Eps 3 Bagus Sajiwo - Kho Ping Hoo
Baca online Bagus Sajiwo - Kho Ping Hoo
Cersil Bagus Sajiwo - Kho Ping Hoo.
Kumisnya tipis dan pendekar ini tak pernah terpisah dari dua senjatanya, yaitu sebatang keris yang terselip di pinggang, yaitu keris pusaka Sarpo Langking yang hitam warnanya, sesuai dengan namanya Sarpo Langking (Ular Hitam) bentuknya juga seperti seekor ular, dan sebatang suling bambu terselip di pinggang kanan.
Selain untuk berjaga diri, dia tidak mau meninggalkan dua buah benda kesayangan itu di rumah, takut kalau-kalau hilang diambil orang.
Winarsih tampak segar dan ayu manis pagi itu.
Ia mengenakan kain yang agak tinggi, sampai di lutut, mengenakan pakaian sederhana dan rambutnya digelung dan tertutup sebuah caping pula.
Tangan kirinya memegang sebatang arit dan tangan kanannya menjinjing keranjang kosong, hanya terisi sebuah kendi air.
Dipekarangan rumah mereka telah menanti dua orang petani berusia sekitar tiga puluh tahun.
Mereka adalah dua tenaga pembantu mereka bekerja diladang.
Melihat Ki Sumali dan Winarsih sudah keluar dari pintu, dua orang itupun bangkit berdiri, memanggul pacul masing-masing di pundak kanan.
"Apakah kalian ingin sarapan jagung rebus dan minum air teh dulu?"
Tegur Winarsih kepada dua orang pembantu itu dengan sikap ramah.
"Wah, terima kasih, mas ayu. Akan tetapi tadi sebelum berangkat kesini kami sudah sarapan singkong bakar, sudah kenyang."
Jawab seorang dari mereka.
Tiba-tiba mereka semua terkejut mendengar suara orang tertawa ngakak (terbahak).
Ketika mereka memandang, dari pintu pekarangan muncul tiga orang dan mereka memasuki pekarangan tanpa kulanuwun (permisi).
Ki Sumali mengerutkan alisnya, mengamati tiga orang yang kini menghampiri.
Yang di depan adalah seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar dan kulitnya hitam, mukanya brewok seperti seorang raksasa.
Sepasang matanya yang lebar itu terbelalak seperti hendak meloncat keluar dari kelopaknya, hidungnya mbengol (besar bulat), mulutnya lebar dengan bibir tebal menghitam.
Benar-benar seorang yang menyeramkan dan dari penampilannya tampak jelas bahwa orang itu tentu memiliki tenaga yang kuat sekali.
Tampak kokoh kuat seperti batu karang.
Kedua lengannya besar panjang dengan otot melingkar-lingkar dan di kedua pergelangan tangannya dihias gelang akar bahar hitam berbentuk ular.
Di pinggangnya yang gendut itu tergantung sebatang ruyung berwarna coklat kehitaman mengkilap.
Pakaiannya serba kuning dan sehelai sarung dikalungkan di pundak.
Adapun dua orang yang berjalan dibelakangnya adalah dua orang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh tahun, keduanya bertubuh kekar dan kuat walaupun tidak sekokoh orang"
Pertama.
Pakaian mereka juga serba kuning, dan keduanya bertampang galak.
Sebatang klewang (golok) tergantung di pinggang masing-masing.
Dari pintu pekarangan saja, laki-laki seperti raksasa itu sudah mengeluarkan kata-kata yang kasar dan lantang, menyambung tawanya yang terbahak-bahak.
"Ha-hah-ha, ini yang namanya Ki Sumali, pengecut besar yang tidak mengenal budi itu! Orang macam kamu ini tidak patut hidup!"
Dua orang petani pembantu Ki Sumali menjadi marah melihat sikap kasar dan kata-kata yang menghina itu.
Sebagai penduduk Loano yang rata-rata memiliki keberanian besar, merekapun tidak takut kepada raksasa yang kasar itu.
Apa lagi mereka tidak mengenal siapa tiga orang itu.
Jelas bukan orang Loano, karena kalau mereka penduduk Loano, tentu dua orang petani itu mengenal mereka.
Maka mereka lalu menghadang dan seorang diantara mereka menegur.
"Ki sanak, siapakah andika bertiga dan ada keperluan apakah datang berkunjung kesini? Tidak sepantasnya andika datang-datang mengucapkan kata-kata menghina terhadap Ki Sumali yang terhormat di Loano ini."
Raksasa hitam itu membelalakkan matanya yang sudah lebar kepada dua orang petani itu, kemudian tiba-tiba dia mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah mereka dari jarak antara tiga meter.
"Wuuuuttt... bressss ...!"
Tubuh dua orang petani itu terjengkang dan mereka tewas seketika dengan muka berubah hitam seperti hangus.
Ki Sumali melihat betapa kedua telapak tangan raksasa itu mengeluarkan asap dan tampak membara, lalu padam lagi.
"Aji Tapak Geni...!"
Dia berseru kaget. Tentu saja dia mengenal aji kesaktian itu karena dia sendiri juga menguasai aji itu! "Siapakah andika dan mengapa anda datang-datang membunuh orang?"
Kini Ki Sumali bertanya dengan muka berubah merah saking marahnya melihat perbuatan kejam raksasa hitam itu.
Winarsih membuka capingnya, melepaskan arit dan keranjang, lalu berlari menghampiri dua orang pembantu yang menggeletak tak bergerak.
Melihat ini, Ki Sumali berseru.
"Winarsih, jangan dekati, jangan sentuh mereka!"
Mendengar bentakan ini, Winarsih berhenti berlari dan ia berdiri bingung dan ketakutan memandang raksasa hitam yang kini memandang kepadanya sambil menyeringai, memperlihatkan giginya yang besar-besar di balik sepasang bibir yang tebal menghitam itu.
"Heh-heh-ha-ha-ha, ini isterimu? Heh, masih muda dan amat manis, lebih pantas menjadi biniku."
Dia menoleh kepada dua orang di belakangnya dan berkata.
"Hayo, tangkap perempuan itu dan bawa pulang. Awas, jangan sakiti ia!"
Dua orang itu tanpa banyak cakap lalu berlompatan ke depan untuk menangkap Winarsih.
Melihat ini, Ki Sumali tentu saja marah dan dia sudah menggerakkan kaki untuk menghampiri dan melindungi isterinya dari gangguan orang itu.
Akan tetapi tiba-tiba raksasa itu telah melangkah lebar menghadangnya.
"Ho-ho, Ki Sumali. Perempuan itu kini milikku dan engkau harus mati!"
Kata raksasa bermuka hitam itu.
"Jahanam keparat!"
Ki Sumali berseru marah melihat betapa kedua lengan isterinya sudah ditangkap oleh dua orang itu dan ditarik keluar dari pekarangan.
Winarsih menjerit-jerit dan meronta-ronta.
Ki Sumali yang dihadang oleh raksasa itu lalu mengeluarkan pekik melengking yang memekakkan telinga.
Inilah Aji Jerit Bairawa, teriakan yang mengandung kekuatan sihir dan dapat melumpuhkan lawan yang terserang oleh suara itu secara langsung.
"Ha-ha-ha-ha, apa artinya Jerit Bairawa itu bagiku? Permainan anak kecil!"
Kata raksasa itu sambil tertawa.
Ki Sumali terkejut.
Ternyata raksasa itu mengenal pula ajiannya dan sama sekali tidak terpengaruh.
Maka dia lalu, mencabut keris Sarpo Langking dari ikat pinggangnya dengan tangan kanan dan mencabut sulingnya dengan tangan kiri lalu menerjang dengan gerakan dahsyat kepada lawannya.
Raksasa itu ternyata dapat bergerak cepat sekali.
Dengan mudah dia sudah dapat mengelak dari serangan yang dilakukan Ki Sumali dengan kedua senjatanya, bahkan lengan kirinya yang panjang itu sudah bergerak dan tangannya yang membentuk cakar menyambar ke arah kepala Ki Sumali!
Hebat sekali serangan ini dan Ki Sumali maklum betapa kuatnya tangan itu, sudah terasa anginnya yang panas menyambar dan kalau mengenai sasaran, aji kekebalannya tentu tidak kuat melindungi kepalanya.
Maka dia melompat ke belakang lalu mengayun kembali keris dan sulingnya secara bergantian, menyerang ke bagian tubuh yang berbahaya dari raksasa itu.
"Eh, bagus juga ilmu kepandaianmu!"
Raksasa itu melompat kebelakang menghindarkan diri, kemudian tahu-tahu dia sudah mengambil ruyungnya yang terbuat dari galih asem (bagian tengah batang pohon asam) yang amat keras dan kuat.
Sementara itu, jeritan Winarsih menarik perhatian dan sebentar saja banyak penduduk Loano berdatangan ke tempat itu.
Melihat ini, dua orang yang menangkap Winarsih lalu berlompatan ke atas punggung kuda mereka yang berada di luar pekarangan.
Sambil memondong Winarsih yang meronta-ronta, seorang diantara mereka membalapkan kudanya pergi dari situ.
Temannya melindungi dari belakang dan ketika ada beberapa orang laki-laki penduduk Loano hendak menghalangi atau mengejar penculik Winarsih itu, dia menggerakkan cambuk kudanya.
Terdengar bunyi ledakan-ledakan dan beberapa orang laki-laki terpelanting dan menderita lecet-lecet berdarah oleh cambukan.
Orang ke dua itu lalu membalapkan kudanya menyusul temannya.
"Plak! Trang...!!"
Suling dan keris itu terlepas dari tangan Ki Sumali ketika bertemu dengan ruyung.
Raksasa itu tertawa bergelak.
Ki Sumali sudah menggosok kedua telapak tangannya yang mengepulkan asap.
Dia mengerahkan Aji Tapak Geni untuk menyerang.
Akan tetapi lawannya juga sudah menggantungkan ruyung dan sudah siap.
Ketika Ki Sumali mendorongkan tangannya sambil mengerahkan seluruh tenaga Aji Tapak Geni, Raksasa itu menyambut dengan dorongan kedua tangannya pula.
"Wuuuttt... dess...!!"
Tubuh Ki Sumali terlempar sampai tiga meter jauhnya dan terbanting jatuh ke atas tanah.
Dia merasa dadanya nyeri, tanda bahwa dia kalah kuat sehingga tenaganya sendiri membalik.
Sementara, raksasa itu tertawa bergelak.
Akan tetapi pada saat itu, banyak penduduk datang berlarian ke tempat itu.
Melihat ini, raksasa itu melangkah lebar menuju keluar pekarangan.
Agaknya jerih juga hatinya menghadapi demikian banyak orang.
Siapa tahu, diantara mereka terdapat orang-orang yang sakti.
Melihat raksasa itu hendak pergi, Ki Sumali menguatkan diri dan berteriak lantang.
"Jahanam, tinggalkan namamu kalau andika bukan pengecut!"
Raksasa itu sudah melompat naik ke atas punggung kuda. Akan tetapi sebelum dia membedal kudanya, dia menengok ke arah Ki Sumali dan berseru.
"Ki Singobarong namaku, Nusakambangan tempat tinggalku!"
Setelah berkata demikian, raksasa itu membalapkan kudanya.
Para penduduk Loano tidak ada yang berani menghadangnya, mengingat betapa saktinya raksasa itu yang sudah mampu mengalahkan Ki Sumali.
Melihat ini, Ki Sumali demikian khawatir akan isterinya dan demikian marah, ditambah luka dalam dadanya dan diapun terkulai pingsan!
Para penduduk segera mengangkat Ki Sumali yang pingsan ke dalam rumah dan mengangkut jenazah dua orang petani itu kembali ke rumah masing-masing.
Semua orang ramai membicarakan peristiwa hebat itu.
Mendengar betapa Ki Sumali roboh pingsan, kalah bertanding melawan seorang raksasa hitam, semua orang menjadi terkejut dan gelisah.
Kalau Ki Sumali saja tidak mampu melawan, siapa yang akan melindungi mereka kalau ada penjahat sakti itu mengganggu ketenteraman Loano?
Mereka hanya membaringkan tubuh Ki Sumali di atas pembaringan dan dua orang menjaganya di kamar itu, yang lain duduk berkerumun di pendopo rumah sambil tiada hentinya membicarakan peristiwa diculiknya Winarsih tadi.
Belum lama peristiwa itu terjadi, maka belasan orang di pendopo itu serentak bangkit ketika mereka melihat seorang pemuda memasuki pekarangan rumah Ki Sumali.
Pemuda itu pasti bukan orang Loano karena mereka tidak mengenalnya, maka tentu saja mereka merasa curiga.
Bahkan diantara mereka sudah ada yang mengambil arit atau linggis untuk siap siaga kalau-kalau yang datang itu orang jahat sebangsa tiga orang yang tadi datang menyerang Ki Sumali dan menculik Winarsih.
Akan tetapi pemuda itu tampak sederhana.
Usianya sekitar dua puluh tahun tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan manis, sinar matanya lembut dan langkahnya tenang seperti langkah harimau dan ketika dia melihat belasan orang berdiri di pendopo rumah Ki Sumali, pemuda itu mengerutkan alisnya dan pandang matanya mengandung keheranan.
"Permisi...!"
Pemuda itu memberi salam, lalu disambungnya dengan pertanyaan.
"Bolehkah saya mengetahui apakah Paman Sumali berada di rumah?"
Orang-orang itu saling pandang, kemudian seorang diantara mereka, yang tertua, berbalik dengan pertanyaan yang terdengar penuh curiga kepada pemuda itu.
"Katakan dulu, siapa andika dan ada keperluan apa dengan Ki Sumali?"
Pemuda itu mengerutkan alisnya dan sinar matanya menyapu semua orang itu, Tampaknya mereka ini orang baik-baik dan orang-orang biasa, pikirnya, akan tetapi mengapa berkumpul di pendopo ini?
"Nama saya Lindu Aji, dan saya adalah sahabat baik dari Paman Sumali, maka saya datang mengunjunginya."
Agaknya orang tua itu percaya akan keterangan Lindu Aji, apalagi memang sikap pemuda itu bukan seperti orang jahat yang berniat buruk. Maka dia lalu berkata.
"Maafkan sikap kami yang penuh curiga, anak mas. Sebetulnya baru saja disini kedatangan tiga orang penjahat. Mereka menculik mas ayu Winarsih dan melukai Ki Sumali." (Lanjut ke
Jilid 08) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08 Aji terkejut bukan main. Winarsih diculik dan Ki Sumali dilukai? "Bagaimana keadaan Paman Sumali sekarang? Dimana dia?"
"Itu, kami baringkan di atas tempat tidurnya dalam kamar."
"Biar aku memeriksanya, siapa tahu aku akan dapat menyembuhkannya!"
Kata Aji dan pemuda ini lalu diiringkan mereka menuju ke kamar Ki Sumali.
Melihat Ki Sumali rebah dengan muka pucat dan napas terengah-engah, Lindu Aji cepat mendekati.
Dia duduk di tepi pembaringan dan cepat memeriksa dada Ki Sumali.
Tahulah dia bahwa Ki Sumali terluka di sebelah dalam dadanya.
Ada hawa panas yang melukai sebelah dalam tubuhnya.
"Saya harap andika sekalian suka keluar dari kamar dan menonton dari luar agar hawa kamar ini tidak menjadi pengap. Aku akan mengobati Ki Sumali."
Kata Lindu Aji.
Orang-orang itu lalu keluar dan kembali ke pendopo.
Ada beberapa orang saja yang menonton dari luar pintu kamar, sekalian untuk menjaga karena tentu saja mereka belum percaya sepenuhnya kepada pemuda yang tidak mereka kenal itu.
Lindu Aji melepas sarung yang bergantung di leher Ki Sumali.
Karena pendekar itu memang tidak memakai baju, maka mudah sekali bagi Lindu Aji untuk melakukan pemeriksaan.
Setelah jelas apa yang diderita Ki Sumali, Aji lalu meletakkan kedua telapak tangannya di dada pendekar Loano itu dan mengerahkan tenaga saktinya untuk membantu Ki Sumali, mengusir hawa panas itu dan memulihkan tenaganya, memperlancar jalan darahnya.
Tak lama kemudian, mereka yang menonton dari luar pintu kamar dengan hati tegang, menghela napas lega dan wajah mereka tampak berseri ketika mereka melihat Ki Sumali bernapas normal, tidak terengah-engah lagi dan dia mulai bergerak, lalu membuka matanya.
Dia merasa ada hawa dingin sejuk meresap di dalam dadanya, membuat dadanya terasa nyaman dan enak bernapas.
Ketika dia membuka matanya, ingatannya kembali membayangkan peristiwa tadi.
Orang-orang jahat menculik isterinya dan menyerangnya!
Maka begitu membuka mata dan melihat seorang laki-laki duduk ditepi pembaringan dan meletakkan kedua tangan di atas dadanya, Ki Sumali segera menggerakkan tangan kanan untuk memukul!
Lindu Aji sudah siap siaga.
Melihat gerakan ini, cepat dia menangkap pergelangan tangan Ki Sumali dengan tangan kirinya, lalu berkata.
"Tenanglah, Paman Sumali. Ini aku, Lindu Aji!"
Ki Sumali menggosok mata dengan punggung tangan kirinya, lalu memandang penuh perhatian.
"Ah, Anak Mas Lindu Aji! Engkaukah ini...?"
Dia meraba dadanya sendiri.
"Ah, kini mengerti aku. Tentu andika yang telah menyembuhkan luka dalam dadaku!"
"Tenanglah, paman. Andika sudah sembuh, mari kita duduk dan membicarakan apa yang terjadi. Aku datang kesini mengunjungimu, melihat andika pingsan dirubung orang-orang itu, maka aku cepat membantumu mengusir hawa panas dalam tubuhmu."
Ki Sumali merangkul pemuda itu dan mengajaknya turun dari pembaringan. Melihat orang-orang di luar kamar, dia lalu berkata kepada mereka.
"Kawan-kawan, terima kasih atas bantuan andika semua. Sekarang aku sudah sembuh dan aku hendak berunding dengan anak mas Lindu Aji, maka harap andika sekalian keluar dan duduk di pendopo sana."
Beberapa orang di luar kamar itu mengangguk dan mereka lalu keluar dan berkumpul di pendopo, sekarang mereka membicarakan Lindu Aji yang telah berhasil menyembuhkan Ki Sumali yang tadi roboh pingsan.
"Nah, paman ceritakanlah apa yang terjadi."
Kata Lindu Aji setelah mereka duduk berhadapan dalam kamar itu. Ki Sumali menghela napas panjang.
"Mereka datang, tiga orang yang tidak kukenal, ketika aku dan Winarsih hendak berangkat ke ladang bersama dua orang pekerja pembantu kami. Tiba-tiba saja orang bertubuh raksasa bermuka hitam itu memaki-maki aku dan ketika dua orang pembantuku menegurnya, dia membunuh mereka berdua! Ah, aku menyesal sekali tidak dapat menyelamatkan nyawa kedua orang pembantuku itu."
Kata Ki Sumali dengan muka sedih.
"Lalu bagaimana, paman?"
"Raksasa hitam itu lalu menyuruh dua orang kawannya untuk menculik Winarsih, aku tentu saja menghalangi, akan tetapi raksasa hitam itu sakti mandraguna. Setelah bertanding, aku roboh terluka dan Winarsih dilarikan dua orang temannya."
"Siapa raksasa itu, paman?"
"Sebelum dia pergi, aku bertanya dan dia mengaku bernama Ki Singobarong, bertempat tinggal di Nusakambangan. Winarsih tentu dilarikan kesana. Aku harus mengejar kesana, sekarang juga!"
Ki Sumali bangkit dan mengambil Keris Sarpo Langking dan sulingnya yang tadi oleh para tetangganya diambil dari luar dan diletakkan di atas meja dalam kamarnya itu.
"Memang harus dikejar sekarang, paman. Mari, aku ikut!"
"Terima kasih, anak mas. Kembali engkau menolong kami dalam keadaan gawat dan dalam waktu yang tepat sekali. Tanpa bantuanmu sedikit kemungkinan aku dapat membebaskan isteriku, bahkan mungkin aku akan mengantar nyawa disana!"
Mereka keluar dari kamar dan Ki Sumali berkata kepada mereka yang masih bergerombol di pendopo rumahnya.
"Harap andika sekalian suka pulang kerumah masing-masing dan terima kasih atas perhatian dan bantuan andika sekalian. Sekarang, aku dan anak mas Lindu Aji akan melakukan pengejaran untuk menolong dan membebaskan isteriku."
Setelah berkata demikian, Ki Sumali segera melompat dan menggunakan ilmunya berlari cepat, disusul oleh Aji.
Melihat dua orang itu berkelebat dan sebentar saja sudah lenyap dari hadapan mereka, semua orang kagum dan mengharap agar mereka berdua dapat mengalahkan para penjahat dan dapat membebaskan Winarsih yang terculik.
Dalam perjalanan yang dipenuhi kegelisahan hati Ki Sumali akan keadaan isterinya yang terculik itu, Lindu Aji menghiburnya dengan mengajaknya bercakap-cakap.
"Paman, bukankah dahulu yang menguasai Nusakambangan adalah mendiang Aki Somad?"
"Memang benar, anak mas. Dan Ki Singobarong yang baru berusia kurang lebih empat puluh tahun itu agaknya tidak kalah sakti dibandingkan Aki Somad. Bahkan dia menguasai semua ilmu yang pernah kupelajari dari Aki Somad."
Kata Ki Sumali penasaran.
"Hemm, mungkin dia itu murid mendiang Aki Somad."
Kata Lindu Aji, teringat akan kehebatan ilmu mendiang Aki Somad, terutama sekali ilmu sihirnya yang amat berbahaya.
Bahkan Ki Sumali sendiri, sebagian besar ilmunya yang paling hebat adalah ilmu yang dipelajarinya dari Aki Somad.
"Aku tidak mengira demikian, anak mas. Kalau dia murid mendiang Aki Somad, tentu aku sudah mengenalnya, atau setidaknya mendengar tentang namanya. Mungkin saja dia itu merupakan saudara seperguruan yang dulu tinggal jauh dan baru sekarang muncul dan menggantikan Aki Somad menguasai Nusakambangan. Akan tetapi usianya masih termasuk muda dibandingkan Aki Somad. Tidak tahulah, kita akan tahu nanti kalau sudah berhadapan dengan dia. Akan kutanya mengapa dia memusuhi aku! Dia memaki aku pengecut dan tidak mengenal budi. Hal ini sudah kupikirkan dalam-dalam dan satu-satunya kemungkinan dendamnya kepadaku itu tentu ada hubungannya dengan Aki Somad. Aku selalu menolak bujukan Aki Somad untuk membantu Kumpeni Belanda, bahkan berani menentangnya. Mungkin itu yang membuat dia mendendam kepadaku."
Biarpun mereka melakukan perjalanan cepat, namun karena perjalanan itu melalui bukit-bukit dan hutan-hutan, baru dua hari kemudian mereka berdiri di pantai selatan.
Pulau Nusakambangan tampak melintang di depan.
Mereka harus menyeberangi segara anakan (anak laut) yang cukup lebar.
| Ki Sumali dapat membeli sebuah perahu dari seorang nelayan karena nelayan itu sendiri tidak berani kalau perahunya disewa dan dia harus mengantar dua orang itu ke Nusakambangan.
Pada waktu itu, pulau itu merupakan semacam "pulau hantu"
Bagi para nelayan dan penduduk sekitar pantai laut selatan.
Nusakambangan dianggap tempat tinggal para setan, iblis, siluman bekasakan.
Para nelayan tidak berani mencari ikan terlalu dekat pulau itu.
Terpaksa Ki Sumali membeli perahu nelayan itu dan bersama Lindu Aji dia lalu mendayung perahu itu menuju pulau yang menyeramkan itu.
Setelah perahu yang didayung dua orang itu mendekati pulau yang sudah tampak jelas pohon-pohonnya, tinggal belasan tombak lagi, tiba-tiba laut yang tadinya tenang itu berombak, makin lama semakin besar sehingga perahu yang didayung maju itu terlempar mundur kembali.
Datang badai yang tidak disangka-sangka, pada hal tadi udara cerah dan tidak ada sedikitpun tanda bahwa akan datang badai.
Tiba-tiba saja langit tertutup mendung dan laut menjadi gelisah, lalu marah dan perahu kecil itu diombang-ambingkan, diangkat, dibanting dan terancam digulung ombak besar.
"Eh, kenapa tiba-tiba datang badai demikian dahsyat? Jangan-jangan Gusti Ratu Kidul penguasa Laut Kidul marah ..."
Kata Ki Sumali ketakutan.
Pada waktu itu, semua orang percaya bahwa Laut Selatan dikuasai oleh ratu jin atau ratu siluman atau ratu yang teramat cantik jelita, namun juga amat besar kuasanya, sakti mandraguna dan ditakuti semua orang.
Bahkan semua orang yang tinggal di daerah pantai laut selatan, menyembah dan memuja ratu itu, menyediakan persembahan berupa kembang setaman, berbagai macam makanan dan membakar kemenyan untuk mohon berkah keselamatan dan agar jangan ada anggauta bala tentara sang ratu mengganggu mereka.
"Tidak, paman. Ini bukan alami, ini tentu buatan orang yang mengunakan ilmu sihir yang amat jahat. Lihat, aneh bahwa perahu kita tidak sampai terbalik! Ilmu sihir hanya dapat mencelakai orang, namun tidak mungkin sampai membunuh. Mari, paman, mari bantu aku untuk melawan pengaruh sihir ini, dengan mengheningkan cipta, mohon kekuatan dari Gusti Allah dengan jalan menyerah kepada Kekuasaan Gusti Allah yang akan menyirnakan segala macam kekuasaan yang bertentangan dengan kekuasaanNya dan tidak wajar. Mari kita mulai, paman."
Lindu Aji lalu berdiri, seluruh tubuhnya santai dan lemas penuh penyerahan kepada Gusti Allah, seluruh keadaan dirinya lahir batin berserah diri penuh kepasrahan bagaikan seorang bayi dalam kandungan, tidak ada gerakan usaha sedikit pun lahir batinnya, sepenuhnya menyerah dengan sepenuh iman, ikhlas, tawakal sehingga kalau ada suatu gerakan, maka kekuasaan Tuhan sajalah yang bekerja.
Ki Sumali juga sudah duduk bersila dalam perahu, kedua tangan menyembah di depan dada, matanya terpejam dan diapun sudah tenggelam ke dalam keheningan.
Kekuasaan Tuhan tak dapat diatasi oleh kekuasaan apapun juga.
Apalagi hanya kekuasaan sihir buatan manusia yang berasal dari kekuatan iblis.
Seketika udara menjadi terang kembali, badai dan angin lenyap dan air laut tenang kembali seperti tadi dan perahu mengambang dengan tenang pula.
Lindu Aji membuka kedua matanya, di dalam hatinya memuji asma Gusti Allah (nama Tuhan) dan menghaturkan terima kasih.
"Mari, paman, kita dayung kembali perahu kita ke pulau."
Katanya kepada Ki Sumali.
Ki Sumali juga menghentikan samadhinya dan bersama Aji dia mendayung perahu menuju ke pantai.
Mereka memilih bagian yang landai.
Perahu menempel tepi pantai di pulau itu dan keduanya melompat ke darat, menyeret perahu sampai ke atas agar tidak sampai terseret air laut.
Kemudian keduanya menyusup diantara pohon dan semak yang memenuhi bagian pulau itu, menuju ke tengah.
Nusakambangan merupakan pulau yang cukup luas dan pada waktu itu, tidak ada orang tinggal disana atau tidak ada penduduknya.
Sejak dahulu pulau ini terkenal gawat karena hanya ditempati sebagai sarang sementara oleh para penjahat yang membentuk gerombolan.
Bahkan akhir-akhir ini penduduk disekitar pantai Laut Selatan mengabarkan bahwa pulau itu berhantu sehingga penduduk disekitar pantai semakin ketakutan dan mengeramatkan pulau itu.
Sebetulnya, bukan hantu bukan sebangsa iblis setan yang menjadi penghuni itu, melainkan segerombolan manusia berwatak iblis yang menggunakan pulau itu sebagai sarang mereka.
Setelah Aki Somad meninggalkan pulau itu dan kemudian terdengar berita bahwa dia tewas dalam perang ketika dia membantu Kumpeni Belanda melawan pasukan Mataram yang menyerbu Batavia, maka anak buahnya yang terdiri dari kurang lebih tiga puluh orang itu kehilangan pimpinan.
Akan tetapi, beberapa bulan yang lalu, muncul seorang bertubuh raksasa yang mengaku sebagai adik seperguruan Aki Somad dan bernama Ki Singobarong.
Dia memperlihatkan kesaktiannya sehingga semua anak buah itu tunduk dan Ki Singobarong inilah yang menggantikan kedudukan Aki Somad.
Di bawah pimpinan Ki Singobarong, gerombolan itu menjadi semakin liar dan jahat.
Kalau di jamannya Aki Somad, kejahatan mereka masih dibatasi dan Aki Somad melarang mereka bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata, hanya diperbolehkan minta "sumbangan"
Secara paksa kepada orang-orang kaya, maka sekarang gerombolan itu benar-benar kejam dan tidak pandang bulu.
Semenjak gerombolan dipimpin Ki Singobarong, seringkali terjadi perampokan di dusun-dusun sepanjang pesisir kidul, dan bahkan seringkali gerombolan itu melakukan penculikan, melarikan gadis-gadis dan wanita-wanita muda, mereka bawa ke Nusakambangan.
Memang pernah terjadi rakyat yang penasaran, dipimpin seorang kepala dusun yang pemberani, berusaha mengumpulkan kekuatan sehingga ada seratus orang laki-laki menggunakan perahu-perahu mencoba untuk mendarat di pulau itu untuk menolong para isteri dan anak perempuan mereka yang diculik.
Akan tetapi mereka tidak dapat mendarat karena perahu-perahu mereka diserang badai sehingga terpaksa mereka pulang.
Besoknya, Ki Singobarong sendiri bersama anak buahnya mengamuk di dusun itu, membunuh banyak laki-laki muda, termasuk kepala dusunnya.
Sejak itu, tidak ada lagi seorang pun berani mendekati Nusakambangan.
KETIKA Ki Sirigohorong mendengar dari anak buah disana, bekas anak buah Aki Somad yang merupakan kakak seperguruannya, tentang murid Aki Somad yang kini terkenal sebagai pendekar Loano bernama Ki Sumali, yang pernah menentang bahkan bermusuhan dengan Aki Somad, Ki Singobarong menjadi marah sekali.
Maka pada hari itu dia mengajak dua orang pembantunya menyeberang ke daratan dan mengunjungi Loano.
Maka terjadilah pembuinuhan dua orang pembantu Ki Sumali, diculiknya isteri Ki Sumali dan dilukainya Ki Sumali oleh Ki Singobarong.
Biarpun pulau itu merupakan sarang dan tempat persembunyian yang aman, dan dia mengandalkan kesaktiannya sendiri sehingga layaknya tidak mungkin ada orang berani mengganggunya, namun Ki Singobarong adalah seorang yang cerdik.
Setelah menyerang Ki Sumali dan melarikan Winarsih, dia memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penjagaan dan mengintai siang malam agar segera melaporkan kalau ada perahu berani mendekati pulau.
Belasan orang wanita muda dan gadls yang diculik dikumpulkan di pulau itu, dimana dibangun pondok-pondok kayu yang cukup kokoh.
Belasan orang gadis yang oleh Ki Singobarong diberikan kepada anak buahnya, menjadi permainan kurang lebih tiga puluh orang anak buahnya bagaikan barang-barang mainan yang tidak berharga dan sewaktu-waktu dapat diganti yang baru.
Ki Singobarong sendiri adalah seorang laki-laki mata keranjang yang diperbudak oleh nafsunya sendiri dan dia telah memilih tiga orang wanita muda untuk dirinya sendiri.
Setelah Winarsih dibawa ke rumah Ki Singobarong, wanita ini didorong ke sebuah ruangan di pondok terbesar yang menjadi tempat tinggal Ki Singobarong.
Winarsih jatuh terperosok di sudut ruangan besar itu dan ia menangis tersedu-sedu.
Ia baru berani mengangkat muka memandang ketika terdengar suara tiga orang wanita menghiburnya.
"Sudahlah, mbakayu, Jangan menangis."
"Ya, menangis air mata darah sekali pun tidak akan menolongmu, mbakayu."
"Bahkan tidak mustahil kalau engkau menangis terus, engkau akan mengalami derita lebih berat, mungkin siksaan atau perlakuan kasar."
Mendengar tiga orang wanita itu menasihatinya seperti itu, ia mengusap air matanya dan menatap mereka.
Winarsih tertegun.
Mereka adalah tiga orang gadis yang masih muda, berusia antara tujuh belas sampai dua puluh tahun dan dari penampilan mereka dapat diketahui bahwa mereka adalah gadis-gadis dusun sederhana, namun wajah mereka cukup manis dan bentuk tubuh mereka menarik.
"Siapakah kalian?"
Tanya Winarsih.
"Kami senasib dengan engkau, mbakayu. Kami juga diculik dan sekarang kami menjadi... isteri Ki Singobarong. Namaku Karsih, mbakayu, dan aku yang pertama disini."
"Ki Singobarong... raksasa hitam itu...'"
Tanya Winarsih.
"Ssst... jangan begitu, mbakayu. Jangan sampai dia marah... dia baik sekali kalau penurut, akan tetapi kalau dia marah, oh, menakutkan sekali. Namaku Darni, mbakayu."
Kata orang kedua yang umurnya mungkin baru delapan belas tahun.
"Dan aku Tinah, mbakayu."
Kata yang termuda, mungkin baru tujuh belas tahun usianya.
"Aku baru dua minggu disini, memang lebih baik menerima nasib, mbakayu. Masih baik kalau diperistri Ki Singobarong. Kalau diberikan kepada anak buahnya... Iiiuhh... kita akan dipermainkan orang banyak... mengerikan sekali."
Winarsih memang seorang wanita yang tidak pernah belajar ilmu kunuragan.
Akan tetapi ia Isteri seorang pendekar dan memiliki kenekatan besar.
Ia bangkit berdiri, sepasang matanya bersinar penuh kemarahan.
"Tidak! Aku sudah menjadi isteri orang, tidak boleh laki-laki manapun menggangguku."
Ia mencubut sebatang patrem (belati kecil) yang tadinya diselipkan di pinggang dan tidak diketahui kedua orang penculiknya.
"Kalau ada yang berani mencoba-coba menyentuh badanku, dia hanya akan menyentuh sebuah mayat!"
Melihat Winarsih memegang patrem dan siap dihunjamkan kepada dadanya sendiri, tiga orang wanita muda itu mundur ketakutan.
Tekat besar Winarsih ini menolongnya.
Bahkan Ki Singobarong sendiri tidak berdaya karena dia tahu bahwa kalau dia menggunakan kekerasan, Winarsih tentu membunuh diri.
Dia Juga tidak mau menggunakan ilmu sihirnya seperti yang banyak dia pergunakan untuk menundukkan para wanita yang diculiknya.
Hal ini adalah karena dia melihat sesuatu yang amat menarik dalam diri Winarsih, yang berbeda dengan para gadis dusun itu.
Dia benar-benar Jatuh hati dan tergila-gila kepada Winarsih, dan menghendaki agar Winarsih suka menyerahkan diri kepadanya secara suka rela.
Karena itu, dia tidak mau mempergunakan sihirnya untuk membuat Winarsih menurut dan memenuhi kehendaknya.
Dia hanya menahan Winarsih dalam sebuah kamar yang terjaga dari luar, dan memesan para gadis yang menjadi isteri-isterinya itu untuk melayani Winarsih dan bersikap baik kepadanya.
Ki Singobarong sekali ini menginginkan agar Winarsih menjadi isteri yang sah, bukan sekedar menjadi permainan nafsunya seperti wanita-wanita lain yang setiap saat akan mudah dibuang dan dicarikan penggantinya.
Ketika anak buah yang mengintai di tepi laut melihat munculnya sebuah perahu kecil yang ditumpangi dua orang laki-laki, mereka segera melapor kepada Ki Singobarong.
Datuk sesat ini cepat pergi dan dia melihat bahwa dua orang dalam perahu itu adalah Ki Sumali dan seorang pemuda yang tidak dikenalnya.
Dia menyeringai melihat keberanian Ki Sumali, berani datang mengunjungi Nusa-kambangan!
Hemm, dia mencari mampus, pikirnya.
Tidak mungkin dia mau menyerahkan kembali Winarsih yang akan dijadikan isterinya.
Ki Singobarong lalu duduk bersila di atas batu dan mulai mengerahkan ilmu sihirnya.
Maka datanglah angin dan badai yang melanda perahu yang ditumpangi Ki Sumali dan Lindu Aji itu.
Akan tetapi Ki Singobarong terkejut bukan main ketika serangannya melalui ilmu sihir hitam itu punah dan gagal sama sekali.
Dia mencoba untuk mengerahkan segala kemampuannya, namun seperti ada angin semilir lembut membawa kehangatan sinar matahari membuyarkan kabut yang ditimbulkan sihirnya, semua usahanya gagal dan kekuatan sihirnya seperti lumpuh.
Dengan penuh geram dia lalu meninggalkan pantai dan cepat mengumpulkan tiga puluh orang anak buahnya.
Dia maklum bahwa serangan ilmu sihirnya tadi dapat ditangkis lawan, entah itu Ki Sumali sendiri yang menghalau kekuatan sihirnya ataukah pemuda yang menyertainya di atas perahu.
Dia membagi anak buahnya menjadi dua bagian.
Bagian pertama, lima belas orang banyaknya, dia perintahkan untuk mengumpulkan semua tawanan wanita yang jumlahnya hampir dua puluh orang itu di rumahnya yang besar dan lima belas orang itu diperintahkan untuk menjaga agar jangan sampai ada orang yang membebaskan mereka.
Adapun yang tujuh belas orang, semua anak buahnya setelah dihitung ada tiga puluh dua orang, diajaknya untuk menyambut kedatangan dua orang itu.
"Hati-hati jangan sembarangan bergerak,"
Pesannya kepada rombongan ke dua yang diajaknya menyambut musuh.
"Dua orang musuh yang datang bukan orang sembarangan. Lihat betapa aku akan menghajar dan membunuh mereka. Jangan bantu aku kalau tidak perlu karena itu hanya akan menggangguku saja."
Kata Ki Singobarong dengan sikap sombong, seolah dia sudah memastikan bahwa dia akan dapat membunuh dua orang musuh dengan mudah.
Ki Sumali dan Lindu Aji akhirnya tiba di dataran di tengah pulau dimana terdapat perkampungan gerombolan itu.
Perkampungan terdiri dari pondok-pondok kayu dan ditengah-tengah terdapat pondok terbesar, tempat tinggal Ki Songobarong.
Dengan hati-hati Ki Sumali dan Lindu Aji melangkah maju, menghampiri pintu gerbang perkampungan.
Mereka dapat menduga bahwa Ki Singobarong tentu sudah tahu akan kedatangan mereka, buktinya tadi ada serangan badai yang timbul karena pengaruh sihir.
Maka mereka berdua kini siap siaga.
Tiba-tiba, terdengar suara brengeng-eng (berdengung-dengung) yang datangnya dari perkampungan itu.
Lindu Aji sudah dapat merasakan pengaruh hawa yang tidak sewajarnya, tanda bahwa ada kekuatan sihir yang kuat sedang dikerahkan orang untuk menyerang mereka.
"Paman, harap paman berlindung dibelakangku dan melindungi diri paman sendiri karena ada yang akan menyerang kita dengan ilmu sihir lagi."
Kata Lindu Aji.
Ki Sumali yang maklum bahwa Ki Singobarong adalah seorang ahli mempergunakan ilmu sihir seperti juga mendiang Aki Somad, gurunya, segera berdiri dibelakang Lindu Aji dalam jarak dua tombak.
Aki Somad memang pernah menjadi gurunya akan tetapi kakek itu tidak mengajarkan ilmu sihir yang merupakan aji pamungkasnya, yaitu Aji Gineng Soka Weda.
Dia hanya diberi Aji Jerit Bairawa, pekik yang mengandung kekuatan sihir untuk melumpuhkan lawan.
Bunyi berdengung-dengung itu kian kuat dan tak lama kemudian, dari pintu gerbang itu muncullah semacam awan hitam melayang-layang ke arah dua orang pendatang itu.
Ki Sumali tidak tahu apa awan itu, namun dia sudah siap siaga, mengerahkan kekuatan batin dan tenaga saktinya untuk melawan serangan apapun juga yang datang menyerangnya.
Dia melihat bahwa Lindu Aji masih berdiri tenang saja dengan pandang mata ditujukan kepada awan hitam yang melayang datang membawa suara berdengung-dengung itu.
Kini Ki Sumali terbelalak.
Dia dapat melihat bahwa awan hitam itu ternyata adalah segerombolan lebah yang oleh penduduk dikenal sebagai tawon endhas (tawon berwarna hitam yang besar dan berani menyerang manusia dengan menyambar ke arah kepala.
Dia terkejut sekali.
Lebah hitam besar ini amat berbahaya.
Kabarnya, sekali saja kepala kena dibentur seekor lebah ini, maka bagian kepala itu akan menjadi botak dan tidak dapat ditumbuhi rambut iagi.
Pada hal kini yang datang ada ratusan ekor banyaknya.
Saking ngerinya, Ki Sumali ingin mendahului.
Dia melangkah maju ke dekat Lindu Aji dan mengerahkan tenaga saktinya lalu keluarlah lengkingan panjang dari kerongkongannya, lengkingan yang mengandung getaran kuat sekali yang ditujukan untuk menyerang segerombolan lebah hitam itu.
Gelombang suara lengkingan ini menghantam ke arah gerombolan lebah yang terbang datang.
Gerombolan lebah itu seperti disambar tiupan angin kuat yang terkandung dalam Aji Jerit Bairawa yang dikerahkan Ki Sumali.
Akan tetapi hanya sebentar saja gerombolan lebah itu terdorong ke belakang, lalu mereka naik ke atas dan terbang maju lagi dengan kuat dan cepat.
Agaknya serangan Aji Jerit Bairawa itu hanya mengejutkan mereka, namun tidak mampu menahan mereka!
Ki Sumali menjadi penasaran.
Ternyata ajinya tidak mempan.
Dia cepat menggosok kedua telapak tangannya, lalu ditiupnya dan kedua telapak tangannya itu bernyala dan membara.
Itulah Tapak Geni (Telapak Api) dan dengan kedua tangannya Ki Sumali mendorong ke arah gerombolan lebah itu.
Kembali gerombolan lebah itu terdorong kebelakang sekitar dua meter, namun mereka tidak runtuh dan dengan memperdengarkan suara mendengung nyaring mereka meluncur ke depan lagi, bahkan lebih kuat.
Lindu Aji sejak tadi memperhatikan dan maklumlah dia bahwa gerombolan itu bukanlah lebah biasa, melainkan lebah jadi-jadian, maka kedua aji Ki Sumali tadi tidak mempan, karena memang tingkat dan kepandaian Ki Sumali kalah tinggi dibandingkan kepandaian orang yang mengirim gerombolan lebah jadi-jadian itu.
Maka, dia lalu membungkuk dan mengambil segenggam tanah berpasir, mengerahkan kekuatan batinnya lalu menyambitkan segenggam tanah berpasir itu ke arah segerombolan lebah yang sudah menyambar datang, sudah dekat, dalam jarak antara dua meter dari kepalanya.
"Kembali ke asalmu!"
Bentak Lindu Aji.
"Blarrrrr...!"
Tampak sinar berkilat seperti ada halilintar menyambar dan segerombolan lebah hitam itupun runtuh semua ke atas tanah dan berubah menjadi pasir hitam!
Akan tetapi terdengar suara gemuruh dan kini muncullah sebuah benda mencorong dan bernyala-nyala dari pintu gerbang perkampungan itu.
Mellhat benda yang terbang cepat ke arah mereka itu, Ki Sumali menjadi pucat.
Itulah Aji Gineng Soka Weda yang dahsyat!
Dia pernah menyaksikan gurunya, mendiang Aki Somad, mendemonstrasikan aji yang luar biasa itu.
Maka, dia cepat mundur dan berlindung dibelakang Lindu Aji.
Dia 'percaya pemuda itu akan mampu menghadapi aji yang amat menyeramkan itu.
Benda yang mencorong dan bernyala-nyaia itu terbang mendekat dan sekarang tampaklah benda itu.
Bukan main!
Mengerikan sekali karena benda itu berwujud sebuah kepala raksasa yang besar dan kedua matanya mencorong, mulutnya terbuka dan mengeluarkan api yang berkobar menyala-nyala, lidahnya panjang membara mengeluarkan asap, mulutnya terisi taring dan gigi-gigi runcing mengkilap, dari kedua lubang hidungnya menyemburkan asap yang panas.
Dalam jarak kurang lebih tiga meter, mahluk menyeramkan itu tiba-tiba menyemburkan api dari mulutnya, ke arah Lindu Aji.
Pemuda ini sudah siap siaga.
Dia pun mengenal mahluk jadi-jadian hasil aji Gineng Soka Weda itu.
Dia pernah mengenal aji yang dahsyat itu.
Dahulu, pernah mendiang Aki Somad menyerangnya dengan aji itu pula dan kini, penyerang yang mempergunakan aji itu agaknya tidak kalah kuatnya dibandingkan mendiang Aki Somad.
Lindu Aji sudah tenggelam ke dalam penyerahan diri lahir batin kepada kekuasaan Gusti Allah.
Sikapnya seperti sikap Tirta Bantala (Air dan Tanah) yang semua gerakannya wajar dan tidak disengaja oleh hati akal pikirannya, melainkan dituntun oleh Kekuasaan Tuhan.
Penyerahan diri ini memunculkan kekuatan Aji Guruh Bumi yang mengandung tenaga sakti Surya Candra.
Tubuhnya merendah ketika kedua kakinya ditekuk depan belakang, lalu kedua tangannya didorongkan ke arah mahluk yang menyemburkan api itu.
"Segala kekuatan datang dari Gusti Allah!"
Seru Lindu Aji dan begitu kedua tangannya didorongkan, ada hawa lembut keluar menyambul serangan mahluk kepala raksasa yang lebih pantas disebut iblis itu.
"Wuuuttt... blaarrr...!!"
Bagaikan disambar halilintar, mahluk itu terpental sampai terputar-putar, kemudian terdengar lolongan seperti lolongan seekor anjing di malam bulan purnama, dan mahluk jadi-jadian itu terbang kembali ke arah perkampungan!
Lindu Aji dan Ki Sumali masih berdiri menanti serangan berikutnya.
Mereka maklum bahwa musuh tidak akan berhenti begitu saja.
Mereka tidak menanti lama.
Tampak kini seorang raksasa hitam melangkah lebar-lebar keluar dari pintu gerbang itu, diikuti oleh tujuh belas orang anak buahnya yang ke semuanya tampak menyeramkan dan bengis.
Ki Sumali segera mengenal orang itu dan dia berbisik kepada Lindu Aji.
"Raksasa itulah Ki Singobarong."
Dia lalu maju dan berdiri di sebelah kiri Lindu Aji dengan sikap tenang karena dia tahu bahwa pemuda yang membantunya ini boleh diandalkan.
Kini Ki Singobarong sudah berdiri di depan mereka, dalam jarak empat tombak.
Anak buahnya membentuk pagar setengah lingkaran dibelakang raksasa hitam itu.
"Babo-babo Ki Sumali! Berani engkau datang kesini? Mau apa engkau datang?"
Tegur Ki Singobarong, agak berkurang keangkuhannya setelah tiga kali ajian sihirnya, badai, gerombolan lebah, dan kepala Banaspati tadi dapat ditolak dan dikalahkan.
Diam-diam walaupun dia bicara kepada Ki Sumali, dia melirik ke arah Lindu Aji dan merasa heran.
Pemuda inikah yang telah mampu melawan dan melumpuhkan sihirnya?
"Hemm, Ki Singobarong..."
"Heh, Ki Sumali! Engkau tidak tahu sopan santun pula. Aku ini paman gurumu, tahu?"
"Aku tidak menganggap engkau paman guruku, Ki Singobarong, karena engkau tidak bersikap sebagai paman guru. Aku datang kesini untuk minta kembali isteriku yang kau culik dan untuk membalas kematian dua orang pembantuku yang tidak berdosa!"
"Bojleng-bojleng iblis laknat!"
Ki Singobarong memaki dengan marah.
"Ki Sumali! Di Loano sana aku masih memberi ampun dan tidak membunuhmu, mengingat bahwa engkau telah menyerahkan isterimu untuk menjadi biniku! Apakah sekarang engkau datang untuk mengantarkan nyawamu?"
"Ki Singobarong! Winarsih adalah isteriku dan tidak pernah kuserahkan kepada siapapun juga, apa lagi kepadamu! Ia adalah isteriku, isteriku yang setia. Karena itu aku harus merampasnya dari tanganmu yang kotor!"
"Hua-ha-ha, isterimu? Ha-ha-ha, bagaimana ia masih menjadi isterimu kalau dia sudah berada dalam pelukanku, tidur dikamarku selama dua malam?"
"Jahanam busuk...!"
Ki Sumali hendak menyerang, akan tetapi dia ditahan oleh Lindu Aji. Pemuda ini lalu melangkah maju dan menentang pandang mata Ki Singobarong.
"Ki Singobarong, kulihat engkau seorang yang sakti. Tidak sayangkah semua kesaktian yang kau pelajari dengan susah payah itu sekarang kau pergunakan untuk melakukan kejahatan. Andika telah menyerahkan jiwamu kepada iblis dan ingatlah, semua kekuasaan iblis akan sirna dihadapan Kekuasaan Gusti Allah. Karena itu, sebelum terlambat, bertaubatlah, kembalikan isteri Paman Sumali dan hentikan semua perbuatanmu yang jahat dan angkara murka."
"Bocah lancang kemaki (sombong!) Agaknya engkau yang membuat Ki Sumali berani datang ke Nusakambangan! Heh, bocah kementhus, jangan mati tanpa nama. Katakan siapa kamu dan mengapa kamu mencampuri urusanku dengan Ki Sumali yang masih terhitung murid keponakanku sendiri!"
"O, kiranya andika ini adik seperguruan mendiang Aki Somad? Ternyata engkau malah lebih jauh tersesat dibandingkan Aki Somad yang hanya terpikat bujukan Kumpeni Belanda dan menjadi antek mereka. Ketahuilah, Ki Singobarong, aku bernama Lindu Aji dan sudah lama menjadi sahabat Paman Sumali dan isterinya. Aku tidak mencampuri urusan pribadi orang, akan tetapi dimana ada perbuatan jahat dan sewenang-wenang terjadi, disitu aku harus turun tangan dan tugasku memang menentang perbuatan jahat. Dan engkau telah membunuh dua orang pembantu Paman Sumali yang tidak bersalah apa-apa kepadamu, melukai Paman Sumali dan bahkan menculik isteri Paman Sumali. Perbuatanmu itu jahat sekali, Ki Singobarong, maka aku harus menentangmu!"
"Babo-babo, sumbarmu seperti geledek, seolah engkau dapat memindahkan gunung, Lindu Aji!"
"Kalau gunung itu mengancam keselamatan orang-orang, aku akan berusaha sedapat mungkin untuk memindahkannya, Ki Singobarong!"
"Bojleng-bojleng iblis laknat!"
Ki Singobarong sudah mengambil ruyung galih asem yang bergantung di pinggangnya.
"Engkau sudah bosan hidup! Pecah kepalamu!!"
Dia segera menerjang ke depan, mengayun ruyungnya yang besar dan berat itu, menyambarkan senjata itu ke arah kepala Lindu Aji.
Pemuda ini dengan sigapnya mengelak dengan merendahkan tubuh sehingga ruyung itu mengiuk lewat di atas kepalanya.
Ki Singobarong menjadi penasaran sekali melihat betapa serangan kilatnya tadi dengan mudah dielakkan lawan, maka kakinya yang panjang besar mencuat ke arah selakangan Lindu Aji.
Tendangan itu merupakan tendagan maut yang berbahaya sekali.
Namun, dengan memainkan ilmu silat Wanara Sakti, tubuh Lindu Aji bergerak cekatan sekali sehingga dengan mudah dia dapat mengelak dari tendangan itu.
Ki Singobarong mengamuk dan melakukan serangan bertubi-tubi.
Akan tetapi Lindu Aji melayaninya dengan mudah, bahkan dia kini mulai membalas dengan tamparan tangan yang mengandung tenaga sakti Surya Candra yang ampuh.
Beberapa kali Ki Singobarong nyaris terkena sambaran tamparan tangannya sehingga raksasa hitam itu mulai berkeringat.
Diam-diam dia lalu memberi isarat kepada tujuh belas orang anak buahnya.
Mereka itu dengan klewang di tangan lalu menyerbu.
Akan tetapi Ki Sumali yang sudah siap siaga, menyambut mereka dengan amukannya, menggunakan keris Sarpo Langking dan sulingnya.
Hebat sekali amukan pendekar Loano ini.
Sebentar saja tiga orang anak buah Nusakambangan sudah terkapar, terkena tusukan keris dan hantaman suling.
Akan tetapi sisanya, empat belas orang mengepung dan mengeroyok Ki Sumali sehingga pendekar ini menjadi agak kewalahan juga.
Akan tetapi karena sepak terjangnya memang tangkas dan berbahaya, setiap tangkisannya membuat penyerangnya terhuyung, maka para pengeroyoknya juga berhati-hati dan agak gentar membuat pengepungan itu tidak berapa ketat.
Sementara itu, Lindu Aji maklum bahwa yang terpenting adalah segera menolong dan membebaskan Winarsih yang tentu berada diperkampungan itu dan untuk dapat segera menolongnya, terlebih dulu dia harus dapat mengalahkan Ki Singobarong.
Diapun harus membantu Ki Sumali yang dikeroyok banyak orang itu.
Lindu Aji lalu mengerahkan tenaga saktinya dan mempergunakan Aji Bayu Sakti.
Tubuhnya berkelebatan amat cepatnya seolah berubah menjadi bayang-bayang.
Ki Singobarong terkejut bukan main.
Dia mengamuk dan mengobat-abitkan ruyung galih asemnya untuk menyerang, namun bayangan Lindu Aji sukar sekali dijadikan sasaran karena berkelebatan cepat.
"Lepaskan!"
Tiba-tiba Aji membentak dan tangan kirinya yang dimiringkan, membacok pergelangan tangan kanan Ki Singobarong yang memegang ruyung itu.
"Wuuuttt... desss...!"
Tak dapat dipertahankannya lagi, ruyung itu terlepas dari pegangan tangan Ki Singobarong yang merasa betapa lengan kanannya seolah-olah menjadi lumpuh.
Dia cepat melompat kebelakang dan setelah lengan kanannya pulih, dia cepat menggosok kedua telapak tangannya sehingga bernyala dan membara, lalu didorongkannya kedua tangannya ke arab Lindu Aji.
"Aji Tapak Geni....!"
Bentaknya dan mengerahkan tenaga sepenuhya karena kini dia yakin akan kedigdayaan lawannya yang masih muda itu. Aji menyambut dengan kedua tangan didorongkan sambil berseru penuh wibawa.
"Aji Guruh Bumi...!"
Kekuatan aji ini memang hebat sekali, seolah bumi tergetar oleh gelombang getaran aji pukulan ini ketika menyambut aji pukulan Tapak Geni.
"Wuuuttt... blaarrrr...!"
Tubuh Ki Singobarong terlempar lebih dari lima meter ke belakang seperti diterjang halilintar dan tubuh tinggi besar itu jatuh berdebuk di atas tanah, dimana dia rebah telentang tak mampu bergerak lagi.
Tenaga Tapak Geni yang membalik telah menghantam dirinya sendiri sehingga dia menderita luka dalam yang cukup hebat.
Lindu Aji melompat, mendekatinya dan melihat raksasa itu ternyata jatuh pingsan dan menderita luka dalam.
Dia tidak memperdulikan lagi, lalu melompat dan membantu Ki Sumali yang masih repot menghadapi pengeroyokan empat belas orang anak buah Nusakambangan itu.
Masuknya Aji mengubah keadaan.
Para anak buah ketakutan melihat pemimpin mereka roboh dan tidak mampu bangkit kembali.
Dan Ki Sumali yang mendapatkan semangat baru dengan masuknya Lindu Aji, mengamuk dan merobohkan dua orang lagi.
Lindu Aji dengan tamparan dan tendangan kakinya, juga merobohkan empat orang.
Sisa anak buah Nusakambangan menjadi ketakutan dan mereka lari cerai berai meninggalkan tempat itu, bahkan secepatnya mereka meninggalkan pulau Nusakambangan mencari keselamatan dirinya!
"Mari kita cari Mbakayu Winarsih!"
Kata Lindu Aji kepada Ki Sumali dan keduanya cepat lari memasuki perkampungan itu.
Suasana dalam perkampungan sepi, tak tampak seorang pun.
Mereka memasuki pondok-pondok terdekat, namun semua pondok itu kosong.
"Pondok besar itu tentu tempat kediaman Ki Singobarong. Mari kita kesana!"
Kata Ki Sumali dan mereka berlari menuju gedung terbesar yang berada di tengah perkampungan.
Baru saja mereka berdua masuk ke pendopo rumah, dari dalam rumah itu keluar belasan orang dan segera lima belas orang anak buah yang ditugaskan menjaga rumah itu mengeroyok mereka.
Akan tetapi Aji dan Ki Sumali mengamuk dan sebentar saja delapan orang telah mereka robohkan.
Sisanya lari kocar-kacir meninggalkan kampung, menyusul teman-teman yang sudah lari terlebih dulu, menggunakan perahu-perahu menyingkir dari Nusakambangan.
Sementara itu, ketika para anak buah gerombolan berlarian keluar dan menyerang dua orang itu, para wanita yang menjadi tawanan dan merasa diri mereka tidak dijaga dan diawasi lagi, berserabutan keluar dari kamar dimana mereka dikeram menjadi satu.
Winarsih juga ikut keluar dan mereka semua berlari keluar.
Bukan main besar, lega dan girang hati Winarsih melihat suaminya di dampingi seorang pemuda yang sudah amat dikenalnya, Lindu Aji yang dahulu pernah pula menolongnya, kini mengamuk dikeroyok belasan orang anak buah gerombolan.
Akan tetapi ia terdesak dan ikut dengan para wanita yang jumlahnya semua ada enam belas orang itu, berlari kepelataran dan melihat beberapa orang anak buah gerombolan yang terluka dan merintih-rintih tidak berdaya itu, mereka seperti kesetanan.
Mereka berebutan mengambil kelewang-kelewang para penjahat yang berserakan, lalu bagaikan harimau-harimau betina yang ganas mereka membacoki para anak buah gerombolan yang terluka tak berdaya itu.
Winarsih melihat sosok tubuh raksasa hitam menggeletak tak jauh dari situ.
Cepat dihampirinya dan ketika melihat Ki Singobarong seperti tertidur, bangkit dendam kemarahan di hati Winarsih.
Dicabutnya patrem yang selama ini dipergunakan untuk mengancam bunuh diri sehingga selama dua malam ini ia sama sekali tidak berani tertidur, Lalu dihampiri tubuh Ki Singobarong dan tanpa ragu-ragu lagi ia membungkuk dan menancapkan patremnya ke lambung raksasa itu, tepat di ulu hatinya.
"Clesss....!"
Patrem yang runcing tajam itu masuk dengan mudahnya menembus kulit dan jantung Ki Singobarong yang masih pingsan!
Darah mengalir dan Winarsih menjadi ngeri lalu bangkit dan mundur-mundur dengan muka pucat.
Patremnya masih menancap sampai kegagangnya di dada Ki Singobarong.
Sementara itu, belasan orang wanita muda yang tadinya menjadi permainan para penjahat itu membantai para anak buah gerombolan yang sembilan orang banyaknya itu.
Mereka yang dibantai hanya dapat berteriak-teriak mengaduh dan ketakutan, akan tetapi para wanita itu tidak mengenal ampun.
Sakit hati mereka terlalu besar dan mereka baru merasa puas setelah sembilan orang itu roboh mandi darah dengan tubuh terkoyak-koyak dan tewas semua!
Para wanita itu ada yang saling rangkul dan menangis tersedu-sedu, teringat akan nasib mereka ketika masih berada dalam cengkeraman gerombolan penjahat yang memperlakukan mereka sekejam iblis itu.
Lima belas orang yang mengeroyok Lindu Aji dan Ki Sumali itupun dihajar habis-habisan sehingga delapan orang sudah roboh dan yang tujuh orang lagi melarikan diri tunggang langgang dan menyusul kawan-kawan mereka yang sudah lebih dulu melarikan diri meninggalkan Nusakambangan.
Lindu Aji dan Ki Sumali tidak melakukan pengejaran dan melihat ada lagi delapan orang musuh menggeletak tidak berdaya karena terluka, para wanita itu sudah mengambil klewang yang berlumuran darah, dengan niat untuk mencacah-cacah lagi tubuh delapan orang itu.
Akan tetapi Lindu Aji yang sudah menengok dan ngeri melihat betapa para gerombolan yang terluka tadi kini telah tewas secara mengerikan, cepat menghadang mereka dan berkata dengan suara membentak.
"Berhenti! Kalian tidak boleh membunuhi mereka yang sudah terluka!"
Seorang di antara para wanita itu, yang lebih berani dan usianya sudah sekitar dua puluh tiga tahun, wajahnya hitam manis, lalu berkata kepada Lindu Aji dan Ki Sumali yang berdiri di samping pemuda itu.
"Denmas berdua, kami berterima kasih sekali atas pertolongan andika berdua sehingga kami dapat terbebas dari tangan iblis-iblis berwujud manusia itu. Akan tetapi jangan halangi kami membunuh mereka!"
"Hentikan, mbakayu, tidak boleh membunuh orang begitu saja, apa lagi mereka sudah terluka dan tidak dapat melawan."
Kata Lindu Aji.
"Denmas, kalau andika tahu apa yang mereka lakukan terhadap kami selama ini, mereka itu dibunuh seratus kali juga belum impas!"
Lindu Aji mengangguk.
"Kami mengerti, mereka ini memang orang-orang yang jahat dan kejam! Mereka telah menerima hukuman dan terluka. Kalau andika sekalian hendak membunuhnya secara kejam pula, lalu apa bedanya antara mereka dan andika sekalian? Cukuplah andika sekalian membunuhi mereka yang disana itu, jangan ditambah lagi. Mereka ini kita butuhkan untuk mengurus dan menguburkan mayat-mayat itu."
Sementara itu, Ki Sumali melangkah pergi kepekarangan depan dimana dia melihat Winarsih masih berdiri pucat memandang ke arah tubuh Ki Singobarong yang telah dibunuhnya.
Ki Sumali juga memandang ke arah tubuh itu dan melihat bahwa Ki Singobarong telah tewas dengan dada tertancap sebatang patrem.
Dia segera mengenal senjata itu.
Itu adalah patrem milik isterinya.
Dia sendiri yang dulu memberikan patrem itu kepada isterinya untuk dipakai menjaga diri dan sejak itu, Winarsih selalu membawa patrem itu kemana pun ia pergi.
Dan kini, patrem itu telah tertanam di dada Ki Singobarong, berarti isterinya tadi yang membunuh Ki Singobarong yang sedang rebah pingsan.
Dia menoleh kepada isterinya yang masih berdiri disitu dan kini Winarsih menutupi kedua matanya dengan tangan.
Ada air mata menetes keluar dari celah-celah jari tangannya.
"Hemm, kalau ditangisi, mengapa tadi dibunuh?"
Ki Sumali berkata lirih, suaranya dingin sekali.
Mendengar suara ini, Winarsih seperti tersentak kaget, kedua tangannya diturunkan dari depan mukanya dan ketika ia melihat Ki Sumali, ia menjerit dan lari menubruk suaminya sambil menangis tersedu-sedu.
Akan tetapi, Ki Sumali menahan dengan kedua tangan memegang pundak Winarsih dan mendorongnya agar jangan mendekat sambil berkata dengan ketus.
"jangan sentuh aku dengan tanganmu yang kotor!"
Winarsih terkejut dan juga heran.
Dia mengusap air matanya agar dapat memandang wajah suaminya lebih jelas.
Ia melihat wajah suaminya itu demikian keruh, muram dan sepasang matanya itu mencorong penuh kemarahan dan kebencian memandang kepadanya!
"Kakangmas..., ada...
apakah...?
Kenapa sikapmu seperti itu...
kenapa engkau memandangku seperti itu...?"
Ia tergagap, jantungnya seolah berhenti berdetak saking kaget dan khawatirnya.
"Huh, engkau masih bertanya kenapa? Lihat itu! Patremmu masih menancap di dadanya. Engkau membunuhnya kemudian menangisinya, karena engkau menyesal telah membunuhnya! Diam-diam engkau mencintainya, bukan?"
Sepasang mata yang merah oleh tangis itu terbelalak, wajah itu pucat.
"Kakangmas Sumali! Apa yang kau katakan ini? Aku memang telah menancapkan patremku di dadanya, terbawa oleh teman-teman yang mengamuk, dan juga karena benciku terhadap jahanam itu! Dan setelah membunuhnya, aku merasa ngeri atas perbuatanku membunuh orang ... sama sekaii bukan karena aku mencintainya, kakangmas! Bagaimana mungkin engkau menuduh aku mencintanya, mencinta orang yang menyerang kita, yang menculik aku dan melarikan aku ke tempat ini?"
Biarpun hatinya terpukul hebat, wanita itu bicara dengan penuh semangat karena merasa penasaran atas tuduhan suaminya bahwa ia mencinta Ki Singobarong!
Akan tetapi bantahan Winarsih itu tidak melunakkan hati Ki Sumali yang sudah bernyala dibakar api cemburu.
"Hemm, engkau telah dikeramnya selama dua malam, tidur di kamarnya, menjadi bininya! Tentu engkau mencintainya. Aku tidak menuduh sembarangan. Engkau sudah tidur dengan dia, menyerahkan dirimu kepadanya, bukan? Engkau telah ternoda, telah kotor, tidak pantas lagi mendekatiku, apa lagi menyentuhku!"
"Kakangmas! Dia belum pernah menjamahku! Kalau itu sudah dia lakukan, sekarang tentu aku sudah mati. Aku tidak membiarkan diriku ternoda, tidak membiarkan diriku dicemarkan siapapun!"
Ki Sumali tersenyum mengejek.
"Huh, siapa percaya omonganmu? Para wanita itu tadi mengaku bahwa mereka telah diperhina dan dipermainkan. Dan engkau... huh, engkau paling cantik diantara mereka dan Ki Singobarong tergila-gila padamu. Mana mungkin seorang wanita yang telah berada ditangannya selama dua malam menyatakan dirinya masih bersih dan belum ternoda? Ki Singobarong sendiri tadi mengatakan bahwa engkau sudah tidur dikamarnya selama dua malam dan telah menjadi bininya. Sudahlah, penyangkalanmu itu malah semakin memuakkan hatiku!"
"Kakangmas...! Kakangmas Sumali...!"
Winarsih tak dapat lagi menahan tangisnya. Ia menangis terisak-isak, akan tetapi laki-laki yang amat dicintanya itu, malah memutar tubuh, membalikkan tubuh membelakanginya.
"Kakangmas Sumali..."
Winarsih tampak kebingungan, memandang ke kanan kiri seperti hendak minta bantuan siapa saja, kemudian ia melihat ke arah mayat Ki Singobarong, lalu ia berlari menghampiri mayat itu, dengan keberanian yang muncul dengan tiba-tiba ia mencabut patrem itu dari dada raksasa hitam itu.
Ia memegang patrem yang masih berlumur darah itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, dengan ujung mengarah dadanya.
"Kakangmas Sumali..., engkau... engkau tidak lagi percaya padaku... engkau menuduhku... telah ternoda... untuk apa aku hidup tanpa kepercayaan suami lagi ..., selamat tinggal, kakangmas, semoga engkau hidup bahagia... tanpa... aku...!"
Sekuat tenaga Winarsih menggerakkan tangannya dan (Lanjut ke
Jilid 09) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 patrem berlumur darah itu meluncur ke arah dadanya! "Wuuttt... tringgg...!!"
Sebuah kerikil meluncur dan menghantam patrem yang sedang meluncur hendak menghunjam dada yang montok itu.
Patrem itu melenceng dan terlepas dari pegangan tangan Winarsih, akan tetapi menyerempet pundak kiri merobek kulit pundak yang putih mulus itu sehingga berdarah.
Tubuh Winarsih terhuyung kebelakang dan tentu sudah terpelanting jatuh kalau saja Lindu Aji yang tadi menyambit patrem itu dengan kerikil tidak cepat melompat dan menangkapnya.
Winarsih tidak jadi jatuh dan ketika melihat bahwa yang menangkapnya itu Lindu Aji, ia langsung menangis tersedu-sedu dan menjatuhkan diri berlutut, menutupi muka dengan kedua tangan, tidak memperdulikan pundak kirinya yang terluka cukup parah sehingga darah mengalir keluar.
"Biarkan aku mati... ah, biarkan aku mati... untuk apa aku hidup... orang yang paling kucinta... satu-satunya orang yang kucinta... menyangka aku tidak setia... tidak lagi percaya kepadaku... ohhh..."
Dan saking sedihnya, Winarsih terkulai dan jatuh pingsan!
Lindu Aji yang tadi bercakap-cakap dengan para wanita yang menjadi tawanan gerombolan, terutama dengan tiga orang gadis yang terpilih menjadi isteri Ki Singobarong, sudah mendengar akan kesetiaan Winarsih yang mengancam akan membunuh diri kalau hendak diperkosa sehingga sampai saat itu masih belum terjamah oleh Ki Singobarong, sempat melihat Winarsih hendak bunuh diri.
Karena tidak keburu datang mencegah, maka dia menggunakan kerikil untuk menyambit patrem itu dari tangan Winarsih sehingga nyawa wanita itu dapat terselamatkan walaupun ia mengalami luka di pundak yang mengeluarkan banyak darah.
Kini Lindu Aji memandang ke arah Ki Sumali yang masih berdiri membelakangi Winarsih.
Mata pemuda itu mencorong penuh kemarahan.
"Paman Sumali...!!"
Dia membentak, demikian keras bentakannya sehingga Ki Sumali menjadi terkejut dan cepat memutar tubuh menghadapi Lindu Aji.
Dia melihat Winarsih tergeletak.
Hatinya luluh penuh iba dan sayang, namun cemburu membuat dia mengeraskan perasaannya dan bersikap tidak acuh.
Dia memandang kepada Lindu Aji dengan mata penuh pertanyaan melihat pemuda itu seperti orang yang marah sekali.
Lindu Aji memang marah bukan main.
Ini sudah ke dua kalinya Ki Sumali mencurigai isterinya karena cemburu dan tidak percaya akan kesetiaan isterinya.
Dulu, ketika pertama kali bertemu dengan Ki Sumali, dia harus juga membela Winarsih dari kecemburuan Ki Sumali.
Dia pada dua tahun yang lalu, ketika lewat daerah Loano, melihat Winarsih dilarikan perampok.
Dia berhasil menolong Winarsih dan mengantarkan wanita itu pulang.
Eh, Ki Sumali menerima mereka dengan hati penuh cemburu, menyangka isterinya bercintaan dengan Lindu Aji sehingga terjadi perkelahian.
Baru setelah Ki Sumali melihat keris pusaka Nogowelang pemberian Sultan Agung kepada Aji, Ki Sumali memberi hormat karena keris itu merupakan tanda orang kepercayaan Sultan Agung.
Kini keris pusaka itu telah dikembalikan kepada Sultan Agung oleh Aji.
Dan sekarang, sekali lagi Ki Sumali mencurigai isterinya tidak setia kepadanya.
Maka dia menjadi marah sekali dan merasa kasihan kepada Winarsih, seorang isteri yang setia dan mencinta suaminya.
Setelah Ki Sumali memutar tubuh menghadapinya, Lindu Aji menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Ki Sumali dan terdengar suaranya yang tegas dan ketus penuh wibawa.
"Paman Sumali, engkau adalah seorang suami yang paling brengsek yang pernah kulihat! Engkau hanyalah seorang hamba nafsu cemburu yang tidak ketulungan lagi! Engkau melempar fitnah seenak perut sendiri kepada isterimu yang setia. Ini membuktikan bahwa cintamu terhadap isterimu hanyalah cinta nafsu belaka!"
Lindu Aji menggapai kepada tiga orang wanita yang terpilih menjadi isteri Ki Singobarong, yaitu Karsih, Darni dan Tinah.
Tiga orang gadis itu datang menghampiri Lindu Aji yang mereka anggap sebagai penolong mereka.
Setelah mereka datang dekat, Aji berkata.
"Coba kalian ceritakan yang sebenarnya tentang Winarsih ketika berada dalam tahanan Ki Singobarong. Ceritakan sejujurnya kepada suaminya yang dirasuki setan cemburu ini!"
"Mbakayu Winarsih sama sekali belum tersentuh siapapun juga!"
Kata Karsih.
"Ia mengancam untuk membunuh diri dengan patremnya kalau dipaksa sehingga dua malam lamanya ia tidak pernah tidur, hanya menjaga diri."
Kata Darni.
"Semua itu benar, kami menjadi saksinya. Ki Singobarong sendiri tidak dapat memaksanya dan pernah dia berkata kepadaku bahwa dia tidak mau menggunakan kekerasan atau pengaruh sihirnya karena dia ingin mbakayu Winarsih menyerahkan diri dengan suka rela. Ki Singobarong benar-benar jatuh cinta kepadanya dan menginginkan Mbakayu Winarsih menjadi isterinya yang sah."
Kata Tinah.
"Nah, engkau mendengar sendiri kesaksian mereka, paman. Masihkah engkau tidak percaya akan kesetiaan isterimu yang begitu mencintaimu? Terlalu...!!"
Kata Lindu Aji dengan nada gemas.
Sementara itu, mendengar kesaksian tiga orang wanita itu, hati Ki Sumali luluh.
Kecemburuan dan kemarahannya lenyap.
Sebetulnya sejak tadi dia merasa trenyuh melihat tubuh isterinya tergeletak disana dan pundak kirinya berdarah.
"Kalau tidak cepat kulemparkan batu untuk memukul patremnya, tentu sekarang isterimu sudah menjadi mayat dan engkaulah pembunuhnya, paman, engkau pembunuhnya! Engkau yang melukai pundaknya itu!"
Bentak Aji yang masih dibakar penasaran dan marah. Ki Sumali menubruk tubuh Winarsih, merangkul dan mengangkat kepala itu, dipangkunya dan didekapnya.
"Winarsih... ampunkan aku... mataku telah buta oleh cemburu... Winarsih..."
Laki-laki yang terkenal sebagai pendekar Loano itu meneteskan air mata.
Winarsih membuka kedua matanya dan melihat betapa ia berada dalam rangkulan suaminya, ia mengeluh dan merangkul leher suaminya dengan kedua lengannya.
"Kakangmas Sumali...!"
Suami isteri itu bertangisan dan saling rangkul.
"Paman Sumali, engkau. laki-laki yang tak tahu diri. Mempunyai seorang isteri yang begitu muda, yang sepatutnya menjadi anakmu, begitu mencintamu, begitu setia, engkau malah mencurigainya, engkau tidak percaya kepadanya. Bahkan, andaikata ia diperkosa dengan kekerasan, apakah itu kesalahannya? Engkauiah yang bersalah, karena engkau tidak mampu melindungi isterimu sehingga dilarikan penjahat. Kalau sampai ia diperkosa orang juga karena ia tidak berdaya, bukan ia yang hina, melainkan engkau, paman! Engkau yang hina karena engkau suaminya tidak mampu melindunginya. Akan tetapi engkau selalu tidak percaya karena cemburu. Sudah dua kali aku menghadapi sikapmu yang brengsek ini. Aku malu menjadi sahabatmu, aku muak. Lebih baik aku pergi!"
Setelah memuntahkan semua penguneg-uneg saking penasaran melihat kecemburuan Ki Sumali yang hampir mengakibatkan Winarsih isteri yang setia itu mati membunuh diri, Lindu Aji dengan marah lalu membalikkan tubuhnya dan hendak pergi meninggalkan tempat itu.
"Adimas Lindu Aji...!!"
Winarsih menjerit, meronta lepas dari rangkulan suaminya dan lari menubruk kedua kaki Lindu Aji sambil menangis. Karena kedua kakinya dirangkul, terpaksa Aji menghentikan langkahnya.
"Adimas Lindu Aji, maafkanlah suamiku. Adimas..., kasihanilah dia, kasihanilah kami, maafkan dia. Dia sama sekali tidak jahat, hanya... hanya... agak lemah... adimas Aji, aku yang mintakan maaf baginya kepadamu."
Lindu Aji menghela napas panjang dan seketika kemarahannya padam.
Nafsu tidak akan bertahan lama mengeram dihati pemuda ini.
Dirinya sudah terbimbing oleh Kekuasaan Tuhan lahir batin sehingga iblis sendiri tidak akan bertahan lama menguasainya.
Dia memegang kedua lengan wanita itu dan mengangkatnya bangun.
"Baiklah, Mbakayu Winarsih. Aku maafkan Paman Sumali dan biarlah ini merupakan pelajaran baginya sehingga dia dapat mengubah wataknya yang pencemburu. Aku sudah melupakan semuanya. nah, Paman Sumali, engkau melihat sendiri betapa besar rasa sayang dan setia dalam hati isterimu ini kepadamu."
Ki Sumali bangkit berdiri.
"Maafkan sikapku tadi, anakmas Lindu Aji. Aku memang bersalah... aku memang bersalah... aku memang bersalah..."
Dia menampari kepalanya sendiri.
"Cemburu ini ... dia selalu menggodaku... keparat...!"
Winarsih kini berlari menghampiri suaminya dan memegang kedua tangannya.
"Sudahlah, kakangmas. Adimas Lindu Aji tidak marah lagi dan kami sudah memaafkanmu."
Ki Sumali merangkul.
"Winarsih, engkau isteriku yang bijaksana dan berbudi mulia. Mari, kurawat dulu luka di pundakmu itu."
Lindu Aji lalu menghampiri delapan orang anggauta gerombolan yang tadi roboh terluka dan kini mereka duduk merawat luka masing-masing dengan sikap ketakutan.
Mereka maklum bahwa kalau tidak dicegah pemuda sakti mandraguna itu, mereka kini sudah mati dengan tubuh tercincang hancur seperti mereka yang tadi dikeroyok para wanita itu.
"Kuperingatkan kalian! Sekali ini kalian masih beruntung tidak kami bunuh. Bertaubatlah dan mulai sekarang, jadilah orang yang baik dan jangan mengganggu orang lain. Untuk makan, kalian dapat mengolah tanah untuk ditanami. Kalau ingin berkeluarga, menikahlah dengan baik-baik. Sekarang kalian harus mengurus mayat-mayat itu, menguburkan mereka sebagaimana mestinya. Kalau lain kali kami masih mendapatkan kalian melakukan kejahatan, kami tidak akan memberi ampun lagi!"
Kemudian, para wanita itu oleh Aji dan Ki Sumali diangkut dengan perahu dan mereka semua meninggalkan Nusa-kambangan.
Ki Sumali semakin tunduk dan hormat kepada Lindu Aji setelah melihat betapa Lindu Aji benar-benar telah melupakan semua peristiwa tadi, sikapnya sama sekali tidak ada bekas-bekas kemarahannya.
Kini sikapnya hormat dan ramah seperti biasa.
Setelah tiba di rumahnya, Winarsih lalu sibuk membuat hidangan paling meriah yang dapat ia lakukan, dengan menyembelih beberapa ekor ayam peliharaannya, dibantu oleh beberapa orang wanita tetangga yang datang menjenguknya.
Malam nanti keluarga ini akan menjamu para tetangga untuk merayakan kepulangan Winarsih dengan selamat.
Sementara itu, Lindu Aji dan Ki Sumali bercakap-cakap di ruangan dalam.
"Anakmas, sungguh kedatanganmu di Loano ini seolah-olah dibimbing Gusti Allah untuk menolong kami. Entah apa jadinya dengan kami kalau andika tidak datang."
Kata Ki Sumali, terharu karena setiap kali muncul, pemuda ini selalu menolong dia dan isterinya. Lindu Aji menghela napas dan menatap wajah Pendekar Loano itu.
"Paman Sumali, sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi pada diri kita sudah ditentukan Gusti Allah. Tinggal terserah kepada kita bagaimana kita menerima dan menghadapi kenyataan yang terjadi pada diri kita itu. Sebetulnya, kunjunganku ini mengandung sebuah keinginan, yaitu selain menjenguk keadaan paman berdua, juga untuk bertanya apakah diajeng Sulastri ada datang berkunjung kesini selama ini?"
Ki Sumali mengangguk.
"Benar, anak-mas Lindu Aji, ia pernah singgah disini, kira-kira setahun yang lalu."
Aji menjadi girang sekali mendengar ini.
"Ah, ia pergi kemana, paman? Sekarang ia berada dimana? Aku ingin sekali bertemu dengannya."
"Sayang sekali ia tidak mengatakan hendak pergi ke mana, anakmas. Ia hanya menceritakan bahwa ia meninggalkan Dermayu dan ingin merantau, tanpa mengatakan kemana. Dan ia juga bertanya apakah selama itu andika pernah mampir disini. Ia tinggal hanya dua hari disini lalu pergi, entah kemana."
Lindu Aji menghela napas lagi, akan tetapi sekali ini helaan napas karena kecewa dan bersedih.
Kembali dia kehilangan jejak Sulastri.
Gadis itu setahun yang lalu berada disini, dan kalau Ki Sumali saja yang merupakan orang terdekat gadis itu tidak tahu kemana ia pergi, siapa lagi di Loano yang akan dapat memberi tahu?
Melihat sikap pemuda itu, Ki Sumali yang sudah banyak pengalaman itu menduga bahwa tentu telah terjadi apa-apa dengan mereka berdua.
Sulastri adalah keponakannya sendiri, maka dia memberanikan diri berkata.
"Anakmas Aji, ketika ia berada disini, Sulastri banyak bercerita tentang pengalaman-pengalamannya yang hebat bersama andika, betapa ia sempat terjatuh ke dalam jurang sehingga hilang ingatannya dan namanya diubah menjadi Listyani atau Eulis. Dari sikapnya dan cara ia bercerita, biarpun ia tidak mengaku dengan kata-kata, aku dan isteriku dapat menduga dengan mudah bahwa Sulastri sebetulnya jatuh cinta padamu. Dan... kalau aku tidak salah sangka, agaknya andika juga mencintainya. Andika berdua Sulastri kami kira merupakan pasangan yang cocok dan pantas sekali. Akan tetapi kenapa sekarang andika berdua saling berpisah?"
Sekali lagi Lindu Aji menghela napas panjang. Ki Sumali adalah seorang sahabat baik, juga dia adalah paman dari Sulastri. Tidak ada salahnya berterus terang.
"Sesungguhnya demikian, paman. Akan tetapi, terjadi kesalah-pahaman diantara kami berdua. Tadinya kami mengira bahwa masing-masing dari kami mencinta orang lain, maka kami berdua mengalah dan mundur, membiarkan masing-masing berjodoh dengan orang lain yang dicinta itu. Akan tetapi ternyata kemudian ... ah, betapa bodohnya kami... ternyata perkiraan kami itu keliru. Kami berdua tidak pernah mencinta orang lain. Akan tetapi kami sudah terlanjur saling berpisah, paman. Karena itu, aku sekarang mencarinya untuk membereskan kesalah-pahaman itu dan minta keputusan darinya."
Ki Sumali mengangguk-angguk dan diapun menghela napas karena teringat akan dirinya sendiri.
"Sikap. andika berdua itu membuktikan bahwa andika berdua memiliki kasih sayang sejati, anak-mas. Rela mengalah, berkorban demi kebahagiaan orang yang dicinta. Makin tampak sekarang olehku, alangkah buruknya cintaku terhadap Winarsih, penuh cemburu, penuh keakuan, mementingkan diri sendiri..."
"Sudahlah, paman. Setidaknya pengalaman yang sudah lalu dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk mengubah semua sikap dan tindakan kita yang salah."
"Andika benar, anakmas Lindu Aji. Menyesal sekali aku tidak dapat membantu dengan menunjukkan dimana Sulastri kini berada. Akan tetapi kalau sewaktu-waktu ia singgah lagi disini, tentu aku akan menceritakan semua tentang kesalah-pahaman kalian itu."
"Terima kasih, paman."
Malam itu Lindu Aji ikut merayakan pesta sukuran yang diadakan Ki Sumali dan Nyi Winarsih, dihadiri para tetangga.
Kemudian dia bermalam dalam sebuah kamar yang pernah menjadi tempat Sulastri bermalam ketika singgah di rumah pamannya itu.
Malam itu Aji tidak dapat segera pulas.
Dia rebah di atas pembaringan dan termenung.
Pemuda ini tidak pernah membiarkan diri larut dalam kesedihan.
Dia hanya merasa betapa hatinya dipenuhi perasaan iba.
Iba kepada Sulastri, kepada Jatmika dan kepada Neneng Salmah.
Betapa cinta kasih mempermainkan mereka, juga dia.
Dia merasa rindu sekali kepada Sulastri, ingin sekali segera dapat berjumpa dengan gadis pujaan hatinya itu.
Akan tetapi kemana dia harus mencarinya?
Dia berpikir keras, menduga-duga kemana kiranya perginya gadis itu.
Sulastri meninggalkan Dermayu, lalu singgah ke Loano.
Dermayu ke Loano adalah perjalanan yang menuju ke tenggara, Kalau begitu, besar kemungkinan Sulastri melanjutkan perjalanannya ke timur.
Mungkin ke Mataram karena bagaimanapun juga, selama ini Sulastri juga ikut berjuang membantu Mataram.
Karena itu, sebelum pulas Lindu Aji mengambil keputusan untuk mencari di daerah timur.
"Sudah cukup, Bagus... sudah, aku tidak merasa terlalu dingin lagi..."
Kata Maya Dewi sambil melepaskan diri dari rangkulan Bagus Sajiwo.
Selama kurang lebih dua minggu ia berlatih di puncak Gunung Wilis yang amat dingin itu untuk mengusir hawa panas beracun dari aji-nya sendiri Tapak Rudira yang membalik dan meracuni atau melukai dirinya sendiri.
Dalam usaha mengusir hawa panas beracun ini, ia dibantu oleh Bagus Sajiwo.
Ia membuka diri menghimpun inti sari hawa dingin di puncak itu, dibantu Bagus Sajiwo yang mengerahkan tenaga sakti yang dingin.
Karena kedinginan, maka setiap malam di waktu hawa sedang dingin-dinginnya, terpaksa ia berpelukan dengan Bagus Sajiwo.
Bukan hanya kehangatan tubuh Bagus Sajiwo yang membantu ia menahan rasa dingin yang hebat itu, melainkan terutama sekali karena dalam rangkulan pemuda remaja itu ia merasa aman damai dan terlindung.
Pagi itu, setelah lewat kurang lebih setengah bulan, Maya Dewi merasa betapa hawa panas beracun dalam dirinya telah hilang.
Memang pagi itu hawa di puncak Wilis masih dingin, bahkan teramat dingin bagi orang biasa.
Akan tetapi kini Maya Dewi tidak lagi membuka diri menghimpun inti hawa dingin dan mendengar ucapan Maya Dewi, Bagus Sajiwo juga menghentikan pengerahan hawa dingin melalui telapak tangan yang ditempelkan di punggung Maya Dewi.
Maka hawa yang dingin itu tidak mengganggu.
"Bagus, kini engkau telah benar-benar terbebas dari pengaruh kedua hawa yang berlawanan, yang melukai dalam tubuhmu, Dewi. Engkau telah sembuh!"
Kata Bagus Sajiwo dengan girang pula. Maya Dewi menanggalkan kain-kain yang diselimutkan diluar tubuhnya dan ia bangkit berdiri lalu memasang kuda-kuda seperti orang hendak bertanding silat.
"Eh, engkau mau apa? Dewi?"
Tanya Bagus Sajiwo dengan heran dan khawatir karena dia tahu benar walaupun kini nyawa wanita itu tidak terancam maut dan ia sudah sembuh benar, namun keadaan tubuhnya menjadi amat lemah.
"Aku mau berlatih, Bagus!"
Katanya dan mulailah wanita itu bergerak dalam jurus-jurus silat.
Gerakannya akan tampak gesit bagi penglihatan orang biasa, akan tetapi Bagus Sajiwo tahu betul bahwa wanita itu sudah kehilangan kelincahannya, jauh menurun dibandingkan ketika bertemu untuk pertama kalinya, ketika Maya Dewi bertanding melawan Raden Jaka Bintara dan Kyai Gagak Mudra.
Setelah ia terluka parah kemudian berhasil diselamatkan, tentu saja kelincahannya menurun banyak sekali, walaupun tentu saja ia masih mahir menggerakkan kaki tangannya karena gerakan silat itu sudah mendarah daging pada dirinya.
Agaknya Maya Dewi juga merasakan kelambatannya ini.
Ia merasa penasaran sekali dan tiba-tiba membentuk jari-jari tangannya seperti cakar dan menyerang dengan kuku-kukunya ke depan sambil mengerahkan tenaga sakti dan membentak.
"Aji Wisa Sarpa!"
Ia mencengkeram ke arah sebongkah batu dan...
ia menjerit karena kuku-kukunya patah dan jari-jari tangannya terasa nyeri!
Padahal biasanya kalau ia menggunakan aji yang ampuh itu, batu dapat dicengkeram hancur.
Ia masih penasaran.
Digosok-gosoknya kedua telapak tangannya, lalu memukul ke depan dengan dorongan kedua telapak tangan sambil berseru nyaring.
"Aji Tapak Rudira!"
Dihantamnya batu itu, akan tetapi sekali lagi ia menjerit.
Bukan batu itu yang pecah seperti biasa kalau ia latihan aji itu, melainkan telapak tangannya yang terasa nyeri, juga kedua telapak tangannya tidak mengepulkan asap panas.
"___aduh... aku... aku menjadi seorang yang lemah...!"
Wanita itu terkulai dan jatuh bersimpuh lalu...
menangis tersedu-sedu seperti seorang anak kecil kehilangan mainan yang disayangnya.
Ia menutupi muka dengan kedua tangannya dan dari celah-celah jari tangan itu keluar air matanya menetes-netes!
Bagus Sajiwo memandang dengan bengong, terheran-heran akan apa yang dilihatnya.
Di waktu menderita kepanasan lalu kedinginan sehebat itupun, Maya Dewi memang mengeluh akan tetapi tidak menangis-tersedu-sedu-seperti itu.
Sukar membayangkan wanita yang berwatak sekeras baja itu dapat menangis seperti seorang anak kecil yang cengeng!
Timbul rasa iba di dalam hatinya.
Akan tetapi dia tidak jadi menyentuh atau mengeluarkan kata hiburan, walaupun tangannya sudah terjulur dan mulutnya sudah terbuka.
Tidak, dalam keadaan seperti itu, semua hiburan akan sia-sia, bahkan mungkin semakin memilukan hati Maya Dewi atau membuat ia kesetanan dan marah-marah seperti yang sudah-sudah.
Biarkan ia menangis sepuasnya agar semua kekecewaan dan kesedihannya terkuras keluar.
Akan tetapi, dibiarkan saja Maya Dewi terus menangis tiada hentinya, tangisnya mengguguk sampai napasnya tersendat-sendat.
Bagus Sajiwo tidak tahan melihatnya dan dia lalu dengan hati-hati dan lembut menyentuh pundak wanita itu.
"Dewi, jangan bersedih..."
Seperti ditakuti Bagus Sajiwo, mendengar ucapan itu, tangis Maya Dewi semakin mengguguk.
"Tidak...! Aku perempuan lemah, tak berguna... untuk apa hidup tak berdaya seperti ini...? Lebih baik mati...!"
Tiba-tiba tangan kanan wanita itu bergerak dan menampar kepalanya sendiri.
"Plak!"
Dan tubuhnya jatuh terguling.
Bagus Sajiwo terkejut setengah mati dan cepat menubruk untuk memeriksa keadaan Maya Dewi.
Dia bernapas lega ketika melihat betapa wanita itu tidak apa-apa, tidak terluka sama sekali.
Pada saat itu dia tersenyum sendiri, teringat bahwa tamparan tangan Maya Dewi tadi tentu saja tidak berbahaya, seperti tamparan tangan wanita lemah biasa karena ia telah kehilangan tenaga saktinya.
Kalau tenaga saktinya masih ada, tamparan tadi tentu akan menghancurkan isi kepalanya dan nyawanya tak mungkin dapat ditolong lagi.
Kini Bagus Sajiwo duduk di atas batu dekat Maya Dewi.
Wanita itu rebah telentang seperti orang tidur.
Bagus Sajiwo tahu bahwa ia jatuh pingsan karena tekanan batinnya ditambah tamparan yang hanya menggunakan kekuatan tangan yang sudah lemah itu.
Biarlah Maya Dewi dibiarkan seperti itu agar dapat beristirahat.
Istirahat badan dan batinnya karena dalam keadaan seperti itu, semua kekecewaan dan kesedihan yang timbul dari pikiran lenyap sehingga batinnya dapat mengaso.
Dia mengamati wajah itu.
Wajah yang amat jelita.
Rambut yang hitam panjang dan halus itu terurai lepas dari sanggulnya, berjuntai sebagian menutupi leher dan pundaknya.
Matanya yang biasanya lebar dengan kedua ujung meruncing ke atas sehingga tampak indah sekali itu ikut terpejam dan dalam keadaan terpejam seperti itu tampak betapa bulu matanya lebat, panjang dan melengkung menggelapkan bawah matanya.
Hidung yang kecil mancung itu bernapas lembut, mulut dengan bibir berbentuk indah namun kini agak pucat itu tertutup.
Lehernya panjang dan kulit lehernya putih sekali, putih mulus dan tampak semakin putih kekuningan karena sebagian tertutup rambut yang hitam.
Dada yang membusung sehingga kain penutupnya seolah akan pecah itu naik turun perlahan oleh pernapasannya.
Makin dipandang, semakin besar rasa iba menyelimuti perasaan hati Bagus Sajiwo.
Apa lagi ada dua butir air mata masih berada di atas pipi bawah mata, membuat wajah itu tampak memelas (menimbulkan iba) sekali.
Wanita yang malang, pikirnya, wanita yang menurut pengakuannya, sepanjang hidupnya penuh dengan kekerasan, agaknya benar-benar tak pernah merasakan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya.
Timbul rasa sayang membayangi rasa iba dihati Bagus Sajiwo.
Timbul keinginannya untuk membahagiakan wanita ini, untuk menghiburnya dan menuntunnya, walaupun dia lebih muda, ke arah jalan benar, menyadari kesesatannya dan sedapat mungkin mengubah jalan hidupnya, mengenal Gusti Allah dan menjadi alatNya.
Membayangkan kembali betapa tersiksanya Maya Dewi ketika mengusir hawa beracun dalam tubuhnya, selama sebulan lebih, menderita lahir batin, Bagus Sajiwo menghela napas panjang.
Wanita ini bukan hanya menderita jasmaninya, akan tetapi juga rohaninya.
Kini ia rebah seperti tidur pulas, dengan wajah pucat agak kurus, wajahnya begitu tenang, begitu damai karena semua pikiran yang menjadi sumber segala konflik batin, sumber segala kesengsaraan, pada saat itu tidak bekerja.
Seperti wajah seorang kanak-kanak yang tidak berdosa.
Bagus Sajiwo teringat ketika dia masih tinggal bersama Ki Ageng Mahendra di pegunungan Ijen, dia terkadang berkunjung ke dusun di kaki bukit dan bermain-main dengan anak-anak dusun itu.
Dia merasa sayang kepada anak-anak yang tidak berdosa dan masih lugu (jujur) itu dan dengan rasa sayang dia suka membelai dan mengambung (mencium dengan hidung) pipi-pipi yang segar kemerahan itu.
Kini, melihat Maya Dewi rebah seperti seorang anak-anak tertidur nyenyak, timbul rasa sayangnya dan seperti ada dorongan dari dalam, dia membungkuk dan mengambung pipi kanan Maya Dewi dengan penuh kasih sayang!
Sama sekali tidak terduga oleh Bagus Sajiwo bahwa pada saat itu juga Maya Dewi sadar dari pingsannya dan tentu saja wanita itu terkejut ketika Bagus Sajiwo mencium pipinya.
Walaupun perbuatan Bagus Sajiwo itu dilakukan dengan lembut, ujung hidungnya hanya menyentuh pipi, namun berbagai perasaan teraduk dalam hati Maya Dewi.
Mula-mula ia merasa heran, lalu terharu, bersyukur dan ada rasa senang yang luar biasa, membuat hatinya penuh dan jantungnya berdebar.
Belum pernah ia merasakan seperti itu.
BANYAK pria sudah digaulinya, akan tetapi semua cumbu rayu para pria itu hanya membangkitkan gairah berahi saja yang sesudahnya terasa hampa, bahkan menjemukan dan memuakkan.
Akan tetapi ciuman sopan yang dilakukan Bagus Sajiwo itu terasa lain sama.
sekali, bahkan belum pernah ia rasakan, atau, kini ia teringat bahwa pernah ia merasakan kesenangan seperti ini ketika ia masih kecil dan diciumi ibunya!
Ya, seperti ciuman ibunya itulah.
Terasa sekali olehnya betapa dulu ibunya amat menyayangnya dan kasih sayang itu terasa benar dalam ciuman itu.
Kini, iapun merasakan kasih sayang hangat seperti itu terkandung dalam ciuman Bagus Sajiwo ke pipi kanannya.
Tak tertahankan lagi rasa keharuan yang bergelora di dalam hati Maya Dewi.
Kedua lengannya merangkul leher Bagus Sajiwo dan diantara tangisnya ia berkata, suaranya penuh permohonan.
"Aduh, Bagus... Bagus... jangan... jangan tinggalkan aku lagi..."
Ia merangkul ketat dan tidak mau melepaskan rangkulannya.
Ia merasa benar bahwa terdapat perbedaan seperti langit dengan bumi ketika ia merangkul Bagus Sajiwo, dibandingkan dengan rangkulannya kepada pria-pria terdahulu.
Kalau dulu itu rangkulannya terdorong berahi, kini sama sekali tidak ada rangsangan berahi, melainkan keharuan dan kasih sayang!
Seperti orang merangkul orang tuanya, atau anaknya, atau saudara sekandung.
Bagus Sajiwo terkejut.
Tak disangkanya Maya Dewi akan secepat itu sadar sehingga dia "tertangkap basah"
Sedang mengambung pipi wanita itu. Dengan lembut dia melepaskan rangkulan kedua lengan Maya Dewi.
"Dewi, sudahlah, jangan menangis. Kini engkau telah sembuh sama sekali, engkau sudah sehat dan terbebas dari ancaman luka beracun dalam tubuhmu. Mengapa engkau menangis, Dewi? Tentang kehilangan Aji Wisa Sarpa dan Tapak Rudira, jangan engkau khawatir. Olah kanuragan telah mendarah daging dalam dirimu, karena itu engkau dengan mudah dapat melatih diri dan menguasai aji-aji lain yang bersih dan tidak sekotor, sekeji dua ajian itu."' Maya Dewi bangkit duduk dan mengusap air matanya.
"Aku menangis bukan karena bersedih, Bagus. Aku menangis karena terharu dan gembira. Sekarang jawablah sejujurnya, Bagus. Apakah engkau sayang padaku?"
Pertanyaan yang dianggap wajar saja oleh pemuda itu dan diapun menjawab sejujurnya.
"Tentu saja aku sayang padamu, Dewi. Kalau tidak sayang, kenapa aku harus menemanimu sampai sebulan lebih?"
Mulut yang manis itu kini tersenyum. Tampak aneh karena kedua mata masih merah dan basah air mata, akan tetapi mulutnya tersenyum lebar sehingga deretan gigi rapi dan putih bersih itu berkilauan.
"Terima kasih, Bagus. Baru sekarang , aku merasa disayang orang, cinta kasih sayang demikian menggetarkan sukma. Aku... aku juga sayang padamu, Bagus, rasa sayang seperti ini belum pernah kurasakan selama hidupku. Bagus, kita harus segera menikah..."
"Menikah?"
Bagus Sajiwo berseru kaget seolah menghadapi serangan seekor ular yang memagutnya. Dia undur dua langkah memandang wanita itu dengan mata terbelalak.
"Apa maksudmu, Dewi?"
Maya Dewi tetap tersenyum dan tampak geli.
"Maksudku? Ya menikah, kita menjadi suami isteri. Kemana lagi akhirnya dua orang yang saling mencinta kalau tidak menjadi suami isteri?"
Bagus Sajiwo menghela napas panjang.
"Dewi, sayangku kepadamu bukanlah untuk itu. Aku... aku berusia enam-belas tahun lebih. Bagaimana mungkin menikah? Aku sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk menikah, dengan engkau atau dengan siapapun juga."
Pandang mata yang tadinya berseri itu berubah muram dan dengan suara lirih Maya Dewi bertanya.
"Bagus, bukankah tadi engkau mengatakan bahwa engkau sayang kepadaku?"
Bagus Sajiwo mengangguk.
"Memang aku sayang padamu, Dewi."
"Kalau engkau sayang padaku, mengapa engkau tidak mau menikah denganku?"
"Dewi, apakah kalau orang saling mencinta itu harus menikah? Cinta dapat hadir antara anak dan orang tuanya, antara saudara, antara sahabat, apakah mereka juga harus menjadi suami isteri? Tidak, Dewi. Tanpa menjadi suami isteri pun, kita dapat saling menyayangi, saling mengasihi."
"Akan tetapi, aku tidak ingin menjadi orang tuamu, saudaramu, atau sahabatmu saja. Aku ingin menjadi isterimu, Bagus, dan engkau menjadi suamiku. Atau... katakanlah terus terang saja, Bagus, engkau menolak untuk menikah dengan aku karena aku jauh lebih tua dari pada engkau?"
Bagus Sajiwo menggeleng kepalanya.
"Tidak, Dewi. Bagiku, engkau sama sekali tidak tampak tua, bahkan terkadang aku berpendapat bahwa engkau masih muda sekali, seperti kanak-kanak. Usiamu tentu hanya berselisih satu dua tahun dengan usiaku."
Maya Dewi menghela napas panjang.
Biasanya, tak pernah ia mengatakan usianya yang sebenarnya, apa lagi di depan seorang pria yang menawan hatinya.
Ia senang kalau disangka masih muda maka ia selalu membiarkan orang mengira ia baru berusia delapan belas atau sembilan belas tahun.
Akan tetapi sekarang ia mempunyai pandangan lain sama sekali.
Ia tidak ingin berbohong karena ia merasa bahwa kebohongan itu membohongi dirinya sendiri, menyangkal keadaan yang sebenarnya.
"Bagus, ketahuilah, aku adalah seorang wanita yang telah berusia tiga puluh tahun."
Bagus Sajiwo terbelalak heran.
"Ah, aku tidak percaya, Dewi!"
"Sesungguhnya, Bagus. Aku memang tampak jauh lebih muda karena aku mempergunakan jamu yang langka didapatkan di dunia ini, namanya Suket Sungsang. Bagus, masa laluku penuh kegelapan, aku berkecimpung di dunia hitam. Tidak ada kejahatan yang kupantang melakukannya. Usia tuaku dan masa laluku itukah yang menjadi penyebab engkau tidak sudi menjadi suamiku, Bagus?"
Suara Maya Dewi terdengar gemetar. Bagus Sajiwo menggeleng kepalanya.
"Tidak, Dewi. Usia tidak membedakan pandanganku terhadap dirimu. Dan tentang dosa-dosa masa lalu, percayalah, Gusti Allah itu Maha Pengampun dan engkaupun pasti akan diampuni kalau engkau mau mengakui dosa-dosamu dan bertaubat tidak akan mengulang semua perbuatan yang sesat. Akan tetapi, mengapa engkau ingin menjadi isteriku, Dewi? Mengapa kita harus menjadi suami isteri kalau kasih sayang kita dapat kita ujudkan dengan hubungan persahabatan?"
"Bagus, aku ingin kita menjadi suami isteri karena dengan demikian, kita tidak akan saling berpisah, akan selalu bersama dan engkau sebagai suamiku akan selalu membela melindungiku."
Ketika Maya Dewi melihat sinar mata pemuda remaja itu menatapnya dengan tajam penuh selidik, seolah-olah sinar mata itu menembus dirinya dan menjenguk isi hati dan pikirannya, ia cepat menyambung kata-katanya.
"Tidak, jangan pandang padaku seperti itu, Bagus! Aku tidak akan mengulang kelemahanku seperti yang sudah-sudah. Aku ingin kita menjadi suami isteri bukan karena terdorong gairah berahi. Aku sudah muak menjadi hamba nafsu seperti yang sudah. Aku ingin bertaubat dan engkaulah yang dapat membimbingku. Aku ingin engkau menjadi suamiku agar engkau selalu membimbingku, membela melindungiku dan selalu berada di dekatku. Dengan engkau disampingku, aku merasa aman dan damai dan aku berani menyongsong kehidupan yang selama ini penuh dengan kepahitan dan kesengsaraan bagiku."
Bagus Sajiwo menghela napas panjang.
Dia adalah seorang pemuda remaja, baru tujuh belas tahun usianya, bahkan masih kurang, juga sama sekali belum berpengalaman.
Akan tetapi dia adalah murid mendiang Ki Ageng Mahendra, seorang yang sakti mandraguna dan arif bijaksana sehingga Bagus Sajiwo tidak hanya menerima gemblengan aji kanuragan, akan tetapi juga menerima gemblengan batin dan mendapatkan banyak wejangan tentang kehidupan.
"Dewi, tanpa menjadi suami isteri pun aku akan melindungimu. Adapun tentang bimbingan dalam hidup, tidak ada pembimbing yang benar-benar sempurna kecuali Gusti Allah. Dengan penyerahan diri lahir batin kepada Gusti Allah, maka Dia-lah yang akan selalu membimbingmu." 'Bagus, berkali-kali engkau menyebut-nyebut Gusti Allah, siapa sih sebenarnya itu? Aku sering juga mendengar orang menyebutNya, akan tetapi aku tidak mengenal dan juga tidak pernah bertanya. Baru sekarang aku ingin sekali mengerti dari engkau, Bagus. Apakah sama dengan para dewa? Dan tempat tinggalnya di mana? Bagaimana pula bentuk badan dan wajahNya?"
Semenjak kecil, Maya Dewi memang tidak pernah mendengar tentang Custi Allah, tidak pernah ada yang memberita-hu dan ia hanya mengenal nama-nama para dewa, walaupun ia tidak pernah memeluk Agama Hindu atau Buddha, apa lagi Islam.
Dengan sabar Bagus Sajiwo mencoba untuk memperkenalkan Custi Allah seperti yang pernah dia dengar dari wejangan Ki Ageng Mahendra.
"Para Dewa dan Malaikat itupun hanya mahluk-mahluk ciptaan Custi Allah dan kemampuan mereka terbatas, Dewi. Segala sesuatu yang ada dipermukaan bumi ini, juga berada di atas langit, semua itu adalah ciptaan Gusti Allah. Tempat tinggalNya? Dimana-mana Gusti Allah itu berada, tidak ada tempat yang tidak diliputi KekuasaanNya. Bagaimana bentuk badan dan wajahnya? Wah, tak mungkin kita manusia menggambarkan-Nya, Dewi. Terlalu maha besar dan tidak mungkin mata kita yang kotor penuh dosa ini dapat mellhatNya. Akan tetapi kekuasaanNya dapat kita lihat, dengar, cium dan rasakan dimana-mana. Segala keindahan yang dapat kita lihat adalah hasil KekuasaanNya, segala kemerduan yang dapat kita dengar adalah hasil kekuasaanNya, segala keharuman yang dapat kita cium juga hasil kekuasaanNya. Segala apa yang ada ini terjadl karena kuasaNya, karena ciptaanNya. Raba saja dada kita sendiri. Jantung kita tiada hentinya berdetik sejak kita lahir sampai sekarang dengan teratur, padahal kita tidak dapat mengaturnya! Yang mengatur adalah Gusti Allah dengan kuasaNya."
"Akan tetapi, Bagus. Bagaimana aku dapat percaya akan adanya Gusti Allah kalau aku tidak dapat melihatnya? Bagaimana sesuatu itu dapat ada kalau tidak dapat dibuktikan dengan penglihatan?"
Bagus Sajiwo menghela napas.
Sungguh kasihan sekali orang ini, pikirnya.
Agaknya dulu orang tuanya tidak mendidiknya dengan baik sehingga wanita itu sama sekali tidak tahu akan Gusti Allah.
Mungkin menurut pendapatnya, para penguasa jagad hanyalah dewa yang dapat dilihat arcanya.
"Dewi, apakah engkau percaya bahwa engkau memiliki nyawa dan memiliki pikiran?"
"Tentu saja!"
Jawab Maya Dewi langsung, tanpa dipikir lagi.
Semua orang tahu bahwa orang mempunyai nyawa dan pikiran.
Mengapa ditanyakan lagi dan apa hubungannya dengan pertanyaannya tentang keberadaan Gusti Allah?
"Nah, nyawa dan pikiran itu tidak dapat kita lihat, tidak dapat dibuktikan dengan penglihatan, pendengaran, penciuman dan perasaan apapun, namun engkau percaya bahwa itu ada!
Buktinya adalah hasil pekerjaan mereka.
Dengan pikiran engkau dapat berpikir dan mengingat, dan dengan adanya nyawa engkau hidup.
Orang yang ditinggalkan nyawanya disebut mati.
Gusti Allah jauh lebih besar dari pada semua itu.
Nyawa dan pikiran kita pun merupakan anugerahNya, merupakan pemberianNya, merupakan ciptaanNya.
Kekuasaan Gusti Allah dapat terlihat dimana pun, kekuasaan yang mengatur bintang-bintang, bulan dan matahari di langit, yang mengatur sehingga jantungmu terus berdetik dan tetap berdetik selama engkau hidup."
"Ah, begitukah, Bagus? Tadinya aku percaya bahwa semua itu dilakukan oleh para dewa."
"Baik dewa-dewa atau para malaikat, mereka semua itu juga merupakan ciptaan Gusti Allah dan mereka menjadi hamba Allah, menjadi alat yang membantu berlangsungnya kekuasaan Gusti Allah. Semua ciptaan Gusti Allah berkewajiban untuk membantu pekerjaanNya, menjadi alatNya yang baik dengan satu tujuan, yaitu Mamayu Hayuning Bawono (Mengusahakan Kesejahteraan Dunia) dengan langkah-langkah hidup melalui jalan kebenaran. Kalau menyimpang dari itu dan sebaliknya melakukan perbuatan-perbuatan jahat yang sifatnya merusak dan sesat, maka kita bukan menjadi hamba Gusti Allah melainkan menjadi hamba iblis!"
"Apa saja yang harus dilakukan orang yang menjadi hamba Gusti Allah itu, Bagus?"
"Yang dilakukan adalah menyalurkan apa saja yang dianugerahkan Gusti Allah kepadanya. Kalau dia mendapatkan berkah kekayaan yang berlimpah, dia dapat menyalurkan berkah itu dengan menolong mereka yang hidupnya miskin dan membutuhkannya. Kalau berkah berlimpah itu berupa kepandaian, dia dapat menyalurkannya dengan mengajar dan memberi penerangan kepada mereka yang bodoh dan tidak mengerti. Kalau dia diberkahi tenaga yang kuat dia dapat menyalurkan tenaga itu dengan menolong dan membantu mereka yang lemah dan masih banyak lagi. Pendeknya kalau kita menerima berkah secara berlebihan, maka kita harus menyalurkannya dan memberi kepada mereka yang membutuhkannya. Gusti Allah itu Maha Murah dan hanya memberi dan memberi, kepada siapa saja tanpa pandang bulu. Sinar matahari yang menghidupkan diberikanNya kepada raja dan juga pengemis, para pendeta dan juga penjahat. Bunga melati memberi keharuman kepada siapapun juga tanpa membeda-bedakan. Kita yang menjadi hamba Gusti Allah juga berkewajiban untuk memberi dan memberi."
"Akan tetapi bagaimana kalau kita tidak mempunyai apa-apa yang berlebihan, Bagus? Tidak mempunyai banyak uang, tidak mempunyai tenaga, tidak memiliki kepandaian, tidak memiliki apa-apa yang dapat diberikan karena untuk dirinya sendiri juga kekurangan? Nah, lalu apa yang dapat dilakukan untuk dapat disebut hamba dan pembantu atau alat Gusti Allah?"
"Banyak yang dapat diberikan kepada orang lain, Dewi. Kata-kata yang manis, senyuman yang cerah, tegur sapa yang lembut, sikap yang menghormat dan ramah, semua itu dapat kita berikan kepada siapa saja dan tidak kalah pentingnya daripada pemberian uang dan lain-lain."
Maya Dewi diam dan termenung.
Begitu banyak hal yang didengarnya sebagai hal yang baru, yang belum pernah ia dengar, apalagi ia lakukan.
Dahulu, sejak kecil, ia hanya tahu menuntut, minta dipenuhi kehendaknya.
Sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk memberi.
Ia hanya menuntut, minta dilayani, sama sekali tidak ada pikiran untuk melayani.
Sekarang baru ia tahu bahwa manusia hidup mempunyai kewajiban yang amat banyak!
Ia teringat akan hartanya, sepeti perhiasan dari emas permata.
"Akan tetapi, Bagus. Kalau kita hambur-hamburkan milik kita dan kita berikan kepada orang lain, apakah kita tidak akan kehabisan dan akhirnya kita sendlri terlantar?"
Bagus Sajiwo menggeleng kepalanya.
"Sama sekali tidak, Dewi. Gusti Allah itu Maha Murah dan Maha Kaya bahkan seluruh apa yang ada di dunia ini adalah milikNya. Karena itu, kalau kita menjadi penyalur berkahNya yang baik, maka kita tidak akan kehabisan bahkan akan mendapatkan berkah lebih banyak lagi. Yang pandai akan menjadi semakin pandai, yang kaya menjadi semakin kaya, yang kuat menjadi semakin kuat karena semua kelebihan itu adalah berkahNya dan diberikan kepada kita untuk disalurkan kepada mereka yang membutuhkan."
"Hemm, sekarang aku mulai mengerti. Itukah yang dimaksudkan mereka yang menamakan diri mereka para pendekar bahwa mereka selalu membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan?"
"Kurang lebih begitulah pendirian para pendekar."
Bagus Sajiwo membenarkan.
"Akan tetapi aku sekarang adalah seorang wanita lemah... tidak mungkin aku menjadi pendekar..."
Maya Dewi mengeluh sedih.
"Sama sekali tidak, Dewi. Engkau memiliki dasar-dasar ilmu kanuragan yang tinggi tingkatnya. Engkau hanya kehilangan tenaga saktimu saja dan hal itu dapat kau peroleh kembali dengan latihan. Dan untuk itu, aku dapat membantumu."
"Mendapatkan kembali Aji Wisa Sarpa dan Aji Tapak Rudira?"
Bagus Sajiwo menggeleng kepalanya.
"Tidak, Dewi. Kedua aji itu hanya pantas dikuasai orang yang hidupnya sesat, yang menjadi hamba iblis dan hanya dipergunakan untuk melakukan kejahatan."
"Bukankah baik buruknya ilmu itu tergantung dari manusia yang mempergunakannya, Bagus?"
"Benar sekali, Dewi. Akan tetapi ada ilmu yang memang sifatnya sudah jahat. Kedua ajimu hanya untuk membunuh karena mengandung hawa beracun yang amat jahat. Sekarang marilah kita menggunakan waktu beberapa bulan disini untuk berlatih menghimpun tenaga sakti. Dengan tenaga yang timbul dari hawa murni, engkau dapat menggunakan ilmu silatmu untuk membela diri. Sekarang cobalah engkau berlatih dengan ilmu silat yang kau kuasai agar aku dapat melihat sifat ilmu silatmu itu."
Karena ingin sekali mendapatkan kembali kesaktiannya, Maya Dewi segera bangkit dan memasang kuda-kuda.
Tubuhnya memang masih terasa lemas, akan tetapi semangatnya besar.
Setelah dua aji pamungkasnya lenyap, ia merasa dilucuti senjatanya dan merasa tidak berdaya sama sekali.
Maka, mendengar bahwa Bagus Sajiwo hendak membantunya memperoleh tenaga sakti yang baru, yang tidak sesat, ia menjadi bersemangat.
Segera ia menggerakkan kaki tangannya dan bermain silat dengan kedua tangan membentuk cakar.
Gerakannya indah dan gagah, hanya tentu saja tidak mengandung tenaga sakti dan kehilangan kegesitannya.
Namun ilmu silat yang dimainkannya itu merupakan ilmu silat yang bertingkat tinggi dan tangguh sekali.
Itu adalah ilmu silat tangan kosong Singorodra yang ampuh.
Setelah selesai memainkan ilmu silat itu, Maya Dewi berhenti dan terkulai duduk di atas rumput.
Tenaganya habis dan ia merasa lelah sekali.
"Bagus, ilmu silatmu itu cukup bagus dan tangguh, Kalau dimainkan dengan tenaga sakti yang kuat, akan menjadi ilmu yang hebat. Selain ilmu silat tangan kosong tadi, ilmu lain apakah yang kau kuasai?"
"Aku juga dapat bersilat dengan sabuk Cinde Kencana, akan tetapi untuk memainkannya, aku harus menggunakan tenaga sakti. Dan kalau tenaga saktiku tidak lenyap, aku dapat menggunakan Aji Pekik Singanada untuk merobohkan lawan dan setiap tamparan tanganku mengandung hawa panas atau dingin menurut sekehendak hatiku."
"Engkau telah memiliki dasar yang amat kuat, Dewi. Aku yakin setelah berlatih beberapa bulan saja, engkau akan dapat menghimpun lagi tenaga saktimu. Akan tetapi aku hanya mau membantumu mendapatkan kembali tenaga saktimu kalau engkau berjanji bahwa kelak engkau tidak lagi akan menggunakan tenaga saktimu untuk sembarangan menyiksa, apalagi membunuh orang. Pendeknya, kalau engkau mempergunakannya untuk melakukan kejahatan, aku tidak sudi lagi menjadi sahabatmu, malah aku akan menentangmu dan menjadi musuhmu."
Girang sekali hati Maya Dewi mendengar ini.
"Jangan khawatir, Bagus. Selama engkau berada disisiku, aku akan selalu mengikuti jejak hidupmu dan menaati semua petunjukmu."
Demikianlah, di puncak Gunung Wilis yang dingin itu, Maya Dewi berlatih, bersamadhi menghimpun tenaga sakti dari hawa murni, dibantu oleh Bagus Sajiwo yang menggunakan kekuatannya untuk membuka jalan darah dan membantu wanita itu sehingga dengan mudah Maya Dewi dapat menghimpun tenaga sakti yang intinya datang dari kekuatan alam.
Hanya dibutuhkan waktu kurang lebih seratus hari, dengan latihan tekun, akhirnya Maya Dewi memperoleh tenaga sakti yang murni, tidak bercampur hawa sesat seperti ketika ia melatih Aji Wisa Sarpa dan Aji Tapak Rudiro.
Tentu saja ia menjadi girang bukan main dan cintanya terhadap Bagus Sajiwo semakin mendalam.
Kini tahulah bekas datuk wanita yang pernah disebut sebagai iblis betina ini bahwa biarpun usianya baru tujuh belas tahun, Bagus Sajiwo telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali, bahkan ia sendiri tidak dapat mengukurnya karena di dalam kesaktian pemuda remaja itu tersembunyi sesuatu yang aneh.
Selain dari memperoleh kembali tenaga sakti yang cukup ampuh, kini Maya Dewi juga banyak mengerti tentang hakekat hidup dan terbukalah matanya yang selama ini dibutakan nafsu bahwa kebahagiaan hidup hanya dialaml seseorang apabila ia berserah diri kepada Gusti Allah, bukan kepada iblis sehingga setiap tindakannya pasti melalui jalan yang digariskan Gusti Allah, yaitu jalan kebajikan, bukan seperti yang digariskan iblis, yaitu jalan pengabdian kepada nafsu iblis, mengejar kesenangan duniawi dan badani dengan menghalalkan segala cara.
Setelah merasa bahwa Maya Dewi telah mendapatkan apa yang ia cari, pada pagi hari itu Bagus Sajiwo berkata.
"Nah, Dewi. Kulihat bahwa tenaga saktimu telah cukup kuat, mungkin tidak kalah dibandingkan dulu sebelum engkau kehilangan tenaga saktimu itu. Coba sekarang engkau bersilat dengan ilmu Singorodra itu, ingin aku melihat hasilnya."
Maya Dewi tersenyum, wajahnya kini berbeda dengan beberapa bulan yang lalu.
Wajah yang cantik jelita dan yang dulu tampak kadang menyeramkan itu kini tampak anggun, senyumnya wajar dan pandang matanya amat lembut ketika ia menatap wajah Bagus Sajiwo.
"Baiklah Bagus. Aku sendiri selama tiga bulan ini berjuang mati-matian melawan keinginanku sendiri untuk melihat hasilnya karena engkau selalu melarang aku jika hendak berlatih."
Bagus Sajiwo tersenyum.
"Itu merupakan satu diantara ujian-ujian batinmu, Dewi. Aku melarangmu karena aku tahu engkau ingin sekali, maka hendak kulihat apakah engkau sudah mampu melawan dorongan nafsu kehendak hatimu sendiri. Dan ternyata engkau lulus!"
Maya Dewi lalu melompat ke tempat yang terbuka.
Gerakannya lincah seperti seekor burung srikatan, kemudian mulailah ia bersilat dengan kedua tangan membentuk cakar.
Itulah ilmu silat Singorodra (Singa Ganas).
Kini gerakannya berisi tenaga sakti sehingga setiap gerakan tangan menyerang atau kaki menendang, membawa angin bersiutan.
"Ciaaaattt...!"
Tangan kanannya mencengkeram ke arah batu besar dan batu itu hancur tepinya.
"Haiiiittt...!"
Kaki kirinya menendang sebatang pohon dan dengan suara keras pohon itu tumbang!
Setelah Maya Dewi menghentikan permainan silatnya, wajah dan pernapasannya biasa saja seolah tidak pernah mengeluarkan tenaga besar.
"Cukup bagus, Dewi. Hanya saja harus engkau ingat selalu kalau bertanding melawan manusia. Manusia bukan batu atau pohon yang boleh kau rusak begitu saja. Jangan terlalu mudah dipengaruhi dendam amarah sehingga engkau ringan tangan melukai atau membunuh orang. Sekarang, tiba saatnya bagi kita untuk berpisah, Dewi."
Wanita itu tiba-tiba meloncat ke depan Bagus Sajiwo dan menatap wajah pemuda itu dengan mata terbelalak dan wajahnya berubah pucat.
"Ber... pisah...? Apa... apa maksudmu, Bagus?"
Melihat wajah wanita itu pucat dan ketika bertanya itu, bibirnya gemetar, Bagus Sajiwo merasa iba sekali.
Diapun diam-diam harus mengakui bahwa terdapat ikatan batin yang amat kuat antara dia dan wanita itu dan ikatan inilah yang terasa amat berat dan menimbulkan duka apabila terputus dengan perpisahan.
(Lanjut ke
Jilid 10) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 10
"Mari kita duduk dan bicara, Dewi. Tenangkanlah dirimu dan mari kita melihat kenyataan."
Bagus Sajiwo duduk di atas batu dan Maya Dewi juga duduk di atas sebuah batu di depan pemuda itu.
"Ingatlah, Dewi. Sejak kita saling berjumpa sampai hari ini, kurang lebih lima bulan telah lewat. Sekarang, engkau telah sembuh dari ancaman maut karena luka disebelah dalam badanmu, engkau telah mendapatkan kembali tenaga saktimu. Dan aku sendiri masih mempunyai tugas yang harus kulaksanakan. Oleh karena itu, kukira sudah tiba waktunya bagi kita untuk saling berpisah dan mengambil jalan masing-masing. Aku tidak khawatir karena engkau sekarang sudah tahu jalan hidup apa yang harus kau tempuh, Dewi, yaitu jalan yang berlandaskan kebenaran dan kebajikan."
"Tidak, Bagus, tidak! Jangan engkau tinggalkan aku seorang diri di dunia ini. Aku... aku tidak sanggup lagi hidup menyendiri seperti dulu. Aku... aku tidak berani, aku takut, Bagus...!"
Bagus Sajiwo tersenyum.
"Apa? Engkau takut? Ah, sungguh aneh sekali mendengar ucapanmu ini, Dewi. Dulu engkau tidak takut menghadapi apapun dan siapa pun juga. Sekarang engkau takut? Siapa yang akan mengganggumu? Engkau seorang wanita sakti mandraguna. Barangkali engkau takut kepada Candra Dewi, kakak tirimu itu?"
Maya Dewi menggeleng kepalanya dan menghela napas.
"Bukan, Bagus. Aku tidak takut kepada Mbakayu Candra Dewi atau kepada siapapun juga. Aku takut kepada... diriku sendiri. Dengan adanya engkau di dekatku, aku merasa tenang, tenteram, aman dan aku sanggup mengubah sifat-sifatku yang dahulu. Dengan adanya engkau di sisiku aku berani dan kuat menekan gejolak nafsu-nafsuku sendiri. Akan tetapi, kalau engkau pergi meninggalkan aku, ahh, aku takut, Bagus. Aku takut akan terseret oleh bujukan iblis dan kembali hidup seperti masa lalu yang hanya akan membawa aku ke dalam dosa dan kesengsaraan hidup. Karena itu, jangan tinggalkan aku, Bagus. Perkenankan aku ikut denganmu, kemana pun engkau pergi. Aku ingin mati atau hidup selalu di dekatmu."
"Hemm, Dewi. Bukankah sudah berulang kali aku beritahu padamu bahwa dengan membiarkan hatimu terbuka sehingga. kekuasaan Gusti Allah jumeneng (hadir) di dalam batinmu, engkau akan selalu mendapat bimbinganNya dan tidak perlu takut terhadap apapun yang akan terjadi dan menimpa dirimu!"
"Aku masih ingat dan tahu, Bagus. Akan tetapi aku khawatir keyakinanku akan hal itu menjadi goyah kalau engkau tidak berada disampingku. Aku takut, Bagus, sungguh aku takut sekali akan kelemahanku sendiri. Aku mohon padamu, Biarkan aku mengikutimu kemana pun engkau pergi!"
Bagus Sajiwo tertegun.
Dia sendiri masih belum tahu kemana dia akan pergi.
Sebelum usianya dua puluh tahun, dia tidak boleh menjumpai orang tuanya, tidak boleh kembali ke lereng Gunung Kawi dimana orang tuanya tinggal.
Demikianlah pesan Ki Ageng Mahendra kepadanya tanpa memberitahu mengapa demikian dan dia sama sekali tidak berani melanggar pesan gurunya itu.
Dia hanya akan merantau kemana saja kakinya membawanya dan di sepanjang perjalanan harus selalu membela orang-orang yang tertindas dan menentang orang-orang yang melakukan kejahatan.
Kalau Maya Dewi hendak menemaninya dalam perantauannya, apa salahnya?
Wanita ini tidak mengganggu, bahkan dapat membantunya menentang orang-orang jahat.
Pula, agaknya watak Maya Dewi sudah benar-benar berubah.
Ia tidak lagi mudah marah seperti dulu.
Pula, mengingat akan masa lalunya yang mengerikan dan tekadnya untuk mengubah jalan hidupnya, Maya Dewi memang perlu mendapat teman yang dapat menasihati dan mengingatkan apabila ia akan tersesat lagi.
Setelah menghela napas seolah menghadapi seorang anak kecil yang rewel, yang membuatnya tak berdaya menolak, dia berkata.
"Baiklah kalau itu yang kau kehendaki. Kita melakukan perantauan bersama."
Tiba-tiba wajah yang tadinya pucat dan membayangkan kesedihan itu berseri-seri, mulut yang tadinya cemberut hampir menangis itu kini tersenyum lebar dan Maya Dewi lalu melompat ke depan merangkul leher Bagus Sajiwo!
"Terima kasih, Bagus!
Aku tahu, engkau pasti tidak tega kepadaku.
Ah, engkau adalah orang yang paling mulia di dunia ini, Bagus, dan engkau adalah penolongku, sahabatku, pujaan hatiku, dan suamiku...!"
"Husshh, jangan begitu, Maya Dewi!"
Kata Bagus Sajiwo dengan lembut dia melepaskan rangkulan itu.
"Kita bukan suami isteri, cukup menjadi sahabat baik saja."
Maya Dewi tersenyum dan duduk kembali ke atas batu.
"Baiklah, engkau sahabatku, Bagus. Akan tetapi di dalam hatiku, engkau tetap kuanggap sebagai suamiku. Aku selamanya tidak akan sudi nenikah dengan pria lain kecuali engkau. Nah, kita kemana sekarang?"
"Dewi setelah kita sepakat untuk melakukan perantauan bersama, maka ke arah mana kita pergi kuserahkan kepadamu. Aku sendiri adalah seorang yang masih buta akan keadaan di dunia ramai, seolah seekor burung yang baru saja meninggalkan sarang, baru belajar terbang. Sebaliknya engkau sudah biasa melanglang buana, mengenal daerah-daerah, bahkan mengenal para tokoh sakti. Nah, terserah kepadamu kemana kita akan pergi."
"Ah, baik sekali kalau begitu. Akan tetapi, lebih dulu peti hartaku harus disembunyikan disini. Tidak mungkin kita melakukan perjalanan merantau membawa-bawa harta sebanyak itu. Cukup beberapa potong saja, dan pakaian pengganti"
"Kalau begitu, mari kita mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan peti hartamu."
Keduanya lalu mencari-cari tempat yang cocok.
Akhirnya mereka menemukan sebuah guha kecil di puncak itu.
Guha itu hanya merupakan sebuah lubang di dinding batu gunung, tidak iebih dari satu meter persegi luasnya.
Mereka memasukkan peti harta itu di dalam lubang, menutupinya dengan rumput dan semak, kemudian Bagus Sajiwo menutup lubang itu dengan sebongkah batu besar.
Tenaga lima orang laki-laki biasa saja tidak akan mampu menggulirkan batu itu dari depan lubang dan andaikata batu itu dapat disingkirkan, siapa yang akan mengira bahwa ada peti harta tersembunyi di balik rumput dan semak-semak itu?
Setelah pekerjaan itu selesai, kedua orang ini turun dari puncak Wilis, menggendong buntalan pakaian dan Maya Dewi membawa beberapa potong perhiasan untuk bekal perjalanan mereka.
Mereka berjalan santai menuruni puncak.
Maya Dewi tidak ingin melihat pondoknya yang sudah dibakar habis oleh Candra Dewi seperti yang diketahuinya dari Bagus Sajiwo.
Mereka langsung menuruni Gunung Wilis dengan santai karena memang perjalanan mereka itu tanpa tujuan, maka untuk apa tergesa-gesa.
Ketika mereka jalan berdampingan menuruni puncak, Maya Dewi menggunakan kesempatan itu untuk mengajak Bagus Sajiwo bercakap-cakap.
"Bagus, kita sudah bergaul begini akrab, akan tetapi aku sama sekali tidak mengetahui asal usulmu. Maukah engkau menceritakan riwayatmu kepadaku? Siapa orang tuamu dan mengapa engkau yang masih begini muda merantau seorang diri tanpa tujuan?"
Bagus Sajiwo sudah menduga bahwa akhirnya Maya Dewi tentu menanyakan hal ini dan dia pun tidak mungkin dapat berbohong.
Dia tidak biasa berdusta, pula untuk apa merahasiakan keadaan orang tuanya?
Mereka adalah pendekar-pendekar yang terkenal dan tidak ada alasan apapun untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dia adalah anak tunggal mereka.
"Ayah bundaku tinggal di lereng Gunung Kawi. Ayah bernama Ki Tejomanik dan ibuku bernama Retno Susilo..."
"Ahh...?"
Maya Dewi terbelalak. Ia terkejut sekali mendengar disebutnya nama-nama itu sebagai ayah ibu Bagus Sajiwo.
"Maksudmu Sutejo yang juga terkenal dengan julukan Cambuk Bajrakirana itu?"
"Benar. ketika muda ayahku bernama Sutejo."
"Hebat...! Aku mengenal nama besar ayahmu dan ibumu! Juga nama ibumu pernah menggemparkan empat penjuru! Lalu, kenapa engkau kini merantau seorang diri?"
Maya Dewi kini semakin kagum kepada pemuda itu yang ternyata keturunan suami isteri yang terkenal sakti mandraguna.
"Aku menjadi murid mendiang Eyang Ki Ageng Mahendra. Setelah guruku meninggal dunia, aku turun gunung dan merantau seorang diri."
Jawaban Bagus Sajiwo singkat saja karena sebetulnya dia tidak ingin bercerita banyak tentang dirinya sendiri.
"Bagus, setelah turun gunung, kenapa engkau tidak langsung pulang ke rumah orang tuamu di Gunung Kawi?"
Bagus Sajiwo menggeleng kepalanya.
"Saatnya belum tiba, Dewi. Sebelum usiaku mencapai dua puluh tahun, aku tidak boleh menemui orang tuaku."
"Eh, kenapa?"
"Mendiang guruku yang memesan begitu, Beliau adalah seorang yang arif bijaksana dan aku harus menaati pesannya itu. Nah, sekarang ganti engkau yang menceritakan riwayatmu, Dewi."
"Hemm, masa laluku adalah buruk sekali, penuh dengan kebusukan. Kalau tidak kepadamu, aku malu dan tidak akan mau menceritakannya. Akan tetapi engkau berhak mengetahui segala kebusukan itu. Aku tidak ingin menyimpan rahasia keburukanku, agar engkau tahu betapa sesat dan jahatnya aku."
"Dewi, tidak ada seorang pun manusia yang sempurna tanpa cacat di dunia ini. Semua orang berdosa karena tubuh kita ini menjadi sarang dosa. Akan tetapi bagi siapa yang mengakui dosanya dan mau bertaubat, Gusti Allah pasti akan mengampuninya."
"Begitukah, Bagus? Ah, alangkah bahagia rasa hatiku kalau memang benar begitu. Akan tetapi dosa-dosaku terlalu besar dan terlalu banyak. Ibuku telah meninggal ketika aku masih kecil dan aku hidup bersama ayahku, seorang datuk sesat terkenal bernama Resi Kolo-yitmo yang telah meninggal dalam perang antara Mataram dan Kumpeni Belanda, dan juga Mbakayu Candra Dewi tinggal bersama kami. Ibu kandungku sudah janda dan mempunyai anak Mbakayu Candra Dewi ketika menikah dengan ayah. Kami berdua dididik oleh Ayah dalam olah kanuragan. Mbakayu Candra Dewi kemudian melarikan diri karena ayahku hendak menjadikan anak tirinya itu sebagai isteri. Aku lalu ikut ayah merantau. Kemudian aku selalu membantu pihak-pihak yang bermusuhan dengan Mataram. Ayahku mendendam kepada Mataram, maka sejak kecil aku sudah dijejali rasa benci kepada Mataram. Demikianlah, aku membantu Madura dan Surabaya ketika mereka berperang melawan Mataram dan yang paling akhir aku bahkan menjadi pimpinan telik sandi (mata-mata) Kumpeni Belanda dengan imbalan harta."
"Hemm, menurut mendiang eyang guru, bangsa Belanda memang licik dan pandai membujuk orang-orang kita yang pandai untuk membantu mereka."
Kata Bagus Sajiwo.
"Ya, aku baru menyadari setelah bergaul denganmu bahwa tindakanku itu sungguh amat kotor dan jahat. Aku membantu bangsa asing yang ingin menguasai tanah air dan bangsaku, aku menjadi pengkhianat yang hendak menjual tanah air dan bangsaku."
"Semua itu sudah berlalu, Dewi. Yang sudah biarlah lewat dan mulai sekarang, asalkan engkau bertaubat dan tidak melakukan kekeliruan itu lagi, bahkan menebusnya dengan amal perbuatan yang sesuai dengan kehendak Custi Allah, yaitu membela kebenaran dan keadilan, Gusti Allah tentu akan mengampuni semua dosamu karena Dia itu selain Maha Kuasa dan Maha Murah, juga Maha Pengampun dan Maha Segalanya!"
"Oohh... kalau saja benar kata-katamu itu, Bagus. Akan tetapi bukan itu saja kesesatan-kesesatan yang telah kulaKukan. Aku bukan seorang perempuan bersih, aku hina dan kotor. Selama belasan tahun ini aku menjadi hamba dari nafsu-nafsuku sendiri. Aku banyak membunuh orang. Aku mempermainkan banyak pria dan menjadi permainan mereka. Ah, sesungguhnya tidak pantas aku berdekatan dengan seorang pemuda sebersih engkau, Bagus. Akan tetapi aku... aku hanya mempunyai engkau sebagai gantungan harapanku. Hanya kalau berada disisimu aku sanggup untuk menempuh hidup baru, mengubah semua jalan hidupku yang sudah lalu. Tapi aku kotor, Bagus... aku kotor..."
Bagus Sajiwo merasa terharu.
"Itulah yang terpenting dalam hidup ini, Dewi. Melihat dengan jelas kekurangan dan kekotoran diri sendiri. Orang yang merasa dirinya kotor pasti bersemangat untuk membersihkan diri dari kekotoran itu. Orang yang merasa dirinya bodoh tentu mudah mendapat tambahan pengetahuan. Sudahlah, cukup kita bicara tentang masa lalu yang hanya mendatangkan rasa duka, dendam dan penasaran belaka. Mari kita kembali ke saat ini. Nah, karena engkau yang memimpin perjalanan kita ini, kemana sekarang kita akan pergi, Dewi?"
Wajah yang tadi diliputi mendung itu kini menjadi cerah kembali dan Maya Dewi berkata dengan penuh semangat.
"Aku pernah mendengar ketika aku masih tinggal di puncak Bukit Keluwung bahwa daerah sebelah selatan Pegunungan Kidul, disekitar muara Kali Lorog, terdapat pusaka-pusaka terpendam yang saat ini dicari semua tokoh sakti dan dijadikan rebutan. Nah, bagaimana kalau kita kesana untuk melihat-lihat? Siapa tahu kita berjodoh dengan pusaka-pusaka itu dan dapat menemukannya?"
Bagus Sajiwo menjadi gembira mendengar ini.
Dia yang belum banyak pengalaman tentu saja ingin sekali melihat apa yang terjadi di tempat yang dikabarkan menyimpan pusaka.
Jiwa petualang dalam dirinya yang masih muda itu bangkit.
"Ah, senang sekali aku untuk pergi kesana, Dewi! Akan tetapi, tahukah engkau pusaka-pusaka macam apa saja yang diperebutkan orang itu?"
"Mula-mula sebuah kitab kuno, peninggalan jaman Mojopahit ditemukan orang. Di dalam kitab kuno itu disebutkan bahwa pada waktu itu, sampai sekarang sudah tiga ratus tahun lebih, terdapat semacam obat yang berkasiat ajaib, berupa jamur dan disebut Jamur Dwipa Suddi dan kabarnya jamur ini mempunyai dua sifat yang bertentangan, yaitu bagi mereka yang berjodoh, kalau makan jamur ini akan memperoleh kekuatan yang dahsyat. Sebaliknya bagi yang tidak berjodoh, makan jamur ini justru akan menghilangkan semua tenaga yang telah dikuasainya. Jamur itu kabarnya sudah dikeringkan sinar matahari dan biarpun disimpan berabad-abad lamanya tidak akan menjadi rusak."
"Hebat sekali! Dari mana asalnya jamur ajaib Seperti itu, Dewi, aku menjadi ingin sekali mengetahui."
"Menurut cerita dalam kitab kuno itu, Jamur Dwipa Suddi berasal dari jamur yang tumbuh di tubuh naga laut."
"Wah, luar biasa sekali!"
"Ceritanya begini, Bagus. Di jaman dulu, berabad-abad yang lalu, daerah Muara Kali Lorog Itu termasuk wilayah Kerajaan Wengker yang menjadi musuh bebuyutan dari Kerajaan Mataram Lama. Pada suatu hari, seorang pertapa yang suka mengumpulkan rempa-rempa, akar dan daun-daun yang berkhasiat sebagai obat, berjalan-jalan seorang diri di pantai Laut Kidul. Dia melihat sebatang balok atau batang pohon yang besar dan panjang di pantai dan ketika dekat, dia melihat beberapa buah jamur tumbuh di batang pohon yang melintang di atas pasir itu. Setelah memeriksa dan menciumnya, pertapa itu maklum bahwa jamur langka itu tentu mengandung khasiat yang ampuh, maka dia lalu mencabuti jamur itu. Alangkah kagetnya ketika tiba-tiba batang pohon atau balok itu bergerak! Dan ternyata "balok"
Itu adalah seekor naga atau ular yang besar sekali.
Naga itu segera kembali ke laut dan pertapa yang kaget setengah mati itu baru tahu bahwa yang dicabutnya tadi adalah jamur-jamur yang cumbuh di tubuh naga."
"Hemm, hebat dan menarik sekali!"
Kata Bagus Sajiwo.
"Kemudian muncul puluhan orang perajurit Wengker dan para perwiranya hendak merampas jamur itu. Barulah sang pertapa maklum bahwa jamur yang ditemukannya itu adalah Jamur Dwipa Suddi. Dia mempertahankannya dan mengamuk. Akhirnya, semua pengeroyok yang puluhan orang jumlahnya itu tewas, akan tetapi sang pertapa juga menderita luka-luka parah. Dan sebelum' dia mati, dia menyembunyikan jamur ajaib itu. Nah, sejak itu, tak seorangpun mengetahui dimana adanya jamur itu dan setelah kitab yang mengandung cerita itu ditemukan orang baru-baru ini, ketika aku meninggalkan Batavia, barulah orang-orang sakti ramai memperebutkan dan mencarinya."
"Menarik sekali, Dewi. Mari kita segera pergi kesana!"
Bagus Sajiwo, bagaimana pun juga, adalah seorang pemuda remaja yang tentu saja tertarik akan hal-hal yang luar biasa.
Mereka berdua lalu mempercepat langkah menuruni gunung dan ternyata Maya Dewi kini sudah dapat berlari seperti terbang.
Wanita itu sudah pulih, memiliki kecepatan dan tenaga yang kuat, hanya ia tidak lagi dapat menggunakan dua aji pukulan beracun itu.
Kegagalan bala tentara Mataram menyerang Kumpeni Belanda di Batavia yang terjadi sampai dua kali (1628 dan 1629) itu sedikit banyak menyuramkan kecemerlangan dan kebesaran Mataram.
Terutama sekali para adipati di daerah Pasundan merasa kecewa dan penasaran sekali.
Yang menderita paling parah adalah Kadipaten Sumedang.
Adipati Sumedang, pada waktu itu adalah Adipati Ukur yang menggantikan Pangeran Mas Cede yang dianggap tidak setia kepada Mataram dan menjalin hubungan dengan Kerajaan Banten, telah membantu Mataram ketika menyerang Batavia.
Banyak sekali perajurit Sumedang yang tewas dalam perang.
Juga Sumedang telah menguras persediaan berasnya untuk dijadikan ransum bala tentara Mataram.
Namun hasilnya mengecewakan.
Mataram gagal dalam penyerangan dua kali berturut-turut itu.
Para tokoh pimpinan di tanah Pasundan menjadi kecewa dan kepercayaan mereka terhadap Sultan Agung di Mataram menipis yang mengakibatkan kesetiaan mereka terguncang.
Mereka, terutama Adipati Ukur sebagai penguasa tertinggi di daerah itu, tidak mengakui lagi kekuasaan Mataram atas daerah Pasundan.
Bahkan Pasundan yang pada waktu itu kekuasaannya berpusat di Sumedang lebih suka menjalin hubungan dengan Banten, juga dengan pihak Kumpeni Belanda.
Sikap penguasa Sumedang ini segera terdengar oleh Sultan Agung yang menjadi marah bukan main.
Persiapan perang baru untuk menyerbu daerah Pasundan yang memberontak itupun dilakukan.
Di Sumedang sendiri, Adipati Ukur Juga maklum akan bahaya penyerangan Mataram itu.
Maka, diapun sudah bersiap-siap, mengumpulkan semua kekuatan untuk mengadakan perlawanan.
Adipati Ukur sudah minta bantuan Kumpeni Belanda, akan tetapi Kumpeni Belanda masih merasa ngeri untuk membantu Sumedang secara terang-terangan karena mereka ingat akan penyerangan-penyerangan Mataram yang mengakibatkan terjatuhnya banyak korban itu.
Mereka tidak ingin membangkitkan kemarahan Mataram dan merasa lebih aman kalau mereka tidak mencampuri pertentangan antara Sumedang dan Mataram.
Akan tetapi diam-diam Kumpeni merasa gembira sekali dan berusaha melalui para antek mereka untuk mengobarkan kemarahan Sumedang terhadap Mataram.
Memang keadaan ini amat menguntungkan Kumpeni dan merupakan satu diantara daya upaya untuk dapat menguasai Nusantara.
Dengan cara mengadu domba, membiarkan para penguasa itu saling hantam sendiri sehingga mereka menjadi lemah.
Pihak Kumpeni berpura-pura memihak Sumedang dan hanya membantu dengan beberapa pucuk senapan dan meriam saja, namun tidak langsung mengirim pasukan untuk membantu.
Dalam waktu kedua pihak, Sumedang dan Mataram, mengadakan persiapan untuk berperang ini, suasananya menjadi tegang.
Rakyat menanti dengan hati was-was karena dari pengalaman yang sudah-sudah, kalau timbul perang, maka yang paling menderita adalah rakyat.
Tidak aman dan tidak leluasa menggarap sawah ladang, harta benda mereka terancam musna, bahkan nyawa mereka pun terancam mati konyol.
Bahkan sudah banyak orang yang mengungsikan keluarga mereka, isteri dan anak-anak mereka, jauh ke daerah Banten dan ada pula yang mengungsi ke daerah Batavia.
Akan tetapi untuk membesarkan hati dan semangat para senopati dan perwiranya, Adipati Sumedang malah mengadakan pesta.
Pasukan yang cukup kuat telah dipersiapkan berjaga-jaga di perbatasan dan untuk mengurangi ketegangan, Adipati Ukur mengadakan pesta, mengundang waranggana yang paling terkenal di kota itu untuk menyenangkan hati para senopatinya.
Juga dia mendatangkan seorang dalang wayang golek yang terkenal.
Sejak sore, para tamu yang terdiri dari bangsawan dan pamong praja tingkat tinggi, terutama para perwira dan senopati sudah hadir memenuhi ruangan pesta.
Di bagian luar, yaitu di pelataran, penuh pula dengan penonton yang tidak diundang.
Hampir semua penduduk Sumedang dan sekitarnya datang menonton, bahkan dari daerah lain yang jauh juga memerlukan datang nonton.
Siapa yang tidak tertarik nonton kalau waranggananya adalah Neneng Salmah yang cantik jelita bersuara emas itu, sedangkan dalangnya adalah Ki Subali, dalang kondang dari Dermayu yang amat trampil menggerakkan boneka-boneka sehingga tampak hidup?
Ki Subali adalah seorang seniman, sasterawan, dan juga dalang yang terkenal di seluruh daerah Galuh, bahkan namanya kondang sampai ke Sumedang.
Laki-laki berusia lima puluh tiga tahun ini tinggal di Dermayu.
Seperti kita ketahui, Ki Subali ini adalah ayah kandung Sulastri yang kini menjadi pemimpih perkumpulan Melati Puspa di lereng Gunung Liman dan memakai nama Ni Melati Puspa.
Adapun Neneng Salmah memang berasal dari Sumedang.
Gadis berusia dua puluh tahun yang cantik jelita dengan kulit putih kuning mata dan mulutnya menggairahkan dan tindak tanduknya lemah lembut, suaranya merdu sekali ini dahulu pernah melarikan diri dari Sumedang bersama ayahnya yang bernama Ki Salmun.
Mereka berdua terancam bahaya bahkan Neneng Salmah sudah disekap dan nyaris diperkosa oleh Raden Jaka Bintara.
Akan tetapi Lindu Aji menyelamatkannya dan pemuda perkasa itu yang mengusulkan agar Ki Salmun dan Neneng Salmah mondok di rumah Ki Subali.
Di rumah sasterawan ini Neneng Salmah sudah dianggap keluarga sendiri, bahkan dengan Sulastri ia menjalin persahabatan yang akrab sehingga mereka seperti kakak beradik sendiri saja Neneng Salmah jatuh cinta kepada Lindu Aji yang menolongnya.
Ia mencinta pemuda itu mati-matian dan terus terang ia mengatakan tentang perasaan hatinya itu kepada Sulastri.
Sama sekali ia tidak pernah menduga bahwa sebenarnya telah lebih dulu Sulastri mencinta Lindu Aji, bahkan pemuda itu juga mencintanya.
Ia mengira bahwa Sulastri mencinta Jatmika yang merupakan saudara seperguruan Sulastri sendiri.
Kemudian, setelah Sulastri, Lindu Aji, dan Jatmika pulang dari Batavia dimana mereka bertiga membantu Mataram melawan Kumpeni Belanda, mereka semua menghadapi kenyataan yang terasa amat pahit itu.
Lindu Aji menolak cinta Neneng Salmah karena dia telah mencinta gadis lain dan Lindu Aji menerima Neneng Salmah menjadi adik angkatnya.
Kenyataan lain yang lebih pahit lagi dan menghancurkan hati Neneng Salmah adalah ketika mendengar bahwa Sulastri juga menolak pinangan Jatmika!
Baru ia tahu bahwa sebetulnya Sulastri saling mencinta dengan Lindu Aji.
Akan tetapi Lindu Aji mengalah dan mundur karena mengira bahwa Sulastri jatuh cinta kepada Jatmika dan Sulastri juga mengalah mendengar betapa Neneng Salmah amat mencinta Lindu Aji!
Keduanya mundur dan mengalah, membiarkan orang yang dicinta itu berjodoh dengan orang lain.
Neneng Salmah merasa berdosa besar.
Berdosa terhadap Sulastri yang demikian baik telah menampung ia dan ayahnya, menganggap ia seperti saudara sendiri dan ia merasa berdosa terhadap Lindu Aji yang telah menyelamatkan nyawa dan kehormatannya.
Ia merasa berdosa karena ialah yang menggagalkan perjodohan dua orang yang saling mencinta itu.
Dalam keadaan penuh duka sehingga tubuhnya menjadi kurus kering, ia menerima pukulan batin lagi ketika Sulastri meninggalkan rumah dan tidak diketahui kemana perginya!
Ia merasa semakin nelangsa dan akhirnya ia mengajak Ki Salmun, ayahnya, untuk kembali ke Pasundan.
Ki Salmun berani kembali ke Sumedang setelah mendengar bahwa Adipati Pangeran Mas Cede yang dulu mendukung Raden Jaka Bintara untuk menggagahi puterinya, kini sudah diganti oleh Adipati Ukur.
Maka, ayah dan anak ini kembali tinggal di Sumedang.
Neneng Salmah mulai terhibur setelah bertemu dengan kawan-kawan lama, apalagi setelah Ki Salmun menghimpun rombongan penabuh gamelan seperti dulu dan Neneng Salmah menjadi waranggana seperti dulu.
Sebentar saja namanya yang memang sudah kondang itu kembali menjadi terkenal dan tanggapan datang hampir setiap hari.
Kesehatannya pulih kembali dan tubuhnya kembali menjadi denok dan indah.
Seperti juga dulu, pinangan datang bertubi-tubi, akan tetapi semua itu ditolak dengan halus.
Tidak ada yang berani memaksanya karena semua orang tahu belaka bahwa penguasa yang baru, Adipati Ukur, melindungi Neneng Salmah yang dianggap sebagai waranggana kebanggaan Kadipaten Sumedang.
Ketika pesta dimulai dan pertunjukan wayang dipertontonkan, suasana dalam ruangan pesta itu menjadi meriah sekali.
Orang-orang menikmati permainan dalang Ki Subali yang memainkan golek-golek itu dengan mahirnya, juga mereka menikmati alunan suara Neneng Salmah yang merdu diiringi gamelan.
Semua mata memandang kagum kepada Neneng Salmah.
Gadis itu memang elok.
Pakaiannya berwarna cerah, baju merah muda dan kain berkembang, rambutnya yang hitam panjang itu digelung dan dihias dengan bunga melati.
Kerling matanya dan senyum bibirnya sungguh membuat banyak pria tergila-gila.
Wajah Neneng Salmah memang cerah sekali.
Ia sedang gembira karena telah bertemu kembali dengan Ki Subali yang dianggap sebagai orang tua sendiri.
Ki Salmun, yang memimpin para penabuh gamelan, juga nampak gembira seperti puterinya.
Mereka bertiga, Ki Subali, Neneng Salmah dan Ki Salmun telah mengadakan pertemuan dan mereka bercakap-cakap melepas nndu sebelum pertunjukan dalam pesta itu dimulai.
Ki Subali senang melihat keadaan Neneng Salmah baik-baik saja bahkan kini namanya telah tenar kembali sebagai seorang waranggana paling disukai di Sumedang dan sekitarnya.
Sebaliknya, Neneng Salmah dan ayahnya juga girang melihat Ki Subali dalam keadaan sehat walaupun Neneng Salmah agak prihatin juga mendengar bahwa Sulastri belum juga kembali ke Dermayu.
Biarpun permainan wayang golek yang digerakkan tangan-tangan Ki Subali yang trampil itu menarik sekali, namun hanya para penonton yang sudah lanjut usianya saja yang mengikuti gerak gerik sang dalang dan golek-goleknya.
Para penonton laki-laki yang muda hampir semua lebih tertarik untuk menonton Neneng Salmah dan mengikuti setiap gerakan bibir yang manis menggemaskan itu ketika bertembang.
Diantara para penonton itu terdapat seorang pemuda yang berusia kurang lebih dua puluh empat tahun.
Pakaiannya sederhana namun rapi dan bersih.
wajahnya tampan gagah dengan alisnya yang tebal hitam, matanya yang mencorong tajam dan tahi lalat di dagunya menambah kegagahannya.
Tubuhnya sedang saja namun tegap, di pinggangnya terselip sebatang keris yang gagang dan warangkanya terbuat dari kayu cendana.
Pemuda itu adalah Jatmika, seorang pemuda yatim piatu yang telah mewarisi ilmu-ilmu dan aji kesaktian dari eyangnya (kakeknya), yaitu mendiang Ki Tejo Langit.
Pemuda perkasa ini juga membantu pasukan Mataram ketika menyerbu Batavia bersama para pendekar lainnya.
Dialah yang dahulu menolong Sulastri ketika Sulastri terjatuh ke dalam jurang dan kehilangan ingatannya.
Jatmika lalu memberinya nama baru, yaitu Listyani atau panggilannya Eulis dan dia pun jatuh cinta kepada Sulastri.
Dia merasa yakin pula bahwa gadis yang diberinya nama Eulis itu juga membalas cintanya.
Akan tetapi setelah Sulastri sembuh dan mendapatkan kembali ingatannya, gadis itu teringat akan pria yang dikasihinya, yang bukan lain adalah Lindu Aji.
Setelah perang selesai Jatmika bersama Lindu Aji dan Sulastri pergi ke Dermayu dan Jatmika menggunakan kesempatan itu untuk meminang Sulastri.
Akan tetapi, hal yang sama sekali tidak pernah disangkanya menimpa dirinya.
Pinangannya itu ditolak oleh Sulastri!
Gadis itu ternyata telah mencinta pria lain dan mudah saja dia menduga bahwa yang dicintanya itu tentulah Lindu Aji!
Dunia bagaikan kiamat bagi Jatmika.
Hatinya hancur dan dia meninggalkan Dermayu tanpa pamit kepada siapa pun juga dan ia merantau bagaikan seorang yang telah kehilangan semangat.
Dia pergi ke pesisir di sebelah utara Dermayu dan menumpahkan segala kedukaannya di depan makam kakeknya, Ki Ageng Pasisiran atau Tejo Langit, dan makam ayahnya, Ki Sudrajat.
Selama tiga bulan dia berdiam di bekas pondok kakeknya, setiap hari duduk bersila di depan kedua makam, jarang makan jarang tidur sehingga tubuhnya menjadi kurus kering.
Pada suatu malam dia bermimpi, bertemu dengan ayahnya dan dalam mimpinya itu, Ki Sudrajat memarahinya.
Masih terngiang dalam telinganya apa yang dikatakan ayahnya dalam mimpi itu.
"Jatmika, bukan watak seorang satria untuk tenggelam ke dalam duka yang berlarut-larut karena gagal mengawini seorang wanita! Kelahiran, perkawinan, dan kematian berada di tangan Gusti Allah, tidak boleh kau paksakan. Hayo bangkit, masih banyak tugasmu sebagai seorang ksatria. Jangan membikin malu orang tua dan nenek moyangmu. Kalau sudah tiba saatnya, engkau akan bertemu dengan jodohmu kelak!"
Mimpi itu menyadarkan Jatmika dan dia merasa malu kepada dirinya sendiri yang amat lemah itu.
Maka bangkitlah semangatnya dan dia meninggalkan pesisir Dermayu lalu mulai dengan perantauannya.
Dalam perjalanannya, dia melihat di daerah Pasundan, para pepguasa setempat mulai merasa tidak puas dan mulai memperlihatkan sikap tidak mau tunduk terhadap Mataram yang mereka nilai telah gagal menentang Kumpeni Belanda sehingga mereka yang tadinya membantu Mataram juga menderita kerugian bukan sedikit.
Dan Jatmika melihat pula betapa semakin banyak telik sandi (mata-mata) Belanda disebar untuk membujuk para penguasa daerah untuk berbaik dengan Belanda dan menentang kekuasaan Mataram.
Banyak yang terbujuk karena Belanda pandai mengambil hati mereka dengan memberi hadiah-hadiah dan janji-janji muluk.
Jatmika yang setia terhadap ajaran dan pesan ayah dan eyangnya, selalu condong untuk membela Mataram yang dia tahu dipimpin oleh Suitan Agung yang bijaksana dan yang selalu ingin mempersatukan seluruh kekuatan di nusantara untuk menghadapi Kumpeni Belanda yang hendak memperlebar sayapnya untuk menguasai nusantara.
Setelah berkelana selama hampir dua tahun, selalu turun tangan membela kebenaran dan keadilan, menentang pelaku kejahatan, bersikap sebagai seorang ksatria sejati yang dikehendaki ayahnya, akhirnya Jatmika pergi ke Sumedang.
Jatmika sudah mendengar bahwa adipati Sumedang telah diganti.
Dahulu adipatinya adalah Pangeran Mas Cede, sekarang digantikan oleh Adipati Ukur yang oleh Sultan Agung diangkat menjadi penguasa yang mewakili kekuasaan Mataram di daerah Parahyangan.
Akan tetapi dia mendengar desas desus bahwa adipati yang baru inipun mulai memperlihatkan sikap menentang Mataram, bahkan membuat persiapan untuk mempertahankan diri apabila diserang pasukan Mataram.
Ketika memasuki Sumedang, Jatmika terkenang kembali akan pengalamannya bersama Sulastri ketika mereka berdua ditawan oleh Aki Mahesa Sura dan para muridnya.
Ketika itu dia dan Sulastri bertemu dengan Lindu Aji dan bersama-sama mereka menentang Tumenggung Jaluwisa yang memberontak terhadap adipati Sumedang yang ketika itu adalah Pangeran Mas Gede.
Akhirnya, dia dan Sulastri berhasil membunuh si pemberontak Tumenggung Jaluwisa.
Teringat akan semua itu, Jatmika menghela napas panjang dan cepat dia mengusir semua kenangan itu.
Ketika mendengar bahwa Adipati Ukur mengadakan pesta untuk menjamu para senopati dan perwira dan mengadakan pertunjukan wayang golek dengan dalang Ki Subali dari Dermayu dan waranggana Neneng Salmah, tentu saja hati Jatmika tertarik sekali.
Ki Subali dari Dermayu, ayah kandung Sulastri!
Dan Neneng Salmah!
Dia masih ingat betapa gadis waranggana, dara Pasundan yang geulis (ayu) itu, menjadi saudara angkat Sulastri yang akrab.
Demikianlah, Jatmika berada diantara para penonton yang berdiri diluar tempat pesta.
Jantungnya berdebar juga ketika dia melihat Ki Subali dan Neneng Salmah.
Pertemuan ini menimbulkan kenang-kenangan lama.
Ketika dia memandang ke arah Neneng Salmah, dia merasa kagum dan juga heran.
Kagum melihat betapa cantik jelitanya gadis itu dan heran mengapa kecantikan gadis ini dulu terlewat begitu saja dari perhatiannya.
Ah, benar juga, kata hatinya.
Dahulu seluruh perhatiannya tertuju kepada Sulastri dan pada waktu itu baginya tidak ada dara lain di dunia ini yang cantik menarik kecuali Sulastri!
Dia juga melihat Ki Salmun diantara para penabuh gamelan.
Ki Salmun menabuh kendang dan memimpin para penabuh itu.
Pada saat Jatmika memandang ke arah Ki Salmun, ayah Neneng Salmah ini kebetulan mengangkat mukanya dan dua pasang mata bertemu pandang.
Ki Salmun mengerutkan alisnya karena merasa sudah mengenal wajah tampan pemuda itu.
Ketika Jatmika tersenyum kepadanya dan mengangguk, teringatlah Ki Salmun.
Dia pernah bertemu dan diperkenalkan kepada Jatmika, di rumah Ki Subali di Dermayu.
Pemuda tampan yang kabarnya sakti itu, sahabat Sulastri dan Lindu Aji.
Kalau wajah Ki Salmun tadinya seperti diliputi mendung, kini wajah itu menjadi cerah penuh harapan.
Hati ayah ini sejak sore tadi sebelum pertunjukkan dimulai, selalu gelisah.
Dia dipanggil oleh Tumenggung Jayasiran, senopati pertama yang dipercaya oleh Adipati Ukur, agar setelah pesta usai, dia dan puterinya, Neneng Salmah, berkunjung ke gedung tempat tinggal Tumenggung Jayasiran karena ada urusan penting sekali akan dibicarakan.
Tentu saja hati Ki Salmun menjadi gelisah sekali.
Tumenggung Jayasiran inilah yang hampir tiga tahun yang lalu telah membantu Jaka Bintara, Pangeran Banten itu, menawan Neneng Salmah sehingga puterinya nyaris menjadi korban pangeran Banten itu.
Untung Lindu Aji menyelamatkannya dan dia bersama puterinya terpaksa melarikan diri ke Dermayu.
Sekarang senopati itu memanggil dia dan puterinya menghadap, pasti mempunyai niat yang tidak baik.
Dia merasa gelisah sekali, akan tetapi ketika melihat Jatmika disitu, timbul harapannya.
Bukankah pemuda ini kabarnya saudara seperguruan Sulastri dan Lindu Aji, dan merupakan seorang pemuda yang sakti pula?
Dia akan mohon pertolongan pemuda itu.
Ketika mendapat kesempatan selagi gamelan berhenti karena dalang sedang mainkan adegan percakapan antara dua tokoh wayang dan dia tidak perlu memukul kendang, Ki Salmun cepat mencorat-coret di atas kertas, kemudian dia menggulung kertas bertulis itu dan memberi isarat kedipan mata kepada Jatmika.
Jatmika yang sejak tadi memperhatikan perbuatan Ki Salmun, dapat menangkap maksudnya, maka dia mengangguk.
Ki Salmun melemparkan gulungan kertas itu kepada Jatmika yang kini bergerak mendekat dan menerima lemparan kertas itu.
Ketika dibacanya, isinya singkat.
Anakmas Jatmika, Malam ini kami dipanggil Tumenggung jayasiran.
Tolong lindungi kami.
Jatmika memandang ke arah Ki Salmun yang juga menatap wajahnya.
Pemuda itu mengangguk dan legalah hati Ki Salmun.
Memang belum pasti bahwa Tumenggung Jayasiran berniat buruk, akan tetapi apapun yang akan terjadi, dia dan puterinya tidak perlu khawatir.
Jatmika yang sakti sudah berada disitu dan akan melindungi mereka!
TIDAK seperti biasanya, wayang golek itu tidak dimainkan semalam suntuk.
Sang adipati memang hanya ingin memberi hiburan kepada para senopati dan perwira, tidak ingin bersenang-senang dan lengah karena mereka sedang dalam keadaan siap siaga menghadapi serangan Mataram.
Kalau pesta diadakan semalam suntuk, tentu pada keesokan harinya para pemimpin pasukan itu menjadi lelah dan mengantuk sehingga lengah dan kehilangan kewaspadaan.
Maka, Ki Subali telah dipesan agar menyelesaikan pertunjukkan wayang golek itu sampai menjelang tengah malam saja.
Jatmika menonton sampai pesta itu bubar menjelang tengah malam.
Dia melihat Ki Salmun dan Neneng Salmah sudah bersiap-siap meninggalkan ruangan pesta yang mulai ditinggalkan para tamu itu.
Dia menyelinap ke luar dan mengintai dari jauh.
Tiba-tiba dilihatnya empat orang berpakaian perajurit menghampiri Ki Salmun dan puterinya dan setelah bicara sebentar dengan Ki Salmun, ayah dan anak itu lalu digiring keluar.
Di luar istana kadipaten telah menunggu sebuah kereta dan waranggana dan ayahnya itu disuruh naik kereta.
Setelah kedua orang ayah dan anak itu memasuki kereta, kendaraan itu lalu dijalankan.
Jatmika membayangi dari belakang.
Dalam suratnya tadi Ki Salmun tidak menceritakan bahaya apa yang mengancam dia dan puterinya sehingga Jatmika tidak tahu kapan dia harus menolong mereka dan dia hanya membayangi saja.
Kereta itu dikawal oleh empat orang perajurit tadi dan seorang kusir kereta.
Tentu saja amat mudah baginya untuk membebaskan mereka dari lima orang itu akan tetapi bagaimana dia dapat lancang melakukan kalau dia tidak tahu bahaya apa yang mengancam Ki Salmun dan puterinya.
Ternyata kereta itu tidak berjalan terlalu jauh.
Kereta memasuki pekarangan yang luas dari sebuah rumah gedung besar dan megah.
Ini tentu rumah gedung Tumenggung Jayasiran yang disebut dalam surat Ki Salmun tadi, pikir Jatmika dan diapun menyelinap memasuki pekarangan yang ditumbuhi banyak pohon sawo kecik itu.
Dia harus yakin dulu bahwa ayah dan anak itu terancam bahaya, baru dia akan turun tangan menolong mereka.
Bukankah dalam suratnya, Ki Salmun juga minta agar dia melindungi mereka?
Dia tidak tahu orang macam apakah Tumenggung Jayasiran itu.
Apakah sama dengan mendiang Tumenggung Jaluwisa yang dulu memberontak terhadap Adipati Pangeran Mas Gede dan kemudian tewas oleh dia dan Sulastri?
Betapapun juga, Tumenggung Jayasiran ini tentu bukan seorang lemah.
Sementara itu, sejak tadi di dalam kereta Neneng Salmah sudah menyatakan kekhawatirannya kepada ayahnya.
"Lupakah ayah bahwa di rumah inilah aku disekap dan hendak dipaksa oleh Raden Jaka Bintara? Untung ketika itu ada Kakangmas Lindu Aji yang menolongku. Kalau sekarang kita datang ke sini, apakah tidak berarti domba memasuki rumah jagal?"
"Jangan khawatir, anakku. Kurasa Tumenggung Jayasiran sekali ini tidak akan begitu bodoh untuk mengulangi perbuatannya dahulu itu. Dia tahu bahwa Gusti Adipati akan marah kalau dia berani mengganggumu. Gusti Adipati amat menghargaimu dan selain itu, ada seorang sakti yang melindungi kita. Apakah tadi engkau tidak melihat dia diantara para penonton?"
Neneng Salmah menatap wajah ayahnya. Ia melihat wajah ayahnya tenang bahkan ada senyum di bibirnya yang menunjukkan bahwa ayahnya benar-benar merasa aman.
"Siapakah dia, ayah?"
Gadis itu menduga-duga.
Apakah...
Lindu Aji yang muncul lagi sebagai pelindungnya?
Ah, ia akan merasa malu sekali dan merasa berdosa kalau harus bertemu dengan Lindu Aji.
Ia merasa bahwa ialah yang menjadi penyebab gagalnya perjodohan antara Lindu Aji dan Sulastri!
Kalau tidak ada ia yang menjadi penghalang, dua orang yang paling disayang dan dihormatinya itu tentu sudah menjadi suami isteri!
"Dia adalah anakmas Jatmika."
"Ah, dia...?"
Neneng Salmah tentu saja ingat kepada pemuda gagah itu.
Tentu saja ia ingat karena pemuda itulah yang membuat ia salah sangka, ia mengira bahwa Sulastri saling mencinta dengan pemuda itu maka ia berani menyatakan cintanya kepada Lindu Aji kepada Sulastri.
Tadinya ia sama sekali tidak menyangka bahwa Lindu Aji yang dicinta Sulastri.
Jadi bukan ia seorang yang menjadi sebab gagalnya perjodohan antara Sulastri dan Lindu Aji, akan tetapi Jatmika juga menjadi penyebabnya yang kuat.
Mereka tidak dapat melanjutkan percakapan mereka karena kereta sudah berhenti di depan pendapa gedung ketumenggungan.
Pintu kareta dibuka dari luar dan Tumenggung Jayasiran sendiri yang menyambut ayah dan anak itu.
"Ah, selamat datang dan selamat malam, Ki Salmun dan engkau juga, Neneng Salmah. Mari masuk kita bicara diruangan tamu!"
Kata Tumenggung Jayasiran kepada mereka.
Ayah dan anak itu tidak berani membantah dan mereka mengikuti sang tumenggung memasuki ruangan tamu yang berada disebelah kanan.
Jatmika melihat betapa ayah dan anak itu disambut oleh seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tujuh tahun, berpakaian mewah, bertubuh tinggi besar dan kumisnya sekepal sebelah seperti kumis Sang Gatotkaca.
Melihat Ki Salmun dan Neneng Salmah mengikuti laki-laki itu memasuki ruangan sebelah kanan, Jatmika cepat mempergunakan kepandaiannya, menyelinap dengan gesit sehingga tidak tampak oleh para penjaga dan tak lama kemudian dia sudah mengintai ke dalam ruangan tamu itu melalui celah-celah jendela yang tertutup.
Dari situ dia dapat melihat apa yang terjadi dan dapat mendengar semua percakapan.
Ki Salmun dan Neneng Salmah dudukdi atas kursi menghadap Tumenggung Jayasiran yang juga duduk di atas sebuah kursi berhadapan dengan mereka, terhalang sebuah meja besar.
"Ha-ha, senang sekali dapat berjumpa dengan kalian disini. Bagaimana kabarnya, Ki Salmun dan Neneng? Kalian baik-baik saja, bukan?"
"Terima kasih gusti tumenggung, hamba berdua dalam keadaan baik-baik saja. Akan tetapi paduka memanggil hamba malam-malam begini, apakah yang harus kami lakukan?"
"Begini, Ki Salmun. Terus terang saja, aku menjadi perantara, diutus oleh Pangeran Jaka Bintara untuk meminang Neneng Salmah..."
"Ah...!!"
Neneng Salmah menahan jeritan yang akan keluar dari mulutnya.
"Nanti dulu, Neneng. Sekali ini Pangeran Jaka Bintara bersungguh-sungguh, tidak mau menggunakan kekerasan, melainkan melamar dengan baik-baik dan engkau akan menjadi isterinya yang resmi."
"Tidak...! Hamba tidak sudi menjadi isterinya!"
Neneng Salmah berseru dan bangkit berdiri. Tumenggung Jayasiran juga bangkit berdiri dan alisnya berkerut.
"Neneng Salmah, pinangan ini dilakukan dengan baik-baik dan engkau akan menjadi isteri seorang pangeran Banten yang mulia dan terhormat. Apa engkau lebih suka kalau dipaksa dengan kekerasan?"
Kini Ki Salmun juga bangkit berdiri.
"Gusti tumenggung! Kalau anak hamba dipaksa, hamba akan melaporkan hal ini kepada Gusti Adipati yang pasti akan melindungi Neneng Salmah!"
"Ha-ha-ha-ha!"
Sang tumenggung tertawa bergelak.
"Lapor kepada Gusti Adipati? Hemm, justru beliau yang telah menyetujui pinangan itu. Kalian tahu, Sumedang menentang Mataram dan memerlukan hubungan persahabatan dengan Banten dan para penguasa daerah lain. Karena itu, engkau harus membantu Sumedang, Neneng! Kalau engkau menerima pinangan itu dengan baik-baik, berarti engkau mempererat hubungan antara Sumedang dan Banten, dan engkau sudah berjasa sebagai seorang kawula Sumedang!"
"Tidak, aku tetap tidak sudi diperisteri pangeran yang jahat itu!"
Neneng Salmah kukuh menolak.
"Mau atau tidak, malam ini juga engkau harus berangkat ke Banten!"
Kata Tumenggung Jayasiran dan dia bertepuk tangan tiga kali.
Dari pintu sebelah dalam muncul tiga orang.
Dua orang adalah perajurit dan seorang lagi adalah seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun, tinggi besar berkulit hitam dengan muka brewokan.
Sepasang mata, hidung dan mulutnya serba besar dan gigi besar tongos mencuat keluar dari celah bibirnya.
Pakaiannya mewah dan sikapnya sombong.
Dia adalah seorang jagoan Sumedang yang terkenal dengan julukan Maung Sumedang (Harimau Sumedang) bernama Badrun dan merupakan orang kepercayaan Tumenggung Jayasiran yang tangguh dan setia.
Baru setahun jagoan ini ditarik menjadi pembantu sang tumenggung.
"Kalian tangkap Neneng Salmah dan masukkan dalam kereta!"
Sang tumenggung memerintah kepada dua orang perajurit itu.
Dua orang perajurit yang bertubuh tegap itu menyeringai senang menerima tugas itu.
Sudah lama mereka hanya dapat mengagumi Neneng Salmah dan sekarang mereka mendapat kesempatan untuk menangkapnya, berarti mereka akan dapat memegang lengan yang putih mulus dan dapat mendekap tubuh yang denok itu!
Sambil menyeringai keduanya lalu melangkah lebar menghampiri Neneng Salmah yang sudah mundur menjauh dari meja dan berada di tengah ruangan sehingga akan mudah bergerak.
Ketika dua orang perajurit sudah tiba dekat Neneng Salmah, mereka seperti berlumba menerkam untuk menangkap gadis yang bertubuh bahenol itu.
"Wuutt... bress...!!"
Dua orang itu bertubrukan sendiri karena dengan gerakan yang indah dan lembut namun cepat sekali, Neneng Salmah telah dapat mengelak dari terkaman mereka!.
Kiranya tidak percuma Neneng Salmah pernah mempelajari ilmu silat Sunya Hasta dari Sulastri ketika ia tinggal di Dermayu, di rumah Ki Subali.
Dua orang perajurit itu menjadi penasaran sekali.
Mereka cepat membalik dan kembali mereka menyergap, sekali ini bukan untuk mendekap, melainkan untuk menangkap kedua lengan Neneng Salmah.
Akan tetapi Neneng Salmah sudah siap siaga.
Ketika tangan dua orang itu seperti berebutan hendak menangkapnya, ia mengelak ke samping dan menampar.
"Plak! Aduhh...!"
Seorang perajurit terpelanting ketika lehernya terkena tamparan tangan miring itu.
Yang seorang lagi mencengkeram ke arah lengan Neneng Salmah.
Gadis itu tidak sempat mengelak dan pergelangan tangan kirinya dapat ditangkap.
Akan tetapi secepat kilat tang"n kanannya bergerak, mengetuk siku lengan tangan yang memegang itu, lalu setelah perajurit itu terpaksa melepaskan pegangan karena lengannya mendadak seperti lumpuh, tangan kiri Neneng Salmah mendorong ke arah dadanya.
"Bukk! Augghh...!"
Perajurit ke duajuga terjengkang roboh! "Ehh, kiranya engkau pandai juga berkelahi?"
Tumenggung Jayasiran berseru heran dan sekali dia menggerakkan tubuh, dia sudah melompat ke depan Neneng Salmah.
Dia menjulurkan tangan untuk menangkap pundak gadis itu.
Neneng Salmah menangkis dengan putaran lengan kirinya.
Akan tetapi tentu saja Neneng Salmah yang baru mempelajari sedikit ilmu silat dari Sulastri, bukan lawan tumenggung yang digdaya itu!
Tangkisan lengan gadis itu malah diterima dengan cengkeraman dan pergelangan lengan kiri Neneng Salmah sudah ditangkap oleh sang tumenggung.
Gadis itu tidak mau menyerah begitu saja.
Dengan nekat ia menggunakan tangan kanannya untuk memukul ke arah kepala sang tumenggung.
Akan tetapi kembali tangan kanan itu disambut cengkeraman tangan kiri Tumenggung Jayasiran dan kini lengan kanan Neneng Salmah juga sudah tertangkap.
Sang tumenggung tertawa dan pada saat itu, Ki Salmun berseru dari belakangnya.
"Lepaskan anakku! Lepaskan...!"
Dengan nekat Ki Salmun mengguncang pundak Tumenggung Jayasiran agar melepaskan kedua lengan puterinya.
Senopati Sumedang itu menjadi marah sekali.
Dia mendorong dan melepaskan kedua lengan Neneng sehingga gadis itu terdorong dan terhuyung kebelakang, menabrak kursi dan terjatuh.
Badrun si Maung Sumedang segera menubruknya dan menggunakan sehelai kain untuk menelikung kedua tangan Neneng ke belakang lalu mengikatnya kuat-kuat sehingga Neneng tidak mampu menggerakkan kedua tangannya lagi.
Sementara itu, dengan marah Tumenggung Jayasiran membentak Ki Salmun.
"Keparat! Berani engkau memberontak?"
Dengan cepat dia sudah berada di depan Ki Salmun dan sekali tangannya bergerak, dia sudah memukul kearah dada ayah Neneng itu. (Lanjut ke
Jilid 11) Bagus Sajiwo (Seri ke 04 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 11
"Bukk...!"
Keras sekali pukulan itu.
Ki Salmun mengaduh dan tubuhnya terpental kebelakang menabrak dinding.
Tumenggung Jayasiran masih belum reda kemarahannya.
Dia melompat lagi mendekati dan kakinya menendang, kini mengarah kepala.
"Dess...!!"
Tubuh Ki Salmun terlempar bergulingan dan dia rebah menelungkup, tidak mengeluarkan suara atau bergerak lagi.
Neneng Salmah menjerit, meronta lepas dari pegangan Badrun dan gadis itu lari menghampiri Ki Salmun, lalu menjatuhkan diri berlutut dengan kedua tangan masih terikat di belakang tubuhnya.
"Bapa...! Bapa...!"
Ia menjerit-jerit dan menangis, akan tetapi Ki Salmun tidak dapat menjawab, bahkan tidak mendengar lagi karena dia telah tewas oleh tendangan yang mengenai kepalanya tadi.
Melihat darah mengalir dari hidung, mulut dan telinga ayahnya, Neneng Salmah dapat menduga bahwa ayahnya telah tewas.
Ia menjerit-jerit dan menangis.
"Engkau telah membunuhnya...! Telah membunuhnya...!"
Ia meraung-raung.
"Bawa ia cepat ke kereta dan berangkatlah!"
Kata Tumenggung Jayasiran kepada Badrun.
Si Maung Sumedang ini menangkap kedua pangkal lengan Neneng lalu setengah menyeret gadis itu keluar ruangan itu, menuju ke kereta yang masih menanti di pekarangan gedung.
Jatmika marah sekali akan tetapi dia cukup cerdik untuk tidak menuruti nafsu amarahnya.
Dia tidak keburu menolong Ki Salmun karena dia sama sekali tidak mengira bahwa Tumenggung Jayasiran akan membunuh orang tua itu.
Dia dapat melihat bahwa Ki Salmun sudah tak dapat ditolong lagi, sudah tewas.
Kalau dia turun tangan di gedung itu, dia bukan saja tidak dapat menyelamatkan Neneng, sebaliknya dia malah terancam bahaya sendiri.
Tumenggung Jayasiran itu seorang yang digdaya, hal ini diketahui dari gerakannya ketika menyerang Ki Salmun dan di tempat itu terdapat banyak perajurit pengawal, anak buah senopati itu.
Yang terpenting sekarang menyelamatkan Neneng Salmah.
Setelah berpikir demikian, diapun menyelinap keluar dari pekarangan gedung itu melalui samping dan dia melompati pagar tembok yang mengelilingi pekarangan gedung.
Dilihatnya Neneng Salmah diseret orang tinggi besar berkulit hitam itu memasuki kereta yang lalu dijalankan dengan cepat oleh sang kusir yang sejak tadi sudah siap.
Neneng Salmah tidak berdaya.
Ia meronta-ronta, akan tetapi tidak dapat melepaskan ikatan kedua lengannya yang terbelenggu di belakang tubuhnya.
Bahkan rontaannya hanya membuat Ki Badrun mendapat alasan dan kesempatan untuk merangkulnya dengan kedua lengannya yang besar.
"Lepaskan aku atau kelak akan kulaporkan kekurangajaranmu!"
Kata Neneng Salmah dengan cerdik.
Benar saja, ancamannya membuat Badrun ketakutan dan dia melepaskan rangkulannya.
Neneng Salmah tidak meronta lagi, hanya duduk dan menangis perlahan.
Ia diam-diam mencari akal bagaimana melepaskan diri.
Akan tetapi dengan kedua tangan terbelenggu seperti itu, apa yang dapat ia lakukan?
Apa lagi, ingatan tentang ayahnya yang menggeletak tewas dalam ruangan itu, membuatnya bersedih sekali dan seluruh tubuhnya menjadi lemas.
Tidak ada jalan lain baginya.
Ia akan diserahkan kepada Pangeran Jaka Bintara yang dibencinya itu dan kalau ia mendapatkan kesempatan lepas dari ikatannya, ia akan mengamuk atau kalau tidak berhasil lolos, ia akan bunuh diri.
Lebih baik mati daripada menyerah dan dinodai seorang manusia iblis seperti pangeran itu!
Kereta telah keluar dari kota Sumedang dan tiba di tepi sebuah hutan.
Jalan itu memasuki hutan dan malam telah larut.
Cuaca gelap sekali karena tidak ada bulan dan bintang-bintang terhalang mendung.
"Kita berhenti disini dulu!"
Kata Badrun kepada kusir.
"Malam terlalu gelap untuk melakukan perjalanan dalam hutan. Kita tunggu sampai besok pagi baru melanjutkan perjalanan."
Kereta berhenti dan kusir turun, melepaskan dua ekor kuda penarik kereta untuk memberi kesempatan kepada dua ekor kuda itu agar dapat beristirahat pula.
Kusir itu duduk melenggut melepas lelah dan kantuk di bawah sebatang pohon.
Badrun tidak berani tidur.
Tadi dia melihat betapa dengan mudahnya Neneng Salmah merobohkan dua orang perajurit.
Hal ini menunjukkan bahwa gadis waranggana itu bukan gadis yang lemah.
Dia tidak ingin gadis itu dapat meloloskan diri karena dia akan celaka, kalau gadis itu sampai lolos.
Dulu dia pernah tergila-gila kepada Neneng Salmah, akan tetapi sekarang dia menjadi pembantu Tumenggung Jayasiran.
Dia sama sekali tidak berani mengganggu Neneng Salmah.
Dia mendapat tugas untuk membawa gadis itu ke Banten dan menyerahkan kepada Raden Jaka Bintara pangeran Kerajaan Banten itu.
Kalau tugas ini dapat dia laksanakan dengan baik, tentu dia akan mendapatkan hadiah besar dari Raden Jaka Bintara dan dari Tumenggung Jayasiran.
Akan tetapi sebaliknya kalau sampai dia gagal, dia tentu akan mendapatkan hukuman berat dari sang tumenggung.
Beberapa kali dia memeriksa kedalam kereta dan hatinya lega melihat Neneng Salmah tertidur pulas di tempat duduk mereka.
Agaknya gadis itu kelelahan juga.
Melihat Neneng Salmah tidur pulas, Badrun menjadi lega dan dia duduk kembali ke bawah pohon.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Malam telah larut, bahkan sudah mendekati fajar.
Kantuknya tak tertahankan lagi dan diapun melenggut.
Tak jauh darinya terdengar dengkur kusir kereta.
Neneng Salmah membuka kedua matanya.
Tipuannya dengan berlagak tidur pulas tadi berhasil.
Dengan hati-hati ia membuka pintu kereta dan mengintai keluar.
Dalam keremangan malam yang sudah mendekati pagi itu ia dapat melihat dua sosok tubuh yang berada di bawah pohon.
Kusir itu rebah meringkuk, tidur pulas mendengkur.
Ia melihat pula Badrun bersandar pada batang pohon, tak bergerak agaknya tertidur pula.
Dengan perlahan dan hati-hati Neneng Salmah turun dari kereta, lalu berjingkat-jingkat meninggalkan kereta, memasuki hutan.
Cuaca masih gelap, akan tetapi remang-remang ada cahaya karena fajar mulai menyingsing, ada sinar matahari yang sudah menjenguk di balik bukit dan memberi sedikit penerangan.
Setelah agak jauh dari kereta, Neneng Salmah mulai berlari!
Akan tetapi karena cuaca masih gelap, dan karena kedua tangannya ditelikung ke belakang tubuhnya, sehingga larinya tidak tetap, kakinya tersandung akar pohon yang menonjol dan diapun jatuh terguling!
Ia cepat merangkak bangkit kembali dan lari lagi.
Akan tetapi kejatuhannya tadi otomatis diikuti suara seruannya dan ini yang menyadarkan Badrun yang hanya tidur ayam, tidak pulas benar.
Dia membuka mata, menoleh kearah suara jeritan tadi akan tetapi tidak melihat sesuatu.
Dia teringat akan tawanannya, maka cepat dia bangkit dan menghampiri kereta.
Ketika menjenguk ke dalam dan tidak melihat Neneng Salmah di dalam kereta, tahulah dia bahwa tawanannya melarikan diri.
Cepat dia lalu berlari mengejar kearah suara jeritan tadi.
Fajar menyingsing, matahari naik semakin tinggi sehingga muncul dari balik bukit.
Cahayanya memberi penerangan mengusir kegelapan sisa malam.
Neneng Salmah masih berlari tersaruk-saruk.
Tiba-tiba ia mendengar teriakan di belakangnya.
Ia menoleh dan tampaklah Badrun mengejarnya.
Neneng Salmah menjadi panik dan mempercepat larinya.
Akan tetapi karena kedua tangannya terikat di belakang tubuhnya, tentu saja larinya tidak dapat cepat, apalagi kainnya menghalangi langkah kakinya.
Ia sudah tiba di tempat terbuka, keluar dari hutan dan mengerahkan seluruh tenaga untuk berlari cepat.
Akan tetapi justeru ini mencelakakannya karena kembali kakinya tersandung batu dan iapun terguling jatuh!
"Neneng Salmah, engkau hendak lari kemana?"
Teriak Badrun dan dia melompat lalu berlari cepat melakukan pengejaran.
Mendengar teriakan ini, Neneng Salmah menjadi semakin panik, ia merangkak bangun.
Lututnya berdarah dan ia lalu berlari lagi.
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 8
Baca Juga: Suling Emas 24