Ceritasilat Novel Online

Tiga Naga Dari Angkasa 4

Eps 4 Tiga Naga Dari Angkasa - Kho Ping Hoo

Baca online Tiga Naga Dari Angkasa - Kho Ping Hoo

Cersil Tiga Naga Dari Angkasa - Kho Ping Hoo.

Bahkan wajah gadis yang berdaya menolongnya itupun tak dapat ia lihat dengan jelas dan hal ini mengesalkan hatinya benar.

tiba-tiba ia merasa betapa jari tangan yang halus dan lunak memijit kepalanya, Sentuhan ini mengurangi denyutan didalam kepalanya.

"Enak... enak dan nyaman sekali..."

Bisiknya dan makin asyiklah kedua tangan gadis itu memijit-mijit kepalanya.

"Taihiap, kita harus lekas pergi dari sini. Kalau kedua keparat itu liwat disini, kau akan mendapat celaka!,"

Bisik gadis itu. Teringatlah Beng Han kepada kedua orang lawannya yang tangguh. Maka ia lalu berdiri lagi dan berkata perlahan.

"Marilah, bawalah aku kemana saja, aku percaya kepadamu..."

Dan ia lalu memaksa dirinya melangkah maju, berpegang pada tangan dan pundak orang yang menolongnya itu, tidak ingat sama sekali bahwa orang itu adalah seorang gadis, gadis yang muda dan cantik!

"Kasihan...

lenganmu penuh darah...,"

Ia mendengar gadis itu berkata perlahan dan menahan isak. Beng Han diam saja, hanya berjalan terhuyung-huyung terus sambil memejamkan matanya, menurut saja kemana ia dibawa oleh penolongnya.

"Kasihan, pemuda gagah perkasa yang malang...,"

Kata gadis itu pula perlahan.

"Apa katamu?,"

Beng Han bertanya sambil mencoba memandang wajah orang yang berjalan didekatnya itu, akan tetapi ia hanya melihat bayang-bayang saja.

"Wajahmu pucat sekali...,"

Kata gadis itu, akan tetapi Beng Han tak dapat mendengarnya lagi lanjutan kata-kata ini karena tiba-tiba ia mengeluh dan pingsan dalam pelukan gadis itu!

Ia tidak tahu betapa gadis itu dengan sigapnya lalu memondong tubuhnya dan berlari menuju kesebuah pondok kecil ditengah hutan!

Melihat tenaga dan kegesitan gadis itu, dapat diduga bahwa ia sedikitnya memiliki ilmu kepandaian silat yang lumajan juga.

Beng Han siuman kembali dari pingsannya.

Panca inderanya bekerja kembali pikirannya yang tadinya melayang entah kemana itu sekarang mulai berkumpul kembali.

Ia tidak membuka matanya, dan tetap rebah telentang mengumpulkan ingatannya.

Ia masih merasa bingung.

Tiba-tiba suara yang tadinya hanya merupakan bisikan dari jauh itu makin terdengar nyata.

"Jarum itu tepat mengenai urat darah dan bisa dari jarum itu telah mengotorkan darahnya. Untung sekali tubuhnya kuat hingga didalam tubuhnya cukup terdapat daya yang menolak bahaya racun itu,"

Demikian terdengar suara orang yang diucapkan dengan lemah-lembut, seperti biasa suara orang yang telah lanjut usianya.

"Dia memang gagah dan berbudi, patut kita rawat dan tolong sampai sembuh betul. Harap saja totiang suka menolongnya sedapat mungkin,"

Kata suara orang lain.

"Pinto akan berdaya sedapat mungkin, dan pinto yakin bahwa ia akan sembuh kembali, walaupun akan makan waktu agak lama,"

Kata suara yang lemah-lembut tadi. Beng Han membuka matanya dengan perlahan.

"Ia siuman kembali,"

Tiba-tiba terdengar suara yang merdu dan halus, suara yang membuat Beng Han teringat akan segala peristiwa yang dialaminya, karena suara inilah yang tadinya merupakan teka-teki baginya.

Ia seakan-akan selalu mendengar suara yang halus ini ketika ia siuman, akan tetapi setelah diputar ingatannya, tak juga ia dapat mengingat siapa orang itu atau suara siapakah yang menggema ditelinganya itu.

Kini setelah suara itu terdengar oleh telinganya, teringatlah ia bahwa itulah suara orang yang dulu menolongnya!

Ia membuka matanya dan pertama yang dilihatnya adalah wajah seorang tua yang berpakaian seperti seorang tosu.

Pendeta ini sudah tua sekali, rambut dan jenggotnya sudah putih semua dan wajahnya membayangkan kesabaran dan kebijaksanaan.

Beng Han mengalihkan pandang matanya dan kini ia mulai mencari dengan matanya.

Ia melihat wajah kepala kampung yang mendapat hukuman dari dua orang utusan Thio-Thaikam dan yang telah dibelanya itu, akan tetapi ia tidak perdulikan pandangan penuh kagum dan terimakasih dari orang-tua itu, dan segera melayangkan pandang matanya kearah lain, mencari-cari.

Beberapa buah wajah orang yang dikenalnya sebagai pembantu kepala kampung dilewatinya saja dan akhirnya bertemulah ia dengan wajah yang dicari-carinya.

Wajah seorang dara muda dengan sepasang mata yang membayangkan kemesraan dan kehalusan wajah yang manis dan bersih, wajah seorang bidadari.

Pandang mata Beng Han menatap wajah ini dan perlahan-lahan, bibirnya tersenyum.

Tiba-tiba wajah itu menjadi merah sampai ketelinganya dan mata yang halus lembut sinarnya itu menunduk, memandang kebawah, akan tetapi mulut yang kecil itu tersenyum manis.

"Terimakasih...,"

Beng Han berbisik.

"...Taihiap,"

Kata kepala kampung itu dengan suara menghormat.

"Kami merasa bersukur sekali melihat bahwa kau dapat disembuhkan kembali. Kegagahanmu yang telah berani mengurbankan diri demi pembelaanmu kepada kami, sungguh mengagumkan hati dan kami berterima kasih sekali kepadamu."

Beng Han menarik napas panjang.

"Siauwte yang harus menghaturkan terimakasih..., bukan siauwte yang menolong cuwi, akan tetapi bahkan sebaliknya..."

Pemuda ini merasa kecewa sekali.

Tadinya ia hendak menolong penduduk kampung dari perbuatan sewenang-wenang, akan tetapi sebaliknya kini ia terluka dan bahkan penduduk kampunglah yang menolongnya!

"Jangan kau kecewa, Taihiap,"

Kata tosu tua itu dengan halus, kau tidak tahu bahwa dua orang yang kau lawan itu adalah jago-jago nomor satu dari Thio-Thaikam.

Tosu itu adalah Tek Po Tosu yang menjadi penasihat dan pengawal pribadi Thio-Thaikam, sedangkan perwira itu adalah jago nomor satu dari pembesar Thio, yang bernama Bong Kak Im.

Kepandaian mereka lihai sekali, akan tetapi, dengan seorang diri saja kau dapat bertahan menghadapi mereka, sungguh kegagahan yang jarang terdapat!"

"Totiang, siapakah kau orang-tua yang menolongku?"

Tosu itu tersenyum ramah.

"Tidak ada sebutan menolong dalam hal ini, Taihiap. Pinto adalah seorang ahli pengobatan, sudah seharusnya pinto merawat setiap orang yang menderita sakit. Pinto adalah Bin Ho Tojin dan yang mendapatkanmu didalam hutan dan membawamu kesini adalah muridku bernama Giok Hong atau juga puteri kepala kampung Yo ini."

Terkejutlah Beng Han mendengar ini.

Tidak tahunya gadis yang seperti bidadari, yang telah menolongnya, membawanya ketempat tosu ini, adalah murid seorang berilmu dan puteri dari kepala kampung itu sendiri!

"Ah, kalau begitu siauwte telah menerima budi kalian..."

Ia hendak bangkit duduk dan menghaturkan terimakasih, akan tetapi tubuhnya terasa lemas sekali hingga ia urungkan niatnya.

"Jangan banyak bergerak, Taihiap,"

Kata Bin Ho Tojin.

"Ketahuilah bahwa kau telah berbaring dan pingsan selama lima hari. Kau harus banyak beristirahat dan minum obat yang kusediakan untuk membersihkan darahmu daripada racun."

Beng Han hanya dapat mengangguk dan sambil mengerling kearah Giok Hong yang masih berdiri disudut, ia berbisik lagi.

"Terimakasih...,"

Setelah itu, ia meramkan mata lagi karena merasa pandang matanya berkunang-kunang.

Kemudian ia jatuh pulas tanpa terasa, karena pengaruh obat yang didekatkan dibawah hidungnya oleh Bin Ho Tojin.

Ketika pada keesokan harinya ia terjaga dari tidurnya, ia merasa heran sekali melihat Giok Hong telah berada dikamar itu dan duduk diatas sebuah bangku dekat pembaringannya.

"Kau..., nona...?,"

Beng Han berkata heran dan tercengang. Giok Hong mengangguk sambil tersenyum manis.

"Kau sudah berangsur sembuh, Taihiap, akan tetapi belum boleh banyak bergerak."

Suara itu! "Ah, kaulah orangnya yang menolongku dulu...,"

Katanya. Kulit muka yang putih halus itu berobah merah.

"Taihiap, harap kau jangan sebut lagi hal itu, hanya membuat aku merasa malu dan jengah saja."

Beng Han diam saja dan memandang tajam kepada wajah yang manis itu.

Ia merasa heran sekali mengapa seorang gadis muda yang demikian cantik, puteri kepala kampung, mengawaninya seorang diri didalam kamar!

Bukankah hal ini amat janggal dan tidak sopan?

"Siocia, siapakah yang menyuruh kau menjagaku disini?!"

Gadis itu memandang dengan sepasang matanya yang bersorot halus, lalu menjawab perlahan.

"Mengapa? Aku sendiri yang menghendakinya."

"Kau...?"

"Ajah dan suhu sudah memperkenankan."

Beng Han terdiam. Aneh sekali, mengapa kepala kampung itu membiarkan anak gadisnya berjaga seorang diri disitu? "Nona, kau berbudi sekali dan kau membuat aku merasa tidak enak saja."

"Mengapa? Tak sukakah kau kujaga?"

"Bukan, bukan demikian, Siocia. Akan tetapi, aku menjadi berhutang budi kepadamu. Kau sudah menolongku, menolong jiwaku dan sekarang kau menjagaiku pula..."

"Apakah artinya ini dibandingkan dengan pertolonganmu kepada kami sedusun?"

"Aku tidak menolong apa-apa, nona bahkan usahaku untuk menghindarkan mereka dari hukuman saja telah gagal!"

"Akan tetapi kau telah memperlihatkan kegagahan, memperlihatkan pengurbanan besar. Kami sekampung takkan melupakan perbuatanmu yang gagah dan mulia itu."

"Kalian telah terlalu melebih-lebihkan...,"

Kata Beng Han.

Kemudian ia teringat bahwa dulu ketika gadis ini menolongnya, ia berjalan dengan bantuan nona ini yang dirangkulnya, maka tiba-tiba Beng Han merasa malu kepada diri sendiri.

Ia ingin sekali tahu apakah yang terjadi selanjutnya setelah ia pingsan, maka ia lalu minta kepada Giok Hong untuk menceritakannya.

Gadis itu adalah seorang yang terpelajar, berwatak halus, dan jujur.

Maka kini mendengar pertanyaan pemuda itu, wajahnya menjadi merah sekali dan ia tidak berani memandang mata Beng Han, Dengan terpaksa dan suara gagap, ia menjawab.

"Kau pingsan dan ketika itu... aku kuatir kalau mereka datang, maka... terpaksa... aku memondongmu dan membawa lari kesini!"

Terbelalak kedua mata Beng Han memandangnya, bukan terheran karena perbuatan itu yang agaknya kurang patut dilakukan oleh seorang gadis, akan tetapi terheran karena bagaimana seorang gadis lemah-lembut seperti Giok Hong ini kuat memondong tubuhnya, bahkan membawa lari?

Kemudian ia teringat akan kata-kata Bin Ho Tojin bahwa gadis ini adalah murid tojin itu, maka ia lalu bertanya.

"Siocia, sebagai murid Bin Ho Tosiang, tentu lihai sekali ilmu silatmu."

Giok Hong menarik napas panjang.

"Kalau ilmu silatku selihai kepandaianmu, masa akan kudiamkan saja dua orang keparat itu melakukan keganasan didusunku?"

Gadis itu lalu menceritakan riwayatnya.

Ternyata bahwa Yo Giok Hong adalah puteri tunggal dari Yo-Khungcu, kepala kampung didusun Kiong-nam-teng itu.

Yo-Khungcu memang terkenal sebagai seorang kepala kampung yang budiman dan ia berlaku sebagai seorang ayah terhadap orang kampung hingga ia amat dihormat dan dikasihi oleh penduduk dusun itu.

Pada kurang lebih lima tahun yang lalu, dusun itu diserang wabah penyakit yang mengerikan hingga banyak jatuh kurban.

Yo-Khungcu amat bingung melihat keadaan ini, terutama sekali ketika isterinya sendiri menjadi kurban dan meninggal karena terserang penyakit, bahkan anak tunggalnya, Yo Giok Hong yang ketika itu berusia sebelas tahun, terserang penyakit pula.

Kebetulan sekali, seorang ahli pengobatan yang menjalankan perantauan melakukan dharma-bakti menolong sesama manusia yang menderita penyakit, yakni Bin Ho Tojin, sampai didusun itu dan tosu ini segera menggulung lengan baju dan melakukan pertolongan.

Ia adalah seorang murid ahli pengobatan di Gobisan, maka kepandaiannya dalam hal pengobatan amat tinggi.

Semenjak ia datang, orang yang menderita sakit dapat disembuhkan dan setelah ia membagi obat kepada mereka yang belum terserang penyakit, wabah itu lenyap dan pergi dari kampung itu.

Diantara mereka yang tertolong olehnya, juga Giok Hong mendapat pertolongan dan sembuh.

Untuk menyatakan terimakasihnya, Yo-Khungcu lalu menyerahkan puteri tunggalnya menjadi murid kakek pendeta itu, Perbuatan kepala kampung ini sebetulnya bukan semata memikirkan kepentingan sendiri, akan tetapi terutama sekali karena bermaksud mengikat tosu itu supaja tinggal didusunnya hingga keselamatan penduduk dusun Kiong-nam-teng terjamin!

Demikianlah, maka Giok Hong menjadi murid Bin Ho Tojin yang merasa suka kepada anak yang memiliki dasar kehalusan budi itu.

Ia melatih ilmu pengobatan dan ilmu silat kepada gadis itu dan biarpun Giok Hong telah memiliki ilmu silat, namun ia tetap bersikap lemah-lembut dan halus.

Akan tetapi, sesungguhnya Bin Ho Tojin lebih pandai dalam hal ilmu pengobatan daripada ilmu silat, sungguhpun kepandaiannya sudah cukup tinggi kalau hanya untuk menghadapi penjahat biasa saja, Racun yang terbawa oleh jarum Tek Po Tosu yang menancap tepat diurat pundak Beng Han amat berbahaya dan kalau saja ia tidak memiliki tubuh yang kuat dan tidak keburu tertolong oleh Bin Ho Tojin yang lihai, tentu pemuda ini akan tewas atau setidaknya menjadi lumpuh seluruh lengan kirinya.

Betapapun juga, ia harus mengalami perawatan yang amat teliti dari Bin Ho Tojin dan Giok Hong sampai beberapa bulan lamanya, barulah racun itu lambat-laun dapat dibersihkan dari tubuhnya.

Hubungannya dengan Giok Hong baik sekali dan seringkali orango dusun Kiong-nam-teng yang merasa berterimakasih dan kagum kepadanya, datang berkunjung kepondok Bin Ho Tojin untuk menengoknya.

Perawatan Beng Han dipondok tosu itu amat dirahasiakan oleh karena kalau sampai terdengar dan diketahui oleh Thio-Thaikam, pasti pembesar itu takkan mendiamkannya saja, dan ini pula yang menyebabkan Beng Han tidak berani keluar dari pondok.

Pada suatu hari, Yo-Khungcu mengunjunginya dan pada wajah kepala kampung ini terlihat tanda bahwa ia mempunyai maksud tertentu yang hendak dibicarakan.

"Gan-Taihiap,"

Katanya setelah mengambil tempat duduk.

"Aku hendak menyampaikan maksud hatiku yang telah lama terpendam dihati. Harap saja kau suka maafkan apabila kau merasa terhina dengan maksud yang keluar dari ketulusan hati ini,"

Beng Han merasa tidak enak mendengar ini.

Kesehatannya telah pulih kembali dan dalam beberapa hari lagi ia sudah akan dapat melanjutkan perjalanannya oleh karena ia amat menguatirkan keadaan sutenya yang telah lama mendahuluinya ke kotaraja itu.

"Yo-Lopek, janganlah berlaku sungkan dan katakanlah apa gerangan maksud mulia itu."

"Gan-Taihiap, kau maklum bahwa aku dan seluruh penduduk dusun Kiong-nam-teng amat berterimakasih kepadamu dan bahwa kami suka sekali kepada kau yang gagah ini. Apabila kau tidak merasa terhina dan dapat menerima, aku akan merasa berbahagia sekali untuk menjodohkan puteri tunggalku kepadamu."

Beng Han tercengang bukan kepalang.

"Nona Giok Hong...?"

"Ya, puteriku Giok Hong biarpun bodoh dan buruk rupa, akan tetapi aku yakin ia akan menjadi seorang isteri yang baik oleh karena ia kagum dan suka kepadamu, Taihiap."

Untuk beberapa lama Beng Han tak dapat mengeluarkan kata untuk menjawab pernyataan Yo-Khungcu itu.

Ia menjadi bingung karena sesungguhnya, ia tak pernah menyangka akan hal ini.

Ia merasa suka sekali kepada Giok Hong yang lemah-lembut dan halus serta memiliki budi yang luhur, akan tetapi tentang perjodohan dengan gadis itu, ia sama sekali belum pernah mengharapkan atau memikirkannya, Terbayang wajah Kui Eng dipelupuk matanya dan hatinya menjadi sedih.

Ia mencintai Kui Eng, dan terhadap Giok Hong, biarpun gadis ini manis jelita, dan berbudi luhur, namun ia hanya suka dan mengindahi saja.

Benarkah gadis itu menyukainya?

"Lopek, mohon maafkan, karena dalam hal ini siauwte sama sekali belum pernah memikirkannya."

Jelas nampak perubahan pada muka Yo-Khungcu yang menjadi kecewa.

"Taihiap, apakah barangkali Taihiap telah mempunyai isteri atau tunangan?,"

Tanyanya. Beng Han menggelengkan kepala menyangkal.

"Kalau begitu, mungkin Taihiap tidak suka kepada puteri ku."

"Jangan terburu nafsu, lopek, Perjodohan bukanlah hal yang remeh dan sederhana, yang dapat diputuskan dengan tiba-tiba tanpa dipikir masak."

Terus terang saja, lopek, jarang siauwte menjumpai seorang gadis sebaik puterimu. Bahkan, siauwte merasa terlalu rendah dan tidak pantas untuk menjadi jodohnya."

"Jangan kau terlampau merendahkan diri, Taihiap,"

Kata Yo-Khungcu yang menjadi bersinar kembali wajahnya, seakan-akan timbul harapan baru mendengar kata pemuda itu.

"Sebenarnya, Yo-Lopek, dalam hal ini aku tidak mempunyai kekuasaan, karena urusan perjodohan adalah urusan orang-tua. Maka, harap lopek suka memaafkan. Sesungguhnya siauwte tidak berani memutuskan dan siauwte hanya menyerahkan urusan perjodohan didalam tangan ibuku."

Setelah berpikir beberapa lama, Yo-Khungcu berkata sambil menarik napas.

"Benar sekali pendapatmu, Taihiap. Biarlah, kita tunda dulu urusan ini. Ada urusan lain yang lebih penting, Taihiap. Ketahuilah bahwa dibeberapa daerah telah timbul gejala pemberontakan dari kaum tani terhadap peraturan pajak yang sewenang-wenang itu. Kami didusun Kiong-nam-teng juga telah siap-sedia, menanti saatnya tiba. Memang keadaan pemerintah yang dikuasai oleh Thio-Thaikam dan orang kebiri lainnya sungguh buruk dan menggencat rakyat. Kami hanya mengharapkan bantuan orang gagah seperti Taihiap. Alangkah baiknya apabila Taihiap dapat mencari bala-bantuan dan sokongan daripada semua orang gagah didunia, sebagaimana yang diharapkan oleh Bin Ho Totiang pula."

Mendengar ini, Beng Han menjadi terkejut.

Hal yang dikuatirkannya kini telah mulai nampak.

Pemerasan dan penggencatan yang dilakukan oleh pembesar membuat rakyat menjadi marah.

Hal ini sedapat mungkin harus dicegah.

Perang saudara harus diberantas, karena Beng Han sudah cukup menderita karena perang.

Menurut anggapannya, yang perlu dibasmi ialah biang-keladi kekacauan ini, agar keadaan yang buruk tak sampai meluas dan memburuk.

Ia teringat kepada Bun Hong dan timbul keinginannya untuk melihat keadaan kotaraja dan mencari tahu siapakah biang-keladi pemerasan para rakyat ini.

Siapa saja yang menjadi biang-keladinya, baik Kaisar sendiri, patut di basmi!

Akan tetapi urusan ini tidak patut dibicarakan dengan orang lain, maka untuk menjenangkan hati Yo-Khungcu, ia lalu menjawab.

"Baiklah, Yo-Lopek, memang siauwte juga sudah ingin melanjutkan perantauanku dan tentu hal ini akan menjadi perhatian bagiku. Akan siauwte usahakan untuk mencari kawan sefaham."

Beng Han lalu menghadap Bin Ho Tojin dan menghaturkan terimakasihnya atas pertolongan dan pengobatan pendeta itu hingga ia terhindar dari bahaya maut.

Ketika ia berpamit kepada Giok Hong, gadis itu memandangnya dengan mata basah, akan tetapi sambil memaksa keluarnya sebuah senyum, Giok Hong berkata perlahan.

"Gan-Taihiap, semoga kau takkan melupakan sama sekali kepada dusun Kiong-nam-teng yang pernah menerima budimu!"

Beng Han lalu meninggalkan hutan itu dan melanjutkan perjalanan menuju ke kotaraja.

Apabila teringat akan kebaikan orang didusun Kiong-nam-teng, terutama sekali kebaikan Giok Hong yang telah merawat dan menjaganya ketika ia menderita sakit dengan sangat telaten dan penuh perhatian, ia merasa terharu sekali.

Ia mencatat nama Giok Hong sebagai wanita kedua didalam hatinya gadis kedua sesudah Kui Eng yang telah menundukkan hatinya.

Akan tetapi, kenangan ini segera berganti dgn rasa kuatir apabila ia teringat kepada Bun Hong dan Kui Eng.

Telah berbulan-bulan Bun Hong mendahuluinya pergi ke kotaraja dengan maksud mencari dan membasmi pembesar jahat yang memerintahkan para kepala kampung memeras rakyat dengan pajak berat.

Bagaimanakah nasib sutenya itu?

Kalau sampai terjadi sesuatu atas diri sutenya, bagaimana ia akan mempertanggung-jawabkannya terhadap suhunya?

Sebagai saudara tertua, ia berkewajiban menjaga sute dan sumoinya, akan tetapi sekarang, sutenya itu bahkan pergi karena patah hati dan karena hendak mengalah terhadapnya dalam soal perjodohan Kui Eng!

Dan kemana pula perginya Kui Eng?

Beng Han menjadi kuatir sekali dan ia mengambil keputusan untuk mencari Bun Hong dan apabila sudah bertemu, sutenya itu hendak diajak mencari Kui Eng.

Betapapun juga, ia harus meyakinkan keduanya bahwa biarpun pinangannya ditolak oleh Kui Eng, namun ia tidak menaruh ganjalan dihatinya, dan menganggap mereka berdua tetap sebagai adik sendiri.

Setelah bersama Pek Bi Lojin menyerbu kesarang gerombolan Kipas Hitam dan berhasil mengobrak-abrik sarang penjahat itu, Kui Eng lalu pergi menuju ke kotaraja, hendak menyusul Ang Min Tek, pemuda pelajar yang tampan dan halus itu, yang telah menarik hatinya dan menjatuhkan keangkuhannya.

Seperti juga Bun Hong, begitu masuk di kotaraja, Kui Eng merasa kagum sekali melihat betapa bangunan raksasa yang indah dan megah itu memenuhi kota.

Belum pernah seumur-hidupnya ia menyaksikan gedung yang demikian indah dan toko-toko yang demikian banyak memperdagangkan segala macam barang.

Ia berjalan-jalan mengagumi semua keindahan itu dan berpikir alangkah sukarnya mencari orang didalam kota yang besar dan banyak penduduknya ini.

Diam-diam ia memikirkan keadaan Bun Hong.

Dimanakah adanya suhengnya itu sekarang?

Untuk mencari Min Tek, ia tidak kuatir karena dulu pemuda itu telah memberitahukan bahwa selama tinggal di kotaraja, pemuda she Ang ini akan tinggal dirumah seorang pamannya yang membuka toko obat Yok-goan-tong.

Kui Eng lalu mencari sebuah kamar didalam hotel dan setelah berganti pakaian yang terbaik, ia lalu pergi mencari toko obat itu.

Dengan mudah ia mendapat keterangan dari orang-orang dimana letak toko itu dan segera menuju kesitu dengan hati berdebar.

Dan kebetulan sekali ketika ia tiba ditoko obat Yok-goan-tong yang cukup besar, ia melihat Min Tek sendiri beserta kedua orang kawannya bercakap-cakap diruang depan.

Pemuda itu segera melihatnya dan dengan girang sekali ia berdiri dan lari keluar.

"Kui-Lihiap!,"

Tegurnya dengan wajah berseri, sedangkan Lie Kang Coan dan Lie Kang Po juga memburu keluar ketika mengenal gadis pendekar penolong mereka itu. Kui Eng cepat menjura membalas pemberian hormat mereka.

"Samwi-Kongcu apakah banyak baik dan sudan berhasilkah ujian yang samwi tempuh?"

"Silakan masuk kedalam dan duduk, Lihiap, disana kita dapat bercakap-cakap dengan leluasa.,"

Kata Min Tek dengan suaranya yang halus dan sopan.

Kui Eng menyatakan terimakasihnya dan mereka lalu masuk kedalam toko obat itu dimana mereka disambut oleh paman Min Tek, seorang setengah tua yang peramah dan yang memandang kepada Kui Eng dengan heran dan kagum.

"Siokhu (paman), inilah Kui Eng Lihiap yang gagah perkasa, penolong kami yang sering kuceritakan kepadamu."

Orang-tua itu segera mengangkat kedua tangan memberi hormat.

"Ah, kiranya Kui-Lihiap yang datang. Sudah lama aku mendengar namamu yang gagah dari keponakanku. Silakan duduk, Lihiap!"

Katanya dan Kui Eng cepat membalas penghormatannya sambil berkata.

"Ah, keponakanmu hanya melebihkannya saja."

Setelah mengambil tempat duduk, Min Tek dengan gembira menceritakan bahwa ia telah lulus dengan baik dan mendapat gelar siucai.

Mendengar hal ini, Kui Eng segera menyatakan kegembiraannya sambil berkata.

"Kionghi, Ang-Kongcu. Memang aku sudah menduga bahwa kau tentu akan lulus."

Akan tetapi, ia mendengar bahwa kedua saudara Lie tidak lulus, dan kedua anak muda ini mengambil keputusan untuk tinggal beberapa lama lagi di kotaraja, dimana mereka mempunyai seorang bibi yang menikah dengan seorang pembesar, hingga mereka dapat melanjutkan pelajaran mereka dan mengulangi menempuh ujian tahun depan.

Adapun Min Tek menyatakan bahwa pemuda ini besok pagi akan kembali kedusunnya.

Mendengar penuturan ini, tanpa ragu lagi Kui Eng menjawab.

"Ang-Kongcu kalau begitu kebetulan sekali. Aku sendiripun tidak mempunyai keperluan sesuatu di kotaraja ini, dan hendak melanjutkan perjalananku. Kalau kiranya kau tidak berkeberatan, kita boleh mengadakan perjalanan bersama."

Sebagai seorang gadis yang gagah dan berhati polos, Kui Eng tidak bisa berpura-pura lagi dan mengucapkan kata yang keluar dari hatinya.

Tidak demikian dengan Min Tek, seorang pemuda pelajar yang menjaga teguh kesopanan.

Wajahnya menjadi merah mendengar ajakan ini, dan biarpun hatinya merasa girang sekali karena melakukan perjalanan dengan gadis pendekar ini, ia tak usah takut akan segala rintangan dijalan, namun pada lahirnya ia hanya tersenyum dan menjura.

"Terimakasih banyak, Lihiap. Aku hanya akan mengganggumu saja."

"Kita sudah menjadi kawan baik, mengapa harus berlaku sungkan lagi?,"

Kata Kui Eng, dan kedua saudara Lie juga membenarkan ucapan ini.

"Terus terang saja, Lihiap,"

Kata Kang Coan.

"Sebelum kau muncul tadi, kami bertiga sedang membicarakan tentang kau, Ang-heng menyatakan kekuatirannya tentang perjalanannya besok hari, dan tadi ia berkata kalau saja ada seorang kawan seperjalanan seperti Kui-Lihiap, maka akan amanlah perasaan hatinya. Nah, Ang-heng, sekarang Kui-Lihiap telah muncul dan kebetulan sekali besok juga hendak melanjutkan perjalanan keluar dari kotaraja, bukankah hal ini suatu jodoh namanya? Maksudku, jodoh untuk melakukan perjalanan bersama."

Kedua saudara Lie itu tertawa dan Min Tek bersama Kui Eng juga tersenyum untuk menghilangkan rasa jengah yang timbul dalam hati mereka karena godaan ini.

Pada keesokan harinya, Min Tek dan Kui Eng berangkat meninggalkan kotaraja untuk menuju ke Kiciu, tempat tinggal Ang Min Tek.

Mereka naik kuda yang disediakan oleh paman Min Tek dan menjalankan kuda mereka dengan perlahan keluar dari kotaraja.

Baru saja mereka keluar dari kotaraja, tiba-tiba dari jauh mendatangi seorang penunggang kuda yang membalapkan kudanya cepat sekali, Orang itu berbaju biru dan masih muda, akan tetapi oleh karena ia melarikan kudanya dengan cepat hingga debu mengebul dikanan-kirinya, maka wajahnya tak terlihat nyata ketika orang itu lewat didekat Kui Eng dan Min Tek.

Akan tetapi Kui Eng yang bermata tajam melihat betapa orang itu memandang kearahnya dan ia merasa kenal pada orang itu.

Akan tetapi oleh karena ia tidak terlalu memperhatikan, sedangkan wajah orang yang tertutup debu mengebul itupun hanya dilihatnya sekelebatan saja, maka ia tidak memikirkannya lagi dan melanjutkan perjalanannya dengan Min Tek.

Kui Eng tentu takkan bersikap demikian apabila ia tahu bahwa penunggang kuda yang membalapkan kudanya itu bukan lain ialah Bun Hong!

Pemuda ini untuk menolong keluarga Pangeran Song, telah dinikahkan dengan puteri Pangeran Song, yakni Song Kim Bwee yang cantik jelita.

Bahkan sebulan yang lalu, Song Kim Bwee telah melahirkan seorang anak laki-laki."

Akan tetapi Bun Hong tidak merasa berbahagia hidupnya.

Benar bahwa menurut patut, ia harus berbahagia, karena isterinya cantik dan mencintainya, Sedangkan setelah menjadi menantu pangeran Song, boleh dibilang ia berenang diatas lautan harta.

Akan tetapi, betapapun cantik dan setia isterinya yang amat mencintainya itu, ia tak dapat melupakan Kui Eng dan tidak ada rasa cinta dalam hatinya terhadap Kim Bwee.

Sedangkan setelah menjadi suami Kim Bwee, sebagai menantu bendahara Kaisar, ia merasa seakan-akan kaki tangannya diikat.

Rasa bencinya kepada Thio-Thaikam terpaksa harus ia kubur didalam lubuk hatinya, bahkan ia dipaksa oleh keadaan untuk mengadakan pertemuan dan perkenalan dengan semua pembesar!

yang tak disukainya.

Ia merasa kecewa sekali dan merasa betapa hidup tidak berguna.

Tadinya ia menuju ke kotaraja dengan maksud membasmi pembesar yang kejam dan yang memeras rakyat dan berlaku sewenang-wenang, hendak menyelidik siapa orangnya yang berdiri dibelakang layar dan yang memegang gagang cambuk yang menyiksa rakyat.

Setelah ia tahu bahwa orang itu ialah Thio-Thaikam, kini ia tidak berdaya untuk menunaikan tugasnya, bahkan ia mengikat diri dengan pernikahannya, menjadi menantu Pangeran Song.

Ia tidak berani bertindak oleh karena hal itu tentu akan membahayakan sekeluarga ayah-mertuanya.

Seringkali Bun Hong termenung dan hatinya rindu sekali untuk pergi merantau dan melakukan perjalanan sebagai seorang hiapkek menolong orang yang menderita sebagaimana diwejangkan oleh suhunya.

Juga ia merasa rindu sekali kepada Kui Eng dan Beng Han yang diduganya tentu telah menjadi suami isteri atau setidaknya telah bertunangan.

Akan tetapi ketika ia mengutarakan keinginannya ini, Pangeran Song berkata dengan suara halus.

"Hiansai, pikirlah baik-baik. Kau telah menjadi suami Kim Bwee bahkan telah mendapat kurnia seorang putera, mengapa kau masih hendak melakukan perantauan seperti seorang yang masih belum berkeluarga saja? Hidup merantau banyak bahayanya, bagaimana kalau terjadi sesuatu denganmu dirantau? Apakah kau tidak akan membuat isterimu berduka? Juga, kalau sampai terlihat orang bahwa menantu bendahara Kaisar hidup sebagai seorang perantau, apakah akan kata orang? Hiansai, demi kebaikan kita sekeluarga, urungkan niatmu itu dan apabila kau ingin sekali melakukan perjalanan keluar kota, kau boleh saja menunggang kuda keluar kota, asal jangan menimbulkan keributan."

Demikianlah, untuk menghibur hatinya, seringkali Bun Hong menunggang kuda keluar dari kotaraja.

Isterinya tahu akan hal ini dan maklum pula bahwa suaminya tidak mencintainya, akan tetapi isteri ini tak dapat menyatakan apa-apa, karena ia pun maklum bahwa pernikahannya dengan Bun Hong terjadi oleh karena terpaksa, dan untuk menolong keselamatannya, menghilangkan kecurigaan Thio-Thaikam yang selalu mengincar kesalahan pembesar lain untuk jerumuskan kedalam jurang kehancuran.

Apalagi Pangeran Song merupakan pembesar yang paling berani menentang kehendak Thio-Thaikam.

Pada pagi hari itu, ketika Bun Hoag baru saja pulang dari melancong dan membalapkan kudanya, tiba-tiba ia melihat Kui Eng bersama seorang pemuda cakap, naik kuda berdua dan bercakap-cakap.

Bun Hong merasa girang sekali akan tetapi juga heran mengapa gadis itu melakukan perjalanan dengan seorang pemuda yang sama sekali tak dikenalnya.

Kalau saja ia melihat Kui Eng melakukan perjalanannya dengan Beng Han, tentu ia akan segera melompat turun dan menghampiri mereka dengan hati girang sekali.

Akan tetapi, kini ia melihat Kui Eng bersama seorang pemuda lain, maka ia menjadi heran dan pura-pura tidak melihat mereka, bahkan mempercepat lari kudanya.

Setelah jauh, ia lalu menghentikan kudanya dengan hati berdebar.

Pertemuan dengan Kui Eng menimbulkan kegembiraan dan perasaannya terhadap sumoinya itu makin mengganggu hati dan pikirannya.

Sementara itu, Min Tek dan Kui Eng melanjutkan perjalanannya dengan gembira.

Min Tek merasa gembira oleh karena gadis yang gagah itu berlaku ramah-tamah hingga ia merasa seakan-akan gadis itu seperti seorang kawa lama yang amat baik atau bahkan seperti saudaranya sendiri, sedangkan Kui Eng merasa senang sekali dapat melakukan perjalanan dengan pemuda yang telah merebut hatinya itu.

Min Tek mempunyai pengetahuan yang luas dengan tempat yang dilaluinya karena pemuda ini telah mempelajari ilmu bumi dan tahu akan sejarah yang ada hubungannya dengan gunung dan tempat yang bersejarah.

Tiada hentinya ia menceritakan sesuatu tentang tempat yang mereka lalui hingga Kui Eng merasa gembira sekali mendengarkan ceritanya.

Sore hari itu mereka bermalam disebuah dusun, menjewa dua buah kamar dalam rumah penginapan yang hanya ada sebuah dan karena malam itu terang bulan, maka Min Tek dan Kui Eng keluar berjalan-jalan dan melihat kearah sebuah bukit dimana terdapat menara yang tinggi.

Min Tek dan Kui Eng duduk dipinggir sawah, memandang kearah bukit itu dan Min Tek lalu menceritakan sebuah kisah kuna tentang menara itu dimana menurut dongeng.

dulu pernah seorang puteri dikurung disitu oleh karena menolak untuk dikawinkan dengan seorang pangeran, Kui Eng mendengarkan dengan terharu sekali.

"Ada sebuah lagu yang menceritakan tentang peristiwa sedih itu,"

Kata Min Tek sambil mengeluarkan sebuah suling kecil.

"Eh, Ang-Kongcu, kau pandai pula bermain suling,"

Tanya Kui Eng sambil memandang dengan senyum manis.

"Pandai pun tidak, tapi biarlah aku mencoba memainkan lagu itu untukmu, Kui-Siocia,"

Jawabnya merendah dan tak lama kemudian dibawah penerangan bulan, suasana yang sunyi itu terisi oleh suara tiupan suling yang merdu.

Lagu yang dimainkan oleh Min Tek itu terdengar sedih sekali.

Setelah lagu itu habis, Min Tek lalu menyanyikan lagu itu, dan ternyata pemuda ini memang pandai sekali bersuling dan bernyanyi.

Lagunya sedih dan menceritakan betapa puteri yang tidak mau dipaksa kawin itu dikeram dimenara hingga akhirnya meninggal karena sedih.

Setelah Min Tek selesai bernyanyi Kui Eng memandangnya dengan mata basah dan berkata.

"Ah, Ang-Kongcu, tak kunyana bahwa kau sepandai ini."

"Kau memuji saja, Kui-Siocia. Kepandaianku adalah kepandaian kampungan yang tak ada harganya. Hanya karena kegembiraanku saja maka aku sampai berani melupakan kebodohanku dan meniup suling serta bernyanyi. Kalau ada orang lain disini pasti aku takkan berani melakukannya."

"Ang-Kongcu, mengapa kau menjadi gembira?,"

Tiba-tiba Kui Eng bertanya sambil menundukkan kepalanya. Ang Min Tek memandangnya dan menjawab.

"Siocia, kau adalah seorang yang amat baik budi dan aku merasa berbahagia sekali mendapat seorang kawan seperti kau. Kau mengingatkan aku akan seorang..."

Kui Eng mengangkat muka memandang.

"Mengingatkan akan siapakah, Kongcu?"

"Akan... akan seorang yang amat dekat dihatiku."

"Siapakah dia?"

Akan tetapi Min Tek tidak menjawab, hanya menjimpangkan pembicaraan itu dengan berkata perlahan.

"Kalau saja kau seorang laki-laki, tentu kau akan kuajak mengangkat saudara. Kau baik seperti seorang saudara sendiri bagiku."

Kui Eng diam saja dan hatinya berdebar.

Apakah pemuda ini juga mencintainya?

Akan tetapi kalau mencintai, mengapa pemuda ini ingin mengangkat saudara dengannya?

"Kui-Siocia, hari telah larut malam, mari kita kembali, besok kita melanjutkan perjalanan pagi"

Agar dapat sampai di Kiciu dalam tiga hari. Kui Eng yang sedang termenung, lalu menjawab.

"AngKongcu, kau kembalilah dulu. Aku ingin duduk seorang diri disini untuk beberapa lama lagi."

"Baiklah, akan tetapi jangan terlalu lama, Siocia, Biarpun udara terang dan hawa sejuk, akan tetapi lama berada diluar, kau akan terkena angin dan kurang-baik bagi kesehatanmu."

Pemuda itu lalu berjalan seorang diri kembali kerumah penginapan yang tidak berapa jauh letaknya dari tempat itu.

Kui Eng duduk termenung dan bermacam-macam pikiran timbul dikepalanya.

Tak dapat diragukan lagi, ia merasa jatuh hati terhadap pemuda yang halus dan sopan itu.

Ingin sekali ia bertanya tentang riwayat pemuda itu, untuk mengetahui keadaannya akan tetapi ia merasa sangsi apakah pertanyaan macam ini tidak akan melanggar batas kesopanan, Kepada seorang pemuda seperti kedua suhengnya, ia takkan merasa ragu lagi, akan tetapi Ang Min Tek adalah seorang pemuda yang lain lagi.

Ia seorang terpelajar tinggi dan sopan santun, hingga ia tidak berani berlaku sembarangan dan selalu menjaga diri agar jangan sampai dianggap sebagai gadis liar oleh Min Tek!

tiba-tiba ia mendengar suara kaki disebelah belakangnya dan terdengar suara memanggil.

"Sumoi...!"

Kui Eng cepat melompat dan berdiri membalikkan tubuh. Ternyata bahwa Bun Hong telah berdiri dihadapannya! "Ji-suheng...!,"

Kui Eng berseru dengan girang sekali.

"Ah, kalau begitu, tentu kaulah penunggang-kuda yang membalap tadi, bukan?"

"Benar, sumoi. Dan dimanakah adanya tunanganmu?"

Terbelalak mata Kui Eng mendengar pertanyaan ini, akan tetapi oleh karena semenyak dahulu sudah seringkali dan sudah biasa Bun Hong berkelakar dan menggodanya, maka ia menjawab sambil tertawa.

"Suheng, masa datang kau hendak menggoda aku? Tunangan mana yang kau maksudkan?"

"Aku tidak menggoda dan juga tidak berkelakar, sumoi. Bukankah kau sudah bertunangan dengan suheng?"

"Twa-Suheng maksudmu? Ah, janganlah kau bicara yang bukan-bukan, Ji-Suheng!,"

Kata Kui Eng dengan wajah merah.

"Apa? Betul kau tidak bertunangan dengan suheng?,"

Tanya Bun Hong sambil melangkah maju, dan mendengar betapa suara Bun Hong gementar, Kui Eng memandang heran.

"Ji-Suheng, siapakah yang bertunangan? Aku tidak bertunangan dengan siapa-siapa!"

"Betulkah...? Bukankah suheng dulu meminangmu?"

"Memang ibunya meminangku, akan tetapi..."

"Kau menolaknya...? Sumoi, jawablah, kau... kau menolaknya?"

Kui Eng memandang heran.

"Eh, kenapakah kau, Ji-Suheng? Memang aku menolaknya."

"Kau tidak mencintainya, sumoi?"

Kini merahlah wajah Kui Eng.

"Ji-Suheng, ingatlah, kau mengajukan pertanyaan yang bukan?!"

Akan tetapi, dengan wajah pucat dan bibir gementar Bun Hong melangkah maju dan mendesaknya.

"Jawablah, sumoi... jawablah apakah kau tidak mencintai Twa-Suheng?"

Kui Eng menggelengkan kepala dan menarik napas panjang. Tiba-tiba Bun Hong menjatuhkan dirinya berlutut didepan Kui Eng hingga gadis itu mundur dengan kaget dan heran.

"...Sumoi... sumoi... kalau aku ketahui hal itu... ah, kalau aku tahu bahwa kau menolak pinangan suheng, bahwa kau tidak cinta kepadanya..."

Karena semenyak kecil telah hidup didekat Bun Hong, maka timbul kekuatiran dihati Kui Eng.

Gadis ini lalu melangkah maju dan memegang pundak Bun Hong yang ditariknya berdiri lagi, lalu gadis itu memandang tajam.

"Ji-Suheng, kenapakah kau? Kurang lebih setahun kita tak bertemu dan kau sudah berubah sekali... mengapa kau begini pucat dan gelisah?"

"Sumoi, kalau aku tahu... ai, biarlah sekarang saja kuakui, sama saja. Sumoi, dengarlah, sudah semenyak kita berada dipuncak Swi-hoa-san, aku... mencinta padamu, sumoi! Aku mencintaimu dan selalu merindukanmu, mengharapkan setiap saat untuk melihat api cinta terbayang dari matamu, mengharapkan kau akan membalas perasaanku. Kemudian... kemudian aku mendengar percakapan antara suheng dan ibunya, mendengar pengakuan suheng bahwa dia mencintaimu, bahwa ibunya hendak menjodohkan dia dengan engkau. Aku lalu mengalah, aku pergi, karena takkan tahan hatiku melihat kau bertunangan dengan suheng. Akan tetapi, aku tela, rela mengundurkan diri dan mengalah, aku terlalu mencintai kau dan suheng, tak kuasa menghilangi kebahagiaan kalian. Akan tetapi sekarang... ternyata kau tidak membalas cintanya, kalian tidak bertunangan! Ya Thian yang Maha Agung, kalau aku tahu... aku yang mencintamu dengan seluruh jiwaku, aku kini telah terikat erat?! Akan tetapi, sumoi, aku akan melepaskan belenggu sekarang juga, aku mencinta padamu, marilah kita pergi berdua kealam bebas, menikmati hidup berdua. Sumoi... aku mencinta padamu..."

Kembali Bun Hong menjatuhkan diri berlutut didepan Kui Eng!

Kini gadis itu tidak membangunkannya, bahkan semenyak tadi gadis itu mendengarkan pengakuan Bun Hong dengan wajah pucat dan tubuh menggigil, kini ia melangkah mundur dua tindak dengan kaki terasa lemas.

"Ji-suheng...,"

Katanya dengan suara menggigil.

"jangan... jangan kau bersikap demikian!"

"Aku cinta padamu, sumoi!,"

Kata Bun Hong, laki-laki yang telah merasa kecewa dalam hidupnya itu.

"Tidak, suheng. Kau tidak cinta kepadaku! Hubungan kita adalah sebagai saudara sendiri, aku tidak bisa membalas cintamu dan tak mungkin menjadi jodohmu!"

Jawaban ini diucapkan dengan suara tetap karena gadis ini teringat kepada Min Tek pemuda yang benar-benar dicintainya itu.

Bun Hong mengangkat mukanya yang pucat dan memandang tajam.

tiba-tiba ia melompat berdiri dan sikapnya menakutkan.

"Sumoi, kau... kau mencintai pemuda kutu-buku itu...??"

Marahlah hati Kui Eng mendengar Min Tek yang tak bersalah apa-apa dimaki kutu-buku.

"Andaikata betul, kau perduli apakah?,"

Jawabnya sambil membalas pandangan tajam suhengnya.

"Apa...? Ha, ha, ha! Tak mungkin. Kau, adikku yang gagah perkasa ini mencintai seorang kutu-buku yang mengangkat pena saja sudah menggigil tangannya? Tak mungkin dan tak boleh! Aku akan melarangnya, lebih baik kubunuh cacing buku itu!"

"Ji-Suheng...!!,"

Kui Eng menegur dengan sebal.

"Sumoi, aku cinta padamu. Kalau kau menikah dengan suheng aku akan mengalah dengan rela, aku akan menghibur hatiku yang luka dengan kenangan betapa bahagia hidupmu dengan suheng. Akan tetapi, aku tidak tahan melihat seorang laki lain berdiri disampingmu, menjadi suamimu! Akan kubunuh dia!"

"Ji-Suheng! Kau gila! Agaknya kau telah kemasukan iblis!!!"

Bun Hong tertawa masam.

"Memang, memang aku telah dimasuki iblis. Untuk menolong keluarga baik, aku terpaksa harus menikah dengan seorang yang tak kucintai! Aku terbelenggu seumur hidup, dan tidak ada kekuatan yang dapat mematahkan belenggu ini, kecuali kau, sumoi Apabila kau sudi membalas cintaku, sekarang juga kupatahkan belenggu itu, dan biarpun dihadapan kita ada lautan api menghalang, akan kuterjang bersamamu!"

"Ji-Suheng, cinta tak dapat dipaksakan. Kau telah tersesat!"

Bun Hong tertawa lagi, kemudian ia melompat pergi dari situ dan terdengar suaranya mengancam.

"Kau harus tinggalkan dia, kutu-buku itu! Kalau kau melanjutkan hubunganmu dengan dia, akan kubunuh dia itu!"

Kui Eng berdiri bagaikan patung ditempat itu.

Masih belum lenyap keheranan dan terkejutnya melihat betapa Bun Hong muncul dalam keadaan macam itu, Tiba-tiba keluarlah airmatanya.

Semenyak dulu ia suka kepada Ji-Suhengnya ini yang pandai berkelakar dan suka menggodanya.

Bahkan, semenyak kecil, seperti juga Twa-Suhengnya, Bun Hong seringkali menolongnya, mencarikan buah yang lezat, mencarikan bunga yang indah.

Bun Hong melarang ia bergaul dengan Min Tek??

Tiba-tiba merahlah wajah Kui Eng karena marah.

Siapa berhak melarangnya?

Ia tidak takut akan ancaman Bun Hong.

Kalau Ji-Suhengnya itu benar-benar telah gila dan hendak membunuh atau menyerang Min Tek ialah yang akan membelanya!

Ia tidak takut sedikitpun juga, sungguhpun ia maklum akan kelihaian Ji-Suhengnya itu.

Dengan perlahan Kui Eng lalu kembali kehotelnya.

Pada keesokan harinya, ketika Min Tek menegurnya dengan senyum manis mengapa wajahnya agak muram, Kui Eng hanya tertawa saja dan tidak menceritakan sesuatu tentang pertemuannya dengan Bun Hong.

Mereka lalu bersantap pagi, kemudian menunggang kuda melanjutkan perjalanan mereka.

Kui Eng selalu berlaku waspada dan hatinya berdebar menjaga segala kemungkinan yang timbul dari ancaman Ji-Suhengnya malam tadi.

Ketika mereka tiba disebuah hutan yang sunyi, terbuktilah ancaman Bun Hong malam tadi, karena nampak pemuda itu sedang berdiri ditengah jalan dengan pedang ditangan!

Pakaian Bun Hong gagah sekali, seperti pakaian seorang pangeran muda dan hal ini baru kelihatan oleh Kui Eng karena malam tadi ia kurang memperhatikan.

"Ji-Suheng, mengapa kau menghadang perjalanan kami?."

Tanya Kui Eng dengan tenang. Sementara itu, ketika Min Tek mendengar sebutan itu, ia menjadi terkejut dan buru ia turun dari kuda dan menjura kepada Bun Hong.

"Maafkan, siauwte tidak kuketahui lebih dulu bahwa enghiong yang didepan adalah suheng dari Kui-Siocia. Terimalah hormatku."

Akan tetapi Bun Hong tidak memperdulikan pemuda itu, bahkan lalu berkata kepada Kui Eng.

"Sumoi, sekali lagi. Kau tinggalkan dia ini dan pergi bersamaku atau aku harus penggal dulu batang lehernya?"

Kui Eng menjadi marah dan cepat ia mencabut pedangnya.

"Suheng, suhu mengutus aku turun gunung untuk membasmi kejahatan! Biarpun kau sendiri, kalau berlaku sewenang, terpaksa harus kuhalangi!"

"Bagus, kalau begitu, terpaksa aku bunuh cacing ini!!"

Secepat kilat Bun Hong menggerakkan pedangnya menyerang Min Tek yang berdiri bengong karena tidak tahu mengapa kedua saudara seperguruan ini begitu bertemu lalu bertengkar, dan tidak tahu pula mengapa pemuda yang gagah itu datang hendak membunuhnya!

Akan tetapi sebelum pedang Bun Hong mengenai sasaran, Kui Eng sudah menyambar turun dan menangkis dengan pedangnya.

Bun Hong tidak memperdulikan Kui E terus mengulangi serangannya kearah Min Tek.

Tiga kali ia menyerang Min Tek dan tiga kali pula Kui Eng menangkis.

"Ji-Suheng! Kalau kau tidak tarik kembali pedangmu, terpaksa aku akan menyerangmu!"

Akan tetapi, sambil tertawa-tawa Bun Hong melompat dan kembali menerkam dada Min Tek yang mundur dengan kaget.

Kali ini Kui Eng tak dapat menahan sabarnya lagi, dan segera ia menangkis dan balas menyerang!

Kini Bun Hong terpaksa mencurahkan perhatiannya kepada pedang Kui Eng yang maju menyerang dengan hebat hingga sebentar saja kedua saudara seperguruan itu telah bertempur seru!

Akan tetapi, Bun Hong tak pernah balas menyerang.

hanya mengelak dan menangkis saja.

"Sumoi, aku tak dapat mengganggumu, hanya ingin membunuh cacing itu saja,"

Kata Bun Hong pula.

"Kau bisa membunuhnya setelah kau merobohkan aku!."

Teriak Kui Eng dengan marah.

"Bagus! Kalau kau sudah begitu nekad, terpaksa aku harus bunuh kalian berdua! Lebih baik melihat kau mati diujung pedangku daripada melihat kau digandeng laki-laki lain!"

Seru Bun Hong dan kini ia balas menyerang dengan hebat.

Ramailah pertempuran antara kedua saudara seperguruan ini dan sungguhpun Bun Hong menang tenaga dan keuletan, namun Kui Eng telah mendapat pengalaman berkelahi dan ginkangnya yang tinggi membuat ia dapat melakukan perlawanan sama hebatnya.

Min Tek menjadi bingung sekali.

Mendengar percakapan kedua orang itu, maklumlah ia bahwa gara-gara perkelahian itu adalah dirinya sendiri!

Agaknya Kui Eng mencintainya dan suhengnya itu merasa cemburu!

Celaka!

Ia harus mencegah pertempuran ini.

Ia berteriak berkali-kali.

"Taihiap, Lihiap, berhentilah... dengarlah keteranganku..."

Akan tetapi, Kui Eng dan Bun Hong memiliki adat yang keras dan pantang undur, maka seruan ini tidak mereka dengarkan dan mereka bahkan bertempur makin seru dan hebat!

Pada saat itu, dari jauh mendatang seorang laki dengan jalan perlahan, akan tetapi ketika melihat pertempuran itu, ia lalu berlari cepat menghampiri.

Setelah dekat, orang itu berseru keras.

"Sute...! Sumoi...! Apakah kalian sudah menjadi gila?? Tahan...!,"

Teriak orang itu yang bukan lain ialah Beng Han!

Setelah sembuh dari pengaruh bisa dalam jarum yang dilepas oleh Tek Po Tosu, Beng Han lalu menyusul ke kotaraja untuk mencari Bun Hong.

Tak disangkanya sama sekali bahwa ia akan bertemu dengan sute dan sumoinya ditempat ini dalam keadaan saling serang mati-matian!

Melihat betapa kedua orang itu tidak mau berhenti, Beng Han lalu mencabut pedangnya dan melompat ketengah pertempuran dan menahan senjata mereka dengan gerakan pedangnya.

"...Berhenti... berhenti... kalian orang bodoh! Mengapa saling serang seperti orang gila?"

Kui Eng berdiri dengan napas terengah-engah dan pedang dipegang erat, sedangkan Bun Hong berdiri dengan jidat penuh keringat, juga memegang pedang sambil memandang dengan tajam.

".... dia hendak membunuh Ang-Kongcu...,"

Kata Kui Eng. Beng Han memandang kearah pemuda pelajar itu yang berdiri bengong.

"Siapakah dia, sumoi?,"

Tanya Beng Han.

"Dia adalah... adalah sahabatku,"

Jawab Kui Eng. Beng Han memandang tajam kearah Bun Hong.

"Sute, mengapa kau hendak membunuh dia?"

Bun Hong cemberut, marahnya masih menggelora.

"Suheng, mengapa kau tidak jadi bertunangan dengan sumoi?,"

Balasnya dengan pertanyaan yang diucapkan keras seakan-akan mencela dan menegur hingga wajah Beng Han menjadi merah.

"Sute, omonganmu ini sungguh tidak patut!,"

Bentaknya.

"Tidak patut katamu?"

Dada Bun Hong terengah-engah karena menahan gelora hatinya yang marah.

"Suheng, kau tahu betapa perasaan hatiku terhadap sumoi, kita bertiga semenyak kecil bersama-sama senasib-sependeritaan. Kalau sumoi menjadi jodohmu, aku rela... aku mengalah, akan tetapi kalau sumoi memilih laki-laki lain, aku tidak rela! Sumoi mencintai pemuda itu, maka ia harus kubunuh! Kalau sumoi menghalangi, biar kubunuh semuanya!"

"Sute, kau gila!"

Kui Eng menangis.

"Bun Hong, kau manusia kejam! Kau membikin malu padaku. Mari kita bertempur mengadu jiwa!,"

Kui Eng melompat maju dan menyerang, akan tetapi Beng Han mencegahnya.

"Sumoi, sabarlah dan serahkan urusan ini padaku. Sebetulnya apakah yang terjadi?"

Kui Eng memandang kepada Beng Han dengan airmata mengalir membasahi pipinya.

"Suheng, aku tidak bersalah apa. Aku hanya mengantar Ang-Kongcu yang hendak kembali kekampungnya. Tahu-tahu Ji-Suheng menghadang disini dan hendak membunuh kami."

Beng Han berpaling kepada Bun Hong dan membentak.

"Sute, jangan kau lanjutkan kesesatanmu itu. Hubungan kita dengan sumoi hanyalah sebagai saudara seperguruan dan urusan pribadinya tak boleh kita mencampurinya."

"Aah kau tidak tahu hatiku. kau tidak tahu penderitaanku. Pendeknya, sumoi hanya boleh memilih antara kau atau aku, tidak boleh memilih orang lain! Biar kubunuh pemuda pucat itu!,"

Teriak Bun Hong marah.

"Kalau kau membelanya, suheng, terpaksa aku melawanmu pula!"

"Manusia sesat!"

Beng Han membentak marah.

"Sumoi, kau lanjutkanlah perjalananmu dengan Kongcu itu, biar aku yang menghadapi sute!"

Sementara itu, Min Tek yang mendengar semua ini, menjadi pucat dan tubuhnya menggigil.

Bukan karena takut, akan tetapi karena terharu.

Baru ia ketahui bahwa ketiga orang ini adalah saudara seperguruan yang tinggi ilmu kepandaiannya, dan karena kini mereka bertengkar karena dia maka sudah tentu ia merasa bingung sekali.

"Kui-Siocia, biarlah kujelaskan kepada suhengmu..."

Katanya. Akan tetapi Kui Eng lalu melompat keatas kudanya dan berkata.

"Ang-Kongcu, marilah kita pergi!"

Terpaksa Min Tek naik keatas punggung kudanya pula dan ikut pergi dengan cepat menyusul Kui Eng yang telah mendahuluinya, Bun Hong marah sekali.

"Suheng, kau tidak tahu betapa besar cintaku terhadap sumoi. Lebih baik aku mati ditanganmu daripada melihat sumoi menjadi isteri pemuda lemah dan pucat itu! Kalau kau susul dia dan mengambil sumoi sebagai isterimu, aku akan merasa bahagia dan rela, suheng. Akan tetapi, kalau kau membiarkan dia merendahkan diri dan menjadi jodoh pemuda itu, biar bagaimanapun juga, aku akan menghalanginya."

"Sute, tak kusangka bahwa setelah berada di kotaraja, kau menjadi gila. Cintamu terhadap sumoi itu bukan cinta murni, cinta yang diliputi nafsu semata. Kau hendak membunuh pemuda pelajar yang tak berdosa itu? Baik, ada aku yang akan membelanya!"

"Kau...?' Kedua mata Bun Hong yang sudah merah karena marahnya itu tiba-tiba mengeluarkan dua titik airmata.

"Kau hendak melawanku, suheng? Kau...?"

"Apa boleh buat, lebih baik melihat saudaraku yang kukasihi mati daripada melihat ia hidup menjalankan kejahatan!"

Bun Hong berteriak keras dan melompat sambil menusuk dengan pedangnya.

Beng Han menangkis dan keduanya lalu bertempur hebat lebih seru dan mati-matian daripada ketika Bun Hong bertempur melawan Kui Eng tadi!

Bun Hong memiliki kecepatan gerakan yang luar biasa dan pedangnya berkelebat menyambar-nyambar dengan ganasnya, akan tetapi Beng Han yang waspada dan tenang dapat menghadapinya dengan baik dan mengembalikan semua serangan Bun Hong.

Kalau tadi, ketika Kui Eng dan Bun Hong bertempur, mereka dapat diumpamakan sepasang naga berebut mustika, adalah kini mereka merupakan sepasang naga berebut sarang.

Bun Hong gesit dan gerakan pedangnya ganas dan cepat, sedangkan Beng Han tenang dan gerakan pedangnya kuat.

Betapapun juga, ilmu pedang mereka bersumber dari satu dasar pelajaran, yakni Swi-hoa Kiam-hwat, maka tentu saja mereka dapat mengetahui gaya masing-masing dan dapat mengembalikan setiap serangan dengan baik.

Mereka hanya mengandalkan keulatan dan kegapahan tangan kaki belaka.

Pantangan bagi orang yang sedang bertempur ialah rasa takut, bimbang dan terutama sekali nafsu marah.

Biarpun Bun Hong tidak merasa takut, akan tetapi menghadapi Beng Han ia merasa bimbang, dan hatinya masih diliputi rasa marah hingga gerakannya tidak setepat Beng Han.

Oleh karena itu, beberapa kali hampir saja ia menjadi kurban pedang Beng Han, baiknya Beng Han terganggu oleh rasa tidak tega dan kasihan hingga tiap kali ujung pedangnya sudah dekat dengan sasaran, ia segera menarik kembali serangannya.

Beng Han amat mengasihi adik seperguruannya ini, maka tentu saja ia tidak tega untuk melukainya.

Pada suatu saat, Beng Han menyerang dengan gerak tipu Angin Taufan Menyambar Pohon.

Gerakannya hebat dan kuat sekali hingga ketika Bun Hong menangkis, ujung pedang Beng Han masih mendesak dan berhasil melukai lengan tangan Bun Hong yang segera mengalirkan darah.

Beng Han terkejut dan melompat mundur, sedangkan Bun Hong dengan tersenyum pahit lalu menggunakan ujung lengan bajunya untuk menghapus darah dilengan tangannya.

"Suheng, kau hebat sekali!,"

Katanya, sedangkan Beng Han lalu berkata dengan sedih.

"Sute, janganlah kita bertempur lagi! Insyaflah, tak baik ilmu pedang yang kita pelajari ini kita gunakan untuk saling gempur!"

Akan tetapi Bun Hong tertawa menyeramkan dan berkata.

"...Suheng, ketahuilah! Untuk berbulan-bulan hatiku gelisah dan menderita karena memikirkan sumoi. Aku telah banyak menderita, bahkan nasibku yang sial membawaku terbelenggu dan untuk menolong keluarga pangeran Song aku terpaksa menikah dengan puterinya, sementara itu hatiku masih tetap merindukan sumoi. Aku menghibur kesedihanku dengan pikiran bahwa sumoi sudah sesuai menjadi jodohmu dan karena kalian adalah orang yang kukasihi, maka aku merasa rela dan ikhlas! Tidak tahunya, kalian tidak bertunangan dan bahkan sumoi mendekati seorang pemuda pelajar yang lemah! Bagaimana hatiku bisa senang? Luka sedikit ini tidak ada artinya, ajoh kita teruskan, suheng, dan jangan kepalang tanggung kau mengerjakan pedangmu!"

Setelah berkata demikian, Bun Hong melompat maju dan menyerang pula hingga Beng Han merasa bingung dan sedih sekali.

Terpaksa ia mengangkat pedangnya menangkis.

Pada saat itu, terdengar suara tertawa keras bergelak dan tiga bayangan orang berkelebat dan berdiri disitu.

Ternyata mereka ini adalah Tek Po Tosu, Bong Kak Im, dan Bong Kak Liong, tiga orang jagoan kelas satu dari Thio-Thaikam!

Mereka ini semenyak dulu telah menaruh hati curiga terhadap Bun Hong, akan tetapi oleh karena Bun Hong dapat mengendalikan diri dan tak pernah memperlihatkan kepandaiannya, Mereka tidak mempunyai bukti dan tak berdaya mencelakakannya.

Akan tetapi, penyelidik mereka memberitahu bahwa belakangan ini seringkali menantu pangeran Song itu berkuda keluar kota dan entah melakukan pekerjaan apa, Timbul kembali kecurigaan ketiga orang jagoan itu dan setelah mereka memberi laporan kepada Thio-Thaikam, mereka lalu diutus untuk menyelidik.

Demikianlah, mereka lalu mengintai dan kebetulan sekali mereka melihat Bun Hong bertempur dengan Kui Eng dan kemudian setelah melihat kedatangan Beng Han dan mendengar percakapan mereka, tahulah ketiga orang itu bahwa Bun Hong benar adalah pemuda berkedok yang dulu menyerang Thio-Thaikam!

Segera mereka muncul keluar dan terdengar suara Tek Po Tosu yang berkata.

"Aha, tidak tahunya menantu pangeran Song benar adalah pemberontak yang kami cari?!"

Bun Hong dan Beng Han terkejut sekali mendengar ini dan mereka segera menghentikan pertempuran dan berdiri berendeng, menghadapi tiga orang pahlawan Thio-Thaikam itu.

Melihat Beng Han, Tek Po Tosu tertawa lagi mengejek.

"Eh, eh, tidak tahunya menantu pangeran Song adalah sute dari pemberontak yang telah kujatuhkan! Masih belum matikah kau? Baik, baik! Kalau begitu sekarang akan kubinasakan kalian pemberontak rendah!"

Sambil berkata demikian, Tek Po Tosu lalu mencabut keluar pedangnya yang sepasang itu, sedangkan Bong Kak Im juga mencabut keluar senjatanya sepasang kapak yang dahsyat itu, diikuti oleh Bong Kak Liong yang menarik keluar sebatang goloknya yang lihai!

"Sute, marilah kita basmi anjing-anjing penjilat ini!,"

Kata Beng Han dengan penuh geram. Bun Hong tersenyum.

"Baik, suheng, memang telah lama sekali aku merasa rindu untuk membunuh cacing-cacing rendah ini!"

"Pemberontak hina, bersedialah menerima kebinasaan!"

Bong Kak Im berseru dan mulai menyerang dengan sepasang kapaknya. Serangannya disambut oleh Bun Hong yang membentak.

"Pengapak kaju kampungan, jangan kau menjual lagak disini!"

Bong Kak Liong lalu menggerakkan goloknya membantu kakaknya itu hingga Bun Hong segera dikeroyok dua, akan tetapi orang muda itu dengan gagahnya memutar pedang dan mengeluarkan ilmu pedangnya yang lihai.

Beng Han menghadapi Tek Po Tosu.

"Pendeta keparat, sekarang tiba saatnya bagi kita untuk mengadu kepandaian tanpa mengandalkan keroyokan. Majulah dan kau boleh pergunakan semua jarum-jarum jahatmu yang hanya menunjukkan sifatmu yang pengecut itu!"

"Bangsat sombong!,"

Tek Po Tosu berteriak dan segera melompat dan menerjang Beng Han dengan siangkiamnya.

Akan tetapi, sambil tersenyum mengejek, Beng Han lalu membuat gerakan dengan pedangnya hingga sekaligus ia dapat menangkis sepasang pedang lawannya yang menyerang.

Pertempuran itu terjadi dengan amat hebat dan serunya, terjadi ditempat yang sunyi, tidak disaksikan oleh orang lain kecuali mereka yang bertempur sendiri, dibawah terik panas matahari yang membakar.

yang terdengar hanyalah senjata-senjata mereka yang beradu dan seruan-seruan mereka, terutama sekali sepasang kapak Bong Kak Im yang tiap kali bertemu dengan pedang lawan mengeluarkan suara nyaring.

Mereka bertempur dengan mati-matian, mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian.

Bun Hong pernah menghadapi Bong Kak Liong, akan tetapi pada waktu itu ia dikeroyok oleh banyak sekali perwira hingga ia tidak dapat mengukur tenaga lawannya ini yang benar-benar lihai.

Bong Kak Liong dan terutama Bong Kak Im adalah jago2 nomor satu dari Thio-Thaikam, dan jika dibandingkan dengan panglima besar diistana Kaisar mereka ini sedikitnya mempunyai tingkat kepandaian kelas tiga, hingga kelihaian mereka dapat dibayangkan.

Apalagi kini mereka maju berdua mengeroyok Bun Hong, senjata mereka berkelebatan menyilaukan dan setiap gerakan merupakan serangan maut.

Akan tetapi, dengan bernafsu dan gembira, Bun Hong menyambut semua serangan dan membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya.

Setelah menghadapi musuh besar ini, permainan pedang Bun Hong makin lincah, karena ia tidak merasa bimbang lagi dan seluruh kebencian serta kemarahan kini ia timpakan keatas kepala kedua orang lawan yang tangguh ini!

Juga Beng Han menghadapi Tek Po Tosu dengan hati-hati sekali karena pemuda ini telah tahu akan kelihaian lawannya.

Menghadapi gempuran pendeta ini tanpa dikeroyok, Beng Han dapat melayaninya dengan baik, bahkan melancarkan serangan balasan yang cukup mengejutkan hati Tek Po Tosu, Tosu ini memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi setingkat daripada kepandaian kedua orang perwira she Bong itu, maka biarpun hanya seorang diri, ia dapat mengimbangi kepandaian Beng Han.

Sepasang pedangnya bergerak luar biasa sekali dan gerakan pedang ditangan kanan ganas dan cepat, akan tetapi sebagian besar hanya merupakan gertakan untuk membingungkan lawan saja.

Sebenarnya yang berbahaya adalah pedang ditangan kirinya, karena walaupun pedang ditangan kiri ini hanya bergerak lambat dan digunakan untuk menangkis belaka, akan tetapi pada saat yang tepat pedang itu melakukan tusukan atau sabetan yang membawa maut!

Beng Han maklum akan hal ini, maka ia bersilat dengan tenang dan waspada, sama sekali tidak mau dikacau oleh gerakan pedang ditangan kanan lawan.

Demikianlah kedua orang muda, seperguruan yang tadi saling bertempur dengan hebat, kini bersatu dan menghadapi tiga orang lawannya yang tangguh!

Diam-diam kegembiraan timbul dihati kedua orang muda itu, karena dengan adanya pertempuran ini agaknya segala kesalah-fahaman diantara mereka tersapu bersih dan perasaan mereka kembali seperti dulu ketika mereka masih bersama belajar silat dipuncak Swi-hoa-san.

Sambil bersilat menghadapi Tek Po Tosu, kadang Beng Han melirik kearah Bun Hong untuk melihat keadaan sutenya itu.

Ia merasa gelisah juga menyaksikan betapa tangguh kedua orang perwira yang mengeroyok sutenya itu.

Ia sendiri maklum bahwa tak mudah menjatuhkan Tek Po Tosu yang lihai dan apabila pertempuran ini diteruskan, fihaknyalah yang akan menderita rugi.

Ia melihat betapa wajah Bun Hong pucat tanda bahwa pemuda itu kurang tidur dan menderita tekanan batin yang berat.

Ia belum tahu dengan jelas keadaan sutenya itu karena belum mendapat kesempatan bicara dengan leluasa.

Tiba-tiba Beng Han mendapat akal.

Diantara ketiga orang lawannya, yang paling tangguh adalah si tosu, sedangkan kedua orang perwira itu kalau melawan Bun Hong seorang demi seorang tentu akan mudah dirobohkan.

Maka ia segera berseru keras dan menggerakkan pedangnya dengan lebih cepat, melancarkan serangan maut kearah seluruh bagian tubuh Tek Po Tosu yang lemah.

Tosu itu terkejut dan segera menjauhkan diri, dan kesempatan ini dipergunakan oleh Beng Han untuk melakukan gerakan dan lompatan kilat.

Ia melompat kearah Bun Hong dan dari samping mengirim serangan kilat kepada Bong Kak Liong yang bersenjata golok.

Bong Kak Liong terkejut sekali, karena pada saat itu, ia sedang mengangkat goloknya untuk membacok kepala Bun Hong dengan gerak tipu Harimau Kuning Menerkam Kambing.

Melihat berkelebatnya pedang Beng Han yang menyerangnya dengan tiba-tiba, ia segera menarik kembali goloknya dan membabat kearah pedang yang menusuk dadanya itu, akan tetapi Bun Hong yang melihat kesempatan baik lalu mengerjakan kakinya dan "buk!!"

Lambung kiri Bong Kak Liong berkenalan dengan ujung kaki Bun Hong yang keras!

Bong Kak Liong menjerit ngeri dan roboh sambil muntah-darah.

Ternyata tendangan yang diisi tenaga lweekang itu telah melukai jantungnya dan perwira itu meninggal dunia tak lama kemudian, Bukan main marahnya Tek Po Tosu melihat ini.

Ia mengeluarkan saputangannya dan mengebut beberapa kali hingga belasan jarum melayang kearah Beng Han dan Bun Hong.

Beng Han yang pernah merasai kelihaian jarum-jarum itu, segera berseru.

"Awas, sute, jarum-jarum beracun!"

Bun Hong yang merasa girang karena berhasil menjatuhkan Bong Kak Liong, segera menjatuhkan diri dan bergulingan hingga terluput dari sambaran jarum, Sedangkan Beng Han yang sudah siap-sedia, lalu memutar pedangnya hingga semua jarum dapat diruntunkan.

Bun Hong menjadi marah sekali, dengan berseru keras ia lalu menerkam dan menyerang Tek Po Tosu hingga pendeta itu tidak sempat mempergunakan saputangannya yang lihai, dan terpaksa menyambut serangan Bun Hong dengan siangkiamnya.

Kini Beng Han yang menghadapi Bong Kak Im, musuh lamanya.

Perwira she Bong ini yang melihat betapa adiknya telah tewas, menjadi marah sekali dan juga gentar, hingga permainan kapaknya menjadi kacau dan agak lambat.

Kesempatan ini tidak di-siakan oleh Beng Han dan karena ia maklum bahwa kepandaian perwira itu belum begitu kuat, maka ia lalu mengeluarkan serangan yang paling hebat dari Swi-hoa Kiam-hoat hingga sebentar saja Bong Kak Im terdesak hebat sekali.

Ketika Beng Han mengeluarkan serangan dengan gerak tipu Hui-Pau Liu-Kwan atau Air terjun Bertebaran, Bong Kak Im tak dapat mempertahankan diri lebih lama lagi.

Pedang Beng Han menyambar dan ia memekik ngeri karena sebelah tangannya telah terbabat putus dan kapaknya melayang jauh keatas.

Sebuah tusukan pedang Beng Han menamatkan riwayatnya dan tubuhnya roboh bergelimpangan didekat mayat adiknya!

Tek Po Tosu terkejut sekali hingga gerakan siangkiamnya menjadi kacau, akan tetapi oleh karena ilmu kepandaiannya memang tinggi, ketika Bun Hong mendesak, ia masih sempat menyelamatkan diri dan melompat kebelakang dengan gerakan Lo-Wan Teng-Ki atau Monjet Tua Lompati Cabang.

Bun Hong hendak mengejar, akan tetapi Beng Han segera memberi peringatan.

"Jangan, sute awas jarumnya!"

Benar saja, ketika melihat Bun Hong mengejar, tosu itu telah bersiap dengan saputangannya dan kini ia menjebar belasan jarum kearah Bun Hong.

Baiknya Beng Han telah memberi peringatan hingga Bun Hong cepat memutar-mutar pedangnya, akan tetapi hampir saja sebatang jarum menghantam kakinya kalau tidak Beng Han dengan cepat melempar pedang ditangannya menangkis jarum itu hingga pedangnya.

menancap diatas tanah depan kaki Bun Hong!

Bun Hong mengeluarkan keringat dingin dan berkata.

"Lihai sekali jarum-jarum kakek itu!"

Sementara itu, Tek Po Tosu telah lari jauh meninggalkan mereka dan mayat kedua orang kawannya. Beng Han lalu maju dan memeluk tubuh Bun Hong.

"Sute, kau hebat sekali!"

Ketika merasa betapa tubuhnya dipeluk oleh suhengnya yang telah lama dirindukannya itu, mengalirkan airmata dari kedua mata Bun Hong.

Ia balas memeluk dan keduanya lalu berangkul-rangkulan sambil mencucurkan airmata.

"Suheng maafkanlah aku..."

"Sute, bicara tentang patah-hati, akulah yang sebenarnya lebih menderita daripadamu. Aku telah ditolaknya, akan tetapi, aku tetap mencinta dan ingin melihat dia hidup bahagia, biarpun aku sendiri menderita..."

"Suheng, kau memang berhati mulia, tidak seperti aku..."

Tiba-tiba Bun Hong berseru.

"Celaka...!,"

Dan ia memandang kepada Beng Han dengan wajah pucat dan mata terbelalak "...Ada apakah, sute?,"

Tanya Beng Han dengan heran.

"...Celaka, tosu itu tentu membuka rahasiaku dan celakalah keluargaku...!"

"Apa maksudmu?,"

Tanya Beng Han. Bun Hong memegang tangan suhengnya, ditariknya cepat sambil berkata.

"Mari kita cepat mengejar tosu itu dan kembali ke kotaraja! Urusan ini hebat sekali, suheng, biarlah kuceritakan sambil berlari pulang!"

Beng Han tak banyak membantah dan mereka berdua lalu berlari cepat menuju ke kotaraja.

Disepanjang jalan, Bun Hong lalu menuturkan pengalamannya, betapa ia melukai Thio-Thaikam dalam usahanya membalas sakit hati para petani dan betapa ia gagal lalu bersembunyi didalam gedung Pangeran Song hingga untuk menjaga keluarga pangeran itu dari kehancuran, terpaksa ia menikah dengan Kim Bwee, puteri sulung pangeran itu.

Semua ini diceritakannya dengan jelas sambil berlari hingga Ben Han juga merasa sedih mendengar riwayat adik seperguruannya yang amat dikasihinya itu.

"Betapapun juga, Bun Hong. Sebagai seorang laki-laki yang menjunjung tinggi kegagahan dan keadilan, kau harus berlaku sebagai seorang suami yang baik. Kau sudah mempunyai putera, maka sudah selayaknya kalau kau membuang pikiran sesat dan memikirkan jalan untuk membahagiakan rumah-tanggamu!"

Bun Hong merasa terharu dan insyaflah ia akan kesesatannya.

Ia telah menikah, telah mempunyai putera, sedangkan Kim Bwee begitu baik, begitu mencintainya, juga mertuanya adalah seorang yang bijaksana.

Ah, ia telah berdosa, berdosa terhadap isterinya, terhadap mertuanya, juga terhadap Kui Eng!

"Aku harus membela mereka, suheng.

Membela dengan nyawaku!

Celakalah kalau sampai Thio-Thaikam melaporkan halku kepada Kaisar.

Bagiku tidak ada artinya menjadi buruan Kaisar, akan tetapi keluarga mertuaku..."

"Ayoh kita percepat lari kita, sute. Kita harus bela mereka! Jangan kau kuatir, aku suhengmu akan mempertaruhkan nyawa untuk membela kau dan anak-isterimu!"

Bun Hong menahan isaknya mendengar ucapan ini dan mereka berdua lalu mengerahkan seluruh kepandaian ilmu berlari cepat hingga sebentar saja mereka telah tiba di kotaraja dan langsung menuju kegedung Pangeran Song.

Pangeran Song Hai Ling menyambut kedatangan putera menantunya dengan heran sekali dan juga cemas melihat betapa putera menantunya itu pucat dan nampak kuatir.

Bun Hong ketika berhadapan dengan mertuanya, lalu menjatuhkan diri berlutut.

"Gakhu (ayah mertua), celaka, gakhu. Kita harus cepat lari dari sini."

"Eh, kau kenapakah, Hiansai?,"

Tanya Pangeran Song sambil mengangkat bangun menantunya.

"...Aku telah bertempur dan bahkan telah membinasakan kedua perwira Bong, sedangkan Tek Po Tosu telah dapat melarikan diri. Mereka telah mengetahui rahasiaku. Celaka, keluarga kita terancam bahaya! Kita harus lekas pergi!"

Pucatlah wajah Pangeran Song mendengar ini akan tetapi dengan suara tenang yang membuat Beng Han merasa kagum sekali, ia berkata.

"Tenanglah, anakku dan ceritakan semua dengan jelas. Dan Kongcu ini siapakah?,"

Ia menunjuk kepada Beng Han yang segera menjura memberi hormat.

Bun Hong dengan cepat lalu memperkenalkan Beng Han sebagai suhengnya, kemudian ia menceritakan betapa ketika ia dan Beng Han sedang bercakap-cakap, ketiga orang panglima Thio-Thaikam itu telah mendengar percakapan mereka dan mengetahui rahasianya lalu menyerang, dan betapa dalam pertempuran itu, ia dan suhengnya telah berhasil membunuh mati kedua perwira Bong hingga Tek Po Tosu melarikan diri.

"...Pendeta keparat itu tentu akan melaporkan hal itu kepada Thio-Thaikam dan celakalah kita kalau terlambat. Aku tidak kuatir menghadapi mereka, akan tetapi, gakhu, isteriku, dan anakku..."

Tiba-Tiba Pangeran Song yang berwajah pucat karena ia benar-benar terkejut mendengar peristiwa itu menggelengkan kepala sambil tersenyum.

"Hiansai, betapapun juga, aku merasa bangga bahwa kau dan suhengmu telah dapat membunuh dua orang perwira keparat yang telah banyak menghinaku itu. Akan tetapi, menyuruh aku melarikan diri sama dengan menyuruh matahari bergerak dari barat ketimur! Kau bawalah anak-isterimu lari dari sini, akan tetapi aku tidak dapat meninggalkan gedungku."

Bukan main terkejutnya hati Bun Hong mendengar bahwa mertuanya tidak mau lari.

"Akan tetapi, gakhu, kalau mereka datang, kau pasti akan ditangkap dan dijatuhi hukuman beserta seluruh keluarga! Marilah kita lari sebelum terlambat,"

Katanya dengan cemas.

"Bun Hong, kau tidak ingat aku ini siapakah? Aku adalah seorang pangeran keluarga Kaisar, bahkan Kaisar Hian Cong dulu adalah saudara misanku! Tak mungkin aku melarikan diri dan memberontak terhadap Raja! Biar aku dijatuhi hukuman yang bagaimana beratpun, aku tak sudi memberontak!"

Sementara itu, mendengar ribut, keluarga pangeran Song itu pada memburu keluar, termasuk Kim Bwee yang menggendong puteranya dan Kim Hwa.

Setelah mereka mendengar akan peristiwa yang terjadi, mereka menangis dengan sedih.

Kim Hwa memeluki kaki ayahnya sainbil menangis sedangkan Kim Bwee memandang kepada suaminya dengan wajah penuh airmata membasahi kedua pipinya.

Bahkan anaknya yang baru berusia sebulan itupun menangis keras.

Melihat semua ini, Beng Han merasa terharu sekali dan Bun Hong lalu memeluk isterinya dan berkata.

"Kim Bwee, aku adalah suami yang buruk dan jahat Aku mendatangkan malapetaka yang menimpa keluargamu ini. Kim Bwee, sekarang terserah kepadamu, kalau kau suka, marilah kita lari bersama putera kita."

Dengan menahan isaknya, Kim Bwee berkata.

"Kita lari dan meninggalkan ayah beserta semua keluarga menjalani hukuman? Tidak, tidak! Kalau memang sudah seharusnya semua keluarga binasa, biarlah aku ikut serta pula!"

Nyonya yang cantik ini lalu menangis sambil peluki tubuh puteranya.

"Akan tetapi anak kita...,"

Kata Bun Hong dengan suara hampir tidak terdengar karena dadanya sesak. Kim Bwee lalu memberikan puteranya kepada Bun Hong dan berkata sambil menangis.

"Suamiku, kau larilah dan bawalah anak kita ini, biarkan aku membuktikan baktiku kepada ayah sekeluarga..."

Bun Hong menerima puteranya dan berdiri bagaikan patung. Ia memandang wajah anaknya yang hampir serupa dengan isterinya itu, dan pada saat itu tiba-tiba dari luar terdengar suara ramai.

"Celaka, mereka telah datang menyerbu kesini!'' kata Beng Han yang melihat berkelebatnya golok dan tombak serta gemerlapnya pakaian para perwira kerajaan.

"Kalau begitu, aku akan mendahului mereka dan membunuh anjing she Thio itu!,"

Teriak Bun Hong dan cepat ia memberikan puteranya kepada Beng Han yang sebelum tahu harus berbuat apa, putera sutenya itu telah berada dalam pondongannya.

Bun Hong mencabut pedang dan berlari keluar.

Beberapa orang perwira yang melihatnya lalu berseru menahannya, akan tetapi beberapa kali menggerakkan pedangnya saja, beberapa orang perajurit dan perwira telah roboh terguling mandi darah dan Bun Hong cepat melompat dan berlari menuju keistana Thio-Thaikam!

Sementara itu, isteri Bun Hong yang tahu bahwa Beng Han adalah suheng dari suaminya karena dulu suaminya seringkali menyebut-nyebut nama pemuda ini, lalu berlutut didepan Beng Han sambil berkata.

"Twako, tolonglah jiwa anakku, selamatkanlah dia... tolonglah... dari alam baka aku akan menghaturkan terimakasih atas budi pertolonganmu ini..."

Pada saat Beng Han masih berdiri tertegun, rombongan perwira dan perajurit itu menyerbu masuk dan membentak keras.

"...Pangeran Song Hai Ling! Atas nama Kaisar, kami datang menangkap kau sekeluarga!"

Song Hai Ling melangkah maju dengan wajah angkuh dan langkah tegak.

"Mana Leng-ki?,"

Tanyanya. Leng-ki adalah semacam bendera yang selalu dibawa oleh orang yang menjadi utusan Kaisar. Seorang perwira tua dengan senyum mengejek memperlihatkan surat perintahnya dan berkata.

"Pangeran pemberontak! Kau masih hendak memperlihatkan kekuasaan dan berlagak? Jangan kau melawan kalau kau sayangi dirimu sendiri dan keluargamu!"

Sementara itu, melihat datangnya para perwira yang hendak menangkap keluarga Song, Beng Han lalu melompat sambil memondong putera Bun Hong yang masih kecil.

"He, kau hendak lari kemana? Semua penghuni rumah ini tidak boleh pergi meninggalkan tempat ini!,"

Seorang perwira lain yang segera mengejar.

"Aku seorang tamu dan bukan penghuni rumah ini!"

Jawab Beng Han yang berlari terus.

"...Tahan, tunggu!,"

Teriak perwira itu dan ketika melihat Beng Han tidak menurut perintahnya, ia berseru.

"Tangkap orang itu!"

Beng Han maklum bahwa ia harus membuka jalan dengan pertempuran, maka sambil pondong anak itu dengan tangan kiri, ia mencabut pedangnya dan memutar pedang dengan cepat kearah para pengejarnya.

Melihat gerakan pedang itu, para perajurit mundur kembali dan Beng Han lalu melompat naik keatas genteng.

"Kejar! Tangkap!,"

Teriak perwira yang memimpin penyerbuan itu, dan ia sendiri diikuti oleh beberapa orang perwira lalu melompat pula keatas genteng melakukan pengejaran.

Beng Han yang tahu bahwa untuk bertempur sambil memondong anak itu adalah kurang leluasa dan berbahaya baginya, maka ia tidak mau melayani mereka, bahkan berlari makin cepat.

Tidak jauh dari situ ia melihat betapa Bun Hong sedang dikepung oleh beberapa orang perwira kerajaan dan sutenya itu sedang mengamuk hebat.

Ia lalu melompat mendekati dan berseru.

"Sute, mari kita lari, jangan layani mereka!"

Melihat Beng Han muncul sambil memondong anaknya, Bun Hong lalu menjawab sambil merobohkan seorang pengeroyok dengan pedangnya.

"Suheng, larilah kau, biarkan aku membasmi anjing rendah ini!"

"Sute, kita selamatkan dulu puteramu, nanti kita berdua membasmi mereka. Jangan kuatir, aku akan membantumu. Ajohlah!"

Bun Hong yang sedang merasa marah dan bingung itu, kini taat akan perintah suhengnya, maka setelah memutar pedangnya dengan hebat, ia lalu melompat dan berlari cepat bersama suhengnya, dikejar oleh beberapa orang perwira yang berkepandaian tinggi.

Akan tetapi, kedua orang muda yang gagah itu berlari cepat sekali hingga sebentar saja mereka telah meninggalkan pengejar-pengejar mereka dan lari keluar dari kotaraja, memasuki hutan!

Setelah tiba ditengah hutan, anak dipondongan Beng Han itu menangis keras, agaknya merasa kaget dan ingin minum air-susu bundanya.

Beng Han dengan canggung mengayun-ayun anak itu dipelukannya, dan Bun Hong lalu memintanya dan pondong puteranya dengan hati penuh kesedihan.

Anak itu diayun ayahnya lalu berhenti menangis, bahkan lalu meramkan mata, tidur.

Bun Hong tak dapat menahan keharuan hatinya lagi, dipeluknya anaknya dan menangis keras, hingga Beng Han lalu minta anak itu karena kuatir anak itu akan menjadi kaget.

"Suheng...,"

Bun Hong meratap.

"aku adalah seorang berdosa besar... aku sia-siakan cinta isteriku, aku bahkan mencelakakan seluruh keluarganya... ah, suheng... memang benar ucapanmu dulu itu, aku... aku telah gila..."

Kemudian ia mengepal tinju dengan muka beringas.

"Semua ini gara anjing kebiri she Thio itu! Aku harus membunuhnya!"

"Tenanglah, sute,"

Jawab Beng Han menahan keharuan hatinya.

"kita sedang menghadapi peristiwa hebat dan besar, maka kita harus mempergunakan ketenangan, Jangan berlaku sembrono menurutkan nafsu hati. Sekarang keluarga Pangeran Song telah ditawan semua, dan tindakan pertama yang kita harus lakukan ialah menolong dan melepaskan isterimu dari tawanan."

"Akan tetapi... dia tidak mau, suheng...,"

Kata Bun Hong dengan suara sedih.

"Kita harus paksa dia keluar dari penyara dan membebaskan dia demi kepentingan anak ini! Pangeran Song boleh mempunyai pendirian lain karena ia memang seorang bangsawan keluarga Raja yang memegang teguh keharuman namanya, akan tetapi Kim Bwee adalah isterimu dan ibu anakmu! Ia harus tunduk dan menurut keputusanmu."

Bun Hong menundukkan kepalanya.

"Terserah kepadamu, suheng. Aku bingung sekali..."

"Sebelum pergi membebaskan isterimu, ada hal yang lebih penting lagi, yakni anakmu ini. Kita harus mencari seorang wanita yang boleh dipercaya untuk memeliharanya sewaktu kita pergi."

Bun Hong memandang kearah puteranya dalam pondongan Beng Han dan ia teringat akan sesuatu.

"Didusun sebelah timur kota tinggal seorang janda dengan anak perempuannya yang masih gadis. Aku pernah menolong mereka ketika anak perempuan itu hendak dilarikan oleh seorang penjahat. Kita titipkan Sian Lun kepada mereka, tentu mereka suka menolongku."

Beng Han merasa girang mendengar ini, maka keduanya lalu langsung menuju kedusun itu, Janda tua dan anak gadisnya yang berhutang budi kepada Bun Hong itu menerima permintaan tolong mereka dengan girang dan Bun Hong memesan mereka dengan keras agar supaja mereka tidak menceritakan kepada orang lain siapa sebenarnya anak itu.

"Kalau ada yang bertanya, katakan saja bahwa ini adalah anak seorang keluargamu didusun lain yang dititipkan disini."

Kata Beng Han. Kedua orang muda itu mendapat sambutan baik sekali dan mereka bermalam dirumah janda itu.

"Kita harus berlaku hati-hati, sute. Karena mereka tahu bahwa kita tentu akan kembali, maka tentu kotaraja terjaga keras sekali. Kita tidak boleh sembrono dan sebelum bertindak, harus kita selidiki dulu dengan baik dimana keluargamu ditahan agar serbuan kita tidak akan sia-sia."

Bun Hong yang berduka dan bingung serta gelisah sekali itu tidak kuasa menggunakan pikirannya, maka ia menyerahkan segala keputusan dan pimpinan kepada suhengnya, Janda tua itu membantu mereka dan masuk ke kotaraja untuk menyelidiki dimana adanya keluarga Pangeran Song ditahan.

Dua hari kemudian, barulah janda tua itu kembali dan mengabarkan dengan muka kuatir bahwa keluarga Song itu ditahan ditempat tahanan besar yang khusus dibangun untuk menahan penjahat besar dan pemberontak sebelum mereka dijatuhi hukuman mati!

Dan menurut kabar, tempat itu terjaga keras sekali.

Mendengar ini, sambil mengerutkan kening, Bun Hong berkata.

"Mari kita serbu mereka ketempat itu, suheng."

"Tentu, sute. Akan tetapi, tidak pada siang hari. Biarlah malam nanti kita bekerja. Mudah-mudahan Thian yang Maha Kuasa memberi berkah sehingga kita berhasil menolong isterimu."

Bun Hong memegang tangan Beng Han.

"Suheng, dengan adanya kau disampingku, tenagaku dan keberanianku menjadi berlipat ganda. Dengan kau, aku akan sanggup melakukan apa saja. Kita pasti berhasil."

"Mudah-mudahan, sute, dan aku berjanji akan mengurbankan nyawaku demi kepentingan dan kebahagiaanmu."

Bun Hong memeluk suhengnya dengan terharu dan berbisik.

"Kau mulia sekali, suheng... ampunkan kesalahanku yang sudah-sudah..."

Beng Han menepuk-nepuk pundak sutenya dan setelah berkemas, mereka lalu berangkat menuju ke kotaraja.

Untuk keperluan ini, keduanya mengenakan pakaian hitam dan membawa pedang mereka.

Bahkan mereka mencari beberapa potong batu karang kecil yang tajam dan keras yang mereka masukkan dalam sebuah kantong dan digantung dipinggang, untuk digunakan sebagai senjata rahasia!

Demikianlah, pada malam hari yang gelap gulita itu, pada waktu angin malam menghembus keras membangunkan bulu-roma karena dinginnya, dua bayangan hitam berkelebat cepat bagaikan hantu malam, menuju ke kotaraja!

Kita mengikuti perjalanan Kui Eng yang dengan hati marah dan perasaan amat malu menbalapkan kudanya, disusul oleh Min Tek yang merasa amat menyesal karena dia merasa telah menjadi gara-gara dan biang-keladi terjadi percekcokan antara ketiga orang bersaudara itu.

"Kui-Siocia...,"

Serunya memanggil dan menendang, kudanya agar dapat menyusul kuda Kui Eng.

"Kui-Siocia, alangkah menyesal dan kecewa hatiku bahwa aku telah mendatangkan perkara yang tidak enak itu."

"Sudahlah, Ang-Kongcu. Kau tidak bersalah apa-apa dan jangan kau ulangi atau membicarakan peristiwa yang hanya membuat aku merasa malu itu."

"Kui-Siocia! Aku telah berdosa besar hingga karena aku, kau telah bermusuhan dengan suhengmu sendiri! Aku.. aku... sudahlah kau lebih baik tinggalkan saja aku, Siocia. Biar aku pulang seorang diri, daripada terjadi keributan itu."

Tiba-tiba Kui Eng menahan kudanya.

"Apa? Kau tidak suka melakukan perjalanan dengan aku?"

Ang Min Tek terkejut.

"Bukan, bukan demikian, Siocia. Aku merasa suka sekali dan berterimakasih bahwa kau sudi melakukan perjalanan bersama aku yang rendah ini, sudi melindungi aku dari segala bahaya diperjalanan. Akan tetapi, kalau hal ini hanya menimbulkan pertikaian antara kau dan suhengmu, ah... aku merasa tidak enak sekali, Siocia."

"Ang-Kongcu, harap kau jangan sebut lagi hal itu. Seorang gagah tak pernah merobah keputusan yang telah diambilnya. Aku telah mengambil keputusan untuk mengantarmu sampai dikotamu dan apapun juga takkan dapat merobah keputusanku, kecuali... kecuali kalau kau menyatakan tidak suka melakukan perjalanan denganku."

Melihat kekerasan hati gadis itu, Min Tek menarik napas panjang.

Ia tidak mengerti akan sikap orang kang-ouw, dan tentu saja ia tidak berani mengatakan bahwa ia tidak suka melakukan perjalanan dengan pendekar wanita yang selain gagah perkasa, juga cantik jelita ini.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan cepat dan tak banyak berkata-kata.

Dan oleh karena kini mereka melakukan perjalanan dengan naik kuda yang dibalapkan cepat, maka pada malam harinya sampailah mereka di Kiciu, tempat tinggal Ang Min Tek.

Kedatangan mereka disambut dengan girang sekali oleh ibu Min Tek, seorang janda yang kaya.

Ketika mendengar bahwa puteranya telah lulus ujian, ibu yang girang ini memeluk putera tunggalnya dan berkata.

"Anakku, alangkah besar dan girang rasa hatiku mendengar bahwa kau telah menjadi siucai. Hanya dua hal yang menjadi mimpi setiap malam bagiku, pertama melihat kau lulus ujian, dan kedua melihat kau melangsungkan perkawinanmu dengan Bu-Siocia! Mereka tentu akan girang sekali mendengar bahwa kau telah lulus. Min Tek, besok pagi kita pergi kerumah keluarga Bu dan menetapkan hari pernikahanmu dengan tunanganmu."

"Sst ibu, hal ini mudah dibicarakan nanti. Sekarang perkenalkanlah dulu dengan seorang pendekar wanita yang telah menolong nyawaku dan yang telah melindungiku selama dalam perjalanan. Kalau tidak ada dia, mungkin kita takkan dapat saling bertemu lagi."

Terkejutlah nyonya itu mendengar ucapan ini.

"Siapa, nak?! "Inilah dia... Kui-Siocia...,"

Kata Min Tek sambil menengok kebelakang, akan tetapi alangkah heran dan terkejutnya ketika melihat bahwa dibelakangnya tidak ada siapa-siapa, dan Kui Eng yang tadi ikut masuk dibelakangnya telah pergi tak meninggalkan bekas!

Sebetulnya Kui Eng tadi juga masuk kerumah itu dan merasa terharu menyaksikan pertemuan antara itu dan anak itu, Akan tetapi ketika ia mendengar ucapan nyonya Ang terhadap anaknya, tiba-tiba ia menjadi pucat sekali dan tanpa pamit lagi ia melompat keluar dan berlari pergi dari situ!

Ia tidak perdulikan kudanya lagi dan berlari terus dimalam gelap.

Setelah tiba ditempat sunyi, ia berhenti dan terdengarlah isak-tangisnya.

Ia menjatuhkan diri dibawah sebatang pohon dan menangis dengan sedihnya.

Min Tek hendak menikah?

Sudah bertunangan dengan Bu-Siocia?

Ah, nasib!

Mengapa pemuda itu tak pernah membicarakan hal ini dan mengapa ia tidak pernah memikirkan bahwa seorang pemuda seperti Min Tek itu belum tentu masih, bebas?

Celaka dan ia sudah membela pemuda itu hingga ia bermusuhan dengan Bun Hong!

Dan pemuda itu sudah mendengar tuduhan Bun Hong bahwa ia mencintainya.

Alangkah malunya, dan alangkah rendahnya ia dalam pandangan Min Tek.

Ia telah mencintai seorang pemuda yang telah ditunangkan dengan gadis lain dan yang pada besok hari akan ditetapkan hari kawinnya!

tiba-tiba timbul kekerasan hatinya.

Ah, ia seorang gadis gagah yang memiliki kepandaian!

Kalahkah ia oleh tunangan Min Tek?

Ia harus melihat dulu siapakah sebetulnya tunangan pemuda itu, Sampai dimana kecantikannya dan sampai dimana kepandaiannya.

Ia penasaran, dan harus menyaksikan dengan mata sendiri.

Dan apakah Min Tek mencintai tunangannya itu?

Ia harus yakin akan hal ini!

Demikianlah, dengan hati sengsara dan pikiran tidak keruan, Kui Eng duduk dibawah pohon itu semalam-suntuk, memikirkan nasibnya.

Ketika teringat akan ibunya, teringat akan pinangan Beng Han yang mencintainya, dan teringat akan pertempurannya melawan Bun Hong yang dulu menjadi suheng yang amat dikasihaninya itu, ia menangis lagi dengan hati hancur.

Pada keesokan harinya, ketika Min Tek yang merasa heran karena kepergian Kui Eng tanpa pamit itu, pergi bersama ibunya mengunjungi rumah tunangannya, dengan sembunyi-sembunyi Kui Eng mengintai.

Dengan kepandaiannya, mudah saja ia melakukan pengintaian tanpa diketahui oleh mereka.

Ia melihat betapa Min Tek dan ibunya disambut oleh sepasang suami-isteri dan mereka lalu masuk kedalam rumah.

Kui Eng lalu mengambil jalan memutar dari belakang rumah dan segera melompat keatas genteng.

Ia membuka genteng dan mengintai kedalam.

Ia melihat Min Tek dan ibunya diantar keruang dalam dan dari dalam kamar keluarlah seorang gadis yang masih amat muda dan cantik Min Tek menjura dan pandang mata pemuda itu membuat hati Ku tertusuk dan perih karena tak salah lagi, pandang mata ini adalah pandangan penuh cinta-kasih dan mesra.

Bahkan pemuda itu lalu mengeluarkan sebuah bungkusan dan berkata kepada gadis itu.

"Lan-moi, aku membawa sutera halus dan merah kesukaanmu."

Gadis itu memandang dengan girang dan menyambut bungkusan itu sambil menjawab.

"Terimakasih, koko."

Kui Eng memperhatikan wajah gadis itu dan tertegunlah dia hingga ia terduduk diatas genteng dengan bengong.

Memandang muka gadis itu, ia seakan-akan melihat mukanya sendiri!

Ia menjadi penasaran dan mengintai lagi melalui lubang itu, Gadis itu duduk didekat ibunya dan ketika memperhatikan wajah nyonya yang menjadi ibu gadis itu, kembali dada Kui Eng berdebar.

Dimanakah ia pernah melihat nyonya tua ini?

ayah gadis itu bertubuh pendek gemuk dan wajahnya riang, akan tetapi ia merasa asing dan tak pernah melihat wajah itu, akan tetapi nyonya itu mempunyai wajah yang telah dikenalnya baik, hanya ia telah lupa dimana ia pernah bertemu dengannya.

Sedangkan gadis muda yang menjadi tunangan Min Tek itu, mengapa demikian mirip dengan dia sendiri?

Ia teringat bahwa dulu pernah Min Tek berkata bahwa ia mengingatkan pemuda itu akan seorang yang menjadi kenangannya, maka tahulah ia kini siapa yang dimaksudkan oleh pemuda itu!

Hatinya makin panas mengingat ini, sungguhpun ia merasa malu kepada diri sendiri mengapa ia merasa panas dan cemburu!

Setelah Min Tek dan ibunya puiang, Kui Eng masih saja duduk diatas genteng, bersembunyi dibelakang wuwungan yang tinggi, tidak memperdulikan matahari yang membakar kepala dan punggungnya.

Tiba-tiba ia melihat gadis itu menuju ketaman bunga dibelakang rumah itu sambil membawa bungkusan pemberian Min Tek Kui Eng lalu melompat turun dan mengintai dari balik pohon.

Ia melihat gadis itu membuka bungkusan dengan tangan gementar dan setelah bungkusan terbuka, maka didalamnya terdapat segulung sutera merah yang indah dan halus.

Dengan girang gadis itu mendekap gulungan sutera didadanya sambil tersenyum dan matanya memandang keatas dengan mesra, lalu dibukanya gulungan itu dan sutera merah itu ditempelkan pada tubuhnya sambil melihatnya.

Dengan hati panas Kui Eng lalu mengambil sepotong batu dan mengajun tangannya.

"Brett!"

Batu itu menembus sutera yang masih dipegang oleh gadis tadi hingga menjadi robek dan berlubang.

Gadis itu terkejut sekali dan melihat kain suteranya dengan heran, menyesal dan kecewa.

Hampir ia menangis dan memandang ke kanan-kiri karena tidak tahu mengapa kain itu tiba-tiba bisa berlubang.

Ketika ia berpaling kebelakang, tiba-tiba ia melihat Kui Eng berdiri sambil tolak pinggang dan tersenyum mengejek.

"Demikianlah! Tanpa kau sadari kaupun mengoyak hatiku, seperti kain suteramu itu!,"

Kata Kui Eng hingga gadis itu menjadi terheran sekali, terutama ketika ia melihat bahwa gadis baju hijau itu mempunyai wajah yang mirip sekali dengan wajahnya sendiri.

Kalau hal ini terjadi diwaktu malam, tentu gadis itu akan berteriak ketakutan dan menyangka melihat setan, akan tetapi oleh karena hari itu masih siang dan terang sekali, maka ia lalu melangkah maju dengan mata terbelalak lebar.

"Cici... kau... kau siapakah...? Bagaimana kau bisa masuk kesini dan... dan apakah arti kata mu tadi...?"

Gadis itu memandang kembali kepada kain suteranya yang berlubang.

"Dengarlah, namaku Kui Eng dan kau boleh katakan kepada tunanganmu itu bahwa aku takkan dapat mengampuni diriku sendiri karena ketololanku!"

Sambil berkata demikian. Kui Eng membalikkan tubuh dan hendak pergi dari tempat itu. Akan tetapi, tiba-tiba gadis itu menjerit dan berseru.

"Enci Kui Eng... benarkah...? Kaukah ini...?"

Kui Eng memandang heran ketika ia membalikkan tubuhnya dan ternyata bahwa gadis itu menjadi pucat sekali, kemudian gadis itu berseru keras.

"Ibu... ibu... enci Kui Eng telah datang...!"

Karena teriakannya nyaring sekali, maka terdengar dari dalam rumah dan tak lama kemudian, keluarlah nyonya yang menjadi ibu gadis itu bersama suaminya yang gemuk.

Kui Eng masih berdiri terheran-heran dan kembali dadanya berdebar keras melihat nyonya yang wajahnya amat dikenalnya itu.

Sementara itu, ketika nyonya itu melihat Kui Eng.

ia berhenti berlari dan berdiri bagaikan patung, menatap wajah Kui Eng dengan mata dipentang lebar.

"Betul... tak mungkin salah lagi... Kui Eng... Eng-ji, kau betul-betul Eng-ji, anakku..."

Bibir nyonya tua itu bergerak-gerak mengeluarkan bisikan ini, akan tetapi cukup keras terdengar oleh Kui Eng yang menjadi pucat sekali.

Ia merasa betapa kepalanya seakan-akan disiram air dingin yang menyadarkan ingatannya bahwa nyonya ini bukan lain ialah ibunya sendiri yang telah lama dicar-carinya!

"Ibu...?,"

Bisiknya ragu-ragu, seakan-akan tak percaya kepada ingatan ini, Nyonya itu lari maju sambil membuka kedua lengan tangannya.

"Eng-ji... Eng-ji, anakku..."

"Ibu...!"

Kini Kui Eng tidak ragu-ragu lagi dan ia menjerit sambil menubruk ibunya, memeluk kaki ibunya sambil menangis!

Ibunya yang kini telah menjadi nyonya Bu Pok Seng itu lalu berlutut pula dan ibu ini memeluk dan menciumi anaknya diantara tawa dan tangis.

"Eng-ji... Eng-ji... tak kusangka kita akan dapat bertemu lagi..."

"Ibu, siapakah adik ini...?,"

Tanya Kui Eng sambil menunjuk kearah gadis yang serupa, benar wajahnya dengan dia sendiri itu.

Ibunya menariknya bangun dan menggandeng tangannya menghampiri gadis yang kini telah berdiri didekat ayahnya sambil mendekap kain sutera merah yang tadi disambit Kui Eng.

"Eng-ji, ini adalah ayah tirimu dan gadis ini adalah Swi Lan, adik tirimu sendiri..."

Kui Eng memandang kepada Swi Lan dengan melongo, kemudian sambil terisak ia memeluk ibunya.

"Ibu... aku berdosa padamu, aku... aku anakmu yang jahat"

Swi Lan yang kini tidak merasa ragu-ragu lagi bahwa gadis inilah cicinya yang sering disebut oleh ibunya, lalu lari menghampiri dan memeluk Kui Eng.

"Enci Eng... aku girang sekali dapat bertemu denganmu. Ketahuilah, sudah sering aku bertemu dengan kau, ciciku yang manis!"

Kui Eng memandang heran dan melihat betapa wajah adik tirinya yang manis itu tersenyum, akan tetapi dari kedua matanya mengalir airmata.

"Apa... apa maksudmu...?,"

Tanyanya gagap.

"Betul, aku seringkali bertemu dengan kau dalam... mimpi!"

Tertusuk rasa hati Kui Eng dan ia merangkul Swi Lan dengan terharu.

"Adikku... kau maafkanlah aku kalau aku tadi berlaku kurang patut padamu."

Ibu kedua gadis itu bertanya heran.

"Apakah tadi kalian sudah bertemu dan berkenalan?"

Swi Lan memandang kepada ibunya dan Kui Eng merasa kuatir kalau adik tirinya itu akan memberitahukan tentang perbuatannya merusak kain sutera adiknya itu. Akan tetapi Swi Lan hanya berkata.

"Tadi cici Eng tiba-tiba muncul hingga aku menjadi terkejut sekali. Akan tetapi, melihat wajahnya, aku dapat menduga bahwa dia tentu ciciku yang baik..."

Bukan main malunya hati Kui Eng mengenangkan semua peristiwa yang terjadi, Ia telah jatuh hati kepada tunangan adiknya sendiri.

Ini masih tidak mengapa karena ia tidak tahu bahwa Min Tek adalah pemuda yang sudah bertunangan dan bahwa tunangannya itu adalah adiknya sendiri.

yang paling hebat ialah perbuatannya yang menyakiti hati tadi, yang melukai perasaan adiknya dengan merusak kain sutera pemberian Min Tek, bahkan tadinya ia mempunyai niat untuk melukai atau membunuh gadis yang merebut pemuda pujaan hatinya itu!

Ketika diperkenalkan kepada ayah tirinya, Kui Eng memberi hormat dengan perasaan kecewa.

Entah bagaimana, ia tidak suka kepada ayah tirinya itu, sungguhpun ia merasa suka sekali kepada Swi Lan yang manis dan peramah.

Ia merasa kecewa sekali melihat ibunya telah kawin lagi, bahkan hatinya terasa sakit.

Tadinya ia mengharapkan untuk bertemu dengan ibunya dan hidup berdua dengan penuh kebahagiaan, akan tetapi kini, setelah ibunya mempunyai rumah-tangga dan keluarga baru, ia merasa diri sendiri sebagai pendatang asing yang hanya mengganggu dan mengacaukan kebahagiaan rumah-tangga ibunya!

Ia merasa dirinya sebagai orang yang tak berhak tinggal disitu, yang merusak dan menghalangi ketenteraman dan kebahagiaan rumah tangga ibunya itu.

Perasaan inilah yang membuat ia pada keesokan harinya segera pergi lagi meninggalkan rumah ibunya!

Ibunya mencegah dan menghalangi maksudnya sambil menangis, akan tetapi Kui Eng yang keras-hati memaksa dan berkata.

"Ibu malam tadi telah kuceritakan semua pengalamanku, dan sekarang, kedua suhengku itu mungkin akan mencari ku, Pula, aku sudah berjanji kepada suhu untuk kembali ke Swi-hoa-san dua tahun setelah pergi merantau."

"Kalau begitu, jangan kau lupakan ibumu, Eng-ji dan datanglah segera kembali kesini. Anggaplah ini sebagai rumahmu sendiri."

"Benar, anakku, kau tinggallah disini dan anggap aku sebagai ayahmu sendiri,"

Kata Bu Pok Seng pula dengan ramah-tamah, Kui Eng menghaturkan terimakasih.

"Enci Eng, aku akan merasa berbahagia sekali kalau kau suka tinggal menjadi satu disini,"

Kata Swi Lan pula dan Kui Eng lalu memeluk dan mencium kening adiknya ini.

"Swi Lan, semoga kau hidup berbahagia. Orang seperti kau sudah pantas mendapat kebahagiaan hidup."

Sebenarnya, hati Kui Eng berkata bahwa orang seperti adiknya itu sudah pantas menjadi isteri Min Tek!

Ia berjanji untuk datang kembali, padahal dalam hatinya ia merasa ragu-ragu apakah ia akan ada muka untuk kembali ketempat itu, untuk bertemu dengan adiknya yang hampir saja diserangnya itu, untuk bertemu-muka dengan Min Tek!

Ah, ia malu, malu sekali...!

Maka pergilah ia dari tempat itu, keluar dari kota Kiciu yang tadinya merupakan kota harapan baginya akan tetapi ternyata merupakan kota yang menghancurkan pengharapannya, yang mempertemukan ia dengan ibunya, akan tetapi yang juga memisahkan ia dari Min Tek untuk selamanya!

Ia melakukan perjalanan cepat menuju ke kotaraja kembali, dan apabila ia teringat kepada Bun Hong, ia merasa sedih sekali.

Betapapun juga, suhengnya itu benar.

Kalau saja ia tidak melakukan perjalanan dengan Min Tek, tak mungkin ia akan mendapat malu, akan menderita tekanan batin sehebat ini.

Akan tetapi, sebaliknya, belum tentu pula ia akan dapat bertemu dengan ibunya!

Ah, dasar nasib.

Nasibnya yang amat buruk!

Seperti juga diwaktu pergi ke Kiciu, kembalinya ke kotaraja juga berjalan cepat sekali hingga sehari-semalam ia telah tiba-tiba di kotaraja.

Bun Hong dan Beng Han berhasil memasuki kotaraja.

Dengan pertolongan seorang petani yang mengantarkan segerobak padi ke kotaraja, mereka dapat bersembunyi dibawan tumpukan padi itu!

Ketika gerobak itu tiba-tiba dipintu gerbang, tukang gerobak dihentikan oleh penjaga yang memeriksanya, akan tetapi penjaga itu tidak memeriksa kedalam tumpukan padi.

Siapakah orangnya yang dapat bersembunyi didalam tumpukan padi?

Selain berat, juga tentu takkan dapat bernapas.

Ia tidak menyangka bahwa dua orang muda yang kuat dan dapat menahan napas karena latihan lweekang mereka yang sudah tinggi, bersembunyi didalam tumpukan dengan tangan memegang pedang!

Bersamaan dengan gerobak itu, beberapa orang masuk pula kedalam pintu gerbang yang hampir ditutup itu, diantaranya seorang gadis baju hijau yang dapat masuk dengan mudah karena tidak dicurigai.

Perintah dari atasan hanya mengharuskan penjaga itu berhati-hati terhadap dua orang laki muda yang menjadi pemberontak yang dicari-cari.

Gadis ini adalah Kui Eng yang sudah tiba disitu pula, akan tetapi ia sama sekali tidak tahu bahwa didalam tumpukan padi itu bersembunyi dua suhengnya yang sedang di-cari nya!

Juga Bun Hong dan Beng Han tidak tahu bahwa pada saat itu Kui Eng berada didekat gerobak!

Mereka semua masuk ke kotaraja dengan selamat dan Kui Eng lalu mengambil jalan lain.

Sementara itu, ketika gerobak itu tiba dijalan yang agak sunyi, Bun Hong dan Beng Han lalu melompat turun dari gerobak dan mempergunakan ilmu kepandaian mereka untuk berlari cepat dan menuju ketempat tahanan yang telah mereka ketahui letaknya dari hasil penyelidikan nyonya janda itu.

Tempat tahanan itu benar saja terjaga keras sekali, dan boleh dibilang hampir sekelilingnya terdapat perajurit yang menjaga dengan tombak ditangan.

Bun Hong dan Beng Han mencari siasat karena mereka maklum bahwa biarpun tidak sukar bagi mereka untuk menyerbu secara langsung dengan jalan merobohkan para penjaga, namun hal itu kurang sempurna karena mereka tentu akan dikeroyok dan tak mungkin menolong Kim Bwee.

Akhirnya mereka mendapatkan sebuah siasat yang berani sekali.

Para penjaga itu telah mendapat perintah keras dari atasannya untuk melakukan penjagaan keras dan waspada, serta melarang siapa saja mendekati tempat itu.

Jangankan seorang manusia, bahkan seekor burung yang terbang lewat diatas tempat tahanan itupun akan terlihat oleh para penjaga agaknya!

Tiba-tiba para penjaga disebelah timur mendengar suara orang merintih kesakitan ditempat gelap yang agak jauh dari tembok rumah tahanan, ditempat gerombolan tetumbuhan.

Dua orang penjaga membawa senjata masing-masing mendatangi tempat itu, akan tetapi ketika tiba ditempat gelap, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam yang menggerakkan kedua tangannya dan penjaga itu tertangkap dan tertotok tanpa dapat mengeluarkan suara lagi.

Tubuh mereka lemas dan lumpuh sedangkan mulut tak kuasa mengeluarkan suara!

Dan pada saat yang bersamaan, dibagian barat juga terjadi hal yang sama.

Para penjaga lain yang menanti kembalinya kedua penjaga itu, merasa heran karena tidak melihat mereka kembali dan juga tidak mendengar suara mereka, sedangkan suara rintihan orang itu masih terdengar saja.

Dua orang penjaga lain pergi pula menyusul, akan tetapi kembali mereka tertotok dan tertangkap.

Hal ini pun terjadi dibagian timur dan barat.

Kini para penjaga mulai curiga dan sekelompok penjaga ditimur dan barat menghampiri ketempat gelap itu untuk memeriksa.

Mereka merasa terkejut dan heran hingga mengeluarkan seruan tertahan ketika melihat betapa diantara empat penjaga yang tadi memeriksa tempat itu, hanya tiga orang nampak menggeletak tak berkutik seperti orang tidur, sedangkan yang seorang lagi entah kemana perginya!

Mereka segera ramai menolong tiga orang kawan itu, akan tetapi mereka ini telah lumpuh dan tak dapat bicara, hanya mata mereka saja yang bergerak-gerak dengan ketakutan!

Ributlah keadaan disitu dan banyak sekali penjaga yang berpakaian seragam itu berlari kesana-kemari membuat penjagaan dan memberi laporan.

Dan diantara simpang-siur para penjaga ini, terdapat dua orang penjaga yang mengenakan pakaian yang sama, akan tetapi yang selalu berusaha menyembunjikan muka mereka.

Kedua orang ini adalah Bun Hong dan Beng Han.

Mereka telah berhasil memancing datang para penjaga dan menotok mereka didua tempat, lalu menjeret seorang diantara mereka, menanggalkan pakaian seragam dan memakainya, lalu mempergunakan kepanikan itu untuk menjelundup kedalam benteng, menyamar sebagai seorang penjaga.

Didalam keributan itu, mereka berhasil masuk tanpa mendapat banyak perhatian.

Inilah siasat mereka yang mereka jalankan dengan baik sekali.

Dengan mudah Bun Hong dan Beng Han masuk kebagian dalam.

Mereka bertemu dengan dua orang penjaga lain yang memandang mereka dengan heran dan kuatir.

"Kawan, ada apakah ribut-ribut diluar?,"

Tanya penjaga dalam ini.

"Ada musuh menyerbu, ayoh lekas kita memperkuat penjagaan para tawanan!,"

Kata Beng Han dengan suara gagap.

Kedua penjaga dalam itu menjadi terkejut dan segera lari masuk, diikuti oleh Bun Hong dan Beng Han menuju keruang tempat tahanan sambil memberitahukan kepada setiap penjaga yang mereka jumpai hingga penjaga itu berserabutan keluar dengan senjata ditangan!

Setelah tiba-tiba diruang tempat tahanan, kedua orang muda itu melihat betapa seluruh keluarga Pangeran Song berkerumun dan sedang menangis sedih, merubung sesuatu seakan-akan terjadi hal yang hebat.

Bun Hong dan Beng Han segera menotok roboh kedua penjaga yang mengantar mereka tadi dan Bun Hong menanggalkan jubah penjaga yang dipakainya lalu lari kearah mertuanya.

Ketika ia tiba ditempat dimana para tawanan mengerumuni sesuatu, ia melihat pemandangan yang membuatnya menjadi pucat sekali.

Ditengah ruangan itu, nampak tubuh isterinya dengan muka dan kepala mandi-darah, menggeletak ditangisi oleh semua orang!

"Kim Bwee...!,"

Bun Hong melompat dan menubruk tubuh isterinya, Ternyata bahwa karena putus asa dan tidak tahan menderita malu dan hinaan, isteri Bun Hong telah membenturkan kepalanya pada dinding, akan tetapi karena tenaganya kurang kuat, maka ia tidak tewas seketika itu juga sungguhpun jidatnya pecah dan darah membasahi mukanya!

Mendengar suara suaminya, Kim Bwee membuka matanya dan memandang dengan sinar mata sayu yang makin menghancurkan hati Bun Hong.

Ia berlutut, mengangkat dan memangku tubuh isterinya sambil menangis dan merintih-rintih.

"Kim Bwee, isteriku... aku datang hendak membawamu pergi... Kim Bwee... isteriku yang tercinta..."

"Suamiku, mengapa kau datang...? Larilah, selamatkan Sian Lun, putera kita..."

"Kim Bwee, apa artinya hidupku tanpa kau...? Mengapa kau mengambil keputusan nekad begini...? Ah, Kim Bwee... Kim Bwee..."

"Koko...,"

Suara nyonya muda itu lemah sekali.

"Biarlah... aku sengaja melakukan ini, biar kau bebas... kau boleh kawin lagi... asal kau jangan melupakan anak kita..."

Bun Hong mendekap kepala isterinya pada dadanya sambil menangis dengan airmata bercucuran.

"Tidak, tidak! Kim Bwee... aku mencintaimu... aku... aku...,"

Tiba-tiba ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena merasa betapa tubuh isterinya meronta dalam pelukannya.

Ia memandang dengan mata terbelalak dan melihat betapa isterinya telah menggunakan seluruh tenaga untuk melawan maut yang hendak merenggut nyawanya.

Nyonya muda itu dengan muka berlumur darah hingga mengerikan sekali kini memandangnya dengan mesra.

"Betulkah... betulkah kau... kau mencinta...?"

Bisiknya dengan lemah.

"Kim Bwee... aku bersumpah, demi kehormatanku sebagai seorang gagah, aku cinta kepadamu..."

Kim Bwee menatap wajah suaminya, mengangkat kedua tangannya yang menggigil dan lemas, membelai wajah Bun Hong, dan bibirnya tersenyum lalu bergerak.

"...Terimakasih... terimakasih, aku... aku puas..."

Dan lemaslah tubuhnya tak berdaya lagi karena nyawanya telah melayang.

"Kim Bwee... Kim Bwee...!."

Bun Hong berteriak seperti orang gila, memeluk tubuh isterinya dan menyambak-jambak rambutnya sendiri, Pangeran Song dan semua keluarganya juga menangisi kematian Kim Bwee ini hingga ruang tempat tahanan itu menjadi riuh oleh suara tangisan yang memilukan.

"Sute! Mereka datang!,"

Kata Beng Han dengan keras. Bun Hong melompat berdiri dengan wajah beringas.

"Mana mereka? Biarkan mereka datang! Hendak kubunuh seorang demi seorang! Hendak kucabut isi perut mereka didepan isteriku!"

Dengan wajah yang mengerikan hingga Beng Han sendiri menjadi terkejut melihatnya, Bun Hong melompat dengan pedang ditangan, menyambut datangnya tiga orang perwira yang diikuti oleh para penjaga.

"Pemberontak!"

Seru perwiraperwira itu ketika melihat Bun Hong dan Beng Han.

"Anjing-anjing rendah! Kalian harus menjadi pengawal isteriku!,"

Teriak Bun Hong sambil menyergap maju Pedangnya bergerak buas dan seorang perwira roboh binasa dengan leher hampir putus!

Bun Hong yang telah menjadi marah bagaikan gila itu mengamuk hebat dan tak seorangpun dapat menahan amukannya, sedangkan Beng Han juga membuka jalan keluar dengan memainkan pedangnya secepatnya.

Melihat sepak-terjang sutenya, hati Beng Han menjadi ngeri karena maklum bahwa sutenya telah dikuasai oleh nafsu membunuh yang buas.

Sebagai ahli silat tinggi, mereka berdua dapat mengatur gerakan dan serangan mereka untuk merobohkan lawan tanpa membunuhnya, dan apabila tidak perlu, keduanya sebetulnya menjauhi pembunuhan akan tetapi kali ini Bun Hong tidak mau berlaku lunak terhadap para lawannya.

Setiap kali pedangnya berkelebat, maka senjata itu merupakan cengkeraman tangan maut yang mencari kurban!

Beberapa orang penjaga telah bergelimpangan dan tewas diujung senjata Bun Hong, sedangkan Beng Han hanya melukai dan membuat tak berdaya beberapa penjaga.

Pemuda yang masih sadar ini berpantang membunuh secara sembarangan, sesuai dengan pesan suhunya.

"Sute ayoh kita pergi!,"

Katanya.

"Tidak, akan kubunuh dulu semua anjing ini!,"

Teriak Bun Hong sambil mengamuk hebat, sementara itu para penjaga kini telah mengurung tempat itu hingga penuh sesak, Beng Han menjadi kuatir sekali, oleh karena ia maklum bahwa kerajaan memiliki banyak perwira yang tangguh.

"Kita harus cari dulu Thio-Thaikam!,"

Katanya memperingatkan sutenya. Tiba-Tiba ucapan ini menyadarkan Bun Hong. Benar pikirnya, ia tak boleh tewas dikeroyok ditempat ini sebelum membunuh orang kebiri yang dianggap musuh besarnya itu.

"Kau benar, kita binasakan dulu anjing kebiri itu!,"

Jawabnya dan dengan hebat kedua orang muda itu membuka jalan dengan memutar-mutar pedang mereka.

Akhirnya, berkat kerja-sama kedua pedang mereka yang lihai, para pengepung mundur dengan gentar dan kepungan menjadi pecah.

Bun Hong dan Beng Han lalu melompat keluar, dikejar oleh para perwira dan penjaga.

Akan tetapi, sambil berlari kedua orang muda ini mengayun tangan kiri, mempergunakan batu kecil yang mereka sengaja bawa hingga beberapa orang pengejar berseru kesakitan dan roboh pula!

Tempat itu menjadi penuh dengan orang yang terluka atau terbinasa, dan suara rintihan mereka yang terluka bercampur dengan suara tangisan keluarga Song yang menangisi kematian Kim Bwee.

Akan tetapi, para perwira dari luar benteng yang telah mendapat laporan dan datang membantu, segera memegat jalan keluar kedua orang muda itu hingga dipintu gerbang itu terjadi pertempuran hebat antara kedua pengamuk itu melawan keroyokan belasan orang perwira yang memiliki ilmu silat tinggi.

Betapapun gagah adanya Beng Han dan Bun Hong, namun menghadapi keroyokan hebat ini, lambat-laun mereka terdesak juga.

tiba-tiba seorang perwira menjerit dan roboh, disusul bentakan nyaring seorang wanita.

"Anjinga penjilat, jangan kalian berani mengganggu kedua suhengku!"

"Sumoi...!!"

Beng Han dan Bun Hong berseru hampir berbareng dengan suara girang dan semangat mereka bernyala hebat hingga kembali dua orang perwira pengeroyok dapat dirobahkan!

Benar saja, yang datang itu adalah Kui Eng, gadis pendekar yang tadi memasuki kotaraja dan segera ia mendengar tentang huru-hara yang terjadi digedung Pangeran Song.

Mendengar bahwa Bun Hong adalah anak menantu pangeran Song, Kui Eng lalu mengambil keputusan untuk mencari dan menolong isteri Bun Hong yang juga ikut tertangkap.

Dan ketika ia tiba dibenteng tempat tahanan itu, ia melihat betapa kedua suhengnya dikeroyok hebat oleh belasan orang perwira didekat pintu benteng, maka ia segera membantu.

Kini ketiga orang saudara seperguruan itu mengamuk hebat bagaikan tiga naga sakti turun dari angkasa sedang mengamuk.

Banyak perwira telah tewas diujung pedang mereka.

"Sute, sumoi, mari kita menyerbu ke istana Thio-Thaikam!"

Seru Beng Han tiba-tiba.

"Baik, aku yang menjadi penunjuk jalan!"

Kata Bun Hong.

Kui Eng yang tidak tahu akan duduknya perkara, hanya menurut saja dan mereka bertiga lalu melompat dan menghilang dalam gelap.

Para perwira ribut mengejar dan mencari mereka, Tak lama kemudian, keributan beralih tempat dan kini diatas genteng istana Thio-Thaikam yang mengalami serbuan.

Akan tetapi, semenyak siang tadi, Tek Po Tosu yang sudah menguatirkan datangnya serbuan ini telah berjaga-jaga, mengumpulkan perwira yang tangguh untuk melakukan penjagaan yang kuat hingga ketika tiga orang pendekar muda dari Swi-hoa-san itu menyerbu, mereka mendapat sambutan yang hangat!

Kembali ketiga orang muda itu mengamuk.

Bun Hong memainkan pedangnya bagaikan gila hingga mengerikan sekali, setiap pedangnya berkelebat tentu jatuh kurban!

Ia memang lincah dan cepat, dan kali ini rasa dendam dan duka karena kematian isterinya membuat ia makin ganas lagi hingga jangankan para perwira pengeroyoknya, Bahkan Beng Han dan Kui Eng sendiri merasa ngeri melihatnya, Pakaian Bun Hong yang tadinya telah bernoda darah isterinya pada bagian dada, kini bertambah dengan darah para lawannya yang memercik dan menodai seluruh pakaiannya.

Wajahnya beringas dan sepasang matanya seakan-akan berapi.

Kui Eng juga terpengaruh oleh keadaan suhengnya ini hingga gadis itupun mengamuk hebat.

Gerakannya yang disertai ginkang yang luar biasa itu membuat tubuhnya lenyap berubah menjadi segulung sinar pedang yang menyambar-nyambar.

Tiap kali terdengar seruannya yang nyaring, pasti senjata lawan terpental jauh atau tubuh seorang pengeroyok roboh diatas genteng terus menggelundung turun kebawah!

Hanya Beng Han yang masih tenang.

Akan tetapi gerakan pedangnya yang kuat dan tepat itu tak kurang berbahayanya daripada gerakan kedua adik seperguruannya.

Tek Po Tosu yang maklum akan kelihaian pemuda ini, segera membawa beberapa orang perwira mengurungnya, akan tetapi Beng Han tidak menjadi gentar.

Ia maklum bahwa kali ini pertempuran dilakukan dengan mati-matian dan tak kenal ampun, maka iapun tidak mau berlaku "seji" (sungkan) lagi.

Ia mengeluarkan ilmu pedangnya yang terlihai hingga sudah banyak fihak lawan yang roboh karena ujung pedang atau tendangan kakinya.

Bukan main seru dan ramainya pertempuran yang terjadi diatas genteng istana Thio-Thaikam, lebih seru dan ramai daripada pertempuran dibenteng tempat tahanan tadi oleh karena kini para perwira yang mengeroyok mereka adalah jago-jago pilihan yang sengaja didatangkan oleh Thio-Thaikam dan Tek Po Tosu untuk menjaga keselamatan pembesar berpengaruh itu.

"Suheng, aku akan menyerbu kedalam!,"

Kata Bun Hong tiba-tiba dan dengan nekad orang muda yang gagah ini melayang turun dan membabat setiap penghalang dengan pedangnya!

Beberapa orang penjaga menyerbunya dengan golok ditangan, akan tetapi apakah daya para penjaga yang hanya berkepandaian biasa itu?

Dengan mudah dan enak Bun Hong mengerjakan pedangnya dan bergelimpanganlah tubuh para penjaga itu memenuhi lantai!

Bun Hong terus berlari kedalam, menuju keruang tengah dimana dulu ia pernah melihat Thio-Thaikam mengadakan perundingan dengan para perwira.

Ketika ia tiba-tiba ditempat itu, ternyata bahwa Thio-Thaikam, seperti dulu pula, sedang duduk menghadapi dua orang Turki dan beberapa orang perwira lain, sama sekali tidak memperdulikan adanya keributan diluar.

Memang tadinya ThioThaikam memandang rendah sekali kepada kedua orang pengacau muda yang dikabarkan orang memberontak itu.

Thio-Thaikam percaya penuh bahwa penjagaan yang kuat diluar istananya akan mencegah masuknya setiap pengacau, maka ia tidak mau pusingkan diri mengurus hal yang dianggapnya remeh itu, karena ada hal lebih penting untuk dibicarakan pula.

Ia mengumpulkan orang-orangnya dan merundingkan tentang sikapnya terhadap Pangeran Song.

Ia mengambil keputusan untuk menggunakan pengaruhnya kepada Kaisar agar supaja seluruh keluarga itu dapat dihukum mati!

Maka alangkah kagetnya ketika melihat seorang pemuda yang pakaiannya penuh darah dan dengan pedang ditangan, masuk dengan wajah yang menyeramkan sekali.

"Anjing she Thio, sampailah ajalmu sekarang!,"

Teriak Bun Hong yang segera menyerbu dengan pedangnya.

Akan tetapi, empat orang perwira dan dua orang Turki itu mencabut pedang dan melawannya.

Ternyata bahwa kepandaian para perwira itu cukup tinggi, bahkan dua orang perwira Turki yang berada disitu memiliki ilmu pedang yang aneh dan berbahaya.

Terpaksa Bun Hong menghadapi enam orang pengeroyoknya dengan nekad dan mengeluarkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.

Biarpun dikeroyok enam dan sibuk melayani mereka, namun Bun Hong tak melepaskan bayangan Thio Thaikam dari pandangan matanya, maka ketika pembesar itu mencoba untuk melarikan diri melalui sebuah pintu, Bun Hong meninggalkan lawan-lawannya dengan sebuah lompatan cepat.

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 5

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert