Eps 3 Tiga Naga Dari Angkasa - Kho Ping Hoo
Baca online Tiga Naga Dari Angkasa - Kho Ping Hoo
Cersil Tiga Naga Dari Angkasa - Kho Ping Hoo.
Tadinya Bun Hong merasa heran sekali mengapa Kim Bwee menangis demikian sedihnya, akan tetapi setelah mendengar ucapan nyonya ini, maklumlah dia bahwa sesungguhnya adalah hal yang amat memalukan dan menodai nama kehormatan gadis itu yang telah menyembunyikan seorang pemuda asing didalam selimut dan berbaring bersama diatas satu pembaringan!
Pangeran Song membanting kakinya dan memegang lengan Bun Hong yang segera ditariknya keluar dari kamar itu.
"Hiburlah hatinya dan jaga jangan sampai ia melakukan hal yang bukan-bukan!,"
Katanya kepada isterinya, dan makin bercekatlah hati Bun Hong ketika ia dapat menduga maksud kata-kata pangeran itu.
Mungkinkah gadis yang telah menolongnya itu akan membunuh diri karena malu?
Ah, celakalah kalau sampai terjadi hal demilian!
Ketika pangeran itu bertanya, ia lalu menuturkan dengan panjang lebar tentang percobaannya membunuh Thio-Thaikam yang gagal karena penjagaannya yang memang amat kuat itu.
"Kau masih untung, hiante. Kalau malam ini Tek Po Tosu dan Bong Kak Im-Ciangkun berada disana, sukarlah bagimu untuk dapat melepaskan diri dari kepungan mereka!"
Ia lalu menceritakan tentang kegagahan kedua orang itu yang dalam hal ilmu silat masih jauh lebih lihai daripada Bong Kak Liong.
"Akan tetapi, sukurlah bahwa bahaya telah lewat hingga tidak saja kau masih selamat, bahkan kami sekeluargapun terlepas daripada bencana hebat!,"
Sambungnya sambil menarik napas lega.
Akan tetapi, Song Hai Ling ternyata memandang terlampau rendah terhadap kecerdikan Thio-Thaikam.
Ia tidak tahu bahwa orang kebiri itu selain berpengaruh, juga mempunyai pembantu yang cerdik sekali hingga ketika meninggalkan gedung itu, Bong Kak Liong diam telah menaruh beberapa orang penjaga mengintai disekeliling rumah itu, melihat kalau pemuda yang mereka kejar-kejar keluar dari gedung.
Baiknya Pangeran Song berlaku hati sekali dan mencegah ketika Bun Hong berpamit hendak meninggalkan gedung itu.
"Jangan pergi sekarang, Tan-hiante. Setelah adanya peristiwa tadi, tentu terdapat banyak penjaga yang berkeliaran didalam kota, dan kalau mereka itu melihat kau keluar dari gedung ini malam, tentu kau akan dicurigai dan kembali keluarga kami akan dicurigai pula. Tadi kau katakan bahwa ketika kau menyerbu ke istana Thio-Thaikam kau telah menutupi mukamu dengan sapu tangan. Hal ini baik dan cerdik sekali, karena dengan demikian, tidak ada orang yang mengenal mukamu. Besok saja, dengan terangan kau boleh keluar dari rumah kami dan keluar kota tanpa menimbulkan kecurigaan."
Dengan demikian, Bun Hong tinggal didalam gedung itu semalam suntuk, dan selama itu ia mengadakan percakapan dengan Song Hai Ling.
Mereka telah merasa lega dan menyangka bahaya benar-benar telah lewat, Sama sekali tidak pernah menduga bahwa Thio-Thaikam yang cerdik itu masih mempunyai sebuah langkah yang hendak dilakukan untuk menyelidiki keadaan Pangeran Song!
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Pangeran Song yang sedang duduk bercakap-cakap dengan Bun Hong diruang tengah, dikejutkan oleh laporan penjaga pintu bahwa telah datang berkunjung dipagi buta itu...
Thio-Thaikam sendiri, diiringi oleh Bong Kak Liong dan Tek Po Tosu yang datang malam tadi!
Bukan main terkejut dan takutnya hati Pangeran Song mendengar ini, hingga untuk beberapa lama ia berdiri dari kursinya dan memandang kepada Bun Hong dengan muka pucat dan diam seperti patung!
"Apakah siauwte harus pergi bersembunyi lagi, Taijin?,"
Tanya Bun Hong dengan tenang karena pemuda ini sedikitpun tidak merasa takut.
"Jangan, tidak ada gunanya!,"
Jawab Pangeran Song, Setelah orang-tua yang cerdik ini memutar otak.
"Kau duduklah saja dengan tenang dan jangan kau heran apabila nanti kau kuperkenalkan sebagai calon menantuku!"
Lalu la meninggalkan pemuda itu yang duduk dengan bengong untuk membuka pintu dan menyambut kedatangan tamu agung itu.
Sementara itu, Bun Hong merasa terkejut sekali mendengar pernyataan Pangeran Song tadi.
Ia diperkenalkan sebagai calon menantu?
Sebagai tunangan...
Kim Bwee Siocia yang cantik jelita?
Ah, tak boleh jadi!
Mana Siocia itu sudi menjadi isterinya?
Dan pula...
tiba-tiba ia teringat kepada Kui Eng, sumoinya yang amat dicintainya itu.
Lalu terbayang pula bahwa Kui Eng tentu telah menjadi tunangan suhengnya hingga tak perlu ia mengenangkan gadis itu lebih lama lagi.
Betapapun juga, ia harus menolak pertunangan yang hanya dilakukan dengan pura-pura dan hanya untuk menipu Thio-Thaikam belaka ini!
Ia tidak sudi berlaku pengecut dihadapan Thio-Thaikam.
Lebih baik ia melakukan perlawanan.
Ia tidak takut, biarpun harus menghadapi Tek Po Tosu yang katanya berilmu sangat tinggi itu!
Lebih baik mati sebagai seekor harimau daripada hidup seperti babi!
Akan tetapi, tiba-tiba ia teringat bahwa kalau ia memberontak, tentu seluruh keluarga Song akan tertimpa bencana hebat.
Mereka sekeluarga akan ditangkap dan dihukum, mungkin dihukum mati karena dituduh membantu pemberontak dan menjadi pengkhianat!
Dan kalau hal itu terjadi, semata-mata adalah karena kesalahannya.
Sedangkan keluarga Pangeran itu telah begitu baik terhadapnya, telah menolongnya, bahkan nona Kim Bwee yang cantik jelita itu telah menolongnya dengan cara yang sukar dapat dilakukan oleh gadis lain!
Ia tak sempat berpikir lebih lanjut lagi oleh karena pada saat itu, para tamu telah masuk dengan tindakan lebar.
Bun Hong melihat bahwa yang datang benar adalah Thio-Thaikam sendiri yang masih dibalut lengannya, Diiringkan oleh seorang tosu yang tinggi kurus berusia sedikitnya lima puluh tahun bersama perwira yang malam tadi menyerangnya dengan golok secara hebat itu, yakni Bong Kak Liong!
Baiknya Pangeran Song yang cerdik dan hati, malam tadi telah menyuruh Bun Hong berganti pakaian dan memberi pinjaman sestel pakaian pelajar hingga ketika para tamu itu tiba disitu, mereka melihat seorang pemuda pelajar yang tampan dan halus duduk diatas sebuah bangku diruang tengah itu.
Ingin sekali Bun Hong melompat dan menerkam Thaikam itu dan membunuhnya dengan sekali pukul, akan tetapi ia dapat menekan kemarahannya, bahkan ketika diperkenalkan, ia lalu menjatuhkan diri berlutut sebagaimana layaknya seorang siucai (pelajar) memberi hormat kepada seorang yang berpangkat demikian tinggi seperti Thio-Thaikam.
"Song-Taijin, siapakah pemuda tampan ini, belum pernah aku melihatnya,"
Kata Thio-Thaikam, sedangkan Bong Kak Liong memandang dengan mata tajam.
"Dia adalah calon menantuku tunangan puteriku yang sulung, bernama Tan Bun Hong,"
Jawab Pangeran Song sambil tersenyum memperkenalkan.
"Heran, mengapa malam tadi hamba tidak melihat Kongcu ini!,"
Tiba-tiba Bong Kak Liong berkata hingga Thio-Thaikam cepat memandang kepada Bun Hong dengan mata tajam.
Baiknya Pangeran Song masih dapat menetapkan hatinya hingga wajahnya tidak menjadi pucat, akan tetapi ia tidak tahu harus menyawab bagaimana!
Bun Hong cepat menolong Pangeran Song dengan bersenyum dan berkata.
"Bong-Ciangkun,"
Katanya dengan suara tetap dalam keadaan seperti itu, mana Ciangkun dapat memperhatikan siauwte yang tak berguna ini?
Terus terang saya, siauwte melihat semua kejadian itu karena malam tadi siauwte juga ikut melakukan penjagaan bersama sekalian penjaga dan karena siauwte mengenakan pakaian penjaga, tentu saya Ciangkun tidak melihat siauwte."
Pangeran Song adalah seorang yang hati-hati dan semua penjaganya terdiri dari orang yang dipercaya penuh dan setia, maka ketika mendengar ucapan Bun Hong ini, seorang penjaga segera diam-diam pergi keluar dan memberitahu kepada semua kawannya agar mereka mengaku bahwa Bun Hong benar-benar ikut menjaga dengan mereka malam tadi!
Sementara itu, biarpun masih curiga, akan tetapi mendengar jawaban ini, Bong Kak Liong hanya menganggukkan kepala.
Sementara itu, tiba-tiba Tek Po Tosu lalu melangkah maju menghadapi Bun Hong dan berkata.
"Tan-Kongcu, mendengar bahwa kau adalah calon menantu Song-Taijin, sudah sepantasnya pinto mengucapkan kionghi (selamat)?"
Sambil berkata demikian, pertapa itu lalu menjura dan mengangkat kedua tangannya memberi hormat.
Angin pukulan yang hebat menyambar kearah dada Bun Hong yang juga membalas hormat itu dengan menjura.
Melihat datangnya serangan gelap ini, kaget sekali hati Bun Hong.
Ia hendak menolak angin pukulan itu atau mengelak, akan tetapi karena iapun mempunyai kecerdikan dan ketajaman otak, cepat ia maklum bahwa ini adalah ujian yang amat berbahaya dari tosu itu!
Kalau ia mengelak atau menolak serangan itu, tentu rahasianya akan terbuka dan akan mereka ketahui bahwa ia adalah seorang berilmu tinggi, maka ia lalu menyimpan kembali tenaganya dan menjura dengan biasa saya, membiarkan serangan itu memukul dadanya!
Akan tetapi, Tek Po Tosu yang lihai dan licin itu setelah melihat pemuda itu tidak memperlihatkan reaksi sesuatu, cepat menarik kembali pukulannya dan hal ini amat mengagumkan hati Bun Hong oleh karena tidak sembarangan orang dapat menarik kembali pukulan lweekang yang sudah dilakukan untuk menyerang orang dari jauh!
Tek Po Tosu tertawa gelak dan berkata kepada Bong Kak Liong.
"Ciangkun, jangan kau terlalu curiga. Tan-Kongcu adalah seorang terpelajar, mana ia dapat dipersamakan dengan seorang penjahat yang lihai?"
Baik Bong Kak Liong, maupun Thio-Thaikam, maklum bahwa tosu ini telah menguji, karena memang mereka tahu akan kecerdikan dan kelihaian tosu tua ini.
Maka hati Thio-Thaikam menjadi lega.
Sementara itu, Pangeran Song lalu mempersilahkan tamu-tamunya mengambil tempat duduk.
"...Agak mengherankan hatiku mengapa Thio-Taijin pagi sekali datang mengunjungi rumahku. Apakah artinya penghormatan besar ini?,"
Kata Pangeran Song yang tidak terlalu banyak menggunakan peradatan terhadap Thaikam itu oleh karena selain ia masih keluarga Kaisar juga ia memang mempunyai adat yang tinggi dan tidak mau merendahkan diri terhadap Thaikam yang amat berpengaruh itu.
Thio-Thaikam menarik napas dan setelah membanting dirinya yang gemuk itu diatas kursi, ia berkata.
"Aku datang hendak meminta maaf atas kelancangan Bong-Ciangkun malam tadi, yang dilakukannya atas perintahku. Seorang penjahat keji telah datang menyerbu dan melukai aku, dan ketika dikejar, penjahat itu menurut keterangan para pengejar, lari dan melompat keatas genteng rumahmu."
"Ah, tidak apa, Thio-Taijin. Aku sudah mendengar hal itu dari Bong-Ciangkun, hanya lain kali saya harap Bong-Ciangkun lebih percaya terhadap orang sendiri!,"
Jawab Song Hai Ling sambil memandang tajam kepada perwira itu yang menundukkan muka dengan muka merah Kembali Thio-Thaikam menarik napas panjang.
"Yang amat mengherankan hatiku, Song-Taijin, ialah persamaan pendapat antara penjahat yang mengacau itu dengan kau!"
Pangeran Song bangun dari tempat duduknya dengan penasaran.
"Thio-Taijin, apakah maksud perkataanmu itu?"
Thio-Thaikam mengeluarkan surat yang dilempar dengan pisau oleh penyerang malam tadi.
"Lihatlah ini, penyerangannya itu didasarkan rasa penasaran karena pajak, sama benar dengan permohonan dan protesmu kepada Kaisar dulu mengenai pajak pula! Pangeran Song membaca surat itu yang berbunyi.
"MELALUI PAJAK MEMERAS RAKYAT, PEMBESAR KEPARAT HARUS MATI DIUJUNG PEDANG!"
"Thio-Taijin, aku tidak melihat persamaan yang kau sebutkan itu aku mengajukan permohonan dengan maksud baik, bukan menggunakan pedang!"
"Tenanglah, Song-Taijin. Karena kau tidak campur tangan dalam urusan ini, akupun takkan berpanjang-lebar. Akan tetapi, kita sama adalah orang yang menghadapi langsung tentang urusan pajak itu, dan kau bahkan bertugas menerima dan mengumpulkan hasil pemungutan pajak. Sekarang timbul gejala pemberontakan tentang pajak ini, sudah sepatutnya kalau kita merundingkan dan mengatur langkah bagaimana baiknya. Kalau menurut pendapatmu bagaimanakah, Song-Taijin?!"
"Aku adalah seorang bendahara kerajaan yang tidak berwenang mengatur hal ini,"
Jawab Pangeran Song dengan hati-hati.
"Bagaimana aku berani menyatakan pendapat? Pendapat seorang seperti aku hanya akan menimbulkan kecurigaan orang belaka!"
Kata-kata yang mengandung sindiran ini diterima oleh Thio-Thaikam dengan senyum.
"Lupakanlah hal yang sudah lalu, Song-Taijin. Baiklah, kalau kau tidak mau menyatakan pendapat, dengarlah pendapatku. Orang yang tidak setuju dengan peraturan pajak itu, hanyalah orang yang jahat dan malas, yang memang sengaja ingin menyelundupkan pajak kekantong sendiri. Memang sifat mereka itu selalu tidak puas dengan peraturan pemerintah, diberi sedikit ingin banyak, diberi banyak masih belum puas. Oleh karena itu, jalan satu�nya ialah menggunakan tangan-besi. Mulai sekarang, setiap kali pembesar-pembesar didaerah-daerah menyetor pajak, harus diberi peringatan bahwa siapa saya yang tidak mau menyetorkan pajak dengan lengkap dan cukup tidak dihukum cambuk lagi, akan tetapi dihukum mati!"
"Thio-Taijin!,"
Seru Pangeran Song.
"akan tetapi, rakyat sudah cukup menderita!"
"Kau maksudkan kami yang mendatangkan penderitaan itu?"
Tanya Thio-Thaikam dengan suara mengancam.
"Bukan, bukan!,"
Jawab Pangeran Song cepat.
"Maksudku, mereka cukup menderita yang didatangkan oleh musim kering. Hasil sawah mereka tidak mencukupi."
"Aah, alasan kosong belaka! Hanya untuk penutup kemalasan mereka!"
Kemudian Thio-Thaikam setelah menegaskan sekali lagi bahwa peraturan baru ini harus selekasnya dikerjakan, lalu pergi meninggalkan gedung itu.
Pangeran Song dan Bun Hong mengantar sampai dipintu dan Thaikam itu berkata lagi sambil tersenyum kepada Bun Hong.
"Tak kusangka bahwa kaulah yang kejatuhan bintang dan mendapat kebahagiaan menjadi calon suami Song-Siocia. Kionghi, kionghi! Harap saja upacara pernikahan takkan ditunda hingga aku dapat menikmati arak pengantin!"
Lalu ia tertawa terbahak-bahak dan meninggalkan tempat itu, diiringkan oleh kedua orang panglimanya dan para perwira yang menjaga diluar gedung.
Setelah Thaikam itu pergi dan mereka kembali kedalam gedung, Bun Hong mengerutkan giginya dan berkata dengan gemas.
"Ingin sekali aku mencekik batang leher keparat busuk itu!"
Kemudian ia teringat akan tipu muslihat Pangeran Song tadi, maka dengan muka merah ia berkata.
"Taijin, mengapa kau mempergunakan alasan yang demikian menyulitkan?"
Pangeran Song menghela napas.
"Tan-hiante, aku memang tidak main-main dan setelah apa yang terjadi, kau harus menolong kami dan suka menerima Kim Bwee sebagai calon isterimu. Ketahuilah bahwa Kim Bwee adalah seorang anak yang keras hati dan pegang teguh kehormatan dan nama, maka setelah apa yang terjadi didalam kamarnya, kalau kau tidak menerimanya sebagai isteri, aku kuatir sekali kalau ia akan membunuh diri untuk penebus rasa malu! Itu hal pertama, kedua, kalau kita tidak menggunakan alasan seperti itu, tentu akan terbuka rahasiamu dan kita semua akan mendapat celaka. Ketiga, terus terang saja, aku suka kepadamu, hiante, dan aku akan merasa puas dan beruntung mendapat seorang menantu seperti engkau."
"...Akan tetapi...,"
Kata Bun Horg.
"Akan tetapi apakah? Apakah kau sudah beristeri?"
Bun Hong menggelengkan kepalanya.
"...Sudah bertunangan dengan gadis lain?"
Kembali Bun Hong menggelengkan kepala..
"Kalau begitu, apakah lagi halangannya? Atau barangkali.... kau anggap puteriku kurang pandai dan kurang cantik?"
"Ah, bukan demikian, Song-Taijin. Song-Siocia adalah seorang puteri yang amat cantik dan bijaksana, akan tetapi..."
Ia teringat kembali kepada Kui Eng yang segera diusirnya dengan ingatan bahwa gadis itu telah bertunangan dengan suhengnya.
"Apakah kau tidak mencintai puteriku?"
Bun Hong menjadi gagap.
"Aku... siauwte.... bagaimana berani mencintai seorang begitu mulia seperti Song-Siocia...?"
Pangeran Song tertawa geli dengan hati girang. Jawaban ini cukup memaklumkannya bahwa pemuda ini pada hakekatnya tidak menolak.
"Sudahlah, hiansai (menantu), kau memang berjodoh untuk menjadi suami Kim Bwee. Aku menyerahkan anakku itu dengan tulus-ikhlas dan biarlah sekarang juga aku mengumumkan hal ini dan memberitahukan kepada gakbomu (ibu mertuamu) dan kepada Kim Bwee sendiri!"
Betapapun juga, Bun Hong harus mengakui bahwa Kim Bwee adalah seorang dara yang jelita dan dalam hal kecantikan tidak kalah oleh Kui Eng, dan hatinya memang amat tertarik oleh kejelitaan gadis itu maka kini demi menolong keluarga Song yang sudah memberitahukan pertunangan itu kepada Thio-Thaikam hingga hal itu tak dapat dan tak mungkin dibatalkan lagi, lalu menjatuhkan diri berlutut didepan Pangeran Song dan berkata perlahan.
"Apakah yang dapat siauwte ucapkan selain terimakasih Kau telah melimpahkan budi yang sebesar gunung dan yang tak mungkin dapat dibalas, Taijin."
"Hai, mengapa kau masih menjebut Taijin? Berlakulah yang pantas, hiansai!"
Dengan muka merah Bun Hong lalu menjebut perlahan.
"Gakhu... (ayah mertua)....."
Kembali Pangeran Song tertawa gelak dengan hati girang, kemudian orang-tua ini berjalan masuk keruang tempat tinggal puterinya untuk menyampaikan berita girang ini kepada Kim Bwee dan ibunya.
Sekarang kita mengikuti perjalanan Kui Eng, gadis yang meninggalkan Kuil Kwan-Im-Bio dengan marah.
Selain merasa marah, ia juga merasa kasihan kepada Beng Han, karena tak pernah disangkanya bahwa twa-suhengnya itu ternyata menaruh hati mencinta kepadanya.
Ia memang suka sekali kepada Beng Han yang dapat dipercaya dan dapat pula diandalkan, akan tetapi rasa sukanya ini adalah rasa suka seorang adik terhadap seorang kakaknya, dan sekali-kali tak pernah terlintas dalam pikirannya untuk mendengar pinangan yang datangnya dari Beng Han.
Demikianpun terhadap Bun Hong, ia mempunyai perasaan yang sama dan menganggap Bun Hong sebagai kakaknya kedua.
Ia tak pernah mengira bahwa Beng Han menaruh hati mencinta karena pemuda yang alim ini selalu kelihatan pendiam, dan bahkan kalau ada persangkaan, maka persangkaan hatinya itu ditujukan kepada Bun Hong yang seringkali belakangan ini memandangnya dengan sinar mata ganjil dan kagum seperti yang ia lihat pada mata pemuda lain.
Biarpun ia merasa sunyi sekali melakukan perjalanan seorang diri akan tetapi hatinya merasa lega oleh karena kini ia tak usah memusingkan urusan itu.
Kalau ia harus mengadakan perjalanan bersama Beng Han yang telah diketahuinya mencintainya sebagai seorang pemuda mencintai seorang dara, tentu ia akan merasa jengah dan sungkan serta tidak leluasa lagi.
Sebagai seorang pendekar wanita, tiap kali terjadi sesuatu hal yang memerlukan pertolongannya.
Kui Eng tidak ragu untuk mengulurkan tangan dan melakukan pertolongan hingga tidak sedikit ia telah menolong orang yang sengsara dan membasmi orang jahat yang mengandalkan kekuasaan dan kepandaian untuk menghina dan menindas orang lain.
Seperti yang telah dikatakannya kepada Beng Han dulu ketika ia mau berangkat merantau, ia hanya mengandalkan kedua kakinya dan pergi kemana saya membawa dirinya.
Ia tidak mempunyai tujuan tertentu oleh karena ia tidak tahu kemana ibunya telah pergi waktu kekacauan terjadi.
Pada suatu pagi, beberapa bulan kemudian semenjak ia merantau, Kui Eng tiba disebuah dusun yang dilalui oleh jalan besar yang menuju ke kotaraja.
Ketika ia berjalan memasuki dusun itu tiba-tiba telinganya mendengar suara ribut didalam dusun itu.
Kui Eng mempercepat tindakan kakinya dan sebentar saja ia melihat tiga orang pemuda pelajar sedang dikelilingi oleh banyak orang dan diejek dengan kata menghina.
Sebagian besar orang yang mengelilinginya itu adalah petani?
biasa yang merupakan penonton-penonton belaka, akan tetapi yang betul sedang mengejek dan menghina ketiga orang muda itu adalah seorang laki-laki bermuka hitam yang dibantu oleh kawan-kawannya berjumlah delapan orang.
"Ha, ha, tiga orang cacing buku yang bisanya hanya mencoret-coret diatas kertas! Apakah kepandaianmu sebenarnya? Kalian paling? hanya mengikuti ujian dan setelah mendapat pangkat lalu menjadi kepala besar dan menggunakan kedudukan untuk menindas kami! Apakah kau bisa menggunakan cangkul dan menanam gandum? Ha, ha! Kalau tidak ada orang kasar seperti kami, apa kau kira kau akan dapat hidup? Kurasa memegangpun kau takkan kuat!,"
Kata seorang diantara mereka.
"Orang-orang macam inilah yang menjadi calon pemeras dan penindas kita!"
Si muka hitam berkata sambil menunjuk kearah hidung ketiga pemuda itu.
"Orang-orang macam ini harus dibikin mampus agar kita tidak ditambahi penindasan dari tiga orang calon pembesar ini!"
Mendengar anjuran si muka hitam, kawan-kawannya lalu maju mengurung dengan sikap amat mengancam.
Sementara itu, para petani yang sudah terlalu kenyang mengalami penindasan dan pemerasan dari petugas pemerintah, hanya memandang dengan tersenyum seakan-akan ketiga orang pelajar itu adalah badut-badut yang sedang menjual lagak.
Kui Eng memperhatikan tiga orang muda itu.
Mereka itu berpakaian pantas, seperti biasa anak pelajar, dan usia mereka rata-rata kurang lebih enam belas tahun.
Wajah mereka tampan dan sikap mereka lemah-lembut dan halus.
Seorang diantara ketiga orang pemuda itu, yang bermuka tampan sekali dan bermata tajam bagaikan bintang dilindungi alis yang tebal dan panjang menghitam berbentuk golok, nampak tenang dan tabah menghadapi ejekan ini, sedangkan kedua orang kawannya telah menjadi pucat mendengar ancaman mereka itu.
"Cuwi sekalian,"
Kata pemuda yang tabah itu dan suaranya ternyata nyaring dan halus hingga menarik perhatian Kui Eng.
"kami bertiga adalah pelajar-pelajar yang hendak menempuh ujian di kotaraja dan sama sekali kami tidak mengerti tentang pemerasan dan penindasan. Melihat sikap cuwi, barangkali telah terjadi penindasan, akan tetapi, kami tidak mempunyai sangkut-paut dengan hal itu. Harap cuwi suka berpikir dengan matang dan jangan memandang orang dengan sama rata saja."
Si muka hitam meludah keatas tanah.
"Cih! Begitulah lagak kutu? buku yang busuk dan jahat Pandainya memutar pena-bulu dan lidah. Coba kau jawab, untuk apa kau mempelajari semua kepintaran bicara dan menulis itu? Apakah gunanya itu bagi kami? Akan tetapi sebaliknya. kami mengayun cangkul menghasilkan gandum dan padi bukan untuk mengenyangkan perut kami sendiri, bahkan perut kalian bertiga ini kalau tidak diisi oleh hasil tanaman dan cangkulan kami mau diisi dengan apakah?"
"Cuwi,"
Kata pelajar itu pula dengan senyum ramah.
"Kami dapat mengetahui dan menghargai jasa kalian sebagai petani. Akan tetapi hendaknya diingat bahwa masing-masing orang memiliki bakat dan lapangan kerja sendiri? melayani bidang masing-masing untuk memajukan negara dan bangsa. Kalau semua orang harus menjadi petani, siapakah yang akan mengerjakan dan membuat barang kebutuhan lain? Kita harus hidup bersama saling menolong dan saling mengisi kebutuhan masing, baru kita bisa hidup dengan tenteram dan damai, penuh kebahagiaan."
"Cih, pandainya memutar lidah! Pendeknya orang macam kalian ini tidak berguna. Bisanya hanya memeras rakyat petani! Kalian harus ditumpas, dibunuh semuanya!,"
Kata si muka hitam sambil melangkah maju.
"Lihat, muka kalian sudah pucat karena takut. Cih! Pengecut, penakut, laki-laki lemah!"
Pemuda itu menjadi marah.
"Laki-laki kasar yang tidak tahu akan sopan-santun! Apakah kesalahan kami maka kau berlaku sekasar ini dan tanpa alasan memaki orang?"
"Eh, eh, kau hendak melawan? Beranikah kau melawan aku si macan hitam? Lihatlah, saudara,"
Lihatlah baik?! Kutu-buku ini hendak bertanding melawan aku!,"
Kata si muka hitam sambil tertawa gelak, dan semua orang ikut mentertawakan pemuda pelajar itu.
"Hek-houw-ko! (macan hitam). Aku bukanlah seorang yang pandai berkelahi dan tenagakupun lemah tidak seperti tenagamu yang terlatih, akan tetapi aku cukup jantan dan aku tidak takut kepada siapapun juga apabila aku bersalah. Kuharap kau tidak menghina kami karena bukan maksud kami meninggalkan rumah melakukan perjalanan jauh untuk mencari permusuhan!"
"Ha, ha, ha, pintarnya ia mencari alasan untuk menyembunyikan rasa takutnya! Ayoh, majulah kau, hendak kuhancurkan kepalamu! Lawanlah kalau kau benar-benar seorang laki-laki!"
Sambil berkata demikian, Hek-houw melangkah maju dan sekali ia menggerakkan tangan, baju pemuda pelajar itu ditariknya hingga robek dibagian dada dan nampaklah kulit dadanya yang putih.
"Ha, ha! Ayoh kau lawanlah aku!"
Betapapun juga, pemuda itu Sama sekali tidak kelihatan takut dan dengan senyum sindir ia berkata.
"Baik busuknya hati orang bukan dilihat dari pekerjaannya, akan tetapi dari perbuatan dan sikapnya. Sikapmu ini menunjukkan bahwa kau tidak patut menjadi petani yang baik dan paling tepat orang seperti engkau ini disebut penjahat yang kasar dan rendah!"
"Ang-heng... sudahlah jangan kau menyawab, biarkan saja!,"
Mencegah seorang pelajar lain yang kelihatannya takut sekali.
"Mengapa kita harus takut, Lie-te? Kita tidak bersalah apa-apa, dan orang yang tidak bersalah takkan takut mati, karena biarpun sampai terbunuh, kematiannya adalah kematian yang mulia!,"
Jawab pemuda itu dengan suara gagah.
Sementara itu, si muka hitam yang disebut penjahat kasar dan rendah, menjadi marah sekali dan berseru keras lalu mengajun tangan memukul kearah muka pemuda itu yang Sama sekali tidak mundur ketakutan, bahkan memandang dengan tajam.
Akan tetapi, sebelum pukulan si muka hitam itu mengenai muka pemuda itu, tiba-tiba si muka hitam berseru kaget karena tubuhnya ditarik orang dari belakang yang membuatnya terguling roboh.
Ketika ia melompat bangun dengan cepat, ternyata bahwa yang menariknya roboh itu adalah seorang gadis berpakaian warna hijau yang cantik dan gagah sekali sikapnya.
"Eh, muka hitam, kau memang jahat, kasar dan rendah!,"
Kata Kui Eng sambil bertolak pinggang menghadapi si muka hitam itu. Bukan main marahnya Hek-houw.
"Siluman perempuan! Siapakah kau yang berani berlancang tangan membela kutu-buku ini? Apakah kau tunangan atau kekasih mereka?"
Merahlah wajah Kui Eng mendengar hinaan ini.
"Bangsat bermulut kotor. Apa kau ingin mampus?"
Sambil berkata demikian, tangan kanannya melayang kearah mata si muka hitam yang segera mengelak, akan tetapi tangan kanan itu sebetulnya hanya merupakan ancaman belaka, karena segera disusul dengan tamparan tangan kiri yang melayang kepipi si muka hitam.
"Plok!!"
Dan mengaduhlah si muka hitam. Dua buah giginya copot dan bibirnya berdarah! "Bangsat perempuan!,"
Bentaknya sambil mencabut golok dan dengan marah sekali ia menyerang dengan goloknya, membacok kearah leher Kui Eng.
Dara itu cepat mengelak dan ketujuh orang kawan si muka hitam lalu maju pula mengeroyok.
Akan tetapi, segera terdengar teriakan kesakitan dan seruan kaget dari semua penonton ketika tubuh Kui Eng tiba-tiba lenyap berobah menjadi bayangan hijau yang berkelebatan dan dimana saja tubuhnya berkelebat, pasti seorang pengeroyok roboh terpelanting dan senjatanya terpental jauh!
Si muka hitam sendiri terkena tendangan Kui Eng pada dadanya hingga ia terlempar jauh dan jatuh pingsan!
Sebentar saja, delapan orang pengeroyok itu telah rebah malang-melintang sambil merintih-rintih!
Sambil bertolak pinggang, Kui Eng lalu menuding kearah si muka hitam dan berkata.
"Orang macam kau ini memang jahat dan kejam! Kau berpura-pura dan mengaku sebagai petani, akan tetapi aku tidak percaya bahwa kau adalah seorang petani tulen! Petani biasanya berwatak jujur dan baik, sedangkan watakmu adalah watak bajingan atau perampok jahat. Tidak semua pembesar berhati buruk dan tidak semua pelajar menjadi calon pembesar jahat! Ketiga orang Kongcu ini hanya lewat disini dan tidak mempunyai dosa apa-apa, mengapa kalian mengganggu mereka? Tidak tahu malu!"
Si muka hitam yang sudah siuman kembali lalu merangkak-rangkak pergi diikuti oleh kawan-kawannya.
"Awas, akan kubunuh kalian kalau kita bertemu lagi!,"
Katanya. Mendengar ancaman ini, Kui Eng tertawa dan menyawab.
"Orang macam kau hendak mengancam aku? Betul kau tak tahu diri!"
Para penduduk dusun yang menyaksikan kegagahan Kui Eng, lalu memuji dengan kagum.
Mereka memberitahu bahwa delapan orang itu adalah orang gelandangan yang pekerjaannya hanya mengganggu penduduk minta makan.
minta uang dan lain.
Mereka adalah penjudi yang tak tentu tempat tinggalnya, hingga mereka merupakan penambah beban bagi orang dusun yang sudah menderita.
"Mengapa cuwi sekalian diam saja melihat mereka berbuat sewenang-wenang?,"
Tanya Kui Eng.
"Apakah yang dapat kami lakukan? Mereka itu kuat dan tangguh, dan pula...,"
Petani itu memandang kearah tiga pelajar tadi.
"Memang ada betulnya ketika ia mengatakan bahwa pembesar sekarang hanyalah memeras dan menindas orang-orang tani!"
Pemuda pelajar yang tabah tadi lalu menarik napas panjang dan berkata.
"Hal ini telah kami dengar, mudah-mudahan saja kaum muda kami kalau sudah mendapat kedudukan akan dapat merobah suasana ini."
Kemudian ia memandang kepada Kui Eng dengan kagum sekali dan menjura, diturut oleh kedua orang kawannya.
"Siocia, kau sungguh gagah perkasa dan berbudi tinggi. Terimalah hormat dan ucapan terimakasih dari siauwte Ang Min Tek, dan kedua orang kawanku ini Lie Kang Coan dan Lie Kang Po. Kalau tidak keburu Siocia yang gagah perkasa datang, entah bagaimana nasib kami bertiga."
Merahlah wajah Kui Eng mendengar ucapan yang halus dan sikap yang sopan-santun ini. Ia merasa girang sekali disebut "Siocia,"
Karena ia sudah merasa bosan mendengar sebutan "Lihiap,"
Dan menganggap bahwa sebutan Siocia lebih halus dan lebih mengesankannya sebagai seorang wanita yang berperasaan halus.
Cepat ia membalas dengan pemberian hormat, mengangkat kedua tangannya dan membungkukkan tubuh dengan gerakan yang lemah-lembut.
Sedapat mungkin Kui Eng hendak menghilangkan tanda kegagahannya dan alangkah girangnya kalau pada saat itu ia mengenakan pakaian seorang wanita biasa seperti yang dipakai oleh gadis biasa, bukan pakaian perantau yang ringkas seperti yang dipakainya itu.
"Samwi Kongcu, harap jangan terlalu membesarkan hal yang tak berarti. Sebagai seorang yang sopan, aku yang bodoh tak dapat tinggal diam saja melihat kekasaran si muka hitam itu."
"Ang-heng,"
Tiba-tiba Lie Kang Po, pemuda yang nampak gembira dan yang paling muda diantara mereka, paling banyak berusia lima belas atau empat belas tahun.
"Kalau perjalanan kita selanjutnya dapat bersama dengan Siocia yang gagah perkasa ini, kita tak usah takut akan gangguan segala orang kurang ajar!"
Min Tek memandang kepada kawannya itu dengan cemberut, lalu berkata kepadanya.
"Kang Po! Jangan kau bicara sembarangan saja!"
Kemudian ia berpaling kepada Kui Eng dan berkata lagi.
"Maafkanlah kawanku yang muda ini, Siocia, karena ia masih belum tahu benar akan kekurang-ajaran ucapannya tadi. Mana bisa seorang Siocia seperti kau dapat melakukan perjalanan bersama tiga orang pemuda?"
Kui Eng tersenyum manis dan ia makin tertarik hatinya kepada pemuda she Ang yang tampan dan sopan-santun itu.
"Tidak apa, Ang-Kongcu, karena kawanmu itu tidak sengaja. Pula, memang perjalanan ke kotaraja melalui tempat berbahaya. Kebetulan sekali akupun sedang menuju kesana maka biarpun tidak melakukan perjalanan berbareng, akan tetapi dapat kiranya aku mengamat-amati hingga tidak ada orang yang akan mengganggu kalian."
Berserilah wajah Min Tek yang tampan itu. Ia segera menjura dan berkata girang.
"Bagaikan kejatuhan bulan rasa hati kami mendengar ini. Kau sungguh seorang nona yang amat berbudi dan mulia, nona..."
Kui Eng tersenyum lagi.
"Namaku Kui Eng."
"Terimakasih sekali lagi kami ucapkan, nona Kui Eng"
Kata Min Tek pula.
Demikianlah ketika ketiga orang muda itu melanjutkan perjalanannya, Kui Eng mengikuti mereka dari jauh.
Entah bagaimana, ada sesuatu yang menarik hatinya dan yang membuat ia merasa bahwa ia tak dapat meninggalkan tiga orang muda itu.
Ia harus melindungi mereka sampai ke kotaraja.
Biasanya ia melakukan perjalanan dengan cepat akan tetapi sekarang.
Oleh karena harus mengikuti ketiga orang muda yang melakukan perjalanan dengan perlahan, ia harus berjalan perlahan pula.
Akan tetapi aneh sekali, ia tidak merasa kesal, bahkan kini melakukan perjalanan dengan hati gembira.
Sikap lemah-lembut dan sopan-santun dari Min Tek telah membetot hatinya, telah merampas sanubarinya hingga ia merasa tertarik sekali.
Sekaligus hatinya yang keras menjadi cair dan lunak dan ia merasa bahwa ia telah "jatuh hati"
Terhadap pemuda pelajar yang biarpun lemah, akan tetapi bersifat gagah berani ketika menghadapi bahaya itu!
Ketabahan hati seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi seperti kedua suhengnya tak sangat membuatnya kagum, akan tetapi melihat betapa seorang pemuda pelajar yang lemah dan tidak memiliki ilmu kepandaian silat seperti Min Tek berani menghadapi bahaya maut dengan mata tak berkedip dan semangat tetap berkobar, benar-benar membuat ia tunduk dan kagum.
Dalam pandangannya, Min Tek merupakan seorang laki-laki yang memenuhi syarat kejantanan dan hatinya runtuh oleh sikap yang lemah-lembut, terutama oleh kesopanan pemuda itu!
Sementara itu, ketiga orang muda sasterawan itu melanjutkan perjalanan mereka dengan gembira pula.
Biarpun mereka tidak berani menengok kebelakang oleh karena dilarang oleh Min Tek, namun mereka maklum bahwa nona pendekar yang cantik jelita dan gagah perkasa itu juga melakukan perjalanan dibelakang mereka!
Hanya satu kali Min Tek menengok dan memandang kearah Kui Eng sambil tersenyum, dan ini saja sudah cukup mendebarkan hati Kui Eng.
Kekuatiran hati Kui Eng bahwa pemuda itu akan mendapat gangguan ternyata berbukti.
Hek Houw si muka hitam yang merasa dibikin malu dan menjadi sakit hati itu telah mengadakan hubungan dengan beberapa orang kawannya yang menjadi perampok dan sengaja mencegat perjalanan Min Tek dan kawan-kawannya!
Ketika Min Tek dan kawan-kawannya berjalan sampai disebuah tempat yang sunyi, tiba-tiba dari belakang batu karang yang besar muncul belasan orang tinggi besar yang bercambang bauk dan memegang golok.
Diantara mereka nampak Hek Houw dan beberapa orang kawannya yang telah mendapat ajaran dari Kui Eng.
Melihat sikap para perampok yang berdiri ditengah jalan dengan sikap mengancam itu, Min Tek dan kedua orang kawannya berhenti tiba-tiba dan mereka maklum bahwa mereka dicegat oleh serombongan orang jahat karena melihat Hek Houw berada diantara mereka.
Juga Kui Eng telah melihat rombongan itu maka dengan cepat gadis itu lalu lari mengejar dan sebentar saya ia telah berdiri dihadapan Min Tek, menghadapi para perampok itu dengan wajah dan sikap tenang.
"Kalian ini menghadang perjalanan orang mempunyai maksud apakah?,"
Tanyanya dengan suara nyaring.
"Inilah perempuan setan itu!,"
Kata Hek-houw kepada kepala rampok yang tinggi besar dan bersenjata golok. Melihat Kui Eng, kepala rampok itu tertawa gelak-gelak dan berkata kepada Hek-Houw dengan lagak sombong.
"Saudaraku yang baik! Apakah benar kau dan kawan mu kalah oleh gadis yang cantik manis ini? Ha ha, ha! Sukar untuk dipercaya!"
Kemudian ia menghadapi Kui Eng dan berkata dengan suaranya yang besar dan parau.
"Eh, nona manis. Benarkah kau telah berani berlancang tangan mengganggu saudara-saudaraku ini?"
"Mereka itu orang-orang jahat yang bertindak sewenang-wenang Tidak kubikin mampuspun mereka masih untung sekali, dan kau ini siapakah dan apa maksudmu menghadang kami? Apakah kau hendak membalas kekalahan bajingan kecil itu?"
Kembali kepala rampok itu tertawa.
"Nona manis, jangan kau begitu galak! Ketahuilah bahwa daerah ini berada dalam kekuasaanku dan setiap orang yang lewat harus membayar uang jalan! Bagi kau dan kawan-kawanmu ini, asalkan kalian berempat tinggalkan semua barang bawaanmu, juga semua pakaian yang menempel ditubuhmu kau berikan kepada kami barulah kalian mendapat ampun dan boleh melanjutkan perjalanan!"
Kepala rampok ini sengaja mengucapkan kata menghina itu untuk membalaskan penghinaan yang telah dirasai oleh Hek-houw dan kawan-kawannya.
"Bangsat bermulut kotor!"
Kui Eng membentak marah.
"Ternyata kau adalah perampok hina. Menjadi perampok belum terhitung dosa yang besar akan tetapi kau telah berani menghina aku, inilah dosa yang tak dapat diampuni lagi."
Tadi ketika kepala rampok mengucapkan penghinaannya, yakni meminta pakaian yang dipakai oleh Kui Eng dan ketiga orang pemuda pelajar, kawanan perampok telah tertawa geli dan menyeringai menyebalkan.
Sekarang mendengar ancaman Kui Eng, mereka tertawa makin keras lagi.
"Nona manis, agaknya kau belum tahu siapa adanya orang gagah yang berada didepanmu! Ketahuilah, aku adalah Tiat-touw Koai-to (Golok Setan Kepala Besi) yang tidak biasa membunuh orang lemah, akan tetapi aku paling suka membikin jinak kuda betina liar seperti kau ini. Ha, ha, ha! Kalau kau dan kawan-kawanmu tanpa banyak membantah menanggalkan semua pakaian yang kau bawa dan yang kau pakai lalu pergi dengan aman, aku bersumpah tak hendak mengganggumu! Akan tetapi, kalau kau berani melawan, tidak saya ketiga orang kekasihmu yang cakap ini harus mampus, bahkan kaupun harus ikut padaku selama satu bulan penuh!"
"Bangsat besar, kalau benar-benar kau seorang jantan, marilah kita bertempur dengan jujur dan jangan mengandalkan keroyokan! Kalau aku sampai kalah, aku akan mengangkat guru kepadamu!,"
Kata Kui Eng sambil mencabut keluar pedangnya.
Ia merasa kuatir kalau-kalau para perampok itu melakukan pengeroyokan hingga ketiga orang pemuda pelajar itu akan mendapat gangguan tanpa ia dapat membelanya.
Oleh karena ini, ia menahan marah dan melakukan tantangan untuk bertempur seorang lawan seorang.
"...Siocia adat perampok selalu main keroyokan secara pengecut! Orang ini hanya besar mulut belaka, mana ia berani menghadapi kau seorang diri?,"
Tiba-tiba Ang Min Tek menyindir, Pemuda ini cerdik sekali dan ia dapat menangkap maksud Kui Eng menantang kepala rampok itu maka ia sengaja mengeluarkan kata itu untuk membakar hati kepala rampok.
Benar saja, Tiat-touw Koai-to menjadi marah sekali hingga ia memutar-mutar goloknya sambil menghampiri Min Tek yang tetap tenang saya dan tidak berkisar dari tempatnya berdiri.
"Cacing tanah!,"
Kepala rampok itu membentak. Kalau pelindungmu itu kalah olehku, kau harus me-rangkak didepanku dengan telanjang bulat seperti seekor anjing!"
"Sudahlah jangan banyak mengobral omongan yang tak berharga,"
Jawab Min Tek dengan tabah.
"Kalau kau memang berani menghadapi dia, lawanlah dengan golokmu, bukan dengan mulutmu yang kotor!"
Makin marahlah kepala rampok itu dan sekali ia mengajunkan tangan, goloknya bersiutan menyan?bar kearah leher Min Tek! Akan tetapi, tiba"
Sebatang pedang meluncur cepat dan menangkis goloknya.
"Traang!"
Dan bunga api memercik keluar ketika dua senjata itu beradu.
"Tiat-touw Koaihiap, lawanmu berada disini!,"
Kata Kui Eng yang menangkis golok itu sambil memandang penuh Ejekan.
"Baik, baik! Agaknya kaupun memiliki sedikit ilmu kepandaian! Biarlah kujatuhkan kau dulu sebelum menjembelih kambing ini!"
Setelah berkata demikian, kepala rampok itu lalu melompat sambil berseru keras dan menyerang Kui Eng dengan goloknya yang mempunyai gerakan cepat dan berat, tanda bahwa tenaga kepala rampok ini besar sekali.
Akan tetapi, Kui Eng mengelak cepat dan membalas dengan tusukan kearah perut lawan yang segera menangkisnya.
Mereka lalu bertempur dengan seru dan ramai.
Setelah bertempur belasan jurus, Kui Eng maklum bahwa kepandaian kepala rampok ini tidak berapa tinggi, hanya lagaknya saja yang sombong dan tenaganya yang besar.
Akan tetapi gadis ini memang cerdik sekali.
Kalau ia mengeluarkan kepandaiannya dan mendesak kepala rampok itu, tentu kaki tangan kepala rampok itu akan maju mengeroyok, dan bukan tak mungkin ketiga orang pelajar itu akan diserang oleh anggauta perampok pula.
Maka ia lalu berkelahi dengan lambat dan sengaja membiarkan dirinya diserang bertubi-tubi dan kelihatan terdesak!
Kepala rampok itu tertawa terkekeh-kekeh sambil menghujani tubuh Kui Eng dengan serangan-serangannya, sedangkan kawan-kawannya bersorak girang.
"Tai-Ong (sebutan kepala rampok), jangan bunuh simanis itu, sayang kecantikannya!,"
Teriak seorang perampok dengan suara kurang ajar sekali.
Kui Eng tak dapat menahan kemarahannya lagi, apabila ketika ia mengerling kearah Min Tek dan kawan-kawannya dan melihat betapa pemuda itu nampak kuatir sekali, kemarahannya memuncak.
Tiba-tiba terdengar Min Tek berseru keras.
"Tai-Ong, kau boleh ganggu kami dan boleh rampas semua barang kami. akan tetapi janganlah kau berani ganggu nona itu! Bukan perbuatan seorang laki gagah untuk mengganggu dan menghina seorang wanita!"
Kui Eng merasa terharu sekali mendengar ucapan Min Tek ini karena ternyata bahwa dalam keadaan yang tidak berdaya karena kelemahannya, pemuda itu masih berusaha menolongnya dan mengurbankan diri sendiri dengan gagah dan tak kenal takut!
Tiba-tiba kepala rampok itu berseru dengan heran dan terkejut karena tiba-tiba tubuh lawannya lenyap dan pedangnya menjadi segulung sinar yang berkeredipan menyambar kearah dada dan mukanya!
Ia menjadi bingung dan tahu ia merasa pipinya perih sekali dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, tangan kiri Kui Eng telah menotok pergelangan lengannya hingga goloknya terpental jauh dan ia terhujung kebelakang.
Ketika ia meraba pipinya, ia mengaduh karena ternyata bahwa pinggir mulutnya telah terobek pedang sampai kepipinya!
Dalam kegemasannya, Kui Eng telah merobek mulut kepala rampok itu dengan ujung pedangnya!
Kawanan perampok itu menjadi marah dan hendak maju mengeroyok, akan tetapi Kui Eng telah melompat didepan ketiga orang pemuda itu dan berdiri dengan gagah sambil melintangkan pedang didepan dada.
"Siapa sudah bosan hidup, boleh mencoba, maju!."
Bentaknya.
Kawanan perampok menjadi ragu-ragu, empat orang yang agak tabah melompat maju berbareng, akan tetapi dengan gerak tipu Halilintar Menyambar Pohon, Kui Eng mendahului mereka menerjang dan terdengar mereka menjerit sambil melepaskan senjata karena pedang Kui Eng telah melukai lengan mereka dengan gerakan yang cepat sekali dan yang tak dapat dilihat datangnya!
Perampok-perampok yang lain menjadi terkejut sekali dan mereka segera mundur sambil membawa kawan-kawan mereka yang terluka.
Ang Min Tek dan kedua kawannya merasa kagum sekali.
Untuk kedua kalinya gadis pendekar itu telah menolong jiwa mereka dengan gagah berani.
Saking girang dan terharunya, Min Tek lalu menjatuhkan diri berlutut didepan Kui Eng .
"Telah dua kali Siocia menolong kami hingga kami berhutang nyawa kepadamu. Dengan apakah kami harus membalas budi yang tak terkira besarnya ini?"
Sambil tersenyum manis Kui Eng memegang kedua pundak Min Tek dan mengangkatnya bangun sambil berkata.
"Kongcu, sudah selayaknya bagi manusia untuk saling tolong-menolong. Untuk apakah aku belajar silat kalau aku tidak mempergunakan ilmu kepandaian itu untuk menolong sesama hidup dan membasmi kejahatan?? Sebaliknya kau, Ang koncu, yang tidak memiliki ilmu kepandaian silat, namun kau memiliki ketabahan yang mengagumkanku. bahkan kau telah berani mencoba membelaku. Dalam hal kegagahan kau tidak kalah oleh pendekar lain yang berilmu tinggi!"
Sambil berkata demikian, sepasang mata Kui Eng yang indah itu memandang tajam justeru pada saat Min Tek menatap wajahnya hingga warna merah menjalar pada wajah kedua orang muda itu dan Min Tek sendiri merasa heran mengapa pada saat itu hatinya tiba-tiba menjadi berdebar keras!
Karena hari menjelang senja, mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat karena diluar hutan itu terdapat sebuah kota dimana mereka dapat bermalam.
Kini hubungan mereka agak lebih rapat dan Kui Eng tidak merasa sungkan lagi untuk melakukan perjalanan bersama, sungguhpun sambil berjalan mereka berdiam diri saya, Mereka lalu bermalam disebuah hotel.
Lie Kang Coan dan adiknya dalam sebuah kamar, Ang Min Tek dikamar sebelahnya, sedangkan Kui Eng menyewa kamar agak jauh dari situ, yakni disebelah belakang.
Semenjak masuk kedalam hotel, mereka tidak saling bertemu lagi oleh karena Min Tek dan kawan-kawannya menjaga agar jangan sampai orang luar menyangka yang bukan terhadap Kui Eng.
Menurut anggapan ketiga orang muda ini, tidak selayaknya didepan umum mereka mendekati Kui Eng dan menganggap bahwa hal itu akan merendahkan nama gadis itu.
Memang, pada masa itu, orang yang mendapat didikan kesopanan dari orang tua yang kukuh, terutama para keturunan bangsawan, perhubungan antara wanita dan laki amat jauh, dan merupakan pantangan besar.
Kui Eng tidak tahu akan hal ini, Maka sikap Min Tek ini menimbulkan geli dalam hatinya yang menyangka bahwa pemuda itu luar biasa "pemalu"
Dan canggungnya dalam hubungan dengan seorang kawan wanita!
Akan tetapi biarpun ia gagah dan jujur, sebagai seorang wanita, tentu saya ia tidak mau mendesak dan mendekati mereka.
Akan tetapi hal inilah yang menimbulkan bencana.
Kalau saya Min Tek tidak demikian mempergunakan adat kesopanan yang berlebihan, tentu Kui Eng akan berlaku waspada karena lebih dekat.
Kini, gadis itu yang juga merasa lelah, mengeram diri didalam kamarnya saja dan malam itu ia tidur dengan njenyak dan enaknya.
Akan tetapi, pagi harinya ia menjadi terkejut sekali ketika pintu kamarnya diketok orang dengan keras.
Ketika ia membuka daun pintu, ternyata bahwa yang mengetok pinlu itu adalah Lie Kang Coan dan adiknya, kedua kawan Min Tek, dan kedua pemuda ini menangis!
"Eh, jiwi Kongcu, pagi mengetok pintu sambil menangis, apakah yang terjadi?"
Sambil berkata demikian Kui Eng mencari-cari Min Tek dengan matanya dan ketidak-hadiran pemuda itu membuat ia merasa kuatir sekali.
"Dia... dia diculik orang...,"
Kata Kang Coan sambil mengusap air matanya yang mengalir turun dikedua pipinya.
Kui Eng melompat keluar kamar lalu berlari kekamar Min Tek dimana telah berkumpul pengurus hotel dan tamu lain yang telah mendengar tentang nasib pemuda yang diculik orang itu!
Melihat seorang gadis yang cantik jelita dan gagah datang kekamar itu, mereka lalu memberi jalan dan Kui Eng segera masuk kedalam kamar dimana pengurus hotel sedang memeriksa keadaan kamar dan ketika Kui Eng masuk, ia berkata.
"Siocia, apakah kau sahabat Kongcu yang diculik orang ini?"
Kui Eng hanya mengangguk dan ketika pengurus hotel itu menuding kearah dinding, gadis itu lalu menengok dan ternyata bahwa diatas dinding yang putih itu terdapat tulisan yang berbunyi demikian, Kalau hendak menyusul pemuda tampan, Datanglah ditempat kemarin kau menghina orang!
Kui Eng mengerti bahwa tulisan itu ditujukan kepadanya dan tentu dilakukan oleh kawan-kawan Tiat-touw Koai-to yang membalas dendam.
Maka ia lalu berkata kepada kedua kawan Min Tek.
"Jiwi harap jangan terlalu kuatir. Tunggulah saja disini, aku yang akan menyusul dan menolong Ang-Kongcu!"
Setelah berkata demikian sambil membawa pedangnya, Kui Eng lalu berlari cepat menuju kehutan dimana kemarin ia memberi ajaran kepada Tiat-touw Koai-to dan kawan-kawannya.
Orang didalam hotel ketika melihat semua ini, lalu beramai-ramai mengajukan pertanyaan kepada kedua saudara Lie itu siapa adanya gadis yang cantik dan gagah itu, hingga terpaksa Lie Kang Coan dan adiknya lalu menceritakan pengalaman mereka, betapa dengan amat gagahnya Kui Eng menolong mereka dari gangguan para perampok.
Tentu saja hal ini membuat semua orang menjadi kagum sekali dan sebentar saya nama Kui Eng menjadi buah-tutur orang dikota itu.
Kui Eng yang berlari cepat sekali dengan hati penuh kecemasan memikirkan nasib Min Tek, sebentar saja sudah tiba dihutan yang kemarin dan tepat sebagaimana dugaannya disitu telah menanti Tiat-touw Koai-to dan kawan-kawannya.
Didepan sekali berdiri seorang laki-laki tua yang bertubuh tinggi besar, bermata lebar dan bersikap gagah sekali.
Laki-laki ini usianya sudah lima puluh tahun lebih dan yang mengherankan ialah bahwa alisnya telah berwarna putih seluruhnya, padahal rambut dikepalanya masih hitam.
Jenggotnya yang tipis panjang itupun masih berwarna hitam.
Karena keanehan pada alisnya inilah yang membuat ia disebut orang Pek Bi Lojin (Kakek Alis Putih).
Kakek ini adalah seorang tokoh persilatan yang terkenal sekali karena kelihaiannya dan Tiat-touw Koai-to adalah seorang diantara murid-muridnya yang banyak jumlahnya.
Kemarin, ketika dilukai pipinya oleh Kui Eng, dengan hati mengandung penasaran, malu dan terhina, Tiat-touw Koai-to lalu lari ketempat tinggal suhunya yang tidak jauh dari situ letaknya.
Sambil menangis dan memperlihatkan luka pada mukanya, kepala rampok ini menceritakan kepada suhunya betapa ia telah diserang dan dikalahkan oleh seorang wanita ketika ia sedang berusaha merampok tiga orang sasterawan muda.
Memang bagi Pek Bi Lojin tidak ada salahnya kalau muridnya menjadi orang-orang liok-lim.
Pada dewasa itu, memang keadaan negara sedang kacau-kacaunya, dan orang yang merasa penasaran dan tidak suka kepada Kaisar dan kaki tangannya, banyak yang menceburkan diri menjadi perampok.
Pek Bi Lojin adalah seorang tua yang gagah dan jujur, maka ia telah memberi peringatan dan petaruh keras kepada semua muridnya yang menjadi anggauta liok-lim agar supaya melakukan perampokan dengan memilih dan beraturan.
Karena pelajar-pelajar yang hendak melakukan ujian di kotaraja juga dianggap sebagai keluarga pembesar atau calon pembesar, maka ketika ia mendengar betapa muridnya terluka hebat dan mendapat penghinaan ketika sedang merampok tiga orang pelajar yang menuju ke kotaraja, Pek Bi Lojin menjadi marah sekali.
Malam hari tadi ia mempergunakan kepandaiannya mendatangi hotel dimana Min Tek dan kawan-kawannya bermalam.
Ia menculik pemuda she Ang itu dan sengaja meninggalkan tulisan didinding untuk menantang Kui Eng.
Setelah berhadapan dengan rombongan perampok itu, dengan marah Kui Eng lalu mencabut pedangnya yang digunakan untuk menuding muka Tiat-touw Koai-to sambil membentak.
"Tiat-touw Koai-to! Percuma saja kau mau berpura-pura menjadi orang gagah, karena perbuatanmu hanya menunjukkan bahwa kau adalah seorang pengecut besar! Kau hanya berani mengganggu orang lemah tak berdaya. Ayoh kau lepaskan Ang-Kongcu dengan baik-baik, kalau tidak jangan kau sesalkan apabila aku menggunakan pedang untuk membasmi habis semua penjahat yang berada disini!"
"Gagah benar!,"
Tiba-tiba kakek beralis putih itu berseru.
"Nona, ketahuilah, yang menculik Ang-Kongcu bukan lain orang akan tetapi aku sendiri. Aku takkan mengganggu Ang-Kongcu karena maksudku tak lain hanya hendak mengundang kau datang kesini!"
Kui Eng memandang kakek itu dan melihat sikapnya. ia maklum bahwa kakek ini bukanlah orang sembarangan. Maka ia lalu menjura dan berkata.
"Dengan siapakah aku yang muda berhadapan?"
"Nona-muda yang gagah perkasa! Dengarlah, aku orangtua yang lemah tiada guna disebut orang Pek Bi Lojin dan Tiat-touw Koai-to ini adalah seorang muridku. Kau yang gagah ini mengapa telah berlaku kejam melukai muridku secara menghina sekali dan mengapa pula kau memusuhi golongan liok-lim? Apakah kau menganggap dirimu yang paling pandai dikolong langit ini?"
Kui Eng yang baru saja menerjunkan diri dikalangan kang-ouw, belum pernah mendengar nama Pek Bi Lojin, maka katanya dengan geram.
"Lo-Enghiong, kalau kepala rampok ini benar-benar muridmu, maka kaupun ikut bertanggungjawab! Kalau saja ia melakukan perampokan dengan menggunakan aturan, minta sumbangan sekadar biaya hidup anak buahnya, aku tentu tidak berani mengganggu dan bahkan dengan senang hati akan membantunya. Akan tetapi, dia membuka mulut besar, berlaku sewenang-wenang kepada tiga orang pelajar yang lemah, bahkan dia telah berani mengeluarkan ucapan kasar dan kotor untuk menghinaku! Memang aku sengaja merobek mulutnya karena mulutnyalah yang amat jahat dan kotor!"
Pek Bi Lojin terkenal mempunyai adat yang keras akan tetapi adil dan jujur sekali.
Ketika ia menculik Min Tek dan membawa pemuda itu kehutan.
Min Tek menjelaskan kepadanya tentang kejahatan Tiat-touw Koai-to yang berlaku sewenang-wenang menghina orang.
Melihat sikap Min Tek yang biarpun lemah akan tetapi gagah berani dan sedikitpun tidak memperlihatkan rasa takut itu.
Pek Bi Lojin sudah merasa tertarik dan kagum, akan tetapi ia belum mempercayai penuh kata-kata pemuda itu.
Betapapun juga, ia melarang keras muridnya.
untuk mengganggu Min Tek dan menahan pemuda itu dalam sebuah pondok didalam hutan.
Kini mendengar ucapan Kui Eng yang gagah, ia lalu memandang kepada muridnya dan membentak.
"Apakah kau masih hendak menyangkal pula?"
Tiat-touw Koai-to memang amat takut kepada suhunya, maka, sambil menjatuhkan diri berlutut didepan orangtua itu, ia berkata lemah.
"Teecu masih belum tahu kesalahan apakah yang teecu telah lakukan. Mohon diberi penjelasan, suhu,"
Ia membela diri.
"Hm, hm, bagus sekali, Tiat-touw Koai-to! Kulihat kau masih menghormat dan menghargai suhumu,"
Kata Kui Eng sambil tersenyum sindir.
"Kau masih belum mau menerima salah? Kau telah memerintahkan aku meninggalkan semua barang, bahkan pakaian yang kupakai baru boleh melanjutkan perjalanan bukankah itu berarti bahwa kau amat menghinaku sebagai seorang wanita? Kemudian, bukankah mulutmu pula yang mengatakan bahwa kalau aku kalah bertanding, ketiga pemuda itu akan kau bunuh dan aku harus ikut kau selama satu bulan? Dan mulutmu yang kotor pula yang memaki aku sebagai kekasih ketiga pemuda itu! Tiat-touw Koai-to, kalau aku ingat lagi akan ucapan-ucapanmu yang kotor itu, mau rasanya aku menambah sebuah tusukan lagi pada mulutmu!"
"Betulkah itu??,"
Pek Bi Lojin membentak muridnya dengan mata berapi. Tiat-touw Koai-to tidak berani menyawab, hanya menundukkan kepalanya.
"Betul atau tidak, Ajoh jawab!,"
Kakek itu kembali membentak dengan suara menggeledek hingga tidak saya Tiat-touw Koai-to menjadi pucat, bahkan kawan-kawan kepala rampok itupun berdiri sambil menundukkan kepala dengan kedua kaki menggigil.
"Teecu mohon ampun, suhu, Ucapan itu teecu keluarkan karena sedang marah."
"Plak!!."
Tangan Pek Bi Lojin menyambar dan tubuh Tiat-touw Koai-to terlempar jauh dan bergulingan.
Kepala rampok itu merintih-rintih dan ternyata bahwa pipi kanannya yang tidak terluka pedang Kui Eng telah ditampar dan kini membengkak matang biru, sedangkan dari mulutnya mengalir darah!
"Sekali lagi kau lakukan perbuatan keji dan pengecut mencemarkan nama orang yang menjadi gurumu, pasti akan kucabut nyawamu!,"
Kata kakek alis putih itu dengan geram.
"Muridmu kena bujukan seorang penjahat rendah bernama Hek-houw, maka maafkanlah dia, Lo-Enghiong,"
Kata Kui Eng yang merasa ngeri dan kasihan juga melihat nasib kepala rampok itu.
"Nona, kalau begitu aku sudah melakukan kekeliruan dengan menculik pemuda itu, karena ternyata bahwa kau bukanlah seorang sombong sebagaimana yang kukira semula. Akan tetapi bagaimanapun juga, aku mempunyal semacam penyakit, yakni apabila bertemu dengan orang gagah, tua maupun muda, sebelum mencoba ilmu kepandaiannya, hatiku selalu akan merasa penasaran dan tidak bisa tidur! Maka, janganlah sia-siakan kedatanganmu ini, nona, dan berilah sedikit pengajaran kepada orang-tua yang tak tahu diri ini!"
"Lo-Enghiong, kalau hanya ingin mengajak pibu, mengapa tidak langsung saja mendatangi aku? Mengapa harus mengganggu seorang pemuda pelajar yang melakukan perjalanannya hendak menempuh ujian di kotaraja?,"
Kui Eng mencela dengan tegurannya.
"Ang-Kongcu telah menceritakan kepadaku bahwa kau dan ketiga pemuda itu tidak mempunyai hubungan apa-apa, maka bukan main heranku mengapa kau demikian memperhatikan nasibnya!,"
Kata Pek Bi Lojin hingga wajah Kui Eng berubah menjadi merah.
Orang-tua itu lalu menyuruh seorang anggauta perampok untuk menjemput Ang-Kongcu.
Setelah Min Tek muncul dalam keadaan selamat, Kui Eng merasa lega sementara itu, pemuda itu memandang kepada Kui Eng dengan perasaan penuh keharuan dan kekaguman.
Kembali gadis pendekar itu yang menolongnya, bahkan berani mendatangi sarang perampok dan bertaruh keselamatan diri sendiri untuk menolongnya.
Akan tetapi, didepan para perampok itu, Kui Eng tidak sudi memperlihatkan perasaannya terhadap pemuda pelajar itu, maka ia hanya memandang sekilas dan kemudian kepada Pek Bi Lojin.
"Lo-Enghiong, setelah kau membebaskan kembali Ang-Kongcu, maka perkenankanlah kami meninggalkan tempat ini."
"Eh eh nanti dulu, nona. Sudah kukatakan tadi bahwa sebelum mengukur kepandaian seorang gagah yang kebetulan bertemu dengan aku maka aku akan merasa penasaran. Marilah kita main sebentar untuk menambah pengalaman, kemudian baru kau boleh pulang bersama Ang-Kongcu!"
Kui Eng merasa ragu karena kuatir kalau ini hanya merupakan tipu muslihat belaka, akan tetapi Min Tek berkata dengan suaranya yang nyaring.
"Pek Bi Lojin adalah seorang Enghiong sejati, maka ia pasti akan memegang teguh janjinya!"
Mendengar ini, Pek Bi Lojin tersenyum dan berkata.
"Nona Kui Eng, aku mendengar bahwa ilmu pedangmu hebat sekali Aku orang-tua yang bodoh pernah mempelajari sedikit ilmu kepandaian golok, maka ingin sekali aku mencoba ilmu pedangmu yang lihai itu. Marilah, dan jangan kau berlaku sungkan!"
Sambil berkata demikian, tangan kanan kakek itu bergerak kearah punggung dan tahu-tahu ia telah mencabut keluar sebilah golok tipis yang ringan akan tetapi tajam sekali.
Melihat gerakan ini, diam-diam Kui Eng merasa terkejut karena maklum akan kelihaian kakek ini, maka ia berlaku hati-hati sekali dan tidak mau menyerang lebih dulu.
"Silahkanlah, Lo-Enghiong,"
Katanya sambil membelintangkan pedang didadanya.
"Ha, ha, kau terlalu sungkan!,"
Kata Pek Bi Lojin yang lalu melangkah maju dan mulai menyerang sambil berseru.
"Awas golok!"
Ilmu golok Pek Bi Lojin adalah semacam Ilmu golok lihai yang berdasarkan Lo-han To-hwat, yakni Ilmu golok dari cabang Siauwlim yang telah dirobah dan ditambah dengan gerakan dari lain-lain cabang.
Gerakan goloknya cepat dan kuat, bagaikan seekor naga sakti, menyambar mengeluarkan angin dan suara bersiutan.
Memang benar kata orang bahwa golok yang dimainkan oleh tangan seorang ahli merupakan Raja senjata yang berbahaya sekali.
Golok yang tipis dan lebar itu setelah dimainkan oleh Pek Bi Lojin, lenyap bentuk goloknya dan berubah menjadi sinar putih yang bergulungan dan mengeluarkan sinar berkeredipan.
Tidak hanya para perampok, akan tetapi juga Min Tek yang tidak mengerti ilmu silat, menjadi kagum sekali melihat permainan golok yang benar indah itu.
Dalam hati pemuda ini lalu timbul kekuatiran bagi keselamatan Kui Eng.
Sanggupkah gadis itu menghadapi permainan golok sehebat ini?
Akan tetapi, Kui Eng adalah seorang gadis berbakat yang telah mendapat gemblengan dari suhunya.
Permainan pedangnya hebat, ginkangnya sudah mencapai tingkat tinggi.
Ia berhati tabah dan tenang, bagaikan seekor naga betina muda yang baru turun dari langit dan bersemangat besar berhati tabah.
Biarpun ia maklum bahwa kakek ini hebat sekali permainan goloknya namun sedikitpun ia tidak merasa ngeri atau gentar.
Ia memainkan pedangnia dengan sama cepatnya dan mempergunakan ginkangnya untuk berkelebat kesana-kemari dengan lompatan gesit sekali menghindarkan diri dari sambaran sinar golok dan membalas dengan serangan-serangan cukup kuat dan cepat.
Makin lama, pertempuran itu berjalan makin cepat hingga akhirnya semua mata yang menyaksikan pertempuran itu menjadi berkunang dan kabur karena tubuh kedua orang itu telah lenyap terbungkus gulungan sinar golok dan pedang yang diputar luar biasa cepatnya.
Hanya bunyi golok beradu dengan pedang yang nyaring serta bunga api yang berhamburan setiap kali kedua senjata itu beradu menyatakan kepada mereka bahwa didalam gundukan sinar pedang dan golok itu terdapat orang yang sedang mengadu kepandaian!
Hanya kedua orang yang sedang bertempur itu saja yang maklum bahwa dalam hal kepandaian silat, bahwa ilmu kepandaian Pek Bi Lojin lebih tinggi setingkat dan lebih matang permainan goloknya, akan tetapi kakek ini harus mengakui bahwa dalam hal ilmu meringankan tubuh, gadis itu masih lebih menang!
Maka tak terkira rasa kagumnya melihat kegagahan gadis muda itu karena selama ini belum pernah ia menyaksikan kelihaian seorang muda seperti gadis ini.
Ia memperhebat gerakan goloknya hingga Kui Eng terpaksa mundur dan melindungi dirinya dengan putaran pedangnya dan mempergunakan ginkangnya.
Tiba-tiba Pek Bi Lojin merobah gerakan goloknya dan memainkan Tee-tong-to, yakni permainan golok sambil bergulingan diatas tanah.
Sambil bergulingan, goloknya membabat kearah kaki lawan!
Menghadapi serangan yang cepat dan berbahaya ini, Kui Eng terkejut sekali.
hingga terpaksa melompat tinggi dengan maksud membalas serangan dari atas dengan kaki diatas kepala dibawah.
Akan tetapi, tidak tahunya Pek Bi Lojin memiliki kegesitan yang hebat, hingga sebelum gadis itu dapat berjungkir-balik diudara, kakek itu telah melompat berdiri dan menggunakan gagang golok untuk memukul kaki Kui Eng.
Akan tetapi, dalam keadaan terdesak hebat itu, Kui Eng memperlihatkan ginkangnya yang benar-benar lihai.
Ketika ia dulu mempelajari ginkang, suhunya menyuruhnya berlompatan diatas ujung bambu runcing yang dipasang diatas tanah, bahkan setelah kepandaiannya itu menjadi matang, suhunya memegang dua batang bambu runcing dan menyuruh Kui Eng melompat keatas dan berdiri diatas bambu yang dipegangnya itu sambil melompat lagi dan bermain-main diatas kedua bambu runcing yang dipegangnya.
Kini, melihat serangan golok kearah kakinya sedangkan tubuhnya masih terkatung diudara, Kui Eng lalu menggunakan ujung kaki untuk menginjak gagang golok dan sekali ia enjot tubuhnya, maka tubuhnya mencelat lagi keatas dan segera melayang ketempat yang jauhnya tidak kurang dari lima tombak!
Bukan main kagumnya Pek Bi Lojin melihat ginkang yang hebat ini, maka ia segera menghampiri setelah menyelipkan goloknya dipunggung.
Kui Eng juga menyimpan pedangnya dan menjura.
"Lo-Enghiong sungguh lihai, aku menyerah kalah."
"Ah, nona Kui Eng, kau terlampau merendahkan diri. Ginkangmu sungguh membuat mataku yang tua menjadi lebar. Kau benar-benar patut dipuji. Tidak tahu, siapakah suhumu yang mulia?"
"Suhuku bernama Lui Sian Lojin dari Swi-hoa-san,"
Jawab Kui Eng. Tak tersangka-sangka olehnya ketika mendengar jawaban ini, Pek Bi Lojin segera menjura dengan amat hormatnya, bahkan Tiat-touw Koai-to lalu menjatuhkan dirinya berlutut.
"Ah, maaf, maaf tidak tahunya Lihiap adalah murid inkong (tuan penolong) kami...,"
Kata Pek Bi Lojin sambil menarik napas panjang kemudian berkata kepada Tiat-touw Koai-to.
"Hm, kalau hal ini terdengar oleh inkong, dimana harus menyembunyikan muka kami?"
"Lihiap, maafkan aku yang bermata buta dan mohon jangan sampaikan kekurang-ajaranku kepada Lui Sian Locianpwee...,"
Kata Tiat-touw Koai-to dengan suara meratap.
Kui Eng menjadi heran sekali mengapa mereka demikian takut dan segan mendengar nama suhunya.
Pek Bi Lojin lalu menuturkan bahwa dulu dia dan muridnya ini pernah mendapat pertolongan dari Lui Sian Lojin ketika mereka dikeroyok oleh musuh-musuh mereka, yakni orang dari perkumpulan Kipas Hitam.
Kalau tidak ada Lui Sian Lojin yang datang menolong, tentu Pek Bi Lojin, Tiat-touw Koai-to dan beberapa orang anak murid kakek ini telah binasa semua oleh anggauta Kipas Hitam!
Setelah mengetahui bahwa gadis pendekar itu adalah murid Lui Sian Lojin sikap Tiat-touw Koai-to menjadi berobah Sama sekali, Ia amat menghormat bahkan setelah menjura dan minta maaf kepada Ang Min Tek, ia lalu berkata.
"Ang-Kongcu, perjalanan dari sini ke kotaraja melalui tempat berbahaya, maka biarlah siauwte dengan beberapa orang kawan mengawalmu dijalan."
Tentu saya Ang Min Tek merasa girang sekali, bahkan Tiat-touw Koai-to lalu menyediakan tiga ekor kuda untuk Ang Min Tek dan kedua orang kawannya.
Sementara itu, mendengar disebutnya kawanan Kipas Hitam, Kui Eng menjadi tertarik sekali dan minta penjelasan lebih jauh dari Pek Bi Lojin.
Pek Bi Lojin berkata dengan wajah sungguh-sungguh.
"Lihiap, sebetulnya, ketika menyaksikan kepandaianmu tadi, timbul niatku untuk minta pertolongan Lihiap, yaitu untuk mengawaniku menyerbu kesarang mereka, karena dengan tenaga kita berdua, kurasa kita cukup kuat untuk menghadapi tiga orang ketua Kipas Hitam yang kuat itu. Akan tetapi, karena Lihiap sedang melakukan perjalanan ke kotaraja, tentu saja aku tidak berani menghalangi dan mengganggu maksud perjalanan Lihiap."
Kui Eng memandang kepada Min Tek yang masih berada disitu.
Sebetulnya, ia tidak mempunyai kepentingan sesuatu di kotaraja, dan kepergiannya ke kotaraja sesungguhnya hanya karena ingin melindungi pemuda itu, ia lalu menyawab.
"Aku tidak mempunyai tujuan tertentu dalam perjalananku, dan aku hanya pergi kemana saja kedua kakiku membawa diriku."
Dari pandang mata gadis itu, Ang Min Tek maklum bahwa gadis ini bermaksud minta persetujuannya, maka ia lalu berkata cepat-cepat.
"Siauwte bertiga mana berani berlaku keterlaluan dan mengganggu Kui-Siocia. Sekarang setelah ada saudara ini yang berlaku demikian baik hati untuk mengawal. siauwte sama sekali tidak berani membikin lelah kepada Kui-Siocia. Hanya pengharapan siauwte, apabila Siocia mengunjungi kotaraja, dan ada waktu, hendaknya sudi mampir dipondok pamanku yang buruk, yakni di toko obat Yok-goan-tong. Atas bantuan dan pembelaan Kui-Siocia yang sudah, siauwte bertiga sampai matipun takkan dapat melupakannya."
Ia lalu menjura dengan penuh hormat kepada. Kui Eng yang memandangnya dengan penuh perasaan terharu, Ia merasa kecewa juga harus berpisah dengan pemuda yang amat menarik hatinya itu, maka jawabannya.
"Ang-Kongcu, tidak ada budi dan terimakasih antara kita. Lupakanlah saja hal yang sudah lewat. Siapa tahu, lain kali akulah yang harus mendapat bantuanmu! Apabila aku pergi ke kotaraja, pasti akan kucari toko obat itu."
Kemudian, setelah memandang sekali lagi dengan penuh pernyataan terimakasih memancar keluar dari sepasang matanya yang tajam, Min Tek lalu meninggalkan tempat itu sambil naik kuda, dikawal oleh Tiat-touw Koai-to dan lima orang kawannya sambil menuntun dua ekor kuda untuk Lie Kang Coan dan Lie Kang Po.
Sementara itu, Kui Eng yang ditinggal berdua saja dengan Pek Bi Lojin, lalu duduk dibawah pohon dan mendengar cerita kakek itu tentang perkumpulan Kipas Hitam yang jahat itu.
Perkumpulan Kipas Hitam ini sebetulnya adalah segerombolan orang jahat yang berorganisasi dan bersarang diatas bukit Ma-kun-san.
Mereka tidak saja menjalankan pekerjaan sebagai perampok,"
Akan tetapi juga ada bagian yang melakukan pemerasan di dusun,"
Mengancam kepala kampung untuk memberi sumbangan dengan jumlah besar yang telah ditentukan, juga merampas hasil-hasil sawah untuk ransum mereka.
Jumlah pengikut mereka cukup banyak, kurang lebih ada seratus orang.
Mereka ini berkedudukan kuat sekali oleh karena dipimpin oleh tiga orang bersaudara yang bernama Can Kok, Can An, dan Can Sam, tiga orang jagoan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Dulu, beberapa belas tahun yang lalu, ketika perkumpulan ini masih dipimpin oleh susiok dari ketiga orang itu yang bernama Lauw Pit Hwesio, perkumpulan ini merajalela dengan buasnya hingga membuat Pek Bi Lojin merasa marah dan membawa anak muridnya menyerbu kesarang mereka yang dulu berada disebuah hutan besar.
Akan tetapi, kekuatan perkumpulan Kipas Hitam demikian besar.
Hingga hampir saya Pek Bi Lojin dan semua muridnya terbunuh mati dalam pertempuran kalau saya tidak datang Lui Sian Lojin yang kebetulan melakukan perjalanan merantau.
Berkat pertolongan Lui Sian Lojin, Lauw Pit Hwesio dapat dibinasakan dan perkumpulan itu diobrak-abrik hingga menjadi bubar.
Akan tetapi, diam-diam ketiga saudara Can itu melatih diri dan mengumpulkan kekuatan lagi, lalu mendirikan perkumpulan itu kembali yang kini bersarang dipuncak bukit Ma-kun-san.
Kedudukan mereka bahkan lebih kuat daripada dulu.
Pek Bi Lojin yang merasa benci kepada mereka yang menjalankan pekerjaan jahat, beberapa kali mencoba untuk menyerbu, akan tetapi selalu ia terpukul mundur, bahkan banyak anak muridnya yang tewas dalam penyerbuan itu.
Oleh karena ini, diantara Pek Bi Lojin dan perkumpulan Kipas Hitam terdapat permusuhan yang mendalam.
"Beberapa hari yang lalu,"
Demikian Pek Bi Lojin melanjutkan ceritanya.
"Dengan kurang ajar dan berani sekali mereka mengirim surat tantangan kepadaku."
Ia lalu Imengeluarkan sehelai kertas yang berisi surat tantangan itu kepada Kui Eng.
Ternyata didalam surat yang ditandatangani oleh Can Kok, Can An, dan Can Sam, ketiga orang ketua Kipas Hitam itu menantang kepada Pek Bi Lojin untuk berpibu dan memutuskan siapa yang terkuat diantara mereka.
"Aku masih merasa ragu,"
Oleh karena terus terang saja, apabila harus menghadapi mereka bertiga seorang diri saja, aku takkan dapat memperoleh kemenangan.
Menghadapi mereka seorang demi seorang aku tidak akan kalah, akan tetapi mereka itu curang sekali dan aku masih merasa bingung bagaimana aku harus menyambut tantangan ini.
Kebetulan sekali kau muncul, Lihiap, maka kalau kau sudi menolong, dengan kekuatan kita berdua, kukira kita takkan dapat mereka kalahkan.
Tentu saja aku tidak memaksamu, Lihiap, dan terserah kepadamu saya.
untuk mengambil keputusan."
Perkumpulan Kipas Hitam memang amat berpengaruh dan hampir semua dusun pernah mendengar nama ini yang mereka anggap sebagai nama setan yang amat jahat, maka dalam perjalanannya yang pendek itu, Kui Eng pernah mendengar tentang nama ini.
Inilah yang membuatnya merasa tertarik tadi.
Kini mendengar permintaan Pek Bi Lojin, ia tidak berani segera menyanggupi, oleh karena ia belum yakin betul tentang keadaan dan kejahatan perkumpulan Kipas Hitam itu.
Ia tahu bahwa Pek Bi Lojin biarpun gagah dan jujur, akan tetapi orang-tua ini berdekatan dengan perampok, bahkan muridnya juga menjadi perampok.
Apabila permusuhan antara dia dan perkumpulan Kipas Hitam merupakan permusuhan pribadi, ia tak hendak campur-tangan.
Akan tetapi kalau betul-betul Kipas Hitam adalah segerombolan orang jahat yang mengganggu penduduk dusun, ia harus membasmi mereka!
"Lo-Enghiong, aku bersedia untuk ikut dengan kau menyambut tantangan mereka itu.
Akan tetapi aku tidak bersedia bertempur melawan mereka sebelum yakin betul akan kejahatan mereka itu."
Pek Bi Lojin maklum akan isi hati gadis ini, maka ia mengangguk dan berkata.
"Memang seharusnya dalam segala hal kita berlaku hati dan teliti. Baiklah, Lihiap. Kau hanya ikut saja dan melihat keadaan mereka terlebih dulu."
Mereka lalu berangkat menuju ke Ma-kun-san, menunggang kuda yang disediakan oleh anak buah Tiat-touw Koai-to.
Biarpun mereka melarikan kuda mereka dengan cepat namun bukit itu tak dapat dicapai dalam satu hari.
Terpaksa mereka harus bermalam dijalan.
Akan tetapi, Pek Bi Lojin adalah seorang tokoh tua yang amat terkenal didaerah itu, maka mudah saja baginya untuk mencari tempat penginapan dihutan.
Semua kaum liok-lim didaerah itu menganggapnya sebagai "Ketua"
Yang disegani, maka ketika melihat Pek Bi Lojin datang bersama seorang gadis yang cantik jelita dan gagah, mereka menyambutnya dengan penuh kehormatan dan kedua orang yang dianggap sebagai tamu agung itu diberi tempat bermalam yang layak dan disugui hidangan yang istimewa pula.
Diam-diam Kui Eng merasa kagum melihat kebesaran pengaruh kakek itu dikalangan liok-lim.
Pada keesokan harinya, Pek Bi Lojin dan Kui Eng melanjutkan perjalanan mereka dan pada tengah hari, sampailah mereka dikaki bukit Ma-kun-san.
Tiba-Tiba dari atas bukit turunlah serombongan orang berkuda dan setelah dekat ternyata mereka adalah anggauta Kipas Hitam, terbukti dari lukisan Kipas Hitam pada baju mereka dibagian dada.
Pemimpin rombongan itu lalu turun dari kuda, menjura kepada Pek Bi Lojin dan berkata.
"Ketua kami telah tahu akan kunjungan jiwi, maka mengutus kami untuk menyambut dan mengantar jiwi keatas gunung."
Kui Eng terkejut juga melihat kelihaian gerombolan itu yang telah tahu sebelumnya bahwa mereka berdua hendak naik kebukit itu.
Memang gerombolan Kipas Hitam mempunyai penyelidik yang disebar dimana-mana, maka sehari sesudah Pek Bi Lojin dan Kui Eng berangkat ketua Kipas Hitam telah menerima laporan dan sengaja mengadakan penyambutan untuk memamerkan kelihaian mereka.
Dengan sikap gagah Pek B?
Lojin dan Kui Eng mengikuti para penyambut itu mendaki bukit Ma-kun-san yang tak berapa tinggi.
Diatas lereng didekat puncak terlihat beberapa buah bangunan dari kayu yang kokoh kuat dan didepan bangunan itu kelihatan orang berkelompok sambil melihat kedatangan kedua orang tamu.
Setelah tiba dekat, ternyata bahwa ketiga orang ketua Kipas Hitam sendiri berdiri menyambut kedatangan Pek Bi Lojin.
Kakek ini segera melompat turun dari kuda, diturut oleh Kui Eng, kemudian mereka melangkah maju sementara kuda mereka diurus oleh beberapa orang pelayan.
"Pek Bi Lojin, ternyata betul-betul kau orang-tua datang memenuhi undangan kami!,"
Kata Can Kok, saudara tertua dari ketiga orang ketua Kipas Hitam, yang bertubuh kate dan bermuka hitam.
Orang ini bicara sambil menggunakan kipasnya yang lebar dan berwarna hitam untuk mengebut-ngebut tubuhnya.
Kui Eng memperhatikan ketiga orang ketua itu.
Usia mereka rata-rata sudah empat puluh tahun lebih, akan tetapi mereka masih nampak gagah.
Can Kok bermuka hitam bertubuh pendek dan kepalanya besar.
Sepasang lengannya yang pendek itu nampak kuat dan berisi, sedangkan matanya yang tajam mengerling kearah Kui Eng membayangkan kecabulan hingga gadis itu segera mengalihkan pandang matanya kepada dua orang ketua yang lain.
Can An ketua kedua, juga pendek dan kate, akan tetapi mukanya putih dan kedua matanya bersinar-sinar menunjukkan kecerdasan otaknya.
Bibirnya selalu tersenyum dan sikapnya angkuh sekali.
Juga ketua kedua ini memegang sebuah Kipas Hitam yang lebar.
Ketua ketiga berbeda dengan kedua kakaknya, ketua yang bernama Can Sam ini bertubuh tinggi kurus dan wajahnya membayangkan kesabaran besar, akan tetapi sepasang matanya berpengaruh sekali, sungguhpun ada tanda kebodohan pada wajahnya.
Cara ketua ketiga ini membawa kipasnya membuat hati Kui Eng bercekat karena kipas itu tertutup dan dijepit pada gagangnya oleh kedua jaritangannya, bagaikan orang menjepit sumpit.
Dari pegangan ini dapat diduga bahwa ia adalah seorang ahli totok jalan darah yang berbahaya.
Memang sebetulnya orang ketiga ini bukanlah adik kandung Can Kok dan Can An.
Dia hanyalah seorang anak pungut dari orang-tua kedua saudara Can itu dan akhirnya dinamakan Sam dan memakai nama keturunan Can pula.
Ilmu silat Can Sam memang lihai dan bahkan tidak berada dibawah tingkat kepandaian kedua kakaknya.
Ia berwatak pendiam dan agak bodoh dan dalam segala hal, ia hanya mengekor kepada kedua orang kakaknya saja.
Pek Bi Lojin setelah mendapat sambutan dari Can Kok, lalu balas menjura dan menyawab.
"Samwi, kalau aku yang tua tidak memenuhi undangan kalian, tentu aku akan disebut pengecut. Samwi dengan jujur dan secara laki-laki telah mengadakan tantangan untuk berpibu, tanpa mengikut-campurkan kawan atau arak-buah kita maka tentu saja aku tidak dapat menolak ajakan yang jujur ini."
Dalam jawaban ini, sekaligus Pek Bi Lojin menyindirkan bahwa ia tidak menghendaki keroyokan atau lain, perbuatan yang curang dalam pertempuran yang hendak diadakan ini.
Tiba-tiba Can Kok tertawa ria dan berkata sambil menundiuk kebawah bukit.
"Pek Bi Lojin! Kau pandai menyindir, akan tetapi kau sendiri juga tidak jujur! Mengapa kau membawa anak buah sebanyak itu menyerbu keatas?"
Pek Bi Lojin terkejut dan menengok, juga Kui Eng lalu memandang kekaki gunung, dimana nampak serombongan orang yang memegang senjata sedang mendaki bukit itu sambil berteriak-teriak.
"Jangan menyangka yang bukan-bukan, mereka itu tidak ada hubungannya dengan aku,"
Kata Pek Bi Lojin setelah memperhatikan mereka itu.
Dan pada saat itu, seorang anggauta Kipas Hitam datang memberi laporan kepada ketiga orang ketuanya bahwa penduduk dusun Sam-lin-khung telah datang menyerbu, Can Kok tertawa sinis dan berkata.
"Biarkan mereka naik! Hendak kulihat mereka itu menghendaki apa!"
Rombongan orang kampung itu dipimpin oleh seorang laki-laki tua yang memegang tombak, akan tetapi melihat dari napasnya yang terengah-engah ketika mendaki bukit itu, dapat diduga bahwa ia adalah seorang biasa saja yang tidak memiliki ilmu kepandaian silat.
Maka Kui Eng merasa heran sekali mengapa orang itu demikian beraninya naik dan menyerbu kesarang Kipas Hitam yang terkenal ganas dan kejam.
"Kawanan Kipas Hitam! Ajoh kembalikan puteriku!,"
Teriak orang-tua itu sambil mengacungkan tombaknya keatas, diikuti oleh teriakan orang dusun yang menuntut dikembalikan puteri Khungcu (kepala kampung) mereka. Can Kok mengeluarkan seruan menghina.
"Gakhu (ayah mertua) mengapa bersikap seperti ini? Puterimu telah menjadi isteriku yang sah, mengapa sekarang mendadak menimbulkan keributan? Tidak malukah kalau terdengar orang lain? Kami sedang menerima tamu, maka harap gakhu suka kembali kekampung. Besok aku akan mengirim emas-kawin yang telah kujanjikan!"
"Perampok rendah! Siapa sudi menjadi mertuamu? Ajoh kau kembalikan puteriku. Apa kau kira didunia ini tidak ada pengadilan lagi maka kau berani menculik anak gadis orang disiang hari?,"
Teriak kepala kampung itu pula.
"Sekali lagi, kuminta supaya kau pulang dan membawa kembali orang-orangmu ini!,"
Kata Can Kok dengan suara mengancam, sedangkan tangannya yang memegang kipas mulai bergerak-gerak.
"Anjing rendah! Manusia berhati iblis! Kembalikan anakku... kembalikan...!,"
Kepala kampung itu tetap berteriak-teriak"
Dan memaki-maki.
Tiba-tiba tubuh Can Kok melayang dan kipasnya dikebutkan kearah kepala orang-tua itu.
Kalau kipasnya mengenai kepala kakek itu, tentu kepala itu akan hancur berantakan!
Akan tetapi pada saat itu, terdengar bentakan halus.
"Orang kejam! Lepas tanganmu!"
Dan tahu-tahu kipas yang menyerang kepala kampung itu terpental ketika sebatang pedang menangkisnya dengan tepat, Can Kok melompat mundur dengan muka marah sekali, karena ternyata bahwa yang menangkis serangannya tadi adalah Kui Eng, gadis yang datang bersama Pek Bi Lojin.
Kui Eng tadinya merasa ragu untuk membantu Pek Bi Lojin, oleh karena ia masih belum yakin betul akan kejahatan gerombolan Kipas Hitam, akan tetapi ketika rombongan orang dusun itu datang menyerbu dan mendengarkan percakapan yang terjadi antara Can Kok dan kepala kampung mengertilah ia bahwa gerombolan Kipas Hitam benar-benar merupakan gerombolan penjahat yang kejam dan ganas.
Mereka telah menculik dan memaksa puteri kepala kampung itu untuk menjadi isteri Can Kok!
Bukan main marah hati gadis itu dan ketika ia melihat gerakan tangan Can Kok, ia telah bersiap sedia hingga dapat menangkis dan menolong jiwa kepala kampung ketika diserang oleh Can Kok yang berhati kejam itu.
"Aha, jadi Pek Bi Lojin membawa seorang pembantu yang boleh juga kepandaiannya. Bagus, bagus!,"
Kata Can Kok.
"Orang she Can,"
Kata Kui Eng.
"tadinya aku masih ragu mendengar dari Pek Bi Lo-Enghiong bahwa kalian adalah orang-orang jahat yang berhati busuk. Tidak tahunya kau benar-benar berbatin rendah, hingga tidak merasa malu untuk menculik anak gadis orang. Sekarang tidak saja aku datang untuk membantu Pek Bi Lo-Enghiong, akan tetapi juga untuk mewakili Khungcu ini minta kembali anak gadisnya!"
Can Kok membelalakkan matanya dengan marah sekali.
"Gadis itu sudah menjadi isteriku, orang lain tak boleh mencampuri urusan ini!"
"Keparat mesum! Kalau begitu aku harus memampuskanmu!."
Teriak Kui Eng yang segera menggerakkan pedangnya menyerang dengan hebat.
Can Kok menutup kipasnya dan kini ia menggunakan kipas itu sebagai senjata.
Kipas itu bukanlah kipas biasa, akan tetapi gagangnya terbuat daripada baja dan ujungnya runcing hingga kalau ditutup merupakan dua batang senjata runcing yang dimainkan secara luar biasa.
Inilah kelihaian ketiga ketua dari perkumpulan Kipas Hitam, yakni memainkan kipas sebagai senjata yang ampuh.
Kepandaian tunggal ini mereka pelajari dari suhu mereka dan selama mereka menjagoi dikalangan liok-lim, jarang mereka menemui tandingan.
Akan tetapi kini Can Kok bertemu dengan Kui Eng, murid Lui Sian Lojin yang dulu mengobrak-abrik sarang mereka bahkan yang dulu membunuh susiok mereka.
Setelah bertempur dua puluh jurus lebih, Kui Eng mulai dapat menekan permainan kipas lawannya dengan gerakan pedangnya.
Can An dan Can Sam malihat hal ini lalu maju mengeroyok, akan tetapi Pek Bi Lojin berkata.
"Masih ada aku disini, apakah kalian hendak bertempur secara keroyokan?"
Can Sam merasa ragu, akan tetapi Can An lalu mengebutkan kipasnya menyerang Pek Bi Lojin dengan hebat, yang disambut oleh golok jago tua itu.
Sebentar saja mereka berdua bertempur dengan sengit dan ramai.
Can Sam lalu maju membantu kakaknya ini dan mengepung Pek Bi Lojin yang tidak merasa gentar, bahkan lalu memutar goloknya dengan cepat dan hebat sekali.
Sementara itu, kepala kampung dan para penduduk dusun yang menyerbu keatas bukit, ketika melihat betapa tiba-tiba seorang gadis muda yang cantik jelita membantu kepala kampung dan kini bahkan bertempur melawan Can Kok yang menculik puteri kepala kampung itu, lalu berdiri menonton sambil memuji kelihaian gadis itu.
Mereka bersiap sedia untuk membantu dan berkelahi mati-matian apabila anggauta Kipas Hitam turun tangan dan mengeroyok.
Menghadapi pertempuran ketiga orang kepala gerombolan yang berkelahi melawan Pek Bi Lojin dan Kui Eng, orang kampung itu merasa tak berdaya untuk menolong oleh karena setelah bertempur, bayangan mereka berlima lenyap dan menjadi suram tertutup oleh berkelebatnya senjata mereka hingga sukar dibedakan mana kawan mana lawan.
Oleh karena itu, mereka hanya menonton saja dengan mata terbelalak kagum.
Biarpun ilmu kepandaiannya tinggi, namun Can Kok tak kuat menghadapi ilmu pedang dan kegesitan tubuh Kui Eng yang sengaja melompat kesana-kemari mempermainkan lawannya yang menjadi pusing.
Tiba-tiba Can Kok berseru keras sambil membuka kipasnya.
Ketika ia mengebut, tiba-tiba dari ujung kipasnya itu menyambar keluar tiga batang jarum hitam kearah dada Kui Eng.
Namun gadis ini telah mendengar dari Pek Bi Lojin tentang kelihaian dan kecurangan ketua Kipas Hitam itu mempergunakan jarum rahasia yang disembunyikan didalam kipas, maka begitu ia melihat benda hitam kecil menyambar ia cepat mempergunakan pedangnya untuk menyampok.
Can Kok berseru lagi dan kini terbang menyambar enam batang jarum, tiga meluncur kearah leher dan tiga pula kearah paha Kui Eng.
Serangan ini demikian cepatnya, lalu disusul dengan pukulan kipas kearah dada gadis itu hingga Kui Eng tak sempat pula menangkis semua serangan ini.
Ia lalu berseru nyaring dan tiba-tiba tubuhnya mencelat keatas dengan cepat sekali bagaikan burung walet menyambar keatas.
Sambil melompat, digerakkannya kakinya hingga tubuhnya melayang dan melewati kepala Cang Kok dan semua serangan itu dapat dielakkannya sekaligus.
Ketika Can Kok cepat memutar tubuhnya, Kui Eng membalas dan mendahuluinya dengan serangan pedangnya bertubi-tubi.
Dalam gemasnya karena lawannya menggunakan senjata rahasia, Kui Eng mengeluarkan serangan ilmu pedangnya yang paling berbahaya.
Can Kok mencoba menangkis dan.
"Brett!"
Pedang Kui Eng membabat ditengah kipas diantara dua gagang hingga kain hitam yang terpasang pada gagang itu pecah dan ujung pedang terus membacok tangan Can Kok!
Kepala gerombolan yang pendek ini menjerit kesakitan, kipasnya terlempar dan tangan kanannya terbacok pedang hampir putus!
Can Kok hendak melompat mundur, akan tetapi sebuah tendangan kaki kiri Kui Eng dengan cepat mengenai dadanya hingga ia roboh terguling tak sadarkan diri!
Dalam gemasnya, Kui Eng melompat maju hendak membunuh orang jahat itu, akan tetapi tiba-tiba dari samping menyambar pukulan yang hebat hingga terpaksa ia membuang diri untuk menghindarkan diri sambil memutar pedangnya kearah penyerangnya.
"Traaang!"
Pedangnya beradu dengan gagang kipas yang digunakan oleh Can Sam untuk menyerangnya tadi ketika ketua ketiga ini berusaha menolong kakaknya.
Biarpun Can Sam tidak berhasil menyerang Kui Eng, akan tetapi ia telah menolong nyawa kakaknya dengan serangan itu.
Ternyata bahwa dengan keroyokan mereka berdua.
Tian An dan Can Sam berhasil mendesak Pek Bi Lojin hingga kakek yang gagah ini merasa kewalahan juga.
Ia hanya memutar goloknya untuk melindungi dirinya tanpa kuasa membalas sedikitpun juga.
Namun berkat Ilmu goloknya yang lihai, kedua saudara Can itu belum mendapat kesempatan untuk merobohkannya karena golok yang diputar itu merupakan dinding baja yang luar biasa teguhnya.
Kemudian mereka mendengar jeritan Can Kok hingga Can Sam segera memburu dan berhasil menghindarkan Can Kok dari bahaya maut.
Kini Kui Eng bertempur melawan Can Sam yang tidak kalah tangguhnya dari Can Kok, bahkan tenaga lweekang sitinggi kurus ini sangat luar biasa.
Setelah ditinggalkan oleh Can Sam dan hanya menghadapi seorang lawan saya, Pek Bi Lojin memperlihatkan keunggulannya.
Goloknya menyambar-nyambar bagaikan halilintar diatas kepala Can An hingga sikate ini menjadi bingung dan terdesak hebat.
Pertempuran seorang lawan seorang ini terjadi dengan lebih ramai lagi karena mereka melakukan serangan mati-matian dan mengerahkan tenaga dan kepandaian untuk merobohkan lawan.
Tiba-tiba Can An menjerit dan paha kirinya hampir putus terkena sabatan Pek Bi Lojin, akan tetapi jago tua itupun mengeluarkan pekik kesakitan karena dalam robohnya, Can An menyambitkan kipasnya yang dengan tepat menancap pada pundak kakek itu!
Inilah ilmu kepandaian yang hebat dari Can An.
Sambitannya dilakukan pada saat ia terpelanting roboh hingga tidak diduga oleh lawan dan tenaga sambitannya ini kuat sekali.
Berbareng dengan robohnya Can An dan Pek B?
Lojin, kawanan Kipas Hitam menyerbu dan Can Sam yang sudah merasa bingung menghadapi pedang Kui Eng yang lihai, cepat melompat mundur.
Melihat majunya kawanan Kipas Hitam, orang-orang dusun dengan nekad dan bersorak-sorak gemuruh, maju sambil mengangkat senjata mereka!
Kui Eng maklum bahwa orang dusun itu bukanlah lawan kawanan Kipas Hitam yang pandai ilmu silat, maka ia segera melompat kearah Can An, menjeret tubuh ketua kedua itu dan melemparkannya kedekat tubuh Can Kok, lalu berseru nyaring.
"Tahan semua senjata! Can Sam, kalau kau tidak perintahkan anak buahmu mundur, kedua kakakmu ini akan kubunuh lebih dulu!"
Sambil berkata demikian, Kui Eng menodongkan pedangnya pada Can Kok dan Can An yang belum mati dan yang masih merintih-rintih kesakitan. Can Sam menjadi terkejut dan berseru.
"Jangan bunuh mereka!,"
Lalu ia memberi tanda dengan bersuit nyaring hingga semua anak buahnya lalu mengundurkan diri dan memandang kepada ketua mereka dengan bingung dan kuatir.
"Can Sam, kita sudah berjanji untuk berkelahi dengan jujur tanpa ada pengeroyokan. Kalau kau memang laki yang gagah, apabila kau masih penasaran, marilah maju dan lawan aku sampai penentuan terakhir! Akan tetapi kalau kau hendak melakukan pengeroyokan dengan anak buahmu, aku akan mampuskan kedua saudaramu ini, kemudian aku akan membasmi semua anak buahmu!"
Ucapan ini dikeluarkan dengan suara keras dan nyaring serta sikap yang gagah hingga semua kawanan Kipas Hitam menjadi ketakutan.
"Dengarlah kalian, aku adalah murid dari Lui Sian Lojin yang dulu pernah memberi pengajaran kepada kalian. Setelah mendapat ampun dari suhu, ternyata sekarang kalian melakukan kejahatan lagi! Maka, sekali lagi sekarang aku memberi ampun kepada kalian, asalkan kalian suka melepaskan puteri kepala kampung ini dan membubarkan perkumpulanmu yang jahat ini. Berjanjilah!"
Tian Sam sebetulnya adalah seorang yang tidak jahat dan ia hanya terbawa-bawa oleh kedua kakak angkatnya, Kini melihat kedua kakaknya telah dirobohkan dan tidak berdaya, maka habislah daja lawannya dan ia tidak tahu harus berbuat apa.
Melihat kegagahan Kui Eng dan mendengar bahwa Kui Eng adalah murid Lui Sian Lojin, ia dan kawan-kawannya menjadi gentar, maka ia lalu menyawab.
"Baiklah, Lihiap. Kami menurut dan harap kau ampunkan jiwa kedua kakakku."
"Lepaskanlah puteri kepala kampung ini!,"
Perintah Kui Eng dan beberapa orang anak buah Kipas Hitam lalu masuk kedalam pondok dan tak lama kemudian ia mengiringkan seorang wanita muda yang cantik dan ketika wanita itu melihat ayahnya, ia lari menubruk dan mereka bertangis-tangisan.
"Sekarang kalian semua harus bubar dan tinggalkan bukit ini! Kalau lain kali aku bertemu dengan seorang diantara kalian dan melihat kalian melakukan kejahatan lagi jangan menyesal apabila aku terpaksa berlaku kejam!"
Can Sam lalu memberi perintah dan semua anak buah Kipas Hitam lalu turun gunung, cerai-berai dan lari mencari tempat baru.
Sementara itu, beberapa orang kampung lalu menolong Pek Bi Lojin yang baiknya hanya terluka kulit dan dagingnya saya dibagian pundak dan tidak membahayakan keselamatannya.Kemudian, Kui Eng lalu melepaskan Can Kok dan Can An, dan membiarkan Can Sam dan beberapa orang kawannya menolong mereka itu dan membawanya turun gunung.
Orang-orang dusun dengan dikepalai oleh kepala kampung, lalu naik keatas dan membakar semua pondok gerombolan yang telah ditinggalkan oleh penghuninya.
Kemudian mereka lalu turun gunurg, kembali ke dusun mengiringkan Kui Eng dan memanggul tubuh Pek Bi LOjin.
Kui Eng dipuji dan dihormati sebagai seorang pahlawan namanya menjadi buah pujian setiap orang.
Oleh karena sepak-terjangnya yang gagah perkasa dan pakaiannya yang berwarna hijau, maka orang kampung memberi nama julukan Nona Naga Hijau kepadanya!
Pek Bi Lojin menghaturkn banyak terimakasih kepada Kui Eng yang dijawab dengan merendahkan diri oleh gadis itu.
Juga Pek Bi Lojin mendapat penghormatan dan perawatan dari para penduduk dusun hingga Kui Eng dapat meninggalkannya dengan hati tenteram.
Gadis ini lalu melanjutkan perjalanannya.
Ia merasa bimbang harus pergi kemana.
Menurutkan keinginannya, ia hendak menyusul Ang Min Tek ke kotaraja karena bayangan pemuda pelajar itu selalu terbayang didepan matanya.
Akan tetapi, ia menjadi sedih kalau mengingat bahwa sampai sedemikian lamanya ia merantau, belum juga ia dapat mencari jejak ibunya.
Maka ia lalu mengambil keputusan untuk menuju ke kotaraja dengan jalan memutar dari barat.
dengan pengharapan akan dapat bertemu dengan ibunya.
dan juga untuk meluaskan pengalamannya.
(Lanjut ke
Jilid 03) Tiga Naga Dari Angkasa/Sam Liong Shia Thian Karya , Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03 Kita tunda dulu perjalanan Ki Eng yang gagah perkasa dan mari kita tinyau pengalaman Beng Han, murid pertama dari Lui Sian Lojin.
Pemuda ini setelah ditinggalkan kedua adik seperguruannya, yakni Bun Hong dan Kui Eng, merasa sedih sekali.
Ia merasa sedih oleh karena sikap Kui Eng yang ternyata tidak mencintainya seperti yang ia dengar dari Beng Lian, dan merasa kuatir karena Bun Hong pergi seorang diri ke kotaraja.
Ia maklum akan kesembronoan dan keberanian Bun Hong yang memungkinkan pemuda itu terancam bahaya.
Oleh karena itu, ia lalu mengambil keputusan untuk menyusul Bun Hong ke kotaraja.
Disepanjang jalan ia teringat kepada Kui Eng dan dengan segala kekuatan batinnya ia menindas perasaan sedih dan kecewa didalam hatinya, Juga ia diam-diam merasa kasihan kepada Bun Hong karena menurut cerita Beng Lian, ternyata bahwa Kui Eng juga tidak menaruh hati cinta kepada sutenya itu, padahal ia maklum bahwa sutenya itu ternyata juga mencintai Kui Eng seperti dia sendiri.
Ia merasa kasihan dan juga terharu mengingat akan pengurbanan sutenya itu yang sengaja menjauhkan diri dan mengalah terhadapnya, dan ia maklum betapa hancur dan kecewa hati sutenya itu.
Beng Han tersenyum seorang diri dengan sedih kalau teringat betapa ia dan sutenya, kedua-duanya menjadi kurban asmara, dan orang yang membuat mereka kecewa dan berduka itu bukan lain ialah sumoi mereka sendiri!
Alangkah lucunya!
Ia teringat kepada adiknya, Beng Lian dan merasa girang bahwa adiknya itu telah mendapat seorang calon suami seperti Yu Tek yang gagah perkasa, Diam-Diam ia berdoa semoga nasib adiknya itu lebih baik daripada nasibnya dan semoga pertunangan adiknya itu takkan mengalami gangguan.
Akan tetapi, mengingat akan semua ini teringat pula ia akan ucapan ibunya bahwa pernikahan adiknya itu takkan dapat dilangsungkan sebelum ia yang menjadi kakaknya menikah lebih dahulu!
Beng Han menghela napas berat.
Selain Kui Eng, gadis manakah yang akan dapat menawan hatinya?
Pada suatu pagi, ia tiba-tiba disebuah dusun yang besar dan ramai.
Dusun ini bernama Kiong-nam-teng dan sawah ladang disekeliling dusun itu amat suburnya.
Ketika Beng Han masuk kedalam dusun, ia merasa heran mengapa hari itu tidak nampak seorangpun disawah dan ketika ia lewat didepan rumah-rumah dusun itu, ia melihat para petani duduk berkelompok-kelompok didepan rumah seakan-akan membicarakan sesuatu dengan wajah penuh kekuatiran dan kemarahan.
Beng Han menjadi heran dan ingin tahu sekali, akan tetapi ia merasa kurang sopan untuk bertanya karena tak baik mencampuri urusan orang lain.
Oleh karena menduga bahwa tentu terjadi sesuatu yang hebat hingga orango dusun itu tidak pergi kesawah pada hari itu, maka ia mengambil keputusan untuk berdiam didusun itu dan melihat apakah gerangan yang terjadi.
Setelah matahari naik tinggi, tiba-tiba orang dusun keluar dari rumah dan menuju kesebuah tempat terbuka dan berkumpul disitu.
Tak lama kemudian, dari jurusan timur datang serombongan orang yang terikat tangannya dan dua orang mengiringkan mereka.
Dua orang ini, yang seorang berpakaian seperti seorang tosu dan seorang lagi berpakaian seperti seorang perwira tinggi.
Beng Han tak dapat menahan sabarnya lagi karena ingin tahu.
Maka ia lalu berbisik dan bertanya kepada seorang petani tua yang berdiri ditempat itu dengan diam tak berkata seperti orang lain.
"Lopek, sebetulnya apakah yang terjadi? Siapakah mereka yang dibelenggu dan digiring kesini itu? Dan siapa pula yang menggiring mereka?"
Tanyanya karena menduga bahwa orang itu mungkin penjahat yang tertangkap. Kakek petani itu menarik napas berat dan menjawab dalam bisikan pula.
"Siangkong, agaknya kau orang datang dari jauh maka tidak tahu akan arti semuanya ini. Kedua orang itu, perwira dan tosu itu adalah utusan dari kerajaan dan mereka datang untuk memberi hukuman kepada kepala kampung kami beserta semua petugas yang memerintah kampung kami."
Beng Han menduga bahwa kepala kampung beserta pembantu-pembantunya itu tentu telah melakukan semacam kejahatan, akan tetapi kalau demikian halnya, tentu orang dusun tidak menjadi berduka, bahkan seharusnya bergirang.
"Kejahatan apakah yang telah mereka lakukan?,"
Tanyanya.
"Kejahatan?"
Kakek itu mengulang perkataannya dengan muka sedih.
"Bukan kejahatan yang mereka lakukan! Bahkan karena mereka melakukan kebaikan, maka mereka terhukum."
Bukan main herannya hati Beng Han mendengar ini hingga ia memandang kakek itu dengan mata terbelalak.
"Aneh sekali!"
Katanya dengan agak keras hingga semua orang memandangnya.
"Bagaimana orang yang melakukan kebaikan dijatuhi hukuman?"
"Stt, jangan keras, siangkong, kalau terdengar oleh mereka kita akan dihukum pula, Kepala kampung kami adalah seorang mulia yang membela kami dan dengan diam-diam ia mengurangi pemungutan pajak dan didalam laporannya ia memperkecil jumlah dan luasnya sawah-ladang kami. Akan tetapi celaka, perbuatannya yang hendak menolong kami itu diketahui oleh pembesar? tinggi hingga sekarang datang dua orang utusan dari kotaraja untuk menjatuhi hukuman!"
Beng Han merasa penasaran dan marah sekali.
"Apakah hukuman yang hendak dijatuhkan kepada mereka?"
"Entahlah, akan tetapi kami mendengar bahwa kepala kampung akan dijatuhi hukuman lima puluh kali cambukan sedangkan para pembantunya tiga puluh kali!"
Sementara itu, rombongan orang yang dibelenggu itu telah sampai ditengah lapangan.
Mereka terdiri dari tujuh orang laki yang sudah berusia empat puluh tahun lebih, dan semua menundukkan kepala.
Perwira yang tadi menggiring mereka lalu memandang kepada semua orang dusun yang berkumpul dan mengelilingi tempat itu, lalu berkata dengan suaranya yang besar.
"Kalian semua lihatlah baik?! Tujuh orang ini tidak melakukan tugas mereka dengan jujur dan telah mencatut hasil pajak negara! Menurut patut, mereka harus dihukum mati, akan tetapi Thio-Taijin yang berwewenang dalam urusan ini telah memperlihatkan kebaikan hatinya dan hanya menjatuhi hukuman rangket saja. Biarlah hukuman ini menjadi contoh bagi semua orang yang berani membangkang dan melakukan kecurangan dalam hal pembayaran pajak."
Setelah berkata demikian, perwira itu lalu memberi tanda kepada seorang yang berpakaian tentara untuk melakukan tugasnya.
Baju kepala kampung dan pembantunya ditanggalkan hingga tubuh atas mereka menjadi telanyang.
Terdengar cambuk berdetak dan rintihan orang kesakitan.
Mana orang tua itu dapat menahan hukuman itu?
Baru sepuluh kali saja cambuk yang panjang dan berat itu menghantam punggung, seorang tua yang menjadi kurban pertama telah lemas dan pingsan!
Beng Han tak dapat mengendalikan perasaan hatinya lagi.
Sekali tubuhnya melompat ia telah berada didepan tentara yang menjadi algojo itu dan dengan cepat ia merampas cambuk.
Ketika algojo itu hendak memukulnya, tangan kirinya menampar kepala algojo itu yang segera terpelanting dan bergulingan diatas tanah sambil memegangi kepalanya dan meraung-raung karena kepalanya terasa sakit bagaikan terpukul besi!
Perwira yang tinggi besar itu bukan lain ialah Bong Kak Im, perwira atau jago nomor satu dari Thio-Thaikam yang sedang menjalankan tugas memeriksa dan menghukum kepala kampung didusun Kiong-nam-teng karena terlalu membela rakyat dusun!
Adapun tosu yang mengawaninya adalah Tek Po Tosu, pendeta yang lihai dan yang menjadi pelindung utama dari Thio-Thaikam.
Tentu saja Bong Kak Im merasa marah sekali melihat munculnya seorang muda yang gagah dan cakap, dan yang berani berlancang-tangan menyerang algojo yang sedang menjalankan pekerjaannya.
"Bangsat rendah, apakah kau hendak memberontak?,"
Bentaknya.
"...Perwira kejam, jangan kau menggunakan kedudukan untuk menyiksa orang baik!,"
Beng Han balas membentak. Terputar kedua mata Bong Kak Im yang besar mendengar ucapan ini.
"Eh, bocah gila! Tak tahukah bahwa kau sedang berhadapan dengan seorang perwira kepercayaan Thio-Taijin? Kau tidak tahu siapa aku?"
"Tentu saja aku tahu. Kau adalah seorang perwira bayaran yang kejam dan ganas, yang menganggap bahwa didunia ini tidak ada orang yang akan berani menentangmu! Akan tetapi aku Gan Beng Han, sama sekali tidak takut kepada seorang manusia iblis seperti kau!"
"Kurang ajar!"
Bong Kak Im membentak dan memukul dengan tangan kanannya dengan keras dan cepat.
Beng Han segera mengelak dan membalas dengan serangan yang cepat pula hingga diam-diam Bong Kak Im terkejut dan segera menangkis.
Tadinya ia menyangka bahwa pemuda ini adalah seorang muda dari dusun itu yang masih terhitung keluarga lurah yang dihukum itu dan yang merasa sakit-hati melihat keluarganya dihukum.
Tidak tahunya pemuda ini memiliki ilmu silat yang cukup hebat, karena kalau tidak memiliki ilmu silat tinggi, tak mungkin akan dapat mengelak dari serangan tadi sedemikian mudahnya.
Maka ia lalu berseru keras dan tiba-tiba ia telah mencabut keluar sepasang senjatanya yang luar biasa dahsyatnya dan yang mengerikan setiap orang yang melihatnya, Yakni sepasang kapak yang besar dan tajam sekali hingga ketika ia gerakkan dikedua tangannya, kapak itu berkilauan tertimpa sinar matahari!
Orang-orang dusun melihat perwira itu memainkan sepasang senjata yang demikian mengerikan, tak terasa lagi menjerit dan mundur menjauhi, akan tetapi dengan tersenyum tenang Beng Han lalu mencabut pedangnya dan menghadapi serangan lawannya dengan tenang.
Bong Kak Im mengeluarkan seruan keras dan menyerang sambil mengobat-abitkan kedua kapaknya, menyerang kearah kepala dan pinggang Beng Han.
Sekali saja terbacok oleh kapak yang lebar dan tajam itu, kepala pasti akan terbelah dua dan pinggang akan putus!
Akan tetapi, Beng Han yang memiliki ketenangan dan kewaspadaan besar, tidak menjadi gentar menghadapi serangan sepasang senjata yang kuat dan teguh bagaikan seekor naga sakti keluar dari samudera.
Bong Kak Im merasa heran sekali oleh karena setiap kali kapaknya kena tertangkis, ia merasa tangannya tergetar.
Bukan main hebatnya tenaga pemuda yang mampu nenggetarkan tangannya ini, maka ia menjadi penasaran dan malu sekali.
Sambil mengeluarkan geraman hebat bagaikan seekor harimau marah perwira yang menjadi jago nomor satu dari Thio-Thaikam itu lalu mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk merobohkan pemuda ini.
Beng Han merasa terkejut juga menyaksikan kelihaian lawannya.
Ia tak pernah menduga bahwa perwira yang menjadi utusan Thio-Taijin itu demikian tangguhnya maka diam ia mengeluh oleh karena kalau di kotaraja banyak terdapat perwira setangguh ini, pasti Bun Hong akan mengalami bencana besar.
Maka ia lalu teguhkan batinnya dan mengerahkan segala kepandaiannya untuk segera mengakhiri pertempuran ini.
Untuk dapat menjatuhkan seorang lawan yang memiliki ilmu kepandaian tidak disebelah bawah tingkat kepandaiannya sendiri tidak ada lain jalan kecuali menyerangnya dengan serangan maut dan kalau perlu menewaskannya!
Maka ia merobah gerakan pedangnya yang kini menyambar bagaikan naga mengamuk.
Sinar pedangnya berkelebat bagaikan kilat menyambar dan mencari lowongan diantara gulungan dua batang kapak itu, hingga Bong Kak Im terpaksa harus berlaku hati dan melakukan perlawanan sambil mundur karena ujung pedang lawannya itu beberapa kali hampir saja menusuk lehernya!
Tek Po Tosu hilang sabarnya melihat betapa Bong Kak Im belum juga dapat merobohkan pengacau itu, bahkan nampak terdesak.
Tosu ini lalu melompat dan mengirim serangan dengan kebutan ujung lengan bajunya kearah Beng Han.
Pemuda itu terkejut karena kebutan lengan baju itu mengandung tenaga lweekang yang besar, maka iapun lalu menangkis dengan sampokan tangan kiri yang dikerahkan dengan tenaga lweekang hingga kebutan lengan baju itu tertangkis.
Tek Po Tosu menjadi terkejut dan tahulah ia mengapa Bong Kak Im terdesak oleh karena memang pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.
Ia terheran, karena dari manakah datangnya seorang pemuda yang demikian lihainya?
"Tahan dulu!,"
Seru Tek Po Tosu dengan keras sambil mencabut siangkiamnya (sepasang pedang) dan memisah ditengah-tengah pertempuran.
Bong Kak Im melompat kebelakang dan Beng Han juga tidak mau mengejar.
Ia berdiri melintangkan pedang didada dan memandang tajam kepada tosu yang lihai itu.
"Anak muda, sebetulnya apakah kehendakmu membuat kekacauan ini?,"
Tanya Tek Po Tosu dengan suara halus.
"Totiang,"
Kata Beng Han dengan suara tetap.
"Kau adalah seorang pendeta, maka tentu kau tahu betul tentang prikemanusiaan. Aku datang mencampuri urusan ini tak lain karena terdorong oleh rasa prikemanusiaan. Pembesar atasan telah melakukan pemerasan terhadap para petani dan memasang tarip pajak yang mencekik leher, itu namanya perbuatan yang melanggar prikemanusiaan. Kemudian, kepala kampung ini dan para pembantunya yang menurutkan dorongan prikemanusiaan pula, membantu para petani miskin dan meringankan beban pajaknya, akan tetapi perbuatan yang baik ini bahkan mendapat hukuman kejam dari perwira ini. Apakah aku yang dididik untuk mengabdi prikemanusiaan dan membela keadilan harus mendiamkan saja hal ini terjadi?"
Tek Po Tosu tersenyum mengejek.
"Anak muda, jangan kau mencoba memberi pelajaran kepada pinto tentang prikemanusiaan yang palsu! Ketahuilah bahwa setiap negara mempunyai peraturan masing-masing dan rakyat jelata harus mentaatinya. Kalau ada yang tidak mentaati undang-undang itu berarti bahwa rakyat memberontak! Kau yang digerakkan oleh hatimu yang lemah, kalau kau membela kepala kampung ini dan melawan kami, berarti pula bahwa kaupun memberontak! Apakah kau ingin dianggap pemberontak oleh pemerintah?"
Beng Han tersenyum juga.
"Lagu lama bagiku! Memang inilah senjata para petugas dalam melakukan kekejaman mereka, Memberontak! Orang lemah diinjak, orang miskin diperas, dicekik lehernya, orang baik-baik dicambuki dan disiksa, dan kalau mereka melawan? Mudah saja, lalu dicap pemberontak! Hm bagus, bagus! Akan tetapi aku tidak takut dicap pemberontak dan selama aku masih hidup, kekejaman macam ini tidak boleh berjalan tanpa kucegah!."
"Kau mencari mampus!"
Bong Kak Im membentak dan menyerang lagi dengan sepasang kapaknya.
Beng Han segera menangkis dan balas menyerang.
Akan tetapi kini Tek Po Tosu yang maklum akan kelihaian pemuda itu, tidak tinggal diam dan menggunakan siangkiamnya mengeroyok.
Ilmu kepandaian tosu ini masih lebih tinggi daripada kepandaian Bong Kak Im, maka tentu saja Beng Han merasa berat dan terdesak sekali ketika mereka berdua menyerang dan mengeroyoknya dengan sengit.
Akan tetapi, tidak percuma Lui Sian Lojin menggembleng pemuda ini dengan ilmu silat tinggi.
Kakek sakti itu telah pula.
mempersiapkan semacam ilmu pedang yang khusus dicipta untuk menghadapi desakan lawan yang tangguh atau keroyokan orang bersenjata, Beng Han lalu memainkan ilmu silat itu yang disebut ilmu gerakan Dewa Berpajung Dibawah Hujan.
Pedangnya berputar cepat merupakan dinding baja yang melindungi seluruh tubuhnya dari serangan kedua lawannya yang amat tangguh itu.
Betapapun juga, ilmu silat Tek Po Tosu dan Bong Kak Im sudah mencapai tingkat yang tinggi, maka berkat kerja-sama mereka, empat buah senjata dikedua tangan mareka merupakan bahaya maut yang mengancam jiwa Beng Han oleh karena, biarpun ia dapat mempergunakan ilmu pedangnya untuk mempertahankan diri, sampai berapa lamakah ia akan sanggup mempertahankan diri tanpa dapat membalas sedikitpun juga?
Sepasang kapak ditangan Bong Kak Im menyambar dengan kekuatan besar sekali, sedangkan sepasang pedang Tek Po Tosu selalu mencoba untuk menerobos pertahanan pedangnya dengan gerakan gesit dan tenaga lweekang yang kadang menggetarkan pedangnya.
Tek Po Tosu merasa penasaran dan malu karena dengan mengeroyok dua, belum juga ia dan Bong Kak Im merobohkan pemuda itu padahal mereka telah bertempur hampir seratus jurus lamanya!
Jarang ia menjumpai lawan yang dapat bertahan bertempur melawannya sampai sedemikian lama, apalagi kalau dikeroyok dua dengan Bong Kak Im yang bukan orang sembarangan pula karena Bong-Ciangkun ini merupakan jago silat kepercayaan Thio-Thaikam yang nomor satu!
Maka dengan marah sekali Tek Po Tosu mendesak makin hebat dengan pedang ditangan kanannya, sedangkan tangan kirinya lalu memasukkan pedangnya disarung pedang sambil mengeluarkan senjata rahasianya yang amat terkenal karena kelihaiannya.
Senjata ini merupakan sehelai saputangan yang kedua ujungnya disatukan hingga merupakan bandringan, didalamnya diisi dengan jarum dan apabila dikebutkan maka jarum itu terbang menyambar kearah lawan.
Kelihaian senjata ini ialah bahwa sambitan dengan saputangan yang merupakan bandringan ini sukar sekali diduga oleh lawan kemana arah jarum?
itu menyerang.
Apabila jarum itu disambitkan biasa dengan tangan, maka gerakan tangan akan dapat dilihat dan diduga kemana jarum hendak disambitkan, sedangkan saputangan ini digerakkan oleh pergelangan tangan yang sukar diikuti oleh mata lawan.
Ben Han masih belum tahu senjata apakah yang dikeluarkan oleh lawannya itu dan tahu-tahu tosu itu membentak.
"Robohlah kau!"
Saputangannya dikebutkan dan pedang ditangan kanan mendahului dengan serangan hebat hingga Beng Ha yang pada saat itu sedang mengelak cepat dari sambaran kapak Bong Kak Im, terpaksa harus menangkis pedang yang menyambar kearah dadanya itu.
Tangkisan inilah yang membuat ia tidak sempat untuk menangkis sinar-sinar hijau yang tiba-tiba keluar dari saputangan yang dikebutkan itu dan cepat ia berseru sambil menggulingkan tubuhnya kebelakang untuk menghindarkan diri dari serangan senjata-rahasia itu Akan tetapi terlambat sebuah diantara jarum-jarum itu telah menancap kepundak kirinya dan karena tepat menusuk urat besar.
Beng Han merasa betapa seluruh lengan kirinya menjadi lumpuh!
Sedangkan pada saat itu, sepasang kapak Bong Kak Im menyambar kearah kepala dan dadanya dibarengi bentakan menyeramkan dari perwira itu!
Pemuda itu sedang telentang diatas tanah dan karena serangan kedua kapak itu datangnya amat hebat dan cepat, agaknya pemuda itu takkan tertolong lagi, kalau tidak kepalanya akan pecah, tentu dadanya akan terbelah!
Akan tetapi Beng Han mempunyai ketabahan dan ketenangan yang luar biasa hingga biarpun nyawanya telah tergantung kepada sehelai rambut dan keadaannya berbahaya sekali, ia tidak kehilangan akal.
Kalau ia merasa takut atau bingung, akan hilanglah nyawanya.
Namun, murid pertama dari Lui Sian Lojin ini ketika melihat datangnya serangan, melihat betapa kapak itu datangnya tidak berbareng, yakni yang ditangan kanan Bong Kak Im datang lebih dulu menghantam kepalanya dan kapak kedua menyusul kearah dada.
Cepat sekali pemuda itu memiringkan kepala hingga dengan suara keras kapak itu lewat dekat sekali dengan telinganya dan menancap ditanah, Sedangkan pada saat itu juga ia melakukan gerakan yang nekad dan berhasil, yakni dengan pedangnya ia menyambut tangan kiri Bong Kak Im dengan sebuah tusukan kearah pergelangan tangan perwira itu!
Bog Kak Im lihai sekali, dan ketika ia melihat serangan balasan kearah pergelangan tangannya, ia segera menarik tangannya akan tetapi ia melepaskan kapaknya itu yang terus meluncur kebawah, kearah dada Beng Han!
Kali ini Beng Han amat terkejut karena serangan lawan ini tak pernah disangka-sangkanya.
Tadinya ia mempunyai perhitungan bahwa dengan serangan balasan itu, tentu lawannya akan menarik kembali kapaknya, tidak tahunya perwira itu meneruskan serangan dengan membantingkan kapak itu terus kearah dadanya setelah melepaskan gagang kapak dan menyelamatkan tangan dari tusukan pedangnya!
Beng Han berseru keras dan menggulingkan tubuhnya, akan tetapi tak cukup cepat untuk dapat menghindarkan tubuhnya sama sekali dari serangan itu, karena ketika tubuhnya bergulingan, kapak itu masih berhasil menjerempet dan melukai bahu kanannya yang segera mengucurkan darah banyak sekali!
Beng Han melompat berdiri dan biarpun ia merasa betapa bahu kanannya perih dan sakit sekali, akan tetapi ia tidak mau melepaskan pedangnya dan cepat menyerang Tek Po Tosu yang berada didekatnya.
Tangan kiri Beng Han tak dapat digerakkan dan masih lumpuh, sedangkan darah tiada hentinya mengucur dari bahu kanannya, hingga para penduduk dusun yang menyaksikan pertempuran itu dan yang tadi sudah meramkan mata ketika melihat Beng Han diserang oleh kapak perwira, kini merasa terharu dan kasihan sekali.
Tek Po Tosu tertawa gelak?.
"Anak muda, bersiaplah untuk binasa!"
Setelah berkata demikian, pendeta itu menyerang makin ganas, sedangkan Bong Kak Im telah mengambil kembali kapaknya dari atas tanah.
Melihat hal ini, Beng Han maklum bahwa ia tak mungkin dapat melawan terus, karena kalau ia terus melawan, berarti ia mencari mati.
Biarpun andaikata ia masih akan dapat mempertahankan diri terhadap serangan dua orang lawan tangguh itu, tetap saja ia akan roboh karena kehabisan darah.
Tubuhnya mulai terasa lemas dan kepalanya terasa pening "Maaf, saudara-saudara petani, kali ini siauwte tak dapat membelamu!,"
Serunya dengan hati kecewa dan ia lalu melompat jauh.
Kedua orang itu tidak mengejar, hanya tertawa gelak karena mereka merasa gentar untuk mengejar pemuda yang lihai itu, apalagi karena mereka menyaksikan betapa ilmu lompat jauh pemuda itu tinggi sekali dan sebentar saja Beng Han telah lenyap dari pandangan mata mereka.
Bong Kak Im dan Tek Po Tosu lalu melanjutkan pelaksanaan hukuman yang tertunda itu dan cepat-cepat meninggalkan kampung Kiong-nam-teng karena kuatir kalau-kalau pemuda kosen tadi datang lagi membawa kawan!
Dengan kepala terasa nanar tubuh lemas, dan bahu-kanannya sakit dan panas sekali, Beng Han terus berlari masuk kedalam hutan diluar kampung itu.
Larinya mulai terhuyung-huyung dan akhirnya ia roboh diatas tanah bertilamkan rumput hijau.
Ia rebah tak sadarkan diri dan sampai lama ia pingsan, yang memberatkannya bukanlah luka dibahu kanan itu, karena biarpun banyak mengeluarkan darah akan tetapi tidak berbahaya dan tubuh Beng Han kuat sekali hingga banyak darah yang keluar dari lukanya itu tidak mempengaruhinya terlalu hebat.
Akan tetapi, ternyata bahwa jarum rahasia yang menancap dipundak kiri dan yang membuat seluruh lengan kirinya menjadi lumpuh itu mengandung bisa yang jahat.
Dan inilah yang membuat kepalanya menjadi pusing dan tubuhnya lemas sekali.
Ketika Beng Han membuka matanya, ia menjadi bingung.
Serasa dalam mimpi ketika ia melihat seorang gadis berpakaian serba putih berlutut didekatnya.
Beng Lian kah gadis ini?
Ia membuka mata dan memandang penuh perhatian.
Kepusingannya masih menekan berat pada kepalanya, membuat pandangan matanya kurang terang.
Bukan, bukan adiknya, akan tetapi seorang gadis yang sama cantiknya dan yang asing sama sekali baginya.
Bidadarikah?
Sudah matikah dia maka bertemu dengan bidadari?
"Bidadari yang mulia, sudah matikah aku?"
Tanyanya dengan suara bisikan, hingga wanita cantik itu harus mendekatkan kepalanya untuk dapat mendengar gerakan bibirnya, Tercium oleh Beng Han keharuman rambut yang panjang itu.
Wajah gadis itu memerah karena jengah mendengar bisikan Beng Han yang menyebutnya bidadari itu.
"Taihiap, kau terluka hebat. Mari kuantar kepondok suhu, supaja kau mendapat perawatan yang baik,"
Kata gadis itu.
Beng Han tersadar bahwa ia bukan sedang mimpi, juga bukan telah mati, dan bahwa gadis ini bukanlah seorang bidadari, akan tetapi seorang manusia yang cantik dan yang hendak menolongnya!
Ia tersenyum dan bangun lalu duduk sambil memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut.
"Mari, Taihiap, kalau terlambat, aku takut mereka itu akan datang kesini."
Beng Han maklum akan kekuatiran gadis ini, maka ia lalu bangun dan berdiri, akan tetapi hampir saja ia terguling lagi kalau tidak gadis itu cepat memegang lengannya.
Kepalanya berdenyut-denyut dan tanah yang dipijaknya seakan berubah menjadi gelombang laut dan berputaran disekelilingnya.
"Mari kubantu Taihiap. Tidak jauh pondok suhu dari sini,"
Kata suara gadis yang merdu itu.
"Terimakasih... terimakasih...,"
Bisik Beng Han dan dengan tersaruk-saruk ia melangkah lagi beberapa tindak, akan tetapi kembali ia menahan langkahnya dan menjatuhkan diri duduk diatas tanah. Gadis itu berlutut disebelahnya.
"Bagaimana, Taihiap, tidak kuatkah kau?,"
Tanyanya dengan penuh kecemasan.
"Kepalaku... kepalaku..."
Beng Han mengeluh sambil memejamkan matanya karena kalau mata itu dibukanya, ia merasa pusing sekali melihat segala apa berputar-putar didepan matanya.
Baca Juga: Si Tangan Sakti 1
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 18