Eps 1 Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung
Baca online Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung
Cersil Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung.
Bukit Pemakan Manusia Karya . Khu Lung Saduran . Tjan ID
Jilid 1 BAB KESATU Bukit ini merupakan salah satu antara "Sip ban-toa-san"
Sepuluh laksa buah bukit yang ada di daratan Tionggoan.
Konon bukit ini jauh lebih berbahaya dan lebih tinggi serta lebih curam jika dibandingkan dengan bukit Kau-leu-san yang merupakan puncak paling berbahaya diantara Sip-ban-toa san, tapi berita ini susah untuk dibuktikan.
Masalahnya sukar dibuktikan adalah belum pernah ada orang yang bisa mencapai puncak bukit itu.
Bukit ini tidak bernama tapi penduduk disekitarnya memberikan suatu nama yang mengerikan sekali bahkan turun temurun melarang anak cucunya untuk mendekati bukit itu.
Bukit tersebut mereka namakan ....Bukit pemakan manusia !
Bukit bisa makan manusia ?
kedengarannya memang agak janggal.
Tapi kenyataannya bukit pemakan manusia ini benar-benar bisa makan manusia, tidak percaya ?
Terserah !
Konon pada dua puluh tahun belakangan ini, sudah ada beratusratus orang dalam dunia persilatan yang tidak percaya dengan tahayul atau mereka yang tidak puas dengan cerita burung atau mereka yang tidak merasa ilmu silatnya sudah "top"
Berbondong-bondong mendatangi bukit ini. Tapi kenyataannya, beratus-ratus orang jago persilatan itu ibaratnya "batu yang kecemplung ditengah samudra"
Begitu masuk kedalam bukit itu jejaknya lantas lenyap tak berbekas bahkan mayat merekapun tak pernah berhasil ditemukan.
Itulah sebabnya nama bukit pemakan manusia kian lama kian bertambah termashur di kolong langit.
Selain pemakan manusia kebaikan apakah yang dimiliki bukit pemakam manusia itu ?
Ada !
Disana terdapat tiga jenis benda yang langka sekali.
Pertama adalah pasir emas yang berada dibawah jurang, kedua adalah semacam buah aneh dan ketiga adalah sejenis rotan yang berbentuk sangat aneh pula.
Buah aneh tersebut mempunyai manfaat bisa menambah kekuatan kelelakian seseorang tentu saja benda itu merupakan bahan yang tak boleh ketinggalan untuk membuat obat kuat penambah birahi nilainya tak terhitung oleh jari tangan, apalagi setelah dikeringkan harganya bisa mencapai ribuan tahil emas murni ?
Ya.
dimaksudkan Rotan aneh adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang amat beracun bila dibakar akan menerbitkan asap merah yang tebal, siapa saja yang mengendus bau tersebut segera akan roboh tak sadarkan diri, racun ini jauh lebih hebat dari pada bahan racun apapun yang dimiliki para jago Liok-lim.
Bukan begitu saja rotan aneh ini masih memiliki manpaat serta kegunaan lainnya lagi.
Sedangkan kegunaan dari pasir emas sudah barang tentu diketahui setiap orang siapa yang tidak hijau matanya melihat pasir menggunung yang ternyata terdiri dari emas murni.
Justru karena didalam bukit pemakan manusia terdapat tiga macam mustika yang amat merangsang keinginan orang maka walaupun amat berbahaya dan tak pernah ada yang pulang dengan selamat, orang persilatan masih saja berusaha untuk menyelundup masuk.
Hingga tiga tahun berselang dapat terbukti dengan jelas bahwa memang tak ada manusia yang bisa pulang dengan selamat dari bukit tersebut, semenjak itulah rasa ingin tahu orang-orang persilatan mulai dapat dicegah.
Hari ini ketika lewat tengah hari tiba2 diatas jalanan menuju kearah bukit pemakan manusia muncul seorang penunggang kuda, tampaknya orang inipun seorang dunia persilatan yang tidak percaya dengan keangkeran bukit tersebut.
Kuda tunggangan orang itu amat kurus dan amat mengenaskan sekali, bulu-bulunya yang semula indah sekarang sudah menggumpal disana sini bahkan susah untuk membedakan warna apakah kuda itu.
Dari sini bisa diketahui kalau kuda itu sudah lama tak pernah dimandikan.
Keempat buah kakinya kasar dan bengkak dengan bulu yang kotor, begitu kurus kuda tersebut sehingga ibaratnya kulit pembungkus tulang...
Ketika melihat kearah penunggangnya ternyata jauh lebih mengenaskan lagi ketimbang kuda tersebut.
Jubah panjang yang dikenakan itu sudah kotor dengan debu, sebenarnya baju itu berwarna biru muda tapi lantaran terlalu sering terhembus angin dan tertimpa hujan warna dasarnya sudak luntur sehingga tinggal sejenis warna yang sukar dilukiskan dengan kata2.
Ikat pinggangnya tidak terbuat dari kain melainkan berupa suatu tali yang aneh sekali bentuknya, sepasang sepatunya mana dekil sol sepatunya sudah robek lagi, sepantasnya kalau masuk ke tong sampah !
Kaos kaki warna putih itu sudah berwarna abu2 rambut kusut dan kotor, pokoknya keadaan orang itu mengenaskan sekali.
Dia umur 20 tahun mukanya tampak segar merah dadu dan tidak tampak berpenyakitan.
Pemuda itu tampaknya memang sangat aneh padahal ia tidak mirip dengan seorang jago persilatan kalau dibilang sesungguhnya maka dia lebih mirip dengan seorang sasrawan rudin yang sedang melakukan perjalanan jauh.
Kalau bukan orang persilatan mau apa dia jauh-jauh datang ke bukit pemakam manusia yang berbahaya itu ?
Apakah dia sudah bosan hidup ?
Atau ingin menghantar jalan kematiannya sendiri ?
Jawabnya belum ada yang tahu !
Akhirnya kuda kurus itu semakin mendekati mulut masuk bukit pemakam manusia itu.
Pada saat itulah dari sakunya pemuda itu mengeluarkan sebuah peta dan dibentangkan diatas kuda smbil meneliti peta tersebut ia sering mendongakan kepalanya untuk mencocokan dengan kenyataan yang sedang dihadapinya.
Akhirnya pemuda itu manggut2 gumamnya.
"Peta ini cukup jelas dan cermat tak salah lagi sudah pasti bukit ini...!"
Didengar dari gumaman ini rupanya dia memang sengaja hendak berkunjung ke bukit itu. Kemudian sambil menyimpan kembali peta tersebut kedalam sakunya, ia bergumam lagi.
"Menurut perhitungan, aku sudah dua hari lebih cepat dalam perjalanan, bila kulewati bukit ini maka perjalanan akan kupersingkat dengan tiga hari lagi, itu berarti dengan sisa kelebihan sebanyak lima hari, mungkin lebih banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan!"
Dari kata-kata ini, jelaslah mengapa pemuda itu melewati bukit pemakan manusia.
Ternyata dia lewat dibukit tersebut karena ingin memotong jalan dan mempersingkat waktu perjalanannya, karena ada urusan penting maka sepanjang jalan ia membedal terus kudanya dan sekarang ingin mempersingkat waktu dengan dua hari.
Tak heran kalau pemuda itu meski bukan seorang jago persilatan ternyata berani masuk ke bukit pemakan manusia Dalam waktu singkat, pemuda itu sudah menembusi tanah perbukitan yang terjadi dengan pepohonan serta batu karang yang berserakan di mana-mana.
Tak lama kemudian sampailah pemuda itu didepan sebuah batu peringatan yang sangat besar.
Diatas batu peringatan itu tertera beberapa huruf yang amat jelas sekali.
Pemuda itu mendekatinya dan membaca tulisan itu.
"Batu perigatan ini terletak setengah li dari mulut bukit, mulai dari sini bila masuk kedalam itu berarti anda telah memasuki wilayah tanah perbukitan kami, waktu itu ingin mengundurkan diri lagi akan sulit."
"Jalan kecil disebelah kanan tugu ini menghubungkan tempat ini dengan jurang mestika yg menghasilkan pasir emas, sepuluh li dari sini jurang iiu dinamakan jurang pemikat manusia artinya emas murni dapat memikat manusia.
"Sebelah kiri jalan menghubungkan tempat penghasil buah khiko disana terdapat kebun buah yang penuh dengan pohon buah terserah anda akan memetik berapa banyak buah yang tumbuh disana tapi hati-hati dijalan."
"Jalan lurus kedepan merupakan jalan menanjak keatas bukit, tempat ini jarang dilewati orang karena semak yang lebat dan tanah yang gersang, jalan ini bisa menembusi sampai tempat penghasil rotan aneh ingat ! Jangan menimbulkan kebakaran bisa keracunan ! "Diatas bukit ini hidup pula sekelompok monyet sakti dihari hari biasa mereka jarang berkeliaran tapi berkekuatan dahsyat dapat merobek tubuh manusia dan binatang berhati hatilah bila bertemu !"
Membaca sampai disitu pemuda itu berhenti sejenak dan bergumam.
"Aku hanya bermaksud menembusi bukit ini untuk menyingkat jalan itu berarti jalan tengahlah yang harus kupilih !"
Setelah bergumam pemuda itupun membaca lebih jauh.
"Teman teman sekalian pada saat ini lohu hendak memperingatkan kepada kalian, setiap benda yang ada dan tumbuh diatas bukit ini bukanlah benda2 yang tak bertuan."
"Bukit ini milik lohu, semua benda dan tumbuhan yang dihasilkan diatas bukit ini tentu saja jadi milik lohu, karena itu lohu mempunyai tugas dan kewajiban untuk melindungi bukit ini !"
"Itulah sebabnya lohu tak akan membiarkan harapan kalian tercapai, ku peringatkan kepada kalian lebih baik pulang saja, putarlah badanmu dan turunlah dari bukit ini.
"Kalau tidak entah kalian jalan ke kiri atau kekanan akan langsung naik keatas bukit, bila berani melewati sepuluh kaki dari tugu ini maka kalian akan mampus. karena sudah melangkah masuk kedaerah terlarang lohu.
"Barang siapa tidak menuruti nasehat lohu dan bersikeras memasuki daerah terlarang ini, entah dia laki laki atau perempuan, tidak perduli apa alasannya, lohu akan menghukum mati dirinya tanpa ampun sehinggu mayatnya tak berwujud.
"Pulanglah, sekarang masih belum terlambat, kalian harus berpikir yang tenang, bila sampai mati disini, ayah ibu, anak istrimu yang ada dirumah tentu akan merasa sedih sekali pulanglah !"
Selesai membaca batu peringatan itu pemuda tersebut berdiri tertegun dan termangu-mangu seperti orang bodoh. Ia berpikir sebentar kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak dapat diterima! sama sekali tak dapat diterima ! sekalipun bukit ini menjadi milik mu, meski semua benda disini milikmu kau juga tidak berhak untuk menghukum mati orang-orang yang datang mencuri barang milikmu."
"Apalagi masih ada banyak diantara mereka yang tidak berniat untuk-mengincar pasir emas buah hi ko dan rotan aneh seperti aku ini, apakah perbuatanku ini juga ter masuk melanggar hukum ?"
"Dikolong langit tak ada manusia yang tak tahu aturan seperti kau tidak bisa diterima ! sekarang aku lagi ada urusan penting yang harus tiba ditempat tujuan sebelum waktunya, aku bertekad akan memotong jalan melewati bukit ini !"
Sehabis berkata tanpa ragu-ragu lagi ia melompat naik keatas kudanya dan berjalan melalui jalan tengah bukit.
Sepuluh kaki sudah lewat...
Baru mencapai kejauhan sepuluh kaki dari batu peringatan tadi disana muncul kembali sebuah batu peringatan yang tingginya satu kaki lebih.
Diatas batu peringatan tu tertera beberapa huruf besar yang berwarna merah darah.
"Pulanglah, kalau maju kedepan lagi akan mampus !"
Sekali lagi pemuda itu tertegun, kemudian gelengkan kepalanya, menghela napas dan menuntun kudanya untuk meneruskan perjalanan Mendadak ia berhenti sejenak, kemudian mendongakkan kepalanya bergumam.
"Betul, diatas batu peringatan, barang siapa berani maju kedepan akan mati, tapi tidak mungkin bagiku untuk berbalik lagi, semuanya sudah terlambat, kalau urusan sampai terbengkalai aku sendiripun tak bisa hidup."
"Apalagi kehidupanku di dalam dunia ini masih panjang, kalau bertemu denggan mara bahaya lantas mundur, apa pula yang bisa kulakukan lagi ?"
"Bagaimana mungkin aku bisa hidup tegak diantara kehidupan manusia yang penuh dengan duri dan rintangan?"
Berbicara sampai disini, dia lantas menarik kudanya dan melanjutkan kembali perjalanan naik keatas bukit.
Kali ini dia melewati batu peringatan bertulis huruf merah itu tanpa berpaling lagi, dengan dada dibusungkan dia maju kedepan.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** ANGIN kencang tiba tiba menghembus lewat, daun dan pasir beterbangan diangkasa mendadak cuaca yang semula berubah menjadi mendung gelap.
Angin yang menghembus makin kencang membawa udara yang amat dingin sekali, pemuda itu agak menggigil lalu mendongakkan kepalanya melihat cuaca, melihat awan gelap di udara serunya kembali.
Apalagi dalam keadaan seperti ini, selain ada urusan besar yang segera harus diselesaikan, apalagi sedang berada diatas tanah perbukitan yang curam dan berbahaya sungguh membuat orang terasa jemu.
Pemuda itu mengerutkan dahinya, kemudian melanjutkan perjalanan dengan cepat.
Rambut, alis mata dan wajahnya sudah basah oleh butiran air hujan.
selain bajunya basah kuyup seperti baru tercebur ke dalam kolam semakin mengenaskan lagi.
Dalam waktu singkat inilah cuaca berubah menjadi gelap gulita.
Dalam kegelapan seperti ini susah bagi pemuda itu untuk melihat benda yang berada Iima kaki yang di hadapannya, tapi sambil membusungkan dadanya pemuda itu melanjutkan terus perjalanannya.
Angin dan air hujan telah membuat badannya menggigil tapi pemuda itu tetap meneruskan perjalanannya selangkah demi selangkah menelusuri jalan setapak yang licin.
Hujan makin lama semakin deras, seolah olah ditumpahkan dari atas langit, pemuda itu mulai kedinginan badannya menggigil keras dia menengok kesana kemari berusaha menemukan tempat yang bisa dipakai untuk berteduh dari timpaan air hujan.
Tapi disana hanya ada tanah berbatu yang gersang, pada hakekatnya sulit untuk menemukan yang bisa untuk berteduh.
Untunglah Thian masih maha pengasih, dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan itu dia menemukan sebuah cahaya lampu bersinar dari balik bebatuan disebelah kanan jalan.
Cahaya lentera itu banyak, ketika di hitung secara diam-diam ternyata jumlahnya mencapai puluhan buah lebih, sekalipun pemuda itu merasa keheranan dengan cahaya lentera itu, tapi waktu itu tiada pilihan lain baginya.
Ada cahaya lampu berarti ada rumah penduduk ia lalu menuntun kudanya kesana.
Tak lama kemudian, sampailah pemuda itu di bawah lampu lentera yang pertama.
Ia mendongakkan kepalanya memandang lentera yang digantungkan tinggi diatas tiang itu, wajahnya tampak berseri.
Ternyata lampu lentera itu semuanya berjumlah tiga puluh enam buah, jarak antara lentera yang satu dengan lainnya kira kira mencapai tiga kaki lebih, oleh karena digantukan pada tiang yang sangat tinggi maka sinar lampunya sudah dapat terlihat dari kejauhan sana.
Dengan lentera2 tersebut, sekalipun seorang yang sedang berjalan ditengah hujan deras, atau hujan salju atau kabut tebal, berjalan kakipun bisa melihat jelas jalan gunung itu dan tak sampai terjerumus kedalam jurang.
Meminjam cahaya lentera itu, lama-lama pemuda itu menjumpai pintu gerbang sebuah perkampungan nan jauk disebelah sana, sekarang dia baru mengerti, rupanya deretan lentera itu sengaja diatur oleh pemilik perkampungan itu sebagai penerangan jalan.
Tanpa ragu lagi pemuda itu menuntun kudanya dan mendekati perkampungan tersebut.
Ketika tiba dipintu ia malah menjadi sangsi, ternyata suasana dalam perkampungan itu justru gelap gulita tak tampak setitik cahaya lenterapun, apalagi sesosok bayangan manusia, sebaliknya pintu gerbang terbuka lebar-lebar.
Sekalipun demikian pemuda itu enggan untuk melangkah masuk kedalam, bukankah masuk kerumah orang tanpa permisi adalah sesuatu perbuatan yang tak sopan.
Waktu ini hujan turun semakin deras, udara terasa dinginnya bukan kepalang, setelah berpikir sebentar, dia lantas berteriak keras.
"Ada orangkah disini ?"
Tiada jawaban !
tak terdengar ada sahutan...
Butiran air hujan menetes dari rambutnya melewati tengkuk dan membasahi punggung, sekujur tubuh pemuda itu kembali mengigil sepasang giginya saling bergemerutukan.
Ia sudah tak sanggup untuk menahan rasa dingin dan lapar yang menyerang tubuhnya, kemudian mengintip kedalam ternyata disebelah kiri pintu gerbang bangunan tersebut terdapat pula tiga buah rumah batu.
Rupanya ruangan batu itu khusus digunakan untuk menampung orang kebetulan lewat disana, tanpa ragu lagi pemuda itu menuntun kudanya dan menambatnya didepan rumah.
Baru saja akan melangkah masuk dalam ruangan satu ingatan kembali melintas dalam benakaya ia lantas berteriak.
"Ada orangkah disana ? dia ada orang dalam rumah ini ?"
Belum juga terdengar suara jawaban. Maka dia berteriak lebih jauh.
"Aku yang muda kemalaman dijalan, apa lagi ketimpa hujan yang begini derasnya, badanku sudah penat dan lelah maaf kalau terpaksa aku yang muda akan masuk sendiri ke dalam rumah !"
Pemuda itu memang seorang yang sopan, sekalipun berada dalam keadaan yang demikian sebelum masuk kerumah orang dia tak lupa untuk memberitahukan dulu maksud kedatangannya, dari sini bisa diketahui bagaimanakah wataknya dihari-hari biasa.
Demikianlah, setelah berteriak diapun mendorong pintu dan melangkah masuk kedalam rumah batu itu.
Suasana didalam rumah batu itu gelap gulita, setelah meraba kesana kemari sekian lama nya ia baru berhasil menemukan batu api dan membuat api.
Berkat cahaya api redup pemuda berhasil menemukan sebuah lilin di meja ketika lilin itu telah disulut maka suasana dalam ruangan itu baru kelihatan jelas.
Pelbagai benda terdapat didalam ruangan itu disudut ruangan malah terdapat setumpuk kayu kering cuma baik itu ranjang atau kursi meja dan lantai semuanya sudah dilapisi dengan debu yang sangat tebal.
Ia mengerutkan dahinya lalu lepaskan jubah panjang itu.
Dasar masih muda dan kurang pengalaman ternyata pemuda itu sama sekali tidak menaruh curiga dengan tempat sekitarnya.
Bayangkan, ditengah tanah yang begitu gelap terpencil dan bahaya tiba2 dijumpai sebuah perkampungan yang begitu besar nan megah apakah hal ini bukan suatu yang pantas dicurigai ?
Seandainya dalam perkampungan itu ada penghuninya mungkinkah mereka tidak mendengar dengan teriakan2 tadi ?
Tambah pula debu yang begitu tebal dalam ruangan tersebut seharusnya pemuda itu akan bertambah waspada.
Tapi pemuda itu rupanya tidak berpikir sampai kesitu, ia mengeluarkan sapu tangannya yang sudah kotor untuk membersihkan dinding dari debu kemudian menggantungkan jubahnya yang basah disana.
Baru saja jubah itu digantungkan mendadak dari belakang tubuhnya terdengar seseorang menegur dengan suara dalam.
"Hay bagaimana caramu masuk kemari ?"
Sedemikian mendadaknya teguran itu berkumandang saking terperanjatnya seluruh badan pemuda itu, sampai menggigil keras."
Menanti dia membalikan badannya, orang itu sudah berseru kembali.
"Hey kau bisu ?!"
Tak bisa menjawab ?!"
Orang itu adalah seorang kakek yang memakai baju tidak terlalu panjang juga tidak terlalu pendek, ditangannya membawa lentera.
Dengan sikap yang hormat pemuda itu segera memberi hormat kepada kakek tersebut kemudian katanya.
"Harap suka dimaafkan berhubung aku yang muda kehujanan dijalan lagi pula tersesat maka terpaksa aku ingin menumpang semalam ditempat ini...."
Belum habis ia berkata, dengan tak sabar kakek itu telah menukas.
"Siapa yang menanyakan soal itu kepadamu ? Aku hanya bertanya bagaimana caramu masuk kemari ?!"
Sekali lagi pemuda itu memberi hormat sahutnya.
"Aku yang muda sudah berteriak beberapa kali didepan pintu gerbang perkampungan ini berhubung tak ada yang menjawab aku sudah kedinginan dan kelaparan maka terpaksa..."
Dengan mata mendelik kakek menukas.
"Jadi kalau tada jawaban dari tuan rumah kau boleh sembarangan masuk kemari ? Aku mendengar teriakanmu itu kalau tidak ku dengar teriakanmu tadi mau apa hujan2 begini aku datang kemari ? sekalipun kau sudah berteriak berulang kali memangnya aku harus menjawab teriakanmu itu ?"
Mengapa kau tidak berpikir untuk memasang lentera pun memakan waktu yang lama?
"Sekarang aku sudah keluar juga sudah bertemu denganmu apa yang hendak kau katakan kini ?
Hayo cepat utarakan saja maksud mu secara ringkas makin cepat makin baik."
"Aku yang muda hanya ingin menumpang satu malam saja di perkampungan ini !"
Kata pemuda itu cepat.
"Tak bisa"
Jawab kake itu sambil menarik muka "cepat kenakan pakaianmu, tuntun kudamu dan keluar dari sini ! Cepat !"
Pemuda itu tertegun, lalu sekali lagi ia memberi hormat seraya berkata.
"Lotiang, kabulkanlah permohonan aku yang muda ini, hanya semalam saja!"
Kakek itu menggelengkan kepalanya berulang kali, sahutnya dingin.
"Kau tak usah banyak berbicara lagi, hayo pergi, cepat-cepat pergi dari sini !"
Pemuda itu kelihatan agak marah, tapi setelah berpikir sebentar sambil menahan hawa amarahnya dia berkata.
"Tolong tanya Lotiang, apakah Cengcu perkampungan ini ada ? Aku yang muda ingin menyambanginya..."
Pepatah kuno pernah bilang.
Raja akhirat gampang diajak berbicara, setan cilik susah di ajak koropromi.
Pemuda itu memang cukup cerdik, asal bisa berjumpa dengan pemilik perkampungan ini maka soal menumpang semalam mungkin akan lebih mudah untuk diselesaikan.
Siapa tahu Kakek itu segera berseru.
"Sudah mampus, Cengcu perkampungan ini sudah mampus !"
Sekalipun pemuda itu tahu kalau ucapannya tak jujur, tapi dengan perasaan apa boleh buat terpaksa ia kenakan kembali bajunya yang basah kuyup itu mohon untuk terakhir.
"Lotiang, ditengah bukit yang liar semacam ini, apalagi ditengah malam yang sedang hujin, kemana aku harus, pergi ? mana tubuh ku sudah penat sekali, apa salahnya kalau aku yang muda menumpang semalam saja di rumah batu ini ?!!"
"Gunung yang gersang ?"
Dengus kakek itu.
"kalau sudah tahu bukit ini bukit gersang yang miskin, mau apa kau datang kemari ? sudah tahu malam ini hujan deras siapa suruh kan datang kemari di tengah malam yg hujan ?"
"Kau mau penat atau tidak apa urusan nya denganku ? Rasakan sendiri kepenatan mu itu ! Sekali lagi kuberitahukan padamu kau tak dapat tinggal dirumah batu ini aku bi sa mengusirmu percaya atau tidak terserah padamu, pokoknya aku sudah memberi tahukan hal ini padamu lebih dulu !"
Lama kelamaan pemuda itu naik darah juga, dasar pemuda yang berdarah panas, dia lantas berkata.
"Lotiang, aku yang muda akan memohon dengan cara baik-baik, akupun hanya minta semalam saja."
"Sudah kukatakan tadi."
Tukas si kakek ketus.
"kau tak akan boleh menumpang disini, sekalipun kau ulangi perkataanmu itu beberapa ribu kali lagi, jawabanku tetap sama !"
"Tapi kalau bersedia tinggal disini selama hidup, bisa saja kita bicarakan lagi !"
Pemuda itu tidak berhasil menangkap arti lain dalam perkataan kakek itu, dalam gusar nya tanpa berpikir lagi ia lantas mendengus dan keluar dari rumah batu itu dengan langkah lebar.
Hujan semakin deras, terguyur kembali oleh air hujan kemarahan pemuda agak mereda, tiba-tiba ia berhenti didepan pintu gerbang sambil berkata.
"Lotiang, benarkah tak bisa dirundingkan lagi!"
"Tiada yang bisa dirundingkan lagi !"
Bentak kakek itu. Pemuda tersebut segera menghela napas.
"Aaaai... langit begini gelap hujan deras, andainya aku terpeleset ditengah jalan dan terjerumus kedalam jurang hingga mati bukankah hal ini... Lotiang apakah..."
Sambil mendengus kakek itu kembali menukas.
"Aku lebih senang melihat kau mampus diluar dari pada membiarkan kau masuk kedalam perkampungan ini !"
Kali ini kemarahan pemuda itu tak bisa dibendung lagi dia berseru pula keras2
"Bagus dengan usia lotiang yang begitu tua, memangnya kau tak punya anak ?"
Kakek itu cuma melotot besar tanpa menjawab pelan2 ia mulai menutup pintu gerbang perkampungan tersebut. Pada saat inilah mendadak mendengar seseorang berseru dengan suara nyaring.
"Beng Seng, persilahkan kongcu itu masuk ke ruangan untuk minum teh...!"
Mendengar teriakan itu meski belum melihat orangnya tapi pemuda itu tahu kalau dalam perkampungan tersebut masih ada orang yang lebih berkuasa dari pada kakek ini, sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibirnya.
Sedangkan kakek itu segera berubah paras mukanya setelah mendengar ucapan tsb diam2 ia menggertakkan giginya menahan diri.
Terdengar suara nyaring tadi kembali berkumadang.
"Bawakan kuda milik kongcu itu !"
Beng Seng atau sikakek itu segera men-depak2 kan kakinya dengan mendadak serunya kepada pemuda itu dengan lirih .
"Sekarang kau boleh bersenang hati, ayo masuk !"
Ternyata pemuda itu cukup berhati mulia sikapnya terhadap Beng Seng masih tetap menghormat katanya.
"Tak usah merepotkan lotiang biar aku menuntun sendiri kudaku ini. !"
"Hmm... tak usah berlagak banyak urusan"
Seru Beng Seng mendongkol "selama hidup jangan harap kau bisa nunggang kuda ini lagi !"
Seraya berkata dia lantas merampas tali les kuda dari tangan pemuda, kemudian sambil menunjuk kearah bangunan besar didepan sana katanya lagi dengan suara dingin.
"ltulah ruang tengah, kau toh punya kaki sendiri, aku segan untuk menghantarmu kesitu !"
Selesai berkata, tanpa menutup pintu lagi Beng Seng menuntun kuda kurus milik pemuda itu dan pelan-pelan berjalan menuju kearah sebelah kanan. Tiba-tiba pemuda itu berseru.
"Lotiang, harap tunggu sebentar, barang2 milik aku yang muda masih tertinggal diatas kuda !"
Dengan cepat Beng Seng menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Mulai saat ini kau sudah melangkah menuju langit, kuda kurus dan bekal rongsokmu ini jangan bisa kau gunakan lagi, tak usah kuatir Tak bakal hilang...!"
"Sambil berguman dia lantas beranjak pergi dan sama sekali tidak menggubris pemuda itu lagi. Sambii menggelengkan kepalanya berulang kali dengan perasaan apa boleh buat pemuda itu berjalan sendiri menuju ke arah bangunan besar tersebut.... Baru saja kakinya melangkah naik ke atas undak-undakan batu, pintu gerbang yang terbuat dari kayu itu pelan-pelan membuka sendiri, menyusul kemudian terdengar ada orang berseru dari dalam.
"Silahkan masuk Kongcu !"
Suara ucapan kali ini jauh berbeda dengan suara yang telah berkumandang dua kali tadi, jelas ucapan tersebut bukan berasal dari orang yang sama.
Pemuda itu melangkah masuk ke dalam ruangan pelan-pelan menutup kembali.
Udara dalam ruangan itu hangat dan nyaman, sekali pun perabotnya tidak kelihatan mewah, tapi amat bersih dan tak berdebu.
Anehnya ternyata di sana tak tampak sesosok bayangan manusia, suasana amat hening.
Pemuda itu mengerutkan dahinya dengan sorot mata heran dia memandang sekeliling tempat itu akhirnya terhenti diatas bangku berpunggung tinggi yang terletak di tepi perapian.
Tiba2 bangku itu berputar menghadap kearah pemuda sekarang baru terlihat jelas ternyata sang tuan rumah duduk diatas kursi karena punggung kursi itu amat tinggi hingga tubuh orang itu tak nampak dari belakang.
Baru pemuda memberi hormat serunya.
"Tengah malam begini aku yang muda..."
Tuan rumah tidak bangkit untuk balas hormat dia cuma mengangguk sambil menukas.
"Bila ada persoalan harap kongcu membicarakan nanti saja, sekarang lepaskan dulu bajumu yang basah, tariklah bangku dekat perapian dimeja ada air teh dan boleh mengambil sendiri."
Pemuda itu mengiakan, tidak sungkan-sungkan lagi ia melepaskan bajunya yang basah, mengambil air teh dan menarik bangkunya dekat perapian persis dihadapan tuan rumah.
Sekarang pemuda itu baru bisa mengamati wajah sang tuan rumah dengan seksama, dia adalah seorang kakek yang berwajah pucat, wajahnya halus dan mulia, jubahnya berwarna gelap.
Dari batas pinggang sampai ke bawah kakinya ditutup dengan sebuah selimut tebal bangku yang diduduki bukan saja dapat berputar-putar, ternyata ada rodanya juga yang bisa digunakan untuk maju mundur.
Agaknya tuan rumah itu tahu kalau pemuda tersebut sedang memperhatikan bangku berodanya, dia lantas tersenyum, sambil menuding keatas kakinya dia berkata.
"Lohu Beng Liau-huan, tahu ini berusia enam puluh lima tahun, pada dua puluh tahun berselang karena suatu peristiwa telah kehilangan sepasang kakiku hingga kini menjadi cacad seumur hidup !"
"Sungguh beruntung Beng Seng pelayan tua ku itu pandai membuat kerajinan tangan, ia telah membuat sebuah kursi beroda semacam ini sehingga aku bisa duduk atau berbaring atau berputar atau maju mundur dengan sekehendak hatiku !"
Mendengar perkataan itu, pemuda tersebut buru-buru memperkenalkan diri, katanya.
"Aku yang muda bernama Sun Tiong-Io berasal diri Hoo-pak, karena tersesat dan menjumpai hujan deras, terpaksa harus mengganggu ketenangan cengcu dengan memohon kemurahan cengcu untuk menumpang semalam saja, besok pagi..."
"Kongcu kau tak usah sungkan, tentu saja lohu tak akan menampik keinginanmu itu."
Kata Beng Liau-huan sambil tersenyum.
"Oooh....cengcu sungguh baik, aku yang muda benar-benar amat berterima kasih."
Setelah berhenti sejenak, lanjutnya.
"Bila cengcu beristirahat silakan..."
Pada saat itulah, tiba-tiba pintu ruangan dibuka orang dan Beng Seng si kakek tadi muncul kembali. Begitu melihat kemunculan Beng Seng dengan cepat Beng Liau-huan segera berseru.
"Beng Seng, turunlah kedapur untuk menyiapkan nasi, sayur dan arak, malam ini aku sedang gembira hati, akan kutemani Sun kongcu untuk minum beberapa cawan arak sambil bercakap-cakap."
Sikap Beng Seng terhadap majikannya amat hormat sekali, dia segera mengiakan.
"Budak segera menyiapkan."
Kemudian sambil memandang sekejap ke arah Sun Tiong-lo, katanya kembali.
"Cengcu coba kau lihat keadaannya! Bagai mana kalau kita ambil pakaian agar Sun kongcu tukar bajunya yang basah lebih dulu ?"
"Betul-betul."
Seru Beng Liau-huan sambil manggut2 tapi katanya kemudian.
"tidak, kau harus masakan air panas agar Sun kongcu membersihkan badan lebih dulu, kemudian tukar pakaian dan mempersiapkan hidangan, lebih cepat lebih baik."
Sun Tiong-lo malah merasa rikuh sendiri cepat tampaknya .
"Aaah.... tidak usah repot-repot, bagaimanapun juga aku yang muda sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini..."
"Kongcu, kau sudah terbiasa, tapi majikan kami tidak biasa dengan bau badanmu itu !"
Ucapan tersebut kontan saja membuat paras Sun Tiong-lo berubah jadi merah padam karena jengah, sedangkan Beng-Seng selesai berkatta segera berlalu dari situ, tak usah ditanya lagi, sudah pasti ia sedang pergi melakukan persiapan seperti dikatakan tadi.
Sambil tertawa Beng Liau-huan berkata.
"Beng Seng pelayan tuaku memang berwatak keras tapi jujur, harap kongcu jangan merasa tersinggung !"
"Aaah... kenapa cengcu harus berkata demikian ? yang mudalah yang bersalah..."
Setelah hening sejenak, Beng Liau-huan lantas mengalihkan pokok pembicaraannya itu ke soal lain, katanya.
"Kongcu, bukit ini berbahaya dan penuh ancaman jiwa, mengapa kau datang kemari?"
Sun Tiong-Io segera menghela napas.
"Hm.. terus terang kukatakan sesungguhnya empeku jadi seorang pembesar daerah tapi berhubung ia sudah menyinggung perasaan atasannya kini terdesak posisi terjepit, aku yang muda khusus berangkat dengan maksud mencarikan akal menolong empeku ini, berhubung waktu amat terbatas, maka aku memutuskan untuk potong jalan..."
Sambil menggelengkan kepalanya Beng Liau-huan menghela napas selanya.
"Kongcu, kendatipun dengan menembusi bukit ini paling tidak kau akan menyingkat jalan sejauh 150 li tapi bukit ini curam dan bahaya, binatang buasnya banyak bila sampai tertimpa musibah disini urusanmu semakin terbangkalai."
Sun Tiong-Io ikut menggelengkan kepalanya."
"Siapa bilang tidak, tapi rasanya menyesal juga sudah terlambat."
Berbicara sampai disini, suasana jadi hening dan keduanya jadi bungkam. Selang sesaat mendadak Sun Tiong-lo berkata lagi.
"Cengcu apa sebabnya kau mendirikan perkampungan diatas bukit curam dan bahaya?"
Beng Liau huan tertawa getir.
"Aaai... panjang sekali ceritanya, kongcu bukan orang persilatan, sekalipun lohu terangkan belum tentu kongcu mengerti yang jelas nama kedudukanlah yang membuat aku bernasib begini."
Sun Tiong lo termenung sebentar lalu berbicara kesoal lain.
"Cengcu berdiam ditempat yang besar tentunya banyak anggota keluargamu, bagaimanakah cengcu mengatasi masalah sandang pangan untuk anggota keluargamu ?"
Beng Liau huan menundukkan kepalanya rendah-rendah, dengan sedih ia menjawab.
"Aii... tempo dulu memang anggota perkampunganku ini amat banyak tapi kini hanya tinggal lohu bersama pelayanku saja!"
Sun Tiong lo jadi tertegun, serunya Iagi.
"Kalau memang begitu kenapa cengcu masih berdiam disini? Kenapa tidak berpindah saja ke tempat lain ?"
Sambil menuding sepasang kakinya yang cacad itu, Beng Liau huan berkata.
"Sepasang kakiku sudah cacad, usiaku juga telah lanjut, mana bisa aku ke tanah perbukitan ini ?"
"Cengcu sekarang aku tak dapat menolongmu, tapi bila urusan empekku selesai, pasti kubawa beberapa orang pembantu buat menjemput mu kegunung."
"Maksud baik kongcu kuterima dihati saja."
Kata Beng Liau huan.
"Tapi lohu membatalkan maksud tersebut, aku serta pembantu ku sama-sama sudah tua, walau bisa turun dari bukit tersebut juga sia-sia saja."
"Semua perkataan yang telah kuucapkan pasti akan kulaksanakan dengan sesungguh hati, lain waktu aku pasti akan datang kembali ke sini."
Kata pemuda itu serius. Tiba-tiba Beng Liau-huan mendongakkan kepalanya, perasaan terima kasih yang amat aneh melintas diatas wajahnya. Melihat itu Sun Tiong-lo segera bertanya.
"Apakah cengcu tidak percaya dengan perkataanku yang muda?"
Beng Liau-huan menggelengkan kepalanya berulang kali, mendadak sekujur badannya menggigil keras, cepat dia mengalihkan pembicaraannya ke soal lain, katanya.
"Kongcu, bagaimana kalau persoalan ini dibicarakan nanti saja ?"
Sun Tiong-lo manggut-manggut.
"Baiklah, bagaimanapun aku yang muda memang sudah bertekad bulat, dibicarakan nantipun tidak mengapa."
Sementara itu pelayan tua Beng Seng telah muncul kembali dalam ruangan, kepada Sun Tiong-lo segera ujarnya.
"Air panas untuk membersihkan badan serta baju bersih telah disiapkan semua, kongcu jalan sini terus belok kanan, ruangan pertama itulah tempatnya, mari!"
Sun Tiong lo berterimakasih lalu beranjak.
Setelah pemuda itu pergi, mendadak bilik di belakang tempat perapian itu berputar lalu tampak sebuah pintu rahasia, seseorang berdiri angker dimuka pintu rahasia itu.
Tapi karena orang itu berada dilorong rahasia, maka wajahnya tidak terlihat jelas.
Waktu itu Beng Seng berdiri menghadap kedinding perapian lantas saja ia membalikkan tubuh pura-pura membersihkan meja memakai kain kumal.
Sedangkan Beng Liau huan telah memutar kursinya menghadap sejajar pintu rahasia tersebut.
Terdengar orang yang berada dilorong rahasia itu mendengus dingin, sambil berseru.
"Beng Seng, rupanya kau bosan hidup ?"
Beng Seng sipelayan tua itu segera membalikkan tubuhnya menghadap kearah lorong rahasia lalu sahutnya ketus.
"Benar, aku bosan hidup, kau bisa apa ?"
"Budak bajingan, kau anggap lohu tak bisa membunuhmu?"
Seru orang itu naik pitam.
"Hmm..."
Aku tidak melakukan kesalahan apa2, kau memangnya bisa membunuh aku?"
"Beng Liau huan!"
Bentak orang dalam lorong rahasia itu marah sekali.
"Kalau budak bajinganmu banyak bicara, lohu lebih suka menerima hukuman didepan San cu daripada tak menyayat kulit badannya hidup2!"
Ketika Beng Liau huan menyaksikan Beng Seng masih akan berbicara lagi, dengan cepat ia mencegah.
"Beng Seng, kularang kau untuk berbicara lagi !"
"Baik, budak menerima perintah !"
Beng Seng menundukkan kepalanya rendah2. Beng Liau huan miringkan kursinya kearah pintu rahasia itu lalu berkata.
"Chin congkoan, lohu bertanya, apa yang hendak kau lakukan terhadap Sun kongcu ini?"
"Tentu saja seperti ke 238 orang yang lalu."
Jawab Chin congkoan ketus. Beng Liau huan segera berkerut kening.
"Chin congkoan, dengan kepandaian silat milikmu, seharusnya bisa kau lihat kalau Sun kongcu bukan seorang jago persilatan, dia tak lebih hanya seorang pelajar rudin !"
"Aku tahu !"
"ltulah dia, kalau memang dia bukan orang persilatan, dan lagi juga bukan datang karena mengincar ketiga macam benda mustika yang berada dibukit ini, apakah congkoan tak bisa membuka jalan dan memberi jalan kehidupan baginya ?"
Chin congkoan segera tertawa ter-bahak2. -Haah... haaahh... Beng cengcu, kau mintakan maaf baginya ?"
Dia mengejek.
"Empeknya terlibat dalam kasus yang pelik, dia lewat bukit ini cuma bermaksud buat potong jalan, agaknya congkoan juga..."
"Beng Liau huan, kau harus tahu !"
Bentak Chin congkoan bernada sinis.
"tempat ini sudah bukan perkampungan Beng keh sancengmu dulu lagi, selembar nyawa anjingmu itu pun hampir tercabut dua puluhan tahun dulu."
Beng Liau huan tertawa getir.
"Jika perkampungan ini masih merupakan Beng keh san ceng ku dulu, buat apa lohu musti memohon kepadamu, betul lohu memungut kembali nyawaku ini, tapi bukan memungutnya dari tanganmu!"
"Beng Liau huan!"
Bentak Chin congkoan.
"lohu peringatkan dirimu, tadi san cu telah kirim kabar bahwa dia keluar gunung sebab ada urusan, maka lohu mempunyai kekuasaan buat membunuh dirimu..."
Belum habis dia berkata, Beng Liau huan telah tertawa terbahak sambil menukas.
"Hahaha.. haaah kalau memang begitu hal ini lebih baik. lohu bosan hidup didunia ini lebih baik mati saja, kalau memang San cu tak ada dan kau punya kekuasaan besar, silahkan saja untuk membereskan selembar nyawaku ini"
"Heeeh... heeh kenapa ? Kau anggap lohu takut ?"
Seru Chin congkoan.
"Mungkin radaan takut."
Sindir Beng Liau huan.
"Chin Hui bau. lohu juga ingin memperingatkan dirimu, sekalipun Sancu tidak ada, nona masih ada disini, kau tak akan berani melawan kekuasaannya !"
"Hmm! Lohu tidak percaya, setelah kubunuh dirimu maka nona bisa..."
Belum habis perkataan itu, tiba tiba terdengar suara tertawa cekikikan berkumandang datang dari balik ruangan.
Chin congkoan segera menghentikan ucapannya dan tak berani meneruskan kata2nya.
Suara tertawa merdu itu masih berkumandang dalam ruang itu lalu terdengar suara pula.
"Chin congkoan, coba katakan aku tak bisa apa? Kenapa tak kau lanjutkan ucapanmu?"
Chin congkoan yang semula bengis, seketika berubah munduk2 hormat, sahutnya.
"Beng loji ingin merusak peraturan yang diterapkan Sancu, hamba sengaja menakuti."
"Kurang ajar!"
Sela orang itu lagi.
"kau anggap aku adalah permainan yang bisa digunakan untuk menakut-nakuti orang?"
"Tidak berani... tidak berani...!"
Dengusan dingin kembali menggema, suara tertawa yang merdu pun berubah menjadi bentakan gusar.
"Jika lain kali kau berani melanggar lagi, aku sendiri yang akan turun tangan untuk membereskan dirimu !"
Chin congkoan kembali mengiakan berulang kali. Setelah hening sejenak, nona yang tak menampakkan diri itu baru berkata lagi.
"Si sastrawan rudin itu pantas dikasihani, tapi tak bisa terlepas dari peraturan yang telah ditetapkan diatas bukit ini, maka ia harus alami keadaan sesuai dengan peraturan, baiklah! Sebagai belas kasihanku, kutambah batas waktunya dua hari lagi !"
Chin congkoan kembali mengiakan, sementara Beng Liau huan dan pelayan tuanya menundukkan kepala rendah-rendah. Terdengar nona itu berkata lagi.
"Aku mau pindah ke pagoda Yu khek, sebentar aturlah sastrawan itu agar bermalam diatas loteng Bong-lo, akan kuberi lima hari batas waktu kepadanya, sebelum saatnya, layani dia sebagai seorang tamu terhormat!"
Chin congkoan kembali mengiakan dengan hormat, maka dinding perapian itu kembali berputar dan ia lenyap bersama lenyapnya pintu rahasia tersebut.
Sepeninggal Chin congkoan dan nona itu, Beng Seng sipelayan tua itu baru bernapas lega, sambil menggelengkan kepala ia berkata.
"Cengcu, budak akan pergi menyiapkan sayur dan arak !"
"Tidak usah!"
Tukas Beng Liau huan sambil melambaikan tangannya.
"pergilah tidur, tidak kau dengar pesan nona kepada Chin Congkoan tadi? Didalam lima hari ini, Sun Tiong-lo adalah tamu terhormat dan segalanya akan diatur oleh Chin congkoan sendiri."
"Oooh kalau begitu budak akan tidur!"
Seusai berkata, pelan pelan dia berlalu lewat pintu samping.
Dalam pada itu, Sun Tiong lo yang telah membersihkan badan dan berganti pakaian serta sepatu baru pelan2 masuk keruangan tampak dia amat jauh berbeda dengan semula.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB KE DUA BENG LIAU-HUAN merasa pandangan matanya jadi silau, dari hati kecilnya secara aneh timbul perasaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, dia merasa seakan dari balik ketampanan pemuda itu ia telah menemukan sesuatu.
Sebetulnya apa yang berhasil ia temukan, Beng Liau huan merasa sulit untuk meraba jalan pemikirannya itu, cuma ada satu hal yang dia merasa yakin, yaitu pemuda ini mempunyai wibawa yang sangat besar.
Setelah membersihkan badan, hawa kesastrawanan ditubuh pemuda itu ikut larut bersama lenyapnya kotoran diatas badannya.
Tiba didepan Beng Liau-huan, dia lantas menghormat dan berkata.
"Budi kebaikan lotiang membuat aku merasa terharu!"
Beng Liau huan tertawa.
"Aaah... kongcu lagi2 sungkan, silahkan duduk, sebentar hidangan akan disiapkan!"
Tiba2 dari balik pintu sebelah telah muncul dua orang manusia.
Yang berjalan didepan adalah seorang lelaki kekar yang bertubuh tinggi besar, dan di belakangnya mengikuti seorang kakek berwajah merah darah.
Ditangan lelaki kekar yang delapan jengkal tingginya itu tampak sebuah baki besar yang penuh berisi aneka hidangan lezat.
Aua empat macam sayur yang dibawanya lima kati arak bagus, empat macam masakan daging dan nasi putih satu bakul besar.
Sementara mangkuk cawan dan sumpit telah dipersiapkan diatas meja perjamuan.
Setelah menghidangkan masakan tersebut kemeja, kakek itu memberi tanda kepada lelaki kekar itu, maka ia lantas mengundurkan diri.
Sun Tiong lo segera bangun dari tempat duduknya, lalu katanya kepada Beng Liau huan.
"Cengcu, harap kau perkenalkan aku yang muda dengan..."
BeIum habis dia berkata, kakek berwajah merah itu telah tertawa terbahak-bahak.
"Haahh... haaah... lohu Chin Hui hou adalah congkoan dari bukit ini !"
Sun Tiong lo segera menjura kepada Chin Hui-hou. katanya.
"Aku yang muda telah memasuki bukit anda secara gegabah, harap congkoan sudi memaafkan..."
Chin Hui hou tertawa seram, sambil menarik bangku dan duduk disisinya, dia berkata.
"Tak usah sungkan-sungkan, silahkan kongcu makan saja seadanya, menggunakan kesempatan ini lohu juga akan mengajak kongcu untuk membicarakan bukit kami ini."
"Baik, aku akan dengarkan baik-baik."
Pada saat itulah Beng Liau huan telah mengerutkan dahinya kepada Chin Hui hou.
"Chin congkoan, apakah tidak bisa dibicarakan besok saja?"
Dengan wajah dingin Chin Hui hou menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Hukum tetap hukum, peraturan tetap peraturan, aku orang she Chin tak berani menyalahi peraturan!"
Jawabnya ketus. Diam2 Beng Liau hoan menggigit bibirnya keras2 lalu katanya lagi.
"Apakah tak bisa menunggu kongcu selesai bersantap dulu baru dibicarakan?"
Kembali Chin Hui hou menggelengkan kepalanya sambil tertawa seram.
"Tidak bisa lohu masih ada urusan lain yang harus diselesaikan, tak bisa menunggu lebih lama lagi."
Sun Tiong lo benar2 seorang sastrawan yang tak berpengalaman ia belum menyadari gelagat tak beres, malah sambil tertawa katanya kepada Beng Liau huan.
"Tidak jadi soal, biar aku yang muda dengarkan penjelasannya itu."
Beng Liau huan memandang kearah Sun Tiong lo, lalu dia menghela napas dan gelengkan kepalanya berulang kaIi.
Setelah memandang sekejap kearah Beng Liau huan dengan pandangan dingin, Chin Hui hou berkata kepada Sun Tiong lo.
"Waktu naik gunung tadi, apakah kongcu membaca peringatan yang tercantum diatas tugu peringatan itu?"
"Yaa, sudah kulihat!"
Sun Tiong lo manggut.
"malah aku yang muda telah membaca berulangkali."
Sambil berkata dia menyuap nasi dan sayur dan melahapnya dengan pelan, kemudian menunggu keterangan Chin Hui hou lebih jauh. Chin Hui hou tertawa seram.
"Hehh... Huuh menurut pendapat kongcu apakah yang tercantum di atas tugu peringatan itu cukup terang dan jelas ?"
"Ya sangat jelas sekali!"
Chin Hui hou tertawa seram, lanjutnya.
"Apakah hurup besar berwarna merah darah yang dicantumkan pada tugu peringatan ke dua juga sudah kongcu baca ?"
"Aaah ! Tentu saja, tugu itu didirikan tepat ditengah jalan naik, masa tak kulihat hurupnya."
"Ehmm... kalau memang begitu, mengapa kongcu naik keatas bukit ini ?"
"Tadi aku yang muda kan sudah menerangkan kepada cengcu, aku hanya bermaksud untuk memotong jalan..."
"Hmm...! Aku kira pasti ada alasan lainnya bukan ?"
Jengek Chin Hui hou dengan suara dalam. Sua Tiong lo berpikir sebentar, jawabnya.
"Terus terang Chin congkoan aku yang muda memang mempunyai maksud lain...."
Belum habis dia berkata, dengan paras muka berubah Beng Liau huan berseru.
"Kongcu masih mempunyai urusan lain?"
Sun Tiong lo melirik sekejap kearah Chin Hui hou, kemudian katanyanya.
"Aku yang muda harus menjawab pertanyaan ini kepada siapa? kepada congkoan? Atau kepada cengcu?"
Dengan sikap yang sombong dan pandangan yang dingin, Chin Hui Hou melirik sekejap kearah Beng Liau huan, lalu katanya.
"Kongcu, sekarang haruskan sekali lagi memperkenalkan diriku, lohu adalah congkoan dari bukit pemakan manusia ini, sedangkan Beng Cengcu tidak lebih cuma cengcu dari perlkampungan ini !"
Seakan-akan baru memahami, Sun Tiong lo segera berseru.
"Kalau begitu, kedudukan Congkoan pasti jauh lebih tinggi dari pada Beng Cengcu."
Chin Hui hou tidak menjawab ya atau tidak, hanya ujarnya.
"Perkampungan ini termasuk bagian dari bukit pemakan manusia !"
"Oooh, dengan begitu pelbagai masalah menyangkut bukit ini congkoan berhak mengurus."
Chin Hui hou tertegun, lalu sahutnya.
"Setiap bukit mempunyai urusannya sendiri-sendiri, dan lohu adalah salah seorang dari delapan toa congkoan di bawah kekuasaan Sancu."
"Chin congkoan adalah yang paling dipercaya oleh San cu dari delapan orang toa cong koan Iainnya"-Beng Liau huan menjelaskan.. Mendadak Sun Tiong lo menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya.
"Tampaknya alasanku yang lain itu hanya bisa kusampaikan kepada san cu pribadi."
"Kenapa?"
Tanya Chin Hui hou.
"Sebab persoalan ini mesti disampaikan sendiri paoa orang yang berkuasa disini!"
Dengan sinar mata penuh kegusaran Chin Hui-hou melotot kearah Sun Tiong-lo kemudian serunya.
"Seandainya Sancu tidak bersedia untuk menjumpai Kongcu ?"
Dengan perasaan apa boleh buat jawab Sun Tiong-lo.
"Terpaksa hal itu akan kusampaikan bila lain kali aku yang muda berkunjung kemari"
"Hmm ! Kau anggap ada lain kali ?!"
Dengus Chin Hui-hou dingin.
"Tentu saja !"
Sahut Sua Tiong-lo serius "bila persoalan ini tidak kuutarakan, bagaimana mungkin aku yang muda bisa merasa berlega hati...?"
Chin Hui-hou segera tertawa ber bahak2.
"Haaahhh... haaahhh... haaaaah Kongcu, kau tidak mempunyai kesempatan untuk datang lagi dilain waktu, sebab alasan kedatangan mu yang lain itu meski dibicarakan atau tidak juga sama sekali bukan suatu persoalan yang penting."
Setelah berhenti sebentar, tiba tiba Chui Hui-hou merubah nada pembicaraannya dengan suara dalam dia berkata.
"Dalam bukit ini berlaku suatu peraturan yang bisa kau baca diatas kedua buah batu peringatan dimulut bukit sana, sekarang Kongcu dengan berani telah menaiki bukit ini dan sampai di perkampungan sini, itu berarti kau pun tak akan terhindar dari suatu kematian..."
"Praaang... ! Pryaang !"
Dua kali suara nyaring berkumandang di angkasa memotong perkataan Chin Hui-hou yang belum selesai itu.
Mangkuk yang berada ditangan Sun Tiong-lo itu tahu tahu sudah terjatuh ketanah, sedangkan cawan araknya juga tercerai berai di tanah.
Sedangkan dia sendiri bagaikan seorang yang bodoh duduk termangu-mangu ditempat tanpa berkutik.
Beng Liau-huan segera memejamkan matanya rapat-rapat, dia sungguh merasa tak tega menyaksikan sikap Sun Tiong-lo yang begitu takut menghadapi kematian itu.
Sebaliknya Chin Hui-hou malah merasa amat gembira, sambil tertawa dingin tiada hentinya dia berseru.
"Kongcu, kau anggap peringatan yang tercantum diatas tugu peringatan itu hanya gelak sambal belaka ?"
Paras muka Sun Tiong-lo berubah menjadi pucat pias seperti mayat, dengan cemas serunya.
"Tapi congkoan.... kedatangan aku yang muda diatas bukit ini bukan lantaran mengincar mestika kalian."
Chin Hui-hou mendengus dingin, dengan sikap sinis dia menghapalkan tulisan yang tertera diatas tugu peringatan itu.
"Barang siapa tidak menuruti nasehat lohu dan bersikeras memasuki daerah terlarang ini, baik dia laki-Iaki atau perempuan, tidak perduli apapun alasannya, lohu akan membunuh mati dirinya tanpa ampun sehingga mayatnya hancur tak berwujud !"
Setelah membaca sampai disitu, tiba-tiba dengan suara nyaring dia berseru.
"Kongcu, kau sudah ditetapkan mati !"
Mendadak Sun Tiong-lo melompat bangun dengan gelisah tanyanya pada Beng Lian-huan.
"Beng cengcu, sungguhkah semuanya ini ?"
Beng Liau-huan menghela napas panjang sahutnya.
"Kongcu, kesemuanya ini adalah kenyataan, sejak dua puluh tahun berselang sampai Kongcu belum tiba dibukit ini. sudah ada dua ratus tiga puluh delapan orang yang mati di tempat ini !"
Sekali lagi Sun Tiong-lo dibuat bodoh wajahnya yang mengenaskan itu membuat orang menjadi iba dan kasihan kepadanya. Chin Hui-hau tertawa seram kembali katanya.
"Kongcu tak perlu merasa gelisah dulu, kau masih mempunyai kesempatan untuk berbicara !"
Bsgitu mendengar kalau masih ada kesempatan berbicara Sun Tiong-lo segera bertanya.
"Kalau begitu bagus sekali harap Congkoan suka memberi petunjuk !"
Mendengar ucapan itu Ben Liau-huan kembali merasakan hatinya tergerak pikirnya.
"Kejadian ini benar aneh mengapa dalam keadaan terancam jiwanya dia tak gugup dan panik ? Bahkan jawabannya begitu teratur dan tenang ? sekalipun wajahnya berubah perasaan nya sama sekaIi tidak kalut ?"
Sebaliknya Chin Hui hou yang sedang merasa bangga sama sekali tidak berpikir sampai kesitu katanya.
"Sancu kami telah menetapkan barang siapa memasuki tanah perbukitan ini maka sebelum mati dia mempunyai hak untuk menjadi tamu agung kami selama tiga hari, tapi terhadap kongcu secara khusus kami memberi kelonggaran dengan menambah batas waktunya dengan dua hari Iagi."
"Dengan kata lain, malam ini tak terhitung, mulai besok kongcu punya hak jadi tamu agung selama 5 hari 5 malam kecuali tak bisa ampun dari kematian, kami siap kasih pelajaran apapun seperti yang kau inginkan !"
"Tapi apa artinya semua itu ?"
Seru Sun Tiong-lo sambil mennujukan wajah melas.
"cepat lambat akhirnya mati juga !"
Chin Hui-hou geleng kepala berulang kali.
"Kongcu usah kuatir, peraturan sancu kami sangat adil. Kami tidak akan menghukum mati Kong cu dengan begitu saja, tapi kami akan memberi suatu kesempatan kepada Kongcu untuk melarikan diri dari kematian ini !"
"Oooh.... tolong tanya, kesempatan yang bagaimanakah itu ?"
Ketika batas waktu Kongcu menjadi tamu agung kami telah selesai, kau masih mempunyai waktu selama setengah harian untuk kabur terlebih dahulu cuma jalan bukit ini susah dilalui dengan tiadanya persediaan makanan dan air minum tentu saja lebih banyak matinya dari pada hidup terus !" -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***
Jilid 2 OLEH KARENA ITU, Sancu kami telah memikirkan pula bagi tamu-tamu agungnya untuk menyiapkan sepatu laras untuk mendaki gunung, pakaian ringkas serta menghadiahkan rangsum serta air minum untuk dua hari, agar dalam usahanya untuk melarikan diri nanti tak sampai mati karena kehausan atau kelaparan."
"Oooh....Sancu kalian memang amat cermat sekali"
Kata Sun Tiong-lo sambil berseru tertahan.
"cuma anggota kalian sangat banyak penjagaanpun berada di segala tempat, bagai manapun cepatnya orang yang melarikan diri juga tak mungkin bisa meloloskan diri dari bukit ini!"
Chin Hui-tou segera mendengus dingin.
"Kongcu, keliru besar bila kau berpendapat demikian, jika begini keadaannya apakah ini yang dinamakan adil? Nah, kongcu! Dengarkan baik-baik perkataanku ini, sebab ini menyangkut kesempatan bagimu untuk melarikan diri."
"Pertama, Orang yang bertugas mengejar kongcu akan mulai dengan pengejarannya setengah hari lebih lambat. Kedua, Kecuali orang yang bertugas mengejar diri kongcu, semua anggota lain yang berada dibukit ini tidak diperkenankan membantu! Ketiga, Orang yang akan mengejar kongcu hanya dua orang, seorang adalah lohu sedangkan yang lain adalah orang yang barusan kongcu jumpai, yakni Kim Po Cu!"
Keempat Kongcu mendapat perlengkapan seperti sepatu, kaos, baju ringkas, air, rangsum serta sebilah pisau belati, pisau itu tajam sekali dan mampu membelah besi.
Kelima.
Selama kongcu menjadi tamu agung disini, kau boleh menyiapkan segala macam barang keperluan untuk memperlancar usahamu untuk melarikan diri, asal kongcu bisa bawa barang itu, kongcu boleh membawanya pergi!
Ke enam, Terhadap pengejar, kongcu berhak untuk melakukan perlawanan dan pembunuhan menurut kemampuan yang kau miliki, asal kongcu mampu membunuh pengejar-pengejarmu itu, otomatis kongcu bisa pula keluar dari bukit ini dengan selamat.
Ke tujuh, Menurut peraturan San-cu, batas pengejaran adalah empat hari, selewatnya empat hari sekalipun kongcu berhasil ditangkap juga tak bisa dianggap masuk hitungan, atau dengan perkataan lain, asal Kongcu sanggup meloloskan diri selama empat hari empat malam, maka kau akan selamat dan tak ada urusan lagi.
Ke delapan, Bila kau berhasil melarikan diri dari sini, atau terhindar dari pengejaran selama empat hari empat malam, bukan saja kongcu boleh masuk keluar dengan bebas di bukit ini, bahkan semenjak hari itu, kau akan dianggap sebagai tamu agung kami dan setiap saat berhak untuk tetap tinggal disini.
Ke sembilan setengah jengkal saja kau berhasil lolos dari bukit ini akan di anggap sebagai suatu keberhasilan, kau akan segera menjadi tamu agung kami, bukan saja bebas masuk keluar bukit, bahkan setiap anggota bukit ini akan menyambutmu secara hormat.
"Ke sepuluh, Barang siapa telah menjadi tamu agung kami dan berhasil dalam pengejaran dia memiliki satu hak khusus, yaitu berhak untuk minta kepada Sancu untuk membebaskan dua orang tawanan kami yang tertangkap karena naik keatas bukit ini!"
Setelah berlangsung sekian lama, akhirnya secara ringkas Chin congkoan berhasil juga untuk menerangkan semua persoalan itu kepada tamunya.
Begitulah, setelah berhenti sejenak sambil tersenyum dia lantas bertanya.
"Kongcu, tolong jawablah dengan sejujurnya, termasuk adilkah caraku ini ?"
Sun Tiong-lo segera manggut-manggut.
"Yaa, adil, adil sekali, memang adil sekali!"
Agaknya Ben Liau-huan merasa agak tega, selanya tiba-tiba.
"Adilnya memang adil, tetapi sulitnya juga sulit sekali !"
Sesungguhnya dia bermaksud untuk memancing perhatian Sun Tiong-lo agar bertanya dengannya, maka menggunakan kesempatan itu Beng Liau-huan akan menerangkannya dengan jelas.
Siapa tahu bukan saja Sun Tiong-lo tidak menangkap maksud kata-katanya itu, malahan dia berkata.
"Bila sama sekali tidak sulit, bagaimana mungkin bisa disebut sebagai suatu usaha pelarian ?"
Perkataan ini kontan saja membuat Chin Hui-hou tertawa tergelak, tapi membuat Beng Liau huan amat mendongkol. Chin Hui hou berhenti tertawa, lalu ujarnya.
"Malam ini tidak masuk hitungan, mulai besok pagi kongcu akan menjadi tamu agung kami selama lima hari, padahal rekan rekan lainnya tidak semujur kau, mereka hanya mempunyai hak untuk menjadi tamu agung selama tiga hari!"
Sun Tiong io bukannya berterima kasih, sebaliknya malah berseru.
"sekalipun lebih banyak dua hari, tapi berarti pula menambah kemurungan orang selama dua hari lagi."
"Benar, tapi dalam keadaan pasti mati berarti hidup dua hari lebih lama!"
"Congkoan, apakah kau tidak merasa perkataanmu itu kelewat merasa yakin..."
Kata Sun Tiong lo dengan kening berkerut.
"aku yang muda percaya dalam kesempatan yang amat adil ini pasti ada orang yang berhasil melarikan diri dan sini !"
Menggunakan kesempatan tersebut, kembali Beng Liau huan memberikan petunjuknya.
"Mungkin dikemudian hari masih ada yang akan berhasil untuk melarikan diri, tapi sebelum ini tak pernah ada yang berhasil !"
Mendengar perkataan itu, Sun Tiong lo baru tertegun dibuatnya.
"Cengcu, apakah belum pernah ada yang berhasil melarikan diri dari sini ?"
Dengan gusar Chin Hui hou melotot sekejap kearah Beng Liau huan, tapi Beng Liau huan berpura pura tidak melihat, kembali sahutnya.
"Benar setiap orang yang berusaha melarikan diri dalam kesempatan yang adil ini, mereka justru mati semua !"
Sun Tiong lo duduk dibangkunya dengan wajah termangu-mangu, sampai setengah harian lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, Chin Hui hou telah selesai menyampaikan semua keterangannya diapun lantas bertanya.
"Kongcu, apakah kau masih ada persoalan yang ingin kau tanyakan lagi kepadaku ?"
Sun Tiong lo menghembuskan nafas panjang untuk melegakan kesesakan nafasnya, lalu menjawab.
"Tolong tanya Cong koan, apakah masih bisa dirundingkan lagi persoalan ini?"
Dengan ketus Chin Hui hou menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tiada kesempatan bagimu untuk mengadakan perundingan lagi didalam persoalan ini!"
Dengan perasaan apa boleh buat Su tiong lo menghela napas panjang-panjang.
"Aaaai.... tampaknya aku yang muda juga tak bisa terkecualikan dari peraturan ini"
"Heeehh .. .. heeehh tentu saja pengecualian!"
Sun Tiong lo mengerdipkan sepasang matanya tiba tiba dia berkata kembali.
"Bagaimana kalau seandainya minta pengampunan dari Sancu pribadi?"
"Dengan demikian, kau akan mampus lebih cepat lagi!"
Sahut Chin hui hou sinis. Sun Tiong-lo kehabisan daya lagi, setelah tertegun beberapa saat lamanya, tiba tiba ia berkata.
"Tadi aku yang muda mendengar congkoan berkata bahwa semenjak besok pagi, aku yang muda adalah tamu agung..."
Sambil tertawa Chin Hui hou gelengkan kepalanya berulang kali, Semenjak masuk keatas bukit ini dan sebelum suatu pelarian secara adil dilakukan, kau sudah menjadi tamu agung kami."
"Kalau begitu sekarangpun aku sudah terhitung sebagai tamu agung ditempat ini ?"
"Tentu saja ?"
Jawab Chin Hui hou sambil manggut-manggut. Sun Tiong lo berpikir sejenak, lalu katanya lagi.
"Barusan congkoan berkata, selama aku yang muda menjadi tamu agung dari bukit ini, selain memohon pengampunan, permintaan apa pun yang kuajukan pasti dapat terpenuhi benarkah itu ?"
Chin Hui hou mendengus dingin.
"Hmm ! peraturan ini ditetapkan sendiri oleh San cu, sudah barang tentu tidak bakal salah lagi, cuma lohu akan memperingatkan kong cu lagi dengan sepatah kata, andaikata selama menjadi tamu agung, kau berusaha untuk melarikan diri, maka itu sama arti dengan mencari kematian lebih cepat !"
"Oooo..! jelas aku tak akan melakukan tindakan sebodoh itu"
Ujar Sun Tiong lo sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"aku yang muda hanya akan memohon suatu permintaan yang tidak terlampau berat daripada hal hal yang muluk."
"Kongcu berhak untuk mengajukan permintaan, apa yang sudah kau pikirkan sekarang boleh diajukan!"
Sambil tertawa Sun Tiong lo berkata.
"Kalau memang Sancu menetapkan dalam kata-kata.
"pelayanan dalam permintaan apa-pun,"
Tentu saja aku yang muda hanya bisa mengajukan permintaan terbatas dalam lingkungan "pelayanan dalam permintaan apapun"
Itu pula !"
Chin Hui hou terkekeh-kekeh seram.
"Aku tahu kongcu adalah seorang yang cerdas, memang seharusnya menjadi seorang yang tahu diri."
"Ooo...! pertama-tama aku ingin bertanya pada Congkoan, pada malam ini aku yang muda akan menginap dimana ?"
"Ditempat yang paling bagus dari bukit ini, tempat itu dinamakan loteng Bong-lo (loteng impian)!? "Bagus sekali, sekarang harap congkoan su ka mendengarkan lagi suatu permintaan dari aku yang muda !"
Chin Hui hou memandang sekejap ke arah Sun Tiong lo, kemudian katanya cepat.
"Tampaknya perasaan kongcu pada saat ini sudah jauh lebih tenang ! Heh.. hehh.. hehh... katakan saja, lonu sedang mendengarkan !"
Benar juga, ketika itu Sun Tiong lo sama sekali tak nampak gugup atau ketakutan, dia berkata.
"Congkoan, kau harus tahu, seandainya persoalan sudah dihadapkan pada keadaan yang tak bisa dipikirkan lagi, kalau tidak menenangkan perasaan, apa pula yang bisa kulakukan ? itulah sebabnya perasaan dan pikiranku sekarang malah tidak menjadi panik lagi."
"ltupun benar juga"
Sindir Chin Hui-hou.
"paling baik kalau menggunakan kesempatan selama lima hari ini untuk banyak makan dan banyak minum, sehingga setelah mati nanti kau tak bakal menjadi setan yang kelaparan."
"Congkoan memang pandai sekali menyelami perasaan orang, aku yang muda memang ingin sesali mengajak Beng cengcu untuk minum beberapa cawan arak, sayang cawan sudah pecah mangkuk juga sudah pecah, kalau begitu harap congkoan suka mengambil satu setel perlengkapan lagi untukku!"
"Apa ? Kau suruh lohu mengambilkan mangkuk dan cawan bagimu ? Hemm"
Dengan bengis Chin Hui hou melotot sekejap kedepan. Sun Tiong lo tersenyum malah katanya lagi.
"Bahkan akupun hendak mohon kepada Congkoan, agar melayani aku sendiri untuk setiap memenuhi setiap kali cawanku yang sudah kosong."
Mendengar ucapan itu, Chin Hui-hou naik pitam, sambil menuding kearah Sun Tiong lo teriaknya.
"Sungguh besar nyalimu... anjing cilik ! Rupanya kau sudah bosan hidup lagi didunia ini."
Dengan cepat Sun Tiong lo menarik muka, katanya.
"Chin congkoan, ini peraturan Sancu kalian sendiri untuk melayani tamu agungnya, aku berhak untuk memohon pelayanan dalam bentuk apapun atas dirimu, kini aku yang muda telah mengajukan permohonan, mau dikerjakan atau tidak terserah padamu sendiri, aku toh tidak akan terlampau memaksa dirimu."
Chin Hui hou menjadi termangu seperti seorang bodoh, sampai waktu itu, Sun Tiong lo telah berpaling kearah Beng Liau huan seraya berkata.
"Beng ceng cu, kini aku yang muda barulah tahu mengapa dalam pengejaran yang adil dimasa lampau, tak ada seorang manusiapun yang berhasil melarikan diri!"
Oleh peristiwa yang barusan saja terjadi itu Beng Liau huan di buat terperanjat termangu-mangu, tetapi dalam hati kecilnya dia merasa kagum pada kecerdasan Sun tiong lo, hingga tak terasa dia mempunyai penilaian yang berbeda lagi atas diri sianak muda tersebut.
Itulah sebabnya dia lantas bertanya cepat.
"Oooooh.... mengapa bisa demikian?"
Sambil menuding Chin hui hou, pemuda itu menjawab "Ambil contoh saja ini, jelaslah ada orang yang berusaha untuk memutar balikkan peraturan yang telah di terapkan oleh San cu...!"
Perkataan ini terlampaulah berat, ternyata Beng Liau huan tidak berani untuk menanggapi.
Pelbagai ingatan ketika itu sudah berkecamuk dalam benak Chin Hui hou, rupanya ia telah mengambil keputusan dihatinya, dengan suara dalam bentaknya.
"Anjing cilik dengaikan baik baik, peraturan yang diterapkan Sancu untuk melayani tamunya sama sekali tak mencakup lohu yang kedudukan sebagai seorang congkoan beserta rekan-rekan setingkat denganku bila kau berani mengaco boleh lagi, jangan salahkan kalau lohu..."
Belum selesai perkataan itu di ucapkan, tiba-tiba dari dalam ruangan bergema suara keras yang menggetarkan telinga.
"Ucapan kongcu tepat sekali, memang banyak anak buah lohu yang berusaha melanggar peraturan yang ada, untuk itu lohu mohon maaf pada kongcu, tapi aku pinta agar kongcu bersedia percaya kewibawaan lohu serta tidak menyelidiki lagi...!"
Setelah berhenti sejenak, tiba tiba dengan nada ucapan yang berubah keras, lanjutnya.
"Chin Hui hou! Mengapa kau tidak segera melaksanakan permintaan dari kongcu itu? Ingat, selesai melayani kongcu minum arak, kau boleh pergi sendiri ke ruangan Cap pwe sin tian untuk menerima hukuman sesuai dengan peraturan, hayo cepat!"
Begitu suara keras yang hanya kedengaran suaranya tanpa menjumpai manusianya itu berkumandang dalam ruangan, paras muka Chin Hui hou yang berwarna merah padam kontan saja berubah menjadi pucat pias seperti mayat, bahkan dibalik warna pucat tersebut masih tampak warna hijau membesi, keadaannya mengenaskan sekali.
Menanti perkataan tersebut selesai diucapkan, Chin Hui hou baru mengiakan dengan hormat dan memutar badannya untuk beranjak ke depan, Sun Tionglo mana mau menyia nyiakan kesempatan sebaik ini, segera teriaknya dengan cepat.
"Bila kudengar dari suaranya, sudah dapat diduga pastilah Sancu yang telah berkunjung sendiri kemari, apakah aku yang muda boleh memberi hormat kepadamu ?"
"Sekarang lohu masih ada urusan untuk turun gunung, dalam lima hari kemudian pasti kembali, waktu itu aku pasti akan bertemu dengan kongcu dan menemani sendiri untuk melihat keadaan dibukit ini, semoga saja kongcu bisa sukses dalam pelarian nanti."
Setelah ucapan tersebut diutarakan ternyata Sun Tiong-lo tidak mengajukan permintaan apa-apa lagi.
Beng Liau huan yang menyaksikan keadaan itu, dalam hatinya semakin mengenal lagi akan diri anak muda tersebut.
Ketika Chin Hui hou muncul lagi dalam ruangan, dia muncul dengan membawa perlengkapan baru yang di minta, bahkan melayani arak untuk Sun Tionglo hingga anak muda iiu selesai bersantap, akhirnya dengan membawa perasaan dendam dan marah dia mengundurkan diri dari ruangan tersebut.
Tak lama kemudian, lelaki kekar yang tinggi besar Kim Poo cu muncullah di sana, sebelah memberi hormat kepada Sun Tiong lo, katanya.
"Aku mendapat perintah dari San cu untuk menemani kong cu kembali keloteng impian guna beristirahat."
"Oh .... di manakah Chin congkoan?"
Kimpocu segera mencibirkan bibirnya yang tebal dan besar seraya menjawab.
"Kong cu tak usah banyak bertanya, sekarang ia sedang menjalankan siksaannya!"
Ia suruh Sun tiong lo tak usah banyak pikir tapi dia sendiri telah menerangkan kenyataan tersebut.
Sun Tiong-lo tak banyak bicara lagi, setelah mohon diri kepada Beng Liau huan, bersama Kim poocu segera mengundurkan diri dari ruangan tersebut.
Sepanjang jalan Sun Tiong lo tidak mengucapan sepatah katapun, hingga tiba dibawah loteng impian, pemuda itu baru berterima kasih pada Kim poo cu dan naik keatas loteng.
Sambil melangkah naik ke atas loteng, diam-diam Sun Tiong lo mengingat-ingat semua keadaan didalam loteng itu dengan jelas, ketika tiba diatas ia lantas mendorong pintu kamar dan melangkah masuk dengan tindakan lebar.
Namun ketika melewati pintu kamar, mendadak bau harum semerbak yang amat tipis.
Keningnya lantas berkerut, dia cepat menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Anehnya ternyata ia tidak memasang lampu, melainkan berdiri kaku disana sambil mengamati belakang pembaringan sana, dan berjalan ketepi ranjang dan sambil duduk di tepi pembaringan melepaskan sepatunya.
Menurut kebiasaan ia melepaskan jubah panjang kemudian melepaskan kaos baru jubah panjang itu diletakkannya diujung pembaringan, kemudian setelah menguap dia baru melepaskan baju dalam.
Setelah melepaskan baju dalam, kini bagian dadanya menjadi setengah telanjang.
Sekali lagi dia menguap, kemudian membaringkan diri diatas ranjang.
Tak lama setelah berbaring, tiba-tiba dia melompat bangun lagi sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku benar benar dibuat kaget sampai menjadi bodoh, tadi hanya minum arak melulu, sekarang rasanya haus sekali". Ia melirik sekejap kearah meja, lalu ber jalan menuju kesana, ketika dirasakan air teh masih panas, ia meneguk dua tegukan dan meletakkan kembali cawannya kemeja. Sesudah itu sambil merentangkan badan melemaskan otot, sekali lagi dia menguap, katanya .
"Sejak meninggalkan rumah sampai sekarang aku belum pernah tidur nyenyak sambil melepaskan semua pakaianku, sekarang toh mati hidup sudah tak ketahuan lagi, kenapa aku tak tidur dalam keadaan polos ?"
Tapi sebentar kemudian ia berseru tertahan kenidian katanya lagi dengan lirih.
"Baju lamaku tertinggal dalam kamar mandi, bajuku yang baru inipun tanpa celana dalam. waaah... bagaimana aku harus membuka celana luar?"
Sambil menggelengkan kepalanya, diapun menghirup kembali setegukan dan...
"Oh, panas amat! Aaai., ... bagaimanapun dalam kamar itu cuma aku seorang, kalau pintu sudah terkunci, mau tidur telanjang apa pula salahnya? Bila ada orang datang kemari, memakainya kembali toh belum terlambat!"
Semakin berguman ia berbicara makin serius, akhirnya dia mulai melepaskan ikat pinggangnya.
Siapa tahu pada saat itulah mendadak dari atas kursi lemas disudut ruangan sebelah kiri berkumandang suara bentakan nyaring.
"Kau berani melepas ?"
Sun Tiong-lo segera terperanjat sambil menjerit kaget dia segera lari ke pembaringan. Suara merdu tadi kembali berkumandang.
"Tak usah berlagak bodoh lagi, kau anggap aku tidak mengetahui lagakmu itu? Cepat kenakan pakaian, memasang lampu dan kita berbicara secara baik-baik, ada persoalan yang ingin kutanyakan kepadamu, hayo cepat !"
Sun Tiong-lo menggunakan kain selimut untuk menutupi kepala sendiri, kemudian dengan badan gemetar tanyanya.
"Kau... kau adalah manusia atau setan ?!"
Kursi diujung ruangan ilu bergoyang pelan, lalu tampak sesosok bayangan tubuh yang ramping bergeser kesisi meja, terdengar orang itu berkata.
"Sudah kukatakan agar kau tak usah berlagak pilon lagi... apakah gunanya kau bersikap demikian? Aku adalah manusia, kalau setan mana mungkin bisa berbicara sebagai manusia ?"
Sun Tiong-lo masih ketakutan setengah mati, katanya lagi dengan suara menggigil.
"Kau jangan menipu aku, sewaktu masih kecil dulu ibuku sering bercerita katanya Rase yang bertapa lama bisa menjadi dewi, ia sudah menampakkan diri dengan wujud seorang gadis cantik, tapi kerjanya khusus memikat laki-laki yang tampan."
"Tutup mulut!"
Bentak bayangan ramping itu sambil mendengus dingin, Menyusul kemudian tampak cahaya api memercik diatas meja, dan lentera dalam kamarnya disulut.
Setelah ada lampu, ruangan pun menjadi terang benderang, saat itulah Sun Tiong-lo baru berani menampakkan diri dari balik selimutnya dan turun dari atas pembaringan.
Entah sedari kapan, tahu-tahu diatas Loteng impian telah bertambah dengan seorang nona cilik yang cantik jelita..
bak bidadari dari kayangan.
Sekalipun gadis itu berparas muka cantik jelita, tapi amat dingin sikapnya, dengan sepasang biji mata yang jeli dia melotot sekejap kepada Sun Tiong-lo, seakan-akan ia hendak menembusi hatinya.
Paras muka Sun Tiong-lo masih diliputi perasaan kaget bercampur tercengang, tapi dengan sopan dia memberi hormat juga kepada nona itu seraya berkata.
"Nona, sejak kapan kau disini..."
Berbicara sampai disitu, tanpa terasa mata Sun Tiong lo di alihkan kembali ke arah pintu kamarnya yang masih di kunci dari dalam, ternyata kunci itu masih tetap utuh dan sama sekali tidak berubah, kontan saja perkataannya terhenti sampai di tengah jalan dan menjerit kaget...Nona itu melirik sekejap kearahnya dengan dingin, lalu ujarnya.
"Pandai amat kau bermain sandiwara, akan kulihat sampai kapan permainan gila gilaanmu itu baru akan berhenti !"
Sun Tiong lo mengerdipkan matanya, gelengkan kepala, berpikir sejenak dan akhirnya dengan memberanikan diri dia berkata.
"Nona benar benar adalah manusia?"
Nona itu menjadi amat mendongkol serunya "Aku tidak memberitahukan kepadamu, jika kau berani bicara secara sembarangan lagi jangan salahkan kalau kuhajar dirimu!"
Sun Tiong lo menatap nona itu tajam tajam kemudian berkata lagi"
"Tapi.. tapi, pintu kamar aku yang muda kan terkunci dari dalam, kenyataannya nona bisa masuk dengan semaunya..."
Tampaknya nona itu kewalahan juga dibuat nya, dengan perasaan apa boleh terpaksa katanya sambil mencibir bibir.
"Memangnya aku tak bisa datang ke loteng impian ini selangkah lagi lebih dulu darimu ?"
Sun Tiong lo kembali tertegun.
"Datang lebih duluan? Mau apa nona datang lebih duluan keatas loteng impian ini?"
Nona itu mengerling sekejap kearahnya, kemudian menjawab.
"Terus terang kuberitahu kepadamu, loteng impian ini sesungguhnya adalah tempat tidur siang ku bila di musim panas."
Seperti baru sadar dari impian, dengan serius Sun Tiong lo berseru.
"Kalau begitu, nona seharusnya juga tahu bahwa bukan-aku sendiri yang minta kemari, akupun bukan tuan rumah dari loteng ini, jika nona ada dendam sakit hati, tidak seharusnya mencari aku..."
Temyata dia masih menganggap nona itu sebagai sukma penasaran yang mencari balas. Dengan perasaan mendongkol terpaksa nona itu harus berbicara dengan jujur.
"Dengarkan baik baik, aku manusia bukan setan, Sancu bukit ini adalah ayahku, sedang loteng impian ini adalah tempat tinggalku bila dimusim panas, sekarang mengerti ?"
Sun Tiong lo mengerti, sambil tersenyum dia lantas memberi hormat, katanya.
"Oooh ....rupanya nona adalah putri Sancu, maaf jika aku yang muda kurang hormat !"
Nona itu mendengus dingin, sambil duduk dikursi katanya.
"Kau juga boleh duduk, aku ada persoalan ingin di tanyakan kepadamu..."
Sun Tiong-lo menyahut dengan hormat, tapi ia melirik dulu sekejap kearah nona itu kemudian baru duduk. Dengan sikap yang amat terbuka nona itu memperhatikannya beberapa saat, setelah itu katanya.
"Pertama tama aku hendak bertanya kepada mu, setelah masuk keatas loteng impian, mengapa kau tidak memasang lampu?"
"Sebenarnya aku yang muda mempunyai korek api, sayang ketika membersihkan badan tadi lupa mengambil, sekarang aku tidak mempunyai korek api lagi, dengan cara apa aku musti menyulut lampu?"
Mendengar itu, sinona menjadi terbungkam, Lewat beberapa saat kemudian ia berkata lagi.
"Anggap saja perkataan ini telah kau jawab secara benar,sekarang aku ingin bertanya lagi kau minum teh seorang diri, mengapa dua cawan teh yang kau sediakan di meja?"
"Sewaktu berada diruangan tengah tadi, aku yang muda sudah minum beberapa cawan arak lebih banyak, ditambah lagi hidangan dari bukit ini amat lezat sehingga makan lebih banyak karena itu aku merasa haus sekali dan ingin cepat-cepat minum teh.
"Apa mau dikata air tehnya masih panas, sedang cawannya kecil, maka aku menyiapkan dua cawan dengan harapan mumpung secawan yang lain sudah habis terminum, cawan yang lainpun keburu sudah dingin !!"
Padahal nona itu tahu kalau Sun Tiong lo berbicara sebenarnya, tapi ia toh dibuat tertawa geli juga sehingga tertawa cekikikan.
"Baik, anggap saja akupun berhasil lolos dari pemeriksaan ini.. ."
Belum habis dia berkata, Sun Tiong lo telah menukas.
"Nona, tolong aku yang muda harus melewati berapa banyak pemeriksaan lagi ?"
Tampaknya nona itu mempunyai watak mau mencari menangnya sendiri, kalau bilang berwajah dingin, maka wajahnya benar benar menjadi dingin, kalau bilang tidak berperasaan maka ia benar benar tak berperasaan mendadak saja dia menarik muka, lalu sahutnya dingin.
"Nonamu suka menyuruh kau melewati beberapa pemeriksaan kau harus pula melewati beberapa pemeriksaan !"
Sun Tiong lo memang cukup aneh, tiba-tiba diapun mengumbar wataknya, dengan serius katanya.
"Nona, kau sebagai putri kesayangan Sancu tentunya tak bisa tahu kalau bukan aku yang muda sudah termasuk sebagai orang yang sudah setengah mati, selama lima hari mendatang ini aku terhitung sebagai seorang tamu kehormatan disini ?"
Mendengar perkataan itu nona tertegun "Tentu saja tahu"
Sahutnya.
"kenapa ?"
"Kalau sudah tahu itu lebih baik lagi, mulai sekarang sampai batas waktu lima hari nanti aku tak ingin melewati sebuah pemeriksaanmu lagi, jika nona merasa keberatan, silahkan saja untuk membunuhku sekarang juga."
Kali ini si nona benar benar dibikin bodoh, setengah harian lamanya ia tertegun kemudian sambil mendepakkan kakinya ditanah ia baru melompat bangun, katanya.
"Anggap saja kau yang menang kali ini, tapi mengapa tidak kau pikirkan mengapa orang lain hanya mendapat batas waktu selama tiga hari sedangkan kau bisa memperoleh tambahan dua hari lagi ? Hmmmmmmm !"
"Selain itu, sekalipun menjadi tamu agung juga jangan harap bisa tinggal di loteng impian, mengapa pula kau tidak bertanya mengapa bisa menjadi begini, Kenapa malam malam begini aku datang kemari....!"
Ternyata jawaban dari Sun Tiong lo juga cukup cepat.
"Aku yang muda memang ingin bertanya kepada nona, mengapa malam malam begini nona datang kemari? sebenarnya ada urusan apakah dirimu ini....?"
Nona itu mendongkol yaa gemas yaa jengkel, sambil mendepakdepakkan kakinya kelantai serunya.
"Aku datang untuk menengokmu apakah kau sudah mampus atau belum !"
Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan menuju Ke depan pintu, kemudian setelah membuka kunci dan keluar, ia membanting pintu itu keras-keras.
Menunggu Sun Tiong lo menyusul kedepan pintu, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.
Sun Tiong lo segera menunjukkan sikap seolah-olah kehilangan sesuatu, sambil menghela nafas gumamnya.
"Sungguh seorang nona yang cantik dan lincah!"
Sekembali Kedalam ruangan loteng impian, dia mengunci kembali pintu ruangan. Baru saja akan berjalan ke meja, tiba tiba terdengar suara dari San cu berkumandang lagi.
"Kongcu, silahkan duduk, lohu hendak mengajakmu untuk bercakap-cakap !"
Walaupun Sun liong lo sudah tahu siapa yang mengajaknya berbicara, tapi ia tetap berlagak pilon.
"Siapa yang berbicara? Siapa kau? Berada dimanakah dirimu sekarang...?"
Sancu tersebut tidak menampakkan diri, tapi sahutnya.
"Lohu adalah Sancu dari bukit ini..."
Dengan cepat Sun Tiong lo mendengus dingin, tukasnya.
"Kau tak usah berbohong, Sancu sudah berkata sendiri kepada aku yang muda kalau dia akan meninggalkan bukit ini karena masih ada urusan lain ..."
"Benar!"
Sahut Sancu.
"sebenamya aku hendak turun gunung, tapi berhubung lohu menyaksikan siau li naik ke loteng ini, maka sengaja aku menunggu beberapa saat disini. Dan kini aku mempunyai beberapa persoalan ingin ditanyakan kecada Kongcu, aku harap kongcu bersedia menjawab dengan sejujurnya.
"Pertama tama lohu ingin bertanya apakah nama kongcu yang sebenarnya, berasal dari mana? Dan berapa umurmu? Tolong kongcu bisa menjelaskan pula berapa orang yang berada di rumahmu ?"
"Sancu, ada urusan apa kau menanyakan soal keluarga ku dengan sejelas ini ?"
"Kongcu tak usah kuatir, lohu jamin setelah kongcu memberikan jawaban yang sebenar nya, hal ini hanya akan bermanfaat bagi kongcu dan sama sekali tidak merugikan !"
Sun Tiong lo berpikir sebentar, lalu jawab nya.
"Bila batas waktuku sebagai tamu agung sudah habis, sampai aku juga tak akan lolos dengan selamat dari sini, paling paling nyawaku juga akan mampus, apalah gunanya membicarakan soal keluarga? Aku yang muda bernama Sun Tiong lo, penduduk ibu kota tapi sekarang adalah seorang anak yatim piatu."
"Ooooh,... bukankah kongcu masih mempunyai seorang empek ?"
"Benar."
Baru saja Sun Tiong lo akan menjawab lebih jauh, tiba-tiba Sancu berkata lebih jauh.
"Kongcu, harap kau dengarkan baik baik, anak buah lohu telah mengirim berita penting yang mengatakan ada orang menerjang naik keatas gunung, orang itu berilmu tinggi sekali karenanya aku tak bisa bertanya jawab lagi dengan kongcu, bila urusan lohu selesai dan kembali kegunung, sudah pasti tak akan lewat dari lima hari, waktu itu aku pasti akan mengajakmu untuk berbicara lebih lanjut, nah sekarang aku hendak mohon diri lebih dulu!"
Sesuai berkata suara itupun segera sirap.
Perlahan Sun Tiong lo memadamkan lentera dan mengulumkan sekulum senyuman ringan.
Setelah itu dengan langkah cepat ia berjalan kedepan jendela dan melongok keluar.
Benar juga, dilangit sebelah barat sana, tampak segumpal cahaya bintang sedang memancarkan sinarnya ke empat penjuru.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB TIGA DENGAN kening berkerut Sun Tiong-lo memandang termangu sejenak keluar jendela kemudian setelah meneguk secawan air teh, ia menjatuhkan diri di atas pembaringan pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya membuat pemuda itu tak bisa membuat pemuda itu tak bisa memejamkan matanya.
Tiba-tiba senyuman ayah ibunya terlintas kembali dalam benaknya, ia menjadi teringat dengan kenangan masa lalu.
Ketika itu dia baru berusia lima tahun, nakal sekali.
Ayahnya tak pernah memanggil nama padanya, tapi langsung panggil dengan sebutan "Si Binal"
Begitu hangat panggilan itu dan juga mesra.
Sesungguhnya mereka sekeluarga hidup dengan penuh kebahagiaan dan gembira, siapa tahu kebahagiaan selamanya tidak berlangsung langgeng, akhirnya pada suatu tengah malam terjadilah suatu peristiwa yang amat menyedihkan itu.
Malam itu teramat sepi dan hening, semua orang sudah terlelap dalam impian indah.
Tiba-tiba suara pekikan yang amat nyaring berkumandang datang dari kejauhan dan membelah keheningan malam.
Menyusul kemudian, tampaklah sesosok bayangan hitam melayang keluar dari kamar baca di loteng sebelah selatan dan meluncur kearah mana asal suara itu.
"Diaaam..."
Sesosok bayangan hitam segera menerjang masuk ke dalam. Pada saat itulah dari dalam kamar terdengar seseorang menegur.
"Pek gi kah di situ?"
Ketika mendengar suara teguran tersebut bayangan hitam tadi kelihatan merasa amat lega, segera sahutnya.
"Adik, In aku disini! Apakah kau lagi mendapat impian buruk..."
Sambil berkata dia memasang lampu kamar.
Dibawah cahaya lilin, tampak orang itu seorang lelaki tampan berusia empat puluhan, waktu itu dengan dada telanjang dan membawa sebilah pedang berdiri kekar dekat pembaringan.
Di atas pembaringan berbaring perempuan cantik yang menyelimuti sampai dada, rupanya baru bangun dari lmpian.
Dengan matanya yang bening dia melirik pada Pek gi sekejap, lalu wajahnya menunjukkan rasa haru dan terima kasih.
Ia tidak menjawab, hanya menuding ketubuh Pek gi dengan jari tangannya.
Pek gi agak tertegun, kemudian tertawa jengah setelah dia menundukkan kepalanya.
"Yaa, aku memang terlalu terbura buru!"
Katanya cepat. Perempuan itu menggigit bibirnya dan dengan kemalu-maluan berkata lagi.
"Jangan melihat aku terus menerus, udara sangat dingin, jangan lupa menutup pintu"
Pek gi segera mengiakan dan menutup pin tu kamar, perempuan itu menepuk pelan sisi pembaringannya, Pek gi mengangguk dan menghampirinya sambil tersenyum.
"Letakkan pedangmu itu!"
Bisik perempuan itu lagi dengan kening berkerut. Pek gi berseru tertahan dan segera meletakkan pedangnya dimeja, kemudian tegurnya lagi.
"ln, kau bermimpi apa lagi?"
Sinar matanya memandang sekejap kepembaringan sebelah dalam, kemudian sambil berseru tertahan serunya lagi.
"Dimana sibinal"
Sambil menunjuk kekamar sebelah perempuan itu menjawab "Aku khawatir bocah itu terbangun oleh impian ku, maka kusuruh inang nya mengajak tidur dikamar sebelah!"
Mendengar jawaban tersebut, Pek gi baru kelihatannya agak lega. Terdengar perempuan cantik itu berkata.
"Cobalah kau lihat, sekalipun terburu buru juga tak seharusnya macam kau sekarang, masa baju arakpun tidak kamu kenakan? Kini sudah musim gugur, kau anggap badanmu lebih keras dari baja!"
Merdu suaranya tapi wibawa.
"Tentu saja"
Sahut Pek gi sambil tertawa, di tepuknya dada seraya berkata.
"Coba kau lihat, lebih kekar dari pada sebatang baja"
Perempuan cantik itu mengerling sekejap ke arahnya, dan berkata lagi.
"Lepaskan sepatu mu dan padamkan lampu! Pek gi sangat penurut, sebuah sentilan jari-jari tangan segera memadamkan lampu Ientera. Kemudian ia lepaskan sepatu dan duduk di sisi pembaringan istrinya. Beberapa saat kemudian, tak tahan perempuan cantik itu bertanya.
"Jadi kau sudah nekad ?"
"Nekad apa ? Apa yang kau maksudkan?"
Pek-gi balik bertanya dengan wajah tertegun.
"Tidak kedinginan ?"
Pek-gi segera mengerti maksud istrinya, dengan cepat bagaikan seekor ikan belut dia lantas menyusup ke dalam selimut, kalau tadi dadanya yang kedinginan tidak merasakan apa-apa, maka begitu masuk ke balik selimut dia malah kelihatan agak gemetar.
Di tengan kegelapan terdengar perempuan cantik im berbisik.
"Lain kali, jika kau mendengar aku berteriak-teriak lagi di tengah malam, jangan gubris diriku?"
"Tak ada lain kali lagi !"
Tukas Pek-gi.
"Pasti ada"
Sahut perempuan itu dengan sedih.
"aku benar-benar amat membenci sekali diriku!"
Pek-gi tertawa lapar.
"Aku bilang tak mungkin ada lain kali yaa tak ada lain kali, kalau aku tahu si binal tidur dengan mak inangnya, malam inipun mungkin tak akan pernah terjadi!"
"ldiih tak tahu malu, perkataan macam begitu juga bisa kau ucapkan ?"
Bisik istrinya dengan malu.
"Aaah kenapa musti malu untuk mengucapkan kata-kata seperti ini ? Suami istri yaa suami istri..."
Dengan perasaan setengah malu, setengah mendongkol dan setengah menegur perempuan itu segera menukas.
"Apa yang kau jeritkan? Memangnya ingin membuat semua anak buahmu kedengaran ?"
"Sejak dulu kala, sedari dunia ini ada thian menciptakan laki dan perempuan untuk saling bercinta didunia, kemudian menjadi suami isteri, arti dari pada suami isteri adalah...!"
Tiba-tiba perempuan itu mencubit paha Pek gi bisiknya.
"berani bicara terus?"
"Baik aku tak akan bicara lagi....!"
Suana menjadi hening, untuk sekian waktu lamanya kedua belah sama-sama tidak bersuara. Tiba-tiba perempuan cantik itu menghela napas, katanya lagi.
"Pek gi bukankah besok adalah tanggal delapan?"
Pek gi sebenarnya mengerti apa yang dimaksudkan isterinya, tapi ia berpura-pura tenang.
"Benar, lusa adalah tanggal sembilan!"
Perempuan itu menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu gumannya seorang diri.
"Berarti delapan hari lagi itulah hari Tiong ciu !"
Pek gi tidak menjawab, hanya diam diam berkerut kening, Tentu saja perempuan itu juga mengerti apa yang membuat suaminya berkerut kening, dengan cepat ia berkata.
"Kau tak usah berkerut kening, aku tak akan menganjurkan kepadamu untuk pergi !"
Pak gi berusaha keras untuk menekan pergolakan perasaan dalam hatinya, dengan nada tenang ia berkata.
"Adik In, bukannya aku enggan mendengarkan nasehatmu, sesungguhnya kaburpun tak ada gunanya, selama dua puluh tahun ini Liuk hun pay (lencana perontok sukma) itu sudah malang melintang dalam dunia persilatan!"
"Aku mengerti!"
Tukas sang istri.
"hingga kini tak seorangpun jago silat pun yang tahu siapa gerangan pemilik lencana tersebut, sehingga mau bersembunyi sampai diujung langitpun tak ada gunanya"
"Aai...! Tapi hal ini merupakan kenyataan, lagi pula sejak tahun berselang kita sudah mempersiapkan pertemuan yang meriah dihari Tiong ciu tahun ini bahkan bersiap siap untuk mengumumkan seluruh dunia persilatan bahwa kita akan mengundurkan diri dan tidak mencampuri urusan persilatan lagi.
"Tanggal satu hari itu, aku baru menyuruh saudara Cu peng untuk mengirim orang menyebar undangan, tetapi malam harinya kita telah menerima Lok hun pay tersebut, di atas lencana jelas kita tercantum akan mati secara mengerikan di malam Tiong ciu tersebut"
"Adik In, tahukan kau bahwa perisriwa ini bukan suatu kebetulan, tetapi pemilik lencana terseout telan merencanakannya secara rapi membuat kita tak mungkin meloloskan diri lagi, dari kenyataan seperti ini!"
Sesudah berhenti sebentar, dengan agak emosi dia melanjutkan pembicaraannya itu.
"Adik In, semenjak kita terjun ke dunia persilatan, siapakah yang pernah mendengar bahwa bernama Giok bin siam kiam soh liong jiu (Dewa pedang tangan sakti penakluk naga yang berwajah kemala)Sun pek gi serta hui thian giok li (gadis cantik langit terbang) Wan Pek in adalah manusia-manusia yang takut urusan? kabur dari kenyataan?"
"Dua tahun berselang, ketika Gak hu (ayah mertua) tewas secara mengenaskan di daerah Kang see, kata-kata wasiatnya membuat terharu hatiku, apalagi setelah mendengar bujukanmu maka aku bertekad akan mengundurkan diri dari dunia persilatan dan hidup penuh kegembiraan dengan adik In.
"Demi adik In aku rela meninggalkan segala sesuatu yang ada di dunia ini termasuk nama dan kedudukanku, demi adik In akupun bersedia menerima caci maki dari semua orang didunia ini."
Dengan cepat Wan Pek in menutup bibir Pek gi dengan jari tangannya yang lembut katanya.
"Pek gi, kau tak boleh berbicara lagi, kau sangat baik kepadaku"
Pak gi menghela nafas panjang, di belai-nya tangan serta pergelangan tangan istrinya dengan penuh kasih sayang, kembali ia berkata.
"Pemiliknya Lok hun pay telah mewartakan berita elmautnya pada saat ini, kita toh tidak tahu siapakah dia, sekalipun kabur ke ujung langit belum tentu bisa terhindar dari pengejarannya..."
"Aku mengerti"
Tukas Pek in.
"aku hanya membenci pada diriku sendiri, sepuluh tahun kita berkelana dalam dunia persilatan, tidak pernah aku merasa takut terhadap apapun, kali ini aku justru merasa gundah, tak tenang dan demikian ketakutan? Ai, aku benar benar seorang pengecut !"
"Aaai..! Ya, kita kuatir, karena kita menguatirkan keselamatan si binal !"
"Pak gi, konon setiap orang yang mendapat Lok hun pay, segenap isi keluarganya dibasmi sampai tuntas, tapi orang yang tidak menyangkut hubungan keluarga dengannya dibiarkan hidup, benarkah itu?"
Pak gi berpikir sebentar, lalu jawabnya.
"Hanya ada suatu pengecualian !"
"Peristiwa yang mana!"
Tanya Pek in gelisah.
"Ketika keluarga Pian tayhiap mendapat musibah !"
"Bukankah waktu itu tak seorangpun berhasil meloloskan diri dari dalam keadaan hidup?"
Tanya Pek in tercengang.
"Enmmmmmm . .. .!"
Lantas mengapa kau katakan kali itu terjadi kekecualian ?"
"Yaaa, sebab empat sobat karib dari Pian tayhiap juga turut tewas ditempat kejadian."
Pek in lantas memahami yang dimaksudkan bisiknya.
"Kalau begitu cerita orang tentang ia tidak membunuh marga lainpun tak bisa dipercaya ?"
Pak gi mendengus dingin.
"Hemmmm menurut pendapatku waktu itu keempat sobatnya pasti bertugas untuk melindungi sanak keluarga tayhiap, bila Lok hun pay tidak membunuh keempat orang itu terlebih dahulu, tentunya tujuannya tak akan tercapai."
Pek in seperti baru memahami akan sesuatu, dia lantas berseru tertahan.
"Ooooh, tak heran kalau kau tak bercerita pada Cu peng bahwa kau telah terima Lok hun pay, rupanya kau juga khawatir bila teman temanmu ikut tewas dalam peristiwa ini!"
"Persoalan ini adalah persoalan keluarga Sun, kami tidak berhak untuk menyeret teman-teman karib kita masuk keliang api, apa lagi aku masih berkeyakinan sanggup untuk menghadapi Lok hun pay!"
Pek in termenung beberapa waktu lamanya, mendadak sambil merendahkan suaranya dia berbisik.
"Pek gi apakah kamu sudah mempunyai rencana untuk anak kita?"
Menyinggung soal anak, pikirannya Pek gi menjadi kacau sekali.
Selama beberapa hari belakangan ini ia tinggal sendirian didalam kamar bukunya di loteng sebelah selatan, tak lain ia sedang memikirkan cara yang baik untuk menyelamatkan anaknya yang baru berusia lima tahun itu, tapi sayang, sekalipun ia sudah memeras otak ternyata tak sebuah carapun yang didapatkan.
Tadinya dia paling kuatir bila istrinya menyinggung soal itu, apa mau dibilang justru masalah itu tak bisa dihindari lagi.
Ketika ia tidak membuka suara, Pek in segera mengerti maksudnya, maka ujarnya kemudian "Aku selama ini merasa takut lantaran memikirkan soal anak kita, Pek gi kalau toh bocah itu mau mengikuti mak inang dan lagi mak inang bukan orang persilatan maka aku pikir."
Belum habis ucapan itu diutarakan mendadak dari luar ruangan sudah terdengar suara tawa menyeramkan menyusul seorang berkata.
"Kalian suami istri tidak usah berkhayal yang bukan bukan, apalagi mengantar anakmu keluar dari sini, aku akan memberi kabar pula kepadamu, sobat karib kalian itu sudah tahu akan persoalan ini !"
Sambil menyambar pedangnya Sun pak gi melompat bangun. Tapi orang diluar ruangan itu sudah berkata lagi sambil tertawa seram.
"Orang she Sun, lohu menganjurkan kepadamu lebih baik gunakanlah kesempatan selama beberapa hari ini untuk bersenang senang, sampai waktunya lohu akan datang lagi, selamat tinggal !"
Dengan geram Pak gi menancapkan kembali pedangnya ke tanah, kemudian tidur lagi.
Kiranya setelah mengucapkan selamat tinggal tadi, orang itu sudah berada sepuluh kaki jauhnya, Pak gi tahu dikejarpun percuma maka dia tidak memperdulikan orang itu lagi.
Sementara itu Pek-In sudah bangun dan berduduk, tanyanya kemudian.
"Pak gi, apakah Lok hun pay pribadi yang datang ?"
Pek gi termenung sebentar lalu menggeleng.
"Sulit dikatakan, pokoknya orang itu sudah pasti adalah manusia cecunguk yang takut bertemu orang !"
"la bilang sobat kita sudah mengetahui kejadian ini...."
"Yang dimaksudkan pastilah saudara Ngo-kian !"
Sela Pek-gi, Pek-in tak dapat membendung rasa gembiranya lagi, cepat dia berseru.
"Jika kita bisa memperoleh bantuan dari saudara Ngo-kian, mungkin saja..."
Pek gi menghela nafas panjang, tukasnya.
"Semoga saudara saudaraku itu amat cerdik, dan tidak datang kali ini...!"
Pek in mengerti kalau dibalik ucapan tersebut Pek gi menaruh maksud lain, katanya kemudian..
"Saudara saudara kita tak mungkin tidak datang !"
Aaai... tahu begini, aku tak akan menyebar undangan untuk mengundang mereka semua kemari."
Pek in segera menghibur.
"Kau toh sudah tahu kalau Lok hun pay melaksanakan rencananya dengan matang, sekalipun kau tidak mengadakan perayaan ini, dia pun pasti mempunyai akal lain untuk mengumpulkan mereka semua, apalagi tanggal enam belas nanti adalah ulang tahunmu yang keempat pulun lima, saudara Ngo kian dan teman teman sehidup sematimu masa tak akan berdatangan? Pak gi kau tak usah banyak berpikir lagi!"
Pak gi segera menghela nafas panjang.
"Aaaai... adik In, teman sehidup sematiku bukan cuma saudara Ngo Kian seorang.."
"Pak gi, jangan membicarakat soal ini lagi"
Tukas Pek in.
"sekarang hari sudah malam, hayo kita pergi tidur !"
Maka suami istri berduapun tidak berbicara lagi, mereka terbungkam dalam seribu bahasa. Suara kentongan keempat berkumandang dari kejauhan sana, tiba tiba Pak gi berbisik lagi.
"ln, kau apakah sudah tidur ?"
Pek in tertawa getir.
"Aku ingin tidur, tapi mataku tak terpejam."
Pak gi tertawa pula, tiba-tiba ia berkata riang.
"In, kita benarbenar merasa kuatir yang berlebihan, kita masih harus dihadapkan dengan beberapa masalah besar, buat apa mesti membayangkan yang bukan-bukan? Yang penting sekarang adalah menghimpun tenaga untuk menghadapi musuh.
"Tadi, dari saudara Ngo kian aku menjadi teringat dengan Mo toako, sudah tujuh tahun aku tak pernah berhubungan dengannya, kejadian ini membuat aku sangat tidak tenang !"
Berbicara sampai disini, Pak gi lantas tertawa lebar, katanya lebih jauh.
"Cuma beginipun ada baiknya juga, kalau tidak seperti kejadian tempo hari, bila dia tahu, mungkin sedari tadi tadi sudah berangkat kemari, bukankah hal mana malahan akan menambah risaunya hatiku !"
"Seandainya Mo toako ada disini, mungkin keadaannya akan sedikit berubah !"
Bisik Pek in. Pak gi berpikir sejenak, lalu menjawab.
"Mungkin, aku tahu ilmu silat dan tenaga dalam yang dimiliki Mo toako memang tiada tandingannya didunia ini!"
Pek In kembali menghela nafas sedih.
"Aku tebak dia tak akan datang menjenguk diri kita lagi !"
Mendengar itu, Pek gi menjadi tertegun.
"Darimana kau bisa berkata demikian ?"
Pek In menghela nafas, sambil gelengkan kepalanya berulangkali ujarnya.
"Tidak apa apa, aku hanya merasa selama tujuh tahun belakangan ini dia sama sekali tak ada kabar beritanya, kini kita sedang berada diambang pintu antara mati dan hidup, mana mungkin dia bisa datang untuk berjumpa lagi dengan kita ?"
Pek gi sama sekali tidak menangkap arti lain dibalik ucapan istrinya itu, sambil tertawa katanya.
"ln, aku tak mau menyerah dengan begitu saja atas pertarungan yang bakal berlangsung malam Tiong-ciu nanti, setelah fajar nanti, aku akan melakukan persiapan yang matang, aku bertekad akan melangsungkan pertarungan terbuka melawan Lok hun pay tersebut !"
"Benar, aku percaya dengan kerja sama kita berdua, belum tentu ia bisa memenangkan diri kita berdua...."
Belum habis berkata, tiba tiba Pek gi melompat turun dari ranjang, cepat cepat mengenakan sepatu mencabut pedangnya dan berbisik.
"Adik In, diluar ada orang yang datang, apakah kau sudah siap dengan Hui im seng sik (Batu bintang awan bertebangan)mu itu ?"
Pek in mengangguk, dari balik bantalnya dia mengeluarkan tiga biji Hui im seng sik yang paling diandalkan selama ini, kemudian sahut nya kepada Pek gi.
"Serahkan saja bagian depan kepadaku !"
"Hati hati adik In !"
Berbicara sampai disitu, Pak gi lantas menyelinap ke jendela belakang.
Pada waktu itulah terdengar hembusan angin tajam dari luar jendela, tampaknya bukan cuma seorang saja yang datang mendekati pintu depan, sambil menggigit bibir, Pek in segera menggetarkan tangannya kedepan, sambil melontarkan Hui im seng siknya, dia membentak gusar.
"Kawanan tikus yang bernyali besar, makan batu ini..."
Belum habis dia berkata, orang diluar ruang an sudah berseru.
"Serangan yang hebat, enso, beginikah cara menyambut kedatangan tamu ?"
Mendengar seruan itu, merah padam selembar wajah Pek in karena jengah, sebaliknya Pak gi bersorak gembira, dia melompat ke depan pintu dan siap membuka pintu.
"Setan gegabah !"
Pek in segera mengomel dengan gelisah.
"tutup baik baik pintu itu, berpakaian dulu sebelum keluar !"
Pak gi tertawa, dari almari mereka mengeluarkan pakaian, sambil dikenakan ia berjalan keluar. Belum lagi buka suara, orang yang berjalan malam diluar kamar itu sudah berkata lagi.
"Bagus sekali toako, Cupeng bilang kau berada dikamar kecil diloteng sebelah selatan, kami lima bersaudara tidak sabar menunggu dia memberi laporan dan langsung menuju keloreng sebelah selatan, siapa tahu ditempat itu tidak kami jumpai toako."
Dalam cemasnya longo mengira telah terjadi sesuatu, dia mengajak Lo su dan Cupeng melakukan pencarian ke empat penjuru, sedang kami bertiga menguatirkan keselamatan enso dan keponakan, maka buru buru menyusul kemari.
"Sekalipun kedatangan kami ini terhitung gegabah sehingga mengejutkan nyenyaknya tidur toako dan toa so, semestinya tak sampai membuat kemarahan enso sehingga mau mencabut nyawa kami dengan batu saktinya bukan !"
Pek gi tidak memberi komentar apa apa, dia hanya tertawa belaka.
Pek in yang berada dalam ruangan dapat menangkap arti Iain dari perkataan itu, malu nya bukan kepalang, meski begitu dia cukup mengetahui watak orang itu, dia tahu semakin kau merasa jengah makin runyamlah keadaannya.
Untung saja mereka terpisah oleh dinding kamar dan tak saling berhadapan muka, maka meski dihati jengah diluar dia berkata.
"Tong losam, kuberitahu kepadamu, apabila beberapa butir batu dari ensomu saja tak sanggup kau sambut, maka ada baiknya sedari malam ini jangan menguping lagi pembicaraan orang !"
Tong losam membuat muka setan ke arah Pak gi, kemudian tertawa terbahak bahak. -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***
Jilid 3
"HAAH ..,..haaaah....tak heran kalau toako tidak berani !"
Ucapan yang tiada ujung pangkalnya ini segera membuat Pek-gi menjadi tertegun. Pek-in tahu kalau Tong losam bermaksud menjebak, dengan cepat dia berseru.
"Pek-gi jangan sampai tertipu, tak usah perdulikan ucapan Tong losam, cepat undang saudara Ngo-kian menuju ke ruang depan, aku sebentar akan menyusul ke sana."
Sayang perkataan itu agak terlambat, Pek gi sudah keburu bertanya kepada Tong losam.
"Samte, kau bilang aku takut apa ?"
Tonglosam tertawa tsrbahak-bahak.
"Haah... haa... aku tahu, kau pasti tak berani untuk tidur seorang diri lagi di loteng selatan."
Pak gi cuma tertawa masam.
"Sam-te, kau benar benar jahil mulutnya, hayo jalan, kita menuju ke ruangan depan."
"Benar, kalau enso sudah ada perintah, yang menjadi toaka mana berani membangkang ? cuma..."
Setelah berhenti sejenak, dia lantas menarik baju Pak gi seraya berkata.
"Cuma dalam gugupnya tadi, rupanya toaka sudah salah memakai pakaian, perlu tidak untuk berganci pakaian dulu baru ke ruang depan ?"
Pak gi menundukkan kepalanya dan memeriksa pakaiannya, kemudian sambil tertawa tergelak serunya.
"Baiklah, aku akan tukar pakaian dulu, kalian berangkat sana ke ruang depan, sekalian beri kabar kepada Su te, ngo te dan Cu peng,kebetulan aku ada urusan..."
"Benar !"
Tukas Tong losam "kita akan berangkat duluan, toako dan enso berpakaian dulu kemudian baru berangkat bersama."
Sehabis berkata, sambil tertawa terbahak bahak dia menarik Kim lotoa dan Gin loji untuk berangkat meninggalkan tempat itu, sedangkan Pak gi sambil gelengkan kepalanya kembali kekamarnya.
Setelah Ngokian bersaudara berkumpul pada malam itu juga diadakan perundingan rahasia, mereka bertekad untuk berusaha keras mendesak Lok hun pay sehingga menampakkan wajah asIinya.
Sampai waktunya, Kim lotoa, Gin loji dan Tong losam akan di tugaskan untuk menjaga pintu yang menghubungkan depan dan belakang gedung, sedangkan Thi losu dan eik longo bertugas menjaga ruang dalam.
Congkoan bangunanan itu Lu Cu peng ditugasi untuk melindungi Sun Tiong lo, bocah berusia lima tahun yang merupakan satu satunya keturunan dan Pak gi.
Sedangkan Sun Pak gi suami istri akan bekerja sama untuk menghadapi Lok hun pay.
Bahkan Pakgi berpesan kepada Lu Cu-peng kurang lebih kentongan kedua pada malam Tiong ciu itu, dia harus berusaha untuk mengajak kawan-kawan persilatan guna berpindah ke Tay peng-tay di atap loteng sebelah selatan untuk menikmati rembulan.
Dengan demikian, seandainya Lok hun pay turun tangan kepada mereka sekeluarga, kejadian ini tak akan sempat mengejutkan sahabat-sahabat persilatan lainnya, dengan demikian akan terhindar banyak korban yang berjatuhan.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BULAN DELAPAN TANGGAL LIMA BELAS, setelah matahari terbenam dan malam hari menjelang tiba, perjamuan diruang tengah telah di mulai, suana diliputi riang gembira.
Sekalipun hari belum sangat gelap, namun cahaya lampu telah menerangi seluruh ruangan.
Lu Cu peng dengan kedudukannya sebagai seorang congkoan bertugas mengurusi berbagai upacara.
Kentongan kedua baru lewat, pesta telah usai, tapi suasana tetap tenang tak terjadi apa apa.
Lu Cu peng segera mengerling ke wajah Sun pak gi untuk memastikan petunjuknya.
Sun Pak gi manggut-manggut, maka Lu Cu peng segera menitahkan anak buahnya untuk menyiapkan segala sesuatunya, tak lama kemudian dari atas loteng sebelah selatan telah berkumandang suara irama musik yang merdu merayu.
Sun pak gi segera bangkit berdiri, setelah menjura keseluruh ruangan, katanya sambil tertawa.
"Aku merasa berterima kasih sekali kepada saudara sekalian atas kesudian kalian untuk menghadiri perjamuan ini, sudah banyak tahun kami berkelana dalam dunia persilatan, selama ini berkat bantuan dari kalian membuat kami berhasil mencapai kedudukan seperti saat ini, untuk itulah kami sengaja mengadakak perjamuan ini sebagai rasa terima kasih kami kepada bantuan saudara sekalian.
"Selain daripada itu, kamipun ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan suatu kabar, atas persetujuan kami suami istri berdua, maka sejak malam ini kami akan mengundurkan diri dan keramaian dunia persilatan.
"Semua masalah yang menyangkut budi dendam dalam dunia persilatan mulai detik ini akan kami lepas dan tidak mencampurinya lagi, kami mohon bila dimasa lalu ada kesalahan yang telah kami lakukan, harap kalianpun sudi memaaafkan."
Berbicara sampai di situ, Sun Pak gi suami istri segera menjura dalam-dalam kepada semua jago yang berada dalam ruangan. Selesai memberi hormat, Sun pak gi berkata kembali.
"Hari ini adalah malam Tiong ciu, selagi bulan purnama kitapun bisa berkumpul-kumpul, sengaja kami sediakan irama musik di loteng selatan, harap saudara sekali bersedia untuk beranjak kesana untuk menikmati keindahan rembulan bersama sama !"
Setelah berhenti sejenak, kepada Lu Cu peng katanya.
"Saudara Cupeng, tolong temanilah para tamu untuk naik dulu ke loteng selatan, siaute akan berganti pakaian dulu kemudian baru menyusul ke sana."
Lu Cu peng segera mengiakan, dia lantas mempersilahkan para tamunya menuju keloteng selatan.
Sepanjang jalan tampak para tamu berbisik-bisik membicarakan masalah pengunduran diri Sun pak gi suami istri, rupanya mereka tidak habis mengerti kenapa suami istri berdua itu mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan.
Dalam ruang tengah sudah tak ada orang lain Tidak !
Ternyata masih ada tiga orang, dua wanita dan seorang lelaki.
Baru saja Sun pak gi akan mempersilahkan ketiga orang itu, tiba-tiba mereka beranjak dan menghampiri ke hadapan mereka berdua.
Waktu itu dalam ruangan tersebut selain dua orang pelayan, hanya tinggal ketiga orang itu dan Sun pak gi suami istri, lima bersaudara Ngo kian telah mengundurkan diri untuk menjaga pintu pintu utama.
Dari tiga perempuan seorang pria itu, seorang adalan nenek yang telah berambut uban, seorang perempuan setengah baya yang cantik dan seorang lelaki yang ternyata masih bocah, usianya antara tujuh tahun, rupanya mereka berasal dari satu keluarga.
Ketika itu, si nenek memandang sekejap ke arah Pak gi suami istri, kemudian tegurnya.
"Sun tayhiap, tentunya kau tahu bukan siapakah diriku ini ?"
Sun Pak gi memandang sekejap kearah mereka, kemudian jawabnya.
"Ketika tiba tadi, aku mendapat laporan dari pelayan yang mengatakan orang tua adalah Yan sian po dari Han san, oleh karena aku dengar Sian po telah mengasingkan diri untuk melatih suatu ilmu, maka aku tak berani mengganggu..."
Yan sian po tertawa dingin, katanya.
"Sungguh tajam pendengaranmu seandainya aku bukan lagi melatih ilmu, sendiri dulu dulu aku sudah datang mencarimu !"
Berbicara sampai disitu, dengan wajah dingin bagaikan salju dia menuding kearah bocah cilik dan perempuan setengah baya itu, kemudian katanya lagi.
"Dia adalah putriku Yan Tan hong, sedang dia adalah cucu luarku pauji, tentunya kau kenal mereka bukan?"
Pak gi menjadi tertegun, sesungguhnya ia sudah tidak teringat lagi dimanakah pernah berjumpa dengan Yan lihiap ini, cuma lantaran Yan sian po bertanya demikian, mungkin saja mereka juga pernah berjumpa, cuma sementara itu Yan Tan-hong telah melirik sekejap Vearah pak gi dengan sinar mata sedih, kemudian tegurnya.
"Jangan jangan Sun tayhiap sudah lupa ?"
Buru buru Pak gi tertawa paksa.
"Maaf lihiap, kalau aku sudah lupa..."
Yan Tan-hong segera menghela nafas panjang, katanya.
"Tujuh tahun berselang, ketika keluarga Mo dari Ang liu ceng sedang merayakan ulang tahun Mo tayhiap yang ke empat puluh, kau telah minum arak sampai mabuk sehingga..."
Pak gi segera teringat kembali dengan kisah tersebut, buru buru dia menjura kepada perempuan itu seraya berkata.
"Seandainya lihiap tidak menyinggung soal ini, hampir saja aku melupakan kejadian tersebut, setelah kejadian aku memang dengar Mo toako bercerita, katanya malam itu dalam mabuknya aku bukan kembali ke ruangan penerima tamu sebaliknya telah salah masuk ke loteng bagian belakang."
"Untung saja lihiap tidak menjadi marah akibat kelancangan itu bahkan memberi pertolongan, Menanti aku mengetahui duduknya persoalan, ternyata lihiap sudah meninggalkan keluarga Mo, sehingga aku tak bisa menyampaikan rasa terima kasinku."
Yan Sian po yang msndengar perkataan itu menjadi naik pitam, segera bentaknya.
"Kau... kau.... apa kau bilang?"
Walaupun paras muka Yan Tan hong juga berubah sedingin es, tapi ia mencegah ibunya berbicara.
"lbu, bukankah kita telah berjanji, persoalan ini akan kuselesaikan sendiri? Baru saja dimulai, ibu sudah marah..."
Yan sian po mendengus dingin, sambil memandang kearah Sun pak gi serunya.
"Budak bodoh, apa kau tak bisa mendengar perkataannya itu?Sungguh jengkelkan !"
"Ini !"
Kata Yan Tan liong lagi dengan kening berkerut.
"entah apapun yang dia katakan, dapatkah kau jangan mengurusi dulu!"
Yan sian po menggigit bibirnya menahan emosi, kemudian sambil menghentakkan tongkat bambunya ke tanah berkata.
"Baik, baik, akan kulihat dengan cara apakah kau hendak menyelesaikan persoalan ini!"
Selama perbedaan itu berlangsung, Pek in cuma berdiri disamping tanpa mengucapkan sepatah katapun, tapi ia bisa menduga apa yang sesungguhnya telah terjadi, cuma dia tak ingin banyak berbicara pada saat ini, maka perempuan ini hanya mengawasi jalannya peristiwa itu saja.
Ketika sorot matanya dialihkan ke wajah bocah lelaki itu, hatinya segera tergetar, parasnya bocah itu terlalu mirip, sangat mirip sekali dengan wajah Sun Pak gi.
Tapi dalam kenyataannya dia tak dapat menerima kenyataan tersebut bukan lantaran cemburu, tapi dia percaya suaminya tak mungkin bisa melakukan perbuatan semacam ini.
Akan tetapi ketika melihat wajah sang bocah dan mendengarkan ucapan perempuan itu, banyak sekali titik kecurigaan yang ditemukan olehnya, hal mana membuat Pek In mau tidak mau harus berpikir.
"Aaah! Masa ada kejadian yang begini kebetulan ? Tidak, aku harus menyelidiki persoalan ini sampai jelas, kalau seandainya tidak benar, aku ingin tahu mengapa, seandainya benar, aku harus mengambilkan keputusan untuk ibu dan anak berdua !"
Baru saja dia berpikir sampai disitu, terdengar olehnya Yan Tan liong sedang memohon kepada ibunya.
"lbu, puteri mu ingin memohon satu hal kepadamu..."
Siapa tahu Yan siap po tidak menggubris perkataan itu, malahan sambil menggelengkan kepalanya dia berkata.
"Tungguhlah sampai urusan itu beres, kita baru bicarakan lagi!"
Yan Tan hong mengerutkan dahinya sambil melirik sekejap ke arah Pek in, kemudian dengan wajah sungguh sungguh dia berkata.
"Wan lihiap dapatkah kamu menyanggupi permintaanku untuk menemani ibuku menyingkir dulu dari sini?"
Belum sempat Pek in menjawab, Yan tan-hong telah telah berkata lebih lanjut.
"Dengan demikian dari mulut ibuku kau dapat memperoleh gambaran dari kejadian ini sedang aku dan Pek gi pun berharappersoalan ini dapat segera terselesaikan!"
Pek in termenung sejenak dan akhirnya menyanggupi.
"Baiklah, hal ini sangat cocok di hatiku!"
Kemudian kepada Yan sian po dia memberi hormat lalu katanya.
"Sian po benar atau pun tidak, boanpwe percaya asal orang yang terlibat langsung membicarakan sendiri persoalan ini maka harapannya menjadi lebih besar!"
Yan sian po berpikir kemudian menjawab.
"Baiklah harap kau membawa jalan!"
Setelah berhenti sejenak, kepada putrinya dia berkata.
"Hong-ji, dalam ruangan ini cuma tinggal kau dan anakmu, kau harus hati hati!"
Sun Pak-gi bukanlah orang bodoh, ia dapat menangkap arti lain dari perkataan itu. dengan wajah yang serius segeralah ia berkata.
"Selama hidup aku tak pernah bertindak curang atau munafik, benar atau tidaknya perbuatanku, aku tak kuatir diketahui oleh orang, maka menurut pendapatku lebih baik kalian tak usah meninggalkan tempar ini, bicaralah secara terang terangan dalam ruangan ini juga."
Orang lain belum lagi menjawab, Pek in sudah menyerling sekejap kearahnya sambil berkata.
"Kaiau memang begitu, apa salahnya kalau kau dan Yan lihiap membicarakan dulu empat mata?"
Sun Pak-gi mengerutkan dahinya, berseru.
"Adik In, jangan lupa! Kita masih mengkuatirkan persolan ini, bila tidak beruntung dan persoalan ini ternyata adalah persoalan tersebut, dengan perginya adik In seorang diri"
"Kau tak usah kuatir"
Tukas Pek in.
"Apa lagi Ngo kian bersaudara sudah berhati hati diluarkan?"
Sampai disitu dia lantas mempersilahkan Yan sian po untuk berjalan terlebih dahulu, bahkan dengan sopan, memohon diri dari Yan li hiap, kemudian dengan berjiwa besar meninggalkan ruangan itu.
Sepeninggal Pek in berdua, Yan tan hong dan Sun pek gi malah terlibat dalam kebungkaman yang sepi.
Hening rasanya.
Tak lama kemudian, akhirnya Yan tan hong yang buka suara lebih dulu, dengan sedih dia melirik sekejap ke arah Sun Pakgi, kemudian setelah menghela nafas panjang, ujarnya sedih.
"Pekgi, apa kau sudah lupakan semua kata-katamu dulu?"
Pek gi tertegun, sambil menjura katanya.
"Yan-lihiap, pernah kukatakan apa padamu"
Mendadak Yantanhong melototkan sepasang matanya bulat bulat, tampaknya merasa amat gusar, tapi dalam waktu singkat sikapnya telah berubah menjadi begitu memedihkan hati, setelah tertawa getir katanja.
"Ternyata kau benar benar telah melupakannya"
Sun pek gi tahu bahwa persoalan ini agak mencurigakan, tapi berhubung pihak lawan seorang perempuan, apalagi orang yang terlibat langsung dengan peristiwa itu, maka dia merasa susah untuk mencari keterangan dengan lebih jelas.
Tapi tahu, masalahnya makin lama semakin gawat, dia sudah tak berkesempatan untuk memikirkan lebih banyak lagi.
Maka dengan wajah serius dia memberi hormat kepada Yan Tan hong, kemudian ujarnya.
"Yan lihiap, bukannya aku tolol, sekalipun terhadap persoalan yang Yan lihiap terangkan sudah memahami lima enam bagian, tapi aku benar-benar tidak habis mengerti, kenapa persoalan ini dapat melibatkan diriku?"
"Yan Iihiap, kemungkin besar kejadian ini adalah suatu kesalahanpaham sekarang kita telah saling berhadapan muka, bila lihiap tidak merasa canggung, tolong kisahkan sekali lagi apa yg sesungguhnya telah menimpali dirimu ?"
Yan Tan-hong mengerutkan dahinya, lalu tertawa dingin katanya.
"Pek gi, apakah kau suruh aku menceritakan kembali kejadian dimasa lalu itu didepan anak kita?"
Sun pek gi menjadi terperanjat sekali sesudah mendengar perkataan itu, tanpa terasa ia mundur selangkah kebelakang.
"Anak kita kau... kau ..."
Yan Tan hong menghela napas sedih, sambil menarik bocah lelaki yang berada disisi nya ke hadapan Sun pek gi, ia berkata.
"Dia bernama Pau ji (anak buangan), anak yang dihasilkan dari darah dan daging kita ber dua!"
Paras muka Sun Pek gi berubah sangat hebat, serunya dengan suara dalam dan berat.
"Yan lihiap, apa maksudmu yang sebenarnya ?"
Dengan alis mata berjungkit Yan Tan-hong-pun berkata dengar suara dalam dan berat.
"Sun Pek-gi, justeru akulah yang hendak bertanya kepadamu, apa sebenarnya maksudmu ?"
Pau-ji si "anak buangan"
Hanya membelalakkan sepasang matanya yang hitam dan bulat besar itu sambil sebentar melihat ibunya, kemudian sebentar melihat pula kearah Sun Pek gi, sekilas rasa bingung dan kalut menyelimuti seluruh wajahnya.
Diam diam Sun Pek-gi mendengus dingin, sekarang ia telah beranggapan bahwa Yan Tan hong besar kemungkinannya adalah utusan yang di kirim oleh musuh besarnya "Lok-hun pay"
Untuk merenggut nyawanya.
Sebaliknya Yan Tan hong sangat menguatirkan keadaan putranya, sebab bagaimanapun juga apa yang telah terjadi dimasa lalu tidak sepantasnya kalau sampai terdengar oleh bocah itu, maka setelah memutar sepasang matanya yang jeli serta menahan lelehan air matanya, dia berbicara kepada seorang yang bernama Pau-ji sambil tertawa.
"Bocah sayang, bermainlah ke luar ruangan sana, tapi jangan pergi terlalu jauh, setelah ibu menyelesaikan persoalan, akan kucarimu lagi, ingat! jangan pergi terlalu jauh, jangan jauh-jauh meninggalkan pintu ruangan !"
Pau-ji memandang sekejap ke arah Sun Pek gi lalu mengangguk, dia lantas melangkah ke luar dari ruang tengah.
Menanti bocah itu sudah menyingkir dari hadapannya, Yan Tan-hong menjadi lebih leluasa lagi, dengan wajah dingin dan kaku karena sedih ia berkata.
"Pek-gi, sekarang aku hanya ingin mendengar sepatah katamu saja, bagaimana penyelesaianmu terhadap kami ibu dan anak ?!"
Sun Pek-gi segera mendengus dingin.
"Yan li hiap, ibumu terhitung seorang cianpwe yang di hormati dan di segani orang dalam dunia persilatan, partai Han-san-pay selalu bersikap terbuka, jujur dan berjalan lurus, tapi hari ini lihiap telah mempergunakan cara yang keji dan licik."
"Tutup mulut!"
Bentak Yan Tan-hong dengan gusar.
"kau telah menganggap keluarga Yan kami sebagai manusia macam apa ?"
"Hal ini harus bertanya kepada lihiap sendiri"
Kata Sun Pek gi sambil melotot gusar.
"aku benar benar merasa heran, mengapa li hiap bersedia mengorbankan kesucian dan nama baikmu untuk diperalat orang lain ? Sekalipun berhasil menghancurkan aku, apa pula faedah dan keuntungannya buat lihiap ?!"
Yan Tan hong berusaha untuk menahan diri, tapi semakin di tahan ia merasa semakin tak tahan, akhirnya dia berseru.
"Sun Pekgi hatimu sungguh keji, tenpo hari setelah mabuk di keluarga Mo, kau telah menodai tubuhku..."
"Yan lihiap"
Tukas Sun Pek gi dengan suara berat.
"malam itu aku mabuk hebat sampai tak tahu diri, mau bergerakpun susah, meski aku telah salah masuk keruang dalam dan memasuki kamar lihiap, akan tetapi..."
Yan Tan hong segera mendepakkan kakinya berulang kali seraya berteriak.
"Hemmm... kau masih mengatakan bergerakpun tak bisa, padahal kau toh tahu orang yang betul betul mabuk hebat pada malam itu hingga bergerakpun tak bisa, sehingga harus dipayang kembali kekamar oleh dayangnya keluarga Mo bukan kau melainkan aku."
"Yan Lihiap, malam itu aku juga mabuk hebat dan tak bisa bergerak sama sekali"
"Kalau memang kau mabuk sampai tak bisa bergerak, kenapa bisa salah masuk ke dalam kamarku"
Seru perempuan itu cepat.
Begitu perkataan itu diucapkan, Sun pak gi menjadi tertegun dan berdiri bodoh, benar juga!
Yaaaa benar juga?!
Kalau toh dirinya sudah mabuk hebat dalam perjamuan itu sehingga tak sadarkan diri dan tak mampu berjalan, bagaimana mungkin bisa salah jalan sehingga salah masuk kedalam kamarnya Yan Tan hong?
Ia menjadi terbungkam dan tak tahu bagaimana musti menjawab pertanyaan itu?
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB EMPAT "COBA engkau perhatikan Pau ji dia mirip siapa?
Lihatlah, dia mirip siapa?"
Seru Yan tan hong lebih jauh. Perempuan itu mulai menangis tersedu-sedu karena pedih hatinya, selang sejenak kemudian sambil menyeka air matanya dia berkata.
"Kalau tahu begini, kau adalah orang yang tidak berperasaan, setelah pauji di lahirkan tak akan kuberi nama margamu itu padanya, akupun tak akan hidup sampai hari ini...."
"Sun pek gi, bocah itu telah kubawa kemarin sekarang sekalipun engkau mengenali aku Yan tan hong, akupun tak sudi mengenali dirimu lagi."
Kontan saja Sun pek gi mengerutkan dahinya rapat rapat kemudian menukas.
"Yan lihiap janganlah emosi dulu, siapa tahu di balik ini terdapat kesalah pahaman."
"Mana mungkin salah paham?!"
Yan tan hong semakin marah.
"Aku berani sumpah didepan dewa suci."
"Sumpah! Sumpah!.."
Teriak Yan tan hong, sambil mendepak depakkan kakinya.
"Masih belum cukupkah sumpahmu itu? setelah menodai tubuhku, esok harinya bersumpah, hari ketiga ketika mengantar aku kembali kebukit Han sian..."
"Aku cuma berdiam semalam saja dirumah Mo toako, keesokkan harinya aku mohon diri"
Tukas Sun Pek gi.
"Bahkan Mo toako menghantar diriku sejauh satu li, bagaimana mungkin masih bisa menemani Li hiap pulang kebukit Hansan? Dalam peristiwa ini, Mo toako bisa, dijadikan saksi!"
Mendadak mencorong sinar bengis dari balik mata Yan Tan hong, serunya keras.
"Sun pek gi, kau sungguh amat kejam ! padahal kau tahu, sudah banyak tahun Mo tayhiap lenyap dari dunia persiIatan, sekarang kau berkata Mo tayhiap bisa menjadi saksi,hemm! Sun Pek gi, kau bisa bersikap demikian kepadaku, bila menjumpai kesempatan dilain waktu mungkin juga kau bisa berbuat yang sama terhadap gadis gadis lain, apa gunanya manusia cabul berhati keji macam kau dibiarkan hidup lebih jauh."
Sementara itu, suara ribut ribut juga terdengar dari ruangan belakang, agaknya antara Yan sian po, pek in dan Ngo kian telah terlibat dalam suasana yang kaku.
Mereka masing masing memegang teguh pada prinsip dan pendapatnya masing masing, maka bukan pembicaraan yang kemudian berlangsung melainkan percekcokan hebat Begitulah, sementara Lu Cu peng menjamu tamu di loteng selatan, Ngo kian beserta Pek in cekcok dengan Yan sian po diruang belakang Sun Pek gi dan Yan Tan hong telah mulai bertarung di ruang depan.
Si binal "Sun Tiong lo"
Menjadi tak ada yg mengurusinya lagi.
Dasar bocah cilik suka akan keramaian, diam-diam iapun berjalan keluar dari gedung keluarga Sun.
Setelah melewati kebun dan menembusi pintu berbentuk rembulan, akhirnya ia menjumpai "pau-ji"
Berada didepan sana, dengan hati girang ia lantas lari kedepan dan menghampirinya.
Mula mula kedua orang bocah itu saling berpandangan satu sama yang lain, kemudian yang satu tertawa, yang lainpun turut tertawa, akhirnya mereka berdiri bersama.
Waktu itu Sun Tiong lo berusia lima tahun, pau ji tujuh tahun, belum lagi Sun Tiong lo yang lima tahun buka suara, pau ji telah menegur lebih duluan.
"Siapa kau?"
"Aku bernama Sun Tiong Io, ini rumahku"
"Apakah ayahmu juga bernama Sun pek gi?"
Tanya pau ji sambil mengerdipkan matanya. Sun Tiong lo segera mengangguk.
"Siapa namamu? siapa pula ayahmu?"
Sepasang mata pau ji menjadi msmerah, sambil menunjuk ke ruang tengah katanya.
"Ibu bilang ayahku bernami Sun Pek gi, hari ini aku diajak bertemu ayah, siapa tahu ayah tak mau mengenali kami, sekarang ia sedang berkelahi dengan ibu dalam ruang situ!"
"Oooh..."
Sun Tiong lo berseru tertahan, ia tampak seperti agak termangu. Setelah tertahan sekian waktu, dia baru bertanya "Kalau begitu ayah ayahku adalah ayah mu?"
"ibuku bilang begitu, tentu saja tak bakal salah!"
Sun Tiong lo segera mengernyitkan alis matanya yang kecil, kemudian serunya.
"Lantas, kenapa ibumu bukan ibumu."
"Yaa, ibuku juga bukan ibumu!"
Sambung pau ji. Agaknya Sun Tiong lo tidak mengerti, sambil menggelengkan kepalanya ia seperti berguman.
"Aneh, sungguh amat aneh..."
Bagaimanapun juga, usia Pau ji dua tahun lebih tua, dia lantas berkata kembali.
"Urusan orang tua memang selalu aneh, barusan mereka masih berbicara baik baik, sekarang sudah berkelahi. sungguh mencemaskan aku juga tak tahu apa jang harus lakukan..."
"Hayo kita lihat mereka berkelahi!"
Ajak Sun Tiong lo sambil membuka jendela ruangan.
"ayahku sering berkelahi juga orang jahat, kenapa kau musti cemas."
Pau ji menjadi tak segan hati "Tapi ibuku bukan orang jahat, dan kali ini ayahmu yang jahat!"
Serunya. Sun Tiong lo segera mendengus pula.
"Mana mungkin? Ayahku orang baik, dia tak pernah berkelahi dengan orang baik!"
Setelah berhenti sebentar, seperti teringat akan sesuatu, dia berkata lagi.
"Benar, bukankah ibumu memberi tahu padamu kalau ayahmu adalah ayahku?"
Pauji manggut manggut, sinar matanya segera dialihkan dari luar jendela kedalam ruangan, lalu sahutnya.
"Benar, ini tak bisa salah lagi!"
"Sun Tionglo juga lurut menonton kedalam ruangan, kemudian meneruskan kata-katanya.
"Kalau begitu, jika kau bilang ayahku jahat, ayahmu sendiri jahat..."
Pauji menjadi berdiri bodoh dan tidak berbicara lagi.
Sementara itu suasana dalam ruangan telah mengalami perubahan, Sun pek gi tidak membawa senjata, dia bertarung dengan mempergunakan tangan kosong.
Sedangkan Yan Tan hong dengan sebilah pedang tajamnya melepaskan serangkaian ancaman maut yang datang cari empat arah delapan penjuru.
Waktu itu, percekcokan diruang belakang juga telah mencapai pada puncaknya, entah cari mana munculnya seorang pelayan yang tak tahu diri, tiba tiba ia berteriak keras dari Iuar ruangan belakang.
"Aduuuh celaka, loya dan nona itu sedang bertarung didalam ruangan depan !"
Ucapan tersebut bagaikan api yang bertemu dengan minyak, membuat semua orang yang berkuatir bagaikan kehilangan kesadarannya.
Pek in yarg pertama-tama melompat bangun dan memburu ke ruangan depan.
Ngo kian cukup mengetahui akan watak dan karakter Sun Pak gi, mereka beranggapan bahwa apa yang diceritakan Yan sian-po tak lain cuma cerita isapan jempol untuk membuat fitnahan.
Dengan cepat mereka itupun telah menganggap Yan sian po sebagai utusan dari "Lok hun pay"
Yang sedang di nanti nanti kan.
Oleh sebab itu, ketika Pek in melompat bangun sambil memburu keruangan depan tadi mereka berpandangan sekejap lalu serentak menggerakkan badan dan mengurung Yan sian po ditengah kepungan.
Yan sian po cukup mengetahui akan kelihayan ilmu silat dan kesempurnaan tenaga dalamnya yang dimiliki Sun Pek gi, ketika mendengar kalau putrinya terlibat dalam pertarungan melawan Sun Pek gi ia segera mengkuatirkan putrinya dan cepat cepat melompat bangun dari tempat duduknya.
Maka ketika dilihatnya Ngo kian telah mengurung dirinya sedang Pek in sudah menerobos keluar dari ruangan itu.
Rasa sentimennya yang memang sudah tertanam dalam hatinya terhadap Sun Pek gi makin berkobar lagi, ia lantas beranggapan bahwa ke semuanya ini tak lebih merupakan suatu rencana busuk yang telah mereka atur.
Berpikir demikian, ia menjadi gusar sekali, toya Han san ciangnya segera di sapu ke depan dengan dahsyatnya, segulungan serangan yang sangat kuat segera memaksa Ngo kian mundur kebelakang, lalu menggunakan kesempatan tersebut ia menghancurkan daun jendela di sisi ruangan dan menerobos keluar.
Kebetulan Pek in telah tiba di serambi, dengan cepat ia menghadang jalan pergi Yan sian po, sebab Pek in mengira Yan sian po hendak pergi membantu Yan Tan hong, tak ayal lagi suatu pertarungan segera berkobar.
Waktu itulah Ngo kian telah menerobos keluar semua dari dalam ruangan, dengan suara lantang Tong Kim san segera berseru kepada Pek in.
"Serahkan nenek itu kepada kami berlima, enso cepat kembali ke ruang belakang untuk men ambil senjata, jangan biarkan saudara pek gi tampa senjata!"
Diperingatkan oleh Tiong lo sam, Pek in segera menyahut dengan perasaan gelisah.
"Aku segera akan pergi mengambil senjata jangan lepaskan Yan sian po, jangan biarkan dia masuk ruang depan!"
"Jangan kuatir rinso, cepatlah pergi!"
Seraya berkata, ke lima orang tersebut segera melancarkan serangan dengan gencar untuk menggantikan kedudukan pek in.
pembicaraan mereka tadi dilangsungkan dalam keadaan yang mendesak, mereka hanya berbicara sesirgkatnya cukup asal pihak lawan tahu, akan tetapi justru karena hal itu, Yan sian po semangkin menaruh salih paham terhadap mereka.
Toyanya segera diputar makin dahsyat melancarkan serangkaian serangan mematikan bentaknya keras keras.
"Bagus... bagus... aku si nenek masih mengira perempuan rendah itu juga perempuan, aku mengira perempuan lebih memahami kesulitan perempuan, maka aku berbujuk oleh kata kata manisnya untuk menyingkir keruang belakang."
"Tak tahu perempuan rendah itupun sudah mempunyai niat busuk untuk mencelakai kami, hmm..! sekarang aku baru tahu, jadi dia sengaja hendak membiarkan putriku tertinggal seorang diri dalam ruang depan agar bisa dibunuh oleh anjing geladak she Sun itu."
"Hmmm... kalian lima ekor anjing laknat, rupanya ingin membantu kaum jahat berbuat keji kepadaku. Hmmm ! bagus, mari kita mencoba kepandaian masing masing, lihat saja siapa yang lebih tangguh diantara kita, aku tak percaya kalian mampu menahan diriku !"
Seraya berkata, si nenek segera membuka serangannya dengan jurus-jurus yang dahsyat dan mematikan, bukan cuma serangannya makin nekad, bahkan ia tak ambil perduli lagi terhadap keselamatan serta mati hidup dirinya lagi.
Pada saat itulah, tiba tiba dan ruang belakang berkumandang suara teriakan orang.
"Celaka... hujin telah mati ! Hujin telah mati !"
Berita itu bagaikan guntur yang membelah bumi di siang hari bolong, seketika itu juga membuat sekujur badan lima bersaudara Ngo-kian bergetar keras.
Dengan mata membara bagaikan korban api mereka mempergencar serangannya dengan ancaman-ancaman yang mengerikan.
Tong losam segera menuding ke arah Yan sian-po sambil membentak, penuh kebencian.
"Nenek bajingan, rupanya kau memang se ngaja menahan kami dan Pek-gi di sini agar mempunyai kesempatan untuk membunuh Sun toa so... Hmmm. Nenek bajingan,. jangan harap kalian berdua bisa meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat!"
Dalam gusarnya, sistim pertarungan dari lima bersaudara Ngo kian pun segera dirubah.
Dengan demikian, maka suatu pertempuran sengit yang luar biasa dahsyatnyapun segera berkobar.
Semestinya apa yang terjadi diruang belakang serta kematian yang tata tiba tak mungkin bisa tersiar sampai diruang depan, siapa tahu pada saat itulah tiba tiba ada pelayan lari ke ruang depan dan berteriak dari pintu muka.
"Toya, aduh celakai Hujin telah terbunuh diruang belakang!"
Kebetulan sekali, pada saat itu Yan Tan hong sedang menusuk pusar Sun pek gi dengan jurus Ci koan jit gwat (mengatur langsung matahari rembulan), sedang Sun pek gi sendiri bersiap untuk memutar badan sambil menghindarkan diri.
Ketika secara tiba tiba mendengar teriakan tersebut sekujur badan Sun pek gi bergetar keras, ia rasakan kepalanya pening dan pandangannya jadi gelap, untuk sesaat dia lupa untuk menghindarkan diri dari tusukan yang sedang dilancarkan oleh Yan tanhong tersebut.
Yan Tan hong sendiri juga turut tertegun setelah mendengar berita tersebut, dia mengira ibunya yang telah turun tangan membunuh Pek in, untuk sesaat rasa sesalnya terhadap perbuatan dari ibunya itu.
Karena tertegun, tusukan pedang yang sedang dilancarkanpun turut terhenti ditengah jalan.
Siapa tahu, suatu kejadian yang jauh diluar dugaannya segera berlangsung, sementara pedangnya terhenti karena tertegun, mendadak ia merasakan datangnya tenaga dorongan yang amat besar menghajar sikut dan lengannya.
Termakan oleh dorongan tenaga yang amat dahsyat itu, tak bisa dikuasai lagi lengannya itu tersodok maju kemuka dengan karenanya,padahal pedangnya yang tajam sedang ditodongkan didepan perut Sun Pek gi, begitu terdorong tenaga aneh sadi, serta merta pedang itu menusuk perut Sun Pek gi dan menembus sampai ke punggung.
Kontan saja Sun Pek gi membelalakkan se pasang matanya lebar lebar, sambil menuding kearah Yan Tan hong serunya.
"Kau...kau ....kau benar-benar datang untuk membunuhku? Sungguh...sungguh..."
Menghadapi kejadian yang sama sekali diluar dugaan ini, Yan Tan hong tertegun dan berdiri bodoh saking kagetnya, untuk sesaat dia tak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun.
Dua orang bocah yang sedang menonton pertarungan tersebut dari luar jendela ruangan pun menjadi duduk melongo, sesaat kemudian Sun Tiong lo baru menangis, sambil meninju tubuh Pau ji teriaknya.
"Ibumu telah membunuh ayahku !"
Kemudian sambil berteriak menggigil akhirnya dia merangkak naik keatas jendela, tapi baru sampai tengah jalan, saking sedihnya bocah itu jatuh tak sadarkan diri diluar jendela.
Pau ji yang ditonjok perutnya juga tidak membalas, diapun tahu apa yang musti dilakukannya, melihat Sun Tiong lo jatuh pingsan, diatas tanah, dia hanya bisa menggoyang goyangkan tubuhnya sambil berteriak teriak.
sementara itu pertarungan lima bersaudara Ngo kian dengan Yan sian po sudah mencapai puncaknya, kedua belah pihak telah sama sama terluka, namun sambil bermandi darah mereda masih terus bertarung dengan seru.
Sejak awal sampai akhir boleh dibilang semua peristiwa berlangsung amat cepat, dan bahkan boleh dibilang tak sampai seperminum teh lamanya Teriakan dan serta bentrokan senjata yang berlangsung di ruangan itu dengan segera mengejutkan para pendekar yang sedang menikmati rembulan di loteng sebelah selatan.
Di dalam keadaan seperti ini, Lu cu peng tidak memperdulikan soal tata kesopanan lagi tanpa menyapa pada tamu-tamunya, dia, segera menerjang keruangan itu dengan kecepatan luar biasa yang jarang adanya.
Tapi pada saat tubuhnya sedang melayang turun dari loteng sebelah selatan itulah, peristiwa berdarah telah berlangsung.
Waktu itu Ngo kian dan Yan sian po masih terlibat dalam pertarungan berdarah itu mendadak melayangkan turun seorang manusia aneh berkerudung, setelah tertawa dingin lantas berseru kepada Yan sian po.
"Kawan kawan Sun pek gi yang berada di loteng selatan sebentar lagi akan sampai disini"
"Harap Sian po segera mengajak putrimu pergi dari sini serahkan saja kelima orang ini padaku!"
Kata orang berkerudung.
Di tengah seruan tersebut orang itu segera menerjang kedepan, pergelangan tangan kanannya cepat di ayunkannya kemuka, Tong losam yang menyerbu paling muka menjerit binasa.
Menggunakan peluang inilah, Yan sian po segera melarikan diri dari arena pertempuran.
Dengan tewasnya Tong losam itu, Ngo kian hengte semakin kalap, dengan matanya membara karena benci dan dendam mereka melancarkan serangan tambah gencar.
Dengan ayunan toyanya Yan sian po berhasil menjebol jendela ruangan dan melayang masuk, akan tetapi setelah menyaksikan kenyataan yang terbentang didepan matar paras mukanya segera berubah hebat.
Sampai detik itu, Sun pek gi masih berdiri disana dengan sebilah pedang menembusi perut nya, sedang putrinya sambil memegang pedang tersebut berdiri tertegun dihadapannya.
Sambil gelengkan kepaIanya, Yan sian po segera melayang masuk kedalam ruangan dan tegurnya.
"Budak bodoh, bagaimanapun juga kau tak bisa membunuhnya?"
Dengan kaku Yan tan hong menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku tidak bermaksud membunuhnya, aku... aku..."
Yan sian po segera berkerut kening, sekali tabok dia hajar bahu putrinya keras keras, lalu Serunya.
"Coba kau lihat yang lebih tegas..."
Tabokan itu dengan cepat menyadari lagi Yan Tan hong dari lamunannya ia segera menangis tersedu-sedu sambil berseru keras.
"lbu, bukan aku, bukan aku, ibu, aku cinta padanya, sejak di rumah keluarga Mo malam itu aku telah mencintainya..."
"Mana Pau ji ?"
Seru Yan-sian po kemudian dengan gelisah setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu. Begitu menyinggung soal "Pau ji", dengan cepat Yan Tan hong menjadi tenang kembali.
"Hayo berangkat! Kita harus segera pergi meninggalkan tempat ini !"
Yan Sian po segera berseru dengan suara dalam.
Begitu ia mengatakan akan pergi, Yan Tan hong segera mengendorkan tangannya dan di Seret Yan sian po keluar dari ruangan itu.
Pau ji berada di luar ruangan, begitu berjumpa dengan bocah tersebut, dengan cepat mereka melarikan diri dari tempat itu.
Belum lama bayangan tubuh mereka lenyap dari pandangan mata, Lu Cu-peng telah melayang masuk ke dalam ruang tengah.
Saking terburu burunya Yan Tan hong meninggalkan tempat itu, ia lupa pada pedangnya yang masih menancap dibadan Sun Pek gi.
Oleh sebab itu-meskipun Pek gi sudah terkapar di tanah namun belum sampai tewas, kedatangan Lu Cu peng tepat waktunya, ia segera berlutut diatas tanah sambil me meluk Sun pek gi air matanya jatuh bercucuran dengan derasnya, tak sepatah katapun yang dia ucapkan.
Sun pek gi segera menarik nafas panjang sekulum senyum tersungging diujung bibirnya, lalu berkata.
"Cu peng de....ngarkan peesa..an terakhirku ini."
"Silahkan tuan katakan"
Sahut Lu Cu peng sambil menahan air matanya yang berderai.
"Bila hamba membangkangnya pasti akan mati tanpa tempat kubur !"
Kembali Sun pek gi tersenyum, ujarnya.
"Baik... kini... adik In juga telah mati kau... kau harus segera membawa Lo-ji pergi da... dari sini, makin jauh semakin baik... jangan membalas dendam tak boleh membalas dendam...!"
"Kenapa? Kenapa? Dendam kesumat ini harus dibalas.."
Seru Lu Cu-peng sambil menangis. Titik air mata jatuh berlinang membasahi pipi Sun Pek-gi, kembali Katanya.
"Lu Cu-peng, dengan napas terakhirku ini aku.... aku berpesan kepadamu, jangan membalas dendam, cepat bawa Lo ji pergi dari sini, yang mem... membunuh aku dan adik In bukan Yan lihiap..."
Sesudah berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Bo... bocah yang bernama Pauji itu ke... kemungkinan besar adalah anakku... waktu itu aku.. aku sedang mabuk he... hebat..."
Sambil menangis dan gelengkan kepalanya berulang kali, Lu Cu-peng berteriak.
"Mengapa tuan tidak mengakuinya, Cu-bo tak akan..."
Titik air mata kembali jatuh berlinang membasahi wajah Sun Pekgi, katanya lagi.
"Se.... sesudah Tan hong pergi, secara tiba-tiba aku baru memahami akan hal ini, aku... akupun sudah tahu siapakah Lok hun pay yang se... sebenar-nya."
"Siapakah dia ? Siapa ? Tuan, beritahukan kepada hamba!"
Dengan memaksakan diri Sun Pek gi menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
"Cu peng, biarkanlah dia tidak berperasaan, tapi aku tak boleh tak setia kawan, aku bertindak hanya menuruti perasaan, kini adik In telah pergi, dia pergi tanpa melakukan suatu kesalahan apapun terhadap orang lain, akupun akan pergi menjumpainya dengan hati pasrah."
"Cu peng, jangan membalas dendam, kau lebih-lebih tak boleh mencari permusuhan dengan keluarga Yan, Ingat, bawa Loji, dan cepat pergi, cepat tinggalkan tempat ini, makin cepat makin baik, makir jauh makin baik, terhadap Pau ji, kau.. Aai..."
Ketika secara tiba tiba Sun Pek gi dapat mengucapkan kata katanya dengan lancar tanpa terputus putus, Lu Cu peng sudah tahu kalau saat tersebut merupakan saat terakhir menjelang kematiannya, lentera yang hampir kehabisan minyak biasanya justru bercahaya lebih terang demikian pula dengan manusia.
Ternyata dugaannya tak keliru, belum habis perkataan itu disampaikan, pendekar sejati yang perkasa itu telah berpulang ke alam baka.
Lu Cu peng amat kalut dan bingung, sambil menggigit bibir dan menyeka air matanya, tiba-tiba ia berlutut dan menyembah didepan jenazah Sun Pek gi, kemudian setelah mencabut pedang Yan Tan hong dan membungkusnya dengan kain, dia melayang keluar lewat jendela.
Setelah keluar dari ruangan, dengan cepat ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu, lalu me lompat turun kebawah.
Tapi setelah berada dibawah jendela, ia pun berpekik syukur, Ternyata ketika melayang turun dari jendela tadi, ia seperti menyaksikan ada bayangan hitam tergeletak ditanah, setelah didekati ternyata orang itu adalah majikan ciliknya Sun Tiong lo, dengan cepat ia memeluk bocah itu dan dibawa kabur.
Sepeminum teh setelah kepergiannya, manusia berkerudung itu baru berhasil membinasakan lima bersaudara Ngokian.
Sambil menendang mayat-mayat tersebut, serunya sambil menyeringai seram.
"lnilan pembalasan dari saudaramu yang dahulu selalu minum kuah "Tang-kwe tong!"
Setelah berhenti sejenak, sambil tertawa seram kembali berkata.
"Masih ada seorang binatang cilik yang masih hidup, lohu harus membabat rumput seakar akarnya, kini kawanan manusia yang suka mencampuri urusan telah meninggalkan loteng selatan, lebih baik lohu melepaskan api dulu untuk membakar gedung ini."
Sampai disitu, ujung bajunya segera dikebaskan kemuka, tiga biji peluru api dengan cepat meluncur kemuka.
Ketika membentur jendela, peluru itu segera meledak dan berkobarlah jilatan api yang sangat besar membakar seluruh ruangan tersebut.
Seperti apa yang dikatakan manusia berkerudung itu betul juga, tak lama kemudian para pendekar dari loteng selatan telah berdatangan tetapi ketika melihat terjadinya kebakaran mereka segera turun tangan untuk memadamkan kebakaran itu lebih dulu, menyusul kemudian ada orang yang menemukan jenasah Sun Pek-gi.
Gedung raksasa yang baru saja dibangun oleh Sun Pek-gi itu segera hancur menjadi puing-puing yang berserakan.
Yang tertinggal kini hanya bangunan yang hancur serta tujuh sosok mayat.
Dalam keheningan dan kemurungan yang mencekam suasana disanar akhirnya para jago turun tangan untuk mengubur ketujuh jenasah itu dengan upacara yang amat sederhana, kemudian satu pcr satu merekapun berpisah dan meninggalkan tempat itu.
Waktu itu, Lu Cu peng tidak pergi jauh, sambil membohong majikannya, dia bersembunyi diatas atap loteng yang paling tinggi disebelah kanan, dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan gedung megah milik majikannya itu terhajar musnah menjadi puing puing yang berserakan.
Disaat itulah Sun Tiong ia tersadar kembali, ia segera berteriak memanggil ayahnya.
Hal ini memaksa Lu Cu peng harus segera menotok jalan darah tidurnya.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang dari luar loteng, suara itu segera menyadarkan kembali Sun Tiong lo dari lamunannya.
Terdengar suara Chin congkoan, Chin Hui-hau berkumandang datang dari luar loteng impian.
"Sun kongcu, kau sudah tidur ?"
Sun Tiong lo mengerutkan dahinya tidak menjawab. Ketika tiada jawaban, sambil tertawa dingin kembali Cin Hui hou berseru.
"Aku orang she Chin mendapat perintah dari San-cu untuk menghantarkan seorang teman buat kongcu!"
Begitu mendengar kata "teman", Sun Tiong-lo merasakan hatinya terkesiap, urusannya sendiri tentu ia lebih mengerti daripada orang lain, dalam terkesiapnya dia lantas teringat kembali akan janjinya dengan "Hau-ji"
Seorang kakak seperguruannya. Diam-diam ia lantas menggerutu, di dalam hati.
"Aaaaai...! Siau-hauko, mengapa kau tidak menuruti perkataanku dan masuk kemari?"
Sambil berpikir begitu, ia pura pura seperti baru terbangun dari tiduanya, segera tegurnya.
"Siapa diluar yang mengganggu tidur orang?"
Chin Huihou tertawa seram, katanya.
"Aku adalah Chin Hui-hou, Chin congkoan!"
"Ada urusan apa ?"
Seru Sun Tiong-lo seperti orang marah.
"tengah malam buta mengganggu nyenyaknya tidur orang, beginikah cara kalian melayani tamu?"
"Sancu kami yang berpesan demikian, sengaja ia mengirimkan seorang teman untuk kong cu!"
Kata Chin Hui-hou dingin.
Sambil mendengus Sun Tionglo memasang lampu dan turun dari pembaringan untuk membuka pintu.
Akan tetapi setelah pintu terbuka, SunTionglo menjadi tertegun dan berdiri bodoh.
Diluar pintu, selain Chin congkoan masih ada seorang pemuda gagah yang berwajah tampan, meski orang itu seperti pernah dikenal olehnya, tapi ia bukanlah engkoh Siau-hau seperti apa yang dibayangkannya semula.
Pemuda itu mengenakan baju berwarna biru, disana sini kelihatan banyak lubang dan robek-robekan baru akibat bacokan senjata, mukanya diliputi hawa amarah, sepasang matanya memandang keatas dan sombongnya bukan kepalang.
Sambil menyeringai seram, kembali Chin congkoan berkata kepada Sun Tiong-lo.
"Kongcu, peristiwa ini benar benar suatu kebetulan, kongcu inipun she Sun dan baru sampai kemari, sebenarnya sudah kuterangkan peraturan bukit ini kepadanya, tapi ia tak tahu diri dan ingin menyerbu ke atas gunung.
"Akhirnya tak usah ditanya tentu saja ia tertawan. Sancu telah mengajukan beberapa buah pertanyaan kepadanya dan berpesan agar melakukan tugas seperti peraturan, selain itu juga menitahkan agar kongcu inipun berdiam di loteng impian !"
"Congkoan sudah tiada urusan lain ?"
Tukas Sun Tiong lo seperti enggan mendengarkan ocehan orang lebih jauh. Chin congkoan tertawa seram, sahutnya.
"Tentu saja masih ada, cuma hal itu baru terjadi lima hari kemudian, Sun kongcu, sampai waktunya kau akan kehilangan hakmu sebagai tamu agung, saat itulah kau boleh merasakan kelihayan dari aku orang she Chin." !Chin Hui hou!"
Dengan suara mendongkol Sun Tiong lo segera menegur.
"lebih baik ucapkan kata-katamu itu setelah tiba pada saatnya nanti, kalau sekarang sudah kau ucapkan maka hal ini nanya akan mendatangkan ketidak beruntungan saja bagimu, kalau kurang percaya, mari kita coba saja buktikan !"
Sambil menggigit bibir dan mendengus dingin, Chin Hui hou segera berlalu dari sana. Sun Tiong lo segera tertawa, dengan sikap yang ramah ia menjura kepada pemuda itu, lalu menyapa.
"Sun jin-heng, silahkan masuk, Kita sama-sama merupakan teman senasib sependeritaan tak usah sungkan-sungkan !"
Sun kongcu tersebut sungguh berperangai kasar dan angkuh, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia masuk dengan langkah lebar, kemudian setelah memandang sekejap ke arah pembaringan itu, tanyanya dengan dahi berkerut.
"Aku harus tidur dimana?"
Sun Tiong lo tertawa.
"Diatas loteng impian hanya terdapat sebuah kamar tidur yang besar"
Tapi sebelum ucapan itu sempat diselesaikan Sun kongcu yang berwatak angkuh itu telah menukas dengan tak sabar.
"Aku hanya bertanya, aku musti tidur di mana ?"
Sun Tiong lo memandang sekejap ke arahnya, lalu menjawab sambil tertawa.
"Dimana saudara ingin tidur, silahkan saja tidur ditempat itu !"
Orang itu segera berkerut kening, sambil menuding pembaringan besar itu katanya lagi.
"Kau datang duluan, kau boleh tidur diranjang, tapi apakah kasurnya bisa dibagi dua."
"Tentu saja bisa"
Sahut Sun Tiong lo sambil tertawa.
"asal saudara tidur diranjang, toh kau pun bisa tidur diatas kasur !"
Orang itu segera mendengus.
"Kalau aku tidur diranjang, lantas kau tidur dimana ?"
"Ranjang ini begini besar dan lebar, untuk tidur dua orang saja lebih."
"AKU tidak terbiasa tidur seranjang dengan orang !"
Tukas orang itu sambil mendengus.
Berbicara sampai disitu, dengan langkah lebar dia lantas berjalan ketepi pembaringan kemudian menyambar selimut, setelah itu dengan langkah lebar dia menuju ke suatu ruangan.
Diam-diam Sun Tiong lo mengerutkan dahinya setelah menyaksikan tingkah laku orang, katanya kemudian.
"Bolehkah aku tahu siapa nama saudara ?"
"Tidak boleh"
Jawab orang itu tanpa menoleh.
"aku tidak bertanya kepadamu, lebih baik kaupun tak usah bertanya kepadaku !"
Sun Tiong lo segera tertawa.
"Apa gunanya saudara menampik uluran tangan orang ?"
"Aneh!"
Seru orang itu gusar.
"kalau aku tak sudi menggubris dirimu, mau apa kau ?"
Sekalipun diperlakukan secara kasar, Sun Tiong-lo masih tetap tersenyum ramah.
"Saudara, kau musti tahu"
Katanya.
"sekarang, aku dan saudara sudah menjadi burung dalam sangkar..."
"Hmmm! Belum tentu demikian"
Tukas seorang itu lagi sambil tertawa dingin.
"Aku percaya kaupun tentu sudah tahu bagaimanakah peraturan yang diterapkan Sancu dari bukit ini kepada kita, aku bisa menjadi tamu agung disini selama lima hari, sebaliknya kau hanya tiga hari, selewatnya tiga hari..."
"Dapatkah kau menutup bacotmu dan tidak berbicara lagi?"
Bentak orang itu dengar gusar.. Sekali lagi Sun Tiong lo memandang sekejap orang itu, lalu menjawab dengan pelan.
"Aku cuma merasa heran, kita sebenarnya adalah teman senasib sependeritaan, pada saat ini semestinya mengalami nasib yang sama, dalam keadaan begini kita musti merundingkan cara yang baik untuk melarikan diri atau paling tidak menanggulangi kesulitan yang sedang kita badiri sekarang, tapi saudara..."
Mendadak orang itu membalikkan badannya, sambil menuding kearah Sun Tiong lo, serunya.
"Aku hendak memperingatkan kepadamu, jika kau berani berbicara lagi, jangan salahkan kalau aku..."
"Kau bisa berbuat apa?"
Seru Sun Tiong lo dengan suara yang tak kalah kerasnya.
"Aku melarang kau untuk berbicara!"
"Kalau begitu lebih baik kau tutup telinga mu rapat rapat dan tak usah mendengar !"
Orang itu menggigit bibirnya rapat-rapat dan berjalan maju kedepan dengan langkah lebar.
Ruangan dalam loteng impian itu sangat luas dan lebar, dengan cahaya sebuah lentera tidaklah cukup untuk menerangi seluruh ruangan tersebut, tapi setelah kedua orang itu saling berhadapan muka, dan kedua belah pihak saling memperlihatkan wajah lawannya, mereka baru bisa menyaksikan wajah orang dengan lebih jelas...
Pertama-tama Sun kongcu yang berangasan itu menjerit kaget lebih dahulu.
Menyusul kemudian, Sun Tiong lo juga merasakan suatu perasaan, seakan-akan pernah mengenal wajah orang ini.
Maka untuk sesaat lamanya, mereka berdua menjadi tertegun dan saling bertatapan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Lama, lama sekali, tiba-tiba Sun kongcu itu menuding kearah Sun Tiong lo sambil berseru.
"Kau adalah Sun Tiong lo ?"
Mendengar seruan tersebut, bagaikan dihantam dengan martil berat sekujur badan Sun Tiong lo bergetar keras, segera diapun menuding orang itu sambil berseru.
"Kau adalah pau ji ?"
Sampai disitu, kedua belah pihak segera saling bertatapan dengan tajamnya.
Tak selang beberapa saat kemudian, pau ji kembali kesudut ruangan dan mengambil selimut itu sambil dilemparkan keatas ranjang, kemudian dihampirinya Sun Tiong lo dengan langkah lebar.
"Kau masih ingat, pernah menempeleng aku sekali ?" -oo0dw0ooo-
Jilid 4 SUN TIONG LO manggut-manggut, namun tidak mengucapkan sepatah katapun.
Kadangkala didunia ini memang bisa terjadi suatu kejadian yang sedemikian kebetulannya, ternyata mereka berdua telah bersua kembali di tempat itu.
Bai-ji memandang sekejap ke arah Sun Tiong lo kemudian katanya lagi dengan lantang.
"Tahukah kau, aku adalah engkohmu ?"
Sikap Sun Tiong lo sudah tidak seramah dan selembut tadi lagi, sahutnya ketus.
"Belum tentu demikian !"
"Hal ini tak bakal salah lagi, benci, tetap benci, dendam tetap dendam..."
"Yaa, benci tetapi benci, ibumu telah membunuh ayahku!"
Tukas Sun Tiong lo ketus. Sambil menghela napas panjang Pau ji menggelengkan kepalanya berulang kali katanya.
"Bukan....bukan begitu..."
"Peristiwa tersebut kita berdua saksikan dengan mata kemala sendiri, apakah kau masih ingin mungkir?"
Bentak Sun Tiong lo, kemudian menjawab.
"Betul, waktu itu kita memang menyaksikan demikian, akan tetapi didalam kenyataannya masih ada intrik busuk lain yang membonceng dibalik peristiwa itu."
Sun Tiong lo segera tertawa dingin.
"Heeeh... heeeh... heee... ingin ku dengarkan bagaimana caramu untuk memberi penjelasan atas kejadian ini !"
"Waktu itu ada seorang pelayan yang muncul diluar secara tibatiba sambil berteriak kalau ibumu sudah mati di bunuh orang, masih ingatkah kau dengan kejadian itu ?"
"Tentu saja aku masih ingat !"
Pelan-pelan Bauji mengangguk. Pelayan itulah yang telah membunuh ayah!"
Katanya. Sun Tiong-lo segera meludah dengan sinis.
"Cuh ! Pelayan itu toh cuma berdiri di depan pintu ruangan sedang pedang tersebut berada di tangan ibumu, kita berdua menyaksikan kejadian itu sangat jelas, ketika ayahku sedang tertegun, ibumu telah manfaatkan kesempatan tersebut untuk melancarkan sebuah tusukan."
"Benar, saudaraku ! Kau musti perhatikan hal ini baik baik."
Sela Pauji cepat.
"Hmm ! Siapa yang menjadi saudaramu?"
Sambil menggigit bibir Pau ji berkata.
"Mau mengakui diriku sebagai saudaramu atau tidak, kita bicarakan nanti saja, sekarang dengarkan dulu penjelasanku lebih jauh !"
Setelah berhenti sebentar dan menatap Sun Tiong lo sekejap, sambungnya lebih jauh.
"Ketika pelayan itu membawa berita musibah tersebut, ayah tertegun, tapi ibuku pun segera menghentikan pula gerakannya, waktu itu bukankah kita berdua juga telah melihatnya dari luar jendela ?"
Tanpa berpikir panjang Sun Tiong lo segera menjawab.
"Benar, ibumu juga menghentikan gerakan pedangnya, tapi kemudian sambil menggertak kan tangannya ia melanjutkan dengan tusukannya. waktu itu ayahku sama sekali tidak siap sedia, maka ia kena tertusuk hingga tembus..."
"Soal itu dapat kuakui akan kebenarannya."
Sela Pauji.
"tapi apakah kau juga memperhatikan, dikala ibuku menghentikan gerakkannya kemudian menusuk kembali kemuka itu, baik lengan maupun badannya sama sekali tidak leluasa?"
Sun Tiong lo berpikir sebentar, lalu menjawab.
"Yaa, Mungkin itu disebabkan oleh gejolak perasaannya karena secara tiba tiba mendapatkan peluang untuk turun tangan."
"Bukan, bukan karena gejolak perasaan akan tetapi karena gerakan tubuhnya sama sekali bukan dilakukan atas dasar kehendaknya sendiri !"
Tukas Pauji sambil menggeleng. Sun Tiong lo segera tertawa dingin.
"Kalau bukan atas dasar kehendaknya sendiri, kenapa ia bisa membunuh orang? Bukankah kau sedang mengaco belo tak karuan ?"
Serunya dingin. Pau ji segera mendepak depakkan kakinya keatas tanah sambil berseru.
"Hal itu disebabkan karena ada orang lain yang mempergunakan semacam ilmu pukulan dahsyat untuk membuat pedang ibuku menusuk kedepan tanpa ia sendiri sanggup untuk mengendalikannya, maka ayahpun terbunuh."
Sun Tiong lo segera mengerutkan dahinya sesudah mendengar perkataan itu, dia ingin buka mulut tapi tak sepatah katapun diucapkan. Terdengar Pau ji melanjutkan kembali kata.
"Saudaraku, kau tak mengerti ilmu silat maka cerita kedengarannya sangat aneh dan seakan-akan tidak masuk akal, tapi apabila tenaga dalam seseorang telah mencapai pada puncaknya, ia bisa saja meminjam tenaga atau..."
Sun Tiong lo memandang sekejap ke arah Pauji, kemudian menukas.
"Maksudmu, pada waktu itu ada orang menggunakan semacam tenaga pukulan yang maka sakti untuk mempengaruhi gerakan tangan ibumu dikala ia sedang kosong pikiran, hingga mengakibatkan pedang ibumu menusuk kemuka tanpa disadari oleh ibumu sendiri ?"
"Ya, benar! Memang begitulah kejadiannya!"
Sahut Pau ji manggut manggut. Sun tiong lo termenung beberapa saat lama nya, mendadak dia bertanya.
"Sekarang ibumu berada dimana?"
Mendengar ucapan itu, menitiklah air mata nya membasahi wajah Pau ji.
"lbuku dan nenekku juga mati terbunuh ditengah jalan pada malam itu pula!"
Sun Tiong lo menjadi tertegun sesudah mendengar perkataan itu, segera dengusnya.
"Hm, kau sedang membohongi siapa?"
"Bohong!?"
Seru Pau ji dengan mata melotot.
"Kau... apa maksud perkataanmu itu?"
Sekali lagi Sun Tiong lo mendengus dingin.
"Baik, akan ku beritahukan padamu, suatu ketika sewaktu dari kota Tiong ciu akan ke ibu kota untuk mencari paman Lu, aku masih berjumpa dengan nenekmu dan ibumu."
Dengan sedih Pau ji segera menggeleng.
"Saudaraku kau keliru besar..."
"Apakah yang kusaksikan dengan mata kepala sendiri bisa keliru?"
Dengan tenang Pauji menerangkan.
"Seperti apa yang kita saksikan dengan mata kepala sendiri, dimana ibuku membunuh ayah...." -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB LIMA DI kala manusia berkerudung membakar gedung tempat tinggal Sun pek gi, waktu telah menunjukkan kentongan ketiga. Mendekati kentongan keempat lebih kurang sepuluh li di jalan raya utama menuju ke ibu kota muncul bayangan manusia sedang melakukan perjalanan cepat. Yang sedang berlarian ada dua orang, tapi sesungguhnya mereka bertiga. Mereka adalah Yan sian po, putrinya yang sedang membopong Pau ji. Cuma waktu itu Pau ji digendong oleh Yan sianpo, sehingga tampaknya cuma ada sesosok bayangan hitam saja. Semenjak kabur dari gedung Sun Pek gi dan melarikan diri dengan tergopoh gopoh, sepanjang jalan Yan sian po dan putrinya tak pernah mengucapkan sepatah katapun, ia menunjukkan betapa beratnya perasaan mereka berdua itu. Yan sianpo yang harus membopong Pau ji menjadi agak lamban dalam melakukan perjalanan, tapi justru hal ini mengimbangi gerak lari Yan Tan hong yang telah berlarian dengan sepenuh tenaga itu. Sebenarnya sedari tadi Pau ji sudah ingin menanyakan kejadian tersebut, akan tetapi berhubung Yan sian po melakukan perjalanan amat cepat, angin tajam menerpa wajahnya hingga ia tak bisa membuka mulut, maka si bocah itu hanya bisa memendam kegelisahannya dalam2 Sementara perjalanan masih dilakukan mendadak tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dari sisi mereka, setelah melewati Yan sian po bertiga sejauh beberapa kaki, mendadak ia menghadang jalan pergi mereka. Yan sian po bertiga segera menghentikan gerakan tubuhnya dan mendongakkan kepala. Ternyata orang itu bukan lain adalah manusia berkerudung hitam. Sambil tertawa terbahak bahak, manusia berkerudung itu segera berseru kepada Yan sian po.
"Ketika berada dirumah Sun Pek gi tadi, seandainya lohu tidak menahan kelima bersaudara Ngokian, mana mungkin Sian po bisa mengajak putrimu untuk kabur? Apakah kau telah melupakan diriku?"
Yan sian po segera menjura.
"Untuk bantuanmu, kuucapkan banyak terimakasih."
Manusia berkerundung itu lalu menggeleng.
"Terima kasih sih tak usah, lohu datang hanya ingin menangis balas jasa !"
"Balas jasa ?"
Seru Yan sian po dengan kening berkerut.
"balas jasa apa yang kau kehendaki ?"
Sepatah demi sepatah manusia berkerundung itu segera menjawab dingin.
"Lohu menginginkan anak haram dari orang she Sun itu, yakni bocah yang berada diboponganmu sekarang."
Begitu ucapan tersebut diutarakan, Yan sian po serta Yan Tan hong menjadi amat terperanjat.
Yan sian po adalah seorang jago kawakan yang sudah mempunyai pengalaman, sesudah termenung sebentar, dia lantas dapat mengambil kesimpulan bahwa manusia berkerudung itu susah dihadapi, diapun mempunyai rencana busuk yang lain.
Maka setelah berpesan pada putrinya agar berhati hati diapun menegur.
"Sobat, siapakah kau? Atas dasar apakah kau menuntut bocah itu dari tangan kami?"
Manusia berkerudung itu tertawa seram.
"Heeh hee....heehh heeh Nenek tua bangkotan she Yan, seandainya bukan disebabkan si anak jadah tersebut, mengapa lohu musti membantu kalian?"
"Pertikaian kami dengan keluarga Sun adalah pertikaian rumah tangga, kami tidak membutuhkan bantuan siapapun,"
Seru Yan sian po. Sekali lagi manusia berkerudung tertawa.
"Heeh . ...heehh heeeehh ucapanmu itu memang benar, cuma seandainya aku tidak menggantikan kedudukanmu untuk bertarung melawan lima bersaudara Ngo kian tadi, apakah kau bisa kabur dari situ? Apa lagi kalau teman temannya tahu kalau Sun pek gi sudah tewas di dalam ruangan, apakah kalian juga tak akan mampus?"
"Waktu itu dalam ruangan hanya ada putri mu dengan Sun pek gi, sedangkan Pek gi pun mati tertusuk oleh pedang putri mu, kalian kira bisa kabur dari situ dengan selamat?"
Sebelum Yan sian po sempat mengucapkan sesuatu, Yan Tan hong telah mendengar sesuatu yang tak beres, dengan cepat seraya.
"Dari mana kau bisa mengetahui semuanya kejadian itu?"
Manusia berkerudung itu selera tertawa terbahak-bahak .
"Haa ..haaa... haaa mula-mula lohu membantu dirimu lebih dahulu dan baru menuju keruang belakang"
"Kau telah membantuku? Kapan?"
Seru Yan tan nong pura pura tak habis pikir.
"Waktu itu aku menyaru jadi pelayan dan berteriak teriak dari luar ruangan yang mengatakan perempuan rendah Wan pek in telah mati teriakkan itu telah membuat Sun pek gi tertegun dan lalu kehilangan daya kemampuannya untuk menghadapi pertarungan."
"Maka akupun lantas mempergunakan ilmu Thian huan ciap ing sin kang (ilmu sakti memancing tenaga melingkar langit) untuk mengirim enam bagian tenagaku kedalam tubuh mu hingga pedang itu menubruk kedepan dan menghabisi nyawa Sun pek gi..."
Ketika mendengar sampai di situ, Yan Tan Hong segera berpaling kearah, ibunya sambil berseru.
"lbu, dengarlah, bukan aku yang membunuh Pek gi, tapi si manusia laknat yang berhati keji ini, ibu, aku hendak membalaskan dendam untuk kematian Pek gi!"
Sambil berseru dia lantas siap mencabut pedangnya, tapi pedang ini tidak nampak disana, saat itulah dia baru teringat kalau pedangnya masih tertinggal ditubuh Pek gi.
Sebelum ia sempat melakukan sesuatu, Yan sian po telah berkata.
"Hongji, jangan bertindak gegabah, kau jagalah Pau ji, biar aku yang menghadapi dirinya!"
Dia lantas menurunkan pauji dari gendongannya dan diturunkan ketanah, setelah itu sambil maju ke depan tegurnya.
"Sebutkan siapa namamu ?"
Manusia berkerundung itu menyeringai.
"Nenek Yan, kau janganlah terlalu tak tahu diri."
"Setiap manusia tentu punya nama, kecuali kau bukan dilahirkan oleh manusia !"
Teriak Yan sian po gusar. Manusia berkerudung itu kembali mendengus dingin.
"Nenek bangkotan she Yan, setelah lohu berniat untuk menutupi wajahku, tentu saja aku..."
"Tentu saja kau bukan seorang manusia yang berani menjumpai orang!"
Sambung Yan Sian-po. Manusia berkerudung itu segera menggertak giginya menahan rasa geramnya yang tak terhingga, dengan suara dingin ia lantas berseru.
"Sebetulnya lohu bersedia saja membiarkan kalian berdua pulang kebukit Han-san dengan selamat, oleh sebab itu meski sudah melakukan persiapan namun tidak pernah menggunakan nya, tapi sekarang, Hmm ! Terpaksa aku akan suruh kalian berdua merasakan kelihayanku !"
Berbicara sampai disitu, tiba-tiba ia bertepuk tangan dua kali, kemudian sambil mendengus dingin katanya lagi.
"Coba kalian berdua saksikan, siapakah ke dua orang itu !"
Mendengar perkataan itu, Yan Sian-po dan Yan Tan-hong segera berpaling, tapi dengan cepat paras muka mereka berubah hebat.
Yan Sian-po termenung dan berpikir sebentar, kemudian kepada Yan Tan-hong kata nya.
"Budak, dengarkan perkataanku, bila kesulitan sudah tiba didepan mata nanti, andaikan kau melihat dari toya ibu memancar keluar jarum Hay seng-ciam, maka kau harus segera membopong Pau-ji untuk di bawa kabur ke sebelah kanan."
"Cuma ibu kuatir pihak lawan pasti tidak akan memmbiarkan kalian berdua kabur terlalu jauh, maka kaupun harus mengambil keputusan disaat melarikan diri nanti, kau harus turunkan Pau-ji ditengah jalan, kemudian dengan sekuat tenaga menahan serangan musuh, suruh Pau ji melarikan diri seorang diri!"
Yan Tan Hong mengangguk berulang kali, namun ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Ternyata setelah manusia berkerudung itu bertepuk tangan dua kali dari dalam sebuah hutan kecil sepuluh kaki dari arena pelan pelan berjalan keluar dua sosok manusia.
Dilihat dari dandanan maupun potongan badan mereka, ternyata kedua orang itu persis seperti Yan Sian po berdua yang asli, bahkan Yan sian po gadungan itupun membawa pula se buah toya bambu.
Maka dengan cepat Yan Sian-po pun lantas memahami apa yang terjadi, itulah sebabnya ia memberi pesan kepada putrinya untuk menghadapi situasi tersebut.
Sementara itu si manusia berkerudung tersebut telah tertawa seram.
katanya kemudian.
"Nenek Yan, kau juga seorang jago kawakan dalam dunia persilatan, tentunya kau mengerti bukan apa maksud dari persiapan ini !"
"Dengan menggunakan gadungan menyaru sebagai yang asli, aku kuatir yang asli tetap akan asli, yang gadungan tetap gadungan !"
Seru Yan Sian-po gusar. Manusia berkerudung itu segera tertawa seram, sambil menuding ke arah Yan Sian-po serta Yan Tan-Hong gadungan, katanya.
"Perkataan ini sedikitpun tak salah, bila topeng kulit manusia yang mereka kenakan di singkapi tentu saja yang asli tetap asli, yang gadungan tetap gadungan, cuma siapa yang akan menyingkap kedok mereka...?"
"Haah....haah..haah...."
"Nenek Yan, untuk mempersiapkan diri agar bisa membasmi Sun Pek-gi sampai keakar akarnya, lohu telah mempersiapkannya selama berapa tahun, kau mengira aku akan biarkan usahaku selama ini mengalami kegagalan total?"
"Lohu sebenarnya bukan seorang manusia yang gemar membunuh, tapi mau tak mau aku musti melakukan untuk persiapan semenjak dari awal, dan merekalah salah satu diantara sekian banyak persiapan yang telah lohu lakukan untuk menghadapi keadaan seperti ini."
Belum selesai dia berkata, dengan suara dingin Yan Sian-po telah menukas.
"Sudah berbicara setengah harian, apakah kau benar-benar tak berani menyebutkan namamu ?"
Manusia berkerudung itu segera tertawa.
"Kata kata seperti ini kuucapkan karena aku sudah berkeyakinan bahwa kalian berdua bakal mampus pada hari ini, soal nama serta alasan yang sesungguhnya dari perbuatanku ini tentu saja akan kuterangkan, tapi nanti, sebab ucapanku belum selesai."
"Hm, sombong amat ucapanmu itu !"
Tak tahan Yan Tan hong berteriak. Sambil mengangkat sepasang bahunya manusia berkerudung itu tertawa, katanya.
"Dalam kolong langit dewasa ini, kecuali Sun Pek gi yang sudah mampus yang mungkin masih bisa bertarung seimbang denganku, selama banyak tahun belakangan ini belum pernah kujumpai ada orang yang sanggup menandingi kepandaianku."
"Manusia laknat, tak usah banyak bicara lagi"
Tukas Yan Sian-po dengan kening berkerut, jika kau merasa punya kepandaian yang lihay, mengapa tidak kita coba sekarang juga!"
Dengan cepat manusia berkerudung itu menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Jangan terburu napsu lebih dulu"
Katanya.
"setelah lohu berjanji akan menunjukkan wajah asliku, tentu saja akupun akan menerangkan duduknya persoalan sampai jelas, pokoknya sampai sekarang langit belum terang tanah, itu berarti kitamasih banyak waktu untuk ber-cakap2 !"
Mendadak Yan Tan-hong menegur.
"Perselisihan apakah yang terikat antara dirimu dengan Pek gi ?"
Manusia berkerudung itu tertawa dingin.
"Heeeh.,.heeeeh, seandainya tiada dendam, mengapa pula lohu harus membantai segenap isi keluarganya ?"
"Tapi bocah ini...."
Seru Yan Tan-hong sambil menuding Pauji. Dengan suara dalam manusia berkerudung itu segera menukas.
"Bocah itupun merupakan anak dari Sun Pek gi, tentu saja lohu harus membunuhnya!"
"Anjing laknat."
Sumpah Yan Tan-hong. Belum lagi ucapan itu selesai di ucapkan, manusia berkerudung itu kembali menukas.
"Tutup mulutmu ! Sekali lagi lohu terangkan Aku bukanlah seorang manusia yang suka membunuh, akan tetapi anak haram dari Sun Pek-gi ini tak bisa dibiarkan hidup, sedangkan kalian berduaaa..."
Sengaja ia menarik kata yang terakhir itu sampai panjang sekali, kemudian setelah terhenti sejenak, dia baru melanjutkan.
"Lohupun bersedia memberi kesempatan hidup untuk kalian berdua, asal bocah itu mau diserahkan kepadaku kemudian pergi mengikuti lohu, maka lohu jamin sejak kini..."
"Anjing laknat, kau jangan bermimpi di siang hari bolong"
Bentak Yan Tan hong dengan kalap.
"aku..."
"Hong-ji, tutup mulutmu!"
Bentak Yan Sian po sambil melotot sekejap ke arah putrinya dengan gusar.
"segala sesuatunya aku yang akan menyelesaikannya bagimu!"
Setelah berhenti sejenak, Yan Sian-po lantas berpaling kembali ke arah manusia berkerudung itu, kemudian ujarnya.
"Kaupun tak usah banyak berbicara lagi, karena aku sudah memahami maksud hatimu sekarang aku masih mempunyai beberapa persoalan yang ingin kutanyakan lebih dulu, apakah kau bersedia untuk menjelaskannya dengan terang ?".
"Boleh saja"
Sahut manusia berkerudung itu sambil tertawa.
"persoalan apa saja yang hendak kau ajukan dan perduli kalian ibu dan anak mau menyerah atau membangkang, asal lohu mengerti serta memahami masalahnya pasti akan ku jawab secara jelas!"
"Dalam beberapa patah kata pembicaraan yang berlangsung dengan Sun Pek gi tadi, aku dapat menarik kesimpulan bahwasanya ia sama sekali tidak mengirim undangan ke bukit Han san, apakah..."
Sambil tertawa seram manusia berkerudung itu segera menukas .
"Nenek Yan, jalan pikiran mu terlalu seksama juga, betul ! Sun Pek-gi memang tidak mengirim undangan untuk kalian, lohu lah yang telah mengirimkan sepucuk undangan buat kalian !"
Yan Sian-po segera tertawa dingin.
"Kalau begitu, segala gerak gerik Sun Pek gi telah kau pahami dengan amat jelas ?"
Serunya. Kembali manusia berkerudung itu mengangguk.
"Benar, seorang kepercayaan lohu telah ku selundupkan ke dalam keluarga itu sebagai mata-mata !"
"Aku ingin tahu siapakah nama orang itu?"
Manusia berkerudung itu berpikir sebentar, kemudian sahutnya ."Orang itu she Kwan bernama Kwa Cun seng !"
"Sungguhkah perkataanmu itu ?"
Seru Yan Sian po dengan sepasang-mata melotot besar.
"Kau toh tidak kenal dengannya, apa beda nya perkataanku yang jujur dengan bohong bagimu ?"
"Nama orang itu begitu dikenal, karena itu mau tak mau aku musti curiga atas kebenarannya."
Sebaliknya Yan Tan hong merasa nama Kwan Cun seng tersebut agaknya tidak terlalu asing, karena itu dengan kening berkerut ia lantas termenung beberapa saat lamanya. Mendadak dia berseru.
"lbu, dalam dunia persilatan agaknya terdapat seorang manusia yang bernama demikian!"
Yan sian po sengaja mengiakan, dia lantas berpaling seakan akan mau bertanya, padahal menggunakan kesempatan itu bisiknya dengan ilmu menyampaikan suara.
"Kau harus ingat baik baik nama orang, siapa tahu akan sangat berguna dikemudian hari. Begitu selesai berpesan, dia lantas berpaling lagi kearah manusia berkerundung itu sambil bertanya.
"Apakah aku boleh mengajukan pertanyaan lagi ?"
Manusia berkerudung itu tidak menjawab , dia manggut-manggut berulang kali. Yan sian po memandang sekejap kearah dua orang manusia dibelakang manusia berkerundung itu, kemudian katanya.
"Kelihatannya selain kedua orang pembantumu itu. Kau masih mempunyai pembantu lainnya?"
Manusia berkerundung itu segera mendengus, tukasnya.
"Didalam melaksanakan setiap rencana, aku selalu bergerak sesudah rencana itu matang, sekalipun ditempat ini hanya ada lohu dan dua orang anak buahku yang menyaru sebagai kalian ibu dan anak, itupun sudah lebih dari cukup, aku tak perlu mempersiapkan yang lain lagi!"
Tertawalah Yan sian po sesudah mendengar perkataan itu katanya.
"Ucapanmu sih memang enak kedengarannya, tapi, dengan mengandalkan kemampuan dari kedua orang anak buahmu itu, apakah mereka sanggup menandingi kehebatanku ?"
"Tentu saja mereka bukan tandinganmu"
Sahut orang berkerudung itu.
"tapi untuk menangkan putrimu, aku rasa seorang pembantuku saja sudah mampu untuk menghadapi kalian, sedang yang seorang lagi bisa melakukan pembantaian terhadap si anak jadah tersebut!"
Mendadak Yan sian po seperti teringat akan sesuatu, tiba tiba katanya lagi.
"Rupanya kau memang seorang musuh yang sangat lihay, bolehkah aku berunding dahulu dengan putriku?"
Ternyata sikap si orang berkerundung itu cukup supel, segera jawabnya dengan cepat.
"Silahkan, lohu selalu menantikan jawaban kalian !"
Yan sian po segera berpaling kearah putri nya, lalu katanya.
"Hong ji, malam ini tipis sekali harapan kita bertiga untuk lolos dari tempat ini, menurut pendapatku, toh Sun Pek gi sudah mati dan kita berdua telah dituduh sebagai pembunuhnya, noda ini sekalipun mencebur di dalam sungai Huang ho juga tak usah menjual nyawa demi si bocah itu lagi. Belum habis kata kata tersebut diucapkan, Yan Tan Hong telah menukas dengan perasaan terperanjat.
"lbu, mengapa kau berkata begitu..."
Sementara Yan Tan hong sedang berteriak dengan perasaan kaget, menggunakan kesempatan itu Yan sian po berkata lagi dengan ilmu menyampaikan suara.
"Hong ji, bila ibu secara tiba tiba membentak gusar nanti, kau harus segera bertindak menurut keadaan, saat itu boponglah Pau ji dan kaburlah dari sini secepat-cepatnya, tak usah kau perdulikan ibu lagi, ingat baik baik pesanku ini !"
Selesai mengucapkan perkataan itu, tidak memperdulikan bagaimanakah tanggapan dari Yan Tan hong, dengan suara berat dan dalam ia segera berseru lantang.
"Aku rasa tindakan ini merupakan suatu tindakan yang paling tepat, serahkan bocah itu kepadaku !"
Sembari berkata dia lantas maju kedepan dan merampas Bau ji dari tangan Yan Tan hong.
Sesudah mendengar bisikan dari ibunya lewat ilmu menyampaikan suara, seketika itu juga Yan Tan hong merasa hatinya menjadi sangat tegang, ketika Bau-ji terampas, serta merta dia maju untuk merampas kembali, dalam keadaan seperti ini, tindakannya itu sedikitpun tidak kaku atau seperti lagi berpura-pura.
Begitulah dengan agak tegang bercampur cemas gadis itu berusaha untuk merampas kembali anaknya.
Tapi Yan sian po segera mendorong putrinya kebelakang, kemudian sambil menyeret Bau ji, serunya kepada lelaki berkerundung itu.
"Nih, kuserahkan bocah ini kepadamu !"
Lelaki berkerudung hitam itu mengiakan, dia lantas menggape ke arah perempuan yang menyaru sebagai Yan sian po dibelakangnya itu seraya berseru.
"Ji nio, sambutlah bocah keparat itu dan bawa pergi lebih dulu dari sini !"
Ji nio yang menyaru sebagai Yan sian po segera mengiakan dan melompat maju kedepan. Pada saat ituIah, mendadak Yan Sian po menuding kearah Ji nio dengan tongkatnya seraya membentak.
"Tunggu sebentar... lihat serangan!"
Berbareng dengan ucapan "Tunggu sebentar"
Hal mana membuat Ji nio menjadi tertegun.
Sementara ia masih tertegun, jarum Han-seng ciam yang berada di dalam tongkat bambu itu segera menyembur keluar, segumpal cahaya hitam yang menyilaukan mata seketika itu juga menyelimuti daerah seluas satu kaki lebih, dalam keadaan demikian mana mungkin buat Ji nio untuk meloloskan diri?
Menanti lelaki berkerudung itu mengetahui kalau terjebak dan bersiap-siap memberikan bantuan, keadan sudah terlambat, diiringi lolongan kesakitan yang memilukan hati Ji nio, perempuan itu roboh terkapar ke tanah, lalu setelah berkelejit beberapa kali, tewaslah orang itu dalam keadaan mengenaskan Menggunakan kesempatan itu, Yan sian po segera mengibaskan tangan kirinya, dan tubuh Bauji segera mencelat ke udara dan meluncur kearah belakang tubuhnya, dengan tepat sekali telah di terima oleh Yan Tan hong.
Begitu menerima tubuh Pau ji, Yan tan hong segera membalikkan tubuhnya dan kabur menuju kearah sebelah kanan.
Orang berkerudung hitam itu menjadi naik pitam, bentaknya dengan penuh kegusaran.
"Nenek Yan, adalah kau sendiri yang ingin cari mampus, jangan salahkan kalau lohu akan bertindak keji kepada kalian!"
Yan sian po mendengus dingin.
"Hmm! Jika kau punya kemampuan, tunjukkan dahulu wajah aslimu biar aku tahu macam apakah tampangmu itu!"
Orang berkerudung itu menggigit bibirnya menahan rasa mangkel dan mendongkol yang berkecamuk didalam benaknya, dia lantas berpaling kearah perempuan yang menyaru sebagai Yan tan hong itu, kemudian serunya lantang.
"Su nio, kau susul perempuan rendah itu dengan anak jadahnya, bunuh mereka tanpa ampun, cepat!"
Setelah memberi perintah, orang berkerudung itu segera menyelinap maju ke depan dan menerjang kearah Yan sian poo, sementara Su nio menggerakkan badannya mengejar kearah Yan Tan hong, bahkan pedang mestika yang semula masih tersoren kini telah lepas.
Mendadak Yan sian po menggerakkan tubuhnya menghadang didepan Su nio tongkat bambunya diayunkan kearah dan Su nio seraya memandangnya dengan pancaran sinar mara berapi-api, serunya dengan suara yang berat.
"Jika kaupun ingin mampus, silahkan untuk maju ke depan !"
Orang berkerundung hitam itu mendengus marah, tubuhnya segera meluncur kembali ke depan dan mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah nukulan dahsyat.
Yan sian po juga mendengus, sekuat tenaga dia sambut datangnya ancaman tersebut.
"Blaamm...!"
Ketika kedua gulung angin pukulan itu bertemu menjadi satu dan menimbulkan ledakan keras, tubuh Yan sian po segera tergetar mundur sejauh lima langkah, sebaliknya orang berkerundung hitam itu hanya mundur sejauh tiga langkah.
Diam-diam Yan sian po merasa terperanjat sekali, sekarang dia baru sadar bahwa tenaga dalam yang dimiliki manusia berkerundung itu benar-benar jauh lebih sempurna daripada kemampuannya.
Sementara itu Su nio telah dipaksa untuk berputar sejauh tiga kaki lebih sebelum melakukan pengejaran.
Orang berkerundung itu selalu menghalangi niat Yan sian po untuk menghalangi pengejaran tersebut, ketika Yan Sian po masih sibuk menerjang keluar, perempuan tadi sudah pergi jauh sekali, dalam keadaan begini sekalipun dia berniat untuk menghalangi perbuatan orang itu juga percuma.
Sementara itu, Yan Tan-hong sudah melarikan diri kesisi kanan hutan yang lebat, untuk menyusul perempuan itu jelas sudah tak mungkin lagi, maka sedikit banyak Yan Sian-po pun merasa agak lega.
Dengan sorot mata yang tajam orang berkerudung itu memandang sekejap kearah Yan Sian-po, tiba-tiba teriaknya kepada Su-nio.
"Lepaskan Liu seng-lui (geledek bintang kejora), cegat jalan pergi perempuan rendah itu dari hutan !"
Mendengar ucapan tersebut, Su-nio segera mengiakan dan mengayunkan telapak tangannya berulang kali, empat lima batang peluru api yang memancarkan cahaya hijau segera meluncur ketengah hutan dan meledak, dalam waktu singkat hutan itu berubah menjadi lautan api.
Dengan terbakarnya hutan tersebut, maka tiada jalan lagi bagi Yan Tan hong untuk melarikan diri lagi, ketika dia berpaling ke belakang dan dilihatnya ilmu meringankan tubuh Sunio yang mengejar kearahnya itu lebih sempurna daripada dirinya, sadarlah dia jalan untuk melarikan diri sudah tertutup baginya.
Dengan cepat Yan Tan hong segera mengambil keputusan sambil menahan rasa sedih dihatinya, dia berkata pada Bau ji dengan wajah yang serius.
"Nak, kau harus melarikan diri sendiri, entah kemanapun kau akan pergi yang penting adalah kabur dari tempat ini, kini aku ada pesan beberapa kata, perhatikan baik baik."
"Pertama, jika berhasil lolos berusahalah mencari letak Kim lam hu, kemudian pergilah kekota Kilam dan carilah Yan Tin lam dari perusahaan ekspedisi Sam seng piaukiok sebab dia adalah pamanmu!"
"Kedua, setelah berjumpa dengan orang itu tunjukkan batu kemala yang tergantung diatas lehermu itu padanya, maka dia akan segera mengenali dirimu, kemudian ceritakan semua kisah kejadian ini pada dirinya."
"Ketiga kau adalah seorang she Sun, ini tidak bakal keliru, ayahmu dibunuh oleh orang berkerudung tadi, untuk menuntut balas dendam dan mencari tahu belakang dari kejadian ini, kau harus mencari orang yang bernama Kwa cun seng itu, sebab hanya dia yang mungkin tahu akan persoalan ini."
"lbu dan nenek jika masih hidup, paling banter setengah tahun lagi pasti akan menuju ke Ki lam untuk mencarimu, seandainya dalam setengah tahun ini kami tidak datang, itu berarti ibu dan nenek pun ikut menjadi korban keganasan orang berkerudung itu."
"Soal pembalasan dendam dikemudian hari tergantung kepada kemampuanmu seorang, kau harus baik baik berlatih ilmu, setelah dewasa nanti carilah guru yang pintar dan berlatihlah yang rajin, dan sekaraag cepatlah melarikan diri, cepat! Harus cepat."
Sambil berkata Yan Tan-hong segera me nurunkan putranya dari bopongan, airmatanya tak terbendung jatuh bercucuran bagai hujan deras, tapi akhirnya dia memperkeras hatinya dan menurunkan Pau ji dari dukungan.
Dari sakunya dia mengambil seluruh uang yang dimilikinya dan dimasukkan ke dalam saku Pau-ji, katanya lagi.
"Bila kau adalah anak sayang mama, cepat lah kau lari dari sini, makin jauh larimu makin baik !"
Jangan dilihat Pau-ji baru berusia tujuh tahun, ternyata ia cukup mengetahui akan keadaan yang sedang dihadapinya, dia tidak menangis, hanya ujarnya kepada YanTan hong.
"lbu, aku pasti akan menantikan kedatangan mama dan nenek di Ki lam, mama tak usah kuatir !"
Yan Tan hong mengiakan, baru saja akan meninggalkan beberapa pesan lagi, terdengar suara langkah kaki Su nio sudah dekat, maka Yan Tan-hong segera mendorong Pau-ji agar kabur dari situ, sementara dia sendiri segera membalikkan badannya untuk rnenyongsong kedatangan Su Nio.
Pau-ji telah kabur, seorang diri kabur ke sana kemari tanpa tujuan yang menentu.
-ooo0dw0oooKETIKA mendengar sampai disitu, Sun Tiong lo memandang sekejap kearah Pau ji, lalu tanyanya.
"Jadi kau benar benar telah berhasil melarikan diri dari cengkeraman jahat mereka ?"
Pauji memandang sekejap kearah Sun Tiong lo, lalu sahutnya.
"Andai kata tidak berhasil lolos dari cengkeraman mereka, mana mungkin aku bisa menjumpai dirimu lagi pada malam ini ?"
Sun Tiong lo segera mengerutkan dahinya rapat-rapat, sesudah termenung sebentar katanya.
"Kemudian, apakah kau pergi ke Ki-lam?"
"Tidak !"
Bau-ji menggeleng.
"aku tak pernah berkunjung ke kota tersebut...."
"Lantas darimana kau tahu kalau ibu dan nenekmu telah mati terbunuh ditangan manusia berkerudung itu ?"
Tukas Sun Tiong lo lebih lanjut. Bau-ji mendesah sedih, katanya.
"Seandainya kau tidak menukas, tentunya aku sudah menceritakan kesemuanya itu dengan jelas."
Sun Tiong lo menundukkan kepalanya rendah-rendah.
"BaikIah! lanjutkan kisahmu itu!". Baru saja Bau ji hendak melanjutkan ceritanya, mendadak Sun Tiong lo menggoyangkan tangannya sambil berbisik.
"Ssstt! Ada orang bersembunyi di luar loteng sedang menyadap pembicaraan kita...."
Padahal bisikan dari Svn Tiong lo itu cukup lirih, kenyataannya orang yang bersembunyi di luar itu masih bisa mendengar juga, belum selesai Sun Tiong lo mengucapkan kata kata nya, dia telah menukas.
"Oooooh! Rupanya kalian adalah saudara seayah lain ibu, kuucapkan selamat pada kalian karena bisa bersua kembali ditempat ini"
Bau ji segera melompat bangun dan siap membentak marah, tapi Sun Tiong lo telah berkata lebih dulu sambil tertawa.
"Nona, nengapa tidak masuk kedalam untuk berbincang bincang sambil duduk?"
Bau-ji pun sudah mendengar pula kalau suara pembicaraan orang yang berada ditempat kegelapan itu adalah suara seorang nona, tapi siapakah nona itu?
Meski demikian ia merasa tidak puas dengan nona itu.
Baru saja dia akan membuka suara, nona yang bersembunyi ditempat kegelapan menyahut "sekarang hari sudah amat malam, kurang leluasa untuk masuk kedalam kamar lelaki, apalagi kau juga belun tentu menyambut kedatanganku dengan bersungguh hati, ada persoalan lain, lebih baik kita bicarakan besok pagi saja!"
"Nona, sudah berapa Iama kau menyembunyikan diri ditempat kegelapan sana ?"
Pau-ji segera menegur. Bukan menjawab nona itu malahan balik bertanya.
"Untuk apa kau menanyakan soal itu?"
"Kami dua bersaudara apakah bakal saling mengakui masih merupakan suatu tanda tanya besar, karena itu setiap patah kata yang kami bicarakan pada malam ini tak boleh diketahui oleh siapapun juga, apa lagi orang luar ."
Nona itu segera mendengus dingin, tanyanya.
"Hmm ! sekarang aku sudah tahu, mau apa kau ?"
"ltulah sebabnya aku ingin sekali berjumpa dengan nona !"
Kata Pau-ji dengan kening berkerut. Nona itu segera tertawa lebar.
"Saudaramu itu pernah berjumpa denganku, bila kau ada kecurigaan silahkan..."
Tapi sebelum nona itu menyelesaikan kata-katanya, Pau-ji telah menukas lagi dengan marah.
"Nona! sebetulnya kau bersedia untuk masuk sendiri ataukah harus menunggu sampai-aku yang mempersilahkan kau untuk masuk kedalam ruangan ini?"
Kembali nona itu mendengus dingin.
"Hmmm ! besar bacotmu, kalau memang mampu, silahkan saja keluar sendiri dan coba lah untuk mengundangku masuk kedalam Bau-ji tertawa dingin, lalu dengan langkah lebar berjalan menuju kepintu ruangan. Tapi Sun Tiong lo segera turun tangan menghalanginya, ia memberi tanda lebih dulu kepada Pau ji dengan kerlingan mata, setelah itu baru katanya.
"Bagaimana kalau urusan ini serahkan saja padaku untuk menyelesaikannya?"
Tidak menunggu jawaban dari Pau ji, sam bil tersenyum dia lantas berkata lagi.
"Dia tidak tahu kalau nona adalah putri kesayangan dari Sancu bukit ini, bila ada kesalahan harap nona jangan marah padanya!"
Nona itu segera tertawa cekikikan.
"Lucu amat kau ini! setelah urusannya diserahkan kepadamu, apakah kau menganggap persoalan ini bisa kau selesaikan dengan begitu saja? Betul ia tak tahu siapakah aku, sekalipun tahu juga aku tak bakal aku tak bakal menyalahkan dirimu."
"Hmm......! Atas dasar apa kau harus membantu dirimu?"
Sun Tiong lo tetap tersenyum, sahutnya.
"Berhubung tanpa disengaja nona telah mendengar rahasiaku dengan rahasianya, maka nona mempunyai suatu kewajiban untuk membantu diri kami berdua !"
Nona itu tampak termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia baru berkata lagi.
"Mengingat kau pandai sekali berbicara, ku luluskan permintaan itu, bantuan apa yang harus saya berikan ?"
Semua rahasia yang berhasil nona dengar pada malam ini sebelum mendapat persetujuanku dan persetujuannya, dilarang untuk disampaikan kepada pihak keempat, dan janji ini harus kau tepati untuk selamanya !"
Mendengar perkataan itu, nona tersebut segera tertawa cekikikan.
"Baik, kululuskan juga permintaanmu itu, cuma akupun punya syaratnya juga !"
Belum sempat Sun Tioag lo berbicara, dengan suara berat dan dalam Bau ji membentak.
"Sekalipun kau adalah putri kesayangan dari Sancu tempat ini, seharusnya kaupun harus tahu bahwa mencuri dengar pembicaraan orang, mengatai orang dibelakang yang bersangkutan adalah suatu perbuatan yang benar benar tidak tahu sopan."
"Mencuri dengar saja sudah tidak benar, menyimpan rahasia apa yang didengar sudah semestinya menjadi kewajibanmu, sekarang kau masih punya muka untuk mengajukan syarat, aku ingin bertanya kepadamu..."
"Aku pun bisa memberitahukan kepadamu", bentak nona itu pula.
"sebelum berbicara kamu mesti berpikir dulu dengan sejelasnya, bukit ini adalah bukit kami, nonamu suka berada dimana, hal itu adalah hak ku, apa lagi loteng impian ini adalah tempat kediamanku yang sebenarnya.
"Bila kau mempunyai rahasia yang tak bisa diberitahukan pada orang lain, maka kau harus melihat jelas lebih dahulu tempatnya sebelum dikatakan mengapa musti lari ketempat orang lain baru menceritakan rahasia itu?"
"Dengan dasar sikapmu yang kurang sopan serta ucapanmu yang ngaco seenaknya, pada hakekatnya kau tidak pantas tinggal bersama Sun kong cu di atas loteng impian ini, besok akan kusuruh orang untuk memindahkan dirimu ketempat lain!"
Makin mendengar ucapan itu, Bauji tambah dongkol, baru saja dia akan bersuara, tiba tiba Sun Tiong lo telah berbisik dengan ilmu menyampaikan suara.
Toako, jika urusan kecil tak bisa di tahan, urusan besar terbengkalai aku tidak tahu mau apa kau mendatangi bukit ini, tapi kau harus tahu bahwa kedatangan siaute ini mengandung maksud maksud tertentu yang tak boleh sampai gagal, dapatkah toako mengurangi sedikit kata katamu?"
Ketika mendengar Sun tiong lo menyebut dirinya sebagai toako, Bauji merasa terkejut girang bercampur sedih, terhadap permintaan dari Sun Tionglo pun tak tega untuk menampik maka ia lantas manggut-manggut.
Diam-diam Sun Tiong lo menghela nafas panjang, kemudian serunya kepada nana yang berada diluar loteng.
"Nona, apa saja syarat-syaratmu?"
Tampaknya nona itu masih tetap merasakan gusar dan dongkol terhadap Bauji, serunya.
"Aku sedia meluluskan permintaanmu dan pasti akan kulakukan tapi aku tidak meluluskan permintaannya..."
Sambil tertawa Sun Tiong lo menukas.
"Kalau begitu jawaban dari nona, maka nonalah yang nakal, urusanku dengan urusannya toh berkaitan antara yang satu dengan lainnya, bila nona berkata demikian bukankah hal ini sengaja hendak mempersulit diriku?"
Mendengar kata-kata tersebut, nona itu segera tertawa lebar, tiba tiba ia balik bertanya.
"Kalau dilihat dari sikapmu ketika aku datang untuk pertama kalinya tadi, bukankah kau juga hendak mempersulit aku ?"
Terhadap ruangan yang tidak nampak bayangan manusianya itu, Sun Tiong lo segera menjura, katanya.
"Bagaimana kalau aku yang muda maaf ?"
"Baiklah !"
Nona itu segera tertawa,"memandang diatas wajahmu, kusudahi persoalannya itu sampai dismi cuma..."
"Terima kasih banyak atas kesediaan nona untuk menyimpan rahasia kami."
Tukas Sun Tiong lo dengan cepat.
"cepat atau lambat budi kebaikan itu pasti akan mendapat balasan. Kembali nona itu tertawa cekikikan.
"Lebih baik janganlah bermain sandiwara semacam itu, aku toh menyampaikan syarat-syarat yang harus kau penuhi untuk minta kepada ku agar menyimpan rahasia tersebut!"
"Yang kumaksudkan sebagai kebaikan yang pasti mendapat balasan juga tidak meliputi syarat yang kau ajukan, pokoknya nona harus mengerti, entah apapun syaratmu itu,mau tak mau terpaksa aku harus meluluskannya juga!"
"Beghu pentingkah rahasia kalian itu?"
Sun Tiong lo manggut-manggut.
"Yaaa, sedemikian pentingnya sehingga salah-sedikit saja, bisa jadi akan menebakkan kematian kami tanpa liang kubur !"
"Nona itu menjadi serius juga setelah mendengar perkataan itu, katanya kemudian.
"Kalau begitu akupun tak akan mengajukan pertanyaan apa apa, selain itu aku pun pasti akan menutup rahasia kalian itu rapat rapat."
"Nona, ksu boleh mengajukan syarat apapun biIa kamu bersedia menyimpan rahasia kami baik-baik, selama hidup aku tak akan melupakannya kembali..."
Nona itu segera tertawa.
"Syaratnya sederhana sekali, yaitu..."
Mendadak dia berhenti sebentar kemudian bisiknya lirih.
"Chin hui-hou datang melakukan pengontrolan, ada persoalan kita bicarakan besok saja, beri tahu pada engkoh yang ke tolol tololan itu, selanjutnya bila ingin membicarakan soal rahasia musti lebih berhati hati, jangan lupa kalau dinding kamarpun bertelinga, nah aku pergi dulu."
Seusai berkata suasana menjadi hening.
Sun tiong lo dan Pauji juga dengan cepat naik keatas pembaringan untuk tidur, dengan jelas mereka mendengarkan suara Chin hui-hou yang melakukan pemeriksaan sekejap di sekeliling loteng impian, kemudian dengan suatu gerakan yang ringan iapun berlalu dari sana.
-ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng *** BAB KE ENAM HARI INI ADALAH HARI PERTAMA Sun Tiong lo bersaudara menjadi tamu agung dari bukit pemakan manusia.
Tengah hari itu, hidangan yang lezat telah disiapkan diatas loteng impian, bahkan dihantar sendiri oleh Chin hui hou dan Kim poo cu.
Setelah sayur dan arak dihidangkan dengan senyum dibuat-buat Chin hui ho berkata.
"Apakah kalian berdua masih ada pesan?"
Pau-ji mendengus dan segera melengos ke-tempat lain pura-pura tak mendengar. Sebaliknya dengan agak supel Sun tiong lo berkata.
"Cong koan apakah kau tak makan sedikit?"
Chin hui hou tertawa seram dan lalu gelengkan kepalanya berulang kali.
"Lohu sudah bersantap!"
"Ooooh! jika begitu bagaimana kalau merepotkan Cong koan untuk mengundang Beng seng si tua itu sebentar?"
Chin hui hou segera berkerut kening, dan katanya.
"Kong-cu bila kau ada urusan katakan saja, lohupun sama saja dapat melakukannya."
Sun Tiong lo segera menggelengkan kepala nya berulang kali.
"Kurang leluasa, kurang leluasa!"
Katanya.
"ketika semalam aku menyuruh congkoan melayani aku minum arak, kemudian konon Cong koan harus menerima hukuman dan siksaan akibat dari kejadian itu, kejadian tersebut membuat aku tak bisa tidur semalam suntuk, karena itu aku tak berani merepotkan dirimu lagi sekarang..."
Mendengar perkataan itu, paras muka Chia Hui hou segera berubah menjadi merah padam kaya kepiting rebus, serunya dengan cepat.
"Darimana kongcu mendengar tentang persoalan ini ?"
Sun Tiong lo memandang sekejap ke arah Kim Pocu, lalu jawabnya.
"Sobat Kim yang menceritakan kepadaku."
Dengan sorot mata yang amat gusar Chin Hui hou melotot sekejap ke arah Kim Po cu, kemudian bentaknya.
"Mau apa kau masih berdiri saja disitu? Pulang!"
KimPocu menunddukkan kepalanya rendah-rendah, lalu dengan langkah lebar segera berlalu dari situ. Tapi baru saja orang itu keluar dari pintu ruangan, Sun Tiong lo telah berkata kembali.
"Chin congkoan, sahabat Kim tanpa sengaja mengucapkan kata kata itu, tidak seharusnya mengatakannya langsung kepada congkoan, sekarang sobat Kim..."
Sambil tertawa Chin Hui hou segera menukas.
"Tak usah kuatir kongcu, dia cuma seorang pesuruh, tak akan berani dia bersikap apa apa kepada kongcu!"
Sun Tiong lo segera menggelengkan kepalanya seraya berkata.
"Congkoan keliru, aku dapat melihat kalau congkoan senang marah kepada sobat Kim, karena kuatir congkoan akan menghukum sobat Kim setelah ini maka sengaja kumintakan ampun baginya !"
Chin Hui hou segera mendengus dingin.
"Hmmm ! peraturan tempat ini harus ditegakkan sebagaimana mestinya dan melarang dan melarang siapa saja untuk melanggarnya, kalau memang dia memiliki keberanian untuk berkata demikian kepada kongcu, tentu saja ia punya kepandaian juga untuk menerima hukum sebagaimana yang diterapkan dalam peraturan bukit kami!"
Paras muka Sun Tiong lo segera berubah lalu serunya.
"Chin cong koan"
Seandainya sahaoat Kim sampai menerima siksaan sedikitpun jua, aku akan menyangkal kalau kau telah berkata demikian kepada Congkoan, kalau tak berdaya silahkan kita buktikan bersama sampai waktunya nanti!"
Paras muka Chin cong koan berubah hebat sekali, bentaknya.
"Orang she Sun, jangan lupa, terhitung hari ini kau cuma ada kesempatan hidup lima hari"
"Paling tidak, lima dan setengah"
Tukas Tiong lo.
"Jangan lupa, ketika aku sedang melarikan diri, setengah hari kemudian kau baru berhak untuk melakukan pengejaran!"
Saking gusarnya Chin cong koan sampai tak sanggup berkata apa apa lagi, sambil mengebaskan ujung bahunya dia lantas berlalu dari situ, sepeninggal Chin cong koan, dengan cepat Sun Tiong lo membuka seluruh daun jendela dan pintu yang berada diatas loteng impian.
Bau-ji berkerut kening setelah menyaksikan kejadian itu, dengan perasaan tidak habis mengerti serunya.
"Jite, kau kegerahan?"
Sambil tertawa Sun Tiong-lo menggeleng.
"Siaute tidak kegerahan, aku berbuat demikian karena ada urusan penting yang hendak dibicarakan dengan toako..."
Bau-ji masih juga tidak mengerti, dia lantas bertanya.
"Kalau memang begitu, tidak sepantasnya kalau, kau buka semua pintu dan daun jendela!"
Sun Tiong-lo segera merendahkan suaranya, ia berbisik.
I'Kejadian semalam adalah suatu pelajaran yang baik sekali buat kita, ucapan si nona sebelum pergi yang mengatakan bahwa "di atas dinding ada telinga"
Memang tepat sekali, bila kita membuka semua jendela dan pintu, coba kita lihat saja siapa yang bisa terlepas dari pengawasan kita berdua!"
Setelah mendengar keterangan itu, Bau-ji mengerti, dia segera tertawa jengah.
"Saudara, kau memang cerdik !"
Pujinya. Sun Tiong lo tertawa, sambil menuding hidangan dimeja, dia berkata lagi.
"Toako, mari kita sembari bersantap sembari berbincang !"
Bau ji manggut-manggut, maka dua bersaudara itupun duduk saling berhadapan muka. Pertama-tama Sun Tiong lo yang buka suara lebih dulu, katanya.
"Toako, pembicaraan kita semalam belum lagi selesai telah diputuskan oleh nona itu."
Bau ji manggut-manggut, selanya.
"Sun-te, sebelum kulanjutkan kisah ceritaku tentang pengalaman dimasa lampau, terlebih dulu ingin kutanyakan satu hal kepadamu, apakah jite masih menaruh curiga terhadap asal usul dari toakomu ini?"
Sun Tiong lo segera menggeleng.
"Toako, tempo dulu siaute sendiripun banyak sekali mengalami penderitaan dan siksaan, andaikata paman Lu Cu peng itu tidak mempertaruhkan jiwa raganya untuk menolongku, sedari dulu aku sudah tewas di tangan musuh kita."
"Menurut paman Lu, sebelum ayah ia pernah mengucapkan beberapa patah kata, diantaranya ada sepatah kata yang menyangkut tentang diri toako. ayah bilang kemungkinan besar kau adalah anaknya."
Dari perkataan itu, tanpa terasa Bau ji teringat kembali kejadian dimasa lalu, sambil menggertak gigi menahan gejolak emosi didalam hatinya, ia berkata.
"Jite, bukannya aku berani mengeritik atau mengata-ngatai ayah, kalau memang ayah berpesan demikian kepada orang lain, ketika ibu dan nenekku menjumpainya, mengapa ia bersikeras menyangkal akan kejadian tersebut ?"
Sun Tiong lo segera menghela nafas panjang.
"Aaai... toako, akupun bertanya begitu kepada paman Lu, kata paman Lu, waktu itu dia juga bertanya demikian kepada ayah."
"Lantas apa kata ayah"
Tukas Bau ji dengan gelisah. Sun Tiong lo menundukkan kepalanya rendah2.
"Kata paman Lu, ayah sendiripun baru memahami tentang persoalan ini setelah bibi Yan menusuk tubuhnya tapi bibi menjerit kepada ibunya bahwa dia tidak membunuhnya."
"Paman Lu berkata lagi, bukan saja ayah memahami kalau toako kemungkinan besar adalah anaknya. malah ayah sudah tahu siapakah itu Lok hun-pay tersebut."
Pau ji menjadi tertegun setelah mendengar ucapan itu selanya.
"Kenapa bisa muncul lagi sebuah lencana Lok hun pay tersebut?"
Suara Sun Tiong lo beruban agak emosi dan katanya.
"Kalau dibicarakan sesungguhnya amatlah panjang, tetapi ringkasnya saja,. Lok hun pay adalah melambangkan tanda pengenal dari seseorang di dalam dunia persilatan, barang siapa menerima lencana ini maka seluruh keluarganya akan mati terbunuh oleh pemiliknya lencana tersebut!"
"Ketika ayah telah menyebar surat undangan dan mengundang para sobat untuk mercsmikan gedung barunya pada bulan delapan tanggal lima belas, ayahpun menerima kiriman sebuah lencana Lok hun pay, pada lencana tersebut diterangkan bahwa ayah sekeluarga akan dibantai paca bulan delapan tanggal lima belas pada kentongan ketiga tengah malam"
"Siapakah Lok hun pay itu?"
Tanpa terasa Bau ji kembali menukas, Sun Tiong lo menghela nafas panjang.
"Aaaai! siapakah orang itu, hingga kini belum ada yang tahu, cuma toako. kita harus mencarinya sampai ketemu, sebab dialah yang telah membunuh keluarga kita berdua !"
Seakan akan menyadari akan sesuatu, Bau ji lantas berseru.
"Jite, orang berkerundung hitam yang kujumpai bersama ibu dan nenek pada malam itu, mungkinkah merupakan Lok hun pay tersebut ? Dia telah mengaku bahwa ayah dan..."
"Yaa, kemungkinan besar memang orang itu"
Tukas Sun Tiong lo dengan cepat. Setelab berhenti sejenak, dia melanjutkan.
"Setelah menerima lencana itu, sesungguhnya ayah telah membuat persiapan, kemudian bentrokan yang terjadi antara nenek toako dan bibi Yan menyebabkan ayah salah menduga bahwa merekalah Lok Hun pay."
"Yaa, aku sekarang memahami sudah...."
Seru Bau ji sambil mendepakkan kakinya.
Tapi belum selesai dia berkata, mendadak Sun Tiong Lo menggoyangkan tangannya mencegah ia berkata lebih jauh.
Menyusul kemudian dari arah tangga loteng muncul seorang nona yang cantik, binal tapi berterus terang, setibanya diatas loteng, nona itu memandang sekejap kearah pintu dan jendela yang terbuka lebar-lebar itu, keinudian serunya lagi.
"Tidak kusangka kalian berdua adalah seorang yang mengerti tentang seni!"
Bau ji tidak memahami arti sesungguhnya dari ucapan itu, dahinya segera berkerut. Sun Tiong lo telah beranjak sambil tertawa, sapanya.
"Selamat Pagi !"
"Pagi."
Nona itu berkerut kening, lalu tersenyum.
"Sekarang sudah jam berapa? Masa masih pagi?!"
Sun Tiong lo sengaja melihat cuaca sejenak kemudian berkata.
"Seharusnya sih masih pagi, kan belum..."
"Yaaa, betul ! Kan belum sampai tengah malam?!"
Sambung si nona sambil mendengus. Sun Tiong lo tertawa.
"Nona pandai bergurau, silahkan duduk."
Nona itu memandang sekejap kearah Sun-Tiong lo dan Bau-ji, kemudian menarik sebuah kursi dan duduk.
"Nona, silahkan bersantap!"
Kata Sun Tiong lo sambil menunjuk kearah sayur dan arak. Nona itu menggeleng.
"lni toh bagian dari kalian berdua, aku sudah bersantap."
"Nona !"
Bau ji segera menegur dengan kening berkerut.
"ada urusan apa kau datang ke mari?"
"Kenapa? jika tidak ada urusan lantas tidak boleh kemari?"
"Aku tidak seperti saudaraku yang pandai berbicara, kami sedang bersantap, bila kau ada urusan silahkan disampaikan, bila tak ada urusan silahkan pulang!"
Nona itu tidak menjadi marah, sebaliknya malahan balik bertanya.
"Pulang? Kau suruh aku pulang ke mana?"
"Tentu saja pulang ke tempat tinggal nona!"
Nona itu segera tersenyum.
"Bagus sekali, tetapi apakah kamu tahu kalau loteng impian adalan tempat tinggalku?"
Bau-ji menjadi terbungkam dan tak mampu berkata apa apa lagi. Sun Tiong-lo segera tersenyum, katanya.
"Nona, harap kau bersedia memaafkan saudaraku itu, ketika berpisah semasa masih kecil dulu, sampai sekarang kita baru bisa bersua lagi, sedikit banyak tentu saja ada pula kata-kata diantara saudara yang hendak diutarakan...."
Belum habis dia berkata, nona itu sudah menukas.
"Ooo, apakah yang dimaksudkan sebagai kata-kata diantara saudara itu ?!"
Sambil menggigit bibir Bau ji segera berseru.
"Yang dimaksudkan dengan kata-kata diantara saudara adalah persoalan diantara kami berdua yang akan dikatakan kepada yang lain tanpa diketahui orang lain...."
Nona itu seakan-akan baru merasa mengerti akan maksudnya, sambil tertawa dia lantas berkata.
"Ooo... maaf kalau begitu, aku mengira kemarin semalam suntuk ditambah hari ini setengah harian sudah lebih dari cukup buat kalian untuk berbincang-bincang siapa tahu..."
"Nona, sekarang kau sudah tahu bukan kalau pembicaraan kami belum selesai? Nah silahkan!"
Tukas Bau ji tidak sabar. Siapa tahu nona itu masih juga menggeleng.
"Sekali lagi aku harus minta maaf kepadamu, lebih baik "kata-kata diantara saudara"mu itu disimpan saja sampai malam nanti baru dibicarakan lagi."
"Sekarang aku masih ada urusan yang lebih penting lagi hendak dibicarakan dengan kalian berdua, sebetulnya urusan ini bisa saja ditunda, cuma sayang akupun sedang repot dan cuma ada waktu sekarang ini saja."
Bauji segera mendengus.
"Hmm. Nona, kamu menganggap urusan itu penting, belum tentu kami bersaudara juga berpendapat demikian."
Bila perangai si nona itu sedang baik, pada hakekatnya dia lebih baik dari pada seorang Siau mitou, sekalipun Bauji menggunakan kata yang kurang sedap didengar untuk menjawab pertanyaannya, namun gadis itu masih tersenyum saja.
Di tengah senyuman itu, pelan-pelan dia beranjak seraya berkata.
"Apa yang kau ucapkan mungkin saja benar, anggap saja aku banyak urusan, baik, aku akan mohon diri lebih duIu, akan kulihat setelah kalian menyelesaikan "kata-kata diantara saudara"
Dapatkah dengan selamat meninggalkan bukit Pemakan manusia ini!"
Ditengah pembicaraan tersebut, dia sudah berjalan menuju keluar pintu. Dengan cepat Sun tiong lo menghadang di-depan pintu, lalu serunya sambil tertawa.
"Nona, bersediakah kau untuk duduk sebentar."
Nona itu mengerdipkan matanya, lalu.
"Sebenarnya aku mau duduk tapi engkohmu yang berwatak kurang baik itu terus menerus bermaksud mengusir tamu, aku tak akan mempunyai muka setebal itu untuk tetap disini!"
"Kalau nona memang sependapat lain, maka tindakanmu itu justru merupakan suatu penampikan atas maksuk baikku!"
Nona itu menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan perasaan yang tidak habis mengerti.
"Apa maksud perkataan mu itu?"
"Tolong tanya nona, sejak permulaan sampai akhir aku toh tidak pernah mengucapkan kata-kata yang bermaksud mengusir tamu?"
Nona itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Yaa, kau memang tidak berkata apa-apa."
Sun Tiong-lo segera tertawa, serunya lagi.
"ltulah dia, kalau cuma lantaran perkataan dari kakakku saja nona lantas mengambil keputusan untuk pergi dari sini, tolong tanya bagi diriku apakah tindakan tersebut bisa dibilang sopan dan cukup memberi muka ?"
Nona itu segera tersenyum.
"Anggap saja kau pandai berbicara !"
Setelah berhenti sebentar, sambil mengerling sekejap kearah Bau ji, katanya lagi.
"Kau suruh aku tinggal disini, tentu saja boleh, tapi kau musti menasehati dulu engkoh mu yang berwatak berangasan itu agar jangan mengucapkan kata-kata yang menusuk pendengaran." -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***
Jilid 5
"TENTU saja!"
Sahut Sun Tiong-lo sambil manggut-manggut.
"aku percaya engkohku pasti tak akan berkata apa-apa lagi"
"Oya ...?"
Nona itu berseru.
Dengan sorot matanya yang jeli dia memandang sekejap ke arah Bau-ji, kemudian duduk kembali di tempat semula.
Bau-ji agak mendongkol akan tetapi berhubung Sun Tiong lo telah berkata begitu, diapun tidak berkata apa-apa lagi, maka dengan mulut membungkam dia menyantap hidangannya.
Setelah nona itu duduk, Sun Tiong-lo kembali berkata.
"Tolong tanya nona, kau ada petunjuk lagi ?"
"Hei, dapatkah kau menukar panggilan itu dengan sebutan lain?"
Tegur si nona dengan kening berkerut. Sun Tiong lo berseru tertahan, dia lantas meninju kepala sendiri dan berseru.
"Yaa, aku memang tidak seharusnya bersikap begini, hingga sekarang ternyata aku belum sempat menanyakan nama dari nona, harap nona sudi memaafkan, kini..."
"Kini baru teringat untuk bertanya"
Sela si nona dingin..Dengan nada minta maaf Sun Tiong lo berkata.
"Jika aku telah membuat suatu keteledoran harap nona suka memaafkannya."
Kembali si nona itu mendengus.
"Hmm... cukup."
Tukas-nya.
"lebih baik kau tak usah menanyakan namaku lagi, panggil saja nona kepadaku."
"Aaah... ini mana boleh terjadi?"
Seru Sun Tiong lo sambil menggeleng.
"siapa tidak tahu dia tidak bersalah, nona..."
"Lebih baik kita agak sungkan juga!"
Kembali si nona menukas, Bau-ji yang berada disampingnya menjadi tak sabar, segera serunya dengan suara lantang.
"Belum pernah kujumpai nona seperti kamu ini, tadi masih menyuruh orang mengganti panggilan, sekarang ketika orang ingin mengetahui namamu, kau malah berubah pikiran lagi, terhitung apaan itu?"
"Lantas apa pula maksudmu berkata demikian?"
Bentak si nona dengan mata melotot. Baru saja Bau ji akan membuka suara, Sun Tiong lo segera mengerdipkan mata kearahnya sambil menukas.
"Maksudnya kau adalah si nona dari bukit Pemakan manusia !"
Setelah berhenti sejenak, tidak memberi kesempatan lagi kepada nona itu untuk buka suara, ia telah berkata lebih jauh.
"Kalau memang nona bersikeras demikian, tentu akupun tak bisa berkata apa-apa lagi, sekarang aku ingin bertanya kepada nona, ada tujuan apa tengah hari ini nona berkunjung ke loteng impian ini ?"
Sahut si nona dengan dingin.
"Untuk menunjukkan keadilan para tamu agung yang akan melarikan diri, bukit kami telah menyusunkan suatu persiapan bagi kalian, karena persiapan itulah aku datang kemari untuk membicarakannya denganmu."
"Oooh ... tolong nona bersedia memberi petunjuk!"
"Bukit kami mempunyai medan yang cukup ganas dan berbahaya, jalan gunungpun penuh dengan persimpangan yang berliku-liku, ada jeram Ihkian, ada pasir mengambang, ada air kematian adapula air beracun serta aneka tempat berbahaya lainnya.
"Oleh sebab itu, setiap tamu agung yang bersiap-siap hendak melarikan diri, selama masa masih menjadi tamu agung dia berhak untuk mendapatkan keterangan yang jelas tentang medan di dalam bukit kami ini, sehingga memberi setitik harapan untuk hidup bagi mereka !"
Saat itu, Bau-ji telah mendengar pula tentang seriusnya persoalan itu, ia lantas meletakkan kembali mangkuknya ke meja. Dengan sikap yang tenang Sun Tiong-lo kembali bertanya.
"Jadi nona khusus datang kemari untuk memberi petunjuk kepada kami berdua akan tempat di sekitar bukit ini?"
"Memangnya masih ada persoalan yang lain?!"
Sun Tiong-lo segera tertawa.
"Jangan marah dulu nona, aku bisa berkata demikian karena hatiku merasa amat berterima kasih sekali."
Baca Juga: Pecut Sakti Bajrakirana 8
Baca Juga: Bagus Sajiwo 3