Eps 2 Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung
Baca online Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung
Cersil Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung.
Setelah mendengar perkataan itu, paras muka si nona yang dingin dan kaku itu pelan-pelan baru berubah menjadi agak hangat.
"Didalam memberi petunjuk kepada kalian ini, aku bagi menjadi dua hal, pertama akulah yang akan menemani kalian menyelusuri tanah perbukitan untuk meninjau langsung keadaan medan, kedua aku akan menghantar kepada kalian untuk melihat miniaturnya."
"Maksud nona, kita akan meninjau miniatur dari keadaan bukit di sekitar tempat ini seperti dengan yang aslinya?"
Tiba tiba Sun Tiong-lo menukas.
"Benar!"
Nona itu mengangguk.
"apakah kau merasa kurang percaya?"
Sun Tiong-lo segera tertawa dan menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aaah! Masa aku berani tidak percaya?"
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan.
"Aku mempunyai suatu permintaan dapatkah nona meluluskannya?"
"Hnm! Kalau sudah tahu kalau permintaan mu itu tidak seharusnya diajukan, kau anggap aku bisa meluluskannya?"
Sun Tiong-lo tidak memperdulikan ucapan dari nona tersebut, kembali ujarnya.
"Kami dua bersaudara ingin sekali memeriksa mimatur bukit tersebut lebih dulu, kemudian baru merepotkan nona untuk menghantar kami untuk mengunjungi tempat itu satu persatu."
Si Nona berpikir sebentar, kemudian menyahut.
"Baiklah, kululuskan permintaanmu itu, sekarang bersantaplah lebih dulu, sebentar aku akan menyuruh Kim Poo-cu untuk mengundang kalian ..."
Seusai berkata nona itu segera beranjak dan meninggalkan ruangan itu. Ketika kakinya sudah hampir melangkah ke luar dari pintu ruangan, mendadak dia berhenti seraya berpaling, ujarnya kepada Bau ji.
"Kau yang menjadi engkohnya tidak semujur si adik, kau hanya akan menjadi tamu agung kami selama tiga hari, oleh sebab itu kau harus perhatikan miniatur itu dengan bersungguh hati, aku harap kau bisa menanggapi petunjuk ku ini dengan serius !"
Bau ji tak menjawab, dia hanya mendengus dingin.
Nona itupun mengernyitkan alis matanya sambil mendengus, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun segera turun dari loteng.
Menanti nona itu sudah iauh, Sun liong lo segera berkata kepada Bau-ji.
"Toako, ada suatu persoalan aku lupa untuk menanyakan kepadamu."
Bau ji segera mendongakkan kcpalanya, setelah memandang wajah Sun Tiong lo sekejap katanya.
"Persoalan apa ?"
"Tentunya kedatangan toako keatas bukit ini bukannya ada suatu maksud tertentu bukan?"
Bau ji segera mengangguk.
"Betul, aku sedang melaksanakan tugas!"
Mendengar jawaban itu, satu ingatan lintas melintas dalam benak Sun tiong lo.
"Melaksanakau tugas? Toako sedang melaksanakan tugas siapa?"
Tegurnya ingin tahu. Bau ji tidak langsung menjawab, dia mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap kearah Sun Tiong lo, kemudian balik bertanya.
"Dan kau? mau apa kau mendatangi bukit pemakan manusia ini?"
"Kalau dibicarakan mungkin toako sendiri pun tidak percaya"
Bisik Sun Tiong lo.
"Siaute sendiripun tidak tahu mau apa datang kemari."
"Aaaah mana mungkin? Masa kau tak tahu?"
Bauji berseru tertahan dengan wajah kurang percaya.
"Betul, siaute sendiripun sedang melaksanakan perintah dari suhu untuk mendatangkan bukit pemakan manusia, sedangkan mau disuruh apa aku kemari, suhu tidak menjelaskan didalam surat perintahnya, maka siaute rasa sekalipun kukatakan belum tentu toako akan mempercayainya!"
Bau-ji segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, dia tidak berkata apa-apa lagi.
"Toako, kau datang kemari. ."
"Jite.."
Tukas Bau-ji,"
Suhu kita berdua memang benar-benar sangat aneh, aku sendiripun hanya mendapat surat perintah untuk memasuki bukit ini, sedangkan mau apa dan disuruh berbuat apa aku sendiripun kurang begitu tahu!"
Sun Tiong-lo menjadi berdiri bodoh, dia gelengkan kepalanya berulangkali duduk dibangku dan termenung. Bau-ji memandang sekejap hidangan sayur dan arak di meja, kemudian katanya.
"Jite, bersantaplah dulu!"
Dengan mulut membungkam kedua orang bersaudara itu segera bersantap, belum lagi selesai Kim Poo cu sudah muncul di depan pintu ruangan loteng.
Maka dua bersaudara itupun segera beranjak dan mengikuti dibelakang Kim Poo cu ke luar dari ruangan loteng.
Mendadak Sun Tiong lo berkata.
"Sobat Kim, bolehkah kuajukan sebuah pertanyaan kepadamu ?"
Dengan dingin Kim Poo cu memandang sekejap waiah Sun Tiong lo, lalu sahutnya.
"Nona telah berpesan, apapun yang ingin kalian tanyakan silahkan untuk ditanyakan sendiri kepada nona !"
Sun Tiong Io segera tertawa.
"Pertanyaan yang ingin kuajukan kepadamu itu hanya kau seorang yang bisa menjawabnya. Kim Poo cu segera mendengus dingin.
"Hmm ! Mulai sekarang persoalan apapun aku tidak tahu, lebih baik jangan kau tanyakan kepadaku."
Sun Tiong lo tidak menyerah sampai disitu saja, kembali dia mencoba untuk memancing.
"Pertanyaan yang kuajukan adalah tugas apa yang dipikul sobat Kim didalam kampung ini."
"Aku tidak tahu."
Kim Poo cu tetap mendengus dingin.
Berkata sampai disitu dia lantas mempercepat langkahnya dan tidak memperdulikan Sun Tiong Io serta Bau-ji lagi.
Melihat itu Bauji mengerutkan dahi kencang-kencang, lalu bisiknya pada Su Tiong-lo.
"Jite, buat apa kau musti bersikap demikian? Apalah gunanya menyusahkan kaum rendah macam mereka ?"
Sun Tiong lo segera tersenyum.
"Kau tidak tahu toako, apa yang kulakukan ini cuma bermaksud untuk menyelidiki saja."
Mendadak Kim Poo cu berhenti sambil berpaling kearah Sun Tiong lo, serunya dengan garang.
"Kuperingatkan kepadamu, lebih baik jangan mengusik aku terus menerus!"
Seakan akan tidak terjadi sesuatu apapun, dengan tenang Sun Tiong lo berkata.
"Akupun peringatkan kepadamu, kalau sedang berbicara denganku, lebih baik kau tidak tunjukkan sikap semacam itu."
Kim Poo cu segera mengepal kepalannya kencang-kencang, sambil maju dua langka ke muka serunya.
"Kau berani sekali mengurusi sikap dan gerak-gerik lohu, Tapi sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, sambil membusungkan dada Sun Tiong lo telah berseru pula.
"Kaupun harus mengerti sekarang aku adalah tamu agung dari bukit kalian ini, berbicara selangkah lebih kebelakang, paling banter ketika aku gagal melarikan ciri dari bukit pemakan manusia ini, hanya sebuah jalan kematian yang kuhadapi."
"Bila seseorang tak dapat terhindar dari kematian, juga tiada kesempatan untuk memperoleh kehidupan, tiada persoalan yang menakutkan lagi baginya, kalau tidak percaya hayolah turun tangan untuk mencobanya sendiri."
Paras muka Kim Poo cu berubah menjadi hijau membesi, sambil menggertak gigi menahan diri, sampai lama sekali dia baru bisa berkata dengan penuh kebencian.
"Hutang ini akan lohu perhitungkan pada saat kau melarikan diri nanti, hati hati saja pada waktunya nanti!"
Kontan saja Sun Tiong lo mendengus dingin.
"Hmm .. .. ! Lebih baik kau jangan mimpi"
Kim po cu tidak berbicara lagi, sambil membalikkan badan dengan gemas ia berlalu dari situ dengan langkah lebar.
Dalam waktu singkat mereka sudah tiba di depan sebuah ruangan besar sambil menuding ke arah ruangan itu.
"dalam ruangan tersebut bukan saja hadir si nona, Beng lo cengcu yang kakinya cacadpun hadir didekat perapian dengan kursi berodanya itu. Pertama-tamanya Sun Tiong lo menghampiri Beng lo cengcu lebih dahulu, sambil tersenyum dan menjura katanya.
"Orang tua, baik baikkah kau?"
Beng Liau huan segera tertawa.
"Baik-baiklah kongcu !"
Setelah berhenti sejenak, sorot matanya di alihkan ke wajah Bau ji, kemudian lanjutnya.
"Dari Beng Seng kudengar semalam ditempat ini telah kedatangan lagi seorang kongcu yang kebetulan berasal dari satu marga dengan kongcu bahkan memiliki ilmu silat yang sangat lihay, apakah..."
Belum habis dia berkata, sambil tersenyum Sun Tiong lo telah berseru kepada Bau ji.
"Sun heng, cepat kemari dan menjumpai Beng lo cengcu!"
Ketika menyerbu ke dalam bukit dan akhir nya tertangkap musuh, Bau ji langsung dihantar ke loteng impian, pada hakekatnya ia belum pernah berkunjung ke ruangan besar itu, tentu saja diapun belum pernah berjumpa dengan Beng lo cengcu.
Maka ketika didengarnya orang itu adalah cengcu ddari perkampungan ini, kontan saja dia mendengus.
"Hmmm! Aku lagi segan bergerak, juga enggan bersahabat dengan manusia-manusia semacam itu !"
Sun Tiong-lo tahu, Bau ji tentunya telah salah paham, dia pasti mengira Beng lo-cengcu tersebut berasal dari sekeluarga dengan pemilik bukit ini, tapi dihadapan sinona tentu saja dia tak dapat memberi penjelasan, terpaksa dia cuma tersenyum saja kepada Beng lo-cengcu.
Beng Liau huan sama sekali tidak memperlihatkan rasa tak senang hati, malah ujarnya kepada Bau ji.
"Tolong tanya kong cu ini?"
Dengan nada tak senang hati Bau ji segera berseru dengan suara lantang.
"Aku toh sudah berulang kali mengatakan bahwa aku tak ingin bersahabat dengan semua manusia yang berada disini, maka apabila tiada sesuatu kepentingan, lebih baik kurangi saja kata katamu."
Beng Liau huan mengerutkan dahinya rapat-rapat, dia lantas memutar kursi rodanya dan menyingkir kesamping serta tidak bicara lagi.
Dengan langkah lebar Bau ji menghampiri sinona, kemudian tegurnya dengan lantang.
"Dimanakah miniatur itu berada?"
Nona mengerdipkan matanya, kemudian mendesah.
"Heran, kenapa orang ini selalu mengumbar napsunya, memang dianggapnya dia hebat?"
"Nona!"
Seru Bau-ji sinis.
"aku datang kemari bukan untuk mendengarkan kritikanmu, miniatur..."
Agaknya nona itu sungguh merasa mendongkol, sambil mendengus dingin ia lantas membalikkan badan dan berlalu dan situ, sambil berjalan gumamnya.
"Hmm, kenapa orangku betul-betul tak tahu diri?"
Mendadak Bau-ji melompat kedepan dan menghadang di hadapan nona itu, serunya.
"Nona, mau kemana kau?"
"Membawa kau melihat miniatur dari tanah perbukitan disini!"
Bau ji tidak berbicara Iagi, dia segera menggeserkan tubuhnya dan menyingkir kesamping. Pada saat itulah si nona berseru kepada Sun Tiong lo.
"Lebih baik kau bisa menasehati engkohmu"
Mendengar ucapan tersebut, paras mukanya Sun Tiong lo segera berubah hebat, dengan cepat tukasnya.
"Nona, harap kau bisa memegang janji!"
Nona itu mula-mula agak tertegun, menyusul kemudian serunya.
"Setelah melihat miniatur nanti, aku ingin berbicara empat mata denganmu."
"Baiklah, setiap saat engkau boleh bercakap cakap dengan aku."
Sun tianglo menganggukkan kepalanya sambil tertawa.
Nona itu kembali melirik sekejap ke arah Sun Tiong lo lalu membalikkan badan dan berjalan menuju kepintu belakang ruang besar itu.
Sun Tiong lo dua bersaudara segera mengikuti dibelakangnya dan mengikuti nona itu memasuki sebuah loteng kecil.
Loteng itu bernama "Hian ki", kelihatannya merupakan tempat yang terpenting dalam bukit tersebut.
Dilihat dari bagian luarnya, loteng itu seperti tiada sesuatu keistimewaan apapun, tak jauh berbeda dengan bangunan lainnya, tapi setelah Sun Tiong lo berdua memasuki pintu gerbang loteng itu, mereka baru sadar bahwa keadaan tidak benar.
Semisalnya saja loteng impian dimana mereka tinggal sekarang, bangunannya mana megah dan mentereng, jauh lebih hebat daripada loteng Hian ti lo ini, dasar lantainya juga terbuat dari papan jati.
Tapi dasar lantai dari loteng Hian ki loini ternyata terbuat dari baja asli, ditinjau dari hal ini saja sudah dapat diketahui bahwa loteng ini merupakan tempat yang paling penting dari seluruh tanah perbukitan tersebut.
Sesudah menyaksikan kejadian itu, sikap Sun Tiong lo masih tetap santai seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu apapun, sebaliknya Bau ji segera berkerut kening, kemudian mendengus dingin.
Mendengar itu, Nona tersebut segera berhenti, tegurnya.
"Apakah kau merasa ada sesuatu bagian yang kurang enak ?"
Bau ji memandang sekejap ke permukaan lantai yang terbuat dari baja itu, lalu menjawab.
"Benar, aku merasa agak benci dengan lantai baja ini !"
Nona itu segera mendengus dingin.
"Hmm! Asal setiap kali kau datang ke loteng Hian ki lo ini selalu ditemani oleh orang kami, papan baja tetap adalah papan baja, lantai ini seperti juga lantai yang lain, tak bisa memakan manusia!"
Bau ji tidak memberi tanggapan apa apa, sebaliknya Sun Tiong lo segera berseru tertahan.
"Hmm Makanya aku lagi heran, sewaktu berjalan ditempat ini kenapa suaranya itu bisa aneh, rupanya terbuat dari baja asli!"
Nona itu mengerling sekejap ke arahnya, kemudian berseru.
"Kelihatannya kau mempunyai bakat untuk bermain sandiwara...hebat sekali!"
Sembari berkata demikian, nona itu melangkah maju dan menaiki anak tangga yang berada di sudut ruangan sana.
Anak tangga disitu tidak terhitung banyak, semuanya berjumlah dua puluh empat buah, setiap anak tangga terdiri dari lapisan baja yang beberapa inci tebalnya, tapi yang aneh disisi kiri maupun kanan anak tangga itu ternyata tiada pegangannya.
Maka Sun Tiong lo segera melangkah naik keatas anak tangga itu dengan sangat berhati-hati, sambil naik katanya.
"Kalau begini modelnya, sungguh berbahaya sekali, seandainya sampai terpeleset, bukankah besar kemungkinannya orang bakal tergelincir jatuh kebawah ?"
"Mungkin bukan cuma tergelincir dan berguling ke bawah saja."
Kata sinona sambil tertawa.
"Ooh....lantas bisa mengakibatkan apa lagi?"
Kembali nona itu tertawa.
"Bisa berakibat apa, soal itu harus dicoba lebih dulu baru bisa diketahui."
Sun Tiong-lo segera menggeleng.
"Kalau didengar cara nona berbicara, lebih baik jangan dicoba saja."
Entah apa maksud sinona yang sesungguhnya, mendadak ia berhenti diatas tangga dan berkata.
"Untuk diberitahukan kepadamu juga tak. menjadi soal, di hari-hari biasa, misalnya sekarang, sekalipun sampai terjatuh paling-paling hanya terguling saja kebawah dan tak akan sampai menimbulkan ancaman jiwa."
"Tapi bila malam hari telah tiba, atau tak ada orang yan membawa jalan, sebaliknya masuk sendiri ke dalam loteng Hiankilo ini, belum lagi naik ke atas tangga, mungkin jiwanya sudah melayang !"
"Oooh....!"
Sun Tiong lo berseru tertahan, dia mencoba mendepak depakkan kakinya ke atas lantai, kemudian melanjutkan.
"Yaaa, untuk menjaga datangnya pencuri memang hal ini tepat sekali..."
Ketika menyelesaikan kata-katanya itu, si nona sudah naik ke atas loteng.
menyusul kemudian Sun Tiong lo dan Bau ji juga tiba di atas loteng.
Mendadak dari arah belakang berkumandang suara getaran yang keras sekali, ketika mereka berpaling ternyata anak tangga itu sudah lenyap tak berbekas.
Bukan cuma anak tangga itu saja yang hilang, bahkan pintu gerbang dimana mereka masuk tadipun kini sudah tertutup rapat.
Sun Tiong lo segera berpura-pura tidak mengerti, serunya kepada si nona.
"Hei,apa yang telah terjadi? Kita sudah terkurung didalam loteng ini, bukankah..."
"Aku berbuat demikian untuk lebih berhati hati saja"
Tukas si nona sambil menerangkan "aku tak ingin ada orang yang datang mengganggu kita selagi kita melihat bukit diatas loteng nanti, maka sengaja kututup pintu loteng tersebut !"
"Oooh kiranya begitu, sungguh mengejutkan hatiku !"
Nona itu segera mendengus dingin.
"Hm ! Andaikata nyalimu hanya sekecil itu, mana mungkin berani mendatangi bukit pemakan manusia?"
Sun Tiong lo tidak membantah atsu mendebat lagi, sinar matanya segera dialihkan ke atas loteng itu, kemudian bertanya dengan nada keheranan dan tidak habis mengerti.
"Tolong tanya nona, dimanakah letak miniatur tersebut ?"
Belum lagi si nona menjawab, Bau ji telah berkata pula dengan suara dalam.
"Nona, ruangan loteng ini kosong melompong tanpa sesuatu benda apapun, sebetulnya apa tujuan menipu kami mendatangi tempat semacam ini?"
Nona itu tidak menjawab pun tidak menggubris, dia langsung berjalan menuju ke arah dinding disebelah depan sana.
Sungguh aneh sekali, ketika nona itu akan membentur dengan dinding tadi, tiba-tiba dinding sebelah selatan terbuka secara otomatis, disana terlihat sebuah pintu gerbang, ke dalam ruangan itulah sinona itu berjalan.
Sun Tiong lo dan Bau ji saling bertukaran pandangan sekejap, kemudian merekapun turut masuk kedalam.
Tempat itu adalah sebuah ruangan yang sangat luas, tiada jendela tiada lubang hawa sehingga suasana sangat gelap sekali.
Agaknya si nona itu sudah melakukan persiapan, dengan cepat dia membuat api dan memasang dua buah lentera disitu.
Kedua lentera tersebut yang satu tergantung disebelah kiri yang lain tergantung disebelah kanan, tengahnya terdapat sebuah miniatur tanah perbukitan yang panjangnya tiga kaki dengan lebar dua kaki, disekelilingnya tanda-tanda, jumlahnya mencapai delapan belas pasang lebih, setelah memasang lentera tersebut, nona itu segera duduk dikursi goyang diunjung ruangan sana, katanya.
"lniJah miniatur yang paling jelas menggambarkan seluruh bagian dari tanah perbukitan ini, termasuk juga tempat-tempat berbahaya yang pernah kukatakan tadi, kalian musti memperhatikannya secara teliti dan mengingatnya baik baik !"
Maka Sun Tiong-lo dan Bau-ji segera memusatkan seluruh perhatiannya untuk memperhatikan miniatur tersebut.
Tapi setelah meneliti dengan seksama, tak urung terkesiap juga kedua orang itu dibuatnya.
Ternyata diatas bukit pemakan manusia hanya ada dua jalan lewat saja, yang pertama adalah jalan masuk lewat pintu depan, sedang yang lain berada dibelakang gunung, jalan masuknya saja sudah cukup berbahaya, jalan keluarnya ternyata berlipat ganda lebih berbahaya lagi.
Tanpa terasa kedua orang itu mendongakkan kepalanya dan saling berpandangan, sementara itu si nona telah berkata lagi.
"Menurut peraturan yang berlaku disini, hanya waktu satu jam yang tersedia bagi tamu agung untuk melihat miniatur ini, maka kalian harus cepat melihat dan mengingat-ingatnya sehingga bermanfaat dikemudian hari."
Mendengar perkataan itu, Sun Tiong lo segera tertawa.
"Nona tidak bisakah kau memberi waktu yang lebih lama lagi kepada kami?"
Pintanya.
"Sayang aku tak bisa meluluskan permintaanmu itu."
Si nona segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Nona, mengapa pelit amat sih kau ini?"
"Mau percaya atau tidak terserah kepadamu, pokoknya satu jam kemudian diatas loteng ini akan terdengar suara keleningan, saat itu pintu loteng akan terbuka dan anak tangga secara otomatis."
"0ooh .... andaikata secara tidak kebetulan pintu ruangan rahasia ini tertutup maka apa yang terjadi?"
Seru Sun tiong lo "Jika dinding ini tertutup maka ruangan ini akan tertutup dari udara luar, jika sehari semalam kemudian orang yang berada dalam ruangan ini akan mati lemas dan tidak bisa tertolong lagi!"
Sun Tiong lo mengerutkan dahinya rapat rapat, dan kemudian katanya.
"Seandainya terkurung di ruangan luar yang tak ada barangnya itu."
"Maka dia akan mati mengenaskan !"
Tukas sinona.
"0oh .. apakah dia juga akan mati lemas"
Si nona menggeleng.
"Tidak, dia akan mati tercincang di kala tubuhnya lemas dan lelah karena kehabisan tenaga. Mendengar perkataan itu, satu ingatan lantas melintas dalam benak Sun Tiong-lo.
"Lelah?"
Serunya.
"aku tidak mengerti dengan apa yang di maksudkan oleh nona?"
Nona itu mengerling sekejap kearah Sun Tiong-lo, kemudian ujarnya.
"Dengan kecerdasanmu itu, masa kau tak bisa menebaknya sendiri?"
Sekali lagi Sun Tiong lo merasakan hatinya bergerak, tapi diluaran ia berkata lagi.
"Kalau suatu urusan yang tiada wujudnya, mana mungkin bisa di tebak orang?"
Si nona tersenyum, tiba-tiba ia bertanya.
"Aku cuma merasa heran, mengapa kau menanyakan tentang persoalan semacam ini ?"
Sun Tiong lo gelengkan kepalanya menunjuk kan perasaan apa boleh buat, katanya.
"Yaaa, apa salahnya untuk bertanya sambil menam bah pengetahuan."
Nona itu mendengus dingin.
"Hm dengan bicarakan waktu berlalu dengan percuma, lebih baik lihatlah miniatur itu dengan seksama."
Sun Tiong lo memperhatikan Bau ji sekejap, ketika dilihatnya pemuda itu sedang memusatkan semua perhatiannya untuk memperhatikan semua bentuk dari pegunungan itu, diam-diam dia lantas mengangguk.
Kepada si nona katanya, dengan serius.
"Sekarang, aku berpendapat lebih baik lagi kalau tidak melihat miniatur tersebut !"
Nona itu tampak terkejut setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat.
"Apa maksudmu dengan ucapan tersebut ?"
Sun Tiong lo menghela napas panjang, katanya.
"Aku cuma seorang manusia lemah saja, membunuh ayampun tak punya tenaga, sekali pun mengenali letak bukit itu juga belum tentu bisa melarikan diri !"
Dengan cepat nona itu melompat bangun, serunya.
"Apakah sampai sekarang kau masih mengatakan tak pandai berilmu silat ?"
"Tiaak bisa yaa tidak bisa, kenapa musti dibedakan antara tadi dan sekarang ?"
Seru Sun Tionglo tertegun. Nona itu mendengus dingin, secepat kilat kepalannya segera diayunkan ke depan menghantam dada Sun Tiong lo. Serangan itu dilancarkan lebih dulu, kemudian baru berseru.
"Kalau begitu, sama artinya dengan kau menunggu untuk dihajar oleh bogem mentahku."
Tahu-tahu kepalan tersebut sudah meluncur datang didadanya, dengan kaget bercampur gugup Sun liong lo menutupi kepalanya dengan tangan, lalu teriaknya.
"Jangan keras-keras, aku..."
Sementara itu Bauji sudah meluncur ke hadapan Sun Tiong lo dengan kecepatan tinggi, secara kebetulan sekali dia menerima datangnya pukulan dari nona itu, kemudian dengan wajah penuh kegusaran dia melotot kearah si nona sambil berteriak.
"Jika kau ingin berkelahi, biar aku saja yang menemanimu !"
Ketika Bauji menerjang kedepan sambil menghadang dihadapannya tadi, nona itu sudah menarik kembali serangannya sambil mundur, mendengar perkataan itu dia lantas tertawa dingin.
"Heeehhh, .. ,heeeeh memangnya kau anggap dirimu itu hebat ?"
"Kalau memang begitu, kenapa kita tidak mencoba-coba ?"
Tantang Bau-ji sambil tertawa dingin pula. Dengan pandangan sinis nona itu melirik sekejap kearahnya, kemudian katanya lagi.
"Jangan kau anggap sewak tu menerjang naik ke gunung secara beruntun bisa melukai delapan orang, maka kau anggap dirimu itu hebat, terus terang saja kuberitahukan kepadamu, orang-orang yang berhasil kau lukai itu tak lebih cuma prajurit tak bernama di bukit ini! "
"Mungkin ucapanmu itu benar!"
Kata Bau ji, kemudian sambil menuding ke arah si nona terusnya.
"cuma kamu sendiri apakah seorang prajurit tak bernama atau bukan, juga harus dibuktikan, berani bertarung denganku?"
Kali ini nona itu tidak menjadi marah, malahan sebaliknya tertawa, katanya.
"Kalau ingin bertarung lain waktu masih ada waktu, sekarang yang penting melihat miniatur itu lebih dulu..."
"Aku sudah selesai melihat."
Tukas Bau ji "maka masih ada cukup waktu untuk tertamng me lawan mu !"
Nona itu mengerutkan dahinya, kemudian melirik sekejap ke arah Sun Tiong lo, tak sepatah katapun yang diucapkan.
Sun Tiong lo pura-pura tidak melihat, malahan sambil membalikkan badarnya dia berjalan menuju ke arah miniatur tersebut.
Si nona yang menyaksikan itu benar-benar marah sekali, sambil mencibirkan bibirnya dia melotot kearah pemuda itu.
Kebetulan pula Sun Tiong-lo sedang bergumam pada waktu itu.
"Yaa, memang harus memperhatikan miniatur ini dengan seksama, semut saja ingin hidup apalagi aku mempunyai alasan untuk tidak mati, asal ada kesempatan hidup, kesempatan tersebut memang harus digunakan secara baik 2 !"
Bau-ji yang melihat nona itu sama sekali tidak berkata apa-apa, segera serunya.
"Nona, silahkan!"
Sekujur tubuh nona itu gemetar keras, mendadak sambil mendepakkan kakinya ke tanah dia berseru.
"Kau sungguh teramat keji!"
Entah ucapan itu sebetulnya ditujukan pada siapa?"
Ketika selesai berkata, tubuhnya segera berkelebat dan menerjang keluar dan ruang rahasia itu.
Sun Tionglo dan Bauji saling berpandangan sekejap, Bauji segera bergeser keluar ruangan tapi dalam sekejap mata suasana disitu sudah hening, bayangan tubuh dari nona itu sudah lenyap tak berbekas.
Tanpa terasa Bauji menjerit kaget, Mendengar itu Sun Tiong lo menyusul keluar ruangan dimana sinar matanya memandang tampak mulut loteng sudah terbuka tapi dengan cepat menutup kembali.
Kemudian terdengar suara dari nona itu berkumandang yang datang dari arah bawah.
"Aku hendak memperingatkan kepada kalian dua bersaudara, bila mendengar suara keleningan harus segera turun dari loteng, waktu itu mulut loteng dan anak tangga akan muncul dengan sendirinya, jika sampai terlambat sudah pasti kalian akan mampus, waktu itu jangan salahkan kalau aku tidak memberitahu kepada kalian."
Sekalipun nona itu berlalu dengan hati yang gusar, akan tetapi dia rupanya masih meng-khawatirkan hal itu.
Menggunskan kesempatan ketika pintu loteng belum tertutup rapat seluruhnya, dengan cepat berseru.
"Kuucapkan banyak terima kasih atas kebaikan nona, sampai waktunya aku pasti tak akan melupakan nasehatmu itu?"
Selesai berkata kedua orang bersaudara itu segera kembali lagi kedalam ruang rahasia untuk memperhatikan kembali miniatur tersebut.
Sambil menuding sebuah daerah berawa-rawa, Sun Tiong lo lantas berkata.
"Toako, agaknya tempat ini letaknya pating. dekat dengan mulut bukit, jika mengikuti miniatur ini, asal kita sudah menyeberangi daerah berawa-rawa ini kemudian menyeberangi lagi sebuah hutan lebar, maka jalan keluar itu akan terlihat !"
Bau ji segera menggeleng, katanya.
"Jite, sekarang belum bisa mengambil kesimpulan begini, kita harus melihat keadaan medannya lebih dulu baru bisa diputuskan !"
Sun Tiong lo manggut-manggut.
"Toako, apakah kau sudah hafal dengan bentuk miniatur ini?"
Tanyanya kemudian.
"Yaaa, sudah teringat semua !"
Sun Tiong lo segera tertawa.
"Menggumakan kesempatan baik ini, bagaimana kalau kita berunding dulu tentang jalan yang dilewati bila akan kabur nanti ?"
"Mungkin tempat ini diawasi pula oleh orang lain ?"
Kembali Sun Tiong lo tertawa.
"Toako, apakah kau tidak memperhatikan, loteng ini bukan saja dinding, lantai dan langit langitnya terdiri dari baja murni, bahkan sedikit lubang hawapun tidak nampak !"
"Oooohh makanya barusan jite sengaja mengirim suara kepadaku untuk mencari gara-gara dengannja agar nona itu pergi karena marah.?"
"Benar!"
Sun Tiong lo mengangguk.
"dalam loteng lmpian, semuanya terdapat pintu rahasia, tempat itu tidak cocok untuk membicarakan sesuatu yang penting, maka baru aku memaksamu untuk melakukan tindakan tersebut !"
"Jite, apakah kau ada persoalan penting yang hendak di bicarakan denganku?"
Walaupun Sun Tiong-lo percaya bahwa tak mungkin ada orang yang menyadap pembicaraan mereka disitu, tak urung dia merendahkan juga suaranya sembari berkata.
"Toako, menurut perhitungan lusa pagi kau sudah harus kabur dari tempat ini, apakah toako sudah mempunyai persiapan atau rencana tertentu ... ."
Bau-ji segera menggeleng.
"Tidak ada !"
Katanya. Setelah berhenti sejenak, dia meneruskan.
"Cuma ada satu hal yang aku merasa agak keheranan."
"Soal apa?"
"Aku sedang merasa heran dengan perintah dari guru, apakah dia suruh aku datang ke-bukit pemakan manusia ini adalah untuk...."
Tiba-tiba Sun Tiong-lo bertepuk tangan sambil tersenyum, tukasnya dengan cepat.
"Toako, persoalan itu juga yang membuat siaute merasa bingung dan tidak habis mengerti."
Bau ji tidak berkata lagi, ia hanya mengerutkan kening sambil termenung.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB KE TUJUH SETELAH termenung beberapa saat lamanya, kembali Sun liong lo berkata.
"Toako, siaute merasa suhu kita berdua sudah pasti bukan tanpa alasan untuk mengirim kita kemari, tentu tujuannya bukan mencoba kepandaian silat dan kecerdasan kita saja!"
"Akupun berpendapat demikian, tapi..."
Mendadak seperti memahami akan sesuatu, Sun Tiong lo berkata kembali .
"Betul, toako! Mungkinkah kita sengaja diutus kemari untuk membongkar rahasia Bukit pemakan manusia ini ? Maka kita baru diutus hampir pada saat yang bersamaan datang kesini ?"
Bau-ji berpikir sebentar, kemudian katanya.
"Seandainya begitu, apa pula yang bisa kita peroleh didalam tiga hari yang teramat singkat itu?"
Sun Tiong-lo segera manggut-manggut.
"Betul, bila ingin membongkar rahasia ini didalam waktu tiga hari saja..."
Mendadak dia menghentikan ucapannya sambil mengerdipkan matanya berulang kaii.
"Ji-te, api kah kau berhasil memikirkan sesuatu?"
Tanpa terasa Bau ji segera bertanya.
Sun Tionglo cuma termenung sambil membungkam dalam seribu bahasa, Bauji tahu dia pasti sedang memikirkan suatu persoalan yang sangat serius maka dia tidak bertanya lagi kuatir memecahkan perhatian serta konsentrasinya.
Lewat beberapa saat kemudian, Sun Tiong lo baru berkata.
"Toako, barusan siaute sedang memikirkan berbagai kemungkinan tapi semuanya tidak bisa dipakai, satu-satunya yang masuk diakal cuma alasan yang barusan kita kemukakan itu!"
"Maksudmu kedatangan kita untuk memecahkan rahasia yang menyelimuti bukit ini..."
Sambil mengangguk Sun Tiong-Io menukas.
"Yaa, cuma satu-satunya hal itu saja yang bisa dikatakan masuk di -akal...."
"Tapi balik dengan perkataan tadi, apalah artinya tiga hari yang teramat singkat itu ? Apa yang bisa kita lakukan selama beberapa hari yang teramat singkat itu?"
"Siaute mempunyai suatu pendapat, tentang bagaimana menurut pendapat toako?"
Bau-ji memandang sekejap ke arah Sun Tiong lo, kemudian tanyanya.
"Pendapat yang bagaimana ?"
"Yang diartikan dengan menjadi tamu agung selama tiga hari, aku percaya suhu kita belum pernah mengalami kejadian semacam ini, karena itu kemungkinan besar mereka juga tidak tahu tentang peraturan tersebut."
"Kemudian, sekalipun suhu kita mengetahui akan peraturan tersebut, didalam pemikiran kedua orang tua itu persoalan tersebut sudah pasti tidak tak akan menyusahkan kita berdua."
Bau ji segera bertepuk tangan dan berseru.
"Betul, kalau bukan Jite menyinggung persoalan itu, mungkin sampai sekarang aku masih tak mengerti, Jite, peraturan menjadi tamu agung selama tiga hari ini apa sangkut pautnya dengan kita?"
"Apakah toako ingin mengerti?"
Tugas Sun-Tionglo sambil tertawa. Bau ji-turut tertawa pula.
"Pepatah kuno mengatakan "Kalau perkataan tidak diucapkan tak akan tahu, kayu tidak ditembus tak akan berlubang, kuali tak dilubangi, sepanjang masa takkan bocor! setelah kau singgung tadi, kini aku paham sekali!"
Tiba-tiba paras muka Sun Tiong lo berubah menjadi amat serius, dan katanya.
"Toako, kalau begitu kita harus membicarakan bagaimana cara kita untuk melarikan diri."
"Hei, melarikan diri apa lagi yang hendak kita rencanakan sekarang..?"
Seru Bau ji tercengang. Sun Tiong lo tahu kalau Bau ji telah salah mengartikan katanya, maka dia berkata.
"Toako, bila waktu untuk menjadi tamu sudah habis, kita toh harus melarikan diri ?"
Bau ji manggut-manggut.
"Tentu saja, cuma kita kan sudah bertekad untuk tidak pergi meninggalkan tempat ini..."
"Tidak pergi toh cuma diketahui kita berdua saja"
Tukas Sun Tiong lo cepat.
"Tapi terhadap setiap orang yang berada disini, kita harus menanamkan suatu keyakinan bahwa kita sudah pergi dan sedang melarikan diri, dengan begitu rencana kita baru akan berhasil dengan sukses."
Setelah diberi penjelasan, Bau ji baru mengerti, dia lantas manggut-manggut.
"Betul, kita memang harus membuat suatu rencana yang cukup matang didalam hal ini."
"Apakah toako mempunyai rencana ?"
Bau-ji menggeleng.
"Tidak ada, pokoknya kita harus bermain petak bersama mereka diatas bukit ini !"
Tapi dengan serius Sun Tiong lo segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Toako, kita tak boleh bermain petak !"
"Kenapa ? Apakah kau mempunyai cara lalu yang lebih bagus lagi ?"
Seru Bauji tidak habis mengerti. Sun Tiong lo manggut-manggut.
"Mereka jauh lebih memahami keadaan di tempat ini daripada kita, siaute yakin setiap tempat yang kemungkinan besar bisa dipakai untuk menyembunyikan diri pasti sudah diketahui mereka dengan sejelas-jelasnya, mereka tak akan melepaskan kita dengan begitu saja!"
Bau ji berpikir sebentar, lalu mengangguk "Yaaah, hal ini sudah jelas sekali."
Sesudah berhenti sejenak, diapun bertanya.
"Jite menurut pendapatmu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Agaknya Sun Tiong lo sudah mempunyai rencana yang cukup matang, sahutnya kemudian.
"Ketika toako naik keatas bukit ini untuk pertama kalinya tadi, apakah mereka itu telah memberitahukan suatu peraturan kepada toako?"
Bauji berpikir sebentar lalu bertanya.
"Apakah kau maksudkan batas waktu yang ditentukan setelah melarikan diri?"
"Betul, karena waktu yang paling berbahaya buat kita seluruhnya selama tiga hari."
"Jite, apakah kamu percaya dengan segala omongan setan itu?"
Seru Bauji sambil menggelengkan kepala.
"Tentu saja ucapan tersebut tak boleh dipercaya dengan begitu saja."
"Nah, itulah dia, seandainya kita percaya pada perkataan mereka dan munculkan dirinya retelah lewat masa yang ditentukan, mereka pasti akan mempergunakan segala macam cara untuk mencelakai kita sampai mati!"
"Kemungkinan kesitu tentu ada."
"Bukan mungkin lagi, tapi sudah pasti demikian!"
Tukas Bau ji lagi dengan cepat. Sun Tionglo mengerutkan dahinya dan kemudian berkata.
"Cara pemikiran siaute dengan toako, paling tidak harus saling ada perhubungan!"
"Apakah jite hendak mencobanya?"
Tanya Bau-ji dengan perasaan tidak mengerti. Ucapan tersebut dengan cepat menimbulkan satu ingatan didalam benak Sun Tiong lo dan katanya kemudian.
"Bagaimana kalau begitu saja, toako berada di tempat kegelapan, sedangkan siaute secara terang-terangan."
Sambil menggeleng Bau ji segera menukas.
"Jite, persoalan ini bukan masalah untuk bermain-main, kuanjurkan kepadamu lebih baik mempertimbangkan dulu secara masak-masak !"
Sun Tiong lo tertawa, katanya.
"Toako tak usah kuatir, kalau siaute berani muncul secara terang-terangan berarti aku pasti mempunyai kekuatan untuk melindungi keselamatan jiwaku sendiri, memangnya kau ingin mampus ?"
"Apalagi kita adalah bertujuan untuk membongkar rahasia yang menyelimuti bukit ini, jika satu dari dalam satu dari luar kita turun tangan bersama, selain bisa saling membantu, juga bisa membuat musuh menjadi kebingungan dan curiga."
"Misalnya saja kita berhasil menemukan suatu rahasia dan perlu untuk dilakukan penyelidikan, waktu itu siaute akan sengaja menimbulkan gara-gara untuk menarik perhatian mereka, bukankah toako bisa turun tangan secara diam diam ?"
"Ketika persoalannya sudah terselidik, mereka pasti tak akan bisa berkata apa-apa lagi, sekalipun menemukan sesuatu yang mencurigakan, mereka juga tak akan menduga sampai diri toako."
"Bila satu dibelakang satu dimuka, satu dengan terangan yang lain main sembunyi, aku yakin mereka pasti akan dibikin kebingungan dan gugup, asal mereka sudah mulai panik, itu berati akan sangat bermanfaat sekali bagi usaha penyelidikan kita."
Bauji berpikir sebentar, lalu katanya.
"Ucapan ini memang sangat masuk diakal, cuma juga keliwat berbahaya."
"Jangan kuatir toako."
Hibur Sun Tiong lo.
"siaute pasti dapat melewati semua mara bahaya itu dengan selamat!"
Tapi Bauji masih belum lega juga, katanya lagi.
"Bagaimana kalau kita rundingkan kembali persoalan ini ?"
Dengan cepat Sun Tiong lo menggeleng.
"Toako, waktu sudah amat mendesak, persoalan ini harus segera diputuskan."
Serunya.
"Apa salanya kalau kita berkerja dari kegelapan saja ?"
Kata Bau ji dengan kening berkerut. Sekali lagi Sun Tiong lo gelengkan kepalanya berulang kali.
"Toako tak boleh terlalu pandang rendah Sancu dari bukit ini, bila ada satu diluar dan satu didalam, maka orang yang berada diluar itu bisa mengaturkan segala sesuatunya bagi orang yang berada dibalik kegelapan.."
"Aaai... sudahlah. kalau jite memang begitu yakin dengan kemampuanmu, akupun tak akan menghalangi lagi!"
Sun Tiong lo tertawa.
"Tak usah kuatir toako"
Katanya.
"siaute ucapkan sepatah kata tekabur, bilamana sampai terjadi suatu pertarungan maka jangan harap orang orang diatas bukit.. pemakan manusia ini bisa menghalangi kepergian siaute !"
Bauji segera merendahkan suaranya sambil berkata.
"Jite tadi kau anjurkan kepadaku agar jangan terlalu pandang enteng sancu dari bukit ini, sekarang mengapa kau malah memandang enteng dirinya? Padahal semenjak menyerbu kemari, aku memang berhasrat untuk menjajal kemampuannya."
Belum habis dia berkata, Sun Tiong lo telah menukas.
"Siaute sama sekali tidak berniat untuk memandang rendah rendah dirinya, harap toako jangan kuatir!"
Bau ji memandang sekejap ke arah Sun Tiong lo, kemudian dengan nada yang bermaksud dalam pesannya.
"Jite, jangan lupa, kita masih ada dendam sakit hati sedalam lautan yang belum dibalas!"
"Dendam berdarah ayah dan ibu mana berani siaute lupakan."
Jawab Sun Tiong lo dengan serius.
"Kalau memang begitu bagus sekali, entah dikemudian hari jite akan berdiam disini secara terang terangan atau secara menggelap, pokoknya kau musti berhati-hati, jangan sampai aku merisaukan keselamatan jiwamu!"
"Baik, siaute pasti berusaha untuk menghadapinya dengan waspada dan hati-hati."
Tiba-tiba Bau ji menghela napas.
"Ada suatu pertanyaan, sudah lama sekali ingin kutanyakan kepada jite."
Katanya.
"Katakanlah saja toako!"
"Apakah jite percaya bahwa manusia berkerudung yang kuceritakan kemarin benar benar telah mempergunakan tenaga pukulannya yang maha sakti untuk memaksa pedang ibuku menusuk tubuh ayah?"
"Siaute mempercayainya penuh!"
Jawab Sun-Tiong lo tanpa berpikir panjang lagi.
"Apakah disebabkan aku berkata demikian?"
Tanya Bauji sambil menatap saudaranya tajam. Dengan cepat Sun Tiong lo menggeleng "Bukan, bukan cuma karena perkataan dari toako saja".
"Jadi karena masih ada alasan lainnya?"
"Toako, masih ingatkah kau sewaktu siaute jatuh pingsan diluar jendela ruangan waktu itu?"
Bau ji menghela napas dan mengangguk "Yaa, selama hibup aku tak akan melupakan-nya!"
"Walaupun siaute jatuh tak sadarkan diri, meski mata tak bisa melek dan tubuh tak bisa bergerak, tapi hatiku mengerti dan telingaku bisa mendengar, sekarang tentunya sudah paham bukan."
Bau ji segera manggut-manggut.
"Kalau begitu akupun merasa lega!"
Setelah berhenti sebentar, kembali ujarnya.
"Cuma akupun meluluskan jite, cepat atau lambat aku pasti akan menangkap manusia berkerudung itu, kemudian menyuruhnya menceritakan sendiri akan semua kejadian tersebut kepadamu?"
"Toako, tidak perlu berbuat demikian!"
Kata Sun Tiong lo sambil menggenggam tangan Bauji erat-erat.
"Perlu! aku hendak menyuruh dia berlutut didepan kuburan ayah dan toanio, kemudian baru dia menceritakan semua kejadian tersebut agar arwah yang telah tiada itu bisa beristirahat dengan tenang di alam baka."
"Terima kasih toako!"
Bisik Sun Tiong lo sambil menunduk. Mendengar perkataan itu, Hau ji malah menjadi tertegun, serunya.
"Kita adalah saudara seayah, mengapa kau musti berterima kasih kepadaku?"
Mendadak Sun Tiong lo mendongakkan kepalanya, dengan air mata membasahi matanya dia menyahut.
"Siaute berterima kasih atas panggilan toako terhadap ibuku."
"0ooh..... kiranya begitu"
Bauji lantas tertunduk.
"sudah sepantasnya kalau aku berbuat demikian"
Setelah berhenti sebentar dengan agak murung dia berkata lagi.
"Aku merasa agak heran, persoalan antara ayah dengan ibuku dulu sesungguhnya..."
"Toako, bagaimana kalau untuk sementara waktu kita jangan membicarakan dulu persoalan tersebut ?"
Tukas Sun Tiong lo Bauji menghela napas panjang.
"Aaaaaai, aku tahu bagaimanakah perasaan jite, cuma ada sepatah kata harus kuutarakan juga, masih ingatkar jite, berapa usia kita sewaktu berjumpa untuk pertama kalinya dulu ?"
"Tentu saja aku masih ingat, toako tujuh tahun dan siaute lima tahun."
"Jite, percayakah kau dengan kesimpulan yang diambil oleh seorang bocah berusia tujuh tahun ?"
Sun Tiong lo menjadi tertegun.
"Hal ini tergantung pada persoalan apakah itu"
Katanya.
"Masalah yang menyangkut ibunya !"
"Seharusnya bisa dipercaya"
Kata Sun Tiong lo dengan serius.
"sebab dalam perasaan seorang anak, orang tua adalah paling agung."
Bau ji memandang sekejap kearah Sun Tiong lo, kemudian katanya.
"Kalau memang jite berkata demikian, akupun tak akan banyak bicara."
Sun Tiong-lo tidak berbicara apa-apa, karena itu terpaksa Bau ji juga termenung.
Kebetulan sekali bunyi keliningan telah menggema, pintu ruangan terbuka kembali dan anak tangga pun muncul secara otomatis.
"Toako, kita harus pergi dari sini!"
Kata Sun Tioaglo kemudian memecahkan keheningan. Diluar loteng, congkoan Chin Hui-hou dengan wajah dingin telah menunggu. Bauji sama sekali tidak mengubrisnya, sedangkan Sun Tiong Lo segera menegur.
"Congkoan, ada urusan apa kau berdiri menanti disini?"
"Lohu mendapat perintah dari nona untuk menemani kalian berdua berkunjung ke seluruh tanah perbukitan kami!"
Jawab Chin Hui hau dengan ketus.
"Oooh kemana si nona itu?"
Dengan mendongkol dan gemas Chin Hui-hou segera menjawab.
"Nona adalah seorang terhormat, bukan khusus petunjuk jalan untuk kalian!"
"0oh... kalau begitu Congkoan adalah seorang petugas yang khusus menghantar tamu mengelilingi bukit?"
Chin Huihau menjadi terbungkam, sekalipun ia merasa gusar sekali juga tak mampu berbuat apa-apa. Dengan cepat Sun Tiong lo berkata lagi.
"kalau memang begitu, harap congkoan datang lagi setengah jam kemudian di loteng impian-aku dan Sun heng sudah amat lelah sekali sehabis melihat miniatur tersebut!"
Chin Hui hou segera mendengus.
"Maaf seribu kali maaf, Lohu cuma punya waktu sekarang saja, selewatnya setengah jam, aku masih ada urusan dinas lain yang harus di selesaikan aku tak bisa menunggu terlalu lama lagi"
Sun Tiong lo juga mendengus.
"Hmm...! congkoan anggap dalam setengah jam kita bisa mengelilingi seluruh tanah perbukitan ini ?"
Chin Hui hou segera gelengkan kepalanya sambil tertawa licik, jawabnya.
"Bila ingin menjelajahi seluruh tempat, sepuluh hari baru bisa diselesaikan !"
Sun Tiong lo juga tertawa licik, katnya cepat.
"Kalau begitu, congkoan bersedia untuk menemani kami selama setengah jam saja?"
"Lohu tidak pernah berkata demikian !"
"Tegasnya saja berapa lama congkoan bisa menemani kami ?!"
"Selama kami masih menjadi tamu agung kami, berapa lama kalian suruh lohu menemani, lohu akan menemani berapa lama pula !"
Sun Tiong lo segera tertawa.
"Nah, itulah dia, bagaimanapun juga dalam setengah jam toh tak akan terselesaikan. .?"
Rupanya Chin Hui-hou sudah memahami ucapan dari Sun Tiong lo tersebut, maka dengan cepat dia menyambung.
"Bukan begitu maksudku, bila kalian tak mau pergi sekarang juga, terpaksa lohu akan pergi menyelesaikan persoalan lainnya, pokoknya kalau kalian tak mau pergi sekarang, lohu tak punya waktu lagi."
"Yaaa....yaaaa,. .. orang bilang kalau sudah menjadi budak orang memang musti bekerja sungguh-sungguh, congkoan memang rajin sekali,"
Sindir Sun Tiong lo sekali lagi. Chin Hui-hou tertawa seram .
"Heeeeh... heeehhh....kau tak usah menyindir, rajin atau tidak adalah urusanku sendiri, kau tak usah turut campur !"
Sun Tiong lo balas tertawa dingin.
"Congkoan juga jangan lupa, menemani tamu agung berjaIanjalan juga merupakan salah satu tugasmu !"
Belum sempat Chin Hui hou mengucapkan sesuatu, Sun Tionglo telah berkata lebih jauh.
"Pokoknya aku sudah mengambil keputusan begini, sampai waktunya nanti kunantikan lagi kedatangan Congkoan."
Selesai berkata, dia lantas berpaling kearah Pau ji sambil serunya lantang.
"Sun heng, bagaimana kalau kita kembali dulu ke loteng impian untuk beristirahat ?"
"Bagus sekali"
Seru Bau ji sambil mengangguk.
"silahkan saudara Sun-heng."
Dua bersaudara itu sambil saling menjura segera berlalu dari situ tanpa menggubris diri Chin Hui hau lagi.
Menyaksikan kesemuanya itu, Chin Hui hou benar-benar merasa mendongkolnya bukan kepalang, sambil menggertak gigi menahan emosi, sumpahnya kepada bayangan punggung Sun Tiong lo yang telan pergi menjauh itu.
"Anjing keparat, nantikan saja nanti, kalau aku tidak mencingcang tubuhmu menjadi berkeping-keping."
Belum habis perkataan itu, mendadak dari belakang tubuhnya terdengar suara si nona sedang menegur dengan suara sedingin es.
"Chin congkoan, begitu bencikah kau terhadapnya?"
Chin Hui hou merasa terperanjat sekali setelah mendengar perkataan itu, buru-buru dia membalikkan badannya dan menjura dengan penuh rasa hormat, katanya.
"Nona harap maklumi makhluk keparat itu benar-benar menggemaskan sekali!"
"Ooh.... sampai dimanakah menggemaskan nya-itu?"
Tanya si nona sambil tertawa dingin.
Walaupun Chin Hui hou dapat mendengar bahwa ucapan dari si nona itu mengandung nada yang tak enak, tapi ia tak punya akal lain untuk menghindari keadaan tersebut, terpaksa sambil menggigit bibirnya kencang kencang katanya.
"Bila nona dapat mendengar apa yang dia katakan kepada hamba, kau pasti akan memahaminya!"
Nona itu segera mendengus dingin.
"Hmm! Kau anggap aku tak mendengarnya!"
"Kalau memang nona sudah mendengar dengan jelas, tentunya kau tak akan menyalahkan hamba jika sampai memakinya sebagai anjing cilik !"
Bantah Chin Hui hou makin berani.
"Chin congkoan !"
Seru Nona itu dengan wajah dingin "Ucapan yang manakah kau anggap tak sedap di dengar?" -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***
Jilid 6
"MlSALKAN saja dia sengaja menyusahkan hamba dengan menyuruh hamba balik kembali setengah jam kemudian..."
"Dia adalah tamu agung"
Tukas si nona dengan suara dalam.
"sancu juga sudah mengeluarkan peraturan, dia sama sekali tidak bersalah !"
Buru-buru Chin Hui-hou berkata lagi.
"Dia memakiku sebagai budak orang yang bekerja rajin, bukankah kata kata ini merupakan suatu penghinaan terhadap diri hamba, bagaimana pula dengan hal ini ?"
"Mengapa tidak kau anggap ucapan tersebut sebagai angin yang berlalu ? Apakah harus dipersoalkan terus?"
Jawab sinona dingin. Chin hui-hou menjadi berdiri bodoh, untuk beberapa saat lamanya dia tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Kembali nona itu mendengus dingin dan berkata.
"Aku tahu, kau membencinya, karena kau disuruh melayaninya minum arak, maka kau menyimpannya persoalan ini dihati, kau mendendamnya dan ingin membalas idendam itu padanya, Hmmm! Chin hui-hou, aku peringatkan padamu, kau jangan mencoba melanggar akan peraturan lagi!"
Hampir meledak dacia Cnin hui ho karena dongkolnya, tapi dia berusaha keras untuk mengendalikan perasaannya dengan sikap rasa hormat katanya.
"Baik, hamba akan mengingatnya selalu!"
Sepatah demi sepatah nona itu berseru.
"Setengah jam kemudian, pergilah keloteng impian dan menantikan perintah dari tamu agung!"
Kali ini seluruh badan Chin Hui-hou seperti mau meledak, biji matanya hampir saja melotot keluar, tapi sebisanya dia simpan semua perasaan tersebut didalam hatinya.
Dengan tertawa yang dipaksakan katanya kemudian dengan suara amat lirih.
"Baik, baik-hamba akan turut perintah !"
Nona itu menatapnya sekejap, kemudian berkata.
"Sekali lagi kuberitahukan kepadamu, sebelum pergi meninggalkan bukit ini, Sancu telah berbincang-bincang dengan Sun kongcu, dia berpesan agar Sun kongcu menunggu sampai dia pulang gunung, mengertikah kau..."
Mendengar perkataan itu, Chin Hui-hou baru merasa amat terperanjat serunya tertahan.
"Nona, sungguhkah telah terjadi peristiwa ini ?"
"Kau bilang apa...?!"
Bentak si nona de ngan mata melotot dan penuh kegusaran. Buru-buru Chin hui hou membungkukkan badannya meminta maaf, katanya dengan cepat.
"Berhubung kejadian ini diluar dugaan, hamba telah salah tingkah, hamba harap nona sudi memaafkan dosaku!"
Nona itu mendengus dingin.
"Hmm ! Kau juga tahu bagaimana watak Sancu, juga tahu bagaimana jalan pemikirannya, siapa tahu Sun kongcu akan mendapatkan pandangan istimewa dari Sancu? jika sampai begitu..."
"Baik baik... hamba mengucapkan banyak atas petunjuk dari nona"
"Tak usah banyak bicara lagi", seru si nona sambil tertawa dingin.
"Lebih berhati hatilah sikapmu mulai sekarang."
Setelah berkata, nona itu membalikkan badan dan kembali kekamarnya.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** "CHIN CONG KOAN apakah semuanya itu hanya pohon siong saja disitu?"
Terdengar Sun Tiong lo bertanya sambil menunjuk ke sebuah hutan disebelah kanannya. Sekarang, mau tak mau Chin Hui hou harus bermanis muka, sahutnya sambil berkata.
"Betul, semuanya pohon siong !"
Sun Tiong lo segera berkerut kening, kemudian katanya lagi.
"Chin congkoan, mungkinkah lantaran pengaruh dari tanah, maka..."
"Kongcu memang pintar, tempat itu memang kurang begitu gampang untuk ditumbuhi!"
"Dibelakang hutan itu mungkin terletak rawa-rawa bukan ?"
"Benar, setelah melewati daerah rawa rawa dan membelok pada suatu tebing yang terjal orang akan sampai dimulut bukit sebelah belakang sana ?"
"Apakah dari sini ada jalan yang tembus dengan rawa-rawa tersebut...?"
Tanya Bau ji sambil menuding hutan pohon siong yang gundul itu. Chin Hui hou segera menggeleng.
"Tiada jalan lain, jika ada orang ingin melarikan diri melalui jalan ini maka dia harus menyeberangi rawa-rawa tersebut, teringat pada lima tahun berselang, ada juga dua orang yang kabur lewat sana, tapi kemudian..."
Berbicara sampai disitu, mendadak ia berhenti berbicara dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya.
"Bagaimana kemudian ?"
Tanya Bau ji tanpa terasa. Chin Hui hou segera tertawa terkekeh-kekeh.
"Dua orang sahabat itu tak perlu merepotkan lohu lagi, heeeeehh... heeeehh..."
"Oooooh, maksud congkoan, mereka tewas dirawa-rawa tersebut ?"
Tanya Sun Tiong lo. Dengan gaya kucing menangisi tikus, Chin Hui hou menghela napas panjang, kemudian katanya.
"Siapa bilang tidak ? Hutan pohon yang gundul itu sangat beracun, rawa-rawa itu lebih beracun lagi, kecuali kalau orang itu adalah dewa yang bisa berjalan sejauh beberapa li tanpa menginjak tanah."
Orang ini benar-benar licik dan keji, ternyata ia berhenti sampai ditengah jalan dan tidak melanjutkan kembali kata-katanya. Dengan cepat Sun Tiong lo mengalihkan pembicaraannya kesoal lain, katanya.
"Tampaknya jalan ini hanya sebuah jalan mati ?"
Chin Hui hou yang licik ternyata tidak menjawab, malahan dia menutup mulutnya rapat-rapat. Dengan kening berkerut Bau ji berkata.
"Lebih baik kita balik saja, coba kita lihat sebelah kanan dari belakang bukit tersebut !" .
"Tidak, lebih baik kongcu sekalian melihat-lihat dulu jalan tembusan disekitar sini !"
Kali ini Chin Hui hou otomatis membuka suaranya memberi saran. Sun Tiong lo segera tertawa.
"Pentingkah itu bagi kami ?"
Katanya, Chin Hui hou juga tertawa.
"Pokoknya lohu tak akan menyuruh kongcu melakukan perjalanan dengan sia-sia !"
"Haaahh... haaaahh... kalau begitu bagus sekali, harap congkoan suka menemani kami !"
Maka Chin Hui hon berjalan didepan, Bau ji ditengah dan Sun Tiong lo dibelakang segera berjalan mendekati jalan keluar bukit tersebut.
Setelah berbelok-belok, mulut bukitpun berada didepan mata.
Sebuah jeram yang sangat dalam menghadang jalan pergi mereka, jeram itu delapan sembilan belas kaki lebarnya, sekalipun seorang jago kelas satu dari dunia persilatan juga jangan harap bisa melewati jeram ini dengan ilmu meringankan tubuhnya.
Dari tepi jeram tersebut sampai dimulut bukit jaraknya tinggal setengah lie, dan lagi merupakan sebuah jalan lurus.
Sambil menuding jalan lurus tersebut, Sun Tiong lo lantas bertanya.
"Chin congkoan, dibalik jalan lurus tidak adakah terdapat jebakan-jebakan yang berbahaya?"
Chin Hui hou segera tertawa terkekeh-kekeh.
"Menurut dugaan kongcu?"
Ia balik bertanya. Sun Tiong lo segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Masalah ini bukanlah masalah yang boleh ditebak secara sembarangan !"
Katanya. Sekali lagi Chin Hui-hou tertawa terkekeh-kekeh.
"Bila lohu mengatakan tak ada, kongcu tentu tak percaya, padahal ada atau tidak lohu sendiripun tak tahu, sebab selama belasan tahun belakangan ini..."
"Belum pernah ada orang yang berhasil kabur melewati jeram berbahaya ini bukan ?"
Sambung Sun Tiong lo. Chin Hui hou segera terkekeh dengan seramnya.
"Heeeeehh,heeeeehhhh, kongcu memang sangat pintar, tak heran Sancu bisa memandang serius kepadamu ?"
Sun Tionglo tertawa.
"San cu berjanji denganku untuk berbincang-bingcang lima hari kemudian, apakah congkan tahu akan soal ini ?"
Chin Hui hou segera tertawa dingin.
"Jangan lupa kongcu, lohu adalah congkoan dari tanah perbukitan ini."
Serunya.
"Benar benar, lagi pula merupakan seorang Congkoan yang paling berkuasa !"
Sambung Sun Tiong lo Chin Hui hou tidak menjawab ucapan tersebut, sebaliknya sambil menunjuk ke arah jeram dihadapannya, dia berkata.
"Kongcu, mengapa tidak kau tanyakan bagai mana caranya menyeberangi jeram ini ?"
Sun Tionglo gelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya.
"Aku toh tak lebih cuma seorang manusia lemah yang membunuh ayampun tak mampu, apa gunanya menanyakan soal itu?"
Chin Hui hou mengerling sekejap ke arah Sun Tiong lo, kemudian sambil berpaling ke arah Bauji, katanya.
"Kau pernah menyerbu masuk ke dalam bukit ini dengan kekerasan, aku pikir kepandaian silat yang kau miliki tentu luar biasa sekali, tolong tanya sanggupkah kau melompati jeram ini dengan sekali lompatan mencapai jarak sejauh delapan sembilan belas kaki ?"
Bau ji mengerling sekejap kearahnya dan sama sekali tidak mengucapkan separah katapun.
"Tolong tanya apakah congkoan mampu ?"
Sun Tiong lo segera balik bertanya. Chin Hou menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya.
"Bila lohu bisa memiliki ilmu meringankan tubuh selihay itu, wah, hal ini tentu saja lebih baik lagi."
Sun Tiong lo segera tertawa, katanya kembali.
"Congkoan, konon yang memangku tugas pemburu terhadap tawanan adalah congkoan . ."
"Benar, lohu dan Kim Poo Cu yang tugas dalam pekerjaan ini !"
Tukas Chin Hui lo hou.
"Tak ada yang lain?"
"Kongcu, apakah kau lupa dengan apa yang pernah lohu katakan kepadamu?"
"Oooh, maaf ! Akulah yang teledor !"
Setelah berhenti sejenak lanjutnya.
"Kalau memang orang yang bertugas mengejar tawanan hanya congkoan dan sobat Kim, sedang congkoan mengaku tak akan sanggup menyeberangi jeram ini, maka tentunya sobat Kim lah yang memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu."
Chin Hui hou segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh.. ,, -haaahhh .... ,haaahhh lagi-lagi kongcu keliru besar."
Katanya.
"Meskipun Kim Poo cu memiliki sejenis tenaga dalam yang amat sakti, tapi kalau suruh dia melompati jeram ini, mungkin sekalipun dibunuh tak akan mampu."
"Aaah,...! Kalau memang begitu, aku menjadi benar-benar tak habis mengerti !"
"Apakah yang tidak kau pahami ?"
"Andaikata orang yang melarikan diri itu berhasil melewati jeram tersebut, bukankah kalian berdua cuma bisa memandang dia melarikan diri tanpa sanggup berbuat apa-apa."
"Benar"
Chin Hui hou mengangguk.
"cuma sayang selama banyak tahun, belum pernah kujumpai kasus semacam ini!"
Sun Tiong lo segera gelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
"Tak bisa melewati jeram tersebut adalan urusan lain, jika aku adalah sancu tempat ini..."
Dia sengaja menghentikan ucapannya itu dan tidak dilanjutkan kembali.
Chin Hui hou juga tidak bertanya, seakan-akan dia sudah mempunyai sesuatu yang bisa diandalkan.
Pada saat itulah, tiba tiba Bau ji berkata.
"Tidak ada yang bisa dilihat lagi, lebih baik kita pulang untuk beristirahat saja."
Tampaknyo Chin Hui hou seperti mengandung maksud lain, dengan cepat katanya.
"Bila kau bersedia mendengarkan anjuranku, lebih baik perhatikan lagi keadaan medan di sekeliling tempat ini, sebab kau tidak semujur Sun kong cu ini, kau hanya mempunyai batas waktu selama tiga hari saja."
"Kalau tiga hari lantas kenapa"
Jengek Bau ji dingin. Chin Hui hou segera tertawa, katanya.
"Hari ini sudah berlalu sehari..."
Sesudah berhenti sebentar, kembali dia bergumam.
"Waktu sedetik lebih berarti daripada emas setahil, emas setahil belum tentu bisa membeli waktu sedetik !"
Bau ji segera mendengus dingin. Hemm. kata kata tersebut memang sebuah kata yang indah, sayang sekali muncul dari mulut seorang manusia semacam kau. sayang sayang!"
Chin Hui hou segera tertawa, serunya.
"Kata-kata yang indah adalah tetap kata yang indah, perduli amat ucapan tersebut muncul dari mulut siapa?"
Pada saat itulah mendadak Sun Tiong lo ju ga menghela nafas panjang sambil menggumam.
"Aaai sayang, sayang...!"
Chin Hui hou jadi tertegun, lalu tanyanya.
"Apa yang kongcu sayangkan?"
"Sayang aku cuma seorang sastrawan yang lemah dan tidak mengerti akan ilmu silat !"
Chin Hui hou segera melototkan matanya benar-benar, serunya kemudian dengan nyaring.
"Bila kongcu mengerti akan ilmu silat, lantas apa yang kau lakukan?"
"Silahkan congkoan memperhatikan keadaan disekeliiing tempat ini..!"
Ujar Sun Tiong lo sambil menuding kedaerah sekeliling tempat itu. Dengan mata tajam Chin Hui hou segera memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian tanyanya lagi.
"Buat apa melihat kesemuanya lagi."
"Apakah congkoan melihat adanya seseorang ?"
Chin Hui hou segera tertawa.
"Disini sama sekali tak ada orang lain, tentu saja tak seorang manusiapun yang kelihatan!"
Sun Tiong lo segera mengangguk.
"Nah, itulah dia ! Saat ini kecuali aku dan Sunheng serta Congkoan, disini sama sekali tak ada orang keempat, seandainya aku mengerti ilmu silat, bukankah saat ini merupakan suatu kesempatan yang paling baik buat kami ?"
Chin Hui hou menjadi tertegun dan berdiri dengan perasaan tidak habis mengerti. Sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, Sun Tiong lo telah berkata lebih jauh.
"Waktu itu, aku dan Sun-heng bisa bekerja sama untuk membunuh congkoan, kamipun tak usah kuatir perbuatan ini sampai ketahuan orang lain, kemudian dengan mempergunakan rotan yang dibuat tali menyeberangi jeram ini, bukankah dengan begitu kami akan segera dapat meloloskan diri dari bukit ini ?"
Bau ji tidak memahami tujuan dari ucapan Sun Tiong lo tersebut, dengan cepat dia menyambung.
"Benar, Sunheng, mengapa kita tidak mencobanya ?!"
Paras muka Chin Hui hou segera berubah hebat, mendadak dia melompat mundur sejauh beberapa kaki dari situ.
Sun Tiong lo tertawa getir, sambil gelengkan kepalanya dan mengangkat bahu dia berkata lagi kepada Bauji.
"Sun-heng, jangan lupa aku tak hanya seorang sastrawan lemah yang sama sekali tak berguna."
Bau ji segera berkerut kening, sedangkan paras muka Chin Hui hou juga pelan-pelan pulih kembali menjadi tenang. Sesaat kemudian Sun Tiong lo berpaling ke-arah Chin Hui hou dan menegur sambil tertawa.
"Congkoan, apakah barusan kau merasa takut?"
Sesungguhnya sampai detik itu jantung Chin-Hui hou masih berdebar keras, tapi diluaran jawabannya dengan ketus.
"Omong kosong, sekalipun-kongcu mengerti ilmu siiat, lohu juga tak bakal menjadi jeri!"
"Oooh, sungguhkah itu?"
"Tentu saja sungguh!"
Jawab Chin Hui holt sambil menunjukkan senyuman paksa.
"Bagaimana kalau kita coba?"
Tentang Sun-Tionglo.
"Sun-heng kesempatan ini tidak boleh disia-siakan, hayo kita turun tangan!"
Kata Bau ji.
Mendadak Chin hui hou mundur lagi sejauh delapan depa, segenap tenaga dalamnya di him pun untuk bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Sun Tiong lo tidak menjawab, diapun cuma tertawa getir belaka seperti sedia kala.
Senyum getir itu segera melegakan debaran jantungnya Chin hui hou yang sudah menegang selama ini, dia pura-pura berlagak tertawa lebar, kemudian katanya.
"Kong cu memang tak malu menjadi seorang anak sekolahan, ternyata pandai juga kau ini menggertak orang."
Siapa tahu secara tiba-tiba Sun Tiong lo maju dua langkah kemuka, dan lalu dengan serius katanya.
"Chin hui hou, apakah kau menganggap aku benar benar tak pandai bersilat?"
Sekali lagi Chin Hui hou merasakan jantung nya berdebar keras, tapi dengan nada menyelidik kembali dia bertanya.
"Kongcu, jangan bergurau terus? Lebih baik kita sudahi gurauan ini sampai disini saja !"
Sun Tiong-lo segera mendengus dingin.
"Hm! Siapa yang sedang bergurau denganmu?"
Setelah berhenti sejenak pada Bau ji serunya.
"Sun heng, cepat hadang jalan mundurnya !"
Bau-ji mengiakan, dengan cepat dia melompat kemuka aan menghadang ditengah satu-satunya jalan mundur yang ada disana. Sekarang, paras muka Chin Hui hou baru berubah hebat, serunya dengan tergagap.
"Kongcu, kau... kau...kau sungguhan ?"
"Menurut kau?"
Sun Tiong-lo balik bertanya sambil mengawasi lawannya itu dengan lekat-lekat.
Dengan segala kemampuan yang ada Chin hui hou berusaha untuk mengendalikan rasa-kaget dan gugup di dalam hatinya, kemudian katanya.
"Aku tebak kongcu hanya bermaksud untuk bergurau saja, apa lagi kongcu memang tidak mengerti ilmu silat, selain dari pada itu sekalipun pihak kami sangat menuruti kemauan tamu agungnya."
"Darimana kamu bisa tahu kalau aku tidak mengerti ilmu silat?"
Tukas Sun Tiong lo. Chin hui-hou segera tertawa paksa.
"Ketika kongcu masuk ke atas bukit ini bukankah kau mengatakan tidak mengerti akan ilmu silat." -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB DELAPAN SUN TIONG LO segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaah....haaaaahh..... percayakah kau dengan perkataanku ?!"
Chin Hui hou menjadi berdiri bodoh, paras mukanya sekarang telah berubah menjadi amat tak sedap. Saat itulah Bau ji berseru.
"Luheng, buat apa kita musti banyak berbicara lagi dengannya ? Hayo turun tangan dan bereskan saja orang ini !"
Sun Tiong lo kembali menatap Chin Hui hou lekat-lekat, kemudian tertawa ter-bahak2.
"Haaaahh... haaaah Chin Hui hou, kau tidak menyangka bakal terjadi perubahan semacam ini bukan ?"
Sementara itu dengan matanya yang liar Chin Hui hou berusaha untuk memperhatikan sekeliling tempat itu, tampaknya dia sedang berusaha untuk mencari akal guna melarikan diri dari kepungan tersebut.
Sambil menuding kearah jeram dihadapan nya, Sun Tiong lo berkata.
"Kau hendak ter jun sendiri kedalam jurang itu, ataukah musti merepotkan diriku yang turun tangan ?"
Setelah berada dalam keadaan begini, Chin Hui hou baru sadar bahwa dirinya sedang terjebak. Sambil menggigit bibir, segera serunya dengan suara lantang.
"Dengarkan anjing-anjing cilik, sekalipun kalian menyerangku berdua, belum tentu aku bakal menderita kalah, sekalipun lohu tidak beruntung mati di tangan kalian, maka kalian berduapun jangan harap bisa meninggalkan tempat ini dengan selamat..."
"Chin Hui-hou"
Kata Sun-Tiong-lo sambil tertawa.
"dengan rotan sebagai tali bukankah kami masih bisa menyeberangi jurang ini dengan selamat ?"
Mendengar perkataan itu, Chin Hui hou segera tertawa seram.
"Heeeehh.... heehh.... heeehh....kalian pasti bermimpi disiang hari bolong, sekalipun bisa menyeberangi jurang ini, jangan harap kau bisa keluar dari mulut bukit ini dengan selamat asal. Kalian berani melangkahi tempat itu maka kalian akan mati tanpa tempat kubur, kalau tidak, silahkan saja dicoba sendiri !"
Pada saat itulah secara tiba-tiba Sun Tiong lo bertepuk tangan sambil tertawa tergelak, serunya.
"Chin congkoan, kali ini mau tak mau kau mengakui juga secara terus terang !"
Mendengar perkataan itu, Chin Hui hou menjadi tertegun, lalu serunya tergagap.
"Kau... kau...jadi kau sedang bergurau..."
Sun Ting lo tertawa terpingkal-pingkal, serunya.
"Congkoan, aku tak lebih cuma seorang sastrawan yang lemah tak berkepandaian apa-apa, kalau bukan cuma bergurau saja, kenapa pula aku tidak turun tangan dengan segera? apa pula gunanya kuulur waktu sekian lama?"
Sekarang Chin Hui hou baru bisa menghembuskan napas lega, katanya kemudian.
"Hmm, kuanjurkan kepadamu untuk jangan bergurau lagi secara begitu brutal dikemudian hari!"
Sun Tiong lo segera tertawa.
"Gurauan semacam ini masa digunakan untuk kedua kalinya?"
Katanya. Chin Hui hou tak sanggup menjawab apa-apa, maka semua kemarahannya segera dilampiaskan kepada Bauji, katanya.
"Aku lihat kau tentunya ingin turun tangan secara bersungguhsungguh bukan?"
Bau-ji masih belum tahu permainan busuk apakah yang sedang dipersiapkan Chin Hui hou, maka dia tidak menjawab pertanyaan congkoan tersebut, sebaliknya sambil membalikkan badannya purapura sedang melihat pemandangan alam disekeliling tempat itu.
Agaknya rasa benci Chin Hui hou terhadap Sun Tiong lo sudah merasuk sampai ke tulang sumsum, tapi berhubung Sun Tiong lo dilindungi oleh nonanya, lagipula ada perintah rahasia dari Sancu-nya, maka dia dibuat sama sekali tak berkutik.
Sebaliknya terhadap Bau ji dia tidak menaruh rasa kuatir apa-apa, apalagi setelah dipermainkan oleh Sun Tiong lo sehingga hampir saja nyalinja pecah kontan saja semua rasa dendam, benci dan marahnya itu dilampiaskan ke atas diri Bau ji.
Cuma waktu itupun Bau ji sebagai tamu agung.
Buktinya, dia tak berani melanggar peraturan sancunya secara terang-terangan, maka biji matanya berputar kian kemari, akhirnya dia mendapat sebuah siasat licik yang boleh dibilang-amat busuk.
Pelan-pelan dihampirinya Bau ji, katanya.
"Sun kongcu, sudah hampir sehari semalam kita saling berkenalan tetapi aku belum tahu siapakah nama kongcu, apakah aku boleh tahu nama kongcu...."
"Aku tidak punya nama!"
Jawab Bau ji dan sambil membalik badannya, melotot gusar. Chin hui hou tertawa terkekeh-kekeh.
"Kongcu, anak yatim piatu yang tidak punya marga memang banyak didunia ini, tapi kalau tak punya nama rasanya tak pernah ada."
Ucapan ini sangat tidak enak didengarnya tentu saja Bau ji memahaminya. Maka dengan geramnya pemuda itu maju kemuka, dan serunya dengan keras.
"Anjing laknat, rupanya kau mau dihajar?"
Sambil berseru, telapak tangan kanannya segera diayunkan ketengah udara siap untuk melancarkan serangan. Mendadak Chin Hui hou melayang mundur sejauh dua tangkah, kemudian serunya.
"Tunggu sebentar, apakah kongcu benar-benar ingin turun tangan?"
"Benar,"
Sahut Bau ji marah. Chin Hui hou segera membusungkan dadanya, kemudian berseru.
"Lohu tak akan membalas, mau pukul silahkan pukul !"
Bauji menggertak giginya menahan emosi, telapak tangan kanannya berulang kali hendak diayunkan kebawah, tapi niatnya tersebut dibatalkan. Chin Hui hou tertawa seram, serunya.
"Dewasa ini kongcu masih merupakan tamu agung dari Sancu kami, maka sekalipun lohu memiliki kepandaian silat yang sanggup mencabut nyawa kongcu juga percuma saja, sebab semua kepandaian itu tak sanggup kugunakan."
Bau-ji tak kuasa menahan diri lagi, dia segera menukas.
"Manusia laknat, kalau ingin turun tangan boleh saja kau turun tangan, bila sancu menegur nanti, aku boleh memberi kesaksian kalau pertarungan ini terselenggarakan atas dasar sama-sama setujunya !"
Chin Hui hou segera mencibirkan bibirnya.
"ltu kan kata kongcu, tanpa saksi..."
"Kita boleh meminta Sunkongcu untuk menjadi saksi kita."
Sela Bau ji lagi sambil menuding ke arah Sun Tiong lo. Diam-diam Chin Hui hou merasa sangat gembira, tapi diluaran dia berlagak keberatan, katanya sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Meskipun boleh saja suruh Sun kongcu menjadi saksi, tapi lohu tak bisa mengajukan permohonan ini kepada kongcu tersebut !"
Bau-ji yang berangasan segera menukas.
"Kau tak usah memohon langsung kepadanya,"
Sesudah berhenti sebentar, dia berpaling ke arah Sun Tiong lo, kemudian ujarnya.
"Sun heng, apakah kau bersedia membantuku?"
Ternyata jawaban dari Su long lo juga tepat sekali.
"Boleh saja bila inginkan bantuanku, tapi sebagai seorang saksi harus bertindak adil, cuma bila cuma kongcu seorang yang minta bantuan menjadi saksi, rasanya hal ini menjadi timpang dan kurang menunjukkan suatu keadilan."
Dengan cepat Chin Hui hou berseru.
"Seandainya kongcu bersedia, lohupun ingin memohon bantuan dari kongcu!"
Sun Tionglo memandang sekejap ke arah Bau ji, kemudian memandang pula kearah Chin-Hui hou, setelah itu katanya.
"Jadi kalian berdua sama sama memohon kepadaku untuk bertindak sebagai saksi dalam hal ini?"
Chin Hui hou maupun Bau ji segera bersama sama mengiakan Sun Tionglo tertawa, katanya kemudian.
"Atas kepercayaan kalian berdua kepadaku, baiklah, akan kuturuti kehendak kalian itu!"
Untuk kesekian kalinya Chin Hui hou merasa girang sekali. Bau-ji segera berkata kepada Chin Hui hou.
"Orang she Chin, sekarang kita boleh mulai turun tangan!"
"Tunggu sebentar!"
Kata Chin Hui hou sambil menggeleng.
"Sebelum pertarungan dimulai, lohu hendak mengucapkan beberapa patah kata lebih dahulu."
"Hmm ! darimana datangnya begitu banyak kata-kata busukmu."
Dengus Bauji. Chin Hui hou tertawa seram.
"Sekarang, walaupun sudah ada saksi mata tetapi bagaimanapun juga kongcu adalah tamu agung kami, selain daripada itu, pertarungan inipun merupakan urusan pribadi, sedang waktu kongcu kabur nanti baru urusan dinas."
"Oleh karena itu urusan pribadi tak boleh sampai mengganggu urusan dinas, maka didalam pertarungan pribadi kali ini, masing masing tak boleh menggunakan senjata tajam dan senjata rahasia, tapi cuma boleh menggunakan kepalan dan kaki."
"Dengan kepalan dan kaki, itu lebih bagus lagi,"
Seru Bau ji sambil tertawa dingin. Sesudah berhenti sebentar, dengan suara dingin tanyanya lagi.
"Kau masih ada perkataan lain lagi yang hendak disampaikan?"
"Masih ada satu persoalan lagi, yakni bagaimana caranya untuk menentukan siapa menang siapa kalah?"
Baru saja Bau ji akan menjawab, Sun Tionglo telah mendahului sambil berkata.
"Chin congkoan bisa berkata begitu, tentunya kau sudah punya rencana bagus, mengapa tidak diutarakan?"
Chin Hui hou memandang sekejap ke arah Sun Tionglo, setelah itu baru ujarnya.
"Lohu tidak mempunyai rencana apa-apa, cuma dalam pertarungan yang akan berlangsung kali ini, ada baiknya jika kita batasi sampai saling menutul saja, sebab bagaimana pun juga Sun kongcu tetap merupakan tamu agung kami."
Sun Tiung lo berpikir sebentar, lalu berkata.
"Bolehkah aku mengajukan satu usul ?"
"Tentu saja boleh !"
Jawab Chin Hui hou sambil tertawa.
"Lebih baik kita membuat lingkaran seluas satu kaki ditanah yang masing-masing berselisih jarak, kemudian kalian boleh bertarung di dalam lingkaran tersebut, selain dilarang melukai lawannya, barang siapa yang dipaksa keluar dari lingkaran dialah yang kalah, yang melukai orang juga dianggap kalah !"
Chin Hui hou melirik sekejap kearah Bau ji, lalu katanya "Kongcu, apakah kau setuju dengan usul tersebut ?"
Bau ji berkerut kening, baru saja akan menjawab, tiba-tiba dari sisi telinganya terdengar suara dari Sun Tiong lo sedang berkumandang.
"Toako, cepat kau luluskan persyaratan tersebut !"
"Baik, aku tidak menolak !"
Bauji segera mengiakan dengan suara lantang. Kembali Chin Hui hou tertawa.
"Kalau memang begitu, terpaksa lohu juga harus menyetujuinya juga...."
Katanya.
"Kalian berdua harus ingat, dilarang melukai orang, .."
Seru Sun Tiong lo lagi dengan wajah serius.
"Melukai orang atau tidak, kita menentukan dengan cara apa..."
Tanya Chin Hui hou.
"Pokoknya apabila panca indra dan tubuh bagian luar dimanapun jika tampak luka atau-merah membengkak maka hal ini akan dianggap sebagai terluka, dan orang tersebut harus dianggap kalah."
Mendengar perkataan itu, diam-diam Chin-hui hou merasa girang sekali, tetapi dasar tua keladi makin tua makin jadi, kelicikan orang ini benar-benar luar biasa. Kembali dia bertanya dengan lantang.
"Andaikata sepasang lengan yang membengkak atau menjadi hijau membiru, apakah ini pun musti dianggap bagai terluka!"
Sun Tiong lo segera menggeleng.
"Aku toh sudah menerangkan tadi, jikalau cuma tangan yang membengkak menghijau, tentu saja tidak bisa dianggap sebagai terluka!"
Chin hui hou menjadi girang, dan serunya.
"Kalau begitu, bagus sekali!"
Seraya berkata ia lantas mengambil sebiji batu tajam dan segera membuat lingkaran.
Lingkaran tersebut luasnya mencapai satu kaki lima jengkal, berarti lebih lebar dari pada apa yang ditentukan semula.
Sambil tertawa Sun tiong Io lantas berkata.
"Waaah... tampaknya congkoan bernapsu sekali untuk bertarung, sampai-sampai menunggu sebentar iagipun tak sabar."
"Aaaah... siapa bilang begitu?"
Sangkal Chin hui-hou cepat-cepat dengan lantangnya.
"Kongcu telah bersedia menjadi saksi, lohu tak berani merepotkan kongcu untuk turun tangan membuat lingkaran tersebut, maka..."
"Maka congkoan pum bersedia untuk membantu?"
Sambung Sun Tiong lo kemudian. Chin hui-hou tertawa.
"Ini mah termasuk tugas, bukannya masalah bantu membantu."
Tiba-tiba Sun Tiong lo menarik muka, kata-nya.
"Bukankah sudah kita janjikan jikalau lingkaran itu cuma satu kaki dua jengkal luasnya, kenapa kau membuat seluas satu kaki lima jengkal? Dan sebenarnya apa maksudmu itu!?"
Dengan berlagak seakan-akan tidak habis mengerti, Chin Huihou balas berseru.
"Disini tidak ada alat pengukur, darimana kau bisa tahu kalau lingkaran ini luasnya satu kaki lima jengkal ?"
Pelan-pelan Sun Tiong lo menggeleng katanya.
"Aku sih tidak keberatan untuk menganggap benar lingkaran yang dibuat itu, cuma bagaimanapun juga toh congkoan adalah salah seorang yang terlibat dalam peristiwa itu ? Rasanya tidak pantas bukan bila kau juga yang membuat lingkaran tersebut ?"
Mendengar perkataan itu, diam-diam Chin Huihou menyumpah didalam hatinya.
"Anjing kecil, sialan kau ! siapa suruh kau banyak mencampuri urusan orang?"
Meski begitu, diluar dia tetap bersikap tenang, sahutnya.
"Oya,... lohu telah lupa akan hal ini, maaf, maaf kalau begini aku telah berbuat salah !"
"Nah begitu baru benar"
Seru Sun Tiong lo sambil tertawa.
"sekarang, akulah yang akan membuat lingkaran tersebut!"
Seraya berkata, dengan alas sepatunya dia menyeka lingkaran yang telah dibuat tadi, kemudian dengan mempergunakan batu runcing sekali lagi membuat sebuah lingkaran.
Kali ini, lingkaran tersebut luasnya cuma satu kaki saja, melihat itu dengan kening berkerut Cbin Hui hou segera memprotes.
"Kongcu, apakah lingkaran ini tidak terlampau kecil?"
"Oooh kalau begitu berapa besarkah baru bisa dihitung sebagai besar?"
"Bukankah kongcu tadi sudah bilang, luas lingkaran tersebut harus satu kaki dua jengkal."
"Congkoan"
Tukas Sun Tiong lo lagi.
"bukankah sudah kau katakan tadi, disini tak ada alat pengukur, apa yang terlukis kita anggap lukisan itu benar?"
Chin Hui hou segera terbungkam, tak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar ..Lama kemudian dia baru bisa termenung.
"Sungguh aneh sekali kejadian ini, ilmu Han pok ciang yang kumiliki baru bisa menunjukkan kehebatannya dari jarak satu kaki dua jengkal kedepan secara kebetulan sekali anjing kecil ini membuat lingkaran seluas satu kaki ?"
"Jangan-jangan anjing kecil ini tahu akan kepandaian silat serta tenaga dalam yang kumiliki? Tapi, hal ini mana mungkin ? Aaaaaah... mungkin kebetulan saja dia berbuat begitu !"
Sementara dia masih merenungkan persoalan itu, Sun Tiong lo juga manfaatkan kesempatan tersebut untuk berbisik kepada Bau ji.
"Keparat tua ini memiliki kepandaian silat yang sangat liehay, selain itu juga pernah melatih ilmu Han pok ciang yang liehay, itulah sebabnya sengaja siaute membuat sebuah lingkaran seluas satu kaki agar kehebatan ilmu pukulannya itu tak bisa digunakan sebagaimana mestinya."
"Jika toako bertarung melawannya nanti, hati-hati dengan kuku tajam diujung kesepuluh jari tangannya, sebab kuku tersebut sangat beracun, siaute tidak tahu kepandaian apa yang dimiliki toako sekarang, untuk keamanannya saja, lebih baik kau kerahkan tenaga khikang untuk melindungi badan."
Bauji melirik sekejap kearah Sun Tinoglo lalu manggut-manggut tanda mengerti. Kebetulan sekali Chin Hui hou melihat hal itu, tanpa terasa ujarnya kepada Sun Tiong lo.
"Kongcu, apa maksudmu yang sebenarnya?"
"Apanya yang kau maksudkan ?"
Sun Tiong lo pura pura berlagak pilon dan tak mengerti.
"Barusan aku lihat dia sedang manggut-manggut kepada diri Kongcu, apa maksudnya manggut-manggut tersebut ?"
Sun Tiong lo segera tertawa.
"Betul, Sun kongcu memang sedang manggut-manggut, dia berbuat demikian karena minta ijin kepadaku untuk mulai turun tangan, apakah salah perbuatannya itu?"
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Chin hui hou berkata.
"Asal kongcu adil...."
Belum habis ucapan itu, Sun tianglo sudah menukas dengan nada yang tak senang hati.
"Chin cong koan, setelah mengucapkan perkataan itu, kau harus minta maaf!"
Dalam keadaan demikian, terpaksa Chin hui-hou haruslah mengendalikan hawa amarahnya yang berkobar, katanya kemudian.
"Baik-baik, anggap saja aku salah bicara, harap kongcu sudi memaafkan!"
Sun Tiong lo masih melotot sekejap lagi ke-arahnya sebelum katanya kemudian.
"Harap kalian berdiri ditengah lingkaran tersebut, asal kaki masih menginjak digaris lingkaran ini masih dianggap belum keluar dari garis.!"
Maka Bauji dan Chin Hui hou segera melangkah masuk ke dalam garis lingkaran dan mengambil ancang-ancang.
Walaupun garis lingkaran tersebut seluas satu kaki saja, akan tetapi setelah kedua belah pihak sama sama masuk kecalam lingkaran selisih jarak diantara mereka masih-ada delapan jengkal lebih, sehingga siapapun tak akan mampu untuk menjawil badan orang dengan uluran tangannya.
Dengan cepat kedua orang itu mengerahkan tenaga dalamnya dan bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan..Waktu itulah Sun Tionglo telah berkata kembali "Ketika aku bertepuk tangan nanti, berarti pertarungan bisa segera dimulai"
Kedua orang itu sama-sama mengangguk, dengan tenang merekapun bersiap-siap menunggu bunyi tepukan tangan.
Sun Tionglo memandang sekejap kearah Chin Hui-hou, kemudian memandang pula ke arah Bauji, setelah itu baru serunya dengan lantang--"Aku harap kalian berdua ber-siap2!"
Menyusul ucapan tersebut, tangannya segera bertepuk satu kali sebagai pertanda dimulai nya pertarungan.
Anehnya, meski tanda dimulainya pertarungan telah dibunyikan, namun dua orang yang saling berhadapan muka dalam lingkaran garis masih belum bergerak sedikitpun juga.
Menyaksikan hal itu, diam-diam Sun Tiong Io manggut-manggut, tapi iapun merasa amat terkejut.
Dia manggut-manggut karena kedua belah pihak sama-sama berpengalaman dan cukup mampu mengendalikan diri, diapun mengerti, disaat masing-masing pihak tidak mengetahui dalam tidaknya tenaga lwekang yang dimiliki lawan, memang lebih baik bertahan daripada melancarkan serangan secara membabi buta.
Yang membuat hatinya terkejut adalah, meski ia sudah berkumpul hampir sehari semalam dengan Bau ji, tapi berhubung banyak persoalan yang dibicarakan sampai-sampai dia tak sempat membicarakan tentang hal kepandain silat.
Oleh karen itu dia tidak tahu sampai dimanakah taraf kepandaian silat serta tenaga dalam yang dimiliki Bau ji, apalagi setelah dia mengetahui asal usul Chin Hui hou yang sebenarnya, mau tak mau dia menjadi kuatir juga bagi keselamatan kakaknya.
Dalam pada itu, dua orang manusia yang berada dibalik garis lingkaran sudah mulai bergerak maju ke depan.
Cuma kedua belah pihak sama-sama melakukan tindakan tersebut dengan amat berhati-hati, oleh sebab ini merekapun hanya bergeser dengan mengitari garis lingkaran tersebut.
Dengan seksama Sun Tiong lo mencoba untuk memperhatikan keadaan didalam arena, tiba-tiba alis matanya bergerak-gerak dan sekulum seryuman segera menghiasi ujung bibirnya.
Rupanya ia telah menemukan banyak sekali titik kelemahan dibalik posisi pertahanan dari Chin Hui hou, betul kepandaian silat yang dimilikinya amat hebat, tenaga dalamnya juga amat sempurna, tapi entah mengapa titik kelemahan banyak terdapat dalam pertahanannya.
Dia yakin seandainya tenaga dalam yang dimiliki Bauji seimbang dengan tenaga dalam yang dimilikinya, seharusnya dia bisa melihat kelemahan-kelemahan tersebut.
Tapi, setelah ditunggunya sekian lama tanpa menyaksikan Bau ji melancarkan serangan, sekali lagi alis matanya berkenyit, dari situ dia lantas mengambil kesimpulan bahwa Bauji belum melihat titik kelemahan yang ada dalam sistim pertahanan dari Chin Hui hou tersebut.
Tanpa terasa sinar matanya dialihkan kembali kearah Bauju dengan cepat perasaan hati nya menjadi tenang kembali.
Sekalipun Bau ji tidak berhasil menjumpai titik kelemahan yang ada dalam sistim pertahanan dari Chin Hui hou, namun sistim pertahanan Bau-ji sendiripun tidak terpadat titik kelemahan.
Menurut pengamatannya delapan puluh persen si anak muda itu dapat menangkan pertarungan tersebut.
Rupanya Chin Hui hou telah sertakan tenaga nya sebesar sepuluh bagian, dalam keadaan begitu Bauji tak berani bertindak gegabah, dia pun menyongsong datangnya ancaman dengan tenaga yang besar pula.
Bisa dibayangkan andaikata bisa terjadi benturan kekerasan dalam garis lingkaran satu kaki, menang kalah mungkin akan segera ditentukan.
Pada detik terakhir sebelum tenaga pukulan kedua belah pihak saling membentur, mendadak Chin hui-hou membuyarkan serangannya dan bergeser mundur, kemudian telapak tangannya yang kiri, dari arah kanan bergerak menuju kesebelah kiri dan membacok bahu kiri serta lengan Bau ji dengan ganas dan buas.
Perubahan ini selain terjadi amat cepat dan luar biasa, keji dan berbahaya pula.
Siapa tahu Bau ji sudah mengadakan seksama diwaktu Chin hui hou bergerak mundur tadi, Bau ji telah berputar kesamping kiri, lalu kaki kanannya melangkah dengan gaya tujuh bintang, lengan kanannya digetarkan dan menolak telapak tangan kiri Chin hui-hou.
Dalam keadaan ini, posisi Chi hui hou menjadi separuh bagian menghadap Bau ji, dengan cepat lengan kanan Bauji mementalkan tapak tangan kiri lawan, kemudian sikutnya menyodok ke belakang menumbuk iga kanan musuh.
Chin Hui-hou yang menyaksikan akal liciknya gagal, apalagi setelah merasakan telapak tangan kirinya kena dipentalkan oleh Bau ji, dengan cepat dia sadar kalau gelagat tidak menguntungkan, untuk mundur setengah langkah guna menghindari serangan itu tak sampai lagi, tak ampun sikut lawan menyodok telak diatas iganya.
Walaupun dibilang ia cukup cekatan untuk mundur ke belakang tapi iga adalah bagian tubuh yang lemah dan tak boleh kena tersodok, tak ampun ia berseru tertahan dan mendur ke belakang dengan sempoyongan tapi masih belum keluar dari lingkaran Bau ji tentu saja enggan memberi kesempatan kepada lawannya untuk mengatur napas, tiba-tiba sepasang telapak tangannya didorong ke depan dengan menggunakan tenaga pukulan sebesar sembilan bagian.
Belum lagi Chin Hui hou berdiri tegak, tubuhnya sudah terpental ke belakang oleh pukulan itu.
Dengan cepat badannya melayang keluar dari garis lingkaran, walaupun ia berniat untuk meronta sayang sudah tak bertenaga Iagi..
"Blaaam,..,"
Tak ampun tubuhnya terpental dan jatuh terbanting lebih kurang satu kaki diluar lingkaran itu, kulit muka sebelah kirinya terpapas oleh hancuran batu kerikil sehingga terluka dan mengucurkan darah.
Pada saat itulah Sun Tiong lo segera berteriak keras.
"Berhenti! pertarungan telah selesai, aku akan mengumumkan bahwa Chin Cong koan adalah pemenangnya !"
Waktu itu, Bau ji sudah mendapat kontak batin dengan Sun Tiong lo, maka dia berpura-pura menarik muka sambil bertanya.
"Sun-heng, adilkah keputusanmu itu ?"
"Tentu saja adil !"
Jawab Sun Tiong lo pura-pura tidak mengerti. Sambil menuding Chin Hui hou yang sedang merangkak bangun dari atas tanah, seru Bau ji.
"Saudara Sun, seandainya matamu belum buta, tentunya kau dapat melihat dengan jelas bukan kalau aku belum keluar dari garis lingkaran? Kini yang terjatuh diluar lingkar itu adalah dia bukan aku,kenapa kau mengatakan aku yang kalah?!"
Sun Tiong lo segera tertawa.
"Saudara, apakah kau lupa dengan janji kita semuIa?"
"Janji apa?"
"Selama pertarungan berlangsung dilarang melukai orang, barang siapa melanggar hal ini orang yang terlukalah yang akan dimenangkan sebagai pemenang."
"Ooooh..."
Bau-ji berseru tertahan, dan kemudian sambil mendepakkan kakinya ketanah ia berseru.
"aku lupa.... aku benar benar sudah lupa, kalau tidak ... aaaai."
Dalam pada itu Chin hui hou sudah merangkak bangun dari atas tanah, dengan kemarahan yang berkobar-kobar serunya kepada Sun tiong lo.
"Pandai benar kalian berdua bermain sandiwara !"
Sun Tionglo tidak menyangkal malahan katanya sambil tertawa.
"Chin congkoan, rupanya kau sudah mengetahui kalau aku sedang bermain licik untuk membohongi mu!?"
"Hmm.... Lohu toh bukan seorang anak yang berusia dua tahun, memangnya bisa kau tipu mentah-mentah?!"
Teriak Chin hui hou dengan geramnya sambil menggigit bibir. Sekali lagi Sun Tiong lo tertawa.
"Bukan begitu maksudku, yang benar toh aku telah bersungguh hati menjadi seorang saksi yang adil."
Dengan geramnya Chin hui hou melotot sekejap kearah Sun tionglo dan katanya.
"Lohu tidak percaya, seandainya dia yang terluka, kau akan berdiam diri belaka."
Sun Tiong lo segera berlagak seakan-akan dia tertegun dan tidak habis mengerti.
"Congkoan, aneh benar perkataanmu itu, andaikata Sun heng yang terluka, sudah barang tentu aku akan menyatakan dirinya sebagai pemenang, selain berbuat begitu, apa pula yang bisa kulakukan lagi?!"
Chin Hui hou segera mendengus dingin.
"Hmm! bagaimanapun juga, sekarang lohu sudah mengerti, makin kau berkata begitu, hal mana menunjukkan kalau kau pasti mempunyai tipu musiihat!"
Sun Tiong lo segera tertawa terbahak-bahak sambil berkeplok tangan.
"Haaahhh ...haaahhh... haaahhh congkoan memang tak malu disebut seorang manusia yang hebat!"
Chin Hui hou mengerutkan dahinya makin kencang, kembali ia berkata lagi.
"Kau tak usah mengucapkan kata kata yang bernada ejekan lagi, seandainya lohu hebat, tak nanti aku akan termakan oleh tipu muslihatmu itu, lingkaran kecil inipun tak akan menyusahkan diriku."
Sun Tiong lo mengerdipkan matanya berulang kali.
"Maksudku, beruntung sekali congkoan yang terluka...."
Dia berkata.
"Andaikata dia yang terluka, mau apa kau?"
Tukas Chin Hui hou dengan mata melotot. Sun Tiong lo tertawa.
"Gampang sekali, sekembalinya dari sini nanti bila nona kalian bertanya maka aku akan menyangkal telah manjadi saksi, atau mungkin aku pun akan menambahi dengan sepatah dua patah kata, sudah pasti akan tercipta sebuah cerita yang menarik sekali!"
Mendengar perkataan itu, Chin Hui hou menjadi naik pitam sehingga mukanya merah membara dan matanya berapi api. Sampai lama kemudian, dia baru bisa mengucapkan sepatah kata.
"Kau... kau...!"
Sun Tiong lo tertawa terbahak-bahak.
"Haaah... haahh... kenapa dengan aku?"
Ejeknya segera.
"Hati-hati kau lain waktu!"
Ancam Chin Hui hou sambil mendepakkan kakinya berulang kali. Sun Tiong lo mendengus, dengan serius ka-tanya.
"Chin congkoan, dengarkan baik baik, kali ini kau yang telah mencari urusan dengan kami, kau toh tahu kalau Sancu kalian sudah ada peraturan yang ketat, tapi demi melampiaskan rasa mangkel yang terpendam didalam hati, kau tak segan-segan menggunakan akal licik."
"Betul aku adalah seorang sastrawan lemah yang tidak mengerti akan ilmu silat, tapi berbicara soal kecerdasan, kau masih selisih jauh dibandingkan dengan diriku, maka aku telah mempergunakan siasat melawan siasat untuk memberi pelajaran kepadamu! "Jika kau tidak puas, tidak apalah sebentar bila bertemu dengan nona kalian nanti, atau menunggu setelah Sancu kalian kembali, kita boleh berbicara secara blak-blakan, coba suruh dia yang menentukan siapa benar siapa salah!"
Chin Hui hou menjadi berdiri bodoh, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun ia membalikkan badan dan berlalu dari situ dengan langkah lebar.
Belum berapa puluh langkah dia pergi, Sun-Tionglo telah berseru kembali.
"Chin congkoan, begitu beranikah kau pulang seorang diri dengan meninggalkan kami disini?"
Hampir meledak dada Chin Hui hou saking gusarnya, tapi diapun tak bisa berbuat apa-apa.
Bau ji dan Sun Tiong lo saling berpandangan sekejap, kemudian sambil bergandengan tangan mereka beranjak dari situ.
Sepanjang jalan, mereka berdua bergurau dan bercanda sendiri, hakekatnya mereka tidak menggubris Chin Hui hou yang berada di belakang tubuhnya itu.
-ooo0dw0oo-Dengan wajah serius Chin Hui hou berdiri didepan seorang pemuda, sikapnya menghormat sekali.
Pemuda itu memakai baju berwarna hitam bermantel hitam dan mempunyai selembar wajah yang putih.
Selain muka dan giginya, boleh dibilang pemuda itu berwarna serba hitam.
Ketika itu dengan suara yang dingin dan kaku pemuda itu sedang berkata.
"Lanjutkan !"
Chin Hui hou mengiakan, dengan hormat dia berkata.
"Akhirnya hamba kena dipukul sehingga terpental keluar dari garis lingkaran !"
Pemuda itu mendengus dingin "Hmm! Apakah kau tidak mempergunakan ilmu Han pok ciang ?"
"Garis lingkaran itu cuma satu kaki, padahal tenaga dalam yang hamba miliki sekarang..."
Tidak menunggu Chin Hui hou menyelesaikan kata-katanya, pemuda itu telah menukas.
"Lima tahun sudah lewat, tiada kemajuan apa-apa yang bisa kau capai, betul-betul goblok !"
"Selanjutnya hamba pasti akan berlatih dengan lebih rajin lagi!"
Ujar Chin Hui hou sambil membungkukkan badan memberi hormat.
"Apakah nona mengetahui akan hal ini ?"
Tanya sang pemuda dengan mata melotot. Chin Hui hou menjadi sangsi dan tidak menjawab.
"Apakah kau mengidap penyakit ?"
Tegur sang pemuda dengan kening berkerut. Chin Hui-hou segera tertawa getir.
"Hamba tidak melaporkan kejadian ini kepada nona."
Sahutnya.
"Kenapa?"
"Oooh, kongcu, sampai matipun hamba tidak berani mengatakannya keluar !"
Keluh Chin Hui-hou sambil menghela napas sedih.
"Katakan saja berterus-terang!"
Perintah pemuda itu dengan suara dalam.
"bila ada urusan, akulah yang akan bertanggung jawab !"
"Semenjak kedatangan Sun Tionglo si anjing kecil itu, nona tampak agak berubah..."
Mencorong sinar marah dari balik mata pemuda itu, bentaknya secara tiba-tiba.
"Chin Hui-hou, kau mencari mampus ?!"
Gemetar keras sekujur badan Chin Hui hour dengan menunjukkan sikap patut dikasihani, katanya.
"Kongcu harap maklum, bukankah tadi sudah hamba katakan bahwa hamba tak berani berbicara apa adanya."
"Baik, lanjutkan perkataanmu itu, bila ucapanmu memang ada dasarnya, telah kukatakan tadi aku akan bertanggung jawab untukmu, apa yang telah kukatakan tentu tak akan kuingkari dengan begitu saja, cuma kalau sampai kau berani bicara sembarangan hmmm..."
"Kongcu, sekalipun hamba bernyali besar juga tak akan berani berbicara sembarangan!"
Buru-buru Cnin Hui hou berseru.
"Katakan secara langsung, tak usah berputar-putar kayun lagi !"
Seru pemuda itu kemudian.
"Pada malam itu juga nona telah mengirimnya keatas loteng impian dan membiarkan si anjing kecil rudin itu berdiam disana, sejak waktu itu hamba sudah merasa curiga sekali !"
"Lebih kurang pada kentongan kedua, tiba-tiba nona naik keatas loteng seorang diri, kongcu, waktu itu si pelajar rudin she Sun masih ada diruang tengah dan minum arak bersama Beng loji."
"Yaa, sudah pasti dia pergi ke sana untuk mengambil barangnya yang tertinggal,"
Sela pemuda itu. Chin Hui hou tertawa licik, kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali. Tiba-tiba pemuda itu mencengkeram pergelangan tangan Chin Hui hou dan membentak dengan suara dalam.
"Bukan? Darimana kau bisa tahu kalau bukan?"
Kena dicengkeram pergelangan tangannya, Chin Hui hou merasakan tulang pergelangan tangannya sakit seperti mau patah, sambil menahan sakit kembali serunya. -ooo0dw0oo-
Jilid 7
"KONGCU, lepas tangan, hamba akan segera membeberkan keadaan yang sebenarnya !"
Pemuda itu segera mengendorkan tangannya lalu berkata.
"Cepat katakan kau toh juga mengerti dengan tabiatku!"
Chin Hui-hou tak berani berayal, dia lantas berkata.
"Nona setelah masuk ke dalam loteng impian, tidak keluar lagi, menanti pelajar rudin itu sudah selesai minum arak dan kembali ke loteng impian untuk beristirahat nona masih berada didalam!"
Paras muka si pemuda yang sebenarnya pucat pias tak berdarah itu, kini berubah menjadi semakin menakutkan bahkan diantara warna pucat terselip warna kehijau-hijauan yang menyeramkan, keadaan itu tak ada bedanya dengan setan gantung hidup.
Dengan mencorong sinar hijau dari balik matanya dia berseru.
"Waktu itu kau berada dimana ?"
"Aku sedang melayani si anjing rudin itu minum arak !"
Mendengar perkataan itu, sang pemuda menjadi tertegun.
"Kentut !"
Makinya kemudian. Buru-buru Chin Hui-hou memberi penjelasan "Yaa, jika kukatakan tak seorangpun yang percaya, tapi sesungguhnya perintah ini datangnya dari sancu sendiri !"
Pemuda itu menjadi berdiri bodoh, setelah mengerdipkan matanya berulang kali, katanya.
"Masa ada kejadian seperti ini ? Coba kau teruskan !"
"Untuk menyelidiki keadaan yang sebenar nya dari pelajar rudin ini, diam diam kukuntit diam-diam dari belakangnya, karena itulah aku baru tahu kalau sinona berada diatas loteng impian lebih dahulu."
"Berada dalam loteng itu, mula-mula mereka tidak memasang lampu, setelah berbicara sekian lama, diselingi tertawa cekikikan dari nona, akhirnya mereka baru memasang lentera."
Mencorong sinar bengis dari balik mata pemuda itu, tukasnya secara tiba-tiba.
"Sejak anjing kecil itu naik ke loteng, sampai lentera itu dipasang, berapa lama sudah lewat?"
Chin Hui-hou berpikir sejenak, kemudian sahutnya.
"Lebih kurang sepertanak nasi lamanya!"
Dengan penuh kemarahan dan rasa benci yang meluap, pemuda itu menyumpah.
"Perempuan rendah yang tak tahu malu !"
Setelah berhenti sejenak, ujarnya kepada Chin Hui hou.
"Teruskan ceritamu !"
"Baik, kemudian secara tiba tiba hamba mendengar suara pintu loteng berbunyi, lalu nona keluar dari sana dan kembali ke belakang, itulah kejadian yang berlangsung pada malam anjing kecil itu datang kemari."
"Apa pula yang telah terjadi hari ini ?"
"Tengah hari tadi, nona telah berkunjung ke loteng impian ketika kembali lagi ke gedung belakang, dia lantas menitahkan kepada Kim Poo-cu untuk menghadap ke ruang tengah sesudah anjing-anjing kecil itu bersantap."
"Ada urusan apa ?"
Sengaja Chin Hui hou menghela napas panjang.
"Aaaa... nona membawa anjing anjing kecil itu berkunjung ke loteng Hian ki lo !"
Katanya. Agak tertegun si anak muda itu setelah mendengar perkataan itu, serunya cepat.
"Aaaah... masa terjadi peristiwa semacam ini ? Mereka....mereka..."
Diam-diam Chin hui hou merasa girang sekali sesudah menyaksikan sikap pemuda itu dan sambungnya.
"Katanya dia hendak menemani anjing kecil itu untuk melihat miniatur dari bukit kita!"
"Oooh..."
Pemuda itu berseru tertahan, sesudah berpikir sebentar, lanjutnya.
"yaa .... Mungkin saja begini."
Dengan cepat Chin hui hou menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya.
"Kongcu, apakah kau lupa selanjutnya nona juga menitahkan hamba untuk mengajak anjing anjing kecil itu mengitari seluruh tanah perbukitan, kalau memang sudah melihat miniaturnya, buat apakah pula?"
"Betul, perkataanmu memang masuk diakal"
Sela pemuda itu.
"sudah pasti mereka mempunyai suatu hubungan rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain!"
Chin Hui hou menghela napas panjang.
"Aaaa .... harap kongcu maklum, setelah menunjukkan gejala yang serba mencurigakan ini, masih beranikah hamba membicarakan soal terlukanya diri hamba ini kepada nona? seandainya kau tidak percaya, sebentarhamba akan pergi mencoba, tanggung bukan saja nona tak akan membelai diri hamba, sebaliknya justru akan memberi pelajaran dan peringatan kepada diriku!"
Pemuda itu mengerutkan alis matanya kencang-kencang, kemudian berkata.
"Cin Hui hou, kalau begitu cobalah pergi melapor kepadanya"
Setelah berhenti sejenak, kembali ia berkata.
"Kepulanganku kali ini diketahui siapa lagi?"
Chin Hui hou menggelengkan kepalanya berulang kali. Dengan cepat pemuda itu berbisik lagi.
"Simpan rahasia ini baik, aku hendak melakukan penyelidikan secara diam diam! Nah..! sekarang kau boleh pergi!"
Dengan riang gembira Chin hui hou beranjak pergi, dia bersyukur karena siasat liciknya berhasil.
Sepeninggalan Chin hui hou, pemuda itupun menggerakkan tubuhnya meninggalkan tempat itu, sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB SEMBILAN PERJAMUAN malam yang diselenggarakan pada malam ini boleh dibilang merupakan suatu perjamuan yang istimewa.
Tempatnya didalam ruangan tengah perkampungan keluarga Beng, tamu dan tuan ru mah berjumlah empat orang.
Tuan rumahnya adalah Beng Liau-huan dan nona, sedang tamunya tentu saja Bauji dan Sun Tiong lo.
Pelayan yang melayani arak selama perjamuan adalah Beng Seng, perjamuan berlangsung dengan riang gembira.
Sikap Bauji juga mengalami banyak perubahan, sekalipun dalam sepuluh pertanyaan yang diajukan dia hanya menjawab tiga empat buah, namun sikapnya terhadap orang lain tidak sedingin semula.
Dalam perjamuan tersebut, sambil tertawa nona itu bertanya pada Sun Tiong lo.
"Kongcu, setelah melihat keadaan dari tanah perbukitan tersebut, bagaimanakah perasaanmu ?"
Sun Tiong lo tertawa.
"Bukit ini boleh dibilang sangat berbahaya dan mengerikan sekali"
Sahutnya. Sesudah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Cuma belum bisa dibilang benar-benar dapat makan manusia !"
Nona itu cuma berseru pelan dan tidak bicara lagi. Beng Seng yang berada disisinya segera menyela.
"Kongcu, mengertikah kau kenapa bukit ini dinamakan Bukit Pemakan Manusia ?!"
Sun Tionglo menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Justeru aku ingin mengajukan pertanyaan ini kepada nona !"
Katanya. Beng Seng memandang sekejap ke arah si nona, akhirnya dia batalkan niatnya untuk berbicara. Saat itulah Beng Liau-huan segera berkata.
"Bolehkah lohu mengajukan satu pertanyaan kepada Kongcu ?"
"Silahkan cengcu !"
Kata Sun Tiong lo dengan sungkan. Dengan wajah serius dan bersungguh-sungguh Beng Liau huan berkata.
"Sekarang kongcu sudah memahami peraturan tempat ini terhadap tamu dari luar, dikala batas waktu kongcu menjadi tamu agung di tempat ini sudah habis dan harus melarikan diri nanti, ada harapankah bagi kongcu untuk kabur dari sini dengan selamat, terutama setelah kau saksikan apa adanya di atas bukit ini ?"
Sun Tiong lo segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
"Aku tidak lebih cuma seorang sastrawan, jangankan bukit ini memang berbahaya sekali, sekalipun aku diperbolehkan pergi dengan begitu saja belum tentu aku mampu untuk menyeberangi jeram tersebut dengan begitu saja."
"Oooh... kalau begitu, setelah batas waktu kongcu menjadi tamu agung telah habis, apa rencana kongcu selanjutnya ?"
Sun Tiong lo segera menghela napas panjang.
"Aaaii... mungkin terpaksa menunggu tibanya saat kematianku !"
"Seandainya benar-benar begitu, bukankah kongcu benar-benar akan di lalap oleh bukit ini !!!"
Kata Beng Liau huan dengan kening berkerut. Sun Tiong lo menggelengkan kepalanya berulang kali ujarnya.
"Bukit tak bisa makan manusia, tapi samudra dapat menelan manusia, seandainya aku benar-benar harus mati setelah batas waktuku menjadi tamu agung disini habis, maka kematianku itu di sebabkan oleh sekawan manusia jahat, dengan bukitnya sendiri sama sekali tak ada sangkut pautnya."
"Kongcu, kau menuduh ayahku adalah orang jahat?!"
Tegur sinona dengan kening berkerut. Dengan wajah serius Sun tionglo berkata.
"Bila aku bicara terus terang nanti, diharap nona jangan marah, terus terang saja ayahmu adalah manusia yang amat jahat, bahkan merupakan pemimpin dari sekawanan manusia jahat dia adalah gembong iblis pembunuh manusia!"
Mendengar perkataan itu, sinona segera bangkit berdiri dari tempat duduknya, dan dengan suara dalam serunya.
"Besar benar nyalimu, sungguh berani mengucapkan kata-kata seperti itu ... !"
Sun Tionglo tertawa.
"Jangan marah dulu nona, terlebih dulu aku mohon maaf kepadamu nona dan lagi, nonapun jangan lupa, sekarang aku masih tamu agung dari bukit kalian!"
Nona itu mendengus.
"Sekalipun begitu, pantaskah kau memberi keritikan terhadap tuan rumahnya ?"
"Aku rasa ini sudah seharusnya !"
Jawab pemuda itu sambil tertawa hambar. Nona itu segera mencibirkan bibirnya, dengan tidak senang hati dia berseru.
"Seharusnya begitu ? Kenapa ?"
Sun Tiong lo tertawa.
"Kalau toh diduiia ini terdapat tuan rumah yang menghormat tamunya sebagai tamu agung lebih dulu, kemudian setelah lewat batas waktunya menjegal tamu agungnya dengan sekehendak hati, maka sudah sepantasnya jika di dunia inipun terdapat tamu agung yang makan makanan tuan rumah, minum minuman tuan rumah, tapi mencaci maki pula tuan rumah."
Mendengar ucapannya yang mencampur baurkan antara kata "tuan rumah"
Dengan "tamu agung"
Itu, lama kelamaan nona itu menjadi geli sendiri sehingga akhirnya tertawa cekikikan. Setelah tertawa, berkatalah nona itu.
"Pandai benar kau berbicara, bagaimana kalau kita jangan mempersoalkan masalah ini lagi ?"
Sun Tiong lo juga turut tertawa.
"Betul, sekarang adalah waktunya untuk bersantap, kita memang tidak boleh berbicara lagi!"
Maka semua orangpun mulai bersantap dan tidak berbicara apaapa lagi. Senda gurau antara Sun Tiong lo dengan si nona, serta sebutan mereka yang menggunakan istilah "kita"
Dengan cepat membuat se orang pemuda yang bersembunyi diluar jendela menjadi mendongkol setengah mati hingga dadanya hampir saja meledak.
Selesai bersantap dan air teh dihidangkan dengan supel nona itu berkata kepada Sun Tiong lo.
"Kongcu, masih ingatkah kau akan satu persoalan?"
Sun Tiong lo menggelengkan kepala berulang kali.
"Sayarg daya ingatanku jelek sekali, tolong nona suka mengingatkannya kembali."
Dengan mata melotot nona ini mendelik sekejap kearah Sun Tiong lo, kemudian serunya.
"Hei, kau benar-benar tidak ingat, ataukah pura-pura berlagak tidak ingat?!"
"Harap nona mdi memaafkan, aku benar benar kelupaan!"
"Hmm! Agaknya kau tidak ada urusan lagi yang hendak dibicarakan denganku sekarang?"
Mendengar perkataan tersebut, dengan cepat Sun Tiong lo memahami kembali maksud perkataan dari nona itu, cepat dia tertawa.
"Aaah . .. tidak, tidak, nona, sekarang aku sudah teringat kembali..."
"Kalau begitu katakan sekarang, atau lebih baik kita berpindah tempat saja ?"
Dengan sorot matanya Sun Tiong lo memperhatikan nona itu sekejap, ketika dilihatnya nona itu memang berminat untuk berganti tempat, maka sahutnya.
"Yaa... urusan ini memang menyangkut urusan pribadi, aku berharap kita bisa berganti tempat saja!"
Nona itu pura-pura termenung sejenak, kemudian diapun mengangguk "baiklah!"
Kepada Beng liau huan katanya kemudian. Beng cengcu, tolong pinjam sebentar kamar baca dari cengcu itu, boleh bukan?"
Tentu saja Beng Liau huan tidak berani menampik, sahutnya.
"Aaaah, nona terlalu sungkan, biar lohu suruh Beng Seng membersihkannya lebih dulu."
"Tidak usah merepotkan Beng Seng, aku hanya pinjam sebentar saja."
Seraya berkata dia lantas beranjak dan meninggalkan tempat itu....
Sun Tiong lo sendiriput dengan cepat mengerling sekejap kearah Bau-ji, lalu setelah meminta maaf kepada Beng Liau huan, denganmengikuti di belakang nona berjalan menuju kesebuah ruangan disebelah kanan ruangan tengah.
Beng Liau huan tidak tahu apa yang terjadi, memandang bayangan punggung dari Sun Tiong lo, tiba-tiba gumamnya.
"Mata yang jeli memang pandai memilih mana yang enghiong, sancay, siancay !"
Dengan sikap acuh tak acuh Bauji mendengus dingin.
"Hmm, saudara Sun memang enghiong, tapi mata sinona itu belum tentu jeli...!"
Katanya. Beng Liau huan memandang sekejap kearah Bauji, kemudian katanya .
"Kongcu, kau berasal dari mana ?"
Pokok pembicaraan telah dialihkan ke masalah lain, tampaknya dia bermaksud untuk mengajak Bau ji berbincang-bincang.
Sekarang Bau Ji sudah mengetahui kedudukan yang sebanarnya dari Beng Liau huan dengan pelayannya, oleh karena itu sikapnya terhadap Beng Liau huan saat ini juga jauh berbeda sekali.
Mendengar pertanyaan tersebut, dia lantas menjawab.
"Aku tinggal di ibu kota !"
Beng Liau huan tertawa kembali ujarnya.
"Jika kongcu bersedia memaafkan kecerobohan lohu, ingin sekali lohu mengajukan satu pertanyaan lagi !"
"Aaaah, mana aku berani, bila cengcu ada pertanyaan, silahkan saja diutarakan."
Beng Liau huan memandang sekejap kesekeliling tempat itu, kemudian sambil merendahkan ucapannya dia bertanya.
"Karena soal apakah kongcu berkunjung ke atas bukit ini ?"
"Soal ini...."
Sepasang alis Bau ji segera berkenyit kencang.
Dia benar-benar merasa tak mampu untuk melanjutkan perkataannya, diapun merasa tak bisa tidak untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Beng Liau huan kepadanya itu, maka setelah mengucapkan kata "soal ini", ia menjadi terhenti dan selama beberapa saat lamanya tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya.
Beng liau huan adalah seorang jago kawakan yang sudah lama melakukan perjalanan didalam dunia persilatan tentu saja dia pun dapat mengetahui kesulitan orang, maka dengan perasaan minta maaf katanya.
"Lohulah yang salah, tidak seharusnya mengajukan pertanyaan yang menyusahkan diri kongcu."
Belum habis dia berkata, Bau ji telah menyambung.
"Aku datang kemari untuk beradu untung!"
Jawaban ini sama sekali diluar dugaan Beng Liau huan, untuk beberapa saat dia sampai tertegun dibuatnya.
"Adu untung apa?"
Bau jl tertawa.
"Ada orang yang hilang disini, aku bertanggung jawab untuk menemukannya kembali, sudah setahun lamanya seluruh dunia persilatan kujelajahi tanpa hasil, kata teman, kemungkinan besar orang itu berada dibukit pemakan manusia...."
"Siapakah nama orang yang sedang kongcu cari itu?"
Tanpa terasa Beng Liauhuan bertanya lagi. Mendengar perkataan itu, satu ingatan dengan cepat melintas didalam benak Bau ji, sahutnya kemudian.
"Orang itu she Kwan aku rasa cengcu tak akan kenal dengannya !"
Beng Liauhuan segera tertawa getir..
"Sudah puluhan tahun lamanya lohu berdiam disini, tidak sedikit orang yang pernah ku jumpai selama ini, ada yang temanku, ada pula yang merupakan musuh lohu, karena itu aku berniat untuk menanyakan nama dari orang yang sedang dicari kongcu itu.
"Apakah ada yang she Kwa ?"
Sela Bau ji. Beng liau huan segera menggeleng "Maaf, tidak banyak orang yang berasal dari marga itu, seandainya ada, lohu pasti akan teringat selalu!"
Dengan perasaan kecewa Bau ji berseru tertahan lalu tidak berbicara apa-apa lagi. Terdengar Beng Liau huan kembali bertanya.
"Apa hubungan kongcu dengan sahabat Kwa itu? "Dia adalah seorang bekas anak buah mendiang ayahku!"
Jawab Bau ji tanpa berpikir panjang lagi.
"Aaah !"
Beng liau huan segera berseru kaget.
"kalau begitu ayahmu juga seorang bu lim!"
Sambil menggeleng Bau ji menukas.
"Bukan, mendiang ayahku adalah seorang sekolahan."
"Ooh... kalau begitu, sahabat Kwa juga seorang manusia yang tidak mengerti akan ilmu silat?"
Kembali Bau-ji menggeleng.
"Tidak, orang ini memiliki kepandaian silat yang sangat luar biasa"
Sahutnya. Beng Liau-huan segera mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian ujarnya.
"Dapatkah kongcu memberitahukan kepada ku, ada urusan apa kau hendak mencarinya?"
"Benda-benda wasiat milik mendiang ayah ku disimpan ditempatnya."
"Ooooh tidak aneh kalau kongcu sampai menyerempet bahaya berkunjung kebukit ini"
Kata Beng Liauhuan sambil tertawa. Sesudah berhenti sebentar, lanjutnya.
"Mula-mula lohu mengira masih bisa mem-bantu mu, siapa tahu . .. terpaksa aku meminta maaf."
"Aaaah... tidaklah menjadi soal,"
Kata Bauji sambil tertawa.
"aku percaya cepat atau lambat suatu hari nanti orang itu pasti dapat kutemukan kembali!"
Beng Liau huan memandang sekejap ke arah Bau-ji, kemudian dengan mengandung maksud lain katanya.
"Lohu dengar ketika menyerbu ke atas bukit ini kongcu kena ditangkap dan tinggal di sini sebagai tamu agung, itu berarti kepandaian silat yang kongcu miliki lihay sekali..."
"Tidak terhitung-lihay-"
Tukas Bau-ji.
"kalau tidak, tak nanti aku sampai kena ditangkap!"
Beng liau-huan mengerutkan dahinya, kemudian berkata.
"Maaf lohu akan banyak-berbicara, bila batas waktu kongcu menjadi tamu agung telah habis, kau harus kabur dari sini, apakah kau sudah mempunyai sesuatu rencana untuk melarikan diri dari tempat ini ?"
Satu ingatan segera melintas dalam benak Bau-Ji, katanya.
"Aku sama sekali belum melakukan persiapan apa-apa"
Setelah berhenti sejenak, dengan suara rendah terusnya.
"Apakah cengcu hendak memberi petunjuk kepadaku ?"
Beng Liau huan menggeleng sambil menghela nafas sedih, sahutnya.
"Lohu tak lebih hanya seorang manusia cacad yang tak berguna, seandainya aku mempunyai cara yang bagus, buat apa aku mencuri hidup sampai sekarang? Apalagi belasan tahun belakangan ini..."
Mendadak ia berhenti berbicara dan mengalihkan sinar matanya keluar pintu ruangan.
Waktu itu Bau-ji duduk disisi pintu ruangan, melihat itu diapun turut berpaling ke sebelah kanan.
Ternyata Congkoan Chin Hui hou entah sedari kapan sudah berdiri disana dengan wajah menyeramkan.
Bauji segera mendengus dan melengos ke arah lain, dengan langkah lebar Chin Hui hou segera melangkah masuk ke dalam.
Ia berhenti pada lebih kurang tiga jengkal dihadapan Beng Liau huan, kemudian dengan suara dalam serunya.
"Beng cengcu, apakah kau tidak merasa sudah terlalu banyak berbicara?"
"Lohu justru ucapanku terlampau sedikit."
Jawab Beng Liau huan sambil mengelus jenggot. Chin hui hou mendengus dingin.
"Beng cengcu, lohu nasehati dirimu lebih baik bersikaplah cerdik sedikit, jangan menganggap ada orang yang menyanggah dirimu dari belakang, maka kau boleh berbicara secara sembarangan dan ketahuilah bencana itu datangnya dari banyak mulut!"
"Beng liau huan, apakah kau masih mendendam terhadap peristiwa dimasa lalu?"
Seru Chin hui hou dengan alis mata berkernyit dan sinar mata memancarkan cahaya buas. Beng Liau-huan melotot besar.
"Sekalipun demikian, mau apa kau?"
"Heeeeh .. ., heehh .., . heeehh Beng Liau huan, kau tahu bukan saat ini Sancu tidak berada diatas bukit?!"
"Sebelum meninggalkan bukit ini, sancu telah berbicara lama sekali denganku, dia bilang hendak pergi meninggalkan bukit dan lebih kurang puluhan hari kemudian baru kembali, jadi tak usah kau peringatkan lagi kepadaku."
"Kalau begitu, kau harus lebih mengerti lagi, bila melanggar peraturan bukit dalam saat seperti ini adalah suatu peraturan yang paling berbahaya sekali !"
Beng Liau huan mendesis sinis.
"Memangnya congkoan berani membunuh diriku? "ejeknya.
"Heehh....heeh....heeh... lohu tidak mempunyai hak untuk melakukan perbuatan tersebut, tapi masih ada orang lain yang sanggup untuk melakukannya."
"Mengapa congkoan tidak berkata langsung kepada nona."
Tukas Beng Liau huan. Chin Hui hou tertawa sinis, tukasnya pula.
"Menurut pendapatmu, apakah nona mirip seseorang yang bisa membunuh orang?"
Mendengar perkataan itu, Beng Liau huan merasakan hatinya bergerak, kemudian katanya.
"Lalu siapa yang bisa? Lebih baik suruh dia untuk mencobanya di hadapanku !"
Chin Hui hou tidak langsung menjawab perkataan itu, cuma dengan sepasang-sinar mata yang sukar dilukiskan dengan katakata-memandang sekejap ke arah Beng Liau huan, kemudian setelah tertawa.
"Baik-silahkan cengcu-mundur ke belakang."
Sejak tadi Bau ji sudah merasa tidak leluasa menyaksikan sikap maupun tindak tanduk dari Chin Hui-hou, dengan-suara-dingin-segera serunya keras.
"Kau hendak ke mana?"
Mendengar teguran tersebut Chin Hoi hau merasa tertegun, kemudian dengan kening berkerut sahutnya.
"Apakah kau sedang bertanya kepada lohu ?"
Bau ji mendengus dingin.
"Yaa kongcu mu memang sedang bertanya kepadamu."
Chin Hui hou segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Haahh..., haah....hah.. kau bertanya lohu akan kemana? Hahh. .haahh...haahh.... memangnya kau berhak untuk mengajukan pertanyaan tersebut ?"
"Kongcumu setelah berani bertanya tentu saja merasa berhak untuk mengajukan pertanyaan itu !"
Mencorong sinar buas dari balik mata Chin Hui hou, serunya.
"Orang she Sun, kau anggap dirimu itu seorang pemimpin dari bukit ini !"
Bau-ji sama sekali tidak menanggapi ucapan tersebut, sebaliknya malahan berkata.
"Chin Hui hou, kongcumu hanya akan memberitahukan kepadamu, sekarang nona kalian sedang berada dibelakang dan merundingkan sesuatu dengan Sun kongcu tersebut."
Perasan Chin Hui hou segera tergerak setelah mendengar perkataan itu selanya.
"Kenapa pula kalau begitu?"
"Itu berarti, pada saat ini ada baiknya kau jangan mengusik nona "kalian itu!"
Chin Hui hou tidak menyangka kalau Bau-ji bisa mengucapkan kata kata seperti itu, untuk sasaat lamanya dia tak tahu-bagaimana harus menjawab perkataan tersebut.
Sementara dia masih kebingungan terdengar Bau ji berkata lagi setelah tertawa dingin.
"Apalagi kongcu mu memang ada persoalan hendak dibicarakan dengan dirimu!"
Menggunakan kesempatan ini Chin Hui hou segera memutar kemudi mengikuti hembusan angin, katanya dengan cepat.
"Katakan, kau ada urusan apa?"
Seraya berkata dia lantas mengambil bangku dan duduk, betul juga, ia tidak berani mengusik nonanya. Bauji melirik sekejap kearahnya, kemudian berkata.
"Sore tadi, bukankah kita berjalan jalan di bukit bagian belakang?"
"Benar, memang bukit bagian belakang!"
"Besok pagi pagi, kongcu mu hendak melakukan pemeriksaan dibukit sebelah depan, kali ini kita harus bisa menjelajahi seluruh tanah perbukitan itu dan kau akan tetap sebagai petunjuk jalannya, aku minta kau jangan melupakannya."
Mendengar perkataan itu, Chin Hui hou segera mendengus dingin.
"Maaf, besok aku tak dapat menemani!"
Sahutnya. Sengaja Bauji melototkan sepasang matanya bulat-bulat, kemudian berseru.
"Kalau memang begitu, katakan sendiri kepada nona."
Chin Huihou sama sekali tidak menjadi takut, malahan dia tertawa terkekeh.
"Heehh....heehh.. .heehh....aku kuatir kali ini nona tak bisa mencampuri urusan ini lagi."
Bau ji tertawa dingin.
"Kau bersedia pergi atau tidak, atau nonamu bisa mencampuri urusan ini atau tidak, semua nya adalah persoalan kalian sendiri, pokoknya kongcumu telah memberitahukan kepadamu, bila besok tak ada yang jadi petunjuk jalan..."
"Kalau tak ada yang menjadi petunjuk jalan, mau apa kau?"
Sela Chin Hui hou. Bau ji mendengus dingin.
"Kongcumu bisa berbuat apa, lihat saja sampai waktunya nanti !"
Chin Hui hou segera tertawa lebar.
"Kalau memang begitu, kita buktikan saja setelah sampai pada waktunya nanti, maaf, aku tak bisa menemani lebih jauh."
Di tengah pembicaraan tersebut, sekali lagi Chin hui hou bangkit berdiri dan beranjak dari ruangan tersebut.
Dengan sorot mata yang tajam Bau ji awasi bayangan punggungnya Chin hui hou sehingga lenyap dari pandangan mata, dia merasa sikap orang tersebut pada malam ini sangat istimewa sekali.
Agaknya Beng liau huan juga telah melihat kalau gelagat tidak beres, menanti bayangan tubuhnya dari Chin hui hou sudah lenyap dari pandangan matanya dia baru berbisik kepada Bauji.
"Sun kongcu, tidakkah engkau melihat kalau tindak tanduk keparat itu kiranya agak mencurigakan?"
"Yaaa, tampaknya dia seperti mempunyai tulang punggung baru yang menunjang dirinya dari belakang!"
Sahut Bau ji dengan kening berkerut kencang. Dengan nada yang semakin merendah, Beng Liau huan berbisik kembali.
"Sun kongcu, ada satu hal lupa lohu kemukakan karena semula merasa tidak penting, tapi seandainya tua bangka she Chin itu benar-benar sudah memiliki tulang punggung baru, maka lohu bisa menduga siapakah orang itu !"
Ketika dilihatnya sikap Beng Liau-huan berubah menjadi serius sekali, Bau ji segera dapat merasakan juga berapa seriusnya persoalan itu, dengan memperendah pula dia bertanya.
"Siapakah orang itu?"
"Kakak angkatnya nona, dia adalah murid paling tua dari Sancu bukit ini, konon merupakan keponakan angkat dari Sancu sendiri !"
"Oooh... siapakah nama orang ini? Apakah kekuasaannya jauh diatas kekuasaan nona?"
"Orang ini she Khong bernama It hong, kepandaian silat dan tenaga dalam yang dimilikinya sudah mendapat seluruh warisan langsung dari sancu, kehebatannya memang jauh diatas kepandaian nona, lagipula hatinya kejam, buas dan tidak berperi kemanusiaan!"
Setelah berhenti sejenak, terusnya.
"Oleh karena dia adalah murid tertua dari Sancu, lagipula masih terhitung keponakan Sancu sendiri, ilmu silatnya juga sangat lihay, maka sejak beberapa tahun berselang, tiap kali Sancu pergi meninggalkan bukit karena ada urusan, kekuasaan yang palingbesar-diatas-bukit inipun diserahkan kepadanya."
"Tapi, bagaimanapun juga, sikapnya terhadap nona tentunya tak berani sewenang-wenang bukan?"
Tanya Bauji.
"Bagaimanakah keadaan yang sebenarnya tak seorang manusiapun yang tahu tapi menurut pengamatan lohu selama banyak-tahun--belakangan ini, aku rasa ada kemungkinan-besar Sancu ingin menjodohkan nona kepada Khong It hong."
"Oooh... begitukah jalan ceritanya ? Sungguh membuat hati orang merasa tidak habis mengerti."
Tukas Bauji dengan wajah yang tertegun. Beng Seng yang berdiri di samping segera menimbrung pula dengan suara rendah.
"Apanya yang perlu diherankan. Sancu ada minat untuk menjodohkan nona kepada Khong It-hong, mesti belum diucapkan secara terang-terangan, tapi diam-diam agaknya masing-masing pihak sudah setuju, baik nona mau pun Khong It-hong sendiri juga mengetahui akan hal ini."
Sesudah berhenti sejenak, kembali ujarnya.
"Bagaimanakah watak serta perangai dari orang she Khong tersebut ?"
"Seperti apa yang telah telah lohu katakan tadi, orang ini berhati kejam, buas dan tidak berpenkemanusiaan !"
"Apakah nona tidak salah memilih orang?"
Tanya Bauji dengan kening berkerut. Beng Seng segera menghela nafas panjang.
"Aaaai....nona berwatak halus berbudi dan lagi cerdik, cuma saja....cuma saja..."
Ia tak dapat melukiskan kesulitan yang sedang dihadapi nonanya, maka sampai setengah harian lamanya dia masih tak mampu untuk me lanjutkan kembali kata-katanya itu.
Terdengar Beng Liau huan berkata pula.
"Pertama, nona terpengaruh oleh desakan ayahnya. kedua, wajah Khong It hong terhitung lumayan juga, kecuali dengan mata kepala sendiri ia saksikan kebuasan, kekejian dan kebusukan sifat orang itu, rasanya memang sulit untuk menemukan kejahatan serta kebusukan-nya itu.
"Hal ini ditambah lagi semenjak kecil nona sudah hidup di bukit yang terpencil kecuali Khong It hong seorang, boleh dibilang dia tak pernah bertemu dengan pemuda tampan lain-nya, lama kelamaan tentu saja tak bisa dihindari akan tumbuh rasa cinta dalam hatinya, atau tegasnya saja sikap nona selama ini hanya terpengaruh belaka di lingkungan keadaannya."
Bau ji termenung beberapa saat lamanya. kemudian bertanya lagi.
"Sampai dimanakah kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki orang she Khong itu ?"
Beng Liau huan menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Susah untuk dibicarakan."
Katanya.
"berbicara dengan kepandaian silat yang kumiliki dahulu, paling banter aku cuma bisa bertahan lima puluh gebrakan saja, sekalipun kukerahkan segenap kepandaian silat yang kumiliki untuk melangsungkan pertarungan mati hidup, paling banyak juga masih bisa bertahan sepuluh gebrakan lagi !"
Bau ji merasakan hatinya tergerak, cuma ia tidak berbicara apa-apa lagi. Saat itulah Beng Seng kembali berkata.
"Sun kongcu kemungkinan besar dugaan majikanku itu benar, seandainya Khong Ithong tidak secara tiba tiba kembali ke gunung, sekali pun Chin Hui hou bernyali lebih besarpun, dia tak akan berani mengucapkan perkataan seperti tadi itu."
"Oooh... kalau memang orang she Khong itu sudah kembali ke gunung, kenapa tidak tampak dia munculkan diri ?"
Tiba-tiba Beng Liau huan berseru tertahan, dia segera berpaling ke arah Beng Seng seraya berkata.
"Kau cepat ke belakang dan undang nona kemari, katakan kalau aku ada urusan penting hendak dibicarakan dengannya."
Beng Seng dapat memahami maksun hati tuannya, dengan cepat dia mengangguk.
"Benar, benar, kalau tidak cepat cepat ke sana, bisa jadi akan mengakibatkan keadaan yang lebih fatal!"
Selesai berkata dia lantas lari menuju ke belakang.
Dibelakang ruangan itu terdapat sebuah kamar baca yang biasanya hanya digunakan oleh Beng Liau huan pribadi, ketika itu nona sedang duduk berhadapan dengan Sun Tiong lo sambil berbincang bincang, kedua belrh pihak saling bergurau dengan sikap yang amat santai, seakan-akan berhadapan dengan teman lama saja.
Cuma sayang selama ini mereka bicarakan tidak lebih hanya merupakan kata-kata ringan saja yang sama sekali tidak penting.
Sesudah berlangsung sekian lama, akhirnya nona baru mengalihkan pokok pembicaraan ke soal yang sebenarnya, dia berkata.
"Sekarang, sudsh sepantasnya kalau kuaju-kan beberapa buah syarat kepadamu."
Sun Tiong lo tertawa.
"Nona berbudi luhur, berjiwa kesatria dan gagah perkasa, Apakah nona tidak merasa bahwa untuk menjaga rahasia saja harus mengajukan pertukaran syarat adalah perbuatan seorang anak kecil ?"
Nona itu tertawa.
"Anak kecil atau orang dewasa, apalah bedanya. Sekali lagi Sun Tiong lo tertawa.
"Maaf kalau mengucapkan kata-kata yang lebih berani lagi seandainya nona tetap bersikeras untuk mengajukan syarat untuk menjaga rahasia tersebut, maka perbuatan nona ini pada hakekatnya merupakan suatu ancaman dan juga merupakan suatu perbuatan curang yang ingin memanfaatkan keadaan orang!"
"Sekalian demikian apakah tidak boleh?"
Dengan perasaan apa boleh buat Sun Tiong-lo mengangkat bahunya.
"Kalau nona tetap berkata demikian, akupun tidak bisa berbuat apa-apa lagi"
"Nah kalau begitu tentunya kau sudah siap mendengarkan syaratku bukan?"
Kata si nona sambil tersenyum.
"Ehmm, silahkan kau ucapkan!"
Si nona itu melirik sekejap ke arah Sun Tiong lo, kemudian katanya.
"Syaratku sederhana sekali, aku hanya ingin tahu keadaan yang lebih jelas lagi !"
Sun Tiong lo mengeruikan alis matanya rapat-rapat, kemudian berkata.
"Keadaan yang sebenarnya rumit sekali, terus terang saja kurasakan nona, ada sementara persoalan bahkan aku sendiri tak memahami."
"Jadi kau tetap enggan untuk berbicara?"
Kata si nona dengan wajah serius. Dengan wajah serius pula Sun Tiong lo menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Walaupun aku tak berani mengatakan sangat memegang janji, tapi selamanya akupun enggan untuk mengingkari janji !"
Tiba-tiba si nona tertawa.
"Aku percaya kepadamu, kalau begitu katakan saja semua yang kau ketahui.!"
Baru saja dia akan menjawab, mendadak timbul kewaspadaan didalam hatinya dengan bersungguh2 katanya kepada sinona.
"Nona, sesungguhnya cerita ini adalah suatu peristiwa tragedi yang penuh dengan kesedihan, nona, tak ada gunanya kau mengetahui akan peristiwa ini, apalagi menyinggung kembali peristiwa tersebut hanya akan membangkitkan kembali rasa sedih di dalam hatiku."
"Benarkah demikian?"
Tukas si nona dengan kering berkerut. Sun Tionglo menghela napas sedih, katanya.
"Nona, aku telah memberi janji kepadamu sekarang akupun telah memberi jaminan kepada sinona, cepat atau lambat pada suatu ketika aku pasti akan memenuhi janjiku ini..."
"Kalau begitu yaa sudahlah !"
Ujar si nona sambil menggigit bibirnya kencang-kencang. Setelah berhenti sebentar, katanya lebih jauh.
"Cuma kau jangan lupa, kau hanya punya waktu tiga hari lagi menjadi tamu agung disini"
Terima kasih atas peringatanmu nona, aku sudah mengerti."
"Apa rencanamu kemudian ?"
Tanya si nona dengan wajah bersungguh-sungguh. Sun Tionglo segera tertawa.
"Nona harus tahu, kemungkinan-kemungkinan apa yang bakal kulakukan ?"
Buat seorang sastrawan lemah yang sama sekali tak berkepandaian apa-apa macam aku ini, selain menuruti takdir, apa pula yamg masih bisa kulakukan."
"Sun kongcu, aku harap buku-buku yang pernah kau baca itu bukan cuma pernah dibaca secara sia-sia belaka !"
Tukas sinona dengan perasaan tak senang.. Sun Tionglo sengaja berlagak seakan-akan tidak mengerti serunya kemudian.
"Nona, apa maksud dari perkataanmu itu ? Apakah kau bisa memberi penjelasan? Aku benar-benar tidak mengerti !"
"Kalau banyak buku yang dibaca, seharusnya makin banyak persoalan yang dipahami, bila banyak persoalan yang diketahui, tentu saja mampu untuk membedakan mana orang baik dan mana orang jahat bagaimana pendapat kongcu tentang hal ini?"
Tanya si nona.. Sun Tiong lo segera tertawa.
"Aku tidak mengerti dengan perkataan dari nona itu, seperti misalnya urusan yang baru saja terjadi, andaikata nona menaruh curiga, terpaksa akupun akan mengesampingkannya, setelah sampai harinya baru kuberi penjelasan lebih jauh."
"Bagaimana kalau begini saja"
Kata si nona tiba-tiba sambil mengerdipkan matar "bila aku mengangguk dan kongcu juga mengangguk, aku memahami maksudmu itu, sebaliknya jika kongcu menggelengkan kepalanya, aku juga percayai bagaimana?"
Berbicara sampai disitu, tanpa menunggu jawaban dari pemuda itu lagi dia lantas mengangguk lebih dulu, kemudian sambil mementangkan sepasang matanya yang jeli dia awasi wajah Sun Tiong lo tanpa berkedip.
Dengan sekulum senyuman menghiasi bibirnya, Sun Tiong lo juga segera mengangguk.
"Kalau begitu akupun menjadi lega"
Kata si nona merdu. Setelah berhenti sebentar, dia berkata lagi.
"Cuma, sekalipun begitu kau juga harus mempunyai persiapan ?"
Baru saja Sun Tiong lo hendak menjawab, Beng Seng telah mengetuk pintu dan masuk ke dalam, serunya.
"Nona, cengcu kami ada urusan penting yang hendak dibicarakan dengan nona !"
Dengan kening berkerut dan wajah tak senang, si nona berseru.
"Ada urusan apa ? Apakah musti dibicarakan sekarang juga ?"
Pada saat itulah dari sisi telinga Nona itu berkumandang suara bisikan seseorang dengan ilmu menyampaikan suara.
"Nona, mengapa kau tidak maju ke depan untuk melakukan pemeriksaan? Coba lihat, di belakang jendela dalam kamar baca ini ada sesosok bayangan manusia yang sedang menyadap pembicaraan kita, orang ini sudah tiba cukup lama, tenaga dalamnya juga lihay sekali, harap nona suka berhati-hati !"
Kebetulan sekali, Beng Seng juga sedang menjawab ketika itu.
Mendadak mencorong sinar aneh dari balik mata si nona, dia memandang sekejap ke arah wajah Sun Tiong lo dengan sorot mata penuh tanda tanya.
Tapi sikap Sun Tiong lo acuh, seakan-akan sedang memikirkan sesuatu, seperti juga ia tak tahu akan gerak gerik dari si nona.
Setelah termenung beberapa saat lamanya, si nona pun berkata.
"Baiklah, kau boleh pergi duluan, sebentar aku datang !"
Dengan amat menghormat Beng Seng mengiakan lalu beranjak pergi meninggalkan dari tempat itu. Sepeninggal pelayan tua Beng Seng, si nona baru berkata kepada Sun Tiong lo.
"Barusan, apa yang sedang kau pikirkan ?!"
Sun Tiong lo berlagak seakan-akan tidak mendengar perkataannya itu, wajahnya masih tetap kaku tanpa emosi Nona itu segera mengerutkan dahinya, mendadak dia membalikkan badan dan langsung menerjang ke mulut jendela dibelakang ruang baca tersebut.
Khong It-hong yang menyembunyikan diri di luar jendela, sama sekali tidak menyangka sampai kesitu, tentu saja diapun tak sempat untuk menghindarkan diri.
Begitu mengetahui siapa yang berada disitu dengan wajah sedingin salju nona itu segera menegur.
"Khong It-hong, sebenarnya apa maksudmu?"
Merah padam selembar wajah Khong It-hong karena jengah.
"Adik Kim, apa pula yang kau maksudkan?"
Ia balik bertanya.
"Sejak kapan kau pulang ke gunung?"
Bentak si nona lagi.
"Barusan saja!"
Nona itu segera mendengus.
"Memangnya kau sudah kehilangan sukma-mu diluar jendela dari kamar baca ini?"
"Adik Kim, apa pula maksud perkataanku itu."
Khong It hong balik bertanya sambil berkerut kening.
"Jika kau tidak kehilangan sukmamu disitu, kenapa baru pulang gunung bukannya suruh orang memberi kabar kepadaku, sebaliknya dengan sikap macam maling mencuri dengar pembicaraan orang diluar jendela?"
Khong lt-hong memang tidak malu disebut seorang manusia yang licik dan banyak akal nya, setelah tertawa sahutnya.
"Aaaah... rupanya adik Kim salah paham!"
"Apanya yang salah paham?"
"Adik Kim, sesungguhnya kejadian ini memang merupakan suatu kesalahan paham, ketika siau heng pulang gunung, tak seorang manusiapun yang kujumpai, ketika aku mengitari ruang belakang untuk menuju ke loteng kediamanmu dan bermaksud untuk membuat kau merasa terkejut bercampur dengan girang."
"Kejutnya memang ada."
Tukas si nona.
"cuma girangnya telah berubah menjadi mendongkol!"
Sekulum senyuman manis masih menghiasi ujung bibir Khong It hong, katanya.
"Adik Kim, dapatkah kau memberi kesempatan pada siau heng untuk menyelesaikan kata-kataku."
"Cukup, aku tak sudi mendengarkan perkataanmu lagi!"
Lalu si nona sambil membanting daun jendela itu keras-keras. Walaupun daun jendela sudah tertutup kembali, namun suara Khong It-hong manis juga berkumandang.
"Adik Kim, paling tidak kau harus percaya bahwa siau heng bukanlah dewa, aku tidak mengira kalau pada malam ini adik Kim sedang mempunyai janji dengan seorang teman diruang bacanya Beng cengcu.."
Mendengar perkataannya pemuda itu makin lama semakin ngelantur tidak karuan, si nona menjadi naik darah, segera tukasnya.
"Memangnya hal ini tak boleh?"
Khong It liong segera tertawa keras.
"Haaah.... haaah... haaaah ... adik Kim mengapa kau berkata demikian? Siau heng tak bermaksud apa-apa, akupun tidak bermaksud untuk menyadap pembicaraan kalian, kejadian ini cuma suatu kesalahan paham, mengenai...."
"Kuanjurkan kepadamu, kurangi permainan licikmu dihadapanku"
Sekali lagi sinona menukas dengan suara dalam.
"setiap kali kau pulang gunung, tak pernah ketinggalan Chin hui hou pasti kau cari lebih dulu, sedang mengenai penjelasanmu soal menyadap pembicaraan kami hmmm! perbuatanmu itu hanya suatu tindakan yang berlebihan."
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Khong It hong menghela nafas panjang katanya.
"Kalau toh adik Kim tidak memberi kesempatan kepada siau heng untuk memberi penjelasan, terpaksa siau-heng akan turut perintah. Cuma.,.harap adik Kim ketahui, dengan hati riang gembira siau heng pulang ke rumah, sebetulnya aku ingin melepaskan rinduku kepadamu, tapi kini..."
"Cukup banyak yang sudah kudengar, lebih baik kurangi sedikit perkataanmu."
Tukas si nona dengan cepat.
"Baik, baik, Siau heng tak akan berbicara lagi, setelah berhenti sebentar, lanjutnya lagi.
"Oooh benar, adik Kim ! Dapatkah aku berkenalan dengan sahabat yang berada di dalam kamar baca ? siapakah dia ? Siapa namanya ?"
"Besok toh kalian bakal bertemu sendiri, buat apa musti kuperkenalkan pada saat ini ?"
Tiba tiba Sun Tiong lo berkata.
"Aku yang muda adalah Sun Tiong-Io, boIeh aku tahu siapa nama besar saudara ?"
Begitu mendengar jawaban dari Sun Tiong Io dengan cepat Khong It-hong mendorong kembali daun jendela itu, lalu sahutnya.
"Aku bernama Khong It hong...."
Belum habis dia berkata, tiba-tiba si nona telah mengayunkan tangannya..
"Blaam..!"
Daun jendela itu segera dibantingnya keras-keras hingga menutup kembali.
"Memang tidak salah namamu Khong It-hong, tapi bukan caranya untuk sembarangan menongolkan kepalanya lewat jendela untuk bertemu dan berbicara dengan orang, tata kesopanan dari manakah yang telah kau pelajari itu ?"
Paras muka Khong It hong, waktu itu tak sedap dipandang, mukanya merah padam seperti babi panggang, bibirnya pucat menahan emosi nya, sedangkan sinar matanya memancarkan cahaya kehijau-hijauan yang mengandung kebencian, cuma sayang terpisah oleh daun jendela sehingga mereka yang berada dalam ruangan tidak sempat melihatnya.
Api kegusaran serasa membakar seluruh perasaan Khong It hong, setelah mendengus dingin teriaknya.
"Nona Kim, beginikah sikapmu terhadap diriku ?!"
Entah mengapa, ternyata si nona juga tak dapat mengendalikan kobaran api amarahnya, dengan lantang dia menyahut.
"Kalau aku tidak bersikap demikian kepada mu, lantas aku musti bersikap bagaimana ?!"
"Nona Kim, kau paham akupun paham !"
"Aku tidak paham"
Tukas si nona dengan gusar.
"beginilah sikapku terhadap setiap manusia yang bermain sembunyi semacam cucu kura-kura."
Khong Ithong segera mendengus berulang kali, tanpa banyak berbicara lagi ia tinggalkan tempat itu dengan langkah lebar.
Didengar dari langkah kakinya, Sun Tiong lo segera mengerti kalau Khong It-hong sebenarnya belum jauh meninggalkan tempat itu maka dia sengaja memandang sekejap kearah si nona, kemudian dengan kening berkerut katanya.
"Nona, kau telah menyinggung perasaannya."
"Hmm..! Toh dia sendiri yang mencari gara-gara !"
Sahut si nona samoil mendengus.
"Nona, apa sih kedudukannya didalam bukit ini? Dan apa pula hubungannya denganmu ?"
Si nona memandang sekejap wajah Sun Tiong lo, kemudian tanyanya.
"Kenapa kau menanyakan persoalan ini ?"
"Tampaknya dia sudah menaruh curiga kepada siau-seng, oleh karena itu...."
"Siapa suruh dia memikirkan yang bukan-bukan?"
Tukas si nona, Sun Tiong lo menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Dari nada pembicaraannya itu, dapat kudengar kalau dia sangat memperhatikan diri nona"
Katanya.
Nona itu tidak menjawab, sedangkan wajahnya yang dinginpun belum lagi luntur.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB SEPULUH SUN TIONG LO pun melanjutkan kembali kata katanya "Selama beberapa hari ini, sudah pasti aku akan bertemu muka dengannya, maka sudilah kiranya nona memberi petunjuk kepadaku tentang asal usul dan kedudukannya."
Jawaban si nona sangat datar.
"Dia adalah putra adik angkat ayahku, juga merupakan murid dari ayahku !"
Sun Tiong lo memandang lagi wajah si nona kemudian tanyanya.
"Cuma dua macam kedudukan ini saja ?"
"Memangnya belum cukup ?"
Sun Tiong lo tertawa.
"Menurut pandanganku, sobat Khong bukan cuma mempunyai dua macam kedudukan saja!"
Sinona segera menggerling sekejap kearah Sun liong lo, kemudian serunya.
"Memangnya kau lebih mengerti daripada aku sendiri ?"
Sekali lagi Sun Tiong lo tertawa.
"Aku bisa menangkap hal itu dari nada ucapannya, dan dapat melihat..."
"Dapat melihat apa ?"
Tukas sinona sebelum Sun Tiong lo menyelesaikan kata-katanya.
"Aaaah, aku rasa lebih baik tak usah kukata kan, pokoknya sahabat Khong mempunyai kedudukan yang istimewa sekali !"
Setelah berhenti sebentar dan tertawa, dia melanjutkan kembali kata katanya.
"Barusan Beng Cengcu telah menitahkan Beng Seng untuk datang mengundang kehadiran nona, nona..."
"Aku ingin bertanya dulu sampai jelas, apa yang kau maksudkan dengan lebih baik tidak usah dikatakan itu?"
Tukas sinona dengan wajah dingin membesi. Sun Tiong lo segera mengangkat bahunya, baru saja dia hendak menjawab, sinona berkata lagi.
"Dalam hal apakah kedudukan Khong It hong kau katakan sangat istimewa?"
Sekulum senyum masih tersungging di bibir Sun Tiong lo, ujarnya pelan.
Secara diam diam sobat Khong telah menyadap pembicaraan nona dengan diriku kemudian perbuatannya diketahui nona, tetapi ia malah berani mengatakan, tidak seharusnya nona berbuat demikian padanya, oooohhh, besar benar nyali orang ini".
"Sekalipun dia adalah murid ayahmu, tidak mungkin kedudukannya lebih tinggi dari nona apa lagi dia sudah melakukan kesalahan tetapi nyatanya sambil mendengus dan menggubris nona, dia telah pergi dari sini.."
"Cukup!"
Tukas sinona dengan suara dalam.
"aku melarang kau untuk melanjutkan kata-katanya itu."
Sun Tiong lo segera memperlihatkan sikap apa boleh buat, katanya kemudian.
"Adalah nona sendiri yang memaksa aku untuk menjawab, kalau tidak aku tak akan mengucapkan kata-kata seperti itu!"
Si nona tidak menjawab, sambil membalikkan badan ia beranjak keluar dari kamar baca dan menuju ke ruang tengah, sementara Sun Tiong lo mengiringinya dengan senyuman dikulum.
Setelah masuk kedalam ruangan, nona itu menghampiri Beng Liau huan, seraya berjalan tegurnya.
"Ada urusan penting apa..."
"Khong sauhiap telah pulang"
Sahut Beng Liau huan.
"Hanya persoalan ini ?"
Beng Liau huan manggut-manggut.
"Orangnya mah tidak kujumpai, maka dari itu..."
Si nona menjadi tertegun.
"Kalau toh kau tidak menyaksikan kedatangannya, dari mana bisa kau ketahui kalau dia sudah pulang ?"
"Kulihat dari sikap maupun cara berbicara Chin Congkoan.... tak nanti dia akan berbuat demikian andaikata..."
"Hmm, aku sudah tahu"
Tukas sinona sambil mendengus dan mengulapkan tangannya. Setelah berhenti sejenak, kepada Beng Seng perintahnya.
"Kau keluar dan undang Chin Hui hou kemari !"
Beng Seng mengiakan dan segera berlalu. -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***
Jilid 8 SEPENINGGAL Beng Seng, Sun Tiong lo juga berkata kepada Bau ji.
"Saudara Sun, kita juga harus pulang ke loteng impian ?"
Bau ji mengerti, rupanya Sun Tiong lo ingin meminjam alasan tersebut untuk meninggalkan ruang tengah agar tidak menyaksikan keadaan Chin Hui hou yang bakal runyam, maka dia pun manggut-manggut dan segera beranjak.
"Siapapun dilarang pergi !"
Mendadak sinona membentak keras.
Bau ji segera mengerutkan alisnya, baru saja akan berbicara, Sun Tiong lo telah memberi tanda agar jangan bersuara.
Si nona yang kebetulan melihat hal itu segera mengerling sekejap kearahnya, lalu berkata.
"Ehmm... tampaknya kau memang pandai sekali merasa kuatir bagi orang Iain !"
Tiba-tiba Beng Liau huan berseru setelah memutar sepasang biji matanya sebentar.
"Nona, bolehkah lohu menjamu kedua orang Sun kongcu ini diruang baca sana?"
Si nona berpikir sebentar, lalu mengangguk.
"Baiklah, selesai urusan disini aku masih ada persoalan yang hendak dibicarakan dengan dirimu ?"
Beng Liau huan mengiakan, kepada Sun Tiong lo dan Bau ji segera katanya.
"Apakah kalian berdua bersedia memberi muka ?"
Sebetulnya Sun Tiong lo hendak menampik, mendadak ia saksikan Beng Liau huan dengan membelakangi sinona sedang memberi kode kepadanya dengan wajah serius dan gelisah.
Maka dengan cepat dia merubah keputusan nya seraya berkata.
"Dengan senang hati ku terima tawaran cengcu, silahkan !"
Maka mereka bertiga segera beranjak dan menuju keruang baca. Baru saja Sun Tiong lo menutup pintu, Beng Liau huan telah berbisik.
"Lebih baik biarkan saja pintu itu terbuka, pertama kita bisa ikut mendengarkan apa yang dibicarakan nona, kedua bila kita hendak membicarakan rahasia juga tidak kuatir ketahuan orang ?"
Tergerak hati Sun Tiong lo setelah mendengar perkataan itu, belum lagi dia berbicara, Beng Liau huan telah berbisik lebih lanjut.
"Sudah lama lohu menunggu kesempatan seperti ini, kongcu, cepat duduk disamping lohu, ada rahasia besar yang hendak lohu sampaikan kepadamu serta minta pertolonganmu untuk menyelesaikannya ?"
Sun Tiong lo tertegun, dia segera berpaling dan memandang kearah Bauji. Dengan cepat Bau ji beranjak, bisiknya sambil menuding kepintu ruangan.
"Aku akan berjaga ditepi pintu !"
Sambil berkata ia lantas menuju kesamping pintu dan bersiap siaga dengan kewaspadaan Sun Tiong lo mengerutkan dahinya, lalu kata nya kepada Beng Liau huan.
"Cengcu, kau ada petunjuk apa ?"
"Rahasia sebesar ini tak berani kusampaikan dengan kata-kata, untuk menjaga segala sesuatu yang tak diinginkan semalam dengan pertaruhan jiwa aku telah beberkan rahasia ini didalam se
Jilid kitab, sekarang kitab ini akan kuserahkan kepada kongcu, asal kau telah membaca kitab itu, segala sesuatunya akan menjadi terang."
Selain itu, dalam kitab aku juga sertakan barang lain, bila kongcu telah memahami keadaan dan berhasil kabur dari bukit ini, harap kongcu suka menghantar barang itu ke..."
"Cengcu, begitu percayakah kau kepadaku??"
Tukas Sun Tiong lo dengan cepat. Beng Liau-huan tertawa.
"Betul lohu sudah tak berkepandaian apa-apa, namun sepasang mataku belum kabur, kong cu sepantasnya merupakan seorang enghiong dari jaman sekarang !"
Sun Tiong lo mencoba untuk memperhatikan wajah Beng Liau-huan, dia saksikan meski paras muka cengcu itu serius sama sekali tidak terlintas keragu raguan.
Maka setelah termenung dan berpikir sebentar, dia bertanya lagi dengan nada menyelidik.
"Apakah cengcu yakin kalau aku bisa memahaminya."
Dengan serius Beng Liau huan menukas.
"Bila kongcu mengatakan dirimu tak pandai bersilat lagi, hal ini sungguh keterlaluan sekali!"
"Apa maksud cengcu berkata begitu?"
Seru Sun Tiong lo dengan kening berkerut.
"Kongcu, tegakah kau menyaksikan lohu berdua hidup sengsara, dan tersiksa sepanjang masa di bawah tekanan orang !"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Sun Tiong lo, segera diapun balik bertanya.
"Darimana pula cengcu bisa berkata kalau aku pasti dapat lolos dari bukit ini ?"
"Kongcu berilmu silat tinggi, tenaga dalammu telah mencapai puncak kesempurnaan mau keluar masuk bukit ini sesungguhnya gampang seperti membalik tangan, siapa pula yang sanggup menghalangi jalan pergimu ?"
"Cengcu, apakah kau tak merasa terlalu memuji diriku?"
Seru sang pemuda sambil berkerut kening. Dengan serius Beng Liau huan menggeleng. Kongcu, sudah lohu katakan, sepasang mata ku belum melamur!"
Sun Tiong lo termenung dan berpikir sebentar, kemudian katanya "Apakah cengcu memberi batas waktu tertentu bagi persoalan yang kau perintahkan itu!"
Agak tertegun Beng Liau iman setelah mendengar ucapan itu, dia segera makin merendahkan kata-katanya.
"Apakah kongcu masih belum berniat meninggalkan bukit ini ?"
Tergerak hati Sun Tiong lo, segera sahutnya.
"Maksudku seandainya begitu..."
Beng Liau huan salah mengartikan maksudnya, dia segera mengangguk sambil bertanya.
"Dari sekian banyak orang yang berada dibukit ini, kecuali lohu berdua yang merupakan manusia setengah mati, cuma nona seorang yang terhitung orang baik, kongcu..."
Merah padam selembar wajah Sun Tiong lo, tukasnya.
"Cengcu telah salah mengartikan maksudku."
"Tidak !"
Tukas Beng Liau-huan dengan wajah serius.
"andaikata lohu menjadi kongcu, pasti akan ku ajak nona pergi meninggalkan tempat terkutuk ini."
"Sekali lagi kukatakan, harap cengcu jangan salah mengartikan duduknya persoalan!"
Nyatanya Beng Liau huan tetap kukuh dengan pendiriannya, dia berkata dengan bersungguh-sungguh.
"Tiada sesuatu yang disalah artikan, seharusnya kongcu pergi sambil membawa serta nona membawanya pergi jauh meninggalkan tempat ini, dari pada membiarkan ia terjerumus ke tangan manusia manusia serigala yang berhati kejam !"
Sun Tiong lo segera mengerdipkan matanya berulang kali, kemudian katanya.
"Ayahnya adalah sancu bukit ini, sedang dia adalah putri kesayangan Sancu, siapa yang berani mengusiknya ?!"
Beng liau-huan segera menggelengkan kepalanya berulangkali, katanya lagi.
"Kongcu, kau adalah seorang anak sekolahan, tentunya kau juga tahu bukan apa yang disebut sebagai.
"Dekat gincu ikut menjadi merah, dekat tinta ikut menjadi hitam ? sekali pun nona berwatak baik, namun kalau dibiarkan bergaul terus dengan manusia manusia laknat, maka lama kelamaan akan berpengaruh juga wataknya, apakah kongcu tega menyaksikan dia terjerumus dalam keadaan semacam itu ?!"
Sun Tiong memandang sekejap wajah Beng Liauhuan, kemudian katanya.
"Cengcu, kau belum menjawab pertanyaanku..."
Beng Liau huan melirik sekejap ke arah Bau ji, kemudian katanya "Sekaiipun kongcu sudah bulatkan tekad, apa salahnya kau menitipkan nona kepada Sun kongcu itu..."
Sekali lagi Sun Tiong lo merasakan hatinya tergerak, selanya dengan cepat.
"Cengcu, mengapa tidak kau jawab dulu pertanyaanku?"
"Sancu mempunyai seorang keponakan yang merupakan pula murid kepercayaannya, orang ini tak lain adalah orang she Khong yang barusan lohu bicarakan dengan nona, orang ini licik, busuk, keji dan tak berperi kemanusiaan.
"Selama banyak tahun, lohu selalu berusaha mengamati gerak gerik mereka, tampaknya Sancu berniat untuk menjodohkan putri kesayangannya itu kepada orang she Khong, padahal nona orangnya baik dan berbudi luhur, kalau sampai hal ini menjadi kenyataan..."
"Soal itu mah harus tergantung juga pada-nona sendiri."
Tukas Sun Tiong lo. Beng Liau huan mulai kelihatan panik bercampur gelisah, serunya dengan cepat.
"Kongcu, kenapa kau begitu bodoh? Nona sudah terlalu lama tinggal diatas gunung, dalam sepuluh tahun saja belum tentu ia bisa berjumpa dengan orang-orang lain kecuali orang-orang yang menghuni disini, padahal hampir semua manusia yang ada disini rata-rata adalah manusia buas yang berhati busuk, bayangkan saja nona bisa memilih yang mana?"
"Oleh sebab itu, Khong It hong secara otomatis menjadi orang disiplin, bukan lohu sengaja mengadu domba, berbicara soal ilmu silat, tenaga dialam serta tampang muka, Khong It hong cuma bisa dibilang dengan terpaksa masih mampu untuk mendampingi nona..."
"Bukankah hal ini sangat baik ?"
Tukas Sun Tiong lo. Beng Liau huan sudah mulai agak mendongkol tanpa terasa diapun mempertinggi suaranya sambil berseru.
"Kongcu, lohu ingin bertanya kepadamu, di dalam memilih calon istri, kongcu lebih mementingkan soal lemah lembutnya dan tata kesopanannya ataukah letih mementingkan soal paras muka serta besarnya mas kawin ?"
"Tentu saja memilih soal lemah lembutnya, budi kejujurannya serta tata kesopanannya."
"Coba kauIihat, sifat orang she Khong itu jauh lebih keji daripada ular serta kala jangking beracun."
"Cengcu, aku lihat kau terlalu menguatirkan keadaan orang."
Ucap Sun Tiong lo sambil tertawa.
"coba bayangkan saja, Sancu bukit ini benar-benar seorang manusia sembarang, andaikata orang she Khong itu benar benar berhati busuk seperti ular berbisa, bertindak tanduk buas seperti harimau, memangnya Sancu..."
"Dia adalah harimaunya, dan Khong It-hong, adalah serigalanya."
Tukas Beng Liau-huan. Sekali lagi Sun Tiong lo tertawa.
"Sebuas-buasnya harimau, dia tak akan melalap anaknya sendiri, tentu cengcu pernah dengar akan perkataan ini bukan ?"
Dengan gusar Beng Liautniart memandang sekejap ke arah Sun Tiong lo, kemudian katanya dengan suara rendah dan berat.
"Betul, sebuasnya harimau tak akan melalap anaknya sendiri, tetapi jika sudah dipelihara oleh harimau, maka anaknya juga pasti akan menjadi buas seperti induk harimau, kecuali kongcu memang berharap nona menjadi manusia berwatak harimau dan serigala kalau tidak!"
Sun Tiong lo segera menepuk nepuk bahu Beng liau-huan, kemudian ujarnya lembut.
"Cengcu. harap kau jangan emosi dulu, sekalipun aku bersedia meluluskan permintaan cengcu, hal ini juga tergantung kepada nona sendiri bersedia untuk mengikuti aku apa tidak"
Beng liau-huan menatap Sun tiang lo tajam, lalu katanya.
"Soal ini tergantung pada kongcu seorang!"
"Dari manakah kau bisa mengatakan kalau tergantung aku seorang?"
Tanya Sun Tiong lo agak tertegun tampaknya. Beng liau-huan mengerutkan dahi, katanya.
"Kongcu benar-benar tidak mengerti ataukah sudah tahu pura-pura bertanya?"
Sun Tiong lo gelengkan kepalanya berulang kali.
"Kalau aku sudah tahu, mengapa harus pura bertanya?"
Ia balik bertanya.
"Oooh ... masakah kongcu belum dapat merasakan kalau nona sudah menaruh hati kepadamu?"
"Menaruh hati apa?"
Kata Sun Tiong lo tercengang.
"dia.... dia..."
"Setiap orang yang naik ke bukit ini, paling banter dia hanya mendapat kesempatan untuk menjadi tamu agung selama tiga hari disini"
Ucap Beng Liau-huan.
"tapi ia telah melanggar kebiasaan tersebut kepadamu sedangkan loteng impian juga merupakan tempat kediaman pribadinya, dihari-hari biasa selain dua orang yang boleh kesitu, siapa saja dilarang mendekati tapi diapun memberikan tempatnya kepadamu."
"Cengcu, dihari hari biasa dua orang yang manakah yang diijinkan memasuki loteng impian?"
Beng Liau huan memandang sekejap ke arah nya, lalu tegasnya sambil tersenyum.
"Kongcu, mengapa kau ajukan pertanyaan ini?"
"Aaah, aku cuma bertanya seadanya saja."
Sahut Sun Tiong lo dengan wajah memerah. Sambil tertawa Beng Liauhuan gelengkan kepalanya berulang kali, ucapnya.
"Jika kau tidak menaruh perhatian kenapa musti mengajukan pertanyaan itu? Kalau sudah ditanyakan, itu berarti kau memang menaruh perhatian khusus."
Sun Tiong lo menjadi jengah sekali, sambil tertawa rikuh katanya.
"Aaah, terserah apa pun yang dikatakan cengcu."
Beng Liau huan segera tertawa, setelah termenung sebentar katanya.
"Orang yang diijinkan naik keatas loteng impian, selain Sancu pribadi, yang seorang adalah..."
"Apakah Khong It hong?!"
Tukas Sun Tiong lo. Beng liau huan segera manggut-manggut.
"Ya, benar memang manusia bedebah yang berhati kejam itu!"
Sun Tiong lo tidak berkata lagi, dia hanya membungkam sambil termenung. Beng liau-huan segera berkata lagi.
"Kong cu, tahukan kau bahwa selama ini belum pernah nona membawa orang mengunjungi loteng Hian ki lo, apa lagi memberikan petunjuk kepada seseorang jalan yang mesti dilewati untuk melarikan diri!"
"Sebenarnya semua hal tersebut sudah sepantasnya dia lakukan!"
Ujar Sun Tiong lo hambar.
"Kongcu, sebenarnya kau maksud apa?"
Sekali lagi Beng Liauhuan berusaha mancing.
"Cengcu, untung saja aku masih ada waktu beberapa hari lagi sebelum pergi, bagaimana kalau kita bicarakan persoalan ini beberapa hari lagi?"
Dengan perasaan apa boleh buat Beng liau huan menghela nafas panjang, dan sahutnya.
"Yaa, terserah pada kongcu sendiri!"
Berbicara sampai disitu, dia lantas mengambil keluar se
Jilid kitab dari sakunya, dalam kitab itu terselip sepucuk surat dan diangsurkan kepada Sun Tiong lo sambil katanya.
"lnilah titipan dari lohu, harap kongcu bersedia untuk menerimanya."
Sun Tiong lo menerima kitab tersebut tanpa dilihat lagi benda tadi dimasukkan kesakunya. Saat itulah dari luar ruangan tengah kebetulan terdengar Beng seng sedang berseru.
"Chin cong koan telah datang, apakah nona masih ada perintah yang lain.?"
Agaknya sinona gelengkan kepalanya maka terdengar Beng Seng berkata lagi.
"Tolong tanya nona, majikan hamba..."
"Ada dikamar baca, pergilah kau untuk melayaninya!"
Tukas si nona dengan cepat.
Menyusul kemudian terdengar suara langkah kaki Beng Seng bergema mendekati kamar baca itu.
Dikala Beng Seng masuk kedalam kamar baca, dari ruang tengah kebenaran sedang terdengar suara pembicaraan dari Chin Hui hou.
Terdengar Chm Hui hou dengan sikap yang sangat menghormat sedang berkata kepada si nona.
"Ada apa nona mengundang kehadiran hamba?"
Kemunculan Chin Hui hou agaknya si nona sudah melihat bekas luka diatas wajah-nya, dia lantas menegur.
"Kau terluka?"
"Yaa, hamba jatuh terjerembab ke atas tanah, mukaku kena gesek batu sehingga terluka..."
"Oooh ......kenapa bisa terjerembab ketanah?"
Dengan kepala tertunduk sahut Chin Hui hou.
"Hamba dipukul roboh oleh Sun kongcu..."
"Aaaah! Sun kongcu yang mana...?"
Seru si nona sambil menjerit kaget.
"Sun kongcu yang menyerbu keatas bukit itu!"
Si nona segera mendengus.
"Hmm ! apa sebabnya kau kena dirobohkan olehnya?"
"Masing-masing pihak ingin mencoba ilmu silat, maka kamipun membuat sebuah garis lingkaran seluas satu kaki, siapa yang keluar dari garis lingkaran itu akan dianggap kalah, hamba..."
"Kau kalah?"
Bentak si nona dengan gusar. Chin Hui hou segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak, hamba menang!"
Sahutnya.
"Chin Hui hou, aku lihat nyalimu makin lama semakin besar, kau berani membohongi aku?"
""Hamba tidak berani membohongi nona."
Si nona segera mendengus dingin.
"Hmm! Kalau toh kau kena dihantam sampai keluar garis, bahkan terluka lagi?, kenapa kau dikatakan menang?!"
"Selama pertarungan ini dilangsungkan Sun tongcu yang satunya bertindak sebagai saksi, kami telah berjanji pertarungan ini cuma terbatas saling menutul dilarang melukai, kalau tidak maka orang yang terluka itu di anggap sebagai pemenang."
Mendengar jawaban tersebut kontan saja sinona cekikikan, dan serunya.
"Sudahlah terang mereka bermaksud untuk mempermainkan dirimu, tak tahunya kau malah termakan oleh jebakan mereka!"
Chin hui hou sengaja berbicara terus terang hal ini disebabkan karena dia memang berniat untuk main licik, maka setelah mendengar ucapan dari sinona, dengan cepat dia tunjukkan muka rikuh dan minta belas kasihan, dan katanya.
"Ya, siapa bilang tidak, cuma sayang aku tak dapat memahami kelicikan mereka saat itu!"
Setelah terkejut tertawa tadi, sinona sudah merasa menyesal sekali, maka dalam kata-kata inilah dia mengumbar hawa amarahnya.
"Hmm ! Kau sebagai seorang congkoan dari bukit ini, seharusnya juga tahu akan peraturan dari bukit kita ini, selamanya peraturan kita pegang teguh, mengapa kau sekarang berani beradu kepandaian dengan Sun kongcu sebagai tamu agung kita. Apakah dalam pandanganmu sudah tiada peraturan lagi.
"Sebenarnya hamba tidak berani berbuat demikian, adalah Sun kongcu yang menjadi saksi yang berkata kalau urusan ini adalah urusan pribadi, lagi pula saling mengukur ilmu silat juga tidak terhitung seberapa..."
"Sun kongcu adalah tamu agung kami"
Bentak si nona dengan marah.
"apa pun yang dia katakan, boleh saja dia utarakan, tapi tidak demikian dengan kau. Apakah urusan pribadi yang dikatakan Sun kongcu juga merupakan urusan pribadimu ?"
"Hamba tahu salah!"
Si nona segera mendengus, kembali katanya.
"Bila Sancu telah pulang nanti, ia akan membereskan sendiri persoalan ini, sekarang aku hendak menanyakan lagi suatu masalah yang lain, tapi kuperingatkan dulu kepadamu, kau harus menjawab sejujurnya!"
"Baik hamba tak berani berbohong!"
Si nona segera mendengus dingin, katanya.
"Khong lt-hong telah pulang, tahukah kau?"
Sahut Chin hui hou sambil diam dianm menggigit bibirnya kencang kencang.
"Hamba tahu!"
"Kenapa tidak kau laporkan kedatangannya itu padaku?"
Teriak si nona dengan gusar.
"Tadi hamba telah datang kemari, maksudku adalah untuk melaporkan kejadian ini kepada nona, tapi Sun kongcu yang nyerbu bukit itu menghalangi hamba, katanya nona dan seorang Sun kongcu yang satu sedang membicarakan soal penting didalam kamar buku..."
"Maka dari itu kau lantas mengundurkan diri dari ruangan ini ?"
Bentak si nona dengan suara dalam.
"Benar!"
Jawab Chin Hui hou dengan hormat.
"hamba tidak berani mengganggu ketenangan nona."
"Sejak kapan sih kau berubah menjadi seorang pengecut yang bernyali kecil?"
Chin Hui-hou tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya dan tidak berbicara maupun bergerak.
Dengan demikian, si nona pun tidak berhasil memegang titik kelemahan Chin Hui hou dalam peristiwa ini, maka dia berkata lagi.
"Besok pagi, kau temani lagi kedua orang Sun kongcu untuk berjalan jalan ke bukit sebelah depan, ingat ! Kau harus melayaninya seperti tamu agung, jika sampai terjadi suatu peristiwa lagi, hmm ! Hmm !"
Dengan suara menghormat Chin Hui hou mengiakan.
"Baik nona, cuma hamba kuatir besok tak bisa menemani Sun kongcu berdua !"
"Berhakkah kau mengucapkan kata kata semacam itu?"
Teriak si nona dengan mata melotot.
"Nona, kau tidak tahu, barusan Khong ya memerintahkan kepada hamba, agar besok pagi..."
"Tutup mulut!"
Bentak si nona dengan suara dalam.
"Chin Hui hou ! Kau harus tahu, Bukit ini adalah bukit kepunyaan keluarga Mo, aku adalah nona dari keluarga Mo, selama sancu tidak ada, akulah orang yang berhak memberi perintah..."
Belum habis perkataan itu diucapkan Khong It liong dengan wajah sedingin es telah masuk dalam ruangan tengah. Begitu melangkah masuk dalam ruangan, dia lantas menegur.
"Adik Kim, tidak seharusnya kau berkata demikian !"
"Kalau tidak dikatakan begini, lantas apa yang harus kukatakan?"
Seni si nona dengan mata dingin.
"Adik Kim, bukannya kau tidak tahu, selama beberapa tahun belakangan ini, setiap kali san cu sedang pergi, semua urusan dibukit ini diserahkan kepada siau heng, segala sesuatunya siau henglah mengambil keputusan, tampaknya untuk kali inipun tiada pengecuaIiannya bukan."
Kata Khong It hong dingin.
"Khong It hong memang betul ayahku sedang keluar rumah, dikala yang memegang kekuasaan, tapi setiap kali kau selalu diberi perintah lewat surat, apakah kali ini kau juga mendapat perintah surat..?"
Khong It hong tertawa seram.
"Adik Kim, rupanya kau sedang menggoda aku, masa kau lupa, dikala Sancu pergi hari ini, siau heng belum lagi kembali kegunung, mana mungkin sancu bisa menyerahkan lencana San leng kepada siauheng ?"
"Oooh....kalau begitu, kali ini kau tidak memiliki lencana San leng bukan ?"
"Yaa, tidak ada !"
Si nona segera tertawa dingin.
"Lantas atas dasar apakah kau hendak memerintah bukit kali ini?"
Ejeknya.
"Tadikan sudah siau heng katakan, semuanya ini adalah peraturan yang sudah terbiasa suatu kebiasaan, otomatis selamanya juga akan berlangsung begitu!"
"Benarkah demikian?"
Ejek sinona sambil tertawa dingin. Kong lt hong juga tertawa dingin.
"Siauheng tidak melihat sesuatu yang tidak leluasa atau melanggar kebiasaan!"
Mencorong sinar tajam dari balik matanya si nona, sepatah demi sepatah dengan serius, dia bertanya.
"Khong It hong apakah kau adalah anggauta bukit kami?"
Khong It hong mengerutkan dahinya paras-mukanya juga makin lama makin tak sedap dilihat, serunya.
"Siauheng adalah murid san cu, dan lagi akupun ponakannya, dan tentu saja aku adalah anggota dari bukit ini!"
Si nona segera mendengus dingin.
"Kalau begitu aku ingin bertanya kepadamu peraturan lebih besar, atau kebiasaan lebih besar, atau lencana San leng yang lebih besar?"
"Tentu saja Sanleng merupakan benda yang paling besar dan paling tinggi!"
Sahut Khong-It hong tanpa berpikir panjang lagi.
Si nonapun segera mendengus marah, dengan cepat dia merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan sebatang lencana San leng yang ber warna emas, dan bentaknya.
"Khong It hong, kau kenal dengan benda ini?"
Baik Khong It hong maupun Chin hui hou sama-sama dibuat melongo sesudah menyaksikan benda tersebut, tetapi mereka tidak berani berayal lagi buru buru sahutnya hormat.
"Hamba menjumpai San leng!"
Seraya berkata kedua orang itu bersama-sama menjatuhkan diri berlutut keatas tanah. Si nona menggertak giginya kencang kencang. lalu kepada Chin Hui hou serunya.
"Chin Hui hou segera bunyikan Genta emas!"
Begitu mendengar ucapan "membunyikan genta emas", Chin Hui hou menjadi pucat pias seperti mayat, saking takutnya dia sampai melongo dan termangu-mangu.
Beberapa saat kemudian dia baru berkata dengan suara gemetar.
"Nona ijinkan hamba... hamba untuk mengucapkan bebe...beberapa patah kata !"
Sementara itu muka Khong It hong telah berubah menjadi pucat kehijau-hijauan, dengan suara mendongkol dan gemetar serunya.
"Chin Hui hou, bila kau berani mintakan ampun kepadaku, hatihati dengan selembar jiwa anjingmu dikemudian hari!"
"Khong It hong!"
Teriak si nona dengan suara dalam.
"berada dihadapan lencana Kim Ieng kau berani bicara sembarangan? Hmr! Kau terlalu menghina kewibawaan lencana San leng ini, kau anggap nona tak berani menghukum kau ?"
"Nona Kim, lebih baik lagi jika hari ini kau bunuh sekalian aku orang she Khong!"
Seru Khong It hong sambil tertawa dingin. Chin Hui hou yang berada disampingnya segera berseru.
"Sauya, buat apa kau musti nekad ?"
Khong It hong segera mendengus dingin.
"Hmm!Jika kau tak berani dengan nona Kim lebih baik tak usah banyak bacot !"
Sementara itu si nona sudah mencak mencak karena gusar, bentaknya sekali lagi.
"Chin Hui hou, kau berani membangkang perintah?"
Chin Hui hou segera menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"Nona, harap redakan dulu hawa amarahmu, bila genta emas dibunyikan delapan orang Tiang lo pasti akan berkumpul diruangan ini untuk menunggu petunjuk, coba bayangkan nona, bagaimana pertanggungan jawabmu nanti terhadap tianglo berdelapan ?"
"Soal itu adalah urusan nonamu sendiri, kau tak usah banyak bertanya!"
Bentak si nona dengan marah.
"Nona, Sancu sendiripun andaikata tidak menjumpai persoalan besar yang penting dan serius, dia tak akan berani mengganggu tianglo berdelapan, tapi sekarang dalam marahnya saja nona akan membunyikan genta emas itu."
"Chin Hui hou!"
"hardik si nona.
"jika kau berani membangkang perintahku lagi, segera kubunuh dirimu !"
Dengan perasaan apa boleh buat pelan-pelan Chin Hui hou bangkit berdiri lalu mengundurkan diri dari ruangan itu.
Khong It hong tetap berlutut diatas tanah, sinar matanya memancarkan cahaya berapi-api mukanya tampak menyeringai menyeramkan.
Sesaat kemudian suara genta oerbunyi bertalu-talu dan menggema diseluruh bukit.
Waktu itu, Sun Tiong lo yang berada di dalam kamar baca sedang memberi tanda kepada Bau-ji untuk meninggalkan sedikit celah pada pintu, kemudian sambil mendekati Beng Liau huan tanyanya dengan suara lirih.
"Cengcu, ke delapan orang tianglo tersebut adalah manusia ada dalam bukit ini ?"
"Mengenai soal itu, lohu telah mencatatnya dengan jelas dalam kitab kecil itu, cuma lohu tidak menyangka kalau didalam gusarnya, nona telah membunyikan genta emas dan mengumpulkan delapan orang tianglo."
"Bagaimanakan tenaga dalam yang dimiliki delapan orang tianglo itu ?"
Tanya Sun Tiong-lo lagi.
"Kecuali Sancu, tiada seorang manusia pun yang sanggup menandingi mereka...."
"Apakah cengcu tahu tentang nama mereka"
Kembali Sun Tiong lo bertanya dengan kening berkerut. Beng Liau huan segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Selama belasan tahun, lohu hanya sempat bertemu dua kali dengan mereka, pertama kali adalah pada malam perkampungan keluarga Beng kami ini dihancurkan, kedua kalinya adalah pada hari Tiong ciu delapan tahun berselang !"
"Apakah mereka baru munculkan diri setiap hari Tiong ciu ?"
Sekali lagi Beng Liau huan menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tempo hari hanya secara kebetulan saja, kebetulan waktu itu malam Tiong ciu, San cu belum pulang, dibukit ini telah kemasukan jago lihay yang hendak mencuri barang mestika, para huhoat penjaga bukit serta para congkoan tak sanggup menahan diri, maka...."
"Berapa orang jagokah yang terlibat dalam pencurian mestika waktu itu..?"
"Beng Liau huan berpikir sebentar, kemudian menjawab.
"Mereka berlima !"
"0ooh...berapa orang huhoat penjaga bukit dan congkoan yang bertugas hari itu ?"
"Semuanya dua belas orang !"
Sun Tiong lo manggut2, katanya kemudian.
"Kalau begitu, ilmu silat yang dimiliki kelima orang tamu tak diundang itu lihay sekali?"
"Ya, mereka adalah Pi-an-say-ngo-ciat (lima manusia ampuh dari pinggir perbatasan) yang tersohor namanya dalam dunia persilatan itu!"
Mendengar nama itu, paras muka Sun Tiong lo berubah, katanya.
"Ngo-ciat bukan termasuk manusia bengis yang berperangai jahat, masa mereka datang kemari untuk mencari mestika ?"
"Setelah kejadian itu lohu baru tahu kalau putra tunggal loji dari Ngo ciat telah dibekuk orang, pihak lawan meninggalkan surat yang menitahkan kepada mereka untuk menukar bocah itu dengan seratus biji buah aneh dari bukit ini, maka..."
"Dengan tingkat kedudukan serta nama besar yang dimiliki Ngociat seharusnya mereka langsung mencari si penculik tersebut."
"Sayang. pihak lawan sangat lihay, cara kerjanya amat rahasia dan sukar lagi untuk menduga siapa orangnya, dimana tempat tinggalnya karena itu terpaksa mereka harus naik gunung, untuk meminta buah aneh itu, merekapun menerangkan bila orang itu sudah menampakkan diri, mereka pasti tak akan menyerahkan buah aneh itu kepada mereka, sebab tujuan mereka hanyalah untuk memakai buah tersebut sebagai umpan guna membekuk para manusia terkutuk itu."
"Ehmm... cara kerja Ngo ciat memang tak lepas dari tindak tanduk seorang enghiong dan mungkin lantaran perundingan itu tidak mendatangkan hasil dalam keadaan tak berdaya, Ngo ciat terpaksa harus naik ke gunung untuk mencuri buah aneh itu !"
"Yaa, memang begitulah kenyataannya."
"Akhirnya apakah Pian say ngo ciat kena dibekuk oleh delapan orang tianglo tersebut?"
Tanya Sun Tiong lo dengan kening berkerut. Beng Liau huan menghela nafas panjang.
"Aaaii... ngo ciat memang jago jago yang hebat, ketika terkurung mereka berikan perlawanan yang gigih sekali, ketika pertarungan berdarah sudah berlangsung setengah harian, tapi harapan untuk memperoleh buah aneh itu hilang dan kemungkinan untuk lolos juga tak ada, merekapun bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya !"
Sun Tiong lo menghela nafas panjang.
"Aaaii... rupanya begitu, sungguh teramat sayang."
Katanya. Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Cuma dengan kemampuan delapan orang tianglo itu untuk mengerubuti ngo ciat, meski ngo ciat mati secara gagah, namun dari sinipun dapat diketahui kalau kepandaian yang dimiliki delapan orang tianglo itu sungguh amat dahsyat." -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB SEBELAS BARU SAJA Beng Liau huan hendak menjawab, dari balik celah pintu sudah berkumandang suara pembicaraan yang sangat nyaring. Suara itu bergema bagaikan guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong.
"Pat tek pat lo mendapat perintah lonceng emas datang berkumpul, silahkan Kim leng memberi perintah !"
Menyusul kemudian terdengar suara nona bergema.
"Silahkan Tiong lo untuk memeriksa Kim leng !"
Jawaban dari Tiong lo amat cepat.
"Lohu terima perintah!"
Suasana dilain ruangan itu hening untuk beberapa saat, menyusul kemudian suara dari Tiong lo berkumandang lagi.
"Yaa, Kim-leng ini memang benar Kim leng asli cari perguruan kami, lohu sekalian siap menunggu perintah."
Suara si nona pun berubah menjadi jauh lebih halus dan lembut, katanya kemudian.
"Pat-lo, silahkan duduk untuk berbincang-bincang!"
Delapan orang kakek itu mengiakan dan sama-sama duduk. Sementara itu, Sun Tiong lo telah berbisik kepada Bau-ji.
"Baik-baik menjaga pintu ini, jangan sampai bersuara, aku akan mengintip ke sana!"
"Dari sinipun dapat mendengar pembicaraan mereka, kenapa harus menyerempet bahaya?!"
Cegah Bau ji. Sun Tiong-lo gelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya.
"Aku harus berusaha untuk mengenali paras muka mereka semua !"
Baru selesai ucapan tersebut, Sun Tiong-lo telah menyelinap keluar dari dalam kamar baca.
Dari sikap si nona yang begitu menaruh hormat kepada delapan orang kakek tersebut, dia menduga ilmu silat yang dimiliki ke delapan orang kakek tersebut pasti lihay sekali, dia tak berani mengintip dari belakang pintu ruangan, maka diam-diam dia menyelinap melalui belakang pintu tersebut.
Tatkala dia sudah melingkari ruangan dan tiba di sebelah kanan untuk mencari tempat persembunyian, kebetulan dari dalam ruangan itu sedang berkumandang suara dari si nona.
Terlihat si nona sedang menuding ke arah Khong It-hong dan berseru dengan suara keras.
"Sekarang, tiba saatnya bagimu untuk memberi penjelasan kepada delapan tianglo !"
Dengan sangat berhati-hati sekali Sun Tiong-lo mengintip ke dalam ruangan, dia hanya menyaksikan sepasang bahu dan bagian atas tubuh Khong It-hong serta empat dari delapan kakek itu, sementara empat yang duduk di sebelah kanan cuma tampak bayangan punggungnya saja.
Meski demikian, empat orang kakek di sebelah kiri yang dapat terlihat itu pun sudah cukup menggetarkan perasaan Sun Tiong-lo.
Empat oranp itu memakai baju dengan dandanan yang sama, satu-satunya perbedaan hanyalah pada lencana emas yang tergantung di atas dada masing-masing orang.
Pada lencana emas itu terteralah huruf-huruf yang berbeda, yakni Iiong, siau, Jin, Ay, Tak bisa di sangkal lagi, tulisan pada lencana emas yang dikenakan empat kakek disebelah kanan yang tidak nampak paras makanya itu adalah Kim, Gi, Hoo dan Peng.
Dengan cepat Sun Tiong-lo mengingat baik-baik paras muka emnat orang kakek yang berada disebelah kiri itu, sedangkan terhadap tanya jawab yang sedang berlangsung sama sekali tidak tertarik.
Maka diam-diam diapun menyelinap kesebelah kiri ruangan untuk mengintip paras muka dari empat orang kakek yang duduk disebelah kanan itu.
Benar juga, tulisan yang tertera diatas lencana emas yang dikenakan keempat orang kakek itu adalah Sim, Gi, Hoo dan Peng.
Setelah melihat jelas paras muka ke delapan orang kakek itu Sun Tiong lo merasakan hatinya tergerak, diam-diam diapun tersenyum.
Kini paras muka kedelapan orang tlonglo itu sudah diingat olehnya, maka pemuda itupun dapat mengikuti tanya jawab yang sedang berlangsung itu dengan lega hati.
Saat itu, kebetulan Khong It hong sedang menjawab.
"lt hong tak ingin banyak menyangkal..."
Tapi sebelum ucapan tersebut selesai, kakek liong dari antara delepan kakek itu sudah membentak dengan suara dalam.
"Tutup mulut!"
Setelah berhenti sebentar katanya lebih lanjut.
"Khong It-hong, dihadapan Kim leng, di hadapan lohu bersaudara, kau menyebut apa kepada dirimu?"
Diam-diam Khong It hong menggertak giginya menahan diri, kemudian sahutnya.
"Hamba tak ingin banyak membantah."
Kakek Liong mendengus gusar, kembali tukasnya.
"Khong lt hong, dengarkan baik-baik, berada dibawah perintah Kim leng, persoalannya bukan kau bersedia membantah atau tidak, melainkan kau wajib dan harus patuh!"
Khong It hong merasakan sekujur badannya menggigil keras, sambil mengigit bibir serunya.
"Hamba mengaku salah, tidak membantah toh boleh saja bukan ?"
Pada saat itulah si nona baru mendengus dingin, kepada kakek Tiong. katanya.
"Kakek Tiong, sekarang tentunya kau telah menyaksikan segala sesuatunya dengan mata kepala sendiri bukan ?"
"Benar!"
Sahut kakek Tiong seraya menjura.
"berada di hadapan Kim-leng, lohu bersaudara pasti akan memberikan keputusan yang adil."
Si nona kembali mendenguar katanya.
"Sekarang Sancu masih ada dan kebetulan saja baru pergi keluar tapi Khong It-hong sudah berani menghina Kim leng, memandang rendah Pat-lo, andaikata ia sampai memegang kekuasaan suatu saat, bagaimana jadinya nanti?"
Kakek Tiong kembali mengiakan segera ujarnya kepada Khong Ithong dengan suara dalam.
"Khong It-hong, kau mengaku salah ?"
Knong It-hong kembali mendengus dingin.
"Kakek Tiong telah memperingatkan kepada hamba tadi,dihadapan Kim leng, apalagi dihadapan Pat lo, sekalipun hati hamba terasa terhina dan banyak alasan yang hendak kukemukakan, tapi apa pula gunanya ?"
"Lohu pasti akan memberi kesempatan kepadamu untuk memberi penjelasan menurut suara hatimu!"
Jawab kakek Tiong sambil tertawa dingin. Kakek Liau segera menyambung pula.
"Sekalipun nona memegang lencana Kim leng, kau berharap mendapat kesempatan untuk berbicara!"
Dengan wajah menyeringai dan mata memancarkan sinar gusar dan dendam, Khong It hong melotot sekejap ke arah si nona, kemudian katanya.
"Ucapan Pat lo memang benar, tapi hamba bersedia melepaskan kesempatan tersebut !"
"Kenapa ?"
"Hamba tak dapat mengaku ?"
Kata Khong lt hong sambil tertawa seram.
"Khong It hong"
Ujar Kakek Tiong sambil berkerut kening-"besar amat nyalimu dan tajam benar selembar mulutmu!"
"Heeh... heeehhh.... heeehh... tapi semuanya adalah kenyataan,dan kenyataan memang lebih menang daripada sanggahan."
Kakek Tiong menjadi teramat gusar, segera bentaknya.
"Hayo bicara, kau harus mengutarakan semua kenyataan itu dengan sejelas-jelasnya!"
Khong It hong memandang sekejap kearah lencana Kim leng yang berada ditangan nona kemudian katanya.
"Harap pat lo maklum, dengan lencana Kim-leng diacungkan diudara, hamba mana berani berbicara!"
Mendengar ucapan tersebut, si nona menjadi mendongkol dia sudah bersiap siap untuk menyimpan tanda leng pay itu dan mengajak Khong It hong berdebat, tapi pada saat itulah mendadak ia mendapat bisikan lirih sekali yang segera membatalkan niat nona itu untuk menyimpan kembali lencananya.
Menyusul kemudian, dengan senyuman dikulum si nona berkata kepada Khong lt hong dengan nada mengejek.
"Kau memang sangat pintar, rupanya kamu sengaja memancing kemarahanku agar aku menyimpan kembali lencana Kim leng tersebut, kemudian kaupun akan mempergunakan ketajaman lidahmu untuk memutar balikkan keadaan, hmm...! Jangan mimpi"
Mendengar perkataan itu paras muka Khong it hong berubah hebat, belum sempat dia berbicara sinona lelah berseru dengan lantang.
"Dimana Chin hui hou?"
Chin hui hou segera mengiakan dan menjatuhkan diri berlutut diatas tanah. Dengan suara dalam sinona membentak.
"Ceritakan semua apa yang kau alami dan saksikan dengan sejujurnya."
Sekalipun Chin hui hou sangat berpihak kepada Khong it hong namun dia tidak berani membangkang perintah Kim leng, apalagi hadir delapan tianglo di situ, dia semakin tak berani membohong lagi, terpaksa semua yang diketahuinya dibeberkan sejujurnya.
Ketika Chin Hui hou telah selesai berkata, sinona baru berpaling kearah delapan tianglo sambil berkata.
"Tolong tanya Pat lo, apakah ucapan dari Chin Hui-hou ini bisa dipercaya ?"
Kakek Tiong segera menjura, sahutnya.
"Apa yang dikatakan Chin Hui hou memang persis seperti apa yang dikatakan nona, tentu saja dapat dipercaya !"
Tapi sinona segera menggelengkan kepala nya berulang kali, ujarnya dengan serius.
"Tidak, aku harus membuat Khong It hong mengakuinya dengan hati yang takluk !"
Pada saat itu sifat bengis Khong It-hong sudah jauh berkurang, tidak menanti sinona bertanya kepadanya, dia telah menjawab.
"Hamba mengakui semua kenyataan tersebut, cuma..."
"Hmm ! Kali ini kau sudah mengakui bahwa semua kejadian itu benar?!"
"Yaa, cuma hamba masih ada hal lain yang perlu disampaikan !"
Dengan wajah membesi sinona segera berpaling kearah kakek Tiong, tanyanya.
"Apakah Pat lo masih butuh mendengarkan pengakuannya menurut versi yang dia karang sendiri ?"
Dengan gusar kakek Tiong memandang wajah Khong It hong sekejap, lalu sahutnya.
"Nona, lohu sekalian merasa bahwa hal ini sudah tidak penting lagi, apa yang sudah kami dengar, rasanya sudah lebih dari cukup !"
Si nona segera manggut-manggut, katanya kemudian.
"Kalau memang begitu, pat lo telah menjatuhkan vonis bahwa Khong It-hong bersalah?"
Kakek Tiong mengiakan. Si nonapun bertanya lagi.
"Untuk dosa serta kesalahan yang telah dilakukannya itu, dan hukuman apakah yang akan dijatuhkan kepadanya?"
Kakek Tiong saling berpandangan sekejap dengan ketujuh orang kakek lainnya, lalu.
"Lohu rasa, Khong It hong sudah sepantasnya kalau dijebloskan keruang siksa tingkat yang delapan belas untuk bekerja keras selama seratus hari lamanya!"
Sinona termenung dan berpikir sebentar dan sambil mengacungkan lencana Kim leng nya diapun berseru.
"Kcputusan telah dijatuhkan, diharap kakek Tiong membawa siterhukum menuju ketempat penyiksaan!"
Setelah berhenti sebentar, dia berkata.
"Jika urusan disini telah selesai, di pergilah Pat lo kembali ke istana Sinkiong!"
Delapan orang kakek itu segera mengiakan. Mendadak Khong Ithong berteriak keras.
"Nona Kim bersekongkol dengan musuh dari luar..."
Kakek Tiong mendengus dingin, jari tangan nya segera di ayunkan kemuka dan menotok jalan darah bisu ditubuh Khong It hong, Dengan marah kakek Siau berkata pula.
"Itulah yang dinamakan mencari penyakit buat diri sendiri, ayoh cepat menggelinding dari sini dan turut lohu bersaudara pergi ketempat hukuman!"
Paras muka Khong It hong berubah pucat pias bagai mayat, sambil berdiri dari tanah, dengan gemas dia melotot sekejap kearah si-nona dan tanpa berpaling lagi dia berjalan keluar Iebih dulu dari ruangan.
Delapan orang kakek itu segera memberi hormat kepada sinona, kemudian baru mengundurkan diri dari ruangan.
Sepeninggal delapan orang kakek itu, dengan sinar mata setajam sembilu sinona baru--melotot kearah Chin Hui hou, katanya.
"Chin Hui-hou, sekarang tiba giliranmu !"
Chin Hui hou mendekam diatas tanah tak berani berkutik selama ini, dia tak pernah mendongakkan kepalanya.. Ketika mendengar perkataan itu, dengan badan menggigil karena ketakutan serunya.
"Nona, ampunilah jiwaku..."
"Hayo bicara !"
Bentak nona dengan suara dalam.
"dari mana datangnya luka diatas mukamu itu?!"
Chin Hui hou tak berani berayal lagi, secara ringkas dia lantas menceritakan apa yang telah dialaminya.. Mendengar cerita tersebut, sinona segera mendengus dingin, katanya.
"Didalam persoalan ini kau juga tak akan lolos dari hukuman berat..."
Kemudian dengan nada berubah, katanya.
"Tidak sampai berapa hari lagi Sancu akan pulang, selama beberapa hari ini, kau harus lebih berhati-hati."
Chin Hui hou mengiakan berulang kali, Maka sinonapun menyimpan kembali lencana Kim lengnya, lalu sambil mengulapkan tangannya dia membentak.
"Enyah kau dari sini, cepatlah kau panggil kemari "Kim poo cu!"
Mengetahui kalau dirinya mendapat pengampunan, Chin hui hou menjadi girang sekali, dengan cepat dia mengundurkan diri dari ruangan dan buru buru berlalu dari sana.
Sementara itu Sun Tiong lo sudah balik ke-kamar baca, kepada Bau ji dia lantas berkata.
"Toako, tunggu aku disini, siaute akan pergi dahulu sebentar.
"Kau akan pergi kemana Iagi?"
Tanya Bau ji dengan tertegun. Sun Tionglopun segera gelengkan kepalanya berulang kali dan katanya.
"Toako, sekarang kau jangan bertanya dulu. lain kali, siaute pasti akan menerangkan lebih jelas lagi kcpadamu."
Setelah berhenti sejenak, Katanya lagi.
"Sebelum kentongan ketiga nanti, jika siaute belum juga kembali silahkan toako kembali dulu ke loteng, andaikata nona menanyakan tentangku,, maka toako bisa mengadakan kalau badanku tidak enak dan telah pulang dahulu ke-loteng impian untuk pergi tidur!"
Berbicara sampai disitu, tak menunggu pertanyaan dari Bau ji agir dia segera berkelebat pergi meninggalkan tempat itu.
-ooo0dw0oooSEMBILAN sosok bayangan manusia bersemi ditengah tanah lapang luas yang penuh dengan semak belukar.
Mendadak kesembilan sosok bayangan manusia itu lenyap dengan begitu saja.
Sesosok bayangan manusia lain yang berada ditempat kejauhan segera mengerutkan dahinya setelah menyaksikan kejadian itu.
Tampak bayangan manusia itu termenung sebentar, kemudian dengan suatu gerakan yang amat cepat meluncur kearena tersebut.
Hari ini meski langit tak berbulan, namun secara lamat-lamat dapat terlihat jelas bayangan serta paras muka orang itu.
Dia memakai jubah panjang dengan wajah yang tampan, cuma sayang berwarna kuning kepucat-pucatan seperti wajah seorang yang baru sembuh dari penyakit berat, sementara sepasang matanya dengan tajam mengawasi sekeliling tempat itu.
Tempat dimana dia berada adalah sebuah tanah lapang berumput yang setinggi lutut.
Dibalik semak belukar itu tentu saja terdapat batu-batu cadas, ada yang besar ada pula yang kecil, tapi selain itu tidak nampak sesuatu yang mencurigakan lagi.
Bayangan manusia itu segera berkerut kening, menggelengkan kepalanya berulang kali seperti tidak percaya dengan apa yang barusan terlihat.
Mendadak bayangan itu tertawa, sambil maju dua langkah dia berdiri didepan sebuah batu panjang yang mencuat ke atas.
Dengan kaki kirinya bayangan manusia itu menutul sebentar di atas batuan tadi, tiba-tiba permukaan tanah itu merekah bagian tengahnya, bayangan itupun turut terjatuh ke dalam rekahan tanah tersebut.
Permukaan tanah kembali merapat, seperti ular raksasa yang menelan korbannya.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Terdengar suara langkah kaki bergema datang, kalau didengar dari suara itu, tampaknya tidak sedikit jumlahnya.
Dalam waktu singkat, delapan sosok bayangan manusia telah makin mendekat dari kejauhan dan berdiri di tengah lorong bawah tanah.
Pada kedua belah dinding itu masing-masing tertancap obor.dibawah cahaya api dapat terlihat bahwa ke delapan orang itu adalah delapan kakek yang dinamakan Pat tek pat lo.
Tampak Kakek Tiong menyentilkan jari tangannya menotok sebuah tempat pada dinding bagian kanan, menyusul kemudian terbukalah sebuah pintu rahasia, delapan orang kakek tersebut dengan cepat meluncur ke luar sebelum pintu itu merapat kembali.
Beberapa saet kemudian, langit-langit itu membuka kembali dan bayangan itupun meluncur keluar pula dari dalam lorong tadi.
Waktu itu, delapan orang kakek Pat tek pat lo sedang berjalan didepan sana, kurang lebih puluhan kaki jauhnya.
Walaupun mereka tidak mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, namun gerakan tubuh orang orang itu cukup cepat, dalam waktu singkat beberapa orang itu sudah menuju kebelakang perkampungan sana.
Bayangan manusia tersebut masih saja mengikuti pada jarak sepuluh kaki dibelakangnya.
Setelah melewati kaki bukit, mendaki pinggang bukit, akhirnya sampailah mereka diatas puncak bukit dibelakang gunung sana.
Bayangan manusia itu segera mengalihkan sinar matanya kedepan sana, kemudian diam-diam mengangguk.
Sebaris pohon siong yang menjulang tinggi keangkasa telah menghalangi pandangan matanya, pohon tersebut diatur sangat rapi dan teratur sekali, pada tanah kosong antara satu pohon dengan pohon yang lain ternyata ditanami dengan "liong-siong"
Yang sukar ditanam, waktu itu pohon "Long-siong"
Tersebut sudah mencapai ketinggian lima jengkal. Oleh sebab itu, seandainya barisan pohon siong dan liong siong"
Tersebut tidak ditembusi dulu, entah dari sudut pandangan manapun akan yang tinggi atau rendah, jangan harap bisa menyaksikan pandangan yang sesungguhnya dibelakang pohon tersebut.
Dibelakang pohon siong itu terdapat sebuah gua batu, diatas gua batu itu terukirlah huruf "Sin-kiong"
Yang besar dan berwarna kuning emas.
Bayangan tubuh ke-delapan orang itu lenyap tak berbekas setelah melewati pepohonan siong yang lebat tersebut, tak bisa disangkal lagi mereka telah memasuki gua batu yang bernama "Sin-kiong"
Tersebut.
Kini bayangan manusia itupun telah menembusi pula pepohonan siong yang lebat tersebut.
Akhirnya dia berhenti didepan gua Sin-kiong tersebut, ditepi sebatang pohon siong.
Sorot matanya tidak ditujukan ke arah gua tersebut, melainkan menyapu sekejap kiri dan kanan gua, kemudian tertawa tergelak.
Sambil bergendong tangan, tegurnya.
"Sepanjang jalan kalian berdelapan telah memancingku kemari, sekarang, mengapa pula menyembunyikan diri keempat penjuru ?"
Baru selesai dia berkata, dari kedua belah samping gua tersebut segera berjalan keluar delapan orang kakek.
Tiong, Siau, Sin dan Ay empat kakek muncul dari sebelah kiri sedangkan Sim, Gi, Hoo, Peng empat kakek yang lain muncul dari sebelah kanan....
Delapan orang kakek itu segera menyebarkan diri dan menyumbat mati jalan mundur bayangan manusia tersebut.
Dengan sinar mata tajam sembilu, kakek Tiong mengawasi orang itu lekat-lekat, lalu serunya.
"Orang lihay tidak menampakkan diri, lohu bersaudara betul-betul merasa terkecoh !"
"Mana, akupun sudah terlalu gegabah !"
Kata orang itu tertawa. Yang di maksudkan "Terkecoh"
Oleh delapan orang kakek itu adalah dia tak menyangka tau tindakan mereka untuk menyembunyikan diri tidak berhasil mengelabuhi bayangan manusia tersebut. Sedangkan orang itu mengatakan "Gegabah"
Karena perguntilannya berhasil diketahui oleh ke delapan orang kakek tersebut. Maka kakek Tiong pun segera tertawa terbahak-bahak.
"Hah...haa....sama-sama, sama sama,..haha....
"Ah, mana, mana"
Kata orang itu sambil tersenyum.
"kalian berdelapan mengetahui diri ku lebih dulu, seharusnya akulah yang sudah kalah setingkat dari kalian berdelapan !"
"Kalau begitu kita setali tiga uang, haah..."
Tiba tiba kakek Peng bertanya.
"Kau datang dari mana? Siapa namamu ?"
Orang itu tidak menjawab, sebaliknya malah berkata.
"Pat-tek-pat-lo adalah orang orang yang terhormat dan berkedudukan tinggi, masa tidak tahu bagaimana caranya menerima tamu ?"
Mendengar ucapan itu, Pat-lo menjadi terperanjat. Kakek Tiong segera bertanya.
"Jadi kau sudah tahu siapakah kami berdelapan ?"
"Benar!"
Orang itu mengangguk. Setelah berhenti sejenak, sambil tertawa katanya lagi.
"Aku tak ingin berbohong, sesungguhnya aku tahu secara kebetulan saja..."
"Maksudmu ketika kami berada dalam ruang tengah perkampungan itu."
"Benar, kalau tidak dari mana aku bisa tahu siapa gerangan kalian berdelapan !"
"Setelah kan berbicara sejujurnya, aku kuatir kalau keadaan justru malah tidak menguntungkan bagimu."
"Aaaaah, kalau aku diharuskan berbohong karena keadaan, lebih baik tidak kulakukan saja."
Kakek Tiong berseru tertahan, lalu memandang kearah ketujuh orang rekannya.. -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***
Jilid 9 TUJUH ORANG KAKEK yang lain segera manggut-manggut. Maka kakek Tiong segera tertawa terbahak bahak, katanya.
"Bagus sekali, bersediakah kau untuk masuk istana Sin kiong dan berbincang-bincang?"
Orang itu tertawa.
"Mau sih mau, cuma leluasa tidak?"
Kakek Tiong memandang sekejap rekan-rekannya, kemudian katanya lagi kepada orang itu.
"Kau adalah seseorang yang bisa dipercaya dan lohu ada niat untuk memenuhi keinginanmu mengertikah kau bahwa istana Sin kiong bukan suatu tempat yang bisa didatangi setiap orang, lagipula bukit inipun mempunyai peraturan yang berlaku?"
Orang itu mengangguk.
"Aku mengerti, cuma aku adalah tamu dari Pat lo, lagipula kalian yang mengundang aku masuk, sekalipun disini berlaku peraturan bukit ini, rasanya hal itu toh berlaku buat orang lain?"
Kakek Tiong menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Lohu memang ada maksud begitu, cuma peraturan tetap peraturan, kaupun tak bisa melanggar peraturan itu!"
"Bagaimana seandainya kutanyakan dulu peraturan kemudian baru masuk?"
"Apakah kau merasa takut?"
Orang itu menggeleng, sahutnya.
"Tidak, asal hatiku lurus dan pikiranku benar, naik langit masuk bumi aku tidak akan takut!"
"Kalau memang begitu, mengapa tidak duduk dulu dalam istana kemudian baru berbincang bincang?"
"Seorang tamu ada baiknya kalau menurut sopan santun, itulah sebabnya aku ingin bertanya dahulu!"
"Baiklah, kalau begitu tanyalah!"
Kata kakek Tiong kemudian sambil tertawa.
"Aku hanya ingin mengajukan satu pertanyaan saja, yakni bukit ini termasuk kekuasaan istana Sin kiong, ataukah istana itu termasuk kekuasaan bukit ini? Aku harap Patlo bersedia memberi jawaban yang sejujurnya."
"Maksudmu soal peraturannya?"
Tanya kakek Tiong dengan wajah serius.
"Lebih tepat kalau dikatakan selain peraturan juga menanyakan kelompok kekuasaan."
Istana ini termasuk dalam bukit ini, tetapi menjunjung tinggi peraturan bukit!"
Orang itu berseru mengiakan, dan kemudian sambil menjura katanya.
"Kalau begitu maafkan kelancanganku, aku akan masuk kedalam!"
Selesai berkata, dengan melangkah lebar dia lantas masuk kedalam istana Sin kiong. Dengan cepat kakek Tiong menghalanginya seraya berkata.
"Keberanianmu sungguh luar biasa, lohu bersaudara tak berani bersikap kurang hormat."
Setelah berhenti sebentar, katanya lagi.
"Adik Peng, mengapa tidak menunjuk jalan buat tamu agung kita?"
Kakek Peng mengiakan, kepada orang itu katanya kemudian sambil tertawa.
"Kau adalah tamu kami, biar lohu saja yang membawakan jalan bagimu...". Selesai berkata, kakek Peng mendahului orang itu dan masuk lebih dulu kedalam istana Sin kiong. Orang itu berpaling kearah kakek Tiong, kakek itu segera berkata lembut.
"Saudara, silahkan !"
Sun Tiong lo segera gelengkan kepalanya be rulang kali, katanya.
"Silahkan..."
Orang itu tertawa, dengan sikap yang amat santai dia lantas melangkah masuk ke dalam gua.
Di balik gua itu terbentang sebuah jalan yang lurus, lebih kurang sepuluh kaki kemudian mereka berbelok ke kanan, kemudian setelah sepuluh kaki lagi merekapun berbelok ke sebelah kiri.
Luas lorong bawah tanah itu mencapai dua kaki, dinding batu terbentang sampai diatas gua, halus dan licin seperti cermin.
Setelah berbelok kekiri, maka munculah sebuah gua yang tiga kaki luasnya.
Orang itu berseru tertahan, kemudian kata-nya.
"Ternyata didalam gua ini hanya terdapat sebuah jalan tembusan saja."
"Benar !"
Jawab kakek Tiong yang berjalan lima depa disisinya.
"setelah menembusi gua tersebut, kita akan sampai diistana Sin-kiong."
Orang itu manggut-manggut.
"Tentunya tempat itu sangat luas bagaikan dunia !"
"Aaaahh, mungkin akan ditertawakan oleh yang telah melihatnya...."
Tanpa terasa orang itu bergumam.
"Tempat ini tidak nampak cahaya api. siapa sangka kalau didunia ini tak ada dewa?"
Mendengar ucapan tersebut, paras muka delapan orang kakek itu agak berubah.
Sementara itu kakek Peng yang berjalan dipaling depan juga telah berhenti sambil dia berpaling ke arah kakek Tiong, agaknya dia sedang menantikan petunjuknya.
Kakek Tiong segera mengangguk, katanya.
"Adik Peng, kita terima tamu di Teng hong sian!"
"Baik toako"
Jawab kakek Peng dengan sekulum senyuman menghiasi bibirnya, dia tampak gembira sekali.
"siaute akan mendahului beberapa langkah lebih dulu!"
Sementara itu, orang tadi sudah maju kembali kedepan sambil berkata.
"Bisa masuk gua dewa, mendapat tempat di atas Teng hong sian, bunyi sambu menimbulkan karya seni yang indah, hidup tenteram lupa nama dan kedudukan, itulah jalan yang palinglah tepat bagi para orang gagah jaman sekarang!"
Ketika mendengar ucapan tersebut, tiba-tiba sekujur badan kakek Peng yang berjalan dipaling muka itu gemetar keras.
"Adik Peng, hati hati kakimu!"
Kakek Tiong segera memperingatkan. Kembali orang itu berseru.
"Bila dalam hati tiada noda dan dosa, melewati tebing curam tempat bahaya, tenang!"
Delapan orang kakek itu tak berkata apa apa, hanya tampak kakek Peng telah mempercepat langkahnya.
Sesudah keluar dari gua, dari kejauhan sana tampak ada empat buah lentera yang melayang datang makin lama semakin mendekat, Orang itu menengok sekejap sekeliling tempat itu, kemudian menghela napas sambil muji.
"Mendengar kau menghela napas ?"
Tanya kakek Tiong sambil berkerut kening.
"Sungguh besar benar lagak kalian !"
Kata orang itu sambil mendongakkan kepalanya.
Sementara itu, ke empat buah lentara tadi sudah semakin mendekat, ternyata mereka adalah empat orang dayang kecil berbaju hijau yang masing-masing membawa sebuah lentera kristal, tampaknya mereka datang untuk membawa jalan bagi delapan kakek serta orang itu.
Tidak menunggu ke empat orang dayang itu memberi hormat, kakek Peng telah berkata.
"Tamu agung telah datang, kalian segera kembali ke istana dan perintahkan untuk menyiapkan meja perjamuan di Teng-hong-sian, lalu gunakan lencana Giok-pan untuk mengundang datang "Ngo-siu", cepat!"
Ke empat orang dayang cilik itu segera memberi hormat, kemudian membalikkan badan dan pergi. Sambil tertawa kakek Tiong lantas berkata kepada orang itu.
"Kami delapan bersaudara akan mempergunakan upacara yang paling megah untuk menyambut kedatanganmu !"
Buru-buru orang itu menjura.
"Upacara Kebesaran semacam ini benar-benar tak berani kuterima !"
Kakek Peng tertawa, katanya.
"Mata lohu belum melamur, karena itu maka kami sengaja memberitahu silahkan !"
Semua orang segera mempercepat langkahnya menuju ke depan.
Dari kejauhan sana secara lamat lamat tampak serentetan bangunan loteng yang saat itu terang benderang bermandikan cahaya.
Tak bisa di sangkal lagi, ke empat orang dayang itu tentunya telah menyampaikan perintah.
Di bawa sinar lentera, orang itu dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.
Sebuah keraton berbentuk antik dan indah terbentang didepan mata, meski jaraknya masih jauh namun nampak jelas ukir ukiran pada tiang penyanggahnya yang indah dan hidup.
Di luar istana diatas pintu gerbang tentera sebuah papan nama yang bertulis.
"Sin Kiong"
Dari tinta emas yang indah.
Waktu itu semua pintu diistana terbentang lebar, disebelah kiri berdiri sepasukan wanita wanita-cantik, sedang disebelah kanan berdiri busu bertubuh kekar..
Sambil mengulapkan tangannya, kakek yang bernama Peng berkata dengan lantang.
"Sejak malam ini... pintu istana tak bolek ditutup, tidak boleh terjadi kegaduhan bubarkan semua huhoat pengontrol istana, kemudian naikkan lentera emas di atas loteng Im siau lo, semua perintah tak boleh dilanggar...."
Dua pasukan laki, perempuan yang berada dikedua sisi istana segera mengiakan, kemudian setelah memberi hormat kepada delapan kakek serta orang itu, mereka barulah membalikkan badan dan berlalu, ternyata langkah merekah sama sekali tak bersuara sedikitpun.
Ketika selesai mengucapkan perkataan itu, kakek Peng segera membalikkan dan sambil menyingkir kesamping, dan katanya.
"Silahkan saudara!"
Orang itupun tak mau kurang hormat, kepada kakek Tiong ujarnya.
"Kakek Tiong silahkan !"
Kakek Tiong segera tertawa, sambil menggandeng tangan orang itu katanya.
"Saudara, bagaimana kalau kita berjalan sambil bergandengan tangan."
"Dengan segala senang hati."
Jawab orang itu sambil menerima uluran tangan kakek itu.
Maka kedua orang itupun bergandengan tangan masuk kedalam pintu istana.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** DI DALAM Teng liong sian, perjamuan sudah hampir berakhir, irama musik telah berhenti, dan waktupun sudah menunjukkan kentongan ketiga tengah malam.
Kakek Peng segera memberi tanda, para dayang pun maju membereskan sisa hidangan dimeja, kemudian teh wangi pun dihidangkan.
Ketika dia memberi tanda lagi, semua orang segera memberi hormat dan mengundurkan diri.
Kakek Peng lantas memandang kakek Tiong, kemudian ujarnya.
"Apakah kita akan menggunakan lencana Giok-pay untuk menghantar "Nga-siu"
Keluar dari istana ?"
Kakek Tiong tidak menjawab, tapi sambil berpaling kearah orang itu katanya. Orang itu mengerling sekejap ke balik tirai bambu yang tebal itu, kemudian sahutnya.
"Kalau tamu sih menuruti saja kehendak tuan rumah !"
Setelah berhenti sebentar terusnya;
"Cuma, aku merasa agak kecewa."
"Haaahh...haahh... apakah disebabkan tak bisa bersua dengan "Ngo-siu"
Orang itu tersenyum, baIik tanyanya.
"Apakah kakek Tiong tidak sependapat dengan diriku."
Sekali lagi kakek Tiong tertawa terbahak-bahak.
"Yaa, memang kau tak bisa disalahkan.
"Ngo-siu selain cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, kecerdasan dan kepandaiannya juga amat jarang aca tandingannya, menurut adat kesopanan, sudah sepantasnya bila lohu mengundangnya keluar untuk bersua dengan kau."
"Kalau memang menurut adat kesopanan harus begitu, bolehkah aku mengajukan pertanyaan?"
Orang itu segera menimbrung. Kakek Tiong mengalihkan sinar matanya dan memandang orang itu sekejap, lalu jawabnya.
"Cuma, lohu tak berani mengambil keputusan."
"Oooh... apakah dengan kedudukan Pat lo yang terhormat masih belum sanggup untuk mengundang keluar kedua orang perempuan cantik itu...?"
Paras muka kakek Tiong agak berubah, kemudian katanya.
"Darimana kata kata "dua orang perempuan cantik itu berasal? mengapa kau bisa berkata begitu?"
"Bukankah dibalk tirai bambu itu terdapat dua orang perempuan cantik....?"
Ujar orang itu sambil menuding ke balik tirai. Kakek Tiong segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahh.... haahhh... haaahhh.... rupanya kau kurang bisa menangkap nada suara orang."
Dengan wajah serius orang itu berkata.
"Kakek Tiong, aku tidak puas dengan perkataanmu itu, sekarang aku berani bertaruh dengan kakek Tiong, bila dibelakang tirai tidak terdapat dua orang perempuan cantik, aku rela mengaku kalah."
Belum habis perkataan itu diucapkan, dari balik tirai telah terdengar serentetan suara merdu sedang berkumandang.
"Kau berani mempertaruhkan apa?"
"Bagaimana kalau nona yang menentukan?"
Orang itu balik bertanya sambil tertawa. Perempuan dibalik tirai itu mendengus.
"Hmmm, setiap pertaruhan harus adil, bila kau menang apa permintaan yang hendak kau ajukan?"
"ltu tergantung keputusan nona, jika kalah apa pula yang hendak kau berikan kepadaku!"
Perempuan cantik dibalik tirai itu tampak-nya agak tertegun, lalu katanya.
"Sekarang aku telah memutuskan, bila kau yang kalah maka kau harus menjadi budak harpaku untuk selamanya!"
Orang itu tertawa tergelak.
"Haaahnh.... haaahhh.... haaahhh... kalau memang bersungguh hati, aku cuma kuatir dicemooh orang!"
Begitu ucapan tersebut diucapkan, paras muka pat-lo segera berubah hebat. Tapi ucapan dari orang itu belum selesai, kembali katanya.
"Sebagai budak harpa, pekerjaan apa yang harus kukerjakan ?"
"Siang memetik harpa, malam memetik harpa, kami kakak beradik pergi ke timur, kalian ke timur, kami ke barat kalian juga turut kebarat!"
"Kalau bisa begitu, kalah lebih menguntungkan dari menang, lebih baik mengaku kalah saja, tak perlu bertaruh lagi!"
Perempuan dibalik tirai itu menjadi terbungkam, Pat-lo juga tak berkata apa-apa lagi. Sesaat kemudian, dari balik tirai berkumandang suara helaan nafas panjang, katanya.
"Kalau memang tak ingin bertaruh lagi, maaf kalau akupun hendak mohon diri !"
Orang itu menjadi agak gelisah, serunya dengan cepat.
"Nona, harap tunggu sebentar !"
"Apa lagi yang hendak kau katakan? "Apabila pertaruhan ini harus dilakukan juga, aku bersedia untuk bertarung."
Perempuan cantik dibalik tirai itu segera tertawa dingin, katanya kemudian.
"Kalau begitu, katakan dulu, bagaimana jika kau yang menang ?"
"Nona pernah bilang, bila aku kalah, maka selama hidup harus menjadi budak harpa, bukankah begitu ?"
"Betul, aku percaya kau tak akan secepat itu untuk melupakannya !"
Orang itu segera tertawa, katanya lagi.
"Aku tak punya harpa tapi punya pedang, bila nona kalah, bersediakah kau menjadi budak pedangku ?"
Perempuan cantik dibalik tirai bambu itu tidak menjawab, mendengar itu orang tersebut segera mendesak lebih jauh.
"Dapatkah hal ini diterima, harap nona bersedia memberi jawaban."
Belum juga ada jawaban dari balik tirai bambu itu. Orang tersebut segera berpaling kearah kakek Tiong segera berseru dengan suara keras.
"Kakek Tiong, nona belum juga menjawab...?"
"Kau suruh nona menjawab apa?"
Tanya kakek Tiong sambil berkerut kening.
"Menjawab soal pertaruhan itu!"
"Haaahhh.... haahhh... haaahhh... aku lihat kau terlampau seriusl"
"Untuk bertaruh tentu saja harus bersikap serius!"
Ujar orang itu setelah tertegun. Kakek Tiong menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
"Apa yang dikatakan nona tak lebih hanya suatu siasat untuk mengundurkan diri."
"Siasat untuk mengundurkan diri? Apakah nona sudah pergi?"
"Yaa, sudah pergi sedari tadi!"
Sahut kakek Peng. Dengan cepat orang itu menunjukkan wajah kecewa, katanya.
"Kejadian ini benar benar diluar dugaanku."
Kakek Peng tertawa.
"Urusan dari nona Siu memang tak pernah bisa diduga orang selain Sancu seorang."
Suasana menjadi hening untuk beberapa saat lamanya, tiba tiba orang itu mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, katanya.
"Tolong tanya kakek Peng, apakah Ngo siu terdiri dari dua orang."
Belum habis orang itu berkata, kakek Peng sudah menukas.
"Soal ini, maaf kalau aku tak dapat mengatakannya."
Dengan perasaan apa boleh buat orang itu menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
"Tak bisa bertemu dengan perempuan cantik, betul-betul merupakan suatu kejadian yang membuat kecewanya hatiku!"
Kakek Tiong segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh.... haaahhh... haaahhh.... hanya seorang enghiong yang bisa mengetahui pentingnya perempuan, ucapan anda tidak bisa kupahami dengan begitu saja."
Orang itu kembali menggeleng, sambil beranjak katanya.
"Kegembiraanku sudah hilang, maaf kalau terpaksa aku harus memohon diri !"
Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan siap berlalu dari situ. Sambil tertawa kakek Tiong segera merentangkan tangannya menghalangi jalan pergi orang itu, serunya.
"Saudara, harap tunggu sebentar !"
"Kakek Tiong masih ada petunjuk apa lagi?"
Sambil mempersilankan tamunya duduk, kakek Tiong berkata.
"Sekalipun ada urusan juga harus diperbincangkan sambil duduk, silahkan !"
Agaknya orang itu dibuat apa boleh buat, terpaksa dia balik kembali ketempat duduknya. Setelah air teh dipersembahkan kakek Tiong lantas berkata.
"Silahkan meneguk air teh dulu, kemudian lohu akan mengajukan beberapa persoalan kepadamu."
Orang itu memandang sekejap ke arah kakek Tiong, kemudian sambil menunjuk cawan air teh dihadapannya dia berseru.
"Apakah harus di minum ?"
Kakek Tiong tertegun, kemudian serunya.
Baca Juga: Pendekar Pemabuk 4
Baca Juga: Pedang Sinar Emas Kho Ping Hoo