Ceritasilat Novel Online

Bukit Pemakan Manusia 6

Eps 6 Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung

Baca online Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung

Cersil Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung.

Nona Kirn masih berdiri bodoh disamping Sun Tiong-lo, perubahan itu terjadi terlalu mendadak sehingga untuk sesaat dia menjadi tertegun saking kagetnya.

Sun Tiong lo pun berkerut kening, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia maju kesisi tubuh siluman menangis dan siluman tertawa dengan langkah lebar, kemudian membungkukkan badan dan memeriksa denyutan nadi mereka.

Ternyata jalan darah Tay-yang hiat diatas kening siluman menangis telah berlubang, tulang kepalanya sudah hancur, tentu saja selembar nyawanya sudah terbang meninggalkan raganya.

Saat itulah Mo Tin-hong maju kemuka membangunkan nona Kim, hiburnya dengan suara lirih.

"Anak Kim, kau dibikin kaget ?"

Nona Kim menggeleng, ia membalikkan badan menubruk keatas bahu Mo sancu dan menangis tersedu-sedu.

Sekalipun dia berhati keras namun belum pernah menjumpai keadaan seperti apa yang dialaminya malam itu, lebih-lebih lagi belum pernah menyaksikan mayat yang terkapar memenuhi tanah, maka tak kuasa lagi dia menangis.

Sun Tiong lo melirik sekejap kearah Mo Tin hong, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dia membalikan badan dan berlalu.

Mo Tin hong amat terkesiap menyaksikan keadaan itu, segera tegurnya dengan suara keras.

"Hiantit kau hendak kemana?"

"Kembali kekamar untuk beristirahat!"

Jawab Sun Tiong lo dingin. Mo Tin hong berusaha keras untuk mengembalikan gejolak dalam hatinya, lalu berkata sambil tertawa.

"Musuh tangguh yang menyerbu ke atas bukit pada malam ini sungguh tangguh, siluman tertawa dan siluman menangis merupakan dua orang gembong iblis yaug tiada tandingannya dikolong langit, apalagi ketika siluman tertawa menyergap anak Kim secara tiba-tiba, seandai nya tak ada hiantit..."

Sun Tiong lo segera menukas sambil tertawa hambar.

"Seandainya tak ada aku, kedua orang itu akan mampus lebih awal lagi..."

Ucapan mana kontan saja membangkitkan kemarahan nona Kim, sambil melotot besar teriaknya.

"Apa.... apa maksudmu?"

"Aku berbicara sejujurnya"

Jawab Sun Tiong lo dingin.

"dan aku percaya Mo sancu pasti mengerti akan ucapanku ini!"

Tentu saja Mo Tin liong mengerti, namun dia harus berlagak seolah-olah tidak mengerti, dengan wajah tertegun tanyanya.

"Hiantit, apa yang kau maksudkan dengan perkataan tersebut?"

"Mo sancu tidak mengerti...?"

Kata Sun Tiong lo setelah memandang sekejap ke arah nona Kim.

"Empek betu!-betul merasa tidak mengerti!"

Sun tiong lo segera tertawa dingin.

"Mo sancu, kalau toh kau memiliki ilmu jari Thian sin ci yang maha lihay, mengapa tak kau gunakan sedari tadi? Mengapa kau malah bertarung menggunakan senjata tajam?"

Mo Tin hong terbawa terbahak bahak.

"Haahh..,.haaahh... haaahh hiantit salah paham!"

"Ooh...salah paham? Aah, belum tentu begitu!?"

Sekali lagi Mo Tin hong tertawa.

"Seandainya empek memiliki ilmu jari Thian sian ci yang lihay mengapa tidak kau gunakan semenjak tadi?"

Dengan cepat Sun Tiong lo menunjuk kearah jalan darah Tay yang hiat diatas kening siluman menangis, kemudian ujarnya.

"Kalau kepandaian semacam ini mah masih belum dapat mengelabui diriku!"

"Jadi hiantit berpendapat demikian?"

Sekali lagi Mo Tin hong melirik sekejap kearah Sun Tiong lo. Sun Tiong lo berkerut kening.

"Memangnya keliru ?"

Mo Tin hong tidak menjawab, dia segera maju kedepan mendekati jenasah dari siluman menangis lalu mencengkeram mayatnya dan di dekatkan kepada Sun Tionglo, katanya sambil melepaskan jenasah tersebut keatas tanah.

"Hiantit, coba kau saksikan dengan lebih seksama, terutama jalan darah Tay-yang hiat dimana merupakan luka yang mematikan bagi siluman tua ini !"

Mendengar perkataan itu, berkilat sepasang mata Sun Tiong lo.

dia segera mengalihkan perhatiannya keatas jalan darah Tay-yang hiat.

Sesaat kemudian, paras muka Sun Ti.mg lo berubah menjadi merah padam, katanya agak tersipu.

"Harap Mo sancu maklum, tampaknya aku telah salah melihat!"

Mo Tin hong menghembuskan napas panjang, dia segera melancarkan serangan untuk menekan disisi jalan darah Tay yang hiat dikening siluman menangis sebatang jarum Wu sik bok sepanjang satu setengah inci segera melompat keluar dari jalan darah Tay yang hiat.

Dengan kedua jari tangannya Mo tin bong menjepit jarum kayu tersebut, kemudian sekalian memutusnya dengan pakaian silum?n menangis setelah menghembuskan napas panjangt ia masukan kembali jarum itu kedalam saku-Tiba-tiba terlintas tasa curiga dalam hati Sun liong lo, segera serunya cepat.

"Sungguh cepat gerakan tangan Mo sancu!"

Ucapan itu mempunyai arti ganda, percaya Mo Tin hong pasti akan memahaminya.

Ternyata Mo Tin hong seolah-olah tidak menangkap makna yang sesungguhnya dari perkataan itu, segera kepalanya digelenggelengkan.

"Cepat apa? Kalau dibicarakan sesungguhnya memalukan sekali."

Setelah berhenti sebentar, dia menggulung bajunya dan berkata.

"Hiantit, silahkan kau lihat ini !"

Ketika Mo Tin hong menggulung naik ujung bajunya tadi, Sun tiong-lo sudah tahu apa gerangan yang telah terjadi.

Ternyata dibalik ujung bajunya itu terdapat sebuah alat pembidik jarum yang diikatakan pada lengan, diatas alat pembidik tersebut di pasang dua baris jarum kayu Wu sik-bok.

Perlu diketahui, kayu Wu sik-bok adalah sejenis kayu yang keras bagaikan emas, bersifat panas dan sangat beracun, kayu itu banyak dihasilkan diwilayah Biau.

Menggunakan kayu sebagai senjata rahasia, pada hakekatnya merupakan suatu perbuatan yang sama sekali diluar dugaan.

Apalagi Mo Tin-hong menyembunyikan jarum semacam itu dibalik bajunya, tindakan semacam ini pada hakekatnya jauh diluar dugaan siapa pun, tak heran kalau dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Sun Tionglo pun ia tak sempat melihat jelas kalau siluman menangis tewas akibat terkena jarum kayu beracun itu.

Sekarang, duduknya persoalan sudah menjadi nyata, kecurigaan Sun Tiong lo pun langsung lenyap.

Dia, Sun Tiong-lo, sebenarnya adalah seorang pemuda yang jujur, maka setelah menyadari kalau kesalahan berada dipihaknya, kontan semua kecurigaannya lenyap.

Dengan wajah yang bsrsungguh-sungguh dia pun berkata.

"Empek, harap kau maklum, siau tit mengakui akan kesalahanku itu, sesungguhnya hal bisa terjadi karena siautit masih mencurigai empek sebagai musuh besarku, seperti diketahui dendam sakit hati orang tuaku belum terbalas dan kebetulan Su-nio, istri muda empek adalah musuh besar yang patut dicurigai, oleh karena itu..."

Tidak menunggu Sun Tiong-Io menyelesaikan perkataannya, Mo Tin-hong telah menukas.

"Hiantit tak usah memberi penjelasan, sesungguhnya Pak-gi suami istri bisa sampai terikat dendam sakit hati dengan kedua orang siluman itu tak lain adalah gara-gara empek, sehingga sewaktu menderita serangan gelap, empek merasa sedih sekali..."

Tiba-tiba Sun Tiong lo mengucapkan suatu perkataan yang amat mengejutkan hati.

"Empek Mo, hingga kini siautit masih tidak percaya kalau kedua orang siluman itu adalah musuh besarku!"

Agak tertegun wajah Mo Tin hong ketika mendengar perkataan itu, segera serunya.

"Apakah Hiantit tidak mendengar apa yang telah empek bicarakan dengan kedua orang itu?"

"Siautit memang sudah mendengar semua. tapi kedua orang siluman itu toh tidak mengakui."

Mo Tin hong segera menghela napas panjang.

"Aaai... hal ini harus disalahkan pada-empek yang kelewat berhati-hati, seandainya aku tidak menyadari kedua orang Siluman itu kelewat liehay sehingga setelah melancarkan serangan dengan jarum kayu Wu sik bok, tak nanti akan kutambahi dengan toya lemas itu.

"Seandainya tiada serangan toya itu, siluman menangispun pasti tak bisa menyingkir ke samping sehingga serangan mana mengenai siluman tertawa, asal salah seorang saja diantara ke dua orang siluman itu masih hidup, niscaya tak sulit untuk menyelidiki persoalan ini sampai menjadi jelas!"

Baru saja dia menyelesaikan perkataan itu. tiba-tiba dari balik kegelapan terdengar seseorang menjawab.

"Walaupun kedua orang itu sudah mati, namun aku berani menjamin kalau musuh besar yang melakukan pembunuhan dimasa lalu bukanlah mereka...!"

Mendengar perkataan itu, paras muka Mo Tin hong berubah hebat, ia segera memberi tanda kepada Lam sat pak mo sambil berseru.

"Masih ada musuh yang belum tertumpas, kali ini jangan biarkan seorang manusiapun tetap hidup!"

Lam sam Pak mn segera bergerak setelah mendengar perkataan itu. Buru-buru Sun Tiong lo berseru.

"Empek Mo, cepat suruh mereka berhenti, engkoh ku yang datang!"

Baru saja Mo Tin hong menitahkan Lam sat Pak mo berhenti, dari tempat kegelapan telah muncul dua sosok bayangan manusia, yang berada dipaling depan adalah Bau ji sedang yang berada dibelakangnya tidak dikenal oleh Mo Tin hong maupun nona Kim.

Sebaliknya Sun Tiong lo yang menyaksikan orang yang berada dibelakang itu segera maju menyongsong sambil tertawa.

Mereka saling berjabatan satu sama lainnya dengan sangat akrab sekali, seakan-akan sudah lama tidak saling bersua.

"Hiantit, dia adalah sahabatmu?"

Tegur Mo Tin hong dengan perasaan tergerak. Belum sempat Sun Tiong lo menjawab, orang itu sudah menghampiri Mo Tin hong menjura.

"Mo sancu, baik-baikkah kau!"

Begitu teguran itu diutarakan, Mo Tin hong menjadi tertegun dan tak tahu bagaimana mesti menjawab. Buru-buru Sun Tiong Jo memperkenalkan Siau hou.

"dialah Mo Tin hong, empek Mo-ku !"

Ternyata orang yang baru datang itu adalah Siau Hou cu. Sambil tertawa terkekeh-kekeh sekali lagi Siau Hou cu menjura ke arah Mo Tin hong sambil berkata.

"Aduuh... aduuh... memimpi aku Siau hou-cu tak pernah menyangka kalau Sancu yang bengis dan buas dari bukit pemakan manusia ini tak lain adalah bekas Mo cengcu dari perkampungan Ang liu ceng!"

Ucapan tersebut kontan saja membuat Mo Tin hong menjadi termangu dan tak mampu menjawab lagi. Siau Ho cu tidak berhenti sampai disitu saja, sambil tertawa dingin kembali sambungnya.

"Sekarang urusan jadi lebih mendingan, setelah kuketahui Sancu bukit pemakan manusia adalah Mo cengcu, dan Mo cengcu pun secara kebetulan adalah empek siau liong te ku, aku jadi tak usah kuatir Iagi, sekarang aku boleh berdiri disini dengan berani."

Katanya. Sun Tiong-lo kuatir Mo Tin hong mendapat malu, maka dengan cepat dia menimbrung dari samping.

"Engkoh Siau hou, aku dan empek Mo barusan terjadi sedikit kesalahan paham, tapi untung saja kesalahan paham itu sudah dapat dibereskan, aku harap engkoh dan engkoh Siauhou pun bisa mengurangi ejekannya dan bersikap lebih menghormat."

Setelah Sun Tiong lo berkata demikian, tentu saja Siau Hou cu rikuh untuk mencemooh dan mengejek lebih lanjut, maka sambil tertawa katanya lagi kepada Mo Tin hong.

"Mo sancu, siapa tidak tahu dia tidak bersalah, harap kau jangan marah !"

Sesungguhnya kemarahan yang berkobar di dalam dada Mo Tin-hong telah mencapai pada puncaknya, namun dia segan untuk mengumbarnya didalam suasana seperti ini, terpaksa sambil berpura-pura tertawa dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

Setelah berhenti sejenak, diapun mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, ujarnya kepada Sun Tiong-lo.

"Tempat ini bukan tempat yang pantas untuk berbincang-bincang, hiantit, mari kita duduk-duduk didalam ruangan saja ."

Sun Tiong-lo segera mengiakan, baru saja dia akan mengundang Bauji, siapa tahu Bau ji telah berkata lebih dulu kepada Siau Hou cu.

"Bagaimana? Bersedia untuk membantu ?"

"Tentu saja bersedia!"

Sahut Siau Hou cu dengan wajah serius.

"bagaimana kita berbicara bagaimana pula kita laksanakan !"

Tanya jawab dari kedua orang ini kontan saja membuat Sun Tiong lo tidak habis mengerti, tanpa terasa ia bertanya.

"Toako, soal apa sih?"

"Sebelum ini, bukankah kau telah memberi kabar kepadaku agar berjumpa dengan Bauji."

Kata Siauw Hou cu cepat. Ketika Mo Tin hong mendengar perkataan ini, tanpa terasa ia memandang sekejap kearah Sun Tiong lo. Melihat itu, buru-buru Sun Tiong lo menjelaskan lebih dulu.

"Empek, harap kau jangan menyalahkan siautit, sewaktu datang siautit sebetulnya melakukan perjalanan bersama engkoh siau hou, dengan tujuan satu terang-terangan memasuki bukit ini yang lain secara diam-diam, sebaliknya kedatangan kakakku sama sekali diluar dugaan, oleh karena itu..."

Mo Tin hong berlagak seakan-akan dapat memaklumi keadaan tersebut, dia segera tertawa selanya.

"Empek mengerti, waktu itu hiantit masih menganggap empek sebagai musuh besarmu, sudah barang tentu dalam setiap tindakan mesti berhati-hati, sedang kalau dilihat dari kepandaian yang hiantit miliki ketika memukul mundur siluman tertawa tadi, jelaslah sudah bahwa penjaga dibukit ini belum mampu membendung kedatangan hiantit maupun Bau ji, tentu saja lebih tak mungkin bisa mengurung pendekar Siau hou !"

Siau hou ji segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Mo Sancu, harap kau jangan berkata begitu dengan mengandalkan aku si macan kertas yang pandainya cuma bisa menakut-nakuti orang, mana mungkin aku bisa menyerempet bahaya untuk sampai kemari? Ke semuanya ini sesungguhnya tak lain adalah berkat kepandaian Siau liong seorang..."

"Aah, sama-sama... sama-sama, enghiong memang dari kaum pemuda."

Pada saat itulah Sun Tiong lo menyela.

"Engkoh Siau hou, ketika kau berjumpa dengan toako ku, bagaimana ceritanya sehingga akhirnya..."

"Akhirnya kami berteman."

Sahut Siau Hou cu cepat.

"Kalau watak sudah cocok. tentu saja kamipun berteman. Kami lantas berunding, dalam saat perundingan itulah kami anggap cara yang adik Siau liong kemukakan kurang sempurna."

"Kalau cuma toako seorang, sudah jelas dia tak akan mempunyai akal muslihat semacam ini !"

Kata sun Tiong lo sambil tertawa. Kembali siau Hou cu tertawa cekikikan.

"Dan aithirnya kami pun harus menyerempet bahaya dan keluar kemari..."

Ketika berbicara sampai disini, ia berhenti sebemar, kemudian berpaling kearah Mo Tin-hong dan berkata lebih jauh.

"Mo sancu, aku lihat kau sudah sepantasnya mengucapkan terima kasih kepadaku dan adik Bau !"

"Ooh...."

Belum sempat Mo Tin-hong berkata lebih lanjut, nona Kim telah menukas dengan dingin.

"Mengapa?"

Siau Hou cu mengerdipkan sepasang matanya kepada nona Kim dia berkata.

"Nona, aku Siauw Hou cu cukup memahami jalan pemikiranmu apabila kau hendak marah silahkan dilampiaskan kepada Siau-liong, toh selama beberapa hari ini dia telah memperkenalkan dengan jelas semua asal usulnya kepada diri nona."

"Siapa tahu, setelah idni saling berjumpa, mungkin dia saking gembiranya ternyata sampai lupa untuk memperkenalkan diri, tak heran kalau nona lantas mengungkat-ungkit penyakit nya."

Ucapan tersebut kontan saja membuat paras muka Sun Tiong lo berubah menjadi merah padam. Belum sempat dia mengucapkan sesuatu, nona Kim telah berkata lebih dahulu.

"Hei, sebetulnya kau bisa mengertikan pembicaraan atau tidak? Aku ingin bertanya, kenapa ayahku mesti berterima kasih kepada kalian, apa pula hubungannya soal ini dengan mengungkit-ungkit penyakit ?"

"Ooh, jadi tak ada hubungannya?"

Kata Siau Hou cu.

"Tak ada sangkut pautnya!"

Nona Kim menyahut dengan cepat. Siau Hou cu segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Lantas persoalan apakah yang ada hubungannya dengan mengungkit-ungkit penyakit ?"

Tanpa berpikir panjang lagi nona Kim segera menyahut.

"Kau sudah datang sedari tadi, namun ia sama sekali tidak memberitahukan kepadaku hal ini."

Ketika berbicara sampai disitu, mendadak nona Kim seperti menyadari akan sesuatu, dengan cepat dia merubah nada pembicaraannya.

"Tapi soal inipun tak ada sangkut pautnya dengan soal mengungkit-ungkit penyakit !"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, kontan saja semua orang tertawa terbahak-bahak.

Begitu melihat semua orang tertawa, nona Kim semakin mendongkol.

Tapi sebelum dia mengucapkan sesuatu, Siau Hou cu telah berkata lebih dulu.

"Ada orang melepaskan api diistana Pat-tek sin-kiong, sementara Pat tek pat lo dipancing oleh musuh menuju ketempat lain, kebetulan aku dan adik Bau datang kesana, maka akupun lantas turun tangan untuk membekuk mereka !"

Mendengar perkataan itu, mencorong sinar buas dari balik mata Mo Tin hong, serunya dengan cepat.

"Ada berapa orang? sekarang mereka berada dimana ?"

"Empat orang bocah keparat, semuanya berada didalam gua bagian belakang sana !"

Mo tin-hong segera berkerut kening, sinar matanya dialihkan dan memberi tanda kepada seorang yang berada dibelakangnya, orang itu mengangguk dan segera berlalu dari sana.

Siau Hou cu kembali memutar biji matanya kepada orang itu dia berseru keras.

"Hei, sobat, bagaimana kalau meninggalkan mereka dalam keadaan hidup saja?"

Diam-diam Mo Tin hong menggigit bibir, diapun segera berseru lantang.

"Jangan celakai mereka, sekap orang-orang itu didalam gua Liat hwi tong."

Siapa tahu pengalaman Siavw Hou cu kelewat banyak, sambil tertawa terkekeh-kekeh dia melanjutkan..

"Mo sancu, jikalau di jebloskan kedalam gua Liat hwee tong, bukankah orang hidup pun akan di panggang sampai mampus?"

Saking mendongkolnya Mo Tin hong sampai menggigil bibirnya keras-keras, terpaksa sekali lagi dia berseru.

"Serahkan kepada kepada Pat lo, jangan celakai jiwa mereka!"

Orang itu menyahut dan segera berlalu dari situ, Menanti orang itu sudah pergi jauh, Mo Tin hong baru sekuat tenaga menahan hawa amarahnya dan berkata kepada Siau Hou cu sambil tertawa.

"Apa yang Hou hiap katakan memang betul, lohu sudah sepantasnya mengucapkan banyak terima kasih !"

Dalam pembicaraan tersebut, sekali lagi dia mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam ruangan, Tapi dengan cepat pula Siau Hou cu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Jangan terburu nafsu sancu. aku dan adik Bau masih ada persoalan yang belum diselesaikan."

Seraya berkata, dengan langkah lebar dia berjalan menuju kedepan siluman menangis, kemudian membangunkan mayatnya sehingga berdiri tegak.

Walaupun apa yang diiakukan oleh Siau Houcu sangat mencurigakan Mo Tin hong tapi dia masih dapat menahan diri dan tidak rnengajukan sesuatu pertanyaan pun.

Nona Kim yang polos dan jujur dengan cepat bertanya.

"Apa yang hendak kau lakukan?"

Siau Hou cu tidak menggubris pertanyaan itu, sebaliknya kepada Bau ji dia berseru.

"Adik Bau, kau memang hebat, ternyata siluman tua ini masih belum kaku !"

Setelah Siau Hou cu berkata demikian, semua orang baru merasa amat puas.

Siluman menangis yang sudah mati banyak waktu, ternyata jenasahnya tidak menjadi kaku, sudah barang tentu peristiwa ini merupakan suatu kejadian yang sangat aneh.

Dengan suara dingin Bau ji berkata.

"Walaupun orangnya sudah mati, darah dan dagingnya masih bisa hidup setengah hari lagi, sudah barang tentu tubuhnya tak akan menjadi kaku !"

Nona Kim tidak puas dengan teori tersebut dengan cepat dia menyela dari samping.

"Lantas mengapa orang yang baru mati, tubuhnya ada pula yang menjadi kaku ?"

Bau ji memandang sekejap kearahnya, lalu menjawab.

"Orang yang baru mati, badannya tidak kaku, berapa saat kemudian badannya baru nampak menjadi kaku karena daya hidup yang berada didalam tubuhnya menjadi hilang, tapi kaku nya itu cuma kaku palsu, sesaat kemudian ia akan menjadi lembek kembali !"

Dalam pada itu, Siau Hou cu telah membangunkan mayat dari siluman menangis sehingga berdiri.

Bauji hanya memandang sekejap kearah depan, belakang kiri dan kanan, kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali seraya berkata.

"Apanya yang bukan?"

"Bukan"

Apa?

Tak seorang manusiapun yang tahu.

MenyusuI kemudian Siau Hou cu pun membangunkan tubuh siluman tertawa sehingga berdiri.

Bau ji hanya melirik sekejap ke arah mayat itu, lalu sahutnya lagi dengan dingin.

"lni pun bukan !"

Terpaksa Siau Hou-cu harus membaringkan kembali mayat siluman tertawa dan berjalan ke samping sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

Mo Tin hong yang menyaksikan kejadian itu ingin sekali cepat-cepat mengetahui apa gerangan yang telah terjadi, namun untuk menghindari segala sesuatu yang tidak diinginkan, dia tak berani mengajukan pertanyaan secara langsung.

Sun Tiong lo adalah seorang pemuda yang cerdas, sekarang dia cerdas sekarang ia sudah menduga apa gerangan yang menjadi tujuan Bau ji dengan perbuatan perbuatannya yang aneh itu.

Maka diapun tidak mengajukan pertanyaan apa2, bahkan terhadap apa yang mereka lakukan itu, dia bersikap seolah-olah tak pernah melihatnya.

Berbeda dengan nona Kim, dia tidak habis mengerti juga ingin tahu, maka tak tahan segera tanyanya.

"Hei, sebenarnya apa yang telah terjadi ? panggilan "hei"

Itu bisa diajukan pada Siau Houcu, bisa pula sedang bertanya pada Bau ji.

Akan tetapi baik Bauji maupun siau Hou cu sama sekali tidak ambil peduii kepadanya..

Dalam keadaan seperti ini, nona Kim merasa malu dan mendongkol dia segera mencari Sun Tionglo.

Kali ini dia lantas menuding kearah orang nya sambil menegur.

"Tionglo, sebenarnya apa yang telah terjadi?"

Sun Tiong lo mengetahui dengan jelas apa gerangan yang terjadi, namun ia berlagak seakan-akan tidak mengerti, katanya cepat.

"Dari mana aku bisa tahu?"

"Apakah kau tidak bisa bertanya?"

Nona Kim berkerut kening, Sun Tiong lo kehabisan daya, terpaksa tanyanya kepada Siau Hou cu.

"Siau hou, sebenarnya apa yang terjadi?"

Siau Hou cu segera tertawa.

"Siau liong, apakah kau tak dapat melihat, aku hanya menjalankan tugas atas perintah? Darimana aku bisa tahu apa yang sedang dilakukan? percuma mengajukan pertanyaan padaku. Sun Tiong lo cukup-mengetahui akan watak dari Bau ji, maka dia baru mengajukan pertanyaan tersebut kepada siau Hou cu siapa tahu siau Hou cu telah menghindarkan diri dari pertanyaan tersebut, malah pertanyaannya telah di dorong balik kembaIi. Dalam keadaan begini terpaksa dia harus minta petunjuk kepada Bau ji... Baru saja dia akan mengajukan pertanyaan tersebut Bau ji telah memandang sekejap ke arahnya, lalu memandang pula kearah Mo Tin hong dan si nona Kim, setelah itu katanya.

"Aku hendak menyelidiki apakah siluman menangis dan siluman tertawa adalah manusia berkerudung berbaju emas itu!"

"Oooh,"

Sun Tiong lo berseru lirih padahal diam-diam dia mengangguk, karena apa yang diduga memang persis seperti apa yang dikatakan barusan, Mo Tin hong segera merasakap hatinya tercekat, tapi dia pura-pura tidak habis mengerti, kembali tanyanya.

"Dulu, sewaktu kakakku menghadapi nenek-nya dan ibunya pergi meninggalkan rumahku, ditengah jalan dia telah berjumpa dengan seorang manusia kerudung berbaju emas yang membawa anak buahnya menghadang kepergian mereka.

"Manusia berkerundung itu bertekad hendak membabat seluruh keluarga kami sampai seakar-akarnya, bahkan diapun bertekad hendak membunuh kakakku seketika itu juga, walau pun akhirnya kakakku berhasil lolos dari bencana itu, namun nenek Yan..."

Bau ji yang berada disampingnya segera menukas.

"Bajingan itu bekerja dengan persiapan yang matang, mereka telah mempersiapkan dua orang perempuan sialan yang menyaru sebagai nenekku dan ibuku, salah seorang diantara mereka telah tewas dibunuh nenekku, sebaliknya yang lain telah membunuh ibuku. Kemudian nenek pun lenyap tak ada kabar beritanya lagi, sudah pasti beliau pun ikut dibunuh manusia kerudung berbaju emas itu, hari ini kau mengatakan salah seorang diantara dua siluman ini sebagai pemilik lencana Lok hun pay, maka aku..."

Mo Tin hong segera tertawa terbahak-bahak sambil menukas .

"Haaahhh.... haaahh.... haaahhhh... keponakan Bau, tak salah lagi Jkalau salah seorang diantara sepasang siluman ini adalah Lo hun pay, tapi pemilik Lo hun pay toh belum tentu adalah manusia berkerudung berbaju emas ?"

Bauji segera mendengus dingin.

"Hmm, pemilik lencana Lok-hun pay adalah manusia berkerudung berbaju emas !"

"Darimana kau bisa tahu ?"

Mo Tin hong berkerut kening.

"Ketika terjadi tanya jawab antara manusia berkerudung berbaju emas itu dengan nenek dan ibuku, aku hadir diarena, dari pembicaraan kedua belah pihak dapat kubuktikan kalau manusia berkerudung berbaju emas itulah pemilik lencana Lok-hun-pay!"

Dengan cepat Mo Tin-hong menggelengkan kembali kepalanya berulang kali.

"Siluman menangis dan siluman tertawa merupakan manusia-manusia licik yang banyak akal muslihatnya, bila kau percaya dengan perkataan mereka, berarti kau mudah tertipu!"

Bau ji mendengus dingin tanpa menjawab. -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** PADA SAAT itulah tiba-tiba Sun Tiong lo berkata kembali.

"pandanganku persis seperti padangan dari kakakku, akupun tidak percaya kalau pemilik lencana Lok-hun pay adalah siluman tertawa dan siluman menangis !"

Mo Tin hong termenung dan berpikir sebentar, kemudian ujarnya.

"Dapatkah kau terangkan alasan dari kesimpulanmu itu ?"

Sun Tiong lo tertawa.

"Maaf Sancu, saat ini bukan saatnya untuk memberi keterangan kepadamu !"

Dan setelah mendengar perkataan itu, Mo Tin hong merasa kurang leluasa untuk bertanya lagi, dia segera tertawa.

"Aku rasa, segala sesuatunya akan menjadi beres setelah Su nio si perempuan rendah itu berhasil ditangkap kembali."

Sun Tiong lo tidak menjawab, dia tertawa.

"Mari kita duduk didalam ruangan"

Kembali Mo Tin hong mempersilakan tamunya musuk. Sun Tiong lo segera memandang sekejap ke arah Bau ji dan siau Hou cu, sambil tertawa, siau Hou cu berkata.

"Berbicara terus terang, duduk mah tidak perlu, yang penting adalah mengisi perut."

Sebenarnya nona Kim sedang tak senang hati, tapi ucapan tersebut segera membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.

Maka didalam ruanganpun segera disiapkan hidangan.

Mo Tin hong, telah berangkat meninggalkan bukit pemakan manusia.

Dia berangkat bersama sama dengan nona Kim, Sun Tiong lo, Bau ji, Siau Hou cu dan Beng Liau buan serta pelayannya.

Tengah hari itu mereka sudah tiba di kota kecil dibawah bukit, Beng liau-huan dan pelayannya segera berpamitan untuk pcrgi, sedang lainnya bersantap dirumah makan.

Selesai bersantap, Mo Tin hong berkata kepada Sun Tiong lo, Bauji, nona Kim dan Siau-Hou cu bahwa dia hendak berpisah dengan mereka untuk melanjutkan perjalanan seorang diri ia bersumpah sampai diujuug langitpun Su nio akan di tangkap.

Sesaat menjelang perpisahan, sekali lagi Mo Tin hong berkata kepada Sun Tiong lo agar jangan lupa dengan janji mereka setahun kemudian untuk berjumpa lagi di bukit pemakan manusia.

Sun Tiong lo, mengangguk sambil tertawa, bahkan mengucapkan selamat kepada Mo Tin hong, semoga dia berhasil menemukan Sunio.

Pada saat itulah secara diam-diam Siau hou cu memberi tanda kepada Sun Tiong lo supaya meninggalkan tempat duduk dan di suatu tempat yang tersembunyi dia utarakan maksudnya dan Bauji, ternyata dia dan Bau ji masih tetap menaruh curiga terhadap Mo Tin hong.

Siau Hou cu bahkan menyatakan tekadnya ber sama Bau ji akan menguntit dibelakang Mo Tin hong secara diam-diam hingga kecurigaan mereka hilang, sebab itu, dia hendak memberitahukan hal ini lebih dulu kepada Sun Tiong lo.

Setelah termenung beberapa saat lamanya, Sun Tiong lo segera mengambil keputusan, barulah keputusan tersebut di beritahukan kepada Si.u Hou cu, mendengar keputusan tersebut Siao Hou cu menjadi amat girang, dia lantas manggut-manggut Kedua orang itupun segera balik kembali ke tempat duduk nya.

Tak lama setelah duduk, Siau Hou cu segera mengusulkan agar tujuan mereka dialihkan ke bukit Wu san, tapi demi lancarnya penyelidikan mereka atas Su-nio, maka diusulkan agar mereka berempat membagi diri menjadi dua rombongan.

Maka diputuskan Sun Tiong lo melakukan perjalanan bersama nona Kim, sedangkan Siau hou cu serta Hau ji berada dalam satu rombongan lain, sebelum berpisah, berulangkali Sun Tiong lo memesan kepada Bau ji dan Siau ho cu bila ada kabar, mereka jangan bergerak lebih dulu tapi bertindak setelah menyusun rencana yang matang, daripada tindakan mereka terperangkap oleh perhitungan lawan.

Siau ho cu dan segera mengiakan berulang kali, sambil menunggang kuda, merekapun minta diri lebih dulu.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Nona Kim dan Sun Tiong lo beristirahat di bawah pohon kui yang lebat dan besar.

Waktu itu Sun Tiong lo sedang mendongakan kepalanya memandang keangkasa, ia seperti sedang memikirkan sesuatu.

Nona Kim berkerut kening, dengan tenang dia memperhatikan Sun Tiong lo yang sedang termenung tanpa berbicara itu.

Lama, lama kemudian...

Akhirnya nona Kim tak kuasa menahan diri, dengan suara dingin segera tegurnya.

"Bagaimana, apakah masih bisa melihat benda lainnya ?"

"Ooh... tentu saja bisa"

Sahut Sun Tiong lo tersipu-sipu.

"padahal..."

"Padahal kenapa? Kau anggap aku tidak tahu? "sela nona Kim cepat, Sun Tiong lo jadi tertegun.

"Apa... apa yang kau ketahui?"

Sekali lagi nona Kim mendengus dingin.

"Kau anggap aku tak bisa melihatnya? Sepanjang jalan, kau selalu melewati jalanan yang sepi dan jauh dari keramaian manusia, kau tak pernah mengajakku berbicara lebih dulu, apa sebabnya..."

Sun Tiong lo segera menghela napas panjang.

"Aaaai... nona.."

"Kau panggil aku apa?"

Tukas nona Kim dengan mata melotot.

"Aaah, anggap saja aku salah, adik Kim!"

Sun Tiong lo segera tertawa pelan. Sebutan "adik"

Tersebut, seketika itu juga menghilangkan semua kemurungan dan kemarahan yang berkobar didalam dada nona Kim. Dengan lembut dan hangat dia lantas tertawa kepada Sun Tiong lo, kemudian ujarnya.

"Padahal akupun mengetahui jalan pemikiranmu, cuma kalau murung melulu toh sama sekali tak ada gunanya ."

Sun Tiong lo memandang nona itu sekejap, lalu tertawa, ia tidak berkata apa-apa lagi. Nona Kim turut tertawa, katanya pula.

"Mengapa sih kau selalu melewati jalan yang sepi dan terpencil seperti ini ?"

"Adik Kim, coba lihatlah itu!"

Ujar Sun Tiong lo sambil menuding kearah atas dahan pohon.

Nona Kim mencoba untuk mendongakkan kepalanya dan terlihatlah diatas dahan pohon itu tampak sebuah tanda panah yang terbuat dari benda tajam, tanda panah itu menunjukkan ke arah sebelah kiri.

Nona Kim memandang sekejap kearah Sun Tiong lo, kemudian tanyanya dengan cepat.

"Tanda rahasia ?"

"Ehmm!"

Sun tiong lo hanya mengiakan tanpa berkata apa-apa.

"Apakah tanda rahasia itu ditinggalkan oleh engkoh Bau-ji?"

Kembali nona itu bertanya.

Sejak Mo Tin-hong menjelaskan hubungan kekeluargaannya dengan keluarga Sun, Sun Tiong lo dan nona Kim telah mengganti pula panggilannya, mereka adalah engkoh Lo dan adik Kim.

Oleh karena itu sebutannya terhadap Bau-ji pun turut dirubah pula.

Cuma saja Bau ji tidak mempunyai nama lain, hingga terpaksa nona Kim harus memanggil engkoh Bau-ji kepadanya.

Waktu itu Sun Tiong lo manggut-manggut namun dia belum juga menjawab.

Nona Kim amat cerdik, dengan kening berkerut segera serunya.

"Kalau dilihat dari keadaan sekarang, tampaknya kita sedang menguntil seseorang?"

Sun Tiong lo merasakan hatinya amat berat, dia belum juga memberikan jawaban.

Sebenarnya nona Kim masih ingin bertanya kembali, tapi setelah ucapan sampai diujung bibirnya, dia segera menariknya kembali.

Sun Tiang lo segera menuding ke arah sebuah jalan kecil sebelah kiri sana, kemudian katanya.

"Adik Kim, mari kita pergi"

Nona Kim mengiakan, dia menarik tali les kudanya dan menjalankan ke arah kiri. Sambil berjalan diapun berkata.

"Kalau mengikuti arah yang ditunjuk tersebut, entah sampai kapan kita baru akan sampai di bukit Wu san?"

Sun Tiong-lo tertawa.

"Bukankah adik Kim pernah mengemukakan pendapatmu bahwa Su Nio tak nanti akan kembali ke bukit Wu san?"

"Benar."

Jawab nona Kim sambil tertawa.

"tapi paling tidak seharusnya ada sebuah jalur perjalanan yang tetap, tidak seperti sekarang, jalan kesana kemari secara mengawur tanpa arah tujuan yang benar, kecuali kalau engkoh Lo sudah memperoleh kabar berita yang sebenarnya!"

"Adik Kim, kau ingin mengetahui hal yang sebenarnya?"

Tanya Sun Tiong lo tiba-tiba dengan wajah serius.

"Kau akan berbicara sejujurnya kepadaku?"

Nona Kim balik bertanya dengan wajah serius pula.

"Yaa, sebetulnya kami sedang menguntit di belakang beng cengcu dan pelayannya."

Nampaknya jawaban tersebut sama sekali di luar dugaan gadis tersebut.

"Oooo... rupanya kita sedang menguntit mereka!"

Serunya kemudian. Sun Tionglo tertawa.

"Adik Kim, bagaimanakah jalan pemikiran mu sebelum ini ?"

"Aku mengira kalian sedang menguntil ayahku!"

Sahut nona Kim sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah. Tampaknya Sun Tiong-lo mempunyai tujuan lain, cepat serunya.

"Aah, Tidak mungkin, kecuali kalau secara kebetulan sancu pun melalui jalanan yang kita tempuh ini !"

Nona Kim segera mengerling sekejap kearah Sun tiong-lo, kemudian tegurnya.

"Hingga sekarang, sebutanmu terhadap ayahku masih belum juga dirubah ?"

"Harap adik Kim sudi memaafkan !"

Nona Kim segera mendengus dingin.

"Maafkan ? Atas dasar apa ?"

Serunya. Sun Tiong-lo tertawa getir.

"Walaupun sancu menerangkan segala sesuatunya tetapi keterangannya itu masih sukar untuk membuat orang mempercayainya."

"Heran, apa sih yang sulit membuatmu untuk mempercayainya ?"

Seru nona Kim dengan mata melotot.

"Pertama, Sancu dan mendiang ayahku adalah saudara angkat, menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, mereka adalah sobat karib yang sehidup semati, selamanya selalu membantu keluarga yang sedang ditimpa kesusahan. Akan tetapi, ketika orang tuaku menjumpai musibah dulu, ternyata sancu..."

"Bukankah ayahku telah menerangkan, waktu itu dia sedang mengasingkan diri diatas bukit untuk melatih ilmu silat guna bersiap sedia melakukan pembalas dendam ?"

Seru nona Kim cepat.

"hal mana menyebabkan dia terputus sama sekali hubungannya dengan dunia persilatan, dia sama sekali tidak tahu...."

"Adik Kim, bukan persoalan ini yang kumaksudkan,"

Tukas Sun Tiong-lo sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Ooooh.... lantas soal apa?"

"Maksudku ketika Sancu mengetahui kalau anggauta perkampungan Ang liu ceng nya telah dibunuh semua oleh lencana Lok hun pay, apa sebabnya dia tidak mengundang mendiang ayahku untuk membantunya didalam menghadapi serangan musuh?""

Nona Kim berpikir sebentar, lalu jawabnya.

"Bukankah ayahku telah berkata waktu itu dia merasa bukan tandingan dari Lok hun pay, sedangkan ilmu silat yang dimiliki ayahmu belum tentu lebih hebat daripada kepandaian ayahku, oleh karenanya..."

"Adik Kim, apakah kau tidak merasa kalau penjelasan tersebut kurang kuat alasannya?"

Kata Sun Tiong lo sambil tertawa.

"Ayahku memang berwatak demikian, bila dia sedang menghadapi kesulitan, tak pernah akan merepotkan orang lain!"

Kata nona kim dengan wajah serius.

"Oooh... lantas bagaimana pula persoalannya dengan sepasang siluman itu?"

"Bagaimana dengan sepasang siluman itu?"

"Aku percaya kaupun dapat mengetahui bahwa kedua orang siluman itu bukanlah Lok hun-pay!"

"Darimana kau bisa berkata demikian?"

Nona Kim tertegun.

"Adik Kim, kau benar-benar tidak tahu, ataukah...."

"Tentu saja aku benar benar tidak tahu"

Nona Kim nampak agak naik darah. Sun Tiong lo segera tertawa.

"Aku percaya kau benar-benar tidak tahu sebab hatimu terlalu baik dan mulia!"

"Apa maksudmu berkata demikian?"

"kembali nona Kim mengerdipkan matanya berulang kali.

"Adik Kim pernah berkata bahwa tenaga dalam yang dimiliki Sancu masih belum sanggup untuk menandingi Lok hun pay, bahkan kaupun pernah bilang kalau mendiang ayahku belum tentu sanggup menandingi dari Lok-hun-pay, masih ingatkah kau dengan perkataan tersebut?"

Dengan cepat nona Kim dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh Tiong-lo, kontan saja ia dibikin terbungkam dalam seribu bahasa. Terdengar Sun Tiong-Io berkata lebih lanjut.

"Apa lagi kedua orang siluman itu tak pernah berpisah satu sama lainnya, sedangkan didalam pertarungan diatas bukit Pemakan manusia, sancu yang harus berhadapan dengan dua orang musuhpun tidak memperlihatkan gejala kalah, apakah hal ini tidak aneh?"

Nona Kim termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian sahutnya.

"Demi membalas dendam, selama banyak tahun ayahku selalu melatih diri secara tekun, kalau sekarang ilmu silatnya mampu menangkan kedua orang siluman tersebut, kejadian ini bukan sesuatu peristiwa yang luar biasa !"

"Ucapanmu itu menang benar tapi hal inipun mustahil bisa terjadi."

Kata pemuda itu manggut-2 Nona Kim menjadi mendongkol dia lantas menegur.

"Kau bilang bahwa ucapanku itu ada benarnya, tapi mengatakan pula kalau tidak mungkin, sebenarnya apa maksudmu?"

"Andaikata selama beberapa tahun ini Sancu berhasil menemukan suatu penemuan diluar dugaan atau berhasil mendapatkan pusaka ilmu silat yang maha dahsyat kemudian melatihnya dengan tekun, kemungkinan besar ucapanmu itu ada benarnya."

"Tapi kalau bukan karena itu, sebaliknya hanya melatih diri secara tekun atas kepandaian silat yang telah diketahui dulu, soal tenaga dalam mungkin akan peroleh kemajuan yang pesat, namun kalau dibilang dengan kemampuannya seorang ternyata sanggup mengalahkan dua orang jago tangguhnya hal ini mustahil bisa terjadi!"

"Mengapa mustahil bisa terjadi?"

Nona Kim belum juga mengerti.

"Sepasang manusia aneh itu bukan orang tolol hanya puas dengan apa yang dimilikinya, apakah selama banyak tahun ini mereka tak pernah melatih kepandaiannya secara tekun? Kalau Sancu mempunyai waktu selama sepuluh tahun untuk melatih diri, apakah kedua orang siluman itu tidak memiliki pula waktu selama sepuluh tahun untuk melatih diri? Mengertikah kau dengan apa yang kukatakan ?"

Mendadak nona Kim seperti teringat akan sesuatu, segera serunya.

"Aaah, benar, ayahku pernah mendapatkan se

Jilid kitab pusaka, kitab itu..."

"Apakah kau maksudkan kitab yang disimpan dalam loteng Hian-ki-lo dan kemudian dicuri Khong It-hong serta menyalinnya kedaiam kitab lain itu ?"

Nona Kim merasa terperanjat sekali setelah mendengar perkataan itu, serunya cepat.

"Darimana kau bisa tahu tentang persoalan ini ?"

Sun Tiong-lo segera tertawa.

"Adik Kim, apakah kau lupa? Bukankah waktu itu aku bersembunyi disamping ruangan ?"

Nona Kim mendengus dingin.

"Tapi kau baru bercerita kepadaku setelah kejadian itu lewat."

"Benar, waktu itu aku masih belum mengetahui dengan pasti akan posisi dan kedudukan adik Kim !"

Sekali lagi nona Kim mendengus dingin.

"Sekarang, aku toh masih tetap aku yang dulu !"

"Paling tidak diluarnya kita toh tidak saling berhadapan sebagai musuh !"

Sambung Sun Tiong lo sambil tertawa. Nona Kim sagera mengerling sekejap kearah Sun Tiong Io, kemudian katanya.

"Aku hendak bertanya kepadamu, hingga sekarang, benarkah kau masih menaruh rasa curiga terhadap ayahku ?"

Sun Tionglo tertawa getir.

"berbicara terus terang, mau tak mau aku harus menaruh curiga tersebut !"

"Lantas apa rencanamu selanjutnya?"

Sun Tiong-lo menggelengkan kepalanya berulang kali tanpa menjawab. Dan dengan wajah serius sekali lagi nona Kim berkata.

"Engkoh Lo, andaikata kau bersikeras mempunyai jalan pemikiran semacam itu, maka mustahil buat kita untuk melakukan perjalanan lebih jauh..." -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***

Jilid 23 MENDADAK Sun Tiong lo menuding ke atas pohon sambil berseru.

"Adik Kim, cepat lihat !"

Nona Kim mengalihkan sorot matanya kearah yang ditunjuk, tampaklah tanda panah yang semula menunjuk kearah atas, kini arahnya sudah berubah menjadi melintas, bahkan dibawah tanda panah yang tertera pula tanda "X".

Menyaksikan tanda itu, dengan kening berkerut nona Kim segera bertanya.

"Apa pula arti dari tanda ini?"

Paras muka Sun Tiong lo kini berubah menjadi amat serius, jawabnya.

"Engkoh Siau hou memberitahukan kepadaku kalau Beng cengcu dan pelayannya telah menjumpai ancaman bahaya, sekarang dia sedang berjalan melewati jalanan sebelah kanan, hayo kita cepat menyusul ke sana!"

Nona Kim sangat menguatirkan keselamatan dari Beng Liau tuan dan pelayannya, mendengar perkataan itu segera jawabnya.

"Kalau begitu mari kita segera ke sana !"

Sambil berkata kedua orang itu segera melarikan kudanya kencang-kencang menuju kedepan sana.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BENG Liau huan dan pelayan tuanya Beng seng tak pernah menyangka kalau didalam hidup mereka kali ini masih punya harapan untuk keluar dari Bukit pemakan manusia dalani keadaan hidup, ketika mereka tahu kalau diri nya berdua diperbolehkan meninggalkan bukit, tentu saja gembiranya bukan kepalang.

Diam-diam orang itupun segera berunding, mereka menganggap kejadian ini sudah pasti disertai dengan rencana keji.

Selama banyak tahun, Beng Liau huan dan pelayannya sudah cukup mengenali watak dari Mo Tin hong, mereka sadar andaikata kali ini dia bukan dipaksa oleh keadaan, mustahil Mo Tin hong akan bersedia melepaskan mereka berdua untuk turun gunung.

Oleh sebab itu setelah berunding, diputuskan bahwa mereka akan melakukan perjalanan bersama-sama Sun Tiong lo kakak beradik, tujuannya agar mereka tidak disergap siapapun atau dicelakai oleh siapapun.

Akan tetapi ketika mereka mendapat tahu kalau Mo Tin hong pun melakukan perjalanan bersama mereka, Beng Liau huan berdua segera merubah kembali rencananya, mereka bertekad akan melanjutkan perjalanan sendiri agar bisa cepat-cepat meloloskan diri dari pengejaran serta pengawasan Mo Tin hong.

Setelah berpamitan dengan semua orang, karena mereka berkuda maka perjalanan bisa di lanjutkan sangat cepat.

Kurang lebih belasan li kemudian, mendadak Beng liau huan menarik tali les kudanya dan berpaling, ia ingin tahu apakah ada orang yang secara diam diam menguntil dibelakang mereka.

Setelah yakin kalau tak ada yang menguntil, mereka lantas berbelok kesebuah jalanan kecil dan merubah arah perjalanannya secara tiba-tiba.

Beng Liau huan termasuk seorang jagoan persilatan pula dimasa lalu, tapi setelah dua puluh tahun disekap diatas bukit, apalagi setelah badannya cacad, sudah barang tentu berbicara soal kepandaian maupun kecerdasan, ia sudah jauh ketinggalan daripada dulu.

Itulah sebabnya mereka amat mudah diintil orang tanpa disadari oleh mereka sendiri.

Sudah barang tentu Beng Liau huan pun sangat memperhatikan keadaan dibelakang tubuh nya, sayang pihak lawan sudah melakukan persiapan yang matang sehingga semenjak mereka meninggalkan Sun Tiong lo sekalian, kedua orang tersebut sudah melangkah kedalam perjalanan yang penuh ancaman bahaya.

Di tengah jalan, kedua orang itu berhenti untuk beristirahat sambil mengisi perut.

Ketika selesai bersantap Beng Seng lantas bertanya kepada Beng liau huan.

"Cengcu, mengapa kau tidak rnenceriterakan apa yang telah kau dengar dan kau saksikan selama banyak tahun ini kepada Sun kongcu?"

Beng liau hoan tertawa getir.

"Tentu saja ada alasannva, pertama orang yang merampas perkampungan dan membunuh keluarga aku dimasa lalu bukan Mo Tin hong pribadi, kendatipun kemungkinan besar dialah dalang dari pembunuhan itu, sayang aku tidak mempunyai bukti yang pasti."

"Kedua Sun kongcu dan Mo Tin hong masih mempunyai sedikit hubungan, apa yang diucapkan pada saat ini belum tentu akan mendatangkan hasil, maka lebih baik kalau kita menunggu sampai tibanya kesempatan lain yang lebih cocok."

"Ke tiga, aku sudah mengetahui kalau nona Kim bukan putrinya Mo Tin hong, maka ketika Sun kongcu mengajak nona Kim meninggalkan Bukit pemakan manusia, aku sudah mempunyai suatu rencana..."

Belum habis dia berkata, Beng seng telah menukas.

"Aku lihat tak bakal salah lagi, orang she Mo itu adalah dalang dari segala macam peristiwa ini, tak usah membicarakan yang lain, cukup dilihat dari perbuatannya yang mengancam kita berdua selama banyak tahun, sudah terbukti kalau dia bukan orang baik-baik."

"Apalagi kalau dilihat dari kematian yang mengenaskan aari sahabat-sahabat persilatan yang salah memasuki bukit dan mati disergap oleh jago-jago mereka yang ber-jaga2 disana..."

Sekali lagi Beng Liau huan tertawa getir, katanya sambil mengulapkan tangannya.

"Kau keliru besar, Mo Tin hong tak pernah membunuh orang-orang yang salah memasuki bukit pemakan manusia!"

"Tak pernah ?"

Beng Seng tertegun.

"tuan, apakah kau lupa...?"

"Aku tidak lupa."

Tukas Beng Liau huan sambil menggeleng.

"walaupun yang tewas tidak sedikit, sedang sahabat-sahabat persilatan yang telah salah memasuki bukit itu, semuanya masih tetap hidup dengan selamat."

"Tuan, sungguhkah itu ?"

Beng seng berdiri bodoh. Beng Liau Iiuan manggut-manggut.

"Betul, pada mulanya akupun tidak mengetahui akan hal ini, sampai sepasang manusia siluman menyerbu ke dalam perkampungan dan dengan mata kepala sendiri kusaksikan jago-jago silat tersebut, hatiku baru sadar dan paham."

"Aneh sekali kalau begitu."

Beng Seng belum juga mengerti.

"orang-orang itu mempunyai rumah dan keluarga, mengapa mereka mau tinggal diatas bukit ini?"

Beng Liau huan menghela napas panjang.

"Aaaaai... sayang sekali teka-teki ini tak ada orang yang bisa memecahkannya."

Beng seng berpikir sebentar, ujarnya.

"Tuan, jangan murung karena urusan orang lain lagi, coba katakan, sekarang langkah pertama kita harus kemana?"

Beng seng berpikir sebentar, lalu manggut-2.

"Betul, Toa kohya mempunyai hubungan yang luas sekali dengan jago-jago dalam dunia persilatan, mungkin saja kita dapat mengetahui asal terjadinya peristiwa dimasa lalu, siapakah dalangnya serta karena apa bisa terjadi peristiwa itu?"

Beng liau-huan tidak menanggapi ucapan itu dia memberi tanda agar Beng seng membimbingnya naik keatas kuda.

Beng liau huan pada saat ini adalah seorang manusia cacad yang telah tak berkepandaian lagi, setelah naik keatas kuda, bersama Beng-Seng diapun melanjutkan perjalanan menuju kedepan.

Tak lama setelah kedua orang itu berlalu, dari balik semak belukar muncul pula dua orang lelaki kekar yang berwajah bengis.

Kedua orang itu saling berpandangan sekejap sambil tertawa, kemudian merekapun mengejar dibelakang dan Bau ji menyusul pula ke sana, menyaksikan sisa rangsum yang tercecer diatas tanah, kedua orang itu saling manggut dan melanjutkan perjalanannya melakukan pengejaran.

Ketika mereka tiba disebuah pohon besar, Siau hou-cu segera membalikkan tangannya dan meninggalkan sebuah tanda diatas pohon.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Dua orang lelaki kekar berwajah bengis berhenti didepan sebuah hutan dan bersandar diatas dahan sambil memperhatikan Beng liau huan berdua yang tinggal dua titik bayangan hitam dikejauhan sana.

Tiba-tiba salah seorang diantara dua orang lelaki bermuka buas itu tertawa seram, kemudian katanya.

"Lo huan, dugaan majikan ternyata benar, tua bangka celaka itu benar-benar hendak pergi ke rumah putrinya mari kita tunggu sebentar lalu mengejar lagi !"

Lelaki she Huan itu segera tertawa.

"Lo-oh, diantara anak buah majikan, kepandaianmu lebih tinggi daripada aku, segala sesuatunya aku menuruti perkataanmu saja!"

"Aaah, tak usah mempersoalkan lebih tinggi atau tidak, kita toh sama saja !"

Lo-oh menggeleng.

"Berbicara yang sebenarnya, penghalang di depan sana bisa dilewati dengan selamat bukan? "Hm, kita bisa mampus kalau sampai gagal!"

Lo-huan berpikir sebentar, lalu katanya lagi.

"Danpada terjadi hal-hal yang tak diinginkan, Lo-oh, mari kita menyusul sekarang juga"

Lo oh mengiakan, bersama Lo Huan mereka segera melanjutkan perjalanannya untuk melakukan pengejaran.

Tentu saja semua pembicaraan tersebut dapat didengar oleh Siau hou cu dan Bau ji dengan jelas, itulah sebabnya dibawah tanda panah yang dibuatnya diatas dahan pohon, diberi pula tanda "X".

Menyusul kemudian, Siauhou cu pun berkata kepaca Bau ji.

"Kali ini kita pun memisahkan diri, kau menekan dari belakang, aku menghadang dari depan!"

"Betul!"

Bau ji mengangguk.

"kali ini kita harus meninggalkan korban dalam keadaan hidup."

"Tentu saja, kita harus memaksa setan tua itu untuk memperlihatkan wujud yang sesungguhnya."

Sambil berkata dia lantas memberi tanda kepada Siau hou cu dan berlalu lebih dahulu.

Sedangkan Bau ji menjalankan kudanya pelan-pelan mengikuti dibelakangnya.

-ooo0dw0oooBeng Liau huan dan pelayan tuanya sudah memasuki sebuah jalan bukit yang sepi dan terpencil.

Waktu itu senja menjelang tiba, pemandangan tampak sangat indah sekali.

Sambil menunjuk ke tempat kejauhan sana, tiba-tiba Beng liau huan berkata.

"Beng seng, bagaimana kalau kita sekaligus melewati bukit didepan sana?"

Menyaksikan majikan tuannya sedang gembira, buru-buru Beng seng menyahut.

"Bagus sekali, biar aku yang akan berjalan didepan!"

Mendadak Beng liau-huan menghela napas sedih, katanya.

"Walaupun semangatku masih seperti dulu, sayang orangnya sudah jauh berbeda!"

Beng seng ada maksud menghilangkan kemurungan majikannya, lalu ujarnya sambil tertawa.

"Siapa yang bilang begitu? Aku justru tidak puas kalau dibilang sudah tua dan tak mampu."

Beng Liau-huan segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Sekalipun tidak puas, apa pula gunanya ? Tulang kita sudah tua, apalagi tenaga dalam ku sudah punah, setelah lama tidak menunggang kuda, rasanya mustahil bagiku untuk mendaki bukit itu semalaman suntuk, betul niatku besar sayang kekuatanku sudah tak akan memenuhi harapan tersebut."

Baru saja Beng Seng akan menjawab, mendadak dari arah depan sama berkumandang datang suara bentakan keras.

"Hmmm, memang tidak pikun, jago kawakan memang tetap jago kawakan, tampaknya kau sudah tahu kalau dalam hidupmu kali ini tak mungkin bisa melewati bukit itu lagi, orang she Beng, harap turun dari kudamu !"

Ditengah pembicaraan tersebut, dua orang lelaki berbaju hitam telah melompat keluar dan menghampiri mereka.

Dilihat dari gerakan tubuh mereka yang begitu cepat, dapat diketahui kalau kedua orang lelaki itu adalah jago-jago kelas satu didalam dunia persilatan.

Mendengar bentakan tersebut, Beng Liau huan segera tertawa getir, bisiknya kemudian kepada Beng Seng.

"Cepat lari meninggalkan tempat ini, bagai manapun juga harus ada seorang yang pergi ke rumah toa konio untuk membawa berita!"

Sudah dua puluh tahun Beng Seng tak pernah meninggalkan majikannya, tapi ia cukup mengetahui akan situasi yang sedang dihadapinya sekarang, maka sambil mengiakan dia segera melarikan kudanya untuk meninggalkan tempat itu.

Siapa tahu belum lagi kudanya diputar, dari belakang tubuhnya kembali terdengar seseorang menegur sambil tertawa.

"lngin kabur? Boleh saja, cuma tinggalkan dulu nyawamu!"

Menyaksikan dari depan dan belakang muncul musuh tangguh yang menghadang perjalanan mereka, Beng Seng menjadi naik darah.

Dia segera menuding ke arah keempat orang lelaki buas yang berada didepan maupun belakangnya, kemudian bentaknya keras-keras.

"Kami berdua toh tidak mempunyai dendam kesumat dengan kalian, mengapa kalian mendesak kami terus menerus?"

Dua orang lelaki yang berada dibelakang tak lain adalah Lo Huan dan Lo Oh. Sambil tertawa seram Lo Huan segera menyahut.

"Yaa, memang tak ada dendam kesumat tak ada sakit hati, tapi selamanya aku orang she Huan memang tak pernah mempersoalkan dendam sakit hati bila ingin membunuh orang!"

Manusia berbaju emas yang berada di sebelah timur itu segera mendengus dingin.

"Hmmm, orang kuno bilang, siapa yang terlibat dia terpikat!"

"Betul, siapa yang terlibat dia memang terpikat!"

Sahut manusia berbaju emas yang berada disebelah barat sambil mendengus pula. Lama-kelamaan, manusia berbaju emas yang ada disebelah timur menjadi naik pitam, dia lantas berseru.

"Cukup, sekarang kau hendak menghabisi diri sendiri, ataukah harus menerima bantuanku."

"Apa sih maksud perkataanmu itu?"

Yang berada disebelah barat pura-pura tidak mengerti.

"Apakah perkataanku masih kurang jelas?"

"Perkataannya mah sudah cukup jelas, cuma alasannya saja yang tidak kupahami !"

"Kau ingin mengetahui alasannya? Baik, kalau begitu kuberitahukan kepadamu, Kau si nomor delapan, bernama Wong Peng ci yang berasal dari Ting kang, rasanya hal ini sudah cukup jelas bukan sahabat Wong yang baik hati?"

Yang ada disebelah barat adalah Wong Peng ci, sedang yang berada disebelah timur, tak bisa disangkal lagi adalah orang yang mendapat perintah untuk membunuhnya. Wong Peng ci segera manggut-manggut.

"Bagus, bagus sekali, dan aku rasa memang sudah cukup! Majikan pernah bilang nama siapa dan nomor siapa bila dibocorkan kerahasiaannya, maka hal itu berarti kematiannya sudah diumumkan aku rasa memang tak perlu lagi bagiku untuk menanyakan alasannya lagi.."

Orang yang berada disebelah timur itu segera manggut-manggut.

"Betul, tampaknya kau belum melupakan peraturan kita itu!"

Serunya cepat. Wong Peng ci tertawa.

"Sudah sekian tahun aku bertugas dan berbakti kepada majikan, masa peraturan semacam inipun bisa kulupakan ?"

"Kalau memang begitu bagus sekali"

Seru si manusia disebelah timur sambil tertawa.

"Wong Peng ci, silahkan segera turun tangan untuk menghabisi dirimu sendiri"

"Tunggu dulu"

Seru Wong Peng ci sambil mengulapkan tangannya.

"aku masih ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu."

"Kau benar-benar kurang memuaskan hati."

"Hmmm, memuaskan atau tidak tunggu saja sampai aku selesai mengajukan pertanyaan ini, kemudian kau baru boleh berbicara sesuka hati mu..."

Orang yang berada di sebelah timur itu segera tertawa licik.

"Betul juga perkataanmu itu"

Katanya.

"mungkin diantara sembilan orang pengganti majikan kaulah yang paling memuaskan hati!"

Wong Peng ci tak mau kalah, diapun tertawa seram.

"Bila hari ini aku mati, maka basok kaulah yang mampus, hal ini tetap akan berlangsung untuk selamanya Sobat, sebelum melaksanakan tugasmu itu, lebih baik cobalah untuk meresapi dahulu maksud dari perkataanku ini."

Untuk beberapa saat lamanya orang vang berada disebelah timur itu tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Sebaliknya Wong Peng ci juga tidak buka suara lagi.

Sampai lama, lama kemudian, orang yang berada di sebelah timur baru berkata dengan suara rendah dan berat.

"Sahabat Wong, waktu yang tersedia bagiku sangat terbatas sekali!"

Perkataan itu bermaksuk amat sederhana yaitu minta kepada Wong Peng ci agar segera menyelesaikan kehidupannya. Wong Peng ci segera tertawa.

"Majikan toh berada disekitar tempat ini, Iebih baik pertanyaan ini kuajukan dulu kepada majikan agar bersedia untuk menjawabnya lebih dahulu."

"Wong Peng ci, kuanjurkan kepadamu lebih baik sedikitlah tahu diri."

Tegur orang disebelah timur dingin.

"Baik."

Wong Peng-ci tertawa.

"memandang pada kedudukan kita sama-sama sebagai sembilan orang pengganti, persoalan ini terpaksa ku ajukan saja kepadamu, maaf aku tak tahu siapakah namamu, terpaksa aku harus menyebut anda kepadamu..."

"Terserah"

Tukas orang itu, Setelah mendengus dan tertawa, Wong Peng ci lantas berkata.

"Apakah anda hanya menitahkan pada aku orang she Wong untuk bunuh diri atau menyerahkan nyawaku dengan begitu saja."

Pada mulanya orang yang berada di sebelah timur itu tertegun, kemudian katanya sambil tertawa.

"Sahabat Wong, kau benar-benar tak tahu diri, silahkan kau perhatikan benda apa ini?"

Sembari berkata, orang yang berada disebelah timur itu segera mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, tahu-tahu genggamannya telah bertambah dengan sebuah lencana emas berkepala macan kumbang Pa tau lok hun kim pay.

Wong Peng ci memandang sekejap ke arah lencana emas tersebut, kemudian katanya sambil tertawa pedih.

"Bagus sekali, kalau begitu silahkan anda turun tangan untuk menyelesaikan aku!"

"Ooh, aku kira lebih baik sahabat Wong turun tangan sendiri saja untuk menyelesaikan dirimu sendiri"

"Bagaimana...?"

Ejek Wong peng ci tenang.

"aku orang she Wong sudah menjumpai musuh tangguh dan kepandaian silatku telah dipunahkan orang sehingga saat ini sudah lemah tak berkekuatan ibaratnya orang biasa, apakah masih takut terhadap diriku?"

Orang yang berada disebelah timur itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Sekalipun tenaga dalam yang dimiliki sahabat Wong masih utuhpun, aku tak bakal jeri kepadamu!"

Wong Peng ci segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Tentu saja cara kerja Lok hun pay selamanya disertai dengan suatu perencanaan yang matang, kalau toh mengutus orang untuk secara diam-diam mengawasi gerak gerik seseorang, tenaga dalam yang dimiliki orang itu sudah pasti jauh melebihi kepandaian lawannya!"

Berhubung paras muka orang yang berada disebelah timur tertutup oleh kerudung kain hitam, maka sulit untuk mengetahui mimik wajah sebenarnya, tapi kalau didengar dari nada ucapannya yang baru dilontarkan sudah cepat dia akan segera dibikin kaget dan marah.

Dengan emosi yang meluap, lantas berseru.

"Wong Peng ci, kau berani menyebut majikan dengan sebutan semacam itu?"

Wong Peng ci segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh... haaahh... haaahh... selain kematian tiada bencana lain yang lebih besar, bagaimanapun juga aku orang she Wong toh sudah pasti mati, kenapa aku mesti takut kepada persoalanpersoalan yang lain? sebaliknya justru kau sendirilah yang mesti waspada kepadaku, paling baik lagi jika bertindak lebih berhati-hati!"

"Mati dengan mati tak akan sama, aku dapat membuatmu tersiksa lebih dulu sebelum mampus!"

Ancam orang yang berada disebelah timur sambil membentak keras. Untuk kesekian kalinya Wong Peng ci mendongakkan kepalanya sambil tertawa ter-bahak2.

"Haaahh... haaahh... haaahh... apanya yang berbeda, paling banter toh harus hidup tersiksa berapa waktu lebih lama!"

"Tutup mulut dan segera habisi nyawamu sendiri!"

Teriak orang yang berada disebelah timur itu sambil menudingkan kearah Wong Peng ci. Tapi Wong Peng ci menggelengkan kepalanya.

"Tidak mungkin, aku tak mungkin akan melakukannya sendiri, jadi kalau kau ingin cepat terpaksa kau harus melakukan sendiri, aku akan menyuruh kau sepanjang hidup, siang maupun malam selalu teringat dengan kisah perbuatan mu didalam membunuhku pada hari ini."

"Kemudian, bila pada suatu saat lencana Lok hun pay berbalik dan menuduh kau adalah kuku garuda orang lain seningga menjatuhi hukuman mati kepadamu, saat itulah aku akan muncul kembali untuk menjemput arwahmu menuju keakhirat!"

Orang yang berada di sebelah timur itu tak sanggup untuk mendengarkan perkataan itu lebih lanjut, dengan gusar segera teriaknya.

"Perbuatanmu sekarang hanya akan membuatmu tersiksa hidup beberapa waktu lamanya sebelum kematian menghabisi riwayatmu."

Sembari berkata, dengan langkah lebar dia segera berjalan mendekati Wong peng ci. Wong peng ci masih saja tersenyum.

"Saudara kau tak usah berlagak seperti itu di hadapanku, sekarang tenaga dalam yang aku orang she Wong miliki sudah punah, mau melarikan diri pun sudah tak sanggup, melawan sudah tak sanggup hanya dengan suatu langkah pelan saja, hal itu sudah cukup menggetarkan hati orang!"

Orang yang berada disebelah timur itu segera mendengus dingin, katanya.

"Sekali lagi kuberi sebuah kesempatan kepadamu, cepat habisi sendiri nyawamu."

Tapi Wong peng ci tetap membandel, untuk kesekian kalinya dia menggelengkan kepala nya berulang kali.

"Kini, kau secara beruntun telah melanggar beberapa kali perintah dari Lok hun pay, apa bila dugaanku tidak salah, dibelakang tubuhmu sekarang sudah pasti ada orang yang sedang mengawasi dirimu, aku kuatir..."

Mendadak dia berhenti bicara, kemudian wajahnya segera memperlihatkan suatu senyuman yang sangat aneh, terutama sekali sepasang matanya itu, membuat manusia berbaju emas yang berada di sebelah timur mau tak mau harus celingukan ke sana kemari dengan perasaan tak tenang, dan akhirnya dengan perasaan ngeri dia mundur ke belakang berulang kali.

Ternyata apa yang diduga Wong Peng ci sedikitpun tidak salah, karena entah sejak kapan, di belakang tubuh manusia berbaju emas yang berada di sebelah timur itu telah bertambah lagi dengan seorang aneh berbaju emas yang mengenakan kain kerudung muka berwarna kuning emas..

Baru saja orang yang berada disebelah timur akan bersuara, manusia berbaju emas yang barusan menampakkan diri itu sudah berkata dengan suara dalam.

"Gui Sam tong, persembahkan dahulu lencana Kim pay tersebut kepadaku!"

Gui Sam tong, atau orang yang berada di sebelah timur itu sudah diumumkan namanya secara blak-blakan, menurut peraturan lencana Lok hun pay, hal ini berarti dia dan Wong Peng ci mempunyai kedudukan yang sama, yakni sudah dijatuhi hukuman mati.

Maka baru saja Gui Sam tong hendak mengeluarkan lencana Kim pay tersebut, mendadak Wong Peng ci telah mencegahnya seraya berkata.

"Saudara Gui, tunggu sebentar!"

Dengan geramnya Gui Sam tong membalikkan badannya sambil membentak keras.

"Semua ini gara-gara kau si kawanan tikuslah yang mencelakai diriku..."

"Saudara Gui, tutup mulutmu."

Suara Wong Peng ci dengan suara keras.

"menurut peraturan yang ditentukan tua bangka itu, barang siapa namanya diumumkan secara blak-blakan maka itu berarti dia sudah dijatuhi hukuman mati. Sekarang, sekalipun kau dapat membunuhku juga tak akan mendapatkan pengampunan dari lawan, mustahil dia bersedia mengampunimu dengan begitu saja!"

Gui Sam tong menjadi berdiri bodoh seperti patung, untuk sesaat lamanya dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Manusia berkerudung emas yang baru saja munculkan diri itu segera berkata lagi.

"Gui Sam tong mengapa tidak kau serahkan lencana kim pay itu kepadaku?"

"Lo Gui, saudara Gui, mengapa kau tak menanyakan dulu kepadanya, ia mempunyai apa?"

Diam-diam Gui Sam tong mengangguk baru saja akan buka suara, pihak lawan telah berkata lebih dulu.

"Lencana Kim pay semuanya terdiri dari tiga macam, kau harus tahu, sekarang aku mendapat perintah dengan lencana Hou tau kim pay (lencana emas kepala harimau) untuk mengawasi gerak-gerikmu, aku telah dapat perintah untuk melaksanakan menurut peraturan, mengertikah kau sekarang..."

Wong peng-ci tertawa.

"Mengerti kentutmu, cepat perlihatkan itu lencana emas itu."

"Benar"

Sambung Gui Sam tong.

"aku pun ingin menyaksikan macam apa lencana emas Hou tau kim pay itu!"

"Selain itu, kau harus bertanya dulu kepadanya, peraturan manakah yang telah kau langgar?"

Sambung Wong Peng ci. Dengan cepat Gui Sam tong manggut-manggut, pada manusia berbaju emas itu katanya.

"Benar, kau harus menerangkan semua persoalan itu sampai jelas!"

Manusia berkerudung berbaju emas itu mendengus dingin, tangannya segera merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan sebuah lencana Hou tau kim pay, sebuah lencana emas yang bergambar kepala harimau.

Perlu diketahui, lok hun pay dibagi menjadi empat macam, yang paling berkuasa besar ada lah Lok hun si leng (lencana kematian).

Setelah itu menurut urutannya adalah lencana emas berkepala naga, lencana emas berkepala harimau dan lencana emas berkepala macan kumbang.

Jadi dengan begitu maka lencana Pa tau lok hun leng yang dibawa oleh Gui Sam tong sesungguhnya kalah satu tingkat bila dibandingkan dengan berkepala harimau.

Setelah lencana Hou tau kim leng lawan di-keluarkan, Gui Sam tong tak dapat berbicara lagi.

Tampak di pihak lawan mengangkat tinggi tinggi lencana emas "Lepaskan kerudung yang kau kenakan itu!"

Kali ini kedua orang itu tak berunding, tanpa membantah Gui Sam tong segera melepaskan kain kerudung berwarna mukanya.

Dengan demikian, dari tiga orang pengganti Lok hun pay yang hadir saling berhadapan, tinggal satu orang saja yang masih mengenakan kain kerudung muka.

Mula-mula simanusia berkerudung itu menyimpan dahulu lencana emas Hou tau kim pay nya, setelah itu baru perintahnya.

"Gui Sam tong, sekarang persembahkan lencana Pa tau kim pay mu itu kepadaku."

"Gui heng, hayolah bertanya, tanya apa dosa dan kesalahanmu?"

Seru Wong peng ci tiba2. Tak menanti pertanyaan itu di ajukan, manusia berkerudung itu sudah berkata lebih dulu dengan suara lantang.

"Gui Sam tong, kau hanya mendapat perintah untuk membunuh Wong Peng ci, bukan untuk mengajaknya berdebat maka perbuatanmu itu selain melanggar perintah majikan, juga melanggar peraturan perguruan, mengertikah kau atas dosa-dosamu?"

Wong Peng ci segera mendengus dingin.

"Kalau begitu kau keliru besar, si pemilik lencana Lok hun pay berhasrat membunuhku karena aku bukan tandingan lawan sehingga tertangkap, padahal aku sudah mempunyai banyak jasa dan pahala baginya, mengapa jasa-jasaku ini tak pernah disinggung kembali?"

"Itulah sebabnya aku merasa tak puas, tentu saja aku harus menanyakan persoalan ini sampai jelas, apabila saudara Gui tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan hati ku, tentu saja peraturan tak bisa dijalankan dengan begitu saja, sebaliknya dia telah memberi penjelasan kepadaku, tapi kenyataannya ia malah dijatuhi hukuman, hmm, peraturan dari manakah itu?"

"Betul, peraturan dari perguruan manakah itu?"

Sambung Gui Sam tong pula. Manusia berkerudung itu segera mendengus.

"Wong Peng ci, lohu tak akan bertindak seperti Gui Sam tong lagi untuk mendengarkan ocehanmu sehingga melanggar peraturan perguruan!"

Sesudah berhenti sebentar, sambil menuding ke arah Gui Sam tong dan Wong Peng ci kembali dia membentak.

"Dengarkan baik-baik, majikanku mempunyai kecerdasan yang luar biasa, ia sudah mempunyai rencana yang amat matang, sebelum ini dia telah memberitahukan kepada lohu kalau Wong Peng ci pasti akan tertawan oleh lawan, bila dia tak sampai mati, itu berarti dia telah menghianati majikan."

"Oleh karena itu, pihak lawan paling banter hanya akan memunahkan ilmu silatnya dan melepaskan dia pergi, Kini kenyataannya berbicara sama, hal ini menunjukkan kalau dugaan majikan memang tepat sekali."

"Apalagi majikanmu sudah menduga kalau Gui Sam tong tak akan bertindak tegas, tak bisa diberi tugas besar, terutama sekali bila menghadapi suatu perubahan secara tiba-tiba, dia akan semakin nyeleweng dari kebiasaan."

"Apakah kau tidak merasa semua perkataanmu itu hanya perkataan yang tak ada gunanya."

Tiba-tiba Wong Peng ci menukas. Manusia berkerudung emas itu tertawa dlngin.

"Heehh... heehh... heeh... lohu hanya mendapat perintah untuk melaksanakan tugas, aku tidak tahu soal perasaan. Andaikata kepandaian ilmu silat yang kamu miliki itu masih ada, mungkin lohu merasa tak sanggup untuk menandingi kerubutan kalian berdua, tapi kini..."

Wong Peng ci segera mendengus dingin.

"Orang she Wong sudah tahu kalau aku pasti mati, jangan kau lihat kepandaian silatku sudah punah, tapi aku masih bisa mengadu jiwa denganmu, paling tidak aku masih bisa menggigit dagingmu untuk mencicipi bagaimanakah jasanya daging manusia!"

Manusia berkerudung itu tak banyak bicara lagi, dengan langkah lebar dia segera berjalan mendekat.

Cuma dia bertindak sangat hati-hati, karena dia tahu kalau kepandaian silat yang dimiliki Gui Sam tong terhitung cukup hebat.

Sambil berjalan mendekat, manusia berkerudung itu kembali berseru kepada Gui Sam-tong.

"Jika kau tidak segera menyerahkan lencana emas itu kepadaku, itu berarti sebelum mampus kau akan merasakan dahulu suatu siksaan hidup yang luar biasa!"

Wong Peng ci yang berada di samping Gui-Sam tong buru-buru berkata kembali.

"Jangan melupakan apa yang telah kukata kan kepadamu barusan, terkecuali mati tiada bencana yang lebih besar lagi. Apa lagi, kita memang hidup diujung golok yang penuh dengan marabahaya, kita bukan manusia yang dilahirkan untuk digertak!"

Gui Sam tong juga sudah tahu kalau kematian tidak akan bisa dihindari lagi, tentu saja diapun menjadi nekad, sambil manggut-manggut sahutnya dengan cepat.

"Benar, makanya . ...kenapa aku orang she Gui tidak menahan lencana emas ini sebagai pengganjal peti mati?"

Wong Peng ci segera bertepuk tangan sambil memuji.

"Nah, begitulah baru tampak gagah Sekali.."

Lalu setelah memandang sekejap ke arah manusia berkerudung itu, katanya lagi.

"Saudara Gui, kepandaian yang dimiliki keparat itu tidak lebih hebat daripada kepandaianmu, hadapi dengan tenang, walaupun aku sudah kehilangan kepandaianku sekarang, tapi kau tak usah kuatir, aku masih bisa membantu dirimu!"

Mendengar perkataan tersebut, manusia berkerudung emas itu segera tertawa seram.

"Heeh ,..heeh....heeh...Gui Sam tong, percaya kah kau bahwa seseorang yang sudah kehilangan ilmu silatnya masih mengatakan bisa membantu dirimu? Heeh...beeh...heeh....pada hakekatnya ucapan tersebut hanya suatu ucapan membohongi anak kecil saja...."

"Saudara Gui, cepat turun tangan, jangan rnendengarkan obrolan orang itu"

Buru buru Wong Peng ci menyela lagi.

"dapatkah aku membantu dirimu, paling banter hanya menunggu sebentar kemudian toh semuanya akan terbukti' Gui Sam-tong memandang sekejap ke arah Wong Peng ci, kemudian manggut-manggut.

"Wong, aku cukup memahami akan persoalan ini, sekarang kita berdua memang sudah berada diatas sebuah perahu yang sama."

Sekali lagi Wong Peng-ci bertepuk tangan berulang kali.

"Betul, betul sekali, kalau begitu hadapilah lawannya dengan sepenuh tenaga, bila kesempatan yang kutunggu sudah tiba, aku pasti akan segera bertindak, tak usah kuatir, pokoknya asal aku sudah bertindak, keparat itu sudah pasti akan roboh!"' Sementara itu, si manusia berkerudung itu sudah semakin mendekati tubuh Gui Sam-tong, dia menuding ke arah Wong Peng-ci lebih dulu, kemudian serunya.

"Wong Peng ci, tampaknya kau ingin merasa kan bagaimanakan sedapnya ilmu Toan hun sut kut (ilmu pemutus sukma mengerut tulang)"

Wong Peng ci tertawa tergelak.

"Hahahahaha......apa yang dikatakan oleh Lo Gui tadi memang benar, dia hendak menggunakan lencana emas Pa tau kim pay tersebut sebagai penganjal peti matinya, dan aku? Aku hendak menggunakan lencana emas Hou tau kim pay yang berada disakumu untuk diloakkan dan ditukar dengan arak ."

Manusia berkerdung itu benar-benar berasa denki sekali terhadap Wong Peng ci, tapi selama berada dihadapan Gui Sim tong dia tak berani bertindak secara gegabah, terpaksa dia berencana untuk membekuk Gui Sam tong lebih dahulu, kemudian baru menyiksa Wong Peng ci Sementara itu Gui Sam tong telah meloloskan pedang mestikanya, sedangkan manusia berkerudung itupun telah meloloskan pedangnya.

Mereka berdiri saling berhadapan muka, Gui Sam tong telah bersiap sedia untuk melancarkan serangan iebih dulu.

Mendadak Wong Peng ci berkata lagi.

"Lo Gui, kau sudah pasti bukan tandingannya, kalau tidak Lok Hun pay si tua bangka tak akan begitu berlega hati mengirimkan keparat ini kemari, maka kau harus menghadapinya dengan tenang, jangan menyerang lebih dulu, bertahan saja sebisanya sembari rnencari kesempatan untuk melancarkan serangan balasan"

Gui Sam tong segera manggut-manggut.

"Benar"

Serunya, ''hampir saja aku tertipu."

Berbicara sampai disitu, benar juga, Gai Sam rong segera mengambil posisi bertahan dan tidak bermaksud untuk melancarkan serangan lagi.

Tenaga dalam yang dimiliki manusia berkerudung hitam itu sebenarnya masih tinggi satu bagian bila dibandingkan dengan tenaga dalam yang dimiliki Gai Sam tong.

didalam seratus gebrakan semestinya dia mempunyai kemampu an untuk mengalahkan Gui Sam tong.

Tapi seandainya Gui Sam tong mengambil sikap bertahan saja tanpa menyerang, maka berbicara soal kondisi badan, orang yang bertahan akan memperoleh keuntungan situ bagian bila dibandingkan dengan pihak penyerang, dengan demikian, kedudukan mereka berdua jadi berimbang.

Atau dengan perkataan lain, andaikata Gui Sam tong mengambil sikap bertahan belaka tanpa mehkukan penyerangan, maka andaikata manusia berkerudin itu ingin membinasakan Gui Sam tong, dia harus bertarung paling tidak dua ratus gebrakan lebih dulu sebelum berhasil.

Dan tampaknya inilah siasat yang sengaja diatur Wong Peng ci, tapi bagaimanakah siasat tersebut ?

Hal ini akan diceritakan nanti Manusia berkerudung itu tak bisa tidak terpaksa harus rurun tangan, pedangnya segera di getarkan lalu maju ke depan sambil melancarkan serangan gencar.

Gui Sam tong masih tetap bertahan dengan tenang dan mantap, entah jurus serangan macam apapun yang ditujukan kepadanya, dia hanya menangkis dan memunahkan saja setiap ancaman yang tertuju ke arahnya, benar-benar tak setengah jurus serangan pun yang dibiarkan lewat setengah.

Untuk mempercepat keinginannya untuk meraih kemenangan, terpaksa manusia berkerudung emas itu harus mempercepat serangan-lagi.

Tiga puluh jurus, lima puluh jurus, delapan puluh jurus.....

Sudah delapan puluh jurus serangan yang dilancarkan secara beruntun, akan tetapi manusia berkerudung itu masih belum berhasil untuk mendebak Gui Sam-tong untuk mundur barang satu langkah pun.

Seratus jurus, seratus sepuluh jurus ...

Kini Gui Sam tong sudah dipaksa mundur sejauh lima depa lebih.

Seratus lima puluh jurus sudah lewat, kini Gui Sam tong sudah didesak mundur sejauh dua kaki lebih.

Waktu itu Gui Sam tong benar benar sudah tak sanggup untuk mempertahankan diri lagi.

dia sudah merasa kehabisan tenaga lagi untuk melakukan perlawanan.

Sambil tetap melancarkan serangan demi serangannya secara gencar, manusia berkerudung emas iiu mulai mengejek .

'Hei bagaimana ?

Adakah Wong Peng ci sudah memberikan bantuannya kepadamu?"' Gui Sam tong tidak berkata apa-apa.

karena bila dia membuka suara dalam keadaan seperti ini, niscaya segenap tenaganya akan buyar dan ia bakal mampus ditangan lawan.

Sebaliknya manusia berkerudung itupun harus menghembuskan napas setelah mengucapkan kata kata ejekan tersebut.

Wong Peng ci yang menyaksikan kejadian itu dari sisi arena segera menimbrung dengan suara dingin .

"Lo Gui, jangan kau dengar perkataan dari keparat itu, barusan keparat tersebut baru mengucapkan beberapa patah kata saja, namun napasnya sudah tersengal-sengal, hal ini menunjukkan kalau sisa tenaga yang dimilikinya sudah tidak terlalu banyak lagi."

"Kau cobalah untuk bertahan sebanyak lima puluh gebrakan lagi. jika Keparat ini sudah tidak sanggup melakukan serangan lagi, pada waktu itulah aku siorang yang sudah kehilangan kepandaian silatku baru dapat membantuan kepadamu !"

Gui Sam tong yang mendengar perkataan itu merasa bahwa apa yang diucapkan Wong peng ci memang tepat sekali, maka dia hanya tertawa belaka tanpa menjawab.

Sebaliknya manusia berkerudung itu menjadi gelisah, mendongkol dan merasa apa boleh buat setelah mendengar ucapan itu.

Apa yang dikatakan memang merupakan suatu kenyataan, manusia berkerudung emas itu tak sanggup membantah barang sepatah katapun.

Seratus tujuh puluh jurus, seratus delapan puluh jurus.

Gui Sam tong sudah harus memaksakan diri untuk melakukan pertahanan, tenaga dalam yang sudah hilang akibat mempertahankan diri itupun telah mencapai delapan puluh persen lebih.

Serangan demi serangan yang dilancarkan manusia berkerudung itupun sudah semakin lamban, tampaknya hal inipun disebabkan dia kehabisan tenaga.

Seratus sembilan puluh jurus sudah lewat..

Mendadak manusia berkerudung hitam ini menghimpun sisa tenaga yang dimilikinya untuk melepaskan sebuah bacokan dari atas menuju ke bawah.

Gui Sam-tosg terpaksa haius menggigit bibir sambil mengayunkan pedangnya untuk menangkis, tapi akibatnya, sekalipun bacokan maut itu berhasil ditahan, namun dia sendiri juga sudah terpental sehingga jatuh dan terguling diatas tanah.

Seratus Sembilan puluh satu jurus!

Mendadak manusia berkerudung mengayunkan pedangnya ambil melancarkan sebuah tusukan kilat dari sisi sebelah samping.

Gui Sam-tong benar benar sudah tak samnggup untuk mempertahankan diri lagi terpaksa dia harus menggunakan sepasang tangannya untuk bersama sama menggenggam pedangnya menahan ancaman tersebut.

Sebaliknya, manusia berkerudung itupun teah menggunakan kedua belah tangannya pula untuk menggenggam gagang pedang tersebut.

Pada jurus yang keseratus sembilan puluh dua, sekali lagi manusia berkerudung itu rnelancarkan serangan dengan menggunakan jurus Heng sau kang hoo (menyapu rata sungai besar) Untuk kesekian kalinya, kembali Gui Sam tong berhasil menahan serangan tersebut, cuma tangannya telah tak bertenaga lagi untuk menggenggam pedang, seketika itu juga senjata nya mencelat sejauh enam tujuh depa dari tempat semula.

Habis sudah kini dalam keadaan demikian jangankan tenaga untuk perlawanan, untuk merangkak selangkah saja Gui Sam tong sudah tidak marrpu lagi.

Bagaimana dengan manusia berkerudung itu?

Dia masih sanggup untuk menyerang sebanyak tiga gebrakan lagi.

Itulah sebabnya, manusia berkerudung itu mulai memperdengarkan suatu tertawanya yg menyeramkan, suara tertawanya telah bercampur aduk dengan suara dengusan napas yang memburu.

Sekali lagi dia mengangkat pedangnya tinggi tinggi, kemudian dengan sisa kekuatan yang dimilikinya dia melepaskan sebuah bacokan maut kebawah untuk membegal batok kepala Gui sam tong.

Didalam keadaan demikian Gui Sam tong hanya bisa memejamkan matanya belaka, diam dia merasa agak mendendam juga terhadap Wong Peng ci.

Cuma dalam keadaan kehabisan tenaga sehingga kekuatan untuk bergerak saja tak punya seseorang pasti akan enggan untuk berfikir terlalu banyak, maka rasa dendamnya terhadap Wong Peng ci pun hanya melintas sebentar dalam benaknya.

Kini pedang mestika dari manusia berker.

dung emas uu sudah berada diatas batok kepala Gui Sam tong.

Mendadak suatu kejadian aneh telah berlangsung.

Ternyata bacokan pedang mestika dari manusia berkerudung itu tak berhasil diayunkan kebawah.

Padahal Gui Sam tong telah memejamkan matanya rapat-rapat sambil menunggu datang nya Kematian!

Karena tengkuknya tidak merasa sakit serta dia membuka matanya kembali Apa yang kemudian yang terlihat, kontan saja membuat Gui Sam tong tertawa gembira.

Tampak Wong Peng ci sedang mencengkeram pergelangan tangan dari manusia berkerudung itu.

kemudian dengan gampang sekali dia telah merampas pedang mestika yang berada di genggaman manusia berkerudung itu dan membuangnya jauh jauh.

Malahan peristiwa aneh itu tidak berlangsung sampai disitu saja.

Setelah berhasil merampas pedang mestika manusia berkerudung itu, ternyata Wong Peng ci.

segera turun tangan melepaskan kerudung yang menutupi wajah orang itu.

Bedtu kain ketudungnya terlepas, segera terlihatlah bahwa erang itu adalah seorang kakek berusia lima puluh tahunan.

Gui Sam tong menjadi tertegun beberapa saat lamanya bagaikan bertemu dengan setan, ia tak tahu apa gerangan yang telah terjadi.

Mengapa manusia berkerudung itu tidak mencoba untuk berkelit atau mencoba melakukan perlawanan.

Untung saja beberapa persoalan yang menjadi teka teki d.dalam benaknya itu segera memperoleh jawaban.

Begitu kain kerudungnya dicopot, kakek itu sepera menjerit keras dengan perasaan kalut "Aaah....

jadi.....

jadi kau masih mempunyai ilmu silat ?"

Begitu mendergar perkataan tersebut, Gui sam tong segera memahami apa gerangan yang sudah terjadi.

ia segera tertawa.

Kepada kakek tersebut, Wong Peng-ci segera berkata.

'Ucapanmu memang tepat sekali tenaga dalam dari aku orang she Wong masih terap utuh, tentang ini tentunya jauh diluar dugaan si tua bangka pemegang lencana Lok hun pay bukan ?

Dan tentu saja termasuk pula diri mu."

Kata orang she Wong tersebut.

"Aku rasa kau pasti lebih memahami tentang peraturan dari si tua bangka pemegang lencana Lok hun pay bukan? Barang siapa kain kerudungnya terlepas sehingga kelihatan wajah asli nya, itu berarti hanya ada jalan kematian yang tersedia bukan ?"

Sembari berkata, dia lantas turun tangan untuk menotok jalan dari kakek itu Kemudian dia merogoh kedalam saku kakek itu dan mengeluarkan sebuah lencana emas Hou tau kim pay dari sakunya.

Sekarang kakek itu baru tahu kalau dia sudah tertipu, dalam keadaan demikian mau menangispun ia tak bisa lagi.

Berbeda dengan Gui Sam tong, dia menjadi amat gembira, sambil melompat bangun seru nya ;

"Lo Wong, rupanya ilmu silatmu masih belum punah ?"

"Yaa, belum, tentunya kau tidak menyangka bukan?"

Kata Wong Peng ci sambil tertawa Gui Sam tong segera menggelengkan kepala nya berulang kali.

"Jangan toh aku, sekalipun si setan tua itu pun tak pernah menyangka sampai disitu."

Sekali lagi Wong Peng ci tertawa terbahak bahak, katanya kepada Gui Sam tong sambil menuding kearah kakek itu .

"Lo Gui, tahukah kau kalau situa yang sudah menyelamatkan selembar jiwamu?"

Gui Sam tong agak tertegun, Segera serunya .

"Apa? Barusan, hampir saja tua bangka ini hendak merenggut selembar jiwaku, menngapa kau malah mengatakan....."

Sambil tertawa terkekeh-kekeh Wong Peng ci segera berkata.

"Coba kalau tua bangka keparat ini datang terlambat satu langkah saja! bukankah kau akan segera turun tangan melawanku ?"

"Benar, baru saja aku akan turun tangan terhadap dirimu, keparat itu telah muncul!"

"Nah itulah dia, padahal kau menganggap tenaga dalamku sudah punah, tentu saja kau tak akan bersiap sedia terhadap diriku, kau tentu akau maju kedepan dan turun tangan se enaknya, karena menurut anggapanku serangan yang macam apapun pasti akan berhasil membunuhku ? Padahal asal kau turun tangan, apakah aku tak akan segera turun tangan untuk menghadapi dirimu....?"

Paras muka Gui Sam tong segera berubah hebat.

"Benar, benar! Karena kuanggap tenaga dalammu sudah punah, sudah barang tentu aku tidak akan mempergunakan senjata tajam, lebih-lebihlagi tak akan bersiap sedia, jika aku sampai turun tangan......haaah......haaah,.....haaaahh"

Mendadak paras Wong Peng-ci berubah hebat, kemudian serunya lebih jauh.

"Lo Gui. tenaga dalam serta kepandaian silat mu tentunya jauh lebih tinggi daripada diriku bukan ?" 'Selisihpun tidak terlalu banyak, tidak banyak, hanya sedikit sekali.....'Gui Sam-tong tersenyum. Jelas ucapan tersebut merupakan ucapan yg amat sungkan, hanya saja perkataan yang di utarakan bukan pada waktunya. Wong Peng-ci tidak tertawa paras mukanya berubah semakin berubah dingin lagi maka katanya lebih jauh.

"Dan sekarang ?"

Tampaknya Gui Sam tong seakan akan tidak memahami perkataannya itu, segera jawabnya "Sekarang..,sekarang.,."

"Maksudku, kini kau sudah melakukan pertarungan sengit, tapi tenaga dalammu telah banyak yang hilang akibat suatu pertarungan yg seru, apakah kau masih bisa diikatakan kepandaianmu masih sedikit lebih hebat daripadaku!' Dengan cepat Gui sam tong memahami ucapan tersebut, katanya kemudian dengan cepat.

"Temu saja aku sudah tak mampu untuk menandingi dirimu sekarang..."

"Nah itulah dia, bila aku tak menghajar si harimau selagi berada dalam kurungan apakah aku akan menunggu sampai si harimau pulang gunung baru memberi kesempatan Kepadanya untuk mencengkeramku? Saudara Gui, kau ada lah seorang yang cerdas, tentunya kau cukup memahami tujuan akan perkataanku ini."

Gui Sam Tong mengerti, tentu saja dia mengerti.

maka diapun tidak banyak berbicara Sebaliknya Wong Peng ci kembali berkata sambil tertawa; 'Aku pikir, sekarang tentunya saudara Gui sam tong sudah mengerti bukan, apa sebab-nya aku berlagak seakan akan tak punya kepandaian lagi?

tentunya kaupun sudah paham bukan kenapa aku baru turun tangan setelah kalian berdua kehabisan tenaga lebih dahulu ...?"

Gui Sam tong segera menundukkan kepalanya rendah rendah.

"Saudara wong benarkah kau hendak turun tangan kepada diriku ?"

Serunya "Haah.. haa ..ha.... mengapa tidak?"

Ya, mengapa Wong Peng Ci tak akan berbuat demikian ?

Kalau berbicara soal perasaan, kedua belah pihak boleh dibilang sama sekali tak berperasaan.

Kalau dibilang teman?

Dia malah semula bermaksud untuk merenggut jiwanya.

Dan sekarang keadaan sudah terbalik, apalagi yang dia lakukan selain berkentut?

Wong Peng ci memperhatikan sekejap kakek , itu, lalu memandang pula ke arah Gui Sam tong, setelah iit baru katanya.

"Saudara Gui, kau harus menahan diri"

Sembari berkata, dia segera turun tangan, Gui Sam tong ingin berkelit, tapi dia tak mampu untuk berkelit.

Bukannya tak mau berkelit, tapi tak bertenaga lagi untuk berkelit.

Bila seseorang sudah kehabisan tenaga dan beristirahat, maka semua kelelahan akan datang bersama sama, waktu itu dia ingin bergerak pun tak bisa, karena dia memang tak berkekuatan lagi untuk bergerak.

Oleh karena itu, semua kepandaian silat yg miliki Gui Sam tong segera dipunahkan.

Nasib kakek itu lebih buruk lagi, bukan cuma enaga dalamnya saja yang dipunahkan, bahkann lengan kirinya sudah tak dapat dipergunakan lagi untuk selamanya.

Menyusul kemudian, Wong Peng ci mengambil keluar lencana emas Pa tau kim pay dari saku Gui Sam tong dan membebaskan jalan darah kakek itu kemudian sambil tertawa terkekeh kekeh dia berjalan meninggalkan tempat itu Sepeninggal Wong Peng ci, kakek itu dan Gai Sam tong baru menghela napas panjang.

Inilah yang dinamakan sama sama terluka dan sama sama ruginya.

Gui Sam tong memandang sekejap kearah ka kek itu, kemudian tegurnya;

"Saudara siapa namamu?"

"Cu Sam po"

Jawab kakek itu sambil tertawa "Aaaai...saudara Cu, bagaimana kalau sekarang kita berunding b a g a i m a n a b a i k n y a ?

' D e n g a n c e p a t C u S a m p o m e n g g e l e n g k a n k e p a l a n y a b e r u l a n g kali.

"Tak ada gunanya, hanya ada sebuah jalan yg tersedia buat kita sekarang, jalan kematian?"

Tapi Gui Sam tong segera menggelengkan pula kepalanya.

"Tidak, kita masih bisa hidup, masih ada harapan untuk hidup lebih lanjut!"

Mendengar perkataan itu, Cu Sam po menjadi tertegun, segera serunya dengan cepat.

"Tapi harus menggunakan cara apa?"

"Asal situa bangka itu mengirim orang lagi maka kita akan segera hidup!"

"Bisa hidup?"

Cu Sam po tertawa getir 'Kecuali kabur dari dunia ini!"

Gui Sam po segera menempelkan bibirnya disisi telinga Cu San po dan membisikkan sesuatu.

Cu San po segera tertawa dan menganggut berulang kali, kemudian merekapun diam-diam meninggalkan tempat itu.

Gui Sam tong dan Cu San po telab pergi, tujuannya tidak jelas, apakah mereka berdua berhasil meloloskan diri dari pengejaran Lok hun pay juga tidak jelas.

Tapi ada suatu hal yang segera memperoleh jawaban, yakni dari Wong Peng ci segera munculkan diri lagi.

Karena dia mendapat perintah dari Sun Tiong lo untuk menantikan suatu penyelesaian disini.

Ternyata penyelesaiannya sama sekali diluar dugaan, Sun Tiong lo maupun Bau-ji dan Hou-ji tak ada munculkan diri disana.

Sekalipun Wong Peng ci sudah menunggu sekian lama, ternyata tak seorangpun yang menampakkan diri.

Sampai akhirnya Wong Peng ci baru dapat memahami sebab musababnya dan segera berlarian menuju kedepan.

Alasannya sederhana sekali, asal dilihat ke dalam sebuah huran yang terletak tak jauh da ri tempat terjadinya peristiwa itu, maka segera sesuatunya akan menjadi jelas.

Didalam hutan terdapat Sun Tiong lo, ada Nona Kim, ada Bauji, juga ada Beng Liau huan dan pelayannya, kecuali Beng Liau huan yg kurang leluasa untuk duduk sehingga masih tetap berada diatas kuda, yang lainnya sudah turun dari kudanya berbincang bincang.

Yang pertama-tama buka suara lebih dulu adalah Bau ji, dia berkata pada Sun Tiong lo.

"Ji te, sebenarnya apa yang menjadi tujuan mu dengan berbuat demikian?"

"Tentu saja dikarenakan sesuatu alasan yang maha besar"

Jawab Sun Tiong lo sambil tertawa.

"Tapi, katakanlah, apa alasannya?"

Bau ji mengerutkan dahinya kencang kencang.

"Bagaimana kalau kita menebak bersama-sama "

Nona Kim segera mengerling sekejap keara Sun Tiong lo kemudian menjawab; 'Bagaimanapun juga kau toh mempunyai akal muslihat paling banyak, anggap saja kami tak dapat menebaknya" -oo0dw0oo-

Jilid 24 SUN TIONG LO segera tertawa.

"Hasil yang kita peroleh pada hari ini besar sekali, yang paling penting adalah bila setelah ini muncul kembali manusia berkerudung berbaju emas dihadapan kita, maka dalam sekilas pandangan saja aku dapat menentukan apakah dia asli atau palsu."

Mendengar perkataan itu, semua orang menjadi amat girang sekali. Bau ji segera bertanya.

"Kau dapat melihatnya dari mana ?"

Sekali lagi Sun Tiong lo tertawa.

"Tentu saja dari tubuh Wong Peng ci, Gui Sam tong serta Cu San poo..."

"Dapatkah kau memberi keterangan dengan lebih jelas lagi?"

Seru nona Kim agak mendongkol. Sun Tiong lo memandang sekejap kearah nona itu, kemudian sahutnya.

"Setelah Wong Peng ci berhasil dibekuk, tanpa sengaja dia telah menggunakan suatu hal yaitu kedudukannya dalam Lok hun pay adalah menduduki urutan yang kedelapan !"

"Hal mana telah kami dengar pula!"

Seru Bau si cepat.

"Benar, itulah sebabnya aku lantas mengajaknya untuk berbincang-bincang, dalam hal ini secara diam-diam aku telah memperhatikan pula segala sesuatu dari Wong Peng ci.

"Segala sesuatunya?"

Seru nona Kim keheranan. Sun Tiong lo manggut-manggut.

"Benar, segala sesuatunya."

"Sudah cukup Siau-liong, sekarang kau harus berbicara dengan lebih jelas lagi!"

Seru Siau Hou cu sambil tertawa.

"Benar, aku memang hendak mengatakannya, tapi harus kumulai lagi sejak awal."

Nona Kim segera mendengus.

"Baik, kalau dari awal yaa dari awal, tapi cepatlah kau katakan!"

Sun Tiong lo sama sekali tidak memperdulikan kegelisahan semua orang, ia masih saja berbicara pelan-pelan.

"Akhirnya apa saja yang bisa kuingat dari tubuh Wong Peng ci, akupun mengingatnya secara baik-baik, kemudian akupun mengatur suatu kesempatan untuk melakukan suatu penyelidikan."

"Jadi kau menotok jalan darah Wong Peng ci pun merupakan suatu kesempatan yang sengaja kau atur?"

Kata nona Kim dengan kening berkerut. Sun Tiong lo segera manggut-manggut.

"Yaa, seharusnya dikatakan kalau aku telah menggunakan suatu kesempatan, cuma kesempatan ini andaikata bukan Lok Hun pay sendiri, maka dia tak akan sanggup untuk melakukannya."

"Kenapa bisa begitu?"

"Tiada manusia yang sama didunia ini, misalnya saja..."

"Jite, katakan saja hal-hal yang penting !"

Tukas Bau ji. Sun Tiong lo segera mengiakan, katanya.

"Sejak aku sudah mengetahui asal usulku sendiri, secara diamdiam aku mulai mempelajari watak serta kebiasaan dari Lok Hun pay tersebut, kemudian setelah berjumpa dengan toako, aku lebih mengenali lagi tentang diri Lok Hun pay tersebut."

"Oleh karena itu, tatkala Wong Peng ci munculkan diri dengan gayanya sebagai Lok Hun pay, sampai akhirnya tertangkap dan munculkan diri dengan wujud aslinya, aku telah menduga Lok Hun pay sudah pasti masih mengirim orang untuk mengawasi jago-jago lihaynya."

"Waktu itu, belum terlintas dalam ingatanku untuk memperalat Wong Peng ci, karena walaupun aku tahu masih ada orang lain yang mengawasinya, tapi jelas dia tak akan mempunyai persiapan apapun terhadap usaha kita untuk menemukan jejak Lok Hun pay.

"Tapi setelah tanpa sengaja Wong Peng ci mengatakan kalau dia adalah pengganti yang ke delapan, satu ingatan melintas didalam benakku, dan kumanfaatkan titik kelemahan manusia yang ingin mencari hidup dan takut mati, akupun lantas berunding dengan Wong Peng ci."

"Jadi persoalan inilah yang kau bicarakan ketika berbisik-bisik dengan Wong Peng ci tadi ?"

Sela Bau ji. Sambil tertawa Sun Tiong lo segera manggut-manggut.

"Benar, untuk mempertahankan kehidupannya, akhirnya Wong Peng ci menyanggupi syaratku."

Hou ji segera tertawa terbahak-bahak.

"Hahahahaha... maka kaupun lantas menotok jalan darahnya dan meninggalkan kepandaian silatnya..."

"Engkoh Hou, berbicara terus terang, aku sama sekali tidak mempertahankan ilmu silat yang dimiliki Wong Peng ci, melainkan kugunakan suatu kekuatan yang istimewa untuk menghancurkan kepandaian silat dari Wong Peng ci."

Sela Sun Tiong lo sambil tersenyum.

"Aaah, tidak benar"

Seru Bau ji.

"sudah jelas tenaga dalam yang dimiliki Wong Peng ci masih utuh."

Sun Tiong lo tertawa, kembali selanya.

"Bukankah siaute telah kukatakan tadi bahwa aku telah mempergunakan suatu kepandaian istimewa untuk menghancurkan ilmu silat dari Wong Peng ci ? Lebih jelas lagi, walaupun ilmu silatnya kelihatan masih tetap ada, sesungguhnya kekuatan tersebut hanya bisa bertahan selama dua jam belaka !"

Sekarang semua orang baru mengerti, demikian pula dengan Hou ji, Terdengar Sun Tiong lo berkata lebih jauh.

"Waktu itu, Wong Peng ci tidak tahu kalau perbuatanku ini bertujuan untuk memancing perhatian dari jago-jago yang mengawasinya, untuk menghindari segala hal yang tak diinginkan, serta mempermudah penyelesaiannya ?"

"Aku masih tetap tidak mengerti, sekalipun dapat memancing orang-orang yang mengawasinya, lantas apa pula yang bisa dilakukan?"

Sela Bau ji tidak habis mengerti. Semua orang mempunyai perasaan yang sama pula, maka tanpa terasa mereka bersama-sama berpaling kearah Sun Tiong lo. Sun Tiong lo segera tertawa.

"Toako, asalkan kau mendengarkan lebih lanjut maka kau akan mengerti, akhirnya Gui Sam tong menampakkan diri. Wong Peng ci tahu kalau aku berada disekitar tempat itu, maka untuk membaiki diriku, dia tak segan-segannya untuk mengajak Gui Sam Tong berbincang-bincang."

"Jangan kau lihat Wong Peng ci berniat untuk membaiki diriku, kenyataannya memang amat berguna sekali, perkataan yang berguna adalah menyuruh aku tahu kalau Gui Sam tong diantara rekan rekannya menduduki urutan ke tujuh..."

"Hmm, sekalipun dibedakan antara Lok liok atau lo jit, tapi apalah gunanya?"

Nona Kim mendengus dingin.

"Kegunaannya besar sekali. Tadi, bukankah sudah kukatakan bahwa segala sesuatu yang bisa kuperhatikan diatas tubuh Wong Peng ci telah kuperhatikan dengan jelas, sekarang muncul lagi seseorang dengan dandanan yang sama pula, apakah hal ini bisa dikatakan tak berguna?"

Hou ji yang pertama-tama mengerti paling dulu, dia lantas berseru.

"Ooh, rupanya kau hendak mengenali perbedaan antara Lo liok dengan lo pat ?"

"Tepat sekali"

Seru Sun Tions lo sambil bertepuk tangan.

"aku toh sudah bertanya kepada Wong Peng ci dan berhasil membuktikan kalau didepan Lok Hun pay mereka semua tetap menutupi wajahnya dengan kain kerudung dan tidak saling mengenal.

"Bayangkan saja, sembilan orang manusia berkerudung berbaju emas, ditambah pula dengan Lok Hun pay sendiri sehingga jumlahnya menjadi sepuluh, siapa yang membawa Kim pay, entah Liong tau kim-pay, atau Hou tau kim pay serta Pa tau kim pay, dia pula yang dapat memerintah orang lain."

"Tentu saja siapa yang membawa lencana Kim pay tersebut, dan ia harus memerintahkan nomor berapa untuk melakukan pekerjaan, sebelumnya Lok hun pay pasti telah mengatur segala sesuatunya dengan jelas dan sempuma."

"Tapi bagi Lok hun pay pribadi dia seharusnya dapat mengenali pengganti nomor berapakah yang berada di hadapannya dalam pandangan pertama, kalau semua orang berkerudung, lantas bagaimanakah caranya untuk mengenali mereka satu persatu ?"

"Maka dari itu, aku lantas mengambil kesimpulan kalau Lok Hun pay pasti mempunyai suatu cara yang khusus untuk mengenali kesembilan orang penggantinya itu, meskipun suatu pergaulan yang cukup lama lebih mempermudah baginya untuk mengenali siapakah mereka masing-masing, tapi hal itu tidak berlaku bagi orang yang berkerudung, apalagi perawakan tubuh mereka hampir seimbang, tentu saja hal ini semakin sulit lagi untuk dikenali."

"Dari sinilah aku lantas menduga kalau Lok hun pay telah memberikan suatu kode rahasia tertentu diatas pakaian, atau sepatu atau ikat pinggang yang dikenakan kesembilan orang penggantinya..."

"Tepat sekali."

Seru nona Kim sambil manggut-manggut.

"tak heran kalau semua orang menganggapmu jauh lebih pintar dari pada orang lain."

"Aaah, aku toh hanya bersikap lebih teliti dan seksama belaka."

Ucap Sun Tiong lo sambil tertawa.

"Bila dalam segala persoalan kita bisa menaruh perhatian lebih dalam daripada orang lain, maka orang ini tak akan melakukan suatu kesalahan lagi"

Kata nona Kim.

Sun Tiong lo segera berpaling kearah nona Kim dan tertawa, hal ini membuat nona Kim menjadi tersipu-sipu dan segera menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Menyusul kemudian, Sun Tiong lo berkata lebih lanjut.

"Begitu aku sudah menyusun rencana dan Gui Sam tong munculkan diri, maka aku segera memperhatikan dengan seksama, apalagi setelah dia membantuku dengan mengatakan kalau Gui Sam tong adalah Lo jit, aku semakin gampang untuk mengenali rahasia dibalik kesemuanya itu."

"Kemudian ketika Cu Sam po menampakkan diri, berbicara sejujurnya, kemunculan orang itu sama sekali diluar dugaanku, tapi justru semakin membantu baik usahaku untuk membuktikan akan hal ini."

"Mungkinkah ditempat yang kau curigai itu terdapat suatu perbedaan ?"

Tanya Hou ji. Belum habis dia berkata, Sun Tiong Io telah menyahut dengan cepat.

"Benar, seluruh tubuh mereka kecuali suatu bagian tertentu, hampir semuanya sama, dan satu-satunya tempat yang tidak sama inilah aku berhasil memecahkan reka teki itu dan membuktikan akan kebenaran dari kecurigaanku?"

"Sebenarnya dimanakah letak ketidak samaan itu?"

Tanya Bau ji dengan kening berkerut.

"Pada kancing pakaian mereka! Pada setiap pakaian berwarna emas yang dipakai mereka bila ada sembilan buah kancing yang dijahit dari bawah ke arah kanan, maka berarti dia adalah Lo kiu.

"Bila ada delapan buah kancing maka iia adalah Lo pat, yaitu Wong Peng ci, kemudian tujuh buah kancing yaitu si Lo jit Gui Sam tong sedangkan Cu San poo mempunyai lima buah kancing kecil, itu berarti dia adalah lo ngo."

Bau ji segera berpikir sebentar, kemudian katanya.

"Aku sudah mengerti sekarang cuma dibalik kesemuanya itu masih ada sebuah persoalan lagi."

"Benar, memang masih ada persoalan lagi"

Kata Sun Tiong lo sambil tertawa.

"misalkan saia Lok Hun pay sendiri yang muncul dihadapan kita, dia seharusnya mempunyai sembilan buah kancing yang agak kecilan ataukah sembilam buah kancing yang agak besar !"

Bau ji manggut-manggut.

"Benar, memang persoalan inilah yang ku maksudkan."

"Bila dipikirkan persoalan ini rasanya merupakan suatu persoalan, tapi bila berbicara sejujurnya, maka hal inipun bukan merupakan suatu persoalan !"

"Apa maksud dari perkataanmu itu?"

Bau ji tidak habis mengerti.

"Sesungguhnya persoalan itu sederhana sekali, kancing yang besar atau kecil sebetulnya bukan suatu masalah, tapi mengapa Lok hun pay justru menyukai anak buahnya menggunakan kancing kecil ?"

"Aku tidak memahami arti dari perkataan mu itu"

Kata Bau ji tetap tidak habis mengerti. Pelan-pelan Sun Tiong lo menjelaskan.

"Misalkaa saja Wong Pengci, mengapa dia mengenakan delapan biji kancing kecil dan sebutir kancing lebih besaran, sedang Gui Sam tong mengenakan tujuh biji kancing kecil dan dua biji agak besar."

"Hal ini dikarenakan Lok Hun pay adalah orang yang angkuh dan tinggi hati, maka setiap benda yang besar bentuknya adalah melambangkan dia, karena itu aku berani menjamin, orang yang mengenakan pakaian dengan sembilan biji kancing berbentuk besar, sudah pasti adalah Lok Hun pay pribadi."

Semua orang saling berpandangan sekejap, kemudian merekapun manggut-manggut merasa setuju. Nona Kim lantas berkata.

"Jadi kalau begitu orang yang memakai sembilan biji kancing kecil adalah Lokiu?"

Sun Tiong lo segera manggut-manggut.

"Aku rasa kemungkinan besar memang demikian"

Nona Kim segera tertawa.

"Sekarang akupun mengerti sudah, mengapa kau tidak munculkan diri lagi!"

"Yaa, aku tahu hal ini memang tak akan bisa mengelabuhi dirimu."

Sahut Sun Tiong lo sambil tertawa. Selesai berkata, dia lantas berkerut kening seakan-akan menjumpai suatu persoalan penting.

"Ada sesuatu yang menyulitkan dirimu?"

Tanya nona Kim sambil mendekat.

"Ada suatu persoalan memang harus dirundingkan secara baikbaik, mari kita berangkat sekarang, didepan sana terdapat sebuah kota besar, mari kita mencari rumah penginapan dan membicarakan persoalan ini lagi dengan seksama."

Gui Sam tong dan Cu San Poo kehilangan kuda, kehilangan pula tenaga dalam mereka, terpaksa selangkah demi selangkah mereka harus berjalan menelusuri jalan yang sepi serta menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Wong Peng ci yang lama menunggu kedatangan Sun Tiong lo tapi tak kunjung datang, dia seperti menyadari akan sesuatu, dengan cepat melakukan perjalanan kedepan.

Diapun tak berani menelusuri jalan raya, melainkan melalui gunung-gunung yang sepi.

Oleh karena itu dalam waktu singkat, ia telah berhasil menyusul Gui Sam tong dan Cu San Poo.

Tatkala Gui Sam tong dan Sam poo melihat Wong Peng ci menyusul tiba, paras mukanya segera berubah hebat, untuk menyembunyikan diri jelas tak mungkin, terpaksa mereka harus keraskan kepala sambil menanti kedatangannya.

Tapi suatu kejadian aneh segera berlangsung.

Wong Peng ci segera menyusup tiba, tapi segera berjalan lewat disamping Gui Sam tong serta Cu San Poo, jangankan berhenti, mengucapkan sepatah katapun tidak, seakan-akan dia tidak melihat akan kehadiran mereka berdua.

Sudah amat jauh Wong Peng ci melewati mereka berdua, tapi Gui Sam tong dan Cu Sam Poo masih berdiri termenung dengan mata terbelalak lebar.

Akhirnya sambil mengangkat bahu dan menggelengkan berulang kali, mereka melanjutkan perjalanan sambil berbincang-bincang.

Gui Sam tong yang pertama-tama buka suara paling dulu, katanya.

"Peristiwa ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang sangat aneh, apa yang dia ingin lakukan?"

Cu San Poo menggelengkan kepala ber-kali2.

"Siapa yang tahu, sahutnya "tapi yang pasti tentu ada persoalan yang amat penting artinya."

"Jangan-jangan dia sudah mengadakan hubungan rahasia dengan orang she Sun itu?"

Kata Gui Sam tong dengan kening berkerut. Kontan saja Cu San Poo tertawa dingin.

"Mustahil, masa burung gagak bisa berada bersama burung hong? apakah ini mungkin?"

Gui Sam tong tertawa getir dan tiada bicara lagi. Sebaliknya Cu San Poo segera berkata lagi setelah berpikir sebentar.

"Lo Gui, tiba-tiba saja aku mendapatkan se suaru firasat..."

"Firasat apa?"

"Andaikata tiada peristiwa yang terjadi hari ini, sekalipun kami bisa hidup terus dan mati tua, atau menjumpai musuh tangguh sehingga tewas, mungkin masing-masing pihak tak akan mengetahui nama yang sebenarnya dari masing-masing pihak."

Sambil tertawa getir Gui Sam tong segera mengangguk.

"Yaa, sejak kita terjerumus kedalam jaring Lok hun pay, jangan nama toh nama dan asal-usul, bahkan tubuh kita sendiripun bukan menjadi milik kita lagi!"

Cu San Poo menghela napas panjang.

"Aaaai... siapa bilang tidak, setiap hari kita berkumpul, tapi untuk mengucapkan sepatah kata yang paling sederhanapun tak boleh, masing-masing pihak saling menaruh curiga, saling menganggap kawannya sebagai musuh, hal ini... aaaaai!"

Gui Sam tong segera melanjutkannya cepat.

"Selain itu, seperti juga peristiwa kali ini, ketika aku mendapat perintah dari Pa tau kim tay dan mengetahui kalau orang yang harus kubunuh bernama Wong Peng ci, ternyata aku merasa agak girang..."

Belum habis dia berkata, Cu San Poo telah melanjutkan.

"Sedikitpun tak salah, ketika aku mendapat perintah Hou tau kimpay. untuk membunuhmu pun aku berperasaan demikian, kalau dipikirkan sekarang, aku masih saja tidak habis mengerti, coba katakanlah hal ini aneh tidak ?"

"Aku rasa hal ini pastilah merupakan suatu anggapan perasaan seseorang yang sudah lama dikekang dan ditindas sehingga kehilangan rasa peri kemanusian lagi dalam hatinya, oleh karena itu selain benci, dia sudah tidak mempunyai apa-apa lagi."

Cu San poo segera manggut-manggut.

"Benar ! Tapi untung saja sekarang keadaannya sudah baikan, inilah yang disebut sebagai suatu kebebasan yang seutuh-utuhnya !"

Gui Sam tong segera tertawa, Cu San poo juga ikut tertawa, Kemudian, Cu San poo segera segera berkata lebih jauh.

"Lo Gui, menurut pendapatmu, apakah kita dapat pulang ke rumah ?"

Katanya kemudian.

"Dapat !"

Gui Sam tong mengangguk.

"siapa pun tak akan menduga kalau kita mempunyai keberanian sebesar ini untuk berbuat demikian."

"Benar juga perkataan itu, seandainya si "tua bangka"

Sama sekali tidak keluar dari gunung..."

"Tidak mungkin, jelas tidak mungkin!"

Gui Sam tong segera menukas sambil menggelengkan kepalanya lagi. Cu San-poo segera berpikir sebentar, lalu berkata.

"Tapi kita harus bertindak dengan berhati-hati, sebab persoalan ini bukan sesuatu yang bisa dianggap sebagai gurauan belaka !"

"Tak usah kuatir, selama banyak tahun ini sedikit banyak siaute sudah mempunyai sedikit persiapan !"

"Ooh, persiapan apakah itu?"

"Aku telah mempersiapan dua hal."

Kata Gui Sam-tong lagi sambil tertawa. Cu San poo memandang ke arah Gui Sam tong dengan wajah tertegun, dia tidak berkata apa apa. Gui Sam tong segera menepuknepuk bahu Cu San poo seraya berkata lagi.

"Pertama kita harus mencari tahu siapakah Lok hun pay yang sebenarnya."

"Ah, hal ini mana mungkin ?"

Kata Cu San poo cepat.

"Mengapa tak mungkin ? "kata Gui Sam tong.

"Ooh, coba katakan, bagaimana caramu untuk mengenali dirinya,"

Gui Sam tong segera mengangkat kaki kanannya seraya berkata "Saudara Cu, coba lihat sepatu yang kita kenakan ini."

Cu San poo menundukkan kepalanya dan memandang sekejap sepatu yang dikenakan Gui Sam tong, lalu memperhatikan pula sepatu yang dikenakan sendiri, setelah itu dengan keheranan dia berkata.

"Apakah ada sesuatu perbedaan dengan sepatu ini ?"

"Menggabungkan diri dengan kaum iblis, sama halnya dengan menjual diri kepada orang lain, entah sandang maupun pangan semuanya memerlukan bantuannya, tetapi dia pula yang mengatur segala-galanya lengkap dengan larangan-larangannya."

"Misalkan saja dengan sepatu yang kita kenakan ini, sepintas lalu persis sama antara satu dengan lainnya tapi jika diperhatikan lebih seksama lagi dan diperhatikan sepenuh hati, maka kau akan mengetahui kalau sepatu yang kita kenakan ini sesungguhnya tidak sama."

"Dimanakah letak ketidak samaan itu ?"

Tanya Cu San poo.

"Pada sol sepatunya, sol sepatu yang kita kenakan setebal Iima hun, sedangkan sol sepatunya delapan hun, kalau sol sepatu kita di jahit dengan rangkap enam maka punya dia dengan jahitan sepuluh susun, jika kau tidak percaya coba hitunglah sendiri !"

Sambil berkata Gui Sam tong segera melepaskan sepatunya dan mengacungkan di hadapan Cu San poo.

Benar juga, ternyata memang sol sepatu itu dijahit dengan enam lapisan.

Setelah selesai, mengenakan kembali sepatunya, Gui Sam tong segera berkata lebih jauh.

"Kali ini dia memberikan perintahnya sendiri kepadaku, aku rasa dia pasti merasa kurang berlega hati kepada Sun Tionglo, dan sekarang pasti sedang meminpin kawanan jago lihaynya untuk diam-diam mengejarnya. Cu San poo segera mengangguk.

"Ya, ada kemungkinan memang begitu!"

Setelah berhenti sebentar, dia berkata lebih jauh.

"Lo Gui, bukannya aku tidak percaya denganmu, bila dapat mengungkap persoalan ini secara jelas."

"Boleh saja"

Tukas Gui Sam tong sambil tertawa.

"cuma sebelum kuterangkan sesuatu, aku hendak membicarakan satu hal lebih dulu kepadamu, yaitu kau tak boleh mencari tahu berita yang kuperoleh ini berasal dari siapa"

"Baik, aku akan bersedia menyanggupi permintaanmu itu"

Cu San poo segera manggut-manggut. Gui Sam tong memandang sekejap ke arah Cu San poo, kemudian katanya lagi.

"Aku masih ingat, ada suatu ketika dia memerintahkan seseorang untuk pergi membakar kuil Tay nian koan dikota Lok yang, waktu ini yang di utus pergi ada tiga orang..."

"Ya, aku masih ingat, memang ada peristiwa semacam ini !"

Sela Cu San poo. Gui Sam tong segera tertawa.

"Salah seorang diantara tiga orang yang di utus kesana adalah aku..."

"Tapi hal ini toh tak bisa membuktikan apa-apa?"

Kata Cu San poo sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Sekali lagi Gui Sam tong tertawa.

"Jangan terburu nafsu Lo Cu !"

Setelah berhenti sejenak, dia lantas bertanya lagi.

"Lo Cu, tahukah kau siapa yang telah menurunkan perintah pada waktu itu?"

"Siapa menurut kau?"

Tanya Cu San poo dengan wajah aneh. Gui Sam tong segera menepuk bahu Cu sau poo dan berseru.

"Orang itu adalah kau!"

Sehabis berkata dia lantas mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. Paras muka Cu San poo kelihatan agak tertegun, tidak menanti Gui Sam tong menghentikan tertawanya, ia sudah menukas.

"Lo Gui, darimana kau bisa tahu?"

Mendadak Gui Sam tong menarik mukanya lalu berkata.

"Lo Cu, apakah kau sudah lupa dengan perjanjian kita semula, kau tak boleh menanyakan sumber berita ini?"

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Cu San poo hanya tertawa belaka.

"Bagaimana? Katakanlah benar atau tidak?"

Seru Gui Sam tong kemudian lebih jauh. Cu San poo tidak menjawab pertanyaan ini, sebaliknya malah bertanya lagi.

"Apakah kau dapat mengetahui siapakah saja yang menurunkan perintah kepadamu?"

Gui Sam tong manggut-manggut, tapi dengan cepat menggelengkan kepalanya lagi.

"Benar, tapi juga tidak betul!"

"Gui tua"

Seru Cu San poo segera dengan kening berkerut.

"seharusnya apa maksudmu?"

Gui Sam tong tertawa getir.

"Mengapa kau tidak gunakan sedikit otak untuk berpikir kembali, seandainya tenaga dalam kita belum punah dan nama kita tidak terungkap secara paksa, walaupun aku dapat mengenali kau adalah si nomor berapa, tapi apa yang bisa kulakukan?"

Cu San-poo segera manggut-manggut.

"Yaa, benar juga, aaai..!"

Gui Sam-tong segera mengalihkan pembicaraan ke soal lain, katanya.

"Cuma sekarang justru bermanfaat sekali, sekembalinya ke bukit kali ini, asal kita sembilan orang pengganti munculkan diri bersamasama, walaupun masing-masing tidak saling mengenal nama, tapi aku mengetahui dengan pasti nomor berapakah dia."

"Oleh karena itu, apakah didalamnya terdapat Lok hun pay si tua bangka itu atau tidak, jangan harap bisa mengelabuhi diriku, asal begitu maka aku mempunyai cara untuk menghadapi mereka, pergi dengan aman, pulang dengan aman pula!"

Cu San poo termenung sambil berpikir sejenak, kemudian tanyanya lebih jauh.

"Seandainya si lencana Lok hun pay hadir pula disuu?"

Gui Sam tong segera tertawa getir.

"Kalau sampai demikian, hal itu berarti saat pembalasan buat perbuatan kita pun sudah tiba."

Cu San poo tidak berbicara lagi, dia hanya menganggukkan kepalanya berulang kali.

Kedua orang itu segera mempercepat langkah masing-masing untuk meneruskan perjalanan, tapi itupun hanya terbatas sekali.

Baru berjalan dua tiga li, Cu san-poo baru teringat akan suatu persoalan lain, segera ujarnya lagi.

"Lo Gui, kau mengatakan semuanya telah mempersiapkan dua..."

Belum habis dia berkata, Gui sam tong telah menukas.

"Sekarang kau baru teringat?"

"Toh belum terlambat?"

Seru Cu san poo sambil tertawa. Gui Sam tong turut tertawa, sahutnya sambil menggeleng.

"Yaa, memang belum terlambat justru tepat waktunya!"

Setelah memandang sekejap ke arah Gui Sam-tong, Cu san poo baru berkata lagi.

"Nah, kalau memang begitu kau katakan!"

"Persiapanku yang lain adalah aku telah menyiapkan dua buah Liong tau Lok hun kim leng (lencana emas lok hun pay berkepala naga)!"

Cu San poo menjadi berdiri bodoh setelah mendengar perkataan itu, untuk sesaat lamanya dia sampai berdiri terbelalak dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Sambil tertawa kembali Gui Sam tong berkata.

"Sesungguhnya hal ini gampang sekali, asal mau memperhatikan dengan seksama, tiada persoalan yang tak dapat dilakukan!"

Cu San poo menghela napas panjang, katanya.

"Lo Gui, aku benar-benar takluk kepadamu, mari kita berangkat, sekalipun harus mati di atas bukit, akupun akan mati dengan hati yang rela dan pasrah!"

Maka kedua orang itu tidak berbicara lagi, selangkah demi selangkah mereka melanjutkan perjalanan.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** "Pelayan, datanglah sebentar !"

"Baik, baik tuan ..."

Pelayan mendorong sebuah pintu kamar dan melangkah masuk menuju ke sebuah serambi halaman.

Didalam serambi halaman tersebut tersedia tiga buah kamar, dekorasinya cukup mengagumkan.

Tapi didalam ke tiga buah kamar itu hanya tinggal seorang tamu, tamu itu datangnya menjelang fajar tadi, begitu datang laatas bertanya apakah terdapat kamar disertai halaman yang tenang.

Waktu itu, si pelayan masih ingat jelas, seluruh badan tamu itu basah kuyup oleh keringat, wajahnya merah, nafasnya terengah-engah, seperti baru saja melakukan perjalanan cepat siang dan malam.

Kini, selisih waktunya dari tamu itu mencari kamar baru sepertanak nasi, ketika mendengar suara panggilan, pelayan itu segera mendorong pintu dan masuk ke halaman, setelah itu menuju ke depan kamar.

Baru saja pelayan itu akan buka suara, dari balik kamar sudah kedengaran suara nafas orang yang memburu.

Dengan cepat pelayan itu mendorong pintu dan masuk kedalam, dalam tiga langkah yang menjadi dua langkah dia lari masuk ke kamar sebelah kanan yang agak gelap.

Tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya berdiri bodoh, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia membalikkan badan dan lari keluar.

"Kembali, cepat! Cepat!"

Seru tamu itu lagi.

Terpaksa pelayan itu berhenti, membalikkan badan dan masuk ke kamar gelap itu.

Walaupun si tamu hanya mengucapkan beberapa patah kata saja, namun lelahnya seperti seekor kerbau tua yang baru selesai membajak sawah seluas dua puluh hektar, mukanya pucat.

keringat dingin jatuh bercucuran dengan derasnya.

"Kau... kau....mengapa kau?"

Dengan gugup bercampur gelisah pelayan itu menegur. Tamu itu mengulapkan tangannya dengan paksa, kemudian setelah nafasnya yang memburu agak mereda, dia baru berkata.

"Pe...penyakit...penyakit lamaku kambuh lagi...ambil..ambilkan semangkok air untukku."

Dengan cekatan pelayan itu membangunkan tamunya dan mengambilkan semangkok air.

Setelah meneguk air, keadaan tamu itu mulai lebih baikan, lewat sesaat kemudian baru menjadi tenang kembali.

Saat itulah, si pelayan baru berkata Iagi.

"Perlukah dipanggilkan seorang tabib untuk memeriksakan keadaan penyakit yang kau derita?"

Mendengar perkataan itu tamu tersebut segera mengulapkan tangannya berulang kali.

"Tidak usah, sebentar aku akan menjadi baik sendiri !"

Apa pun yang dikatakan tamunya, pelayan itu bergidik juga dibuatnya, pepatah kuno bilang manusia makan lima macan biji bijian, maka tiada manusia yang terhindar dari penyakit, siapapun tak bisa menjamin penyakitnya akan sembuh sendiri.

Tapi orang yang mengusahakan rumah penginapan paling berpantang terhadap peristiwa semacam ini, bukan saja mati hidup tamu menyangkut soal nyawa, yang penting usahanya juga akan mengalami pengaruh yang besar.

Maka pelayan itu kembali membujuk.

"Tuan, aku lihat kalau memang sudah sakit lebih baik memanggil tabib saja, kalau tidak apa kerjanya si tabib? Beristirahatlah dahulu tuan, hamba akan mengundangkan..."

Belum habis dia berkata, si tamu kembali sudah mengulapkan tangannya sembari menukas.

"Penyakit yang kuderita bukan sembarangan penyakit, kau tak mengerti, para tabib dikolong langit pun tak ada yang mengerti!"

Pelayan itu menjadi geli sekali setelah mendengar perkataannya itu, katanya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kau orang tua sungguh pandai sekali bergurau, lagi sakit dibilang bukan penyakit, kalau sampai tabib pun tidak mengenali penyakit yang kau derita itu, waah... penyakitmu itu sudah gawat dan repot sekali..."

Seusai berkata, dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari situ... Tamu tersebut menjadi naik darah, cuma walaupun lagi marah, suaranya tidak begitu keras, serunya.

"Tunggu sebentar, dengarkan dulu penyakit apakah yang sedang kuderita..."

Pelayan itu segera berhenti sambil tertawa, sementara hatinya berputar terus, kalau dilihat dari keadaan si tamu istimewa itu, dia tahu penyakit yang diderita tamunya ini tentu luar biasa sekali.

Baru berhenti bicara, si tamu sudah terengah-engah kembali, lewat sesaat kemudian dia baru berkata lagi.

"Aku sudah melakukan perjalanan semalaman suntuk, badanku kelewat lelah, yang lebih penting lagi aku sedang kelaparan, setiap kali sedang kelaparan, aku pasti akan menderita seperti ini, mengerti ?"

Kali ini si pelayan benar benar kegelian setengah mati, katanya tertahan.

"Oooh, Thian, mengapa tidak kau katakan sedari tadi? Kau ingin makan apa ?"

Tamu itu berpikir setengah harian lamanya? lalu dengan badan yang lemas dia baru berkata.

"Masakkan semangkok mie, dalam bakmi itu beri dua butir telur ayam dadar..."

Oelayan itu mengiakan dan segera berlalu dari situ. Tiba tiba sang tamu berseru lagi.

"Apakah dalam rumah penginapan "kalian mempunyai kampak?"

Pelayan itu kembali tertegun dibuatnya, jantung yang baru saja menjadi tenang kembali, kini berdebar semakin keras.

Menyaksikan keadaan si pelayan itu, sikapmu menjadi sadar kembali, dengan cepat dia melanjutkan.

"Bukan kampak yang kumaksudkan adalah sebuah pisau gunting kecil, maksudku gunting kecil untuk memotong kuku"

Pelayan itu segera menghembuskan nafas panjang, setelah mengiakan buru-buru dia berlalu dari ruangan tersebut.

Tak lama kernudian, gunting telah dikirim datang, sedang tamu itu segera berusaha keras untuk duduk kembali sepeninggal pelayan tersebut, dari belakang kursinya dia mengambil pakaian yang berwarna kuning emas.

Setelah pakaian emas itu diambil, dari dalam sakunya tamu itu mengeluarkan dua buah lencana berwarna emas.

"Aaah, ternyata tamu itu tak lain adalah Wong Peng ji."

Setelah mengeluarkan lencana emas kepala harimau dan kepala macan kumbang, dia berpikir sejenak, kemudian lencana harimaunya dia simpan dibawah bantal setelah itu dengan gunting dia mulai mengguntingi pinggiran lencana emas kepala macan tutul itu.

Dengan mempergunakan tenaga yang paling besar dia hanya berhasil menggunting sebuah lubang yang besarnya seujung jari, sementara keringat jatuh bercucuran dengan derasnya.

Dia nampak lelah sekali.

Bukan cuma lelah, bahkan seluruh badannya seakan-akan sudah tidak bertenaga lagi.

Ketika dia berhasil menakut-nakuti Gui Sam tong dan Cu San poo dalam hutan tadi hingga melarikan diri, kemudian munculkan diri kembali didalam hutan untuk menunggu kemunculan Sun Tiong lo, mendadak saja ia telah memahami akan satu hal.

Berbicara soal kebaikan, maka dia boleh bilang paling jarang melakukan kebaikan itu.

Berbicara soal kejahatan, agaknya kejahatan yang pernah dilakukan olehnya masih jauh melebihi perbuatan jahat yang dilakukan Cu San poo maupun Gui Sam tong.

Lantas atas dasar apakah dia memperoleh kebaikan dari lawannya untuk mendapatkan kembali kepandaian silat yang dimilikinya?

Mustahil!

jelas hal ini mustahil bisa terjadi!

Oleh karena itu diapun memahami akan persoalan ini, persoalannya sederhana sekali, tentunya Sun Tiong lo telah mempergunakan kepandaian khusus untuk memunahkan ilmu silatnya setelah suatu jangka waktu tertentu, ilmu silatnya bakal punah dalam jangka waktu tertentu, lantas berapa langkah jangka waktu tertentu itu?

Dia memang seorang yang pintar, Sun Tiong lo menitahkan kepadanya untuk melaksanakan tugas, bila tugas itu telah selesai, tentu saja tiada persoalan yang berharga untuk menahan seluruh kepandaian silat yang dimilikinya lagi, itu berarti...

Maka dia mulai merasa ketakutan dan bergidik, itulah sebabnya dia mulai lari, lari dengan secepat-cepatnya, beberapa jauh dia bisa lari berapa jauh pula dia akan menempuh.

Karena dia harus menghindarkan diri dari kemungkinan pengejaran orang-orang Lok hun pay, selain itu diapun harus sejauh-jauh meninggalkan Gui Sam tong dan Cu San poo.

Sebab kalau sampai mereka berjumpa lagi, sedang ilmu silat yang dilikinya telah punah, dengan dua lawan satu Wong Peng-ci tahu bahwa keadaan semacam ini tak akan menguntungkan baginya, atau dengan perkataan lain hanya jalan kematian saja yang tersedia baginya.

Justeru karena persoalan ini puIa, walaupun ditengah jalan dia telah berjumpa dengan Gul Sam tong serta Cu San poo, namun langkahnya sama sekali tidak dihentikan.

Tentu saja, ketika dia berjumpa dengan Cu San poo dan Gui Sam tong ditengah jalan tadi.

kepandaiannya silatnya masih utuh, untuk menghilangkan bibit bencana diitemudian hari dia bisa saja menggunakan kesempatan tersebut untuk melenyapkan lawanlawannya.

Tapi banyak kejadian di dunia ini memang aneh sekali, anehnya bukan kepalang.

Seperti dua orang yang saling bermusuhan, di hari-hari biasa A selalu berusaha untuk mencelakai C, sedang C juga selalu berusaha untuk mencelakai A, kedua belah pihak enggan hidup bersama mereka selalu berusaha untuk menggunakan cara yang paling keji untuk meniadakan lawannya.

Tapi suatu hari secara tiba-tiba A mengalami suatu musibah, entah kebakaran entah musibah lainnya, sedangkan C juga mengalami nasib yang sama, maka kedua itupun menjadi senasib sependeritaan...

Dalam keadaan seperti ini, bilamana kedua belah pihak saling berjumpa, maka A yang melihat keadaan C akan timbul perasaan ibanya, begitu pula ketika C bertemu dengan A, sekalipun mereka berdua saling bermusuhan satu sama lain, namun dalam suasana seperti itu mereka jadi tidak bersemangat lagi untuk mempersoalkan masalah lama.

Begitu juga keadaan dari Wong Peng ci sekarang, setelah tahu kalau kepandaian silatnya tak lama kemudian akan turut punah, dia menjadi segan untuk memikirkan masalah lain lagi apa yang diharapkan sekarang hanyalah bisa selamat dan bebas dari ancaman marabahaya.

Sepanjang perjalanan nasibnya masih terhitung beruntung, akhirnya dia berhasil juga tiba dikota tersebut.

Yang lebih beruntung lagi adalah sebelum kepandaian silatnya punah, ia telah mendapat kamar dirumah penginapan.

Tapi setelah dia melangkah masuk kedalam ruangan kamar dan memanggil pelayan, keadaannya menjadi parah.

Tiba-tiba saja kepandaian silatnya menjadi punah tak berbekas, tubuhnyapun menjadi lemas dan lunglai, sedemikian lamanya sehingga tak mampu untuk berdiri lagi, bukan cuma lemas bahkan linu, bukan linu biasa, bahkan lebih hebat daripada orang yang kena penyakit encok.

Dalam keadaan seperti ini, dia benar-benar tak sanggup menguasahi diri lagi, dia segera merintih dan memanggil pelayan.

Sewaktu Gui Sam tong dan Cu San poo kehilangan ilmu silatnya tadi, mereka sama sekali tidak mengalami penderitaan seperti ini, hal mana dikarenakan kepandaian yang digunakan Wong Peng ci kurang begitu liehay, disamping Gui Sam tong dan Cu San poo mendapat kesempatan yang cukup lama beristirahat.

Berbeda sekali keadaannya dengan Wong Peng ci.

Ketika mengetahui kalau ilmu silatnya bakal punah, dia telah menggunakan segenap kepandaian yang dimilikinya untuk melarikan diri, sepanjang jalan dia lari terus tiada hentinya, ditambah lagi ilmu totokan yang dipergunakan Sun Tiong-Io juga sangat istimewa, secara otomatis penderitaan yang dialaminya pun berlipat ganda.

Ketika semua penderitaan telah berhasil di atasi, Wong Peng ci mulai memikirkan pula segala macam persoalan yang bakal dihadapinya sejak kini.

Bagaimanapun ganasnya manusia dan bagaimanapun lihaynya seseorang, ia toh membutuhkan juga nasi untuk mengisi perut.

Makan kedengarannya adalah sesuatu yang gampang, tapi tanpa uang bagaimana mungkin hal itu bisa diselesaikan.

Ya benar, uang, uang, uang, sekali lagi uang adalah faktor terpenting, yang mengatur segala-galanya.

Pepatah kuno pernah bilang.

Uang sepeser dapat membuat seorang enghiong mampus.

Ucapan tersebut memang tepat sekali, dan benar-benar bisa membunuh seseorang.

Andaikata bikin mampus dalam sesaat, hal ini masih mendingan, yang lebih mengenaskan lagi kalau sampai setengah mati setengah hidup, dihina orang, dicemooh teman, kehilangan sanak, ditinggalkan kekasih, dihianati teman, disumpai orang tua, dipandang sinis oleh anak bini.

Perasaan seperti itu, penderitaan semacam itu, tak mungkin bisa dipahami oleh siapa pun.

Kalau lelaki tak punya uang tak punya ambisi, kalau bukan mencuri tentu merampok.

Kalau perempuan tak punya harga diri apa lagi tak punya uang, kalau bukan menjadi gundik orang, pasti menjadi pelacur !

Dan sekarang, Wong Peng-ci benar2 dihadapkan pada masalah yang pelik, yaitu membutuhkan uang, itulah sebabnya terpaksa dia harus membongkar lencana emas berkepala macan tutulnya.

Kalau dihari-hari biasa, Wong Peng ci tak perlu membutuhkan gunting, dan mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, dia berhasil menggunting sedikit sekali.

Setelah beristirahat sebentar, dia bekerja keras sekali, dia berhasil menggunting sebagian.

Kemudian dia masukan sebagian kebawah bantal dan segera duduk beristirahat.

Jangan dilihat tenaga dalamnya kini sudah punah, setelah bersemedhi sekian waktu, semua perasaan linu, lemas, kaku dan sakit yang semula mencekam perasaannya seketika lenyap tak berbekas, keadaannya tak berbeda jauh dari manusia biasa.

Pelayan datang menghidangkan bakmi, kebetulan bakmi itu cukup untuk mengisi perut Wong Peng-ci yang sedang lapar.

Kemudian dia berpesan kepada pelayan agar menukarkan kedua potong hancuran emas itu menjadi uang perak.

Ia berpesan kepada pelayan agar menitipkan uang yang ditukarnya itu kepada kasir dan jangan memanggil dia, dia ingin tidur sepuas-puasnya dan segala persoalan dibicarakan kembali setelah dia bangun dari tidurnya nanti.

Pelayan menerima hancuran emas itu dan berlalu dengan senyuman di kulum.

Wong Peng-ci segera menjatuhkan diri ke atas pembaringan sepeninggal pelayan itu setelah menempuh perjalanan siang malam.

ia tidur bagaikan seekor babi mampus!

Entah berapa lama dia tidur, mendadak hujan turun dengan derasnya, begitu deras seolah-olah dituangkan dari tengah angkasa.

Wong Peng ci merasa seakan-akan lagi berjalan diluar kota, dia merasakan sekujur badannya basah kuyup oleh air hujan.

Tubuh bagian atasnya menjadi dingin dan menggelikan badan, sekujur tubuhnya gemetar, dia, Wong Peng ci segera tersadar kembali dari impiannya.

Ketika membuka matanya, ia mengalihkan sorot matanya ke depan jendela, hari telah menjadi gelap.

"Aaah, tidak benar! seandainya lagi bermimpi kehujanan, mustahil badannya terasa basah kuyup setelah bangun dari tidurnya. Ketika membalikkan badannya, Wong Peng ci berdiri bodoh, dia berdiri termangu bagaikan sebuah balok kayu. Dihadapan mukanya telah bertambah dengan sesosok tubuh manusia. Orang itu mengenakan pakaian berbaju emas dengan kain berkerudung warna emas juga, di tengah suasana remang-remang yang menyelimuti angkasa, orang itu duduk disisi pembaringan dengan sebuah teko air dingin berada di tangannya. Tak bisa disangkal lagi, air hujan yang dirasakan dalam mimpinya tadi berasal dari air teh didalam teko tersebut. Wong Peng ci hanya merasakan sekujur badannya kesemutan, tulang belulangnya menggigil keras dan tubuhnya sama sekali tak mampu berkutik, bahkan sepasang biji matanya pun turut menjadi terbelalak kaku. Pelan-pelan manusia berbaju emas itu meletakkan kembali teko air tehnya ke atas meja, kemudian dengan suara dalam perintahnya.

"Bangun! Ayoh cepat menggelinding bangun!"

Baru saja Wong Peng ci akan bangun, mendadak tergerak hatinya, dengan cepat di meraba ke bawah bantalnya.

Ternyata lencana kepala harimau serta sisa lencana kepala macan tutul yang disimpan dibawah bantal itu sudah lenyap tak berbekas.

Sementara itu, si orang berbaju emas itu sudah duduk diatas kursi dengan angkernya, dengan suara dalam dia lantas membentak.

"Apa yang kau cari ? Cepat menggelinding bangun !"

Wong Peng ci benar-benar menggelinding turun dan atas pembaringan tangannya segera meraba pakaian emas milik sendiri.

Mendadak orang berbaju emas itu mendengus dingin, hal ini membuat Wong Peng-ci ketakutan dan menarik kembali tangannya Setelah tertawa dingin, orang berbaju emas itu me negur.

"Darimana kau dapatkan kedua buah lencana emas ini ?"

"Benda... benda itu milik Gui Sam-tong dan Cu San poo,"

Jawab Wong Peng-ci dengan puara gemetar. Manusia berbaju emas itu seperti merasa agak tercenung, kembali bertanya.

"Mengapa bisa terjatuh ke tanganmu ?"

Sementara itu Wong Peng-ci telah menjadi tenang kembali, persoalan yang dihadapinya dapat kembali dengan seksama, maka dia tidak segera menjawab pertanyaan dari orang berbaju emas itu, tampaknya ia sedang mempertimbangkan sesuatu.

"Cepat jawab pertanyaanku !"

Bentak orang berbaju emas itu lagi dengan gusar.

"Tunggu dulu,"

Kata Wong Peng-ci kemudian "siapakah kau dan mengapa memasuki kamar yang kutinggali ?

Mengapa pula kau membentak-bentak diriku ?

Atas dasar apa kau berbuat demikian ?

siapakah kau ?

Katakan dulu, siapakah kau ?"

Mendadak sontak orarg berbaju emas itu bangkit berdiri, serunya sambil menuding ke arah Wong Peng-ci.

"Apakah kau kepingin mampus ?"

Entah mengapa ternyata nyali Wong Pengci bertambah besar, sahutnya sambil terbawa dingin.

"Kau berani membunuh orang? Bajingan, besar amat nyalimu..."

Kemudian setelah berhenti sebentar teriaknya lagi dengan suara keras.

"Tolong, ada..."

Belum sempat kata ""perampok"

Diucapkan, tangan orang berbaju emas itu telah mencekik tenggorokannya sehingga selain tak bisa berteriak, juga tak dapat bernapas, hanya sepasang tangannya saja yang meronta ke sana ke mari.

Agaknya orang berbaju emas itu merasakan sesuatu yang tak beres, sambil berseru tertahan dia segera mengendorkan cekikannya.

Begitu mengendorkan tangan, orang berbaju emas itu segera mengancam dengan suara menyeramkan.

"Bila kau berani berteriak lagi, jangan salah kalau aku segera akan menjagal dirimu!"

Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya.

"Sekarang, Gui Sam-tong dan Cu San poo berada dimana?"

Dalam pada itu Wong Peng ci sudah mempunyai perhitungan didalam hatinya, cuma ada kalanya orang memang bisa salah menduga, kalau kesalahan tersebut dialami dihari biasa, mungkin keadaannya masih mendingan tapi kalau kesalahan tersebut dibuatnya dalam keadaan seperti ini, bisa jadi keselamatan jiwanya yang menjadi pertaruhan.

Walaupun ucapan tersebut benar, tapi kalau tidak menyerempet bahaya, mungkin tak akan lolos pula dari kematian, andaikata bahaya yang diserempet benar dan segala sesuatunya berjalan seperti apa yang diduganya, kemungkinan besar dia akan lolos dari kematian.

Teringat sampai disini, Wong Peng ci dapat semakin menenangkan hatinya, dia lantas berkata.

"Aku sama sekali kenal dengan mereka berdua"

"Hmm, kau sedang membohongi siapa ?"

Dengus Manusia berbaju emas berkerudung emas itu. cepat Wong Peng ci segera memperlihatkan sikap seperti apa boleh buat, katanya lagi.

"Jika kau tidak percaya, akupun tak bisa berbuat apa-apa lagi."

Manusia berkerudung emas itu agak berhenti sejenak, kemudian baru bertanya lagi.

"Lantas darimana kau bisa mengetahui nama mereka ?"

"Aku tak dapat mengatakannya, juga tak berani mengatakannya, kalau kuutarakan bisa jadi masuk pengadilan !"

Seru Wong Peng-ci sambil memperlihatkan sikap ketakutan. Manusia berkerudung emas itu segera mendengus dingin.

"Hmm, sekalipun tak dapat dikatakan juga harus dikatakan, tidak berani diucapkan juga harus diucapkan, sedang soal takut masuk pengadilan, soal ini tak usah kuatir, kami tak bermaksud untuk mengadukan persoalan ini ke pengadilan !"

Wong Peng ci segera memperlihatkan wajah berseri, serunya dengan segera.

"Benarkah ucapanmu itu? jadi kita tak usah masuk pengadilan?"

Manusia berkerudung emas itu manggut-manggut menyatakan suara hatinya. Setelah itu, Wong Peng-ji baru berkata lagi.

"Aku adalah seorang saudagar kain, mempunyai sekereta kain serta tiga empat tahil uang perak, kemarin lantaran aku ingin cepatcepat sampai di kota untuk berdagang..."

"Bicarakan saja hal-hal yang penting!"

Tukas manusia berkerudung emas itu tak sabar. Wong Peng-ci berlagak tertegun, kemudian baru katanya;

"Yang penting? semuanya itu toh penting..."

Manusia berkerudung emas itu segera mendengus dingin, tukasnya lebih jauh.

"Soal-soal yang tak ada gunanya lebih baik tak usah disinggung, katakan darimana kau bisa mengetahui nama mereka"

Wong Peng ci mengerdipkan matanya berulang kali kemudian berkata.

"Aku toh sedang membicarakannya? Lantaran ingin buru buru sampai dikota maka aku jadi kemalaman dihutan, dalam keadaan begitu terpaksa aku harus mencari hutan untuk beristirahat, siapa tahu pada saat itulah aku telah berjumpa dengan suatu peristiwa aneh."

"Baru saja aku masuk ke dalam hutan dan menyembunyikan keretaku, mendadak muncul dua orang manusia..."

Ketika berbicara sampai disini, sengaja Wong Peng ci memandang sekejap ke arah manusia berbaju emas itu, kemudian baru katanya lebih jauh.

"Aaah benar, mereka mengenakan pakaian seperti apa yang kau kenakan sekarang, tapi tidak mengenakan kain kerudung hitam, waktu itu mereka berdua sedang duduk tak jauh dari diriku dan lagi berbincang-bincang."

"Ternyata mereka telah berjumpa dengan musuh bebuyutannya dan dibilang tenaga dalamnya kena dipunahkan, aku tidak mengerti apa yang dinamakan tenaga dalamnya kena dipunahkan, tapi dapat kudengar kalau apa yang mereka bicarakan pasti bukan suatu kejadian baik."

"Kemudian merekapun membicarakan soal apa yang mesti dilakukan, dibicarakan pula mereka bakal dibunuh oleh orang yang disebutnya tua bangka Lok-hun-pay, akhirnya karena aku kurang berhati-hati, jejakku kena diketahui mereka."

"Aku takut mampus, tapi mereka tidak galak, hanya bertanya apa yang sedang kulakukan, akupun mengaku terus terang, setelah berunding sebentar akhirnya mereka berdua mengajak aku untuk menukar sekereta kain kita dan seluruh pakaianku dengan kedua belah lencana emas tersebut."

"Bagaimana selanjutnya ? Apa saja yang mereka katakan?"

Tukas manusia berkerudung itu.

"Beberapa tahil uang perakku juga mereka ambil sebagai gantinya aku memperoleh pakaian emas milik mereka..."

"Tutup mulut, kau ingin membohongi siapa?"

Tukas manusia berkerudung emas itu mendadak. Wong Peng ci menjadi tertegun, lalu dengan wajah bersungguhsungguh.

"Aku tidak berbohong, semua perkataanku kuutarakan dengan sejujur-jujurnya."

Kembali manusia berkerudung emas itu mendengus dingin.

"Hanya berdasarkan mereka mengatakan kalau lencana emas itu adalah emas murni, maka kau bersedia untuk menukarnya?"

Wong Peng-ci segera mencibirkan bibirnya sembari berseru.

"Aaah... kau anggap aku tak mampu untuk membedakan mana emas asli dan mana yang palsu? Hmm!"

Ucapan tersekat tepat sekali, kontan saja manusia berkerudung emas itu dibikin terbungkam dalam seribu bahasa.

Wong Peng ci memang amat cerdas, dia sudah mengerti kalau manusia berkerudung emas itu tak lain seperti juga dirinya, salah satu dari sembilan orang pengganti Lok hun pay.

Kecuali pemegang Lok hun pay pribadi, di antara kesembilan orang penggantinya itu boleh dibilang tiada yang saling mengenal, berada dalam keadaan seperti ini perkataan apapun bisa dia utarakan, toh semua perkataanya tiada yang menyaksikan."

Akhimya Wong Peng ci bilang setelah dia berhasil menukar barang-barang tersebut, ditengah jalan dia baru teringat kalau sekereta kain citanya ditambah kedua lembar pakaian nya tidak bernilai setengah lencana emas itu.

Oleh karena dia kurang enak dalam hatinya, maka secara diam-diam dia balik kembali untuk melakukan pengintaian.

Kebetulan dia menyaksikan salah seorang diantara kedua orang ita sedang membunuh seorang rekannya kemudian mendorongnya ke-dalam kereta, dia menjadi ketakutan setengah mati dan malam itu juga dia kabur menuju kekota tersebut.

Tentu saja manusia berkerudung emas itu tidak percaya dengan begitu saja, tapi semua perkataan dari Wong Peng ci masuk diakal, apalagi sekarang ini manusia berbaju emas itu sudah tahu kalau Gui Sam tong dan Cu san poo telah kehilangan ilmu silatnya, sekalipun tak percaya mau tak mau juga harus percaya juga.

Ketika manusia berkerudung emas itu menanyakan tempat kejadiannya, tanpa keraguan Wong Peng ci segera menerangkan tempat kejadian tersebut, tapi ketika manusia berkerudung emas itu mengajak Wong Peng ci untuk pergi kesana, sampai mati pun Wong Peng ci enggan ikut.

Alasan yang di pakai Wong Peng ci masuk diakal, dia bilang hari sudah gelap, tiba disitu tepat tengah malam, dia takut.

Diapun berkata, kalau ingin pergi saja boleh, tapi besok setelah terang tanah.

Terpaksa manusia berkerudung emas itu meluluskan permintaannya, karena masih ada orang yang menantikan laporannya.

Maka manusia berkerudung emas itu pun memperingatkan kepada Wong Peng ci agar jangan mencoba-coba untuk melarikan diri, bila kabur berarti mati, kemudian dia bilang besok pagi akan datang mencarinya lagi untuk mengunjungi tempat kejadian tersebut.

Wong Peng ci segera meluluskan tetapi dia minta kembali lencana emasnya itu.

Tentu saja manusia berkerudung emas itu tak dapat menyerahkan lencana emas tersebut kepadanya, tapi dia bersikeras menuntut kembali lencana itu.

Sikap seperti ini dibawakan dengan amat persis, hal mana membuat manusia berkerudung emas itu percaya dengan ucapannya maka dia pun memberi sepuluh tahil perak kepadanya untuk digunakan, bahkan berjanji puIa, bila apa yang terbukti besok memang suatu kenyataan dia jamin ada lima puluh tahil emas sebagai hadiah.

Akhirnya dengan terpaksa Wong Peng ci menerima permintaannya itu.

Maka manusia berkerudung emas itupun membuka jendela dan melompat keluar dari sana.

Ketika Wong Peng ci melihat manusia berbaju emas itu telah pergi, dia segera menghembuskan napas panjang, tapi dia percaya manu sia berkerudung emas itu tentu belum pergi jauh saat itu dia pasti sedang mengawasi gerak-gerik nya secara diam-diam.

Setelah memutar biji matanya sebentar, satu ingatan cerdik segera melintas dalam benaknya, cepat dia berseru memanggil pelayan.

Jilid 25 -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** WAKTU itu merupakan saat-saat yang paling sibuk, setelah memanggil setengah harian lamanya sipelayan baru muncul.

Mula-mula Wong Peng ci menanyakan tantang emas yang ditukarkan, setelah pelayan itu menerangkan kalau lelah mendapat enam belas tahil delapan mata uang dan sekarang disimpan dimeja kasir, sambil manggut-manggut Wong Peng ci lantas memesan makanan.

Wong Peng ci seperti sudah tak sabar lagi, dia segera berpesan kepada pelayan.

"Dengarkan baik-baik, aku memesan setengah kati arak wangi, arak paling wangi, seekor ayam panggang, tiga macam sayur, satu kuah, kuahnya minta agak tawar, jangan diberi terlalu banyak garam."

Pelayan itu mengiakan dan siap berlalu, tapi Wong Peng ci kembali menarik pelayan itu.

Dengan termangu-mangu pelayan tersebut memandang kearah tamunya tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Sambil tertawa Wong Peng ci lalu berbisik.

"Apakah disini terdapat pipi licin?"

Yang dimaksudkan sebagai "pipi licin"

Tak lain adalah perempuan pelacur yang kerjanya jual beli badan. Pelayan tersebut sudah seringkali melakukan pekerjaan seperti ini, sambil tertawa segera sahutnya.

"Tentu saja ada, cuma sekarang..."

"Carikan pipi licin yang paling cakep, tapi wataknya harus baik, tahu diri dan sekarang temani aku minum arak lebih dulu!"

Pelayan itu mengiakan dan segera berlalu.

Tak lama kemudian, pipi licin itu datang duluan, masih cukup cakep, cuma dandanannya agak menyolok.

Manusia berkerudung emas yang menyembunyikan diri dibalik kegelapan baru benar-benar merasa lega hati setelah menyaksikan kejadian itu, ia segera berlalu.

Sayurpun segera dihidangkan, Wong Peng ci dan pelacur itu segera berpesta pora.

Wong Peng ci bersantap dengan cepat, daIam waktu singkat dia sudah makan sampai kenyang, kemudian dia suruh pelacur itu makan seorang diri, sedang dia mengatakan ada sedikit urusan kecil yang hendak diselesaikan dulu maka serta merta dia pun ngeloyor keluar dari ruangan tersebut.

Dia tak berani kabur melalui pintu besar, jubah berwarna emasnya juga tak berani dikenakan, sampai uang yang disimpan dikasirpun tidak diambil, dengan memanjat dinding belakang dia segera kabur menyelamatkan diri...

Dibalik ruang kuil yang separuh ambruk tampak kilatan cahaya lentera.

Seorang manusia berkerudung emas duduk diatas meja altar yang separuh ambruk.

Disebelah kirinya berdiri dua orang manusia berkerudung emas.

Sedang didepan manusia berkerudung emas yang duduk itu masih berdiri pula seorang manusia berkerudung emas lainnya.

Ketika jumlahnya dihitung, ternyata semuanya berjumlah enam orang.

Manusia berkerudung emas yang duduk itu sedang menegur manusia berkerudung emas yang berada dihadapannya dengan suara dalam.

"Bagaimana? orangnya sudah lenyap?"

Manusia berbaju emas itu hanya menundukkan kepalanya dan membungkam seribu bahasa. Orang yang duduk ditengah itu kembali menghela napas panjang, katanya lebih lanjut.

"Kau berhasil menemukan kembali kedua buah lencana emas ini. sebetulnya merupakan suatu pahala yang besar, tapi sekarang jasamu itu harus dilenyapkan oleh kelalaianmu, sungguh patut disayangkan, aku berani menjamin manusia keparat itu sudah pasti adalah Wong Peng ci!"

Sesudah mendengar perkataan itu.

rasa takut yang semula mencekam perasaan manusia berbaju emas yang berada ditengah itu menjadi lenyap tak berbekas, dengan cepat dia mendongakkan kepalanya lagi.

Kemudlan dengan suara agak emosi, serunya.

"Hamba sudah banyak berhutang budi dari majikan, soal jasa atau tidak bukan masalah, tapi kelalaian yang hamba lakukan kali ini benar-benar..."

"Benar, makin diperkirakan hamba merasa semakin penasaran!"

Katanya cepat.

Manusia berbaju emas yang duduk itu tidak segera menjawab, agaknya dia sedang merenungkan kembali alasan dari sipembicara itu.

Selang berapa saat kemudian, manusia berbaju emas yang duduk itu baru manggut2, katanya.

"Aku memahami alasanmu mengatakan penasaran, persoalan ini aku akan mempertimbangkan dengan sebaik-baiknya!"

"Maksud hamba, bukan dikarnakan jasaku kali ini dibilang impas maka aku lantas meneriakkan kata penasaran."

Kata orang berbaju emas yang berada ditengah lebih jauh.

"yang paling penting adalah peristiwa yang kita hadapi sekarang benar-benar merupakan suatu peristiwa yang membuat kita apa boleh buat."

"Tiada kejadian yang begitu kebetulan didunia ini, apalagi dalam peristiwa kali ini sebenarnya kau masih bisa mendesak posisi Wong Peng ci.."

"Coba kalau hamba mengetahui dia, mana mungkin aku akan melepaskannya dengan begitu saja?"

Manusia berbaju emas yang duduk itu segera mendengus dingin.

"Hmm, lebih baik salah membunuh seratus orang dari pada melepaskan satu orang, dari sinilah kata-kata tersebut terungkapkan!"

Manusia berbaju emas yang berdiri itu tak berkata lagi, kepalanya segera ditundukkan rendah-rendah. Setelah berhenti sejenak, orang berbaju emas yang duduk itu kembali berkata lebih jauh.

"Aku rasa Wong Peng ci pasti belum kabur kelewat jauh, apalagi tenaga dalamnya telah punah sekarang, bila kalian segera melakukan pengejaran sekarang juga, aku percaya dia tak akan dapat kabur terlalu jauh, sebelum fajar menyingsing bisa jadi dia telah tertangkap kembali, kemudian kita masih harus mengejar orang she Sun tersebut!"

Manusia berbaju emas yang berdiri itu mengiakan, katanya.

"Hamba masih tetap curiga atas hilangnya kepandaian silat yang dimiliki Wong Peng ci!"

Orang yang duduk itu segera tertawa, dengan cepat dia mengelengkan kepalanya berulang kali.

"Tak usah dicurigai lagi, kepandaian silat yg dimilikinya benar-benar telah punah!"

Baru saja orang berbaju emas yang berdiri itu akan melanjutkan pertanyaannya orang yang duduk itu telah menukas.

"Andaikata tenaga dalamnya masih utuh, buat apa dia mesti menukar lencana kepala macan kumbang menjadi persediaan uang? Dia lebih lebih tak mungkin akan mencari gunting sebagai alat pembantunya apalagi diapun tak bakal tidur seperti orang mati!"

Orang berbaju emas yang berdiri itu tidak menjawab, sekarang ia hanya mengangguk berulang kali, mengulapkan tangannya, manusia berbaju emas yang berdiri serta empat orang manusia berkerudung emas lainnya segera memberi hormat, kemudian dengan kecepatan luar biasa mereka keluar dari kuil dan menuju kekota dan sekitarnya untuk melakukan pengejaran terhadap Wong Peng ci.

Waktu menunjukkan kentongan ke dua, Pada kentongan kedua, di dalam kuil diluar kota terjadi peristiwa seperti diatas, Pada kentongan ketiga, didalam kamar yang disewa Wong Pong ci dalam rumah penginapan telah terjadi pula suatu peristiwa.

Wong Peng ci yang bernyali besar tapi cerdik itu ternyata tidak kabur terlalu jauh, dia telah balik kembali kedalam kamar penginapannya.

Dengan suatu gaya amat santai dia membuka pintu kamarnya, kemudian menguncinya dari dalam.

Dalam kamar ada cahaya lentera, tak bisa disangsikan lagi, sipelacur masih berada disitu.

Betul juga, tatkala Wong Peng ci mendorong pintu dan berjalan masuk, pelacur itu segera menyambut kedatangannya.

Sambil tertawa Wong Peng ci segera membimbing pelacur itu untuk duduk, kemudian baru ujarnya.

"Jangan terlalu sungkan, sudah kenyangkah kau?"

"Tadi ada orang mencari tuan..."

Kata pelacur itu dengan suara aleman. Wong Peng ci manggut-manggut, selanya.

"Aku tahu, ada orang ingin meminjam uang, dia masih hutang dan belum dibayar, sudah berapa kali berhutang terus-tadi aku memang sengaja keluar untuk menghindarinya, andaikata dia datang lagi nanti, bilang saja kalau aku pulang"

"Tuan, apakah kau tak memanggil pelayan untuk membereskan barang-barang disini?"

Kembali Wong Peng ci menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tak menjadi soal, biar diberesi besok saja"

Pelacur itu mengerling sekejap kearah Wong Peng ci, kemudian katanya lagi.

"Tuan, apakah kau tidak suruh dia menyiapkan air untuk membersihkan badan?"

Wong Peng ci segera tertawa.

"Coba kau tebak, barusan apa yang telah ku lakukan? Haaahhh... haaah... haaahh..."

Seraya berkata Wong Peng ci segera mengunci pintu dan melangkah masuk kedalam. Sambil berjalan diapun berkata.

"Bila kau hendak masuk nanti, jangan lupa memadamkan lentera!"

Pelacur itu tidak mengiakan tapi segera memadamkan lampu lentera yang menerangi tempat itu.

Matahari sudah berada diatas awang-awang, sehari kembali sudah lewat.

Tiada orang yang datang mencari Wong Peng ci lagi, tampaknya ke lima orang manusia berkerudung emas itu tak berhasil menemukan jejak Wong Peng ci semalam sehingga terpaksa mengalihkan perhatiannya untuk mengejar Sun Tiong lo.

Ketika Wong Peng ci bangun dari tidurnya, segala sesuatunya telah dipersiapkan pelacur itu, ternyata diapun menghadiahkan dua tahil perak untuk pelacur itu bahkan berpesan kepadanya agar malam nanti datang untuk melayani dia.

Kota tersebut tidak begitu kecil, tapi bukan suatu kota yang besar, jadi penghasilan seorang pelacur dua tahil semalam bukankah suatu yang bisa terjadi, mustahil jika malam nanti dia tidak datang lagi.

Sepeninggal pelacur itu, Wong Peng ci segera memanggil pelayan untuk meminta uang yang dititipkan di kasir, kemudian dia suruh pelayan membelikan pakaian yang cocok dua stel dan membeli sepatu.

Setelah itu dia berpesan kepada pelayan, seandainya ada orang yang bertanya tentang dia, katakan kalau semalam telah pergi, sebagai penutup mulutnya dia menghadiahkan dua tiga hun perak untuk pelayan tersebut....

Selesai bersantap siang, Wong Peng-ci lantas tidur siang sampai pintu kamarnya diketuk orang.

Ternyata hari sudah gelap kembali, dengan mata masih mengantuk Wong Peng ci bangun untuk membukakan pintu.

Pintu dibuka, pelayan datang menghantarkan pakaiannya, setelah Wong Peng ci menerima pakaian dan sepatu, pelayan itu telah mengundurkan diri dan pintu kamar siap ditutup, mendadak terjadilah suatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaan.

Ada dua orang yang berpakaian orang dusun sedang mengikuti dibelakang pelayan lain berjalan ke dalam penginapan dan melewati ruangan tersebut, secara kebetulan mereka melihat diri Wong Peng ci.

Salah seorang diantara kedua orang itu hendak bersembunyi tapi yang lain segera menarik tangannya, kemudian setelah memperhatikan Wong Peng ci sekejap, sambil tertawa dingin dia membuka pintu dan masuk kedalam ruangan.

Mendengar suara pintu dibuka, Wong Peng ci segera berpaling, dengan cepat diapun berdiri bodoh.

Ternyata dua dua orang itu tak lain adalah Gui Sam tong dan Cu San poo...

Wong Peng ci memang tak malu disebut orang pintar, sambil tertawa segera katanya kepada sipelayan.

"Siau ji ko, kedua orang ini adalah sahabat ku, cepat siapkan air untuk mencuci muka cepat-cepat..."

Kemudian setelah berhenti sejenak dan memperhatikan wajah Gui Sam tong dan Cu San poo, katanya lebih jauh.

"Selain itu belikan dua stel pakaian dan dua pasang sepatu, nih ambil uangnya."

Seraya berkata dia mengeluarkan uang dan diserahkan kepada pelayan tersebut. Pelayan itu hendak menerima uang tersebut tapi Cu San poo segera mencegah lalu berkata.

"Tak usah membuang uang dengan percuma, ambilkan saja air untuk cuci muka serta air teh."

Sepeninggalan pelayan itu, Cu San poo segera menutup kembali pintu kamar tersebut.

"Saudara Cu, saudara Gui. silahkan duduk!"

Kata Wong Peng ci kemudian dengan sikap hormat. Cu San poo segera tertawa seram.

"Heeh... heehh... heeehh.... benar-benar tidak ketemu dikuil ketemu dinirwana, maaf!"

Sembari berkata dia lantas memberi tanda kepada Gui Sam tong, kemudian dengan langkah lebar berjalan masuk kedalam ruangan.

Setelah duduk, siapapun tidak buka suara, agaknya ada sesuatu yang sedang dinantikan.

Benar juga, menanti pelayan sudah menghantar air untuk mencuci muka serta air teh, Cu San poo baru berkata.

"Bagi orang yang bermusuhan, rasanya jalan didunia ini terlalu sempit, Wong Peng ci, kau tidak merasa terlalu kebetulan bukan?"

Wong Peng ci tidak menjawab pertanyaan ini, sambil menuding ke arah pintu halaman katanya.

"Aku akan pergi mengunci pintu dulu, ada persoalan kita bicarakan belakangan."

"Silakan"

Kata Cu ^an poo sambil tertawa.

"toh akupun tidak kuatir kau bisa Iari!"

Wong Petig ci tidak menjawab dia pergi menutup pintu halaman lebih dulu kemudian baru balik kembali kedalam kamar.

Dengan pandangan dingin Cu San poo memperhatikan semua gerak-gerik dari Wong peng-ci itu, lalu katanya sambil tertawa dingin.

"Hutang piutang diantara kita tentunya sudah sepantasnya untuk dibereskan bukan?"

"Terserah"

Sahut Wong Peng ci acuh tak acuh.

"asal saudara Cu merasa hal itu penting, mau dihitung mari kita hitung!"

"Saudara Cu, ada persoalan lebih baik dibicarakan, ada persoalan lebih baik dibicarakan..."

Buru-buru Gui Sam tong mencegah. Cu San poo sudah mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka ujarnya kepada Gui Sam tong sambil tertawa.

"Tak usah kuatir Gui tua, andaikata bocah keparat ini masih memiliki ilmu silatnya, bayangkan saja, masa dia akan bersikap begitu sungkan terhadap kita?"

Mendengar perkataan itu, Gui Sam-tong segera menjadi paham kembali, dengan cepat dia melompat bangun seraya berseru.

"Haa., haa haa ha... Wong Peng ci, kau juga akan menjumpai keadaan seperti ini!"

Sambil berkata dia siap maju ke depan untuk turun tangan, tapi perbuatan mana segera dihalangi Cu San poo.

Setelah berhasil menghalangi Cui Sam tong, Cu San poo kembali berpaling kearah Wong-Peng ci dan berkata sambil tertawa.

"Bagaimana, kembalikan dulu lencana berkepala harimau ku itu! "Benar"

Sambung Gui Sam tong.

"masih-ada lencana kepala macan kumbang ku.."

Tak menanti Gui Sam tong menyelesaikan kata katanya, dengan cepat Wong Peng ci menukas.

"Maaf, Kedua buah lencana emas itu sudah diminta kembali oleh pemiliknya!"

Begitu mendengar ucapan tersebut, Gui Sam tong dan Cui San poo jadi amat terperanjat Secara ringkas Wong Peng-ci lantas mengulangi kembali kejadian yang dialaminya semalam, kemudian ia menambahkan.

"Mau percaya atau tidak terserah pada kalian berdua, sekarang keadaan kita adalah sama, entah siapa saja, bila berjumpa lagi dengan si setan pengejar nyawa niscaya jiwanya bakal melayang sekalipun tidak mampus sekarang akhirnya juga bakal mampus."

"Bila kalian berdua tak bisa memandang hal ini lebih terbuka, dan bersikeras hendak membunuhku lebih dulu, akupun tak berdaya apa-apa, cuma... tentu saja aku tak akan menyerah dengan begitu saja untuk menerima kematian, dengan segala kemampuan yang dimiliki aku pasti akan beradu jiwa."

"Bila sampai beradu jiwa, kemungkinan besar kita bertiga akan sama sama terluka, sekalipun aku mati, cepat atau lambat kalian berdua juga bakal terjatuh ketangan si "loji", nah saat itu kematian kalian pasti akan bertambah mengerikan !"

Cu San-poo berpikir sebentar, kemudian katanya.

"Ucapanmu itu memang tak salah, tapi dendam sakit hati atas perbuatanmu yang telah memunahkan kepandaian silatku."

"Lebih baik kita tak usah menyinggung soal itu, waktunya sudah berbeda."

Tukas Wong Peng-ci cepat.

"Hm, bagaimana bedanya ?"

Dengus Cu San-Poo. Sambil tertawa Wong Peng ci berkata.

"Waktu itu saudara Gui hadir di arena dan bisa menjadi saksi, ketika itu kau bersikeras hendak membunuh saudara Gui, maka hal ini memaksa saudara Gui harus bertarung mati-matian melawan dirimu, ketika dia hampir kehabisan tenaga, aku baru turun tangan."

"Benar, kau toh yang turun tangan lebih dulu!"

Tukas Cu San poo lagi.

"Dapatkah aku berpeluk tangan belaka ? Saat itu kau mengangkat pedangmu tinggi-tinggi sedang saudara Gui sudah tak berdaya lagi untuk menghindarkan diri, jika aku tidak turun tangan, saudara Gui pasti sudah mati seda ri tadi, apakah sekarang dia masih dapat duduk enak-enak disini..?"

Cu San poo segera terbungkam dibuatnya, sedangkan Gui Sam tong manggut-manggut seraya berkata.

"Cu tua, apa yang dia katakan memang merupakan suatu kenyataan !"

Saat itu, Cu San poo teringat lagi akan satu hal, dia segera menegur lebih jauh.

"Sekalipun benar, mengapa pula kau memunahkan kepandaian yang kumilikinya?"

Wong Peng ci tertawa lebar.

"Waktu itu kau adalah utusan khusus dari Lencana Lok hun pay, apakah aku dapat mengampuni dirimu?"

Serunya.

"Ya, betul Cu tua, waktunya memang berbeda, hal ini tak bisa salahkan dia."

Sekali lagi Gui Sam tong menyambung. Kontan saja Cu San poo dibikin terbungkam dalam seribu bahasa, tapi ingatan lain dengan cepat melintas dalam benaknya, kepada Gui Sam tong katanya.

"Gui tua, bagaimana pula dengan perbuatannya yang telah memunahkan kepandaian silatmu?"

Gui Sam tong berpikir sebentar, kemudian merasa pertanyaan itu benar, maka serunya kepada Wong Peng ci dengar gusar.

"Coba kau katakan, mengapa kau berbuat begini?"

Wong Peng ci masih tetap tertawa.

"Mengapa kau harus bertanya kepadaku? Sebelum saudara Cu munculkan diri, kau begitu berhasrat untuk membunuh aku, untung aku tak sampai mati seandainya kau yang dihadapkan pada keadaan seperti itu, apa pula yang hendak kau lakukan?"

Membayangkan ucapan tersebut, kontan saja Gui sam tong dibikin terbungkam. Wong Peng ci segera mengalihkan kembali pembicaraannya, ia berkata lebih jauh.

"Lagipula bila aku tidak menolongmu, kau sudah mati diujung pedang saudara Cu. pada hal kau sebelumnya hendak membunuhku, dan aku malah menolong dirimu, apakah perbuatanku ini salah?"

Gui Sam kui segera berputar otak dengan keras, tapi pikir punya pikir ia tak berhasil menemukan suatu kata yang tepat untuk membantah perkataan dari Wong Peng ci.

Cu San-poo tahu kalau mereka memang kekurangan alasan untuk bertindak, terpaksa mewakili Gui Sam tong katanya.

"Kalau memang begitu, mengapa pula kau bersikeras untuk memunahkan ilmu silat dari Gui tua?"

"Soal ini gampang sekali, jalan darahku sudah ditotok orang dan tenaga dalamku pasti akan punah. andaikata aku tidak buru-buru memunahkan dulu kepandaian silat yang dimiliki saudara Gui, hal mana berarti saudara Gui akan tetap memiliki kepandaian sepenuhnya, andaikata dia tetap bertekad untuk membunuhku, apa pula yang harus kulakukan?"

"Mana mungkin aku akan membunuh dirimu lagi?"

Bantah Gui Sam tong dengan cepat. Wong Peng-ci segera menghela napas panjang.

"Aaaii... sekarang, tentu saja aku percaya kalau kau tak akan membunuhku lagi, tapi waktu itu aku mana berani berpikiran demikian? Apalagi berbicara soal kepandaian, aku pun berkepandaian paling rendah..?"

Cu San-poo tidak berbicara lagi, Gui Sam tong juga tidak mengatakan apa-apa. Wong Peng ci segera menghela napas panjang, katanya lebih jauh.

"Berbicara pulang pergi, kesemuanya ini adalah akibat ulah dari Lok hun pay si tua bangka itu!"

Gui Sam tong manggut-manggut, dia menganggap jawaban tersebut memang paling tepat. Kemudian terdengar Wong peng ci berkata lebih jauh.

"Selama banyak tahun ini, kita selalu keluar masuk antara hidup dan mati, kita selalu jual nyawa baginya, tapi sejak awal sampai akhir, entah betul atau salah, dia selalu mengirimkan orang untuk mengawasi gerak gerikmu."

"Andaikata peristiwanya seperti apa yang kita alami sekarang, selain muncul penyakitnya juga kepandaian kita tak sanggup menandingi orang, apa pula yang bisa kita katakan? Tapi dia tak ambil perduli dan tanpa pandang bulu segera memerintahkan untuk melakukan pembunuhan lebih dahulu."

"Seandainya majikan yang bijaksana, maka andaikata mengalami peristiwa semacam ini, dia pasti akan menghibur dan mengajukkan kita agar jangan putus asa, saat itu kami pasti akan semakin berterima kasih kepadanya, bila bertemu urusan lain, dapatkah kita menampik untuk tidak menjual nyawa kepadanya?"

Ucapan mana segera disambut oleh Gui Sam tong dan Cu San poo dengan helaan nafas dan anggukan kepala. Setelah berhenti sejenak. Dengan bersungguh hati Wong Peng ci berkata lebih jauh.

"Sekarang, nasib yang kita alami sama, sekalipun ilmu silat yang kita miliki masih utuh juga belum bisa meloloskan diri dari cengkeraman maut Lok hun pay, apalagi sekarang kita sudah menjadi manusia biasa yang tak berkepandaian apa-apa."

"Tentang tindakanmu yang memunahkan kepandaian silat kalian berdua, aku mengaku hal itu merupakan suatu kesalahan, entah hukuman macam apapun yang hendak kalian berdua jatuhkan kepadaku, akan kuterima hukuman tersebut dengan senyuman"

Dengan cepat Cu San poo menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Sudahlah"

Dia berkata.

"yang sudah lewat biarkan lewat!"

Gui Sam tong lebih mantap lagi sikapnya, dia segera berseru dengan lantang.

"Wong Iote, tak usah menyinggung soal ini siapa yang menyinggung dia adalah telur busuk."

Begitulah, tiga orang persilatan yang kehilangan ilmu silatnya, dari musuh kini berubah menjadi teman.

Pertama-tama Wong Peng-ci memanggil si pelayan lebih dulu untuk memesan sayur dan arak.

Begitu sayur dan arak telah dihidangkan Wong Peng-ci baru berpesan kepada pelayan agar pelacur yang semalam dijanjikan tak usah datang lagi.

Untuk hal ini, Gui sam tong dan Cu San poo sempat menggoda Wong Peng ci habis-habisan.

Akhirnya ketiga orang itu melanjutkan perjanjiannya sambil membicarakan hal-hal yang santai.

Mula-mula Wong Peng ci yang bertanya dulu kepada Cu San poo dan Gui Sam-tong apa rencana mereka selanjutnya.

Dengan kening berkerut Gui Sam tong menjawab.

"Aku dan Cu tua sebetulnya berniat untuk pulang sejenak!"

"Pulang?"

Dengan nada tercengang dan setengah tidak percaya Wong Peng ci berseru. Cu San poo tertawa getir.

"Kalau tidak pulang mana mungkin? Aku dan Cu tua kan tak punya sepeser uangpun!."

Menyinggung soal uang, Wong Peng ci menjadi berdiri bodoh.

Betul saat ini dia masih mempunyai belasan tahil perak, andaikata untuk hidup berhemat mungkin dia sendiri masih bisa hidup setengah tahunan, tapi jika untuk beaya hidup tiga orang, dua bulan sudah akan ludas.

Lok hun pay tak pernah lupa memberikan uang kepada mereka, entah perak, entah emas.

mereka bertiga paling tidak masing-masing memiliki tiga lima ratus tahil, kalau di jumlahkan benar-benar merupakan sejumlah harta kekayaan yang tidak kecil.

Tapi Lok hun pay memang sangat lihay, seluruh uang perak dan uang emas yang di miliki seseorang, kecuali tiga lima tahil yang boleh dibawa dalam saku, sisanya harus tetap disimpan dalam lemari diatas gunung.

Bila sedang bertugas luar, semua biaya menjadi beban Lok hun pay dan telah diatur dengan sempurna, tak pernah mereka risaukan tentang soal ini, tak nyana mereka harus mengalami nasib seperti hari ini, boleh dibilang peristiwa tersebut merupakan suatu kejadian yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Wong Peng ci berpikir sejenak, kemudian katanya.

"Benar, kita memang harus pulang ke gunung mumpung loji tidak berada di rumah..."

"Aku dan lo Gui pun berpendapat demikian, justru karena itulah aku baru berani pulang!"

Sela Cu San poo.

"Dari sembilan orang pengganti Loji, sekarang tinggal enam orang, padahal ilmu silat yang dimiliki Sun Tiong lo masih berada jauh diatas kepandaian loji, karena itu kuduga pada saat ini loji tak akan punya waktu untuk pulang gunung.

"Cuma kepandaian silat yang kita miliki sekarang telah punah, kalau di hari biasa tentu saja kita tak usah menguatirkan soal apa-apa, tapi sekarang, bila rahasia kita sampai ketahuan, sekalipun otot kawat balong besi, mungkin kita cuma bisa pergi tak akan dapat kembali lagi!"

"Tak usah kuatir"

Sela Gui Sam-tong sambil tertawa cekikikan.

"aku sudah mempunyai persiapan yang matang."

Maka apa yang pernah diungkapkan kepada Cu San-poo, sekali lagi diutarakan kepada rekannya.

Jalan pemikiran Wong Peng ci memang lebih tajam dari pada rekan-rekannya, mendengar rencana tersebut dia segera bertepuk tangan sambil memuji.

"Bagus sekali, itu berarti kita boleh segera berangkat pulang"

Setelah berhenti sejenak, kembali dia menambahkan.

"Cuma untuk berhati-hatinya, lebih baik kita bertindak dengan suatu penyusunan rencana yang matang!"

Cu San poo pun merasa hal ini tepat sekali, maka mereka bertiga segera berunding kembali untuk menyusun rencana baru.

-ooo0dw0oooTEMPAT ini bukan Bukit pemakan manusia, tapi mirip sekali dengan Bukit Pemakan manusia.

Karena tempat untuk naik gunung sama sekali berbeda dengan tempat yang dahulu pernah dilalui Sun Tiong lo, Bau ji serta Hou cu, seakan-akan antara bukit yang satu dengan bukit yang lain sebetulnya adalah dua bukit yang berbeda.

Cuma yang kebetulan sama adalah setengah hari setelah melewati jalan masuk bukit dan membeloki sebuah tebing, pemandangan yang dijumpai persis sama dengan keadaan dibukit pemakan manusia dulu, yakni barisan lentera yang pernah dijumpai Sun Tiong lo dulu.

Tapi sekarang hari masih terang benderang tentu saja tidak di jumpai barisan lentera.

Sekilas pandangan, diujung jalan sana pun terdapat sebuah perkampungan seperti perkampungan keluarga Beng milik Beng Liau huan, yang dimaksudkan sama tentu saja dipandang dari luarnya.

Sedangkan mengenai bagian dalamnya apakah sama atau tidak, hal ini kurang begitu jelas.

Dibawah cahaya matahari yang terang benderang, tampak tiga orang manusia berkerudung emas berjalan masuk ke atas bukit.

Dibawah sebatang pohon besar mereka segera berhenti, Salah seorang diantaranya segera mengambil segulung tali kecil yang diujungnya berkait kemudian dia berjalan ke belakang pohon di mana disisi pohon tersebut terdapat sebuah gua yang dalam.

Orang itu segera melepaskan tali senarnya ke dalam lubang yang dalam itu dengan kait nya menghadap ke bawah.

Tampak dia menggerakkan tangannya be berapa kali, kemudian sambil menggetarkan tangannya dia menarik kembali senarnya keatas.

Tak lama kemudian dia telah berhasil menarik keluar sebuah bungkusan kecil yang terbuat dari kertas minyak tebal dari balik lubang tersebut.

Ketika buntalan itu terbuka, ternyata didalamnya terdapat dua buah lencana Lok hun pay berkepala naga.

Dari lencana emas tersebut, kita dapat segera menduga siapa gerangan ketiga orang manusia berkerudung emas itu.

Mereka tak lain adalah Gui Sam tong, Cu San-poo dan Wong Peng ci.

Dari dulu memang sudah terkenal sepatah pepatah kuno yang mengatakan begini.

Manusia mati karena harta, burung mati karena makanan.

Sepandai-pandainya seseorang, siapakah manusia didunia ini yang tidak menyukai harta ?

Kepandaian silat yang dimiliki Wong Peng ci, Cu San poo dan Gui Sam tong telah punah sama sekali, tapi mereka toh menyaru kembali kedudukannya semula, dengan perbandingan sepuluh lawan satu mereka berusaha untuk mengambil kembali tabungan mereka selama banyak tahun ini.

Seandainya kepandaian silat yang mereka miliki masih utuh, dengan mengandalkan kepandaian tersebut mereka masih bisa merampok atau mencuri rumah-rumah orang kaya, mereka pun tak usah merisaukan kehidupan dikemudian hari.

Tapi sekarang mereka tak punya apa-apa lagi, sebab itu terpaksa mereka harus datang menyerempet bahaya.

Setelah lencana emas berhasil diperoleh, Gui Sam tong segera menyembunyikannya ke dalam saku, kemudian setelah menyimpan kembali pancingan dan senarnya, bersama Wong Peng ci dan Cu San poo, mereka melanjutkan perjalanannya naik gunung.

Mereka baru berhenti lagi setibanya ditempat yang bisa melihat jelas perkampungan.

Gui San tong segera menuju kedepan sebuah batu, merogoh kebalik batu itu dan membunyikan keleningan.

Tidak lama kemudian muncullah dua orang lelaki berkerudung hitam.

Ketika Gui Sam tong itu mengangkat tinggi-tinggi lencana emasnya, dua orang lelaki berkerudung itu segera menunggu perintah dengan sikap yang hormat.

Dengan suara angker dan dalam, Gui Sam-tong segera memerintahkan pada mereka untuk menyiapkan tiga ekor kuda cepat, menyiapkan seribu tahil emas murni yang di simpan kedalam tiga buah peti besi dan segera mengirim ke mulut gunung.

Dua orang lelaki berkerudung itu mengiakan dan segera berlalu, maka mereka bertiga lantas membalikkan badan dan berjalan balik melalui jalan semula, tapi hatinya berdebar keras kuatir menjumpai hal-hal yang sama sekali di-luar dugaan...

Belum lagi mereka bertiga berjalan keluar dari daerah pegunungan, mendadak dari arah belakang berkumandang suara derap kaki kuda.

Dengan perasaan berdebar bercampur cemas ke tiga orang itu melanjutkan langkahnya dengan sangat berhati-hati, mereka tak berani menunjukkan sikap yang gelisah atau cemas.

Tak selang berapa saat kemudian, derap kaki kuda itu berhenti di belakang mereka, dalam keadaan begini terpaksa ke tiga orang itu membalikkan badannya.

Ternyata orang yang menghantar emas, kini telah bertambah dengan seorang lagi.

Orang yang muncul bersama mereka itu adalah seorang manusia berbaju putih, berkaos putih, sepatu putih dan berkain kerudung putih pula.

Orang berbaju putih itu menunggang kuda berwarna putih, gayanya benar-benar sangat angker.

Orang berbaju putih itu yang pertama-tama melompat turun dari kudanya, sesudah menjura kepada ke tiga orang itu, diapun berkata.

"Karena mendengar kabar yang mengatakan kehadiran lencana naga, aku sengaja datang untuk memberi sambutan."

"Apakah kau hendak memeriksa lencana ini"

Kata Gui Sam tong sambil mengeluarkan lencana naga tersebut.

"Aku tak berani"

Jawab orang berbaju putih itu sambil menggoyangkan tangannya berulang kali.

Kemudian setelah berhenti sebentar, sorot matanya dialihkan ke atas lencana tersebut, lalu setelah mengawasinya berapa saat, kembali dia berkata.

"Harap uang emasnya di periksa !"

Sambil berkata, orang berbaju putih itu mengulapkan tangannya.

Dua orang lelaki kekar berbaju hitam segera munculkan diri sambil membawa tiga buah peti besi, peti itu dibuka ditepi jalan lalu di persembahkan ke hadapan Gui Sam tong untuk diperiksa isinya.

Gui Sam tong segera memeriksa isi peti tersebut dengan seksama, kemudian manggut-manggut tanda setuju.

Lelaki berbaju hitam itu segera mengunci kembali peti besi mana dan diletakkan keatas punggung tiga ekor punggung kuda yang kosong, kemudian setelah menjura mereka segera mengundurkan diri ke samping.

Gui Sam tong segera memberi tanda kepada Cu dan Wong berdua seraya berseru.

"Silahkan saudara berdua, waktu yang tersedia amat terbatas mungkin kita tak sempat memburu ke situ !"

Wong peng ci dan Cu San poo segera memberi tanggapan dan cepat naik keatas pelana.

Sementara itu, si manusia berkerudung putih itu cuma berdiri mengawasi dari sisi arena, walaupun paras mukanya ditutupi oleh kain kerudung, akan tetapi Gui Sam tong tahu, sudah pasti manusia berkerudung putih itu sedang mengawasi mereka bertiga, dengan penuh perhatian.

Sebab itu Gui Sam tong merasakan hatinya kebat-kebit tak teruan, dia kuatir Cu San-poo dan Wong Peng ci menunjukkan suatu pertanda yang akan merugikan lawan.

Untung saja Wong Peng-ci dan Cu San poo bertindak hati-hati, ketika naik kuda gerak gerik mereka nampak amat santai.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** TAPI, setelah Wong Peng ci dan Cu San-poo naik keatas kuda dan Gui Sam tong hendak naik keatas pelana kudanya, mendadak manusia berkerudung putih itu berkata kepada Gui Sam tong.

"Aku ingin turun gunung bersama-sama kalian bertiga."

Gui Sam tong berpaling, masih melanjutkan gerakannya naik keatas kuda, dia bertanya.

"Mau ke mana ?"

"Ada urusan yang maha penting hendak di sampaikan kepada majikan."

"ltu berarti harus menuju ke selat Wu-shia dan tiap hari menempuh tiga ratus li berarti dua hari kemudian baru bisa berjumpa dengan majikan, soal-soal lainnya tentu kau bisa melakukannya bukan"

Kata Gui Sam tong dingin.

"Benar !"

Jawab manusia berkerudung putih itu dengan hormat. Sesudah berhenti sejenak, dengan suara rendah kembali dia berkata.

"Tolong tanya tujuan dari kepergian kalian bertiga..."

Belum habis dia berbicara, Gui Sam tong telah membentak dengan suara nyaring.

"Kau benar-benar ingin bertanya?"

"Aku tidak berani."

Buru-buru manusia berkerudung putih itu memberikan penjelasan.

"aku hanya ingin..."

"Majikan tak nanti akan menanyakan persoalan ini kepadamu"

Tukas Gui Sam tong sambil mendengus.

"bila kau berani menyinggung persoalan ini, kuanjurkan kepadamu sepanjang jalan lebih baik pikirkan dulu jawabnya yang tepat, dari pada... hmmm... hmm..!"

Nada ucapan semacam itu memang amat cocok dengan kedudukan yang dipangkunya sekarang.

Oleh karena itu, manusia berkerudung putih itu tak berani menanggapi lebih lanjut.

Sekali lagi Gui Sam tong mendengus dingin, katanya lebih jauh.

"Jangan kau anggap setelah mengenakan pakaian berwarna putih, maka kau dapat melindungi segala sesuatunya!"

Berbicara sampai duitu, dia tertawa dingin tiada hentinya, kemudian sambil menarik tali les kuda, dia berjalan lebih dahulu dari situ.

Wong Pengci dan Cu Sam poo berdua pun menyesuaikan diri dengan kedudukannya sekarang tak mengucapkan sepatah katapun, mengikuti dibelakang Gui Sam tong, mereka menjalankan kudanya pelan-pelan, meninggalkan tempat tersebut.

Setelah Gui Sam tong bertiga pergi jauh, tiba-tiba manusia berkerudung putih itu berpaling kearah dua orang lelaki kekar yang berada dibelakang sambil berpesan.

"Pulanglah dulu kalian berdua, segala sesuatunya harus berhati-hati, lepaskan si "awan kelabu", katakan ada urusan hendak di laporkan kepada majikan, katakan pula aku telah turun gunung, tak lama kemudian akan memberikan laporannya sendiri !"

Kedua orang lelaki kekar itu mengiakan dengan hormat, manusia berkerudung putih itupun segera mencemplak kudanya dan berlalu dari tempat itu.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BEBERAPA sosok bayangan manusia tampak berkumpul dibawah setitik cahaya lampu yang redup.

Sun Tiong lo bersama Hou ji.

Bau ji dan nona Kim sedang berunding bagaimana caranya untuk mengatur kehidupan Beng Liau-huan dan pelayannya selanjutnya.

Hou ji tahu kalau masalahnya sulit, maka dia berkata lebih dulu.

"Persoalan ini tidak mudah untuk diselesaikan"-katanya.

"apa lagi sepasang kaki Beng cengcu telah cacad, selain gerak-geriknya kurang leluasa, untuk mcnghindarkan diri dari pengejaran lawan pun tidak mudah untuk menyembunyikan diri"

"Bukan cuma terbatas akan dua hal itu saja"

Kata Sun Tiong lo sambil menghembuskan napas panjang.

"yang lebih penting lagi, ada kalanya kami tak bisa membagi orang untuk memperhatikan mereka berdua, tapi kitapun tak bisa berpeluk tangan belaka tanpa mengurus keadaan mereka."

"Mengapa tidak kita cari kan suatu akal untuk mencari tempat pondokan yang aman kedua orang itu?"

Tanya nona Kim.

"Justru persoalan itulah yang hendak kita rundingkan pada malam ini!"

Seru Sun Tiong Io. Bau ji berpikir sejenak, kemudian.

"Tapi kita harus mencarikan tempat pemondokan dimana barulah aman dari segala gangguan apapun?"

Hou ji mengerutkan dahinya kencang-kencang, dia sedang termenung sambil memikirkan persoalan ini dengan serius.

Nona Kim tak perlu repot-repot untuk memutar otak, karena dia baru terjun ke dalam dunia persilatan, tiada tempat baik yang bisa dia usulkan kepada orang.

Sun Tiong lo sendiripun kehabisan akal untuk mencarikan suatu tempat yang aman bagi Bong Liauhuan dan pelayannya, sebab itu dia duduk dengan kening berkerut.

Tiba-tiba Hou ji berseru, serunya cepat.

"Aaaaa, aku berhasil menemukan suatu tempat yang aman untuk mereka berdua."

"Dimana?"

Seru Sun Tiong lo girang.

"Tempat itu adalah tempat yang hendak kita tuju sekarang."

"0ooh. .. maksudmu dua belas puncak dari bukit Wu san?"

"Bukan."

Dengan cepat Hou ji menggelengkan kepalanya.

"maksudku keluar kota Seng tok"

"Kau maksudkan markas besar perkumpulan pengemis di hutan bambu Ci tiok lim ?"

Seru Sun Tiong lo lagi dengan perasaan girang. Hou ji segera tertawa.

"Siau liong, bagaimani pendapatmu tentang tempat yang kuusulkan itu? Cukup aman bukan?"

Sun Tiong lo segera manggut-manggut "Yaa, tempat itu memang merupakan tempat yang paling cocok, cuma suhu dia orang tua tidak berada di dalam markas besar."

Hou ji segera tertawa terkekeh.

"Haaahhh... haaah... terpaksa kita mesti setengah menggertak dan setengah memaksa!"

"Apa yang kau maksudkan sebagai setengah menggertak dan setengah memaksa itu?"

Tanya nona Kim dengan wajah tertegun. Kembali Hou ji tertawa terkekeh-kekeh.

"Aku sudah dicoret namanya oleh suhu dari perkumpulan kaum pengemis, tapi aku percaya suhu tak akan mengabarkan kejadian ini pada seluruh anggota perguruan lainnya, oleh karena itu aku masih bisa memanfaatkan tingkat kedudukanku dalam perkumpulan untuk menyelesaikan persoalan ini...."

"Cuma dengan kedudukanku sekarang, masih selisih sedikit bila ingin menitipkan seseorang kedalam perkumpulan oleh karena itu aku terpaksa harus mengatakan kalau hal ini merupakan perintah suhu, nah, cara semacam ini bukankah cocok sekali kalau dikatakan sebagai setengah menggertak, setengah memaksa?"

Selesai mendengarkan keterangan tersebut, semua orang tidak bisa menahan rasa gelinya lagi dan tertawa terbahak-bahak.

Maka semua orangpun mengambil keputusan untuk tak memperdulikan lagi pengejaran musuh di sepanjang jalan.

Selesai berunding masing-masing orang kembali kekamarnya masing-masing untuk beristirahat sebagai persiapan keesokan harinya melanjutkan perjalanan.

Merekapun menerangkan pula hal ini kepada Beng Liau huan berdua agar mereka bersiap.

Sewaktu mereka bersama-sama merundingkan persoalan itu tadi, Beng Liau huan dan pelayannya pun sedang merundingkan pula masalah tersebut.

Waktu itu Beng Liau huan setengah berbaring diatas pembaringan sedangkan Beng Seng duduk disisinya.

Setelah menyerahkan cawan air tehnya kepada Beng Seng, Beng Liau huan menghela napas panjang, kemudian berkata.

"Aku sungguh merasa menyesal mengapa mengikuti mereka meninggalkan bukit pemakan manusia !"

"Loya, terlalu banyak yang kau pikirkan?"

Dengan cepat Beng Liau huan menggeleng.

"Sewaktu aku ingin meninggalkan bukit tempo hari, maksudku ingin cepat-cepat membalas dendam atas sakit hati yang telah menimpa diriku, tapi setelah meninggalkan Bukit pe makan manusia, aku baru tahu bahwa langkah ku akan semakin sulit bahkan setiap detik setiap saat harus memohon perlindungan orang lain."

"Selama budak berada disini, apa lagi yang loya risaukan?"

Hibur Beng Seng cepat, Beng Liau huan tertawa getir.

"Kau sendiripun lemah tak bertenaga, kekuatan untuk membunuh seekor ayam pun tidak dimiliki, apalagi usiamu pun sudah menanjak semakin tua, sebaliknya Sun kongcu bersaudara dan Hou hiap tersebut masing-masing mempunyai dendam berdarah yang harus dibalas, jika kini bertambah lagi dengan kita berdua, sesungguhnya kehadiran kita hanya akan merepotkan mereka saja, aaaaii..."

Beng Seng tidak berbicara, dia tak dapat membantah apa yang dikatakan merupakan suatu kenyataan, Yaa, bila kenyataan telah berada didepan mata, apa pula yang bisa dikatakan?

Tak selang berapa saat kemudian, kembali Beng Liau huan berkata.

"Beng Seng, kita harus mencari akal yang baik untuk mengatasi masalah yang amat pelik ini!"

Beng Seng manggut-manggut.

"Budak akan menuruti perkataanmu !"

Setelah berpikir sebentar, Beng Liau huan berkata.

"Aku memutuskan untuk berangkat malam ini juga, tinggalkan saja sepucuk surat pemberitahuan pada mereka!"

Beng Seng kembali tertawa getir.

"Loya... seandainya di tengah jalan bersua lagi dengan musuh besar kita, maka..."

Beng Liau huan segera menghela napas dan tukasnya.

"Persoalan sendiri harus dihadapi dan diatasi oleh kemampuan sendiri, tidak sepantasnya btia kita mesti merepotkan orang lain!"

"Walau ucapan mana betul, tapi kita berdua sudah tua dan sama sekali tak berdaya..."

Beng Liau huan menyapu sekejap wajahnya Beng Seng, dan menukas cepat.

"Keputusan aku telah bulat, Cepat siapkan kertas dan pena!"

Beng Seng berpikir sebentar dan tidak berbicara lagi, dia lantas mempersiapkan kertas dan pena.

Ketika Sun Tionglo menemukan surat tersebut dan selesai membacanya, dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

Hou ji dan nona Kim serta Bauji pun hanya bisa tertawa getir tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Tiada jalan lain lagi bagi mereka, kecuali melanjutkan perjalanan sambil berusaha menemukan kembali jejak Beng Liau huan berdua.

Maka selesai membayar rekening penginapan Sun Tiong lo dan nona Kim berangkat dalam satu rombongan yang lain, seorang berangkat ketimur, yang lain berangkat kebarat dengan tujuan menemukan jejak Beng Liau-huan berdua.

Mereka berjanji selewatnya malam hari nanti, mereka akan bersua kembali di kota bukit tersebut.

Tempat mereka berpisah tidak lain adalah didepan rumah penginapan kecil tersebut.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** SETELAH mempunyai bekal beribu uang emas murni dan tiga ekor kuda, Wong Peng ci, Cu San poo dan Gui Sam tong pun memiliki keberanian yang baru untuk melanjutkan hidup baru mereka, sambil membusungkan dada dan semangat yang tinggi mereka lanjutkan perjalanan kedepan.

Pepatah mengatakan Manusia adalah besi, nasi adalah baja, hal ini melukiskan kalau manusia harus makan sampai kenyang.

Kini, manusia adalah kantung kulit uang adalah semangat setelah ada uang, kantung kulit baru menggelembung besar, semangatpun berkobar.

Dalam waktu singkat ketiga orang itu sudah menempuh perjalanan sejauh lima puluh li lebih sebelum akhirnya turun didalam sebuah hutan untuk beristirahat.

Setelah beristirahat merekapun lantas merundingkan pula masa depan mereka.

Pertama-tama Wong Peng ci yang berkata lebih dahulu, ujarnya.

"Saudara berdua, bagaimana dengan kita selanjutnya."

Persoalan apakah yang dimaksudkan? Meski tidak dijelaskan secara terang-terangan, akan tetapi Gui Sam-tong dan Cu San-poo mengetahui dengan amat jelas.

"Aku rasa pertama-tama kita harus mencari rumah penginapan lebih dulu, kemudian baru membicarakan persoalan lainnya !"

Sela Cu San-poo dengan cepat.

"Tidak, yang penting sekarang adalah mencari tahu lebih dulu, apakah ada orang yang mengintil perjalanan kita kali ini!"

Sela Gui Sam tong dengan wajah serius. Wong Peng ci segera tertawa.

"Tentu saja ada, itu mah peraturan !"

Kata "tentu saja"

Tersebut, kontan saja mengejutkan Gui Sam tong dan Cu San poo sehingga nyaris tubuh mereka menggigil keras.

"Dari mana kau bisa tahu?"

"Inilah peraturan yang telah ditemukan oleh Lok hun loji, orang yang melakukan penguntitan tak nanti berani turun tangan keji terhadap kita sebelum dia berhasil mendapatkan bukti yang nyata, akan tetapi untuk memperoleh data yang selengkapnya hal ini jelas membutuhkan waktu cukup lama !"

"Dimanakah letak alasannya ? Aku ingin mengetahui alasannya yang tepat."

"Hal ini harus kembali pada tugas yang pernah kupangku ketika baru saja naik gunung tempo dulu."

Pelan pelan Wong Peng-ci berkata.

"Ketahuilah, loji memiliki empat ekor burung merpati yang bukan cuma kenal jalan, bahkan dalam satu hari bisa terbang sejauh seribu li."

"Aku percaya si bocah keparat berbaju putih itu pasti sudah menaruh perasaan curiga terhadap kita, cuma dia tak berani turun tangan secara gegabah, itu berarti dia telah melepaskan burung merpati untuk mengadakan kontak langsung dengan loji !"

"Kau mengatakan si bocah berbaju putih itu sudah menaruh curiga terhadap kita, apa bukti nya ?"

Tanya Cu San poo dengan cepat.

"Betul."

Gui Sam-tong menyela pula dengan cepat.

"apa bukti mu sehingga berani mengatakan begitu ?"

"Kita telah melupakan akan suatu hal, dan kelupaan kita tersebut telah membongkar rahasia kita."

"Ooh !"

Gui Sam-tong berseru tertahan.

"Kita sudah kelupaan untuk apa ?"

Wong Peng-ci segera tertawa.

"Kita bertiga tidak seharusnya munculkan diri secara bersamasama diatas bukit. Mendengar perkataan itu. Cu San poo menjadi tertegun dan tak sanggup berbicara Iagi. Sedang Gui Sam tong berpikir sebentar, kemudian mengangguk berulang kali.

"Benar, hal ini memang tidak cocok dengan peraturan yang berlaku selama ini!"

Katanya. Dengan cepat Wong Peng ci menggeleng, katanya lagi.

"Persoalan ini tidak ditetapkan dalam peraturan manapun, sebetulnya tiga orang munculkan diri bersama samapun bukan suatu masalah besar, persoalannya adalah kita seharusnya melakukan suatu pekerjaan yang lebih banyak daripada apa yang telah kau lakukan, tapi sayang kita telah bertindak agak teledor."

Pada saat itulah Cu San poo menyela.

"Betul, mengapa kita tiga orang pengganti berbaju emas harus turun tangan sendiri hanya dikarenakan urusan uang emas sebesar berapa ribu tahil emas, padahal biasanya untuk tugas-tugas semacam itu kita hanya mengutus orang untuk melaksanakannya. Tak heran kalau bangsat muda berbaju putih itu menjadi curiga, ya, kalau begitu sudah pasti dia telah menguntil kita !"

"Kalau memang begitu, kita harus segera meninggalkan tempat ini selekasnya!"

Seru Gui Sam tong sambil melompat bangun secara tiba-tiba. Kembali Wong Peng ci tertawa sambil rentangkan tangannya untuk menghalangi kepergian orang itu, serunya.

"Mau pergi ? Pergi ke mana ?"

"Perduli kemana saja, pokoknya pergi makin jauh meninggalkan tanah pegunungan ini semakin baik !"

Kembali Wong Peng-ci menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Percuma, kita tak mungkin bisa menangkan kecepatan terbang dari burung-burung merpati tersebut !"

"Sekalipun begitu, tapi kita toh tak bisa berpeluk tangan belaka untuk menanti kematian"

"Sekarang pergi berarti kemungkinan mati buat kita akan semakin besar."

"Mengapa begitu ?"

Tanya Gui Sam-tong.

"Sebab orang yang menguntit kita sekarang bukan cuma kepandaian silatnya lihay, dia pasti seorang yang amat cerdas, kita berhenti dia pasti berhenti, kita jalan dia pun ikut jalan. Oleh karena itu bagaimanapun jauhnya kita pergi, hal itu sama sekali tak berguna, begitu beritanya telah datang dan loji menitahkan untuk melakukan pembunuhan, tak sampai sepertanak nasi kemudian, kita semua pasti akaa menemui celaka di tangannya..."

"Itulah sebabnya kita harus cepat-cepat menyingkir dari sini, makin jauh semakin baik!"

Tukas Cu San poo dengan cepat. Kembali Wong Pengci menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Soal pergi tentu saja kita akan pergi, tapi sebelum berangkat kita harus berunding dulu dengan sebaik-baiknya!"

"Soal apa lagi yang perlu dirundingkan ?"

Sambil tertawa Wong Pengci berkata kepada Gui Sam tong.

"Duduklah lebih dulu saudara Gui, mari kita duduk sambil berbincang-bincang."

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Gui Sam tong harus duduk kembali ke atas tanah. Dengan merendahkan nada suaranya, Wong Pengci segera berkata.

"Menurut dugaanku, orang yang menguntit kita sekarang kemungkinan benar adalah si bocah keparat berbaju putih itu..."

"Perduli siapakah dia, yang pasti dia bakal merenggut nyawa kita bertiga..."

Tukas Cti San poo dengan kening berkerut. Wong Pengci memandang sekejap ke arah Cu San poo, kemudian berkata lagi.

"Saudara Cu tak usah gelisah, maksud siaute orang yang menguntit perjalanan kita sekarang cuma satu orang!"

Gui Sam tong masih saja belum memahami apa arti dari pembicaraan itu, katanya pula.

"Berbicara menurut keadaan yang sedang kita hadapi sekarang hanya seorang saja sudah cukup untuk merenggut nyawa kita semua!"

"Saudara Gui"

Kata Wong Peng-ci sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Siau-te bukannya tidak mengerti akan teori tersebut, maksud siaute adalah ingin memberitahukan kepada kalian berdua bahwa orang yang menguntit kita sekarang cuma sorang, padahal kita sekarang bertiga..."

Setelah mendengarkan pembicaraan tersebut sampai disitu, dengan cepat Cu San poo dapat memahami maksudnya, dengan cepat dia menukas.

"Jadi maksudmu, kita akan memisahkan diri untuk melarikan diri ketiga penjuru yang berbeda ?"

Dengan cepat Wong Peng ci mengangguk.

"Benar, benar, sebentar bila rasa lelah kita sudah hilang kita masing-masing naik kuda dan menempuh perjalanan yang berbeda, Aku percaya bocah keparat berbaju putih itu pasti akan dibikin tertegun ditempat persembunyiannya dan tak tahu apa yang mesti dilakukan!"

Gui Sam-tong berpikir sebentar, kemudian mengangguk.

"Yaa, cara ini memang sebuah cara yang bagus sekali."

Katanya. Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi.

"Tapi, kita harus berjumpa lagi dimana ?"

Sebelum Cu San poo sempat menjawab, Wong Peng-ci telah berkata lebih dahulu.

"Bagaimana kalau kita bersua lagi kota Kim leng?"

"Kurang cocok."

Tukas Cu San poo cepat.

"menurut apa yang kuketahui loji mempunyai tempat persembunyian didalam kota Kim leng, Iebih baik jangan kesitu!"

Gui Sam tong berpikir pula sejenak, kemudian katanya.

"Kalau bisa tempat itu bukan suatu tempat yang terlalu diperhatikan orang, tapi tempat itupun jangan kelewat terpencil dari keramaian."

"Ehmm,,."

Wong Peng ci mengangguk.

"sekarang Sun Tiong lo sekalian sedang pergi ke selat Wu shia, itu berarti loji sekalian pasti melewati pula jalanan tersebut, kita harus mengambil arah yang berlawanan bagaimana kalau kota Si ciu saja?"

Dengan cepat Cu San poo dan Gui Sam tong menyatakan persetujuannya dengan cepat.

"Apakah kalian berdua mengenal daerah kota si ciu?"

Tanya Wong Peng ci lagi. Gui Sam tong segera menggeleng, sedangkan Cu San poo juga tidak mengucapkan apa-apa. Sambil berkata Wong Peng ci kembali ber-kata.

"Dijalan raya sebelah selatan kota Si ciu terdapat sebuah rumah penginapan yang memakai merek Ki bok, kita bersua lagi ditempat itu saja, siapa yang sampai duluan harus menunggu sampai yang lain datang, setuju..."

Dengan cepat Cu San poo menggeleng.

"Bagaimanapun kita harus meninggalkan suatu batas waktu tertentu, jadi kitapun tak usah saling menunggu terus menerus."

"Betul"

Sambung Gui Sam poo pula.

"bagaimanapun juga kita toh tak bisa menunggu sepanjang masa disitu?"

Wong Peng ci termenung dan berpikir sejenak, kemudian katanya.

"Kalau begitu begini saja, terhitung mulai besok, seratus hari kemudian merupakan hari yang terakhir kalinya, setelah lewat seratus hari maka orang yang sampai duluan tak usah menunggu lebih jauh!"

Cu San poo serta Gui Sam tong segera menyetujui dan memutuskannya seperti apa yang dikatakan. Menyusul kemudian Wong Peng ci berkata lagi dengan suara setengah berbisik.

"Kita harus naik kuda dan keluar dari hutan bersama-sama, kemudian berpisah secara tiba-tiba tanpa menghentikan kuda barang sedetik pun nah saudara Gui, jangan lupa kau berikan perintah untuk menyebutkan batas waktu dan tempat pertemuan buat kami berdua, agar bocah keparat itu bisa dikelabuhi!"

"Tapi apakah bocah keparat berbaju putih itu bisa terkecoh?"

Tanya Gui Sam tong sambil tertawa.

"Tentu saja, agar keparat itu salah wesel dan harus melakukan perjalanan dengan sia sia..."

"Baiklah, aku sudah mempunyai perhitungan kalian tak usah kuatir."

Kata Gui Sam tong tertawa.

Begitu persoalan telah diputuskan dan waktu istirahat sudah dirasakan cukup, mereka bertiga segera naik kuda dan melanjutkan perjalanan lebih jauh.

Setelah keluar dari hutan, Gui Sam tong segera menurunkan perintahnya dengan lantang.

"Saudara berdua bila urusan selesai, jangan lupa untuk segera berkumpul ke kota Seng tok karena masih ada urusan penting lainnya yang harus segera diselesaikan jangan melanggar batas waktu yang telah ditetapkan. Nah aku akan berangkat lebih dulu, kita bersua kembali di kota Seng tok !"

Wong Peng ci dan Cu San poo mengiakan dengan hormat, kemudian mereka bertiga segera berpisah untuk melakukan perjalanan dengan melalui arah yang berbeda.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***

Jilid 26 TAK LAMA setelah mereka berpisah, seekor kuda putih dengan seorang manusia berkerudung putih munculkan diri dari tempat persembunyian memandang bayangan tubuh Wong Peng ci, Cu San poo dan Gui Sam tong yang berpisah menuju ketiga sasaran yang berbeda, dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

Tak selang berapa saat kemudian, orang berbaju putih itu segera bergumam.

"Perduli amat, asal aku menguntil orang yang memegang lencana naga tersebut, rasanya tak mungkin bisa salah lagi!"

Bergumam sampai disitu, orang berbaju putih tersebut segera mencemplak kudanya dan mengejar di belakang Gui Sam tong.

Belum lama setelah bayangan tubuh manusia berbaju putih itu lenyap dari pandangan raata, dari tempat kejauhan nampak Wong Pengci telah memutar kuda dan berjalan balik.

Memandang ke arah jalanan yang ditempuh oleh Gui Sam-tong, dia menghela napas panjang.

Menyusul kemudian, dengan nada menyesal bercampur minta maaf dia bergumam lagi.

"Saudara Gui, jangan salahkan aku, siapa suruh kau adaiah orang yang membawa lencana perintah ?"

Bergumam sampai disitu, Wong Peng ci segera melarikan kudanya berganti haluan, kali ini dia mengambil jalan kecil menuju ke arah lima propinsi di utara sungai besar.

Cu San poo sendiripun dapat memahami persoalan tersebut setelah menempuh perjalanan sekian waktu, selain merasa terperanjat akan siasat busuk dari Wong Peng ci, diam-diam dia bersyukur atas nasibnya yang terhitung masih mujur.

Oleh karena itu dia lantas menduga kalau janji Wong peng ci untuk bersua lagi di kota Si ciu tak lebih hanya janji kosong belaka, oleh karena itu Cu San poo pun segera berganti haluan pula, bukannya berangkat ke kota Si ciu, kali ini dia membalikkan kudanya menuju ke arah So khong.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** DALAM rumah penginapan kecil, mereka yang keluar rumah untuk mencari jejak Beng Liau huan dan pelayannya telah balik semua dan berkumpul kembali.

Mereka semua hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas, karena usaha pencarian mereka hanya sia-sia belaka.

Dalam keadaan apa boleh buat, kecuali diam-diam berdoa untuk keselamatan Beng Liau huan dan pelayannya, mereka tak berdaya apa-apa lagi.

Maka tanpa sangsi mereka segera melanjutkan perjalanan semula.

Tujuan mereka adalah selat Wu shia, karena Sun Tiong lo bertekad hendak menemukan Su Nio.

Berbicara tentang Su Nio, siapapun tidak mengetahui dia telah bersembunyi di mana, jangan dibilang Sun Tiong lo sekalian, sekali pun Mou Tin hong sendiripun tak berhasil menemukan kabar berita tentang dirinya.

Dia dan Kong It hong yang telah kehilangan ilmu silatnya telah lenyap tidak berbekas semenjak meninggalkan bukit pemakan manusia, dia pernah mengatakan tempat persembunyiannya tak mungkin bisa ditemukan orang.

Nyatanya siapapun tak berhasil menemukan kemanakah dia telah pergi.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** RUMAH penginapan Kui peng dijalan raya sebelah barat kota Seng tok merupakan tempat berkumpulnya Sun Tiong lo sekalian Mereka memborong lima buah kamar kelas satu dihalaman sebelah timur.

Sun Tiong lo menghela napas panjang, dia merasa kecewa sekali.

Nona Kim yang berada di sampingnya cepat menghibur.

"Engkoh Lo, kita tidak usah cemas, marilah kita memikirkan cara yang lain."

"Aku tidak gelisah atau cemas"

Sahut Sun-Tiong lo sambil tertawa getir.

"cuma kecewa saja."

"Kalau dilihat keadaan perkampungan yang porak poranda dan tinggal puing-puing yang berserakan, tampaknya paling tidak sudah ada berapa tahun tak berpenghuni lagi."

Sun Tiong lo manggut-manggut.

"Bukan cuma beberapa tahun saja, mungkin sudah mencapai belasan tahun lamanya."

Nona Kim segera tersenyum.

"Walaupun perkampungan itu sudah hancur lama sekali, akan tetapi tidak sia-sia juga perjalanan kita kali ini."

Katanya. Hou ji dan Bau ji tidak habis mengerti dengan maksud ucapannya itu, dengan hampir berbareng mereka berseru.

"Sepotong berita saja tak ada, mengapa kau mengatakan kalau perjalan kali ini tidak sia-sia belaka?"

"Kalau berbicara soal Su Nio, tentu saja perjalanan kita kali ini adalah suatu perjalanan sia-sia belaka, tapi kalau berbicara soal berpesiar ke selat Wu shia serta menikmati keindahan alam yang ada disekelilingnya, maka kita perjalanan kita kali ini tak bisa dibilang suatu perjalanan yang sia-sia belaka."

Sun Tiong lo yang berada disisinya segera memandang sekejap wajah nona Kim, lalu berkata.

"Adik Kim, siapa sih yang berniat lagi untuk menikmati keindahan alam disana?"

Nona Kim sama sekali tidak menanggapi ucapan mana, kembali dia berkata.

"Harus diperhatikan kemurungan dan kekesalan apalagi keresahan tak ada manfaatnya terhadap persoalan yang dihadapi!"

Sun Tiong lo tidak menanggapi ucapan itu, sebaliknya Bau ji segera menimbrung.

"Nona, kami tak punya kegembiraan sebesar itu untuk turut mendengarkan obrolanmu itu!"

"Baik!"

Seru nona Kim kemudian dengan dingin.

"kalau begitu silahkan kalian menikmati keresahan tersebut siapa tahu dari resah akan menjumpai suatu cara yang bagus untuk mengatasi persoalan yang sedang dihadapi..."

Ucapan mana kontan saja memancing gelak tertawa dari semua orang yang hadir. Selesai tertawa, Hou ji lantas berseru lebih duluan.

"Siau liong, aku rasa apa yang di ucapkan nona ini memang masuk akal juga, sekarang kita sedang berada di propinsi Szchuan, dengan Cing shia dan Go bi sudah tak jauh lagi, bila dapat menikmati pemandangan alam, sesungguhnya hal itupun merupakan suatu kegembiraan manusia yang tak bisa dibayar dengan uang berapa banyakpun !"

Bau ji hanya tertawa belaka, dia tidak turut memberikan komentar apa-apa. Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Sun Tiong lo, segera sahutnya.

"Benar, ada kalanya Thian bisa memberi bantuan yang besar bagi orang yang tidak berniat, hayo berangkat, mumpung hari masih pagi mari kita berangkat sekarang juga, mula-mula menengok ke Wu lalu mencari Siu."

"Ya, Cingshia merupakan bukit yang memedihkan hati di dunia ini. Indah bukit Gobi merupakan bukit yang paiing indah di kolong langit. Jangan dilihat berbicara soal usia maka kecuali Nona Kim maka usia Sun Tiong lo paling muda, tapi bila sudah menghadapi persoalan entah persoalan apa saja, asalkan Sun Tiong lo telah berbicara maka delapan sampai sembilan puluh persen keputusan segera diambil. Begitulah, keputusan setelah diambil berangkatlah mereka menuju ke bukit Cing shia lebih dulu. -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** GUI SAM TONG mencemplak kudanya dengan kencang menuju ke kota Seng tok di propinsi Szuchuan. Dia sudah tahu kalau manusia berkerudung putih itu masih saja menguntil dibelakangnya bagaikan sukma gentayangan saja. Setelah itu diapun menjadi paham apa sebab nya Wong Peng ci mengusulkan agar perjalanan dilanjutkan dengan berpisah saja. Tentu saja Gui Sam tong juga mengerti apa sebab Cu San poo menyetujui usul tersebut. Kali ini dialah yang menyaru sebagai pemegang lencana naga, sedangkan Wong Peng ci dan Cu San poo tak lebih hanya mengiringi belaka, bila perjalanan dilanjutkan dengan memisahkan diri, otomatis manusia berkerudung putih itu akan menguntil dia seorang. Walaupun Cu San poo telah memahami maksud tujuan dari Wong Peng ci ketika mengajukan usul tersebut akan tetapi berhubung dia bisa menggunakan kesempatan tersebut untuk menghindarkan diri pula dari pengejaran dan lolos dengan selamat, sudah barang tentu usul yang sangat baik itu tidak ditolaknya mentah-mentah. Mereka itu, sekarang tinggal dia seorang yang terjebak dalam keadaan yang sangat berbahaya, cepat atau lambat kemungkinan besar dia bakal di tangkap lawan. Berpikir dari sini, teringat mula akan janji Wong peng ci untuk bersua lagi dikota Si ciu, dia yakin seyakin yakinnya kalau apa yang diucapkan orang she Wong itu cuma tipu muslihat belaka. Tiba-tiba saja Gui Sam tong merasakan dirinya sangat menggelikan tapi diapun segera merasakan dirinya merupakan seorang manusia yang patut dikasihani. Lencana naga tersebut sebetulnya sengaja dia persiapkan dimasa lalu dengan maksud akan dipergunakan bila ia menghadapi ancaman bahaya maut, sekarang lencana itu telah di pergunakan, tapi hal itu justru membahayakan keselamatan jiwa sendiri, apakah hal ini tak mengenaskan bila dipikirkan kembali ? Dalam perjalanan yang ditempuh amat cepat, tanpa terasa Gui Sam tong telah berhasil memahami banyak persoalan. Setelah memahami persoalan persoalan tersebut, walaupun dia merasa agak gemas dan benci terhadap Wong Peng-ci dan Cu San poo, tapi nasi telah menjadi bubur, apa gunanya merasa gemas dan menyesal? Oleh karena itu, jalan pemikirannya segera dialihkan kembali ke masalah lain. Kuda dilarikan kencang-kencang, sementara itu pikiran Gui Sam tong pun berputar tak hentinya. Pelbagai kemungkinan melintas satu persatu didalam benaknya, diam-diam ia tertawa. Sejak berjalan seorang diri keributan, ia menyadari kalau dirinya tertipu sampai dia berhasil menemukan cara yang baik untuk mengatasi masalah itu, kudanya dibiarkan berlarian terus tiada hentinya. Menjelang malam tiba, sampailah dia disebuah kota kecil yang tak seberapa besar. Diapun mencari tempat penginapan turun dari kuda, membersihkan badan, beristirahat dan bersantap. Orang berkerudung putih itupun berbuat seperti dia, mencari penginapan turun dari kuda, membersihkan badan, beristirahat dan bersantap. Rumah penginapannya sama, cuma saja Gui Sam tong tinggal di halaman ruangan sebelah barat, sedangkan manusia berkerudung putih itu tinggal di sebuah kamar yang kecil dibagian depan. Setelah masuk ke halaman barat, minta air teh, arak dan nasi, Gui Sam tong tak terasa muncul kembali. Sedangkan manusia berkerudung putih memeriksa dahulu jalan mundur di sekitar rumah penginapan itu, kemudian baru mencari kamar. Rumah penginapan itu tidak mempunyai pintu belakang, manusia berkerudung putih tidak kuatir Gui Sam-tong melarikan diri dengan meninggalkan kudanya, atau paling tidak hal ini akan dilakukan bila sudah lewat tengah malam nanti. Sekarang, hari baru saja menjadi gelap, merasa tak perlu menguatirkan hal itu, sebaliknya Gui Sam tong ketika itu juga dia menyusun rencananya untuk berusaha meloloskan diri dari pengejaran lawan. Dengan cepat dia selesai bersantap, kemudian memanggil si pelayan untuk merundingkan persoalan ini. Satu dua tahil emas murni sudah cukup membuat seorang pelayan berganti nama marga, apalagi uang emas murni yang berada didalam peti besi Gui Sam-tong rata-rata sebesar sepuluh tahil tiap kepingnya, dengan sepuluh tahil uang emas sudah cukup membuat pelayan itu untuk menganggap Gui Sam-tong sebagai bapaknya, tentu saja apa yang diminta Gui Sam tong segera dipenuhi tanpa berpikir panjang. Tak lama kemudian pelayan itu telah kembali, sementara manusia berkerudung putih itu hendak menuju kebilik barat untuk melakukan pemeriksaan tiba tiba dia mendengar Gui Sam tong sedang berteriak keras.

"Pelayan, cepat siapkan kudaku !"

Begitu mendengar kata "menyiapkan kuda", manusia berkerudung putih itupun meminta kepada pelayan untuk menyiapkan kudanya pula.

Tapi kuda milik Gui Sam tong telah dipersiapkan lebih dulu, tahu-tahu dia sudah melompat naik ke atas kuda dan melarikannya kencang-kencang...

Walaupun kuda tersebut telah melakukan perjalanan seharian penuh, kalau diperhitungkan waktu beristirahat dan makan rumput hanya sebentar saja, namun lari kudanya sekarang ternyata masih tetap tangguh dan perkasa.

Sementara itu kuda putih milik manusia berkerudung putih itupun telah dipersiapkan pula.

Selesai membayar rekening, dia melompat naik ke atas kuda dan melarikannya kencang-kencang.

Kuda putih itu boleh dibilang terhitung kuda pilihan yang jempolan, bila dibandingkan dengan kuda milik Gui sam tong maka kehebatannya satu kali lipat, sebab itu dia sama sekali tidak mempersoalkan apakah kudanya lelah atau tidak.

Setelah melarikannya beberapa saat, dia telah berhasil menyaksikan kuda dan manusia yang sedang bergerak cepat di depan sana.

Dalam waktu singkat belasan li sudah dilewatkan tanpa terasa.

Mendadak peristiwa yang sama sekali tak terduga telah berlangsung, kuda putih yang ditungganginya itu mendadak meringkis tiada hentinya.

Kemudian kuda itu berhenti berlari sekali pun dipecuti keras keras, ternyata kuda itu tak mau melangkah maju barang selangkahpun.

Dalam pada itu orang yang berada di depannya lenyap tak berbekas dibalik kegelapan sana.

Dalam keadaan seperti ini, manusia berkerudung putih itu segera menduga, apa gerangan yang telah terjadi.

Cepat dia melompat turun dari kudanya dan memeriksa keempat kaki kuda tersebut.

Begitu diperiksa, manusia berkerudung putih itu hampir saja semaput saking gusarnya.

Ternyata terdapat dua batang bambu tajam yang telah menancap kedalam telapak kaki kuda tersebut.

Tak heran kalau kuda tersebut bisa lari cepat pada mulanya, tapi lama kelamaan larinya makin pelan sebelum akhirnya sama sekali terhenti, rupanya ada bambu yang telah menancap sampai begitu dalam, Dengan perasaan mendongkol manusia berkerudung putih itu segera mencabut keluar bambu tersebut, tapi kuda putihnya telah berubah menjadi kuda pincang, jangankan suruh dia berlari kencang, sekalipun dituntun balikpun jalannya pincang dan sempoyongan.

Dengan begitu manusia berkerudung putih tersebut tak bisa melanjutkan perjalanan lagi, untuk kembali ke kota semula percuma, setelah berpikir sebentar akhirnya dia meneruskan perjalanannya kedepan dengan selangkah demi selangkah, puluhan li kemudian ia baru sampai di kota kecil terdepan.

Kalau dia berjalan kedepan, maka mimpipun dia tak menyangka kalau Gui Sam tong justru berjalan kearah yang berlawanan.

Bukan cuma melakukan perjalanan yang berlawanan saja, bahkan waktu itu dia sudah berada dua puluh li lebih dari tempat semuIa.

Ternyata "Gui Sam tong"

Yang memancing kepergian si manusia berkerudung putih untuk mengejarnya itu tak lain adalah hasil penyaruan dari si pelayan.

Setelah pelayan itu mengenakan pakaian, sepatu dan menunggang kuda milik Gui Sam tong, dia segera kabur meninggalkan rumah penginapan itu dan melarikan kudanya cepat cepat menjauhi kota tersebut.

Sebelum bertindak, tak lupa secara diam diam ia membuat suatu "kejutan"

Dengan mengerjai kuda milik manusia berkerudung putih itu.

Kemudian dikala manusia berkerudung putih itu melompat naik ke atas kudanya untuk melakukan pengejaran, Gui Sam-tong dengan mengenakan pakaian milik si pelayan dan menunggang kuda lain yang telah dipersiapkan dengan tenangnya meninggalkan rumah penginapan itu untuk menyelamatkan diri.

Perjalanan yang ditempuh Gui Sam tong adalah jalan kecil yang menuju kearah berlawanan, tak heran kalau kabar beritanya segera terputus dan lenyap tak berbekas.

Menanti si orang berkerudung putih itu berganti kuda di dusun terdepan dan melanjutkan pengejarannya, dia menjadi bodoh.

Bagaikan uap yang naik ke angkasa saja, kabar berita Gui Sam-tong lenyap tak berbekas.

Bagaimanapun si manusia berkerudung putih itu mencari berita, ternyata tak seorang manusiapun yang melihat ada seorang manusia berbaju emas melalui jalanan itu.

Berada dalam keadaan begini, dia lantas menyadari apa gerangan yang telah terjadi, buru-buru dia mencemplak kudanya dan kembali ke rumah penginapan semula.

Waktu itu, si pelayan telah pulang kembali, dia hafal dengan jalanan disekitar situ, setelah berputar satu lingkaran dia telah balik kembali ke rumah penginapan.

Kuda dan segala pakaian milik Gui Sam tong telah dilenyapkan jejaknya oleh si pelayan atas petunjuk dari Gui Sam tong, dalam keadaan begitu mana mungkin ia bisa menemukan jejaknya ?

Apalagi kuda telah disimpan ke tempat lain, pakaian telah dibakar dan peti besi kosong ditanam kedalam tanah, bayangkan saja mana mungkin benda-benda itu dapat ditemukan lagi?

Tak heran kalau manusia berkerudung putih itu sama sekali tidak berhasil menemukan berita apa-apa, meski dia telah berusaha untuk mengorek berita dari pelayan rumah penginapan itu.

Atas petunjuk dari Gui Sam tong, pelayan itu menjawab begini.

Baca Juga: Bagus Sajiwo 4

Baca Juga: Siluman Gua Tengkorak Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert