo menukas. Hou ji segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Belum pernah ku jumpai."
"Kalau begitu, pasti ada persoalan yang tak beres dibalik peristiwa ini"
Dengan cepat Sun Tiong lo berseru.
Sementara pembicaraan berlangsung, Sun Tiong lo telah berjalan kesisi kukusan tersebut dan membuka penutupnya.
Bau ji hanya berdiri diluar dapur tak masuk, Nona Kim berdiri disamping Sun Tiong lo, tapi begitu penutup kukusan itu terbuka, kebetulan penutup itu menutupi pandangan mata Nona Kim.
Sebab itu si nona segera bertanya.
"Apakah ada makanan yang enak?"
Sambil berkata gadis itu siap mengintip kedalam kukusan. Siapa tahu dengan cepat Sun Tiong lo telah menutup kembali penutup kukusan itu sambil berseru.
"Aaaah....isinya bukan makanan yang enak!"
Hou ji kebetulan berdiri disamping tunggul sewaktu Sun Tiong lo membuka penutup kukusan tersebut, ia dapat melihat dengan jelas isi kukusan itu, paras mukanya kontan berubah hebat, seperti tersambar geledek disiang hari bolong, paras mukanya kontan saia berubah hebat.
Nona Kim menjadi curiga setelah melihat hal itu, mendadak dia menyambar penutup ku kusan tersebut dan menyingkapnya.
Sun Tiong lo menjadi kaget, sewaktu hendak menghalangi perbuatan itu, sayang keadaan ter lambat, dia segera tahu keadaan bakal runyam.
Betul juga...
nona Kim segera menjerit lengking, penutup kukusan tersebut segera di buang ke atas tanah.
Sementara paras mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat, kemudian roboh tak sadarkan diri ke atas tanah.
Untung saja Sun Tiong lo berdiri disampingnya, buru-baru dia menyambar tubuh gadis itu dan membopongnya keluar dari dalam dapur.
Teriakan aneh itu kontan saja membuat Bau ji yang selama ini jarang berbicara turut masuk ke dalam dapur dan melongok ke dalam kukusan itu, apa yang kemudian terlihat kontan membuat paras mukanya berubah hebat.
Sementara itu, Sun Tiong lo telah membangunkan nona Kim memayangnya untuk duduk diatas sebuah kursi, wajahnya amat serius dan keren, kepada Hou ji dia bertanya.
"Apakah tuan rumah?"
Setelah menutup kembali kukusan tersebut, Hou ji ikut Sun Tiong lo melangkah keluar dari ruangan dapur, ketika mendengar perkataan itu segera sahutnya.
"Dia adalah tuan rumah dari rumah ini!"
Sambil menggeretakan gigi Sun Tiong lo segera berkata.
"Engkoh Hou dan toako melindungi adik Kim aku akan pergi untuk melihat keadaan!"
"Aku juga ikut!"
Kata Bau ji dengan kening berkerut.
"Jangan"
Cegah Sun Tiong lo sambil menghaIangi jalan perginya.
"biasanya menyerang persilatan yang membunuh orang dengan cara yang keji semacam ini adalah manusia-manusia dari golongan sesat yang tak bisa diampuni lagi dosanya, siaute harap toako dan engkoh Hou bisa bersatu, jangan berpisah-pisah untuk menghindari segala perubahan yang tidak diinginkan"
Bau ji tak membantah, pun tidak mengucap kan sepatah katapun,sementara itu Hou ji telah berkata lagi.
"Kau tidak kenal dengan tuan rumah tempat ini, seandainya.."
Belum habis dia berkata, Sun Tionglo telah menukas dengan cepat.
"Berbicara menurut kenyataan, tuan rumah tempat ini hanya bakal berakibat dua macam, satu sudah melarikan diri dan musuh sedang mengejar dengan ketat, kedua adalah sudah di sekap dan dipaksa untuk berbicara."
"Dari mana kau bisa tahu?"
Tukas Hou ji.
"Bila antara pihak lawan dengan tuan rumah tempat ini tidak menurut dendam yang kelewat dalam atau ingin mencari semacam barang? atau mengetahui suatu persoalan, tak mungkin dia bisa mempergunakan cara yang begini keji untuk menyiksa putra dari tuan rumah!"
Hou ji berpikir sebentar, lalu berkara.
"Perkataanmu memang benar juga, tapi urusan dalam dunia persilatan..."
Untuk kedua kalinya Sun Tiong lo menukas.
"Yang dimaksudkan sebagai dua kemungkinan kalau dibicarakan sesungguhnya hanya satu, yaitu tuan rumah tempat ini mungkin sudah mendapatkan peringatan atau kabar berita, sehingga saat ini dia sudah berada disuatu tempat yang aman!"
Bau ji memandang saudaranya sekejap, ke mudian ikut berkata.
"Benar!"
Setelah berhenti sejak, sambungnya lebih jauh.
"Tapi kau tidak kenal paras muka tuan rumah yang sebenarnya, hal ini...."
Sun Tiong lo segera lersenyum.
rToako, putra tuan rumah telah terbunuh, diapun mati dalam keadaan yang begini menge naskan, bila dia tak tahu, saat inipun tak akan muncul, bila tahu, tapi belum juga munculkan diri untuk membalas dendam, mungkin sekali pun kau pergunakan cara apapun jangan harap bisa memancingnya keluar..."
"Benar"
Seru Hou ji sambil bertepuk tangan "kalau begitu pergilah tapi harus segera kembali kemari."
Sun Tiong lo mengiakan, dia membalikkan badan dan berlalu dari situ...
"Tunggu sebentar, kita pergi bersama-sama saja!"
Tiba tiba Nona Kim menukas. Sun Tiong lo segera berkerut kening.
"Adik Kim, kau baru saja dibikin terkejut"
"Yaa... kejadian itu memang kelewat mendadak dan sama sekali diluar dugaan"
Kata Nona Kim setelah mengerling sekejap ke arah si anak muda itu.
"Tapi sekarang, adik Kim sudah tidak ketakuan lagi bukan?"
Kata sang pemuda tertawa. Nona Kim menundukkan kepalanya.
"Kalau dibiarkan tinggal disini, aku malah merasa semakin tidak tenang.."
"Betul, tempat ini memang suatu tempat yang baik"
Timbrung Hou ji pula.
"sudah sepantasnya kita mencari tempat yang lain"
Sun Tiong lo segera tersenyum.
"Engkoh Hou, apakah kau masih ingin makan daging?"
Cepat Hou ji menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Setelah melihat makhluk dalam sangkar, selanjutnya aku malah tidak tertarik untuk makan daging!"
"Baiklah"
Ucap Sun Tiong lo setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu.
"mari kita mencari tempat yang lain saja, aku enggan mencampuri begitu banyak pcrsoalan!"
Nona Kim dan Houji menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu,"
Mereka memandang ke arah Sun Tiong lo sambil bersiap-siap membuka suara.
Buru buru Sun Tiong lo memberi tanda kepada mereka, dua orang itu mengerti maksudnya dan tidak berbicara lagi.
Bau ji seperti lagi memikirkan sesuatu, dia tidak bertanya, juga tidak memperdulikan perkataan dari Sun Tiong lo.
Begitulah, ke empat orang itu segera berangkat meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat pemondokan lain.
Sekeliling keluarga Si tidak nampak rumah penduduk lain, mereka harus berjalan setengah tombak jauhnya sebelum menjumpai tetangga terdekat, mereka berempat pun segera berjalan mendekati.
Hou ji maju kedepan dan mengetuk piutu, dari dalam kedengaran orang menyahut.
Rumah orang itu tidak terbuat dari gubuk dengan pagar bambu, melainkan dinding batu dan rumah kayu.
Begitu pintu dibuka, seorang lelaki kekar segera menampakkan diri dari balik ruangan.
Lelaki itu hidup sebagai seorang pemburu, dan nampaknya memang cocok sekali dengan perawakan tubuhnya.
Hou ji segera menjura kepada lelaki kekar itu, kemudian ujarnya.
"Kami berempat begitu kesemsem dengan pemandangan alam dibukit Cing shia sehingga lupa membawa rangsum dan air, kini kami sudah tersesat di tengah bukit Cing shia, mau maju tak bisa, mau mundurpun tak dapat..."
"Kalian hendak mencari tempat pondokan?"
Lelaki itu menukas langsung. Hou ji segera tertawa.
"Benar, benar, bilamana mungkin kami memang berharap untuk mencari tempat pondokan"
Tiba-tiba lelaki kekar itu menarik muka sambil berseru.
"Maaf..."
Begitu selesai berkata...
"Blammm!"
Dia menutup kembali pintu rumahnya rapat-rapat.
Hou ji menjadi amat tertegun, diapun merasa amat mendongkol sebetulnya dia bermaksud untuk mengetuk pintu lagi.
Sun Tiong lo yang berada disampingnya segera menghibur.
"Sudah, sudahlah, kebanyakan rakyat disekitar tempat ini memang kekurangan makanan, untuk mengisi perut sendiri saja sudah sukar, apalagi menjamu orang lain, engkoh Hou coba kau lihat, dikejauhan sana nampak ada dinding merah, bukankah tempat itu lebih cocok untuk pemondokan?"
Sembari berkata, dia lantas memberi tanda kepada Hou ji. Hou ji mengerti maksudnya, tapi dia berlagak sangat mendongkol kembali omelnya.
"Huuh... kita toh minta secara baik-baik, bersedia atau tidak terserah dia, tapi caranya tidak begitu kasar seperti memandang hina orang saja.... moga moga suatu hari diapun mengalami nasib yang sama seperti apa yang kualami sekarang ini!"
Selesai berkata mereka lantas meninggalkan rumah itu dan berangkat menuju kedinding merah yang nampak dikejauhan tersebut.
Setelah mereka pergi jauh, pintu gerbang rumah itu dibuka untuk kedua kalinya.
Ada sepasang mata yang mengintip keluar dan mengawasi bayang punggung orang-orang itu sampai lama kemudian ia baru menutup kembali pintu rumahnya.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** "BAGAlMANA, semuanya telah beres?"
"Tak usah kuatir loya cu, tak bakal salah!"
Orang yang bertanya adalah sikakek tua berambut putih yang pernah munculkan diri di gedung rumah milik keluarga si tadi.
Sedangkan yang menjawab adalah lelaki kekar yang menutup piatu sambil mengucapkan kata Maaf tadi, tempatnya tak lain adalah rumah kayu berdinding batu itu.
Kakek berambut putih itu sudah tidak menunjukkan gerak gerik ketuaannya lagi, diantara kerdipan matanya tampak cahaya tajam memancarkan keluar, sedangkan lelaki kekar itu pun bukan seorang pemburu, gerak-geriknya enteng dan cekatan, jelas memiliki kepandaian silat yang luar biasa.
Kakek itu berdiri luar pintu rumah sambil memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian ujarnya.
"Aku selalu beranggapan kalau keempat orang ini sangat mencurigakan sekali"
Waktu itu, lelaki kekar tadi sedang mendorong pintu berjalan keluar, segera sahutnya.
"Loya cu, mengapa kau mesti banyak curiga, bocah keparat yang bernama engkoh Hou bukankah pernah bilang datang dari Ci tiok lim? Padahal hutan bambu merah adalah..."
"Hutan bambu merah adalah markas besarnya kaum pengemis, masa aku tidak tahu?"
Tukas sikakek. Lelaki kekar itu kembali tertawa.
"Betul, orang itu seharusnya memiliki sedikit kepandaian silat!"
Katanya kemudian.
"Hmm, kentut busuk, pernahkah kau menyaksikan ada anggota Kay pang yang berbadan seperti itu?"
Agak tertegun lelaki kekar itu, lalu sahutnya.
"Hmm, betul .. memang tidak mirip!"
"Apalagi kecuali Ban tieng gan, dari perkumpulau lain tak pernah ada pengemis perempuan, apalagi keempat muda mudi itu gagah dan perkasa, mereka amat mencurigakan sekali, benar-benar amat mencurigakan sekali!"
Kata kakek berambut putih itu lagi. Lelaki kekar tadi berpikir sebentar, kemudian lebih lanjut.
"Tapi perempuan itu jatuh semaput setelah menyaksikan batok kepala yang dikukus tadi."
"Hm, itu kan karena kejadiannya diluar dugaan"
Dengus si kakek.
"bagaimana coba bila kau yang menghadapi kejadian itu?"
Si lelaki kekar itu tidak berbicara lagi, ia hanya melirik sekejap kearah kakek tersebut. Sungguh lihay tenaga dalam yang dimiliki kakek berambut putih itu, kembali dia mendengus dingin.
"Hmm, tak usah melirik kepadaku lagi, cepat pergi menyambut orang...!"
Lelaki kekar iiu mengiakan.
"Tapi Loya cu... sekarang masih pagi...."
"Aaah... kau tahu apa?"
Tukas si kakek sambit membentak.
"kalau aku menyuruh kau pergi, lebih baik pergi saja dengan cepat, kalau sampai terlambat dan orang sudah datang lebih duluan, bisa berabe jadinya, cepat pergi dan pulang sebelum kentongan ketiga, aku harus berganti dandanan lagi !"
"Baik"
Lelaki kekar itn tertawa cekikikan.
"sebelum tengah malam, tanggung aku dan ji-siok sudah pulang kemari !"
"Ehmm, bawa serta garpu pemburu itu, buli-buli arak dan sepanjang jalan jangan menunjukkan sikap yang berlebihan, bila berjumpa dengan orang yang mencurigakan, jangan lupa kalau kau adalah seorang pemburu, tanggung kau bisa mengelabuhi dia untuk sementara."
Kembali lelaki kekar itu mengiakan, dia segera kembali ke dalam kamar dan sewaktu ke luar benar benar membawa garpu pemburu dan buli-buli arak, kemudian sambil membuka pintu dan melangkah pergi, dia membawakan lagu gunung dengan lantang.
Dengan cepat kakek berambut putih itu menutup pintu kamarnya lagi dan masuk kedalam sementara itu kentongan pertama sudah tiba, langit sangat gelap, sampai lama kemudian kakek berambut putih itu baru memasang lampu penerangan.
Waktu itu, Sun Tiong lo sekalian tidak mencari tempat pemondokan di dalam kuil tersebut.
Mereka hanya berpesiar dalam kuil itu kemudian berangkat meninggalkan tempat itu.
Ketika kentongan pertama tiba, mereka sudah sampai kembali dirumahnya keluarga Si dengan berjalan memutar.
Tindakan tersebut pada hakekatnya sama sekali diluar dugaan siapa saja...
Nona Kim telah berganti dengan pakaian ringkas dan menggembol pedang, ia tak dapat melupakan kejadian yang dialaminya dalam dapur siang harinya tadi, oleh karena itu dia selalu menghindari dapur dengan memilih berjaga di halaman depan.
Bau ji dan Hou ji berada dihalaman belakang, satu disudut sebelah kiri, yang lain dibalik dinding sebelah kanan.
Sun Tiong lo duduk seorang diri di ruangan tengah, menutup pintu dan menunggu orang datang.
Kentongan kedua sudah lewat, suasana di empat penjuru sekeliling tempat itu masih sepi.
Menjelang kentongan ketiga, suasaaa masih tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.
Sewaktu berunding tentang tugas mereka pada malam ini, kecuali Sun Tiong lo yang bersikeras mengatakan kalau malam nanti pasti ada orang datang, tiga orang lainnya tidak setuju dengan cara penantian semacam ini."
Tapi Sun Tiong lo memiliki alasan yang cukup kuat, diapun mempunyai alasan untuk menyelidiki persoalan itu sampai jelas sehingga tidak menyia-nyiakan perjalanan mereka kali ini, karenanya mereka pun akhirnya datang juga kesitu.
Nona Kim yang bersembunyi disudut dinding halaman muka sudah tidak sabar lagi menanti, baru dia akan bergerak, mendadak dari sisi telinganya berkumandang suara bisikan dari Sun Tiong lo yang disampaikan dengan ilmu menyampaikan suara.
"Ada orang datang, adik Kim, cepat ke belakang dan beri kabar kepada toako!"
Nona Kim tidak berpikir panjang lagi, diam-diam ia menyelinap ke belakang halaman.
Padahal, Sun Tiong lo bisa memberi kabar kepada nona Kim, sudah barang tentu diapun dapat memberi kabar kepada Hau-ji dan Bau ji, mengapa pula dia mesti menyuruh nona Kim pergi kebelakang?
Alasannya dia tak ingin nona Kim menghadapi musuh paling dulu.
Baru saja nona Kim menyampaikan kabar ke belakang, tiga sosok bayangan manusia telah melompat masuk ke halaman tengah.
Salah seorang diantaranya melompat naik ke atas atap rumah dan memeriksa sekeliling tempat itu.
Sayang sekali tindakannya kelewat lambat, waktu itu nona Kim, Hou-jt dan Bau ji telah menyembunyikan diri disuatu sudut tempat kegelapan, gerombolan hitam tidak mirip manusia, bukan bunga pun tidak mirip semak belukar.
Oleh sebab itu setelah memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, orang tadi melayang turun kembali ke halaman tengah dan bergabung dengan dua orang lainnya.
Tiga orang itu tidak menuju ke halaman belakang, juge tidak masuk kedalam ruangan, mereka hanya duduk-duduk di undak-undakan batu di halaman depan, suatu kejadian yang aneh sekali.
Setelah duduk, salah seorang diantaranya baru berkata.
"Yu toako, menurut dugaanmu apakah Si lo ji bakal pulang pada malam ini ?"
Yu toako termenung sebentar, kemudian mengangguk.
"Ehm, tak salah lagi Chin jite, konon hidup di rumahnya Him loji cukup bahagia."
"Oh, nampaknya Him loji pun turut datang"
Yu toako segera tertawa terkekeh-kekeh.
"Tentu saja, tanpa Him loji, apakah Si loji dapat menemukan pembunuh sebenarnya dimasa lalu !"
"Ooh, kalau begitu, anjing cilik dari keluarga Si sudah kau bereskan hidupnya ?"
Seru Chin jite terkekeh-kekeh. Yu toako pun tertawa terkekeh kekeh juga.
"Siapa suruh mereka mencari kematian buat diri sendiri, kalau bukan lantaran dia, mana mungkin Si loji bisa tahu kalau Him loji tinggaI di bukit Go bi ? iapun mustahil akan pergi mencari Him loji untuk melihat surat lama tersebut !"
"Apakah toako tidak berhasil merampas surat itu ?"
"Hm, hampir semua bilik dan ruangan ini telah kubongkar, namun tidak kutemukan bayangannya!"
Seru Yu toako gemas.
"Sepantasnya kau siksa anjing cilik dari keluarga Si itu agar mengaku !"
Bisik Chin jite.
"Hah. binatang cilik ini jauh lebih atos tulangnya daripada si tua bangka itu sendiri."
Chin jite tidak berbicara lagi, sebab waktu itu orang yang lain telah berkata.
"Ji siok, kau tidak tahu, benda kecil itu luar biasa sekali, Toa nian dan Ji nian telah mampus semua ditangannya, Siau Chin cu pun membawa luka, itulah sebabnya loya cu menjadi naik pitam sehingga..."
Belum habis dia berkata, mendadak Yu toako berbisik lirih.
"Ssar, jangan keras-keras ada orang datang, mari kita segera mengundurkan diri ke dalam ruangan."
Sambil berkata ketiga sosok bayangan hitam itu sudah mengundurkan diri ke dalam ruangan, Sewaktu masuk mereka hanya berpikir untuk cepat-cepat menutup pintu, lalu mengintip lewat celah celah pintu dan jendela, mereka sama sekali tidak melihat akan Sun Tiong lo yang duduk di kursi besar ditengah ruangan tersebut.
Saat itulah terdengar angin berhembus lewat dihadapan depan telah bertambah dengan dua sosok bayangan manusia.
Mereka adalah dua orang kakek yang semuanya mengenakan jubah panjang.
Salah seorang diantaranya terdengar berkata.
"Hiante, pandai amat kau mencari tempat yang begini baik, bukit Cing shia memang jauh lebih indah daripada bukit Gobi!"
Tak usah dibilang lagi, kakek yang disebut sebagai hiante itu adalah tuan rumah tempat itu Si Bong-im. Sambil tertawa Si Bong-im menjawab.
"Aah, rumah gubuk pagar bambu, mana bisa dibandingkan dengan rumah gedung yang di tempati toako ?"
Sang toako, Him Bun jui adalah seorang jagoan lihay yang amat termasyur namanya dalam dunia persilaian dimasa lalu. Sambil tertawa kepada Si Bong-im, katanya waktu itu.
"lh-heng sudah terbiasa dimanjakan oleh anak cucuku, tidak seperti hiante yang hidup senang ditempat yang terpencil seperti ini."
Si Bong im tertawa.
"Toako harap tunggu sebentar, biar siaute memasang lampu lebih dulu sebelum masuk."
"Hiante, bukankah kau pernah bilang jika Phu ji ada di rumah ?"
Kata Hioa Bun hui sambil mengulapkan tangannya.
"Ah, bocah cilik tidak biasa hidup di bukit, mungkin saja dia sedang turun gunung."
"Ooh... kalau tak ada orang yang menjaga rumah, masa dia akan tega meninggalkan rumah dengan begitu saja ?"
Si Bong im segera tertawa.
"Kebaikan dari orang yang berdiam di bukit adalah disini tiada pencoleng dan perampok, sekalipun rumah ditinggalkan kosong juga tak menjadi soal."
"Oooh, kalau begitu mari bersama-sama masuk kedalam ruangan."
Kata Him Buo hui.
Dalam pada itu, tiga orang yang bersembunyi didalam ruangan telah mengeluarkan sesuatu benda secara diam-diam.
Seorang berjalan kearah pintu, sedangkan dua orang lainnya berdiri disisi kanan dan kiri pintu.
Benda yang berada ditangan mereka ditujukan kearah pintu ruangan, tampaknya asal pintu tersebut dibuka orang, maka mereka akan turun tangan bersama-sama untuk membunuh Si Bong im dan Him Bun hui.
Dalam pada itu, dua orang kakek yang berada diluar ruangan telah menaiki anak tangga sambil berbincang-bincang...
Mendadak dari dalam ruangan bergema suara bentakan nyaring.
"Saudara berdua, harap cepat mundur!"
Begiru bentakan tersebut diutarakan, dua orang kakek yang ada diluar, saking kagetnya mereka sampai bergetar keras.
Tiba-tiba Chin Jite membalikan badannya sambil mengayunkan benda yang berada dalam genggamannya itu ke arah orang yang memberi peringatan.
Tentu saja orang yang memberi peringatan itu adalah Sun Tiong Io...
Benda yang berada ditangan Chin Ji itu teramat bahaya.
"Klik!"
Diiringi suara nyaring menyemburlah segulung air kearah depan.
Waktu itu, bukan saja Sun Tiong lo sudah memperhitungkan jalan mundurnya secara tepat, bahkan diapun ada maksud uituk mempergunakan senjata lawan untuk melukai musuhnya itu.
Maka sewaktu air tadi menyembur keluar, Sun Tiong lo segera mendengus dingin, kemudian mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
Berbicara soal tenaga dalam, kemampuan yang dimiliki orang ini memang luar biasa sekali.
Mendadak pancuran air itu membalik ke belakang dan senjata makan tuan, mengenaskan sekali keadaan dan Chin ji-te.
Bukan cuma Chin ji, termasuk juga pemuda yang berada ditengah ruanganpun turut tersemprot air tersebut.
Terdengar kedua orang itu menjerit lengking seperti babi yang disembelih, sepasang tangan mereka memegangi wajah dan tubuh masing-masing sambil berlarian keluar ruangan, kemudian roboh tergeletak di atas tanah.
Yu lotoa cukup licik, menggunakan kesempatan itu dia menyelinap kesamping dan menyembunyikan diri ke tempat kegelapan disebelah kiri ruangan...
Baru saja dia hendak menyingkap tirai untuk kabur ke dalam, Sun Tionglo telah meng ayunkan jari tangannya menotok jalan darahnya, lalu setelah menyandarkan tubuh Yu lotoa disisi pintu, pelan pelan dia melangkah keluar dari ruangan.
Sementara itu Hou ji, Bau ji dan nona Kim juga sudah memburu kedalam ruangan setelah mendengar suara kegaduhan disana.
Hou ji kenal dengan Si Bong im juga kenal dengan Hou ji, dalam beberapa patah kata saja semua persoalan telah dibuat jelas.
Setelah menyulut lampu dan memeriksa akan orang yang terluka di halaman tengah, nona Kim baru menjerit kaget.
Di halaman tengah sudah tak ada orangnya lagi, yang masih tersisa cuma separuh badan bagian bawah dari kedua orang itu.
Semua orang melangkah masuk kedalam ruangan dan menyulut lampu, pertam-atama Sun Tiong lo merampas tabung hitam sepanjang berapa depa itu dari tangan Yu lotoa lalu secara berhati-hati sekali meletakkannya di tempat kejauhan.
Setelah itu dia baru mambalikkan badan Yu Iotoa sehingga semua orang dapat melihat jelas paras mukanya.
Sun Tiong lo manggut-manggut, ternyata dugaannya tak salah, Yu lotoa memang si kakek berambut putih yang pernah dijumpai di rumah keluarga Si kemarin, kemudian setelah membukakan pintu lenyap tak berbekas.
Rupanya orang ini selain kenal dengan Him Sun bui dan Si Bong im, bahkan merekapun bersahabat karib.
Si Bong im memandang sekejap ke arah Him Sun hui, kemudian katanya.
"Aaaah, dia... dia adalah..."
"Hiante, tak usah dilihat lagi"
Kata Him Bun hui seperti memahami akan sesuatu.
"kalau begitu surat palsu yang kita terima tahun dulu adalah hasil perbuatannya, tak heran kalau ia pergi tanpa pamit sewaktu tinggal dibukit Go bi tempo hari!"
Si Bong-im menghela napas panjang.
"Aaaai... toako, sewaktu kita bertiga masih berkelana didalam dunia persilatan, setiap orang menghormati kita sebagai Sam gi (tiga setia kawan), mimpipun tak disangka, losam... dia... dia..."
Him Bun-hui memandang sekejap ke arah Sun Tiong lo, lalu kepada Si Bong im katanya.
"Hiante, persoalan lain dibicarakan nanti saja, malam ini, seandainya tak ada dua orang sahabat muda ini, mungkin kita berdua sudah tewas pada saat ini."
Merah padam selembar wajah Si Bong im setelah mendengar perkataan itu, buru-buru dia menjura kepada Sun Tiong lo sambil berkata.
"Lohu sudah berusia lanjut, kali ini harus menerima budi pertolongan pula darimu, aku kuatir budi kebaikan ini..."
Dengan amat hormat Sun Tiong lo menjura. kemudian tukasnya.
"Boanpwe bertindak demikian bukan dikarenakan cianpwe, aku hanya berbuat apa yang harus kuperbuat saja!"
Dengan hormat Si Bong im mempersilahkan ke empat orang tamunya untuk masuk, setelah duduk dia berkata lagi.
"Sauhiap berilmu silat sangat lihay, dapat kah kau bebaskan jalan darah Yu Wi sau agar kami bisa mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya?"
Sun Tionglo tertawa, dia segera menyentilkan jari tangannya membebaskan jalan darah Yu Wi-san yang tertotok, katanya kemudian.
"Orang ini licik dan berhati buas, kini boanpwe telah membebaskan jalan darah bisunya, bila ada persoalan boleh kau ajukan, tapi untuk menjaga agar ia tidak berbuat licik, lebih baik kita jangan membiarkan dia sembarangan bergerak dulu"
Si Bong-im dan Him Bun hui saling berpandangan sekejap, wajahnya menunjukkan rasa kaget bercampur tercengang. Menyusul kemudian. Si Bong im berkata kepada Yu Wi san.
"Lo sam, apa yang hendak kau ucapkan sekarang?"
Ketika Yu Wi san mendengar Si Bong im masih memanggilnya sebagai Losam, ia nampak agak tertegun, tapi setelah mendengar jelas kalau apa yang di dengar tak keliru, dia menghela napas panjang dan memejamkan matanya rapat-rapat.
Him Bun hui yang berada disampingnya segera membentak dengan penuh kegusaran.
"Yu Wi-san, kesetiaan kawan kita bertiga dimasa lampau sempat membuat orang cemburu, siapa yang tidak kagum dan siapa yang tidak iri dengan kita ? Tapi kau... aai. sebetulnya aku dan jite telah melakukan perbuatan apa yang menyalahi dirimu sehingga kau turun tangan sekeji itu kepada kami ?"
Yu Wi-san tak dapat bergerak, namun mulut hidung dan matanya masih bisa digunakan dengan leluasa, tapi nampaknya dia merasa amat menyesal, sehingga apa yang dilakukan hanya memejamkan matanya belaka tanpa membantah atau bersuara.
Si Bong im turut menghela napas panjang.
"Losam,"
Katanya pula.
"walaupun kau bersikap demikian terhadap diriku dan Him toako, namun aku masih tetap mengingat hubungan persahabatan kita dimasa Ialu, aku bersedia melepaskan kau pergi dari sini, cuma..."
Belum habis dia berkata, nona Kim telah menukas.
"Tidak bisa, orang ini harus mati !"
Begitu ucapan tersebut diutarakan, Him Bun hui dan Si Bong ini menjadi tertegun. Si Bong im memandangi sekejap ke arah nona Kim, lalu tanyanya sambil tersenyum.
"Nona, apakah sam hiante ku ini telah berbuat kesalahan kepada nona?"
Cepat nona Kim menggeleng.
"Tidak, pada hakekatnya aku tidak kenal dengan orang ini."
"Kalau begitu lohu ingin memohonkan ampun baginya."
Siapa tahu belum habis ia berkata, sekali lagi nona Kim menggelengkan kepalanya berulang kali, tukasnya. -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***
Jilid 27
"TIDAK BISA, DIA HARUS MATI !"
Makin lama Si Bong-im dan Him Bun bui dibikin kebingungan sampai berdiri bodoh, belum sempat berbicara, nona Kim sudah menyambung lebih jauh.
"Si tayhiap, coba kau periksalah sendiri ke dapur.,."
"Adik Kim, tutup mulut!"
Buru buru Sun Tiohg lo berseru.
Nona Kim segera menghentikan pembicaraannya yang belum selesai, tapi perasaan uring-uringan masih membekas diatas wajahnya.
Si Bong im dan Him Bun hui adalah dua orang manusia berpengalaman, mereka segera berpandangan sekejap, lalu beranjak menuju ke ruangan belakang...
Terpaksa Sun Tiong lo harus merentangkan tangannya untuk menghalang kepergian mereka, serunya.
"Cianpwe berdua, harap berhenti dulu!"
Mendengar ucapan itu, Him Bun bui dan Si Bong im sama-sama menghentikan langkahnya sambil menengok ke arah Sun Tiong lo. Sun Tiong lo segera menghembuskan napas panjang, kepada Si Bong im katanya.
"Boanpwe belum pernah bertemu dengan putramu, tapi Hou suheng kenal dengan putramu itu."
"Betul"
Tukas Si Bong im sambil manggut-manggut.
"hou hiap memang pernah mengikuti Ku ciangbunjin datang kemari, dia memang kenal dengan putraku..."
Berbicara sampai disitu mendadak ia berhenti seperti menyadari akan sesuatu dia melirik sekejap kearah Hou ji, kemudian ujarnya lagi.
"Jangan-jangan putraku sudah tertimpa musibah?"
Saat itu Him Bun hui juga menyadari akan kemungkinan tersebut, tanpa terasa dia melotot ke wajah Yu Wi san dengan penuh kegusaran. Sun Tiong lo tak dapat tidak menjawab, terpaksa katanya.
"Berkat petunjuk dari Hou hong boanpwe..."
Ketika Him Bun bui melihat Sun Tiong lo sukar berbicara, kemudian dilihatnya Hou ji yang hendak berbicara selalu mengurungkan niatnya, ia sadar apa yang telah terjadi.
Dengan cepat dihampirinya Yu Wi san, kemudian bentaknya keras-keras.
"Yu losam, katakan saja dengan sepatah kata, bagaimana dengan putra lo ji?"
Yu Wi san memandang sekejap kearah Him Bnn hui dan Si Bong im, lalu sahutnya setelah menghela nafas rendah.
"Siaute tahu salah!"
Dari ucapan mana dapat disimpulkan Si Phu benar benar telah tewas ditangannya.
Paras muka Si Bong im berubah sangat hebat, tubuhnya mundur dengan sempoyongan hampir saja dia roboh keatas tanah.
Buru-buru Hou ji membimbing bangun Si Bong im dan mendudukkannya diatas kursi, sedangkan Him Bun hui merasa agak marah sekali, dia tak tahan dan segera mengayunkan tangannya memerseni Yu Wi san dengan sebuah tempelengan...
Melihat itu Si Bong im menggelengkan kepalanya berulang kali dan memberi tanda kepada Him Bun bui agar jangan turun tangan lagi.
Kemudian sambil tertawa getir dia menengok ke arah Yu Wi san, lama kemudian, dengan air mata bercucuran ia berkata.
"Losam, mengapa kau berbuat demikian ? Mengapa? "
"Selain itu, mengapa pula kau menulis surat palsu dimasa silam sehingga merusak kebahagiaan hidup Si jite, dimana selain tidak dimaklumi oleh rekan-rekannya, dia pun terdesak untuk menyepi di bukit Cing shia, katakanlah mengapa?"
Sambung Him Bun hui. Yu Wi sen menangis tersedu-sedu, katanya.
"Siaute tahu salah, siaute tahu salah, sekali melangkah akibatnya menyesal sepanjang masa, waktu itu aku tak boleh menganggap Tin kun mencintaiku sehingga aku menulis surat palsu itu, sekarang gara-gara ingin merampas kembali surat palsu itu, akupun telah salah membunuh keponakan Phu, aku... aku tahu salah"
"Losam, tahukah kau bahwa Phu ji bukan anak kandungku?"
Kata Si Bong im dengan sedih.
"dia adalah darah daging Tin kun, kau... kau kau memang pantas mati!"
Betapa terkejutnya Yu Wi san sesudah mendengar perkataan itu, segera teriaknya.
"Apa? Kau bilang apa?"
"Si Phu bukan putra kandungku, dia adalah darah daging Tin kun, ketika Tin kun sedang sakit dan tak sadarkan diri, ia telah diperkosa orang, akibatnya lahirlah bocah itu. Seandainya bukan lantaran peristiwa yang memedihkan hati itu, dengan sepucuk surat palsumu, jangan harap Tin kun dapat pergi tanpa pamit justru karena aku seorang yang mengetahui persoalannya, maka dia meninggalkan surat memohon kepadaku untuk baik baik merawat Phu ji, kini..."
Belum habis dia berkata, tiba-tiba Yu Wi san menjerit sedih, kemudian serunya sambil meraung keras.
"Ooob Thian! Ooh Thian! Kau terlalu berat menjatuhkan hukumun kepadaku, terlampau berat! Aku... aku.... aku telah membunuh putraku dengan tanganku sendiri, aku..."
Dl tengah isak tangisnya yang meraung meraung itu, mendadak ia berseru kepada Sun-Tiong lo.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
Dari pembicaraan yang berlangsung barusan Sun Tiong lo sudah dapat menduga garis besar duduknya persoalan, dia lantas turun tangan membebaskan Yu Wi san dari pengaruh totok.
Yu Wi sau tidak berkata apa-apa lagi, dia pun tidak berjalan lewat pintu, melainkan menumbukkan seluruh badannya kedinding belakang.
"Blaaamm!"
Diiringi suara keras, dinding belakang kena ditumbuk oleh Yu Wi san sehingga muncul sebuah lubang besar.
Yu Wi san langsung menerjang kedalam dapur, Si Bong im dan Him Ban hui yang sebenarnya ingin turut menengok kebelakang kena dihadang oleh Sun Tiong lo, kata pemuda itu dengan wajah serius.
"Saudara berdua, biarkanlah dia pergi!"
Dengan air mata bercucuran Si Bong im berkata.
"Walaupun Phu ji bukan dilahirkan olehku tapi..."
"Cianpwe. dapatkah kau menahan rasa sedihmu sambil menantikan perkembangan selanjutnya?"
Tukas Sun Tiong lo.
Si Bong im tidak berbicara, dia hanya menghentikan langkahnya.
Dalam pada itu, Yu Wi san telah mengambil batok kepala manusia tadi dari dalam kukusan dan sambil sebentar tertawa, sebentar menangis, tanpa menggubris orang lain lagi, dia lari keluar dan melesat kedepan dengan kecepatan luar biasa.
Him Bun hui dan Si Bong im berniat untuk mengejar, tapi segera dihadang kembali oleh Sun Tiong lo dan Hou ji.
Setelah semua orang masuk kembali kedalam ruangan dan saling memberi hormat lagi, baru duduk persoalan itu dibicarakan.
Seperti apa yang diduga Sun Tiong lo.
ketiga orang sahabat karib itu mempunyai seorang teman perempuan yang bernama Tin kun, kala itu sigadis pun merupakan seorang perempuan yang amat tenar.
Sebetulnya Tin kun mencintai Si Bong im, namun tanpa sepengetahuan gadis itu, secara diam-diam Yu Wi san pun jatuh hati padanya.
Suatu hari, Tin kun jatuh sakit, waktu itu Him Bun hui dan si Bong im tidak mendampinginya, Yu Wi san yang mendapat tahu kejadian tersebut segera memanfaatkan kesempatan tersebut dengan mencampuri obat yang hendak diberikan kepada gadis itu dengan obat perangsang.
Dalam keadaan tak sadar, Tin kun telah digagahi secara brutal oleh Yu wi san.
Setelah sembuh dari sakit, Tin kun masih tetap melakukan perjalanan dalam dunia persilatan ia sama sekali tidak menyadari jika kesuciannya telah digagahi orang, pertama karena setelah kejadian ia tidak merasakan perubahan apa-apa, kedua dalam sakitnya dia pun tak sampai menduga ke situ...
Ditambah pula meski waktu itu kaum wanita yang berkelana dalam dunia persilatan terhitung amat bebas, namun masalah kehormatan seorang gadis tetap merupakan rahasia pribadi, karena itu walaupun pada bulan selanjutnya ia merasakan perubahan pada dirinya, si nona manis belum menyadari duduknya persoalan.
Yu wi san sendiri meski berbuat agak keji didalam tindakannya, padahal diapun berbuat demikian karena perasaan cintanya yang kelewat mendalam, dia berharap nasi bisa dibikin jadi bubur lebih dulu, kemudian karena terlanjur si nona bersedia kawin dengannya.
Siapa tahu Tin kun tidak menyadari akan musibah yang menimpa dirinya, sedangkan Yu wi san pun tak berani mengakui perbuatannya sesudah kejadian, maka hal itu pun menjadi sebuah teka-teki besar.
Tiga bulan setelah musibah yang menimpa Tin kun, Si Bong im berhasil menemukan perubahan dalam tubuh gadis itu.
Si Bong im yang amat menaruh hati terhadap gadis pujaannya ini, tentu saja merasa bersedih hati setelah kejadian tersebut, namun ia sama sekali tidak mempunyai niat memandang rendah gadis tersebut, malah dengan suatu kata rahasia dia memberi kisikan kepada Tin bahwasannya dia telah kejangkitan penyakit aneh.
Si Bong im memang tak tahu kejadian yang sebenarnya, dia mengira Tin kun mempunyai kesulitan sendiri yang malu dikatakan, menanti penyakitnya di periksa tabib dan mendapat tahu jika dia sedang berbadan dua, gadis itu baru malu bercampur sedih.
Tin kun segera bertekad hendak menghabisi nyawa sendiri untuk membuktikau kebersihan sendiri, sampai detik itulah Si Bong im baru tahu kalau Tin kun benar-benar tidak mengetahui akan kejadian tersebut, meninjau dari hal ini dia lantas berkesimpulan kalau gadis itu telah dinodai orang sewaktu jatuh sakit dulu.
Tapi nasi telah menjadi bubur, apalagi Si Bong im sudah amat mencintai gadis itu, karena kuatir ia bunuh diri, maka dengan tulus hati dia meminang kepadanya untuk menjadi isterinya.
Tin kun amat terharu oleh kebenaran cinta orang, akhirnya pinangan tersebut diterima.
Setelah berunding, akhirnya mereka minta ke pada Him Bun-hui untuk menikahkan mereka berdua.
Dalam keadaan demikian, sebetulnya Yu Wi san ingin menjelaskan yang sebenarnya, sayang ia tidak menemukan kesempatan baik, hingga rasa sedih itu cuma disimpan dalam hati.
Waktu itu, Yu Wi-san pun belum tahu kalau Tin kun telah berbadan dua, dia telah menyesal Si Bong im telah merampas cintanya.
Sesudah perkawinan sepasang suami isteri ini tidur berpisah karena waktu itu kandungan Tin kun telah mencapai usia lima bulan, mereka berencana setelah melahirkan nanti, mereka baru hidup sebagai suami isteri yang sebenarnya.
Empat bulan kemudian, Tin kun melahirkan seorang putera yang dinamakan Phu, dan sejak itu pula suami isteri berdua biiru tidur seranjang.
Yu Wi san amat mendendam atas kejadian tersebut, untuk merusak kehidupan berkeluarga rekannya, dia lantas mencatut nama Si Bong im dan meniru tulisan rekannya itu untuk membuat surat palsu, kemudian menggunakan kesempatan dikala Si Bong im sedang bepergian, dia masukkan surat itu kedalam kantong senjata rahasia Tin kun dengan harapan bila surat mana ditemukan, maka Tin kun akan pergi dengan marah.
Siapa tahu setelah kawin, Tin kun be nar benar hidup sebagai seorang isteri yang baik, ia sudah membuang jauh-jauh ingatan untuk berkelana sehingga kantong senjata rahasianya tak pernah dijamah.
Peristiwa ini membuat Yu Wi-san amat gelisah.
Malam itu Si Bong-im pulang dengan aman keluarganya tetap hidup dengan damai.
Sampai keesokan harinya, ketika Tin-kun menjemur pakaiannya, dia baru menemukan surat tersebut, selesai membaca surat mana, pada sorenya Tin kun pun meninggalkan surat dan minggat meninggalkan suami dan putranya.
Sejak itu Tin kun lenyap dari dunia persilatan, meskipun Si Bong im telah berkelana kemana-mana untuk mencarinya namun tidak berhasil menemukan jejaknya, dalam keadaan putus asa, akhirnya dia pun menetap di bukit Cing shia.
Untung saja ada Phu ji yang menemaninya sehingga meski hidup di bukit namun mereka bisa hidup dengan penuh kedamaian.
Ketika Phu ji dewasa, ia mulai belajar silat kebetulan Him Bunhui pun berhasil mendapatkan alamat mereka dan berkunjung kesitu, dalam pengembaraan mana dapat diketahui kalau Yu Wi san sedang bertemu di Go Bi-san ketika tahun itu Si Bong-im mengundurkan diri dari keramaian dunia.
Dari pembicaraan itu juga Him Bun bui mendapat tahu semua peristiwa yang telah menimpa rekannya.
Ketika surat palsu itu diperlihatkan Si Bong im kepada rekannya, Him Bunhui segera mengenali tulisan itu sebagai tulisan Yu Wisan, sebab dahulu mereka berdua sering berhubungan surat.
Tatkala Yu Wi san mendengar kalau rahasia kebrutalannya konangan, ia menjadi panik secara diam-diam ia lantas menghubungi kawanan jagoan lihay dari golongan hitam untuk melakukan pembantaian terhadap si Phu.
Siapa tahu orang yang dibunuhnya ternyata adalah putra kandungnya sendiri.
Sekarang, walaupun persoalan telah jelas, namun Si Bong im merasa amat sedih.
Sejak isterinya Tin kun hilang, dia tak pernah kawin lagi, kini dalam usia tuanya harus kehilangan putranya pula, bisa dibayangkan betapa sepi dan sedihnya dia.
Betul bukit Cing-shia sangat indah, namun tempat itu penuh kenangan duka, Him Ban-bui harus membujuk setengah memaksa untuk mengajak rekannya ini menetap di bukit Go-bi untuk sementara.
Begitulah, keesokan harinya merekapun berangkat meninggalkan bukit Cing shia.
Sun Tiong lo serta Bau ji, Hou ji dan nona Kim pada dasarnya memang bukan berniat pesiar, apalagi setelah peristiwa tersebut, mereka semakin tak bernapsu lagi untuk berpesiar, maka mereka pun merundingkan rencana selanjutnya.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** KETIKA nona Kim sudah kembali kekamar untuk beristirahat, Sun Tiong lo, Hou ji dan Bau ji kembali memanggil pelayan agar menyediakan sayur dan arak baru, kemudian diruang depan mereka rundingkan persoalan tersebut.
Mereka sudah balik kembali ke kota Seng-tok, tinggal dirumah penginapan paling besar dikota itu dan memborong seluruh halaman belakang yang terdiri dari dua ruangan dengan lima kamar.
Ketika sayur dan arak dihidangkan hampir semuanya merupakan hidangan lezat yang ternama.
Setelah pelayan mengundurkan diri, Sun Tiong lo yang banyak urusan duduk termenung seorang diri, Bau ji pun sedang mumikirkan persoalan sendiri.
Hou ji yang memandang sikap mereka segera berseru!
"Cukup, cukup, jangan berpikir yang bukan bukan lagi, mari kita rundingkan bersama hen dak kemanakah kita pergi"
"Ada satu hal, sudah lama sekali kusimpan didalam hati,"
Kata Sun Tiong lo dengan kening berkerut.
"Persoalan apa?"
Hou ji menukas. Dengan kening tetap berkerut Sun Tiong lo berkata.
"Masih ingat kitab kecil yang dihadiahkan suhu kepada kita sebelum kita berpisah dulu?"
"Tentu saja masih ingat"
Sun Tiong lo memandang sekejap kearah kakaknya, kemudian katanya lebih lanjut.
"Suhu pernah berkata"
Engkoh Hou, kau berasal dari keluarga Sun!"
Hou ji menggut-manggut.
"Betul, tapi sebelum aku berhasil menemukan suatu bukti yang nyata, aku lebih suka dipanggil Hou ji"
Sun Tiong lo menghela napas panjang.
"Aaaaai... dalam kitab kecil itu pertama-tama dicantumkan kata yang berbunyi. Bila ingin mengetahui asal usul, harus melewati Bukit pemakan manusia lebih dulu, akhirnya kita menuruti kitab tersebut dan sudah memasuki Bukit pemakan manusia!"
"Namun kita gagal untuk mengetahui semua duduk persoalan yang sebenarnya..."
Sambung Hou ji sambil menunduk. Cepat Sun Tiong lo menggeleng.
"Tak bisa dikatakan begitu, paling tidak kita sudah mempunyai sebuah gambaran kini..."
"Gambaran? Gambaran apa?"
"Asal-usul Mou Tin hong yang sesungguhnya !"
"Hmm, sembilan puluh persen keparat tua itu adalah pemilik lencana Lok hun pay!"
Sela Bau ji sambil mendengus. Suu Tiong lo memandang sekejap ke arah Bau ji lalu katanya.
"Mana buktinya? Di dalam persoalan semacam ini, kita di tuntut untuk menemukan bukti nya."
Sekali lagi Bau ji mendengus, tapi ia tidak berbicara apa-apa. Sun Tiong lo memandang sekejap lagi ke-arah Bau ji, lalu baru ujarnya kepada Hou ji.
"Menurut catatan di dalam kitab tersebut, setelah meninggalkan Buktt pemakan manusia seharusnya kita menyebrangi sungai air merah tetapi sekarang..."
"Aku belum lupa."
Tukas Hou ji.
"Cuma dimanakah letaknya sungai Ang sui hoo tersebut?"
"Ucapanmu memang betuI"
Sun Tiong lo manggut-manggut.
"sepanjang perjalanan, aku telah memperhatikan tempat sekeliling sini dengan seksama, tapi belum pernah ada orang yang mendengar nama Ang sui hoo tersebut, setiap sungai atau telaga yang kita seberangi, tiada yg cocok namanya dengan nama tersebut"
Seperti lagi menggumam Hou ji berkata lirih.
"perkampungan keluarga Mo sih sudah ditemukan letaknya di bawah kaki bukit Wu-san. tapi perkampungan itu sudah berubah menjadi puing-puing yang berserakan, jangankan manusia, setanpun tak kelihatan satupun, apalagi manusia yang bernama Mo-kiau jiu!"
Sun Tiong lo menghembuskan nafas panjang.
"Aaaai, tampaknya Sun nio....."
Belum habis dia berkata, Bau ji yang berada di sisinya telah menimbrung secara tiba-tiba.
"Apakah tempat yang dinamakan Ang sui hoo mesti sebuah sungai?"
Sun Tiong lo menjadi tertegun sesudah mendengar perkataan itu, Hou ji turut termangu. Menyusul kemudian Sun Tiong lo seperti menyadari akan sesuatu, dia lantas berkata lagi.
"Betul, ucapan toako memang tepat sekali, selama ini kita selalu menganggap Ang Sui hoo sebagai sebuah sungai, tidak heran kalau kita gagal menemukan tempat tersebut meski telah dicari kesana kemari."
Walaupun Hou ji menganggap perkataan itu benar juga, tapi sepanjang perjalanan, bukan cuma tiada sungai yang bernama demikian, sekalipun tempat seperti itu pun belum pernah didengar.
Maka dia menggelengkan kepalanya, dan berkata.
"Mungkin saja nama tersebut adalah nama sebuah tempat, tetapi..."
"Aku mengerti dengan maksud hati engkoh Hou."
Tukas Sun Tiong lo.
"cuma sepanjang perjalanan kemari, kita pun tak pernah mendengar nama tempat yang mempergunakan nama Ang Sui hoo, padahal kita telah salah jalan..."
"Salah jalan? Aku rasa tidak!"
Hou ji seperti tidak mengerti. Sun Tiong lo tertawa.
"Sejak meninggalkan bukit Pemakan manusia kita sudah salah jalan, kalau ditinjau dari tulisan "kemudian menyeberangi Ang-sui hoo"
Yang dicantumkan dalam halaman ke dua kitab tersebut, dapat ditarik kesimpulan kalau jarak Ang sui hoo dengan Bukit pemakan manusia sebetulnya tidak terlampau jauh..?
Tiba-tiba Hou ji seperti berhasil menemukan penyakit dibalik ucapan tersebut, sambil mengulapkan tangannya dia berseru.
"Tunggu sebentar, menurut catatan dalam kitab tersebut, Ang sui hoo yang dicantumkan sudah pasti adalah sebuah sungai!"
"Darimana kau bisa tahu?"
Hou ji tidak merasa puas.
"Bukankah dalam kitab tersebut tercantum jelas kata yang berbunyi demikian.
"Kemudian menyeberangi Ang sui hoo?"
Kalau toh dipergunakan kata "menyeberangi"
Dus berarti tempat itu adalah sebuah sungai, ini menurut pandanganku"
Bau ji tidak melanjutkan kata katanya, sedangkan Sun Tiong lo juga tak dapat membantah perkataan dari Hou ji tersebut. Maka Hou ji pun berkata lebih lanjut.
"Apa yang dikatakan Siau liong juga masuk diakal, setelah kami meninggalkan Bukit pemakan manusia, yang kita perhatikan waktu itu hanya berusaha melindungi keselamatan Beng lo cengcu sambil secara diam-diam memancing kemunculan Lencana Lok hun pay, tak heran kalau kita salah jalan.Justru karena salah jalan, maka kita tak melewati sungai Ang sui ho tersebut pasti tak jauh letaknya dari Bukit pemakan manusia!"
"Kalau begitu kita harus balik lagi?"
Tanya Bau ji dengan suara dingin dan hambar. Sun Tiong lo termenung dan berpikir sebentar kemudian sahutnya.
"Tidak perlu, bagaimanapun juga kita toh sudah mengadakan janji satu tahun dengan Moo Tin hong untuk kembali sekali tiap tahun, sekarang kita laksanakan tempat lain dahulu, yakni berkunjung ke bukit Go bi san!"
Setelah keputusan diambil, merekapun kembali ke kamar sendiri untuk beristirahat -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** DALAM sebuah rumah penduduk, selisih satu jalan dari rumah penginapan yang didiami Sun Tiong lo sekalian, ditengah malam buta tersebut telah kedatangan seorang tamu tak di kenal.
Orang itu berbaju putih berkerudung putih, dia tak lain adalah manusia berbaju putih yang kena ditipu oleh Gui Sam tong.
Dia tidak mengetuk pintu, melainkan langsung melayang masuk ke dalam...
Begitu sepasang kakinya menginjak tanah, empat bilah pedang segera mengancam berapa inci diatas tubuhnya dan muka belakang kiri dan kanan, ancaman tersebut berasal dari empat manusia berbaju putih, dandanan maupun pakaian yang dipakai persis seperti apa yang dikenakan.
Ia tidak buka suara, tapi pelan-pelan melepaskan pedang yang digembolnya dan diletakkan ke atas lantai.
Pada saat itulah dari dalam ruangan terdengar seseorang menegur dengan suara lantang.
"Siapa di situ ?"
"Hamba, Gin ih lak yu ( enam sobat berbaju perak)!"
Jawab orang itu dengan hormat. Suara orang dalam ruangan itu agak emosi.
"Masuk, sisanya segera mengundurkan diri."
Empat manusia berbaju putih berkerudung putih yang berada disitu segera menarik kembali pedang mereka, lalu setelah saling berjabatan tangan mereka baru membubarkan diri.
Dia pun membungkukkan badannya sambil memungut pedang, lalu dengan langkah lebar menaiki anak tangga.
Diatas tangga, diluar ruang tengah, dia menggantungkan pedangnya, kemudian pelan pelan melangkah masuk ke dalam.
Tempat itu merupakan sebuah ruangan yang amat istimewa, dilihat dari luar, tempat itu sepantasnya merupakan sebuah rumah yang terdiri dari dua ruangan, tapi setelah masuk baru ditemukan sebuah ruangan yang sangat besar.
Ruang besar sebetulnya merupakan suatu yang biasa, mengapa bisa dibilang istimewa ?
Setelah mendorong pintu ruangan dan meski dia sudah masuk ke dalam ruangan, tapi boleh dibilang ia masih berada diluar ruangan tersebut.
Kiranya dibalik pintu ruangan itu masih terdapat lagi pintu ruangan ke dua...
Oleh karena itu ruangan yang dari luar nampaknya kecil, sesungguhnya merupakan sebuah ruangan gedung yang besar, jadllah suatu "gedung didalam gedung"
Yang sangat istimewa.
Sesudah melewati pintu pertama, belum lagi dua langkah, dia harus memasuki lagi pintu kedua.
Diantara dua buah pintu tersebut, terbentang sebuah serambi panjang didalam ruangan.
Berhubung serambi tersebut mempunyai dua jendela dan satu pintu sebagai sumber datang nya sinar, maka suasana disitu terang benderang, akan tetapi ruangan tengah yang sesungguhnya justeru tertutup rapat sekali, tanpa daun jendela tanpa pintu.
Disamping itu, pintu pada lapisan keduapun tampaknya bukan terbuat dari bahan kayu.
Waktu itu si manusia berkerudung putih tadi sedang berdiri ditengah serambi didalam ruangan tersebut.
Baru saja dia berdiri tegak, pintu pertama di belakang tubuhnya telah menutup sendiri secara otomatis berbareng itu juga pintu lapis an kedua membuka dengan sendirinya kesam ping hingga muncul sebuah liang pintu.
Dengan kepala tertunduk Manusia berkerudung putih itu berjalan masuk ke dalam.
"Kraaakk . .. !"
Begitu dia melangkah masuk, pintu yang berada di belakangnya kembali merapat dengan sendirinya.
Sampai sekarang, Manusia berkerudung putih itu belum mendongakkan kepalanya atau menggerakkan tubuhnya, dari sini bisa disimpulkan selain setia dan tunduk seratus persen terhadap majikannya, dia pun menaruh perasaan takut.
Ia tak berani mendongakkan kepalanya, tentu saja tak tahu pula segala sesuatu didalam ruangan tersebut, termasuk dekorasi, bentuk serta manusia-manusia siapa saja yang hadir di situ.
Dalam keheningan itulah, terdengar seseorang berseru dengan suara rendah dan berat.
"Tentunya kau belum menerima surat pemberitahuan lohu lewat burung merpati bukan?"
"Hamba tak becus, kena ditipu mentah-mentah oleh penghianat karena itu hamba tak menerima surat lewat burung merpati."
Sahut Manusia berkerundung putih itu dengan hormat.
"Angkat kepalamu!"
Suara rendah dan berat itu memerintahkan.
Manusia berkerudung putih itu menerima perintah dan mengangkat kepalanya, sekarang dia sudah dapat melihat sekeliling tempat itu dengan amat jelas.
Ternyata ruangan tengah yang begitu lebar berada dalam keadaan kosong melompong, boleh dibilang tiada perabot apapun yang berada disitu.
Hanya pada bagian dekat dinding sana, terdapat sebuah meja baca yang sangat antik.
Di atas meja, disudut kanan terletak se
Jilid kitab kuno, sedangkan di sebelah kiri terletak alat menulis.
Di tengah ruangan duduk seseorang, orang itu duduk diatas sebuah kasur lunak dan memakai baju berwarna keemasan.
Tentu saja orang itu adalah Manusia berkerudung berbaju emas, hanya tidak nampak paras mukanya.
Selain itu, disana tiada tempat duduk yang lain, juga tidak nampak orang lain.
Dalam ruangan tersebut, kecuali pintu otomatis yang dilewati manusia berkerudung putih sewaktu masuk tadi, pada hakekatnya tidak terdapat pintu lain, juga tidak kelihatan jendela.
Manusia berkerudung putih itu menengadah atau tidak menengadah sesungguhnya tak jauh berbeda.
Sebab dia mengenakan kain kerudung muka, bahkan kain kerudung itu terbuat dari bahan kaos yang dirajut dari atas kepala sampai leher dan atas dada, pada hakekatnya mulut dan hidung orang itu sama sekali tidak terlihat.
Manusia berbaju emas itu menyuruhnya mendongakkan kepala, mungkin hal ini merupakan suatu kebiasaan belaka tanpa diembeli maksud-maksud lainnya, sedang ia menuruti perintah dengan mendongakkan kepalapun, hal ini merupakan suatu kebiasaan juga Ketika manusia berkerudung berbaju emas itu menyuruhnya mendongakkan kepalanya tadi, seperti ada suatu persoalan dia mengiakan tapi justeru karena mendengar suara mana, ia malahan merasakan hatinya jadi tenang sekali Menyusul kemudian, manusia berbaju emas itu berkata dengan suara dingin.
"Padahal setelah lohu menerima surat pemberitahuanmu tempo hari, akupun tidak mengirim surat apa-apa lagi kepadamu, tentu saja kaupun tak akan menerima surat pemberitahuan apa-apa lagi."
"Di kolong langit jarang sekali kujumpai manusia bodoh seperti kau, orang lain tidak mengerti hal mana masuk diakal, tapi kau sebagai salah seorang dari Gin ih lak yu (enam sahabat berbaju perak), masa kebiasaan lohu seperti inipun tidak kau pahami ?"
Manusia berkerudung putih itu menundukkan kepalanya rendahrendah.
"Hamba mempunyai suatu keluhan"
Katanya.
"Oh, kau pun mempunyai keluhan ?"
Kata manusia berkerudung berbaju emas itu sambil tertawa dingin.
"bagus sekali, cepat katakan !"
"Lencana emas kepala naga Liong-tau kim-pay leng merupakan Kim leng yang paling berkuasa milik majikan, walaupun hamba merasa agak keheranan mengapa lencana yang paling tinggi itu bisa diserahkan kepada utusan berbaju emas untuk melakukan perintah, namun hamba tak berani membangkang peraturan apalagi mengajukan pertanyaan.
"Cuma, hambapun telah melakukan persiapan yang aman, bahkan menulis surat lewat burung merpati untuk menceritakan hal ikhwal yang sebenarnya, selain itu akupun melakukan penguntilan sepanjang jalan terhadap jejak lawan, hamba hanya memohon majikan menyampaikan petunjuk."
"Apakah kau menyalahkan lohu tidak menurunkan perintah, sehingga kau mengalami kegagalan tersebut ?"
"Hamba tidak berani"
Manusia berkerudung putih itu menjawab dengan sikap menghormat "tapi yang pasti pihak lawan telah memiliki lencana Liong tau kim leng, hamba bisa berbuat apa lagi ?"
Manusia berkerudung emas itu termenung dan berpikir sebentar kemudian bentaknya .
"Sudah kau periksa lencana Liong tau kim leng tersebut ?"
Berbicara dari kedudukan manusia berkerudung putih itu, tentu saja dia tak berani memeriksa lencana naga Liong tau kim leng tersebut dari tangan Gui Sam-tong, namun untuk mempertahankan kehidupannya, terpaksa dia harus berbohong.
"Hamba tak berani memeriksa lencana naga tersebut, tapi menggunakan kesempatan dikala lawan mengangkat tinggi tinggi lencana naga itu, hamba dapat memperhatikannya dengan jelas sekali, dan hampa jumpai lencana naga Liong tau kim pay tersebut adalah lencana yang asli, lencana sesungguhnya !"
Manusia berkerudung emas itu mendengus gusar.
"Hm, lencana Liong leng semuanya hanya berjumlah tiga buah, ambil dan perhatikan baik-baik !"
Seraya berkata, manusia berkerudung emas itu menggetarkan lengan kanannya.
"Traaang, traaacg, traaang !"
Diiringi suara nyaring, tiga buah lencana emas tahu-tahu sudah tergeletak tak jauh dimana manusia berkerudung putih itu berdiri.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Mula pertama manusia berkerudung putih itu mundur setengah langkah lebih dulu dengan sikap hormat dari hadapan lencana emas tersebut, kemudian baru maju dan membungkukkan badan untuk mencabut keluar lencana emas itu lalu per satu, semuanya diperiksa dengan seksama.
Setelah diamati sekian lama, ia baru maju kedepan dengan hormat, lalu meletakkan ketiga buah lencana emas tadi keatas meja, kemudian sesudah mundur beberapa langkah katanya.
"Hamba telah memeriksanya."
"Sekarang, tentunya kau sudah mengerti bukan?"
"Hamba tidak berani berbohong, lencana emas yang dibawa manusia utusan berbaju emas persis seperti ketiga buah lencana emas kepala naga milik majikan, termasuk pula gambaran dan ukir-ukirannya, tak sedikitpun yang berbeda."
"Apa kau bilang? Coba ulangi sekali lagi!"
Teriak manusia berkerudung emas itu sambil melompat bangun.
"Lencana emas yang diperlihatkan lawan kepada hamba, persis seperti lencana milik majikan."
"Kau bilang termasuk ukiran dan besar kecilnya?"
Bentak Manusia berkerudung emas itu keras-keras.
"Benar, hamba memang berkata demikian."
"Tak bakal salah ?"
Bentak Manusia berkerudung emas itu sambil menatapnya lekat-lekat.
"Yaa, tak bakal salah!"
Kembali manusia berkerudung putih itu menegaskan dengan suara datar. Manusia berkerudung emas itu segera mendengus.
"Hmmm, dari sembilan orang penggantiku, hanya tiga orang yang telah berhianat kepada lohu, mereka adalah Wongpengci, Gui Sam tong dan Cu San poo ! "Sekarang lohu telah memperoleh kabar yang mengatakan bahwa ilmu silat yang mereka miliki telah punah, mereka tak ubahnya seperti manusia biasa, apalagi dicocokan dengan waktu yang kau cantumkan dalam surat kilatmu, sesungguhnya ketika itu kepandaian silat mereka telah punah tak berbekas."
"Dengan kepandaian serta ketajaman mata mu sekarang, nyatanya kau sama sekali tidak mengetahui kalau tiga orang yang berdiri di hadapanmu wakiu itu hanya tiga orang manusia biasa saja... Hmmm, bagaimana penjelasannya tentang hal ini ?"
Manusia berkerudung putih itu menundukkan kepalanya rendahrendah, tapi dengan amat cepat dia menjawab lagi.
"Harap majikan maklum, berada dalam keadaan seperti ini jangankan hamba, sekalipun orang yang berkepandaian lebih tinggi dengan ketajaman mata yang lebih hebat pun, jangan harap bisa mengetahuinya !"
"Oooh... benarkah ada kejadian seperti ini?"
Seru manusia berkerudung emas itu sambil menggebrak meja.
"Tentu saja, punah atau tidaknya tenaga dalam yang dimiliki seseorang hanya bisa diketahui dari sorot mata sepasang keningnya, tapi mereka semua mengenakan kain kerudung emas yang menutupi hampir seluruh kepandaiannya..."
Tidak sampai orang itu menyelesaikan kata-katanya, manusia berkerudung emas itu sudah membentak lebih dulu dengan suara dalam.
"Tutup mulut, tak usah berbicara lagi !"
Manusia berkerudung putih itu benar-benar tidak berani banyak berbicara lagi.
Tiba-tiba manusia berkerudung emas itu menekan suatu pojokan dekat meja bajanya, sebuah pintu rahasia segera muncul disisi belakang ruangan besar tersebut Menyusul kemudian muncul seorang manusia berkerudung putih dari balik pintu, setelah memberi hormat katanya.
"Hamba menanti perintah?"
"Bagaimana dengan pekerjaan dari Mo loji sekarang?"
Tanya manusia berkerudung emas itu dengan suara dingin.
"Belum selesai seluruhnya!"
Manusia berkerudung emas itu segera tertawa dingin.
"Kalau begitu gusur dia masuk kemari lebih dulu!"
Perintahnya.
Manusia berbaju putih itu mengiakan, dia lantas membalikkan badan dan berjalan keluar dari situ.
Tak lama kemudian dia telah muncul kembali sambil membawa seorang kakek yang nampaknya kurus dan amat lemah, kakek itu langsung digusur ketengah ruangan.
Manusia berkerudung emas itu mengulapkan tangannya, manusia berbaju putih yang menggusur kakek ceking tersebut segera mengundurkan diri lagi dari situ.
Untuk kesekian kalinya, manusia berkerudung emas itu menekan meja bacanya, pintu yang semula terbuka itu segera menutup kembali secara otomatis.
Dalam pada itu, kakek kurus mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap ke arah manusia berbaju emas dan manusia berkerudung putih itu dengan sorot matanya yang sayu tak bersinar, lalu mendengus dan duduk di atas lantai.
Manusia berkerudung emas itu meninggalkan meja bukunya dan berjalan kehadapan sikakek kemudian perintahnya.
"Berdiri!"
Kakek kurus itu sama sekali tak menggubris, dia pun tidak mengucapkan sepatah kata.
Dengan geramnya manusia berkerudung itu mengayunkan tangannya ke atas siap melancarkan serangan.
Tetapi kakek kurus itu sama sekali tidak takut, dia malah memandang tangan yang terangkat itu dengan sinis, setelah itu tertawa terkekeh-kekeh dengan suara yang aneh dan sangat menggidik hati.
Aneh sekali, menghadapi sikap kakek kurus tersebut, manusia berkerudung emas itu tiba-tiba menurunkan kembali tangannya.
"Lohu tak akan memberikan keuntungan seenak ini kepadamu, apalagi membunuhmu dalam sekali pukulan!"
Katanya. Dengan susah payah kakek kurus itu berhasil menghentikan gelak tawanya, dia pun berkata lagi.
"Lohu mengerti, oleh karenanya lebih baik kau jangan menggunakan permainan semacam itu kepadaku."
Manusia berkerudung emas itu menggertak giginya sampai berbunyi keras, agaknya dia gemas sekali terhadap kakek tersebut.
Kembali kakek itu menggelengkan kepalanya berulang kali, kemudian ujarnya sambil tertawa.
"Tidak ada gunanya berbuat garang seperti itu, gemas pun percuma, kecuali jika kau mempunyai keberanian untuk membunuhku!"
Dengan gemasnya manusia berkerudung emas itu menghadiahkan sebuah tempelengan keatas wajah kakek itu, bentaknya keras.
"Kau takut aku tak akan membunuhmu ?"
Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya.
"Lohu mempunyai persoalan ingin bertanya kepadamu, tapi sebelumnya kuperingatkan kepadamu, lebih baik jawab semua pertanyaanku dengan sejujurnya, kalau tidak, jangan salahkan bila aku membuatmu mati tak bisa hidup pun tak dapat."
Kakek kurus itu sama sekali tidak gentar atau takut dibuatnya, dia cuma tertawa seram tiada hentinya. Sepatah demi sepatah manusia berkerudung emas itu berkata lagi penuh kewibawaan.
"Dalam perkumpulan lohu, semuanya terdapat empat macam lencana emas, dan lencana tersebut hanya kau seorang yang bisa menempanya, sekarang berbicaralah terus terang, kecuali bagi lohu. kau masih pernah menempakan lencana emas semacam itu untuk siapa ?"
Kakek itu mengerdipkan matanya berulang kali, tapi tidak menjawab.
"Hayo bicara"
Bentak manusia berkerudung emas itu lagi penuh kegusaran.
"lebih baik jangan mencari kesulitan buat diri sendiri !"
"Jangan terburu napsu lebih dulu"
Kata kakek itu dengan amat tenangnya, sedikitpun tidak panik.
"terburu napsu pun tak ada gunanya, sebab menghadapi persoalan seperti ini paling tidak kau mesti memberi waktu kepada lohu untuk memikirkannya lebih dulu."
Manusia berkerudung emas itu mendengus dingin.
"Hmmm, pernah menempa atau tidak hanya kau seorang yang mengerti, buat apa mesti banyak dipikirkan lagi ?"
Tiba-tiba kakek tua itu bertanya.
"Ketika berada di jalan raya Sam-siang, pernahkah kau membunuh seorang pemuda berbaju hijau ?"
Manusia berkerudung emas itu nampak tertegun, dia nampak termenung sampai lama sekali tanpa menjawab pertanyaan itu.
Kakek itupun tidak bertanya lebih jauh, dia turut membungkam diri dalam seribu bahasa.
Selang berapa saat kemudian, manusia berkerudung emas itu baru berkata lagi.
"Peristiwa ini terjadi di tahun kapan?"
Kakek tersebut segera tertawa terkekeh "Masa perbuatan yang kau lakukan sendiripun masih harus dipikirkan lagi, apakah kau juga lupa di tahun kapankah peristiwa tersebut telah terjadi...?"
Seperti memahami akan sesuatu, dengan gemas manusia berkerudung emas itu berseru.
"Mo loji, kau janganlah berbuat keterlaluan!"
Mo loji segera tertawa terkekeh kekeh.
"Kau sendiri yang terburu napsu, masa memberi waktu buat lohu berpikir sejenak pun tidak nanti menanti."
Manusia berkerudung emas itu berusaha keras untuk mengendalikan kobaran hawa amarah dalam dadanya, ia berseru.
"Sekarang, apakah kau sudah teringat kembali?"
"Ehmm, sudah kuingat kembali!"
"Kau pernah menempa lencana semacam itu buat siapa?"
Buru-buru manusia berkerudung emas itu bertanya. Mo loji sama sekali tidak gugup, katanya.
"Aku hanya pernah menempa lencana emas itu saja."
Belum habis dia berkata, mendadak Manu sia berkerudung emas itu mencengkeram tubuh Mo loji dan mengangkatnya ketengah udara-Mo loji sama sekali tidak meronta, dia se olah-olah merasa bahwa hal tersebut sama sekali tak ada sangkut paut dengan dirinya.
Sambil menggoncang-goncangkan tubuh Mo loji, Manusia berkerudung emas itu mambentak lagi.
"Kau berani membohongi aku? Aku..."
"Jangan panik."
Tukas Mo loji.
"Coba beri tahu kepadaku apa yang telah terjadi ?"
"Ada orang menggunakan lencana emas kepala naga Liong tau kim pay yang sama menggunakan perintah terhadap anak buah kita !"
Kakek itu berlagak seperti terkejut, kemudian serunya.
"Aah, masa sudah terjadi peristiwa semacam ini ? Cepat, cepat, cepat lepaskan aku bawa kemari lencana emas kepala naga yang palsu dan yang asli kepadaku, akan kucoba untuk mengetahui perbuatan siapakah itu?"
"Huh, seandainya lencana yang palsu itu sudah berada ditanganku, buat apa aku mesti bertanya kepada kau si tua bangka ?"
"Wah, wah, ucapan macam apaan itu ?"
Seru si kakek sambil menggeleng berulang kali.
"sudah tahu kalau lencana emas itu palsu, bukan saja kalian masih bersedia menuruti perintah orang, bahkan setelah itu sama sekali tidak mendapatkan buktinya, kalian memang goblok semua ! Tak ada gunanya sama sekali."
Manusia adalah makluk aneh, mendengar ucapan tersebut, manusia berbaju emas itu segera menurunkan kakek Mo dari cengkeramannya, lalu berpaling kearah manusia berkerudung putih itu dan mendengus dingin.
Manusia berkerudung putih itu menjadi ketakutan setengah mati, buru-buru katanya kepada Mo loji.
"Bajingan tua, bila kau tak mengerti wibawa dari lencana emas itu, lebih baik jangan sembarangan berbicara !"
Kakek Mo segera tertawa terkekeh-kekeh.
"Heh, heh, heh, lencana emas kepala naga itu hasil penempaan lohu . masa lohu tak memahami kewibawaan lencana mana ?"
Hmm! itulah dia."
Sambung manusia berkerudung putih itu cepat.
"setelah kau ketahui kewibaan dari lencana emas itu, tentunya bisa kau pahami pula betapa besarnya lencana mana, pihak yang menerima perintah dari lencana itu apa berani membangkang perintah? Apakah bisa minta lencana itu untuk dibuktikan keasliannya ? Mengapa kau mengatakan tak becus. tak berguna segala-galanya...?"
"Betul-betul tak becus, betul-betul tak berguna."
Kembali Mo loji bergumam. Setelah berhenti sejenak, dia berpaling ke arah manusia berbaju emas itu dan melanjutkan.
"Siapa yang menerima lencana emas itu ? Suruh dia kemari, aku hendak mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya !"
Ternyata manusia berkerudung putih itu bertindak cukup cerdik, tidak menunggu manusia berbaju emas itu memberikan perintahnya, ia telah menyahut.
"Akulah orang yang menerima perintah lewat lencana emas kepala naga itu !"
Mo loji yang mendengar perkataan itu segera tertawa kepada manusia berkerudung putih itu, namun tidak mengucapkan sepatah katapun.
Sebentar manusia berbaju emas itu menoleh kearah kakek itu, sebentar lagi menengok ke arah anak buahnya, tanpa terasa dia bertanya.
"Mo loji, bukankah kau mengatakan ada beberapa pertanyaan akan kau ajukan padanya?"
Mo loji menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Sudahlah, manusia kalau sudah pernah bertemu pasti ada perasaan, banyak bertanya malahan membangkitkan rasa sedih dihati saja."
"Kami bukan teman, bila kau ada perkataan lebih baik tanyalah secara langsung dihadapan majikan !"
Sahut manusia berkerudung putih. Mo loji mengerling sekejap kearah manusia berkerudung putih itu, lalu menegaskan.
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Siapa yang sedang senda gurau denganmu?"
Sahut manusia berkerudung putih itu sambil memperlihatkan ketegasannya. Setelah berhenti sejenak, nada pembicaraannya berubah, kembali dia berkata.
"Cuma, seandainya kau tak berhasil membuktikan ketidak ada gunaanku. hati-hatilah!"
"Hm, rupanya kau mengenal baik lencana emas kepala naga itu?"
Mo-loji mendengus.
"Selama ini aku selalu melindungi lencana naga itu, aku pun sudah beberapa kali melaksanakan tugas dari majikan atas perintah lencana emas itu, sudah barang tentu lencana itu sangat kukenal!"
"Dan kau tidak melihat kalau lencana itu palsu?"
Mo loji tertawa.
"Pada dasarnya lencana emas itu memang tidak palsu!"
"Ooooh... dari mana kau tahu kalau lencana emas itu tidak palsu...?"
Di atas lencana emas itu terdapat ukiran naga diatas awan, lima cakarnya terpentang lebar, tebal tipisnya juga sama kepala naga dan tanduk naga dipermukaan sebaliknya juga tak berbeda, tentu saja aku tahu kalau lencana itu tidak palsu!"
"Sebelum kau si loji digusur kemari, semua persoalan telah aku laporkan kepada majikan, aku berpendapat sudah pasti kaulah yang bermain setan dimasa lalu, siapa tahu kalau kau pernah membuatkan lencana emas kepala naga lagi kepada orang lain, hingga kini..."
"Cukup"
Kata Mo loji sambil mengulapkan tangannya.
"aku mengatakan kau tidak becus, kini kau berlagak Tie Pat kay berbicara soal senjata ingin membungkamkan mulutku tetapi tak menjadi soal, pepatah bilang. Emas murni tak takut di bakar.
"Sebenarnya aku ada niat menganggap kau sebagai sahabat dengan mengurangi pembicaraan yang tak berguna dan melepaskan sebuah jalan kehidupan bagimu, tetapi kalau toh kau sendiri yang kepingin mampus, aku tak bisa berbuat lain kecuali bicara sejujurnya..."
Manusia berkerudung putih itu menjadi amat gelisah, cepat-cepat dia berkata.
"Aku merasa tak pernah berbuat kesalahan, katakan saja apa yang hendak kau utarakan!"
Tampaknya Mo loji dibikin naik darah, kepada manusia berkerudung emas itu dia segera berseru.
"Anak buahmu ini telah berhianat..."
Berbicara sampai disitu mendadak kakek itu menghentikan pembicaraannya. Tentu saja manusia berbaju emas itu enggan berdiam diri, dia segera mendesak lebih lanjut.
"Lanjutkan perkataanmu itu, lanjutkan perkataanmu itu!"
Sewaktu mendengar kata "Berhianat", manusia berkerudung putih itu mau tak mau merasakan juga hatinya tercekat, dia menuding Mo loji dan saking mendongkolnya sampai tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Lama kemudian ia baru berseru.
"Loji.... liangsim .... liangsim mu kau..."
Dalam pada itu, manusia berkerudung emas itu telah berpaling kembali kearah Mo loji, kemudian ujarnya dengan lembut.
"Mo loji, katakan apa yang hendak kau ucapkan!"
Dalam hati kecilnya Mo loji merasa geli sekali, dia ingin tertawa tergelak kalau bisa pikirnya.
"Haaaahh... haaah... haaaahh... kau keparat muda, pandai saat merayu orang, Mo loji, Mo loji, tiada hentinya, kau anggap aku bakal taruh dimana? Kau.,.kau jangan memfitnah orang seenaknya sendiri."
Mendadak manusia berbaju emas itu membalikkan badannya, lalu bentaknya kepada manusia berkerudung putih itu.
"Tutup mulutmu Yu Seng, bila kau berani mengucapkan sepatah kata lagi, hati-hati kalau kujatuhkan hukuman kepadamu sebagai seorang penghianat...!"
Manusia berkerudung putih itu berdiri tertegun ditempat dia cukup memahami peraturan dari majikannya, sekarang majikannya sudah menyebut namanya secara langsung, itu berarti malaikat elmaut sudah muncul dihadapan matanya.
"aku bakal tertipu lagi seperti dulu? Hmm, maaf! Tertipu hanya satu kali, locu tak bakal bersikap bodoh lagi!"
Pikir sih pikir.
jawaban tetap harus diberikan maka Mo loji berlagak murung, mula-mula dia menghela nafas lebih dulu, kemudian setelah memandang wajah Manusia berbaju emas itu dengan pandangan kasihan dan beriba hati ia baru menjawab.
"Tempo hari aku seperti pernah mendengar kau berkata, orang yang mengenakan baju warna perak merupakan orang yang berkedudukan paling tinggi dibawah perintahmu, ilmu silat, yang dimiliki juga paling bagus, kau menyebut mereka sebagai Gin ih lak yu (enam sahabat berbaju perak), bukankah begitu?"
"Betul!"
Sahut manusia berbaju emas itu.
"Tentunya mereka sudah seringkali mempertaruhkan jiwa raganya bagi kepentinganmu bukan?"
Kata Mo loji lagi sambil menghela napas panjang. Kembali manusia berbaju emas itu mengiakan tanpa banyak bicara lagi. Mo Loji menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya kemudian.
"Menurut pendapatku lebih baik persoalan ini disudahi sampai disini saja !"
"Tidak bisa !"
Seru manusia berkerudung emas itu cepat, tentu saja dia enggan menyudahi masalah tersebut sampai disitu saja.
"persoalan ini harus dibikin jelas dan tuntas !"
Mo Loji memandang sekejap ke arah manusia berkerudung putih itu, lalu berkata lagi.
"Sobat, jangan salahkan aku si orang tua, keadaan sekarang ibaratnya anak panah yang sudah berada di atas busur, mau tak mau harus dilepaskan juga."
Manusia berkerudung putih itu seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat tersebut kemudian diurungkan, dia hanya mendengus dingin. Kepada manusia berkerudung emas itu, Mo Loji berkata .
"Apakah dalam sakumu masih terdapat lencana emas kepala naga?"
Manusia berkerudung emas itu membalikkan badan menghampiri meja baca, lalu menyerahkan ke tiga buah lencana emas kepala naga itu kepada Mo loji...
Setelah menyambut lencana emas itu, Mo Loji segera bertanya kepada manusia berkerudung putih itu.
"Kau bilang selama banyak tahun ini kau selalu mewakili majikan melakukan banyak perintah dengan membawa lencana naga, karena pekerjaan yang berulang-ulang maka kau menganggap lencana naga tersebut sudah amat kau kenal baik?"
"Hmmm, buat apa kau mesti banyak bertanya?"
Sahut manusia berkerudung putih itu mendongkol. Mo Loji sama sekali tidak gusar, katanya lagi.
"Dapatkah kau menjawab pertanyaan yang kuajukan?"
Berada dalam keadaan seperti ini, tak mung kin bagi manusia berkerudung putih itu untuk membungkam terus, sahutnya.
"Benar, aku memang sangat mengenal lencana naga itu"
"Ehmm, barusan kau bilang lencana emas yang kau saksikan itu persis seperti ke tiga buah lencana emas yang berada dihadapanmu sekarang, baik dalam soal ukiran naganya, ke lima cakarnya serta tebal tipisnya, bukan begitu?"
"T e p a t s e k a l i "
Manusia b e r k e r u d u n g p u t i h i t u ma n g g u t -ma n g g u t .
Mo L o j i s e g e r a t e r t awa , i a s e r a h k a n l e n c a n a ema s i t u k e p a d a manusia berbaju emas lalu berkata.
"Coba kau serahkan lagi ke tiga buah lencana emas kepala naga yang tulen itu kepadanya agar diperhatikan lebih seksama."
Agak tertegun manusia berkerudung emas itu setelah mendengar ucapan tersebut, serunya tertahan.
"Apakan lencana emas itu masih ada..."
Tidak sampai manusia berbaju emas itu menyelesaikan katakatanya, Mo Loji telah menukas lagi.
"Coba kau berikan kepadanya agar diperiksa"
Dengan wajah masih termangu manusia berkerudung emas itu melemparkan kembali ke tiga buah lencana emas kepala naganya ke hadapan manusia berkerudung putih itu.
Manusia berkerudung putih itu memungut kembali lencana naga itu dari atas tanah, se telah dipandang sekejap, ujarnya.
"Lencana naga tersebut persis sama dengan ke tiga buah lencana emas ini!"
"Sobat, sobat Yu"
Ujar Mo loji sambil ter-tawa.
"coba kau perhatikan lagi ke tiga buah lencana naga ini, pertama-tama harap kau perhatikan dulu pada permukaan lencana tersebut dan carilah ke lima cakar dari naga emas tersebut !"
"Hmm, sudah ketemukan"
Dengus manusia berkerudung putih itu. ia menundukkan kepalanya dan memperhatikan lencana emas yang pertama, kemudian sambil mengangkat lencana tadi, katanya.
"lni dia, aku telah menemukan kelima cakar nya!"
"Coba kau terima lencana naga emas yang telah ia temukan kelima cakarnya itu!"
Perintah Mo loji kepada manusia berkerudung emas tersebut.
Anehnya maausia berkerudung emas itu amat menuruti perkataannya, dia sambut lencana emas tersebut dan diperhatikan sendiri dengan seksama.
Benar juga, ia temukan lima buah cakar pada lencana emas tersebut.
"Coba cari lagi pada lencana berikutnya !"
Perintah Mo loji kemudian kepada manusia berkerudung putih itu.
Padahal manusia berkerudung putih iiu sama sekali tidak menganggur begitu berhasil menemukan kelima cakar naga pada lencana yang pertama, ia segera memperhatikan lencana berikutnya.
Akan tetapi, walaupun ia sudah perhatikan lencana ke dua tersebut sekian lama, akan tetapi lima cakar naga itu belum juga ditemukan.
Rupanya pada lencana emas ini dia hanya menemukan empat buah cakar naga belaka.
Manusia berkerudung putih itu menjadi termangu dan berdiri bodoh, sedemikian tertegun nya sampai tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Sebelum dia sempat selesai menghitung, Mo loji telah berkata lagi.
"Coba kau periksa pula lencana emas yang ke tiga !"
Lagi lagi manusia berkerudung putih itu tak berhasil menemukan kelima cakar naga itu, sebab pada lencana naga yang ketiga dia hanya menemukan tiga buah cakar naga.
Tampaknya manusia berkerudung emas itu telah menyaksikan gelagat tidak beres, dia segera bertanya kepada manusia berkerudung putih itu.
"Yu Seng, cepat memberi laporan padaku."
Paras muka Yu Seng berubah sangat hebat, nada suarapun turut berubah pula, ia menjawab.
"Jumlah cakar naga kedua lencana naga emas tersebut berbeda satu sama lainnya, yang satu berjumlah empat buah, yang lain hanya berjumlah tiga buah!"
Mendengar itu Mo loji tertawa terbahak.
"Hah... haah... haah... tak usah dibandingkan dengan lencana yang pertama lagi, cukup memperbandingkan kedua lencana yang berada ditanganmu itu, coba bandingkan dengan seksama, apakah tebal tipisnya juga sama ?"
Yu Seng memperbandingkan kedua buah lencana itu, kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali, dengan suara yang begitu rendah sehingga hampir saja sukar didengar ia menyahut.
"Tiii ... tidak sama!"
Mendadak Mo loji menghela napas panjang.
"Aai, sekarang kau boleh mengakui kalau lencana naga emas yang kau jumpai itu adalah lencana palsu bukan?"
Katanya. Yu Seng tak dapat berbicara lapi, dia menundukkan kepalanya rendah-rendah. Pada saat itulah Mo loji baru berpaling kembali ke arah manusia berkerudung emas itu, lalu berkata dingin.
"Persoalan yang kau ajukan telah selesai ku jawab, sekarang aku hendak meninggalkan ruangan ini !"
Sementara itu, manusia berkerudung emas itu sudah tertawa dingin tiada hentinya, dia menyahut.
"Mo tua, kau jangan buru-buru mengundurkan diri lebih dulu, bisa kujatuhi hukuman kepadanya lebih dulu, kemudian aku hendak mengajakmu merundingkan sesuatu !"
Mo Loji hanya miringkan sedikit kepalanya, dia tidak berbicara apa-apa lagi, Tiba tiba Yu Seng menimbrung.
"Apa yang hamba ucapkan adalah kata yang sesungguhnya, sama sekali tidak bernadakan..."
"Bawa ke mari ke dua lencana emas kepala naga itu."
Tukas manusia berkerudung emas itu dengan dingin. Yu Seng mengiakan, dia segera mengangsurkan lencana emas tersebut ke depan.
"Letakkan keatas meja!"
Kembali manusia berbaju emas itu menuding ke meja bacanya.
Sekali lagi Yu Seng mengiakan, dia letakkan kedua buah lencana naga emas itu keatas meja.
Sewaktu meletakkannya disitu, sorot matanya sempat menyaksikan tonjolan sebesar berapa inci yang berada diujung meja baca tersebut, dengan cepat ia menjadi mengerti, rupanya disitulah letak alat rahasia yang mengendalikan kedua belah pintu baja diruang depan maupun ruangan belakang tempat itu.
Baru saja lencana tersebut diletakkan dimeja, sambil tertawa manusia berkerudung emas itu telah berkata lagi.
"Yu Seng, apa lagi yang hendak kau katakan sekarang ?"
"Hamba sama sekali tidak berbohong"
Kata Yu Seng sembari menjura.
"aku hanya mengakui kurang hati-hati sehingga khilaf dan salah melihat lencana emas tersebut."
"Aku tidak mengajukan pertanyaan soal-soal seperti itu."
Bentak Manusia berkerudung emas itu dengan gusar.
"aku hanya bertanya kepadamu, apakah ingin menyampaikan kata-kata terakhirmu ?"
Mendengar perkataan tersebut. Yu Seng menjadi terperanjat sekali, serunya tertahan.
"Majikan hendak menjatuhkan hukuman mati kepada hamba ?"
"Heeeh, heeeh, heehh, kenapa ? Memangnya aku tidak boleh menjatuhkan hukuman tersebut kepadamu ?"
Dengan dorongan emosi yang meluap, Yu Seng berseru.
"Hamba sebagai salah seorang dari Gin-ih lak-yu. selama banyak tahun telah mempertaruhkan jiwa ragaku demi kepentingan majikan kali ini meski ada orang yang datang dengan membawa lencana emas, namun kesalahan tersebut bukan terletak pada diri hamba."
"Lantas kesalahan itu berada di tangan siapa?"
Sela manusia berkerundung emas itu dingin.
"Maaf atas kelancangan hamba, kesalahan tersebut sesungguhnya terletak pada diri majikan sendiri, majikan menitahkan setiap orang menutupi raut wajah masing-masing dengan kerudung, kemudian melarang masing-masing anggota saling mengenal, kami tidak mengetahui nama rekan-rekan yang lain, kecuali perintah yang diturunkan majikan. Setelah melihat kemunculan lencana emas tersebut, sebagai Iencana naga emas yang berkekuasaan paling tinggi tentu hamba tak berani membangkang menurut peraturan, kecuali menuruti perintah, tiada pilihan lain buat hamba untuk berbuat Kali ini, justeru lantaran hamba merasa curiga sekali, maka sengaja kukirim surat lewat burung merpati untuk melaporkan kejadian ini sambil meminta petunjuk, bahkan kukuntil jejak lawan tapi jejak lawan telah hilang, seharusnya perbuatan hamba ini dinilai sebagai jasa, bukan suatu dosa yang besar."
"Tapi nyatanya sekarang, bukan saja majikan tidak menilai budi dan kesetiaan hamba selama banyak tahun, bahkan malahan sebaliknya hendak menjatuhkan hukuman mati kepada hamba kenyataan ini sungguh membuat hatiku tak puas."
Manusia berkerudung emas itu hanya duduk tenang sambil mendengarkan perkataan anak buahnya, begitu Yu Seng telah selesai berkata dia baru berkata.
"Sudah selesai perkataanmu?"
Sekarang Yu Seng sudah tahu kalau ia tak bakal lolos dari hukum keji majikannya, maka timbul niatnya untuk beradu jiwa, dengan suara lantang ia lantas berseru.
"Belum selesai, masih banyak perkataan yang hendak kuutarakan keluar."
"Bagus sekali."
Manusia berkerudung emas itu tertawa seram.
"heeeehh... heeeehh... heeeeh... kalau begitu berbicaralah sepuasnya!"
Yu Seng menggertak gigi kencang-kencang, katanya kemudian dengan suara dalam.
"Kau tidak bijaksana, membunuh anak buah sendiri dengan semena-mena, pada suatu ketika anak buahmu pasti akan berhianat dan meninggalkan dirimu seorang diri!"
Waktu itu dia berdiri disisi meja baca, begitu selesai berkata telapak tangan kanannya segera dihimpun tenaga, setelah itu sekuat tenaga dihantamkan ke arah dua buah tonjolan yang berada diujung meja baca tersebut...
Yu Seng sebagai salah seorang dari Gin-ih lak-yu dibawah pimpinan Lok hun pay benar-benar memiliki kepandaian yang sempurna, tenaga dalamnya pun terhitung pilihan dalam dunia persilatan, serangan yang di lancarkan olehnya sekarang paling tidak bisa menghancur lumatkan ujung meja baca itu...
Pada umumnya, meja baca yang di hantam dengan pukulan penuh pasti akan hancur berantakan, tapi nyatanya suatu keajaiban telah terjadi pada hari ini, hanya satu ujung saja dari meja baca itu yang melesak ke dalam tanah.
Ternyata meja baca yang antik dan berwarna merah itu sesungguhnya bukan terbuat dari bahan kayu, melainkan terbuat dari selembar besi baja yang kuat sekali.
Menggunakan baja sebagai meja baca, sudah barang tentu kejadian ini sama sekali di luar dugaan Yu Seng, itulah sebabnya serangan yang dilancarkan Yu Seng dengan sepenuh tenaga itu bukan saja gagal menghancurkan me ja tersebut, malah sebaliknya tangan kanannya menjadi terluka.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***
Jilid 28 SAKING sakitnya air mata sampai bercucuran membasahi pipi Yu Seng, dia mengobat-abitkan tangannya tiada hentinya.
Sekalipun tangan kanan Yu Seng sudah terluka, namun kedua buah pintu rahasia diruang depan maupun ruangan belakang itupun segera terbuka Iebar, apa lagi karena tombol kendali pintu rahasia itu sudah melesak kedalam tanah akibatnya pintu-pintu rahasia tersebut tak dapat menutup rapat kembali.
Tindakan anak buahnya itu sama sekali di luar dugaan manusia berkerudung emas itu, tanpa terasa dia turut tertegun.
Dalam tertegunnya itu, nampak lima dari Gin ih lak yu telah menyerbu masuk kedalam ruangan.
Dalam pada itu, Yu Seng telah melepaskan iain kerudung mukanya yang berwarna putih, kepada kelima orang rekannya dia berseru dengan wajah amat sedih.
"Siaute Yu Seng, bersama saudara sekalian disebut Gin-ih lak-yu, hari ini tanpa kesalahan apapun majikan bersikeras hendak menghukum mati siaute, atas hukumannya itu siaute tidak akan memberi perlawanan, tapi sebelum hukuman dilaksanakan terlebih dahulu aku harus menerangkan keadaan yang sebenarnya !"
Namun baru saja dia menyelesaikan perkataannya manusia berkerudung emas itu telah menuding ke arah lima orang jagonya sembari berbisik.
"Yu Seng berniat menghianat, bukti nyata sudah berada didepan mata, kalianpun tak usah banyak bertanya, segera mundur dari sini."
Menghadapi kejadian semacam ini, ke lima orang jago itu menjadi serba salah, mau mundur tak bisa, maju juga tak berani hingga akibatnya untuk sementara waktu menjadi ragu.
Menggunakan kesempatan inilah Mo Loji segera berseru kepada kelima orang jago itu.
"Saudara berlima, menurut penglihatanku, lebih baik kalian berlima turut perintah dan segera mengundurkan diri dari sini, lebih baik jangan mencari penyakit sendiri hingga mempengaruhi mangkuk nasi masing-masing..."
Lima sahabat berbaju perak itu menundukkan kepalanya rendahrendah kemudian nampak salah seorang diantararya maju dua langkah kedepan dan ujarnya kepada manusia berkerudung emas itu.
"Majikan, bolehkah hamba mengucapkan sepatah dua patah kata?"
Manusia berkerudung emas itu mendengus dingin, sambil menuding pintu rahasia bagian belakang, serunya.
"Lohu perintahkan kepada kalian agar segera mengundurkan diri dari sini...!"
Saat itulah Yu Seng tertawa getir dia berkata lagi.
"Saudara berlima, lebih baik kalian pergi saja dari sini, daripada ia jadi malu dan naik darah sehingga kalian semua dibunuh pula, cuma sebelum saudara berlima meninggalkan tempat ini, terlebih dahulu siaute mempunyai sebuah permintaan !"
Kelima orang manusia berbaju perak itu tidak menanggapi atau mengucapkan sepatah katapun, akan tetapi merekapun tidak pergi meninggalkan tempat iiu, dari sini dapat terbukti bahwa mereka tidak leluasa untuk menjawab pertanyaan rekannya, akan tetapi mereka pun bersedia mendengarkan permintaan Yu Seng.
Mo Loji yang menyaksikan ada kesempatan kembali menghasut mereka dengan perkataan, katanya.
"Semenjak dalam dunia persilatan muncul lencana Lok hun pay, hampir seluruh jagad telah dibikin bergetar dalam dunia persilatan tak ada orang yang berani melawan, bila kalian tidak segera mengundurkan diri lagi, hati-hatilah dengan keselamatan kalian sendiri !"
Manusia berbaju perak yang ketanggor batu nya dari Lok hun pay tadi segera mencela.
"Mo Kiau jiu, persoalan ini adalah kami dengan majikan, lebih baik tutup saja bacotmu itu !"
Ternyata Mo Loji adalah Mo Kiau jiu yang dicari Sun Tiong lo sekalian namun tak berhasil ditemukan rupanya dia berada disitu, tak heran kalau perkampungan keluarga Mo telah punah menjadi puing-puing yang berserakan.
Mo Kiau jiu sudah menduga kalau perselisihan tersebut sukar dibereskan dengan baik, padahal selama ini dia sulit mendapat kesempatan untuk pergi meninggalkan tempai itu, tak heran kalau ia merasa gembira sekali sesudah mendengar perkataan itu.
Sekalipun demikian, diluaran wajahnya dia berlagak seperti mendongkol katanya.
"Baik, aku si orang tua memang enggan mencari banyak urusan, aku hendak pergi dari sini, pergi meninggalkan tempat ini, aku tak mau melihat kejadian disini lagi. Orang bilang. Kalau mata tidak melihat, hati tak akan murung, lebih baik aku pergi saja dari sini"
Selesai berkata, dia lantas membalikkan badannya dan pura-pura hendak berlalu dari situ dengan mendongkol.
Walaupun orangnya sudah sampai dibelakang, namun perasaan dan telinganya belum mening galkan ruangan itu.
Tak lama kemudian, dari dalam ruangan berkumandang datang suara jeritan ngeri yang memilukan hati.
Menyusul kemudian suasana berubah menjadi hening, sepi, tak kedengaran sedikit suarapun.
Mo Ioji yang mendengar suara itu, diam-diam mengangguk pikirnya.
"Lok-hun pay wahai lok hun pay, keluargaku telah kau bantai, putri kesayanganku telah kau nodai, perkampunganku telah kau bakar, kau anggap sekarang aku sudi menjadi kerbau atau kuda yang menuruti perintahmu ?"
"Kini... haah... haaah... dari sembilan orang penggantimu, sudah ada tiga orang yang berkhianat, sedangkan Gin-ih-Iak yu yang paling dekat denganmu pun mulai sekarang sudah berhati cabang, tampaknya aku mesti berhati-hati sedikit, siapa tahu dia masih dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri datangnya hari pembalasan baginya. Benar, aku harus berhati-hati, aku harus hidup lebih lanjut"
Sementara dia masih melamun, lima orang berbaju perak itu sudah meninggalkan ruangan tengah, dari enam sahabat, kini tinggal lima orang, sebab salah seorang diantara mereka, Yu Seng, telah mati dihajar oleh manusia berkerudung emas itu sehingga isi perutnya hancur lebur.
Mayatnya di gotong ke lima orang rekannya untuk dikebumikan di belakang sana.
Ke lima orang manusia berbaju perak itu masih mengenakan kain kerudung putih menutupi raut wajah aslinya, namun dilihat dari sepasang tangan mereka yang gemetar keras serta dadanya yang naik turun, dapat disimpulkan kalau mereka merasa sedih campur gusar.
Mo Loji segera memutar biji matanya, lalu maju menyongsong kedatangan mereka, katanya.
"ToIong tanya saudara berlima, apakah majikan masih berada didalam ruangan ?"
Ke lima manusia berbaju perak itu tidak menjawab, mereka hanya menggelengkan kepala sambil menghela napas. Dalam helaan napas itulah, dari balik ruangan terdengar Lok-hun pay sedang berseru.
"Kiau-jiu. kemari kau !"
Diam-diam Mo Loji merasa geli, dari sebutan Mo tua, kini dia telah memanggilnya sebagai "Kiau-jiu"
Lagi seperti dulu.
Tertawa tinggal tertawa, namun orangnya harus menyahut dan melangkah masuk kedalam ruangan.
Sementara itu Lok hun pay telah berdiri di depan pintu rahasia bagian muka, sambil menuding kearah meja baca itu, katanya.
"Aku ada urusan dan hendak segera kuselesaikan, besok pagi baru aku kembali, perbaiki meja ini!"
Selesai berkata dia lantas berlalu dari situ dengan langkah lebar..
"Tidak bisa, tidak bisa..."
Buru-buru Moo Kiau jiu berseru dengan cepat. Mendadak Lok hun pay menghentikan langkahnya sembari membalikan badan lalu berseru.
"Jika kau berani mengatakan tidak bisa lagi, hati-hati kukuliti tubuhmu!"
"Mengapa tak tahu aturan begitu."
Seru Mo-Kiau jiu setengah merengek.
"jalan darahku telah kau totok, sehingga tenaga dalamku tak berfungsi lagi, padahal meja ini terbuat dari baja, tolong tanya bagaimana caraku untuk memperbaikinya?"
Lok hun pay berpikir sebentar lalu berjalan mendekati Mo Kiau jiu.katanya kemudian.
"Baik, aku akan menepuk bebas jalan darahmu, cuma kau jangan mencoba-coba bermain gila, kalau tidak percaya silahkan saja dicoba, saat itu tanggung ada orang yang akan mewakili aku menyiksamu hingga matipun tak bisa hiduppun tak dapat!"
Seraya berkata, ia benar-benar menepuk bebas jalan darah diatas badan Mo Kiau jiu. Mo Kiau jiu sama sekali tidak mengucapkan terima kasih, malah sambil menuding meja baca itu katanya.
"Besok tengah hari meja ini baru bisa selesai kuperbaiki!"
Lok hun pay segera mendengus dingin.
"Hmm, bila aku pulang besok pagi, meja ini harus selesai diperbaiki kalau tidak jangan harap kau bisa hidup terus didunia ini!"
Mo Kiau jiu segera tertawa.
"Bila kau membunuh aku, siapa pula yang akan melakukan pekerjaan tersebut untukmu?"
Lok-hun-pay tertawa seram.
"Heeeh, heeeh, heeeh, paling banter akan kulakukan sendiri. mengerti ?"
Mo Kiau jiu merasakan hatinya terkesiap, tapi sebuah akal baru segera muncul kembali sahutnya kemudian.
"Baik, baik, baik, cuma harus ada orang membantu pekerjaanku ini."
"Hal itu adalah urusanmu sendiri, kau boleh menyuruh siapa saja membantu pekerjaanmu itu."
Mo Kiau-jiu menjadi gembira sekali, ujarnya kemudian.
"Kalau begitu kau tak usah kuatir, sebelum fajar besok, meja ini pasti sudah selesai ku perbaiki !"
Lok-hun pay mendengus dingin, dia membalikkan badan dan berlalu dari situ dengan langkah lebar.
Memandang hingga bayangan panggung Lok hun pay lenyap dari pandangan mata.
diam-diam Mo Kiau jiu tertawa dingin, ia pun kembali ke ruang belakang.
Pertama-tama dia kembali dulu ke kamar tinggalnya untuk mengambil alat perkakas.
Padahal dia sedang memikirkan suatu persoalan yang amat besar sekali.
Tempat ini merupakan sarang rahasia dari Lok bun pay dalam kota Seng tok, jago-jago yang berada di sini pun tinggal lima orang sahabat berbaju perak dan tiga orang pengganti berbaju emas.
Selain itu, delapan orang pelayan berbaju hitam yang berada disana masih belum terhitung seorang jagoan.
Dengan kemampuan yang dimiliki Mo Kiau jiu sekarang, apabila ia harus bertarung satu lawan satu dengan ketiga orang pengganti berbaju emas, ia tak akan merasa takut, bahkan dia berkeyakinan dalam seratus gebrakan saja, pihak lawan pasti dapat dirobohkan.
Tapi jika dia harus bertarung melawan lima sahabat berbaju perak, maka ia akan ketinggalan jauh.
Bila harus bertarung satu lawan satu, dalam lima puluh gebrakan saja, salah seorang dari lima orang sahabat tersebut sudah sanggup untuk membinasakan dia.
Sekarang jalan darahnya yang ditotok sudah dibebaskan, dalam hal ini belum ada seorang manusia pun yang tahu, andaikata dia hendak melarikan diri maka inilah kesempatan yang paling baik baginya.
Tatkala ia berpikir lebih mendalam lagi, tanpa terasa Mo Kiau jiu tertawa bangga.
Bila tangan seseorang liehay, hatinya pasti tak akan bodoh, manusia bodoh tak bisa melakukan perbuatan yang liehay, Mo Kiau jiu termasyhur karena hasil karyanya yang liehay dan luar biasa, kepandaiannya disebut nomor wahid dikolong langit, tentu saja tidak gampang untuk membohonginya.
Sesudah memahami persoalan yang sedang dipikirkan olehnya, dia pun membawa perkakasnya pergi menjadi Gin ih ngo yu.
Waktu itu Gin ih ngo yu baru saja mengubur jenazah Yu Seng dihalaman belakang sana, mereka semua dalam keadaan sedih sekali.
Mereka duduk termenung dalam ruangan tengah siapapun seperti enggan berbicara.
Pintu dibuka dan Mo Kiau jiu melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.
Salah seorang Gin ih ngo yu segera melompat bangun, lalu bentaknya keras-keras.
"Enyah, enyah dari sini!"
Mo Kiau jiu tidak menggubris seruannya dengan berlagak sok rahasia dia merentangkan tangannya seraya berkata.
"Barusan saja majikan pergi!"
Gin ih ngo yu tidak bersuara, seakan-akan mereka beranggapan "kepergiannya adalah urusannya."
Sekali lagi Mo Kiau jiu berkata.
"Sebelum pergi majikan telah berpesan agar kalian berlima membantuku memperbaiki meja baca itu!"
Mendengar ucapan mana, salah seorang manusia berbaju perak itu segera melompat bangun lalu serunya.
"Locu lagi mangkel tahu? Lebih baik kau cepat-cepat enyah dari hadapan kami!"
Sambil merendahkan suaranya Mo Kiau jiu berbisik.
"Aku cukup memahami perasaan kalian cuma persoalan itu terpaksa, dengarkanlah nasehatku, sekarang paling baik bersikaplah sedikit gembira, mari ikut aku memperbaiki meja di ruang depan sana !"
Orang berbaju perak yang sudah berdiri itu mendadak menerjang ke muka lalu menghantam bahu Mo Kiau jiu.
Mereka semua tahu kalau jalan darah Mo Kiau jiu tertotok dan sama sekali tak berkekuatan untuk melawan, mereka pun tahu kalau Mo Kiau jiu sedang membuatkan suatu benda yang amat penting artinya bagi Lok hun pay, tentu saja mereka tak berani turun tangan kelewat berat hingga meIukai dirinya, walaupun dibilang tidak berat namun seandainya terhajar diatas bahu Mo kiau jiu, niscaya orang itu akan terpelanting.
Siapa tahu Mo Kiau jiu segera membalikkan pergelangan tangannya dan berbalik mencengkeram urat nadi berbaju perak itu, kemudian tangannya mendorong dan melemparkan tubuh manusia berbaju perak itu sehingga mundur beberapa langkah.
Menyaksikan kejadian ini lima orang manusia berbaju perak itu menjadi tertegun dan berdiri bodoh.
Mo Kiau jiu tidak memberi kesempatan kepada orang untuk berbicara, dengan suara rendah katanya lagi serius.
"Barusan saja majikan menepuk bebas jalan darahku, sekarang tentunya kalian sudah mengerti bukan, meskipun diluarnya majikan bilang hendak pergi, padahal apa yang sebenarnya dia lakukan?"
"Turutilah nasehatku, aku seperti juga kalian, dalam hati ada persoalan namun tak berani diutarakan keluar, agar orang lain jangan menaruh curiga kepada kalian sekarang apa salahnya kalau kau membantu diriku memperbaiki meja baca itu?"
Kelima manusia berbaju perak itu segera memahami apa yang telah terjadi, serentak mereka bangkit berdiri dan manggut-manggut ke arah Mo Kiau jiu.
Sambil tertawa Mo Kiau jiu lantas berkata dengan suara rendah.
"Selanjutnya bila ingin merundingkan sesuatu, jangan lupa untuk mengirim orang untuk berjaga-jaga."
Berbicara sampai disitu, dia lantas menggotong-perkakasnya dan berlalu dari sana lebih dulu.
Ke lima orang manusia berbaju perak itu mengikuti dibelakangnya, bersama-sama pergi ke ruang tengah.
Maka dalam ruangan itupun terdengar suara ting, tang, ting, tang tiada hentinya, mereka telah mulai bekerja.
Apa yang diduga Mo Kiau jiu ternyata tepat sekali, secara diamdiam Lok hun pay telah kembali ke situ.
Dengan tenaga dalam yang dimilikinya, tentu saja dia tak usah kuatir ditemukan jejaknya oleh ke lima orang manusia berbaju perak itu, tatkala dilihatnya kelima orang itu sedang membantu Mo Kiau jiu bekerja, diam-diam ia tertawa bangga.
Setelah membunuh Yu Seng tadi, sebetulnya ia merasa kuatir, dia takut kelima orang manusia berbaju perak itu bekerja sama dan bersama-sama memberontak, sekalipun kepandaiannya lihay, namun terasa agak rikuh juga bila harus bertarung melawan anak buahnya.
Tapi sekarang dia sudah berlega hati, bahkan memperoleh suatu kesan yang salah.
Dia salah mengerti pembunuhan sadis dan kekuatan besar yang dimilikinya bisa mendatangkan hasil disaat dan kepada siapa saja, bahkan tak seorang manusia pun berani melawan.
Padahal, bencana besar sudah berada di depan mata, hanya saja orang lain sedang menunggu datangnya kesempatan baik.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** PADA halaman keempat dari kitab kecil, ditangan Sun Tiong lo, terlukiskan.
"Kunjungi He he koancu di kuil Tong thian koan, kota Gak yang propinsi Sam siang."
Kota Gak yang di propinsi Sam siang merupakan suatu tempat yang sangat termashur, Ioteng Gak yang to merupakan tempat yang sangat ternama dikolong langit.
Sun Tiong Io serombongan berempat telah berangkat menuju ke kota Gak yang.
Setelah menempuh perjalanan sekian waktu, mereka telah memasuki daerah kota Gak yang.
Malam itu, mereka pun menginap disebuah rumah penginapan dikota kecil Siang can tin sepuluh li diluar kota Gak yang.
Sepanjang jalan mereka tidak banyak berpikir, kini setelah tiba ditempat tujuan dan menginap dirumah penginapan dengan sikap yang amat santai mereka mencari tahu letak kuil Tong thian koan.
Siapa tahu, begitu pertanyaan diajukan, mereka berempat menjadi tertegun dan berdiri bodoh.
Menurut pemilik penginapan itu, Tong thian koan dari kota Gak yang merupakan kuil yang amat termashur sekali karena kemegahannya, sayang sekali dua puluh tahun berselang, kebakaran hebat telah memusnahkan kuil tersebut, Kuil Tong thian koan tidak terletak didalam kota Gak yang, melainkan dua li disebelah ti mur "Ou cian ihi"
Dekat telaga Tong ting ou.
Terlalu banyak kuil kenamaan yang tertimpa bencana banjir atau kebakaran selama ini, tapi kebanyakan dibangun kembali jauh lebih megah dari yang dulu, biasanya orang yang berziarah pun semakin banyak.
Tapi semenjak terbakar dua puluh tahun berselang, kuil Tong thian koan tak pernah dibangun lagi"
Tentu saja Sua Tiong lo keheranan, diapun bertanya apa sebabnya tidak dibangun lagi?
Alhasil dia telah menemukan jawaban yang justru merupakan kebalikannya.
Menurut pemberitahuan pemilik penginapan itu.
Terbakarnya kuil Tong thian koin bukannya tanpa sebab, juga bukan lantaran bencana tapi kalau dibilang api dari langit, maka ucapan mana tepat sekali.
Perkataan dari pemilik penginapan ini sudah barang tentu mencengangkan hati orang dan membuat orang tidak habis mengerti.
Namun waktu Sun Tiong lo mendesak lebih jauh, pemilik penginapan itu hanya tertawa tidak menjawab.
Maka Sun Tiong lo dan Hou ji pun mempunyai suatu pendapat baru, sembilan puluh persen kuil Tong thian koan pasti merupakan kuil Sam cing koan yang tidak benar jalannya, mereka bertekad untuk menyelidiki persoalan itu sampai jelas.
Keesokan harinya untuk menyelidiki latar belakang dari kuil Tong Thian koan, Sun Tiong lo telah menyusun rencana matang, karena Bau ji tak suka banyak berbicara maka ia diminta menemani nona Kim bermain sampan di telaga.
Sedangkan dia dan Hou ji bertugas menyelidiki persoalan tersebut.
Dalam soal selidik menyelidiki, kepandaian Hou ji jauh lebih mengungguli kemampuan Sun Tiong lo.
Untuk menyelidiki peristiwa yang telah terjadi pada dua puluh tahun berselang, mereka harus mencari keterangan dari rakyat yang berusia lanjut, tapi orang yang berusia lanjut pengalamannya pasti lebih banyak, cara mereka berbicarapun lebih berhati-hati dan tahu diri.
Oleh karena itu Hou ji memilih orang tua dari keluarga miskin yang gemar berbicara untuk melakukan penyelidikannya.
Tengah hari itu mereka tidak memasuki rumah makan kenamaan, tapi justru memasuki warung makan sederhana yang penuh dengan rakyat dari golongan bawah.
Dengan susah payah mereka berhasil pula berkenalan dengan seorang sahabat yang telah berusia agak lanjut.
Dengan keahlian Hou ji dalam pergaulan, tak sampai berapa cawan arak masuk perut, mereka telah bersahabat karib.
Suatu ketika Hou ji menyumpit sepotong daging dan mengunyahnya dengan pelan, seakan-akan ia ingat akan sesuatu mendadak ujarnya.
"Saudaraku, selesai bersantap nanti bagaimana kalau kita berkunjung ke kuil Tong thian koan?"
"Tentu saja"
Sahut Sun Tiong-lo cepat.
"dengan susah payah kita telah berkunjung ke kota Gak yang, tentu saja kita harus berpesiar ke kuil kenamaan tersebut"
Kakek kenalan mereka itu she Nyoo bernama Nyoo Ci gan, pada dasarnya dia adalah seorang yang gemar berbicara, barhati hangat dan cepat berbicara, apa yang dibicarakan biasanya pasti akan dibicarakan hingga selesai.
Oleh karena itu orang-orang yang isengpun merubah namanya dari "Ci gan"
Menjadi "It-yan"
Yang artinya begitu ia buka mulut maka semuanya akan diutarakan sampai habis.
Tatkala dia mendengar kalau Hou-ji dan Sun Tiong lo hendak berpesiar ke kuil Tong thian koan, ia meletakkan sumpitnya sembari bertanya.
"Lote sekalian hendak berpesiar kekuil Tong thian koan?"
Hou ji manggut manggut "BetuI, kami dengar orang bilang, didalam kuil Tong thian koan terdapat seorang He he-koancu yang berhasil mencapai setengah dewa, konon ia liehay dan luar biasa.."
Nyoo It yan tak kuasa menahan rasa gelinya dia segera tertawa.
"Siapa yang mengatakan hal tersebut kepada kalian?"
Begitu ia buka suara, ternyata memang mulutnya seperti tak bisa direm lagi, tak menanti sampai Hou-ji dan Sun Tiong lo menjawab, ia sudah menggebrak meja sambil melanjutkan!
"Orang yang berkata demikian pada hakekatnya merupakan telur busuk ngaco belo belaka!"
Hou ji dan Sun Tiong lo saling berpandangan sekejap, mereka berlagak seolah-olah tercengang oleh ucapan itu. Setelah mendengus, kembali Nyoo It yan melanjutkan.
"Pada dua tiga puluh tahun berselang, kuil Tong thian koan memang boleh di bilang termasuk kuil paling ternama dan paling besar diwilayah Sam siang dan sekitarnya, tapi kini, huuuh, sudah hancur ludas tak ada wujud!"
"Aah... bagaimana mungkin bisa begitu??"
Hou ji berseru tertahan.
"Kenapa tidak bisa? Dua puluh tahun berselang, Thian telah melepaskan api membakar kuil Tong thian koan, walaupun tak bisa dikatakan sudah terbakar ludas namun yang tersisa pun tak seberapa..."
"Peristiwa ini pernah pula kami dengar, tapi bukankah kemudian telah dibangun lagi?"
Seru Sun Tiong lo cepat. Mendengar kata "di bangun kembali", tidak tahan Nyoo It yan segera tertawa terbahak-bahak.
"Hah... haaaah... haaah .. .. di bangun kembali? Lote sekalian, jangan harap kuil itu dapat dibangun kembali!"
"Eeeh, sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Hou Ji berseru tertahan Nyoo It yan mengalihkan sinar matanya memandang sekejap sekeliling ruangan warung itu, lalu sambil merendahkan suaranya ia berbisik.
"Tempat ini terdapat banyak orang, kurang leluasa bagi lohan untuk berbicara secara blak-blakan, bila lote berdua ingin mengetahui keadaan yang sesungguhnya, seusai bersantap dulu, bagaimana kalau kita berbicara di warung teh tepi telaga sana ?"
Mendengar perkataan itu, diam-diam Sun Tiong-lo dan Hou-ji merasa girang, tentu saja mereka mengiakan cepat.
Seusai bersantap mereka berjalan menuju ke warung teh ditepi telaga, Nyoo It-yan memilih sebuah tempat yang sepi dan terpencil, begitu air teh dihidangkan sambil minum teh wangi, ia mulai membuka pembicaraan.
"Lote berdua benar-benar sudah ditipu orang habis-habisan. masih untung baru sekarang kalian mencari tahu kabar berita kuil Tong thian koan, coba kalau peristiwa itu berlangsung pada delapan sembilan tahun berselang, hm, hm, bisa jadi memancing datangnya kesulitan bagi kalian sendiri !"
Hanya disebabkan mencari tahu letak suatu tempat apalagi tempat itu adalah kuil kenamaan, ternyata bisa berakibat datangnya kesulitan, kejadian seaneh ini pada hakekatnya belum pernah terdengar kenyataan tersebut membuat Hou ji dan Sun Tiong-lo semakin berambisi untuk mengetahui duduk persoalannya sampai jelas.
Dengan merendahkan suaranya Nyoo It-yan berkata "Lote berdua, tahukah kau kuil Tong-thian-koan itu merupakan tempat macam apa?"
"Bukiinkah sebuah Too-koan ?"
Tanya Sun Tiong lo tertegun. Sesudah mengiakan Nyoo It yan manggut-manggut.
"Betul, Too koan tersebut meski sebuah Too koan, namun Tookoan ini berbeda sekali dengan Tookoan biasa !"
Sun Tionglo dibikin makin kebingungan, ia tak mengerti arti dari ucapan Nyo It-yan itu. Hou-ji berusia lebih besar, pengalamannya juga lebih banyak, tergerak hatinya setelah mendengar perkataan itu.
"Lotiang, apakah Tong-thian-koan adalah kuilnya kaum wanita ?"
Serunya tiba-tiba. Nyoo It-yan segera bertepuk tangan sambil tertawa.
"Tepat sekali, kuil itu memang sebuah kuil dari Li too-koh."
Sun Tioag lo baru mengerti sekarang, tanpa serasa dia melirik sekejap kearah Hou-ji.
Setelah menepuk setegukan air teh, Nyoo It yan mulai menuturkan kejadian masa lampau...
Dua puluhan tahun berselang, nama kuil Tong thian-koan sudah amat tersohor dikolong langit.
Bangunan Tong thian-koan sendiri mencapai ratusan bau luasnya dengan bangunan yang berlapis-lapis, indah dan megah.
Koancu dari kuil Tong-thian koan itu bernama Sang sang koancu, dia mempunyai sepuluh orang murid yang semuanya menggunakan hurup "lm"
Sebagai nama akhirnya.
Menurut urutan, mereka adalah.
Hui Im, Cuan-im, Hong-im, Pek im.
Seng im, Cuim, Cing im, Siong im dan Toan im.
Dengan kekuatan sebelas orang saja, tentu saja mereka tak mungkin bisa merawat kuil yang begitu megah dan besar.
Oleh sebab itu bocah-bocah perempuan dari keluarga miskin yang berada tiga sampai lima puluh li disekitar tempat itu menjadi orang-orang yang bisa dimanfaatkan tenaganya untuk mengurusi kuil tersebut.
"Kuil Tong-thian koan mempunyai harta kekayaan yang amat besar, mereka menanam sayur dan gadis gadis dari keluarga miskin itulah yang mengurusi kesemuanya. Sang-sang Koancu berusia paling banter tiga puluh tahunan, namun wajahnya yang cantik mungil amat menarik hati orang, seandainya dia bukan seorang pendeta, niscaya ia boleh dibilang sebagai seorang perempuan cantik. Sepuluh orang muridnya, selain tidak berdandan dan bergincu, sesungguhnya mereka terhitung perempuan-perempuan cantik, jubah pendeta mereka yang berwarna biru sama sekali tidak mengurangi kecantikan serta keanggunan mereka. San-san Koancu berusia tidak besar, namun kepandaiannya luar biasa sekali, terutama ilmu pertabibannya yang mendapat warisan orang kuno, hal mana membuat nama kuil Tong-thian-koan makin lama semakin termasyur di mana-mana. Koancu mengkhususkan diri dalam penyakit perempuan setiap penyakit perempuan yang diperiksa olehnya, tak ada yang belum sembuh setelah meminum obatnya tiga kali. Kota Gak yang terletak ditepi telaga Tong ting-ou, sejak dulu kala sudah menjadi tempat kaum pembesar dan kaum hartawan berekreasi, terutama mereka yang sudah pensiun, kebanyakan lantas pindah kesana dan menetap di sini sampai akhir hayatnya. Sejak ilmu pertabiban Sang-sang Koancu yang lihay tersiar keluar, kuil Tong-thian-koan menjadi termasyur dan banyak pengunjung untuk meminta pengobatan. Akhirnya Sang sang Koancu menyuruh orang membantunya memberi pengobatan, selama pekerjaan itu berlangsung, ia tak pernah memungut balas jasa, akibatnya banyak keluarga hartawan pembesar yang bergilir mudik dalam kuil itu. Akhirnya karena pengunjung yang meluap, mau tak mau Sang-.cang koancu harus menurunkan sebuah peraturan, yaitu kecuali beberapa keluarga kaya dan orang-orang yang sangat di kenal olehnya, ia tak akan turun tangan sendiri. Setiap pagi sampai malam, ruang tunggu kuil Tong-thian-koan selalu penuh dengan pasien, bahkan untuk pesan tempatpun harus di lakukan sepuluh hari sebelumnya. Perlu diketahui, Sang-sang koancu bekerja untuk amal, hingga selama ini tak pernah terjadi penyakit sekecil apapun. Tapi suatu hari telah muncul sebuah penyakit, penyakit itu bukan muncul dari pihak Tong-thian-koan, melainkan muncul dari selembar surat pengumuman yang dikeluarkan pihak kota Gak-yang, bicara soal surat pengumuman tersebut, maka kita harus berbicara dulu tempat posisi atau letak dari kuil Tong thian koan tersebut. Pintu gerbang dari kuil Tong thian koan terletak berhadapan dengan sebuah muara telaga, pintu depan bukan jalan raya, jadi untuk menuju pintu gerbang kuil Tong thian koan baik hendak pergi kekota Gak yang maupun menuju ke kebalikannya, orang harus berjalan berapa li dulu dari jalan raya, tidak heran kalau orang yang berlalu lalang disitu tidak banyak jumlahnya. Jalan yang membentang disebelah kiri pintu gerbang Tong thian koan dapat langsung berhubungan dengan jalan raya menuju kekota Gak yang. Sebaliknya jalanan yang membentang disebelah kanan pintu gerbang menghubungkan perkampungan keluarga Li yang berada tiga li-dari situ, bila berjalan sejauh dua li lagi maka orang akan tiba diperkampungan keluarga Ong. Penduduk perkampungan keluarga Li dan perkampungan keluarga Ong berjumlah ribuan keluarga, kebanyakan mereka berdagang kecil-kecilan atau menanam sayur dan menangkap ikan, oleh sebab itu setiap hari mereka harus berangkat ke kota Gak yang untuk berjualan dan sore pulang kerumah. Sebenarnya penduduk perkampungan keluarga Li dan penduduk perkampungan keluarga Ong bisa melalui jalan raya, jalan raya terletak di belakang Tong thian-koan, tapi lebih jauh tiga empat li, sebaliknya jika melalui jalan setapak yang melewati pintu gerbang kuil Tong-thian koan maka mereka akan lebih dekat empat li. Untuk mengejar waktu pasar, tentu saja rakyat memilih jalanan kecil yang melalui depan kuil Tong thian koan. Bila sedang musim dingin, keadaan masih mendingan, tapi kalau sudah musim panas maka akan timbul hal-hal yang kurang serasi. Rakyat desa biasanya tidak berpendidikan, setiap kali sesudah pulang dari pasar dan melalui telaga di muka kuil Tong thian koan, dari sepuluh orang ada delapan sampai sembilan orang yang turun ke air untuk membersihkan badan. Jalan pemikiran orang desa selamanya memang sederhana, untuk turun ke air, mereka hanya mencari tempat yang tak ada orangnya dan lantas terjun, begitu berada di air maka segala sesuatunya terlupakan. Akibatnya seringkali keluarga pembesar atau hartawan kaya yang kebetulan lewat dimuka kuil Tong thian koan menjadi tersipu-sipu di buatnya karena sering melihat rakyat berada dalam keadaan bugil sedang mandi di telaga. Itulah sebabnya, suatu hari pihak kota praja Gak yang memasang dua buah papan pengumuman yang didirikan satu dikiri dan yang lain di kanan pintu gerbang Tong thian koan hingga mencapai ujung dinding pekarangan bangunan tersebut. Isi pengumuman sederhana "Mulai hari ini, terkecuali bocah lelaki dan kaum wanita, dilarang melalui jalan ini!"
Begitu pengumuman dikeluarkan rakyat desa keluarga Li dan keluarga Ong merasa sangat tidak puas.
Tidak puas tinggal tidak puas, namun yang jelas tak ada orang yang berani mencari gara-gara dengan pihak penguasa, selain menggerutu, terpaksa setiap hari mereka harus berjalan tujuh delapan li lebih jauh.
Cuma saja setelah pengumuman itu muncul pengunjung yang datang kekuil Tong thian koan lebih berkurang, lebih-lebih mereka tak bisa melihat lagi kaum lelaki yang berbugil.
Tak lama sesudah pengumuman itu dipasang wali-kota Gak yang pun diganti.
Wali-kota baru ini she Gan bernama Wan-sim, konon tayya ini berhati lurus dan bijaksana, semua perhatiannya hanya dicurahkan pada kesejahteraan penduduk Gak yang.
Sejak hari pertama memangku jabatan, ia sudah beranggapan bahwa pengumuman tersebut tidak sesuai namun berhubung pejabat lama baru pergi, untuk memberi muka ia merasa enggan untuk langsung merubah.
Kendati begitu begitu ia telah menyelidiki duduknya persoalan itu dari para anak buahnya dan mengetahui alasannya.
Ia pernah memberi pernyataan bahwasanya pengumuman tersebut terlalu merugikan orang desa.
Menurut pendapatnya alasan yang dipakai kurang cocok, sebab dengan alasan apapun tak seharusnya melarang orang melalui jalanan yang lebih dekat dan pendek.
Menurut pejibat baru ini, asal isi pengumuman dirubah menjadi Barang siapa diketahui mandi telanjang dalam telaga akan dijatuhi hukuman berat, seharusnya masalah tersebut sudah dapat diatasi.
Tak selang berapa saat kemudian, pendapatnya itu telah disebar luaskan oleh anak buahnya keseluruh pelosok kota.
Suatu pagi, ketika ia berada diruang sidang telah menerima belasan lembar surat undangan, surat-surat undangan tersebut kalau bukan dari saudagar kaya, tentu hartawan berpengaruh, atau kalau bukan berasal dari bekas-bekas pejabat lama.
Akhirnya terjadi suatu dialog langsung antara pejabat baru dengan tamu-tamunya, ternyata kedatangan mereka hanya dikarenakan soal pengumuman tersebut.
Bahkan mereka semua bersepakat agar pengumuman lama tetap dipertahankan dan jangan di rubah.
Gan tay ya segera menerangkan sudut pandangannya meski pendapat mana tak bisa diterima pihak lawan, kendatipun demikian Tay-ya mempunyai kekuasaan sebagai seorang Tay ya, ia telah bermaksud untuk melaksanakan keputusan menurut pendapatnya itu dalam beberapa hari mendatang.
Belumlah keputusan mana dilaksanakan mendadak Gan Tay ya diundang oleh atasannya untuk mengadakan pertemuan, dalam pertemuan mana atasannya kembali menandaskan bahwa pengumuman itu tak boleh dirubah, bahkan secara diam diam disertai pula dengan semacam pemecatan.
Walaupun Gik Tay ya tak senang hati, namun berhubung atasan ada perintah, ia tak bisa membangkang, apalagi dia belum terbiasa dengan pekerjaan tersebut, maka diapun tidak bersikeras dengan pendapatnya lagi.
Belum lama setelah peristiwa itu, suatu senja dikali Gan ya sedang berbincang bincang dengan dua orang anak buahnya dikamar baca, Lim Tiong kepala opas kota telah datang menghadap dengan langkah tergesa-gesa, sambil mengetuk pintu terdengar ia berkata.
"Lapor Tay ya, diluar ada seorang penduduk desa ingin bertemu dengan tayjin, konon dia mempunyai masalah besar yang amat penting artinya hendak dilaporkan kepada tay ya !"
Gan wan sim adalah seorang pembesar jujur, seorang pembesar bijaksana, dia segera mengundang penduduk desa itu agar menghadap.
Begitu masuk kedalam ruangan, penduduk desa siap menjatuhkan diri berlutut.
Gan Wan Sim segera menitahkan kepada Lim Tiong agar membangunkan penduduk desa itu, kemudian diperhatikannya wajah penduduk itu dengan seksama, diam-diam dia lantas mengangguk, orang itu mempunyai wajah yang sangat jujur.
MenyusuI kemudian, Gan Wan sim lantas berkata pada penduduk desa itu sambil tertawa.
"Tempat ini adalah kamar bacaku, bukan ruang sidang, maka kaupun tak usah melakukan penghormatan besar, silahkan duduk !"
Lim Tong segera menyiapkan sebuah bangku batu untuk penduduk itu. Tentu saja orang itu tak berani duduk, sikapnya menunjukkan perasaan yaa takut yaa menghormat. Dengan ramah Gan Wan sim berkata lagi.
"Duduk sajalah, mari kita berbicara secara baik-baik, siapa namamu...?"
"Hamba she Li bernama Li Hong, orang-orang memanggil siaujin sebagai Li Lo si (si jujur Li)"
"Li Hong, kau bilang ada urusan besar yang sangat penting hendak dilaporkan kepadaku, persoalan apakah itu?"
Li Hong memandang dua orang tamu yang ada disana, lalu memandang pula ke arah Li Tiong, setelah itu ujarnya.
"Tay ya, persoalan ini tak boleh di dengar orang lain"
Dilihat dari ucapan tersebut, sudah cukup membuktikan kejujuran dan kepolosan Li Hong.
Dua orang anggota pejabat itu segera mohon diri dari sana hingga kini tinggal Li Hong dan Gan tayjin berdua.
Setelah Gan tayjin bertanya lagi, Li Hong baru berkata sambil tertawa bodoh.
"Tay ya, konon kau adalah seorang pembesar bijaksana, pandai bekerja, tapi . ...tayya sudah banyak hari kau memangku jabatan, mengapa kau masih membiarkan pengumuman itu menempel di tepi jalan ?"
Gan tayya segera memahami apa yang di maksudkan, sahutnya sambil tertawa pula.
"Li Hong, kau maksudkan surat pengumuman yang ditempelkan di depan kuil Tong thian koan itu ?"
Li Hong manggut-manggut, maka Gan tayya pun memberikan penjelasannya dengan gamblang. Siapa tahu, dengan wajah serius Li Hong berkata lagi.
"Tayya, tahun ini siaujin berusia lima puluh delapan tahun, sudah banyak kejadian yang kujumpai, terus terang saja tayya, semenjak surat pengumuman itu dipasang, hamba tak pernah menganggur lagi.
"Setiap kentongan ke dua, hamba selalu memanjat ke atas sebatang pohon besar di muka kuil Tong thian koan, selama sebulan lebih, sudah banyak kejadian aneh yang telah hamba saksikan..."
Menyinggung soal kejadian aneh, paras muka Gan Wan sim segera berubah hebat. Selang berapa saat kemudian, dengan sorot mata yang tajam dan wajah berwibawa dia berseru.
"Li Hong, kejadian aneh macam apa itu ?"
"Thay-ya. setiap tengah malam, pasti ada kereta yang tiba didepan pintu kuil, serombongan gadis muncul dari dalam kuil dan menggotong masuk barang barang yang diangkut lewat pedati tersebut..."
"ltu mah kejadian umum, bukan terhitung suatu peristiwa yang sangat aneh."
Kata Gan Wan sim dengan kening berkerut. Li Hong tidak menanggapi perkataan itu, sebaliknya berkata lagi.
"Tay-ya harap kau dengarkan dulu baik-baik, siaujin maksudkan ada serombongan gadis yang sedang mengangkut "barang"
Gan Wan-sim tertawa.
DaIam sebuah kuil tookoan yang dihuni kaum rahib, memang seringkali menggunakan tenaga perempuan untuk mengangkuti barang, masa mereka akan mencari kaum lelaki untuk membantu pekerjaannya ?"
Li Hong turut tertawa, tertawa dari seorang yang jujur, katanya kembali.
"Soal ini hamba sudah tahu, apalagi kuil Tong thian koan mempunyai banyak pekerjaan bercocok tanam yang di garap anak-anak gadis keluarga miskin yg tinggal disekitar tempat itu..."
""Yaa, betu!, buat apa kau mesti merasa heran bila kaum wanita pun mengangkat barang?"
Li Hong kembali tidak menjawab pertanyaan tersebut, katanya.
"Siaujin telah bilang, waktu itu siaujin memanjat sebatang pohon besar yang tumbuh berapa kaki didepan pintu gerbang Tong thian koan dekat tepi telaga, segala sesuatunya dapat terlihat jelas.
"Tayya, setiap kereta mereka lewat dan barang barang dalam pedati diangkut turun, me ngikuti hembusan angin aku pun turut mengendus bau yang sangat aneh langsung menyusup kelubang hidung hamba !"
"Bau aneh apakah itu !"
Tanya Gan Wan sim dengan kening berkerut.
"Ada bau arak, ada bau daging, ada bau amisnya ikan laut serta udang..."
Sahut Li Hong setengah berbisik. Gak Wan siu memandang Li Hong sekejap, lalu berkata.
"Li Hong, dari beberapa macam bau itu kau telah berhasil membuktikan apa ?"
Li Hong segera menggeleng.
"Siaujin hanya melaporkan apa yang telah hamba saksikan kepada tayya !" -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** DENGAN wajah serius Gan Wan sim berkata "Li Hong, kuil kecil, too-koan, kuil hweesio semuanya adalah tempat para pendeta hidup mengasingkan diri, namun sebagai pendeta bukan diharuskan mereka tak makam barang berjiwa, aku percaya kau pasti memahami perkataanku ini !"
Kembali Li Hong tidak menjawab apakah dia memahami atau tidak, sebaliknya melanjutkan.
"Bahkan ada kalanya datang tandu, ada kala nya datang kereta, yang turun semuanya adalah kaum wanita, nona, mereka semua disambut para Tokoh masuk ke dalam kuil..."
Gan Wan sim enggan bersilat lidah kelewat lama dengan Li Hong, kembali tukasnya dengan suara dalam. Lalu sekalian masuk kuil, tentu saja di sambut para tokoh, kejadian ini lumrah dan tak aneh !"
Berbicara sampai disitu, Gan Wan sim segera mengulapkan tangannya sambil menambahkan.
"Bila kau tak ada urusan yang lain, sekarang boleh segera pulang saja."
"Tidak tay ya"
Kata Li Hong menggeleng.
"apa yang siaujin katakan tak lebih baru seperduanya saja !"
Sekali lagi G,in Wan sim berkerut kening, dia ingin memanggil Lim Tiong untuk menggusur keluar Li Hong, tapi sebagai pejabat yang baik ia berusaha menahan hawa amarahnya.
Li Hong memang terlalu jujur, ia tak dapat menilai perubahan wajah orang, terutama perubahan pada mimik muka tayya tersebut, itulah sebabnya tanpa ragu dia melanjutkan kem bali pertanyaan yang belum selesai.
"Sikap, tindak tanduk maupun cara berbicara para tokoh tersebut sewaktu menyambut-kedatangan perempuan perempuan terhormat itu benar-benar amat tak sedap di pandang, sama sekali tidak mirip seorang pertapa yang suci bersih, lebih lebih tidak mirip dengan keluarga dari orang-orang yang berpendidikan tinggi."
Perkataan tersebut kelewat serius, juga terasa punya isi yang gawat artinya. Oleh karena itu Gan Wan sim segera mengiakan Kembali Li Hong mendengus dingin dengan nada sinis, katanya lebih lanjut.
"Siaujin mempunyai seorang ponakan yang tak becus, dahulu seringkali terjerumus dalam rumah rumah pelacuran, terhadap sahabat mudanya ia seringkali menceritakan adegan adegan porno dalam rumah-rumah pelacuran itu."
"Tutup mulut"
Mendadak Gan Wan sim itu membentak gusar.
"Perumpamaanmu itu sungguh amat keterlaluan!"
Li Hong nampak agak tertegun lalu ujarnya.
"Tayya, seandainya perkataan siaujin keterlaluan tayya mau memenggal kepalaku juga boleh, mau mencincang juga boleh, tapi yang kuminta bila tayya tidak percaya, besok malam silahkan tayya memanjat pohon sendiri dan mendengarkan suara hiruk pikuk disitu.."
Gan Wan-sim tertawa geli, dan suara tertawa inipun segera memotong ucapan Li Hong yang belum selesai.
Agaknya Li Hong telah menyadari kekeliruannya dalam berbicara tadi, seorang wali kota masa disuruh memanjat pohon hanya untuk melihat dan mendengarkan sekelompok tokoh bergurau cabul dengan sekawanan tamu pria, tentu saja peristiwa ini merupakan suatu lelucon terbesar di dunia ini...
Namun Gan Wan-sim tidak menukas pembicaraan dari Li Hong, sebab ditinjau dari ucapan mana, ia sudah dapat membuktikan kalau Li Hong adalah seorang desa yang seratus persen polos dan jujur.
Sementara itu Li Hong telah mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, katanya lagi.
"Tayya, tahukah kau, nona-nona serta nyonya nyonya itu pun telah menganggap kuil Tong thian-koan sebagai rumah kediamannya, setelah tinggal disana mereka lantas enggan untuk pulang ke rumah lagi."
Gan Wan sim sebagai seorang pembesar yang jujur dan bijaksana, tentu saja harus meneliti setiap persoalan secermat mungkin, sudah barang tentu dia tak bisa menerima laporan dengan begitu saja tanpa melakukan pemeriksaan sendiri.
Maka dia pun manggut manggut seraya berkata.
Tentang soal ini aku memang sudah tahu, hal ini dikarenakan koancu kuil Tong thian koan memiliki ilmu pertabiban yang sangat liehay, lantaran pasiennya kelewat banyak maka untuk menunggu sampai gilirannya terpaksa mereka harus tinggal di kuil itu sambil menunggu pengobatan."
Mendengar ucapan mana, Li Hong segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh.., haaahhh ... haaahhh ,..tahu kah Tayya berapa banyak orang yang tinggal di kuil itu ?"
Gan Wan sim agak tertegun, ia menggeIeng.
"Berhubung masalah itu menyangkut soal kaum wanita, maka aku merasa kurang leluasa untuk melakukan penyelidikan cuma menurut keadaan pada umumnya, kalau ada delapan atau sepuluh orang yang mohon menginap disitu untuk memperoleh pengobatan, aku rasa hal ini masih belum terhitung seberapa."
Dengan wajah serius Li Hoog segera berkata "Delapan, sepuluh orang?
Tayya, jika kau dapat mengambil keputusan dan tindakan.
kirimlah pasukan tentara dan kepunglah kuil Tong thian koan, siaujin jamin sudah pasti kau akan berhasil menemukan seratus orang lebih !"
Mendengar laporan itu, paras muka Gan Wan sim berubah hebat, dia menjadi tak tenang lagi untuk duduk disana. Kembali Li Hong berkata.
"Tayya, bagaimana lihaynya seorang tabib, mustahil dalam sehari semalam tanpa makan tanpa tidur ia bisa memeriksa pesien sebanyak seratus orang lebih, tayyi, apakah kau tidak merasa kalau peristiwa ini sangat aneh dan mencurigakan. Tanpa terasa Gan Wan sim manggut-manggut. Kini, perkataan dari Li Hong makin gawat.
"Tayya, sudah siaujin katakan tadi, setiap hari pada kentongan kedua, hamba pasti naik keatas pohon untuk mengintip kedalam kuil, bukan saja kusaksikan kejadian kejadian aneh tersebut, bahkan akupun berhasil menemukan suatu persoalan yang istimewa!"
"Ooooh, persolan istimewa apakah itu?"
"Setiap manusia yang makan biji bijian sudah pasti akan jatuh sakit tetapi dua puluh li disekitar tempat ini termasuk perempuan perempuan yang tinggal dikota Gak yang, justru menderita suatu penyakit luar biasa!"
Gan Wan sim tidak memahami ucapannya itu, maka dia bertanya.
"Menderita penyakit yang luar biasa? Apa maksudmu?"
Li Hong terttwa terkekeh, lalu ujarnya.
"Perempuan yang tinggal disekitar tempat ini, dari umur empat lima belas tahun ke-bawah dan empat puluh tujuh delapan tahun keatas sama sekali tidak menderita sakit apa-apa, justru yang terkena penyakit adalah perempuan perempuan yang berusia delapan-sembilan belas tahun sampai tiga puluh delapan sembilan tahun, coba bayangkan tayya, bukankah penyakit yang mereka derita itu luar biasa sekali ?"
Gan Wan sim segera memahami apa yang dimaksudkan, mendadak ia beranjak sambil berkata.
"Li Hong, kau bilang didalam kuil sekarang berdiam seratus orang perempuan?"
"Yaa, mungkin lebih banyak, jeias tak bakal lebih kurang..."
"Kau mengatakan didalam kuil itu tertimbun arak dan minuman berjiwa dalam jumlah besar?"
Kembali Gan Wan sim bertanya. Li Hong mengangguk.
"Menjawab pertanyaan tayya, siaujin jamin makanan yang mereka timbun cukup untuk menjamu seratus orang lebih dan cukup untuk mengisi perut mereka selama setengah tahun, bahkan mungkin juga lebih!"
Sepasang alis mata Gan Wan sim berkenyit makin kencang, katanya kemudian.
"Menurut apa yang kuketahui, Tong thian koan hanya terdiri dari dua buah ruangan penerima tamu tanpa ruangan lain, kau adalah penduduk dari dusun keluarga Li, jaraknya dengan Tong thian koan sangat dekat, benarkah apa yang kukatakan tadi?"
Li Hong manggut-manggut.
"Benar"
Semasa kecil dulu siaujin pernah mengikuti ibuku berkunjung ke kuil Tong thian koan, gedung penerima tamu memang terdapat dua buah dengan masing masing gedung mempunyai sepuluh kamar, hal ini tak mungkin bisa salah.
Agaknya Gan Wan sim sudah mempunyai pertimbangan sendiri dia bertanya lagi.
"Kapankah suasana kuil itu paling sepi?"
"Selewatnya tengah malam, suasana hening, sepi tak kedengaran sedikit suarapun!"
Jawab Li Hong tanpa berpikir panjang.
"Kau berada diatas pohon, apakah suasana dalam kuil dapat terlihat jelas ...?"
"Yaa, sebagian besar memang dapat terlihat jelas!"
Li"
Hong manggut-manggut.
"Ketika para tamu memasuki ruang penerima tamu, apakah kau pun dapat melihat dengan jelas?"
Gan Wan sim bertanya dengan sangat berhati-hati dan cermat.
Tanpa berpikir panjang Li Hong menyahut "Yang bisa siaujin lihat adalah ruangan sebelah barat-cuma kejadian ini aneh sekali, pada hakekatnya dalam ruangan sebelah barat, tidak nampak seorang manusiapun setitik cahaya lampu pun tak ada, seolah-olah mereka bukan tinggal didalam sana!"
Semakin memahami duduknya persoalan, Gan Wan sim merasa semakin yakin dengan ja lan pemikirannya. Setelah termenung sampai lama sekali, ia baru berkata kepada Li Hong.
"Aku percaya setiap perkataan yang kau ucapkan itu jujur dan merupakan kenyataan."
"Jika siaujin berani berbohong hanya setengah patah kata saja, silahkan tayya menjatuh kan hukuman yang setimpal kepada hamba!"
Tukas orang itu cepat.
"Baik, mulai sekarang kau adalah tamu kami segera kutitahkan orang untuk membereskan sebuah kamar untuk kau tempati, namun kau dilarang meninggalkan gedung ini, walau hanya selangkahpun sanggupkah kau laksanakan hal ini?"
"Siaujin sanggup, siaujin bersedia ditampilkan sebagai saksi!"
Jawab Li Hong dengan suara lantang. Maka Gan Wan sim segera berseru dengan lantang.
"Gan Sun, Gan Sun."
Gan Sun, pengurus rumah tangga gedung keluarga Gan segera mengiakan sambil muncul didalam ruangan. Sambil menunjuk kearah Li Hong, Gan Wan sim berkata.
"Bereskan kamar untuk dia tinggal, sehari tiga kali makan perintahkan orang untuk menghantar ke kamarnya, suruh Siau suo-ji menemaninya, tanpa perintahku, ia dilarang meninggalkan gedung ini barang setapakpun !"
Gan Sun mengiakan, bersama Li Hong dia berlalu.
Gan Wan sim segera memanggil Lim Tiong dan menitahkan kepadanya untuk mengundang panglima pertahanan kota, disamping itu diapun berpesan agar segera datangkan cuma Panglima pertahanan kota seorang.
Panglima pertahanan kota segera datang, semestinya pangkat panglima ini tidak lebih rendah daripada pangkat seorang wali kota, tapi berhubung walikota berkuasa mengatur tata keamanan dalam kota, maka kedudukan panglima pertahanan kota jadi lebih rendah sedikit daripada pangkat seorang wali kota.
Sementara itu waktu baru menunjukkan kentongan ke dua.
Panglima pertahanan kota dan Gan ya segera melangsungkan rapat rahasia selama sepertanak nasi lamanya, kemudian panglima itu buru-buru memohon diri.
Menyusul kemudian Gan Wan sim menitahkan kepada Lim Tiong untuk mempersiapkan tiga peleton pasukan opas yang bersenjata lengkap dengan masing-masing membawa sebuah obor, cuma obor itu dilarang dipasang sebelum ada perintah.
Kemudian dipimpin langsung oleh Gan Wan sim, berangkatlah rombongan yang terdiri dari dua puluh enam orang itu menyelinap dibalik kegelapan.
"Pintu gerbang kota yang sebenarnya telah tertutup, kini dibuka secara diam-diam. Panglima pertahanan kota dengan membawa tiga ratus prajurit bersenjata lengkap sementara itu sudah berkumpul dilapangan depan pintu gerbang kota menunggu perintah. Begitu mereka bersua, kedua belah pihak saling menganggukan kepala, kemudian dengan memimpin pasukan masing-masing bergerak keluar kota. Setelah keluar kota, secara diam-diam mereka menyusup ke arah kuil Tong thian koan. Sebelum itu Gan Wan sim telan mengirim anak buahnya untuk menjaga setiap jalan besar dan lorong kecil yang bakal dilalui pasukan inti, atas perintah wali kita, tiap orang dilarang melalui jaIanan tersebut sebelum mendapat izin langsung dari wali kota. Begitulah dalam waktu singkat pasukan besar itu sudah mengepung kuil Tong thian koan rapat-rapat, tiga ratus prajurit berdiri tiap dua langkah seorang, segenap kuil itu boleh di bilang sudah terkurung rapat. Saat itulah Gan Wan sim baru menurunkan perintah untuk memasang obor dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Lalu di perintahkan untuk mengetuk pintu gerbang kuil Tong thian koan, tapi sampai lama sekali belum juga adb yang membukakan pintu. Kenyataan yang terbentang di depan mata ini semakin meyakinkan Gan Wan sim kalau kuil Tong thian koan telah berubah menjadi tempat mesum. Akhirnya Lim Tong mendapat perintah untuk melompati dinding kuil dan membuka pintu gerbang dari dalam. Gan Wan-sim kembali menitahkan anak buahnya tiga orang membentuk satu regu melakukan penggeledahan terhadap seluruh ruangan dalam kuil, termasuk juga ruang tamu sebelah timur dan ruangan sebelah barat. Ui Siu pi panglima pertahanan kota yang sesungguhnya kurang menyetujui tindakan Gan Wan-sim sewaktu berunding di kantor tadi, mau tak mau harus merubah pendiriannya setelah menyaksikan kejadian ini, tanpa terasa katanya kepada Gan Wan sim.
"Gan tayjin, tampaknya kuil ini memang sedikit agak aneh"
Gan Wan-sim tersenyum.
"Seandainya dugaan siaute tak keliru..."
Berbicara sampai disini, dia lantas menuding ke arah semua.opas dan tentara pemerintah yang ada disitu sambil melanjutkan.
"Mereka tak akan berhasil menemukan seorang manusiapun!"
Ui Siu-pi jadi tertegun.
"Bukankah tayjin pernah berkata, disini terdapat seratus orang perempuan...?"
Gan wan sim manggut-manggut.
"Benar, siaute memang berkata demikian"
"Lantas mengapa kita tak berhasil menemukan seorang manusia pun?"
Tanya Ui Siu pi ke heranan. Padahal semua jawaban akan segera terungkap, harap Ui tayjin suka menanti sebentar lagi."
Benar juga, tak selang berapa saat kemudian semua orang yang ditugaskan melakukan penggeledahan datang melaporkan bahwa mereka tidak berhasil menemukan seorang manusiapun.
Dengan suara dalam Gan Wan sim menitahkan.
"Kini dengan dua orang membentuk satu regu menyebarkan diri di seputar ruangan dan gedung penerima tamu sambil menantikan terjadinya perubahan selanjutnya. Semua opas dan tentara pemerintah menyahut dan melaksanakan tugas masing masing. Kepada Gan Wan sim, Ui Siu pi kembali berkata.
"Gan tayjin, sebenarnya kejadian aneh apakah yang telah terjadi ditempat ini?"
"Sederhana sekali."
Jawab Gan wan sim serius.
"dalam kuil Tong thian koan pasti terdapat lorong rahasia yang menghubungkan ruangan bawah tanah, semua tokoh serta perempuan yang berjumlah seratus orang lebih itu kini bersembunyi semua di ruang rahasia bawah tanah!"
Setelah mendengar ucapan itu, Ui Siu pi baru menjadi mengerti, katanya.
"Apakah tayjin hendak menjalankan siasat "menjaga pohon menanti kelinci?"
"Tidak, yang akan siaute lakukan adalah memukul rumput mengejutkan sang ular!"
Sambil berkata dia lantas memberi tanda agar Lim Tiong maju kedepan... Setelah Lim Tiong mendekat, dengan suara lirih Gan Wan sim berpesan.
"Kau segera naik keloteng bagian genta dan bunyikan sendiri genta kuil ini!"
Lim Tiong mendapat perintah dan berlalu, tak selang berapa saat kemudian suara genta telah dibunyikan bertalu-talu. Sambil manggut-manggut berulang kali,"
Ui Siu-pi bergumam tiada hentinya.
"Betul, memang siasat "memukul rumput me gejutkan ular"
Yang sangat mujarab !"
Begitu suara genta berhenti berbunyi dari ruangan sebelah kanan telab datang berita.
Dua orang yang bertugas menjaga di ruangan sebelah kanan adalah seorang opas yang bernama Si Seng dengan seorang pengawal dari Ui Siu pi yang bernama Ui Ci-sin.
Tak lama setelah suara genta dibunyikan, patung malaikat yang berada diruangan sebelah kanan mendadak bergeser ke samping, lalu muncullah sebuah pintu rahasia yang amat besar dan cukup lebar, pintu itu cukup untuk di lalui tiga orang yang jalan berjajar.
Sebenarnya Ui Ci sin akan segera bertindak tapi Si Seng si opas kenamaan itu segera mencegah rekannya bertindak.
Sementara Ui Ci sin masih dibuat keheranan, Si Seng telah berbisik.
"Jangan lupa dengan jaring yang baru saja kita siapkan, mengapa tidak menunggu saja sampai dia masuk perangkap sendiri ?"
Ui Ci sin segera menjadi sadar kembaii, diapun manggut-manggut tiada hentinya.
Tak selang berapa saat kemudian, tampak dua orang To koh munculkan diri dari balik pintu rahasia.
Baru saja mereka menuruni altar dimana patung malaikat tersebut berada, Si Seng dan Ui Ci sin telah bertindak cepat dengan membekuknya dan tanpa ditanya lagi langsung di seret ke ruang tengah.
Sementara itu dalam ruang tengah telah di persiapkan sidang darurat yang di pimpin Wali kota.
Begitu ke dua orang To koh tersebut di gusur masuk ke dalam ruangan, Si Seng segera memberi laporan.
"Dibelakang patung malaikat ruang sebelah kanan terdapat pintu rahasia menuju ke ruang bawah tanah, hamba dan Ui Ci-sin berhasil membekuk mereka ketika mereka munculkan diri karena mendengar suara genta."
Gan Wan sin segera mengulapkan tangannya menitankan Si Seng agar menyingkir ke samping, kemudian tanyanya kepada dua orang To koh tersebut.
"Siapa nama kalian ?"
Belum sempat kedua orang Too koh itu menjawab, dari ruang sebelah kiri telah berhasil pula membekuk dua orang too koh lainnya.
Ketika ditanyakan ternyata keadaannya tidak jauh berbeda dengan keadaan di ruang sebelah kanan.
Secara ketat Gan Wan sirn mengajukan serangkaian pertanyaan dia baru tahu kalau ke empat orang To koh itu adalah Hui im, pek im"
Cing im dan Toan-im.
Ketika Gan Wan-sim menanyakan tentang usia mereka.
baru diketahui bahwa Hui im berusia dua puluh tujuh tahun, Pek im dua puluh empat tahun, Cing im baru berumur dua puluh tahun, sedang Toan im yang paling kecil baru berusia tujuh belas tahun.
Gan Wan-sim adalah seorang pembesar yang teliti, dia mulai menyusun rencana dan pertanyaan untuk mengungkap latar belakang peristiwa itu, pertama-tama ia bertanya kepada Hui im.
"Sejak kapan kau menjadi pendeta ?"
"Pinto mendapat suami yang tak jujur, akhir nya karena kecewa dan hambar terhadap kehidupan keduniawian, pinto baru menjadi pendeta."
Ketika pertanyaan yang sama diajukan kepada Pek im, maka Pek im pun menjawab.
"Pinto pernah dijual orang ke dalam rumah pelacuran, akhirnya setelah berhasil melepaskan diri, pinto jadi pendeta"
Sewaktu pertanyaan itu ditujukan kepada Cing im, ternyata pendeta ini sudah mencukur rambut semenjak kecil.
Jawaban dari Toan im pun sama.
Saat itulah Gan Wan sim baru berbisik kepada Ui Siu pi yang duduk disampingnya.
"Ui tayjin, apakah kau berhasil menemukan sesuatu yang mencurigakan..?"
Ui Sin-pi juga sudah lama berkecimpungan dalam bidang ini mendengar pertanyaan itu ia segera manggut-manggut.
"Pernyataan dari Cing im dan Toan im sudah cukup dijadikan bukti yang nyata."
Dengan serius Gan Wan sim manggut-manggut, dia lantas bertanya kepada Cing-im dan Toan-im.
"Apakah kalian sudah menjadi pendeta di kuil Tong thian-koan semenjak masih kecil?"
Cing-im, Toan im segera mengiakan.
Tatkala Gan Wan-sim menanyakan usia sewaktu mereka menjadi pendeta, Cing-im mengaku berusia dua belas, sedang Toan im sebelas tahun.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***
Jilid 29 KETIKA ditanyakan sesudah menjadi pendeta apakah mereka pernah pergi jauh dari kuil Tong thian koan, atau mengalami suatu peristiwa lain, kedua orang itu mengatakan tidak.
Maka semua pengakuan itu dicatat kemudian memerintahkan mereka memberi tanda tangan.
Sewaktu Gan Wan sim bertanya kepada Hui im, dia telah bertemu dengan tandingannya, Sambil menatap wajah Hui im, Gan Wan sim berkata.
"Kami mempunyai bukti yang nyata menunjukkan bahwa tempat ini bukan sebuah to koan yang bersih..."
Belum habis dia berkata, Hui im telah menukas.
"Tayya, pertama pinto hendak memberitahukan kepada tayya bahwa tempat ini adalah kuil tempat tinggal para rahib, tapi kenyataannya ditengah malam buta Tay ya telah membawa ratusan orang lelaki menyerbu kemari dengan melewati dinding pekarangan, pinto rasa cukup didalam hal ini Tay-ya sudah tak mampu memberikan penjelasan kepada semua penduduk kota."
"Kini Tay ya berulang kali menuduh kuil kami sebagai kuil yang tidak bersih, sebenarnya persoalan ini sederhana sekali, asal tay ya punya bukti, silahkan saja diperlihatkan kepada pinto !"
"Hm, dengan mengandalkan kedudukanmu, kau masih belum berhak untuk meminta bukti dari kami, sekarang aku ingin bertanya kepadamu, Sang sang koancu, ketua kalian kini berada dalam kuil !"
"Koancti tidak berada dalam kuil !"
"Dia berada dimana?"
Seru Gan Wan sim sambil menggebrak meja.
"Senja tadi, dia telah diundang kegedung gubernur Lau !"
Jawab Hui im angkuh.
Gubernur Lau adalah pembesar yang berpangkat tinggi di propinsi Sam-siang, kini Hui im telah menggunakan nama pembesar tersebut untuk menakut-nakuti walikota Gak yang.
Seorang walikota yang berjabatan kecil tentu saja tak akan mungkin berani mencari gara-gara dengan atasannya kendatipun dia bernyali besar, sebab hal ini ibaratnya sebutir telur yang hendak diadu dengan sebutir batu cadas.
Siapa tahu Gan Wan sim memang seorang pembesar yang berbeda dengan kebanyakan pembesar lainnya, selama kebenaran tetap ada kendatipun harus berkonfrontasi dengan kaisar pun dia berani.
Maka setelah mendengar nama "gubernur Lau"
Disinggung, dia hanya tertawa hambar, lalu ujarnya kepada Lim Tiong yang berada di sisinya.
"Lim Tiong, segera membawa kartu namaku dan berkunjung ke gedung Lau tayjin, katakan kepadanya kalau ada urusan penting hendak dibicarakan diharapkan ia segera datang bersama Sang-sang koancu!"
Lim Tiong menerima perintah dan membalikkan badan siap berlalu dari situ, namun belum lagi melangkah berapa tindak, Hui im, teIah berkata lagi.
"Aku masih ingat, Pek tayjin dikota selatan juga telah mengundangnya, Chin lo siangya di kota timur juga mengutus orang kemari, maka kini koancu berada dirumah siapa, sulit rasanya untuk dikatakan !"
Gan Wan-sin tertawa terbahak-bahak, kepada Lim Tiong serunya.
"Kemarilah kau !"
Lim Tiong mengiakan, dia segera berjalan mendekati. Sambil menuding kearah Hui-im, Gan Wan sim berkata.
"Gusur dia kesudut luar ruangan kuil, perintahkan delapan orang prajurit menjaganya dengan golok terhunus, sebelum mendapat perintah dariku, jika ia berani banyak bicara lagi, Segera cincang tubuhnya berkeping-keping !"
Agak tertegun Ui Ci-sin setelah mendengar perkataan itu, buru-buru cegahnya.
"Tayjin, aku rasa hal ini kurang sesuai !"
Gan Wan-sin tidak memberi banyak penjelasan, dia mengulapkan tangannya dan Lim Tiong menggusur pergi Hui im dari situ. Selang berapa saat kemudian, Gan Wan sim baru berkata kepada Pek im.
"Dengarkan baik-baik, kini aku sudah mengetahui penyakit kalian. jika kau bersedia bicara jujur, aku akan menghapus dosamu serta mengembalikan kedudukanmu sebagai perempuan baik-baik.
"Tapi, jika kau berani bicara sembarangan atau menipu, Aku percaya kau belum pernah merasakan bagaimana enaknya dipantek diatas lempengan besi yang membara, apalagi kau bisa dihukum seumur hidup sehingga hidupmu sengsara, mengerti ?"
Pek im menjadi ketakutan setengah mati, buru-buru dia mengiakan berulang kali. Pada saat itulah Hui im yang berada di sudut luar kuil berteriak keras.
"Pek im, tutup mulut, jangan bicara apa apa. d!a tak akan mampu berbuat apa apa terhadap kita, jika kau sampai berbicara, bukan cuma kami saja yang bakal celaka, orang-orang itu..."
"Lim Tiong, cincang tubuhnya !"
Bentak Gan Wan sim ke arah luar, Menyusul perintah itu dari luar ruangan kedengaran suara bacokan golok yang bertubi-tubi disertai jeritan jeritan ngeri dari Hui im yang menyayatkan hati, sampai lama kemudian suasana baru berubah kembali menjadi hening.
Menyusul kemudian, Lim Tiong dengan membawa sebilah golok yang penuh berpelepotan darah berjalan masuk ke ruang dalam dengan langkah lebar, sambil berlutut dia mengangkat tinggi-tinggi goloknya sambil berseru.
"Hukuman telah dilaksanakan, silakan tayya memeriksa golok hukuman !"
Gan Wan sim menyahut, lalu sambil menuding ke arah Pek im katanya.
"Sekarang gusur juga dia, bacok sampai mampus !"
Lim Tiong segera menarik pula Pek im ke luar dari ruangan, Ui Ci-sin yang menyaksikan kejadian itu segera berubah muka.
Tanpa pengakuan, tanpa bukti, jangankan cuma seorang walikota, sekalipun seorang Bubernur pun tak boleh membunuh orang tanpa sebab, apalagi membunuh secara sewenang-wenangnya.
Tapi Gan Wan-sim sedikitpun tidak takut, hal ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang aneh.
Gan tayjin tidak takut, Pek-im justeru takutnya setengah mati, ia duduk diatas lantai tak mau berkutik.
Lim Tiong mendengus dingin, ia segera mencengkeram bahunya dan berseru "Hmm, kau tak bisa seenaknya sendiri, ayo jalan !"
Dengan gugup Pek-im segera berteriak keras.
"Pinto bersedia untuk mengaku !"
Maka semua pertanyaan yang diajukan segera dijawab cepat, tak selang berapa saat kemudian pengakuan dari Pek-im, Cing-im dan Toan im telah dicatat, ditanda tangani pula oleh Oi Siu-pi sebagai saksi.
Selesai pengakuan, Pek-im sekalian bertiga diperintahkan untuk digusur pergi, sedang Gan Wan sim yang kuatir Ui Siu pi merasa tak tenang, segera berkata sambil tersenyum.
"Harap Ui tayjin jangan kuatir, Hui im sebenarnya tidak mati !"
Ui Siu pi menjadi tertegun.
"Aaah, bagaimana mungkin? Darah yang bercucuran dan suara jeritan yang memilukan hati itu..
"Semuanya cuma pura pura !"
Tukas Gan Wan sim.
Ui Siu pi segera tertawa, mau tak mau dia harus mengagumi kecerdasan pembesar itu.
Setelah urusan diluar selesai, dibawah komando Gan Wan sim dan mengikuti apa yang diakui Pek im, tiga buah pintu rahasia yang menghubungkan ruangan bawah tanah segera dipentang lebar-lebar, lalu duapuluh orang opas dan empat puluh orang tentara pemerintah bersama-sama menyerbu ke dalam...
Keadaan dibawah tanah sana benar-benar membuat orang menghela napas panjang.
Ternyata disitu terdapat puluhan buah kamar yang indah dengan sebuah dapur besar dan ruang penyimpanan bahan makanan yang besar.
Begitu masuk keruang bawah tanah, sudah terdengar suara tetabuhan yang merdu merayu.
Para prajurit dan opas segera melakukan penggeledahan kamar demi kamar, sebuah pemandangan anehpun segera ditemukan.
Dari dalam ruangan pertama ditemukan beberapa orang perempuan berparas cantik.
Ada diantaranya sedang menyulam, ada yg sedang bermain catur, ada pula yang sedang minum teh sambil berbincang-bincang.
Setelah dilakukan penggeledahan terhadap separuh bagian dan bangunan tersebut, kendatipun tak ditemukan hal-hal yang kotor, tapi terbukti sudah kalau perempuan perempuan itu adalah perempuan sehat yang tidak menderita penyakit apa-apa.
Sejak penggeledahan dilakukan, para wanita itu sudah dibikin kaget, apalagi setelah Gan Wan-sin menurunkan perintah yang melarang setiap wanita yang ditemukan dslam kamar di larang keluar, bahkan ditempatkan penjagaan secara ketat, suasana makin bertambah gempar.
Akhirnya dalam sebuah kamar yang indah ditemukan Sang-sang koancu sedang bergembira dengan dua orang perempuan, menurut Iaporan Sang sang koancu berada dalam keadaan bugil.
Yang dimaksudkan bugil disini bukan telanjang bulat, melainkan tubuh bagian luarnya di tutup dengan jubah pendeta yang longgar, tapi jubah itu tidak dikancing, sedang dibalik jubah tanpa busana barang secuilpun, seorang rahib ternyata berada dalam keadaan begitu, tentu saja hal tersebut merupakan suatu berita besar yang cukup menggemparkan.
Ketika gudang rangsum diperiksa, seperti apa yang dilaporkan Li Hong, daging dan sayur serta beras dan arak yang disimpan disitu cukup untuk menghidupi ratusan orang dalam setengah tahun.
Dari sebuah regu kecil yang melakukan penggeledahan, dilaporkan pula secara rahasia bahwa mereka bukan saja menemukan benda yang tidak seharusnya ditemukan dalam kuil Sang sang-koan, bahkan dikeluarga biasapun jarang sekali ditemukan.
Sepintas lalu, benda itu mirip kain pembalut wanita.
Padahal bukan begitu, benda itu tak lain adalah benda rahasia yang seringkali dipakai para dara ketika menghadapi malam pertamanya.
Tanpa menggubris tempat itu kotor atau tidak, dalam ruangan dimana Sangsang koancu ditemukan itulah Gan Wan sim membuka sidang.
Belum lagi Gau Wan sim membuka suara, Sang-sang koancu sudah tertawa dingin tiada hentinya sambil berseru.
"Bagus bagus sekali, besar amat nyalimu !"
Gan Wan sim memperbaiki tempat duduknya.
Baru saja akan menegur, tiba-tiba datanglah kabar buruk.
seorang datang memberi laporan, sepuluh orang datang memberi laporan, suara orang yang memberi laporan semakin lama semakin banyak, suasanapun makin hiruk pikuk Dari awal sampai akhir isi laporannya sama semua, yakni ada orang bunuh diri.
Begitu mendengar ada orang bunuh diri, Gan Wan sim mulai merasa tak tenteram.
Peristiwa bunuh diri berlangsung secara beruntun.
ketika akhirnya diperiksa dengan jelas dalam sekejap mata inilah sudah ada tiga puluh empat orang perempuan dengan menggunakan pelbagai cara yang berbeda, bunuh diri dalam kamar tahanan mereka.
Paras muka Ui Siu-pi seketika berubah menjadi pucat pias karena terperanjat.
Paras muka Gan Wan sim pun turut berubah.
Bahkan keringat sudah mulai membasahi jidatnya.
Sesungguhnya hal ini merupakan keteledorannya, ia tak pernah berpikir sampai kesitu, menanti perintah diturunkan untuk mengawasi perempuan-perempuan itu lebih ketat, kembali ada tiga orang menemui ajalnya.
Dengan demikian seluruhnya ada tiga puluh tujuh orang perempuan yang melakukan bunuh diri di dalam ruang bawah tanah kuil Tong thian-koan.
Ketika suasana kacau itu sudah mulai mereka, dengan lantangnya Sang-sang koancu menuntut kepada Gan Wan sim untuk mengembalikan baju dalam serta kaos kakinya.
Sementara Gan Wan sim masih mempertimbangkan apakah akan mengembalikan atau tidak, sambil tertawa dingin Sangsang koancu telah berkata lagi.
"Gan tayjin. lebih baik kembalikan saja kepadaku, kecuali kalau kau pun ingin membawa aku menghadiri sidang pengadilan !"
Setelah berhenti sejenak, sambil tertawa dingin kembali ujarnya.
"Andaikata sampai terjadi kejadian semacam ini, heehhh... heeehhh... aku kuatir hal mana tak akan memberikan manfaat apaapa untuk Gan tayjin pribadi."
Gan Wan-sim adalah seorang pembesar yang tidak takut menghadapi ancaman maupun gertak sambel, namun sebagai seorang pembesar bijaksana, tentu saja ia tak dapat menyeret Sang-sang koancu menghadap kesidang dalam keadaan bugil.
Maka Gan Wan-sim menitahkan anak buah nya untuk mengembalikan pakaian dalam serta kaos kaki Sang-sang koancu dan membiarkan ia mengenakannya kembali.
Sementara itu semua benda bukti yang kotor itu sudah dikumpulkan dan diletakkan didalam kamar tidur Sang-sang koancu.
Gan Wi,n-sim dan Ui Siu-pi juga telah mempersiapkan sidang untuk melakukan pemeriksaan.
Sambil menuding kearah barang bukti yang berserakan diatas meja, Gan Wan-sim berkata.
"Sang-sang, kuanjurkan kepadamu untuk membicarakan secara jujur saja, darimana datang-nya barang-barang itu ?"
Sang-sang koancu mendengus dingin.
"Hmm, tayya ! Usiaku sudah cukup dewasa, kalau dibilang aku tidak mengetahui benda apakah itu, setiap orang tak akan percaya, tapi kalau ditanyakan darimana datangnya benda-benda itu, hal mana harus ditanyakan ke pada Tay-ya sendiri!"
"Apa maksud perkataanmu itu ?"
Bentak Gan Wan sim dengan gusar. Seakan akan tak pernah terjadi sesuatu apapun, jawab Sang seng koancu dengan tenang.
"Benda benda semacam ini hanya akan ditemukan bagi perempuan yang akan menginjak dewasa atau dalam malam pengantin mereka."
"Tong thian-kau merupakan tempat pertapaan para rahib, tolong tanya tayya, darimana pun koancu bisa tahu darimana datangnya barang-barang kotor yang memuakkan itu ?"
Gan Wan-sim segera menggebrak meja sam bil membentak.
"Paling tidak ada belasan orang yang membuktikan kalau bendabenda tersebut berhasil ditemukan ditempat ini !"
"Siapakah saksinya ?"
Tanya Sang sang koan cu dingin.
"Para opas dan tentara pemerintah yang menemukan bendabenda tersebut..!"
Sang-sang koancu tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya berkata secara tiba-tiba.
"Tay-ya, tahukah kau penghasilan kuil ini besar sekali, jemaah yang memasang hio disini tak terhitung banyaknya, paling tidak, setiap tahun kami bisa memperoleh lima ribu tahil perak sebagai uang dupa."
Sambil mendengus dingin Gan Wan sim menukas.
"Sekalipun kau menghadiahkan semua kuil Tong thian koan ini kepadaku pun jangan harap bisa memperoleh pelayanan yang lebih baik dariku, apa lagi aku paling benci dengan segala macam bentuk suap!"
Sang-sang koancu segera menggelengkan kepala berulang kali.
"Tay ya, kau keliru"
Ujarnya.
"sudah jelas kau tahu, aku tak mungkin akan menyerahkan penghasilan kuil kami kepadamu, maka sekarang kau membawa orang datang mencelakai diriku ditengah malam buta begini!"
Gan Wan sim jadi naik darah, serunya kepada Lim Tong dengan suara dalam.
"Lim Tiong, hadiahkan tempelengan kepada nya!"
Dua puluh kali tempelengan keras seharusnya akan membuat mulut Sang sang koancu berdarah tapi kenyataannya rahib itu masih tetap tenang saja, seolah-olah sama sekali tidak merasakan akan hal itu, bahkan mengeluh sedikitpun tidak!
Kejadian ini benar-benar aneh sekali!
Setelah kena ditempeleng, tentu saja Sang sang koancu tak akan menyudahi persoalan sampai disitu saja, sambil menyeringai seram katanya.
"Orang she Gan, bagus sekali tempelengan mu itu! Kini aku berada di bawah kekuasaanmu hingga tak bisa banyak berkutik, tapi ingat saja, cepat atau lambat suatu ketika aku pasti akan memberikan pembalasan yang cukup setimpal kepadamu.
"Bila hari semacam itu telah tiba, hmm orang she Gan, kecuali kau benar-benar bisa mem buktikan kalau kuil kami adalah sebuah kuil yang cabul, kalau tidak, dua puluh kali tempelengan pada hari ini ditambah dengan beberapa kali rentennya pasti akan kutuntut kembali!"
Walaupun Ui Siu pi adalah seorang panglima perang, ia tak tahan juga menyaksikan kejadian seperti ini, segera bentaknya.
"Didalam operasi yang dilancarkan kali ini aku dan Gan sian leng belum pernah berpisah barang setengah langkahpun, percuma saja segala siasat busuk mu itu, aku berani bertindak sebagai saksi untuk membuktikan kenyataan dari kesemuanya itu!"
Sang sang koancu sama sekali tidak ambil perduli, katanya dengan hambar.
"Siu pi tayjin kau tak usah kuatir, dalam surat pengaduanku nanti pasti akan mencantum-kan pula namamu!"
Ui Siu pi tertawa dingin.
"Siapa benar siapa salah, mana yang hitam mana yang putih semuanya sudah tertera jelas kau bisa berbuat apa lagi?"
Sang sang koancu mendengus dingin, lalu mengucapkan kata kata yang cukup menggetarkan sukma.
"Siapa benar siapa salah bisa mempengaruhi apa? Benda kotor itu kalian yang temukan, siapa bilang hitam dan putih tak dapat di bedakan? Asal bisa ditemukan bukti, itulah bukti nya, Dan bukti yang jelas sekarang tayjin berdua adalah orang lelaki!"
Setelah berhenti sejenak kembali lanjutnya.
"Asalkan kalian bisa menemukan orang lelaki di dalam kuil Tong thian koan ini, sekalipun hanya satu orang, aku akan segera menyerahkan diri, tapi bila tak berhasil ditemukan hmm, hmmm!"
Gan Wan sim dan Ui Siu pi menjadi tertegun, terpaksa mereka turunkan perintah untuk sekali lagi melakukan penggeledahan Seluruh ruang bawah di geledah, segenap ruangan kuil Tong thian koan di periksa tetapi laporan yang datang berulang kali semuanya mengatakan tidak ada, bahkan seorang bocah lelaki pun tak pernah ditemukan.
Sang sang koancu segera tertawa, senyuman licik yang penuh dengan kekejian.
Kemudian dengan sikap seakan akan tidak pernah terjadi sesuatu apapun, dia berkata.
"Tiga puluh tujuh orang gadis telah melakukan bunuh diri karena malu, marah dan juga merasakan gemas lantaran dimalam buta ada serombongan orang Ielaki menyerbu masuk ke-dalam kamarnya, kejadian ini merupakan kenyataan fakta.
"Kenyataan ini tak mungkin bisa di pungkiri lagi, sekalipun bisa di pungkiri belum tentu keluarga sang korban mau menyudahi persoalan sampai disini saja, hmm, hanya sebuah kota kecil saja penjagaan keamanannya sudah begitu rapih, ingin aku lihat sampai di manakah tanggung jawab kalian terhadap peristiwa berdarah ini?"
Berbicara menurut keadaan yang sebetulnya jangankan tiga puluh tujuli lembar nyawa, sekalipun ada selembar nyawa yang melayangpun panglima keamanan kota harus memikul tanggung jawab yang berat itu.
Maka penggeledahan dilaksanakan segera.
Hingga fajar menyingsing, mereka tak berhasil mendapatkan suatu apapun.
Dalam keadaan demikian, perasaan hatinya Gan Wan sim mulai tak tenteram, sedangkan Ui Siu pi merasakan hatinya selalu murung dan kesal.
Para perempuan yang belum mati itu segera diperiksa dengan seksama, mereka disuruh menulis namanya termasuk nama suami masing-masing, usia dan tempat tinggal.
Dari pemeriksaan yang dilakukan kali ini, Gan Wan sim kembali mendapatkan hal-hal yang membuat hatinya makin yakin.
Dia lantas menitahkan orang untuk mendatangkan peti mati, guna membereskan layon ketiga puluh tujuh orang gadis yang bunuh diri dan menjajarkan peti mati mereka diruang samping pengadilan, sementara Sang sang koan cu sekalian digusur kedalam pengadilan.
Tatkala peristiwa ini tersiar keluar, siang nya hampir semua keluarga hartawan kaya, saudagar kaya dan pembesar tingkat tinggi berdatangan ke ruang pengadilan.
Keluarga ketiga puluh tujuh orang gadis yang bunuh diri pun datang menuntut keadilan sambil mencari tahu duduk persoalan yang sebenarnya.
Sambil menekan kobaran amarah dalam hatinya, Gan Wan-sim menghadapi semua persoalan dengan sewajarnya dan makin meyakinkan pandangan dalam hatinya.
Yang paling jelas mencurigakan dalam peristiwa ini adalah kematian dari ketiga puluh tujuh orang gadis itu, menurut keterangan yang berhasil di kumpulkan, disebutkan bahwa ke tiga puluh tujuh orang gadis itu masih berstatus perawan.
Gan Wan-sim segera mencari dukun beranak dan memerintahkan kepada mereka untuk melakukan pemeriksaan terhadap gadis-gadis yang mati bunuh diri itu.
Alhasil diketahui bahwa semua gadis yang bunuh diri itu sudah berada dalam keadaan tidak perawan lagi.
Setelah bukti berada di depan mata, Gan Wan-sim semakin memahami lagi sebab-sebab kematian gadis-gadis tersebut.
Ketika seratus orang perempuan lainnya di teliti kembali, ternyata diantara mereka tak seorangpun berstatus gadis, jadi peristiwa ini makin menjadi jelas.
Seorang perempuan yang sudah tidak perawan lagi memang sukar dibuktikan apakah ia ternoda atau tidak, sebaliknya kalau gadis perawan yang ternoda maka hal itu dapat terbukti dalam sekali periksa saja.
Namun, bagaimanapun lengkapnya bukti-bukti tersebut, bila tanpa bukti yang paling penting yakni orang lelaki, peristiwa ini bisa mengakibatkan Gan Wan sim dan Ui Sia pi kehilangan batok kepalanya.
Barang-barang kotor sudah ditemukan.
Jumlah rangsum yang ditemukan sudah mencurigakan Status perempuan perempuan itupun sudah jelas.
Bahkan didalam kuil Tong-thian-koan telah ditemukan ruang bawah tanah yang sama sekali diluar dugaan setiap orang.
Tatkala Gan Wan sim menerangkan pelbagai persoalan ini kepada para keluarga hartawan dan saudagar kaya itu, pertanyaannya memang menghasilkan pengaruh yang besar, membuat orang orang itu tak bisa berkutik dan ber bicara banyak.
Tapi tanpa ada pengakuan dari Sang sang koancu dan tidak berhasil ditemukannya seorang yang ditangkap oleh Gan Wan sim pun tak bisa membaurkan masalahnya menjadi berlarut-larut.
Sementara itu, peristiwa tersebut telah menggusarkan panglima perang yang ditempatkan di kota itu.
Tat heran kalau pembesar ini menjadi naik darah, karena selirnya yang ketiga merupakan salah seorang yang ditangkap oleh Gan Wan sim.
Ia lantas menghadap gubernur dan menekankan kepadanya untuk segera menyelesaikan peristiwa ini.
Tatkala peristiwa itu telah berlangsung, Gubernur telah mengundang Gan Wan sim untuk menghadap serta mencari keterangan tentang peristiwa itu maka tentu saja Gubentur tidak ingin mencari penyakit dengan mencampuri masalah itu.
Kini Tiga puluh tujuh lembar nyawa sudah melayang, bila Gan Wan sim salah bertindak, hal ini bisa berakibat sang wati kota dipenggal kepalanya sebagai orang yang pintar tentu saja dia tak ingin mencari penyakit buat diri sendiri.
Maka ketika sang panglima perang memerintahkan kepadanya untuk membereskan persoalan ini, dengan cepat dia menjawab.
"Peristiwa ini sudah ditangani oleh wali kota dan lagi batas waktu pun sudah ditetapkan untuk segera menyelesaikan masalahnya, menurut pendapat hamba, keliru besar jika masalah ini diserah terimakan kepada orang lain"
Dengan perasaan tak senang panglima perang itu berseru.
"Aku tidak memahami perkataan itu!"
"Harap tayjin mengerti, Gan Wan sim diangkat langsung oleh Sri Baginda, ia telah di beri wewenang untuk bertindak sekehendak hatinya, jika bukan begini, tak mungkin ia begitu bernyali berani mendatangi kuil Tong thian koan.
"Sekarang ia dan Ui Siu pi sedang berusaha melakukan pemeriksaan meski berakhir tiga puluh tujuh orang gadis bunuh diri, namun aku pikir dia pasti mempunyai persiapan yang cukup matang sebelum berani bertindak memikul resiko yang besar ini.
"Andaikata persoalan pada akhirnya menjadi terang dan terbukti Tong thian koan tak terlibat dalam perbuatan mesum, aku pikir ... Gan Wan sim harus bertanggung jawab atas kematian ketiga puluh tujuh jiwa itu dan aku rasa dia tak akan lolos dari kematian."
"Sebaliknya bila pada akhirnya terbukti jika dalam kuil Tong thian koan terdapat pendeta gadungan, di tambah barang bukti sudah lengkap, maka bukan saja tiga puluh tujuh orang yang sudah mati itu memang sudah sepantasnya mati, keluarga mereka pun harus ikut bertanggung jawab atas peristiwa ini."
"Coba bayangkan saja betapa besar dan seriusnya masalah ini, kini Gan Wan sim sedang menangani masalah itu, bagaimana akhirnya sudah pasti akan terungkap, karerna itu kuharap tayjin suka bersabar diri dan tunggulah keputusan akhir dari masalah itu."
Karena merasa perkataan itu masuk diakal maka dengan perasaan apa boleh buat dia harus memohonkan diripun, sebelum pergi ia memerintahkan orang untuk menyampaikan pesan nya kepada Gan Wan sim bahwa peristiwa itu harus sudah diselesaikan dalam sepuluh hari.
Dalam surat balasannya Gan Wan-sim minta waktu selama sebulan, karena tak bisa menampik akhirnya panglima perang itu mengabulkan tapi di tambah, waktu yang diberikan tak bisa diundur lagi walau sehari pun.
Sejak saat itulah Gan Wan-sim melakukan sidang dan penyelidikan yang seksama siang malam tiada hentinya.
Setiap hari para keluarga kaum saudagar dan hartawan kaya hadir di sidang dan mengikuti pemeriksaan tersebut dengan seksama.
Setengah bulan kemudian, berita yang tersiar ditempat luaran mulai tidak menguntungkan posisi Gan Wan-sim.
Karena menurut hasil penyelidikan sebelas orang murid dari Tong thian koan semuanya berkelamin perempuan.
Sejak peristiwa itu meletuk hingga saat ini mereka belum berhasil menemukan seorang lelaki pun.
Maka berita yang tersiar makin santar, orang bilang apa yang dikatakan Sang-sang koancu bisa jadi benar, tentu Gan Wan-sim dan Ui Siu-pi kemaruk harta, karena itu mereka sengaja berkomplot untuk merusak nama baik Tong-thian koan.
Orang bilang, dari pada difitnah lebih baik mati saja, itulah sebabnya tiap hari Gan Wan sim dan Ui Siu pi harus menekan batin sambil bermuram durja.
Akhirnya dalam keadaan apa boleh buat, mereka mengundang Li Hong dan melakukan pemeriksaan secara diam-diam.
Jika tidak melakukan pemeriksaan masih mendingan, begitu pemeriksaan dilakukan, hampir meledak dada kedua orang pembesar ini saking mendongkolnya.
Menurut Li Hong.
ia berkata begini.
"Waktu itu siaujin berkata bahwa di dalam kuil disimpan arak dan daging yang cukup di santap seratus orang selama setengah tahun, dalam hal ini, kini sudah terbukti. Kedua, siaujin pernah pula bilang bila kuil Tong tong thian koan diperiksa, maka paling tidak akan ditemukan ratusan orang perempuan yang berdiam disitu, dan kini ucapan siaujin pun sudah terbukti siaujin tokh tidak berbohong barang sepatah katapun.
"Yang telah kukatakan tadi merupakan laporanku, tapi siaujin toh tak pernah memberi laporan kalau dalam kuil Tong thian koan bersembunyi orang laki-laki, maka perkembangan sampai keadaan sekarang ini bukan tanggung jawab siaujin."
Benar, Li Hong memang berkata demikian, namun siapapun yang mendapat laporan tersebut sudah pasti akan menghubungkan peristiwa itu dengan persoalan lainnya.
Kini persoalannya sudah berkembang menjadi makin besar, bahkan sudah jatuh korban tiga puluh tujuh orang tewas karena bunuh diri.
Waktu masalahnya ditanyakan lagi kepada Li Hong, dia justru mencuci tangan bersih-bersih, dapat dibayangkan siapa yang sanggup menahan diri ?"
Gan Wan sim masih dapat menahan diri, namun Ui Sio-pi tak sanggup mengendalikan diri lagi, sambil menuding Li Hong, serunya dengan suara dalam dan berat.
"Rakyat celaka, rakyat celaka, kau hanya mendatangkan bencana buat kami..."
Sambil tertawa getir Gan Wan sim segera mencegah, katanya.
"Ui tayjin, percuma menghukum dia, malam itu dia memang cuma berkata begitu, semuanya ini harus salahkan kecerobohanku sendiri,tapi Ui tayjin toh membuktikan sendiri bahwa semua penyelidikan kita sekarang tak ada yang salah !"
Dengan mendongkol Ui Sio-pi mendepak-depakkan kakinya berulang kali, serunya.
"Gan tayjin, persoalannya memang mencurigakan... aaah, tidak, sudah pasti ada hal hal yang tidak beres, akan tetapi jika tak berhasil menemukan pembunuhnya, toh urusan ini bakal berakhir dengan kematian kita berdua."
Sekali lagi Gan Wan sim tertawa getir, namun dia tidak menjawab separah katapun. Sementara itu Li Hong yang berada di bawah telah bertanya lagi.
"Tolong tanya tayjin berdua, apa yang disebut pembunuhnya?"
"Kami hendak mencari lelaki yang membuat perbuatan terkutuk ini!"
Kata Gan Wan sim dengan kening berkerut. Li Hong tertawa.
"Aneh benar, adakah apakah koancu itu bukan seorang lelaki?"
Sebelum Gan Wan sim menjawab, Ui Siu pi telah membentak dengan suara dalam.
"Andaikata dia adalah seorang lelaki, buat apa pada malam ini kami bertanya kepadamu?"
"Tapi, koancu itu jelas adalah seorang lelaki?"
Kata Li Hong dengan wajah tercengang. Sementara itu Gan Wan sim sudah dapat menangkap kata dibalik kata dari kakek tersebut maka diapun berkata.
"Dari mana kau bisa tahu ?"
Li Hong segera tertawa terkekeh kekeh.
"Hee... heeh... heeeh... tayjin, seperti aku seorang yang begini bodoh, aku berani menghadap pembesar ? Dan lagi mana mungkin aku bisa begitu menganggurnya hingga bersedia memanjat pohon sambil menahan rasa kedinginan."
"Berbicara sebenarnya aku berbuat demikian karena ada alasan tertentu, ada seorang loyacu berambut dan berjenggot putih yang pada suatu hari datang mencari siaujin, dia bertanya kepada siaujin apakah ingin menerima seribu tahil perak.
"Seperti tayjin ketahui, Siaujin hidup miskin dan sengsara, tentu saja siaujin bersedia setelah mendengar ada seribu tahil perak bisa di dapat, namun siaujin tak berani melakukan perbuatan tidak halal yang melanggar hukum, maka sebelumnya siaujin tanyakan masalah ini sejelas-jeIasnya.
"Begitu aku bertanya, Ioya-cu itu baru memberitahukan kepada siaujin, agar sejak hari itu setiap kentongan pertama harus memanjat pohon, setengah bulan kemudian siaujin harus melaporkan apa yang hamba saksikan itu kepada Gan tayya."
"Loya-cu itu untuk memberitahukan pula sebuah rahasia kepada siaujin, katanya suatu ketika tayya pasti akan kesal oleh peristiwa ini karena ingin cepat cepat menemukan si penjahat tersebut.
"Jika hari semacam itu telah tiba, loya-cu itu kembali berkata, tayya tentu akan teringat siaujin dan melakukan pemeriksaan lagi, pada saat itulah dia menyuruh siaujin minta hadiah seribu tahil perak dulu kepada tayya sebelum mengemukakan rahasianya !"
Seribu tahil perak, bukan suatu jumlah yang kecil artinya. Tapi Ui Siu-pi tanpa menunggu pendapat dari Gan Wan-sim segera berseru lantang.
"Baik, baik, cepat katakan apa rahasianya?"
Gan Wan sim jauh lebih pandai menahan diri, segera serunya keluar ruangan.
"Litn Tiong, masuk kemari!"
Lim Tiong menyahut dan melangkah masuk. Gan Wan-sin segera memerintahkan kepadanya.
"Coba kau pergi ke Ciaya sana dan tanyakan, apakah dalam gudang masih tersedia seribu tahil perak, andaikata ada, segera bawa kemari, kalau tak ada, segera cari akal untuk menyelesaikan, cepat !"
Sewaktu Lim Tiong hendak pergi, Li Hong berseru sambil mengulapkan tangannya.
"Lim tayjin, harap tunggu sebentar."
Lim Tiong tertegun dan memandang kearah Li Hong, sementara itu, Li Hong telah berkata kepada Gan Wan sin.
"Tayjin, siaujin tahu kalau tayjin adalah seorang pembesar yang bersih, uang yang di simpan dalam gudang baru dipakai jika ada urusan besar, aku hanya berharap tayjin suka mengingat saja akan seribu tail perakku itu kau tak usah membayar kontan saat ini juga."
Gan Wan sim tertawa, ia mengulapkan tangan memberi tanda pada Lim Tiong bila disini tak ada urusan lagi dan boleh segera mengundurkan diri dari situ.
Setelah Lim Tiong berlalu dengan wajah termangu-mangu, Gan Wan sin baru berkata lagi kepada Li Hong.
"Baik, sekarang urusan sudah selesai kujamin pasti ada seribu tahil perak sebagai imba lan untukmu!"
"Kalau begitu bagus sekali."
Li Hong tertawa.
"tolong tanya tayya, hari ini tanggal berapa?"
"Tanggal sembilan belas."
Li Hong segera menghitung sebentar dengan jari tangannya lalu berkata.
"Pada tanggal dua puluh sembilan tengah hari nanti, harap tayya suka melangsungkan sidang terbuka, pintu gerbang pengadilan boleh dibuka lebar-lebar, setiap rakyat boleh mengikuti jalannya sidang, terutama keluarga dari saudagar dan hartawan kaya, mereka lebih lebih harus hadir.
"Sampai waktunya, siaujin akan membongkar rahasia itu di depan umum, tanggung si-biang keladi dalam peristiwa ini akan terungkap jelas!"
"Apakah sekarang belum dapat diutarakan lebih dulu?"
Desak Ui Siu-pi dengan gelisah. Li Hong segera memperlihatkan wajah serba salah. Gan Wan sim yang menyaksikan hal itu, segera ujarnya sambil tertawa.
"Baik, kalau begitu pulanglah dulu, pada tanggal dua puluh sembilan nanti aku akan memohon bantuanmu lagi"
Maka persoalan itu pun diputuskan demikian Gan Wan sim segera memenuhi janjinya pula dengan pihak Gubernur.
Selama beberapa hari ini, para keluarga mereka yang mati pun telah membeli peti mati yang berkwalitet baik untuk mengurusi lelayon keluarganya yang bunuh diri.
Namun sebelum perkara itu diputuskan, peti mati masih harus tetap berada diruang sidang dan tak boleh di kubur dulu.
BegituIah, pada tanggal dua puluh sembilan suasana disekitar gedung pengadilan kota Gak yang menjadi sangat ramai, pengunjung yang memenuhi gedung dan seputar gedung berlimpah ruah.
Gan Wan sin segera menurunkan perintah untuk membuka segenap pintu pengadilan lebar-lebar.
Sebelum tengah hari, Gan toa loya bersiap siap untuk membuka sidang.
Sebelumnya harus berbasa-basi dulu dengan mempersilahkan atasannya untuk memimpin sidang tersebut.
Sebagai orang yang berhati licik, tentu saja sang Gubernur enggan menerima tanggung jawab itu, maka buru-buru dia menampik Saat itulah Gan Wan sim baru berseru dengan lantang.
"Sidang dibuka !"
Setelah membuka sidang, sekali lagi Gan Wan sim berseru.
"Pengawal, persembahkan pedang Sio hong kiam !"
Begitu mendengar nama pedang itu, serentak suasana didalam ruang sidang menjadi gempar.
Mereka tak menyangka kalau pedang Sio hong kiam milik Sri Baginda berada disitu.
Tak heran kalau Gan Wan sini begitu bernyali untuk menangani kasus sebesar ini.
Begitu pedang Sio hong kiam dipersembahkan, segera turun perintah untuk menghadapkan kesebelas tokoh itu.
Rahib tua Sang-sang koancu juga dihadapkan ke depan sidang dan berlutut disisi kiri, sedangkan Hui im sekalian sepuluh orang rahib muda berlutut disebeah kanan ruangan.
Lalu bergema lagi suara bentakan nyaring.
"Persilahkan Li Hong masuk keruang sidang."
"Li Hong? siapakah Li Hong?"
Semua orang mulai berbisik-bisik membicarakan persoalan itu, suasana menjadi gempar dan gaduh. Bentakan nyaring kembali menggelegar di dalam ruangan.
"Atas perintah tayya, diharapkan suasana di dalam sidang tenang, bila ada yang berani membuat kegaduhan iagi, akan dihukum sebagai pengacau sidang.."
Seketika suasana menjadi hening, hening sekali. Pada saat itulah Li Hong muncul di ruang sidang dengan langkah pelan.
"Dipersilahkan duduk menanti di ruangan sebelah kanan."
Perintah ini keluar dari mulut Gan tayya sendiri, suatu penghormatan yang amat besar.
Maka beratus pasang mata manusia pun bersama-sama dialihkan ke wajah Li Hong.
Sikap Li Hong ternyata lebih hebat, dia memejamkan matanya rapat-rapat dan sama sekali tak acuh terhadap suasana disekitarnya, Pemeriksaan segera di mulai, Gan Wan sin memerintahkan orang untuk membacakan pengakuan mereka, kemudian diperintahkan pula tiga orang dukun beranak maju.
Ketiga orang dukun beranak itu satu berasal dari kota Gak-yang, satu dari gedung Gak-yanghu sedang yang lain berasal dari gedung panglima perang propinsi sam siang.
Ketika semua pengakuan mereka dibuktikan dengan jelas, maka Gan wan-sim pun berkata kepada semua hadirin yang berada disitu.
"Pengakuan dari Pek im berkisar sekitar di bangunnya ruang bawah tanah di kuil Tong-thian-koan, dahulu sudah ditanyakan berapa kali dan kini tak usah ditanyakan lagi, sekarang coba lihat pengakuan dari Cingin dan Toan in."
"Mereka berdua mengaku menjadi pendeta sejak kecil, menjadi pendeta di kuil Tong thian koan dan selamanya tak pernah meninggalkan tempat itu, pengakuan tersebut diberikan sewaktu mereka diperiksa.
"Kini aku berharap apakah diantara saudara sekalian yang hadir disini merasa keberatan atau mempunyai pandangan lain terhadap pengakuan mereka itu ? Kalau ada harap segera di utarakan !"
Tiada yang menjawab, keadaan tetap hening. Maka Gan Wan sin mendesak ke dua orang too koh itu lebih jauh.
"Apakah pengakuan kalian semuanya jujur?"
Toan in dan Cing in bersumpah kalau pengakuan mereka sejujurnya dan tidak bohong. Sambil tertawa Gan Wan-sim lantas berpaling ke arah ke tiga orang dukun beranak itu sambil berkata.
"Kalian harus memberi jawaban yang sejelasnya! Nah, sekarang bacalah hasil pemeriksaan kalian."
Ke tiga orang dukun beranak itu masing-masing membacakan laporan hasil penyelidikan mereka, yang aneh adalah Cing-in dan Toan in yang berulang kali menyatakan dirinya masih gadis perawan itu terbukti sudah tidak perawan lagi.
Sebelum laporan itu dibacakan, semua orang masih belum memahami apa maksud dan tujuan Gan Wan-sin dengan pertanyaan pertanyaannya ini.
Tapi sekarang mereka sudah mengerti, ternyata begitulah yang diharapkan....
Berpikir, sejak kecil Toan in dan Cing in sudah menjadi pendeta, tapi kenyataannya kini mereka sudah tidak gadis lagi, apa yang telah terjadi dengan mereka berdua ?
Tanpa orang lain memberi penjelasan, tiap orang dapat memahami betapa rumit soal itu.
Tapi Sang sang koancu segera berseru sambil tertawa dingin.
"Gan Tayya, bolehkah aku berbicara sepatah dua patah kata.?"
"Hmm, silahkan!"
Jawab Gan Wan sim sambil mendengus.
"Sang sang sebagai seorang hongtiang selalu mendidik anak muridku agar berbuat kebajikan dari kebaikan, sekali pun kini terbukti bahwa mereka berdua sudah melakukan suatu perbuatan yang memalukan namun hal itu merupakan urusan pribadi mereka berdua, apa sangkut pautnya dengan perkara yang sedang disidangkan kali ini.?"
Ucapan ini ada benarnya juga, bila seorang anak gadis sudah menginjak dewasa, siapa tahu kalau diluar pengetahuan guru mereka, kedua orang itu sudah melakukan suatu perbuatan?
Anak gadis dari keluarga biasa yang punya orang tua saja tak bisa selalu mengawasi anak gadisnya, apa lagi seorang guru?
Dengan suara dalam Gan Wan sim segera membentak.
"Tajam amat mulutmu itu, tentunya kau pun sudah mendengar sendiri bukan, mereka mengaku belum pernah meninggalkan kuil Tong-thian-koan barang selangkahpun !"
"Ucapan mereka belum tentu benar semuanya !"
Kata Sang sang koancu sambil tertawa. Sementara Gan Wan sim mendengus, Sang-sang koancu telah berkata lagi sambil tertawa.
"Dewasa ini seharusnya tayya berupaya dalam masalah yang pokok, bila kau dapat menemukan seorang lelaki dalam kuil kami, bukankah semua masalah akan menjadi jelas dengan sendirinya ? sedangkan pinto pun tidak usah banyak berbicara lagi, bukankah hal itu jauh lebih menguntungkan dirimu ?"
Gan wan sin tidak menggubris perkataan-nya itu, sebaliknya sambil berpaling ke arah hadirin diruangan, ujarnya.
"Ada suatu berita yang mungkin akan merisaukan hati kalian bila sudah ku umumkan nanti, setelah kurahasiakan sampai kini, rasanya mau tak mau hal mana terpaksa harus kuumumkan."
"Menurut penyelidikan, tiga puluh tujuh orang gadis yang bunuh diri itu semuanya masih berstatus gadis perawan dan belum pernah menikah.
"Akan tetapi, setelah diperiksa dengan seksama oleh tiga orang dukun beranak, ternyata ditemukan suatu rahasia yang amat mengenaskan, penemuan tersebut sama halnya dengan keadaan Cing-in dan Toan in, yakni mereka semua sudah tidak perawan lagi !"
Begitu laporan tersebut diutarakan kembali suasana dalam ruangan menjadi gempar. Gubernur Lau segera bangkit berdiri sambil berseru.
"Tayjin, sebelum melontarkan tuduhan-tuduhan berikutnya, aku harap kan suka memperlihatkan dulu bukti-buktinya."
"Lotayjin menginginkan bukti macam apa ?"
Tanya Gan Wan sim dengan suaranya dingin.
"Seperti apa yang dikatakan Sang sang koan cu, sewaktu melakukan penggeledahan terhadap kuil, apakah kau berhasil menemukan orang lelaki di dalam kuil tersebut ?"
"Tidak !"
Gan Wan sin menggeleng, Lau tayjin segera mendengus dingin.
"Hmm, jika tiada orang lelaki disitu, aku rasa belum tentu segala sesuatunya berlangsung seperti apa yang kau tuduhkan tadi!"
"Bila tanpa bukti, hari ini ku tak berani merepotkan kehadiran tayjin ke sidang ini !"
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia memandang sekejap ke arah Li Hong, kemudian melanjutkan.
"Cuma aku telah menjanjikan sejumlah hadiah kepada si pelapor tersebut karena itu seandainya perkara bisa dibikin terang pada hari ini, mungkin kalian harus membayar sejumlah denda !"
"Bila biang keladinya berhasil ditangkap hukuman mecam apapun akan kami terima, aku rasa bukan cuma keluarga yang terlibat dalam perkara ini saja yang mesti bertanggung jawab, lohu sekalian pun akan turut bertanggung jawab pula"
"Kalau begitu bagus sekali"
Seru Gan Wan sim sambil tertawa. Setelah berhenti sejenak, ia berpaling ke-arah Li Hong yang sedang memejamkan mata sambil acuh tak acuh itu seraya berseru.
"Li Hong, sudah hampir tengah hari, waktu telah tiba!"
Begitu mendengar waktu sudah tiba, Li Hong segera membuka sepasang matanya lebar-lebar.
Tapi begitu sepasang matanya terpentang lebar Gan Wan sim segera menjadi terperanjat, ternyata orang itu telah berubah, sorot matanya seakan-akan sepasang rembulan yang bersinar tajam, benar-benar menggidikkan hati siapapun jua yang memandangnya.
Dengan langkah Iebar ia beranjak dari tempat duduknya dan langsung menuju ke hadapan Sang sang koancu.
Mula-mula dia saling bertatapan muka dulu dengan Sang sang koancu, akhirnya menakutkan sekali ternyata Sang-sang koancu menundukkan kepalanya rendah-rendah, bahkan sepasang pipinya yang berwarna merah kini berubah menjadi pucat pias.
Dengan tangan kanannya Li Hong memegang kepala Sang sang koancu, lalu ujarnya dlngin.
"Hei, manusia tak tahu diri, gara-gara mencari kau. lohu telah berkelana selama puluhan tahun lamanya mengarungi ujung langit, inilah saatmu untuk mempertanggung jawabkan diri, lohu tak bisa membiarkan kau berbuat jahat terus!"
Kalau terhadap Gan Wan sin, Sang sang koan cu selalu memperlihatkan sikap angkuh dan keras kepala, tapi setelah mendengar beberapa patah kata dari Li Hong itu sekujur tubuhnya gemetar amat keras, sehingga hal ini sangat mengherankan semua orang yang melihatnya."
Pada saat inilah Li Hong kembali berkata! "Apakah kau hendak menyuruh lohu repot repot lagi?"
Air mata bercucuran membasahi wajah Sang sang koancu, serunya lirih.
"Kau orang tua adalah..."
"Lohu adalah "orang asing"
Yang memberi ilmu silat kepadamu..."
Sahut Li Hong dengan suara dalam. Sekali lagi sekujur badan Sang sang koancu gemetar keras.
"Kasihanilah boanpwe, setelah bertahun-tahun melatih diri dengan susah payah, sekarang baru nampak hasilnya, kau orang tua..."
"Gara-gara perasaan kasihan lohu kepadamu, hampir saja menerbitkan bencana, buat apa kau mesti banyak berbicara Iagi!"
Tukas Li Hong ketus.
"Ampunilah aku kali ini, aku bersumpah akan segera mengundurkan diri."
"Mengampunimu ?"
Bentak Li Hong gusar.
"hmm, kepada siapa ke tiga puluh tujuh orang nona yang mati penasaran itu harus mengadu ? Kepada siapa pula gadis-gadis yang bernasib jelek itu mesti mengadukan nasib mereka yang malang ?"
Agaknya Sang-sang koancu menyadari kalau rengekannya tak berguna, mendadak ia membentak keras.
"Setan tua, belum tentu kau mampu mengendalikan aku !"
Kata Sang-sang koancu kemudian.
"Haaah, haaah, haaah, kalau begitu cobalah sendiri !"
Li Hong tertawa berbahak-bahak.
Seraya berkata dia lantas mengerahkan tenaga dalamnya ke telapak tangan kanannya dan menekannya ke bawah.
Sang sang koancu segera mengayunkan pula sepasang lengannya dan menghajar tubuh Li Hong dengan menggunakan rantai yang membelenggu tubuhnya.
Bersamaan itu juga badannya berputar kencang lalu melompat bangun dari atas tanah.
Li Hong mendengus dingin, tangan kanannya menyambar ke muka mencengkeram rantai itu kemudian digetarkan ke depan.
Siapa sangka Sang-sang koancu sudah menduga sampai kesitu, sepasang lengannya direntangkan ke arah samping dan rantai tersebut hancur berantakan menjadi berkeping-keping dan rontok ke tanah, kontan saja kejadian ini membuat paniknya rakyat yang kebetulan mengikuti jalannya persidangan, jeritan kaget berkumandang dari sana sini.
Siapa sangka gerakan tubuh Li Hong jauh lebih cepat dari pada gerakan Sang sang koan cu, tahu-tahu dia sudah berkelebat lewat dan menyelinap ke belakang punggung Sang sang koan cu, tangan kanannya menyambar kedepan dan menekan jalan darah Pay sim hiat ditubuh lawan.
"Masih tak mau berlutut untuk menyerah?"
Bentaknya dengan suara menggeledek.
Berbareng dengan bentakan tersebut, Sang-sang koancu segera terjatuh kembali ke tanah dan tak berkutik lagi.
Di bawah tatapan mata semua orang, raut wajah Sang sang koancu tampak berubah menjadi hijau keabu abuan.
Tubuhnya yang terjatuh ketanahpun terkulai lemas dan tidak berkutik lagi, keadaannya tak berbeda dengan seekor babi.
Saat itulah Li Hong baru berkata kepada Gan Wan sim.
"Siau bin (rakyat kecil) mohon kepada tayjin agar memeriksa kelamin orang ini dihadapan umum!"
Gan Wan sim segera menurunkan perintah, agar adilnya maka dipilih tiga orang untuk secara bergilir melakukan pemeriksaan.
Alhasil pemeriksaan tersebut segera menggemparkan hadirin.
ternyata Sang sang koancu adalah seorang lelaki tulen.
Li Hong segera minta sidang dilangsungkan secara tertutup, maka kecuali mereka yang bersangkutan, seluruh hadirin dipersilahkan ke luar dari ruang sidang dan pintu ditutup rapat2.
Pada saat inilah Li Hong baru berkata kepada para saudagar kaya dan pembesar yang ada.
"Nah, saudara sekalian, apa yang hendak kalian katakan sekarang?"
Sejak Sang-sang koancu terbukti sebagai lelaki tulen, para saudagar hartawan dan pembesar yang ada disitu dibikin tersipusipu kemaluan, seandainya disitu ada lubang, mungkin mereka sudah menerobos ke dalamnya untuk menyembunyikan diri.
setelah mendengus dingin, kembali Li Hong berkata.
"Saudara sekalian kini urusan sudah jelas, tapi soal urusan kalian pribadi lohu tak mungkin bisa membantu lagi"
Mula-mula semua orang tertegun dan tidak tahu apa yang dimaksudkan.
tapi setelah memahami maksudnya, kontan peluh dingin jatuh bercucuran wajah berubah hebat, mereka bersama-sama memandang kearah Li Hong dengan wajah merengek.
Li Hong mendengus dingin, ujarnya lebih jauh.
"Gak yang adalah kota besar, setelah terjadi peristiwa semacam ini, dan tiga puluh orang menjadi korban. apalagi ada beribu-ribu orang rakyat menjadi saksi, sekalipun Gan loya berusaha menolong, rasanya hal inipun mustahil bisa terlaksana.
"Lohu berani memastikan, kejadian hari ini pasti akan dilaporkan kepada Sri Baginda, bila hal ini sampai terjadi sudah bisa dipastikan kalian semua akan dituntut menurut hukum.
"Sejak dulu sampai sekarang, perzinahan dan perkosaan merupakan dosa yang tak terampuni, apalagi jika ada lelaki yang menyaru sebagai perempuan melakukan perbuatan mesum.
"Sesunggunnya masalah ini bisa diselesaikan secara damai dan tenang tanpa keributan, seandainya kalian tahu diri, tapi atas ulah dan desakan kalian sendiri akhirnya Gan tayjin dipaksa untuk melakukan persidangan secara terbuka, kini urusan telah berkembang jadi begini, lohu rasa tiada jalan lain kecuali..."
"Kecuali bagaimana sianseng ?"
Tanya para hartawan tanpa terasa. Li Hong memandang sekejap ke arah Gan Wan-sim, kemudian baru berkata lebih jauh.
"Kini sang gubernur berada disini, kecuali Gubernur bersedia untuk menanggung masalah ini"
Sang Gubernur Gak-yang menjadi berdiri bodoh, dia masih mempunyai masa depan yang baik, tentu saja tak berani menanggung masalah yang begitu besarnya.
Apabila Gan tayjin juga yang mengambil keputusan, tapi idenya sebagian besar masih keluar dari benak Li Hong.
Dengan pedang Siang-hong kiam, Sang sang koancu menjalani hukuman mati penggal kepala.
Kuil Tong thian koan ditutup dan di bakar.
Sedang para keluarga hartawan dan pembesar yang tersangkut dalam peristiwa ini di hukum denda sekian laksa tahil perak.
Uang denda yang terkumpul kemudian di bagikan kepada fakir miskin dan rakyat kecil yang sedang tertimpa bencana.
Sementara keluarga yang menjadi korban boleh membawa pulang jenasah keluarganya untuk dikubur.
Setelah itu atas prakarsa Gan tayjin, gubernur Gak-yang dan panglima keamanan kota-peristiwa tersebut diakhiri sampai disitu dan tidak dilaporkan ke atasan.
Tentu saja di perkampungan keluarga Li terdapat seorang kakek baik hati yang bernama Li Hong, cuma Li Hong itu bukan Li Hong ini, Gan-ya yang mendapat tahu akan hal ini segera menghadiahkan pula sejumlah uang untuk Li Hong asli yang miskin tapi jujur itu.
Inilah cerita tentang kuil Tong thian koan.
berhubung masalahnya menyangkut nama baik keluarga hartawan dan orang-orang terkemuka maka orang dari luar daerah sulit untuk mendapatkan cerita yang sesungguhnya.
Kisah cerita yang aneh inipun membuat Sun Tiong lo dan Hou ji mendapatkan suatu berita yang berharga, tapi merekapun mendapat pelajaran yang berharga pula dalam kehidupan bermasyarakat.
Kakek yang suka bercerita itu akhirnya berpamitan dan pergi setelah meneguk sepoci air teh.
Sun Tionglo dan Hou jipun mulai berunding.
Dengan kening berkerut Sun Tionglo berkata "Engkoh Hou, kuil Tong thian koan mempunyai sejarah yang begitu kotor dan mesum, Sang sang koancu juga telah dihukum mati, tapi mengapa dalam kitab catatan, kita justeru harus berkunjung kesitu ?
Mengapa?"
Hou ji berpikir sejenak, lalu menjawab.
"Sejak kecil aku sudah mengikuti suhu, terhadap ucapan dan tindak tanduk suhu boleh dibilang aku memahami amat jelas, kalau dilihat dari segala sesuatu yang ada dalam kitab kecil ini, aku berhasil menemukan suatu persoalan"
"Oooh, persoalan apa ?"
Houji berpikir sejenak lagi, kemudian baru menjawab.
"Aku kuatir kitab kecil itupun belum sempat dibaca suhu."
"Hei, apa maksud dari perkataannya ini ?"
Seru Sun Tiong lo agak tertegun. Hou ji menggeleng.
"Akupun tahu kalau ucapan ini tak bisa diterima, tapi hal ini merupakan suatu kenyataan, aku yakin kitab kecil itu adalah pemberian orang lain untukku lewat tangan suhu!"
"Mengapa kau mempunyai pandangan semacam ini?"
Tanya Sun Tiong lo keheranan. Hou-ji tertawa.
"Sebab isi kitab tersebut sama sekali bertentangan dengan sikap maupun cara kerja suhu di hari-hari biasa."
"Ooooh, ...bagaimana bedanya ?"
Kembali Hou-ji tertawa.
"Orang yang menulis kitab kecil ini adalah seorang cianpwe yang berhati cermat, teliti dan berakal panjang, padahal bukan demikian cara kerja suhu, bagi suhu apa yang dipikirkan waktu itu segera dilakukan pada saat itu juga."
Apalagi sejak kitab kecil itu menyuruh kita mulai dari Buklt Pemakan manusia, disitu kita sudah menemukan suatu penemuan aneh, seperti misalnya kau dan Bau te bisa bersua, Beng cengcu bisa memperoleh kembali kebebasannya.
"Tapi perkampungan keluarga Mo di selat Wu shia..."
Tukas Sun Tionglo. Kembali Hou-ji memotong ucapan rekannya yang belum selesai, katanya cepat.
"Hal itu disebabkan kita tidak berkunjung ke Ang-sui-hoo lebih dulu atau bila kita bicara mundur setapak, paiing tidak kita sudah tahu kalau perkampungan keluarga Mo sudah punah, sudah punah semenjak dahulu kala."
Dengan perasaan apa boleh buat Sun Tiong lo tertawa.
"Tapi sekarang, kita harus mencari He-he koancu di kuil Tongtbian-koan, bagaimana pula penjelasannya?"
Hou-ji melirik sekejap ke arah Sun Tionglo kemudian berseru.
"Tentu suja harus dicari ! Kita harus berkunjung ke kuil Tongthian-koan, siapa tahu kalau disana sudah ada sesuatu perubahan yang dapat membuat kita menjadi jelas ?"
"Baik, aku akan menuruti perkataanmu mari kita berangkat !"
Tapi Hou-ji kembali menggeleng.
"Kita harus balik ke penginapan dulu, bagai manapun jua persoalan ini tak bisa dirahasiakan kepada adik Bau maupun nona."
Maka merekapun membayar rekening dan kembali ke penginapan.
-ooo0dw0oooEMPAT sosok bayangan hitam bagaikan burung malam meluncur masuk kedalam sebuah kuil yang sudah hancur.
Ketika bayangan manusia itu terhenti sejenak, maka dapat dikenal mereka adalah Sun -Tiong lo, Houji, Bau ji dan nona.
Mereka berhenti sejenak, lalu terdengar Sun Tiong lo berkata sambil menuding kedua sisinya.
"Toako dan Hou ji menggeledah kiri kanan ruangan, sementara siaute dan adik Kim akan berjalan terus."
Mereka segera memisahkan diri menjadi tiga bagian dan melakukan pemeriksaan.
Kuil Tong thian koan mencakup suatu batas wilayah yang luas, setelah kebakaran besar yang memusnakan bangunan tersebut, kendatipun harus menahan hujan dan angin, namun sisa-sisa bangunan masih tetap berdiri kokoh, terutama sekali di tengah malam buta begini, bukan suatu pekerjaan yang mudah untuk menemukan seseorang atau beberapa orang yang menyembunyikan diri disitu.
Padahal merekapun tak berani memastikan adakah seseorang disana, hanya menurut catatan dalam kitab tersebut, mereka diharuskan mencari orang yang bernama "He he koancu"
Itulah sebabnya mereka datang kesana untuk melakukan pencarian.
Orang yang bertugas melakukan pemeriksaan disebelah kiri adalah Hou ji, dia sedang bergerak kedepan sambil menghimpun segenap tenaga dalam yang dimiIikinya.
Sambil berjalan ia menengok keempat penjuru, andaikata disana ada orang, jangan harap orang itu bisa lolos dari pengawasannya.
Yang ada disebelah kanan adalah Bau ji, dia pun maju selangkah demi salangkah dengan tindakan berat, sorot matanya memandang ke sekitar itu tanpa berkedip, sekilas pandangan sikapnya seperti gegabah dan tekebur, padahal dalam kenyataan dia sedang melakukan pemeriksaan dengan mengandalkan ilmu tenaga dalamnya yang tinggi.
Sedangkan Sun Tionglo dan nona Kim yang ada disebelah tengan, kini jalan bersanding.
Nona Kim berada di kanan sedangkan Sun Tiong lo berada di sebelah kiri...
Tangan kanannya bergandengan dengan tangan kiri pemuda itu, mereka bersama-sama menjelajahi puing-puing yang berserakan itu.
Mendadak...
seperti dari tengah udara, seperti juga dari bawah tanah, tidak!
Tepatnya dari empat arah delapan penjuru berkumandang datang suara gelak tertawa, suara tertawa itu menyeramkan sekali, gelak tertawa aneh yang cukup menggetarkan hati siapa saja.
Gelak tertawa itu bagaikan muncul dari mulut seseorang, akan tetapi terpancar datang dari empat arah delapan penjuru.
Empat orang yang ada di kiri, kanan, tengah serentak menghentikan langkahnya bersama-sama.
Hou-ji, berkerut kening, secara diam-diam dia mencabut keluar senjata pentungan Jit sat ciang mo pang andalannya untuk bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak di inginkan.
Bau ji tetap berada dengan sikap dingin kaku dan menyeramkan, pelan-pelan diapun meloloskan pedangnya dari dalam sarung.
Nona Kim mengetahui banyak tapi memiliki kepandaian paling sedikit, kini dia sudah dibikin amat menderita oleh gelak tertawa yang amat tak sedap itu.
Sambil berusaha menahan diri, diam-diam bisiknya lirih.
"Engkoh Lo, gelak tertawa ini mengandung hawa Im-sat yang jahat tapi lihay, bisa melukai orang tanpa disadari !"
Sun Tiong lo manggut-manggut. -ooo0dw0ooo
Jilid "PENGETAHUANMU betul betul sangat luas, tapi..."
Nona Kim mengerti apa kelanjutas dari kata "tapi"
Tersebut, dengan cepat dia menukas.
"Selanjutnya kau harus mengajarkan kepada ku!"
"Tenang"
Sun Tiong lo tertawa-tawa.
"persoalan lain jangan dibicarakan dulu, sekarang kita mesti menghadapi dulu orang tersebut!"
Seusai berkata Sun Tiong lo berpikir sejenak kemudian serunya kearah sebelah kanan.
"Kami telah merasakan kelihayan ilmu Im Sat soh huo (hawa dingin pembetot sukma) saudara, kini bersediakah saudara untuk turun dari loteng genta dan berbincang sebentar dengan kami ?"
Loteng genta ?
Benar, memang loteng genta, tempo hari ketika Gan Wan sim menitahkan untuk membakar habis bangunan kuil To koan yang penuh maksiat tersebut, hanya untuk bangunan loteng genta disudut kejauhan sana yang lolos dari amukan api.
Cuma dalam kuil Tong thian koan yang sudah punah ini, masih terdapat banyak sekali tempat tempat strategis yang bisa di gunakan untuk menyembunyikan diri, apalagi pihak lawan pun belum tentu benar-benar menyembunyikan diri diloteng genta tersebut, seandainya tidak, bukankah hal ini akan...
Tapi tak perlu kuatir, Sun Tiong lo memang tidak salah mengatakan tempat persembunyian tersebut.
Ketika Sun Tiong lo baru saja mengakhiri perkataannya, dari kejauhan sana tampak ada sesosok bayangan aneh yang meluncur keluar dari loteng genta dan membumbung keangkasa mencapai ketinggian lima kaki.
Padahal loteng genta tersebut ada enam kaki tingginya, ditambah ketinggian yang dicapai bayangan tersebut, berarti jaraknya dari permukaan tanah mencapai duabelas kaki lebih.
Kemudian, bayangan aneh itu nampak berhenti sejenak ditengah udara dan meluncur datang.
Jarak antara bangunan loteng genta hingga ke tempat Sun Tiong-lo sekalian berada sekarang paling tidak mencapai dua puluh kaki lebih, dalam jarak sejauh ini seandainya bukan malaikat atau seseorang yang berhasil melatih diri hingga mencapai taraf "pedang dan tubuh bersatu padu"
Sulit rasanya untuk mencpai tempat sejauh itu dengan sekali lompatan saja.
Tapi dalam kenyataan hal mana bisa dilakukan orang tersebut menjadi suatu kenyataan.
Ditengah kegelapan malam, Sun Tiong-lo sekalian tidak sempat melihat jelas gerakan tubuh apakah yang dipergunakan bayangat manusia tersebut, tanya nampak bayangan aneh meluncur sejauh sepuluh kaki lebih dengan gerakan mendatar, lalu baru menukik ke bawah.
Setelah menukik ke bawah, gerak luncur nya bertambah cepat, bagaikan sambaran kilat cepatnya tahu-tahu orang itu sudah tiba di depan mata.
Orang itu melayang turun hanya berapa kaki saja di hadapan Sun Tiong lo, kemudian tidak bergerak lagi.
Baca Juga: Pecut Sakti Bajrakirana Kho Ping Hoo
Baca Juga: Bagus Sajiwo Kho Ping Hoo