Eps 8 Persekutuan Pedang Sakti - Qin Hong
Baca online Persekutuan Pedang Sakti - Qin Hong
Cersil Persekutuan Pedang Sakti - Qin Hong.
Liu Leng poo segera menekan bola besi itu dan tiba tiba...
"Criiing"
Memancar keluar serentetan cahaya berwarna keperak-perakan.
Ternyata bola besi itu merupakan sebilah senjata panjang yang mirip pedang bukan pedang, golok bukan golok, tapi tipis dan tajamnya luar biasa.
"Itu adalah golok besi tipis."
Seru Kam Liu cu.
Liu Leng poo manggut-manggut, ketika dia menekan kembali tombolnya, secara otomatis golok perak itu menyusup kembali dan berubah lagi jadi sebuah bola besi.
Ketika da mencoba untuk memeriksa isi katung kecil itu, ternyata isinya berupa dua buah botol kecil terbuat dari porselen, belasan batang paku beracun serta sebuah lencana besi berwarna hitam gelap.
Liu Leng poo memperhatikan sekejap lencana besi itu, kemudian sambil di lontarkan kearah Kam Liu cu katanya.
"Toa suheng, coba kau lihat benda ini.."
Kam Liu cu segera menerimanya serta diperhatikan dengan seksama, mendadak paras mukanya berubah hebat, serunya tertahan.
"Jangan-jangan dia adalah anak murid dari perguruan Kiu siang bun.."
"Ya, kemungkinan besar memang benar,"
Tiba-tiba Ma koan tojin merasakan seluruh tubuhnya bergetar keras, selanya.
"Apakah perguruan Kiu siang bun yang Kam tayhiap maksudkan adalah..."
Belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak perempuan yang jalan darahnya tertotok itu sudah melompat bangun, menyerobot kembali lencana besi itu, lalu secepat kilat panah yang terlepas dari busurnya melesat keluar dari dalam gua.
Perubahan yang terjadi amat mendadak, sama sekali diluar dugaan siapa pun, di tambah lagi perempuan itu bergerak dengan kecepatan luar biasa, membuat semua orang menjadi gelagapan dibuatnya.
Sambil membentak keras, Liu Leng poo segera bersiap sedia melakukan pengejaran.
Tapi Kam Liu cu cepat-cepat menggoyang-goyang tanganaya sambil mencegah.
"Ji sumoay, tak usah dikejar, biarkan dia pergi!"
Dengan kening berkerut Liu Leng poo segera berseru dengan perasaan mendongkol "Hmm, dalam posisi saling berhadapan muka pun, dia berhasil meloloskan diri dari cengkeraman kita, kali ini kita benar benar sudah dipecundangi orang!"
"Bagi yang belum pernah dipecundangi orang apa salahnya kalau dipecundangi sekali ini?"
Kata Kam Liu cu sambil tertawa terbahak-babak.
"Kalau dibilang memalukan, sesungguhnya akulah yang mesti malu, bukan saja jalan darah yang kutotok berhasil dia bebaskan, malahan berhasil pula menyerobot benda yang berada ditanganku."
Setelah mendengar perkataan itu, semua orang baru tahu kalau lencana besi itupun kena diserobot kembali. Dengan wajah serius Kam Liu cu berkata lebih jauh.
"Anak murid dari perguruan Kiu siang bun ternyata bisa muncul ditempat ini, tampaknya persoalan yang kita hadapi sekarang tak boleh dianggap enteng."
"Hmmnn, mungkin saja siluman tua Kiu siang masih teringat dengan dendam sakit hatinya terhadap suhu dimasa lampau, sehingga dia sengaja bersekongkol dengan pihak selat Tok seh sia untuk menghadapi perguruan Thian sat bun kita."
"Ji sumoay, kita tak boleh sembarangan berbicara sebelum duduknya persoalan menjadi jelas."
Buru-buru Kam liu cu mencegah.
"Bukankah duduknya persoalan sudah tertera jelas didepan mata? Apa lagi kita pun sudah berhasil menemukan papan tulisan yang khusus ditujukan kepada kita? Hmm...mereka malah berulang kali berkoar hendak menjumpai Thian sat bun kita, apakah hal ini bukan bukti yang jelas?"
"Pada mulanya aku masih mengira kesemuanya ini merupakan siasat busuk dari Liong Cay thian kalau dipikirkan sekarang, bukankah sudah jelas kelihatan bahwa siluman tua Kiu siang lah yang berniat ustuk menghadapi Thian sat bun kita?"
Kam Liu cu mengerutkan dahinya rapat-rapat.
"Apakah ji sumoay sudah lupa dengan putusan dari suhu dia orang tua? berulang kali dia telah berpesan agar kita jangan mencari gara-gara lagi dengan mereka andaikata bertemu dengan orang-orangnya?"
Kembali Liu Leng poo mendengus.
"Tapi dalam peristiwa ini bukan kita yang mengusik orang lain, justru orang lainlah yang mencari gara-gara lebih dulu dengan kita."
Ma koan tojin adalah seorang jago berpengalaman, dia tidak mengetahui perselisihan apakah yang sebetulnya sudah terjadi antara pihak Thian sat bun dengan Kiu siang bun, karena itu diapun merasa tak enak untuk ikut menimbrung di dalam percekcokan antara kakak adik seperguruan ini.
Sebaliknya Lak jiu im eng Thio Man belum pernah mendengar kalau didalam dunia persilatan terdapat perguruan yang bernama Kiu siang bun, timbul rasa ingin tahu didalam hatinya sehingga tak tahan lagi segera tanyanya.
"Enci Liu, mengapa aku belum pernah mendengar tentang perguruan Ku siang bun??"
Kam Liu cu segera berkata.
"Perguruan Kiu siang bun sudah banyak tahun tak pernah melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan, biarpun dari saku perempuan tadi kita berhasil mendapatkan sebuah tanda kepercayaan dari perguruan Kiu siang bun, tapi benarkah dia berasal dari perguruan tersebu, toh tidak kita ketahui."
Lak jiu im eng Thio Man masih ingin bertanya lagi, tapi pada saat itulah dari luar gua telah muncul seorang jago pedang berpita hijau..
Ma koan tojin segera maju menyongsong kedatangannya seraya bertanya.
"Apakah saudara Lo berhasil meramu obat?"
"Hamba telah berhasil meramunya.."
Jago pedang berpita hijau segera memberi hormat.
Selesai berkata dia mengeluarkan sebuah bungkusan dari dalam sakunya dan segera diangsurkan kedepan.
Setelah menerima bungkusan obat itu, Ma koan tojin berkata lagi.
"Sudah merepotkan saudara Lo sekian lama, sekarang silahkan beristirahat di luar."
Jago pedang berpita hijau itu mengiakan dan siap mengundurkan diri dari situ. Mendadak Kam liu cu berseru.
"Lo cuangcu, tunggu sebentar."
Jago pedang berpita hijau itu segera menghentikan langkahnya setelah mendengar perkataan itu, sambil menjura kearah Kam liu cu katanya.
"Kam tayhiap, ada urusan apa?"
Sambil menunjuk keujung baju sebelah kirinya, Kam liu cu berseru.
"Sepanjang jalan tadi apakah saudara Lo telah bertemu dengan seseorang?"
Ketika jago pedang berpita hijau itu mengangkat pergelangan tangan kirinya, dia segera menjumpai sebatang jarum telah menancap di situ.
Pada gagang jarum tertera selembar kupu kupu berwarna hitam yang terbuat dari kertas.
Perlu diketahui, semua jago pedang berpita hijau dari perkumpulan Ban kiam hwee adalah jago-jago lihay yang memiliki ilmu pedang sangat hebat, ilmu silat mereka sudah cukup disebut jago kelas satu dalam dunia persilatan, otomatis pengetahuan mereka pun amat luas.
Dalam sekilas pandangan saja dia sudah mengenali kalau kupu-kupu hitam di ujung jarum tersebut merupakan lambang dari seorang jago persilatan, tapi nyatanya orang itu berhasil menancapkan jarumnya di ujung baju tanpa dirasakan sama sekali olehnya.
Tanpa terasa dengan wajah bersemu merah sahutnya.
"Mungkin lantaran terburu-buru melakukan perjalanan, sehingga tidak kuketahui kalau ada orang yang telah berbuat usil terhadap diriku."
Seraya berkata dia segera mencopot jarum berkupu-kupu hitam itu dari ujung bajunya.
Kam Liu cu bermaksud menghalangi perbuatannya itu, sayang keadaan sudah terlambat.
Jago pedang Berpita hijau itu membalik kupu-kupu hitam tadi dan tiba-tiba membaca.
"Kiu siang tiada tandingannya."
Mendadak kakinya menjadi lemas lalu roboh terjungkal keatas tanah.. Ma koan tojin menjadi amat terkejut setelah menyaksikan kejadian ini, serunya tertahan.
"Apakah dia keracunan?"
Dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat Kim Liu cu melompat ke samping tubuhnya, kemudian merobek selembar kain dan diambilnya jarum berkupu-kupu hitam dari tangannya.
"Toheng, cepat berikan obat penawar racun itu kepadanya."
Perintah Liu Leng poo segera.
"Kalau sampai terlambat mungkin tak akan tertolong lagi!"
"Apakah obat ini dapat menawarkan racun tersebut?"
Tanya Ma koan tojin sambil memegang bungkusan obat yang baru diramu itu.
"Pil emas penolak racun dari Lam hay bun mampu menawarkan segala jenis racan di dunia ini. Aku yakin pasti berkasiat."
"Tapi mungkinkah obat ini adalah pil emas penolak racun?"
"Sekalipun tak sampai diolah lebih lanjut, tapi bahan dasarnya tak bakal salah."
Ma koan tojin tidak banyak berbicara lagi, cepat-cepat dia membuka bungkusan kertas itu, ternyata isinya adalah sebungkus besar bubuk obat berwarra hitam.
Tak sempat banyak berpikir lagi, dia segera mengambil sedikit bubuk obat itu lalu di cekokkan kedalam mulut si jago pedang berpita hijau itu.
Sementara itu Lik jiu im eng Thio Man telah menuang secawan air matang, Ma koan tojin segera menerima cawan tersebut dan pelan-pelan dilolohkan kedalam mulut orang itu.
Kam Liu cu sendiri dengan berhati-hati segera memeriksa kupu-kupu hitam tadi seraya membolak-baliknya berulang kali.
Pada punggung kupu-kupu itu memang tertera empat huruf besar yang berbunyi.
"Kiu siang bu tek"
Atau Kiu siang tanpa tandingan. Tanpa terasa lagi dia menghela napas panjang sambil katanya.
"Aaaai... tampaknya memang ulah dari anak murid perguruannya.."
"Masa baru sekarang kau mau percaya?"
Sela Liu Leng poo sambil mengerling sekejap kerahnya.
Daya kerja obat penawar racun itu memang sangat hebat, tak selang seperminum teh kemudian jago pedang berpita hijau itu sudah mendusin kembali dari pingsannya.
Setelah menghembuskan napas panjang dan bangun duduk, gumamnya.
"Ooooh, sungguh lihay racun tersebut!"
Melihat ia telah mendusin, cepat-cepat Ma koan tojin berseru.
"Saudara Lo coba kau atur pernapasan, apakah ada sesuatu yang masih kurang beres?"
Jago pedang berpita hijau itu menurut dan segera memcoba untuk mengatur pernapasan, tak lama kemudian ia sudah bangkit berdiri seraya katanya.
"Hamba telah sembuh sama sekali."
Selesai berkata dan memberi hormat, ia segera mengundurkan diri dari situ. Ma koan tojin sendiri dengan girang segera berseru.
"Waah, nampaknya bubuk obat ini memang benar-benar pil emas penolak racun dari Lam hay bun."
Pelan-pelan Liu Leng poo mengalihkan sorot matanya keatas angkasa dimana sinar senja telah membiaskan cahaya kemerah-merahan, setelah menghela napas panjang katanya.
"Hari sudah mulai gelap, mengapa sampai sekarang mereka belum juga kembali?"
"Ji sumoay, apakah kau kuatir bila terjadi sesuatu atas diri mereka?"
Tanya Kam Liu cu.
"Ya bisa jadi telah terjadi hal-hal yang tak diinginkan.."
"Kalau begitu biar aku pergi memeriksanya."
"Seandainya terjadi sesuatu, biar toa suheng pergi kesana pun tak bakal akan menjumpai apa-apa."
"Tapi-kan paling tidak harus kuperiksa bagaimanakah keadaannya..."
Habis berkata tergesa-gesa dia keluar dari gua.
Tak selang berapa saat kemudian si pena baja Tam See hoa beserta kedua orang jago pedang berpita hijau telah kembali kedalam gua.
Tam See hoa segera menjura kepada Liu Leng poo seraya katanya;
"Aku dan kedua orang kiamsu sudah setengah harian lamanya menjaga dibawah bukit, namun tak seorang manusia pun yang kami jumpai, karenanya terpaksa kembali ke sini uatuk memberi..."
Liu Leng poo tertawa.
"Orang-orang Bu tong pay sudah memasuki selat semalam, sudah barang tentu saudara Tam tak akan bertemu dengan siapa-siapa."
Sementara itu kedua orang jago pedang berpita hijau itu sudah memberi hormat sambil mengundurkan diri.
Kini langit sudah semakin gelap.
Wi Tiong hong, Thio lo han Khong beng hweesio maupun rombongan dari si naga tua-berekor botak To Sam sin belum juga tampak kembali ke gua.
Liu Leng poo segera dapat merasakan betapa gawatnya situasi yang mereka hadapi.
Ma koan tojin yang dihari-hari biasa pandai mengendalikan perasaan sendiri dan tak pernah memperlihatkan sikapnya kepada orang lain, kali ini nampak juga amat gelisah, lama-kelamaan dia mulai tak tenang duduk serta mondar mandir tiada hentinya.
Liu Leng poo tetap membungkam, saat itu Ma koan tojin turut membungkam, mereka berdua duduk disitu sambil membisu dalam seribu bahasa.
Lak jiu im eng Thio Man serta pena baja Tam See hoa tak berani mengganggu, terpaksa mereka berduapun duduk membungkam diri.
Suasana dalam gua itupun jadi hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.
Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba muncul bayangan manusia yang berkelebat lewat dari luar gua, ternyata Kam Liu cu, dan kakek Ou muncul pada saat yang bersamaan.
Dari munculnya si kakek Ou seorang diri, Liu Leng poo segera sadar bahwa suatu musibah telah menimpa Wi tiong hong serta So siau hui, Namun ia tetap membungkam diri.
Dengan napas tersengal dan wajah sangat gelisah kakek Ou segera berseru.
"Nona Liu, kali ini aku si tua betul-betul telah dipecundangi orang, aku benar-benar malu untuk memberi laporan kepadamu. Jangan lagi memberi laporan, kesempatan untuk beradu jiwa dengan merekapun tak berhasil kusalurkan, karena tak sesosok bayangan setanpun yang kujumpai, akhirnya saking mendongkolku, semua pepohonan dihutan itu sudah ku obrak abrik."
Liu leng poo mengerti bahwa orang tua ini sedang dipengaruhi emosi, sehingga didalam marah dan gelisahnya perkatan yang disampaikan menjadi tak jelas. Maka setelah tersenyum katanya kemudian.
"Silahkan lotiong duduk dulu sebelum berbicara, apakah Wi siauhiap serta nona So telah tertimpa musibah?"
Kakek Ou duduk dengan wajah masih mendongkol, setelah menghembuskan napas panjang ia baru berkata.
"Perkataan nona memang benar, saudara Wi serta nona kami tahu tahu saja hilang lenyap dengan begitu saja, coba bayangkan, aku situa yang mendapat tugas untuk melindungi mereka secara diam-diam apa tidak menjadi panik dibuatnya?"
"Harap lotiang menceritakan kembali kejadian yang sebenarnya kepada kami, siapa tahu dari ceritamu itu kita berhasil menemukan tanda-tanda yang bisa jadi petunjuk?"
Kakek Ou berpikir sejenak, kemudian katanya.
"Setelah meninggalkan tempat ini, kami lantas berangkat menuju kesebelah timur, saudara Wi dan nona kami berjalan di muka sedangkan aku yang mendapat perintah dari nona Liu secara diam-diam mengikuti dibelakang mereka hingga pihak lawan tak berhasil mengetahui jejakku.."
"Mungkin sistim ini telah kita terapkan secara keliru sehingga berakibat terjadinya peristiwa ini."
Kata Liu Leng poo dengan kening berkerut. Kakek Ou segera berkata lebih lanjut.
"Dalam keadaan beginilah kami berjalan melalui beberapa bukit tanpa menemukan sesuatu yang mencurigakan, bahkan sesosok bayangan manusia pun tidak kami jumpai, hingga akhirnya sampailah kami dalam sebuah selat yang sempit, saudara Wi serta nona kami langsung memasuki selat tersebut. Berhubung selat itu gundul dan gersang, tak sebatang pohon pun yang tumbuh disitu, terpaksa aku mengikuti mereka dari kejauhan saja. Siapa sangka dua tikungan kemudian tahu-tahu bayangan tubuh mereka sudah hilang lenyap tak berbekas."
"Menunggu aku menyusul kedalam lembah tersebut dari balik hutan yang tumbuh disitu kudengar suara bentakan-bentakan keras dari saudara Wi, aku segera sadar kalau sudah terjadi sesuatu yang tak diharapkan, maka cepat-cepat menyusul pula kedalam hutan itu, siapa tahu suasana didalam hutan itu amat sepi, hening dan sama sekali tak terjadi sesuatu apa pun."
"Apakan kau tidak salah mendengar kalau suara tersebut adalah suara bentakan dari saudara Wi?"
Tanya Liu Leng poo.
"Tidak salah...sudah jelas suara itu adalah suara bentakan dari saudara Wi yang berasal dari dalam hutan, tapi anehnya tak seorang manusiapun yang tampak. Aku telah melakukan pemeriksaan atas seluruh dasar lembah itu tanpa berhasil menemukan sesosok bayangan manusia pun. Peristiwa sedemikian anehnya ini baru pertama kali ini kujumpai, hampir saja aku menjadi gila saking cemasnya.."
Liu Leng poo termenung sebentar, kemudian katanya lagi;
"Apakah lotiang tidak berhasil menemukan sesuatu yang mencurigakan didalam hutan itu?"
Kakek Ou menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak.. suasana didalam hutan itu sangat tenang, bahkan setiap batang rumput dan pepohonan yang tumbuh disana pun, kelihatan sangat tenang. Tak ada yang bisa dilihat atau pun dicurigakan."
Liu Leng poo segera berpaling kearah Kam Liu cu, kemudian katanya pula;
"Apakah toa suheng berhasil menemukan Ou lotiang didalam selat tersebut?"
"Benar. sepanjang jalan kulakukan sampai diselat tersebut, dan kakek Ou ternyata masih berada di sana."
"Tentunya toa suheng telah melakukan pemeriksaan pula disekitar lembah itu, apa yang berhasil kau temukan?"
Kam Liu cu segera mengangkat bahunya;
"Tatkala aku sampai disitu. Seluruh lembah tersebut boleh dibilang sudah porak poranda tak karuan lagi bentuknya, sedangkan Ou lotiang dengan wajah penuh amarah masih saja melepaskan pukulan kiri kanan membabat pepohonan yang berada dalam hutan tersebut, dalam posisi yang begitu porak poranda, bagaimana mungkin aku bisa melakukan pemeriksaan?"
Mendengar keterangan ini Liu Lem poo ikut mengernyitkan alis matanya ia berpikir "Aaaai...
Padahal kalau hutan itu tidak di porak porandakan mungkin saja akan ditemukan hal-hal yang mencurigakan, kalau sudah begini, semua pertanda pasti sudah hancur berantakan."
Tiba-tiba Kam Liu cu melayangkan pandangannya sekejap keseluruh ruangan gua, kemudian katanya.
"Apakah rombongan dari Khong beng hweesio serta saudara To juga belum kembali?"
Liu Leng poo tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali.
Tiba-tiba suasana didalam gua itu menjadi hening kembali, sampai lama sekali belum juga terdengar suara, agaknya semua orang sedang memikirkan masalah besar yang sedang mereka hadapi sekarang ini.
Lebih kurang seperminum teh kemudian, kakek Ou tak dapat menahan diri lagi, sambil menggosok-gosok tangannya dia berseru.
"Nona Liu, menurut pendapatmu apa yang mesti kita lakukan sekarang..?"
"Tak disangkal lagi Wi siauhiap serta adik dari keluarga So telah terperangkap oleh jebakan musuh."
"Andaikata didalam hutan itu memang terdapat jebakan, mengapa aku tak dapat melihatnya?"
"Mungkin setelah mereka berdua terperosok kedalam perangkap, permukaan tanah itu menutup kembali seperti sedia kala, sudah barang tentu lotiang tak akan menemukannya."
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia berkata lebih jauh.
"Biarpun Wi siauhiap dan adik dari keluarga So ikut terjebak oleh perangkap lawan, tapi dengan demikian jumlah yang tertawan meliputi Ban kiam hweecu, Pau kiam suseng serta Thian ki cu totiang sekalian dari Bu tong pay, itu berarti untuk menurut dugaanku, bisa jadi kita akan mengalami serangan musuh yang amat tangguh pada malam nanti!"
"Benar juga perkataan Liu lihiap, pinto sendiripun mempunyai firasat yang sama."
Sambung Ma koan tojin.
"Tiga kelompok orang orang kita yang dikirim hari ini tak serombongan pun yang kembali dengan selamat, sudah dapat dipastikan mereka pun berniat untuk menangkap juga kita semua yang berada dibukit Kou lou san ini."
"Jika mereka berani datang, hal ini lebih baik lagi."
Seru kakek Ou dengan gusar.
"Akan kusuruh mereka roboh satu persatu diatas tanah, Bila tidak mampu berbuat demikian, jangan panggil aku Ou Lotoa!!"
Liu Leng poo segera mendongakkan kepalanya dan berseru.
"Sejak lotiang mendemonstrasikan kelihayanmu dengan merobohkan semua pohon yang berada didalam lembah tersebut, pihak lawan pasti sudah mempertinggi kewaspadaannya.."
"Waktu itu aku sedang diliputi amarah yang tak terkendalikan. Tapi apa sangkut pautnya dengan rencana mereka untuk melakukan penyerbuan malam nanti?"
"Tentu saja erat sekali hubungannya, setelah mereka berhasil menjebak Ban kiam hweecu serta Buyung congkoan, Kemudian di susul pula dengan tertangkapnya Wi siauhiap, Khong beng taysu dan To hu congkoan sekalian pada hari ini, mereka pasti sudah memperhitungkan bahwa yang masih tersisa disini tinggal Ma koan totiang, toa suheng dan aku bertiga, itu berarti mereka pasti akan mengirim beberapa orang jago yang berkepandaian amat tinggi untuk menghadapi kami malam nanti."
"Tapi setelah lotiang memperlihatkan kelihayan sinkangmu dengan mengobrak-abrik pepohonan didalam hutan, atau dengan perkataan lain seolah-olah kita sudah memberitahukan kepada mereka bahwa pada malam nanti akan dilakukan perubahan. Itulah sebabnya bila musuh tidak datang pada malam nanti, mungkin keadaannya masih mendingan, tapi begitu datang menyerang, sudah pasti dibalik penyerangan mereka terdapat pula siasat lain".
"Apakah Liu lihiap telah berhasil menemukan cara yang terbaik untuk menghadapi serangan lawan ini?"
Tanya Ma koan tojin. Liu Leng poo segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Orang kuno bilang Tahu diri sendiri tahu keadaan lawan, setiap pertarungan baru akan meraih kemenangan. Lama sudah aku putar otak untuk mencoba menduga rencana busuk apakah yang akan dipersiapkan lawan, tapi usaha ini tak berhasil, tentu saja aku pun tak tahu bagaimana mesti menanggulangi terjangan mereka malam nanti."
"Kebanyakan orang Tok seh sia pandai menggunakan racun,"
Kata kakek Ou.
"Ohya. Apakah kiamcu yang pergi meramu obat telah kembali?"
"Sudah, dia sudah kembali."
"Kalau begitu kita tak usah kuatir mereka mempergunakan racun lagi Totiang, tolong kau bagikan obat tersebut kepada semua orang agar ditelan lebih dulu."
"Yaa.."
Kata Liu Leng poo pula.
"kalau memang obat tersebut bisa digunakan untuk mencegah keracunan, untuk menjaga segala sesuatu yang tak diinginkan memang paling baik kita telan obat itu lebih dulu, tapi menurut pendapatku, seandainya ada musuh tangguh yang menyerang kita malam nanti, kesempatan mereka untuk menggunakan racun tidak banyak.."
"Tapi mungkinkah bagi orang-orang Tok seh sia itu untuk meninggalkan kebiasaan mereka dengan memilih jalan beradu tenaga untuk melawan kita?"
Tanya kakek Ou.
"Tentu saja mereka pun tak akan beradu otot dengan kita, tapi bisa jadi mereka akan menggunakan segala macam permainan licik atau busuk untuk menghadapi kita"
"Permainan licik atau permainan busuk? Aaa yang kau maksudkan?"
"Pernahkah lotiang mendengar seorang jago yang bernama Kiu siang poo..?"
Tanya Liu Leng poo kemudian, Dengan sepasang mata melotot kakek Ou segera berseru.
"Tidak banyak jago persilatan yang kukenal, tapi seringkali kudengar tentang si nenek siluman ini. Mengapa nona menyinggung tentang siluman tua itu secara tiba-tiba?"
Secara ringkas Liu Leng poo segera menceritakan perbuatan dari anak murid Kiu siang bun yang telah menyaru sebagai Thio Kun kay tadi..
-oo0dw0oo-Selesai mendengar penuturan tersebut, kakek Ou segera berkata.
"Yaa, siluman tua itu memang rada hebat dan sesat, mungkinkah ia sudah bersekongkol dengan Liong Cay thian?"
"Kejadian yang sejelasnya tentu saja tak dapat kita duga, tapi bila ditinjau dari munculnya anak buah nenek siluman itu ditempat ini, jelas sudah kalau dia telah bersekongkol dengan pihak Tok seh sia."
Mencorong sinar tajam dari balik mata Kakek Ou, dia memandang sekejap kesemua orang, lalu katanya.
"Andaikata malam nanti si nenek siluman itu muncul sendiri, aku tak percaya dengan tahayul dan pasti akan mengajaknya bertarung mati-matian. Padahal jumlah kekuatan kita pun tidak sedikit. Kecuali si nenek siluman itu, sisanya masih dapat dihadapi kalian semua, tak ada salahnya bila kita sambut serangan musuh diluar gua saja."
Sebagaimana diketahui, julukannya adalah panglima sakti berlengan emas yang menjaga pintu langit selatan, boleh dibilang dia terhitung jago kelas satu didalam Lam hay bun, jadi perkataannya itupun bukan bualan belaka.
Liu Leng poo segera berkata.
"Ilmu silat yang lotiang miliki sangat hebat, boleh dibilang kau termasuk jago kelas satu didalam dunia persilatan, tapi kalau berbicara tentang kemungkinan yang bakal terjadi malam nanti, kebetulan sekali apa yang lotiang duga justru berkebalikan dengan jalan pemikiranku...."
Sejak keberhasilan Liu Leng poo dalam merencanakan serbuan ke selat Tok seh sia tempo hari, tampaknya kakek Ou-sudah menaruh perasaan kagum dan percaya terhadap kemampuan nona ini, dia segera menggaruk-garuk kepalanya sambil tertawa setelah mendengar ucapan tersebut, katanya kemudian.
"Kalau toh nona sudah mempunyai rencana yang bagus, mengapa tidak kau utarakan agar akupun ikut mendengarkannya?"
Liu Leng poo tertawa.
"Lotiang tak perlu menempelkan emas di wajahku, rencana bagus apa sih yang berhasil kuperoleh? Cuma saja didalam keadaan serba salah dan kehabisan daya semacam ini, rasanya cara itu memang rada baik kalau digunakan untuk menghadapi ancaman lawan."
"Enci Liu, rencana apa sih yang berhasil kau peroleh?"
Seru Lak jiu im eng Thio Man pula sambil berkerut kening.
"Sudahlah, kau tak usah jual mahal, cepatlah dibeberkan keluar."
"Sesungguhnya rencana ku ini tidak terhitung sangat hebat dan jitu, tapi rasanya kecuali cara tersebut memang tidak terdapat rencana lain yang lebih baik lagi."
Ia berbicara pelan-pelan, dan setiap penghuni gua itu mendengarkan dengan seksama, sinar mata semua orang telah ditujukan ke atas wajahnya. -oo0dw0oo-
Jilid 23 Setelah berhenti sejenak Liu Leng poo meneruskan kembali kata katanya.
"Hingga sekarang sudah tak sedikit jumlah orang-orang kita yang pergi tidak kembali lagi, semuanya sudah terjatuh ketangan mereka, boleh dibilang kejadian tersebut sudah merupakan suatu kerugian yang amat besar untuk pihak kita, oleh sebab itu aku pikir bila kita dapat membekuk pula pihak lawan yang menyerang kita malam nanti, kemungkinan besar posisinya bisa sedikit berubah."
Kakek Ou segera bertepuk tangan tanda setuju, teriaknya penuh kegirangan.
"Benar....benar, nona Liu memang tidak malu disebut Cu kat Liang diantara wanita, beberapa patah katamu meski sederhana tapi penuh dengan arti yang mendalam.. prinsipmu telah membangkitkan semangat kita semua didalam menghadapi lawan malam nanti."
Liu Leng poo segera tersenyum, katanya kemudian .
"Lotiang terlalu memuji."
Lalu sambil berpaling kearah Ma koan Tojin ia bertanya lagi "Mula mula aku ingin bertanya dulu kepada toheng, sampai kini masih ada beberapa orang kiamsu yang masih berada di sini?"
"Yang datang bersama-sama kiamcu hanya tiga puluh enam orang saudara dari jago pedang berpita hijau selain dua puluh orang saudara yang pergi mengikuti khong beng taysu serta saudara To tadi, kini masih ada enam belas orang."
Liu Leng poo manggut-manggut.
"Ehmm jumlah kita masih terhitung cukup lumayan, dan sekarang aku rasa satu hal yang paling perlu kita lakukan dengan segera adalah setiap orang harus menelan obat penawar racun lebih dulu untuk mencegah jangan sampai keracunan ditengah lawan nanti."
"Kemudian langkah kedua adalah membagi tugas masing masing, didalam hal ini aku akan membeberkan dulu masalahnya kemudian baru mengajak kalian semua untuk merundingkannya bersama-sama sebelum diambil keputusan."
"Tak usah dirundingkan lagi"
Sela kakek Ou cepat.
"silahkan nona memberi komando, kita semua akan melaksanakannya tanpa membantah"
Kam Liu cu yang selama ini hanya membungkam diri tanpa berbicara, tiba-tiba menyela pada waktu itu.
"Ji sumoay tidak usah sungkan-sungkan lagi, jika kau punya rencana baik, langsung saja diutarakan keluar"
"Siasat yang kumaksud adalah, 'Dengan palsu menjadi kenyataan' Makoan totiang bersama saudara Tam, adik dari keluarga Thio serta delapan jago pedang berpita hijau berjaga-jaga didalam gua batu ini, andaikata ada musuh tangguh yang menyerang gua, biar toa suheng dan aku yang keluar menghadapinya, Ma koan totiang hanya berjaga-jaga sambil melindungi kami dari sergapan lawan, asalkan musuh tidak menerjang masuk ke dalam gua, kita jangan sekali-kali turun tangan...."
Ma koan totiang adalah seorang jago kawakan yang sudah berpengalaman luas di dalam dunia persilatan, dia pun pandai sekali mengatur siasat, maka setelah mendengar pembicaraan dari Liu Leng poo tersebut, dia mengerti bahwa nona itu berniat mempertahankan gua batu ini.
Padahal gua batu itu hanya merupakan tempat sementara untuk beristirahat, berarti tempat ini sama sekali tidak penting artinya, mengapa harus dipertahankan mati-matian ?
Berpikir sampai disitu diapun segera bertanya.
"Liu lihiap minta kepada pinto untuk mempertahankan gua ini apakah ada petunjuk lain?"
"Ucapan toheng memang betul.."
Kata Liu Leng poo sambil tertawa "Gua ini mempunyai kegunaan lain bagiku."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh.
"Sedangkan delapan orang jago pedang berpita hijau lainnya, harap toheng perintahkan untuk bersembunyi disisi kiri dan kanan hutan diluar gua sana. Tanpa mendapat perintah, mereka di larang untuk menampakkan diri."
"Pinto terima perintah."
"Enci Liu"
Seru Lak jiu im eng Thio Man pula.
"Tam tayhiap serta siau moay yg bertugas menjaga didalam gua kan tak ada pekerjaan?"
"Adik dari keluarga Thio tidak usah terburu napsu, tak usah kuatir pokoknya kau pasti akan sibuk nanti."
Sahut Liu Leng poo sambil tertawa. Kemudian sambil berpaling kearah kakek Ou, katanya pula ;
"Sekarang adalah tiba giliran lotiang, jarak enam-tujuh kaki dari sini bukankah terdapat beberapa batang pohon besar? Nah..lotiang boleh menyembunyikan diri diatas pohon, kalau bisa jangan sampai ketahuan orang."
"Tanah diluar gua ini tidak begitu luas, entah berapapun jumlah musuh yang datang nanti, biar aku serta toa suheng yang menghadapinya..."
Tidak sampai perkataan itu selesai di utarakan, kakek Ou sudah menyela sambil menggelengkan kepalanya berulang kali .
"Tidak bisa, tidak bisa, masa nona suruh aku bersembunyi diatas pohon sambil menonton pertarungan?"
"Aku toh belum selesai berbicara, harap lotiang jangan lupa bahwa malam ini kita mempuyai satu tujuan."
"Baik, baik, katakanlah lebih jauh."
"Bukankah tadi sudah kukatakan, kalau bisa malam ini kita bekuk semua kawanan musuh yang menyerang tiba, oleh sebab itu disaat aku dan toa suheng menghadapi serangan musuh nanti, lotiang yang bersembunyi diatas pohon segera menggunakan ilmu totokan dari udara kosong untuk menotok jalan darah mereka satu persatu"
"Bagus...bagus... Siasat ini bagus sekali..."
Puji kakek Ou kegirangan. Liu Leng poo segera berkata pula kepada Lok jiu ini eng Thio Man yang berada di sampingnya.
"Dan waktu itu, Ma koan toheng segera perintahkan empat orang kiamsu di bawah petunjuk saudara Tam dan adik dari keluar gua ini untuk membekuk mereka yang tertotok itu serta menyeretnya kedalam gua batu.
"Sebaliknya Ma koan totiang serta keempat kiamsu lainnya hanya bertugas untuk berjaga-jaga, kalian dilarang meninggalkan gua batu itu biar setengah langkah pun. Andaikata para penyerang menarik diri dan segera mundur dari sini maka delapan jago pedang pita hijau yang bersembunyi dalam hutan segera turun tangan menghadang jalan mundur mereka begitu mendapat perintah dariku."
Tanpa terasa Ma koan tojin memuji tak hentinya setelah mendengar rencana mereka itu, katanya .
"Liu Lihiap, siasatmu ini benar-benar sempurna dan luar biasa dengan persiapan semacam ini, kita tak usah kuatir menderita kegagalan lagi pada malam nanti."
"Itu sih baru merupakan perhitunganku saja, bagaimana gerakan musuh nantinya , toh belum diketahui."
"Baiklah, Kita putuskan demikian saja."
Kata kakek Ou pula.
Selesai makan rangsum kering, Ma koan tojin segera membagi-bagikan obat penawar racun itu kepada setiap orang untuk ditelan.
Kemudian dia memerintahkan delapan orang jago pedang berpita hijau untuk menyembunyikan diri dalam hutan sambil menunggu perintah, setelah itu baru mengundurkan diri.
"Sekarang waktunya sudah makin mendekat, aku rasa Ou lotiang juga harus pergi ke tempat tugas lebih dulu!"
Kata Liu Leng poo kemudian, Kakek Ou segera tertawa.
"Nona tak usah kuatir, aku tak bakal sampai melakukan kesalahan didalam tugas."
Selesai berkata diapun berjalan keluar dari gua itu. Akhirnya Liu Leng poo baru berkata kepada semua orang.
"Mumpung masih ada waktu, harap kalian beristirahat sejenak sambil mengatur napas mungkin pada malam ini nanti kita tak punya waktu lagi untuk beristirahat."
Lentera didalam gua tersebut dipadamkan dan semua orang menurut perintah dengan duduk bersila didalam gua sambil mengatur pernapasan...
Lak jiu im eng Thio Wan betul-betul merasa sangat tegang, sebentar ia meraba pedangnya sebentar meraba senjata rahasia disakunya.
Tak sedikitpun perasaannya dapat menjadi tenang.
Malam semakin larut, angin gunung berhembus makin kencang, suasana diluar gua terasa gelap gulita tak nampak setitik cahaya pun, malam itu adalah sebuah malam yang tanpa rembulan.
Setengah kentongan sudah lewat dengan begitu saja, namun belum nampak adanya sesuatu gerakan apapun.
Liu Leng poo mencoba untuk mengamati sekejap sekitar tempat itu, lalu berpikir dengan keheranan .
"Saat ini kentongan kedua sudah lewat, andaikata pihak lawan hendak melakukan sesuatu gerakan, saat inilah seharusnya waktu mereka untuk bertindak !"
Baru saja ingatan tersebut berkelebat lewat, tiba-tiba terdengar suara pekikan nyaring berkumandang datang dari kejauhan.
Suara itu amat tajam dan melengking dan kedengarannya berasal dari bawah bukit sana.
Dengan perasaan terkejut Lak jiu im eng Thio Man segera berbisik lirih.
"Enci Liu, mereka telah datang !"
"Tampaknya suara pekikan itu dipancarkan dengan ilmu menyampaikan suara yang berasal dari sebelah timur."
Kata Kam Liu cu pula "Orang yang berpekik itu paling tidak masih berada tiga li dari sini, namun suaranya bisa dipancarkan kemari tanpa membuyar, dari sini bisa dilihat betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki orang itu."
Dengan perasaan kaget Ma koan tojin segera berkata .
"Ilmu menyampaikan suara? Waah...bukankah kepandaian itu sudah lama punah dari dalam dunia persilatan? Andaikata pihak lawan hendak melakukan penyerbuan secara sergapan, mengapa pihak lawan memperdengarkan suara pekikannya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara? paling tidak kan suara pekikan tersebut dapat meningkatkan kewaspadaan kita?"
"Perkataan toheng benar juga"
Kam Liu cu menanggapi "Jangan lagi kita sudah membuat persiapan pada malam ini. Biarpun tanpa persiapan setelah mendengar pekikkan tajam tadi niscaya kita akan meningkatkan kewaspadaan"
"Betul... Situasi yang kita jumpai pada malam ini memang rada aneh."
Lak jiu im eng Thio Man yang tidak mengerti segera turut bertanya pula.
"Enci Liu. Apanya yang aneh dengan situasi pada malam ini?"
"Agaknya ada orang sedang memberi peringatan kepada kita."
"Biar kutengok keluar!"
Kata Kam Liu cu kemudian. Mendadak terdengar suara kakek Ou berkumandang dari jarak sejauh lima kaki dengan ilmu menyampaikan suara.
"Kam lote tak usah pergi, mereka telah datang!"
Waktu itu dia berada lima kaki dari gua, Namun semua pembicaraan dalam gua bisa terdengar olehnya, malah sempat memberi peringatan pula, kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki orang tua ini jelas mengerikan sekali.
Perkataan dari kakek Ou barusan dapat didengar setiap orang yang berada dalam gua, serentak mereka melompat bangun dan bersiap siaga sambil mengawasi diluar gua.
Ditengah kegelapan malam, tampak tiga gosok bayangan manusia munculkan diri dari kaki bukit, dalam waktu singkat mereka telah berada dimuka gua.
Ketiga orang itu mengenakan pakai berwarna hitam dengan kain kerudung muka berwarna hitam pula, sehingga yang nampak hanya sepasang matanya saja.
Dua orang yang berada disebelah kanan dan kiri membawa pedang terhunus, hanya orang di sebelah tengah yang bertangan kosong belaka, sebilah pedang tersoren dipunggungnya.
Ketiga orang itu baru berhenti setelah berada tiga kaki didepan gua, serentak mereka berdiri berjajar.
Dari perawakan tubuh ketiga orang itu, Kam Liu cu sudah mengetahui bahwa mereka bukan manusia biasa karena gerakannya begitu cepat dan ringan, tanpa terasa pikirnya .
"Agaknya ketiga orang ini bukan berasal dari selat Toh seh sia .."
Sementara itu Liu Leng poo telah berbisik .
"To suheng. Mari kita keluar."
Kedua orang itu segera melangkah keluar bersama dari dalam gua. Setibanya diluar ruangan gua, Kam Liu cu pun memberi hormat seraya menegur.
"Sobat bertiga, ada urusan apa kalian datang kemari ditengah malam buta begini?"
Tiga orang manusia berkerudung hitam itu cuma berdiri dengan mulut membungkam, seakan-akan tidak mendengar teguran tersebut, bahkan tak seorang yang membuka suara.
Melihat hal ini Lu Leng poo segera berseru pula sambil tertawa dingin ;
"Sobat mengapa kalian sengaja mengenakan kain kerudung muka untuk menyembunyikan wajah aslinya? Apakah kalian mempunyai sesuatu kejelekan yang takut diketahui orang?"
Tiga manusia berkerudung dengan keenam matanya cuma mengawasi kedua orang itu tanpa berkedip, mulut mereka tetap membungkam dalam seribu bahasa. Akhirnya Liu Leng poo berkata .
"Harap toa suheng melindungi diriku, akan kutemui dulu ketiga orang ini."
Seusai berkata dia segera berjalan maju kedepan ketiga manusia berkerudung itu, lalu sambil mengulapkan tangannya dia membentak.
"Kalian bertiga boleh maju bersama-sama! "
Mendadak manusia berkerudung yang berada ditengah mengulapkan tangannya dua orang manusia berkerudung yang berada di sebelah kiri dan kanan itu segera melompat, kedepan tanpa mengucapkau sepatah kata pun, pedang mereka langsung diayunkan melancarkan tusukan kilat....
Liu Leng poo mendengus dingin, sepasang tangannya segera dipisahkan dengan jurus "Gadis langit menyebar bunga"
Langsung memunahkan dua serangan dari musuh.
Tampaknya kedua orang itu mempunyai kesempurnaan yang luar biasa didalam permainan ilmu pedang, begitu serangannya dipunahkan Liu Leng poo dua bilah pedang tersebut tiba-tiba berputar kekiri dan kanan lalu melancarkan serangan kembali.
Liu Leng poo sama sekali tak bergerak mundur, telapak tangannya diayunkan berulang kali melancarkan dua pukulan bertenaga lembut.
Lagi-lagi serangan pedang dari kedua orang itu berhasil dibendung semua.
Tidak sampai Liu Leng poo melancarkan serangan balasan, secepat kilat kedua manusia berkerudung itu memutar pedang masing masiug, kali ini didalam waktu singkat mereka telah melancarkan empat buah serangan berantai.
Kam Liu Cu merasa amat terperanjat setelah menyaksikan permainan pedang lawan, tiba-tiba ia berseru "Ji sumoay, Ilmu pedang yang mereka gunakan adalah Ji gi kiam hoat dari Bu tong pay.."
Begitu seruan itu berkumandang, manusia berkerudung yang berdiri dihadapannya itu segera mendesis dingin lalu mencabut pedangnya dan menerjang ke muka.
Tiga kuntum bunga pedang secepat sambaran petir menyerang tiga buah jalan darah penting ditubuh Kam Liu cu.
Kaget sekali Kam Liu cu menghadapi ancaman tersebut, pikirnya.
"Orang ini dapat menggunakan pedangnya sehebat dan sesempurna ini, aku tak boleh memandang enteng dirinya!"
Cepat-cepat telapak tangan kanannya di ayunkan kedepan melepaskan sebuah pukulan untuk membendung serangan pedang dari manusia berkerudung itu, lalu bentuknya lagi .
"Apa hubunganmu dengan Bu tong pay?"
Manusia berkerudung itu sama sekali tidak berbicara, tiba-tiba saja pedangnya di ayunkan menciptakan selapis cahaya pedang yang sangat tebal dan menyerang kembali secara garang.
Tapi Kam Liu cu adalah murid tertua dari Thian sat bun, ilmu silat yang dimiliki telah mencapai tingkatan yang sempurna juga.
Biarpun serangan pedang dari manusia berkerudung itu sangat gencar dan hebat, toh tak berhasil mendesaknya mundur barang selangkah saja malah sebaliknya mengikutinya ayunan pukulannya, ancaman lawan itu segera buyar dan lenyap tak berbekas.
Setelah bertarung berapa gebrakan mendadak manusia berkerudung itu memperketat serangannya, cahaya pedang segera memancar kemana-mana membiaskan bayangan pedang setinggi bukit, diiringi desingan tajam yang memekikkan telinga langsung menyergap lawannya habis habisan.
Setelah bertarung beberapa gebrakan, Kam Liu cu segera sadar bahwa dibalik setiap jurus serangan yang dilancarkan pihak lawan semuanya mengandung tenaga pukulan yang sangat kuat.
Maka sambil melepaskan serangkaian serangan untuk membendung ancaman pedang lawan, diam-diam pikirnya dengan keheranan .
"Tenaga dalam yang telah dimiliki orang ini paling tidak sudah mencapai puluhan tahun hasil latihan, mustahil dia adalah seorang anak buah perguruan Bu tong pay, tapi nyatanya jurus serangan yang dipergunakan adalah jurus-jurus ilmu pedang asli dari Bu tong pay ..."
Sementara dia masih termenung, Liu Leng poo yang bertarung melawan dua orang musuhnya dengan tangan kosong, setelah lewat beberapa gebrakan dia berhasil melancarkan ilmu sentilan mautnya serta merobohkan kedua orang lawan.
Pena baja Tam See hoa serta Lak jiu im eng Thio Man serentakan menerjang kemuka serta menawan kedua orang itu.
Siapa tahu pada saat itulah manusia berkerudung yang sedang bertarung melawan Kam Liu cu itu membentak keras, pergelangan tangannya digetarkan keras-keras menciptakan selapis cahaya pedang untuk melindungi seluruh badan, kemudian sambil meninggalkan Kam Liu cu, dia langsung menyerbu kedalam gua, Kam Liu cu tertawa nyaring, dua buah pukulan dahsyat dilontarkan untuk mencegah gerakan diri manusia berkerudung itu, Sekali lagi manusia berkerudung itu membentak keras, pedangnya diayunkan berulang kali dan menyerang Kam Liu cu semakin garang dan ganas lagi.
-oo0dw0oo-TAMPAKNYA dia sudah menyerang dengan penuh amarah, selain serangan pedangnya bertambah dahsyat, pun dilepaskan secara bertubi-tubi.
Serentak Kam Liu cu merentangkan sepasang telapak tangannya melancarkan serangkaian pukulan berantai, dengan begitu dia baru berhasil membendung datangnya serangan bertubi-tubi lawannya.
Mendadak mencorong sinar tajam dari balik matanya, dengan suara menggeledek bentaknya;
"Ilmu pedang Tay khek hui kiam! Sesungguhnya siapa kau?"
Perlu diketahui, ilmu pedang Tay khek hui kiam merupakan ilmu pedang simpanan dari Bu tong pay, kecuali seorang ciangbun jin, hanya para tianglo serta pelindung hukum yang berbakat saja boleh mempelajari kepandaian tersebut, bahkan menurut peraturan orang yang boleh mempelajari ilmu tersebut pun cuma dibatasi dua orang saja.
Dan sekarang, manusia berkerudung itu telah menggunakan ilmu simpanan dari Bu tong pay, hal ini membuktikan bahwa orang ini adalah salah satu diantara Bu liong sam cu.
Tapi diantara Bu tong sam Cu Thian goan cu berasal dari perguruan Siu lo bun.
Kehebatan ilmu silatnya tidak berada di bawah kemampuan gurunya sendiri sudah jelas orang ini bukan Thian goan cu.
Sebaliknya Thian beng cu adalah ciang bunjin dari Bu tong pay, dia tak akan turun gunung begitu saja, sehingga hal ini pun tidak mungkin.
Sebaliknya Thian khi cu sudah terperangkap didalam selat Tok seh sia palsu semalaman....
Lantas orang ini adalah...
Kam Liu cu dengan mengandalkan sepasang tangan kosong bertarung seru melawan permainan pedang lawan, terutama sekali setelah pihak lawan mengeluarkan ilmu Tay khek hui kiam dari Bu tong pai yang sangat hebat itu, boleh dibilang untuk menangkap dirinya terasa sulit sekali.
Adapun pertarungan yang berlangsung di antara mereka pun tidak secepat dan seru, pada permulaan pertarungan itu lagi, mereka berdua bertarung makin lama semakin lambat.
Tapi dalam kenyataan juueru dibalik gerakan yang sangat lambat inilah kedua belah pihak sama-sama menggunakan jurus serangan masing-masing yang terhebat disertai segenap tenaga dalam yang dimilikinya, begitu hebatnya pertarungan tersebut, sehingga sedikit saja salah bertindak bisa berakibat fatal bagi lawannya.
Pada saat itulah tampak Lak jiu im eng Thio Man berlarian keluar dari dalam gua sambil berseru .
"Enci Liu, enci Liu... ternyata kedua orang manusia berkerudung itu adalah Keng hian suheng serta Keng siu suheng, padahal mereka berdua ikut terperangkap didalam selat Tok seh sia..."
Orang yang terjebak didalam selat Tok seh sia, ternyata malah membantu pihak Tok seh sia melancarkan sergapan, peristiwa semacam ini benar-benar luar biasa dan sama sekali tidak terduga oleh siapapun.
Liu Leng poo merasa terkejut sekali setelah mendapat laporan tersebut, sambil membalikkan tubuhnya dia berseru.
"Adik Thio, apakah kau tidak salah melihat? Hati-hati kalau muncul lagi manusia gadungan."
"Tidak bakal salah, mereka adalah benar-benar kedua orang suheng dari angkatan Keng."
"Betul!!"
Seru Kam Liu cu tiba-tiba.
"Orang yang sedang bertarung melawan diriku sekarang bisa jadi adalah Thian Khi cu!"
Sepasang telapak tangannya segera dipentangkan lebar-lebar dan memberi perlawanan semakin gencar.
Waktu itu manusia berkerudung hitam tersebut sudah terdesak hebat sehingga cuma bisa mempertahankan diri belaka tatkala mendengar Kam Liu cu mengucapkan kata Thian Khi cu, ia nampak agak tertegun, kemudian serunya.
"Kau biang apa? Thian Khi cu?. Siapakah Thian Khi cu itu.?"
"Kau bukan Thian Khi cu?"
Kam Liu cu balik bertanya.
"Yaa, aku seperti merasa amat kenal dengan nama itu."
Berhubung gerak serangan pedangnya melambat, tak ampun lagi sebuah pukulan dahsyat dari Kam Liu cu segera bersarang di atas tubuh pedangnya.
"Criiingh.!"
Diiringi suara dentingan yang amat nyaring, pedangnya mencelat ketengah udara bagaikan bianglala perak dan terlempar jatuh keatas tanah.
Kam Liu cu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, tangannya segera diputar kencang melancarkan sebuah totokan kedepan.
Mendadak manusia berkerudung itu tersadar kembali dari lamunannya, cepat dia mengegos kesamping untuk menghindari serangan jari lawannya, bahkan telapak tangan kirinya diputar satu lingkaran langsung dibacokan ke tubuh Kam Liu cu.
Serta merta Kam Liu cu mengayunkan pula telapak tangannya untuk menyambut serangan tersebut dengan keras lawan keras.
"Blaaam... !"
Ditengah benturan keras, manusia berkerudung hitam itu segera meminjam tenaga pantulan yang dihasilkan untuk melejit kebelakang.
"Haa haa haaa...hendak kabur kemana sobat?"
Jengek Kam Liu cu sambil tertawa tergelak Ia membalikkan badan siap melakukan pengejaran. Tapi saat itulah terdengar suara Kakek Ou membentak lirih .
"Kam lote ada orang lagi!"
Sesosok bayangan manusia meluncur turun dari tengah udara.
Liu Leng poo mendengus dingin, dia segera menjejakkan kakinya keatas tanah dan menyongsong kedatangan orang tersebut.
Tatkala menerjang turun dari atas udara tadi, yang menjadi sasaran orang itu sesungguhnya adalah Kam Liu cu.
Karenanya saat serangan hampir mencapai kepala Kam Liu cu itulah tiba-tiba dia meloloskan pedangnya dan diiringi kilatan cahaya sinar ia langsung membacok ke bawah.
Liu Leng poo menerjang dengan gerakan yang tak kalah cepatnya, dia mencabut keluar pedangnya ditengah udara lalu diayun kedepan menyambut datangnya tusukan tersebut.
"Traaang, traaang, traaang...!"
Terdengar tiga kali bentrokan nyaring yang menimbulkan percikan bunga api ditengah udara.
Dalam waktu yang singkat kedua orang itu sudah saling bertarung sebanyak tiga gebrakan labih.
Tiba-tiba bayangan manusia berpisah dan masing masing sudah melayang turun sejauh satu kaki dari posisi semula.
Menanti kedua orang itu sudah melayang turun ke atas tanah, semua orang baru dapat melihat jelas bahwa orang yang saling beradu pedang dengan Liu Leng poo ditengah udara tadi adalah seorang lelaki berkerudung hitam pula.
Tampak orang itu memiliki gerakan tubuh yang sangat ringan dan cekatan, begitu mencapai tanah ia segera mendesak maju lagi kedepan, pedangnya di putar kencang dan secara beruntun melancarkan beberapa buah serangan lagi.
Terkesiap juga perasaan Liu Leng poo setelah mengetahui bahwa orang itu berilmu silat sangat tinggi dan permainan pedangnya cepat bagaikan sambaran kilat, pikirnya .
"Ilmu pedang apakah ini?"
Berpikir sampai disitu, dia segera mengayun pula tangannya melancarkan serangan balasan.
Dalam waktu singkat terjadilah suatu pertarungan sengit diantara mereka berdua.
Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, tetapi pada saat itu pula bala bantuan lawan telah berdatangan semua dalam jumlah yang cukup besar.
Sebagai pemimpin adalah seorang manusia bertubuh jangkung yang menyoren pedang dipinggangnya, dua orang yang mengikuti dibelakangnya adalah seorang bertubuh gemuk sedang satunya lagi bertubuh kurus dan kecil.
Mereka bertiga mengenakan juga kain kerudung hitam sehingga tidak kelihatan raut wajah aslinya, tapi semua orang dapat mengetahui bahwa manusia bertubuh jangkung itu adalah congkoan jago pedang berpita hijau si sastrawan pemeluk pedang Buyung Siu yang bersama-sama Ban kiam hweecu terjerumus ke dalam selat Tok seh sia semalam.
Sedangkan dari dua orang lainnya, yang gemuk jelas adalah Khong beng taysu, hu congkoan dari dari pasukan jago pedang berpita hitam sebaliknya yang kurus kecil adalah si naga tua berekor botak To Sam siu.
Dibelakang ketiga orang itu mengikuti pula dua puluh lelaki berkerudung hitam semuanya menyoren pedang dipunggungnya, kecuali kain kerudung yang menutupi wajah mereka, dilihat dari dandanannya sudah dapat diketahui bahwa mereka adalah pasukan jago pedang berpita hijau dari perkumpulan Ban kiam hwee.
Atau dengan perkataan lain, mereka tak lain adalah kedua puluh orang jago yang lenyap sore tadi.
Tentu saja kenyataan yang muncul di hadapan mereka ini membuat Liu Leng poo sekalian terasa amat terperanjat.
Setelah tertegun berapa saat, Kam Liu cu segera maju menyongsong snmbil bentaknya keras-keras .
"Yang datang apakah Buyung congkoan?"
Orang yang berada ditengah itu sama sekali tidak menjawab, tiba-tiba saja ia mencabut pedangnya dengan satu gerakan amat cepat, lalu diiringi kilatan cahaya tajam, sebuah tusukan kilat sudah dilancarkan.
Cepat-cepat Kam Liu cu menangkis serangan tersebut dengan sebuah pukulan dahsyat kemudian bentaknya .
"Buyung congkoan, apakah kalian sudah dipengaruhi orang lain hingga kehilangan kesadaranmu?"
Dalam bentakan tersebut, orang itu sudah melancarkan tiga buah serangan kilat secara berantai, cahaya pedang bagaikan daun yang berguguran meluncur keluar tiada hentinya, sunggug dahsyat ancaman ini.
Kam Liu cu terdesak mundur sejauh dua langkah dari posisi semula.
Tentu saja dia cukup mengetahui akan kelihayan dari si sastrawan pemeluk pedang ini sehingga tak berani melayani dengan tangan kosong belaka, cepat-cepat dia mencabut pedang pendek dan membendung datangnya ancaman.
Begitu sastrawan pemeluk pedang sudah turun tangan, dua manusia berkerudung gemuk dan kurus yang berada dibelakangnya segera meloloskan pula senjata masing-masing serta maju menyongsong dengan langkah lebar.
Senjata yang digunakan lelaki gemuk itu adalah sebilah golok Ciat to, sedangkan senjata yang digunakan si kurus adalah sebuah senjata cakar naga.
Di tinjau dari dua macam senjata tersebut, terbuktilah sudah bahwa mereka berdua benar-benar adalah Thi lohan Khong Beng taysu serta si naga tua berekor botak To Sam siu.
Sementara itu dua puluh orang lelaki berkerudung lainnya telah meloloskan pula senjata masing-masing sambil menyerbu kedepan.
Ma koan tojin serta delapan jago pedang berpita hijau yang berjaga-jaga diluar gua menjadi terkejut bercampur gelisah setelah menyaksikan peristiwa ini, sambil berpaling ia segera berseru;
"Sudara Tam dan nona Thio tetap berada didalam gua, biar pinto keluar untuk menyambut mereka."
Lalu kepada kedelapan jago pedang berpita hijau itu serunya pula.
"Kalian ikuti aku!"
Setelah bergerak maju kemuka untuk menyongsong serbuan tersebut, bentaknya dengan suara dalam.
"Engkoh tua berdua, apakah kalian telah diselomoti lawan..?"
Lelaki gemuk dan kurus itu tidak berbicara, mendadak mereka memisahkan diri lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka lancarkan serangan gencar kedepan.
Begitu juga dengan si kurus, tanpa membuang waktu cakar naganya langsung mengancam ke arah dada.
Ma koan tojin menjadi kaget sekali, teriaknya lagi keras-keras.
"Hey, apakah kalian sudah gila semua?"
Dalam waktu singkat sudah bertarung seru melawan kedua orang rekannya ini.
Dalam pada itu kedua puluh orang manusia berkerudung lainnya telah membubarkan diri, setelah melewati Mi koan tojin, mereka langsung menyerbu kearah delapan orang jago pedang berpita hijau lainnya.
Serentak ke delapan orang jago pedang berpita hijau itu menggetarkan pedang masing-masing, seraya berseru keras.
"Empat samudra berasal satu sumber, selaksa pedang menjadi satu..."
Inilah slogan dari orang-orang Ban kiam hwee, semestinya bila orang-orang itu berasal dari Ban kiam hwee maka serentak mereka akan berhenti sambil balas mengucap dengan slogan yang sama.
Tapi dalam kenyataan kedua puluh orang manusia berkerudung itu tetap bergerak maju ke depan, mereka seolah-olah tidak mendengar slogan tersebut, malahan sambil mengayunkan pedang, orang-orang itu langsung melancarkan serangan.
Dalam waktu singkat terjadilah pertarungan massal yang amat seru, bentrokan senjata yang amat nyaring bergema silih berganti, suasana disitupun menjadi amat ramai....
Sesungguhnya semua peristiwa ini berlangsung dalam sekejap mata, waktu itu Liu Leng poo baru bertarung sebanyak tiga puluh gebrakan melawan lelaki berkerudung tadi, Ia merasa gerak serangan lawan makin lama semakin bertambah aneh, hal ini membuatnya merasa gelisah sekali.
Ketika dia mencoba memeriksa keadaan di sekitar situ, ternyata pertarungan massal sudah terjadi, padahal kakek Ou yang bersembunyi diatas pohon sama sekali tidak melakukan sesuatu gerakan pun.
Kesemuanya ini membuat kecurigaannya semakin bertambah..
Di kala pikirannya bercabang itulah, mendadak dia merasa pedang ditangannya seolah-olah tergiling oleh gerakan pedang lawan sehingga pertahanannya terbuka lebar.
Disusul kemudian cahaya pedang tampak berkelebat, tahu-tahu ujang pedang lawan sudah berada didepan dadanya.
Dengan perasaan yang kaget sekali Liu Leng poo segera menjerit tertahan.
"Kau adalah Wi siauhiap!!"
Dalam kagetnya telapak tangan kirinya segera diayunkan kemuka menghantam tubuh pedang tersebut "Crriinnggg...!"
Diiringi suara dentingan nyaring, pedang dari manusia berkerudung itu sudah kena tertangkis olehnya.
Begitu berhasil dengan serangannya, Liu Leng pco tidak memberi kesempatan lagi kepada lawannya untuk berganti jurus, tangan kanannya dengan jurus Tay ho membalik ke muda, dia putar pedangnya seratus delapan puluh derajat kemudian secepat petir menotok jalan darah Cian keng hiat dibahu lawan.
Setelah mengetahui bahwa orang yang sedang bertarung melawannya tak lain adalah Wi Tiong hong yang lenyap sore tadi, terpaksa dia harus menotok jalan darahnya dengan gagang pedang.
Akan tetapi ilmu silat yang dimiliki manusia berkerudung itu pun sangat hebat, begitu pedangnya kena di hantam oleh serangan balasan dari Liu Leng poo, dia tidak menjadi panik karena ancaman tersebut, mendadak tubuhnya bergerak mundur sejauh tiga langkah.
Kemudian telapak tangan kanannya disiapkan dan melancarkan sebuah pukulan yang sangat kuat ketubuh Liu Leng poo.
Tentu saja Liu Leng poo pun dapat mengenali kepandaian itu sebagai ilmu andalan dari Wi Tiong hong yakni Siu lo to.
Dengan sigap dia berkelebat kesamping untuk menghindarkan diri, lalu bersiap sedia lagi menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara kakek Ou bergema dari sisi tubuhnya.
"Nona Liu, cepat bekuk dia."
Sebelum manusia berkerudung itu sempat mengeluarkan ilmu Siu lo tonya, mendadak sambil mendengus tertahan tubuhnya roboh terjungkal keatas tanah.
Begitu mendengar suara kakek Ou, Liu Leng poo tak berani berayal lagi, cepat-cepat dia melompat kedepan mencengkeram manusia berkerudung itu, kemudian secepat hembusan angin mengundurkan diri kedalam gua.
Tam See hoa segera maju menyambut kedatangannya.
Dengan suara lirih Liu Leng poo berbisik.
"Saudara Tam, orang ini adalah Wi siauhiap, cepat kau bopong dia masuk ke dalam."
Tam See hoa amat terkejut setelah mendengar perkataan itu, cepat-cepat dia menerima tubuh manusia berkerudung itu.
Waktu itu Liu Leng poo tak ada waktu untuk banyak berbicara lagi, sebab pertarungan massal sudah terjadi, sedang lawannya tak lain adalah rekan-rekan mereka sendiri yang pikirannya terpengaruh, dia kuatir dengan jago pedang berpita hijau itu bukan tandingannya.
Maka setelah menyerahkan Wi Tiong hong ketangan Tam See hoa, cepat-cepat dia lari keluar lagi.
Sementara itu dengusan tertahan telah bergema silih berganti, kembali lima-enam orang yang sudah roboh tertotok.
Melihat hal ini, cepat-cepat dia berseru keras.
"Para cuangsu berpita hijau, kalian berusahalah membekuk mereka, tak usah dilayani lagi pertarungannya"
Dalam bentakan mana tubuhnya mendesak kemuka sambil mengayunkan pedangnya berulang kali, sementara jari tangan kirinya bekerja capat menotok roboh dua orang lawan.
Rupanya kedelapan jago berpita hijau itu mati kutunya, sebab mereka tahu kalau orang yang dihadapi adalah rekan-rekan sendiri mereka tak tega untuk saling membantai diantara rekan sendiri.
Itulah sebabnya si nona ini mereka cuma menangkis belaka tanpa berusaha untuk melancarkan serangan balasan.
Sebaliknya pihak lawan justru menyerang dengan sepenuh tenaga, dengan kekuatan delapan orang melawan dua puluh orang otomatis mereka merasa sangat kepayahan.
Di tengah mereka bertahan dengan susah payah itulah tiba-tiba mereka jumpai rekan-rekannya yang berkerudung seorang demi seorang roboh terjungkal keatas tanah.
Apalagi setelah mendengar seruan dari Liu Leng poo, tanpa terasa semangat mereka berkobar kembali, serentak mereka turun tangan mengempit rekan-rekannya yang tertotok serta mengundurkan diri dari situ.
Ketika Liu Leng poo maju kedepan, kebetulan sekali dia bertemu dengan tujuh-delapan orang manusia berkerudung yang sedang mengejar, pedangnya langsung diayunkan kian kemari serta melakukan serangkaian serangan yang dahsyat.
Diantara sekian orang, pertarungan antara Kam Liu cu melawan sastrawan pemeluk pedang berlangsung paling seru, disekitar tubuh mereka berdua tampak cahaya pedang berkilauan, sehingga sulitlah untuk melihat dengan jelas bayangan tubuh mereka.
Ma koan tojin sendiri yang seorang diri harus menghadapi kerubutan dari Thio Lohan Khong beng taysu serta naga tua berekor botak To Sam Siu merasa kepayahan sekali, mulai keteteran hebat sehingga hatinya menjadi sangat gelisah.
Dalam situasi yang amat kritis itulah, mendadak terdengar Si naga tua berekor botak To Sam siu mendengus tertahan lalu roboh terjengkang keatas tanah, ia menjadi amat girang dan cepat-cepat mengayunkan ujung bajunya melepaskan dua pukulan yang menahan sepasang golok dari Thio lo han Khong beng taysu, lalu dengan suara keraa bentaknya.
"Kalian cepat bawa pergi tubuh To loko!"
Seorang jago pedang berpita hijau cepat-cepat lari mendekat dan membopong tubuh To Sam siu untuk dilarikan ke dalam gua.
Thi lohan Khong beng taysu membentak keras sambil menerjang ke muka, sekali lagi dia terlibat dalam pertarungan yang amat seru melawan Ma koan tojin.
Dalam pada itu kakek Ou telah melepaskan totokan udara kosongnya secara beruntun untuk merobohkan belasan orang lawan, ketika dilihatnya situasi sudah teratasi, dia pun menotok jalan darah To San sin, tetapi pada saat itu juga terasa olehnya segulung desingan hawa serangan yang amat tajam menyergap tiba dari belakang.
Belum lagi angin serangan tiba, terasa desingan tajam telah menderu-deru yang membuat dahan dan ranting dibelakang tubuhnya terpapas kutung oleh cahaya pedang tersebut.
Dengan perasaan terkejut cepat-cepat dia menarik napas panjang sambil melejit ke udara, disitu dia berjumpalitan dan menoleh kebelakang, tampaklah serentetan cahaya pedang diiringi kelebatan bayangan manusia sudah menerjang tiba dengan cepatnya.
Tanpa terasa ia tartawa tergelak.
"Haah.. haah..haah....sudah sedari tadi ku nantikan dirimu!"
Dengan suatu gerakan cepat ia cengkeram belakang tubuh orang itu.
Ketika gagal dengan tusukan pedangnya ternyata orang itu memutar badan mengikuti gerakan pedangnya itu, dengan suatu gerakan yang sangat ringan dia berkelit kesamping, sesudah itu pedangnya kembali diputar membabat pergelangan tangan kakek Ou.
Melihat hal itu, kakek Ou tertawa terbahak-bahak.
"Untuk menghadapi diriku, kau perlu memiliki nyali yang cukup besar.."
Dengan kelima jari tangan yang dipentangkan lebar-lebar dia cengkeram pedang tersebut dengan keras lawan keras.
Terdengar orang itu menjerit kaget dan cepat-cepat menarik tangannya sambil melompat kebelakang, lalu sambil merendahkan badannya mendadak dia melayang kebawah pohon.
Bagaikan seekor butung rajawali yang mengincar anak ayam, kakek Ou segera menukik kebawah sambil menubruk.
Gerakan tubuh orang itu benar-benar sangat ringan dan cekatan, begitu mencapai permukaan tanah dia segera membentak nyaring, cahaya pedangnya berkelebat dan langsung menyambar sepasang kaki kakek Ou.
Berada ditengah udara tak mungkin bagi kakek Ou untuk menghindarkan diri, dan dia menekuk tubuh lalu kaki kirinya menendang secara tiba-tiba.
"Criiinng.!"
Pedang itu terkena tendangan secara tepat sehingga mencelat ke udara bagaikan sebuah bianglala berwarna perak, Tampaknya orang itu tidak menyangka kalau ilmu silat yang dimiliki lawannya begitu hebat, sambil menjerit kaget cepat-cepat dia melarikan diri kesisi kiri hutan seperti seekor burung walet.
Dalam pada itu situasi dalam arena sudah terjadi suatu perubahan yang sangat besar, dua puluhan orang manusia berkerudung itu sudah tertotok roboh secara beruntun sisanya sejumlah belasan orang meski masih bertarung sengit namun oleh serangan pedang Liu Leng poo yang bertubi tubi sudah terdesak hingga tak banyak pula.
Sementara itu pertarungan antara Ma koan tojin melawan Thio lohan Khong beng hweesio pun sudah terjadi perubahan, dia mulai menempati posisi yang lebih menguntungkan.
Hanya pertarungan antara Kam Liu cu melawan sastrawan pemeluk pedang saja masih berlangsung cukup sengit, karena orang itu sudah bertarung hampir ratusan gebrakan lebih tanpa berhasil menentukan siapa yang jauh lebih unggul.
Mendadak dari hutan sebelah kanan terdengar bunyi sumpritan yang ditiup keras-keras, Begitu suara sumpritan itu bergema, kawanan manusia berkerudung yang masih bertarung sengit itu mendadak seperti memperoleh perintah, sambil berteriak keras, serentak mereka menarik diri kebelakang dan berusaha untuk melarikan diri.
Liu Leng poo segera mengayunkan pedangnya berulang kali menciptakan selapis cahaya pedang yang berlapis-lapis, teriaknya keras keras.
"Kalian cepat halang kepergian orang-orang itu..."
Manusia berkerudung yang bertarung melawan Kam Liu cu itu sudah meraung penuh amarah, pedangnya dayunkan berulang kali memaksa gerakan pedang Kam Liu cu terbendung, kemudian secara tiba-tiba tubuhnya melejit ketengah udara dan meluncur pergi.
Gerakan tubuhnya benar-benar sangat cepat, hanya didalam berapa kali lompatan saja bayangannya sudah lenyap tak berbekas.
Kedelapan sembilan orang manusia berkerudung yang masih tersisa itu berniat kabur pula dan situ, tapi dua diantaranya berhasil dirobohkan oleh Liu Leng poo, sementara sisanya sudah keburu melarikan diri turun gunung.
Delapan jago pedang berpita hijau yang bersembunyi didalam hutan berniat maju menghadang pula, namun berhubung semua orang adalah orang sendiri, mereka segan untuk menghalanginya, terpaksa orang-orang itu dibiarkan berlalu dengan begitu saja.
Tinggal Toa lo han seorang yang tak mampu meloloskan diri, karena serangan gencar dari Ma koan tojin membuatnya sama sekali tak mampu berkutik.
Sementara itu, Liu Leng poo baru saja merobohkan dua orang manusia berkerudung tatkala dilihatnya Thio lo ban khong beng hwesio masih bertempur seru melawan Ma koan tojin, serta merta dia membalikkan badan dan menotok jalan darahnya.
Terdengar ujung baja terhembus angin bergema tiba, tampak sesosok bayangan manusia melayang turun dari tengah udara, ternyata orang itu adalah kakek Ou.
Dia muncul sambil mengempit seseorang, ketika sorot matanya dialihkan kesekeliling tempat itu, segera tanyanya.
"Berapa orang yang berhasil melarikan diri?"
"Kurang lebih ada delapan sampai sembilan orang."
Jawab Kam Liu cu cepat.
"Aai, kalau dibilang sungguh memalukan, aku tak berhasil menghadang kepergian Buyung congkoan."
Liu Leng poo yang sedang membereskan rambutnya yang kusut segera berkata sambil tertawa;
"Justru kesulitan kita terletak pada pertarungan itu sendiri, kita hanya bisa membekuk mereka hidup-hidup dan tak dapat melukainya, padahal ilmu pedang yang dimiliki Buyung congkoan sangat hebat, sudah barang tentu bukan suatu pekerjaan yang gampang uptuk membekuknya hidup-hidup."
"Lotiang, siapakah orang ini?"
Tanyanya kemudian sambil berpaling kearah orang yang berada dalam kempitan kakek Ou.
"Dia adalah seorang wanita, ilmu silat yang dimilikinya tangguh sekali!"
"Kalau begitu mari kita masuk dulu sebeium dibicarakan lebih lanjut.."
Semua orang segera masuk kedalam gua, sementara itu Tam See hoa serta Lak jiu im eng Thio Man telah merobek pula kain kerudung hitam yang dikenakan orang-orang itu.
Kawanan manusia yang tertotok itu duduk berjajar disisi kanan gua dengan mata terbelalak lebar-lebar.
Diantaranya nampak Keng hian totiang, Keng siu totiang dari Bu tong pay, Thi lo ban Khong beng hwesio, Wi Tiong hong, naga tua berekor botak To Sam siu serta dua belas orang jago pedang berpita hijau..
Dengan kening berkerut Ma koan tojin segera berkata.
"Aku lihat persoalan ini cukup hebat. Tampaknya mereka sudah dicekoki dengan obat pemabok sehingga sama sekali kehilangan kasadarannya..."
"Mari kita periksa dulu siapakah orang ini?"
Kata kakek Ou kemudian.
Dia menurunkan orang yang berada dalam kempitannya itu, lalu dengan cepat merobek kain kerudung yang menutupi wajahnya.
Begitu dirobek kain kerudungnya maka tampaklah selembar wajah yang ayu dan mungil.
Ternyata dia tak lain adalah Hek bun kun Cho Kiu moay.
Setelah memandang sekejap kearah nona itu, kakek Ou segera berseru.
"Bukankah dia adalah salah seorang dayang dari Ban kiam hweecu..?"
"Benar, dia bernama Hek bun kun Cho Kiu moay"
Sahut Liu Leng poo cepat.
"Tak heran kalau ilmu pedang maupun ilmu meringankan tubuhnya sangat tangguh. Hhmmnn....Malam ini Ban kiam hweecu tidak ikut datang..!"
Mendadak Liu Leng poo seperti teringat akan sesuatu, dia segera berpaling ke arah Ma koan tojin sambil ujarnya.
"Saudara Toheng, tolong kumpulkan juga kedelapan jago pedang berpita hijau yang berada didepan hutan sana, aku ingin berbincang-bincang dengan mereka."
Ma koan tojin mengangguk, ia segera memanggil seorang jago pedang berpita hijau untuk melaksanakan perintah tersebut.
Dalam pada itu Lak jiu im eng Thio Man sedang bermuram durja, tiba-tiba dia mengangkat kepalanya dan bertanya dengan kening berkerut kencang.
"Enci Liu, sekarang mereka sudah terkena obat pembingung sukma, apa yang mesti kita lakukan?"
"Tidak apa-apa, bukankah kita sudah meramu sebungkus besar bubuk obat?"
Seru kakek Ou cepat.
"Obat itu adalah obat emas penolak racun dari Lam hay bun kami, aku rasa obat pembingung sukma bukan obat yang kelewat ganas, asal diberi sedikit obat itu, niscaya mereka akan menjadi sadar kembali."
"Begitu manjurkah obat tersebut?"
Tanya Lak jiu im eng Thio Man gembira.
"Pil emas penolak racun dari Lam hay bun merupakan obat mujarab yang dapat memunahkan pelbagai macam racun di dunia ini, sebab itulah setiap orang yang ahli dalam penggunaan racun tentu akan pusing kepala bila menghadapi Lam hay bun kami sebab racun mereka tak pernah akan berfungsi secara baik."
Dengan cepat Ma koan tojin mengeluarkan bungkusan obat itu dan Tam See Hoa serta Thio Man pun segera bekerja untuk mencekokkan ke mulut masing-masing orang.
Sementara itu jago pedang berpita hijau yang mendapat perintah tadi telah berjalan balik kepada Ma koan tojin katanya sambil memberi hormat.
"Lapor congkoan, saudara-saudara yang berada dibawah telah datang semua."
"Suruh mereka masuk."
Jago pedang berpita hijau itu mengiakan dan segera berjalan menuju ke depan gua, lalu serunya.
"Congkoan mempersilahkan kalian masuk."
Kedelapan orang jago pedang berpita hijau itu serentak masuk kedalam gua. Ma koan tojin pun menuding ke arah Liu Leng poo seraya berkata;
"Nona ini adalah Liu lihiap dari Thian sat bun, keberhasilan kita pada malam ini sebagian besar adalah berkat petunjuk dan pemimpin dari Liu lihiap, sekarang dia hendak membicarakan sesuatu dengan kalian semua."
Kedelapan orang jago pedang berpita hijau itu serentak menjura pada Liu Leng poo. Sambil tertawa Liu Leng poo berkata.
"Apa yang hendak kukatakan tertuju juga untuk kedelapan jago yang berada digua ini."
Kedelapan jago pedang berpita hijau yang berada dalam gua serentak memberi hormat seraya berseru.
"Kami semua siap menanti perintah dari lihiap"
Sambil menunjuk ke sisi kanan ruang gua itu Liu Leng poo berkata kemudian.
"Tadi kita telah berhasil menangkap dua orang toyu dan Bu tong pay, Wi siauhiap, Khong beng taysu, To loko serta sepuluh orang jago pedang berpita hijau, kemudian panglima sakti berlengan emas Ou lotiang pun berhasil membekuk nona Cho, sekarang semua yang berhasil ditangkap berada disini. Selain itu diantara yang muncul malam ini masih terdapat Thian ki cu totiang dari Bu tong pay serta Buyung congkoan kalian, aku rasa tentu kalian sudah melihat sendiri bukan?"
"Sudah!"
Kembali ke enam belas jago pedang berpita hijau itu menjawab bersama.
"Dan tentunya kalian pun sudah melihat bahwa mereka telah terpengaruh kesadarannya bukan?"
Sekali lagi Liu Leng poo bertanya. -oo0dw0oo-Ke enam belas orang jago pedang berpita hijau itu kembali mengangguk.
"Yaa...sudah melihat."
"Bagus sekali kalau begitu."
Ucap Liu Leng poo tertawa.
"Situasi yang kita hadapi malam ini sesungguhnya berbahaya sekali, pihak lawan tak muncul sendiri untuk menghadapi kita sebaliknya justru menggunakan obat-obatan untuk mempengaruhi rekan-rekan kita sendiri kemudian dipakai untuk menghadapi kita, ini namanya siasat adu domba yang sangat jahat dan keji..."
Kemudian setelah berhenti sejenak, pelan-pelan sorot matanya dialihkan ke wajah ke enam belas jago pedang berpita hijau itu, lanjutnya;
"Kalian sebagai para jago pedang berpita hijau dari ban kiam hwee tentunya sudah memahami pula akan permainan busuk ini tanpa mesti kujelaskan lagi, tapi berhubung situasi yang kita hadapi betul-betul berbahaya sekali, mau tak mau aku mesti memperingatkan sekali lagi kepada kalian."
"Adapun sistim perlawanan yang kita pakai sekarang adalah menggunakan sikap tenang untuk menghadapi setiap perubahan, entah situasi macam apa pun yang kita hadapi, harap kalian jangan bertindak ceroboh atau panik sehingga kesempatan itu dipergunakan lawan."
Tiba-tiba seorang jago pedang berpita hijau bertanya.
"Bolehkah kami tahu kemungkinan apakah yang akan dilakukan pihak lawan didalam menghadapi kita pada malam nanti?"
"Soal ini sulit untuk dikatakan, orang kita masih banyak yang berada ditangan lawan, lagi pula kesadarannya terpengaruh, setiap saat bisa jadi kita akan mendapatkan serangan mereka."
"Liu lihiap bermaksud menghadapinya dengan cara bagaimana?"
Kembali seorang jago pedang berpita hijau bertanya.
"Kalau berbicara soal jumlah kekuatan, kita masih mampu untuk menghadapi mereka, sekalipun dipihak lawan terdapat jago-jago yang hebat, jangan harap mereka bisa peroleh keuntungan apa-apa dari kita, tapi yang paling dikuatirkan adalah perbuatan licik orang itu, bukankah kita masih mempunyai orang yang terjatuh di tangan mereka? Oleh sebab itulah kuharap disaat kalian bertemu dengan siapa saja, jangan sekali-kali sampai membiarkan dirinya terperangkap oleh siasat lawan."
Serentak keenam belas orang jago pedang berpita hijau itu menjawab bersama;
"Segala sesuatunya kami akan menuruti perkataan Liu lihiap.."
Liu Leng poo segera tertawa.
"Asalkan kalian bersedia mengingat baik-baik ucapanku itu sudah cukup, sekarang kalian pun tak usah bersembunyi didalam hutan lagi, silahkan berjaga-jaga didepan gua. Apa bila musuh datang lagi biar aku dan kakek Ou yang menghadapi"
Keenam belas orang jago pedang berpita hijau itu segera mengiakan, lalu satelah memberi hormat, mereka bersama-sama mundur dari gua itu, Sepeninggal keenam belas orarg jago pedang itu, Ma koan tojin baru bertanya.
"Kalau dilihat dari sikap Liu Lihiap yang tidak mengijinkan mereka berjaga-jaga lagi didalam hutan, tapi menghuninya disini. Apakah Liu lihiap beranggapan bahwa musuh akan datang menyerang lagi secara besar-besaran?"
Liu Leng poo segera menggeleng.
"Bukan begitu, aku cuma menganggap orang-orang Tok seh sia lebih menguasahi keadaan disini. Mustahil mereka akan menyerang secara besar-besaran, tapi bisa jadi akan menggunakan siasat yang lebih keji lagi untuk menghadapi kita. Oleh sebab itu mau tak mau kita mesti berjaga-jaga.."
"Bagaimana nona Liu akan mengatur orang? Apakah masih seperti pembagian tugas tadi?"
Tanya kakek Ou.
"Tidak perlu, enam belas jago pedang berpita hijau sudah berjaga-jaga diluar gua, lebih baik kita menunggu disini saja."
"Enci Liu"
Lak jiu im eng Thio Man berkata pula.
"Setelah diberi obat penawar racun, mengapa hingga sekarang mereka belum sadar juga..?"
"Mungkin daya kerja obat itu belum menyebar.."
Sahut Liu Leng poo cepat.
"Tidak benar, pil emas penolak racun kami merupakan obat penawar racun yang mujarab sekali, racun yang bagaimana pun kejinya, cukup didalam seperminum teh saja dapat di punahkan. Sekalipun hari ini obat obat tersebut diramu seadanya sehingga kemujarabannya tidak bisa menandingi obat yang dibuat majikan kami sendiri, tapi seharusnya obat pembingung sukma dari Tok seh sia dapat dipunahkan."
"Tapi sampai sekarang sudah lewat dua per minum teh lamanya, mengapa tidak nampak berkasiat?"
Tanya Lak jiu im eng Thio Man lagi. Kakek Ou segera garuk-garuk kepalanya yang tak gatal, ujarnya kemudian.
"Waah, kalau soal itu mah sulit untuk kujelaskan lagi, kecuali kalau mereka bukan terkena obat racun pembingung sukma"
"Ya benar!"
Kata Liu Leng poo pula.
"Mungkin obat pembingung sukma yang mereka telan bukan termasuk jenis obat racun."
Kakek Ou tertawa dan gelengkan kepalanya berulang kali, segera ujarnya kembali.
"Padahal setiap obat pembingung sukma termasuk racun, asalkan obat itu mengandung unsur racun, pil emas penolak racun pasti dapat memunahkannya."
Kam Liu cu termenung sejenak, kemudian katanya;
"Ji sumoay, apa yang diucapkan Ou lotiang betul juga, mungkin yang di berikan Liong Cay thian kepada mereka bukan bubuk pembingung sukma buatannya tapi benda lain."
"Tapi bagaimana cara mereka untuk menghilangkan kesadaran orang-orang itu?"
Seru Liu Leng poo tertegun.
"Apakah ji sumoay sudah lupa dengan anggota perguruan Kiu siang bun yang berhasil melarikan diri sore tadi? Dilihat dari kesemuanya ini, besar kemungkinannya Kiu siang poo memang berada didalam selat tersebut."
Liu Leng poo segera mengangkat kepalanya dan berkata.
"Maksud toa suheng, mereka sudah terluka oleh suatu ilmu sesat dari siluman tua Kiu Siang itu?"
Kam Liu cu manggut-manggut.
"Yaa, menurut apa yang kuketahui, ilmu silat dari perguruan Kiu siang bun sangat aneh dan beraneka ragam, bisa jadi orang-orang itu sudah dilukai oleh ilmu saktinya."
"Yaa, akupun jadi teringat dengan perkataan majikan tua dulu, konon dalam dunia persilatan terdapat semacam ilmu sakti yang bisa membuat orang lain kehilangan kesadaran otaknya hingga menurut saja dengan perintah orang yang melakukan ilmu tersebut, seandainya benar-benar terluka oleh ilmu tadi, majikan kami tentu bisa mengobatinya..."
Yang dimaksudkan.
"majikan tua"
Olehnya adalah ciangbunjin Lam hay bun angkatan yang lalu, sedangkan "majikan"
Adalah ketua sekarang, So Siu jiu.
Sementara itu Lak jiu im eng Thio Man kelihatan gelisah sekali setelah melihat pil emas penolak racun sama sekali tak berhasil menolong orang-orang itu, cepat tanyanya.
"Apakah tak ada obat penawarnya? Lantas bagaimana sekarang?" -oo0dw0oo-
Jilid 24
"KALAU DI BILANG terluka oleh semacam ilmu silat, otomatis yang dimaksudkan adalah salah satu jalan darah mereka tertotok,"
Kata Kam Liu cu.
"Atau dengan kata lain begitu jalan darahnya dibebaskan otomatis kesadaran mereka akan pulih kembali sebab jalan darah yang tertotok pasti berhubungan langsung dengan kerjanya otak yang membuat kesadaran menjadi kaku dan ingatannya kabur. Tapi...bila tidak memahami rahasianya, bagaimana mungkin kita dapat membebaskan mereka?"
"Itu sih mudah saja....."
Seru Kakek Ou.
"Biar kuperiksa dulu, jalan darah manakah yang sudah tertotok, kemudian baru dirundingkan lebih jauh.."
"Bagaimana cara lotiang melakukan pemeriksaan?"
Tanya Thio Man kembali.
"Aku akan menggunakan tenaga dalamku untuk mengerakkan hawa darah mereka, dengan cara demikian segera akan kutemukan jalan darah yang tersumbat."
Sambari berkata dia segera mendekati Wi Tiong hong dan duduk bersila disisinya lalu dia tempelkan telapak tangannya diatas jalan darah pay sim hiat dan memejamkan matanya sambil menyalurkan hawa murni itu kedalam tubuh Wi Tiong hong.
Semua orang yang hadir bersama sama membelalakkan matanya sambil mengawasi kakek Ou siapapun tidak berbicara sehingga suasana didalam gua itu benar-benar hening sekali.
Tapi pada saat itulah tiba-tiba nampak bayangan manusia berkelebat dari pintu gua lalu kelihatan seorang jago pedang berpita hijau masuk dengan langkah tergesa-gesa.
Begitu memberi hormat, dia segera melaporkan.
"Dibawah bukit telah muncul jejak musuh, agaknya mereka sedang bergerak menuju kearah kita"
"Ada berapa orang?"
Tanya Liu leng poo "Masih kurang begitu jelas, tapi ada belasan lebih."
"Baik keluarlah dulu, tunggu mereka hingga tiba didepan gua sebelum dibicarakan lagi."
Jago pedang berpita hijau itu segera memberi hormat dan segera mengundurkan diri dari situ.
"Toa suheng."
Kata Liu leng poo kemudian "Kau bersama Ma koan toheng dan aku keluar menghadapi musuh sedangkan saudara Tam serta adik Thio berdua berjaga-jaga disini!"
Kam Liu cu mendongakkan kepalanya dan memperhatikan situasi sekejap, kemudian katanya;
"Kedatangan mereka terlalu cepat ji-sumoay, mari kita segera keluar untuk menyambut kedatangannya!"
Baru saja mereka bertiga keluar dari gua, tampaklah belasan sosok bayangan manusia secepat sambaran kilat telah meluncur datang dari bawah bukit sana.
Didalam waktu singkat mereka sudah makin mendekat, tapi apa yang terlihat kemudian kontan saja membuat Kam Liu cu, Liu leng poo, serta Ma koan tojin menjadi tertegun.
Ternyata orang yang berjalan dipaling depan adalah seseorang yang memakai jubah perlente berpedang dipinggang dan berwajah semu emas, dia tak lain adalah Ban Kiam hweecu.
Sementara dibelakangnya mengikuti tiga orang berbaju ringan yang menggembol pedang, semuanya mempunyai pita pedang berwarna kuning karena ketiga orang itu adalah tiga diantara empat dayang kepercayaan kiamcu.
Di bagian agak belakang mengikuti seorang sastrawan setengah umur yang mengenakan jubah berwarna hijau, dia menyoren pedang yang berpita hijau pula, orangnya nampak halus lembut dan gagah karena dia tak lain adalah congkoan pasukan pedang berpita hijau dari perkumpulan Ban kiam hwee si sastrawan pemeluk pedang Buyung Siu adanya.
Dibelakangnya mengikuti pula delapan orang jago pedang berpita hijau, ditengah kegelapan malam dan hembusan angin gunung, pita-pita pedang mereka kelihatan berkibar-kibar sehingga menambah kegagahan rombongan tersebut.
Kali ini rombongan tersebut muncul secara blak-blakan, tak seorangpun diantara yang mengenakan kain kerudung hitam.
Begitu melihat kemunculan Ban kiam hweecu, Ma koan tojin segera memberi hormat seraya berseru .
"Hamba menjumpai kiamcu!"
Sedangkan ke enam belas jago pedang berpita hijau lainnya serentak pula menurunkan pedang masing-masing dan mengikuti jejak Ma koan tojin, memberi hormat kepada ketuanya.
Liu Leng poo yang menyaksikan kejadian tersebut kontan saja berpikir kaget "Aduuh celaka !"
Ban kiam hweecu muncul dengan langkah tegap dan lebar, dalam waktu singkat ia sudah muncul dihadapan mata, setelah mengangguk sekejap ke arah Ma koan tojin, dia segera merangkap tangannya memberi hormat dan berkata sambil tertawa.
"Kam tayhiap, nona Liu, rupanya kalian pun berada juga disini...."
Sewaktu berbicara, langkahnya sama sekali tidak berhenti, dengan tindakan lebar dia berjalan menuju ke depan ketiga orang itu.
Ketika Liu Leng poo mendengar dari nada pembicaraannya seakan-akan tidak terpengaruh oleh ilmu pembingung sukma, kontan saja hatinya merasa keheranan maka sambil menyongsong kedatangannya diapun berkata .
"Apakah hweecu datang dari selat Tok seh sia?"
Ia masih melanjutkan langkahnya menuju kehadapan ketiga orang itu, agaknya tidak terlintas ingatan dalam benaknya untuk menghentikan perjalanannya itu.
Dengan cepat Liu Leng poo menghadang dihadapannya sambil membentak keras.
"Hweecu harap berhenti!"
Mau tak mau terpaksa Ban kiam hweecu harus menghentikan langkahnya, lalu sambil mengangkat kepala dia bertanya .
"Ada urusan apa nona Liu ?"
Liu Leng poo segera tersenyum lembut, sembari meraba gagang pedangnya dia berkata .
"Hweecu, setelah kau berhasil lolos dari bahaya, ada baiknya bila kau tuturkan dulu pengalamanmu selama ini, agar semua orang ikut mendengar pula."
"Hey, tampaknya nona Liu seperti menaruh curiga terhadap siaute...?"
"Yaa, apa boleh buat, keadaan yang memaksaku untuk berbuat demikan, Hweecu, setelah kau berhasil lolos dari bahaya, lebih baik bila kau tuturkan dulu kisah pengalamanmu hingga berhasil lolos dari bahaya kepada kami semua."
"Siaute pulang bersama-sama mereka, masa ada orang yang mencatut diriku?"
"Yaa, aku tahu, palsu sih tidak mungkin palsu, tapi aslipun belum tentu benar."
"Nona Liu, apa maksudmu berkata begitu?"
Ban kiam hweecu segera menegur dengan wajah tak senang hati. Liu Leng poo segera tertawa cekikikan.
"Haaa haaa haaa.... mungkin hweecu tak tahu, malahan Buyung congkoan serta kedelapan jago pedang itu pun baru saja melarikan diri dari sini?"
"Nona Liu memang pandai bergurau, kapan sih aku telah berkunjung kemari?"
Seru Buyung Siu cepat.
Ia berbicara dengan wajah bersungguh-sungguh, seakan-akan terhadap kejadian yg baru saja dialaminya itu sudah lupa sama sekali, Melihat perkataan itu diucapkan dengan bersungguh hati, Liu Leng poo menjadi sangat keheranan, kembali dia bertanya.
"Buyung congkoan, baru setengah jam berselang kau bertarung melawan toa suhengku masa secepat ini kau telah melupakannya?."
Buyung Siu segera berkerut kening kemudisn tertawa nyaring, ucapnya .
"Nona Liu, ucapanmu makin lama semakin aneh dan mengherankan, kapan sih Bu yung Siu pernah bertarung melawan saudara Kam?"
Liu Leng poo segera berpaling dan memandang sekejap kearah Kam Liu cu, lalu katanya .
"Bila kau tak percaya silahkan bertanya sendiri kepada toa suhengku, malahan Ma koan toheng serta enam belas jago pedang berpita hijau anak buahmupun ikut menyaksikan dari tepi arena."
Agaknya Kam Liu cu juga telah melihat bahwa dibalik peristiwa itu ada sesuatu yg tak beres, dengan cepat sambungnya.
"Apa yang dikata Ji sumoayku memang benar. Tadi ada orang menyerbu kemari pada mulanya tiga orang, mereka terdiri dari Thian kicu, Keng hian dan Keng siu totiang dari bu tong pay, semuanya mengenakan kain kerudung hitam, akhirnya Keng hian dan Keng siu totiang berhasil kami berdua bekuk hidup-hidup hanya Thian kicu seorang yang berhasil melarikan diri."
Dengan sorot mata tajam tanpa berkedip Ban kiam hweecu mengawasi wajah Kam Liu cu tanyanya .
"Bagaimana kemudian?"
"Kemudian di bawah pimpinan Buyung congkoan serta Khong beng taysu dan To loko bertiga, mereka datang pula kemari dengan membawa serta dua puluhan jago pedang berpita hijau, diantara yang turut datang terdapat pula saudara Wi serta anak buah dari hwecu, Hek bun kun nona Cho."
"Akhirnya hampir sebagian besar kawanan jago itu berhasil ditahan disini, sementara Buyung congkoan sendiri dengan membawa serta kedelapan orang jago pedangnya segera mengundurkan diri dari sini setelah mendengar bunyi sumpritan dikejauhan sana."
Ketika mendengar keterangan tersebut, tiba-tiba saja Ban kiam hweecu mendongakkan kepalanya lalu tertawa nyaring. Cepat-cepat Ma koan tojin memberi hormat seraya berseru ;
"Harap kiamcu maklum, apa yang dikatakan Kam tayhiap semuanya merupakan kenyataan."
Dengan sorot mata dingin Ban kiam hweecu segera berpaling, lalu tegurnya ketus.
"Ma koan tojin besar amat nyalimu!"
Ma koan tojin menjadi terkesiap dan buru-buru membungkukkan badan memberi hormat.
"Hamba tidak berani "
Kembali Ban kiam hweecu tertawa dingin "Heeeh....heeeh...heeee....aku hendak bertanya kepadamu, semenjak kapan kau telah menjadi anggota perguruan Thian sat bun ?"
Ma koan tojin semakin terperanjat, setengah ketakutan cepat-cepat dia berseru.
"Atas kemurahan bati kiamcu hamba telah diberi jabatan sebagai congkoan pasukan pedang berpita hitam, bagaimana mungkin hamba berani berhati cabang?"
"Hmmm, kau telah bersekongkol dengan orang-orang Thian sat bun untuk menculik Wi Tiong hong, Kho Kiu moay, Khong beng taysu dan To Sam sin sekalian, apakah perbuatan ini tidak menunjukkan bahwa hatimu telah bercabang?"
Ma koan tojin ketakutan setengah mati, kembali dia berseru dengan suara gemetar.
"Harap kiamcu maklum, Wi sauhiap, nona Kho, Khong beng taysu serta Toako sekalian telah kehilangan pikiran dan kesadarannya karena ulah orang-orang Tok seh-sia."
"Hmm, yang benar Wi Tiong hong sekalian sudah terpengaruh oleh ilmu sesat dari Thian sat bun, kau anggap aku tidak tahu?"
Tukas Ban kiam hweecu dengan sikap lebih garang.
Sekalipun Ma koan tojin merupakan jago kawakan yang sudah berpengalaman luas di dalam dutia persilatan, kali ini tak urung dibuat kaget dan tercengang juga oleh kejadian tersebut, cepat cepat ia membungkukan badannya memberi hormat sembari berkata.
"Kiamcu, telah terjadi kesalah pahaman pada dirimu, Hamba benar-benar tidak berbobong, kalau tidak percaya, Panglima sakti berlengan emas Ou lotiang dari Lam hay bun serta Lak jiu im eng nona Thio dari bu tong pay bisa diminta sebagai saksi."
Agaknya Ban kiam hweecu sudah habis kesabarannya, tiba-tiba dia membentak.
"Kalau toh kau tidak menghianati diriku, mengapa tidak segera kau serahkan Wi Tiong hong sekalian sekarang juga?"
"Soal ini...."
Ma koan tojin segera menunjukkan sikap serba salah. Dengan wajah berubah menjadi amat serius, Liu leng poo segera berkata dengan suara rendah.
"Ma koan toheng tak perlu berbicara lagi, semenjak terjatuh ketangan orang-orang Tok seh sia, hweecu kalian sudah di pengaruhi jalan pikirannya oleh siluman tua Kiu siang lo yau masa hal ini pun tak dapat kau lihat?"
"Lantas apa yang mesti kuperbuat sekarang?"
Tanya Ma koan tojin dengan perasaan terkesiap.
Baru selesai dia berkata, kakek Ou sudah melangkah keluar dari gua dengan tindakan lebar, dia memandang sekejap ke arah Ban kiam hweecu sekalian, kemudian tanyanya.
"Bagaimana? Apakah Ban kiam hweecu pun sudah terjadi suatu masalah ..?"
"Kedatangan lotiang memang tepat sekali"
Kam Liu ci segera berseru.
"Kemungkinan besar mereka sudah terpengaruh oleh ilmu sesat dari Kiu Siang poo". Kakek Ou segera manggut-manggut.
"Yaa, kemangkinan memang begitu, apa yang kalian bicarakan telah kudengar seluruhnya."
"Apakah lotiang berhasil menemukan di manakah letak luka yang mereka derita?!!"
Tanya Liu Leng poo kemudian.
"Aku telah mencoba melakukan pemeriksaan dengan mengerahkan tenaga murniku, kutemukan jalan darah Nau juang hiat di batok kepala saudara cilik Wi seperti mendapat sumbatan sehingga tak dapat berjalan lancar, selain itu tidak kutemukan luka di bagian lain."
"Sewaktu kuperiksa mereka yang lain, ternyata keadaannya pun demikian juga, menurut dugaanku, bisa jadi hal ini merupakan sejenis ilmu totokan yang melukai jalan darah penting diotak besar sehingga membuat kesadaran dan pikiran orang itu terpengaruh..."
Liu Leng poo segera mencibirkan bibirnya sambil menengok kearah Ban kiam hweecu sekalian lalu katanya pula .
"Lantas bagaimana dengan mereka? Apakah merekapun dilukai oleh sejenis ilmu totokan yang istimewa?"
Kakek Ou segera menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, katanya.
"Aku rasa mungkin masih ada sejenis ilmu totokan yang lain lagi, kalau saudara cilik Wi sekalian sama sekali tak tahu menahu terhadap manusia dan persoalan yang sedang dihadapi, maka mereka justru memiliki kesadaran yang baik serta pikiran yang sangat terang."
Dalam pada itu Ban kiam hweecu sudah habis kesabarannya tiba-tiba dia menegur.
"Apakah kalian sudah selesai berunding?"
"Hweecu.."
Ucap Kam Liu cu kemudian dengan kening berkerut kencang "Apakah kau masih dapat mengingat kembali semua kejadian yang kau alami sebelum terperangkap didalam selat Tok seh sia?"
"Heeehh, heeehh, tentu saja aku masih dapat mengingatnya semua."
Jawab Ban kiam hweecu sambil tertawa dingin. Kam Liu Cu segera tertawa.
"Kalau begitu seharusnya hweecu juga masih tahu bukan, jauh-jauh datang kebukit Kou lou san ini sebenarnya dengan maksud dan tujuan apa? Tentunya kau bukan datang kesini hanya khusus untuk bermusuhan dengan pihak Thian sat bun kami bukan?"
Dengan marah Ban kiam hweecu mendengus.
"Hmm, memang benar, kami datang kemari untuk menyelamatkan Wi Tiong hong dari ancaman bahaya, tapi kenyataannya sekarang, Wi Tiong hong telah terjatuh kembali ditangan kalian!"
"Sore tadi saudara Wi terjebak didalam selat Tok seh sia dan kini pikiran dan kesadarannya telah terpengaruh.."
Kata Kam Liu cu.
"Tapi yang jelas Wi Tiong hong sudah berada ditangan kalian, siapa yang sudi percaya dengan perkataanmu itu?"
Berbicara sampai disitu tiba-tiba ia berpaling kearah dua deret jago pedang berpita hijau yang berdiri didepan gua batu itu kemudian bentaknya dengan suara dalam.
"Ma koan tojin telah menghianati perkumpulan, apakah kalian sebagai jago-jago pedang berpita hijau pun bermaksud mengkhianati pula diriku untuk bergabung dengan pihak Thian sat bun?"
"Hamba tidak berani!"
Sahut keenam belas jago pedang berpita hijau serentak sambil memberi hormat.
"Bagus sekali!!"
Kata Ban kiam hweecu kemudian dengan wajah serius.
"Kalau memang kalian tidak berniat menghianati perkumpulan, sekarang bekuk dulu Ma koan tojin!"
Liu Leng poo yang mendengar perkataan itu segera berteriak keras-keras .
"Kalian jangan lupa dengan pesanku tadi, Kiamcu kalian telah terpengaruh oleh ilmu sesat dari siang kiu poo sehingga kehilangan pikiran dan kesadarannya. Kalian jangan mau percaya dengan perkataannya dengan begitu saja."
Ke enam belas orang jago pedang berpita hijau itu menjadi saling berpandangan muka setelah mendengar ucapan mana, sesungguhnya mereka memang sudah menaruh kecurigaan yang mendalam sekali terhadap Ban kiam hweecu, hanya untuk sesaat mereka tak tahu apa yang mesti dilakukan..
Melihat ke enam belas jago pedang berpita hijau itu tidak turun tangan seperti apa yang diperintahkan, Ban kiam hweecu menjadi naik darah, segera bentaknya .
"Liu leng poo, orang lain mungkin takut dengan kalian orang-orang dari Thian sat bun, tapi Ban kiam hwee belum temu takut dengan kalian?!"
Ditengah bentakan itu dia mencabut pedangnya lalu sambil menuding kedepan serunya lantang;
"Kalian segera turun tangan dan bekuk orang ini lebih dulu."
Suara gemerincingan nyaring berkumandang dari belakang tubuhnya diiringi tiga kali dentingan suara pedang, Jin Kim moay, Kho Hui moay serta Lim Thian moay ketiga orang dayangnya serentak meloloskan pedang, dan menerjang maju kedepan, mereka segera menyerang Liu leng poo dengan dahsyatnya.
Tentu saja Liu leng poo tak akan berpeluk tangan belaka, pedangnya digetarkan menyongsong datangnya ancaman tersebut dalam waktu singkat terjadilah suatu pertarungan sengit disitu.
Dalam pada itu Ban kiam hweecu menuding kembali dengan pedangnya sambil membentak.
"Buyung congkoan, kau boleh pimpin mereka untuk menyerbu kedalam gua dan menolong orang, sedang tempat ini serahkan saja kepadaku untuk menghadapi."
Sastrawan pemeluk pedang Buyung Siu segera meloloskan pedangnya dari sarung lalu sambil menggetarkan lengannya ia membentak .
"Saudara sekalian, ayoh ikut aku.."
Dengan suatu gerakan cepat dia melejit ke tengah udara lalu menyerbu lebih dulu ke depan.
Ke delapan jago pedang berpita hijau itu serentak mengikut pula dibelakangnya.
Kam Liu cu yang melihat kejadian tersebut buru-buru berteriak pula dengan suara lantang .
"Ma koan toheng, cepat kau suruh para jago pedang untuk menghalangi mereka!."
Sembari berseru dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat untuk menghadang jalan pergi si sastrawan pemeluk pedang kemudian bentaknya lagi keras-keras.
"Saudara Buyung, kalau kau tetap nekad untuk maju kemuka jangan salahkan bila aku she Kam tidak akan sungkan-sungkan"
Cahaya gerak berkelebat lewat tahu-tahu dalam genggamannya telah bertambah dengan sebilah pedang.
Buyung siu segera tertawa terbahak-bahak "Haaah..haaahh...saudara Kam kau sengaja menghalangi jalan pergiku, ini berarti kau sengaja hendak mencari gara-gara dengan pihak Ban kiam hweecu kami!"
"Sreeeet!"
Diiringi suara desingan tajam, ia sambut kedatangannya dengan sapuan tajam.
Kam liu cu segera mengangkat pedangnya untuk menangkis sementara tangan kirinya dengan sebuah sodokan jari langsung menotok tubuh si sastrawan pemeluk pedang..
Dengan berkobarnya pertarungan antara kedua orang itu, delapan orang jago pedang berpita hijau yang berada dibelakang sastrawan pemeluk pedang itu serentak menyebarkan diri dan melalui sisi kedua orang yang sedang bertarung itu, mereka menyerbu kedalam gua.
Menghadapi situasi seperti ini, terpaksa Ma koan tojin harus mengulapkan tangannya sembari berseru.
"Saudara sekalian, mari kita hadang jalan pergi mereka, tapi jangan sampai melukai mereka"
Berada dalam situasi yang amat rumit dan kacau ini terpaksa ke enam belas jago pedang berpita hijau itu harus turun tangan untuk menghadang jalan pergi rekan-rekannya lebih dulu.
Enam belas orang harus menghadapi delapan orang, ini berarti dua lawan satu untuk menghalangi jalan pergi mereka saja, tentu bukan suatu masalah yang sulit, Dihari hari biasa, para jago pedang berpita hijau itu selalu berkumpul bersama sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang mereka miliki boleh dibilang satu sama lainnya mengetahui dengan jelas.
Tapi keadaan saat ini jauh berbeda, berada dalam keadaan kesadaran dan pikiran yang terpengaruh ternyata kedelapan orang itu jauh lebih berani dan nekad, Otomatis ilmu silat yang dimiliki orang-orang itu pun menjadi berapa kali lipat lebih tangguh, biarpun ada dua orang menghadapi satu lawan hampir saja mereka tak mampu mengendalikan diri.
Dipahak lain, Liu Leng poo yang mesti mengbadapi tiga orang dayang kepercayaan dari Ban kiam hwee kelihatan payah sekali apa lagi dia sebagai Kunsu dalam pertempuran malam ini, di samping harus melayani pertarungan, iapun tak dapat mengesampingkan situasi dari pihak lain.
Maka sambil mengerahkan segenap kekuatannya untuk menghadapi lawan, diapun mesti mengalihkan sorot matanya untuk memperhatikan keadaan disekitar tempat itu.
Tiba-tiba serunya kepada kakek Ou dengan mengerahkan ilmu menyampaikan suara.
"Ou lotiang, untuk membekuk musuh tangkaplah pentolannya lebih dulu. Malam ini kau harus berusaha membekuk Ban kiam hweecu lebih dulu sebelum membereskan yang lain."
Dibawah serangan gencar dari ketiga orang musuhnya, hampir saja Liu leng poo menderita luka diujung senjata lawan setelah dua kali menjumpai mara bahaya disaat ia sedang mengungkapkan beberapa patah kata.
Dipihak lain, Ban kiam hweecu telah memanfaatkan kesempatan dikala masing masing pihak sedang bertarung sengit tiba-tiba dia menjejakkan kakinya keatas tanah, kemudian seperti seekor burung rajawali sedang menerkam kelinci, tubuhnya langsung menerjang masuk kedalam gua.
Baru saja dia menggerakkan tubuhnya, kakek Ou melejit pula ketengah udara dengan gerakan tubuh yang jauh lebih cepat, tangannya langsung menyambar kemuka dan secepat kilat mencengkeram lengan kanan Ban kiam hweecu.
Berada ditengah udara dia tertawa terbahak-bahak, begitu tiba dipermukaan tanah, sambil mengangkat tinggi tubuh Ban kiam hweecu, bentaknya lantang.
"Semua berhenti, kiamcu kalian sudah menjadi tawananku, apakah kalian tidak segera melepaskan senjata?"
Baru saja ia selesai membentak, terdengar Ban kiam hweecu telah berkata dengan suara rendah;
"Percuma, kesadaran serta pikiran mereka sudah terpengaruh, mereka tak akan menuruti perkataanmu."
Kam Liu cu serta Liu Leng poo sama sekali tidak menyangka kalau kakek Ou bakal turun tangan sedemikian cepatnya, bahkan dalam waktu singkat telah berhasil membekuk Ban kiam hwecu, ketika mendengar suara bentakan itu otomatis mereka pun menghentikan serangannya dengan cepat, Sementara itu congkoan pasukan pedang berpita hijau Buyung Siu beserta ketiga orang dayang Ban kiam hweecu sama sekali tidak menggubris terhadap bentakan dari kakek Ou itu, malahan terhadap peristiwa dibekuknya kiamcu merekapun seolah olah tidak melihat.
Menggunakan kesempatan disaat kedua orang lawannya menarik diri, tiba-tiba saja mereka melancarkan serangannya lebih hebat dan lebih gencar.
Tindakan tersebut tentu saja jauh diluar dugaan kedua orang itu, Kam Liu cu yang bertarung melawan Buyung Siu segera menggerakkan tubuhnya menghindarkan diri ke samping, sementara tangan kirinya di ayunkan ke depan melepaskan sebuah bacokan kilat Liu Leng poo sendiri, meski ilmu silatnya terhitung cukup lihay namun lawannya justru merupakan tiga orang dayang kepercayaan dari Ban kiam hweecu, dari pita kuning yang menghiasi ujung pedang mereka bertiga, dapat diketahui bahwa ketiga orang itu memiliki ilmu pedang yang amat sempurna.
Sejak Liu Leng poo harus menghadapi tiga orang lawannya seorang diri, ia sudah merasa amat kepayahan di dalam anggapannya setelah kiamcu mereka tertawan, otomatis ke tiga orang dayang itupun akan bersama-sama menghentikan serangannya.
Siapa tahu walaupun dia sudah menarik diri, ke tiga orang dayang itu justru memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melarncarkan serangannya dengan lebih sengit.
Kontan saja nona itu menjadi terperanjat dan tergopoh-gopoh mengayunkan pedangnya untuk melindungi badan, biar begitu tubuhnya toh terdesak mundur juga sejauh tiga langkah sebelum benar-benar berhasil lolos dari ancaman lawan.
Semua peristiwa ini boleh dibilang berlangsung dalam waktu yang amat singkat.
Tiba-tiba dari bawah bukit sana berkumandang datang suara sumpritan yang dibunyikan keras-keras.
Waktu itu, kebetulan sekali Kam Liu cu sedang menyelinap kesamping untuk menghindarkan diri, Buyung Siu sama sekali tak menyerang lebih lanjut, tiba-tiba saja dia membalikkan badan lalu kabur kebawah bukit.
Kebetulan sekali pada saat itupun, Liu Leng poo sedang terdesak mundur kebelakang, ketiga orang dayang itu serentak membalikkan pula tubuhnya dan lari menuruni bukit.
Delapan jago pedang berpita hijau pun tidak mau ketinggalan, masing-masing mencari jalan untuk kabur kebawah bukit dengan kecepatan bagaikan hembusan angin, Biarpun hanya suara sempritan biasa, namun nyatanya dapat membuat mereka begitu menurut dan segera mengundurkan diri tanpa memperdulikan lagi nasib dari Ban kiam hweecu.
Padahal waktu itu tubuh Ban kiam hweecu yang diangkat tinggi-tinggi oleh kakek Ou belum lagi diturunkan, namun orang-orang tersebut sudah kabur semua.
Dalam waktu singkat Kam Liu cu, Liu Leng poo serta Ma koan tojin dibikin tertegun sampai termangu-mangu oleh perubahan situasi yang sama sekali tak terduga ini.
Tiba-tiba Ban kiam hweecu menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil berseru.
"Hei kakek, semua orang toh sudah pergi, mengapa kau belum juga menurunkan aku?"
Kakek Ou segera mnurunkan tubuhnya keatas tanah, namun masih tetap mencengkeram lengan kanannya, baru saja tangan kirinya hendak melakukan totokan, mendadak terdengar Ban kiam hweecu berseru lagi dengan cepat.
"Cepat lepaskan aku!"
"Hweecu, agaknya kesadaran serta pikiranmu sama sekali tak terpengaruh"
"Tentu saja pikiran dan kesadaranku sama sekali tidak terpengaruh."
Sahut Ban kiam hweecu cepat.
"Kalau toh pikiran dan kesadaran tidak terpengaruh, mengapa kau malahan memimpin para jago untuk melakukan penyergapan terhadap kami.?"
"Aku dipaksa orang untuk berbuat demikian"
"Siapa yang memaksamu berbuat demikian?"
Desak kakek Ou lebih lanjut, Liu leng poo yang mengawasi Ban kiam hweecu sejak tadi baru saja akan berbicara ketika Ma koan tojin telah berseru dengan suara yang menyeramkan.
"Kau bukan Kiamcu!"
"Bukankah Ban kiam hweecu yang kalian jumpai adalah selembar topeng kulit manusia ini? Bila topengnya dilepas, siapakah yg dapat mengenali wajahnya?"
"Sebenarnya siapakah kau?"
Tanya kakek Ou segera Tiba-tiba Ban kiam hweecu merobek kulit topeng manusia yang menutupi wajahnya, lalu menjawab.
"Siapapun yang kalian inginkan anggap saja aku sebagai yang diinginkan "
Begitu topeng kulit manusia itu dirobek, yang muncul adalah selembar wajah seorang nona yang cantik namun sepasang matanya basah oleh air mata.
Kam Liu cu menjadi tertegun setelah menyaksikan wajah nona itu, serunya tanpa terasa.
"Masa kau?"
Ternyata selain Kam Liu cu, tak seorang pun diantara mereka yang hadir pernah bertemu dengan nona itu.
Cepat-cepat Liu Leng poo mengalihkan sorot matanya kewajah Kam Liu cu, kemudian tanyanya keheranan .
"Toa suheng, kau kenal dengannya?"
Rasanya tiada perempuan didunia ini yg tidak cemburuan, termasuk juga Liu Leng poo sekarang. Kam Liu cu segera tertawa terbahak-bahak .
"Haaaa...haaa...haaa...dia adalah Tok she siacu!"
Begitu mendengar nama "Tok seh siacu"
Semua orang menjadi tertegun dan berdiri dengan wajah melongo.
Ternyata sewaktu Kam Liu cu sedang menyaru sebagai Lan Sim hu tempo hari, dia pernah bersua dengan Liong Hiang kun di dalam selat Tok seh sia, otomatis diapun dapat mengenali wajahnya.
Tiba-tiba sekilas senyuman berseri menghiasi wajah Liu Leng poo.
Akhirnya jerih payah mereka semalaman membuahkan hasil yang tak terduga.
Bukankah demikian?
Tok seh siacu sesungguhnya adalah orang yang diperankan oleh putri kesayangan Liong Cay thian.
Setelah kini mereka dapat membekuknya, bukankah banyak persoalan yang akan menjadi beres dengan sendirinya?
Sementara itu Liong Hiang kun telah menundukkan kepalanya rendah-rendah, lalu sambil menggelengkan katanya .
"Aku bukan Tok seh siacu!"
Kam Liu cu yang mendengar perkataan itu segera tertawa .
"Mungkin orang lain tidak tahu kalau nona adalah jelmaan dari Tok seh siacu, tapi kami sudah mengetahui hal ini secara pasti! Apa gunanya nona menyangkal?"
Liong Hiang kun segera mengangkat wajahnya dan berkata .
"Aku benar-benar bukan Tok she siacu seperti halnya Ban kiam hweecu. Siapa yang mengenakan dandanan tersebut maka dialah yang menjadi Tok seh siacu!"
Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, kakek Ou segera berkata .
"Kalau kau bukan Tok seh siacu, lantas siapakah Tok seh siacu itu.. ?"
"Telah kukatakan sejak tadi, aku datang kemari karena dipaksa orang lain, tapi boleh juga dibilang atas kemauanku sendiri, hmm! Seandainya aku bukan merelakan diri dibekuk sejak tadi kau sudah keracunan."
Mendengar itu, kakek Ou tertawa terbahak-bahak ;
"Haa haa haa....nona Liong, aku tidak takut ataupun keder dengan racun yang kau gunakan, bukan hanya aku situa semua orang yang berada disinipun tidak takut terhadap serangan racun, kalau tak percaya silahkan untuk mencobanya!"
Sementara itu Liu leng poo telah berkata pula pelan-pelan;
"Sekalipun dalam hatimu masih tersimpan rahasia lain, apa gunanya kuberitahukan hal ini kepadamu?"
Sahut Liong Hiang kun dengan kepala tertunduk.
"Katakan saja, siapa tahu hal ini menguntungkan semua pihak?"
Liong Hiang kun menggelengkan kepalanya berulang kali, mendadak dia mendongakan kepalanya lalu dengan sorot mata yang penuh permohonan ia bertanya.
"Mana Wi Tiong hong? Apakah diapun kehilangan pikiran serta kesadarannya? Bukankah ia sudah kalian bekuk sejak tadi? Bolehkah kutengok sebentar dirinya? "
Satu ingatan segera melintas dalam besak Liu Leng poo, sahutnya segera .
"Saudara Wi berada disini, boleh saja bila kau ingin menjenguknya tapi ada syaratnya, yaitu kau harus menjawab tiga buah pertanyaan yang kuajukan."
"Baik bila ingin bertanya, ajukanlah pertanyaanmu itu."
Liu Leng poo kembali tertawa.
"Lebih baik kau pergi menengoknya lebih dulu, kemudian baru menjawab pertanyaan yang kuajukan!"
Baik kakek Ou maupun Kam Liu cu, kedua orang itu tahu bahwa tindakan yang dilakukan Liu Leng poo ini pasti mengandung arti yang mendalam, karena itu tidak seorang pun diantara mereka yang berbicara, Liu Leng poo segera mengajak Liong Hiang kun masuk kedalam gua, sementara yang lain mengikuti dibelakangnya, Ma koan tojin sendiri berpesan dulu kepada keenam belas orang jago pedang berpita hijau agar menjaga diluar gua, kemudian dia baru menyusul kedalam Liong Hiang kun berjalan mengikuti di belakang Liu Leng poo, begitu masuk ke dalam gua dan menyaksikan Wi Tiong hong dengan mata terpejam rapat-rapat setengah merabah diatas dinding batu, mendadak ia menggerakkan tubuh dan menerjang maju ke hadapannya.
Dengan suatu gerakan cepat dia mengeluarkan sebutir pil berwarna putih dari sakunya dan langsung dijejalkan ke dalam mulutnya.
Semenjak tadi Lak jiu im eng Thio man telah berjaga-jaga disamping Wi Tiong hong dia melihat dengan jelas bagaimana Liong Hiang kun mengeluarkan pil berwarna putih itu dan siap dijejalkan kedalam mulutnya.
Tapi belum sempat menghadangi perbuatan nona itu, tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu pil berwarna putih itu sudah berpindah ke tangan Liu Leng poo, malah ujarnya sambil tertawa ringan.
"Nona Liong, obat apa sih ini?"
Ketika pil berwarna putih itu kena dirampas oleh Liu Long poo, Liong Hiang kun segera merasakan pipinya menjadi semu merah karena jengah, cepat-cepat dia berseru.
"Pil itu merupakan obat penawar racun cepat berikan kepadanya...!"
"Siapa kau?"
Bentak Lak jiu im eng Thio Man sambil meraba gagang pedangnya.
"Siapa yang percaya obat apa yang akan kau berikan kepada engkoh Wi ?"
Lagi lagi seorang pencemburu! Dasar perempuan, agaknya rasa cemburu memang tak bisa terlepas dari watak kaum wanita. Liong Hiang kun menjadi sangat gelisah, kepada Liu Leng poo serunya ;
"Tapi pil ini benar-benar adalah pil penawar racun, dengan..... dengan mempertaruhkan selembar jiwaku aku baru berhasil mendapatkan sebutir pil pemunah itu, kumohon kepadamu cepatlah berikan kepadanya."
"Tahukah kau apa sebabnya saudara Wi bisa kehilangan pikiran serta kesadarannya? "
Tanya Kam Liu cu.
"Yaa aku tahu. Dia terluka oleh semacam ilmu totokan yang khusus, dan cuma pil penawar racun ini yang bisa menyelamatkan dirinya.."
Kam Liu cu memandang sekejap kearah Liu Leng poo, kemudian katanya;
"Tampaknya apa yang dia katakan memang tidak bohong, ji sumoay, aku rasa lebih baik biar saudara Wi menelan pil penawar itu!"
Liu Leng poo termenung sambil berpikir sejenak, kemudian katanya sambil menggeleng.
"Tidak bisa aku kuatir dibalik pil tersebut masih terselip rencana busuk lainnya"
"Aku berani bersumpah, pil ini merupakan pil penawar racun yang sebenarnya!!"
Seru Liong Hiang kun. Liu Leng poo mengambil pil tersebut dari tangan Liong Hiang kun, kemudian sambil berpaling kearah Kam Liu co, katanya.
"Toa suheng, aku rasa lebih baik kita mencari orang lain sebagai bahan percobaan."
Kam Liu cu segara manggut-manggut tanda setuju.
"Jangan!"
Dengan perasaan gelisah Liong Hiang kun segera berteriak keras.
"Aku hanya mempunyai sebutir pil penawar racuni tu dan aku datang khusus untuk menolong Wi siauhiap, kau tahu, termasuk ayahku sendiri juga sudah terkena serangan gelap mereka.."
Tiba-tiba ia menutup mulut dan tidak melanjutkan kembali perkataannya, tapi siapa pun dapat mendengar bahwa ayahnya justru sudah terkena serangan gelap itu, dan kemungkinan besar membutuhkan pula pil penawar racun itu.
Andaikata perkataan ini sampai terdengar oleh Liong Cay thian, niscaya dia akan muntah darah segar saking mendongkolnya, Tapi biarpun nona Liong gelisah juga tak ada gunanya, sebab Liu Leng poo telah menjejalkan pil pemunah racun itu kedalam mulut seorang jago pedang berpita hijau yang berada disamping Wi Tiong hong..
Sstelah melalui perdebatan yang sengit, kini suasana dalam gua menjadi tenang kembali, sorot mata semua orang bersama-sama dialihkan kewajah si jago pedang berpita hijau itu.
Dengan suatu gerakan cepat Kam Liu cu menepuk bebas jalan darah sijago pedang berpita hijau yang tertotok itu.
Tampak jago pedang itu gemetar keras sambil berkelojotan, tiba-tiba badannya roboh terjengkang keatas tanah sambil memuntah cairan kental berwarna hitam, lalu sejenak kemudian jiwanya sudah melayang meninggalkan raganya, Perubahan yang dramatis ini seketika menggetarkan sekujur badan Liong Hiang kun, tiba-tiba saja ia menjerit lengking.
Lak jiu im eng Thio Man yang menyaksikan adegan tersebut segera berkerut kening pula.
Tiba-tiba dia mengayunkan tangannya menampar wajah Liong Hiang kun sambil umpatnya.
"Budak busuk, rupanya kau berniat hendak meracuninya sampai mati..?"
Liong Hiang kun yang waktu itu masih di cekam perasaan kaget dan ngeri tentu saja tak dapat menghindarkan diri.
"Plook"
Tamparan itu bersarang telak diatas wajahnya. Tapi tamparan tersebut justru membuatnya mendusin dari impian, sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dia menangis tersedu sambil keluhnya.
"Demi menyelamatkan selembar jiwanya aku telah berusaha keras untuk mencuri sebutir pil penawar racun itu, aku bukan datang kemari dengan niat mencelakai jiwanya."
Terdorong rasa cemburu dan marah Lak jiu im seng Thio Man segera mencabut keluar pedangnya seraya membentak.
"Budak busuk, kau masih menyangkal kalau kedatanganmu bukan bermaksud mencelakainya? kau...."
Pada saat itulah mendadak dari luar gua berkumandang datang suara tertawa yang sangat menyeramkan.
Suara itu seperti mengambang ditengah udara, bagaikan sambaran petir cepatnya melintas lewat diangkasa...
Dengan air muka berubah hebat, Kam Liu cu segera membentak keras-keras.
"Siapa disitu?"
"Orang itu sudah melarikan diri.."
Kata kakek Ou dengan gusar.
"Bajingan keparat, begitu berani dia menyembunyikan diri diluar gua sambil menyadap pembicaraan kita."
Dalam pada itu Liong Hiang kun telah menangis tersedu-sedu.dengan air mata bercucuran membasahi wajahnya dia berkata.
"Tak kusangka selain usahaku menolong Wi sauhiap tidak berhasil, sebaliknya aku justru mencelakai pula ayahku sendiri."
Lak jiu im eng Thio Man tidak menjadi berubah sikap setelah menyaksikan kejadian itu, dengan pedang masih ditempelkan di atas dada Liong Hiang kun, bentaknya ketus.
"Sejak kapan sih kau berniat baik? Ayoh jawab, sesungguhnya dengan cara keji apakah kalian telah mencelakai begitu banyak orang...?"
"Kalau ingin membunuh, bunuhlah aku segera!"
Seru Liong Hiang kun sambil manangis.
"Dalam kenyataan aku telah mencuri obat penawar racun itu dengan menyerempet bahaya, kalau toh kalian tidak percaya yaa sudahlah, bagaimanapun juga aku memang sudah tak ingin hidup lagi!"
Begitu selesai berkata, ia segera membusungkan dadanya dan benar-benar menapaki ujung pedang dari Lak jiu im eng Thio Man itu dengan badan sendiri.
Liu Leng poo agaknya berpendapat lain, dari pembicaraan gadis itu secara lamat lamat dia telah menduga bahwa dibalik peristiwa itu mungkin terdapat rahasia lain, karena itu cepat-cepat serunya kepada Thio Man.
"Adik dari keluarga Thio, tarik dulu pedangmu, aku percaya pada Liong memang mempunyai maksud tujuan yang baik!"
Kemudian sambil berpaling lagi ke arah Liong Hiang kun, kembali dia berkata.
"Walaupun obat penawar racun yang nona bawa telah ditipu orang serta berubah menjadi racun, namun aku dapat melihat bahwa nona benar-benar berniat menolong saudara Wi. Nah, sebagaimana perjanjian kita tadi, asal kau bersedia menjawab tiga buah pertanyaanku. Aku tetap akan membebaskan kau pergi dari sini."
"Sekalipun kalian membebaskan aku, toh aku pun tak bisa pulang lagi, apa yang ingin kau tanyakan segeralah diajukan."
Seru Liong Hiang kun dengan air mata bercucuran.
"Nona adalah putri Liong Cay thian, juga merupakan Tok seh siacu, masa ada orang yang dapat menyusahkan dirimu?".
"Ayahku yang menyuruh aku berperan sebagai Tok seh siacu, dulu memang demikian tapi sekarang tidak lagi"
"Lantas siapa yang memegang peranan itu?"
Tanya Liu Leng poo lebih jauh.
Liong Hiang kun kelihatan agak ragu, dia menggigit bibirnya kencang-kencang, agaknya ada suatu hal yang sulit baginya untuk di utarakan keluar.
Tapi selang berapa saat kemudian agaknya nona itu telah mengambil keputusan, sambil mengangkat kepala katanya.
"Tempat ini merupakan selat Tok seh sia baru, dibangun ayah secara rahasia sejak sepuluh tahun berselang, selama ini aku hanya pernah mendengar ayah menyinggung soal itu, namun belum pernah datang mengunjunginya. Baru hari ini ayah mengajakku datang kemari, dan saat itu pula aku baru tahu kalau selat Tok seh sia baru ini di pimpin oleh nyonya siacu yang muda lagi cantik."
Semua orang sudah tahu kalau Tok seh siacu adalah Liong Hiang kun, sedangkan Liong Hiang kun adalah seorang gadis, sudah barang tentu tak mungkin mempunyai nyonya, tapi kini ternyata muncul seorang nyonya siacu.
Setelah mendengar perkataan dari Liong Hiang kun ini, semua orang baru tahu, ternyata Tok seh sia yang baru ini merupakan tempat Liong cay thian menyembunyikan istri barunya.
Tiba-tiba muncul perasaan benci dan gusar di wajah Liong Hiang kun.
Katanya tiba-tiba dengan perasaan benci.
"Perempuan itu telah menggunakan kecantikan wajahnya untuk memikat ayahku."
"Apakah dia adalah anggota perguruan dari Kiu siang loyau?"
Tanya Liu Leng poo.
"Entahlah, ketika aku datang kesana dengan peranan sebagai Tok seh siacu hari ini, siluman perempuan itu telah memancingku memasuki sebuah ruangan rahaisa, dia memerintahkanku untuk melepaskan dandanan Tok seh siacu tersebut."
"Mula-mula aku tak mau, ketika kemudian dia memberitahukan kepadaku bahwa ayah sudah terkena racun kejinya, terpaksa aku pun menyerahkan dandanan Tok seh siacu tersebut kepadanya, karena dengan begitu nyawa kami ayah dan anak baru bisa diselamatkan, terdesak dalam keadaan tak berdaya, terpaksa akupun serahkan topeng serta pakaian tersebut kepadanya."
"Apakah waktu itu dia tidak menyusahkan dirimu?"
Tanya Liu Leng poo kemudian.
"Tidak, dia hanya mengurungku didalam sebuah ruangan batu serta melarangku keluar! Ia tidak mengijinkan aku berjumpa dengan ayah, hingga menjelang malam tadi dia mengundangku menghadap dan memerintahkan aku memakai topeng serta pakaian dari Ban kiam hweecu itu untuk berperan sebagai Ban kiam hweecu."
"Tahukah nona bagaimana keadaan Kiamcu?"
Tanya Ma koan tojin dengan perasaan cemas.
"Aku tidak waktu itu aku hanya mendengar dia berkata bahwa ada sekelompok manusia yang telah ditotok dibagian jalan darahnya oleh ilmu Ciang Liong ci sehingga pikiran dan kesadarannya terganggu, dia menitahkan kepadaku untuk memimpin mereka menghadapi orang-orang Thian sat bun, diapun memberitahukan kepadaku bahwa ada sekelompok orang, termasuk Wi siauhiap telah ditahan oleh pihak Thian sat bun."
"Lantas obat penawar racun itu kau peroleh dari mana?"
"Pada saat itulah tiba-tiba ada orang yang datang melaporkan tentang perkembangan situasi terakhir, ketika mendengar laporan tersebut tergesa-gesa dia pergi dari sana, aku pun lantas berpikir, ayah yang terkena racun kejinya harus ditolong, siapa tahu kalau didalam kamar itu terdapat obat penawar racunnya. Dalam pencarian yang dilakukan dengan tergesa-gesa ini aku berhasil menjumpai sebuah botol dengan label yang bertuliskan obat penawar racun dari Ciang liong ci. Teringat bahwa Wi siauhiap memang terluka oleh ilmu totokan Ciang liong ci, maka obat itupun kucuri."
Ketika berbicara sampai disini, sepasang pipinya berubah menjadi semu marah. Liu leng poo memandang sekejab kearah Kam liu cu, kemudian ujarnya.
"Kalau didengar dari keterangan nona ini, tampaknya dewasa ini seluruh selat Tok seh sia telah dikuasahi oleh Kiu siang popo si siluman tua itu."
Kakek Ou menggaruk-garuk kepalanya sambil berkata pula.
"Entah kepandaian silat macam apakah Ciang Liong ci itu? Aaaii... Seandainya majikan kami berada disini, kemungkinan besar dia dapat mencarikan cara pertolongan yang tepat.."
Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang dari luar gua, disusul kemudian terdengar suara sahutan seseorang yagn merdu bergema tiba.
"Hey, aku yang datang! kalian cepat menyingkir!"
Dengan perasaan terkejut kakek Ou segera berseru.
"Aahh... nona kami datang.."
Tampak sesosok bayangan manusia yang kecil mungil menyelinap masuk dengan cepat.
Orang itu bukan lain adalah So Siau hui, begitu masuk kedalam gua, sambil memegangi dadanya dia berdiri dengan napas tersengal.
Melihat keadaan dari So siau hui, dengan perasaan terkejut kakek Ou segera berseru.
"Nona, mengapa kau?"
So Siau hui segera menenangkan hatinya sambil membereskan rambutnya yang kusut, kemudian katanya sambil tertawa.
"Aku tidak apa-apa, hanya kelelahan karena harus berlari kencang..."
Apabila dilihat dari caranya berbicara maupun tindak tanduknya, Liu leng poo merasa nona ini sehat dan segar bugar, namun berhubung nona tersebut baru datang dari selat tok seh sia, tak urung timbul juga perasaan was was didalam hatinya, pelan-pelan dia maju menghampirinya lalu berkata.
"Adik dari keluarga So, duduklah dulu untuk beristirahat."
"Tidak usah, aku sudah merasa agak baikan."
Sahut So Siau hui dengan cepat. Dengan mata terbelalak lebar-lebar cepat-cepat kakek Ou bertanya lagi.
"Nona, bagaimana caramu melarikan diri dari pengawasan mereka?"
"Empek Ou, bukannya kau tidak tahu, ayahku sudah mengajarkan ilmu memindahkan jalan darah kepadaku? Bagaimana mungkin mereka dapat menotok jalan daraku? Sore tadi kami terjebak didalam perangkap mereka. Ketika kulihat Wi siauhiap tertawan maka akupun sengaja membiarkan diriku ikut tertawan juga."
"Mula-mula aku bermaksud menunggu kesempatan untuk membebaskan jalan darah Wi siauhiap yang tertotok, siapa tahu mereka telah menyekapku kedalam sebuah ruangan batu yang berbeda, maka secara diam-diam akupun melarikan diri dari sana."
Liu Leng poo merasa penuturan nona itu terlalu ringkas dan sederhana, maka tak tahan dia segera bertanya lagi.
"Apakah tidak ada yang mengejar dirimu?"
"Ruangan batu tersebut dilengkapi dengan alat rahasia, didalam anggapan mereka orang yang sudah dikurung dalam ruangan tersebut tak nanti bisa meloloskan diri, oleh sebab itu merekapun tidak menempatkan penjaga disekitarnya."
"Siapa tahu semua alat rahasia yang mereka gunakan merupakan alat rahasia yang berhasil dicurinya dari Lam hay kami, dengan sendirinya dengan mudah dan leluasa kau berhasil melarikan diri, hanya saja sepanjang jalan mesti lari terus, aku jadi kehabisan napas dan kelelahan."
"Jadi kau mengenali betul semua alat rahasia yang mereka gunakan?"
Tanya Liu leng poo.
"Sekalipun mereka lakukan juga pelbagai perubahan disana sini, tapi yang kuketahui mencapai enam tujuh puluh persen."
"Itu sudah lebih dari cukup, sayang sekali begini banyak orang orang kita yang berada dalam keadaan tidak sadar. Kalau tidak, kita bisa secara langsung menyerbu ke sarang mereka!"
"Aku rasa kita cukup meninggalkan sebagian kekuatan untuk berjaga-jaga ditempat ini, aku memang ingin sekali bertarung melawan Kiu siang poo tersebut!"
Seru kakek Ou "Agaknya selat Tok seh sia baru ini dipimpin oleh anak buahnya, Kiu siang poo pribadi belum tentu berada disini."
Ucap Kam Liu cu pula dengan cepat.
Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba dari mulut gua terdengar suara mencicit yang tinggi melengking dan pelan bergema tiba, menyusul kemudian tampak sesosok bayangan manusia menyelinap masuk dengan kecepatan bagaikan hembusan angin.
Orang itu muncul tanpa menimbulkan sedikit suarapun dan nyatanya berhasil mengelabuhi keenam belas orang jago pedang berpita hijau yang berjaga-jaga diluar gua.
Liu Leng poo segera merasakan sesuatu, tiba-tiba dia membalikkan badan seraya membentak;
"Hey, siapa yang berani menyelundup masuk sedalam gua?"
Sambil berkata dia mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah bacokan kilat kearah orang itu. Cepat-cepat Kam Liu cu berseru keras.
"Ji sumoay, jangan bertindak gegabah!"
"Blaaammmm.,!"
Benturan keras bergema memecahkan keheningan.
Angin pukulan yang bersarang di atas batuan cadas itu mengakibatkan hancuran batu beterbangan keempat penjuru.
Dengan suatu gerakan yang sangat ringan orang itu menyelinap kesamping lalu menggoyangkan tangannya berulang kali sambil berseru diiringi suara tertawa rendah.
"Liu lihiap, jangan menyerang dulu, aku adalah Thio Khing!"
Sekarang semua orang baru dapat melihat dengan jelas bahwa orang itu adalah seorang kakek berbaju abu-abu yang berkepala botak, dagu lancip, mata besar serta kumis tipis, mukanya kelihatan aneh sekali, dia tak lain adalah si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khing.
Liu Leng poo tidak kenal orang tersebut tapi mengingat orang itu bisa mengelabuhi keenam belas orang jago pedang berpita hijau yang berjaga diluar gua, ia sadar bahwa orang ini bukan manusia sembarasgan.
Maka dengan suara dingin segera bentaknya.
"Siapakah anda?"
Kam Liu cu yang berada di sampingnya cepat cepat menjelaskan.
"Ji sumoay. Dia adalah si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khing..". Kemudian sambil menjura katanya pula.
"Ditengah malam buta begini saudara Thio datang berkunjung, sesungguhnya ada urusan apa?"
Si tikus berjalan dibawah tanah Thio King memutar sepasang biji matanya yang kecil lalu tertawa paksa berulang kali.
"Yaa, ya, aku mendapat perintah dari majikanku untuk datang mengirim obat kepada kalian"
Dengan perkataan tersebut berarti Tong hujin telah mendapat tahu bahwa orang-orang disini telah menderita luka sehingga kehilangan pikiran dan kesadarannya, karena itu dia pun memerintahkan orang untuk mengantar obat racun kemari.
Lantas siapakah Tong hujin yang sebenarnya?
Darimanakah asalnya?
Tampaknya tiada persoalan apapun yang dapat mengelabuhinya.
Sementara itu si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khing telah merogoh kedalam sakunya serta mengeluarkan sebuah botol kecil lalu katanya lagi sambil tertawa paksa.
"Berhubung disepanjang jalan harus menghadapi pelbagai rintangan, maka akibatnya aku telah datang terlambat"
Sambil berkata dia serahkan botol obat itu kehadapan Kam Liu cu.
Liong Hiang kun yang berdiri disamping, dalam sekilas pandangan saja telah melihat bentuk botol itu dengan jelas, tiba-tiba paras mukanya berubah hebat, serunya dengan gelisah.
"Kam tayhiap, isi botol itu bukan obat penawar racun, melainkan bubuk pembingung sukma milik ayahku". Sementara Kam Liu cu masih tertegun setelah mendengar perkataan tersebut, si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khing telah manggut-manggut seraya berkata.
"Benar... benar.. perkataan nona ini memang benar, isi botol tersebut memang bubuk pembingung sukma dari si Raja langit bertangan keji Liong Cay thian, ehhmmm, ehmmm....aku mendapat perintah dari majikan dan baru saja masuk kedalam untuk mengambilnya."
Yang dimaksudkan sebagai "baru saja masuk kedalam untuk mengambilnya"
Jelas berarti obat tersebut baru saja berhasil dicurinya! "Tapi apa gunanya kau mencuri bubuk pembingung sukma itu?"
Tanya Liong Hiang kun. Sambil mengangkat bahunya si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khing menyahut seraya tertawa.
"Besar sekali manfaatnya! Menurut majikanku, Wi siauhiap sekalian telah kehilangan pikiran serta kesadarannya karena jalan darah diotaknya tertotok oleh ilmu jari Ciang Liong ci sehingga siapa musuh siapa teman tidak diketahui, dia hanya menuruti perintahnya dari seseorang atau semacam tanda rahasia. Begitu jalan darahnya dibebaskan mereka akan melakukan perlawanan sengit. Selain cara pembebasan yang khas dari ilmu Ciang Liong ci sendiri, konon hanya It goan hu si wan dari Lam hay bun yang bisa menyadarkan kembali mereka semua."
"Pil It goan hu si wan?"
Seru So Siau hui terkejut.
"tapi resep obat itu sudah lenyap, sedang persediaan obat dirumah kami pun sudah tidak ada lagi."
"Benar,benar, itulah sebabnya majikan kami baru menitahkan kepadaku untuk menyeludup masuk kedalam selat Tok seh sia serta mencuri bubuk pembingung sukma dari saku si raja langit bertangan keji Liong Cay thian. Bubuk pembingung sukma sama saja dapat menghilangkan pikiran dan kesadaran seseorang, tapi jikalau diberikan kepada seseorang yang sudah tertotok pikiran dan kesadarannya oleh Ciang liong ci, maka hal ini menyebabkan mereka tak akan menuruti perintah lawan lagi."
"Tapi akibatnya mereka kan semakin kehilangan pikiran serta kesadarannya?"
Seru Lak jiu im eng Thio Man segera. Si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khing segera tertawa;
"Justru dengan membuat mereka makin lama semakin bingung, maka setelah jalan darah mereka dibebaskan, orang-orang itu baru tak akan lari balik ke pihak musuh"
Lak jiu im eng Thio Man segera menengok sekejap kearah Liu Leng poo, kemudian katanya.
"Enci Liu, hal ini masa boleh jadi?"
Liu Leng Poo tidak menjawab, dia hanya membungkam diri dalam seribu bahasa. Sambil tertawa si tikus berjalan dibawah tanah Thio Khing berkata lagi.
"Siapa bilang tak boleh jadi? Menurut majikan kami, hal ini cuma merupakan tindakan sementara waktu, apalagi bubuk pembingung sukma pun memiliki obat penawarnya yang tersedia setiap saat, apa yang mesti ditakuti? Berbeda sekali dengan ilmu Ciang liong ci itu."
"Konon orang yang terkena totokan ilmu jahat tersebut, bila dibiarkan menderita selama tiga puluh enam jam maka akibatnya dia akan menjadi lemah mental dan pikiran untuk selamanya, keadaan tersebut tak akan bisa disembuhkan lagi, oleh sebab itulah persoalan terpenting sekarang adalah membebaskan jalan darah mereka yang tersumbat oleh ilmu Ciang Liong ci."
Setelah mengetahui akan betapa lihaynya ilmu Ciang Liong ci tersebut, tanpa terasa semua orang saling berpandangan dengan wajah memucat. Akhirnya sambil manggut-manggut Liu leng poo berkata.
"Setelah atasanmu menitahkan kau kemari, aku percaya dia pasti mempunyai tindakan yang bagus bukan?" -oo0dw0oo-
Jilid 25 SAMBIL mengangkat bahu sitikus berjalan dibawah tanah Thio Khing menyahut.
"Majikan kami pernah berkata, satu satunya tindakan yang paling tepat saat ini adalah membekuk Kiu siang poo dalam keadaan hidup-hidup serta memaksanya untuk membebaskan jalan darah mereka yang tertotok itu"
Kam Liu cu memandang sekejap kearah Liu leng poo, kemudian bertanya.
"Sam sumoay, bagaimana menurut pendapatmu?"
"Yaa, terpaksa harus berbuat begitu"
Lak jiu im Thio Man menjadi sangat terkejut, segera teriaknya tertahan .
"Enci Liu, apakah kau hendak mencekoki mereka dengan bubuk pembingung yang kau bawa itu ?"
Tanya Lak jiu dengan keheranan.
"Yaa, aku ingin mencekokinya dengan obat pembingung sukma ini!"
Ooo~^DewiKZ^Aditya^aaa^~ooo KAKEK OU SEGERA MENYAHUT.
"Sekalipun didalam kitab Siu khi keng peninggalan dari majikan tua tercantum kepandaian tersebut, namun majikan tak pernah melatihnya, aku rasa hal ini juga percuma. Apalagi sekalipun majikan bisa membebaskan pengaruh totokan tersebut, untuk kembali ke Lam hay pun rasanya kita tak akan keburu sampai."
Sementara itu Liu leng poo telah menerima botol berisi bubuk pembingung sukma itu dari tangan Kam Liu cu, kemudian sambil di serahkan ketangan Liong Hian kun katanya.
"Bubuk pembingung sukma merupakan obat yang dibuat oleh ayahmu, aku rasa kau tentu mengetahui berapakah takaran yang dibutuhkan setiap orangnya, bagaimana kalau tugas ini kubebaskan saja kepada nona?"
Dengan senang hati Liong Hiang kun segera menerima botol obat tersebut.
Sebaliknya Lak jiu im eng Thio Man yang melibat Liu Leng poo meminta Liong Hiang kun yang memberikan bubuk pembingung sukma tersebut kepada semua orang, dengan cemas segera berseru .
"Enci Liu, biar aku saja yang membagikan obat tersebut kepada mereka."
Liu Leng poo segera tertawa .
"Adik cilik, kau tidak usah kuatir, nona Liong harus bekerja sama dengan kami agar bisa menolong ayahnya, jadi kita dapat mempercayainya sepenuh hati"
Lak jiu im eng Thio Man merasa agak sungkan untuk berbicara lebih jauh, maka dia pun membungkam diri dalam seribu basa.
Liong Hiang kun segera menundukkan kepalanya dan mulai mencekoki orang-orang yang kehilangan pikiran itu dengan bubuk penghilang sukma...
Saat ini hampir semua perhatian para hadirin ditujukan kearah Wi Tiong hong sekalian, menanti Ma koan tojin ikut berpaling, tiba-tiba saja dia menemukan kalau si tikus berjalan dibawah tanah telah pergi tanpa bekas entah sedari kapan.
Segera timbul kecurigaan di dalam hatinya dengan suara tertahan serunya.
"Kam tayhiap, si tikus berjalan dibawah tanah telah pergi tanpa pamit, kita jangan sampai termakan oleh tipu muslihatnya."
Dengan cepat kakek Ou berpaling, benar juga, si tikus berjalan dibawah tanah telah pergi entah kemana. Dengan gusar ia segera mendengus, teriaknya.
"Kurang ajar benar manusia macam tikus pun berani bermain gila dihadapanku!!! hmmnn! Kalau sampai ketemu lagi besok, pasti akan kuhajar dia sampai hancur berantakan! Buru buru Kam Liu cu berkata seraya tertawa.
"Orang itu paling senang kalau bermain gila-gilaan, tapi menurut pendapatku dia tak sampai akan menjebak kita dengan permainan busuk"
Selang berapa saat kemudian, terdengar Liong Hiang kun berkata kepada Liu leng poo.
"Sekarang sudah lewat seperminum teh lamanya daya kerja bubuk pembingung sukmapun sudah mulai menyebar... Liu lihiap dapat membebaskan jalan darah mereka yang tertotok."
"Biar aku saja yang melakukan tugas ini!!"
Seru Kam Liu cu sambil melangkah kedepan.
"Tunggu dulu!"
Tiba-tiba Liong Hiang kun berseru lagi.
"Bubuk pembingung sukma ayahku dapat membuat kesadaran seseorang pulih kembali sebagian kecil, oleh sebab itu diantara kalian mesti ada seorang yg bakal memberi perintah dan petunjuk kepada orang-orang itu, dan orang tersebut biasanya adalah orang pertama yang akan mengajak mereka berbicara setelah daya kerja obat bubuk itu menyebar kedalam tubuh mereka. Dewasa ini, jalan darah penting mereka masih tersumbat akibat pengaruh totokan Ciang liong ci, karenanya sebelum diberi obat racun itu, sulit rasanya untuk menyadarkan mereka, namun setelah jalan darah mereka dibebaskan nanti harus ada satu orang yang memerintahkan mereka, entah siapakah diantara kalian yang akan memikul tanggung jawab tersebut?"
"Aku pikir, nona Liu adalah orang yang paling sesuai, sebab diantara kita semua dialah yang menjadi Kuncu (juru pikirnya)!!"
Seru kakek Ou cepat.
"Nah, kalau begitu Liu lihiap harus ingat baik-baik.."
Ujar Liong Hian kun kemudian "Kau mesti menyampaikan ucapan yang bermaksud agar mereka tunduk kepada semua perintahmu dan tak boleh membangkang kepada mereka semua satu demi satu"
Liu Leng poo segera manggut-manggut..
"Akan kuingat baik-baik"
"Kalau begitu, Kam tayhiap boleh segera turun tangan."
Kam Liu cu mengiakan dan maju ke depan dengan langkah lebar tangannya segera bergerak cepat, dalam waktu singkat hampir semua jalan darah orang-orang itu telah dibebaskan olehnya.
Sebagaimana diketahui, orang-orang itu sudah ditotok jalan darah Nau juang hiat di otaknya dengan ilmu jari Ciang liong ci, dan sekarang telah dicekoki lagi dengan obat pembingung sukma, hal ini pada hakekatnya membuat mereka semua menderita kehilangan pikiran berganda, sekalipun begitu namun ilmu silat yang mereka miliki masih tetap utuh seperti sedia kala.
Begitu jalan darah mereka di bebaskan, orang-orang itu segera memperlihatkan pandangan mata yang bingung dan kabur pelan-pelan mereka bangkit berdiri dari atas tanah.
Baik kakek Ou maupun Kam Liu cu, kedua-duanya kuatir kalau sampai mereka berontak atau melakukan suatu tindakan yg tak diinginkan setelah totokan jalan darahnya dibebaskan, karena itu sejak tadi mereka berdua telah menyebarkan diri kesamping kiri dan kanan serta secara diam-diam bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Dengan langkah tegap Liu leng poo berdiri dihadapan mereka semua tiba-tiba bentaknya;
"Wi Tiong hong!"
Wi Tiong hong segera menggerak-gerak kelopak matanya, namun mimik wajahnya masih tetap dingin, kaku dan sama sekali tak berperasaan.
So Siau hui dan Lak jiu Im eng Thio man yang menyaksikan mimik muka anak muda tersebut diam-diam merasa sedih sekali, namun siapapun tak ada yang bersuara.
Buru buru Liong Hiang kun berjalan mendekati Wi Tiong hong, kemudian berbisik disisi telinganya.
"Liu lihiap sedang memanggilmu, ayoh cepat maju selangkah kedepan."
Ternyata perkataan itu sangat manjur, Wi Tiong hong segera mengalihkan sorot matanya kewajah Liu leng poo dan benar-benar maju selangkah kedepan.
Menyaksikan kejadian tersebut, diam-diam Liu leng poo mengangguk, pikirnya.
"Andaikata malam ini tidak ada Liong-Hiang kun hadir disini aku tentu akan kelabakan dan tak tahu bagaimana harus mengatasi persoalan ini!"
Berpikir demikian, sorot matanya segera dialihkan kembali kewajah Wi Tiong hong kemudian katanya.
"Wi Tiong hong, kau harus ingat baik-baik mulai sekarang kau harus mentaati dan tunduk pada semua perintahku, kau tak boleh menbangkang barang sekejap pun!!"
Wi Tiong hong mengawasinya sekejap, kemudian manggut-manggut. Liong Hiang kun yang berdiri disampingnya dengan cepat membisik kembali.
"Kau boleh berdiri disamping sana."
Ternyata Wi Tiong hong menurut sekali.
Ia benar-benar menyingkir kesamping.
Menyusul kemudian Liu Leng poo memanggil nama Cho Kui moay dan mengulangi dengan kata-kata yang sama.
Cho Kiu moay pun dengan taat berdiri menanti disamping arena.
Selanjutnya adalah giliran dari Keng hian lalu Ceng siu Thio lo han Khong heng hweesio, si naga berekor botak To Sam seng dan lain sebagainya, semuanya melakukan hal yang sama...
Akhirnya ke sebelas orang jago pedang berpita hijau pun mendapatkan gilirannya, Liu Lang poo mengulangi pula kata-katanya terhadap mereka semua.
Walaupun perlakuan itu di lakukan sangat singkat, namun itupun membutuhkan waktu hampir sepertanak nasi lamanya sebelum rampung semua.
Waktu itu kentongan keempat telah menjelang tiba, Ma koan tojin memandang sekejap cuaca diluar gua kemudian bertanya.
"Liu lihiap apakah kita akan berangkat sekarang juga?"
"Ehmm kentongan keempat sudah hampir tiba, padahal kita semuapun sudah bergadang semalaman suntuk, mumpung masih ada sedikit waktu yang tersisa mari kita simpan tenaga sejenak, kita baru berangkat setelah terang tanah nanti."
"Ji sumoay,"
Kam liu cu segera berkata "Dari pada kita berangkat setelah terang tanah nanti, apa salahnya kalau berangkat pada saat ini juga?
siapa tahu kalau tindakan kita ini malah akan membuat mereka jadi kelabakan?"
Liu Leng poo segera tertawa.
"Dengan jumlah orang-orang kita yang begini banyak, bagaimana mungkin jejak kita dapat mengetahui mereka semua? Dari pada main sembunyi, mengapa kita tak menantang mereka secara terangan saja? Disamping itu, saat ini hari masih gelap padahal kitapun tak mengenali jalan mereka, selain itu kitapun sudah semalaman suntuk tidak beristirahat, apa salahnya kalau kita manfaatkan kesempatan yang ada untuk memupuk tenaga dan menyegarkan kembali tubuh kita? Toh tindakan tersebut lebih banyak untungnya dari pada kerugian?"
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Ma koan tojin merasa kagum sekali, dia segera manggut-manggut sembari berkata ;
"Perhitungan Liu lihiap memang sangat tepat, ilmu peperangan yang kau persiapkan pun sangat hebat, pinto benar-benar takluk dan kagum sekali."
"Baiklah,"
Kata Kam Liu cu pula.
"Mari kita berangkat setelah terang tanah nanti,"
Setiap orang tahu, setelah terang tanah nanti mereka akan memasuki selat Tok seh sia baru dan disana pasti akan berlangsung suatu pertarungan yang sengit.
Maka dengan memanfaatkan sisa waktu yang ada semua orang berusaha untuk melepaskan lelah dan menghimpun tenaga baru, hampir semuanya segera duduk bersemedi untuk mengatur pernapasan.
Tiba-tiba Tiong Hiang kun berjalan menuju kehadapan Liu Leng poo, kemudian sambil menjura katanya.
"Liu lihiap, aku mempunyai suatu permintaan yang tak pantas yang terpaksa harus kuajukan kepada kalian yakni ayahku telah terkena racun dari siluman perempuan itu sehingga kemungkinan besar beliau akan di paksa untuk bertarung melawan kalian untuk itu harap Liu lihiap serta para pendekar lainnya sudi mengampuninya"
Liu Leng poo sesungguhnya sudah tahu kalau musuh besar Wi Tiong hong tak lain adalah si Raja langit bertangan keji Liong Cay thian namun ia tidak menerangkan persoalan tersebut kepada gadis itu, hanya di tariknya tangan Liong Hiang kun baru ujarnya sambil berkata;
"Sebetulnya tujuan utama dari keberangkatan kita menuju ke selat Tok seh sia untuk kali ini adalah untuk membekuk Kiu siang si siluman tua tersebut guna membebaskan orang-orang ini dari pengaruh totokan Ciang liong ci yang telah membuat mereka kehilangan pikiran dan kesadarannya sebab hanya siluman tua Kiu siang yang bisa menolong mereka, jadi masalah yang sesungguhnya tak ada hubungan apa pun dengan ayahmu, untuk persoalan ini harap nona berlega hati."
"Aku tahu tentang hal ini!!"
Ucap Liong Hiang kun dengan air mata bercucuran "Tapi dalam berapa hari belakangan ini, hatiku selalu berdebar keras tanpa sebab, seakan-akan ada bencana besar yang telah berada di depan mata..."
Liu Leng poo segera tertawa.
"Soal itu sih gampang sekali untuk dijelaskan, karena selama berapa hari ini secara beruntun telah terjadi pelbagai kejadian didalam selat Tok seh sia, sedangkan nona pun harus berperan sebagai Tok seh siaucu, otomatis hatimu menjadi risau dan tak tenang, sudah... asal kau tidak memikirkannya lagi, hatimu pasti akan menjadi tenang kembali."
Ketika Liong Hiang kun merasa apa yg diucapkan Liu Leng poo memang ada benarnya juga, dia menjadi berlega hati dan perasaannya jauh lebih tenang.
Dengan air mata bercucuran diapun menyahut sambil manggut-manggut.
"Terima kasih banyak atas petunjuk enci Liu "
"Hari sudah hampir terang tanah, pergilah beristirahat sejenak."
Ujar Liu Leng poo kemudian sambil tertawa, Selesai berkata, pelan-pelan dia memejamkan matanya.
Suasana diluar gua di cekam dalam kegelapan yang luar biasa.
Suasana didalam gua justru hening sekali dan tak kedengaran suara apapun lagi.
Semua orang telah memanfaatkan kesempatan yang ada untuk bersemedhi dan mengatur pernapasan, menghimpun kekuatan baru untuk menghadapi musuh tangguh Tapi diantara sekian orang, hanya keempat orang nona yang tak bisa menenangkan pikiran masing-masing.
Mereka dibebani oleh pikiran dan perasaan yang berbeda sehingga sulit untuk memusatkan pikirannya.
Dari keempat orang itu, Liu leng poo merupakan Kuncu (juru pikir) dari rombongan tersebut.
Dalam situasi menghadapi musuh yang begitu tangguh, lagi pula dengan kekuatan yang tidak berimbang, dia tak tahu bagaimanakah nasib perjalanan selanjutnya, apalagi dalam soal menang kalah dalam pertarungan yang bakal berlangsung, tentu saja hal mana membuat hatinya menjadi tak tenang.
Sebaliknya bagi So Siau hui, Liong Hiang kun serta Lak jiu im eng Thio Man dalam benak mereka bertiga boleh dibilang hanya dipenuhi oleh sebuah bayangan saja, memandang keadaan Wi Tiong hong yang kehilangan pikiran dan kesadaran, perasaan, mereka betul-betul remuk redam, perasaan cinta, kasihan gelisah cemas dan kesal bercampur menjadi satu, sehingga tak seorang pun diantara mereka yang dapat berkata-kata.
Pelan-pelan fajarpun menyingsing dari ufuk timur, hari sudah terang tanah sinar matahari pagi memancarkan cahayanya ke seluruh penjuru.
Dengan dipimpin oleh Liu Leng poo, berangkatlah rombongan itu meninggalkan gua batu menuju keselat sempit dibalik hutan kering dibelakang bukit sana.
Sekalipun mereka melakukan perjalanan bersama-sama, namun kekuatan yang ada justru terbagi menjadi dua kelompok, pada kelompok yang pertama dipimpin oleh Liu Leng poo dengan Liong Hiang kun serta So Siau hui sebagai pembantu utamanya.
Hal ini disebabkan Liong Hiang kun memang orang Tok seh sia sedangkan So Siau hui menguasai penuh semua ilmu barisan serta alat jebakan yang terdapat didalam lembah tersebut.
Disusul kemudian adalah rombongan orang-orang yang kehilangan pikiran dan kesadarannya, yaitu Wi Tiong hong, Cho Kiu moay, Heng hian totiang, teng siu to tiang, Thi lo han Khong beng hwesio, naga tua berekor botak To Sam seng serta ke sebelas orang jago pedang berpita hijau.
Orang-orang itu hanya menuruti perintah dari Liu leng poo seorang, otomatis harus dipimpin pula oleh Liu Leng poo secara langsung...
Diantara sekian banyak orang, ditambah lagi dengan kakek Ou, sebab diantara sekian orang dialah yang memiliki ilmu silat paling hebat, orang tua ini selalu mendampingi So Siau hui dengan maksud melindungi keselamatan majikan mudanya itu.
Pada rombongan ke dua dipimpin oleh Kim Liu cu dengan Ma koan tojin sebagai pembantu utamanya, disusul kemudian adalah sipena baja Tam see hoa, Lak jiu im eng Thio Man serta keenam belas jago pedang berpita hijau.
Dengan gerakan tubuh kedua rombongan jago-jago yang berilmu tinggi, tak selang berapa saat kemudian mereka telah tiba di depan hutan kering ditengah lembah Saat itu matahari sudah jauh diatas awang awang dan menyinari seluruh hutan gersang itu hingga memantulkan sinar putih yang menyilaukan mata, nyata sekali hutan tersebut hanya berupa sebuah hutan kosong.
Kedua buah peti mati yang kemarin masih diletakan disitu, kini sudah disingkirkan, hanya tugu peringat batu tersebut masih tetap berdiri tegak di tempat semula, Tulisan yang tertera diatas batu peringatan itupun masih tetap utuh sebagaimana mestinya.
Tulisan yang terterapun tetap berbunyi demikian.
"Hutan gersang tiada jalan, puluhan li memasuki puncak awan"
Liong Hiang kun segera berebut maju ke depsn sembari berkata.
"Kemarin aku pun masuk ke dalam melalui jalan ini, aku tahu caranya untuk membuka pintu rahasia tersebut, untuk masuk, kita cukup menggerakkan jari tangan mengikuti gerak tulisan li atau masuk tersebut, maka pintu rahasia pun akan terbuka dengan sendirinya"
Sembari berkata, dia benar-benar menggerakkan tangan kanannya untuk mengikuti gerak tulisan "li"
Tersebut Dengan suatu gerakan cepat Liu Leng poo mencengkeram lengannya sambil berseru .
"Tunggu sebentar, diatas batu itu sudah dipolesi racun "
"Biar aku saja "
Kata So Siau hui kemudian.
"Nona, kau mesti berhati-hati...!"
Seru kakek Ou memperingatkan.
"Tak usah kuatir "
Sahut So Siau hui.
"semua peralatan rahasia yang mereka pergunakan hampir semuanya merupakan hasil curian dari Lam hay bun kita, cuma mereka tambahkan racun saja disana-sini sehingga kalau kurang berhati-hati orang bisa terkecoh."
Dari dalam sakunya Liu Leng poo segera mengeluarkan sebuah sarung tangan kulit menjangan berwarna putih dan diangsurkan ke depan sambil katanya .
"Adikku dari keuarga So di dalam perjalanan selanjutuya kami semua akan menggantungkan diri pada petunjukmu, cepat kau kenakan sarung tangan ini.."
So Siau hui segera menyambut sarung tangan itu dan dikenakan, kemudian dia menggerakkan ujung jari telunjuknya dan melakukan gerakan menggesek di atasan "ji"
Pada batu peringatan tersebut.
"Kraaaakkk..."
Menyusul gesekan tersebut tiba-tiba berkumandang suara gemercingan nyaring bergema memecahkan keheningan.
Pelan-pelan batu peringatan besar itu bergeser ke samping kanan dan muncullah sebuah liang yang gelap gulita dan lebar sekali sebuah undak-undakan batu terlihat menjorok jauh ke dalam sana.
Liu Leng poo segera berpaling ke arah ke sebelas orang jago pedang berpita hijau yang kehilangan pikiran dan kesadarannya itu lalu sambil mengulapkan tangannya berseru ;
"Kalian segera menyebarkan diri dan jaga hutan gersang ini secara ketat, barang siapa yang muncul disini, kalian harus menghadangnya dan jangan beri kesempatan kepada mereka untuk masuk kemari, mengerti?"
Ke sebelas orang jago pedang berpita hijau itu segera menyahut dan dengan cepat menyebarkan diri disekeliling hutan itu.
Menyusul kemudian Liu Leng poo memanggil pula Keng hian totiang, Keng siu totiang, Thio lo han Khong beng hweesio serta naga tua berekor botak To Sam seng berempat sambil perintahnya .
"Kalian berjaga jagalah disekitar gua ini, kalau ada orang yang masuk biarkan saja lewat, tapi jangan biarkan seorangpun yang keluar dari sini, pokoknya kalau ada yang berusaha menerobos keluar, bekuk semua hidup-hidup!"
Ke empat orang itu segera menerima perintah dan mengundurkan diri kedua belah sisi dengan cepat. Setelah itu, Liu Leng poo baru berkata lagi.
"Nah, sekarang kita boleh masuk kedalam. Tapi setelah berada dalam liang gua nanti, harap setiap orang menjaga sejauh beberapa depa untuk menjaga-jaga terhadap sesuatu yang tak diinginkan, baiklah, adikku dari keluarga So, Liong Hiang kun, kalian boleh segera turun lebih dulu"
Sembari berkata dia berjalan menuruni gua itu, So Siau hui, Liong Hiang kun segera mengikuti dibelakangnya, disusul kemudian oleh Wi Tiong hong, Hek bun kun, Cho Kui moay kakek Ou serta para jago dari rombongan kedua.
Undak-undakan batu itu menjorok langsung hingga keperut bukit, panjangnya menjadi lima puluhan undakan lebih, semakin ke bawah, suasananya semakin gelap gulita.
Liu Leng poo segera meloloskan pedangnya, dengan tangan sebelah memegang senjata, tangan yang lain memegang obor dan menuruni anak tangga itu lebih kedalam.
Tiba-tiba terdengar So Siau hui yang mengikuti dibelakangnya berbisik .
"Fungsi yang sebenarnya dari undak-undakan batu ini adalah untuk memancing musuh masuk lebih kedalam lagi, jadi disepanjang tempat ini tak nanti mereka pasang alat perangkap. Tapi setelah sampai diujung undak-undakan batu nanti, lebih baik enci Liu beri kesempatan kepadaku untuk berjalan didepan "
"Apakah dibawah sana terdapat jebakan papan berbalik?"
"Kecuali terdapat siat jebakan berupa papan yang bisa membalik sudah pasti mereka persiapkan juga alat perangkap yang lainnya, karena mereka tahu setiap jago persilatan yang telah berada di dalam lorong gua ini, siapapun akan menghindari selisih jarak yang terlalu dekat, nah mereka justru menggunakan titik kelemahan tersebut untuk menghadapi kita.
"Selain itu, diantara dinding dinding batu dikedua belah sisi lorong terdapat pula pintu rahasia yang setiap saat bisa dibuka tanpa menimbulkan sedikit suarapun, mereka bisa menculik orang tanpa menimbulkan suara. Andaikata sergapan mereka keburu ketahuan, otomatis kau akan bertarung dengan mereka, nah dalam keadaan beginilah kau pasti akan terjebak oleh alat pembalik papan yang akan memperosokkan diriku ke dalam perangkap mereka. Liu leng poo segera manggut-manggut katanya;
"Tindakan mereka ini memang amat keji dan buas tapi berapakah panjang dari seluruh jalanan ini?"
So Siau hui tertawa.
"Bukankah dalam tulisan yang tertera di atas batu peringatan itu sudah diterangkan secara jelas? Beberapa li memasuki puncak awan, itu berarti perjalanan ini paling tidak mencapai tiga li lebih, aku rasa, setiap orang yang masuk dari tempat luar, mungkin ada seorang pun diantara mereka yang sanggup menyelesaikan perjalanan ini secara aman dan selamat."
"Kalau begitu kita harus memberitahukan kepada mereka yang berada dibelakang agar bersikap lebih berhati-hati lagi!"
"Percuma, pemberitahuan itu tak akan bermanfaat apa-apa, sebab setiap alat rahasia dan pintu rahasia yang berada disini berbeda bentuk maupun letaknya, setiap pintu berdiri sendiri dan tidak ada hubungannya dengan tempat lain, tapi kebanyakan alat rahasia tersebut terletak didinding batu disekitarnya andaikata kita dapat memusnahkan semua tombol rahasia itu, dengan sendirinya lalu lintas diantara mereka menjadi macet dan tak berfungsi lagi"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka telah tiba diujung lorong tersebut.
So Siau hui segera mengambil obor dari tangan Liu leng poo, sementara tangan kanannya meloloskan sebilah pedang pendek yang berkilauan memancarkan sinar keperak-perakkan dari sakunya, kemudian bergerak maju kemuka.
Tampak dia menggerakkan tangannya itu sambil melakukan tusukan, pedang perak tadi tahu-tahu sudah menembusi batuan cadas tersebut, menyusul kemudian dia memutar pergelangan tangannya, pedang perak itu sudah dicabut keluar lagi, Melihat hal ini, Liu leng poo segera memuji.
"Ehmm, benar-benar sebilah pedang mestika yang amat tajam "
So Siau hui tertawa.
"Pedang ini merupakan hadiah dari ayah ku, termasuk satu diantara tiga bilah pedang mestika Lam hay bun, berhubung bentuknya amat kecil, maka menurut ayah hanya cocok digunakan oleh kaum Wanita". Sepanjang perjalanannya menelusuri lorong gua itu, pedang mestikanya itu berulang kali melakukan tusukan demi tusukan yang tinggi rendah tak menentu diatas kedua belah dinding batu lorong gua itu, seakan-akan dia sedang melakukan pemotongan terhadap sesuatu. Liu Leng poo yang mengikuti dibelakang So Siau hui tentu saja mengerti bahwa So Siau hui telah mengandalkan ketajaman pedangnya untuk memusnahkan semua alat rahasia yang terdapat disepanjang lorong gua tersebut. Benar juga, sepanjang jalan mereka tidak menemukan jebakan atau perangkap lagi dengan mengikuti liku-likunya lorong tersebut, dengan leluasa dan lancar rombongan tersebut bisa melaluinya. Ternyata apa yang ditulis pada batu peringatan tadi memang benar, beberapa li memasuki puncak awanm ternyata lororg gua yang berliku-liku didalam lambung bukit itu, panjangnya hanya mencapai tiga li. Bicara soal kecepatan berjalan, dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yg dimiliki kawanan jago tersebut, seharusnya jarak sejauh tiga li bisa ditempuh dalam waktu singkat. Tapi berhubung disepanjang jalan So Siau Hui harus bekerja keras untuk menghancurkan setiap alat rahasia yang di temuinya, otomatis perjalanan pun tak dapat ditempuh kelewat cepat, Begitulah, setelah berjalan hampir sepertanak nasi lamanya, mereka baru selesai menelusuri lorong gua itu. Di depan sana muncul kembali sebuah undak-undakan batu yg menjorok keatas permukaan tanah. Pada saat itulah Liu Leng poo baru berkata .
"Perjalanan yang kita tempuh sekarang benar-benar perjalanan yang amat berbahaya. Andaikata dari rombongan kita ini tiada kehadiranmu, mungkin untuk menembusi lorong gua itupun sulitnya bukan kepalang."
"Aaaah... Belum tentu"
Seru So Siau hui merendah.
"Dengan kemampuan yang dimiliki empek Ou, Kam toako serta Liu cici, sekalipun disepanjang jalan terdapat siasat jebakan sebangsa papan berbalik belum tentu peralatan itu dapat menjebak kalian semua, apa lagi terhadap orang-orang yang bersembunyi dibalik pintu rahasia di kedua belah dinding gua tentu saja mereka tak akan mampu menandingi kemampuan kalian."
"Andaikata kalian telah menginjak alat jebakan lain, seperti misalnya air beracun asap beracun dan sebagiannya mungkin kalian baru akan menjumpai kesulitan, tapi aku percaya kesemuanya itu belum sampai menyusahkan kamu semua, tentu saja agak repot juga bila orang yang menghadapi keadaan demikian adalah mereka yang memiliki ilmu rendah"
"Adikku So, kepandaianmu dalam alat perangkap benar-benar luar biasa dan amat mengagumkan!"
Puji Liu Leng poo segera.
"Aai., tampaknya agar bisa selamat dalam pengembaraan di rimba persilatan, kita memang terpaksa untuk mempelajari ilmu jebakan semacam itu."
"Ayahku memang pernah berkata demikian. Beliau berkata, setiap kepandaian harus dipelajari secara sama rata, justru karena prinsip inilah dia orang tua telah memaksaku untuk membaca buku sepanjang hari, waah..kadangkala menjemukan juga rasanya"
Ketika berbicara sampai disini, tiba tibt dia tertawa rendah sambil katanya lagi.
"Enci Liu, sepanjang perjalanan kita telah merusak banyak sekali pintu rahasia, tahukah kau berapa orang yang terkena akibat dari rusaknya pintu rahasia tersebut hingga terjebak di dalam?"
"Berapa orang?"
"Paling tidak mencapai tiga empat puluhan orang!"
Kata So Siau hui tertawa.
"Dan lagi tugas utama dari orang-orang itu adalah melancarkan serangan serta membekuk lawan, aku percaya ilmu silat yang mereka miliki pasti tidak terlalu rendah!"
Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba berkumandang suara gemuruh keras yang memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan, seluruh badan serasa ikut bergoncang keras, membuat lorong gua itu tergetar luar biasa, pasir dan debu segera berterbangan menutupi pandangan mata, sementara pasir berguguran dengan derasnya seperti air hujan.
Dari depan undak-undakan batu itu mendadak muncul sebuah batu raksasa yang terjauh dari atas langit-langit bua dan menghadang jalan keluar mereka.
Bukan cuma begitu, ternyata dari belakang tubuh mereka pun terjatuh sebuah batu raksasa yang persis memecahkan rombongan satu dan rombongan kedua, kedua kelompok manusia itu dijebak dalam dua ruangan yang berbeda.
Mungkin juga, orang-orang dalam rombongan kedua dipisahkan lagi oleh batu cadas lain sehingga kekuatan mereka saat itu boleh dibilang tercerai-berai tak karuan.
Padahal selain jarak dari batu raksasa yang pertama dengan batu raksasa kedua hanya terpaut lima kaki saja, andai kata batu raksasa itu jatuhnya persis setiap satu kaki, ini berarti pada rombongan yang kedua yang jumlah orangnya lebih banyak bisa jadi dipisahkan pula menjadi dua bagian, atau dengan perkataan lain, rombongan mereka sekarang secara keutuhannya telah terbagi menjadi tiga bagian.
Dengan cepat Liu leng poo berusaha untuk menguasahi diri, katanya kemudian.
"Adik So, cepat kau cari tombol rahasianya."
Waktu itu, paras muka So Siau hui telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, gugamnya tiba-tiba.
"Heran, mengapa mereka bisa memasang batu raksasa Ngo Hou cia ditempat ini?"
"Apakah batu raksasa lima harimau ini tidak dilengkapi dengan tombol rahasia?"
Tanya Liu leng poo cepat.
"Batu rakasasa lima harimau terdiri dari batuan raksasa yang beratnya puluhan ribu kati, jebakan tersebut hanya bisa dilepaskan dan tak mungkin dapat ditarik kembali, tidak seperti alat perangkap lainnya, asalkan tombol rahasianya ditekan, maka alat jebakan tersebut balik kembali semula secara otomatis. Untuk menggeser batu raksasa lima harimau ini, disamping membutuhkan tenaga yang sangat besar, juga dibutuhkan kawat baja untuk menariknya..."
Liu Leng poo baru terkejut setelah mendengar keterangan ini, serunya kemudian.
"Kalau begitu, bukankah kita bakal mati terkurung ditempat ini?"
Kakek Ou segera mencoba mengayunkan telapak tangannya untuk menghantam batu raksasa itu.
"Blam.. blammmm.....!"
Serangan yang kuat itu bersarang telak, dan menimbulkan suara benturan yang keras, namun batu raksasa itu sendiri sama sekali tidak bergerak sedikitpun juga.
"Heehh,, batuan raksasa ini memang betul-betul keras dan kuat.."
Seru kakek Ou kemudian dengan perasaan mendongkol. Ia segera mempersiapkan telapak tangannya sambil melancarkan serangan kedua.
"Empek Ou, tidak usah dibacok lagi.."
So Siau hui segera mencegah.
"Batu cadas itu adalah batu karang yang paling keras, percuma kau pukul batu itu tak bakal remuk!"
Tiba-tiba Liu leng poo berkata sambil tertawa merdu.
"Adikku dari keluarga So, apakah kau lupa dengan pedang mestika yang berada disampingmu saat itu? kita kan bisa menghancurkan batuan karang tersebut dengan mengandalkan ketajaman pedang itu."
Dengan cepat So Siau hui menggelengkan kepalanya berulang kali katanya.
"Percuma, sekalipun pedang mustikaku ini dapat memapas batuan cadas itu hingga gundul berapa bagian, tapi dengan sifat batu yang begitu keras seperti baja, tak mungkin kita keburu membobolnya sama sekali."
Liong Hing kun yang sejak memasuki lorong gua itu membungkam terus dalam seribu bahasa, tiba-tiba ikut menyala pula saat itu.
"Kenapa dikatakan waktunya tak keburu lagi?"
"Kau tahu, batu raksasa lima harimau ini tebalnya mencapai beberapa depa, disamping itu batu tersebut telah menutup seluruh ruangan batu ini tanpa sisa lubang barang sedikitpun juga, itu berarti tak selang sepertanak nasi kemudian, kita semua bakal mati lemas."
"Yaa.. benar juga perkataanmu itu!"
Kata Liu leng poo kemudian."Aku mulai merasakan dadaku sesak dan susah untuk bernapas. Udara ditempat ini makin lama semakin panas dan sesak untuk napas."
"Adikku, kemarikan pedang mestikamu. Bagaimanapun juga kita kan tak boleh menantikan datangnya elmaut hanya berpeluk tangan belaka."
Kemudian setelah menerima pedang pendek itu dari tangan So Siau hui, dia segera mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk melancarkan sebuah tusukan keatas batu cadas tersebut.
Sekalipun dia telah mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya, akan tetapi batu cadas tersebut betul-betul sangat keras, beberapa puluh bacokan dan tusukan yang dilancarkan secara beruntun dalam kenyataan hanya mampu menggumpil batuan itu seluas berapa depa dan lima inci dalamnya.
Dalam pada itu obor yang berada ditangan So Siau hui telah semakin redup sinarnya, jelas sebentar lagi cahaya api itu bakal padam karena kekurangan gas asam.
Pucat pias selembar wajah So Siau hui, sambil mengawasi lidah api yang makin lama semakin mengecil, gugamnya pelan.
"Oohh ayah.. tahukah kau orang tua bahwa putrimu bakal mati disini?"
Sementara itu si kakek Ou sudah dibuat sangat murka, rambut dan jenggotnya pada berdiri kaku semua bagaikan landak, setelah meraung keras, dia segera mengayunkan telapak tangan bajanya yang besar bagaikan kipas itu dan dibacoknya keatas batuan cadas tersebut.
"Blaaammmm...... blaammmm..!"
Benturan keras demi benturan keras berkumandang susul menyusul, namun batu raksasa itu masih tetap utuh seperti sedia kala.
Ditengah hembusan angin pukulan yang menderu-deru, lidah api yang sudah makin melemah tadi tiba-tiba menjadi padam sama sekali, seketika itu juga suasana berubah menjadi gelap gulita dan sukar untuk melihat kelima jari tangan sendiri.
Ditengah kegelapan semua orang merasakan napas mereka makin lama semakin bertambah susah dan berat, sementara kelopak matapun makin memberat bagaikan dibebani dengan beban yang besar sekali.
Liu Leng poo tahu bahwa batu raksasan itu selain kuat juga tebal sekali, tak ada gunanya dibacok dengan pedang, maka dia segera menghentikan perbuatannya dan berkata sambil menhembuskan napas panjang.
"Tampaknya kita benar-benar akan mati lemas ditempat ini."
Seru Liong hiang kun dengan napas terengah-engah.
"Apakah kau anggap semua kejadian ini hanya pura-pura saja?"
"Sekalipun kita bakal mati semua ditempat ini, namun Wi siauhiap tak bakal mati, aku pernah mendengar Ci kong taysu berkata kepada ayahku agar jangan memusuhi Wi siauhiap lagi, karena nasibnya dinilai sangat baik..."
Mendengar gadis itu menyinggung kembali soal Wi Tiong hong, tanpa terasa So Siau hui merasakan semangatnya berkobar kembali, segera tanyanya.
"Apakah kau maksudkan Ci Kong taysu, si pendeta asing tersebut..?"
"Yaa...benar! Dia datang dari Sea ih dan pandai sekali meramal, semua yang diramalkan rata-rata cocok sekali"
"Apalagi yang dikatakan oleh pendeta asing itu?"
"Ci kong taysu bilang, sepanjang hidupnya Wi siaihiap mempunyai rejeki yang tak terhingga dan nasib yang baik sekali, walaupun beberapa kali akan menjumpai ancaman mara bahaya, namun semuanya dapat dihindari dengan selamat, sekalipun orang lain hendak mencelakainya, hal ini sama sekali tak akan bermanfaat"
Ditengah suasana yang gawat dan kritis ternyata mereka masih dapat asyik membicarakan soal Wi Tiong hong.
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara gemerisikan lirih berkumandang darang dari bawah tanah.
Kakek Ou segera berseru.
"Cepat kalian dengarkan dengan seksama, suara apakah itu?"
Setelah diungkap oleh kakek itu, semua orang segera memasang telinga dan mendengarkan dengan seksama.
"Benar juga, dari bawah tanah berkerudung datang suara gemerisik lirih yang sangat aneh, suara itu berkumandang datang secara lamat-lamat, tapi selang berapa saat kemudian, suara itu makin lama kedengaran semakin nyaring, seakan-akan ada orang sedang merangkak mendekat dari balik tanah batu raksasa kedua. Liu Leng poo segera mengerahkan ketajaman matanya untuk mengamati dari mana datangnya suara tersebut, ternyata suara itu berasal dari dasar batu raksasa yang memisahkan mereka dengan rombongan kedua, hal ini membuatnya menjadi sangat keheranan.
"Tampaknya ada orang sedang menggali liang dibawah tanah dari balik batu raksasa itu!"
Belum selesai perkataan itu diutarakan, tampak tanah dan batuan dibawah batu raksasa itu makin lama semakin bertambah gembur dan akhirnya menumpuk keatas. Dengan perasaan girang diapun berseru.
"Benar-benar bodoh, mengapa diantara kita semua tak seorangpun yang dapat berpikir untuk menggunakan cara tersebut.."
Baca Juga: Tiga Naga Dari Angkasa 2
Baca Juga: Sepasang Rajah Naga 11