Ceritasilat Novel Online

Bukit Pemakan Manusia 5

Eps 5 Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung

Baca online Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung

Cersil Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung.

seseorang berkata dari belakang tubuhnya.

"Anak baik, tampaknya aku memang tidak salah menilai dirimu !"

Mendengar suara itu Sun Tiong lo segera mengetahui siapa orangnya, sambil membalikkan badannya, dengan wajah memerah dan menundukkan kepalanya rendah rendah dia berkata.

"Wangwee, harap kau jangan marah, aku... aku..."

Waktu itu Kwik Wangwee berdiri disudut ruangan, dia segera maju dan menarik tangan Sun Tiong lo sambil berseru.

"Marah? Haaahhh ... haaahhh ... benar, jika tadi kau hanya memikirkan soal kitab pusaka tanpa mempersoalkan sopan santun, aku pasti akan menjadi marah"

Sambil berkata dia lantas menarik Sun Tiong Jo agar duduk dikursi beralas kulit binatang itu, kemudian melanjutkan.

"Tiong lo, terus terang kuberitahukan kepadamu, aku memang sengaja merubah gudang bawah tanah ini menjadi kamar baca yang khusus kutinggalkan bagimu, Ku Gwat cong menganggap dirinya pintar, padahal kali ini dia sudah tertipu !"

Sun Tiong lo bangun berdiri ingin berbicara, tapi Kwik wangwee segera menggelengkan kepalanya berulang kali. Ditunjuknya sebuah meja besar dekat dinding sana, lalu katanya lagi sambil tertawa.

"Mulai sekarang, semua yang ada disini menjadi milikmu, kitab pusaka tersebut berada di meja, soal makan dan minum tak usah kau pusingkan, aku akan menghantarkannya bagimu seperti semalam, bila kau menjumpai persoalan yang tidak dipahami dalam kitab pusaka itu, tariklah tali kuning yang kupasang di sisi dinding dekat meja baca itu, aku akan segera datang !"

Sun Tionglo tidak tahu bagaimana harus menjawab, dia menjadi gelagapan dan berdiri termangu. Kwik Wangwee menuding lagi ke arah sebuah cermin besar disebelah barat sana, kemudian berkata lagi.

"Dibelakang cermin sana adalah tempatmu untuk membuang hajad, nah ! Kau boleh berla tih sekarang."

Sehabis berkata, ia lantas berjalan menuju ke dinding sebelah selatan, menggerakkan tangannya dan lenyap dibalik sebuah pintu yang membuka dan menutup lagi secara otomatis.

"Kwik wangwee.,.."

Dengan gelisah Sun-Tiong lo berteriak keras.

Sambil berseru dia mengejar kedepan, tapi tiba didekat pintu, pintu rahasia itu menutup.

Maka dia menirukan cara dari Kwik Wangwee tadi dan menuju kearah dinding.

"Blaaamm!"

Kepalanya segera membentur di atas dinding, sebaliknya pintu itu sama sekali tidak membuka kembali.

Dia mencoba mencari tombol rahasianya, tapi tidak ditemukan, akhirnya sambil menggelengkan kepalanya dia duduk kembali dikursi dengan perasaan apa boleh buat.

Benaknya penuh dengan aneka persoalan yang membingungkan hatinya, dia ingin menarik tali kuning itu untuk mencari keterangan, tapi setelah berpikir sejenak, niat tersebut kemudian diurungkan.

Kini dia tak ada pekerjaan lain lagi, maka diapun membuka-buka kitab pusaka itu untuk mempelajari...

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Musim panas diwilayah utara, boleh dibilang amat menyengat badan.

Terutama musim panas dibulan lima, boleh dibilang anjingpun ikut kegerahan dan napas-tersengal-sengal.

Dimusim-musim seperti ini, orang sedikit sekali yang lalu lalang dijalan raya, tapi disepanjang sungai, ditempat-tempat yang rindang justru penuh dengan kerumunan orang.

Tapi, hal ini tidak berlaku bagi Sun Tionglo sebab dia berlatih terus dengan tekun, selain mempelajari ilmu pedang dan tenaga dalam, juga mempelajari semacam ilmu meringankan tubuh yang amat luar biasa.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Bulan enam tanggal empat, ditanah lapang dalam hutan dibelakang kwan ya bio empat orang perempuan dan dua orang lelaki seperti lagi menantikan sesuatu.

Tak lama kemudian, dari luar hutan muncul kembali seseorang yang berjalan masuk ke dalam hutan.

Orang itu mengenakan baju biru dan melangkah dengan tindakan lebar, ia berhenti beberapa kaki dihadapan beberapa orang itu.

Dari ke enam orang tersebut, dua orang lelaki itu adalah Ang Beng-liang serta Tan Tiang hoa, sedangkan dari empat orang perempuan, dua orang adalah dayang berbaju merah, perempuan yang mengaku bernama Yan hujin di tambah pula dengan seorang nenek berbaju putih.

Setelah berhenti, orang berbaju biru itu segera menegur sambil tersenyum ramah.

"Kwik Seng-tiong telah datang memenuhi janji, tolong tanya Yan Sian-poo ada petunjuk apa?"

Yang dimaksudkan Yan Sian-pou adalah nenek berbaju putih itu, dengan dingin dia menjawab.

"Kwik wangwee, benarkah kau tidak tahu akan maksud kedatangan aku si nenek?"

"Mengapa tidak kau utarakan saja secara langsung dan blak blakan?"

Sahut Kwik Seng tiong tertawa. Yan Sian poo segera menuding ke arah Yan hujin, lalu katanya.

"Tahun berselang, Kwik wangwee telah bersua dengan putriku bukan?"

"Yaa, betul !"

Kwik wangwee manggut-manggut.

"Hmmm, siauli tidak mengenali siapakah Kwik wangwee karena pengetahuannya memang picik, tapi kenyataannya Kwik wangwee telah melanggar sumpahmu yang dahulu kauucapkan, maka aku. .?"

Belum habis dia berkata, Kwik Seng tiong telah menukas.

"Yan Siau poo, peristiwa manakah yang kau maksudkan? Maaf bila aku orang she Kwik tak bisa menerimanya."

"Kwik wangwee, apakah kau memaksa diriku untuk mengulangi kembali sumpah yang telah kita janjikan dulu?"

"Aku orang she Kwik tak dapat mewakilimu untuk mengambil keputusan!"

Ucap Kwik Seng tiong tenawa. Tiba-tiba rambut Yan sian poo yang beruban itu berdiri semua, kemudian serunya.

"Kau hendak menggertak aku?"

Kembali Kwik Seng tiong tertawa.

"Dikolong langit tak ada orang yang bisa me maksa kau untuk melakukan apa-apa, hal ini sama pula dengan tiada orang diduma ini yang bisa memaksa aku Kwik seng tiong untuk melakukan sesuatu?"

Jawaban ini mengandung dua arti yang berbeda, jawabannya selain tegas juga tidak merendahkan derajat sendiri.

Yan San poo semakin naik darah, rambut nya yang beruban pada berdiri semua bagaikan landak.

Dengan kening berkerut ia berseru.

"Aku tahu, kau dan Sun Pek gi adalah sahabat karib, teman sejawat, oleh karena itu setelah terjadi peristiwa tempo dulu, kau datang mencariku untuk membicarakan hal ini"

"Yan Sian poo, sampai kini aku orang she Kwik toh memegang janji ..."

Tukas Kwik Seng-tiong.

"Kau telah melindungi anak jandanya keluarga Sun, begitu masih mengatakan memegang janji ?"

Kata Yan Sian poo dengan suara dalam. Kwik Seng tiong segera tertawa.

"Pertama, sewaktu kuterima bocah tersebut sama sekali tidak kuketahui kau dia adalah keturunan dari saudara Pek gi, kedua hal inipun tidak termasuk dalam janji kita dulu."

"Hmm kau mengatakan hal ini tidak termasuk dalam kita dulu?"

Dengus Yan Sian-po amat gusar.

"lm tay poo, terlepas dari tindakan saudara Pek-gi yang telah meninggalkan puterimu hanya karena persoalan pribadi atau juga dia mempunyai kesulitan lain, sekarang saudara Pek gi suami istri telah tewas secara mengenaskan ditangan putrimu . .."

"Ah"

Kwik wangwee menganggap perbuatan kami itu kelewat keji?"

Tukas sinenek. Kwik Seng tiong segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Soal kejam atau tidak bukan urusanku, apa lagi dalam janji kita dulu dikarakan berhubung kesalahan berada di pihak Pek gi, maka aku orang she Kwik tak akan mencampuri urusan nya lagi, maka..."

"Kwik wangwae"

Kembali Yan siau poo menukas.

"duabelas tahun berselang, aku beserta putriku berkunjung ke keluarga "Sun"

Dengan menggunakan peraturan dunia persilatan jadi tegasnya Sun Pek gi suami istri mati dikarena kan kepandaian saatnya tak mampu menandingi kepandaian kami ini, memang bukan kami berniat membunuhnya!"

"Yaa, mumpung tak ada saksi mata yang melihatnya !"

Sindir Kwik Seng tiong dingin. Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"justru karena tiada orang yang bisa membuktikan suatu intrik keji. maka itu aku orang she Kwik terpaksa mengambil keputusan buat tidak mencampurinya!"

Yan Sian poo segera tertawa dingin.

"Hee ..heee ... pada waktu itu aku sama sekali tidak menyangka kalau Cui Thong mempunyai keberanian sebesar ini dengan melarikan bocah keparat itu, akupun lebin lebih tak menduga kalau Ku Gwat cong si tua bangka itu akan turut mencampurinya pula."

"Yaa, kejadian ini memang di luar dugaan."

Sambung Kwik seng tiong sambil menghembuskan napas panjang-panjang.

"He... heee... yang lebih diluar dugaan ku adalah kau Kwik wangwee, bukan saja kau telah memelihara menghidupkan si anak jadah dari keluarga Sun itu, mewariskan pula kepandaian silat yang hebat kepadanya !"

Dengan wajah serius Kwik Seng tiong segera berkata.

"Ketika dia mencampuri urusan di ibukota dulu, aku sama sekali tidak mewariskan kepandaian apa-apa kepadanya, percaya atau tidak terserah kepadamu sendiri."

"0oooh....kalau begitu, sekarang kau telah mewariskan kepandaian silat kepadanya ?"

"Benar"

Kwik Seng tiong manggut-manggut "tapi hal itupun boleh dibilang merupakan jodohnya !"

"Jodohnya!"

Yan Sian poo kelihatan terkesiap setelah mendengar ucapan itu "apa maksud ucapanmu itu ?"

"Secara tidak sengaja dia telah menemukan se

Jilid kitab peninggalannya dari Tiong ke..nenek moyaag keluarga kami dari tiga generasi berselang, karena itu sekarang dia telah memiliki kepandaian silat yang hebat."

Mendengar perkataan itu, paras muka Im Tay poo dan Yan Tan hong (menurut Bau ji ibu dan neneknya telah mati dibunuh orang ) berubah hebat.

"Sungguh?"

Serunya hampir berbareng.

"Selamanya aku orang she Kwik tak pernah berbohong!"

Jawab Kwik Seng tiong tak senang. Yan Sian poo berpikir sebentar lalu berkata.

"Padahal hal ini pun tidak terhitung suatu peristiwa yang luar biasa, aku sudah memperoleh kitab pusaka itu puluhan tahun berselang, aku tidak percaya kalau kesempurnaan tenaga dalamku bisa kalah darinya!"

Kwik Seng tiong hanya tertawa saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.... Keadaan ini semakin mencurigakan Im Tay poo dengan nada menyelidiki ia lalu bertanya.

"Kwik wangwee.. bolehkah aku bertanya, apakah yang kau tertawakan?"

"Boleh saja, leleluhurku Tiong keng mempunyai seorang sahabat karib, dia adalah leluhur dari Ku Kwat cong, sewaktu mengasingkan diri bersama. ."

"Apakah kitab pusaka itu terbagi menjadi yang lengkap dan yang tidak lengkap?"

Tiba tiba Yan sian poa menukas.

"Lengkap atau tidak aku orang she Kwik tidak tahu,"

Jawab Kwik Seng liong sambil tertawa.

"tetapi aku tahu cara kerja Tiong keng amat istimewa dan lain dari pada yang lain, oleh sebab itu aku orang she Kwik percaya apa yang di peroleh Im dan hok dua orang sudah pasti tak sama."

Tergerak juga hati Yan sian poo setelah mendengar perkataan itu, tiba tiba dia mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, tanya.

"Sekarang bocah itu berada di mana?"

Kwik Seng tiong segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Dulu kita pernah berjanji, aku orang she Kwik tak akan membantu saudara Pek gi suami isrri, juga tidak akan membantu Yan sian poo kalian, oleh karena itu aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu!"

Tiba tiba Yan Tan hong menyela.

"Tolong tanya.,., sekitar masalah keluarga Yan dan keluarga Sun, apakah Wan gwee yang hendak mencampurinya atau tidak?"

Mencorong sinar tajam dari balik matanya Kwik Seng tiong, ujarnya tegas-tegas.

"Hal ini hanya bisa ditentukan oleh cara kerja kalian termasuk kejam atau tidak, dan menurut pendapatku, dimana bisa mengampuni jiwa orang lebih baik ampunilah, soal dendam kesumat inipun sudah seharusnya segera mengakhiri sampai disini!"

"Kwik Wangwee, suatu hari bila Sun Tiong-lo tahu kalau orang tuanya tewas di tanganku, beranikah kau menjamin bahwa dia tidak akan mencari kami berdua untuk membuat perhitungan?"

Kwik Seng tiong segera tertawa ter-bahak.

"Haaahh,., haaahh... seperti apa yang kuucapkan kepada ibumu tempo hari, aku dapat menjamin kalau dia tak akan mencari balas kepadamu, tapi tak dapat menjamin kalau dia tak akan mencari untuk beradu kepandaian."

Im Tay poo segera mendengus.

"Hmm...! Ucapan-wangwee ini sama halnya dengan memberitahukan kepada kami berdua bahwa suatu ketika, Sun Tiong lo pun akan mempergunakan cara yang sama seperti apa yang kulakukan terhadap keluarga Sun untuk menghadapi kami berdua?"

Kwik Seng ting segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kejadian yang akan datang sukar dibicara kan, maaf kalau aku tak bisa menduganya mulai sekarang"

"Kini aku ingin bertanya lagi kepada Wangwee, sejak kini wangwee tak akan mencampuri urusan kami keluarga Yan ataukah tetap akan membantu anak jadah dari keluarga Sun itu?"

"Aku tetap akan mempertahankan persahabatan tiga generasi antara kami dengan kalian."

Mendengar janji tersebut, Yan Sian poo dan anaknya menjadi lega, tapi merekapun semakin bernafsu untuk mengetahui keadaan dari Sun Tiong lo ....Sementara itu Kwik Seng tiong telan memandang sekejap Yan Sian poo berdua, kemudian tanyanya lagi.

"Yan Sian-poo, apakah kau masih ada urusan yang lain lagi ?"

"Aaah, tidak ada lagi, aku tak berani mengganggu Kwik wangwee lagi."

Sahut si nenek sambil memperlihatkan senyumannya yang dipaksakan. Kwik Seng tiong segera tersenyum, seakan-akan tak pernah terjadi apa apa dia berkata.

"Kalau begitu aku orang she Kwik akan pulang dulu, harap mulai sekarang kau jangan mengusik ketenanganku lagi !"

Yan Sian poo merasa amat mendendam, namun rasa dendam tersebut hanya bisa disimpan dalam hatinya saja.

Dengan langkah lebar Kwik Seng Tiong segera beranjak pergi, namun baru tiga langkah dia telah berhenti lagi, kemudian sambil membalikkan badan ujarnya kepada dua orang lelaki berbaju emas itu.

"Persoalan antara keluarga Yan dan keluarga Sun tiada sangkut pautnya dengan kalian, walaupun kalian berdua hanya bekerja menurut perintah, namun cara nya bertindak harap sedikit tahu diri, kalau tidak, jangan salahkan bila ada pembalasan buat kalian !"

Ang Beng liang maupun Tan Tiang hoa sama sekali tidak mengetahui tentang kelihayan "Tiong-keng", akan tetapi, tatkala dilihatnya kedua orang majikannya menunjukkan perasaan jeri, maka merekapun tak berani banyak berbicara lagi.

Terdengar Kwik Seng tiong berkata lagi sambil menatap tajam wajah kedua orang itu.

"Selain itu, bila kalian berani membocorkan kejadian pada hari ini ke tempat luaran sehingga kudengar akan hal ini, jangan salahkan kalau aku bertindak keji dengan menjatuhi hukuman berat kepada kalian berdua !"

Berbicara sampai disitu, dia membalikan badan dan berlalu dengan langkah lebar.

Tan Tiang hoa berkerut kening, dia hanya mengawasi bayangan punggung Kwik Seng tiong yang berlalu tinpa mengucapkan sepatah kata pun.

Dan sebaliknya Ang Beng liang segera men dengus dingin, bisiknya.

"Suatu hari, lohu pasti akan mengusikmu !."

Baru selesai dia bergumam, mendadak Yan Sian poo telah menampar wajahnya keras-keras sambil membentak.

"Kau memang ingin mampus ? Berani mengucapkan kata-kata seperti itu lagi, segera ku hukum kau menurut peraturan perkumpulan !"

Sebagai seorang wakil ketua, ternyata Ang Seng liang kena ditampar dengan begitu saja.

Rasa dendam yang tertanam dalam hatinya tak terlukiskan dengan kata kata, namun ia tak berani memperlihatkan secara terus terang.

Sekalipun kena ditampar keras, akan tetapi sikapnya masih amat menaruh hormat, keadaannya benar benar cukup mengenaskan.

Sementara itu Yan Sian poo telah berkata.

"Aku duga Sun Tiong lo pasti berada disekitar tempat ini, tapi dengan kehadiran Kwik Seng tiong disini, lebih baik kita tinggalkan kota Tong ciu untuk sementara waktu, segera turunkan perintah agar menjaga ketat semua jalan penting disekeliling Tong ciu!"

Dengan hormat Tan Tiang hoa mengiakan, kemudian setelah memberi hormat kepada Yan Sian poo berdua, ia berlalu dari situ.

Pada saat itulah Yan Tan hong baru berpaling kearah Ang Seng liang seraya berseru.

"Menurut laporan rahasia dari pasukan baju hitam, mereka telah menemukan jejaknya Ku Gwat oong disuatu tempat sepuluh li dari kota Tong ciu, kau harus mengikutinya dengan ketat, besok malam paling lambat, laporan yang setepatnya harus sudah diserahkan kepadaku!"

Ang Beng liang pun mengiakan dengan hormat, kemudian berlalu dari tempat itu.

Yan Sian po sendiri berdiri dengan kening berkerut, dia mendongakkan kepalanya memandang angkasa, seakan-akan ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.

Yan Tan hong memutar sepasang biji mata-nya, kemudian berbisik lirih.

"Toa nio, aku telah menemukan suatu akal bagus !"

Yan Sian poo melirik sekejap ke arahnya, kemudian berkata.

"Ooh ... apakah mengenai persoalan itu?"

Dengan merendahkan suaranya Yan Tan hong berbisik.

"Toa-nio, menurut pendapatmu, seandainya suatu ketika kita benar-benar berhasil menangkap si anak jadah dari keluarga Sun, mungkinkah Kwik Seng tioig tak akan mencampuri urusan ini seperti apa yang dia katakan sendiri tadi ?"

Yan Sian poa mendengus dingin, sahutnya.

"Ketika Sun Pak gi menikah dulu, dialah mak comblangnya, masa dia tak akan mencampurinya?"

Yan Tan hong manggut-manggut, katanya.

"Seandainya benar-benar demikian, kita harus mencari suatu akal agar dia tak berdaya untuk mencampuri persoalan ini."

"Aaai, aku rasa hai ini sulit untuk dibicarakan !"

Kata Yan Sian poo sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

Tiba-tiba dari balik matanya Yan Tan hong memancar keluar sorot mata yang aneh sekali, hanya saja mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Yan Sian poo seperti merasa agak tercengang dan diluar dugaan, dipandangnya perempuan itu sekejap, lalu katanya.

"Tadi kau mengatakan telah menemukan suatu akal bagus?"

Yan Tan hong segera tersenyum, katanya sambil menggeleng .

"Setelah kupikirkan kembali siaumoay rasa cara ini terlalu kekanakkanakan, maka.."

Yan Sian poo segera menghela napas panjang, tukasnya kemudian .

"Kalau begitu mari kita rundingkan kembali, nah, sekarang kita harus pergi."

Maka kedua orang itupun mengajak dua orang dayangnya berlalu dari sana.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BULAN enam tanggal lima, tengah hari itu didepan tengah lapang kuil Kwan ya bio telah berjejer meja yang berderet-deret, disana para pedagang kecil beradu nasib.

Dimana ada keramaian disitulah pengemis bermunculan demikian pula keadaan di sana.

Kini, apa delapan sembilan belas orang pengemis sedang duduk-duduk dibawah undak-undakan batu sebelah kanan, mereka duduk berkerumun sambil bermain catur Ngo iong ki, setiap orang tampak bersemangat segar.

Oleh karena itu tak ada orang yang sedang untuk memperhatikan mereka.

Tak lama kemudian, pengemis-pengemis itu mulai menyebarkan diri kesana kemari mencari sedekah, tapi semuanya bergerak beraturan.

Mendekati malam, dari kota Tong ciu sebelah timur muncul empat orang pengemis yang berjalan cepat dengan kepala tertunduk, mereka membawa tongkat bambu ditangan kiri dan sebuah bambu pendek dipinggangnya.

Sedangkan ditangan kanan mereka masing-masing membawa sebuah mangkuk besar.

Pada saat yang bersamaan, dari arah barat pun muncul lagi empat orang pengemis dengan dandanan yang sama dengan dandanan pengemis disebelah timur, mereka bersama-sama memasuk ke kota Tiong ciu.

Rumah makan Kuay heng lo merupakan rumah makan termashur dikota Tong ciu, disebelah kanan ruang loteng dekat jendela tampak ada tujuh orang sedang berbincang-bincang sambil minum arak.

Tiba-tiba dari anak tangga muncul seorang-lelaki berbaju hitam, ia tidak membawa senjata, setibanya diatas loteng diapun menggabungkan diri dengan orang tersebut.

Ia menghampiri sisi sikakek berbaju emas yang duduk dikursi utama, lalu bisiknya dengan lirih.

"Telah terjadi suatu peristiwa aneh !"

"Bagaimana anehnya sehingga membuat kau tergesa-gesa?"

Tegur orang berbaju emas itu dengan kening berkerut.

"Barusan aku mendapat laporan yang mengabarkan ada enam belas orang pengemis masuk ke kota Tong kiu dari empat penjuru."

Belum habis dia berkata, orang berbaju emas itu telah mendengus dingin.

"Kalau hanya kejadian seperti itu saja, apa yang membuatmu terburu nafsu macam di kejar setan?"

"Sebab pengemis-pengemis itu ada hubungannya dengan Ku Gwat cong !"

Jawab lelaki itu cepat. Keterangan ini segera membuat paras muka orang berbaju emas itu berubah hebat, sambil menuding sebuah bangku kecil disampingnya dia berkata.

"Duduklah disini dan berilah keterangan selengkapnya !"

Setelah duduk, lelaki berbaju hitam itu baru berkata.

"Dandannan dari keenam belas orang pengemis ini persis dengan dandanan Ku Gwat cong."

Orang berbaju emas itu berseru tertahan, kemudian setelah termenung dan berpikir sebentar ia berkata lagi.

"Dandanan mungkin saja sama, apakah tampangnya juga sama semua?"

"Betul, yang aneh justeru tampang merekapun sama, lagipula hamba sekalian belum pernah bersua dengan Ku Gwat cong pribadi,apa yang kami perhatikan hanyalah keterangan sesuai dengan apa yang diterangkan kepada kami, oleh sebab itu...."

Tidak menanti lelaki berbaju hitam itu menyelesaikan kata katanya, orang berbaju emas itu telah menukas dengan cepat.

"Apakah kau sudah pergi ke penginapan Gwat ley untuk melaporkan kejadian ini kepada toa nio dan pangcu ?"

Lelaki berbaju hitam itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Hamba telah mendapat perintah agar tidak langsung mengunjungi tempat tinggal toa nio dan pangcu !"

Orang berbaju emas itu manggut-manggut dan tidak berbicara lagi, dia menundukkan kepalanya kemudian termenung. Sesaat kemudian, sekulum senyuman baru menghiasi bibir orang berbaju emas itu, katanya .

"Bagus sekali, walaupun Ku Gwat-cong licik, kali ini justeru karena pura-pura akan menjadi sungguhan, maksudnya akan menghindari kami, tapi dengan terjadinya peristiwa ini makin membuktikan kalau dia telah datang ke kota Tong ciu !"

Mendengar perkataan itu, lelaki lainnya yang berada disekeliling tempat itu mengangguk berulang kali. Kembali orang berbaju emas itu melirik sekejap kearah lelaki berbaju hitam itu kemudian ujarnya.

"Aku segera kembali dan perintahkan agar mereka tak usah bersembunyi diempat penjuru lagi, suruh mereka menyebarkan diri dalam penginapan besar maupun kecil dikota Tong ciu dan awasi keenam belas orang pengemis itu secara ketat !"

Lelaki berbaju hitam itu mengiakan dan segera berlalu. Saat itulah orang berbaju emas itu baru berkata kepada keenam belas orang yang duduk disekeliiing tempat itu.

"Kalian cepat bersantap, selesai bersantap segera mencari aku dimuka kuil Kwan ya bio!"

Selesai berkata dia lantas beranjak dan turun dari loteng.

Bulan enam tanggal enam, hari ini adalah saat panitia penderma membagikan derma berupa uang dan pakaian untuk fakir miskin.

Hari ini Kwik Wangwee tidak menampakkan diri, konon dia sedang tidak enak badan.

Akan tetapi pada hari ini di kota Tong ciu justeru telah bermunculan orang-orang dari desa lain yang berpesiar kesana, hanya saja mereka tak pernah meninggalkan sekeliling kuil Kwan ya bio tersebut.

Seorang kakek berjubah abu-abu berjalan kian kemari sambil bergendong tangan, gerak geriknya amat santai, seperti orang yang sedang mencari angin.

Mendadak seorang pengemis muda berjalan mendekat dan menghampiri kedepan kakek itu.

Ketika kakek itu berpaling, pengemis itupun berkata sambil tertawa.

"Loya cu, berilah sedekah beberapa tahil perak buat aku yang miskin ini."

Pengemis minta uang merupakan suatu kejadian yang lumrah, tapi begitu membuka suara meminta setahil perak adalah suatu hal yang jarang ditemukan, maka kakek ini segera tertawa terkekeh-kekeh.

Pengemis itu maju setengah langkah lagi ke depan, lalu berkata dengan suara lirih.

"Loya cu, tentunya kau kenal dengan seorang yang bernama Lu Si toh bukan ?"

Mendengar ucapan ini, kakek nampak agak tertegun, tapi kemudian ujarnya dengan suara dalam.

"Ya, aku kenal dengannya, ada urusan apa?" -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Bab Ke Dua Puluh Tiga Pengemis muda itu tertawa, lalu katanya.

"Kalau begitu tak bakal salah lagi, bukankah loya cu berasal dari marga Ang?"

Kakek itu memang tak lain adalah Ang Beng liang, dia mendapat perintah untuk melepaskan jubah emasnya dan berganti mengenakan pakaian berwarna abu abu.

Ternyata pengemis muda itu dapat menyebutkan nama marganya, mau tak mau kejadian ini membuatnya amat terkejut bercampur keheranan, sekali lagi dia amati pengemis tersebut dengan seksama, kemudian katanya dengan suara dingin.

"Anggap saja benar, ada urusan apa ?"

Paras muka pengemis muda itu berubah jadi amat serius, katanya lebih jauh.

"Lu Si toh, Lu toaya menitahkan kepadaku untuk mencari keterangan tentang seorang pengemis tua she Ku, dan kini sudah ada kabar, beritanya cuma Luya berjanji akan memberi hadiah setail perak kepadaku."

Tidak menunggu pengemis itu menyelesaikan kata-katanya, Ang Beng liang telah merogoh sakunya dan mengambil sekeping uang perak, setelah diserahkan kepada pengemis tersebut, ia baru celingukan kesana kemari, lalu bisik nya.

"lkutilah aku !"

Namun pengemis muda itu segera menggelengkan kepalanya berulangkali katanya.

"Ang ya, kau keliru, kaulah yang mesti mengikuti aku, sebab kalau terlambat lagi orang she Ku itu sudah pasti akan pergi !"

Ang Beng -liang termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia berkata.

"Baik, kau pergilah dahulu, aku segera mengikuti"

Pengemis muda itu manggut-manggut, ia lantas membalikkan badannya dan berjalan menuju ke jalan sebelah timur.

Pada saat itulah Ang Beng liang memandang sekejap kearah tiga orang yang berada tak jauh dari sana, kemudian manggut-manggut tanda ketiga orang itu harus mengikuti pengemis muda tersebut secara diam-diam, kemudian ia memberi tanda lagi kearah lain, dua orang lelaki segera menghampirinya..

Dengan suara lirih Ang Beng liang berbisik kepada kedua orang lelaki itu.

"Perhatikan tempat ini baik baik, bila ada persoalan, segera laporkan kepada Tan cong-koan!"

Dua orang lelaki itu mengiakan, kemudian sambil membalikkan badan mereka menyebarkan diri.

Saat itulah Ang Beng liang baru menyusul pengemis muda itu menuju kejalan raya timur.

Waktu itu, pengemis muda tersebut sedang membelok ke sebelah kiri jalan, menggunakan kesempatan itu Ang beng liang segera memberi tanda rahasia, dua diantara tiga orang yang menguntit dibelakang pengemis muda tadi segera memasuki gang itu dengan langkah cepat.

Mulut keluar dari lorong sempit itu kebetulan membentang kejalan raya sebelah selatan yang terletak disamping kiri jalan raya timur, ketika dua orang itu melihat dalam lorong tak ada orangnya, dalam beberapa kali lompatan saja mereka telah tiba dimulut lorong tersebut.

Mereka saling mengangguk pelan, kemudian dengan langkah yang amat pelan berjalan keluar dari gang tersebut.

Kebetulan sekali, pengemis muda itu masih belum mencapai persimpangan antara gang sempit itu dengan jalan raya, maka mereka berdua pun berjalan didepan pengemis muda itu dan berbincang bincang seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun.

Pengemis muda itupun seolah-olah tidak menemukan kehadiran mereka, dia masih berjalan terus kedepan dengan langkah yang lambat.

Setelah melewati sebuah jalanan kecil, pengemis itu kembali berbelok kesebelah kanan.

Ang beng liang segera berkerut kening, sambil mempercepat langkahnya menghampiri pengemis muda itu segera tegurnya.

"Hei, kau hendak mengajakku kemana?"

"Eeh, .. bukankah kau hendak mencari pengemis tua she Ku itu?"

Jawab pengemis muda itu tertahan.

"Yaaa, benar. Cuma kau..."

Pengemis muda itu segera menuding ke arah sebuah rumah berpagar bambu disebelah selatan jalan sambil menukas.

"Sudah sampai, pengemis tua itu tinggal di dalam rumah itu!"

Ang beng liang segera memutar biji mata-nya, kemudian bertanya.

"Aku ingin menanyakan tentang satu hal lagi, kecuali pengemis tua she Ku itu, dalam ruangan tersebut masih ada siapa lagi?"

Tanpa berpikir lagi pengemis muda itu menjawab.

"Masih ada dua orang pengemis cilik, soal-usianya ..hampir sebaya dengan diriku."

Mendengar keterangan tersebut Ang beng liang menjadi amat girang, buru-buru tanyanya lagi dengan gelisah.

"Apakah di-antaranya terdapat pula seorang bocah yang perawakannya tidak begitu tinggi dan bermata besar?"

"Bocah?"

Pengemis muda itu mengerdipkan matanya berulang kali.

"aku tidak melihat ada bocah di situ?"

Buru-buru Ang beng liang meralat ucapannya, kembali dia berseru.

"Kalau dibilang bocah, sesungguhnya dia telah berumur tujuh atau delapan belas tahunan, cuma orangnya rada lebih pendek daripada bocah sebaya dengan usianya, ia memang mempunyai sepasang mata yang besar, pakaiannya sederhana tapi bersih!"

"Tidak ada"

Pengemis muda itu segera menggeleng.

"paling tidak, aku tidak melihat bocah seperti ini"

Ang Beng liang manggut-manggut, kepada pengemis muda itu katanya sambil tertawa.

"Apakah kau telah masuk kedalam sana?"

Dengan cepat pengemis muda itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Belum, aku belum pernah masuk kedalam sana, masa aku berani secara sembarangan memasuki rumah orang?"

"Asal pengemis tua she Ku itu tinggal didalam, sekalipun kau masuk kedalam juga tak menjadi soal"

Kata Ang Beng liang kemudian sambil memutar biji matanya.

"Tapi... apa sebabnya?"

Ang Beng-liang segera tertawa.

"Aku adalah kenalan lama dari pengemis tua she Ku itu, maka ...."

"Kalau memang sobat lamamu, mengapa kau tidak masuk sendiri ?"

Tukas si pengemis muda itu dengan kening berkerut. Ang Beng liang memang seorang yang Iicik, tentu saja dia tak akan menjawab yang sejujurnya, sambil menggelengkan kepalanya dia menjawab pelan.

"Kau tidak tahu, dulu aku telah melalaikan suatu perbuatan yang kurang menyenangkan hatinya, gara-gara kejadian itu, bila secara tiba-tiba ia bertemu denganku, sudah pasti pengemis tua itu akan mengajakku beradu jiwa, bila kau bisa membantuku masuk lebih dulu...."

Belum habis perkataan itu diucapkan, pengemis muda itu sudah menggelengkan kepalanya sambil menukas "Hari ini di ruang Sian-tong ada pembagian uang dan pakaian, aku harus turut antri dulu."

Ang beng-liang segera tertawa terbahak-bahak, dari dalam sakunya ia mengeluarkan sekeping uang perak, kemudian katanya.

"Bagaimana kalau sekeping uang perak ini sebagai ganti pembagian dirumah Sian tong?"

Sambil tertawa pengemis muda itu segera menerima pembagian uang perak itu, lalu katanya.

"Terima kasih banyak, aku akan segera masuk ke dalam, tapi apa yang harus kuucapkan setibanya di dalam sana ?"

Nampaknya Ang Beng liang menemukan suatu cara yang baik, tanpa berpikir panjang segera sahutnya.

"Kaupun tak usah banyak berbicara, untung saja kau adalah seorang pengemis untuk minta sedekah tentunya tak ada salahnya bukan? Dan bila kau berjumpa dengan pengemis tua she Ku itu segeralah keluar dan beritahukan hal itu kepadaku."

"ltu gampang, baik akan kulaksanakan dengan segera."

Kata pengemis muda sambil tertawa.

Sembari berkata, pengemis muda itu segera berjalan kedepan pagar bambu itu, dia sempat berpaling dan memandang sekejap ke arah Anri Beng liang sambil tertawa, kemudian dengan suara Iantang.

"Loya yang berada dalam rumah, adakah sisa makanan yang tak terpakai? berilah sedekah buat aku sipengemis"

Selesai berkata dia lantas mendorong pintu pagar bambu itu lebih dulu dan berjalan masuk ke dalam.

Dengan suatu gerakan yang cekatan Ang Beng liang menyelinap kesudut gang dan mengawasi pintu dibalik pagar bambu tersebut dengan pandangan seksama.

Pada mulanya dia masih menaruh perasaan curiga terhadap pengemis muda itu, tapi ketika dilihatnya pengemis muda itu sangat penurut dan segera memasuki pagar bambu rumah itu, semua kecurigaannya seketika lenyap tak berbekas.

Dalam pada itu, ke tiga orang anak buahnya telah memencarkan diri ketiga penjuru dan mengurung rumah itu rapat-rapat, belum mereka tak dapat mendekat karena hari masih terang, namun sudah tidak kuatir kalau Ku Gwat cong sampai berhasil melarikan diri.

Sebenarnya dia ingin mengutus salah seorang anak buahnya untuk pergi memberi kabar kepada pangcu, tapi diapun kuatir timbul kesalahan dibalik kesemuanya ini, setelah berpikir sebentar dan merasa kalau dia masih mampu untuk menghadapi Ku Gwat cong, maka diputuskannya untuk menanti lebih jauh.

Tak lama kemudian, pengemis muda tadi sudah menongolkan kepalanya kembali dari balik pagar pintu bambu, lalu menggape ke arah nya.

Tanpa berpikir panjang lagi, dia segera munculkan diri dan memburu ke depan.

Pengemis muda itu segera berbisik.

"Kemarilah kau, kebetulan sekali dalam ruangan itu tak ada orangnya..."

"Aaah, masa dia sudah pergi,"

Ang Beng liang segera berkerut kening. Pengemis muda itu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya sambil mengayunkan tangan.

"Mungkin sedang keluar rumah untuk melakukan suatu pekerjaan, diatas meja kutemukan secarik kertas, coba lihatlah !"

Seraya berkata dia lantas menyerahkan secarik kertas kepada kepada Ang Beng liang.

Setelah menerima surat itu, Ang Beng liang segera memeriksanya dengan seksama, diatas kertas itu tertulislah beberapa huruf.

"Ulat arakku sedang ngamuk, aku keluar rumah mencari arak sebentar, bila sudah datang tunggulah kedatanganku !"

Dibawahnya tidak tercancum nama, tapi tertulisan sebuah mangkuk, didalam mangkuk ada araknya.

Itulah tanda rahasia dari pengemis tua Ku Gwat cong !

Ang Beng liang menjadi girang, biji mata nya segera berputar, kemudian memandang sekejap kearah pengemis muda itu, katanya dengan cepat.

"Sekarang tiada persoalan yang mesti merepotkan dirimu lagi, mungkin kau masih keburu pergi keruang Sian-tong mencari sedekah."

Tampaknya pengemis muda itu memang seorang yang cerdik, dengan cepat dia menyam bung.

"Ya, mungkin saja, kalau begitu aku pergi dulu."

Sehabis berkata dia baru berlalu dari situ, sekejap mata kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata. Ang Beng liang segera memanggil datang ke tiga orang anak buahnya, lalu bisiknya.

"Salah seorang diantara kalian berangkatlah dengan segera ke rumah penginapan untuk melaporkan kejadian ini kepada Tan pangcu, katakan kalau kita telah berhasil menemukan tempat persembunyian dari Ku Gwat cong, harap pangcu segera datang kemari, makin cepat semakin baik."

"Sedang dua lainnya, satu pergi ke kuil untuk memanggil datang Tan congkoan dan segenap jago lihay yang ada untuk berkumpul disini, sedang yang lain pergi ke sekitar kota untuk mengumpulkan seluruh jago lihay yang kita persiapkan cepat!"

Ke tiga orang anak buahnya segera mengiakan dan berangkat meninggalkan tempat itu dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah pergi jauh.

Tak lama kemudian Tan Tiang hoa dengan membawa jago jagonya tiba disana lebih dulu, menyusul kemudian seorang manusia berbaju abu abu yang membawa enam orang jago lihay menyusul tiba, sedangkan pangcu yang menyebut dirinya bernama Yan Tan hong dengan mengajak dua orang dayang berbaju merahnya datang paling belakangan.

Pertama-tama Ang Beng liang menerangkan dahulu kisah penemuannya itu, kemudian menyerahkan kertas tulisan dari Ku Gwat cong itu kepada pangcunya agar diperiksa.

Dengan cepat sang ketua menitahkan anak buahnya agar menyebarkan diri dan tidak menunjukkan jejaknya secara sembarangan kemudian dia bersama dua orang dayangnya beserta Ang Beng liang, Tan Tiang-hoa dan manusia berbaju abu abu itu menyelinap ke dalam ruangan.

Menurut tulisan diatas secarik kertas yang mereka temukan Ku Gwat cong hanya keluar rumah untuk mencari arak, itu berarti tak lama kemudian pasti akan balik ke sana.

Menurut perkiraan pangcu mereka, dalam sepertanak nasi kemudian ia pasti sudah akan balik kembali, sekalipun lebih lambat juga tak akan terlalu malam.

Apalagi menurut tulisan yang ditinggalkan Ku Gwat cong, agaknya surat itu memang sengaja dititipkan buat muridnya Siau Hau cu, sekalipun Ku Gwat cong datang agak terlambat, Siau Hou cu pasti akan segera sampai disana.

Maka bersama Ang Beng liang dan Tan Tiong hoa sekalian merasa yakin kalau perjalanan mereka kali ini tak akan sia sia belaka.

Maka merekapun menanti dengan tenang, menunggu Ku Gwat cong dan muridnya masuk perangkap.

Sementara itu dibelakang dinding kuil Kwan ya bio, tampak siau liong "Sun Tiong lo", Siau Hou cu dan Ku Gwat cong sedang bergandengan tangan berjalan menuju kedalam sebuah hutan kecil tak jauh dari sana.

Setelah masuk kedalam hutan, mula pertama Ku Gwat cong yang bertanya dulu kepada Siau Hou cu.

"Bagaimana? Apakah urusannya telah beres?"

Siau Hou cu segera tertawa cekikikan, dari sakunya dia mengeluarkan dua keping uang perak sambil menyahut.

"Jangan kuatir suhu, selamanya Siau Ho cu bekerja dengan sempurna, aku yakin pada saat ini mereka pasti sudah berada dalam rumah kosong itu menunggu suhu datang kesana !"

"Lantas dari mana kau dapatkan uang ini?"

Tanya Ku Gwat cong sambil menuding uang perak ditangannya seraya tertawa. Kembali Siau Hou cu tertawa cekikikan.

"Suhu, apakah kau masih ingat dengan dua keping uang perak yang pernah kau peroleh dari Pit It kiam tempo hari? Siau Hou cu telah menirukan siasat yang sama dan menyuruh Ang Beng lian menghadiahkan uang itu kepadaku dengan rela !"

"Bagus sekali!"

Puji Ku Gwat cong sambil menepuk-nepuk bahu Siau Hou cu.

"tampaknya taktik menjebak, mengelabui menculik, menipu memeras dan meminta telah kau pelajari, sejak kini kau sudah tak usah kuatir mati kelaparan lagi, dan aku pun boleh pergi dengan perasaan lega!"

"Suhu, apa maksudmu?"

Seru Siau Hou cu tertegun.

"Siau Hou cu, sekarang sudah sampailah saat kita guru dan murid untuk saling berpisah!"

"Suhu"

Seru Siau Hou cu menjadi berdiri bodoh.

"tampaknya kau lagi-lagi sedang mencari akal guna mempermainkan siau Hou cu?"

Dengan wajah serius Ku Gwat cong menggeleng.

"Aku berbicara sejujurnya, aku akan berpisah dengan kalian!"

Katanya cepat. Sun Tiong-lo yang mendengar perkataan itu segera menarik ikat pinggang Ku Gwat-cong yang terbuat dari tali seraya berseru.

"Tidak, tidak boleh, kau tak boleh pergi, aku masih mempunyai banyak persoalan yang hendak ditanyakan kepadamu!"

Ku Gwat-cong memandang sekejap ke arah nya, lalu memandang pula ke arah Siau Hau cu, setelah itu ujarnya.

"Aku mengerti, pertama tama yang ingin kau tanyakan adalah masalah asal-usulmu sendiri bukan?"

"Benar!"

Sun Tiong lo mengangguk.

"kemudian akupun ingin bertanya apa hubunganku dengan Ciu Tong, lalu ...."

Ku Gwat cong tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya sambil menuding ke arah Siau Hou cu katanya.

"Siau Hou cu, apakah kau ingin mengetahui asal usulmu?"

Siau Hou cu agak tertegun menghadapi per-tanyaaan itu, tiba tiba dia bertanya.

"Suhu, aku hanya tahu kalau aku adalah seorang anak yatim piatu, apakah aku..."

Ku Gwat-cong segera menghela nafas panjang, dari sakunya ia mengambil se

Jilid kitab yang besarnya seperti sebuah kepalan tangan dan tebalnya cuma dua hun, lalu setelah memandang sekejap wajah Siau liong, kemudian memandang wajah Siau hou, katanya.

"Asal usul kalian mempunyai sangkut paut yang sangat erat, dalam kitab kecil ini semuanya tertulis jelas, Siau liong she Sun sedang Siau hou she Sun, orang tua kalian telah mengalami suatu musibah yang amat tragis!"

Siau Hou cu segera membelalakkan sepasang matanya yang besar, senyuman binalnya dihari-hari biasa kini lenyap tak berbekas, dengan suara agak emosi serunya.

"Suhu, aku berasal dari mana, orang tuaku adalah...

"Jangan bertanya kepadaku."

Tukas Ku Gwat-cong sebelum pengemis itu menyelesaikan kata-katanya.

"bacalah sendiri isi kitab itu, tapi ingat, kalian mesti bertindak bajik dan bijaksana, terhadap orang mesti setia dan dapat di percaya, kalau bukan keadaan amat mendesak, jangan sembarangan membunuh orang!"

Selesai berkata, dia berikan kitab kecil itu kepada Siau liong dan Siau Hou cu.

"Suhu,"

Siau Hou-cu segera berseru.

"kalau toh kau mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, mengapa tidak kau beritahukan saja kepada tecu secara langsung?"

Ku Gwat cong segera menggengkan kepalanya berulang kali.

Ketika aku menerimamu dulu sesungguhnya dipaksa oleh keadaan, toh selama ini aku tak menyuruh kau berlutut didepan Cousu ya?

Mulai saat ini perkumpulan kaum pengemis sudah tiada hubungannya dengan dirimu lagi."

"Gara-gara kalian berdua, aku sudah mengesampingkan urusan besarku sendiri, kini kalian sudah memperoleh hasil yang lumayan, bila ada jodoh dikemudian hari kita pasti dapat bersua lagi."

Selesai berkata, Ku Gwat-cong segera membalikkan badannya dan berlalu dari situ. Sun Tiong lo dan Siau hou cu segera berteriak sambil mengejar, tapi KL Gwat cong kembali berseru.

"Cepat tinggalkan kota Tong ciu dan laksanakan seperti apa yang tertulis dalam kitab itu, mungin saja kita akan bersua lagi dikemudian hari, kalau tidak, kalian akan merusak saja semua rencana yang telah tersusun...!"

Setelah mendengar perkataan itu, Siauw Hou cu segera menghentikan langkahnya, dia tahu sekalipun hendak disusul juga tak bakal bisa tersusul.

Padahal berbicara dari tenaga dalam yang di miliki Sun Tiong lo sekarang, seandainya dia ingin mengejar, sudah pasti Ku Gwat cong tak bakal bisa lolos, namun oleh karena Siau Hou cu menghentikan langkahnya, maka sekali pun berhasil tersusul apa pula yang bisa dia lakukan?

Setelah berhenti dan menggosok-gosok mata nya, Siau Hou cu berkata kemudian.

"Siau long, kita tak usah mengejar lagi, bila suhu sudah ingin pergi, sekalipun disusul per-cuma, cuma sudah belasan tahun aku tak pernah meninggalkan dia orang tua, sekarang .. ."

Ia tak sanggup kembali melanjutkan kata-katanya, sementara air mata jatuh bercucuran dengan derasnya.

Sepasang mata Sun Tiong lopun ikut berubah menjadi merah, tapi ia masih mencoba untuk menghibur Siau Hou cu.

"Jangan bersedih hati engkoh Siau hou, mari kita mencari suatu tempat lebih dulu untuk memeriksa isi kitab kecil ini kemudian baru menentukan langkah selanjutnya!"

Siau Hou cu manggut manggut.

"Apa yang dikatakan suhu sebelum berangkat tadi memang tepat sekali, yang penting sekarang adalah cepat-cepat meninggalkan tempat berbahaya ini!"

Sun Tiong lo mengiakan.

"Engkoh Siau hou, aku cuma pernah keluar rumah satu kali, mulai sekarang . .."

"Siau liong, kau tak usah kuatir."

Tukas Siau Hou-cu cepat.

"mau ke utara, selatan, timur atau barat, semua tempat kukenal dengan jelas, ikuti saja diriku,"

Sekarang mari kita berangkat dulu ke Ci-tian !"

Maka berangkatlah kedua orang itu melanjutkan perjalanan ke depan.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Malam itu, mereka berdua berbaring diatas rumput di suatu tempat yang sepi diluar kota, siapapun tidak berbicara.

Bintang bertaburan diangkasa, lampu menyinari permukaan jagad, hanya mereka berdua yang mempunyai persoalan yang mengganjal hati sehingga membuat pikiran menjadi kusut, banyak masalah yang memenuhi benaknya, namun tak sepotongpun yang sanggup di utarakan keluar.

Dan sampai setengah harian kemudian, siau Hou-cu baru berbicara lebih dahulu.

"Siau liong, kau belum tidur ?"

Sun Tiong lo hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab. Siau Hou cu segera menghela napas panjang kembali ujarnya.

"Akupun tak dapat tidur, Siau liong, bagaimana kalau kita membuat api unggun dan memeriksa isi kitab kecil itu?"

"BetuI."

Teriak Sun Tiong lo sambil melompat bangun.

"siang tadi kita hanya ribut melakukan perjalanan, sampai-sampai persoalan inipun terlupakan."

Sambungnya kembali.

Dan sambil berkata dia mulai mengumpulkan ranting-ranting kering dan menimbunnya menjadi satu, siau Hou cu membantu pula, dalam waktu singkat sejumlah ranting kering sudah terkumpulkan dan cukup untuk dipakai setengah harian.

Dari sakunya Siau Houcu mengeluarkan alat pembuat api, tatkala api unggun sudah terbuat, Sun Tiong lo baru mengeluarkan kitab kecil itu dan diserahkan kepada Siau Houcu sambil berkata.

"Engkoh Siauhou kau bacalah lebih dulu."

Siau Hou cu segera menggeleng.

"Mari kita membaca bersama-sama, sehingga kalau menemukan hal hal yang tak jelas bisa dirundingkan!" -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***

Jilid 19 MEREKA berdua pun segera duduk di tepi api unggun sambil membuka kitab kecil itu, tapi apa yang kemudian terbaca membuat kedua orang itu menjadi tertegun.

Kiranya pada halaman yang pertama hanya terlukis beberapa patah kata saja.

"Untuk menyelidiki asal usul, datang dulu ke Bukit Pemakan Manusia!"

Siau Hou cu dan Sun Tiong lo saling berpandangan sekejap, kemudian mereka membalik halaman yang kedua, disitu hanya tertulis berapa huruf saja.

"Kemudian seberangi sungai Ang sui hoo (Sungai air merah)!"

Halaman berikutnya pun tidak dijumpai kata kata yang terlalu banyak, disana tertuliskan "Datang ke perkampungan Mo keh ceng (perkampungan keluarga Mo) dibawah kaki bukit wu san dan cari Mo kiau jiu!"

Maka satu halaman demi satu halaman mereka buka ternyata sepuluh dari sebelas halaman yang terdapat dalam kitab kecil itu berisikan tempat tempat yang harus mereka datanginya.

Sampai pada halaman yang kesepuluh, disitu baru tercantum tiga huruf saja yakni.

"Si hun loo (Loteng penemu sukma)!"

Pada halaman yang ke sebelas atau halaman terakhir, disitu tercantum kata yang jauh lebih banyak, anrara lain berbunyi demikian.

"Sekarang kalian sudah mengetahui asal usul sendiri, dendamkah, penasarankah, membalaskah atau tidak, semuanya terserah kepada kalian sendiri, orang lain tak dapat menentukannya bagi kalian!"

Selesai, isi kitab itu benar-benar selesai begitu saja tanpa tercantum keterangan lain.

Siau Hou cu berdua menjadi termangu, mereka benar-benar dibuat menangis tak bisa tertawa pun tak dapat selesai membaca isi kitab tersebut.

Kitab aneh memang banyak dijumpai dikolong langit, tapi rasanya seaneh-anehnya kitab itu tak akan menangkan keanehan dari kitab kecil peninggalan dari Ku Gwat cong ini, tiada ujungnyapun tiada pangkalnya, sekalipun telah dibaca hasilnya tetap seperti tak pernah terbaca.

Didalam kitab itu bukan saja tiada petunjuk pun tidak pernah tercantum dimanakah letak ke sepuluh tempat yang harus mereka datangi itu, lebih lagi tidak tercantum kata kata yang menyangkut asal usul mereka, bayangkan saja aneh tidak kitab semacam itu.

Yang lebih aneh lagi adalah kalimat pada halaman yang terakhir, disana tercantum kata-kata yang berbunyi begini.

"Sekarang kalian telah mengetahui asal usul kalian sendiri !"

Hakekatnya kejadian ini merupakan suatu lelucon yang amat besar, suatu lelucon yang amat mendongkolkan hati. Lewat setengah harian kemudian, Sun Tiong lo seperti menyadari akan sesuatu, serunya.

"Engkoh Siau hou, menurut pendapatmu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Siau houcu tertawa getir dan menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Apa daya? Kitab dari suhu ini pada hakekatnya jauh lebih sukar dimengerti dari pada Kitab dari langit !"

Sun Tiong lo memutar matanya lalu berkata.

"Aku mah berhasil menemukan sedikit titik terang, mungkin kesepuluh tempat yang dimaksudkan mempunyai hubungan yang erat dengan asal usul kita, dan lagi harus dilewati semua lebih dulu kemudian baru...."

Belum habis perkataan itu diutarakan, Siau Hou cu sudah melompat bangun sambil menukas.

"Saudaraku, tepat sekali dugaanmu itu, hayo berangkat, kita segera datangi Bukit Pemakan marusia!"

"Tunggu dulu engkoh Siau hou"

Seru Sun Tiong lo sambil menarik tangan saudaranya "Tahukah kau Bukit Pemakan manusia dimana?"

Siau hou cu berdiri bodoh, dia menggelengkan kepalanya berulang kali, sampai lama kemudian baru sahutnya!

"Aku tidak tahu.

aaai...

suhu memang sangat aneh, mengapa dia tidak menerangkan hal ini sampai jelas..."

Belum selesai dia berkata, tiba-tiba Sun Tiong lo berbisik dengan suara lirih.

"Engkoh Siau hout cepat padamkan api unggun, ada orang datang."

Sambil berkata Sun Tiong lo segera mengambil setumpukan rumput basah dan menutupi api unggun itu.

Siau Hou-cu berkerut kening, dia menyimpan dulu kitab kecil itu, kemudian baru memadamkan api unggun tersebut dengan rumput dan tanah, dengan waktu singkat api telah padam tinggal asap putih saja yang masih mengepul di angkasa.

Sambil menuding semak belukar sepuluh ka ki didepan sana, Sun Tiong-lo kembali berseru.

"Engkoh Siau-hou, mari kita bersembunyi ke sana, coba lihat siapa saja yang datang !"

"Mengapa tidak bersembunyi didalam hutan saja ?"

Tanya Siau Hou-cu sambil menuding sebuah hutan tak jauh dari sana. Sun Tiong lo segera menggelengkan-kepalanya berulang kali, sahutnya dengan lirih.

"Hutan bukan suatu tempat persembunyian yang baik, kita saja bisa berpikir kesitu, apakah orang lain tak bisa berpikir pula kesana?"

Dan seraya berkata ia sudah berlarian lebih dulu menuju ke arah semak belukar yang di maksudkan.

Terpaksa Siau Houcu harus mengikuti dibelakangnya.

Walaupun mereka telah menyembunyikan diri, ternyata tiada orang yang muncul disitu, tanpa terasa Siau Houcu lantas bertanya dengan suara lirih.

"Siau liong, kau benar benar telah mendengar sesuatu ?"

"Eeeh, apakah engkoh Siau hou tidak mendengar apa apa ?"

Sun Tiong lo balik bertanya.

Siau Hou cu tidak menjawab, tapi dia tahu bahwa ia pribadi tidak mendengar gerakan apa apa.

Tapi setelah lewat beberapa saat kemudian tampaklah lima sosok bayangan melayang turun ditepi api unggun dengan kecepatan luar biasa, Tergerak hatinya menyaksikan kejadian ini tanpa terasa dia berpaling dan memandang sekejap kearah Siau liong.

Dalam pada itu, salah seorang diantara kelima sosok bayangan manusia itu telah menyepak-nyepak bekas api unggun itu dengan kaki nya, terhembus oleh angin, api unggun yang masih mengeluarkan asap putih itu segera muncul kembali kobaran api.

Orang itu segera mendengus dingin, kepada salah seorang diantara keempat orang tersebut.

"Sorot mata pangcu memang amat tajam benar, disini memang ada orang, lagi pula pergi belum lama!"

Mendengar suara itu, Siau Hou cu menjadi ketakutan setengah mati karena tak lain orang itu adalah Ang Beng liang.

Tak bisa disangka lagi, sang ketua yang mempunyai tenaga dalam jauh lebih dahsyat dari Ang Beng liang pun telah datang.

Benar juga, begitu Ang Beng liang selesai berkata, Yan pangcu segera menyahut.

"Coba kau periksa lagi dengan seksama, berapa orangkah yang pernah berada disini?"

Ang Beng liang segera berjongkok dan meneliti berapa saat lamanya, kemudian menjawab.

"Hujin, aneh sekali kejadian ini, disini cuma ada bekas kaki dua orang!"

"Mungkin Ku Gwat cong dan muridnya?"

Sela Tan Tiang hoa dari samping tiba tiba.

"Tan Cong koan"

Kata Ang Beng liang kemudian.

"tentunya kau masih ingat, semalam Kim ih hui siu (kakek terbang berbaju emas) mengirim kabar yang memberitahukan kalau Ku Gwat cong telah keluar perbatasan seorang diri, mana mungkin dia bisa muncul kembali disini?"

Tan tiang hoa sedikitpun tak sungkan-sungkan, sambil tertawa dingin ia menjawab.

"Hal ini bukan disebabkan aku telah lupa dengan berita yang dikirim si kakek terbang, adalah karena persoalan yang dilakukan Hu-pangcu kemarin membuat aku mendapat pengalaman baru !"

Kontan saja Ang Beng liang terbungkam oleh perkataan itu, namun diapun merasa mendongkol sekali.

Sekalipun demikian dia tak sanggup membantah barang sepatah katapun juga.

Siau Hou cu benar-benar telah menipunya habis-habisan, bukan cuma kehilangan dua keping uang perak, bahkan justeru lantaran dia menghimpun semua kekuatannya ke suatu tempat, hal ini membuat Ku Gwat cong dan muridnya berhasil melarikan diri.

Dan sekarang Tan Tiang hoa menyindirnya dengan menggunakan persoalan itu, bagaimana mungkin ia tidak dibikin kheki bercampur mendongkol.

Setelah berpikir sebentar, dia lantas berjongkok dan melakukan pemeriksaan yang seksama, kemudian sambil mendongakkan kepala nya dia berkata lagi.

"Tempat ini memang didatangi oleh dua orang, lagi pula dua orang bocah...."

Tan Tiang hoa disebut orang sebagai Tok siu (kakek beracun), bisa diketahui bagaimanakah watak serta cara berpikir orang ini, begitu mendapat kesempatan, tentu saja ia tak akan menyia-nyiakan dengan begitu saja, maka kembali ujarnya.

"Aaah, masa dua orang bocah cilik ? Hu pangcu, atas dasar apa kau berani mengatakan demikian ?"

Ang Beng liang tidak menggubris sindiran tersebut, kepada Yan pangcu segera katanya.

"Pangcu, menurut ukuran kaki yang membekas di tanah, bisa diduga kalau kedua orang itu adalah dua orang bocah!"

Tampaknya Yan pangcu merasa kurang senang dengan wakil ketuanya ini, katanya kemudian.

"Bekas kaki orang dewasa kadangkala hampir sama dengan bekas kaki anak, dugaan tersebut tak bisa ditarik berdasarkan kesimpulan ini!"

Setelah berulang kali ketanggor batunya, bukan saja Ang Beng liang merasa semakin membenci kepada siau Hou cu yang siang tadi telah menipunya habis-habisan, terhadap Tan-Tiang hoa pun merasa amat membenci, diam-diam ia bersumpah, suatu ketika sakit hati ini pasti akan dibalas.

Sekalipun demikian, dia tidak berani bertindak kasar terhadap pangcunya, maka itu biji matanya segera berputar mencari akal, dan kemudian katanya.

"Hamba hanya dapat melihat sebanyak itu saja, mungkin Tan congkoan mempunyai pendapat lain."

Tan Tiang hoa tertawa seram, dia turut berjongkok buat melakukan pemeriksaan terhadap sisa-sisa api unggun tadi, setelah itu sambil berdiri katanya.

"Pangcu, hamba rasa entah siapakah orang ini, sudah pasti dia belum kabur terlalu jauh."

Sembari bekata sorot matanya segera memandang sekejap ke arah sebuah hutan yang tak jauh dari situ.

Yan pangcu segera manggut-manggut.

Tan Tiang hoa merogoh kedalam sakunya dan mengayunkan sesuatu ke tengah udara, sekilas cehaya api segera meluncur keangkasa, dalam waktu singkat bunyi ledakan keras menggelegar memecahkan keheningan segulung bola apipun muncul diangkasa yang gelap.

Tak lama kemudian tampak puluhan sosok bayangan manusia bermunculan ketengah arena dengan kecepatan luar biasa, semua orang itu berdiri serius tanpa berbicara maupun bergerak agaknya sedang menantikan perintah dari atasannya.

Sambil menunjuk ke arah, Tan Tiang hoa berseru.

"Dalam hutan ada musuh, geledah sampai ketemu, cepat!"

Puluhan orang jago lihay berbaju hitam itu segera mengiakan dan bergerak kedepan.

Tampaknya mereka sudah mempunyai kontak secara diam-diam, serta merta orang-orang itu menyebarkan diri keempat penjuru dan tanpa ragu-ragu menerjang masuk kedalam hutan.

Dalam pada itu, Siau Hou cu telah menjawil tangan Sun Tiong Io sambil mengacungkan jempolnya.

Merah padam selembar wajah Sun Tiong lo karena jengah, dia hanya tertawa dan tentu saja merasa bangga.

Menyusul kemudian Siau Hou cu menarik tangan Sun Tiong lo sambil menuding kebelakang, sementara jari tengah dan telunjuk tangan kanannya membuat gerakan orang sedang berjalan diatas tanah.

Maksudnya sudah jelas sekali, yakni karena pihak lawan kelewat banyak jumlahnya, tenaga dalam merekapun terlalu tinggi, lebih baik kita pergi saja.

Siapa tahu Sun Tiong lo segera menggelengkan kepalanya berulang kali, dengan cepat dia menuding mata dan telinga sendiri Maksudnya dia tak ingin pergi, dia ingin mendengarkan lebih lanjut.

Melihat hal itu diam-diam Siau Hou cu merasa gelisah, sebab selisih kekuatan kedua belah pihak kelewat besar, dan sekarang entah apa yang terdengar dan yang terlihat, tak mungkin bisa menemukan sesuatu yang berguna.

Sekalipun demikian, setelah Sun Tiong lo bertekad hendak mendengarkan lebih lanjut dan melihat lebih jauh, tentu saja Siau Hou cu tak ingin dianggap sebagai setan pengecut, maka diapun bertekad untuk melihat dan mendengarkan lebih lanjut, bila muncul persoalan baru dibicarakan lebih jauh.

Kurang lebih dari setengah pertanak nasi kemudian, puluhan orang jago liehay berbaju hitam yang melakukan penggeledahan kedalam hutan itu sudah muncul kembali.

Salah seorang diantaranya yang bertindak sebagai komandan segera melapor kepada ketuanya.

"Hamba telah menggeledah setiap batang pohon yang berada didalam hutan, namun tidak menemukan jejak seseorangpun!"

Dengan suara dalam Ang Hu pangcu segera membentak keras.

"Tan congkoan menitahkan kalian untuk menangkap musuh tangguh didalam hutan, itu berarti ia sudah mempunyai bukti yang pasti, Hmm, tampaknya cara kerja kalian tidak beres sehingga jejak musuhpun tidak berhasil di temukan, bukan begitu saja bahkan berani beralasan macam-macam, tampaknya nyali kamu semua tidak kecil!"

Pembalasan yang dilontarkan dengan sindiran tajam ini benar benar cepat sekali datangnya, kontan saja paras muka Tan Tiang hoa jadi merah padam lantaran jengah, dia benar-benar tak sanggup berbicara lagi.

Sementara itu Yan pangcu telah berpaling ke arah Tan Tiang-hoa sembari berkata.

"Tan congkoan, didalam hutan tiada jejak musuh ?"

Tan Tiang-hoa tak berani mengambil keputusan menurut pikiran sendiri maka sambil membungkukkan badannya dia berkata.

"Kemampuan hamba hanya berbatas sampai disini, mungkin saja pihak lawan kelewat licik!"

Yan pangcu segera tertawa dingin.

"Hmm.... dari sini menuju ke depan sana hanya bersedia tiga buah jalur jalan raya, aku yakin mereka masih belum kabur terlampau jauh"

Katanya kemudian.

"kalian semua membagilah diri menjadi tiga kelompok dan mengejar dari tiga jalan tersebut, besok pagi temui aku di dusun Yan liu-cun!"

Selesai berkata dia lantas memberi tanda kepada kedua orang dayangnya dan berlalu lebih dulu dari situ.

Maka Ang Beng liang dan Tan Tiang hoa masing-masing memimpin sepasukan jago lihay melakukan pengejaran kilat melalui dua arah yang lain, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan mata.

Menanti bayangan tubuh dari orang orang itu sudah pergi jauh, Siau Hou cu baru menggelengkan kepalanya sambil berkata.

"Siau liong, tadi kau tak mau pergi apakah benar karena ingin melihat dan mendengarkan?"

Sun Tiong lo segera tertawa.

"Waktu itu kita tak akan berhasil melarikan diri dari sini, sekalipun dapat menghindarkan diri dari pengejaran Ang Beng liang dan ketiga pasukan pengejarnya, sudah pasti kita akan tersusul oleh Yan Tan hong, buat apa mesti mencari kesulitan diri sendiri ?"

Siau Hou cu melirik sekejap kearah Siau liong, lalu katanya.

"Apakah kesemuanya ini adalah ajaran dari suhu ?"

Sun Tiong lo menggelengkan kepalanya belulang kali. Kalau cuma soal itu tak usah di ajarkan oleh orang lain, asal kita mau memikirkan dengan seksama niscaya semuanya akan menjadi jelas.

"Sungguh aneh", kata Siau Hou cu kemudian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"semasa suhu masih ada, setiap saat aku selalu dipuji sebagai orang pintar, tapi heran mengapa kalau kuturuti jalan pemikiran yang kuanggap pintar tadi, justru berubah menjadi tolol ?"

"Sebelum berbicara tadi akupun telah berpikir, malah memikirkan persoalanku dengan seksama, tapi apa sebabnya apa yang kupikir justru berbeda dengan apa yang kau pikirkan?"

Sun Tiong lo mengerdipkan matanya berulang kali, lalu menjawab.

"Siau Hou ko, bagaimana menurut jalan pemikiranmu?"

Siau Hou cu segera tertawa.

"Aku sedang memikirkan diriku sendiri, misalkan saja tadi, aku berpendapat bahwa kemampuanku masih belum cukup untuk menandingi lawan, bila tetap berada disini dan sampai ketahuan jejaknya, niscaya sulit bagiku untuk meloloskan diri, itulah sebabnya aku bertekad untuk pergi saja dari sini!"

"Waktu itu, akupun sedang berpikir bagiku sendiri"

Kata Sun Tiorg-lo sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"cuma yang ku pikirkan bukanlah apakah aku mesti kabur atau tidak, melainkan kubayangkan diriku menjadi pihak lawan, kemudian kupikirkan seandainya aku yang menghadapi kejadian seperti ini, apa yang hendak kulakukan!"

Mendengar perkataan itu, siau Hou cu menjadi paham kembali, dia segera tertawa terkekeh-kekeh, sambil menepuk bahu Siau liong,katanya.

"Siau liong, kau memang hebat, kali ini aku benar benar sudah mengerti."

Sun Tiang lo juga tertawa terkekeh-kekeh.

"Betul engkoh Siau hou, kita segera pergi !"

"Benar, kita mesti berangkat ke dusun Yang liu cim, kita harus melakukan kembali taktik seperti yang kita lakukan barusan!"

Sun Tiong lo melirik sekejap ke arah Siau Hou cu, kemudian katanya.

"Berbicara yang sebenarnya, semakin dekat kita berada disekitar mereka, semakin tak mereka sangka tempat persembunyian kita, cuma kitapun tak boleh bertindak kelewat gegabah, semua hal mesti dilakukan dengan berhati hati,"

Siau Hou cu tertawa cekikikan, sambil memungut tongkat penggebuk anjingnya ia bilang.

"Legakan saja hatimu, mereka tidak akan mampu untuk menangkap kita berdua!"

Sun Tiong lo memandang sekejap tongkat penggebuk anjing milik Siau Hou cu, lalu katanya tiba-tiba.

"Engkoh siau-hou, aku masih teringat dengan ucapan dari si pengemis tua, kau dan perkumpulan pengemis tiada hubungan apa-apa lagi, kalau memang demikian, mengapa kita berdua tidak bertukar pakaian saja ?"

Siau Hou cu berpikir sebentar, lalu serunya dengan gembira.

"Benar, mari kita percepat langkah kita menuju ke dusun Yangliu-cun, kita berganti pakaian disitu saja !"

Seusai berkata, mereka berdua segera menghimpun tenaga dalamnya dan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk meluncur ke depan sana.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Dusun Yang liu cun termasuk sebuah kota yang cukup ramai, sebab kota kecil ini merupakan urat nadi perdagangan dan merupakan persimpangan jalan menuju ke ibu koka, itulah sebabnya banyak saudagar yang berhenti disitu dan suasana amat ramai.

Dalam kota Yang liu cun terdapat delapan buah penginapan empat diantaranya terhitung rumah penginapan yang cukup besar, sedangkan empat sisanya merupakan penginapan kecil Menjelang fajar, Siau Hou Cu dan Siau liong baru tiba di dalam dusun tersebut.

Siau Hou cu segera menarik tangan Siau liong sembari berkata.

"Mari kita mencari rumah penginapan dulu, cari yang kecil saja tapi mesti kelas yang lumayan !"

Dalam persoalan seperti ini, Sun Tiong lo boleh dibilang belum pengalaman, ia merasa apa yang diucapkan Siau Hou cu pasti tak salah maka merekapun memasuki sebuah rumah penginapan yang memakai merek Hongan.

Dengan potongan Siau Hou cu macam pengemis, tentu saja bukan suaiu pekerjaan yang mudah cari kamar, untung dia melakukan perjalanan bersama Sun Tiong lo, sehingga sang pelayan baru berani menganggapnya sebagai tamu.

Baru saja mereka masuk ke kamar, Siau Hou cu telah berseru kepada pelayan penginapan.

"Hei, Siau ji ko, apakah disini terdapat toko penjual pakaian?"

Pelayan ini memperhatikan Siau Hou cu sekejap, kemudian sahutnya. Siau Hou cu memang pandai bermain sandiwara, sebelum berbicara ia tertawa dulu, kemudian dengan wajah memerah katanya.

"Benar, aku sudah berapa tahun meninggalkan rumah sehingga tampangku berubah menjadi begini rupa, untung saudaraku ini bersedia mengembara kemana mana untuk mencari jejakku, sebelum sampai dirumah, tentu saja aku tak boleh berdandan seperti ini lagi ..."

Tak usah dilanjutkan kata kata itupun sang pelayan sudah mengerti, katanya sambil tertawa.

"Hambapun sedang keheranan tadi, hamba heran Kongcu-ya tidak bertampang seorang pengemis, kenapa dandanannya macam begitu, rupanya begitulah kejadiannya, cuma kongcu-ya .. sekarang hari masih pagi ..."

Sebelum pelayan itu menyelesaikan kata-katanya, Siou Hou cu sudah merogoh dalam saku nya mengeluarkan sekeping uang perak, lalu sambil diangsurkan pada si pelayan, katanya.

"Siau jiko, terimalah sedikit uang ini untuk membeli arak, sekalian tolonglah mengetuk pintu toko, ambilkan empat stel pakaian yang cocok dengan potongan badan kami berdua."

Orang kuno bilang.

Asal punya uang, setan pun bisa diperintah, Apalagi pelayan itu hanya seorang manusia biasa yang masih kemaruk oleh harta, sambil menerima pemberian itu buru-buru dia mengundurkan diri dari situ.

Tak selang beberapa saat kemudian, dia telah muncul kembali dengan membawa enam stel pakaian, Siau Hou-cu segera memilih dua diantaranya, setelah membayar dan ganti pakaian, ia baru berkata sambil tertawa.

"Siau-Iiong, kau jangan keluar dulu, tunggulah aku, aku hendak menyelesaikan dulu suatu persoalan penting."

Sun Tiong-lo memandang ke arah siau Hou cu tanpa berkata-kata, sedangkan Siau Hou-cu segera berlalu sambil tertawa.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, dengan riang gembira Siau Hou-cu muncul kembali, setelah menutup pintu kamar dan duduk disamping Sun Tiong lo katanya dengan suara lirih.

"Kita tak jadi tinggal di penginapan ini, mari kita pindah ke penginapan yang lain saja, sekarang juga berangkat !"

"Ganti penginapan ? Aku duga kau hendak berada dalam satu penginapan dengan Yan Tan hong bukan ?"

"Kau memang hebat sekali Siau-liong."

Seru Siau Hou cu sambil mengacungkan jempolnya "tepat sekali dugaanmu itu, mari kita berangkat."

Dan setelah memanggil pelayan dan memberi persen mereka pun pindah ke rumah penginapan yang memakai merek "Yong hoa"

Yang namanya keren, ternyata perabotnya juga berkwalitet nomor satu.

Dalam penginapan Yong hoa terdapat dua buah ruangan dengan halaman yang tersendiri satu bernama Yu lu sedangkan lainnya bernama Ya wan.

Dalam ruang Yu lu sudah terisi tamu maka Siau Hou cu pun memesan ruangan Ya wan.

Antara ruang Yu lu dengan Ya wan hanya dipisahkan oleh selapis dinding pekarangan.

Dengan cepat Sun Tiong lo tahu kalau tamu yang menginap di ruang Yu lu sekarang sudah pasti adalah Yan Tan hong dengan kedua orang dayangnya.

Dan setelah pemilik rumah penginapan pergi Siau Hou ca segera menutup pintu kamar dan menarik Sun Tiong lo memasuki ruangan sebelah kiri, lalu dengan suara lirih dia berkata.

"Siau liong"

Kamar yang berada disebelah kita adalah kamar dari pangcu perempuan iiu, suara pembicaraan mereka agak besar, bila kita menempelkan telinga diatas dinding, maka apa yang mereka bicarakan kita dengar dengan jelas!"

Sun Tiong lo segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Lebih baik aku tidur dikamar sebelah kanan saja"

Katanya.

"aku tak mau mendengarkan perkataan orang!"

Mendengar perkataan itu, Siau Hou cu menjadi tertegun.

"Orang persilatan bilang, jika ingin mengetahui rahasia orang, lebih baik pasang telinga menyadap pembicaraan orang, Siau liong,jangan lupa mereka adalah musuh kita, apa yang mereka bicarakan sembilan puluh persen pasti merugikan kita berdua!"

"Tentu saja"

Kata Sun Tiong lo sambil mengangguk "tapi apalah gunanya kalau kita hanya mendengarkan belaka?"

Siau Hou cu segera berpikir sebentar, tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya sambil bertanya kepada Sun Tiong lo.

"Siau liong, bersediakah kau untuk menangkap mereka dan menanyai hal ini sampai jelas?"

"Tentu saja bersedia"

Jawab Sun Tiong lo tanpa berpikir panjang.

"tapi mudahkah untuk melakukan hal ini?"

"Mudah sekali"

Siau Hou cu tertawa cekikikan.

"aku sanggup untuk melakukannya, sekarang mari kita tidur dulu, bila sudah bangun nanti dan makan sampai kenyang, kutanggung kau pasti berhasil dengan sukses.."

Sun Tiong io memandang sekejap kearah Siau Hou cu, lalu mengangguk.

"Baiklah, kalau begitu kau boleh tidur disini. Sedang aku tidur dikamar lain."

Siau Hou cu tertawa, dia lantas melepaskan sepatunya dan menanggalkan pakaian untuk tidur.

Sebaliknya Sun Tiong Jo berjalan menuju kekamar sebelah kanan, sesudah melepaskan sepatu, dia duduk bersila diatas pembaringan dan menggunakan kesempatan itu untuk bersemadi menghimpun kembali tenaga dalamnya.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB KEDUA PULUH EMPAT SAMPAI tengah hari kemudian, Siau Hou cu baru bangun dari tidurnya.

Baru saja dia akan bersuara untuk memanggil Sun Tiong lo, mendadak ia seperti teringat akan sesuatu, karena gegabahnya hampir saja nama Siau liong diucapkan dan nyaris rencana mereka mengalami kegagalan total....

Pelan pelan dia lantas turun dari pembaringannya dan mengenakan sepatu, mendadak dari kamar sebelah dia mendengar ada orang sedang bercakap-cakap.

"Kalian begitu banyak orang, apa lagi terbagi menjadi tiga rombongan, masa kabar beritapun tidak didapat, malah si kakek terbang yang jauh diluar perbatasan berhasil membuat pahala."

Begitu mendengar nama Hui siu, atau kakek terbang di singgung, Siau Hou cu segera merasakan jantungnya itu berdebar keras, apa lagi setelah mendengar ucapan "membuat pahala,"

Hampir saja jantungnya melompat keluar. Pada saat itulah, dari kamar sebelah segera terdengar suara dari Ang Beng liang.

"Pangcu, kalau toh Ku Gwat cong sudah terjatuh ketangan Sui siu, hal ini membuktikan kalau dugaan hamba yang mengatakan bahwa dua orang yang berada ditepi api unggun di-tengah hutan semalam adalah dua orang setan cilik itu tidak salah lalu..."

"Sekalipun tidak salah lantas kenapa? Toh kosong melompong hasilnya...?"

Kata sang pangcu dengan dongkol. Ang Beng liang segera mengiakan berulang kali.

"Dua orang setan cilik itu tampaknya jauh lebih licik daripada Ku Gwat cong, tapi setelah Ku Gwat cong tertawan, aku rasa persoalan ini lebih mudah untuk diselesaikan sudah pasti dia mengetahui akan jejak dari kedua orang setan cilik ini!"

Sang pangcu kembali mendengus dingin.

"Hmm, kau memang pintar sekali, memangnya hanya kau sendiri yang bisa berpikir demikian dan orang lain tak dapat menduga sampai ke situ?"

Dampratnya.

Kata-kata yang amat pedas ini kontan saja membuat Ang Beng liang untuk beberapa saat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Siau Hou cu yang berada dikamar sebelah menjadi amat gelisah, dengan cepat dia memburu kekamar sebelah kanan, kemudian sambil membuka pintu ruangan suaranya lirih.

"Siau liong, Siau liong, barusan aku..."

Tiba-tiba dia menjumpai kalau Sun Tiong lo sudah tidak berada didalam kamarnya, hal ini membuatnya menjadi tertegun untuk beberapa saat lamanya.

Pada saat itulah pintu ruangan dibuka orang dan Sun Tiong lo berjalan masuk dari halaman tengah.

Baru saja Siau Hou cu akan berbicara, Sun Tiong lo telah menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu menariknya menuju kekamar sebelah kanan.

Siau Hou cu tak dapat menahan sabarnya lagi, segera bisiknya dengan lirih.

"Suhu sudah keluar perbatasan kini beliau kena ditangkap..."

"Tak usah panik lebih dulu"

Tukas Sun Tiong lo sambil menggelengkan kepalanya.

"akupun sudah mendengar akan hal itu, tapi aku tidak percaya..."

Jawaban ini segera membuat Siau Hou cu menjadi tertegun, lalu dengan kening berkerut katanya.

"Kau tak percaya? Apakah berita ini palsu."

"Beritanya sih tidak palsu,"

Sambung Sun-Tiong lo kembali.

"tetapi kemungkinan orang nya yang palsu, cobalah pikir, pangcu perempuan ini dengan membawa begitu banyaknya jago liehaypun tidak sanggup menemukan kita berdua dengan kemampuan yang dimiliki oleh suhu, mana mungkin dia bisa kena di tangkap lawan?"

Siau Hou cu mengerdipkan matanya berulang kali setelah mendengar perkataan ini, untuk beberapa saat lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Kembali Sun Tiong lo merendahkan suaranya, dan lalu berkata lagi.

"Apakah kan lupa dengan ke enam belasnya, orang pengemis tua di kota Tong ciu tempo hari? Nah, kejadiannya kan sama!"

Siau Hou cu merasa perkataan ada benarnya juga, maka dia segera manggut-manggut.

"Ya benar juga perkataanmu itu, masa suhu bisa ditangkap dengan begitu mudah!"

"Engkoh Siau hou"

Kata Sun Tiong lo kemudian sambil tertawa.

"aku rasa kita perlu menggantikan sebutan sehari hari kita, dari pada terjadi hal hal yang tak diinginkan!"

Siau Hou cu segeralah mengangguk, dengan merendahkan suaranya dia berkata.

"Yaa, ucapanmu itu memang benar, ketika baru bangun dari tidur tadi, hampir saja aku memanggil namamu Siau liong!" -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** SUN TIONG LO tersenyum.

"MuIai sekarang, lebih baik kita jangan mempergunakan sebutan siau liong atau Siau hou lagi"

Katanya.

"baiknya kupanggil toako kepada mu dan kau memanggil saudara atau jite kepadaku, dengan begitu, kita boleh memanggil dengan suara keras tanpa mesti menguatirkan perhatian orang lain..."

Siau Hou cu segera tertawa, sahutnya sambil manggut-manggut "Begitupun baik juga, tadi kau telah keluar?"

"Yaa, Ang Beng liang dan Tan Tiang hoa telah datang, maka aku mesti selalu waspada."

Sahut Sun Tiong lo sambil menunjuk kearah halaman sebelah depan, .

Sicu Hou cu tidak berbicara lagi, sedang diam-diam ia menggerutu kepada diri sendiri mengapa tidur seperti orang mati.

Sejak tengah hari tadi mereka belum bersantap, kini malampun sudah menjelang tiba, tak heran kalau kedua orang itu merasa amat lapar.

Baru saja Siau Hou cu hendak mengatakan kepada Sun Tiong lo agar suruh pelayan mengirim makanan ke dalam kamar, mendadak dari kamar sebelah kedengarannya suara dari Tan Tiang hoa telah bergema lagi.

"Hamba telah mengirim orang untuk memeriksa setiap penginapan yang berada disini, namun tidak berhasil menemukan kedua orang setan cilik itu, pangcu, menurut pendapatmu lebih baik kita menunggu semalam disini ataukah melanjutkan perjalanan lebih jauh..."

"Tunggu saja disini"

Sambung pangcu dengan dingin.

"beritahu kepada mereka, sebelum kentongan pertama nanti suruh mereka menantikan perintahku dibelakang dua batang pohon kui di kiri mulut masuk dusun ini, jejak mereka harus dirahasiakan!"

Mendengar perkataan itu, seperti memahami akan sesuatu Tan Tiang-hoa segera menyahut.

"Dugaan pangcu menang lihay sekali, betul bocah keparat itu pasti akan berkunjung ke sana ! "

Yan pangcu mendengus dingin.

"Hmm, kebun Cui liu wan yang dulu kini telah berubah menjadi puing-puing yang berserakan. kalau kau tak tahu akan hal ini, maka hal ini merupakan persoalan yang serius, aku tak lebih hanya melakukan apa adanya saja ."

Selanjutnya yang terdengar adalah suara sahutan dari Tan Tiong hoa. Dengan kening berkerut Sun Tiong lo segera bertanya kepada Siau Mou cu.

"Toako, tempat macam apakah Cui liu wan itu?"

Dengan cepat Siau Hou cu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Siapa tahu"

Sahutnya.

"jite, apakah tidak kau dengar pembicaraan mereka, tempat itu adalah sebuah tempat yang terbengkalai dan tinggal puing yang berserakan."

"ltukan keadaan sekarang."

Tukas Sun Tiong-lo setelah memandang sekejap kearah Siu Hou cu.

"dulunya sudah pasti tempat itu merupakan sebuah kebun bunga yang sangat indah."

"Aah, buat apa kita memperdulikan persoalan itu, toh kita tak akan pergi kesana !"

"Tidak, aku akan pergi kesana untuk melihat keadaan!"

Ujar Sun Tiong lo sambil menggeleng kan kepalanya berulang kali.

Diam-diam Siau Hou cu merasa gelisah, dia benar-benar tidak mengetahui tempat macam apakah Cui liu wan tersebut, tapi dia pernah mendengar tentang dusun Yang liu cun ini dari sipengemis tua dan tahu kalau tempat ini erat hubungannya dengan Sun Tiong lo.

Tapi, diapun hanya memahami akan persoalan ini saja, itupun dia sempat menyadapnya ketika berada di kuil Kwan ya bio di kota Tong ciu karena pura-pura tidur, ketika itu Cui Tong belum datang dan kebetulan saja pengemis tua tersebut membicarakannya.

Dia masih teringat dengan jelas, pengemis tua itu pernah berkata kalau Sun Tiong lo adalah keturunan keluarga Sun dari dusun Yang liu-cun tersebut, sedang pangcu perempuan tersebut sekarang juga telah menduga kalau dia dan Sun Tiong lo kemungkinan akan berkunjung ke Cui liu wan yang tinggal puing berserakan hal ini membuatnya semakin sadar kalau Cui liu wan kemungkinan besar adalah tempat tinggal Sun Tiong lo dimasa lalu.

Karena pendapat inilah maka sengaja dia menjawab dengan hambar dan mengucapkan kata kata seperti ..

"Toh kita tak akan kesana."

Siapa tahu, Sun Tiong lo pun berhasil menangkap sesuatu yang tidak beres dibalik perkataan itu sehingga bersikeras hendak ke sana.

"Pergi kesananya memang tak menjadi soal, persoalannya sekarang adalah pihak lawan telah mengirimkan jago-jago lihaynya ke sana, bila mereka bersikeras hendak ke situ, bukan kah hal ini sama artinya dengan menghantar kematian sendiri?"

Berpikir sampai disitu, Siau Hou cu segera berkata dengan suara yang lirih.

"Jite, kau toh sudah tahu bahwa pihak lawan mengirimkan jago-jago lihaynya ke situ malam ini, kalau kita bersikeras ke sana, bukankah hal ini..."

"Toako, mengapa kita tidak berangkat sekarang juga?"

Tukas Sun Tiong lo dengan cepat.

Siau Hou cu cukup mengetahui watak dari Sun Tiong lo, tahu kalau tak mungkin bisa menghalangi niatnya itu, dan lagi pergi sekarang jauh lebih kecil resikonya daripada pergi malam nanti, maka dengan cepat dia mengangguk.

"Baik"

Katanya.

"aku setuju kalau berangkat sekarang tapi kita mesti mengisi perut dulu !"

Sun Tiong lo manggut sambil tertawa.

Maka Siau Hou cu segera memanggil pelayan untuk memesan dua mangkuk bakmi, setelah bersantap kenyang dan memberikan pakaian, mereka siap meninggalkan kamar.

Mendadak dari balik pintu tampak seseorang mengintip kedalam, dengan suara keras Siau Hou cu segera berteriak.

"Hei, siapa disitu ? Ditengah hari begini celingukan dimuka kamar tidur orang ?"

Seorang kakek berbaju emas segera berjalan masuk dari luar balaman, ternyata dia adalah Tan Tiang hoa. Dengan suara yang berat Tan Tiang hoa berkata dari luar halaman.

"Tolong tanya saudara, apakah disini ada se orang kongcu dari marga Sun ?"

Baru saja Siau Hou cu hendak mengatakan tidak ada, Sun Tiong lo telah berseru.

"Ada, aku she Sun, ada urusan apa?"

Sambil berkata Sun Tiong lo memberi tanda kepada Siau Hou cu.

Siau Hou cu segera manggut-manggut dan membuka pintu berjalan keluar ruangan.

Tan Tian Hoa hanya melirik sekejap ke arah Siau Hou cu, kemudian cepat-cepat serunya lagi sambil menjura.

"Oooh, .. salah orang, maaf kalau lohu telah mengganggu ketenangan kalian!"

Sembari berkata dia telah membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu dengan langkahnya yang Iebar. Diam-diam Sun Tiong lo lantas berbisik kepada Siau Hou cu.

"Toako, mari kita pergi sekarang juga."

Setelah berada dijalanan, siau Hou cu segera menyikut Sun Tiong lo sambil berkata.

"Jite kesemuanya ini merupakan keteledoranku, kalau hanya berganti pakaian tanpa berubah muka, lantas apa gunanya?"

"Masa wajah seseorang pun dapat dirubah?"

Tanya Sun Tiong lo sambil tertawa, Siau Hou cu mengangguk.

"Mengapa tak bisa dirubah, apakah kau tak pernah mendengar tentang ilmu merubah wajah?"

Katanya. Sun Tiong lo menggelengkan kepalanya berulang kali, mendadak dia berbisik.

"Memancing setan masuk ke dalam rumah... waah, rupanya ada orang yang sedang menguntil di belakang kita"

"Oya? Jite, apakah perlu kita permainkan mereka? Aku rasa ditengah hari begini, mereka pasti akan merasa segan untuk turun tangan, mari kita mencari akal...."

"Toako, mengapa kita tidak mengikuti siasat dari pangcu perempuan itu dengan memancing mereka datang ke Cui liu wan!"

Bisik Sun Tiong lo dengan lirih. Mendengar perkataan itu, Siau Hou cu menjadi tertegun.

"Jite, tempat itu sudah pasti sepi, terpencil, mana tak ada orang lagi, sudah pasti tak akan menguntungkan bagi kita semua..."

Sun Tiong lo cuma tertawa saja tanpa menjawab, malah langkah kakinya lebih cepat.

Siau Hou cu terpaksa harus mendampingi di sampingnya dengan mempercepat langkahnya.

Luas Yang liu cun ternyata cukup lebar, untuk mencapai ujung kota mereka membutuhkan waktu setengah harian lamanya, dari kejauhan sana sudah terlihat kedua batang pohon kui yang besar itu.

Dengan suara lirih Sun Tiong lo berbisik.

"Tampaknya orang yang yang menguntil di belakang kita, semakin lama semakin banyak jumlahnya."

"Biar saja, makin banyak toh semakin baik bagaimanapun kita kan sudah terlanjur sampai disini."

Sahut Siau Hau-ji sambil melirik sekejap kearah Sun Tiong-lo. Kembali Sun Tiang lo tertawa.

"Toako, masih ingatkah kau dengan kitab kecil yang ditinggalkan suhu kepada kita?"

"Dalam keadaan begini kau menyinggung kembali soal kitab itu, apalah artinya ?"

Sun Tiong lo seperti merasa bangga sekali, dengan cepat sahutnya.

"Pada halaman pertama dari kitab kecil itu bukankah tertuliskan "Untuk mengetahui asal usulmu, lewati dulu Bukit pemakan manusia"

Toako, sekarang kita sudah tak usah repot-repot lagi !"

Tergerak hati Siau Houcu setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian.

"Kau mempunyai pendapat apa ? Sun Tiong-lo tertawa.

"Buat apa kita mesti mencari yang jauh dengan menyia-nyiakan yang dekat ? Aku mempunyai suatu akal yang jauh lebih baik lagi !"

Siau Hou-cu sendiripun bukan seorang manusia yang bodoh, dengan cepat dia dapat memahami maksud dari Sun Tiong lo itu, katanya kemudian segera.

"Kau ingin berbuat apa ? Membekuk orang-orang yang mengejar di belakang kita itu ?"

"Ehmm, bukankah cara ini bisa menghemat banyak tenaga kita?"

Sun Tiong-lo melirik sekejap ke arah Siau Hou cu. Siau Hou-cu segera menggelengkan kepala nya berulang kali.

"Menghemat betul menghemat, cuma kuatir hanya ada sementara persoalan memang bisa dihemat, tapi persoalan lain justru semakin bertambah banyak"

"Mana bisa?"

Kata Sun Tiong lo sambil tersenyum "Mengapa tidak?"

Setelah berhenti sejenak, Siau Hou cu berkata lebih jauh.

"Siau liong, mengapa kau tidak berpaling dan melihat jelas lebih dulu keadaan di belakangmu!"

Tentu saja Sun Tiong Io mengerti arti dari pada perkataan dari Siau Hou Cu itu, kembali dia tertawa.

"Apakah engkoh Siau Hou cu takut jumlah mereka yang kelewat banyak?"

"Kau tidak takut? "

Siau Hou cu balik menatap sekejap wajah Sun Tiong lo. Sun Tiong lo segera menggelengkan kepala.

"Tidak. aku tidak takut, apa lagi aku.."

""Percaya tidak kau, pada saat ini perempuan yang mereka sebut sebagai pangcu itu sudah pasti telah mendapat laporan dari anak buah nya dan sekarang lagi berangkat kemari ,.,."

"Aku percaya, dan justru aku berharap akan kedatangannya."

Jawaban ini kontan saja membuat Siau Hou cu tertegun.

"Kau mengharapkan kedatangannya?"

Dia berseru, Setelah berhenti sebentar, dia berkata lebih jauh.

"Mungkin kau masih belum memahami maksud dari perkataanku ltu, dengan mengandalkan kepandaian silat yang dimiliki kita berdua, untuk menghadapi Tan Tiang hoa mungkin saja masih bisa, tapi kalau ditambah dengan Ang Beng liang..."

"Sekalipun ditambah lagi dengan beberapa orangpun tidak menjadi persoalan!"

Seru Sun Tiong lo. Siau Hou cu melirik sekejap ke arah Sun Tiong lo, kemudian katanya lagi.

"Siau-liong, apakah kau mempunyai keyakinan?"

"Seharusnya ada, cuma aku belum pernah mencobanya !"

"Aaai... apa arti dari perkataanmu itu ?"

"Engkoh Mau Hau,"

Kata Sun Tiong-lo sambil mengerdipkan matanya yang besar.

"selama setahun belakangan ini aku sudah belajar banyak sekali..."

Belum habis ia berkata, Siau Hou cu telah menukas lagi.

"Soal ini aku tahu, cuma ragu dalam setahun yang begitu singkat, sampai dimanakah keyakinan yang berhasil kau raih !"

"Kepandaianku itu memang belum pernah kucoba, akan tetapi menurut perkataan Kwik Wangwee, aku menjadi seorang jago lihay yang tiada tandingannya didunia ini !"

Siau Hou cu mengerdipkan matanya berulang kali, dan ia pun tidak berbicara lagi. Maka Sun Tiong-lo segera berkata lebih jauh.

"Aku rasa bagaimanapun juga pada suatu ketika toh mesti mencari seseorang untuk mencobanya...."

Siau Hou cu segera tertawa getir tukasnya.

"Oleh karena itu kau bertekad hendak mempergunakan gembong gembong iblis itu untuk mencoba kepandaianmu ?"

Sun Tiong-lo segera menggeleng.

"Bukan cuma mencoba saja, melainkan masih ada alasan lainnya."

"Oooh... apakah alasanmu itu !!"

"Pangcu perempuan itu menyebut dirinya sebagai Yan Tan hong, tapi anehnya semenjak muncul sampai sekarang, wajahnya selalu ditutupi oleh kain cadar putih sehingga tak dapat dilihat raut wajah sebenarnya..."

"Heran, mengapa kau ingin menyaksikan raut wajahnya?"

Seru Siau Hou cu dengan kening berkerut.

"Sebab aku mempunyai suatu perasaan yang penting sekali."

Jawab Sun Tiong lo serius.

"Ooh... coba kau terangkan!"

"Ketika aku berumur lima tahun dulu pernah berjumpa satu kali dengan Yan Tan hong, akupun pernah mendengar pembicaraannya tapi Yan Tan hong yang sekarang bersuara lain, wajahnyapun tak terlihat jelas, oleh karena itu..."

"Pentingkah persoalan ini?"

Tukas Siau Hou cu kemudian menjadi mengerti.

"Yaa, penting sekali, sebab mendiang ayahku tewas tertusuk oleh pedang Yan Tan hong!"

Dengan wajah serius Siau Hou cu berpikir sebentar, kemudian jawabnya.

"Waah, itu mah berbeda!"

Selesai berkata, ia kembali menundukkan kepalanya dan termenung beberapa saat lamanya, kemudian melanjutkan.

"Siou liong, kalau memang demikian, hari ini kita mesti bikin kekacauan besar-besaran"

"Bagaimana caranya?"

Mendadak Siau Hou cu berpaling dan memandang sekejap ke belakang, kemudian katanya.

"Sekarang orang she Ang itu belum datang, Tan Tiang hoa juga belum datang, lebih baik kita percepat gerakan tubuh kita setibanya di depan kedua batang pohon kui tersebut dan menyelinap ke belakang pohon, hal itu pasti akan memancing mereka untuk makin dekat."

"Kemudian kau dari timur aku dari barat, kita bersama sama menghadang jalan mundurnya secara tiba-tiba, sedikit berbicara banyak bekerja, jangan bunuh orang tapi kita ringkus mereka secepatnya dengan mempergunakan suatu ilmu khusus, bagaimana menurut pendapatmu?"

Sun Tiong-lo segera manggut-manggut.

"Baik, kita lakukan begitu saja !"

Sahutnya. -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Nona Kim yang dibuat terpesona karena mendengar penuturan dari Sun Tiong-lo itu, mendadak menyela.

"Kau tak usah menceritakan lagi kisah pertarunngan dalam Cu liu-wan tersebut."

"Ooooh, mengapa ?"

Tanyanya ingin tahu.

"Tentunya kalian berhasil menangkan pertarungan itu bukan ?"

Ucap nona Kim dingin.

"Darimana nona bisa tahu kalau kemenangan berada dipihak kami bukan mereka ?"

"Kalau tidak, mana mungkin kau bisa sampai di Bukit Pemakan Manusia ini ?"

Katanya. Sun Tiong-lo segera tersenyum.

"Ooooh, rupanya begitu !"

Katanya.

"Pada dasarnya memang begitu !"

Sambung nona Kim cepat dengan suara dingin. Dan setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ia bertanya lagi.

"Apakah keinginanmu berhasil tercapai ?"

"Keinginan ? Keinginan apa yang nona maksudkan...."

Sun Tionglo tidak memahami apa yang dimaksudkan nona Kim itu.

"Menyingkap kain kerudung si pangcu tersebut ?"

Kata nona Kim lagi. Sun Tionglo segera mengangguk.

"Yaa, aku berhasil memenuhi keinginanku itu !"

Jawabnya kemudian. Bergerak juga hati nona Kim setelah mendengar perkataan itu, cepat ia tanyanya.

"Apakah dia adalah Yan Tan hong ?"

Sun Tiong-lo menarik napas panjang-panjang, kemudian mengangguk.

"Betul memang dia !"

Nona Kim segera mengerling sekejap ke arahnya sambil menyambung.

"Tidak bisa disangkal lagi, kau pasti telah membunuhnya."

"Tidak, aku tak dapat membunuhnya?"

Tukas Sun Tiong lo sambil mengelengkan kepalanya. Tampaknya jawaban ini sama sekali diluar dugaan nona Kim.

"Mengapa demikian?"

"Dia adalah ibu kandung Bauji toako, dan lagi diapun..."

"Yaa, betul! kau tak boleh membunuhnya, tapi kaupun tak boleh berpeluk tangan?"

"Tapi akhirnya dia berhasil melarikan diri"

Bisik Sun Tiong lo dengan kepala tertunduk. Nona Kim menjerit kaget, serunya tertahan.

"Haah, mengapa bisa begitu?"

Sun Tiong lo segera tertawa getir "Waktu itu pengalamanku masih cetek, jalan darahnya saja yang kutotok, siapa tahu ia telah berhasil melatih ilmu Hwee khi sin kang-(ilmu sakti hawa membalik), rupanya jalan darah yang tertotok berhasil diterjang bebas sebelum melarikan diri!"

Mendengar hal itu. Nona Kim segera merasakan hatinya bergetar keras, rupanya lagi tanpa sadar.

"Bagaimana dengan Tan Tiang hoa serta Ang Beng liang ?"

"Aku telah memunahkan kepandaian silat mereka dan melepaskannya pergi...!"

"Tidak kau tanyakan latar belakang sehingga terjadinya ikatan dendam tersebut?"

Tanya si nona berkerut kening.

"Sudah, namun tak banyak yang ia ketahui"

"Sekalipun hanya setitik terang yang berhasil ditemukan, pelanpelan toh bisa diselidiki sampai tuntas..."

"Sekarang tak usah diselidiki lagi"

Tukas Sun Tiong lo.

"aku sudah tahu dengan jelas kisah terjadinya perselisihan hingga mengakibatkan terikatnya dendam kesumat itu"

"Oooh, lantas karena apa?" -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Karena mabuk oleh arak sehingga ayahku melakukan sesuatu perbuatan salah yang tidak disadari oleh dia sendiri !"

"Oooh, maksudmu terhadap Yan Tan-hong?"

"Benar !"

Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lebih lanjut dengan wajah serius.

"Cuma itu menurut anggapanku dimasa lalu, sedang kini..."

"Kini berbeda?"

Sela sinona.

"Yaa, kini berbeda"

Sun Tiong lo mengangguk dengan wajah keren dan serius.

"sekarang aku baru tahu kalau apa yang kubayangkan dahulu sesungguhnya keliru, ayahku bukan mati dibunuh Ji-nio, bahkan Ji-nio dan ibunya jauh hari sebelumnya telah tewas lebih dulu !"

Nona Kim berpikir, kemudian katanya.

"Tampaknya kata-kata tersebut pernah ku dengar dari kakakmu."

"Ehmm, betul ! Dan itupun sudah berhasil nona sadap pada malam itu."

Nona Kim segera mengerling sekejap kearahnya, kemudian berkata lagi.

"Tapi, apakah perkataan dari kakakmu itu dapat dipercaya ?"

"Tentu saja dapat dipercaya !"

Nona Kim segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Seandainya aku yang menghadapi kejadian seperti itu, aku tak akan percaya dengan begitu saja akan perkataannya !"

"Dengan kedudukan nona sekarang, tidak seharusnya kau berkata demikian !"

Tegur Sun Tiong lo dengan kening berkerut. Merah padam selembar wajah nona Kim karena jengah, buru-buru serunya sambil cemberut.

"Aku toh berkata demi kebaikanmu ?"

"Aku amat berterima kasih kepadamu !"

Melihat pembicaraan menjurus dalam suasana yang serba kaku, buru buru nona Kim mengalihkan pembicaraannya ke soal lain, tanyanya kemudian.

"Mana kakakmu ?"

"Sudah pergi !"

Nona Kim menjadi terperanjat setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat.

"Tengah hari besok baru merupakan saatnya untuk melarikan diri, mengapa dia . ." -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***

Jilid 20 HAL itukan menurut peraturan kalian sedang kakakku tidak ada keharusan untuk taat dengan peraturan kalian itu!"

"Tampaknya sifat berangasanmu pada malam ini cukup besar!"

Tegur nona Kim nada marah. Mendadak Sun Tiong lo tertawa, katanya.

"Harap nona maklum, sebab saat ini lagi membicarakan musibah yang menimpa ayahku..."

Nona Kim segera tertawa kembali, selanya kemudian.

"Sudahlah, persoalan juga telah dibicarakan, kau tak usah merasa kesal lagi ..."

"Apakah nona sudah tiada persoalan yang ingin diketahui lagi?"

Sela Sun Tiong lo selanjutnya.

"Tidak ada, kau tak usah kuatir, aku dapat memegang janji dengan sebaik-baiknya!"

Sun Tiong lo tertawa.

"Padahal aku bukannya kuatir nona akan menceritakan kisah ini pada orang lain!"

Katanya.

"Oooooh, sungguh ?"

"Benar"

Nona Kim segera tertawa dingin, lalu sambil bangkit berdiri katanya.

"Ucapan ini kau ssndiri yang mengutarakan kalau sampai terjadi apa apa jangan kau salahkan aku lagi ..."

"Sampai sekarang, apakah nona masih ada waktu untuk mengurusi urusan orang lain ?"

Terkesiap nona Kim setelah mendengar perkataan itu, katanya.

"Apa maksudmu mengucapkan kata kata seperti itu?"

"Nona tak mengerti?"

Sun Tiong lo tertawa.

"Tentu saja aku tidak mengerti!"

Kembali Sun Tiong lo tertawa, katanya.

"Kalau begitu aku perlu mengingatkan dirimu kemudian sambil bangkit berdiri katanya.

"Aku harap nona jangan lupa dengan apa yang telah nona bicarakan dengan Su nio dalam loteng Hian ki lo, tentu saja sebelum kentongan pertama tadi, kaupun menyaksikan Su nio dan orang she Khong itu melarikan diri tanpa mengejarnya...."

Nona Kim berdiri bodoh, sambil menatap wajah anak muda itu serunya agak tergagap.

"Kau...kau... kau mengetahui semuanya.."

"Bila tak ingin diketahui orang lain, kecuali kalau diri sendiri tidak berbuat"

Sela Sun Tiong Io. Nona Kim segera duduk kembali keatas kursi, kali ini dia tidak berbicara lagi. Pada saat itulah Sun Tiong lo berkata lagi.

"Nona ada satu hal entah pantas tidak kalau kubicarakan dengan dirimu?"

Nona Kini masih saja menundukkan kepala nya rendah-rendah tanpa menjawab.

"Nona, harap kau suka menjawab pertanyaanku im?"

Seru Sun Tiong lo lagi sambil menatapnya tajam-tajam. Mendadak Nona Kim mendongakkan kepalanya, sambil memancarkan sinar mata setajam sembilu, dia berseru.

"Jangan mimpi bila kau sanggup menggertak aku !"

"Sejak kecil keluargaku tertimpah musibah hingga hidup berkelana untuk membalas dendam, sebaliknya sejak kecil nona diculik sampai tak kenal siapakah orang tua sendiri, kalau dibicarakan sesungguhnya cukup mengenaskan, mengenaskan mengapa aku mesti mengancam nona?"

"Kalau toh kau sudah mengetahui segala sesuatunya, maka akupun tak akan mengelabuhi dirimu lagi"

Kata nona Kim dengan kening berkerut.

"berbicara terus terang, terhadap semua perkataan yang diucapkan Su-nio itu, aku masih belum dapat mempercayainya dengan begitu saja"

Sun Tiong lo berkerut kening, lalu katanya.

"Mengapa begitu?"

Noaa Kim gelengkan kepalanya berulang kali.

"Sulit untuk dikatakan alasannya, mungkin kejadian ini datangnya terlalu tiba tiba!"

Sun Tiong lo segera berpikir sebentar, lalu ujarnya.

"Nona, dapatkah kau menjawab beberapa buah pertanyaanku?"

"Boleh saja, asal persoalan itu kuketahui..."

"Pada setahun berselang, pernahkah Su-nio meninggalkan bukit ini?"

Tukas sang pemuda. Nona Kim segera menjawab.

"Dia baru setengah tahun tinggal dibukit ini!"

Tergerak hati Sun Tiong lo setelah mendengar perkataan itu, tanyanya kemudian.

"Dahulu dia tinggal di mana?"

"Su nio sering mengatakan perkampungan keluarga Mo begini begitu, aku rasa..."

Mendengar jawaban itu, hati Sun Tiong lo kembali tergerak, katanya cepat.

"Apakah perkampungan keluarga Mo yang berada dibawah kaki bukit Wusan...?"

Nona Kim berpikir sejenak, lalu mengangguk. Mungkin saja benar, berapa kali dia pernah membicarakan tentang pemandangan alam di bukit Wu-san denganku ! Tiba tiba Sun Tiong-lo mendengus dingin.

"Hmm, rupanya benarbenar dia !"

"Dia? Dia kenapa?"

Nona Kim tertegun.

"Masih ingatkah kau, sewaktu kakakku berjumpa denganku diloteng ini, dia pernah bilang pada malam ayahku tertimpa musibah, di tengah jalan Yan sian po dan putrinya telah berjumpa dengan manusia berbaju emas...."

"Ya, betuI, memang dia pernah bercerita demikian."

Sekali lagi Sun Tiong lo mendengus dingin.

Ketika itu nona bersembunyi dibalik kegelapan dan bisa mendengar semua cerita dengan jelas, bukankah kakakku pernah berkata bahwa manusia kerudung berbaju emas itu telah mempersiapkan Yansian po dan Yan Tan hong gadungan?"

"Waktu itu si anak Manusia berbaju emas itu telah menyebut Yan sian po dan Yan Tan-hong gadungan sebagai Ji nio dan Su nio, padahal Ji nio telah tewas ditangan Yan sian po asli, sebaliknya Su nio..."

Nona Kim segera memahami apa yang dimaksudkan segera tukasnya.

"Mungkin saja hal itu hanya merupakan suatu kebetulan saja!"

"Bukan, bukan suatu kebetulan"

Sun Tiong lo menggeleng.

"nona siu adalah su-nio, dan dia pula si Yan Tan hong gadungan yang pernah kubekuk, aku berani berkata sekarang kalau hal ini tak bakal salah lagi!"

"Bukti, mana buktinya?"

"Nona, tentunya kau masih ingat bukan ada orang telah memasuki istana Pat tek sin kiong..."

"Aku sudah tahu kalau orang itu adalah kau!"

Tukas nona Kim. Sun Tiong lo manggut-manggut.

"Benar, orang itu adalah aku, cuma aku telah mempergunakan sejenis obat untuk merubah bentuk wajahku saja, namun Su nio yang ada perhatian ternyata dapat mengenaliku dalam sekilas pandangan saja."

"ltulah sebabnya secara diam diam ia mencampuri arak dengan racun, maksudnya hendak meracuni aku sampai mati, setelah usahanya gagal dia baru sadar kalau akibatnya luar biasa, itulah sebabnya dia lantas menghianati Khong It hong dengan membocorkan seluruh rahasianya..."

"Kalau toh kau sudah tahu bahwa dia adalah Yan Tan hong gadungan, mengapa kau biarkan dia melarikan diri?"

Tukas si nona. Sun Tiong lo segera menghela napas panjang.

"Aaai, tadinya aku hanya curiga, tapi sekarang aku baru mendapatkan buktinya !"

"Mengapa secara tiba tiba kau bisa menemukan bukti?"

Nona Kim tidak habis mengerti.

"Nona yang memberitahukan kepadaku!"

"Aku?"

Nona Kim tertegun.

"kapankah kuberikan bukti tersebut kepadamu? Dan apa buktinya?"

Perkampungan keluarga Mo di bawah kaki bukit Wu-san..

"Mengapa dengan perkampungan keluarga Mo?"

Nona Kim masih saja tidak habis mengerti.

"Tempat itu merupakan tempat yang harus kukunjungi."

Nona Kim segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Setelah melarikan diri dari sini, aku rasa dia tak akan balik lagi ke perkampungan keluarga Mo !"

Sun Tiong lo segera mengerling sekejap nona itu, kemudian sambil merendahkan suaranya tiba tiba ia berkata.

"Tentang asal usul nona..."

"Aku tetap menaruh curiga dan akan kuselidiki dengan seksama sebelum mengambil keputusan !"

"Nona terus terang kukatakan kepadamu, aku sudah mulai curiga terhadap sancu!"

Kata pemuda itu dengan serius. Nona Kim tidak berkata apa-apa, dia sedang berpikir keras. Suara pembicaraan Sun Tiong lo semakin lirih, lanjutnya.

"KaIau toh Su nio adalah selir kesayangan Sancu, aku percaya, Sancu pasti mengetahui tentang persoalan keluargaku, kan aku rasa sudah sewajarnya bila kutuntut suatu keadilan darinya, oleh karena itu kuputuskan..."

"Kuanjurkan kepadamu agar suka mempertimbangkan dulu persoalan ini masak-masak sebelum melakukannya!"

Tiba-tiba nona Kim menukas.

"Jangan-jangan nona mempunyai pendapat lain?"

"Sebelum aku berhasil mengetahui dengan jelas asal usulku yang sebenarnya, siapapun jangan harap bisa melakukan sesuatu tindakan yang tidak menguntungkan Sancu!"

"Nona, apakah kau hendak memaksa aku,"

Seru Sun Tiong lo dengan kening berkerut.

"Kau harus mempertimbangkan yang baik."

Diam-diam Sun Tiong lo termenung sambil berpikir keras, lalu dengan serius katanya.

"Dalam hal ini maaf kalau aku tak dapat memenuhi harapanmu."

"Tapi kaupun tak dapat berbuat seenaknya !"

"Aaah, omong kosong, masa urusanku sendiri tak bisa kuputuskan menurut kehendak hatiku sendiri..."

Belum habis dia berkata, mendadak Sun Tiong lo seperti merasakan sesuatu, dengan cepat dia menghentikan perkataanku."

"Nona Kim tidak merasakan apa apa, ternyata dia ngerocos terus.

"Pokoknya aku bilang begitu tetap begitu, kalau tidak percaya coba sajalah sendiri!"

Baru saja dia selesai berkata, tahu-tahu Sancu telah berdiri didepan pintu.

Karena peristiwa ini munculnya secara tiba-tiba, serentak nona Kim melompat bangun dengan wajah terkejut.

Sambil tersenyum terdengar Sancu bertanya.

"Anak Kim, persoalan apakah yang membuat kau ribut dengan Sun kongcu...?"

Nona Kim tak dapat menjawab, dalam paniknya dia segera berkata terus terang.

"Dia kenal dengan Su nio !"

Tapi begitu ucapan tersebut diutarakan nona Kim segera merasa amat menyesal, tapi nasi sudah menjadi bubur, kata yang sudah di utarakan mustahil bisa ditarik kembali.

Ketika mendengar perkataan itu, Sancu nampak agak terkejut, dia segera berpaling kearah, Sun Tiong lo sambil berseru.

"Ooh, benarkah kongcu kenal dengan selir ku itu ?"

Ternyata dia mengakui Su nio sebagai selir nya, entah apa tujuan dibalik pengakuan itu?

Tampaknya pada saat itu Sun Tiong lo sudah mengambil keputusan, tanpa bermaksud untuk merahasiakan lagi sahutnya sambil tertawa.

"Betul, aku kenal dengan Su nio !"

Sepasang alis mata Sancu berkenyit, tapi sebentar kemudian telah pulih kembali seperti sedia kala, pelan-pelan dia melangkah masuk kedalam ruangan.

Dia duduk dihadapan Sun Tiong lo, lalu tanyanya lagi.

"Di manakah kongcu telah berkenalan dengan selirku itu? Lohu siap mendengarkannya."

Sun Tiong lo memandang sekejap kewajah nona Kim, tampak gadis itu sedang duduk disitu dengan wajah yang dengan wajah gugup bercampur bimbang, untuk sesaat seperti tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Hal ini segera menggerakkan hatinya, ia lantas berpikir.

"Kalau toh aku sudah mengambil keputusan untuk menyelidiki persoalan ini sampai jelas melalui mulut Sancu she Mo ini, mengapa tak sekalian menyertakan soal nona ini sehingga masalahnya menjadi jelas dan tuntas...?"

Berpikir sampai disitu, dia lantas menjawab.

"Aku sudah berapa kali berjumpa dengan Su nio, cuma sayang setiap kali dia muncul dengan mengenakan kain kerudung, cuma suatu kali tanpa discngaja dia telah memperlihatkan wajah aslinya..."

"Oooh, sungguh aneh, masa ada kejadian seperti ini?"

Tukas Mo Sancu sambil berseru tertahan. Sun Tiong lo segera tertawa dingin.

"Tidak, sedikitpun tidak aneh, karena peristiwa ini ada sebab sebabnya..."

"Oya? Tolong kau jelaskan?"

"Pada setahun lebih berselang ini, dia telah membawa Tan Tiang hoa dan Ang Beng liang mendatangi Kebun sayur keluarga Lau diutara ibu kota untuk membekuk aku."

"Kemudian pada setengah tahun berselang, diapun membawa anak buahnya lagi untuk mengejar dan berusaha menangkap aku di kota Tong ciu, tetapi kemudian kain kerudungnya kena dicopot orang ketika berada dikebun Cui Iiu wan di kota Yang liu cu.."

Ketika berbicara sampai disitu, Sun Tiong lo sengaja menghentikan kata katanya sambil menantikan reaksi dari Mo San cu.

Siapa tahu Mo Sancu cukup tenang, dan lagi perubahan perasaan senang, marah, kaget atau takutnya sukar dijumpai diatas wajahnya.

Diam-diam Sun Tiong mendengus dingin, kembali katanya lebih lanjut.

"Cuma selir kesayangan dari Sancu itu bukan muncul dengan wajah serta nama aslinya, melainkan menyamar sebagai Yan Tan hong, Yan lihiap yang telah mati banyak tahun."

"Kongcu kenal dengan Yan lihiap ?"

Sela Mo Sancu.

"Yan lihiap adalah ibu kandung kakakku, Ji-nio ku !"

Jawab Sun Tiong lo dingin.

"Oooh, lantas siapakah kakakmu itu ?"

"Dia adalah orang yang telah menyerbu masuk keatas Bukit Pemakan manusia itu !"

Oooh, lantas siapakah ayahmu ?"

Sun Tiong lo mendengus dingin, ketika dia menyebutkan nama Sun Pak gi, belum habis ucapan tersebut diutarakan, Mo Sancu telah melompat bangun dengan wajah kaget bercampur tercengang.

Sewaktu melompat bangun, wajah Mo sancu segera menampilkan perasaan kaget, tercengang terkesiap dan sedih.

Sambil menuding kearah Sun Tiong Io, sampai lama kemudian dia baru berseru.

"Apa hubunganmu dengan Sun Pak gi ?"

"Dia adalah mendiang ayahku !"

Mo sancu segera membelalakan matanya lebar-lebar.

"Apakah ibumu bernama Wan Pek In ?"

Serunya. Mendengar nama ibunya disinggung kembali, Sun Tiong lo merasa amat sedih.

"Benar !"

Jawabnya.

Mo sancu segera maju kedepan, lalu dengan emosi menjulurkan tangannya untuk memegang sepasang lengan Sun Tiong lo kencang-kencang.

Sun Tiong lo sama sekali tidak berkelit tapi secara diam diam hawa murninya telah dihimpun untuk melindungi badan, dia telah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan bilamana Mo Sancu sampai melakukan tindak yang tak senonoh maka...

Ternyata Mo sancu tidak berniat untuk mencelakai Sun Tionglo, malahan dengan sepasang mata memerah dia mengguncangguncangkan sepasang lengan Sun Tiong-lo dengan emosi, tanyanya dengan gelisah.

"Katakan, cepat katakan, bagaimana jalannya peristiwa sehingga adik Pak-gi suami-isteri menemui ajalnya ?!"

Dan sun Tiong-lo berkerut kening, diliriknya sekejap sepasang tangan Mo sancu, lalu katanya.

"Sancu, dapatkah kau kendorkan dahulu sepasang tanganmu sebelum melanjutkan perbincangan ini !"

Katanya. Merah padam selembar wajah Mo sancu setelah mendengar teguran itu, cepat-cepat dia mengendorkan sepasang tangannya.

"Aaaah, maaf, maaf hiantit, aku sungguh kelewat emosi...."

Sikap Sun Tiong lo sangat mantap, tukasnya.

"Harap Sancu suka menarik kembali luapan emosimu itu dan aku minta untuk sementara waktu Mo sancu tak usah merubah sebutan maupun hubungan, terhadap segala sesuatu peristiwa yang berkembang secara mendadak, aku tak akan pernah mempercayainya dengan begitu saja !"

Mo sancu menjadi tertegun, lewat berapa saat kemudian ia baru berkata.

"Apakah Hiantit masih tidak percaya dengan kedudukan pamanmu ini ..?"

Sun Tiong-lo sendiri sebetulnya diliputi pula oleh kobaran emosi, akan tetapi dia masih berusaha keras untuk mengendalikannya.

"Sancu, terus terang saja kukatakan, aku teIah menganggap nona Siu itu sebagai sunio, dialah orang yang telah menyaru sebagai Yan lihiap di masa lalu, dialah manusia laknat yang menjadi utusan lencana Lok hun pay !"

"Tapi kini sancu mengakui dia sebagai selir kesayanganmu oleh karenanya aku merasa amat curiga sekali terhadap diri Sancu, maka terhadap semua perkataan yang sancu ucapkan aku tak akan mempercayai dengan begitu saja."

Mo sancu segera berkerut kening, lalu manggut-manggut.

"Yaa benar, hal ini memang tak bisa salahkan bila Hiantit menaruh curiga kepadaku, seperti juga persekongkolan antara Khong It hong dan perempuan laknat yang berlangsung secara tiba-tiba, membuat empekpun menjadi gugup dan tak habis mengerti."

Sun Tiong lo segera tertawa dingin.

"Mo sancu!"

Katanya.

"kau tak perlu memberi penjelasan kepadaku tentang persekongkolan antara Khong It hong dengan Su-nio yang telah menghianati dirimu, akupun tidak mempunyai kepentingan untuk mengetahui sebab musababnya."

Tapi terhadap tingkah laku selir Sancu telah memimpin begitu banyak jago untuk mengejar-ngejar aku dalam dunia persilatan, seakan-akan belum merasa puas bila aku tidak disingkirkan dari muka bumi ini, mau tak mau Sancu harus memberi suatu penjelasan yang memuaskan hatiku!."

Pelan-pelan Mo Sancu memejamkan matanya rapat-rapat, kemudian duduk kembali. Beberapa saat kemudian, dengan suara yang lembut dan halus Mo Sancu berkata.

"Empek tidak salahkan jika Hiantit (keponakan) mempunyai jalan pikiran begitu, suatu peristiwa yang terjadinya secara mendadak, kadangkala membuat orang merasa curiga."

Setelah berhenti sebentar dan termenung, dia menyambung kembali kata katanya lebih jauh.

"Begitu saja, entah bagaimanapun curiganya hiantit kepada empek, empek akan berusaha keras untuk membersihkan diri dari sega ia kecurigaanmu itu, suatu ketika duduknya persoalan pasti akan menjadi jelas dengan sendiri nya."

"Sekarang, yang pertama-tama empek kabulkan permintaan hiantit adalah secepatnya menangkap kembali perempuan rendah itu, bila ia sudah berhasil dibekuk, maka segala sesuatunya akan menjadi jelas dengan sendirinya, tapi kini ada beberapa hal penting harus diselesaikan dulu." -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB KEDUA PULUH LIMA "OOOH, APAKAH MASIH ada persoalan yang jauh lebih penting dari pada membekuk kembali su-nio ?"

Sela sun Tiong-lo. Mo sancu segera manggut-manggut.

"Yaa, ada. Apakah Hiantit bersedia untuk mendengarkan ?"

Sun Tiong-lo segera mendengus dingin.

"Hmmm, sudah banyak tahun aku selalu menanti, mengapa tak bisa menunggu berapa saat lagi ?"

Mo sancu melirik sekejap kearah Sun Tiong lo, lalu sambil menghela napas dia menggelengkan kepalanya berulang kali. Menyusul kemudian, katanya kepada Nona Kim.

"Anak Kim, pergilah sebentar keloteng Hian ki lo, dalam gudang harta terdapat sebuah kotak kemala, ambillah benda itu kemari dan sekalian suruh orang menyiapkan air teh dan hidangan kecil."

Nona Kim memandang sekejap kearah Sun-Tiong lo, lalu memandang sekejap pula kearah Mo Sancu, kemudian dia baru mengiakan dan berlalu dari situ.

Sepeninggalan nona Kim, Mo Sancu baru bertanya lagi kepada Sun Tiong lo.

"Mana Bau ji?"

Waktu itu Sun Tiong lo sudah mengambil suatu keputusan maka sahutnya berterus terang "Kakakku masih berada dibukit ini, bilamana perlu dia akan munculkan diri untuk bertemu Sancu!"

Mo Sancu segera menghela napas panjang.

"Aaai, tampaknya hiantit telah menganggap empek sebagai pemilik lencana Lok hun pay?"

"Sancu memang cerdas, aku memang mempunyai pandangan demikian."

Mendadak Mo Sancu mendongakkan kepala nya lalu menghela napas panjang, katanya.

"Sekarang, apapun yang di katakan hiantit, empek benar-benar tak dapat menjelaskan, aku pun tak bisa membantah apa-apa."

"Terserah apapun yang di ucapkan Sancu, yang pasti aku tak akan merubah jalan permikiranku!"

Mendengar perkataan itu, Mo Sancu segera tertawa.

"Betul-betul keras kepala"

Serunya.

"tidak malu menjadi putra kesayangan dari adik Pak gi."

Setelah berhenti sejenak, sorot matanya di alihkan ke wajah Sun Tiong lo dan mengamati nya beberapa saat, kemudian tanyanya lebih jauh.

"Kalau begitu perkataan hiantit yang mengatakan tidak mengeiti ilmu silat merupakan suatu tipuan belaka ?"

"Untuk menyelidiki jejak musuh, aku harus menggunakan otak untuk menghadapinya, hal mana bukan terhitung suatu tipuan !"

"Oooh, sekarang hiantit berani bertanya langsung tentang peristiwa lama dengan empek, tentunya kau sudah merasa memiliki suatu kemampuan yang tak perlu takut kepada orang lain bukan ?"

"Demi menemukan jejak musuh, aku mesti memasuki sarang harimau, mengapa aku mesti memikirkan lagi soal takut ?"

Jawab Sun Tiong lo dengan wajah serius.

"Bagus, bagus sekali ! Betul-betul suatu ucapan yang tepat sekali ..."

Kata Mo sancu sambil bertepuk tangan. Kemudian setelah berhenti sebentar, tanyanya lagi.

"Kalau memang begitu, mengapa kau tidak undang Bau-ji agar kita berbincang-bincang bersama ?"

"Aku rasa pada saat ini masih belum perlu."

Sahut Sun Tiong-Io sambil tertawa dingin.

"Sebentar, bila budak Kim telah datang dengan membawa kotak kumala itu, hiantit akan memahami asal usul empekmu yang sebenarnya serta bagaimanakah hubunganku dengan ayah dan ibumu, tentu saja pada waktu itu kau tak akan mencurigai empek lagi !"

"Oleh karena itu empek usulkan lebih baik undang serta Bau-ji agar kita bisa berbincang bersama sama, apa lagi kalau toh hiantit tidak ada yang ditakuti, apa pulu yang mesti kau takutkan sakarang ?"

Sun Tiong lo berkerut kening, dia termenung belaka tanpa menjawab. Mo sancu segera bertanya lagi.

"Ketika ayah dan ibumu menemui musibah waktu itu hiantit berusia berapa tahun ?"

"Lima tahun !"

Jawabnya.

"Bagaimana caramu sehingga bisa lolos dari kejaran para penjahat itu?"

"Lu Cu peng yang menyelamatkan jiwaku!"

Paras muka Mo Sancu segera berseri setelah mendengar perkataan itu, ujarnya kemudian.

"Aaah, benar, hampir saja empek melupakan hal itu, sekarang Lu Cu peng berada dimana? Dulu, sewaktu empek dan ayahmu masih sering berkelana didalam dunia persilatan suatu kami berhasil menolong Cupeng sehingga kami bertiga mengikat diri sebagai saudara..."

Sun Tiong lo segera teringat akan sesuatu, tanpa terasa serunya dengan cepat.

"Apakah Sancu adalah Ang liu cengcu yang angkat nama bersama ayahku dimasa lalu dan disebut orang persilatan Hui thian sin hong, Sin si poan (Naga sakti terbang diangkasa, pena penentu mati hidup) Mo Tin hong, empek Mo?"

"Aaah, akhirnya hiantit teringat juga dengan diri empekmu !"

Sorak Mo sancu sambil bangkit berdiri.

Kali ini giliran Sun Tiong lo yang menjadi tertegun, sampai setengah harian lamanya dia masih tak sanggup mengucapkan perkataan apa pun.

Walaupun ketika ayah ibunya mati dibunuh dia baru berusia lima tahun, bukan berarti pada waktu itu dia tidak tahu apa-apa.

Sejak kecil dia sudah sering mendengar ayah, ibu serta pamannya Lu Cu peng kalau nyatanya masih mempunyai seorang kakak angkat yang bernama Mo Tin hong.

Kemudian, entah apa sebabnya, ayahnya dengan Mo Tin hong telah putus hubungan.

Dia masih ingat dengnn jelas sekali, ayahnya pernah bilang dua tahun sebelum dia dilahirkan, untuk terakhir kalinya ayahnya masih berjumpa dengan Mo Tin hong sewaktu dalam perkampungan Ang liu ceng diselenggarakan suatu perjamuan.

Tapi sejak itu, konon tak lama kemudian datang kabar yang mengatakan kalau perkampungan Angliuceng secara tiba-tiba berubah menjadi sebuah perkampungan kosong, waktu itu ayah, ibu dan Lu Cu peng telah berkunjung sendiri kesana untuk membuktikan kebenaran berita itu.

Kemudian kenyataan membuktikan walau apa yang tersiar dalam dunia persilatan memang benar, dalam perkampungan itu tidak dijumpai seorang manusia pun.

Sejak detik itulah, didalam dunia persilatan tak pernah terdengar kabar berita tentang Mo Tin-hong lagi.

Siapa tahu hari ini, setelah dia menjadi dewasa, tanpa disangka telah berjumpa dengan Mo Tin hong diatas Bukit Pemakan Manusia, yang lebih istimewa lagi, hampir saja mereka telah berubah menjadi musuh buyutan.

Berpikir sampai disisu, tanpa terasa lagi Sun Tiong lo segera bergumam.

"Tidak mungkin, hal ini tidak mungkin ter jadi, hal ini tak mungkin bisa terjadi !"

Agaknya Mo Tin hong dapat memahami apa yang dimaksudkan Sun Tiong lo dengan perkataan itu, dia segera menghela napas panjang.

"Apakah Hiantit masih juga tak mempercayai asal usul dari empekmu ini ?"

Pelan-pelan Sun Tiong lo berhasil juga mengendalikan gejolak perasaan hatinya, dan lambat laun diapun menjadi tenang kembali, ujarnya kemudian.

"Aku dilahirkan agak lambat sehingga tak sempat berkenalan dengan empek Mo, tapi setiap kali kudengar ayah ibuku membicarakan tentang empek Mo, mereka selalu memuji setinggi langit, sedang Sancu ?"

Mo Tin hong tertawa getir, tukasnya dengan cepat.

"Apakah dikarenakan sebutan dari Bukit Pemakan Manusia ini, maka Hiantit mempunyai sudut pandangan yang berbeda tentang empekmu ?"

"Apakah hal ini tidak benar ?"

Katanya.

"Apakah hiantit tahu duduk persoalan yang sebenarnya?"

Tanya Mo Tin hong. Kembali Sun Tiong-lo tertawa dingin.

"Bagaimana pandangan umat persilatan terhadap Bukit Pemakan Manusia, aku rasa Sancu pasti pernah mendengarnya apalagi terhadap watak dari Sancunya sendiri, tak usah ditanya kan pun hal ini sudah jelas sekali !"

Untuk kesekian kalinya Mo Tin hong tertawa getir.

"Apakah hiantit pernah mendengar dari ayahmu tentang perkampungan Ang liu ceng milik empek ?"

"Pernah sih pernah cuma tak begitu jelas.."

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba katanya lagi.

"Tunggu sebentar sancu terhadap keaslian Sancu sebagai empek Mo atau bukan, hingga kini ini beIum bisa dipastikannya, oleh karena itu dalam sebutan, aku harap Sancu tetap menuruti peraturan yang berlaku..."

Sementara itu nona Kim telah muncul kembali sambil membawa kotak kemala. Mo Tin hong segera berkata cepat.

"Beberapa macam benda yang tersimpan di dalam kotak kemala itu cukup untuk membuktikan kedudukan dari empek yang sebenarnya."

Sambil menerima kotak kemala itu penutupnya segera dibuka, Didalam kotak kumala itu, kecuali sebilah pedang kecil sepanjang tiga inci, terdapat pula beberapa lembar dokumen.

Mo Tin-hong segera mengambil keluar pedang kecil sepanjang tiga cun, yang bercahaya tajam itu, kemudian bersama sepucuk surat diserahkan kepada Sun Tiong lo dan katanya.

"Ayahmu disebut orang Giok bin sian kiam ci liong jiu (Dewa pedang berwajah kemala tangan sakti penangkap naga), pedang kecil itu tanda kepercayaannya, sedang surat itu ditulis sendiri olehnya, silahkan hintit ambil dan memeriksanya sendiri."

Sun Tiong lo melirik sekejap kearah Mo Tin hong, kemudian diterimanya surat serta pedang pendek itu.

Pedang pendek itu tanpa sarung, ketajamannya dapat terlihat dari kilatan cahaya yang memantul tertimpa Iampu.

Andaikata Mo Tin hong berniat jahat, dalam jarak sejauh satu langkah yang begitu pendek, bila pedang pendek itu secara tiba-tiba disambitkan ke depan, percaya Sun Tiong lo pasti akan menjumpai kesulitan untuk menghindarkan diri.

Tentu saja, Sun Tiong lo pun sudah melakukan persiapan yang cukup sebelum menjulurkan tangannya untuk menyambut pedang pendek serta surat tersebut, kendatipun demikian, andai kata menerima sergapan secara tiba-tiba, toh tak urung dia akan terluka juga.

Untuk menghindari segala kecurigaan orang, ternyata Mo Tin-hong meletakkan surat dan pedang pendek itu keatas meja.

Diam-diam Sun-tiong-lo tertawa geli, diambilnya kedua benda itu dan diperiksa dengan teliti.

Mula-mula dia memeriksa dulu pedang pendek tersebut, pada badan pedang terukir empat buah huruf yang berbunyi.

"GIOK-BIN-SIAN-KIAM"

Dibawah keempat huruf itu terukir sebuah tangan, Sun-tiong-lo mengerti tangan itu melambangkan julukan ayahnya sebagai Ka-liong jiu (tangan sakti penangkap naga).

Ketika surat itu dilihat, terlihatlah tulisan ayahnya yang tertuju untuk Mo Tin-hong, dalam surat mana tercermin jelas hubungan persaudaraan yang sangat akrab diantara mereka berdua, bahkan dapat dirasakan kalau hubungan persaudaraan itu melebihi saudara kandung sendiri.

Sekarang Sun tiong-lo sudah percaya, dia percaya kalau orang yang berada dihadapannya sekarang adalah kakak angkat ayahnya yang disebut orang sebagai Hui thian-sin-liong (naga sakti terbang diangkasa) Mo Tin-hong.

Dalam pada itu, Mo Tin hong telah berkata lagi dengan suara rendah dan berat.

"Walaupun waktu berjalan amat cepat, namun persahabatan yang sejati diantara kami tetap kekal dan abadi."

Berbicara sampai disitu, sepasang mata Mo Tin hong berkaca-kaca, lanjutnya kembali dengan suara gagah.

"Aku telah bersumpah, aku akan berusaha keras untuk membalaskan dendam bagi kematian adik Pak-gi suami isteri !"

Diam-diam Sun Tiong lo memperhatikan terus semua gerak gerik dari Mo Tin hong, ketika dianggapnya kesediaan Mo Tin hong bersungguh hati dan bukan pura-pura, tanpa terasa rasa curiganya berkurang beberapa bagian, tapi rasa keheranannya semakin bertambah.

Mendadak Sun Tiong lo teringat akan satu persoalan segera tanyanya kepada Mo Tin hong.

"Mo tayhiap, mengapa kau bisa menjadi penguasa dari Bukit pemakan manusia ini?"

Mo Tin hong segera menghela napas panjang serunya.

"Aaai, ceritanya panjang sekali."

Setelah berhenti sebentar, kembali ujarnya.

"Sekarang tolong hiantit menjawab sebuah pertanyaan empek, apakah kau masih menaruh curiga pada diri empek?"

Sun Tiong lo menggelengkan kepalanya.

"Sekarang aku sudah percaya kalau sancu adalah Mo tayhiap!"

Sahutnya cepat. Mo Tin hong segera mengerling sekejap ke arah Sun Tiong lo, kemudian katanya lagi.

"Tapi kau masih merasa curiga terhadap segala yang lain dari empekmu?"

Dengan berterus terang Sun Tion lo mengangguk.

"Benar, untuk ini aku harap Mo tayhiap suka memaafkan."

Katanya. Mo Tin hong segera tertawa getir.

"Aaah, tidak apa-apa, aku bisa memberi penjelasan yang sejelasjelasnya kepadamu."

Setelah berhenti sebentar dia melanjutkan.

"Ada sepatah kata, empek mesti menanyakan kepadamu sampai jelas, kemarin ada manusia berbaju kuning berseliweran diatas bukit ini, apakah hal itu merupakan hasil karya hiantit?"

"Yaa, betul, ituiah aku dan kakakku"

Sun Tiong to mengakui sambil mengangguk. Mo Tin hong lantas manggut-manggut, dia segera berpaling keluar loteng sambil berseru.

"Pengawal!"

Segera terdengar seseorang mengiakan dengan hormat dan muncul didepan pintu. Kepada orang itu, Mo Tin horig lantas ber kata dengan suara dalam.

"Turunkan perintah uniuk menarik kembali seluruh jago yang berjaga dipos mereka !"

"Apakah Sancu masih ada pesan lain ?"

Tanya orang itu agak tertegun setelah mendengar perintah tersebut.

"Suruh mereka kembali ke tempatnya masing masing !"

Orang itu mengiakan dan buru buru mengun durkan diri, Menanti orang itu sudah pergi, Mo Tin hong baru berkata kepada Sun Tiong lo .

"Bau ji berada dimana ? Undang saja dia kemari, empek hendak mengajak kalian berdua untuk membicarakan lagi persoalan lama."

Sun Tiong lo segera tertawa terbahak bahak "Tiada keperluan untuk berbuat demikian, akupun dapat mewakili kakakku!"

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Mo Tin hong manggut-manggut, ujarnya kemudian.

"Baiklah, empek akan mengisahkan kembali kejadian yang memedihkan hatiku dimasa lampau, mau percaya atau tidak terserah pada keputusan hiantit sendiri."

Kembali Sun Tiong lo tertawa.

"Mana yang bisa dipercaya tentu saja akan kupercayai!"

Sebelum berbicara, Mo Tin hong menghela napas panjang lebih dulu, kemudian katanya.

"Sewaktu empek merayakan hari ulang tahun ku yang keempat puIuh, ayahmu telah berkunjung pula ke perkampungan Ang liu ceng!"

"Tentang peristiwa itu akupun tahu, persoalan antara ayahku dengan Yan lihiap pun terjadi pada waktu itu...."

"Betul"

Mo Tin-hong manggut-manggut.

"empek sama sekali tidak menyangka kalau peristiwa itu bisa diakhiri secara begini tragis... aaaai!"

"Sancu, lebih baik kau membicarakan tentang persoalanmu sendiri saja."

"Begitupun boleh juga, persoalan apakah yang ingin kau ketahui ? tanyakan saja."

"Baik, pertama tama aku ingin bertanya lebih dulu, mengapa Sancu meninggalkan perkampungan Ang lui ceng ?"

Hawa amarah serta rasa benci segera terhias diatas wajah Mo Thin hong, katanya.

"Kalau dibicarakan kembali, sungguh menggemaskan, empek dipaksa orang untuk meninggalkan rumah !"

"Ooooh dipaksa siapa ?"

Dari dalam sakunya Mo Tin hong mengambil sesuatu benda dan dilemparkan keatas meja, katanya.

"Silahkan hiantit untuk memeriksa sendiri!"

Ketika sorot mata Sun Tiong lo dialihkan ke atas meja, dengan cepat ia menjerit kaget.

"Haaah, lencana Lok-hun pay ?"

"Betul, lencana Lok hun pay !"

"Bagaimana jalan ceritanya ?"

Tanya Sun Ti ong lo kemudian dengan kening berkerut. Mo Tin hong tertawa getir.

"Setelah kuceritakan nanti, harap hiantit jangan banyak menaruh curiga, setelah empek mengadakan perkawinan sehingga timbul peristiwa antara ayahmu dengan Yan lihap dari bukit Han san, demi persoalan ini empek segera berangkat menuju ke Han san."

"Oleh karena kurasakan hal ini penting, lagipula untuk meredakan perselisihan yang mungkin terjadi, tanpa memberitahukan kepada siapapun empek berangkat seorang diri menuju ke bukit Han san.

"Siapa tahu waktu itu Yan sian po sedang menutup diri melakukan samadhi, sedang Yan lihiap belum kembali, hingga kedatangan empek ke sana pun gagal total. Sekembalinya dari bukit Han san dan kembali ke perkampungan Ang-liu-ceng, aaai, keponakanku..."

Berbicara sampai disini, air mata Mo Tin hong segera jatuh bercucuran dengan derasnya, ia nampak merasa amat sedih.

Sun Tiong lo tidak bersuara, nona Kim juga tidak bermaksud untuk menghibur.

Sesaat kemudian, Mo Tin hong baru menghentikan isak tangisnya dan bercerita lebih lanjut.

"Rupanya sewaktu empek berangkat ke bukit Han san ituIah, dalam perkampungan Ang liu ceng telah terjadi peristiwa, lelaki perem puan seluruh isi kampung yang terdiri dari seratus tiga puluh lima orang telah ditemukan dalam keadaan tewas!"

Sun Tiong lo menjerit kaget.

"Aaah, jadi sudah berlangsung peristiwa seperti itu?"

Serunya. Tapi setelah berhenti sebentar, dia berkata lagi.

"Mengapa kejadian ini tak sampai tersiar didalam dunia persilatan?"

Kembali Mo Tin hong tertawa getir.

"Dengarkanlah kisahku selanjutnya hiantit akan menjadi mengerti dengan sendirinya."

Dalam pada itu seorang pelayan datang menghidangkan air teh dan makanan kecil, ini membuat Mo Tin hong harus berhenti sebentar.

Menanti pelayannya sudah pergi dan Mo Tin hong sudah meneguk setegukan air teh, ia baru bercerita lebih jauh.

"Diruang tengah ku jumpai lencana Lok hun pay ini tertancap diatas dinding, dengan cepat empek sadar kalau keselamatan jiwaku terancam, dengan cepat akupun mengambil keputusan.

"Mula-mula kukuburkan dulu semua mayat ke dalam ruangan bawah tanah, kemudian ku-bersihkan seluruh perkampungan hingga tidak meninggalkan kesan bahwa dalam perkampungan ini sudah tertimpa suatu musibah yang mengerikan. Kemudian empek pun membawa semua benda yang penting dan diam-diam meninggalkan rumah, akhirnya sampailah empek diatas bukit gerbang diantara sepuluh laksa bukit tinggi yang ada dijagad ini dan menyembunyikan diri."

Tiba-tiba Sun Tiong lo tertawa dingin.

"Bukit "pemakan manusia"

Ini sudah berdiri sejak puluhan tahun berselang, perkataan Sancu itu..."

"Yaa, kedengarannya memang seperti saling bertentangan."

Tukas Mo Tin hong.

"padahal kalau sudah tahu duduknya persoalan, hal itu hanya sepele, ketika aku datang kemari, diatas bukit sudah bercokol beberapa orang penyamun yang ganas, mereka selalu membunuhi setiap orang yang memasuki bukit ini.

"Suatu ketika empek secara tak disengaja tersesat diatas bukit itu dan hampir saja terkena jebakan mereka, tapi akhirnya mereka berhasil ku taklukkan, karena aku memang tak punya rumah lagi, maka kumanfaatkan bukit ini sebagai tempat tinggalku."

"Semenjak empek menjadi Sancu, terhadap setiap umat persilatan yang kebetulan tersesat disini belum pernah kulakukan pembunuhan, tapi akupun tidak membiarkan mereka turun dari bukit ini lagi, kuatir jika mereka sampai membocorkan rahasiaku!"

Mendengar sampai disitu, Sun Tiong lo ter-menung dan berpikir sebentar, kemudian tanya nya lagi.

"Kemana perginya sahabat-sahabat persilatan yang masih hidup itu... ?"

"Kini mereka sudah menjadi anak buah empek yang setia !"

"Oooh... lantas apa sebabnya Sancu menentukan peraturan peraturan yang luar biasa?"

"Tentu saja untuk berjaga-jaga terhadap lencana Lok hun-pay itu, Hiantit, kau adalah seorang yang pintar, tentunya kau juga dapat berpikir sendiri, andaikata empek benar-benar seorang manusia buas yang berhati keji, tak nanti akan kudirikan batu peringatan didepan mulut bukit untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang memasuki bukit ini tanpa sengaja !"

Perkataan ini memang sangat masuk diakal, kontan saja membuat Sun Tiong lo untuk sesaat tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Tapi dalam waktu singkat itulah Sun Tiong lo telah menemukan kembali persoalan yang lain.

"Tapi sancu kan seringkali turun gunung?"

"Betul, empek tak pernah melupakan rasa dendamku, terutama sekali bagi kematian anak buahku yang tak berdosa !"

"Oooh, apakah selama banyak tahun ini Sancu berhasil menemukan sesuatu?"

Mo Tin-hong segera menghela napas panjang.

"Aaaai tidak, ternyata lencana Lok hun pay itu seperti tiada kabar beritanya lagi!"

"Dengan kekuatan serta kemampuan yang Sancu miliki sekarang, rasanya kau sudah tak usah takut terhadap lencana Lok hun pay lagi bukan..?"

Tanya Sun Tiong lo dengan membawa maksud Iain. Mo Tin hong segera tertawa.

"Aku sengaja mengatur segala macam jebakan dan perangkap diatas bukit ini, tujuannya memang untuk menghadapi dia"

Tiba-tiba Sun Tiong lo mengalihkan pembicaraan itu ke soal lain, katanya.

"Sancu, tahukah kau yang menjelang kematian yang menimpa ayah ibuku, merekapun pernah menerima lencana Lok hun pay?"

Mo Tin hong menggelengkan kepalanya.

"Empek hanya tahu kalau adik Pak gi sekeluarga tertimpah musibah"

Katanya.

"meskipun aku telah mengunjungi banyak orang, namun kebanyakan tidak mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, Ngo kian hengte turut tertimpa musibah pula pada saat Ita, sementara nasib Cu~peng tidak diketahui..."

"Kini, sudah seharusnya kalau Sancu membicarakan tentang Su nio tersebut,"

Tukas Sun Tiong-lo. Mo Tin hong segera menggebrak meja lalu berseru.

"Kalau dipikirkan sekarang, asal-usul dari perempuan rendah ini memang patut dicurigai"

"Apakah Sancu tak pernah menemukan sesuatu yang mencurigakan sebelum ini ?"

Mo Tin hong segera menggeleng.

"Dulu, dia adalah seorang penyanyi dari su ngai Chin-huay hoo..."

"Masa seorang penyanyi juga memiliki kepandaian silat yang demikian lihay ?"

"Tentang soal ini, empek pernah melakukan penyelidikan, dia adalah anak perempuan dari seorang gembong iblis dari wilayah Liau tang yang disebut orang Tok sim siusu (sastrawan berhati keji) Wong Khong lang... tak heran jika diapun memiliki ilmu silat"

"Bagaimana dengan nasib Wong Khong leng"

"Mati ditangan musuhnya membuat anaknya tercerai berai, Su nio berada pada urutan ke-empat dan bernama Ling ling, dia dibawa oleh inang pengasuhnya sebelum akhirnya terlantar di Chin huay sebagai seorang penyanyi"

"Bagaimanakah pandangan Sancu terhadap hubungan antara penyanyi ini dengan masalah sakit hatiku?"

"Jikalau dilihat dari keadaannya sekarang, sudah dapat dipastikan dia adalah orang kepercayaan dari Lok hun pay, cuma duduk persoalan-yang sebenarnya baru dapat terungkap bila dia sudah berhasil dibekuk kembali..."

"Setiap kali dia turun gunung, apakah Sancu tak tahu?"

Sela Sun Tiong Io. Dengan wajah serius Mo Tin hong menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sejak datang kebukit ini, belum pernah dia pergi kemana-mana lagi."

"Sebelum datang kemari bagaimana?"

"Empek baru berkenalan dengannya setahun berselang di sungai Chin huay, dan setengah tahun berselang baru membawanya kembali ke bukit ini, jadi terhadap tingkah lakunya sebelum itu tidak begitu tahu!"

Sun Tiong lo hanya manggut manggut dan tidak berbicara lagi.

Penjelasan yang diberikannya Mo Tin hong cukup jelas, sepantasnya kalau dewasa ini sudah tiada sesuatu yang bisa dicurigai lagi.

Dalam pada itu, nona Kim selama ini cuma mendengarkan saja dari samping, mendadak ikut menimbrung.

"Sebetulnya Khong It hong itu berasal darimana?"

"Sekarang tidak ada kesempatan untuk membicarakan manusia laknat tersebut..."

Kemudian setelah berhenti sejenak, sambil berpaling ke arah Sun Tiong-lo katanya.

"Hiatitit, apakah kau dapat mengundang keluar Bau-ji hiantit agar berjumpa denganku?"

"Aaaah, jangan terburu napsu."

Sun Tiong-Jo tertawa.

"aku masih ada persoalan yang hendak kutanyakan kepadamu."

Sambungnya.

"Masih ada persoalan apa lagi ?"

Mo Tin hong mengerutkan keningnya kencang-kencang.

"Menurut apa yang kuketahui, Khong It-hong dan Su nio telah bersekongkol dengan orang luar dan sudah menetapkan waktu untuk menyerang dan merebut bukit pemakan manusia itu...."

Mo Tin-hong tertawa terbahak-bahak, tukasnya.

"Haaaahh... haaaahhh... haaah, pihak lawan sudah tahu sekarang bahwa Khong It hong menemui kegugalan, tapi mereka menganggap sudah cukup memahami keadaan dari bukit milik empek ini, maka tidak menunggu lama lagi mereka memutuskan hendak melakukan penyerangan pada kentongan ketiga malam nanti !"

"Apakah orang-orang itu ada sangkut pautnya dengan lencana Lok-hun-pay ?"

"Sulit untuk dijawab, tapi empek telah menurunkan perintah agar meninggalkan beberapa orang diantaranya dalam keadaan hidup,sampai waktunya Hiantit boleh menanyai mereka sendiri, pasti akan kau raih sesuatu hasil yang lumayan !"

Sun Tiong lo tertawa hambar, dia lantas mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, sambil menuding nona Kim katanya.

"Mo sancu, bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang masalah nona Kim. Mo Tin hohg merasa terperanjat sekali setelah mendengar peikataan itu, segera jawabnya.

"Apakah hiantit ingin menanyakan asal usul dari anak Kim?"

Diam-diam Sun Tiong lo harus mengagumi kehebatan Mo Tin norig dalam menghadapi sesuatu perubahan situasi, jawabnya cepat.

"Benar, aku dengar nona Kim sebenarnya she Kwik?"

"Siapa yang bilang?"

Tanya Mo Tin hong. Tentu saja Sun Tiong lo tak bisa mengatakan kalau Su nio yang bilang, terpaksa sambil tertawa ujarnya.

"Benar atau tidak, tentunya Sancu mengerti bukankah begitu?"

Padahal sewaktu Mo Tin hong mendengar Sun Tiong lo mengatakan kalau nona Kim she Kwik, ia sudah tahu siapa yang berkatakan demikian, tapi ia tetap berlagak pilon dengan bertanya lagi.

"Hiantit, kau mesti mengatakannya padaku persoalan ini mesti dibuat jelas!"

Nona Kim masih bersifat jujur dan polos, tanpa sadar dia lantas berseru.

"Su-nio yang bilang..."

"Lagi lagi perempuan keparat ini"

Tukas Mo Tin-hong dengan wajah penuh kegusaran.

"apa yang dia bilang?"

Setelah menjawab, nona Kim baru menyesal maka mendengar pertanyaan itu buru buru katanya.

"Dia mohon pengampunan dariku agar membebaskan Khong Ithong, lantas katanya kalau aku bukan..."

"Betul-betul seorang perempuan cabul yang keji, rupanya dia ingin meminjam golok membunuh orang!"

Sumpah Mo Tio hong sambil mendepak-depakkan kakinya berulang kali. Sun Tiong-io segera melirik sekejap kearah nya, lalu ujarnya.

"Bisakah ada kemungkinan semacam itu?"

Mo Tin hohg menghela napas panjang.

"Aaai, Hiantit, mengapa kau pintar sewaktu, pikun sesaat ?"

"Tolong tanya dimanakah letak kepikunan ku itu?"

Sun Tionglo pura-pura berlagak tidak mengeiti.

"Sebenarnya dia bisa saja menyembunyikan rahasia dirinya secara tenang dan tenteram di sini, kemudian bila saatnya sudah sampai, dia dapat bekerja sama dengan Khong It hong serta musuh yang datang dari luar untuk bersama-sama menyerang bukit dan mendudukinya.

"Tapi lantaran Hiantit muncul disini, dan dia kuatir rahasianya ketahuan, kemudian lantaran Khong It hong gagal hingga rahasianya terbongkar. tahu kalau tak bisa tinggal lebih lama lagi disini sebelum pergi dia baru melaksanakan siasat meminjam golok membunuh orang ini."

"Dia cukup mengerti, sekembalinya empek ke atas bukit, sudah pasti empek akan menanyai Hiantit dan anak Kim, maka dia membohongi anak Kim dengan mengatakan anak Kim dulu adalah anak dari keluarga Kwik yang di curi.

"Hiantit, coba kau pikirkan lagi, sudah belasan tahun anak Kim mengikuti empek, bila siasatnya itu berhasil sehingga Hiantit mengira hal ini sungguhan, tentu saja kaupun akan menganggap empek sebagai orang jahat.

"Otomatis jika empek mengatakan kalau aku kenal dengannya baru setahun menjadi kata yang bohong ? Ditinjau dari sini, kenapa Hian tit tidak mau mempercayai empekmu ?"

"Yaa, betul"

Seru nona Kim dengan cepat.

"hampir saja aku tertipu oleh siasatnya."

Sedangkan Sun Tiong lo segera tertawa hambar, katanya.

"Sancu mengatakan perkenalan kalian baru berlangsung setahun, tapi didalam suatu persoalan dia telah mengatakan kalau ia sudah lama berkumpul dengan Sancu, perbedaan wak tu yang terjadi amat besar sekali, apakah ini..."

"Justru disitulah terletak kelicikan serta kebusukan hatinya!"

Tukas Mo Tin hong sebelum anak muda itu menyelesaikan kata-katanya. Sun Tiong lo tertawa dan melanjutkan lagi kata-katanya yang belum selesai tadi.

"Perbedaan soal waktu, duduk persoalan yang sesungguhnya rasa-rasanya bagi aku sudah terbentang cukup jelas, bila apa yang dikatakan Sancu barusan jujur, hal ini menandakan kalau Sunio adalah seorang manusia yang amat berbahaya, tapi kalau sebaliknya maka hal ini menandakan jika Sancu tidak jujur!"

"Yaa, perkataanmu itu memang betul, demi jelasnya persoalan dan terhapusnya semua kecurigaan, empek mesti menyelesaikan semua persoalan yang ada di bukit ini secepatnya, kemudian segera terjun kedunia persilatan dan mencari perempuan sialan itu sampai ketemu"

Sun Tiong-lo tertawa, sambil menuding ke arah nona Kim ujarnya.

"Kalau begitu Sancu, tolong nona Kim sebenarnya adalah..."

"Hiantit, apakah kau masih percaya dengan perkataan dari perempuan cabul itu ?"

Tukas Mo Tin hong. Untuk kesekian kalinya sun Tiong lo tertawa.

"Sancu, terus terang kukatakan, hingga sekarang aku masih belum dapat mempercayai semua perkataanmu itu!"

"Aaaah, tak mengapa"

"Tapi aku tidak menyangkal kalau Sancu adalah kakak angkat mendiang ayahku dulu !"

Mo Tin-hong segera berkerut kening, katanya.

"Kalau begitu hiantit benar-benar sulit untuk diajak berbicara, sudah percaya tapi tak percaya ?"

"Tentang persoalan ini, rasanya masih terlalu awal untuk dibicarakannya."

Agaknya Mo tin hong tak ingin memperbincangkan persoalan itu lebih lanjut, sambil manggut-manggut dia lantas berkata.

"Benar, persoalan ini memang seharusnya dibicarakan lagi bila perempuan cabul itu sudah tertangkap kembali !"

"Tapi, masalah yang menyangkut soal nona Kim rasanya perlu kau terangkan sekarang juga!"

Sambung Sun tiong lo dengan cepat tanpa perubahan emosi diwajahnya. -ooo0dw0ooo

Jilid MO TIN HONG bagaikan telah menduga perkataan itu, dengan cepat dia menjawab.

"Budak Kim adalah putri kandung empekmu."

Sun Tiong lo melirik sekejap ke arah nona Kim lalu dengan dingin katanya kepada Mo-Tin hong.

"Mo Sancu, sungguhkah perkataanmu itu?"

Dia didesak berulang kali, Mo Tin-hong jadi mendongkol serunya kemudian dengan suara dalam.

"Hiantit, pantaskah kau ajukan pertanyaan seperti itu?"

"Sancu jangan gusar dulu."

Kata Sun Tiong lo sambil berkerut kening.

"aku bisa berkata demikian karena aku mendapat bukti yang menunjukkan kalau Sancu belum pernah beristri!"

Ketika mendengarkan perkataan itu, Mo Tin hong tidak menunjukkan rasa kaget atau terkesiap, dia hanya menghela napas panjang. Kemudian setelah melirik sekejap ke arah Nona Kim, katanya.

"Pergilah dulu dari sini sebentar!"

"Adakah sesuatu yang tak boleh kudengar?"

Kata nona Kim sambil mengerdipkan matanya.

"Ada sementara persoalan dan perkataan memang tidak leluasa untuk didengar oleh kaum wanita!"

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa nona Kim berlalu dari ruangan loteng dengan wajah sedih. Menanti gadis itu sudah berlalu, Mo Tin liong baru berkata dengan suara lirih.

"Hiantit, ibu kandung budak Kim sebetulnya mempunyai keadaan yang sama dengan kakakmu!"

Mendengar perkataan itu Sun Tiong lo jadi tertegun.

"Tapi mendiang ayahku sudah ada istri"

Katanya.

"Aaaai ... kisah sedih dari empek ini apakah mesti kuceritakan kepada hiantit?"

Sun Tiong lo merasa agak menyesal, dengan kepala tertunduk dia menjawab.

"Aku hanya menguatirkan tentang nona Kim, lain tidak"

Sorot mata Mo Tin hong segera dialihkan ke wajah Sun Tiong lo, kemudian secara tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

"Sancu, mengapa kau tertawa?"

Tegur Sun Tiong lo cepat.

Mo Tin hong menggelengkan kepalanya berulang kali, dia hanya tertawa belaka tanpa menjawab.

Sun Tiong lo seperti menyadari akan sesuatu, sekali lagi dia menundukkan kepalanya.

Lewat sesaat kemudian, Mo Tin hong baru berkata lagi.

"Hiantit, apa rencanamu selanjutnya?"

Sudah barang tentu Sun Tiang lo sudah mempunyai rencana tertentu, namun dia tak dapat mengutarakan rencananya ini, maka jawabnya setelah termenung sebentar.

"Bila Sancu dapat melanggar peraturan yang berlaku dengan mengijinkan aku berdua meninggalkan bukit ini, tentu saja akan kujelajahi seantero jagad untuk melacaki jejak dari lencana Lok hun pay tersebut..."

"Perkataan empek sudah cukup jelas"

Kata MoTin-hong sambil tertawa lebar.

"peraturan yang berlaku dibukit ini hanya dimaksudkan untuk melindungi keselamatanku. Hiantit bersaudara bukan orang luar, tentu saja kalian boleh pergi datang dengan sehendak hati kalian sendiri..."

Buru-buru Suu Tiong lo menjura untuk menyatakan rasa terima kasihnya.

"Kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih dulu kepada Sancu atas kemurahan hatimu."

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba katanya lagi.

"Aku masih ada suatu permintaan lain, harap Sancu bersedia untuk meluluskannya pula."

"Katakanlah hiantit, empek tentu akan meluluskan!"

Sun Tiong lo tersenyum katanya.

"Ada dua orang teman juga ingin meninggalkan bukit ini, apakah Sancu bersedia untuk melepaskannya pula?"

"Siapakah dia?"

Tanya Mo Tin-hong sambil tersenyum meski hatinya tergerak.

"Cengcu perkampungan ini beserta pelayannya!"

Mo Tin-hong segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh.... haaahh... haaahhh... boleh saja, kapan hiantit hendak berangkat?"

"Bila tiada halangan, paling baik kalau hari ini bisa berangkat."

"Ooooh..."

Lama sekali Mo Tin-hong termenung tanpa mengucapkan sepatah kata pun juga. Beberapa waktu kemudian, dengan wajah serius ia baru berkata.

"Dapatkah hiantit berdiam diri sehari lagi disini ?"

"Pentingkah itu ?"

Sun tionglo mengerdipkan matanya berulang kali. Mo Tin-hong segera merendahkan suaranya sambil setengah berbisik.

"Malam nanti kemungkinan besar musuh tangguh akan menyerang kesini, empek sangat mengharapkan bantuan dari hiantit bersaudara untuk menanggulangi keadaan itu !"

"Entah musuh baik atau musuh jahat jang akan datang malam nanti, harap Sancu jangan menyuruh kami bersaudara untuk turun tangan!"

Kontan saja Mo Tin-hong berkerut kening.

"Seandainya pihak musuh benar-benar merupakan kawanan manusia bengis yang berhati busuk ?"

Tanyanya.

"Aku percaya masih mampu untuk membedakan mana yang baik dan mana pula yang jahat !"

Sementara Sun Tiong-lo masih termenung, Mo Tin-hong telah menyambung lebih jauh.

"Tak usah kuatir hiantit, pihak lawan tiada seorangpun yang merupakan manusia baik-baik"

Waktu itu Sun Tiong-lo mempunyai gagasan dalam hati kecilnya, maka sahutnya kemudian.

"Aku bersedia mengabulkan permintaan San cu untuk tinggal sehari lebih lama disini, cuma ada sepatah kata perlu kuterangkan lebih dulu." -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB KE DUA PULUH ENAM "Oooh . ... tampaknya saat perjumpaan antara empek dengan hiantit bersaudara bukanlah saat yang benar"

Mo Tin-hong segera mengeluh.

"Tidak, adalah tempat perjumpaannya yang tidak benar!"

Sambung Sun Tiong lo cepat. Tergerak hati Mo Tin hong sesudah mendengar perkataan itu, mendadak dia mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya.

"Hiantit, masih ingatkah kau dengan ucapan empek sewaktu aku hendak pergi pada malam kau baru tiba disini?"

"Yaa, masih ingat"

Sun Tiong lo manggut-manggut.

"aku memang ingin bertanya kepada Sancu ada petunjuk apa?"

Mo Tin hong tersenyum.

"Sampai sekarang, hiantit masih me-naruh rasa curiga kepada empek sesungguhnya persoalan ini kurang sesuai untuk diperbincangkan tapi selewatnya malam nanti, bila kita berjumpa lagi, hiantit boleh..."

"Yaa, akupun mempunyai firasat demikian, saat untuk bertemu kembali dengan Sancu me mang tak akan jauh!"

Tukas anak muda itu cepat. Mo Tin hong tertawa.

"Tentu saja lebih bagus lagi kalau bisa begitu, cuma kejadian dimasa mendatang sukar diduga, oleh karena itu empek ingin menggunakan kesempatan ini untuk menerangkan suatu masalah yang amat besar kepada diri hiantit...."

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

"Putriku Mo Khim sudah cukup hiantit kenal, anak Kim memang berwatak keras tapi berhati baik dan mulia, ilmu silat yang dimiliki pun terhitung lumayan juga.

"Apa maksud Sancu membicarakan soal nona Kim dengan diriku?"

Sela Sun Tiong lo cepat. Mo Tin hong menghela napas panjang.

"Aiai... terus terang kukatakan kepadamu hiantit, sewaktu hiantit baru tiba di bukit ini, empek sudah tahu kalau hiantit mempunyai kesan bukan manusia biasa, kau adalah naga diantara manusia, semenjak saat itu aku sudah berniat untuk menjodohkan..."

Ucapan itu sudah cukup jelas, tapi sama sekali diluar dugaan Sun Tiong-lo.

Sejak permulaan hingga sekarangpun Tiong lo tidak begitu percaya terhadap ucapan Su-nio, tapi mengenai masalah asal usul nona Kim dia mempunyai firasat yang lain, maka terhadap perkataan dari Su-nio pun dia menaruh rasa percaya, Namun sekarang, secara tiba-tiba saja Mo Tin hong mengutarakan maksud hatinya, hal ini membuat Sun Tiong-lo mau tak mau harus merubah sudut pandangannya, sebab itu dalam sikap maupun pembicaraan lambat laun sikapnyapun berubah menjadi lebih lembut.

Setelah berhenti sejenak, sambil tertawa Mo Tin hong melanjutkan kembali kata2nya.

"Sekarang, setelah kuketahui asal usul Hiantit. hati empek merasa semakin lega lagi, maka akupun ada niat untuk menjodohkan anak Kim kepadamu, entah bagaimanakah menurut pendapat hiantit ?"

Dihadapkan langsung oleh masalah tersebut.

Sun Tiong lo benar benar merasa tersudut, dengan wajah memerah karena jengah dia tundukkan kepalanya rendah-rendah tanpa menjawab.

Mo Tin hong segera menepuk-nepuk bahu Sun Tiong lo, lalu katanya dengan nada bersungguh-sungguh.

"Hiantit, empek pun sama seperti kau, dendam kesumat atas musnahnya perkampungan Ang liu ceng tak akan terlupakan untuk selamanya, demi persoalan ini, sekalipun harus pergi ke ujung langit pun empek tetap akan melacaki terus."

"Empek pun hendak membekuk perempuan cabul itu sebagai saksi, aku ingin tahu siapakah sebenarnya pemilik lencana Lok hun-pay tersebut, sebab itu secepatnya empek akan menye lidiki masalah ini."

"Bila anak Kim harus turut empek melakukan perjalanan jauh, bukan saja kurang leluasa bahkan membahayakan pula keselamatan jiwanya, sedangkan kalau ditinggalkan diatas bukit, seandainya sampai ada musuh yang menyerbu kemari, kuatirnya dia bakal dibekuk musuh sebagai sandera.

"Maka dari itu, setelah empek pertimbangkan berulang kali, ditambah pula dengan bahan pengamatanku selama ini, empek tahu akan perasaan anak Kim terhadap hiantit, karenanya kumohon kepada hiantit untuk membawanya serta dalam perjalanan, entah bagaimana menurut pendapat hiantit sendiri?"

Jelas tawaran ini merupakan suatu tawaran baik, berbicara terus terang, Sun Tiong lo sen diripun telah mengambil keputusan, bilamana Mo Tin hong benar-benar bukan ayah si nona, dia akan berusaha dengan segala kemampuan untuk membawa nona itu pergi dari situ.

Diluar dugaan sekarang, Mo Tin hong telah menawarkan hal ini kepadanya, menghadapi kejadian yang sama sekali diluar dugaan ini, untuk sesaat lamanya Sun Tiong lo malah menjadi ragu sendiri.

Sementara itu Mo Tin hong telah bertanya.

"Apakah hiantit menganggap sekali kurang cocok .."

"Sancu"

Tukas Sun Tiong lo cepat.

"aku bersedia menemani putrimu untuk melakukan perjalanan bersama, tapi persoalan selepas itu bagaimana kalau jangan dibiarkan dulu?"

Mo Tin hong segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahh...haahh...haahh...baik, empek percaya hal ini merupakan suatu permulaan yang baik."

Setelah berhenti sejenak, dia lantas berseru kearah luar mangan loteng.

"Undang nona kemari, cepat!"

Suara menyahut berkumandang dari bawah sana. Mo Tin hong segera merubah kembali nada suaranya dengan berkata.

"Hiantit, dapatkah kau undang kehadiran kakakmu untuk berjumpa dengan empek?"

"Bagaimana kalau malam nanti kita penuhi keinginan sancu saja?"

"Hal ini tentu saja baik sekali"

Mo Tin hong manggut-manggut Setelah berhenti sejenak, sambil beranjak katanya lagi.

"Untuk membebaskan diri dari segala kecurigaan, empek bersedia mengadakan perjanjian dengan hiantit dengan batas waktu satu tahun, setahun kemudian bagaimana kalau hiantit dan kakakmu dipersilahkan datang kembali kemari."

"Aku tak akan mengingkari janji !"

Sementara pembicaraan berlangsung, bayangan tubuh nona Kim telah muncul didepan pintu loteng. Pelan-pelan Mo Tin hong bangkit berdiri, sambil menggape ke arah Nona Kim katanya.

"Anak Kim, kemarilah kau, ayah ada kabar baik hendak disampaikan kepadamu !"

Dengan langkah yang lemah lembut nona Kim berjalan mendekat. Sambil menuding ke arah Sun Tiong lo, Mo Tin hong berkata.

"Saudara Sun mu ini hendak meninggalkan bukit esok pagi, barusan ayahpun telah berrunding dengan Sun si-heng agar membawa serta dirimu dalam perjalanan ini, atas kesediaan Sun si heng..."

"Tapi ayah....dia kan..."

Dengan wajah tersipu-sipu karena malu nona segera membungkam. Mo Tin hong segera lertawa terbahak-bahak.

"Haah....haahh....haahh... jangan dia... dia melulu, kau adalah kau, dia adalah dia !"

Sesudah berhenti sebentar, katanya lagi kepada Sun Tiong lo.

"Empek masih ada berapa persoalan yang harus segera diselesaikan, nah, kalian boleh berbincang sepuasnya"

Begitu selesai berkata, tidak menunggu bagaimanakah tanggapan dari Sun Tiong lo dan nona Kim, dengan langkah lebar dia segera berjalan keluar dari ruangan loteng itu.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Malam sudah kelam.

Waktu itu kentongan pertama sudah lewat.

Cahaya lentera yang menerangi bukit Pemakan manusia telah dipadamkan, suasanapun sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Kentongan kedua telah tiba.

Serentetan bayangan manusia berwarna hitam mendadak muncul di luar perkampungan dan mendekati dinding pekarangan.

Penghuni dalam perkampungan seakan-akan sudah pulas semua, ternyata kehadiran orang-orang itu sama sekali tidak dirasakan oleh mereka.

Maka bayangan hitam itupun satu persatu melompati dinding pekarangan dan menyusup masuk kebagian tengah perkampungan.

Ketika dihitung satu persatu jumlahnya, aah ternyata mencapai dua puluh empat orang lebih.

Kedua puluh empat sosok bayangan hitam itu dengan cepat menyebarkan diri dan mengurung seluruh gedung ditengah perkampungan itu.

Penghuni perkampungan itu masih saja pulas dengan nyenyak, tak seorang manusiapun yang merasakan musuh-musuh tangguh tersebut.

Tampak dua sosok bayangan manusia diantaranya muncul keluar dari arah timur dan langsung melayang turun didepan pintu gerbang perkampungan itu.

Sungguh besar nyali mereka, begitu tiba di depan pintu gerbang, ternyata mereka segera turun tangan untuk mendorong pintu gerbang.

Aneh...

betul-betul suatu peristiwa yang sangat aneh.

Pintu gerbang tersebut ternyata tidak dikunci, sewaktu didorong tadi, diiringi suara gemericit segera terpentang lebar.

Dibalik pintu merupakan suatu ruangan yang gelap gulita seperti gua, tak sesosok bayangan manusiapun yang nampak hadir didalam sana.

Sreeet..!

Sreeet....!

Sreeet...!

Kembali ada tiga sosok bayangan manusia meluncur turun didepan pintu gerbong, kini jumlahnya mereka jadi berlima.

"Aah, tidak benar, tampaknya keadaan tidak benar..."

Salah seorang diantaranya segera berbisik lirih. Yang lainnya berbisik pula.

"Ya, mungkin si bajingan tua itu sudah melakukan suatu persiapan untuk menantikan kedatangan kita, untung saja kita datang dengan susunan rencana yang matang, menyerbu secara terang terangan ataupun menyerang secara gelap kedua-duanya sama saja, mari kita segera turun tangan!"

"Menurut pendapatku, lebih baik kita menunggu sejenak lagi!"

Orang yang berbicara pertama kali tadi kembali berkata.

"Apa lagi yang mesti kita tunggu?"

"Menunggu pemberitahuan dari Tin lam-hengte (Tin-lam bersaudara)!"

Orang ketiga segera berkata.

"Apa yang diucapkan saudara Tan tadi memang betul, bagaimanapun juga mau menyerbu terang-terangan, ataukah melancarkan sergapan secara diam-diam toh sama saja keadaannya, apa lagi yang mesti kita kuatirkan? Lebih baik lepaskan dulu tiga butir peluru api, setelah suasana terang benderang baru kita turun tangan!"

Orang yang pertama tadi tidak kukuh dengan pendiriannya lagi, lantas mengangguk.

"Baiklah, saudara Gak, silahkan lepaskan peluru peluru api itu!"

Baru selesai dia berkata, mendadak dari balik gedung besar itu berkumandang keluar suara tawa menggetarkan sukma. Menyusul gelak tawa itu terdengar seorang berkata.

"Buat apa kalian melepaskan peluru api sebagai penerangan? Biar lohu saja yang menitah orang untuk memasang lentera, bukankah cara ini lebih praktis dan baik?"

Baru selesai ucapan tersebut berkumandang cahaya lentera telah muncul, dalam waktu yang singkat Bukit Pemakan Manusia telah menjadi terang benderang, entah berapa banyak lentera dan obor yang memancarkan cahaya, dalam waktu singkat seluruh bukit sudah berubah menjadi terang benderang seperti disiang hari saja.

Dibawah sorotan cahaya lentera, tentu saja kedua puluh empat tamu tak diundang itu menjadi kelihatan jelas sekali.

Sementara itu, dari dalam gedung kembali terdengar seseorang berkata dengan lantang.

"Lohu kira manusia darimanakah yang telah makan hati beruang empedu macan kumbang sehingga malam-malam begini berani mendatangi bukit pemakan manusia ini, tak tahunya cuma kawanan manusia kurcaci macam kalian."

Sementara pembicaraan berlangsung, Mo Tin hong dengan mengenakan pakaian berwarna putih salju telah menampakkan diri dari balik ruangan dengan langkah santai.

Dibelakang tubuhnya mengikuti pula empat orang yang aneh sekali dandanannya.

Meski mereka berempat, tapi boleh dibilang sama artinya dengan dua orang saja.

Sebab dua orang yang ada disebelah kiri, entah soal wajah, dandanan maupun gerak gerik, semuanya mirip satu sama lainnya seperti pinang dibelah dua, muka itu pucat pias persis seperti setan gantung.

Demikian pula keadaan dua orang manusia disebelah kanannya, cuma wajah mereka hitam pekat seperti pantat kuali.

Sebaliknya ke dua puluh empat orang penyerbu itu rata-rata merupakan jago lihay dari kalangan Hek To yang sudah termashur selama banyak tahun dalam dunia persilatan namun tak seorangpun diantara mereka yang mengenali siapakah keempat orang dibelakang tubuh lawan itu.

Mo Tin hong berhenti pada jarak kurang lebih tiga kaki dihadapan kedua puluh empat orang jago lihay dari golongan hitam itu, dengan sinar mata yang amat tajam dia memandang sekejap orang-orang itu, kemudian sekulum senyuman dingin yang penuh penghinaan tersungging diujung bibirnya.

Sesungguh kedua puluh empat orang jago lihay dari golongan hitam ini masing-masing merupakan pentolan dari suatu wilayah tertentu, tapi demi cita-cita mereka untuk menyerbu masuk kedalam bukit pemakan manusia, secara insidentil mereka memilih seorang pemimpin baru untuk mengepalai kelompok tersebut.

Yang menjadi pentolan mereka sekarang adalah Tin lam sam tok (tiga manusia beracun dari Tin lam) yang sudah termashur namanya dalam dunia persilatan, berbicara dalam persoalan tenaga dalam, soal kepandaian silat, soal akal bulus maupun kekejaman, mereka merupakan manusia yang paling menonjol diantara ke dua puluh empat orang jago lihay ini.

Hanya saja ketiga orang manusia beracun ini cukup tahu diri, meski mereka tak tahu siapakah pemilik Bukit Pemakan Manusia tersebut, namun mereka sadar bahwa kepandaian silat yang dimiliki Sancu tersebut sudah pasti lihay bukan kepalang.

Merekapun sadar bahwa didalam Bukit Pemakan manusia terdapat pula jago lihay yang tak terhitung jumlahnya, ibarat sarang naga gua harimau, salah-salah bisa jadi mereka kena dipunahkan tak berbekas.

Oleh karena itu mereka bertigapun secara diam-diam telah bersekongkol pula dengan dua orang iblis tua lainnya untuk memberikan bantuan secara diam-diam bilamana diperlukan.

Kini, yang sedang melangsungkan tanya jawab dengan Mo Tin hong tak lain adalah lotoa dari Tin lam sam tok yang disebut orang Siau bin tok sin (dewa racun berwajah senyum), Yau Tang bei.

Sebelum berbicara dia tertawa dulu, lalu baru berkata.

"Sancu, baik-baikkah kau, malam ini lohu dan semua sahabat serta mereka yang seharusnya datang, telah datang semua kemari !"

Mo Tin hong mendengus dingin.

"Yau Tang bei!"

Tegurnya.

"kaukah yang memegang pucuk komando pada malam ini ?"

"Haaahh... haaahhh... haaahhh... apa daya, semua orang memandang tinggi dari lohu, terpaksa kedudukan itu harus lohu jabat!"

Sahut Yau Tang bei sambil tertawa terkekeh.

Mo Tin hong mendesis sinis, pelan-pelan sorot matanya menyapu sekejap wajah ke dua puluh empat jago yang hadir dihadapannya itu, kemudian sambil berkerut kening dia termenung beberapa waktu lamanya.

Sesaat kemudian, dengan suara dalam ia baru membentak keras.

"Ke mana sembunyinya si manusia tertawa dan manusia menangis? Suruh mereka berdua tampilkan diri guna berbincang bincang dengan diriku!"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, Tin Iam sam tok baru merasa amat terkejut.

Sebagaimana diketahui, mereka telah bersekongkol secara diam-diam dengan dua orang iblis tua untuk bersama-sama menyerbu Bukit pemakan manusia, dua orang iblis tua yang di maksudkan memang tak lalu adalah si manusia tertawa dan Manusia menagis, orang lain tak ada yang tahu akan rahasia ini, tapi kenyataannya sekarang Mo Tin hong mengetahui hal tersebut dengan jelas, hal mana benar-benar sama sekali diluar dugaannya.

Nama busuk manusia tertawa dan manusia menangis sudah dikenal setiap umat persilatan, tapi semejak puluhan tahun berselang, kedua orang gembong iblis ini sudah lenyap dari keramaian dunia persilatan, siapapun tak menyangka kalau saat ini mereka dapat muncul kembali diatas Bukit pemakan manusia.

Memang tak salah kalau orang bilang.

Manusia punya nama, pohon punya bayangan.

Ketika Mo Tin-hong menyinggung soal kedua orang manusia aneh tersebut, meski hal mana jauh diluar dugaan kawanan jago golongan hitam yang melakukan penyerbuan itu, namun mereka menunjukkan perasaan amat gembira.

Sebab mereka adalah komplotan yang sebenarnya bekerja karena telah bersekongkol dengan Khong It-hong, biasa tahu usaha Khong It-hong mengalami kegagalan total, hal mana membuat keadaan orang orang itu seperti menunggang diatas punggung harimau saja.

Akhirnya setelah berunding heberapa kali, mereka memutuskan untuk menyerbu Bukit pemakan manusia pada malam ini...

Walaupun begitu, sebenarnya kawanan iblis itupun merasa agak keder juga menghadapi kelihayan Mo Tin hong serta jago-jago lihay yang ada diatas bukit, bayangkan saja betapa girangnya mereka setelah mengetahui bahwa kelompok mereka sesungguhnya ditunjang oleh manusia menangis dan manusia tertawa yang sudah diketahui kelihayannya itu, hal mana sama artinya dengan harapan mereka untuk berhasil menjadi makin besar.

"Menangis dan tertawa dua orang cianpwee pasti akan kemari, tapi sekarang masih belum saatnya bagi mereka untuk menampakkan diri, bila kau tahu diri, lebih baik cepat cepatlah berikan tiga mestika dari bukit ini kepada kami..."

Kata Yau Tang bei.

Belum selesai dia berkata, dari arah sebelah barat sana telah berkumandang beberapa ledakan keras, menyusul kemudian serentetan cahaya terang membumbung tinggi ke angkasa.

Mo Tin hong segera tertawa terbahak-bahak sambil menuding ke arah Yau Tang bei katanya.

"Ucapanmu kelewat tekebur, coba kau lihatlah sendiri !"

Yau Tang bei sama sekali tak menyangka kalau undakan tersebut hanya suatu tipu muslihat belaka, serentak dia bersama kawan jagoannya berpaling kearah mana datangnya suara ledakan tersebut.

Tapi apa yang dilihat langit nan hitam, tiada sesuatu apapun yang dijumpainya, dengan cepat mereka sadar kalau dirinya tertipu, baru saja akan bersiap sedia menghadapi segala perubahan, jerit ngeri memilukan hati telah berkumandang saling menyusul.

Apa yang terjadi ?

Diantara dua puluh tua orang jago lihay yang dipimpinnya, sudah ada enam orang diantaranya yang roboh terkapar di tanah dengan tulang kepala hancur serta darah kental menodai seluruh badannya, kematian yang mengerikan sekali.

Ternyata orang yang melepaskan serangan itu tak lain adalah empat orang manusia aneh yang berdiri dibelakang tubuh Mo Tin-hong.

Keempat orang itu tidak membawa senjata, mereka hanya menyerang dengan menggunakan tangan kosong belaka.

Tapi caranya melancarkan serangan serta jurus serangan yang ganas betul-betul menggidikkan hati orang, hanya dalam waktu singkat ada dua orang jago lagi yang menemui ajalnya dalam keadaan mengerikan.

Sambil menggigit bibirnya menahan diri, Yau Teng-bei segera membentak dengan suara dalam.

"Seperti yang direncanakan semuIa, semua orang turun tangan bersama, maju ke depan serentak, gunakan peluru api untuk menyerang, kepung Mo loji rapat-rapat dan serahkan ke empat makhluk itu kepeda lohu bersaudara..."

Maka serentak kawanan jago lihay dari golongan hitam itu menyerbu ke depan mengancam Mo Tin-hong.

Ada belasan orang diantaranya yang merogoh kedalam saku masing masing untuk mempersiapkan peluru api.

Paras muka Mo Tin hong dingin menyeramkan, hawa napsu membunuh telah menyelimuti pula wajahnya, jelas dia telah melakukan persiapan semenjak permulaan tadi.

Ketika memberi komando kepada kawan jagonya untuk mengurung Mo Tin hong tadi, Yau Tang bei bersaudarapun merogoh ke saku masing-masing untuk mempersiapkan senjata tajam andalan mereka.

Sementara itu, ke empat orang manusia aneh tadi bukannya maju menyerang malahan sebaliknya mundur ke belakang, delapan buah sinar mata mereka bukan ditujukan kepada wajah Yaukeh hengte (tiga bersaudara keluarga Yau) sebaliknya tertuju ke wajah Mo Tin-hong.

Mendadak terdengar Mo Tin-hong membentak keras kearah kawanan iblis dari golongan hitam yang menyerbu kedepan itu.

"Harap kalian tunggu sebentar, dengarkan dulu perkataan lohu !"

"Orang she Mo."

Ucap Yau Tang bei sambil mengambil senjata kaitan emas cakar harimau nya "bila kau tahu keadaan dan segera menyerah, hal ini jauh lebih baik daripada harus melangsungkan pertarungan, bila ada perkataan cepat kau utarakan !"

Mo Tin hong mendengus dingin.

"Terhadap kawanan tikus macam kalian, sebenarnya lohu hendak melakukan pembantaian sampai seakar-akarnya, tapi mengingat kita adalah sesama umat manusia ciptaan Thian, maka sekali lagi kuperingatkan kepada kalian, segera mengundurkan diri dari sini, daripada memperoleh bencana yang diinginkan !"

Yau Tang-bei segera tertawa seram.

"Heeeh.... heeeh.... heeeh... orang she Mo, hanya beberapa patah kata itukah yang hendak kau sampaikan ?"

Kini kemenangan sudah ada di tangan Mo Tin hong, bila menuruti adatnya, ingin sekali dia turunkan perintah untuk membasmi seluruh jagoan tersebut hingga mampus semua.

Tapi berhubung Sun Tiong lo dan nona Kim bersembunyi disekitar sana melakukan pengawasan, maka untuk memperlihatkan keluhuran budinya serta bersikap seolah-olah dia tak gemar membunuh, terpaksa hawa amarahnya harus ditekan dan berlagak hendak memberi peringatan.

Tentu saja diapun mengetahui dengan jelas bahwa kawanan jago dari golongan hitam itu tak akan menyudahi pertarungan sampai disitu saja, sudah barang tentu dia lantas manfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk mengobral keluhuran budi serta kebajikannya, agar Sun Tiong-lo dapat merubah pendapat terhadap dia.

Benar juga, kawanan jago lihay dari golongan hitam itu, mulai dari Yau Tang bei sampai lain lainnya merupakan jagoan yang tak gentar menghadapi kematian, bahkan mereka menganggap Mo Tin hong kuatir diserang dengan api, maka ada minat untuk berunding secara baik-baik.

Menyaksikan siasatnya termakan, Mo Tin hong sengaja menunjukkan sikap yang lebih mengalah lagi, katanya.

"Yau Tang bei, terus terang lohu katakan kepadamu, lohu menetap diatas bukit ini sama sekali tidak disertai niat untuk mengangkangi tiga mestika hasil bukit ini, dan lagi tiga macam benda itupun bukan benda yang dibutuhkan oleh seorang Kuncu..."

Belum habis dia berkata, Yau Tang bei telah menyela.

"Bagus sekali, lohu dan rekan-rekan lainnya bukan manusia sejati, yang kami harapkan justru adalah ketiga mestika yang ada dibukit ini bila kau berniat tidak untuk mengangkanginya kenapa tidak dibagi saja kepada kami?"

"Tutup mulutmu!"

Bentak Mo Tin hong gusar "dengarkan dulu perkataan lohu hingga selesai, lohu tinggal disini hanya bermaksud untuk menyembunyikan diri dari kejaran seorang musuh tapi sekarang urusan telah berkembang jadi begini rupa, maka beberapa hari kemudian akan aku tinggalkan bukit ini untuk pindah ketempat lain..."

"Bagus sekali"

Sekali lagi Yau Tang bei menukas.

"bila kau akan pergi, biarlah kami yang pindah kemari, bukankah itu adil namanya?"

"Hm!"

Mo Tin hong mendengus dingin.

"seandainya ke tiga macam mestika hasil bukit ini diberikan kepada seorang lelaki sejati,maka benda benda itu akan bermanfaat sekali bagi umat manusia didunia ini, sebaliknya jika diperboleh manusia macam kalian, yang ada cuma mencelakai sesama umat manusia saja kau anggap lohu akan menyerahkannya dengan begitu saja pada kalian?"

"Sekali lagi kuperingatkan pada kalian, usaha persekongkolan kalian dengan murid murtadku Khong It hong sudah bocor, dan malam ini lohu sudah melakukan persiapan yang matang, bila kalian masih saja tak tahu diri, jangan salahkan bila lohu tak akan berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap kalian!"

"Huu, kalau hanya menggertak melulu apa gunanya? Mengapa tidak kau perlihatkan kelihayan yang sesungguhnya?"

"Katak dalam sumur juga berani membicarakan luasnya angkasa?"

Kembali Mo Tin hong mendengus dingm.

"berulang kali lohu sudah berusaha untuk menyadarkan kalian dan membuka jalan kehidupan buat kamu semua, jika kalian bersedia mundur, maka mengingat ketidak tahuan kalian, kamu semua dapat tinggalkan bukit ini dalam keadaan selamat, kalau tidak..."

"Kalau tidak kenapa ?"

Sela Yau Tang-bei.

"Sekali lagi lohu hendak peringatkan kepada kalian semua, ketahuilah keempat orang anak buahku ini tak lain adalah Lam-ciaupak-nio atau malaikat bengis dari selatan, iblis keji dari utara yang nama besar mereka sudah pernah menggetarkan seluruh dunia persilatan. Kini sepasang bersaudara ini sudah takluk dan menjadi anak buahku, sekarang tabiat mereka sudah berubah dan tak suka membunuh orang lain, tapi bila lohu turunkan perintah, kekejaman serta kebrutalan mereka akan dipraktekkan kembali dihadapan kalian !"

Begitu mendengar nama Lam ciau pak mo, serentak kawanan iblis dari golongan hitam itu dibuat terperanjat.

Sayang sekali mereka agak lambat terjun ke dalam dunia persilatan, sehingga tak seorang pun yang mengenali wajah asli dari Lam ciau pak mo tersebut ditambah lagi ambisi mereka untuk merebut Bukit pemakan manusia amat besar, meski jeri tak seorangpun yang mengundurkan diri dari tempat itu.

Tujuan yang sebenarnya dari Mo Tin hong adalah membunuh semua jago yang menyerbu bukitnya pada malam ini, maka sambil tertawa terbahak-bahak sorot matanya memandang sekejap kearah Lam ciau pak mo, kemudian sambil menuding kearah Yau Tang bei katanya.

"Yau Tang bei, sebenarnya kalian mau mundur atau tidak? Harap jawab pertanyaan lohu ini!"

Yau Tang bei memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu sahutnya dengan lantang.

"Setelah memasuki bukit mestika kau anggap kami akan pulang dengan tangan hampa ?"

Sekali lagi Mo Tin hong tertawa terbahak-bahak.

"Haaaah... haaah... haaaah... kalau nafsu serakah sudah merajai pikiran, sekalipun pintar akan menjadi bodoh, sekalipun pengecut juga akan berubah menjadi pemberani. Baiklah, sekali lagi lohu memberi kesempatan kepada kalian, segera undanglah kehadiran manusia menangis dan manusia tertawa untuk hadir disini mungkin kedua orang itu masih cukup kenal dengan Lam ciu pak mo..."

Belum habis perkataan itu diucapkan, Yau Tang bei telah membentak kekiri kanannya.

"Perbincangan yang tak cocok akan menghamburkan waktu saja, kita segera turun tangan !"

Baru selesai perintah itu diturunkan, tiga butir peluru api telah disambit ke dalam pintu gerbang gedung tersebut.

Ternyata Mo Tin hong tidak memberikan pertolongan apa apa, sambil berpekik panjang serunya kepada Lam sat pak mo.

"Kerahkan segenap tenaga kalian, bunuh mereka semua !"

Diiringi pekikan aneh yang memecahkan telinga, Lam-sat pak-mo serentak menerjang kemuka dan menubruk ke arah kawanan jago tersebut.

Sementara itu, dari dalam ruangan gedung sudah kedengaran suatu gerakan, ditengah desingan angin tajam, tiga butir peluru api yang disambit kedalam ruangan gedung im mendadak padam dengan sendirinya, menyusut kemudian tampak sepasukan jago lihay berbaju hitam berjalan keluar dari balik gedung itu.

Semuanya berjumlah enam belas orang, masing-masing bersenjata pedang dan memiliki ketajaman mata yang menggidikkan hati.

Dengan wajah sedingin es, Mo Tin hong memberi tanda kepada Busu-busu berbaju hitam itu seraya berseru.

"Kepung! Ingat, jangan biarkan mereka lolos, tangkap hidup-hidup mereka semua !"

Enam belas orang Busu berbaju hitam itu menyahut bersama, serentak merekapun melakukan pengepungan.

Mereka hanya mendapat perintah untuk mengurung dan membekuk musuh yang melarikan diri, tentu saja bukan berarti mereka turut melancarkan serangan, maka orang-orang itu hanya melakukan pengepungan ditempat itu.

Dalam kepungan Lam-sat pak mo bekerja dengan santai, betul lawan yang mereka hadapi adalah jago jago lihay dan golongan hitam, namun ibaratnya harimau bertemu dengan kawanan domba, siapa terhajar oleh serangan mereka pasti mampus atau terluka parah.

Anehnya beberapa bacokan golok dan pedang bersarang ditubuh Lam sat pak mo, akan tetapi mereka seperti tidak merasakan apa-apa, tubuhnya kebal senjata seakan-akan terbuat dari baja asIi, hal mana makin mengejutkan kawanan jago dari golongan hitam itu.

Dalam waktu singkat, dari dua puluh empat orang penyerbu tangguh yang hadir diarena, kecuali Yau Tang bei kakak beradik, tinggal sepuluh orang jago yang masih mempertahankan diri, sebaliknya Lam sat pak mo makin bertarung makin berani, keadaan mereka tak ubahnya seperti orang yang kerasukan setan.

Pada saat itulah dari kejauhan sana tiba-tiba berkumandang suara tertawa dan suara tangisan yang menyeramkan.

Begitu cepat gerakan tubuh kedua orang iblis itu, hanya dalam waktu singkat suara mereka sudah semakin mendekat Begitu mendengar suaranya, Mo Tin hong lantas mengetahui siapa yang telah datang, de ngan suara lantang segera bentaknya.

"Para kiamsu berbaju hitam dengar perintah segera mengundurkan diri dan berjaga-jaga di samping pintu gerbang gedung!"

Serentak para kiamsu berbaju hitam itu mengundurkan diri, dengan memecahkan diri jadi dua baris, mereka berjaga didepan pintu.

Agaknya Lam sat pak mo menyadari pula datangnya musuh tangguh, serentak mereka hentikan serangannya dan sambil berjajar, sementara hawa murninya telah dinimpun menjadi satu bersiap sedia menghadapi segala ke mungkinan yang tak diinginkan.

Tahu-tahu ditengah arena telah bertambah dengan dua orang manusia aneh.

Yang seorang bertubuh jangkung seperti setan gantung, mukanya putih memucat menimbuIkan rasa pedih dari siapapun.

Sebaliknya yang lain berwajah gemuk putih dan senyuman selalu dikuIum, sepintas lalu membuat siapa yang memandang ingin tertawa.

Begitu manusia tertawa dan manusia menangis munculkan diri, sorot mata mereka segera melirik sekejap kearah Lam sat pak mo, kemudian mendengus dingin, agaknya keempat orang itu sama sekali tak dipandang sebelah mata pun olehnya.

Akan tetapi ketika sinar mata manusia aneh itu bertemu dengan wajah Mo Tin hong, mereka seperti amat terperanjat sehingga paras mukanya berubah hebat.

Sun Tiong lo yang bersembunyi dibalik kege!apan, segera merasakan hatinya tergerak setelah menyaksikan kejadian itu.

Manusia menangis segera memandang sekejap kearah manusia tertawa, kemudian kedua belah pihak sama-sama menganggukkan kepalanya.

Manusia menangis tidak bergerak, sebaliknya manusia tertawa maju kemuka dan berhenti lebih kurang lima kaki dihadapan Mo Tin hong.

Setelah tertawa terkekeh-kekeh dengan suara aneh, manusia tertawa lantas berkata.

"Tin lam sam tok ketiga orang bocah keparat itu benar-benar menggemaskan, mereka hanya memberitahukan kepadaku dan sikakek menangis bahwa harta mestika dibukit ini bermanfaat sekali buat kami, mereka tidak mengatakan kalau Sancu bukit ini adalah kau...."

Tak dapat disangkal lagi, simanusia menangis maupun manusia tertawa saling mengenal dengan Mo Tin hong.

"Sekarang kalian tentunya sudah tahu bukan?"

Seru Mo Tin hong cepat dengan suara dingin.

"Heehh... heehh.... heehh.... tentu saja, tentu saja, sekarang kami sudah tahu."

Manusia tertawa terkekeh-kekeh.

"Lantas apa rencana selanjutnya?"

"Harta mestika tetap harta mestika, apalagi mestika itu amat berguna untuk diriku dan kakek menangis, toh kami tak bisa berpeluk tangan belaka setelah mengetahui kau sebagai Sancu dari bukit ini."

Mo Tin hong segera mendengus dingin.

"Bagus sekali, manusia mati lantaran harta, burung mati lantaran makanan, kini ketiga macam benda mestika itu sudah berada didepan mata, lohu ingin saksikan dengan cara apakah kalian hendak mengambilnya."

Manusia tertawa memicingkan matanya lalu tertawa terkekek-kekeh.

"Bagaimana jika dirundingkan?"

Ia bertanya.

"Kalau jalan pikirannya berbeda, apanya yang perlu diperbincangkan lagi...?"

Mendadak terdengar suara tangisan setan melengking diudara, Manusia menangis maju mendekat sambil berseru.

"Lo mo, kita kan sobat lama bukan?"

"Lohu tak akan bersanabat dengan manusia macam kalian."

Dengan cepat Mo Tin hong menggeleng. Manusia menangis segera menangis tersedu-sedu, katanya lagi.

"Perkataanmu itu sungguh membuat hatiku amat sedih, sedih sekali, teringat dimasa lalu."

"Apa itu masa lalu, masa kini, lohu sama sekali tak tahu"

Bentak Mo Tin hong.

"dengarlah baik-baik, kalian dua makluk tua, mnngingat kalian tak tahu keadaan yang sebenarnya, lohu bersedia memberikan sebuah jalan untuk kalian...."

Gelak tertawa dan isak tangis segera berkumandang lagi diudara, kemudian terdengar Manusia tertawa berkata.

"Mo tua, satu lawan satu aku dan si kakek menangis tak pernah omong kosong, kami tahu bukan tandinganmu, tapi kalau dua lawan satu... Mo tua, kau bakal keok ditangan kami."

"Mengingat dimasa lalu kita masih terhitung punya hubungan yang lumayan, marilah kita sekali lagi bekerja sama, aku dan sikakek menangis jamin kau tak akan mengalami kesulitan lagi dikemudian hari, bagaimana?"

"Hmm, kalian anggap dengan dua lawan satu, kalian lantas punya keyakinan untuk menang?"

Mo Tin hong mengejek sambil tertawa dingin.

"Mo tua, apakah kau lupa dengan pertunjukan bagus dimasa lalu ?"

"Belum, aku belum lupa dengan peristiwa itu, apalagi sewaktu kalian melarikan diri terbirit-birit macam anjing kena digebuk !"

"Hanya mengandalkan kau seorang Lo Mo?"

Sambung manusia sambil tertawa.

"Kalian harus mengerti, waktu itu Pak gi lote datang kesana hanya secara kebetulan saja."

Manusia menangis segera berkaok-kaok keras.

"Mo tua, kini Giok Bin (muka kumala) sudah jadi onggokan tulang, Sian-kiam (dewa pedang) sudah terkubur di tanah, kau jangan harap bisa mengharapkan datangnya bantuan dari adik-adik angkatmu itu secara kebetulan !"

Begitu mendengar si kakek menangis membongkar rahasia tersebut Mo Tin-hong segera merasakan hatinya tergerak, dengan cepat dia memperoleh suatu siasat bagus.

Dengan wajah berubah bebat, bentaknya keras-keras.

"Ku loji (kakek menangis), darimana kau bisa tahu kalau adik Pak gi sudah tewas?"

Kakek menangis agak tertegun, setelah menangis terseduh, katanya.

"Tentu saja aku tahu ...."

Sesungguhnya Mo Tin-hong mempunyai hubungan yang luar biasa pada manusia menangis maupun manusia tertawa, boleh dibilang ia sangat memahami watak dari mereka berdua, maka tidak menanti manusia menangis melanjut kata-katanya, ia telah membentak.

"Kau tentu saja tahu? Siau loji?"

"Aku tahu dia tentu saja juga tahu!"

Manusia menangis menyambung dengan cepat.

"Ku loji, mari kita kesampingkan dulu masalah yang kita hadapi malam ini, mari perbincangkan dulu soal kematian yang menimpa Pek gi hiante ku beserta istrinya."

"Aku tahu kalian berdua tidak pernah bisa membedakan mana yang salah mana yang benar, dan mana yang jahat, sebagai seorang laki-laki yang berani berbuat berani bertanggung jawab, aku ingin bertanya sekarang, apakah kalian turut mengambil bagian didalam peristiwa berdarah yang menimpa adik angkat ku itu?"

Kedua orang manusia aneh itu tak menjawab melainkan yang satu berpekik sedih sedangkan yang lain tertawa seram. Dengan cepat Mo Tin Hong berkata lagi.

"Suara pekikan sedih dan suara tertawa seram hanya aku orang she Mo seorang yang mengerti, bukankah kalian berdua sedang saling memberi tanda bahwa malam ini..."

"Kalau saling memberi tanda lantas kenapa"

Tukas manusia tertawa tiba tiba dengan suara dalam.

"Kalau dalam hati tidak ada rencana busuk, buat apa mesti dirundingkan?"

"Heeh heeh heeh... sekalipun ada rencana busuk yang hendak dirundingkan apa pula yang bisa engkau lakukan?"

"Lohu bisa apa?"

Mo Tin hong segera membentak keras.

"terus terang aku katakan pada kalian berdua, lohu boleh saja tidak mau bukit ini, nyawaku boleh saja tertinggal disini, tapi hari aku hendak membunuh kaliau berdua untuk membalaskan dendam bagi kematian adik Pek gi ku..."

"Hanya mengandalkan kau seorang?"

Manusia menangis berpekik keras. Mo Tin hong mendengus dingin, sambil menuding kearah dua orang itu kembali bentaknya.

"Katakan cepat, siapakah sebenarnya pemilik lencana Lok-hun-pay ?"

Manusia tertawa segera tertawa ter-kekeh2.

"Orang she Mo, bukankah kau sudah tahu pura-pura bertanya lagi..."

Serunya. Sambil menjerit sedih, manusia menangis menyambung pula.

"Bukankah pemilik lencana Lok hun pay adalah kau sendiri ?"

Paras muka Mo Tin hong berubah menjadi amat serius sepatah demi sepatah dengan tegas ia berkata "Bagus sekali, sudah lama lohu mencurigai kalian berdua, aku tahu didunia persilatan dewasa ini belum ada orang lain yang begitu bernyali berani memusnahkan perkampungan Ang liu ceng dan membunuh adik Pak gi suami isteri, Hmmm...

selama ini berhubung lohu tak punya bukti, aku tak berani berbuat banyak terhadap kalian berdua, tapi hari ini kalian telah mengakui sendiri dosa-dosamu itu, hutang darah bayar darah, serahkanlah nyawa kalian berdua !"

Selesai berkata ia segera memberi tanda-tanda kepada enam belas orang jago pedang berbaju hitamnya sambil berseru.

"Soal gedung dan bukit ini tak usah kalian pikirkan lagi, segera undang datang Pat-lo dan sekalian jago lihay yang ada, Basmi semua musuh tangguh yang datang ke bukit malam ini, tak seorangpun dibiarkan kabur dari sini !"

Mendapat perintah tersebut, enam belas jago pedang itu serentak maju ke arena dan menyerang kawanan golongan hitam yang masih tersisa itu.

Sedang Mo Tin-hong menuding kearah Lam sat pak mo sambil berseru.

"Kawanan tikus ini masih ada sekelompok orang lagi yang bersembunyi dibelakang loteng Hian ki-lo, kalian segera ke sana dan bantai mereka semua, jangan biarkan seorangpun di antara mereka lolos dengan selamat, bantai semua sampai ludes !"

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Lam sat patmo segera membalikkan badan dan ber lalu dari situ.

Mo Tin-hong segera mendengus dingin, dari sakunya dia mencabut keluar tongkat lemas naga sakti yang menjadi senjata andalannya itu, kemudian maju kedepan dan melancarkan serangan.

Manusia menangis dan manusia tertawa tak sempat memberi penjelasan lagi, ditambah watak mereka yang keras kepala dan angkuh, mereka tak sudi membantah tuduhan orang.

Begitulah sambil tertawa dan menangis ke dua orang itu segera maju pula menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Manusia tertawa itu mempergunakan sebuah penggaris Liang thian ci sebagai senjata andalannya, sedangkan si manusia menangis menggunakan sebuah gada berduri Siang bun pang sebagai senjata.

Dalam waktu singkat ketiga orang itu sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru, untuk sesaat sukar dibedakan mana lawan dan mana kawan.

Dalam pada itu, Sun Tiong lo dan nona Kim yang bersembunyi ditempat kegelapan, sedang terlibat pula dalam suatu perdebatan.sengit.

Terdengar nona Kim berkata.

"Nah sudah kau dengar jelas bukan."

"Apa yang nona maksudkan?"

Sun Tiong lo bertanya dengan kening berkerut kencang.

"Dua orang mahluk tua itu telah mengakui."

"Aku tetap curiga!"

Tukas Sun Tiong lo. Mendengar jawaban tersebut, nona Kim jadi gelisah, kembali dia berseru.

"Mereka berdua sudah mengakui sebagai pemilik lencana Lok hun pay, masa bisa salah?"

"Mereka betdua sama sekali tidak mengaku apa-apa.

"Apa yang kau kehendaki hingga menganggap mereka sudah mengaku? Barusan, ayahku toh sudah bilang dengan jelas, merekalah yang memusnahkan perkampungan Ang liu ceng dan membunuh ayahmu, mereka berdua tidak membantah."

"Benar, tapi mereka berdua toh tidak mengaku juga ? Apalagi Mo Sancu pun tidak membe ri kesempatan kepada mereka berdua untuk membantah, tahu-tahu dia sudah memberi tanda untuk melakukan serangan !"

Nona Kim jadi naik darah, sambil mendepak-depakkan kakinya berulang kali katanya.

"Kau benar-benar seorang manusia yang tak tahu diri, kau toh sudah akui ayanku sebagai empek angkatmu, sedang dua makluk tua itu manusia apa, kenapa kau percaya..."

"Nona, aku tidak maksudkan begitu..."

Sekali lagi Sun Tiong-lo menukas.

Sementara mereka sedang berdebat tiada hentinya, mendadak dari tengah arena berkumandang suara jeritan dari manusia menangis serta dengusan tertahan dari Mo Tin-hong, menyusul kemudian tiga sosok bayangan manusia itu mendadak saling berpisah.

Mereka yang berdebat pun segera hentikan perdebatannya dan mengalihkan sorot mata nya ketengah arena.

Ditengah arena tampak lengan kiri manusia tertawa telah basah oleh cucuran darah, jari manis dan jari kelingking tangan kirinya mulai ruas kedua telah tersayat kuntung oleh sambaran toya lemas Mo Tin hong.

Luka tersebut hanya luka dikulit saja, jelas tak akan mempengaruhi kemampuannya untuk melanjutkan pertarungan, sebaliknya Mo Tin hong tidak menderita cidera apa-apa, sekalipun pakaian dibagian dadanya sudah tersambar hingga robek.

Nona Kim segera menghembuskan napas lega, baru saja akan bersura lagi, manusia tertawa dan manusia menangis telah melejit kembali keudara lalu menerjang Mo Tin hong secara ganas.

Mo Tin hong segera membentak gusar.

"Bagus sekali, inilah yang kuinginkan !"

Maka ketiga orang itupun terlibat kembali dalam suatu pertarungan yang amat sengit.

Nona Kim seperti bersiap-siap akan turun tangan, tapi Sun Tiong lo segera mencengkeram lengan kanannya sambil menegur.

"Nona, mau apa kau?"

Nona Kim berusaha untuk meronta dan melepaskan diri dari cengkeraman, namun tidak berhasil akhirnya dia berseru.

"Lepaskan aku!"

"Nona"

Kata Sun Tiong lo dengan wajah bersungguh-sungguh.

"tadi mereka hanya saling mencoba dalam jurus pukulan, tapi sekarang tenaga dalam masing masing telah disalurkan ke dalam senjata tajam, kedahsyatannya luar biasa sekali."

"Bila nona tidak yakin memiliki kemampuan untuk menangkan tenaga gabungan dari mereka bertiga, lebih baik janganlah bertindak gegabah, sebab bila turun tangan sekarang, jangankan membantu Sancu, mungkin ketika badanmu mencapai berapa kaki dari arena pertarungan pun badanmu akan terluka oleh sambaran tenaga dalam yang sangat kuat ini."

Nona Kim bukan tidak mengerti akan teori tersebut, hanya saja perasaan gelisah yang kelewat batas telah membuat dia kehilangan kesadarannya.

Setelah diperingatkan oleh Sun Tiong lo sekarang, sudah barang tentu dia tak akan bertindak secara gegabah lagi.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB KEDUA PULUH TUJUH.

DASAR watak perempuan, sekalipun tahu kalau salah, namun dia enggan untuk mengakui kesalahannya itu, dengan suara manja dia lantas berseru keras.

"Lepaskan cekalanmu, tak usah mencampuri urusanku !"

Sun Tionglo tertawa, dia segera lepas tangan sambil katanya "Aku telah berusaha sedapat mungkin, bila nona tidak mau percaya juga kepadaku, yaa apa boleh buat lagi ?"

Belum lama dia menyelesaikan perkataannya, mendadak dari tengah arena telah berkumandang suara jeritan yang memilukan hati.

Tampaknya pertarungan ditengah arena telah berubah menjadi suatu pertarungan adu tenaga dalam.

Sebenarnya nona Kim hendak membantu ayah nya, tapi niat tersebut dicegat oleh Sun Tiong lo.

Tak terkira rasa kaget yang menekan perasaannya, secara tiba-tiba dia mendengar bergemanya suara jeritan keras yang memilukan hatinya itu.

Dengan cepat dia berpaling kearena, tampaklah sesosok bayangan manusia telah mencelat keluar dari arena dan tergeletak ditanah.

Nona Kim kuatir sekali kalau orang itu adalah ayahnya, maka setelah mengetahui kalau bayangan manusia itu adalah manusia menangis legalah hatinya.

Tampak manusia menangis telah kehilangan senjata gada berduri Siang-bun pangnya, sedang kaki kirinya seperti sudah putus pula kena terpenggal.

Tapi setelah berpekik keras, tiba-tiba makhluk aneh itu meronta bangun dan menerjang kembali kedalam arena.

Setelah dua kali menderita luka parah, keadaan dari manusia menangis bertambah parah dan mengenaskan, tapi ia tak ambil perduli, maka seperti orang kalap saja ia menerjang terus kedepan.

Bicara yang sebenarnya, ilmu silat penggaris Liang thian ci maupun tenaga dalam dari manusia tertawa selalu setengah tingkat di-bawah manusia menangis, tapi dalam kenyataannya sesarang dia justru selamat tanpa cedera apapun sebenarnya apa yang telah terjadi?

Waktu itu, meski manusia menangis kehilangan pada berduri Ku siang pangnya, meski kaki sebelah buntung, namun tak menjadi penghalang baginya untuk beradu jiwa, bukan cuma tidak menghalangi bahkan hawa napsu membunuh serta sifat buasnya makin membara, serangan demi serangan yang dilancarkan juga makin menggila, ilmu pukulan Han pok to kui ciang (pukulan hawa dingin penembus tulang) yang diandalkan manusia menangis untuk merajai dunia persilatan, kini telah dikerahkan sehebat-hebatnya, tampaklah deruan angin pukulan yang menusuk tulang mendesak sekeliling tubuh Mo Tin hong tiada hentinya.

Pertarungan sengit kembali berkobar, ketiga orang itu dengan mengandalkan gerakan yang cepat saling menyerang saling mendesak.

Untuk sesaat sukar ditentukan mana yang kuat mana yang lemah.

Nona Kim mengerutkan dahinya rapat-rapat menghadapi situasi semacam ini, dia nampak merasa tegang sekali.

Sun Tiong lo melirik sekejap kearahnya, lalu ujarnya.

"Kau merasa kuatir?"

Rasa mendongkol masih membara dalam dada nona Kim, sudah barang tentu ia tak akan bersikap ramah terhadap sang pemuda, tiba-tiba suaranya ketus.

"Kau sangat lega bukan?"

"Yaa, aku memang sangat lega, apa yang mesti kukuatirkan?"

Sun Tiong lo tertawa. Nona Kim segera mendengus marah, tanpa berbicara lagi dia segera bangkit berdiri dan berlalu dari situ. Buru-buru Sun Tiong lo menghalangi jalan perginya sambil menegur.

"Kau mau kemana?"

"Minggir!"

Nona Kim melirik sekejap ke arahnya.

"kemana aku suka pergi, kesana aku akan pergi, kenapa kau mesti mencampuri urusanku!"

Sun Tiong lo segera tersenyum.

"Apa yang kau katakan memang benar, tapi pertarungan yang sedang berlangsung sekarang belum berakhir, Lam sat pak mo yang berada disamping loteng Hian ki lo pun sedang bertarung menghadapi sekelompok musuh yang tangguh, bila nona menampakkan diri sekarang..."

"Kenapa?"

Sela nona Kim.

"tidak bolehkah aku menampilkan diri pada saat ini !" -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***

Jilid 22 SUN TlONG LO segera mengalihkan sorot matanya memandang sekejap Mo Tin hong yang sedang bertarung ditengah arena. kemudian tegurnya.

"Apakah nona yakin memiliki kemampuan untuk melindungi keselamatan sendiri?"

"Hm, kau jangan memandang hina kepada orang lain!"

"Permainan toya lemas dari Mo Sancu sekarang lebih banyak melancarkan serangan dari pada bertahan, jurus-jurus serangan yang di-lancarkanpun lebih banyak yang aneh dan sakti, mustahil dia bisa menderita kekalahan, tapi bila kau menampakkan diri sekarang, maka hal ini justru akan memaksanya..."

Ketika berbicara sampai disitu, sengaja dia menghentikan perkataannya itu. Nona Kim agak tertegun, cepat selanya.

"Memaksa Sancu kenapa?"

"Memaksa Mo Sancu harus menyerah kalah!"

"Kenapa bisa begitu ?"

Nona Kim merasa tidak habis mengerti. Sun Tiong lo tertawa.

"Tadi manusia menangis bisa terluka lantaran dia kelewat bernapsu ingin mencari kemenangan, padahal berbicara soal ilmu silat, dengan kedudukan dua lawan satu sekarang, meski Mo Sancu bisa mempertahankan diri agar tak kalah, bukan suatu pekerjaan yang gampang baginya untuk meraih kemenangan.

"Sebaliknya bila kau munculkan diri sekarang salah seorang diantara dua manusia aneh itu pasti akan melancarkan serangan secara tiba-tiba kepadamu, andaikata kau sampai tertawan dengan sandera ditangan, apakah kedua orang manusia aneh itu tak dapat memaksa Mo Sancu untuk..."

Nona Kim tidak berbicara lagi, dia segera menundukkan kepalanya dan menyembunyikan diri lagi ketempat semula.

Sementara berbicara dengan nona Kim tadi sepasang mata Sun Tiong-lo tak pernah berpisah dari tengah arena, dengan seksama dia perhatikan terus jalannya pertarungan antara manusia tertawa dan manusia menangis melawan Mo Tin-hong, dia memang seorang manusia yang bertujuan.

Pelan pelan nona Kim mendongakkan kepalanya kembali memandang sekejap kearah Sun Tiong lo, tiba-tiba ia bertanya.

"Apa yang sudah kau lihat ?"

Walaupun Sun Tiong lo mengerti apa yang dimaksudkan nona itu, namun dia berlagak pilon, segera tanyanya pula.

"Lihat apa ?"

"Keadaan pertarungan yang sedang berlangsung !"

"Kalau dipaksakan aku memang masih bisa melihat jelas gerakan tubuh mereka beserta jurus-jurus serangannya !"

Mendengar itu nona Kim segera menundukkan kepalanya rendah-rendah, katanya lirih.

"Aku justeru tak dapat melihat apa-apa!"

"lni berkat pengalaman, masih belum terhitung seberapa."

Sun Tiong lo tertawa. Dengan cepat nona Kim menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Hal ini bukan dikarenakan pengalaman, kau tak usah membohongi aku..."

Kembali Sun Tiong lo tertawa.

"Perlukah kujelaskan jalannya pertarungan kepadamu ?"

Dia menawarkan pelan.

"Tentu saja."

Nona Kim tertawa tersipu-sipu. Sun Tiong lo segera mengalihkan kembali sorot matanya ketengah arena, lalu katanya.

"Enam belas Kiamsu berbaju hitam mempunyai tenaga dalam yang merata, oleh karena itu meski pihak lawan terdapat tiga racun, toh gagal untuk melepaskan diri dari barisan pedang, bila pertarungan berjalan lama, mereka pasti tak akan tahan, kau tak usah kuatir!"

Dengan gemas nona Kim melotot sekejap ke arah Sun Tiong lo sambil berseru.

"Hei, kau toh tahu kalau aku sedang menanyakan kedua orang siluman tersebut ?"

"Tak usah gelisah."

Tukas sang pemuda sambil tersenyum "akan kujelaskan satu bagian demi satu bagian, akhirnya kelompok kedua siluman itupun pasti akan kubicarakan juga !"

Nona Kim tidak menanggapi perkataan itu, ia segera mengerling sekejap kearah Tiong lo. Tapi Sun Tiong lo berlagak tidak melihat, kembali dia berkata.

"Walaupun manusia menangis sudah terluka, namun tidak menghalangi gerak-geriknya untuk melanjutkan pertarungan, kaki kirinya juga seperti tidak patah melainkan cuma salah urat, sekarang tampaknya kesalahan urat tersebut telah dibenarkan olehnya sendiri.

"Gerak gerik si manusia tertawa sudah tidak selincah dan secepat tadi lagi, tapi jurus serangan yang dimainkan dengan senjata penggaris Liang-thian-ci nya sangat lihay luar biasa, agaknya dia seperti memiliki suatu jurus pembunuh lainnya."

"Ilmu pukulan manusia menangis juga sangat aneh, rupanya merupakan semacam ilmu pukulan hawa dingin yang sangat beracun, kalau tidak, Mo Sancu tak mungkin bersiap sedia selalu dengan tangan kirinya yaug melindungi dada serta melayani sangat berhati-hati."

"Masih kuatkah tenaga kekuatan yang dimiliki ayahku?"

Sela nona Kim lagi tanpa terasa, Sun Tiong lo segera tertawa.

"Tak usah kuatir, Mo Sancu masih belum menunjukkan tanda-tanda akan kalah meski harus menghadapi serangan gabungan dari dua orang manusia aneh itu."

"Menurut pendapatmu, bagaimanakah akhir dari pertarungan sengit ini..."

"Sulit untuk dikatakan, ada kalanya suatu kelompok yang tampaknya bakal menang tapi karena gegabah atau terlalu menyombongkan diri akhirnya jadi kalah, tentu saja bila selisih tenaga dalamnya amat besar, lain lagi cerita nya."

"Jangan kau singgung soal keteledoran atau gegabah, berilah penilaianmu atas dasar kekuatan yang mereka miliki."

"Sulit untuk dibicarakan."

Sun Tiong lo tetap menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Mengapa?"

Nona Kim masih saja tidak habis mengerti.

"Pertama aku kurang begitu jelas mengetahui tenaga dalam serta kepandaian silat yang mereka miliki, kedua berbicara sampai detik ini, agaknya Mo Sancu masih menyembunyikan sebagian besar ilmu silatnya, maka sulit bagiku untuk memberikan penilaiannya."

"Ooooh.!"

Setelah berhenti sejenak, mendadak nona Kim bertanya lagi.

"Andaikata pertarungan ini sudah berlangsung hingga mencapai puncak kekritisan, dimana akhirnya ayahku tak sanggup menahan diri, bahkan jiwanya terancam bahaya maut, bersediakah kau menampilkan diri guna menolong ayahku ?"

"Tentu saja!"

Jawab Sun Tiong lo serius. Mendengar perkataan itu, nona Kim merasa hatinya sangat lega, dia lantas tersenyum manis.

"Kalau begitu, akupun merasa lega sekali"

"Tapi aku masih tetap tak tahu perbuatanku itu benar atau salah!"

Sun Tiong lo kembali menambahkan sambil melirik sekejap kearahnya.

"Oooh, tentu saja benar, coba bayangkan, ke dua orang manusia aneh itu adalah musuh sedang ayahku adalah empek angkatmu, dan lagi pertarungan inipun dilangsungkan untuk membalas dendam bagi kematian ayah serta ibumu "

Sun Tiong lo segera tertawa getir, tiba-tiba tukasnya.

"Bagaimana kalau kita jangan membicarakan persoalan itu sekarang?"

"Aaaah, berbicara pulang pergi, kau masih saja tidak percaya kepada ayahku."

Kembali nona Kim menjadi marah. Tiba-tiba Sun Tiong lo menuding ke tengah arena sambil berseru.

"Oooh... sebuah jurus Sin Liong siang-hui (naga sakti terbang berputar) yang sangat indah, si manusia tertawa telah terluka. Benar juga, mengikuti ucapan dari Sun Tiong lo itu, bergema suara tertawa aneh dari si manusia tertawa. Menyusul kemudian tampak bayangan manusia saling berpencar, pertarunganpun segera terhenti. Sekali lagi senjata toya lemas naga sakti milik Mo Tin hong penuh berpelepotan darah. Siluman tertawa dan siluman menangis berdiri berjajar pula dengan sikap waspada, jaraknya dengan Mo Tin hong cuma satu kaki delapan depa. Dengan sepasang mata memancarkan cahaya tajam, siluman menangis mengawasi wajah Mo Tin hong tanpa berkedip, sepatah katapun tidak diucapkan. Bahu kiri siluman tertawa berubah pula menjadi merah darah, seluruh lengan kirinya itu sudah tak sanggup digerakkan lagi. Sesaat kemudian, siluman menangis berpaling dan memandang sekejap ke arah siluman tertawa, kemudian katanya.

"Loji, bagaimana sekarang?"

Siluman tertawa segera tertawa, serunya.

"Lotoa, sepuluh tahun ditimur, sepulun tahun dibarat, kepandaian Mo loji saat ini sudah jauh lebih tangguh daripada tahun-tahun sebelum-nya, cuma lotoa, menang kalah masih terlalu awal untuk dibicarakan bukan begitu?"

"Tentu saja, cuma.,..perlukah berbuat begitu"

"Kakimu, bahuku tentunya tak akan dibiarkan sia-sia dengan begitu saja bukan?"

Seru siluman tertawa sambil terkekeh-kekeh. Siluman menangis segera menggigit bibirnya kencang-kencang, kemudian katanya.

"Loji, menurut pendapatmu apa yang mesti kita lakukan sekarang?"

"Lotoa, mati hidup manusia sudah digariskan, tiada tanah yang tak bisa dipakai untuk mengubur jenazah, aku lihat pemandangan alam di atas Bukit pemakan manusia ini sangat indah, bagaimana kalau kita membelinya saja?"

Mendengar perkataan itu, siluman tertawa segera berpekik sedih, serunya lantang.

"Kalau kudengar dari pembicaraanmu tampaknya kau telah bertekad untuk menjual nyawa tuamu disini. sekalipun demikian, sudah sewajarnya kalau dilakukan tawar menawar lebih dahulu, benar bukan loji ?"

Siluman tertawa segera mengangguk.

"Tentu saja, kita memang seorang ahli dalam hal tawar menawar"

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Lotoa, mari kita membuat penawaran untuk Mo loji !"

Begitu selesai berkata, siluman tertawa itu tertawa seram dengan suara nyaring, dua sosok bayangan manusia tahu-tahu melejit ketengah udara, kemudian dengan kecepatan luar biasa langsung menerjang ke arah Mo Tin hong.

Gerak serangan yang dilakukan saat ini benar-benar amat dahsyat dan mengerikan, dalam kagetnya tanpa terasa nona Kim menjerit keras.

Sementara gadis itu masih menjerit kaget, siluman tertawa dan siluman menangis telah menerjang kehadapan Mo Tin hong dengan sepenuh tenaga.

Walaupun Mo Tin hong memiliki tenaga dalam yang amat sempurna dengan ilmu silat yang lihay, diapun tak berani memandang enteng atas serangan maut yang dilepaskan ke dua orang siluman itu, serta merta dia melejit kesamping kiri sejauh tiga kaki lebih untuk meloloskan diri.

Dengan melejitnya Mo Tin hong ke samping hal ini memberi peluang bagi kedua orang si luman itu untuk melanjutkan sergapan mautnya.

Berada ditengah udara, dua orang siluman itu segera berpekik sedih dan tertawa seram.

Menyusul kemudian mereka berdua saling beradu pukulan sendiri ditengah udara, lalu siluman menangis menerjang ke tubuh Mo Tin hong, sebaliknya siluman tertawa dengan meminjam tenaga benturan tadi meluncur datar ke muka.

Siluman tertawa yang meleset ke depan sama sekali tidak bermaksud untuk membantu siluman menangis dalam usahanya menggencet Mo Tin hong, rupanya dia menaruh maksud jahat dengan menerjang ke tempat persembunyian nona Kim.

Rupanya seluk beluk serta keadaan diatas bukit Pemakan manusia sudan diketahui oleh dua orang siluman itu, mereka juga tahu kalau diatas bukit itu tidak terdapat jago perempuan lain selain putri Sancu.

Ketika Nona Ki m berdebat dengan Sun Tiong lo lalu bangkit berdiri dan bersiap-siap meninggalkan tempat persembunyiannya tadi, sesungguhnya dua orang siluman tersebut telah melihatnya.

Waktu itu mereka berdua sedang bertarung sengit melawan Mo Tin hong, dalam repotnya dalam sekilas pandangan saja mereka dapat menangkap bayangan tubuh nona Kim, tak heran kalau sasaran yang dituju kali ini sangat tepat.

Walaupun dua orang siluman itu tak tahu persis kedudukan nona Kim, tapi karena Khong It hong telah bersekongkol dengan Tin lam sam-tok.

dia pun turut mengetahui jika perempuan dalam Bukit pemakan manusia ini erat sekali hubungannya dengan Sancu.

Dalam pertarungan yang berlangsung itupun kedua orang siluman itu tahu bahwa kemenangan tak mudah diraih, apalagi anak buah yang dipimpin tiga manusia racun sudah hampir punah dibantai enam belas jago lawan.

Sedang pasukan pembantu lain yang dipersiapkan hingga kinipun belum ada kabar beritanya, tak bisa disangkal lagi mereka pasti sudah dibantai pula oleh Lam sat pak mo.

Maka timbullah niat mereka untuk membekuk nona Kim sebagai sandera, dengan adanya sandera ditangan sedikit banyak harapan bagi mereka untuk berhasil masih ada.

Itulah sebabnya dua orang siluman itu saling beradu tenaga diangkasa, lalu siluman tertawa manfaatkan kesempatan itu untuk meluncur ke tempat persembunyian nona Kim serta berusaha untuk membekuk gadis itu sebagai sandera.

Waktu itu, siluman tertawa sudah hampir meluncur tiba pada sasarannya, sementara Mo Tin-hong masih terlibat dalam suatu pertarungan sengit melawan siluman menangis.

Dibawah serangan-serangan gencar dari siluman menangis, Mo Tin-hong masih sempat, berseru keras memberi peringatan kepada nona Kim.

"Kim ji, hati-hati dengan sergapan dari Siluman tertawa !"

Teriakan Mo Tin liong yang bermaksud untuk memberi peringatan ini boleh dibilang merupakan suatu tindakan yang bodoh, seandainya dia tidak meneriakkan kata "anak Kim,"

Mungkin siluman menangis dan si luman tertawa masih belum mengetahui kedudukan si nona yang sebelumnya, kendatipun se andainya sampai terjatuh ke tangan mereka, tak nanti kedua orang siluman itu menyanderanya untuk memaksa Mo Tin hong menuruti kemauan mereka.

Tapi sekarang, keadaan menjadi berubah, siluman menangis segera berpekik sedih, kemudian teriaknya.

"Looji, sudah dengar belum ? Budak itu berguna sekali!"

Ketika ucapan tersebut diutarakan, siluman tertawa telah menyelinapkan senjata penggaris Liang thian ci itu kesisi pinggangnya, kemudian dengan telapak tangan kanannya yang besar, disertai tenaga Yu ming si hun kui im ciang ( hawa dingin cakar setan pembetot sukma) dia cengkeram tubuh si nona."

Sambil menggertak gigi, nona Kim meloloskan pedangnya dan menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Siapa tahu, baru saja ujung pedang itu mencapai tiga depa dihadapan tubuh siluman tertawa, mendadak senjata tersebut terpental kembali keras-keras, menyusul kemudian hidungnya segera mengendus bau amis yang tak sedap, tahu-tahu cakar setan Si hun kui jiau telah muncul di depan dada.

Pucat pias wajah nona Kim, ia menjerit kaget dan tampaknya sulit buat nona itu untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya maut.

Pada saat yang kritis inilah, mendadak Sun Tiong lo membentak gusar.

"Hmmm, berhadapan dengan orang yang tak bersalah pun menggunakan ilmu beracun yang begini ganas, tampaknya kau sedang mencari kesulitan buat diri sendiri. Ditengah pembicaraan tersebut, tampak Sun Tiong lo mengebaskan ujung baju sebelah kanan nya, segulung hembusan angin lembut segera menyongsong datangnya cakar raksasa Yu ming si hun kui-jiau yang telah mengancam didepan dada si nona itu. Siluman tertawa segera menjerit kesakitan tubuhnya yang tinggi besar dan putih itu mencelat oleh tenaga pukulan yang sangat kuat itu sehingga terlempar sejauh satu kaki dua depa sebelum akhirnya terbanting keras-keras di atas tanah. Begitu mencium tanah, siluman tertawa berusaha untuk meronta bangun, namun usahanya yang berulang kali itu tak pernah berhasil. Ketika memeriksa pula cakar setannya yang barusan dipentangkan lebar lebar, tampaklah kelima jari tangannya telah patah menjadi dua, darah segar bercucuran dengan derasnya. Siluman tertawa yang ganas tapi setia kawan itu, mesti terkapar ditanah dalam keadaan terluka parah, ia sempat menggigit bibirnya sambil berseru kepada siluman menangis.

"Lotoa, mundur cepat dari sini, seorang di antara kita berdua harus terap hidup untuk membalas dendam atas sakit hati ini."

Siluman menangis sedang beradu kekuatan melawan Mo Tin hong waktu itu, ia tak pernah menyangka kalau saudaranya siluman tertawa bakal menderita kekalahan total, lebih-lebih tak menyangka kalau siluman tertawa bakal dipecundangi sehingga terluka parah.

Ketika mendengar jeritan ngeri dari siluman tertawa tadi, hatinya menjadi terkesiap, dalam repotnya dia melirik sekejap kearah saudaranya itu, baru dia berpaling, telinganya sudah mendengar seruan dari siluman tertawa, sekarang dia baru tahu keadaan saudaranya itu sudah amat payah.

Dengan cepat dia berpekit keras memperdengarkan tangisan setannya, kemudian sesudah memukul mundur Mo Tin-hong, ia langsung menerjang ke arah siluman tertawa.

Begitu tiba disamping saudaranya, dia berseru keras.

"Loji, bagaimana keadaanmu? Apakah masih bisa jalan."

Ucapan terakhir baru diutarakan terjangan maut dari Mo Tin hong telah menerkam tiba.

Tangan kiri Mo Tin hong dikepal kencang-kencang, kemudian diayunkan kemuka dengan kecepatan luar biasa, ketika hampir tiba pada sasarannya mendadak jati telunjuknya direntangkan kedepan, lalu bagaikan sebatang tombak menusuk jalan darah tay yang hiat dikening siluman menangis sementara tenaga dalam yang lain disalurkan lewat tangan kanannya dan menembusi tongkat lemas sin-hong luan cang untuk membabat kedepan.

Entah siluman menangis sedang sedih hingga kehilangan ketajaman pendengarannya, entah disebabkan alasan lain, walaupun ia sempat melejit keudara, namun tak sempat meloloskan diri dari totokan jari tangan Mo Tin hong itu.

Tak sempat lagi menangis setan, tubuhnya segera tergelepar diatas tanah, sedangkan sapuan loya yang dilancarkan Mo Tin hong dengan sepenuh tenaga itu, oleh karena tubuh siluman menangis tergelepar di tanah sehingga tidak terkena serangan.

Siluman tertawa yang sudah terluka parah dan sedang duduk bersila itu segera menjadi sasaran berikutnya, dengan telak sapuan itu menghantam punggungnya.

Pada saat itu, Sun Tiong-lo berteriak keras.

"Mo sancu, cepat tarik kembali toyamu !"

Sayang seruan itu terlambat diutarakan punggung siluman tertawa sudah terhajar telak, ia segera muntah darah segar dan terkapar mampus disamping rekannya.

Mo Tin-bong segeta berpekik panjang, tubuhnya berputar kencang dan menerjang masuk kedalam lingkaran musuh yang terdiri dari tiga manusia beracun, toya lemasnya berkelebat kian kemari, jeritan kesakitanpun berkumandang silih berganti.

Tak selang berapa saat kemudian, semua musuh berhasil ditumpas habis, tak seorang pun diantara mereka yang dibiarkan hidup.

Dalam pada itu, Lam-sat-pak-mo juga telah meluncur balik, jelaslah sudah bahwa mereka pun berhasil menumpas musuhnya.

Baca Juga: Bagus Sajiwo 5

Baca Juga: Jago Pedang Tak Bernama Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert