Ceritasilat Novel Online

Bukit Pemakan Manusia 4

Eps 4 Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung

Baca online Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung

Cersil Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung.

Begitu lenteran dilepaskan, dia sendiri lang sung meluncur menuju kearah perkampungan keluarga Beng.

Ditengah lapangan diluar gedung besar tersebut entah sejak kapan telah berkumpul hampir mendekati seratus orang jago lihay.

Ketika Sancu tiba, ratusan orang jago, itu segera menyambut kedatangannya dengan hormat.

Sancu memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu secara ringkas berkata.

"Aku akan pergi ke loteng impian, Ki Thian sik pergi mengundang nona untuk bertemu denganku, cepat! sisanya segera menutup semua jalan keluar yang ada dibukit ini, mulai besok lakukan perondaan secara bergilir, dari luar menuju ke dalam setiap jengkal tanah geledah semua dengan teliti !"

Selesai berkata, dia lantas menggerakkan tubuhnya dan meluncur ke arah loteng impian.

Tentu saja dia mempunyai alasan alasan tertentu sehingga memutuskan untuk berkunjung ke loteng impian.

Pertama, sebelum dia berangkat meninggalkan bukit tempo hari, terhadap Sun Tiong lo sudah mempunyai suatu perasaan aneh.

Kedua, Sancu menaruh curiga kalau manusia berbaju kuning yang menampakkan diri dalam Pat tek sin kiong tadi, kemungkinan besar adalah tamu agungnya yang berdiam di dalam loteng impian.

Ketiga, setelah tidak berhasil meraih kemenangan dalam bentrokannya dengan manusia berbaju kuning tadi, sepeninggal manusia baju kuning tadi dia telah membangunkan Pat lo dan sekalian anak muridnya.

Setelah melakukan serentetan pemeriksaan terburu2 banyak persoalan yang ingin dia ketahui, termasuk diantaranya penghianatan Khong It hong dan lenyapnya Nona Siu secara tiba-tiba, ditambah gerak gerik manusia misterius dalam istana tersebut.

Tamu agung yang berada di bukit sekarang hanya terdiri dari dua orang Sun kongcu yang berdiam dalam loteng impian, salah seorang diantaranya, besok akan berubah statusnya dari tamu agung menjadi buronan, sedang yang lainnya, yaitu orang yang dicurigai, masih mempunyai waktu selama dua hari lamanya.

Menurut penilaiannya terhadap pakaian baju kuning yang dikenakan serta kepandaiannya untuk menyeberangi telaga, bisa dibuktikan bahwa orang itu adalah salah satu diantara kedua orang ini, hal mana membuatnya bertambah waspada.

Pakaian kuning yang dikenakan orang itu cukup dikenal olehnya,sebab diatasnya terdapat tanda rahasia khusus, dan pakaian itu memang khusus diberikan untuk para tamu agung yang secara tak disengaja atau tidak sengaja telah memasuki bukit pemakan manusia.

Oleh karena itu, dia peilu untuk mengunjungi loteng impian guna melakukan pemeriksaan.

Bagaimanapun juga kedudukannya sangat terhormat, pengalamannya pun luas sekali, maka setibanya dibawah loteng, ia tidak masuk secara sembunyi-sembunyi, melainkan naik ke atas dengan terbuka dan terang terangan.

Ketika tiba ditengah tengah bangunan loteng itu, mendadak dia berhenti dan menegur dengan suara keras.

"Apakah Sun Kongcu sudah tidur?"

Aneh, ternyata tiada jawaban! Dengan kening berkerut sekali lagi dia berseru lantang.

"Siapa yang bertugas disekitar tempat ini?"

Kali ini ada jawaban, seseorang segera melayang datang dari suatu tempat sejauh tiga puluh kaki lebih dari loteng itu dengan gerakan yang cepat sekali.

Setibanya didepan loteng, dengan hormat orang itu berkata.

"Hamba siap mendengarkan perintah!"

"Tahukah kau, siapa yang bertugas untuk merondai loteng ini pada malam hari ini?"

"Lapor sancu, tempat ini tiada orang yang melakukan perondaan ?"

"Ooooh... kenapa ?"

"Nona yang menurunkan periutah, katanya perondaan untuk loteng ini dibatalkan."

"Oooh. kiranya begitu."

Setelah berhenti sejenak, dan berpikir beberapa saat, dia berkata lebih jauh.

"Baik, sekarang naiklah keloteng dan beritahu kepada dua orang tamu agung kita bahwa lohu datang berkunjung."

Orang itu mengiakan dan naik ke loteng, tak lama kemudian jendela dibuka dan Sun Tiong lo melongokkan kepalanya keluar.

Hal ini memang tak salah, teriakan sancu tadi cukup keras dan ketukan pintu orang itu pun cukup nyaring, seandainya dalam loteng impian benar-benar ada orangnya, niscaya suara tersebut akan terdengar dengan jelas, oleh karena itu Sun Tiong-lo segera membuka jendela dan menampakkan diri.

Setelah melongok sekejap keluar, dengan sikap yang amat sungkan Sun Tiong-lo berkata.

"Tidak berani merepotkan anda, aku telah bangun dari tidur, silahkan masuk !"

Sewaktu sancu menyaksikan daun jendela di buka dan Sun Tiong-lo menampakkan diri tadi diam-diam hatinya terkesiap.

Ternyata sancu telah mencurigai siorang berbaju kuning yang dapat melewati empang tadi tak lain adalah Sun Kongcu yang selalu mengatakan dirinya tak bisa bersilat itu, maka dia sengaja datang kesana untuk melakukan pemeriksaan.

Siapa sangka ternyata Sun Tiong lo masih berada didalam ruangan lotengnya.

kejadian ini benar-benar mengherankan sekali.

Sebab jalan yang ditempuh bayangan kuning itu sepeninggal empang tersebut adalah perkampungan ini, padahal jalan yang ditempuh dari empang menuju ke perkampungan harus melewati suatu jalan yang jauh sekali.

Secepat-cepatnya gerakan tubuh bayangan kuning itu, ia yakin dirinya masih sanggup untuk mencapai loteng impian lebih dulu.

Tapi sekarang terbukti kalau Sun Tiong lo tetap berada dalam loteng itu, hal ini menjadikan ia tertegun.

Dengan beradanya Sun Tiong lo dalam loteng itu, maka terbuktilah sudah kalau manusia berbaju kuning adalah orang lain.

Maka sewaktu Sun Tiong lo melongokan kepalanya tadi, Sancu merasakan hatinya bertambah berat.

Kini, Sun Tiong lo menyambut kedatangan nya, terpaksa Sancu harus menarik kembali semua kecurigaannya.

Kepada Sun Tiong lo yang berada di jendela ia tertawa, lalu katanya.

"Tak ada peraturan semacam ini, lohu tak berani merepotkan kongcu untuk datang menyambut kedatanganku."

Seraya berkata dia lantas memberi tanda kepada anak buahnya sambil berpesan. Perintahkan untuk memasang lampu diseluruh bukit ini."

Selesai berkata dengan langkah lebar dia lantas melangkah naik kedalam loteng.

Orang itu segera berlalu untuk melaksanakan tugasnya.

Sementara itu pintu loteng sudah dibuka dan Sun Tiong lo menyambut kedatangan Sancu.

Setelah memberi hormat, pemuda itu berkata.

"Sancu telah kembali tampaknya, aku.,."

Sancu menyongsong maju kedepan, lalu berlagak sungkan dia menggenggam sepasang tangan Sun Tiong lo erat-erat, kemudian katanya.

"Oleh karena aku mempunyai janji dengan kong cu, maka begitu urusan selesai aku segera kembali kerumah."

Sambil berkata, dia lantas mengerahkan tenaga dalamnya kedalam sepasang tangannya.

Sun Tiong lo segera menjerit kesakitan, saking sakitnya paras mukapun turut berubah hebat.

Menyaksikan keadaan tamunya itu, diam-diam Sancu menyesali kegegabahannya, dengan cepat dia mengendorkan tangannya, lalu dengan tiada minta maaf ia berseru.

"Aaah, lantaran kelewat senang lohu sampai menggenggam tangan kongcu."

Sun Tiong lo tertawa rikuh, sahutnya.

"Wah, apabila sancu mengerahkan tenaga lebih besar lagi, niscaya sepasang tanganku ini sudah hancur tak karuan lagi bentuknya !"

Sancu tertawa.

"Mari ! Mari... kita berbicara didalam ruangan loteng saja ."

Maka merekapun memasuki ruang loteng impian. Setelah kedua belah pihak duduk, Sun Tiong lo segera bertanya.

"Sancu, sejak kapan kau kembali ke gunung?"

"Belum lama berselang"

Jawab sancu sambil tertawa. Setelah berhenti sejenak, kembali dia ber berkata.

"Bila aku datang berkunjung ditengah malam buta, harap kau suka memaafkan ?"

"Aaah, mana, mana. ."

Sahut sang pemuda sambil tertawa pula. Pelan-pelan Sancu mengalihkan sinar matanya memperhatikan sekejap seluruh ruangan loteng itu, kemudian sambil berseru katanya.

"Hei, dimanakah, Sun kongcu yang satunya lagi."

Sun Tiong lo segera menggelengkan kepalanya berulang kali, tukasnya dengan cepat.

"Orang itu aneh sekali, dan sukar untuk di ajak bergaul, sudah tiga hari dia datang kemari, namun tak sampai lima patah kata yang dia ucapkan dengan diriku !"

"Oooh, bagaimana sih ceritanya? Dimana sekarang orangnya ?"

Sun Tiong lo segera mengangkat bahu sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Darimana aku bisa tahu!"

Setiap kentongan pertama malam hari dia pasti keluar rumah, sampai hampir fajar baru kembali"

"Apakah setiap malam dia berbuat demikian?"

Tanpa terasa tergerak hati Sancu.

"Tiga malam ini dia selalu berbuat demikian."

Sancu menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, kemudian ujarnya kambali. -ooo0dw0oo-

Jilid 14

"APAKAH KONGCU tidak bertanya ke mana dia telah pergi?"

"Sudah, sudah kutanyakan, tapi dia cuma melotot gusar kepadaku, kemudian mendengus dingin, tak sepatah katapun yang dia katakan."

Sancu segera berkerut kening puIa, kemudian dia mendengus pula dengan suara dingin. Untuk sesaat suasana menjadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun. Kemudian diapun berkata lagi.

"ToIong tanya kongcu, pakaian apakah yang dia kenakan selama beberapa malam ini?"

Sun Tiong lo kembali tertawa getir.

"Dia memang aneh sekali dan lagi sama sekali tak tahu aturan, sewaktu aku salah masuk ke bukit ini bukankah bajuku robek robek dan kotor? Atas kemurahan hati Beng cengcu, aku telah diberi dua stel pakaian panjang, satu berwarna biru dan satu berwarna kuning.

"Tapi kemudian, setelah dia tiba disini bila pagi hari dia mengenakan pakaian sendiri, tapi bila malam sudah tiba, maka diapun selalu meminjam pakaian kuning kudapatkan dari Beng Cengcu itu, coba Sancu bayangkan..."

Mendadak Sancu bangkit berdiri sambil menukas.

"Apakah dia tidur diatas ranjang ini ?"

Sun Tiong lo manggutmanggut.

"Ya, dia tidur di bagian luar !"

Dengan langkah lebar Sancu segera berjalan ke depan pembaringan itu, kemudian dengan tangannya meraba disekitar pembaringan tersebut.

Betul juga, separuh bagian ranjang tersebut yakni bagian terasa hangat, hal ini menunjuk kan kalau Sun Tiong lo memang tidak meninggalkan loteng tersebut, sebaliknya tidur disana, sedangkan bagian luar terasa dingin, ini membuktikan kalau tempat itu tidak ditiduri orang.

Sewaktu Sancu memeriksa permukaan pembaringan itu, Sun Tiang lo yang berada dibelakangnya diam diam tertawa geli.

Menyusul kemudian, dengan berlagak seakan akan tidak habis mengerti, Sun Tiong lo bertanya.

"Sancu apa yang sedang kau lakukan?"

"Ooh, tidak apa apa"

Sahut Sancu sambil tertawa. Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Silahkan duduk kongcu, lohu ada persoalan hendak memohon petunjukmu..."

Sun Tiong lo mengiakan dan duduk disebelah kanannya, kemudian bertanya.

"Boleh aku tahu, persoalan apakah yang hendak ditanyakan sancu??"

"Kongcu berasal dari mana. ."

Belum habis pertanyaan itu diajukan, Sun Tiong lo telah menukas dengan cepat.

"Aku sebenarnya berasal dari ibu kota, sayang . .."

Dia menghentikan sendiri perkataannya, lalu setelah memandang sekejap ke arah Sancu, ujarnya.

"Adakah sesuatu alasan yang mendorong Sancu untuk mengajukan pertanyaan semacam itu kepadaku ?"

Sancu segera tertawa.

"Tentu saja ada"

Dia menjawab.

"kalau dibicarakan mungkin kongcu sukar untuk mempercayainya, kongcu mempunyai wajah yang mirip sekali dengan seorang sahabat karibku !"

"Oya? Apakah sahabat Pancu itupun she Sun? Sancu agak tertegun, kemndian sahutnya.

"Benar !"

Sun Tionglo mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian ujarnya kembali.

"Bolehkah sancu terangkan siapa nama sahabatmu itu ?"

Sancu termenung beberapa saat lamanya, seperti lagi mempertimbangkan apakah harus mengatakannya keluar atau tidak. Sebelum ia sempat menjawab, Sun Tiong lo telah berkata lebih jauh.

"Sudah tiga hari lamanya aku berdiam di tempat ini sebagai seorang tamu agung, tapi belum sempat kuketahui nama dari sancu..."

"Lohu she Mou . ...!"

"Oooh . .. boleh aku tahu siapa nama lengkap nya ?"

Belum sempat sancu menjawab, dari luar loteng telah terdengar suara nona Kim berkumandang datang. Mendengar suara itu, sancu segera menukas.

"Anak Kim kah disitu? Ayah berada di-sini "

Tampaknya selama berada dihadapan Sancu nona Kim selalu menjaga peraturan yang berlaku, terdengar ia bertanya.

"Bolehkah aku naik keatas loteng ?"

"Naiklah"

Sahut Sancu sambil tertawa. Setelah berhenti sebentar, tiba tiba dia merubah pikirannya dan berkata kembali.

"Tidak usah, sekarang malam sudah larut, lebih baik kita jangan mengganggu ketenangan Sun kongcu beristirahat, sebentar ayah turun kebawah, lebih baik kita berbincang-bincang diruang belakang saja, harap kau tunggu saja."

Berbicara sampai disitu, Sancu telah bangkit berdiri.

Walaupun Sun Tionglo sudah tahu kalau tujuan sancu mengundang kedatangan nona Kim kesana adalah untuk menyelidiki pelbagai kejadian yang telah berlangsung didalam istana Pat-tek sinkiong, namun dia berlagak pilon, sambil tersenyum katanya.

"Mo sancu, sekarang aku sudah tidak ngantuk lagi, mengapa tidak berdiam agak lama disini ?"

"Aaah, hari sudah larut malam, lagi pula lohu masih ada banyak persoalan pribadi yang hendak dibicarakan dengan putriku. aku tak berani mengganggu lebih lama lagi, besok pasti akan kuutus orang untuk mengundang kedatanganmu, nah saat itulah kita bisa berbincang-bincang sampai puas ?"

Setelah mendengar perkataan itu, Sun Tiong lo pun tak bisa berkata apa-apa lagi, maka merekapun saling berpisah.

-ooo0dw0oooDALAM ruangan Hian-ki-lo, Mao sancu duduk saling berhadapan dengan putrinya dalam jarak tiga depa, setelah mengundurkan semua orang dari sana, dengan wajah serius mereka segera terlibat dalam suatu pembicaraan yang serius.

Pertama-tama Mou Sancu yang berkata lebih dulu dengan wajah dingin seperti es.

"Aku hanya tiga hari tidak berada dirumah, tapi peristiwa besar yang terjadi ditempat ini banyak sekali, anak Kim..."

Dengan cepat nona Kim menukas.

"Biar kuberikan laporan yang selengkapnya!"

Maka secara ringkas nona Kim menceritakan semua peristiwa yang terjadi ditempat ini, tentu saja dia merahasiakan pembicaraannya dengan nona Siu tersebut.

Ketika selesai mendengarkan penuturan tersebut, dengan kening berkerut Mou Sancu lantas berkata.

"Dimanakah Siu pay yang dicuri Kong It-hong itu sekarang?"

"Sudah kusimpan kembali didalam peti besi..."

"Sedang salinan kitab pusaka itu."

"Kusimpan jadi satu."

Mou Sancu manggut-manggut setelah hening sejenak, tiba tiba ia berkata lagi.

"Tahukah kau nona Siu ... Su nio mengapa Khong It hong dan membawanya kabur bersama..."

Nona Kim menggelengkan kepala ber kali2.

"Sampai saat inipun aku sendiri tidak habis mengerti."

Sahutnya. Mo Sancu mengerutkan dahinya semakin kencang, kembali dia berkata.

"Tahukah kau siapa nama bocah keparat she-Sun yang lain itu?"

"Dia sendiri mengatakan sejak kecil sudah kehilangan ayah dan ibunya, dia hanya tahu she-sun tanpa nama, tapi dia masih ingat sewaktu masih kecil dulu ibunya sering memanggilnya dengan nama kecil .."

"Oooh... apakah itu?"

Tukas Mou Sancu.

"Dia bernama Bau-ji"

Begitu mendengar nama tersebut, dengan paras muka berubah hebat, tiba-tiba Mou Sancu melompat bangun. Nona Kim yang menyaksikan kejadian itu menjadi terkejut sekali, cepat-cepat katanya.

"Kau kenal dengannya ?"

Mo Sancu sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya sambil menarik muka dia berkata.

"Cepat perintahkan keseluruh bukit untuk memperketat penjagaan pada setiap jalan ke luar yang ada dibukit ini, sebelum fajar nanti, aku akan melakukan penggeledahan sendiri seinci demi seinci sampai dia ditemukan ?"

Nona Kim tidak tahu kalau Bau ji telah hilang dari tempatnya semula, maka cepat-cepat dia bertanya.

"Dia ? Siapa vang ayah maksudkan sebagai dia ?"

"Siapa lagi ! Tentu saja Sun Bau ji !"

"Aaah ! Bukankah Bauji berada didalam loteng impian ?"

Mou Sancu mendengus dingin, dia melirik sekejap kearahnya dan tak berkata apa-apa. Nona Kim merasakan gelagat tidak beres, maka katanya lebih lanjut dengan suara lirih.

"Ayah, maksudmu manusia berbaju kuning yang semalam menampakkan diri dibanyak tempat itu adalah Sun Bau ji."

Mou Sancu manggut-manggut.

"Bukan hanya semalam saja, beberapa hari berselang orang yang memasuki istana Pat tek sin kiong tanpa penghadang serta mempermainkan Pat-tek-pat-lo tak lain adalah dia juga !"

"Aaah, tidak benar !"

Seru nona Kim tanpa terasa, Tapi begini ucapan tersebut diutarakan gadis itu segera merasa menyesal sekali.

Sampai detik ini, diantara orang-orang Bukit Pemakan Manusia, boleh dibilang hanya nona Kim seorang yang dapat menebak siapa gerangan manusia berbaju kuning itu, dan hanya dia seorang yang tahu kalau orang tersebut bukan Bau ji.

Paling tidak orang berkunjung kedalam istana Pat rek sin kiong kemarin malam bukan Bau ji, sebab ketika itu Bau-ji berada bersamanya semalam suntuk dan mereka tak pernah meninggalkan ruangan barang selangkahpun, itulah sebabnya ketika terbayang sampai ke situ tanpa terasa dia menjerit tertahan dan mengatakan tidak benar.

Dengan suara dalam Mou Sancu menegur.

"Bagaimana tidak benarnya?"

Nona Kim tidak bisa mengatakan apfl-apa kecuali tertegun dan tak tahu apa yang mesti dilakukan. Terdengar Mou Sancu kembali bertanya.

"Kenapa tidak buka suara? Apakah kaupun akan merahasiakan sesuatu dihadapanku?"

Diam diam nona Kim merasa terkesiap, untung saja satu ingatan segera melintas didalam benaknya, cepat sahutnya.

"Ketika datang kemari untuk pertama kalinya dulu, bukanlah ilmu silatnya tidak pandai? Buktinya dia kena dibekuk..."

Mou Sancu segera mendengus dingin, tukas nya.

"Benar benar jalan pemikiran seorang anak perempuan, kalau toh dia memang datang dengan membawa maksud tertentu, mana mungkin ia sudi mengeluarkan kepandaian silat yang sebenarnya? justru dengan pura pura kena di bekuk, maka sekali tepuk ia akan memperoleh tiga hasil sekaligus?"

Melihat perkataannya itu dapat memancing Mou Sancu untuk memperbincangkan masalah lain, nona Kim merasa gembira sekali.

"Bagaimanakah yang di maksudkan sebagai sekali tepuk dapat tiga hasil sekaligus?"

"Dia bermaksud akan datang kemari, tetapi tak mengetahui keadaan yang sebenarnya dari bukit ini dan tak di ketahui sampai dimanakah keliehayan dari jebakan kita, maka diapun berlagak kena di bekuk sehingga tak usah menempuh mara bahaya yang tak diperlukan, ini merupakan hasil pertama yang bisa dia raih.

"Dengan terbekuknya dia, maka ia hendak memperlihatkan kalau kepandaian silat yang dimilikinya tidak hebat, otomatis kitapun tak akan terlalu menaruh perhatian khusus kepadanya, dalam kelonggaran ini, otomatis dia bisa melakukan penyelidikannya dengan lebih leluasa. inilah keuntungan kedua yang diraihnya. Seperti misalnya peristiwa yang terjadi semalam, setelah kejadian itu bahkan ayah sendiri pun tidak menaruh curiga kepadanya, sudah pasti orang lain lebih lebih tak akan menaruh curiga kepadanya, inilah keuntungannya yang ke tiga !"

Setelah mendengar penjelasan tersebut no na Kim baru menunjukkan sikap seakan akan baru memahami, katanya kembali.

"Seandainya apa yang dikatakan ayah me ruang benar, bukankah sekarang dia sudah kabur dari sini ?"

"Tidak mungkin, sebelum apa yang diharapkan tercapai, tak nanti dia akan pergi !"

"Jadi ayah menduga kalau dia masih berada diatas bukit ini ?"

"Ehmmm...tak bakal salah lagi"

Setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan.

"Sekarang, turunkan perintah kepada semua orang agar bertindak lebih berhati hati lagi, jika menemukan tempat persembunyiannya, laporkan dulu kepada ayah dan nantikan perintah ayah sebelum mengambil sesuatu tindakan!"

Nona Kim mengiakan, lalu katanya pula.

"Ayah, aku sudah lelah ...."

Mou Sancu memandang sekejap kearahnya, kemudian menjawab.

"Sampaikan dulu perintah tersebut, kemudian kau boleh pergi beristirahat!"

Nona Kim mengiakan dan siap berlalu dari situ. Mendadak Mou Sancu berkata lagi.

"Sudahkah kau selidiki, Su-nio kabur melalui jalan yang mana ?"

"Dia kabur lewat gua Sam-seng-tong bagian tengah dibelakang bukit situ."

Jawab gadis itu berterus terang. Ucapan itu kembali membuat Mou Sancu merasakan hatinya terperanjat dia lantas mengulapkan tangannya sambil berkata.

"Segera turunkan perintah kilat, aku hendak melakukan pemeriksaan sendiri atas gua Sam seng tong tersebut !"

Mendengar ucapan itu, diam diam nona Kim merasa amat girang, cepat dia memberi hormat dan mengundurkan diri.

Setelah menyampaikan perintah dan menyaksikan Mou Sancu berangkat menuju ke bukit bagian belakang nona Kim segera menjejakkan tubuhnya melayang ke tengah udara, ia tidak kembali ke tempat tinggalnya, sebaliknya langsung menuju keloteng impian.

-oo0dw0oooDalam ruangan loteng impian, nona Kim dan Sun Tiong lo sedang duduk saling berhadapan muka.

Dengan wajah dingin seperti es, nona Kim berkata.

"Bagaimana? Mau bicara atau tidak ?"

Sun Tiong io segera tertawa sahutnya.

"Asal usulku apa baiknya dibicarakan..."

"Aku menanyakan asal usul dari kalian bersaudara, kau harus bercerita apa adanya."

Tukas si nona dingin.

"Saat ini bukan saat yang tepat, bila nona percaya kepadaku..."

Sambil menggelengkan kepalanya kembali nona Kim menukas.

"Dulu boleh saja menunggu, tapi sekarang tak bisa kupenuhi, aku tetap menuntut seperti apa yang kukatakan tadi, bicaralah terus terang dan aku akan menjaga rahasia ini rapat rapat, kalau tidak..."

"Kalau tidafc, nona benar benar akan membeberkan rahasia ini kepada Sancu?"

Sambung Sun Tiong lo.

"Betul"

Jawab nona Kim dengan wajah serius.

"aku dan kau sama sama tiada pilihan lain !"

"Sungguh ?"

Paras muka Sun Tiong lo segera berubah menjadi serius pula.

"Benar"

Sahut sinona dingin.

""selain itu aku harap apa yang telah disampaikan kakakmu kepadamu juga kau sampaikan kepadaku!"

Sun Tiong lo berlaga menghela napas panjang dengan perasaan apa boleh buat, padahal sesungguhnya dia memang berniat untuk menerangkan segala sesuatunya tanpa diminta, sehingga dengan demikian, tujuan mereka sebenarnya sama.

Maka diapun lantas membeberkan kejadian yang sebenarnya...

-oo0dw0ooSuatu malam yang gelap dengan angin yang berhembus kencang, malam itu salju turun dengan derasnya.

Kentongan ketiga telah menjelang tiba, suara kentongan tersebut berkumandang dari balik gedung Kwik Wangwee yang letaknya berhadapan dengan kuil Kwan ya bio dikota Tong ciu Tiba-tiba dari belakang dinding tinggi gedung Kwik Wangwee tersebut melayang datang sesosok bayangan manusia, ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu amat sempurna sekali sehingga kelincahannya mirip seekor burung walet.

Tapi begitu kakinya menempel diatas tanah, tiba tiba ia tak sanggup berdiri tegak, dengan sempoyongan dia mundur sejauh tiga langkah lebih dan akhirnya jatuh terjungkal diatas tanah.

Tampaknya bantingan tersebut cukup keras, buktinya sampai cukup lama orang itu terduduk ditanah sambil mengaduh, tapi kemudian ia meronta bangun dan celingukan ke sana ke mari.

Dengan cepat perasaan gelisah dan cemas menyelimuti wajah orang itu ..Sejauh mata memandang, ujung jalan yang terbentang tiga puluh kaki lebih itu berakhir diujung sebuah tembok kota yang tinggi, jalan lain menuju ke arah kuil Kwan ya-bio, sedangkan jalan terakhir menuju ke belakang gedung Kwik Wangwee.

Kecuali jalan jalan tadi, disana hampir tak nampak jalanan lainnya lagi-Pada hal dia harus cepat cepat melarikan diri, sedang musuh makin mendekati orang itu menjadi kebingungan setengah mati dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Dalam gugup dan gelisah, mendadak sorot matanya di alihkan kepada pintu gerbang kuil Kwan ya bio itu.

Setelah menundukkan kepala dan berpikir sebentar, akhirnya sambil menggigit bibir dia melompat naik keatas undak-undakan kuil itu.

Sekarang keadaan orang itu baru tampak lebih jelas, terlihat sebuah bungkusan berada di atas punggungnya, besarnya tidak mencapai tiga depa, terbuat dari kulit kambing warna hitam gelap.

Ketika memandang kearah bahu kiri dan kaki kirinya, tampak seakan akan menderita luka parah sehingga hal mana membuat langkahnya tak selincah semula.

Tak heran kalau tubuhnya menjadi sepoyongan setelah melayang turun ditengah jalan tadi.

Setibanya diatas undak kuil, ia baru melihat jelas suasana dalam ruangan tersebut, keningnya segera berkerut dan kepalanya digelengkan berulang kali.

Dalam pada ini suara pekikan nyaring berkumandang secara tiba-tiba dengan amat nyaringnya.

Dia segera mendepakkan kakinya ke tanah, lalu dengan cepat melepaskan buntelan yang ada dipunggungnya, setelah itu dia bergumam.

"Kalau aku sampai mati, hal ini tak menja di masalah, tapi In-cu (majikan) hanya mempunyai seorang putra, padahal aku sudah terkena senjata rahasia beracun, tampaknya aku harus menyembunyikan majikan kecil lebih dahulu..."

Bergumam sampai disitu dia lantas menerobos masuk ke dalam ruangan, ketika dijumpainya ada beberapa buah karung yang tergeletak disana, dengan cepat dia masukkan bocah itu ke dalam karung-karung tersebut.

Begitu selesai menyembunyikan bocah ini ke dalam karung dengan cepat dia telah menggembol kembali bungkusan kulit kambing itu diatas punggungnya, tak bisa disangkal lagi dia sedang menggunakan siasat guna mengelabuhi lawannya.

Begitu selesai menyembunyikan majikan kecilnya, dengan perasaan lega dia berpikir sejenak, lalu lari ke tengah jalan dan berencana untuk melakukan perlawanan lagi sampai titik darah penghabisan.

Siapa tahu baru saja dia hendak melangkah pergi, tiba tiba muncul sebuah tangan yang kurus kering mencengkeram tungkai kakinya, menyusul kemudian muncul seorang pengemis tua yang rambutnya telah memutih semua sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Sambil menggelengkan kepalanva berulang kali, pengemis tua itu berkata sambil tertawa cekikikan.

"Sobat, kau tak boleh berbuat begitu, aku si pengemis tua kerjanya hanya meminta-minta, belum pernah kulakukan pekerjaan berdagang manusia."

Mendengar perkataan itu, dengan cemas seorang itu segera berseru.

"Bukan... bukan begitu, dia adalah majikan kecilku, karena rumahnya telah musnah dan musuh mengejar amat ketat, sedang akupun sudah terkena senjata rahasia beracun."

Belum habis ucapan tersebut diutarakan, kembali pengemis tua iiu menggelengkan kepalanya sambil menukas.

"Tak usah menggunakan alasan sebanyak itu, jika kau larikan anak orang, tentu saja orang tuanya akan mengejar dirimu, sekarang kau sembunyikan bocah itu ke dalam sarang kami, tahukah kau dosa apa yang bakal dipikul oleh diriku?"

Dalam pada itu suara pekikan nyaring tadi sudah semakin mendekat, bahkan dari kejauhan sana telah berkumandang pula suara sahutan.

Ketika orang itu melihat keterangannya tak bisa diterima orang, mendadak timbul niatnya untuk membunuh pengemis tersebut, dengan cepat dia merogoh ke dalam sakunya siap mencabut keluar sebelah pisau belati.

Tapi pengemis itu dengan cepat telah berkata lagi.

"Sobat, bila kau berati menggunakan kekerasan untuk membunuhku, maka sekalipun aku harus pertaruhkan nyawa, aku akan kuteriakkan tempat persembunyianmu, waktu itu orang orang yang mengejarmu pasti akan berdatangan kemari, sedang rekan rekanku yang berada dalam ruangan inipun akan terbangun semua, lebih baik jangan berbuat bodoh."

Orang itu menjadi tertegun untuk sesaat lamanya, dalam gelisah bercampur gusar akhirnya dia berkata lagi.

"Aku tidak membohongi dirimu, bocah ini mempunyai asal usul yang besar, dia adalah satu-satunya keturunan keluarga Sun dari loteng tamnur yang hidup, aku bernama ..."

Belum habis dia berkata, pengemis tua itu lelah mengendorkan tangannya sambil menukas "Apakah kau maksudkan Sun Toa-wangwee dan bi-jin-tong (ruang pengumpul kebajikan ) ?"

Buru-buru orang itu mengangguk "Benar, dalam saku bocah itu terdapat tanda pengenal yang akan membuktikan kebenaran itu, cuma sekarang aku tak ada waktu lagi untuk diperlihatkan kepadamu, setelah melewati malam ini, kau akan segera mengetahui jika aku tidak berbohong kepadamu!"

Pengemis tua itu berpikir sejenak, lalu katanya sambil tertawa.

"Sun toa-wangwee memang seorang yang baik, dan kau ... aku lihat kaupun tidak mirip orang jahat, baiklah, aku percaya dengan perkataanmu itu, benar atau tidak. besok pagi kita bicarakan lagi, sekarang kau boleh pergi dari sini !"

Selesai berkata, pengemis tua itu kembali menerobos masuk ke dalam karungnya.

Setelah majikan kecilnya disembunyikan orang itupun merasa hatinya setengah lega, dengan langkah lebar dia lantas berjalan menuju ke tengah jalan.

Mendadak pengemis tua itu bangkit kembali seraya berseru.

"Hei, hei, hei, kau hendak kemana?"

Sambil menuding ke ujung jalan sebelah timur, jawab orang itu.

"Aku hendak memancing musuh !"

"Huuh ... kata kata macam kentut, orang lain sudah mengurung rapat-rapat semua jalan disana, bila kau berani ke tempat itu, tanggung tak sampai setengah jalan, dirimu sudah kena dibekuk oleh mereka, waktu itu bila golok mengorek tulang, mulutmu pasti terpentang lebar lebar dan berkata apa adanya, akibatnya kau pasti mampus, bocah itu akan mampus, kami pun turut menjadi korban."

Mendengar perkataan itu ada benarnya juga, tanpa terasa orang itu bertanya.

"Lantas aku harus ke mana . ."

Belum selesai perkataan itu, si pengemis tua tersebut sudah menuding ke dalam ruangan sambil berkata.

"Kalau ingin kabur lebih baik kabur ke barat, paling tidak bisa memancing perginya para pengejarmu itu, cepat !"

Orang itu segera menyahut, tanpa banyak berbicara lagi dia lantas kabur menuju ke dalam ruangan. Siapa tahu pengemis tua itu berbisik lagi secara tiba tiba.

"Waah ... sudah tidak keburu, orang-orang yang mengejar mu itu berilmu silat sangat tinggi, mereka telah tiba disini, cepat sedikit masuk ke dalam karungku, cuma kau harus ingat, bertindaklah sedikit pintar, bilamana tidak amat penting jangan bersuara !?"

Dalam keadaan begini, dia tak sempat memikirkan perkataan dari pengemis tua itu lagi, dengan cepat dia menerobos masuk ke dalam karung dan menyembunyikan diri.

Siapa tahu pengemis tua itu memang aneh, ternyata ia menarik keluar kepalanya dari dalam karung dan menarik bajunya keluar, hingga dengan demikian meski tak nampak wajah-nya, namun kelihatan kepala dan sebagian dari tengkuknya.

Baru saja dia menyembunyikan diri, terdengarlah suara ujung baju yang hembus angin bergema dari luar pintu kuil Kwan ya-bio, dalam waktu singkat disana telah muncul belasan orang manusia berbaju hitam, bahkan raut wajah mereka ditutup oleh kain kerudung hitam.

Kemudian manusia berbaju hitam itu berdiri berjajar dengan rapi, namun sama sekali tak bergerak, scakan-akan ada sesuatu yang dinantikan.

Tak lama kemudian, sesosok bayangan putih melayang turun dari tengah udara, ketika mencapai tanah ternyata tidak menimbulkan suara apa-apa, ternyata dia adalah seorang manusia berbaju perak berkerudung hitam yang mempunyai perawakan jangkung.

Kain kerudung ril persis menutupi hidung dan mulutnya, dengan demikian hanya sepasang matanya yang tajam saja tampak dengan jelas.

Setibanya disana, dengan sorot mata setajam sembilu dia awasi sekeliling kuil, lalu tegurnya dengan suara dalam.

"Apakah orang itu berada didalam sana ?"

Seorang manusia baju hitam yang berkerudung dan berdiri di ujung segera menyahut.

"Menurut jejak kaki yang berada diatas permukaan salju, ia telah masuk kedalam kuil Kwan Yao bio."

"Ehmm...."

Orang yang berbaju perak itu manggut-manggut, lalu sambil ulapkan tangan ia melanjutkan "Geledah!

Tapi jangan sampai membangunkan kawan-kawan pengemis, cara kerja kalian harus cepat, ringan matapun harus jeli!"

Kawanan manusia berkerudung hitam mengiakan lirih, dan seringan kapas menyelinap masuk sedalam kuil, sementara ditengah jalan raya hanya tinggal simanusia berbaju perak seorang.

Setelah menyaksikan anak buahnya menyebarkan diri untuk melakukan penggeledahan dalam kuil itu, pelan pelan manusia berbaju perak itu melangkah naik keatas undak undak batu, sorot matanya yang tajam memandang sekejap keatas undakan batu tadi, kemudian berhenti.

Menvusul kemudian manusia berbaju perak itu menendang sebuan karung goni yang paling panjang.

Sipengemis tua yang berada dalam karung goni itu cepat melompat bangun, kemudian sambil memicingkan matanya dia mengawasi orang berbaju perak itu dengan wajah tertegun.

Orang berbaju perak itu segera tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya.

"Aku tahu, kau belum tidur !"

Tampaknya pengemis tua itu berangasan sekali, kontan saja dia meludah sambil menyumpah.

"Sialan, betui-betul ketemu setan kepala besar, mau tidur kek, mau melotot kek, apa sangkut pautnya dengan dirimu ? Kau tahu baru saja aku mau tidur, badanku sudah ditendang orang, aku ingin menggeliat, kau tendang pantatku lagi, huuuh, kalau ditendang melulu hanya kentut anjing yang bisa meram !"

Orang berbaju perak itu tidak marah, dia manggut-manggut lalu bertanya pelan.

"Ooh, jadi tadipun kau kena ditendang orang sampai terbangun dari tidurmu ?"

"Hmm, siapa bilang tidak?"

Sahut pengemis tua itu dengan wajah marah bercampur kesal. Kembali orang berbaju perak itu manggut-manggut, tanyanya kemudian.

"Macam apa orang yang menginjakmu tadi?"

Pengemis tua itu cuma melotot saja, tak sepatah katapun yang dijawab, kemudian tubuh nya ditarik masuk kembali kedalam karung goninya dan siap-siap untuk tidur lagi.

Orang berbaju perak itu tertawa seram, sekali lagi dia menyepak tubuh pengemis itu, malah kali ini menyepaknya keras keras.

"Aduh mak biyung,"

Jerit sipengemis sambil melompat bangun.

"maknya, apa apaan kau ini."

"Jawab dulu pertanyaanku yang kuajukan tadi!"

Seru orang berbaju perak itu dingin. Pengemis tua itu mengerdipkan mata, kemudian mendengus dingin.

"Hmm ...! Enak betul kalau perintah orang huh apa yang kau andalkan?"

"Aku mengandalkan apa yang ingin kuketahui !"

Suara orang berbaju perak itu kedengaran mengerikan sekali.

"Jadi kau ingin tahu ...?"

Tiba-tiba pengemis tua itu berkata lebih jauh. Belum sampai berbaju perak itu menjawab, pengemis tua itu sudah mengulurkan tangannya kedepan seraya berkata.

"Bawa kemari!"

"Apanya bawa kemari?"

Orang itu tertegun.

"Pepatah kuno berkata. Sebuas buasnya sang Kaisar, dia tidak akan mengutus tentara yang sedang kelaparan, aku adalah seorang peminta-minta, bukan si pengantar warta kepada toaya sekalian, maka dari aku minta uang nya lebih dulu sebelum buka mulut!"

Tampaknya orang berbaju perak itu segan untuk banyak ribut, ia segera merogoh sakunya dan mengeluarkan sekeping perak.

Setelah menerima uang perak itu dan menyimpannya kedalam saku, pengemis tua itu baru tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeh ...heeeh ... heeh paling tidak uang perak ini seberat dua tahil, baiklah, aku bersedia meajawab dua pertanyaanmu."

Orang berbaju perak itu mendengus dingin.

"Sekarang jawab dulu pertanyaan yang aku ajukan tadi!"

Pengemis tua itu terkekeh kekeh.

Orang yang menginjak tubuhku tadi berperawakan tinggi, mengenakan baju warna biru dan membopong sebuah bungkusan kulit kambing yang besar, berwarna hitam!" -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB DELAPAN BELAS DIA telah lari kemana ?"

Kembali orang tua itu bertanya.

"ltu dia, masuk kedalam sana !"

Jawab si pengemis tua itu sambil menuding kedalam ruangan. Berkilat sepasang mata orang berbaju perak itu, kembali dia bertanya .

"Masuk kedalam ruang kuil atau..."

Belum habis pertanyaan itu diajukan, pengemis tua itu sudah menukas lebih dulu.

"Mana uangnya !"

Manusia berbaju perak itu menjadi tertegun mencorong sinar buas dari balik matanya. Tapi pengemis tua itu berlagak seakan akan tidak merasakan hal itu, kembali dia berkata.

"Aku toh sudah bilang, setiap potong perak hanya akan kujawab dua kali, oleh karena itu bila tuan ingin bertanya yang lain, maaf, terpaksa kau mesti memberi uang lagi padaku !"

Orang berbaju perak itu mendengus dingin.

"Hm ! Memangnya kau anggap uang perak bisa dicari dengan cara begini mudah ?"

Kembali pengemis tua itu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya lebih jauh.

"Terus terang kukatakan tuan, hidup sampai hari ini, baru kali ini aku si pengemis tua mendapat keuntungan seperti ini, kalau tidak, mana mungkin aku berani minta kepadamu ?"

"Oooh, jadi kau anggap aku adalah seseorang yang gampang diperas ? Maka kau mencoba untuk memeras aku ?"

Kembali sipengemis tua itu menggelengkan kepala berulang kali.

"Tuan, kau jangan menuduh aku yang bukan-bukan, aku sama sekali tak berniat untuk memerasmu, terus terang saja aku hanya memandang tuan sebagai orang yang royal, maka aku hendak manfaatkan kesempatan ini untuk mencari keuntungan."

Mendengar perkataan itu, si orang berbaju perak tersebut baru tertawa, betul juga dia lantas mengeluarkan sekeping uang perak dan dilemparkan kearah pengemis tua itu.

Begitu uang diterima, pengemis tua itupun segera berkata.

Orang itu tidak masuk ke ruang tengah, melainkan berbelok kekanan lalu menuju ke-belakang."

"Heeeh heee heeh sudah aku duga, dia pasti..."

"Betul, isi bungkusan kulit kambing hitamnya juga bukan mutiara atau barang berharga, melihat seorang bocah cilik, seorang bocah yang meringis terus tiada hentinya!"

Mencorong sinar tajam dari balik mata orang berbaju perak itu, dengan wajah berseri dia menegaskan.

"Apakah kau lihat kesemuanya itu dengan jelas?"

Sekali lagi pengemis tua itu menyodorkan tangannya sambil tertawa-tawa terkekeh-kekeh.

"Harap tuan memberi persen lagi!"

Lama kelamaan orang yang berbaju perak itu menjadi naik darah juga, dengan gusar bentaknya.

"Aku toh belum menanyakan apa-apa? Masa kau ingin minta uang lagi? Apa-apaan kau ini?"

Agaknya pengemis tua itu mempunyai alasan yang amat tepat, segera sahutnya.

"Tuan, sekalipun kau tidak bertanya, tapi aku kan telah memberitahukan kepadamu kalau dia membopong seorang bocah ? Bukan hal ini sama artinya memberitahukan kepadamu?"

"Kau banyak bicara kan atas kerelaanmu sendiri, sudah barang tentu tak bisa dibilang sa ma"

Seru orang itu makin gusar.

Pengemis tua itu sama sekali tidak meng-gubris, malah seperti seekor ikan belut saja dia menerobos masuk ke dalam karungnya, jelas pengemis tua uu merasa kata katanya ini sangat menggusarkan orang berbaju perak itu, sambil menghentakkan kakinya dia menyepak pengemis tua itu dengan keras-keras.

Kali ini pengemis tua itu menjerit kesakitan dan melompat bangun sambil memegangi kakinya yang kesakitan itu.

Hanya Thian yang tahu, bahwa tiga kali tendangan tersebut, ia sama sekali tidak merasakan apa-apa, yang sial adakah lelaki yang berada disampingnya dan sedang bersembunyi itu, meski kena ditendang terpaksa harus menahan diri sebisanya.

Sementara itu, orang berbaju perak telah menyeringai menyeramkan, sorot mata memancar cahaya merah yang penuh dengan hawa napsu membunuh.

Setelah mengaduh tadi, pengemis tua itu segera berteriak dengan suara lantang.

"Atas dasar apa kau menyepak tubuhku ?"

Orang berbaju perak itu mendengus dingin.

"Hmm . .. ! pengemis busuk, kuperingatkan kepadamu, bila kau berani membungkam tanpa menjawab pertanyaanku bila sampai kau bangkitkan amarahku, mungkin sekali akan kutebas batok kepalamu dengan sekali tebasan pedang!"

Rupanya pengemis tua itu tidak takut mati, ia segera menjulurkan tengkuknya sambil berteriak.

"Kau hendak main gertak ? Hmm ... aku si pengemis tua sudah terlalu banyak menjumpai kejadian besar di dunia ini, terus terang kukatakan kepadamu, kecuali mampus tiada bencana yang lebih besar didunia ini, bila aku si peminta-minta tidak miskin, aku sudah hidup makmur sedari dulu-dulu.... mengerti ?"

"Pengemis busuk, berani berteriak-teriak?"

Bentak orang berbaju perak itu gusar.

"Kenapa tak berani berteriak? Sungguh menggelikan, kalau aku pingin berteriak, aku segera berteriak, bukankah kau punya pedang? Mari, mari, incar yang jitu dan tusuk lah tengkukku ini, jangan sampai meleset, hayo bacok saja cepat, jangan dianggap aku takut pada pedangmu itu."

Karena teriak-teriakannya itu, kontan saja kawanan pengemis lainnya yang berada dalam ruangan itu terbangun semua dari tidurnya, se rentak mereka merangkak bangun dari atas tanah.

Dalam keadaan demikian, sekalipun orang berbaju perak itu merasa mendongkol bercampur benci, namun dia benar-benar dibikin apa boleh buat.

Ketika pengemis tua itu menyaksikan rekan rekannya sudah pada bangun semua, ia berteriak makin keras lagi, serunya.

"Teman teman sekalian dalam ruang ini masih ada belasan orang bocah yang mengenakan kain kerudung hitam masih berkeliaran mari kita robek kain kerudungnya, coba dilihat adakah diantara mereka yang kita kenal..."

Anjurannya ini benar-benar merupakan senjata yang ampuh, kontan saja orang berbaju perak itu bersuit nyaring lalu mengajak belasan orang manusia berkerudung hitam itu untuk mengundurkan diri dari sana, sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Begitu orang-orang itu kabur, pengemis tua itu segera berseru kepada rekan-rekannya.

"Nah, sekarang orangnya sudah pada kabur, kalian harus tidur lagi dengan baik, siapa be rani bangun, lihat saja kalau aku si pengemis tua akan menghukumnya, selama tiga bulan tidak diberi makan selain itu, jangan menyulut lilin, mesti menghemat tahu ? Hayo matikan semua !"

Pengemis tua itu benar benar hebat, ternyata segenap pengemis yang berada dalam ruangan itu pada takut kepadanya, begitu perintah diberikan, serentak mereka masuk ke dalam karung goni masing-masing untuk tidur, sedang lilin pun segera dipadamkan.

Beberapa waktu kemudian, kawanan pengemis itupun telah tertidur kembali dengan nyenyaknya.

Menunggu semua orang sudah tidur, pengemis tua itu baru menarik keluar lelaki yang menyembunyikan diri tadi sambil berbisik.

"Hei, jangan tidur sungguhan, orang yang mengejarmu itu sudah kabur semua, mumpung ada kesempatan baik, cepatlah melarikan diri."

Lelaki itu mengiakan, tapi setelah meronta sekian lama, dia baru duduk dilantai. Dengan kening berkerut pengemis tua itu segera menegur.

"Hei, kenapa kau? Merasa keberatan untuk pergi dari sini!"

"Bukannya keberatan untuk pergi, aku sudah tak mampu untuk berjalan lagi...!"

Jawab lelaki itu sambil tertawa getir.

"Haahh . .. haahh ... haahh . .. bagus sekali, gara-gara ingin menolongmu aku telah pertaruhkan nyawa tuaku untuk ribut dengan kawanan manusia pembunuh yang membunuh orang tak berkedip itu, sekarang setelah orangnya pergi, kau malah ingin memeras aku..."

Buru-buru lelaki itu menggoyangkan tangannya berulang kali, katanya dengan cemas.

"Bukan, bukan begitu, sesungguhnya racun yang mengeram dalam bahu kiri dan kaki kiri ku akibat serangan senjata rahasia beracun itu sudah kambuh, kini aku benar benar tak sanggup untuk berjalan lagi"

"Oooh ....berbahayakah keadaanmu?"

Lelaki itu tertawa sedih, sahutnya lirih.

"Terus terang saja, aku sudah tak dapat hidup lebih lama lagi..."

"Aaaah...! Masa sampai sehebat itu?"

Seru pengemis tua tersebut sambil mengerdipkan matanya berulang kali. Lelaki itu manggut-manggut, sambil menyunggih lengan kirinya yang sudah mati rasa, dia berkata.

"Jika kau orang tua tidak percaya, silahkan memeriksa bahu kiriku ini, tanggung delapan puluh persen lenganku ini sudah berubah menjadi hitam pekat?"

"Oooh . .. kalau begitu, kau sudah pasti akan mati?"

Lelaki itu tidak menjawab, dia hanya tertawa sedih belaka.

Tampaknya pengemis tua itu tidak percaya dia segera turun tangan sendiri untuk memeriksa luka di atas bahunya itu, tapi setelah menyaksikan keadaan yang sebenarnya, dia segera menghela napas panjang.

Pengemis tua itu memang amat aneh, setelah menghela napas panjang, diapun tertawa terkekeh kekeh, katanya.

"Sudah banyak perjalanan yang kulakukan, banyak juga barang yang aku jumpai, tampaknya telah terluka oleh senjata rahasia yang dibauri dengan obat racun yang dinamakan Thio ko tin, lewat satu dua jam lagi kau pasti akan mati kekeringan dengan mulut terpentang lebar!"

Lelaki itu tidak banyak berbicara, dia hanya menundukkan kepalanya sambil membelai anak yang berada didalam karung goni tersebut. Mendadak pengemis tua itu berkata lagi.

"Hei, bagaimana kalau kita merundingkan sesuatu ?"

"Bagaimanapun juga, nyawaku dan nyawa majikanku telah ditolong kau orang tua pada malam ini, sebagai seorang lelaki sejati, ada budi harus dibalas ada dendam tak boleh dilupakan, bila kau orang tua ada pesan, silahkan saja disampaikan, asalkan aku masih sanggup untuk melakukannya, tak nanti aku akan menggelengkan kepalaku !"

Pengemis tua itu segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Waaah . .. setelah kau berkata begitu, aku menjadi agak rikuh sendiri untuk buka suara"

Katanya.

"Haaah... haah... haah.... sudah sepantasnya kalau aku bersikap demikian, silahkan kau orang tua untuk mengucapkannya keluar."

Sekali lagi pengemis tua itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeh... heh... heeh... begini maksudku, kalau toh kau sudah pasti akan mati, maka aku ingin meminjam mayatmu itu untuk..."

Belum habis ucapan itu diutarakan, lelaki itu telah menukas dengan cepat.

"Boleh!"

"Apakah tak kau tanya kegunaan mayat itu bagiku?"

Tanya sang pengemis tua agak tertegun. Lelaki itu segera tertawa getir.

"Kalau orang sudah mati maka dia tidak akan merasakan apa-apa lagi, perduli amat hendak diapakan mayatku itu, apalagi akupun bisa menggunakan mayatku ini unmk membalas budi kebaikanmu pada malam ini.."

Belum habis perkataan itu, kembali pengemis tua itu menukas.

"Sahabat, kamu benar-benar mengagumkan aku pengemis tuapun tidak ingin membohongi dirimu, baiklah sekarang terus terang kukatakan padamu, Aku mempunyai seorang murid yang memelihara ular kecil, sayang kami tak mempunyai makanan untuk memeliharanya, oleh karena itu..."

Paras muka lelaki itu segera berubah hebat, serunya tanpa terasa.

"Maksudmu, kau hendak menggunakan mayat ku untuk memelihara ular kecil tersebut?"

Pengemis tua itu cuma manggut-manggut.

Tiba-tiba lelaki itu menghela napas panjang-panjang, katanya kemudian.

Terserah kepadamu, toh setelah mati aku tak akan merasakannya apa, mau diberikan pada ular kek, harimau, terserah kamu..."

"Tidak, tidak, tidak, kau mesti mendengar yang jelas lebih dulu", seru pengemis tua itu lagi sambil menggelengkan kepala berulang kali.

"ular kecil kami itu tidak suka makan daging mayat yang telah kaku!"

Setelah mendengar perkataan itu, lelaki itu baru merasa terkejut, dengan wajah berubah teriaknya.

"Sekarang juga kau hendak..."

Pengemis tua itu manggut-manggut.

"Yaa... mumpung kau belum mati, lebih baik cepat-cepat kuberikan badanmu padanya."

Mendengar perkataan itu, lelaki tersebut menjadi amat gusar, sambil menuding kewajah pengemis tua itu bentaknya.

"Jangan mimpi..."

Beru dia bersuara, pengemis tua itu telah mendengus dingin seraya berseru.

"Kau toh sudah mengabulkan permintaanku lebih dulu, sulit bila kauhendak menyesalinya kembali, nah sekarang, berbaringlah baikbaik di sini..."

Begitu selesai berkata, jari telunjuk tangan kanan pengemis tua itu segera menotok diatas tubuhnya.

Kontan saja lelaki itu jatuh tak sadarkan diri.

Kemudian pengemis tua itupun mengambil keluar sebuah tongkat penggebuk anjing yang tipis dan panjang iiu, lalu diputar dan di tarik, ternyata tongkat penggebuk anjing itu telah berubah menjadi dua bagian, yang satu panjang sedangkan yang lain pendek.

Setelah itu dengan cepat dia melepaskan pakaian yang dikenakan lelaki tadi, tongkat penggebuk anjing yang agak pendek itu digertakan keras, seekor ular berwarna perak yang panjangnya cuma lima inci segera menyusup masuk ke dalam karung goni.

Tak lama kemudian, pengemis tua itu mendesis lirih dengan suara yang aneh.

tengah suara desisan itulah ular kecil berwarna perak tadi merambat keluar dengan ogah-ogahan, seakan-akan merasa keberatan untuk merambat balik ke dalam tongkat pendek itu.

Setelah tongkat penggebuk anjing itu disambung kembali menjadi satu, ia baru mengetuk diatas sebuah karung goni pendek yang berada disisinya sambil membentak.

"Hei setan malas, hayo cepat menggelinding keluar !"

Tak lama kemudian dari balik karung goni itu merangkak keluar seorang bocah yang berambut awut-awutan, bermuka merah, berhidung mancung dan memiliki sepasang mata yang besar dan jeli.

Belum lagi berbicara, bocah itu sudah tertawa lebih dahulu, katanya kemudian sambil tertawa cekikikan.

"Suhu, lebih baik kau urusi persoalanmu dan tecu tidur menurut kesenangan tecu sendiri, kan enak begitu?"

"Cuuh, kentut busuk"

Damprat pengemis tua itu.

"kalau suhu tertimpa halangan maka murid mesti menghadapinya, apa kau tak pernah mendengar, ayah berhutang anak yang membayar. Hayo cepat menggelinding keluar!"

Pengemis cilik itu segera menjulurkan lidahnya, kemudian mengomel.

"Suhu, berbuatlah kebaikan, baru saja aku mimpi kejatuhan rembulan, aku lihat uang yang besar sebatu lagi bergelinding datang, lalu ke lihatan ada gadis cantik memelukku, kemudian Thi wangwe, Li wangwe dan orang kaya lain nya datang berlutut melihat aku datang. Belum habis obrolan itu, kepalanya sudah di ketok dengan tongkat penggebuk anjing itu, kontan saja pengemis kecil itu teriak kesakitan. Cepat-cepat dia merangkak keluar dari karungnya sambil berseru.

"Ampun ..., ampun . .. jangan digebuk lagi aku toh sudah menggelinding keluar? Aaai ...kasihan betul dengan gadis cantik itu, entah sampai kapan kita baru akan bersua lagi dalam impian? Oooh . .. maklumlah, suhuku memang berhati keras bagai baja, dia paling gemar mengganggu orang yang lagi pacaran."

Mendengar obrolan muridnya yang makin lama makin melantur, tidak tahan lagi pengemis tua itu segera tertawa terkekeh.

"Kau betul betul pengemis tak becus, kehebatanmu cuma melantur belaka padahal waktu benar-benar ketemu nona cakep, belum lagi didekati tangan sudah gemetar muka sudah merah, mulut tidak bisa membuka... betul-betul memalukan."

"Bukan begitu suhu"

Kata sang pengemis cilik sambil terkekeh kekeh.

"aku cuma kuatir, kalau nona itu sampai lengket dengan kita macam permen karet, waah... bisa lebih mengerikan daripada rambut yang ada kutunya."

"Hmm, sudah, kau tutup dulu bacot kecilmu"

Tukas pengemis tua itu kemudian sambil mendengus.

"cepat kau bopong bocah itu, bopong saja dengan kulit kambing hitam, kita mesti buru-buru kabur dari sini."

Kali ini pengemis cilik itu penurut sekali, dengan cepat dia telah menyelesaikan pekerjaannya, sedangkan pengemis tua itupun telah melemparkan orang yang tak sadarkan diri tadi kebelakang papan nama kuil Kwan ya-bio diatas pintu gerbang tersebut.

Setelah itu sambil merogoh keluar dua keping perak yang baru diperolehnya dari orang berbaju perak itu, ia bergumam.

"Anggap saja kau lagi mujur, baiklah uang ini buat kau hidup lebih jauh...."

Selesai berkata, kedua keping perak itu segera dilemparkan pula ke belakang papan nama.

Kemudian setelah mengikat karung goninya ke belakang punggung dan mengempit tongkat penggebuk anjingnya bersama pengemis cilik itu mereka melompat keluar dari kuil itu dan lenyap dibalik kegelapan sana.

Suasana menjadi hening, sepi...

kentongan ke empat telah tiba.

Tiba-tiba dari empat arah delapan penjuru sekitar kuil Kwan ya hio bermunculan puluhan sosok bayangan manusia.

Ternyata mereka adalah siorang berbaju perak beserta manusia berkerudung hitam anak buahnya.

Ketika orang berbaju perak itu menyaksikan undak-undakan batu itu telah kosong tak bermanusia, sambiI mendepak-depakan kakinya ketanah, ia mendengus penuh rasa dongkol.

Pada saat itulah kembali tampak cahaya emas berkelebat lewat, tahu tahu di atas undak-undakan kuil Kwan ya bio telah bertambah dengan seorang mannsia yang tinggi besar berbaju emas yang mengenakan kain kerudung muka berwarna kuning emas pula.

Kain kerudung mukanya rapat sekali sehingga yang nampak hanya sinar matanya yang tajam, Manusia berbaju emas itu segera mendengus dingin, tanpa berpaling tegurnya.

"Bagaimana? orangnya sudah kabur bukan?"

"Benar"

Jawab orang berbaju perak itu dengan sikap yang serius dan menaruh hormat.

"hamba benar-benar pantas untuk mati!"

Orang berbaju emas itu mendengus dingin, sambil menunjuk ke arah mangkuk gumpil yang tak sempat dibawa oleh pengemis tua itu, dia berkata.

"Bagaimanapun juga, sudah cukup lama kau berkelana dalam dunia persilatan, pelbagai badai dan kejadian besar pernah kau jumpai, kenapa kali ini bisa salah melihat? Masa lambang si makhluk tua yang begitu termashur pun tidak bisa kau kenali ?"

Orang berbaju perak itu hanya menundukkan---kepalanya tanpa mengucapkan sepatah katapun, agaknya dia tak berani bersuara lagi.

Tiba tiba manusia berbaju emas itu tertawa, kembali dia berkata dengan nada yang jauh lebih lembut.

"Padahal kejadian inipun merupakan suatu kemujuran bagimu, seandainya kau berhasil mengenalinya, dengan wataknya, sekarang sudah pasti kau tak bisa berdiri lagi dihadapanku !"

Orang berbaju perak itu merasa sangat tidak puas setelah mendengar perkataan itu, katanya.

"Penghinaan dan sakit hati pada hari ini hamba bersumpah pasti akan kubalas suatu waktu, siapa tahu kalau dikemudian hari hamba akan bersua lagi dengannya dalam dunia persilatan ?"

"Lebih baik urungkan saja niatmu itu?"

Jengek manusia berbaju emas itu sambil tertawa dingin.

"sepanjang hidupmu jangan harap kau bisa mengusik seujung rambutnya, maka ku anjurkan kepadamu, andaikata kau sampai bersua lagi dengannya dikemudian hari, lebih baik milihlah jalan yang lain, daripada mencari kematian untuk diri sendiri, hayo berangkat."

Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari sana.

Manusia berbaju perak dan puluhan orang manusia berkerudung hitam itu segera mengikuti dibelakangnya tanpa mengucapkan sepatah katapun juga.

Dalam waktu singkat mereka telah lenyap dikejauhan sana.

Tempat ini masih tetap di kota Tong-ciu, tepatnya didepan kuil Kwan-ya-bio.

Kejadiannya berlangsung pada suatu siang hari pada lima tahun kemudian, waktu itu kuil Kwan ya bio telah berubah sama sekali, karena kuil tersebut telah dijual kepada sebuah yayasan pencari derma pada dua tahun berselang hingga bangunan kuil itu dirombak dan di bangun lagi dengan amat megahnya.

Dcngan bangunan yang megah seperti itu, tentu saja para pengemis tak dapat tinggal dalam kuil itu lagi, sekarang mereka hanya bisa berdiri dibawah kuil tanpa bisa masuk keruang dalam.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Bab kesembilan belas TAPI pihak yayasan pencari dermapun tidak melupakan para kaum miskin itu, tiap bulan tiga tanggal tiga, bulan enam tanggal eram, mereka selalu membagikan dermanya untuk mereka.

Hari ini kebetulan adalah bulan enam tanggal enam, oleh karena itu sejak fajar sampai mendekati tengah hari, para pengemis berbaris memanjang bagaikan naga didepan kuil Kwan ya-bio, dengan tertib mereka menanti giliran nya untuk mendapatkan derma.

Tengah hari tepat, pihak panitiapun mulai membagikan uang dan pakaian untuk para fakir miskin itu.

Pada saat inilah, dari belakang kuil Kwan ya-bio muncul dua orang manusia, seorang tua yang lain muda, yang seorang memakai baju dekil sedangkan yang lain mengenakan pakaian bersih.

Yang memakai baju dekil adalah pengemis tua yang rambutnya awut awutan tak karuan tangan kirinya memegang mangkuk gumpil sedang tangan kanannya memegang tongkat bambu yang kecil dan panjang.

Bocah yang berpakaian bersih itu berusia sepuluh tahun, rambutnya disisir rapi, bajunya biru dan baru, ia mengenakan sepatu yang bersih dan kaos kaki berwarna putih.

Waktu itu sibocah sedang memegang ujung baju sipengemis tua itu sambil cemberut.

Sedang pengemis tua itu tertawa terkekeh-kekeh dengan wajah berseri, seakan-akan baru-saja menemukan sekeping uang perak yang besar.

Setibanya dibelakang dinding kuil kwan ya bio sebelah kanan, pengemis tua itu berhenti.

Kepada bocah cilik itu katanya sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Segera kita akan berpisah, jangan lupa semua perkataan yang kupesankan kepadamu tadi, sebentar aku..."

Bocah itu menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menukas.

"Aku ingin mengikuti dirimu saja"

"Tidak boleh"

Tukas pengemis tua itu sambil menggeleng.

"garagara kau, sudah lima tahun aku tidak keluar rumah untuk memintaminta, sekarang tanganku sudah gatal, perutku juga sudah gatal, penyakit lama sudah mulai kambuh bagaimanapun juga toh tak akan merenggut jiwa tua ku hanya gara gara kau bukan?"

"Tapi aku ingin menemanimu untuk meminta-minta"

Rengek bocah itu seperti mau menangis.

"Huuh, tak ada semangat"

Damprat sipengemis tua sambil melotot besar-besar.

"aku minta-minta karena sudah berhutang kepada Cousu ya, hutang ini mesti kubayar lunas, sedang kau... hutangpun tidak, kenapa mesti ingin meminta-minta? Ngaco belo tidak karuan!"

"Aku tidak perduli, pokoknya aku tak mau pergi dari sini..."

Pengemis tua itu segera menyandarkan tongkat bambunya ke dinding kuil dan berhenti, kemudian sambil memegangi bahu bocah itu katanya.

"Baiklah, gunakan kesempatan ini nian kita bicara blak-blakan, selama lima tahun, aku pengemis tua telah mencucikan tulangmu, mengganti semua persediaan otot mu menembusi jalan darah jin meh dan tok meh dalam tubuhmu bahkan semua tenaga murniku sudah kuberikan kepadamu, apa lagi yang belum cukup? Benda apa lagi yang kau inginkan dariku sipengemis tua?"

Jilid 15 -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** AKU tak mau apa-apa, aku hanya mau kau !"

Jawab bocah itu sambil mengerdipkan matanya yang besar. Kembali pengemis tua itu tertawa.

"Semuanya telah kuberikan kepadamu, hanya aku tak bisa diberikan kepadamu !"

Bocah itu segera mengerdipkan matanya berulang kali, air mukanya berubah, matanya turut menjadi merah, agaknya sebentar bakal menangis.

Melihat itu, si pengemis tua tersebut menjadi tak tega, sambil menghela napas katanya kemudian.

"Nak bukankah aku telah memberitahukan kepadamu, aku sipengemis tuapun punya banyak musuh, sekarang mereka telah menemukan diriku, betul masih ada beberapa hari aku mesti membuat persiapan? itulah sebabnya aku tak dapat membawa serta dirimu lagi !"

"Tapi, kau toh membawa Siau-hou!"

Sambung bocah itu cepat dengan wajah cemberut. Begitu menyebut "Siau-hou"

Dihadapan mereka telah bertambah satu orang, dia tampaknya masih berumur tujuh delapan belas tahun, tetapi perawakannya jauh lebih tinggi daripada pengemis tua itu.

Begitu kekar pemuda itu ibarat seekor harimau buas dari atas bukit, diapun memakai baju butut dengan sepatu rumput, rambutnya kusut, tapi wajahnya ganteng.

Begitu dia menampakkan diri, bocah itu segera menubruk keatas badannya sambil mengadu.

"Engkoh Siau-hou, dia tidak mau aku lagi, mau toh kau bilangkan untukku ?"

Siau-hou segera tertawa terkekeh kekeh.

"Kau bernama Siau liong dan aku bernama Siau hou, tiap kali orang membicarakan soal kita berdua, pasti mereka bilang .

"Eeh, itu Liong hou kenapa, tak pernah ada yang mengatakan. Eeeh... itu Hou liong kenapa, kenapa.... maka bicara yang sebetulnya kedudukan mu lebih tinggi dari pada aku, kau naga dan aku cuma harimau, maka menghadap persoalan semestinya kau yang busungkan dada, tegakkan badan dan sampai ketimur pergi ketimur, sampai barat menuju ke barat, sebagai lelaki sejati semestinya orang yang menggantungkan dirimu, masa kau yang menggantungkan orang lain ? Kan malu..."

Bocah itu berpikir sebentar, lalu berkata.

"Tapi engkoh Siau hou, aku suka dengannya."

"Tentu saja kau suka dia"

Tukas Siau hou lagi sambil tertawa.

"akupun tahu kalau kaupun suka padaku, cuma Siau liong, kau mesti tahu, kau suka kepada kami adalah satu persoalan, kau mesti menempuh jalan mu sendiri adalah persoalan lain, sebagai anak yang pintar, aku percaya kau pasti paham dengan perkataanku ini !"

Setengah mengerti setengah tidak, bocah itu termenung beberapa saat lamanya. Sambil tertawa cekikikan, kembali Siau-hou berkata.

"Hei, Siau-liong ! begini saja, sekarang kau turuti perkataannya dan kita berpisah dulu sementara waktu, tapi aku berjanji, menanti kau sudah berumur lima belas tahun, kita bersua lagi disini, mau bukan ?"

"Siau hou ko, benarkah itu?"

Siau-liong mendongakkan kepalanya.

"Asal kau bersedia menuruti perkataannya pada hari ini, menanti bulan enam tanggal enam dikala kau berumur tujuh belas tahun nanti, aku pasti akan menantikan kedatangan mu disudut dinding kuil sebelah kanan belakarg sana !"

Sekulum senyuman segar tersungging diujung bibir Siau liong yang mungil, katanya kemudian.

"Baik, cuma dia mesti ikut !"

Pengemis tua itu turut tertawa cekakakan.

"Jangan kuatir,"

Katanya.

"asal aku belum mampus, pasti datang pada waktunya."

Siau liong berpikir sebentar tiba tiba ia bertanya.

"Berapa umurku tahun ini ?"

Pengemis tua ini memandang sekejap kearah Siau hou, dan Siau hou segera menjawab.

"Tahun ini kau berumur sepuluh, termasuk shio naga !"

"Wah ... aku mesti menunggu tujuh tahun lagi?"

Teriak Siau liong dengan mulut ternganga.

"Betul, apa kau tak pernah mendengar orang berkata kepada teman atau sanak kerabatnya. Oh, waktu berlalu dengan cepat, tanpa terasa tujuh tahun sudah lewat.."

Dengan perasaan apa boleh buat, Siau liong segera manggutmanggut.

"Baiklah, aku pasti akan menanti selalu."

Siau hou tertawa, dia baru berpaling kearah pengemis tua itu sambil berkata.

"Suhu, Kwik wangwee telah tiba!"

Pengemis tua itu mengiakan, sambil ulapkan tangannya dia lantas berkata pada Siau hou.

"Pergilah dengan tugasmu, selesai dengan persoalan nanti kita bertemu lagi ditempat lama."

Siau hou manggut-manggut, lalu sambil memeluk Siau liong katanya.

"Siau liong, kita berjumpa tujuh tahun lagi, entah apapun yang kau lakukan setelah ini, jangan lupa dengan permainan yang suhu ujar kan kepadamu itu, mesti dilatih setiap hari, siang malam melatihnya dengan tekun, tapi hati-hati, jangan beritahu siapa saja!"

Siau liong manggut-manggut.

"Aku akan menuruti perkataan Siau Hou cu, akupun akan selalu menantikan kedatanganmu."

Siau hoa menggigit bibirnya sambil menurunkan Siau liong, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dia membalikkan bakan dan kabur dari situ ...

Sekalipun demikian, namun tak bisa mengelabui si pengemis tua yang sedang mengawasi tanah, ketika Siau hou cu menurunkan Siau liong tadi, ada dua tetes air mata telah jatuh ke tanah.

Pengemis tua itu segera menggosok hidung-nya menahan rasa sedih dihati, kemudian sambil menarik tangan siau liong ji, katanya.

"Mari kitapun pergi, pergi berbaris, kalau tidak, kita tak akan kebagian pakaian dan uang."

Sambil berkata, pengemis tua itu mengambil kembali tongkat bambunya dan berbelok kekuil belakang.

Tiba disana, ternyata kedatangan pengemis tua dan Mau liong ji telah terlambat, papan nomor sudah menunjukkan angka ke duaratus sembilan puluh empat, sedang yang masih antri ada enam orang, menurut peraturan, sekali pun turut antri juga percuma.

Tatkala pengemis tua itu mengajak siau liong berbaris, hal ini segera mengejutkan Dermawan saleh dari panitia derma tersebut, Kwik Seng tiong, Kwik wangwee yang berdiri diafas pintu kuil.

Tatkala nomor urut mencapai tiga ratus, uang telah habis terbagi, pakaianpun ikut habis, pengemis tua itu segera berteriak keras keras.

"Eeh . .. masih ada dua orang, masih ada dua orang."

Dengan kening berkerut, panitia umat itu segera maju seraya menegur.

"Teman miskin, tidakkah kau saksikan nomor yang tergantung sudah mencapai angka tiga ratus? itu berarti sudah tidak akan dibagikan derma lagi..."

Tapi pengemis tua itu segera berseru.

"Tapi kami berdua kan belum kebagian? Sudi lah kau orang tua berbaik hati, gantungkanlah dua angka lebih baik, biar aku yang akan mengguntungkan angka tersebut"

"Hei, sudah setua ini, tahu urusan tidak?"

Bentak panitia itu dengan wajah dingin. Pada saat itulah dari arah kuil Kuan ya hio telah muncul "Liong tua"

Toako dari kaum pengemis yang dihormati anggotanya, Liong tua toako ini berumur empat puluh tahunan, berwajah kekar dan hitam pekat seperti sebuah pagoda baja.

Sambil berjalan mendekat, katanya kepada pengemis tua itu.

"Hei, kau datang dari mana?"

"Aku datang dari Shoa tang, jauh perjalanan yang telah kutempuh"

Sahut pengemis tua itu sambil tertawa tawa.

"Ooh .. tak heran kalau kau tidak tahu dengan peraturan kami disini, kalau begitu kuberitahukan kepadamu, tempat ini hanya membagikan tiga ratus nomor saja, tak boleh kurang, tak boleh lebih, dan sekarang sudah pas angka nya maka tak bisa ditambah lagi, mengerti."

"Mengerti sih mengerti, tapi bagaimana dengan kami?"

Tanya pengemis tua itu seperti mau menangis. Dengan kening berkerut sahut Liong tua toako itu.

"Sobat tua, aku adalah Liong tua untuk daerah sekitar tempat ini, aku dapat memahami kesulitanmu, tapi akupun tak bisa menyuruh pihak panitia melanggar kebiasaan demi kau, dan lagi akupun tidak punya muka sebesar itu, begini saja, biarlah bagian yang kuperoleh itu ku berikan untuk kalian ayah dan anak berdua.."

Tentu saja pengemis tua ini enggan untuk menerima bagian orang lain, sebab bila sampai diterimanya, bukankah berarti semua rencana yang telah disusunnya itu akan berantakan?

Oleh karena itu segera tukasnya.

"Liong tao lotoa, kau jangan salah paham, kami bukan ayah dan anak, juga bukan guru dan murid, dia adalah seorang anak yatim piatu, hanya kuketahui kalau dia she Sun, sudah lima tahun ikut aku, bagaimanapun juga aku tak bisa membiarkan dia seorang bocah yang begitu baik mengikuti jejakmu sebagai peminta-minta, kalau tak percaya, coba kau perhatikan kami berdua, apakah..."

Walaupun ucapan tersebut belum selesai di utarakan, namun rupanya sudah menarik perhatian Kwik Wangwee, kedengaran Kwik Wang wee telah menyela dari samping.

"Sobat tua, siapa namamu ?"

Begitu Kwik Wangwee buka suara, panitia amal itu segera menjilat pantat dan turut berkata pula kepada pengemis tua itu.

"Hei, tua bangka, rejeki telah datang, Kwik Wnngwee ini adalah orang kaya nomor satu ditempat ini, juga merupakan seorang dermawan yang saleh, asal jawabanmu berkenan di hatinya.."

Kwik Wangwee meski kaya, rupanya paling segan mendengar kata kata umpakan, tiba tiba tegurnya dengan kening berkerut.

"Hei, orang she Thio, kalau aku sedang menanyai orang, lebih baik kau jangan turut menimbrung, kalau caramu suka menukas, sampai kapan orang baru bisa menjawab? Kalau toh pekerjaan sudah selesai, kaupun boleh pergi beristirahat !"

Karena ketanggor pada batunya, dengan wajahnya yang tersipu sipu panitia orang she Thio itu segera mengundurkan diri dari sini, Kepada Liong-tau toako itupun Kwik wangwe berkata.

"Kaupun boleh pergi dari sini !"

Liong-tau toako itu segera memberi hormat kepada Kwik Wangwe dan berlalu dengan langkah lebar. Menanti semua orang sudah pergi, pengemis tua itu baru tertawa terkekeh kekeh seraya berkata.

"Tuan Wangwe, kalau aku si pengemis tua tidak melaporkan nama juga tak apa bukan ?"

"Baik, baik, aku tak akan menanyakan soal namamu lagi."

Sahut Kwik Wangwe sambil tertawa.

"Terima kasih banyak . ..."

Kwik Wangwee mengalihkan sinar matanya memperhatikan sekejap tubuh Siau-liong-ji, ka tanya.

"Betulkah bocah cilik she Sun ini adalah seorang anak yatim piatu ?"

Kembali pengemis tua itu tertawa.

"Wangwee, harap kau tahu, lima tahun berselang aku berhasil menemukannya diwilayah Shoa tang, dia tak tahu dimana rumahnya dan anak siapa, hanya diketahui dia dari marga Sun, sekalipun bukan anak yatim piatu, sekarang juga telah menjadi anak yatim piatu"

Mendengar itu. Kwik Wangwee menghela napas panjang.

"Aaaai.... betul juga perkataanmu itu, cuma aku lihat bocah ini tidak mirip seorang pengemis, aku rasa kalau dibiarkan mengikuti dirimu terus..."

"Wangwee, terus terang kukatakan kalau bisa aku benar-benar ingin sekali bertemu dengan seorang Dermawan yang saleh yang mau menerima bocah ini, bayangkan saja, kalau mengikuti aku terus, nantinya dia mana bisa ber hasil besar?"

"0ooh... sungguhkah perkataanmu itu?"

"Tuan Wangwee!"

Kata pengemis itu dengan wajah serius,"

Kalaukau tidak percaya, silahkan carikan orang tua angkat buat bocah ini, kalau aku si pengemis tua sampai mengucapkan dua patah kata, anggaplah aku bukan dilahirkan oleh ayah ibuku"

Dengan kepala tertunduk Kwik wangwee ter menung dan berpikir beberapa saat lamanya, lewat sejenak kemudian, rupanya wangwee itu sudah mengambil keputusan, katanya lagi.

"Apakah bocah ini mengerti tulisan?"

"Kenal sih kenal, cuma tidak terlalu banyak"

Sahut pengemis tua itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Semisalnya aku bersedia untuk menerima-nya .. ."

Belum habis perkataan itu diutarakan, dengan wajah berseri pengemis tua itu telah berkata kepada Siau liong ji.

"Nak, kenapa tidak kau ucapkan terima kasih? Cepat memberi hormat kepada tuan wang wee !"

"Eeeh ... nanti dulu, harap tunggu sebentar, biar aku selesaikan dulu perkataanku."

Cegah Kwik wangwee "Wangwe tak usah kuatir."

Tukas pengemis tua itu cepat, mulai sekarang bocah ini sudah menjadi milikmu, dia bernama Siau liong, dan mulai detik ini aku sudah tak akan mengurusi nya lagi !"

Selesai berkata, pengemis tua itu segera melepaskan tangan Siau liong ji, menggape-gape kan tangannya, dan sambil membalikkan badan, dia kabur menuju ke balik kerumunan orang banyak.

Sejak saat itulah Siau liong ji telah menjadi kacung cilik dalam gedung hartawan Kwik, tentu saja dalam pandangan orang lain, dia seperti mencapai langit dalam sekali melangkah saja.

Ketika sudah berada dalam kerumunan orang banyak pengemis tua itu baru diam diam membesut air matanya.

Kalau dibilang ia tak punya perasaan terhadap Siau liong, hal ini tak masuk diakal, cuma perasaan tetap tinggal perasaan, dia meninggal kan Siau liong itu untuk melakukan pekerjaan lain baru merupakan persoalan yang terpenting.

Suasana disekeliling kuil hari ini sungguh ramai sekali, berada ditengah kerumunan orang banyak, pengemis tua itu tak mampu menggunakan kepandaiannya, maka dia meski berjalan pelan-pelan untuk bertemu dengan Siau hao ji.

Berputar kekiri, membelok kesanan, akhirnya orang yang berjubel makin berkurang tanpa terasa dia sampai dijalan sebelah barat, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan menunduk kembali, kemudian sambil berbelok, ia menuju kearah lorong kecil.

Sambil berjalan, dalam hati berpikir.

"Aaai... dunia ini serasa begitu sempit, kenapa mesti bersua lagi dengan orang ini? Tampaknya keparat itu telah melihat kehadiranku moga-moga saja dia memang pikun dan tidak mengenali diriku lagi!"

Baru saja berpikir sampai disitu, mendadak dari belakang punggungnya sudah terdengar ada orang berkata.

"Jalan ini buntu!"

Pengemis tua itu berlagak seperti tidak mendengar apa-apa, dia melanjutkan terus perjaIanannya. Kemudian orang dibelakang itu berkata lagi.

"Ku tayhiap, harap berhenti dulu!"

Dalam keadaan begini terpaksa pengemis tua itu tidak bisa berlagak tuli lagi, pelan-pelan ia membalikan badan. Tapi sambil berlagak tidak kenal, katanya.

"Maaf kalau aku sipengemis tua tidak mengenali dirimu kau..."

Orang tua itu segera tertawa terkekeh-kekeh mendadak ia melemparkan sekeping uang perak kedepan kaki pengemis tua itu, kemudian menukas.

"Sekeping uang perak untuk dua jawaban, ini peraturan!"

Ternyata si orang ini adalah simanusia berbaju perak yang pernah dijumpainya pada malam bersalju lima tahun berselang.

Malam itu, simanusia berbaju perak itu menutupi sebahagian mukanya dengan kain kerudung, sedangkan hari ini sama sekali tidak di tutupi apa-apa..

Kalau malam itu dia mengenakan pakaian ringkas berwarna perak, maka hari ini dia memakai jubah lebar berwarna perak pula.

Ternyata orang berbaju perak itu memiliki paras muka yang cukup tampan, hanya sayang dari atas alis matanya sebelah kanan sampai telinga sebelah kanan terdapat sebuah codet bekas bacokan golok yang memanjang, kulit muka yang tidak merapat membuat wajahnya kelihatan menyeringai seram...

Sekarang, pengemis tua itu sudah tak dapat berlagak terus, dengan wajah dingin seperti salju dia lantas menegur.

"Oooh ... rupanya kau."

Mencorong sinar buas dari balik mata orang berbaju perak itu, katanya tiba tiba.

"Aku tahu kalau Ku tayhiap pasti masih teringat akan diriku, sejak berpisah lima tahun sudah lewat, baik-baikkah Ku tayhiap selama ini ?"

"Kenapa kau bertanya melulu? Apakah kau datang untuk bertanya belaka ...!"

Tukas pengemis tua itu dingin.

"Aku datang untuk Cui Tong yang sebetulnya Lu Cu peng serta bocah she Sun itu."

Pengemis tua itu tertawa hambar.

"Lohu tidak kenal dengan mereka !"

Orang berbaju perak itu manggut manggut.

"Soal ini aku percaya, cuma pada malam bersalju lima tahun berselang toh kau yang telah menolong mereka dari kuil Kwan ya bio, maka hari ini akupun terpaksa harus menagih orang itu darimu !"

"Ooh ... seandainya aku tak ada orangnya?"

"Terpaksa Ku tayhiap mesti memaafkan, aku akan mati dirimu !"

"Laporkan dulu siapa namamu?"

Seru pengemis tua itu dengan kening berkerut "Ku tayhiap toh memiliki sepasang mata yang sakti?

Konon siapa saja yang menutupi wajah-nya dengan kain kerudung, asal ada sedikit luang kosong, kau dapat menebak asal usulnya, aku adalah orang yang berkerudung pada malam itu.

"Tahu orangnya tahu mukanya sukar tahu hatinya"

Tukas pengemis tua itu cepat.

"Hm, kau adalah manusia berbaju perak pada malam itu dan kaupun tak akan lolos dari ketajaman mataku, tapi sekarang aku sedang menanyakan siapa namamu?"

Sambil, menggigit bibir orang itu menyahut.

"Gin-ih-siusu Kim Kiam khek (sastrawan berbaju perak jago pedang emas).. Belum habis perkataan itu, sipengemis tua itu telah menukas.

"Oooh.. rupanya kaulah Pit It kiam yang selama sepuluh tahun terakhir ini termashur dalam dunia persilatan?"

"Betul, itulah saya!"

"Pit lt-kiam, andaikata kau masih ingat dengan suasana pada malam itu, maka tentu-nya kau masih ingat dengan perkataan Tongkeh kalian bukan? Kuanjurkan kepadamu lebih baik pergi saja dari sini, dari pada menyesal sepanjang masa!"

Agak tertegun juga Pit li kiam setelah mendengar perkataan itu, tampaknya dia itu sudah tak ingat lagi perkataan apakah yang dimaksudkan lawan.

Dengan cepat pengemis tua itu mengingatkannya.

Walaupun ucapan Tan Tiang ho amat takebur, namu dia masih merupakan seorang manusia yang tahu diri, dengan mengandalkan kemampuanmu inginkan batok kepala aku ini si pengemis tua ...Hm, masih terlampau jauh."

Pit It kiam segera tertawa seram.

"Heeeh... heeh... orang she Ku, kembali kau keliru besar, Tan Tiang hoa tak lebih cuma salah satu perkumpulan dibawah pimpinan Sancu kami, dia masih belum berhak menjadi seorang tangkeh."

Pit It-kiam tanpa sengaja telah membocorkan rahasia besar, begitu ucapan diutarakan dia menjadi menyesal setengah mati.

Sebaliknya si pengemis tua itu nampak ter peranjat sekali setelah mendengar perkataan itu.

Kim ih tok-siu (kakek beracun baju emas) Tan Tiong hoa yang begitu termashur dan menggetarkan dunia persilatan ternyata hanya seorang congkoan belaka, lalu siapakah Sancu mereka itu?"

Begitu ingatan tersebut melintas lewat, dia mendapat sebuah akal bagus, katanya kemudian kepada Pit It kiam sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Pit It kiam, turutilah nasehat lohu, lebih baik kau cepat cepat menyelamatkan dirimu sendiri !"

Pit It kiam mendengus dingin.

"Aku orang she Pit tidak percaya kalau kau sanggup membunuh aku !"

Kembali pengemis tua itu melanjutkan sambil tertawa.

"Kau pintar, sejak lohu melakukan sesuatu kesalahan dimana yang lalu, sejak saat itu pula aku telah bersumpah tak akan membunuh orang lagi, tentu saja sekarangpun aku tak akan membunuhmu !"

"Orang she Ku, dengan mengandalkan kepandaian silatmu itu jangan harap bisa membinasakan diriku !"

Seru Pit It-kiam amat gusar. Pengemis tua itu tertawa, rupanya dia mak sudkan lain dengan perkataannya itu, kembali dia melanjutkan.

"Sekarang, kau sudah dapat dipastikan akan mati, kenapa aku pengemis tua mesti banyak bertingkah? Barusan kau telah membocorkan rahasia perkumpulanmu, aku pikir sekalipun kau tidak ingin matipun hal ini merupakan sesuatu yang teramat sulit!"

Dengan suara dalam Pit It kiam segera membentak.

"Ketika aku orang she Pit datang ke kota Tong-ciu, orang lain tak ada yang tahu.."

Pengemis tua itu segera tertawa terkekeh-kekeh.

"Heeh... heeeh... ucapanmu itu memang benar, tapi ada s e s e o r a n g y a n g j u s t r u t e r k e c u a l i , P i t I t k i a m , s i a p a y a n g t e l a h m e n g i r i m m u k e m a r i ? A p a k a h d i a t i d a k d a p a t m e n g u t u s o r a n g l a i n p u l a u n t u k kMeenmdeanrgia?r "p erkataan itu Pit It kiam berubah hebat, tak terasa dia berpaling kebelakang. Ternyata di belakang tubuhnya tak nampak sesosok bayangan manusiapun menantikan dia berpaling lagi, ternyata pengemis tua itupun sudah lenyap tak berbekas, kejadian ini kontan saja membuat Pit It kiam mencak mencak karena gusar, hampir meledak rasa dadanya. Lorong itu adalah sebuah lorong buntu, terkecuali kabur dengan melewati dinding pekarangan rumah, mustahil pengemis tua itu bisa menemukan jalan yang lain. Pit It kiam enggan berlepas tangan dengan begitu saja, sepasang kakinya segera menjejak ke tanah untuk melakukan pengejaran Tapi, pada saat itulah dari arah belakang telah kedengaran seseorang berseru.

"Pit tongcu harap berhenti!"

Begitu mendengar suaranya Pit It kiam segera tahu siapa orangnya, hancur lebur perasaannya saat itu juga, terpaksa dia melayang ke tanah, kemudian sambil membungkukkan badan memberi hormat, katanya.

"Hamba siap menerima perintah!"

Orang itu mendengus dingin.

"Hmm.. ! Pit tongcu, dengakkan kepalamu!"

Paras muka Pit It kiam berubah hebat, tapi dia tetap menundukkan kepalanya rendah.

"Hamba...."

Belum habis perkataan itu, dengan tidak sabaran orang itu menukas lagi.

"Aku suruh kau mendongakkan kepalamu, harap kau segera mendongakkan kepalamu, coba perhatikan baik baik siapakah lohu !"

Padahal pit It-kiam sudah tahu siapa gerangan orang itu, tapi dibawah perintah yang keras, terpaksa dia mesti mendongakkan kepalanya.

Orang inipun mengenakan pakaian berwarna emas, cuma perawakannya kurus kecil, jelas bukan Tan Tiang-hoa.

Sementara itu orang tersebut sudah mendengus sambil menegur.

"Sudah melihat jelas !"

Dengan sikap sangat menghormat Pit It kiam membungkukkan badan sambil memberi hormat.

"Hamba tidak tahu kalau Hu pangcu yang telah datang."

Orang itu masih tetap tidak membiarkan Pit It kiam menyelesaikan kata-katanya, sekali lagi dia menukas.

"Coba kau perhatikan lebih sesama lagi Lohu adalah Hu-pangcu (wakil ketua), tak bakal salah bukan?"

Ucapan tersebut membuat Pit li kiam kelabakan setengah mati dan tak tahu bagaimana mesti menjawab, terpaksa dia hanya membungkam diri dalam seribu bahasa.

Sambil tertawa terkekeh-kekeh, orang berbaju emas itu berkata lebih jauh.

"Kau telah membocorkan rahasia bukit kita, menurut peraturan kau harus dijatuhi hukuman mati, apa lagi yang kau katakan ?"

Dengan ketakutan buru-buru Pit It kiam menyahut.

"Hamba sama sekali tidak sengaja, hanya secara kebetulan saja berjumpa dengan Ku Gwat cong, dan lagi teringat dengan dendamku pada lima tahun berselang, maka tanpa sengaja, aku telah..."

"Peraturan perkumpulan harus dilaksanakan dengan tegas, percuma saja kau banyak berbicara !"

Bentak orang berbaju emas itu lantang. Pit It kiam segera berkerut kening, tapi dengan cepat wajahnya pulih kembali seperti sedia kala, ujarnya kemudian.

"Apakah hamba dapat berbuat pahala untuk menebus kesalahan ini?"

"Hm.... apakan hukiman yang lohu jatuhkan padamu kurang adil."

Jengek orang yang berbaju emas itu sambil tertawa dingin.

Untuk kesekian kalinya Pit It kiam berkerut kening, tetapi sekuat tenaga dia berusaha untuk menekan pergolakan perasaan hatinya, kembali ujarnya.

"Ang Hu paugcu, hamba mendapat tugas khusus dari pangcu untuk kemari, sekarang hambapun perlu melaporkan semuanya tugas yang hamba lakukan pada kongcu pribadi, sekalian akan kulaksanakan hukuman dihadapannya."

"Di terangkan kepada lohu pun sama saja!"

Tukas Ang Hu pangcu dengan suara dalam. Habis juga kesabaran Pit It kiam, dengan suara menentang dia berteriak keras.

"Hamba bukan berniat melarikan diri dari hukuman, tapi minta keringanan hukuman juga bukan permintaan berlebihan, Hu pangcu, sekalipun kau merasa senang setelah dapat membunuh aku, rasanya juga tak perlu begitu bernapsunya!"

"Pit It kam!"

Bentak Ang Hu pangcu amat gusar.

"kau berani membocorkan rahasia perkumpulan kita, menurut peraturan harus dijatuhi hukuman mati, sedang lohu hanya melaksanakan tugas belaka, ini urusan dinas diharap kau mengerti."

"Heeh... heeeh..."

Pit It kiam menjengek sinis.

"maksud hati Suma Ciau sudahlah jelas, orang jalan pun tahu..."

Ang Hu pangcu segera menyeringai seram, teriaknya amat gusarnya.

"Pit It kiam amat besar nyalimu, rupanya kau memang ada maksud untuk menghianati perkumpulan.. jika tidak kenapa kau begitu berani mencemooh lohu? Baik, kalau begitu, lohu ingin saksikan sampai di manakah kepintaran ilmu pedangmu."

Seraya berkata, dengan langkah lebar dia segera berjalan mendekati Pit It kiam. Oleh karena itu, dalam waktu singkat Pit It-kiam dapat merasakan untung ruginya maka sambil tersenyum kembali ujarnya.

"Ang hu pangcu, bolehkah hamba berkata beberapa patah kata."

Ang hu pangcu mendengus dingin.

Sepasang alis mata Pir It kiam segera berkerut, bekas bacokan itu pun memancarkan cahaya merah, ini menandakan kalau dia sudah dilipiti hawa marah yang membara, juga merupakan pertanda sebelum dia melancarkan serangan untuk membunuh orang.

Cuma saja, Pir It kiam cukup mengetahui posisinya sendiri berbicara soal kedudukan, dia memang masih kalah dibandingkan Ang hu pangcu, berbicara soal kepandaian silat dan tenaga dalam, dia lebih kalah setingkat dari lawannya.

Apa lagi pada saat ini Ang hu pangcu telah memergoki dia sedang membocorkan rahasia perkumpulan, seandainya dia benar-benar membunuhnya, sekalipun hal ini dilaporkan, pangcu juga tak bakal menegur atau menyusahkannya.

"Katakan saja apa yang hendak kau ucapkan, lohu ingin mendengarkan belaka."

Wauaupun dia menyatakan akan mendengarkan, namun langkahnya sama sekali tidak berhenti..

setindak demi setindak dia maju ke depan.

Agaknya Pit It-kiam dapat menebak maksud hati lawannya itu,selangkah demi selangkah pula dia mundur terus ke belakang, sambil mundur katanya lebih jauh.

"Ketika hamba berjumpa dengan Ku Gwat cong tadi, telah berhasil hamba selidiki persoalan yang diwanti-wantikan oleh pangcu pada waktu itu, oleh karena itu, hamba telah mempergunakan Kiam leng coan sim (Lencana pedang menyampaikan surat) untuk memberi laporan kepada pangcu..."

Berbicara sampai, disini, Pit It kiam sengaja berhenti sebentar untuk menyelidiki sikap lawannya.

BetuI juga, Ang hu pangcu segora menghentikan langkahnya, dia seperti nampak agak takut setelah mendengar perkataan itu.

Mendapat angin, Pit It kiam segera berkata lebih jauh.

"Ang hu pangcu, sekarang apakah kau bersedia untuk menggusur hamba pulang dahulu kemarkas kemudian baru menerima hukuman"

"Dari mana aku bisa mempercayai perkataanmu itu?"

Dengus Ang Hu pangcu ketus.

"Jika aku berbohong belaka, bukankah hamba sama halnya dengan mengantar diri masuk perangkap?"

Ang Hu pangcu berpikir sebentar, kemudian katanya.

"Persoalan itu sudah lenyap dan hilang selama beberapa tahun, kalau di bilang kau berhasil menemukannya pada saat ini, apakah hal tersebut tidak terlalu kebetulan?"

Pit It kiam segera tertawa.

"Hal ini rasanya tidak jauh lebih kebetulan dari pada kemunculannya Hu pangcu di sini bukan?"

Jengeknya. Diam-diam Ang Hu pangcu termenung dan berpikir berapa saat lamanya, kemudian ia bertanya.

"Darimanakah sumber berita itu?"

Pit It kiam segera menggelengkan kepalanya sambil tertawa, jawabnya pelan.

"Hu pangcu, itulah satu satunya pelindung keselamatan bagi hamba sekarang, kita toh sama-sama sudah bukan anak kecil lagi, tentunya cukup tahu bukan, bagaimana melindungi diri secara baikbaik."

Ang Hu pangcu tertawa seram.

"Heeh... heeh... heeh... Pit It kiam, kau pun seharusnya mengerti, seandainya hal ini memang benar, hari ini juga Kiam leng dari pangcu sudah akan sampai disini!"

"Tentu saja"

Kata pit It kiam sambil mengangguk.

"menurut perkiraan hamba, besok lencana Kim leng dari pangcu pasti sudah sampai disini, cuma segala sesuatunya masih memerlukan penampilan hamba pribadi untuk memberikan laporannya!"

Agaknya Ang Hu pangcu sudah memperoleh siasat bagus, dia lantas manggut-manggut.

"Bagus sekali. Kalau begitu lohu akan menantikan kedatangan Kim leng dari pangcu, nah ikutilah aku !"

Pit It kiam segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Harap Hu pangcu menentukan waktu dan tempat pertemuan saja, sampai saatnya hamba pasti akan datang"

"Pit It kiam."

Kata Ang hu pangcu sambil tertawa.

"oleh karena kau-kata kebetulan berhasil menemukan jejak dari persoalan itu, maka kau baru berhasil mendapatkan pengecualian, tapi bukan berarti kau sudah bebas sama sekali"

"Tentang soal ini, hamba cukup mengetahuinya, cuma menurut peraturan perkumpulan, pada saat ini hamba masih bebas merdeka tanpa ikatan apa-apa, hambapun wajib melakukan tugas dari pangcu ini dengan sepenuh tenaga..."

Ang-hu pangcu mendengus dingin, agaknya dia merasa apa boleh buat, ujarnya kemudian.

"Hmm... Tampaknya kau hapal sekali dengan peraturan dalan perkumpulan kita. Baik, aku tinggal dirumah penginapan Tong keh, jangan lupa, besok tengah hari. setelah waktu bersantap siang, bila kau tidak datang menghadap berarti kau ada maksud untuk berhianat..."

"Semenjak empat tahun, berselang hamba sudah tahu kalau Hu pangcu amat memperhatikan hamba, dan sudah kuduga kalau hari seperti ini pasti akan datang juga maka hamba tak akan sampai membiarkan diri hamba masuk perangkap!"

"Lihat saja, lohu toh masih mempunyai banyak waktu,"

Jengek Ang hu pangcu sambil tertawa sinis.

"Hamba akan selalu berhati-hati, baik-siang malam, hari bulan dan tahun hamba akan selalu waspada!"

Ang hu pangcu mendengus dingin, dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari situ dengan langkah lebar.

Menanti bayangan tubuh orang sudah lenyap tak berbekas, Pit It kiam baru menyeka butiran keringat yang membasahi jidat seraya menghembuskan napas panjang, kemudian biji matanya berputar kesana kemari dan menggelengkan kepala berulang kali, rasa gelisah bercampur cemas membayangi wajahnya.

Diapun cukup tahu, sekalipun dia telah mengucapkan kata-kata bohong yang memaksa musuh bebuyutannya Ang Beng liang terpaksa harus mengurungkan niat jahatnya kepadanya, tapi dengan adanya peristiwa ini maka posisi nya menjadi semakin berbahaya.

Esok dengan cepatnya akan tiba, terkecuali kalau didalam jangka waktu ini dia berhasil mendapat bantuan atau memproleh pengampunan dari pangcu, kalau tidak, maka nasib yang tragis sudah pasti akan dialaminya.

Pit It kiam tidak ingin berkhayal dengan mengharapkan bantuan dari langit, maka satu-satunya jalan yang bisa di tempuh olehnya sekarang adalah berusaha untuk mendapatkan pengampunan dari pangcunya, maka tanpa berayal lagi dia lantas lari menuju ke mulut gang.

Ketika masih ada tiga langkah sebelum mencapai mulut gang, mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, sayang baru saja itu ingatan melintas di dalam benaknya, tahunya jalan darah di atas sepasang bahu dan jalan darah bisunya sudah ditotok orang.

Kemudian munculah Ang Hu pangcu dengan wajah menyeringai seram, dia berdiri dihadapannya dengan wajah sinis, dan kemudian dengan menggunakan suara yang hanya bisa didengar oleh Pit It kiam seorang, katanya.

"Pit It kiam kau harus mengerti, bukan cuma sehari ini saja lohu ingin membunuhmu, keponakanku itu hanya sedikit tertegun saja, tapi kau telah turun tangan keji kepadanya, dan kemudian kau memberi pula dosa yang besar kepadanya membuat ia ternoda sepanjang masa... Hmm! Pit It kiam, lohu teramat benci padamu, kalau bila aku ingin melahap dagingmu dan menghirup darahmu, aku hendak menyayat kulitmu, kemudian membakarnya agar menjadi abu!"

Kini segenap tenaga dalam yang dimiliki Pit it kiam telah punah, walaupun ada mulut juga sukar di buat bicara hanya codet di atas wajahnya saja yang bersinar terang dan matanya memancarkan sinar buas.

Ang hu pangcu tertawa terkekeh-kekeh, dari sakunya dia mengeluarkan sarung tangan khusus yang segera dikenakan.

Kemudian sambil memperlihatkan sarung tangan itu dihadapan Pit kiam, katanya sambil menyeringai seram.

"Sekalipun apa yang kau katakan tentang persoalan itu adalah suatu kenyataan, lohu juga akan menjagal dirimu lebih dulu, cuma kau tak usah kuatir, lohu tak akan mempergunakan ilmu dan kepandaian khasku untuk membinasakan dirimu!"

Sembari berkata, Ang beng liang telah memasang sarung tangan tadi ditangan kanannya sekarang Pit It kiam dapat melihat dengan jelas, itulah sebuah sarung tangan khusus yang dilapisi lima buah cakar serigala yang kuat seperti baja dan tajam bagaikan kaitan.

Sekali cengkeram, Ang beng liang telah mencakar wajah Pit It kiam,yang tampan itu, kemudian katanya.

"Bukankah pangcu amat menyukai tampangmu ini. Sekarang, akan kulihat apakah dia masih menyukainya lagi atau tidak ?"

Ketika cengkeraman itu diperkeras, diatas wajah Pit It kiam segera muncul lima buah bekas darah memanjang dan dalamnya beberapa inci, seketika itu juga paras muka Pit It kiam-yang tampan berubah menjadi hancur tak karuan lagi bentuknya.

Menyusul kemudian, tangan Ang Beng liang diayunkan berulang kali seperti orang memukul tambur, kepala, muka dan dada Pit lt-kiam seketika itu juga hancur tak berbentuk lagi, kulitnya mengelupas semua, darah segar jatuh bercucuran membasahi seluruh tanah.

Ang Beng liang menyeringai seram, sekali lagi tangannya diayunkan ke depan dan menghantam empat lima kali, sepasang lutut sepasang sikut Pit It kiam segera hancur remuk tak berbentuk lagi, sedang orangnya sudah jatuh tak sadarkan diri karena kesakitan.

Ang Beng liang tertawa bangga, terhadap Pit It kiam yang tergeletak tak sadarkan diri itu katanya.

"Lohu akan menyuruh kau mati karena kehabisan darah, silahkan penderitaan tersebut dirasakan sebelum mampus nanti!"

Selesai berkata begitu dia cengkeram tubuh Pit It kiam dan membawanya kedalam gang buntu itu, kemudian melayang masuk kerumah orang, meletakkan tubuh Pit It kiam ditumpukkan kayu, membebaskan jalan darahnya dan berlalu dari sana.

Sekarang Pit lt-kiam dapat bersuara namun tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun, bisa membuka matanya namun tidak dapat ia melihat apa apa, juga bisa bergerak tapi tak tertenaga.

Darah mengalir terus tiada hentinya, luka yang dideritanya cukup parah, apalagi dibulan enam yang panas menyengat badan begini, paling banternya setengah jam lagi, malaikat elmaut pasti akan datang merenggut selembar jiwanya.

Pada saat itulah mendadak melayang masuk sseseorang kedalam rumah itu, kemudian dengan menggunakan selimut yang tebal untuk membungkus Pit It kiam diam-diam berlalu pula dari sana.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** KWIK WANGWEE sedang menuding sebuah gudang yang besar dihadapannya dan berkata kepada siau liong ji sambil tertawa.

"lnilah gudang buah, berkeranjang keranjang buah disimpan dalam gudang ini siap dibuat sari buah dan manisan, atau biasanya di kirim pula ke daerah lain."

Dengan sikap mengerti tak mengerti Siau liong ji manggut-manggut. Kwik Wangwee segera menepuk kepalanya sambil berkata lagi.

"Usaha ini sudah kulakukan tiga generasi mulai sekarang kau adalah pegawai yang akan mengawasi gudangku ini, tak usah kuatir, barang disini tak akan dicuri orang, tapi mesti ada orang yang menjaganya."

Kwik wangwee memandang sekejap lagi ke arahnya, kemudian sambil membelai kepalanya dan berkata dengan lembut.

"Kertas jendela dalam gudang banyak yang sudah hancur, sekalipun ditambal baik-baik belum tentu bisa menahan kucing dan anjing yang akan masuk kedalam, terutama sekali nyamuk dan lalat yang menjemukan, semuanya ini mesti kau perhatikan baik-baik"

Sekarang Siau liong ji baru mengerti, rupanya tugas yang diberikan kepadanya adalah mengusir kucing, menggebuk anjing, apalagi nyamuk dan lalat, sejak kecil Siau liong ji benci dengan binatang binatang itu.

Sementara dia masih termenung, Kwik wangwee segera berkata sambil tertawa.

"Siau liong, aku lihat kau bukan bocah sembarangan, suatu hari kelak, kau pasti akan berhasil mencapai kedudukan yang tinggi, bagaimana kuberi nama "Tiong lo"

Kepadamu?"

Diam-diam Siau liong ji merasa terkesiap, bukankah hal ini merupakan suatu kebetulan? setelah berpikir sejenak, dia pun manggut-manggut tanda setuju dengan nama "Sun Tiong lo"

Itu. Saat itulah Kwik Wangwee berkata lagi.

"Letak kamar bacaku tentu sudah kau ketahui bukan? Nah, aku ijinkan kepadamu untuk meminjam buku dalam kamar bacaku, kalau hendak bersantap pergilah kedapur depan sana kita makan bersama, setiap bulan aku mendapat uang gaji, uang itu boleh ditanamkan dalam usahaku, sehingga bila suatu ketika kau hendak pergi, aku dapat memberikan uang dan keuntunganmu itu kepadamu, siapa tahu kalau ada keuntungannya kelak."

Siau liong ji ...

aah, tidak, Sun Tiong lo manggut-manggut tanda menyetujui.

Kwik Wangwee tidak berkata apa apa lagi dia segera pergi meninggalkan tempat itu.

Semenjak hari itu, Sun Tiong lo pun menjadi penjaga gudang, selain makan tidur, mengusir kucing dan anjing, kerjanya hanya membaca buku.

Padahal setiap hari antara kentongan kedua sampai kentongan kelima, dia selalu duduk bersemedi untuk melatih ilmunya.

Sesungguhnya pengemis tua Ku Gwat cong adalah seorang jagoan yang luar biasa sekali didalam dunia persilatan dia tak lain adalah Koay kay (pengemis aneh) yang disebut orang sebagai jago piling aneh dikolong langit...

Berbicara soal tingkat kedudukan dan usia nya, Ku Gwat cong boleh dibilang termasuk dalam jagoan angkatan tua, diantara sekian banyak jago tua angkatannya, hanya tinggal tiga orang saja yang masih hidup.

Pengemis aneh ini memang cukup aneh, setelah membawa pergi Siau liong, ternyata selama lima tahun ia tak pernah mengajarkan satu jurus gerak seranganpun kepadanya...

Walaupun demikian, dia mengajarkan suatu ilmu semedi yang cukup aneh kepadanya.

Sun Tiong lo baru berumur sepuluh tahun, bagaimanapun juga dia masih terhitung seorang kanak kanak, kanak kanakpun mempunyai jalan pikiran kanak kanak, kalau ingin mengurung nya terus didalam gudang, hal ini bukanlah su atu pekerjaan yang sangat mudah.

Tapi selama berada disini, kecuali duduk dalam gudang atau kursi, dia tak pernah keluar rumah, lagipula dia tidak pernah kenal dengan siapapun, maka tiada orang pula yang diajaknya bermain.

Tapi hal ini tidak menjadi soal baginya.

sebab dia mempunyai cara yang paling ideal untuk menghilangkan waktu.

Setiap kali ada waktu senggang, dia lantas membaca buku sambil berbaring, itulah se

Jilid buku aneh, buku yang ditinggalkan Ku Gwat cong kepadanya, isi buku itu sudah hafal di luar kepala, tapi gambar yang tercantum dalam kitab itu sama sekali tidak dipahami olehnya.

Kini, diapun sambil berbaring membaca buku sambil makan buah yang memang tersedia dalam gudang tunggu pengiriman, maka sambil membaca, dia makan buah, lalu bijinya da sambit keluar lewat jendela.

Dibalik jendela merupakan sebuah lorong delapan sepuluh tahun tak pernah ada yang lewat disana, sedangkan daun jendela telah rusak, diluar jendela sana terdapatlah sebuah lubang, yang cukup besar.

Waktu berlalu cepat, dalam waktu singkat Sun Tiong-lo sudah mencapai dua belas tahun.

Malam itu.

kentongan kedua baru saja lewat.

Sun Tiong-lo baru saja menyelesaikan latihan tenaga dalamnya, Mendadak terdengar suara anjing menggonggong tiada hentinya, menyusul kemudian "bluuuk !"

Sebuah benda berat terjatuh didalam lorong sempit di belakang gudang.

Waktu itu Sun Tiong-lo baru saja memadamkan lampu dan berbaring, dengan cepat dia melompat bangun dan duduk, dengan jelas ia mendengar ada benda terjatuh dalam lorong tadi, namun sampai sekian lama belum juga kedengaran suara berikutnya.

Sesaat kemudian baru terdengar suara ujung baju terhembus angin.

Sun Tiong lo segera membaringkan diri lagi dan pura-pura tidur pulas, meski matanya terpejamkan namun telinganya dipasang baik baik untuk mendengarkan gerak gerik disana.

Diatas dinding pekarangan seperti ada suara orang, malah tiga orang jumlahnya, terdengar salah seorang diantaranya berkata.

"Lo lak, bagaimana? Apakah kau temukan bayangan tubuh keparat itu...?"

Yang dipanggil sebagai Lo lak segera menjawab.

"Tampaknya tidak berada disini, mari kita mencari di tempat lain !"

"Lak te, bukankah dibawah sana terdapat tanah datar?"

Seorang yang lain segera berseru.

"Aaah.... benar, coba kutengok !"

Pencoleng itu ternyata benar-benar melompat turun ke dalam lorong sempit tersebut. Tapi tak lama kemudian dia sudah melompat balik keatas dinding pekarangan seraya menyumpah.

"Sialan, dibawah sana adalah sebuah gedung buah, mari kita cari ditempat lain saja."

"Kalau begitu keparat itu tak mungkin akan bersembunyi disini"

Kata orang pertama tadi, dia terluka parah, tak mungkin bisa kabur ter lalu jauh, mari kita menggeledah ditempat ini"

Tak lama kemudian terdengar ke tiga orang pejalan malam itu berlalu dari sana.

Beberapa waktu kemudian, dari arah lorong sempit itu baru kedengaran ada suara, kemudian dari balik lubang dibelakang jendela tampak sesosok bayangan hitam menerobos masuk ke dalam, kakinya tepat menginjak diatas pembaringan karena kehilangan keseimbangan badannya, dia roboh terguling.

Dengan cekatan Sun liong lo melompat turun dari atas ranjang, menutup jendela dan hendak memasang lampu.

Tapi tamu tak diundang yang terkapar di atas pembaringan itu segera mencegah.

"Jangan memasang lampu, harap jangan memasang lampu, aku bukan orang jahat..."

Sun Tiong lo sama sekali tidak takut, juga tidak menuruti perkataan orang itu, dia memasang lampu kemudian memperhatikan wajah orang tadi dengan sepasang matanya yang besar dan jeli.

Dengan cemas orang itu segera berseru.

"Adik cilik, aku adalah seorang pengawal barang yang bertemu dengan musuh besarku, mereka bertiga mengerubuti aku seorang aku tak tahan dan kena dibacok kakiku, untung bisa kabur sampai disini, jika kau menyulut lampu...."

Belum habis dia berkata, Sun Tiong lo telah memadamkan lampu lentera itu seraya berkata.

"Kau seperti orang baik-baik, akan kupadamkan dan mendengarkan penuturan selanjutnya."

"Aku she Cui bernama Tong dengan nama kecil Cu hoa"

Orang itu menerangkan "aku adalah Sam-lok piautau dari perusahaan pengawalan barang Pat tat piaukiok, sebutannya saja piautau, padahal sesungguhnya cuma seorang Tang cu ji !"

"Apa sih yang disebut Tang cu jiu itu?"

Tiba-tiba Sun Tiong lo bertanya keheranan. Cui Tong tertawa getir.

"Artinya anak buah, atau pelayan kerjanya hanya memasang kereta, mengambil barang kebutuhan, membongkar peti dan jaga malam, pokoknya semua kerja kasar adalah pekerjaan ku"

"Oooh... kalau begitu kau lebih mengenaskan nasibnya dari pada aku...."

Kata Sun Tiong lo. Sekali lagi Cui Tong tertawa getir.

"Adik kecil, asal kita masih bisa makan dengan menggunakan tenaga sendiri, hal ini masih tidak terhitung mengenaskan katanya, Sun Tiong lo tidak berbicara lagi, dibalik kegelapan sepasang matanya yang besar dan jeli itu memancarkan sinar tajam, keadaan ini seketika itu juga membuat Cui Tong merasa amat terperanjat. Seandainya Sun Tiong-Io bukan seorang anak kecil belaka, Cui Tong pasti akan mengira dirinya telah bertemu dengan seorang jago lihay dari dunia persilatan. Tentu saja mimpipun Cui Tong tak akan menyangka kalau bocah penjaga gudang yang berada dihadapannya sekarang tak lain adalah majikan kecil yang ditolongnya tujuh tahun berselang, sedangkan Sun Tiong-lo sendiri sama sekali lidak kenal dengan Cui Tong. Waktu itu dia masih terlalu kecil, apalagi dalam lelap tidur yang nyenyak, ketika terjadi peristiwa dirumahnya dan dia ditolong orang, kesemuanya itu tidak diketahui olehnya bila pengemis tua tersebut tidak menceritakan hal ini kepadanya. Ketika dia bertanya siapakah yang telah menyelamatkannya, pengemis tua itu tak pernah mau berbicara, malah berpesan kepadanya sebelum kepandaian silat yang dimilikinya mencapai tingkatan yang luar biasa, rahasia asal usulnya tak boleh dibocorkan. Walaupun antara majikan dan pembantu tidak saling mengenal, namun Thian telah mengaturkan pertemuan yang tak terduga ini, sekalipun kali ini harus berpisah lagi, namun di kemudian hari mereka sudah tahu tempat untuk mencarinya. Begitulah, dalam keragu-raguan Cui Tong menuturkan kembali pengalaman yang baru saja menimpa dirinya.

"Tahun berselang, ketika aku mengikuti Tay piautau mengawal barang-barang ke kota Tay-awan, di luar perkampungan keluarga Sik telah menderita musibah, untung saja kepandaian silat Toa-piautau lihay sehingga kawanan perampok itu kena dipukul mundur, siapa tahu hari ini aku telah berjumpa lagi dengan mereka."

"Parahkah luka diatas kakimu itu ?"

"Cukup parah, tapi tak menjadi soal, aku membawa obat luka yang terbaik, asal bisa beristirahat barang dua hari, niscaya luka ini akan sembuh dengan sendirinya, cuma..."

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya Sun Tiong-lo telah menukas lebih dulu.

"Kalau begitu beristirahat saja dalam gudang ini, tak akan ada yang menayai dirimu, aku akan persiapkan tempat bagimu, sekalipun musuh-musuhmu itu akan berdatangan kembali, belum tentu dia dapat menemukan dirimu, tak usah khawatir."

Apa yang telah dikatakan ternyata dilakukan Sun Tiong-lo dengan cepat, diatas tumpukan karung-karung buah kering tingginya hampir mencapii langit-langit gudang itu dia siapkan sebuah tempat bagi Cui Tong untuk beristirahat, bahkan membimbingnya naik ke atas.

Satu hari, dua hari, akhirnya luka diatas paha Cui Tong sudah sembuh enam tujuh bagian.

Tentu saja paling baik kalau dia bisa beristirahat beberapa hari lagi, tapi Cui Tong seperti diburu-buru waktu, dia telah memberitahu kepada Sun Tiong lo bahwa kentongan pertama malam nanti, dia pergi akan meninggalkan tempat itu.

Namun dasar kanak kanak, Sun Tionglo bersikap agar Cui Tong mengajarkan semacam kepandaian dulu kepadanya, hal ini tentu saja amat menyusahkan Cui Tong, sebab kepandaian silat semacam apapun mustahil bisa dipelajari dalam waktu singkat.

Apalagi sejak majikannya menjumpai musibah, Cui Tong sudah menaruh perasaan benci terhadap ilmu silat, namun Sun Tiong lo yang masih polos ini adalah penolongnya, dia tak ingin mencelakai bocah itu, maka dia bertekad tak akan mengajarkan kepandaian apapun, walau hanya setengah jurus.

Akan tetapi Sun Tiong lo mendesak terus menerus, dalam keadaan apa boleh buat, akhirnya timbul suatu ingatan dalam benak Cui Tong, bulan enam adalah musim lalat berkembang biak, tibatiba saja ia menemukan sebuah cara yang baik menangkap lalat dan nyamuk.

Ia lantas memberitahukan kepada Sun Tiong lo agar memesan sepasang sumpit baja sepanjang dua depa pada tukang besi, dikatakan sumpit itu hendak dipakai untuk menjepit lalat dan nyamuk yang menjengkelkan itu.

Kemudian diapun memberitahukan bahwa kalau menjepit mesti menjepit kakinya, tak boleh menjepit sayap, harus menjepit ekor tak boleh menjepit kepala, jepitannya tak boleh mematikan, tapi juga tak bisa membiarkan dia terbang.

Andaikata orang dewasa yang mendengar cerita ini, mereka pasti akan tertawa kegelian, bahkan tahu kalau Cui Tong sedang menampik dengan menggunakan alasan tersebut.

Lain dengan Sun Tiong lo, dia menganggap permainan itu sangat menarik, maka dipelajarinya cara menangkap lalat dan nyamuk dengan seksama.

Maka sepeninggal Cui Tong, saban hari dia melatih diri menjepit lalat dan nyamuk dengan sumpit bajanya itu.

Orang kuno bilang.

Kucing buta bertemu tikus mampus.

Sun Tiona-lo yang saban hari melatih menyumpit, akhirnya malam itu ia berhasil juga menjepit seekor nyamuk sialan sampai mampus.

Melihat itu, Sun Tiong-lo tertawa kegembiraan, inilah tertawa yang pertama kalinya selama tujuh tahun terakhir ini.

Maka diapun menyumpit terus tiada hentinya, tahun demi tahun lewat dengan cepat.

Sekarang Sun Tiong lo sudah empat belas tahun, perawakannya lebih pendek, dibanding kan dengan anak sebayanya.

Bulan dua belas sudah berakhir dan permulaan tahunpun menjelang tiba, suatu hari Kwik Wangwee menitahkan pelayannya untuk memanggil Sun Tiong lo.

Rupanya dia menyampaikan kabar gembira, mulai bulan satu, Sun Tiong lo telah diangkat sebagai pembantu kasar dari Kwik Wangwee dengan gaji satu tail sebulan, soal makan, soal tempat tinggal dan soal membaca buku, Kwik Wangwee memberi kebebasan kepadanya.

Selain itu, Kwik Wangwee juga berkata pada Sun Tiong lo bahwa selama enam tahun Sun Tiong lo tak pernah keluar rumah, hal ini amat menggirangkan hati hartawan Kwik.

Maka menjelang tahun baru, dia memperkenankan Sun Tiong lo mengikuti pelayan tua nya untuk berjalan jalan ke ibu kota sambil sekalian berpesiar.

Kwik Wangwee membelikan pakaian baru untuk Sun Tiong lo selain memberi hadiah dua tail perak kepadanya, bahkan berpesan pada pelayan tuanya agar baik-baik menjaga keselamatan Sun Tiong lo.

Hari itu, berangkatlah Sun Tiong lo dan pelayan tua itu menuju ke ibu kota.

Rumah penginapan dimana mereka menginap adalah sebuah penginapan yang amat ramai, rumah penginapan itu milik Sah Hwe cu dengan merek Cuan-hok.

"Sah Hwe cu"

Adalah seorang lelaki bermuka burik yang cukup termashur namanya disana.

Sebelum pegawai tua berangkat dengan tugasnya, dia berpesan kepada Sah Hwe-cu agar mencarikan seorang pelayan yang jujur untuk menemani Sun Tiong-lo berjalan jalan.

Sah Hwe-cu segera menyanggupi dan mencari seorang pelayan yang bernama Pek Keh-hok untuk menemani Sun Tiong lo.

Setelah keluar dari rumah penginapan, Pek Keh-hok lantas berkata.

"Kau hendak berpesiar kemana saja ? Ke Thian-kau, atau Hoa keng, atau mengunjungi kuil..."

"Kita pergi ke perusahaan Pat tat piaukiok lebih dulu !"

Tukas Sun Tiong lo tiba-tiba. Mendengar jawaban tersebut, Pek Keh hok agak tertegun, kemudian serunya heran.

"Pat-tat piaukiok? Ada urusan apa kau hendak ke mana ?"

"Mencari orang, disana ada seorang teman ku!"

Pek Kehhok memperhatikan sekeliling tempat itu sekejap, ketika tidak menjumpai orang yang mencurigakan ia baru berbisik.

"Sudahlah, lebih baik jangan ke sana, dua hari belakangan ini Pat tat piaupiok sedang ketimpa persoalan, dengan susah payah kau datang ke ibu kota, bukan mencari kesenangan, buat apa ke tempat itu mencari gara gara ?"

Mengetahui kalau perusahaan Pat tat piaukiok terjadi peristiwa, Sun Tiong lo semakin bernafsu untuk pergi ke sana, dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Pek Keh hok mengajaknya ke depan jalan menuju ke perusahaan tersebut, sementara dia menunggu dimulut gang.

Tak lama kemudian sampailah mereka didepan mulut gang menuju ke kantor perusahaan Pat tat piaukiok, sambil menuding ke dalam gang itu, Pek Keh hok berkata.

"lni dia gangnya, aku tak ikut masuk, kau lihat disitu ada warung teh ? Nah aku menanti mu disana, harap kau jangan terlalu lama !"

Sun Tiong-lo mengiakan, dia lantas masuk kedalam gang itu seorang diri.

Gedung perusahaan Pat-tat-piaukiok terletak ditengah-tengah gang, pintu gerbang yang berwarna hitam terpentang lebar, dikedua sisi pintu terdapat palang kayu tempat kuda, sedang dekat pintu berdiri dua orang lelaki kekar.

-oo0dw0oo

Jilid KETIKA Sun Tiong-lo mendekati pintu gerbang, salah seorang penjaga itu sudah memperhatikannya dengan seksama, melihat dia naiki tangga batu, dengan cepat lelaki itu menghadang jalan perginya sambil menegur.

"Saudara cilik, ada urusar apa kau datang kemari ?"

"Mencari teman !"

Senyuman segera menghiasi wajah lelaki itu, tanyanya lagi.

"Kau mencari siapa ? saudara cilik, siapa pula namamu ?"

"Aku bernama Sun Tiong-lo, aku datang ke mari mencari Cui Tong, Cui piautau...!"

Empat orang lelaki penjaga pintu itu sama-sama tertegun, kemudian sambil menggeleng kan kepalanya mereka berkata.

"Mungkin kau keliru, disini hanya ada seorang Cui piautau, tapi tidak bernama Cui Tong."

"Dia mempunyai nama lain yang bernama Cui Cu-hoa!"

Cepat cepat Sun Tiong-lo menambahkan.

Kali ini dia benar, seorang lelaki segera masuk meninggalkan, mimpipun Cui Tong tidak menyangka kalau Sun Tiong-lo bakal datang mencarinya, mendengar laporan itu dia merasa agak malu, kemudian buru-buru keluar untuk menyambutnya.

Dalam ruang tamu, Cui Tong telah menyiapkan kata-kata yang akan mengakui kalau pada empat tahun berselang dia cuma ngako belo belaka dengan tujuan untuk meloloskan diri.

Siapa tahu, sebelum dia berbicara, Sun Tiong lo telah berkata lebih duluan.

"Cui piautau, kebetulan ada seorang pegawai Sun Wangwe datang kemari untuk menagih hutang, Wangwe suruh aku turut jalan jalan, maka aku sengaja datang menyambangimu sekalian mengucapkan terimakasih kepadamu."

Ucapan terimakasih tersebut membuat Cui Tong tertegun dan tak tahu bagaimana mesti menjawab. Terdengar Sun Tiong-lo berkata lebih jauh.

"Kepandaian yang kau ajarkan kepadaku untuk menjepit nyamuk dengan sumpit baja telah berhasil kukuasai, sekarang tak pernah meleset lagi jepitanku, mau yang hidup atau yang mati, ingin menjepit bagian yang mana, aku bisa melakukannya semua dengan tepat dan cepat !"

Menyinggung soal kepandaian "menjepit lalat dan nyamuk dengan sumpit baja"

Merah padam selembar wajah Cui Tong karena jengah tapi setelah mendengar semua perkataan itu, dia baru terbelalak dengan mulut melongo, untuk sesaat lamanya dia hanya berdiri termangu mangu tidak tahu apa yang musti dikatakan.

Ia sama sekali tak menduga kalau guraamya telah berhasil membuat Sun Tioag-lo menguasai suatu kepandaian yang luar biasa, mungkin inilah yang dikatakan orang sebagai baja yang diasah setiap haripun akhirnya menjadi jarum.

Dalam malu dan menyesalnya Cui tong lantas mengaku terus terang, akan tetapi Sun-tiong lo tetap merasa berterima kasih kcpadanya, bahkan menggunakan perumpamaan Han sin yang mendapat hinaan untuk membandingkan kejadian itu.

Semakin Sun-tiong-lo berkata begini, Cui tong merasa semakin tidak tenteram hatinya.

Diam-diam Cui-tong lantas bertekad, walau pun dibidang lain ia tak bisa menolong banyak, maka dia hendak menggunakan uang yang cukup untuK mengatur masa depan bocah yang pernah menolongnya itu.

Dia adalah seorang lelaki lurus yang berjiwa hangat, apa lagi tak lama kemudian dia akan menghadapi persoalan yang menyangkut mati hidupnya, dan dia mengerti lebih banyak kematian dari kehidupan bagi dirinya.

Oleh sebab itu selesai mendengar perkataan dati Sun Tiong lo itu, dia lantas memegang bahu bocah itu seraya berkata.

"Mari saudara cilik, kita berbincang bincang dalam kamarku saja !"

Tiba di halaman belakang. Sun Tiong lo men jumpai kamar Cui Tong sangat mewah, semewah kamar tidurnya Kwik Wan gwee, maka tanpa terasa dia lantas berseru.

"Tampaknya menjadi Sam lok piautau pun lumayan juga, mungkin gajimu dalam sebulan cukup besar?"

Cui Tong hanya tertawa, namun getir dihati.

Setelah ditolong oleh pengemis tua yang aneh didepan pintu Kuil Kwan ya hio di kota Tong ciu tempo hari, dengan sangu dua tahil perak pemberian sang pengemis, dia telah berangkai kembaii ke ibu kota.

Dia tahu, kawanan pen tahat itu sedang mencari jejaknya diseluruh penjuru dunia, maka ia gunakan nama Cui cu hoa, diapun menggabungkan diri dengan perusahaan Pat tat piaukiok.

Dia mulai menyembunyikan kepandaiannya dan bekerja sebagai seorang Tang cu jiu, tak sampai dua bulan kemudian, lo piautau telah mengetahui kalau dia pernah belajar silat, lagi pula orangnya ringan tangan dan jujur, maka diapun diangkat menjadi Sam lok piautau.

Tentu saja lo-piautau tidak akan mengetahui asal usulnya yang scsungguhnya, cuma semenjak saat ini, dia selalu disuruh turut berkelana dlam dunia persilatan.

Pada mulanya dia masih kuatir kalau sampai ketahuan musuh, tapi lama kelamaan dia baru mengendorkan kewaspadaannya, dia mengerti kedudukannya sebagai pegawai rendah suatu perusahaan pengawal barang telah dilindungi keselamatannya.

Tentu saja musuhnya tak akan menyangka kalau seorang pendekar besar yang punya nama besar dalam dunia persilatan ternyata sudi menjadi seorang Sam lok piautau.

Tapi jika peristiwa akan terjadi, siapapun tidak bisa menghalanginya, sewaktu mengikuti lo piautau melindungi barang kawalan, mereka telah bertemu dengan Gi pak ngo hou (lima-ekor harimau dari Gi pak) yang hendak membegal barang kawalan mereka diperkampungan keluarga Sik.

Pertarungan segera berlangsung, lo piautau harus melawan dengan dua orang, sedangkan lima orang piautau kelas dua yang harus berhadapan musuh yang lebih tangguh menjadi kocar kacir dibuatnya, mereka mesti melakukan perlawanan mati-matian.

Dengan kedudukan Cui Tong ketika itu, melindungi barang kawalan merupakan kewajibannya, tapi bukan tugasnya untuk bertarung melawan musuh, walaupun demikian ia tak bisa membiarkan rekannya terbunuh, diapun tidak dapat membiarkan kelima harimau itu membegal barang kawalannya.

Maka dengan sebilah golok dia lantas turun pula ke arena pertarungan kepandaian silat, yang dimilikinya waktu itu memang jauh lebih lihay dari musuhnya itu, di dalam waktu yang amat singkat dua musuhnya di babat dan tiga lainnya dilukai, dengan menderita kekalahan hcbat, musuh musuhnya itu segera kabur menyelamatkan diri.

Setelah peristiwa tersebut, lo-piautau hanya memandangnya dengan sinar mata berterima kasih tanpa mengucapkan apa apa, tapi sekembalinya ke dalam perusahaan, dia baru memanggilnya ke ruang dalam dan berbincang semalaman suntuk.

Sejak itulah dia menjadi congkoan dari perusahaan Pat-tat piaukiok, ia tak perlu mengawal barang lagi melainkan hanya persoalan dalam perusahaan, kedudukannya tentu saja jauh lebih tinggi daripada kedudukan seorang sam-lok piautau.

Tentu saja kejadian ini merimbulkan protes dari rekan rekannya dan mereka menganggap lo piautau pilih kasih, tapi lama kelamaan mereka baru tahu kalau dia punya penyakit lama yang bila menggunakan tenaga kelewat besar akan menimbulkan kematian, sejak itulah semua protes baru dihentikan ...

Empat tahun berselang ketika dia sedang berjalan malam, tanpa sengaja telah berjumpa dengan paman gurunya harimau kedua, ke tiga dan ke lima dari Gi-pak ngo hou yang di sebut orang persilatan sebagai pek jiu-hud (Buddha bertangan seratus) Mong hwesio.

Dalam suatu pertarungan sengit yang kemudian berlangsung, senjatanya kena dipukul jatuh oleh ilmu pek poh sin tan (sentilan sakti seratus langkah) dari Mong hwesio, yang mengakibatkan kakinya terbacok, itulah sebabnya dia lantas melarikan diri ke gedung hartawan Kwik dan bertemu dengan Sun Tiong Io.

Lima hari berselang, Gi pak ngo hou telah masuk keibu kota dan menggunakan peraturan dunia persilatan untuk menyambangi perusahaan pat tat piau kiok, namun mereka tidak masuk sebaliknya hanya meninggalkan sepucuk surat undangan.

Diatas kartu undangan itu tertera jelas sekali, bahwa pada bulan dua belas tanggal dua puluh tiga pada kentongan yang pertama itu nanti, diharapkan Sam lok piautau Ciu Ci hoa datang kekebun sayur keluarga Lau di utara kota untuk melangsungkan duel satu lawan satu.

Sedangkan kartu undangan itu ditanda tangani oleh Pek-jiu hud (Buddha bertangan seratus) Mong hweesio.

Mong hweesio menyampaikan tantangannya itu menurut peraturan dunia persilatan, sudah barang tentu Ciu-thong harus membalas tantangan tersebut, sebab dalam keadaan begini, bukan saja tak dapat mundur, bahkan mencari teman pun dianggap sesuatu yang memalukan.

Begitu kabar tersebut tersiar luas, belasan perusahaan pengawalan barang yang ada di ibu kota menjadi gempar.

Hal ini bukan dikarenakan kejadian macam itu jarang terjadi, melainkan karena pihak lawan bukannya menantang piautau yang bertanggung jawab atas perusahaan Pat-tat-piau-kiok, sebaliknya malahan menantang seorang Tangcu-jiu yang berpangkat rendah.

Maka keesokan harinya, para cong piautau dari kesepuluh perusahaan pengawalan barang itu berbondong bondong datang keperusaan Pat-tat piaukiok.

Lu lo piautau dari perusahaan pat tat piau kiok tentu saja tak dapat memberi keterangan apa adanya, maka dengan menggunakan kata "aku sendiripun tidak habis mengerti"

Untuk menjawab pertanyaan mereka, sudah barang tentu jawaban semacam ini sangat tidak memuaskan semua orang.

Mereka bersikeras untuk mengundang Ciu Tong untuk membicarakan persoalan ini, tapi semuanya ditampik oleh Lu lo piautau, maka akhirnya merekapun meninggalkan pesan sebelum berpamitan bahwa mereka akan setia kawan dan tak akan membiarkan Mong hweesio bertingkah semaunya sendiri.

Bahkan mereka memutuskan pada malam tanggal dua puluh tiga nanti akan hadir semua di kebun sayurnya keluarga Lau dikota Utara, kehadiran mereka bukan untuk membantu, tapi bila terdapat ketidak adilan mereka akan turut mencampurinya.

Dikala Ciu Tong sedang pusing tujuh keliling menghadapi persoalan ini, Sun Tiong lo yang tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi telah berkunjung datang, hal ini membuat Ciu Tong bertekat untuk membalas budi dari Sun Tiong lo tersebut.

Sambil menyodorkan secawan arak untuk Sun Tiong lo, dia lantas berkata.

"Saudara cilik, duduklah dahulu, aku hendak ke dalam sebentar untuk mengambil sedikit barang, dengan cepatnya aku akan datang kembali."

Sambil tertawa dia lantas beranjak pergi. Tak selang seperminum teh kemudian, dia muncul kembali sambil membawa sebuah bungkusan kecil, sambil meletakkan bungkusan itu kemeja, katanya.

"Saudara cilik, ada suatu hal aku ingin merepotkan dirimu, harap kau jangan menampiknya"

"Asal dapat kulakukan"

Sahut Sun Tiong lo cepat sambil membelalakkan matanya lebar-lebar. Cui Tong tertawa, katanya sambil menuding bungkusan kecil terbuat dari kulit itu.

"Soal ini pasii dapat kau lakukan"

"Harus kuberikan kepada siapakah bungkusan itu?"

Tanya Sun Tiong lo sambil memperhatikan sekejap bungkusan itu. Cui Tong segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Saudara cilik, aku harap kau suka menyimpan bungkusan kecilku ini selama berapa waktu, selewatnya bulan dua belas tanggal dua puluh tiga nanti, aku pasti akan mengambilnya kembali"

"Kenapa?"

Sun Tiong lo agak tidak mengerti. Cui Tong tertawa.

"Saudara cilik bersediakah kau untuk tidak banyak bertanya?"

Pintanya tiba-tiba.

"Baiklah,"

Ucap Sun Tiong lo kemudian sambil tertawa.

"aku tak akan banyak bertanya, cuma selewatnya bulan dua belas tanggal dua puluh lima mungkin aku sudah pulang ke Tong ciu, oleh sebab itu paling lambat tanggal dua puluh empat malam kau harus pergi mengambiInya, setuju?"

"Baik"

Sahut Cui Tong agak sedih.

"andaikata pada tanggal dua puluh empat aku belum datang juga, harap saudara cilik bersedia untuk membuka bungkusan itu, dari dalam kantung mana akan kau ketahui harus pergi kemana untuk mencariku."

"Kau hendak kemana sih?"

Tanya Sun Tiong lo keheranan. Cui Tong tertawa getir.

"Kita toh sudah berjanji tak akan saling bertanya?"

Tegurnya. Terpaksa Sun Tiong lo manggut-manggut.

"Baiklah, aku tinggal di sebuah rumah penginapan yang dibuka-oleh Sah Hwec-cu dengan begitu kau jadi tak perlu mencari aku kesana kemari..."

Cui Tong tertawa dan tidak berkata lagi. Mendadak Sun Tiong lo teringat kembali dengan apa yang diucapkannya oleh Pek Kek hok, dengan cepat tanyanya kembali.

"Bolehkah aku menanyakan soal yang lain?"

"Tentu saja boleh,"

Jawab Cui Tong sambil mengangguk.

"Silahkan saudara cilik bertanya apa saja yang kau ingin ketahui"

"Aku mendengar dari pelayannya Sah Hwee cu yarg mengatakan beberapa hari ini ada kerepotan yang lagi menimpa perusahaan Pat tat piaukiok, sebenarnya kesulitan macam apakah? Seandainya tidak serius..."

"Harap saudara cilik jangan mempercayai kata usil orang lain"

Cepat Ciu Tong menukas "perusahaan Pat tat piaukiok toh berada dalam keadaan baik-baik, dari mana datangnya kesulitan? Coba kau lihat masa keadaan kami disini bagai ditimpa kesulitan?"

Pengetahuan yang dimiliki oleh Sun Tiong lo memang amat kurang, apa lagi orangnya polos dan jujur, maka diapun manggut-manggut.

"Kalau memang tiada kesulitan, tentu saja lebih baik lagi, Nah, aku mohon pamit dulu pelayan penginapan itu-masih menungguku diluar sana ..."

"Aaah, hal ini mana boleh?"

Tukas Cui Tong segera.

"dimana ia sekarang? Biar kuutus orang unt.uk memberitahu kepadanya agar dia pulang duluan, kau musti bersantap siang dulu bersama kami, lalu berpesiar ke tempat-tempat yang indah sebelum pulang ke penginapan."

Semenjak kecil Sun Tiong lo sudah terbiasa hidup sengsara, entah menghadapi persoalan apapun, dia selalu turun tangan sendiri, maka begitu mendengar ucapan dari Cui Tong tersebut, ia berpikir sebentar lalu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Biar aku pergi sendiri,"

Katanya.

Tentu saja Cui Tong tak bisa tidak harus mengiringinya, dia menemani bocah itu untuk menemani bocah itu untuk menemui Pek Keh hok.

Terhadap Cui Tong, Pek Keh hok tampak menaruh rasa jeri, dia hanya mengiakan berulang kali, kemudian setelah berpesan agar Sun Tiong lo jangan pulang terlalu malam, cepat-cepat dia ngeloyor pergi dari tempat itu.

Setelah bersantap bersama dengan sayur dan hidangin yang lezat, Cui Tong menemani Sun Tiong lo berpesiar ke tempat-tempat yang berpemandangan indah, hal itu membuat bocah tersebut mendapat banyak pengetahuan tambahan, sekarang dia baru percaya, menempuh perjalanan selaksa li sesungguhnya jauh lebih unggul daripada membaca buku selaksa jilid.

Kemudian mereka makan malam bersama di luar, sebelum Cui Tong menghantarkannya pulang ke rumah penginapan.

Sepeninggalan Cui Tong, Pek Keh hok segera menggape ke arahnya dengan sembunyi-sembunyi, lalu seperti pencuri saja dia celingukan kesana kemari, menanti disana sudah tak ada orang, ia baru bertanya.

"Apakah piautau she Cui tadi bernama Cui Cu hoa?"

"Ehmm, memang dia, ada apa?"

Pek Keh hok segera menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya dengan cemas.

"Aduuuhh tuan kecilku... bukankah siang tadi sudah kukatan, perusahaan Pat tat piaukiok sedang menemui persoalan, kenapa kau..."

Belum habis dia berkata, dengan nada tak senang hati Sun Tiong lo telah menukas.

"Kau jangan sembarangan bicara, hal ini telah kutanyakan pada Cui piautau, dia bilang perusahaan Pat tat piaukiok sama sekali tidak menjumpai kesulitan apa-apa!"

"Siauya ku yang bodoh,"

Ujar Pek keh hok sambil tertawa geli.

"yang bakal menjumpai persoalan dan kesulitan adalah Ciu piautaulah sendiri, kalau kau tanyakan hal ini langsung padanya, mana dia mau mengaku?"

Sun Tiong lo menjadi tertegun.

"Benarkah perkataanmu?"

Serunya kemudian, Pek keh hok pikir sebentar, dan berkata.

"Mari, ikutilah aku, kebetulan ciangkwe kami tak keluar di rumah, mari kita berbincang dalam kamar kasir sana dan mengenai soal betul atau tidak, boleh kau tanyakan kepada Sah ciangkwee nanti!"

Tentu saja Sun Tioug lo tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dalam kamar kasir dia lantas menanyakan persoalan ini kepada Sah Hwee cu, ternyata sah Hwee cu mengakui akan kebenaran ucapan Pek Keh hok, kesulitan itu memang terletak pada diri Cui Tong.

Mendengar hal itu, Sun Tiong lo menjadi sangat keheranan, katanya kemudian.

"Sah ciangkwee, mengapa Cui piautiu membohongi aku ? Malah dia minta kepadaku untuk menjagakan sebuah bungkusan kecil miliknya, mengapa dia berbuat begitu ?"

Sah hweecu adalah orang kawakan dalam dunia persilatan, dengan terharu sahutnya.

"Siau lote, sederhana sekali parsoalan ini, Pek jiu hud (Buddha bertangan seratus) Mong hweesio termasuk seorang jago kenamaan daiam dunia persilatan, ia bisa menantang Cui piauiau berarti kalau mereka ada ikatan dendam."

Belum habis perkataan itu diutarakan, Sun Tiong lo telah bertanya kembali.

"Aku ingin tahu, mengapa dia mesti membohongi aku ?"

"Oooh... mungkin dia tak ingin kau ikut menguatirkan keselamatannya karena kau datang untuk menengoknya, maka kecuali membohongi dirimu, apa lagi yang bisa dia katakan? Tentang bungkusan kulit kecil itu.."

"Aaah, sekarang aku sudah mengerti"

Kembali Sun Tiong lo menukas, aku ingin pula menanyakan satu hal kepada Sah ciang kwee, dimanakah Mong hweesio mengajak Cui piautau untuk berduel dan kapan waktunya ?"

"Sudah hampir, kentongan pertama tanggal dua puluh tiga, tempatnya di Kebun sayur keluarga Lau di utara kota !"

Sun Tiong lo tidak banyak bertanya lagi, setelah mengucapkan terima kasih, dia lantas kembali ke kamar tidurnya. Keesokan harinya pagi sekali pegawai Kwik Wangwee telah membangunkannya sambil berseru.

"Sun Tiong lo, bangun, cepat bangun, aku ada persoalan yang hendak disampaikan kepada mu."

Padahal Sun Tiong lo sudah bangun, sejak kentongan kelima dia sudah bangun untuk bersemedi maka ketika pegawainya Kwik Wangwee membangunkan dia, ia lantas pergunakan kesempatan itu untuk melompat bangun dari atas pembaringan.

Tidak menanti bocah itu bertanya, sang pegawai sudah berkata lebih lanjut.

"Hari ini aku harus berangkat ke Yong teng bun untuk menagih hutang, mungkin malam ini ia tak akan kembali, maka aku hendak menasehatimu dengan beberapa kata, Sah ciangwee telah berkata kepadaku, kata kau amat menaruh perhatian terhadap kesulitan yang menimpa orang she Ciu dari perusahaan Pat tat piaukiok"

"Yaa, dia adalah temanku"

Tukas Sun Tiong lo dengan cepat. Dengan kening berkerut pegawai itu segera berkata.

"Aku tak punya waktu untuk bertanya kepada mu dimanakah kau berkenalan dengan orang ini, tapi aku harus memberitahukan kepadamu, persoalan ini lebih baik jangan kau urusi, dari pada mendatangkan bencana bagi kita sendiri!"

"Tak usah kuatir, walaupun umurku baru empat belas tahun, aku cukup mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, lebih baik kau urusi pekerjaanmu saja, aku hanya berniat-untuk menyambangi teman saja, kini teman sudah kusambangi, maka urusan juga telah selesai"

Pegawai itupun menjadi berlega hati, katanya kemudian sambil tertawa.

"Kalau memang begitu, yaa sudahlah, akupun berlega hati, kita sampai bersua lagi esok pagi."

Setelah pegawai itu pergi, Sun Tiong-lo segera melompat turun dari atas pembaringan selesai membersihkan muka, dia iseng-iseng berjalan-jalan meninggalkan rumah penginapan.

Di seberang jalan sana itu terdapat penjual wedang tahu, diapun masuk kedalam warung dan memesan separuh mangkuk wedang tahu serta beberapa biji ta-kwe, tujuannya tentu saja bukan ingin minum wedang, melainkan hendak menghindari Pek keh hok, si pelayan penginapan itu.

Benar juga, tak lama kemudian Pek keh hok munculkan diri dari balik pintu penginapan, ketika dilihatnya Sun Tiong lo sedang minum wedang tahu, dengan hati yang lega diapun masuk kembali.

Menggunakan kesempatan inilah Sun Tiong lo segera membayar rekening dan cepat-cepat kabur kedalam sebuah gang sempit, kemudian dalam beberapa kali membelok saja, bayangan tubuhnya lenyapkan diri.

Penginapan milik Sah Hwee cu itu terletak di daerah penggilingan tahu tidak jauh dari sana adalah toko penjual pisau dan gunting milik To Ma cu yang tersohor untuk diwilayah itu, diseberangnya adalah toko nenjual obat milik Ong Ma cu itulah dia pergi.

Tak lama kemudian, dia sudah muncul kembali dari toko itu dengan wajah berseri, dari seorang pejalan kaki yang dijumpainya dijalan ia menanyakan arah menuju ke kebon sayur keluarga Lau diutara, kemudian selangkah demi selangkah dia berangkat kesana.

Sepanjang tengah hari, dia hanya berkeliling diseputar kebon sayur dari keluarga Lau baik gang kecil, jalan sempit maupun lorong kecil, dilewatinya sampai hapal betul, kemudian dengan perasaan lega ia baru kembali ke kota.

Dalam anggapannya dia telah bertindak sangat berhati-hati, siapa tahu sejak dari kota, semua gerak-geriknya tak pernah lolos dari pengawasan seseorang yang mengamatinya terus dengan seksama, tentu saja bocah itu sama sekali tidak mengetahuinya.

Menanti dia telah pergi jauh, dari balik sebuah gang dibelakang kebnn sayur muncul sesosok bayangan manusia, memandang hingga bayangan punggungnya yang kecil lenyap dari pandangan, orang itu manggut-manggut sambil tertawa.

Sambil tertawa orang itupun pelan-pelan maju ke muka, sambil berjalan gumamnya.

"Sungguh menarik hati, persis seperti aku waktu muda dulu, mana hatinya baik, setia kawan juga ringan tangan, tapi aku ingin memperhatikan lebih lanjut, kepandaian apa saja yang telah diwariskan pengemis tua kepadamu!"

Kemudian bayangan orang itupun lenyap dari pandangan, tampaknya ia sedang mengejar diri Sun Tiong lo.

Perjalanan kembali Sun Tiong lo tidak dilakukan terlampau terburu napsu, selewatnya jembatan Pak hoo kiau, jumlah orang lewat semakin ramai, diapun masuk ke dalam sebuah warung makan kecil di tepi jalan.

Warung itu memakai merk "Kau po li", yang khusus menjual bakpao dan bubur.

Ketika Sun Tiong lo melangkah masuk ke-dalam warung ini, mendadak tergerak hatinya, dengan cepat dia berpaling tampak seorang manusia berbaju biru tiba tiba melintas dari belakang punggungnya.

Sun Tiong lo tidak banyak curiga, diapun enggan untuk banyak berpikir, dengan langkah yang santai dia masuk ke warung dan mencari tempat duduk.

Belum lama ia duduk, mendadak dia rasakan orang berbaju biru itu seperti amat di kenal olehnya, dengan cepat dia memburu keluar pintu, namun orang itu sudah lenyap tidak berbekas, akhirnya dengan kening berkerut dia berjalan balik ke tempat semula.

Setelah bersantap kenyang, dengan perasaan hati yang riang dia menelusuri sebuah jalan yang lurus menuju jalan kearah yang lain, tapi buru saja menembusi sebuah gang sempit tiba-tiba jalan perginya dihadang oleh seseorang.

Ketika ia mendongakkan kepala maka tampak orang itu adalah lelaki berusia tiga puluh lima enam tahunan yang berwajah jelek, berpakaian ringkas dan bersepatu kulit, dalam sekilas pandangan saja dapat diketahui kalau dia adalah seorang jago dalam dunia persilatan.

Terdengar lelaki itu menegur sambil tertawa seram.

"Saudara cilik. kau datang dari mana?"

Sun Tiong lo tidak terbiasa berbohong, apa lagi dengan usianya sekarang di tambah pula dengan pengalamannya yang masih terlampau dangkal, sulit baginya untuk mengenali watak manusia,itulah sebabnya dia lantas menjawab dengan sejujurnya.

"Aku datang dari kota Tong-ciu!"

"Ooh... apakah kau punya rumah di ibu kota?"

Kembali lelaki itu bertanya. Sun Tiong lo segera menggelengkan kepala berulang kali.

"Tidak ada"

Sahutnya.

"aku datang kemari karena mengikuti pegawai yang sedang menagih rekening, sekarang tinggal dirumah penginapannya Sah Hwee Cu"

Lelaki itu segera tertawa lebar.

"Apakah di ibu kota kau punya teman akrab?"

Kembali tanyanya.

Baiu saja Sun Tiong lo akan menjawab secara jujur, mendadak dia teringat lagi dengan kesulitan yang sedang dihadapi Cui Tong.

Dengan cepat kata-kata yang sudah hampir meluncur, keluar itu ditelan kembali, kemudian kepalanya digelengkan berulang kali.

"Tidak ada!"

Katanya. Kontan saja lelaki itu tertawa dingin.

"Heeeeh... heeh... heeehhh, anak masih muda sudah tidak jujur, hmm ! Dengan mata kepala sendiri locu menyaksikan kau berjalan bersama dengan keparat she Cui dari perusahaan Pat-tat piaukiok, yaa makan bersama yaa berpesiar, gembiranya bukan kepalang, masa kalian bukan sahabat karib ?"

Tujuan yang diharapkan Sun Tiong lo akhirnya kesampaian juga, maka setelah menyadari siapa lawannya, dengan tenang tanpa gugup barang sedikitpun juga dia berkata.

"Seandainya aku betul-betul bisa mempunyai seorang teman seperti dia, pasti gembira sekali hatiku, buat apa aku mesti hidup sebagai pengawal rendahan lagi dirumah orang ? Hidup senang macam begitu kan bukan sesuatu dosa besar ?"

"Hmm ! Kalau bukan teman, kenapa dia menemanimu minum, makan dan berpesiar ?"

"Ketika berada dikota Tiong ciu tempo hari, dia telah kehilangan sebuah benda miliknya, kebetulan akulah yang menemukan benda itu dan menanti hampir setengah harian disana, ketika ia mencari barangnya kesitu, aku lari dan mengembalikannya, oleh karena itu..."

Belum lagi ucapan tersebut habis diucapkan dari belakang tubuh Sun Tiong lo kembali berkumandang suara gelak tertawa yang keras.

Padahal sejak tadi Sun Tiong lo sudah tahu kalau ada tiga orang manusia yang berdiri di belakangnya, hanya saja dia berpura-pura tidak tahu.

Setelah pihak lawan tertawa, dia baru ber paling.

Apa yang dilihatnya ?

seorang hweesio tinggi besar yang berwajah buas telah berdiri di belakangnya, dikedua sisi hweesio tadi berdiri dua orang lelaki berbaju ringkas.

Sun Tiong lo segera menyadari dengan siapa dia berhadapan muka, rupanya ia telah bertemu dengan Mong hweesio serta tiga dari harimau harimau Gipak.

Setelah berhenti tertawa, hweesio itu baru menegur kepada lelaki yang menanyai SunTiong lo tadi .

"Hai, jangan kau takut-takuti seorang bocah cilik, hayo kita pergi !"

Selesai berkata, hweesio itu lantas beranjak pergi lebih duiu, sementara tiga orang lelaki lainnya mengikuti dibelakangnya.

Diam-diam Sun tiong lo tertawa geli, setelah menjulurkan lidahnya, dengan hati yang bangga diapun kembali kerumah penginapan.

Belum lama dia berlalu dari situ, dari balik gang sempit tadi muncul kembali seorang berbaju biru tak salah lagi dia adalah seorang yang telah menampakkan diri di kebun sayur keluarga Lau tadi.

Sambil tersenyum kembali orang itu bergumam.

"Benar-benar seorang bocah yang nakal !"

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

"Huuh, hweesio buat apaan ? Hakekatnya dia cuma seorang hweesio buta belaka !"

"Blaam, blaam, blaaamm!"

Bunyi petasan bergema memekakkan telinga, Tiap rumah, setiap keluarga sedang bermain petasan dengan riang gembira.

Hari ini adalah saat dewa dapur naik kelangit, hari ini diangap hari baik maka semua orang ikut merayakannya.

Pegawai tua yang ditugaskan Kwik Wangwee untuk menagih rekening telah selesai dengan tugasnya, sebenarnya paling tidak ia mesti bekerja selama dua hari lagi sebelum selesai seluruhnya, tapi Sah Hweecu telah membantu pekerjaannya, maka tengah hari tanggal dua puluh dua, semua hutang telah berhasil ditagih.

Sah Hwee cu adalah seorang lelaki bujangan, dalam matanya tak pernah kemasukan pasir, bagaimanapun dia memandang, terasa olehnya kalau Sun Tiong lo bukan bocah sembarangan, dia agak aneh.

Cuma saja, sejeli-jelinya mata Sah Hwee-cu, dia hanya sempat melihat keanehan Sun Tiong lo, namun tidak diketahui olehnya dimanakah letak keanehan Sun Tiong lo tersebut.

Dengan amat hati hati dan cermat, secara diam diam ia merundingkan hal ini dengan sang pegawai tua itu, dia akan membantunya menagih hutang, dengan begitu pada tanggal dua tiga nanti, Sun Tiong lo pasti sudah tiba dikota Tiong ciu.

Menurut perkiraan Sah Hwee cu, seandainya hal ini tidak dilakukan maka Sun Tiong lo pasti hadir dikebun sayur keluarga Lau pada malam tanggal dua puluh tiga nanti, seandai nya sampai terjadi hal-hal yang tak diinginkan atau mendapat kesulitan, semua pihak pasti akan terkena getahnya pula.

Pegawai tua itu lebih takut urusan, tentu saja diapun ingin cepat cepat pulang ke Tiong ciu, maka pada tanggal dua puluh tiga pagi-pagi dia telah menitahkan kepada Pek Kek hok untuk membuka rekening, dia hendak mengajak Sun Tiong lo kembali ke Tiong ciu.

Kejadian aneh didunia ini memang aneh, ketika Pek Keh hok selesai membuat rekening, dia berkata kepada pegawai itu bahwa dikamar nomor tiga diloteng barat ada seorang tamu yang mengatakan kenal dengan kau, dia suruh aku menyampaikan sepucuk surat.

Setelah membaca surat itu, sang pegawai tua itu menjadi bodoh, tanpa banyak berbicara dia menyimpan surat itu baik-baik, kemudian memanggil Pek Keh-hok dan mengatakan kalau hari ini tidak jadi berangkat.

Tatkala Sah Hwee-cu mendapat laporan dari Pek Keh hok, diam-diam dia lantas memanggil pegawai itu sambil bertanya.

"Hei, apa yang telah terjadi? Kenapa kau batalkan rencanamu ?"

Pegawai tua itu tidak menjelaskan apa-apa selain tertawa getir. Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Sah Hwee-ciu berkata.

"Mau pulang atau tidak bukan urusanku, toh aku sudah berusaha dengan segala kemampuan ku, seandainya sampai terjadi peristiwa, sampai waktunya nanti jangan salahkan kalau Sah Hwce ciu kurang setia kawan !"

Pegawai tua itu masih juga tidak berbicara, dia hanya tertawa getir belaka.

Sikap Sun Tiong lo pada hari inipun istimewa sekali, setelah bersantap siang dia lantas tidur, tidur sampai matahari tenggelam dilangit barat, setelah bangun, dia membersihkan muka lalu sambil mengambil secarik kertas berlalu dari situ.

Pegawai tua itupun tidak bertanya walau sepatah katapun, namun dia mengerti kemana kah bocah itu akan pergi.

Belum lama Sun Tiong lo pergi, pintu kamar telah dibuka orang, lalu terdengar orang itu bertanya kepada sipegawai tua.

"Dia sudah berangkat !"

"Ya, sudah, sudah beranr.kat, baru saja berangkat", jawab pegawai tua itu gugup. Orang itu mengiakan, kemudian membalikkan badan dan pergi. wajahnya tidak jelas, hanya tampak bajunya yang berwarna biru berkelebat lewat kemudian lenyap dari pandangan. -ooo0dw0oooKEBUN Sayur keluarga Lau berubah menjadi terang benderang pada malam ini. Ratusan batang obor dan ratusan lentera merubah kebun sayur keluarga Lau yang berhektar-hektar luasnya itu terang benderang bagaikan disiang hari saja. Kalau dihari-hari biasa tempat itu begitu sepi sampai setanpun enggan masuk, maka pada malam ini penuh dengan kepala manusia. Kalau kau ingin menghitung jumlah yang hadir, maka tak akan terhitung jelas, sebab paling tidak mencapai ribuan. Disebelah timur tersedia dua baris bangku, pada belakang barisan bangku itu terpasang sepuluh buah lentera besar, pada bangku barisan depan duduklah Cui Tong yang ditantang orang, Lu lo piautau serta rekan rekan lainnya dari perusahaan Pat tat piaukiok. Sedangkan pada bangku barisan belakang duduklah para piautau dari sepuluh perusahaan pengawalan barang terbesar di ibu kota. Pada bagian barat pun keadaannya sama, walaupun bangkunya terbagi menjadi dua baris pula, namun hanya terdiri dari enam bangku, didepan hanya sebuah yang ditempati si hwee sio berwajah bengis, sedangkan dibelakangnya ada lima yang ditempati Gi pak ngo hou. Sedangkan para penonton keramaian pada berdiri semua, berdiri jauh jauh, setiap orang tahu kalau pertarungan yang akan berlangsung pada malam ini bakal seru, maka siapapun tak mau mengambil resiko kejatuhan sial pada malam itu. Ketika kentongan pertama telah tiba, Cui-Tong segera bangkit berdiri, lalu menjura kepada Mong hwesio yang duduk pada dua-tiga puluh kaki dihadapannya itu. Ia menjura pula kepada para piautau yang ada dibelakangnya, setelah iiu dengan lantang dia berkata.

"Cui Cu hoa datang memenuhi janji. harap Mong hwesio bersedia untuk tampil kedepan!"

Sambil tertawa seram Mong hwesio bangkit berdiri, lalu ejeknya dengan sinis.

"Cui piautau, banyak benar pembantumu!"

Cui Tong segera mendengus dingin, serunya.

"Sobat, kau jangan salah melihat, sudah lama aku orang she Cui hidup di ibu kota, maka ketika aku menghadapi persoalan, tak bisa kubendung perhatian rekan-rekanku atas diriku, mereka bukan datang membantu, tapi hanya hanya ingin menyampaikan perhatian belaka"

"Kalau begitu, hanya kau seorang yang akan menyambut tantanganku?"

Seru Mong hwesio sambil melotot buas.

"Benar, aku seorang yang akan menjajal kehebatan Mong hwesio serta Gi pak ngo hou!"

"Kelima orang keponakan/muridku yang tak becus itu sudah lama menjadi panglima panglima yang kalah perang ditanganmu, aku rasa merekapun tak usah lagi bertarung lagi denganmu, malam ini biar Hud ya dan kau berdua saja yang melangsungkan pertarungan ini!"

"Bagus, baru begitulah sikap seorang enghiong!"

Puji Cui Tong sambil mengacungkan ibu jarinya. Sementara itu, Lu lo piautau telah bangkit berdiri, lalu serunya dengan suara lantang.

"Mong hwesio, Pat tat piaukiok adalah perusahaan aku orang she Lu, bila kau hendak membalas dendam, sudah sepantasnya kalau kau datang mencari aku orang she Lu!"

Mong hwesio segera tertawa seram.

"Heehh ...heehh... heehh ... tak usah terburu nafsu, setelah membereskan orang she Cui nanti, akan tiba pula giliranmu !"

Ho Ceng wan, piautau dari perusahaan Ceng wan piaukiok segera bangkit berdiri puIa, setelah menjura kepada Mong hwesio katanya.

"Ada satu hal aku orang she Hoo tidak habis mengerti, harap taysu suka memberi penjelasan."

Mong hwesio memandang sekejap wajah Ho Ceng wan, kemudian katanya.

"Silahkan kau utarakan !"

"Dunia persilatan mempunyai peraturan dunia persilaian, perusahaan ekspedisi mempunyai pula peraturan dari perusahaan ekspedisi, Cui piautau tak lebih hanya seorang pelindung barang kawalan belaka, hwesio gede, sudah sepantasnya kalau kau langsung mencari balas kepada Lu piautau sebagai pemilik perusahaan."

"Ucapanmu memang benar, seandainya waktu itu Cui Cu-hoa melindungi barang kawalan dengan pangkat piautau kelas dua, hari ini aku si hweesio tak akan mencarinya, tapi dia muncul sebagai seorang Piautau kelas tiga yang sebenarnya merupakan kedudukan seorang suruhan rendah, itu berarti dia ada maksud untuk menyembunyikan kepandaiannya, hal mana merupakan suatu pelanggaran terhadap peraturan perusahaan ekepedisi, itulah sebabnya aku si hweesio akan membuat perhitungan lebih dahulu dengan dirinya...!"

Setelah mendengar perkataan itu, Ho Ceng wan menjadi terbungkam dan tak sanggup berkata lagi. Pui Tin, lo piatau dari perusahaan Pathong piaukiok segera bangkit berdiri sambil berseru.

"Toa hweesio, teguranmu itu memang benar, tapi bolehkah kami menanyakan dahulu persoalan ini sampai jelas?"

Belum sempat Mong hwesio menjawab, Cui Tong telah menukas terlebih dahuIu.

"Mong hwesio, sebelum kau tahu duduknya persoalan, janganlah menghina karakterku terlebih dulu, karena harus menghindari musuh besar maka aku orang she Cui harus hidup tersembunyi dalam perusahaan Pat tat piaukiok, itulah sebabnya Lu lopiautau sendiripun tak tahu kalau ada orang she Cui sebetulnya tahu ilmusilat, ketika Gi pak ngo hou membegal barang kawalan, aku orang she Cui tak bisa membiarkan mereka membunuhi rekan-rekan ku, itulah sebabnya aku menjadi terpaksa untuk turun-tangan menolong mereka..."

Belum habis dia berkata, Mong hwesio telah tertawa terbahak-bahak, tukasnya.

"Cui Cu-hoa, sekarang Hud ya tak dapat membiarkan kau banyak berbicara lagi"

"Mong hwesio"

Bentak Cui Tong.

""aku orang she Cui menerangkan segala sesuatu alasanku bukan dikarenakan aku merasa takut untuk bertempur melawanmu, melainkan hanya ingin menerangkan duduk persoalan yang sebenarnya saja, sehingga semua kecurigaan bisa dihilangkan."

"Kalau memang begitu bagus sekali"

Kata Mong hwesio sambil tertawa.

"sekarang semua persoalan kau jelaskan sampai terang, kentongan pertamapun sudah lewat, kita jangan biarkan teman-teman yang menonton keramaian di empat penjuru arena ini menanti terlalu lama lagi, bagaimana jika sekarang juga kita langsungkan pertarungan tersebut..?"

"Memang itulah yang aku orang she Cui inginkan!"

"Orang yang menyebar surat undangan untuk menantangmu berduel adalah aku sendiri maka kita akan bertarung pula dengan mempergunakan peraturan dunia persilatan yang berlaku, sebelum mati hidup ditentukan pertarungan ini tak boleh diakhiri!"

Cui Tong segera tertawa nyaring.

"Aku orang she Cui bersedia untuk mengalah dengan kau yang melancarkan serangan lebih dulu serta menentukan acara penarungan.!"

"Cui Cu hoa, sungguhkah perkataanmu itu?"

Tanya Mong Hwesio dengan kening berkerut.

"Aku berbicara dengan sejujurnya !"

Tanpa terasa Mong hwesio mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak bahak.."Haaahh ..haahn ...

haahh ..

, baik!

Kalau toh kau begitu berjiwa besar, Hud ya juga tak akan sungkan sungkan lagi.

Dengarkan baik-baik, kau boleh berdiri saja disitu, Hud ya dengan mempergunakan sepuluh biji peluru besi ku untuk menyerangmu, asal kau bisa menghindarkan diri dari kesepuluh buah seranganku itu, Hud ya segera akan mengajak keponakan muridku untuk mengundurkan diri dari sini dan mulai saat sekarang ini nama kami akan terhapus dari dunia persilatan, sedang persoalan diantara kitapun dapat dihapus sama sekali!"

Sebagaimana diketahui, Mong hwesio disebut orang sebagai Pek jiu hud atau Buddha bertangan seratus, ilmu peluru bajanya yang tak pernah meleset dalam seratus langkah dibidikkan lewat sebuah busur berpegas tinggi yang sangat lihay.

Sejak terjun ke dalam dunia persilatan, belum pernah ada orang yang bisa me loloskan diri dari ke sebuah biji peluru bajanya itu.

Tapi Cui Tong telah bertekad untuk menghadapinya kini, maka segera jawabnya.

"Baik, kita tentukan dengan sepatah kata !"

"Kau boleh saja menghadapi seranganku itu dengan mempergunakan senjata tajam !"

Kembali Mong hwesio berkata.

"Tak usah dengan senjata, akan kuhadapi dengan tangan kosong belaka..."

Kini kesemuanya sudah diputuskan, maka semua orang yang berada tiga sampai lima kaki disekeliling Cui Tong bersama-sama menyingkir ketempat lain, tentu saja mereka berusaha untuk menghindarkan diri dari tempat berbahaya yang kemungkinan bakal kejatuhan peluru baja lawan.

"Cu-hoa!"

Lu lo-piautau segera berbisik.

"lebih baik kau menggunakan senjata tajam saja, paling tidak hal ini jauh lebih baik." -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Bab Kedua Puluh Satu. CUI TONG menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya dengan berbisik pula.

"Tak usah menggunakan senjata tajam, paling tidak hal ini bisa menghindari mencelatnya peluru lawan yang akan melukai orang di sekeliling tempat ini !"

Sikap semacam ini sungguh merupakan sikap yang bijaksana sekali, apa yang dikatakan Cui Tong memang betul, andaikata dia harus menghadapi serangan peluru baja itu dengan mempergunakan senjata tajam, maka akibatnya besar kemungkinan peluru baja itu akan mencelat kemana mana, hal mana tidak menjamin keselamatan orang yang berada disekelilingnya.

Sambil menggigit bibir kembali Lu lopiau-tau berkata.

"Cuihoa ingat baik-baik, aku lebih rela menghapus nama Pat-tat piaukiok dari dalam dunia persilatan, daripada membiarkan kau celaka ditangannya . ."

Cui Tong segera tertawa setelah mendengar perkataan itu.

"Cinta kasihmu itu sungguh membuat Cui Cu hoa merasa amat berterima kasih sekali, cuma selama hayat masih dikandung badan, aku lebih suka mati daripada namaku terhina !"

Dalam pada itu Mong hwesio telah berseru dengan lantang.

"Hei, sudah selesaikan perkataanmu itu?"

"Kau boleh segera melancarkan serangan!"

Jawab Cui Tong dengan cepat. Kembali Mong hwesio tertawa, katanya.

"Terus terang saja kukatakan kepadamu, ke sepuluh butir peluru saktiku ini terbuat dari semacam benda yang penuh dengan duri tajam, sapa terkena dia bakal terluka parah, oleh sebab itu aku harap kau suka berhati hati dalam menghadapinya nanti!"

"Terima kasih banyak atas petunjukmu itu sekarang silahkan kau lancarkan serangan dengan peluru peluru bajamu itu!"

Mong hwesio mengiakan, dari punggungnya dia lantas melepaskan gendewa saktinya, kemudian mengarahkan moncong busur itu lalu ke arah Cui Tong dan siap melepaskan serangan.

Pada saat itulah, tiba tiba terdengar seseorang berseru dengan suara lantang.

"Hei hwesio, tunggu sebentar!"

Mong hwesio segera membatalkan kembali serangannya, sedang semua jago di sekeliling tempat itupun bersama-sama mengalih perhatiannya kearah mana berasalnya suara itu.

Lebih kurang lima kaki di belakang Cui-Tong, tahu tahu telah muncul seorang bocah berwajah tampan.

Tidak disangkal lagi, orang itu tidak Iain adalah Sun Tiong lo adanya.

Gi-pak-ngo-hou pun dapat melihat jelas tentang kemunculannya itu, kepada Mong hweesio, mereka segera berseru .

"Susiok, ternyata bocah keparat itu benar-benar adalah temannya Cui Cu hoa !"

Dengan suara lantang Mong hweesio segera membentak.

"Hanya seorang bocah ingusan yang masih berbau tetek, ada pula yang bisa dia lakukan?"

Sementara itu Ciu Tong sudah memburu ke hadapan bocah itu dengan langkah lebar, kemudian dengan gelisah serunya.

"Saudara cilik, mau apa kau datang kemari? Hayo cepat menyingkirlah kesamping sana !"

Sun Tiong lo segera menggelengkan kepala nya berulang kali, dari dalam sakunya dia mengeluarkan bungkusan kulit kecil itu, kemudian sambil diangsurkan kedepan katanya.

"Aku hendak mengembalikan bungkusan ini kepadamu, aku tak dapat menyimpan lagi untukmu !"

Cui Tong masih ingin berkata lagi, namun Sun Tiong lo sudah tidak menggubrisnya lagi, selangkah demi selangkah dia berjalan menghampiri Mong hweesio.

Setelah berada diantara Cui Tong dengan Mong hweesio, bocah itu baru berhenti dan berdiri tegak disitu.

Mong hweesio yang menyaksikan kejadian itu segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, sambil menuding kearah Sun Tiong-lo tegurnya dengan suara dalam.

"Ada urusan apa kau datang kemari ?"

"Aku datang untuk membuat perhitungan dengan kalian!"

Jawab Sun Tiong-lo dengan suara dingin. Jawaban ini sangat mencengangkan Mong hweesio, dia sampai tertegun dibuatnya.

"Perhitungan apa yang kau maksudkan?"

Sun Tiong lo segera mendengus dingin.

"Hmm... masih ingatkah kau pada suatu tengah hari, kau dan Ngou hou telah menghadang diriku di sudut gang sempit dan membentak-bentak diriku?"

Mong hwesio mengangguk.

"Yaa, tentu saja aku masih ingat!"

"Kalau masih ingat, ini lebih baik lagi, kalian tentunya menganggap aku seorang bocah, maka gampang dianiaya dan dipermainkan, padahal hatiku waktu itu sedang gembira dan maka aku hanya berdiam diri belaka, lain, dengan perasaan hatiku yang kurang gembira sekarang, itulah sebabnya sengaja aku datang kemari untuk ini membuat perhitungan dengan kalian ini..."

Mong hwesio menjadi geli sekali setelah mendengar perkataan itu, lalu katanya.

"Baik, baik, aku akan minta maaf kepadamu nah tentunya boleh bukan....?"

Siapa tahu kembali Sun Tiong lo menggelengkan kepala berulang kali, katanya.

"Tak usah banyak bicara lagi, sekarang aku sedang menantang padamu untuk tarung lagi menurut peraturan dunia persilatan yang berlaku bila kamu mengaku kalah, maka kaupun tak bisa bertarung lagi melawan Cui piautau!"

Mong hwesio kembali menjadikan berdiri bodoh, akhirnya dengan perasaan apa boleh buat katanya.

"Lantas apa yang kau inginkan?"

"Sederhana sekali, kita harus melangsungkan pula suatu pertarungan yang adil!"

Tiba tiba Mong hwesio mendelik besar sekali, lalu teriaknya keras keras.

"Bocah cilik, aku tidak bermaksud menyelakai umat persilatan, sekalipun kau pergunakan cara semacam itu juga tak akan mampu untuk menyelamatkan Cui Cu hoa!"

Sun Tiong lo turut pula melototkan matanya buIat-bulat, serunya pula dengan lantang.

"Kau tak usah sembarangan berbicara lagi, aku datang kemari untuk membuat perhitungan dengan manusia yang bernama Cui Cu hoa sama sekali tak ada sangkut pautnya!"

"Kalau begitu, sekalipun aku tak ingin turun tanganpun juga tak bisa...?"

Kembali Mong hwesio melotot besar.

"Tentu saja!"

Jawab Sun Tiong lo manggut-2. Mong hwesio segera tertawa.

"Baiklah, kalau begitu coba kau terangkan dulu pertarungan apakah yang kau inginkan?"

"Tadi aku sempat pula mendengarkan pula cara pertarungan yang kau sampaikan kepada Ciu piautau, aku rasa cara itu sangat menarik sekali, maka aku pikir kita tak usah bertukar cara lagi!"

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, jeritan kaget dam gelak tertawa keras segera datang dari empat penjuru. Baru saja Mong hwesio akan berbicara lagi Sun Tiong lo telah menimbrung lebih dulu.

"Cuma saja, aku tak akan bersikap bijaksana seperti apa yang telah dikatakan oleh Ciu piautau tadi, kau punya peluru sakti, akupun memiliki permainan istimewa, aku akan menyambut milikmu dan kaupun boleh menyambut permainanku, siapa yang terluka dia pula yang akan menderita kalah!"

Mong hwesio tertegun, kemudian tanyanya.

"Apakah kaupun pernah melatih ilmu melepaskan senjata rahasia?"

"Kenapa? Kau memandang remeh diriku?"

Seru Sun Tiong lo sambil tertawa lebar.

"Benda apakah yang hendak kau gunakan?"

"Sampai waktunya saja baru kita bicarakan toh sekarang kau dahulu yang menyerang aku, kemudian baru aku yang menyerangmu, apa lagi benda permainanku itu bukan terbuat dari baja, jauh lebih lunak dari pada peluru bajamu itu, sehingga sekalipun sampai melukai dirimu juga tak sampai parah, tak usah kuatir."

Didengar dari kata itu, seakan pasti dapat melukai Mong hwesio saja....

Menghadapi kenyataan seperti ini Mong hwe sio benar benar merasa marah, mendongkol dan ingin tertawa, baru saja dia akan berkata Iagi, Sun Tiong lo telah melanjutkan kembali kata katanya.

"Kau pernah berkata, jangan biarkan penonton menunggu kelewat lama, sekarang ini pembicaraan kitapun selesai, maka silahkan kau melancarkan serangan lebih dahuIu, bila kau tak berani melancarkan serangan kembali akan kuanggap kalah dirimu!"

Mong hwesio mikir sebentar, dan kemudian sambil mendepak depakan kakinya ketanah dia menjawab.

"Baiklah, Hud ya akan menggunakan sepuluh biji peluru besi tanpa duri untuk menyerang separuh bagian tubuhmu bagian atas, nah berhati hatilah sekarang!"

"Hmmm ...! Cara pertarungan mesti sama seperti apa yang dibicarakan tadi, peluru bajapun tidak boleh diganti, kalau tidak berarti kau takut menghadapi permainanku!"

Mong hwesio benar benar terdesak sehingga apa boleh buat, dengan mengerutkan dahinya dia lantas berkata.

"Kau sendiri yang menginginkan demikian andaikata sampai terluka parah nanti, jangan kau menyalahkan Hud ya mu lagi!"

Sun Tiong lo tidak menggubris lawannya lagi, kepada kawanan manusia yang berada disekeliling arena, serunya.

"Aku tahu, semua orang tidak tega melihat aku benar benar akan turun tangan, maka aku merasa perlu untuk mengucapkan beberapa patah kata, Ketahuilah, meski peluru sakti dari Mong hwesio bisa menakut nakuti orang lain, bukan berarti bisa menakut nakuti diriku pula. Siapa saja yang berani mencampuri urusanku ini, masa aku akan membuat perhitungan pula dengan dirinya."

Begitu perkataan itu diucapkan, semua orang segera menutup mulutnya rapat rapat. Mong hwesio pun tidak sungkan sungkan lagi, sambil menuding ke arah Sun Tiong-lo katanya.

"Bocah cilik, sebutkan dahulu siapa namamu!"

"Aku bernama Sun Tiong lo !"

"Hmm .... mulai hari ini lebih baik kau pindah ke dalam peti mati saja.!"

Mendengar perkataan itu, Cui Tong merasa amat terkejut, tanpa terasa dia mengalihkan sinar matanya ke arah Sun Tiong-Io, maka tampaklah bocah itu sedang tertawa, ditangannya ketika itu membawa sepasang benda aneh yang berbentuk panjang.

Tatkala semua orang dapat melihat jelas macam apakah senjatanya itu, tak kuasa lagi mereka semua tertawa terbahak-bahak.

Kemudian terdengar ada yang berteriak keras.

"Sumpit! Haaahhh ... haahh . .. haahh ... senjata yang dipergunakan adalah sepasang sumpit!"

"Yaa, memang sepasang sumpit!"

Jawab Sun Tiong lo sambil tertawa.

"cuma sumpit ini bukan sembarangan sumpit, sumpit ini bukan sumpit bambu yang biasanya dipakai untuk bersan tap, inilah sumpit baja yang khusus dipakai untuk menyumpit peluru baja !"

Saking gusarnya paras muka Mong hwesio berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus, dengan suara dalam bentaknya keras-keras.

"Setan ciiik, hati hati kau!"

"Majulah, tidak usah banyak berbicara lagi, makin cepat serangan kau lancarkan, semakin baik pula bagimu!" -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***

Jilid 17 DENGAN mengerahkan tenaganya sebesar lima bagian, Mong hwesio segera melepaskan serangannya yang pertama, peluru sakti itu di arahkan ke atas pergelangan tangan kanan SunTionglo, Sesungguhnya Mong hwesio adalah seorang pendeta yang cukup bijaksana, dia enggan me lukai seorang bocah cilik.

Walaupun hanya disertakan tenaga sebesar lima bagian saja, namun peluru besi itu menyambar ke depan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, bahkan disertai pula suara desingan angin tajam yang amat memekikkan telinganya .

Menghadapi datangnya ancaman itu, Sun Tiong lo sama sekali tak memperhatikan dengan seksama bahkan bermaksud untuk menghindarkan diripun tidak, dengan jeritan kaget semua jago, tampak sumpit bajanya digerakkan kedepan dan ....

"Traakk"

Tahu tahu peluru baja tersebut sudah terjepit oleh sumpitnya.

Kepandaian yang sangat aneh ini seketika itu juga menggemparkan semua orang, tak lama kemudian meledaklah sorak sorai yang gegap gempita dari para penonton..

Mong hwesio agak tertegun, kemudian sambil menggertak gigi dan membidik lagi sebutir peluru, kali ini dengan kekuatan yang lebih besar serta kecepatan yang lebih tinggi, arah yang dituju adalah kaki kanan Sun Tiong-lo.

Tampaknya hwesio itu sudah dibuat naik darah oleh kejadian tersebut.

Sun Tiong lo masih saja berdiri tenang di tempat semula, injaaaii peluru baja itu sudah tiba di depan mata.

"Traaak !"

Kembali peluru itu di sumpitnya seperti semula dan juga dia berhasil dijepitnya dengan sumpit.

Suara sorak sorai semakin gegap gempita lagi, membuat dunia seakan akan hendak meledak saja.

Sebagian besar para penonton yang berjajar disekitar arena sekarang adalah kawanan jago persilatan yang memiliki ilmu silat tinggi, tapi sekarang mereka semua dibikin bodoh, setiap orang berdiri dengan wajah tertegun, mata terbelalak lebar dan mulut melongo.

Perasaan malu, benci, mendongkol segera menyelimuti seluruh perasaan Mong hwesio.

sambil menjerit aneh, peluru bajanya dilancarkan secara beruntun dengan mempergunakan ilmu andalannya yakni Pek poh sin tan yang tak pernah meleset dalam jarak seratus langkah.

Menghadapi ancaman yang tibanya beruntun itu Sun Tiong lo masih saja berdiri tak berkutik ditempat semula, wajahnya tidak berubah, napasnya tidak memburu, dia malahan menggerakkan tangan kanannya sambil menghitung sepuluh butir peluru sakti milik Kong hwe sio telah digunakan semua, sedangkan Sun Tiong lo sambil menyambut datangnya ancaman itu menghitung pula satu persatu.

"Satu, dua, tiga ... sembilan, sepuluh, semua nya berjumlah sepuluh biji dan kuterima semua nya !"

Kali ini tak ada yang berteriak lagi, tiada orang yang berteriak sorai, karena mereka sudah dibikin tertegun.

Dibawah sorot cahaya lentera yang terang benderang, tampak orang-orang itu hanya berdiri mematung saja ditempatnya masingmasing, tentu saja tak ada pula yang bersorak sorai.

Sepasang mata Mong hwesio terpentang lebar-lebar, mungkin jauh lebih lebar daripada mata siapapun juga, namun dia jauh lebih memperhatikan gerak gerik bocah itu daripada orang lain.

Gi pak ngo-hou, lima ekor harimau dari Gi pak kini berubah menjadi lima ekor kucing, paras muka mereka berubah hebat sekali.

Akhirnya Sun Tiong lo masukkan sepasang sumpitnya kebalik laras sepatunya, dan sambil tertawa katanya kepada Mong hwesio.

Terima kasih banyak atas kesudian toa-hwesio untuk mengalah, baiklah, kau Ngo hou boleh pergi sekarang!"

Mong hwesio tak bersuara lagi, sedangkan ngohou juga telah membalikkan badan siap berlalu dari situ.

Tapi pada saat itulah, entah siapa yang ber teriak mendadak dari balik kerumunan orang banyak terdengar seseorang berteriak keras.

"Kalau begini caranya tidak adil, si hwesio itupun sudah sepantasnya mencoba untuk menerima dulu permainan dari siau enghiong!"

Begitu seorang berteriak, yang lain menjadi ikut ikutan sehingga suasananya menjadi amat gaduh.

Sun Tiong lo berkerut kening, lalu menggoyangkan tangannya berulang kali.

Pelan-pelan suasana yang gaduh pun menjadi tenang kembali, seakanakan kewibawaan si bocah sudah makin menanjak dalam waktu singkat.

Menanti semua orang telah menjadi tenang kembali, Sun Tiong lo baru berkata lantang.

"Aduh ... tadi aku hanya bergurau saja, mana ada permainan lain yang hendak kugunakan untuk menghadapinya? Siapa berani memaksa aku lagi, akan kubuat perhitungan dengan menggunakan sepasang sumpit ini !"

Setelah mendengar ancaman tersebut, semua orang tak berani berteriak secara sembarangan lagi.

Mong hwesio dengan membawa busurnya lantas berjalan mendekati, setelah berhenti pada jarak beberapa kaki dihadapan Sun Tiong lo, katanya.

"Aku sudah kalah, kalah dengan amat puas, akupun tahu kalau sobat kecil pasti memiliki ilmu senjata rahasia yang lebih hebat lagi, kau tak tega menggunakan karena kau takut melukaiku, baiklah, kebaikanmu hari ini tak akan kulupakan untuk selamanya, sekarang aku ingin memohon diri lebih dulu !"

Berbicara sampai disitu, dia lantas mematahkan busur mestikanya menjadi dua bagian dan dibuang keatas tanah, kemudian dengan langkah lebar dia lantas berlalu dari situ.

Tiba tiba Sun Tiong lo berseru dengan suara lantang.

"Toa hwesio, aku suka kepadamu, bolehkah kita bersahabat ?"

Dari kejauhan sana terdengar Mong hwesio menjawab.

"Asal kau tidak keberatan, dengan senang hati akan kuterima, baik, kira tetapkan dengan sepaiah kata itu!"

Suatu pertikaian berdarah yang nyaris berlangsung akhirnya dapat dirubah menjadi suasana yang damai oleh seorang bocah berusia empat belas lahun, sejak dari Cui Tong sampai sekalian piautau dari perusahaan ekspedisi barang disekitar sana, sama-sama menyambut nya dengan wajah berseri.

Kepada rekan rekan rekannya, Lu lo piautau segera berkata.

"Malam ini patut dirayakan dengan meriah harap semua orang tidak usah menampik lagi, harap datang bersama kerumahku buat minum beberapa cawan arak."

Semua orang memang terhitung orang yang berjiwa terbuka, segera semua orang mengiakan dan beranjak dari tempat duduknya masing-masing.

Tentu saja Cui Tong pun tidak membiarkan Sun Tiong lo pergi, sambil memegangi tangan bocah itu, dia hanya menggoyangkannya berulang kali tanpa sepatah katapun sangat diutarakan keluar.

Pada saat itulah tiba-tiba dari sisi telinga Sun Tiong lo berkumandang suara bisikan yang amat jelas sekali.

"Ada orang hendak mencari gara-gara dengan Cui Tong, bilamana keadaan menjadi kritis nanti, suruh dia kabur keselatan kebun sayur, jangan sampai bertindak kelewat gegabah. mengerti!"

Nada suara orang itu terasa olehnya seperti amat dikenal, namun untuk sesaat lamanya tidak teringat olehnya suara siapakah itu, dan yang lebih aneh lagi adalah Cui Tong yang berada di sampingnya ternyata sama sekali tak mendegar suara apa-apa, hal ini membuat Sun Tiong lo menjadi kaget dan keheranan.

Sementara dia masih termenung mendadak terdengarlah suara orang terbahak-bahak.

"Haah... haaah.... haaah ...sobat Cui, diharap anda jangan pergi dari tempat ini dulu, persoalan dengan Mong hwesio memang telah selesai, tapi sekarang lohu akan membuat perhitungan lama dengan dirimu!"

Begitu ucapan tersebut di utarakan, semua orang menjadi terbungkam dalam seribu bahasa sedang suasana menjadi tenang kembali, sinar mata mereka semua bersama-sama dialihkan kearah mana datangnya suara itu.

Lebih kurang dua kaki dihadapan mereka, tahu tahu telah muncul lima orang manusia yang berdandan aneh, tiga perempuan dan dua orang laki laki...

Yang lelaki mengenakan baju sama dengan kain kerudung muka berwarna kuning emas pula, sedang yang perempuan memakai baju putih dan dua orang berbaju ungu, merekapun menggunakan kain kerudung muka yang berwarna sama dengan pakaiannya untuk menutupi raut wajah aslinya.

Tiga orang perempuan dan dua orang pria ini membagi diri menjadi dua baris bersama-sama menghadapi Cui Tong, dua lelaki berbaju emas berada dideretan depan sementara tiga orang perempuan berada dideretan belakang, perempuan berbaju putih itu berada di bagian tengah.

Menurut adat dalam dunia persilatan, maka dilihat dari posisi mereka berdiri itu, dapat diketahui gadis berbaju putih itulah berkedudukan paling tinggi, tentu saja semua kekuasaan juga berada ditangannya.

Begitu melihat jelas siapa musuhnya, Cui Tong merasa amat terkesiap, belum sempat dia berbicara, Sun Tiong lo telah membisikan sesuatu disisi telinganya.

"Barusan ada orang yang memberitahukan kepadaku, katanya orang orang itu sangat liehay, bilamana kau ingin meloloskan diri nanti, diharap kau bisa kabur ke sebelah selatan, harap kau jangan melupakan pesan itu."

Cui Tong mengiakan, kepada dua orang manusia berbaju emas itu katanya kemudian.

"Kalian mencari aku?"

"Benar, kami mencari kau !"

Sahut orang berbaju emas yang berada disebelah kiri itu dingin. Sedang orang berbaju emas yang ada disebelah kanan itu segera menuding ke arah Sun Tiong lo sambil menambahkan.

"Juga mencari dia !"

Sun Tiong lo menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, serunya kemudian dengan nada tercengang.

"Kau juga kenal dengan aku? Tapi..aku tidak kenal dengan kalian semua !"

Lelaki berbaju emas yang ada disebelah kanan itu segera mendengus dingin.

"Hmmm. ..! Bukankah kau she Sun?"

Tegurnya.

"Yaa, benar, aku memang she Sun, tapi aku tidak kenal kalian..."

Kembali orang berbaju emas yang ada di sebalah kanan itu menukas.

"Asal kau she Sun tak bakal salah lagi!"

Sun Tiong lo membelalakkan matanya lebar-lebar, kemudian katanya.

"Kalau dilihat dari sikap dan gaya kalian yang begitu buas, tampaknya kalian datang untuk mencari balas?"

"Boleh dikata demikian !"

Sahut orang berbaju emas yang berada di sebelah kanan itu sambil tertawa dingin. Sementara itu, lelaki berbaju emas yang berada di sebelah kiri telah berkata kepada Cui-Tong.

"Orang she Cui, semua perkataan yang lohu katakan tadi sudah kau dengar dengan jelas?"

Dalam hati Cui Tong sudah ada perhitungan sekarang diapun sudah tahu siapa gerangan tiga orang perempuan dan dua orang lelaki ini.

Walau begitu, timbul juga niatnya untuk mengadakan penyelidikan dan menanyakan apakah dugaannya itu benar.

Maka sesudah termenung sebentar, katanya.

"Agaknya aku orang she Cui telah mendengar apa yang kalian katakan itu, boleh aku tahu karena persoalan apakah kalian datang mencariku untuk membuat perhitungan?"

"Karena persoalan lama!"

"Persoalan lama?"

"Benar!"

Orang berbaju emas yang berada di sebelah kiri itu segera manggut-manggut.

"Tak sedikit aku orang she Cui melakukan kesalahan terhadap teman-teman dunia persilatan selama aku berkelana didunia persilatan, karena itu akupun sudah lupa dimana kapankah aku telah membuat permusuhan dengan kalian, dapatkah kalian mengingatkannya kembali ?"

Lelaki berbaju emas yang berada disebelah kiri itu segera berkata dengan suara dingin.

"Orang she Cui, kau anggap lohu tak berani mengatakan persoalan lama ? jangan lupa, dahulupun kami berani menjagal orang she Sun sekeluarga, malam ini tentu saja tidak akan takut-untuk menghadapi siapapun yang ingin mencampuri urusan kami !"

Setelah mendengar perkataan itu, Cui Tong semakin jelas lagi dibuatnya, dengan sorot mata berapi-api karena gusar, dia lantas berkata dengan suara dalam.

"Cukup, sudah banyak tahun aku Cui Tong menyembunyikan diri untuk mencari hidup, tujuanku tak lain adalah untuk mencari kalian kawanan manusia laknat, hari ini kita dapat berjumpa lagi, hal mana justru akan mencocoki hatiku, ada beberapa patah kata ..."

Belum habis dia berkata, manusia berbaju emas yang ada disebelah kanan itu telah menukas.

"Cui Tong! apakah kau bermaksud untuk memperbincangkannya disini? Apakah kaupun berharap agar teman teman baikmu itu terseret pula didalam persoalan ini?"

Terkesiap hati Cui Tong setelah mendengar perkataan itu dia cukup mengetahui akan bahayanya ancaman lawan, sebab dengan mata kepala sendiri ia saksikan bagaimana kawanan manusia laknat itu menghabisi majikannya sekeluarga, maka diapun tahu juga bahwa ancaman tersebut bisa benar-benar mereka laksanakan!

Dengan serius dia berkata.

"Soal ini tak perlu lagi kau kuatirkan, aku hanya ingin mengucapkan sepatah kata saja, yaitu setelah kalian dapat menemukan aku, seharusnya juga tahu kalau saudara cilik ini bukan lah majikanku dulu!"

Lelaki berbaju emas yang berada disebelah kanan itu segera tertawa seram serunya.

"Haah... haaah... haah... Cui Tong, sekarang kau memberi penjelasan bagi anjing kecil itu apakah tidak kau rasakan kalau hal ini terlambat?"

"Kawanan laknat, seharusnya kau tahu bagai manakah watakku"

Bentak Cui Tong marah.

"selamanya aku bilang ya tetap ya, bilang bukan tetap bukan, aku tak pernah membohongi lawan maupun kawan, sekarang aku sudah banyak berhutang budi kepada saudara cilik ini, aku tak dapat.."

Belum habis dia berkata, manusia berbaju emas yang berada disebelah kirinya telah menukas dengan suara dalam.

"Cukup Cui Tong, kau tak usah banyak berbicara lagi, dulu kau telah menolongnva, maka dalam hal kebaktian telah kau lakukan sebaiknya, maka sekarang...."

Pada saat inilah, Lu lo piautau menukas.

"Sobat sekalian, Lohu she Lu dan merupakan penanggung jawab dari perusahaan Pat tat piau kiok, lohu ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada kalian semua."

Dua orang lelaki berbaju emas itu tak menjawab, hanya saja secara tiba tiba mereka mereka mendongakkan kepala dan tertawa tawa terbahak.

Gelak tertawa kedua orang lelaki berbaju emas itu segera menimbulkan kesan jelek bagi para piautau dari perusahaan perusahaan besar.

Ho Ceng wan, cong piautau dari perusahaan Ceng wan piaukiok segera menegur lebih dulu dengan suara keras.

"Sobat, apakah kau anggap beberapa patah kata dari Lu lo piautau itu lucu sekali?"

Mendengar perkataan itu, kedua orang lelaki berbaju emas itu segera menghentikan gelak tertawanya secara mendadak, mereka sama sekali tidak menggubris perkataan dari Ho Ceng-wan tersebut.

Terdengar orang berbaju emas yang berada disebelah kiri itu telah berkata lagi kepada Cui Tong.

"Orang she Cui, sekali lagi lohu akan berbicara sejelasnya kepadamu, bila kau tak ingin menyaksikan teman-temanmu itu turut terseret dalam persoalan ini, lebih baik ikutilah lohu pergi meninggalkan tempat ini"

Lu lo piautau paling tua usianya diantara rekan-rekan lainnya, juga pengalamannya paling luas, dengan wajah tak berubah, kembali dia berkata.

"Sobat, orang persilatan mengatakan dendam ada pemiliknya, hutang pun ada pemiliknya, lohu dan kawan kawan lainnya tak mungkin akan sembarangan turun tangan sebelum duduknya persoalan menjadi jelas."

"Lu Cu tat, kuanjurkan kepada kalian agar sedikitlah tahu diri"

Tukas lelaki berbaju emas disebelah kanan ketus.

"janganlah karena ingin mencampuri urusan orang menyebabkan keluargamu turut terseret ke dalam bencana ini, maka kuanjurkan kepada kalian agar jangan mencampuri urusan kami ini !"

Lu Cu tat memang tak malu disebut seorang jago kawakan dari dunia persilatan, dia segera menjura setelah mendengar perkataan itu, kemudian sambil tertawa ujarnya.

"Baik, baik, lohu akan menjaga diri dan tak akan mencampuri urusan lain"

Setelah berhenti sebentar dan tertawa, kembali dia berkata.

"Kau dapat menyebut namaku, namun lohu tidak kenal siapakah kau, hal ini benar benar memalukan sekali, bila kau tidak keberatan, bagaimanakah jika kau sebutkan dulu siapa namamu ?"

Manusia berbaju emas yang ada di sebelah kanan mendengus dingin dan tak menjawab. Melihat itu Hoo ceng wan segera menyindir dengan suara sinis.

"Lu loko, aku lihat kau janganlah tak tahu diri, bayangkan saja betapa latahnya perkataan dari sobat itu dan betapa besarnya lagak serta gayanya, cuma sayang wajahnya justru dikerudungi dengan kain berwarna..."

Belum habis ucapan tersebut diucapkan, manusia berbaju emas yang berada di kanan telah berseru dengan gusar.

"Lohu she Ang bernama Beng liang!"

Begitu ucapan Ang Beng liang diutarakan, semua piautau yang berkumpul disitu menjadi terkesiap, Ho Ceng wan dan Lu Cu tat saling berpandangan sekejap kemudian menundukkan kepalanya masing-masing.

Sambil tertawa seram Ang Beng liang berkata kembali.

"Ho Ceng wan, sekarang kau sudah puas bukan ?"

Dengan agak emosi Ho Ceng wan bangkit berdiri, bibirnya bergerak seperti hendak me ngucapkan sesuatu, tapi akhirnya teringat akan keselamatan isteri dan keluarganya, dengan pe rasaan apa boleh buat dia menghela napas pan jang dan membungkam, Sun Tiong lo adalah seorang anak harimau yang baru turun gunung, dia tidak takut langit tidak takut bumi, dengan melototkan sepasang matanya bulat-bulat, dia berseru .

"Hei, kenapa kau bertindak begitu kasar ? Setiap orang pasti punya nama, bertanya siapa namamu toh hanya suatu sopan santun belaka, kenapa kau malah tak senang hati ?"

Sementara itu, manusia baju emas yang berada disebelah kiri telah menegur Cui Tong.

"Cui Tong, mari kita pergi!"

Cui Tong mendengus dingin, kepada para piautau dari pelbagai perusahaan yang berkumpul disitu, katanya.

"Sobat sekalian, kesetiaan kalian cukup membuat aku orang she Cui merasa terharu sekali budi kebaikan ini tak akan kulupakan untuk selamanya, tapi berhubung masalah ini menyangkut urusan pribadi, aku harap saudara sekalian agar jangan mencampurinya."

Mendadak Sun Tiong lo buka suara bertanya kepada Cui Tong.

"Benarkah kau hendak pergi bersamanya ?"

Cui Tong tertawa getir.

"Tentu saja saudara cilik, tadi saudara cilik telah membantu untuk melepaskan diri dari kesulitan, tapi dalam persoalan ini aku minta saudara cilik jangan mencampurinya, sebentar aku akan pergi, bila tidak sampai mati pasti akan ku jenguk saudara cilik lagi"

Ang Beng liang tertawa seram, tiba-tiba ejeknya.

"Cui Tong, kau tak usah banyak bertingkah laku, terus terang saja kukatakan, pada malam ini kau tidak akan pergi tidak apa, tetapi itu bocah keparat harus pergi mengikuti kami!"

"Orartg she Ang, kamu menginginkan aku orang she Cui harus memberi penjelasan secara bagaimana kepadamu?"

Teriak Cui Tong gusar. Ang Beng liang mendengus dingin.

"Hm...! penjelasan macam apapun tidak ada yang berguna!"

Sun Tiong lo segera tampil kedepan, sambil membusungkan dadanya dia berkata.

"Apakah kalian bersikeras mengajakku?"

"Benar, kau adalah tamu majikan kami!"

Dengan berterus terang Sun Tiong lo ber-kata.

"Kau anggap aku tidak berani pergi mengikuti dirimu? pergi yaa aku pergi, toh aku memang bermaksud untuk menyaksikan permainan apakah yang sedang kalian persiapkan hayo berangkat."

Ang Beug liang segera berpaling kearah Cui Tong sambil sindirnya.

"Cui Tong, kau benar-benar tak becus, masa dengan seorang bocah cilikpun kalah !"

Cui Tong memandang sekejap ke arah Sun Tiong lo, baru saja akan bersuara, bocah itu sudah berkata lebih duluan.

"Jalan yaa jalan, memangnya ada apanya yang perlu ditakuti ?"

Selesai berkata dia lantas menarik tangan Cui tong dan diajaknya menuju kearah selatan.

Sebenarnya tujuan kelima orang itu adalah arah lain, tapi setelah dilihatnya kedua orang lawannya menuju ke selatan, maka mereka pun segera menyusul pula dari belakang.

Sambil berlarian kencang, Sun Tiong Io segera berbisik kembali.

"Masih ingat dengan apa yang kukatakan kepadamu tadi ? Kau lari saja sekuat tenaga, biar aku yang menghadang mereka, cepat ! Cepat kau dari sini !"

Cui Tong kelihatan agak tertegun Sun Tiong lo segera menyadari apa yang menyebabkan dia tertegun, kembali ujarnya.

"Jangan perdulikan aku, kabur saja dari sini, aku tidak menjadi soal, sebentar aku menyusuI!"

Dengan kepandaian silat yang dimiliki Sun Tiong lo ketika menghadapi Mong hweesio tadi, mau tak mau Cui Tong harus mempercayai perkataannya sekarang, maka diapun berbisik.

"Jaga dirimu baik-baik !"

Dia segera membalikkan badan dan melarikan diri. Dengan gusar Ang Beng liang membentak keras, baru saja akan mengejarnya, si gadis berbaju putih yang berada di belakangnya telah berseru.

"Hari ini dia bisa lolos, apakah dikemudian hari masih bisa lolos lagi ? Jaga saja yang kecil itu baik-baik !"

Ang Beng liang segera menarik kembali gerakan tubuhnya sambil mengiakan, dia lantas menyelinap ke samping kiri Sun Tiong lo dan bersiap siap mencengkeram lengan kanan anak muda itu.

Mendadak terdengar seseorang membentak keras.

"Ang hu pangcu, hati hati dengan ular berbisa !"

Ketika Ang Beng liang melirik ke samping, tampaklah sesosok bayangan putih telah tiba diatas lengan kanannya, serentak dia menarik kembali tangannya sambil melompat mundur, benda putih itupun segera terjatuh ke tanah.

Menanti dia amati benda itu lebih seksama lagi, ternyata bukan ular berbisa seperti apa yang di duga semula melainkan seutas tali putih!

Tahu kalau tertipu dia mengalihkan kembali sorot matanya kearah Sun Tiong lo, tapi bocah itu sudah dibawa kabur seseorang ke arah selatan.

Menyaksikan kejaadian itu, Ang Beng liang dan seorang manusia berbaju emas lainnya segera membentak keras, dengan cepat mereka melejit ke udara dan secepat kilat mengejar ke arah orang itu.

Pada saat yang bersamaan tampak si orang berbaju biru yang menyelamatkan Sun Tionglo tadi sudah memapaki kedatangan Ang Beng liang dan orang berbaju emas lainnya, kedua belah pihak segera berjumpa ditengah udara.

Terdengar orang berbaju biru itu berkata.

"Membunuh orang tak lebih hanya kepala menutul bumi, bila bisa diampuni-ampunilah, harap kalian berdua balik saja !"

Ditengah pembicaraan itu, sepasang ujung bajunya segera dikebaskan ke depan, hembusan angin pukulan yang sangat kuat seketika itu juga mementalkan kembali diri Ang Beng liang dan orang berbaju emas itu ke tempat semula.

Orang berbaju biru itu tidak berdiam lama disana, sesudah berhenti sejenak ditengah udara, mendadak ia berpekik nyaring, lalu membalikkan badannya dan meluncur lagi melalui jalanan semula.

Perempuan berbaju putih itu mendengus dingin, tidak nampak bagaimana dia menggerak kan tubuhnya, tahu-tahu sudah melejit ketengah udara dan menyusul dibelakang orang berbaju biru itu.

Bersamaan itu juga, bentaknya nyaring.

"Setelah kau datang mencampuri urusan ini, lagi pula memiliki kepandaian silat yang sangat lihay, paling tidak harus kau sebutkan dulu siapa namamu, kau anggap memangnya bisa kabur dengan begitu saja ?"

Orang berbaju biru itu tidak menjawab, tapi gerakan tubuhnya menjadi lamban.

Dengan melambankan gerakan itu, sedang kan siperempuan baju putih itu menyusul dengan kecepan tinggi, akibatnya kedua belah pihak menjadi beriringan.

Mendadak perempuan baju putih itu mengayunkan tangannya kedepan, segulung desingan angin tajam segera menyergap jalan darah siau yau-hiat ditubuh orang berbaju biru itu.

Siapa tahu orang berbaju biru itu sama sekali tidak berpaling tubuhnya makin lama makin lamban, disaat angin serangan diri perempuan berbaju putih itu hampir mengenai tubuhnya, mendadak dia meluncur kembali ketengah udara.

Begitu berada ditengah udara, dia segera tertawa tergelak dengan nyaringnya, lalu secepat sambaran petir tubuhnya lenyap dibalik kegelapan sana.

Demonstrasi tenaga dalam serta ilmu meringankan tubuh yang diperlihatkan orang berbaju biru itu sangat mengejutkan hati si perempuan baju putih itu, dengan cepat dia melayang turun ketanah dan tidak melanjutkan pengejaran lagi, sementara sorot matanya dialihkan kearah mana bayangan biru itu melenyapkan diri tanpa bicara ataupun bergerak.

Dalam pada itu, dua orang nona berbaju merah dan dua orang manusia berbaju emas telah melayang turun disekitar sana, terdengar Ang Beng liang yang menyebut dirinya sebagai hu pangcu itu berbisik dengan suara yang lirih.

"Ilmu gerak tubuh yang dimiliki orang ini betul-betul sangat hebat, apakah pangcu dapat menduga asal-usulnya?"

Perempuan berbaju putih itu tidak menjawab, dia memberi tanda dan beranjak menuju ke barat.

Dalam keadaan begini, Ang hu pangcu sekalian tak berani banyak bertanya lagi, mengikuti dibelakang perempuan berbaju putih itu merekapun beranjak pergi.

-ooo0dw0oooSetelah kabur kearah selatan dan berhasil meloloskan diri dari pengejaran, Cui Tong menelusuri sebaris rumah penduduk dan berusaha mencari tempat persembunyian.

Tiba-tiba terdengar seseorang berseru dengan suara dalam.

"Di sini ada sepucuk surat, harap Cui tayhiap, mencari tempat yang tenang dan membaca isinya dengan seksama, setelah itu laksanakanlah menurut apa yang tercantum di dalamnya !"

Selesai berkata, sepucuk surat telah meluncur datang dari balik wuwungan rumah. Cui Tong segera menyambut surat itu, lalu berseru.

"Sobat, siapakah kau?"

Tiada orang yang menjawab, suasana di sekeliling tempat itu sepi tak kedengaran apapun.

Cui Tong tahu kalau pihak lawan enggan untuk berjumpa dengannya, sambil menghela napas terpaksa dia beranjak pergi.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Fajar belum lama menyingsing, dua orang kakek berbaju emas dan dua orang nona berbaju merah mengiringi seorang nyonya setengah-umur yang memakai baju putih muncul didepan pintu gerbang gedung Kwik Wangwee.

Dengan sikap yang amat hormat, salah seorang diantara kakek berbaju emas itu memberi hormat kepada nyonya setengah umur tersebut, kemudian katanya.

"lnilah rumah keluarga Kwik !"

Nyonya itu sepintas lalu tampak baru berusia dua puluh empat tahunan, wajahnya cantik namun sepasang matanya memancarkan cahaya tajam, sehingga membuat orang tak berani menatapnya.

Mendapat laporan tersebut, dia manggut-manggut kemudian berkata.

"Ketuk pintu, sampaikan seperti apa yang kuperintahkan tadi !"

Kakek berbaju emas itu mengiakan dengan hormat, kemudian maju kedepan dan mengetuk pintu.

Seorang pelayan tua segera menampakan diri dari balik ruangan, orang berbaju emas itupun membisikkan sesuatu kepada sang pelayan tua dan pelayan tua itupun manggut-manggut sambil beranjak pergi.

Tak lama kemudian, tiga orang perempuan dan dua orang lelaki itu sudah dipersilahkan masuk ke ruang tamu, pelayan tua ini menitahkan orang untuk menghidangkan air teh, tak lama kemudian Kwik wangwee pun muncul menjumpai tamunya.

Dengan senyum dikulum Kwik Wangwee segera berkata.

"Barusan aku memperoleh pemberitahuan dari centengku yang mengatakan kalau hujin ada urusan penting hendak dirundingkan denganku, tolong tanya..."

"Aku jauh-jauh datang ke kota Tiong-ciu tak lain karena memperoleh pesan dari bibiku untuk mencari seorang adik misanku yang telah hilang selama sebelas tahun, konon..."

Dengan kening berkerut Kwik Wangwee menukas.

"Apakah lohu dapat membantumu?"

"Betul"

Yan hujin manggut-manggut.

"konon adik misanku berada di gudang ini !"

"Aaah, masa begitu ? Bagus sekali kalau begitu ?"

"Adik misanku berasal dari marga Sun, nama yang sebenarnya adalah Pin hiong .."

Dengan cepat Kwik wangwee menggeleng tukasnya.

"Disini memang ada seorang she Sun, dia berasal dari Shoa tang, tak punya nama, akulah yang memberi nama Tiong lo kepadanya, selain dari pada itu..."

"Apakah Wangwee dapat mempersilahkan nya keluar untuk bertemu dengan kami.,.?"

Yan hujin menukas pula. Kwik wangwee segera menghela napas panjang, katanya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kalian sudah datang terlambat."

"Apakah dia sudah pergi dari sini?"

Yan hu jin agak tertegun, Kembali Kwik Wangwee menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Bukannya telah pergi, dia belum kembali, sebenarnya dia ikut pegawaiku pergi keibukota untuk menagih hutang, tapi rupanya dia ke timpa musibah, menurut keterangan dari pegawaiku, dia telah.."

Berbicara sampai disitu, mendadak Kwik wangwee memperlihatkan sikap terperanjat, ucapan terhenti sampai ditengah jalan, kemudian diamatinya Ya hujin dan semua orang dengan seksama, paras mukanya lambat laun berubah menjadi serius sekali.

Tak selang beberapa saat kemudian, Kwik wangwee telah bertanya lagi dengan suara dingin.

"Tampaknya kalian berasal dari ibu kota bukan?"

"Wangwee telah teringat soal apa?"

Yan hu jin tertawa. Dengan serius Kwik wangwee berkata.

"Yan hujin, terus terang saja kukatakan, menurut laporan dari pegawaiku Tiong lo telah dibawa kabur oleh tiga orang perempuan dan dua orang lelaki, pakaian yang dikanan tiga orang perempuan dan dua lelaki itu persis dengan dandanan dari hujin."

"Oooh, masa persis seperti apa yang kami kenakan ?"

Kwik Wangwee manggut-manggut.

"Betul, memang persis sekali !"

Kembali Yan hujin tertawa manis, ujarnya.

"Akupun tak ingin mengelabui Wangwee, apa yang dijumpai oleh pegawaimu itu memang benar tak lain adalah kami sekalian !"

Kwik Wangwee segera melompat bangun, kemudian serunya.

"Kalau begitu kau bukan kakak misan Tiong lo ?"

"Aku justeru adalah kakak misannya !"

"Hmm, lantas apa sebabnya kau memaksa untuk membawanya kabur ?"

Wangwee adalah seorang hartawan dari kota ini, orang awam seperti kau tak akan mengerti tentang persoalan dunia persilatan, oleh karena itu dijelaskan kepada Wanpwec pun tak ada gunanya, kalau memang adik misan ku tak ada disini, akupun tak ingin terlalu merepotkan Wangwee lagi, maaf aku hendak mohon diri lebih dulu."

Agaknya Kwik Wangwee masih ada beberapa hal yang tidak dipahami olehnya, kembali dia berseru.

"Kau benar-benar adalah kakak misannya Tiong lo !"

Dengan serius Yan hujin mengangguk.

"Wangwee adalah orang sekolahan, coba bayangkan adik misanku bukan seorang manusia yang kaya raya atau berkedudukan tinggi, mengapa aku harus mengaku-ngaku sebagai famili yang untuk mencari kerepotan bagi diriku sendiri ?"

Kwik Wangwee manggut-manggut.

"Ehmm, benar, benar, memang masuk diakal."

"Menurut pendapat Wangwee, mungkinkah dia akan kembali lagi ?"

Kwik Wangwee berpikir sebentar, lalu menjawab.

"Aku pikir bila dia bisa mengambil keputusan cepat dan menanyakan jalan pulangnya kemari, sudah seharusnya dia akan kembali ke-mari, sebab pertama dia tak ada tempat yang diiuju, kedua akupun menganggapnya sebagai anak sendiri, maka itu ..."

"Asalkan dia dapat kembali dengan selamat, hal ini lebih baik lagi,"

Kata Yan hujin sambil tertawa lebar, kemudian seraya beranjak lanjutnya.

"sekarang aku masih ada urusan lain maaf, aku mohon pamit!"

Kwik wangwee pun tidak bermaksud untuk menahan tamunya, dia lantas perintahkan kepada pelayan tuanya untuk menghantar mereka keluar.

Setelah berada ditengah jalan, dengan suara lirih Ang Hu pangcu lantas berkata.

"Perlukah kita menyiapkan seseorang ditempat ini untuk mengawasi gerak gerik keluarga Kwik?"

Yan hujin berpikir sebentar, dan sahutnya.

"Setan cilik itu sama sekali tiada hubungan nya dengan keluarga Kwik, soal ini sudah ku selidiki dengan jelas, ia dibawa pulang dari kuil Kwan ya hio setelah Ku Gwat cong meninggalkannya seorang diri, selain itu orang berbaju biru itupun tak akan lebih bodoh dari kita, sudah pasti ia telah menduga kalau kita akan mencari ke kota Tong-ciu, bayangkan saja, apakah dia akan membiarkan setan cilik itu datang kemari menghantar kematiannya?"

Orang berbaju emas yang lain tak lain adalah Kim ih tok-siu (kakek racun berbaju emas) Tan Tiong hoa. Pada saat itulah dia berkata pula dengan suara yang berat.

"Hamba mempunyai suatu persoalan yang merasa kurang jelas, mohon pangcu sudi menerangkannya"

"Persoalan apa?"

Tanya Yan hujin dengan suara dingin.

"Sebelas tahun berselang, ketika Ku gwat cong berhasil menolong setan cilik itu, kemungkinan besar dia telah mewariskan serangkaian tenaga dalam kepadanya, tapi enam tahun berselang ia telah meninggalkannya dengan begitu saja...."

"Tan congkoan, jadi dia benar-benar telah ditolong oleh Ku Gwat-cong ..."

Sela Ang hu pnngcu tiba-tiba. Tergerak juga perasaan Tan Tiang ho, katanya.

"Menurut laporan dari Pit It-kiam tentang pengemis yang tidur diluar pintu kuil Kwan ya bio, kecuali Ku Gwat-cong si setan tua itu, rasanya memang tak ada orang lain lagi !"

"Tapi kita kekurangan bukti yang langsung!"

Seru Ang hu pangcu lagi. Yan hujin segera mengalihkan sorot matanya ke wajah Ang hu pangcu, setelah itu katanya.

"Yang pernah dikatakan Tan congkoan bukanlah persoalan ini, kenapa kau tidak mendengarkan lebih dulu sebelum mengemukakan suatu pendapat?"

Ang Hu pangcu segera mengiakan berulang kali. Tan Tiong hoa pun berkata lebih jauh.

"Yang tidak hamba tidak pahami adalah kenapa Ku Gwat cong meninggalkan setan cilik itu di kota Tong ciu sebagai kacung orang?"

Yan hujin tertawa dingin, dia lantas berpaling ke arah Ang Hu pangcu sambil bertanya.

"Kau tahu?"

Ang Hu-pangcu segera menundukkan kepala nya rendah-rendah.

"Hamba sendiripun tidak memahami akan persoalan ini"

Jawabnya. Yan hujin segera mendengus dingin.

"Hmm .. .! Tan congkoan saja bisa memperhatikan persoalan ini dengan jelas, hal ini menunjukkan kalau ia benar2 berusaha keras untuk menyelidiki persoalan ini, tetapi kau sebagai seorang wakil ketua, nyatanya tak mampu kau berpikir kesitu, hmm..."

Sekujur badan Ang Hu pangcu gemetar keras, dia tidak berani mengucapkan kata-kata. Yan hujin berkata lebih jauh, setelah berhenti sejenak lamanya.

"Gara gara persoalan ini, akupun sudah dibuat kesal sekian lama, tapi setelah kulakukan suatu penyelidikan yang seksama, baru diketahui bahwa pada enam tahun berselang Ku Gwat cong telah pergi ke bukit Soat nia, oleh karena dia merasa kurang leluasa untuk pergi membawa seorang bocah, iapun merasa tidak tega hati bila diserahkan kepada orang lain, maka diapun mempergunakan hartawan she Kwik!"

"Oooo... rupanya begitu"

Kata Tan liang hoa seperti baru merasa sadar kembali.

"Tahukah kalian siapakah orang yang telah menolong si setan cilik itu di kebun sayur milik keluarga Lau tadi?"

Tan Tiang hoa memandang ke arah Ang hu pangcu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ang hu pangcu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya dengan cepat.

"Hamba tidak berhasil melihat jelas !"

Mendengar jawaban itu, Tan Tiang hoa baru berkata.

"Orang yang membopong setan kecil itu adalah Ku Gwat cong !"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ang hu pangcu, serunya keras-keras.

"Congkoan, kau telah melihatnya dengan jelas?"

Tan Tiang hoa manggut-manggut.

"Walaupun aku tak sempat melihat wajahnya, namun dari bayangan punggungnya telah kuketahu kalau dia, apalagi orang yang bisa menggunakan "ular"

Untuk menakuti orangpun hanya dia seorang!"

Yan hujin segera tertawa, katanya kemudian.

"Apa yang dikatakan Tan congkoan memang betul, orang itu memang Ku Gwat cong !"

Ang hu pangcu segera tertawa jengah, agak tersipu sipu dia berkata cepat.

"Untung saja hamba telah menitahkan pasukan merah dan hitam untuk melakukan pengepungan sambil melangsungkan penggeledahan dan pencarian secara besar besaran, aku percaya tak lama kemudian pasti ada jawaban yang masuk !"

Yan hujin tidak berkata apa-apa, dia hanya mengulapkan tangannya sembari menitahnya.

"Aku merasa lelah sekali, mari kita percepat perjalanan kita untuk meninggalkan tempat ini"

Tak seorang manusiapun yang berani membantah, mereka manggut-manggut dengan mulut membungkam.

Maka berangkatlah perempuan berbaju putih atau Yan hujin itu meninggalkan kota Tong ciu dengan langkah cepat.

Dalam waktu singkat, bayangan tubuh dari beberapa orang itu sudah lenyap dari pandangan.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Bab ke Dua puluh Dua Tengah malam telah tiba, sesosok bayangan manusia disusul bayangan manusia lain bergerak mendekati gedung Kwik Wangwee, setelah saling memberi tanda, mereka memisahkan diri dan melompat masuk ke halaman gedung tersebut...

Pada kentongan kelima, bayangan hitam, itu berkumpul kembali, lalu sesosok melompat ke luar dari dalam gedung dan berlalu menuju ke tempat kejauhan sana.

Kejadian ini berlangsung terus selama lima malam berturut turut, hingga malam keenam, bayangan manusia itu baru tidak nampak lagi, sampai malam ke sepuluh tetap tak nampak ada bayangan manusia yang berlalu lalang lagi.

Ditengah malam bagi ke sepuluh inilah, di kala semua orang sudah lenyap dari pandangan mata, penjaga kuil Kwan-ya-bio sudah tertidur, ditengah ruangan kuil itu barulah muncul manusia-manusia yang berjalan malam.

Mereka terdiri dari tiga orang yang turun bersama dari tengah udara, kemudian setibanya dalam ruangan bersama-sama duduk diatas lantai.

Dalam ruangan itu tidak nampak ada cahaya lentera, sehingga sukar untuk melihat jelas siapakah gerangan ketiga orang itu.

Tapi menanti mereka sudah mulai berbincang-bincang, maka dengan cepat diketahui siapakah mereka itu.

Mula mula terdengar suara seorang yang seiak tua berkata.

"Siau liong, sudah begitu jelas bukan ?"

Yang bernama Siau liong tentu saja Sun Tiong lo, maka dari Siau liong pun bisa diduga kalau dua orang lainnya tak lain adalah Siau hou serta si pengemis tua Ku Gwat cong.

Waktu itu Sun Tiong lo sedang mengiakan dan menjawab.

"Jadi lima malam beruntun mereka bersembunyi dalam rumah Kwik wangwee tak lain bermaksud untuk mencariku ?"

"Tentu saja"

Sahut siau hou, sayangnya suhu justru tidak termakan oleh tipu muslihatnya itu"

Ku Gwat cong segera tertawa.

"Tidak gampang bila ingin membuatku masuk perangkap !"

"Aai ..kesemuanya itu gara gara aku suka mencampuri urusan orang sehingga akibatnya mesti menyulitkan orang lain, siau hou, menurut pendapatmu mungkinkah orang-orang jahat itu tidak turun tangan menganiaya Kwik Wangwee sekalian ?"

"Aku rasa ini tak mungkin"

Sahut Ku Gwat Cong.

"hutang musti ditagih kepada yang hutang, perselisihan harus diselesaikan pada orang yang berselisih"

"Jadi antara aku dengan mereka benar benar terikat oleh dendam kesumat ?"

Ku Gwat cong tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya balik bertanya.

"Siau liong, berapa umur mu tahun ini ?"

"Enam belas tahun !"

"Ehmm ...berarti masih ada setahun !"

"Apanya yang masih ada setahun?"

Tanya Sun Tiong lo dengan perasaan tak habis mengerti.

"Bukankah kita telah berjanji akan berjumpa ditikungan belakang kuil Kwan tee hio pada bulan enam tanggal enam disaat kau genap berumur tujuh belas tahun? Apakah kau sudah lupa ?"

"Lupa sih tidak, tapi sekarang ..."

Tidak menanti Sun Tiong lo menyelesaikan kata-katanya, Ku Gwat cong telah menukas.

"Sekarang tidak masuk hitungan, kau harus kembali lagi ke sana, dan kita bersua kembali pada saat yang telah kita janjikan."

"Tidak aku tak mau kembali"

Kata Sun Tiong-lo sambil menggelengkan kepalanya.

"Siau liong-! ucap Ku Gwat cong dengan suara dalam.

"aku hendak memberitahukan satu hal kepadamu, ketahuilah bahwa kau mempunyai suatu dendam kesumat yang tiada taranya yang mesti dituntut balas, bila kau ingin membalas dendam maka kau harus kembali dulu ke gedung keluarga Kwik"

"Aah... siapakah musuh besar yang telah membunuh keluargaku ?"

"Dengarkan bait baik, aku dan orang tuamu hanya kenal karena kita sama-sama anggota dunia persilatan, sebetulnya aku hendak datang ke sana untuk membantu ayahmu, sayang kedatanganku toh terlambat juga. .."

"Beritahu kepadaku, siapakah musuh besarmu itu ?"

Tukas Sun Tiong lo cepat.

"Mari kubawa kau kesana, lebih baik tidak usah banyak bertanya lebih dahulu"

Tiba tiba Sun Tiong lo bangkit berdiri, lalu, berseru. Ku Gwat cang pun berpaling kearah Siau hou, sambil berkata.

"Siau hou, kaupun harus pergi, tapi mesti ber hati hati, kini pihak lawan masih mencari jejak kita keempat penjuru, kau mesti selalu waspada dan jangan memberi kesulitan lagi kepadaku"

Siau hou mengiakan, lalu sambil menepuk-bahu Sun Tiong lo katanya lagi.

"Siau liong, aku mesti berangkat lebih dulu karena masih ada tugas lain, jangan lupa kita akan bersua kembali bulan enam tahun depa."

Tidak menunggu jawaban dari Sun Tiong lo lagi, dia segera melompat keluar dari situdan lenyap dibalik kegelapan.

Setelah Siau hou pergi, Ku Gwat cong pun membopong tubuh Sun Tiong lo dan turut melompat keluar pula.

Tubuhnya segera menyelinap keatas dinding kuil dan langsung meluncur ke dinding pekarangan bagian belakang dari gedung keluarga Kwik, dimana ia melayang turun ke dalam.

Setelah melayang turun, Ku Gwat cong mem beri tanda kepada Sun Tiong lo agar membuka jendela belakang gudang buah, kemudian setelah berada dalam gedung dan memasang lentera, pengemis tua Ku Gwat cong baru berkata lagi.

"Siau liong, disini ada sepucuk surat, bacakan dengan seksama, setelah kau baca semua tulisan itu maka segala sesuatunya akan menjadi terang."

Sembari berkata, pengemis rua itu merogoh ke dalam sakunya mengeluarkan sepucuk surat, lalu diserahkan kepada Sun Tiong lo.

Dengan cepat Sun Tong lo merobek sampul surat itu dan membaca isinya dibawah sinar lentera.

Pada pembukaan surat itu antara lain bertuliskan demikian.

"Siau liong, dikala kau membaca surat ini dalam gedung keluarga Kwik, aku telah pergi."

Sambil berseru tertahan Sun liong lo mendongakkan kepalanya sambil mengawasi keadaan disekeiiling tempat itu, benar juga, dalam waktu yang amat singkat itu Ku Gwat cong telah pergi meninggalkan tempat itu tanpa menimbulkan sedikit suarapun.

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Sun Tiong lo melanjutkan kembali membaca surat itu.

"". .. mengenai asal usulmu serta siapakah musuh besar pembunuh keluargamu, terpaksa kau harus menunggu sampai kita bersua kembali nanti, bila kau ingin membalas dendam maka kau harus tinggal dalam gedung keluarga Kwik ini, hanya saja mulai sekarang kau tidak diperbolehkan membiarkan setiap orang sudah tahu kalau kau sekarang telah pulang ke gedung keluarga Kwik, kalau tidak, jika musuh besarmu sampai mengetahui kabar ini, niscaya mereka akan datang membunuhmu, mungkin kau heran, apa sebabnya aku justru meninggalkan dirimu dalam gedung keluarga Kwik? Nah, sekarang akan kuterangkan sebab musababnya."

Ketika selesai membaca isi surat tersebut tanpa terasa Sun Tiong lo lantas berpikir.

"Oooh... rupanya begitu, yaa, siapa yang nyata kalau tiga generasi sebelum Kwik Wangwee sesungguhnya adalah seorang tokoh sakti yang tiada tandingannya dalam dunia persilatan, tapi kejadian inipun cukup mengherankan kenapa ilmu silatnya yang amat lihay itu tidak diwariskan kepada anak cucunya sendiri?"

Ia tidak habis mengerti, sambil menggeleng sorot matanya dialihkan kembali ke atas surat tersebut, setelah mengulanginya sekali lagi, sambil mengerdipkan matanya dia mulai ter menung ...."Dalam surat ini dikatakan orang tersebut disebut sebagai "Bu lim ci seng " ( malaikat dari dunia persilatan), berhubung dia tak pernah menemukan seorang anak murid yang berbakat bagus dan berbudi luhr, maka tak pernah mempunyai ahli waris, agar ilmu silatnya tidak hilang, kepandaian tersebut di tulisnya ke dalam se

Jilid kitab aneh dan menyembunyikan dalam gudang bawah tanah rumah leluhurnya, setelah itu dia bersama sahabatnya Im hok-ji hian mengasingkan diri, sebelum menghembuskan napas yang penghabisan ia memberitahukan pula rahasia ini kepada Ji hian dan minta kepada Ji-hian agar mewariskan kepandaian rersebut kepada seorang yang berbakat walaupun kejadian ini sudah berlangsung seratus lima puluh tahun lamanya, namun Ji hian tak pernah mewujudkan pesan itu, Ku Gwat cong adalah murid angkatan ke empat dari Ji hian, tak heran dia mengetahui bagaimana caranya memasuki gudang bawah tanah...."

Berpikir sampai disini, tak tahan Sun Tiong lo kembali bergumam.

"Kejadian ini lebih aneh lagi, andaikata si pengemis tua itu mengetahui bagaimana caranya memasuki gudang tersebut, mengapa dia tidak mengambil pergi kitab pusaka itu sehingga kepandaian silat yang dimilikinya menjadi semakin hebat ?"

Ia tidak berhasil memahami persoalan ini dan menggelengkan kepalanya berulang kali, tapi kali ini dia sudah bertekad, dalam surat itu diterangkan bagaimana caranya membuka gudang bawah tanah serta dimana letaknya, dia harus mencobanya.

Kebetulan sekali, gudang bawah tanah yang berada dalam gedung keluarga Kwik pada seratus lima puluh tahun berselang tak lain berada dibawah gudang yang dijaga olen Sun Tiong lo sekarang ini.

Maka Sun Tiong lo mulai bekerja keras menemukan tempat yang dimaksudkan, sambil mengangkat lentera dia bersiap siap melakukan pencarian.

Belum berapa langkah, mendadak ia mendengar suara diluar, cepat-cepat lentera itu dipadamkan.

Betul juga, dari luar gudang iana segera ter dengar seseorang berkata dengan suara tercengang.

"Heran, betul betul heran, Lo Be, apakah kau telah melihatnya ?"

"Melihat apa?"

Tanya orang yang dipanggil Lo be itu.

"Ada cahaya lentera dalam gudang !"

Lo be tersentak kaget dengan tubuh menggigil, kemudian serunya.

"Ah . .. barangkali ada setan."

Pada saat itulah, mendadak terdengar suara yang penuh berwibawa sedang menegur.

"Siapa di luar?"

Mengetahui siapa yang menegur, buru buru Lo be menjawab.

"Wangwee ya, aku dan Sang sin !"

"Oooh ..apa yang kalian lakukan ditengah malam buta begini ?"

Suara Kwik wangwee kembali menegur.

"Anu . ...anu .,. perutku sakit sekali aku hendak .

"Tampaknya kau berjudi tagi?"

Dengus Kwik wangwe c^pat.

"Wangwe ya, barusan aku melihat ada cahaya lentera dalam gudang sana.."

Seru 0ng-Seng lagi.

"Omong kosong! Tampaknya kau sudah dibuat keblinger oleh permainan Pay kiu hingga matamu menjadi tidak normal lagi."

Lo be segera tertawa tergelak mendengar ucapan itu. Kwik wangwe kembali mendengus.

"Hmm. ., mengapa tidak segera pergi tidur? Besok adalah tanggal lima, pagi pagi sekali masih harus memasang mercon!"

Ong seng dan lobepun segera mengiyakan, cepat2 mereka mengundurkan diri dari situ.

Sejenak kemudian, ketika Sun Tiong lo sudah tak mendengar suara apa apa lagi diluar, dia baru memberanikan diri untuk memasang lentera dan mencari gudang bawah tanah itu seperti peta yang tercantum dalam surat itu.

Tapi malam ini dia tidak dapat bekerja, sebab pertama tak punya alat, kedua hari sudah malam, bila sampai menimbulkan suara keras pastinya menimbulkan kecurigaan orang.

Maka dia lantas memadamkan lampu dan beristirahat.

Dalam suratnya, pengemis tua itu telah menandaskan dengan jelas bahwa kehadirannya didalam gudang kali ini tidak boleh bertemu dengan siapapun, maka diapun menjumpai kesulitan lain yakni soal makanan dan minuman karena kehabisan daya, terpaksa mencuri Teringat soal mencuri, dia segera merasa bahwa inilah saat yang paling baik, diam diam ia merangkak keluar lewat jendela belakang dan menuju kedapur, ia tahu di tahun baru seperti ini.

sudah pasti banyak hidangan yang tersedia disana.

Tapi dia harus kembali dengan tangan kosong.

Ternyata suasana dalam dapur hangat, para pegawai sedang berjudi didalam dapur.

Dengan perasaan apa boleh buat dia pulang dengan tangan hampa, baru merangkak masuk kedalam gudang, ia saksikan diatas pembaringan yang biasanya dipakai untuk tidur telah bertambah dengan sebuah bungkusan, ketika dibuka ternyata isinya adalah makanan.

Jilid 18 -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** DENGAN cepat dia rnengerti, sudah pasti Siau hou atau si pengemis tua yang menghantar makanan baginya, karena tidak lapar, dia membungkus kembali hidangan itu dan tidur.

Fajar baru menyingsing, dikala ia masih ter tidur nyenyak, tiba tiba terdengar ada orang membuka kunci pintu gudang tersebut, serentak dia melompat bangun, lalu sambil menyambar bungkusan, dia menyembunyikan diri di balik keranjang dan karung.

Pintu gudang segera terbuka, lalu terdengar Kwik wangwee berkata.

"Lo be, pergi bunyikan petasan, Ong Seng, masukkan semua barang itu kedalam gudang, cepat!"

Tak lama kemudian pintu gudang itu dikunci, sementara itu Sun Tiong lo telah bermandikan keringat dingin, sambil menggelengkan kepalanya dia berpikir.

"Aai, rupanya jadi pencuri tak enak rasanya"

Dari balik tempat persembunyiannya dia munculkan diri, tapi setelah melihat benda-benda yang digetarkan disana, ia menjadi gembira sekali.

Ternyata pelbagai alat di letakkan disitu, alat-alat tersebut baru saja dimasukkan Ong Seng ke dalam gudang atas suruhan Kwik wangwe, lebih kebetulan lagi, alat-alat itu sesuai dengan kebutuhannya sekarang.

Maka selesai bersantap dia mulai mencari letak mulut masuk menuju ke gudang bawah tanah itu.

Sejak kecil sampai sekarang Sun Tiong lo sudah terbiasa hidup sendiri, gemblengan selama enam belas tahun membuat bocah ini betul-betul menjadi ulet dan tahan uji.

Tidak membuang banyak tenaga, ia telah berhasil menemukan mulut masuk menuju ke gudang bawah tanah itu, maka ia pergunakan karung kosong untuk mengisi pasir tiap digali dan menggunakan buah-buah kering untuk menghilangkan jejaknya.

Senja itu dia berhasil memasuki mulut gudang tersebut, tapi belum lagi berapa kaki, mendadak ia merasa badannya terpeleset dan tak ampun lagi tubuhnya terperosok kebawah.

"Blaam . ,.!"

Ternyata ia terjatuh diatas sebuah kursi berlapiskan kulit binatang, oleh karena itu lunak maka tubuhnya sama sekali tidak mengalami cedera apa apa, sebaliknya jalan kembalinya tadi ternyata tidak berhasil ditemukan kembali.

Akan tetapi ia tidak cemas, setelah tiba di sini mengapa ia musti gelisah, maka dia bertekad hendak menemukan dulu kitab aneh seperti yang dimaksudkan si pengemis tua dalam suratnya itu sebelum memikirkan hal-hal yang lain.

Setelah mencari sekian lama, akhirnya dia buru berseru kaget dan berdiri termangu-mangu.

Ternyata walaupun dulunya tempat itu merupakan sebuah gudang bawah tanah, yang pasti kini bukan.

Tempat itu mempunyai dekorasi yang sangat indah dengan ruangan yang bersih.

Bahkan boleh dibilang jauh lebih bersih daripada kamar baca manapun.

Sebuah meja tertera didalam ruangan, di-atas meja terdapat sebuah meja lentera yang bersinar sinar.

Siapakah yang memasang lentera itu?

Siapa pula yang membersihkan ruangan itu?

Berpikir akan hal uu.

Sun Tiong lo menjadi tertegun dan berdiri bodoh.

Tanpa terasa sorot matanya dialihkan kesekeliling tempat itu, dia tidak takut, tapi keraguan menyelimuti seluruh wajahnya.

Sambil mengerdipkan sepasang matanya yang besar dan jeli, dia menggelengkan kepalanya sambil bergumam.

"Si pengemis itu mungkin keliru, disini jelas ada penghuninya, jika betul berpenghuni maka tidak pantas bila aku masuk kemari dengan jalan mencuri, ,yaa, aku harus keluar dari sini, sekalipun harus datang lagi, aku mesti melaporkan dulu hal ini kepada Kwik wangwee."

Saat itu dia sudah tidak memikirkan lagi tentang kitan pusaka seperti apa yang dikata kan pengemis tua itu, dia mulai mencari jalan keluar untuk segera meninggalkan tempat itu.

Mendadak .

Baca Juga: Lembah Selaksa Bunga 1

Baca Juga: Pedang Naga Hitam 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert