Eps 1 Tiga Naga Dari Angkasa - Kho Ping Hoo
Baca online Tiga Naga Dari Angkasa - Kho Ping Hoo
Cersil Tiga Naga Dari Angkasa - Kho Ping Hoo.
Tiga Naga Dari Angkasa/Sam Liong Shia Thian Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01 Perang!!!
Kata-kata ini, diucapkan dalam bahasa apapun, merupakan kutukan hebat bagi setiap bangsa, merupakan bencana.
yang paling mengerikan bagi setiap manusia!
Siapakah orangnya yang tidak membenci perang?
Biarpun ada orang yang tidak menguatirkan keselamatan sendiri dalam perang, setidaknya ia akan merasa ngeri apabila ia mengingat bahwa perang dapat membinasakan seluruh harta-bendanya, seluruh keluarganya, isteri, anak, handai-taulan dan orang yang paling dicintainya didunia ini.
Bunuh-membunuh antara manusia, kekacauan, pengkhianatan, kekejaman, perbuatan yang tak patut dilakukan oleh manusia yang berakal-budi dan yang menganggap dirinya sebagai makhluk semulia-mulianya dipermukaan bumi ini.
Perang diliputi oleh nafsu merusak semata, nafsu membunuh dan membinasakan yang hidup dan yang indah.
Semata terdorong oleh nafsu ingin menang, kemenangan hampa!
Memang, perang adalah kutukan dan bencana bagi setiap manusia, dan pada umumnya perang dibenci oleh rakyat semenjak zaman dahulu sehingga sekarang.
Tiongkok semenjak dahulu selalu dilanda perang yang tak lain menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan pada rakyat.
Pada sekitar tahun 755, selama kurang lebih delapan tahun, diwaktu Kaisar Hian Cong menjadi raja, rakyat telah menderita karena timbulnya perang yang tiada hentinya.
Kaisar mengangkat seorang Tartar bernama An Lu San menjadi seorang panglima besar yang diberi kekuasaan penuh di Hopei.
Akan tetapi, panglima ini setelah memiliki kekuasaan besar dan mengepalai banyak tentara, lalu memberontak, memimpin lima belas laksa tentara memukul dan menyerbu kearah selatan.
Kaisar terpaksa lari mengungsi ke Secuan karena tentaranya tak dapat menahan serbuan ini.
Akhirnya berkat perlawanan rakyat jualah maka pemberontak itu dapat dipukul mundur, padahal ketika terjadi perang, rakyat pula yang harus menderita.
Sampai pada saat kaisar Hian Cong diganti oleh kaisar Su Cong perang masih merajalela, yang ditimbulkan oleh pemberontak yang sementara itu telah diganti pula oleh Sie Se Ming.
Didalam peperangan yang ditimbulkan oleh pemberontakan ini, siapapun yang bersalah dalam hal ini, baik fihak kaisar maupun fihak pemberontak, yang sudah tetap dan pasti adalah bahwa rakyatlah yang menderita karenanya.
Para tentara yang memberontak itu melakukan segala macam kejahatan.
Kampung dibakar, dirampok, orang kampung dibunuh, karena setiap orang dusun mereka curigai dan dituduh sebagai anggauta?
barisan gerilya yang dilakukan oleh para pemuda rakyat.
Wanita diganggu, petani-petani ditebas batang-lehernya tanpa kenal ampun lagi, dan banyak pula anak kecil dibunuh dengan cara amat kejam dan diluar perikemanusiaan.
Didalam perang, iblis dan setan berpesta-ria dan hasil keindahan seni alam di injak hancur, sedikitpun tidak ada harganya lagi!
Terutama sekali dusun yang dilalui oleh rombongan kaum pemberontak dibawah pimpinan An Lu San ketika ia menyerbu keselatan, Dusun ini dibakar habis dan entah berapa puluh ribu jiwa orang kampung yang dibinasakan oleh anggauta tentara pemberontak yang tidak bertanggungjawab.
Dan oleh karena yang dirampok bukan hanya harta-benda yang berada didalam rumah, akan tetapi juga hasil sawah-ladang disikat habis dan dijadikan persediaan ransum bagi barisan pemberontak yang besar jumlahnya itu, maka selain mengalami penderitaan yang timbul dari kekejaman para pemberontak, juga rakyat mendapat ancaman bahaja lapar karena kehabisan makanan sebelum sawah-ladang mereka menghasilkan panen baru.
Sisa orang yang dapat menjelamatkan diri dari tangan maut yang menjangkau dari pedang dan golok para pemberontak, kini diserang oleh tangan maut yang mencengkeram dari perut mereka sendiri yang kosong.
Orang yang mati kelaparan menggeletak dimana.
Ada seorang dusun yang menjadi gila karena penderitaan ini dan karena rasa lapar yang mematahkan semangat dan melumpuhkan jiwanya.
Keluarga petani tua ini telah habis binasa menjadi korban para pemberontak, dan kini dia sendiri hampir binasa menjadi korban kelaparan.
Ia berlari kesana-kemari menangis diantara suara ketawanya yang mengerikan.
Tubuhnya kurus-kering, pakaian compang-camping, dan berulangkali mulutnya menjerit.
"Lapar... lapar!!"
Akan tetapi, siapakah yang akan dapat menolongnya?
Siapa yang dapat menghiburnya?
Semua orang berkeadaan sama, bahkan banyak pula yang lebih buruk daripada orang gila itu, karena sudah rebah diatas lantai gubuk bobroknya, rebah tak berdaya untuk bangun kembali, tinggal menanti datangnya maut menjemputnya dan membebaskannya daripada penderitaan itu!
Sigila itu lari kesawah yang masih kosong.
Ia menjatuhkan diri diatas tanah, menangis dan meraung, makin lama makin lemas, dan tiba-tba matanya menjadi liar, dicengkeramnya tanah lembek lalu dimakannya!
"Tanah, tanah...
dari kaulah segala macam makanan lezat terjadi...
ibu tanah...
kalau anak mu enak dimakan dan mengenyangkan perut, mengapa kau tidak...?"
Biarpun ia merasa betapa kasar dan tidak enak rasa tanah didalam mulutnya itu, namun ia memaksanya memasuki perutnya!
Kejadian seperti itu masih belum hebat.
Bahkan ada orang-tua yang membunuh anak mereka sendiri dengan melemparkannya kedalam sungai oleh karena sudah tak kuasa lagi memeliharanya.
Dan dalam kelaparan dan penderitaan, orang dapat menjadi gelap mata dan pertimbangannya telah rusak dan tak dapat dipergunakan lagi.
Oleh karena itu, tekanan penderitaan menimbulkan kejahatan yang tak segan dilakukan oleh seorang yang tadinya hidup secara baik dan terhormat!
Maling dan curi terjadi disana-sini.
Gadis-gadis dijual oleh ayah-ibunya sendiri ditukarkan dengan beras yang harus menghidupkan adik gadis itu!
Kejam, ganas, mengerikan!
Demikianlah perang!
Dimanapun dia merajalela, selalu mendatangkan kebinasaan dan menimbulkan pelbagai kengerian yang tak layak pula terjadi diatas dunia yang telah dikuasai oleh orang!
Terkutuklah perang!
Dan terkutuk pula orang!
yang dengan sengaja maupun tidak menyalakan api peperangan!
Mampuslah orang yang gila perang, pergilah keneraka jahanam, Kami, rakyat sedunia, tidak membutuhkan kalian dipermukaan bumi ini!
Sebagai akibat dari perang yang ditimbulkan oleh pemberontak An Lu San, banyak anak kehilangan orang-tuanya dan hidup terlunta, terlantar dan berkeliaran kemana saja sepasang kaki yang masih lemah itu membawa tubuh.
Pada suatu hari, diatas jalan raya didusun Hong-yan yang telah menjadi tumpukan puing, nampak seorang kakek berjalan sambil memandang kekanan-kiri dengan wAyah sedih.
Berulang kakek ini menarik napas dan keluhan perlahan keluar dari dadanya kalau ia melihat pemandangan yang mengerikan akibat perang.
Orang yang masih hidup mulai berusaha membangun rumah untuk tempat tinggal mereka, yakni kalau yang mereka bangun itu boleh disebut rumah, karena sebetulnya lebih patut disebut kandang babi!
Kakek ini berjalan terus dengan kening dikerutkan, dan ketika ia tiba disebuah tikungan, tiba-tiba ia mendengar suara anjing menggonggong marah.
Ketika ia menghampiri tempat itu, dilihatnya dua orang anak laki berusia kurang lebih enam tahun sedang menghadapi seekor anjing yang kurus-kering dan yang berusaha menerjang mereka.
Entah mana yang lebih kurus, kedua orang anak laki atau anjing itu karena ketiga-tiganya nampak jelas tulang iga mereka yang menonjol dari kulit yang tipis dan yang tak ditutup oleh ???-apa.
Dibelakang dua orang anak laki itu, nampak seorang anak perempuan yang usianya paling banyak lima tahun tengah duduk menangis sambil memegang seekor ayam yang telah mati.
Bangkai ayam itu dipegangnya erat bagaikan seorang kikir memegang kantung uangnya!
Anjing itu menyalak lagi dan tiba-tiba menyerbu, hendak menerobos dua orang penjaga itu dan merampas bangkai ayam dari tangan anak perempuan yang segera menjerit ketakutan.
Akan tetapi, dua orang anak laki itu tanpa kenal takut lalu menyambut serbuan anjing dengan kaki tangan mereka yang kurus kecil.
Mereka memukul, menjepak dan membetot ekor binatang itu.
Si anjing meraung marah dan membuka mulut hendak menggigit, akan tetapi sebelum ia berhasil menanamkan giginya kedalam kulit pembungkus tulang kaki anak itu, tiba-tiba ia meraung keras dan roboh dengan kepala pecah!
Ternyata bahwa kakek itu telah menyambitnya dengan sepotong batu hingga kepalanya menjadi pecah dan mati seketika itu juga.
Kedua anak laki itu seakan tidak tahu dan tidak memperdulikan pertolongan yang diberikan oleh kakek itu, dan kini mereka menghampiri anak perempuan yang masih memegang bangkai ayam dan yang didekap pada dadanya yang kurus.
Sepasang matanya yang saju memandang terbelalak kepada mereka dan tiba-tiba terdengar suaranya yang nyaring.
"Jangan ambil ayamku, aku lapar..."
Suara ini setengah bermohon setengah menegur.
"Siapa yang hendak mengambil ayammu? Kau makanlah, aku tidak sudi merampas makanan anak perempuan!,"
Kata seorang diantara kedua orang anak laki itu yang mempunya� tahi lalat ditengah jidatnya.
"Kita telah menolongnya, sebaliknya ia menuduh kita hendak merampas ayamnya. Memang anak perempuan tidak tahu berterima kasih!,"
Kata anak laki kedua yang berwAyah tampan sambil bersungut?
Anak perempuan itu memandang dengan sepasang matanya yang lebar, lalu tiba-tiba tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya yang memegang bangkai ayam itu.
"Marilah, kita bagi bertiga!,"
Katanya.
Kedua anak laki tadi saling-pandang dan mereka pun tersenyum.
Anak yang bertahi lalat pada jidatnya itu lalu menerima bangkai ayam itu dan setelah mencabuti semua bulu-bulunya lalu menarik kaki ayam dan memotongnya menjadi tiga, dibantu oleh kedua orang anak yang lain.
Kemudian, mereka lalu makan daging ayam itu mentah?!
Melihat pemandangan ini, dan menyaksikan betapa lahapnya tiga mulut manusia kecil itu mengunyah daging ayam mentah, kakek tadi yang masih berdiri disitu sebagai patung, tiba-tiba memejamkan matanya untuk beberapa lama dan keningnya berkerut seakan ia menahan rasa sakit yang menikam hatinya.
Ketika ia membuka kembali kedua matanya, maka mata itu menjadi basah.
Ia lalu melangkah maju menghampiri ketiga orang anak kecil itu.
Anak yang berwAyah tampan itu ketika melihat kedatangannya, lalu serentak berdiri dan mengepalkan kedua tinjunya yang kecil sambil membentak.
"Jangan kau mencoba untuk merampok makanan kami!"
Ia berdiri dengan gagah dan siap melawan kakek itu apabila kakek itu hendak merampas daging ayam yang sedang mereka makan! Anak yang bertahi lalat pada jidatnya itu segera mencela kawannya.
"Tidak, dia takkan mengganggu kita. Dialah yang tadi membunuh anjing itu. Kakek yang baik, kalau kau juga merasa lapar, marilah kau kuberi bagian sedikit dari daging ayamku."
"... Ah, anak... ah... kasihan sekali kalian..."
Hanya ucapan inilah yang dapat dikeluarkan oleh kakek yang merasa amat terharu hatinya itu.
"Aku tak lapar dan tidak ingin mengganggu kalian. Akan tetapi, janganlah kalian makan daging mentah itu. ayam ini telah mati karena sakit, maka kalau dimakan mentah-mentah akan membahajakan kesehatan. Kalian akan jatuh sakit."
Ketiga orang anak kecil itu memandang kepadanya dan mulut mereka tersenyum, sedangkan mata mereka seakan berkata.
"Apa artinya jatuh sakit? Takkan lebih menyakitkan daripada perut yang perih karena lapar!"
Kakek itu mengerti akan perasaan hati dan pikiran mereka, maka ia lalu membuat api dan menyuruh anak itu memanggang daging ayam itu diatas api.
Anak itu segera menurut dan memanggang daging ayam itu, oleh karena memang daging itu alot sekali dan akan lebih enak kalau dipanggang dan dimakan matang.
Sementara itu, kakek tadi lalu menggali lubang kemudian menyeret bangkai anjing yang pecah kepalanya untuk ditanam.
"Kalau tidak ditanam, ia akan membusuk dan akan menjadi penyakit,"
Katanya, Akan tetapi, sebelum ia menimbun kembali lubang itu dengan tanah, tiba-tiba datang dua orang wanita tua yang berteriak-teriak.
"Jangan tanam dia, jangan...!"
Mereka berlari menghampiri dan ketika kakek itu memandang dengan heran, kedua orang wanita itu dengan girang sekali lalu menubruk bangkai anjing itu dan membawanya lari sambil berseru kegirangan, seakan anak kecil kelaparan yang diberi makanan enak!
Kakek itu menggelengkan kepalanya dengan sedih.
"Ya Tuhan, semoga jangan terjadi lagi perang...,"
Doanya dengan suara perlahan. Setelah semua daging ayam termakan habis oleh ketiga orang anak tadi, kakek itu lalu duduk mendekati mereka dan bertanya.
"Siapakah kalian ini, apakah kalian masih bersaudara?"
Ketiga orang anak itu saling pandang dan tersenyum, kemudian anak perempuan itu berkata.
"Namaku Eng, she Kui. Aku tidak kenal kepada dua orang ini!"
"Dimanakah rumahmu dan siapa orang-tuamu?,"
Tanya kakek itu dengan manis. Tiba-tiba Kui Eng menangis terisak.
"Ayah dan semua orang dalam rumah dibunuh dan rumah dibakar, ibu dibawa lari penjahat..."
Kui Eng menjawab sambil megap dan menangis makin sedih. Kakek itu lalu memeluknya dengan hati hancur.
"Ayahnya adalah kepala kampung kami,"
Tiba-tiba anak yang tampan itu berkata.
"Dan kau siapakah, nak?"
Tanya kakek itu kepadanya.
"Aku bernama Bun Hong, ayahku adalah Tan-Wangwe (hartawan Tan) didusun ini. Keluargaku pun telah habis binasa oleh setan itu!"
Sambil berkata demikian, kedua tangan anak ini dikepalkan dan matanya memancarkan cahaja penuh dendam! "Dan saudaramukah ini?,"
Tanya kakek itu sambil menuding kearah anak bertahi-lalat dijidatnya.
"Bukan,"
Jawab Bun Hong.
"kami bertiga tak saling mengenal akan tetapi aku pernah melihat anak perempuan ini digedung kepala kampung kami."
"...Siapakah kau, nak? Apakah kau juga anak dusun sini dan dimana pula keluargamu?,"
Tanya kakek itu kepada anak ketiga. Anak itu menggelengkan kepala dan kedua matanya menjadi basah ketika ia mendengar pertanyaan itu.
"Ayahku adalah seorang petani didusun sebelah selatan sana dan namaku adalah Gan Beng Han. Ayahku tewas dalam pertempuran melawan barisan pemberontak, karena ayahku ikut dalam gerakan gerilya rakyat. Sedangkan ibuku... dan adik perempuanku entah pergi kemana. Mungkin mengungsi dengan orang lain ketika setan itu datang menyerbu. Rumah kami sudah dibakar habis, aku hidup sebatang kara."
"Setan-setan itu kurang-ajar sekali! Bahkan semua padi dan gandum kami dirampok habis!,"
Kata Bun Hong dengan suara gemas.
"Ah, anak, kalian hanyalah tiga diantara ribuan anak yang menjadi korban perang. Kalau kalian mau, marilah kalian ikut aku kegunung untuk belajar silat."
Bun Hong nampak gembira sekali.
"Belajar silat? Ah, aku suka sekali! Kalau aku bisa silat, tentu aku hajar semua setan yang dulu menyerbu kesini!"
Akan tetapi Beng Han memandang kepada kakek itu dan kemudian menggelengkan kepala perlahan.
"Mengapa, nak?,"
Tanya sikakek.
"Apakah kau tidak suka belajar silat?"
"Bukan kakek yang baik. Tentu saja aku suka belajar silat dan menjadi seorang yang berguna. Akan tetapi, kalau kami bertiga ikut dengan kau orang-tua, kami harus makan."
"Tentu saja kalian harus makan,"
Kata kakek itu heran.
"Inilah sukarnya! Kami tidak punya apa-apa, hanya punya tiga buah mulut dan perut yang tiap hari harus diisi. Kau adalah seorang tua yang melihat pakaianmu bukan seorang kaya, maka kalau kami ikut, selain pelajaran silat, kaupun harus memberi sedikitnya tiga mangkok nasi tiap hari. Bagaimana kau akan kuat memelihara kami?"
Kakek itu tertawa geli dan didalam hatinya ia memuji. anak ini yang kelak tentu menjadi seorang yang waspada dan mempunyai pertimbangan yang baik sekali.
"Beng Han, hal ini tak perlu dikuatirkan, karena aku percaya bahwa kalian bertiga tentulah bukan anak-anak malas yang hanya bisa makan, tapi tak dapat bekerja seperti watak babi! Kalian tidak mau dipersamakan dengan babi, bukan?"
Tiba-tiba Kui Eng bangkit berdiri dan memandang marah.
"Siapa berani menjebutku babi?!'' Ia mengepalkan tangan dan matanya bersinar marah.
"Aku bukan babi!,"
Bun Hong juga memandang marah.
"Kami dapat bekerja, kakek, akan tetapi kau yang juga miskin ini dapat memberi pekerjaan apakah untuk kami?"
Kembali kakek itu tertawa.
Melihat sikap dan mendengar jawaban ketiga orang anak ini, sudah dapat dibajangkan watak masing-masing dan ia merasa gembira sekali.
Kui Eng memiliki kekerasan hati dan keangkuhan, yang baik sekali dimiliki oleh seorang wanita sedangkan Bun Hong memiliki kegembiraan dan kejenakaan, juga keangkuhan hati dan manja, mungkin karena tadinya ia seorang putera hartawan.
Sebaliknya, yang amat mengagumkan hati kakek itu ialah sikap dan ucapan Beng Han oleh karena ia dapat membayangkan bahwa kelak anak ini tentu menjadi seorang bijaksana yang berpemandangan luas.
"Anak, Thian adalah Maha Murah dan Maha Adil. Tanah subur terbentang luas, menanti digarap. Kita telah dikurniai tangan-kaki dan akal-budi, maka kalau kita kerjakan tanah itu, apakah tidak akan menghasilkan makanan yang kita butuhkan? Betapapun besar kurnia Thian, namun tanpa kita kerjakan dan usahakan, bagaimana ada makanan dapat berloncatan masuk kedalam perut kita sendiri? Dan segala macam usaha kalau kita kerjakan dengan tekun dan rajin, pasti akan berhasil baik. Maka, ajohlah anak-anak, mari ikut padaku, Mari kita bekerja!"
Ajakan ini mengandung suara gembira yang mendorong hati ketiga orang anak itu, maka tanpa diperintah untuk kedua kalinya mereka lalu berdiri dan mengikuti kakek itu keluar dari desa yang telah hancur itu, menuju kearah barat dimana nampak menjulang tinggi puncak gunung Swi-hoa-san.
Kakek itu adalah Lui Sian Lojin, seorang kakek pertapa yang telah lama mengasingkan diri dipuncak Swi-hoa-san.
Dimasa mudanya Lui Sian Lojin adalah seorang hiapkek atau pendekar besar yang hidup bertualang didunia kang-ouw hanya berkawan sebatang pedangnya.
Tak terhitung banyaknya jasa kakek ini dalam menolong sesama manusia dan membasmi kejahatan, hingga selain ribuan orang mengenang namanya sebagai seorang penolong yang budiman, banyak pula orang jahat yang mengingat namanya dengan gigi gemeretak karena gemas dan sakit-hati.
Akhirnya Lui Sian Lojin merasa bosan merantau.
Ia tidak mau menikah oleh karena gadis pujaannya ternyata tidak membalas cintanya, bahkan menikah dengan orang lain.
Maka ia bersumpah tidak akan menikah, dan hanya hidup berdua dengan pedangnya yang dalam banyak pertempuran telah menjadi kawan dan pembelanya.
Ia memilih puncak Swi-hoa-san yang kaya akan tamasya alam indah, dan juga yang memiliki tanah subur, untuk menjadi tempat pertapaan dimana telah belasan tahun ia bertapa sambil tekun memperdalam ilmu batin dan bahkan menciptakan semacam ilmu pedang yang ia namakan Swi-hoa Kiam-hwat atau Ilmu pedang dari Swi-hoa-san.
Lui Sian Lojin belum pernah mempunyai murid karena tidak ada murid yang dianggapnya cocok dan cukup berbakat untuk menerima warisan ilmu pedangnya yang diciptakannya diatas puncak gunung itu.
Kemudian ia mendengar tentang pemberontakan yang dipimpin oleh An Lu San, maka ia turun gunung untuk melihat keadaan.
Bukan main sedih dan marah hatinya melihat bekas kekejaman anak buah pemberontak itu.
Hampir semua dusun dikaki gunung Swi-hoa-san yang kebetulan dilewati oleh barisan itu, rusak binasa.
Dan dalam perantauannya ini ia bertemu dengan Kui Eng, Tan Bun Hong dan Gan Beng Han.
Keadaan yang menjedihkan dari ketiga orang anak inilah yang menarik hatinya untuk membawa mereka keatas gunung dan mengangkat mereka menjadi murid-muridnya.
Lui Sian Lojin sengaja tidak mempergunakan ilmu kepandaiannya yang tinggi untuk menggendong ketiga orang anak itu dan berlari cepat menuju kepuncak gunung Swi-hoa-san, oleh karena ia hendak menguji keuletan ketiga calon muridnya ini.
Ketiga orang anak itu telah menjadi lemah karena tidak tentu makan dan telah menderita kesengsaraan selama berbulan-bulan.
Akan tetapi biarpun perjalanan itu amat melelahkan mereka, terutama setelah jalan mulai menanjak bukit, namun mereka tak pernah mengeluh!
Lui Sian Lojin berjalan didepan sebagai penunjuk jalan dan orang-tua ini tak pernah menengok kebelakang seakan ia tidak ambil perduli, akan tetapi sebenarnya diam-diam ia membuka telinga dan pendengarannya yang tajam dapat membuat ia tahu akan semua gerak-gerik ketiga anak itu tanpa melihat mereka.
Ketiga orang anak itu telah merasa amat lelah terutama Kui Eng dan Tan Bun Hong.
yang pertama oleh karena ia adalah seorang anak perempuan yang lemah, sedangkan Tan Bun Hong oleh karena sebagai bekas putera hartawan yang jarang melakukan pekerjaan berat, maka perjalanan itu terasa amat melelahkan kedua kaki dan tubuhnya.
Apalagi perut mereka telah menjadi kosong lagi dan mulai terasa perih!
Sedangkan Gan Beng Han adalah seorang anak yang sudah biasa bekerja berat, membantu ayahnya bekerja disawah-ladang, mencangkul, membajak, bahkan mencari kayu dihutan-hutan hingga seringkali ia berjalan jauh, maka keadaannya lebih kuat dan ulet apabila dibandingkan dengan dua orang kawannya.
Biarpun merasa lelah sekali hingga jalannya terhuyung-huyung namun Kui Eng yang keras hati dan tidak mau menunjukkan kelemahannya serta tidak mau kalah oleh dua orang kawannya itu, terus maju dengan tindakan lunglai.
Ia merasa betapa kedua kakinya telah pegal dan sakit, sedangkan rasa perih didalam perutnya membuat kedua matanya berlinang!
Akan tetapi, sungguh kuat hatinya karena tidak pernah terdengar keluh-kesah atau isak-tangis keluar dari mulutnya!
Sedangkan Bun Hong yang juga merasa lelah sekali dan telapak kakinya yang telanjang itu telah menjadi pecah-pecah karena menginjak duri dan batu tajam hingga terasa sakit dan perih, juga perutnya telah menggeliat-geliat karena laparnya, namun pemuda cilik ini dengan kedua tangan terkepal, kepala ditegakkan, dan sepasang bibir digigit kedalam mulut, melangkah lebar dan gagah!
Ia telah mengambil keputusan untuk bertahan dan berjalan sampai mati!
Sementara itu, biarpun merasa lelah juga, namun Beng Han masih dapat bertahan.
Telapak kakinya berkulit tebal dan ia sudah biasa berjalan hingga langkahnya masih tetap, hanya peluhnya saja membasahi bajunya yang compangcamping itu, Anak ini melihat keadaan Kui Eng yang terhuyung?
lalu mendekati anak perempuan itu dan mengulurkan tangan hendak menggandengnya, akan tetapi dengan angkuh Kui Eng menolakkan tangannya.
Beng Han merasa kagum akan kekerasan hati Kui Eng, maka ketika tawarannya untuk menggandengnya ditampik, ia berjalan dibelakang anak perempuan itu untuk berjaga-jaga.
Ternyata dugaannya tepat karena tak lama kemudian, tiba-tiba kaki Kui Eng yang lemas itu tersandung batu dan tubuhnya terhuyung kedepan hendak jatuh.
Sebelum Kui Eng jatuh, Beng Han telah memburu dan menangkapnya hingga ia tidak jadi jatuh.
Kemudian, melihat betapa tubuh anak itu menjadi lemah dan matanya dipejamkan, Beng Han lalu tanpa ragu lagi menggendongnya dibelakang punggungnya!
Kini Kui Eng tidak menolak lagi dan ia mengeluarkan napas lega ketika merasa betapa tubuhnya dapat beristirahat diatas punggung Beng Han!
Sedangkan Bun Hong yang melihat hal ini, lalu berkata kepada Beng Han.
"Han, biarlah nanti kalau kau sudah lelah, kugantikan menggendongnya! Tapi kalau sudah berkurang lelahmu, kau jangan minta digendong terus, Eng, dalam waktu seperti ini, kau tidak boleh menjadi anak manja!"
Beng Han tersenyum saja sedangkan Kui Eng membuka matanya lalu mencibirkan bibirnya kepada Bun Hong.
"Kau tidak mau menggendong sudahlah, jangan mengatakan orang manja segala. Kalau aku kuat berjalan, untuk apa aku minta digendong?"
Sementara itu, biarpun dengan telinganya Lui Sian Lojin dapat mengetahui semua hal ini, ia berpura-pura tidak tahu dan terus berjalan sambil diam tersenyum!
Akhirnya, baik Bun Hong maupun Beng Han merasa kehabisan tenaga dan tidak kuat maju melangkah lagi.
Langkah mereka makin lama makin lambat dan kemudian Beng Han berkata.
"Kakek yang baik, mohon kau orang-tua suka menaruh kasihan kepada kami dan biarkanlah kami beristirahat sebentar!"
Kakek itu berhenti dan berpaling dengan pandangan kagum, karena biarpun kedua kakinya telah menggigil kelelahan, namun Beng Han masih tetap menggendong tubuh Kui Eng, sedangkan Bun Hong mengganding tangan kawannya yang dibebani berat itu!
"Bagus, bagus, kalian bertiga tidak mengecewakan hatiku!
Jangan kuatir, hatiku tidak sekejam dugaanmu, Beng Han,"
Katanya sambil tertawa dan Beng Han merasa terkejut oleh karena memang tadi ia memandang dengan hati mengandung rasa penyesalan dan tuduhan bahwa kakek itu terlampau kejam membiarkan mereka bertiga menjadi kelelahan!
"Maaf, maaf, aku...
tidak sengaja...,"
Katanya dan kakek itu tersenyum lagi. Kemudian kakek itu lalu mematahkan sebuah cabang kayu cukup besar dan panjang.
"Beng Han, dapatkah kau membuat keranjang?,"
Tanyanya.
"...Tentu saja dapat, aku seringkali membuat keranjang untuk memikul kayu atau rumput."
"Bagus, nah, ajoh kau bantu aku membuat keranjang dari ranting kayu. Kita membuat dua dan aku akan memikul kalian didalam keranjang!"
Bun Hong dan Ku?
Eng yang tidak tahu cara bagaimana membuat keranjang dari ranting kayu, lalu membantu dengan mengumpulkan ranting kayu yang cukup kuat.
Beng Han dan Lui Sian Lojin lalu menganyam ranting itu menjadi dua buah keranjang yang kuat.
Kedua keranjang itu lalu diikatkan dikedua ujung cabang pohon yang dipatahkan oleh kakek itu tadi.
"Sekarang Kui Eng dan Bun H�ng duduklah didalam keranjang ini, Kui Eng didepan dan Bun Hong dibelakang. Sedangkan Beng Han yang masih agak kuat, kau boleh kugendong dipunggungku dan berpeganglah kuat pada leherku!"
Beng Han menurut, demikianpun Kui Eng dan Bun Hong, sungguhpun mereka merasa heran dan kurang percaya apakah kakek ini akan dapat mengangkat mereka sekaligus.
Setelah Kui Eng duduk didalam keranjang didepan dan Bun Hong dibelakang, kakek itu menyuruh mereka berpegang pada tali keranjang baik.
Kemudian ia menyuruh Beng Han melompat kepunggungnya dan berpegang pada lehernya.
Beng Han lalu memeluk leher kakek itu kuat.
"Hati-hati, kalian berpeganglah erat jangan sampai jatuh!,"
Kata Lui Sian Lojin dan dengan tangan kanan ia lalu memikul pikulan dua keranjang yang berisi dua orang anak itu!
Kemudian ia lalu mengeluarkan ilmu kepandaiannya berlari cepat hingga ketiga orang anak itu merasa betapa angin menyambar muka mereka dari depan dan yang membuat tubuh mereka merasa dingin!
"Kalau merasa ngeri, pejamkan matamu!,"
Kata Lui Sian Lojin yang mempercepat larinya.
Kakek yang lihai ini berlari cepat dan kadang melompati jurang yang curam dan lebar dengan gerakan ringan sekali seperti seekor burung sedang terbang saja!
Beberapa kali ia memandang kearah murid-muridnya karena kuatir kalau mereka merasa ngeri dan takut, akan tetapi alangkah heran dan gembiranya tatkala ia melihat bahwa baik Kui Eng maupun Bun Hong, sama sekali tidak memejamkan mata, bahkan membukanya selebar-lebarnya dengan kagum dan gembira!
Kui Eng dan Bun Hong merasa seakan mereka ini naik seekor burung besar yang terbang melayang diangkasa.
Mereka memandang kekanan-kiri dengan girang dan kadang kalau kakek sakti itu melompati jurang, keduanya berseru karena gembira.
"Lihat! Jurang ini curam sekali!,"
Seru Bun Hong sambil menjenguk keluar dari keranjang dimana ia duduk.
"Dasarnya sampai tidak kelihatan!"
"Lihat, pohon berlari-larian didepan kita! Alangkah cepatnya kita meluncur kedepan. Sungguh enak dan senang!,"
Kata Kui Eng dan sepasang matanya yang lebar dan jernih itu mulai ditinggalkan awan muram dan sayu yang tadinya mengganggu keindahan matanya.
"Hush! Kalian jangan banyak bergerak!,"
Tiba-tiba Beng Han yang digendong dipunggung menegur mereka.
Kini Kui Eng memandang Beng Han dari tempat duduknya didalam keranjang sambil melonjongkan bibirnya kepada anak dipunggung kakek itu!
"Kui Eng, jangan kau nakal.
Kalau kalian banyak bergerak hingga terpelanting keluar dari keranjang, akan celakalah!,"
Kata Beng Han pula.
Ucapan ini ada pengaruhnya karena kata-kata ini membuat Kui Eng dan bahkan Bun Hong juga, merasa ngeri!
Alangkah hebatnya kalau tubuh terpelanting keluar dan melayang kedalam jurang itu!
Maka mereka lalu duduk diam didalam keranjang masing-masing sambil berpegang erat pada tali keranjang.
Setelah melakukan perjalanan dengan cara begini, tak lama kemudian tibalah mereka dipuncak bukit dan Lui Sian Lojin, lalu menghentikan larinya.
Ketika ketiga orang anak itu turun dari tempat duduk masing-masing, ternyata mereka berada disebuah tanah datar yang penuh dengan rumput hijau dan dibawah beberapa batang pohon yang besar terdapat sebuah pondok kayu yang sederhana.
"Nah, kita sudah sampai dirumah kita!,"
Kata Lui Sian Lojin sambil tersenyum, dengan perasaan seorang ayah yang baru saja pulang dari melancong dengan tiga orang anaknya!
Kehadiran ketiga orang anak ini mendatangkan kebahagiaan baru dalam hati Lui Sian Lojin, kakek yang selama hidupnya tak pernah kawin dan belum pernah merasai punya anak itu!
Ketiga orang anak itu memandang kekanan-kiri dengan girang karena pemandangan disitu benar-benar indah dan dari banyaknya tumbuh-tumbuhan yang hidup subur diatas bukit, dapat diduga dengan mudah bahwa tanah ditempat ini tentu subur dan baik.
Tiba-tiba Beng Han menjatuhkan diri berlutut didepan Lui Sian Lojin sambil berkata.
"Setelah menjadi murid suhu, seharusnya teecu bertiga mengangkat kau orang-tua sebagai suhu lebih dulu."
Melihat perbuatan Beng Han ini, Bun Hong dan Kui Eng juga lalu menjatuhkan diri berlutut didepan Lui Sian Lojin.
Kakek itu tertawa terbahak-bahak dan sambil memandang kepada tiga orang muridnya, ia menggunakan ujung lengan bajunya untuk mengeringkan kedua matanya yang tiba-tiba menjadi basah "Karena kalian sendiri telah mendahuluiku, maka biarlah sekarang dilakukan upacara pengangkatan guru.
Ketahuilah, murid ku, aku adalah seorang pertapa ditempat ini dan namaku Lui Sian Lojin.
Kalian bertiga takkan merasa menyesal bila telah menjadi murid ku, dan untuk menjaga segala kemungkinan buruk yang kuharapkan takkan terjadi selamanya.
kalian harus bersumpah!"
Kemudian, Lui Sian Lojin menyuruh ketiga orang muridnya itu bersumpah untuk mentaati perintah dan pantangan-pantangan seperti berikut ..Mereka harus mempergunakan ilmu kepandaian yang mereka pelajari untuk menolong sesama makhluk hidup, membela kebenaran, menjunjung tinggi keadilan dan membasmi kejahatan berdasarkan perikemanusiaan..Mereka harus berlaku sabar, berani mengalah dan menghindarkan permusuhan dan perkelahian yang timbul karena hal-hal yang remeh..Mereka tidak boleh sembarangan menewaskan seorang lawan apabila tidak sangat perlu dan lawan itu bukan seorang yang memang benar jahat dan berbahaja bagi umum hingga perlu dibinasakan..Mereka tidak boleh menyombongkan kepandaian sendiri dan sekali tidak boleh mempergunakan kepandaian untuk menindas orang lain yang lemah.
Tiga orang anak itu berlutut sambil mengucapkan sumpah untuk mentaati semua perintah itu dan mengucapkan sumpah menurut apa yang dikatakan oleh Lui Sian Lojin, Biarpun mereka masih kecil dan belum dapat mengerti dengan baik apa yang mereka ucapkan, namun mereka telah bersumpah dengan sungguh-sungguh, bahkan Kui Eng dan Bun Hong yang berwatak jenaka dan suka main-main itu pada waktu berlutut dan bersumpah, nampak sungguh-sungguh dan mengucapkan sumpah penuh penghormatan hingga guru mereka menjadi puas.
"Nah sekarang kita makan dulu. Aku mempunyai persediaan ubi didapur. Setelah makan barulah kita beristirahat dan mulai besok pagi kalian harus bekerja diladang, membantu aku mencangkul ladang ditimur itu dan menanam padi,"
Kata Lui Sian Lojin sambil tertawa.
Demikianlah, semenjak hari itu, ketiga orang anak itu hidup diatas puncak gunung Swi-hoa-san, mempelajari ilmu silat sambil melakukan pekerjaan bertani, Dibawah pimpinan Lui Sian Lojin yang amat menyayangi mereka seperti anaknya sendiri.
Selain mendidik mereka dengan ilmu silat yang tinggi, juga Lui Sian Lojin memberi pelajaran ilmu surat-menjurat kepada murid-muridnya, karena walaupun dia bukan seorang ahli sastera yang pandai, namun berkat kerajinan dan ketekunannya mendidik ketiga anak itu, mereka tidak buta huruf dan dapat membaca dan menulis dengan baiknya.
Disamping semua ini, Lui Sian Lojin memberi dasar ilmu batin dan pelajaran budi-pekerti hingga ketiga orang anak itu mengerti dan terbuka mata batin mereka bahwa diantara segala ilmu pengetahuan, yang terpenting adalah perilaku yang baik agar jalan hidup mereka tidak sampai tersesat kelembah kehinaan dan kejahatan.
Kita tinggalkan dulu ketiga orang anak yang berlatih dan mengejar ilmu dipuncak Swi-hoa-san itu, dan marilah kita mengikuti pengalaman ibu dari Kui Eng atau nyonya Kui Lok.
Benar sebagaimana pengakuan Kui Eng ketika ditanya oleh Lui Sian Lojin, ketika tentara pemberontak menyerbu dan masuk dusun Hong-yan, mereka tidak memberi ampun kepada dusun itu dan terutama kepala kampungnya, yakni Kui Lok, segera dibunuh mati, hartanya dirampok habis dan nyonya Kui Lok yang masih muda dan cantik itu lalu dilarikan oleh seorang laki bernama Bu Pok Seng.
Memang belum nasib Kui Eng untuk tewas maka pada waktu hal itu terjadi, ia dapat melarikan diri dan para pemberontak tidak begitu memperhatikan seorang anak kecil.
Bu Pok Seng ini adalah seorang penjahat yang tadinya menjadi kepala perampok.
Ia masih muda dan ilmu silatnya cukup tinggi, akan tetapi oleh karena semenjak kecil berhubungan dengan orang-orang jahat, maka akhirnya ia menjadi seorang yang jahat pula, Ia ikut menggabungkan diri dengan pemberontak bukan oleh karena ia bersimpati terhadap usaha pemberontakan itu, akan tetapi semata untuk mencari kesempatan memperkaya diri sendiri dengan hasil perampokan dikota dan didusun yang diserbu oleh barisan pemberontak.
Memang banyak sekali orang-orang jahat semacam Bu Pok Seng ini jang membonceng pemberontakan untuk memburu nafsu sendiri.
Untuk beberapa lamanya, semenjak mengikuti gerakan pemberontakan Bu Pok Seng telah berhasil mengumpulkan barang berharga terdiri dari emas dan perhiasan-perhiasan orang yang dirampok.
Akan tetapi, ketika ia ikut menyerbu ke Hong-yan dan melihat kecantikan nyonya kepala kampung Kui Lok, hatinya menjadi tertarik sekali, maka diculiknyalah nyonya muda yang cantik itu dan dibawanya lari.
Tak seorangpun memperhatikan perbuatannya itu oleh karena memang sudah menjadi pemandangan yang tidak aneh lagi apabila anggauta-anggauta pemberontak itu menculik wanita!
Akan tetapi, kali ini Bu Pok Seng menculik nyonya Kui Lok bukan hanya dengan maksud mengganggunya.
Ia benar-benar jatuh hati kepada nyonya muda itu dan setelah berhasil melarikan nyonya cantik itu, Ia tidak mau kembali kepasukannya dan membawa nyonya itu keselatan.
Dengan lemah-lembut ia membujuk nyonya Kui Lok untuk menjadi isterinya.
Nyonya Kui Lok adalah seorang wanita yang lemah dan melihat betapa suami dan seluruh keluarganya telah tewas serta rumahnya.
telah habis dimakan api, hatinya hancur dan semangatnya seakan telah meninggalkan tubuhnya Ia merasa berat sekali untuk menerima bujukan Bu Pok Seng, akan tetapi oleh karena ia tidak berani menolak sedangkan untuk membunuh diri ia tidak mempunyai cukup keberanian, akhirnya ia menerimanya juga.
Bu Pok Seng merasa girang sekali dan ia lalu membuka sebuah rumah penginapan dikota Kauwciu, mempergunakan barang perhiasan hasil rampokannya sebagai modal!
Semenjak itu, ia hidup berbahagia dengan isterinya dan nyonya Kui Lok lambat-laun juga terhibur hatinya oleh karena Bu Pok Seng yang dulu berhati kejam dan jahat itu ternyata amat tunduk terhadapnya!
Cinta hatinya terhadap isterinya ini benar-benar besar, terutama sekali ketika dua tahun kemudian isterinya melahirkan seorang anak perempuan.
Dan terlahirnya anak ini merupakan obat yang amat mustajab bagi luka dihati nyonya itu, karena muka anak ini sama benar dengan anak perempuannya, jaitu Kui Eng, yang disangkanya juga binasa didalam kekacauan ketika para pemberontak menyerbu Hong-yan.
Ia mulai menjadi gembira dan oleh karena rumah penginapan yang mereka buka itu mendatangkan hasil yang lumayan, maka boleh dikata hidup mereka cukup beruntung.
Sementara itu, dusun disebelah timur kampung Hong-yan tempat tinggal orang-tua Gan Beng Han, juga tidak terluput daripada keganasan para pemberontak, ayah Beng Han adalah seorang petani yang hidup dengan isteri dan dua orang anaknya, yakni Beng Han dan seorang anak perempuan bernama Beng Lian dan pada waktu penjerbuan terjadi, baru berusia empat tahun.
ayah Beng Lian ketika itu sedang bekerja disawah dan tidak terluput dari ujung senjata para pemberontak yang menewaskannya, dan ibu Beng Han beserta Beng Lian dapat melarikan diri bersama lain pengungsi, terpisah dari Beng Han yang tidak lari mengungsi bersama ibunya, hanya bersembunji saja didalam hutan.
Ibu Beng Han atau nyonya Gan ini bernama Ong Siok Nio.
Sambil menggendong Beng Lian, ia berlari menjelamatkan diri dengan hati duka.
Ia telah mendengar bahwa suaminya telah terbunuh mati disawah oleh para pemberontak yang mengetahui bahwa suaminya itu adalah anggauta pasukan gerilya yang mengadakan perlawanan.
Memang para gerilya itu kalau siang bekerja biasa sebagai petani agar tidak menimbulkan kecurigaan, akan tetapi ketika mereka menyerbu sampai ke Hong-yan, mereka telah tahu akan siasat ini, maka tiap orang laki disemua dusun mereka bunuh tanpa memeriksanya lagi!
Siok Nio mempunyai seorang paman diselatan, maka ia lalu menuju ketempat tinggal pamannya itu.
Oleh karena perjalanan itu jauh dan makan waktu sedikitnya tiga hari perjalanan, sedangkan ia tidak membawa apa ketika melarikan diri, maka dapat dibajangkan betapa sengsaranya nyonya muda ini.
Pada keesokan harinya ketika ia berjalan sampai disebuah hutan, tiba-tiba muncul serombongan perampok yang banyak terdapat dimasa itu.
Melihat seorang wanita muda menggendong seorang anak perempuan lewat dihutan itu, mereka timbul maksud jahat hendak mempermainkannya, sedangkan Siok Nio ketika melihat dirinya dikurung oleh belasan orang laki-laki tinggi besar dan kasar, tak dapat berbuat lain kecuali menangis ketakutan.
Juga Beng Lian menangis dan menjerit dalam gendongan ibunya, Anak yang baru berusia empat tahun ini sudah dapat membedakan orang baik dan jahat, maka melihat sikap kasar dan muka penuh cambang-bauk dari para perampok itu, ia memekik-mekik dengan keras membuat para perampok itu menjadi gemas.
Seorang diantara mereka mengulurkan tangan hendak menangkap anak kecil itu untuk dibantingkannya, akan tetapi tiba-tiba ia roboh dengan leher tertancap sebatang jarum.
"Perampok-perampok jahat jangan mengganggu orang!,"
Terdengar bentakan halus dan tahu-tahu disitu telah muncul seorang Nikouw (pendeta wanita) berjubah putih yang sikapnya lemah-lembut.
Perampok itu berjumlah belasan orang, yang bertubuh kuat dan berwatak ganas.
Tentu saja mereka tidak takut menghadapi seorang Nikouw tua yang bertubuh lemah, maka mereka segera maju dengan golok diangkat untuk menghancurkan tubuh Nikouw itu.
Akan tetapi, Nikouw itu mengajunkan kedua tangannya dan dari setiap tangannya melayang keluar tiga sinar putih yang kecil menyambar kearah enam orang perampok yang segera menjerit kesakitan dan roboh dengan jalan darah ditubuh mereka tertusuk jarum terbang!
Sisa perampok yang menyaksikan kelihaian ini, menjadi gentar, dan mereka lalu melarikan diri sambil menyeret tubuh kawan-kawan mereka yang terluka!
Nikouw itu tersenyum melihat hal ini dan ia lalu bertanya kepada Siok Nio yang masih duduk diatas tanah sambil menangis dan memeluk anaknya.
"Toanio, siapakah kau dan mengapa kau berada didalam hutan liar ini berdua saja dengan puterimu?"
Sambil menangis, Siok Nio lalu menceritakan mala-petaka yang menimpa kampungnya dan yang mengakibatkan tewasnya suami dan puteranya, bahkan yang membuat seluruh rumah-tangganya hancur berantakan.
Nikouw itu menghela napas panjang dan berkata.
"Telah banyak pinni mendengar tentang kerusakan ini. Semoga Thian segera membebaskan kita dari keadaan yang amat buruk ini. Toanio tidak baik bagi seorang wanita muda seperti kau melakukan perjalanan seorang diri dalam waktu sekacau ini. Kalau kau suka, lebih baik untuk sementara waktu kau tinggal bersama pinni diKuil Kwan-Im-Bio. Orang yang baik tentu akan mendapat perlindungan Thian dan mendapat berkah Pouwsat (Dewi Kwan-Im)."
Siok Nio berlutut dan mengaturkan terima-kasihnya dengan bercucuran air-mata.
Kemudian ia lalu pergi mengikuti Nikouw tua itu menuju kesebuah Bio (Kuil) yang berada diluar tembok kota An-kian.
Oleh karena Nikouw tua itu pandai sekali menghiburnya dan juga menceritakannya tentang kebahagiaan seorang beribadat, maka akhirnya Siok Nio mengambil keputusan untuk menggunduli kepalanya dan masuk menjadi seorang Nikouw!
Nikouw-tua itu bernama Pek-I Nikouw dan mengepalai sejumlah besar Nikouw yang berdiam diKuil Kwan-Im-Bio yang besar.
Ia adalah seorang Nikouw yang berilmu tinggi karena Pek I Nikouw adalah seorang anak murid Thai-san-pai yang telah mencapai tingkat kedua.
Siok Nio setelah masuk menjadi Nikouw, diberi nama Siok Thian Nikouw dan nyonya janda ini menjalani penghidupan suci sambil merawat puterinya yang segera menyadi kesayangan semua Nikouw didalam Kuil itu.
Pek I Nikouw sendiri amat suka kepada Beng Lian dan mulai memberi latihan silat kepada anak perempuan itu, sedangkan Nikouw lainnya yang pandai ilmu surat-menjurat lalu memberi pelajaran membaca dan menulis padanya.
Beng Lian yang semenjak umur empat tahun hidup didalam Bio dan bergaul dengan orang yang menuntut penghidupan suci, Tentu saja mempunyai perangai yang halus dan sopan, bergaja lemah-lembut, dan pandai bergaul serta suka merendahkan diri, hingga siapa saja yang melihatnya akan merasa suka dan sedikitpun takkan menyangka bahwa dia memiliki ilmu silat yang diwariskan oleh Pek I Nikouw yang berilmu tinggi itu.
Apabila kita mengikuti dan memperhatikan majunya waktu detik demi detik, akan terasa amat lama sekali.
Akan tetapi, sebentar saja perhatian kita beralih, maka sang waktu akan meluncur cepat laksana anak-panah terlepas dari busurnya!
Demikianlah, dua belas tahun telah lewat tak terasa semenjak tiga orang anak yang menjadi kurban bencana perang, yakni Kui Eng, Tan Bun Hong, dan Gan Beng Han, ikut kepuncak Swi-hoa-san menjadi murid Lui Sian Lojin.
Kakek ini telah menurunkan seluruh ilmu kepandaiannya kepada mereka dengan adil dan tidak berat-sebelah.
Bahkan ilmu pedang ciptaannya, yakni Swi-hoa Kiam-hwat, ia ajarkan sampai tamat.
Ketiga orang murid itu menerima pula latihan lweekang dan ginkang yang tinggi.
Biarpun mendapat latihan berbareng dan mempelajari ilmu silat yang sama, namun ilmu silat adalah semacam ilmu yang hidup dan yang bercabang-ranting tiada batasnya, oleh karena ilmu silat termasuk cabang kesenian.
Seperti juga kesenian yang lain, ilmu silat mempunyai variasi dan keindahan yang tergantung sepenuhnya kepada yang memainkannya.
Guru silat hanya memberi pelajaran dasar gerak tangan dan kaki belaka serta memberi contoh tentang gerakan atau gaya menurut keadaan peribadinya sendiri, akan tetapi selanjutnya, untuk mematangkannya tergantung kepada si murid yang memberi tambahan variasi dan gaya menurut bakat dan peribadinya masing-masing.
Demikian pula ketiga orang murid Lui Sian Lojin itu, biarpun mereka mempelajari ilmu silat yang sama, namun persamaan ini hanya terletak pada dasar gerakan kaki dan tangan mereka, sedangkan kelihaian masing2 berbeda sifatnya.
Kui Eng memiliki gaya ilmu silat yang indah dipandang.
bagaikan seorang bidadari tengah menari, lemah-lembut gayanya.
Akan tetapi didalam kelemah-lembutannya ini tersembunyi tenaga lweekang yang cukup hebat dan ia memiliki ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang lebih tinggi sedikit daripada tingkat kedua suhengnya (kakak seperguruan).
Tan Bun Hong memiliki gerakan yang cepat dan ia pandai membuat gerak-gerak tipu yang ditambahkan pada gerak-gerak tipu sesungguhnya, Yakni gerakan-gerakan palsu dengan pedangnya hingga membingungkan fihak lawan yang belum mengenal betul ilmu pedangnya.
Kecepatannya memang luar biasa hingga kalau ia sedang berlatih pedang, maka pedang ditangannya berubah menjadi segulungan sinar yang ganas bagaikan seekor naga menyerbu dari langit!
Sebaliknya, Gan Beng Han memiliki tenaga dalam yang paling tinggi oleh karena ia tekun dan kuat sekali berlatih dan bersamadhi dan latihan pernapasan hingga tenaga dalamnya amat kuat.
Gerakan pedangnya lambat dan tidak banyak variasi, namun gerakan kaki dan tangannya yang tetap dan teguh itu membuat pedangnya seolah-olah sebuah dinding baja yang sukar sekali ditembus!
gaya dan variasi dalam ilmu silat memang berpengaruh besar oleh sifat dan perangai pemainnya, Karena semua gerakan itu dikendalikan oleh rasa, sedangkan perasaan seseorang mempunyai hubungan erat dengan sifat peribadinya.
Lui Sian Lojin maklum sepenuhnya akan hal ini, maka ia membantu perkembangan ilmu kepandaian silat ketiga orang muridnya itu dengan menjesuaikan gerakan dengan sifat masing-masing.
Ia memberikan petunjuk dan nasehat yang amat berharga dan yang ditaati sepenuhnya oleh ketiga orang murid yang juga menganggapnya sebagai orang-tua sendiri.
Dalam hati ketiga orang muda ini tumbuh kasih-sayang dan bakti seperti perasaan seorang anak terhadap orang-tuanya, oleh karena mereka merasa betapa besar rasa kasih-sayang kakek ini terhadap mereka.
Pada suatu hari Lui Sian Lojin memanggil ketiga orang muridnya itu berkumpul dan setelah ketiga orang muda itu duduk dan berlutut dihadapannya, ia berkata.
"Beng Han, Bun Hong, dan Eng Eng!"
Telah lama ia menjebut Eng Eng kepada Kui Eng karena sesungguhnya ia amat memanjakan gadis ini.
"Dua belas tahun kalian bertiga telah belajar silat ditempat ini hingga kini kalian telah memiliki ilmu kepandaian silat yang lumayan juga. Masih ingatkah kalian kepada sumpahmu dulu?"
Tentu saja ketiga anak muda itu masih ingat oleh karena seringkali suhu mereka memberi peringatan agar isi sumpah itu berakar didalam sanubari mereka, maka mereka bertiga mengangguk.
"Nah, syukurlah kalau begitu. Sekarang tibalah masanya bagi kalian untuk memberi isi kepada sumpahmu itu, turun gunung dan mempergunakan ilmu kepandaian ditempat yang benar agar kalian menjadi manusia yang berguna bagi orang lain. Kalian harus turun gunung dan mulai melakukan tugas kewajiban sebagai pendekar muda yang gagah perkasa serta mencari pengalaman hidup. Ketiga orang muda itu merasa terkejut karena belum pernah terpikir oleh mereka untuk pergi turun gunung, terjun kedalam dunia ramai yang kini terasa asing bagi mereka itu. Terutama sekali Kui Eng merasa kaget sekali hingga ia berlutut mendekati suhunya dan berkata dengan suara mengandung keharuan.
"...Turun gunung, suhu? Turun gunung dan pergi meninggalkan kau? Suhu, kau sudah tua dan kalau kami pergi, siapakah yang akan merawatmu? Teecu tak sampai hati meninggalkan suhu dan biarlah kedua suheng ini turun gunung memperluas pengalamannya. Akan tetapi biarkan teecu tinggal disini bersama suhu. Teecu tidak ingin meninggalkan suhu."
Bun Hong tidak berkata apa, karena didalam hatinya ia merasa gembira sekali.
Biarpun ia tidak pernah menyatakan dengan mulutnya, akan tetapi setiap kali ia berdiri diatas batu karang besar yang berada dipuncak bukit dan memandang ketempat jauh, maka hatinya berdebar tegang timbul keinginannya untuk melihat bagaimana pemandangan dan keadaan didunia yang jauh itu!
Akan tetapi, setelah kini dengan tiba-tiba suhunya bicara tentang turun gunung, iapun menjadi ragu-ragu, tak obahnya seperti seekor burung yang dilepas dari kurungan dan tidak tahu harus terbang kemana!
Sementara itu, Beng Han berkata kepada suhunya dengan suaranya yang tenang.
"Suhu, sungguhpun teecu ingin sekali menjalankan perintah suhu untuk turun gunung ini akan tetapi pada pendapat teecu, kata-kata sumoi tadi benar juga. Kalau teecu bertiga pergi dari sini, suhu tentu akan merasa kesepian dan siapakah yang akan merawat suhu yang sudah tua ini? Lebih baik teecu bertiga turun gunung dengan bergiliran, apabila seorang sudah kembali, barulah orang kedua pergi hingga dengan demikian, suhu tidak akan pernah ditinggalkan seorang diri."
Lui Sian Lojin tersenyum.
"Anak-anakku, kalian anggap bagaimanakah aku ini. Aku adalah seorang yang sudah biasa hidup menyendiri, dan untuk merawat tubuhku yang sudah tua ini kiranya tidaklah sukar. Aku dapat menjaga diri sendiri dan tidak ada kesenangan lain kecuali mengenangkan kalian sedang berjuang demi kebaikan didunia ramai! Ketahuilah bahwa pohon buah yang bagaimana lezatpun takkan ada gunanya apabila tumbuh didalam tempat yang terasing hingga buahnya takkan pernah dinikmati orang. Ibarat pohon buah-buahan, kalian bertiga adalah tiga batang pohon kecil yang baru tumbuh ketika bertemu dengan aku. Kemudian aku membawa kalian kepuncak ini, merawat dan menyirami ketiga batang pohon kecil itu hingga sekarang telah tumbuh menjadi besar dan berkembang. Apabila kalian tidak turun gunung sekarang untuk membiarkan kembang itu berbuah dan dinikmati orang, bukankah kembang-kembang itu akan sia-sia belaka dan buah-buahnyapun akan jatuh satu demi satu dan membusuk diatas tanah. Dan kalau sampai demikian halnya, bukankah itu berarti bahwa susah payahku selama merawat dan menyirami pohon kecil itu menjadi sia-sia belaka?"
Ketiga orang murid itu tunduk dan ucapan suhu mereka ini berkesan dihati masing-masing, karena mereka mengerti dengan baik maksud suhunya.
"Oleh karena itu, anak-anakku, kalian turunlah dari tempat ini dan merantau didunia ramai. Aku akan menunggu kalian ditempat ini dan kuberi waktu tiga tahun pada kalian untuk meluaskan pengalaman. Tiga tahun kemudian, pulanglah kalian kesini dan kurasa tubuhku yang sudah tua ini akan kuat menanti dan hidup sampai tiga tahun lagi!"
Mendengar kata-kata ini, Kui Eng mengangkat mukanya dan memandang kepada Lui Sian Lojin.
Kakek ini sekarang telah nampak tua benar, rambut dan jenggotnya telah putih bagaikan benang-benang perak dan kulit mukanya telah penuh keriput.
Bahkan alisnya telah berwarna putih pula semua, menandakan bahwa usianya sudah sangat lanjut.
Tiba-tiba timbul rasa kasihan dalam hati Kui Eng dan gadis itu kembali menjatuhkan diri berlutut sambil berkata.
"Akan tetapi, suhu, kau betul sudah sangat tua dan hatiku tidak membenarkan untuk meninggalkan suhu. Diperantauan, hati teecu akan selalu teringat kepada suhu dan selalu merasa kuatir."
Sambil berkata demikian, kedua mata gadis itu menjadi basah.
Melihat betapa gadis itu hampir menangis karena berat meninggalkannya, bukan main terharu dan girang hati kakek itu.
Ia merasa amat berbahagia oleh karena ketiga orang muridnya yang telah dianggap anaknya sendiri itu ternyata amat mengasihinya hingga tidak sia-sialah ia merawat mereka semenjak kecil.
Akan tetapi, kakek ini bukanlah seorang yang lemah dan yang mementingkan diri sendiri.
Maka dikuatkannya hatinya dan berkata dengan suara tetap dan keras.
"Eng Eng! Tidak selayaknya bagi seorang gadis yang gagah untuk mudah mengobral air mata! Dan tidak seharusnya seorang muridku yang gagah seperti kau ini menjadi lemah hati. Angkat mukamu dan keringkan air matamu, lalu tersenyumlah!"
Kui Eng mengangkat mukanya dengan perlahan dan ketika ia melihat betapa wajah suhunya tersenyum kepadanya dan sepasang mata orang-tua itu bersinar-sinar dengan seri-gembira, lenyaplah kelemahan hatinya dan iapun lalu tersenyum!
"Nah, begitulah seharusnya, anakku yang baik!
Eng Eng, dulu kau bilang kepadaku, bahwa ibumu dilarikan penjahat.
Masih ingatkah kau kepadanya?
Kui Eng terkejut sekali mendengar ini.
Telah lama ia mencoba untuk melupakan bayangan peristiwa dimasa kecilnya itu dan bayangan ini selalu mengikutinya, bahkan telah mengganggunya diwaktu tidur.
Dan sekarang suhunya telah mengingatkan ia akan hal ini!
Sebetulnya tadinya Lui Sian Lojin tidak ingin membangkit-bangkitkan hal ini dalam hati ketiga orang muridnya, akan tetapi melihat keraguan hati Kui Eng untuk turun gunung, terpaksa ia mengemukakan hal ini untuk mendorong keinginan hati gadis itu turun gunung dan mencari ibunya.
Tiba-tiba terdengar gadis itu terisak ketika ia teringat akan nasib keluarganya.
"Suhu, sekarang juga teecu hendak mencari orang yang menculik ibu dan hendak membelah dadanya!,"
Katanya dengan gemas dan marah.
"Nah, nah... sabarlah, jangan demikian mudah di kuasai nafsu, anakku. Mudah saja kau mengeluarkan kata ancaman itu seakan yang hendak kau belah dadanya itu hanyalah seekor ayam saja! Bagaimana kalau kemudian ternyata bahwa orang yang melarikan ibumu itu bahkan menjadi penolongnya?"
Kui Eng terkejut lagi dan kini ia menjadi bingung.
"Kalau begitu... ah, teecu minta petunjuk, suhu, karena teecu tak mengerti harus berbuat apa...,"
Katanya gugup. Suhunya tersenyum dan menahan geli hatinya.
"Dengarkanlah Kui Eng, dan kalian juga, Beng Han dan Bun Hong Kalian telah bersumpah dihadapanku dan diantara sumpah itu terdapat pernyataan bahwa kalian tidak akan membunuh jiwa orang secara serampangan saja. Harus diingat bahwa pembunuhan adalah suatu dosa yang besar sekali dan yang akan mengikatmu dengan hukum karma hingga jiwamu akan selalu menderita. Kita tidak berkuasa mencipta manusia, mengapa pula kita harus mengakhiri hidup seorang manusia yang diciptakan oleh Thian? Hanya Tuhanlah yang berkuasa mencabut nyawa manusia! Ingatlah baik, kalau tidak sangat terpaksa, dan apabila masih ada jalan lain, janganlah sekali-kali kalian menurunkan tangan kejam dan membunuh orang! Lihatlah ini!"
Sambil berkata demikian kakek itu mencabut pedangnya, sebuah pedang pusaka yang bercahaya kekuningan dan yang tajamnya luar biasa sekali karena ketiga orang murid itu pernah melihat suhu mereka mendemonstrasikan kehebatan pedang itu dengan membacok batu karang sebagai orang membacok tahu saja!
"Selama aku masih hidup dan pedang ini masih berada ditanganku, kalau kalian melanggar sumpah dan melakukan kejahatan dengan mengandalkan kepandaianmu yang kalian pelajari disini, biarpun hatiku amat mencintai kalian, maka siapa yang berbuat dosa dan jahat kuserang dengan pedang ini!"
Ketika kakek ini mengucapkan kata itu, wajahnya nampak gagah dan sungguh hingga ketiga orang muridnya menjadi gentar.
"Dan sekarang, kalian boleh turun gunung. Terserah kepada kalian untuk merantau bersama atau hendak berpisah, akan tetapi aku menghendaki agar supaya kalian saling membantu dan agar kalian bertiga datang ketempat ini pada tiga tahun kemudian!"
Dengan hati berat, ketiga orang itu lalu berkemas.
Selama berada disitu, suhu mereka yang amat mencintainya itu telah mencarikan pakaian yang cukup banyak bagi mereka, dan masing diberi sebatang pedang yang biarpun bukan pedang mustika, namun cukup baik.
Kemudian mereka berlutut lagi didepan suhu mereka, lalu mulai meninggalkan tempat itu, turun gunung!
Lui Sian Lojin berdiri diatas batu karang yang besar itu dan memandang kepada ketiga orang muridnya sampai bayangan ketiga orang muda itu lenyap dari pandangan matanya.
Kemudian ia turun dari batu itu dan berjalan perlahan memasuki pondoknya, Pondok yang kosong itu betapapun juga mempengaruhi hatinya yang tiba-tiba saja terasa kosong.
Hidupnya seakan mati dan semangatnya seperti dibawa pergi oleh ketiga orang muda itu.
Dadanya terasa sesak dan kerongkongannya bagaikan disumbat sesuatu dari dalam, akan tetapi kakek yang gagah perkasa ini lalu menggunakan kekuatan batinnya untuk menindas rasa duka dan sepi itu dan duduk bersila diatas pembaringannya sambil bersamadhi dan mengatur pernapasannya.
Bukan sembarang anak muda yang turun dari gunung Swi-hoa-san pada hari itu.
Kui Eng telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan wajahnya sangat manis.
Rambutnya yang hitam pajang itu dikepang dua dan diikat dengan pita sutera merah, sedangkan diatas kepalanya sebelah kiri dihias dengan hiasan rambut berupa setangkai bunga bwe terbuat daripada batu merah pemberian suhunya, Wajahnya yang cantik jelita bertambah manis karena senyumnya yang selalu menghias bibir dan sepasang matanya yang lebar dan bersinar laksana bintang pagi itu membuat wajahnya nampak terang dan berseri selalu.
Tubuhnya ramping dan padat, menandakan bahwa ia memiliki tenaga yang kuat, sedangkan kulitnya yang halus putih kekuningan itu menjembunyikan kepandaiannya yang luar biasa.
Sungguhpun ia selalu berdiam diatas gunung dan jauh dari kota besar, Namun suhunya yang amat mengasihinya telah membelikan sutera hijau yang menjadi kesukaannya.
Dan kini iapun mengenakan pakaian sutera berwarna hijau yang membuat kulitnya nampak lebih putih dan gemilang Sabuk yang mengikat pinggangnya yang kecil terbuat dari kain merah, ujungnya melambai tertiup angin gunung ketika ia berlari bersama kedua suhengnya.
Sepatunya berwarna hitam dan potongannya kecil.
Gagang pedang yang nampak tergantung dipinggangnya membuat ia nampak gagah.
Cantik dan gagah, demikianlah sifat Kui Eng bagaikan setangkai bunga yang indah mengharum, akan tetapi ia bukanlah bunga sembarang bunga.
Bukanlah bunga harum indah yang mudah dijangkau tangan dan mudah pula dipetik.
Ibarat bunga, ia berada ditempat tinggi dan kegagahannya yang melindungi kecantikannya bagaikan duri yang tajam melindungi bunga harum itu.
Mudah dipandang akan tetapi sukar untuk dicapai tangan!
Tan Bun Hong yang berlari disebelah kirinya juga merupakan seorang muda yang patut dikagumi.
Semenjak kecilnya mudah diduga bahwa ia akan menjadi seorang pemuda yang cakap dan tampan.
Rambutnya hitam dan digelung diatas, diikat dengan sutera biru dengan erat, hingga keningnya yang tinggi dan lebar itu menambah ketampanannya.
Kulit mukanya halus dan putih hingga bibirnya nampak merah bagaikan bibir seorang wanita.
Sepasang matanya kocak dan jenaka, menunjukkan bahwa ia memiliki kecerdasan otak, sedangkan senyum manis yang tak pernah meninggalkan bibirnya itu membuat orang merasa suka kepadanya.
Tubuhnya agak kurus, akan tetapi bahunya lebar dan tegak sedangkan langkah kakinya yang tetap itu membuktikan adanya kekuatan besar dalam tubuhnya.
Pakaiannya berwarna kuning gading dengan ikat pinggang warna biru pula.
Pakaiannya yang rapi dan bersih itu menandakan bahwa ia seorang yang rajin dan pesolek yang suka akan kebersihan, Juga pedangnya tergantung dipinggang kiri hingga ia merupakan seorang muda yang cakap tampan dan gagah sekali.
Disepanjang jalan tiada hentinya ia bercakap-cakap hingga perlahan kedukaan hati kedua saudara seperguruannya karena berpisah dengan Lui Sian Lojin itu dapat terusir oleh kejenakaan dan kelakar yang dikeluarkan oleh Bun Hong yang berwatak gembira.
Gan Beng Han adalah seorang pemuda yang bertubuh tinggi, lebih tinggi dari Bun Hong dan tubuhnya lebih tegap.
Rambutnya yang subur dan hitam juga diikat ke atas seperti rambut Bun Hong, diikat dengan sehelai pita warna hitam.
Mukanya lebar dan sepasang telinganya besar berbentuk bagus.
Alisnya tebal, membuat wajahnya nampak lebih menarik dan gagah, sedangkan kedua matanya bersinar lembut dan jujur, bergerak lambat menandakan bahwa ia memiliki ketenangan, Dagunya yang berlekuk pada tengah-tengahnya itu menjadi tanda akan kejantanannya, akan tetapi bibirnya menunjukkan kesabaran besar.
Pakaiannya terbuat daripada kain tebal berwarna abu-abu dan karena ketiga orang muda itu membuat pakaian mereka sendiri, maka melihat pakaian yang dipakai oleh Beng Han, menunjukkan bahwa ia bukan seorang pesolek dan bahkan seorang yang berjiwa sederhana.
Kulit mukanya tidak seputih Bun Hong, akan tetapi apabila orang bertemu dengan Beng Han, ia takkan ragu bahwa pemuda ini adalah seorang muda yang gagah perkasa dan boleh diharapkan.
Wajah Beng Han biarpun tidak bisa disebut buruk, akan tetapi ia lebih kelihatan gagah daripada tampan.
Langkah kakinya tidak seringan Kui Eng yang berjalan disebelah kirinya, juga tidak secepat Bun Hong, akan tetapi lebih tetap dan kuat, dengan langkah yang lebar dan lenggang yang jelas membayangkan kehebatan tenaganya.
Ketiga orang muda yang pada saat itu menuruni gunung Swi-hoa-san, boleh disebut sebagai lambang dari kecantikan, ketampanan, dan kegagahan!
Dan apabila orang telah mengetahui akan ilmu kepandaian mereka yang amat tinggi, maka ia akan menyatakan bahwa yang sedang berlari cepat menuruni gunung itu bukanlah tiga orang muda sembarangan, akan tetapi tiga naga sakti yang turun dari langit, turun menuju kedunia ramai untuk melakukan tugas suci!
Pada masa itu, kerajaan Tang yang baru saja terlepas daripada gangguan pemberontak, dan kini yang menjadi Kaisar ada adalah seorang yang lemah, maka amat miskin dan tidak becus mengatur pemerintahan.
Pembesar kerajaan, terutama para Thaikam (orang kebiri) yang memainkan peranan penting dalam tampuk kerajaan, adalah orang-orang yang beriman lemah dan terlalu mementingkan kesenangan sendiri hingga korupsi merajalela di kerajaan.
Kembali rakyat kecillah yang celaka dan menderita tekanan hebat.
Pajak penghasilan sawah diperhebat dan diperberat hingga boleh dibilang bahwa para petani itu membanting-tulang memeras-keringat semata hanya untuk menambah gemuk para pembesar dan tuan tanah belaka!
Oleh karena tekanan berat ini, tidak heran bahwa banyak orang yang memiliki ilmu kepandaian dan kegagahan lalu lari kedalam hutan, menjadi perampok!
Tekanan dan penderitaan hidup yang membuat rakyat hidup dalam keadaan miskin dan kurang makan, menimbulkan kekacauan dan mata gelap.
Ketika Kui Eng, Beng Han dan Bun Hong tiba disebuah hutan dikaki gunung Swi-hoa-san, mereka bertemu dengan orang pertama, akan tetapi pertemuan ini mengecewakan hati mereka oleh karena orang pertama yang mereka jumpai ini bukan lain ialah serombongan perampok!
Lebih dari dua puluh orang perampok yang berpakaian compang-camping dan bertubuh kurus, dengan ganas keluar dari belakang pohon dengan golok ditangan dan wajah bengis.
Kepala mereka, seorang yang tinggi besar bermuka hitam, dengan golok ditangan berdiri dengan kedua kaki terbentang lebar.
"Tiga orang muda yang sedang lewat, berhenti dulu dan tinggalkanlah bungkusan dan pedang, baru boleh lewat terus!,"
Katanya. Tiga anak muda itu saling pandang sambil tersenyum.
"Suheng, inilah orang-orang jahat yang perlu dibasmi!,"
Kata Bun Hong dengan tenang sambil meraba pedangnya.
Juga Kui Eng diam meraba gagang pedangnya dengan hati berdebar karena baru kali ini akan mengalami pertempuran dan mempraktekkan ilmu kepandaiannya.
Akan tetapi Beng Han tetap berlaku tenang.
"Sahabat,"
Katanya dengan halus dan tenang.
"kita tidak pernah berkenalan, juga tak pernah bermusuhan, mengapa kamu minta yang bukan-bukan. Aku pernah mendengar bahwa orang yang minta barang orang lain secara paksa, disebut perampok. Apakah kalian ini hendak merampok kami?"
Tiba-tiba kepala rampok itu tertawa terbahak-bahak dan semua anak buahnya ikut pula tertawa geli, seakan suara ketawa kepala rampok itu merupakan perintah kepada mereka supaya tertawa!
"Anak muda, kau boleh sebut kami perampok atau apa saja.
Pendeknya, kami yang berkuasa dirimba ini dan setiap orang yang bertemu dengan kami harus meninggalkan barangnya.
Kalau kalian bertiga anak muda ini membantah, jangan katakan kami berlaku keterlaluan apabila golok kami yang mewakili kami bicara!"
"Perampok kurang-ajar! Kamu kira kami ini orang. apakah?"
Bentak Bun Hong yang tak dapat menahan kesabaran hatinya lagi. Sambil berkata demikian, ia melangkah maju sambil mengangkat dada dan mengepalkan tinju! "Sergap mereka!,"
Teriak kepala rampok itu dan belasan batang golok berkilauan menerjang mereka bertiga.
"Jangan gunakan pedang!"
Beng Han memperingatkan kedua saudara seperguruannya dan ketika dua puluh lebih golok para perampok itu maju mengerojok, tiga bayangan Kui Eng, Bun Hong dan Beng Han berkelebat kesana-kemari seperti tiga ekor naga sakti mengamuk.
Terdengar pekik kesakitan susul-menjusul dan golok-golok beterbangan keatas tanah.
Sebentar saja, termasuk kepala rampok itu, telah rebah diatas tanah dalam keadaan tertotok, terpukul dan tertendang yang membuat mereka tak dapat bangun lagi!
Para perampok itu lebih merasa heran dan terkejut daripada menahan rasa sakit.
Mereka hanya rebah dan memandang dengan mata terbelalak dan mulut menganga.
Bahkan kepala rampok yang terpukul oleh sentilan jari tangan Bun Hong pada iganya itu lalu merajap bangun dan berlutut didepan ketiga pendekar muda itu.
"Ampunkan kami, samwi enghiong (tiga orang gagah)! Mata kami telah buta dan tidak mengenal tiga hiapkek (pendekar) besar yang sedang melakukan perjalanan!"
Bun Hong dan Kui Eng memandang dengan senyum sindir, akan tetapi Beng Han segera membangunkan kepala rampok itu dan berkata.
"Sahabat, mengapa kalian yang masih muda-muda dan gagah ini melakukan pekerjaan yang demikian rendah?"
Kepala rampok itu memang sedari masih muda telah menjadi rampok, maka ia tidak dapat menjawab dan pula tidak berani menjawab, hanya menundukkan kepalanya.
Akan tetapi anak-buahnya dengan suara sedih menjawab.
"Hohan (orang budiman), kami menjadi perampok oleh karena terpaksa! Anak-isteri dirumah harus diberi makan dan pekerjaan halal apakah yang dapat kami kerjakan pada waktu begini sukarnya? Harap hohan sudi mengampunkan kami yang sengsara ini!"
"Alasan kosong belaka!,"
Tiba-tiba Bun Hong membentak sambil memandang tajam.
"Kalian harus insyaf dan tidak mengulangi pekerjaan jahat ini. Awas, kalau lain kali aku lewat disini dan melihat kalian masih menjadi perampok, aku takkan mempergunakan tangan dan kaki belaka akan tetapi aku tentu akan menggunakan pedangku untuk menamatkan riwajat hidup kalian!"
Sambil menganggukkan kepala karena takut, semua perampok berjanji untuk mentaati perintah ini.
Kemudian ketiga pendekar muda itu lalu melanjutkan perjalanan mereka.
Mereka langsung menuju kedusun Hong-yan.
Melihat dusun tempat kelahiran mereka, Bun Hong dan Kui Eng merasa terharu sekali dan terbayanglah segala peristiwa dulu didepan mata, hingga diam-diam Kui Eng menggunakan saputangan untuk menghapus air mata yang menitik turun keatas pipinya.
Dusun itu telah banyak berobah semenjak mereka pergi.
Rumah baru telah dibangun, akan tetapi orang yang tinggal didusun itu sebagian besar adalah pendatang baru dari lain dusun.
Biarpun masih banyak penduduk lama kembali ditempat itu dan mendirikan rumah lagi, akan tetapi oleh karena Bun Hong dan Kui Eng pergi meninggalkan Hong-yan diwaktu mereka masih kecil, maka tidak ada orang yang mengenal mereka, sedangkan mereka berduapun tak melihat seorangpun yang dikenalnya.
Ketika kedua orang muda itu mencoba untuk bertanya kepada orang-orang disitu tentang keadaan keluarga mereka, jawaban yang mereka dapat dari penduduk lama hanyalah helaan napas dan gelengan kepala, sambil dibarengi ucapan sedih.
"Semua binasa, semua habis...!"
Demikian pula dengan keadaan dusun tempat kelahiran Beng Han.
Melihat keadaan dusun yang amat miskin dan penghidupan rakyat dusun yang amat sengsara itu, ketiga pendekar muda ini merasa terharu dan kasihan sekali.
Pada masa itu, para pembesar Thaikam yang berkuasa penuh di kotaraja, mengadakan peraturan pajak yang amat menekan dan mengisap darah para petani dan menentukan pajak sebanyak lima puluh sampai seratus kati gandum bagi tiap mou sawah.
Pajak ini luar biasa beratnya, karena hampir meliputi bagian terbesar dari hasil tanah, bahkan diwaktu musim kering, sawah tak dapat menghasilkan gandum sebanyak itu!
Oleh karena mendapat contoh dari pembesar tertinggi, maka para tuan tanah dikampung dan para petugas yang mendapat kekuasaan seperti kepala kampung, tidak mau kalah dan menurut contoh ini dengan setia.
Merekapun menetapkan pajak sebesar itu bagi para petani hingga keluh-kesah rakyat kecil makin menghebat, yang menjadi kepala kampung di Hong-yan adalah seorang pendatang baru yang kaya, seorang she Gu.
Untuk dapat menjalankan pekerjaannya dengan lancar, kepala kampung she Gu ini memelihara beberapa belas orang tukang pukul, Karena banyak terjadi pertentangan dengan para petani yang merasa mashgul dikenakan pajak yang amat berat itu.
Tiap orang petani yang tak dapat memenuhi dan membajar pajaknya, akan ditangkap dan diberi hadiah beberapa puluh kali cambukan pada punggungnya!
Apabila ada petani yang hendak membangkang dan melawan, tukang pukul itulah yang akan beraksi dan menghentikan segala sikap membangkang itu dengan pukulan dan pembunuhan!
Biarpun kepala kampung she Gu ini boleh disebut kejam dan jahat, namun ia hanyalah merupakan mata-rantai kecil dari kekuasaan jahat yang berkuasa pada waktu itu.
Kepala kampung inipun berada dibawah kekuasaan pembesar atasannya yang berada dikota An-kian yang kekuasaannya meliputi wilajah dusun Hong-yan dan dusun-dusun disekitarnya.
Pembesar ini berpangkat Tihu dan she Yap dan dialah yang menetapkan besarnya pajak bagi para petani didusun-dusun, hingga terpaksa kepala kampung Gu itu harus mentaati perintahnya.
Namun, oleh karena tiap kali ada "makanan enak dan mudah,"
Anjing datang berebutan kepala kampung inipun tidak mau kalah dan menumpuk penghasilan dan hartanya dengan jalan mengkorup hasil pajak atau memberi tambahan extra untuk dia sendiri pada pajak yang sudah amat berat menekan itu!
Ketika mendengar tentang keadaan ini dari para petani bukan main marah dan gemas hati Kui Eng.
Bun Hong dan Beng Han.
Terutama sekali Kui Eng yang menjadi puteri seorang kepala kampung yang amat jujur.
Terbangunlah semangatnya ketika seorang petani tua yang mendengar cerita kawannya kepada mereka menghela napas dan berkata.
"Alangkah baiknya kalau Kui-Khungcu (kepala kampung Kui) masih hidup dan menjadi kepala kampung kita..."
Kui Eng maklum bahwa petani tua ini memuji ayahnya, maka ia lalu mengajak kedua suhengnya untuk pergi kerumah kepala kampung she Gu itu.
"Kita harus memberi pelajaran kepada kepala kampung pemeras itu!,"
Katanya dengan sengit.
Kedua suhengnya mempunyai pendapat yang sama, maka bertiga lalu pergi menuju kerumah kepala kampung Gu yang merupakan gedung besar dan mewah.
Kedatangani mereka disambut oleh para tukang pukul yang merasa curiga melihat kedatangan tiga orang muda asing yang membawa pedang pada pinggang mereka.
"Samwi hendak mencari siapa?,"
Tanya kepala tukang pukul yang bertubuh pendek gemuk dan agaknya pandai ilmu silat.
"...Siauwte bertiga ingin bertemu dengan Gu-Khungcu,"
Jawab Beng Han sambil mengangkat kedua lengan memberi hormat.
"Siapa nama dan ada keperluan apa?,"
Tanya kepala pengawal itu. Pertanyaan dan sikap pengawal yang sombong ini menggemaskan hati Bun Hong yang segera berkata kaku.
"Laporkan saja kepada kepala kampung supaya keluar menjumpai kami, soal nama dan keperluannya kau sigemuk tak perlu tahu!"
Marahlah pengawal gemuk itu.
Ia adalah terkenal sebagai seorang kepala tukang pukul yang ditakuti orang dikampung Hong-yan dan belum pernah ada orang berani berlaku kasar kepadanya, apalagi menghinanya seperti yang dilakukan oleh pemuda tampan ini.
Maka dengan mata melotot ia menjawab.
"Kalian ini orang kurang ajar pergilah dari sini! Gu-Khungcu sedang sibuk dan tidak ada waktu melayani kalian!"
Melihat hal ini, Beng Han segera berkata dengan suara halus.
"Twako, janganlah mencari perkara dengan kami. Kami tidak mempunyai urusan dengan kau, kami hanya ingin berbicara dengan kepala kampung."
Akan tetapi, kepala pengawal itu telah menjadi marah dan berkata.
"Setiap orang yang hendak menghadap Gu-khungcu harus bersikap sopan dan tidak boleh sekali membawa senjata tajam. Kalau kalian mau menanggalkan pedang, menyerahkannya kepada kami lalu menanti disini sambil berlutut, barulah kami mau melaporkan kedatanganmu!"
"Apa?"
Kui Eng melangkah maju dengan marah.
"Menanggalkan pedangku? Eh, babi gemuk, dengarlah! Kami sengaja membawa pedang untuk digunakan mengetok kepala orang she Gu itu beserta semua kaki-tangannya, termasuk kau!"
"Perempuan kurang ajar!"
Pengawal gemuk itu lalu mengulurkan tangan hendak mencengkeram tubuh Kui Eng.
akan tetapi sekali ia memutar tubuhnya, cengkeraman itu menangkap angin dan sebelum sigemuk tahu apa yang terjadi dengan dirinya, tahu-tahu tubuhnya telah terpelanting dan dadanya terasa sakit sekali terkena pukulan Kui Eng yang dilakukan cepat sekali hingga hampir tidak terlihat oleh yang dipukulnya!
Dengan marah dan membentak keras, beberapa orang pengawal maju mengerojok, akan tetapi Kui Eng, Bun Hong, dan Beng Han menangkap mereka seorang demi seorang dan melemparkan mereka kekanan dan kekiri, lalu melangkah maju terus kedalam gedung itu.
Gu-Khungcu yang mendengar suara ribut diluar, lalu keluar untuk melihat dan menegur akan tetapi ketika melihat tiga orang muda sedang melabrak tukang pukulnya, ia menjadi ketakutan dan hendak lari pergi.
Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan tahu seorang gadis jelita dan gagah berdiri didepannya dan menodongnya dengan pedang tajam didadanya!
Lemaslah kedua kaki kepala kampung itu.
Dengan tubuh menggigil dan suara gemetar ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata.
"Lihiap... ampunkan jiwaku..."
Sementara itu, belasan tukang pukul telah dapat dibikin roboh hingga tak berdaya oleh pukulan Bun Hong dan Beng Han yang keras hingga mereka hanya bisa merangkak dan mencoba bangun sambil memandang kearah kepala kampung dengan mata terbelalak.
"Orang she Gu!,"
Kui Eng membentak sambil mengancam dengan pedangnya keleher kepala kampung itu.
"Apakah kau benar ingin hidup?"
Dengan suara menggigil bagaikan orang terserang penyakit demam, kepala kampung itu menganggukkan kepalanya berulang-ulang dan berkata.
"Hamba ingin hidup... Lihiap... ampunilah hamba..."
"Kalau kau ingin memelihara nyawamu yang rendah, mulai sekarang kau harus merobah peraturan pajak pada para petani yang miskin! Kau adalah kepala kampung disini, dan seorang kepala kampung seharusnya menjadi ayah dari seluruh penduduk, mengatur, membela, dan menjaga agar semua orang hidup dalam kebahagiaan. Akan tetapi, sebaliknya kau bahkan memeras mereka dan hidup mewah dari hasil cucuran peluh dan darah mereka!"
"Anjing macam ini seharusnya dibunuh saja, sumoi!,"
Kata Bun Hong dengan suara sengaja dikeraskan untuk menakut-nakuti kepala kampung itu.
"Benar, bunuh saja!,"
Kata Beng Han yang tahu akan maksud sutenya. Makin ketakutanlah kepala kampung itu.
"Baik, baik... akan kuatur sebaiknya, akan tetapi... bagaimanakah aku dapat mengurangi pajak yang sudah ditetapkan...? Akupun hanya menjalankan perintah atasan..."
"Siapa yang menetapkan besarnya pajak itu?,"
Tanya Beng Han "Hamba mendapat perintah dari Yap-Tihu..."
"Dimana tinggalnya Yap-Tihu itu?"
"Dia... dia tinggal dikota An-kian dan kampung ini berada dalam wilajah dan kekuasaannya."
"Baik, kami hendak mendatangi Tihu keparat itu. Akan tetapi, mulai sekarang, kau harus bubarkan semua tukang pukulmu itu dan jangan berlaku sewenang-wenang kepada rakyat. Kalau kau tidak mau merobah kelakuanmu, pasti aku akan datang kembali mengambil kepalamu!,"
Kata Bun Hong dengan suara mengancam.
"...Dan jangan kira bahwa kami hanya mengeluarkan ancaman kosong belaka"
Kata Kui Eng. Lihat, apakan lehermu lebih keras daripada balok itu?"
Gadis itu memandang keatas, kearah sebatang balok sebesar pinggang yang melintang diatas.
Ia lalu mengajunkan tubuhnya melompat cepat kearah balok itu sambil mengajunkan tangan yang memegang pedang menyabet.
Melihat hal itu, Bun Hong juga melompat keatas dengan pedang ditangan meniru perbuatan gadis itu, menyabet kearah balok dengan pedangnya, Beng Han tersenyum dan merasa bahwa hal ini perlu sekali untuk mejakinkan dan menakutkan hati kepala kampung, maka sambil berseru iapun melompat keatas dan menyabet dengan pedangnya.
Kemudian ketiga orang pendekar muda itu meninggalkan rumah Gu-Khungcu.
Kepala kampung dengan sekalian tukang pukulnya memandang dengan bimbang.
Balok itu terbuat daripada kaju keras dan melintang ditempat yang tinggi.
Akan tetapi, ketiga orang pemuda itu dengan sekali loncat dan sekali bacok saja ternyata sudah berhasil membabat putus balok itu dan biarpun balok itu telah dibacok hingga putus ditiga tempat, akan tetapi karena tajamnya pedang dan keras serta cepatnya bacokan, maka balok yang melintang itu tidak jatuh kebawah!
Kepandaian yang hebat ini tentu saja membuat Gu-Khungcu menjadi bergidik ketakutan dan pada hari itu juga ia lalu memberi hadiah kepada semua tukang pukulnya dan minta supaya mereka semua meninggalkan kampung Hong-yan.
Hal ini diturut oleh semua tukang pukul yang masih merasa beruntung tidak terganggu keselamatan mereka oleh tiga pendekar itu!
Dan semenjak hari itu, benar saja Gu-Khungcu mengubah kelakuannya dan melakukan tugasnya sebagai seorang kepala kampung yang baik hingga penduduk dusun Hong-yan merasa amat beruntung dan berterima-kasih.
Semenjak ibunya menjadi Nikouw diKuil Kwan-Im-Bio diluar tembok kota An-kian, Beng Lian juga tinggal diKuil itu dan mempelajari ilmu silat dari Pek I Nikouw serta ilmu surat-menjurat dari Nikouw lain.
Kini, dua belas tahun telah lewat dan ia telah menjadi seorang gadis berusia enam belas tahun yang manis dan gagah.
Gadis manis ini oleh ibunya telah ditunangkan dengan putera Tihu bernama Yap Yu Tek, Dan pertemuan antara kedua anak muda ini terjadi dalam sebuah peristiwa yang menarik.
Lebih kurang setahun yang lalu, ketika Beng Lian baru berusia lima belas tahun dikota An-kian ribut karena gangguan seorang penjahat yang melakukan pencurian dan juga gangguan terhadap anak-bini orang.
Telah ada tiga rumah orang hartawan didatanginya dan mengambil sejumlah besar harta mereka, bahkan seorang gadis telah terbunuh mati ketika melakukan perlawanan terhadap gangguan penjahat kejam itu!
Tihu dikota An-kian bernama Yap Kam Kun, seorang pembesar yang berbeda dengan pembesar lainnya, karena ia melakukan tugasnya dengan taat dan keras menurut perintah dari kotaraja, akan tetapi sedikitpun ia tidak mau melakukan perbuatan yang bersifat buruk dan tidak mau melakukan korupsi hingga keadaannya tidak kaya seperti halnya lain pembesar pada umumnya.
Ketika mendengar laporan tentang sepak-terjang penjahat yang berani mengganggu kotanya, Yap-Tihu lalu mengerahkan pasukan penjaga kota untuk menangkap maling itu.
Akan tetapi, ternyata penjahat itu memiliki ilmu silat yang tinggi dan ketika ia pernah kepergok dan dikepung, ia berhasil mengalahkan dan merobohkan banyak anggauta penjaga keamanan hingga keadaan menjadi gempar.
Kepala penjaga sendiri yang terkenal gagah telah terluka pada dadanya oleh golok penjahat itu maka diam-diam Yap-Tihu merasa kuatir sekali.
Pembesar ini pernah mendengar berita bahwa kepala Nikouw diKuil Kwan-Im-Bio, yakni Pek I Nikouw, adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka ia sendiri lalu pergi keKuil itu untuk minta bantuan Pek I Nikouw agar supaya pendeta wanita tua itu suka membantunya.
"Taijin,"
Jawab Pek I Nikouw dengan suaranya yang halus, pinni (aku wanita bodoh) adalah seorang wanita lemah dan tua yang tidak memiliki kemampuan apa-apa.
Urusan ini adalah menjadi tanggung-jawab Taijin yang menjadi pembesar ditempat ini.
Mengapa Taijin tidak mendatangkan perwira-perwira yang gagah untuk membasmi penjahat ini?
Bukan sepatutnya kalau seorang Nikouw harus mengurus segala-macam kejahatan."
Nikouw tua ini memang merasa kurang puas terhadap para petugas pemerintah yang sebagian besar hanya kenal memeras rakyat mengumpulkan harta benda belaka.
"Maaf Suthai,"
Kata Yap Kam Kun dengan hormat.
"Memang seharusnya aku tidak boleh mengganggu ketenteraman hidup Suthai, dan memang sudah menjadi kewajibanku untuk mengurus sendiri hal ini, akan tetapi, siapa lagi yang kuharapkan untuk menghadapi penjahat yang lihai ini? Para penjaga keamanan telah kewalahan menghadapinya, bahkan kepala penjaga telah menderita luka. Kalau Suthai tidak sudi mengulurkan tangan membantu, apakah akan jadinya dengan kota kita ini?"
Pek I Nikouw menghela napas panjang.
"Taijin pandai mengumpulkan hasil pajak untuk disetorkan kepada pemerintah, mengapa tidak pandai menolak bahaya yang sedemikian kecilnya saja? Apakah akan kata rakyat yang telah memeras keringat untuk membajar pajak apabila gangguan ini saja fihak pemerintah tak dapat menghalanginya?"
Yap Kam Kun adalah seorang yang mempunyai pertimbangan adil, maka mendengar sindiran ini ia hanya menundukkan kepalanya.
Memang ia maklum akan keburukan pemerintah pada waktu itu, apakah akan sebagai seorang pembesar yang hanya berpangkat Tihu, ia dapat berdaya?
yang dapat dilakukannya tak lain hanya menurut perintah atasan dan menjalankan tugasnya sebaik mungkin.
Melihat pembesar itu tak dapat menjawab dan berdiam saja, Pek I Nikouw berkata lagi.
"Mengapa Kaisar tidak teringat akan pelajaran Nabi Khong Cu tentang sembilan jalan kebenaran sebagai syarat memimpin negara dan rakyat? Tahukah Taijin akan maksud pinni? Apakah Taijin masih ingat syarat keenam daripada sembilan jalan kebenaran itu?"
Yap-Tihu menganggukkan kepalanya.
"Aku masih ingat dengan baik dan syarat keenam itu ialah, Mencintai rakyat seperti anak sendiri."
"Nah, itulah! Mengapa sekarang rakyat bukannya diberi kecintaan dan kasih-sayang, diperhatikan nasib mereka dan diperlakukan dengan seadil-adilnya sehingga mereka itu dapat bekerja dengan gembira dan mempertinggi hasil pertanian? Sebaliknya rakyat diperas habis-habisan, diperlakukan dengan tidak adil, dibiarkan menderita dan sengsara. Kalau timbul kejahatan yang datang dari kegelapan pikiran disebabkan oleh semua penderitaan ini salah siapakah itu?"
Yap-Tihu mendengarkan segala ucapan pendeta wanita itu dengan tunduk dan tak dapat membantah.
Memang, ia sendiri dapat memaklumi bahwa Kaisar yang sekarang memegang kendali pemerintah, amat lemah hingga lupa akan segala petuah dan nasehat yang diajarkan oleh para cerdik pandai di zaman kuna.
Ujar-ujar Nabi Khong Cu yang disebut oleh Pek I Nikouw tadi adalah ujar-ujar yang terdapat dalam kitab Tiong Yong fatsal kedua puluh ayat kedua belas yang berisi pelajaran Nabi Khong Cu dan yang selengkapnya berbunyi seperti berikut, Untuk memimpin negara dan rakyat terdapat sembilan syarat atau jalan kebenaran, yakni, 1.
Memperbaiki (mengoreksi) diri peribadi..Menghargai para cerdik pandai..Mencintai seluruh anggauta keluarga..Menghormati pembesar-pembesar tinggi..Membimbing pembesar tingkat rendah..Mencintai rakyat seperti anak sendiri..Mengundang ahli pembangunan..Menyambut tamu-tamu dari luar negeri dengan ramah-tamah..Menarik simpati dan persahabatan dari negara lain.
Setelah mendengar segala macam ucapan yang dikeluarkan Pek I Nikouw sebagai penyesalan dan teguran kepada keadaan pemerintah pada waktu itu yang timbul dari kemenyesalan dan kemarahan yang ditahan-tahan, Yap-Tihu lalu berkata.
"Semua ucapan Suthai memang benar belaka, akan tetapi, apakah daja kita? Suthai hanya seorang pertapa wanita, akan tetapi akupun hanyalah seorang Tihu yang tidak mempunyai wewenang untuk mencampuri urusan ketata-negaraan yang berada dalam tangan para pembesar tinggi. Mungkin baru sepatah kata saja keluar dari mulutku, aku akan ditangkap dan dihukum dengan semua keluargaku, dituduh pemberontak! Biarlah, Suthai, kalau kau memang sudi menolong dan hendak bermurah hati, jangan pikirkan dan ingat kepada pemerintah. Anggap saja bahwa kau bukan menolong seorang Tihu, akan tetapi hanya menolong rakyat atau penduduk An-kian yang sedang berada dalam ketakutan dan kecemasan dengan adanya gangguan penjahat itu."
Pek I Nikouw mengangguk.
"Yap-Tihu, pinni sudah tahu keadaanmu dan seringkali pinni hanya dapat menarik napas panjang. Seorang pembesar seperti Taijin ini tidak layak menghambakan diri kepada pemerintah yang demikian buruknya. Alangkah baiknya kalau Taijin menjadi pembesar pemerintah yang baik. Tentu penduduk didaerah ini akan menikmati hidup sebagaimana mestinya. Akan tetapi, segala peristiwa yang terjadi pada seseorang itu timbul dari perbuatannya sendiri, sebagai buah daripada pohon yang ditanamnya. Taijin seorang yang jujur dan bersih, akan tetapi sayang sekali Taijin kurang memperhatikan keadaan keluarga sendiri hingga tidak tahu bahwa didalam rumah telah ada seorang penjaga yang cukup tangguh."
Yap-Tihu terkejut dan memandang kepada Nikouw itu dengan bingung dan heran.
"Apakah maksud Suthai?"
Pek I Nikouw tersenjum.
"Sudahlah, nanti Taijin tentu akan mengerti sendiri. Sekarang pulanglah dengan hati tenteram oleh karena malam hari ini pinni akan mengutus murid pinni pergi mencari dan menangkap penjahat itu!"
Bukan main girang hati pembesar itu.
Walaupun ia belum tahu siapa adanya murid Nikouw itu, akan tetapi ia telah merasa lega, oleh karena kalau murid itu tidak pandai, tidak nanti Nikouw tua ini akan mengutusnya menangkap penjahat yang ganas!
Ia lalu menjura dan mengaturkan terima-kasihnya, lalu pulang ke gedungnya.
Setelah pembesar itu pergi, Pek I Nikouw lalu memanggil Beng Lian.
Gadis ini menghadap kepada gurunya dan menerima perintah untuk keluar pada malam hari itu, meronda diseluruh kota dan mengintai penjahat yang sedang merajalela di An-kian.
"Beng Lian, kau belum pernah bertempur menghadapi lawan yang sungguh-sungguh, maka kuharap kau harus berlaku hati. Kalau kiranya penjahat itu terlalu kuat bagimu kau boleh pergunakan jarummu untuk merobohkannya."
Nikouw tua ini memberi banyak nasehat kepada Beng Lian yang segera mempersiapkan diri untuk melakukan tugas pertama semenjak ia belajar silat itu.
Biarpun usianya pada waktu itu baru lima belas tahun, namun ia memiliki ketabahan hati yang besar dan keberaniannya ini dipertebal karena pengertiannya bahwa ia sedang menghadapi semacam tugas kebajikan, yakni menolong orang terhindar dari pengaruh yang jahat.
Sementara itu, setelah hari menjadi gelap, diatas genteng Yap-Tihu berputar-putar bayangan putih yang cepat sekali gerakannya.
Bayangan ini bukan lain ialah Pek I Nikouw sendiri yang segera menuju kebagian belakang gedung itu, lalu mengintai dari jendela kamar yang berada disudut kiri sebelah belakang.
Didalam kamar itu nampak seorang pemuda yang tampan dan yang sedang membaca sebuah kitab tebal dengan asyiknya.
Karena ringannya gerakan kaki Pek I Nikouw, maka pemuda itu sama sekali tidak mendengar sesuatu dan tetap membaca dengan asyik.
Tiba-tiba Nikouw itu mengajunkan tangan kirinya dan sebuah benda putih melayang dan menancap didepan pemuda itu, diatas meja dekat tangannya!
Orang akan merasa heran melihat betapa pemuda yang berpakaian sebagai seorang sasterawan muda itu dengan gerakan cepat sekali telah meniup padam lampu didepannya, kemudian sekali ia mengajunkan tubuhnya, ia telah melompat keluar dari jendela dan terus meloncat keatas genteng!
Bukan main cepatnya gerakan pemuda ini yang ternyata telah menggunakan gerak loncat Burung Walet Menyambar Belalang.
Akan tetapi, betapapun cepatnya gerakan pemuda itu, gerakan Pek I Nikouw lebih cepat lagi hingga ketika pemuda itu telah berada diatas genteng dan menengok kesana-kemari mencari dengan mata, disitu kosong dan sunji tak terlihat bayangan seorangpun!
Pemuda itu terheran, kemudian menarik napas panjang dan melompat turun lalu masuk kedalam kamarnya kembali.
Dinyalakannya lagi api lampu di mejanya dan diamat-amatinya jarum kecil yang menancap dimejanya.
Ternyata bahwa jarum itu digunakan untuk menyambitkan sepucuk kertas yang dilipat kecil.
Ketika pemuda itu mengambil jarum dan membuka lipatan kertas, maka ternyata kertas itu merupakan sepucuk surat yang ditulis dengan tulisan tangan halus.
Ia membaca dengan cepat lalu menggeleng kepala dan berbisik.
"Ah, benar lihay sekali Pek I Nikouw! Kalau begitu, suhu berkata benar!"
Dibacanya sekali lagi isi surat seperti berikut, Yap Kongcu, Mungkin kau pernah mendengar nama pinni dari suhumu.
Dan karena pinni kenal baik suhumu kakek pengemis itu, maka biarlah pinni mewakilinya memberi nasehat kepadamu.
Yap-Kongcu, kau telah mempelajari ilmu kepandaian, untuk apa kepandaianmu itu apabila tidak dipergunakan pada saat yang perlu!
Kentang akan menjadi busuk kalau disimpan saja, sedangkan ilmu kepandaian akan menjadi sia-sia kalau tidak dipergunakan.
Suhumu melarang kau memperlihatkan kepandaian dengan maksud agar supaya kau tidak menyombongkan kepandaian itu, akan tetapi, kalau kau mempergunakannya untuk menolong rakyat dan membasmi penjahat yang mengacau An-kian, suhumu pasti takkan merasa keberatan.
Pinni yang akan bertanggungjawab kalau kelak ia marah kepadamu!
Dari pinni, Pek I Nikouw.
Pemuda ini adalah Yap Yu Tek, putera tunggal dari Yap-Tihu.
Semenjak kecilnya, pemuda ini tekun mempelajari ilmu surat-menjurat, sesuai dengan kehendak ayahnya.
Akan tetapi semenjak kecil pemuda ini ingin sekali mempelajari ilmu silat.
Ia tertarik membaca sejarah dan cerita tentang kepahlawanan dan kegagahan para pendekar budiman, maka berkali-kali ia minta kepada ayahnya agar supaya ia diperkenankan belajar silat.
Akan tetapi ayahnya berpendirian lain.
Menurut pendapat orang-tua ini, kepandaian silat hanya akan mendatangkan melapetaka belaka.
"Lihatlah betapa banyaknya orang hukuman itu yang sebagian besar adalah orang yang tadinya belajar silat! Mereka mempergunakan kepandaian mereka untuk melakukan pelbagai kejahatan!,"
Katanya kepada anak tunggalnya. Dan Yu Tek tak berani membantah karena ia memang amat berbakti kepada ayahnya. Pernah pula ia mengemukakan pendapatnya.
"Ayah, bukankah segala kejahatan yang timbul itu tergantung dari batin seseorang?"
Memang demikian kalau dipikirkan sepintas lalu belaka!
Akan tetapi, orang yang tadinya lemah dan tidak berkesempatan melakukan kejahatan, sekali ia telah memiliki kepandaian dan kekuatan, ia lalu menjadi lupa dan berubah jadi jahat!
Keadaan diluar seringkali lebih berkuasa daripada tenaga batin.
"Jangan, anakku, daripada kau membuang waktu yang berharga dengan segala macam ilmu memukul orang dan ilmu membunuh orang, lebih baik kau pergunakan untuk mempelajari ilmu kesusasteraan."
Dan anak itu tak berani lagi bicara tentang ilmu silat.
Pada suatu malam, ia membaca cerita tentang kegagahan pahlawan zaman dahulu.
Demikian tertarik hatinya hingga ia berkata seorang diri yang diucapkan dengan kata cukup keras.
"Ah, alangkah senangnya kalau aku bisa mencontoh perbuatan para pendekar gagah ini..."
Tiba dari luar jendela terdengar suara orang menjawab kata-katanya ini.
"Apa susahnya? Kemauan besar disertai ketekunan memungkinkan segala apa!"
Yu Tek terkejut dan anak yang baru berusia sepuluh tahun itu lalu lari menghampiri jendela dan menjenguk keluar.
Dilihatnya seorang tua yang berpakaian penuh tambalan duduk dibawah jendela kamarnya.
Entah bagaimana kakek pengemis itu dapat masuk kedalam pekarangan yang dikelilingi tembok tinggi itu.
Kakek ini tangan kirinya membawa sebatang tongkat bambu dan tangan kanannya membawa sebuah cawan arak yang sudah tua.
Melihat keadaan pengemis ini, Yu Tek bertanya.
"Kakek tua, kaukah yang mengucapkan kata tadi?"
"Disini tidak ada orang lain, kalau bukan aku yang mengeluarkan kata-kata tadi, pasti bayanganku!,"
Jawab kakek itu sambil memandang dengan matanya yang bersinar ganjil dan tajam. Yu Tek mengamat-amati pengemis itu dan hatinya menjadi ragu? "Kakek,"
Ia berkata dengan suara mengandung celaan.
"Kau sendiri kulihat kurang memiliki kemauan keras dan ketekunan!"
Kini pengemis itu bangkit berdiri dan memandang kepada anak itu dengan heran. Setelah ia berdiri, ternyata. bahwa tubuhnya amat tinggi dan kurus.
"Eh, Kongcu, apakah artinya kata-katamu tadi?"
"Kakek tua, kau tadi menyatakan bahwa dengan ketekunan dan kemauan besar, segala apa mungkin dicapai. Akan tetapi, kalau kau memiliki ketekunan dan kemauan besar, tak mungkin kau berada dalam keadaan miskin dan sengsara seperti ini!"
Kakek itu tertawa gelak hingga suara itu bergema didalam gedung.
Ayah Yu Tek yang kebetulan lewat tak jauh dari tempat itu segera menghampiri kamar anaknya dan ketika mendengar langkah kaki orang mendatangi dari dalam, tiba-tiba tubuh kakek-pengemis itu berpusing-pusing dan lenyap!
Yap-Tihu muncul dan memandang kepada anaknya yang berdiri didekat jendela, lalu bertanya heran.
"Yu Tek, suara apakah tadi yang seperti suara orang tertawa keras itu?"
Yu Tek sedang berdiri termenung karena terkejut melihat betapa tubuh kakek pengemis itu menghilang, maka teguran ayahnya itu dijawabnya dengan gagap.
"Suara... mungkin suara burung malam, ayah!"
Tihu itu masuk kedalam kamar, menjenguk keluar jendela, lalu menutup jendela itu dan berkata.
"Sudah jauh malam, nak. Tidurlah. Tak baik membuka jendela diwaktu malam, kau bisa terkena angin."
Kemudian ia meninggalkan kamar puteranya.
Setelah ayahnya pergi, Yu Tek kembali menghampiri jendela dan membukanya.
Ternyata kakek-pengemis yang tadi menghilang, kini telah berdiri lagi ditempat semula!
"Kongcu, kau mempunyai pertimbangan yang wajar dan kecerdasan yang baik.
Tadi kau mengagumi para pendekar, sukakah kau belajar silat agar kau memiliki kegagahan seperti para pendekar itu?"
"Tentu saja aku akan suka sekali belajar silat, akan tetapi, ayah melarangku dan siapa pula yang sanggup mengajarku?"
"Kongcu, biarpun tua dan buruk, kiranya aku Tiongsan Lokai masih sanggup menggemblengmu menjadi seorang pendekar gagah!"
"Akan tetapi, kakek tua, keadaanmu sendiri... o ya, kau belum menjawab pernyataanku tadi!"
"Tentang kemiskinanku? Ha, ha, Kongcu, kalau aku ingin kaya, apakah susahnya? Akan tetapi aku lebih suka menjadi pengemis tua, hidup mengembara sebagai seekor burung, bebas lepas diudara dan aku mengemis bukan untuk mencari sesuap nasi, akan tetapi aku mengemis untuk membebaskan diri dari segala keinginan yang tiada habisnya."
Ucapan kakek tua ini terlalu sulit untuk dimengerti oleh Yu Tek, akan tetapi sikap kakek itu menarik hatinya, maka Yu Tek lalu mempersilakan kakek itu masuk kedalam kamarnya dimana mereka bercakap-cakap sampai jauh malam!
Pengemis tua ini adalah seorang luar biasa yang berilmu tinggi, disebut orang Tiongsan Lokai atau Pengemis Tua dari Tiongsan.
Melihat ketajaman otak dan keinginan Yu Tek untuk belajar silat, hati kakek ini tertarik sekali, maka ia lalu mengangkat Yu Tek sebagai muridnya dengan diam-diam.
Yu Tek telah menyaksikan kepandaian kakek itu ketika menghilang dari hadapannya pada saat ayahnya masuk kekamar, lebih-lebih ketika ia telah mengadakan pembicaraan dengan kakek itu yang ternyata biarpun berpakaian pengemis, namun memiliki pemandangan yang amat luas dan pengalaman yang tidak kalah hebatnya dengan pengalaman para pendekar didalam bukunya, maka iapun tanpa ragu pula lalu menjatuhkan diri berlutut didepan kakek itu dan pada waktu menjelang fajar ia telah mengangkat kakek itu sebagai gurunya!
"Yu Tek,"
Kata Tiongsan Lokai kepada muridnya.
"Aku mengangkat kau sebagai muridku hanya dengan pengharapan agar supaya kelak kau dapat menjadi seorang gagah dan seorang pendekar pembela keadilan. Kaulah yang akan mengharumkan namaku dan yang akan membikin aku mati dengan mata meram dan rela apabila kau kelak menjadi seorang yang patut disebut pendekar gagah. Aku tidak menghendaki sesuatu darimu, kecuali sebuah syarat yang harus kau taati benar. Syarat itu ialah bahwa sebelum kau tamat belajar silat dan mendapat perkenanku, kau tidak boleh sekali-kali membocorkan keadaanmu kepada orang lain! Bahkan kepada ayahmu sendiri kau tidak boleh memberitahukan tentang pelajaran silat dariku ini. Kalau kau membocorkan hal ini, jangan kau menjesal kalau aku tak mau datang lagi dan selamanya aku takkan mau mengakui kau sebagai muridku!"
Yu Tek berjanji akan menaati pesan suhunya ini dan semenjak saat itu, ia menjadi murid Tiongsan Lokai!
Beberapa malam sekali, kakek itu dengan diam-diam datang kekamar Yu Tek dan mereka lalu berlatih silat dipekarangan belakang, diwaktu malam hari.
Yu Tek ternyata berotak terang dan cepat sekali ia dapat menguasai dasar ilmu silat yang diajarkan oleh suhunya hingga Tiongsan Lokai menjadi girang sekali.
Ia menggembleng pemuda itu sampai lebih kurang delapan tahun.
Seringkali kakek jembel ini meninggalkan muridnya sampai beberapa bulan dan meninggalkan pesan agar supaya muridnya ini berlatih seorang diri dan mematangkan segala pelajaran ilmu silat yang telah diajarkannya.
Kalau ia datang kembali, ia menguji muridnya itu dan memberi pelajaran selanjutnya.
Selama itu, benar saja Yu Tek menyimpan rahasia ini rapat hingga tak seorangpun dapat menyangka bahwa pemuda yang halus tutur-sapanya dan sopan-santun ini adalah seorang yang memiliki ilmu silat tinggi!
Akan tetapi pada suatu malam, ketika guru dan murid.
itu sedang berlatih silat, dari jauh nampak sepasang mata yang tajam mengintai dan ketika menjelang fajar saat si kakek jembel hendak meninggalkan gedung Tihu, dengan tiba-tiba melayang dan berpusing-pusing sesosok bayangan putih lalu berdiri dihadapannya.
"Lokai, kau diam-diam telah mempunyai seorang murid yang berbakat! Kionghi, kionghi! (Selamat)."
Kakek-jembel itu tertawa-tawa riang ketika melihat siapa orangnya yang menegurnya diwaktu fajar itu.
Ternyata bahwa orang itu adalah seorang Nikouw berbaju putih yang lemah-lembut gerakannya, akan tetapi yang memiliki sepasang mata tajam luar biasa.
"Pek I Nikouw, matamu memang awas benar, akan tetapi kuharap kau tidak akan membocorkan rahasia ini."
"Untuk apa pinni membocorkan rahasiamu? Aku hanya mendengar dari muridku bahwa ia telah melihat bayangan hitam berkelebat masuk digedung Tihu dan keluar pula diwaktu fajar menjingsing. Menurut muridku, bayangan itu cepat sekali gerakannya hingga ia tak dapat melihat siapa orangnya, maka karena ingin tahu, terpaksa pinni melakukan penjelidikan. Tidak tahunya kau orang-tua yang keluar masuk gedung Tihu! Sungguh tak pernah kuduga!"
"Hm, hm, aku sudah melihat muridmu itu. Gadis cilik itu memang pantas menjadi muridmu. Ia berbakat baik sekali,"
Kata kakek jembel pula.
Demikianlah, maka diseluruh kota itu, hanya Pek I Nikouw saja yang tahu bahwa putera Yap-Tihu memiliki ilmu kepandaian tinggi karena dilatih oleh Tiongsan Lokai.
Hingga ketika Tihu itu datang minta pertolongannya untuk menghalau penjahat yang mengacau kota An-kian, ia mengeluarkan ucapan mengandung sindiran itu.
Kemudian, pada malam hari itu, Pek I Nikouw menggunakan kepandaiannya untuk membangkitkan semangat Yu Tek agar pemuda ini tidak bersembunyi saja dan suka turun tangan membasmi penjahat yang mengacau kota An-kian dan yang membuat kepala ayahnya menjadi pusing.
Sebenarnya, Yu Tek sudah mendengar tentang gangguan penjahat itu, akan tetapi oleh karena taat akan perintah suhunya untuk menyimpan rahasia, maka ia tidak berani keluar.
Hanya didalam hatinya ia mengharapkan kedatangan penjahat itu untuk mencoba mengganggu gedung ayahnya, hingga ia mendapat ketika untuk berhadapan dan menyerang penjahat itu!
Setelah membaca surat Pek I Nikouw itu, Yu Tek termenung.
Apakah suhunya takkan marah?
Suhunya dulu berpesan agar ia tidak membuka rahasia, kalau ia keluar dengan diamdidalam gelap untuk menjelidiki dan mencari penjahat itu, bukan berarti bahwa ia membuka rahasia!
Ia akan bertindak dengan diam,"
Diluar tahunya semua orang!
Apalagi Pek I Nikouw sudah menanggung bahwa apabila suhunya marah, Nikouw itu yang akan bertanggung-jawab, sedangkan ia maklum bahwa suhunya amat mengindahi pendeta wanita itu.
Setelah membolak-balikkan pikirannya, akhirnya Yu Tek lalu berganti pakaian yang ringkas dan melompat keluar dari jendela kamarnya.
Ia naik keatas genteng dengan gerakan yang amat ringan, kemudian berlari-lari diatas genteng rumah orang sambil memasang mata.
Menjelang tengah malam, ia melihat bayangan orang diatas rumah seorang hartawan disebelah barat.
Hatinya berdebar dan ia lalu melompat sambil bersembunji, mengintai orang itu.
Ternyata bayangan itu adalah bayangan seorang laki tinggi besar yang gerakannya cepat dan ringan sekali, menandakan bahwa ia memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi.
Ketika Yu Tek melihat bentuk tubuh orang itu dan melihat pula sepasang golok diselipkan dipunggungnya, ia maklum bahwa inilah penjahat yang mengganggu keamanan kota An-kian, karena ia telah mendengar bahwa penjahat itu memang bersenjata sepasang golok dan tubuhnya tinggi besar.
Melihat betapa penjahat itu sedang membuka genteng untuk mengintai kedalam, ia lalu melompat kedekatnya sambil membentak.
"Hei, bangsat rendah jangan kau mengacau dikota kami!"
Penjahat itu terkejut sekali oleh karena ia tidak mendengar tindakan kaki orang yang tiba membentaknya itu.
Ia maklum bahwa ia menghadapi lawan tangguh, maka tanpa banyak cakap lagi, ia lalu mencabut sepasang goloknya dan menerjang Yu Tek dengan gerakan yang cepat dan berbahaya.
Yu Tek yang bertangan kosong lalu memperlihatkan kelincahannya dan menghadapi penjahat itu dengan ilmu silat tangan kosong Pek-houw jiauw-kang, Semacam ilmu silat yang mempergunakan kedua tangan dibuka untuk menangkap dan mencenkeram lawan, ilmu silat yang khusus diciptakan untuk menghadapi lawan yang bersenjata dengan tangan kosong, Yu Tek mempergunakan kelincahan dan keringanan tubuhnya untuk mengelak dari setiap sambaran golok dan balas menyerang dengan cengkeraman dicampur totokan yang tidak kurang hebatnya.
Akan tetapi, ternyata permainan siang-to atau sebatang golok dari penjahat itu sangat mengagetkannya, hingga diam-diam Yu Tek merasa menjesal mengapa ia tadi tidak mempersiapkan senjata, Gurunya adalah seorang tokoh dari Tiongsan yang telah menciptakan semacam ilmu tongkat yang luar biasa hingga dengan sebatang tongkat bambunya, Tiongsan Lokai itu telah berkeliling negeri, dan dengan tongkat bambunya itu ia telah menjatuhkan entah berapa banyak lawan yang bersenjata tajam.
Yu Tek juga diberi pelajaran Tiongsan Tung-hwat atau ilmu tongkat dari Tiongsan ini, maka kini ia merasa kecewa mengapa tadi ia tidak mencari sebatang kayu atau bambu untuk digunakan menghadapi lawan yang tangguh ini.
Dengan bertangan kosong, biarpun ia dapat mempergunakan kegesitannya untuk menjaga diri, namun ia tidak diberi banyak kesempatan untuk balas menyerang dan keadaannya lambat-laun menjadi terdesak!
Yu Tek lalu mencari akal.
Jika pertempuran diatas genteng ini dilanjutkan, tak mungkin baginya untuk mencari sebatang kayu ranting untuk digunakan sebagai senjata tongkat, maka ia lalu mencari kesempatan dan kemudian melompat turun kebawah sambil berseru.
"Penjahat rendah! Kalau kau memang jantan, mari kita lanjutkan pertempuran diatas tanah!"
Penjahat itu tertawa mengejek oleh karena ia maklum bahwa pemuda itu hebat sekali ilmu ginkangnya hingga menghadapinya diatas genteng memang tidak menguntungkan baginya, maka ia cepat mengejar dan melompat turun sambil menyerang dengan goloknya semakin hebat pula!
Pertempuran dilanjutkan diatas tanah, diterangi oleh bulan sabit yang cukup terang.
Sayang sekali bahwa tempat dimana mereka melompat turun adalah semacam pelataran yang bersih dan tidak kelihatan ada ranting atau kayu sepotongpun!
Sedangkan penjahat itu setelah berada diatas tanah, makin hebat serangannya hingga Yu Tek semakin terdesak olehnya!
Kemudian, tiba-tiba penjahat itu merobah ilmu goloknya dan kini ia memainkan ilmu golok Tee-tong-too, yakni ilmu golok yang dimainkan dengan bergulingan cepat dan kedua goloknya menyambar kearah kaki Yu Tek!
Yu Tek merasa terkejut sekali dan kemana saja ia melompat, selalu tubuh lawannya yang bergulingan itu telah datang pula dan goloknya menyambar hebat.
Menghadapi serangan dari bawah itu, Yu Tek sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk melakukan serangan balasan, maka ia menjadi gugup sekali.
Sebetulnya, dalam hal ilmu silat dan kegesitan, ia tak usah kalah oleh penjahat itu, akan tetapi oleh karena selama hidupnya ia belum pernah menghadapi lawan dan belum pernah bertempur, maka ia kalah pengalaman.
Apalagi kini ia harus menghadapi lawannya yang tangguh itu dengan tangan kosong, maka tentu saja keadaannya menjadi berbahaya sekali.
Tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan terdengar bentakan halus dan merdu.
"Penjahat kurang-ajar, jangan kau memperlihatkan kesombongan di An-kian!"
Dan bersamaan dengan lenj?pnya bentakan itu, sebatang pedang dengan gerakan luar biasa telah datang menyambar dan menyerang kearah leher penjahat itu!
Penjahat yang sedang menyerang Yu Tek dengan ilmu golok Tee-tong-too itu, menjadi sangat terkejut karena melihat betapa pedang yang menyambarnya luar biasa cepatnya, Maka ia lalu menggulingkan dirinya dan memutar goloknya dikanan-kiri untuk melindungi tubuh, kemudian ia melompat bangun dan memandang.
Alangkah heran dan terkejutnya ketika melihat bahwa yang menyerangnya tadi adalah seorang gadis remaja berusia paling banyak lima belas tahun!
Maka ia menjadi marah sekali dan memandang rendah.
Dengan seruan marah ia menjerbu gadis itu yang tak lain ialah Beng Lian yang menjalankan perintah gurunya untuk mencari sipenjahat pengganggu kota An-kian.
Melihat datangnya serangan yang hebat itu, Beng Lian lalu memutar pedangnya dan memainkan ilmu pedangnya yang cepat dan kuat.
Gadis ini ternyata memiliki kelincahan tubuh yang bahkan lebih lincah daripada pemuda tadi, Maka sipenjahat tak berani memandang rendah lagi dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk mendesak.
Sementara itu, Yu Tek yang melihat bahwa gadis itu cukup tangguh, lalu mencari sebatang ranting kayu.
Setelah mendapat sebatang ranting kayu yang sudah kering sebesar lengan tangan, ia lalu melompat maju lagi dan kini ia merupakan seekor harimau tumbuh sajap!
Rantingnya bergerako bagaikan seekor ular hidup dan menyerang penjahat itu mengarah jalan darahnya!
Bukan main sibuknya penjahat itu ketika dikerojok oleh dua anak-muda yang gesittangkas ini, hingga ia segera mengambil keputusan untuk melarikan diri.
Akan tetapi, pedang Beng Lian dan ranting ditangan Yu Tek mencegahnya dan tidak memungkinkannya untuk melarikan diri hingga akhirnya ia melawan dengan nekad!
Sementara itu, mendengar suara senjata beradu, tuan rumah dan sekalian penghuni rumah itu telah terbangun dan segera membawa obor dan memburu ketempat itu.
Mereka terkejut sekali melihat bahwa didekat rumah itu terjadi pertempuran yang hebat antara seorang laki tinggi besar dengan sepasang anak muda.
yang lebih mengherankan mereka ketika mengenal bahwa sepasang pemuda itu adalah putera Yap-Tihu dan anak perempuan yang berdiam dikelenteng Kwan-Im-Bio!
Tak mereka sangka-sangka bahwa kedua orang muda itu ternyata pandai ilmu silat, maka terdengar seruan-seruan kagum disana-sini.
Seorang diantara mereka lalu berlari kerumah Tihu yang tidak jauh dari situ untuk memberi laporan.
Bukan main terkejutnya Yap-Tihu ketika mendengar ini.
Ia tidak percaya dan segera lari kekamar anaknya, dan benar saja Yu Tek tidak berada didalam kamarnya.
Maka Tihu itu lalu berlari-lari mengikuti orang itu, diikuti pula oleh banyak penjaga, menuju kerumah hartawan dimana sedang berlangsung pertempuran hebat itu.
Ketika Yap Tihu tiba ditempat itu, ia hampir tidak percaya kepada kedua matanya sendiri melihat betapa puteranya dengan gagah sedang mendesak penjahat dengan sebatang ranting kayu, bersama gadis kelenteng yang nampak lemah lembut itu!
Pada saat itu, Yu Tek dan Beng Lian sedang mengurung penjahat itu dengan senjata mereka dan tiba dengan gerakan menempel dan menggait, ranting kayu ditangan Yu Tek berhasil membetot dan merampas sebatang golok ditangan kiri penjahat itu, hingga tak dapat dicegah pula golok itu terlepas dari pegangan.
Sipenjahat terkejut dan sebelum ia dapat mengelak, pedang Beng Lian telah menusuk lengan kanannya hingga golok ditangan kanannya terlepas pula.
Yu Tek melepaskan tendangan kilat kearah sambungan lututnya hingga tanpa ampun lagi penjahat itu roboh, Yap-Tihu segera memberi perintah kepada para penjaga dan beberapa orang penjaga lalu menubruk dan mengikat kaki tangan penjahat itu dan mengiringnya ketempat tahanan.
Yu Tek merasa terkejut dan takut melihat ayahnya telah berada disitu, akan tetapi ayahnya tidak marah, bahkan lalu memeluknya tanpa dapat mengucapkan sepatah katapun.
Ah, ia seperti buta saja, tidak melihat bahwa putera tunggalnya memiliki ilmu kepandaian tinggi!
Pantas saja Pek I Nikouw mencelanya sebagai seorang yang kurang memperhatikan keluarganya.
Semua orang mengeluarkan pujian kepada Yu Tek, dan ketika pemuda ini teringat akan Beng Lian yang tadi datang membantunya, ia segera berpaling sambil berkata kepada ayahnya.
"...Ayah, nona inilah yang berjasa besar dalam menangkap penjahat itu."
Akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat bahwa ditempat itu telah kosong dan gadis itu entah telah pergi kemana! Yap-Tihu tersenjum dan berkata.
"Aku tahu, Tek-ji, nona tadi adalah murid dari Pek I Nikouw yang memang kumintai pertolongannya."
Pulanglah mereka dengan hati girang dan berita tentang penangkapan penjahat yang ditakuti dan dibenci itu oleh putera Yap-Tihu segera menjalar luas.
Yu Tek sendiri semenjak pertempuran dan pertemuannya dengan Beng Lian, lalu sering keluar pintu mengunjungi Kuil Kwan-Im-Bio, tidak saja untuk menemui Pek I Nikouw dan minta petunjuk dan nasehat, akan tetapi yang terutama sekali ialah untuk bertemu dengan Beng Lian!
Ketika Tiongsan Lokai datang dan mendengar tentang penangkapan penjahat itu, ia tidak menjadi marah, apalagi setelah Yap Yu Tek menceritakan kepada suhunya bahwa ia baru turun tangan mengeluarkan kepandaian setelah mendapat anjuran dari Pek I Nikouw.
"Betapapun juga, suhu, teecu tidak menyebut nama suhu dihadapan siapapun juga, bahkan ketika ayah bertanya tentang suhu, teecu berkata terus terang bahwa teecu tidak berani menyebut nama suhu sebelum mendapat perkenan dari suhu sendiri,"
Kata Yu Tek kepada gurunya, ketika pada malam hari gurunya datang mengunjungi kamarnya seperti biasa.
"Syukurlah kalau begitu, muridku. Kukatakan terus terang kepadamu bahwa apabila orang luar mendengar bahwa kau adalah murid Tiongsan Lokai, berarti kau telah menarik datangnya bahaya yang mengancammu. Sekarang lebih baik kuceritakan terus terang kepadamu bahwa aku dimusuhi oleh banyak orang-orang jahat yang dulu telah roboh ditanganku. Mereka ini senantiasa berusaha untuk membalas dendam hingga boleh dibilang bahwa aku selalu diintai bencana. Hal ini sama sekali tidak kutakutkan karena sebagai seorang gagah, sudah seharusnya orang yang berani berbuat harus berani bertanggung-jawab atas segala akibat perbuatannya itu. Akan tetapi, kalau sampai mereka itu tahu bahwa kau adalah seorang muridku, aku kuatir kalau-kalau mereka itu datang dan mengganggu serta memusuhi kau dan keluargamu. Inilah sebabnya maka aku minta kepadamu supaya merahasiakan hal ini."
Mendengar ucapan gurunya ini, Yu Tek teringat akan kata-kata dan larangan ayahnya bahwa orang yang mempelajari ilmu silat itu tak lain hanya mendatangkan musuh dan memupuk dendam dan sakit-hati dalam dada orang yang dikalahkannya!
Kini ucapan itu terbukti pada diri gurunya!
Akan tetapi, ia merasa menyesal dan tidak setuju dengan pendirian suhunya ini, maka jawabnya.
"Maafkan teecu, suhu, dan harap suhu anggap ucapan yang hendak teecu sampaikan ini sebagai pendirian seorang yang masih bodoh. Teecu yakin bahwa orang yang dulu suhu robohkan adalah orang-orang jahat yang memang patut dibasmi dan perbuatan suhu itu memang adil dan benar. Mengapa harus ditakuti segala usaha pembalasan dendam mereka? Teecu sebagai murid suhu berkewajiban untuk menjunjung tinggi nama suhu, dan sudah selayaknya pula apabila teecu membantu suhu sekuat tenaga untuk menghadapi mereka yang datang hendak menuntut balas itu. Kalau suhu minta kepada teecu supaya merahasiakan kenyataan bahwa teecu adalah murid suhu bukankah ini berarti bahwa suhu hendak membikin teecu menjadi seorang penakut dan pengecut? Maaf, teecu mohon petunjuk, suhu, karena teecu masih belum mengerti benar."
Suhunya menghela napas panjang.
"Memang tidak keliru pendirianmu itu, muridku. Akan tetapi ketahuilah bahwa sukar sekali bagi seorang manusia untuk mengetahui dan menginsyafi akan kesalahan diri sendiri demikianpun halnya dengan orang yang pernah kukalahkan itu. Kita boleh menyebut mereka sebagai orang-orang jahat, akan tetapi belum tentu mereka menganggap dirinya sendiri jahat! Bahkan sebaliknya, mereka itulah menganggap aku seorang jahat dan yang suka mencampuri urusan mereka. Dan mereka itu mempunyai kawan-kawan, murid-murid, dan saudara-saudara yang tentu saja membela mereka, memusuhi aku tanpa mengetahui duduknya persoalan dan otomatis menganggap aku jahat pula, seperti halmu sendiri yang biarpun tak menyaksikan sendiri kejahatan musuh-musuhku, telah percaya penuh bahwa tentu mereka yang berada difihak salah dan mereka yang jahat! Inilah sebabnya, muridku, maka aku tidak mau menarik-narik kau terjerumus dalam jurang balas-membalas ini. Harus kuakui bahwa biarpun aku yakin bahwa orang yang pernah kujatuhkan itu memang orang jahat akan tetapi kawan mereka atau saudara mereka yang sekarang ikut memusuhi aku belum tentu terdiri dari orang jahat."
"Ah, kalau begitu betul juga kata-kata ayah...,"
Tanpa disengaja terlompat kata-kata ini dari mulut Yu Tek.
"Maksudmu?,"
Tanya gurunya.
Karena sudah terlanjur mengucapkan kata itu, terpaksa Yu Tek lalu menceritakan betapa dulu ayahnya melarang dia belajar ilmu silat oleh karena katanya orang yang memiliki ilmu kepandaian ini, hanya akan melibatkan dirinya dalam ikatan balas-membalas yang tiada habisnya.
Tiongsan Lokai menarik napas panjang.
"Memang ada benarnya juga kata-kata ayahmu itu. Akan tetapi kalau semua orang berpendirian seperti ayahmu itu, habis siapakah yang akan menghadapi orang-orang jahat yang menggunakan kepandaian mereka untuk berlaku sewenang-wenang. Siapakah yang akan membela orang lemah yang tertindas? Memang harus kita insyafi bahwa segala apa didunia ini selalu bermuka atau bersifat dua, ada baiknya pun ada buruknya, ada untungnya tentu ada pula ruginya. Akan tetapi, asalkan kita dapat mengatur langkah, memilih jalan yang benar, kita takkan tersesat."
Beberapa hari kemudian, Tiongsan Lokai yang tergerak hatinya oleh segala pembicaraan yang dilakukan dengan muridnya, diam-diam diluar setahu muridnya, lalu menemui Yap-Tihu dan memperkenalkan dirinya.
Bukan main tercengang dan herannya hati pembesar itu ketika melihat bahwa orang yang memberi pelajaran ilmu kepandaian silat kepada puteranya adalah seorang kakek jembel!
Kedua orang-tua ini lalu mengadakan percakapan dan setelah bercakap-cakap, barulah timbul rasa kagum dalam hati Yap-Tihu oleh karena biarpun diluarnya mengenakan pakaian tambal-tambalan, namun didalam tubuh kakek jembel itu terdapat batin yang luhur dan semangat yang gagah serta pengetahuan yang tinggi dan luas.
Mereka lalu merundingkan tentang Yu Tek dan ketika Tiongsan Lokai mengusulkan agar pemuda itu dijodohkan dengan Beng Lian murid Pek I Nikouw yang tangkas dan yang telah memperlihatkan kegagahannya ketika menangkap penjahat itu, Yap-Tihu menyatakan persetujuannya.
Memang semenjak mengetahui bahwa nona baju putih yang berpedang dan membantu puteranya menangkap penjahat itu adalah murid kepala Nikouw di Kwan-Im-Bio, seringkali ia mengadakan kunjungan ke Bio itu dan melihat betapa gadis itu dalam hidupnya sehari merupakan seorang gadis remaja yang selain cantik, juga lemah-lembut, halus dan sopan-santun.
Pula Beng Lian mempunyai pengertian dalam hal kepandaian membaca-menulis yang cukup baik, serta mempelajari pekerjaan tangan dan kepandaian-kepandaian puteri lainnya.
Demikianlah, setelah menanyakan pendapat Yu Tek dan pemuda ini hanya menyerahkan hal perjodohannya kepada ayahnya, yang berarti bahwa pemuda itu tidak menolaknya, Yap-Tihu lalu mengajukan pinangan kepada Siok Thian Nikouw, ibu Beng Lian, yang diterima dengan penuh kebahagiaan.
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 5
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 20