Ceritasilat Novel Online

Bagus Sajiwo 4

Eps 4 Bagus Sajiwo - Kho Ping Hoo

Baca online Bagus Sajiwo - Kho Ping Hoo

Cersil Bagus Sajiwo - Kho Ping Hoo.

Akan tetapi lututnya terasa nyeri dan ia hanya dapat lari terpincang-pincang, sedangkan pengejarnya, Badrun sudah berada dekat di belakangnya.

Karena menengok kebelakang, kembali kakinya tersandung batu dan ia tentu akan terjatuh lagi kalau pada saat itu tidak ada orang yang menyambar lengannya dan menahan dirinya sehingga tidak sampai terguling.

Neneng Salmah memandang dan ia terbelalak.

Cuaca sudah mulai terang sehingga ia dapat melihat jelas siapa orangnya yang menolongnya sehingga tidak sampai terjatuh itu.

"Akang Jatmika...!"

Neneng Salmah berseru girang sekali. Jatmika membikin putus ikatan kedua lengan gadis itu dan berkata.

"Minggirlah, Neneng. Biar kuhadapi jahanam itu."

Neneng Salmah menggosok-gosok kedua pergelangan tangannya yang terasa nyeri karena diikat sejak sore tadi dan ia lalu mundur.

Sementara itu Badrun yang sudah tiba di situ, mengerutkan alisnya melihat seorang pemuda berdiri menghadangnya.

Dia juga melihat Neneng Salmah yang berdiri dibelakang pemuda itu telah terbebas dari belenggunya, maka dia menjadi marah sekali, maklum bahwa tentu pemuda itu yang telah melepas belenggu kedua tangan gadis itu.

"Keparat! Berani engkau mencampuri urusan kami? Engkau telah melepaskan gadis yang menjadi tawanan Tumenggung Jayasiran! Minggir, kalau engkau tidak ingin mampus!"

Bentak Badrun marah sekali dan dia sudah mencabut bedok (golok) yang tergantung di pinggangnya. Jatmika menghadapi Maung Sumedang itu dengan senyum mengejek.

"Tikus busuk, engkau yang perlu dihajar!"

"Eh, berani engkau? Aku adalah Maung Sumedang Badrun, makanlah bedog-ku ini!"

Badrun lalu menyerang dan membacokkan goloknya ke arah leher Jatmika.

Pemuda sakti ini dapat melihat bahwa lawannya adalah seorang jagoan yang hanya mengandalkan tenaga kasar, maka dia membiarkan saja golok itu menyambar ke arah lehernya.

Golok itu tepat mengenai sasaran, yaitu leher sebelah kiri Jatmika.

"Wuuutt... takk!"

Badrun terbelalak, tidak percaya akan apa yang dilihatnya.

Goloknya mental ketika bertemu kulit leher pemuda itu!

Akan tetapi pada saat itu, Jatmika sudah menggerakkan kakinya menendang.

Badrun dengan cepat menangkis dengan tangan kiri dan goloknya.

"Desss...!"

Golok terpental dan tubuh Badrun terlempar ke belakang lalu jatuh terbanting ke atas tanah.

Dia merasa kepalanya pening dan semua yang tampak berputaran, juga pinggulnya nyeri sekali karena tadi terbanting keras ke atas tanah.

Selagi dia merangkak hendak bangun, Neneng Salmah yang marah sudah melompat dekat dan gadis itu melepaskan kejengkelannya dengan menendangi muka dan dada Badrun.

Badrun mengaduh-aduh, jatuh bangun dan bergulingan.

Akhirnya dia berhasil bangun, melompat dan melarikan diri dengan muka berdarah-darah yang keluar dari hidungnya, dan tubuhnya nyeri semua, pakaiannya yang mewah itu cabik-cabik dan kepalanya masih pening.

Setelah tiba di kereta, dia segera melompat ke dekat dua ekor kuda yang dilepas oleh kusir sambil meneriaki kusir agar bangun.

Kusir terkejut, bangun dan membantu Badrun hendak memasang dua ekor kuda di depan kereta.

Akan tetapi tiba-tiba muncul Jatmika dan Neneng Salmah.

Dengan tendangannya, Neneng Salmah merobohkan kusir dan Jatmika juga melayangkan tamparan tangannya.

Badrun mencoba untuk menangkis, akan tetapi tamparan tangan itu membuat tangkisannya bahkan membalik dan menghantam mukanya sendiri dan tubuh Badrun terpelanting keras.

Badrun yang maklum bahwa tak mungkin dia dapat menang segera melarikan diri, diikuti oleh kusir yang tentu saja menjadi ketakutan melihat Badrun melarikan diri.

Jatmika dan Neneng Salmah tidak mengejar.

Mereka berdiri saling pandang, berhadapan dan saling pandang.

Pertemuan yang tidak mereka sangka-sangka itu menimbulkan kenangan-kenangan masa lalu, mengingatkan mereka akan hubungan mereka dengan Sulastri dan Lindu Aji.

Lalu tiba-tiba Neneng Salmah teringat akan semua yang terjadi dan bayangan ayahnya menggeletak berlumuran darah.

Tiba-tiba ia menutupi mukanya dan menangis tersedu-sedu.

Jatmika membiarkan gadis itu menangis sejenak.

Dia tahu bagaimana perasaan gadis yang melihat ayahnya tewas dipukul Tumenggung Jayasiran dan dia merasa iba sekali.

Setelah Neneng Salmah menangis sejenak menumpahkan kesedihannya, barulah dia berkata dengan lemah lembut dan dengan nada menghibur.

"Neneng, sudahlah, jangan terlalu menuruti kedukaan hatimu. Segala sesuatu terjadi karena dikehendaki Gusti Allah, bahkan kita patut berterima kasih kepadaNya bahwa engkau dapat terhindar dari malapetaka yang menimpa dirimu."

Neneng Salmah menahan isaknya, mengusap air matanya lalu memandang kepada Jatmika dengan matanya yang menjadi merah oleh tangis.

"Akang' Jatmika, aku berterima kasih sekali kepadamu yang telah menyelamatkan aku dari tangan Si Badrun yang jahat tadi."

"Mari kita berterima kasih kepada Gusti Allah, Neneng. Hanya Dialah Maha Penolong yang telah menolongmu melalui pilihanNya dan kebetulan aku yang dipilihNya untuk menolongmu."

Sikap dan kata-kata Jatmika ini mengingatkan Neneng kepada sikap Lindu Aji dan ia merasa terharu sekali. Akan tetapi ingatan akan ayahnya membuat ia tiba-tiba mengepal tinju dan berkata.

"Aku harus membunuh Tumenggung Jayasiran jahanam itu! Dia telah membunuh ayahku yang tidak berdosa! Aku harus membalasnya dan membunuh keparat itu!"

"Tenanglah, Neneng. Memang tumenggung itu jahat sekali, akan tetapi kedudukannya kuat dan diapun seorang yang digdaya."

"Aku tidak takut!"

Kata Neneng Salmah yang tiba-tiba saja, karena teringat akan kematian ayahnya, mendadak kini bersikap gagah penuh semangat, tidak seperti biasanya yang lemah lembut.

"Aku akan kesana sekarang juga dan membunuhnya. Kalau aku gagal, aku rela mati untuk membalaskan kematian ayahku!"

Setelah berkata demikian, Neneng Salmah sudah bergerak hendak pergi, niatnya untuk kembali ke Sumedang dan mendatangi Tumenggung Jayasiran.

Jatmika terpaksa menjulurkan tangan menangkap lengan gadis itu.

"Neneng, harap jangan nekat begitu. Tekatmu itu sama dengan membunuh diri dan bunuh diri adalah perbuatan yang amat berdosa."

"Tapi aku... aku... harus membalas dendam. Ayahku..."

Kata gadis itu dan bibirnya mulai gemetar karena menahan tangis yang hendak meluap lagi.

"Boleh saja, akan tetapi harus menggunakan perhitungan, Neneng. Kalau engkau masuk begitu saja, sebelum bertemu Tumenggung Jayasiran engkau akan ditangkap. Pula, apakah engkau tidak ingin mengurus jenazah ayahmu dulu? Marilah, mari kita lihat kesana dan kita urus jenazah ayahmu, baru nanti kubantu engkau untuk memberi hajaran kepada tumenggung kejam itu."

Neneng Salmah merasa terharu sekali dan tak dapat lagi ia menahan diri. Tangisnya meledak dan ia sesenggukan. Jatmika merasa sangat kasihan, lalu ia merangkul pundak gadis itu.

"Tenanglah, Neneng..."

Dia menghibur.

Neneng Salmah yang merasa putus harapan karena kini ia hidup seorang diri, sebatang kara setelah ditinggal mati ayahnya.

Rangkulan dan hiburan Jatmika mendatangkan harapan baru sehingga ia menjadi semakin terharu, tangisnya semakin mengguguk dan ia merapatkan mukanya di dada pemuda itu dan menangis sepuasnya.

Jatmika merangkul dan merasa betapa dia dan Neneng Salmah senasib sependeritaan, maka ia membiarkan gadis itu menangis sambil bersandar di dadanya sampai akhirnya Neneng Salmah dapat menguasai kembali hatinya.

"Tenangkan hatimu dan mari kita ke Sumedang untuk mengurus jenazah ayahmu."

Neneng Salmah agaknya baru menyadari bahwa ia menangis di dada pemuda itu, maka cepat ia merenggangkan mukanya dari dada itu dan agak tersipu.

"...maafkan, akang Jatmika..."

Ia memandang ke arah baju pemuda itu.

"Maafkan kelemahanku, aku sudah membasahi bajumu..."

Jatmika tersenyum.

"Tidak mengapa, Neneng. Aku girang bahwa engkau sudah menyadari keadaan dan tidak nekat lagi. Mari kita pergi ke Sumedang. Kereta itu dapat kita pergunakan."

Neneng Salmah mengangguk.

Mereka lalu menghampiri kereta.

Jatmika memasangkan kedua ekor kuda di depan kereta, membereskan kendali lalu dia naik ke tempat duduk kusir.

Neneng Salmah juga naik dan tidak duduk di dalam kereta, melainkan disebelah Jatmika, di depan.

Jatmika lalu menggerakkan kuda dan kereta itu lalu meluncur, kembali ke arah Sumedang.

Karena Jatmika ingin tiba di Sumedang diwaktu malam, maka dia sengaja menjalankan kereta perlahan-lahan.

Kesempatan itu mereka pergunakan untuk bercakap-cakap.

"Sungguh tidak kusangka kita akan dapat bertemu dalam keadaan seperti ini, Neneng. Malam tadi aku terkejut dan juga girang mendengar bahwa di tumenggungan diadakan pesta wayangan dengan dalangnya Paman Subali dan waranggananya engkau. Aku lalu menyelinap diantara penonton dan aku menjadi curiga melihat engkau dan Paman Salmun dipanggil sang tumenggung. Akan tetapi sayang aku tidak bertindak disana karena berbahaya sekali. Sungguh tidak pernah kusangka tumenggung itu demikian kejam membunuh ayahmu. Aku lalu mengikuti kereta yang membawamu."

"Seperti kau katakan tadi, Akang Jatmika, semua telah terjadi atas kehendak Gusti Allah. Bagaimanapun juga, engkau tidak terlambat untuk menyelamatkan aku. O ya, sampai sekarang aku masih tidak mengerti mengapa ketika engkau berada di Dermayu dahulu itu, engkau pergi secara tiba-tiba tanpa pamit kepada siapapun. Mengapa begitu, Akang Jatmika? Kurasa itu bukan watakmu untuk pergi diam-diam seperti itu."

Ditanya demikian, Jatmika menjadi tersipu, wajahnya memerah dan dia menghela napas panjang. Setelah berkali-kali menghela napas panjang, akhirnya dia berkata lirih.

"Ah, tidak apa-apa, Neneng. Aku hanya ingin pergi pagi-pagi sekali dan tidak sempat pamit..."

Neneng Salmah menoleh ke kanan memandang wajah pemuda itu akan tetapi Jatmika menundukkan mukanya yang tampak bersedih.

"Aku tahu, Akang Jatmika. Kepergianmu itu ada hubungannya dengan Listyani... eh, maksudku Sulastri, bukan?"

Jatmika kini menoleh ke kiri menatap wajah gadis itu penuh selidik.

"Engkau tahu, Neneng? Apa yang kau ketahui?"

"Aku tahu bahwa engkau mencinta Sulastri, akan tetapi ia menolak cintamu karena ia sesungguhnya mencinta Akang Lindu Aji, bukan? Engkau menjadi patah hati lalu pergi tanpa pamit."

Jatmika menghela napas panjang lagi.

"Sudahlah, hal itu sudah lama berlalu. Akan tetapi engkau sendiri, Neneng. Engkau dan ayahmu sudah baik-baik tinggal di rumah Paman Subali, kenapa kini berada di Sumedang? Engkau juga meninggalkan Dermayu, bukan? Aku pernah mendengar bahwa engkau dan Lindu Aji saling mencinta. Kenapa engkau pergi meninggalkannya?"

Kini Neneng Salmah yang menghela napas panjang. Sampai lama ia termenung, lalu menjawab lirih.

"Nasib kita sama, Akang Jatmika. Ternyata Akang Lindu Aji tidak mencintaku seperti seorang pria mencinta seorang wanita, melainkan mencintaku seperti seorang kakak terhadap adiknya. Malah dia lalu mengangkat aku sebagai adiknya."

Jatmika mengangguk-angguk.

"Hemm, begitukah? Kalau begitu Lindu Aji dan Sulastri sungguh saling mencintai Semoga mereka kini telah menjadi suami isteri yang hidup berbahagia."

Neneng Salmah menggeleng kepala dan menghela napas, wajahnya tiba-tiba tampak sedih sekali.

"Sayang sekali tidak seperti yang kita harapkan, Akang Jatmika. Mereka tidak menjadi suami isteri, saling berpisah dan hal itu terjadi karena kita berdua! Kita berdua yang menjadi biang keladi sehingga dua orang yang saling mencinta itu tidak dapat berjodoh dan saling berpisah."

Jatmika terkejut bukan main sampai dia menarik kendali dan dua ekor kuda itu berhenti dan Jatmika memandang Neneng Salmah dengan sinar mata penuh rasa kaget dan heran.

"Neneng Salmah! Apa maksudmu berkata bahwa kita berdua yang menyebabkan gagalnya perjodohan antara mereka?"

"Sesungguhnya mereka berdua adalah orang-orang yang budiman dan bijaksana, Akang Jatmika. Mereka saling mencinta sejak Sulastri belum kehilangan ingatannya. Setelah Sulastri kehilangan ingatannya, tentu saja ia lupa pula kepada Akang Lindu Aji. Akang Lindu Aji mengira bahwa Sulastri mencintamu, Akang jatmika, maka dia mengalah dan mengharapkan Sulastri menjadi jodohmu. Kemudian, Sulastri mendapatkan kembali ingatannya dan ia teringat dan menyadari bahwa ia mencinta Akang Lindu Aji sejak dahulu. Akan tetapi ia tahu bahwa aku jatuh cinta kepada Akang Lindu Aji. Hal ini kuceritakan kepadanya ketika ia masih merasa dirinya bernama Listyani dan ingatannya belum pulih. Maka, biarpun ingatannya telah pulih, Sulastri mengalah karena tahu bahwa aku mencinta Akang Lindu Aji. Ia pun mengalah dan mengharapkan Akang Lindu Aji berjodoh denganku. Jadi, kedua orang itu saling mengalah, walaupun mereka saling mencinta. Itulah sebabnya mengapa Sulastri menolak cintamu, dan Akang Lindu Aji menolak cintaku. Berarti kita berdua yang menjadi biang keladi atau penyebab gagalnya dua orang yang saling mencinta itu sehingga mereka saling berpisah."

"Duh Gusti...!"

Jatmika menutupi mukanya dengan kedua tangan.

"Kenapa jadi begitu...?"

Setelah membuka lagi kedua tangan dari mukanya, dia memandang Neneng Salmah dan berkata.

"Aku menyesal sekali, Neneng. Menyesal sekali..."

Neneng Salmah menaruh tangannya di atas paha Jatmika, sentuhan lembut terdorong keharuan hatinya.

"Tidak hanya cukup untuk disesalkan, Akang Jatmika. Kita harus menebus kesalahan kita ini. Aku sekarang telah menjadi seorang gadis yatim piatu, bahkan tiada sanak kadang, hidup sebatang kara di dunia ini. Setelah urusanku di Sumedang beres, aku akan mencari mereka! Aku harus dapat menyatukan mereka kembali. Kasihan Akang Lindu Aji dan Sulastri."

Jatmika mengangguk dan bangkit semangatnya.

"Engkau benar, Neneng. Engkau benar dan aku akan membantumu. Kita berdua harus mencari dan menemukan mereka, lalu menjelaskan semua kesalah-pahaman ini dan membujuk mereka agar bersatu kembali. Nah, mari kita lanjutkan perjalanan kita ke Sumedang."

Tiba-tiba Neneng Salmah yang memandang jauh ke depan itu memegang lengan Jatmika dan berbisik.

"Lihat disana itu!"

Jatmika memandang jauh ke depan.

Disana, tampak serombongan orang berkuda membalapkan kuda mendatangi arah tempat mereka.

Dari jauh saja sudah dapat diperkirakan bahwa jumlah mereka banyak sekali, tidak kurang dari lima puluh orang berkuda!

"Hemm, mungkin sekali mereka itu pasukan dari Sumedang yang sengaja hendak mengejar dan mencari kita.

Cepat turun dari kereta, Neneng.

Kita bersembunyi.

Tidak menguntungkan kalau harus melawan orang sebanyak itu, apalagi kalau Tumenggung Jayasiran sendiri berada diantara mereka!"

Keduanya lalu turun dari atas kereta dan menyelinap diantara pohon-pohon, meninggalkan kereta di tepi jalan.

Mereka pergi agak jauh dan mengintai dari kejauhan.

Ketika rombongan itu sudah tiba dekat, Jatmika dan Neneng Salmah melihat bahwa yang memimpin pasukan itu bukan lain adalah Tumenggung Jayasiran sendiri!

Dia tampak marah-marah ketika memerintahkan pasukannya berhenti dan cepat memeriksa kereta yang telah kosong.

"Mereka telah lari. Kejar, cari sampai dapat!"

Bentak Tumenggung Jayasiran.

Para perajurit lalu berpencar untuk mencari dua orang buronan itu.

Akan tetapi mereka mengejar ke depan, sama sekali tidak menduga bahwa yang dikejar berada tak jauh dari situ.

Mereka mengira bahwa tentu dua orang itu melarikan diri menjauhi Sumedang.

Kereta kosong itu lalu dijalankan menuju Sumedang dan Tumenggung Jayasiran duduk di dalamnya, dikawal tiga puluh orang perajurit, sedangkan perajurit lainnya ditugaskan mencari dua orang buronan itu.

Tadi Tumenggung Jayasiran mendapat laporan Badrun bahwa Neneng Salmah lolos, ditolong oleh seorang pemuda yang sakti.

Maka marahlah sang tumenggung dan dia melakukan pengejaran membawa lima puluh orang perajurit.

Jatmika memasuki kota Sumedang pada sore hari itu bersama Neneng Salmah yang menyamar dengan pakaian pria sehingga dara ini tampak sebagai seorang pemuda yang tampan.

Penjaga pintu gerbang tidak mengenalnya dan mereka berdua segera menuju ke rumah Ki Salmun.

Jatmika yang tidak dikenal orang melakukan penyelidikan dan dia mendengar bahwa jenazah Ki Salmun oleh para tetangga telah dikuburkan dengan baik-baik.

Mendengar ini, Neneng Salmah merasa berterima kasih dan mereka berdua berkunjung kemakam Ki Salmun bersujud sambil menangis sedih.

Setelah puas berkabung, Neneng Salmah dan Jatmika kembali kerumah gadis itu.

Beberapa orang tetangga yang menjaga rumah itu terkejut melihat munculnya dua orang pemuda, akan tetapi mereka girang ketika Neneng Salmah menanggalkan penyamarannya.

Gadis itu lalu mengumpulkan barang-barangnya yang berharga, beberapa potong pakaian dan perhiasan, dibungkusnya menjadi buntalan kain, kemudian ia menyerahkan rumahnya kepada seorang tetangga yang sudah akrab dengannya.

Rumah itu boleh ditempati oleh tetangga itu sampai ia pulang.

Kemudian bersama Jatmika ia meninggalkan rumah.

"Akang Jatmika, sebelum meninggalkan Sumedang, aku harus membunuh dulu tumenggung jahanam itu untuk membalaskan kematian ayahku!"

Kata Neneng Salmah.

"Aku akan membantumu, Neneng. Akan tetapi kita harus berhati-hati selain Tumenggung Jayasiran itu sendiri digdaya, dia juga mengandalkan pasukannya."

Dengan hati-hati kedua orang muda itu berjalan menuju kearah gedung ke-tumenggungan.

Dan ternyata Tumenggung Jayasiran agaknya sudah melakukan penjagaan yang amat kuat.

Di luar gedung terdapat belasan orang penjaga dan Jatmika dapat menduga bahwa di sekeliling dan di dalam gedung itu tentu terdapat banyak perajurit pengawal.

Tiba-tiba terdengar bunyi kentungan dipukul gencar.

Bunyi kentungan itu tadinya terdengar dari luar kota, lalu menjalar dan kini terdengar di seluruh penjuru.

Keadaan menjadi gempar.

Tampak banyak perajurit berlarian di jalan-jalan raya.

Penduduk menjadi panik.

Tentu saja Jatmika dan Neneng Salmah juga terkejut.

Ketika mereka bertanya-tanya, mereka berdua mendengar bahwa Sumedang dikepung bala tentara Mataram dan Cirebon yang mulai menyerang dari empat penjuru!

Peperangan telah terjadi di luar kota dan pasukan Sumedang terdesak hebat.

Pihak musuh makin mendekati kota!

Terpaksa Neneng Salmah mengurungkan niatnya untuk mencari Tumenggung Jayasiran.

Keadaan tidak memungkinkan.

Banyak sekali perajurit berkumpul dipelataran gedung sang tumenggung dan Tumenggung Jayasiran sendiri memimpin pasukan untuk keluar dari kota dan membantu pasukan yang sedang menahan serangan para penyerbu.

Apakah yang terjadi?

Ternyata, sikap Adipati Sumedang yang tidak mengakui lagi kekuasaan Mataram membuat Sultan Agung menjadi marah sekali.

Kadipaten Sumedang dianggap memberontak terhadap Mataram, maka Sultan Agung lalu mengerahkan pasukan Pasundan dan mengutus Tumenggung Singaranu untuk menyerang dan menundukkan Sumedang.

Juga Sultan Agung mengirim utusan membawa perintahnya kepada Kadipaten Cirebon agar sang adipati membantu dan mengirim pasukan untuk menyerang Sumedang.

Demikianlah, Sumedang dikepung dari empat jurusan oleh pasukan Mataram pimpinan Tumenggung Singoranu dan pasukan Cirebon dan malam itu Sumedang mulai diserang dari empat penjuru secara mendadak sehingga terjadi perang dan pertempuran yang kacau dan seluruh penduduk Sumedang menjadi panik dan geger.

Keadaan yang kacau balau itu membuat Jatmika dan Neneng Salmah terpaksa bersembunyi di rumah Neneng Salmah.

Untuk keluar dari kota Sumedang juga tidak mungkin karena di luar kota masih terjadi pertempuran dan kota sudah dikepung pasukan Mataram dan Cirebon.

Mereka juga tidak mendapat kesempatan untuk mencari Tumenggung Jayasiran karena sang tumenggung sibuk mengatur pasukan untuk menyambut serangan pasukan Mataram dan Cirebon.

Bahkan pada hari ke dua, mereka mendengar bahwa Tumenggung Jayasiran tewas dalam perempuran.

Mendengar berita ini, Neneng Salmah menangis karena menyesal, ia ingin dapat membunuh sendiri orang yang telah memukul mati ayahnya itu.

Jatmika menghiburnya.

"Sudahlah, Neneng. Tak perlu disesalkan lagi, bahkan kita patut berterima kasih dan bersyukur kepada Gusti Allah yang agaknya memang mencegah engkau dan aku melakukan pembunuhan dengan dasar dendam dan kebencian karena perbuatan itu sesungguhnya berdosa dan tidak baik."

"Akan tetapi, Akang Jatmika. Tumenggung Jayasiran itu telah membunuh ayahku yang tidak berdosa, tidak bersalah apa-apa kepadanya!"

"Itu adalah pendapat kita, Neneng. Akan tetapi dia tentu mempunyai alasan lain. Dia menganggap ayahmu bersalah karena menghalangi kehendaknya menyerahkan engkau kepada pangeran Banten itu. Memang tentu saja perbuatannya itu sesat dan jahat."

"Karena sesat dan jahat maka kita ingin mengadili dan menghukumnya, akang!"

"Neneng, kita ini siapakah maka akan menghakimi dan menghukum orang lain? Hakim yang maha tinggi dan maha sempurna adalah Gusti Allah. Dia maha adil dan hukumannya tak dapat dihindarkan oleh siapapun juga. Dendam kebencian merupakan nafsu, bujukan iblis karena itu sesungguhnya pantang bagi seorang satria untuk melakukan perbuatan berdasar dendam kebencian. Kita memang berkewajiban menentang kejahatan, membela kebenaran dan keadilan, akan tetapi bukan berdasarkan dendam kebencian, karena kalau kita bertindak dengan dasar dendam kebencian, tidak ada bedanya antara kita dengan para penjahat, sama-sama menjadi alat setan. Karena itu, kita patut berterima kasih kepada Gusti Allah yang telah menjatuhkan hukum kematian kepada Tumenggung Jayasiran."

Neneng Salmah menghela napas panjang. Tentu saja ia sudah pernah mendengar tentang pendapat seperti itu.

"Engkau benar, Akang Jatmika. Aku telah mabok oleh kedukaan sehingga timbul kebencian dan dendam. Hati siapa yang tidak akan hancur dan merana? Kematian ayahku membuat aku menjadi sebatangkara, tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia yang penuh kepalsuan dan kejahatan ini."

"Aeh, Neneng, mengapa engkau mempunyai perasaan seperti itu? Aku sendiri seorang yatim piatu, tiada sanak kadang, akan tetapi bukankah di dunia ini banyak terdapat manusia lain yang dapat kita anggap sebagai saudara? Disini ada aku yang siap untuk melindungimu dan membantumu, mengapa engkau bilang bahwa engkau tidak punya siapa-siapa lagi?"

"Ah, maafkan aku, akang, tentu saja engkau merupakan penolongku, merupakan sahabatku yang telah melepas budi besar kepadaku...."

"Cukup, Neneng, jangan menilai diriku terlampau tinggi. Anggap saja aku ini seorang yang senasib sependeritaan denganmu. Gusti Allah telah mempertemukan kita dalam keadaan seperti ini. Kita sama-sama menjadi sebab kesengsaraan Lindu Aji dan Sulastri, dan kita sama-sama mempunyai tugas untuk menyatukan mereka kembali."

"Ah, aku merasa bahagia sekali, Akang Jatmika. Dalam keadaan seperti ini, Gusti Allah telah mengirim engkau untuk menjadi pelindungku, menjadi pembimbingku, menjadi sahabat baikku. Engkau begini sabar, bijaksana, dan pandai..."

"Tidak ada manusia pandai atau bodoh di dunia ini, Neneng. Yang Maha Pandai hanyalah Gusti Allah. Manusia itu sama saja, tidak ada yang pandai bodoh."

"Ah, kenapa begitu, akang? Aku melihat banyak orang pandai dan banyak orang bodoh."

"Tidak, Neneng. Yang kau maksudkan pandai itu sebetulnya hanya karena dia sudah tahu, dan yang kau sebut bodoh itu hanya karena dia belum tahu. Pengetahuan itu didapat melalui belajar. Aku sudah mempelajari beberapa aji kanuragan, tentu saja aku tahu. Apakah itu dapat disebut pandai? Bukan, hanya tahu saja. Buktinya, kalau aku disuruh menyanyi atau menari seperti engkau, aku pasti tidak bisa karena aku belum mempelajari dan belum tahu. Sebaliknya engkau sudah mempelajari dan engkau sudah tahu maka bisa. Bukan berarti engkau pandai dan aku bodoh atau sebaliknya. Siapa sudah mempelajari dia pasti mengenal, tahu dan bisa. Bukan pandai. Siapa yang belum mempelajari pasti dia tidak mengenal, tidak tahu dan tidak bisa. Bukan bodoh!"

Neneng Salmah tercengang. Belum pernah ia mendengar pendapat seperti itu. Ia membantah.

"Akan tetapi, Akang Jatmika, ketika aku belajar menari dengan kawan-kawan, diantara mereka ada yang cepat hafal, ada yang pelupa, bukankah itu berarti bahwa diantara mereka ada yang pintar dan ada yang bodoh?"

"Tidak juga, Neneng. Kalau ada perbedaan diantara mereka, yang berbeda itu adalah keadaan otak mereka. Yang sukar mengerti tentu ada sesuatu yang membuat otaknya tidak sehat sehingga terganggu kepekaannya. Kalau sama-sama sehat, maka tidak akan ada perbedaan. Juga bakal masing-masing mempengaruhi. Namun itu tidak berarti bahwa ada orang pandai dan ada orang bodoh. Seorang bangsawan tinggi yang dianggap cerdik pandai dan terpelajar sekalipun, dalam hal bertani dia boleh berguru kepada seorang petani yang sederhana dan yang dianggap bodoh. Seorang bangsawan Belanda yang tinggi pangkatnya dan dianggap pintar sekalipun, kalau dia belum pernah belajar bahasa Jawa, dia sama sekali tidak dapat berbahasa Jawa, kalah oleh seorang anak kecil bangsa Jawa yang fasih berbahasa Jawa. Apakah dapat dikata bahwa Belanda berpangkat tinggi itu bodoh dan anak itu pandai? Tidak, bukan? Yang ada bukan pandai dan bodoh, melainkan sudah mengenal maka bisa dan belum mengenal maka tidak bisa."

"Wah, pendapatmu itu tidak dapat dibantah, Akang Jatmika. Dan aku mengerti apa inti pelajaran dalam uraianmu itu."

"Benarkah engkau mengerti? Lalu apa inti pelajaran itu, coba katakan."

Kata Jatmika, senang melihat gadis itu mulai gembira, tidak selalu tenggelam dalam kedukaan karena kematian ayahnya, sehingga menimbulkan dendam kebencian.

Dia sendiri pernah merasakan kedukaan dan dendam seperti itu ketika dia mendengar akan kematian ayahnya dan kakeknya, yaitu Ki Sudrajat dan Ki Tejo Langit yang terbunuh oleh Raden Banuseta dan para serdadu Belanda.."Kalau aku tidak salah, kesimpulan dari pendapatmu tadi atau inti pelajarannya adalah jangan keminter (merasa diri pintar) karena kepandaianmu itu hanya hasil dari apa yang kau pelajari, dan jangan merasa bodoh karena sebetulnya engkau hanya belum mempelajari dan belum tahu.

Merasa diri pintar hanya mendatangkan kesombongan dan merasa diri bodoh hanya mendatangkan rasa rendah diri.

Keduanya sama tidak baiknya."

Jatmika mengangguk-angguk.

"Wah, engkau sungguh hebat, Neneng. Engkau memang pandai!"

Neneng Salmah tersenyum geli.

"Lho, mengapa engkau menyebut aku pandai, akang? Aku tidak pandai, hanya aku sudah banyak belajar dan tahu tentang kehidupan."

Jatmika tertawa.

"Ha-ha, memang sukar menghilangkan sebutan pandai dan bodoh, sudah menjadi kata-kata yang sukar dihapuskan dalam bahasa percakapan kita. Biarlah, asal kita tahu makna yang sebenarnya saja."

"Akang Jatmika, setelah sekarang Tumenggung Jayasiran tewas dalam pertempuran dan aku melihat bahwa jenazah ayahku sudah terkubur baik, lalu kemana kita akan mencari Akang Lindu Aji dan Sulastri?"

"Kita tunggu sampai pertempuran selesai dan keadaan menjadi aman, lalu kita keluar dari Sumedang dan mulai perjalanan kita mencari mereka."

Jatmika berhenti sebentar, berpikir, lalu melanjutkan.

"Bagaimana kalau kita pergi ke Dermayu mencari Sulastri lebih dulu?"

Neneng Salmah menggeleng kepalanya.

"Tidak ada gunanya. Aku sudah bertanya kepada Paman Subali ketika dia mendalang di Kadipaten dan dia mengatakan bahwa Sulastri belum kembali, bahkan sama sekali tidak ada kabar darinya."

"Kalau begitu kita pergi ke timur, mencari Lindu Aji ditempat tinggal ibunya. Dia pernah menceritakan kepadaku bahwa ibunya tinggal di dusun Campingan, di daerah Gunung Kidul dekat pantai Laut Selatan."

"Baiklah, akang. Kita menanti sampai keadaan menjadi aman."

Ternyata perang itu tidak berlangsung lama Beberapa hari kemudian, pasukan Mataran dan Cirebon sudah menghancurkan pasukan Sumedang dan Adipati Ukur menjadi tawanan.

Setelah keadaan aman kembali, Jatmika dan Neneng Salmah keluar dari Sumedang melakukan perjalanan ke timur.

Rumah itu masih baru dan cukup besar sehingga tampak aneh ada orang membangun rumah di dekat muara Sungai Lorong, tepi Laut Kidul yang sunyi itu.

Di sekitar tempat itu hanya ada bukit-bukit Pegunungan Kidul, dan sejauh puluhan kilometer di sekitar daerah itu tidak ada dusun.

Tanah disitu berkapur sehingga tidak layak untuk ditanami.

Lautnya pun ganas dengan ombak-ombak besar dan di tepinya banyak terdapat batu-batu karang sehingga amat berbahaya bagi perahu.

Maka, untuk mencari makan dengan mencari ikan dilaut pun tempat itu tidak layak, terlampau berbahaya.

Oleh karena itu, maka tempat di sekitar pantai itu sepi.

Tidak ada orang tinggal disitu karena sukar mendapatkan nafkah.

Maka, amat mengherankan kalau kini ada orang membangun rumah yang cukup besar di dekat muara Sungai Lorong itu.

Akan tetapi keheranan itu akan sirna kalau orang mengetahui siapa yang membangunnya dan mengapa dia membangun rumah besar di tempat itu.

Yang membangun adalah Raden Jaka Bintara, seorang pangeran dari Banten yang tentu saja kaya raya.

Dengan uangnya dia dapat mengerahkan penduduk dusun yang jauh dari situ untuk membangun sebuah pondok kayu yang cukup besar dan kokoh kuat, sungguhpun sederhana karena memang pondok itu bukan dimaksudkan untuk menjadi tempat tinggal tetap.

Pondok itu dibangun untuk tempat tinggal sementara sewaktu Raden Jaka Bintara berusaha untuk mendapatkan kitab kuno yang menjadi rahasia untuk mendapatkan Jamur Dwipa Suddhi.

Dia dibantu oleh Kyai Gagak Mudra, paman gurunya yang sakti mandraguna dan masih ada lagi lima orang jagoan yang terkenal di Banten.

Mereka dikenal sebagai Panca Warak (Lima Badak), tokoh-tokoh besar dari perkumpulan pencak silat Warak Sakti.

Lima orang ini menjadi pengikut Raden Jaka Bintara yang merupakan orang yang mendukung dan membeayai perkumpulan olah kanuragan itu.

Baru saja pondok itu jadi dan Raden Jaka Bintara dan paman gurunya, Kyai Gagak Mudra bersama kelima Panca Warak tinggal di pondok selama dua hari dilayani oleh tiga orang penduduk dusun yang jauh dari situ dan dijadikan pelayan dengan upah tinggi, bermunculan tokoh-tokoh sakti dan datuk-datuk dari berbagai perkumpulan olah kanuragan ditempat itu.

Ternyata berita tentang Jamur Dwipa Suddhi itu telah tersebar luas diseluruh nusantara sehingga memancing datangnya orang-orang sakti untuk memperebutkannya.

Karena menurut dongeng, Jamur Dwipa Suddhi adalah sebuah benda amat langka yang khasiatnya hebat bukan main dapat membuat tubuh orang yang memakannya menjadi kuat dan khasiat jamur itu dapat membangkitkan tenaga sakti yang dahsyat, juga jamur langka itu dapat menyembuhkan segala macam penyakit, maka tentu saja semua datuk persilatan amat tertarik untuk mendapatkan dan memilikinya.

Jamur itu kabarnya tumbuh di tubuh naga laut, maka tentu saja amat sukar didapatkan.

Dan menurut dongeng, di jaman Mojopahit, seorang pertapa sakti menemukan, jamur itu dan disembunyikan di suatu tempat di daerah itu sebelum dia wafat.

Jamur itu tidak akan dapat rusak biar disimpan sampai ratusan tahun.

Menurut dongeng, peristiwa ditemukan jamur itu di daerah kerajaan Wengker jaman Mataram Lama dahulu, maka kini orang-orang berdatangan ke daerah yang diperkirakan menjadi tempat disimpan atau disembunyikannya Jamur Dwipa Suddhi itu.

Ketika para datuk itu bermunculan di daerah itu, mereka melihat pondok besar yang berdiri di tepi muara sungai.

Mereka lalu berdatangan mengunjungi.

Sebagai seorang datuk dari Banten, Kyai Gagak Mudra mengenal banyak diantara mereka dan atas persetujuan Raden Jaka Bintara, Kyai Gagak Mudra menyambut dan mengundang mereka untuk berkunjung sebagai tamu.

Banyak tokoh dunia persilatan hadir dalam pertemuan dipondok yang besar itu, diantara mereka terdapat orang-orang yang memiliki kesaktian tingkat tinggi, seperti Ki Sumali, pendekar Loano Resi Sapujagad pertapa dari Gunung Merapi, seorang pertapa dari Gunung Bromo yang menamakan dirinya Bhagawan Dewo-katon bersama tiga orang cantriknya, Ki Kebondanu, seorang jagoan dari Surabaya, Kyai Jagalabilawa dari daerah Madiun, dan masih banyak lagi.

Jumlah mereka sekitar dua puluh orang, kesemuanya merupakan ahli-ahli olah kanuragan yang sakti.

Suasana dalam pondok itu seperti pesta.

Memang Raden Jaka Bintara menyambut mereka dengan pesta makan minum karena selain dia hendak mencari ketenaran diantara para datuk itu, juga dia ingin menanam pengaruhnya diantara mereka.

Siapa tahu mereka nanti akan tunduk kepadanya dan andaikata seorang diantara mereka beruntung bisa mendapatkan kitab tentang jamur Dwipa Suddi, dia akan dapat mempengaruhinya tintuk memberikan kepadanya, tentu saja dengan imbalan harta!

Maka, suasananya gembira sekali.

Semua orang yang sudah merasa lelah itu mendapatkan makanan dan minuman gratis yang serba royal pula.

Daging ayam, domba dan lembu berlimpahan, juga arak, tuwak dan badeg.

Selain untuk mencari pengaruh dan ketenaran, juga Jaka Bintara memenuhi kehendak paman gurunya, Kyai Gagak Mudra yang hendak mempergunakan kesempatan itu untuk memancing agar para datuk itu memperlihatkan kesaktian mereka masing-masing sehingga dia akan dapat menilai sampai dimana kekuatan mereka.

Betapapun juga, mereka semua mempunyai keinginan yang sama, yaitu memperebutkan kitab Jamur Dwipa Suddhi.

Mereka adalah saingan dan mungkin akan terjadi perebutan yang mengandalkan aji kesaktian, maka dia ingin menilai sampai dimana kekuatan mereka masing-masing.

Agaknya memang Raden Jaka Bintara sudah memperhitungkan kehadiran banyak orang itu, maka dipondoknya telah tersedia kursi yang cukup untuk tempat duduk para tamunya.

Selagi semua orang dipersilakan duduk dan hidangan mulai dikeluarkan, tiba-tiba muncul seorang lakilaki tua berusia enam puluh tahun lebih sikapnya anggun dan.

lembut dan dia datang diikuti dua orang cantriknya yang berusia tiga puluh tahun lebih.

Melihat kedatangan kakek itu, Kyai Gagak Mudra datuk Banten itu segera bangkit dan membisiki Raden Jaka Bintara.

"Mari kita sambut, dia itu adik seperguruan mendiang Menak Koncar!"

Mendengar disebutnya nama Menak Koncar, Raden Jaka Bintara cepat bangkit berdiri dan bersama paman gurunya dia keluar menyambut kedatangan Wiku Menak Jelangger dan dua orang cantriknya, itu Darun dan Dayun.

Wiku Menak Jelangger yang biasanya hanya bertapa di pantai selat Bali dan tidak mencampuri urusan dunia, kini jauh-jauh datang ketempat itu.

Sungguh mengherankan sekali!

Sesungguhnya, pertapa ini sama sekali tidak ingin memperebutkan Jamur Dwipa Suddhi untuk dirinya sendiri.

Dia diminta oleh Adipati Blambangan untuk mencarikan jamur ajaib itu untuk mengobati putera ke tiga dari sang adipati.

Putera ketiga yang berusia lima tahun itu sakit keras dan sudah diusahakan pengobatan oleh para ahli, namun tidak ada yang dapat menyembuhkannya.

Oleh karena itu, mendengar kabar tentang Jamur Dwipa Suddhi, sang adipati lalu minta tolong kepada Wiku Menak Jelangger untuk mencarikan jamur ajaib itu.

Sang Wiku tidak dapat menolak permintaan tolong, apalagi yang minta tolong adalah Adipati Blambangan, maka berangkatlah dia, mengajak dua orang cantriknya yang setia (Lanjut ke

Jilid 12) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 sebagai teman seperjalanan.

Kyai Gagak Mudra telah mengenal baik mendiang Wiku Menak Koncar, maka dia juga mengenal Wiku Menak Jelangger walaupun tidak pernah berhubungan dengan pertapa ini.

Maka, melihat kedatangannya, dia segera menyambutnya bersama Raden Jaka Bintara.

"Ah, Kakang Wiku Menak Jelangger, selamat datang dipesanggrahan kami! Perkenalkan, ini adalah Pangeran Raden Jaka Bintara, pangeran dari Banten. Pangeran, ini adalah Kakang Wiku Menak Jelangger dari Blambangan."

"Selamat datang, Paman Wiku. Silakan duduk dekat kami."

Kata Raden Jaka Bintara.

"Terima kasih, pangeran."

Kata Wiku Menak Jelangger dan dia lalu mengikuti tuan rumah, duduk di tempat kehormatan dekat Raden Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra.

Sedangkan dua orang cantrik Darun dan Dayun duduk di antara para tamu lain yang berhadapan dengan tempat duduk tuan rumah.

Memang tuan rumah menyediakan beberapa kursi kehormatan yang sejajar dengan mereka dan di tempat kehormatan itu duduk para tamu yang dihormati.

Mereka adalah Ki Sumali, pendekar Loano yang berusia lima puluh tujuh tahun, yang masih tampak gagah tampan dan sikapnya tenang berwibawa, lalu Resi Sapujagad pertapa Gunung Merapi yang usianya sudah enam puluh tahun, pakaiannya serba kuning, tubuhnya tinggi kurus dan wajahnya yang bersih tanpa kumis jenggot itu tampak agak kepucatan seperti orang berpenyakitan.

Akan tetapi bagi mereka yang tahu, kepucatan mukanya itu adalah tanda bahwa pertapa ini memiliki aji tertentu yang dahsyat, mengandalkan tenaga sakti dan karena melatihnya maka wajahnya menjadi pucat.

Resi Sapujagad ini membawa seuntai tasbeh yang selalu dimainkan dengan jari-jari tangan kirinya, seolah dia selalu berdoa sambil menghitung tasbeh.

Di pinggangnya terselip sebatang keris.

Orang ke tiga yang duduk di kursi kehormatan adalah Bhagawan Dewokaton, pertapa dari Gunung Bromo yang berusia lima puluh lima tahun.

Tubuh pertapa ini gendut dan wajahnya juga serba bulat dan Jelalu tersenyum lebar sehingga biarpun usianya sudah lima puluh lima tahun dia tampak lebih muda.

Pakaiannya serba putih dan di punggungnya tergantung sebatang pedang.

Bhagawan Dewokaton ini diiringkan tiga orang cantriknya, akan tetapi para cantrik ini oleh tuan rumah dipersilakan duduk di bagian tamu lain.

ORANG ke empat adalah Ki Kebo-ndanu, jagoan dari Surabaya, berusia sekitar lima puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan bersikap gagah.

Wajahnya juga gagah sekali dengan kumis sekepal sebelah dan jenggot terpelihara rapi dan sikapnya anggun, condong angkuh.

Di pinggangnya terselip gagang sebatang pecut dan pecutnya sendiri digelung.

Jagoan dari Surabaya ini yang dahulu membantu Pangeran Pekik mempertahankan serangan pasukan Mataram dengan gagah berani.

Akhirnya dia juga tertawan oleh para senopati Mataram yang sakti mandraguna, menjadi tawanan bersama Pangeran Pekik dan yang lain-lain.

Akan tetapi oleh Sultan Agung dia juga dibebaskan sebagai seorang gagah yang telah membela Surabaya yang menjadi tanah airnya mati-matian.

Akan tetapi ketika Pangeran Pekik tetap diakui sebagai Adipati Surabaya, bahkan menikah dengan PuteriWan-dansari dari Mataram, lalu Pangeran Pekik hendak memberi kedudukan sebagai senopati kepadanya, Ki Kebondanu menolaknya dengan hormat dan halus.

Sejak muda dia memang tidak suka menduduki jabatan dan ingin bebas.

Dia lalu menjadi guru olah kanuragan, melatih para perwira Surabaya.

Dengan demikian walaupun dia tidak mempunyai kedudukan resmi, namun dia dihormati oleh para perwira dan senopati Surabaya.

Ketika mendengar tentang Jamur Dwipa Suddhi, diapun tertarik sekali dan ikut datang ke daerah yang dikabarkan menjadi tempat disembunyikannya jamur ajaib itu untuk ikut mencari, kalau perlu memperebutkan dengan orang-orang lain.

Selain empat orang itu, ada pula seorang kakek berusia kurang lebih enam puluh lima tahun, yaitu Kyai Jagalabilawa yang merupakan seorang tokoh besar dari Madiun.

Tubuhnya sedang saja, akan tetapi wajahnya tampak kurus, begitu kurusnya sehingga tampak meruncing seperti wajah tikus.

Pakaiannya serba hitam dan dia juga mempunyai sebatang keris yang terselip di pinggangnya.

Lima orang tokoh itu, ditambah Wiku Menak Jelangger yang baru datang, duduk berderet dengan pihak tuan rumah, yaitu Kyai Gagak Mudra dan Raden Jaka Bintara, berhadapan dengan para tamu lain yang jumlahnya lima belas orang.

Di ruangan itu, bagian tengahnya cukup luas dan memang hal ini sengaja diatur oleh Kyai Gagak Mudra yang mempersiapkan ruangan terbuka itu agar para tokoh sakti itu dapat masing-masing mendemonstrasikan kesaktian mereka.

Dengan cara demikian dia akan dapat menilai siapa kiranya yang akan menjadi lawan terberat dalam persaingan atau perebutan Jamur Dwipa Siddhi itu.

Setelah para tamu diberi hidangan secukupnya, Kyai Gagak Mudra lalu bangkit berdiri dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan sebagai sembah di depan dada.

"Saya mewakili Pangeran Raden Jaka Bintara sebagai tuan rumah mengucapkan selamat datang kepada andika sekalian. Kami sungguh gembira dapat menyambut andika sekalian dan dapat berkumpul disini. Sebuah pertemuan tanpa direncanakan lebih dulu ini sungguh menyenangkan. Sayang sekali karena keadaan, kami tidak dapat menyuguhkan pertunjukkan apapun sebagai hiburan. Oleh karena itu, karena kita semua adalah orang-orang yang suka akan olah kanuragan, maka dalam kesempatan yang amat baik ini, bagaimana kalau kita menyumbangkan sedikit tenaga dan memperlihatkan kepandaian masing-masing untuk memeriahkan suasana dalam pertemuan ini?"

Golongan muda yang duduk di bagian tamu bersorak gembira menyambut usul yang menggembirakan ini.

Bagi mereka, tidak ada pertunjukan yang lebih menarik daripada demonstrasi olah kanuragan dan seperti sudah menjadi penyakit mereka yang merasa memiliki kelebihan, mereka ingin sekali mendemonstrasikan kepandaian mereka agar dikagumi.

Pendeknya, sebagian besar dari mereka ingin memamerkan kehebatan masing-masing!

"Ha-ha-ha-ha!"

Bhagawan Dewokaton yang bertubuh gendut itu tiba-tiba tertawa, suara tawanya demikian bebas dan wajar sehingga memancing tawa orang-orang lain yang mendengarnya.

"Kakang Kyai Gagak Mudra, usul andika itu memang bagus sekali. Memang tidak ada kegembiraan yang lebih menyenangkan daripada melihat pameran aji kanuragan dari saudara sekalian yang tentu saja hebat-hebat! Akan tetapi, sebelum ada tamu yang berani lancang memperlihatkan kebolehannya, sudah sepatutnya dan seyogianya kalau pihak tuan rumah yang lebih dulu memperlihatkan kehebatannya!"

Ucapan ini mendapat sambutan meriah dan semua tamu bertepuk tangan menyatakan setuju. Kyai Gagak Mudra berbisik kepada Raden Jaka Bintara.

"Bagaimana kalau paduka yang pertama-tama membuka demonstrasi kedigdayaan ini, pangeran?"

Jaka Bintara adalah seorang pemuda yang suka menyombongkan kepandaiannya.

Memang dia digdaya, memiliki kesaktian karena dia adalah murid tersayang dari mendiang Kyai Sidhi Kawasa, datuk Banten yang amat terkenal itu.

Dia tentu suka memamerkan kepandaiannya di depan para tamunya, maka dia mengangguk kepada paman gurunya.

Kyai Gagak Mudra lalu bangkit berdiri dan berkata kepada para tamunya.

"Baiklah, saudara-saudara sekalian. Murid keponakanku, Pangeran Raden Jaka Bintara, akan membuka pertunjukan ini dengan permainannya. Silakan, pangeran!"

Raden Jaka Bintara bangkit lalu melangkah maju ke tengah ruangan.

Semua tamu dapat melihatnya dengan jelas.

Pangeran yang berusia tiga puluh tiga tahun itu memang gagah sekali.

Tubuhnya tinggi besar, agak kurus, wajahnya tampan dan kaki tangannya kokoh, dadanya bidang.

Pandang matanya tajam dan mulutnya selalu tersenyum mengejek, tarikan bibirnya membayangkan kesombongan.

Namun harus diakui bahwa dia tampak gagah.

Dia menggerakkan tubuh, menghadap kepada para tamu kehormatan dan para tamu muda, kemudian mulailah dia bergerak, memperlihatkan jurus silatnya yang gerakannya cepat dan juga mengandung tenaga dahsyat sehingga setiap kali tangannya menyambar, terdengar angin berciutan.

Tiba-tiba, setelah menggerakkan tubuh belasan jurus dengan pukulan dan tendangan, tampak sinar hitam berkelebat dan tahu-tahu dia telah melolos pedangnya.

Pedang hitam yang ketika dia gerakkan berubah menjadi gulungan sinar hitam.

Dia bersilat pedang dan diantara gulungan sinar pedang hitam itu terdengar suara berdesing-desing mengerikan.

Para tamu kagum menyaksikan demonstrasi yang dimainkan Raden Jaka Bintara.

Bahkan para datuk yang duduk di tempat kehormatanpun diam-diam harus mengakui bahwa pangeran dari Banten ini memang tangguh sekali.

Terutama sekali ilmu pedangnya yang demikian hebat, amat sukar dilawan.

Setelah bersilat pedang selama dua puluh jurus lebih, tiba-tiba Raden Jaka Bintara menghentikan permainan pedangnya.

Mendadak saja sinar hitam bergulung-gulung itu lenyap dan tahu-tahu pedang itu telah kembali ke sarung pedang dan pemuda itu kini berdiri tegak, lalu tiba-tiba dia menggerakkan kedua tangan yang tadi saling digosok-gosokkan sambil berseru nyaring.

"Aji Hastanala...!"

Kedua telapak tangan yang didorongkan itu membara seperti terbakar merah dan hawa panas terasa oleh semua yang hadir.

Para tamu, terutama yang muda-muda, terbelalak kagum dan merasa jerih kepada pangeran Banten yang memiliki aji pukulan sedemikian dahsyatnya.

Juga ilmu silat pedangnya tadi mengagumkan dan mengerikan.

Raden Jaka Bintara sudah merasa puas memamerkan sebagian kepandaiannya itu.

Dia berhenti bergerak, memberi hormat kepada para tamu lalu melangkah kembali ke tempat duduknya, diiringi tepuk sorak para tamu.

Kini tiba giliran para tamu yang diberi kesempatan memperlihatkan kepandaiannya dan dipersilakan maju satu demi satu.

Tentu saja mereka yang serombongan atau seperguruan, hanya diwakili seorang saja untuk memperlihatkan ilmu silat aliran mereka.

Diantara lima belas orang tamu yang bukan tamu kehormatan, maju seorang demi seorang dan semua hanya ada enam orang yang mewakili aliran masing-masing.

Mereka juga berusaha keras untuk memperlihatkan kepandaian mereka yang paling hebat, namun tidak ada diantara mereka yang dapat melampaui tingkat kepandaian Jaka Bintara sehingga pangeran dari Banten ini merasa bangga sekali.

Tidak ada diantara mereka yang akan menjadi saingan berat dalam memperebutkan Jamur Dwipa Suddhi, pikirnya.

Kyai Gagak Mudra kini bangkit berdiri dan memberi hormat kepada mereka yang duduk sejajar dengan dia.

"Yang muda-muda sudah mendatangkan suasana gembira dengan bantuan mereka mempertunjukkan keahlian mereka. Kini kami harap andika yang tua-tua suka menambah meriahnya pertemuan ini dengan memperlihatkan kesaktian andika untuk membuka mata kita semua. Kami persilakan maju satu demi satu, dimulai yang duduk paling pinggir, yaitu Ki Sumali, pendekar Loano yang namanya sudah terkenal."

Ucapan ini disambut tepuk tangan para tamu muda.

Ki Sumali sebetulnya enggan untuk memamerkan ilmunya, akan tetapi melihat betapa semua tamu menyetujui, dia merasa tidak enak kalau menolak sendiri.

Terpaksa dia bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Kyai Gagak Mudra.

"Sebetulnya saya tidak mempunyai kepandaian apapun yang berharga untuk ditonton, Kyai Gagak Mudra."

Kata Ki Sumali.

"Ha-ha-ha! Siapa yang tidak mengenal nama Pendekar Loano? Kalau tidak sakti mandraguna, mana bisa menjadi seorang pendekar?"

Kata Bhagawan Dewakaton yang lalu tertawa bergelak.

Diantara para tamu yang tidak senang terhadap sebutan "pendekar", sebutan yang mereka anggap sombong dan pula sering berlawanan dengan cara hidup mereka, ikut tertawa mengejek.

"Maaf, bukan saya yang memakai julukan pendekar, melainkan orang-orang yang menyebut demikian karena saya suka menolong mereka yang sedang dilanda kesusahan. Untuk menolong orang tidak selalu harus mengandalkan kesaktian. Bahkan banyak sekali orang yang menggunakan kesaktian untuk melakukan kejahatan."

Kyai Gagak Mudra yang bertubuh pendek gemuk dan suka tertawa itu kini memperdengarkan tawanya.

"Ha-ha-ha, Ki Sumali jangan andika terlalu merendahkan diri dan mengaku tidak mempunyai kepandaian apa-apa. Andika datang kesini tentu juga ingin memperebutkan Jamur Dwipa Suddhi, bukan? Dan untuk dapat memperoleh jamur pusaka itu tentu harus menggunakan kesaktian. Hayolah, jangan berpura-pura!"

"Kyai Gagak Mudra, memang tidak saya sangkal bahwa saya ingin mendapatkan jamur ajaib itu, akan tetapi saya mengandalkan nasib, bukan kepandaian."

Bantah Ki Sumali.

"Hemm, kalau begitu, andika tidak mau memenuhi permintaan kami semua untuk memperlihatkan kesaktianmu, Ki Sumali? Andika hendak menentang apa yang telah disetujui oleh kami semua?"

Tanya Kyai Gagak Mudra dengan nada tak senang. Ki Sumali merasa tidak enak hati mendengar ini.

"Bukan saya tidak mau, Kyai Gagak Mudra, hanya saya khawatir pertunjukanku tidak akan menarik, tidak berharga untuk ditonton. Akan tetapi kalau andika semua menghendaki, tentu saja saya tidak merasa keberatan."

Ucapan Ki Sumali ini disambut tepuk tangan para tamu golongan muda.

Mereka tentu saja ingin sekali melihat kehebatan ilmu kepandaian para tokoh besar yang duduk di kursi-kursi kehormatan.

Ki Sumali melangkah ke tengah ruangan.

Bagaimanapun juga, dia harus memperlihatkan kesaktiannya agar jangan dipandang rendah oleh orang-orang itu, terutama oleh Pangeran Raden Jaka Bintara dari Banten yang bersikap sombong akan tetapi yang dia tahu merupakan lawan yang cukup berat itu.

Apalagi dia sudah dihargai oleh Kyai Gagak Mudra, datuk Banten itu, dengan dipersilakannya dia duduk di deretan kursi kehormatan, sejajar dengan pihak tuan rumah.

Setelah tiba di dekat ruangan, dia memberi hormat kepada para tamu dan pihak tuan rumah dengan sembah di depan dada, kemudian pendekar Loano ini mulai bersilat.

Ki Sumali telah mempelajari banyak macam aji kanuragan, dan yang terakhir dia berguru kepada mendiang Aki Somad datuk di Nusakambangan yang sakti mandraguna.

Dia bersilat menurut aliran Bagelen yang sifatnya gagah dan jantan.

Gerakannya seperti tarian kiprah yang indah dan gagah, makin lama semakin cepat sehingga tubuhnya bergerak sukar diikuti pandang mata dan kadang tampak seperti bayangan berkelebat saja.

Lalu dia isi kedua tangannya dengan Aji Tapak Geni dan ketika dia bergerak memukul, kedua telapak tangannya itu membara dan bernyala!

Para tamu muda bertepuk tangan memuji.

Ki Sumali mencabut suling dan kerisnya yang hitam dan mulailah dia bersilat dengan sepasang senjatanya yang ampuh itu.

Suling di tangan kirinya ketika digerakkan mengeluarkan bunyi berdengung-dengung seperti ditiup dan kerisnya juga menyambar-nyambar ganas, mengeluarkan bunyi bercuitan.

Setelah dia berhenti bersilat, tidak tampak dia berkeringat atau terengah-engah, dan para penonton bertepuk tangan meriah.

Ki Sumali memberi hormat kepada mereka semua lalu dengan tenang duduk kembali ketempat semula.

Kyai Gagak Mudra tertawa dan bangkit berdiri.

Dalam hatinya dia mencatat bahwa Ki Sumali merupakan lawan yang tangguh, akan tetapi tidak terlalu berat baginya.

Bahkan Raden Jaka Bintara saja kiranya cukup untuk menandingi Ki Sumali.

"Wah, andika terlalu merendahkan diri, Ki Sumali. Kepandaianmu hebat!"

Kemudian Kyai Gagak Mudra menghadapi tamu kehormatan yang duduk di kursi ke dua, yaitu Resi Sapujagad, pertapa dari Merapi dan berkata.

"Sekarang kami persilakan Kakang Resi Sapujagad untuk membantu dan menambah kemeriahan pertemuan ini,"

Resi Sapujagad adalah seorang pertapa dari Gunung Merapi.

Ketika Mataram mengadakan perang, baik ketika menundukkan daerah-daerah yang tidak mau tunduk, maupun ketika Mataram berperang melawan Kumpeni Belanda, dia tidak membantu.

Akan tetapi dia juga tidak pernah membantu pihak musuh Mataram.

Dia tinggal diam dalam pondok padepokannya untuk bertapa tidak memperdulikan itu semua.

Kini dia keluar dari padepokannya karena dia tertarik dan ingin mendapatkan Jamur Dwipa Suddhi yang kabarnya juga dapat memperpanjang umur!

Mendengar ucapan tuan rumah, dia bangkit berdiri.

Pertapa yang berusia enam puluh tahun ini mengenakan pakaian serba kuning, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya pucat.

Tangan kirinya memegang seuntai tasbeh merah dan muka yang pucat dan selalu muram itu tidak memperlihatkan perasaan apapun ketika dia melangkah ke tengah ruangan.

Setelah berdiri di tengah ruangan, dia hanya menghadap kearah tuan rumah, lalu ke arah para tamu dan berkata.

"Aku tidak punya kepandaian apapun, setiap hari hanya bergaul dengan tasbehku ini. Karena itu yang dapat kuperlihatkan hanyalah main-main dengan tasbehku!"

Lalu dia menoleh ke arah para tamu muda.

"Para saudara muda yang merasa tidak kuat agar menutupi kedua telinga mereka dengan jari telunjuk. Aku sudah memperingatkan, kalau terjadi apa-apa yang merugikan, aku tidak bertanggung jawab."

Sesudah berkata demikian, kakek tinggi kurus itu lalu memutar tasbeh di tangan kirinya.

Begitu diputar, tasbeh itu mengeluarkan suara berkeritikan, tidak begitu nyaring.

Melihat pertapa itu hanya memutar-mutar tasbeh dengan tangan kirinya, sama sekali tidak melakukan gerakan silat, dan tasbeh itu hanya mengeluarkan suara berkeritikan, para tamu muda sudah mulai tertawa cekikikan.

Akan tetapi, putaran tasbeh itu semakin cepat dan bunyinya juga semakin nyaring.

Mulailah terjadi hal-hal yang luar biasa.

Diantara para tamu muda itu, tiba-tiba merasa betapa telinga mereka seperti ditusuk-tusuk dan ada tiga orang tamu yang sudah terguling jatuh dari kursinya.

Mereka cepat memasukkan kedua jari telunjuk ke telinga mereka, barulah rasa nyeri luar biasa itu lenyap karena mereka tidak mendengar suara berkeritikan yang semakin nyaring itu.

Yang lain-lain terkejut dan juga mulai merasakan serangan bunyi itu ke telinga mereka, maka merekapun cepat menutup kedua telinga mereka.

Para tokoh yang duduk di deretan tuan rumah terkejut pula.

Mereka juga mulai merasakan serangan bunyi yang dapat menusuk telinga dan menggetarkan jantung itu, maka mereka semua cepat mengerahkan tenaga sakti untuk melindungi kedua telinga mereka.

Barulah bunyi itu tidak menembus pertahanan mereka dan tidak menyakitkan pendengaran lagi.

Resi Sapujagad kini memutar tasbehnya cepat sekali dan tiba-tiba tasbeh itu terlepas dari tangannya dan berputar-putar di udara seperti seekor burung hidup dan sambil "terbang"

Berputaran itu mengeluarkan suara berkeritikan nyaring!

Semua tokoh maklum bahwa tasbeh itu ternyata merupakan senjata ampuh dan dalam terbangnya itu dapat mengejar dan menyerang lawan!

Setelah membiarkan tasbeh itu melayang berkeliling beberapa kali, Resi Sapujagad lalu mencabut kerisnya luk sembilan dan begitu dia mengacungkan kerisnya ke arah tasbeh, maka tasbeh itu meluncur ke arah keris dan kembali ke tangan sang resi!

Suara berkeritikan berhenti dan Resi Sapujagad, dengan wajahnya yang pucat tidak berubah, lalu melangkah kembali ke kursinya dan duduk dengan air muka tetap dingin seolah tidak terjadi sesuatu!

Semua tamu bertepuk tangan dan Kyai Gagak Mudra tersenyum lebar dan berkata kepada Resi Sapujagad.

"Kakang Resi Sapujagad sungguh sakti mandraguna dan tasbehnya merupakan senjata yang amat dahsyat. Aku kagum sekali! Kini kami persilakan andika, Bhagawan Dewokaton, untuk memeriahkan pertemuan ini."

"Ha-ha-ha!"

Bhagawan Dewokaton, pertapa Gunung Bromo yang gendut itu bangkit dan menuju ke tengah ruangan.

"Wah, setelah macan dan singa mengeluarkan auman mereka yang nyaring menakutkan, sekarang aku bagaikan seekor kodok disuruh berbunyi. Tentu hanya akan menggelikan saja. Akan tetapi tidak mengapa, untuk menggembirakan andika sekalian, biarlah aku memperlihatkan kebodohanku."

Lalu dia menuding ke arah tiga orang cantrik yang menjadi pengiringnya dan kini duduk dalam ruangan untuk tamu muda.

"Ambilkan sebatang balok pendek dan siap melempar padaku kalau nanti kuperintahkan!"

Seorang cantrik yang bertubuh tinggd besar lalu bangkit dan melangkah keluar, diikuti pandang mata semua tamu.

Di luar pondok itu terdapat sebatang pohon waru.

Cantrik itu menghampiri pohon waru dan sekali tangan kanannya membuat gerakan membacok, terdengar bunyi nyaring.

Semua orang kagum.

Muridnya saja begini hebat!

"Krakk!"

Pohon itu roboh dan cantrik itu lalu mematahkan batang pohon dengan kedua tangannya dan membawa potongan batang pohon sebesar paha manusia dan sepanjang dua lengan itu ke dalam ruangan itu.

Melihat ini, Bhagawan Dewokaton tertawa lagi.

"Ha-ha-ha, nah, sekarang aku akan mulai memperlihatkan kebodohanku!"

Setelah berkata demikian, tangannya meraba punggung dan gerakannya cepat sekali.

"Srattt...!"

Sebatang pedang telah dicabutnya dan dia lalu memainkan pedang itu, bersilat pedang dan biarpun tubuhnya gendut, akan tetapi gerakannya cepat sekali sehingga sebentar saja tubuhnya hanya merupakan bayangan yang diselimuti gulungan sinar pedang!

Semua orang kagum, tidak mengira si gendut ini dapat bergerak sedemikian cepatnya dan mereka mulai bertepuk tangan.

"Lemparkan!"

Bayangan dalam gulungan sinar pedang itu berseru dan cantrik tinggi besar yang sudah siap dengan balok batang pohon waru itu segera melemparkan kayu itu ke arah Bhagawan Dewokaton.

"Hyaaattt...!"

Sinar pedang menyambar dengan suara berdesing-desing ke arah balok pendek.

Balok itu terjatuh ke atas lantai dalam keadaan utuh!

Semua orang memandang dan pertapa Bromo itu menghentikan gerakannya dan pedang sudah kembali ke sarungnya.

Lalu meledaklah suara tawa para tamu muda.

Mereka mulai mengejek melihat betapa balok kayu tadi masih utuh ketika disambar pedang pertapa gendut itu.

Mereka merasa lucu sekali dan menganggap kakek itu membual seperti gentong kosong.

Akan tetapi Kyai Gagak Mudra melangkah maju menghampiri Bhagawan Dewokaton dan berkata.

"Hebat, ilmu pedang andika luar biasa hebatnya!"

Kemudian dia mengambil balok dari atas lantai dan mengangkatnya ke atas.

Ketika dia menggoyangkan balok itu, berjatuhanlah potongan-potongan balok.

Ternyata batang kayu waru itu telah terpotong menjadi lima.

Demikian tajam pedang itu dan demikian kuat tenaga dalam pertapa Bromo itu sehingga balok yang sudah terpotong empat kali menjadi lima potong itu masih tampak utuh!

Kini semua orang bertepuk tangan riuh, memuji-muji kehebatan kakek gendut itu.

Dapat dibayangkan betapa tubuh lawan akan mudah sekali dikoyak pedang tajam yang digerakkan tangan yang bertenaga sakti demikian kuatnya.

Bhagawan Dewokaton hanya tertawa lalu kembali ke tempat duduknya.

Kini, sebelum Kyai Gagak Mudra minta kepadanya untuk mendemonstrasikan kepandaiannya, Ki Kebondanu sudah bangkit dan menuju ke tengah ruangan.

"Semua kesaktian yang dipertontonkan tadi hebat. Aku seorang bekas penggembala kerbau hanya dapat bermain-main dengan pecut (cambuk) ini!"

Dia mengambil pecut yang digulung dan gagangnya diselipkan di pinggang.

Ternyata pecut itu panjangnya tiga meter lebih.

Ki Kebondanu memang dahulunya seorang penggembala kerbau dan hal ini tidak membuatnya merasa rendah diri atau malu, bahkan ketika dia mempelajari aji kanuragan, dia sengaja menyesuaikan kepandaiannya memainkan pecut dengan gerakan silat tinggi.

Mulailah dia bersilat dan semua orang berdecak kagum.

Pantas orang tinggi besar ini menjadi pelatih para perwira di Kadipaten Surabaya.

Gerakannya memang hebat sekali.

Gulungan sinar pecut itu menyelimuti dirinya dalam jarak tiga meter dan terdengar bunyi meledak-ledak setiap kali ujung pecutnya menyambar dan tampak asap mengepul.

Sungguh merupakan seorang lawan yang tangguh dan berbahaya, pikir Kyai Gagak Mudra yang diam-diam menilai permainan setiap orang tamu.

Setelah puas memamerkan ilmunya bermain pecut, Ki Kebondanu menghentikan permainannya dan kembali duduk di tempatnya semula.

Kini tinggal seorang lagi tamu yang, duduk di kursi kehormatan, yaitu Kyai Jagalabilawa, datuk dari daerah Madiun, yang berpakaian serba hitam.

"Sekarang Kakang Kyai Jagalabilawa mendapat giliran, harap suka main-main sebentar untuk memeriahkan suasana."

Kata Kyai Gagak Mudra kepada kakek bermuka tikus berjubah hitam itu.

Kyai Jagalabilawa juga tidak banyak cakap.

Dia bangkit lalu pergi ke tengah ruangan.

Dicabutnya sebatang keris dari pinggangnya dan semua orang memandang kagum karena keris itu mengeluarkan cahaya berkilat.

Sungguh merupakan sebatang keris pusaka yang bertuah!

Keris itu berluk lima dan tidak berapa panjang, akan tetapi bersinar dan mengandung wibawa yang menyeramkan.

Kakek ini lalu bersilat dengan kerisnya.

Gerakannya mantap namun tidak berapa cepat, hanya mengandung tenaga dahsyat karena setiap kali keris itu menusuk, terdengar suara mengiuk dan berdesing dan cahaya keris itu seolah lebih dulu menyerang mendahului kerisnya.

Para tamu muda mengerutkan alisnya.

Apa anehnya silat keris seperti itu?

Mereka juga mampu memainkannya.

Sungguh mengecewakan kalau seorang datuk yang dihormati hanya sebegitu saja tingkat ilmu silatnya.

Akan tetapi tiba-tiba datuk daerah Madiun itu mengeluarkan suara gerengan seperti harimau mengaum dan semua orang, terutama para tamu muda, terbelalak kaget dan heran karena mereka melihat betapa kini tubuh Kyai Jagalabilawa berubah menjadi dua!

Ada dua orang Kyai Jagalabilawa yang bersilat keris!

Bukan main!

Datuk ini dapat mengubah dirinya menjadi dua orang kembar yang tentu akan membingungkan lawan karena dikeroyok dua.

Tentu saja orang ini akan merupakan lawan yang berbahaya sekali!

Akan tetapi hanya sebentar saja Kyai Jagalabilawa memperlihatkan ajiannya yang mengandung ilmu sihir itu.

Tubuhnya menjadi satu lagi dan dia menghentikan permainan kerisnya dan duduk kembali di kursinya, diiringi tepuk tangan riuh rendah dari para tamu muda yang terkagum-kagum.

Kyai Gagak Mudra kini menghampiri Wiku Menak Jelangger yang datang paling akhir dan duduk di sudut kiri.

"Kakang Wiku Menak Jelangger, kami harap andika suka ikut pula meramaikan pertemuan ini."

Wiku Menak Jelangger tersenyum dan tetap duduk di kursinya lalu mengangkat kedua tangan menyembah di depan dada.

"Sadhu-sadhu-sadhu, Adi Kyai Gagak Mudra. Aku adalah seorang pertapa yang sudah belasan tahun tak pernah keluar kedunia ramai. Kalau sekarang aku keluar juga, adalah untuk melaksanakan perintah Adipati Blambangan yang menugaskan aku mencari Jamur Dwipa Suddhi. Seorang pertapa seperti aku ini, sudah tua dan lemah, dapat memamerkan apakah?"

"Wah, Kakang Wiku terlalu merendah. Andika adalah adik seperguruan mendiang Kakang Wiku Menak Koncar. Siapa yang tidak mengenal kesaktiannya? Harap Kakang Wiku bermurah hati untuk memberi sedikit pelajaran kepada kami semua."

"Begini saja, Adi Kyai. Sebaiknya andika sendiri yang memperlihatkan permainan andika, setelah itu nanti aku akan mewakilkan saja kepada kedua orang cantrikku untuk bermain-main sebentar."

Kyai Gagak Mudra tidak berani terlalu mendesak dan dia tersenyum.

"Baiklah kalau begitu. Hanya kita berdua yang belum menyumbangkan tenaga untuk memeriahkan pertemuan ini. Nah, aku akan bemain-main sebentar untuk menghibur para tamu yang terhormat."

Kyai Gagak Mudra lalu pergi ke tengah ruangan dan menyembah depan dada kepada semua tamu, kemudian dia berkata dengan suara lantang.

"Sesungguhnya, permainanku tadi sudah diwakili oleh Pangeran Raden Jaka Bintara, maka kalau aku bermain silat, tidak ada bedanya dengan apa yang tadi diperlihatkannya karena memang beliau adalah keponakan muridku dan aku adalah paman gurunya. Tadi Pangeran Raden Jaka Bintara sudah memperlihatkan Aji Hasta Nala. Untuk membuktikan bahwa ajian itu bukan hanya sulapan belaka dan benar-benar tangan kami berubah menjadi api membara, baiklah aku akan membuktikannya."

Kyai Gagak Mudra lalu mengambil sepotong kayu yang tadi dipotong-potong oleh pedang yang dahsyat dari Bhagawan Dewokaton, memegang potongan kayu itu dengan kedua telapak tangannya.

Kemudian dia mengerahkan Aji Hasta Nala dan berseru nyaring.

"Haiiiittt...!"

Kedua tangannya tergetar, kedua telapak tangan itu menjadi kemerahan dan membara seperti besi dibakar.

Tampak asap mengepul dan kayu yang dipegangnya itu mulai terbakar!

Tepuk tangan menyambut demonstrasi ini.

Kyai Gagak Mudra melepaskan kayu terbakar itu lalu membungkuk dan menghampiri Wiku Menak Jelangger.

"Nah, sekarang kami persilakan Kakang Wiku Menak Jelangger sebagai pemain terakhir."

"Hemm, seperti sudah kukatakan tadi, Adi Kyai, aku akan mewakilkan kepada dua orang cantrikku."

Sang Wiku lalu memberi isarat kepada dua orang cantriknya yang duduk bersama para tamu muda dan berkata.

"Kalian berlatihlah dengan keris."

Darun dan Dayun mengangguk, menyembah lalu bangkit, lalu keduanya melangkah ketengah ruangan.

Para tamu muda tersenyum geli.

Kedua orang ini memang tampak lucu.

Darun yang berusia tiga puluh dua tahun itu bertubuh pendek gendut, sedangkan Dayun yang berusia tiga puluh satu tahun bertubuh tinggi kurus.

Bentuk tubuh yang berlawanan ini yang membuat mereka tampak lucu.

Kini keduanya saling berhadapan dan keduanya memberi hormat kepada para sesepuh, lalu mencabut keris masing-masing dan mulailah mereka saling serang.

Gerakan mereka cukup tangkas dan permainan keris mereka juga cepat dan mengandung tenaga.

Semua ini masih belum memancing rasa kagum para tamu muda, akan tetapi ketika tiba-tiba keris di tangan Dayun menghunjam ke arah dada Darun, semua orang menahan napas.

"Syuuuttt... tukk!"

Keris itu terpental!

Ternyata Darun yang pendek gendut itu menggunakan aji kekebalannya untuk menahan tusukan Dayun, Kemudian Darun membalas dengan tusukan yang diarahkan leher Dayun.

Dayun sengaja menerima tusukan itu yang juga terpental ketika mengenai lehernya.

Dua orang itu saling menusuk dengan keris mereka, akan tetapi tidak ada tusukan yang dapat menembus kulit dua orang cantrik itu.

Mereka seperti keranjingan dan tusukan-tusukan, seperti dua orang penari Bali yang kesurupan dalam tarian Bali.

Tiba-tiba Wiku Menak Jelangger berdiri dan melangkah ke arah dua orang cantriknya yang sedang main tusuk-tusukan dan dia berkata.

"Hentikan dan kalau hendak berkelahi, seranglah aku!"

Ucapan itu lembut namun mengandung wibawa kuat dan dua orang cantrik itu, seolah mendapat perintah yang tidak dapat mereka bantah, menerjang ke arah sang wiku dengan keris di tangan dan melakukan gerakan untuk menyerang.

Akan tetapi Wiku Menak Jelangger menggerakkan kedua tangannya mendorong.

Dua orang cantrik itu masih berada dalam jarak tiga meter di depannya, akan tetapi tenaga sakti yang keluar dari kedua tangan sang wiku mendatangkan angin yang kuat, menyambut dua orang cantrik itu dan mereka terlempar kebelakang sampai dua meter dan terbanting jatuh.

Kedua orang cantrik itu segera menyembah kepada guru mereka.

Wiku Menak Jelangger memberi isyarat agar mereka bangkit.

Mereka lalu mengambil keris yang tadi terlepas dari tangan mereka dan kembali ke tempat duduk mereka.

Sang wiku juga kembali duduk, diiringkan tepuk sorak para tamu yang merasa kagum melihat kesaktiannya.

Memukul dengan menggunakan tenaga sakti sehingga sebelum tangan mengenai tubuh yang dipukul, lawan sudah terlempar jauh merupakan aji kesaktian yang dimiliki banyak tokoh pandai.

Akan tetapi memukul dengan tenaga yang tepat sehingga dua orang murid yang terdorong pukulan jarak jauh itu roboh tanpa terluka sedikitpun membutuhkan keahlian tersendiri.

Pada saat itu, tiba-tiba dari luar masuk seorang wanita dengan langkah ringan dan tenang.

Semua orang menengok dan memandang, dengan kagum.

Wanita yang cantik jelita.

Rambutnya panjang hitam berombak, wajahnya bulat dan kulitnya putih mulus, agak kemerahan karena sehat, sepasang matanya lebar, bening jeli dengan kedua ujungnya meruncing ke atas, hidung mancung, mulutnya indah manis dengan bibir merah basah menggairahkan, bentuk tubuhnya padat ramping agak denok.

Benar-benar seorang wanita yang amat cantik dan melihat wajah dan bentuk tubuhnya, orang akan menaksir bahwa ia berusia kurang lebih dua puluh tahun.

Wanita ini bukan lain adalah Nyi Maya Dewi yang sebenarnya sudah berusia tiga puluh tiga tahun.

Seperti kita ketahui, Nyi Maya Dewi melakukan perjalanan bersama Bagus Sajiwo, meninggalkan pegunungan Wilis yang dulunya menjadi tempat tinggal wanita itu, yakni di Bukit Keluwung.

Selama kurang lebih satu tahun itu sambil melakukan perjalanan, Nyi Maya Dewi yang sudah pulih kesehatannya dan telah mendapatkan kembali tenaga saktinya, memperdalam ilmu silatnya, yaitu silat Singo-rodra.

Bagus Sajiwo memberi petunjuk dan menghilangkan sifat-sifat kejam dari ilmu silat itu, menambah dengan jurus-jurus ampuh.

Biarpun kini Nyi Maya Dewi sudah kehilangan Aji Naka Sarpa dengan pukulan mengandung Wisa Sarpa, dan Aji Tapak Rudira, kedua macam aji kesaktian yang sifatnya sesat, jahat dan keji, namun kini ia telah menguasai aji pukulan lain yang cukup ampuh karena ia menerima latihan ilmu silat Lintang Kemukus dari Bagus Sajiwo.

Juga ia masih dapat memainkan Sabuk Cinde Kencana dengan baik.

Bahkan kini tenaga saktinya menjadi murni dan tidak kalah kuatnya dibandingkan dahulu sebelum ia bertemu Bagus Sajiwo.

Nyi Maya Dewi termasuk seorang tokoh yang terkenal.

Oleh karena itu, begitu ia memasuki ruangan, banyak mulut berseru.

"Ah, ia Nyi Maya Dewi...!"

Yang paling terkejut dan merasa tidak enak hati adalah pihak tuan rumah, yaitu Pangeran Jaka Bintara dan paman gurunya, Kyai Gagak Mudra.

Raden Jaka Bintara pernah meminang Nyi Maya Dewi dan ketika wanita itu menolak, dia hendak memaksanya, dibantu oleh Kyai Gagak Mudra.

Akan tetapi mereka berdua merasa tidak dapat menandingi wanita yang sakti mandraguna itu, maka keduanya melarikan diri meninggalkan tempat tinggal Nyi Maya Dewi di Bukit Keluwung.

Mereka tentu saja sama sekali tidak tahu bahwa "kemenangan"

Nyi Maya Dewi itu karena diam-diam dibantu Bagus Sajiwo.

Juga sama sekali tidak tahu bahwa pertandingan melawan mereka mengakibatkan Nyi Maya Dewi terluka parah sekali yang membahayakan keselamatan badannya.

Biarpun merasa terkejut dan juga gentar, Raden Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra merasa malu untuk memperlihatkan rasa takutnya.

Disitu banyak tokoh dan para datuk, memalukan kalau mereka takut terhadap datuk wanita itu.

Apalagi disitu terdapat Panca Warak, anak buah Raden Jaka Bintara, lima jagoan Banten yang siap membela mereka dan yang kini duduk di pinggiran, dibelakang tempat duduk para tamu kehormatan.

Juga para tamu tentu akan membantu mereka sebagai tuan rumah kalau Nyi Maya Dewi membuat ulah dan hendak mengacau.

Maka, mereka berdua lalu bangkit dan menyambut Nyi Maya Dewi yang sudah melangkah sampai ke tengah ruangan.

Jaka Bintara yang masih merasa kagum akan kecantikan Nyi Maya Dewi dan masih mengharapkan untuk menundukkan hati wanita jelita yang membuat dia tergila-gila itu, segera menyambut dengan wajah tersenyum gembira.

"Ah, kiranya Nyi Maya Dewi yang memberi kehormatan kepada kami untuk datang berkunjung. Selamat datang, Nyi Maya Dewi dan silakan duduk!"

Dia memberi isarat dan dua orang dari Panca Warak segera mengantarkan dua buah kursi yang diletakkan di bagian tamu kehormatan.

Nyi Maya Dewi tersenyum manis sekali.

Semenjak pertemuannya dengan Raden Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra setahun lebih yang lalu, yang mengakibatkan pertandingan antara mereka, wanita ini sudah berubah banyak sekali.

Ia kini bukan lagi Nyi Maya Dewi yang berwatak jahat dan kejam.

Ia telah mendapat bimbingan Bagus Sajiwo yang menuntunnya ke arah jalan kebenaran, yang membuka mata hatinya sehingga ia menyadari akan semua dosa dan kesalahannya di masa yang lalu.

Memang ia masih cerdik dan lincah, akan tetapi kekerasan dan kekejaman hatinya kini terganti watak riang dan jenaka.

Ia memandang kepada Jaka Bintara dengan senyum yang tulus, dan tidak ada dendam kebencian dalam hatinya.

Namun ia menyadari bahwa ia berhadapan dengan orang yang sesat dan berwatak tidak baik, juga sakti mandraguna dan amat berbahaya.

Apalagi disitu terdapat pula Kyai Gagak Mudra dan siapa tahu diantara banyak orang yang kesemuanya merupakan tokoh-tokoh besar itu ada yang siap mendukung Jaka Bintara, pangeran dari Banten itu.

"Terima kasih, Pangeran Jaka Bintara. Aku sudah merasa heran di tempat seperti ini ada yang membangun pondok besar dan mengadakan pesta, dihadiri oleh para datuk dan tokoh persilatan. Tidak tahunya Pangeran Raden Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra dari Banten yang menjadi tuan rumah."

"Ha-ha-ha, Nyi Maya Dewi, memang benar kami yang menjadi tuan rumah. Karena andika sudah datang, maka andika adalah tamu kami. Karena itu silakan duduk dan terimalah hidangan kami seadanya!"

Kata Kyai Gagak Mudra sambil tertawa dan memberi isarat kepada pelayan untuk menambah hidangan bagi tamu yang baru datang ini.

"Terima kasih, Kyai Gagak Mudra, engkau ramah dan baik sekali. Akan tetapi aku datang ini hanya karena tertarik melihat banyaknya orang berkumpul disini, dan kebetulan aku sudah makan dan masih kenyang. Juga aku khawatir, pihak tuan rumah mencampurkan racun atau pembius dalam hidangan yang kumakan. Bagaimanapun juga aku tidak dapat mempercayai orang-orang seperti kalian. Wah, ramai benar disini dan kalau aku tidak salah mengira, kedatangan kalian semua ini tentu untuk mencari dan memperebutkan Jamur Dwipa Suddhi yang kabarnya tersembunyi di daerah ini."

Setelah berkata demikian, Nyi Maya Dewi masih berdiri sambil bertolak pinggang, memandang ke arah para tamu, terutama yang duduk di tempat kehormatan.

Diam-diam Nyi Maya Dewi yang dulu banyak berkecimpung di dunia hitam, terkejut mengenal para pertapa yang merupakan datuk-datuk yang tinggi ilmu kepandaiannya, ia mengenal pula Ki Sumali yang menjadi pendekar di daerah Loano dan Bagelen.

Pendekar seperti Ki Sumali ini dahulu tentu saja ia anggap musuh besar, akan tetapi sekarang sikapnya sudah berubah sama sekali karena pandangannya juga berubah.

Ia dapat membedakan mana yang benar dan salah, mana yang baik dan jahat.

Bahkan kini, melihat kehadiran Ki Sumali, ia seolah merasa mendapatkan seorang segolongan!

Akan tetapi sebaliknya, tentu saja Ki Sumali tidak tahu akan perubahan pada diri Nyi Maya Dewi ini.

Sepanjang pengetahuannya, Nyi Maya Dewi adalah seorang datuk wanita yang berbahaya, dan ia sudah mendengar pula bahwa wanita cantik jelita ini pernah menjadi mata-mata Kumpeni Belanda.

Karena itu dia memandang wanita itu dengan alis berkerut.

Bertambah lagi seorang calon lawan yang amat tangguh, pikirnya.

Sementara itu, Kyai Jagalabilwa sejak tadi memandang kepada Ki Sumali dengan sinar mata tak senang.

Datuk Madiun ini sejak dahulu mempunyai perasaan memusuhi Mataram, bahkan dahulu ketika Kadipaten Madiun berperang melawan Mataram, dia mati-matian membela Madiun.

Akan tetapi Madiun kalah dan ditundukkan Mataram dan diapun melarikan diri dan bersembunyi.

Namun dia semakin membenci Mataram.

Ketika Ki Sumali muncul, dia segera mengenal pendekar Loano ini sebagai seorang yang berpihak kepada Mataram, walaupun tidak pernah menjadi punggawa Mataram.

Pendekar Loano inilah satu-satunya orang diantara mereka semua yang berpihak kepada Mataram.

Bahkan Wiku Menak Jelangger sekalipun yang pertapa tulen dan tidak pernah mau mencampuri urusan dunia, tetap saja setia kepada Kadipaten Blambangan dan dengan sendirinya juga tidak berpihak kepada Mataram.

Kini, melihat munculnya Nyi Maya Dewi yang dia tahu seorang yang pernah dengan gigih menentang Mataram dan membantu Kumpeni Belanda, dia merasa mendapat sekutu dan hatinya semakin berani untuk menyampaikan niatnya yang sejak tadi ditahan-tahannya, yaitu menantang dan membikin Malu Pendekar Loano itu.

Lebih-lebih kalau dia ingat akan kematian Ki Singobarong yang pernah menjadi sahabatnya.

Dia mendengar dari anak buah Singobarong yang berhasil melarikan diri bahwa sahabatnya itu tewas ketika bentrok dengan Ki Sumali Pendekar Loano.

Hatinya semakin panas.

Kini mendengar Nyi Maya Dewi dengan terus terang bicara tentang Jamur Dwipa Suddhi, Kyai Jagalabilawa bangkit berdiri dari kursinya.

Kebetulan dia duduk di ujung kanan sedangkan Ki Sumali 'duduk di ujung kiri sehingga mereka berdua terpisah cukup jauh.

Suaranya yang kecil terdengar lantang dan terdengar oleh semua orang yang hadir disitu.

"Adi Kyai Cagak Mudra, Pangeran Raden Jaka Bintara dan semua saudara yang berada disini termasuk Nyi Maya Dewi, dengarlah pendapatku ini demi kebaikan kita semua! Baru saja Nyi Maya Dewi bicara tentang Jamur Dwipa Suddhi yang kita semua sedang cari. Akan tetapi jangan harap siapapun diantara kita akan dapat menemukannya karena tentang jamur ajaib itu tentu akan terdengar oleh Sultan Agung dan dia akan mengirim pasukannya untuk mencari dan merebutnya dari kita."

"Sadhu-sadhu-sadhu!"

Wiku Menak Jelangger berkata lembut.

"Kakang Kyai Jagalabilawa, kita semua kini sedang mencari, bagaimana mungkin Sultan Agung Mataram akan dapat mengetahui dan mengirim pasukan?"

"Hemm, apakah andika sekalian tidak tahu ataukah lupa? Diantara kita terdapat seorang yang setia kapada Mataram dan bukan mustahil kalau kehadirannya ini sebagai telik-sandi (mata-mata) yang dikirim Sultan Agung untuk menyelidiki tentang Jamur Dwipa."

Kata Kyai Jagalabilawa dan dengan sengaja dan jelas dia mengarahkan pandang matanya kepada Ki Sumali.

Ucapan itu menimbulkan suara ribut karena semua orang saling pandang dan bertanya-tanya siapa yang dimaksudkan sebagai mata-mata Mataram oleh datuk Madiun itu.

Kemudian, mereka mengikuti pandang mata Kyai Jagalabilawa dan semua mata kini memandang ke arah Ki Sumali.

Ki Sumali merasa betapa semua orang memandang ke arahnya Sebagai seorang pendekar yang gagah, dia bangkit berdiri, mengerutkan alisnya dan balas menatap wajah datuk Madiun dengan garang, lalu berkata.

"Kyai Jagalabilawa! Andika memandang kepadaku dengan sinar mata menuduh, apakah aku yang andika maksudkan sebagai telik-sandi Mataram?"

Dua orang tokoh besar itu masing-masing berdiri sambil memandang dengan mata terbelalak marah.

Suasana menjadi tegang sekali karena mereka semua dapat merasakan bahwa suasana panas ini akan dapat menimbulkan kebakaran.

Mereka adalah orang-orang yang paling suka menonton perkelahian dan diantara mereka terdapat beberapa orang yang ikut menjadi marah mendengar bahwa Ki Sumali pendekar Loano itu hadir sebagai telik-sandi Mataram.

Tentu saja semua orang merasa khawatir karena kalau Sultan Agung turun tangan mengirim pasukan, harapan untuk bisa mendapatkan Jamur Dwipa Suddhi menjadi semakin tipis.

"Ki Sumali, jawablah pertanyaanku ini. Apakah tidak benar kata-kataku bahwa andika adalah seorang yang setia kepada Mataram?"

Tanya Kyai Jagalabilawa. Pertanyaan ini tentu saja menyudutkan dia, akan tetapi dengan lantang Ki Sumali menjawab, suaranya tegas dan jelas.

"Kyai Jagalabilawa! Sebagai kawula Mataram, tentu saja aku setia kepada Mataram! Apakah andika hendak. mengatakan bahwa andika tidak setia kepada Mataram? Kadipaten Madiun juga merupakan bagian dari Mataram dan Sang Adipati Madiun sendiri tunduk kepada Gusti Sultan Agung di Mataram. Kalau andika tidak setia, berarti andika adalah seorang pemberontak terhadap Mataram. Begitukah?"

Wajah yang meruncing seperti tikus itu berubah kemerahan.

"Aku bukan pemberontak dan aku hanya setia kepada Madiun, akan tetapi aku tidak akan menjadi telik-sandi Mataram yang akan mengkhianati kami semua dan menghalangi kami mencari Jamur Dwipa Suddhi!"

"Aku bukan telik-sandi Mataram dan aku mencari jamur ajaib untuk diriku sendiri!"

Ki Sumali membentak lalu menudingkan telunjuknya ke arah muka Kyai Jagalabilawa dan berkata lagi dengan suara tegas.

"Kyai Jagalabilawa, kalau andika tidak suka padaku, katakan saja. Tidak perlu melempar fitnah yang bukan-bukan!"

"Heh! Fitnah? Kalau andika bukan telik-sandi Mataram, apa buktinya?"

Ejek Kyai Jagalabilawa.

"Andika yang sepantasnya membuktikan! Coba buktikan bahwa fitnahmu itu benar, buktikan bahwa aku benar-benar telik-sandi Mataram!"

"Buktinya sudah jelas! Andika selalu memusuhi orang-orang yang menentang Mataram, bahkan andika telah membunuh sahabatku Singobarong yang terkenal sebagai seorang yang selalu menentang Mataram!"

Kata Kyai Jagalabilawa.

Ki Sumali adalah seorang pendekar yang keras hati.

Mendengar tuduhan datuk Madiun itu dia marah sekali, apa lagi mendengar ucapan Kyai Jagalabilawa tentang terbunuhnya Ki Singobarong.

Dia mengepal tinjunya dan menjawab lantang.

"Kyai Jagalabilawa, andika menyebut mendiang Ki Singobarong sebagai seorang sahabatmu, ini saja sudah menunjukkan orang macam apa adanya andika! Tahukah andika mengapa Ki Singobarong mati di tanganku? Karena dia telah menculik isteriku!"

Ki Sumali tidak mau menceritakan bahwa Ki Singobarong roboh oleh Lindu Aji kemudian dibunuh Winarsih ketika penjahat itu pingsan.

"Kalau andika hendak membela kematiannya, majulah! Aku tidak pernah takut menentang orang-orang yang membela kejahatan!"

Suasana menjadi semakin menegangkan. Baik Ki Sumali maupun Kyai Jagalabilawa keduanya sudah "naik darah"

Dan sudah saling pandang dengan sinar mata marah penuh tantangan.

Pada saat yang hening menegangkan itu, tiba-tiba terdengar suara yang datang dari jauh, akan tetapi dapat terdengar jelas oleh semua orang dan para datuk terkejut karena maklum bahwa suara itu diteriakkan orang dari jauh dengan dorongan tenaga sakti yang amat kuat.

"Dewiii...!! Dimana engkau...??"

Semua orang, termasuk Ki Sumali dan Kyai Jagalabilawa yang sedang marah dan siap berkelahi, menengok ke arah luar.

Nyi Maya Dewi yang sejak tadi berdiri disitu sambil tersenyum mendengarkan dua orang bertengkar, lalu memutar tubuh menghadap keluar dan terdengar ia berseru dengan suara melengking, diarahkan keluar.

"Baguuuuss...!! Aku berada disini nonton keramaian! Engkau kesinilah...!!"

Kiranya Nyi Maya Dewi sedang melakukan perjalanan bersama Bagus Sajiwo.

Sejak mereka meninggalkan Bukit Keluwung di Pegunungan Wilis, mereka melakukan perjalanan bersama, tidak pernah berpisah.

Sudah kurang lebih satu tahui lewat sejak mereka saling bertemu di puncak Bukit Keluwung.

Tadipun mereka bersama, akan tetapi ketika Bagus Sajiwo mengaso di sebuah puncak bukit di Pegunungan Seribu, duduk bersamadhi Nyi Maya Dewi meninggalkannya dan berjalan-jalan sampai ia tiba di pondok itu dan tertarik melihat keramaian ditempat sepi itu.

(Lanjut ke

Jilid 13) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13 Semua orang menanti dengan hati tegang dan ingin sekali mereka melihat siapa orangnya yang datang bersama Nyi Maya Dewi dan disebut Bagus Sajiwo oleh datuk wanita itu.

Tak lama kemudian mereka melihat seorang pemuda melangkah santai menuju ke pondok itu dan mereka semua terheran-heran karena yang datang itu hanya seorang pemuda remaja yang tampak masih hijau, berpakaian sederhana dan sikapnya sama sekali tidak menunjukkan sikap seorang yang memiliki kepandaian tinggi.

Bagus Sajiwo memasuki pondok itu, menoleh ke kanan kiri dengan keheranan melihat banyak orang berkumpul disitu.

Kemudian ia melihat Nyi Maya Dewi dan wajahnya yang ganteng itu berseri dan dia melangkah lebar menghampiri Nyi Maya Dewi yang berada di tengah ruangan.

Pandang matanya hanya tertuju kepada Maja Dewi dan dia tidak memperdulikan orang lain yang berada disitu.

"Dewi, kenapa engkau berada disini? Mau apa engkau disini?"

Tanya Bagus Sajiwo setelah berada dekat Maya Dewi.

Wanita itu lalu menggandeng tangan pemuda itu, tanpa sungkan atau malu dia memegang tangan Bagus Sajiwo dan merapatkan tubuhnya, lalu berkata dengan wajah gembira.

"Aku nonton keramaian disini, Bagus. Ternyata semua datuk dan tokoh persilatan berkumpul disini. Mereka semua tentu hendak mencari Jamur Dwipa Suddhi juga. Wah, akan ramai ini! Dan kau tahu siapa yang menjadi tuan rumah? Tentu engkau mengenal mereka. Itu lihat, mereka adalah Pangeran Raden Jaka Bintara dan paman gurunya Kyai Gagak Mudra, keduanya dari Banten. Dan lihat, yang duduk disana itu, dia adalah Wiku Menak Jelangger, seorang datuk dari Blambangan. Yang pakaiannya kuning dan mukanya pucat seperti mayat itu adalah Resi Sapujagad dari Gunung Merapi. Disebelahnya itu, yang gendut dan tersenyum-senyum, dia adalah Bhagawan Dewokaton dari Gunung Bromo dan yang tinggi besar itu adalah Ki Kebondanu tokoh dari Surabaya."

Bagus Sajiwo tentu saja segera mengenal Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra sebagai dua orang yang setahun lebih yang lalu mengeroyok Maya Dewi di puncak Bukit Keluwung, akan tetapi yang lain-lain dia sama sekali tidak mengenalnya.

"Dan yang berdiri di ujung kanan dan kiri, saling pandang dengan sikap marah itu siapa, Dewi?"

Tanyanya.

"O, itu? Yang berdiri di ujung kiri itu adalah Ki Sumali, pendekar Loano. Adapun yang berdiri di ujung kanan adalah Kyai Jagalabilawa, tokoh dari Madiun. Mereka sedang bertengkar karena Kyai Jagalabilawa menuduh Ki Sumali menjadi telik-sandi Mataram. Wah, kita dapat suguhan menarik, Bagus. Melihat mereka bertanding, sungguh menarik!"

"Dewi, bukan urusan kita. Mari kita pergi."

Kata Bagus Sajiwo sambil menarik tangan Maya Dewi.

Akan tetapi Maya Dewi ingin nonton perkelahian, maka ia tidak mau dan terjadi tarik menarik.

Semua orang melihat dengan geli.

Kiranya teman Maya Dewi hanya seorang pemuda remaja dan sikap mereka berdua yang mesra itu membuat semua orang menyangka bahwa pemuda remaja itu tentu kekasih Nyi Maya Dewi!

Akan tetapi karena nama besar Nyi Maya Dewi yang terkenal sebagai seorang datuk wanita yang kejam dan mudah main bunuh, para tamu muda hanya melihat dan tidak ada yang berani mencampuri.

Sementara itu, Kyai Jagalabilawa melangkah ke tengah ruangan dan dia berkata dengan sikap hormat kepada Maya Dewi.

"Nyi Maya Dewi, kuharap andika suka minggir dan memberi tempat kepadaku untuk menantang Ki Sumali si sombong itu! Aku yakin bahwa dia adalah telik sandi Mataram yang hendak menyelidiki tentang Jamur Dwipa Suddhi."

Bagus Sajiwo menarik tangan Nyi Maya Dewi.

"Hayolah, Dewi. Jangan ganggu urusan orang lain!"

Sekarang Nyi Maya Dewi menurut, akan tetapi ia tidak mau keluar, melainkan mengajak Bagus Sajiwo ke pinggir dan duduk di atas bangku yang masih kosong.

Mereka duduk bersanding dan Nyi Maya Dewi tidak pernah melepaskan tangan pemuda itu yang terus digandengnya dengan mesra.

Kyai Jagalabilawa yang sudah berada di tengah ruangan itu, memandang kepada Ki Sumali dan berkata.

"Ki Sumali, andika tadi menantangku. Hayo, majulah dan kita lihat siapa di antara kita yang lebih unggul!"

Ki Sumali juga melangkah lebar menghampiri jagoan dari Madiun itu. Mereka kini saling berhadapan dalam jarak tiga meter. Ki Sumali berkata dengan suara tegas.

"Kyai Jagalabilawa, aku tidak menantangmu. Aku hanya mengatakan bahwa kalau andika hendak membela mendiang Ki Singobarong yang jahat, aku siap melayanimu!"

"Bagus, aku memang hendak membelanya dan aku ingin membasmi telik sandi Mataram yang hanya akan mengkhianati kami semua. Majulah, Ki Sumali!"

"Hemm, Kyai Jagalabilawa, andika yang mencari gara-gara, andika yang hendak membela Ki Singobarong yang jahat, andika yang menantang. Karena Itu, hayo keluarkanlah semua kesaktianmu, hendak kulihat sampai dimana sih kehebatanmu!"

Kata Ki Sumali. Biarpun tadi dia sudah menyaksikan jagoan ini mendemonstrasikan ilmunya dan memperlihatkan bagaimana dia dapat membuat tubuhnya menjadi dua namun dia tidak merasa gentar.

"Babo-babo, Ki Sumali! Sumbarmu seperti geluduk di siang hari! Hai Adi Gagak Mudra, kalau dalam pertandingan ini aku merobohkan dan membunuh Ki Sumali yang sombong ini, jangan salahkan aku!"

Kata Kyai Jagalabilawa dan kalimat terakhir itu dia tujukan kepada tuan rumah.

Kyai Gagak Mudra yang diam-diam berpihak kepada Kyai Jagalabilawa karena diapun merasa tidak suka kepada Ki Sumali yang terkenal sebagai pendekar Loano yang setia kepada Mataram, tertawa dan berkata lantang agar terdengar semua orang.

"Kakang Jagalabilawa, mengapa harus andika tanyakan lagi hal itu? Dalam dunia kita, semua ketidaksesuaian dan pertentangan memang harus diselesaikan dengan pertandingan dan terluka parah atau mati dalam setiap pertandingan adalah hal biasa. Mengapa harus diributkan? Silakan saja kalau kalian berdua sudah sepakat untuk bertanding dan saling bunuh, kami tidak akan mencampuri dan hanya menjadi saksi!"

"Kyai Jagalabilawa, kita ini hendak bertanding ataukah hendak mengobrol? Kalau memang andika merasa jagoan dan hendak membunuhku, nah, maju dan seranglah, jangan banyak cakap lagi!"

Kata Ki Sumali.

Pendekar Loano ini maklum bahwa dia berada di kandang singa, tahu bahwa sebagian besar dari para tamu itu adalah orang-orang golongan hitam atau golongan sesat yang tentu akan condong berpihak kepada Kyai Jagalabilawa.

Akan tetapi sebagai seorang pendekar yang selalu mempertahankan kebenaran dan keadilan, dia tidak dapat mundur dan harus berani menghadapi ancaman bahaya.

Kyai Jagalabilawa juga maklum akan ketangguhan lawannya.

Maka dia langsung mencabut kerisnya dan membentak nyaring.

"Ki Sumali, sambutlah seranganku ini. Hyaaaaattt...!"

Kakek dari Madiun itu menerjang dengan cepat dan kuat, menusukkan kerisnya ke arah lambung lawan dan tangan kirinya membentuk cakar mencengkeram ke arah leher Ki Sumali.

"Cringgg... plakk!"

Ki Sumali dengan cepat sudah mencabut keris Sarpo Langking (Ular Hitam) dari pinggangnya dan menangkis keris lawan dan ketika cengkeraman tangan kiri lawan meluncur dekat, dia miringkan tubuh ke kanan dan tangan kirinya menangkis.

Pertemuan keris di tangan kanan dan tangan kiri itu membuat Kyai Jagalabilawa terjengkang dan terpaksa dia melompat ke belakang agar jangan sampai terjatuh.

Maklumlah dia bahwa dalam hal tenaga dalam, agaknya dia masih kalah kuat.

Maka dia tidak membuang waktu lagi, segera mengeluarkan bentakan lantang dan tiba-tiba dia bergerak cepat dan tubuhnya menjadi dua, keduanya kini menyerang Ki Sumali dengan keris!

Ki Sumali sudah siap menghadapi ilmu yang aneh ini.

Tadi ketika Kyai Jagalabilawa berdemonstrasi dan mengubah dirinya menjadi dua, dia telah mencoba untuk mengerahkan kekuatan batinnya dan berusaha agar pandang matanya tidak terpengaruh.

Akan tetapi dia gagal dan tetap saja tubuh tokoh Madiun itu tampak dua olehnya.

Maka dia mengerti bahwa ilmu yang mengandung sihir ini amat kuat dan dia tidak mampu memecahkannya.

Karena itu, tangan kirinya cepat mencabut sulingnya dan dia lalui menghadapi "pengeroyokan"

Dua orang Kyai Jagalabilawa itu dengan keris dan sulingnya.

Ki Sumali memang tangkas sekali.

Dengan suling dan kerisnya, bukan saja dia mampu melindungi dirinya dari serangan Kyai Jagalabilawa yang mengubah dirinya menjadi dua itu, bahkan dia mampu pula membalas dengan serangan-serangan dahsyat yang membuat "dua"

Orang lawan itu terdesak mundur.

Sulingnya yang digerakkan dengan tangan kiri mengeluarkan bunyi berdengung seperti ditiup.

Kalau semua orang menonton pertandingan itu dengan hati tegang dan gembira karena mereka semua memang suka sekali menonton pertandingan adu kesaktian sehingga suasana menjadi hening, semua orang tidak ada yang mengeluarkan suara, sebaliknya Nyi Maya Dewi menonton sambil mengajak Bagus Sajiwo bercakap-cakap memberi komentar terhadap pertandingan itu.

"Lihat, Bagus. Ilmu Kyai Jagalabilawa boleh jadi aneh dan juga hebat, akan tetapi agaknya dirinya yang menjadi dua itu tetap tidak akan mampu menang melawan Ki Sumali. Kalau saja dia mampu mengubah dirinya menjadi empat, atau sedikitnya tiga orang, mungkin baru dia akan mampu mengimbangi Ki Sumali pendekar Loano itu."

Bagus Sajiwo menghela napas panjang "Dewi, aku sungguh tidak mengerti.

Mereka itu memiliki kesaktian, setelah mengadakan pertemuan dan berpesta disini, mengapa kini mereka malah bertanding dan berusaha keras untuk saling membunuh?"

Pemuda ini melihat jelas betapa baik Ki Sumali maupun Kyai Jagalabilawa memang berkelahi dengan sungguh-sungguh, mengeluarkan aji kesaktian dan menyerang dengan jurus-jurus maut untuk membunuh.

"Ah, kenapa engkau merasa heran, Bagus? Begitulah watak semua orang yang menguasai aji kanuragan. Mereka selalu ingin menang sendiri, ingin dianggap paling jagoan sendiri. Aku dulu juga berpendirian sama seperti mereka, yaitu apa gunanya bertahun-tahun dengan susah payah mempelajari ilmu kanuragan kalau tidak dipergunakan untuk mencari kemenangan agar mendapatkan ketenaran dan nama besar sebagai jagoan tak terkalahkan?"

"Hemm, mengerikan! Dan sekarang, bagaimana pendapatmu, Dewi? Apakah engkau masih berpendapat seperti mereka?"

Tanya Bagus. Karena semua orang berdiam diri dan suasana menjadi hening, maka percakapan antara Bagus Sajiwo dan Nyi Maya Dewi dapat terdengar jelas oleh semua orang.

"Tidak, Bagus. Aku melihat dengan jelas betapa pendapat itu salah sama sekali. Kalau ilmu kanuragan hanya dipergunakan untuk memukul orang, melukai atau membunuh, untuk memaksakan kehendak sendiri, maka lebih baik tidak pernah mempelajarinya sama sekali."

"Memang begitu, Dewi. Bukan ilmu kanuragan yang bersalah, atau yang sifatnya keras dan buruk, melainkan cara kita menggunakannya. Ilmu kanuragan sama saja dengan alat-alat yang kita pergunakan dalam kehidupan ini. Misalnya sebatang pisau. Kalau kita menggunakannya untuk menebang pohon, memotong kayu membuat segala macam prabot yang kita butuhkan, atau untuk memotong sayur-mayur yang akan dimasak dan untuk segala macam keperluan hidup lainnya, maka pisau itu akan menjadi alat yang amat berguna. Akan tetapi sebaliknya kalau kita pergunakan untuk melampiaskan dendam kebencian dan kemarahan untuk melukai atau membunuh orang, maka pisau itu akan menjadi alat yang teramat jahat pula. Demikian juga misalnya api. Kalau kita mempergunakan untuk menyalakan lampu, untuk memasak makanan, untuk mengusir hawa dingin dan sebagainya lagi demi memenuhi keperluan hidup, maka api itu menjadi alat yang amat berguna dan baik. Akan tetapi sebaliknya kalau kita pergunakan untuk membakar rumah orang misalnya atau hal lain sebagai pelampiasan kemarahan dan dendam kebencian, maka aplpun berubah menjadi alat yang merusak dan amat jahat. Aji kanuragan tidak ada bedanya. Kalau dipergunakan untuk olah raga menjaga kesehatan, diambil keindahannya sebagai seni tari, untuk menjaga dan membela diri dari ancaman bahaya kekerasan, kemudian dipergunakan untuk membela kebenaran dan keadilan, untuk menolong orang lain yang membutuhkan kekuatan, untuk membela nusa bangsa dan negara dari ancaman musuh, maka aji kanuragan tentu saja menjadi alat yang amat berguna dan baik. Akan tetapi kalau dipergunakan untuk memaksakan keinginan sendiri berlandaskan kekerasan, untuk mengumbar kesenangan, untuk mencari kemenangan guna ketenaran dan kesombongan, untuk menyiksa orang, untuk berkelahi melukai atau membunuh orang yang dianggap menghalangi niat buruknya, untuk menjadi tukang pukul atau pembunuh bayaran dengan aji kanuragan itu, untuk mencuri atau merampok, maka tentu saja aji kanuragan menjadi alat yang amat tidak baik."

Orang-orang yang berada disitu, sambil menonton pertandingan, mau tidak mau ikut pula mendengarkan dan semua orang merasa heran dan juga geli.

Bagaimana seorang pemuda remaja, seorang bocah hijau, mengeluarkan omongan seolah memberi wejangan kepada seorang datuk wanita seperti Nyi Maya Dewi?

Mereka menduga bahwa datuk wanita itu temu akan mentertawakan bocah itu atau bahkan mungkin sekali marah karena datuk wanita itu terkenal sebagai seorang wanita yang galak, kejam dan sedikit-sedikit mudah membunuh orang!

Akan tetapi apa yang mereka lihat dan dengar sungguh membuat mereka terheran-heran.

Nyi Maya Dewi sama sekali tidak mentertawakan, apalagi marah kepada pemuda itu.

Bahkan sebaliknya, ia memandang kagum dan berkata.

"Bagus. kenapa tidak sejak dulu aku bertemu denganmu? Setiap ucapanmu bagaikan ratusan lampu yang menerangi kegelapan dalam batinku!"

Dan wanita itu sambil memegang kedua tangan pemuda itu memandang dengan sinar mata penuh kagum, sinar mata yang jelas sekali membayangkan rasa kasih sayang yang amat besar!

Bagus Sajiwo memandang ke arah pertandingan dan berkata.

"Dewi, kurasa pertandingan itu tidak akan berlangsung lama lagi. Kuharap saja Ki Sumali itu benar-benar seorang pendekar dan tidak akan membunuh lawannya."

Ki Sumali memang sedang mendesak Kyai Jagal-abilawa yang berubah menjadi dua orang itu.

Suling dan kerisnya bergerak cepat dan setiap kali senjatanya berbenturan dengan senjata lawan, maka lawan yang menjadi dua badan itu terhuyung ke belakang.

Kini pertandingan sudah meningkat dan Ki Sumali mendesak lawannya dengan hebat.

Dia mendengar pula ucapan terakhir Bagus Sajiwo tadi yang memang menujukan suaranya sambil mengerahkan tenaga saktinya sehingga suara itu seolah memasuki telinga Ki Sumali.

Pendekar ini seketika sadar bahwa sesungguhnya dia tidak mempunyai permusuhan apapun dengan Kyai Jagal-abilawa maka sungguh tidak perlu dan tidak baik kalau sampai dia membunuhnya dalam pertandingan ini.

Seorang pendekar memang pantang membunuh lawan tanpa alasan yang kuat.

Seolah menaati ucapan dan harapan pemuda teman Nyi Maya Dewi itu, Ki Sumali mengendurkan desakannya.

Akan tetapi pada saat itu, dua orang tamu yang duduk di bagian orang muda berlompatan ke tengah ruangan.

Mereka berusia sekitar tiga puluh tahun dan keduanya memegang sebatang pedang.

Seorang diantara mereka berteriak lantang.

"Bunuh telik-sandi Mataram!"

Dua orang itu lalu menerjang ke depan dan menyerang Ki Sumali dengan pedang mereka! "Wah, ini tidak adil! Sama sekali tidak adil!"

Tiba-tiba Nyi Maya Dewi sudah melompat ke depan dan tampak sinar keemasan berkelebat ketika ia menggerakkan Sabuk Cinde Kencana.

Gulungan sinar keemasan itu menyambar dan menyerang ke arah dua orang muda yang mengeroyok Ki Sumali!

Dua orang muda itu cepat menangkis dengan pedang mereka.

"Wuuutt... prat-pratt!!"

Biarpun ditangkis, namun sabuk panjang itu ujungnya masih sempat melecut pundak kedua orang itu dan dua orang muda itu terhuyung ke belakang sambil menangkis dan memegangi pundaknya.

Akan tetapi melihat Nyi Maya Dewi membantu Ki Sumali, hal yang sungguh tidak pernah disangkanya karena keadaan datuk wanita itu sesungguhnya berlawanan dengan keadaan pendekar Loano, Jaka Bintara segera memberi isyarat kepada paman gurunya.

Kyai Gagak Mudra lalu bangkit berdiri dan berseru lantang.

"Para saudara yang menentang telik-sandi Mataram, mari maju dan binasakan telik-sandi itu agar tidak mengkhianati kita!"

Setelah berkata demikian, dia dan Jaka Bintara sudah menyerbu ke tengah ruangan, bermaksud menyerang Ki Sumali. Akan tetapi Nyi Maya Dewi menjadi marah.

"Curang! Curang sekali. Kalian berdua sebagai tuan rumah berat sebelah, tidak adil melakukan pengeroyokan!"

Wanita itu cepat memutar Sabuk Cinde Kencana dan menyambut kedua orang dari Banten itu dengan serangan senjatanya.

Akan tetapi, pada saat itu dari tempat duduk para tamu muda berlompatan tujuh orang yang ikut mengeroyok Ki Sumali!

Ki Kebondanu yang sejak dulu menentang Mataram dan terpaksa menyimpan perasaan penasaran itu hanya karena Pangeran Pekik sudah menyerah kepada Mataram, bahkan menjadi mantu Mataram, kini bangkit rasa tak senangnya mendengar bahwa Ki Sumali adalah telik sandi Mataram yang dapat menghalang-halangi mereka semua mendapatkan Jamur Dwipa Suddhi.

Maka dia lalu melolos pecutnya dan melompat ke tengah ruangan.

Pecutnya meledak-ledak ketika dia menyerang Ki Sumali!

Tentu saja Ki Sumali menjadi repot dan terdesak mundur ketika Ki Kebondanu membantu Kyai Jagal-abilawa yang sudah didesaknya.

Melawan pengeroyokan dua orang sakti itu dia merasa kewalahan juga.

Dia memang masih lebih kuat dibandingkan Kyai Jagal-abilawa, akan tetapi tingkat kepandaian Ki Kebondanu hampir sama dengan tingkat datuk Madiun itu, maka dikeroyok dua, Ki Sumali menghadapi lawan-lawan yang amat berat.

Terpaksa dia hanya menggerakkan keris hitam dan sulingnya dengan cepat untuk melindungi tubuhnya dari serangan tiga orang, yaitu Kyai Jagal-abilawa yang berubah menjadi dua ditambah Ki Kebondanu!

Nyi Maya Dewi sendiri juga repot menghadapi terjangan Jaka Bintara dan Kyai Cagak Mudra yang mengeroyoknya.

Dulupun, setahun lebih yang lalu, ketika ia masih menguasai dua aji pamungkasnya yang ampuh, yaitu Aji Wisa Sarpa dan Aji Tapak Rudira, ia sampai terluka dan hampir saja tewas melawan pengeroyokan dua orang ini.

Apalagi sekarang.

Biarpun tenaganya sudah pulih, namun ia tidak lagi memiliki aji pamungkas atau pukulan yang mematikan.

Untung baginya bahwa selama ini ia telah memperdalam ilmu silatnya, yaitu ilmu silat Singorodra.

Bahkan Bagus Sajiwo telah membantunya menyempurnakan ilmu silat itu.

Maka kini ia segera mempergunakan ilmu silat itu untuk membela diri terhadap pengeroyokan Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra.

Kedua orang itu agaknya ingin membalas kekalahan mereka dahulu di puncak Bukit Keluwung, mengandalkan pengeroyokan.

Ketika Kyai Gagak Mudra memberi isarat, Panca Warak yang sejak tadi sudah siap siaga, lalu berlompatan menyerbu dan mengeroyok Nyi Maya Dewi.

Nyi Maya Dewi terdesak dan gawat sekali.

Apalagi ketika tujuh orang tamu golongan muda yang tadinya mengeroyok Ki Sumali itu ditambah lima orang lagi!

Diam-diam Ki Sumali juga merasa heran bukan main melihat Nyi Maya Dewi membelanya mati-matian dan kini, seperti juga dirinya, wanita itu menghadapi pengeroyokan banyak orang dan keadaannya terancam.

"Hei, Tolol, apakah engkau akan membiarkan saja aku mampus?"

Nyi Maya Dewi berteriak dan karena ia merasa mendongkol melihat Bagus Sajiwo belum juga bergerak menolongnya, ia menyebut pemuda itu Tolol.

Bagus Sajiwo sejak tadi memang menonton perkelahian keroyokan itu dengan penuh perhatian.

Terutama dia memperhatikan sepak terjang Nyi Maya Dewi dan hatinya girang melihat betapa dengan ilmu silat Singorodra yang sudah disempurnakan, kini Maya Dewi mampu membela diri dari pengeroyokan begitu banyak orang dengan baik walaupun tentu saja ia terdesak hebat.

"Bagus, Dewi. Ilmu silatmu sudah maju pesat. Jangan khawatir, sekarang aku akan membantumu!"

Setelah berkata demikian, tubuhnya bergerak ke depan.

Dengan ilmu langkah ajaib Lintang Kemukus, dia menyelinap diantara para pengeroyok Maya Dewi dan terjadi kekacauan ketika dengan cepat sekali, satu demi satu lima orang Panca Warak itu terkulai roboh tidak dapat bergerak lagi, seperti mati!

Kyai Gagak Mudra dan Jaka Bintara terkejut bukan main melihat lima orang pembantunya yang cukup tangguh itu roboh semua dan tampaknya seperti mati karena sama sekali tidak bergerak lagi.

Mereka berdua terkejut dan juga marah.

Kyai Gagak Mudra yang tadinya tertawa-tawa melihat Maya Dewi terdesak hebat, kini hilang tawanya dan dia berteriak nyaring dengan suara parau saking marah dan dia mendorongkan kedua tangannya yang mengandung hawa panas dan kedua telapak tangan itu membara dan menyala, ke arah Bagus Sajiwo.

"Aarrrghhhhh!"

Akan tetapi Bagus Sajiwo bersikap tenang. Dia mengebutkan tangan kanannya ke arah Kyai Gagak Mudra untuk menyambut serangan dahsyat itu.

"Dessss...!"

Kyai Gagak Mudra terpelanting dan terbanting jatuh.

Tubuh yang pendek gemuk itu bergulingan sampai menabrak kursi dan dia merangkak bangkit, duduk sambil memegangi dadanya yang terasa sesak karena tenaga pukulannya sendiri membalik.

Setelah kini Maya Dewi hanya menghadapi Jaka Bintara seorang, Bagus Sajiwo lalu menerjang ke arah para pengeroyok Ki Sumali.

Pendekar Loano itu sudah terluka pundak dan paha kirinya, namun dengan gagah dia masih mengamuk.

Begitu Bagus Sajiwo menerjang masuk, beberapa orang pengeroyok terkulai dan tidak dapat bergerak lagi.

Mereka yang roboh di tangan Bagus Sajiwo dan seperti mati itu sesungguhnya sama sekali tidak tewas, bahkan terluka parah pun tidak.

Akan tetapi jalan darah mereka tertotok, membuat mereka untuk beberapa lamanya tidak mampu bergerak seperti mati.

Jaka Bintara menjadi gentar sekali ketika dia harus melawan Maya Dewi seorang diri saja.

Pada hal, kalau dibuat perbandingan, saat itu tingkat kepandaiannya masih lebih kuat daripada Maya Dewi yang telah kehilangan ajian-ajiannya yang ampuh dan ganas.

Akan tetapi, melihat betapa paman gurunya dan lima orang pembantunya sudah roboh semua, nyalinya menjadi kecil dan dia berteriak kepada para tamu kehormatan.

"Paman Resi Sapujagad dan Paman Bhagawan Dewokaton, mohon bantuan paman berdua!"

Dua orang pertapa dari Merapi dan Bromo itu saling pandang.

Mereka merasa sungkan juga kepada Pangeran Jaka Bintara dari Banten kalau diam saja.

Maka mereka berdua lalu bangkit berdiri dan siap melangkah ke arena pertempuran untuk membantu tuan rumah.

Akan tetapi, tiba-tiba dari tempat duduknya Wiku Menak Jelangger berkata, lembut akan tetapi penuh wibawa.

"Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton, kalau aku boleh menasehati, lebih baik andika berdua tidak mencampuri urusan ini. Apalagi melakukan pengeroyokan sungguh merupakan perbuatan amat memalukan dan tidak pantas dilakukan orang-orang yang melakukan tapa-brata."

Dua orang pendeta atau pertapa itu menjadi sungkan, wajah mereka berubah merah dan mereka pun melangkah, akan tetapi tidak menuju ke arena pertempuran, melainkan ke pintu samping dan keluar meninggalkan pondok itu.

Wiku Menak Jelangger tersenyum dan mengangguk-angguk, memberi isarat kepada Darun dan Dayun, dua orang cantriknya dan mereka bertiga juga meninggalkan pondok melalui pintu samping.

Setelah melihat betapa dua orang pertapa itu tidak mau membantunya malah pergi meninggalkan pondok, Jaka Bintara menjadi ketakutan dan dia melompat jauh kebelakang meninggalkan Maya Dewi.

Kebetulan Kyai Gagak Mudra juga sudah bangkit berdiri maka ke-dua orang ini lalu melarikan diri keluar pondok, takut kalau-kalau Maya Dewi dan temannya, pemuda remaja yang ternyata sakti mandraguna itu, akan mengejar mereka.

Setelah ditinggal lawannya, Maya Dewi lalu mengamuk dan membantu Bagus Sajiwo yang menolong Ki Sumali.

Masuknya Maya Dewi dengan Sabuk Cinde Kencananya membuat para pengeroyok kocar-kacir.

Bahkan Ki Kebondanu dan Kyai Jagalabilawa yang tadi sudah mendesak Ki Sumali dan berhasil melukainya, menjadi gentar dan merekapun melarikan diri cerai berai.

Para tamu yang melakukan pengeroyokan dan belum roboh, melihat betapa para tokoh besar yang mereka bantu melarikan diri, tentu saja menjadi gentar dan mereka pun melarikan diri tunggang langgang tanpa diperintah lagi!

Mereka yang tadi roboh terluka, juga mereka yang tadi roboh tertotok dan kini sudah dapat bergerak lagi, merangkak bangkit, saling bantu dan merekapun terpincang-pincang meninggalkan pondok itu.

Tanpa ada yang mengetahui, dua orang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun yang tadi juga duduk diantara para tamu muda, tidak ikut berkelahi, diam-diam meninggalkan pula tempat itu dan dua orang ini lalu menuju ke tebing sebelah barat.

Setelah tiba disitu mereka mengeluarkan suara bersuit!

lalu bermunculan enam orang laki-laki yang sebaya dengan mereka.

Mereka semua berpakaian seperti penduduk biasa, padahal sebetulnya delapan orang ini adalah orang-orang yang menjadi antek bayaran Kumpeni Belanda dan dikirim kesitu untuk menjadi mata-mata dan mengamati gerakan para tokoh duma persilatan, para orang-orang sakti itu.

Dua orang yang tadi bertugas memata-matai pertemuan itu bernama Tatang dan Wirya.

Kedua orang ini menjadi pimpinan diantara delapan orang itu.

"Ada orang-orang yang membela Mataram disini. Mereka harus dibinasakan. Kita bersiap!"

Kata Tatang yang bertubuh jangkung.

"Dan kita tidak boleh melepaskan Maya Dewi, kalau kita dapat membunuh pengkhianat itu, Mayor Yakuwes tentu akan memberi hadiah besar kepada kita."

Kata Wirya yang matanya juling sambil meraba pistol yang disembunyikan di balik bajunya.

Demikianlah, delapan orang itu lalu melakukan pengintaian dari jauh, memandang ke arah pondok dimana Maya Dewi dan Bagus Sajiwo, juga Ki Sumali masih berada, setelah ditinggalkan semua orang.

Maya Dewi berdiri dengan kedua kaki terpentang, tangan kanan memegang Sabuk Cinde Kencana dan tangan kiri bertolak pinggang, memandang kesekeliling.

Ruangan itu telah ditinggalkan semua tamu, yang berada disitu hanya Maya Dewi, Bagus Sajiwo, dan Ki Sumali.

Semua orang yang tadi melakukan pengeroyokan telah pergi, meninggalkan ruangan yang dipenuhi meja kursi yang porak poranda, berserakan.

"Hi-hi-hi-hi...!"

Maya Dewi tertawa cekikikan, sambil menggunakan tangan kiri untuk menutupi mulutnya.

Pemandangan ini bagi yang sudah mengenal Maya Dewi sungguh aneh dan mengherankan.

Dulu, Maya Dewi terkenal sebagai seorang wanita yang berwatak liar, kalau tertawa terkekeh dan terbahak dengan bebas, kini ia tidak berani tertawa keras, hanya cekikikan dan masih menutupi mulutnya dengan tangan pula, gaya tawa seorang wanita yang bersusila!

Betapa banyak perubahan terjadi pada diri Maya Dewi dalam waktu setahun lebih ini!

Ki Sumali sendiri merasa terheran-heran melihat sikap Nyi Maya Dewi.

Dia tahu betul siapa Nyi Maya Dewi, puteri mendiang Resi Koloyitmo ini.

Dia tahu bahwa Nyi Maya Dewi adalah seorang datuk wanita yang sesat, liar dan kejam, bahkan menjadi mata-mata Kumpeni Belanda, bergabung dengan para datuk sesat dan namanya tersohor sebagai seorang jahat sekali.

Akan tetapi kenapa sekarang muncul sebagai seorang yang menolong dan membelanya mati-matian, menentang para datuk sesat yang menentang Mataram?

Bukankah dahulu Maya Dewi ini seorang yang membenci Mataram?

Kenapa sekarang malah membelanya?

Dan perhatiannya tertuju kepada pemuda remaja itu.

Dia tadi melihat betapa dengan amat mudahnya pemuda yang Usianya paling banyak tujuh belas tahun itu telah merobohkan tokoh-tokoh yang digdaya.

Siapakah pemuda remaja yang agaknya akrab sekali dengan Maya Dewi ini?

Apakah pemuda ini yang membuat Maya Dewi kini berubah seperti itu?

Betapapun heran hatinya, Ki Sumali teringat bahwa dua orang inilah yang telah menyelamatkannya.

Kalau tidak dibantu dua orang ini, tentu dia telah tewas dikeroyok mereka yang memusuhi Mataram itu.

Maka dia cepat menghadapi Maya Dewi dan Bagus Sajiwo, membungkuk dan menyembah dengan kedua tangan depan dada.

"Saya mengucapkan terima kasih atas pertolongan andika berdua."

Katanya dengan singkat dan agak gagap karena dia masih terheran-heran melihat sikap Nyi Maya Dewi.

Tentu saja dia merasa salah tingkah karena dulu dia bahkan pernah bentrok dengan Nyi Maya Dewi dan kawan-kawannya ketika wanita itu masih menjadi mata-mata Kumpeni, walaupun bukan dia yang melawan Maya Dewi, melainkan Lindu Aji.

Nyi Maya Dewi tersenyum manis.

"Ki Sumali, berterima kasihlah kepada Gusti Allah yang masih melindungi kita. Kami berdua hanya melaksanakan tugas menentang mereka yang jahat!"

Ki Sumali terbelalak mendengar ucapan wanita itu. Benarkah ini Maya Dewi yang dulu itu? Perasaan hatinya yang penuh keharuan itu tanpa disadarinya terucapkan dalam kata-kata pertanyaan.

"Benarkah andika ini Maya Dewi?"

Maya Dewi kembali tersenyum dan memandang wajah pendekar Loano itu dengan sinar mata penuh keterbukaan.

"Tentu saja aku Maya Dewi! Badanku adalah Nyi Maya Dewi yang dulu, akan tetapi batinku telah diperbaharui, Ki Sumali, berkat bimbingan Bagus Sajiwo ini."

Maya Dewi menuding kepada Bagus Sajiwo.

Ki Sumali semakin heran.

Bocah ini yang dapat mengubah watak yang liar jahat itu menjadi baik?

Dia tertarik sekali dan kini dia memandang kepada Bagus Sajiwo dengan penuh perhatian.

Seorang pemuda remaja, masih amat muda dan tampaknya seperti masih hijau.

Akan tetapi sepasang mata itu!

Sinarnya demikian tajam, penuh wibawa, penuh pengertian.

Dan pemuda ini tadi dengan kata-katanya yang berdengung ditelinganya telah menyadarkannya bahwa dia tidak boleh membunuh lawannya!

"Andika orang muda yang sakti mandraguna, Bolehkah saya mengetahui siapa nama andika?"

Tanya Ki Sumali dengan sikap hormat. Melihat sikap dan mendengarkan pertanyaan itu, Bagus Sajiwo tersenyum dan mukanya berubah kemerahan.

"Ah, paman, harap jangan terlalu memuji..."

Katanya tersipu.

"Hi-hi, Ki Sumali, dia menjadi bingung dan malu kalau dipuji-puji. Bagus, ini adalah Ki Sumali, seorang pendekar yang terkenal dengan sebutan Pendekar Loano, tinggal di Loano dan dialah seorang yang setia kepada Mataram. Ki Sumali, ini adalah... sahabatku, juga pembimbingku, namanya Bagus Sajiwo."

Nyi Maya Dewi memperkenalkan dengan nada suara bangga.

Untung ia masih dapat segera menyadari dan menahan diri, hampir saja tadi ia memperkenalkan Bagus Sajiwo sebagai suaminya!

Kata-kata suamiku yang sudah berada di ujung lidah, masih sempat diubahnya menjadi sahabatku.

"Anakmas Bagus Sajiwo, sungguh aku merasa kagum sekali. Masih begini muda namun andika sudah memiliki kepandaian yang amat tinggi. Bolehkah aku mengetahui, siapa guru andika?"

"Guru saya adalah mendiang Ki Ageng Mahendra, paman."

Jawab Bagus Sajiwo singkat.

Ki Sumali mengerutkan alisnya.

Banyak tokoh sakti, para datuk yang dikenalnya, baik mengenal wajahnya atau setidaknya mengenal namanya.

Namun nama Ki Ageng Mahendra belum pernah didengarnya.

Namun dia tahu bahwa dunia ini amat luas dan banyak orang pandai yang tidak dikenal orang.

Bahkan kabarnya orang-orang yang amat sakti mandraguna lebih suka mengasingkan diri dan tidak dikenal di dunia ramai.

"Ki Sumali, apakah engkau datang ke muara Sungai Lorog ini juga untuk mencari dan memperebutkan Jamur Dwipa Suddhi seperti orang-orang tadi?"

Tanya Nyi Maya Dewi.

Wanita ini masih tetap lincah, walaupun kini kelincahannya itu penuh keterbukaan dan kewajaran, tidak palsu dan menyembunyikan pamrih pribadi seperti dulu sebelum bertemu Bagus Sajiwo.

Ki Sumali menghela napas dan menjawab sejujurnya.

"Tidak kusangkal lagi. Memang tadinya aku tertarik mendengar tentang Jamur Dwipa Suddhi. Akan tetapi melihat betapa banyaknya orang yang datang di tempat ini untuk memperebutkannya, hatiku menjadi tawar dan aku tidak ingin lagi mencarinya, Nyi Maya Dewi. Aku hendak pulang saja ke Loano."

"Memang lebih baik begitu,"

Kata Bagus Sajiwo lirih seperti bicara kepada diri sendiri.

"Memperebutkan sesuatu hanya mendatangkan permusuhan, padahal yang diperebutkan itu belum diketahui berada dimana."

Ki Sumali menghela napas.

"Benar sekali. Tadinya aku hanya tertarik dan ingin melihat-lihat, tidak tahunya sampai disini malah terlibat dalam pertempuran yang hampir saja merenggut nyawaku. Sekali lagi terima kasih atas pertolongan andika berdua, aku hendak pulang sekarang."

"Selamat jalan, Ki Sumali."

Kata Maya Dewi.

"Semoga Gusti Allah selalu melindungimu, Paman Sumali."

Kata Bagus Sajiwo. Ki Sumali memandang kagum, kemudian meninggalkan pondok itu. Setelah kini tinggal mereka berdua dalam pondok itu, Maya Dewi menghampiri Bagus Sajiwo dan memegang tangannya.

"Sekarang kita mulai mencari Jamur Dwipa Suddhi itu, Bagus."

"Kemana kita harus mencarinya, Dewi? Kita tidak tahu dimana adanya pusaka itu."

"Tidak ada yang tahu tepatnya dimana benda itu berada, Bagus. Akan tetapi, menurut dongeng, peristiwa penemuan Jamur Dwipa Suddhi sampai hilangnya karena disembunyikan oleh pertapa yang menemukannya sebelum dia meninggal dunia, terjadi di muara Sungai Lorog, yaitu disini. Maka untuk mencarinya, kemana lagi kalau bukan sekitar daerah ini? Hayolah, kalau kita berdiam saja di dalam pondok ini, bagaimana kita dapat menemukannya? Dan orang-orang tadi tentu juga sedang mencarinya. Hayolah, jangan sampai kita ketinggalan dan Jamur Dwipa Suddhi itu ditemukan orang lain!"

Bagus Sajiwo tersenyum dan mereka berdua lalu keluar dari dalam pondok sambil bergandeng tangan.

Dari situ mereka langsung menuju ke muara Sungai Lorog yang tak jauh dari pondok itu.

Muara ini cukup lebar dan air sungai itu bergerak perlahan-lahan menuju ke laut selatan.

Terkadang, kalau ombak laut besar, air laut dari Laut Kidul memasuki muara, bertemu dengan air sungai.

Di sebelah kanan muara terdapat tebing batu karang yang cukup tinggi, merupakan bukit kapur atau karang yang tandus.

Setelah tiba ditepi muara, mereka memandangi air dari lautan yang datang menyerbu ke muara, seolah air lautan menyambut datangnya air sungai, seperti saudara yang menyambut kerabatnya yang sudah lama berpisah dan baru sekarang kembali ke kampung halamannya.

Bertemunya air laut dengan air sungai dan dengan batu karang menimbulkan suara berdebur dan bergerisik, terkadang amat dahsyat, terkadang lembut seperti bisikan para bidadari.

Bagus Sajiwo dan Maya Dewi terpesona oleh keagungan, kebesaran dan keindahan alam itu.

Mereka berdua merasa betapa kecil tak berarti adanya mereka, dan betapa mereka hanyut dan merupakan sebagian dari alam yang amat besar itu.

"Daerah muara Kali Lorog ini begini luas, dan disana ada bukit karang begitu besar. Kemana kita harus mencari pusaka itu, Dewi?"

Maya Dewi memandang ke sekelilingnya.

"Rasanya tidak mungkin kalau disembunyikan di tempat yang tidak terlindung, karena baik jamur yang dikeringkan maupun kitab tentu akan rusak kalau setiap hari terkena panas dan hujan. Juga kalau dekat muara, terancam air kalau air laut sedang pasang, atau kalau sungai sedang banjir. Andaikata engkau yang hendak menyembunyikan pusaka itu, tempat mana yang akan kau pilih dan kau anggap paling aman?"

Mendengar pertanyaan ini, Bagus Sajiwo lalu mengerutkan alisnya, memandang ke sekeliling dan berpikir.

Mula-mula dia memandang ke arah depan, diseberang muara dimana terdapat pantai berpasir yang amat luas dan jajaran bukit berdiri agak jauh di sebelah utara.

Lalu dia menengok ke belakang dimana terdapat tebing-tebing curam dari bukit karang.

Setelah itu dia termenung memandang ke arah air muara di depan kakinya.

"Hemm, dimana-mana serba terbuka dan pasti akan dapat ditemukan orang. Agaknya tak mungkin kalau selama ratusan tahun dapat tersimpan aman kalau benda itu disembunyikan di atas daratan."

Demikian dia berkata sungguh-sungguh.

"Wah, engkau ini aneh, Bagus. Tentu saja disimpan di darat apa kaupikir benda itu disimpan dalam air?"

Maya Dewi tertawa.

"Kalau dapat disimpan dalam muara ini, tentu aman."

Kata Bagus Sajiwo sambil termenung, suaranya lirih dan kata-katanya keluar seperti tanpa disadarinya atau seperti dalam mimpi.

"Engkau memang tolol, Bagus!"

Seru Maya Dewi, setengah geli setengah dongkol.

"Mana mungkin disimpan dalam muara? Baru sehari saja tentu jamur dan kitab itu akan hancur!"

"Dar-dar-dar-darrr...!!"

Tiba-tiba terdengar letusan bertubi-tubi.

Tiga butir peluru mengenai punggung Bagus Sajiwo, akan tetapi hanya baju pemuda itu yang hangus dan robek, akan tetapi kulitnya tidak terluka dan peluru-peluru itu jatuh ke atas tanah.

Akan tetapi Maya Dewi mengeluh dan ia roboh dengan pundak kiri mengucurkan darah!

Bagus Sajiwo cepat memutar tubuhnya dan dia melihat delapan orang berlomba lari dari balik tebing dan mereka semua membawa senapan.

Bagus Sajiwo sudah banyak mendengar tentang senjata api yang berbahaya itu.

Tadipun dia sudah merasakan serangan senjata itu yang mengenai punggungnya.

Akan tetapi dia tidak terluka dan hal ini hanya karena dirinya telah mendapat perlindungan Gusti Allah saja maka kekuasaanNya yang menjadi perisai sehingga peluru-peluru itu tidak menembus kulitnya.

Akan tetapi Maya Dewi terkena tembakan dan terluka.

Kalau dia melawan delapan orang itu, tentu keselamatan Maya Dewi terancam maut.

Maka, setelah sekilas pikirannya bekerja, dia lalu menyambar tubuh Maya Dewi dan tnelompat ke air muara.

"Byuurrr...!"

Air muncrat dan Bagus Sajtwo menyelam sambil merangkul tubuh Maya Dewi yang pingsan.

Delapan orang itu adalah Tatang dan Wirya bersama enam orang anak buahnya yang menyerang Bagus Sajiwo dan Nyi Maya Dewi dengan senapan mereka.

Melihat Maya Dewi roboh dan pemuda itu membawa wanita itu melompat ke dalam muara, mereka cepat berlari menghampiri.

Akan tetapi, mereka tidak dapat melihat mereka berdua lagi.

Dengan harapan bahwa kalau masih hidup tentu dua orang itu akan muncul di permukaan air, mereka lalu berjaga-jaga di tepi muara dengan senjata api siap ditembakkan.

Bagus Sajiwo merasa bersyukur bahwa dulu dia pernah belajar renang di sebuah telaga tak jauh dari padepokan Ki Ageng Mahendra dipegunungan Ijen sehingga dia pandai renang dan dapat menyelam.

Akan tetapi tentu saja dia tidak akan kuat berdiam di air terlalu lama, juga Maya Dewi tidak akan kuat.

Kalau dia muncul ke permukaan air, tentu delapan orang itu sudah berada disana dan siap menembaknya.

Maka dia segera berenang dalam air hendak menjauh.

Dia mendekati tepi dimana terdapat tebing tinggi dan ketika meraba-raba, dia menemukan terowongan varig besar, tidak kurang dari dua meter garis tengahnya.

Dengan nekat dia berenang memasuki terowongan itu, terus masuk ke dalam.

Dia merasa betapa tubuh Mava Dewi meronta-ronta, tanda wanita itu telah siuman dan kini meronta hendak melepaskan diri atau tentu ia mendapat kesukaran dengan pernapasannya.

Dia sendiri pun merasa betapa dadanya terasa sesak seperti akan meledak!

Akan tetapi tiba-tiba dia melihat di atas kepalanya tidak hitam lagi.

Ada sinar terang di atas kepalanya!

Dia lalu menggerakkan kakinya dan tubuh mereka meluncur ke atas dan...

kepalanya tersembul ke permukaan air!

Maya Dewi terbatuk-batuk dan terengah-engah menghirup udara dan mulutnya.

Dia sendiri cepat mengambil napas.

Udara segar memasuki dadanya melalui hidung, terasa nyaman bukan main.

Setelah dia memperhatikan, ternyata terowongan di bawah permukaan air itu membawanya ke sebuah ruangan bawah tanah dan sinar matahari masuk melalui lubang dan celah-celah antara batu-batu bukit karang yang dari situ tampak tinggi sekali!

Ruangan itu luas sekali, merupakan ruangan di perut bukit karang.

Kalau dilihat dari atas tentu tidak akan ada yang menyangka bahwa di bawah celah-celah bukit karang, diantara batu-batu itu, tersembunyi ruangan yang demikian luasnya.

Air hujan yang turun tentu akan masuk ke air muara yang sampai dan berhenti disitu.

Bagus Sajiwo tidak memeriksa lebih lanjut.

Yang terpenting adalah menolong Maya Dewi yang masih dirangkulnya.

Setelah terbatuk-batuk dan pernapasannya pulih dan biasa lagi, wanita itu mengeluh.

"Aduh... pundakku terluka, Bagus."

Bagus Sajiwo memeriksanya dan menjadi lega. Ternyata peluru itu hanya menyerempet saja dan menggores pangkal lengan. Hanya kulit dan sedikit daging yag terluka dan tidak berbahaya.

"Tahankan rasa nyeri sedikit, Dewi. Aku harus menjaga agar sedikit luka ini tidak sampai tercemar dan menjadikan bengkak. Karena disini tidak ada daun obat, satu-satunya jalan hanya mengisap dan menjilat."

Setelah membuka baju bagian dalam Maya Dewi, tanpa ragu-ragu dan tanpa rasa jijik sedikitpun, Bagus Sajiwo lalu...

mengisap dan menjilati luka di pangkal lengan Maya Dewi!

Melihat ini, Maya Dewi terbelalak.

Ia melihat betapa Bagus Sajiwo mengisap dan menjilati luka di pangkal lengannya yang kini masih mengeluarkan sedikit darah.

"Tolol, apa yang kau lakukan ini?"

Serunya sambil berusaha menarik lengannya.

Akan tetapi Bagus Sajiwo memegangi lengan itu dengan kuat.

Dia melanjutkan menjilati luka itu sampai merasa bahwa luka itu bersih betul, barulah dia menghentikan perbuatannya dan memandang kepada Maya Dewi sambil tersenyum.

"Dewi jangan heran dan kaget. Mendiang guruku yang mengajarkan cara membersihkan luka agar jangan sampai menjadi parah, dengan cara begini."

"Tapi... tapi..."

Maya Dewi tak dapat menahan rasa harunya dan kedua matanya sudah menjadi basah dan air matanya turun membasahi kedua pipinya.

"Tapi... itu... tidakkah engkau merasa jijik?"

"Kenapa jijik, Dewi? Luka itu baru saja terjadi. Kalau luka itu mengandung racun, harus diisap keluar racunnya. Akan tetapi kalau tidak, dengan cara mengisap dan menjilati, maka luka itu akan bersih dan tanpa diobatipun akan cepat sembuh. Percayalah, Dewi. Tahukah engkau bagaimana semua mahluk hidup, seperti semua binatang, menjilati luka dan luka itu akan sembuh tanpa di-obati seperti yang dilakukan manusia? Kalau disini ada daun-daun obat, tentu engkau akan kuobati. Akan tetapi disini tidak ada apa-apa, maka aku mempergunakan pengobatan cara alami seperti yang dilakukan semua mahluk hidup. Bukankah engkau juga akan melakukan hal yang sama kepadaku, kalau aku yang terluka? Ataukah engkau akan merasa jijik?"

Sambil terisak Maya Dewi merangkul Bagus Sajiwo dan menangis di dada pemuda remaja itu.

"Tentu saja tidak, Bagus. Aku... aku akan melakukan apapun juga untukmu... aku siap mempertaruhkan nyawaku untukmu..."

Bagus Sajiwo membiarkan Maya Dewi menangis sejenak, kemudian dengan lembut dia melepaskan rangkulan wanita itu dan berkata.

"Dewi, kita perlu mengeringkan pakaian kita yang basah kuyup ini terlebih dulu agar jangan menjadi sakit. Kita dapat menjemur pakaian kita selagi sinar matahari masih memasuki tempat ini. Nanti kita pikirkan apa yang dapat kita lakukan lebih lanjut. Nah, engkau disini dan jemur pakaianmu aku akan ke bagian sana untuk menjemur pakaianku."

"Bagus, mengapa engkau harus pergi kesana? Apakah diantara kita masih harus saling merasa malu?"

Tanya Maya Dewi. Bagus tersenyum.

"Dewi, lupakah engkau akan kesusilaan seperti yang sering kujelaskan kepadamu? Kesusilaan merupakan bagian dan kebudayaan, dan kebudayaanlah yang membedakan kita semua dan mahluk hidup yang lain. Kalau manusia kehilangan kesusilaannya, maka dia lebih mendekati binatang. Kita tidak mau disamakan dengan binatang, bukan?"

"Sudahlah, pergi Sana!"

Kata Maya Dewi agak dongkol.

Bagus Sajiwo lalu pergi kesebelah depan dan menghilang di balik batu besar yang banyak terdapat di ruangan dalam bukit batu karang itu.

Di bagian itu juga masih terdapat sinar matahari.

Mereka lalu menanggalkan pakaian yang basah kuyup, memeras pakaian itu lalu menjemurnya di tempat yang terdapat sinar matahari.

Karena mereka memeras dengan pengerahan tenaga sehingga pakaian itu hanya tinggal basah sedikit, maka setelah dijemur, tak lama kemudian pakaian itu menjadi kering dan mereka memakainya kembali.

"Bagus! Aku sudah selesai!"

Teriak Maya Dewi ke arah batu besar. Bagus Sajiwo muncul dan diapun sudah mengeriskan pakaiannya yang menjadi kering. Keduanya lalu duduk di atas batu. saling berhadapan.

"Sekarang, apa yang harus kita lakukan, Bagus?"

"Mari kita pertimbangkan keadaan kita, Dewi. Atas kemurahan Gusti Allah kita dilindungi dan selamat dari ancaman maut walaupun engkau mengalami luka yang tidak berbahaya di pangkal lenganmu. Kita sekarang berada di ruangan ini dan sementara kita aman dari orang-orang yang bersenjata senapan itu."

"Hemm, mereka itu tentu anak buah Mayor Jakuwes, bekas atasanku yang menyuruh orang-orangnya mencari dan membunuh aku karena aku meninggalkan Kumpeni."

Kata Maya Dewi gemas.

"Kukira ruangan ini merupakan sebuah terowongan guha, di dalam bukit karang. Biarpun kita aman disini, akan tetapi kita kehilangan bekal pakaian..."

"Sabuk Cinde Kencanaku masih ada!"

Potong Maya Dewi.

"Kita tidak mungkin bisa mendapatkan makanan di tempat ini. Karena itu, kita harus mencari jalan keluar."

Sambung Bagus Sajiwo.

"Wah, berenang dan menyelam seperti tadi? Aku dapat juga berenang, akan tetapi kalau harus melalui jalan seperti kita masuk kesini tadi, rasanya ngeri!"

"Kita tidak dapat mengambil jalan itu, Dewi. Orang-orang itu mungkin masih berada disana dan begitu kita muncul, mereka akan menyerang kita dengan tembakan senapan mereka. Kita harus mencari jalan keluar. Mungkin kita dapat memanjat ke atas sana."

Bagus Sajiwo menunjuk ke atas dimana tampak celah-celah besar diantara batu-batu.

"Hehehe, mungkin engkau benar, Bagus. Rasanya tidak akan begitu sukar memanjat ke atas melalui batu dan dinding karang yang kasar itu." (Lanjut ke

Jilid 14) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14

"Kalau begitu, mari kita mencari jalan yang paling baik untuk memanjat ke atas. Engkau mencari tebing sebelah sini, aku akan mencari yang di sebelah sana. Kita harus dapat keluar dari sini sebelum gelap, Dewi."

Mereka lalu berpencar dan mulai mencari bagian yang paling mudah untuk memanjat sampai ke atas.

Bagus Sajiwo mencari di tebing sebelah sana.

Bagian itu harus dipilih dan diperhitungkan agar jalan panjatan ke atas tidak putus di tengah jalan.

"Bagus...!!!"

Teriakan Maya Dewi ini mengejutkan Bagus Sajiwo.

Akan tetapi ketika dia menengok dan memandang, dia melihat tidak terjadi sesuatu pada Maya Dewi.

Wanita itu sedang membungkuk dan agaknya memeriksa sesuatu pada dinding karang.

"Ada apakah, Dewi?"

Bagus bertannya, tanpa beranjak dari tempatnya karena dia sedang memperhitungkan tempat tanjakan yang sekiranya mudah membawanya terus ke atas.

"Bagus ke sinilah! Cepat...!!"

Kembali Maya Dewi berteriak dan sekali ini Bagus Sajiwo menjadi heran. Apakah yang terjadi? Dia melompat dan berlari menghampiri wanita itu.

"Ada apa, Dewi?"

"Lihat ini...!"

Kata Maya Dewi sambil menudingkan telunjuknya ke arah sebongkah batu yang bersandar pada dinding karang.

Bagus Sajiwo mengamati dan ternyata di atas batu itu terdapat coretan-coretan huruf seperti diukir di atas permukaan batu.

Bagus Sajiwo membacanya.

Itu adalah tulisan kuno, akan tetapi dia pernah belajar membaca dan mengartikan tulisan kuno jaman Mojopahit itu dari mendiang Ki Ageng Mahendra.

"Siapa yang berjodoh mendapatkan pusaka ini, harus bersumpah kepada Sang Hyang Widhi Wasa untuk mempergunakannya demi membela kebenaran dan keadilan dan menentang yang jahat."

"Bagus cepat singkirkan batu itu, kurasa di balik batu ini terdapat pusaka yang ampuh... ah, siapa tahu Jamur Dwipa Suddhi yang dicari-cari itu berada disini! Cepat singkirkan batu itu, Bagus!"

"Hemm, nanti dulu, Dewi. Engkau tadi sudah mendengar bunyi dan arti tulisan itu. Kita harus bersumpah lebih dulu seperti yang dituntut dia yang meninggalkan pusaka disini. Lupakah engkau bahwa kita harus selalu bersusila dalam setiap tindakan kita. Engkau tidak boleh melupakan hal itu, Dewi!"

Suara Bagus Sajiwo mengandung teguran. Maya Dewi yang tadi lupa akan pelajaran itu saking tegang dan gembiranya menemukan tempat rahasia itu, segera menyadari dan ia berkata.

"Maafkan aku, Bagus."

"Baiklah, asalkan engkau tidak melupakan hal itu lagi. Nah, marilah kita berlutut sebagai penghormatan dan mengucapkan sumpah kita."

Bagus Sajiwo berlutut di depan batu itu. Maya Dewi berlutut di sampingnya. Kemudian Bagus Sajiwo mengucapkan sumpahnya.

"Hamba Bagus Sajiwo dan Maya Dewi bersumpah kepada Gusti Allah untuk mempergunakan pusaka yang diberikan kepada hamba demi membela kebenaran dan keadilan dan menentang yang jahat."

Setelah mengucapkan sumpahnya, Bagus Sajiwo menyembah dan menundukkan mukanya.

"Eh, Dewi, lihat ini!"

Katanya dan Bagus Sajiwo membersihkan permukaan batu yang berada di bawah batu besar bertulis itu dengan tangannya.

Setelah tanah yang menutupi batu kecil itu disingkirkan, baru tampak jelas tulisan dengan huruf-huruf kecil di atas batu itu.

Dia lalu membacanya.

"Dorong batu dari samping, jangan berdiri didepannya."

Bagus Sajiwo memegang tangan Maya Dewi dan menariknya sehingga wanita itu bangkit berdiri.

Mereka lalu berdiri disamping batu bertulisdan Bagus Sajiwo mendorong batu itu sehingga tergulir ke samping.

Ternyata di balik batu itu terdapat sebuah lubang dengan garis tengah sekitar dua jengkal.

Tiba-tiba, begitu tergulir ke samping, terdengar bunyi menjepret dan dari dalam lubang itu menyambar keluar sebatang benda hitam.

Sambaran itu cepat bukan main dan benda itu meluncur lewat.

Maya Dewi membelalakkan matanya.

"Wah, aku yakin benda runcing hitam tadi mengandung racun yang amat kuat! Dari baunya saja aku dapat mengenalnya. Racun ular-ular berbisa!"

Bagus Sajiwo mengangguk-angguk.

"Nah, sekarang engkau tahu betapa pentingnya bersikap hormat dan bersusila? Kalau kita tadi langsung menggulingkan batu, bagaimana kita dapat mengelak dari sambaran senjata rahasia yang meluncur dari jarak sedekat itu?"

Maya Dewi bergidik.

"Ah, hebat sekali dia yang menyembunyikan pusaka ini. Dia menghendaki agar pusaka terjatuh ke tangan orang yang bersusila dan berbudi luhur. Kalau penjahat yang menemukan, tentu dia akan tewas terpanah."

Mereka lalu menyingkirkan rumput-rumput kering dan daun-daun kering yang dijejalkan di mulut lubang itu. Maka tampaklah dua buah benda yang membuat mereka berdua tercengang.

"Jamur Dwipa Suddhi dan sebuah kitab!"

Maya Dewi berseru.

Mereka mengambil dua buah benda itu dengan hati-hati.

Maya Dewi mengambil jamurnya dan Bagus Sajiwo mengambil kitabnya.

Selain dua buah benda itu, tidak ada apa-apa lagi di dalam lubang itu.

Maya Dewi mengamati benda yang ia kira pasti Jamur Dwipa Suddhi yang dicari banyak orang itu.

Benda itu masih berbentuk jamur, seperti payung kecil, sebesar telapak tangan.

Warnanya kehitaman dan ketika ia menciumnya, baunya harum akan tetapi aneh karena belum pernah ia mencium keharuman seperti itu.

Sebagai seorang yang ahli dalam soal racun, dan bau benda itu Maya Dewi mengerti bahwa benda itu tidak mengandung racun, akan tetapi mengandung unsur panas yang dapat ia rasakan dari melalui penciumannya.

Sementara itu Bagus Sajiwo mengamati kitab daun lontar itu.

Masih baik dan utuh, tulisannya dalam bahasa Jawa Kuno juga jelas.

Ternyata kitab itu bernama Kitab Aji Sari Bantala.

Di dalamnya terdapat gambar-gambar, pria dan wanita dalam berbagai kedudukan pasangan kuda-kuda dan gerakan silat yang aneh.

Semua itu disertai keterangan tulisan yang jelas sekali.

Bagus Sajiwo menjadi girang bukan main karena memandang secara sekilas saja tahulah dia bahwa kitab itu mengandung pelajaran ilmu silat yang amat tinggi.

"Bagus, apakah isi kitab itu?"

Tanya Maya Dewi kepada Bagus Sajiwo.

Bagus Sajiwo menyerahkan kitab itu kepada Maya Dewi, dan Maya Dewi sebaliknya menyerahkan jamur kering kepada Bagus Sajiwo.

Ketika melihat isi kitab itu, Maya Dewi menjadi girang bukan main.

Melihat gambar-gambar yang terdapat dalam kitab itu saja tahulah ia bahwa kitab itu mengandung pelajaran ilmu kanuragan.

Akan tetapi ia tidak begitu mengerti akan maksud tulisannya.

Bagus Sajiwo yang mengamati jamur di tangannya itu juga dapat merasakan bahwa yang dipegangnya adalah benda yang memiliki khasiat yang amat hebat.

"Bagus bagaimana bunyi tulisan dalam kitab ini? Ini merupakan pelajaran ilmu silat, bukan? Dan gambarnya ada dua orang, seorang pria dan seorang wanita. Bagaimana bunyinya? Tolong jelaskan, aku merasa sulit membaca tulisan kuno ini."

Bagus Sajiwo tertawa gembira.

"Ha-ha, Dewi. Sungguh kita beruntung sekali. Kitab itu adalah kitab yang mengandung pelajaran Aji Sari Bantala dan aji kesaktian itu hebat bukan main. Memang ajian itu digubah oleh pembuatnya untuk seorang pria dan pasangannya, seorang wanita."

"Ah, aku beruntung sekali kalau begitu, Bagus. Kita dapat melatih ilmu dari kitab itu disini agar tidak sampai ketahuan orang lain! Dan Jamur itu, aku yakin benar-benar Jamur Dwipa Suddhi yang dicari semua orang. Kita makan saja jamur itu, Bagus! Aku yakin khasiatnya untuk kita tentu luar biasa."

"Akan tetapi kita tidak boleh sembrono, Dewi. Bagaimana kalau jamur yang ratusan tahun umurnya itu mengandung racun?"

"Tidak, Bagus. Aku yakin tidak mengandung racun, melainkan mengandung khasiat yang luar biasa. Engkau tahu bahwa aku adalah seorang yang ahli tentang racun, bukan? Jamur ini tidak beracun, akan tetapi berkhasiat luar biasa. Mari, mari kita makan."

"Akan tetapi jamur ini kering dan keras seperti batu karang. Bagaimana dapat enak dimakan?"

"Aku tahu, bagus. Untuk mengembalikannya menjadi lunak, jamur ini harus direndam air selama satu malam."

Maya Dewi lalu sibuk membersihkan bagian lantai batu karang yang cekung dan mengambil air dari air muara yang masuk ke ruangan itu, mengisi cekungan yang cukup lebar itu dengan air lalu memasukkan jamur kering itu ke dalamnya.

"Kita tunggu sampai semalam, Bagus. Aku yakin jamur ini akan menjadi lunak dan dapat kita makan."

"Ah, Dewi, hari agaknya mulai menjelang sore. Cuaca disini mulai gelap dan kita belum menemukan jalan untuk memanjat ke atas!"

Seru Bagus Sajiwo.

"Kita tidak akan naik dulu, Bagus. Biar kita lewatkan malam ini disini dan mungkin akan tinggal disini untuk sementara waktu."

"Eh? Apa maksudmu?"

"Tenanglah, Bagus. Mana ketenanganmu yang biasa itu? Dengar, malam ini kita tinggal disini dan mengaso sambil membiarkan jamur ini terendam air sampai lunak. Besok pagi kita makan jamur ini. Kemudian, engkau boleh mencari jalan keluar dengan memanjat dinding tebing untuk membeli pakaian pengganti dan bahan makanan, kemudian engkau kembali lagi kesini. Kita tinggal d sini mempelajari ilmu dari kitab Sari Bantala (Inti Bumi) sampai dapat menguasainya, baru kita berdua akan keluar dari tempat ini."

"Wah, untuk apa kita bersusah payah dan tinggal di perut bukit seperti ini berlama-lama?"

Bagus Sajiwo berusaha menatap dengan tajam penuh selidik wajah Maya Dewi dalam cuaca yang mulai remang-remang itu.

"Dewi, apakah engkau memiliki pamrih menguasai ilmu yang hebat agar dapat menjagoi lagi di dunia ramai?"

Maya Dewi menghela napas.

"Bagus, kenapa engkau masih juga meragukan aku? Aku hanya ingin agar engkau tidak menjadi seorang laki-laki yang menjilat kembali ludah yang sudah kau keluarkan."

"Eh, Apa maksudmu dengan kata-kata itu?"

"Lupakah engkau akan janjimu, akan sumpahmu ketika engkau akan mengambil jamur dan kitab ini? Engkau bersumpah kepada Gusti Allah bahwa engkau akan mempergunakan pusaka ini demi membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan. Benarkah itu atau engkau sudah lupa?"

"Tentu saja aku tidak lupa."

"Nah, lalu bagaimana engkau akan dapat mempergunakan pusaka ini, yaitu jamur dan kitab ini, kalau engkau tidak makan jamurnya dan tidak mempelajari kitab ini, sampai engkau menguasai betul ilmu yang dikandungnya? Nah, jawablah! Apakah tidak berarti engkau mengingkari janji atau sumpahmu sendiri kalau engkau tidak makan jamur dan mempelajari kitab ini?"

Bagus Sajiwo menghela napas panjang.

"Tentu saja aku akan memenuhi sumpahku, akan tetapi tidak harus tinggal di tempat ini berlama-lama, Dewi. Kita dapat melaksanakan sumpah itu di atas bumi sana, bukan disini."

"Akan tetapi aku mau mempelajarinya disini, Bagus. Ingat, ketika bersumpah engkau menyebut nama kita berdua, berarti akupun ikut bersumpah. Aku tidak ingin terganggu orang-orang jahat itu pada saat mempelajari kitab Sari Bantala ini. Sudahlah, Bagus. Engkau yang pernah menemani aku tinggal di perut Bukit Keluwung yang panas sampai lama, kemudiap di puncak Gunung Wilis yang amat dingin, apakah kini engkau tidak mau menemani aku berlatih ilmu Sari Bantala di tempat ini?"

Bagus Sajiwo tersenyum dan iapun mengalah.

"Yah, baiklah kalau kehendakmu begitu. Aku tidak dapat berbantahan denganmu, Dewi."

Maya Dewi memegang tangan kanan Bagus Sajiwo dan mengikuti dorongan hatinya yang penuh kasih dan merasa bahagia, ia menciumi tangan pemuda itu.

"Terima kasih, Bagus. Aku tahu engkau memang amat baik, terlalu baik kepadaku. Aku rela mati untukmu, Bagus..."

"Hussh, siapa mau bicara tentang mati di tempat seperti ini? Nah, cuaca semakin gelap. Lebih baik kita mencari dan mempersiapkan tempat untuk mengaso dan tidur. Kalau sudah gelap kita tidak akan mampu melakukan apa-apa."

Maya Dewi lalu memilih dan membersihkan lantai batu yang agak halus dan datar.

Malampun tiba dan dengan perut kosong mereka lalu duduk tepekur, kemudian setelah mengantuk, mereka tidur di atas lantai yang cukup dingin.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi setelah membersihkan tubuh dan muka dengan air muara yang masuk ke ruangan itu, Maya Dewi dan Bagus Sajiwo sudah duduk berhadapan.

Jamur yang telah direndam semalam ternyata telah lunak dan berada di depan mereka, Dipegang oleh Maya Dewi dengan kedua tangannya.

Sinar matahari pagi hanya mendatangkan penerangan yang lemah di tempat itu, namun cukup jelas bagi mereka.

"Kita harus makan jamur ini sekarang,"

Kata Maya Dewi sambil menarik jamur itu menjadi dua potong. Melihat sinar mata Bagus Sajiwo tampak meragu, Maya Dewi berkata.

"Bagus, kau lihat, aku akan makan lebih dulu sehingga kalau terjadi sesuatu yang tidak baik, biarlah aku yang mengalaminya."

"Maya, jangan! Biar aku dulu!"

Bagus Sajiwo' mencegah akan tetapi Maya Dewi sudah dengan cepat mulai memasukkan jamur itu ke dalam mulut dan menggigitnya lalu mengunyahnya.

"Wah, sedap sekali, Bagus!"

Katanya dan benar-benar ia kelihatan menikmati makanan itu.

Sebentar saja, separuh jamur itu telah lenyap ke dalam perutnya.

Bagus Sajiwo hendak makan bagiannya, akan tetapi Maya Dewi cepat memegang lengannya.

"Jangan dimakan dulu, Bagus!"

"Kenapa? Engkau tidak merasakan sesuatu yang buruk, Dewi?"

Tanya Bagus khawatir. Maya Dewi menggelengkan kepalanya.

"Tidak, atau lebih tepat lagi, belum! Karena itu, tunggulah sebentar, kita lihat dulu apa akibatnya dengan aku yang telah memakannya."

Bagus Sajiwo merasa terharu.

Wanita ini benar-benar mengorbankan dirinya sendiri untuk mencoba terlebih dulu agar kalau akibatnya mencelakakan, ialah yang akan mengalami, bukan Bagus Sajiwo!

Tiba-tiba terasa hawa udara disitu menjadi panas dan Bagus Sajiwo melihat dengan mata terbelalak betapa uap mengepul dari tubuh Maya Dewi dan seluruh tubuh wanita itu berkeringat!

Akan tetapi anehnya, Maya Dewi tersenyum dan tidak tampak kepanasan.

"Dewi! Apakah engkau merasa panas?"

Maya Dewi menggeleng kepalanya.

"Hanya terasa hangat dan nyaman, Bagus!"

Tiba-tiba terdengar suara berkerotokan di seluruh tubuh wanita itu, seolah-olah semua buku dan sambungan tulangnya bergerak.

Maya Dewi bangkit dari duduknya dan tubuhnya terhuyung.

Bagus Sajiwo cepat memegang lengannya, akan tetapi Maya Dewi mengibaskan dan akibatnya, tubuh Bagus Sajiwo terlempar!

Dari kibasan lengan itu timbul tenaga yang amat dahsyat!

Bagus Sajiwo cepat berjungkir balik dan membuat salto sampai lima kali, baru dia dapat turun dan berdiri tegak.

Sepotong jamur tadi masih berada dalam genggaman tangannya.

Dia memandang ke arah Maya Dewi yang terhuyung kedinding.

Seperti orang mabok, Maya Dewi menggunakan tangan kiri untuk menahan tubuhnya pada dinding karang.

"Brakkkk!"

Batu dinding karang yang menonjol itu hancur terkena sentuhan jari-jari tangannya! "Dewi cepat duduk bersila dan atur pemapasan!"

Teriak Bagus Sajiwo.

Suara pemuda itu agaknya dapat menembus kepeningan yang menyerang kepala Maya Dewi.

Mendengar suara pemuda itu, dalam keadaan seperti mabok itupun Maya Dewi menaati dengan patuh.

Ia lalu duduk dan bersila, berdiam diri menghentikan semua ulah hati akal pikiran, mengheningkan cipta sehingga dirinya kosong sama sekali tidak mengandung kehendak apapun dan pikiran apapun.

Hawa yang tadi meliar dalam tubuhnya dan menimbulkan tenaga dahsyat itu seperti mengendap dan menetap di pusarnya yang terasa hangat nyaman.

Bagus Sajiwo menghampiri dan memeriksa keadaan tubuh Maya Dewi.

Tidak ada kelainan, tidak ada tanda-tanda bahwa Maya Dewi keracunan.

Setelah merasa tenang, Maya Dewi membuka mata memandang Bagus Sajiwo dan tersenyum.

"Engkau tidak merasakan sesuatu yang tidak enak atau nyeri pada tubuhmu?"

Tanya Bagus Sajiwo.

"Sama sekali tidak, Bagus, bahkan rasanya hangat nyaman. Ada hawa yang tadi meliar dalam tubuhku, akan tetapi sekarang sudah dapat kukuasai dan berdiam di dalam pusar. Bagus, ini adalah tenaga sakti yang amat hebat, yang aku yakin datang karena khasiat jamur itu. Karena itu, makanlah jamurmu agar engkau dapat merasakan juga dan dapat membimbingku untuk menguasai tenaga dahsyat itu."

Setelah melihat bahwa Maya Dewi benar-benar sehat dan tidak keracunan, hati Bagus sajiwo menjadi lega.

Mendengar desakan Maya Dewi, diapun segera makan jamur bagiannya.

Benar kata Maya Dewi tadi.

Rasa jamur itu cukup enak, baunya harum.

Dia makan jamur itu sampai habis, lalu dia duduk bersila di depan Maya Dewi karena dia dapat menduga bahwa sebentar lagi khasiat jamur itu akan bekerja dan dia harus siap menguasai hawa sakti yang dahsyat dan liar itu kalau menguasai dirinya.

Dia tidak menanti lama.

Tubuhnya mulai terasa hangat dan tubuhnya mulai mengeluarkan uap panas!

Benar saja, ada tenaga sakti yang bergerak-gerak dari dalam perutnya menjalar ke seluruh tubuhnya dan ketika memasuki bagian kepalanya dia merasa pening seperti orang mabok.

Cepat Bagus Sajiwo mengerahkan tenaga dalamnya menyambut dan menguasai tenaga sakti liar itu.

Rasanya seperti menunggang seekor kuda liar yang melompat-lompat dan meronta-ronta.

Akan tetapi perlahan-lahan dia yang terus mengikuti gerakan tenaga sakti itu seperti dapat mengenal ulahnya dan dapat menyesuaikan diri sehingga dia dapat menguasainya.

Maya Dewi sejak tadi memperhatikan Bagus Sajiwo yang duduk bersila sambil memejamkan kedua matanya.

Kini melihat pemuda itu membuka mata.

Ia bertanya.

"Bagaimana, Bagus?"

"Dewi, sekarang biarkan tenaga sakti itu keluar dari pusar dan ikuti saja seperti engkau menunggang seekor kuda liar. Perhatikan ulah geraknya sehingga engkau dapat mengenal benar mulai dapat menyesuaikan diri dan mengendalikannya. Mari, coba, jangan ragu dan takut."

Maya Dewi menurut. Begitu tenaga itu lepas dan menjalar ke seluruh tubuh, tubuhnya bergoyang-goyang, termasuk kepalanya.

"Tenang... ikuti saja... perhatikan gerak geriknya dan engkau akan mengenalnya dan dapat mengendalikannya."

Kata Bagus Sajiwo.

Maya Dewi mengikuti petunjuk Bagus Sajiwo.

Akan tetapi karena pada dasarnya ia tidak sekuat Bagus Sajiwo yang dalam waktu singkat dapat menguasai dan mengendalikan tenaga sakti itu, Maya Dewi membutuhkan waktu agak lama, ia harus sabar dan perlahan-lahan mencoba untuk menguasai tenaga liar itu.

"Latihlah terus, Dewi. Aku hendak naik ke atas dan mencari pakaian dan bahan makanan."

Kata Bagus Sajiwo. Maya Dewi mengangguk.

"Ambil perhiasanku, di balik ikat pinggang ini."

Katanya tanpa berhenti melatih diri menguasai tenaga sakti yang liar itu.

Maklum bahwa kalau Maya Dewi menghentikan latihannya, tenaga sakti itu akan meliar dan mengamuk seperti tadi, Bagus Sajiwo menghilangkan rasa rikuh dan dia mengambil sebuah kantung merah kecil dari balik ikat pinggang Maya Dewi.

Kantung merah kecil itu berisi beberapa potong perhiasan yang mahal harganya.

Dia mengambil sebuah gelang emas lalu mengembalikan kantung merah itu ke balik ikat pinggang Maya Dewi.

Gelang itu disimpannya.

"Aku pergi, Dewi."

Katanya dan dia lalu memanjat tebing yang kemarin telah dipilihnya.

Bagus Sajiwo terperanjat dan terheran ketika mendapat kenyataan betapa mudahnya dia memanjat ke atas, bagaikan seekor cecak memanjat dinding saja!

Dia merasakan betul bahwa tenaga saktinya bertambah, berlipat ganda dibandingkan biasanya.

Tubuhnya dapat dibuatnya ringan sekali sehingga dia dapat bergerak cepat memanjat ke atas dan jari-jari dan telapak tangannya memiliki daya melekat pada dinding batu karang!

Dia yakin bahwa dalam keadaan biasa, tak mungkin dia dapat memanjat semudah dan secepat itu.

Tentu saja dia menjadi girang sekali dan diapun mengerti bahwa ini tentulah daya yang ampuh dari khasiat jamur ajaib itu.

Tentu saja dia merasa girang sekali, terutama girang karena Maya Dewi juga mendapatkan tenaga sakti yang ajaib itu.

Kini wanita itu tentu menjadi sakti mandraguna, jauh lebih sakti danpada dulu ketika ia masih menjadi seorang datuk sesat.

Apalagi kalau mereka berdua sudah mempelajari kitab yang mereka temukan, yaitu kitab yang mengandung Aji Sari Bantala!

Akan tetapi dia harus lebih tekun pula berusaha membelokkan jalan hidup Maya Dewi, kejalan yang lurus, jalan kebenaran dan kebajikan!

Dengan bekal gelang emas yang mahal harganya itu, mudah saja bagi Bagus Sajiwo untuk membeli beberapa potong pakaian lengkap untuk dia dan Maya Dewi.

Juga ia membeli beras, bumbu-bumbu dan bahan makanan lain.

Untuk semua belanjaannya ini, harga gelang itu masih lebih banyak sehingga dia membawa pula uang kembalinya.

Tidak lupa dia membeli prabot untuk memasak dan ketika menuruni tebing, semua itu dimasukkan dalam sebuah karung besar yang dipanggulnya.

Tidak lupa dia membawa pula alat pembuat api dan sebatang kayu besar untuk dibuat kayu bakar.

Hari telah siang ketika dia merayap turun melalui tebing itu, dari lereng bukit kapur.

Dari atas hanya tampak celah-celah batu dan keadaan di bawah tidak tampak karena terhalang batu, bahwa di bawah sana terdapat ruangan luas dimana terdapat terowongan di bawah permukaan air menuju ke muara.-Ketika akhirnya Bagus Sajiwo tiba di ruangan itu, dia melihat Maya Dewi sudah menanti dan memandang kepadanya dengan senyum mams dan mata bersinar, wajah berseri.

"Wah, engkau membawa barang begitu banyak dan dapat menuruni tebing demikian cepatnya! Engkau hebat sekali, Bagus!"

"Bagaimana denganmu, Dewi? Apakah engkau sudah dapat menguasai tenaga sakti dari Jamur Dwipa Suddhi itu?"

"Sudah, Bagus. Bahkan aku sudah berlatih dengan tenaga itu."

Kata Maya Dewi sambil membantu Bagus Sajiwo menurunkan barang-barang belanjaannya.

"Mari kau lihat!"

Maya Dewi menghampiri tepi air muara yang masuk ke ruangan itu dan ia menggerakkan kedua tangannya mendorong ke arah air.

Air itu segera bergelombang seolah didorong angin atau tenaga yang amat kuat!

Bagus Sajiwo mengangguk-angguk.

"Bagus sekali, Dewi. Aku tadipun sudah membuktikannya sendiri. Kita benar-benar menerima anugerah Gusti Allah, mendapatkan tenaga sakti yang luar biasa. Aku dapat memanjat tebing itu dengan amat mudahnya."

Mereka berdua menjadi girang dan Bagus Sajiwo mengajak Maya Dewi untuk berlutut dan berdoa kepada Gusti Allah, menghaturkan terima kasih atas berkahNya yang berlimpahan.

Setelah itu, mereka mulai sibuk membuat api dan hendak menanak beras.

Maya Dewi girang bahwa Bagus Sajiwo tidak lupa membeli bumbu-bumbu, juga beberapa macam sayuran.

"Sayang aku tidak bisa menemukan orang menjual daging segar, maka aku hanya membeli daging kering yang di-asin."

Kata Bagus Sajiwo.

"Mengapa repot? Disini banyak terdapat ikan. Tadi aku melihat ikan-ikan lele dan bader yang cukup besar berenang di air. Biar aku tangkap beberapa ekor!"

Kata Maya Dewi dan seperti seorang anak kecil yang bergembira, ia berlari-lari menuju ke tepi sungai dalam perut bukit itu.

Akan tetapi ia menahan jeritnya karena ketika melompat dan berlari, lompatannya amat jauh dan larinya seperti angin.

Demikian ringan rasa tubuhnya.

"Hati-hati, Dewi. Jangan tergesa-gesa!"

Kata Bagus Sajiwo sambil tertawa.

SETELAH tiba di tepi sungai yang cukup dalam itu, Maya Dewi berdiri diam dan matanya memandang ke air, tak pernah berkedip dan waspada.

Akhirnya ia melihat bayangan beberapa ekor ikan berenang di bawah permukaan air.

Cepat ia mengerahkan tenaga sakti ke tangan kanannya dan dipukulkannya ke depan.

Hawa pukulan yang kuat menyambar ke arah bayangan ikan-ikan dalam air itu.

Air pecah dan tiga ekor ikan kena dihantam hawa pukulan itu, mati seketika dan mengambang di atas air.

Maya Dewi cepat mengambilnya sebelum ikan-ikan itu diseret air yang selalu bergerak karena terdorong oleh air yang datang dari luar.

Ia lalu berlari-lari menghampiri Bagus Sajiwo sambil membawa tiga ekor ikan dalam kedua tangannya.

Ikan-ikan itu cukup besar, sebesar lengannya!

"Lihat ini hasil tangkapanku!"

Katanya bangga memperlihatkan tiga ekor ikan bader itu.

Bagus Sajiwo memandang dengan senyum lebar dan sinar mata kagum.

Dari tempat ia duduk menjaga api yang menanak beras tadi dia dapat melihat apa yang dilakukan Maya Dewi.

Wanita itu kalau sampai tersesat lagi, akan menjadi seorang yang amat berbahaya dan dapat menimbulkan banyak bencana di antara manusia, pikirnya.

Mereka lalu masak ikan-ikan itu dan tak lama kemudian, mereka sudah makan nasi dengan lauk sayur dan daging ikan, minum air teh dari cangkir-cangkir yang dibeli oleh Bagus-Sajiwo.

Setelah makan, membersihkan prabot masak dan prabot makan, lalu berganti pakaian baru yang dibeli oleh Bagus Sajiwo, mereka duduk di atas batu, berdampingan karena ke-duanya bersama-sama memeriksa isi kitab Aji Sari Bantala.

Bagus Sajiwo membaca bagian pertama kitab itu dan menerangkan kepada Maya Dewi.

Ternyata bagian pertama kitab itu adalah latihan pernapasan dan cara mengendalikan hawa sakti dalam tubuh, juga mengatur keseimbangan jalan darah sehingga tubuh akan tetap seimbang dan sehat.

"Untuk apa berlatih seperti itu? Kita sudah sejak dulu berlatih menghimpun tenaga sakti. Lebih baik teruskan baca bagian selanjutnya, Bagus."

Kata Maya Dewi.

"Bukan begitu caranya belajar sesuatu, Dewi. Orang harus mulai suatu perjalanan dengan langkah awal, langkah pertama. Kalau hendak mempelajari sebuah kitab, kita harus membacanya dari halaman pertama. Ketahuilah, petunjuk pertama dalam kitab ini adalah penting sekali, bukan sekedar pelajaran untuk menghimpun tenaga sakti seperti yang pernah engkau pelajari. akan tetapi ini merupakan pelajaran yang khusus untuk dapat mengendalikan secara sempurna tenaga sakti dahsyat dan liar yang baru saja kita terima melalui makan Jamur Dwipa Suddhi."

Maya Dewi tersenyum.

"Baiklah, baiklah, den bagus! Jangan ngotot dan galak, aku akan mentaatimu."

Bagus Sajiwo tersenyum dan dia melanjutkan dengan membuka dan memberi penjelasan tentang pelajaran tingkat pertama dari kitab yang mereka temukan itu.

Demikianlah, mulai hari itu, mereka mempelajari isi kitab dan melatih diri sesuai dengan petunjuk kitab itu.

Akan tetapi temyata Aji Sari Bantala itu merupakan aji yang amat aneh dan juga tidak mudah.

Baru permulaannya saja ternyata tidak mudah, apalagi bagi Maya Dewi dan ternyata bagi mereka bahwa untuk menguasai pelajaran permulaan itu saja membutuhkan waktu sampai seratus hari lebih!

Dengan tekun mereka mulai berlatih Aji Sari Bantala di ruangan dalam perut bukit karang itu.

Untuk keperluan makan mereka, bergantian mereka keluar dari situ memanjat tebing dan pergi berbelanja ke dusun-dusun yang cukup jauh dari situ.

Kita tinggalkan dulu Bagus Sajiwo dan Maya Dewi yang sedang tekun mempelajari ilmu yang tinggi dan sukar di dalam ruangan tersembunyi itu untuk melihat para tokoh dan datuk persilatan yang cerai berai meninggalkan pondok milik Pangeran Jaka Bintara dan paman gurunya, yaitu Kyai Gagak Mudra.

Mereka semua meninggalkan Pondok, akan tetapi ternyata tidak meninggalkan daerah Muara Sungai Lorog.

Diantara mereka yang muda ada beberapa orang yang sempat melihat ketika Bagus Sajiwo dan Maya Dewi diserang delapan orang dengan tembakan sehingga dua orang yang digdaya dan tadi mengamuk dalam pondok tercebur dalam muara yang dalam.

dan agaknya tewas dan tenggelam karena tidak tampak muncul lagi.

Mereka tidak berani mengganggu rombongan mata-mata Kumpeni yang dipimpin Tatang dan Wirya itu.

Setelah menunggu sampai lama tidak tampak dua orang itu muncul kembali dari dalam muara, Tatang dan Wirya merasa yakin bahwa mereka tentu tewas dan tenggelam.

Maka mereka segera meninggalkan tempat itu dengan hati girang untuk melapor kepada Kumpeni bahwa mereka telah berhasil membunuh Nyi Maya Dewi yang dianggap berkhianat oleh Kumpeni Belanda.

Berita tentang kematian Bagus Sajiwo dan Maya Dewi itu segera tersiar luas dan terdengar oleh para datuk yang sedang berusaha mencari Jamur Dwipa Suddhi di sekitar muara itu.

Mereka menjadi besar hati karena menganggap bahwa saingan berat itu telah tewas.

Hanya tiga orang pertapa yang tidak ikut mengeroyok Maya Dewi dan Bagus Sajiwo yang menerima berita itu dengan tenang saja, bahkan dalam hati mereka menyayangkan bahwa seorang pemuda remaja yang demikian sakti mandraguna tewas secara menyedihkan, ditembak oleh kaki tangan Kumpeni Belanda.

Mereka bertiga ini adalah Wiku Menak Jelangger, pertapa dari Blambangan, Resi Sapujagad pertapa Gunung Merapi, dan Bhagawan Dewokaton pertapa Gunung Bromo.

Mereka bertiga mencari jamur yang diperebutkan itu dengan cara bersamadhi di tepi muara, di tempat terpisah, untuk mohon petunjuk para dewa dimana adanya Jamur Dwipa Suddhi yang dicari-cari itu.

Sementara itu, mereka yang tadi mengeroyok Maya Dewi, Bagus Sajiwo, dan Ki Sumali dan kemudian melarikan din cerai berai, tentu saja menjadi girang mendengar akan tewasnya Nyi Maya Dewi dan kawan-kawannya, seorang pemuda remaja yang sakti mandraguna itu.

Mereka lalu melanjutkan niat mereka untuk mencari Jamur Dwipa Suddhi di sekitar Muara Sungai Lorog secara berpen-caran, ada yang sekelompok, ada pula yang sendiri-sendiri.

Ki Kebondanu jagoan Surabaya yang tinggi besar itu mencari-cari di tepi muara, terkadang mencongkel-congkel pasir atau menggulirkan batu-batuan yang berada di tepi muara.

Jagalabilawa meneliti tebing karang, mencari-cari dan kalau menemukan celah lalu dirogoh dan diperiksanya, kalau menemukan guha lalu dimasukinya dan diperiksanya dengan teliti.

Pangeran Banten, Raden Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra juga tidak kalah sibuknya.

Mereka bahkan mendaki tebing dan mencari-cari.

Para pencari muda Juga tersebar di daerah itu dan seolah menyusuri pantai Laut Selatan untuk mencari pusaka yang amat diinginkan itu.

Kalau sudah bosan mencari ke atas tebing karena tidak menemukan sesuatu, mereka lalu turun dan mencari di tepi muara.

Sampai matahari terbenam semua orang mencari namuh belum ada yang menemukan pusaka yang dicari dan terpaksa menghentikan pencarian itu karena cuaca mulai gelap sehingga tidak memungkinkan mereka mencari.

Mereka melewatkan malam di dalam pondok milik Pangeran Raden Jaka Bintara yang tadi ditinggatkan, kecuali tiga orang pertapa yang masih melanjutkan samadhi mereka menunggu wangsit (petunjuk gaib).

Tiga orang pertapa itu, Wiku Menak Jelangger dari Blambangan, Resi Sapujagad dari Gunung Merapi, dan Bhagawan Dewokaton dari Gunung Bromo, adalah orang-orang yang gentur tapa (tekun bertapa) dan mereka telah mendapatkan kepekaan batin.

Setelah sehari semalam, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka bertiga, seolah dikomando, bangkit dari pertapaan mereka.

Sang Wiku Menak Jelangger berkata kepada Darun dan Dayun, dua orang cantriknya yang dengan setia menunggunya selama dia bersamadhi, dengan suara tenang namun pasti.

"Darun dan Dayun, mari kita pulang. Pusaka yang dicari itu sudah tidak ada lagi."

Darun dan Dayun saling berpandangan.

Mereka tidak merasa ragu lagi.

Kalau sang wiku sudah berkata demikian, mereka berduapun percaya bahwa Jamur Dwipa Suddhi pasti benar-benar sudah tidak ada lagi sehingga akan sia-sia dan membuang-buang waktu saja kalau dicari.

Mereka bertiga lalu meninggalkan tepi muara itu.

Selagi mereka berjalan, mereka berpapasan dengan Resi Sapujagad dan Bhagawan Dewokaton yang berjalan berdampingan dan agaknya sedang bercakap-cakap.

Melihat Wiku Menak Jelangger, Resi Sapujagad memberi salam.

"Selamat pagi, Kakang Wiku."

Bhagawan Dewokaton juga memberi salam yang sama.

"Selamat pagi, Adi Resi Sapujagad dan Adi Bhagawan Dewokaton!"

Resi Menak Jelangger menjawab sambil tersenyum.

"Sepagi ini andika berdua sudah berjalan. Hendak kemanakah?"

"Kami berdua mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat ini, pulang ke padepokan kami masing-masing."

Kata Resi Sapujagad.

"Tidak ada gunanya lagi melanjutkan pencarian itu, Kakang Wiku Menak Jelangger."

Sambung Bhagawan Dewokaton. Sang Wiku dari Blambangan itu tersenyum lebar.

"Hemm, kiranya andika berdua juga sudah mengetahui kenyataan itu? Memang benar, Jamur Dwipa Suddhi memang sudah tidak ada lagi di daerah ini."

"Begitulah yang kami berdua menerimanya. Kalau begitu, haruskah kita memberitahukan mereka yang masih sibuk mencarinya?"

Tanya Resi Sapujagad.

"Akan sia-sia saja, Adi Resi. Mereka tidak akan mau percaya, bahkan mungkin saja mereka mengira kita membohongi mereka agar mereka pergi dan kita bertiga dapat mencari sendiri tanpa gangguan"

Kata Wiku Menak Jelangger.

"Kakang Wiku benar!"

Kata Bhagawan Dewokaton.

"Mereka berdatangan dari tempat jauh, mana mungkin mau percaya kepada kita? Lebih baik kita pulang saja, Kakang Resi."

Mereka bertiga lalu saling memberi salam dan meninggalkan tempat itu, hendak pulang ke tempat asal mereka masing-masing.

Sementara itu, begitu terang tanah, semua orang yang melewatkan malam di pondok milik Pangeran Jaka Bintara, sudah keluar dari pondok dan melanjutkan pencarian mereka dengan lebih bersemangat.

Beberapa jam lamanya mereka mencari-cari dan setelah matahari naik agak tinggi, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan, baik dari mereka yang mencari di tepi pantai Laut Selatan, di tepi muara, maupun di bawah tebing.

Terjadi keributan dan agaknya dari tiga tempat itu ada seorang berlarian, dikejar oleh yang lain!

"Ini hakku!

Aku yang menemukan Jamur Dwipa Suddhi!"

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 1

Baca Juga: Si Bangau Merah 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert