Eps 2 Tiga Naga Dari Angkasa - Kho Ping Hoo
Baca online Tiga Naga Dari Angkasa - Kho Ping Hoo
Cersil Tiga Naga Dari Angkasa - Kho Ping Hoo.
Siapakah yang takkan merasa bahagia dan girang kalau puterinya dipinang oleh seorang Tihu untuk dijodohkan dengan putera tunggalnya yang selain cakap dan tampan, juga memiliki kepandaian Bun dan Bu (kesusasteraan dan keperwiraan) yang tinggi?
Juga Beng Lian sendiri diam-diam merasa bahagia, karena memang semenjak pertemuannya dengan pemuda itu ketika mengerojok dan menangkap penjahat, bayangan pemuda yang gagah dan tampan itu jarang meninggalkan ruangan matanya!
Semenjak penangkapan penjahat itu, baik Yu Tek maupun Beng Lian mempergiat latihan mereka dari guru masing, bahkan kini Tiongsan Lokai mengajar Yu Tek dengan terang-terangan, menurunkan ilmu tongkat Tiongsan tung-hwat yang aneh.
Adapun Pek I Nikouw juga menurunkan ilmu pedang Lima Kembang Teratai atau Ngo-lian Kiam-hwat.
Setahun kemudian semenjak peristiwa penangkapan penjahat yang mengganggu kota An-kian, kepandaian kedua orang muda itu telah maju pesat.
Tiongsan Lokai lalu meninggalkan An-kian untuk melakukan perjalanannya merantau seperti biasa dengan berjanji bahwa dua tahun kemudian, apabila hendak dilangsungkan pernikahan antara muridnya dengan Beng Lian, ia akan datang menghadiri upacara pernikahan itu, Semenjak bertunangan, atas nasehat Pek I Nikouw, tidak jarang Yu Tek dan Beng Lian berlatih silat bersama untuk memperdalam ilmu silat mereka.
"Ilmu silat tidak saja membutuhkan pemikiran yang mendalam, akan tetapi juga latihan kaki, tangan, mata dan pendengaran hingga ilmu itu mendarah-daging, seakan-akan menjadi satu dan meresap dalam seluruh urat-urat ditubuh hingga dalam segala keadaan, kepandaian itu telah tersedia dan siap untuk digunakan sebagai penjaga keselamatan dari serangan lawan. Maka, apabila ilmu ini lama tidak dipergunakan, maka akan berkuranglah daja kegunaannya. Berlatih seorang diri dan berlatih menghadapi seorang lawan mempunyai perbedaan yang besar sekali, maka ada baiknya apabila kalian rajin berlatih, karena dengan demikian, selain kalian membuat gerakan kaki dan tangan menjadi lincah, juga kalian dapat menambah pengalaman dari serangan masing,"
Kata Nikouw tua ini.
Sebagai sepasang orang muda yang saling mencinta, tentu saja hal ini mendatangkan kegembiraan dan kebahagiaan.
Seringkali Yu Tek datang berkunjung ke Kwan-Im-Bio dimana mereka berdua berlatih dibawah pengawasan dan petunjuk Pek I Nikouw.
Juga kini Beng Lian tidak merasa malu lagi untuk datang kegedung Tihu dan berlatih bersama tunangannya di lian-bu-thia (ruang belajar silat) yang sengaja diadakan oleh Yap-Tihu untuk puteranya.
Pada suatu senja, ketika Beng Lian dan Yu Tek sedang berlatih silat di lian-bu-thia, yang letaknya dibelakang rumah dekat taman bunga, seperti biasa Yu Tek memainkan sebatang tongkat bambu dan Beng Lian menggunakan pedangnya.
Sukar diukur mana yang lebih tinggi kepandaiannya antara sepasang anak-muda ini karena pedang Beng Lian yang dimainkan dalam ilmu pedang Ngo-lian Kiam-hwat itu bergerak cepat hingga pedangnya sendiri lenyap tak kelihatan, yang nampak hanyalah gulungan sinar pedang yang mengeluarkan bunji bersiutan dan berwarna putih.
Sedangkan tongkat bambu yang berwarna hijau ditangan Yu Tek juga bergerak secara luar biasa sekali, menyambar-nyambar menjadi sinar hijau yang panjang dan tak terduga gerakannya.
Dulu, ketika mereka untuk pertama kali berlatih bersama, keduanya merasa terkejut dan bingung menghadapi senjata masing-masing hingga mereka bersilat dengan hati-hati dan tidak berani memainkan senjata secara sembarangan karena kuatir kalau-kalau senjata mereka melukai kekasihnya.
Akan tetapi, setelah seringkali mengadakan latihan bersama, mereka telah kenal ilmu silat masing dan berani memutar senjata lebih cepat, hingga kini kalau mereka berlatih, tubuh mereka keduanya lenyap dalam gulungan sinar senjata mereka yang seakan saling membelit dan menjadi satu!
Pada saat itu, tiba-tiba mereka mendengar suara wanita yang lantang dan nyaring.
seakan-akan seorang wanita sedang marah dan membentak-bentak seorang lain.
Yu Tek dan Beng Lian menjadi heran dan segera menunda latihan mereka.
Kini terdengar suara itu dari tempat mereka.
"...Sebagai seorang Tihu seharusnya kau melindungi rakyat dan mencegah tindakan para kepala kampung yang memeras rakyat jelata!,"
Suara wanita itu berkata lantang.
"Tidak tahukah kau betapa rakyat amat miskin dan sengsara? Apakah kau hendak mempertahankan kedudukanmu untuk mencekik leher mereka? Para petani yang lemah boleh menerima dengan keluh-kesah tak berdaya, akan tetapi kami takkan membiarkan saja para pembesar berlaku sewenang-wenang!"
Bukan-main terkejut hati Yu Tek dan Beng Lian mendengar ucapan yang keluar dari mulut seorang yang mereka tidak kenal suaranya, maka cepat mereka lalu melompat keluar dari lian-bu-thia dan berlari menuju keruang depan.
Mereka melihat beberapa orang penjaga telah rebah dalam keadaan tertotok tidak berdaya, sedangkan Yap-Tihu berdiri terpaku sambil memandang kepada tiga orang muda yang berdiri dihadapannya dengan mata terbelalak heran.
Yu Tek melihat bahwa tiga orang itu terdiri dari dua orang pemuda tampan dan gagah dan seorang gadis yang cantik jelita.
Gadis inilah yang sedang berdiri sambil menuding kearah muka ayahnya sambil membentak marah!
"Kalau kau tidak mencabut kembali peraturan pemungutan pajak yang mencekik leher petani itu, jangan menjesal kalau kami akan turun tangan memberi pengajaran kepadamu!"
Seorang diantara pemuda itu berkata sambil meraba-raba gagang pedangnya. Bukan main marah hati Yu Tek dan Beng Lian melihat sikap ketiga orang-muda itu.
"Orang-orang kurang ajar jangan menjual lagak disini!."
Teriaknya dengan kedua matanya berapi-api, sedangkan Beng Lian dengan pedang ditangan telah bersiap-sedia pula.
Ketiga orang-muda itu adalah Kui Eng, Bun Hong dan Beng Han.
Mereka segera memutar tubuh memandang karena menyangka bahwa yang membentak tentulah seorang penjaga pula, akan tetapi alangkah heran hati mereka ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang pemuda berpakaian seperti seorang pelajar dan seorang gadis berbaju putih yang berpotongan sederhana seperti pakaian pendeta!
"Eh, dua bocah janganlah kalian ikut mencampuri urusan orang besar!,"
Kata Kui Eng menyindir. Merahlah wajah Beng Lian mendengar ini.
"Kau wanila sombong, apakah kau kira hanya kau seorang yang memiliki kepandaian?."
Teriaknya dan ia maju menyerang dengan pedangnya!
Kui Eng tertawa nyaring dan mencabut pedangnya pula hingga sebentar saja dua orang dara ini saling serang dengan sengit Bun Hong dan Beng Han tercengang menyaksikan ilmu pedang gadis itu yang luar biasa dan tak boleh dipandang ringan, maka merekapun segera mencabut pedang masing karena dari luar telah mendatangi serombongan penjaga dengan golok atau pedang ditangan!
"Kalian mencari penyakit!,"
Bentak Yu Tek dan segera ia maju menyerang dengan tongkat bambunya kepada Bun Hong dan Beng Han.
Kembali kedua orang pemuda ini tertegun karena tak disangkanya bahwa pemuda yang berpakaian sebagai seorang pelajar ini ternyata memiliki ilmu tongkat yang demikian hebatnya.
Hampir saja pundak Bun Hong tertotok tongkat karena ketika Yu Tek menyerang tadi, tongkatnya menyambar dengan sabetan kearah pinggang mereka berdua.
Beng Han melompat dan mengelak akan tetapi Bun Hong mengangkat pedangnya untuk membacok tongkat bambu yang menyambar itu dan alangkah kagetnya ketika sebelum tongkat itu beradu dengan pedang, tiba-tiba tongkat itu membuat gerakan membalik dan langsung menotok jalan darah dipundaknya!
Baiknya Bun Hong memiliki kegesitan yang luar biasa, maka cepat sekali ia dapat mengelak sambil merendahkan tubuhnya, kemudian ia membalas dengan tusukan kilat yang dapat ditangkis dengan baiknya oleh Yu Tek!
Bun Hong merasa sangat kesal sekali dan ia merasa seakan ia dipandang rendah karena pemuda itu hanya menghadapinya dengan sebatang bambu kuning!
Ia tidak tahu bahwa senjata ini memang senjata teristimewa dari Yu Tek.
Mereka segera bertempur dengan seru diruangan itu.
Yap-Tihu beberapa kali mengangkat tangan mencegah dan berteriak.
"Tahan, tahan... jangan bertempur..."
Akan tetapi anak muda yang sudah "naik darah"
Itu mana mau mendengar cegahannya, Terutama sekali Bun Hong dan Kui Eng yang merasa amat masygul tak dapat segera menjatuhkan Yu Tek dan Beng Lian.
Sementara itu, rombongan penjaga yang terdiri dari belasan orang itu tadinya tidak berani turun tangan karena merasa takut-takut cemas melihat kelihayan ketiga orang muda.
yang tadi telah merobohkan beberapa orang penjaga dengan mudahnya, akan tetapi setelah melihat bahwa Yap Yu Tek dan Beng Lian turun tangan mereka menjadi tabah dan segera maju mengerojok.
Pertempuran hebat terjadi diruang depan gedung Tihu itu dan ketiga anak-muda itu terkurung di tengah.
Akan tetapi pedang mereka bergerak dan menyambar bagaikan tiga ekor naga mengamuk hingga para pengeroyoknya yang terdiri dari para penjaga itu tak berani mengepung terlalu dekat.
Kalau hanya menghadapi semua pengeroyok, Kui Eng.
Bun Hong dan Beng Han sama sekali tak merasa cemas, akan tetapi kedua anak muda yang menahan serbuan mereka itu benar gagah, sedangkan para penjaga kini makin banyak mendatangi dari luar hingga ruangan itu penuh dengan para pengeroyok, Kui Eng maklum bahwa untuk mencapai kemenangan ia harus menurunkan tangan kejam, maka ia merasa serba salah.
Gadis baju putih yang menghadapinya itu benar-benar tangguh dan agaknya takkan mudah baginya untuk mengalahkan gadis baju putih itu, karena selain harus menghadapi ilmu pedangnya yang cukup kesigapan, ia pun menghadapi keroyokan para penjaga yang menyerangnya dari belakang, kanan dan kiri.
"Perempuan sombong, menyerahlah saja sebelum kau terluka!,"
Kata Beng Lian dengan suara mengandung sindiran. Kui Eng menjadi marah.
"Pengecut! Kalau benar kalian gagah, marilah kita bertempur seorang lawan seorang, jangan main keroyokan!"
Beng Lian hanya tersenjum dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak dan tiga batang jarum yang mengeluarkan sinar putih menyambar kearah kedua lengan Kui Eng dan serangan senjata rahasia yang ajaib ini disusul dengan tusukan pedangnya kearah leher lawan dengan gerak tipu Dewi Petik Kembang Teratai!
Kui Eng benar terkejut melihat sambaran jarum itu dan ia tak mungkin lagi untuk menangkis dengan pedangnya oleh karena jarum itu dengan cepatnya menyambar kearah kedua lengannya.
Maka sambil berseru keras ia mengajunkan tubuhnya keatas dengan gerakan cepat laksana burung walet, lalu berjungkir-balik beberapa kali diudara sebelum tubuhnya melayang turun kembali dan mengirim serangan hebat kepada Beng Lian!
Bukan main kagum hati Beng Lian melihat gerakan ini dan ia maklum bahwa dalam hal ilmu ginkang, ia kalah terhadap gadis cantik itu.
Akan tetapi, dengan hati tetap tabah ia menghadapi Kui Eng dan kembali bertempur seru.
Sementara itu, Bun Hong juga bertempur dengan ramai sekali melawan Yu Tek, hingga Beng Han segera maju membantu karena selain Yu Tek yang tinggi ilmu silatnya, juga terdapat beberapa orang penjaga yang cukup pandai.
Bun Hong dan Beng Han segera dikepung dan dikeroyok oleh belasan orang penjaga yang membantu Yu Tek.
Adanya dua orang anak muda yang muncul dengan tiba-tiba itu menggagalkan rencana ketiga penyerang itu, karena mereka tak pernah menyangka bahwa dirumah Tihu itu terdapat dua orang anak muda yang demikian tinggi kepandaiannya.
Beng Han berpikir bahwa kalau pertempuran dilanjutkan, tentu mereka terpaksa harus menjatuhkan banyak kurban, maka ia lalu berseru keras kepada Bun Hong dan Kui Eng.
"Sute, sumoi! Mari kita pergi dulu, jangan sembarangan melukai orang!"
Biarpun hati mereka merasa belum puas dan marah, namun Bun Hong dan Kui Eng tak dapat menyangkal keputusan suheng mereka ini, karena merekapun maklum akan kehebatan keroyokan ini.
Mereka lalu memutar senjata mereka dengan cepat dan beberapa batang golok para penjaga terpental dan terlepas dari pegangan, kemudian mereka mempergunakan kesempatan ini untuk melompat keluar dari ruangan itu.
"Orang sombong hendak lari kemana?,"
Teriak Beng Lian sambil melompat mengejar, diikuti oleh Yu Tek. Kui Eng marah sekali dan menunda larinya.
"Pengecut yang hanya berani mengerojok beramai-ramai!!"
Ia memaki. ."..Siapa yang takut pada kau?,"
Beng Lian balas membentak.
"Kalau kau belum puas dengan kekalahan ini, datanglah dikelenteng Kwan-Im-Bio, aku akan menanti disana dan kita boleh bertempur sampai seribu jurus!"
"Bagus!,"
Jawab Kui Eng.
"Besok pagi aku datang kesana untuk memaksa kau berlutut minta ampun padaku!"
Kemudian ia melompat keatas genteng menjusul kedua suhengnya.
"Ah, sumoi, mengapa kau mencari perkara?"
Beng Han menegurnya setelah mereka keluar dari kota itu dan masuk kedalam sebuah Bio tua yang kosong karena setelah membuat kekacauan digedung Tihu, mereka tidak berani bermalam disebuah hotel.
"Dia sombong sekali!,"
Jawab Kui Eng menggerutu.
"Sebetulnya bukan gadis itu yang sombong, adalah kita yang terlalu memandang rendah. Tak kusangka bahwa gadis itu demikian tinggi ilmu silatnya, juga pemuda bersenjata bambu itu juga sangat hebat!,"
Kata Bun Hong sejujurnya.
"Kau sudah menerima tantangannya, sumoi, tak dapat tiada kita akan menghadapi lawan tangguh! Baru saja turun gunung kita sudah menanam bibit permusuhan dengan orang gagah."
"Twa-suheng dan ji-suheng kalau kiranya merasa takut menghadapi gadis baju putih itu, biarlah aku sendiri yang akan datang kesana memenuhi tantangannya!,"
Kata Kui Eng sambil merengut hingga kedua suhengnya lalu saling pandang dan tertawa.
"Sumoi, mengapa kau berkata demikian?,"
Seru Beng Han sambil tersenyum.
"Kau cukup mengerti bahwa aku bersedia membelamu dengan seluruh jiwaku."
"Memang kau tidak adil, sumoi,"
Kata Bun Hong sambil memandang tajam, akupun takkan membiarkan kau menghadapi lawan seorang diri!"
Kui Eng memandang kepada kedua orang kakak seperguruannya itu berganti-ganti dan tiba-tiba saja wajah gadis itu memerah dan sambil menujukan pandangan matanya kebawah, ia bertanya dengan suara perlahan.
"Kalian baik sekali kepadaku dan bahkan bersedia membelaku dengan taruhan nyawa, mengapakah?"
Melihat sikap Kui Eng dan mendengar pertanyaan ini, kedua pemuda itu tertegun, saling pandang dan untuk sejenak mereka tak dapat menyawab.
Kemudian mereka tiba-tiba menginsyafi akan arti keadaan mereka bertiga itu dan tak terasa lagi wajah keduanyapun menjadi merah!
Baru saat itulah terpikir oleh mereka apa yang sebenarnya terkandung dalam hati sanubari masing.
Tanpa disadarinya, baik Bun Hong maupun Beng Han mengandung perasaan cinta kasih yang besar terhadap Kui Eng, bukan cinta kasih yang terasa oleh hati sanubari seorang kakak terhadap seorang adiknya, akan tetapi perasaan cinta kasih seorang pria terhadap seorang wanita!
Kesadaran dan keinsyafan inilah yang membuat Bun Hong membungkam dan hanya memandang kepada Kui Eng dengan mata tajam, sedangkan Beng Han yang lebih kuat imannya dan yang dapat menetapkan gelora hatinya, segera mengeluarkan ucapan untuk melenyapkan suasana yang menekan perasaan mereka itu.
"Ah, sumoi, kita adalah saudara seperguruan, kalau kita tidak saling membela, habis siapa yang akan membela kita? Kalau misalnya kau melihat aku atau sute berkelahi dengan orang lain, apakah kau juga tidak akan segera membantu tanpa dipinta lagi?"
Kui Eng dan Bun Hong merasa lega mendengar ucapan ini yang sekaligus mengusir pergi rasa malu yang tadi menekan hati mereka.
Kini barulah mereka berani mengangkat muka dan saling pandang tanpa merasa ragu-ragu dan malu.
"Betapapun juga, kita tidak mempunyai sesuatu permusuhan dengan gadis baju putih itu,"
Kata Bun Hong, maka kalau kita besok pergi ke Kuil Kwan-Im-Bio, kita harus mendasarkan kedatangan kita untuk berpibu (mengadu kepandaian) belaka."
"Yang kuherankan ialah mengapa kedua orang itu mati-matian membela Yap-Tihu? Mereka berdua agaknya juga orang-orang gagah, maka kalau Tihu itu jahat, tak mungkin ia dibela oleh dua orang muda yang demikian pandainya,"
Kata Beng Han.
"Siapa tahu kalau pemuda itu adalah putera Tihu sendiri. Kulihat wajahnya hampir sama dengan wajah Yap-Tihu,"
Kata Kui Eng.
"Hal ini harus kita selidiki. Besok setelah kita mengunjungi Kwan-Im-Bio, lebih baik kita menjumpai Tihu itu lagi dan mencari penjelasan secara baik. Kalau memang ia seorang jahat yang tidak mau menginsyafi kekeliruannya dan hendak menggunakan kekerasan, baru kita turun tangan dan jangan memberi ia ampun lagi,"
Kata Beng Han pula mengutarakan pikirannya yang disetujui pula oleh kedua adik-seperguruannya.
Sementara itu, setelah ketiga orang penyerang muda itu lari pergi, Yap-Tihu lalu mengadakan perundingan dengan Yu Tek dan Beng Lian.
"Aku merasa heran sekali siapakah mereka bertiga itu,"
Kata Yap Tihu sambil menggelengkan kepalanya, terang bahwa mereka itu bukan datang dengan maksud merampok atau maksud buruk dan sebagainya."
"Ayah, mungkin mereka itu adalah anak atau kawan orang jahat yang merasa sakit hati kepada ayah dan hendak membalas dendam,"
Kata Yu Tek.
"Entahlah, akan tetapi sikap mereka tidak seperti orang jahat, bahkan menurut pendapatku, mereka itu adalah pendekar-pendekar muda yang membela rakyat, karena ketika gadis itu mengeluarkan kata-kata, ia menegurku yang dituduh memeras rakyat dengan pajak yang berat!"
"Betapapun juga, mereka itu telah berlaku keliru dan bertindak terlampau sembrono seolah-olah membanggakan ilmu kepandaian mereka, menghina kita tanpa menyelidiki lebih dulu. Ayah adalah seorang pejabat yang jujur dan memegang teguh peraturan serta menjalankan tugas dengan baik, sedikitpun tak pernah memeras rakyat. Mengapa mereka berani berlancang mulut dan menuduh yang bukan-bukan?,"
Kata Yu Tek dengan gusarnya.
"Juga mereka amat sombong, seakan-akan hanya mereka yang memiliki kepandaian, sungguh merendahkan orang An-kian. Karena itu aku menantang mereka untuk datang mengadu kepandaian besok pagi dikelenteng,"
Kata Beng Lian.
"Kalau benar? kita sampai kalah, biarlah subo yang turun tangan memberi pelajaran kepada mereka."
"Hal ini harus kita beritahukan kepada gurumu, moi-moi."
Kata Yu Tek kepada tunangannya "Agar kita jangan sampai salah tangan dan bermusuhan dengan pendekar-pendekar kang-ouw."
Demikianlah, mereka lalu mengadakan perundingan dan malam hari itu juga, Yu Tek ikut pergi bersama tunangannya kekelenteng Kwan-Im-Bio dan menceritakan segala peristiwa tadi kepada Pek I Nikouw.
Nikouw tua ini menarik napas panyang dan berkata kepada Yu Tek.
"Telah kuatir hati pinni semenyak dulu bahwa sewaktu-waktu pasti akan terjadi hal ini. Hanya kita yang mempunyai hubungan dekat dengan ayahmu mengetahui bahwa ayahmu adalah seorang pembesar yang jujur dan baik, akan tetapi orang luar belum tentu akan menganggapnya demikian, oleh karena ayahmu menguasai seluruh dusun diwilayah ini dan ayahmulah yang memberi perintah langsung kepada semua kepala kampung. Pada hal, kita semua tahu bahwa perintah yang disampaikan oleh ayahmu tentang pemungutan pajak tani itu, yang datangnya dari kotaraja, adalah peraturan yang tidak adil dan mencekik leher para petani. Tentu saja orang-orang gagah akan menyangka bahwa ayahmulah yang bersalah dalam hal ini."
"Akan tetapi, Suthai, orang yang disebut pendekar harus melakukan sesuatu dengan teliti dan diselidiki dengan seksama terlebih dulu sebelum bertindak. Tidak seperti mereka itu yang bertindak secara sembrono sekali,"
Kata Yu Tek dengan jengkel.
"Kalian berdua tadi menceritakan bahwa mereka adalah orang yang masih muda sekali, sebaya dengan kalian, mana mereka itu dapat berlaku sabar dan teliti? Orang-orang muda selalu terdorong oleh darah panas. Biarlah, kalau besok mereka datang kesini, pinni yang akan menyambut mereka dan membereskan kesalah-fahaman ini."
"Akan tetapi, sebelum itu, biarkanlah teecu mencoba kepandaian mereka dulu,"
Kata Beng Lian. Pek I Nikouw tersenyum mendengar kata-kata muridnya ini.
"Apa kataku? Anak muda selalu terpengaruh oleh darah panas!"
Ketika Siok Thian Nikouw, ibu Beng Lian, mendengar penuturan anaknya tentang peristiwa itu, hatinya menjadi gelisah dan ia lalu berkata.
"Beng Lian, jangan kau berlaku angkuh karena kepandaianmu. Kau harus menurut kata-kata gurumu dan menyerahkan hal ini kepada gurumu yang bijaksana."
Semua Nikouw didalam Kuil Kwan-Im-Bio telah mendengar tentang peristiwa itu dan ramailah mereka membicarakan hal itu serta merasa tertarik ketika mendengar bahwa besok pagi datang tiga orang gagah untuk mengadu ilmu silat dengan Beng Lian dan Yu Tek dikelenteng.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Yu Tek telah datang diKuil Kwan-Im-Bio bersama ayahnya.
Yap-Tihu juga ingin sekali bertemu dengan para penyerbu itu untuk mengadakan pembicaraan secara mendalam dan kalau perlu mengadakan perundingan untuk menghindarkan salah-faham.
Setelah hari sudah menjadi terang, datanglah tiga orang muda yang ditunggu-tunggu itu.
Kui Eng dengan langkah lebar dan gagah berjalan didepan.
Dengan pakaiannya yang berwarna hijau, gadis ini nampak cantik dan gagah hingga menimbulkan kekaguman pada para Nikouw yang berdiri dikanan-kiri jalan masuk kelenteng itu.
Sementara itu, ketika melihat banyak Nikouw berdiri memenuhi halaman Kuil dan semua Nikouw itu memandang kearah mereka, Kui Eng, Bun Hong dan Beng Han merasa agak malu juga, karena para pendeta wanita itu mengingatkan mereka bahwa mereka berada ditempat suci.
Bahkan Beng Han mulai merasa tidak enak karena tak mungkin orang yang hendak menjadi lawan itu adalah seorang jahat.
Mungkinkah seorang jahat dapat tinggal ditempat yang suci itu?
Maka ia lalu berbisik kepada Kui Eng.
"Sumoi, harap kau suka menahan kesabaranmu, tak baik berlaku kurang pantas kepada orang didalam tempat suci ini."
Kui Eng mengangguk dan mereka dengan langkah tetap memasuki ruang depan kelenteng itu, Beng Lian dengan pakaiannya warna putih yang amat sederhana berdiri disitu disebelah Yu Tek.
Kedua anak muda ini lalu menjura menyambut datangnya Kui Eng dan kawan-kawannya, kemudian Beng Lian berkata kepada Kui Eng.
"...Sahabat yang gagah ternyata memenuhi janji. Marilah kita menuju ke lian-bu-thia dimana kita boleh bermain-main tanpa kuatir dikeroyok!"
Didalam kata-kata ini terkandung tantangan hingga tanpa banyak cakap Kui Eng mengangguk dan mengikuti Beng Lian dan Yu Tek menuju ke lian-bu-thia yang berada diruang sebelah kanan.
Ruang tempat bermain silat ini luas dan ketika mereka masuk ketempat itu, ternyata disitu telah menanti Yap-Tihu, Pek I Nikouw dan Siok Thian Nikouw yang duduk disudut dengan diam karena memang mereka telah memberi perkenan kepada Beng Lian dan Yu Tek untuk mengadakan penyambutan terlebih dahulu dan menguji ilmu kepandaian para tamunya.
Ketiga orang muda itu merasa terkejut melihat Yap-Tihu berada disitu pula, akan tetapi oleh karena Tihu itupun hanya duduk diam saja, mereka juga tidak mau menegurnya.
"Nah, ditempat ini kita bisa main seorang demi seorang, mencoba ilmu kepandaian,"
Kata Beng Lian sambil tersenyum kepada para tamunya.
"Silahkan seorang diantara Samwi Enghiong maju untuk main sebentar!"
Kui Eng segera melangkah maju dan menyawab.
"Biarlah aku yang bodoh memperlihatkan kebodohanku,"
Bun Hong dan Beng Han segera mengundurkan diri dan berdiri dengan kaki terbentang disudut lian-bu-thia itu.
"Kalau kau yang maju, biarlah aku yang melajanimu,"
Jawab Beng Lian dengan masih tersenyum.
Kedua orang gadis ini mencabut pedang mereka dengan berbareng.
Sementara itu, Siok Thian Nikouw ketika melihat Beng Han, tiba-tiba merasa dadanya berdebar keras.
Wajah pemuda itu, dan tahi lalat ditengah jidatnya mengingatkan ia kepada puteranya yang dulu binasa didalam kekacauan ketika terjadi pemberontakan.
Alangkah sama wajah pemuda itu dengan puteranya.
Hampir saja Nikouw ini membuka mulut untuk bertanya, akan tetapi oleh karena pada saat itu puterinya telah mencabut pedang dan berhadapan dengan gadis gagah berbaju hijau yang memegang pedang pula, terpaksa ia mengalihkan pandangan mata dan perhatiannya kepada Beng Lian dengan hati cemas.
"Nah, silahkan, sahabat yang manis,"
Kata Beng Lian dengan tabah.
Kini setelah bertemu dengan gadis baju putih itu disiang hari, kemarahan Kui Eng malam kemarin banyak berkurang.
Ia melihat betapa wajah gadis baju putih itu amat manis dan sikapnya lemah-lembut, hingga menimbulkan rasa suka dihatinya.
Sebaliknya, melihat kecantikan Kui Eng, Beng Lian juga merasa kagum dan suka, hingga ketika mereka berhadapan, mereka mendapat perasaan seakan sedang menghadapi seorang kawan yang hendak mengajak berlatih silat!
Kui Eng lalu berseru.
"Lihat pedang!"
Dan ia mulai menyerang dengan gerakan indah dan kuat.
Beng Lian menangkis dengan baik dan balas menyerang.
Oleh karena kedua orang gadis ini ternyata memiliki kelincahan yang seimbang, maka gerakan mereka yang cepat segera membuat tubuh mereka lenyap terbungkus gerakan pedang masing-masing!
Para Nikouw, terutama sekali Siok Thian Nikouw, menjadi cemas melihat pertempuran hebat ini, akan tetapi, Pek I Nikouw, Yu Tek dan kedua orang suheng Kui Eng menonton dengan wajah tenang saja, bahkan Pek I Nikouw nampak tersenyum karena mereka ini dapat melihat betapa kedua orang dara yang sedang bertempur itu dengan mengherankan sekali telah saling mengalah dan tidak menyerang dengan sungguh-sungguh!
Benar mereka itu seperti sedang berlatih saja!
Kui Eng maklum bahwa kalau pertempuran ini dilakukan sungguh, ia tak usah merasa kuatir karena ia masih menang dalam hal ginkang dan gerakan pedangnya lebih ganas.
Akan tetapi, oleh karena malam tadi ia melihat betapa gesitnya gadis baju putih itu menggunakan jarum-jarum halus sebagai senjata rahasia, kalau lawannya ini mempergunakan jarum-jarumnya, ia harus berlaku hati-hati sekali.
Kini melihat lawannya sama sekali tidak mau mempergunakan jarumnya, iapun tahu bahwa gadis itu tidak bermaksud buruk, maka ia sendiripun tidak terlalu mendesak, sungguhpun kalau ia mau, mungkin lawannya sudah dapat didesaknya dengan ilmu pedangnya.
Beng Lian juga maklum pula akan hal ini, maka setelah bertempur hampir seratus jurus, ia lalu melompat kebelakang sambil berseru.
"Sahabat yang cantik, kepandaianmu benar lain dari yang lain! Aku Gan Beng Lian mengaku kalah!"
Tiba-tiba Beng Han menahan seruannya dan memandang kepada Beng Lian dengan wajah pucat. Tak terasa lagi ia melompat kedepan gadis baju putih itu dan berkata sambil memandang tajam.
"Coba kau sebutkan namamu lagi!"
"Aku adalah Gan Beng Lian dan... kau mengingatkan daku akan wajah seorang yang pernah kukenal."
Beng Lian balas memandang dengan tajam dan mengingat-ingat.
"Beng Lian, kalau tidak keliru dia itu kakakmu sendiri!"
Tiba-tiba terdengar suara wanita berseru dan Beng Han menengok.
Ketika ia bertemu pandang dengan Siok Thian Nikouw, tiba-tiba seluruh tubuhnya menggigil.
Ia kenal baik wajah Nikouw yang gundul ini!
Selagi ia memandang dengan ragu, Nikouw itu berkata dengan halus.
"Bukankah kau anakku Beng Han...?"
Bukan-main terkejut hati Beng Han.
Lenyap segala keraguan hatinya, sedangkan Beng Lian melangkah mundur dua tindak sambil memandangnya dengan mata terbelalak.
Ketika mereka berpisah, Beng Lian baru berusia empat tahun, akan tetapi oleh karena ibunya seringkali membicarakan tentang kakaknya ini, ia masih ingat dengan baik.
Melihat pemuda itu memandang kepada ibunya dengan airmata menitik-nitik laksana permata terlepas dari untaiannya.
Beng Lian lalu menjerit.
"Kau benar-benar Beng Han kakakku...!,"
Lalu ditubruknya pemuda itu dan dipeluknya sambil menangis.
Beng Han balas memeluk adiknya dan keduanya lalu berjalan kearah Siok Thian Nikouw yang telah berdiri dan yang kini bertindak perlahan menghampiri Beng Han dengan airmata bercucuran dan kedua lengan dibuka kedepan.
"Beng Han... anakku... kau masih hidup...?!"
"Ibu...!"
Beng Han menjatuhkan diri berlutut didepan ibunya.
Siok Thian Nikouw mendekap kepala puteranya dan kedua orang anak dan ibu itu berpeluk-pelukan sambil menangis karena terharu dan girang!
Pertemuan yang tak disangka-sangka.
Melihat hal itu, tak terasa pula Kui Eng ikut mengucurkan air matanya, teringat akan keluarganya sendiri, teringat pula akan ibunya yang dilarikan penjahat dan ayahnya yang terbunuh mati.
Juga Bun Hong berdiri bagaikan patung, memandang kearah ketiga orang yang sedang saling rangkul itu dengan bingung karena iapun teringat akan kedua orang-tuanya yang telah tewas oleh kaum pemberontak.
Setelah keharuan hati mereka agak reda, Siok Thian Nikouw lalu berkata kepada puteranya.
"Beng Han, mengapa kau datang memusuhi adikmu sendiri dan siapakah kedua orang kawanmu itu?"
"Ibu, mereka adalah adik seperguruanku, Bun Hong dan Kui Eng."
Beng Han memperkenalkan dan kedua orang muda itu lalu menjura sebagai pemberian hormat kepada Nikouw itu, sedangkan Beng Lian lalu memegang tangan Kui Eng dan berkata.
"Aih, pantas saja kau lincah sekali, cici! Aku sungguh merasa girang berkenalan dengan kau yang cantik jelita dan gagah ini."
Kui Eng tersenyum dan berkata.
"Kaupun pandai sekali dan manis, adik Beng Lian. Kalau saja kuketahui bahwa kau adalah adik perempuan suhengku, tentu aku tak berani berlaku kurang ajar. Maafkan saja kekasaranku terhadapmu."
Beng Lian lalu memperkenalkan subonya kepada ketiga anak muda itu.
"Ini adalah guruku, Pek I Nikouw, ketua dari Kwan-Im-Bio ini."
Terkejutlah Kui Eng ketika ia memandang kepada Pek I Nikouw yang duduk sambil tersenyum sabar.
Kalau Beng Lian memiliki ilmu pedang yang sudah hebat itu, apalagi gurunya!
Untung bahwa pertempuran itu tidak menjadi permusuhan hebat, kalau demikian halnya, tentu ia dan kedua suhengnya akan menghadapi musuh yang luar biasa tangguhnya.
Kui Eng, Bun Hong dan Beng Han lalu menjura kepada Pek I Nikouw dan Beng Han berkata.
"Suthai yang mulia, maafkan teecu bertiga yang telah berlaku kurang ajar ditempat Suthai yang suci ini."
Pek I Nikouw tersenyum dan berkata.
"Anak-anak muda yang gagah! Sungguh benar sebutan bahwa Thian itu adil dan murah hati, karena pinni memang telah menyangka bahwa kalian tentulah orang gagah pembela rakyat. Tidak tahunya seorang diantara kalian bahkan masih kakak muridku sendiri.!"
Siok Thian Nikouw lalu berkata kepada Beng Han.
"Anakku, biarpun aku merasa girang dan mengucap syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa, akan tetapi terus terang saja aku merasa tidak puas melihat sepak terjangmu kali ini. Kau dan kedua saudara seperguruanmu ternyata terlampau menurutkan hati yang terburu nafsu dengan memusuhi Yap-Tihu. Tahukah kau siapa adanya pemuda ini? Dia adalah Yap Yu Tek, putera Yap-Tihu dan dia ini adalah calon iparmu atau tunangan adikmu Beng Lian! Dan Yap-Tihu adalah seorang pembesar yang budiman dan bijaksana serta adil."
Beng Han dan dua orang kawannya benar-benar tercengang.
Beng Han merasa girang sekali mendengar bahwa adiknya telah bertunangan dengan seorang pemuda tampan yang telah ia kenal kelihaiannya itu maka ketika Yu Tek menjura dan memberi hormat kepadanya, ia lalu membalas penghormatan itu dan berkata.
"Ah, saudaraku yang baik, harap kau yang banyak memaafkan aku yang ceroboh!"
"...Sebaliknya, twako,"
Kata Yu Tek sambil tersenyum.
"Aku merasa kagum sekali melihat kau dan kedua kawanmu ini."
Kemudian Kui Eng yang merasa penasaran mendengar bahwa Tihu itu disebut seorang pembesar yang bijaksana, tak tahan pula untuk tidak bertanya.
"Kalau memang betul Yap-Tihu adil dan bijaksana, mengapa ia mengadakan peraturan pemungutan pajak yang mencekik leher rakyat tani?"
Sambil berkata demikian, ia lalu memandang kearah Tihu itu yang berdiri dan tersenyum sedih.
"Samwi Enghiong,"
Kata Yap-Tihu dengan suara halus.
"Memang, dipandang sepintas lalu, aku tak lain adalah seorang pembesar yang berlaku sewenang-wenang. Ini sudah menjadi nasib burukku yang bekerja pada pemerintah yang kurang memperhatikan keadaan rakyatnya."
Ia lalu duduk kembali dengan wajah berduka.
"Anak muda, dengarlah pinni memberi penjelasan. Yap-Tihu adalah seorang pejabat yang setia dan memegang peraturan dengan keras. Hal ini tidak boleh disalahkan, bahkan patut dipuji oleh karena memang seharusnya demikianlah sikap seorang pembesar yang bijaksana. Peraturan yang ia perintahkan kepada semua kepala kampung adalah peraturan yang datangnya dari kotaraja, dan sebagai seorang pejabat, tentu saja Yap-Tihu tidak berani menentangnya. Adapun dia sendiri, pinni yang cukup tahu bahwa dia adalah seorang pembesar yang adil dan bijaksana. Peraturan yang amat menekan rakyat petani bukanlah peraturan yang dibuat oleh Yap-Tihu sendiri dan dia hanyalah seorang pelaksana yang setia pada tugasnya. Hal ini harus kalian mengerti baik-baik."
Mendengar ini, insyaflah ketiga orang muda itu, maka mereka lalu menjura kepada Tihu itu dan Beng Han mewakili kawan-kawannya berkata.
"Ah, kalau demikian halnya, Taijin, mohon maaf sebanyak-banyaknya karena kami bertiga orang muda yang bodoh dan ceroboh telah mendatangkan kegoncangan dan berlaku kurang ajar kepada Taijin."
"Tidak apa, tidak apa! Bahkan aku merasa malu sekali karena ternyata bahwa kalian orang muda mempunyai semangat dan peribudi yang lebih tinggi daripada aku. Percajalah bahwa besok hari aku akan mengajukan permohonan berhenti dari pekerjaanku."
Pek I Nikouw terkejut mendengar ini dan buru berkata.
"Yap-Taijin, janganlah kau berkata demikian! Ingatlah bahwa kalau orang lain yang menjadi pembesar dikota ini, tentu keadaan rakyat bahkan makin tertindas, karena selain menjalankan peraturan yang datang dari kotaraja, pembesar itu tentu akan melakukan penindasan lain yang timbul dari nafsu ingin menimbun harta untuk kepentingannya sendiri. Kasihanilah rakyat di An-kian dan daerahnya."
Yap-Tihu menghela napas panyang dan berkata.
"Ah, Suthai, memang hal itulah yang membuat aku sehingga sekarang masih menguatkan hati untuk memegang jabatan ini. Izinkanlah aku pulang dulu karena hal ini benar mendukakan hatiku dan membingungkan pikiranku."
Yap-Tihu lalu menjura kepada semua orang dan berjalan pulang, diikuti oleh Yu Tek yang juga merasa berduka melihat keadaan ayahnya.
Sekarang terbukalah mata Kui Eng, Bun Hong, dan Beng Han dan diam-diam mereka merasa menyesal telah salah tangan menuduh seorang yang bijaksana sebagai seorang jahat.
Kegemasan mereka kini beralih ke kotaraja dan diam mereka mengambil keputusan untuk sewaktu-waktu pergi ke kotaraja melihat keadaan dan menyaksikan keburukan mereka yang menjadi pembesar-pembesar tinggi.
"Anak muda, sebenarnya siapakah guru kalian? Permainan pedang nona ini mengingatkan pinni kepada seorang kenalanku, Lui Sian Lojin,"
Kata Pek I Nikouw.
"Memang teecu adalah murid Lui Sian Lojin!."
Kata Kui Eng dengan girang.
"Omitohud! Syukurlah, Syukurlah! Suhunya lihai tentu murid-muridnya gagah pula!"
Demikianlah, ketiga anak muda itu bermalam didalam kelenteng karena Siok Thian Nikouw memaksa puteranya untuk bermalam disitu agar dapat mereka melepas rindu dan bercakap-cakap.
Kalau bukan putera Siok Thian Nikouw dan murid Lui Sian Lojin, tak mungkin seorang pria diperbolehkan bermalam disitu, akan tetapi sekarang Pek I Nikouw membuat pengecualian dan ia menyuruh seorang Nikouw mempersiapkan sebuah kamar untuk Beng Han dan Bun Hong, sedangkan Kui Eng mendapat kamar bersama Beng Lian yang telah menjadi kawan baiknya.
Malam hari itu, Beng Han berada diruang belakang.
bercakap-cakap dengan ibunya, menuturkan semua pengalamannya hingga ibunya merasa girang sekali.
"Anakku, tadinya aku telah menganggap bahwa kau juga menjadi korban keganasan para pemberontak liar itu. Syukurlah bahwa Tuhan masih melindungimu dan dapat mempertemukan kita kembali. Bagiku kau seakan-akan seorang anak yang baru bangkit kembali dari kuburan...,"
Ia menjusut air matanya.
"Beng Han, karena tadinya menyangka bahwa kau telah tewas, maka aku pertunangkan adikmu dengan putera. Yap-Tihu."
Beng Han tersenyum girang.
"Aku girang sekali melihat hal ini, ibu, karena menurut pendapatku, Yu Tek adalah seorang pemuda yang cukup baik dan pantas menjadi suami adikku."
"Akan tetapi, Beng Han, menurut kebiasaan dan adat kita, seorang saudara muda tidak boleh dikawinkan sebelum kakaknya menikah. Kau sekarang telah berusia hampir sembilan belas tahun, dan semenyak aku masuk menjadi Nikouw, tidak ada kebahagiaan lain yang kuharapkan selain melihat kau dan adikmu hidup bahagia dan mendapat jodoh yang cocok. Kau senangkanlah hati ibumu, anakku, dan janganlah adikmu itu menanti terlalu lama. Kau harus menikah dulu sebelum ia menjadi isteri Yu Tek."
Merahlah wajah Beng Han mendengar ucapan ibunya ini.
"Aku masih belum mempunyai pikiran tentang hal itu sama sekali, ibu,"
Jawabnya sambil menundukkan kepalanya.
"Beng Han, kulihat sumoimu Kui Eng itu adalah seorang gadis yang cantik dan berilmu tinggi. Menurut pandanganku. dia memiliki wajah yang menunjukkan keluhuran budi dan kesucian jiwa. Kalau saja kau suka... dan kalau saja ada harapan, aku akan merasa girang sekali mempunyai menantu seperti dia..."
Bukan main malunya Beng Han mendengar ini.
Memang ia amat mencintai gadis yang menjadi sumoinya itu dan akan berbahagialah hidupnya kalau ia dapat memperisteri gadis yang menjadi kenangannya itu.
Ia telah bergaul dengan Kui Eng semenjak mereka masih kanak, telah tahu betul isi hati dan perangai Kui Eng.
Akan tetapi ia merasa ragu-ragu apakah gadis itu akan suka menjadi isterinya.
"...Dia memang seorang yang berbudi mulia dan bersemangat gagah, ibu,"
Hanya demikian jawabnya.
"Dan kau suka padanya, bukan?"
Beng Han tidak menyawab, hanya menundukkan kepalanya.
"Jawablah, anakku, kau mencintai gadis yang menjadi sumoimu itu, bukan?"
"Bagaimana aku berani menyatakan cintaku kepadanya kalau aku belum mengetahui perasaan hatinya, ibu?"
"Ah, kalau begitu kau mencintai dia! Bagus, anakku, aku akan menjuruh adikmu untuk bertanya hal ini kepadanya."
"Jangan, ibu!,"
Kata Beng Han dengan ragu-ragu karena ia kuatir sekali kalau?
Kui Eng akan menolaknya.
Betapa akan malunya kalau sumoinya itu menolaknya!
"Beng Han, daripada menyimpan rahasia hati dan menanggung rindu seorang diri yang berarti menyiksa batin sendiri pula, lebih baik berterus-terang.
Berlakulah sebagai seorang laki-laki yang jentelmen dan bersedialah untuk menerima pukulan yang bagaimanapun hebatnya!
Aku tahu bahwa kau kuatir kalau pinanganmu ditolaknya, bukan?
Akan tetapi, kurasa sumoimu takkan menolaknya.
Lagi pula, andaikata dia menolak, lebih baik bagimu untuk mengetahui bahwa harapan dan kandungan hatimu itu tak mendapat balasan dan dengan pengetahuan ini kau takkan menderita karena mengharapkan hal yang tak mungkin terjadi!
Lebih baik kau mendengar penolakannya hingga kau dapat melenyapkan kerinduan hatimu daripada kau menyimpannya saja menjadi semacam penyakit didalam hatimu!"
Setelah berdiam untuk beberapa saat, akhirnia Beng Han berkata.
"Memang benar, ibu. Aku menyajangi dan mencintai sumoi semenyak kami masih kecil. Ketika aku pertama kali bertemu dengan suhu dan kami dibawa kepuncak gunung, kuanggap sumoi sebagai pengganti adikku. Akan tetapi, setelah kami menjadi dewasa, aku... aku mempunyai perasaan lain, aku... mencintainya, bu."
"Baiklah, Han-ji, besok akan kubicarakan hal ini dengan dia agar hatiku menjadi puas dan tenteram."
Ucapan Siok Thian Nikouw ini membuat muka Beng Han menjadi kemerah-merahan dan ia girang sekali, akan tetapi membuat muka orang lain yang berdiri mendengarkan percakapan itu dengan diam menjadi pucat sekali dan hatinya berduka.
Orang itu adalah Bun Hong yang keluar dari kamar hendak mencari Beng Han dan tidak sengaja ikut mendengar pengakuan Beng Han akan cintanya kepada Kui Eng dan janji ibu kawannya itu untuk meminang Kui Eng.
Selain rasa duka yang memenuhi hatinya, iapun merasa penasaran dan marah.
Ia menaruh hati cinta terhadap sumoinya itu yang timbul semenyak mereka menjadi dewasa, dan kini mendengar pengakuan suhengnya akan cintanya terhadap Kui Eng dan mendengar bahwa suhengnya itu hendak dijodohkan dengan Kui Eng, ia merasa betapa hatinya menjadi perih dan hancur.
Dengan tindakan kaki lemas Bun Hong kembali kekamarnya.
Ia segera berkemas dan setelah menggunakan pit dan kertas yang tersedia dikamar itu untuk mencorat-coret sepucuk surat yang ditinggalkannya diatas meja, ia lalu diam-diam meninggalkan kamar itu sambil membawa semua bungkusan pakaiannya, melompat keatas genteng dan menghilang dimalam gelap!
Dengan hati riang-gembira dan penuh harapan, Beng Han kembali kedalam kamarnya setelah mengadakan pembicaraan dengan ibunya.
Ia merasa heran ketika melihat kamar itu kosong.
Kemana perginya Bun Hong?
Ia mencari dengan matanya, akan tetapi disekitar tempat itu tidak tampak bayangan Bun Hong, maka ia lalu memasuki kamar dan tampaklah olehnya sehelai surat yang ditinggalkan oleh Bun Hong diatas meja tadi.
Didekatinya surat itu, diambil lalu dibacanya.
Gan Beng Han, suhengku yang baik!
Maaf, tanpa kusengaja aku telah mendengar tentang pertunanganmu dengan sumoi.
Kionghi (selamat!), suheng, kudoakan semoga kau hidup bahagia dengan sumoi.
Tidak ada pemuda lain yang lebih berharga untuk menjadi suami sumoi selain daripada kau!
Aku hendak pergi ke kotaraja, membasmi para pembesar jahat dan kalau perlu kaisarnya sekali demi keselamatan rakyat petani yang tertindas!
Sutemu yang sebatangkara, Tan Bun Hong.
Beng Han termenung sambil memegang surat itu dan membacanya sampai berkali-kali.
Seakan-akan ia mendengar kata-kata yang dituliskan itu dari mulut sutenya sendiri, diucapkan dengan suara sedih dan mengharukan.
Terbayanglah didepan matanya segala sikap Bun Hong terhadap Kui Eng dan kepahitan hebat mengganggu hatinya.
Tiba-tiba sadarlah ia.
bahwa sangat boleh jadi bahwa sutenya itu juga mencintai Kui Eng!
Ia merasa terharu sekali, karena kalau memang demikian halnya, maka ternyata bahwa sutenya itu telah berlaku mengalah dan pergi dengan hati patah!
Peristiwa ini sekaligus melenyapkan perasaan gembira yang tadi memenuhi hatinya.
Dimasukkannya surat itu kedalam saku bajunya dan semalam itu ia tidak dapat memejamkan kedua matanya.
Pada keesokan harinya, Beng Han tidak berani keluar dari kamarnya, oleh karena ia maklum bahwa pagi hari itu ibunya dan adiknya akan berbicara dengan Kui Eng untuk mengajukan pinangan terhadap gadis itu.
Ia merasa malu untuk bertemu muka dengan Kui Eng, maka ia berdiam saja didalam kamarnya dengan jantung berdegap-degup kuatir, kuatir kalau pinangan itu ditolak.
Kalau sampai ditolak, alangkah akan sedih dan malunya.
Sementara itu, benar saja seperti dugaannya, Siok Thian Nikouw menyuruh anak gadisnya mengajak Kui Eng memasuki kamarnya dan setelah mereka berhadapan, Siok Thian Nikouw lalu mengajukan pinangannya dengan suara yang halus.
"Nona Kui Eng, sebelum pinni melanjutkan pembicaraan ini harap..... (Lanjut ke
Jilid 02) Tiga Naga Dari Angkasa/Sam Liong Shia Thian Karya , Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02
"Nona Kui Eng, sebelum pinni melanjutkan pembicaraan ini harap kau suka memaafkan kami. Pinni telah mengadakan pembicaraan yangg sungguh-sungguh dengan puteraku Beng Han dan karenanya pinni mengetahui sampai jelas hubunganmu yang amat baik dengan dia sebagai saudara seperguruan. Setelah mendengar semua itu dan melihat kau, nona, timbullah keinginan dalam hati pinni untuk lebih mempererat hubungan itu menjadi hubungan keluarga. Terus terang saya, nona, Kui Eng, pinni ingin sekali menjodohkan Beng Han dengan kau, dan apabila kau tidak merasa keberatan, pinni akan merasa amat berbahagia dan bersukur kepada Thian yang Maha Agung untuk mempunyai seorang menantu seperti kau!"
Mendengar ucapan itu, sejak tadi seluruh muka Kui Eng telah berobah merah dan ia menundukkan kepalanya.
Tak terasa pula air mata mengalir turun membasahi pipinya dan Beng Lian yang duduk didekatnya, lalu memeluknya dengan mesra.
Sampai lama Kui Eng tak dapat mengucapkan jawaban, dan ia berusaha keras untuk menekan gelora hatinya yang membuat dadanya naik-turun dan napasnya tersengal.
Kemudian sambil mengeringkan air matanya dengan saputangannya, ia menyawab dengan perlahan.
"Suthai, mohon dimaafkan sebanyaknya. Saya merasa terharu sekali dan menghaturkan banyak terimakasih atas budi kecintaan hati Suthai yang telah memberi penghormatan besar sekali kepada saya yang bodoh dan tak berharga. Akan tetapi, pada waktu ini, selain saya belum mempunyai pikiran sama sekali tentang persoalan kawin, juga saya harus terlebih dulu mencari ibu saya dan kemudian tentang soal perjodohan, terserah kepada orang-tua itu."
Biarpun hatinya merasa kecewa, namun Siok Thian Nikou mengangguk sambil tersenyum ramah dan berkata.
"Memang seharusnya demikian, nona. Pinni juga telah mendengar dari Beng Han tentang peristiwa dan malapetaka yang menimpa keluargamu, seperti juga yang telah menimpa keluarga kami. Biarlah kau mencari ibumu lebih dulu, kemudian pinni hendak mengulangi pinangan ini kepada ibumu."
"Maafkan saya, Suthai. Bukan sekali-kali saya menolak kehendak Suthai yang mengandung maksud baik itu, akan tetapi harap saja hal ini dilupakan dulu. Saya tidak berani menerima atau mengadakan janji sesuatu oleh karena sesungguhnya saya belum ingin mengikat diri dengan perjodohan. Maaf, Suthai..."
Siok Thian Nikou menarik napas panjang.
Kasihan Beng Han pikirnya oleh karena dari jawaban ini walaupun tidak secara langsung merupakan penolakan, namun sedikitnya membayangkan perasaan gadis itu yang masih ragu dan tidak meyakinkan orang, yang berarti bahwa pada saat sekarang gadis itu belum mempunyai perasaan cinta terhadap Beng Han!
"Kalau begitu, lupakanlah saja semua ucapanku tadi, nona.
Dan kalau kelak kau telah bertemu kembali dengan ibumu, baru kita bicarakan hal ini lebih lanjut"
Kui Eng lalu mengundurkan diri dari hadapan Siok Thian Nikou dan ia duduk termenung didalam kamarnya. Beng Lian masuk dan segera memegang tangannya.
"Cici, jangan kau menyesal. Maafkan ibuku kalau kau anggap dia terlalu lancang."
"Ah, tidak, adik Lian. Sama sekali tidak! Bahkan aku merasa menyesal sekali bahwa terpaksa aku belum dapat memberi keputusan hingga setidaknya aku telah membuat kalian kecewa!"
Betapapun juga sebagai adik Beng Han, ada sedikit rasa tak puas dan kecewa yang mengandung penasaran dalam hati Beng Lian karena iapun dapat merasa bahwa jawaban Kui Eng terhadap pinangan ibunya merupakan penolakan halus.
Maka, tanpa disengaja, terdorong oleh rasa kecewanya, ia berkata.
"Cici Eng, cinta hati seseorang tak dapat dipaksakan. Aku tahu bahwa kau tidak mencintai kakakku kalau dibandingkan, engko Han kalah tampan."
Kui Eng terkejut dan merenggutkan lengannya yang dipegang Beng Lian sambil memandang dengan mata terbelalak.
"Apa...? Apa maksudmu...?"
Beng Lian merasa bahwa ia telah kesalahan bicara, dan berusaha hendak memperbaiki kesalahannya, akan tetapi karena gugupnya, ia bahkan menambahkan.
"Maksudku... eh, dibandingkan dengan saudara Bun Hong, kakakku itu memang kalah tampan!"
Pucatlah wajah Kui Eng mendengar ini dan sebentar kemudian muka yang pucat itu berobah merah karena marahnya.
"Beng Lian!,"
Katanya dengan ketus.
"Kau anggap aku ini orang apakah? Dengarlah baik, aku tidak mencintai kakakmu dan juga tidak mencintai ji-suheng! Aku telah menolak pinangan ibumu, dan habis perkara, jangan kau hubungkan dengan lain hal dan jangan kau menyangka yang bukan-bukan!"
Melihat kemarahan Kui Eng, Beng Lian merasa terkejut dan menyesal mengapa ia telah berlancang mulut.
Selagi ia hendak minta maaf, Kui Eng telah menyambar buntalannya dan berlari keluar dari kamar itu dengan mata merah menahan tangis!
Ketika tiba diruang depan, ia bertemu dengan Beng Han yang menanti berita dari ibunya dengan hati berdebar.
Pertemuan yang tak tersangka-sangka ini membuat Beng Han merasa malu dan sungkan sekali, akan tetapi ia dapat menetapkan hatinya dan bertanya.
"Sumoi, apakah malam tadi kau dapat enak tidur?"
Akan tetapi, ia terkejut sekali ketika melihat wajah Kui Eng yang nampak marah.
"Eh, sumoi, kenapakah kau...?"
Hatinya menjadi kecut dan perasaannya tak enak sekali.
"Twa-suheng,"
Kata Kui Eng sambil cepat menghapus dua butir air mata yang memaksa turun dari pelupuk matanya.
"Aku pergi dulu, hendak mencari ibuku. Maafkan bahwa terpaksa aku memisahkan diri dari kau dan ji-suheng."
Bukan-main terkejut hati Beng Han mendengar ucapan ini. Kedua matanya terbelalak dan ia berkata gagap.
"Akan tetapi... sumoi, kemana kau hendak pergi...?"
"Entahlah, kemana saya kedua kakiku membawaku. Pokoknya, aku hendak mencari ibuku."
Beng Han menghela napas panjang.
"Sumoi... kalau keputusanmu memisahkan diri ini karena... karena pinangan ibuku kepadamu, maafkanlah aku, sumoi. Kelancanganku mengajukan pinangan ini telah kutebus mahal. Sute telah meninggalkan aku, apakah sekarang kaupun hendak meninggalkan aku pula?"
Kui Eng mengangkat muka memandang.
"Ji-suheng meninggalkan kau? Kemanakah perginya?,"
Tanyanya heran.
Beng Han hanya menarik napas panjang lalu menyerahkan surat Bun Hong itu kepada sumoinya.
Merahlah wajah Kui Eng membaca pemberian selamat Bun Hong kepada Beng Han atas pertunangannya dengan dia!
Timbul rasa kasihan didalam hatinya kepada twa-suhengnya ini, maka katanya perlahan.
"Suheng, percayalah bahwa aku tetap menghormati dan menganggap kau sebagai kakak sendiri. Biarlah kita bertemu lagi dilain waktu!"
Setelah berkata demikian, ia lalu mengembalikan surat itu, menjura kepada suhengnya, dan berlari dari kelenteng Kwan-Im-Bio dengan cepat.
Beng Han segera lari masuk menjumpai ibunya dengan hati tidak enak.
Ketika ibunya menceritakan kepadanya tentang jawaban sumoinya, pemuda ini hanya menundukkan mukanya dengan kedukaan yang disembunyikan.
Dari jawaban ini dan juga dari ucapan sumoinya ketika hendak pergi, ia maklum bahwa perasaan cinta kasihnya tidak terbalas!
Siok Thian Nikou dan Beng Lian juga merasa heran ketika mendengar bahwa diam-diam Bun Hong telah pergi.
Beng Han tidak memperlihatkan surat itu kepada ibu dan adiknya, hanya berkata.
"Memang Bun Hong sute mempunyai adat yang aneh. Aku amat menguatirkan keadaannya, karena ia memiliki watak yang keras. Kalau ia dibiarkan seorang diri di kotaraja, ia tentu akan menemui bahaya. Maka, sekarang juga aku harus menyusulnya, ibu, untuk membantu dan membelanya kalau ada bahaya mengancam dirinya."
Siok Thian Nikou tak dapat mencegah maksud puteranya itu karena ia juga menganggap bahwa sudah seharusnya Beng Han menjaga dan membantu sutenya.
"Beng Han, pergilah dan lakukan tugasmu sebagai seorang ksatria, akan tetapi, tentang urusanmu dengan Kui Eng, janganlah kiranya hal ini mematahkan hatimu, nak. Bersabarlah sampai gadis itu bertemu dengan ibunya, baru aku hendak mengajukan pinangan pula. Alangkah baiknya kalau kau juga bantu mencarikan ibunya dan mempertemukan gadis itu dengan ibunya,"
Demikianlah pesan Siok Thian Nikou kepada puteranya.
Beng Han menyatakan hendak mentaati pesan ibunya itu.
Kemudian ia berkemas dan berangkat meninggalkan Kuil Kwan-Im-Bio.
Ketika ia tiba diluar kota An-kian, tiba terdengar suara panggilan dibelakangnya.
Ketika ia berpaling, ternyata adiknya, Beng Lian, mendatangi dengan berlari cepat sekali.
Setelah berhadapan, Beng Han memandang dengan heran, karena ternyata bahwa adiknya itu menangis dengan sedihnya!
"Eh, eh, Lian-moi, mengapakah kau?
Apakah kau menangis karena kepergianku ini?
Ah, jangan menjadi anak kecil, adikku!"
Beng Lian menggelengkan kepalanya sebagai sangkalan atas dugaan kakaknya ini, dan tangisnya makin mengeras. Beng Han memegang pundak adiknya.
"Lian-moi, berlakulah tenang, adikku. Sebenarnya, apakah yang terjadi dengan dirimu?"
"Han-ko, aku... aku telah berdosa kepadamu..."
"Eh, apa kau mengigau? Dosa apa yang kau lakukan?,"
Tanya Beng Han sambil tersenyum dan memandang heran.
"Aku... akulah yang telah membuat enci Eng marah dan pergi meninggalkan kau!"
"Hm, apakah yang telah kau lakukan?"
"Aku... aku merasa kecewa dan menyesal karena ia menolak pinangan ibu, lalu... lalu kukatakan kepadanya bahwa ia tidak mencinta padamu dan... dan... kubayangkan bahwa ia mencintai... ji-suhengnya..."
Kemudian dengan suara terputus-putus. Beng Lian menceritakan semua pembicaraan yang dilakukannya dengan Kui Eng. Beng Han menggelengkan kepalanya dan menarik napas panjang.
"Adikku, kau memang telah berlaku keterlaluan dan lancang. Akan tetapi, dugaanmu bahwa dia tidak mencinta padaku itu memang tepat. Dan dugaanmu bahwa dia mencinta kepada Bun Hong itupun beralasan, karena aku sendiri tadinyapun menyangka demikian. Akan tetapi, tidak seharusnya hal itu diucapkan kepadanya, tentu saja hatinya menjadi tersinggung. Biarlah, yang sudah terjadi biarlah berlalu, nanti kalau aku dapat bertemu dengan dia, aku yang akan memintakan maaf untukmu. Dan harap pengalaman ini menjadi pelajaran bagimu agar lain kali kau tidak berlancang mulut lagi."
"Han-ko, kau... mau memaafkan aku...?"
Beng Han menggunakan tangan kanannya untuk memegang dagu adiknya dan mengangkat muka yang manis itu sehingga mereka saling berpandangan.
"Adikku yang baik, tentu saya aku maafkan kau! Senyumlah, kalau tunanganmu melihat kau bermuram-durja, ia akan ikut bersedih! Jagalah ibu dengan baik, adikku."
Setelah berkata demikian, Beng Han lalu melanjutkan perjalanannya dengan cepat dan Beng Lian berdiri memandang dengan air mata berlinang sampai kakaknya itu lenyap dari pandangan matanya.
Ketika tiba di kotaraja, Bun Hong lalu mencari keterangan tentang keadaan pemerintah.
Ia melihat betapa keadaan di kotaraja jauh berbeda dengan keadaan di dusun .
Kalau di dusun ia melihat segala macam penderitaan dan kemiskinan, tetapi di kotaraja penuh dengan kemewahan dan kesenangan.
Rumah gedung yang tinggi besar dan megah mendatangkan pemandangan yang amat jauh bedanya dengan pondok-pondok bobrok didusun-dusun.
Pakaian orang di kotaraja indah-indah beraneka warna, berbeda sekali dengan pakaian para petani yang compang-camping dan tambalan dibanyak tempat.
Kalau di dusun ia telah merupakan seorang pemuda yang gagah dan berpakaian indah, hingga banyak mata memandangnya dengan kagum dan iri, setelah tiba di kotaraja, Bun Hong merasa betapa pakaiannya terburuk dan tak seorang pun memperhatikannya.
Ia melihat banyak pemuda-pemuda yang berpakaian indah hilir-mudik disepanjang jalan raya kotaraja yang lebar.
Sebagai seorang putera hartawan diwaktu kecilnya, Bun Hong suka sekali akan kemewahan dan keindahan pakaian.
Model pakaian yang dipakai oleh pemuda kota itu, terutama pakaian para pelajar yang indah dan mewah, membuat ia mengilar dan ingin sekali mempunyai pakaian seperti itu.
Maka pada malam hari pertama, ketika seluruh penghuni kota telah tidur, diatas genteng rumah gedung seorang hartawan besar berkelebat bayangan hitam yang gesit sekali gerakannya.
Bayangan itu memasuki gedung tanpa terlihat oleh seorangpun, dan tak lama kemudian ia keluar lagi sambil membawa sebuah kantong yang penuh berisi uang emas!
Orang ini bukan lain ialah Bun Hong yang melakukan pencurian dalam sebuah rumah gedung seorang hartawan untuk pengisi bekalnya yang telah kosong!
Memang sudah menjadi kebiasaan orang-orang kang-ouw untuk mencuri uang para hartawan yang disebutnya "meminjam."
Akan tetapi, biasanya seorang kang-ouw hanya mengambil uang sekadar bekal saja, yakni untuk biaya perjalanannya melakukan tugas menolong orang-orang yang dilanda kesusahan.
Apabila peminjaman uang itu dilakukan dengan maksud diluar daripada sekadar penggunaan biaya perjalanan dan terdapat maksud lain untuk menyenangkan diri, maka perbuatan itu dianggap menyimpang atau menyeleweng daripada kebiasaan para pendekar kang-ouw dan dianggap rendah.
Biarpun Bun Hong maklum pula akan peraturan ini yang didengarnya dari suhunya, akan tetapi hati mudanya dan sifat pesoleknya membuat ia diam-diam melakukan pelanggaran.
Ia telah melakukan pencurian yang didasarkan kepada keinginannya membeli pakaian indah.
Dengan mudah saja ia berhasil mengambil sekantong uang emas dari tumpukan harta orang kaya itu.
Agaknya sikaya itu takkan merasa bahwa tumpukan kantong-kantong uangnya telah berkurang satu.
Demikian banyaknya kantong-kantong uang yang berada dalam kamarnya!
Pada keesokan harinya, Bun Hong telah bersalin rupa.
Ia telah berobah menjadi seorang pemuda pelajar yang berpakaian indah, terbuat dari sutera berwarna biru bersulamkan benang emas dan renda-renda berwarna kuning dilehernya!
Wajahnya yang memang tampan itu bertambah cakap.
Ia menyembunyikan pedangnya dibawah jubahnya yang lebar dan sebagai gantinya, tangan kirinya memegang sebuah kipas bulu yang indah dan mahal!
Biarpun hatinya terpikat oleh kemewahan dan keindahan di kotaraja yang besar dan ramai itu, namun Bun Hong masih belum melupakan maksudnya semula datang di kotaraja itu.
Ia meninggalkan Beng Han dan Kui Eng dengan hati hancur dan sedih, karena cinta kasihnya terpaksa direnggutkannya dan dicobanya untuk melupakan Kui Eng karena ia tidak kuasa membenci Beng Han atau menghalangi perjodohan Kui Eng dengan Beng Han, suhengnya yang amat dikasihinya dan yang dianggapnya sebagai kakak sendiri itu.
Maka untuk melupakan kesedihan dan kekecewaan hatinya, ia mengambil keputusan untuk melanjutkan usaha mereka bertiga semula, yakni hendak membasmi kekejaman peraturan pemungutan pajak bagi para petani itu.
Kini, setelah berada di kotaraja, tiada hentinya ia mencari keterangan tentang hal itu.
Jawaban yang didapat dari penyelidikannya ini bersimpang-siur.
Ada yang mengatakan bahwa peraturan itu datang dari Kaisar sendiri, Ada pula yang menyatakan bahwa yang mengeluarkan peraturan itu adalah Thio-Thaikam yang berkuasa besar, dan ada pula yang berkata bahwa peraturan itu berada didalam kekuasaan pangeran Song, bendahara kerajaan yang berhak menerima semua penyetoran hasil pajak.
Bun Hong tidak berani bertindak dengan sembrono, karena telah dilihatnya betapa penjagaan yang dilakukan ditiap gedung pembesar tinggi di kotaraja amat kuatnya.
Juga, dari sikap para perwira yang banyak terdapat di kotaraja, ia maklum bahwa banyak diantara mereka yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Ia harus bersabar, mempelajari keadaan dengan baik dan berlaku hati-hati, agar jangan sampai usahanya gagal sebelum dimulai!
Apalagi ia merasa suka dan betah tinggal di kotaraja yang ramai dan banyak pemandangannya itu.
Setiap hari ia keluar dari kamar hotelnya dan berjalan-jalan.
Pada suatu hari ia mendengar bahwa Pangeran Song Hai Ling, pembesar yang menjadi bendahara di kerajaan, hendak mengadakan kunjungan ke Kuil Bhok-Thian-Si yang besar, karena pangeran ini pernah menderita sakit dan ia telah mengucapkan janji bahwa apabila penyakitnya sembuh, ia hendak melakukan sembahyang besar di Kuil itu bersama seluruh keluarganya, Dan karena yang hendak melakukan sembahyang adalah seorang pembesar yang berkedudukan tinggi dan kaya raya pula, maka tentu saja semenjak dua hari sebelumnya, para Hwesio Kuil itu telah melakukan persiapan besar.
Lantai Kuil dipel sampai mengkilat, semua tiang digosok dan yang sudah luntur catnya lalu dicat kembali, dan semua alat sembahyang diganti dengan yang baru!
Semenjak dua hari sebelumnya, Kuil itu ditutup untuk umum yang hendak bersembahyang.
Untuk meramaikan perayaan ini, Pangeran Song Hai Ling mendatangkan serombongan pemain sandiwara klasik yang memainkan cerita tentang Bu Ong, Raja besar yang amat dipuja diseluruh Tiongkok oleh karena kebijaksanaannya, bahkan didalam Kuil itupun terdapat patung Rraja besar ini.
Memang Pangeran Song sengaja mengadakan pertunjukan itu yang maksudnya selain untuk meramaikan, juga untuk memberi penghormatan serta peringatan bagi Bu Ong.
Maka tidak heran apabila semenjak pagi sebelum sembahyang besar dimulai, orang telah memenuhi halaman Kuil yang lebar untuk menonton sandiwara, dan sebagian pula untuk menonton keluarga orang besar itu, karena mereka telah mendengar bahwa selain mempunyai banyak selir yang cantik?, Pangeran Song juga mempunyai dua orang anak perempuan yang telah remaja puteri.
Dan yang kabarnya luar biasa cantiknya, tak kalah oleh kecantikan bidadari dari Sorga ketujuh!
Mendengar tentang kunjungan Pangeran Song yang merupakan seorang diantara mereka yang hendak diselidikinya, Bun Hong segera ikut datang ke Kuil itu dan mencampurkan diri dengan para penonton yang berjubelan diluar Kuil.
Dengan sepasang lengannya yang kuat, dengan mudah Bun Hong mencari jalan dan sebentar saya ia telah berhasil menerobos kesebelah depan dan berdiri dibaris terdepan, dekat pagar yang mengelilingi ruang depan Kuil itu, dimana telah dipasang meja sembahyang yang besar dan yang bertilamkan sutera bersulam benang emas!
Tak lama kemudian terdengarlah bentakan dan beberapa orang penjaga yang memegang cambuk telah mencari jalan dan mencambuki para penonton yang menghadang dijalan.
"Minggir, minggir! Buka jalan untuk rombongan Song-Taijin!"
Kelompok orang yang menonton terkuak kekanan-kiri dan dengan cepat jalan yang menuju kepintu masuk Kuil itu terbuka.
Barisan pengawal dengan golok telanjang, terdiri dari belasan orang tinggi besar, dengan tindakan gagah mendahului dan masuk kedalam halaman depan, lalu terpecah menjadi dua rombongan yang berdiri berderet menjaga dikanan-kiri jalan.
Bunyi roda kendaraan terdengar berhenti didepan Kuil dan turunlah rombongan orang besar itu.
Semua orang segera membungkukkan tubuh untuk menghormati seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh lima tahun yang berjalan dengan tenang dan mengebut-ngebutkan kipasnya.
Ia memandang kekanan-kiri sambil menganggukkan kepala sebagai pembalasan hormat yang diberikan kepadanya oleh para penonton itu.
Bun Hong membuka mata lebar dan dengan penuh perhatian ia memandang kepada pembesar itu.
Ia melihat muka pembesar itu menandakan bahwa ia adalah seorang yang peramah dan tidak kejam, bahkan selalu memandang dengan mata berseri dan mulut tersenyum.
Sorot matanya menunjukkan bahwa ia telah memiliki banyak pengalaman hidup dan dari pandang matanya orang mendapat perasaan bahwa Pangeran ini selalu menganggap bahwa ia memiliki pengalaman dan pengertian yang lebih tinggi daripada orang lain.
Tubuhnya sedang agak pendek dan langkah kakinya tenang dan pendek.
Timbul keraguan didalam hati Bun Hong karena ia tidak melihat sinar kekejaman diwajah orang ini.
Kemudian menyusul serombongan wanita yang cantik, mengikuti seorang wanita setengah tua yang juga menerima penghormatan dari semua orang.
Ini adalah Song-hujin dan para selir yang masih muda dan cantik.
Nyonya Song ini sikapnya lemah-lembut dan jelas memperlihatkan keagungannya sebagai seorang bangsawan tinggi, sedangkan para selir berpakaian indah dan bersikap gembira, akan tetapi jelas nampak kegenitan mata mereka ketika sambil melewat mereka melemparkan kerling mata yang liar dan tajam kekanan-kiri, dimana banyak terdapat pemuda-pemuda yang tampan dan gagah!
Kemudian, datanglah orang yang dinanti oleh sekalian pemuda yang memerlukan datang hanya untuk memandang kepada dua orang ini.
Mereka adalah dua orang gadis remaja yang berusia paling banyak antara lima belas sampai tujuh belas tahun.
Keduanya sama cantik jelita, berjalan dengan lemah-lembut.
Berbeda dengan para selir ayah mereka kedua anak perempuan ini berjalan dengan malu ketika mereka merasa betapa banyak mata ditujukan kearah mereka.
Mereka berbisik dan berjalan dengan muka ditundukkan.
Gadis yang lebih tua bertubuh tinggi ramping dengan muka berdagu tajam dan sepasang matanya lebar dan tajam bagaikan mata burung Hong.
Kulit mukanya halus putih kemerahan, bedak dan gincunya tipis dan sepasang alisnya melengkung dengan ujung yang tajam dan berwarna hitam sekali, menambahkan kemanisannya.
Yang lebih muda.
juga cantik jelita, akan tetapi mukanya bundar dan sepasang matanya kocak sedangkan bibirnya yang berbentuk indah itu selalu tersenyum riang, menandakan bahwa ia adalah seorang gadis yang berwatak gembira.
Setelah semua rombongan masuk kedalam kelenteng, maka meja sembahyang lalu diatur dengan baiknya oleh para Hwesio, Ayam dan bebek yang masih utuh dan sudah matang, ditaruh diatas piring dan diatur diatas meja sembahyang.
Melihat ayam dan bebek yang tak berbulu lagi dan yang kulitnya nampak kekuningan dan gemuk itu, membuat para penonton menjadi mengilar.
Segala macam makanan yang lezat-lezat diatur diatas meja sembahyang yang lebar itu dan lilin lalu dinyalakan.
Baru saja sembahyang dimulai, tiba-tiba seorang laki-laki yang tinggi besar dan berpakaian sebagai seorang petani melompat dengan sebatang senjata cangkul ditangan dan berteriak.
"...Pembesar jahat! Kau hidup mewah dari perasan keringat kami!"
Petani itu berusia kurang lebih tiga puluh tahun dan dengan nekad ia menyerang Pangeran Song yang sedang memegang hio untuk mulai bersembahyang!
Akan tetapi, berbareng pada saat itu juga, seorang perwira yang mengepalai barisan penjaga, cepat mendorong tubuh Pangeran Song kekiri hingga pacul yang diajunkan kearah kepala pangeran itu mengenai tempat kosong terus menghantam meja, hingga ujung meja terbelah oleh pacul itu!
Ributlah keadaan disitu, terdengar jerit para selir yang ketakutan, dan beberapa orang penjaga lalu maju mengeroyok dan akhirnya perwira itu berhasil menendang lutut penyerang yang nekad tadi hingga cangkulnya terlepas dan tubuhnya roboh terguling!
Beberapa batang golok yang berkilauan karena tajamnya terayun hendak mencacah tubuh pengacau itu, akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan biru dan tahu-tahu Bun Hong sudah berada ditengah-tengah para penjaga dan ketika kaki tangannya bergerak, beberapa batang golok terlempar!
"Tahan semua, jangan bunuh dia!,"
Teriak Bun Hong yang segera membangunkan petani tadi.
Perwira yang menjatuhkan petani tadi dengan geram lalu menusuk dengan pedangnya kearah dada Bun Hong hingga terdengar lagi pekik beberapa orang wanita yang merasa ngeri.
Akan tetapi dengan gerakan lincah, Bun Hong memiringkan tubuhnya dan sekali saja jari tangannya menyentil kearah pergelangan lengan perwira itu, pedangnya telah terlepas dari pegangan dan terampas oleh Bun Hong!
Perwira itu terkejut dan marah sekali.
"Pemberontak! Apakah kau tidak takut mati?"
Bun Hong tersenyum.
"Sabar, kawan! Siapa yang memberontak? Aku hanya mencegah terjadinya pembunuhan disini."
"Tidak kau lihatkah betapa petani yang memberontak ini menyerang Taijin? Apakah kau hendak membela pemberontak?"
"Orang ini tidak gila, dan tentu ada alasannya mengapa ia sampai berani menyerang seorang pembesar, Penyerangannya gagal, maka tak perlu dia dibunuh, Kau yang tidak tahu aturan, karena kalau kau membunuh dia ditempat ini, apakah itu bukan berarti bahwa kau mengotori tempat yang suci ini dan membuat sembahyang ini tiada gunanya lagi? Atau, apakah disini terdapat model lain hingga untuk bersembahyang harus menggunakan kurban seorang manusia?"
Perwira itu hendak menyiapkan kawan-kawannya untuk mengeroyok, akan tetapi tiba terdengar Pangeran Song memberi perintah.
"Semua penjaga mundur! Biarkan petani itu pulang dan jangan diganggu!"
Petani itu memandang dengan heran kearah Pangeran Song karena tak pernah disangkanya bahwa pangeran itu begitu murah hati, mengampuni seorang yang tadi hendak membunuhnya!
Bahkan Bun Hong sendiri merasa tertegun mendengar perintah ini.
Ia lalu menganggukkan kepala kepada petani itu yang segera keluar sambil membawa paculnya dan segera lari menghilang diantara orang banyak yang menjadi panik itu.
Pangeran Song lalu menjura kepada Bun Hong sambil berkata.
"Enghiong yang gagah. Ucapanmu tadi berkesan didalam hatiku. Silahkan kau duduk didalam dan setelah sembahyang ini selesai, marilah kita bercakap-cakap."
Bun Hong juga maklum bahwa apabila ia berada diluar, tentu ia akan menjadi perhatian semua orang, maka ia lalu melangkah masuk kedalam kelenteng itu.
Ketika kedua puteri pangeran itu memandangnya, tak disengaja ia bertemu pandang dengan puteri yang terbesar, dan berdeguplah hatinya.
Darahnya tersirap dan ia merasa betapa mukanya menjadi panas karena darahnya memenuhi urat diseluruh mukanya.
Pandangan mata yang indah seperti mata burung Hong yang ditujukan kepadanya penuh kekaguman itu membuat ia merasa bingung.
Setelah selesai bersembahyang, Pangeran Song lalu menghampiri Bun Hong dan berkata.
"Hiante yang gagah perkasa, aku merasa suka sekali kepadamu yang selain gagah, juga bijaksana. ini. Kalau kau sudi mengikat persahabatan dengan aku, marilah kau ikut kegedungku agar kita dapat bicara dengan leluasa."
Bun Hong memang ingin sekali mengadakan hubungan dengan pembesar ini untuk menyelidiki tentang pemerasan-pemerasan yang dilakukan kepada para petani, maka sambil membungkukkan tubuh sebagai penghormatan, ia menghaturkan terimakasih dan menerima ajakan ini.
"Taijin sungguh memberi penghormatan besar sekali kepada siauwte yang bodoh,"
Katanya.
Demikianlah, ketika rombongan pembesar itu kembali kegedungnya, Bun Hong ikut diantara mereka, berjalan disamping Pangeran Song, diikuti pandang kagum dan iri dari para pemuda yang masih berdiri diluar Kuil.
Sementara itu, pemain sandiwara lalu melanjutkan permainannya, ditonton oleh orang yang suka akan tontonan ini.
"Ia gagah sekali, pantas mendapat penghormatan Pangeran Song,"
Terdengar orang berkata.
"Akan tetapi ia tadi membela petani yang hendak membunuh Pangeran!,"
Kata orang lain.
"Ah, ia beruntung sekali. Mungkin ia akan dipungut menantu!"
Kata terakhir ini membuat banyak pemuda termenung dengan hati penuh iri.
Alangkah bahagianya orang yang menjadi suami puteri Song yang cantik jelita itu, baik yang sulung maupun yang bungsu!
Sementara itu Bun Hong berjalan memasuki gedung besar itu bersama Pangeran Song dengan penuh kekaguman dalam hatinya melihat gedung yang mewah penuh perabot rumah yang indah itu.
Lukisan-lukisan yang ditempel didinding adalah lukisan indah yang jarang terlihat diluar gedung dan yang pasti amat mahal harganya.
Akan tetapi, Bun Hong pandai menekan perasaan kagumnya hingga ia berjalan dengan langkah biasa dan tetap, seakan pemandangan didalam gedung indah itu bukan apa-apa baginya.
Sebetulnya, kalau saja tidak melihat Bun Hong yang selain tampan dan gagah, tapi juga dalam segebrakan saja dapat merampas pedang perwira yang melindungi keselamatannya, mungkin Pangeran Song akan membiarkan saja petani yang tadi menyerangnya itu dibunuh oleh para penjaga, oleh karena memang hal itu sudah sepatutnya.
Akan tetapi, ketika melihat Bun Hong, ia merasa amat kagum dan tertarik serta timbul didalam hatinya suatu maksud yang amat baik.
Ia maklum bahwa pada dewasa itu, terdapat gejala akan timbulnya pemberontakan, maka sebagai seorang pembesar tinggi, tentu terdapat banyak bahaya dari orang yang hendak membunuhnya karena menganggap ia kejam dan sewenang-wenang.
Sekarang terdapat seorang pemuda yang demikian gagahnya, maka kalau saja ia dapat menarik tangan Bun Hong untuk berdiri difihaknya, setidaknya keselamatannya akan lebih terjamin!
Memang Pangeran Song ini terkenal amat cerdiknya.
Tentu saja ia tidak tahu bahwa justeru pemuda ini mempunyai maksud untuk membasmi para penindas petani!
Setelah mempersilahkan pemuda itu duduk diatas sebual kursi berukir yang indah dan memerintahkan para pelayan untuk menghidangkan masakan lezat dan arak wangi, Ia lalu bertanya.
"Hiante, kau datang dari manakah dan siapa namamu yang terhormat?"
"Siauwte bernama Tan Bun Hong, berasal dari dusun Hong-yan."
Kemudian dengan singkat Bun Hong menceritakan betapa seluruh keluarganya habis binasa oleh gerombolan pengacau yang memberontak ketika ia masih kecil.
"Aah, memang tahun yang lalu itu adalah tahun celaka yang merupakan bencana besar, tidak saja bagi keluarga kerajaan, bahkan juga bagi rakyat jelata,"
Kata Pangeran Song sambil menghela napas.
"Mudah-mudahan saja jangan sampai terulang lagi peristiwa pemberontakan yang hanya mendatangkan malapetaka."
"Taijin keamanan hidup yang penuh damai tidak saja diidamkan oleh Kaisar dan keluarga kerajaan, akan tetapi bahkan menjadi cita-cita tiap orang manusia dinegara kita ini,"
Kata Bun Hong sambil memandang tajam.
Namun ternyata bahwa nasib rakyat jelata memang amat buruk.
Setelah mengalami penderitaan dari gangguan para pemberontak, lalu tiba musim kering yang membuat bahaya kelaparan merajalela, kini ditambah lagi dengan peraturan pemerintah sendiri yang mencekik leher para petani miskin!
Hampir seluruh hasil sawah para petani diharuskan untuk dibayarkan pajak yang luar biasa beratnya hingga bagi para petani sendiri tidak ketinggalan sisa untuk mengisi perut!
Taijin adalah seorang pembesar tinggi di kotaraja.
sudah tentu lebih mengetahui akan hal ini daripada siauwte yang bodoh dan tidak tahu apa?!"
Pangeran itu menarik napas dalam-dalam dan untuk beberapa lama tidak menyawab hingga Bun Hong lebih bernafsu untuk melanjutkan ucapannya dan mengeluarkan isi hatinya.
"Setiap pemberontakan yang timbulnya dari golongan jahat tentu akan hancur karena rakyat selalu menentang dan membela pemerintah, akan tetapi kalau rakyat terlampau ditindas hingga rakyat sendiri yang memberontak, akan rusaklah nama harum pemerintah. Peristiwa tadi, ketika petani itu menyerang Taijin, merupakan tanda yang buruk sekali bagi pemerintah sekarang. Mengapa seorang petani sampai berani melakukan penyerangan terhadap seorang pembesar? Hubungan antara rakyat jelata dengan para pemimpin adalah seperti anak terhadap orang-tuanya, kalau anak itu sampai berani melawan orang-tua, tentu ada apa-apa yang tidak beres dengan orang-tua itu. Terus terang saja, Taijin, kuakui bahwa siauwte sendiri tidak dapat terlalu menyalahkan petani tadi yang melakukan perbuatan karena tidak tahan lagi melihat betapa anak-isterinya kelaparan karena semua gandum habis dibayarkan pajak! Siauwtepun takkan ragu untuk membasmi para pembesar yang mencekik batang leher rakyat yang sudah miskin dan sengsara itu!"
Untuk sesaat Pangeran Song memandang tajam kepada anak muda itu, kemudian katanya.
"Hiante, katamu itu memang benar, biarpun kalau terdengar oleh lain pembesar, tidak salah lagi kau pasti akan ditangkap dan dituduh pemberontak! Ketahuilah bahwa memang aku bertugas menerima dan mengumpulkan hasil pajak dari para petani dan rakyat, akan tetapi peraturan yang menetapkan adalah Kaisar sendiri. Aku adalah seorang keluarga kerajaan dan sudah lama aku merasa sedih sekali melihat betapa Kaisar kini berada dalam kekuasaan para Thaikam, Orang seperti aku ini menpunyai pengaruh apakah? Tak lain aku hanya menjalankan tugas. Kaisar sendiri tidak berani menentang para Thaikam apalagi aku, seorang Pangeran yang hanya berpangkat bendahara."
Kemudian dengan panjang lebar Pangeran Song lalu menceritakan tentang kekuasaan para Thaikam, terutama sekali Thio-Thaikam yang mempunyai pengaruh besar sekali.
Pangeran Song, seperti juga pembesar lain merasa benci kepada Thio-Thaikam walaupun mereka tidak berani memperlihatkan kebencian ini, oleh karena Thin-Thaikam yang menduduki tempat tinggi itu memandang rendah kepada semua pembesar dan pengaruhnya luas sekali Akan tetapi, Thio-Thaikam mempunyai kekuasaan terhadap Kaisar yang selalu menuruti kehendaknya, Dan disamping itu, Thio-Thaikam juga mempunyai banyak kaki tangan yang berilmu tinggi.
Sebenarnya diluar tahunya orang lain, adanya Kaisar amat takut dan tunduk kepada Thio-Thaikam ialah karena pembesar kebiri ini telah mempunyai hubungan dengan pemerintah Turki barat yang disebut bangsa Shato.
Thio-Thaikam merupakan tangan kanan dari pemerintah ini yang mengadakan hubungan baik dengan Kaisar, dan mengingat akan kelemahannya sendiri, terpaksa Kaisar selalu menuruti kehendak Thio-Thaikam hingga boleh dibilang bahwa pada dewasa itu, pengaruh Thio-Thaikam lebih besar daripada Kaisar sendiri!
Mendengar akan pengaruh jahat berupa pembesar kebiri ini yang menguasai kerajaan, Bun Hong merasa marah sekali.
Kini tahulah dia siapa orangnya yang harus dibasmi untuk membalaskan sakit hati rakyat itu.
Ia harus dapat membunuh Thio-Thaikam!
"Kalau begitu, biarlah siauwte pergi memenggal kepala keparat itu!,"
Katanya dengan mengepal tinju.
Pucatlah wajah Pangeran Song mendengar ucapan ini.
Setelah memandang kekanan-kiri dan mendapat kenyataan bahwa ucapan pemuda itu tadi tidak terdengar oleh orang lain, baru legalah hatinya.
"Tan-hiante, harap kau jangan terlalu sembrono mengucapkan kata seperti itu, Ketahuilah bahwa pengaruh Thio-Thaikam besar sekali hingga boleh dibilang bahwa disetiap tempat terdapat kaki tangannya. Berlakulah hati-hati, hiante, dan kalau bisa, buanglah jauh-jauh niatmu itu, oleh karena maksud itu sukarnya melebihi kalau kau hendak mencari buah tho ditaman surga! Selain penjagaan yang keras sekali juga rumah gedung Thio-Thaikam penuh dengan perwira-perwira yang berilmu tinggi sekali. Sebelum kau melewati pintu pertama kau tentu akan tertangkap atau terbinasa."
Pangeran ini memang sengaja memanaskan hati Bun Hong, karena sesungguhnya, tidak ada kegembiraan yang lebih besar baginya selain mendengar bahwa orang kebiri itu terbunuh mati oleh orang lain!
"Terimakasih, Taijin.
Tentu saya siauwte akan berlaku hati sekali.
Sebenarnya, siauwte hanya menjalankan tugas sebagai seorang yang menjunjung tinggi keadilan, karena mengandalkan bantuan pembesar lain, agaknya takkan ada gunanya karena semua pembesar ternyata lebih mementingkan kesenangan mereka daripada memperhatikan penderitaan rakyat jelata."
Merahlah wajah Pangeran Song mendengar ini.
Anak muda, janganlah kau terlalu memandang rendah kepada kami.
Terus terang saya, pernah aku mengajukan protes dan minta pengurangan tentang pemungutan pajak ini, akan tetapi apa hasilnya?
Hampir saya aku mendapat bencana dari Thio-Thaikam kalau saya aku tidak mempergunakan banyak sekali uang emas untuk menyogok.
Kalau tidak ada dia disamping Kaisar, percayalah, orang seperti aku ini tentu takkan membiarkan rakyat tercekik, dan pasti kami akan mengajukan surat permohonan agar peraturan itu dirobah."
Berserilah wajah Bun Hong mendengar ini.
"Kalau begitu, izinkanlah siauwte mengundurkan diri, Taijin dan dengarkan saja, tak lama lagi Thaikam itu tentu takkan berada disamping Kaisar lagi!"
Pangeran Song berdiri dan mengantar tamunya keluar.
"Terserah kepadamu, hiante, akan tetapi ingat bahwa aku tidak ikut-ikut dalam urusan ini! Betapapun juga, setiap saat kau memerlukan bantuan, asalkan tidak berada diluar kemampuanku, pasti aku akan membantumu."
Bun Hong merasa girang sekali bahwa akhirnya ia bisa mendapat tahu siapa biang keladinya yang menelurkan peraturan pajak yang demikian mencekik leher para petani.
Akhirnya ia akan dapat melakukan perbuatan gagah sebagaimana yang diidamkan oleh suhunya.
Ia takkan merasa kalah terhadap suhengnya dan kalau ia berhasil memusnahkan Thaikam itu dan kemudian berkat bantuan Pangeran Song dan pembesar lain peraturan pajak yang berat itu dapat dirobah hingga menjadi ringan bagi para petani, maka itu berarti bahwa ia telah dapat menolong jiwa puluhan ribu para petani miskin!
Untuk usaha seperti itu, biarpun harus mengurbankan nyawa, ia akan rela!
Istana Thio-Thaikam menyambung dengan istana Kaisar dan letaknya disebelah belakang istana Kaisar itu.
Istana itu tinggi dan besar serta dikelilingi oleh tembok yang tinggi pula.
Disetiap pintu gerbangnya terdapat penjaga-penjaga yang siang-malam menjaga dengan tertib dan keras.
Bun Hong sudah menyelidiki tempat itu diwaktu siangnya.
dengan berjalan-jalan seakan-akan mengagumi keindahan gedung itu dari luar.
Maka ia maklum bahwa untuk masuk kegedung melalui pintu gerbang adalah hal yang tidak mungkin.
Untuk melompati pagar tembok juga sukar sekali karena tembok itu tinggi sekali dan diatasnya dipasangi tombak-tombak tajam yang menghalangi setiap orang yang hendak melompat dari bawah.
Selain itu diatas tembok dipasangi penerangan hingga setiap orang yang melompati tembok itu akan kelihatan oleh para penjaga dipintu gerbang.
Malam gelap gulita.
Bulan sedikitpun tak nampak dan langit yang tertutup mendung itupun menyembunyikan semua bintang dari pandangan mata manusia.
Didalam gelap, sesosok bayangan orang yang gesit gerakannya mendekati tembok yang mengelilingi istana Thio-Thaikam.
Bayangan itu adalah Bun Hong.
Pemuda ini maklum bahwa diujung barat terdapat sebagian tembok yang gelap oleh karena didekat tempat itu terdapat sebatang pohon besar yang menghalangi penerangan dan bayangannya menggelapkan tembok.
Sudah direncanakan semenjak siang hari tadi bagaimana ia harus memasuki istana itu.
Dengan hati sekali ia melompat dan bersembunyi dibelakang batang pohon yang besar itu sambil mengintai kearah pintu gerbang yang berada agak jauh dari situ.
Dilihatnya bayangan beberapa orang penjaga berdiri dan berjalan hilir-mudik dengan tombak ditangan.
Setelah dilihatnya penjaga-penjaga itu berjalan menuju ketimur hingga menjauhi pohon itu, secepat gerakan monyet, ia memanjat pohon itu dan sebentar saya sudah berada diatas cabang, bersembunyi dibalik daun pohon yang lebat.
Ia menanti beberapa lama karena para penjaga itu sudah membalikkan tubuh dan kini berjalan kembali kearah barat sampai didekat pohon.
Ia mendengar mereka bercakap-cakap perlahan, kemudian membalikkan tubuh dan berjalan kembali ketimur.
Kesempatan ini dipergunakannya untuk melontarkan sehelai tali kearah ujung tombak yang berada diatas pagar tembok, Lalu dengan sigap sekali ia lalu berjalan diatas tali itu bagaikan seorang pemain atau penari tali yang ahli.
Kemudian ia menarik tali itu terlepas dari pohon.
Sebetulnya ia bukannya ngeri dan takut terhadap beberapa orang penjaga itu, akan tetapi kalau sampai ia ketahuan, biarpun ia akan sanggup merobohkan mereka dengan mudah, akan tetapi kalau mereka berteriak membuat gaduh, tentu para penjaga dan perwira didalam gedung itu akan mendengarnya dan mereka akan berlari keluar hingga sebelum masuk kedalam istana ia akan mengalami pengeroyokan hebat yang berarti menggagalkan usahanya!
Oleh karena inilah, maka ia masuk dengan jalan mencuri.
Ujung tali lalu diikatkannya kepada sebatang tombak yang dipasang diatas tembok, lalu melemparkan tali itu bergantungan dibawah.
Setelah melihat bahwa didalam sunyi, ia lalu meluncur turun kesebelah dalam melalui tali yang panjang itu.
Sambil bersembunyi didalam bayangan tembok yang gelap, ia bergerak maju dengan cepat, meninggalkan tali ditempat tadi untuk persediaan kalau hendak keluar nanti.
Benar saja sebagaimana diucapkan oleh Pangeran Song, penjagaan diistana itu kuat sekali dan dimana-mana dipasangi teng atau lampu penerangan yang menerangi seluruh tempat.
Bun Hong merasa gemas sekali melihat bahwa biarpun terdapat sebuah pintu yang nampak sunyi, namun diatasnya terdapat sebuah lentera yang besar dan bernyala terang, hingga kalau ia berlari dibawahnya, tentu ia akan terlihat oleh para penjaga yang banyak terdapat disekitar tempat itu dan yang suaranya terdengar olehnya kalau mereka bercakap.
Untuk melompat naik keatas genteng, terlalu banyak bahaya karena ia masih berada diluar halaman gedung hingga akan mudah terlihat.
Bun Hong lalu mencari akal.
Kemudian ia mendapat akal yang baik, Dipungutnya sepotong batu kecil dan setelah ia membidik, lalu disambitkannya batu kecil itu kearah lentera.
Batu itu sengaja dilontarkan hingga masuk kedalam lentera melalui lubang diatasnya dan tepat jatuh menimpa sumbu lampu hingga sumbu yang bernyala itu ketika tertutup batu, apinya lalu menjadi padam.
Ia cepat mempergunakan kesempatan selagi keadaan menjadi gelap itu untuk berlari cepat dan ringan masuk kedalam pintu itu.
Baiknya, ia berlaku cepat, karena segera ia mendengar suara orang berkata.
"Leng-ko, lentera diatas pintu kiri itu padam!"
"Biarkan sajalah, tempat itu sudah cukup mendapat penerangan dari lentera lain,"
Terdengar jawaban suara lain.
Bun Hong tidak memperdulikan semua itu dan cepat menuju kedekat gedung, kemudian ia mengenjot tubuhnya keatas genteng dengan mempergunakan keringanan tubuhnya hingga kakinya tidak mengeluarkan suara ketika menginjak genteng.
Untuk beberapa lama ia mendekam dibelakang wuwungan yang gelap dan memandang kekanan-kiri.
Ternyata suasana diatas istana itu sunyi sekali, maka ia lalu bergerak maju dengan perlahan.
Ia mulai menjadi bingung karena ternyata bahwa bangunan itu besar sekali hingga ia tidak tahu harus menyelidiki dibagian mana.
Akhirnya ia melompat kearah genteng yang paling tinggi karena dibawah genteng itu kelihatan yang paling terang.
Dengan amat hati-hati ia membuka genteng dibagian ini dan mengintai kebawah.
Dilihatnya ada beberapa orang laki-laki yang berpakaian sebagai pembesar-pembesar tinggi duduk disebuah ruangan yang luas dan amat terang.
Empat orang berpakaian sebagai pembesar tinggi, tiga orang berpakaian sebagai perwira-perwira, dan ada dua orang lain lagi yang menurut potongan wajah dan pakaiannya, tentu orang asing adanya.
Ia tidak tahu siapa mereka itu dan tidak tahu pula yang mana adanya Thio-Thaikam, karena sungguhpun ia telah mendapat keterangan dari Song Hai Ling, Pangeran itu, tentang bentuk muka Thio-Thaikam, akan tetapi dipandang dari atas, muka pembesar itu hampir sama!
Tiba-tiba ia melihat seorang diantara kedua orang asing itu berkata dalam bahasa Han yang kaku sambil mengangguk kepada seorang pembesar yang bertubuh gemuk.
"Pendapat Thio-Taijin benar sekali dan kami merasa setuju sepenuhnya."
Bukan main girangnya hati Bun Hong mendengar ini karena kini tahulah ia bahwa yang bertubuh gemuk dan bermuka merah itu adalah Thio-Thaikam.
Dengan dada berdebar tegang ia lalu mencabut keluar pisau belati yang sudah disiapkannya sebelumnya, lalu mengeluarkan pula sehelai kertas putih yang sudah ditulisnya dengan huruf besar.
"MELALUI PAJAK MEMERAS RAKYAT. PEMBESAR KEPARAT HARUS MATI DIUJUNG PEDANG!"
Kertas itu ia tusuk dengan pisau tadi lalu memegang pisau itu dengan tangan kiri.
Kemudian ia mencabut pula pedangnya dan dengan cepat menyabet kearah genteng beberapa kali hingga terbukalah lubang yang cukup besar.
"Pembesar jahat rasakan pembalasan rakyat tertindas!"
Teriaknya sambil melompat turun dengan gerakan Naga Hitam Terjun Kelaut.
Ketika ia tadi menyabet genteng dengan pedang, orang disebelah bawah sudah merasa terkejut dan heran kini melihat seorang pemuda berbaju hitam dan yang memakai kedok saputangan pada muka sebelah bawah melompat turun dengan cepat dan dengan pedang ditangan, mereka makin terkejut.
Tiga orang perwira tadi segera mencabut senjata masing-masing, bahkan dua orang asing yang duduk disitu juga mencabut golok mereka yang melengkung bentuknya.
Ketika tubuh Bun Hong sudah tiba dibawah, segera tiga orang perwira dan dua orang asing itu menerjangnya sambil memutar senjata mereka.
Seorang perwira berseru.
"Bangsat kecil, kau mengantarkan kematianmu sendiri!"
Bun Hong tidak gentar menghadapi mereka dan ia segera menggerakkan pedangnya dengan hebat.
Akan tetapi, kagetlah ia ketika merasa betapa tenaga lawan-lawannya itu besar sekali dan ilmu silat mereka juga hebat!
Terutama sekali seorang perwira yang telah tua dan bertubuh tinggi kurus, ilmu pedang perwira ini luar biasa.
lihainya hingga tahulah dia bahwa ia takkan dapat memenangkan mereka.
Dengan nekad ia lalu memutar pedangnya dan tiba-tiba diayunkannya tangan kirinya kearah pembesar gemuk tadi.
Melihat datangnya pisau yang cepat sekali menuju kedadanya, pebesar itu mencoba berkelit, akan tetapi terlambat, karena datangnya pisau itu memang cepat dan tidak terduga hingga pisau itu masih berhasil menancap dilengan tangannya dekat pundak.
Pembesar itu berteriak kesakitan lalu memaki-maki.
"Bangsat kurang-ajar! Tangkap dia! Tangkap hidup-hidup, jangan lepaskan dia!"
Pembesar ini selain merasa marah, juga ingin tahu siapakah orang yang berani menyerangnya ini dan siapa pula yang menyuruhnya.
Memang benar dugaan Bun Hong bahwa pembesar itu bukan lain ialah Thio-Thaikam sendiri yang sedang menemui dua orang utusan dari Turki.
Bun Hong segera dikurung rapat.
Ketika melihat betapa beberapa orang perwira mendatangi lagi dari jurusan luar, ia betul merasa gelisah dan putus asa.
Untuk menghadapi lima orang ini saja ia sudah merasa kewalahan, apalagi kalau datang pembantu lain lagi.
Benar keterangan Pangeran Song bahwa perwira disitu memang lihai-lihai sekali.
Sambil mengeram diputar-putarnya pedangnya dan memainkan jurus ilmu pedang Swi-hoa Kiam-hwat yang lihai.
Bun Hong memang memiliki ginkang yang sempurna dan kegesitannya banyak menolongnya dalam pertempuran ini, ia dapat bergerak lincah dan selalu berlompatan kesana-kemari hingga sukar bagi lawan-lawannya untuk mengurungnya.
Bun Hong menggunakan batu-batu tiang yang banyak terdapat diruang itu untuk berlindung, lari ketiang sana, melompat kebelakang tiang sini, dan selalu mencari kesempatan untuk melarikan diri!
Karena gerakannya lincah sekali dan ilmu pedangnya juga tinggi hingga kalau hanya menghadapi mereka seorang lawan seorang ia takkan kalah, maka semua lawan yang mengeroyoknya menjadi gemas dan kewalahan.
"Panggil bala bantuan, kepung tempat ini! Jangan biarkan ia melepaskan diri!,"
Teriak Thio-Thaikam pula yang sudah ditolong oleh orang-orangnya dan kini duduk disebuah kursi dan dibalut lengannya, sedangkan dua orang pengawal pribadinya telah menjaga didepannya dengan golok terhunus, Bun Hong maklum bahwa keadaannya berbahaya sekali, maka tiba-tiba ia menggerakkan tangan kirinya dan berseru.
"Awas pisau!"
Kelima orang pengeroyoknya tadi telah melihat betapa lihainya pemuda ini menyambit dengan pisau hingga melukai Thio-Thaikam, maka gertakan ini membuat mereka berlaku hati dan melompat mundur.
Akan tetapi, Bun Hong hanya menggertak belaka dan mempergunakan kesempatan selagi mereka mundur, lalu melompat cepat keluar dari ruangan itu dan terus melompat keatas genteng!
Para pengeroyoknya dan beberapa orang perwira lain yang sudah datang memburu, mengejarnya dan mereka ini juga pandai sekali melompat dan berlari diatas genteng.
Bun Hong mengerahkan tenaganya untuk berlari secepat mungkin hingga ia dapat mendahului pengejar-pengejarnya, akan tetapi kemanakah ia harus lari?
Tempat disekitar istana itu dikelilingi tembok tinggi dan apabila ia lari ketembok dimana tergantung talinya tadi, sebelum ia dapat memanjat naik, tentu ia telah dapat disusul.
Maka ia lalu berlari kejurusan lain agar para pengejarnya tidak melihat tali yang masih tergantung disebelah dalam tembok tadi.
Sambil berlari ia mencari akal.
Tiba-tiba ia teringat bahwa para penjaga disebelah dalam dan luar tembok memakai semacam mantel warna biru yang panjang dan sebuah topi yang khusus.
Ia mendapat akal baik dan ketika mendengar teriakan pengejarnya dibelakang, ia lalu melompat kekanan dan segera turun dari atas genteng.
Akan tetapi, dibawahpun sudah banyak terdapat penjaga-penjaga yang ketika melihat ia melompat turun, segera mengeroyoknya sambil berteriak-teriak!
Dengan mudah Bun Hong menjatuhkan beberapa orang pengeroyok yang terdiri dari penjaga biasa ini.
Akan tetapi, para perwira yang tadi mengejarnya telah sampai pula ketempat itu dan mereka menyerbu sambil berteriak.
"Kurung dan tangkap dia hidup!! Ini perintah Thio-Taijin!"
Hal ini menguntungkan Bun Hong.
Nafsu Thio-Thaikam yang ingin melihatnya tertangkap hidup, memeriksa dan menyiksanya, telah menolong jiwa Bun Hong.
Kalau semua pengeroyok itu bermaksud membunuhnya dan menyerbu dengan mati-matian, tentu ia takkan dapat mempertahankan diri.
Akan tetapi oleh karena mereka hanya berusaha merampas senjatanya, sampai sekian lamanya Bun Hong masih dapat melawan dengan baik, bahkan telah banyak pengeroyok, yaitu para penjaga yang tidak begitu tinggi kepandaiannya, dirobohkannya dengan pedangnya!
Diantara perwira-perwira pelindung Thio-Thaikam, yang terkenal gagah perkasa dan memiliki ilmu silat tinggi ada tiga orang.
Yang pertama adalah seorang tosu yang telah dapat "dibeli"
Nya, dan bernama Tek Po Tosu, seorang tokoh dari Thaisan yang lihai sekali permainan siangkiam (pedang sepasang) dan juga lweekangnya.
Tosu ini merupakan pelindung dan penasehatnya dan mendapat tempat dalam sebuah kamar besar dalam istana itu, yang kedua adalah seorang perwira tinggi besar bernama Bong Kak Im, yang lihai sekali permainan ilmu kapaknya.
Sepasang kapak besar dikedua tangannya sukar dilawan oleh karena digerakkan dengan tenaga besar serta ganas sekali.
Orang ketiga adalah adik Bong Kak Im yang bernama Bong Kak Liong, ahli permainan golok tunggal.
Pada saat itu, kebetulan sekali Tek Po Tosu dan Bong Kak Im tidak berada didalam istana, sedang menjalankan tugas diluar kota, menjadi utusan Thio-Thaikam.
Hal ini amat menguntungkan Bun Hong oleh karena apabila seorang diantara kedua orang kosen ini berada di istana Thaikam, tentu dengan mudah pemuda itu akan dirobohkan dan ditangkap.
Kini yang menyerangnya dengan hebat hanya Bong Kak Liong, perwira tinggi kurus yang memainkan golok secara luar biasa sekali.
Diantara semua pengeroyoknya, hanya perwira tinggi kurus ini yang merepotkan Bun Hong, karena gerakan goloknya memang hebat sekali dan pemuda itu terpaksa mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menjaga diri.
Kalau dia bertempur melawan Bong Kak Liong seorang, belum tentu ia akan kalah, akan tetapi oleh karena selain perwira itu, masih banyak pula perwira lain yang juga memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi, maka keadaan Bun Hong benar terjepit.
Pada saat ia mengerahkan tenaga menyerang Bong Kak Liong yang mengurungnya dengan sinar goloknya yang bergulung, tiba-tiba perwira itu mengeluarkan suara bentakan keras dan menggunakan goloknya untuk menangkis dengan sekerasnya, dibarengi dengan tendangan soan-hong-twi yakni tendangan angin berputaran yang berbahaya sekali.
Bun Hong menjadi terkejut sekali oleh karena pada saat itu, dua batang pedang perwira lain sedang membacok kearah kakinya!
Ia dapat mengelakkan diri dari tendangan kaki Bong Kak Liong dan bacokan pedang pada kakinya, akan tetapi tangkisan golok yang keras itu membuat pedangnya terlepas dan terlempar dari pegangannya!
Ternyata bahwa karena bertempur terlalu lama dan lelah sekali menghadapi sekian banyak pengeroyok, telapak tangan Bun Hong mengeluarkan peluh hingga gagang pedangnya yang basah menjadi licin sekali!
Ketika pedangnya terlepas, Bun Hong menghadapi tendangan soa-hong-twi yang masih diluncurkan.
Tendangan ini dilakukan oleh kedua kaki yang susul-menyusul, hingga pemuda itu segera menggerakkan tubuhnya dalam gerakan Jiau-pouw poan-soan, yakni bertindak berputar-putar dengan gesitnya menghindarkan diri dari tendangan lawan itu!
Gerakannya cepat dan indah hingga perwira tinggi kurus itu mengeluarkan seruan kagum.
Melihat bahwa kalau terus mengadakan perlawanan, ia pasti akan tertawan, maka Bun Hong lalu berseru keras dan berhasil menangkap seorang perwira yang diputar dan digunakan sebagai perisai!
Tentu saja para pengeroyoknya cepat menarik kembali senjata mereka agar tidak melukai kawan sendiri!
Bun Hong mempergunakan kesempatan itu untuk mundur dan ia lalu melemparkan tubuh perwira itu kearah pengeroyoknya.
Setelah itu, ia lalu melompat naik keatas genteng pula, yang segera dikejar oleh para perwira, dikepalai oleh Bong Kak Liong.
Kembali terjadi kejar-mengejar diatas genteng dan Bun Hong mulai merasa amat lelah.
Dengan cepat ia menuju kesebelah kiri istana itu sambil memutar otaknya dengan cepat.
Ketika melihat banyak penjaga yang bermantel biru dan bertopi lebar berkumpul dibawah genteng sambil berteriak memandang kepadanya, ia lalu melompat turun ditengah mereka!
Cepat sekali kaki tangannya bergerak dan beberapa orang penjaga terjungkal!
Ia bermaksud merampas sebuah pedang, akan tetapi tiba-tiba ia terikat akan akal yang hendak dipergunakannya, maka ia lalu menangkap seorang penjaga, menotok, iganya hingga tubuh penjaga itu menjadi lemas dan sambil memutar tubuh itu ia membuka jalan dan segera berlari menuju kebagian barat gedung itu!
Sambil berlari ia mengambil beberapa potong batu dan ketika lewat dibawah lentera, ia menyambit hingga kaca lentera menjadi pecah dan apinya padam.
Beberapa kali ia memadamkan lentera hingga keadaan menjadi gelap.
Cepat ia membawa tubuh penjaga itu ketempat gelap, melepaskan mantel dan topi penjaga itu dan memakainya.
Lalu ia berlari lagi menuju tembok dimana tergantung talinya tadi.
Ia menarik napas lega melihat bahwa talinya masih berada disitu, dan cepat ia melompat dan memanjat tali itu naik keatas!
Sementara itu, para perwira yang mengejarnya sampai pula ketempat para penjaga yang mengeroyoknya tadi dan mereka lalu beramai-ramai lari kebagian barat.
Ketika mereka melihat seorang penjaga memanjat tali, mereka berteriak-teriak.
"Mana bangsat itu?"
Bun Hong tidak menyawab, bahkan memanjat makin cepat lagi. Seorang perwira memegang tali itu dan menggoyang-goyangnya hingga tubuh Bun Hong juga tergoyang-goyang diatas! "He, dimana penjahat tadi?,"
Teriak perwira itu. Pada saat itu, tubuh Bun Hong sudah sampai diatas, tinggal beberapa kaki saja dari tombak yang terpasang diatas tembok, maka ia memberanikan hati dan menyawab.
"Dia lari melalui tali ini! Aku akan mengejarnya!"
Untung sekali bahwa tempat itu agak gelap, tertutup oleh bayangan pohon yang menjulang tinggi datas tembok, hingga orang dibawah tidak melihat bahwa pakaiannya berbeda dengan pakaian penjaga yang tidak berapa kentara karena tertutup oleh mantel penjaga warna biru dan topi lebar yang dipakainya tadi.
Para penjaga lalu menyerbu kearah pintu hendak mencari penjahat itu diluar tembok.
Sementara itu, Bun Hong sudah sampai diatas tembok dan cepat ia melompat kecabang pohon, karena untuk menggunakan tali, hanya akan membuang waktu belaka.
Gerak lompatannya ini mendatangkan curiga bagi para perwira.
Bong Kak Liong yang melihat gerakan itu, tahu bahwa mereka telah tertipu oleh karena tak mungkin ada seorang penjaga yang memiliki ginkang demikian tinggi!
"Kejar!,"
Serunya sambil berlari kearah pintu gerbang.
"Dialah penjahatnya!"
Ketika rombongan perwira telah keluar dari pintu gerbang, Bun Hong telah berhasil melompat turun dari pohon dan setelah membuang mantel dan topi pinjaman itu, ia lalu melarikan diri secepatnya!
Para perwira tetap mengejarnya, dan ketika Bun Hong melompat naik keatas genteng, para perwira yang dikepalai oleh Bong Kak Liong juga melompat naik dan terus mengejarnya!
Pada waktu itu, bulan sudah muncul dan mendung sudah pergi tertiup angin hingga bayangan pemuda itu dapat terlihat menghitam diatas genteng, memudahkan para perwira untuk mengikuti jejaknya, Bur Hong menjadi gelisah sekali.
Biarpun ia telah dapat meninggalkan para pengejarnya jauh dibelakang, namun ia telah merasa lelah sekali.
Kedua kakinya telah menjadi lemas dan kini ia tidak bersenjata lagi.
Kalau ia kernbali kehotelnya, tentu mereka akan mengejar pula, dan untuk berlari keluar dari kotaraja, adalah hal yang tak mungkin karena pintu-gerbang kota terjaga keras!
Dalam berlari-lari ini, tak terasa lagi ia telah tiba diatas genteng gedung besar Pangeran Song Hai Ling!
Tiba-tiba timbul sebuah pikiran dalam otaknya.
Pangeran itu adalah seorang yang baik hati dan juga mempunyai pengaruh, mengapa ia tidak menggunakan kesempatan itu untuk minta perlindungan kepadanya?
Bukankah Pangeran itu pernah menyatakan bahwa pembesar itu bersedia membantunya?
Tanpa pikir panjang lagi karena ia benar telah merasa lelah, Bun Hong lalu melayang turun kedalam gedung itu dan menggunakan tenaganya untuk membuka jendela kamar lalu melompat masuk kedalam!
Beberapa orang penjaga yang melihatnya lalu maju menubruk, akan tetapi ketika melihat Bun Hong yang dikenalnya sebagai sahabat Pangeran Song, mereka menjadi ragu-ragu.
Dan pada saat itu muncullah Pangeran Song Hai Ling sendiri dari dalam "Kau, Tan-hiante?,"
Tanyanya dengan kaget.
"Taijin, sekaranglah waktunya kau harus menolongku!"
Kata Bun Hong dengan napas terengah-engah karena lelahnya Dengan isarat tangannya, Pangeran itu menyuruh pergi penjaganya, kemudian ia bertanya dengan kuatir.
"Apakah yang terjadi, hiante?"
"Celaka, aku gagal membunuh keparat she Thio itu, hanya berhasil melukainya. Sekarang perwira-perwiranya mengejar-ngejarku, sedangkan pedangku telah lenyap dan tubuhku amat lelah... Tolonglah aku, Taijin."
Pangeran Song kelihatan gugup dan wajahnya menjadi pucat.
"Celaka! Kalau mereka tahu kau bersembunyi disini, celakalah kami! Bersembunyilah ditempat lain, hiante. Tak mungkin aku dapat menolongmu tanpa membahayakan keluargaku sendiri!,"
Katanya dengan suara mengandung ketakutan."
Bun Hong tercengang dan juga bingung.
"Jadi kau tidak mau menolongku, Taijin?,"
Tanyanya heran.
"Bukan tidak mau, akan tetapi..."
Pada saat itu, terdengar teriakan diluar gedung, dibarengi dengan ketukan pada pintu yang dilakukan keras sekali.
"Celaka!,"
Tubuh pangeran Song menjadi gementar karena takut dan kuatir. Tiba-tiba ia memegang tangan Bun Hong dan ditariknya kedalam, Ayoh cepat ikut aku kedalam!"
Bun Hong menurut saja dan keduanya lalu berlari keruang dalam, bahkan pangeran itu terus membawanya kebagian kamar wanita!
Ia mengetuk pintu sebuah kamar dan ketika pintu dibuka, ternyata bahwa kamar itu adalah kamar tidur Song Kim Bwee dan Song Kim Hwa, kedua puteri remaja dari pangeran itu.
Bukan main terkejut dan heran kedua orang gadis remaja itu ketika melihat ayahnya datang bersama seorang pemuda yang berpeluh pada jidatnya dan yang berpakaian ringkas warna hitam.
Lebih heran lagi ketika mereka mengenal pemuda ini sebagai pemuda yang kemarin mendatangkan rasa kagum mereka ketika terjadi keributan dikelenteng Bhok-Thian-Si!
"Ada...
ada apakah, ayah...?,"
Tanya Kim Bwee dengan mata terbelalak.
"Lekas, kau sembunyikan Tan-hiante ini. Lekas, kalau mereka tahu dia berada dirumah kita, binasalah kita semua!,"
Kata Pangeran Song dengan cepat dan tubuh menggigil.
"Kau berpura-pura sakit dan suruh adikmu menjagamu. Sembunyikan Tan-hiante. Cepat!!"
Kemudian pangeran itu lalu berlari keluar untuk membuka pintu.
Tidak ada orang lain kecuali ketiga orang panglima Thio-Thaikam yang akan berani menggedor gedung Pangeran Song ditengah malam buta!
Akan tetapi, Bong Kak Liong adalah seorang panglima yang menjadi kepercayaan dan tangan kanan Thio-Thaikam, maka dengan berani ia menggedor-gedor pintu pangeran itu oleh karena ia merasa yakin bahwa penjahat yang mengacau diistana Thio-Thaikam tadi masuk dan bersembunyi digedung ini.
Ketika pintu dibuka dan melihat bahwa yang menyambutnya adalah Pangeran Song sendiri, Bong Kak Liong lalu membungkukkan diri dalam sebagai penghormatan, lalu berkata.
"Mohon maaf sebanyaknya apabila hamba berani mengganggu Taijin, karena hamba menggedor pintu semata-mata untuk keselamatan Taijin sekeluarga,"
Kata Bong Kak Liong dengan hati dan penuh hormat."
"Eh, Bong-Ciangkun, ada perlu apakah malam kau menggedor pintu? Aku merasa kaget sekal?!"
"Sekali lagi maaf, Taijin. Didalam rumah Taijin bersembunyi seorang penjahat berbahaya yang tadi sudah menyerang dan mengacau diistana Thio-Taijin."
Pangeran Song tak perlu lagi bermain sandiwara berpura-pura kaget, oleh karena memang ia telah merasa cemas dan kaget sekali hingga tubuhnya telah menggigil.
"Apa...? Peng... penjahat...? Bagaimana dia bisa masuk kegedungku? Tak mungkin, Ciangkun, mungkin kau keliru."
"Jangan kuatir, Taijin. Kami akan mencarinya sampai dapat dan menggusurnya keluar dari gedung ini!,"
Jawab Bong Kak Liong.
"Silahkan, silahkan! Carilah ia sampai dapat!,"
Katanya akan tetapi wajahnya menjadi makin pucat.
Bong Kak Liong lalu memimpin anak buahnya menggeledah gedung itu.
Biarpun tadi ia menyatakan hendak menolong pangeran itu dan hendak mencari penjahat, akan tetapi sebenarnya ia melakukan penggeledahan, seolah-olah menduga bahwa pangeran itu sengaja menyembunyikan penjahat tadi!
Ia mencari diseluruh kamar, bahkan kamar pangeran Song dan kamar para selirpun tidak dilewatinya!
Bukan main mendongkol hati pangeran itu melihat kekurang-ajaran ini akan tetapi ia tidak berani menegur karena kuatir kalauo Bun Hong akan terdapat dan ia takkan bisa menyangkal pula.
Akhirnya, Bong Kak Liong tiba didepan kamar Kim Bwee.
"Kamar siapakah ini?,"
Tanyanya.
"Ciangkun!"
Pangeran Song memperotes.
"Ini adalah kamar puteriku, jangan kau ganggu dia!"
"Maaf, Taijin. Hamba hanya melakukan tugas yang diperintahkan oleh Thio-Taijin. Penjahat itu harus didapatkan. Bagaimana kalau ia menyerbu masuk kekamar ini dan bersembunyi didalam?"
Pangeran Song memperlihatkan muka marah.
"Bong Ciangkun! Berani benar kau mengeluarkan kata-kata yang bukan-bukan! Kamar ini adalah kamar kedua orang puteriku, bahkan yang sulung sedang kurang enak badan, apakah kau begitu tidak percaya kepada kami?"
Bong Kak Liong merasa ragu-ragu, karena ia merasa kuatir kalau pangeran ini akan marah, akan tetapi ia harus melakukan tugasnya dan ketakutan terhadap pangeran ini tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan rasa takut dan taatnya kepada Thio-Thaikam.
"Maaf, Taijin, betapapun juga, hamba harus mendapat kepastian dan menyaksikan dengan kedua mata sendiri bahwa penjahat itu tidak bersembunyi didalam kamar ini!"
Pada saat itu, daun pintu terbuka dari dalam dan muncullah Kim Hwa diambang pintu.
"Ayah, ada apakah ramai-ramai ini? Mengapa begini banyak orang berada disini? Cici sedang sakit, mengapa kau biarkan saja orang membuat gaduh, ayah?"
Bong Kak Liong cepat memberi hormat dan menjura.
"Maafkan hamba, Siocia. Hamba kuatir kalau penjahat yang kami kejar-kejar bersembunyi dikamar ini!"
Pucatlah muka Kim Hwa karena kuatir, dan hal ini baik sekali karena Bong Kak Liong menyangka bahwa gadis remaja yang cantik ini merasa terkejut dan takut.
"Penjahat? Ah, lekaslah kau tangkap dia, Ciangkun! Benar-benarkah dia berada digedung kami!"
"Kami sedang mencari-carinya,"
Kata Pangeran Song yang merasa lega, karena ia melihat bahwa kamar itu kosong, tidak nampak bayangan Bun Hong sedangkan Kim Bwee nampak berbaring diatas pembaringan sambil berkerudung selimut.
"Apakah betul? tidak ada siapa dikamarmu?"
Kim Hwa memandang kepada ayahnya.
"Yang ada hanyalah cici yang mulai panas lagi tubuhnya, ayah."
Sambil berkata demikian ia membuka daun pintu itu agak lebar hingga Bong Kak Liong dapat melihat betapa kamar itu benar-benar kosong, hanya terdapat Kim Bwee yang sedang berbaring diatas pembaringan sambil menutupi tubuhnya dengan selimut dan nampak pucat sekali seperti sedang menderita sakit.
"Maaf, maaf,"
Kata panglima itu sambil menjura.
"Siocia, tutuplah pintu kamarmu kembali, tak baik bagi saudaramu kalau terkena angin. Maafkanlah kami!"
Kim Hwa menutup daun pintunya kembali dan Bong Kak Liong lalu memimpin anak buahnya untuk mencari dilain bagian.
Akan tetapi, didalam gedung itu Sama sekali tidak terdapat bayangan Bun Hong hingga dengan amat penasaran, Bong Kak Liong terpaksa meninggalkan gedung itu setelah minta maaf kepada Pangeran Song.
Setelah melihat bahwa pemuda itu tak dapat ditemukan didalam gedungnya, barulah Pangeran Song berani memperlihatkan giginya.
"Bong-Ciangkun, kelakuanmu tadi sungguh tak patut! Apa kau kira aku menyembunyikan seorang penjahat? Bagus bagus! Dimanakah adanya aturan lama? Sampaipun seorang perwira biasa sajya berani menghinaku!"
"Maafkan hamba banyak, Taijin, Hamba hanyalah menjalankan perintah Thio-Taijin,"
Jawab Bong Kak Liong yang merasa menyesal dan kuatir.
"Apakah Thio-Taijin juga memberi perintah kepadamu untuk memeriksa semua kamarku dan kamar puteriku, seakan kami menyembunyikan penjahat didalam kamar kami dengan sengaja?"
"Tidak... tidak..., tapi..., tapi..."
Baru menyawab sampai disitu, Pangeran Song sudah membanting daun pintu dimuka hidung perwira itu yang segera pergi dengan mendongkol sekali.
Ia memaki-maki semua anak buahnya yang disebut "bodoh dan tolol"
Hingga mengejar seorang penjahat saja sampai tidak dapat tertangkap.
Iapun merasa heran sekali karena ketika ia mengadakan penggeledahan, perwira lain menjaga disekitar gedung itu, bahkan diatas genteng dilakukan penjagaan hingga penjahat itu tak mungkin keluar dan kabur dari gedung itu.
Maka ia lalu memerintahkan beberapa orang anak buahnya untuk mengadakan pengintaian disekeliling gedung itu sambil bersembunyi, sementara ia pulang dengan cepat memberi laporan kepada Thio-Thaikam.
Setelah para penggeledah itu pergi, selimut yang menutup tubuh Kim Bwee segera terbuka dan didekat tubuh gadis itu nampak Bun Hong sedang meringkuk dan ditutupi selimut!
Ia segera melompat turun dan menjura didepan Kim Bwee yang juga sudah duduk dengan muka merah dan air mata mengalir turun disepanjang pipinya.
Ketika tadi Pangeran Song minta kepada kedua orang puterinya untuk menyembunyikan Bun Hong, Kim Bwee dan Kim Hwa menjadi bingung sekali dan setelah ayah mereka pergi kedua orang gadis itu hanya saling pandang dengan muka merah dan sama sekali tidak berani memandang muka Bun Hong.
Juga pemuda itu merasa malu sekali dan berkata.
"Jiwi Siocia (nona berdua), harap jiwi sudi memberi maaf kepadaku. Sesungguhnya bukan kehendakku untuk mengganggu jiwi dan untuk bersembunyi dikamar jiwi,"
Kata Bun Hong dengan muka merah "Mengapa kau dikejar-kejar, taihiap?,"
Tanya Kim Hwa.
"Kami mendengar dari ayah bahwa kau adalah seorang pendekar besar, mengapa sekarang harus bersembunyi?"
Bun Hong lalu menceritakan pengalamannya dan betapa ia dikejar-kejar oleh para perwira Thio-Thaikam.
"Kalau begitu, apabila mereka itu mendapatkan kau berada disini, tentu kami sekeluarga akan mendapat celaka!"
Kata Kim Hwa pula dengan cemas.
"Itulah sebabnya maka ayahmu menyuruh aku masuk kedalam kamar ini agar para pengejar tidak akan menyangkanya dan tidak mendapatkan aku berada digedungmu ini, nona."
Oleh karena merasa kikuk dan canggung menghadapi dua orang gadis yang cantik jelita didalam kamar mereka yang berhiaskan perabot serba indah dan mengeluarkan keharuman yang sedap itu, Bun Hong menjadi seakan-akan gagu dan tak dapat mengeluarkan kata-kata.
Ia berdiri seperti patung dan hanya kadang-kadang saya melirik kearah Kim Bwee dengan dada berdebar.
Nona itu nampak lebih cantik jelita daripada dulu ketika ia lihat dikelenteng.
Tiba-tiba terdengar suara para penggeledah diluar pintu dan suara Pangeran Song mencegah mereka membuka pintu itu.
Kedua orang gadis itu menjadi pucat sekali dan tubuh mereka menggigil sedangkan Bun Hong telah bersiap-sedia untuk menerjang keluar!
Tiba-tiba Kim Bwee yang semenjak tadi diam saya, hanya duduk ditepi pembaringan sambil bermain-main dengan ujung lengan bajunya yang panjang dan menundukkan kepala, melompat berdiri dan mendekati Bun Hong lalu berbisik.
"Taihiap, lekas! Lekas kau naik kepembaringanku!"
Dalam keadaan seperti itu, Bun Hong tak dapat merasa ragu-ragu atau malu lagi.
Ia segera naik kepembaringan dan menurut saya ketika Kim Bwee menutupi tubuhnya dengan selimut yang harum baunya!
Bun Hong meringkuk dibawah selimut dan memasang telinga, siap untuk menghadapi segala kemungkinan.
Akan tetapi tiba-tiba ia merasa sesuatu yang halus dan lunak menyentuh tubuhnya dan keharuman yang dibauinya tadi makin mengeras.
Karena tadinya ia memejamkan mata, maka segera ia membuka matanya dan dadanya berdenjut hebat ketika ia mendapat kenyataan bahwa tubuh Kim Bwee sudah berada dibawah selimut pula, hanya kepala gadis itu saya yang keluar dari selimut!
Ternyata tanpa ragu-ragu lagi gadis itu telah berpura-pura sakit dan menyembunyikan tubuh Bun Hong dibawah selimutnya!
Tentu saya Bun Hong merasa malu dan jengah sekali ia tidak berani berkutik, bahkan bernapaspun tak berani!
Bun Hong mendengarkan percakapan yang terjadi ketika Kim Hwa membuka pintu.
Gadis remaja itu ternyata cerdik sekali dan setelah melihat encinya berbaring dan berselimut dan pemuda itu telah bersembunyi dengan baik didalam selimut, lalu membuka pintu dan menjalankan aksinya dengan sempurna hingga tidak saja para pengejar dapat ditipunya, bahkan ayahnya sendiripun merasa heran sekali.
Sesungguhnya Pangeran Song sendiri tidak pernah mengira bahwa Bun Hong disembunyikan didalam selimut, dan disangkanya bahwa pemuda itu sudah pergi dari kamar atau bersembunyi dilain tempat.
Setelah para penggeledah pergi jauh, Bun Hong segera melompat turun dan Kim Bwee bangun duduk dengan air mata mengalir turun disepanjang pipinya.
"Siocia,"
Kata Bun Hong dengan suara menggetar.
"Banyak terimakasih kuhaturkan atas budi pertolonganmu, dan berilah maaf sebanyaknya karena gangguanku ini!"
Sambil terisak dan air matanya mengucur makin deras, Kim Bwee menyawab.
"Taihiap... kau tentu memandang aku sebagai seorang gadis tak tahu malu dan rendah sekali... ah, apakah kata orang kalau mendengar tentang peristiwa ini...? Taihiap, kau harus tahu bahwa aku melakukan hal yang melanggar kesopanan itu semata-mata untuk menolong leher kami sekeluarga dari ancaman pedang hukuman, bukan karena hendak menolongmu!"
Bun Hong sadar bahwa ia telah salah bicara.
"Tentu, tentu, Siocia. Kau cerdik dan bijaksana sekali."
Song-Taijin membuka pintu dan masuk kedalam kamar itu dengan muka masih pucat.
Melihat betapa Bun Hong telah berdiri dan menundukkan kepala, ia merasa heran sekali.
Kim Bwee segera lari dan menjatuhkan diri didepan kaki ayahnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Eh, eh... kau kenapakah...?,"
Tanyanya heran melihat betapa puterinya menangis demikian sedihnya.
Pada saat itu, Song-hujin juga berlari masuk kedalam kamar itu.
Ketika terjadi penggeledahan tadi, nyonya ini berdiam didalam kamarnya dengan ketakutan.
Nyonya ini Sama sekali tidak tahu apakah yang sedang terjadi.
Kini melihat betapa puterinya menangis dan berlutut didepan kaki suaminya dan melihat seorang pemuda berdiri dikamar puterinya, ia menjadi kuatir dan heran sekali.
"Apa... apa yang telah terdiadi...?"
Dengan singkat Kim Hwa lalu menuturkan segala peristiwa itu kepada ibunya, betapa untuk menolong keluarga mereka dari bencana, terpaksa Kim Bwee telah menyembunyikan Bun Hong dalam...
selimutnya sendiri!
Mendengar ini, nyonya Song juga menangis sedih dan menegur suaminya.
"Dasar kau yang tidak dapat menjaga nama! Bergaul dengan segala pembunuh! Kalau sudah terjadi demikian bukankah kau telah mencemarkan nama dan kehormatan anakmu sendiri?"
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 23
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 3