Ceritasilat Novel Online

Bukit Pemakan Manusia 3

Eps 3 Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung

Baca online Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung

Cersil Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung.

"Aku lihat ucapanmu itu mengandung maksud lain, bolehkah aku mengetahuinya ?"

Orang itu segera tertawa dingin, ejeknya.

"Betulkah kakek Tiong tidak tahu?"

Kakek Tiong segera menggelengkan kepala nya berulang kali, dengan serius katanya.

"Saudara, harap kau katakan dengan berterus terang."

Orang itu tertawa, dia lantas mengambil cawan dan pelan pelan menuang isinya ke atas lantai.

Suatu kejadian yang mengerikan segera berlangsung didepan mata, segulung asap berwana hijau segera mengepul ke angkasa, seketika itu juga lantai loteng tersebut terbakar dan berubah menjadi hangus.

Menyaksikan kejadian itu.

paras muka kedelapan orang kakek itu berubah hebat, hawa amarah dengan tepat menyelimuti seluruh wajah mereka.

Sambil mendepak-depakkan kaki keatas lantai, kakek Tiong segera berteriak keluar ruangan.

"Malam ini, siapa yang bertugas meronda dalam istana ?"

"Hamba Sik Puh !"

Seseorang menyahut dari luar ruangan. Kakek Tiong segera mendengus.

"Kemari !"

Bentaknya.

Sik Puh mengiakan dan segera muncullah sesosok bayangan berwarna biru, begitu sampai ditempat tampaklah seorang lelaki kekar berusia pertengahan yang berwajah tampan muncul didepan mata.

Dia adalah Sik Puh, petugas yang mendapat giliran menjaga dalam istana Sin-kiong, ketika mengetahui kalau Pat-tek-Pat-lo sedang menjamu tamunya didalam istana Teng-hong-sian maka dia secara khusus melakukan penjagaan yang lebih ketat.

Ketika menyaksikan gerakan tubuh Kik Puh ketika melayang naik keatas loteng orang itu merasa hatinya tergerak dan segera manggut2.

Sebaliknya ketika Sik Puh melirik ke arah orang itu hatinya juga merasa tergerak.

Pada saat itulah, kakek Tiong telah menuding ke papan loteng yang hangus itu, serunya.

"Coba kau perhatikan tempat itu!"

Menyaksikan keadaan dari lantai loteng itu, di paras muka Sik Puh berubah hebat, namun dia tidak berkata apa-apa.

"Sudah kau lihat dengan jelas?"

Kembali kakek Tiong membentak "Hamba sudah melihat jelas !"

"Bawa kemari orang tersebut !"

Bentak kakek Tiong lagi. Sik Puh agak tertegun, sebelum dia berkata, kakek Peng dengan wajah sedingin es telah berkata.

"Bagaimana ? Merasa susah ?"

Sik Puh segera menundukkan kepalanya rendah-rendah, setelah memberi hormat sahutnya.

"Harap Tionglo maklum, jumlah orang yang berada dalam istana Sin kiong banyak sekali...."

"Goblok"

Tukas kakek Peng segera.

"orang yang turut hadir di atas Teng-hong sian malam ini cuma sepuluh orang."

"Maaf Tianglo, hamba telah salah berbicara"

Buru-buru Sik Puh meralat kata-katanya. Kemudian setelah berhenti sebentar, sekali lagi dia memberi hormat seraya berkata.

"Hamba memohon, Tianglo bersedia mem beri batas waktu satu kentongan kepada hamba."

Kakek Peng segera memandang ke arah kakek Tiong segera mendengus dingin, serunya.

"Untuk mencari seorang anjing laknat yang melepaskan racun saja, masa membutuhkan satu kentongan ?"

"Hamba harus membongkar kasus ini sampai tuntas."

Kakek Ho memang berhati bijaksana, cepat dia berseru.

"Baik, baiklah, cepat laksanakan tugas ini!"

Bagaikan mendapat ampunan, Sik Puh segera mengiakan dan mengundurkan diri dari situ Tiba-tiba kakek Tiong menambahkan "Lohu mengharapkan yang hidup, bila dia sampai mati, membiarkan kau tetappun tak ada gunanya !"

Mendengar perkataan itu Sik Puh segera berhenti, jawabnya.

"Hamba pasti akan melaksanakan sedapat mungkin !"

"Kalau begitu bagus sekali, cepat pergi !"

Seru kakek Tiong sambil mengulapkan tangan nya.

Kali ini Sik Puh tidak menanti lagi, dia segera membalikkan badan dan berlalu dari situ.

Setelah Sik Puh pergi, kakek Tiong baru mengambil cawan teh yang dipergunakan orang itu, mengendusnya sebentar, gelengkan kepala dan mengeluarkan hendak, kemudian membungkus daun teh itu dan meletakkannya diatas meja.

Setelah itu dengan nada minta maaf dia ber kata kepada orang sambil tertawa rikuh.

"Saudara, apa yang harus kukatakan ?"

"Tampaknya orang itu memang pelupa."

Sambil tertegun katanya.

"Kakek Tiong, apa yang kau maksudkan ?"

Sekali lagi kakek Tiong tertawa rikuh.

"Aah, kau ini memang pandai berlagak !"

Gumamnya. Setelah berhenti sejenak dia lantas mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya.

"Aku percaya kau tentunya tak akan menuduh kami delapan bersaudara bukan ?"

Sekarang orang itu baru berseru tertahan. Sambil menuding kearah daun teh yang berada dalam handuk, katanya.

"Apakah itu kakek Tiong maksudkan permainan itu?"

"Kan, hanya permainan ini saja yang membuat lohu bersaudara menjadi rikuh."

Belum habis dia berkata, orang itu sudah tertawa, serunya.

"Perkataan apakah itu? Masa aku akan menaruh curiga kepada kalian berdelapan ?"

Kakek Tiong menghembuskan rasa mangkel dan kesal didalam hati, kemudian katanya.

"Saudara, ucapan dari Sik Puh tadi..."

"Aku telah mendengarnya semua !"

Sahut orang itu cepat. Kakek Tiong tertawa.

"Kalau begitu bagus sekali, bagaimana kalau seandainya kau menanti satu kentongan lagi disini?"

"Menurut pendapatku rasarya tak usah di tunggu lagi !"

Ucap orang itu sambil tertawa. Mendengar jawaban tersebut paras muka delapan arang kakek itu berubah hebat. Pertama-tama kakek Peng yang berkata lebih dulu.

"Kenapa ? Apakah kau tidak percaya kalau kami delapan bersaudara tak sanggup untuk menemukan pembunuh yang telah melepaskan racun itu ?"

BAB DUA BELAS -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** "KAKEK BERDELAPAN!"

Ucap orang itu sambil tersenyum.

"Bukannya aku gemar bertaruh tapi dalam peristiwa ini."

"Baik, aku akan bertaruh denganmu!"

Cepat kakek Peng menyela, Orang itu memandang sekejap kearah kakek Peng dan ujarnya.

"Kakek Peng pribadi yang akan bertaruh denganku atau kalian berdelapan?"

Kakek Peng akan menjawab, tetapi kakek Tiong segera mengulapkan tangannya tukasnya.

"Tolong tanya, apakah taruhan ini dapat diperjelaskan?"

"Aku rasa, walaupun kalian berdelapan sangat berhasrat untuk menemukan pembunuh itu, sekalipun Sik Puh tayhiap telah mengerahkan segenap tenaganya untuk melakukan penyelidikan aku kuatir pada akhirnya cuma hasil yang nihil belaka!"

"Ooya? kalau, toh kau berani berkata demikian itu berarti kau sudah mempunyai dasar-dasar alasan yang kuat, apakah kami boleh mengetahuinya?"

"Maaf, soal ini tak dapat kukatakan!"

"Jadi kalau begitu, kau bersikeras untuk bertaruh?"

Tak tahan kakek Peng berseru.

"Haaahhh .... haaahhh ....haaah .. .. kalau cuma kau seorang, tentu saja pertaruhan ini tak akan bisa dilangsungkan."

Kakek Tiong beikerut kening, setelah termenung sebentar, akhirnya dia berkata.

"Baik, kita bertaruh!"

Dengan wajah serius orang itu lantas berkata.

"Kakek Tiong, aku hendak mengatakannya lebih dulu, bila ingin bertaruh maka aku hanya akan bertaruh dengan pat tek patlo, kecuali itu siapa pun tidak berlaku!"

"Bertaruh, bertaruh, bertaruh, lohu berdelapan sudah bertekad untuk mengikat tali persahabatan denganmu!"

"Aku bilang, kalian berdelapan tak akan berhasil menemukan pembunuh tersebut !"

Kata orang itu bersungguh-sungguh.

"Lohu bersaudara beranggapan pembunuh itu tak bakal lolos !"

Orang itu segera tertawa dingin, katanya.

"Batas waktunya adalah satu kentongan, kentongan keempat nanti menang kalah bisa ditentukan !"

"Baik, kua tetapkan dengan sepatah kata, bila sebelum kentongan ke empat pembunuh itu berhasil ditemukan maka kau yang kalah, sebaliknya jika selewatnya kentongan keempat pembunuh itu belum juga ditemukan, maka kau lah yang menang !"

Orang itu memandang sekejap ke arah delapan kakek itu, kemudian katanya.

"Kakek Tiong, apakah perkataanmu itu bagaikan hitam diatas putih.... ?"

"Apa yang telah lohu bersaudara ucapkan, sampai matipun tak pernah disesali!"

"Haa... haa... haaa... haaaa bagus-bagus sekali, kalau begitu kita tetapkan begitu saja, sekarang sudah seharusnya kalau kita bicarakan soal taruhannya!"

Kakek Tiong melirik sekejap kearah orang itu, dan kemudian katanya.

"Kaulah yang bersikeras menantang kami untuk bertaruh, mengapa tidak kau katakan dulu taruhannya yang sudah kau siapkan itu?"

Sekali lagi orang itu terbahak bahak.

"Haaa.... haa... haaa.... sungguh hebat!"

Sesudah berhenti sejenak, lanjutnya.

"Seandainya aku menang, mulai besok aku berhak menjadi tamu istana Sinkiong, setiap saat, dikala aku menjadi tamu, maka kalian berdelapan berkewajiban untuk .... melindungi keselamatan jiwaku!"

Mendengar perkataan tersebut, ke delapan orang kakek itu saling berpandangan sekejap. Kakek Jin dan kakek Tiong segera tertawa terbahak-bahak serunya.

"Suatu perhitungan yang amat jitu, cuma lohu bersaudara bersedia meluluskan permintaanmu itu!"

Orang itu segera tertawa, ucapnya.

"Harap kakek Jin dan kakek Tiong jangan sembarangan menjawab, karena masalah ini besar sekali artinya!"

Kakek Jin kembali tertawa terbahak-bahak "Cukup saudara, dengan mengandalkan keberanianmu itu, bahkan lohu bersaudara pun dianggap remeh, apalagi kebetulan Sancu tak ada dirumah, lohu tidak percaya kalau ada orang yang sanggup menghalangi dirimu"

"Kakek Jin, taruhanku toh belum kuucapkan."

"Ooooh.. sungguh menarik, apapun yang kau ajukan, lohu bersaudara pasti meluluskan!"

Mendadak orang itu berubah menjadi amat serius, katanya.

"Selama aku menjadi tamu kehormatan dari kalian berdelapan, aku berhak menampik terhadap orang-orang yang tak ingin kujumpai"

"Baik, masih ada yang lain?"

Kata kakek Jin sambil manggut-manggut. Orang itu segera menggelengkan kepalanya.

"Sekarang giliran aku yang meminta petunjuk dari kalian berdelapan, taruhan apakah yang hendak kalian ajukan."

Kakek Jin segera memandang sekejap kearah kakek Tiong, ketika kakek Tiong mengangguk kakek Jin baru berkata.

"Tarunan yang akan kami ajukanpun terdiri dari dua bagian, pertama kau harus melayani kami selama satu tahun didalam istana Sin kiong, kedua kau harus memperlihatkan wajah aslimu serta menyebutkan nama serta maksud kedatanganmu !"

Orang itu segera mengangguk.

"Baik, apakah masih ada syarat sampingan lainnya?"

Dia bertanya, Kakek Jin menggeleng.

"Cuma dua itu saja, tanpa syarat sampingan lainnya lagi."

"Maaf kakek berdelapan, aku mempunyai sarat sampingan yang hendak kuajukan !"

Ujar orang itu sambil tertawa. Kakek Tiong segera berkerut kening katanya.

"Apakah kau tidak merasa kebangetan ?"

Sahut orang itu dengan serius.

"Syarat sampingan ini harus kuterangkan lebih dulu !"

"Baik.... baik,"

Seru kakek Jin sambil tertawa.

"silahkan kau utarakan kepada kami!"

"Andaikata orang yang melepaskan racun itu baru ditemukan selewatnya kentongan ke empat, bagaimana pula keputusannya ?"

"Selewatnya kentongan ke empat, tentu saja kau yang dianggap menangkap peraturan ini"

Orang itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Soal menang kalah sudah kita bicarakan, sekarang aku hendak menanyakan apa yang hendak dilakukan terhadap orang yang melepaskan racun itu?"

"Hal itu merupakan urusan dari lohu bersaudara!"

Orang itu segera tertawa.

"Aku rasa seandainya orang itu mengakui sendiri, sudah sepantasnya kalau ia memperoleh pengampunan !"

"Harus mendapat pengampunan ?"

Kakek Tiong agak tertegun setelah mendengar perkataan itu.

"kau...."

"Kakek Tiong, yang menjadi korban adalah aku, maka aku merasa berhak untuk mengajukan permintaan ini !"

Kakek Tiong berpikir sejenak, akhirnya dia menjawab.

"Maksudmu, apakah lohu ber saudara tak usah mempersoalkan kesalahannya itu ?"

"Ehmm,... atau lebih tegasnya, entah siapa saja orang itu, tidak seharusnya kalian memberi hukuman kepadanya !"

Setelah mendengar perkataan itu, seakan-akan menyadari akan sesuatu, mendadak kakek Jin bertanya.

"Apakah kau telah mengetahui siapa gerangan orang itu ?"

"Yaa, dan sekarang maaf kalau aku tak dapat memberitahukan kepada kalian !"

Merah padam selembar wajah kakek Tiong katanya.

"Lohu amat takluk kepadamu, baiklah syarat inipun akan lohu sekalian luluskan !"

"Kakek Tiong segera tertawa ter-bahak2.

"Haahh... haah... haaa... lohu sudah memahami perkataanmu itu, dan aku meluluskan !"

"Haah... haah.... kalau begitu, kuwakili orang itu mengucapkan banyak terima kasih dulu ke pada kakek Tiong !"

Selesai berkata, dia lantas memberi hormat kepada kakek Tiong, Diam-diam kakek Tiong menggelengkan kepalanya beruang kali, sedangkan Kakek Jin yang berada disampingnya segera berkata.

"Saudara, untuk menunggu tibanya saat, rasanya masih ada waktu yang teramat panjang, kalau cuma menunggu melulu bukankah tindakan ini terlalu bodoh ?"

Tiba-tiba orang itu mengusulkan kembali.

"Kakek Jin adalah seorang yang pandai sekali, aku usulkan bagaimana kalau kita undang kehadiran Ngo siu ?"

Kakek Tiong segera berkerut kening, selanya.

"Terus terang saja kukatakan, kedudukan mereka teramat istimewa, kami tak berani menganggunya !"

Orang itu melirik sekejap kearah kakek Tiong, kemudian katanya.

"Kakek Tiong, beranikah kau bertaruh lagi!"

Kakek Tiong segera tertegun.

"Hei tampaknya kau benar-benar keracunan bertaruh !"

Serunya.

"Haah... haah... haah... ucapan dari kakek Tiong benar-benar membuat diriku merasa jengah !"

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba katanya.

"Taruhan ini boleh tak usah diselanggarakan tapi apa salahnya kalau kakek Tiong mencoba."

Kakek Tiong segera menggeleng, katanya.

"Saudara, kau tidak mengerti, untuk mengundang kehadiran mereka memerlukan adanya lencana kemala, padahal..."

Sambil menggeleng orang itu segera menukas.

"Aku percaya, asal kita mengutus orang untuk menyampaikan beberapa patah kata saja, sudah pasti dia akan datang kemari !"

Mendengar perkataan itu, Pat tek pat lo menjadi tertegun. Kakek Hoo segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Kau toh bukan dewa." !Apa salahnya kalau kita coba?"

Kata orang itu dengan keyakinan yang besar.

"andaikata dia bersedia datang, bukankah kita akan memperoleh teman lebih banyak ?"

"Apakah kau sangat yakin dengan ucapanmu itu ?"

Tanya kakek Kim sambil beranjak. Orang itu mengangguk.

"Bila kakek Kim tidak puas, silahkan mengundang seorang utusan datang kemari, lihat saja hanya mengandalkan dua tiga patah kata, dapat mengundang datang dirinya ditempat itu?"

Kakek Sim segera berpaling ke arah kakek Tiong, lalu katanya.

"Toako, apakah kau percaya dengan perkataannya itu ?"

Kakek Tiong menggeleng.

"Benar-benar sukar dipercaya, apalagi..."

Orang itu segera menukas sambil tertawa.

"Kakek Tiong, bila persoalan ini tidak sukar, tak akan dianggap sesuatu yang aneh !"

Kakek Tiong mengerutkan dahinya rapat-rapat, dia tetap tidak meluluskan untuk melakukan percobaan. Melihat itu, orang tersebut memutar biji matanya, lalu berkata.

"Bila kakek Tiong mempunyai kesulitan, anggap saja hal ini sebagai suatu bahan cerita saja."

Kakek Tiong memandang orang itu sekejap, agaknya dia telah mengambil keputusan, ujar nya kemudian.

"Tak ada gunanya kau berusaha untuk membakar hatiku, cuma lohu memang ingin sekali menyaksikan kehebatanmu itu !"

Kakek Sim dan kakek Peng segera memahami ucapan toakonya, mereka hanya tersenyum tidak menjawab. Terdengar kakek Tiong berkata lagi.

"Kau bilang, hanya mengandalkan tiga lima patah kata, mereka sudah dapat kau undang kemari ?"

"Yaaa, sekalipun tidak diundang dengan lencana giok-pay, aku jamin dia pasti datang !"

Kakek Tiong mengerling sekejap kearah orang itu, kemudian berkata.

"Seandainya bisa begitu, lohu pasti akan merasa puas dan benar-benar takluk ?!"

Berbicara sampai disitu, kakek Tiong lantas memberi tanda kepada kakek Sim. Kakek Sim pun segera berseru ke arah luar ruangan "Yu kim, di mana kau ?"

Seseorang mengiakan dan masuk ke dalam ruangan Teng-hong-sian. Yu kim berusia empat puluh tahunan, tampaknya cukup banyak pengalamannya. Sambil menuding ke arah orang itu, kakek Sim berkata kemudian.

"Dia adalah tamu agung kami pada malam ini, beri hormat dulu kepadanya!"

Yu Kim memberi hormat yang segera dibalas orang itu, maka kakek Kim berkata lebih lanjut.

"Yu Kim, kau harus dengarkan baik-baik beberapa patah kata yang hendak disampaikan tamu agung ini, kemudian sampaikan kepadai "Ngo-siu", apa yang dikatakan tamu agung ini, katakan pula kepada Ngo-siu tanpa ditambah atau dikurangi, mengerti !"

"Hamba mengerti."

Sambil tertawa kakek Sim lantas berkata.

"Kalau begitu, dengarkan baik-baik perkataan dari tamu agung ini!"

Sementara itu, orang tadi sudah memberi hormat kepada Yu Kim sambil berkata.

"Sobat Yu, kali ini terpaksa aku harus merepotkan dirimu."

"Silahkan tamu agung memberi perintah sudah menjadi kewajiban hamba untuk melaksanakannya."

Orang itu segera tertawa, ujarnya.

"Sahabat Yu,setelah berjumpa dengan nona nanti, harap beritahu kepada nona bahwa seorang tamu agung yang di jumpainya dalam ruang Teng-hong-sian dengan sebuah tirai bambu sebagai batasnya tadi sudah diracuni orang."

"Kini sobat Sik Puh mendapat perintah untuk melacaki pembunuhnya, kata tamu itu pembunuh sebetulnya sukar ditemukan, oleh sebab itu tolong sobat Yu bersedia memberitahu kepadanya, harap dia datang untuk menyelidiki peristiwa itu !"

"Hanya kafa-kata itu saja ?"

Tanya Yu Kim.

"Benar, beberapa patah kata itupun sudah lebih dari cukup !"

Yu Kim tidak berbicara lagi, kepada kakek Sim dia lantas berkata.

"Hamba memohon agar kakek Sim menyerahkan lencana Giok-pay !"

Sebelum kakek Sim memberi penjelasan orang itu telah berkata lebih duluan.

"Sobat Yu, untuk kali ini tak perlu diundang dengan lencana Giok-pay, percayalah dia pasti akan datang !"

Mendengar perkataan itu Yu Kim tertegun, sorot matanya segera dialihkan ke wajah kakek Sim. Dengan kening berkerut kakek Sim berkata.

"Pergilah, lakukan saja apa yang telah dikatakan oleh tamu agung kita itu !"

Yu Kim tak berani bertanya lagi, dengan hormat dia mengiakan Ialu mengundurkan diri.

Menanti Yu kim mengundurkan diri, ke delapan orang kakek itu lalu saling berpandangan sekejap.

Kepada orang itu, kakek Tiong berkata.

"Saudara, kau mempunyai keyakinan berapa bagian?"

Orang itu tertawa, dia segera bertanya.

"Kakek Tiong dan kau yakin berapa?"

Setelah mengelus jenggotnya, sahut kakek Tiong.

"Berbicara terus terang, dalam sepuluh bagian aku yakin sembilan bagian tidak!"

Sekali lagi orang itu tertawa.

"Kakek Tiong, jika kau sudah meyakini sembilan bagian, dan sudah sepantasnya kalau berani bertaruh denganku!"

"Tidak, aku tak mau bertaruh"

Kata kakek Tiong sambil menggeleng.

"kecuali aku yakin sepuluh bagian, kalau tidak tak nantinya lohu akan bertaruh lagi denganmu!"

"Oooh...! Mengapa demikian?"

Kakek Tiong mengerling sekejap ke arah orang itu, lalu sahutnya.

"Tahu diri tahu orang lain seratus kali bertarung seratus kali barulah menang, sekarang lohu masih belum mencapai ketaraf itu"

Tiba-tiba paras muka orang itu berubah menjadi amat serius, katanya.

"Kakek Tiong, dengan sepatah katamu itu sudah cukup buat diriku untuk mengubah diri."

Kakek Gi yang selama ini tak pernah berbicara, tiba-tiba menimbrung dari samping.

"Engkoh cilik, bagaimana kalau kita berbincang-bincang?"

"Bila kau orang tua bersedia membuka suara dengan senang hati aku sedia mendengarnya."

Dua orang ini sangat aneh, kakek Gi tidak menyebut orang ini sebagai "Saudara", dan orang itupun tidak menyebut kakek itu sebagai kakek Gi, sejak awal pembicaraan sikapnya terasa lebih jauh, mesra dan akrab.

Sambil tertawa kakek Gi berkata lagi.

"Engkoh cilik, sampai kapankah topeng kulit manusia yang kau pakai itu baru bisa kau lepas"

"Terus terang saja orang tua, aku ini sedang menyamar, tapi tidak mengenakan topeng kulit apapun!"

Merah padam selembar wajah kakek Gi karena jengah, katanya kemudian.

"Aaai..aku memang sudah tua, baru babak pertama sudah kena dibikin keok oleh engkoh cilik ini"

Orang itu segera menggelengkan kepalanya dan berkata..

"Menang atau kalah adalah suatu hal biasa, sepantasnya kalau kau orang tua naik kembali keatas kuda untuk berduel lebih jauh"

"Haa... haa... haaa bagus sekali engkoh cilik, sambutlah seranganku yang kedua ini"

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya.

"Engkoh cilik, sekarang apakah kau sedang menjadi tamu agungnya perkampungan Beng-keh san ceng?"

"Hei orang tua, harap berhenti dulu, kau sepantas-nyalah memberi kesempatan kepadaku untuk naik kuda lebih dulu!"

Mendengar ucapan tersebut, delapan orang kakek itu segera tertawa tergelak-gelak. Setelah tertawa, kakek Gi berkata.

"Bagaimana dengan kuda tunggangan engkoh cilik ?"

"Yaa, masih bisa dipakai bertempur!"

"Yaa, enghiong memang muncul dimasa muda!"

Seru kakek Gi. Setelah berhenti sebentar, lanjutnya.

"Apakah nama marga engkoh cilik berada pada posisi "ketiga"?" (perlu diterangkan, dalam urutan nama marga maka pada urutan ketiga adalah nama dari marga SUN. jadi yang dimaksud kakek Gi diatas, adalah, apa kau dari marga Sun?") Orang itu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haa... haa.... ha... kali ini aku betul-betul kena terjebak, selain kudaku hilang, akupun terbanting dari atas pelana kuda."

Kakek Gi segera menepuk paha, berseru.

"Aaaah, rupanya engkoh cilik! Mari, mari bersihkan dulu kotoran di wajahmu itu!"

Tapi orang itu segera menggeleng.

"Secara beruntun aku sudah kena di banting dari atas kuda sebanyak dua kali, kali ini aku harus membalas dariku.."

"Aku telah mempersiapkan diri, cuma takutnya engkoh cilik harus mundur dengan nihil!"

"Aah, belum tentu demikian."

Kata orang itu-sambil memancarkan sinar mata yang tajam. Tiba tiba sambil menuding kearah kakek yang bernama Gi, katanya kembali.

"Sebelum sancu pergi dari sini, tentu ia telah mengatakan sesuatu kepada kalian ber delapan bukan ?"

Kakek Gi memandangi orang itu sekejap, kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Haaah... haaaahhh... haaaahh... benar kita sudah bertanding empat babak dengan hasil seri, bagaimana kalau kita menarik pasukan sekarang ?"

"Memang cocok dengan suara hatiku"

Jawab orang itu sambil tersenyum hangat.

"dan pada nantinya kita terperosok dalam keadaan yang lebih runyam lagi!"

Baru selesai dia berkata, kakek Gi telah berkata kepada kakek Tiong.

"Toako, apakah engkoh cilik ini yang dimaksud sancu sebagai orang yang perlu kita awasi ?"

Kakek Tiong mengangguk.

"Dalam tanya jawab tadipun aku sudah mengetahui akan hal ini !"

Belum habis dia berkata, tiba tiba terdengar suara Yu Kim telah berkumandang datang dari luar ruangan.

"Nona Siu tiba !"

Ucapan itu dengan cepat membuat ke delapan orang kakek itu menjadi kaget bercampur tertegun. Orang itulah yang tiba-tiba menyadarkan mereka.

"Kakek Tiong, jangan tertegun meluIu, cepat menyambut kedatangannya !"

Ia berkata demikian, tapi orang yang sudah beranjak menuju kemulut loteng sebelah depan. Kakek Tiong segera melangkah kedepan sambil berseru.

"Saudara, kau hendak kemana ?"

"Menurut pendapat kakek Tiong, aku hendak kemana ?"

Kakek Tiong segera menggelengkan kepala nya berulang kali, katanya.

"Lohu tak ingin menduga secara ngawur, lebih baik kau sendiri saja yang menjawab !"

Sambil menuding keluar ruangan, orang itu berkata.

"Kedatangan nona Siu ini toh bukan diundang oleh lencana Giok pay ....?"

"Lohu tahu tapi kenapa pula?"

"Tidak apa apa, masa kita tidak seharusnya menyambut kedatangannya?"

Sambil tertawa kembali kakek Tiong menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kau adalah tamu agung, kami tidak berani terlalu merepotkan dirimu."

"Aaaah! Kakek Tiong tindak seharusnya berkata demikian, bagaimanapun juga kedatangan nona Siu adalah lantaran diriku, mana boleh aku bersikap karang hormat."

Kakek Tiong bungkam seribu bahasa, dan sesungguhnya dia memang mempunyai kejutan sehingga tak dapat membiarkan orang ini pergi menyambut kedatangan nona itu.

Tiba-tiba muncul sebuah akal cerdik didalam benaknya, dia lantas memberi tanda kepada tujuh orang kakek lainnya sambil berkata.

"Adik Siau, wakililah aku untuk menyambut kedatangannya !"

Setelah terhenti sejenak, dia baru berkata kepada orang itu.

"Silahkan saudara, mari kita pergi berdua !"

Orang itu benar-benar sangat aneh, tiba-tiba dia menggelengkan kepalanya seraya berkata.

"Sudahlah, lebih baik kakek Tiong saja yang menyambut kedatangannya."

Selesai berkata, sambil bergendong tangan dia lantas balik kembali ketempat semula dan duduk.

Kakek Tiong mengerutkan dahinya sambil menaruh curiga, sementara Kakek Siau telah -turun dari ruangan itu.

Tak lama kemudian, kakek Siau telah muncul seorang diri, sambil menuding kearah orang itu, serunya.

"Saudara, kau... Kau..."

Ternyata dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dengan perasaan tidak habis mengerti, kakek Tiong lantas berbisik dengan suara lirih.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi?"

"Nona Siu telah melalui jalanan yang lain, sekarang dia sudah duduk di belakang tirai bambu itu!"

Mendengar perkataan itu, dengan perasaan terkesiap kakek Tiong mendengus, bisiknya lagi.

"Adik Siau, maksudmu dia sudah tahu akan hal ini, maka dia tidak bersikeras pergi menyambut?"

"Yu Kim yang mewakili nona Siu menyampaikan perkataan, katanya... katanya..."

"Apa yang dia katakan?"

Tukas kakek Tiong amat gelisah. Kakek Siu melirik sekejap kearah orang itu, kemudian bisiknya.

"Nona Siu bilang, orang itu memiliki tenaga dalam yang benarbenar luar biasa hebatnya!"

"Aaaah, begitukah, lantas..."

Sementara kakek beradik itu bercakap-cakap dimulut loteng, orang itupun sudah melangsungkan pembicaraan rahasia dengan nona Siu dengan sebuah tirai bambu sebagai penyekatnya.

Kakek Tiong dan kakek Siau saling bertukar pandangan sekejap, kemudian merekapun balik ke tempat duduknya.

Waktu itu, kebetulan nona Siu sedang berkata.

"Kecerdasanmu benar benar luar biasa sekali darimana-kau bisa menduga kalau aku pasti akan datang kemari?"

Orang itu segera bangkit memberi hormat dan menjawab dengan lembut.

"Oleh karena nona mempunyai hati pousat, hati yang bajik."

"Kalau begitu, adalah karena atas kemauanku sendiri?"

Kata nona Siu sambil tertawa.

"Setelah nona mendapat laporan yang mengatakan aku sudah keracunan, sudah sewajar nya bila kau datang menengok."

"Oooh... aku rasa kau telah salah menduga, selama berada dalam istana Sin-kiong, aku hanya bertugas untuk menyelenggarakan pesta musik, soal tanggung jawab untuk melacaki orang yang melepaskan racun itu merupakan tugas dari delapan kakek !"

Orang itu tertawa, kembali katanya.

"Aku tidak ingin mendebat kata-kata nona, apalagi nonapun tak akan bisa melepaskan diri dengan begitu saja !"

"Oooh... cocokkah dengan kata kata tersebut ?"

"ltu tergantung pada nona sendiri !"

"Hmmm ! Kini aku ingin bertanya kepada saudara..."

"Aku rasa penggunaan kata kataku tadi sudah paling cocok sekali."

"Kau benar-benar amat tekebur !"

Bentak nona Siu. Orang itu segera tertawa.

"Aku sebagai tami agungnya Pat-lo, ternyata ada orang yang bermaksud untuk mencelakai diriku secara diam-diam, bahkan air tehku dicampuri racun, bila Pat-lo merasa sulit untuk menemukan siapa pembunuhnya, apakah nona bisa melepaskan diri dengan begitu saja ?"

Agaknya nona Siu merasa sulit untuk menjawab pertanyaan itu, maka dia terbungkam dalam seribu bahasa.

Kebetulan sekali, pada saat itulah dalam ruang loteng berkumandang suara kentongan yang menandakan kentongan keempat.

Orang itu segera menatap sekejap kearah kakek Tiong, lalu ujarnya sambil tertawa.

"Kakek Tiong, sudah kentongan kempat bukan ?!"

Paras muka kakek Tiong berubah, sahutnya.

"Benar, kau berhasil menangkan pertaruhan ini, lohu bersaudara pasti akan memegang janji"

Kembali orang itu tertawa.

"Mengapa kakek Tiong tidak mengundang sobat Sik datang kemari untuk ditanyai keadaan yang sebenarnya?"

Baru saja kakek Tiong akan memanggil Sik Puh, nona Siu telah berkata lagi.

"Kakek Tiong, pertaruhan apakah yang sedang kalian langsungkan?"

Dengan paras muka merah padam karena jengah, kakek Tiong segera menceritakan pengalamannya secara ringkas. Selesai mendengar kisah tersebut, tiba tiba nona Siu menghela napas panjang, katanya.

"Benar-benar kekalahan yang tragis, taruhan yang kalian pertaruhkan pun terlalu besar!"

Mendengar perkataan itu, delapan kakek tersebut agak tertegun, kakek Tiong segera berkata.

"Kenapa bisa dibilang kekalahan yang tragis? dia toh tamu agung yang sedang berkunjung didalam istana Sin kiong dari kami berdelapan, tapi kenyataannya ada orang yang berani bermain gila dihadapan kami semua, andaikata peristiwa ini tidak diselidiki sampai tuntas, harus ditaruh kemanakah wajah lohu berdelapan?"

Sekali lagi nona Siu menghela napas panjang.

"Aaai... menyelidiki peristiwa itu sampai tuntas memang merupakan kewajiban kalian, tapi kalian toh tak perlu bertaruh sambil memberi janji-janjinya."

"Tapi keadaan mendesak kami, bagaimana mungkin kami berdelapan bisa menampiknya?"

"Kalau begitu, aku ingin bertanya kepada kakek Tiong, apa yang hendak kau lakukan sekarang?"

Kakek Tiong mengerutkan dahinya rapat rapat, lalu menjawab.

"Sederhana sekali, apa yang telah kami ucapkan, harus dilaksanakan dengan sungguh hati, apalagi kami ada dipihak yang kalah, tentu saja kami harus..."

"Kakek Tiong, kau hanya berpikir satu tapi melupakan dua, betul kalian tak bisa menahan diri ketika itu, tapi tahukah kalian, justru dengan pertaruhan itu maka kekalahan yang kalian alami semakin tragis !"

Tukas nona Siu. Setelah berhenti sebentar dan menghela napas, dia melanjutkan.

"Sekarang urusan sudah menjadi begini, banyak berbicarapun tak ada gunanya."

Mencorong sinar tajam dari balik mata kakek Tiong, katanya kemudian.

"Nona toh mengetahui watak dari lohu bersaudara, sekalipun yang dipertaruhkan adalah batok kepala sendiri, bila kalah kami akan tetap membayar batok kepala kami ini, dan orang itu harus dicari terus sampai ketemu !"

"Kakek Tiong, sudah kau temukankah orang itu ?"

Nona Siu kembali bertanya. -ooo0dw0ooo

Jilid 10 SEPATAH DEMI SEPATAH sahut kakek Tiong.

"Sekarang memang masih belum, cuma lohu bersaudara yakin pasti dapat menemukannya!"

"Oh... bolehkah aku bertanya kepada kakek Tiong, dengan cara apakah kau hendak mencapai tujuanmu itu ?"

"Orang yang masuk ke dalam ruang Teng hong sian pada malam ini tidak banyak, kita kuliti mereka satu persatu..."

"Betul, cara ini memang bagus sekali"

Sela nona Siu, setelah berhenti sebentar, tiba tiba tanyanya lebih lanjut.

"Tahukah kakek Tiong, dengan cara ini berapa orang yang bakal mati terbunuh?"

Kakek Tiong berkerut kening, lalu sahutnya.

"Lohu tak bisa memperhitungkan sampai sejauh itu!"

"Sekalipun kakek Tiong tidak akan mempersoalkan berapa banyak yang bakal menjadi korban, tapi tolong tanya, dapatkah tujuan itu di capai ?"

"Seharusnya dapat!"

"Seharusnya?"

Jengek nona Siu sambil tertawa dingin.

"tidak! Kakek Tiong harus mengucapkan kata-kata yang tegas!"

Kakek Tiong berpikir sebentar, kemudian jawabnya.

"Kalau seorang demi seorang musti diperiksa, lohu percaya tak mungkin ia bisa melarikan diri dari cengkeraman! Sekali lagi nona itu tertawa dingin.

"Bagus, bagus, andaikata kakek Tiong memutuskan untuk mempergunakan cara ini, maka kau harus memperhitungkan juga mereka yang bekerja didapur!"

"Yaa, harus diperhitungkan juga!"

Sahut kakek Tiong sambil memperkeras hatinya. Dengan nada mendongkol bercampur setengah menghardik nona Siu berkata lagi.

"Bagus sekali, kalau begitu kalian berdelapan pun harus termasuk juga diantaranya !"

Sementara Kakek Tiong tertegun dan belum menjawab, nona Siu telah melanjutkan lebih jauh.

"Selain itu, aku dan adik Sian juga masuk hitungan !"

Paras muka kakek Tiong segera menunjukkan sikap tersipu-sipu yang belum pernah terlihat sebelumnya, dia tak menyangka kalau nona Siu bakal mengucapkan kata-kata semacam itu, sementara ia masih serba salah dibuatnya, sang tamu tersebut telah mengucapkan serangkaian perkataan yang amat menggetarkan perasaan.

Terdengar orang itu tertawa terbahak-bahak kemudian berkata.

"Nona, aku yang muda mengundang kehadiran nona bukanlah disebabkan persoalan ini". Ternyata sikap nona Siu dengan cepat dapat berubah, dengan suara yang lemah lembut dia berkata.

"Oooh, lantas maksudmu adalah, . ."

"Apalah sudah tahu masih pura-pura bertanya, Nona Siu segera tertawa lebar.

"Tampaknya kau memang hebat sekali!"

Sudah berhenti sebentar, dia melanjutkannya.

"Bolehkah aku bertanya, darimana kau bisa tahu kalau didalam air teh itu ada racunnya?"

"Haaahh... haaahh..haaahh... lagi-lagi sudah tahu pura-pura bertanya, maaf kalau aku tak akan menjawab."

Senyum manis masih menghiasi bibir nona Siu, katanya kemudian dengan lembut.

"Baiklah akupun tak akan bertanya lagi, tolong jelaskan apa maksudmu mengundang kedatanganku kemari?"

Sang tamu memandang sekejap wajah kedelapan orang kakek itu, kemudian sahutnya.

"Sederhana sekali, aku minta kesediaan nona agar jangan membuat kedelapan orang kakek itu memperoleh noda karena ketidak setiaan kawan..."

Nona Siu tidak segera menjawab, sebaliknya kedelapan orang kakek im segera merasakan hatinya amat terperanjat. Akhirnya kakek Hoo tak kuasa menahan diri, dia segera menibrung.

"Sebetulnya apa yang kau maksudkan dengan perkataanmu itu?"

"Kakek Hoo tak usah gugup, nona Siu segera akan memberikan jawabannya...!"

Sahut tamu itu sambil menuding kebelakang tirai bambu tersebut ! Nona Siu yang berada dibalik tirai bambu itu segera tertawa dingin, ujarnya.

"Hmm, kau hanya menuju.i suara hatimu saja, kenapa kau tidak tanyakan dulu bagaimana pendapatku?"

Tamu itupun tertawa dingin.

"Aku tidak percaya kalau nona tega untuk menampik maksudku dengan begitu saja"

"Tiada yang bisa kukatakan lagi, maaf. ."

Belum sempat nona itu menyelesaikan kata-katanya, mendadak dengan sinar mata memancarkan cahaya tajam orang itu sudah menukas dengan suara dalam.

"Bila nona beranggapan bahwa kecepatanmu bisa melebihi diriku, silahkan saja!"

Untuk sesaat lamanya nona Siu yang berada dibalik tirai bambu itu terbungkam dalam seribu bahasa, kenyataan ini membuat ke delapan orang kakek tersebut merasa terperanjat sekali.

Sampai lama, lama kemudian nono Siu ber kata.

"Mungkin anda lupa, dimanakah kau sekarang berada..." -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB TIGA BELAS "AKU tidak lupa."

Tukas Tamu itu ketus.

"tempat ini adalah istana Pat tek sin kiong dalam bukit pemakan manusia !"

Nona Siu segera mendengus dingin.

"Hmm, selama berada dalam istana sin kiong, aku tidak percaya kalau kau berani bertindak secara sembarangan?!"

"Kalau kau tak percaya, kenapa tidak dicoba saja?"

Jengek tamu itu sambil tertawa hambar.

"lngat, bila kau berani bergerak secara sembarangan kedelapan orang kakek itu tak akan berpeluk tangan belaka!"

"Heeeee...heeeh... heeehh... kedelapan orang kakek itu jauh berbeda bila dibandingkan dengan nona, meski selalu pegang janji, apalagi dalam pertaruhan tadi akulah yang menang, betul diriku hanya seorang tamu agung, namun aku sudah memiliki hak untuk masuk ke luar istana ini, apalagi..."

Pada saat itulah, nona Siau yang berada di balik tirai telah berseru kepada kakek Tiong.

"Kakek Tiong, sudah kau dengar perkataan orang ?"

Sementara itu kakek Tiong sudah mulai menaruh rasa curiga, namun ia belum memahami duduk persoalan yang sesungguhnya, maka setelah mendengar perkataan itu, katanya.

"Nona Siu, sebenarnya apa yang telah terjadi ?"

"Apa yang terjadi ? Hmm ! Apalagi kalau bukan gara-gara "pertaruhan"

Kalian dengan dirinya !"

Kakek Tiong semakin tidak habis mengerti.

"Tapi apa sangkut pautnya antara persoalan ini dengan peraturan tersebut ?"

"Kenapa kau masih juga tidak mengerti ?"

Bentak nona Siu.

"tahukah kau, dia telah mengandalkan kemenangannya atas pertaruhan tersebut untuk mengancam keselamatanku ?"

Kakek Tiong semakin tertegun, tanpa terasa ia berpaling kearah tamu itu sambil berseru.

"Saudara, benarkah perkataanmu itu ?"

Orang itu segera tertawa.

"Kakek Tiong, inginkah kau temukan pembunuh yang telah meracuni minumanku tadi ?"

Kakek Tiong segera mengangguk.

"Tentu saja ingin, tapi apa sangkut pautnya..."

"Kakek Tiong, bila kau ingin menyelesaikan persoalan apa saja yang ada didunia ini, aku rasa semuanya pasti ada pengorbanan nya bukan ?"

"Sudah barang tentu !"

Untuk sekian kalinya kakek Tiong manggut berulang kali. Orang itu segera tertawa.

"Kalau memang begitu, aku mohon kakek berdelapan untuk menjadi penonton saja untuk sementara waktu ."

"Perhitungan siepoa anda betul-betul bagus sekali"

Ejek nona Siu dengan cepat.

"cuma sayang kau telah lupa, siapakah tuan rumah istana Sin-kiong yang sesungguhnya !"

"Ooh... masa tuan rumah istana ini bukan kedelapan kakek, melainkan nona ?"

Selagi nona Siu mendengus dingin.

"Hmm! Dihadapan orang yang bersangkutan kau ingin menjalankan siasat mengadu domba, menurut anggapanmu siasat macam itu akan mendatangkan hasil ?"

Orang itu segera tertawa.

"Justeru karena tak berguna, maka kakek berdelapan baru percaya kalau aku memang bukan lagi mempraktekan siasat mengadu domba !"

Pada saat itulah kakek Tiong telah berkata lagi.

"Saudara, sebenarnya apa yang telah terjadi ? Kenapa tidak kau katakan secara berterus terang...."

Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba tamu itu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Suara tertawanya itu sangat keras menggetarkan sukma, sekalipun Pat-lo memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, tak urung harus menggerahkan juga tenaga dalamnya untuk melindungi pusar.

Setelah berhenti tertawa, orang itu baru berseru kembali kearah balik tirai bambu itu dengan suara keren.

"Nona Siu, apakah kau ingin pergi dengan begitu saja ?!"

Nada suara nona Siu berubah hebat, agak gemetar dia berkata.

"Anggap saja kau memang hebat,, tapi ingin kulihat kau bisa mengembangkan kehebatanmu itu sampai kapan !"

Orang itu segera tersenyum.

"Nona, aku sebagai tamu dari istana ini mana berani berbicara kasar ?"

"Aku hanya ada dua permintaan yang mengharapkan kesediaan nona untuk memenuhinya, untuk itu aku merasa berterima kasih sekali. Nona Siu segera menghimpun tenaganya dan berseru.

"Dapatkah aku menolak permintaanmu itu ? Coba kau katakan i"

Sekali lagi orang itu tertawa.

"Tampaknya nona memang cukup dapat memahami perasaan orang, terlebih dulu kuucapkan banyak terima kasih."

Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.

"PersoaIan yang pertama, adalah dipersilahkan nona keluar dari baik tirai untuk bertemu !"

Nona Siu segera mendengus.

"Bisa kululuskan, lantas apa permintaanmu yang kedua ?"

Dengan cepat orang itu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Lebih baik kita laksanakan persoalan ini gatu demi satu saja"

Katanya cepat.

"Silahkan kau laksanakan persoalan yang pertama !"

Sementara itu nona Siu telah berpaling ke arah Pat-lo seraya berseru dengan suara nya yang lantang...

"Pat-lo, harap ingat baik-baik setiap perbuatan yang terjadi pada malam ini !"

"Nona tak usah menggertak Pat-lo dengan kata-kata,"

Dengus orang itu dingin, dan terlebih dahulu aku akan mengucapkan sesuatu kepada nona, yang ingin kujumpai adalah Sancu kalian, jadi sebelum dia pulang, tak nanti aku akan pergi dari sini!"

Nona Siu tak bisa berkata apa-apa lagi, tampak tirai bambu digulung dan nona itupun munculkan diri.

Nona itu mempunyai paras muka yang amat cantik, pipinya putih halus dengan bibir yang kecil, matanya jeli namun sikapnya keren dan amat serius..

Ketika orang itu bertemu dengan nona Siu, tiba tiba sepasang alis matanya berkenyit, lalu berpikir.

"Aaah, tidak benar, tidak benar, rupanya dia bukan orang yang sedang kucari!"

Namun perasaan tersebut tak sampai diungkapkan diatas wajahnya, malahan sekulum senyum segera disunggingkan diujung bibirnya.

Sementara itu, ketika Pat-lo melihat kemunculan nona Siu, merekapun saling berpandangan sekejap, sikap mereka sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Sudah barang tentu, keadaan tersebut tak lolos dari ketajaman mata orang itu, namun ia tidak memberi komentar ataupun reaksi apa apa.

"Sekarang aku telah menampakkan diri, katakanlah persoalan yang kedua ... !"seru nona tiu kemudian.

"Tolong nona jelaskan kepadaku, apa sebab nya dalam air teh ku bisa ada racunnya?!"

Begitu pertanyaan ini diutarakan keluar, paras muka Pat-lo segera berubah hebat, mereka hanya bisa duduk tertegun dengan sinar mata keheranan. Nona Siu segera tertawa hambar.

"Oooh... kau mengatakan aku yang telah mencampuri racun itu?"

"Nona, harap jangan salah mendengar, aku hanya minta kepada nona untuk menerangkan apa sebabnya dalam cawanku bisa ada racun nya, aku toh tidak menuduh nona yang telah melepaskan racun itu!"

"Hmm! Heran, kalau toh yang meracuni bukan aku, mana mungkin aku bisa menjelaskan persoalan tadi?!".

"Haahh .haaha....haha...benar, benar, kalau memang begitu, terpaksa aku harus mengundang keluar seorang yang lain untuk memberi penjelasan."

Sambil-berkata, mendadak orang itu merentangkan kelima jari tangan kanannya ke arah tirai bambu itu dan mencengkeramnya ke udara kosong.

Gerak serangan dari orang itu cepat sekali, namun gerakan tubuh nona Siu pun tidak kalah cepatnya, apalagi dia memang sedang berdiri didepan orang itu, maka hanya sejangkauan tangannya yang lentik sudah dapat mencapai sepasang mata lawannya..

Mata, merupakan pusat dari semua indera manusia, sudah barang tentu, seorang itu tak berani bertindak gegabah, diapun tak mengira kalau nona Siu yang berada hanya tiga langkah dihadapannya itu bisa melepaskan serangan maut ke arahnya.

Dalam keadaan demikian, tentu saja dia harus mengambil keputusan untuk melindungi keselamatan dirinya lebih dulu, mendadak ke lima jari tangan kanannya di tarik kembali, kemudian menyambar ke atas pergelangan tangan nona Siu, sedangkan tangan kirinya tetap melanjutkan cengkeraman udara kosongnya Angin menyambar tirai bambu yang rapat itu..

Tirai itu segera p ltus dan terjatuh kebawah, ternyata semuanya terdiri dari tiga lapis, tak heran kalau orang-itu hanya bisa melihat raut wajah orang-dibalik tirai itu secara lamat-lamat saja, kendatipun dia telah menghimpun tenaga dalamnya untuk melihat dengan ilmu "mata sakti"

Nya.

Jeritan tertahan segera berkumandang bersamaan dengan suara putusnya tirai bambu itu ke atas tanah, sedangkan pergelangan tangan nona Siu pun kena di totok sehingga terpental sejauh lima depa lebih dari tempat semula sambil mengaduh-aduh tiada hentinya.

Dengan terlepasnya tirai bambu itur mereka-semua pemandangan dibalik tirai tersebut pun dapat terlihat dengan jelas, Semua orang dapat melihat jelas ada sesosok bayangan punggung dari seorang gadis yang cantik luar biasa sedang menyelinap masuk ke balik sebuah pintu rahasia dibawah tanah sana.

sementara itu, sang tamu sudah berdiri mem belakangi Pat-lo, tapi saling berhadapan muka dengan nona Siu yang masih memegangi pergelangan tangannya sambil mengaduh.

Sambil tertawa lembut, orang itu segera berkata.

"Maaf seribu kali maaf nona, jika aku telah membuat nona kesakitan...!"

Dengan gusar nona Siu melototi wajah orang itu, dia hanya mendengus dingin tanpa mengucapkan sepatah katapun. Kembali orang itu tersenyum, ujarnya.

"Nona, sudah baik-baik memangku jabatanmu sebagai nona "sian", mengapa kau mesti menuruti perkataan orang lain dan menyaru sebagai nona Siu?!"

Ketika mendengar perkataan itu, kakek Tiong memandang sekejap ke arah rekan-rekannya, namun wajahnya diliputi pula oleh perasaan heran bercampur curiga.

Setelah berhenti sebentar, terdengar orang itu berkata lagi kepada kakek Tiong.

"Bukannya aku hendak menegur Pat-lo, aku hanya heran, kalau toh Pat lo mengetahui akan hal ini, mengapa kalian tidak menjelaskannya kepadaku?"

Dengan perasaan menyesal bercampur malu, kakek Tiong menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Aaai, terus terang saja kukatakan, kedudukan nona Siu sesungguhnya luar biasa sekali....."

"Jadi Tiong-lo (kakek Tiong) mengira aku masih belum tahu tentang kedudukan nona Siu?"

Tukas orang itu dengan wajah serius. Kakek Tio-ng tertawa jengah.

"Bila kau sudah tahu, hal ini lebih baik lagi.."

"Siapa tahu, pada saat itulah orang tersebut telah mengucapkan kembali kata kata yang segera mengejutkan semua orang.

"Kakek Tiong, bila dugaanku tidak salah, nona Siu yang sekarang sudan bukan nona Siu yang sesungguhnya lagi."

Ketika mendengar perkataan itu, baik Pat-lo maupun nona Sian yang menyaru sebagai nona Siu sama-sama berubah hebat raut wajahnya.

"Saudara, apa yang kau maksudkan dengan perkataanmu itu?", tegur kakek Tiong dengan kening berkerut.

"Terus terang kukatakan kakek Tiong, walaupun ilmu silat yang kumiliki biasa saja, tenaga dalamku juga belum mencapai puncak kesempurnaan akan tetapi semenjak kecil aku telah memperoleh warisan dari seorang tokoh silat yang melatih sepasang mataku untuk melihat dari kejauhan."

"Oleh karena itu, ketika nona Siu dan nona Sian menemani minum arak tadi, kerdatipun teraling oleh tirai bambu, namun tak bisa mengelabui sepasang mataku, itulah sebab nya aku bisa mengatakan kepada kakek Tiong kalau dibalik tirai ada dua orang."

"ltulah sebabnya ketika nona Siu dan nona Sian muncul sekali lagi, walaupun terhalang oleh tirai bambu, aku masih dapat mengenali kalau nona Sian tetap masih nona Sian, sebaliknya nona Siu mesti masih tetap merupakan nona Siu..."

"Sudah barang tentu demikian-!"

Tukas nona Sian dengan cepat.

"buat apa kau mesti banyak berbicara lagi ?!"

Orang itu tersenyum, katanya.

"Jangan terburu nafsu nona, harap dengarkan dulu perkataanku hingga selesai. ."

"Sayang aku tak punya waktu untuk berce-loceh terus dengan orang macam dirimu itu!"

Kembali nona Sian menimbrung. Orang itu segera mendengus dingin.

"Hm, nona Sian, mari kita berbicara sejujur nya, bukankah enci Siu mu itu telah berubah menjadi seseorang yang lain? Aku dapat melihat kalau diatas wajahnya telah mengenakan selembar topeng kulit manusia yang mirip sekali dengan nona Siu!"

"Anak, apakah kau telah melihat jelas?"

Kakek Tiong segera menjerit tertahan. Orang itu tidak menjawab pertanyaan tersebut, kepada nona Sian kembali katanya.

"Aku yakin setelah nona Sian berbalik ke tempat tinggalmu sesudah berlalu dari sini, tentunya kau tak bertemu dengan nona Siu dalam suatu jangka waktu yang tidak terhitung pendek bukan?"

Agaknya kakek Tiong dapat memahami arti kata dan ucapan orang itu, paras mukanya segera berubah, kepada nona Sian segera tanyanya.

"Nona Sian, ketika itu kentongan ketiga sudah lewat, kenapa kalian tidak pergi tidur?"

"Enci Siu bilang, dia teringat masih ada satu persoalan yang belum di selesaikan . .."

Belum sampai nona Sian selesai berbicara, orang itu telah menukas kembali.

"Tolong tanya nona Sian, setelah balik kembali ke kamarnya, bukankah mimik wajahnya menunjukkan sikap anak gugup dan agak gelagapan?"

Nona Sian kembali berpikir sebentar, lalu sahutnya.

"Be.... betul, dalam perjalanan pulang ke ruang belakang, sepanjang jalan dia tidak ber kata apa-apa, wajahnya tampak gelisah sekali, jauh berbeda dengan tabiatnya dimasa-masa yang lalu !"

Sementara itu enam belas buah mata dari Pat-lo telah ditujukan ke wajah orang itu, agaknya mereka sedang menantikan jawabannya.

Orang itu mendengus dingin, tiba-tiba ia berpaling kearah Pat-lo sembari berkata.

"Pat-lo, dengan kunjunganku yang gegabah ke dalam istana Sin-kiong pada malam ini, semestinya harus di jatuhi dengan hukuman apa?"

Kakek Tiong menjadi tertegun menghadapi penanyataan tersebut, katanya kemudian.

"Apa maksudmu mengucapkan perkataan itu? Lohu bersaudara telah menjelaskan dengan seterang-terangnya, kau adalah tamu agung kami, sekarangpun kita sedang membicarakan urusan yang amat serius, kenapa kau malahan..."

Sambil tertawa orang itu segera menukas.

"Jangan gelisah kakek Tiong, aku bisa mengajukan pertanyaan ini, sudah barang tentu ada alasannya !"

"Ooooh... apakah alasannya ?"

"Kalau toh aku adalah tamu agung dari Pat lo, lagi pula dengan segenap anggota istana ini dari atas sampai kebawah tiada permusuhan ataupun dendam kesumat, tolong tanya kakek Tiong, kenapa orang itu hendak meracuni aku sampai mati ?"

"Benar!"

Seru kakek Tiong dengan mata terbelalak.

"sampai sekarangpun lohu masih belum memanami sebab musababnya !"

"Tapi aku mengetahui hal ini dengan jelas sekali !"

Kata orang itu cepat sambil tertawa.

"Ooh? Kalau begitu tolong berilah petunjuk kepada kami semua."

"Yang meracuni diriku adalah nona Siu"

Kata orang itu! Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh.

"Harap kalian dengarkan lebih seksama lagi, yang kumaksudkan sebagai orang yang telah meracuni diriku itu adalah nona Siu gadungan yang mengenakan topeng kulit manusia sehingga gerak geriknya mirip sekali dengan nona Siu yang asli."

"Soal kenapa ia sampai meracuni diriku ? Alasannya hanya ada satu, yakni dia sudah tahu kalau penyaruannya itu tak nanti bisa mengelabuhi ketajaman matamu !"

Kakek Tiong memandang sekejap ke arah kawanan kakek lainnya, kakek Ay segera manggut-manggut seraya berkata.

"Toako tampaknya memang demikian."

"Sobat-sobat tua sekalian, duduknya persoalan bukan hanya sampai disitu saja !"

Kata orang itu lebih jauh. Kembali Pat-lo dibikin terkejut oleh perkataan itu.

"Tolong utarakanlah dengan jeIas, apa lagi yang berhasil kau lihat didalam peristiwa ini."

Pintanya hampir bersamaan Orang itu memandang sekejap ke arah delapan orang kakek itu, kemudian menjawab.

"Sudah pasti nona Siu gadungan ini mempunyai tujuan yang jahat atau bahkan ada dendam kesumat dengan partai kalian, dendam tersebut pasti berat dalam bagaikan lautan, itulah sebabnya ia baru menyamar dikala Sancu sedang turun gunung."

Tapi akupun dapat memastikan bahwa nona Siu yang asli pasti mempunyai hubungan yang luar biasa intimnya dengan Sancu kalian, itulah sebabnya ia menyamar sebagai nona Siu dengan tujuan untuk mengancam Sancu agar menuruti keinginannya!"

Paras muka Pat lo serta si nona Siang segera berubah hebat, tanpa mengucapkan sepatah katapun kegelapan orang kakek itu segera membalikkan badan dan berlalu dari sana.

"Mau kemana kalian berdelapan ?"

Orang itu segera mencegah.

"Saudara benar-bcnar cukup bersahabat, buat kebaikan ini tentu akan lohu bersaudara belas bila urusan telah selesai nanti, sebagaimana yang dikatakan anda tadi, lohu bersaudara harus segera membekuknya hidup-hidup."

Belum habis perkataan itu diukapkan, sang tamu telah menukas.

"Harap kakek Tiong jangan bertindak gegabah, bagaimana kalau dengarkan dulu sepatah dua patah kataku."

"Baik, baik, lohu akan mendengarkan dengan seksama."

Kakek Tiong benar-benar sudah takluk kepada orang itu sekarang, bahkan apa yang diucap kan segera dituruti tanpa membantah.

Dengan sorot mata yang tajam orang itu menatap sekejap wajah Pat lo, kemudian katanya.

"Setiap tindakan yang akan kalian lakukan harus disertai dengan suatu perencanaan yang matang, walaupun aku yakin kalau dugaanku ini delapan sembilan puluh persen pasti benar, tapi bagaimana pun juga kita harus berjaga-jaga terhadap "seandainya"!"

"Masih ada seandainya apa lagi? Masa akan terjadi perubahan yang lainnya?"

Kakek Tiong tidak habis mengerti.

"Yaa, tentu saja, malah banyak sekali, misalnya saja andaikata dugaanku itu keliru, bagai mana jadinya?!"

Kakek Tiong menjadi berdiri bodoh, ia hanya termangu-mangu tanpa bisa menjawab. Orang itu lantas tertawa seraya berkata lagi.

"Apalagi sekalipun dugaanku tidak salah, nona Siu yang asli toh masih berada ditangan nona gadungan, sebelum kita berhasil membekuknya hidup-hidup, bagaimana jadinya bila ia mempergunakannya sebagai sandera untuk memaksa kalian? Urusankan bisa menjadi berabe?"

Sekali lagi Kakek Tiong dibuat tertegun "Saudara, lohu benar benar mengagumi dirimu."

Setelah berhenti sebentar, kembali berkata.

"Katakanlah saudara, apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Pertama-tama kita harus kerahkan dulu pat lo sekalian, tapi yang boleh menampakkan diri hanya kakek Tiong seorang bersama nona Sian, kakek Tiong mempunyai "giok pay "

Jadi apa ia asli atau gadungan, tak mungkin kau bisa disalahkan."

"Setelah itu, kakek Tiong harus bertanya kepadanya secara sungkan mengapa dia mencampuri air teh dengan racun kakek Tiong harap mengingatnya baik baik, pertanyaan tersebut tak lebih hanya suatu alasan yang penting adalah mengawasinya agar ia jangan meninggalkan tempat itu.

"Pada saat itulah, para kakek yang lain boleh membagi tugas, ada diantaranya berjaga jaga disekitar situ agar dia tak sampai kabur, sedangkan lima orang lainnya segera manfaatkan kesempatan itu untuk mencari nona Siu yang asli!"

"Hebat betul akalmu itu, baik kita lakukan begini saja!"

Seru kakek Tiong sambil mengacungkan jempolnya. Kemudian kepada nona Sian serta kakek lain nya, dia berseru.

"Hayo berangkat, persoalan ini harus segera diselesaikan ... !""

"Kakek Tiong, aku akan menantikan kabar baik darimu ditempat ini...."

Seru orang itu lagi.

"Tak usah kuatir saudara, maaf lohu sekalian akan mohon diri terlebih dahulu !"

Dia lantas memberi tanda, kemudian bersama Jit-lo dan nona sian berangkat meninggalkan tempat itu, Dalam waktu singkat semua orang sudah berlalu, dalam istana Teng-hong sian pun tinggal orang itu seorang diri.

Tampak dia tertawa geli sambil bergumam.

"Namanya saja Pat tek sin kiong, huuh...! Pada hakekatnya tak lebih cuma istana gua orang-orang pikun, tidak sia sia perjalananku pada malam ini, sekarang aku harus segera pergi dari sini!"

Walaupun ia berkata demikian, namun tubuhnya sama sekali tidak bergerak dari posisinya semula.

Belum lama sehabis dia berguman, terasa ada angin lembut berhembus lewat, tahu tahu hadapannya telah bertambah dengan seseorang.

Orang itu tak lain adalah peronda dari istana Sin-kiong, Sik Phu adanya.

Tampak Sik Phu dengan sinar mata yang tajam bagaikan sembilu sedang berdiri lebih kurang delapan depa dihadapannya, dengan suara dingin ia lantas menegur.

"Apakah kau hendak pergi?"

Orang itu menatap sekejap wajah Sik Phu, lalu tersenyum.

"Pergi sih belum pergi, aku lagi menantikan kedatanganmu !"

"Hmm! Benarkah kau masih mempunyai keberanian untuk menunggu kedatanganku ?!"

"Betul, aku memang memiliki keberanian ini !"

"Huuh, apakah kau sudah menduga kalau aku pasti datang ?"

Sambil mengangkat bahu orang itu tertawa.

"Bukankah sekarang kau telah berdiri dihadapanku ?"

Jawabnya. Sik Phu segera menggigit bibir menahan diri, katanya.

"Tiada artinya hanya bersilat lidah belaka, aku orang she Sik ingin menanyakan maksud kedatanganmu yang sebenarnya !"

Orang itu kembali tertawa.

"Apakah sahabat Sik lupa kalau aku adalah tamu agung dari Pat lo kalian ini?"

"Hmm ! Kalau mereka memang gampang di-tipu, tapi jangan harap kau bisa menipu aku orang she Sik."

"Oooh... kalau begitu, baik kepandaian silat, kecerdasan maupun kedudukan seorang peronda dari istana Sin kiong agaknya jauh melebihi Pat tek pat lo?!"

Sik Phu amat terperanjat setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat.

"Soal soal semacam ini tak perlu kau risaukan."

Terbahak bahaklah orang itu sehabis mendengar ucapan tersebut.

"Haaahhh... haaahh... haaahh... sahabat Sik keliru besar"

Bagaimanapun juga aku pasti akan merasa risau sekali."

"Saudara, lebih baik kita buka jendela lebar lebar dan berbicara blak-blakan saja?"

Seru Sik Phu dengan kening berkerut.

"Memang inilah keinginanku, silahkan!"

Dengan sorotan mata yang tajam dan keren Sik Phu menatap wajah orang itu lekat-lekat kemudian katanya. Orang itu tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya.

"Kenapa tidak memperbincangkan dulu tentang sahabat Sik sendiri?"

Sekali lagi Sik Phu merasa terkesiap.

"Apa yang bisa diperbincangkan tentang aku orang she Sik?"

Dengan wajah serius orang itu berkata.

"sahabat Sik, berada didepan orang lebih baik jangan berbohong, memangnya wajahmu yang sekarang ini adalah wajah aslimu ?"

Paras muka Sik Phu berubal hebat, setelah mundur selangkah serunya.

"Omong kosong, sejak dilahirkan aku orang she Sik telah berwajah demikian !"

"Haaahh... haaahh... haaaaah... kalau begitu anggap saja sewaktu berada dalam perkampungan Jin-gi ceng tempo hari, aku telah salah melihat orang !"

Selesai berkata orang itu tertawa dingin dan melanjutkan perjalanannya keluar dari istana tersebut. Dengan perasaan bergetar keras Sik Phu segera berseru.

"Berhenti kau, aku orang she Sik belum selesai berbicara !"

Orang itu sama sekali tidak berhenti, berpalingpun tidak, katanya dengan lantang.

"Sahabat Sik, seandainya aku tidak berhasrat untuk menantikan kedatanganmu buat apa aku musti berguman untuk memancing kedatanganmu? Kau tidak berterima kasih malahan."

Sik Phu segera menyelinap ke depan dan menghadang dihadapan orang itu, ujarnya dengan suara rendah.

"Saudara, tempat ini bukan tempat untuk ber-bincang, silahkan mengikuti aku !"

Tapi dengan cepat orang itu menggeleng.

"Sahabat Sik, tahukah kau akan ketiga buah gua dipinggang bukit bagian belakang sana ?"

Mendengar ucapan itu, Sik Phu terperanjat lalu sahutnya. Tahu, tahu... tempat itu adalah... tapi apa maksudmu menyinggung tentang ke tiga buah gua tersebut ?!"

"Sahabat Sik, berada di tempat ini kau lakukan saja tugasmu, tapi hati-hati, waIau Pat lo jujur dan baik, nona Siu lihaynya luar biasa dan lagi amat cerdik, kau harus perhatikan dengan serius!"

"Seandainya kau benar benar ada persoalan yang hendak diperbincangkan malam ini sudah tak sempat lagi, besok pada kentongan pertama sampai kentongan ke dua, silahkan datang kedalam gua tengah dari ketiga buah gua tersebut, akan kunantikan kedatanganmu di situ!"

Selesai berkata, si orang itu segera berkelebat ke udara dan menerobos keluar lewat jendela di sudut kiri.

"Tunggu sebentar saudara, aku orang she Sik masih ada persoalan yang hendak di bicarakan."

Bisik Sik Phu.

Seraya berkata dia ikut menyusul keluar, namun suasana di sekeling istana itu sunyi sepi, tak kelihatan sesosok bayangan manusiapun, cepat cepat dia melompat naik keatas atap rumah, apa yang terlihatnya membuat orang ini merasakan hatinya bergetar keras.

Dalam waktu yang teramat singkat, orang itu sudah berada beberapa li jauhnya dari tempat semula.

Sik Phu menggelengkan kepalanya berulang kali, mendadak ia seperti merasakan sesuatu, cepat kakinya menjejak permukaan atap dan menyelinap ke bawah.

Belum lama dia meninggalkan atap rumah, serombongan bayangan hitam telah meluncur datang dari dalam istana, kemudian langsung menuju keruang tengah.

Yang baru saja menampakkan diri itu ternyata tak lain adalah Pat lo, nona Sian serta seorang nona lain yang bermata tajam.

Dengan sorot mata yang tajam kakek Tiong memandang sekejap sekeliling ruangan itu, kemudian bentaknya keluar istana dengan suara yang dalam dan berat.

"Mana pengawal ? Cepat ke mari !"

Menyusul seruan itu, dari kejauhan sana terdengar seseorang berkata.

"Kalian sudah mendengar belum? Kakek Tiong sedang memanggil kalian semua?"

Berbareng dengan teriakan itu, sesosok bayangan manusia meluncur masuk ke dalam ruang istana dengan kecepatan tinggi, orang itu tak lain adalah Sik Phu.

Sambil memberi hormat kepada kakek Tiong, dia lantas berseru.

Hamba sedang menyelidiki siapa yang melepaskan racun ..."

Tiba-tiba kakek Tiong mengulapkan tangannya mencegah Sik Phu melanjutkan kata-kata-nya, lalu menegur.

"Apakah kau melihat orang itu?"

Walaupun Sik Phu tahu kalau yang di maksudkan adalah tamu tadi, namun ia tetap berlagak pilon.

"Orang itu? Orang yang mana?"

Kakek Tiong menjadi gemas sekali, sambil mendepak-depakan kakinya dia berseru.

"Siapa lagi, tentu saja bocah keparat yang berada di sini tadi!"

"Bukankah dia adalah tamu agung Pat lo?!"

Seru Sik Phu dengan mata terbelalak. Merah padam selembar wajah kakek Tiong karena jengah.

"Tamu agung kentut!"

Dampratnya. Tetapi begitu ucapan tersebut di ucapkan, dia baru tahu salah, cepat-cepat lanjutnya.

"Lohu bertanya, sudah kau lihatkah dirinya atau tidak?"

"Hamba sedang mendapat tugas untuk menyelidiki soal keracunan tadi dan baru saja kembali . ."

Kakek Tiong segera mendengus, kepada nona berwajah keren itu katanya kemudian dengan wajah tersipu-sipu.

"Nona Siu, ternyata dugaanmu memang tepat, dia telah kabur!"

Ternyata nona yang bermata tajam dan berwajah keren itu tak lain adalah nona Siu. Dan sementara itu noa Siu telah mendengus dingin sambil mendamprat.

"Kakek Tiong, bukannya aku berani mencaci maki dirimu, tetapi kali ini kau betul seorang manusia pikun yang amat bodoh!"

Api amarah terpancar keluar dari balik mata kakek Tiong, kepada rekan rekannya dia segera berseru dengan suara dalam.

"Hayo berangkat, kita segera mencari bocah keparat itu sampai sampai dapat. .. !"

"Kalian hendak mencarinya di mana?"

Cegah nona Siu.

"Bukankah bocah kerarat itu menjadi tamu dalam perkampungannya? Masa ia dapat kabur."

"Sekalipun tak bisa kabur, kau bisa apa ?"

Tukas nona Siu.

"Tangkap dia !"

Nona Siu segera tertawa dingin.

"Mampukah kalian untuk menangkapnya?!"

Asal bocah keparat itu masih berada diatas bukit, tentu saja dapat menangkapnya kembali !"

Sahut kakek Tiong sambil mengamuk. Nona Siu memutar biji matanya sebentar, kemudian sebelum senyuman segera tersungging di ujung bibirnya, ia berkata kemudian.

"Betul, kalau tidak, bila Sancu sampai pulang bagaimana cara kalian untuk mempertanggung jawabkan diri ?"

Kakek Tiong segera menghela nafas panjang, kepada ke tujuh orang rekannya dia berseru.

"Saudara sekalian, hayo berangkat !"

Kali ini nona Siu tidak menghalangi lagi, begitu selesai berkata, Pat-lo segera berangkat menuju ke perkampungan.

Nona Sian hendak menyusul dari belakang, tetapi nona Siu segera menarik tangannya sambil berkata.

"Mau apa kau ?"

"Tentu saja pergi membekuk bocah keparat itu ?!"

Sahut nona Sian agak tertegun. Nona Siu segera tertawa cekikikan.

"Cukup adikku, biarkan saja delapan orang tua bangka itu menerima sedikikit pelajaran, hayo, kitapun harus pulang !"

Kembali nona Sian tertegun, baru saja dia akan buka suara, Nona Siu telah melanjutkan.

"Adikku, kau anggap bocah keparat itu seorang musuh yang sederhana..."

"Masa dia sudah kabur?"

"Kabur sih ... mungkin tidak"

Kata nona Siu menggeleng kepala. Nona Sian tidak habis mengerti.

"Kalau toh dia masih ada di perkampungan ini, memangnya tidak mungkin bila kita bekuk batang lehernya?"

"Hmm! Bila ia tidak sampai kabur, itu berarti dia sudah mempunyai pegangan yang kuat dan tidak kuat dan tak kuatir kalau sampai ketangkap Pat lo!"

Nona Sian mengerdipkan sepasang matanya berulang kali, tapi dia masih tetap saja tidak habis mengerti.

Dengan sepasang matanya yang jeli itu nona Siu mengerling sekejap matanya ke arah nona Sian, kemudian kembali ia berkata.

"Bodoh amat kau adikku, memangnya dia itu bisa mengaku berterus terang bahwasanya perbuatan itu adalah merupakan hasil karya nya sendiri?!"

"Banyak saksi mata yang menyaksikan hal ini, kalau ada sepuluh orang menuduhnya demikian, masa ia tidak mengaku?!"

Nona Siu segera tertawa dingin tiada henti nya.

"Heeh heh heh jangan lupa adikku, tadi kakek Tiong telah berkata, ia sendiri telah mengaku kalau datang dengan wajah menyaru?!"

Nona Sian barulah mengerti, iapun menggelengkan kepalanya berulang kali sambil ber-gumam.

"Licik dan hebat sekali orang ini!"

Selintas senyuman dingin yang menyeramkan itu segera menyungging di bibirnya si-nona Siu, katanya.

"Hmm ! Sekarang, biarkan saja dia bermain setan, yang bagaimanapun juga, . .."

Belum habis perkataan itu diucapkan dia sudah menarik nona Sian untuk diajak pergi.

X X X SEMANGAT Nona Kim hari ini sangat baik, selewatnya kentongan ke empat ia baru meninggalkan ruangan tengah.

Bau-ji sudah dua kali berusaha mohon diri ditengah jalan, tapi selalu ditahan kembali oleh nona Kim, padahal Bau ji sendiripun tidak sungguh-sungguh ingin kembali keloteng, dia memang sengaja berlagak demikian saja.

Dan kini semua persoalan yang hendak di bicarakan telah selesai dibicarakan nona Kim pun bermaksud hendak pergi, tentu saja Bau-ji tiada alasan untuk tetap tinggal disana.

Sesudah keluar dari ruangan, Bau-ji lantas menjura kepada nona Kim sambil katanya.

"Nona, maaf kalau aku tak akan menghantar nona..."

Belum habis ia berkata, sambil tertawa nona Kim telah berkata.

"Kongcu adalah tamu, sudah sepantasnya kalau kuhantar dirimu pulang keloteng, silahkan ?"

Tertegun Bau-ji menghadapi keadaan ini, dengan gelagapan dia lantas berseru lagi.

"Aaaaah... mana aku berani merepotkan nona ? Harap nona sudi menghentikan langkah...."

"Kongcu tak usah sungkan-sungkan"

Nona Kim menggeleng "toh tak jauh letaknya dari sini, mari kita berangkat !"

Bauji kuatir kalau Sun Tiong lo belum pulang ke loteng, tentu saja dia enggan dihantar oleh nona itu, maka diapun mengalihkan perkataannya kesoal lain.

"Aku adalah seorang laki laki sejati, mari mrri, biar aku yang menghantar nona."

"Kongcu benar-benar seorang yang jujur,"

Nona Kim tertawa.

"baiklah, terus terang aku akan mengatakan sejujurnya, sesungguhnya aku bukan berniat untuk menghantar Kongcu, tapi yang penting adalah untuk menengok keadaan nya adikmu!"

Setelah si nona berterus terang, tentu saja Bauji tak dapat menampik lagi, terpaksa dia harus mencari alasan lain.

"Kini malam telah larut, aku rasa apa tidak kurang leluasa?l"

"Aaah, omong kosong, buat anggota persilatan peraturan macam itu tidak berlaku lagi. Selain itu, akupun tahu kalau adikmu sengaja hendak menghindari aku pada malam ini, aku harus menanyakan persoalan ini sampai jelas!"

Selesai berkata, dia lantas membalikkan badannya dan berjalan menuju kearah loteng Bong lo.

"Nona !"

Seru Bau ji kemudian dengan kening berkerut.

"kau telah salah paham adikku..."

Nona Kim segera tertawa, tukasnya.

"Aku tidak salah paham, juga aku dengar kau mengatakan bahwa kepalanya tiba tiba menjadi pening..."

"Benar"

Segera Bau ji menyambung.

"oleh sebab itu, lebih baik kalau nona..."

Kembali nona Kim tertawa, tukasnya.

"Oleh sebab itu lebih baik kalau aku pergi menengoknya sebentar bukan...?!"

Bau-ji menjadi mendongkol sekali, tanpa banyak berbicara lagi dia lantas berjalan lebih duhulu dengan langkah lebar.

Nona Kim tersenyum, diapun segera menyusul dari belakang dengan langkah cepat.

Loteng impian telah berada di depan mata.

sambil menggigit bibir Bau-ji segera berhenti, kemudian kepada si nona katanya.

"Nona, walaupun kita adalah anggota dunia persilatan yang tidak terikat oleh adat dan segala tetek bengek peraturan, namun adikku sudah beristirahat sekarang, orang lelaki yang lagi tidur pasti tak sedap dipandang, aku kuatir..."

"Tak usah kuatir Kongcu"

Tukas nona Kim dengan cerdik.

"aku tak usah masuk ke dalam, tapi cukup memanggilnya beberapa kali didepan loteng, bila ia benar-benar sudah tertidur, aku segera pulang, kalau dia masih sadar atau belum tidur, aku baru masuk ke dalam."

Setelah lawannya berkata demikian, sudah barang tentu Bau ji tak bisa berkata apa apa lagi, sambil melangkah naik ke atas loteng, diam-diam ia berdoa dalam hatinya, kalau bisa saudaranya telah kembali ke dalam loteng impian.

Bagaimanapun Bau ji memperlambat langkahnya, namun undakundakan yang begitu pendek itu tak mungkin bisa dipertahankan terlalu lama, akhirnya sampai juga mereka diatas Loteng.

Dalam keadaan begini, ia sudah kehilangan akal sama sekali.

Diam-diam ia berpikir lagi.

"Lebih baik aku jangan membuka pintu lebih dahulu, tapi memanggil dari luar, bila ia sudah pulang niscaya panggilanku akan mendapat sahutan, bila tiada yang menyahut berarti dia belum pulang."

Maka waktu itu aku mesti menutupi pandangan mata si nona itu. kemudian membuka pintu sedikit dan melongok ke dalam, setelah itu akan kukatakan kepadanya sambil tertawa.

"Ooh maaf, adikku sudah tidur..."

Makin membayangkan ia merasakan makin gembira, sehingga tanpa terasa dia mulai memanggil.

"Jite... Jite... Jite..."

Tiada jawaban dari dalam loteng itu, Bau ji segera membuka pintu sedikit dan menengok lewat celah-celah pintu, kemudian sambil berpaling katanya.

"Aaaah, maaf, dia benar-benar telah tidur!"

"Oooh, benarkah dia sudah tertidur ?!"

Seru nona Kim tiba-tiba sambil tertawa cekikikan.

"Masa aku membohongimu ?!"

Jawab Bau-ji pura-pura berlagak amat serius. Belum habis dia berkata, nona Kim telah berkata lagi sambil tertawa merdu.

"Pembaringan itu berada disebeiah kiri pintu, sedang pintu yang dibuka kongcu pun yang berada disebeiah kiri, bila ingin melongok lewat celah pintu, tak mungkin kau bisa melihat pembaringan tersebut, apalagi dalam ruangan loteng tiada cahaya lampu, kecuali bila kongcu memiliki mata yang jauh berbeda dengan orang lain".

"Celaka, rupanya Bau-ji tak pernah berpikir kesitu, kontan saja merah padam selembar wajahnya karena jengah. Nona-Kim sedikitpun tidak bermaksud untuk mengampuni lawannya, sambil tersenyum dia lantas berkata.

"Menurut penglihatanku, adikku hanya pura-pura tidur, tapi betul betul berpenyakit..."

"Yaa, dia memang sedang sakit !"

Sambung Bauji dengan cepat. Nona Kim segera mengerling sekejap wajah Bau ji, setelah itu katanya lagi.

"Dia pasti sudah mengidap penyakit tak berani bertemu denganku, tapi aku akan tetap memaksanya untuk berjumpa denganku !"

Dalam pembicaraan tersebut, tiba-tiba nona itu menyentilkan jari tangannya ke depan, pintu loteng tersebut seketika itu juga terpentang lebar.

Bau ji menjadi amat gelisah, baru saja dia siar menegurnya dengan paras muka berubah, nona Kim telah menjerit kaget.

Menyusul teriakan itu, Bau ji segera mengalihkan pula sorot matanya ke atas pembaringan dalam ruangan tersebut yang kemudian terlihat seketika itu juga membuat hatinya sedang tenggelam.

Sun Tiong lo sedang berbaring di atas ranjangnya, waktu itu ia tampak tersentak bangun dari tidurnya.

Dengan adanya kenyataan tersebut, Bau ji menjadi punya alasan untuk berbicara lagi, sambil menarik muka dia berseru.

"Nona, apa apaan ini ?"

Sebenarnya nona Kim menyangka kalau Sun Tiong lo tidak berada diatas loteng, itulah sebabnya dia membuka pintu dan memaksa melakukan pemeriksaan, siapa tahu orangnya ada di tempat ini membuat mukanya menjadi merah padam dan segera menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Apakah toako dan nona?"

Terdengar Sun Tiong lo segera menegur. Bau ji mengiakan dan maju dengan langkah lebar, pertama-tama dia memasang lampu lebih dulu, kemudian baru, ujarnya.

"Jite, bagaimana dengan kepalamu? Masih sakit tidak ?"

Sudah jelas ia sedang memberi bisikan kepada Sun Tiong-lo, sehingga tak sampai salah berbicara nanti.

"Setelah tidur sebentar, badanku terasa menjadi segar kembali"

Sahut Sun Tiong-lo. Setelah berhenti sejenak, segera lanjutnya.

"Nona, maafkan kalau aku tidak keluar untuk menyambut kedatanganmu soalnya..."

Waktu itu wajah nona Kim masih berwarna semu merah karena jengah, ia segera menyingkir ke samping sambil ujarnya.

"Kalau memang kongcu tidak terganggu kesehatannya yaa sudahlah, kini malam sudah melarut, maaf kalau aku tak akan mengganggu lebih lanjut". Selesai berkata, si nona sudah bersiap-siap akan turun dari loteng itu. Tiba-tiba Sun Tiong-lo berkata lagi.

"Kedatangan nona sungguh kebetulan sekali, setelah tertidur sebentar, mustahil aku bisa tertidur lebih lanjut, mengapa tidak masuk dulu untuk berbincang bincang ?"

Baru saja nona Kim masih termenung dan belum sempat menjawab, Bau-ji kembali telah menimbrung.

"Tadi kukatakan kepada nona kalau adikku sudah tidur, tapi kau tidak percaya dan sangat menaruh perhatian untuk datang menjenguk nya, kini nona telah berada disini, mengapa tidak masuk dulu untuk berbincang-bincang sebentar ?"

Nona Kim merasa gemas sekali, akhirnya dia masuk juga kedalam ruangan loteng impian dan sekalian menutup pintunya. Sambil mempersilahkan tamunya duduk, Sun Tiong lo segera berkata lagi.

"Nona, maafkan daku, aku tak dapat turun dari pembaringan..."

"Bagaimana dengan keadaan penyakit kongcu, sudahkah sembuh kembali?"

Terpaksa nona Kim harus berlagak menaruh perhatian.

Sun Tiong lo sesungguhnya memang cuma berlagak sakit belaka, dengan kening berkerut segera sahutnya.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***

Jilid 11 AKU RASA KEADAANKU sudah tidak apa apa lagi !"

"Bagaimana kalau aku panggilkan tabib untuk memeriksa keadaan penyakitmu itu?"

Sambil tertawa getir kembali Sun Tiong lo berkata.

"Nona sedang bergurau saja, di tengah pegunungan yang sepi dan terpencil seperti ini, dari mana datangnya seorang tabib ?" -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB EMPAT BELAS MENDENGAR perkataan itu, nona Kim baru sadar kalau telah salah berbicara, biji matanya segera berputar, kemudian katanya lagi.

"Beng cengcu mempunyai ilmu pertabiban yang lumayan juga..."

"Sudahlah, aku rasa dia tak akan bersedia untuk melakukan tugasnya itu dengan baik !"

"Apa maksudmu berkata demikian?"

Tanya nona Kim dengan wajah agak tertegun.

"Sewaktu nona sedang marah marah di luar ruangan tadi, tiba tiba aku merasakan kepalaku pusing sekali, waktu itu Beng cengcu juga hadir di hadapanku seandainya ia bersedia menolongku, bukankah waktu itu dia tak akan berdiam diri belaka ?"

Paras muka nona Kim kembali berubah menjadi merah padam karena jengah, tapi dia masih tetap berusaha mempertahankan pendiriannya, katanya kemudian.

"Waah, aneh benar kejadian ini, besok akan kutanyakan hal ini kepadanya !"

Sun Tiong lo segera menggelengkan kepalannya berulang kali.

"Kini aku sudah merasa sehat kembali, dari pada banyak urusan mengapa nona tidak mengurangi urusan?"

Setelah diberi kesempatan untuk mengundurkan diri secara terhormat, buru buru Kim mengangguk.

"Ya, kalau memang begitu, ya sudahlah"

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia mengalihkan kembali pokok pembicaraannya kesoal lain, katanya.

"Apakah Kongcu telah mendengar semua pembicaraanku sewaktu berada diruang tengah tadi?"

Sun Tiong lo segera mengangguk "Suara nona seperti geledek, masa suara se keras itu tidak kudengar? Lucu bukan?"

"Bila Kongcu dapat mendengarnya sih tak menjadi soal, tapi aku harap kau jangan membicarakannya lagi kepada orang lain"

Kata nona Kim dengan wajah serius.

Baru saja Sun Tiong lo hendak membuka suara, tiba tiba dari luar loteng kedengaran ada orang sedang berseru!

"Coba lihat, disitu ada lampu, delapan puluh persen bocah keparat itu pasti berada disana"

Mendengar suara itu, nona Kim menjadi tertegun sehingga tanpa terasa dia membuka jendela dan melongo keluar.

Pada saat itulah, Sun Tiong lo telah berbisik kepada Bau ji dengan ilmu menyampaikan suaranya.

"Toako, bila sebentar ada orang datang ke mari, harap Toako jangan berkata apa apa, ingatlah, dan ingatlah !"

Baru selesai dia memberikan peringatannya, kedengaran nona Kim telah menjerit kaget.

"Haaahh, mengapa bisa mereka?!"

Begitu selesai berseru keheranan, dia segera meninggalkan daun jendela dan menuju ke pintu loteng.

Walaupun ia tidak bergerak pelan, namun orang yang berada diiuar sana jauh lebih cepat dari padanya, secara kebetulan mereka menjadi saling berpapasan muka.

Mendadak nona Kim mundur ke belakang sementara orang orang itupun segera menghentikan langkahnya, untung saja mereka tak sampai bertumbukan satu sama lainnya.

Ketika pihak lawan mengetahui kalan orang itu adalah nona Kim, langsung saja mereka menjerit kaget.

"Aaaah... nona, rupanya kau!"

Ditengah seruan tersebut, tampak bayangan manusia berkelebatan lewat, tahu-tahu Pat tek pat lo telah berjalan masuk kedalam loteng impian tersebut.

Dengan wajah dingin seperti es, nona Kim segera menegur dengan suara dingin.

"Lonceng emas belum dibunyikan, mengapa Pat lo sudah keluar dari istana Sin kiong?!"

Orang yang hampir saja saling bertumbukan dengao nona Kim tadi tak lain adalah kakek Tiong, segera sahutnya setelah mendengar perkataan itu.

"Nona, maafkanlah kami, duduk persoalan yang sebenarnya akan lohu utarakan nanti!"

Dalam pada itu, sepasang matanya yang tajam bagaikan sembilu itu telah dialihkan ke-wajah Bau ji serta Sun Tiong lo. Begitu memandang kedua orang tersebut, segera dia berseru tertahan lagi.

"Aneh, kenapa bisa berubah."

Nona Kim segera berkerut kening, kembali tegurnya.

"Kakek Tiong, sebetulnya apa yang terjadi?"

Untuk kesekian kalinya kakek Tiong memandang sekejap wajah Bau ji dan Sun Tiong lo kemudian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, ia berseru.

"Betul betul aneh sekali, sungguh aneh sekali... sungguh aneh sekali . .!"

Sun Tiong lo segera berkerut kening pula, kepada nona Kim diapun bertanya.

"Tolong tanya nona, apakah kedelapan orang tua inipun khusus datang untuk menjenguk penyakitku?"

Nona Kim mendengus, kepada kakek Tiong tegurnya.

"Kakek Tiong, jawab semua pertanyaan yang kuajukan!"

"Jangan terburu nafsu nona, sebentar lohu pasti akan memberi keterangan dengan sejelas-jelasnya !"

Sesuai bsrkata, dengan langkah lebar ia lantas berjalan mendekati Bau-ji. Dengan cepat nona Kim merentangkan tangannya ke depan, serunya.

"Kakek Tiong, apakah kau sudah melupakan peraturan dari bukit kita ini...?"

Kakek Tiong tidak menjawab pertanyaan itu, sambil menuding kearah Bau-ji bersaudara, katanya.

"Nona, apakah kedua orang ini adalah dua bersaudara she Sun?"

"Benar!"

Jawab Bau ji tidak tahan.

"siapa namamu, dan siapa pula dirimu itu?"

Kakek Tiong tidak memperdulikan dirinya, tapi kepada tujuh orang kakek lainnya dia berseru.

"Miripkah yang ini?"

Kakek Jin segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.

"Toako, bocah keparat itu dua inci lebih pendek daripada dirinya, bukan dia!"

Tlba-tiba kakek Tiong menghadap ke arah Sun Tiong lo, setelah itu bentaknya.

"Hei, berdiri kau, coba berdiri diatas lantai!"

Sun Tiong lo sengaja berlagak tertegun, serunya dengan cepat.

"Hei orang tua, apa-apaan kau ini?"

"Tak usah banyak bicara"

Bentak kakek Tiong.

"lohu menyuruh kau berdiri, lebih baik kau berdiri!"

Nona Kim yang menyaksikan kejadian itu segera berubah wajah, dengan cepat ia menegur.

"Kakek Tiong, kau harus tahu bahwa Sun kongcu adalah tamuku?!"

"Nona, sudah lohu katakan tadi, selesai persoalan disini pasti akan kuungkapkan duduknya persoalan.."

Kata kakek Tiong serunya. Melihat kesemuanya itu, nona Kim menjadi naik pitam, katanya.

"Kakek Tiong, apakah aku tidak berhak untuk mengetahui dubuknya perkara sebelum kalian melakukan sesuatu tindakan?"

Kakek itu juga kakek Jin merasakan gelagat yang tidak baik dengan cepat katanya.

"Nona, kau tidak tahu, seorang diantara mereka berdua telah berkunjung kedalam istana Sin kiong, bahwa mempermainkan semua istana Sin kiong dari yang atas sampai paling bawah.."

""Aaaah, sungguhkah itu ?"

Nona Kim menjerit kaget.

"Memangnya kami akan sembarangan berbicara dalam hal ini?"

Nona Kim segara berpaling dan memandang sekejap kearah Sun Tiong lo, diam-diam ia dapat meraba juga apa gerangan yang terjadi. Tapi entah mengapa, ternyata ia mendengus lagi dengan dingin.

"Darimana kakek Tiong bisa tahu kalau orang itu adalah salah seorang diantara mereka?"

"Dalam bukit ini tiada tamu lain, kecuali mereka berdua..."

Belum habis ucapan tersebut diutarakan, mendadak dari luar jendela sana telah bergema suara tertawa yang amat nyaring.

Pat lo, nona Kim serta Bau ji bersaudara menjadi tertegun di buatnya.

Dengan suara lantang kakek Jin segera menegur.

"Siapa yang berada diluar?!"

Orang yang berada diluar jendela itu besar amat nyalinya, dia segera menyahut.

"Diatas bukit ini tiada tamu lain, aku adalah orang sendiri"

Setelah berhenti sejenak dan tertawa sinis, lanjutnya sambil tertawa mengejek.

"Pat tek pat lo apaan itu? Pada hakekatnya tak lebih cuma delapan orang kakek pikun yang ketolol-tololan!"

Pat tek pat-lo yang mendengar ejekan itu merasa malu, gemas, marah, enam belas ujung baju dikebaskan berbareng dan meluncur keluar dari ruang loteng sambil bergerak ke arah mana asalnya suara tadi.

Setelah kepergian mereka, Sun Tiong lo segera menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas panjang, gumannya.

"Apa maksud dari kesemuanya ini?"

Nona Kim hanya terdiri termangu-mangu saja ditempat itu, tak sepatah katapun yang di ucapkan.

Sewaktu Pat-lo menerangkan bahwa ada orang telah melakukan pengacauan dalam istana Sin-kiong, nona Kim segera menyadari kalau alasan Sun Tiong lo yang mengatakan sakit kepala hanya merupakan alasan untuk menutupi kepergiannya ke istana Sin-kiong.

Siapa tahu pada saat yang bersamaan, dari luar ruangan telah berkumandang lagi suara lain, hal ini membuktikan kalau apa yang diduganya itu keliru besar.

Kalau hanya salah menduga sih bukan urusan penting, yang paling penting sekarang adalah mengapa kedatangan orang asing tersebut sama sekali tidak diketahui mereka ?

Bukankah dengan begitu rahasia dari bukit mereka akan ketahui orang....

Pat-lo telah kembali, ternyata orang itu tidak berhasil disusul mereka.

Nona Xim segera menegur.

"Bagaimana? Mana orangnya ?"

Merah padam selembar wajah kakek Tiong karena jengah, dengan kepala tertunduk sahutnya.

"Nona pada malam ini kami bersaudara benar-benar jatuh kecundang ditangan orang !"

Menyusul kemudian diapun lantas mengisahkan kedatangan sang tamu tak diundang dalam istana Sin kiong, lalu bagaimana Pat lo tertipu untuk pergi menangkap nona Siu, Sebagai akhir kata dia menambahkan "Barusan nona telah mendengarkan dengan telinga sendiri, betapa jumawa dan takabumya orang diluar jendela itu, namun sewaktu lohu bersaudara menyusul keluar, ternyata tak sesosok bayangan manusiapun yang berhasil kutemukan."

Nona Kim segera berkerut kening, setelah berpikir sejenak, katanya.

"Aku dengan mempergunakan "Kim Ieng"

Menitahkan kakek Peng segera pulang ke istana sin-kiong untuk mengundang nona Siu dalam loteng Hian ki lo untuk berbicara, sedang lainnya harap mengikuti diriku..."

Begitu selesai berkata, kakek Peng telah beranjak pergi, sementara si nonapun sudah bersiap siap meninggalkan tempat itu.

Sun Tiong lo yang sedang berbaring sakit di atas pembaringan tiba tiba berkata.

"Tunggu sebentar nona, saudara yang lainnya juga harap tunggu sebentar. .."

Nona Kim segera berhenti sambil bertanya.

"Ada urusan apa Kongcu?"

Dengan wajah dingin bagaikan salju, Sun Tiong lo menuding ke arah kakek Tiong sekalian, kemudian katanya.

"Bukan aku yang ada urusan, seharusnya mereka yang ada persoalan untuk disampaikan kepadaku !"

Tentu saja nona Kim memahami apa yang dimaksudkan, katanya kemudian dengan cepat.

"Kongcu, dalam bukit kami secara tiba tiba telah teijadi suatu peristiwa besar...."

"Nona, maaf jika aku akan berterus terang"

Tukas Sun Tiong-lo dengan dingin.

"walaupun aku telah salah masuk ke bukit anda dan harus mentaati peraturan disini, asal saatku menjadi tamu itu telah habis, tak urung aku pun tak akan lolos dari kematian."

"ltulah sebabnya terhadap peristiwa besar yang telah terjadi dibukit kalian atau tidak, aku sama sekali tidak tertarik, akan tetapi terhadap orang-orang kalian yang telah merusak peraturan sancu kalian, mau tak mau aku harus menegurnya!"

Nona Kim segera berkerut kening, katanya.

"Kongcu, setiap manusia pasti ada kesalahan, kuda pun kadang kala bisa salah melangkah..."

Sua Tiong lo menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya dengan wajah serius.

"Nona, terus terang saja persoalan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan diriku!"

"Kongcu, kami telah mengakui kesalahan ini, harap kau sudi bermurah hati."

Kembali Sun Tiong-lo mendengus dingin seraya menukas.

"Nona, soal keadilan tak bisa dibiarkan berlalu dengan begitu saja, sewaktu aku salah memasuki bukit ini, bagaimanapun kujelaskan dan kumohon, yang diperoleh hanya jawaban yang sama, peraturan tetap tinggal peraturan, apapun yang kuminta, peraturan tetap berjalan sebagaimana mestinya."

"Sekarang, kejadian yang sama telah menimpa saudara saudara kalian sendiri, tapi kalian turut aku jangan mempersoalkan peraturan nona, bukan saja semacam ini tidak tahu aturan, juga sangat tidak adil sekali..."

Pat lo tak kuasa menahan rasa mangkel di dalam hatinya lagi, dengan suara dalam kakek Gi segera berseru.

"Sahabai muda, lantas apa yang kau kehendaki ?"

"Sobat tua, kau keliru, bukan aku menginginkan bagaimanabagaimana, melainkan peraturan yang telah ditetapkan oleh Sancu kalian tetap merupakan peraturan yang berlaku, sebab itu apa yang diharuskan oleh peraturan, harus di lakukan pula oleh kalian semua !"

Kakek Gi menjadi tertegun, setelah memandang sekejap kearah Sun Tiong lo, katanya.

"Maaf, kebetulan sekali diantara peraturan yang di tetapkan Sancu, tak sebuahpun yang memuat tentang hal ini !"

Baru selesai dia berkata, Sun Tiong lo telah merogoh ke bawah bantahnya dan mengeluarkan selembar kertas, lalu sambil dilemparkan ke depan, katanya sambil tertawa dingin.

"Masih untung saja aku menyimpan bukti ini, kertas tersebut aku dapatkan dari atas dinding diruang depan sana, kini dipersilahkan kau untuk memeriksanya, coba kau lihat adakah peraturan yang mencantumkan tentang hal itu?!"

Pat lo menjadi berdiri bodoh, sedangkan nona Kim juga berdiri tertegun disisinya tanga sanggup mengucapkan sepatah katapun. Sun Tiong lo tertawa dingin, katanya lagi.

"Bila pada malam ini Pat lo tidak di beri hukuman seperti apa yang tercantum dalam peraturan bukit ini, jangan salahkan kepadaku bila persoalan ini akan kuadukan kepada Sancu bila ia telah kembali nanti !"

Nona Kim sama sekali tidak mengira kalau Sun Tiong lo yang kelihatannya lemah lembut itu ternyata memiliki watak yang begitu keras.

Lebih-lebih ke delapan orang kakek itu, mereka merasa malu, menyesal, dan untuk sesaat tak tahu apa apa yang mesti dilakukan.

Nona Kim memegang lencana Kim leng yang merupakan benda paling berkuasa diatas bukit pemakan manusia itu, dia cukup memahami jalan pemikiran dari Sun Tiong-lo, maka setelah berpikir sebentar, katanya.

"Kongcu, katakanlah, sebenarnya apa yang kau inginkan ?"

"Harap nona memaklumi apakah mereka tak berani meminta maaf saja kepadaku?!"

Setelah mendengar perkataan ini, si nona baru merasa hatinya lega, kepada delapan orang kakek itu ujarnya.

"Orang sudah mengajukan persyaratannya!"

Dengan perasaan apa daya kakek Tiong segera maju melangkah kedepan, kemudian sambil menjura kepada Sun Tiong-lo ujarnya.

"Kongcu, lohu bersaudara benar-benar amat gegabah, harap Kongcu suka memaafkannya !"

Ternyata Sun Tiong lo juga sama sekali tidak melupakan sopan santunnya, buru buru ia menjura dan balas memberi hormat.

"Kalian orang tua harap memaafkan diriku, setelah mendengar penuturan kau orang tua tentang dipermainkan orang, telah kuduga kalau cara kerja kalaian berdelapan pasti gegabah sekali."

"Kini kalian berdelapan telah mendatangi loteng impian, seharusnya kalian toh bisa me nanyai aku dan Sun kongcu ini dengan sikap yang halus dan lembut, tapi kenyataannya kalian telah menegur secara kasar dan ketus, tindakan semacam ini tidaklah pantas dilakukan..."

Berkedip sepasang mata nona Kim dan mengerling sekejap kearah Sun Tiong-lo kemudian menyela.

"Bagaimanapun persoalan ini bisa disudahi sampai disini saja bukan ?"

Sun Tiong-lo segera tertawa.

"Kalau berada dirumah yang rendah, mau tak mau aku mesti tundukkan juga kepalaku, kalau tidak, apa pula yang bisa kulakukan lagi ?"

Nona Kim segera berkerut kening, katanya lagi.

"Aku akan pergi dulu, tengah hari nanti..."

"Sekarang sudah mendekati kentongan ke lima, aku dan saudara Sun juga rasanya tak mungkin bisa tidur lagi"

Tukas Sun Tiong-lo, dapatkah kurepotkan nona untuk memberitahukan kepada Chin congkoan, bahwa setelah fa jar menyingsing nanti, dia bisa datang kemari untuk menemani kami berjalan jalan mengelilingi seluruh bukit ?"

"Aaaah hampir saja aku melupakan kejadian ini."

Seru nona Kim sambil tertawa.

"tak usah sigoblok itu menemani kalian, setelah urusan selesai nanti akan kutemani kalian berdua"

Selesai berkata dia lantas meninggalkan loteng impian lebih dulu, diikuti kedelapan kakek tersebut dibelakangnya. Setelah mereka pergi, Bau ji baru tak tahan untuk bertanya dengan suara Iirih.

"Jite, apakah kau yang memasuki istana Pat tek sin kiong tersebut?"

Sun Tiong lo segera tertawa.

"Toako, tentu saja akulah orangnya"

Bau ji tertawa, kemudian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya lagi.

"Sudah kuduga kalau kau, cuma siapa pula orang yang barusan berseru dari luar jendeia itu."

"Terus terang kukatakan toako, orang itu adalah...." -oo0dw0ooo-DALAM Loteng Hian ki lo, nona Kim duduk ditengah ruangan dengan wajah dingin membesi. Delapan orang kakek itu mengiringi dikedua belah sisinya, sedangkan nona Sian berdiri di belakang nona Kim. Hanya nona Siu seorang yang berdiri di depan meja besar dan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan dengan sikap yang sangat menghormat. Dengan tangan kiri memegang lencana Kim leng yang mempunyai kekuasaan sangat besar nona Kim berkata.

"Nona Siu, kau harus menjawab semua pertanyaan yang kuajukan dengan sejujur-jujurnya."

Nona Siu melirik sekejap kearah nona Kim lalu menjawab.

"Hamba akan melaksanakah perintah dengan sebaik-baiknya."

"Pertama-tama ingin kutanyakan dulu kepadamu, apa sebabnya kau mencampuri air teh dengan racun ? sewaktu berada dibalik tirai bambu, orang itu berada satu kaki delapan depa jauhnya darimu, bagaimana caramu melepaskan racun itu ?"

"Hamba mencampuri racun itu menggunakan kesempatan dikala dayang hendak menyeduh air teh."

"Kau berani tidak jujur ?"

Bentak nona Kim dengan suara yang dalam dan berat. Sekulum senyum licik yang menyeramkan segera tersungging diujung bibir nona Siu, sahutnya.

"Aku berbicara dengan sejujurnya, sebelum dayang menghantarkan air teh untuk tamu menurut kebiasaan yang berlaku dalam istana, maka air teh itu harus dihantar dulu kehadapan hamba, sengaja hamba membuka poci air teh itu, kemudian menitahkan kepada dayang untuk menghormati tamu..."

"Oooh... lantas, mengapa kau sampai turun tangan untuk meracuninya?"

Tanya nona Kim.

"Dari pembicaraan yang dilangsungkan antara orang itu dengan Pat lo dengan cepat dapat hamba simpulkan bahwa dia seorang tamu yang yang tak diundang dan memasuki istana secara paksa, tentunya nona juga tahu bukan, semua orang asing dilarang memasuki istana untuk melakukan penyelidikan dengan dasar ini, mengapa aku mesti membiarkan dia tetap hidup segar bugar?"

Nona Kim segera mendengus dingin.

"Oooh... kalau begitu, perbuatanmu tersebut hanya semata-mata untuk menjaga keamanan dari istana Sin kiong?"

Nona Siu tertawa hambar.

"Hal ini merupakan tugas dan kewajiban yang harus hamba laksanakan, hamba tak berani berbuat gegabah dengan membiarkan ia berbuat semena-mena dalam istana."

"Oooh... lantas apa pula sebabnya kau tidak memberitahukan hal ini kepada Pat lo sebelum meracuni air teh itu, dan setelah kejadian mengapa pula tidak memberi keterangan kepada mereka?"

"Hamba sudah tahu kalau perasaan Pat lo telah digerakan oleh ucapan manis orang itu sehingga timbul perasaan simpatik kepadanya, aku kuatir Pat lo tidak menyetujui tindakanku ini bila kusampaikan secara berterus terang, maka sebelum kuambil tindakan tersebut, hal ini sama sekali tak kulaporkan dulu kepadanya."

Setelah kejadian itu berlangsung, hambapun tahu kalau usahaku untuk meracuninya gagal total, maka aku lantas memutuskan untuk membekuknya dihadapan Pat-lo dengan mengandalkan ilmu silat yang sesungguhnya, kemudian memaksakan dia untuk mengakui asal usul yang sebenarnya, sayang terjadi keteledoran..."

"Masa orang-orang ini teledor dalam melakukan perbuatan."

Seru nona Kim dengan suara dalam.

"Ada sementara persoalan memang tak dapat dihindari lagi, misalkan saja dengan perbuatan pat-lo yang menyambut kedatangan orang itu serta menganggapnya sebagai tamu agung, akhirnya mereka termakan sendiri oleh perbuatan orang itu, tentu saja dalam hal ini terdapat unsur keteledoran."

"Apakah Pat-lo teledor atau tidak, aku dapat memutuskan sendiri"

Tukas nona Kim dengan suara dalam.

"sekarang, yang kutanya kan adalah soal kau sendiri !"

Nona Siu menggertak giginya menahan diri, kemudian sahutnya.

"Hamba pun mengakui telah melakukan keteledoran, hamba sedia terima hukuman sesuai dengan peraturan."

Nona Kim kembali mendengus dingin.

"Hmm ..Aku tahu kau ingin mengandalkan rasa sayang Sancu padamu, kemudian mengandalkan pula kedudukanmu yang hanya bisa diundang datang dengan lencana kemala, maka kau lantas kau memandang remeh orang lain, menganggap aku tak dapat menghukummu?"

"Ucapan semacam itu hanya nona yang mengatakannya sendiri, belum pernah hamba berpendapatan demikian"

Ucap nona Siu dingin.

"apalagi nona sekarang memegang lencana Kim leng di tangan, jangankan baru menghukum, sekalipun membunuh hamba, juga hamba tidak akan berani membantah."

"Aku nasehati kepadamu, lebih baik jangan mencoba-coba kesabaranku lagi...kau bakal rugi besar, mengerti?"

Seru nona Kim dengan kening berkerut kencang. Paras muka nona Siu berubah hebat, dia lantas menundukkan kepalanya dan tidak berbicara lagi. Nona Kim mendengus dingin, katanya lebih jauh.

"Khong It hong jauh lebih dipercaya oleh Sancu daripadamu tapi nyatanya dibawah bunyi lonceng emas sama yang mengundang kehadiran Pat lo, dia sudah disekap di dalam gua Im hong tong, sekalipun lebih garang juga harus menunggu setahun kemudian baru bisa keluar lagi dari tempat penyekapannya..."

Mendengar perkataan itu, nona Siu menundukkan kepalanya semakin rendah lagi, dia lebih tak berani banyak berbicara. Nona Kim segera tertawa dingin, katanya lebih jauh.

"Seandainya kau sampai menggusarkan diriku, hmmm..! ketahuilah, gua Liat hwee-tong (gua panasnya api) telah menantikan dirimu untuk mencicipinya !"

Sekujur badan nona Siu gemetar keras sekali, buru-buru bisiknya.

"Hamba tidak berani!"

"Hmm...! Sudah kuduga kau tak berani"

Dengus Nona Kim dengan wajah dingin.

"bila kau sampai disekap dalam gua Liat hwee tong, maka sebelum seratus hari jangan harap bisa ke luar dari situ, menanti kau keluar dari sekapan paras mukamu pasti sudah berubah hebat, aku tidak percaya kalau sancu masin bisa menyayangi dirimu."

Tiba-tiba nona Siu menjatuhkan diri berlutut diatas tanah, kemudian rengeknya dengan ketakutan.

"Nona ampunilah diriku, mulai sekarang hamba pasti akan bertindak lebih hati-hati, ampunilah kesalahanku."

Diam-diam nona Kim menghembuskan nafas panjang, tapi diluar dia kembali berkata.

"Terus terang saja, bila hari ini aku tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk menjebloskan dirimu ke dalam gua Liat hwee tong, di-kemudian hari kau tetap masih memandang remeh orang lain, sama sekali tak memandang sebelah matapun kepadaku."

Dengan gugup dan gelisah kembali nona Siu memohon "Nona kau adalah putri kesayangan Sancu, hamba mana berani memandang rendah dirimu?

Apalagi Sancu adalah seorang bermata tajam, tak akan dia biarkan orang lain mengelabuinya..."

"Biarpun, muak aku melihat gayamu ini!"

Tukas nona Kim sambil mengulapkan tangannya. Setelah berhenti sejenak, dia berkata lagi kepada kakek Tiong.

"Mulai hari ini, semua kehormatannya sebagai pemegang lencana kemala di tarik kembali dan harus diawasi oleh kakek Tiong kemudian jebloskan dia kedalam ruang Thiahiasi-dalam istana Sin kiong, dan menyekapnya selama tiga puluh hari untuk bertobat dari kesalahannya itu."

Kekek Tiong segera mengiakan. Nona Kim berkata lebih jauh.

"Kakek Tiong. aku akan melakukan pemeriksaan sendiri atas tugas yang kuberikan kepadamu ini!"

"Lohu tak berani melanggar perintah!"

Cepat cepat kakek Tiong memberi hormat.

"Ehm, selesai melaksanakan tugas ini, harap Pat lo segera mengumpulkan segenap jago lihay yang ada di atas bukit untuk melakukan penggeledahan secara besar-besaran di seluruh bukit kuberi batas waktu sampai tengah hari nanti untuk datang memberi laporan, jangan sampai melakukan kesalahan lagi!"

Pat lo mengiakan bersama. Pelan-pelan nona Kim bangun dari duduknya, kemudian berkata kepada nona Sian.

"Untuk sementara waktu kau boleh tinggal diruang Kun wan dalam istana Sin kiong, hati-hatilah dalam melaksanakan setiap tugas dan kewajiban."

Dengan hormat nona Sian mengiakan, nona Kim segera beranjak meninggalkan tempat itu. Mendadak nona Siu berseru.

"Hamba masih mempunyai rahasia besar hendak disampaikan kepada nona .. ."

"Katakan!"

Seru nona Kim sambil membalikkan badannya dan berjalan kembali.

"Rahasia ini hendak hamba laporkan dengan pertaruhan nyawa, harap semua orang mengundurkan diri lebih dahulu dari sini"

Nona Kim berkerut kening, setelah berpikir sebentar, dia mengulapkan tangannya seraya berseru.

"Nona Sian, kau boleh kembali dulu ke dalam istana."

Sedang Pat lo dan nona Sian menurut perintah dan mengundurkan diri, dengan demikian dalam loteng Hian ki lo tersebut tinggal mereka berdua saja.. Dengan bersungguh sungguh nona Kim lantas berkata.

"Sekarang, kau boleh berbicara !"

Nona Siu maju beberapa langkah ke depan, lalu sambil merendahkan suaranya dia berkata.

"Nona, apakah kau benar-benar hendak menyekap hamba didalam ruangan ini Thian hian si?"

"Persoalan inikah yang kau anggap sebagai rahasia maha besar itu?"

Tegur nona Kim dengan suara dalam.

"Tentu saja bukan"

Jawab nona Siu sambil tertawa.

"cuma saja, hamba ingin membuat jasa demi menebus ini..."

Tergerak juga hati nona Kim serrlah mendengar perkataan itu, katanya kemudian.

"ltu mah tergantung dari pekerjaan apa yang hendak kau laksanakan..."

"Persoalan ini merupakan rahasia dari San cu, juga rahasia dari nona, sebenarnya didunia ini hanya ada tiga orang saja yang mengetahuinya, tapi Ji nio telah lama mati, sekarang..."

Diam-diam nona Kim merasa amat terkejut, segera selanya.

"Sekarang cuma tinggal kau dan Sancu saja yang tahu, bukan begitu...?"

"Benar!"

Jawab nona Siu sambil tertawa menyeramkan. Nona Kim segera mendengus dingin.

"Kalau toh persoalan ini diketahui oleh San cu, aku seharusnya juga tahu."

Nona Siu segera tertawa penuh arti, dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Telah kukatakan tadi, perasaan ini merupakan rahasia dari Sancu, oleh karena itu mustahil Sancu mengutarakannya kepadamu, dan sepanjang hidup jangan harap nona dapat mengetahuinya"

"Dari dulu sampai sekaran -tiada rahasia yang merupakan suatu kejadian baik, lebih baik aku tidak mengetahui saja!"

Sekali lagi nona Siu menggelengkan kepalanya berulang kali,ujanya cepat-cepat.

"Aku toh sudah mengatakan tadi, walaupun hal tersebut merupakan rahasia dari Sancu, juga merupakan rahasia nona sendiri."

Nona Kim sudah dibikin agak terperanjat setelah mendengar perkataan itu, setelah termenung dan berpikir sejenak, dia berkata.

"Apakah kau hendak mempergunakan rahasia tersebut untuk ditukar dengan penarikan perintahku tadi ?"

Sekali lagi nona Siu menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak sampai begitu"

Katanya.

"sebab rahasia ini mempunyai hubungan dan pengaruh yang amat besar, ituIah sebabnya aku masih mengharapkan juga barang-barang iainnya, aku percaya nona tak akan keberatan untuk memberikan kepadaku". Sekarang nona Kim benar-benar merasa agak takut, dia cukup mengetahui akan kebusukan dan kelicikan nona Siu, kini nona Siu berani mengajukan permohonan seperti itu, bisa disimpulkan kalau rahasia tersebut penting sekali artinya bagi ia pribadi."

Maka diapun termenung untuk beberapa saat lamanya, setelah itu baru tanyanya.

"Coba kau terangkan dahulu permohonan mu yang lain itu !"

"Harap nona bersedia membebaskan Khong lt hong dan ijinkan kepadaku untuk kembali keistana dan mengambil tabunganku selama banyak tahun ini, kemudian bersama Khong lt hong meninggalkan bukit ini lari pergi sejauh-jauhnya dari tempat ini."

Begitu permohonan tersebut diutarakan, paras muka nona Kim segera berubah hebat, serunya dengan gusar.

"Budak rendah, besar amat nyalimu, rupanya kau dengan dia..."

"Harap nona bersabar dulu dan dengarkan perkataanku sampai selesai"

Tukas nona Siu sambil mengulapkan tangannya "saat itu, bila nona menganggap tidak seharusnya melepaskan aku, sekalipun hendak membinasakan diri ku juga belum terlambat."

Baru saja nona Kim akan menyahut, tiba-tiba terdengar suara dari kakek Tiong berkumandang dari bawah loteng.

"Nona, apakah kau ada pesan lain ?"

Dari sini dapat disimpulkan bahwa bentakan gusarnya tadi telah mengejutkan ke delapan orang kakek itu. Nona Kim memandang sekejap kearah nona Siu, lalu sahutnya.

"Aku tak ada urusan, harap Pat lo tetap menunggu diluar loteng"

Kakek Tiong tidak bersuara lagi, sudah pasti ia telah mengundurkan diri keluar loteng. Pada saat itulah nona Siu baru berkata lebih lanjut.

"Nona, Khong It hong adalah setan perempuan yang tidak berperasaan dia licik, keji dan tidak mengenal ampun, aku percaya nona pasti tak akan menganggapnya sebagai kekasih hatimu bukan..."

"Budak sialan, makin lama nyaliku semakin besar, jangan mencoba untuk berkata yang bukan-bukan lagi!"

Bentak nona Kim gusar.

"Nona, aku bukan lagi berbicara yang bukan-bukan, setiap ucapanku keluar dari hati sanu bari yang jujur."

Sahut nona Siu dengan wajah bersungguh-sungguh.

"Kalau toh Khong lt-hong adalah seorang manusia semacam itu, mengapa kau hendak melarikan diri bersama dirinya?"

Tiba-tiba paras muka nona Siu berubah menjadi sedih sekali, setelah menghembuskan napas panjang, katanya.

"Nona, disini hanya ada kita berdua, kitapun sama-sama perempuan, inilah saat yang paling tepat untuk berbincang-bincang cuma aku minta setelah mendengarkan nanti harap nona jangan berteriak memanggil Pat-lo...."

"Baik, kululuskan permintaanmu itu, katakan!"

Nona Siu menghela napas panjang, ujarnya.

"Pertama tama aku ingin bertanya kepada nona, tahukah nona berapa usia ku sekarang?"

Nona Kim menjadi tertegun, sahutnya.

"Aku hanya ingat sejak aku masih kecil kau telah..."

"Nona, aku telah berusia tiga puluh sembilan tahun!"

Tukas nona Siu cepat.

"Hhmm, masih belum nampak juga"

Nona Kim berkerut kening.sesudah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Kalau sudah berusia tiga puluh sembilan tahun lantas kenapa ?"

"Bagi seorang perempuan, usia setua itu sudah merupakan usia paling akhir bagi masa mudanya."

"Hmm... tampaknya kau terlalu memandang serius masa muda seorang manusia didunia ini". Nona Siu menghela napas sedih.

"Nona, usia tidak berbelas kasihan, ini merupakan suatu kenyataan yang tak dapat dibantah."

"Kau anggap aku tidak mengerti ?"

Bentak nona Kim.

"tapi bila kau memiliki pasangan yang serasi, bisa memandang soal nama dan kedudukan dengan lebih terbuka, apa pula yang mesti dikuatirkan dengan soal usia."

Kembali nona Siu tertawa getir.

"Semua perkataan nona dapat pula kupahami, cuma nona, apakah aku bisa memiliki kebahagian serta kemujuran seperti itu ? Pada usia delapan belas tahun, aku sudah merupakan barang permainan dari sancu."

"Tutup mulut !"

Bentak nona Kim dengan suara rendah dan dalam. Nona Siu segera menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya.

"Nona, aku berbicara dengan sejujurnya, jangan cegah diriku, lima tahun berselang aku telah kehilangan kehormatanku lagi ditangan Khong It hong, maka jika aku harus memilih sekarang, tentu saja aku lebih suka memilih Khong It-hong dari pada sancu !"

"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi!"

Nah, sekarang juga akan kukatakan, Khong It sangat berhasrat untuk mengawini nona karena pertama, kau adalah puteri kesayangan Sancu, kedua nonapun pasti mengerti, wajahmu cantik lagi pula merupakan seorang nona yang baik."

"Tapi, kalau dibilang memahami hati kecil-nya, memahami tujuan yang sebenarnya, maka hanya aku seorang yang tahu dengan pasti aku mengerti akan maksud pribadinya yang licik dan buas, terus terang kukatakan, jika hari ini dia mengawini nona, maka besok Sancu, pasti akan mati."

Nona Kim segera berseru kaget.

"Kau... kau... apakah semua perkataanmu itu ada buktinya?"

Nona Siu segera tertawa. Nona, pada lima tahun berselang dia berani menggagahi kehormatanku dikala Sancu tak ada digunung, apakah hal ini bukan merupakan suatu bukti yang amat baik?"

Nona Kim segera mendengus dingin.

"Hmm, aku percaya dengan peristiwa tersebut, cuma kesalahan tersebut belum tentu merupakan kesalahannya seorang!"

Sekali lagi nona Siu tertawa.

"Mumpung nona membawa lencana Kim-leng sekarang, mengapa kau tidak membuka kotak mestika yang tersimpan dalam loteng ini untuk diperiksa isinya?"

Begitu ucapan tersebut diutarakan, paras muka nona Kim segera berubah hebat.

"Kenapa dengan kotak mestika tersebut?"

"Orang itu mempunyai ambisi yang amat besar, dia telah membuat tindasan dari kitab pusaka milik Sancu tersebut, bahkan dengan yang palsu menukas yang asli, ia telah mencuri pula lencana Bong hu-kiu-ciat-milik Sancu!"

"Benarkah telah terjadi peristiwa tersebut?"

Nona Kim dibuat semakin tertegun. Dengan wajah bersungguh-sungguh nona Siu berkata.

"Sekarang ia sedang disekap di dalam gua Im-hong-tong, mengapa nona tidak berusaha umuk menggeledah kamar tidurnya ?"

Nona Kim memandang sekejap kearah nona Siu. kemudian ia berkata.

"Baik, dengarkan yang jelas, andaikata aku berhasil menemukan salinan dari kitab pusaka itu serta lencana sakti tiong hu kiu-ciat tersebut, aku bersedia meluluskan permintaanmu untuk melepaskan kau pergi, cuma Khong It liong bajingan itu..."

"Nona, rahasia yang barusan kubicarakan ini tak lebih hanya rahasia yang kuhadiahkan untuk nona, rahasia yang sebenarnya jauh lebih berharga dari pada rahasia ini, dan rahasia tersebut mesti ditukar dengan Khong It-hong."

Nona Kim berkerut kening, dia menjadi termenung dan tidak berbicara apa-apa lagi.

Nona Siu bersikeras hendak menukar rahasia paling besar yang menyangkut nona Kim pribadi dengan kebebasan untuk Khong It hong kejadian mana segera membuat nona Kim menjadi serba salah.

Pada saat itulah, nona Siu telah berbisik lemah.

"Nona, mengapa tidak kau geledah dulu kamar tidurnya Khong It-hong ? kemudian yang lain baru dibicarakan lagi ?"

Nona Kim memandang sekejap wajah nona Siu, kemudian serunya kearah bawah loteng.

"Kakek Tiong, harap kau bersama kakek Siau dan kakek Jin naik keatas loteng !"

Tiga orang kakek itu segera mengiakan dan melompat naik keatas ruangan loteng. Dengan wajah dingin dan keren nona Kim berkata.

"Barusan aku mendapat laporan rahasia yang mengatakan bahwa Khong It-hong ada maksud untuk berhianat, secara sembunyi dia telah menyalin kitab pusaka milik Sancu dan mencuri lencana mestika, sekarang harap San-lo (kakek bertiga) berangkat ke Ku-kui-wan untuk melakukan penggeledahan yang seksama!"

Mendengar perintah tersebut, paras muka ke tiga orang kakek itu berubah hebat, mereka segera mengiakan dan beranjak pergi. Tergerak hati nona Kim, tiba tiba katanya lagi.

"Kakek Tiong, tolong suruh kakek Gi pergi menangkap Chiu Huihou untuk dilakukan pemeriksaan!"

Kakek Tiong mengiakan dengan hormat, bersama kakek Siau dan kakek Jin segera mengundurkan diri dari situ.

Sepeninggal ketiga orang kakek itu, dengan kening berkerut nona Kim baru berkata kepada nona Siu.

"Ada sepatah kata aku bersedia untuk memberitahukan dahulu kepadamu, andaikata ke dua macam barang yang digeledah ketiga orang kakek itu berhasil ditemukan, dan penghianatan Khong It hong terbukti, tentu saja aku akan melanjutkan pembicaraan tersebut sebagaimana mestinya."

"Cuma kau harus tahu, bila ayahku telah kembali ke gunung, aku pasti akan melaporkan semua kejadian ini kepadanya, dengan kemampuan ayahku, mampukah kau dan Khong It-hong meloloskan diri dari pengejarannya...?"

Nona Siu tertawa getir.

"Siapa yang dapat menentukan?"

Kejadian yang akan datang dia berseru. Tiba-tiba nona Kim maju dua langkah ke de para, lalu berbisik dengan suara rendah.

"Dalam kejadian malam ini, hanya kau dan aku yang tahu..."

"Nona, semua kejadian ini diketahui juga oleh Khong It-hong..."

Tukas nona Siu. Nona Kim menggelengkan kepalanya.

"Aku maksudkan soal pengakuanmu pada saat ini"

Katanya. -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB LIMA BELAS "Ooooh,... sebetulnya nona ingin berkata soal apa?"

Tanya nona Siu kemudian Nona Kim semakin merendahkan suaranya, ia berbisik.

"Kalau toh semua persoalan itu hanya diketahui olehku seorang, andaikata aku tidak bicara, ayahku juga tak tahu, mengapa setelah selesai penggeledahan ruangan Khong It-hong nanti, kau..."

Belum habis perkataan itu diutarakan nona Siu telah memahami maksud hatinya, dia lantas menukas.

"Kau hanya menerimanya dihati saja ?"

Nona Kim berkerut kening.

"tahukah kau, apa yang hendak kuucapkan ?"

"Tahu!"

Nona Siu mengangguk sambil tertawa getir.

"nona minta kepadaku untuk kembali lagi ke istana Sin kiong, sedang rahasia tersebut akan tetap nona pegang kemudian dengan alasan berhianat menghukum mati Khong-it-hong ...."

"Kalau memang sudah kau duga, aku ingin bertanya kepadamu, apakah cara tersebut tidak baik?"

Tukas nona Kim. Nona Siu memandang sekejap kearah nona Kim, lalu menjawab.

"Walaupun caramu itu bukan termasuk suatu cara yang bagus dan sempurna, tapi aku tak bisa tidak harus mengakui bahwa cara tersebut merupakan suatu cara yang terbaik, tapi nona, aku tak dapat berbuat demikian, tidak dapat..."

"Kenapa? Kenapa? kau?"

Nona Kim agak tertegun. Nona Siu menggelengkan kepalanya berulang kali dan tidak menjawab lebih jauh. Nona Kim berpikir sebentar, seperti memahami akan sesuatu, dia lantas berseru.

"Oooh, mengertilah aku sekarang, kau takut aku akan ..."

"Tidak"

Kembali nona Siu menggelengkan kepalanya.

"aku percaya ucapan nona berat bagai batu karang."

"Lantas dalam hal apa kau tidak bisa menerimanya?"

Nona Siu memandang nona Kim sekejap, kemudian maju dua langkah kemuka dan menggenggam tangan nona Kim erat-erat, sahutnya dengan bersungguh-sungguh.

"Nona sikapmu membuat aku merasa malu sendiri, terus terang kukatakan kepada nona aku sudah terperosok amat dalam, sedemikian dalamnya sampai aku sendiripun tak sanggup untuk menyelamatkan diriku sendiri."

"Kalau toh kau sudah mengetahui sampai di situ, mengapa tidak mengusahakan untuk melepaskan diri? Nona Siu, aku percaya akan kemampuanmu, kau masih sanggup untuk mengendalikan diri, kau dapat.."

Nona Siu tertawa getir, sambil menggelengkan kepalanya dia menukas.

"Tak mungkin bisa, selamanya tak akan bisa, nona, aku sudah terbiasa hidup tentram, di bawah perintah dan tekanan Sancu selama hampir dua puluh tahun ini, sedari dulu aku sudah bukan aku lagi."

"Aku tak lebih hanya sesosok mayat yang masih bisa berjalan, seorang algojo, seorang perempuan jalang yang harus melaksanakan perintah dari Sancu, aku sudah tidak berperasaan aku sudah bukan diriku lagi..."

Mendadak nona Kim menukas.

"Andaikata benar benar demikian keadaannya bukankah lebih lebih baik menerima tawaranku itu?"

Nona Siu tertawa aneh.

"Benar"

Katanya.

"tapi nona, bila sampai demikian keadaannya maka kau tak akan dapat hidup lebih lama lagi !"

Terkesiap nona Kim sudah mendengar ucapan itu.

"Kenapa? Masa kau akan mencelakai diriku?"

Dengan berterus terang nona Siu mengangguk.

"Siapa bilang tidak? Kau anggap selama hidup aku bersedia membiarkan rahasiaku kau pegang."

Nona Kim menjadi berdiri bodoh, untuk beberapa saat lamanya dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Lewat sejenak kemudian, agaknya nona Kim berhasil menemukan kata yang cocok, dia baru berkata.

"Tidak, kau tak akan berbuat demikian!"

"Dapat! Aku pasti akan berbuat demikian."

Nona Kim segera tersenyum, pelan-pelan dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Andaikata kau akan berbuat yang demikian, sekarang, kau tak akan berterus terang padaku"

Nona Siu kembali tertawa.

"Nona, sekarang aku akan memberitahukan kepadamu, justru karena aku merasa terharu karena telah menerima budi dan kebaikan dari nona, maka aku baru berniat untuk memotong dulu kesempatan di kemudian hari..."

Nona Kim itu menjadi paham sekarang, dia menggenggam tangan orang semakin kencang, kemudian ujarnya.

"Nona Siu, apakah kau tak dapat mempercayai-diriku."

"Tidak dapat"

Nona Siu menggeleng "kau harus tahu nona, seorang manusia durjana dan berhati buas, semuanya bukan orang tolol yang mudah ditipu orang."

"Aku cukup mengetahui akan hal itu, tetapi kau ucapkan kata kata semacam itu kepadaku?"

"Kawanan manusia durjana itu semuanya cerdik, apakah mereka tak dapat berpikir demikian sebelum melakukan kejahatan? Mereka semua tentu sudah memikirkannya, tetapi toh perbuatan tersebut di lakukan juga..."

"Alasannya amat sederhana sekali, oleh karena manusia masih memiliki watak "tenang bila tak diusik, bergerak bila di usik"

Maka di saat suara hatinya terketuk, dia akan melelehkan airmatanya dan bertobat, tapi bila keadaan sudah lewat, maka sikapnya itu akan kembali seperti sedia kala."

"Aku sendiripun demikian saja, sekarang suara hatiku sedang terketuk maka aku menyesal dan bertobat, maka aku menutup jalan mundurku sendiri, tapi bila kejadian ini sudah lewat, mungkin saja rasa terima kasilku kepada nona akan lenyap dan sebagai gantinya akan timbul perasaan dendam dan sakit hati!"

Nona Kim menghembuskan napas panjang, dia lantas mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, ujarnya.

"Kalau memang keputusanmu sudah bulat, kita tidak usah membicarakan persoalan ini lagi, cuma kau toh sudah mengetahui watak dari Khong It hong, kenapa kalau ingin pergi tidak pergi sendirian saja?"

Sekali lagi lagi nona Siu tertawa getir.

"Justru karena aku terlalu jelas memahami watak Khong It hong, maka aku baru mengambil keputusan begitu!"

Nona Kim makin tercengang.

"Aku tidak habis mengerti kenapa kau..."

"Sebab hanya aku yang dapat mengendalikan Khong It hong!"

Tukas nona Siu cepat.

"Kau juga mesti mengerti, bila ketiga orang kakek itu telah kembali dan terbukti bahwa ia telah berhianat, maka menurut peraturan bukit kita, dia sudah pasti akan mampus, orang sudah mampus mana bisa..."

"Jika nona tidak bersedia membebaskan Khong lt hong, maka jangan harap kau bisa mengetahui rahasia tersebut!"

Tukas nona Siu secara tiba-tiba dengan wajah serius.

"BiIa ia terbukti berhianat dan dibuktikan sendiri oleh ketiga orang kakek, memangnya kauanggap gampang untuk melepaskan dirinya"

"Aku telah berpikir sampai kesitu, dan telah kudapatkan pula cara yang terbaik untuk mengatasinya!"

"Oya,..? Kalau begitu coba kau katakan kepadaku."

"Setelah nona mengungkapkan semua dosa nya, maka keluarkan dia dari dari ruang Cap pwee sin lian dan titahkan kepada Pat lo buat membawanya kembali ke istana Sin kiong buat melakukan pemeriksaan, saat itu aku mempunyai akal untuk menolongnya dari situ."

Nona Kim berpikir sebentar kemudian tanya nya lagi.

"Kalian hendak keluar gunung lewat jalan yang mana?"

"Silahkan nona yang menentukan, asal kau bersedia menyingkirkan semua penjaga sepanjang jalan itu, hal mana sudah lebih dari cukup."

Kembali nona Kim berpikir sebentar, lalu ujarnya.

"Bagaimana kalau lewat jeram beracun di-tebing berbahaya belakang bukit situ?" -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***

Jilid 12 SETELAH BERHENTI SEJENAK, dia menambahkan.

"Apakah kau akan kabur pada malam ini juga ?"

Nona Siu mengangguk.

"Bila memilih hari lalu untuk kabur, mungkin hal ini akan bertambah sulit lagi!"

"Malam jini pukul berapa?"

"Antara kentongan ke dua sampai kentongan ke tiga"

Nona Kim berpikir sebentar, lalu mengangguk.

"Baiklah, sampai waktunya aku akan menghantar kepergianmu secara diam-diam"

"Terima kasih banyak atas kesediaan nona untuk membantuku"

Ucapan nona Siu kemudian dengan nada terharu. Nona Kim segera menghela napas panjang, katanya.

"Aaaai ...cuma, kau harus ingat, Sancu adalah seorang yang serba tahu, bila dikemudian hari."

"Jangan kuatir nona,"

Tukas nona Siu sambil tertawa.

"Sancu tak akan berhasil menemukan kami."

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya lebih jauh.

"Sekalipun nasibku kurang beruntung dan kena ditangkap oleh Sancu, akupun tak akan menyalahkan nona, waktu itu, kendatipun aku disiksa dengan siksaan apapun juga, tak akan ku katakan bahwa aku memang bersekongkol dengan nona."

"Aku tidak berpikir demi kepentinganku sendiri..."

Nona Siu tersenyum lembut, selanya.

"Nona berbudi luhur, aku lebih terharu lagi dibuatnya."

Nona Kim berpikir sebentar, lalu katanya.

"Ijinkanlah aku untuk memanggilmu "Sunio"

Coba pikirkan lagi dengan seksama, apakah masih ada pekerjaan lain yang harus kulakukan untukmu?"

Panggilan "Su nio"

Ini segera menggetarkan perasaan nona Siu itu, tiba tiba sikap menjadi sangat tegang, katanya kemudian.

"Sudah lama sekali... yaaa, lama sekali kau tak pernah menyebut dengan panggilan itu."

"Harap Sunio jangan marah"

Nona Kim menundukkan kepalanya rendah-rendah. Nona Siu (untuk selanjutnya akan dipanggil dengan sebutan Su nio) tertawa getir.

"Aaaaa, tidak apa apa"

Katanya.

"memang sudah sewajarnya kalau nama yang tak betul, pembicaraan tak akan lancar"

Nona Kim tidak berbicara lagi, tapi dengan sorot mata meminta maaf dia melirik sekejap kearah Su nio.

"Sekarang nona tak usah mengelabui diriku lagi"

Kata Sunio lebih lanjut dengan suara lirih.

"salah seorang diantara dua orang Sun-kongcu yang berada dalam loteng impian sekarang, apakah benar merupakan orang yang semalam telah menyusup ke dalam istana Sin kiong?"

"Aku memang menaruh curiga akan hal tersebut, cuma tiada sesuatu bukti yang nyata."

Sunio segera tertawa.

"Konon Su kongcu yang seorang lagi Bau ji"

"Benar"

Nona Kim mengangguk.

"soal ini hanya di ketahui olehku seorang..."

Setelah berhenti sejenak, dengan perasaan kaget bercampur tercengang ia bertanya.

"Heran, darimana kau sudah tahu, Su nio ?"

Mencorong sinar tajam dari balik mata Su nio. Dia seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya diurungkan, setelah menghela napas panjang ia berkata.

"Aku seperti pernah bersua dengan kedua orang Sun kongcu itu !"

"DuIu pernah bersua dengan mereka ?"

Nona Kim tertegun.

"Kapan, dan dimana ?"

Sunio kembali tertawa getir.

"Aku hanya berkata agaknya pernah bersua dengan mereka dulu, itu berani belum tentu aku pernah bersua dengan mereka". Diam diam nona Kim menjadi keheranan, tanpa terasa dia melirik sekejap kearah Sunio. Agaknya Sunio merasa akan hal itu, segera ujarnya.

"Nona, ada tujuan mereka memasuki bukit ini ?"

"Sun kongcu yang datang duluan adalah seorang sastrawan, dia hanya berkata karena ingin memotong jalan maka ia salah memasuki bukit ini, sedangkan Sun kongcu yang datang belakangan sukar diajak bicara, ia tidak menerangkan maksud kedatangannya..."

Su-nio berkerut kening, segera selanya.

"Nona, kau harus lebih berhati hati menghadapi kedua orang itu!"

"0ya...?"

Nona Kim berseru tertahan, dengan mengandung maksud lain ia berkata lebih jauh.

"apakah Su-nio telah berhasil menyaksikan sesuatu yang tak beres?"

"Percayakah nona bahwa mereka masuk ke bukit ini karena suatu ketidak sengajaan?"

Baru saja nona Kim akan menjawab, kakek Tiong, kakek Siau dan kakek Jin telah melayang masuk ke dalam loteng.

Sambil mengangsurkan sebuah kotak mestika yang dibawanya kepada nona Kim, Kakek Tiong berkata.

"Seperti apa yang dikatakan nona, kami telah berhasil mendapatkan bukti penghianatan Khong It-hong"

Nona Kim menerima kotak tersebut dan di periksanya sekejap, kemudian perintahnya.

"Harap kakek Tiong mengeluarkan Khong It-hong dan menggusurnya ke dalam istana Sin kiong, tunggu pemeriksaan dari Sancu sendiri sekembalinya ke atas bukit nanti, tingkatkan kesiap siagaan penuh..."

Kakek Tiong berpikir sejenak, kemudian ujarnya.

"Ruang Cap pwe sin tian lebih kokoh penjagaannya, mengapa..."

"Kakek Tiong, dia sama sekali tidak tahu kalau kita berhasil membongkar usaha penghianatannya"

Tukas nona Kim.

"oleh sebab itu harap kakek Tiong membawanya keluar dari ruang Sin tian secara diam-diam dan menahannya untuk sementara waktu dalam istana Sin kiong."

"Kakek Tiong harus mengerti, dengan tabiat dari Khong It hong, sekalipun disiksa juga tiada gunanya, mau berhianat juga tak mungkin bisa dilakukan dengan kemampuannya seorang, semua persoalan ini harus kita selidiki lebih dulu sebelum Sancu pulang ke gunung". Kakek Tiong menjadi paham kini, sambil tertawa katanya.

"Nona memang amat cerdik, kalau begitu lohu bersaudara hendak mohon diri lebih dulu!"

"Semoga kalian berhasil". nona Kim tersenyum. Tiga orang kakek itu mengiakan, kemudian bersama-sama meninggalkan ruangan loteng itu. sepeninggal ketiga orang kakek itu, Su-nio kembali menjura kepada nona Kim seraya berkata.

"Budi kebaikan nona kepadaku, mungki hanya bisa kusimpan dalam hati dan tak dapat kubalas dalam kehidupanku kali ini, anggap lah penghormatanku ini sebagai ucapan rasa terima kasihku kepadamu."

Dengan gugup nona Kim segera membimbingnya bangun, lalu serunya.

"Su nio, mulai sekarang sampai saatmu meninggalkan bukit ini masih tersedia beberapa waktu, aku bersedia menggunakan waktu yang amat singkat ini untuk mendengarkan keputusan terakhir dari Su nio."

"Nona, aku takut kali ini kau akan merasa amat kecewa"

Kata Su nio sambil tertawa getir. Dengan perasaan apa boleh buat nona Kim segera berkerut kening, lalu katanya.

"Kalau memang begitu, aku hanya bisa mendoakan keselamatanmu saja!"

Sekali lagi Su nio tertawa getir.

"Aku mengetahui akan perasaan hati nona, akupun memahami apa yang dipikirkan nona, ketahuilah bahwa Khong It-hong tak boleh mati, paling tidak ia tidak pantas mati ditangan nona atau Sancu.."

"Kenapa ?"

Su-nio menghela napas panjang.

"Ada sementara persoalan yang sesungguhnya jauh diluar dugaan orang, aku dan Khong It-hong adalah salah satu diantaranya, bila San cu telah kembali kebukit nanti, nona boleh menanyakan hal ini kepadanya...."

"Apakah ayahku mengetahui alasan dibalik kejadian tersebut ?"

Tanya nona Kim sambil berkerut kening. Su-nio mengangguk.

"Sancu mengetahui semua persoalan itu paling jelas !"

Walaupun nona Kim dapat mendengar kalau dibalik ucapan tersebut mengandung maksud lain, namun ia masih belum begitu paham, terpaksa teka teki itu disimpan saja dalam hatinya sampai dan menunggu sampai Sancu pu lang untuk ditanyakan kembali.

Sementara itu, Su nio telah berbisik lagi setelah berhenti sebentar.

"Nona, sekarang aku akan memberitahukan rahasia tersebut kepadamu !"

"Kau benar benar ada rahasia yang hendak disampaikan kepadaku."

Nona Kim melirik sekejap ke arah Su nio. Sunio menghela napas panjang.

"Aaaai... tentu saja sungguh"

Sahutnya.

"cuma setelah kuutarakan nanti, kuatirnya bila nona tak mau mempercayainya, sebab itu sebelum kuterangkan rahasia itu, terlebih dahulu kumohon kepada nona untuk meluluskan beberapa persoalan !"

"Katakanlah, persoalan apakah itu ?"

"Setelah rahasia ini kau dengar nanti, percaya boleh tidak percaya juga boleh, tapi yang penting harus disimpan terus didalam hati, jangan sekali kali kau bocorkan kepada Sancu atau orang lain yang berada diatas bukit ini."

"Oooh, jika ada kepentingan untuk berbuat demikian, tentu saja bukan bertindak lebih berhati-hati lagi !"

Su nio segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Nona, persoalan ini jangan kau anggap sebagai suatu permainan kanak-kanak belaka, kau harus melaksanakan seperti apa yang telah kau janjikan !"

"Baiklah"

Ucap nona Kim kemudian dengan perasaan apa boleh buat.

"aku akan berusaha untuk menutup rahasia tersebut dan tak akan kukatakan kepada siapapun !"

"Selain itu, bila Sancu telah kembali dan tahu kalau aku serta Khong It hong telah melarikan diri, ia pasti akan mendesak kepada nona untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya, paling baik jika nona menjawab dengan menggunakan kata "Tidak tahu!"

"Soal ini aku tahu, aku tak akan mengaku kalau memang sengaja kulepaskan dirimu!"

Sekali lagi Su nio menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya.

"Soal ini bukan dikarenakan aku takut kalau Sancu akan datang menangkapku, juga bukan untuk mencuci nama dari keterlibatannya dalam persoalan ini, aku hanya kuatir bila Sancu sudah mengetahui keadaan yang sebenarnya maka dia akan membinasakan nona!"

"Aaah, masa seserius itu?"

Seru nona Kim dengan wajah tertegun setelah mendengar perkataan itu.

"Yaa, dan persoalan itu erat sekali hubungannya dengan rahasia yang hendak kukatakan kepada nona."

Nona Kim tidak berbicara lagi, dia lantas membungkam diri. Kembali Su nio berkata.

"Nona bersedia memenuhi permintaanku ini"

"Ehm, baik, akan kulakukan, katakan sekarang!"

Su nio menarik tangan nona Kim dan menggenggamnya dengan lembut, kemudian ujarnya.

"Nona, tahukah kau kalau Sancu tak pernah menikah?"

Mendengar perkataan itu, nona Kim menjadi tertegun, walaupun Su nio tidak berbicara terus terang, namun apa maksud dari ucapan itu sudah teramat jelas, kalau kawin saja tak pernah, darimana pula datangnya anak..?"

"Nona, kau she Kwik, putri seorang musuh besar Sancu"

Sambung Sunio lebih jauh.

"sejak berumur setahun, kau sudah dibawa pulang oleh Sancu, sebetulnya Sancu bermaksud menggunakan nona sebagai sandera..."

Belum habis ia berkata, nona Kim telah membentak nyaring.

"Kau sedang mengaco belo, omong kosong! Omong kosong !"

Su nio menggenggam tangan nona itu semakin kencang, ujarnya.

"Nona, harap kau tenangkan sedikit pikiranmu jangan terlampau emosi, aku tidak berbicara sembarangan dalam peristiwa itu akupun mengambil bagian, atau tegasnya akulah yang membopong nona kemari..."

Belum selesai dia berkata, dari bawah loteng, sudah kedengaran suara dari kakek Gi berseru.

"Chin hui ho sudah tertangkap !"

Mendengar itu, Su nio yang berada di atas loteng segera berbisik.

"Nona, Chin hui ho turut serta di dalam usaha penghianatan yang direncanakan Khong It-hong, cuma persoalan yang diketahui olehnya tidak banyak, orang ini licik dan berbahaya, lebih baik tak usah menunggu sampai kembali San cu."

Apa maksud yang sebenarnya dari ucapan ini, tentu saja dipahami pula oleh nona Kim. Maka nona Kim pun manggut2 mengiakan, Sunio segera berkata lebih lanjut.

"Silahkan nona melakukan pemeriksaan terhadap Chin Hui hou ditempat ini, sementara persoalan yang belum selesai kita bicarakan kita lanjutkan pada malam nanti sebelum kentongan pertama"

"Baik, permulaan kentongan pertama nanti tunggu aku dalam istana"

Sunio manggut manggut, setelah tersenyum kepada nona Kim, ia turun dari loteng.

Menyusul kemudian, nona Kim segera memerintahkan kepada kakek Gi untuk menggusur Chin Hui hou naik ke atas loteng.

Chin Hui-hou yang tertangkap masih kebingungan setengah mati, dia belum tahu kalau bencana besar telah berada didepan mata.

Kakek Gi menggusurnya ke hadapan nona Kim, kemudian sambil mengendorkan cengkeramannya, dia berseru dengan suara dalam.

"Hayo cepat berlutut dan menjawab semua pertanyaan yang ku ajukan kepadamu !"

Chin Hui-hou adalah seorang Congkoan.

juga merupakan orang kepercayaan dari Sancu, dia belum tahu kalau penghianatan Khong It-hong telah terbongkar pada saat ini, karena itu mendengar bentakan dari kakek Gi, segera serunya dengan lantang.

"Kakek Gi, kau telah menganggap aku Chin Hui hou sebagai manusia apa...?"

Kakek Gi segera mendengus dingin.

"Hm .. .! kau anggap dirimu adalah manusia apa?"

Jengeknya.

"Jelek jelek begini lohu adalah salah seorang congkoan, dari ke delapan orang congkoan dibukit ini, mana boleh kau.."

"Chin Hui-ho"

Ujar nona Kim kemudian.

"jabatan congkoan mu itu kuhapus mulai saat ini."

Chin Hui ho menjadi tertegun, lalu katanya.

"Nona, setelah kau memegang lencana kimleng, apakah tindakanmu lantas semena-mena seperti ini ?"

Nona Kim mendengus dingin.

"Hmm, kenapa, apa aku tak berhak untuk memberhentikan kau dari jabatanmu itu . .?"

"Sekarang nona memegang lencana Kim leng berarti mempunyai kekuatan untuk menghukum mati seseorang, bila kau hendak menghapus jabatan hamba sebagai congkoan, tentu saja tak ada orang yang berani mengatakan tidak, cuma hamba masih tidak mengerti..."

"Sebentar kau akan mengerti, tak usah gelisah dulu!"

Tukas nona Kim sambil tertawa dingin. Setelah berhenti sebentar, dengan suara dalam lanjutnya.

"Chin Hui hou, tahukah kau sekarang Khong It hong berada di mana ?"

Ternyata Chin Hui hou cukup licik, dia segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Hamba tidak tahu"

Sahutnya, Kembali nona Kim tersenyum.

"Tentunya kau tahu bukan, apa sebabnya Khong It hong di tangkap dan di tahan ?"

"Waktu itu hamba hadir ditempat kejadian, tentu saja hamba tahu"

"Bagus sekali, coba katakan."

"Dia berani membangkang perintah nona berani berbicara kasar dan menyakiti hati nona, maka dia dijatuhi hukuman."

"Hmmm.. .! Apakah tiada alasan yang lain?"

"Yang hamba lihat dan hamba dengar hanya demikian saja !"

Nada suara nona Kim segera berubah, kembali bentaknya.

"Mengapa tidak kau pikirkan, dengan kedudukan Khong It hong yang tinggi, lagipula mendapat kepercayaan penuh dari Sancu, dan juga sudah banyak berjasa untuk kita, hanya di sebabkan urusan kecil saja lantas ditangkap dan disekap?"

Mendengar perkataan itu, tergerak juga hati Chin Hui hou, serunya kemudian.

"Chin hui hou, benarkah kau tidak tahu?"

Jengek nona Kim sambil tertawa mengejek, sekali lagi tergerak hati Chin hui hou.

"Hamba kurang pintar, tak bisa kuduga hal yang sebenarnya"

Ujarnya kemudian. Nona Kim menjadi gusar sekali setelah mendengar jawaban itu segera hardiknya.

"Aku bukan menyuruh kamu menebak, aku suruh mengatakannya."

Diam-diam Chin hui-hou makin terkesiap, ia berseru.

"Tapi hamba harus mulai bicara dari mana?"

Sepatah demi sepatah noaa Kim berkata dengan nada serius.

"Katakan, sejak kapan kau turut serta dalam rencana pengkhianatan itu terhadap perguruan, tugas apa yang diberikan Khong It hong kepadamu untuk di laksanakan dan apa pula yang telah kau lakukan selama ini bagi kepentingan nya!"

Begitu perkataan itu diutarakan Chin Hui hou segera merasakan tubuhnya bagaikan terjatuh kedalam gudang es, sekujur tubuhnya kontan membeku dan bergidik.

Untuk sesaat lamanya dia tak sanggup menjawab, orang itu cuma bisa berdiri tertegun seperti orang bodoh.

Kakek Gi segera mendengus dingin, tegurnya.

"Chin congkoan, sudah kau dengar pertanyaan itu ? Bila ingin menjawab, katakan dari apa yang telah dikatakan itu."

Chin Hui hou termenung dan menyusun rencana lebih dulu, kemudian katanya.

"Nona, hamba ingin bertanya siapa yang telah menfitnah diri hamba ini."

"Memfitnah?"

Bentak nona Kim dengan gusar.

"anjing laknat, besar amat nyalimu !"

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

"Dari dalam Ku kui wan yang dihuni Khong It hong, kami telah mendapatkan salinan kitab pusaka ilmu silat milik Sancu, kamipun telah menemukan lencana mestika yang diganti dengan lencana palsu, apakah semua bukti itu masih kurang ?"

Berbicara sampai disini, nona Kim sengaja berhenti berkata dan tertawa dingin tiada hentinya.

Sementara sepasang matanya yang memancarkan sinar tajam menatap wajah Chin Hui hou tanpa berkedip.

Sekujur badan Chin Hui hou gemetar keras, dia ingin berbicara namun tak tahu bagaimana kah harus memulai dengan pembicaraan tersebut.

Nona Kim memandang sekejap ke wajah Chin Hui hou, setelah itu pelan-pelan baru berkata.

"Menurut pengakuan dari Khong it hong serta di perlihatkan barang barang buktinya, ia mengakui kalau kau adalah orang kepercayaannya yang turut serta dalam organisasi rahasia itu, tapi kau belum pernah mendapat kesempatan-untuk melakukan sesuatu..."

Chin hui ho segera tertipu, dengan bermasam muka katanya.

"Harap nona maklum, hamba..."

"Kau adalah seorang penghianat kau berani mengakui dirimu masih sebagai anggota perguruan kami?"

Hardik kakek Gi amat gusar Sekujur badan Chin Hui hou kembali gemetar keras, cepat cepat katanya lagi.

"Harap nona maklum, aku yang rendah ini memang benar-benar telah di paksa untuk ber komplot dengan Khong it hong, tetapi akupun benar-benar tak pernah melakukan perbuatan yang merugikan Sancu, oleh karena itu mohon nona suka mengampuni diriku yang rendah ini"

Nona Kim segera berpaling ke arah kakek Gi sambil serunya.

"Kakek Gi, kau sudah mendengar jelas?"

"Setiap patah kata telah lohu dengar dan ingat baik baik"

Sahut kakek Gi sambil membungkukkan badannya memberi hormat. Nona Kim mcngangguk, dia lantas berkata lagi kepada Chin Hui hou.

"Chin Hui hou, menurut peraturan kita, atau menunggu sancu pulang dan lalu menjatuhkan sendiri hukumannya sendiri hukumannya kepadamu, tentunya kau sudah tahu bukan hukuman apa yang bakal di timpakan kepadamu?"

"Oooh... nona, ampunilah aku..."

Rengek Chin Hui hou dengan sedih. Nona Kim segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Chin Hui hou"

Kembali dia berseru.

"Hal ini tergantung pada dirimu sendiri, mengerti?"

Chin Hui hou bukan orang bodoh, tentu saja dia mengerti, maka jawabnya cepat.

"Hamba berterima kasih sekali atas kesempatan yang nona berikan, cuma apa yang kuketahui tidak banyak...."

"Berapa yang kau ketahui, katakan pulaberapa banyak".

"Khong Ithong hanya menitahkan kepada aku yang rendah untuk menghancurkan semua alat jebakan dan alat rahasia yang berada di bukit ini bila saatnya sudah matang, agar orang-orang yang telah dipersiapkan diluar bukit dapat menyerbu masuk kedalam bukit ini !"

"Oooh, lantas siapa saja yang akan disambutnya itu ?"

"Soal ini, aku yang rendah kurang begitu tahu."

Jawab Chin Huihou sambil menggeleng.

"Sebenarnya kapan rencana yang disusun oleh Khong It-hong itu akan dilaksanakan ?"

Chin Hui-hou berpikir sebentar, lalu sahutnya.

"Soal ini merupakan rahasianya, dia sendiri pun tidak tahu, hanya katanya kepada hamba bahwa hal ini akan terjadi tak lama kemudian, mungkin juga akan dilaksanakan sebelum permulaan tahun depan, soal waktu yang tepat..."

"Oooh, kalau begitu Khong It-hong bukan pentolan dari gerakan tersebut ?"

"Yaa, dia bilang andaikata berhasil maka dialah Sancu dari bukit ini."

"Hmm ! Dia lagi bermimpi disiang hari bolong"

Dengus kakek Gi dingin. Setelah berhenti sebentar, kembali ia berkata.

"Bagaimana caranya untuk mengadakan kontak dengan kawanan tikus yang berencana ingin merebut kekuasaan diatas bukit ini ?"

"Hamba kurang begitu jelas, cuma setiap kali dia berada di atas gunung, maka setiap malam hari ganjil dia pasti berada di luar Ku-kui wan untuk bergadang...."

"Di luar kebun dekat sebelah mana? Cepat katakan!"

Seru kakek Gi dengan amat gelisah. Di luar kebun dekat jalan berbatu menuju ke jeram beracun!"

"Andaikata kebetulan ada orang sedang lewat di sana, apa yang harus kau lakukan?"

"Dia suruh aku dengan jabatanku sebagai Congkoan untuk mengundurkan orang itu, sebaliknya jika Sancu atau nona yang datang, maka dia menyuruh aku yang rendah untuk memberitahukan bahwa dia sedang melatih ilmu Sam goan sin kang!"

Mendengar ucapan itu, nona Kim segera berkerut kening dan membungkam diri. Sedang kakek Gi lantas berkata.

"Nona, mengapa Sancu menurunkan ilmu Sam goan sin kang tersebut kepada bocah keparat ini."

Nona Kim hanya menggeleng, kemudian setelah termenung dan berpikir sebentar katanya.

"Kakek Gi, jangan lupa untuk memberitahukan semua kejadian ini-kepada kakek Tiong."

"Tolong tanya nona, bolehkah lohu bersaudara bertindak menurut suara hati kami sendiri?"

"Nona Kim berpikir sejenak, lalu sahutnya.

"Jangan memunahkan segenap kepandaian silatnya, tapi boleh saja menarik kembali Sin kang tersebut."

"Lohu pun bermaksud demikian!"

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba ia berkata.

"Nona, hari ini adalah hari ganjil!"

"Aku tak akan melupakannya"

Nona Kim tertawa. Kemudian ia berpaling kearah Chin Hui bou dan bertanya.

"Apakah kau masih ada perkataan lain yang kau sampaikan kepada kami?"

Chin Hui hou menggelengkan kepala.

"Apa yang hamba ketahui telah hamba ucapkan, aku sudah tidak mengetahui soal yang lain lagi!"

Nona Kim segera mengangguk..

"Kalau begitu aku ingin bertanya satu hal kepadamu, kalau toh. Khong It hong memberi-tahukan kepadamu tentang rencananya untuk menghianati Sancu, bahkan kaupun bersedia untuk turut serta, bila berhasil kebaikan apakah yang akan kau peroleh?"

Chi Hui-hou ragu-ragu sejenak, kemudian baru sahutnya.

"Aku yang rendah diperkenakan mengambil ketiga macam benda mestika yang ada dibukit ini masing sekantung, kemudian mengundurkan diri dari dunia persilatan !"

"Ehmmm, sekantung pasir emas sudah cukup bagimu untuk hidup senang sepanjang hidupmu, sedangkan dua macam benda yang lain pun merupakan benda mestika yang tiada tara nya djdunia ini, yaa, memang cukup untuk membeli dirimu !"

Setelah berhenti sejenak, mendadak bentaknya lanjut.

"Sudah berapa lama timbul niat dalam benak kalian untuk berhianat kepada Sancu?"

"Sudah sepuluh bulan lebih beberapa hari !"

"Selama hari hari ini, apakah kalian tak pernah berhasrat untuk menyembunyikan ke tiga macam mestika itu...."

Belum habis perkataan itu diucapkan, Chin hou telah menukas.

"Aku yang rendah berani bersumpah, belum pernah hamba mengambil secuwil pun..."

"Apakah Khong It hong juga tak pernah mengambilnya ?"

Sela kakek Gi cepat. Chin Hui hou tertawa getir.

"Hari ini, aku yang rendah telah menjadi begini rupa, apa yang bisa kuucapkan telah kukatakan semua, semula aku yang rendah memang berniat begitu, tapi Khong It hong yang mencegah perbuatan hamba itu, dia bilang jangan karena soal sepele mengakibatkan gagalnya masalah besar."

"Heeehh...heeh...heee....menurut pendapat lohu, dia memang tidak bersungguh hati untuk memenuhi janjinya bila urusan telah berhasil nanti!"

Jengek kakek Gi sambil tertawa dingin. Chin Hui-hou turut tertawa getir.

"Mungkin saja demikian, tapi yang pasti hamba telah mati karena harta kekayaan !"

Nada perkataan itu amat menyesalkan sekali, kepalanya tertunduk dan keadaannya sangat mengenaskan. Dengan kening berkerut nona Kim lantas berkata kepada kakek Gi.

"Kakek Gi, aku akan menyerahkan Chin-Hui hou kepadamu sambil menunggu kepuIangan Sancu untuk menjatuhkan hukuman kepadanya, cuma kakek Gi harus hati hati, jangan sekap mereka menjadi satu !"

Dari ucapan tersebut, kakek Gi segera me mahami maksud nonanya, dia mengangguk.

"Jangan kuatir nona, lohu dapat bertindak sebagaimana mestinya..."

"Aaa... semalam suntuk tidak tidur, aku benar-benar lelah sekali dan ingin beristirahat harap kakek Gi menutup loteng ini"

Ditengah pembicaraan tersebut, nona Kim segera turun dari loteng meninggalkan tempat ini.

Dengan suatu gerakan cepat kakek Gi melancarkan sentilan jarinya menotok empat buah jalan darah penting ditubuh Chin Hui-hou.

Kemudian sambil mendorong Cbin Hui hou, serunya lebih jauh.

"Kau tak usah merepotkan lohu lagi, hayo jalan !"

Dengan wajah yang lesu dan sedih, bagaikan domba yang digiring ke tempat penjagalan, Chin Hui-hou berlalu dengan lemas, Setelah menutup loteng, kakek Gi menggiring Chin-Hui hou kembali ke istana Sin-kiong.

Walaupun nona Kim mengatakan hendak pergi beristirahat kenyataannya setelah turun dari loteng, dia lantas berangkat menuju ke loteng impiam ....Sun Tiong lo dan Bun Bau ji yang berada di dalam loteng impian baru saja bangun dari tidurnya, jadi kedatangan nona itu tepat pada waktunya....Setelah mempersilahkan nona Kim duduk.

Sun Tiong-lo segera bertanya pelan.

"Pagi ini, apakah nona akan menghantar kami sendiri untuk keliling bukit?"

Nona Kim mengerling sekejap kearahnya, lalu menjawab.

"Aku sudah menurunkan perintah, sebentar lagi Kim Poo cu akan datang kemari, aku datang kemari sekarang karena ada persoalan lain yang lebih penting lagi hendak di beritahukan kepada kalian"

Mendengar ucapan tersebut, Sun Tiong-lo serta Bau-ji menjadi tertegun, mereka saling berpandangan sekejap, namun tidak mengucapkan sepatah katapun.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB ENAM BELAS KETIKA NONA Kim menyaksikan Bau-ji bersaudara tidak bertanya lebih jauh, dia lantas tertawa hambar, katanya.

"Persoalan ini ada sangkut paut yang amat besar sekali dengan kalian berdua !"

"Persoalan apakah itu ?"

Tak tahan Bau-ji bertanya.

"Mulai hari ini, petugas yang akan mengejar kalian dalam usaha kamu berdua melarikan diri telah berganti orang !"

"Oooh, bukan Chin congkoan dan Kim-po-cu"

Nona Kim segera menggeleng.

"Sudah diganti"

Katanya.

"cuma bila pada makan malam nanti kalian berdua bersedia untuk bersantap diruang tengah sana, aku pasti akan memperkenalkan mereka kepada kalian berdua !"

Sun Tiong lo memandang sekejap ke arah Bauji, kemudian ujarnya.

"Nona, sepantasnya aku yang muda tak boleh banyak bertanya, tapi oleh karena..."

Tampaknya nona Kim sudah mengetahui apa yang ingin ditanyakan Sun Tiong lo, dengan cepat dia menyela.

"Chin congkoan telah melanggar peraturan bukit kami, sedangkan Kim Poocu tak becus melaksanakan tugas berat ini, maka dengan perasaan apa boleh buat terpaksa aku harus mengundang kedatangan dua orang dari ruang Cap pwe sin tiam (istana delapan belas siksaan) untuk menggantikan kedudukan mereka itu."

"Apa sih yang dinamakan ruangan delapan belas siksaan tersebut?"

Tanya Sun Tiong lo sambil tertawa. Dengan pandangan dingin nona Kim mengerling sekejap ke arahnya, kemudian mendengus.

"Hmmm, masa kau belum pernah berkunjung ke situ?"

Sun Tiong lo segera menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Nona, mengapa sih kau menyusahkan aku."

Bisiknya. Nona Kim melirik sekejap wajah si anak muda itu, kemudian menukas.

"Baiklah, tak usah kita perbincangkan perbincangkan persoalan ini."

Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.

"Semalam, sakitmu terlalu mendadak dan terlalu kebetulan sehingga sia-sia belaka aku tunggu kau semalaman suntuk, banyak persoalan juga gagal aku bicarakan denganmu, bila kau tidak ada urusan kini, bagaimana kalau..."

Dengan sekulum senyuman penuh arti Sun-Tiong lo melirik sekejap ke arah nona Kim lalu berkata.

"Besok adalah saatnya saudaraku untuk melarikan diri, dapatkan nona memaafkan aku , yang paling cocok .. ?"

Tukas nona Kim dengan suara dalam.

"Bagaimana kalau pada kentongan pe'ika'ma"

I-ari ke lima nanti?"

"Oooh ...bukankah itu berarti lusa malam?"

"Tentunya nona tidak akan merasa terlalu lama bukan?"

Nona Kim tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya malah balik bertanya.

"Kau tak akan menundanya lagi bukan?"

Sun Tiong lo segera tertawa.

"Pertemuan ini merupakan suatu janji, aku yang muda tak berani mengingkarinya!"

"Kalau begitu, kita tetapkan demikian saja"

Ucap nona Kim kemudian sambil mengerling sekejap kearahnya, setelah berhenti sebentar, kembali dia menambahkan...

"Masih perlukah untuk berjalan jalan di sekeliling bukit pada hari ini...?"

"Kakakku belum begitu hapal dengan wilayah di sekitar tempat ini ..."

"Menurut pendapatku, hari besok adalah hari terakhir bagi saudaramu itu"

Kata nona Kim dengan mimik wajah yang amat serius.

"aku-perdaya banyak persoalan yang perlu kalian berdua perbincangkan apalagi dibawah bimbinganmu, segala sesuatunya tampak sudah tersusun dengan rapi. ."

"Maksud nona, perjalanan keliling bukit pada hari ini lebih baik dibatalkan saja? "

Sela Sun Tiong lo. Nona Kim segera tertawa.

"Bagaimana menurut anggapanmu?"

Ia balik bertanya. Sun Tiong Io turut tertawa.

"Kalau toh nona beranggapan perjalanan keliling ini tak ada faedahnya, batalpun juga tak mengapa."

"Baiklah"

Kata nona Kim kemudian setelah menatap sekejap wajah si anak muda itu.

"kita putuskan demikian, nah, aku mohon diri terlebih dulu."

Maka Sun Tiong lo dan Bau ji segera mengantar nona itu sampai didepan loteng. -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** "Siapa itu?"

Sesosok bayangan manusia melayang turun di depan gua di belakang bukit sana dengan suatu gerakan yang sangat enteng, baru mencapai tanah, ia telah merasakan sesuatu sehingga segera menegur.

Namun suasana di sekeliling tempat itu sepi tak kedengaran sedikit suara pun, tiada jawaban, tiada bayangan manusia.

Bayangan manusia itu berdiri tak bergerak, di bawah pancaran sinarnya rembulan, tampak kalau orang ini adalah Sik Phu.

Mengapa secara tiba tiba Sik Phu meninggalkan istana Pat tek sinkiong dan mendatangi depan ketiga buah gua di belakang bukit ini?

Tidak salah lagi jika dia sedang memenuhi janjinya dengan sang tetamu semalam, untuk bersua di tempat ini.

Ketika ia baru tiba di tempat, terasa olehnya seakan akan disana ada seseorang, namun tegurannya tidak diperoleh jawaban apa apa.

Setelah termenung, sebentar, akhirnya dengan langkah lebar dia berjalan menuju kedepan gua.

Untuk kedua kalinya ia berhenti setibanya di depan gua, diam diam dia berpikir...

Semalam sang tetamu itu mengajakku bertemu di gua bagian tengah pada kentongan yang pertama hari ini kini, tiba saatnya, mengapa belum juga nampak sesosok manusiapun?"

Berpikir demikian, ia menjadi teringat kembali akan perasaannya yang mengatakan disekitar sana ada oran,g, dia menggelengkan kepalanya berulang kali dan mengambil keputusan, setelah menengok sekejap ke kiri dan kanan, ia lantas menyelinap masuk ke dalam gua bagian tengah.

Sik Phu cukup hapal dengan keadaan dari ke tiga gua tersebut.

Gua yang ada di sebelah kiri dan kanan masing-masing mencapai kedalaman dua kaki lebih, sedangkan gua yang ada di bagian tengah mencapai tiga kaki lebih, tetapi semuanya merupakan gua buntu, dan mungkin beribu tahun berselang, gua itu digunakan orang untuk bertapa.

Tapi semenjak nama Bukit Pemakan Manusia dipakai, perkampungan keluarga Beng yaitu Beng keh-san ceng tertimpa musibah, Sancu yang menguasai tanah perbukitan itu menganggap ke tiga buah gua tersebut sama sekali tak ada gunanya, maka tempat itu terolisir dan tak pernah di-singgahi orang, tidak heran jikalau debu dan sarang laba laba bertumpuk di situ, keadaan gua tidak bersih.

Ditambah lagi gua itu letaknya di belakang bukit, yang hampir sepanjang tahun tidak memperoleh sinar matahari, tidak heran kalau gua itu sangat lembab, bila ada yang masuk ke dalam gua, maka pertama-tama.

dia tak tahan akan baunya yang busuk.

Setelah menyelinap masuk kedalam gua bagian tengah itu, Sik Phu menyembunyikan diri ke dalam gua lebih kurang lima depa dari mulut depan, suasana dalam gua lebih gelap daripada keadaan diluar, maka seandainya ada yang datang ke depan gua itu, sulit bagi orang itu untuk segera melihat kalau di dalam gua ada penghuninya.

Seperminum teh lamanya dia menanti didalam gua itu, namun sang tetamu yang mengadakan janji dengannya semalam belum juga menampakan diri, hal ini membuat hatinya gelisah.

Akhirnya ia mengambil keputusan, bila seperminum teh lagi orang itu belum juga menampak diri, terpaksa dia harus kembali, aah, tidak?

Dia akan mengunjunginya ke loteng impian.

Seperminum teh terasa melebihi setahun, akhirnya Sik Phu tak tahan lagi, baru saja dia akan melangkah keluar dari gua itu, mendadak terdengar serentetan suara yang lembut dan halus tapi jelas bergema disisi telinganya.

"Pertemuan toh dijanjikan pada kentongan pertama sampai kentongan kedua ? Kini kau telah sampai disini, apa salahnya kalau menunggu sebentar lagi, sekalian menyaksikan keramaian yang bakal berlangsung disini, siapa tahu ada manfaat yang dapat kau raih dari kejadian ini."

Sik Phu hanya mendengar suara orang tapi tak melihat wajahnya, hal mana membuat perasaannya menjadi tidak tenteram.

Tak salah lagi, orang yang mengirim bisikan tersebut tak lain adalah sang tetamu semaIam, orang itu bilang bakal ada keramaian yang bisa ditonton, keramaian apakah yang di maksudkan?

Jangan-jangan....

Belum habis ingatan tersebut melintas lewat tiba tiba dari luar gua telah muncul bayangan manusia.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu sangat lihay, gerakan tubuhnya enteng seperti terbang, dalam waktu singkat ia telah tiba di depan gua.

Menanti Sik Phu dapat melihat jelas paras muka orang itu, diam-diam ia baru merasa terperanjat.

Orang yang berada diluar gua itu mengenakan pakaian berjalan malam berwarna hitam gelap, sebilah pedang tersoren dipunggungnya, sedangkan dibawah ketiak kirinya mengempit tubuh seseorang.

Tiba didepan gua, ia nenengok sekejap sekeliling tempat itu.

kemudian dengan langkah lebar berjalan masuk ke dalam gua.

Sik Phu sangat terperanjat, untuk keluar dari gua keadaan sudah terlambat terpaksa dia melayang mundur lagi ke belakang dan mencapai dasar gua tersebut, kemudian mendekam dibalik kegelapan dan tak berani berkutik lagi.

Baru saja ia selesai menyembunyikan diri, orang yang mengempit seseorang tersebut telah masuk ke dalam gua, untung saja ia lantas berhenti kurang lebih lima enam depa dari mulut gua tersebut.

Menyusul kemudian, orang itu segara menotok jalan darah orang yang dikempitnya itu.

Orang didalam kempitannya itu mendengus pelan, kemudian tersadar kembali dari pingsannya.

Begitu sadar, ia lantas menjerit kaget sembari berseru.

"Su nio, ini... ini..."

Sejak tadi, Sik Phu sudah melihat jelas kalau orang ini adalah Su nio, namun ia tak tahu siapakah orang itu dalam kempitan Su nio tersebut, setelah mendengar suaranya, ia baru sadar siapa gerangan orang tersebut, saking kagetnya nyaris nyalinya melompat keluar lewat tenggorokan.

Ternyata orang itu adalah Khong It hong, iblis keji yang telah dituduh sebagai penghianat oleh lencana emas Kim leng.

Sudah banyak tahun Sik Phu berada dalam istana Pat tek sin kiong bukit pemakan manusia ini, dia cukup mengetahui watak serta kepandaian silat yang dimiliki Khong It hong kontan saja hatinya menjadi sangat tak tenang.

Kejadian pada malam ini, benar-benar kebetulan sekali, selain ia jumpa suatu peristiwa yang tak ingin diketahui orang dari kedua manusia lihay ini, merekapun sama sama berada didalam sebuah gua buntu, cepat atau lambat jejaknya pasti akan ketahuan, saat itu..

Dalam keadaan gugup bercampur gelisah, Sik Phu segera memperoleh sebuah akal yang sesungguhnya amat terpaksa.

Sementara itu, Su nio telah berkata.

"Kau tak usah banyak bertanya lagi, sekarang juga kita akan pergi dari sini !"

"Pergi?"

Khong-It hong tertegun.

"kau hendak mengajakku pergi kemana ...?"

"Tolol !"

Seru Su nio sambil tertawa.

"pergi ke mana ? Tentu saja pergi meninggalkan Bukit Pemakan Manusia...!"

Dengan cepat Khong It hong menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya.

"Su nio, bagaimana sih kau ini? Sekarang, kita mana boleh pergi? jangan kau gubris tingkah laku budak Kim yang memojokkan aku terus menerus dengan lencana Kim leng nya itu, percuma saja usahanya itu, asal si tua bangka tersebut telah kembali..."

Sambil mendengus dingin Su nio menukas.

"Kau lagi bermimpi disiang hari bolong rupanya, kenapa tidak kau coba untuk menghimpun dulu tenaga dalammu?"

Mendengar ucapan itu, Khong It hong baru terkejut, cepat-cepat ia duduk bersila untuk mengatur napas.

Siapa tahu, begitu dicoba, paras mukanya, segera berubah hebat, belum lagi dia bersuara, Su nio telah berkata lebih lanjut.

"Dengarkan baik baik, kau terlampau memandang enteng budak Kim, kau tahu, mengapa dia mencari gara-gara denganmu? Mengapa dia menggunakan kekuasaan Kim leng untuk menjebloskan kau kedalam istana delapan belas-siksaan? Kau anggap kesemuanya ini sungguh sungguh hanya suatu tindakan sentimen saja?"

"Memangnya ia mempunyai maksud lain?"

Khong It hong membelalakkan matanya lebar-lebar. Su nio segera mendengus dingin.

"Hm, terus terang saja kukatakan kepadamu dari tempat tinggalmu Ku kui wan kitab pusaka serta lencana Bong hu kiu ciat tersebut, bukti penghianatanmu telah berhasil ditangkap basah semua olehnya!"

Khong It hong menjerit kaget, segera teriaknya.

"Kemudian, mengapa aku dibawa kembali ke dalam istana Pat tek sin kiong..."

"Sebab Pat lo hendak memeriksamu serta mengorek keterangan dari mulutmu tentang latar belakang penghianatan tersebut!"

"Tapi kepandaian silatku ini..."

"Budak Kim yang telah memunahkannya sendiri."

Sambil menggertak gigi menahan rasa geram dan bencinya, Khong It hong berseru.

"Bagus sekali... Sunio, tadi bukankah aku sedang berada di istana See sian dan bercakap cakap dengan delapan orang tua bangka itu? Mengapa dalam waktu singkat telah berada di sini.."

Sunio mendengus dingin, lalu menukas.

"Pat lo mendapat perintah untuk mengorek-keterangan dari mulutmu, mereka hendak mencari tahu siapa saja yang turut berkomplot dalam penghianatan ini dan siapa otaknya, tapi mereka juga tahu, walaupun disiksa dengan alat apapun mustahil kau bersedia menjawab maka..."

Khong It hong memang termasuk seorang tokoh dalam bukit tersebut, tentu saja ia cukup memahami seluk beluk ditempat itu, maka setelah mendengar perkataan tersebut, ia lantas menduga akan suatu ketnungkinan, buru buru sambungnya.

"Apakah mereka telah mencampuri sayur dan arak itu dengan Wang yu cau (rumput pelupa kemurungan)?"

Pelan-pelan Su nio mengangguk.

"Ehmmm, ternyata kau masih cukup pintar"

Katanya.

"Betul, mereka memang telah pergunakan rumput pelupa kemurungan !"

Paras muka Khong It bong berubah sangat hebat, sumpahnya kemudian.

"Perempuan keparat, anjing laknat, kau benar benar keji, semoga kau mampus disambar geledek !"

Su nio mengerling sekejap kearahnya, lalu berkata. Sebenarnya aku tak tahu akan persoalan ini ."Su kim""

Si budak itulah yang secara diam-diam memberitahukan kepadaku, dalam cemasku, segera kubakar loteng Siau thian lo untuk memancing harimau turun gunung..."

Belum habis dia berkata, dengan penuh rasa berterima kasih Khong lt hong telah memegang bahu Su nio seraya berkata.

"Su nio, aku tak tahu mesti mengucapkan perkataan apa untuk menyatakan rasa terima kasihku kepadamu!"

Su nio tertawa.

"Masih diperlukankah perkataan seperti itu bagi kita berdua?"

Khong lt hong tertawa getir.

"Su nio ... Su nio, aku . .. aku ..."

"Sekarang, ke delapan orang tua bangka itu pasti sudah menyadari bahwa mereka terkena siasat memancing harimau turun gunung."

Tukas Su-nio "dan sekarang merekapun mengetahui kalau engkau telah kabur, penggeledahan pasti dilakukan secara besarbesaran, hayo kabur dulu paling penting"

Khong lt hong mengalihkan sorot matanya memandang sekejap keluar gua, lalu berkata.

"Su nio, coba lihat, lampu emas dalam istana telah dipasang, segenap anggota bukit telah bergerak mencari jejak kita, tempat ini merupakan sebuah jalan buntu, mana mungkin kita bisa kabur lewat tempat ini ?"

Sunio sedikitpun tidak menjadi gugup, sahut nya.

"Siapa yang mengatakan kalau jalan ini adalah sebuah jalan yang buntu."

Khong lthong menjadi tertegun.

"Bukankah tempat ini merupakan gua Sam seng tong gua yang terletak di belakang bukit?"

Serunya. Su nio manggut-manggut.

"Betul, tempat ini adalah gua Sam seng tong!"

"Dari ketiga buah gua tersebut, hanya satu diantaranya merupakan pintu masuk menuju keruang gua, bukankah tempat ini merupakan sebuah jalan buntu ?"

"Kalau tempat ini merupakan sebuah jalan buntu, mengapa aku bisa membawamu kemari ?"

Mendengar perkataan itu, Khong It-hong baru menjadi mengerti, dengan girang segera serunya.

"Su nio, apakah didalam gua ini terdapat sebuah jalan rahasia ?"

Su nio segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaah... haaa... haaahh... walaupun kepandaian silatmu sudah punah, tampaknya kecerdasan otakmu masih tetap utuh, siapa bilang bukan...?"

Tapi dengan cepat Khong It-hong mengerutkan dahinya kencang-kencang, lalu berkata.

"Kalau toh ditempat ini terdapat sebuah jalan rahasia yang lain, kenapa aku bisa tidak tahu ?"

Su-nio mengerling sekejap kearah Khong It hong, lalu mendengus, ujarnya.

"Bocah bodoh, kau anggap si setan tua itu benar-benar menganggap dirimu sebagai orang kepercayaannya ? Hmmm...!"

Merah padam selembar wajah Khong It-hong karena jengah, setelah tertegun sesaat, sahutnya.

"Yaa, aku memang bukan !"

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan dengan nada yang penuh kegusaran.

"Aku benar-benar amat mendendam !"

"Mendendam ? Apa yang kau dendamkan ?"

Su nio pura-pura bertanya seperti tidak mengerti.

"Aku benci kepada orang yang secara diam-diam mengobrak abrik rencana besarku itu, coba kalau bukan dia, delapan sampai sepuluh hari lagi, Bukit Pemakan Manusia ini sudah menjadi harta kekayaan keluarga Khong It hong, tapi sekarang.."

Diam-diam Su-nio terperanjat juga setelah mendengar perkataan itu, serunya kembali.

"Oooh... rupanya kau telah menetapkan hari untuk melakukan pemberontakan ?"

Dengan pandangan tersipu-sipu Khong It hong memandang sekejap kearah Su-nio kemudian sahutnya.

"Jangan salahkan diriku mengapa tidak memberitahukan soal ini kepadamu sebab aku kuatir kalau sampai terjadi suatu perubahan mendadak yang sama sekali tak terduga..."

Su nio tertawa hambar.

"Untung saja kau tidak memberitahukan persoalan ini kepadaku!"

Katanya kemudian.

"Oooh... Su nio, kau marah kepadaku?"

Sekali lagi Su nio tertawa.

"Coba lihat, entah kau bawa sampai kemana jalan pemikiranmu itu...?"

Rupanya Khong It hong masih juga belum mengerti, kembali dia bertanya.

"Lantas apa maksudmu mengucapkan kata-kata tersebut?"

Su-nio tertawa terbahak bahak.

"Haaahh . haaahhh ... haaahhh . .. bila kau memberitahukan hal itu kepadaku, dan saat serta duduknya persoalan kau terangkan kepadaku, bila sampai terjadi kebocoran rahasia seperti sekarang ini hingga menyebabkan rencanamu gagal total, siapa tahu kalau kau lantas menuduh akulah yang telah membocorkan rahasia ini!"

Dengan cepat Khong It hong menggelengkan kepalanya berulang kali, sambil membelai tengkuk Su nio yang halus, dia berkata.

"Kau semakin berkata demikian, hatiku merasa semakin tidak tenteram, Su nio, aku tahu kau sangat baik kepadaku, kalau cuma masalah itu mah dikemudian hari masih banyak kesempatan untuk mengejarnya kembali, aku Khong It-hong pasti akan membalas !"

"Apa sih kau aku, kamu aku melulu? Memangnya kita berdua masih akan berpisah lagi ?"

Bisik Su-nio sambil mengerling sekejap kearah nya dengan genit.

Khong It-hong memeluk tubuh Su-nio kencang-kencang, sampai lama sekali ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Sementara itu, Sik Phu yang berada didalam gua telah dibuat gugup setengah mati.

Su nio telah menerangkan dengan jelas kalau didalam gua tersebut terdapat sebuah jalan rahasia, dan sekarangpun dia bisa menyembunyikan badan dengan meminjam kegelapan malam, namun sebentar lagi pasti tak bisa menyembunyikan diri lebih jauh.

Kini Sunio maupun Khong It hong berada didepan gua semua, mustahil dia dapat meninggalkan tempat itu secara diam diam, dalam keadaan demikian, dia hanya bisa merasa amat gelisah, tanpa terasa hatinya menjadi gemas sekali terhadap sang tetamu yang mengundang kedatangannya kutempat itu semalam.

Dalam pada itu, Khong It-hong dan Su nio telah saling mengendorkan pelukannya masing masing, dan kedua orang itupun mulai berpisah satu dengan lainnya.

Tiba-tiba Khong It hong berseru.

"Aneh, peristiwa ini benar-benar aneh !"

Tentu saja Su nio dapat menebak persoalan apakah itu, tapi ia berpura-pura bertanya juga.

"Apa yang kau herankan ?"

"Semua perbuatan dan rencanaku ini kulakukan dengan amat rahasia sekali, darimana budak Kim bisa mengetahui akan semua rahasia besarku itu ?"

Sejak semula Sunio telah mempersiapkan jawabannya, sambil tertawa dia lantas menyahut.

"Kalau dibilang kau pintar, ternyata ada kala nya kau menjadi bodohnya setengah mati!"

Khong It hong menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku tidak puas bila kau berkata begitu."

Sekali lagi Su nio tertawa, katanya.

"Aku ingin bertanya kepadamu, ketika kau pulang kebukit kali ini, bagaimanakah sikap budak Kim terhadap dirimu ?"

Tanpa berpikir Khong It hong segera menyahut.

"Sikapnya sama sekali berbeda dengan sikapnya dihari-hari biasanya, bila dibayangkan memang aneh sekali"

Su nio segera tertawa cekikikan.

"Apanya yang aneh? Aku juga seorang perempuan, aku cukup mengetahui perasaan seorang wanita, aku masih ingat sekali pada suatu malam lima tahun berselang, begitu aku bersua denganmu, bukankah..." -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***

Jilid 13

"OOOOH.... APAKAH Budak Kim berbuat demikian lantaran manusia yang bernama Sun Tiong lo itu ?"

Su-nio segera menowel sebentar jidat Khong It-hong, lalu sahutnya.

"Buat apa mesti dipikirkan lagi, orang bodoh ?"

Dengan kening berkerut Khong It-hong segera berseru dengan suara yang mendendam.

"Hmmm, suatu hari, cepat atau lambat kalian berdua pasti akan terjatuh ke tanganku !"

"Tunggu sebertar"

Tukas Su nio dengan wajah serius.

"kita harus bicarakan persoalan ini baik-baik."

"Apakah kau tidak perbolehkan aku bersumpah untuk membalas dendam sakit hati ini ?"

Tukas Khong It hong lagi. Su nio segera mendengus dingin.

"Hmmm ...dendam sakit hati apa sih yang hendak kau balas ?"

Tegurnya cepat.

"Tentu saja ada dendam yang harus dibalas budak Kim ..."

Belum lagi ucapan tersebut selesai diucapkan, kembali Sa nio telah menukas.

Memang, percintaan antara lelaki dan perempuan tak mungkin bisa dipaksakan, Budak Kim tidak bersalah dia tidak mencintaimu tentu saja kau mencintainya juga bukan suatu dosa atau kesalahan, cuma saja ..."

"Cuma saja kenapa ?"

Tanya Khong It hong dengan perasaan mendendam. Dengan nada berat Su nio berkata.

"Cuma, benarkah kau sungguh sungguh mencintainya ?"

Khong It hong menundukkan kepalanya rendah-rendah.

"Persoalannya sekarang bukan masalah aku sungguh-sungguh mencintainya atau tidak ..."

"Dalam pandanganmu, mungkin hal ini betul, tapi bagi seorang nona yang berkedudukan tinggi, cinta atau tidak merupakan suatu masalah yang paling besar"

Seru Su nio dengan gusar.

"kau bukan seorang yang serius dalam bercinta, selanjutnya lebih baik jangan kau bicara tentang persoalan ini !"

Menyaksikan suasana sangat tidak menguntungkan, cepat-cepat Khong lthong mengalihkan pokok pembicaraannya kesoal lain, dia berkata.

"Baik, tidak dibicarakan yaa tidak dibicarakan, apalagi diperbincangkan pada saat ini pun hanya akan mendatangkan kemurungan belaka, cuma aku masih saja tidak habis mengerti sekalipun budak Kim berubah hati terhadap diriku, mustahil dia dapat mengetahui rahasiaku itu!"

Paras muka Su nio turut berubah, katanya kemudian sambil tertawa lebar.

"Kau memang bodoh, dengan mengandalkan kemampuan budak Kim, tentu saja mustahil bagi nya dapat menemukan rahasiamu itu!"

"Kalau begitu, urusannya menjadi semakin mengherankan kecuali dia seorang ..."

"Menurut dugaanku, penyakit ini pasti timbul dari usahamu mencuri lencana Bong hu kiu ciat tersebut !"

"Aaah... hal ini mana mungkin bisa terjadi ?"

Khong It hong masih tetap tidak habis mengerti.

"lencana ini sudah kucuri pada beberapa bulan berselang..."

Dengan suara dingin Sunio segera berseru.

"Sebelum turun gunung tempo hari, tua bangka itu telah berkunjung ke loteng Hian ki lo terseout..."

"Haaah ? jangan-jangan setan tua itu yang menemukan rahasia ini.... ?"

Seru Khong It hong sambil menjerit kaget. Kembali Su nio mendengus dingin.

"Hmm, betul atau bukan, aku tak berani mengatakannya dengan pasti, tapi yang pasti sepeninggal setan tua itu dari loteng Hian ki-loo, paras mukanya kelihatan menakutkan sekali, dengan gusar dia pergi mencari budak Kim, kemudian ketika budak Kim menghantar setan tua itu meninggalkan bukit, sebelum berangkat setan tua itu mengucapkan pula sesuatu kepada dirinya. Kuserahkan persoalan itu kepadamu, tapi harus berhati-hati, jangan sampai menggebuk rumput mengejutkan ular..."

Belum habis ucapan tersebut diutarakan, Khong It hong telah menyambung lebih lanjut.

"Kalau begitu, tak bakal salah lagi, sudah pasti si setan tua itulah yang telah menemukan kejadian tersebut!"

Su nio mengerling sekejap kearahnya, lalu berkata.

"Untung saja semua persoalan telah beres, asal..."

"Sudah lewat?"

Khong It hong menyeringai seram.

"aku rasa belum tentu demikian !"

"Sekarang, kepandaian ilmu silatmu telah punah, bila kita berhasil melarikan diri dari bukit ini, dengan mutiara dan intan permata yang kumiliki, kita dapat mencari suatu tempat yang indah pemandangan alamnya dan melewatkan sisa hidup kita disana."

"Su-nio, apakah kau mempunyai rencana untuk berbuat begitu?"

Ucap Khong It hong sambil mengerling sekejap kearah Su nio.

"Demi kau, aku rela meninggalkan tempat ini dan meninggalkan segala-galanya, masa aku masih mempunyai pikiran bercabang ?"

Khong It hon tertawa getir, katanya.

"Su nio, kau telah salah paham, aku bukan maksudkan kau masih mempunyai maksud serta tujuan lain".

"Lantas kau masih mempunyai urusan apa lagi?"

Dengan keheranan Su nio bertanya. Khong Ithong menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Terus terang kukatakan Su nio, setelah kepandaian silatku punah sekarang, sesungguhnya merupakan suatu hal yang diluar dugaan bagiku karena Su nio masih bersedia menemani aku dan mencari suatu tempat yang berpemandangan indah untuk hidup tenteram sampai tua, sudah barang temu akupun tidak mengharapkan yang lain...."

"Apakah masih ada masalah lainnya?"

Su nio kembali mengerdipkan matanya berulang kali. Sekali lagi Khong It hong tertawa getir.

"Su nio, kau lupa masih ada sekelompok manusia lain..."

"Sekelompok manusia lain? siapakah dia?"

Tanya Sunio dengan kening berkerut. Khong It hong menghela napas panjang.

"Aaai, maksudku orang orang yang telah berunding denganku untuk bersama sama menyerang bukit ini ?"

"Kenapa dengan mereka?"

Khong It hong menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Mereka tak akan melepaskan aku dengan begitu saja, seandainya kepandaian silat yang aku miliki masih utuh, mungkin saja mereka masih agak takut kepadaku, tapi kini, kepandaianku telah punah, aku kuatir..."

Sunio segera tertawa, tukasnya.

"Aku mengira ada persoalan apa, rupanya cuma masalah ini saja, kau tidak usah kuatir, tempat yang akan kita tuju amat rahasia sekali letaknya, bahwa si setan tua pun tak akan berhasil untuk menemukannya, apa lagi hanya teman teman bangsa serigala dan sobat anjing mu itu!"

"Khong It-hong mengerutkan keningnya itu kencang kencang.

"Aku kuatir baru saja kita keluar gunung, jejak kita sudah ketahuan dan tertangkap oleh mereka?"

Su nio segera mendengus dingin.

"Hmm, kecuali mereka sedang mimpi di siang hari bolong!"

"Su nio, kau tidak tahu, cara kerja mereka."

Untuk kesekian kalinya Su nio mendengus dingin, tukasnya.

"Cukup, cukup, kujamin siapapun tidak akan berhasil menyusul kita, nah waktu sudah siang, kita harus cepat cepat pergi meninggalkan tempat ini...."

Dengan perasaan apa boleh buat Khong Ithong mengangguk.

"Baik, aku hanya berharap semoga kita bisa meninggal tempat ini dengan selamat!"

Su nio tidak mnmperdulikan dirinya lagi, dia membalikkan badan dan berjalan menuju ke dalam gua.

Sik Phu yang bersembunyi di dalam gua merasakan jantungnya bagaikan mau melompat keluar lewat tenggorokannya saja, pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya, dia berusaha keras untuk menemukan suatu cara yang terbaik untuk menanggulangi kejadian itu.

-ooo0dw0ooDalam pada itu, ruang See sian di dalam istana Pat tet sinkiong telah berlangsung suatu kejadian aneh.

Pat-tek-pat-Io bernama anak buahnya pada tergeletak semua dalam keadaan tak sadar.

Delapan orang kakek itu ada lima orang di antaranya tertidur diatas meja, sedang tiga orang lainnya tergeletak ditanah.

Sementara para anggota perguruan yang melayani mereka terkapar malang melintang di sana sini.

Pada saat itulah, sesosok bayangan manusia melayang masuk kedalam ruangan See-sian tersebut.

Orang itu berbaju merah dengan kain kerudung muka berwarna merah pula.

Orang berkerudung merah itu agaknya seperti hapal sekali dengan keadaan didalam ruangan See sian tersebut, setelah mencapai permukaan tanah, sorot matanya segera memandang sekeliling ruangan itu, kemudian sambil tertawa geli melangkah keluar dari sana.

Menyusul kemudian sambil menggelengkan kepalanya orang berbaju merah itu bergumam.

"Sungguh tak kusangka kalau cara semacam inilah yang dia pergunakan..."

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Aku harus menyusul kesana untuk melihat keadaan yang sebenarnya telah terjadi !"

Selesai bergumam, orang itu melejit ke udara dan meluncur pergi meninggalkan tempat itu.

Belum lama orang berkerudung merah itu pergi, kembali ada dua sosok bayangan manusia melayang masuk kedalam ruangan itu.

Peristiwa ini bukan suatu kebetulan melainkan seluruh istana Pattek-pat-lo, kecuali ruangan See sian tersebut, hampir semuanya berada dalam kegelapan yang mencekam.

Dua orang yang barusan tiba itu adala Sun Tiong lo serta saudaranya Bau-ji.

Begitu melayang turun keatas permukaan tanah, Bauji segera berkata.

"Diakah orang berbaju merah itu ?"

"Tak bakal salah."

Jawab Sun Tiong lo sambil tertawa.

"bukankah toako telah melihat jelas, dia telah menunggu di luar ruangan sampai sampai Kong It hong telah ditolong oleh nona tersebut, ia baru masuk kedalam ruangan?"

Bau ji menggelengkan kepala berulangkali lalu bergumam.

"Suatu kejadian yang benar-benar aneh, sebetulnya permainan setan apakah yang sedang mereka persiapkan?"

Sun Tiong to segera tertawa.

"Yang aneh tampaknya sebenarnya tak aneh siapa suka keanehan dia tentu akan mengalami kegagalan"

Sesudah berhenti sejenak, dia melanjutkan.

"Toako, aku harus pergi jumpai Sik Phu!"

"Ehm, tempat ini bukan tempat yaug aman bila toako merasa banyak persoalan yang tak kau pahami, mari ikut aku saja meninggalkan tempat ini"

Bau ji manggut manggut.

"Tampaknya sebelum jite menyaksikan kau pergi, hatimu tak akan merasa lega"

Selesai berkata, menantikan Sun Tiong lo berkata lagi, dia lantas pergi meninggakan tempat itu.

Sepeninggal Bau-ji, Sun Tiong lo siap siap akan meninggalkan pula tempat itu, mendadak ia seperti menangkap sesuatu, sambil memejamkan mata ia termenung dan berpikir sejenak kemudian dengan penuh keraguan dia menyelinap pula ke tempat kegelapan Baru saja ia berlalu, di tengah ruangan See sian telah bertambah lagi dengan seorang kakek yang tinggi kekar.

Kakek itu mengenakan jubah panjang berwarna abu-abu, jenggotnya masih berwarna hitam, alisnya hitam lebat dengan mata besar, hidung mancung, bibir lebar, sepasang matanya memancarkan sinar tajam yang menggidikkan hati Ketika menyaksikan situasi dalam ruangan itu, kakek tersebut segera mendengus dingin.

Setelah berpikir sejenak, dia membalikkan badan siap berlalu dari tempat itu.

Mendadak disisi telinganya berkumandang teguran seseorang.

"Apakah kau adalah Sancu dari bukit ini?"

Ketika kakek itu mendengar suara tersehut berasal dari dalam ruangan, ia nampak agak terperanjat dengan cepat dia berpaling.

Disisi jendela ruangan lebih beberapa kaki dihadapannya, tahu tahu telah muncul seorang manusia berbaju kuning yang berusia dua puluh tiga, empat tahunan, badannya kelihatan tegap gagah.

Tapi sayang dia memiliki raut wajah yang cukup membuat orang menghela napas panjang, wajah itu pucat menakutkan seakan-akan baru saja sembuh dari suatu sakit yang parah.

Akan tetapi bila dilihat dari panca indera nya serta bentuk mukanya, seharusnya dia terhitung seorang lelaki yang ganteng.

Orang itu memakai baju berwarna kuning dan kakek itu cukup mengenalnya, oleh sebab itu dalam terkejutnya ia bertambah tercekat.

Akhirnya keningnya dikerutkan kencang-kencang.

"Harap kau menjawab pertanyaanku ini?"

Kembali pemuda tersebut menegur dengan kening berkerut. Kakek itu tertawa.

"Atas dasar apa kau memaksa lohu untuk menjawab pertanyaanmu itu?"

Tegurnya, pemuda itu mendengus dingin.

"Aku mengandalkan keadaan yang ada didepan matamu sekarang, cukup bukan?"

Kakek itu terrawa dingin, setelah memandang sekejap sikap tidur dari ke delapan orang kakek itu, dia berkata.

"Aku rasa masih agak selisih banyak !"

"Oooh... rupanya kau bukan Sancu dari bukit ini !"

Seru pemuda itu kemudian.

Seraya berkata, orang muda itu segera membalikkan tubuh dan beranjak pergi menuju ke pintu belakang yang ada dalam ruangan itu.

Mendadak kakek tersebut menyelinap ke depan dan tahu-tahu sudah berdiri dihadapan anak muda itu, serunya dingin.

"Apakah kau ingin pergi dengan begitu saja?"

Sikap pemuda itu amat tenang sekali, sahut nya.

"Kalau aku memang akan pergi dengan begini saja, mau apa kau?"

Tiba tiba tergerak hati kakek itu.

"Perkataan belum lagi selesai diucapkan, kau sudah berniat akan pergi meninggalkan tempat ini, apakah tindakanmu ini tidak kurang hormat ..?"

Anak muda itu tersenyum.

"Kalau toh kau bukan Sancu dari bukit ini, apa pula yang mesti kuperbincangkan dengan mu?"

"Andaikata lohu adalah Sancu dari bukit ini?"

Si anak muda itu segera tertawa hambar. Kalau cuma berbicara saja tanpa bukti, apa pula artinya?"

Kakek itu segera tertawa seram.

"Wah... kalau memang begitu, sukar untuk dikatakan lagi, toh mustahil lohu harus menggotong bukit ini untuk membuktikan bahwa bukit ini milik lohu dan lohulah sancu tempat ini."

"Hmm, jika kau sanggup menggotong bukit ini silahkan menggotongnya sendiri, itu mah bukan urusanku."

Kata orang muda itu dingin. Kakek tersebut segera berkerut kening.

"Apa yang kau inginkan baru percaya bila lohulah Sancu dari bukit ini ... ?"

Serunya.

"Gampang sekali, panggil orang kemari, asal ditemukan denganmu kan semuanya akan menjadi beres !"

Kakek itu lantas mengangguk.

"Bagus, memang suatu cara yang bagus sekali, masih ada yang lain ?"

Pemuda itu segera menggeleng.

"Selain itu, aku rasa tak mungkin ada cara yang lain !"

Kakek itu memandang sekejap ke arah sang pemuda, lalu katanya lagi.

"Ada, lohu tahu masih ada sebuah cara lagi yang lebih baik lagi!"

Pemuda itu hanya melirik sekejap kearah kakek itu, kemudian mendengus dingin dan tidak berbicara lagi. Diam-diam terkesiap juga kakek itu, namun ia tetap berkata lebih lanjut.

"Asal lohu berhasil membekuk batang lehermu, masa..."

"Jangan omong besar dulu"

Tukas pemuda itu.

"sebeIum sesumbar, bekuklah aku lebih dulu, tentu saja bila kau mampu untuk melakukannya!"

Sebenarnya kakek itu amat gusar, siapa tahu, sekarang dia malah tertawa terbahak-bahak. Selesai tertawa, kakek itu lantas bergumam Seoiang diri.

"Benar-benar menarik sekali, tak nyana kalau pemuda pemuda yang jarang ditemui dalam dunia persilatan ternyata telah berkumpul semua diatas Bukit pemakan manusiaku yang kecil ini, rasanya tiada jalan lain bagiku kecuali mencoba sampai dimanakah kelihayanmu itu!"

Seraya berkata, dengan langkah lebar dia lantas berjalan menghampiri sianak muda itu.

Menghadapi ancaman yang mendekat sianak muda itu sama sekali tak berkutik, lengannya pun tidak di goyangkan malah menggubrispun tidak...

Sebenarnya sejak semula kakek itu sudah tidak tenang, apalagi setelah menyaksikan sikap lawannya yang begitu tenang, hatinya makin kebat-kebit tak karuan, namun sulit baginya untuk menarik kembali tindakannya itu, terpaksa dia melanjutkan langkahnya maju ke depan.

Sesungguhnya kedua belah pihak hanya berseIisih satu kaki saja, dengan melangkah tiga tindak ke depan, maka jarak merekapun tinggal empat depa saja.

Namun sianak muda itu masih tetap tenang saja seakan-akan tidak melihat sesuatu apapun, ia tetap berdiri sekokoh bukit karang.

Sebaliknya sikakek itu justru yang berhenti, hatinya kebat kebit tak karuan.

Dalam waktu singkat, suasana disekeliling tempat itu menjadi hening, ketegangan serasa menyelimuti seluruh tempat tersebut.

Kakek itu mendengus dingin, pelan-pelan telapak tangan kanannya diayunkan ke tengah udara.

Siapa tahu si anak muda itu masih tetap berdiri tak berkutik ditempat semula, ia tidak menggubris datangnya ancaman tersebut, bahkan memandang musuhnya pun tidak.

Akhirnya kakek itu tak kuasa untuk menahan diri lagi, segera bentaknya dengan suara dalam.

"Bocah keparat, kau betul betul amat takabur, lohu tak percaya kalau kau sanggup menghindarkan diri dari ancamanku ini!"

Seraya berkata, telapak tangannya segera diayunkan ke bawah, meski serangan tersebut tidak menimbulkan suara apa-apa, namun kedahsyatannya benar-benar mengerikan.

Sianak muda itu belum juga bergerak dari tempatnya, cuma telapak tangan kanannya telah diangkat keudara waktu itu, kemudian dikibaskan pelan kedepan.

Serentetan suara ledakan yang menggelegar memekakkan telinga segera bergema memecahkan keheningan, bangunan See sian yang terbuat dari kayu itu tak tahan menghadapi gempuran dahsyat tersebut.

Rupanya didalam melepaskan serangannya kali ini, sikakek tersebut telah menggunakan ilmu pukulan Cui sim bu im ciang (ilmu pukulan tanpa bayangan peremuk hati) yang disaluri dengan tenaga dalam sebesar tujuh bagian, walaupun ia sudah melihat kalau pemuda ini bukan orang sembarangan namun dalam anggapannya mustahil sianak muda itu berani menyambutnya dengan kekerasan.

Siapa tahu peristiwa yang kemudian terjadi sama sekali diluar dugaannya, bukan saja si anak muda itu tidak berkelit, malahan ia menggunakan sebuah telapak tangan kanannya yang tampak amat bersahaja itu untuk menyambut datangnya ancaman dari kakek tersebut.

Begitu sepasang telapak tangan mereka saling bertemu, angin puyuh segera menderu-deru, diantara suara yang menggelegar keras, jendela Hi wong"

Yang terbuat dari bahan kayu itu bergetar keras, menyusul kemudian atap atap berguguran keatas tanah.

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB TUJUH BELAS AKIBAT dari bentrokan kekerasan itu, si kakek terdorong mundur sejauh dua langkah lebih, sedangkan pemuda itu hanya sedikit menggeserkan kaki kanannya saja.

Hanya dalam satu gebrakan saja agakkya siapa tangguh siapa lemah sudah dapat dibedakan, paras muka kakek itu kontan saja berubah hebat.

Padahal sekalipun kakek itu kena dipukul mundur sejauh dua langkah, ia bukan berubah wajah lantaran persoalan ini.

Yang membuat wajahnya berubah hebat, sesungguhnya adalah suatu kejadian yang lain.

Tadi, didalam gusar dan mendongkolnya, ia lancarkan serangan dengan sertakan tenaga sebesar tujuh bagian, dalam anggapannya sianak muda itu pasti akan menghindarkan diri, maka ia tidak mempersoalkan kedelapan orang kakek yang tergeletak tak sadarkan diri didalam ruangan.

Tapi, menanti si anak muda itu bukan cuma tidak berkelit saja, sebaliknya malah menyongsong datangnya ancaman tersebut dengan kekerasan, kakek itu baru teringat kembali dengan anak buahnya yang tergeletak tak sadar dalam ruangan, ia tahu mereka pasti akan terpengaruh oleh gelombang tenaga pukulan yang terpancar kemana-mana.

Sementara ingatan tersebut baru saja melintas lewat, sepasang telapak tangan mereka berdua telah saling membentur hingga menimbulkan suara ledakan yang memekakkan telinga.

Tak terlukiskan rasa terkejut kakek itu, dalam keadaan tenaga yang saling membentur seperti ini, tenaga pusaran angin berpusing yang timbul akibat bentrokan tersebut sanggup untuk menghancurkan batu cadas, apalagi manusia dalam keadaan tak sadar, dalam anggapannya kali ini para anak buahnya itu pasti akan mengalami musibah.

Siapa tahu, ternyata pemuda itu sudah melakukan persiapan sebelumnya, begitu kebebasan tangannya diiancarkan, bukan cuma si kakek itu saja yang tergetar mundur, bahkan ia berhasil pula melambungkan tenaga pusaran angin berpusing itu hingga meluncur ke tengah udara dan tak sampai melukai orang disekitarnya.

Kesempurnaan tenaga dalam serta kelihayan ilmu silat yang dimiliki si anak muda itulah yang menyebabkan paras muka kakek itu berubah hebat.

Setelah alisnya berkenyit dan sorot matanya memancarkan sinar tajam, telapak tangan kanannya sekali lagi diayunkan ketengah udara.

Pemuda berbaju kuning itupun berkerut kening, dari balik matanya memancar sinar tajam.

Mendadak kakek itu memandang kearah delapan orang kakek yang tergeletak ditanah, pelan-pelan ia menarik kembali tenaga dalamnya, lalu berkata.

"Orang muda, bagaimana kalau kita melanjutkan pembicaraan diluar ruangan?"

Diatas wajah sang pemuda bertaju kuning yang pucat dan hambar itu, segera tersungging sekulum senyuman, sahutnya.

"Apakah Sancu tidak akan menggubris ke delapan orang kakek serta orang orang itu?"

"Orang muda, mengapa secara tiba tiba kau merubah parjggilanmu?"

Tegur sang kakek dengan kening berkerut.

"Hmm, secara sungkan kau memanggilku sebagai orang muda, tentu saja aku akan membalas dengan cara yang sama."

Sahut pemuda berbaju kuning itu angkuh.

"ltu tak sama, kau menyebutku Sancu !"

"Apakah Sancu hendak menyangkal."

Kakek itu segera tertawa.

"Tadi, ketika aku mengakui diriku sebagai Sancu, kau tidak mempercayainya, kini kenyataannya belum berubah, mengapa kau sebut diriku sebagai Sancu? Harap kau sudi memberi penjelasan ?"

"Bila kau bukan Sancu asli, ketika kulepaskan pukulan untuk menyambut seranganmu itu, tak nanti sorot matamu dialihkan ke wajah Pat lo dengan wajah menyesal, lebih lebih tak mungkin memperlihatkan rasa kaget lalu girang setelah menyaksikan tenaga berpusing itu melambung ke udara."

"Barusan, tampaknya kau sudah tak tahan untuk melancarkan serangan lagi, namun setelah sorot matanya di alihkan ke wajah Patlo, niat itu kembali diurungkan, malah kau lantas mengajakku untuk berunding diluar ruangan saja."

Kakek itu segera tertawa terbahak-bahak katanya.

"Anak muda, kau benar benar mengagumi dirimu !"

Setelah berhenti sejenak, sikapnya berubah menjadi amat bersungguh-sungguh, sahutnya.

"Anak muda, ke delapan orang kakek dan ke empat orang pembantuku ini telah menyaIahi apa kepadamu? Aku bersedia memintakan maaf kepadamu asal kau bersedia menerangkan sebab musababnya".

"Sancu salah pahan !"

Tukas pemuda berbaju kuning itu dengan suara dingin.

"Oooh, apakah bukan hasil karyamu. .. ?"

Sekali lagi pemuda berbaju kucing itu menukas.

"Justeru karena bukan perbuatanku maka aku baru menunggu kedatangan Sancu disini !"

Mendengar perkataan itu, Sancu segera tersenyum.

"Sobat muda, darimana kau bisa tahu kalau aku bakal datang kemari?"

Tegurnya.

"Sewaktu datang kemari tadi, apakah kau ber jalanan sebelah kanan dekat belakang bukit situ ?"

Paras muka Sancu segera berubah menjadi kaget bercampur girang, serunya.

"Sobat muda, rupanya kau masih punya teman."

Pemuda berbaju kuning itu mendengus dingin.

"Hm, Sancu, aku selalu pergi datang sendiri."

Setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan.

"Entah Sancu mau percaya atau tidak, seratus kaki disekeliling tempat ini dapat kudengar dengan jelas, sekalipun ada daun yang rontok atau ular yang berjalan, jangan harap bisa mengelabuhi sepasang telingaku, oleh sebab itu aku tahu kalau Sancu..."

Sancu tidak percaya, dengan cepat dia menimbrung.

"Jadi kalau begitu, sobat muda boleh dianggap sebagai jago nomor satu di dunia ini !"

Sekali lagi pemuda berbaju kuning itu mendengus dingin.

"Nomor satu atau nomor dua tak cuma angka belaka, itu mah tak terhitung seberapa, tak ada salahnya pula bila Sancu menganggap diriku cuma omong kosong belaka."

Merah padam selembar wajah Sancu, cepat-cepat serunya.

"Sobat muda, harap kau jangan salah paham, aku...."

"Demi menjaga keselamatannya Pat lo agar jangan sampai terjadi hal hal yang tidak diinginkan diam diam aku telah berada di sini untuk melakukan perlindungan"

Tukas pemuda berbaju kuning dingin.

"Sekarang, Sancu telah munculkan diri berarti tugasku telah selesai sampai jumpa lain kesempatan, aku ingin mohon diri lebih dulu"

Dan selesai berkata, dia lantas membalikkan badannya dan berlalu dari tempat itu. Cepat cepat Sancu menghalangi jalan pergi nya sambil berseru.

"Sahabat muda, harap berhenti sebentar"

"Sancu masih ada urusan apa lagi?"

Tanya pemuda berbaju kuning itu sambil menatap lawannya lekat-lekat. Dengan menuding ke arah Pat lo yang tergeletak tak sadarkan diri, Sancu berkata.

"Apakah yang terjadi sebenarnya di tempat ini? Bersediakah kau untuk memberi petunjuk?"

"Boleh, Jika Sancu bertanya langsung pada nona Siu, maka semuanya akan menjadi jelas."

Mendengar perkataan itu, mencorong sinar mata yang amat tajam dari balik mata Sancu serunya mendadak.

"Sobat muda, darimana kau bisa tahu kalau di dalam istana kami terdapat seorang nona yang bernama Siu?"

Pemuda berbaju kuning itu mendengus acuh.

"Hmm, ada orang yang memanggilnya dengan sebutan tersebut."

Katanya.

"Siapa?"

Desak Sancu dengan suara dalam. Pemuda berbaju kuning itu memandang sekejap wajah Sancu dengan sikap serta nada yang dingin kemudian menjawab.

"Seharusnyakah Sancu mengajukan pertanyaan kepadaku dengan sikap serta nada suara seperti itu?"

Sancu berusaha keras untuk menekan hawa yang membara dalam hatinya, lalu menjawab.

"Sobat muda, maaf kalau aku bersikap kasar, tolong tanya siapakah yang telah..."

"Orang itu adalah Khong It hong"

Tukas pemuda itu.

"bila Sancu tidak berhasil menemukan kedua orang itu, silahkan kau sadarkan ke delapan orang kakek ini, segala sesuatunya akan kau ketahui dengan jelas, sebab Pat lo memang dirobohkan oleh nona Siu dengan sesuatu bahan obat obatan !"

Selesai berkata, pemuda berbaju kuning itu segera berkelebat lewat dari hadapan Sancu itu.

Tak sempat menghalangi perjalanannya, Sancu berkerut kening lalu mendengus dengan wajah menyeringai.

Menyusul kemudian, ujung baju sebelah kiri nya segera dikebaskan kedepan, serentetan cahaya tajam dengan cepat menerobos keluar lewat daun jendela kemudian meledak, ditengah udara segera muncul sembilan kuntum lentera berwarna merah.

Begitu lentera merah itu muncul di angkasa, dalam waktu singkat seluruh Bukit pemakan manusia berubah terang benderang bermandikan cahaya lampu.

Dari setiap sudut tempat diseluruh bukit itu tampak bermunculan lentera dan obor, dalam waktu singkat bukit itu berubah menjadi sebuah bukit berlampu, menyusul kemudian segenap jago lihay disegenap bukit bermunculan untuk melakukan penghadangan diseluruh bukit.

Sesaat kemudian, tampak sesosok bayangan manusia melayang masuk ke dalam ruangan, kalau dilihat dari gerakan tubuhnya yang gesit serta ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, dapat diketahui bahwa orang ini merupakan seorang jago lihay yang berilmu tinggi dari bukit itu.

Begitu muncul disebelah kiri Sancu yang ber jarak lebih kurang lima depa, ia lantas memberi hormat sambil berkata.

"Sejak kapan Sancu pulang? Ada urusan besar apa sehingga membunyikan sembilan lentera Kiu ciat teng?"

Waktu itu Sancu sedang membungkukan badan untuk mengobati kakek Tiong, dengan cepat dia menukas.

"Kwa jite, segera sampaikan perintah aku, untuk menjaga jalan keluar yang ada dibukit ini, sebelum mendapat ijin langsung dariku? siapapun dilarang meninggalkan bukit, siapa berani melanggar akan di jatuni hukum mati!".

"Apakah termasuk nona dan Khong It-hong?"

Tanya jago lihai she Kwa itu kemudian.

"Ya, setiap orang terkena larangan ini, termasuk juga nona Su itu!"

Jawab Sancu dengan suara dalam.

Mendengar perkataan itu, jago lihay she Kwa itu menjadi tertegun, namun ia tidak banyak bertanya lagi, dengan cepat dia mohon diri.

Begitu Pat lo telah sadar kembali, mereka pun segera membeberkan semua kejadian kepadamu Sancu ...

-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Su nio dan Khong It hong itu telah membalikkan badan berjalan masuk kedalam gua hal mana amat menggelisahkan Sik Phu.

Sekarang situasi sudah bertambah gawat, Sik Phu harus segera mengambil keputusan.

Dia tak ingin bermusuhan dengan Khong It tiong serta Su nio dalam situasi dan keadaan seperti ini.

Tapi andaikata jejaknya sampai ketahuan, terpaksa ia menampilkan diri untuk melakukan perlawanan.

Terbayang akan pertarungan itu, perasaan Sik Phu yang gelisah kembali berubah tenang.

Jangankan kepandaian silat yang di miliki Khong It hong sekarang sudah punah sehingga hanya Su nio seorang yang harus di hadapi, sekalipun harus satu lawan dua, Sik Phu juga mempunyai keyakinan penuh untuk membekuk orang itu.

Tapi yang menyulitkan adalah dengan begitu maka jejaknya dalam Bukit Pemakan Manusia pasti akan dicurigai orang, kepandaian silat nya akan di ketahui orang.

BegituIah, sementara Sik Phu masih menanti perubahan situasi selanjutnya, ternyata Su nio dan Khong It hong tidak melanjutkan perjalanannya untuk masuk ke dalam gua itu, mereka berhenti setelah tiba kurang lebih satu kaki dari Sik Phu.

Tampak Su nio menekan dinding batu itu dengan jari tangannya, kemudian dan atas permukaan tanah segera muncul sebuah pintu rahasia.

Khong It hong dan Su nio segera masuk ke balik pintu rahasia itu dan lenyap dari pandangan mata, sementara tempat yang terbuka tadi segera menutup kembali secara otomatis dan balik seperti sedia kala, sama sekali tidak ditemukan setitik celahpun.

Kejadian itu segera membuat Sik Phu menjadi tertegun.

Tapi sesaat kemudian, ia lantas tertawa.

"Ternyata orang itu sengaja mengundangku kemari untuk menyaksikan sunio dan Khong lt hong melarikan diri lewat tempat ini, sekalian menunjukkan pula sebuah jalan rahasia kepadaku."

Pelan-pelan dia munculkan diri dari tempat persembunyiannya, kemudian tangannya mulai meraba dinding batu dimana Su nio telah merabanya tadi.

Lebih kurang seperminuman teh kemudian tombol rahasia tersebut berhasil juga ditemukan.

Dengan cepat dia mempraktekannya, betul juga, pintu rahasia itu segera terbuka, kemudian tak selang berapa saat kemudian pin tu tadi menutup kembali secara otomatis.

Sik Phu menjadi amat girang, dengan ditemukannya jalan rahasia tersebut tanpa sengaja, berarti dia telah menyiapkan sebuah jalan mundur baginya seandainya tugas yang dilakukan kemudian hari menjumpai kegagalan.

Baru saja pintu itu menutup kembali, menda dak disisi telinganya terdengar seorang berkata.

"Sik tayhiap, Sancu telah kembali secara tiba-tiba, sekarang ia telah mengetahui tentang kaburnya Khong It-hong serta si nona Siu, itu berarti malam ini mungkin kita tak bisa berbincang-bincang lagi. e sebab itu biar kupancing dulu kepergian nona Kim, kemudian segera kau harus kembali keistana Sin kiong!"

Begitu mendengar suara tersebut, Sik Phu segera mengetahui siapa orangnya, cepat tanyanya.

"Sebenarnya siapakah kau, nona Kim.."

Belum habis perkataan itu diucapkan, suara tadi kembali telah berkumandang.

"Nona Kim telah pergi, kini Sancu berada di dalam istana Sin kiong, saat ini semua lampu diseluruh bukit telah dipasang, perjalanan lebih sukar ditempuh, bila Sik-tayhiap telah berhasil menemukan jawaban yang tepat untuk San cu nanti, harap kau segera berangkat!"

Mendengar perkataan itu, Sik Phu menjadi terperanjat cepat-cepat dia memeriksa keadaan diluar gua.

Ternyata memang begitulah keadaannya, seluruh bukit telah berubah menjadi terang benderang, jalan lewat juga seluruhnya tertutup.

Sik Phu segera termenung dan berpikir sejenak, sekulum senyum senyum segera tersungging diujung bibirnya, mendadak ia menjejakan kakinya ke tanah dan melompat keluar dari gua tersebut Sementara itu, pada dua puluhan kaki diluar gua, tampak sesosok bayangan kuning menampakkan diri dari tempat persembunyiannya, penampilan tersebut segera memancing perhatian semua jago lihay yang ada ditempat itu, bentakan keras bergema berulang kali, kemudian tampak bayangan manusia bermunculan untuk mengejar bayangan kuning tadi.

Dengan terjadinya peristiwa ini, maka Sik-Phu dapat keluar dari gua dengan aman, bahkan diapun ikut melakukan pengejaran .

Bayangan kuning tadi langsung meluncur menuju kearah istana Pat tek sin kiong, sedang para pengejarnya turut mengikutinya dari belakang.

Waktu itu Sik Phu telah membaurkan diri dengan para pengejar itu, ditambah ia memang orang sendiri, maka tiada orang yang memper hatikan gerak geriknya itu.

Entah apa tujuan bayangan kuning itu ketika hampir tiba di istana Pat-tek-sin-kiong, mendadak ia berpekik nyaring, tubuhnya berputar ditengah udara lalu melesat kesebelah kanan istana Sin-kiong.

Tempat itu terdapat sebuah empang, bukan saja sunyi juga jarang didatangi orang.

Mendadak bayangan kuning itu mengeluarkan ilmu meringankan tubuh Leng-khong-siu tok (menyebrang dengan melayang diudara), lalu sepepat kilat meluncur kedepan lebih cepat.

Metihat itu para pengejarnya menjadi semakin gelisah, dengan cepat mereka kerahkan segenap kekuatannya untuk mengejar lebih cepat lagi.

Tetapi tenaga dalam yang dimiliki bayangan kuning itu terlampau lihay, bukan saja ia sanggup melewati empang yang amat luas itu, bahkan dengan tanpa berganti tenaga lagi, dalam sekejap mata telah lenyap dari pandangan mata.

Para pengejar itu segera terhenti setibanya ditepi empang, mereka saling berpandangan dengan wajah tertegun, kaget dan membungkam, kalau mereka disuruh melewati empang yang begini lumayan, orang orang itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan mata terbelalak.

Sementara itu Sik Phu yang berada dibelakang mereka segera menegur dengan suara keras.

"Orang itu sudah kabur ke arah mana?"

Mendengar teguran itu, delapan orang jago lihay yang mengejar bayangan kuning tadi segera berpaling, dengan cepat mereka dapat melihat kalau orang itu adalah Sik Phu, tanpa terasa merah padam wajah orang orang itu.

Mereka semua cukup kenal dengan Sik Phu, juga tahu kalau Sik Phu merupakan seorang petugas dari istana Pat tek pat lo, maka semua orang lantas maju memberi hormat sambil mengisahkan kembali apa yang mereka alami barusan.

Padahal Sik Phn telah mengetahui segala sesuatunya, mendengar laporan mereka, dia ha nya bisa tertawa geli dihati.

Menyusul kemudian dia lantas mengulapkan tangannya sembari berkata.

"Cepat lepaskan tanda bahaya, beritahukan kepada..."

Belum selesai dia berkata, tiba tiba dari be lakang tubuhnya lelah berkumandang suara seruan nyaring "Tidak usah !"

Mendengar suaranya Sik Phu segera mengetahui siapa orangnya, dengan sikap yang sangat menghormat ia berkata.

"Hamba mengucapkan salam dan hormat untuk Sancu !"

Sedang delapan orang jago lihay dibelakang itupun turut membungkukkan badan member hormat, namun mereka tidak berkata apa apa.

Sancu itu tak lain adalah si kakek berjubah abu-abu berjenggot hitam tersebut.

Sementara itu dengan wajah sedingin es dia sedang mengulapkan tangannya kepada ke delapan orang jago ihay itu sambil berkata.

"Kalian segera kembali ke pos nya masing-masing, sebelum mendapat perintah dilarang meninggalkan tempat masing-masing"

Delapan orang jago lihay itu segera mengiakan, setelah memberi hormat, mereka segera berlalu meninggalkan tempat itu.

Sik Phu berkedudukan cukup tinggi dalam bukit itu, dengan cepat dia lantas bertanya.

"Sancu, kapan kau kembali ke bukit? Malam ini..."

"Sik Phu, sejak kapan kau meninggalkan istana Pat tek-kiong?"

Sekali Sancu menukas.

Sik Phu berangkat sangat awal, dia belum tahu kalau Pat tek-patlo dan beberapa orang pelayan roboh tak sadarkan diri, berada dalam keadaan yang sangat seperti begini ini, asal ia salah berbicara maka akibatnya sukar dibayangkan dengan kata-kata.

Tapi, Sik Phu adalah seorang yang berpengalaman dalam waktu singkat, secara ringkas ia telah membayangkan kembali semua persoalan yang telah terjadi pada malam ini.

Setelah ada garis besar alasan yang bisa di-pakai, diapun memberi hormat seraya menyambut.

"Pada kentongan pertama tadi, hamba mendapat mgas untuk meronda untuk setiap bagian istana mendadak hamba menyaksikan ada dua orang lelaki perempuan yang melompat keluar dari istana dan kabur menuju ke arah belakang bukit sana, maka hamba..."

Belum habis dia berkata, kembali Sancu telah menukas.

"Apakah sudah kau lihat jelas paras muka orang itu?"

Sik Phu tampak ragu ragu, ia tidak segera menjawab pertanyaan tersebut.

"Hayo jawab !"

Bentak Sancu dengan paras muka dingin seperti es.

"Hamba tidak berani menjawab pertanyaan Sancu lantaran hamba masih ragu-ragu...."

"Ehmm, bagaimana ragu ragunya?"

"Perempuan itu mirip sekali dengan nona Siu..."

""Aaah?!"

Sancu menjerit tertahan.

"dan yang lelaki?"

"Yang lelaki mirip sekali dengan Khong sau sancu ..."

Khong sau sancu yang mana?"

Bentak Sancu.

"Khong It-hong, Khong sau-sancu!"

Sancu segera menggertak bibirnya menahan diri, serunya kemudian.

"Siapa yang mengatakan kalau dia adalah Sau-sancu?"

"Setiap kali Sancu keluar rumah, Khong sau sancu yang mengurusi semua tugas dibukit ini. setiap kali memberi perintah, dia selalu membahasai diri sebagai Sau sancu, oleh karena itu...."

Sancu menjadi tersudut, tukasnya kemudian.

"Ada urusan apa Khong It-hong dan nona Siu dibelakang bukit sana?"

"Hamba hanya mengatakan lelaki perempuan itu seperti mirip nona Siu dan Khong sau . ."

"Khong It hong yaa Khong It hong, mulai se karang kau tak boleh menyebutnya lagi sebagai sau sancu !"

"Baik,"

Sahut Sik phu, hamba tidak melihat jelas apakah betul mereka atau bukan !"

"Apakah jaraknya amat jauh?"

"Betul. Waktu itu hamba sedang meronda di loteng Kok bong lo, sedangkan bayangan manusia itu muncul dari antara ruang Keng, hi, ia dan to empat ruangan, oleh sebab itu hamba tidak melihat jelas"

Jawaban dari Sik Phu ini sebetulnya memang cukup beralasan Sewaktu berada di gua Sam seng tong, dengan mata telinga sendiri ia mendengar pembicaraan antara nona Siu dengan JChong It hong, tapi ia tak tahu kalau nona Siu sedang membopong Khong It hong, dia mengira "Siau see lo"

Benar benar telah terbakar.

Tapi dengan pengalamannya yang luas, ia tak mau secara gegabah mempercayai semua kejadian yang tidak disaksikan dengan mata kepala sendiri, tapi dia pun kuatir loteng Liau see lo benar benar sudah terbakar, maka diapun lantas menggunakan loteng Pak bong lo sebagai alasannya.

Siapa tahu, alasannya itu secara kebetulan sekali justru persis cocok dengan kejadian yg menimpa Pat lo dalam See sian, itulah sebab nya semua kecurigaan yang semula menyelimuti hati Sancu,kini tersapu lenyap hingga tak berbekas.

"Apakah kau telah memperingatkan Pat lo?"

Tanya Sancu kemudian. Pertanyaan ini segera memberi kesempatan Sik Phu untuk memberi jawaban yang lebih sempurna lagi. Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Hamba sama sekali tidak mengganggu ketenangan Pat lo"

Katanya.

"Mengapa ?"

"Waktu itu, walaupun hamba tidak melihat jelas siapakah pihak lawan.."

Sekalipun tak dijelaskan lebih jauh, sebagai orang yang cerdik, Sancu segera dapat memahami kata-kata selanjutnya. Maka diapun mengangguk.

"Benar, katanya.

"kalau memang mereka ber dua, memang tidak seharusnya mengganggu ketenangan Pat-lo"

"Benar, hambapun lantas menguntil mereka, tapi tiba dibelakang bukit sana ternyata terjadi peristiwa diluar dugaan, aku telah diserang oleh dua orang manusia berkerudung setelah bertarung sampai lama, akhirnya mereka berhasil melarikan diri."

Seharusnya Sancu akan terkejut setelah mendengar perkataan itu, siapa tahu dia malah tertawa hambar.

"Aku sudah tahu"

Setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan.

"Manusia berbaju kuning itu sudah melewati telaga itu?"

"Benar, hamba membuntuti dibelakang delapan orang jago lihay tersebut, sebenarnya bermaksud..."

San-cu segera mengulapkan tangannya sambil menukas.

"Maksud hatimu telah kupahami"

Setelah berhenti sejenak, dia meneruskan.

"Sekarang kembalilah kau ke Sin kiong dan kumpulkan segenap jago lihay yang kita miliki untuk menntup semua jalan tembus yang ada, kecuali Pat lo, siapa saja dilarang berjalan melewati tempat itu setelah persoalanku selesai nanti, akan kuutus kau untuk melakukan pekerjaan yang lainnya...."

Sik Phu mengiakan dan segera mengundurkan diri dari situ.

Sancu sendiri tertawa dingin, sambil mengulapkan tangannya dia langsung meluncur ke arah tengah perkampungan Ketika tubuhnya melambung di udara, diantara kilatan cahaya yang tajam, ditengah udara kembali muncul sebuah lentera kecil yang berbentuk aneh, cahaya itu bersinar cukup lama sebelum akhirnya menimbulkan suara ledakan yang keras dan berubah menjadi kabut berwarna kuning.

Itulah lencana Si teng hoa yu-leng yang melambangkan kekuasaan dan kedudukannya sebagai seorang Sancu.

Baca Juga: Asmara Dibalik Dendam Membara 2

Baca Juga: Seruling Gading 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert