Eps 10 Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung
Baca online Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung
Cersil Bukit Pemakan Manusia - Khu Lung.
"Mula-mula lohu ingin membicarakan lebih dahulu masalah yang menyangkut tentang seorang perempuan lain !"
"Seorang perempuan lain? siapa ?"
Seru nona Kim dengan wajah tertegun karena keheranan.
"Dia adalah selir kesayangan dari Lok hun pay Mao Tin hong, Su Nio ! Kau kenal bukan dengan perempuan ini ?"
Paras muka nona Kim berubah hebat.
"Buat apa kita membicarakan persoalan tentang dia ?"
"Lohu percaya, disaat dia hendak meninggalkan Bukit Pemakan Manusia, sebelumnya tentu sudah mengadakan hubungan kontak dengan nona bukan ? Dan aku percaya diapun sudah menyampaikan sesuatu bukan kepada nona..?"
Nona Kim tidak menjawab, tepi tanpa terasa dia menjadi teringat kembali dengan peristiwa sebelum Su Nio melarikan diri dari Bukit Pemakan manusia, dimana perempuan itu telah menyampaikan banyak masalah dengannya.
Agaknya kakek bertongkat itu seperti mengetahui dengan jelas atas peristiwa yang terjadi pada malam itu, sesudah bermenung sebentar, seperti sengaja tak sengaja dia melirik sekejap kearah nona Kim, kemudian berkata lagi.
"Lohu hendak menyampaikan pesan kepada nona, bahwa apa yang diucapkan oleh Su Nio itu sesungguhnya bisa dipercaya semua."
Nona Kim segera mendengus dingin.
"Hmm, atas dasar apa kau mengatakan kalau perkataannya itu dapat dipercaya?"
Kakek bertongkat itu menghela napas.
"aaii.... kisah yang sebenarnya seperti sebuah cerita saja, bolehkah lohu untuk mengungkapnya.,."
Belum habis ia berkata, sekali lagi ia ber-kata, sekali lagi nona Kim menukas.
"Tidak usah, itu tidak suka mendengarkan kisah ceritamu itu!"
Sun Tiong lo yang berada disampingnya segera berkerut kening, kemudian menyela.
"Adik Klm, apa salahnya untuk didengarkan"
Nona Kim benar benar merasa bingung dan serba salah, namun sesungguhnya dia ingin mengetahui dengan segera segala sesuatu yang menyangkut riwayat hidup sesungguhnya, akan tetapi diapun kuatir apabila sudah mengetahui keadaan yang sebenarnya, dia akan menjadi tak tahan.
Sekarang, dalam segala bidang dan semua masalah, dia sudah merasa kalau Mao Tin hong adalah seorang manusia misterius yang amat mencurigakan rasa percayanya pada diri sendiri menjadi goyah, dia ingin membuktikan kebenaran dari dugaannya tersebut.
Maka sesudah Sun Tiong lo turut menimbrung diapun tidak membantah ataupun mengucapkan sepatah katapun ditatapnya Sun Tiong lo dengan pandangan gugup.
Sun Tion lo tersenyum.
dia maju kedepan dan menggenggam tangannya yang lembut dengan mesra.
Menyaksikan keadaan mana, kakek bertongkat itu segera berkata lagi sambil tertawa.
"Sebelum menemui ajalnya, lohu bisa menyaksikan kalian enghiong dan Bu jin..."
"Kau tidak usah mengaco belo tak karuan."
Tukas nona Kim dengan penuh kegusaran. Kakek bertongkat itu segera tertawa terbahak-bahak, dia pun mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, ujarnya.
"Haah... haaah... haaah... dunia persilatan ini penuh dengan pelbagai aliran, meski ada sepuluh perguruan besar di tambah dua belas partai lainnya namun baik Siau lim pay mau pun Bu Tong pay masih terhitung kekuatan yang lemah.
"Kalau bicara ilmu silat dan tenaga dalam yang sesungguhnya, tiada perguruan atau partai manapun didunia persilatan yang bisa menandingi keluarga Kwik dari kota Tong ciu.
"Keluarga Kwik dari kota Tong ciu merupakan satu-satunya keluarga persilatan yang banyak melakukan kebajikan dan perbuatan sosial, dimana Mao Tin hong masih malang melintang didalam dunia persilatan pun, hanya keluarga Kwik dari kota Tong ciu yang disegani. Oleh sebab itu tak segan-segannya dia itu menyingkir jauh-jauh dari gedung keluarga itu, sementara secara diam-diam mengutus jago-jago lihay nya untuk menyelundup ke dalam gedung keluarga Kwik.
"Waktu itu, kebetulan sekali Kwik Toa wang-wee baru saja memperoleh seorang putri yang disayangi seperti menyayangi nyawa sendiri, nah! Disaat itulah, jago-jago lihay yang dikirim Mao Tin-hong segera menjalankan aksi-nya dengan membohongi mak inang pengasuh putri tersebut, kemudian menculik dan melarikan putri dari keluarga Kwik ini."
Nona Kim merasakan hatinya terkesiap, tanpa terasa dia teringat kembali dengan ucapan dari Su Nio.
Sebelum pergi, Su Nio pun memberitahukan kepadanya bahwa dia she Kwik, tapi tidak menyebutkan desa kelahirannya.
Setelah dicocokkan dengan perkataan dari si kakek sekarang, terbuktilah sudah kalau ucapan tersebut persis sama antara yang satu dengan lainnya, jangan-jangan...
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa nona Kim segera menukas.
"Kau sedang membawakan sebuah cerita ?"
"Tidak, lohu ledang membawakan kisah nyata dan riwayat hliup nona"
Sahut kakek itu dengan wajah serius.
"Jadi kau mengatakan kalau aku she Kwik?"
Seru nona Kim dengan sepasang mata melotot besar. Kakek itu manggut-manggut.
"Tepat sekali, nona adalah putri kesayangan dari Kwik Toawangwee...!"
Belum sempat nona Kim mengucapkan sesuatu, Sun Tiong lo telah menyela kembali dari samping.
"Lotiang, dapatkah kau menjelaskan teka-teki ini ?"
"Menjelaskan teka teki ini ? Apa yang Sun sauhiap maksudkan ?"
Seru si kakek dengan wajah tertegun. Sun Tiong lo memandang sekejap ke arah nona Kim, kemudian katanya.
"Menurut apa yang kuketahui, bukan saja Kwik Wangwee adalah seorang yang saleh dan ramah, diapun memiliki ilmu silat yang amat lihay dengan tenaga dalam yang tiada bandingannya..."
"Benar, benar !"
Sahut si kakek sambil mengangguk.
"Sauhiap memang seorang yang mempunyai maksud-maksud tertentu rupanya !"
Setelah kejadian berkembang menjadi begini rupa, Sun Tiong-lo merasa tidak perlu untuk membahas akan kejadian di masa lalu lagi, maka katanya kemudian.
"Terus terang saja kukatakan lotiang, seandainya Kwik wangwee tidak membantuku, mana mungkin aku bisa memiliki ilmu siiat seperti apa yang kumiliki sekarang !"
Begitu ucapan tersebut diutarakan, kakek bertongkat iiu menjadi amat terkejut dia se gera berseru tertahan.
"Maksud sauhiap, kepandaian silat yang kau miliki itu berasal dari keluarga Kwik?"
Sun Tiong lo manggut-manggut.
"Yaa, dasar kepandaianku sih berasal dari ketua Kay pang, tapi tehnik ilmu silatnya berasal dari Kwik wangwee!"
Mendengar sampai disini, kakek bertongkat iiu segera menghela napas panjang.
"Aaaai, rupanya begitu, tak heran kalau Mao Tin-hong tak mampu untuk menandingi sauhiap !"
Sun Tiong lo tertawa hambar.
"Lotiang, oleh sebab itulah aku merasa agak curiga dengan peristiwa yang lotiang ceritakan barusan, dimana Mao Tin hong telah mengirim orang untuk menculik putrinya, sebab sepengetahuanku ilmu silat dari Kwik wangwee liehay sekali..."
"Sun sauhiap, harap kau jangan lupa, Mio-Tin hong bertindak dengan suatu perencanaan yang amat matang."
Sun Tiong lo manggut-manggut.
"Tentu saja, cuma setelah kehilangan putri nya tentu saja Kwik wangwae tak akan berpeluk tangan belaka!"
"Tentu saja tak akan berpeluk tangan belaka, sayang sekali tiada tanda tanda yang bisa dipakai untuk melacaki peristiwa tersebut pada waktu itu, si Inang pengasuh yang masuk perangkap dan kena tertipu pada akhirnya juga turut dibunuh oleh Mao Tin hong, sehingga boleh dibilang tiada saksi hidup yang bisa ditemukan lagi."
"Membunuh saksi hidup? Siapa yg terbunuh?"
"lnang pengasuh tersebut !"
"Siapa yang membunuh ?"
"Su Nio, padahal Su Nio sendiri pun cukup mengenaskan nasibnya, dia sendiri pun kena di culik dan diancam oleh Mao Tinhong sehingga akhirnya tak berani membangkang perintahnya, semua kesulitan tersebut lohu ketahui dengan jelas sekali !"
Hou-ji yang selama ini hanya membungkam terus mendadak menyela.
"Aku tak sanggup menahan diri untuk mengajukan satu pertanyaan kepadamu, darimana kau bisa mengetahui persoalan yang begini banyak ..."
Kakek itu tertawa getir "Bila segala sesuatunya sudah kuterangkan lohu tentu akan memberi penjelasan tentang persoalan ini"
"Jadi sekarang tidak dapat ?"
Tanya Hou-ji sambil tertawa. Kakek itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak dspat, camun lohu dapat menjanjikan kepada Hou-hiap, sebelum ku tinggalkan tempat ini, pasti akan kuterangkan persoalan ini kepada saudara sekalian"
Sun Tiong lo memandang sekejap ke arah nona Kim yang berada disisinya, lalu bertanya kepada kakek itu.
"Persoalan mengenai nona Kim, aku percaya ada kemungkinan seperti itu, sekarang aku ingin bertanya kepada lotiang, masih ada persoalan apa lagi yang hendak disampaikan kepada kami ?"
"Kini Mao Tin hong berada atas sebuah perahu besar ditengah telaga sana !"
Kata kakek itu cepat. Mendengar perkataan itu, buru buru Bau ji bertanya .
"Sungguh ? Diatas perahu yang mana ?"
"Daripada salah sasaran, lohu bersedia untuk menunjukkan sendiri perahu itu"
"Baik, baik, kami akan segera berangkat!"
Kata Bau ji cepat. Buru-buru Sun Tiong lo mencegah kakaknya untuk beranjak, katanya dengan cepat.
"Toako, harap tunggu sebentar lagi"
Kemudian sesudah berhenti sejenak, ujarnya lagi kepada si kakek bertongkat itu.
"Lotiang, bukannya aku kelewat banyak curiga, atas kesediaan lotiang memberitahukan begiat banyak rahasia kepada kami, tentu saja kami merasa berterima kasih sekali.
"Cuma, kami cukup mengetahui akan kelicikan dan kebusukan Mao Tin-hong, tak bisa di salahkan kalau kami harus bertindak kelewat berhati-hati didalam persoalan ini, karena itu kami harus menanyakan pula masalah ini sampai menjadi jelas."
Kakek itu segera manggut-manggut.
"Yaa, sudah seharusnya begitu, bila sauhiap menaruh curiga, sudah sewajarnya bila diutarakan."
"Berbicara dari keadaan lotiang yang begitu jelas mengetahui akan peristiwa yang lampau, semestinya kau mempunyai hubungan yang akrab sekali dengan Mao Tin hong, bahkan bisa jadi kaupun pernah terlibat didalam peristiwa ini!"
Belum selesai ia berkata, kakek itu menukas "Sauhiap, mengenai asal usul lohu, akan ku terangkan pada akhir pembicaaraan nanti."
Sun Tiong-lo tertawa.
"Baik, kalau begitu aku ingin bertanya kepada looang, setelah kau mengungkap begitu banyak rahasia tentang Mao Tin hong kepada kami, apakah kau mempunyai pekerjaan yang menginginkan pertolongan kami untuk menyelesaikannya? Kalau ada, silahkan saja untuk diutarakan dengan setulus hati."
"Ada, ada satu persoalan besar yang hendak kusampaikan"
Sun Tiong lo kembali tertawa.
"Asal dapat kulakukan, sudah pasti akan ku selesaikan tanpa membantah..!"
Paras muka kakek bertongkat itu berubah menjadi amat serius, katanya kemudian.
"Lohu mengharapkan kalian dua bersaudara untuk menumpas kejahatan dan membunuh Mao Tin hong ?"
"Hmm, rupanya kau ingin menggunakan siasat meminjam golok untuk membunuh orang"
Bukan menyangkal kakek itu malahan manggut-manggut.
"Ucapan dari nona memang betul, memang begitukah maksud tujuanku yang sebenarnya."
Pengakuan dari si kakek yang berterus terang iiu malahan membuat semua orang menjadi terbungkam dan tak mampu menjawab. Pelan-pelan kakek bertongkat itu berkata lebih jauh.
"Terus terang saja kukatakan sau-hiap, rasa benciku terhadap bajingan she Mao itu tidak berada dibawah rasa benci kalian."
"Heeeh, heeeh, heeeh, tunggu dulu."
Tukas nona Kim sambil tertawa dingin.
"ucapanmu yang sepihak itu tak bisa dipercayai dengan begitu saja, kami harus membuktikannya lebih dahulu secara berhati hati !"
"Tidak usah !"
Tukas kakek bertongkat itu.
"disaat sauhiap sekalian berjumpa dengan Mao Tin-hong dan bertatap muka dengannya, bila semua persoalan ini kalian utarakan, aku percaya dia pasti mengakuinya."
"Masa begitu gampang ?"
Jengek nona Kim, Kembali kakek bertongkat itu tertawa.
"Di-kala nona mengungkapkan semua persoalan yang dianggap olehnya sebagai rahasia besar ini, dengan cepat dia akan tahu kalau lohu yang mengungkapkan semua rahasia ini kepadamu, tentu saja dia tak akan menyangkal lagi."
Nona Kim segera terbungkam dalam seribu bahasa, sedangkan Hou-ji kembali berkata.
"Kedengarannya semua perkataanmu itu memang masuk diakal, tapi sayangnya tanpa bukti yang jelas !"
"Gampang sekali, dikala sauhiap telah berhasil membekuk dirinya, lohu bersedia untuk diadu muka dengan dia !"
Sun Tionglo berpikir sebentar, harap lotiang sudi menunjukkan kepada kami perahu yang kau maksudkan tadi !"
Kakek bertongkat itu manggut-manggut.
"Boleh saja, cuma sauhiap harus berhati-hati walau diatas perahu tersebut penuh dengan para kaum perempuan sedangkan lelakinya hanya Mao Tin hong seorang, namun perempuan cabul itu benarbenar lihay sekali, kepandaian silatnya tak boleh dianggap enteng!"
"Aku tidak takut."
Tukas Bau ji cepat. Kakek itu segera mengulapkan tangannya.
"Walaupun begitu, lohu berharap sauhiap sekalian masih sudi mendengarkan sepatah kataku."
"Silahkan saja kau utarakan!"
Kata Sun Tiong Io sambil tertawa. Kakek itu memandang sekejap kearah Bou ji kemudian berkata.
"Lohu tahu, ilmu silat yang dimiliki Sau hiap berasal dari perkumpulan pengemis, dalam dunia persilatan pun sudah cukup lama berkelana. apakah kau pernah mendengar tentang suatu lembah yang bernama Tay hian mo kok?"
Mendengar pertanyaan itu, dengan kening berkerut Hou ji lantas menyahut.
"Yaa, aku memang pernah mendengar tentang nama tersebut dari guruku..."
"Tahukah Hou hiap, dimanakah letak lembah tersebut?"
Hou ji segera menggeleng.
"Soal ini mah kurang tahu..."
"Kalau begitu kau lebih-lebih tidak mengetahui tentang siapakah Tay hian kokcu itu?"
"Lotiang, apakah kau tidak merasa kalau pertanyaanmu itu diutarakan berlebihan?"
Seru Hou ji dengan kening berkerut. Kakek itu tidak marah, sebaliknya malah tertawa sembari menyahut.
"Kedengarannya memang seperti berlebihan tapi setelah lohu terangkan nanti, lohu percaya Hou hiap pasti akan terbelalak dan membungkam, bahkan menganggap pertanyaai lohu ini memang sudah sepantasnya diajukan..."
"Perduli siapakah Tay hian kokcu ini, apa sangkut pautnya dengan persoalan yang sedang kami hadapi?"
Tanya Bau ji dengan tak sabar.
"Oooh, besar sekali sangkut pautnya!"
Kata kakek bertongkat itu sambil tertawa. Sun Tiong lo memutar sebentar sepasang matanya, mendadak dia berkata.
"Apakah lembah tersebut ada hubungannya dengan Mao Tin hong?"
"Sun sauhiap memang tak malu disebut sebagai jagoan yang luar biasa, sekali tebak sudah dapat menebaknya secara jitu."
Puji si kakek sembari tepuk tangan.
"Ada sangkut pautnya dengan bajingan she Mao itu? Hou ji ikut bertanya. Kakek itu tidak menjawab pertanyaan yang diajukan, melainkan berbalik bertanya kepada Hou-ji.
"Tolong tanya Hou hiap, pernahkah kau mendengar soal Pek ho-wan dari gurumu ?"
Hou ji berpikir sebentar, kemudian sahutnya.
"Nama itu seperti pernah kukenal, tapi..."
Berbicara sampai disitu, mendadak Hou ji teringat akan sesuatu dan buru-buru serunya.
"Apakah kau maksudkan kebun selaksa bunga Pek hoa wan yang berada digua Pek hoatong wilayah Biau di Tin lam ?"
Sekali lagi kakek bertongkat itu bertepuk tangan keras.
"Hou hiap memang betul-betul mengenali tempat-tempat kenamaan dalam dunia persilatan, tepat sekali ! Memang tempat itu yang kumaksudkan..."
"Hmmm, kalau toh tempat tersebut lantas kenapa?"
Jengek nona Kim sambil mendengus.
"Adat istiadat yang berlaku dalam gua Pek hoa tong sama sekali berbeda dengan tempat tempat lain, bukan saja jumlah perempuan di situ jauh lebih banyak daripada kaum lelaki nya, lagipula hanya kaum perempuan yang berhak diangkat menjadi kepala suku dan menguasahi segenap suku yang ada..."
"Apakah persoalan ini ada sangkut pautnya dengan persoalan yang akan kita kerjakan ?"
Jengek nona Kim sinis. Kakek bertongkat itu manggut-manggut.
"Benar, kepala suku Pekz hoa wan tunduk di bawah perintah pemilik kebun selaksa bunga, sedangkan pemilik lembah Thay hian mo kok dengan pemilik kebun selaksa bunga adalah suami isteri..."
"Dapatkah kau memberi keterangan secara langsung."
Tukas Bau ji sambil berkerut kening.
"Tak usah tergesa gesa sauhiap, sebentar akan kuterangkan yang kumaksudkan sebagai pemilik perahu yang sedang berlabuh di tengah telaga Tong-ting-oh tersebut bukan lain adalah pemilik kebun selaksa bunga beserta kawanan jago lihaynya..."
Seperti baru menyadari akan sesuatu, Sun Tiong lo segera berseru.
"Ooooh-jadi maksud lotiang, kokcu dari lembah Thay hian mo kok adalah Mao Tin hong?"
"Benar, si tua bangka itulah orangnya !"
Sahut kakek bertongkat itu dengan cepat. Paras muka Hou ji segera berubah hebat.
"Jadi kalau begitu, suami istri berdua telah bekerja sama untuk memusuhi diri kami?"
Seru nya.
"Memang begitulah kenyataannya dan tak bisa diragukan lagi !"
Sun Tiong lo tersenyum.
"Sekalipun begitu, aku rasa juga tidak mengapa !"
Hou ji segera menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Siau-liong, kau tak boleh berpendapat begitu, suhu pernah memberitahukan kepadaku bahwa Pek hoa wancu atau pemilik kebun selaksa bunga itu memiliki ilmu silat yang sangat lihay, apalagi ilmu barisan Thay mi thian hun Siu-tin nya, boleh dibilang sudah tiada tandingannya di dunia ini, apalagi dalam kitab kecil kita, tempat terakhir yang dicantumkan adalah kebun selaksa bunga..."
Sudah barang tentu Sun Tiong lo tak akan melupakan hal ini, dengan kening berkerut serunya.
"Benarkah begitu lihay?"
"Bu lim sam seng (tiga malaikat suci dari dunia persilatan) pernah termashur dalam dunia persilatan dimasa lampau, hampir saja tumpas dalam barisan Tay mi thian bun siu ti-n tersebut, kejadian ini boleh dibilang hampir diketahui oleh setiap orang di dunia"
Sun Tiong lo termenung beberapa saat lama-nya, kemudian berkata.
"Engkoh Hou, sekalipun begitu kita sudah tidak memiliki pilihan yang lain lagi..."
Pada saat itulah, si kakek bertongkat itu menyambung kembali kata-katanya.
"Sampai dimanakah kehebatan dan kelihayan dari ilmu barisan dari siluman perempuan itu, berhubung lohu tidak tahu maka tidak berani ku katakan, namun ada cara yang paling bodoh dan paling sederhana untuk membuat barisan ini tak berfungsi !"
Ucapan ini tentu saja membuat para jago merasa terkejut bercampur keheranan, tanpa terasa mereka jadi saling berpandangan sampai lama sekali...
Berhubung Bau-ji sudah tahu kalau Tay hian kokcu adalah Mao Tin-hong, tentu saja ia tak bisa memandang remeh "cara paling bodoh"
Yang dikemukakan oleh kakek bertongkat itu, segera tanyanya dengan penuh napsu.
"Bagaimana caranya ?"
"Cara itu banyak sekali, seringkali cara yang paling bodoh bisa mendatangkan kemujuran."
Terhadap kakek bertongkat ini, seperti juga terhadap nona Kim, Bau ji tidak menaruh kesan yang terlalu paik, oleh sebab itu dengan perasaan tak sabar dia segera menimbrung.
"Dapatkah kau mengutarakan secara blak-blakan dan berterus terang...?"
"Yang penting hanya satu, yakni kita tak boleh meninggalkan sepasang suami isteri ini kabur kembali ke wilayah Biau, pertama karena wilayah Biau jauh letaknya dari sini, ke dua, kalau sampai siluman perempuan itu kembali kewilayahnya, berarti mereka sudah menang posisi lebih dahulu !"
Nona Kim mendengus dingin.
"Kau yakin kalau dia tak akan kalah ?"
Seru nya.
"Walaupun ilmu barisan Tay-mi-thian hun-siu-tin dari silaman perempuan itu bisa digunakan disegala tempat, namun kalau berbicara soal kehebatan yang dihasilkan, tentu saja selisih jauh apabila barisan itu dilakukan dalam wilayah Biau.
"Barisan raksasa dalam kebun selaksa bunga dibuat oleh ayah ibunya, bukan saja kedahsyatannya mengerikan, bahkan dilengkapi pula dengan pelbagai alat rahasia, tiada orang yang mampu untuk menembusinya, kecuali kalau kalian yakin memiliki ilmu silat yang jauh lebih lihay daripada Bu-lim samseng di masa lalu."
Sun Tiong lo segera manggut-manggut.
"Masuk diakal juga perkataan ini, apalagi kitapun tak akan membiarkan bajingan tua she Mao itu kabur sampai di wilayah Biau !"
Katanya cepat. Kakek bertongkat itupun turut manggut-manggut.
"Benar, kita harus menjebaknya kemudian baru membekuknya, kalau sampai dibiarkan kabur kembali ke sarangnya. waah, bisa berabe!"
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lagi.
"Kendatipun demikian, lohu masih kuatir kalau sauhiap sekalian sulit untuk memperoleh keberhasilan !"
Tiba-tiba nona Kim menjerit lengking.
"Tampaknya kau sudah ketakutan sekali terhadapnya ?"
Ucapan tersebut seperti lagi menyindir kakek bertongkat itu, padahal hal mana menunjukkan kalau sikap maupun pandangan nona Kim terhadap Mao Tin hong telah mengalami perubahan.
Sekalipun begitu, dia toh tak sampai menunjukkan sikap yang terlalu menyolok, karena dia tetap menggunakan istilah "dia"
Untuk membasahi Mao Tin-hong.
oooO-de-Oooo TAMPAKNYA kakek bertongkat ini bukan cuma berpengalaman sangat luas, diapun cukup memahami perasaan orang, maka selesai mendengarkan perkataan dari nona Kim yang bersifat mengejek itu, dia segera tertawa dan berkata.
Terus terang nona, memang begitulah kenyataannya dan aku memang takut sekali padanya !"
Memanfaatkan kesempatan tersebut, nona Kim segera bertanya.
"Sekarang, tanpa disadari kau telah mengungkapkan hubunganmu dengan dirinya, apakah dalam keadaan demikian, kau masih merasa perlu untuk merahasiakan nama serta indentitas mu yang sebenarnya..?"
Kembali kakek itu tertawa.
"Segera akan ku-ungkapkan, kita hanya menunggu bagaimana caranya untuk melakukan penyerangan !"
"Lotiang, bila kau mempunyai suatu rencana baik, mengapa tidak kau ungkapkan kepada kami ? seru Sun Tiong-lo yang mendengar sesuatu dari balik ucapannya tadi. Si Kakek berpikir sebentar, kemudian katanya.
"Lohu rasa, untuk menangkap ular harus kita pegang bagian tujuh incinya, untuk membasmi kejahatan harus berupaya untuk membekuk pentolannya, siluman perempuan itu keji. buas dan cabul, sedangkan bajingan she Mao itu buas dan banyak tipu rauslihatnya, maka kita harus menyusun rencana dengan sebaik-baiknya sebelum melakukan suatu tindakan.
"Perahu besar itu meski berada ditengah telaga, dan bila dibicarakan menurut keadaan tak bisa dibandingkan dengan sarang naga gua harimau, namun jika dilakukan penyerangan secara semberono, sudah pasti akan jatuh korban..."
"Sudah, kau tak usah ngoceh terus yang bukan-bukan, beberkan saja caramu yang dikata kau baik itu"
Tukas Bau ji lagi.
"Cara yang terbaik tanpa ada bahaya namun besar kemungkinannya untuk berhasil adalah menyerang dengan api !"
Bau ji segera manggut-manggut.
"Benar, memang cara yang paling baik"
Katanya. Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling ke arah Sun Tiong lo sambil minta pendapat. Sun Tiong lo segera tersenyum.
"Lotiang, cara ini boleh dibilang merupakan cara yang paling sempurna, akan tetapi aku tak dapat berbuat demikian !"
"Mengapa ?"
Tanya si kakek dan Bau ji hampir bersamaan waktunya.
"Mungkin bajingan she Mao itu adalah pembunuh utama, mungkin juga apa yang dikatakan lotiang merupakan kenyataan, tapi aku tak bisa membinasakan dirinya dengan serangan api sebelum segala sesuatunya dibikin beres dan jelas, aku perlu membuktikan dulu hal ini dari mulutnya..."
Kakek itu menjadi tertegun.
"Kau ingin mencari bukti dari mulutnya sendiri ? Sun sauhiap, apakah kau tidak merasa bahwa caramu itu kurang baik ? Coba bayangkan mungkinkah bajingan tua she Mao itu akan memberi kesempatan kepada sauhiap...? Apalagi siluman perempuan itu mengincar terus dari sisi arena..."
Belum habis dia berkata, dengan wajah serius Sun Tionglo telah menukas.
"Lotiang harus mengerti, aku hanya menaruh curiga dalam persoalan ini dan tidak kumiliki bukti yang cukup, sedangkan ucapan dari lotiang meski bisa dipercaya, tob tiada bukti yang jelas !"
Kakek bertongkat itu segera berkerut kening.
"Bila sauhiap baru percaya setelah ada bukti, waah sulit juga untuk dibicarakan"
Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia seperti teringat akan sesuatu, sembari katanya.
"Ah, benar, masih ada persoalan lain yang lohu lupa menyinggungnya, pertama adalah letak lembah Thay hian mo kok dan kedua ada lah Gin ih lak yu (enam sahabat baju perak) anak buah bajingan she Mao tersebut."
Sebenarnya siuhiap sekalian sudah pernah mengunjungi lembah Thay hian mo kok, yakni tempat yang dikenal sebagi Bukit pemakan manusia sekarang, cuma Gin ih lak yu tidak mengetahui akan hal ini, Aku yakin Sun sauhiap pasti tahu bukan mengapa kusinggung soal ke enam orang itu?
Asal kau tanyakan hal ini kepada mereka, akan segera kau ketahui bajingan she Mao itu baik atau jahat"
"Waah, rupanya kerja sama kami dengan Lak yu juga telah diketahui oleh lotiang?"
Kata Sun Tiong lo sambil tersenyum. Kakek bertongkat itu ikut tertawa.
"Yaa, tentu. lohu toh orang yang ada maksud..."
"Kini, aku sudah tidak menaruh curiga atau perasaan sangsi lagi terhadap apa yang lotiang ucapkan"
"Jadi kau akan tetap menyerang dengan menggunakan api?"
Dengan cepat Sun Tioog lo menggelengkan kepalanya berulang kali, serunya cepat.
"Maaf, kalau soal itu mah tak bisa kusanggupi."
"Mengapa? Mengapa kau tak dapat menyanggupi usulku ini?"
Seru sikakek dengan kening berkerut.
"Terlepas dari banyak persoalan yang masih harus kutanyakan kepada bajingan Mao, soal perempuan-perempuan didalam perahu itu masih merupakan suatu masalah besar, siapa sih yang berani menjamin kalau mereka semua merupakan manusia-manusia jahat yang berhati sesat dan berjiwa cabul?"
Kakek bertongkat itu terbungkam seketika itu juga oleh perkataan tersebut, setelah tertegun cukup lama, akhirnya dia baru menghela napas panjang.
"Aaai., mungkin disini letak perbedaan antara manusia Bu lim dengan manusia kungcu!"
Kali ini Sun Tiong lo cuma tertawa saja tanpa memberikan jawaban apa pun. Mendadak... si kakek bertongkat itu seperti teringat akan sesuatu, dengan wajah berseri ia segera berseru.
"Aaah.. ada akal, lohu telah menemukan sebuah cara yang amat sempurna !"
"Ooooh, bagaimanakah akalmu itu ? Tolong kau beberkan."
"Kita tetap menyerang dengan menggunakan api, hanya sebelumnya kita siapkan sampan disekitarnya, dikala sauhiap menurunkan perintah untuk membakar perahu tersebut, sampan yang berada disekitar situ segera maju memberi pertolongan entah bagaimana pendapatmu ?"
Sun Tionglo termenung dan lama sekali tidak menjawab. Bau-ji yang berada disisinya segera menimbrung.
"Saudaraku, aku pikir cara ini bisa digunakan"
Sun Tiong lo memandang sekejap ke arah Bau-ji, kemudian manggut-manggut ke arah Hou ji sembari berkata.
"Bagaimana kalau Engkoh Hou saja yang melaksanakan tugas ini ?"
Hou ji segera tertawa.
"Boleh sih boleh, cuma soal perahu api yang digunakan menyerang tak perlu banyak banyak satu saja pun sudah cukup !"
"Ooooh... rupanya Hou-hiap hendak menyediakan obat peledak didalam perahu tersebut ?"
Seru si kakek itu cepat. Mendengar perkataan itu. Hou-ji segera memandang sekejap-ke arah si kakek-bertongkat itu sambil berseru.
"Waaah. manusia macam kau benar-benar menakutkan sekali."
Kakek bertongkat itu tidak menjadi marah, dia menjawab dengan cepat.
"Betul, lohu memang orang jahat yang jarang sekali dijumpai dikolong langit dewasa ini". Keterus terangan orang tersebut justeru sebaliknya membuat para jago lainnya menjadi rikuh untuk berbicara lebih jauh. Sesudah berhenti sejenak, terdengar dia ber kata lagi.
"Itulah sebabnya aku telah memperoleh pembalasan yang paling keji dari semua manusia di dunia, aku ini harus merasakan kehidupan yang jauh lebih tersiksa daripada kematian, untung saja sebelum ajalku tiba aku sempat bertobat dari dosa-dosaku dulu, lebih mujur lagi aku diberi suatu kesempatan untuk tnemban tu umat persilatan dalam usahanya melenyapkan seorang manusia yang paling keji, paling licik dan paling buas di dunia ini!"
Nona Kim mengerling sekejap kearah kakek bertongkat itu, kemudian katanya.
"Sekarang, semua persoalan sudah beres, semua rencana telah diputuskan harap kau seharusnya menyebutkan siapa dirimu bukan ?"
"Lohu ingin mengajukan beberapa persoalan kepada sauhiap, harap kau bersedia menjawab nya."
Katanya kemudian.
"Katakan, aku pasti akan berusaha untuk memberi jawaban yang sebaik-baiknya."
"Sebelum menjatuhi hukuman mati terhadap Mao Tin-hong, sauhiap harus mengusahakan perlindungan bagi keselamatan jiwa lohu !"
"Boleh, aku mengabulkan permintaan lotiang itu"
"Sun sauhiap, kita telah berjanji dengan sepatah kata tersebut dan kau tak menyesal bukan ?"
Desak si kakek bertongkat lagi sambil menatap anak muda itu lekat-lekat.
"Langit dan bumi sebagai saksi, apa yang telah kuucapkan tak akan pernah kuingkari kembali !"
Kakek bertongkat itu segera berpaling ke arah Bau-ji, Hou-ji dan nona Kim, kemudian katanya lagi.
"Harap ka!ian bertiga suka menjadi saksi!"
"Tak usah kuatir"
Seru Biu-ji bertiga cepat.
"kami tetap akan memegang janji yang telah diucapkan!"
Saat itulah si kakek bertongkat itu baru menghela napas panjang, katanya kemudian.
"Lohu adalah Kwa Cun seng !"
Ucapan tersebut begitu diutarakan, Bau ji menjadi berdiri bodoh, nona Kim menjadi tertegun dan Hou-ji mengernyitkan alis matanya rapat-rapat.
Hanya Sun Tiong lo seorang tetap tersenyum sedikitpun tidak nampak terkejut atau gugup.
Nona Kim yang menyaksikan sikap si anak muda tersebut segera menjadi sadar kembali, cepat dia berseru.
"Engkoh Tiong, rupanya sedari tadi kau sudah tahu?"
Sun Tiong-lo segera tersenyum.
"Tidak sulit untuk menduga sampai ke situ"
Katanya.
"selain Kwa Cun seng, siapa lagi di kolong langit dewasa ini yang bisa mengetahui segala sesuatu tentang Mao Tin-hong, apa lagi tentang tindak tanduknya di masa silam !"
"Kalau memang begitu, mengapa tidak kau katakan kepadaku sedari tadi ? Akibatnya aku harus menjadi saksi lagi baginya..."
Seru Bau ji agak gemas.
"Kwa lotiang kan sudah kehilangan ilmu silatnya,"
Kata Sun Tiong-lo dengan suara rendah.
"tubuhnya menjadi begitu lemah sehingga tiap saat kemungkinan besar dia akan mati, apalagi dia telah bertobat dan mau menyesali perbuatannya dimasa yang lalu, masa kita akan begitu tega untuk turun tangan membunuhnya?"
"Mengapa tidak ? Memangnya dia benar-benar melepaskan golok pembunuh dan kembali ke jalan yang benar ?"
"Toako"
Kembali Sun Tiong-lo berkata dengan wajah bersungguh-sungguh.
"seandainya ayah, ibu dan ji-nio masih hidup, merekapun akan mengambil keputusan seperti apa yang telah kulakukan sekarang, asal toako bersedia untuk memikirkan persoalan ini dengan hati yang tenang, tidak sulit rasanya untuk memahami hal tersebut."
"Itu nama tidak adil"."
Seru nona Kim tiba-tiba sambil mendengus dingin. -oo0dw0oo-
Jilid 38 SUN TIONG-LO menjadi tertegun dibuatnya.
"Tidak adil ? Apa maksud dari perkataanmu itu ?"
Serunya. Sambil melotot ke arah Kwa Cun-seng, kembali nona Kim berkata.
"Semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh Mao Tin hong, ada delapan sembilan bagian diantaranya muncul dari idenya, sekarang lantaran mendapat bencana dia menjadi mujur, bukankah hal ini tidak adil namanya...?"
Sun Tiong lo segera tertawa.
"Waah, kalau adil diartikan demikian, jadi sulit rasanya untuk dijelaskan. Misalnya saja membunuh seorang manusia keji yang berhati buas, rasa puas disaat berhasil membunuh penjahat itu memang akan kita rasakan tapi kalau dibandingkan dengan jumlah manusia yang terbunuh ditangannya, bukankah hal tersebut menjadi tidak adil ? Bila kita harus membicarakan soal keadilan dari sini, bukankah kejadian mana baru terasa adil namanya andaikata penjahat tersebut mempunyai beratus-ratus lembar jiwa rangkap sesuai dengan jumlah manusia yang telah terbunuh ditangannya ?"
Ucapan mana kontan saja membuat nona Kim menyengir jengah dan tak berbicara lagi, pada saat itulah Kwi Cua seag berkata lagi dengan wajah serius.
"Harap sauhiap sekalian tak usah meributkan persoalan ini, disaat Mao Tin hong sudah menemui ajalnya, sudah pasti aku pun akan membayar pula semua dosa yang pernah kulakukan dimasa lalu, pokoknya aku akan membuat kalian semua menjadi puas dan semua rasa benci kalian menjadi terlampiaskan !"
Cepat Sun Tiong lo mengulapkan tangannya.
"Kalau begitu mah tidak perlu !"
Kemudian sesudah berhenti sejenak, dia berkata lagi.
"Mumpung sekarang ada kesempatan baik, harap lotiang memberi petunjuk dimanakah perahu besar itu sedang berlabuh kini?"
Kwan Cun seng tidak banyak berbicara lagi, dia segera beranjak meninggalkan tempat itu dan berangkat menuju ketepi telaga.
oooO-dw-Oooo KANG TAT, Thio Yok sim dan Cukat Tan sudah setengah harian lamanya melakukan pencarian disekitar dusun di tepian telaga, menjelang kentongan pertama, dengan perasaan kecewa akhirnya mereka berkumpul kembali disekitar bangku batu dibawah pohon liu ditepi telaga.
Dengan kening berkerut Kang Tat berkata.
"Heran mengapa Sun sauhiap sekalian belum juga datang kemari?"
"Tak mungkin belum datang."
Seru Cukat Tan "mungkin mereka telah menjumpai suatu persoalan sehingga kedatangan mereka kesini agak tertunda..."
Cepat Thio Yok sim menggeleng.
"Aaah, persoalan apa yang bisa lebih penting daripada usaha membekuk Mao loji dalam keadaan hidup-hidup ?"
Kaag Tat berpikir sebentar, kemudian katanya.
"Yang lebih aneh lagi adalah bajingan she Kwa itu. padahal dia sudah kehilangan ilmu silatnya, tak mungkin langkah kakinya bisa begitu cepat, padahal sejak dia meninggalkan perahu sampai kita lolos dari kurungan hanya sepertanak nasi saja, masa jejaknya bisa hilang lenyap dengan begitu saja?"
"Tua bangka itu tahu kalau cepat atau lambat dia pasti akan mati, tentu saja dia pasti akan mati, tentu saja dia tak akan tinggal terlalu lama lagi disini"
Ujar Cukat Tan mengemukakan pendapatnya. Dengan cepat Thio Yok-sim menggelengkan kepalanya.
"Rasa benci bajingan Kwa terhadap Mao loji boleh dibilang telah merasuk ke tulang sum-sum, mustahil dia akan melarikan diri, lagipula tenaga dalamnya sudah punah, tubuhnya menjadi lemah dan tak mungkin menempuh perjalanan cepat, sekalipun berhasil kabur pun tak mungkin bisa hidup kelewat lama, oleh sebab itu..."
"Maksud Thio heng, kemungkinan besar bajingan Kwa akan membalas dendam terhadap Mao loji ?"
Sela Kang Tat.
"Yaa, bajingan ini berhati keji dan licik, diapun tidak tahu kalau kematiannya tidak jauh ditambah pula rasa bencinya terhadap Mao lo ji sudah merasuk ketulang sumsum, sudah pasti dia akan berusaha dengan segala kemampuan nya untuk membalas deadam."
"Walaupun perkataan itu betul, namun kita sudah menggeledah hampir semua kota Oh kian tin, nyatanya jejak si bajingan itu belum juga ditemukan, kecuali kalau dia sudah mempunyai persiapan lebih dahulu, aku rasa tidak mungkin bisa demikian."
Mendadak Cukat Tan menyela.
"Betul mungkinkah bajingan keparat itu telah menemukan Sun sauhiap sekalian ?"
Begitu ucapan tersebut diutarakan, kontan saja Kang Tat dan Thio Yok sim jadi tertegun. Beberapa saat kemudian, Thio Yok sim menepuk pahanya sambil berseru keras.
"Yaa, mungkin, mungkin sekali dia berbuat demikian!"
"Seandainya begitu, tidak heran kalau kita tak berhasil menemukan Sun sauhiap"
Cukat Tan segera bangkit berdiri, serunya.
"Ayo berangkat, kita berjalan kejepan sana kita menuju ke perahu besar yang dimaksudkan bajingan she Kwa tersebut."
"Betul, siapa tahu kalau mereka pun akan datang kemari."
Maka berangkatlah ketiga orang itu meninggalkan bawah pohon itu dengan langkah lebar. Mendekati kentongan ke empat, mendadak Cukat Tan menemukan sesuatu dibalik kegelapan sana, ia lantas berbisik.
"Awas, dari jalan kecil disisi sebelah kiri pantai telaga nampak ada manusia sedang berjalan mendekat"
Kang Tat dan Thio Yak sim segera mengalihkan sorot mata mereka, betul juga, nampak sepasukan bayangan manusia sedang bergerak mendekat dari kejauhan sana dengan langkah lambat, sayangnya berhubung keadaan cuaca sangat gelap sehingga tidak nampak jelas raut wajah orang tersebut.
Lewat beberapa saat kemudian dengan suara, yang lebih lirih Cukat Tan berkata lagi.
"Tak bakal salah lagi, bajingan Kwa yang sedang mengajak Sun sauhiap sekalian datang kemari."
"Bagaimana dengan kita sekarang? Lebih baik menyembunyikan diri lebih dulu sambil menantikan perkembangan selanjutnya ataukah lebih baik maju menyongsong saja?"
Kang Tat segera bertanya.
"Kita sudah mengadakan perjanjian lebih dulu dengan Sun sauhiap, tentu saja harus maju menyongsong."
Seru Thio Yok sim dengan cepat.
"Tunggu dulu!"
Dengan cepat Cukat Tan mencegah.
"Sekali pun kita sudah mengadakan perjanjian, tapi hal itu kita buat secara diam-diam, apabila kita harus menyongsong kedatangan mereka sekarang. hal ini sama halnya dengan bajingan she Kwa itu, tiada berkesempatan lagi untuk mengawasi gerak gerik dari Mao loji !"
"Berada dalam keadaan dan situasi seperti ini, masa kita harus mengawasi Mao loji lagi"
Kata Kang Tat sambil tertawa. Cukat Tan termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian baru ia berkata.
"Bila kalian berdua merasa sudah tiada keperluan untuk berbuat demikian lagi, marilah kita muncul bersama-sama."
Thio Yok-sim segera berpaling dan memandang sekejap ke arah Kang Tat, kemudian serunya.
"Bagaimana menurut pendapat saudara Kang?"
Kang Tat memandang sekejap kearah rombongan Sun Tiong-lo sekalian yang makin bertambah dekat itu, kemudian katanya.
"Mari kita menyambut kedatangan mereka, bagaimanapun juga Mao loji toh sudah mengkhianati anak buahnya dan kabur menyelamatkan diri, aku pikir sudah tak perlu diawasi lagi, Iebih baik kita berterus terang saja bekerja sama dengan Sun sauhiap secara blak-blakan!"
Thio Yok sim manggut-manggut.
"Akupun mempunyai pendapat demikian, apabila setelah kemunculan kita, kitapun tak usah takut bajingan tua she Kwa melakukan permainan busuk secara diam-diam. bahkan bila sudah mengetahui rencana berikutnya, kitapun bisa segera memberi kabar kepada Mo tua!"
Begitu keputusan diambil, mereka bertiga segera menampakan diri dari tempat persembunyiannya dan menyongsong kedatangan rombongan tersebut...
Kwa Cun seng yang berjalan dipaling depan sama sekali tidak menunjukkan rasa kaget atau gugup tatkala secara tiba-tiba muncul tiga orang manusia dari balik kegelapan, malah sebaliknya dia berkata sambil tertawa.
"Ketika akan kemari tadi, lohu sudah menduga kalau kalian bertiga bakal menampakkan diri disini"
Kang Tat segera mendengus dingin.
"Hmm, Kwa Cun seng, kami bersaudara sungguh merasa takluk kepadamu.!"
Serunya. Thio Yok-sim malah tertawa dingin sambil mengejek.
"Pepatah bilang, bila dinding roboh, rerumputan pun ikut tumbang, kau benar-benar manusia yang tahu diri!"
Paras muka Kwa Cun seng sama sekali tidak berubah menjadi memerah, segera ujarnya.
"Terserah apa saja yang hendak kalian katakan, sebab ucapan mana sudah tak akan menyakiti hati lohu lagi"
Sementara itu Sun Tiong lo telah bertanya kepada Cukat Tan bertiga sambil tertawa.
"Baik-baiklah kalian bertiga? Bagaimana dengan Mo tayhiap sekalian...?"
"Mereka sudah berangkat menurut perjanjian dan kini menuju kebukit pemakan manusia!"
Sela Cukatan cepat.
"Bagus sekali."
Seru Sun Tiong-lo sambil mengangguk.
"apakah tempat persembunyian bajingan Mao yang lain sudah didatangi orang"
"Mo-heng telah mengirim orang ke sana"
Timbrung Kang Tat dari samping rekannya.
"percayalah, semua tempat bisa didatangi oleh Mao loji sekarang telah dimusnahkan semua oleh Mo heng, kini loji sudah menjadi seorang pangcu sebatang kara"
Thio Yok sim mendelik sekejap kearah Kwa Cun-seng, kemudian serunya pula.
"Perkataan itu memang tepat sekali, kalau sampai orang Kwa pun turut putar kemudi mengikuti hembusan angin, kalau Mao loji tidak sebatang kara itu baru aneh namanya !"
Dalam keadaan demikian, Sun Tiong lo merasa kurang leluasa untuk memberi penjelasan bagi kedudukan Kwa Cun-seng, maka diapun hanya tertawa belaka.
Kang Tat tidak berhenti sampai disitu saja, kembali ujarnya kepada Sun Tiong lo.
"Sun sauhiap, lohu bersaudara percaya, sahabat Kwa sudah pasti telah mengusulkan agar menggunakan api untuk menyerang perahu besar yang berlabuh di tengah telaga itu bukan ?"
"Yaa, memang begitulah, serangan dengan api hanya melupakan persiapan, kecuali bajingan tua she Mao itu bermaksud hendak melarikan diri, kalau tidak kami tidak bermaksud untuk menggunakannya, Kami pun mempunyai rencana untuk membicarakan dulu persoalan ini dengan bajingan tua she Mao."
Mendengar perkataan tersebut, Cukat Tan, Kang Tat dan Thio Yok sim saling berpandangan sekejap, bagaimanapun juga mereka bertiga harus mengagumi cara Sun Tiong lo bertindak, sebab hanya tindakan seperti inilah mencerminkan tindak tanduk dari seorang lelaki sejati.
Kang Tat memandang sekejap ke arah Kwa Cun seng, kemudian tanyanya lagi "Tolong tanya, siapakah yang akan mempersiapkan perahu berapi untuk membakar perahu besar itu ?"
Kwa Cun seng mengetahui maksud pertanyaan dari Kang Tat tersebut, katanya kemudian sambil tertawa.
"Saudara Kang tat usah kuatir, Hou hiaplah yang akan mengurus soal itu, bukan lohu!"
Kang Tat segera mendengus.
"Kalau begitu mah masih mendingan, coba kalau berganti dengan dirimu, aku orang she Kang sukar untuk mempercayainya !"
Kwa Cun seng sama sekali tidak menjadi gusar atau mendongkol, tanyanya tiba-tiba.
"Saudara Kang, apakah ucapanmu telah selesai kau utarakan ?"
"Kalau sudah selesai kenapa ? Kalau belum selesai kenapa pula ?"
Seru Kang Tat gusar. Kwa Cun seng tertawa hambar.
"Bila ucapanmu belum selesat, silahkan dibicarakan dulu sampai selesai, bila sudah selesai marilah kita membicarakan persoalan pokok yang sebenarnya."
Pada saat ituIah, Sun Tiong lo turut menimbrung.
"Sekarang, kita sedang bersama-sama menghadapi musuh yang sama, Kang tat hiap, bersediakah kau memandang diwajahku untuk tidak menyinggung lagi masalah yang sudah lewat ? Bagaimana kalau kita bersama-sama membicarakan rencana selanjutnya dalam menghadapi musuh ?"
Dalam keadaan begini, terpaksa Kang Tat harus menyahut.
"Ooooh, tentu saja. tentu saja, kami tak akan membicarakan masalah yang sudah lewat lagi."
Sun Tiong lo tertawa, dia lantas membeberkan sekali lagi semua perundingan yang telah mereka lakukan tadi.
Hingga kini, Kang Tat bertiga baru tahu kalau Mao Tin hong sebenarnya tak lain adalah Kokcu lembah Tay-hian mo-kok dimasa lalu.
Setelah duduknya persoalan menjadi jelas, maka pembagian kerja pun dilakukan.
Dengan bertambahnya Kang Tat sekalian bertiga jumlah anggota mereka menjadi bertambah, maka diputuskan Kang Tat bertiga membantu dalam mempersiapkan tiga buah perahu untuk melancarkan serangan dengan api nanti.
Asalkan mereka mendengar suara pekikan nyaring dari Sun Tiong lo dari tempat kejauhan, maka serangan dengan api akan segera di lancarkan.
Selesai berunding, diberi kesempatan lagi untuk membicarakan persiapan-persiapan yang diperlukan.
Terdengar Kwa Cun-seng berkata.
"Menurut ilmu perang, serangan yang paling tepat adalah serangan disaat musuh sedang lengah. Menurut pendapat lohu, sebelum kentongan kelima merupakan saat yang paling gelap dan saat paling tepat untuk melancarkan serangan, serangan dalam keadaan begini bisa membuat Mao loji panik dan tidak mengetahui berapa banyak jumlah musuh yang melancarkan serangan."
"Kalau menurut pendapatku."
Sela Kang Tat.
"kalau toh kita hendak menggunakan kelembutan sebelum kekerasan, maka kita lebih tepat untuk datang disaat fajar hampir menyingsing dengan begitu akan mencerminkan pula kejujuran serta keterbukaan kita !"
"Tapi bagi Mao loji, hal ini berarti membeberkan segala sesuatunya..."
Seru Kwa Cun-seng dengan kening berkerut. Belum selesai dia berkata, Sun Tiong lo telah menyela dan katanya kepada Kang Tat sekalian bertiga.
"Baiklah kita ikuti cara serta waktu dari Kang tayhiap, sekarang kalian bertiga boleh segera melakukan persiapan !"
Kang Tat bersama Thio Yok-sim dan Cukat Tan segera mengiakan dan berlalu dari situ. Kwa Cun-seng sendiri, meski usulnya ditolak mentah-mentah, ternyata ia tidak menjadi sakit hati, serunya tiba-tiba.
"Kang-heng, harap tunggu sebentar!"
Kang Tat salah mengira Kwa Cun-seng hendak sengaja mencari gara-gara, dengan perasaan tak senang dia segera bertanya.
"Apakab kau masih ada petunjuk lain yang lebih hebat ?"
"Kepergian saudara Kang kali ini apakah ada cara untuk mendapatkan sampan ?"
Pertanyaan tersebut segera membuat Kang-Tat sekalian bertiga menjadi tertegun.
Waktu itu tengah malam sudah lewat, kemanakah mereka hendak mencari nelayan untuk menyewa perahu ?
Apalagi sekalipun berhasil menemukan para nelayan dan pemilik sampan, belum tentu perahu mereka bersedia dijual dengan mudah begitu saja.
Menyaksikan rekan-rekannya menjadi melongo, sambil tertawa Kwa Cun-seng berkata lebih lanjut.
"Saudara Kang, masih ingatkah kau dengan tempat untuk naik sampan di bawah pohon liu semalam ?"
"Ehmmm, tentu saja masih ingat"
"Orang yang berapa disana bernama Yu Teng poo, dia adalah murid lohu, segala sesuatunya sudah lohu persiapkan, bila saudara Kang telah berjumpa dengannya nanti, dia akan serahkan perahunya untuk saudara Kang gunakan !"
Berbicara sampai disiiu diri dalam sakunya Kwa Cun-seng mengeluarkan setengah butir mata uang tembaga dan berkata lebih jauh.
"Benda ini merupakan tanda kepercayaan dari lohu, bila Yu Teng po menyaksikan benda tersebut, dia akan segera melaksanakan perintahku."
Saat ini.
bukan hanya Kang Tat bertiga saja bahkan Sun Tiong lo sekalian pun menaruh perasaan kagum terhadap Kwa Cun seng, mereka tidak menyangka kalau Kwa Cun seng, telah mempersiapkan segala sesuatunya secara matang dan cermat.
Kang Tat menerima separuh buah mata uang tembaga itu, namun ketika benda tersebut diamati dengan lebih seksama lagi, tergerak ha-tinya secara tiba-tiba.
"Saudara Kwa,"
Ia lantas berseru.
"apakah tanda pengenalmu ini sudah lama kau pergunakan?"
Tanpa angin guntur, tahu tahu saja Kang-Tat mengubah sebutannya kepada Kwa Cun-seng menjadi saudara Kwa. Dengan cepat Kwa Ciin seng menggelengkan kepalanya.
"Tanda pengenal ini sudah lohu pergunakan selama hampir tiga puluh tahun lamanya."
Mendengar jawaban tersebut Kang Tat menjadi terkejut, sepasang matanya segera terbelalak lebar-lebar, ditatapnya Kwa Cun-seng lekat-lekat dan sampai setengah harian lamanya dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Cukat Tan yang melihat tindak tanduk rekannya itu menjadi sangat keheranan, segera tegurnya.
"Saudara Kang Tat, ada sesuatu yang tidak beres?"
Kang Tat menggeleng kepada Kwa Cun-seng kembali ujarnya.
"Saudara Kwa, separuh mata uang tembaga ini merupakan tanpa mengenal dari seseorang kalau aku Kang Tat tidak salah ingat, benda ini adalah tanda pengenal dari Tan-ci-kim chee (sentilan jari mata uang emas) Liu Long khek yang termashur namanya didalam dunia persilatan dimasa lalu..."
Belum selesai berkata, Kwa Cun serg telah menghela napas sedih sambil menukas.
"Jauh... jauh... sudah terlalu tawar, kejadian tersebut sudah berubah bagaikan impian !"
Begitu nama "Tan ci kim che"
Liu Long khek disebutkan, bukan saja Thio Yok sim dan Cukat Tan menjadi terkejut, bahkan Sun Tiong-lo dan Hou ji pun ikut merasa umat terperanjat. Sun Tiong lo segera berseru pula.
"Sobat Kwa... jangan-jangan kau adalah... Tan ci kim che Liu Long Khek yang amat termashur namanya didalam dunia persilatan di masa lalu Sangkoan Ki, Sangkoan tayhiap?"
Dengan pedih Kwa Cun seng menundukkan wajahnya yang tua rendah-rendah, lalu serunya agak sesenggukkan.
"Harap siauhiap jangan mendesak lagi, hanya membuat lohu makin menyesal dan malu."
Sun Tiong lo segera menggeleng kepalanya berulang kali, kembali dia berkata.
"Kwa tayhiap, peristiwa ini sungguh membuat orang tak habis percaya..."
Mendadak Kwa Cun seng mendongakkan kepalanya, lalu dengan air mata bercucuran katanya.
"Sekali salah melangkah, menyesal untuk selama-lamanya, harap sauhiap menahan diri dan lepaskan lohu !". Maksud perkataan itu sudah jelas sekali, ia menyatakan kalau tak ingin membicarakan persoalan tersebut lebih jauh. Sun Tiong lo adalah seorang manusia yang punya maksud untuk membimbing orang jahat agar kembali ke jalan yang benar, apalagi Sangkoan Ki merupakan seorang toa enghiong yang dihormati setiap orang dimasa lalu. Namun Kwa Cun seng telah menerangkan kaIau persoalan yang menyedihkan tak ingin dibicarakan lagi, maka Sun Tiong lo termenung beberapa saat lamanya, begitu mendapat akal ujarnya kepada Kang Tat.
"Kang tayhiap, silahkan kau mempersiapkan diri, apabila masih ada tempat kosong, sudah sepantasnya bila kau undang sahabat Yu Teng po tersebut untuk memberi bantuan, aku percaya ilmu menyelam yang dimiliki orang ini pasti hebat sekali!"
Kang Tat memang seorang yang cerdas, maka begitu mendengar perkataan tersebut dia mengiakan dan bersama Cukat Tan dan Thio Yok-sim segera berlalu.
Sedangkan Sun Tiong-Io sekalian, berhubung waktunya masih pagi, maka mereka hanya duduk di pantai sambil mengawasi perahu besar tersebut dari kejauhan, kemudian masing-masing mengatur napas sambil menantikan datangnya fajar sebelum melakukan tindakan lebih jauh.
Sementara itu, Kang Tat bertiga telah meninggalkan Sun Tiong lo sekalian, sambil berjalan mereka berbincang-bincang.
Dan terdengar Kang Tat berkata.
"Saudara Thio, saudara Cukat, apakah kalian memahami maksud pembicaraan dari Sun sau hiap ?"
"Yaa, tahu, dia suruh kami baik-baik menanyai Yu Teng-po."
Jawab Cukat Tan.
"Betul."
Kang Tat berhenti sebentar sambil menghempaskan napas panjang, kemudian sambungnya lebih jauh.
"Saudara berdua, kejadian ini merupakan suatu peristiwa yang sama sekali diluar dugaan, coba bayangkan betapa gagah dan perkasanya Liu lok kek (jago pengembara) Sangkoan Ki di dalam dunia persilatan dimasa lalu, tapi dalam usia tuanya, mengapa dia bisa berubah menjadi begini rupa !"
Thio Yok-sim turut menghela napas panjang.
"Aai, seandainya Kwa Cunseng adalah Sangkoan Ki, sudah pasti kejadian ini anehnya bukan kepalang sehingga batok kepala orang terasa sakit"
"Tentu saja, kalau tidak masa dapat terjadi perubahan sehingga seakan-akan berubah menjadi seorang yang lain?"
Ucap Cukat Tan.
"Percuma diduga sendiri, toh akhirnya tak akan bisa terduga, lebih baik kita segera menemukan Yu Teng po, persiapkan perahu api, kemudian menanyakan persoalan ini sampai jelas, aku rasa tidak sulit untuk mengorek latar belakang yang sebenarnya."
Ketika mereka bertiga tiba di tepi pohon itu dan benar juga, tampaklah seorang manusia berbaju hitam yang menggunakan kain kerudung hitam sedang berdiri menanti disana.
Kang Tat memandang sekejap kearah orang itu, kemudian dengan langkah lebar berjalan menghampirinya.
Agaknya orang itu sudah mengetahui akan kehadiran mereka, kenal pula dengan mereka maka sambil maju menyongsong kedatangan orang-orang itu serunya.
"Hamba menghunjuk hormat kepada Tian cu bertiga!"
Sekarang, Kang Tat bertiga telah melepaskan kerudung peraknya, namun orang itu tidak menunjukkan sikap menaruh curiga, bahkan menegurpun tidak.
Thio Yok sim memperhatikan sekejap wajah orang itu, kemudian tegurnya.
"Ada perahu kecil?"
Orang itu menggeleng.
"Sekarang sih tak ada, biasanya sampan tersebut mondar mandir kesana kemari, kebetulan saat ini sedang keluar semua"
Kang Tat segera tertawa, sambil mengeluarkan setengah mata uang tembaga tersebut, katanya.
"Ada seorang teman telah menyerahkan tanda pengenal ini kepadaku, katanya jika diperlihatkan kepadamu maka akan kuperoleh tiga buah sampan, diatas sampan sampan tersebut sudah di siapkan bahan peledak serta bahan bahan yang mudah terjilat api!"
Orang itu menyambut mata uang tersebut, katanya.
"Benar memang ada! Tolong tanya kapan kalian membutuhkannya..?"
Orang itu cepat benar bertukar nada pembicaraan bahkan paras mukanya sama sekali tidak nampak perubahan apapun. Kang Tat juga tidak menegur, katanya kemudian.
"Akan kami gunakan sebentar lagi, harap bawa kami ke sana."
Orang tersebut mengiakan kemudian membalikkan badan dan berjalan kemuka menelusuri jalanan kecil.
Kang Tat sekalian segera menyusul dibeIakangnya.
Kurang lebih setengah panahan kemudian, dari balik tumbuhan ilalang yang lebat dia menyeret keluar empat buah sampan kecil, tiga buah sampan yang beruangan, didalam ruangan tertimbun bahan peledak, belerang serta bahan bahan lain yang mudah terbakar.
Berhubung waktu masih pagi, Kang Tat segera memberi tanda rahasia kepada Cukat Tan serta Thio Yok-sim, setelah itu katanya.
"Sebentar, kau dan aku boleh naik diatas sebuah sampan yang sama."
"Hamba turut perintah."
Sahut orang itu cepat. Kang Tat segera tertawa, kembali ujarnya.
"Sekarang, kita akan segera menggunakan ketiga sampan penuh berisi bahan peledak itu, kau pun tak usah menyebut diri sebagai hamba lagi, apa pula kami bertiga telah melepaskan kain kerudung masing-masing, aku percaya kau tentunya sudah mengerti apa maksudnya bukan !"
"Benar, aku memang sudah mengerti."
Sekali lagi Karg Tat tertawa.
"Menurut pemilik setengah mata uang tembaga ini, kau bernama Yu Teng-poo, anak muridnya ?"
Orang itu segera mengangguk.
"Benar, aku bernama Yu Teng-poo, murid dari pemilik tanda pengenal tersebut."
Kang Tat memandang sekejap kearahnya, kemudian serunya lagi.
"Kalau memang begitu, mengapa sahut Yu tidak melepaskan kain kerudung mukamu ?"
Seakan-akan robot yang tidak berotak saja, mendengar ucapan mana Yu Teng poo segera berkata lagi.
"Betul, memang seharusnya dilepaskan !"
Sembari berseru, dia benar-benar melepaskan kain kerudung itu sehingga nampak jelas paras muka aslinya, Yu Teng poo adalah seorang lelaki berusia empat puluh tahun, berwajah angker dan gagah.
Sembari menuding ke arah bangku batu di sisinya, Kang Tat lantas berkata lebih jauh.
"Mari, mari, mari, silahkan duduk sobat Yu mari kita duduk sambil berbincang-bincang."
"Baik, terima kasih."
Paras muka Yu Teng po masih tetap kaku dan sama sekali tanpa perasaan. Setelah duduk, Kang Tat langsung mengajukan pertanyaannya.
"Gurumu Kwa Cun seng, ternyata adalah si tamu pengembara Sangkoan tayhiap yang termashur akan sentilan jari mata uang emasnya dalam dunia persilatan dimasa lalu, kejadian ini benar-benar sama sekali diluar dugaan sia pa pun ?"
"Benar, sama sekali diluar dugaan siapa pun"
Jawaban dari Yu Teng-po masih tetap kaku."
Tanpa emosi.
"Sobat Yu,"
Thio Yok-sim turut berbicara.
"Gurumu Sangkoan Ki adalah seorang enghiong hohan yang dihormati dan di sanjung setiap umat persilatan di dunia ini, sebaliknya Kwa Cun-seng adalah seorang manusia laknat yang sudah terlalu banyak melakukan perbuatan jahat selama ini, di antara mereka..."
"Maaf, aku tak bisa mengungkapkan hal itu"
Tukas Yu Teng poo secara langsung. Cukat Tan tertawa, katanya pula.
"Sobat Kang, kedudukan gurumu pada saat ini merupakan seorang manusia laknat yang boleh dibasmi oleh siapa saja, tapi bila latar belakang dari persoalan ini bisa diketahui sehingga dibeberkan kepada setiap orang, kemungkinan pandangan umat persilatan terhadap gurumu akan mengalami perubahan besar."
"Kau sebagai seorang murid yang baik, sudah sepantasnya kalau memanfaatkan kesempatan yang baik ini untuk memperbaiki nama baik gurumu dimata masyarakat, kau sepantasnya kalau berdaya upaya untuk mencapai hal tersebut, itulah sebabnya lohu sekalian dengan besarkan nyali ingin meminta keterangan darimu, semoga sobat Yu bersedia memberitahukan keadaan yang sesungguhnya dimasa lampau !"
Paras muka Yu Teng poo sama sekali tidak berubah, katanya dengan suara kaku.
"Maaf, aku tak dapat menjawab !"
Kang Tat memutar biji matanya, mendadak ia memperoleh sebuah idee bagus, sembari mengangkat separuh mata uang tembaga itu serunya dengan suara lantang.
"Yu Teng-po, dengarkan perintah !"
Yu Teng poo memandang sekejap ke arah separuh mata uang tembaga tersebut, kemudian setelah menghela napas panjang, katanya.
"Tecu menerima perintah !"
"Kau harus menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh lohu bertiga, apa yang kau ketahui harus kau utarakan dengan sejujurnya, mengerti..."
"Baik, tecu turut perintah-!"
Thio Yok-sim segera berseru.
"Pertama-tama kau harus menuturkan dahulu apa yang telah terjadi sehingga Sangkoan tayhiap bisa berubah menjadi Kwa Cunseng!"
Yu Teng poa menarik napas dulu dengan suara pedih, kemudian baru membeberkan semua rahasia besar yang membuat Kang Tat dan Thio Yok-sim membelalakan matanya lebar-lebar.
Berbicara soal masa lampau Sangkoan Ki, Yu Teng poo kelihatan tak dapat menahan gejolak emosi dalam hatinya.
Ternyata antara Sangkoan Ki dengan Mao Tin hong adalah hubungan kakak beradik misan.
Sangkoan Ki adalah sang kakak misan, sedangkan Mao Tin hong adalah sang adik misan, sejak kecil mereka berdua sudah hidup dan dibesarkan bersama-sama.
Kemudian masing-masing memperoleh penemuan yang berbeda dan sama-sama menjadi ternama di dalam dunia persilatan.
Berbicara soal nama serta kedudukan, tentu saja kedudukan Sangkoan Ki masih lebih tinggi daripada Mao Tin hong, sedangkan dalam soal ilmu silat, Mao Tin hong juga masih selisih setengah tingkat.
Cuma peristiwa ini telah berlangsung pada dua puluh lima enam tahunan berselang.
Kemudian Mao Tin hong dan pemilik kebun Pek hoa wan berkenalan yang dilanjutkan dengan perkawinan, ketika terjun kembali kedunia persiIatan, baik ilmu silat maupun pengalaman Mao Tin hong, sudah jauh melebihi Sangkoan Ki.
Bedanya, kalau Sangkoan Ki masih bisa untuk meraih kemajuan, maka Mao Tin hong yang menderita luka daIam, sebelum memperoleh penyembuhan total jangan harap bisa memperoleh kemajuan lagi.
Tatkala mereka kakak beradik misan bisa berjumpa lagi dalam dunia persilatan, waktu itu Mao Tin hong sedang menaruh dendam untuk menghindari mereka.
Sewaktu Mao Tin hong bertemu lagi dengan Sangkoan Ki, dengan cepat dia memperoleh sebuah akal, dia tahu kalau Sangkoan Ki masih sebatang kara, maka setelah membangun perkampungan mereka pun hidup bersama-sama disatu tempat.
Waktu itu, kendatipun kepandaian silat yang diperoleh Mao Tin hong sukar mendapat kemajuan berhubung luka dalam yang diderita-nya, namun dari dalam kebun Pek hoa wan, ia sempat mempelajari banyak sekali kepandaian aneh dari golongan iblis, dengan umpan ilmu silat inilah dia berusaha menarik Sang-koan Ki agar mempelajarinya.
Maka tanpa disadari oleh Sangkoan Ki, dia telah salah menganggap maksud baik misannya ini dan tanpa ragu-ragu mulai mendalami semacam ilmu yang dinamakan ilmu Thian hua sinkang.
Siapa sangka yang dimaksudkan sebagai Thian hua sinkang sesungguhnya adalah ilmu Siau hun hoat dari golongan iblis, karena kurang teliti, akhirnya Sangkoan Ki terjurumus untuk mempelajari sejenis ilmu jahat yang amat mengerikan.
Menanti Sangkoan Ki menyadari kalau ada hal hal yang tak beres, tenaga dalam hasil latihabnya dimasa lampau tahu-tahu sudah punah seperti asap, hilang lenyap tak berbekas, saat itulah menyesal pun tak ada gunanya...
Tentu saja Sangkoan Kiz tidak terima, dia mencari Mao Tin bong sambil menuntut keadilan, siapa sangka Mao Tin hong justru cuci tangan bcrsih-bersih, dia beralasan dahulunya dia tak tahu kalau akan begini, karena dia sendiripun tertipu.
Kejadian dari ilmu S'au hun tay hoat ini melebihi racun yang ditanam dalam tubuh seseorang apabila ilmu tersebut dilepaskan sampai ditengah jalan saja, maka sang korban akan merasakan siksaan dari Im-mo yang akan menggerogoti hatinya.
Berada dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa Sangkoan Ki harus berlatih lebih jauh.
Tatkala dia telah berhasil melatih ilmu Siau hun tay hoat tersebut, wataknya pun ikut berubah, dia telah berubah menjadi seorang iblis jahat yang licik, buas, kejam dan tak berperi kemanusiaan Cuma saja, setiap tiga jam kemudian dia akan menjadi sadar selama dua-tiga jam, maka disaat sedang sadar secara diam-diam Sangkoan Ki membuat catatan tentang segala riwayat hidupnya, begitulah selanjutnya sampai bertahun-tahun lamanya tanpa berhenti.
Sewaktu mendengar sampai disitu, tanpa terasa Kang Tat bertanya.
"Kalu begitu, gurumu mempunyai dua macam watak yang sama sekali berbeda ?"
Mendengar ucapan mana, Yu Teng-po menjadi amat terperanjat segera serunya.
"Jadi kalian bertiga sudah tahu ?"
Kang Tat tidak mengelabuhi apa yang telah terjadi lagi dia segera membeberkan segala sesuatunya. Yu Teng-poo merasa bahwa apa yang telah didengar memang tak salah, maka sikapnya kembali berubah.
"Benar, disaat guruku tak sanggup mengendalikan diri, dia adalah seorang manusia laknat yang berhati buas, jahat, kejam dan tak mengenal ampun, tapi setelah sadar kembali, dia akan menyesal dan mendendam, merasa sedih nya bukan kepalang.
"Beberapa kali, disaat guruku sedang sadar, dia hendak menghabisi nyawa sendiri tapi selalu berhasil kucegah dengan berbagai cara dan akal, malah suatu ketika..." 0oo0de0oo0 Mendadak Cukat Tan menyela.
"Sewaktu suhumu sedang sadar, apakah dia dapat mencatat seluruh kejahatan yang telah dilakukan olehnya?"
Yu Teng poo segera menggeleng.
"sebenarnya tak bisa diingat lagi olehnya, tapi berhubung pertama watak suhuku memang sebenarnya baik dan saleh, kedua ada aku yg selalu aku mengingatkan maka setiap kali suhu telah melakukan suatu perbuatan, hampir semuanya telah dibuatkan catatannya!"
Mendengar sampai disitu, Thio Yok sim segera menghela napas panjang.
"Aaai, kalau begitu, gurumu malah justru kena dicelakai orang?"
Dengan wajah bersungguh-sungguh Yu Teng poo berkata.
"Walaupun perbuatan suhuku banyak yang jahat dan buas, tapi kalau dibicarakan yang sebenarnya, penderitaan dan siksaan yang dideritanya berkali lipat jauh lebih parah dan mengenaskan daripada mereka yang dicelakai olehnya."
"Suhumu pernah menyaru sebagai pelayan dan cukup lama menyelinap dalam gedung milik Sun taihiap Sun Pek-gi suami istri, berarti selama itu dia pun pernah menjadi sadar waktu itu, mengapa dia tidak membeberkan segala sesuatunyanya secara terus terang kepada Sun tayhiap ?"
Tanya Kang Tat tiba-tiba. Kembali Yu Teng-po menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tentang peristiwa tersebut, aku sendiripun merasa agak keheranan, bahkan setiap kali suhu sedang sadar. Aku selalu menanyakan persoalan ini kepadanya, namun kecuali melelehkan air matanya, Suhu tak pernah menjawab, seakan-akan dia seperti lagi menyimpan sesuatu kesulitan yang tak bisa diutarakan keluar !"
"Oooh !"
Thio Yok sim segera berpaling ke arah Kang Tat dan katanya lagi.
"Aku percaya, bila kita memberitahukan latar belakang ini kepada Sun sauhiap, dia pasti dapat menanyakannya sampai jelas."
"Akupun yakin, setelah peristiwanya berkembang jadi begini, suhupun tak akan berusaha untuk meyakinkannya lagi !"
Sambung Yo Ting po cepat. Mendadak Cukat Tan seperti teringat akan sesuatu, katanya tiba-tiba.
"Sobat kecil Yu, ada satu persoalan yang tidak lohu pahami, dapatkah kuajukan pertanyaan kepadamu ?"
"Tentu saja boleh, asal aku tahu, pasti akan kuberitahukan kepadamu."
"Sekarang, apakah gurumu sudah sadar sama sekali ?"
Yu Teng-poo segera mengangguk.
"Benar, suhu telah terlepas dari belenggu iblis !"
"Lohu tidak habis mengerti, mengapa gurumu baru menjadi sadar kembali disaat seperti ini ?"
Tanya Cukat Tan dengan kening berkerut Yu Teng poo tertawa getir.
"Cukat tayhiap, rupanya kau ingin membongkar semua persoalan sampai tuntas, seperti kau ketahui, kini suhuku telah kehilangan seluruh tenaga dalamnya, padahal tenaga dalam yang hilang sekarang justru merupakan hawa Im kang sesat yang menjadi biang keladi berubahnya watak suhu selama dua puluhan tahun ini."
Padahal segenap kepandaian yang pernah di latih suhu dahulu telah punah disaat suhu mendengar bujukan dari bajingan Mao dan mempelajari ilmu Mo kang tersebut, itulah sebab nya disaat hawa Mo kang tersebut lenyap, secara otomatis diapun memperoleh kesadarannya kembali."
"Oooh... tak heran kalau bajingan tua she Mao itu berusaha keras untuk membinasakan gurumu !"
Seru Kang Tat seperti sekarang baru memahami akan hal itu.
"Tentu saja"
Seru Yu Teng poo dengan gemas.
"bagaimana mungkin bajingan Mao akan membiarkan seseorang yang sadar dari segala perbuatan jahat dan busuknya sepanjang hidup ini tetap hidup bebas di dunia ? Namun akupun merasa tidak habis mengerti, mengapa suhu bisa meninggalkan perahu tersebut dalam keadaan hidup ?"
"Apakah suhumu tidak memberitahukan alasannya kepadamu ?"
Yu Teng poo segera menggeleng.
"Tidak, akupun tidak sempat mengajukan pertanyaan tersebut !"
Thio Yok-sim segera memutar biji matanya lalu bertanya.
"Bukankah nama asli gurumu adalah Sangkoan Ki, mengapa bisa dirubah menjadi Kwa Cun seng ?"
"ltu mah sederhana sekali, sejak suhu tenggelam ke dalam cengkeraman iblis, setiap kali sedang sadar, dia selalu merasa malu dan menyesal terhadap nama marga Sangkoannya, oleh sebab itu dia pun berganti dengan nama lain."
Setelah urusan diperbincangkan sampai ke situ, tiada masalah lain yang bisa dibicarakan lagi, maka masing-masing orang segera naik ke atas sampan.
Mereka semua mengambil sebuah sampan setiap orangnya, tapi perahu yang memuat belerang dan bahan peledak hanya tiga buah, ternyata Yu Teng po segera melompat naik lebih dulu keatas sampan yang penuh memuat bahan peledak serta belerang tersebut.
Kang Tat yang menyaksikan kejadian tersebut segera berkerut kening, tegurnya.
"Yu lote menurut maksud Sun sauhiap dan gurumu, mereka menyuruh lohu sekalian bertiga masing-masing menempati sebuah sampan berisi bahan peledak, sedangkan lote hanya mengurusi perahu tersebut untuk membantu..."
"Tidak"
Kata Yu Teng-poo dengan paras muka serius.
"aku harus memegang sebuah perahu yang berisi bahan peledak !"
"Ooooh... mengapa harus begitu ?"
Tanya Thio Yok-sim. Dengan cepat Yu Teng poo menyahut.
"Ada tiga alasannya, pertama, sebagai seorang yang berada diposisi yang terjepit, maka untuk menunjukkan bahwa keadaan kami guru dan murid sekarang didesak oleh situasi, maka aku harus memegang sebuah perahu berisi bahan peledak tersebut."
"Ke dua, kami guru dan murid terhadap bajingan tua Mao mempunyai dendam kesumat yang lebih dalam dari samudra, maka meski tubuh harus hancur dan nyawa harus melayang, kami rela mengorbankan diri demi melenyapkan bajingan tersebut dari muka bumi.
"Ketiga, aku sangat menguasahi ilmu dalam air atau bila menggunakan kata-kata sesumbar, ilmu dalam air yang dimiliki cianpwe bertiga masih berselisih jauh bila dibandingkan dengan kepandaianku, maka apabila serangan dengan api ini mengalami kegagalan atau bajingan she Mao itu menyongsong kedatangan kita aku sudah pasti bisa meloloskan diri dengan baik!"
Ke tiga alasan tersebut semuanya mempunyai keyakinan yang tak bisa dibantah, hal ini membuat Thio Yok sim tak mampu membantah lebih jauh... Maka sambil tertawa akhirnya Kang Tat berkata.
"Baik, alasanmu memang meyakinkan sekali anggap saja kau memperoleh satu bagian!"
"Saudara Kang, kalau begitu kau saja yang memegang sampan tersebut..."
Seru Cukat Tan. Dengan cepat Kang Tat menggeleng.
"Tidak, lebih baik Thio heng saja yang mengurusi perahu kosong tersebut"
Katanya. Mendengar ucapan mana, Thto Yok sim segera tertawa terbahakbahak.
"Haaahh... haaahh... haaah... aku yang harus memegang sampan kosong itu? Enak benar jalan pemikiranmu itu Sudah banyak tahun aku hidup menahan hinaan dan sikssan, sedang besok pagi adalah saatnya untuk membalas dendam dan sakit hatiku, masa kau suruh aku membuang kesempatan yang baik ini dengan begitu saja...? jangan harap."
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Kang Tat berpaling ke arah Cukat Tan sembari berseru.
"Kalau memang begitu, saudara Cukat, kau..."
Belum selesai dia berkata, Cukat Tan sudah melompat naik keatas sebuah perahu berisi bahan peledak sembari berseru.
"Uui, aku Cukat Tan tak bisa ketinggalan."
Menyaksikan Cukat Tan sudah menempati sampannya, dengan cepat Thio Yok-sim melompat naik juga keatas sampan terakhir yang berisi bahan peledak, kemudian katanya.
"Aku tidak ambil perduli, pokoknya perahu ini miliku !"
Melihat kesemuanya itu, Kang Tat segera menggelengkan kepala berulang kali, serunya.
"Waaaah itu tidak adil namanya, mari, mari. Mari... kita tentukan dengan beradu tangan !"
Sementara itu Thio Yok sim dan Cukat Tan sudah mengambil gala panjang dari sampan tersebut, sambil menjalankan sampan tersebut ketengah telaga, seru mereka sambil tertawa.
"ltu mah merepotkan saja. Saudara Kang, Sampai jumpa lagi ditengah telaga nanti !"
Dari sikap saling berebut yang dilakukan ke tiga orang itu, Yu Teng poo seperti dapat me rasakan sesuatu, buru-buru serunya.
"Cianpwee bertiga, dapatkah kalian mendengarkan sepatah dua patah kataku lebih dulu?"
"Betul... betul..."
Seru Kang Tat kemudian sambil tertawa.
"aku sudah tahu kalau lote pasti bersedia mengalah, kau memang seharusnya memegang sampan..."
"Bukan itu maksudku!"
Tukas Yu Teng poo.
"aku hanya ingin bertanya kepada kalian bertiga, siapakah diantara kalian yang memiliki ilmu berenang paling baik ?"
"limu dalam air yang kumiliki paling baik, di dalam air aku bisa memperhatikan benda yang berada delapan depa jauhnya di sekitarku."
Buru-buru Kang Tat berseru.
"Paling tidak aku tak bakal kalah darimu!"
Sambung Cukat Tan sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Haahh.... haaah... haaahh... kalau aku masih bisa melihat sejauh satu kaki didalam air"
Seru Thio Yok sim tak mau kalah sambil tertawa terbahak-bahak. Yu Teng po turut tertawa katanya kemudian sambil manggutmanggut.
"Seandainya benar benar bisa begitu, akupun boleh merasa berlega hati..."
"Oooh, masih ada persoalan apa lagi yacg perlu dikuatirkan?"
Tanya Kang Tat kemudian.
"Tentu saja ada"
Kata Yu Teng poo sambil mengangguk "sekalipun didalam perjalanan kita ini belum tentu akan menggunakan perahu berisi bahan peledak, tapi seandainya dipergunakan maka tugas dan tanggung jawab kita menjadi bertambah besar, bagaimanapun juga kita harus meningkatkan kewaspadaan kita untuk bertindak lebih berhati hati lagi..."
"Pertama-tama, menyerang dengan api adalah bertujuan untuk mengurung bajingan tua she Mao itu ditengah perahu besar tersebut hingga mati terbakar disana, bila tugas ini selesai dilakukan, maka kita harus dapat mundur kembali dengan selamat.
"Tapi, setelah perahu berisi bahan peledak ini terbakar, maka didalam waktu singkat sampan mana akan meledak, oleh sebab itu si pendayung sampan tersebut harus memiliki ilmu berenang yang amat lihay, dengan begitu dia baru akan lolos dari ancaman bahaya maut..."
"Soal ini tak usah kau kuatirkan, pokoknya kami mempunyai cara untuk mengatasinya."
Tukas Cukat Tan sambil tertawa. Dengan wajah serius Yu Teng poo berkata lagi.
"Di dalam hal ini, orang yang tercebur di-air merupakan orang yang memikul tanggung jawab terberat, sebab jaraknya tidak mungkin terlalu dekat, mustahil pula terlalu jauh, disamping itu orang yang menyerang dari belakang perahu besar juga merupakan tugas yang paling sulit..."
Sulitnya bukan masalah, biar aku saja yang memikul tanggung jawab untuk menyerang dari balik perahu besar itu"
Tukas Kang Tat lagi dengan cepat. Yu Teng poo segera tertawa.
"Kang tayhiap menyerang dari belakang perahu besar itu merupakan urusanku, sedang bagi Kang tayhiap cukup asal begitu perintah penyerangan diturunkan kau segera memperhatikan permukaan telaga sambil mempersiapkan gala panjang."
Dengan perasaan apa boleh buat, akhirnya Kang Tat naik keatas sampan penyambut tersebut.
Maka berangkatlah ke empat buah sampan tersebut menuju ke tengah telaga.
Tak lama kemudian mereka sudah semakin mendekati perahu besar yang berlabuh ditengah telaga nun jauh didepan sana.
oooO-de-Oooo FAJAR telah menyingsing.
matahari memancarkan cahaya keemas-emasannya menerangi ke seluruh permukaan telaga.
Perahu besar yang sebenarnya merupakan perahu milik Mao Tinhong itu, sekarang telah berubah menjadi perahu dari Sun Tiong lo sekalian, orang-orang yang berada datas perahu itu hampir semua merupakan orang orang dengan maksud dan tujuan yang sama.
Perahu dengan delapan buah layar lebar ini pelan-pelan bergerak mendekati perahu besar lainnya dibawah sorot cahaya matahari pagi.
Ketika kedua perahu besar ttu sudah berjarak satu panahan, akhirnya perahu besar berlayar delapan itu berhenti bergerak dan menurunkan jangkar.
Pada saat yang bersamaan, empat buah sampan cepat yang dikemudikan oleh Yu Teng po, Kang Tat, Thio Yok sim dan Cukat Tan telah menerjang ombak bergerak mendekat, setelah melalui perahu berlayar delapan itu, serentak mereka mengepung perahu besar yang lain rapat-rapat.
Sampan penyambut yang dikemudikan oleh Kang Tat berhenti agak jauh dari buritan perahu, sedangkan tiga buah sampan lainnya yang penuh berisi bahan peledak melanjutkan perjalanannya dan baru berhenti setelah berada hanya lima kaki saja dari perahu besar itu.
Pada saat itulah Sun Tiong to munculkan diri diujung geladak perahu berlayar delapan itu dan berseru dengan suara lantang.
"Mao Tin hong, harap segera menampakkan diri untuk berbincang-bincang..!"
Suasana dalam perahu besar yang ditumpangi Mao Tin hong sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun. Sekali lagi Sun Tiong lo berteriak dengan suara lantang.
"Mao Tin hong, sebagai seorang lelaki sejati berani berbuat, berani bertanggung jawab, kuanjurkan kepadamu lebih baik segeralah menampakkan diri, sekarang kau sudah terkepung dari empat penjuru, tidak mungkin lagi bagimu untuk melarikan diri..."
Sangkoan Ki (maksudnya Kwa Cun seng, selanjutnya akan dipakai nama aslinya yakni Sangkoan Ki) turut berseru pula dengan suara keras.
"Mao Tin-hong, ayo keluar, aku Sangkoan Ki hendak membicarakan sesuatu denganmu!"
Suasana dalam perahu besar itu masih tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit suara pun. Sesudah mendengus, kembali Sangkoan Ki beneriak keras.
"Mao Tin hong, apabila kau tidak menampakkan diri lagi, jangan salahkan hatiku keji untuk melancarkan serangan dengan api !"
Namun suasana diatas perahu besar itu masih tetap hening, sepi, tak kedenjaran sedikit suarapun, seakan-akan semua penghuni perahu tersebut masih terlelap tidur.
Tiada yang menegur sapa, tiada pula yang menggubris.
Dengan cspal Sangkoan Ki berpaling ke arah Sun Tiong-lo sembari tanyanya.
"Sauhiap, menurut pendapatmu, bagaimana kalau kita menyerang dengan menggunakan api."
Cepat Sun Tiong-lo menggeleng.
"Aku rasa tindakan seperri ini tak boleh di lakukan secara gegabah."
Kemudian setelah berhenti sejenak, ia berpaling kearah Hou ji sambil katanya lagi.
"Engkoh Hou, turunkan perahu kecil."
"Siau-Iiong, kau hendak pergi kesana untuk menengok keadaan ?"
Tegur Hou ji dengan kening berkerut. Sun Tiong-lo segera manggut-manggut.
"Hmm, aku harus pergi menengok sendiri hingga duduknya persoalan menjadi jelas."
Cepat-cepat Hou ji menggeleng lagi.
"Ah, jangan, hal ini terlalu berbahaya, kalau harus kesana, biarlah aku saja yang ke situ"
"Tidak, aku yang akan ke situ, sedang kalian semua tetap berada di perahu sembari menantikan kabar beritaku!"
Seru Sun Tiong lo dengan nada tegas. Mendadak nona Kim menyambung.
"Biar aku yang pergi."
"Adik Kim, jangan ngaco belo, sekarang apa yang herdak kau lakukan dengan pergi kesitu?"
Seru Sun Tiong lo dengan paras muka serius.
Tampaknya Hou ji cukup mengetahui akan watak dari Sun Tiong lo ini, tak mungkin apa yang sudah menjadi niatnya bisa dicegah tapi diapun kuatir bila Sun Tiong lo menyerempet bahaya seorang diri.
Maka setelah memutar biji matanya, mendadak dia memperoleh sebuah akal bagus, katanya kemudian.
"Baiklah, aku akan segera menurunkan perahu kecil."
Selesai berkata, Hou ji segera membalikkan badan menuju keperahu bagian belakang dan diam-diam turun kebawah.
Sangkoan Ki segera menggunakan pula kesempatan itu untuk mohon diri, kemudian menuju ke ruangan belakang.
Di ruang belakang, Sangkoan Ki berkata kepada Hou-ji selelah menatapnya lekat-lekat.
"Hou-hiap, kau bermaksud hendak menggunakan cara apa untuk menghalangi niat Sun sau hiap itu ?"
"Aku harus mencoba untuk menyelidiki lebih dahulu, jabatan apakah yang terdapat di atas perahu tersebut"
Ujar Hou ji dengan kening berkerut. Sangkoan Ki manggut-manggut.
"Benar, tapi bagaimana cara Hou hiap untuk melakukan penyelidikan tersebut ?"
"Kecuali mendatangi perahu itu dan melakukan penyeiidikan, masa masih ada cara lain yang lebih baik lagi ?"
"Seandainya Hou-hiap bersedia, lohu mah mempunyai sebuah cara yang bisa di coba."
"Oya ? Baiklah, coba katakanlah."
"Aku rada curiga kalau bajingan tua she Mao itu sudah tidak berada diatas perahu lagi..."
Hou ji menjadi tertegun sesudah mendengar perkataan itu, katanya kemudian.
"Aah... hal ini tidak mungkin ?"
Sangkoan Ki segera tertawa.
"Bajingan ini licik dan pintar, baginya tiada persoalan yang tak mungkin tak bisa dilakukan olehnya, cuma untuk berhati hatinya saja, memang paling baik kalau dicoba untuk diselidiki lebih dulu, cara yang terbaik adalah mencari busur dan panah, kemudian membidikkan panah berapi ke seberang sana..."
"Membidikkan panah berapi ke sana ?"
Tukas Hou ji. Sangkoan Ki manggut-manggut.
"Ya. hal inipun merupakan satu-satunya cara yang dapat dipergunakan, sebatang panah berapi tak nanti bisa menimbulkan kebakaran besar, namun orang yang berada diatas perahu tersebut sudah pasti akan berusaha untuk memadamkannya, nah dari situlah kau akan mengetahui keadaan yang sebenarnya..."
Hou ji berpikir sebentar, kemudian mengangguk.
"Baiklah, cara ini memang bisa digunakan."
Belum habis dia berkata, Sangkoan Ki telah menyela lagi.
"Aku sudah msmpersiapkan busur dan panah berapinya, segera akan kuambil untukmu."
Selesai berkata dia lantas mendorong sebuah pintu kecil disebelah kanan dan dalam waktu singkat telah berjalan keluar sambil membawa sebuah busur dan tiga batang anak panah berbulu putih yang pada ujung panahnya membawa sebuah peluru sebesar buah tho.
Sambil menyerahkan busur dan anak panah tersebut ketangan Hou ji, kembali Sangkoan Ki berkata.
"Peluru diujung anak panah tersebut terbuat dari belerang, minyak hitam dan kapas, begitu bertemu api lantas terbakar, daya bakarnya bisa mencapai setengah perminum teh, aku rasa tiga batang pun sudah lebih dari cukup."
Sambil menerima busur dan anak panah tersebut, Hou ji segera berkata.
"Aku lihat kau belum akan puas sebelum melancarkan serangan dengan panah berapi?"
"Hou hiap, kau keliru"
Ucap Sangkoan Ki dengan wajah serius.
"walaupun rasa benci lohu terhadap Mao loji sudah merasuk sampai ke tulang sumsum namun aku masih cukup mengetahui akibatnya, aku terpaksa menggunakan cara ini karena tak ingin membiarkan Sun sauhiap menyerempet bahaya dengan percuma."
"Yaa, sambil selam minum air bukan?"
Ejek Hou-ji sambil tertawa lebar.
Ucapan ini terlampau menyolok dan mengena sekali dihati Sangkoan Ki..
Ketika selesai berkata tadi, Hou ji segera berjalan keluar dari ruangan belakang.
Sementara itu perahu besar yang ditumpangi Mao Tin hong berada dalam keadaan gelap gulita, sunyi senyap dan tak kedengaran sedikit suarapun, keadaannya tidak jauh berbeda dengan sebuah sampan aneh.
Hou ji berkerut kening, dia segera menyulut sebuah peluru api pada lentera perahu berlayar delapan itu, kemudian memasang anak panah tersebut diatas busur, mengerahkan hawa murninya dia membentak dengan suara keras.
"Mao Tin hong, bila kau tidak munculkan diri untuk berbicara lagi, jangan salahkan bila siauya akan mulai menyerang dengan anak panah berapi ini!"
Ketika dari pihak perahu besar diseberang sana belum juga terdengar suara jawaban, Hou ji segera menarik busurnya kuat kuat kemudian "Sreeet ,."."
Diiringi suara desingan tajam, panah berapi itu dengan membawa sekilas cahaya pelangi berwarna merah membara meluncur ke-depan dan menancap diatas jendela pada bagian belakang perahu besar tersebut.
Menyusul kemudian Hou ji menyulut panah api kedua.
"Hoa ko, tunggu sebentar!"
Tiba-tiba terdengar Sun Tiong lo berseru lantang.
"Aaah, tiga batang panah berapi tak akan sampai membakar perahu tersebut, kecuali kalau tiada orang yang munculkan diri untuk memadamkan kobaran api tersebut."
Jawab Hou ji. Berbicara sampai disitu, dia segera melepaskan tangannya dan...."Sreet"
Diiringi desingan tajam, kembali panah berapi itu meluncur ke depan.
Kali ini membidik tepat diatas layar utama perahu besar tersebut, Layar perahu merupakan benda yang mudah terbakar maka begitu layar perahu terkena bi sikan, api segera membara menjilat kemana-mana, dalam waktu singkat seluruh layar perahu itu sudah terbakar menyusul kemudian kertas jendela dan ruangan mulai terbakar.
Anehnya, ternyata dalam perahu itu tak nampak seorang manusia pun yang menampakkan diri, tentu saja tak akan terdengar sedikit suarapun yang berkumandang dari situ.
Sekarang, Sun Tiong lo seperti menyadari akan sesuatu, buru-buru dia mencegah Hou-ji untuk membidikkan panah berapinya lagi.
"Engkoh Hou kemungkinan besar perahu tersebut kosong dan tidak berpenghuni lagi, jangan di bidik lagi !"
Serunya. Agaknya SangKoan Ki juga berpikir sampai ke situ, dia lantas berseru.
"Yaa. kira harus turunkan perahu kecil dan melakukan pemeriksaan keatas perahu tersebut. Sun Tiong-Io merasa tak sabar lagi untuk menunggu sampai menurunkan sampan kecil, disamping itu sebuah kecurigaan muncul pula didalam benaknya, maka sambil menyambar sebuah papan dari dalam ruangan, serunya cepat.
"Tak usah menurunkan perahu, biar aku seorang yang melakukan pemeriksaan ke atas perahu tersebut."
Selesai berkata, Sun Tiong-lo segera mematahkan papan kayu itu menjadi beberapa bagian, kemudian dengan melemparkan kayu tersebut satu per satu ke atas perkemukaan telaga, dengan ilmu Teng-peng tok-sui dia meluncur kearah perahu besar tersebut dengan gerakan secepat kilat.
Si anak muda ini memang hebat, begitu potongan kayu dibuang ke permukaan air, ujung kakinya segera menutul diatas potongan kayu mana dan meluncur ke muka, kemudian disaat tubuhnya hendak menukik ke atas permukaan telaga, tangan kanannya kembali digetarkan melemparkan sepotong kayu.
Dengan cara itulah, secara mudah sekali ia berhasil mencapai diatas perahu besar.
Hou-ji yang berada diatas perahu tersebut bersama-sama Bau-ji, nona Kim dan Sangkoan Ki segera menurunkan sampan kecil keatas permukaan air.
Kendatipun Sun Tiong lo telah mencegah mereka untuk turut kesana, namun mereka tak tega membiarkan si anck muda itu menyerempet bahaya seorang diri.
Perahu kecil yang berada diatas perahu berlayar delapan itu hanya dipakai disaat saat gawat dan penting, oleh karena itu sampan maha hanya terbuat dari kulit dan cuma muat tiga-empat orang, bila kelebihan penumpang maka perahu kulit itu akan segera tenggelam.
Oleh karena itu mencegah Sangkoan Ki untuk turut serta, katanya dengan cepat.
"Tenaga dalammu sudah punah, mau apa kau ikut ke situ ?"
Sangkoan Ki segera terbungkam dan cuma bisa berdiri tertegun seperti orang bodoh. Terdengar Bau ji berkata pula.
"Sampan kulit ini kelewat kecil, lebih baik kau tinggal di atas perahu besar saja !" -ooo0dw0oo-
Jilid 39 SEMENTARA pembicaraan masih berlangsung, nona Kim sudah melompat turun keatas sampan tersebut, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia berseru.
"Ayo cepat sedikit, engkoh Lo sudah hampir memasuki ruangan perahu itu!"
Sangkoan Ki tahu kalau dia tak mungkin bisa ikut, maka dengan suara keras teriakannya.
"Sun sauhiap, hati-hati! jangan memasuki ruangan tersebut lebih dulu...!"
Sayang tindakan itu sudah terlambat selangkah.
Sun Tiong lo telah menjejak pintu dan melompat masuk kedalam ruangan.
Hou ji dan Bau ji melompat keatas sampan kecil dengan cepat, sebelum mereka mendayung perahu tersebut, kembali terdengar Sang koan Ki berteriak keras.
"Tunggu sebentar Hou hiap, bawalah serta beberapa batang panah !"
Maksud dari ucapan itu jelas, yakni jarak mereka dengan perahu tersebut masih jauh, seandairya Sun Tiong lo mengalami serangan atau sergapan, maka mereka tak mungkin bisa memberi bantuan dengan cepat.
Andaikata membawa anak panah, maka mereka bisa memberi bantuannya dari tempat jauh.
Sambil berteriak Sangkoan Ki berlarian masuk ke ruang belakang, tak selang berapa saat kemudian dia sudah muncul dengan membawa sebuah gendewa dengan belasan anak panah dan melemparkannya kedalam sampan kecil itu.
Saat itulah, Hou ji baru mendayung sampan kecil itu menuju ke arah depan.
Sangkoan Ki memang tak malu disebut seorang jago kawakan dalam dunia persilatan, begitu sampan tersebut berangkat, dia segera memasang lentera diujung perahu untuk menerangi suasana disana, setelah itu teriaknya ke arah sampan berisi bahan peledak itu.
"Yu Teng po. perhatikan baik-baik, Sun sau hiap sudah naik ke atas perahu musuh, kau harus menyambut kedatangannya tanpa merubah posisi, laksanakan perintah menurut perintah dari Sun sauhiap !"
Padahal dia sama sekali tidak tahu kalau orang yang berada diperahu itu penyambut bukan Yu Teng-po melainkan Kang Tat tapi dengan diturunkannya perintah tersebut, hal ini membuktikan kalau dia tidak terlalu mementingkan diri sendiri.
Waktu itu, Kang Tat maupun ketiga perahu berisi bahan peledak tersebut sudah memperhatikan situasi diitas perahu musuh dan di permukaan air dengan seksama, merekapun menyaksikan bagaimana Sun Tiong lo dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna melayang naik keatas perahu musuh.
Kendatipun tiada perintah dari Sangkoan Ki, Thio Yok-sim serta Cukat Tan telah bertekad akan mendekati perahu musuh, maka begitu mendengar teriakan mana, serentak keempat buah perahu itu bersama-sama bergerak maju ke muka.
Posisi mereka sekarang sudah jauh melesat ke depan, oleh sebab itu pula mereka tiba di sasaran dengan cepat.
Sementara itu, San Tiong lo sudah menyerbu masuk kedalam ruang tengah perahu musuh.
Rupanya disaat panah berapi menancap di atas jendela ruang perahu dan layar tersebut, namun tidak nampak ada orang yang muncul untuk memadamkan api, Sun Tiong-lo merasakan hatinya tergerak, dia lantas menduga kalau Mao Tin-hong telah meloloskan diri dari situ.
Itulah sebabnya dia lantas meluncur ke perahu musuh untuk melakukan pemeriksaan yang teliti.
Namun diapa bertindak sangat berhati-hati, disaat mana sebelum berangkat dia berpesan kepada Hou ji agar jangan ikut ke depan, sebab dia kuatir Mao Tin hong telah melakukan sesuatu persiapan diatas perahunya sehingga kehadiran mereka disana malahan terkena jebakannya.
Itulah sebabnya dia saat dia melayang ke arah perahu musuh tadi, pemuda itupun mengerahkan ilmu pendengaran langitnya untuk mencoba nemeriksa keadaan disekitar situ, alhasil kecuali suara api yang membakar perahu, pada hakekatnya tidak ditemukan suara orang manusia pun.
Begitulah, setelah termenung sejenak didepan pintu perahu, dia lantas menerjang masuk ke ruang dalam.
dia pun mendengar suara teriakan dari Sangkoan Ki dan Houji, tapi tanpa ragu dia meneruskan langkahnya menerjang masuk ke dalam.
Dia sudah mendengar dari mulut Sangkoan Ki kalau ruang perahu yang besar dan luas itu penuh dilengkapi dengan barang mewah, tentu saja Sangkoan Ki sendiri tidak masuk ke ruang tersebut tempo hari, namun sempat melihat dari balik cermin.
Tapi keadaan yang tertera didepan mata sekarang sama sekali telah berubah.
Pintu kaca masih tetap utuh.
namun perabot yang ada dalam ruangan tersebut sudah hilang lenyap, bahkan permadani merah yang melapisi lantai perahu pun sudah dicopot semua sehingga terlihat warna asli dari dasar lantai perahu.
Suasana dalam ruangan itu gelap gulita, tiada cahaya lentera, sedangkan Sun Tiong lo sendiripun tidak membawa alat pembuat api, untung saja tenaga dalamnya amat sempurna sehingga meski ada dalam kegelapan pun dia dapat menyaksikan keadaan disitu dengan amat jelas.
Dengan menghimpun hawa murninya keda lam mata, dia mulai memeriksa keadaan dalam ruangan tersebut dengan seksama.
Akhirnya diatas dinding perahu dia menemukan sepucuk surat yang ditancapkan disana, beberapa huruf besar tertera didepan sampul mana, yang bertuliskan.
"Ditujukan khusus untuk Sun Tiong lo"
Dengan kening berkerut Sun Tiong lo berjalan menuju kedepan dengan langkah lebar.
Ketika sampai disisi dinding ruangan dan baru saja akan mengambil surat tersebut, tiba-tiba matanya tertumpuk dengan sebuah meja lentera disisi bawah surat mana, diatas rak tersebut terdapat pula sebuah lentera.
Yang lebih aneh lagi, disisi lentera tadi tersedia pula alat untuk membuat api.
Anak muda itu termenung sejenak, kemudian timbul niatnya untuk memasang lentera tersebut dan membaca surat mana dibawah lentera.
Tapi satu ingatan lain melintas pula dalam benaknya, akhirnya dia urungkan niat tersebut dan mengambil surat yang tertancap diatas dinding itu.
Setelah surat diambil dan dibuka sampulnya tampak selembar kertas berisikan tulisan yang rapat dan kecil.
Betul dia memiliki ketajaman mata yang luar biasa dan bisa digunakan untuk memandang keadaan dalam ruangan, namun untuk membaca isi surat dengan huruf yang begitu kecil, tanpa cahaya lentera tentu saja sulit baginya untuk membaca.
Oleb sebab itu Sun Tiong lo berjalan mendekati lentera tersebut, mengambil alat pembuat api dan menyulut lentera yang tersedia disana.
Belum lagi lentera tersebut dipasang, mendadak dari luar jendela muncul gumpalan api yang rontok kebawah, dalam waktu singkat seluruh jendela luar sudah terjilat oleh api yang membumbung tinggi ke angkasa.
Rupanya lain layar tersebut sudah ambruk dan membawa kobaran api yang menjiIat, membakar benda yang ada disekelilingnya.
Begitu cahaya api berkobar diluar, suasana dalam ruang perahu itu pun menjadi terang benderang.
Sun Tiong lo memandang sekejap kearah surat itu, lalu memandang pula kearah lentera yang tersedia dimeja.
Tiba tiba ia seperti menemukan sesuatu, paras mukanya segera saja berubah hebat, tanpa berpikir panjang lagi, dia membalikkan badan lalu melompat keluar dari ruang perahu tersebut.
Kebetulan sekali perahu-perahu berisi bahan peledak itu sudah semakin mendekati perahu musuh, dengan suara menggeledek Sun-Tiong lo segera membentak keras.
"Cepat menjauhi perahu ini, dalam perahu sudah dipasang bahan peledak, cepat menjauh!"
Ditengah bentakan itu, dia merendahkan tubuhnya sambil menyambar sebuah gala panjang, kemudian dilemparkan kearah permukaan air menuju ke arah berlayar delapan.
Menyusul kemudian diapun ikut melayang keatas gala panjang itu dan berdiri diatasnya.
Gala bambu itu memang sedang meluncur kearah perahu berlayar delapan tersebut, ketika kakinya mencapai diatas gala bambu tadi ternyata gala itu tak tenggelam keair, malah meluncur semakin kearah depan.
Demonstrasi ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurna ini, kontan saja mengejutkan semua orang sehingga mereka bersama-sama membelalakkan matanya dengan mulut melongo.
Sangkoan Ki dan Kang Tat sekalian makin bersyukur dihati, hari ini mereka baru tahu kalau tenaga dalam yang dimilikinya Sun Tiong lo sesungguhnya telah mencapai tingkatan yang tak terhingga.
Untung saja mereka cepat bertobat dan kembali ke jalan besar, dari musuh kini menjadi teman.
kalau tidak, entah bagaimana jadinya dengan mereka?
Sementara itu Kang Tat, Yu Teng po.
Thio Yok sim dan Cukat Tan sudah mendengar teriakan tersebut, serentak mendayung sampan masing-masing menjauhi perahu musuh, sedang perahu kulit itupun segera memutar haluan dan kembali ke perahu berlayar delapan.
Tatkala perahu berisi bahan peledak itu sudah menjauh, sampan kulit sudah kembali ke perahu induk dan Sun Tiong lo telah kembali ke atas perahu...
Pada saat itu!ah, perahu musuh yang tak berpenghuni itu sudah terkepung ditengah jilatan api yang membara, kemudian terjadilah suatu ledakan dasyat yang menggelegar ditengah udara, diikuti pula jilatan api mencapai tengah angkasa.
Dalam waktu singkat perahu tersebut sudah hancur berkeping-keping, api yang membara pun segera lenyap bersamaan dengan lenyapnya hancuran perahu itu didasar telaga.
Yang tersisa kini hanyalah hancuran kayu yang terapung diatas permukaan air telaga...
Semua orang segera meninggalkan perahu kecil dan pindah keatas perahu besar, baban-bahan peledak diatas sarapan pun dibawah petunjuk Yu Teng poo yang serius dipindahkan semua kedasar perahu berlayar delapan tersebut.
Kini, semua orang sudah berkumpul didalam ruang perahu yang lebar, wajah mereka diliputi amarah, hanya Sun Tiong lo seorang tetap berwajah hambar, tak jauh beda dengan paras mukanya dihari biasa.
Ditengah keheningan yang mencekam, Sangkoan Ki yang pertama-tama buka suara lebih dulu ujarnya sambil menghela napas.
Kesemuanya ini harus salahkan diriku, sudah seharusnya aku dapat berpikir kesitu, bajingan Mao licik dan banyak tipu muslihatnya mana mungkin dia akan membuang sauh disini sambil menunggu kedatangan kita untuk mencari gara-gara dengannya?
sekarang dia telah pergi."
Dengan tak sabar Bau ji segera menukas.
"Tak usah membicarakan kata-kata yang tak berguna lagi, sekarang yang penting adalah memikirkan kemanakah dia telah kabur?"
"Tak usah dipikir lagi, tentu saja dia telah kabur kekebun raya Pek hoa Wan gua Pek Hoa tong!"
Kata Sangkoan Ki cepat. Bau ji segera berpaling kearah Sun Tiong lo kemudian serunya.
"Jite, mari kita mengajarnya sekarang juga ke wilayah Biau!"
Sikap Sun Tloig-lo sangat tenang, pelan-pelan dia berkata.
"Tentu saja kita harus berkunjung ke wilayah Biau, cuma kita baru akan kesitu setelah dapat menemukan suatu tindakan yang tepat untuk mengatasi bajingan Mao tersebut !"
"Sun sauhiap,"
Kata Sangkoan Ki dengan kening berkerut.
"lohu berani jamin dia hanya akan kabur melalui jalanan tersebut saja !"
Mendengar perkataan tersebut Sun Tiong-lo segera tertawa.
"Untuk saat ini aku tak ingin berpikir seenaknya sendiri, aku rasa persoalan tak akan begitu gampang !"
Sangkoan Ki menjadi sangat gelisah, serunya lagi.
"Sun sauhiap, kau tidak tahu ! Saat ini bajingan Mao sudah tahu kalau dia telah ditinggalkan anak buahnya, meskipun dunia ini sangat luas, namun sudah tiada tempat lagi baginya untuk melarikan diri, satu-satunya kemungkinan hanyalah kabur ke wilayah Biau."
Sun Tiong-lo segera menukas.
"Misalkan tadi, seandainya Hou-ji dan kau tidak berunding secara rahasia untuk mencoba perahu itu ada orangnya atau tidak dengan panah terapi, tentu saja perahu tersebut tak akan terbakar.
"Apalagi sekalipun terbakar seandainya aku tidak mencegah kalian turut serta menuju ke sana dan berangkat seorang diri kesitu dengan andalkan ilmu meringankan tubuh, tentu saja kalian sudah berada diatas perahu itu bersama-sama.
"Disamping itu, seandainya layar yang membawa api tidak jatuh secara kebetulan sehingga menggunakan sinar terang tersebut aku berhasil menemukan penyakit pada lentera yang tersedia hingga tidak kupasang sumbu lentera tersebut, mungkin bahan peledak itu sudah meledak sejak tadi. Nah Sangkoan Tayhiap, coba kau bayangkan bagaimana jadinya andaikata kita masih berada disana !"
"Tentu saja hancur berkeping keping !"
Kata nona Kim dengan nada ngeri bercampur seram. Sambil tertawa Sun Tong lo memandang sekejap ke arahnya, lalu ujarnya lagi.
"Benar, rupanya sumbu lentera tersebut sesungguhnya merupakan sumbu untuk meledakkan bahan peledak tersebut, padahal sumbu itu cuma satu inci panjangnya, di sekitar perahu sesungguhnya penuh dengan bahan peledak.
"Andaikata tiada kebetulan-kebetulan yang terjadi, sudah pasti aku telah menyulut lentera itu, bila bahan peledak itu sudah keburu meledak sebelum aku pergi dari sana, tak bisa disangkal lagi akupun akan mati disitu.
"Tadi, bukankah kita semua telah menyaksikan betapa dahsyatnya ledakan yang di sertai dengan jilatan api itu, nah coba kalian pikirkan, siapakah yang bisa lolos dari keadaan tersebut ? Sekarang aku ingin bertanya kepada Sang-koan tayhiap, andaikata kita semua telah tewas ditengah perahu tersebut, apakah Mao Tin hong perlu untuk melarikan diri ke wilayah Biau ?"
Sangkoan Ki terbungkam dalam seribu bahasa, kepalanya segera tertunduk rendah-rendah. Lama setelah suasana hening, Sun Tiong lo baru berkata lagi sambil menghembuskan panjang.
"Semuanya ini memang sudah takdir, namun panah api yang di bidikan Hou ji sama sekali tidak gembira dengan ucapan tersebut, katanya cepat.
"Semuanya itu cuma suatu kebetulan, cuma suatu kebetulan yang tak disengaja."
"Benar"
Kata Sun Tiong lo serius "semuanya ini memang merupakan suatu kejadian yang kebetulan, tapi kebetulan yang sesungguhnya di atur oleh kekuatan gaib dari langit bukan pepatah kuno pernah bilang.
"Perhitungan manusia tak akan bisa mengungguli perhitungan langit...?"
Nona Kim mengerling sekejap ke arah Sun Tiong Io. kemudian sindirnya.
"Tak kusangka kalau kaupun menjadi seorang penganut tahayul sekarang..."
Sun Tiong-lo segera tertawa.
"Soal ini bukan soal tahayul atau tidak, seandainya Thian tidak menakdirkan begini, memangnya kita semua masin bisa hidup detik ini..."
Sangkoan Ki berpikir sebentar, kemudian katanya lagi.
"Jadi maksud Sun sauhiap, bajingan Mao tersebut sekarang berada di sekeliling tempat ini?"
"Tidak."
Kata Sun Tiong-lo sambil menggeleng.
"sekarang dia sudah pergi dari sini !"
Sangkoan Ki memang tak malu disebut sebagai seorang jago kawakan, dia segera manggut-manggut.
"Benar."
Katanya kemudian.
"disaat dia mengetahui kalau rencana busuknya menemui kegagalan, tentu saja dia berusaha untuk kabur lebih cepat dari sini !"
Sun Tiong-lo segera manggut-manggut dan tidak berbicara lagi.
"Sekarang tentunya Sun sauhiap sudah percaya bukan kalau perempuan cabul itu pun merupakan seorang manusia bengis yang keji?"
Sun Tiong lo memandang sekejap kearah nya kemudian balik bertanya.
"Dari mana kau bisa berkata begitu?"
"Kenyataan sudah tertera dengan jelas dan gamblang, seandainya perempuan cabul itu tak sekomplotan dengan bajingan Mao, mengapa pula dia mengijinkan bajingan tua she Mao-itu untuk melakukan siasat keji dengan mencarikan bahan peledak di dasar perahunya sebelum melarikan diri dari sini?"
Sun Tiong lo segera terbungkam dalam seribu bahasa, dia tak sanggup untuk berkata kata lagi. Sangkoan Ki segera berkata lebih jauh.
"Kalau begitu semakin cepat itu lebih baik bagi kita sekarang untuk mendatangi wilayah Biau jauh lebih awal!"
"Yaa, dengan begitu posisi kita pasti akan jauh lebih beruntung lagi."
Sokong Hou ji dengan cepat. Sun Tiong lo segera berkerut kening katanya tiba-tiba.
"Aku rasa tak mungkin kita bisa tiba lebih awal dari pada mereka.,!"
"Aaah, belum tentu, kita toh turun kemudian mengikuti arus air..."
Seru Hou ji. Dengan cepat Sun Tiong to menggelengkan kepala berulang kali.
"Entah bagaimanapun kita menempuh perjalanan, yang pasti tak mungkin bisa sampai ke tempat tujuan mendahului mereka, apa lagi merekapun hapal dengan daerah di sekitar sana, sedangkan kita semua belum ada yang pernah berkunjung ke gua Pek hoa tong, bayangkan saja, bagaimana mungkin kita bisa mendahului mereka?"
"Perduli bagaimana pun, berapa cepat perjalanan yang bisa kita tempuh, kita berusaha secepatnya!"
Seru Sangkoan Ki. Kali ini Sun Tiong lo tidak memberikan tanggapannya lagi, dia lantas memperlihatkan surat yang di tunjukkan kepadanya itu, kemudian berkata.
"Bajingan Mao telah meninggalkan sepucuk surat kepadaku, coba kita lihat apa isi surat tersebut. Sembari berkata dia lantas merobek sampul surat itu dan mengeluarkan secarik kertas ternyata isinya hanya berupa selembar kertas putih. Dalam pada itu, Yu Teng-poo yang berjaga diluar ruang perahu telah membentak secara tiba-tiba.
"Siapa disitu? jangan dekati perahu ini!"
Begitu mendengar seruan tersebut, Hou-ji segera melompat keluar lebih dulu dari dalam ruang perahu, sementara itu, dari luar sana sudah kedengaran seseorang menjawab dengan nyaring.
"Tolong tanya apakah Gin ih lak yu berada diatas perahu? Lohu Mo..."
Belum selesai ucapan tersebut diutarakan, Kang Tat sudah bersorak dengan gembira.
"Sun sauhiap, Mo Kiau-jiu telah datang!"
Betul juga, Mo Ciau jiu dibimbing oleh Cukat Tan telah naik keatas perahu berlayar delapan itu.
Setelah masuk kedalam ruang perahu dan menyaksikan keadaan didalam ruangan tersebut dia lantas berseru dengan gembira.
"Bagus sekali. aku benar-benar merasa gem bira sekali, dimana jenazah Mao loji?"
"Tua bangka itu berhasil kabur!"
Sahut Kang Tat sambil melotot sekejap ke arahnya. Mo C i a u j i u t e r t e g u n , l a l u s amb i l mema n d a n g k e wa j a h o r a n g -o r a n g i t u , s e r u n y a .
"Bukankah di sini hadir begini banyak orang ? Mengapa dia berhasil melarikan diri?"
Thio Yok sim mendengus dingin.
"Hmmm, kakinya kelewat panjang, apa boleh buat ? Kalau dia mau kabur, siapa yang bisa mencegah ?"
"Tahukah kalian kemana kaburnya bajingan itu ?"
Seru Mo Ciaujiu dengan kening berkerut.
"Menurut saudara Saogkoan, kemungkinan besar dia telah kabur ke gua Pek hoa tong di wilayah Biau!"
Mo Ciau-jiu segera menggertak giginya kencang-kencang.
"Ternyata tidak meleset dari dugaanku, hayo berangkat, menuju kesana berarti jalan kematian bagi bajingan tua itu!"
Dari balik ucapan tersebut, semua orang dapat mendengar sesuatu yang tak beres, tanpa terasa mereka jadi tercengang dan tidak habis mengerti.
Saat itulah, Sangkoan Ki segera mengemukakan kecurigaan dan perasaan tak habis mengertinya.
"Mo heng atas dasar apa kau mengatakan kalau kaburnya bajingan Mao ke wilayah Biau merupakan jalan kematian baginya ?"
Dengan perasaan apa boleh buat Mo Ciau-jiu berpaling ke arah Sangkoan Ki, kemudian ujarnya sambil tersenyum.
"Maaf lohu berpandangan picik sobat adalah..."
Sangkoan Ki cukup mengetahui tentang watak Mo Ciau jiu, dia pun mengerti bahwa perasaan benci dan dendam dari Mo Ciau-jiu serta juga Kang Tat sekalian terhadapnya sudah mendarah daging, kalau bisa mereka hendak membunuhnya untuk melampiaskan rasa bencinya itu.
Terutama Mo Ciau jiu, tempo hari Sang-koan Ki lah yang mengatur rencana untuk membekuknya, menghancurkan rumah tangganya dan melarikan putrinya, terhadap dendam kesumat tersebut, Mo Ciaujiu tak pernah akan melupakannya.
Kini, walaupun Sangkoan Ki sudah sadar atas dosa-dosanya dan bertobat namun lantaran kejahatan yang dilakukan olehnya dimasa dulu terlalu banyak, perbuatannya terlalu keji, dia tahu apabila Mo Ciau-jio sudah mengetahui keadaan yang sesungguhnya sudah pasti dia akan menerkamnya.
Oleh sebab itu dia lantas menggeserkan tubuhnya dan berdiri disamping Sun Tiong lo, katanya kemudian.
"Saudara Mo, kita adalah kenalan lama !"
Kening Mo Ciau-jiu semakin berkerut kencang, serunya dengan perasaan tidak habis mengerti.
"Maaf aku lupa siapakah dirimu dan kita pernah bersua dimana?"
Baru saja Singkoan Ki hendak bicara, Mo-Ciau jiu telah berkata lebih jauh.
"Aaah, benar! Suara sobat terasa sangat kukenal sekali..."
"Lohu adalah Sangkoan Ki!"
Sela Sangkoan Ki cepat. Mo Ciau jiu semakin tertegun lagi setelah mendengar perkataan tersebut Ialu gumamnya.
"Sangkoan Ki? Apakah kau adalah Sangkoan Ki yang dihormati umat persilatan dimasa lalu"
"Benar, tentunya Mo tua tak mengira bukan?"
Sela Kang Tat dari samping. Mo Ciau jiu segera menggelengkan kepalanya berulang kali kembali dia berkata.
"Heran. antara Sangkoan tayhiap dengan lohu hanya kenalan biasa saja, tapi kalau didengar dari nada suara Sangkoan tayhiap. tampak nya kukenal sekali..."
"Tentu saja"
Seru Thio Yok sim memecahkan teka teki tersebut.
"sebab Sangkoan tay hiap tak lain adalah Kwa Cun seng!"
Begitu nama "Kwa Cun seng"
Disebutkan paras muka Mo Ciau jiu segera berubah hebat. Dengan perasaan terperanjat dia mengawasi wajah Sangkoan Ki lekat-lekat, kemudian serunya tertahan.
"Sungguhkah itu? Benarkah kau adalah bajingan keparat she Kwan tersebut?"
Sangkoan Ki menarik napas panjang, kemudian manggut-manggut.
Mo Ciau jiu memandang ke arah Kang Tat dengan pandangan penuh tanda tanya, Kang Tat segera menyatakan kebenarannya.
Mo Ciau jiu memandang pula ke arah Cukat Tan.
Cukat Tan pun segera manggut-manggut, maka dari balik mata Mo Ciau jiu pun segera memancarkan cahaya api, api penuh hawa napsu membunuh.
Tapi sorot mata yang tajam menggidikan hati itu dalam waktu singkat berubah kembali menjadi halus dan lembut, hanya sepasang alis matanya saja yang masih berkenyit.
"Oooh, rupanya kaupun telah menghianati Mao Tin-hong ?"
Gumamnya kemudian. Sangkoan Ki menundukkan kepalanya rendah-rendah, katanya kemudian pelan.
"Sayang sekali aku terlambat mengkhianatinya, rasa menyesalku tak terkirakan."
"Kau merasa benci, aku lebih benci lagi !"
Sambung Mo Ciau jiu dengan cepat. Tampaknya Sangkoan Ki memahami maksud perkataan tersebut, maka dengan wajah serius katanya lagi.
"Siaute cukup memahami akan rasa benci saudara Mo. ketika siaute dapat menyaksikan batok kepala bajingan Mau telah terpenggal, disaat itu pula ku jamin akan menyelesaikan rasa benci Mo heng terhadapku, harap saudara Mo mencatat soal ini didalam hatimu."
"Apakah saudara Sangkoan ada maksud untuk mewujudkan keinginanku itu?"
Tanya Mo Ciau jiu sambil memancarkan sinar mendalam dari balik matanya. Sangkoan Ki tertawa getir.
"Aku hidup sampai kini, sutu-satunya keinginanku adalah menyaksikan bajingan she Mao itu memperoleh pembalasannya, ketika harapanku tersebut sudah terpenuhi maka matipun aku tak akan menyesal, oleh sebab itu semua perkataanku kuutarakan secara sejujurnya !"
"Baik, kalau begitu kita berjanji dengan sepatah kata ini!"
Seru Mo Ciau jiu sambil tertawa.
"Tak usah kuatir."
Kata Sangkoan Ki lagi dengan nada berat.
"Sangkoan Ki, bukan Kwa Cun-seng !"
Maksud dari perkataan tersebut sudah amat jelas, yakni perkataan dari Kwa Cun seng tak bisa dipercaya, namun ucapan dari Sangkoan Ki bisa dipercaya dan setiap ucapan yang telah diutarakan tak pernah akan disesali kembali.
Tapi Mo Ciau jiu lebih mengerti tentang Kwa Cun seng, walaupun Kwa Cun seng telah menggunakan nama aslinya, atau dia telah berganti menggunakan nama Sangkoan Ki, dia tetap adalah seorang manusia yang sama.
Orang itu bukan saja tidak bisa dipercaya parkataannya, bahkan sudah cukup banyak melakukan kejahatan, bersalah licik keji dan berhati berbisa seperti kala jengking, sekali melangkah semua perbuatannya merupakan perbuatan-perbuatan jahat.
Oleh sebab itu, baginya dia mau bernama Kwa Cun seng atau Sangkoan Ki, kedua-dua nya sama sekali tak ada perbedaannya.
Apa lagi orang bilang "pohon tumbang, monyet bubaran", ketika Kwa Cun seng tahu kalau kejayaan bajingan tua she Mao sudah pudar, dia pun bersikap seakan-akan bertobat untuk menyelamatkan jiwa sendiri.
Maka dia beranggapan meski orang lain bisa dibohongi oleh perbuatannya itu jangan harap bisa membohongi dirinya.
Namun Mo Ciau jiu sebagai seorang yang berpengalaman, diapun tabu, sejak Kwa Cun seng berganti nama menjadi Sangkoan Ki, apalagi setelah berhasil menarik rasa simpatik dari Sun Tiong Io, dengan perlindungan dari Sun Tiong lo, bukan suatu pekerjaan yang gampang baginya untuk membunuhnya.
Selain daripada itu, diapun merasa kalau kepandaian silat yang dimiliki Sangkoan Ki sekarang sudah bukan tandingannya lagi, oleh karena itu Mo Ciau jiu segera berlagak seakan-akan percaya sungguh dan menunjukkan sikap yang terbuka.
Tentu saja Mo Ciau jiu tidak tahu kalau kepandaian silat yang dimiliki Sangkoa Ki telah punah sama sekali.
Sikap dari Mo Ciau jiu ini membuat Sangkoan Ki mempercayai pula kepadanya dan tidak melakukan persiapan terhadapnya lagi.
Yang paling penting lagi adalah keluwesan Mo Ciau jiu dalam berbicara, dimana dia segera mengalihkan pokok pembicaraan ke masalah Mao Tin hong.
Karena disini sudah tiada harapan lagi, serta merta merekapun merundingkan perjalanan mereka menuju kewilayah Biau.
Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, biasanya perjalanan dengan berjalan kaki akan mendatangkan perasaan diluar dugaan bagi orang lain.
Apa yang diduga Sun Tiong lo ternyata memang benar.
Mao Tin-hong tidak pergi jauh, dia sedang mengamati gerakgerik lawannya disekitar sana.
Sejak awal sampai akhir, dia telah menyaksikan semua peristiwa tersebut dengan jelas.
Dia benar-benar merasa benci, benci yang tak terkatakan lagi.
Dia pun menyaksikan perahu besar berlayar delapan miliknya itu, kini berubah menjadi perahu musuh.
Dia pun menyaksikan Sangkoan Ki muncul dengan wajah aslinya, bahkan sedang menyusunkan rencana bagi tindakan yang akan dilakukan lawan.
Ketika terjadi ledakan dahsyat serta menyaksikan Sun Tiong lo mendemonstrasikan kelihayan ilmu silatnya Ma Tin-hong merasakan nyalinya pecah, dengan perasaan ngeri dia hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang kali.
Disisi tubuhnya sekarang tiada orang lain, bukan saja iblis perempuan itu tak nampak, dayang centil itupun tak nampak batang hidungnya...
Sekarang, dia menyaru sebagai seorang tukang perahu yang terdekat diatas perahu nelayan butut seharga sepuluh tahil perak, dia sengaja berlabuh tak jauh dari perahu besar tersebut sambil secara diam-diam mengamati keadaan disitu.
Termakan oleh bujuk rayu Mao Tin-hong yang manis dan hangat, si Iblis wanita dan para dayang dari kebun Pek hoa wan telah berangkat lebih dulu untuk kembali ke kebun Pek hoa wan dan membuatkan persiapan baginya.
Sekalipun Sangkoan Ki dan Sun Tiong lo sekalian melakukan pengawasan dari samping, tapi berhubung tiada orang yang berjaga dibelakang perahu besar yang menghadap ke tengah telaga, maka Mao Tin hong dapat melarikan diri dengan leluasa.
Dia sengaja menyuruh si iblis perempuan itu pergi, karena dia tak ingin iblis perempuan itu menyaksikan dia mempersiapkan siasat menanam bahan peledak diatas perahu penumpang itu, diapun masih mempunyai satu perhitungan lain, yakni ia ingin kembali ke Bukit pemakan manusia sekali lagi.
Didalam Bukit pemakan manusia tersimpan berapa banyak benda mestikanya, apabila keadaan tidak terpaksa, dia masih ingin berkunjung kesana sekali lagi dan membawa pergi benda-benda mestika miliknya itu.
Akan tetapi, sewaktu dia menyaksikan Mo Cau-jiu telah bergabung dengan Sun Tiong lo harapan tersebut segera punah, setelah termenung beberapa waktu, akhirnya sambil menggigit bibir dia memutuskan untuk meninggalkan segala harta kekayaannya itu.
Tatkala dia bertekad untuk meninggalkan telaga Tong ting dan jauh menuju ke wilayah Biauw, sambil memandang perahu besar dengan delapan layar serta sekawanan musuh bebuyutannya yang berada dalam ruang perahu itu, dia bergumam sambil tertawa menyeringai.
"Suatu hari, kalian semua akan mampus ditangan lohu, lohu akan tetap muncul di daratan Tionggoan, dan waktu itu... Hmm ! Hmm !"
Maksud dari perkataan itu sudah jelas, yakni pada waktu itu seluruh kolong langit sudah berada dibtwah kekuasaannya.
Setelah mendengus dua kali dan menunjukkan sikap yang benci, dia tertawa bangga.
Wajahnya dihiasi oleh senyuman menyeringai yang licik, buas dan keji, sampan kecil tersebut pelan-pelan didayung berangkat menjauhi tempat itu.
Sementara para jago yang berada di atas perahu besar itu sudah bersiap-siap untuk melakukan perjalanan oooO-de-Oooo FAJAR baru menyingsing, dari ujung jalan raya yang terbentang lurus kedepan itu berkumandang suara derap kaki kuda, disusul kemudian muncul segulung "naga kelabu"
Yang menggulung diangkasa.
Ketika naga kelabu itu mulai muncul, mula-mula hanya menempel pada permukaan tanah dan terbang menggulung, kemudian mulai mengembang dan makin lama mengembang semakin besar dan panjang.
Disaat ekor naga mulai membuyar, kepala naga telah tiba didipan pintu kota.
Pelan pelan naga debu itu mulai membuyar dan muncullah serombongan manusia berkuda.
Sepasang muda mudi yang berjalan paling duluan adalah Sun Tiong lo serta nona Kim.
Dibelakang adalah Bau ji, Sangkoan Ki serta Yu Teng Po.
Dibelakang mereka menyusul Kang Tat, Thio Yok sim, Cukat Tan Ban Seng dan Thia Keng, lima diantara sahabat Lak yu yang masih hidup.
Menyusul kemudian Mo Cau jiu yang ahli dibidang alat rahasia dan alat jebakan.
Perjalanan mereka dilakukan dengan amat cepat, waktu itu rombongan tersebut telah tiba diluar kota Kun beng.
Pintu kota telah dibuka dan rombongan ini masuk kota dan beristirahat di sebuah rumah mukan yang bernama An ka.
An ka-thian merupakan rumah penginapan rangkap rumah makan yang termashor dikota Kun beng, hidangan maupun pelayannya hebat, kamar mereka bersih dan luas.
Setelah melakukan perjalanan semalaman suntuk, Sun Tiong-lo sekalian merasa perlu untuk mempersiapkan sarapan serta makanan untuk kuda-kuda mereka.
Selesai sarapan, Sangkoan Ki berpesan kepada pelayan agar membangunkan mereka tengah hari nanti karena mereka hendak melanjutkan perjalanan lagi.
Pada ruang sebelah timur berdiamlah Sun Tiong-lo, Bau ji dan nona Kim.
Pada ruang sebelah barat adalah Sangkoan Ki dan muridnya,sedangkan pada deretan kamar samping berdiamlah Lak yu dan Mo Ciau jiu.
Mereka telah tidur karena Ielah, malah berpesan kepada pelayan agar jangan berisik disana.
Pada saat itulah, dari luar penginapan muncul lagi dua orang tamu.
Seorang sastrawan berusia pertengahan dengan dua orang pengiring.
Salah seorang lelaki pengiring itu melompat dari kudanya lebih dulu kemndian baru melayani sastrawan setengah umur itu untuk turun dari kudanya.
Setelah membersihkan pakaiannya yang penuh debu, sastrawan setengah umur itu berkata kepada pelayan yang menyambut kedatangannya itu sambil tertawa.
"Ada kamar bersih ?"
"Ada, ada, ada. silahkan ikuti hamba..."
Kemudian sambil berpaling kearah rekannya, dia berseru.
"Lo Huang. bawa kuda tamu kedalam istal, turunkan perbekalannya."
Lo-Huang mengiakan sambil siap maju kedepan. Tapi sastrawan setengah umur itu menggoyangkan tangannya berulang kali sembari berkata.
"Jangan, ke tiga ekor kuda itu bukan kuda sembarangan, biasanya kamilah yang mengurusi sendiri. cukup asal kalian menghantar orang orang ke istal."
Tentu saja pemilik rumah penginapan itu mengiakan berulang kali,sementara sastrawan setengah umur itu menuju ke kemarnya, dua orang lelaki itu membawa kuda mereka menuju ke istal.
Lo Huang segera memberitahukan kepada Lo Ceng yang mengurus istal agar tak perlu mengurusi kuda tersebut, kemudian berlalu dari situ.
Lelaki lelaki yang membawa tiga ekor kuda itu segera bekerja pula, yang satu melepaskan tali pelana sedang yang Iain berjalan kebelakang Loceng untuk mengambil sikat.
Menggunakan kesempatan disaat Loceng tak siap itulah, mendadak lelaki itu menotok jalan darahnya hingga jatuh pingsan.
Selanjutnya kedua orang lelaki itupun mulai bekerja keras, entah apa saja yang telah dilakukan, menanti pekerjaan mana telah selesai, mereka baru meneguk bebas jalan darah Lo-ceng tersebut.
"Aah, kau memang mengagetkan saja, mengapa sih secara tiba tiba jatuh pingsan ?"
Salah seorang lelaki itu segera menegur. Sementara Lo ceng masih kebingungan dan tak tahu bagaimana mesti menjawab, lelaki itu berkata lagi.
"Apakah kau memang mengidap penyakit semacam itu ?"
"Tidak ada!"
Jawab Lo ceng sambil membelalakkan matanya lebar-lebar dan menggelengkan kepalanya berulang kali. Lelaki itupun turut menggelengkan kepalanya.
"Aku lihat, ada baiknya kalau kau pergi mencari tabib untuk memeriksakan kesehatan badanmu."
Sembari berkata, mereka berdua mulai menyikat kuda, memberi makan, kemudian menambatnya sebelum pergi.
Sore itu, setelah bangun dari tidurnya, membersihkan badan dan bersantap, Sun Tiong lo sekalian segera berangkat meninggalkan kota Kun beng.
Siapa tahu belum sampai dua puluh li, kuda mereka roboh terkulai satu persatu, tak lama kemudian mulutnya berbusa dan akhirnya mati.
Sangkoan Ki yang berpengalaman segera menemukan hal hal yang tak beres dengan kuda mereka, serunya dengan cepat.
"Aaah Kuda-kuda kita telah dicekok pil pelemas tulang kita sudah dipecundangi orang!"
"Ya, penyakit ini pasti berasal dari rumah penginapan An ka!"
Sambung Mo Jiau jiu yg berpengalaman pula setelah memandang sekejap ke arah bangkai kuda itu. Dengan perasaan mendongkol Bau ji segera mendengus.
"Hm, mari kita kembali dan bekuk batang leher bajingan tersebut..."
Tapi Sun Tiong lo segera menggeleng katanya.
"Kita tak punya musuh lain, sudah pasti perbuatan ini atas perintah bajingan Mou yang berminat untuk melenyapkan kuda-kuda kita agar prjalanan kita tertunda, bila kita kembali lagi, berarti kita sudah termakan oleh siasatnya."
"Tapi tanpa kuda, bukankah perjalanan kita akan semakin terlambat?"
Ucap Bau ji. Sun Tiong lo berpikir sejenak, kemudian katanya kepada Sangkoan Ki.
"Sangkoan tayhiap, tahukah kau diperjalanan depan sana apakah terdapat pasar kuda?"
OoodeooO MO CIAU JIU menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada. kecuali kalau kita mau berputar sejauh sepuluh li lagi dan membeli kuda di-peternakan keluarga Lok!"
"Sepuluh li bukan perjalanan jauh"
Sela nona Kim cepat.
"tanpa kuda tak mungkin bagi kita untuk menempuh perjalanan kalau begitu mari kita, berangkat!"
Berada dalam keadaan apa boleh buat, terpaksa semua orang harus membawa buntalan masing-masing dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki.
Dipeternakan kuda keluarga Lok ada kuda yang bisa dibeli, namun tak akan bisa mendapatkan pelana, maka merekapun harus berjalan sambil menyeret pelana.
Perjalanan sejauh sepuluh li harus mereka tempuh dalam setengah malam, ketika baru akan sampai, mendadak semua orang mendengar suara derap kaki kuda dari belakang, mereka lantas berhenti sambil menengok.
Tampaklah dua orang lelaki dengan seorang sastrawan berusia pertengahan berjalan lewat dari sisi mereka.
Peristiwa semacam ini amat lumrah dan tiada sesuatu yang aneh, tentu saja tiada orang yang menaruh curiga.
Akhirnya sampai juga mereka dipeternakan keluarga Lok.
Waktu itu mendekati magrib, pemilik peternakan tersebut Lok Siang beralasan kalau kurang baik untuk memilih kuda dalam suasana begini, mereka dianjurkan untuk menginap semalam dulu di peternakan tersebut, besok pagi baru memilih kuda dan meneruskan perjalanan.
Karena menganggap cara ini baik, tentu saja semua orang merasa tidak keberatan.
Tanah peternakan keluarga Lok cukup besar tempat penginapan untuk tamu pun cukup luas, malam itu Lok Yang menyelenggarakan perjamuan untuk menyambut kedatangan tamu-tamunya, baik sikap maupun caranya berbicara mendatangkan kesan yang baik bagi setiap orang.
Berbicara yang sebenarnya Sun Tioag lo sekalian hanya akan membeli sebelas ekor kuda, tidak berapa banyak yang bisa diperoleh dari keuntungan jual beli itu, maka pelayanan Lok Siang yang begitu ramah dan hangat justeru mendatangkan perasaan tak tenang di dalam hati para jago...
Perjamuan itu baru bubaran pada kentongan ke dua.
Tempat menginap untuk para tamunya merupaksn kamar kamar yang berjejer secara teratur seperti rumah penginapan Sun Tiong-lo tinggal dikamar pertama, nona Kim berdiam dikamar nomor dua.
Kamar nomor tiga adalah Bau ji, selanjutnya Mo Ciau jiu Yu Teng-po, Sangkoan Ki serta Lak yu, dari dua deret kamar yang terdiri dari duabelas kamar, hanya sebuah saja yang berada dalam keadaan kosong.
Sesungguhnya jumlah rombongan Sun Tiong lo adalah duabelas orang tapi di tengah jalan entah mengapa Hou ji memisahkan diri, mungkin ada urusan penting lain yang hendak di kerjakan olehnya.
Ketika kentongan ke tiga menjelang tiba, semua orang pun terlelap tidur, suasana menja di hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.
Suasana didalam peternakan keluarga Lok juga diliputi kegelapan, tak nampak cahaya lentera yang menerangi tempat itu.
Mendadak tampak sesosok bayangan hitam menyelinap keluar secara diam-diam dari tempat tinggal para pekerja peternakan yang terletak di belakang bangunan utama.
Tak lama kemudian bermunculan pula bayangan manusia lain yang segera menyebarkan diri ke mana-mana.
Ada yang berlarian ke istal sambil secara diam-diam mempersiapkan kuda.
Ada yang berlarian menuju ke ruang tengah untuk mengambil barang.
Akhirnya dari gedung belakang peternakan itu muncul tiga sosok bayangan manusia yang masing-masing membawa sebuah peti yang nampaknya berat sekali.
Mereka langsung menuju ke istal, mengikat peti berat itu diatas pelana kuda kemudian berlalu dari situ.
Sementara itu, terdapat dua puluhan sosok bayangan hitam yang sedang mengumpulkan ranting dan kayu kering, kemudian dengan gerakan cepat dan lincah menuju ke depan ge dung dimana Sun Tiong lo sekalian sederet menginap.
Mereka menumpukkan ranting-ranting kering tersebut disekeliling bangunan gedung tanpa menimbulkan sedikit suara pun.
Makin lama ranting dan kayu kering yang ditumpukkan disana semakin banyak.
bahkan hampir sejajar dengan jendela.
Ketika ranting ranting tersebut sudah selesai ditumpuk, kawanan manusia berbaju hitam pun secara diam diam meninggalkan tempat kejadian tanpa menimbulkan sedikit suarapun, Kemudian mereka semua satu persatu berlompat naik ke atas kuda yang telah dipersiapkan dikejauhan.
Pada saat itulah, tiga orang manusia yang sudah berada di atas kuda sambil membawa peti peti berat itu berjalan mendekat, salah seorang di antaranya secara mengulap tangannya.
Serentak kawan manusia yang berada disekeliling gedung tamu itu mengeluarkan busur dari sisi pelana masing-masing, kemudian orang itu mengulapkan tangan kanannya lagi, api segera disulut dan obor pun dipasang.
Tak selang berapa saat saja, orang-orang itu sudah mempersiapkan panah berapi yang siap dibidikkan.
Tatkala orang itu mengulapkan tangannya sekali lagi panah-panah berapi itu bersamaan waktunya dibidikkan keatas tumpukan kayu kering itu...
Panah api bermunculan dari empat penjuru, dalam waktu singkat seluruh gedung itu sudah terkurung api yang berkobar dengan hebatnya.
Perlu diketahui, bangunan rumah untuk tamu itu sebagian besar terbuat dari kayu, atap rumah pun rupanya sudah disiram dengan minyak, maka dalam waktu singkat seluruh bangunan tersebut sudah terjilat api dan berubah menjadi sebuah gumpalan api.
Bila orang yang berada dalam gedung tersebut masih bisa meloloskan diri dari keadaan seperti ini, sudah pasti orang itu setengah dewa.
Ditengah kobaran api yang membara itulah terlihat dengan jelas, rupanya pemimpin dari gerombolan tersebut tak lain adalah Lok siang sendiri, pemilik peternakan itu.
Ditengah kobaran api yang membara inilah terdengar Lok Siang berseru dengan lantang.
"Apakah semua orang telah berkumpul ?"
"Ya, sudah berkumpul semua."
"Bagus, dengan kobaran api sebesar ini, aku yakin mereka tak bakal lolos lagi dengan selamat, mungkin kita tak usah mengikuti rencana untuk mengundurkan diri dari peternakan ini lagi, cuma kalian semua harus tetap waspada."
Seorang lelaki berbaju hitam yang berada disamping Lok Siang segera menyela.
"Saudara Lok, aku lihat lebih baik kita mengikuti rencana untuk mundur saja dari sini."
"Saudara Co, coba kau lihat, hingga sekarang mereka masih belum menunjukan sesuatu gerakkan pun, hal ini membuktikan kalau mereka-semua sudah mati terbakar ditengah tidur yang nyenyak."
Kata Lok Siang sambil berkerut kening.
"asalkan orang yang kita takuti sudah musnah, mengapa kita harus menarik diri dari sini ?"
Lelaki she Cio itu menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya cepat.
"Saudara Lok, justeru karena aku tak mendengar suara apa pun dari mereka, maka aku baru merasa kalau keadaan sedikit tak beres!"
Lok Siang tertawa dingin.
"Hee... hee... seharusnya saudara Cho dapat melihat dengan jelas. deretan rumah tamu sudah berubah menjadi lautan api, sekalipun Sun Tiong lo merupakan seorang jago lihay yang berilmu tinggi, mungkinkah dia bisa lolos dari sini ?"
Lelaki she Cho itu menggelengkan kepalanya lagi.
"Kau harus tahu, mereka bersebelas merupakan jago-jago yang memiliki ilmu silat yang amat tinggi, seandaikata kebakaran itu sampai terjadi, seharusnya terdengar teriakan atau jeritan orang, semestinya ada pula yang mencoba untuk menerobos keluar dari bahaya dan bayangan manusia yang berkelebat.
"Tapi sejak kebakaran terjadi hingga sekarang, bukan saja tidak terdengar teriakan atau jeritan kesakitan, tidak nampak pula seorang manusia pun yang melarikan diri, apakah hal ini tidak mencurigakan ?"
Setelah mendengar penjelasan tersebut, Lok Siang baru merasakan keadaan sedikit tak beres. Dengan kening berkerut katanya kemudian.
"Menurut pendapat saudara Cho, keadaan tersebut adalah..."
"Sulit untuk dikatakan."
Tukas lelaki she Cho itu.
"pokoknya keadaan seperti ini jauh berbeda dengan keadaan pada umumnya. lebih baik kita menyingkir saja dari sini!"
Lok Siang termenung sambil berpikir beberapa saat lamanya, kemudian manggut-manggut.
"Baik, mari kita mundur !"
Setelah berpaling, dia mengulapkan tangan nya kepada para jago sembari teriaknya.
"Sesuai dengan rencana semula, mundur!"
Begitu perintah diturunkan dia bersama lelaki she Cho dan lelaki setengah umur lainnya segera menarik tali les kuda dan berangkat dahulu menuju kearah pintu gerbang.
Sedangkan lainnya pun menurut perintah dan mengikuti dibelakangnya.
Siapa tahu ketika Lok Siang dan lelaki she Cho sekalian tiba didepan pintu gerbang, mendadak dari balik pintu berjalan keluar seseorang, orang itu memakai jubah panjang dengan pedang tersoren dipunggung, dia tak lain adalah Sun Tiong lo.
Dalam kagetnya, hampir saja Lok Siang menjerit tertahan, peluh dingin segera bercucuran dengan derasnya.
Lelaki she Cho itu ternyata cukup licik, begitu melihat Sun Tiong lo menghadang didepan pintu, dia lantas memutar arah kudanya dan kabur melalui pagar dinding di sebelah kiri.
Maksudnya dia hendak melompati pagar tersebut dan melarikan diri.
Tiba-tiba suara bentakan berkumandang lagi dari balik kegelapan malam.
"Siapa yang ingin kabur, dialah yang mampus lebih dulu, dan kau merupakan contohnya!"
Di tengah bentakan mana, tubuh lelaki she Cho yang sudah hampir mencapai puncak pagar itu tahu-tahu menjerit kesakitan kemudian roboh terjengkang ketanah.
Ketika diperiksa lagi, ternyata batok kepalanya sudah lenyap tak berbekas.
Tindakan tersebut kortan saja menggetarkan perasaan setiap orang yang hadir disana.
Sekarang Lok Siang telah sadar, rupanya mereka yang berbalik kena dikepung dalam peternakan tersebut.
Ingin kabur, lelaki she Cho itu merupakan contoh yang jelas, mati tanpa tempat kabur, sebaliknya kalau tidak kabur, sudah pasti mereka akan menuntut balas kepadanya atas rencana pembakaran terhadap diri mereka itu.
Sementara dia masih termenung, Sun Tiong lo telah membentak dengan suara nyaring.
"Sekarang kuperintahkan kepada kalian untuk turun dari kuda dan kembali ke ruang tengah gedung secara tertib, siapa berani membangkang dia akan mampus !"
Melihat kejadian itu, Lok Siang berseru sambil menggertak gigi kencang kencang.
"Orang she Sun, didalam peristiwa pada maIam ini, aku dan dua bersaudara Cho yang melaksanakan perbuatan ini, sedangkan anggota peternakan kami hanya melaksanakan perintah saja, aku harap..."
Belum habis dia berkata, Sun Tiong-lo sudah menukas lebih dahulu.
"Bila ada persoalan lebih baik dibicarakan dalam ruangan tengah saja !"
Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Lok Siang harus memutar kudanya dan berjalan balik. Dari balik kegelapan, kembali terdengar orang membentak keras.
"Orang she Lok, apakah kau masih merasa berat hati untuk turun dari kudamu ?"
Terpaksa Lok Siang melompat turun dari kudanya, sedang semua orang yang lain pun satu per satu melompat turun dari kuda dan mengikuti dibelakang majikannya.
Wajah semua orang murung dan sayu, langkah mereka pun tampak berat seperti dibebani dengan benda seberat ribuan kati.
Sementara itu, si jago merah yang membakar kamar tamu sudah padam, bangunan pun telah porak poranda, suasana dalam peternakan tersebut terasa jauh lebih gelap dan suram, Sun Tiong-lo berjalan di paling belakang, sambil berjalan dia berseru.
"Kalian dengarkan baik-baik, barangsiapa mencoba untuk melarikan diri ditengah jalan, jangan salahkan kalau kubunuh dia secara keji"
Baru selesai dia berkata, mendadak tampak sesosok bayangan hitam melejit keluar dari rombongan dan melarikan diri ke tempat ke gelapan dengan kecepatan tinggi.
Tampaknya kepandaian silat yang dimiliki orang itu cukup tinggi, gerakan tubuhnya cepat bagaikan sambaran kilat, dalam sekejap mata dia sudah ke balik kegelapan sana.
Disaat bayangan tubuhnya hampir tak nampak itulah, suara bentakan nyaring berkumandang dari balik kegelapan tembok.
"Sudah diberitahu jangan kabur, kau masih nekad juga sekarang jangan salahkan kalau aku bertindak keji, salahmu sendiri mencari kematian buat diri sendiri !"
Menyusul selesainya perkataan itu, jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang memecahkan keheningan. Sun Tiong-lo mendengus dingin, sekali lagi dia membentak keras.
"Apabila diantara kalian ada yang masih belum percaya, silahkan saja untuk mencoba melarikan diri !"
Sejak peristiwa itu, sudah ada dua orang yang tewas ditangan lawan, kejadian mana kontan saja menciutkan hati semua orang dan tak satupun yang berani mencoba untuk melarikan diri lagi.
Tak selang beberapa saat kemudian semua orang sudah sampai di ruang tengah, anehnya baru saja mereka mulai melangkah ke dalam ruangan, ruang tengah yang semula gelap kini menjadi terang oleh cahaya lentera.
Menyaksikan hal ini, Lok Siang menghela napas panjang, sekarang dia baru tahu kalau orang lain telah mengatur segala sesuatunya secara sempurna, bahkan bisa jadi gerak gerik mereka sudah diawasi semua secara ketat, tidak heran kalau tindakan mereka menderita kegagalan total...
Sesudah masuk kedalam ruangan, Lok Siang baru melihat bahwa para jago yang dianggap nya sudah mati terbakar tadi, sebagian besar diantaranya kini sudah muncul disitu.
Tak terasa dia menundukkan kepalanya rendah-rendah, kemudian menyingkir kesisi.
Mendadak dia merasa apa yang dilihatnya seperti ada sesuatu yang tak beres, betul juga diantara kawanan jago dalam ruangan itu tampak pula Sun Tiong lo berada disitu.
Dengan cepat dia berpaling Iagi ke arah pintu dengan perasaan terkesiap, apa yang di-lihat?
Ternyata Sun Tiong lo yang lain baru saja langkah masuk ke dalam ruangan.
Dengan cepat dia berpikir sejenak, akhirnya Lok Siang menyadari apa gerangan yang telah terjadi.
Tak heran kalau rencana yang diatur secara sempurna itu, kini menderita kegagalan total.
Tak heran pula kalau diantara kawanan jago tersebut tidak nampak Hau ji, rupanya Hou-ji telah berperan sebagai Sun Tiong-Io yang bergabung dalam rombongan, sedangkan Sun Tiong lo yang sebenarnya justeru melindungi semua orang secara diam-diam.
Untung saja ia berbuat demikian kalau tidak mungkin para jago tak akan lolos dari bencana kebakaran tersebut malam itu.
Sesudah dilakukan pemeriksaan yang jelas, Lok Siang pun menuturkan kejadian tersebut dengan jelas.
Ternyata dia adalah anak buah Mao Tin-hong, setelah menerima perintah rahasia, dia lalu mengambil keputusan untuk menghadapi para jago dengan siasat api.
Sun Tiona-lo juga tidak banyak membuang waktu, dia hanya memunahkan ilmu silat yang dimiliki Lok Siang, kemudian setelah memberi peringat kepada anak buah lainnya, mereka baru memilih kuda bagus untuk meneruskan perjalanan.
OoodwooO SETELAH memasuki daerah Biau, Hou-ji pun pulih kembali dengan raut wajah aslinya.
Kim-sah-cay merupakan sebuan dusun berkebudayaan bangsa Han yang letaknya paling dekat dengan wilayah Biau.
Karena banyak yang berkawin campur antara bangsa Han dengan suku Biau, disekitar tempat itupun tumbuh serumpun suku campuran baru yang hidup berkelompok disana.
Bagi orang-orang bangsa Han yang hendak naik ke gunung.
dusun ini merupakan pos terakhir, segala kebutuhan bisa dibeli secara lengkap disitu, bahkan terdapat pula dua rumah penginapan yang khusus untuk menampung tamu-tamu dari luar daerah.
Sun Tiong-lo berdiam disebuah rumah penginapan yang paling bersih.
Setelah melakukan berapa kali perundingan mereka pun mulai membuat daftar barang kebutuhan sehari-hari yang menitahkan kepada pemilik rumah penginapan untuk mempersiapkannya.
Dalam keadaan begini, kuda-kuda tersebut sudah tak ada gunanya lagi, kendatipun di wilayah Biauw masih bisa digunakan tapi jalan gunung yang terbentang sejauh dua tiga ratus li itu sulit ditembusi dengan menunggang kuda, terpaksa mereka tinggalkan binatang-binatang tersebut disana!
Malam Itu, disebuah ruangan tamu yang agak besar, mereka melakukan perundingan tentang langkah selanjutnya setelah naik keatas gunung.
Jangan dilihat Sangkoan Ki dan Lak-yu sudah lama mengikuti Mao Tin-hong, ternyata mereka belum pernah berkunjung ke wilayah Biau.
Malahan sebaliknya Mo Ciau-jiu yang hafal dengan jalanan disekitar situ.
Rupanya semasa masih muda dulu, Mo Ciau jiu seringkali mengikuti orang tuanya berkunjung ke wilayah Biau, bahkan pernah memperisteri seorang gadis suku Biau, ia mempunyai seorang putera dan seorang putri, puteranya tewas digigit ular, sedang puterinya di bawa pulang ke daratan Tionggoan.
Waktu itu puterinya sudah berusia lima belas tahun.
Oleb sebab itu, ketika Sun Tiong-lo bertanya dimanakah letak gua Pek-hoa-tong tersebut, Mo Ciau-jiu segera menjawab.
"Aku tahu, bahkan sepanjang jalan menuju kemari, aku telah membuatkan sebuah peta."
Sambil berkata dia mengeluarkan peta tersebut dan dibentangkan dihadapan orang banyak.
Peta itu dibuat sangat sederhana, pertama karena Mo Ciau jiu sudah banyak tahun tidak pernah berkunjung lagi ke wilayah Biau, sehingga dia membuat peta itu hanya berdasarkan daya ingatan saja, Kedua, tujuan mereka adalah gua Pek Hoa-tong, maka tempat lainpun tak dilukiskan.
Sambil menuding kearah suatu tempat di-atas peta.
Mo Ciau jiu berkata.
"Disinilah terletak gua Pek hoa tong itu!"
Sun Tiong lo mencoba untuk mengamati peta tersebut beberapa saat lamanya, kemudian berkata.
"ltu berarti kita harus melalui empat lima buah perkampungan suku Biauw terbesar sebelum bisa mencapai tempat tujuan?"
"Benar, yang paling menjengkelkan adalah sewaktu melalui perkampungan terakhir dimana yang menghuni suku Biau berleher panjang!"
"Ooooh, berbahaya?"
"Suku tersebut merupakan suku yang paling buas dan kejam diantara suku suka Biau lainnya."
Dengan kening berkerut Nona Kim segera bertanya.
"Mungkinkah bagi kita untuk berjalan agak memutar?"
Mo Ciau jiu menggeleng.
"Tempat dimana suku Biau berleher panjang berdiam persis berada dikedua belah sisi jalan gunung yang harus kita lalui, tempat mereka mencapai puluhan Iie lebarnya, jadi bagaimana pun kau berputar, tak mungkin bisa menghindari daerah mereka. -oo0dw0oo-
Jilid 40 SUN TIONG LO berpikir sejenak, kemudian tanyanya.
"Apakah Mo tayhiap mempunyai suatu cara untuk mengatasi keadaan seperti ini ?"
"Wilayah Biau kekurangan garam, orang-orang suku Biau gemar dengan benda yang berwarna-warni, asal kita menyediakan bendabenda tersebut, enam tujuh bagian kita bisa melalui dari tempat tersebut dengan aman, tapi ada kalanya keadaan tersebut terkecuali !"
"Paling banter kita terjang dengan kekerasan, apa yang perlu dirisaukan lagi?"
Sela Bau ji tidak sabar. Dengan wajah bersungguh-sungguh Mo Ciau jiu berkata lagi.
"Walaupun kita dapat mengandalkan kepandaian silat kita untuk melompat dan berlarian, namun senjata tulup dan lembing mereka tak boleh dipandang enteng, apalagi jumlah mereka pun sangat banyak!"
"Bila ada diantara kita yang kurang berhati-hati hingga melukai atau membunuh salah seorang anggota mereka, bisa jadi seluruh anggota suku akan muncul untuk melakukan penyerangan bersama, dalam keadaan begini, kendatipun kepandaian silat yang kita miliki sangat baik pun, jangan harap bisa meloloskan diri dari sana dengan selamat."
"Kalau begitu, soal ini tak bisa diperhitungkan dari sekarang."
Sela Hou ji. Mo Ciau jiu tertawa.
"Tidak begitu, lohu sudah mempunyai rencana bagus untuk mengatasi hal semacam ini"
Tiba-tiba Sun Tiong lo teringat kembali dengan ucapan Mo Ciau jiu ketika masih berada diatas perahu berlayar delapan.
Sementara ia mendengar Mao Tin hong sedang kabur menuju ke wilayah Biau, dia telah mengatakan kalau jalan kesana merupakan jalan kematian baginya.
Maka anak muda itu berseru.
"Mo tayhiap, sewaktu berada diperahu berlayar delapan, kau pernah bilang kalau kaburnya Mao loji ke wilayah Biau merupakan jalan kematian baginya, dan sekarang kau bilang sudah mempunyai persiapan untuk menghadapi keadaan ini, apakah..."
"Benar"
Tukas Mo Ciau jiu.
"lohu pernah menduga, bila berada dalam keadilan kepepet maka bajingan tua itu akan kabur ke wilayah Biau, oleh sebab itu aku telah mempersiapkan sebuah langkah kematian dan sekaranglah saatnya untuk menggunakan hal ini"
"Saudara Mo"
Seru Sangkoan Ki sambil berseru tertahan.
"bukan lohu menaruh curiga kepadamu, yang jelas sebelum peristiwa ini belum pernah ada oraag yang tahu kalau bajingan Mao bakal pergi ke wilayah Biau, bahkan dia sendiripun belum pernah mempunyai rencana untuk lari kewilayah Biau.
"Kemudian, setelah dipojokkan oleh keadaan dan tiada pilihan lain baginya, dia baru menuju kewilayah Biau bersama siluman perempuan tersebut, saudara Mo pun baru tahu kejadian ini belum lama, bagaimana mungkin kau bisa mempersiapkan langkah ini jauh sebelumnya?"
Mo Ciau jiu memandang sekejap kearah Sang koan Ki, kemudian berkata pelan.
"Benar, ada satu hal yang tidak saudara sekalian dan Sangkoan tayhiap ketahui, sebelum berangkat memenuhi janjinya di telaga Tong-ting tempo hari, Mao loji telah mengutus lohu untuk mewakilinya melakukan suatu pekerjaan.
"Beruntung sekali lohu sudah berdiam diwilayah Biau sejak kecil, sehingga aku segera mengetahui kalau dia sedang bersiap sedia hendak mempersiapkannya didalam wilayah Biau, itulah sebabnya lohu baru mempersiapkan langkah selanjutnya disana."
"Kau disuruh mempersiapkan apa sih ?"
Tanya Sangkoan Ki. Mo Ciau jiu tertawa.
"Maaf, lohu tidak bersedia memberi keterangan kepadamu"
Walaupun terbentur batunya, ternyata Sang koan Ki sama sekali tidak menjadi gusar, kembali dia berkata.
"Apakah benda yang kau persiapkan itupun sudah dibawa oleh bajingan tua she Mou itu ?"
"Tidak!"
Jawab Mo Ciau jiu dingin.
"dia tidak sempat lagi untuk mengambilnya."
Berbicara sampai disitu, tiba-tiba Mo Ciau jiu menyaksikan Hou ji seperti hendak bersuara diapun seakan-akan sudah dapat menduga apa yang hendak di bicarakan oleh Hou ji, maka kembali dia berkata.
"Justru karena dia tidak berkesempatan lagi untuk mengambilnya, maka lohu pun enggan untuk membicarakan tentang persoalan ini !"
"Apakah benda tersebut dapat dipakai untuk mencelakai orang ?"
Tanya Bau-ji pula secara blak-blakan.
"Tentu saja, bahkan besar sekali kemampuannya untuk mencelakai orang,"
Katanya. Mendadak Sun Tionglo seperti memahami akan sesuatu, dia segera berseru pula.
"Mo Tayhiap, apakah benda itu telah punah?"
Mo Ciau-jiu manggut-manggut.
"Tatkala aku memperoleh laporan rahasia dari saudara Kang, saudara Thio dan saudara Cukat, aku segera memusnahkan benda itu, bahkan seketika itu juga bersama saudara Ban dan saudara Thia berangkat menuju ke Bukit Pemakan Manusia.
"Asal benda itu sudah musnah, memang paling baik jangan diterangkan lagi."
Kata Sun Tiong-lo kemudian sambil tertawa. Kemudian setelah berhenti sejenak dan memandang sekejap semua rekannya, kembali dia menambahkan.
"Mungkin Mo tayhiap bersedia untuk menerangkan tentang persiapan yang kau lakukan?"
"Yaa, tentu saja harus kukatakan, disaat kita akan sampai ditempat kediaman orang-orang suku Biau berleher panjang, ada orang yang akan menyambut kita ditengah jalan, ini merupakan salah satu petunjuk jalan yang lohu siapkan..."
"Apakah petunjuk jalan ini mempunyai hubungan yang baik dengan kepala suku Biau berleher panjang ?"
Tanya Sangkoan Ki dengan kening berkerut.
Mo Ciau-jiu segera menggelengkan kepalanya berulang kali "Aku rasa tidak, cuma petunjuk jalan itu pasti mempunyai cara yang baik agar kita semua dapat menembusi tempat tersebut."
"Apakah cuma begini saja yang kau maksudkan sebagai persiapan itu..?"
Sekali lagi Mo Ciau-jiu tertawa.
"Tentu saja masih ada yang lain, hanya saja sebelum aku berjumpa lagi dengan si petunjuk jalan itu, sehingga tidak bisa kuduga sampai dimanakah taraf persiapan vang telah mereka lakukan, maka saat ini aku tak dapat memberi keterangan lagi kepada kalian semua."
Oleh karena dia sudah menerangkan begini, sudah barang tentu semua orangpun merasa mempunyai semangat menghadapi musuh yang sama sehingga sekalipun tiada persiapan maupun bantuan penunjuk jalan, mereka toh harus menembusi wilayah Biau juga untuk mencapai gua Pek hoa tong.
Karenanya tiada orang yang banyak berbicara lagi.
Pokok pembicaraan pun segera berganti, kini mereka membicarakan barang-barang yang harus mereka persiapkan.
Terhadap persoalan inipun Mo Ciau jiu sudah membuat persiapan yang matang, dia se gera menyerahkan sebuah daftar.
Sun Tiong lo segera melakukan penelitian secara amat cermat, akhirnya dia beranggapan bahwa Mo Ciau jiu memang seorang manusia yang punya maksud, sebab barang yang dipersiapkan menurut daftar tersebut bukan cuma komplit bahkan luar biasa.
Terutama sekali catatan dibalik daftar yang memuat pula beberapa buah lentera Khong heng leng, garam, gula, kain cita dan laia sebagai nya boleh dibilang semuanya merupakan benda-benda yang tak boleh kekurangan diwiIayah Biau.
Mereka serahkan daftar tersebut kepada pemilik rumah penginapan, sambil tersenyum pemilik rumah penginapan memberitahukan kepada mereka bahwa segala sesuatunya dapat di persiapkan esok siang, saat itulah mereka dapat segera berangkat.
Dengan perasaan lega, para jago pun bersantap dan kemudian kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
Siapa tahu Mao Tin hong yang sudah mereka pandang enteng itu ternyata tidak ambil diam belaka, akhirnya...
Pemilik rumah penginapan muncul dengan membawa daftar yang diserahkan para jago kepadanya serta sekeping uang emas, sambil tersenyum ramah dia langsung berjalan menuju kekamar tempat para jago berdiam diri.
Siapa tahu, disaat kakinya sedang melangkah ke tengah halaman mendadak paras muka nya berubah dan menunjukan wajah bangga campur menyeringai licik.
Dengan cepat dia kembali kekamar tidurnya dihalaman belakang dan diam-diam membuka pintu ruangan.
Didalam ruangan sudah terdapat seseorang yang sedang menantikan kedatangannya, cepat-cepat dia mengunci kamarnya dan berjalan menuju keruang kegelapan.
Di ruang itu terdapat lentera, lentera diletakkan diatas meja, disisi meja duduklah seseorang dia tak lain adalah Mao Tin-hong.
^oodeoo^ SEBELUM berbicara pemilik rumah penginapan tertawa lebih dulu, dia serahkan daftar tersebut kepada Mao Tin hong, kemudian serunya.
"Segala sesuatunya memang persis seperti apa yang diduga oleh majikan."
Mao Tin-hong tertawa, katanya sambil menerima daftar tersebut.
"Lo-Ceng. inilah jasa yang luar biasa darimu."
Pemilik rumah penginapan itu she Ceng bernama Bun-keng, dulunya adalah seorang perampok ulung dari wilayah Tin lam.
Mao Tin hong pernah menyelamatkan selembar jiwanya.
Sedang Mao Tin-hong waktu itu masih merupakan seorang pendekar besar yang berjiwa jujur dan gagah.
Semenjak peristiwa ituIah, Ceng Bun keng sudah berbakti kepada Mao Tin hong.
Tatkala Mao Tin hong berangkat ke gua Pek hoa tong untuk berjumpa dengan si iblis perempuan itu, dia meninggalkan Ceng Bun keng di kota Ciru sah cay untuk membuka usaha penginapan, waktu itu dia memang membuka usaha sejujurnya.
Ketika Mao Tin hong menderita luka parah dan kabur dari gua Pek hoa tong, dia bersembunyi didalam rumah penginapan milik Ceng Bun-keng ini untuk merawat lukanya.
Kemudian setelah lukanya sembuh dan untuk mengawasi si iblis wanita tersebut, dia mengajak Ceng Bun-keng merundingkan persoalan itu sampai mendalam.
Alhasil Ceng Bun keng ditinggalkan selamanya disitu sambil meneruskan usahanya membuka penginapan.
sungguh tak nyana pada saat seperti ini, dia dapat memegang pesanan yang amat besar.
Kejadian seperti ini, tentu saja tak pernah terduga olehnya, apalagi Sun Tiong lo sekalian sudah barang tentu mereka semakin tidak menduga lagi.
Sementara itu Ceng Bunkeng sedang bertanya.
"Majikan, menurun pendapatmu apa yang harus kita lakukan sekarang ini..."
Selesai memeriksa isi daftar tersebut, Mao Tin hong berkata.
"Kita mempunyai banyak tempat untuk dipakai sebagai tempat turun tangan !"
"Betul, harap majikan turunkan perintah !.."
Mao Tin hong tertawa.
"Pertama-tama soal garam, mereka meminta garam bataan, dan kau boleh menggunakan benda lain yang berbentuk bata yang di luarnya dilapisi dengan bubuk garam yang tebal sekali dengan demikian mereka tak akan menemukan penyakit dibalik benda tersebut."
"Yaa betul"
Seru Ceng bun keng sambil tertawa.
"sesampainya di Korawa (kepala suku-Biau berleher panjang) dan mereka mengetahui akan keadaan tersebut, sudah pasti orang-orang tersebut akan di kejarnya hingga terjerumus dalam lembah lembah berecun hee...hee..heeh..."
Mao Tin hong menuding lagi kearah kain cita serta lentera tersebut, kemudian berkata lagi.
"Bukankah benda-benda ini lebih gampang lagi untuk disulap menjadi benda rongsokan ?"
"Tak usah kuatir majikan aku mempunyai cara untuk mengatasinya!"
Sambil tertawa kembali Mao Tin hong menunjuk kearah beberapa buah lentera Khong beng teng tersebut, kemudian berkata lagi.
"Bun keng, sedangkan mengenai permainan ini, apa ideemu?"
Dengan kening berkerut Ceng bun keng segera menyahut.
"Benda benda tersebut tak bisa dipalsukan, kotak besi dengan lempengan tembaga di sekelilingnya di tambah pula dengan lilin besar yang bisa memancarkan cahaya tajam sampai tempat kejauhan..."
"Apakah kau tidak mempunyai akal untuk merubahnya?"
Tukas Mao Tin hong cepat. Ceng bun keng termenung sambil memutar otak beberapa saat lamanya, kemudian sahutnya sambil menggeleng.
"Apakah majikan bersedia untuk mengajarkan kepadaku?"
Mao Tin hong mengangkat bahu, tertawa.
"Kotak besi dan lempengan tembaganya memang tak bisa dipalsukan tapi sumbu lilin itu."
"Betul"
Teriak Ceng bun keng sambil mengerdipkan matanya berulang kali.
"bila di tukar dengan barang yang bermutu jelek, sekilas pandang orang tak akan menduga sampai kesana."
"Tidak begitu!"
Kata Mao Tin-hong sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"bukankah barang palsupun dapat bersinar pula?"
Ceng Bun-keng menjadi berdiri bodoh, sahutnya dengan perasaan tidak habis mengerti.
"Benar, benar, betapa pun baik atau jelek nya mutu lilin, bila disulut memang pasti bersinar."
Mao Tin-hong segera mendengus "Maksudku adalah..."
Kembali Ceng Bun-keng salah mengartikan maksudnya, dia segera menukas lagi.
"Apakah majikan hendak menggunakan barang palsu untuk ditukar dengan barang yang asli ? Kalau sampai begitu, sinarnya pasti tak akan terlalu terang."
"Tidak, harus yang bersinar terang, bahkan sinar tersebut harus kuat sekali."
Kata Mao Tin bong mengernyitkan alis matanya yang cacad. Ceng Bun-keng semakin dibikin tidak habis mengerti.
"Apakah kita harus memasang dengan lilin putih yang paling baik?"
Tanyanya.
"Betul! Kita harus menggunakan yang paling terang."
Sahut Mao Tin-hong sambil mengangguk.
Ceng Bun-keng semakin kebingungan "Mereka minta enam buah lentera yang bila disulut bersama akan terbentuk sebuah lingkaran cahaya yang bisa menerangi daerah se luas setengah li lebih hingga ulat dan binatang kecil sukar menyembunyikan diri, sebab suku Biau paling percaya tahayul, mereka akan mengira cahaya mana sebagai Halilintar..."
Sambil menyeringai seram, Mao Tin-hong berseru sambil bertepuk tangan berulang kali.
"Betul ! BetuI ! Nama yang bagus sekali, Halilintar... betul, memang halilintar !"
Ceng Bun-keng berdiri termangu-mangu di sisi arena, untuk beberapa saat lamanya dia tak tahu harus bagaimana menjawab perkataan tersebut..
Tak lama kemudian, Mao Tin-hong telah menempelkan mulutnya disisi telinga Ceng Bun keng dan membisikkan sesuatu kepadanya.
Kemudiah tampak Ceng Bun-keng terkejut lalu berseru, katanya kemudian sambil menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Suatu rencana yang amat bagus, benar-benar sebuah rencana yang amat bagus nya, hanya majikan seorang yang dapat menemukan cara sebagus ini."
Mao Tin hong tertawa seram.
"Bun-keng, mereka yang tak tahu keadaan yang sebenarnya pasti akan menyulut lentera tersebut dengan begitu saja, akibatnya akan terjadi serentetan suara keras yang menggetarkan bumi diiringi percikan bunga api ke-mana-mana, jenazah akan musnah tak berwujud dan orang suku Biau itu pasti akan mempercayai cahaya mana sebagai Halilintar..."
"Tentu, tentu"
Ucap Ceng Ban keng tertawa.
"kalau bukan halilintar, mana mungkin bisa bercahaya begiu tajam ? Kalau bukan Halilintar, mengapa manusia hidup bisa berubah menjadi musnah hingga tak berbekas ? Bagus sekali! Tepat sekali !"
Kembali Mao Tin hong tertawa seram.
"Pada saat ituIah Ketua Korawa pasti akan menyembah berulang kali diatas tanah kemudian ssmbil berisak tangis akan melakukan persembahan untuk dewa api, setelah itu mereka akan melakukan serbuan secara besar-besaran terhadap orang-orang itu dan melakukan pembunuhan secara besar-besaran."
Mendadak Ceng Bun keng berkata.
"Majikan, andaikata sampai terjadi hal begini, kemungkinan besar gua Pek hoa tong akan menjadi sasaran yang pertama!"
"Betul, memang inilah yang kukehendaki!"
Seru Mao Tin hong sambil manggut-manggut.
"Oooh, apakah majikan sudah mempunyai persiapan lain?"
"Tentu saja, sekembalinya aku kesana, akan mulai kulatih sepasukan yang tangguh, asalkan pasukan besar suku Korawa sudah melakukan penyerbuan secara besar-besaran, maka aku pun akan mengenakan siasat barisan terpendam untuk mengepung mereka semua..."
Mendengar uraian mana, tanpa terasa Ceng Bun-keng menyela.
"BiIa suku Biau sedang melakukan serbuan, mereka akan lakukan seperti air laut yang sedang pasang, setelah menyambar sejauh mungkin, maka mereka pun akan mundur teratur siasat barisan terpendam apa sih yang majikan persiapkan? Masa kehebatannya sanggup untuk mengurung mereka semua ?"
"Kau tak usah kuatir!"
Kata Mao Tin hong sambil tertawa seram.
"untuk menuju ke gua Pek hoa tong hanya terdapat sebuah jalan masuk saja, padahal ke dua sisinya merupakan tebing yang tinggi dengan permukaan yang licin, bila ada orang yang memasuki lembah tersebut, maka mereka hanya bisa mundur dari situ apabila melalui jalanan satu-satunya yang tersedia !"
Ceng Bun-keng lantas manggut-manggut.
"Yaa, yaa, itulah dia, rencana dari majikan memang luar biasa sekali"
Tetap orang gemar disanjung tidak terkecuali pula Mao Tin hong sendiri, sambil tertawa, kembali dia berkata.
"Di saat orang-orang Kurawa tersebut terkurung, maka sarang suku leher panjang mereka sudah diduduki oleh pasukan terpendamku, kemudian akan kulakukan operasi secara besar-besaran, mereka yang bisa kumanfaatkan akan kupakai, sementara mereka yang tak mau tunduk akan kusikat sampai lenyap."
Agaknya Ceng Bun keng telah memahami maksud yang sesungguhnya dari Mao Tin hong, dia lantas berkata lagi.
"Yaa betul! asalkan suku Biau berleher panjang dapat ditundukkan tidak sampai setahun kemudian delapan gua enam belas benteng yang berada di wilayah Biau akan menjadi barang dalam saku kita, pada saat itulah majikan akan menjadi pemimpin yang sebenarnya dari seluruh wilayah Biau..."
Mao Tin-hong tersenyum.
"Memang begitulah keinginanku, bila sampai demikian..."
Berbicara sampai disitu, dia lantas menepuk bahu Ceng Bun-keng sambil menambahkan.
"Bun-keng, pasir emas yang tiada habisnya didulang itu akan kuserahkan kepengurusannya kepadamu, sedangkan obat-obatan dan kulit yang tiada terhitung jumlahnya juga akan ku serahkan kepadamu untuk mengaturnya, kemudian kita kumpulkan mereka yang tercerai berai, bersahabat dengan para enghiong..."
Dengan wajah berseri Ceng Bun keng segera menukas.
"Majikan, besar amat ambisimu rupanya kau hendak melalap seluruh dunia ?"
"Setiap lelaki yang berhasil mendapatkan hak dan kekuasaan seperti ini, mereka pasti akan berbuat demikian, tidak terkecuali pula dengan diri sendiri."
"Terus terang saja, hamba bersedia menjadi penuntun kuda sambil membawa lentera !"
Seru Ceng Bun keng amat tertarik.
"Aaah, perkataan apakah itu..."
Tegur Mao Tin hong serius.
"Bun keng, kau bukan pembawa jalan, kau adalah salah seorang arsitek yang merupakan pahlawan pembangun negara baru, setiap orang memang harus memiliki cita-cita yang tangguh dan asal ada cita cita, entah cita cita itu biasa saja atau muluk, orang boleh bebas melakukannya."
Begitu pula halnya dengan Mao Tin hong dan Ceng bun keng sekarang, merekapun sedang terjerumus didalam cita-cita yang muluk.
Namun kalau berbicara sesungguhnya, andaikata apa yang diharapkan Mao Tin hong bisa terjadi sebagaimana yang direncanakan, maka tak sulit bagi mereka untuk mewujudkan cita-citanya itu.
Begitulah, selesai berunding mereka berdua pun berangkat tidur.
Besok mendekati tengah hari, Ceng Bun keng dengan membawa tiga orang anak buahnya telah membelikan semua barang keperluan yang dipesan oleh para jago tersebut menurut catatan dalam daftar dan dikirim kedalam kamar.
Ceng bun keng segera menyerahkan barang dengan perasaan gembira.
Ceng Bun-keng memang tidak malu disebut sebagai orang yang sangat berpengalaman, ternyata permainan busuk yang dilakukan olehnya itu sama sekali tidak berhasil ditemukan oleh Mo Ciau jiu yang berpengalaman luas maupun Sangkoan Ki yang berotak licik.
Setelah dihitung, diperiksa dan diserahkan barang-barang pesanan mana, Ceng Bun-keng pun bertanya.
"Tuan, barang-barang ini tak sedikit jumlahnya, boleh aku tahu kemanakah kalian hendak pergi ?"
Tentu saja mereka tak dapat mengungkapkan tempat tujuannya secara berterus tarang, maka sahut Sangkoan Ki dengan cepat.
"Kami akan melewati daerah yang dihuni suku Biau berleher panjang, melewati gua Pek hoa tong dan menuju ke tengah alas sana untuk mencari obat-obatan !"
Dengan wajah serius Cang Bun-keng berkata kemudian.
"Oooh, rupanya kek koan sekalian hendak mencari obat-obatan, kalau begitu dalam daftar seharusnya dicantumkan pula benda-benda seperti sekop, cangkul..."
"Rombongan kami terbagi menjadi dua bagian"
Sela Sangkoan Ki dengan cepat.
"rombongan pertama sudah berangkat lebih dulu masuk gunung dengan membawa peralatan berat itu, sedangkan kami hanya mempersiapkan rang sum saja, jadi tak usah membawa lagi..."
Belum selesai dia berkata, Ceng Bun keng telah manggut-manggut sambil tertawa.
"Oooob, rupanya begitu !"
Sementara itu, Mo Ciau-jiu telah mengambil sebuah anak panah dari kotak panah, kemudian berkata.
"Sungguh indah sekali buatan anak panah ini, tak nyana kalau disini terdapat ahli ukir-ukiran yang begitu hebat !"
Ceng Bun-keng tertawa.
"Terus terang saja kek-koan, benda-benda tersebut merupakan hasil kerajinan tangan dari suku Biau!"
"Oooh... rupanya begitu!"
Seru Mo Ciau-jiu. Kemudian setelah meletakkan kembali anak panah tersebut ke tempatnya, kembali dia berkata.
"Tian-tang (pemilik penginapan), dalam daftar yang kuberikan kepadamu kemarin masih terdapat kekurangan beberapa macam barang, kini waktu yang tersedia tidak banyak lagi, apakah kau masih dapat membantuku untuk melengkapinya ?"
"Coba kau sebutkan macam barangnya kek koan, aku harus tahu dulu sebelum dapat menjawab"
"Tali otot kerbau dua ikat, belerang dua kati, dupa dua kati, pisau belati tiga atau lima puluh bilah, tentunya benda-benda tersebut ada yang menjualnya bukan ?"
Ceng Bun-keng berpikir, lalu ujarnya.
"Kalau barang barang yang lain sih gampang dicari, cuma tali otot kerbau tersebut..."
"Tali otot kerbau merupakan benda yang tak bisa tertinggal untuk kami."
Tukas Mo Ciau jiu cepat.
"berapapun harganya tidak menjadi soal !"
"Masalahnya bukan soal harga."
Kata Ceng Bun-keng sambil tertawa.
"asal barang tersedia, masa aku akan sembarangan meminta harga tinggi ? Begini saja, aku akan mencarinya bagimu, apabila berhasil kudapatkan kek koan tak usah senang, bila gagal..."
Mo Ciau-jiu segera mengambil sepuluh tahil perak dan disodorkan ke tangannya.
"Kau harus mendapatkannya, terimalah uang pembayaran untuk tali otot kerbau tersebut, kalau kurang akan kutambah nanti bila lebih anggap saja sebagai uang kecil buat pelayan pelayananmu !"
Setelah menerima uang, sambil tersenyum Ceng Bun keng segera beranjak pergi. Baru saja Ceng Bun keng berlalu, Hou ji telah buka suara sambil bertanya.
"Mo tayhlap, buat apa kau memesan tali otot kerbau sebanyak itu?"
Mo Ciau jiu segera tertawa.
"Hou-hiap, tehnik yang jitu tak boleh diwariskan orang lain, maaf kalau lohu harus jual mahal dulu !"
Oleh karena Mo Ciau jiu telah berkata demikian, sudah barang tentu Hou-ji tidak banyak bertanya lagi.
Sekali lagi mereka mengecek barang kebutuhan yang diperlukan lalu di masukkan ke dalam buntalan.
Tengah hari itu, disaat mereka sedang bersantap siang, Ceng Bun keng muncul kembali.
Rupanya semua barang yang dibutuhkan telah didapat semua, tentu saja Mo Ciau jiu menjadi sangat gembira.
Pada saat itulah, Ceng Bun keng bertanya.
"Kek koan sekalian tolong tanya siapakah diantara kalian yang bertindak sebagai pemimpin..."
"Dialah orangnya!"
Kata Sangkoan Ki sambil menuding ke arah Sun Tiong lo.
Dalam waktu sekejap Sun Tiong lo telah berubah menjadi sebagai majikan muda dari para saudagar obat-obatan, tentu saja hal ini merupakan hasil dari perundingan mereka, itulah sebabnya Sun Tiong-lo bertanya.
"Ciangkwee, ada urusan apa mencariku ?"
"Aah, hanya urusan kecil, tapi sangat penting pula artinya"
"Ooh, kalau begitu harap kau utarakan."
Dengan amat sungkan Ceng Bun-keng berkata.
"Siau loji hanya ingin bertanya. apakah persiapan kalian sudah cukup matang ? Sebab perjalanan khek koan kali ini cukup jauh mana berbahaya lagi, konon bukan suatu pekerjaan yang gampang untuk menembusi daerah yang dihuni oleh Kurawa."
"Tempat apakah yang dimaksudkan sebagai Kurawa itu?"
Tanya Sun Tiong lo berlagak pilon.
"Bukan tempat. Kurawa adalah nama dari kepala suku Biau berleher panjang !"
"Yaa, betul!"
Kata Sun Tiong lo kemudian sambil manggut-manggut.
"suku Biau dari kelompok ini memang cukup buas!"
"Apakah kek koan mempunyai tenaga pengangkut untuk membawa begitu banyak barang?"
Sun Tiong lo mengerti, yang dimaksudkan sebagai tenaga pengangkut oleh pemilik rumah penginapan itu bukan kerbau atau kuda melainkan kuli panggul, khususnya daerah Shoa tang dari suku Biau, pengangkut barang yang utama bukan kereta atau binatang, melainkan pekerja kasar yang terdiri dari lelaki kekar.
Pemuda itu memandang sekejap ke arah tiga buah bungkusan besar yang tergeletak ditanah kemudian menyahut.
"Tidak ada, kami memang ingin memohon bantuanmu untuk memecahkan masalah ini."
"Beginilah keadaannya, sebelum segalanya terjadi siau loji perlu berbicara lebih dulu, tenaga kasar sih ada, cuma mereka hanya bisa membawakan barang kalian sampai dijurang Hui ing kian saja...!"
Sun Tiong lo kurang begitu tahu tentang nama-nama tempat diwilayah Biau, tanpa terasa dia berpaling kearah Mo Ciau jiu.
"Apakah Hui-eng kian terletak ditepi perbatasan dengan wilayah yang dihuni suku Biau berleher panjang ?"
"Yaa, benar."
Ceng Bun kian mengangguk.
"Hui engkian adalah sebuah jembatan gantung yang menghubungkan dua daerah tebing yang terjal, selewatnya jembatan gantung tersebut maka orang akan tiba diwilayah yang dihuni orang-orang suku Biau berleher panjang, selama ini para pekerja yang kasar tersebut tak berani menyeberangi jembatan gantung itu."
"Mengapa demikian ?"
Meski sudah tahu, Mo Ciau jiu masih saja pura-pura bertanya.
Dengan wajah serius Ceng Bunkeng berkata "Pertama, yang dimaksudkan sebagai jembatas gantung itu sesungguhnya merupakan sebuah jembatan yang terdiri dari seutas rantai besi yang panjangnya mencapai tiga puluh enam kaki.
jembatan mana merupakan satu-satunya jembatan yang menghubungkan daerah yang dihuni orang orang suku Biau rambut panjang dengan orang-orang suku Biau leher panjang.
"Padahal para pekerja kasar itu hidup menderita dan penuh percobaan, mereka hanya mengandalkan tubuh yang kekar dengan tenaga yang besar belaka, kalau disuruh menyeberangi jembatan gantung tersebut, tentu saja mereka tidak memiliki kepandaian sebesar itu, mereka tak mampu untuk menyeberanginya.
"Kedua, Kurawa dari suku Biau berleher panjang tidak kenal aturan, ada kalanya dia memang bisa diajak bicara, tapi ada kalanya dia enggan menjual muka kepada siapa pun, salah-salah mereka akan membunuh orang semaunya sendiri, oleh sebab itu..."
"Baiklah"
Tukas Mo Ciau jiu dengan cepat.
"kalau begitu kita pakai jeram Hui eng-kian sebatas tapal batas !"
Ceng Bun keng manggut-manggut kembali.
"Baiklah, kita tetapkan dengan sepatah kata ini, berapa banyak pekerja kasar yang kek khoan butuhkan ?"
"Bagaimana kalau lima orang ?"
Tanya Mo Ciau jiu. Ceng Bun keng segera berkerut kening.
"Tiga orang pun sudah cukup, oagkos yang mereka minta tidak kecil..?"
Mo Ciau jiu segera tertawa.
"Kami tidak mempersoalkan berapa yang harus dibayar, kalau dua orang lebih banyak berarti mereka bisa bekerja sambil bergilir, otomatis mereka pun bisa berjalan lebih cepat lagi, ditambah pula kita sudah ada rombongan yang membuka jalan lebih dulu."
"Oooh, betul, betul, kek koan memang pandai sekali, lima orang pekerja kasar terlepas makan yang dibebankan kepada kek koan, setiap orang minta sepuluh tahil perak, sedangkan siau loji mendapat keuntungan setahil seorang, tentunya kau tidak merasa keberatan bukan..?"
Mo Ciau-jiu segera terawa terbahak.
"Haah haa haa tidak banyak! kapan orang-orang itu baru siap?"
"Dalam setengah jam mendatang mereka sudah akan siap, siau Ioji akan mencarikan delapan dan terserah kek koan akan memilihnya sendiri, perangai serta tindak tanduk dari para pekerja kasar itupun merupakan jaminan dari penginapan kami!"
"Ciangkwee, kau memang pandai berdagang."
Seru Mo Citu ji kemudian sambil menepuk bahu Ceng Bun keng.
"baiklah, kita tetapkan demikian saja."
Ceng Bun keng segera mohon diri dan berlalu, betuI juga dalam setengah jam kemudian dia sudah muncul dengan membawa delapan orang lelaki biau yang kekar.
Dalam sekilas pandangan saja Mo Ciau jiu dapat mengenali kalau pekerja-pekerja kasar itu merupakan suku Biau berdarah campuram, setengah berdarah bangsa Han dan setengah lagi berdarah suku Biau.
Ternyata Ceng Bun keng tidak berbohong, ia menerangkan.
"Mereka adalah bangsa Han yang dilahirkan oleh ibu suku Biau, selain kekar dan berotot, wataknya pun baik sekali, bahasa Han maupun bahasa Biau mereka kuasah penuh, adat istiadat kedua suku pun dipahami benar, mereka akan menyenangkan kalian semua sepanjang jalan."
Mo Ciau jiu manggut-manggut.
"Cara kerja ciankwee memang luar biasa sekali, sungguh membuat orang merasa kagum!"
Sambil berkata, Mo Ciau jiu mengeluarkan lima puluh tahil perak dan diserahkan kepada pemilik rumah penginapan itu seraya berkata.
"Inilah ongkos mereka, harap kau terima!"
Tapi Ceng Bun keng menggelengkan kepala sambil berkata.
"Lebih baik kek khoan memilih orang lebih dahulu sebelum membicarakan soal lain."
Mo Ciau jiu memandang sekejap kearah Sun Tiong lo, sianak muda itu pun berkata.
"Lebih baik Mo tua saja yang memilih, aku tahu tak bakal salah..."
Maka Mo Ciau jiu memilih lima orang diantaranya sementara tiga orang lainnya mengundurkan diri.
Mo Ciau-jiu kembali meminta kepada Ceng Bun-keng menerima lima puluh tahil perak itu, namun Ceng Bun kent menggeleng dan cuma menerima dua puluh tahil perak, kemudian ujarnya dengan suara nyaring.
"Kalau membeli barang memang harus di-bayar kontan, tapi menurut aturan memakai tenaga pekerja, empat bagian saja yang boleh diterima sebagai uang muka, setelah sampai ditempat tujuan, enam bagian lainnya baru di serahkan kepada para pekerja kasar itu untuk dibawa pulang..."
Usaha dagang seperti ini, boleh dibilang adil sekali dan sama sekali tiada usaha bermaksud untuk menipu.
Para jago pun tidak berkata apa-apa lagi, mereka semua pada memuji kejujuran dari Ceng Bun keng.
Apa yang harus dikerjakan semua, maka para jago pun mulai melanjutkan perjalanan.
Semua barang bawaan mereka, kecuali senjata tajam dan senjata rahasia, diserahkan semua kepada para pekerja kasar itu untuk membawanya, kemudian berangkatlah rombongan tersebut menelusuri jalan gunung.
Belum lagi sepertanakan nasi lamanya mereka berangkat.
Mao Tin hong dan Ceng Bun-keng telah melakukan perundingan rahasia lagi.
Tempat yang digunakan sebagai tempat perundingan pun masih berada diruang ranasia dalam gedung Ceng Bun keng, suara pembicaraan mereka lirih sekali.
Pertama-tama Mao Tin hong yang bertanya dulu.
"Sudah selesai kau kerjakan?"
Ceng Bun keng tidak menjawab, sambil tertawa dia bertepuk tangan, dua orang lelaki suku Biau segera muncul dengan membawa sebuah buntalan besar.
Kedua orang itu adalah dua orang suku Biau yang tidak terpilih tadi.
"Buka buntalan itu!"
Ceng Bun keng segera memerintahkan.
Ketika buntalan itu dibuka, ternyata isinya adalah kain cita serta barang berhiasan yang dibeli para jago untuk diberikan kepada kurawa sebagai hadiah.
Sambil tersenyum bangga Mao Tin hong berkata.
"Bagaimana caramu uituk menukar benda-benda tersebut...?"
Ceng Bun keng tertawa.
"Setelah mereka periksa isinya dan dibungkus kembali, maka dengan mudah sekali kami telah menukarnya dengan benda lain"
"Benda apakah yang kau tukar dengan barang-barang ini ?"
Dengan bangga Ceng Bun keng tertawa terkekeh-kekeh.
"Majikan, mimpi pun kau tak akan menduganya, apa yang menjadi pantangan suku Biau hamba pun menukar benda tersebut dengan pantangan mereka, tanggung Kurawa akan naik pitam setelah melihatnya."
Mao Tin hong tertawa terbahak-bahak.
"Haah... haah... haah... haah... bagus, bagus sekali, Bun keng, inilah jasa besarmu !"
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh.
"Selain itu, lentera dan garam bata ..."
"Majikan tak usah kuatir"
Tukas Ceng Bun keng.
"Kurawa mempunyai Halilintar dan guntur yang bisa dilihat dan didengar, diam bakal mempunyai benda yang bisa membersihkan kulit tubuh mereka yang bau itu...."
Perkataan tersebut kontan saja membuat Mao Tin hong mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
Dua orang lelaki suku biau itu belum mengundurkan diri, dalam gembiranya Mao Tin-hong segera berkata.
"Barang-barang didalam bungkusan ini tak ada gunanya, hadiahkan saja kepada dua orang-orang anak jadah tersebut!"
Ceng Bun keng ingin mencegah perkataan tersebut, tapi perkataan "anak jadah"
Dari Mao Tin hong sudah terlanjur diutarakan, paras muka kedua orang lelaki suku Biau itu kontan berubah hebat, sepasang tangannya di kepalkan kencang-kencang.
Ceng bun keng segera melotot sekejap ke-arah dua orang suku Biau itu, kemudian bentaknya.
"Ambil dan bagi untuk kalian berdua, ayo cepat pergi !"
Dua orang lelaki suku Biau itu tidak memberikan pernyataan apaapa, sambil membopong buntalan tersebut mereka segera berlalu. Sepeninggal dua orang lelaki suku Biau itu, Ceng Bun keng baru berbisik.
"Majikan, mereka mengerti bahasa Han, mereka paling benci kalau ada orang memaki mereka sebagai anak jadah !"
"Ooob, rupanya mereka pun mempunyai pantangan tersebut, aku malah tidak tahu."
Oleh sebab nasi sudah menjadi bubur, Ceng Bun-keng juga tak dapat berbuat apa apa lagi. Mao Tin hong segera mengalihkan pokok pembicaraan kesoal lain, ujarnya.
"Didalam melaksanakan tugas kali ini, tiada orang ketiga yang tahu, kau memang bekerja amat bagus."
"Majikan kau tidak tahu, kelima orang pekerja kasar serta dua orang yang barusan berlalu itu hampir rata-rata memiliki kepandaian hebat, kalau dihitung mereka masih termasuk muridku, hamba telah berpesan, ditengah jalan nanti mereka harus memberi pelajaran yang berat lebih dulu terhadap lawan."
Mao Tin hong makin merasa bangga lagi, katanya kemudian.
"Kalau begitu, kawanan keparat tersebut sudah pasti akan mampus dalam perjalanan ini."
"Ya. betul ! Mungkin bisa pergi tak akan kembali lagi."
Sambung Ceng Bun-keng ketawa. Mao Tin hong segera manggut-manggut, katanya.
"Sebenarnya lohu dapat menghabisi mereka semua sewaktu berada dipeternakan kudanya Lok Siang, sayang aku berbuat teledor dengan melupakan seorang Hou-ji, sehingga akibatnya usahaku mengalami kegagalan total."
"Sekarang, hmmm! Dapat kuduga meskipun kepandaian silat mereka lebih hebat, kecerdasan mereka lebih hebat pun tak akan mereka menyangka akan terjadinya berbagai perubahan tersebut, begitu peristiwa mana mulai berlangsung maka keadaan pun akan terlihat nyata."
Berbicara sampai disitu, dia seolah-olah melihat para jago telah terkurung diwilayah Biau dan satu persatu mesti terbunuh secara mengenaskan, oleh sebab itu ucapannya terhenti ditengah jalan dan tertawa terkekeh-kekeh.
"Majikan, kapan kau hendak berangkat ?"
Bisik Ceng Bun keng tiba-tiba dengan suara lirih. Mao Tin liong berpikir sebentar, kemudian sahutnya.
"Aku pikir lebih baik berangkat sekarang juga, kuatirnya kalau sampai tak bisa menyusul mereka"
"Hamba telah mempersiapkan semua barang kebutuhan majikan, kini tinggal menanti perintah dari majikan saja"
"Baik, mari kita berangkat"
Kata Mau Tin-hong kemudian sambil bangkit berdiri. Ceng Bun keng pun buru-buru turut bangun, kemudian katanya.
"Hamba akan suruh mereka untuk mengambil barang"barang tersebut."
"Banyakkah barangnya?"
Ceng Bun keng menggelengkan kepalanya.
"Tidak banyak."
Jawabnya.
"bahan makanan minuman ditambah berapa buah lentera Khong beng teng dan lima batang lilin untuk lampu!"
Mao Tio hong segera manggut-manggut.
"Jikalau begitu mari kita mengambil barang-barang itu dan kau boleh menghantarku sampai di depan sana, sebab sepanjang jalan aku masih ada persoalan yang mungkin akan dibicarakan denganmu, dari pada kelupaan nanti."
"Tentu saja... tentu saja."
Sahut Ceng Bun keng dengan hormat.
"Hamba memang bermaksud untuk menghantar majikan sampai dikota Gin sik cay..!"
Mao Tin hang menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah, setelah lewat kota Kim sah cay kau boleh segera pulang."
"Terserah perintah majikan."
Sembari berkata, mereka berdua segera berangkat menuju kearah depan...
Setelah mengambil barang, oleh sebab mereka telah bersantap siang mereka pun segera berangkat.
Ceng bun keng memanggil dua orang kepercayaannya sambil berpesan beberapa patah kata, kemudian dengan menemani Mao Tin hong segera berangkat.
Kim sah cay sudah dilewati sejauh tiga puluh lima li lebih, kini terbentang jalan gunung beralas batu sepanjang dua puluh Ii, tempat ini merupakan jalan raya penghubung Kim sah cay dengan Gin sik cay, daerah yang sepi dari pengunjung, meski sulit untuk ditempuh namun sama sekali tidak berbahaya.
Selewatnya jalan raya sepanjang dua puluh li ini, orang bersikap halus dan sopan, tidak mengusik gadis suku Biau atau kelewat tidak tahu aturan, biasanya mereka akan sampai di tempat tujuan dengan aman.
"Tapi, setelah melalui Gin-sik cay dan melangkah menuju ke gua Tiok hoa biau, orang harus lebih berhati-hati lagi, sebab mulai saat itu yang berlaku hanya undang undang suku Biau, bukan hukum bangsa Han.."
Waktu itu, Sun Tiong-lo sekalian telah berhasil melewati Gin sik cay dengan selamat.
Antara Gin sik cay dengan Tiok hoa biau masih terdapat lagi sebuah daerah seluas dua puluh li yang sama sekali tak ada manusianya, meski suku Biau belum maju alam pemikirannya, namun mereka memegang teguh atas kepercayaan serta adat istiadat mereka.
Daerah seluas li yang sama sekali tak berpenghuni itu merupakan pula daerah "bentrokan"
Yaag sering dipakai untuk daerah pertarungan antar suku, maka anggota suku yang sama sekali tak ada urusan mereka tak akan melewati daerah tersebut barang selangkah pun, tak heran kalau tempat tempat semacam ini merupakan tempat yang paling baik bagi bangsa Han untuk menyembunyikan diri.
Sekarang telah permulaan kentongan pertama, Sun Tiong lo sekalian sedang beristirahat melepaskan lelah.
Mao Tin-hong dan Ceng Bun-keng justeru menjadi tamu terhornat dari kepala suku Biau di Gin sik-cay, hal ini disebabkan Ceng Bun keng mempunyai hubungan yang erat dengan kepala suku tersebut...
Namun daya pengaruh dari Ceng Bun keng pun hanya mencapai Gin sik cay saja, selewatnya dua puluh li wilayah tak bertuan tersebut, dia tak berani menjamin akan selamat apabila menjumpai urusan.
Begitu langit terang tanah, Sun Tiong lo dan rombongan telah berangkat kembali menuju ke arah Tiok hoa biau, sedangkan Mao Tin heng dan Ceng Bun keng telah tiba ditempat yang dipakai San Tiong lo sekalian untuk beristirahat semalam.
Ditempat itu masih ditemukan bekas tenda, ditemukan juga abu bekas api ungun.
Selesai memeriksa benda-benda itu, Ceng Bun keng segera berkata.
"Majikan, barusan mereka masih berada di sini, sekarang mungkin sudah memasuki kota yang dikuasai suku Tiok hoa biau"
Mao Tin hong manggut-manggut, agaknya dia tak terlalu memperhatikan hal tersebut. Ceng Bun-keng yang menyaksikan kejadian itu segera berpikir tanpa terasa.
"Majikan, apa yang sedang kau pikiritan ?"
Mao Tin hong tidak menjawab, dia masih saja termenung sambil berpikir keras. Ceng Bun-keng segera berjalan mendekat, kemudian menegur lagi.
"Apakah majikan merasa tidak mempunyai keyakinan untuk melampaui daerah yang dihuni suku Tiok hoa biau?"
Mao Tin hong segera menggeleng.
"Tidak, persoalan itu sih tak akan terlalu menyusahkan aku"
"Lantas apakah yang menjadi beban pikiran majikan ?"
Tanya Ceng Bun keng ddngan perasaan tidak habis mengerti.
Mao Tin hong menghela napas panjang, sesudah memandang sekejap sekeliling tempat itu, dia menuding ke arah sebuah batu cadas yang berada tak jauh disana sambil berkata.
"Mari, mari, mari Bun-keng ! Mari kita duduk sambil berbincangbincang. untung saja musuh kita baru masuk ke wilayah Tiok hoa-biau, tak mungkin mereka bisa meninggalkan tempat tersebut dengan mudah, kita tak usah kuatir tak berhasil menyusul mereka."
"Tentu saja."
Sahut Ceng Bun-keng cepat.
"sekalipun mereka dapat meninggalkan tempat itu dengan selamat, paling tidak hal ini akan terjadi besok tengah hari !"
Sementara itu, Mao Tin hong sudah duduk diatas batu, kemudian katanya lagi.
"Oya, masa akan begitu ?"
Ceng Bun-keng manggut-manggut.
"Yaa, daerah yang dikuasai suku Tiok-hoa-biau mencapai ratusan li lebarnya, tiga puluh li dari pusat kota merupakan rawa-rawa yang berkabut racun, orang harus berjalan menghindari rawa-rawa itu, kendati pun perjalanan mereka itu kemungkinan besar dapat dilakukan dengan lebih cepat pun paling tidak juga esok pagi baru dapat meninggalkan daerah tersebut!"
Mao Tio-hong segera menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya dengan cepat.
"Dengan tenaga dalam yang dimiliki Sun Tiong-lo sekalian, aku kuatir kalau tempat tersebut dapat dilewati dengan cepat ?"
"Majikan"
Dengan cepat Ceng Bun keng menggelengkan kepalanya pula berulang kali.
"jangan lupa kalau mereka menyaru sebagai rombongan pencari obat-obatan, mana mungkin perjalanan bisa dilakukan terlalu cepat ?"
"Aaaah, betul! Betul ! Aku telah melupakan akan hal ini"
Seru Mao Tin hong kemudian. Ceng Bun keng kembali tertawa.
"Majikan, kau masih ada pesan apa lagi ?"
Mao Tin hong menghela napas panjang.
Aaaai, Bun keng, sejak berpisah dua puluhan tahun sudah lewat, selama ini aku tak pernah datang menengokmu, selama inipun kita tak pernah berhubungan kabar, bagaimanakah perasaan dan pendapatmu tentang diriku ini?"
"Hamba tidak mempunyai pendapat atau perasaan apa-apa, tapi hamba tahu kalau majikan harus berlari menyingkir dengan bersusah payah dan penuh penderita!"
"Aah, tak kusangka Bun keng kalau kau begitu mengetahui tentang diriku."
Seru Mao Tin hong sambil memukul paha sendiri.
"Itulah sebabnya tatkala majikan mengirim perintah secara tiba-tiba dan menitahkan hamba untuk mengantar lencana kemala Pek hoa giok hu ke gua Pek hoa tong, hamba tak berani menunda lagi dan segera pergi melaksanakannya"
"Ehmmm, betul, cara kerjamu memang sangat baik, aku telah bertemu muka dengan wan-cu!"
Ceng Bun keng manggut-manggut.
"Hamba pun sudah tahu akan hal ini."
Katanya.
"hamba hanya bisa mengucapkan semoga majikan dan cubo bisa berbahagia selalu sepanjang masa."
"Bagus sekali, tak nyana kalau jalan pemikiranmu begitu teliti dan sempurna"
Ucap, Mao-Tin hong tertawa. Kemudian setelah berhenti sejenak, Mao Tin-hong mengalihkan sorot matanya ke tempat kejauhan sana, kemudian katanya lagi.
"Seandainya setiap anak buahku seperti kau semua, hari ini aku pun tak usah kabur ke wilayah Biau yang gersang dan terpencil ini aaai... kalau dibicarakan sungguh menggemaskan hati !"
Ceng Bun keng tak dapat menjawab pertanyaan tersebut, terpaksa dia hanya membung kam diri dalam seribu bahasa. Mao Tin hong memandang sekejap ke arahnya, lalu berkata lebih lanjut.
"Bun-keng, tahukah kau selama dua puluhan tahun ini aku telah berhasil membangun suatu karya besar yang tiada terhingga besarnya di daratan Tionggoan ? sedemikian luasnya kekuasaanku sehingga hampir saja menjadi seorang Bulim Bengcu yang menguasai seluruh jagad !"
"Majikan gagah perkasa dan cerdas tentu taja kedudukan tersebut pantas untuk kau duduki."
Kata Ceng Bun keng dengan hormat. Mao Tin-hong mendengus.
"Hmmm. siapa tahu oleh penghianatan-penghianatan dari anak buahku, segala sesuatunya ludas dan lenyap tak berbekas."
"Dimanakah bajingan-bajingan itu sekarang?"
"Yang sudah mampus tak usah dibicarakan, sedang yang hidup sudah kau saksikan semua."
Ucap Mao Tin-hong dingin. Ceng Bun keng menjadi tertegun.
"Apakah orang she Sun dan..."
Sebelum perkataan itu selesai diucapkan, Mao Tin hong telah menukas lebih dulu.
"Tiga orang pemuda yang kau jumpai adalah musuh besarku, Bun keng ! Aku tidak ingin mengelabui dirimu. siapa sih diantara manusia-manusia yang berkelana dalam dunia persilatan tidak mempunyai musuh besar ? kejadian semacam ini toh lumrah ?"
"Tapi gadis itu merupakan putri angkatku tak nyana kalau dia mempercayai perkataan orang dan terpikat oleh benih cinta buta sehingga akhirnya akupun dikhianati, bentengku yang tangguh dan kuat bagaikan baja pun dipersembahkan kepada orang lain dengan begitu saja."
"Sementara si tua bangka tersebut sebenarnya adalah kakak misanku, sebenarnya dia amat rudin sehingga hidupnya sengsara, akulah yang menyelamatkan jiwanya serta memelihara dirumah, apa mau dibilang dia tua orang nya tidak tua hatinya, ternyata secara diam-diam mengincar biniku..."
"Majikan, mengapa tidak kau katakan sedari tadi ? Tahu begini, aku tak tak akan membiarkan mereka memasuki daerah Biau dalam keadaan hidup..."
Ucap Ceng Bun-keng dengan keras. Mao Tin hong mengulapkan tangannya mencegah dia berkata lebih jauh, kemudian ucapnya lagi.
"Sedangkan kakek bungkuk tersebut bernama Mo Ciau jiu, sebetulnya dia adalah orang kepercayaanku, setiap perkataannya selalu kuturuti, siapa tahu akhirnya dia toh menghianati aku juga."
"Lima orang lainnya merupakan sobat karib yang paling kupercayai, mereka bernama Lak yu, sayang berhubung peraturanku amat ketat, diam-diam dia telah bersekongkol dengan musuh yang membuat aku tak mampu berkutik dan tancapkan kaki lagi didaratan Tionggoan"
Dengan penuh perasaan dendam Ceng Bun-keng mendengus.
"Majikan, yang sudah lewat biarkan saja lewat, hari depan masih bisa dikejar, kawanan manusia laknat yang menghianati dirimu itu tak akan bisa hidup bebas meninggalkan daerah Biau, sekalipun mereka dapat lolos dengan selamat, hamba pun..."
"Tidak, aku harus membunuh mereka dengan tanganku sendiri!"
Seru Mao Tin hong sambil mengulapkan tangannya. Ceng Bun keng segera mengiakan dan tidak berbicara lagi. Sementara itu, Mao Tin hong telah berkata lagi sesudah berhenti sejenak.
"Kini, aku sudah dipaksa untuk kabur ke wilayah Biau, Bun keng, aku merasa benar-benar sudah dipojokkan dan tak mampu untuk kabur kelain tempat lagi!"
"Tidak majikan."
Ceng Bun keng menggeleng "didalam sana masih terdapat Cubo dengan kekuasaan yang tanpa tandingan, sedangkan di-luar masih ada hamba yang bisa menggunakan uang untuk mencari tenaga, selanjutnya dunia persilatan masih tetap menjadi milik majikan!"
Mao Tin hong menghela napas panjang.
"Aaaii... ambisiku sekarang sudah mendekati saat padam, aku sudah menjadi seorang penakut."
"Apa yang majikan takuti? Hamba tidak percaya kalau musuh memiliki kemampuan..."
"Sekalipun musuh lebih ganas, belum tentu aku bisa kalah dengan mereka, mengapa aku harus takut kepada orang-orang itu?"
Tukas Mao Tin hong cepat. Dengan perasaan keheranan Ceng Bun keng segera bertanya.
"Kalau toh demikian, apa yang majikan takuti..."
"Aku takut kalau aku dikhianati oleh anak buahku!"
Ceng Bun keng segera menghembuskan napas panjang.
"Aaai... pepatah kuno mengatakan. Cuaca tahu kalau cemara tahan salju, sobat sejati tahu akan susahnya teman, Apalagi manusia-manusia yang tak tahu malu itu toh sudah pergi dari majikan sekarang..."
"Sekalipun demikian tapi pengalaman di masa lampau masih selalu terbayang-bayang didepan mataku"
Tukas Mao Tin hong lagi. Ceng Bun-keng segera berkerut kening.
"Untung saja saat ini majikan telah menjauhi kawanan manusia rendah tersebut."
"Sudahlah"
Mao Tin hong tertawa getir.
"yang sudah lewat tak usah dibicarakan lagi."
Setelah berhenti sejenak dan memperhatikan Ceng Bun-keng beberapa saat, dia berkata lagi.
"Bun keng, ada satu masalah aku merasa perlu untuk merundingkannya denganmu."
"Silahkan majikan memberi perintah"
Mao Tin-hong menggelengkan kepalanya berulang kali, kemudian berkata.
"Manusia yang hidup didunia ini haruslah tahu diri, Bun-keng, sekarang aku telah memasuki wilayah Biau, aku pun mempunyai pelindung di gua Pek hoa tong, atau dengan perkataan lain aku tak usah menguatirkan serangan yang datang dari musuh tangguh."
"Tapi kedatanganku ke wilayah Biau sekarang penting sekali artinya, aku kuatir kalau berita kedatanganku bocor dan diketahui lawan, untung hanya kau seorang yang mengetahui tentang persoalan ini, sebab itu bila ada orang yang menanyakan persoalan ini, kau harus menutup mulut rapat-rapat."
"Majikan tak usah kuatir, masa hamba akan membocorkan rahasia ini kepada orang lain!"
Mao Tin hong menundukkan kepalanya lalu menghela napas panjang.
"Aah, aku sudah tidak berani mengharapkan orang lain agar tetap berpegang janji kepadaku lagi."
Mendengar ucapan mana, tergerak hati Cang Bun keng, dia segera bertanya.
"Apakah majikan merasa kuatir terhadap diri hamba ?"
Mao Tin hong tertawa getir.
"Kau tak usah memikirkan yang bukan-bukan, sekali dipagut ular, sepuluh tahun takut dengan tali rami, bukan aku tak percaya kepadamu, sesungguhnya aku takut kalau sampai ditipu orang lagi. oleh sebab itu..."
"Apa yang majikan harapkan sehingga dapat berlega hati !"
"Percuma."
Mao Tin-hong tertawa getir lagi.
"sekalipun diutarakan juga sama sekali tidai berguna !"
"Belum tentu, mengapa majikan tidak mengutarakan dulu kepadaku ?"
Ceng Bun-keng berkata serius. Cepat-cepat Mao Tin hong menggelengkan kepalanya.
"Kecuali kalau...! Sudahlah, kalau diutarakan malah akan menyedihkan hati orang saja."
"Majikan tak usah sungkan, utarakan saja dengan berterus terang, hamba pasti akan turut perintah !"
"Kau akan menurut ?"
"Yaa pasti, biar pun harus terjun ke lautan api pun aku tak akan menampik !"
Mao Tin hong menjadi girang sekali, serunya dengan cepat.
"Bun keng, benarkah ucapanmu itu diutarakan dari lubuk hatimu sendiri ?"
"Bila hamba Iain di mulut lain dihati, biar Thian memunahkan diriku."
Mendadak Mao Tin hong melompat bangun. kemudian sambil menepuk bahu Ceng Bun keng dengan tangan kanannya dia berseru.
"Bagus, bagus, bagus ! Bila kau benar-benar begitu, makaaaa..."
Dia sengaja menarik kata terakhir itu hingga panjang sekali, kemudian telapak tangannya dijotoskan keras-keras ke atas ulu hati Cang Bun keng.
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang memecahkan keheningan, tak ampun lagi Ceng Bun keng jatuh terjengkang ke atas tanah.
Sekujur tubuhnya segera gemetar keras, paras mukanya pucat pias seperti mayat, sepasang matanya merah membara dan peluh sebesar kacang kedelai jatuh bercucuran keluar, keadaannya mengenaskan sekali...
Dengan susah payah akhirnya dia berkata.
"Maaa... maaajikan, menga... mengapa kauu... kau..."
"Kau belum mengerti apa sebabnya?"
Jengek Mao Tin hong sambil tertawa seram.
Waktu Ceng Bun keng sudah tak dapat bergerak lagi, paras mukanya pun turut berubah menjadi amat tak sedap dipandang.
Meskipun tak mampu berkutik, namun mulutnya masih sempat mengucapkan lagi beberapa patah kata.
"Mee... mengapa..."
Mao Tin nong tertawa seram.
"Heeeh... heeh... heehh... dalam setahun belakangan ini lohu sudah belajar lebih cerdik, pengalaman pahit dimasa lampau tak boleh sampai terulang kembali, oleh sebab itu aku pun tak sudi terperangkap lagi seperti masa masa lalu, nah mengertikah kau sekarang ?" ^oodeoo^ "SUUU... sudah dua... dua... puluh tahun haamm... hamba beree... berbakti ke.. padamu, see... selama ini aaa... akupun sudah baaanyakkk... bee... berjasa, menga... mengapa kau berr... bersikap..."
"Terhadap diriku, aku merasa tak pernah merugikan"
Jengek Mao Tin hong sambil tertawa dingin.
"bukankah sudah kutanyakan kepadamu tadi dan kau menjawab terjun ke lautan apipun bersedia ? Sekarang, mengapa kau menyesal?"
Dengan sekuat tenaga Ceng Bun keng berusaha mengendalikan hawa amarahnya, kemudian berseru.
"Itu kan tertuju terhadap musuh dari luar, sekarang... sekarang..."
"Sama saja Bun keng."
Kata Mao Tin hong dingin.
"Nabi berkata, Kaisar menyuruh patih nya mati, patihnya tak berani membangkang, apalagi meski kau mati sekarang, aku justru akan peroleh ketenangan jadi kematian mu sesungguhnya tidak sia-sia belaka.
"Tentu saja kau merasa kematianmu kelewat penasaran bahkan menganggap aku tak berperasaan, padahal kaupun tak bisa menyalahkanku."
"Coba bayangkan, misalnya waktu dulu, seandainya aku tak menyelamatkan dirimu, sejak dua puluh tahun berselang kau sudah tewas, sekarang kau baru mati bahkan mati pula ditanganku, seharusnya kaupun harus dapat berlega hati."
"Kalau kita berbicara mundur selangkah, perbuatanku sekarang tak bisa dibilang terlampau keji, sebab kenyataanlah yang mengajarku untuk berbuat demikian, asal kau sudah mati maka akupun tak usah menguatirkan persoalan lain lagi, bukankah haI ini bagus sekali ?"
Ceng Bun-keng menghela napas sedih.
"Kau... tindakanmu membunuh aku, sama artinya dengan menghancurkan kesempatan untuk bangkit kembali." -ooo0dw0ooo-***file google dokumen ini published by Saiful Bahri situbondo seletreng ***
Jilid 41
"HAAA... HAA... HAA... kau tidak usah merisaukan hal ini."
Kata Mao Tin bong sambiI tertawa seram.
"tanpa kau sekalipun aku masih dapat bangkit kembali didalam dunia persilatan!"
"Baik, baik."
Kata Ceng Bun keng selanjutnya sambil menghela napas sedih.
"sekarang apapun yang kuucapkan sudah terlalu lambat,orang dulu mengajarkan kepada kita agar jangan berkomplot dengan harimau bila tidak ingin dirinya dilahap akhirnya, tapi aku telah menganggap serigala sebagai sahabat, memang kesalahanku sendiri..."
Dia tak berkemampuan untuk banyak bicara lagi, sesudah terengah-engah sejenak sadarlah dia kalau ajalnya sudah dekat.
Semua perasaan dendam, benci, penasaran, gusar dan sedih segera bercampur aduk dan menciptakan sisa kekuatan yang terakhir, teriaknya dengan keras.
"Mao Tin hong, saat pembalasanmu sudah hampir tiba."
Mao Tin hong tertawa terbahak-bahak.
"Haaah... haahh... haah... Bun keng wahai Bun keng, Seorang kuncu tak akan mengeluarkan suara yang jahat, sekalipun cepat atau lambat pembalasan akan kuterima juga, toh sekarang masih belum tiba saatnya, padahal kau amat menuruti perkataanku selama ini, nyatanya sekarang kau sudah menyumpahi aku, benar-benar suatu kejadian yang membuat hati pedih."
Berbicara sampai disitu, kembali dia menyeringai sehingga nampak amat mengerikan. Di tengah gelak tertawa yang nyaring, manusia she Mao itu kembali berkata.
"Oh, rupanya budak suku Biau tua itu, hm!"
Mencorong sinar benci penuh perasaan dendam dari balik mata Cang Bun-keng, serunya lagi.
"Bun-keng, apakah kau sudah tiada pesan lain ?"
Ceng Bun keng ingin menangis namun tiada air mata yang meleleh keluar, serunya kemudian dengan gemas dan benci.
"Menyesal aku tidak menuruti perkataan dari Lo-hoa-biau"
Tergerak hati Mao Tin-hong sesudah mendengar perkataan tersebut, dengan cepat dia bertanya.
"Siapakah lo hoa-biau itu ? Apa yang dia katakan ?"
Sambil menarik napas panjang-panjang Ceng Bun-keng berseru.
"Dari sorot matamu yang liar, Lo hoa biau tahu kalau hatimu keji tidak berperasaan, dia telah memperingatkan kepadaku agar was was selalu bila bekerja untukmu, sayang sekali aku tidak menuruti perkataannya !"
Katanya.
"Mao Tin-hong, kudoakan semoga..."
"Apa yang ingin kau doakan sudah kupahami."
Tukas Mao Tin hong sambil tertawa seram "bukankah kau berharap agar Sun Tiong-lo sekalian jangan terjebak dan berhasil membongkar rencana ini ? bukankah kau berharap mereka menantiku didepan sana."
"Benar."
Tukas Ceng Bun-keng cepat.
"kau tak akan memperoleh mati secara tenang"
"Sayang apa yang kau harapkan semuanya tak dapat terkabulkan."
Mao Tin hong mengangkat sepasang bahunya. Kemudian setelah berhenti sejenak dan mendongakkan kepalanya memandang keadaan cuaca, dia berkata lebih jauh.
"Wahai Ceng Bun keng, waktu sudah makin siang dan aku harus segera berangkat, jika kau tidak ingin menyampaikan kata-kata yang bermanfaat dan menguntungkan diriku lagi, maaf kalau aku terpaksa harus mengirimmu untuk berangkat lebih dulu !"
Ceng Bun-keng menundukkan kepalanya rendah-rendah, beberapa tetes air matanya jatuh berlinang membasahi pipinya.
Mao Tin hong memang seorang manusia yang tidak berperasaan, jari tangan kanannya segera disodok kedepan tanpa perasaan kasihan.
Sodokan tersebut persis menghajar jalan darah Ki bun-hiat ditubuh Ceng Bun keng...
Kontan saja sekujur badan Ceng Bun keng gemetar keras, diiringi jeritan ngeri menyayatkan hati, ia muntah darah segar lalu mati seketika itu juga.
Mao Tin hong memang seorang manusia yg berhati keji, setelah menghabisi nyawa orang kepercayaannya, dia sama sekali tidak nampak sedih, seakan-akan baru saja membunuh seekor semut saja.
Sambil membersihkan pakaiannya dari debu, dia mendongakkan kepalanya memandang angkasa, berpikir sejenak, lalu ujarnya sambil tertawa.
"Beres sekarang, aku pun tak usah menguatirkan ada orang yang bakal membocorkan rahasia ku lagi"
Tapi kemudian dengan kening berkerut dia menggelengkan kepalanya lagi sambil berkata.
"Tidak betul, masih ada perempuan rendah itu, tempo hari andaikata bukan dia yang berhasrat mencelakaiku sehingga merampas tenaga goan-yang ku, hingga kini tenaga dalamku tak bisa memperoleh kemajuan lagi, mana mungkin akan muncul persoalan yang memusingkan kepala seperti ini ?"
"Hmmm ! Dendam sakit hati ini harus dibalas, perempuan rendah ! Tentunya kau tak pernah menyangka bukan kalau sekarang aku telah mengetahui tempat penyimpanan kitab pusakamu, aku juga sudah menguasai cara masuk dan keluar dari ilmu barisanmu itu, hmm, hmmm !"
Tak salah lagi kalau semua perkataan itu ditujukan kepada pemilik kebun raya Pek hoa wan.
Dasar Mao Tin-hong memang Iicik dan berhati kejam, tampaknya dia ingin memusuhi semua manusia yang berada di dunia ini.
Setelah menyelesaikan perkataan tadi, kembali ia tertawa tergelak penuh kebanggaan, menyusul kemudian tubuhnya melejit keudara, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah lenyap dikejauhan sana.
Orang kuno sering bilang.
Belalang menubruk comboret, si burung nuri mengincar dari belakang."
Ada pula yang mengatakan.
"Bila tak ingin diketahui orang, makanya janganlah sekali-kali melakukan."
Belum jauh Mio Tinhong pergi, tiba-tiba saja dari depan situ muncul kembali tiga sosok bayangan hitam.
Gerakan tubuh bayangan bayangan hitam itu cepat bukan kepalang, tak selang berapa saat saja mereka sudah sampai disamping jenasah Ceng Bun keng.
Ternyata mereka adalah seorang suku Biau tua yang diikuti dua orang lelaki kekar berdarah campuran bangsa Han dari suku Biau.
Kedua orang lelaki kekar itu tak lain adalah anak buah Ceng Bun keng, yakni lelaki yang dihina Mao Tin hong sebagai "anak jadah"
Tadi. Mimpi pun Mao Tin hong tak pernah menyangka kalau mereka bakal muncul di situ. Tak dapat disangsikan lagi, suku Biau tua itu tak lain adalah "Ko Hoa-biau"
Yang disebut-sebut Ceng Bun keng tadi. Terdengar suku Biau tua itu segera berkata.
"Mari, sesuai adat suku Biau, kita bikin usungan kayu dan menggotongnya ke gua Pek hoa tong?!"
Tak selang berapa saat kemudian dua lelaki kekar itu telah selesai membuat sebuah usungan kayu yang kuat dan membujurkan jenasah Ceng Bun keng diatas usungan tadi, kemudian setelah diikat kencang-kencang, mereka tuangi jenasah tersebut dengan minyak hitam (minyak tanah).
Tak selang berapa saat kemudian api telah berkobar membakar jenasah tersebut, sedang ketiga orang suku Biau tersebut segera berlutut sambil berkomat kamit ke angkasa.
Jenasah telah hangus menjadi debu, mereka bertiga pun turut bangkit berdiri.
"Tarsi, bagaimana pendapatmu sekarang ?"
Tanya Lo hoa biau atau si suku Biau tua kemudian. Tarsi dan Saila adalah nama dari dua orang lelaki berdarah campuran antara bangsa Han dan suku Biau itu.
"Aku hendak memasuki gua Tiok hoa toa untuk menemukan tamu-tamu bangsa Han itu !"
Seru Tarsi.
"Akan ku susul orang she Mao itu langsung ke gua Pek hoa tong!"
Sambung Saila.
"Lebih baik aku saja"
Kata Lo hoa-biau kemudian dengan wajah serius.
"kalian toh tahu, majikan (yang dimaksudkan adalah Ceng Bun keng) telah melepaskan banyak budi kepadaku, sedangkan kepandaian silat yang dimiliki orang she Mao itupun sangat lihay, sedemikian lihaynya sehingga mustahil bagi kita untuk menandinginya."
"Tidak, kamipun sudah banyak menerima budi kebaikan dari majikan !"
Bantah Saila cepat. Kembali Lo hoa biau menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Dengarkan dulu perkataanku."
Bujuknya.
"aku sudah tua, biar harus matipun tak menjadi masalah, sedangkan kalian masih muda, pada musim semi mendatang masih ada kesempatan untuk "melompat rembuIan". siapa tahu waktu itu akan ketemu "jodoh" ? jangan lewatkan kesempatan baik semacam itu !"
"Tidak !"
Tampik Tarsi tegas-tegas.
"bila ingin mengerjakan, kita bertiga harus kerjakan bersama, kalau tidak, siapa pun tidak punya liangsim..."
"Aku pingin tanya, sekalipun kalian bisa melewati gua Tiok hoa tong dengan selamat, bagaimana pula cara kalian untuk menyeberangi lembah ular beracun ? Apalagi keganasan suku berleher panjang amat mengerikan."
"Bukankah keadaan ini berlaku juga untukmu ? Toh kau sudah tua, lari mu tak bisa cepat!"
Kembali Saila membantah.
"Begini saja"
Akhirnya Lo hoa biau berkata.
"biar Toa sia (Malaikat agung) menjadi saksi, siapa berhasil melampaui gua Pek hoa tong dengan keadaan selamat, dialah yang berhak pergi, Nah sekarang kalian berdua harus mengutarakan dahulu rencana kalian !"
Tarsi termenung sambil berpikir sebentar, lalu katanya.
"Aku tak mempunyai rencana yang bagus, pokoknya asal berhati-hati sepanjang jalan, itu sudah lebih dari cukup!"
"Begitu juga dengan diriku."
Sambung Saila.
"asal tidak sampai mati, semua masalah dapat diselesaikan secara baik-baik !"
Lo-hoa-biau segera mendengus dingin.
"Tahukah kalian berdua, rencana busuk apakah yang sesungguhnya diatur orang she Mao itu?"
Tegurnya.
"Bukankah kau terangkan kepada kami ?"
Lo hoa biau segera tertawa.
"Seandainya aku tidak memberitahukan hal ini kepada kalian ?"
Ia balik bertanya. Tarsi melirik sekejap kearah Saila, kemudian katanya.
"Kau toh bukan MaIaikat agung, bagaimana mungkin bisa tahu ?"
"Nah, itulah dia ! Kalau begitu dengarkan baik-baik rencanaku ini, aku hendak menggunakan "darah"
Memberi makanan macan tutul bambu di gua Tiok hoa tong, kemudian memberi makan "ular"
Dalam selat ular beracun..."
Paras muka Saila dan Tarsi segera berubah hebat, teriakannya hampir bersama.
"Aah! Masakah kau hendak melanggar "pantangan terbesar"
Dari suku kami?"
"Kalau tidak berbuat demikian, bagaimana mungkin aku bisa melampaui orang she Mao itu secara aman lagi cepat sehingga dapat menjumpai rombongan tamu bangsa Han itu dan sampai digua Pek hoa tong? Atau mungkin kalian masih mempunyai cara lain yang jauh lebih baik?"
"Tapi... tapi setelah kejidian tubuhmu akan dicincang menjadi empat bagian untuk disajikan kepada Tiok pa (macan tutul bambu), Tok coa (ular beracun) serta Toa oh sin (dewa bertelinga besar) dari suku berleher panjang..."
Bisik Saila agak memucat.
"Tentu saja, aku telah bersumpah darah, sudah barang tentu aku harus menepatinya!"
Tarsi berpikir sejenak, lalu serunya.
"Baik, kalau kau dapat berbakti kamipun dapat, mari kita pergi benama-sama!"
"Betul !"
Seru Saila pula sambil menepuk ke pala sendiri.
"yang tak berani pergi berarti manusia jahat. dia pasti akan ditarik oleh iblis hijau dari lembah selaksa racun untuk dijadikan budaknya sepanjang masa, tiada bunga su ci Leng hoa, yang tak akan menjelma lagi di alam semesta!"
Setelah Saila mengangkat sumpah paling berat bagi suku Biau, Lo hoa biau sendiripun tak dapat berbuat apa-apa lagi. Tarsi tak mau ketinggalan dia berseru pula keras-keras.
"Dewa agung, dengarkanlah seruanku, akupun akan berbuat sama...!"
Menyaksikan keteguhan hati serta kebulatan tekad kedua orang itu, dengan sangat terharu Lo hoa biau berseru.
"Dalam suku kita berlaku peraturan barang siapa melakukan "persembahsn darah"
Maka dia ijinkan membawa serta dua orang pembantu itu, sekarang kalian beleb menjadi pembantuku untuk melaksanakan tugas-tugas yang diperlukan, aah, tidak, lebih baik lagi kita melakukan perjalanan secara terpisah."
Tarsi dan Saila saling berpandangan sekejap kemudian berkata.
"BoIeh, cuma kau sudah mendengar sumpah kami, seusai membalas dendam"
Kau tak dapat menghalangi kami untuk melakukan "persembahan darah"
Kalau tidak maka kau adalah antek setan!"
Lo hoa biau segera manggut-manggut "Tentu saja, akupun tak akan berani menghalangi niat kalian itu?"
Ujarnya.
Maka mereka meneruskan perjalanannya dengan langkah cepat langsung menuju kearah gua Tiok hoa tong.
^ooo0dw0ooo^ AWAN HITAM menyelimuti angkasa dengan tebal, membuat perasaan orang seakan-akan tertekan.
Cahaya matahari hampir punah, udara pun turut berubah menjadi sangat dingin.
Segenap anggota suku dari selat ular beracun, sejak dari kepala sukunya yang tinggi besar dan kekar, hampir semuanya berkumpul di depan selat ular, ditengah tanah lapang berpasir yang sangat luas.
Walaupun langit sudah terang tanah, namun berhubung awan hitam menyelimuti angkasa, maka suasana tetap terasa remang-remang.
Tak heran kalau beribu batang obor dipasang turut menyemarakkan suasana disana, di bawah perintah "Patoko"
Kepala suku Biau tersebut, obor diangkat tinggi-tinggi sehingga suasana disekitar tanah lapang "Selat ular"
Berubah menjadi terang benderang.
Sun Tiong-lo dengan pakaian ringkas senjata terhunus berdiri di depan selat ular tersebut.
Di belakangnya mengikuti anggota rombongan lainnya, masingmasing telah meloloskan pula senjata tajam andalannya.
Selama beberapa hari terakhir ini.
"Dewa ular"
Dari selat ular yakni seekor ular besar telah meramjukkan kegarangannya dengan melukai banyak orang.
Kebetulan sekali, Sun Tiong-lo sekalian tiba pada saat tersebut, dan lebih kebetulan lagi, Mao Tin-hong menyusul sampai pula di tempat tersebut.
Sebenarnya "Patoko"
Menyambung kedatangan Sun Tiong-lo sekalian dengan ramah dan sungkan, berhubung Sun Tiong-lo sekalian telah menghadiahkan sepuluh potong garam dan alat alat pembuat api.
Tatkala pesta gembira diadakan, seorang anak buah Patoko datang melapor bahwa dari pihak Pek hoa tongcu telah mengirim seorang utusan rahasia berkunjung ke situ, utusan rahasia tersebut membawa lencana pengenal Tong-sum hu dari gua Pek hoa tong.
Yang muncul sesungguhnya tak lain adalah Mao Tin hong, sesungguhnya dia hendak melakukan pebuatan busuknya di gua Tiok hoa tong dengan mencelakai Sun Tiong-lo sekalian, sayang sekali kedatangannya terlambat selangkah, sehingga Sun Tiong lo sekalian berhasil melalui tempat tersebut dalam keadaan selamat.
Tapi sekarang, ketika rombongan Sun Tiong lo baru tiba di selat ular beracun, dia berhasil menyusul mereka kemari.
Tentu saja dia memiliki lencana Tong sio bun dari gua Pek hou tong, karena benda tersebut pemberian dari si "iblis wanita", sebenarnya benda itu dimaksudkan untuk dipakai sewaktu melalui tempat-tempat tinggal suku Biau tersebut.
Tapi hari ini, dia mengaku sebagai utusan rahasia untuk melaksanakan tugas rahasia.
Patoko menyambut kedatangan Mio Tin Hong di dalam kamar pribadinya, dia menanyakan maksud kedatangannya.
Pertama-tama Mao Tin hong meminta kepada Patoko untuk mengundurkan anak buahnya lebih dulu, kemudian baru berkata.
"Kepala suku, apakah selamanya beberapa hari ini Dewa agung dari suku kalian melakukan suatu gejala aneh ?"
"Yaa benar, ada apa?"
Tanya Patoko dengan kening berkerut.
"Berapa hari berselang, oleh karena Dewa bunga dari tongci kami memberikan peringatan maka beliau telah menyuruh dukun untuk membuatkan ramalannya, kemudian baru diketahui ada sejumlah bangsa Han yang jahat-jahat sekali hendak berkunjung ke wilayah Biau!"
"Apakah tamu-tamu bangsa Han yang sedang berada ditempat kami sekarang..."
Tanya Patoto blak-blakan.
"Aaaah, belum tentu"
Jawab Mao Tin hong secara licik.
"cuma didalam ramalan menunjukkan gejala tersebut!"
"Ooooh, gejala apakah itu?"
"Gejalanya aneh sekali, dikatakan.
"Bila benda yang dipakai untuk asin bisa berubah menjadi getir, maka orang itulah manusia yang akan mendatangkan bencana api seluruh suku Biau"-konon orang-orang itu mempunyai ilmu sesat dan tak bisa dilawan dengan Dewa agung!"
Patoko segera berkerut kening.
"Yang asin dapat merubah menjadi getir ? Apa perkataan tersebut ?"
Serunya cepat. Mao Tin hong berlagak termenung sambil berpikir beberapa saat lamanya, kemudian jawabnya.
"Aah, benar! Kepala suku, apakah rombongan tamu bangsa Han tersebut telah mempersembahkan sesuatu benda untukmu ?"
"Yaa benar !"
Dengan cepat Patoko menjawab.
"tamu-tamu bangsa Han itu berbaik hati ia telah menyerahkan sepuluh garam yang terbaik !"
Begitu mendengar kata "garam", Mao Tin-hong sengaja menunjukkan perubahan paras mukanya, dengan cepat dia berbisik.
"Nah itu dia, apakah garam tersebut asin !"
"Yaa, telah kucicipi, garam itu memang asin tak bakal salah lagi..."
Kembali Patoko menggelengkan kepalanya.
"Apakah kepala suku telah mengundang datang dukun serta menyuruhnya meneliti garam Itu?"
Kembali Mao Tin-hong berkata sambil turut menggelengkan kepalanya.
Patoko menganggap usul ini tak ada ruginya maka dia segera melaksanakan apa yang diminta.
Siapa tahu Mao Tin hong telah menyuap dukun tersebut sebelumnya, sedangkan didalam garam tersebut pun Ceng Ban keng telah merubahnya dengan permainan busuk, sehingga garam-garam mana sesungguhnya hanya barang palsu.
Setelah dukun datang, garam di ambil diundang pula kedatangan lima orang sesepuh suku Pek hu tiang tak bertindak sebagai saksi.
Mao Tin hong memang terlalu pintar, dia tak ingin turun tangan sendiri.
Oleh karena sudah disuap, dukun itu sudah mengetahui apa yang harus di perbuat olehnya dengan cepat diperintahkan orang untuk mengambil mangkuk, air mendidih dan pisau, kemudian dengan menggunakan pisau dia mengelupas lapisan depan dari garam itu, kupasan tadi segera dileburkan kedalam air mendidih.
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis Kho Ping Hoo
Baca Juga: Pedang Sinar Emas 10