Eps 9 Persekutuan Pedang Sakti - Qin Hong
Baca online Persekutuan Pedang Sakti - Qin Hong
Cersil Persekutuan Pedang Sakti - Qin Hong.
Tiba-tiba pasir dan batu memercik keempat penjuru, dari bawah batu raksasa itupun muncul sebuah lubang sebesar beberapa depa, beberapa makhluk berwarna abu-abu segera bermunculan keluar diiringi suara mencicit yang nyaring sekali.
Liu leng poo sangat terkejut, dengan perasasan terkesiap teriaknya keras keras.
"Tikus..tikus.."
Biarpun ilmu silat yang di milikinya sangat lihay, namun dia tetap merupakan seorang wanita, dan kaum wanita agaknya sejak di lahirkan memang sudah ditakdirkan takut dengan binatang kecil, sekalipun dia sudah mengetahui secara pasti kalau makhluk-makhluk kecil hanya serombongan tikus, namun saking ketakutannya perempuan itu sampai mundur kebelakang.
Tapi kalau dibicarakan sesungguhnya, kawanan tikus itu memang cukup menakutkan, setiap ekornya boleh dibilang gemuk dan besar seperti anak kucing, mereka datang berkelompok dari balik liang tanah pada batu raksasa hingga tembus ke liang batu raksasa kedua, paling tidak jumlahnya mencapai ratusan ekor lebih.
Dalam waktu singkat, seluruh lorong gua yang panjangnya beberapa kaki itu sudah di ramaikan oleh suara cicitan tikus.
Diantara rombongan yang berada di situ, kecuali Wi Tiong hong serta Cho Kiu moay yang kesadaran dan pikirannya terpengaruh, hanya kakek Ou serta Liu Leng poo yang memiliki kepandaian silat paling tinggi dan bisa memandang dari balik kegelapan.
Sebaliknya orang-orang yang lain tak mampu melihat apa-apa begitu obor menjadi padam secara tiba-tiba tadi.
So Siau hui dan Liong Hiang kun hanya sempat mendengar Liu Leng poo meneriakkan kata "tikus", disusul kemudian mereka dengar suara cicitan tikus yang memenuhi seluruh ruangan, berada dalam keadaan tak terlihat, seketika itu juga kedua orang gadis itu seakan-akan merasa ada tikus yang sedang merangkak di sisi tubuhnya.
Dengan perasaan kaget bercampur takut, tak kuasa lagi bulu kuduknya pada bangun berdiri, sambil berdesakan satu sama lainnya, hampir saja dia menjerit melengking.
Dengan cepat kakek Ou dapat melihat keadaam dari peristiwa itu, buru-buru dia berseru.
"Harap nona-nona sekalian jangan takut, rupanya kawanan tikus itu sedang menggalikan liang dibawah tanah untuk kita lewat. Kawanan tikus bisa menggalikan liang di bawah tanah untuk dilalui manusia semua orang tentu saja dibuat tercengang. Liu Leng poo menghembuskan napas panjang tiba-tiba saja dia merasakan suasana yang sesak sumpek hingga sukar untuk bernapas tadi lambat laun berkurang hingga akhirnya hilang lenyap tak berbekas, baru saja dia hendak berbicara.. Mendadak seseorang berkata dengan suara yang melengking dan lembut.
"Rupanya aku telah datang terlambat, sehingga membuat saudara sekalian merasa terkejut!"
Menyusul perkataan itu, dari balik liang bawah tanah tadi muncul seseorang. Kakek Ou segera berseru sambil tertawa tergelak.
"Ha., ha."ha...rupanya kau!"
So Siau hui yang secara tiba-tiba mendengar kalau ditempat itu telah muncul seseorang, dengan perasaan cemas ia bertanya.
"Empek Ou, darimana munculnya orang itu?"
Liu Leng poo yang berada disisinya segara berkata.
"Cepat kau sulut kembali obor tadi!"
Cepat-cepat So Siau hui mengambil bahan untuk membuat api dan segera menyulut kembali obor yang padam, dalam waktu singkat seluruh ruangan telah disinari kembali dengan cahaya terang.
Baru sekarang semua orang dapat melihat dengan jelas bahwa orang yang baru saja merangkak keluar dari bawah tanah itu berwajah aneh dengan kepala runcing, mata tikus dan beberapa lembar kumis tikus menghiasi atas bibirnya.
Orang ini tak lain adalah si tikus yang berjalan dibawah tanah Thio Kiang.
Liong Hiang kun segera mengalihkan pula sorot matanya untuk mengamati keadaan disekeliling sana, mendadak dia menuding kearah batu raksasa pertama sambil serunya.
"Cepat kalian lihat !"
Ternyata rombongan tikus yaag muncul dari balik liang di bawah batu raksasa kedua tadi, kini telah menerjang kesamping batu raksasa pertama dan diiringi suara mencicit yang amat ramai, mulai menggali tanah dan membuat liang baru.
Pasir dan hancuran batu segera berserakan dimana-mana, bagaikan amukan air bah, kawanan tikus itu bersama-sama membuat liang besar dengan kecepatan luar biasa.
Tikus gunung sesungguhnya memang memiliki kepandaian khusus dalam menggali liang, tapi kejadian yang berlangsung saat itu benar-benar merupakan suatu peristiwa yang luar biasa, untuk sesaat lamanya para jago yang hadir disana sama-sama dibuat berdiri terbeliak dengan mulut melongo.
Rupanya kawanan tikus itu benar-benar sedang menggalikan liang bawah tanah untuk mereka semua.
Kakek Ou segera menepuk-nepuk bahu si tikus berjalan dibawah tanah Thio Kiang dengan telapak tangannya yang lebar, kemudian ujarnya sambil tertawa tergelak;
"Lote, kepandaianmu dalam mengendalikan kawanan tikus gunung itu betul-betul luar biasa, belum pernah ada umat persilatan di dunia ini yang mampu meniru kepandaian mu itu, hari ini aku harus menyatakan rasa kagumku yang tak terhingga kepadamu!"
Si tikus berjalan dibawah tanah Thio Kiang mengangkat bahunya sambil tertawa bangga, ujarnya.
"Mana, mana... Siaute tidak berkemampuan apa-apa, masih untung saja saudara-saudara kecil ini masih sudi menuruti perkataanku!"
Benar-benar suatu kalimat yang menggelikan hati, berapa tidak?
Ternyata dia telah menyebut kawanan tikus gunung itu sebagai saudara-saudara ciliknya.
Sementara pembicaraan berlangsung, tiba-tiba terdengar dua kali suara mencicit yang tinggi melengking berkumandang datang.
Sambil tertawa si tikus berjalan dibawah tanah segera berkata.
"Aahh... Tampaknya mereka telah berhasil menembusi liang yang sedang digali.."
Dia segera membalikkan badan dan berjalan menuju ke lorong kecil di bawah batu raksasa kedua, membungkukkan badan lalu mencicit pula beberapa kali menirukan suara tikus, setelah itu sambil bangkit berdiri dia berkata.
"Nah, aku telah memberi kabar pada Kam tayhiap bahwa jalanan sudah terbuka, mari kita berangkat, biar aku yang menjadi petunjuk jalan buat kalian semua."
Selesai berkata dia lantas berjongkok dan menerobos kedalam liang dibawah batu raksasa itu, gerakannya cepat dan cekatan, tak malu disebut sebagai si tikus yang berjalan dibawah tanah.
Begitu selesai berkata, dia segera mengikuti dibelakang si tikus berjalan di bawah tanah dan menerobos masuk kedalam liang tersebut.
Baru saja kakek Ou menerobos masuk ke dalam liang gua itu, dari dasar batu raksasa kedua telah bermunculan pula Kam Liu cu serta Lek jiu im eng Thio Man.
Liu Leng poo tahu jumlah manusia yang tergantung dalam kelompok dua banyak sekali, sedangkan liang gua itupun hanya bisa dilalui satu demi satu, jelas membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyeberangkan semua orang yang ada.
Karena itu dia segera memberi tanda kepada So Siau hui, Liong Hiang kun, Wi Tiong hong dan Cho Kiu moay sekalian agar mengikuti merangkak lewat dari liang gua.
Setelah rombongan pertama lewat, orang-orang dari rombongan kedua dengan dipimpin oleh Kam Liu cu segera merangkak pula menerobos liang gua didasar baru raksasa pertama.
Setelah melewati batu raksasa, didepan mata terbentang lagi undak-undakan batu yang berjumlah ratusan buah lebih.
Liu Leng poo sekalian menunggu sampai seluruh rombongan kedua telah menyebrangi batu raksasa itu, kemudian dia baru memimpin seluruh rombongan menaiki undak undakan batu tadi.
Ternyata pada undak-undakan batu berikut ini tidak lagi dijumpai alat jebakan ataupun perangkap diujung undak-undakan merupakan sebuah gua batu yang luasnya berapa kaki, empat dinding terbuat dari batu kristal yang bening dan jernih, ketika terkena cahaya lentera, segera memantulkan cahaya tajam yang menyilaukan mata.
Setelah berjalan lagi kurang lebih dua kaki, perjalanan mereka terhadang kembali oleh sebuah batu karang raksasa yang luar biasa besarnya.
Batu karang raksasa inipun terbentuk dari batu kristal yang bening dan jernih, warnanya putih susu, malah bentuknya telah di rubah orang dengan sebuah pahatan yang sangat indah, sebuah katak berkaki tiga yang amat indah.
Hanya saja patung itu sedemikian besarnya sehingga persis menyumbat habis semua jalan lewat.
Melihat pahatan kakek putih itu, diam-diam kakek Ou mengerutkan dahinya, dia berpikir.
"Julukan dari majikan kami adalah katak pualam, semestinya katak raksasa ini lebih cocok ditempatkan didepan istana Pek leng kiong dari lam hay kami.."
Dalam pada itu So Siau hui telah berjalan menuju kehadapan patung katak pualam itu dan merabanya sebentar, tahu-tahu berkumandang suara gemerincing nyaring, pada kedua belah dinding batu di sisi kiri dan kanan mendadak terbuka dua buah pintu besar, cahaya terang segera memancar masuk dari luar pintu.
Semua orang pun menundukkan kepalanya dan manerobos keluar melalui pintu rahasia yang terletak diantara kedua belah kaki katak pualam tersebut.
Rupanya patung pualam ini hanya berfungsi sebagai penyekat, setelah melewati pintu dan melingkari patung tersebut, terwujud kembali sebuah lorong rahasia yang sama.
Didepan situ kembali muncul sebuah pintu gua berbentuk bulat yang amat tinggi, dari situ dapat terlihat pemandangan diluar gua dengan jelas sekali.
Liu Leng poo sagera berpaling seraya bertanya .
"Sudah sampai ditempat tujuan?"
"Ya sudah sampai, siluman perempuan itu berdiam dalam rumah batu didepan sana"
Dengan langkah lebar semua orang berjalan keluar dari balik pintu, terasa pandang mata menjadi silau, rupanya keadaan medan disitu amat lebar dan luas, karena merupakan sebuah lembah seluas berapa li yang dikeli1ingi oleh bukit karang yang tinggi menjulang ke angkasa...
Ditengah tanah lapang yang luas ini berdirilah puluhan buah bangunan rumah kecil yang terbuat dari batu.
Bangunan itu berderet sangat rapi dan berwujud sebuah dusun kecil, tapi anehnya suasana di sekitar tempat itu justru amat hening dan tak nampak sesosok bayangan manusia pun.
"Sungguh aneh"
Si gadis berjalan dibawah tanah bergumam keheranan.
"Padahal majikan kami telah datang kemari, mengapa tak kedengaran sedikit suarapun ?"
"Mari kita masuk dan memeriksa keadaan di situ, aku percaya keadaan yang sebenarnya akan segera ketahuan"
Ajak kakek Ou. Liu Leng poo berpaling kearah Ma koan tojin, lalu berkata.
"Toheng, perintahkan empat orang diantara para jago pedang berpita hijau untuk berjaga dimulut gua, saat ini tempat tersebut merupakan satu-satunya jalan mundur bagi kita, sedangkan yang lain perintahkan untuk membentuk satu regu, tiap dua orang, kau suruh mereka lakukan penjagaan ketat disepanjang jalan, apabila bertemu musuh gunakan suara pekikan nyaring sebagai tanda bahaya"
Ma koan tojin segera mmengiakan dan memerintahkan empat orang jago pedang berpita hijau untuk berjaga-jaga di mulut gua sementara kedua belas orang jago pedang berpita hijau lainnya menyebarkan diri dibelakang kawanan jago itu denga dua orang membentuk satu kelompok melakukan penjagaan disepanjang jalan.
Kini, para jago dari dua rombongan telah bergabung menjadi satu lagi, dengan tetap pimpin oleh Liu Leng poo, So Siau hui dan Liong Hiang kun, berangkatlah mereka mendekati dusun itu.
Semua bangunan rumah yang dijumpai di situ, tak sebuahpun yang memiliki pagar tembok atau pagar pekarangan, satu demi bangunan itu berjajar kaku disepanjang jalan, bukan cuma pintu rumah tertutup rapat, jendela pun tak ada yang terbuka, sehingga suasana begitu hening dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun Inikah yang disebut selat Tok seh sia baru?
Dalam suasana menghadapi serbuan musuh tangguh, keadaan disekitar tempat itu tampak begitu hening dan tenang, jelas keadaan tersebut berbeda sekali dengan keadaan pada umumnya.
Apalagi pemimpin dari selat Tok seh sia sekararg sudah bukan si raja langit bertangan keji Liong Cay thian, melainkan Kiu siang la koay yang sudah termashur karena kelicikan, kebuasan dan kekejamannya dalam dunia persilatan.
Rencana busuk apakah yang sesungguhnya tersembunyi dibalik suasana hening itu?
Tak seorangpun yang bisa menduga.
Tiba-tiba Ma koan tojin berbisik dengan sepasang mata berkilat.
"Liu lihiap, tampaknya situasi disini rada kurang beres.."
Liu Leng poo manggut-manggut.
"Ya, memang rada kurang beres, tapi kita toh harus masuk kedalam untuk memeriksanya juga"
"Kebetulan sekali aku memang sedang mencari Kiu siang poo untuk diajak berkelahi, biar aku saja yang berada di paling muka."
Seru kakek Ou kemudian.
Dngan langkah lebar dia segera berjalan mendekati pintu ruangan, kemudian mengayunkan telapak tangannya dan mendorong pintu kayu yang semula tertutup rapat itu.
Dimana angin pukulannya berhembus lewat pintu kayu itu segera terbuka dengan menimbulkan suara tajam.
Walaupun suara ini merupakan suara yang berasal dari gesekan engsel pintu rumah, namun suaranya yang tajam dan melengking benar-benar mendatangkan suasana yang tak sedap.
So Siau hui, Liong Hiang kun dan Lak jiu im eng Thio Man terentak melangkah mundur berapa langkah dengan perasaan terkesiap bercampur seram.
Dalam pada itu kakek Ou telah mendorong pintu ruangan dan siap melangkah masuk ke dalam.
Tiba-tiba dia menyaksikan didalam ruangan batu yang luasnya hanya dua kaki persegi ini, duduk sesosok tubuh manusia.
Orang itu bermuka semu emas, beralis mata tajam, mata jeli dan mengenakan jubah sutera dengan sebilah pedang berpita kuning emas tersoren dipinggangnya.
Ternyata orang itu tak lain adalah Ban Kiam hwee cu.
Untuk sesaat lamanya kakek Ou jadi tertegun, dia mencoba untuk mengalihkan pandangan matanya kesekeliling tempat itu, namun terbukti hanya dia seorang yang berada disitu, bahkan bila dilihat dari posisinya yang sedang duduk, nyata kalau dia sana sekali tak bergerak...
Melihat hal ini, kakek Ou pun berpaling seraya berkata.
"Orang yang berada dalam ruangan ini hanya Ban kiam hweecu seorang, agaknya dia telah tertotok jalan darahnya!"
Sembari berkata pelan-pelan dia berjalan menghampiri, namun Ban kian hweecu ternyata masih tetap duduk kaku ditempat semula tanpa berbicara maupun bergerak.
Kakek Ou mencoba untuk mendorong tubuh Ban kiam hweecu, maksudnya, ingin membebaskan pengaruh totokan dari tubuhnya.
Siapa tahu begitu didorong, ternyata Ban Kiam hweecu roboh terjungkal keatas tanah.
"Bukk..!"
Begitu terjengkang mencium tanah, batok kepalanya segera terlepas dari badannya dan menggelinding kesamping.
Kakek Ou merasa amat terperanjat, serta merta dia memasang matanya dengan lebih seksama lagi.
Rupanya batok kepala yang menggelinding itu hanya berupa sebuah tengkorak belaka, kontan saja amarahnya berkobar, serunya lantang;
"Bedebah, rupanya cuma orang-orangan..."
Sambil mengumpat, dia mengayunkan telapak tangannya siap melancarkan serangan. Tiba-tiba terdengar Liu Leng poo berseru.
"Lotiang, cepat mundur keluar!!"
Ternyata ketika lepasan tengkorak itu menggelinding jatuh diatas tanah, mendadak dari lubang mulut, hidung, telinga dan matanya telah menyembur keluar lima gulung asap berwarna kuning, dalam waktu singkat asap kuning itu telah menyebar ke seluruh ruangan dengan cepatnya.
Begitu menyadari kalau gelagat tak menguntungkan, cepat-cepat kakek Ou menutupi pernapasannya, lalu secepat kilat melejit keluar dari balik ruangan.
Sekalipun gerakan tubuhnya cukup cepat, siapa tahu asap kuning itu jauh lebih cepat lagi, tahu-tahu saja ada sebagian dari asap kuning itu sudah menempel diatas pakaian yang dikenakan kakek Ou.
Disaat tubuhnya sedang menerjang keluar dari ruangan tadi, asap kuning itu masih tetap menempel diatas pakaiannya, malahan mengepul terus tiada hentinya, seakan-akan asap itu berhembus keluar dari balik tubuhnya.
Liu Leng poo segera sadar kalau gelagat tidak menguntungkan, cepat-cepat dia mengulapkan tangannya dan memerintahkan semua orang agar secepatnya mengundurkan diri dari situ.
Sementara itu kakek Ou juga telah mengetahui kalau tubuhnya telah terkena asap kuning, setelah berdiri tegak, sepasang telapak tangannya segera diayunkan berulang kali melancarkan pukulan-pukulan dahsyat, dia harus berjuang mati-matian sekian lama, sebelum akhirnya berhasil.
Liu Leng poo segera bertanya.
"Lotiang, apakah kau telah mendengus sesuatu bau yang aneh?"
"Tidak hanya mendengus, sedikit sekali, tapi aku tak akan mengacuhkan hal ini "
Sementara masih berbicara, dia sudah melanjutkan langkahnya menuju keruangaa batu yang lain.
Kali ini dia mendorong pintu ruangan pelan-pelan, begitu terbuka, segera di temui bahwa keadaan maupun perabot yang berada dalam ruangan itu tak jauh berbeda dengan keadaan dalam ruangan pertama, hanya badannya disudut ruangan dekat meja, duduklah seorang kakek berjubah hitam "Ohh...ayah...ayah.."
Mendadak terdeagar Liong Hiang kun menjerit lengking, lalu bagaikan orang kalap berlatih masuk kedalam ruangan itu.
Ternyata kakek berjubah hitam yang duduk bersandar meja itu tak lain adalah si Raja langit bertangan keji Liong Cay thian.
-oo0dw0oo-
Jilid 26 DIA DUDUK DISUDUT KIRI RUANGAN dengan wajahnya menghadap keluar, tapi berhubung suasana dalam ruangan masih remang-remang, lagi pula ia duduk disudut ruangan, sehingga mimik mukanya tidak terlihat secara jelas.
Dengan suatu gerakan yang cepat Liu Leng poo menyambar lengan Liong Hiang kun dan dipegangnya erat-erat serunya kemudian .
"Kau jangan sampai terjebak oleh perangkap lawan, orang tersebut hanya sebuah orang-orangan."
Sambil tertawa kakek Ou berkata pula "Nona Liong, coba kau lihat !"
Dia segera menggerakkan telapak tangannya dan melakukan gerakan mendorongan dari tempat kejauhan. Buru buru Liong Hiang kun berseru "Empek tua, lakukan dengan lebih ringan!!"
"Kau tak usah kuatir !"
Jawaban kakek Ou cepat.
Ketika angin pukulan itu menumbuk di atas tubuh si raja langit bertangan keji Liong Cay thian, segera terlihatlah tubuh itu bergoyang beberapa kali namun tak sampai roboh, disaat tubuhnya sedang bergoncang inilah mendadak orang itu mengangkat kepalanya sambil membuka mulut seolah-olah hendak mengucapkan sesuatu.
Liong Hiang kun menjadi gelisah sekali, cepat-cepat dia berteriak keras .
"Dia bukan orang-orangan, dia adalah ayahku, mungkin jalan darah telah ditotok orang.."
Belum selesai perkataan itu diucapkan, tiba-tiba berkumandang suara desingan angin tajam yang menderu-deru..
Ternyata dari balik mulut si Raja langit Tangan keji Liong Cay thian telah menyembur keluar segumpal jarum lembut bulu kerbau yang memancarkan cahaya biru.
Diantara kilauan cahaya tajam yang memenuhi angkasa dalam waktu singkat, jarum-jarum lembut itu telah menyumbat habis seluruh pintu ruangan.
Dilihatnya dari cahaya biru yang terpancar keluar dari ujung-ujung jarum lembut tersebut jelas sudah kalau senjata rahasia itu telah dipolesi dengan racun yang amat keji dan mematikan korbannya, hal ini bisa dibayangkan andaikata benar-benar ada orang yang memasuki ruangan tersebut, kendatipun dia memiliki ilmu silat yang lebih hebatpun jangan harap dapat meloloskan diri dalam keadaan selamat.
Liu Leng poo segera mengerutkan dahinya rapat-rapat kemudian berseru dengan gusar.
"Benar-benar kejam dan berhati busuk orang yang menyiapkan jebakan maut ini."
Setelah meninggalkan kedua buah ruangan dengan perangkap maut tadi, rombongan jago itu menelusuri sebuah jalan setapak beralas batu menuju kearah depan.
Kini mereka lewat sederetan bangunan rumah yang terdiri dari sembilan ruangan, semua pintu dan jendela bangunan itu tertutup rapat, terdorong oleh rasa ingin tahu, para jago segera bergerak untuk memeriksa ruangan-ruangan itu, apakah disitupun terdapat orang lain?
Hampir pada saat yang bersamaan, para jago itu bergerak menyerang setiap pintu ruangan batu itu.
Ternyata di dalam setiap ruangan tersebut terdapat penghuninya, diantaranya terdapat Wi Tiong hong, Lan Kun pit, Kam Liu cu, Thian khi cu dari Bu tong pay serta seorang hwesio tua berjubah abu-abu, mungkin seorang pendeta agung dari kuil Siau lim si.
Sudah barang tentu semua orang tersebut hanya orang-orangan gadungan, adapun tujuannya tak lain adalah untuk memancing lawan masuk perangkap.
Kembali kawanan jago itu meneruskan perjalanannya namun sepanjang jalan yang dilalui suasana amat hening, sepi dan tak kelihatan sesosok bayangan manusiapun.
Suatu ketika, Kam Liu cu mengalihkan sorot matanya dan memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian ujarnya .
"Sungguh aneh, mengapa tak kelihatan seorang manusiapun ditempat ini?"
"Siluman perempuan itu berdiam didalam sebuah bangunan gedung yang amat besar"
Sahut Liong Hiang kun.
"gedung itu masih terletak didepan sana, mari kuajak kalian kesana."
"Yaa benar."
Kata So Siau hui pula.
"Disitulah terletak pusat dari lembah ini, bisa jadi Kiu Siang poo berada ditempat itu"
Sementara pembicaraan masih berlangsung kembali rombongan itu melewati dua buah jalan setapak yang beralas batu, benar saja pada setiap jalanan yang dilalui ternyata semuanya terdapat bangunan rumah batu yang bentuk maupun posisinya tak berbeda satu dengan lainnya.
"Agaknya semua bangunan rumah ini di bangun dan di atur menurut posisi sebuah ilmu barisan"
Kata Liu leng poo kemudian. Mendengar perkataan itu.So Siau hui segera berpaling dan katanya sambil tertawa.
"Ternyata enci Liu juga mengetahui tentang ilmu barisan. Benar, semua bangunan rumah ditempat ini memang disusun menurut posisi barisan Kiu kiong tin, jadi orang harus masuk dengan melewati bagian tengah, jikalau ditengah jalan hendak menerobos semaunya sendiri, akibatnya akan mudah tersesat jalan dan kehilangan arah, yang lebih hebat lagi, sekali kau salah langkah maka makin berjalan akan semakin tersesat. Akibatnya tentu saja tak terlukiskan lagi dengan kata-kata"
Agak berubah paras muka Liu Leng poo, segera ujarnya .
"Kalau bagitu kita telah memasuki daerah lawan mereka atau dengan perkataan lain kita telah memasuki lingkaran yang dikepung oleh pihak mereka?"
Kam Liu cu segera tertawa tergelak .
"Haaaahhh...haaaah.haaaahh....tepat sekali, saat ini kita memang sudah berada ditengah kepungan mereka, tapi kalau tidak memasuki sarang harimau, bagaimana mungkin bisa memperoleh anak macan?"
"Perkataan Kam lote memang tepat sekali"
Sambung kakek Ou kemudian.
"Kita memang sengaja kemari untuk mencari Kiu sing po si siluman tua itu "
Selang berapa saat kemudian, sampailah rombongan para jago itu dimuka sebuah gedung besar.
Di depan pintu bertengger dua buah patung singa yang besarnya melebihi manusia biasa, undak-undakan batu yang lebar dan luas terdiri dari tiga susun, pintu gerbang dengan gelang putih berbentuk kepala makhluk buas menambah kerennya bangunan itu.
Kakek Ou segera menaiki undak-undakan batu itu dengan langkah lebar dan menggedor pintu gerbang yang tertutup rapat keras-keras.
"Blaaaaammm.!"
Suara getaran berkumandang memecahkan keheningan, tahu tahu diatas pintu sudah tertera bekas kelima jari tangannya yang amat dalam.
Namun kakek Ou sendiri pun segera merasakan lengan kanannya tergetar keras sampai linu dan kaku rasanya.
Tak kuasa dia tergetar mundur setengah langkah ke belakang.
Ujarnya kemudian sambil mendengus.
"Sialan benar, rupanya pintu gerbang ini buat dari besi baja asli!"
"Mungkin saja pintu gerbang itu dilengkapi dengan alat rahasia untuk membuka serta menutupnya kembali!"
Sela Liu Leng poo dan samping.
"Aku rasa pintu ini sudah dikunci dari dalam, mustahil pintu semacam ini dilengkapi dengan alat rahasia."
Ucap So Siau hui tak sependapat! Sambil berkata diapun meloloskan pedang pendeknya sambil diangsurkan kedepan, kembali ujarnya .
"Empek Ou, tak usah membuang tenaga dengan percuma, gunakan saja pedang ini untuk mematahkan palang pintu dari bagian tengah, niscaya pintu itu akan terbuka dengan sendirinya."
Setelah menyambut pedang pendek itu, pelan-pelan kakek Ou melakukan penusukan melalui celah-celah tengah diantara kedua belah pintu itu, disusul kemudian sebuah tendangan keras menjejak pintu tadi.
"Blaaaaamm!"
Diiringi suara keras kedua belah pintu baja itu segera terbuka lebar. Setelah mengembalikan pedang pendeknya di ketangan So Siau hui, kakek Ou baru berseru ;
"Mari kita masuk bersama-sama!"
Tanpa membuang waktu lagi, dia segera berjalan masuk lebih dulu.
Para jago lainnya segera mengikuti dibelakangnya masuk pula ke dalam gedung.
Setelah melewati sebuah pelataran yang luas, didepan sana merupakan sebuah ruang tengah yang lebar, ruangan itu terdapat enam buah pintu yang semuanya tertutup rapat dan tak nampak sesosok bayangan manuasia-pun, seolah-olah gedung yang besar ini sudah lama tiada penghuninya lagi.
Dengan masih dipimpin oleh kakek Ou, mereka menaiki undak-undakan batu dan mendorong pintu panjang di bagian tengah.
Tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya segera berhenti, kemudian sambil mengucapkan tangannya kebelakang serunya .
"Kalian berhati-hatilah entah permainan setan apa lagi yang sedang dipersiapkan di dalam sana?"
Mendengar ucapan itu serentak semua orang menghentikan langkahnya di depan pintu dan mengalihkan sorot matanya ke dalam.
Ternyata dalam ruangan itu duduk empat orang dengan tenang, agaknya mereka sedang merundingkan sesuatu persoalan yang amat serius.
Tapi anehnya keempat orang itu sama sekali tak berbicara, malah sama sekali tubuh mereka tak bergerak.
Wajah keempat orang ini sudah tak asing lagi bagi para jago, yang mengenakan jubah hitam dan berwajah licik menyeramkan itu adalah si Raja langit bertangan keji Liong Cay thian, di sampingnya adalah Lan Sim bu, jagoan dari In lam yang memakai jubah biru dengan potongan muka kurus kering..
Disampingnya lagi adalah seorang kakek berjenggot putih berjubah hitam dengan sebuah tongkat bambu terletak disampingnya.
Orang ini adalah Kiu tok kaucu.
Sedangkan orang ke empat mempunyai dandanan yang sangat istimewa, dia mengenakan gaun berwarna merah dengan kepala tembaga dan berambut warna hijau Kiranya orang ini tak lain adalah Tong hujin yang misterius itu....
Si tikus berjalan dibawah tanah Thio Kiang menjerit kaget, serunya agak tertahan ;
"Aaah... rupanya majikan kami pun sudah datang! "
Cepat cepat dia berjalan masuk ke dalam ruangan Sebenarnya Kam Liu cu bermaksud untuk menghalanginya, sayang sudah terlambat, si tikus berjalan dibawah tanah telah berjalan mendekati Tong hujin lalu membungkukkan badannya dan siap hendak berbicara, tapi tiba-tiba saja tubuhnya bergoncang keras kemudian roboh terjungkal ke atas tanah..
Liu Leng poo menjadi terkejut sekali setelah menyaksikan kejadian ini, serunya tertahan .
"Aaaah, dia sudah keracunan !"
"Biar aku yang masuk untuk memeriksa keadaaannya!"
Dengan suatu gerakan tubuh yang amat cepat dia menerjang masuk ke dalam ruang tengah, lalu membangunkan tubuh si tikus berjalan dibawah tanah yang tergeletak di tanah itu.
Ternyata tubuh orang itu sudah melingkar seperti udang, mukanya hijau membesi dan jelas keracunan hebat sementara selembar jiwanya telah meninggalkan raganya, sambil mengangkat kepalanya Liu Leng poo segera bertanya .
"Kakek Ou, apakah dia masih dapat di tolong?"
Pelan-pelan kakek Ou membaringkan kembali tubuh si tikus berjalan dibawah tanah ke atas lantai kemudian setelah menghela napas panjang sahutnya dengan pedih.
"Dia..dia sudah tak tertolong lagi"
Menyaksikan kematian si tikus berjalan di bawah tanah yang secara tiba-tiba ini, semua orang merasakan hatinya amat pedih, apalagi bila teringat dengan jasanya barusan, andaikata dia tidak memimpin kawanan tikusnya untuk menggali liang, niscaya semua orang yang hadir telah mati terkurung di dalam lorong gua tersebut...
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suaru mencicit yang amat ramai berkumandang datang, beratus ratus ekor tikus gunung yang gemuk berlarian melalui kaki semua orang dan menyerbu ke dalam ruangan tengah bagaikan datangnya air bah.
Sementara semua orang masih dicekam perasaan kaget, kawanan tikus yang menyerbu ke dalam ruang tengah itu sudah pada menggeletak tak berkutik diatas lantai sebelum mencapai dihadapan si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khiang, sudah jelas kawanan binatang itu sudah keracunan dan mati semua.
Berubah paras muka Liu Leng poo setelah menyaksikan kejadian ini, serunya terkejut .
"Aaaaah tampaknya seluruh ruangan ini telah ditaburi dengan racun yang sangat ganas!"
"Empek Ou cepat keluar dari sana!"
Buru-buru So Siau hui berteriak dengan cemas.
"Tidak apa apa, aku.."
Sebelum selesai perkataan itu diucapkan, tiba-tiba saja dadanya menjadi sesak dan lamat-lamat seperti mau tumpah, hal ini menyebabkan kata-kata berikut tak sempat lagi diutarakan keluar.
Secepat sambaran kilat tubuhnya segera melayang keluar dari ruangan, kemudian duduk bersemedi dan mengatur pernapasan di tengah beranda..
So Siau hui membelalakkan matanya lebar-lebar serunya dengan suara gemetar.
"Empek Ou.kau..kau..."
Dengan cepat Liu Leng poo menarik tangannya kemudian berbisik pelan.
"Adik kecil, dia sedang menghimpun tenaga dalamnya untuk mendesak keluar racun yang mengeram didalam tubuhnya, kau tak boleh mengganggu konsentrasinya.."
Walaupun kemudian So Siau hui tak berbicara lagi, namun hatinya merasa sangat gelisah diam-diam pikirnya.
"Padahal empek Ou sudah menelan obat mestika Pit tok kim wan buatan Lam hay bun kami. Seharusnya dia kebal terhadap segala macam racun, sebetulnya racun ganas apakah yang telah disebarkan didalam ruangan ini sehingga begitu hebatnya?"
Dengan perasaan kebat-kebit dan cemas semua orang mengikuti perkembangan dari kakek Ou, tak seorangpun yang berbicara ataupun bergerak dari posisinya semula.
Untung suasana didalam gedung besar itu memang sepi dan hening sekali, sehingga tiada orang lain yang mengganggu mereka.
Suasana tegang dan cemas berlangsung hampir selama seperminum teh lamanya, kemudian kakek Ou baru nampak menghembuskan napas panjang dan bangkit berdiri, katanya kemudian .
"Benar-benar racun yang sangat hebat, untung saja aku telah menelan pil anti racun Pit tok kim wan, kalau tidak niscaya selembar jiwa tuaku akan melayang."
Kam Liu cu memandang sekejap sekeliling ruangan itu, kemudian berkata.
"Agaknya sisa racun yang tersebar di dalam ruangan ini merupakan sisa racun yang di lancarkan berapa orang di dalam ruangan itu ketika terjadi pertarungan sengit tadi!"
"Yaa, betul, memang demikian keadaannya!"
Sahut kakek Ou sambil mengangguk. Mendadak sekujur badan Liong Hiang kun tergetar keras, serunya kemudian.
"Kam tayhiap kau maksud keempat orang yang berada didalam ruangan itu bukan orang-orangan palsu ?"
"Nona Liong tak ussh bersedih hati lagi, sesungguhnya ayahmu beserta ketiga orang lainnya...."
Paras muka Liong Hiang kun segera berubah menjadi pucat pias seperti mayat sekujur badannya gemetar, keras, cepat dia bertanya lagi.
"Apakah ayahku dan... dan mereka semua telah..telah mati ?"
Kakek Ou mengangguk.
"Benar, mereka semua telah mati keracunan!"
Tiba-tiba Liong Hiong kun meronta dari genggaman Liu Leng poo lalu menerjang masuk ke dalam ruangan seperti orang kalap, teriaknya sambil menangis "Oooh ayah...putrimu yang tidak berbakti telah datang..."
Cepat cepat kakek Ou menghalangi jalan perginya, dia berseru .
"Nona Liong, orang yang telah mati tak bisa hidup kembali, kau tak boleh masuk ke dalam "
Liu Leng poo, So Siau hui serta Lak jie nio Eng Thio Man bertiga pun berusaha membujuk sambil menarik tangannya, tapi Liong Hiang kun tetap menjerit sambil menangis tersedu-sedu.
Akhirnya Liu Leng poo benar-benar dibikin apa boleh buat oleh isak tangis nona tersebut, terpaksa ujarnya kemudian .
"Adikku dari keluarga Liong, inginkah kau membalaskan dendam bagi kematian ayahmu?"
Sambil menggertak gigi menahan rasa benci yang berkobar-kobar didalam dadanya Liong Hiang kun berseru.
"Orang yang mencelakai ayahku sampai mati adalah ketiga jahanam tersebut, aku bersumpah akan membunuh mereka serta mencincang tubuhnya sehingga hancur berkeping keping"
"Kau keliru besar"
Liu Leng poo kemudian.
"walaupun keempat orang ini saling beradu ilmu beracun dengan masing masing mengeluarkan segenap ilmu beracun yang dimilikinya, namun pertempuran ini sudah diatur orang lain sedemikian rupa sehingga berakibat kematian dari mereka berempat secara bersama-sama"
"Aku mengerti, orang yang mengatur pertarungan itu pastilah siluman perempuan itu, siluman perempuan dari perguruan Kiu siang bun!!"
Seru Liong Hiang kun sambil berhenti menangis.
"Asal saja kau sudah mengerti, hal ini lebih baik lagi, semua bencana dan musibah yang menimpa kita semua tak lain adalah gara-gara Kiu siang poo si siluman tua itu, dialah yang telah membuat keonaran dan menerbitkan semua bencana bagi kita"
"Sekarang persoalan ini tak bisa di tunda-tunda lagi!"
Sela kakek Ou mendadak.
"sekarang kita harus mencari si nenek siluman itu sampai ketemu!"
Liu Leng poo tidak segera mengambil keputusan, apalagi setelah tidak menjumpai seorang manusia pun semenjak mereka memasuki selat tersebut, hal mana telah menimbulkan kecurigaan didalam hatinya.
"Siluman tua itu sengaja menyembunyikan diri dan tak berani munculkan diri untuk menghadapi kita, sudah jelas di balik kesemuanya ini terdapat intrik busuk yang akan merugikan kita.."
Belum habis perkataan itu di ucapkan mendadak terdengar seseorang tertawa seram dengan suaranya yang parau seperti bambu retak;
"Heehh...Heeeh..heeeh.bukankah kalian semua berniat mencari aku si nenek? Mengapa tidak masuk ke dalam secara langsung ?"
Suara tersebut seakan akan berasal dari dalam ruangan, padahal dalam ruangan tengah itu kecuali keempat sosok mayat yang mati kaku karena keracunan, tak kelihatan seorang manusia pun yang bersembunyi disitu.
Mencorong sinar tajam dari balik mata kakek Ou setelah mendengar ucapan tersebut, segera bentaknya .
"Hey nenek siluman, kau bersembunyi di mana?"
"Aku si nenek berada disini"
Jawab suara parau macam bambu retak itu.
"Tampaknya dia berada di belakang ruangan"
Kata Mo koan tojin tiba-tiba.
"Mari kita mengitari ruangan ini dan masuk lewat belakang "
Ajak kakek Ou cepat.
"Tidak, kita tak dapat masuk kedalam". tampik So Siau hui dengan perasaan susah.
"Kenapa tak boleh masuk ke dalam?"
"Bila ingin masuk kedalam, kecuali melalui ruangan tengah tersebut, disekitar sini sudah tiada jalan tembus lain. Tapi ruangan tengah telah ditaburi racun keji yang sangat ganas, di mana pil mestika Pit tok kim wan yang kita milikipun tak mampu menghadapinya, sudah setengah harian lamanya aku mencoba untuk memikirkan persoalan itu, tapi aku benar-benar tak dapat menemukan suatu cara yang terbaik untuk masuk kedalam". Sementara itu, suara yang parau seperti bambu retak tadi telah berkata lagi.
"Sebenarnya kalian benar-benar ingin masuk kedalam untuk bertemu dengan aku, nenek atau tidak?"
"Tentu saja kami ingin berjumpa denganmu!"
Jawab kakek Ou segera.
"Bagus sekali, diseluruh lantai ruangan tengah telah ditaburi racun yang amat ganas, sudah jelas tidak gampang bagi kalian untuk melewatinya, baiklah aku sinenek akan mengirim orang untuk menyambut kedatangan kalian, tapi sebelum itu kalian harus menyebutkan dahulu nama-nama kamu semua, aku sinenek wajib mengetahui lebih dulu siapa siapa saja yang ingin bertemu denganku"
"Apakah harus menyebutkan nama kami ?"
Tanya Kam Liu cu.
"Kalau enggan menuruti perkataanku, lebih baik kalian mengundurkan diri saja dari sini dan tidak usah bertemu denganku"
"Baiklah"
Kata Liu Leng poo kemudian.
"Kami akan menyebutkan nama-nama kami."
Suara yang parau seperti bambu retak itu segera tertawa terkekeh-kekeh.
"Hee,..hee heeheh...kalian tak usah melaporkaa nama yang asli, nama palsu pun boleh di gunakan". Semua jago dibuat melongo dan tertegun, mereka benar-benar tak habis mengerti permikiran busuk apakah yaag sedang direncanakan siluman tua tersebut? Sambil tertawa kakek Ou segera berkata.
"Baik, baiklah, aku bernama Ou Tou Jo!"
"Aku adalah Kam Liu cu,"
Sambung Kam Liu cu kemudian Disusul kemudiaa Liu Leng poo, So Siau hui, Thio Man, Liong Hiang kun, Ma koan tojin dan Tam See hOu melaporkan juga nama-namanya, sementara Wi Tiong hong dan Cho Kiu moay karena terpengaruh pikiran dan kesadarannya, maka nama mereka di sebutkan oleh Kam Liu cu.
Kembali suara parau seperti bambu retak itu tertawa terkekeh-kekeh dengan anehnya.
"Heeheheheehh...bagus, bagus sekali kalian semua berjumlah sepuluh orang bukan?"
"Benar!"
Sahut kakek Ou.
Baru saja perkataan itu selesai diutarakan , penyekat di belakang ruangan pelan-pelan telah bergeser kesamping sehingga muncullah sebuah pintu berbentuk bulat.
Ketika pintu berbentuk bulat itu terpentang lebar, tiba-tiba dari balik ruangan memancar keluar serentetan cahaya berwarna merah yang meluncur keluar ruangan tengah dengan kecepatan luar biasa.
Cahaya merah itu melintasi ruangan tengah dan tiba ditegah ruangan tersebut, ternyata cahaya merah itu merupakan seutas angkin berwarna merah yang dilancarkan oleh seorang perempuan berbaju hitam yang wajahnya di tutupi dengan topeng berwajah menyeramkan.
Perempuan berbaju hitam itu berdiri di ujung ruangan tengah dengan memegang ujang angkinnya erat-erat, sementara ujung angkin yang lain dipegangi oleh seorang perempuan berbaju hitam berwajah menyeramkan lainnya dari ujung pintu bulat.
Ketika kedua orang itu saling menarik angkin itu hingga menegang, maka terwujudlah sebuah jembatan lintas diatas ruangan tengah itu, Setelah menyiapkan angkin untuk jembatan penyeberang, perempuan berbaju hitam itu baru memberi hormat kepada semua orang sambil ujarnya.
"Suhu kami mempersilahkan saudara sekalian menyeberang dengan melalui atas jembatan angkin!"
Sebagaimana diketahui, dari sekian jago yang hadir disana waktu itu, kecuali Liong Hiang kun, Thio Man serta si pena baja Tam See hou bertiga yang memiliki kepandaian silat agak lemah, sisanya memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa sekali, bagi mereka melintasi ruangan tengah dari tempat di mana mereka berada hingga mencapai pintu berbentuk bulat itu seharusnya bukan suatu pekerjaan yang sulit.
Lin Leng poo segera memandang sekejap kearah perempuan berbaju hitam itu kemudian pikirnya.
"Semua tingkah laku Kiu siang poo memang tak pernah lepas dari aliran sesat, sungguh mengherankan, mengapa murid-muridnya diharuskan mengenakan topeng berwajah setan dan berdandan aneh? Dianggapnya dandanan semacam ini bisa menakuti siapa?"
Dalam pada itu kakek Ou telah tertawa terbahak-bahak.
"Haah..haah..haah..orang lain kan sudah datang mengundang kita, buat apa kita mesti bersungkan-sungkan lagi?"
Sementara berbicara, dia telah berpaling dan bisiknya kepada Kam Liu cu.
"Aku akan barangkat duluan sedang Kam lote lebih baik berjalan paling belakang, hati-hati kalau mereka akan bermain setan dengan kita..!"
Kam Lin cu segera mengangguk pelan.
Begitu selesai berkata, kakek Ou segera melejit ketengah udara dan melayang turun di atas angkin merah tadi, dengan langkah lebar dia berjalan kemuka.
Liu Leng poo segera memberi tanda kepada semua orang untuk mengikuti gerakan kakek Ou.
Maka setelah para jago melintasi angkin merah itu secara berurutan, Kam Liu cu baru melintasi paling akhir menuju kedalam pintu bulat tersebut.
Setelah semua oraag melayang turun ke atas tanah dan mengalihkan sorot matanya kedepan, barulah diketahui bahwa dibalik pintu bulat itu ternyata terdapat lagi halaman lain.
Rupanya diatas pelataran dibalik pintu bulat itu telah dipajang papan besi yang menutupi seluruh ruangan sehingga tidak tembus sinar matahari, sedangkan ruangan dibagian tengah mempunyai luas hampir sebesar ruang depan, cuma pintunya dilapisi dengan tirai yang cukup tebal.
Dengan cepat kedua orang perempuan berbaju hitam itu menarik kembali senjata angkinnya dan menaiki keatas undak-undakan, disitu satu dari kiri yang lain dari kanan menyingkap tirai yang semula tertutup.
Ditengah ruangan terletak sebuah tempat duduk berbentuk bunga, tirai yang terbuat dari kayu cendana, disitulah duduk bersila seorang perempuan tua berbaju hitam yang berambut merah dan berwajah menyeramkan, orang itu tak lain adalah Kiu siang poo yang sudah termashur karena kebuasannya.
Dikedua belah samping tempat duduk berbentuk teratai itu, berdiri empat orang perempuan berbaju hitam yang wajahnya masing-masing mengenakan topeng bertampang menyeramkan, sepasang telapak tangan mereka disilangkan didepan dada sementara pandangan matanya mengarah kebawah, terhadap situasi disekelilingnya, mereka bersikap acuh tak acuh..
Bila ditinjau dari jari tangannya yang di silangkan didepan dada, kawanan perempuan berbaju hitam itu belum berusia kelewat besar dan lagi kuku mereka hampir semuanya diberi pemerah, cuma sayang tampang mereka yang menyeramkan justru merupakan pemandangan yang amat tak sedap dipandang.
Dengan sinar matanya yang hijau memancarkan hawa sesat, Kiu siang poo memperhatikan sekejap tamu-tamunya, kemudian setelah tertawa melengking katanya.
"Apakah kalian semua telah masuk kemari? Bagus, bagus sekali."
Nada suaranya kebanci-bancian, membuat siapa pun yang mendengarkan, merasakan hatinya amat tak sedap. Kakek Ou segera tertawa nyaring.
"Haaaa..haaa..haaa...Kiu siang poo, kami datang kemari bukan untuk bertamu, aku rasa kita pun tak usah menggunakan kata-kata sungkan lagi!"
"Yaa benar, perkataanmu memang tepat sekali"
Jawab Kiu siang poo kemudian.
"Setelah saling berjumpa muka, tentu saja kita tak usah menggunakan kata-kata sungkan lagi!"
Kemudian setelah mengeluarkan sebuah daftar nama, pelan-pelan dia berkata lebih jauh "Hanya saja kalian semua baru pertama kali ini bertemu denganku, sedangkan daftar nama inipun baru saja kucatat berdasarkan daya ingatanku.
Entah benar entah tidak karena itu aku ingin mengabsen sekali lagi, apalagi saudara sekalian enggan untuk menjawab, mengangguk pun boleh juga."
Agaknya siluman perempuan ini memiliki semacam daya kekuatan yang misterius, ucapan mana segera disambut semua orang dengan anggukkan kepala.
Sesungguhnya apa yang dikatakan olehnya memang benar, sekaligus tempat itu sudah kedatangan belasan orang laki perempuan tua muda yang belum pernah dikenal sebelumnya, sudah barang tentu tak mungkin baginya untuk mengenali sekian banyak orang orang sekaligus.
Memang sudah sewajarnya kalau dia mengenali dulu orangnya menurut daftar nama, baru kemudian pembicaraan bisa ditanggungkan.
Pelan-pelan sorot mata Kiu siang poo di alihkan kewajah orang orang itu, kemudian tanyanya sambil tertawa.
"Jadi saudara sekalian sudah setuju?"
Sekali lagi semua orang menganggukkan kepalanya. Kiu siang poo segera menundukkan kepalanya dan memeriksa sekejap daftar nama itu kemudian pelan-pelan berkata.
"Siapakah yang bernama Ou Tou lo?"
"Akulah orangnya"
Sahut kakek Ou. Sambil tersenyum Kiu siang poo berkata.
"Ternyata lo enghiong adalah pemimpin rombongan, sudah lama aku sinenek mengagumi akan nama besarmu... ehmm, nama besarmu memang sesuai benar dengan orangnya, sungguh beruntung aku dapat bersua denganmu hari ini."
Perkataan itu diucapkan dengan suara datar, rendah dan lambat, selain itupun mengandung nada nada siluman yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
Sebagaimana diketahui, julukan Kakek Ou adalah Panglima sakti berlengan emas yang menjaga pintu langit selatan dari Lam hay bun, nama besarnya jarang dikenal oleh umat persilatan terutama didataran Tionggoan.
Namun ucapan seperti "sudah kukagumi nama besar anda"
Sudah teramat sering dia dengar.
Hanya saja, kalau dihari-hari biasa dia tidak merasakan sesuatu yang aneh setelah mendengar perkataan itu, karena kata macam demikian memang merupakan kata-kata sopan santun yang umum dan lumrah.
Tapi sekarang, entah mengapa, ketika perkataan yang lumrah itu diucapkan oleh Kiu siang poo, justru memberikan perasaan yang berbeda dalam hati kakek Ou, sehingga tanpa terasa pikirnya.
"Wah, nampaknya si nenek siluman ini sudah dibuat tergetar hatinya oleh ucapanku!"
Tak dapat dibendung lagi, senyuman kearah kakek itu, kemudian sorot mata silumannya baru dialihkan kewajah Kam Liu cu sambil berkata.
"Kam tayhiap adalah murid tertua dari Thian sat bun, aku si nenek pun sudah lama mengagumi nama besarmu."
Seperti halnya kakek Ou, paras muka Kam liu cu segera meperlihatkan wajah berseri-seri setelah mendengar perkataan ini, cepat-cepat dia menjura sambil katanya.
"Terima kasih atas pujian kau orang tua... aku tak berani menerimanya". Nada pembicaraan dari Kiu siang poo berubah semakin halus dan lembut, pelan-pelan ujarnya.
"Siapakah diantara kalian yang bernama Liu Leng poo, nona Liu..?"
Ketika sinar mata Liu Leng poo saling beradu dengan pandangan matanya, tiba-tiba saja perempuan itu merasakan pandangan matanya begitu hangat dan mesrah, seakan-akan baru saja bersua dengan saudara-saudara yang sudah banyak tahun tak bersua.
Buru-buru dia membungkukkan badannya seraya berkata.
"Tidak berani, boanpwee adalah Liu Leng poo"
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar Liong Hiang kun berteriak dengan suara melengking;
"Nenek siluman, ayahku sama sekali tiada dendam atau sakit hati dengan dirimu, mengapa kau justru mencelakai ayahku sampai mati? Aku akan beradu jiwa denganmu."
Jeritan lengking itu diutarakan persis pada waktunya, seketika itu juga semua orang di buat tersadar kembali dari pengaruh siluman yang menyesatkan dan pulih kembali kesadarannya.
Sambil tertawa terbahak-bahak kakek Ou segera membentak.
"Haah.. haah.. haah.. nenek siluman, bagus sekali perbuatanmu, rupanya kau berani menggunakan ilmu sesat untuk mempengaruhi jalan pemikiran orang? Hmm, hampir saja aku termakan oleh perbuatanmu itu."
"Weess!!"
Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan dengan kecepatan luar biasa.
Sebagaimana diketahui, tenaga dalam yang dimiliki kakek Ou memang sangat lihay dan amat sempurna, dimana angin pukulannya dilancarkan, segera terjadilah deruan angin puyuh yang menderu-deru dengan hebatnya.
Ancaman tersebut menubruk ke arah tubuh Kiu siang poo secara mengerikan.
Sinar sesat berwarna kehijuan yang semula memancar keluar dari balik mata Kiu siang poo segera menjadi sirna, pelan-pelan dia menggerakkan sepasang tangannya melakukan suatu gerakan seperti orang mendayung, lalu sambil tertawa terkekeh-kekeh katanya.
"lo enghiong, bila ada persoalan lebih baik dibicarakan secara baik-baik. Apa sih gunanya menggunakan kekerasan?"
Ketika angin pukulan dahsyat yang dilancarkan kakek Ou termakan olen gerakan tersebut, tahu-tahu kekuatan tersebut hilang lenyap dengan sangat mengejutkan hatinya.
Namun pada saat yang bersamaan, tubuh Kiu siang poo tergoncang keras, paras mukanya segera berubah hebat, dengan sinar tajam mencorong keluar dari balik matanya, ia berseru dengan terperanjat.
"Sebenarnya siapakah kau? Hebat benar tenaga dalam yang kau miliki...?"
Ternyata walaupun dia berhasil menyambut pukulan yang dilancarkan oleh kakek Ou tadi, akan tetapi diapun segera merasakan bahwa tenaga serangan yang melanda tiba itu memiliki daya kekuatan yang belum pernah dijumpai sebelumnya, hal tersebut menggetarkan seluruh badannya sehingga hawa darahnya bergolak keras dan hampir saja tak sanggup menahan diri.
Berhubung kepandaian yang dilatih termasuk dalam golongan Im kang, maka perubahan mana sama sekali tidak di ketahui oleh kakek Ou.
Tiba-tiba terdengar kakek Ou berseru sambil tertawa terbahak-bahak.
"Bukankah kau ingin tahu siapakah aku? Nah...akulah yang bernama Ou Tou lo!"
Menyusul ucapan tersebut, badannya seperti burung elang raksasa yang melayang diangkasa, tiba-tiba saja menerjang kedalam ruangan.
Kiu siang poo tertawa aneh, sepasang telapak tangannya segera didorong ke depan bersama-sama.
Segulung kekuatan yang tak berwujud dengan cepat meluncur ke depan dan menerjang tubuh kakek Ou yang sedang melayang tiba itu, Berada ditengah udara kakek mengayunkan tangan kanannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat kedepan.
Ketika kedua gulung kekuatan itu saling bertemu satu sama lainnya, ternyata sama sekali tidak menimbulkan suara benturan apapun, cuma saja tubuh kedua orang itu sama-sama bergetar keras, sementara kakek Ou terpental jatuh kembali keatas tanah.
Semua kejadian ini berlangsung dalam waktu singkat, tiba-tiba saja kedua orang perempuan berbaju hitam yang berdiri di depan maju kedepan ruangan menurunkan tirai pintu itu.
Dalam pada itu, kakek Ou yang telah menyambut serangan lainnya di udara dan berhasil menduduki posisi diatas angin, segera mengambil kesimpulan kalau tenaga dalam yang dimiliki Kiu siang poo paling tidak masih setingkat rendah daripada kemampuannya.
Tanpa terasa dia tertawa terbahak bahak "Haha haah haah...
wahai nenek siluman, kau anggap tirai penyekat pintu ruangan itu mampu menghalangi jalan masuk kami?"
"Beranikah kau masuk ke dalam?"
Tantang Kiu siang poo segera sambil tertawa sinis.
"Siapa bilang tidak berani?"
Sembari berkata dia siap menyingkap tirai pintu untuk menerobos masuk kedalam. Baru buru Liu Leng poo mencegah.
"Ou lotiang, jangan sembarangan, hati-hati kalau diatas tirai tersebut telah dipoles racun.""
"Biar ada racunpun tetap akan kuterjang!"
Jawab kakek Ou dengan suara lantang.
Begitu selesai berseru, tubuhnya segera melejit ketengah udara, lalu dengan kecepatan bagaikan hembusan angin dia menyingkap tirai di depan pintu dan langsung menerjang ke dalam ruangan.
"Criing...crinngg..."
Suara gemerincing nyaring bergema memecahkan keheningan, keempat perempuan berbaju hitam yang memakai topeng setan itu serentak meloloskan senjata garpu baja yang memancarkan cahaya biru dan masing-masing menyelinap di sisi kiri dan kanan Kiu siang poo untuk melindungi keselamatan nenek tersebut.
Dengan telapak tangan disiapkan didepan dada, kakek Ou segera membentak;
"Nenek siluman, keempat orang muridmu masih bukan tandinganku, lebih baik jangan suruh mereka menghantarkan kematiannya dengan percuma !"
Mencorong sinar aneh dari balik mata Kiu siang poo yang berwarna hijau itu, ditatapnya wajah kakek Ou tanpa berkedip, sementara mulutnya mulai menghitung.
"Satu dua tiga empat lima enam tujuh."
"Hmm...permainan setan apa lagi yang hendak kau perlihatkan dihadapanku?"
Jengek kakek Ou sambil tertawa keras penuh amarah. Tiba-tiba Kiu siang poo mengulapkan cakar setannya sambil membentak lirih;
"Kalian segera mundur!"
Keempat orang perempuan berbaju hitam itu serentak menarik kembali senjata garpunya kemudian mengundurkan diri ke posisinya semula..
Dalam pada itu Kiu siang poo telah menegur dengan perasaan terkejut bercampur keheranan.
"Heran! Sungguh mengherankan! Padahal tirai mutiara ku ini terbuat dari mutiara berbisa, bagi orang awam yang tersentuh mutiara tersebut, ia pasti akan keracunan hebat dan jiwanya tak tertolong lagi, mengapa kau justru tetap sehat wal'afiat dan sama sekali tidak menunjukkan gejala keracunan?"
Kakek Ou yang mendengar perkataan itu kontan saja tertawa terbahak babak.
"Haa...haa...haa... selamanya aku paling tak kuatir terhadap racun, tentunya kau sudah percaya bukan sekarang..?"
"Bagus sekali, kalau begitu coba sambutlah lagi tujuh buah pukulan maut dari si nenek!". Sambil membentak keras, telapak tangan kanannya segera diayunkan kemuka, segulung angin pukulan yang tak berwujud dan sama sekali tidak menimbulkan suara tahu-tahu meluncur kedepan dan mengancam tubuh kakek Ou.
"Serangan yang sangat bagus!"
Bentak kakek Ou keras-keras.
Telapak tangan kanannya didorong ke muka sejajar dada, disambutnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Tatkala kedua gulung angin pukulan itu saling beradu satu sama lainnya, tubuh kakek Ou sama sekal tidak berkutik dari posisinya semula, sebaliknya Kiu siang poo yang masih berada disinggasana berbentuk teratainya itu kelihatan bergoncang keras, rambutnya yang merah pada berdiri kaku semua seperti landak, mendadak tangan kirinya diayunkan kembali melepaskan sebuah pukulan.
Kakek Ou tidak berdiam diri saja, dia mengayunkan juga telapak tangannya untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut dengan keras melawan keras.
Sekali lagi Kiu siang poo mengayunkan tangan kanannya dan melepaskan sebuah pukulan.
Kali ini kakek Ou mengayunkan tangan kirinya dengan cepat, angin pukulan yang sangat kuat segera menimbulkan suara desingan tajam yang memekikkan telinga.
Gerak serangan dari Kiu siang poo benar-benar beraturan, sementara tangan kirinya melepaskan bacokan, tangan kanannya di tarik kembali, kemudian dikala tangan kanannya melancarkan serangan, tangan kirinya di tarik pula dengan cepat.
Ditengah ayunan sepasang telapak tangannya itu.
Dalam waktu singkat dia telah melancarkan tujuh buah serangan berantai.
Dari ketujuh buah serangan ini, pukulan yang satu lebih berat dan mantap dari pada pukulan sebelumnya, lagipula didalam setiap serangan tersebut hampir semuanya mengandung kekuatan daya penghancur yang luar biasa, gelombang demi gelombang meluncur keluar tiada habisnya.
Hingga mencapai serangan yang terakhir, tenaga serangan yang dilepaskan sungguh luar biasa dan tak terlukiskan dengan kata-kata, namun masih juga tidak menimbulkan sedikit suara pun.
Setelah menerima dua buah serangan lawan secara beruntun, kakek Ou segera menyadari bahwa serangan hawa Im yang dilancarkan lawannya memiliki daya kekuatan yang amat jarang ditemui dalam dunia persilatan dewasa ini, diam diam ia menjadi terkejut bercampur keheranan.
"Ilmu pukulan apaan yang telah dipergunakan oleh si nenek siluman ini? Padahal tenaga dalam yang dimilikinya tak mampu menandingi kemampuanku, tapi heran, mengapa tenaga serangan yang dilancarkan secara bergelombang ini justru mengandung kekuatan begitu dahsyat dan kuat? Ehmn... aku tak boleh memandangnya terlalu rendih!"
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia mengerahkan hawa sakti yang dimilikinya dengan sinar mata bekilat diawasinya wajah Kiu siang poo lekat-lekat, kemudian diiringi suara bentakan keras, sepasang telapak tangannya didorong ke muka secara beruntun menyusul serangan bergelombang lawan, ia sambut semua ancaman lawan dengan kekerasan.
Begitu dia mengeluarkan tenaga dalamnya sebesar sembilan bagian, maka segera terlihat betapa dahsyatnya serangan itu.
Angin pukulan yang dahsyat segera menyapu seluruh ruangan tengah itu, ditengah pusaran angin serangan yang maha dahsyat, terlihat ujung baju keempat perempuan berbaju hitam yang berdiri di tepi arena itu berkibar kencang, bahkan hampir saja mereka tak sanggup berdiri tegak.
Selewatnya tujuh kali bentrokan keras itu, kuda-kuda kakek Ou kelihatan agak tergempur, tak kuasa tubuhnya terdorong mundur sejauh selangkah lebih.
Sebaliknya rambut merah Kiu siang poo telah kusut dan terurai tak karuan, mukanya yang menyeramkan telah dibasahi oleh keringat sebesar kacang kedelai, seakan-akan semua sendi tulangnya sudah terlepas, ia jatuh terduduk diatas singgasana berbentuk teratainya dengan lemah, napasnya ngos ngosan dan keadaannya betul-betul mengenaskan.
Tiba-tiba dari luar ruangan terkumandang datang suara bentakan keras disusul bergemanya beberapa kali suara benturan nyaring, tampaknya diluar sana telah terjadi pula suatu pertarungan yang seru.
Kakek Ou bertindak cepat, bagaikan sambaran kilat cepatnya dia menerjang maju lagi kedepan, kemudian sambil mencengkeram ujung baju Kiu siang poo, serunya sambil tertawa keras "Haah...haah haah...nenek siluman..."
"Criing...! Criiangg..,!"
Ditengah suara gemerincingan nyaring, empat batang senjata garpu baja yang memancarkan sinar kebiruan meluncur kedepan dari empat arah yang berbeda dan langsuag menusuk-nusuk kakek Ou.
Mencorong sinar tajam dari balik mata kakek Ou menghadapi kejadian tersebut, dengan cepat dia mengangkat tubuh Kiu siang poo tinggi-tinggi, kemudian bentaknya dengan suara dalam.
"Siapakah diantara kalian yang berani bergerak?"
"Kalian mundur saja,"
Kata Kiu siang poo kemudian dengan lemas tak bertenaga.
Mendengar perintah dari gurunya, mau tak mau keempat orang perempuan itu harus menarik kembali serangannya dan mengundurkan diri dari situ.
Kembali terdengar Kiu siang po berkata.
"Lo enghiong, harap kau lepaskan diriku dengan segera, aku si nenek ada rahasia penting yang hendak disampaikan kepadamu"
"Tidak usah, tentunya kau sudah tahu bukan apa maksud dan tujuan kami memasuki lembah ini sekarang?"
"Antara aku sinenek dengan kalian semua tak pernah terikat oleh dendam kesumat atau sakit hati apa pun, tentunya kedatangan kalian bukan dikarenakan hendak mencari aku si nenek bukan?"
Kakek Ou segera tertawa.
"Dugaanmu keliru besar, kedatangan kami kesini justru hendak mencarimu!"
"Ada urusan apa kau mencari aku si nenek?"
Tanya Kiu siang poo tercengang.
"Tak usah banyak berbicara lagi, setelah kau terjatuh ketanganku, buat apa lagi kau mesti berlagak pilon?"
"Tapi..aku sinenek betul-betul tidak mengerti!"
"Bagus sekali, mari kita keluar dulu, kau pasti akan mengerti dengan sendirinya."
Sambil mencengkeram ujung kerah bagian belakangnya dan menentengnya, kakek Ou segera melangkah keluar.
Begitu tubuhnya terangkat, kakek Ou baru mengetahui bahwa sepasang kaki Kiu siang poo telah menjadi cacad dan tak mampu bergerak lagi, tanpa terasa dia mendengus dingin "Hey nenek siluman tua, sepasang kakimu toh sudah cacad, apa sih gunanya kau terbitkan keonaran sebesar ini bagi umat persilatan?"
Kiu siang poo segera menghela napas panjang.
"Aaai..sesungguhnya aku si nenek pun di paksa untuk berbuat demikian, jadi bukan atas dasar kehendakku sendiri.."
Belum selesai perkataan itu diutarakan, tiba-tiba terdengar suara pekikan nyaring yang tinggi melengking bergema datang dari luar ruangan, menyusul kemudian terdengar seseorang kesakitan.
Agaknya Liu Lang poo telah bertindak dengan melepaskan pisau terbang Hwee hong to nya.
Ditinjau dari hal ini, dapatlah disimpulkan bahwa situasi diluar ruangan telah mencapai pada keadaan yang amat kritis.
Kakek Ou yang berhasil membekuk pemimpin mereka saat ini tak banyak berbicara lagi, sambil menenteng tubuh Kiu siang poo, dia segera berjalan keluar.
Keempat orang perempuan berbaju hitam yang melihat guru mereka sudah terjatuh ke tangan lawan, saat itu tak bisa banyak berkutik, terpaksa mereka hanya dapat mengikuti dibelakang kakek Ou.
Dengan cepat kakek Ou sudah melangkah keluar dari balik tirai mutiara, dimana pandangan matanya memandang, tampak bayangan manusia telah saling berkelebat diluar ruangan, bayangan pedang cahaya golok saling bertarung satu sama lainnya, untuk beberapa saat sulit rasanya untuk membedakan mana musuh dan mana teman.
Tanpa terasa dengan suara yang keras bagaikan geledek, dia membentak nyaring;
"Semuanya berhenti". Suara bentakan itu bagaikan auman singa yang amat dahsyat, seketika itu juga menggetarkan gendang telinga para jago yang berada dalam arena tersebut, gelombang suara yang mengalun tiada hentinya, membuat semua orang yang hadir sama-sama menjadi tertegun. Sembari mengangkat tubuh Kiu siang poo tinggi tinggi ke udara, Kakek Ou berseru dengan lantang;
"Kiu siang poo si siluman tua telah berhasil kutawan, apakah kalian belum bersedia melepaskan senjata untuk menunggu hukuman?"
Orang-orang dari pihak lawan kelihatan cuma tertegun sejenak, kemudian diiringi pekikan nyaring, kembali mereka melancarkan serangan yang dahsyat.
Kakek Ou menjadi amat gusar setelah menyaksikan kejadian ini, kembali bentaknya.
"Hey nenek siluman tua, ayoh cepat suruh mereka hentikan serangan tersebut!"
"Kau keliru besar lo enghioag"
Kata Kiu siang poo setengah mengeluh.
"mereka bukan anak buah aku si nenek, bagaimana mungkin mereka bersedia menuruti perkataanku?"
"Apa? Mereka semua bukan anak buahmu?"
Tanya kakek Ou dengan perasaan keheranan. Kiu siang poo segera tertawa getir;
"Bukan, terus terang saja aku katakan, aku si nenek pun sesungguhnya dipaksa orang untuk datang kemari"
"Siapakah yang telah memaksamu kemari?"
Kakek Ou semakin keheranan lagi setelah mendengar ucapan itu.
"Siau cu hujin!"
"Nyonya siau cu?"
Begitu kata-kata tersebut melintas dalam pendengaran kakek Ou, dia menjadi semakin tertegun lagi, tanyanya kemudian dengan nada tercengang.
"Jadi dia bukan anak muridmu?"
"Bukan! Biarpun perempuan ini masih muda usia, namun sangat ahli didalam menggunakan racun, aku sendiripun tidak mengetahui asal usulnya"
Kakek Ou menjadi setengah percaya setengah tidak sesudah mendengar perkataan ini.
Dia termenung sejenak, lalu sorot matanya yang tajam dialih ke sekeliling tempat itu dan memperhatikannya sekejap..
Dengan cepat ia berhasil mengetahui bahwa posisi pihaknya sudah amat kritis, boleh dibilarg situasi pertarungan yang amat seru ini telah dikuasai lawan, ini berarti dia dipaksa untuk turun tangan guna menolong situasi yang rawan ini.
Padahal dia sedang menguasahi Kiu siang poo waktu itu jelas nenek siluman itu tak bisa dilepaskan dengan begitu saja, atau paling tidak harus ada jagoan yang memiliki kepandaian agak tangguh untuk menjaganya, dengan begitu dia baru bisa turun tangan dengan tenang.
Sekali lagi dia perhatikan situasi dalam arena posisi lawan segera terlihat lebih jelas lagi, ternyata orang-orang yang bermunculan dipihak lawan sekarang ini hampir semuanya dia kenal..
Orang yang sedang bertarung melawan Kam Liu cu saat ini adalah dua sesepuh dari Tok kiam, tentu saja kedua orang ini datang ke situ bersama-sama Kiu tok kaucu, tapi mengapa mereka berdua justru malahan membantu pihak lawan?
Tidak, bila ditinjau dari sikap mereka yang membungkam terus dan maju menyersag musuh tanpa memperdulikan keselamatan jiwa sendiri, dapat disimpulkan kalau kesadaran otak mereka telah punah.
Untuk menghadapi kedua orang manusia tersebut, kendatipun Kam Liu cu tidak sampai menderita kalah, namun kelihatan sekali kalau dia amat kepayahan.
Mereka bertiga sama-sama bertarung dengan mengerahkan segenap tenaga yang dimiliki, setiap gerakan tangan ataupun kaki hampir semuanya membawa deru angin serangan yang kuat dan dahsyat, situasinya betul-betul amat gawat.
Sebaliknya orang yang bertarung melawan Liu Leng poo adalah si pendeta asing Ci kong siansu, orang ini mengandalkan ilmu Tek jiu eng nya yang maha dahsyat untuk meneter musuhnya, setiap bacokan serta ayunan tangannya selalu membawa daya serangan bagaikan kapak raksasa yang hendak membelah bukit.
Namun permainan pedang dari Liu Leng poo juga luar biasa sekali, dimana cahaya pedangnya berkelebat, semua serangan lawan berhasil dipunahkan dengan begitu saja, malahan posisinya sedikit berada diatas angin.
Musuh yang dihadapi Wi Tiong hong adalah congkoan pasukan pedang berpita hijau dari Ban kiam hwee, si sastrawan pemeluk pedang Buyung Siu, sedangkan musuh Cho Kiu moay adalah Raja langit kedua Siang Bu ciu sebaliknya So Siau hui bertarung melawan serigala kuning bercakar racun Siu it hong.
Mereka semua berhasil menempati posisi yang menguntungkan.
Lawan tangguh dari Ma koan tojin adalah Hek sai sengkun Seh Thian yu, tosu itu sempat kewalahan dan terdesak dibawah angin.
Liong Hiang kun, Lak jiu Im eng Thio Man dan sipena baja Tam See hua tiga orang bekerja sama menghadapi lima belas orang lelaki itu hampir semuanya terdiri dari kekuatan inti selat Tok seh sia.
Bisa dibayangkan betapa kritisnya keadaan ketiga orang itu dalam menghadapi kepungan ketat dari lawan-lawannya, boleh di bilang pada waktu itu mereka bertiga sudah kelabakan setengah mati dan jiwanya terancam bahaya maut.
Begitu menyaksikan keadaan didepan mata.
Kakek Ou segera membentak dengan suara rendah.
"Hey nenek siluman tua, bila kau menginginkan pembebasan diriku, sekarang telah muncul kesempatan baik bagiku"
"Apakah kau menginginkan kerja samaku dengan kalian?"
Tanya Kiu siang poo dengan suara yang tinggi melengking.
"Benar, apakah kau bersedia?"
Kiu siang poo segera menjerit lengking dan tertawa terkekeh-kekeh dengan suara yang tak sedap didengar, sahutnya.
"Semenjak tadi aku memang sudah mempunyai maksud untuk berbuat demikian"
"Bagus sekali, sekarang pun belum terlalu lambat, perintahkan kepada ke empat orang muridmu sekarang juga untuk terjun ke arena dan menghadapi kelima belas orang lelaki berbaju hitam dari selat Tok seh sia itu"
"Apakah perkataanmu dapat dipercaya?"
Kakek Ou segera tertawa terbahak-bahak "Haah., haahh...haahh... perkataan dari Ou swan lebih berat daripada bukit karang, apa yang telah kuucapkan, tentu saja tak akan kuingkari kembali"
"Aaah, jadi kau adalah panglima sakti berlengan emas yang menjaga pintu langit selatan dari perguruan Lam hay bun, Ou Swan?"
Seru Kiu siang poo amat terperanjat.
"Benar, akulah orangnya!"
"Baik, aku percaya dengan ucapanmu!"
Sahut Kiu siang poo tanpa berpikir panjang lagi. Begitu selesai berkata, dia segera berpaling kearah keempat orang perempuan berbaju hitam itu dan berseru.
"Kemarilah kalian semua, tangkap kelima belas orang kuku garuda dari selat Tok seh sia itu!"
Keempat orang perempuan berbaju hitam itu segera memberi hormat untuk menerima perintah, kemudian bagaikan empat buah asap hitam yang ringan, serentak mereka menerjang masuk kedalam arena pertempuran.
"Sekarang, tentunya kau dapat menurunkan aku bukan?"
Ucap Kiu siang poo kemudian. Kakek Ou segera tertawa.
"Kau tak usah kuatir, setelah aku berjanji akan membebaskan dirimu, tentu saja aku tak akan mengingkari janji, cuma untuk sementara waktu terpaksa aku akan menyiksa mu sebentar, bila aku telah merobohkan kawanan cecunguk itu, pasti akan kubebaskan dirimu"
Begitu selesai berkata, sambil menenteng tubuh Kiu siang poo, dia segera meluncur ke tengah udara dan menghampiri Ma koan tojin yang sedang keteter.
Belum lagi tubuhnya tiba ditempat sasaran, dari tengah udara ia sudah melepaskan sebuah pukulan dahsyat langsung menghantam tubuh Hek sat seng kun Seh Thian yu.
-oo0dw0oo-
Jilid 27 HEK SAT SENG KUN SEH THIAN Adalah jagoan yang termasuk dalam urutan empat raja langit, sekalipun kesadaran otaknya sekarang telah lenyap (perlu diketahui, segenap jago dari Tok seh sia telah berada dalam keadaan kehilangan kesadaran pikirannya) namun ilmu silatnya masih tetap utuh.
Ketika secara tiba-tiba ia melihat datangnya sesosok bayangan tubuh yang meluncur ke arahnya, bahkan mengikuti terjangan itu terasa datangnya segulung angin pakulan maha dahsyat yang mengancam keselamatan jiwanya, cepat-cepat dia menjejakkan kakinya ke atas tanah dan segera menyingkir kesamping, Dengan cepatnya pula kakek Ou melayang turun ke atas tanah, kepada Ma koan tojin segera ujarnya "Ma koan toheng, si nenek ini telah menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama dengan kita, untuk sementara waktu kuserahkan kepadamu"
Sebelum Ma koan tojin memahami maksud perkataan itu kakek Ou telah melepaskan Kiu sing ang po dan melejit kembali ke tengah udara dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Dia langsung mengejar kebelakang tubuh Seh Thian yu lalu telapak tangannya diayunkan kemuka menghantam tubuh orang tersebut.
Seh Thian yu berusaha keras untuk menghindarkan diri, sayang keadaan sudah terlambat, tahu-tahu tubuhnya sudah dicengkeram dan diangkat ketengah udara oleh kakek Ou bagaikan elang yang menangkap anak ayam, menyusul kemudian tangan kirinya diayunkan ke atas tubuhnya untuk menotok jalan darah, serta merta Seh Thian yu tertotok telak dan terlempar ke atas tanah.
Kakek Ou tidak berdiam sampai disitu saja, tubuhnya segera berputar cepat dan melesat ke depan dengan menempel di atas tanah, dia langsung menyergap ke belakang tubuh si Serigala kuning bercakar racun Siu It hong kemudian jari tangannya disodokkan ke depan.
Sesungguhnya So Siu hui adalah putri kesayangan dari ketua Lam hay bun yang memiliki ilmu pedang sangat hebat, namun sayang sebagai anak perempuan tenaga dalamnya sangat terbatas.
Walaupun pedang yang digunakan adalah pedang mestika yang tajam, namun dia tak mampu memapas putus cakar serigala beracun dari lawannya Waktu itu paras mukanya telah berubah menjadi pucat pias sementara napasnya tersengkal sengkal Ketika secara tiba-tiba menyaksikan kakek Ou meluncur datang dengan kecepatan luar biasa, hatinya menjadi kegirangan, cepat-cepat dia berseru .
"Ooooh, empek Ou..."
"Budak cilik, kau tak perlu berteriak lagi, percuma kau memanggil-manggil kakekmu..."
Jengek serigala kuning bercakar racun sambil tertawa seram.
Akan tetapi sebelum perkataan itu selesai diucapkan, ia sudah mengeluh kesakitan punggungnya terhajar oleh serangan totokan jari hingga tak ampun lagi tubuhnya roboh terjengkang ke atas tanah....
So siau hui mendengus dingin, memanfaatkan kesempatan baik itu dia mengangkat pedangnya dan langsung ditusukkan keatas ulu hati lawan.
Cepat-cepat kakek Ou menangkis serangan dari nona itu, kemudian serunya .
"Jangan kau bunuh, mereka tak lebih hanyalah orang-orang yang telah kehilangan kesadaran pikirannya"
"Tapi aku merasa amat mendongkol terhadapnya...."
Seru So Siau hui sambil cemberut.
"Lebih baik nona istirahatlah sejenak."
"Tidak usah"
Tampik So Siau hui sambil menyeka keringat dari wajahnya.
"aku tidak lelah, aku akan membantu Wi sauhiap."
"Untuk menghadapi congkoan dari pasukan pedang berpita hijau Buyung Siu, kita hanya boleh menangkapnya hidup-hidup dan tak boleh sampai salah tangan sehingga melukainya, silahkan nona beristirahat, serahkan saja orang-orang itu kepada budak tua untuk dibereskan.."
Menyusul perkataan itu, tubuhnya berputar kencang bagaikan sebuah gasingan, jari tangannya disentilkan berulang kali melancarkan serangkaian totokan udara kosong.
Dua buah serangan jari di antaranya secara terpisah menyergap tubuh Buyung Siu serta Siang Bu ciu berdua.
Lawan dari kedua orang ini adalah Wi-Tiong hong serta Cho Kiu moay, saat itu mereka sedang bertarung dengan kecepatan luar biasa, diantara kilauan cahaya pedang, suara benturan nyaring bergema tiada hentinya.
Ditengah pertarungan yang sedang berlangsung sengit itulah tahu-tahu bergema dua kali suara dengusan tertahan, si sastrawan pemeluk pedang Buyung Siau dan Raja langit kedua Siang Bu ciu segera roboh terjengkang ke atas tanah.
Sebagaimana diketahui, Wi Tiong hong serta Cho Kiu moay berdua telah kehilangan kesadaran pikirannya karena pengaruh obat.
Saat itu mereka hanya tahu tunduk dan menuruti perkataan Liu Leng poo seorang....
Begitu kedua orang lawan sudah roboh, tanpa pikir panjang lagi mereka segera membalikkan badannya, kemudian ketika melihat Liu Leng poo sedang bertarung melawan seorang, serentak mereka berpekik penuh kegusaran kemudian serentak menerjang ke arah si pendeta asing Ci kong siansu.
Kakek Ou yang melihat kejadian ini, diam-diam menghela napas panjang, gugamnya.
"Aaaaa, sungguh tak kusangka bubuk pembingung sukma buatan si raja langit bertangan beracun Liong Cay thian memiliki daya kerja yang begitu hebat!"
Tanpa menghentikan gerakan tubuhnya lagi dia membentak keras-keras .
"Kam lote aku datang membantumu!"
Kam Lu cu yang harus bertarung melawan Tok kiu ji lo memang merasa kepayahan, mendengar seruan itu, cepat-cepat dia berseru keras .
"Kesadaran pikiran mereka sudah hilang semua"
Kakek Ou tertawa.
"Jangan kuatir, aku telah melihatnya sendiri tadi"
Dengan suatu gerakan cepat dia menyelinap masuk ke dalam arena, kemudian telapak tangannya diayunkan ke depan dan menyambut bacokan yang sedang dilancarkan kakek bertubuh ceking itu.
Ketika si kakek ceking itu melihat datangnya musuh lain, tanpa berpikir panjang dia lanjutkan ancaman itu kearah lawan.
"Blaaammm.....!"
Ketika dua gulung angin pukulan saling bertemu satu sama lainnya, segera terjadilah suara benturan keras yang memekikkan telinga, akibatnya timbul pusaran berpusing yang memancar keempat penjuru, keadaannya menjadi amat mengerikan.
Dengan sepasang mata merah membara, kakek ceking itu terdorong mundur sejauh delapan depa lebih, rambutnya yang berwarna keperak-perakan berdiri kaku semua bagaikan landak, tubuhnya bergetar keras, agaknya ia sedang menahan gelora amarah yang luar biasa.
Kakek Ou mendesis dingin, bukannya mundur dia malah mendesak maju lebih ke depan, mengikuti gerakan mana ia mendesak lebih kedepan langsung menuju kehadapan kakek ceking itu.
Sementara itu telapak tangan si kakek ceking itu sudah berubah menjadi merah membara seperti api, ketika melihat musuhnya mendesak lebih mendekat, serta merta dia mengayunkan tangannya menghajar bahu kakek Ou telah menyodokkan jari tangannya menghajar jalan darah Hian ki hiatnya.
Kakek ceking itu sama sekali tak ambil perduli, bukannya menghindarkan diri dari ancaman yang tiba, dia justru mengerahkan ilmu pakulan Kiu yang tok ciangnya untuk menghajar bahu kakek Ou.
"Blaaammm!"
Serangan itu bersarang telak dan menghantam tubuh kakek Ou sambil mencelat dan bergetar keras.
Akan tetapi totokan jari tangan kakek Ou atas jalan darah Hian ki hiat ditubuh kakek ceking itupun bersarang telak, tak ampun kakek itu segera roboh terduduk.
Dipihak lain, sipendeta asing Ci kong siansu yang harus menghadapi serangan gabungan dari Wi Tiong hong serta Cho Kiu moay telah berada dalam keteter hebat, menggunakan kesempatan itu Liu Leng poo segera turun tangan menotok jalan darahnya Sedangkan kelima belas orang lelaki berbaju hitam itupun berhasil dikuasai semua oleh keempat perempuan berbaju hitam anak buah Kiu siang poo.
Dengan demikian, didalam ruangan depan tinggal Kam Lui cu dan seorang kakek cebol saja yang masih bertarung sengit Si kakek cebol itu dengan mengandalkan sepasang telapak tangannya yang hitam pekat seperti tinta melepaskan serangkaian pukulan Kiu im tok ciang dengan hebatnya angin serangan yang menderu-deru terasa amat memekikkan telinga.
Berulang kali Kam Liu cu merubah jurus serangannya, sepintas lalu kelihatan sangat ganas tapi dia justru tetap mengatur penjagaan penyerangan secara jitu dan tepat, Tapi berhubung ilmu silat yang dimiliki lawannya kelewat tangguh, maka walaupun dia telah berhasil merebut posisi di atas angin, tetap bukan pekerjaan yang mudah baginya untuk meringkus lawannya yang satu ini.
Pertarungan kembali berlangsung sampai berapa puluh gebrakan, namun posisinya tetap seimbang, keadaan tidak banyak mengalami perubahan seperti semula.
Kakek Ou yang kebetulan telah merobohkan si kakek ceking, tanpa berpaling lagi segera mengayunkan tangan kenannya dan mendekati kakek cebol itu dari belakaeg, serangkaian totokan udara kosong di lancarkan secara beruntun.
Kakek cebol itu membalikkan tubuhnya, ketika menyaksikan kakek Ou menerjang mendekat dia sangat terkesiap dan segera melompat mundur sejauh beberapa depa untuk menghindarkan diri dari datangnya ancaman tersebut.
Melihat hal ini, si kakek Ou segera tertawa keras .
"Heeehhh..heeehh..heeehhh..kau anggap seranganku ini bisa kau hindari?"
Tangan kanannya segera menyambar ke depan dan mengancam bahu kakek cebol itu, sementara tangan kirinya secara tiba-tiba melepaskan sebuah pukulan.
Dengan kecepatan kakek cebol itu menghindar selangkah ke samping untuk meloloskan diri dari cengkeraman kakek Ou kemudian sambil membalikkan badan, tangan kanannya balas melepaskan sebuah pukulan untuk menyongsong datangnya ancaman tangan kiri kakek Ou tersebut.
"Blaaaaamm,.!"
Sepasang telapak tangan itu saling berada satu sama lainnya dan menimbulkan suara benturan yang amat kerat. Kakek Ou segera mendorong tangan kirinya ke depan seraya membentak keras .
"Kam lote, sambutlah ini !"
Begitu dia melakukan dorongan, tubuh kakek cebol itu persis terdorong kehadapan Kam Liu cu.
Si kakek cebol itu tak sanggup untuk menahan diri lagi, dengan sempoyongan dia mundur sejauh enam tujuh langkah ke belakang dan menerjang kehadapan tubuh Kam Liu cu.
Tentu saja Kam Liu cu mengerti, kakek Ou memang sengaja berbuat demikian agar dia tidak kehilangan muka.
Karena itu tidak menunggu sampai si kakek cecol tersebut mendekati tubuhnya, jari tangannya telah diayunkan ke depan serta menotok jalan darah dibelakang tubuhnya.
Dengan ditaklukkannya segenap musuh yang menyerang datang, pertarungan sengit yang semula berlangsung di depan pelataran pun akhirnya terhenti juga.
Kiu siang poo yang tertotok jalan darahnya dan masih duduk bersila diatas tanah, segera manggut-manggut seraya memuji .
"Ehmmmm, tampaknya nama besar si Panglima sakti berlengan emas yang menjaga pintu langit selatan memang bukan nama kosong belaka."
"Haaahhh! haaaaahhh..haaaahh...apakah kau berharap aku bersedia membebaskan dirimu?"
Seru kakek Ou sambil tertawa tergelak.
"Benar, apakah kau masih mempunyai syarat lainnya?"
Kakek Ou segera menuding ke arah orang-orang yang berada dibelakangnya, lalu berkata .
"Orang orang itu semua telah kehilangan kesadarannya karena terluka ditanganmu, bagaimana pun juga aku harus memberikan pertanggungan-jawabnya bukan?"
Mendorong sinar tajam dari balik mata Kiu siang poo setelah tertawa tajam dengan suaranya yang melengking, dia berkata.
"Andaikata mereka terpengaruh oleh ilmu pembetot sukmaku, sudah sejak tadi oraag orang tersebut menuruti perkataanku!"
Liu Leng poo segera tertawa dingin .
"Terbukti kalau mereka kehilangan pikiran dan ingatannya karena jalan darah Nau juang hiat pada benak terluka oleh Ciang Liong ci, selain kau, siapa lagi manusia di dalam dunia persilatan saat ini yang memiliki ilmu sesat seperti itu?"
Kiu siang poo tetap menggelengkan, kepalanya.
"Ciang liong ci maksudmu?"
Dia berseru.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang disebut Ciang liong ci itu?"
Dengan kening berkerut Liong Hiang kun mendengus, serunya .
"Enci Liu kau jangan percaya dengan perkataannya itu!"
Tapi kakek Ou segera menyela .
"Tampaknya sih memang bukan perbuatannya!"
Liu Leng poo mengangkat kepalanya seraya berpaling, kemudian tanyanya .
"Maksud totiang, orang yang menggunakan ilmu jari Ciang liong ci tersebut adalah orang lain?"
Kakek Ou manggut manggut.
"Kiu siang poo mengaku kalau dia sendiripun berada dibawah pengaruh orang lain. Aku pikir perkataannya ini bisa jadi ada betulnya juga.."
"Tapi siapakah orang itu?"
"Aku sendiripun tidak tahu siapakah orang itu"
Ucap Kiu siang poo.
"Dia mengaku sebagai Siau cu hujin, ahli dalam menggunakan racun, aku dan keempat orsng muridku sudah diracuni semua olehnya"
"Siau cu hujin?"
Seru Liu Leng poo terkejut.
"dia.."
Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba dari dalam ruangan sudah berkumandang datang suara gelak tertawa seseorang, menyusul kemudian terdengar suara seorang perempuan menjawab "Apakah kalian menganggap setelah berhasil membekuk Kiu siang poo, kemudian tak ada urusan lagi!"
Liong Hung kun merasakan sekujur tubuhnya bergetar keras, tiba-tiba saja ia menjerit lengking.
"Perempuan siluman itulah yang mengaku sebagai Siau cu hujin, perempuan siluman, itulah biang keladinya...."
Pelan pelan tirai mutiara disingkap orang kemudian muncul seorang perempuan berambut panjang, bergaun panjang yang berdandan sebagai seorang perempuan keraton, Didalam genggamannya dia memegang sebuah senjata Giok ji gi berwarna hitam, wajahnya cantik rupawan dan kelihatan anggun.
Didepan tubuhnya berjajar delapan orang kakek berbaju abu-abu yang semuanya berwajah dingin dan kaku, dalam genggaman mereka masing masing memegang sebuah gendawa kecil berwarna emas yang diatasnya telah dipersiapkan anak panah dan itu tujukan kesemua jago yang berada dalam ruang depan.
Kakek Ou memperhatikan sekejap perempuan itu lalu bertanya .
"Kaukah yang bernama Siau cu hujin?"
Siau cu hujin tertawa dingin .
"Heeebhh.heeehhh...heeehhh...kalian semua telah berada di tengah perangkap, menurut pendapatku lebih baik kalian menyerah saja untuk dibelenggu."
"Haaaahhh.haaahhh..haaahhh.."
Kakek Ou tertawa tergelak.
"kedatanganmu sangat kebetulan, kami memang sedang mencari dirimu".
"Hmmm, kalian tak usah tekebur dulu. Coba tengok dulu keadaan dibelakang kalian fikir dulu apakah masih ada jalan mundur yang lain...?"
Tak kuasa lagi semua orang berpaling di luar pintu bentuk bulat itu terdapat pula sebuah ruangan yang sangat lebar.
Waktu itu empat orang kakek berjenggot putih berbaju hijau berdiri dimuka ruangan tersebut sementara dalam genggaman mereka masing masing memegang sebutir benda berbentuk bulat yang besarnya seperti telur itik dan berwarna hitam berkilauan.
Sambil tertawa terbahak-bahak kakek Ou segera berseru .
"Haaahhh.. haaahh.. haaahhh.. kalau cuma barisan semacam ini sih hanya bisa menakut-nakuti bocah yang berusia tiga tahun saja"
"Empek tua"
Seru Liong Hiong kun dengan wajah memucat.
"mereka adalah Lu leng pat kong"
"Lantas kenapa? Apakah mereka sangat lihay?"
Dengan suara rendah Liong Hiang kun berkata .
"Benda yang berada dalam genggaman Pat kong adalah delapan lembar busur emas berpanah racun, benda itu merupakan senjata manunggal dari Lim ciangkun, seorang tokoh penting dari suku Biu dimasa lalu, apabila anak panah itu dibidikan ke tengah udara maka bubuk beracun yang tergesek oleh udara akan meletus dan segera menyebarkan bubuk tersebut keseluruh angkasa, setiap makhluk yang terkena sedikit saja bubuk beracun itu, maka kulit tubuhnya akan membusuk dan akhirnya leleh menjadi gumpalan air berwarna kuning."
"Sebaliknya benda yang berada di tangan Su leng adalah peluru sakti api beracun Kiu thian sip teeh, daya pengaruhnya amat dahsyat, cukup sebutir saja sudah dapat membakar hangus kita semua"
Siau cu Hujin yang mendengar perkataan itu segera tersenyum, segera ujarnya "Adik kecil, perkataanmu memang benar.
Nah tentunya kalian semua telah mendengar bukan, asal kuturunkan perintah, jangan harap kalian semua dapat meloloskan diri dalam keadaan selamat"
Liong Hiang kun mendengus dingin, tiba-tiba dia tampilkan diri kedepan lalu berseru dengan suara melengking;
"Su leng pat kong, kalian telah banyak tabun mengikuti ayahku, kini ayahku telah mati dicelakai oleh siluman perempuan itu mengapa kalian tidak membalaskan dendam bagi kematian ayahku, sebaliknya malah menuruti perintah dari siluman perempuan itu?"
Kedelapan orang kakek berbaju abu-abu itu tetap membungkam diri dalam seribu bahasa, bibirnya diturunkan kebawah, matanya memancarkan sinar yang dingin dan menyeramkan, wajahnya kaku tanpa emosi, terhadap ucapan dari Liong Hiang kun tadi sikapnya acuh tak acuh seperti sama sekali tidak mendengar perkataan itu.
Sambil tertawa Siau cu Hujin berkata lagi.
"Adik cilik, kau jangan berbicara sembarangan, kalau ingin mengetahui siapakah pembunuh ayahmu maka adalah Tong hujin, mereka berempat saling beradu racun di ruang depan sehingga keracunan dan tewas, sampai sekarang pun jenasah mereka belum tergeser dari posisinya semula, bagaimana mungkin kau menuduh akulah pembunuhnya?"
"Sebenarnya siapakah kau?"
Tiba-tiba Liu Leng poo menegur.
"sesungguhnya apa maksud dan tujuanmu dengan perbuatan semacam ini?"
Siau cu Hujin tertawa merdu.
"Akulah Siau cu hujin! Asal kubantai kalian semua hingga mati, maka tiada orang dalam dunia persilatan dewasa ini yang sanggup memusuhi kami lagi"
Kakek Ou memperhatikan sekejap busur kecil berwarna emas yang berada ditangan kedelapan orang kakek berbaju abu-abu itu, bibirnya nampak berkemak kemik lirih, dengan ilmu menyampaikan suara bisiknya.
"Nona Liu, ajaklah dia berbincang-bincang aku akan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menyergap serta membekuknya"
Tiba-tiba Siau cu hujin memutar matanya yang jeli, kemudian tertawa dingin .
"Hey tua bangka, kunasehati kepadamu lebih baik jangan mempunyai pikiran sinting, barang siapa berani bertindak gegabah maka dibawah serangan ke delapan busur emas bubuk beracun itu, tak seorangpun diantara kalian yang akan lolos dalam keadaan selamat..."
Belum selesai perkataan itu diutarakan, mendadak dia mendongakan kepalanya sambil membentak .
"Siapa di situ...."
Tampak sesosok bayangan manusia berkelebat masuk dari ruang depan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, semua orang cuma merasakan berdesingnya angin tajam melewati atas kepala, namun tidak jelas wajah bayangan manusia itu.
Baru saja perkataan "Siapa disitu"
Meluncur dari bibir Siau cu Hujin, tubuhnya telah meluncur pula keluar ruangan bersamaan dengan kedatangan bayangan manusia tadi.
Tubuhnya yang melayang ditengah udara bergerak dengan gerakan yang sangat indah dan luwes, seolah-olah sedang menari saja disitu.
Ternyata Siau cu hujin adalah anggota dari partai laba-laba dalam sakunya selalu tersedia seutas benang tipis yang dapat membuatnya terhenti ditengah udara.
Tapi kalau diamati dengan lebih seksama lagi, terasa gerakan itu bukan seperti menari, namun lebih mirip dengan gerakan meronta.
Semua peristiwa ini berlangsung dalam waktu singkat, sementara orang yang menerobos masuk lewat pintu bulat itu sudah melayang turun keatas tanah, ternyata dia adalah seorang nona berbaju hijau.
Didalam genggamannya tampak membawa sebuah tongkat bambu yang tipis lagi panjang, pada ujung tongkat bambu tadi terikat seutas benang tipis, bentuknya mirip sekali dengan alat pengail nelayan, dan saat itu gadis tersebut telah berhasil mengail tubuh Siau cu hujin sehingga tergantung ditengah udara.
Keadaan Siau cu hujin tak ubahnya seperti ikan yang kena terkail, dia masih mencoba untuk meronta di tengah udara, namun tak pernah berhasil melepaskan diri dari rontaan tersebut Kejut dan gembira Liu leng poo segera berseru.
"San sumoay !"
Ternyata gadis berbaju hijau itu tak lain adalah Liok Khi yang telah pergi mengikuti si kakek pengail dari telaga sorga itu.
Bila ditinjau dari kemampuannya mengail Siau cu hujin sebelum semua orang sempat melihat wajahnya, dapatlah diketahui bahwa dalam berapa bulan yang begitu singkat, dia telah berhasil mewarisi semua kepandaian yang dimiliki si kakek pengail dari telaga sorga.
Sementara itu Liok Khi telah mengerakkan alat pengailnya seraya berseru.
"Toa suheng, cepat disambut!"
Keadaan Siau cu hujin waktu itu tak ubahnya seperti seekor ikan duyung, mengikuti seruan tadi, tubuhnya langsung meluncur kehadapan Kam Siu cu dan...
"Blaaammmm.,!"
Tubuhnya terbanting keras keras diatas tanah.
Kam Liu cu tak berani berayal lagi, dengan suatu langkah cepat dia maju kemuka dan segera menotok jalan darahnya.
Liong Hiang kun juga segera menggetarkan pedangnya sambil menyerang ke muka, serunya sambil menggertakan giginya kencang-kencang.
"Siluman perempuan, kau tentunya tak pernah menduga bukan bakal terjatuh ketanganku !"
Liu Leng poo segera menghalangi perbuatannya itu sambil berbisik dengan ilmu menyampaikan suara.
"Nona Liong, jangan berbuat begitu, banyak orang-orang kita yang telah terluka oleh ilmu totokan Ciang liong ci-nya, untuk melepaskan lonceng harus dicari yang mengikatnya. Ilmu totokan jalan darah semacam ini hanya dia yang sanggup membebaskannya"
Dalam pada itu Siau cu hujin yang jalan darahnya tertotok telah berkata sambil tertawa terbahak-bahak.
"Dengan nyawa ku dapat ditukar dengan begitu banyak nyawa kalian, kalau di hitung hitung aku sama sekali tidak rugi!"
"Hujin!"
Mendadak Kiu siang poo menjerit lengking.
"mungkin kau tidak pernah menyangka bukan bahwa aku pun berada di sini?"
"Sekalian pun kau berada di sini, lantas apa bedanya?"
Jengek Siau cu hujin dingin.
"Andaikata hujin terjatuh ke tangan mereka, mungkin tak akan menemukan cara yang terbaik untuk membuatmu mati tak bisa hidup pun tak dapat, tapi bagi aku si nenek beraneka ragam cara yang kupahami dan aku kuasahi"
"Nenek sialan, kau harus mengerti bahwa kaupun keracunan, dan racun tersebut aku lah yang mengendalikan, saat ini juga aku dapat membuat racun itu bekerja secara merenggut nyawamu."
Dengan cakar elangnya Kiu siangcu poo mengayunkan tangannya kedepan, manusia berkata lagi sambil tertawa seram.
"Sekalian racun itu mulai bekerja didalam tubuhku, dengan dasar tenaga dalam yang kumiliki aku percaya paling tidak masih sanggup bertahan selama satu dua jam lamanya, sebaliknya bila kuayunkan tanganku ini maka aku akan melepaskan ilmu Kiu thian lian hun sut atas tubuhmu yang membuat kau menderita dan tersiksa hebat selama empat puluh sembilan bari.."
Tentu saja Siau cu Hujin cukup mengetahui tentang kemampuan dari Kiu siang poo, paras mukanya kontan saja berubah hebat setelah mendengar perkataan itu, segera bentaknya sambil menyeringai seram.
"Kalian jangan keburu merasa bingung dulu bila kuturunkan perintah maka aku masih bisa beradu jiwa dengan kalian semua"
"Heeehhh....heeeahh..heeehhh...perkataan mu itu tak bakal bisa menggertak aku si nenek"
Jengek Kiu siang poo sambil tertawa lengking.
"Kini jalan darahmu telah tertotok, dengan menggunakan benda apakah kau akan memberi perintah kepada mereka?"
Kemudian sambil berpaling kearah Liu-Leng poo katanya lagi .
"Harap nona Liu menggeledah sakunya, dia mempunyai sebuah sumpritan yang terbuat dari batu kemala hitam, dengan benda itulah dia memberi perintah kepada orang-orang yang kehilangan pikiran serta kesadarannya itu."
Jalan darah Siau cu hujin sudah tertotok waktu itu hingga keempat anggota badannya tak mampu bergerak, maka diapun tak bisa berbuat apa-apa sewaktu Liu Leng poo menggeledah sakunya serta mengeluarkan sebuah sumpritan yang terbuat dari batu kemala hitam.
Dengan sepasang mata yang melotot besar penuh pancaran sinar marah dan benci, siau cu hujin mengawasi wajah Kiu siang poo lekat lekat, namun mulutnya terbungkam dalam seribu bahasa.
Sementara itu Kam Liu cu telah berkata.
"Nona telah terjatuh ketangan kami, asalkan kau bersedia bertobat serta kembali kejalan yang benar, maka kamipun tidak akan mencelakai jiwamu."
"Dengan cara apa kalian minta aku bertobat?"
Tanya Siau cu hujin dengan suara dingin.
"Cukup bagi nona untuk membebaskan jalan darah semua jago yang tertotok oleh ilmu Ciang Liong ci yang mengakibatkan mereka kehilangan kesadarannya itu, kami pun akan segera membebaskan pula dirimu."
Ooo~^DewiKZ^Aditya^aaa^~ooo "Lebih baik kalian bunuh saja diriku!"
Kata Siau cu hujin.
"Heeee....hee....heee , kau betul-betul tidak takut mati?"
Jengek Liu Leng-poo sambil tertawa dingin. Siau cu hujin mengangkat kepalanya serta menengok sekejap kearah Liu Leng poo, kemudian berkata .
"Aku toh sudah menerangkan, aku haaya mampu menotok jalan darah seseorang dengan ilmu Ciang liong ci, namun tidak mengetahui bagaimana caranya untuk membebaskan, apa yang bisa kuperbuat bila kalian semua tak mau percaya?"
"Selain kau, siapa lagi yang mampu membebaskan pengaruh totokan tersebut?"
Tanya Kam Liu cu.
"Tentu saja ada orang yang mampu."
"Siapakah dia?"
"Aku sendiripun tak mengetahui siapakah dia? Sebab dia hanya mengajarkan ilmu menotok dengan Ciang Liong ci."
"Kalau begitu, kaupun bukan otak yang menjadi pimpinan sesungguhnya ditempat ini?"
Desak Liu Leng poo dengan kening berkerut. Siau cu hujin segera menundukkan kepalanya rendah-rendah .
"Bila aku harus bicara sejujurnya, bisa ku jelaskan bahwa akupun bukan pemimpin yang sesungguhnya dari lembah ini."
"Kau sebagai Siau cu hujin, paling tidak tentu mengetahui sedikit banyak tentang identitas orang tersebut?"
Siau cu hujin menggelengkan kepalanya berulang kali .
"Aku tidak tahu. Meskipun aku telah bertemu dengannya beberapa kali, namun sama sekali tak kuketahui siapakah namanya, dia muncul dengan dandanan sebagai seorang sastrawan yang berwajah tampan, tapi aku tahu wajah tersebut bukan wajah aslinya."
Perkembangan dari peristiwa tersebut makin lama berubah semakin aneh dan mencengangkan. Tanpa terasa Kam Liu cu menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal sembari menyela......
"Dia selalu bertemu dengan nona dimana?"
"Orang ini bergerak seperti bayangan setan, kedatangan maupun kepergiannya selalu misterius, kebanyakan dia telah muncul dibelakang tubuhku secara tiba-tiba. menanti kudengar suara dehemannya serta berpaling, dia telah berdiri dihadapanku, ada kalanya secara tiba-tiba dia muncul pula didalam kamarku..."
"Kemanakah dia telah pergi?"
Tanya Kam Liu cu.
"Dia selalu memperingatkan kepadaku agar jangan mengintip atau mencoba menyelidiki gerak geriknya secara diam-diam, kalau tidak, maka hal ini akan mendatangkah bencana kematian bagi diriku. Selain itu diapun pergi dengan kecepatan luar biasa, dalam sekilas kelebatan saja bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan"
"Selain kau, masih ada siapa lagi yang pernah berjumpa dengannya..?"
Tanya Liu Leng poo kemudian.
"Aku rasa sudah tak ada lagi, dia selalu menampakkan diri dikala aku sedang seorang diri."
"Benarkah didunia ini terdapat manusia yang begini misterius seperti apa yang kau ceritakan itu?"
Sindir kakek Ou.
"Setiap patah kataku adalah kata kata yang sejujurnya !"
So Siau hiu yang selama ini hanya membungkam terus tiba-tiba bertanya.
"Kebanyakan dia munculkan diri dimana?"
"Di pintu belakang"
"Dekat tempat kediamanmu ?"
Siau cu hujin manggut manggut.
"Kalau begitu ajaklah kami untuk masuk ke dalam"
Perintah So Siau hui sambil menepuk bebas jalan darah Siau cu hujin yang tertotok.
Tampaknya Liu Leng poo didesak oleh keadaan, terpaksa dia harus memimpin didepan.
Liu Leng poo segera meniup sumpritan kemala itu seraya berseru kepada ke delapan orang kakek berbaju abu itu .
"Mulai sekarang kalian berada dibawah kekuasaanku jaga baik baik semua tawanan yang berhasil dibekuk disini, jangan biarkan seorang pun di antara mereka lolos dari sini"
Kalau dibilang memang sangat aneh ke delapan kakek berbaju abu-abu itu segera menerima perintah dan membungkukkan badannya dalam-dalam dengan sikap yong sangat hormat.
Selesai memberikan perintahnya, Liu leng poo segera mengajak So Siau hui serta Liok Khi untuk menyusul dibelakang Siau cu hujin.
Sementara itu para jago lainnya pun turut serta meninggalkan ruang tengah menuju kebelakang, Kiu siang poo yang cacad segera di bopong naik keatas sebuah kereta oleh anak muridnya dan mengikuti pula dari belakang Setelah melalui penyekat, ruang belakang merupakan sebuah halaman kecil yang sama sekali tertutup rapat, Setelah melewati pelataran, didepan situ merupakan sebuah ruang teagah yang indah dan megah, dikiri dan kanan masing masing terdapat dua buah pintu yang tertatup rapat Liang Hiang kun segera berseru keras "Enci Liu, Ban kiam hweecu disekap di ruang di sebelah kiri"
Liok Khi segera menggerakkan alat pancingannya untuk menyambar pintu yang berada diruang kiri...
"Kraaaakkk!"
Pintu kayu itu sama sekali tidak bergerak barang sedikitpun. So siau hui yang menyaksikan hal ini segera berkata.
"Enci Liok, Pintu itu terbuat dari baja murni."
Sembari berkata dia mendekati pintu masuk kemudian menekan sebuah tombol, pintu besi itu pun pelan-pelan terbuka lebar. Sekilas perasaan kaget cepat menghiasi wajah Siau cu hujin, serunya keheranan.
"Ooooh, rupanya nona menguasai sekali tentang ilmu alat rahasia.."
"Hmmm. Justru karena itulah aku tak akan menghadapi permainan setanmu!"
Jawab So Siau hui dingin.
Pintu besi terbuka lebar dan semua orang pun tertegun setelah melihat isi ruangan tersebut, sebab isi ruangan itu bukan Ban-kian hweecu melainkan seorang nona cantik yang berambut kusut.
"Mana Ban kian hweecunya ?"
Tanya So Siau hui sambari berpaling.
Dengan sepasang matanya yang jeli nona cantik itu memperhatikan sekejap sekeliling tempat tersebut, setelah melihat jelas pendatang itu, pipinya berubah menjadi semu merah, cepat dia beranjak keluar dari ruangan dan menjura kepada semua orang sambil katanya.
"Nona So, Kam tayhiap selamat bersua. aku adalah Sie Hui jin!"
Dengan cepat Kam Lui cu memahami apa yang terjadi, buru buru serunya ;
"Ooooh, rupanya nona Sie adalah Ban kiam hweecu!"
Setelah mendengar perkataan tersebut, semua orang baru tahu kalau Ban kiam hweecu adalah seorang perempuan.
Ketika Ma koan tojin mendengar kalau nona cantik ini tak lain adalah Kiamcu-nya, cepat-cepat dia memburu ke depan sambil memberi hormat, serunya "Hamba tidak mengetahui kalau Kiamcu telah muncul, harap Kiamcu sudi memaafkan kebodohan hamba"
Sie Hui jin tersenyum.
"Toheng kelewat merendah, padahal Kiamcu adalah ayahku, sedangkan aku tak lebih cuma mewakili ayah selama berada diluaran"
Berbicara sampai disini, dia melirik sekejap kearah Wi Tiong hong kemudian bertanya lagi;
"Apakah Wi siauhiap telah terperangkap sehingga kehilangan kesadaran pikirannya?"
"Wi sauhiap telah terluka oleh ilmu jari Ciang liong ci mereka"
Jawab Makoan tojin cepat.
"Kalau tak salah, orang yang disekap di dalam ruang depan sana adalah paman Wi sauhiap"
"Benar,"
Sambung Siau cu hujin segera.
"Orang itu bernama Pit Ci beng, dia adalah seorang jagoan dari Siu lo bun."
Tidak menunggu Liu Leng poo buka suara, dia telah maju kedepan serta membuka pintu besi itu Tampak seorang sastrawan berbaju hijau munculkan diri dengan langkah pelan, mula-mula dia nampak tertegun setelah menjumpai para jago yang berkumpul disitu, kemudian sambil menatap kearah Wi Tiong hong, serunya terkejut bercampur girang.
"Nak. kalian telah berhasil membobolkan pertahanan Tok seh sia."
Buru-buru Kam Lui cu menjura seraya berkata;
"Selamat berjumpa Pit tayhiap, saudara kecil Wi telah kehilangan kesadaran pikirannya karena terluka oleh ilmu Ciang Siang Ci hingga kini kesadarannya belum pulih kembali.."
Dengan sorot mata berkilat Pit Ci beng segera mengalihkan pandangan matanya ke arah wajah Kiu siang poo, kemudian bentaknya dengan penuh amarah.
"Nenek siluman, kau.."
"Pit tayhiap, kau jangan menyalahkan aku,"
Jerit Kiu siang poo dengan suara melengking.
"Sesungguhnya aku sendiri pun menjadi korban penindasan orang lain"
Kam Liu cu segera menambahkan pula.
"Pit tayhiap, apa yang terjadi hanya suatu kesalahan paham belaka. Dewasa ini terdapat banyak jago kita yang terluka oleh Ciang liong ci, dan sekarang kita semua sudah datang kemari untuk mencari orang tersebut."
"Siapakah orang itu?"
Tanya Pit Ci beng keheranan.
Secara ringkas Kam Liu cu membeberkan duduk persoalan yang sebenarnya terjadi.
Dalam pada itu, So Siau hui, Liu Leng po dan Liok Khi bertiga dengan dipimpin oleh Siau cu hujin telah berjalan masuk ke dalam.
Setelah melalui sebuah serambi yang sangat panjang, semua orang merasakan pandangan matanya menjadi silau, ternyata mereka telah memasuki sebuah ruangan tidur yang indah dan mewah, disisi kiri pintu merupakan sebuah pembaringan dengan kelambu dan seprei yang halus dan indah, tampaknya merupakan kamar tidur Siau cu hujin.
Siau cu hujin menghentikan langkahnya dan memandang sekejap searah semua orang, kemudian sambil menuding kearah sederet jendela panjang dia berkata.
"Dua kali orang itu munculkan diri dari balik jendela, semula kucurigai kalau menyelinap masuk lewat luar jendela, maka deretan jendela panjang ini tak pernah kubuka kembali". So Siau hui berjalan mendekat, sementara dia masih meneliti dengan seksama, terdengar Siau cu hujin telah berkata lagi sambil menunjuk kearah sebuah rak bunga.
"Belakangan ini, dia selalu munculkan diri dari depan rak ini."
Rak tersebut terletak di sisi kiri kamar tidur, belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak ia menyelinap masuk kebalik tirai dengan kecepatan luar biasa, Liu Leng poo segera membentak dan melepaskan sebuah pukulan dahsyat kebelakang tubuhnya Kakek Ou tidak ketinggalan, sambi1 membentak dia barsiap siap untuk menerjang ke muka.
Namun dengan cepat So Siau hui menggoyangkan tangannya berulang kali sambil katanya "Dia tak bakal boleh, biar aku saja yang menjadi petunjuk jalan buat kalian"
Sehabis berkata, dia berjalan masuk ke dalam ruangan.
Perabot dalam ruang tidur itu sangat mewah, disamping cermin berlapis kemala, pembaringan pun amat indah, bahkan keindahannya tak kalah dengan keraton raja, tapi disitu sudah tak tampak lagi bayangan tubuh dari Siau su hujin.
"Aaah, dia benar benar berhasil meloloskan diri"
Seru Liok Khi sambil menghentak-hentakkan kakinya berulang kali.
So Siau hui berjalan masuk pula kedalam ruangan itu, mendadak dia mengamati cermin berlapis kemala itu dengan kening berkerut, kemudian gumamnya.
"Aaah, mengapa dia justru menjerumuskan diri kejalan kematian..?"
Liu Leng poo maupun Sie Hui jin sekalian menjadi amat tercengang setelah mendengar perkataan tersebut, belum sempat mereka mengajukan sesuatu pertanyaan, tampak So Siau hui mendorong cermin itu dengan pelan..
Segera terdengarlah suara gemerincingan nyaring bergema memecahkan keheningan, cermin tadi bergeser kesamping secara tiba-tiba hingga muncullah sebuah pintu rahasia yang sempit.
Pada saat saat inilah tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia berjalan sempoyongan keluar dari pintu sempit itu, lalu roboh terjengkang didepan pintu dan tidak bergerak lagi.
Orang itu bukan lain adalah Siau cu hujin yang berdandan menyolok itu.
Wajahnya saat ini berwarna pucat pias seperti kertas.
Tubuhnya mengejang keras dan memperlihatkan rasa kesakitan yang luar biasa, dengan terbata-bata ia berpekik.
"Dia...diaaa. yang meng..mengajarkan kepadaku untuk melarikan diri disaa..saat berbahaya..tak tahunya aku..aku tertipu". Suara bisikannya makin lama semakin bertambah lemah, jelas tubuhnya telah terkena senjata beracun sehingga jiwanya tidak tertolong lagi. Menyaksikan hal ini, Liu Leng poo pun berkata.
"Orang ini sengaja mengatur segala sesuatunya secara cermat, jelas dia kuatir kalau perempuan ini sampai membocorkan rahasianya. Oleh sebab itu sejak semula ia telah mempersiapkan jebakan untuk membungkam mulutnya"
"Apakah kita perlu masuk kedalam?"
Tanya Liok Khi. So Siau hui menggeleng.
"Tidak usah. Jalan ini merupakan jalan kematian"
"Adikku dari keluarra So"
Ujar Liu Leng poo kemudian.
"aku yakin dalang dari semua peristiwa ini pasti menyembunyikan diri di sana, coba telitilah apakah dlsekitar tempat ini terdapat jalan tembus lainnya..?"
So Siau hui mengerutkan dahinya kencang-kencang, dia seperti akan mengucapkan sesuatu tapi kemudian niat tersebut diurungkan kembali.
Seluruh perhatian para jago bersama-sama dialihkan kearah So Siau hui serta memperhatikan gerak geriknya, sebab hanya dia seorang yang dapat menemukan alat rahasia yang terdapat ditempat itu.
Liu Leng poo yang mengikuti dibelakang nona tersebut, dengan cepat dapat menangkap suatu perubahan aneh atas diri So Siau hui sejak memasuki ruangan itu, perubahan tersebut sempat mencengangkan hatinya, namun dia segan untuk bertanya lebih jauh.
Setelah termenung beberapa saat, So Siau hui baru berkata.
"Sebenarnya siapakah orang itu? Aku bertekad akan mencarinya sampai ketemu"
Begitu selesai berkata, dia segera mendorong cermin itu hingga balik kembali pada posisinya semula, lalu pelan pelan duduk di depan cermin tadi serta membuka laci di sekitarnya dan melakukan pemeriksaan yang teliti atas sekeliling tempat itu.
Sudah jelas tombol rahasia yang mengendalikan pintu rahasia tersebut terletak di sekeliling cermin tembaga ini, karenanya perhatian semua orang bersama-sama ditujukan kearahnya dan tak seorangpun yang bersuara.
Selang berapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar suara "klik", rupanya tombol rahasia yang dicari telah berhasil ditemukan, dari sisi cermin itu muncullah sebuah lubang kecil yang berbentuk pintu rahasia, Dengan wajah terkejut bercampar kaget So Siau hui merabai sekeliling dinding gua tadi, kemudian pelan-pelan berkata;
"Aku hanya berdasarkan daya ingatanku saja untuk mencari tombol rahasia guna membuka pintu rahasia ini, mungkin saja masih terdapat ancaman bahaya lain, lebih baik kalian semua mundur saja kebelakang.."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, mendadak terdengar suara gemerincing nyaring berkumandang dari dasar tanah, cermin kemala putih yang berada disisi dinding tersebut tiba-tiba tenggelam kebawah dan lenyap tak berbekas.
Dengan lenyapnya dinding tersebut maka muncullah sebuah pintu yang lebih lebar lagi.
Atas peringatan dari So Siau hui tadi, serentak semua orang menyingkir ke samping.
So Siau hui sendiripun telah mengundurkan diri sejauh tujuh depa lebih, bersamaan waktunya dengan tenggelamnya cermin kemala putih itu.
Begitu pintu yang lebar itu muncul, serentetan cahaya berkilauan segera berhamburan keluar dari balik pintu tersebut.
Ternyata sekumpulan jarum beracun.
Jarum beracun itu jumlahnya sangat banyak, lagipula menyembur keluar dalam bentuk kipas dan disertai kekuatan yang maha dahsyat serangan itu baru rontok dan kehilangan tenaganya, setelah menyembur sejauh delapan kaki lebih.
Memandang beribu-ribu batang jarum beracun yang berserakan diatas tanah, diam-diam Liu leng poo merasa amat terkesiap, pikirnya "Heran, kenapa adik So menguasahi sekali terhadap segala peralatan rahasia yang berada ditempat ini?"
Dalam pada itu So Siau hui telah mendekati pintu rahasia serta melongok kedalam, disitu tertera sebuah undak-undakan batu yang menjorok jauh kebawah sana, maka sambil berpaling katanya.
"Sekarang kita sudah boleh turun kebawah."
Sembari berkata, dia turun ke bawah tanah lebih dahulu.
Liu Leng roo serta Sie Hui jin sekalian segera menyusul di belakang So Siau hui serta beruntun turun pula ke dalam lubang tanah.
Rombongan tersebut harus berjalan sejauh sepuluh kaki lebih sebelum mencapai ujung undak-undakan tersebut, So Siau hui segera menyulut obor dan melanjutkan kembali perjalanannya menelusuri lorong.
Kembali mereka berjalan belasan kaki, kalau sebelum keadaan medan mendadak bertambah lebar, sekeliling lorong punya luas hampir belasakan kaki, sementara didepan terdapat sebuah gua batu dengan dua belah pintu terbuat dari batu hijau.
Diatas pintu tergantung pula sebuah papan nama yang bertuliskan.
"Istana pemersatu dunia persilatan"
Membaca tulisan itu, Sie Hui jin mendengus dingin, jengeknya.
"Huuh besar amat lagak oraag ini". Sebaliknya Kam Liu cu berkata sambil tertawa terbahak bahak.
"Haah..haah.heeh...kali ini kita telah bertemu dengan si dalang yang sesungguhnya"
"Tapi sungguh aneh"
Kata Pit Ci beng setelah termenung sejenak.
"Kalau toh orang ini berambisi hendak mempersatukan seluruh dunia persilatan, apa sebabnya ia justru menyembunyikan diri dibawah tanah.?"
"Mungkin dia menganggap waktunya belum matang"
Kata Liu Leng poo sambil berpaling.
"Kuharap kalian semua meningkatkan kewaspadaannya masing-masing."
Tiba-tiba So Siau hui memperingatkan "Setelah kita memasuki gua ini, kemungkinan besar akan bertemu dengan alat perangkap yang maha dahsyat setiap saat, mungkin juga setiap waktu kita akan menghadapi sergapan maut dari lawan".
Sambil tertawa, kakek Ou berkata.
"Nona telah memperoleh seluruh ilmu rahasia majikan tentang alat perangkap dan ilmu jebakan, aku yakin kemampuan orang ini tak akan lebih hebat daripada majikan kita, tentang serangan musuh tangguh., ha haa haah...dengan andalkan kemampuan kita semua, biar pun harus bertemu dengan musuh yang bagaimanapun tangguhnya, aku rasa juga tak ada yang perlu ditakuti". So Siau hui menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya.
"Sesudah kuperhatikan semua alat jebakan yang kita jumpai sepanjang jalan, dapat kurasakan bahwa kepandaian yang dimiliki orang ini rasanya tidak berada dibawah kemampuan ayah!"
Berbicara sampai disitu, dia segera meloloskan pedang pendeknya dan melanjutkan perjalanannya menelusuri lorong gua itu.
Kakek Ou takut terjadi sesuatu atas dirinya, dengan cepat ia menyusul dibelakang So siau hui.
Kiu Leng poo, Sie Hui jin dan Liok Khie sekalian serentak menyusul pada dibelakangnya.
Semua orang sadar, setelah memasuki gua itu berarti setiap saat ada kemungkinan bertemu dengan sergapan musuh tangguh, oleh karena itu gerak gerik mereka sangat berhati-hati, setiap orang menjaga suatu jarak yang tertentu dan berjalan dengan berhati-hati sekali.
Setelah memasuki gua itu sejauh beberapa kaki, didepan sana muncul sebuah penyekat yang terbuat dari batu yang halus seperti cermin, diatas batu itu tertera beberapa huruf besar yang berbunyi.
"Mati bagi siapa pun yang masuk kedalam". Setelah melewati batu penyekat tersebut, disitu terbentang lagi sebuah lorong yang lebar, disisi dinding lorong tergantung lentera sutera kristal yang memancarkan sinarnya kemana-mana, terhubung dinding lorong sangat halus bagaikan kaca maka sinar memancar lebih jauh lagi. Sudah sekian lama So Siau hui menelusuri lorong tersebut tanpa menjumpai sesuatu apapun, tanpa terasa ia berpaling sambil katanya.
"Enci Liu, tampaknya ada sesuatu yang tak beres!"
"Apakah kau menganggap di dalam istana pemersatu dunia persilatan ini seharusnya mempunyai penjagaan yang ketat?"
"Benar!"
So Siau hui manggut-manggut.
"Mengapa tak ditemukan sebuah penjagaan atau jebakan apapun disini?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka telah tiba disebuab tikungan, mendadak terlihat bayangan manusia berkelebat lewat, kemudian tampak sekilas cahaya golok menyapu lewat membacok kepala So Siau hui.
Bacokan golok tersebut datangnya sangat mendadak dan sama sekali tidak terduga, dalam gugupnya So Siau hui segera menggerakkan pedangnya untuk menangkis.
"Criiing.."
Begitu bentrokan terjadi, golok tersebut segera terpapas kutung menjadi dua bagian, ujung golok yang patah itu segera mencelat ketengah udara.
Namun orang itu tidak menghentikan serangannya karena patahnya golok tersebut, dengan bagian golok yang masih ada, dia membacok kembali dengan kecepatan luar biasa.
Seandainya bacokan ini mengenai sasaran, niscaya tubuh So Siau hui akan terbacok kutung menjadi dua bagian.
Kekek Ou sangat terkejut setelah menyaksikan kejadian ini, sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan menghajar gagang golok tersebut hingga bengkok ke belakang.
Menggunakan peluang ini So Siau hui menggetarkan pedangnya sambil menusuk dada orang tersebut.
Siapa tahu pedangnya belum lagi dicabut keluar, orang itu sudah menggerakkan lagi gagang goloknya yang bengkok untuk melancarkan serangan lagi.
-oo0dw0oo-Kakek Ou tidak membiarkan serangan lawan mengenai sasarannya, dengan cepat dia melontarkan kembali sebuah serangan dahsyat kedepan.
"Braakkk!"
Orang itu terhantam sampai remuk dan mengundurkan diri ke sudut dinding dengan gerakan cepat. So Siau hui segera menjerit kaget.
"Aaah, ternyata sebuah orang-orangan dari kayu, aai... dengan mundurnya dia ke tempat semula, maka tanda bahaya pasti sudah dibunyikan..."
"Sejak kita memasuki gua ini, aku yakin penghuni gua ini telah mengetahuinya."
Sahut Liu Leng poo.
"Tidak, asalkan kita berhasil membabat habis semua alat rahasia yang ada di sepanjang jalan ini, maka orang yaag berada didalam gua itu tak akan mengetahui apa gerangan yang telah terjadi"
Selesai berkata, ia segera menggerakkan tubuhnya dan meluncur kedepan dengan kecepatan tinggi.
Sejak itu, tiap berjarak berapa kaki selalu ditemukan sebuah tikungan, dan disudut tikungan terdapat satu atau dua buah orang-orangan kayu, ada yang membawa senjata tajam, ada pula yang membawa alat pembidik otomatis.
Jelas isinya adalah senjata rahasia yang amat keji dan beracun.
Tapi So Siau hui sebagai puteri kesayangan dari ketua Lam hay bun sudah mempelajari ilmu peralatan jebakan semenjak masih kecil dengan dipimpin olehnya dan mengandalkan sebilah pedang mestika yang amat tajam, ia berhasil membabat habis semua orang-orangan kayu itu sebelum alat-alat tersebut sempat melakukan sesuatu tindakan.
Tak selang berapa saat kemudian, hampir puluhan buah tikungan telah mereka lalui.
"Sungguh hebat"
Seru kakek Ou tertahan lagi "Ternyata dia telah mempersiapkan orang orangan kayu sebanyak ini disepanjang lorong tersebut". So Siau hui tertawa.
"Empek Ou, jangan kau pandang enteng orang-orangan kayu itu, bila kau tak berhasil memutuskan alat pengontrol otomatisnya, sekali pun kau tusuk dengan berapa tusukan pedangpun tak nanti mereka akan mundur, ancaman dari benda benda tersebut jauh lebih hebat dari pada manusia sesungguhnya."
"Andai kata adik tidak menguasahi peralatan rahasia ini, orang orangan kayu tersebut memang benar benar tidak mudah dihadapi,"
Seru Liu Leng poo pula.
Kembali So Siau hui tertawa "Sekarang sudah tak ada lagi ketujuh puluh dua buah tikungan telah berhasil kubocorkan semua, kecuali orang orangan kayu pertama yang kita hadapi telah dibuat mundur ketempat semula sehingga benda ini sempat menyiarkan tanda bahaya, selanjutnya semua alat rahasia lainnya belum sempat digerakan, mungkin orang yang berada dalam gua itu mengira kita semua telah masuk perangkap."
"Benar, bila kita dapat menyerbu kedalam markas mereka tanpa terduga sebelumnya, sudah pasti kita dapat bekuk benggelan tersebut secara mudah."
Sambung Liu Leng poo.
Sementara berbicara, dia segera memberi tanda pada orang orang yang berada di belakang semua orang mempercepat langkahnya, Dalam pada itu, So Siau Hui, Kakek Ou, Liu Leng poo, Sie Hai jin dan Liok Khi sekalian yang berjalan dipaling depan telah tiba didepan pintu sebuah istana yang gemerlapan bermandikan cahaya emas.
Empat buah lentera keraton memancarkan sinar keemas emasan yang gemerlapan menyinari empat penjuru, membuat suasana di sekitar sana terasa lebih anggun dan megah.
Waktu itu tampak ada dua orang dayang berdandan baju keraton dengan membawa kebutan kemala sedang berjalan menelusuri serambi ruangan istana tersebut.
Kakek Ou segera melompat masuk ke dalam pintu istana sambil bentaknya keras.
"Hey, cepat suruh majikan kalian ke luar"
Tampaknya kedua orang yang berdandan baju keraton itu tak pernah menyangka kalau ada orang bakal menyusup kesitu, mereka nampak tertegun kemudian cepat-cepat mengundurkan diri dari sana dan lenyap di balik ruangan.
Tak lama kemudian berkumandanglah suara dentangan lonceng yang bertalu-talu, disusul kemudian tampak bayangan emas berkelebatan lewat diluar ruangan, tahu-tahu muncul sembilan orang gadis berbaju emas disana.
Ke sembilan perempuan itu semuanya memakai pakaian ringkas berwarna emas dengan rambut disanggul model keraton dan bertorehkan mutiara serta batu menikam, sepatunya berwarna emas, sementara pedang yang digunakan memancarkan pula sinar emas, mereka berdiri dalam kedudukan Kiu kiong.
Dalam pada itu orang-orang yang mengikuti dari belakang telah masuk semua kedalam ruang istana, sementara mereka semua masih tertegun, mendadak..
"Blaamm". Pintu keraton tertutup rapat-rapat. Dengan tubuh gemetar keras So Siau hui mundur dua langkah kebelakang, lalu jeritnya kaget.
"Barisan Kim kiu kiong tin."
Liu Leng poo tidak mengetahui sampai dimanakah kehebatan dari barisan Kim kiu tiong tin, melihat perubahan mimik muka si nona yang aneh, cepat-cepat ia bertanya.
"Hebatkah barisan Kim kiu kiong tin ini?"
So Siu hui tidak menjawab, tiba tiba saja dia membalikkan badannya dan menjatuhkan diri kedalam pelukan Wi Tiong hong sambil berseru lirih.
"Cepat peluk diriku erat-erat.."
Pada saat itulah dari balik ruangan keraton berkumandang datang suara bentakan yang amat nyaring.
"Ou Swan, besar amat nyalimu!"
Ketika semua orang berpaling, tampaklah seorang manusia berjubah emas telah berdiri ditengah ruangan dengan wajah penuh kegusaran, tapi tiada seorangpun diantara para jago yang mengenali siapakah orang tersebut.
Kakek Ou nampak agak tertegun, lalu secara tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut serta menyembah berulang kali sambil katanya.
"Budak tua tidak menyangka kalau majikan yang berada disini, budak tua pantas mati."
Diluar dugaan semua yang hadir, ternyata manusia berjubah emas itu adalah ketua Lam hay bun, So Siu jin atau ayah kandung dari So Siu hui..
Terdengar manusia berjubah emas itu berseru lagi sambil mendengus dingin;
"Hmm, kau dan si budak cilik itulah yang telah menggagalkan semua rencana besarku"
Sekarang Liu Leng poo baru mengerti, pikirnya kemudian.
"Tak heran kalau adik So menunjukkan sikap yang aneh semenjak membuka cermin kemala tadi, rupanya dia sudah merasakan bahwa semua pengaturan alat jebakan disini berasal dari ilmu rahasia Lam hay bun mereka.."
Sementara dia masih berpikir, terdengar Manusia berjubah emas itu membentak lagi.
"Anak Hui, kemari kau!"
So Siau hui sama sekali tidak menjawab atau menggubris, dia malah membenamkan kepalanya kedalam pelukan Wi Tiong hong.
"Budak kecil"
Dengus manusia berjubah emas itu penuh amarah.
"Sekali pun aku harus menderita kehilangan anak kandung, akan kutumpas mereka semua sampai ludas."
Baru sekarang Liu Leng poo mengerti apa sebabnya secara tiba-tiba So Siau hui menjatuhkan diri kedalam pelukan Wi tiong hong, mendengar ucapan tersebut segera katanya dengan suara dingin "Kau benar-benar seorang manusia yang berhati sekeras baja!"
Pit Ci beng tertawa tergelak, serunya pula.
"Haah..haah..haah., dengan barisan yang dipersiapkan olehnya itu, belum tentu mereka sanggup melukai kita semua.."
Manusia berjubah emas itu tertawa dingin.
"Hmmnn, biarpun ilmu silat yang kalian miliki cukup hebat, namun tidak akan menyusahkan diriku."
Mendadak So Siau hui berseru dengan suara yang mengenaskan;
"Ohh ayah, yang kau pikirkan hanya ambisimu untuk menguasahi dunia persilatan, masa kau lupa dengan pesan ibu sebelum meninggal? Bukankah kau telah berjanji akan merawat putrimu secara baik baik?"
Berubah hebat paras muka Manusia berjubah emas itu setelah mendengar perkataan sinona, tiba tiba saja ia bersikap murung dan sedih. Terdengar So Siau hui berseru lagi sambil menangis.
"Oh, ibu! Lebih baik aku mati saja. aku ingin menyusulmu, dari pada hidup di-sia sia ayah. Lebih baik aku kembali kepangkuanmu."
Keluhannya yang begitu memedihkan hati sekali lagi membuat paras muka manusia berjubah emas itu berubah, dipandangnya So Siau Hui sambil mendongakkan kepalanya dan menghela napas panjang ia berkata.
"Jerih payah ayah selama sepuluh tahun akhirnya harus punah ditanganmu semua!"
Berbicara sampai disitu diapun mengulapkan tangan kanannya, pintu keraton yang semula tertutup rapat mendadak terbuka kembali, sambil mengangkat kepalanya diapun berkata "Kalian boleh pergi dari sini, hari ini juga aku akan mengajak putriku pulang ke Lam hay, hutang piutang diantara kita impas sampai disini saja"
Pit Ci beng segera tertawa nyaring.
"Haahh...haah...haah..enak betul perkataanmu itu, begini banyak orang sudah kehilangan kesadaran pikirannya gara-gara ilmu totokan Ciang liong ci mu, apakah kau hendak angkat kaki dengan begitu saja?"
"Aku membiarkan kalian pergi meninggalkan tempat ini pun sudah untung, apa urusannya orang-orang yang kehilangan pikirannya itu dengan diriku?"
Sie Hui jin tertawa dingin, serunya.
"Kau anggap kami betul-betul takut kepadamu?"
Liok Khi juga menggetarkan alat pengailnya sambil berseru.
"Enci Sie, kita tak usah banyak bicara lagi dengannya, biar kupancing dulu tubuhnya..."
"Sim sumoay, jangan mencari gara-gara"
Bentak Kam Liu cu cepat. Sedang So Siau hui berseru pula.
"Oooh ayah, bila kau orang tua masih menyayangi putrimu sembuhkanlah orang-orang yang kehilangan pikirannya ini"
Sementara tubuhnya bersandar dalam pelukan Wi Tiong hong, tangannya mencengkeram pergelangan tangan pemuda itu erat erat.
Dilain sinar mata berkilat manusia berjubah emas itu memperhatikan Wi Tiong hong sekejap, lalu tanyanya.
"Anak Hui, siapakah bocah muda itu?"
"Ia bernama Wi Tiong hong, beberapa kali telah menyelamatkan jiwaku..."
Manusia berjubah emas itu menggerakkan bibirnya hendak berkata, namun saat itu telah muncul serombongan manusia dari luar pintu istana, orang yang berjalan dipaling depan adalah seorang kakek kekar berjubah sutera yang menyoren sebilah pedang berpita emas.
Dibelakangnya mengikuti tiga orang, yang menyoren pedang berpita ungu adalah congkoan dari perkumpulan Ban kiam hwee, si Ji lay bertangan emas Huan Kong bu, yang menyoren pedang berpita merah adalah congkoan pasukan pedang berpita merah Kiong Thian ciu, sedangkan orang yang menyoren pedang berpita putih adalah congkoan pasukan pedang berpita putih si Terbang dibalik awan Liok Im lin.
Ketika Sie Hui jin melihat kemunculan kakek berjubah perlente itu, ia segera memanggil ayah sambil buru-buru menyongsongi kedatangannya.
Sambil menggandeng tangan Sie Hui jin, kakek berjubah perlente itu segera berpaling kearah manusia berjubah emas dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak.
"So loko, rupanya kau putar otak mempersiapksn segala sesuatunya ini tak lebih khusus untuk menghadapi kami ayah dan anak berdua?"
Orang ini tak lain adalah ayah kandung Sie Hui jin, yaitu Ban kiam hweecu yang belum pernah munculkan diri di dalam dunia persilatan cuman mempunyai nama besar yang sanggup menggetar seluruh dunia persilatan..
Manusia berjubah emas itu, So Siu jin segera tertawa terbahak-bahak.
"Haah.haah..haah..akhirnya saudara Sie datang juga, hanya sayang kedatanganmu terlambat selangkah, aku telah berjanji tak akan memusuhi semua jago persilatan dari daerah Tionggoan lagi."
Sementara itu congkoan pasukan pedang berpita merah Kiong Thian ciu telah memandang sekejap ke arah Pit Ci beng, tiba-tiba ia berseru tertahan.
"Pit Ji-te, rupanya kaupun berada disini? Mana anak Wi? Apakah sudah terperangkap disini?"
Bergetar keras sekujur badan Pit Ci beng, matanya terbelalak dan serunya agak tertegun.
"Kau..kau adalah enso..."
Pelan-pelan Kiong Thian ciu melepaskan selembar topeng kulit manusia dari atas wajahnya, kemudian melepaskan pula ikat kepalanya, ternyata congkoan pasukan pedang berpita merah dari perkumpulan Ban Kiam hwee adalah seorang perempuan setengah umur yang berambut putih.
Sekalipun wajahnya sudah penuh dengan kerutan, namun mirip sekali dengan wajah Wi Tiong hong.
Sie Hui jin terbelalak pula matanya lebar-lebar, serunya kaget.
"Ayah, jadi Kiong congkoan adalah ibu kandung Wi toako?"
Sambil tersenyum Ban Kiam hweecu manggut-manggut, sahutnya.
"Betul, Pui Toanio adalah ibu kandung Wi siauhiap."
Sementara itu Pit Ci beng telah menuding kearah Wi Tiong hong sambil berkata .
"Enso anak Wi berada disini, cuma kesadaran pikirannya telah hilang...."
"Kalau begitu dia...dia telah terkena obat pembingung sukma dari orang she So itu?"
Tanya Hong toanio (congkoan pasukan pedang berpita merah Kiong Thian ciu) dengan air mata bercucuran.
Dipihak lain, kakek Ou telah membisikkan sesuatu kepada So Siu jin sambil menunjuk, ke arah Wi Tiong hong.
Kemudian tampak So Siu jin dengan sorot mata berkilat mengawasi Wi Tiong hong dari atas hingga ke bawah sambil manggut-manggut tiada hentinya.
Menanti Hong toako berseru, So Siu jin telah menjura dan berkata sambil tertawa tergelak.
"Tentunya kau adalah ibu kandung Wi siauhiap bukan? Sesungguhnya Wi Siauhiap hanya menderita totokan sebuah jalan darahnya saja hingga kehilangan pikirannya, tapi kau tak usah kuatir, serahkan saja soal ini kepadaku. Hanya sebelumnya ada sebuah persoalan hendak kurundingkan dulu dengan enso"
"Persoalan apakah itu?"
"Aku hanya mempunyai seorang putri dan kudengar hubungannya dengan putramu sangat akrab, maksudku hendak kujodohkan putriku kepada putramu itu entah bagaimanakah pendapat enso?"
Begitu perkataan tersebut diutarakan, Sie Hui jin, Liok Khi, Lak jiu Im eng, Thian Men serta Liong Hiang kun sama sama berubah hebat paras mukanya.
Terdengar Ban kiam hweecu berseru tiba-tiba sambil tertawa tergelak.
"Haah..haah..haah.kali ini saudara So terlambat satu langkah, sedari semula aku telah membicarakan persoalan ini dengan enso Hong, diapun sudah setuju kalau putriku Hui In menjadi istri Wi siauhiap"
"Bagus sekali, kalau begitu kawinkan saja putrimu dengan seorang bloon anak Hui, kita pergi.."
Tapi So Siu hui masih tetap memegangi badan Wi Tiong Hong erat-erat, serunya sambil menangis.
"Ayah."
"Anak Hui"
Seru So Siu jin marah "Apa kau takut sebagai putri So Siu jin tak laku kawin?"
Cepat-cepat Kam Liu cu menengahi persoalan tersebut sambil tertawa tergelak.
------------------------------------------------------------------------------Hal 75-78 Hilang ------------------------------------------------------------------------------lain adalah untuk membalaskan dendam gurunya serta merebut kembali markas gurunya.
Sebaliknya Tong hujin adalah putri kandung si pedang beracun Kok Hui, dia khusus mencari si raja langit bertangan racun untuk membalaskan dendam sakit hati ayahnya.
Tadi mereka telah saling menyebarkan bubuk beracun terdahsyat yang dimilikinya untuk merobohkan lawan, tapi akhirnya mati sendiri karena keracunan, atau dengan perkataan lain mereka telah saling bunuh membunuh satu dengan lainnya, berarti dendam kesumat diantara mereka pun impas, itulah sebabnya kuanjurkan kepada nona agar menyudahi persoalan tersebut sampai disini saja"
"Bagaimana dengan kau sendiri? Sudah jelas kaulah dalang dari semua kekacauan ini, apakah kau bermaksud cuci tangan?"
So Siu jin mengalihkan sorot matanya dan memandang sekejap kearah para jago, kemudian katanya sambil tertawa.
"Nona keliru, apa yang telah terjadi hanya suatu kesalahan paham, mungkin kalian belum jelas persoalan yang sebenarnya. Sepuluh tahun berselang, Raja langit bertangan keji Liong Cay thian ada maksud untuk mengembangkan sayapnya dengan mengundang kedatangan Kiu siang poo untuk jadi tulang panggungnya, sebagai persiapan dari ambisinya dia telah membuat selat Tok seh sia baru yang letaknya disini.
"Waktu itu kebetulan aku sedang datang ke Tionggoan dan bertemu Liong Cay thian, sebagai seorang yang ahli dalam ilmu jebakan maka akupun persiapkan segala sesuatunya didalam selat ini, disamping membangun pula sebuah istana bawah tanah.
"Setelah berjalan berapa waktu, aku berhasil mendapat tahu kalau Liong Cay thian khusus membangun selat ini karena dia sedang tergila-gila oleh seorang perempuan yang kemudian jadi Siau cu hujin.
"Aku yang kebetulan punya permusuhan dengan pihak Ban Kiam hwee, segera memanfaatkan pula keadaan selat ini untuk menghadapi mereka, maka kutaklukan perempuan itu, mengajari ilmu silat kepadanya dan menyuruhnya menaklukan Kiu siang po serta Liong Cay thian. Aaai.... kalau terbukti Thian tidak berkenan dengan ambisiku ini, yaa, apa boleh buat lagi?"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, Wi Tiong hong dan Cho Kiu moay telah sadar kembali. Hong toanio segera memeluk Wi Tiong hong sambil serunya diiringi irik tangis yang sedih.
"Nak, kau telah sadar? Oohh, sudah lima belas tahun aku tak pernah bersua denganmu"
Sementara Wi Tiong hong masih tertegun, Pit Ci beng segera menjelaskan.
"Anak Wi, dia adalah ibu kandungmu!"
"Oohh ibu"
Wi Tiong hong segera berseru.
"Apakah kau orang tua sudah mengetahui berita ayah?"
"Menantuku, kau tak usah sedih"
Timbrung So Siu jin cepat.
"Sebelum ajalnya Tong hujin telah meninggalkan pesan terakhirnya diatas meja yang berpesan kepadamu agar pergi ketempat yang dulu untuk menjemput ayahmu, terimalah sebutir pil It goan hu si wan-ku yang mujarab ini. Racun yang mengeram dalam tubuh ayahmu pasti akan punah semua"
Sambil menerima pil itu, Wi Tiong hong segera berseru;
"Ibu, mari kita segera berangkat ke Tay Ong bun san untuk menyambut ayah!"
"Anak, apakah kau tidak menjumpai kedua orang ayah mertuamu dulu?"
Tanya Hong toanio sambil tertawa.
Dengan wajah bersemu merah Wi Tiong-hong segera memberi hormat kepada Ban Kiam hwee dan So Siu jin.
Mengawasi menantunya yang tampan dan gagah, dua orang jago itu segera tertawa terbahak-bahak dengan girangnya.
Sementara berbicara, kakek Ou, congkoan pasukan pedang berpita hijau Buyung Siu, Than Khi cu, Thio Kun kay, Seh Thian yu serta ketiga orang dayang dari Ban kiam hwee telah muncul secara beruntun.
Ketika mereka dengar Wi Tiong hong telah mendapat jodoh berbondong-bondong mereka datang memberi selamat, kemudian mereka pun memutuskan untuk menyerahkan selat Tok seh sia kepada Liong Hiang kun.
Tapi Liong Hiang kun bersikeras menolak, dia ngotot hendak berkumpul terus dengan So Hui jin sekalian dan hidup sebagai kakak beradik, tentu saja nona itu mempunyai tujuan yang lain.
Sejak itu Wi Tiong hong-pun menggunakan nama yang sebenarnya yaitu Pui Wi.
Dengan mendampingi ibunya langsung berangkat ke gunung Tay Eng bun san, Pendekar berbaju putih Pui Thian jin yang menderita keracunan hebat segera sembuh kembali begitu dicekoki pil mustika dari Lam hay bun, dengan punahnya racun, kesadarannya pun menjadi segar kembali.
Dengan begitu mereka sekeluarga pun dapat berkumpul kembali sesudah banyak tahun hidup berpisah dipermainkan nasib.
Sekembalinya kerumah mereka dulu di Phu kang, pesta perkawinan pun diselenggarakan dengan meriah.
Selain Sie Hui jin, So Siau hui dan Liok Khi, Pui Wi sijago muda kita ternyata mempersunting pula Lak jiu in eng Thio Man dan Liong Hiang kun sebagai istrinya.
Bayangkan saja, seorang laki-laki didampingi lima orang istri yang cantik dan menawan hati, siapa yang tidak akan merasa bahagia dengan kehidupannya?
Dan sampai disini pula kisah cerita kita ini, sampai ketemu di lain cerita.
TAMAT -oo0dw0oo-Document Outline
Jilid 1
Jilid 2
Jilid 3
Jilid 4
Jilid 5
Jilid 6
Jilid 7
Jilid 8
Jilid 9
Jilid 10
Jilid 11
Jilid 12
Jilid 13
Jilid 14
Jilid 15
Jilid 16
Jilid 17
Jilid 18
Jilid 19
Jilid 20
Jilid 21
Jilid 22
Jilid 23
Jilid 24
Jilid 25
Jilid 26
Jilid 27
Baca Juga: Pendekar Dari Hoasan Kho Ping Hoo
Baca Juga: Sepasang Pendekar Kembar 4