Ceritasilat Novel Online

Tiga Naga Dari Angkasa 5

Eps 5 Tiga Naga Dari Angkasa - Kho Ping Hoo

Baca online Tiga Naga Dari Angkasa - Kho Ping Hoo

Cersil Tiga Naga Dari Angkasa - Kho Ping Hoo.

Karena amat bernafsu untuk mengerjar Thio-Thaikam, maka ia kurang waspada dan tusukan pedang seorang perwira menjerempet dipundaknya, menembus baju dan melukai kulit pundaknya.

Akan tetapi, Bun Hong seakan-akan tidak merasa sedikitpun juga, dan sambil mengajunkan tangan kirinya, ia membentak.

"Pembesar jahat hendak lari kemana?"

Batu karang yang menyambar dari tangan kirinya tepat memukul belakang kepala Thio-Thaikam hingga pembesar kebiri itu berteriak kesakitan dan terhuyung-huyung kedepan.

Bun Hong menyusul dengan sebuah tusukan dari belakang hingga pedangnya menembus punggung pembesar itu.

Ketika ia mencabut kembali pedangnya, tubuh Thio-Thaikam roboh telentang Bun Hong tertawa bergelak dan memandang kearah muka pembesar yang telah sekarat itu dengan puas, akan tetap suara ketawanya berhenti tiba-tiba dan kedua matanya terbelalak memandang kebawah.

Ternyata bahwa orang yang dibunuhnya itu, biarpun perawakannya sama dan sebentuk dengan Thio-Thaikam, bukanlah orang kebiri yang hendak dibunuhnya.

Orang itu bukan Thio-Thaikam!!

Dan ketika ia memandang sekelilingnya, makin terkejutlah ia karena tempat itu telah penuh dengan perwira yang mengurungnya dari setiap penjuru!

Ia telah terjebak!

Ia memandang Thio-Thaikam terlampau rendah!

Ternyata bahwa pembesar yang licin dan cerdik itu telah membuat persiapan lebih dulu dan menyuruh seorang pembesar palsu menggantikan tempatnya!

Bun Hong berseru gemas dan mengamuk lagi, dikeroyok oleh belasan orang perwira yang berkepandaian tinggi!

Berkat kecepatan gerakannya dan kenekadannya, ia masih dapat mempertahankan diri, sungguhpun ia telah terdesak sekali.

Diputarnya pedangnya sedemikian rupa hingga seluruh tubuhnya terlindung oleh sinar pedang yang merupakan dinding baja yang teguh.

Akan tetapi, karena para pengeroyoknya bukan orang sembarangan, beberapa buah ujung senjata telah berhasil menembus pertahanannya dan ia telah mendapat beberapa luka ringan, akan tetapi yang cukup membuat darahnya banyak mengucur keluar dari tubuh!

Ketika keadaan Bun Hong sudah amat terdesak dan berbahaya sekali, tubuhnya mulai lemas dan gerakannya lambat.

tiba-tiba dari luar melayang masuk dua bayangan yang mengamuk hebat.

Mereka ini adalah Beng Han dan Kui Eng yang berhasil membuka jalan dan meninggalkan para pengeroyok mereka untuk membantu Bun Hong.

Beng Han segera memecahkan kepungan yang mengancam keselamatan sutenya, kemudian ia menarik tangan sutenya itu sambil berseru kepada Kui Eng.

"Sumoi, ikutlah padaku! Aku membuka jalan dan kau bersama sute menahan serangan dari belakang!"

Beng Han lalu maju mendesak kearah pintu depan sambil memainkan pedangnya melawan orang yang menghadang didepan, sedangkan Kui Eng dan Bun Hong sambil mundur menahan desakan para pengejar dari belakang.

Beng Han bertempur sambil mengajunkan tangan kiri membagi-bagi "hadiah"

Berupa batu karang yang dibawahnya hingga terdengar pekik kesakitan berkali-kali pada saat "hadiahnya"

Diterima oleh lawan.

Fihak lawan tidak berani menggunakan senjata rahasia dalam keroyokan itu, karena kuatir kalau-kalau mengenai kawan sendiri dan ini merupakan satu keuntungan bagi fihak Beng Han.

Juga Bun Hong menyerang pengejar dengan pedang dan batu karangnya.

Perlahan akan tetapi tentu ketiga pendekar muda yang mengamuk bagaikan tiga naga sakti itu dapat keluar dari istana dan menyerbu kepintu gerbang.

Dalam keroyokan hebat itu, Beng Han telah mendapat luka pada dada kanannya, akan tetapi karena luka itu hanya menggores pada kulit saja, walaupun terasa perih dan linu, akan tetapi tidak mengurangi tenaganya.

Kui Eng yang memiliki ginkang tinggi tidak terluka, hanya lelah sekali bertempur sekian lamanya itu, yang paling hebat adalah keadaan Bun Hong.

Orang muda ini telah mendapat beberapa tusukan senjata musuh dan telah mengeluarkan banyak darah hingga gerakannya makin lambat dan tubuhnya makin lemas saja, Beng Han dalam kesibukannya tidak tahu akan keadaan sutenya ini dan ketika mereka telah berhasil mendesak keluar dari pintu-gerbang dan bertempur menghadapi para perwira itu diluar pintu, Beng Han lalu memberi aba-aba kepada kedua adik seperguruannya.

"Mari kita pergi cepat!"

Ia mendahului melompat keatas genteng sebuah rumah yang berada didekat dinding istana, diikuti oleh Kui Eng.

Akan tetapi ketika Bun Hong hendak ikut melompat pula, gerakannya terlalu lambat dan hampir saja ia tak dapat mencapai genteng.

Untungnya ia masih berlaku cepat dan tangannya memegang ujung tiang dibawah genteng hingga tubuhnya bergantung disitu.

Beng Han dan Kui Eng cepat memburu, akan tetapi pada saat itu, Bun Hong berseru keras dan pegangannya terlepas hingga tubuhnya jatuh kebawah!

Beng Han dan Kui Eng menjerit cemas dan cepat melompat turun lagi.

Mereka masih dapat menyelamatkan jiwa Bun Hong yang sudah hampir dijatuhi hujan senjata oleh para pengeroyoknya dengan mengamuk hebat.

Beng Han lalu memondong tubuh sutenya dan alangkah kagetnya ketika melihat betapa dua batang piauw telah menancap ditubuh sutenya itu, sebuah didada dan sebuah lagi dilehernya!

Ternyata bahwa ketika tubuh Bun Hong masih menggantung pada tiang tadi, seorang perwira melepas piauw yang menancap dengan jitu pada sasarannya.

"Sumoi, lari!,"

Kata Beng Han sambil menghujani para pengeroyok dengan batu yang masih ada didalam kantongnya.

Ia tak sanggup melawan lagi karena kini ia harus mempergunakan tangan kanannya untuk memanggul tubuh sutenya yang telah pingsan dan lemas itu.

Kui Eng mengerahkan tenaga dan kepandaiannya untuk menjaga para pengejar dan sengaja berlari dibelakang Beng Han untuk melindungi pemuda ini yang memanggul tubuh Ji-Suhengnya.

Tentu saja para perwira tidak mau melepaskan mereka dan mengejar sambil berteriak-teriak.

Jumlah pengejar makin lama makin berkurang, karena yang dapat menyusul ilmu lari cepat Kui Eng dan Beng Han hanya ada tujuh orang perwira saja, Beng Han mengerahkan sisa tenaganya yang mulai berkurang, sedangkan Kui Eng juga sudah merasa lelah sekali hingga mereka maklum bahwa apabila kali ini mereka tersusul dan terpaksa bertempur lagi, mereka pasti takkan dapat menahan lagi!

Mereka percepat larinya menuju kepintu gerbang kota dan alangkah terkejut mereka ketika melihat bahwa pintu gerbang itu tertutup rapat dan dibawah dinding berbaris seregu penjaga yang siap menanti kedatangan mereka.

"Sumoi, terpaksa kita harus mengadu jiwa disini. Selamat tinggal, sumoi,"

Berkata Beng Han sambil memindahkan tubuh Bun Hong dipundak kiri, memegangnya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memegang pedang, bersiap untuk bertempur sampai saat terakhir!

Mendengar ucapan dan melihat sikap pemuda itu, tak terasa pula mata Kui Eng menjadi basah.

Alangkah mulia dan gagahnya suhengnya ini.

Membela Bun Hong sampai tenaga terakhir!

Padahal kalau hendak menyelamatkan diri tanpa memperdulikan keadaan Bun Hong, pemuda itu masih dapat!

"...Suheng, jangan kuatir.

Sampai matipun aku takkan terpisah darimu!"

Rombongan penjaga itu sambil berteriak-teriak telah maju mengurung mereka dan segera terjadi pertempuran kembali dengan hebatnya.

Walaupun para penjaga itu merupakan lawan yang lunak bagi Kui Eng dan Beng Han, namun jumlah mereka lebih dari seratus orang.

sedangkan dari belakang telah mendatangi tujuh orang perwira, diantaranya Tek Po Tosu, yang mengejar mereka!

Karena benar-benar telah lelah sekali, kembali Beng Han dan Kui Eng menerima desakan hebat dan kini Kui Eng tak dapat mempertahankan diri sebaik tadi Sebuah tusukan tombak telah melukai pahanya, dan Beng Han juga telah menerima sebuah bacokan pedang pada bahu kanannya.

Hanya karena keteguhan hati dan kekuatan semangatnya saja maka ia masih kuat memegang dan memainkan pedangnya, merobohkan beberapa orang penjaga lagi.

Kui Eng terpincang-pincang, akan tetapi pedangnya masih lihai dan banyak penjaga masih belum mampu mendekatinya, bahkan ada beberapa orang lagi yang roboh sebagai akibat pembalasan Kui Eng yang marah karena luka itu.

Betapapun gagahnya kedua pendekar muda itu, nasib mereka sudah dapat ditentukan.

Takkan lama lagi kiranya bahwa mereka pasti akan roboh dan tewas dibawah hujan senjata.

Akan tetapi, pada saat itu, dari atas dinding kota yang tinggi sehelai tali besar diturunkan orang dan seperti monjet-monyet yang pandai, nampak beberapa orang meluncur turun dari tali itu, bahkan sesosok bayangan putih yang gesit sekali gerakannya tidak meluncur dari tali, Akan tetapi melayang turun dari atas tembok yang tinggi itu!

yang datang itu bukan lain ialah Beng Lian, Yu Tek, dan dua orang guru mereka, jaitu Pek I Nikou dan Tiongsan Lokai!

Mereka berempat ini datang pada saat yang tepat sekali dan setelah Beng Lian dan Yu Tek menyerbu, maka para pengeroyok Kui Eng dan Beng Han menjadi kacau-balau dan terpecah-belah!

Tujuh orang perwira pengejar yang tangguh itu datang pula akan tetapi mereka segera menghadapi Pek I Nikou dan Tiongsan Lokai yang lihai dan sakti!

Sebentar saja, seorang diantara mereka telah terkena jarum yang dilepas oleh Pek I Nikou, sedangkan dua orang perwira roboh terkena pukulan tongkat Tiongsan Lokai!

Tek Po Tosu marah sekali dan mengeluarkan saputangannya yang dikebutkan kearah Pek I Nikou hingga belasan batang jarum hitam menyambar.

Akan tetapi, sambil tersenyum Pek I Nikou mengebut dengan ujung lengan bajunya dan runtuhlah semua jarum itu, Tek Po Tosu terkejut sekali melihat kepandaian ini dan hatinga menjadi gentar.

Ia tidak tahu bahwa ia berhadapan dengan Pek I Nikou yang terkenal sebagai ahli pelepas senjata rahasia segala macam jarum.

Selagi Tek Po Tosu masih tertegun.

Pek I Nikou menggerakkan lengan baju sebelah kiri dan tujuh batang jarum yang putih dan mengeluarkan cahaja menyerbu kearah Tek Po Tosu!

Pendeta itu terkejut sekali dan cepat menggunakan siangkiamnya untuk menangkis.

akan tetapi ternyata bahwa jarum-jarum itu dilepas dengan tenaga luar biasa hingga ketika ditangkis, bukannya runtuh kebawah, akan tetapi melejit kesamping hingga melukai beberapa orang kawannya!

Terdengar seruan kesakitan dan tiba-tiba sebatang jarum yang luar biasa cepatnya menyambar kearah leher Tek Po Tosu.

Pendeta ini masih mencoba memiringkan tubuh, akan tetapi jarum itu tetap saja mengenai pundaknya hingga ia menjerit roboh tak sadarkan diri karena jarum itu menancap pada urat dipundaknya.

Menyaksikan kehebatan nikou itu dan kehebatan Tiongsan Lokai yang menggerakkan tongkat bambunya secara sembarangan akan tetapi tiap kali tongkat itu bergerak, tentu sebatang senjata lawan dapat dilemparkan, semua pengeroyok menjadi gentar.

Juga sepak-terjang Beng Lian dan Yu Tek mengagumkan sekali dan cukup membuat para penjaga kacau-balau dan simpang-siur.

Tiongsan Lokai lalu menangkap dua orang penjaga dan menjeret mereka kearah pintu gerbang, memaksa mereka untuk membukanya.

Setelah pintu gerbang terbuka, ia berseru keras.

"Lari keluar!!"

Yu Tek yang masih segar tenaganya, lalu minta kepada Beng Han untuk menyerahkan tubuh Bun Hong kepadanya, sedangkan Beng Lian tanpa banyak cakap lagi lalu memondong tubuh Kui Eng yang telah terluka pahanya dan tak dapat lari cepat.

Demikianlah dibawah lindungan Pek I Nikou yang menyebar jarumnya, mereka keluar dari pintu gerbang itu dan berlari kedalam hutan yang gelap!

Para perwira dan penjaga tidak berani mengejar dan terpaksa kembali untuk merawat kawan mereka.

Tiongsan Lokai membawa mereka kesebuah kelenteng rusak didalam hutan itu, dan Pek I Nikou lalu merawat luka yang diderita oleh Kui Eng dan Beng Han.

Adapun keadaan Bun Hong pajah sekali hingga ketika siuman dari pingsannya, pemuda ini hanya dapat merintih-rintih dan menangis.

Ia merintih bukan karena sakit, akan tetapi karena teringat kepada isterinya.

Dalam keadaan panas dan mengigau, ia memanggil nama isterinya, meminta ampun kepada Kim Bwee, bahkan meminta ampun kepada Kui Eng dan Beng Han!

Pek I Nikou yang mengerti juga tentang ilmu pengobatan, hanya menggelengkan kepalanya saja, sedangkan Beng Han memegang tangan sutenya dengan airmata mengalir turun.

Juga Kui Eng menangis sambil menggunakan saputangannya yang telah dibasahi untuk mengusap kening Bun Hong yang panas sekali.

Beng Lian dan Yu Tek memandang dengan penuh keharuan sambil menjaga agar api unggun dikelenteng itu tidak padam.

"Suheng... suheng...,"

Kata Bun Hong sambil gerakkan kepala kekanan kiri dengan gelisahnya. Beng Han menekan pergelangan tangan sutenya.

"Aku berada disini, sute...,"

Katanya menahan isak.

"Agaknya saputangan basah yang dingin dan yang digosok-gosokkan pada keningnya oleh Kui Eng itu agak menyadarkan pikirannya yang kacau karena panas maka Bun Hong lalu memandang kepada Beng Han dengan mata sayu.

"Suheng, kau... kau maafkan aku...?"

"Sute, tidak ada sesuatu yang harus dimaafkan. Kau suteku yang baik!,"

Jawab Beng Han.

"Suheng... sampaikan permohonan ampunku kepada suhu..."

Beng Han hanya mengangguk dan menahan jatuhnya airmata yang mulai mengalir keluar lagi.

"Sumoi, kau ampunkan aku, ya...?"

Bun Hong memandang sumoinya yang masih mengelus-elus keningnya sambil bercucuran airmata.

"Kau tidak bersalah, Ji-Suheng. Kuatkanlah badanmu, tenangkan pikiranmu."

"Kau selalu menasehati aku..."

Bun Hong mencoba tersenyum akan tetapi bibirnya mengeluarkan keluhan lagi.

"sumoi... kau... kau terlalu mulia... hanya suheng yang pantas... kalian harus berjanji... rawatlah baik anakku Sian Lun... suheng, sumoi..."

Tiba-tiba Kui Eng menjerit keras karena melihat betapa tiba-tiba leher Bun Hong menjadi lemas dan napasnya berhenti!

Kui Eng menangis dengan hati hancur.

Semenjak kecil, ia merasa bahwa Bun Hong dan Beng Han sajalah orang yang paling dekat dengannya, yang selalu membela dan menolongnya.

Mereka menjadi besar disatu tempat senasib-sependeritaan, dan ia menganggap mereka itu sebagai orang yang paling terkasih.

Juga Beng Han meruntuhkan airmata sambil memeluk tubuh sutenya hingga semua orang menjadi terharu, Beng Lian memeluk kakaknya dan menghibur sambil mengucurkan airmata pula.

Pemandangan yang nampak dibawan sinar api unggun yang suram-muram itu sungguh menjedihkan.

Seekor diantara tiga naga sakti yang mengamuk di kotaraja dan menggemparkan seluruh penduduk bahkan membuat Kaisar menggigil karena kuatir itu, akhirnya menemui ajalnya, dalam keadaan yang amat menjedihkan.

Lui Sian Lojin ketika mendengar penuturan kedua muridnya, Beng Han dan Kui Eng, tentang kematian Bun Hong, hanya menarik napas panjang dan berkata.

"Bun Hong tewas dalam keadaan gagah dan sudah insyaf akan kesesatannya, maka hal itu tidak sangat mengecewakan, Kalian telah cukup menderita semenyak kecil dan sekarang karena kalian telah dapat bertemu dengan orangtuamu sudah sewajibnya kalian hidup bersama mereka dan membalas budi mereka dengan perawatan-perawatan yang layak sebagaimana anak berbakti. Kalian berdua telah dewasa dan sudah sepatutnya pula mendirikan rumah-tangga. Tentang perjodohan, aku sebagai guru hanya ikut berdoa saja, segala keputusannya terserah kepada ibu kalian dan kepada kalian sendiri."

Demikianlah setelah mendapat banyak petua dari suhu mereka, Beng Han dan Kui Eng kembali kerumah ibu masing-masing.

Beng Han tinggal didekat Kuil Kwan-Im-Bio sedangkan Kui Eng tinggal bersama ibunya di Kiciu.

Beng Han terpaksa harus mengalah dan membiarkan Kui Eng merawat Sian Lun, putera Bun Hong yang sudah yatim-piatu itu.

Akan tetapi, sering sekali Beng Han datang mengunjungi sumoinya dan kasih-sayangnya terhadap Sian Lun membuat anak itu suka sekali kepadanya dan tiap kali ia datang, anak itu tentu segera dipondongnya dan diajak bermain-main."

Waktu berjalan dengan pesat dan dua tahun kemudian, pada suatu hari, serombongan orang menuju ke Kiciu.

Mereka ini adalah Pek I Nikou, Siok Thian Nikou ibu Beng Han, Beng Han sendiri, Beng Lian dan Yu Tek.

Mereka hendak mengunjungi Kui Eng dan Sian Lun.

Ketika rombongan ini tiba-tiba didepan rumah Bu Pok Seng ayah tiri Kui Eng, kebetulan sekali Kui Eng dan ibunya sedang duduk diruang depan bersama Sian Lun yang bermain-main dibawah.

Ketika anak ini melihat Beng Han datang, ia segera berdiri dan berlari-lari menyambut dengan kedua lengan dibuka sambil berseru girang.

"Ayah... ayah datang..."

Tersenyumlah semua orang melihat betapa ayah ini memeluk dan memondong anak itu. Memang, semenyak dapat berkata-kata, Sian Lun menyebut "ayah"

Kepada Beng Han dan "ibu"

Kepada Kui Eng!

Hal ini terjadi dengan sewajarnya, bukan karena disuruh orang, karena anak ini menganggap mereka sebagai orang yang paling baik dan manis terhadapnya.

Sedangkan Kui Eng dan Beng Han juga tidak mau membiarkan anak itu mengerti bahwa ia telah yatim-piatu dan tak berayah-ibu lagi.

Siok Thian Nikou bercakap-cakap dengan Pek I Nikou dan Nyonya Bu.

"Sungguh sukar mengurus Beng Han itu,"

Kata Siok Thian Nikou kepada Nyonya Bu, karena disitu tidak terdapat Beng Han dan orang-orang muda lainnya yang bercakap-cakap ditempat lain.

"Telah pinni bujuk agar supaja ia suka mencari jodoh, akan tetapi ia selalu menolaknya. Padahal, adiknya Beng Lian itu tidak mau melangsungkan pernikahannya sebelum melihat kakaknya menikah terlebih dulu. Coba saja pikir, Beng Lian sudah bertunangan lebih dari tiga tahun, dan masih saja ia harus menunggu. Pinni benar-benar bingung...,"

Nikou itu menarik napas panjang.

"Hal itu sama benar dengan pengalaman kami disini. Akupun merasa bingung karena Kui Eng tidak mau dikawinkan sungguhpun sudah banyak datang lamaran. Seperti halnya Beng Lian, juga anakku Swi Lan yang sudah bertunangan itu tidak mau dilangsungkan pernikahannya sebelum encinya menikah!"

Mendengar ini, Pek I Nikou tersenyum dan berkata dengan suaranya yang halus dan tenang.

"Kalau begitu, mengapa tidak menjodohkan saja kedua anak muda yang keras kepala itu?"

Siok Thian Nikou dan Nyonya Bu Pok Seng saling pandang dengan mata berseri dan mulut tersenyum, penuh arti.

"Mengapa tidak...?,"

Kata mereka hampir berbareng hingga Pek I Nikou bertepuk tangan kegirangan.

"Omitohud... Buddha sungguh mulia dan pengasih! Sudah setua ini pinni masih mendapat kehormatan untuk menjadi comblang! Serahkan saja hal ini kepada pinni dan kalau usaha pinni ini berhasil, biarlah pinni melanggar pantangan dan melakukan dosa besar untuk menunjukkan kegirangan pinni dengan membasahi bibirku dengan arak pengantin!"

Semua orang tersenyum gembira melihat kejenakaan nikou tua itu.

Sementara itu, didalam taman, Beng Han dan Kui Eng bermain-main dengan Sian Lun.

Tadinya Beng Lian dan Yu Tek juga duduk disitu bercakap-cakap dengan mereka, akan tetapi kemudian sepasang pemuda yang bertunangan ini meninggalkan mereka bertiga dan berjalan-jalan melihat pemandangan kota Kiciu.

"Suheng, Sian Lun suka sekali padamu,"

Kata Kui Eng dengan wajah berseri melihat Beng Han sambil memondong Sian Lun berusaha menangkap kupu-kupu yang terbang diatas kembang.

Beng Han hanya balas memandang sambil tersenyum dan berkata kepada Sian Lun.

"Kupu-kupunya tak dapat ditangkap, terlalu gesit."

Padahal ia tidak mau menangkap kupu-kupu itu karena kasihan, Sian Lun merengek.

"Tangkaplah, ayah tangkaplah kupu-kupu itu untukku!"

"Jangan, Sian Lun, nanti dia mati, kasihan..."

Beng Han. Sian Lun lalu meronta minta turun dan berlari kepada Kui Eng.

"Ibu... ayah nakal, ibu. Kau harus pukul padanya!,"

Katanya dengan sikap manya sambil menuding kearah Beng Han.

"Hush, jangan nakal, Sian Lun,"

Kata Kui Eng tetapi anak itu menangis dan mendesak agar supaya ibunya memukul ayahnya yang nakal itu!

Kui Eng dan Beng Han saling pandang, teringat kepada Bun Hong yang keras kepala dan nakal, Anak ini benar-benar seperti Bun Hong!

"Baiklah kupukul dia, akan tetapi kalau kau yang nakal, kaupun akan kupukul!,"

Akhirnya Kui Eng mengalah dan menghampiri Beng Han, mengangkat tangan dan pura-pura memukul bahu pemuda itu, Kata Beng Han yang hendak menggoda Sian Lun, pura-pura mengaduh dan menutupi muka dengan kedua tangan dan membuat suara seperti orang menangis.

Terbelalak muka Sian Lun memandang ayahnya dan ia lalu berlari menghampiri Beng Han yang duduk diatas rumput, memeluk ayahnya dan berkata.

"Ajah... kau sakit dipukul ibu, ayah..."

Kemudian, anak itu memandang kepada ibunya dan berkata.

"Ibu, kau nakal, mengapa kau pukul ayah sampai sakit?"

"Eh, bukankah kau yang menyuruhku tadi?,"

Kata Kui Eng sambil tersenyum.

"Ya, akan tetapi jangan keras memukulnya!"

Beng Han tak dapat menahan gelak-tawanya, dan juga Kui Eng tertawa geli hingga Sian Lun memandang heran sekali.

Bukan main senang dan bahagianya rasa hati Kui Eng dan Beng Han pada saat itu dan ketika mereka saling memandang tiba-tiba suara ketawa mereka terhenti dan dua pasang mata itu bertemu dan saling pandang bagaikan kena pesona.

Hati mereka masing-masing berbisik dalam lagu yang sama dan suara yang sama pula.

"Alangkah bahagianya kalau kita bertiga dapat berkumpul merupakan satu rumah-tangga yang bahagia..."

Hati kedua orang muda ini telah terbuka, dan keduanya telah siap-sedia mengangguk dan menyatakan setuju, hanya menanti datangnya sebuah tangan yang akan diulurkan dan akan mempertemukan kedua hati itu.

Dan tangan inipun telah mendekat tanpa mereka ketahui, yakni tangan Pek I Nikou yang hendak mengangkat diri menjadi comblang!

Kebahagiaan telah berada diambang pintu bagi mereka tanpa mereka ketahui.

Ketika terdengar suara tertawa dan tepuk-tangan Pek I Nikou yang bergirang itu dari dalam rumah, barulah mereka sadar bahwa semenyak tadi mereka telah saling pandang bagaikan terkena pesona hingga keduanya menundukkan muka dengan malu-malu dan dada berdebar.

"Sumoi,"

Kata Beng Han tanpa mengangkat muka sambil membelai kepala Sian Lun.

"Anak ini seperti anakku sendiri..."

"Demikianpun perasaan hatiku, suheng..."

Keduanya tak dapat berkata-kata lagi sampai datangnya Pek I Nikou yang dengan wajah berseri mengulurkan tali pengikat hati mereka berdua.

Mendengar pinangan ini, Kui Eng lalu berlari masuk dan membanting tubuhnya diatas pembaringan sambil menangis karena...

girang!

Semenyak gagalnya penyerangan Bun Hong, Beng Han dan Kui Eng yang merupakan tiga naga sakti mengamuk, Thio-Thaikam bukannya merasa jerih dan kapok, bahkan lalu memperlihatkan keganasannya makin hebat pula.

Petani yang merasa tertekan dan tercekik, akhirnya tak kuat menahan penderitaan itu dan mulai tahun 874, memberontaklah para petani itu dengan hebatnya!

Dimana-mana rakyat bangkit dan memberontak hingga akhirnya Thio-Thaikam dibunuh mati oleh rakyat, bahkan Kaisar Tang sendiri sampai terusir dan lari dari istananya yang diduduki oleh barisan petani!

Pembesar tinggi yang jahat mendapat bagaiannya dan banyak yang dibinasakan.

Sungguhpun lima tahun kemudian, barisan petani ini dapat dipukul mundur oleh tentara kerajaan yang mendapat bantuan dari barisan Turki barat, namun pemberontakan itu telah membuat gentar hati para pembesar dan Kaisar hingga mereka tidak berani berlaku sewenang-wenang lagi.

Dan sementara itu, pada suatu hari, bertemulah tiga pasang pengantin dengan penuh bahagia, mereka ini ialah Beng Han dengan Kui Eng, Beng Lian dengan Yu Tek, dan Swi Lan dengan Min Tek!

TAMAT Penerbit/Pencetak .

CV Analisa Cetakan .

1961 Pelukis .

Oen Tiong Ho Sumber Image .

Awie Darmawan Kontributor .

Yon Setiono Konversi Image ke teks & E-Book .

Cersil Kph

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 13

Baca Juga: Jodoh Rajawali 15

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert